Mata Air Di Bayangan Bukit [ Jilid 01 - 05 ]


Jilid 01

TIDAK seorangpun tahu, sejak kapan kolam itu berada di dataran sempit di sebuah bukit. Dibawah sebatang pohon yang besar dan rimbun, berdaun tiga bentuk.

 

Sebenarnya bukan karena pohon itu pohon ajaib yang berdaun tiga bentuk dalam jenis yang berbeda. Tetapi pohon yang besar itu memang terdiri dari tiga batang pohon. Tiga batang pohon yang tumbuh berimpitan. Ketika pohon itu menjadi semakin besar, maka ketiga batangnya seolah-olah luluh menjadi satu. Sedang cabang-cabangnya berhiaskan daunnya masing-masing yang berbeda.

 

Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun kolam itu tidak dijamah. Meskipun airnya bening dan bersumber dari mata air yang deras dibawah batang pohon raksasa yang berdaun tiga jenis itu. Namun sendang itu adalah sendang yang berada dilingkungan hutan kecil di bukit yang jarang disentuh kaki manusia. Airnya yang berlimpah menyusup disela-sela batu-batu padas dan mengalir tidak terarah, sehingga akhirnya terjun kedalam sebuah lereng terjal dan hilang masuk kedalam luweng yang dalam, menyatu dengan aliran air dibawah batu-batu padas yang keras.

 

Dari musim kemusim, kolam itu tetap melimpahkan airnya yang bening. Meskipun langit bersih dan udara kering di musim kemarau, namun kolam itu seakan-akan tidak pernah susut.

 

Sekali-kali dari gerumbul-gerumbul yang lebat diseputar kolam itu, beberapa ekor binatang turun dengan ragu-ragu. Jika terdengar aum harimau, maka binatang-binatang yang lainpun segera berlari tunggang langgang, hilang dibalik rimbunnya dedaunan.

 

Binatang buas itu pulalah yang menyebabkan daerah itu jarang dikunjungi manusia. Meskipun dibawah bukit itu terdapat beberapa padukuhan, namun tidak seorangpun diantara mereka yang pernah bermimpi untuk menyadap air dari kolam itu bagi kepentingan padukuhan mereka.

 

Karena itulah, maka padukuhan-padukuham dibawah bukit itu menggantungkan air bagi sawah dan ladang mereka dari hujan yang jatuh dari langit. Sehingga dimusim kemarau, tidak ada diantara mereka yang dapat menanam jenis padi yang manapun selain satu dua orang mencoba juga menanam padi gaga dan palawija.

 

Meskipun demikian, orang-orang dipadukuhan dibawah bukit itu tidak berusaha merubah keadaan mereka. Mereka hidup seperti nenek moyang mereka yang tinggal sejak lama didaerah itu. Bahkan mereka merasa wajib menghormati dengan segala tata cara dan kebiasaan yang mereka pertahankan. Seolah-olah apa yang ada dan berlaku di padukuhan mereka haruslah mutlak berlangsung terus dari tahun ketahun.

 

Dan agaknya tidak seorangpun yang mengganggu mereka hidup dalam dunia yang telah mereka hayati dengan tenang untuk waktu yang lama.

 

Namun dalam pada itu, dijalan setapak yang panjang, dua orang sedang berjalan dalam terik panasnya matahari. Agaknya mereka adalah dua orang perantau yang datang dari tempat yang jauh dan telah menempuh jarak yang panjang.

 

Wajah-wajah mereka yang merah terbakar oleh panasnya matahari di siang hari, dan dinginnya embun dimalam hari, membuat mereka nampak letih dan lelah.

 

Tetapi keduanya sama sekali tidak mengeluh. Mereka melangkah terus menuruti jalan sempit itu menuju kebukit.

 

“Ayah,“ desis yang seorang. Seorang gadis yang meningkat dewasa, “ada beberapa padukuhan kecil yang tersebar didaerah yang luas.”

 

Yang seorang mengerutkan keningnya. Ia juga melihat padukuhan yang berpencar dibawah bukit. Tetapi ia menjawab, “Swasti, kita tidak akan menuju kepadukuhan itu. Di tanah berbatu padas sebelah, aku mendengar arus air dibawah tanah. Agaknya arus air itu berasal dari bukit yang nampak dibelakang daerah yang dihuni oleh orang dibeberapa padukuhan. Sedangkan didaerah ini aku sama sekali tidak melihat parit dan saluran air yang mengalir di musim kering ini.”

 

“Ayah,“ jawab gadis itu, “sumber air yang mengalir dibawah tanah itu mungkin memang berasal dari bukit dibelakang padukuhan yang tersebar itu. Tetapi mungkin pula tidak. Air itu sudah berada dibawah tanah sejak dari seberang bukit.”

 

Orang tua yang berjalan disamping anak gadisnya itu tersenyum. Jawabnya, “Marilah kita lihat Swasti. Naluriku mengatakan bahwa sumber air itu berada dibukit yang nampak itu. Tetapi jika aku salah, maka aku akan dapat menelusurinya sampai keseberang bukit. Pendengaranku masih cukup kuat untuk menangkap suara arus dibawah tanah dan mengikuti arahnya.”

 

Gadis itu tidak menjawab. Tetapi ia percaya bahwa ayahnya memang dapat menangkap desir air dibawah tanah dan mengikuti arahnya, karena ayahnya memang seorang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.

 

Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Mereka masih berjalan terus menyusuri jalan setapak. Mereka sengaja menghindari padukuhan yang berada dibawah bukit, untuk tidak menarik perhatian penghuni-penghuninya.

 

“Kau lelah?“ terdengar orang tua itu bertanya kepada anak gadisnya.

 

Gadis itu tidak menjawab. Tetapi wajahnya yang kemerah-merahan menunduk dalam-dalam, seolah-olah ia ingin melihat sejenak ujung kakinya yang kecil melangkahi batu-batu disepanjang jalan sempit.

 

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika kau diam itu berarti bahwa kau memang lelah. Dan aku-pun mengerti bahwa kau memang sudah lelah.”

 

Swasti tidak menjawab.

 

“Kau adalah seorang gadis yang luar biasa Swasti,“ berkata orang tua itu.

 

“Ayah selalu memuji aku, agar aku tetap berjalan terus mengikuti ayah,“ desis gadis itu.

 

Orang tua itu tersenyum. Jawabnya, “Kau menangkap maksudku Swasti. Tetapi akupun berkata sebenarnya. Tidak ada gadis yang akan dapat bertahan untuk berjalan-jalan berhari-hari seperti kau, sejak kita meninggalkan padepokan kita yang dilumatkan oleh gempa dan tanah longsor itu.”

 

Swasti tidak menjawab.

 

“Karena aku menyadari, bahwa perjalanan kita adalah perjalanan yang berat, maka aku tidak membawa para cantrik yang ada dipadepokan. Aku serahkan mereka kembali kepada orang tua mereka, dengan harapan, bahwa apabila kita sudah menemukan tempat untuk menetap, maka para cantrik yang lima orang itu akan aku panggil.”

 

Swasti masih tetap berdiam diri.

 

“Tetapi sudah tentu aku tidak dapat meninggalkan kau. Kau adalah anakku satu-satunya. Sepeninggal ibumu, kau adalah tumpuan hidupku, karena masa depanku ada padamu.”

 

Swasti masih tetap melangkah sambil menundukkan kepalanya.

 

“Swasti, jika kau memang lelah sekali, kita akan beristirahat dibawah pohon yang rimbun itu,“ berkata ayahnya kemudian.

 

Swasti mengangkat wajahnya. Dipinggir jalan sempit itu dilihatnya sebatang pohon yang besar. Tetapi gadis itu bertanya, “Ayah, beberapa ratus tonggak lagi kita akan sampai kebukit itu. Nampaknya disekitar bukit itu masih terdapat hutan yang barangkali tidak begitu luas dan lebat. Jika kita berjalan terus, maka kita akan segera sampai. Dan kita akan dapat beristirahat dipinggir hutan itu.”

 

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa anak gadisnya telah sangat lelah. Tetapi Swasti ingin segera sampai ketujuan agar ia dapat beristirahat cukup lama dan tidak terganggu.

 

Orang tua itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya dalam nada yang dalam, “Baiklah Swasti. Kita berdoa, mudah-mudahan mata air dari aliran dibawah tanah itu berada di lereng bukit itu, meskipun aku juga meragukannya, bahwa dipadukuhan ini tidak terdapat parit yang mengalir. Agaknya air dipadukuhan ini sangat tergantung kepada air hujan tanpa memanfaatkan arus air yang terdengar mengalir dibawah tanah.”

 

“Tetapi air dibawah tanah itu cukup dalam ayah. Ketika aku menengok kedalam luweng yang terbuka itu, nampak arus itu berada jauh dibawah batu-batu padas.”

 

“Itulah sebabnya kita harus menemukan sumbernya. Mudah-mudahan. Tetapi jika tidak, maka kita akan membuat pertimbangan lain.”

 

Swasti hanya mengangguk-angguk saja. Ia mengikuti langkah ayahnya meskipun sekali-kali ia harus menyeka keringatnya dikening.

 

Demikianlah maka keduanya berjalan terus. Ketika mereka sampai dibawah sebatang pohon yang rimbun, mereka hanya berhenti sebentar karena Swasti mengajak ayahnya melanjutkan perjalanan.

 

Tetapi belum beberapa langkah, mereka tertegun. Dikejauhan mereka melihat beberapa orang petani berjalan mengikuti seseorang yang agak berbeda dalam sikap dan pakaian.

 

“Kau lihat yang seorang itu Swasti ?“ bertanya ayahnya.

 

Swasti memandang kearah beberapa orang yang berjalan disepanjang pematang, menyilang jalan sempat yang dilalui oleh kedua orang itu.

 

Sambil mengangguk Swasti menjawab, “Ya ayah.”

 

“Apakah kau juga melihat kelainan padanya ?”

 

“Ya. Pakaiannya dan barangkali juga sikapnya.”

 

Ayahnya mengangguk. Namun katanya kemudian, “Kita tidak mempunyai persoalan dengan mereka. Kita akan berjalan terus tanpa menarik perhatian mereka.”

 

Swasti tidak menjawab. Tetapi keduanya dengan sengaja memperlambat langkah mereka, agar para petani dan seorang yang agak asing itu mendahului menyilang jalan setapak itu.

 

Swasti dan ayahnya memang tidak banyak menarik perhatian. Orang itu hanya sekedar berpaling. Namun merekapun segera berjalan terus tanpa menghiraukan kedua orang ayah dan anak perempuannya itu.

 

Namun dalam pada itu, ternyata Swasti dan ayahnyalah yang banyak memperhatikan orang itu meskipun dengan diam-diam. Nampaknya ia memang orang asing atau pendatang dipadukuhan yang kering dimusim kemarau itu.

 

“Agaknya ada juga orang-orang kota yang tertarik pada daerah kering ini ayah,“ berkata Swasti.

 

Ayahnya mengangguk. Jawabnya, “Mungkin orang kota yang ingin berbuat sesuatu bagi kemajuan padukuhan yang lamban itu. Atau mungkin ia memang berasal dari salah satu padukuhan itu, kemudian pindah kekota atau merantau, untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Setelah ia berhasil, ia pulang kembali menengok keluarganya dengan sikap dan pakaian yang lain.”

 

Swasti hanya mengangguk-angguk saja.

 

Keduanyapun kemudian melanjutkan perjalanan mereka meskipun sekali-sekali Swasti masih saja berpaling, memandang beberapa orang petani dan seorang yang asing itu berjalan semakin jauh.

 

“Bulak ini panjang Swasti,“ berkata ayahnya, “nampaknya tanahnya kurang mendapat garapan.”

 

Swasti mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Tetapi tanda itu ayah?”

 

Ayahnya mengerutkan keningnya. Merekapun kemudian berhenti sejenak pada sebuah batu di pinggir jalan setapak itu.

 

“Sebuah tanda perbatasan antara dua padukuhan yang dipimpin oleh Buyut yang berbeda,“ berkata ayahnya.

 

Swasti memperhatikan batu yang disusun seperti sebentuk candi kecil dengan beberapa huruf yang terpahat padanya.

 

Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya ayah. Dua kelompok padukuhan yang berbeda meskipun mula-mula mereka berada dalam satu lingkungan. Tetapi agaknya seorang Buyut yang mempunyai dua orang anak laki-laki kembar terpaksa membagi wilayahnya menjadi dua kelompok padukuhan dibawah pimpinan dua orang anak kembarnya.”

 

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kedua orang Buyut itu akan tetap rukun seperti dua orang saudara. Terlebih-lebih lagi keduanya adalah saudara kembar yang lahir pada saat yang hampir bersamaan dari seorang ibu yang sama.”

 

Swasti masih memandang sesusun batu yang merupakan sebuah candi kecil itu. Kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Pembagian itu sudah terjadi agak lama ayah, sehingga kedua orang Buyut itu sudah setua ayah atau bahkan lebih.”

 

“Ah,“ ayah Swasti menyahut, “aku belum terlalu tua. Kedua Buyut itu tentu jauh lebih tua daripadaku.”

 

Swasti memandang ayahnya sejenak. Kemudian jawabnya, “Memang ayah belum terlalu tua. Jika ada uban yang tumbuh itu adalah karena musim kemarau yang terlalu panjang.”

 

Ayahnya tertawa. Sambil bergeser ia berkata, “Marilah. Kita berjalan lagi. Bukankah kau ingin beristirahat setelah kita sampai keujung hutan dilereng bukit itu.”

 

Swasti mengangguk. Iapun kemudian mengikuti ayahnya melanjutkan perjalanan menuju kekaki bukit.

 

Ketika matahari turun di sebelah Barat, maka sinarnya yang terik mulai memudar. Awan yang putih terapung dilangit dihembus angin ke Utara. Sekumpulan burung bangau yang putih seperti awan yang dihanyutkan angin itu, terbang kearah yang berlawanan, dengan leher dan kaki yang terjulur panjang.

 

Swasti menarik nafas dalam-dalam. Mereka sudah semakin dekat dengan ujung hutan dikaki bukit. Meskipun agaknya hutan itu tidak terlalu besar, tetapi cukup padat oleh tetumbuhan liar.

 

“Tentu masih dihuni oleh binatang buas,“ desis Swasti.

 

Ayahnya mengangguk. Katanya, “Nampaknya demikian Swasti. Tetapi mudah-mudahan binatang-binatang buas itu tidak mengganggu. Meskipun demikian kita memang harus berhati-hati. Bukankah kau pandai memanjat ?”

 

Swasti mengangguk. Tetapi tatapan matanya bagaikan tertambat pada batang-batang pohon di ujung hutan dihadapan mereka.

 

Keduanya masih berjalan terus meskipun Swasti nampaknya menjadi semakin lelah. Tetapi hutan itu sudah dekat. Tanah yang basah dan getaran yang dapat ditangkap oleh ketajaman indera ayah gadis itu, memberikan harapan bahwa mata air itu akan dapat mereka ketemukan dihutan dihadapan mereka.

 

Swasti menarik nafas dalam-dalam ketika bayangan pepohonan hutan itu mulai menyentuh tubuhnya. Kemudian dilemparkannya seonggok bungkusan yang dibawanya. Dengan serta merta dijatuhkannya tubuhnya yang ramping diatas tanah dipinggir hutan itu tanpa menghiraukan kemungkinan binatang merayap yang dapat menyengat tubuhnya.

 

“Tanah ini memang basah ayah,“ desis Swasti.

 

Ayahnya mengangguk-angguk. Dipandanginya padang perdu yang sempit dipinggir hutan itu, yang membatasi daerah persawahan. Keheranan nampak membayang diwajahnya.

 

“Apa yang ayah perhatikan ?” bertanya Swasti.

 

“Tanah ini basah Swasti. Tetapi sawah itu justru nampak kering dimusim kemarau.“ sahut ayahnya.

 

“Ada sesuatu yang kurang pada penghuni padukuhan yang tersebar ini ayah. Mereka kurang pengetahuan tentang bercocok tanam, atau mereka memang malas untuk mencari yang belum pernah mereka miliki.”

 

Ayahnya mengangguk-angguk. Sejenak ia masih memandang daerah yang luas dihadapannya. Namun iapun kemudian duduk disebelah anaknya yang masih saja berbaring. Bahkan oleh angin yang semilir, Swasti mulai dijalari oleh perasaan kantuk.

 

“Jangan tidur,“ desis ayahnya.

 

Swasti menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun dengan malasnya bangkit dan duduk pula bersandar sebatang pohon.

 

“Aku letih sekali ayah. Bagaimana kalau aku tidur barang sekejap?”

 

“Sebentar lagi senja akan menjadi gelap. Jangan tidur disaat-saat seperti ini. Tunggulah sampai gelap. Kita akan membuat perapian dan tidur bergantian.”

 

Swasti menggeliat. Katanya, “Tetapi aku memerlukan air sekarang ayah.”

 

“Kau sudah minum bukan ? Di padukuhan lewat ujung bulak ini kita sudah mendapatkan belas kasihan dari seseorang yang sedang memetik kelapa. Kita mendapat air kelapa secukupnya.“ ayahnya berhenti sejenak, lalu. “tetapi jika kau sudah mulai haus lagi, marilah. Kita mencari batang merambat. Aku aku memotong pangkal dan ujungnya. Dan kita akan mendapatkan air untuk minum.”

 

“Ayah hanya memerlukan air untuk minum. Tetapi aku tidak.”

 

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Baiklah. Kita akan segera mencari air. Naluriku mengatakan, bahwa kita sudah dekat dengan mata air.”

 

Swasti akan menjawab. Tetapi ia melihat ayahnya sedang memusatkan pendengarannya sambil menyentuh tanah dengan telapak tangannya. Karena itu Swasti tidak mengucapkan kata-katanya. Bahkan iapun kemudian berdiri dan melangkah untuk melihat-lihat keadaan disekitarnya.

 

Didalam hati Swasti masih juga selalu mengagumi ayahnya. Dengan melekatkan telapak tangannya ditanah, seolah-olah lewat jalur urat nadinya, getaran-getaran bumi terdengar oleh telinga batinnya. Sehingga dengan demikian ayahnya dapat mengetahui arah arus air dibawah batu-batu padas yang dalam.

 

Swasti berpaling ketika ayahnya memanggilnya.

 

“Swasti,“ berkata ayahnya, “rasa-rasanya kita sudah tidak jauh lagi dari sebuah mata air. Tetapi apakah kau tidak ingin beristirahat barang sejenak? Atau mungkin semalam ini ? Besok pagi-pagi kita akan mencari mata air didaerah pebukitan ini.”

 

“Kenapa tidak malam nanti ayah? Sekarang aku memang akan beristirahat. Mungkin aku memerlukan tidur sejenak, meskipun setelah malam menjadi gelap. Tengah malam kita melanjutkan perjalanan.”

 

“Hutan ini belum pernah kita kenal,“ sahut ayahnya, “sebaiknya kita tidak memasukinya dimalam hari.”

 

Swasti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Besok pagi2 kita melanjutkan perjalanan.”

 

Perlahan-lahan gelap malam mulai turun menyelubungi bukit. Dengan batu titikan dan segumpal emput gelugut aren, ayah Swasti membuat api. Dengan dedaunan kering dan ranting-ranting yang berserakan, ia membuat perapian. Kemudian beberapa potong kayu diletakkannya pula diatas api.

 

“Sekarang tidurlah,“ berkata ayah Swasti.

 

Swasti yang memang sudah berbaring menguap. Kemudian jawabnya, “Ya ayah. Aku akan tidur.”

 

Ayahnya memandang anak gadisnya dengan tatapan kebapaan. Ia merasa iba melihat gadisnya yang letih berbaring diatas rerumputan kering. Meskipun Swasti sempat membersihkan tempat ia berbaring, namun rasa-rasanya bergejolak juga jantung ayahnya melihat anak gadisnya terbaring diatas tanah.

 

Tetapi orang tua itu berkata didalam hati, “Mudah-mudahan yang terjadi ini merupakan syarat keprihatinannya. Mudah-mudahan kelak Yang Maha Agung memberikan hari-hari yang lebih cerah kepadanya.”

 

Swasti yang lelah itu dengan tenang tertidur nyenyak. Gadis itu terlalu percaya kepada ayahnya, bahwa ayahnya akan dapat melindunginya dari segala bahaya.

 

Namun belum lagi tengah malam, Swasti terkejut. Tiba-tiba saja ayahnya membangunkannya dengan tangan menggigil.

 

“Swasti, Swasti.”

 

Swasti terkejut. Namun rasa-rasanya tubuhnya tertekan oleh himpitan kekuatan yang menahannya untuk meloncat bangkit. Bahkan kemudian rasa-rasanya tubuhnya menjadi sangat lemah.

 

Namun ia memaksa diri untuk bangkit dan duduk disebelah ayahnya yang ketakutan.

 

“Ada apa ayah ?“ bertanya Swasti.

 

“Seekor harimau Swasti. Seekor harimau yang garang sekali.”

 

Swasti menjadi heran. Namun iapun mulai mendengar dengus binatang buas itu.

 

“Tetapi …,“ suara Swasti terputus. Ia merasa tekanan pada urat nadi dipergelangan tangannya, sehingga ia tidak melanjutkan kata-katanya.

 

Dengan tegang Swasti memandang ayahnya yang ketakutan. Sementara dengus harimau yang garang, semakin lama semakin lama semakin mendekat.

 

“Ayah, apakah binatang buas tidak takut melihat api ?“ bertanya Swasti yang lemah.

 

“Aku tidak tahu Swasti. Tetapi binatang itu tentu akan menerkam kita.”

 

Ayah Swasti memalingkan wajahnya ketika tiba-tiba saja seekor harimau yang besar muncul dari balik gerumbul dan mulai merunduk mendekati kedua orang ayah dan anaknya itu.

 

Swasti menjadi heran melihat sikap ayahnya. Tentu ada sebabnya kenapa ayahnya tidak berdiri tegak menghadapi harimau yang sedang merunduk itu, dan justru merengek-rengek seperti anak-anak. Sedang dirinya sendiri seolah-olah menjadi lemah tidak bertenaga.

 

Sementara itu harimau yang garang itupun menjadi semakin dekat. Kemudian merendah di kaki depannya sehingga dadanya menyentuh tanah. Ekornya dikibas-kibaskannya perlahan, sedang kedua belah matanya bagaikan menyala.

 

Harimau yang garang itu siap untuk meloncat menerkam orang tua dan anak gadisnya yang nampaknya ketakutan.

 

Namun ketika harimau itu mengaum, tiba-tiba meloncatlah seorang anak muda disebelah perapian. Wajahnya yang tegang menyala dengan penuh kemarahan.

 

“Jangan takut,“ geram anak muda itu, “aku akan membunuh harimau yang buas itu.”

 

“O,“ ayah Swasti menyahut dengan suara gemetar, “tetapi harimau itu sangat besar.”

 

Anak muda itu tidak menjawab. Ia berdiri dengan kaki renggang dan sebilah pisau belati ditangan, siap menghadapi harimau yang perhatiannya telah berpaling kepada anak muda itu.

 

Swasti termangu-mangu. Ternyata anak muda itu adalah anak muda yang dilihatnya berjalan beriring dengan para petani dipematang dengan pakaian dan sikap yang asing.

 

Ketika kemudian terdengar harimau itu mengaum keras, maka anak muda itupun merendah pada lututnya. Ia telah bersiap sepenuhnya ketika harimau itu kemudian meloncat menerkamnya.

 

Sejenak kemudian telah terjadi pertarungan yang dahsyat antara seekor harimau yang besar dan garang, melawan anak muda bersenjata pisau belati itu. Ternyata anak muda itu lincah sekali. Ia mampu mengelak, dan bahkan kemudian meloncat kepunggung harimau itu. Tangan kirinya memeluk leher harimau itu seperti melekat. Betapapun harimau itu berusaha, namun anak muda dipunggungnya tidak dapat dilemparkannya.

 

Terdengar auman yang bagaikan menyobek sepinya hutan dilereng bukit itu, ketika anak muda itu mulai menghunjamkan pisau belatinya ketubuh harimau yang melonjak-lonjak dan sekali-kali berguling-guling.

 

Tetapi harimau itu ternyata tidak berdaya. Semakin lama luka-luka ditubuhnya menjadi semakin banyak. Darah mengalir semakin deras. Tidak saja membasahi tubuhnya sendiri, tetapi anak muda itupun mulai dilumuri oleh warna-warna merah. Bukan saja karena darah harimau yang menjadi semakin tidak berdaya. Tetapi ternyata tubuh anak muda itu sendiri telah terluka pula karenanya.

 

Swasti memandang perkelahian itu dengan tanpa berkedip. Ia menjadi kagum melihat kesigapan anak muda itu. Ia yakin bahwa sebentar lagi harimau yang garang itu tentu akan terbunuh.

 

Ayahnya yang gemetarpun nampaknya menjadi semakin tenang. Ia melihat anak muda itu benar-benar telah menguasai lawannya. Akhirnya, dengan auman yang dahsyat harimau itu berusaha melonjak dan melepaskan diri dengan sisa tenaganya. Tetapi tidak berhasil. Bahkan tusukan-tusukan berikutnya membuat harimau itu tidak berdaya.

 

Sesaat kemudian, maka pertempuran itupun selesai. Anak muda yang perkasa itu melepaskan tubuh harimau yang telah dibunuhnya. Sambil mengusap pisaunya yang berlumuran darah ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Jangan takut lagi kakek tua, Harimau itu sudah mati.”

 

“Terima kasih ngger. Terima kasih.“ suara ayah Swasti masih bergetar.

 

Anak muda itupun kemudian berdiri tegak memandang orang tua itu berganti-ganti dengan anak gadisnya. Setapak ia melangkah maju kedekat perapian sambil berkata, “Jiwa kalian telah selamat.”

 

“Tetapi, tetapi angger sendiri nampaknya teriuka,“ berkata ayah Swasti.

 

Anak muda itu memandangi tubuhnya. Katanya sambil tersenyum, “Wajar sekali jika aku terluka. Kuku harimau itu lebih tajam dari duri. Kekuatannya melampaui kekuatan seekor kerbau gila.”

 

“Tetapi angger dapat mengalahkannya.”

 

Anak muda itu tersenyum.

 

“Lalu. bagaimana dengan luka-luka itu?“ bertanya ayah Swasti.

 

“Aku mempunyai obatnya. Aku akan mandi, kemudian mengobati luka-lukaku.“ ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi siapakah kau berdua ini ? Dan kemanakah tujuan kalian ? Aku lihat kalian sebagai dua orang yang sedang bepergian jauh. Siang tadi, ketika kita bertemu, aku tidak begitu menghiraukan kalian. Tetapi ketika aku melihat perapian, aku jadi teringat. Aku sudah menduga bahwa kalianlah yang berada dipinggir hutan ini.”

 

“Ya ngger. Akupun ingat, bahwa kita telah berjumpa. Sebenarnyalah bahwa aku tidak mempunyai tujuan tertentu. Kami berdua dalam perjalanan perantauan menuruti kehendak hati.”

 

Anak muda itu memandang Swasti sejenak. Gadis itu menundukkan kepalanya. Ia tidak berniat untuk bertanya lagi kepada ayahnya, karena ia sudah dapat menangkap, apakah yang sebenarnya terjadi.

 

Meskipun demikian, ia tetap mengagumi anak muda yang perkasa itu. Dalam usianya ia sudah memiliki ilmu kanuragan yang mantap, sehingga kekuatannya dapat mengimbangi kekuatan seekor harimau. Ketangkasannyapun melampaui ketangkasan orang kebanyakan.

 

“Perjalanan kalian hampir merenggut jiwa kalian,“ berkata anak muda itu, “sayang sekali. Siapakah gadis itu?”

 

“Anakku,“ jawab ayah Swasti.

 

“Bawalah kepadukuhan. Tentu ada tempat bagi kalian berdua.”

 

“Ah,“ jawab ayah Swasti, “kami tidak pantas tinggal bersama angger. Kami adalah perantau yang tidak ada harganya. Beribu terima kasih. Tetapi biarlah kami melanjutkan perjalanan kami.”

 

“Jangan merajuk seperti anak-anak Kiai,“ berkata anak muda itu, “sekali lagi kalian bertemu dengan seekor harimau, maka kalian akan mati.”

 

“Kami akan berhati-hati ngger. Adalah salah kami, bahwa kami tidak memanjat sebatang pohon. Biasanya kami tidur diatas pepohonan. Tetapi malam ini kami lengah, sehingga hampir saja maut menjemput kami.”

 

Anak muda itu mengerutkan keningnya, ia menjadi heran mendengar jawaban orang tua itu. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Jadi anak gadismu itu juga pandai memanjat ?”

 

Orang tua itu termangu-mangu, sedangkan Swasti menundukkan kepalanya. Wajahnya menjadi merah.

 

“Begitulah ngger,“ jawab ayah Swasti, “karena kebiasaan kami merantau, maka kadang-kadang anak gadisku berbuat yang tidak biasa dilakukan oleh gadis-gadis yang lain. Ia memang dapat memanjat meskipun harus ditolong. Kami membuat anyaman tali pada dahan-dahan untuk menolong agar kami tidak terjatuh.”

 

“Kau tidak takut harimau kumbang yang juga pandai memanjat ?”

 

“Tidak banyak terdapat harimau kumbang ngger. Tetapi seandainya kami bertemu juga dengan harimau kumbang, maka aku mungkin akan dapat melawannya dengan pedangku. Harimau pada umumnya lemah jika mereka berada diatas pepohonan.”

 

Anak muda itu tersenyum. Jawabnya, “Nampaknya kau memang seorang perantau yang berpengalaman menjelajahi hutan. Tetapi pada suatu saat kau dihadapkan pada bayangan maut seperti yang baru saja kau alami.“ anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi kau adalah orang yang aneh. Kau tidak jera karena peristiwa ini. Bahkan seolah-olah kau cepat melupakannya.”

 

Orang tua itu termangu-mangu. Jawabnya, “Bukan begitu ngger. Tetapi aku berharap bahwa aku tidak akan bertemu lagi dengan seekor harimau. Atau aku tidak membuat kelengahan lagi seperti yang terjadi.”

 

“Kau sangka bahwa harimau hanya dapat kau temui di malam hari ? Bagaimana disiang hari ?”

 

“Biasanya kami tidak menyelusuri hutan seperti ini. Kami berjalan di bulak-bulak panjang. Dari padukuhan yang satu kepadukuhan yang lain. Tetapi kami memang sering bermalam dipinggir-pinggir hutan agar kami tidak mengganggu penghuni padukuhan dengan kecurigaan dan mungkin tuduhan-tuduhan yang kurang baik.”

 

Anak muda itu mengangguk-angguk. Setiap kali diluar sadarnya tatapan matanya menyambar wajah Swasti yang tertunduk. Dalam keremangan cahaya api perapian, wajahnya nampak kemerah-merahan.

 

Ada sesuatu yang menarik pada gadis yang nampak kotor dan kumal itu.

 

Tetapi anak muda itupun kemudian berkata, “Terserahlah kepadamu kakek tua. Aku sudah mempersalahkan kau pergi kepadukuhan. Aku akan menanggungmu. Orang-orang padukuhan tidak akan berani berbuat sesuatu atas orang-orang yang ada dalam perlindunganku.”

 

“Terima kasih ngger. Terima kasih.”

 

“Baiklah. Aku akan pergi. Jika kau kemudian mengambil keputusan untuk datang kepadukuhanku, datanglah. Aku tinggal dipadukuhan terbesar disebelah batas. Disudut padukuhan itu nampak sebatang pohon randu alas yang besar.”

 

“Baik, baik ngger. Tetapi kami belum mendengar nama angger. Mungkin pada suatu saat kami memang akan mencari angger.”

 

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Namaku Daruwerdi.”

 

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Desisnya, “Nama itu bagus sekali. Apakah angger juga berasal dari padukuhan itu?”

 

Anak muda yang bernama Daruwerdi itu tertawa semakin keras. Tanpa menjawab pertanyaan itu ia melangkah sambil berkata, “Aku akan pulang. Sekali lagi aku memberi kesempatan. Bawalah gadismu kepadukuhan itu. Jika kau mau, tinggallah disana. Barangkali itu lebih baik bagimu dan bagi masa depan anakmu. Pada suatu saat anakmu memerlukan sesuatu yang tidak dapat kau ketemukan diperantauanmu itu. Atau barangkali lebih baik kau titipkan gadismu kepada seseorang yang dapat kau percaya agar ia dapat menikmati kehidupan sewajarnya seperti gadis-gadis yang lain.”

 

“Ia satu-satunya anakku ngger.”

 

“Kau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau sama sekali tidak memikirkian nasib dan hari depan anakmu. Apalagi seorang gadis.”

 

Orang tua itu tidak menjawab. Sementara anak muda itu melangkah menjauh. Tetapi ia masih berhenti dan berpaling, “Siapa nama anakmu itu kakek?”

 

Orang tua itu memandang Daruwerdi sejenak. Kemudian jawabnya, “Swasti. Namanya Swasti ngger.”

 

“Nama itupun bagus sekali. Jangan kau sia-siakan anakmu. Tatapan matanya mengandung kepahitan hidupnya. Dan kau masih mementingkan dirimu sendiri.”

 

Daruwerdi tidak menunggu jawaban orang tua itu. Iapun kemudian melangkah semakin jauh dan hilang dalam kegelapan, di sela-sela pepohonan.

 

Ketika anak muda itu telah hilang, Swasti beringsut mendekati ayahnya sambil bergumam, “Ayah memijit pusat nadi tanganku.”

 

Orang tua itu tersenyum Jawabnya, “Anak muda yang luar biasa. Aku mendengar kedatangannya. Karena itu aku biarkan ia melawan harimau yang garang itu. Ternyata ia berhasil.”

 

“Ayah membiarkan ia melakukan pekerjaan yang sangat berbahaya itu,“ desis Swasti.

 

“Jika ia tidak meyakini kemampuannya, ia tidak akan melakukannya.”

 

Swasti tidak menjawab. Tubuhnya terasa telah pulih kembali. Ia mengerti, bahwa ayahnya memaksanya untuk tidak berbuat sesuatu saat Daruwerdi berkelahi dengan seekor harimaul yang garang itu.

 

Namun dalam pada itu, wajah ayah Swastipun menegang pula. Tiba-tiba saja ia berbisik ditelinga anaknya, “Ia datang kembali. Aku mendengar desir lembut. Berbuatlah seperti yang aku kehendaki.”

 

Swasti mengangguk. Meskipun badannya telah pulih kembali, tetapi ia tetap duduk dengan lemahnya seperti yang dikehendaki oleh ayahnya.

 

Beberapa saat mereka menunggu. Desir halus itu terdengar semakin dekat. Tetapi ayah Swasti tidak memalingkan wajahnya seolah-olah ia sama sekali tidak mendengarnya.

 

Baru kemudian ketika terdengar pepohonan yang dikuakkan, orang tua itu terkejut, sehingga ia tergeser beberapa jengkal. Dengan serta merta ia berpaling memandang kearah suara desir dedaunan yang tersibak.

 

Tetapi ternyata orang tua itu benar-benar terkejut. Wajahnya menjadi tegang. Ternyata yang datang bukannya Daruwerdi. Tetapi orang lain. Juga seorang anak muda. Tetapi anak muda itu nampaknya lebih sederhana dalam pakaian seorang petani biasa.

 

“O,“ desis ayah Swasti, “siapakah kau anak muda?”

 

Anak muda itu mengangguk hormat. Dengan membungkuk-bungkuk ia melangkah mendekati sambil menjawab, “Kiai, jika berkenan dihati, aku akan memperkenalkan diriku. Aku adalah anak padukuhan disebelah hutan ini. Anak seorang janda miskin yang barangkali tidak berarti sama sekali bagi Kiai.”

 

Anak Swasti mengerutkan keningnya. Dengan heran ia bertanya, “Aku tidak mengerti maksud anak muda.”

 

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kedatangan Kiai kedaerah terpencil ini menumbuhkan pertanyaan dihatiku. Ketika aku mendengar aum seekor harimau, aku telah tertarik untuk melihatnya, karena sebenarnyalah aku memang melihat menjelang senja dua orang yang memasuki hutan ini. Agaknya Kiai dan perempuan yang barangkali sanak kadang Kiai.”

 

“Ia adalah anakku,“ jawab ayah Swasti, “memang seekor harimau telah merunduk kami. Tetapi untunglah, seorang anak muda yang bernama Daruwerdi telah menolong kami. Lihatlah ngger, harimau itu telah dibunuhnya.”

 

“Luar biasa,“ desisnya. Tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun. Apalagi keheranan. Katanya selanjutnya, “Daruwerdi memang seorang anak muda yang perkasa, ia tinggal dipadukuhan disebelah hutan ini pula. Tetapi berbeda dengan padukuhan-padukuhan yang ada sebelah tanda batas itu. Ia berada dibawah kekuasaan Buyut yang berbeda dengan kelompok padukuhanku.”

 

“O,“ ayah Swasti mengangguk-angguk. “Ia berhasil membunuh harimau itu dengan hanya mempergunakan pisau belati?”

 

Anak muda itu tersenyum. Katanya, “Tentu setiap orang ingin menolong Kiai dan anak gadis Kiai. Meskipun aku tidak berkemampuan kanuragan, akupun berniat untuk menolong seandainya diperlukan. Tetapi, rasa-rasanya yang dilakukan oleh Daruwerdi adalah sia-sia.”

 

Swasti dan ayahnya terkejut mendengar kata-kata anak muda itu, sehingga dengan serta meria ayah Swasti bertanya, “Kenapa sia-sia ngger ?”

 

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Apakah artinya yang telah dilakukan oleh Daruwerdi itu bagi Kiai ? Daruwerdi menyangka Kiai tidak mampu berbuat apa-apa dan benar-benar ketakutan melihat harimau itu datang merunduk Kiai dan anak gadis Kiai. Tetapi sentuhan jari-jari Kiai pada nadi anak gadis Kiai, menumbuhkan pertanyaan dihatiku. Dan kemudian akupun yakin, bahwa seandainya Daruwerdi tidak menolong Kiai akupun tidak akan melakukannya, karena Kiai akan dapat membunuh harimau itu dengan sekali hembus tanpa menitikkan keringat dan apalagi darah Kiai sendiri.”

 

Ayah Swasti menjadi tegang. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Anak muda melihat semuanya yang telah terjadi ?”

 

“Aku melihat semuanya yang terjadi. Aku tidak dapat menahan tertawa melihat tingkah laku Daruwerdi. Meskipun ia seorang anak muda yang berani dan memiliki kemampuan yang tinggi, tetapi ia tidak sempat melihat siapakah Kiai sebenarnya, sehingga ia dengan serta merta telah berusaha menolong Kiai,“ jawab anak muda itu.

 

Ayah Swasti menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia bertanya pula, “Apakah angger yakin bahwa tanpa pertolongan anak muda yang berani itu aku dapat menyelamatkan diriku sendiri ?”

 

Anak muda itu tertawa. Namun kemudian sambil mengangguk hormat ia menjawab, “Kiai adalah seorang yang memiliki ilmu tiada taranya. Karena itu, seperti yang aku katakan, tingkah laku Daruwerdi adalah kesia-siaan dihadapan Kiai.”

 

Ayah Swasti memandang anak gadisnya yang mengerutkan kening. Sekilas Swasti memandang anak muda dalam pakaian dan sikap yang sederhana itu. Tetapi ketika tiba-tiba saja anak muda itu juga memandangnya, maka dilemparkannya tatapan matanya kepepohonan yang kehitam-hitaman didalam kelamnya malam.

 

“Angger,“ berkata ayah Swasti kemudian, “dihari pertama kedatanganku didaerah ini, aku sudah dikejutkan oleh peristiwa-peristiwa yang semula diluar dugaanku. Ternyata di dua kelompok padukuhan yang dipimpin oleh dua orang buyut yang berbeda, meskipun mereka adalah saudara kembar, masing-masing dihuni anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun kau tidak menunjukkan kemampuanmu seperti yang dilakukan oleh Daruwerdi, tetapi pengamatanmu atas keadaan kami telah menunjukkan bahwa angger adalah seorang anak muda yang luar biasa, yang tidak kalah tinggi ilmunya dari Daruwerdi.”

 

“Ah,“ desis anak muda itu, “Kiai keliru. Aku hanya dapat melihat. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa.”

 

“Jangan ingkar anak muda. Seperti anak muda dapat melihat keadaanku, maka akupun kini menyadari, siapakah yang ada dihadapanku.”

 

Anak muda itu tersenyum. Katanya kemudian, “Daruwerdi memang seorang anak muda yang terlalu baik. Ia terdorong oleh keinginannya yang tidak terkendali untuk menolong seseorang, sehingga ia tidak melihat siapakah yang akan ditolongnya. Sementara aku adalah, seorang gembala yang tidak berarti, yang selain menggembalakan kambing, aku selalu tenggelam didalam lumpur.”

 

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Sambil tersenyum iapun menyahut, “Sungguh luar biasa. Daerah yang terpencil ini ternyata memiliki kemampuan yang mengagumkan. Angger apakah banyak anak-anak muda yang memiliki ilmu seperti angger Daruwerdi dan angger sendiri?”

 

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Hanya seorang Kiai, Daruwerdi.”

 

Orang tua itu masih saja tersenyum. Katanya, “Angger memang senang bergurau. Baiklah. Angger tentu mengetahui apa yang sudah aku ketahui tentang angger, seperti aku tahu apa yang angger ketahui tentang aku.”

 

Ternyata bahwa anak muda itu memang banyak tertawa. Wajahnya nampak cerah, sedang jawabnyapun rancak. “Tepat Kiai. Dan karena itu pula aku tidak perlu bertanya, kemana Kiai akan pergi.”

 

Orang tua itu bertambah heran. Dengan nada dalam dan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa angger tidak perlu bertanya, kemana kami akan pergi ?”

 

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Meskipun aku tidak pasti, tetapi aku dapat menduga. Bukankah Kiai berjalan menyusuri suara arus air dibawah tanah ?”

 

“Ah,“ orang itu menegang sejenak.

 

Tetapi anak muda itu masih tetap tertawa dan meneruskan. “Kiai tentu ingin menemukan mata air yang menurut dugaan Kiai tersembunyi di dalam hutan dibayangan bukit ini.”

 

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Akhirnya ia menjawab, “Kami tidak ingkar ngger. Agaknya angger memiliki ketajaman penglihatan. Bukan saja penglihatan wadag yang telah melihat aku dengan sengaja menyentuh pusat madi anakku agar tidak menumbuhkan kecurigaain pada angger Daruwerdi. tetapi juga penglihatan perhitungan.”

 

“Kiai tidak usah memuji. Aku kira itu bukannya suatu kelebihan. Bukankah wajar jika seorang perantau memerlukan tempat yang dapat dihuni ? Salah satu syarat untuk sebuah padepokan adalah air.”

 

“Ya ngger. Kami memang sedang mencari sumber air yang aku ketahui mengalir dibawah tanah.”

 

“Baiklah Kiai. Aku dapat memberikan petunjuk serba sedikit karena aku adalah anak daerah ini.”

 

“Terima kasih ngger.”

 

“Kiai,” berkata anak muda itu, “pendengaran Kiai memang sangat tajam. Kiai telah menempuh jalan yang benar, tetapi pada suatu saat dapat kecewa karena arus air dibawah tanah itu sudah ada sejak dari seberang bukit.”

 

“O,“ Swasti berdesis. Diluar sadarnya ia berkata, “Jadi kami harus mendaki dan menuruni bukit ini, atau mencari jalan melingkarnya ?”

 

Anak muda itu memandang Swasti sejenak. Namun seperti yang selalu dilakukan, ia menjawab sambil tersenyum, “Tidak. Kalian tidak perlu melakukannya meskipun kemungkinan itu dapat terjadi jika ayahmu salah pilih.“ ia berhenti sejenak, lalu katanya kepada ayah Swasti, “Kiai, dibawah tanah ini memang sudah mengalir sebuah sungai yang deras. Sementara sumber yang terdapat dibayangan bukit ini hanya merupakan sebagian saja dari arus sungai itu. Karena itu, jika Kiai menyelusuri suara sungai dibawah tanah itu, mungkin sekali Kiai akan mengikuti arus yang lebih besar dari seberang bukit.”

 

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih ngger. Terima kasih. Aku mengerti sekarang, bahwa ada tempuran dibawah tanah. Untunglah aku bertemu dengan angger di sini. Jika tidak, mungkin sekali aku salah memilih jalur air sehingga aku harus berjalan lebih jauh lagi.”

 

“Jika demikian Kiai, marilah. Aku akan mengantar. Kiai sampai ke mata air itu. Sebenarnyalah bahwa tempat itu adalah tempat yang sangat mapan untuk membuat sebuah padepokan.”

 

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Tetapi ia benar-benar telah menjadi heran. Dihari yang pertama didaerah itu, ia telah bertemu dengan orang-orang yang tidak pernah diduganya.

 

Namun keheranan ayah Swasti bukan saja karena sikap anak muda itu, tetapi bahwa ia mengetahui tentang manfaat air dari mata air di bukit itu. Meskipun demikian, sawah-sawah tetap kering dimusim kemarau.

 

“Anak muda,“ akhirnya ayah Swasti tidak dapat menahan ingin tahunya, “menilik sikap dan keteranganmu tentang mata air itu, agaknya kau tahu benar guna manfaatnya.”

 

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Aku sudah menyangka bahwa Kiai akan bertanya demikian. Jika di bukit ini ada mata air, dan aku mengetahuinya, kenapa aku tidak berbuat sesuatu bagi sawah kami yang kering.”

 

Ayah Swasti mengangguk kecil.

 

“Kiai,“ berkata anak muda itu, “ada banyak sebabnya. Penghuni dari sekelompok padukuhan kami dan kelompok padukuhan yang lain, masih dikuasai oleh tata kehidupan yang sudah berpuluh tahun berlangsung. Mereka masih pula dibayangi oleh kepercayaan yang menghambat kemajuan cara berpikir mereka. Menurut pendapat mereka, daerah dilereng bukit ini merupakan daerah yang gawat. Tidak seorangpun yang akan berhasil memasuki hutan yang lebat dan apalagi menemukan mata air.”

 

“Tetapi angger pernah melakukannya,“ potong orang tua itu.

 

“Mereka tidak percaya. Mereka menyangka bahwa aku sekedar bermimpi.“ anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “bahkan seandainya mereka percaya bahwa aku pernah menemukan sumber air itu, namun mereka tidak akan berani berbuat sesuatu.”

 

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian bertanya, “Bagaimana dengan Daruwerdi?”

 

“Ia seorang anak muda yang cakap. Ia melontarkan perhatiannya ketempat yang jauh. Ia mempunyai kawan dan hubungan dengan orang-orang yang tidak dikenal dipadukuhan kami, sehingga ia tidak mempedulikan lagi perkembangan padukuhan tempat ia tinggal.”

 

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Namun kemudian sambil berpaling kepada Swasti ia berkata, “Kita ternyata telah mendapat anugerah dari Yang Maha Agung. Angger ini bersedia mengantarkan kita sampai kemata air yang kita perlukan.”

 

Swasti tidak segera menjawab. Sekilas ditatapnya mata anak muda yang jernih itu. Namun iapun hanya dapat menunduk dalam-dalam.

 

“Angger,“ tiba-tiba saja ayah Swasti bertanya, “apakah angger sudah menyebut nama angger ?”

 

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Apakah itu perlu sekali Kiai?”

 

“Sebutlah, agar kami tidak canggung memanggil angger.”

 

Anak muda itu memandang orang tua itu sesaat. Namun kemudian senyumnya yang cerah menghiasi bibirnya yang bergerak menyebut namanya, “Namaku jelek Kiai. Tidak sebaik Daruwerdi.“ ia nampak ragu-ragu. namun kemudian diucapkannya juga, “namaku Jlitheng.”

 

“Bohong,“ diluar sadarnya Swasti tiba-tiba saja menjawab. Namun ketika terasa anak muda itu memandanginya, terasa wajahnya menjadi panas, sehingga iapun menunduk semakin dalam.

 

Ayah Swastipun tertawa. Katanya, “Menurut pengamatanku, angger bukan seorang anak muda yang termasuk berkulit hitam.”

 

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Menurut ibuku, saat aku lahir, kulitku hitam seperti arang. Kakekkulah yang memberi nama kepadaku Jlitheng.”

 

“Itu bukan nama ngger. Tetapi panggilan. Atau nama panggilan. Tetapi angger tentu mempunyai nama lain.”

 

Anak muda itu tertawa semakin keras. Katanya, “Panggil saja aku Jlitheng. Aku senang mendapat panggilanku.”

 

Ayah Swasti termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Baiklah angger Jlitheng. Untuk sementara aku akan mempergunakan nama panggilan itu.”

 

“Panggil saja namaku Kiai. Kiai tidak perlu memakai sebutan apapun. Bagiku terasa lebih akrab dan akupun jauh lebih muda dari Kiai. Mungkin sebaya atau lebih tua sedikit dengan anak Kiai.”

 

Ayah Swastipun tertawa semakin keras. Tetapi Swasti menunduk semakin dalam. Rasa-rasanya pipinya menjadi tebal dan lehernya tidak dapat diangkatnya. Sehingga untuk beberapa lamanya ia duduk bagaikan membeku.

 

“Tetapi Kiai, akupun ingin mendengar Kiai menyebut sebuah nama. Aku tidak peduli apakah itu benar-benar nama Kiai, atau sekedar nama panggilan atau bahkan gelar Kiai.”

 

Orang tua itu tertawa. Jawabnya, “Aku ingin memberi gelar kepadaku sendiri. Mungkin aku dapat menyebut beberapa gelar kebesaran. Mungkin Gajah Limpad atau Garuda Yaksa atau gelar yang lebih dahsyat lagi. Tetapi aku tidak dapat mengingkari namaku sendiri yang sederhana. Anak muda, panggillah aku dengan namaku yang sebenarnya, Kiai Kanthi. Ya, namaku memang Kiai Kanthi.”

 

Anak muda itu mangerutkan keningnya. Sejenak ia seolah-olah sedang merenungi nama itu. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil. Dengan nada datar ia bertanya, “Aku memang tidak bertanya, kemana Kiai akan pergi, tetapi aku sekarang bertanya, dari manakah Kiai datang.”

 

Orang tua yang menyebut namanya Kiai Kanthi itupun menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian, “Aku berasal dari padepokan yang jauh ngger. Padepokan yang hancur dilanda gempa dan tanah longsor yang dahsyat. Unturglah bahwa kami sempat mengungsi. Ada beberapa orang penghuni padepokanku selain kami berdua. Merekapun sempat meninggalkan padepokan ketika hujan lebat dan angin prahara mulai melanda padepokan kami. Air yang mengalir dari lereng bukit bagaikan dituang dari langit. Ketika kemudian tanah bagaikan diguncang, maka runtuhlah tebing bukit diatas Padepokanku. Sementara banjir yang kemudian datang bagaikan menghanyutkan tanah garapan kami.”

 

“Kiai,” tiba-tiba anak muda itu memotong, “apakah Kiai datang dari daerah Pucang Sewu disebelah Kali Buntung.”

 

Orang tua itu termangu-mangu.

 

“Sungai kecl itu memang seperti setan. Dimusim kering airnya tidak lebih dari titik-titik embun. Tetapi jika hujan turun dengan lebatnya, maka airnya dapat meluap sampai beratus-ratus tonggak,“ desis anak muda itu.

 

Orang tua yang menyebut dirinya bernama Kiai Kanthi itu masih termangu-mangu. Ditatapnya wajah anak muda itu dengan tajamnya. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Tentu berita tentang bencana alam itu sudah sampai kepadukuhan ini.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Memang terdengar berita tentang bencana alam itu. Aku menghubungkan dengan ceritera Kiai. Jadi apakah Kiai benar datang dari daerah Pucang Sewu yang seakan-akan telah musnah itu ?”

 

Kiai Kanthi mengangguk. Jawabnya, “Benar ngger. Aku adalah salah seorang penghuni Pucang Sewu. Pucang Sewu di bagian Barat sampai saat ini masih tetap utuh. Tetapi agaknya daerah persawahannya tidak akan mencukupi lagi. Sedangkan padepokanku bagaikan hanyut oleh tanah yang longsor dilereng bukit, sedang sawah dan ladangku telah dihanyutkan oleh banjir Kali Buntung.”

 

“Dan sekarang Kiai mencari tempat untuk membuka padepokan baru,“ sahut Jlitheng, “agaknya Kiai memang senang tempat dilereng bukit. Kali ini Kiai telah menuju kelereng bukit pula.”

 

Kiai Kanthi mengerutkan keninignya. Kemudian sambil tersersyum ia menjawab, “Aku tidak pernah memikirkannya. Aku tidak pernah menganggap bahwa tinggal di lereng bukit adalah lebh baik daripada tinggal ditempat lain. Adalah kebetulan bahwa kali ini aku mengikuti arus air dibawah tanah sampai kelereng bukit pula.”

 

Anak muda yang lebih senang dipanggil Jlitheng itu tettawa. Katanya, “Marilah Kai. Aku antarkan Kiai memasuki hutan ini. Sebelum pagi kita sudah akan sampai ditujuan.”

 

Kiai Kanthi memandang anak gadisnya sejenak, seoah-olah ia ingin bertanya, apakah ia sudah tidak terlau lelah untuk melanjutkan perjalanan, meskipun sejak semula Swasti minta kepada ayahnya untuk melanjutkan perjalanan di malam hari.

 

Tetapi dalam pada itu, sebelum ayahnya bertanya, Swasti sudah mendahului, “Terserahlah kepada ayah. Aku sudah beriitirahat meskipun sebentar. Tetapi ayah sama sekali belum.”

 

“Akupun sudah,“ jawab ayahnya, “ketika kau tertidur, aku sudah cukup beristirahat.”

 

Swasti tidak menjawab lagi. Dipandanginya saja anak muda yang wajahnya nampak cerah dan selalu tersenyum itu sejenak. Namun semakin lama wajah itu menjadi semakin kabur karena api diperapian semakin susut.

 

“Baiklah,“ berkata ayah Swasti, “marilah kita pergi.”

 

Swastipun kemudian bangkit sambil membenahi dirinya dan sebungkus kecil pakaiannya. sementara ayahnya memadamkan perapian agar apinya tidak menimbulkan bahaya kebakaran pada hutan dilereng bukit itu.

 

Sejenak kemudian, ketiga orang itupun telah melanjutkan perjalanann. Jlitheng berada dipaling depan. Dibelakangnya berjalan Kiai Kanthi. Sedang dipaling belakang adalah Swasti.

 

Bagaimanapun juga Kiai Kanthi masih juga harus berhati-hati. Ia sadar bahwa anak muda itu tentu anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi, sedangkan ia masih belum mengenalnya dengan baik, sehingga kemungkinan yang tidak diharapkannya masih saja dapat terjadi.

 

Tetapi agaknya anak muda itu benar-benar ingin menunjukkan mata air yang tersembunyi didalam hutan di bukit itu. Langkahnya tetap, seolah-olah tanpa berpaling. Sekali-kali mereka harus menyusuri celah-celah padas yang menanjak setinggi pepohonan. Namun sekali-kali mereka harus berloncatan dari batu-batu raksasa kebatu berikutnya.

 

“Apakah tidak ada jalan lain yang lebih baik ngger ?” bertanya Kiai Kanthi.

 

Jlitheng menyahut tanpa berherti, “Ada Kiai. Tetapi jalan itu panjang sekali. Kita dapat menyusuri sela-sela pepohonan. Jalannya memang lebih baik diri jalan yang kita tempuh sekarang. Tetapi kita akan terlalu lama mencapai mata air itu.”

 

Kiai Kanthi tersenyum. Seakan-akan kepada diri sendiri ia berkata, “Kau cerdik anak muda. Bukankah kau ingin mengetahui, apakah anak gadisku mampu melakukan seperti yang kau lakukan sekarang.”

 

“He?“ tiba-tiba saja Jlitheng tertegun. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia berpaling sambil tertawa. “Kiai mempunyai tangkapan yang tajam sekali. Dan sekarang ternyata bahwa Swasti adalah seorang gadis yang luar biasa. Ia tidak saja mempunyai ketahanan tubuh yang melampaui kebanyakan orang, bahkan laki-laki sekalipun, yang ternyata dengan perjalanannya yang berat. Tetap iapun, mampu melewati jalan ini. Ia mamnu berloncatan dari batu ke batu. Menanjak tebing dalam gelapnya malam. Mendaki batu-batu padas yang licin oleh lumut hijau dan keseimbangan yang mantap.”

 

“Ah,“ Swasti berdesis, “jika aku tahu, aku tidak mau.”

 

Jlitheng tertawa semakin panjang. Katanya, “Tetapi semuanya sudah terjadi. Akulah yang akan dapat memanfaatkan pertemuan ini sebaik-baiknya. Jika Kiai bersedia, aku akan mencoba mempelajari ilmu yang tentu tersimpan tanpa batas di dalam diri Kiai.”

 

“Ah,“ potong Kiai Kanthi, “jangan mengada-ada ngger. Aku sama sekali bukan orang yang kau maksud. Sekarang, marilah. Kita melanjutkan perjalanan.”

 

Jlitheng menarik nafas panjang, iapun kemudian mengangguk-angguk kecil. Tetapi tidak sepatah kata lagi keluar dari mulutnya.

 

Ketiga orang itupun kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Kadang-kadang mereka mencuat dari hutan-hutan kecil lewat batu-batu padas. Namun kemudaan mereka kembali memasuki hutan, berjalan diantara pepohonan, dan kadang kadang menyusup diantara sulur-sulur yang bergayutan.

 

Dalam gelap malam perjalanan mereka terasa tersendat-sendat. Langkah mereka menjadi lamban dan sempit. Meskipun mereka tetap maju menyusup semakin dalam.

 

Betapa tajamnya telinga Kiai Kanthi ketika ia berdiri diatas batu padas yang basah, maka iapun berkata, “Jika kau menyebut tempuran itu ngger, agaknya kita sudah berada diatasnya.”

 

“Ya Kiai,“ jawab Jlitheng, “karena itu kita sudah hampir sampai. Disebelah kita akan menemukan air itu mengalir diatas batu-batu padas dan tumpah kedalam parit-parit di sela-sela batu yang membawa air itu masuk kebawah tanah dan mengalir menyatu dengan sungai yang memang sudah terdapat sejak seberang bukit.”

 

Kiai Kanthi menarik nafas panjang. Diluar sadarnya ia berpaling kepada anak gadisnya yang diketahuinya, tentu telah menjadi sangat letih. Hanya karena tempaan yang pernah diterimanya dari ayahnya sajalah, maka Swasti masih jalan dibelakangnya betapapun berat perjalanan itu.

 

Yang dikatakan oleh Jlitheng hampir sampai itupun ternyata masih memerlukan waktu yang panjang. Mereka menyusup semakin dalam diantara pepohonan.

 

Semakin jauh mereka berjalan, maka semakin terasa pada kaki Kiai Kanthi, bahwa tanah memang menjadi semakin basah. Oleh ketajaman perasaannya, maka Kiai Kanthi pun mengetahui, bahwa perjalanan mereka memang sudah dekat.

 

Swasti menarik nafas dalam-dalam ketika ia mulai mendengar gemerisik air. Bahkan rasa-rasanya ia ingin meloncat berlari langsung menceburkan diri kedalamnya. Namun ia masih menahan diri. Apalagi ia menyadari bahwa ia belum pernah menginjak daerah itu. Daerah yang mungkin mempunyai rahasia yang dapat mencelakakannya.

 

Ternyata seperti yang diduganya, maka Jlithengpun berkata, “Berhati-hatilah Kiai. Disini kita mendapatkan beberapa jalur parit yang curam dan dalam, yang menampung air yang meluap dari sebuah kolam.”

 

“O, semacam luweng maksudmu ngger ?”

 

“Ya. Luweng yang terbuka dan terbujur memanjang.”

 

Kiai Kanthi tidak menjawab. Tetapi pendengarannya yang semakin jelas, seolah-olah telah memberikan gambaran, betapa berbahayanya daerah yang belum pernah dikenalnya itu.

 

Namun akhirnya merekapun sampai kesebuah dataran yang agak luas. Hutan yang tumbuh pepat menunjukkan bahwa tanah dibawah kaki mereka adalah tanah yang basah dan subur.

 

“Kita sudah sampai Kiai,“ desis Jlitheng, meskipun yang nampak disekitar mereka hanyalah kelebatan hutan semata-mata.

 

Tetapi Kiai Kanthipun menangkap maksud anak muda itu. Iapun merasa bahwa ia telah sampai ketujuan. Hanya kelebatan hutan dan kelamnya malan sajalah yang masih memberikan jarak antara mereka dengan kolam yang sudah tidak jauh lagi dari mereka.

 

“Kiai,“ berkata Jlitheng. “tugasku sudah selesai. Aku kira tidak ada lagi yang perlu aku kerjakan buat Kiai, seandainya ada seekor bahkan dua ekor harimau datang bersama-sama sekalipun, aku tidak perlu mencemaskan nasib Kiai dan anak gadis Kiai yang luar biasa itu.”

 

“Kau memang aneh anak muda,“ jawab Kiai Kanthi, “namun demikian, aku kira kita masih akan berhubungan terus, seperti aku pun ingin selalu berhubungan kelak dengan angger Daruwerdi. Bukankah angger kenal baik dan bahkan mungkin bersahabat dengan angger Daruwerdi ?”

 

“Tentu Kiai. Meskipun kelompok padukuhan kami dan kelompok padukuhan Daruwerdi diperintah oleh orang yang berbeda, tetapi kami tetap rukun seperti keluarga, karena pada dasarnya kami memang sekeluarga.”

 

“Tetapi aku melihat kelainan pada sikap angger Daruwerdi,“ bertanya Kiai Kanthi.

 

Anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah yang berbeda Kiai ?”

 

“Menilik dari ujud lahiriahnya saja, ia berpakaian lain dari kawan-kawannya. Dan maaf, agak berbeda pula dengan pakaianmu ngger.”

 

“Ah. Kiai aneh sekali. Sudah barang tentu pakaian kami berbeda-beda menurut selera kami masing-masing. Apakah Kai dapat melihat perbedaan selera memilih pakaian sebagai sesuatu yang perlu mendapat perhatian? Jika Kiai memperhatikan, mungkin terdapat kelainan pula pada pakaianku dengan pakaian kawan-kawanku dan sebaliknya.”

 

Kai Kanthipun mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin angger benar. Ya, agaknya aku memang sudah pikun.”

 

Jlitheng tertawa. Jawabnya, “Sudahlah Kiai. Aku mohon diri. Besok aku akan datang lagi ketempat ini. Mungkin sendiri mungkin bersama Daruwerdi. Ia tentu ingin juga bertemu dengan Kiai setelah ia menolong Kiai dan anak gadis Kiai. Tetapi aku kira Kiai belum mengatakan bahwa Kiai akan datang kemari kepada Daruwerdi.”

 

“Apakah angger akan memberitahukan kepadanya ?” bertanya Kiai Kanthi, “dan apakah itu perlu ?”

 

Jlitheng mengerutkan dahinya. Dengan suara datar ia bertanya, “Jadi bagaimana pesan Kiai ?”

 

“Sebaiknya jangan tergesa-gesa memberitahukan kerada siapapun ngger. Aku kira aku lebih senang melihat daerah ini untuk dua tiga hari, untuk dapat mengambil keputusan. apakah aku akan menetap atau kemungkinan itu terpaksa aku lepaskan karena daerah ini kurang memadai.”

 

“Baiklah Kiai. Tetapi aku berharap Kiai akan kerasan tinggal dihutan ini. Disini ada air. Dataran yang cukup luas dan pohon buah-buahan yang dapat untuk sementara membantu Kiai. meskipun pepohonan yang memberikan buah-buahan yang dapat dimakan itu telah mengundang beberapa jenis binatang. Disini banyak kera Kiai. Tetapi kera itu bagaikan lenyap ditelan bukit, jika satu dua ekor harimau sampai ketempat ini.”

 

“Terima kasih atas segala keterangan itu ngger. Aku akan melihat, apakah aku dapat berbuat sesuatu atas daerah ini.”

 

Anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itupun sekali lagi minta diri dan meninggalkan Kiai Kanthi serta anak gadisnya di daerah yang asing bagi keduanya itu.

 

Sejenak Kiai Kanthi masih termangu-mangu. Ditebarkannya pandangan matanya kesekelilingnya. Tetapi gelap sisa malam masih sangat membatasi jarak jangkau tatapan matanya. Namun tatapan mata batin orang tua itu sudah melihat. bahwa didekat mereka terdapat sebuah kolam yang airnya melimpah menglir bertebaran, menuju keparit-parit dicelah-celah batu-batu padas yang seakan-akan telah disediakan oleh alam, yang membawanya kedalam arus sungai dibawah tanah.

 

“Kita beristirahat Swasti,“ berkata ayahnya, “tidak lama lagi, kita akan sampai keujung malam. Kita akan segera menemukan air dan mempertimbangkan apakah kita dapat mempergunakan tempat ini. Setelah terang, baru kita akan mengetahui keadaan disekitar kita.”

 

Swasti mengangguk. Dikuakkannya rumput-rumput liar dibawah kakinya. Namun desisnya kemudian, “Tidak ada tempat untuk tidur ayah. Tanah ini terlalu basah.”

 

“Ya, tanahnya terlalu basah. Tetapi kau dapat beristirahat diatas dahan itu.”

 

Swasti mengangkat wajahnya. Dilihatnya beberapa batang pohon besar. Dahannya yang bersilang melintang, memberikan kemungkinan untuk beristirahat kepadanya.

 

“Tetapi apakah disini tidak ada laba-laba hijau yang beracun, atau sebangsa cicak berleher merah ?”

 

“Mungkin memang ada Swasti, kita belum mengenal daerah ini baik-baik. Karena itu berhati-hatilah.”

 

Swasti tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian mengumpulkan seonggok rerumputan liar dibawah sebatang pohon. Kemudian dijatuhkannya dirinya, duduk sambil bersandar. Perlahan-lahan angin yang silir terasa bagaikan membelai jantung, sehingga akhirnya, sambil duduk iapun memejamkan matanya.

 

Ayahnyapun telah duduk didekatnya. Sejenak ia mengamati anak gadisnya. Dalam tidur nampak remang-remang di dalam kegelapan wajah gadis itu membayangkan beban yang berat menggantung dipundaknya.

 

“Kasihan,“ desis ayahnya. Bagamampun juga sebagai seorang ayah ia dapat merasakan betapa berat perasaan anak gadisnya mengikuti cara hidup yang dipilihnya. Kadang-kadang terngiang kata-kata Daruwerdi tentang masa depan anaknya itu.

 

“Kakek mementingkan diri sendiri,” kata-kata itu bagaikan terdengar bergema direlung hatinya berulang-ulang. Kemudian, “Anak gadismu memerlukan masa depan sebagai seorang gadis sewajarnya.”

 

“Ah,“ desah orang tua itu. Namun katanya kemudian didalam hati, seolah-olah ia telah mengucapkan janji. “Disini aku akan membuka sebuah padepokan. Aku akan berusaha memberi kesempatan agar Swasti dapat hidup sebagai seorang gadis sewajarnya, berkawan dengan gadis-gadis yang lain dari kedua kelompok padukuhan itu.”

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia melihat wajah anaknya yang muram. Kemudian keningnya menegang, ketika ia mendengar Swasti didalam tidurnya berdesah panjang.

 

Ternyata bahwa malam segera sampai keujungnya. Langit menjadi merah. Sementara burung-burung liar berkicau bersahut-sahutan.

 

Swasti membuka matanya. Dilihatnya ayahnya masih duduk memeluk lutut.

 

“Ayah tidak beristirahat?“ bertanya Swasti. Tetapi Swasti sendiri mengerti bahwa ayahnya tidak akan dapat tidur jika ia sendiri sedang tidur nyenyak.

 

Ayahnya justru bangkit sambil menggeliat. Katanya, “Aku sudah cukup beristirahat. Alangkah nyamannya pagi yang bakal datang. Kita akan melihat, apakah yang ada disekitar tempat ini.”

 

Swastipun kemudan bangkit pula. Setelah membenahi rambutnya maka iapun berkata, “Kita akan mencari mata air itu ayah.”

 

Keduanyapun kemudian berjalan menyibak lebatnya gerumbul-gerumbul diantara batang-batang pohon besar yang tumbuh dihutan yang pepat itu. Namun seolah-olah Kiai Kanthi memiliki penglihatan jauh melampaui wadagnya, sehingga ia pun dengan tepat telah memilih arah yang benar menuju kesebuah kolam yang airnya melimpah-limpah disegala musim.

 

Sejenak kedua orang itu termangu-mangu. Cahaya pagi sudah mulai menembus rimbunnya dedaunan hutan dan jatuh segumpal-segumpal diatas tanah yang lembab.

 

Dengan tegang keduanya memandang air yang jernih meskipun kotor oleh daun-daun kering yang berjatuhan, tertimbun didasar. Warna lumut yang hijau dan batang-batang kayu yang berpatahan silang melintang. Namun dengan mata wadag, keduanya dapat melihat betapa kelompok-kelompok ikan berenang dekat didasar kolam, menyusup diantara setimbun sampah dan dahan-dahan yang rontok kedalam kolam itu.

 

Di luar sadarnya Swasti berkata, “Tempat yang memungkinkan ayah. Kolam itu menyimpan ikan tidak terbilang banyaknya dari bermacam-macam jenis. Agaknya seperti yang dikatakan oleh Jlitheng. dihutan ini terdapat beberapa jenis pohon buah-buahan yang dapat dimakan.”

 

Ayahnya mengangguk. Katanya, “Nampaknya kita menemukan tempat yang kita cari. Meskipun demikian, kita akan melihat barang satu dua hari. Apakah kita akan dapat membuka sebuah padepokan disini. Kita akan melihat, apakah hujan yang lebat tidak akan meruntuhkan tebing bukit itu dan menghancurkan lereng dibawahnya.”

 

“Tetapi nampaknya kolam ini sudah berumur tua ayah. Jika tanah ditebing itu dapat diruntuhkan oleh air, maka kolam ini tentu sudah tertimbun, meskipun sedikit demi sedikit, tetapi itu terjadi setiap tahun dimusim basah.”

 

Ayahnya mengangguk-angguk. Namun kemudan Swasti berkata, “Tetapi pohon besar itu ayah. Aku melihat kelainan dari pohon-pohon yang lain. Aku melihat didahannya terdapat jenis daun yang berlainan.”

 

Ayahnya memperhatikan pohon besar itu. Iapun melihat jenis daun yang berbeda. Namun iapun melihat serat-serat kayu yang berbeda pada batangnya yang besar, yang bagaikan anyaman sulur-sulur yang besar dan membelit tubuh batangnya.

 

“Memang pohon itu mempunyai kelainan,“ berkata ayah Swasti. Namun kemudian, “kita akan mengetahui jika kita sudah berada disini.”

 

Swastipun kemudian meletakkan sebungkus kecil pakaiannya. Katanya, “Aku akan membersihkan diri ayah. Aku memerlukan air itu.”

 

Ayahnya mengangguk. Namun pesannya. Berhati-hatilah. Mungkin ditempat ini terdapat banyak ular atau binatang berbisa.”

 

Swasti mengangguk sambil melangkah meninggalkan ayahnya memasuki gerumbul dan hilang di rimbunnya dedaunan. Ia mencari arus air yang melimpah dari telaga yang jernih tetapi kotor itu.

 

Rasa-rasanya Swasti sudah tidak tahan lagi. Dua hari ia tidak mandi. Ia hanya sempat mencuci wajahnya diparit yang kebetulan dijumpainya diperjalanan.

 

Tetapi Swasti terkejut ketika ia mendengar daun berdesir. Ketika ia menengadahkan wajahnya, ia bersungut-sungut karena dua ekor kera nampaknya sedang memperhatikannya.

 

“Pergi,” bentak Swasti. Tetapi kera itu tetap ditempatnya. Baru ketika Swasti melemparnya dengan batu kerikil kera itupun melompat dari dahan kedahan yang lain.

 

Sementara Swasti sedang mandi di belakang gerumbul, dengan air yang melimpah dari kolam yang bagaikan disaring oleh bebatuan sehingga daun-daun kering dan lumut yang terdapat ditelaga tidak mengotori arus air itu. Kiai Kanthi dengan saksama memperhatikan tempat disekitarnya. Ketika ia menengadahkan kepalanya, dilihat disebelah lain dari kolam itu terdapat sebatang pohon gayam yang berbuah lebat.

 

“Ada juga pohon gayam di sini,“ gumamnya. Namun bagi Kiai Kanthi hal itu merupakan isyarat yang baik. Untuk sementara pohon gayam itu akan dapat menjadi sandaran makan mereka sehari-hari disamping ikan yang berkeliaran di kolam dan binatang buruan dihutan. Bahkan dengan demikian ia yakin, bahwa ditempat itu tentu masih terdapat beberapa batang pohon gayam lainnya dan mungkin juga pohon yang lain yang dapat memberikan bahan makan baginya sebelum ia berhasil membuka sesobek ladang untuk menanam padi.

 

Ketika kemudian Swasti kembali ketempat itu, maka hampir diluar sadarnya Kiai Kanthi berkata, “Aku sudah mendapat kepastian Swasti, bahwa kita akan tinggal disini.”

 

Swasti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku senang ayah, bahwa aku tidak harus berjalan lagi menempuh jarak yang tidak pasti.”

 

Kiai Kanthi memandang anaknya sejenak. Terasa dihatinya, betapa letihnya anak gadis itu meskipun ia tidak pernah membantah untuk mengikutinya kemana ia pergi.

 

“Ya Swasti,“ suara orang tua itu menjadi dalam, “aku mengerti bahwa kau sudah tidak ingin lagi menempuh perjalanan yang melelahkan. Tetapi kita akan mendapat pekerjaan baru. Kita akan membuka hutan ini.”

 

Swasti termangu-mangu. Dipandanginya beberapa jenis pohon yang besar yang tumbuh disekitar kolam itu. Suatu pekerjaan yang mustahil dilakukan. Bagaimana mungkin ia berdua dengan ayahnya akan dapat menebang pohon-pohon raksasa dan gerumbul-gerumbul perdu yang lebat dan bahkan diantaranya berduri.

 

Kiai Kanthi agaknya melihat keragu-raguan anak gadisnya. Karena itu maka katanya, “Swasti. Sudah barang tentu kita tidak akan menebang pohon-pohon raksasa ini. Kita akan menebas pohon-pohon perdu dan membiarkan satu dua pohon besar yang tumbuh disana.“

“Jadi, kita tidak akan membangun padepokan ditepi telaga ini ayah ? Jika demikian, kenapa kita bersusah payah mengikuti arus air dibawah tanah itu ?”

 

“Swasti. Kita sudah menemukan tempat ini. Tempat ini akan menjadi sumber dari kehidupan dipadepokan yang akan kita bangun. Kita akan mengalirkan air yang tidak terkendali ini ketempat yang paling baik bagi sebuah padepokan. Tentu tidak jauh dari tempat ini.”

 

Swasti mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti maksud ayahnya. Dengan demikian yang harus mereka kerjakan adalah menebang perdu dan mungkin ilalang di sekitar tempat itu. yang kemudian harus menyiapkan sebuah parit untuk mengaliri daerah itu, agar dapat menjadi sawah yang subur, yang akan dapat menampung tebaran benih padi.

 

“Kita akan beristirahat hari ini Swasti,“ berkata ayahnya, “alam telah menyediakan makanan bagi kita. Ikan di telaga itu, binatang buruan dihutan dan lihat, beberapa batang pohon gayam.”

 

Swasti mengangguk-angguk. Namun wajahnya membayang harapan yang cerah. Apalagi kelika ayahnya berkata seterusnya, “Selanjutnya Swasti. kita akan bertetangga dengan dua kelompok padukuhan yang diperintah oleh dua orang buyut yang bersaudara kembar. Kita akan hidup dalam lingkungan yang lebih luas dan bersahabat dengan banyak orang.”

 

Swasti menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu menyekat kerongkongannya. Setelah menempuh perjalanan yang panjang. meninggalkan padepokan yang hanyut oleh banjir dan tanah longsor, maka ditemuinya tempat tinggal yang akan dapat menjadi daerah harapan bagi masa depannya.

 

Seperti yang dikatakan oleh ayahnya, maka pada hari itu keduanya benar2 ingin berstirahat. Swasti memungut beberapa buah gayam terjatuh dan mengamat-amatinya.

 

Namun dengan suara parau ia berkata, “Kita belum mempunyai belanga untuk merebusnya ayah.”

 

Ayahnya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan menghubungi orang-orang padukuhan kelak. Dihari ini kita akan mencari binatang buruan dan memanggangnya diatas api.”

 

“Ada sebatang pohon jambu keluthuk ayah.”

 

“Tentu tidak hanya sebatang. Bijinya akan terhambur dan tumbuh pohon-pohon yang lain disekitarnya.”

 

“Ya. Ya. Ada beberapa batang. Tetapi beberapa ekor kera tentu telah mendahului memetik buahnya yang masak.”

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Teringat olehnya kata-kata anak muda yang menyebut drinya bernama Jlitheng. Anak muda itu akan kembali lagi untuk menengoknya, sehingga Kiai Kanthi itupun berkata, “Swasti. jika benar anak muda itu akan datang lagi, aku akan minta tolong kepadanya untuk meminjamkan belanga kepada kita.”

 

Swasti memandang ayahnya sejenak. Tetapi ia tidak menyahut.

 

Yang dilakukan oleh Swasti kemudian adalah duduk bersandar sebatang pohon sambil merenungi keadaannya. Merenungi dirinya dan masa depannya, sementara ayahnya berusaha untuk menangkap beberapa ekor ikan di telaga itu dengan kail. Dicarinya sepotong ranting kayu untuk mengikat serat pengikat kailnya yang sudah diberinya umpan.

 

Ternyata Kai Kanthi tidak usah menunggu terlalu lama. Kailnya segera bergetar, dan seekor ikan telah menggelepar terkait oleh ujung kailnya.

 

Dalam pada itu. Jlitheng yang sudah tiba dirumahnya, sama sekali tidak mengatakan ke pada … bahwa ia telah bertemu dengan dua orang … sedang mengembara dan memasuki … kan iapun seperti yang dikatakan. … mengajaknya bersama-sama meng … gir telaga itu. Pertemuannya deng … kan pertanyaan didalam dirinya. … milih bukit itu untuk membangun … ditempatnya yang lama benar-benar sudah tidak memungkinkan bagi mereka untuk dapat hidup ? Atau kedatangannya ketempat ini didorong oleh maksud-maksud tertentu ?

 

Sambil membelah kayu di kebun Jlitheng selalu berangan-angan tentang dua orang ayah dan anak itu. Bagaimanapun juga, ia harus menerima kehadiran orang-orang baru dengan curiga. Apalagi Jlitheng mengetahui dengan pasti, bahwa orang yang menyebut dirinya Kiai Kanthi dan anak perempuannya yang bernama Swasti itu memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan.

 

Jlitheng berpaling ketika ia mendengar seorang perempuan yang sudah separobaya memanggilnya. Dilihatnya ibunya berdiri di pintu sambil berkata, “Aku akan memetik daun ketela pohon sebentar Jlitheng. Kau tinggal dirumah saja. Jangan pergi.”

 

“Baiklah biyung. Aku akan menyelesaikan kayu bakar ini,“ jawab Jlitheng. Namun tiba-tiba ia teringat kepada kedua ayah dan anak itu sehingga katanya kemudan, “tetapi nanti aku akan pergi sebentar biyung. Aku akan melihat apakah tanaman kita di pategalan dapat bersemi.”

 

“Tunggu sampai aku pulang.”

 

Jlitheng hanya mengangguk saja.

 

Ketika ibunya meninggalkannya sendiri, maka Jlitheng malah berangan-angan kembali.

 

Jlitheng terkejut ketika seorang anak muda sebayanya datang berlari-lari sambil memanggil namanya sejak di halaman depan rumahnya. Dengan serta merta iapun bangkit dan menyahut, “Aku disini.”

 

Anak muda itupun segera melingkari rumahnya dan menemukannya dikebun belakang.

 

“Jlitheng,“ katanya dengan nafas masih terengah-engah, “aku melihat Daruwerdi melintasi jalan kecil kebukit batu yang gundul itu lagi. Bahkan ia telah berjalan tidak dengan kawan-kawannya dari padukuhan sebelah. Aku melihat dua orang yang sama sekali belum aku kenal.”

 

Jlitheng mengerutkan keningnya. Diluar sadarnya ia berdesis, “Apakah ada hubungannya dengan orang tua itu.”

 

“Orang tua yang mana ?“ bertanya kawannya.

 

Tetapi Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Maksudku, apakah hubungannya dengan bukit batu yang gundul itu. Kita sudah melihat ia, dua tiga kali pergi ke bukit batu gundul itu.”

 

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia bertanya, “Sebenarnya apakah kepentinganmu dengan Daruwerdi sehingga kau menyuruh aku dan Jatra untuk memberikan kepadamu jika kami melihat Danuwerdi pergi ke bukit gundul itu?”

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian duduk lagi sambil memungut parang kecilnya. Sambil membelah kayu ia menjawab, “Tidak ada kepentingan apa-apa. Tetapi kau lihat, bahwa bukit batu yang gundul itu benar-benar bukit batu padas yang keras dan tidak memberi kemungkinan apapun juga. Tetapi Daruwerdi sering pergi ke bukit itu. Aku sudah pernah melihat dua kali. Kau juga pernah melihat dua kali, tiga kali dengan sekarang ini dan Jatra pernah melihatnya sekali. Nah, bukankah hal itu sangat menarik perhatian ?”

 

“Kenapa kau tidak bertanya saja kepadanya, apa yang dicarinya.”

 

Jlitheng mengerutkan dahinya. Sambil tersenyum iapun kemudian berkata, “Duduklah disini.”

 

Kawannyapun kemudian duduk disebelahnya. semenara Jlithengpun berkata, “Tentu saja aku tidak dapat berbuat demikian. Bahkan aku berharap bahwa Daruwerdi tidak mengetahui bahwa kita sedang mengawasinya, ia menganggap bahwa kita semuanya sama sekali tidak menaruh perhatian atas tingkah lakunya. Atau katakan, kami anak-anak pedukuhan yang bodoh ini tidak sempat memikirkan apakah yang dilakukan olehnya di pegunungan batu yang gundul itu. Apalagi kadang-kadang ia datang dengan orang yang tidak kita kenal sama sekali.”

 

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi nampaknya ia tidak puas dengan jawaban Jlitheng. Sehingga Jlitheng perlu menjelaskan. “Dengarlah. Bukankah aku tidak minta kepada setiap orang untuk memperhatikan Daruwerdi ? Aku hanya percaya kepada kau dan Jatra. Itupun aku selalu berpesan, bahwa yang kita lakukan ini jangan diketahui oleh siapapum juga. Kawan-kawan kita yang lainpun jangan mengetahuinya. Baru kelak jika kita sudah pasti mengetahui apa yang dilakukannya, maka kita akan memberitahukan kepada kawan-kawan dan kepada Ki Buyut.”

 

“Kenapa dengan Ki Buyut?”

 

“Maksudku, jika yang dilakukan oleh Daruwerdi itu akan merugikan kita semuanya disini.”

 

“Apakah ruginya seandainya Daruwerdi akan menelan bukit batu yang gundul itu ?”

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukit batu yang gundul itu memang tidak berarti. Meskipun letaknya di perbatasan antara dua kelompok padukuhan, namun baik Ki Buyut yang muda maupun Ki Buyut yang tua sama sekali tidak memperhatikannya. Tetapi kini Daruwerdilah yang menaruh perhatian besar terhadap bukit gundul itu.”

 

Anak muda yang duduk disebelah Jlitheng itu mengangguk-angguk. Sementara Jlithengpun berkata terus, “Kita anak padukuhan ini. Kita wajib mengetahui apa saja yang terdapat dipadukuhan kita.”

 

“Sebelum kau datang Jlitheng,“ sahut temannya, “gunung batu yang gundul itu sama sekali tidak mendapat perhatian kami disini.”

 

“Agaknya memang demikian. Akupun tidak akan memperhatikan, jika Daruwerdi tidak memperhatikan gunung itu berlebihan.”

 

“Coba sebutkan, siapakah yang datang lebih dahulu. Kau atau Daruwerdi.”

 

Jlitheng tertawa. Katanya, “Mungkin aku, tetapi mungkin Daruwerdi. Aku tidak tahu pasti kapan ia datang. Yang aku ingat, aku tinggal di rumah biyung setelah pengembaraanku gagal. Aku tidak mendapat apa-apa dipengembaraan. Maksudku, agar hidupku dapat bertambah baik.”

 

Anak muda disebelah Jlitheng itupun berpikir sejenak. Namun Jlitheng berkata, “Jangan bersusah payah mengingat saat kedatanganku dan kedatangan Daruwerdi. Tidak ada gunanya lagi.”

 

Kawannya mengangguk-angguk.

 

“Nah, aku masih tetap minta tolong kepadamu untuk memberitahukan kepadaku jika kau melihat Daruwerdi datang kebukit batu yang gundul itu. Hanya jika kebetulan kau melihat. Kau tidak perlu dengan bersusah payah mengawasinya.”

 

Kawan Jlitheng itupun termangu-mangu. Namun iapun kemudian mengangguk sambil berkata, “Karena kau sering menolong aku mengerjakan pekerjaanku disawah, maka aku tidak dapat menolak permintaanmu itu Jlitheng.”

 

Jlitheng tertawa. Katanya, “Anggaplah ini sekedar suatu permintaan.”

 

“Tetapi permainan ini berbahaya bagiku. Setiap orang mengetahui bahwa Daruwerdi bukannya anak muda seperti kita. Ia mempunyai banyak kelebihan dan pengetahuannyapun sangat luas.”

 

Jlitheng mengangguk. Jawabnya, “Ya. Karena itu, lakukanlah dengan tidak menimbulkan kesan apapun padanya. Apalagi aku hanya ingin kau mengatakan kepadaku pada saat kau melihatnya tanpa membuang waktu khusus untuk mengawasinya. Adalah kebetulan bahwa sawahmu terletak dijalan menuju kebukit padas yang gundul itu.”

 

“Bukan kebetulan. Tentu kau memilih aku dan Jatra karena sawah kami terletak didekat bukit itu.”

 

Jlitheng tertawa. Jawabnya, “Tepat. Dan agaknya kau memang memiliki kecerdasan.”

 

Kawan Jlitheng itupun kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan kembali kesawah. tetapi coba katakan, apakah hasilnya aku dengan terengah-engah memberitahukan kepadamu bahwa sekarang Daruwerdi pergi kebukit padas itu. Kau, hanya mendengar berita sambil tersenyum, tertawa kemudian mengangguk-angguk. Sementara nafasku hampir putus dan jantungku berdebaran semakin keras.”

 

Jlitheng tersenyum. Katanya, “Untuk sementara aku hanya ingin meyakinkan, bahwa ia memang sering sekali pergi kebukit gundul itu. Selebihnya masih perlu diselidiki. Dan kau tidak perlu berlari-lari begitu.”

 

Anak muda itu mengangguk-angguk. Iapun kemudian minta diri untuk kembali kesawahnya.

 

Sepeninggal kawannya, Jlitheng kembali duduk sambil membelah kayu. Beberapa potong ranting dan dahan-dahan kecil yang sudah terbelah dan terkelupas kulitnya, di jemurnya dibawah sinar matahari yang belum terlalu panas.

 

Namun dalam pada itu, ia mulai teringat lagi kepada dua orang ayah dan anak gadisnya yang berada di bukit yang diselubungi oleh hutan yang meskipun tidak terlalu luas, tetapi cukup lebat.

 

Tiba-tiba saja Jlitheng merasa bahwa ibunya telah terlalu lama pergi. Ia ingin segera melihat, apakah yang sudah dilakukan oleh Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang bernama Swasti itu.

 

“Ibu tentu singgah di rumah tetangga,“ katanya kepada diri sendiri, “masih sepagi ini biyung sudah sempat membicarakan buruk baik tetangga-tetangga yang lain.”

 

Tetapi ia tersenyum ketika melihat seorang perempuan berjalan-jalan perlahan-lahan sambil menjinjing seikat dedaunan.

 

“Sudah kau isi tempayan didapur itu?“ bertanya perempuan itu.

 

“Sudah biyung. Pakiwanpun telah penuh dan kayu sudah kering sebagian. Tetapi tentu sudah berlebihan untuk hari ini.”

 

Perempuan itu mengangguk-angguk. Ketika melangkahi pintu masuk kedalam rumah ia sempat berkata, “Apakah kau akan pergi sekarang ?”

 

“Ya biyung. Aku akan pergi ke pategalan.”

 

“Aku sudah pergi kepategalan. Aku memetik lembayung, bukan daun ketela pohon.. Tetapi kalau kau akan pergi, pergilah. Tetapi jangan terlalu lama.”

 

Jlitheng mengangguk sambil menjawab, “Aku hanya sebentar.”

 

Ketika perempuan itu masuk, Jlithengpun menyelipkan parangnya didinding. Sejenak ia membenahi pakaiannya, sebelum ia dengan tergesa-gesa meninggalkan rumahnya.

 

Namun demikian, Jlitheng masih sempat singgah di sawah sejenak. Dipandanginya bukit padas yang gundul diujung bulak sebelum jalan menjadi semakin sempit dan menuju kepadang perdu dipinggir hutan yang menyelubungi bukit agak jauh dari padukuhan.

 

Bukit gundul itu memang menarik perhatiannya, karena Daruwerdi sering mengunjunginya. Tetapi ia tidak dapat langsung menyelidiki bukit padas itu, karena ia menduga, bahwa Daruwerdi mempunyai orang-orang yang dipercayainya mengawasi bukit gundul itu.

 

Namun sejenak kemudian Jlithengpun meneruskan perjalanannya. Ia tidak mau menarik perhatian orang lain, sehingga karena itu, maka iapun telah mencari jalan yang paling sepi. Ia singgah sebentar dipategalan, agar orang lain tidak memperhatikannya. Namun Jlitheng berharap, seandainya ada orang yang melihatnya pergi kehutan, mereka akan menganggapnya sedang mencari kayu bakar seperti yang sering dilakukannya untuk ditimbun di belakang rumah, sehingga apabila kayu itu sudah tertimbun banyak sekali, ia tidak perlu bersusah payah lagi untuk tiga empat pekan.

 

Kedatangannya ditelaga dilorong bukit itu telah mengganggu Kiai Kanthi dan Swasti yang sedang beristirahat. Swasti tertidur sambil bersandar sebatang pohon besar, sementara Kiai Kanthi berbaring diatas sebuah batu meskipun ia tidak memejamkan matanya.

“Silahkan Kiai,“ berkata Jlitheng ketika ia melihat Kiai Kanthi bangkit dan mempersilahkannya.

 

“Aku sudah cukup lama beristirahat. Badanku terasa segar sekali. Swastipun sempat tidur setelah kita mencicipi ikan ditelaga itu.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Iapun melihat perapian yang tampaknya baru saja dipadamkan.

 

Swasti yang terbangun pula, telah bergeser melingkari pohon tempat ia bersandar, seolah-olah ia dengan sengaja ingin menyembunyikan diri. Agaknya, kelelahan dan keletihan yang sangat, membuat ia menjadi malas dan masih ingin melanjutkan tidurnya barang sejenak.

 

“Aku sudah melihat beberapa puluh langkah disekitar tempat ini ngger,“ berkata Kiai Kanthi.

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jika Kiai sependapat, sebenarnya aku sejak lama sudah mempunyai rencana. Tetapi bukan maksudku untuk mengatakan kepada Kiai, bahwa aku mempunyai kesempatan pertama. Kiai tetap orang pertama yang akan membuka kemungkinan baru bagi daerah ini dengan menguasai air.”

 

“Apakah rencanamu ngger?”

 

Jlitheng termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya aku tidak mengatakannya.”

 

“Kenapa?“ bertanya Kiai Kanthi.

 

“Seolah-olah aku merasa bahwa aku adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk melihat kemasa depan yang panjang. Dan seolah-olah aku tidak mau menerima kenyataan bahwa Kiailah orang yang pertama-tama melihat manfaat air di telaga ini.”

 

Kiat Kanthi tersenyum. Katanya, “Aku bukan anak-anak ngger. Bukan pula orang yang ingin berada diatas nama orang lain. Apakah aku harus menutup penglihatanku tentang angger yang tentu sudah sejak lama memperhatikan air yang melimpah ini? Bukankah angger pernah berkata, bahwa hambatan yang paling besar datang dari sanak kadang dan tetangga angger sendiri yang menganggap bahwa setiap perubahan akan berarti pengingkaran terhadap peradaban yang telah ada ?”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Terserahlah kepada Kiai. Tetapi jika Kiai mau mendengar, biarlah aku katakan serba sedikit tentang sebuah impian.”

 

“Katakan ngger?”

 

“Kiai, dibawah bukit ini telah memerintah dua orang Buyut yang sebenarnya adalah saudara kembar.”

 

“Aku sudah melihat tugu kecil bertulis yang merupakan batas dari dua kelompok padukuhan yang dipimpin oleh dua orang saudara kembar itu ngger.”

 

“Ya Kiai. Tugu itu dibuat dekat sebelum Ki Buyut yang lama, yang menjadi tetua daerah ini wafat.“ Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “Ternyata bahwa kedua anak kembarnya telah memenuhi harapannya. Mereka memimpin kedua kelompok padukuhan itu dengan rukun sampai saat ini. Nah, rencanaku itu adalah meyakinkan kedua orang Buyut itu bahwa air akan sangat berguna bagi sawah mereka yang kering dimusim kemarau.”

 

“Kau sudah mencoba?”

 

Jlitheng menggelengkan kepalanya. Katanya, “Belum Kiai.”

 

“Kenapa ? Apakah Ki Buyut menurut pertimbanganmu juga tidak ingin melihat kemungkinan yang baik bagi masa depan itu ?”

 

“Bukan Kiai. Aku memang belum sempat.”

 

“Belum sempat? Apakah kerjamu selama ini?”

 

Jlitheng tersenyum. Katanya, “Aku juga belum lama kembali kekampung halaman setelah aku pergi merantau, menjelajahi daerah yang luas.”

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah menduga. Angger tentu bukan sekedar anak padukuhan ini, tidak lebih dan tidak kurang, kedipan angger itulah yang membuat angger berbeda dengan kawan-kawan angger disini.”

 

“Aku pergi sejak aku masih kecil. Itulah sebabnya ketika aku kembali kepada ibuku, seorang yang telah menjadi janda, banyak orang yang tidak dapat mengenali aku lagi. Bahkan orang-orang tua di padukulun inipun telah banyak yang melupakan, bahwa dari biyungku itu pernah lahir seorang anak laki-laki yang kemudian menjadi besar diperantauan.”

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Namun dengan demikian ia mendapat sedikit gambaran tentang anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itu. Jlitheng tentu bertemu dengan seseorang diperantauannya yang kemudian membimbingnya dalam olah kanuragan. Setelah ia mempunyai bekal yang cukup, maka ia melanjutkan perantauannya dan kemudian kembali ke kampung halamannya.

 

Tetapi disamping Jlitheng masih ada seorang anak muda yang lain, yang bernama Daruwerdi. Mungkin anak muda itu mempunyai ceritera yang lain tentang dirinya.

 

Terbersit keinginannya untuk bertanya sesuatu tentang Daruwerdi. Tetapi seperti yang pernah dilakukan, agaknya Jlitheng tidak dapat atau tidak mau mengatakan tentang anak muda yang agak lain dari kawan-kawannya dipadukuhan-padukuhan itu.

 

Kiai Kanthi menarik nafas ketika Jlitheng bertanya, “Apakah yang Kiai renungkan ? Tentang perantauanku itu ? Atau tentang hal lain yang bersangkut paut dengan air itu ?”

 

“Ya, ya ngger,“ Kiai Kanthi terbata-bata, “tentu tentang air yang melimpah itu. Tentang rencanamu untuk menguasai air dan memanfaatkannya bagi dua kelompok padukuhan itu. He, kau belum menyebut nama kedua padukuhan itu?”

 

“Ditugu itu telah tertulis,“ jawab Jlitheng.

 

“Yang ditulis hanyalah satu nama. Ki Buyut telah memerintah daerah yang bernama Lumban, yang terdiri dari beberapa padukuhan besar dan kecil dan tunduk kepada Yang Dimuliakan Maharaja Majapahit yang atas kehendaknya dan disetujui oleh para bebahu, telah membagi daerahnya menjadi dua bagian yang akan dipimpin masing-masing oleh seorang dari kedua anak kembarnya.”

 

“Nah, itulah namanya. Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Ki Buyut yang tua memerintah Lumban Kulon, sedang Ki Buyut yang muda memimpin kelompok-kelompok padukuhan di Lumban Wetan. Pembagian itu telah terjadi pada masa kedua anak kembar itu masih muda. Sejak daerah ini masih langsung tunduk dibawah kekuasaan Majapahit serta para Adipati dibawah kuasanya. Sekarang, setelah kekuasaan berpindah ke Demak, dengan sendirinya kami berada dibawah kekuasaan Sultan Demak. Dan kedua orang Buyut itu sudah menjadi kakek-kakek. Sebenarnya kini anak-anak merekalah yang mengambil alih pimpinan atas daerah Lumban Kulon dan Lumban Wetan.”

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Gambarannya mengenal daerah yang dihadapinya menjadi semakin jelas.

 

“Nah Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “Kiailah orang yang pertama-tama akan melakukan pekerjaan yang tentu akan sangat bermanfaat bagi daerah Lumban seluruhnya. Aku akan mencoba menjadi penghubung kelak dengan kedua Buyut yang sudah tua itu, namun yang masih dengan tekun berusaha memimpin daerah masing-masing sebaik-baiknya.”

 

“Terima kasih ngger. Tetapi yang dapat aku lakukan dengan anak gadisku tentang merupakan pekerjaan yang sangat lamban dan mungkin tidak banyak manfaatnya.”

 

Jlitheng tertawa. Katanya, “Kiai, bukan maksudku untuk mengurangi kemungkinan yang dapat Kiai lakukan. Tetapi adalah benar-benar karena aku ingin melihat manfaat dari air seperti yang Kiai kehendaki.“ anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “apakah Kiai tidak berkeberatan jika aku membantu Kiai. Mungkin Kiai memerlukan tenaga seorang laki-laki untuk membantu Kiai bukan saja membuat parit untuk mengarahkan arus air itu, tetapi juga untuk membuat sebuah gubug kecil sebelum Kiai sempat membuat sebuah rumah yang pantas.”

 

Tiba-tiba saja sebelum Kiai Kanthi menjawab, terdengar suara Swasti dari balik pohon, “Itu tidak perlu ayah. Kita yang sudah menetapkan rencana sejak kita belum bertemu dengan siapapun, harus berani melaksanakan sampai selesai tanpa orang lain.”

 

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun Kiai Kanthilah, yang menjawab, “Swasti. Hatimu memang keras. Tetapi kita jangan menyia-nyiakam setiap uluran tangan. Memang kita yang sudah terbiasa hidup terpisah karena kita tenggelam dalam kesibukan padepokan, kadang-kadang merasa bahwa kita akan dapat menyelesaikan semua persoalan kita tanpa orang lain. Di Pucang Sewu kita kurang rapat berhubungan dengan orang-orang padukuhan, sehingga kita terlalu yakin akan diri kita sendiri. Swasti, sebaiknya kita merubah cara hidup yang demikian. Setidak-tidaknya kita mulai mencoba menyesuaikan diri dengan daerah yang baru ini.”

 

Sejenak Kiai Kanthi menunggu. Tetapi ia tidak mendengar lagi jawaban anaknya. Orang tua itu sadar, bahwa kata-katanya tentu tidak memberikan kepuasan sepenuhnya pada anaknya. Tetapi ia akan mencoba untuk melakukannya. Mencoba untuk memperbaharui tata cara hidupnya diantara orang banyak.

 

“Angger,“ berkata Kiai Kanthi kemudian, “sebelumnya kami mengucapkan terima kasih. Mungkin kami masih harus belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan kami yang baru di daerah Lumban ini.”

 

Jlitheng tersenyum. Katanya, “Baiklah Kiai. Tentu akupun akan mencoba menyesuaikan diri dengan cara hidup Kiai dan anak gadis Kiai. Tetapi Kiai jangan terlalu cemas. Aku telah melaksanakan pesan Kiai untuk sementara tidak berceritera tentang kedatangan Kiai dan rencana Kiai menetap disini. Tetapi jika Kiai mulai berbuat sesuatu disini, maka tanpa mengatakan kepada siapapun juga, orang-orang Lumban tentu akan mengetahuinya juga.”

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya, “Tentu ngger. Tetapi nampaknya orang-orang Lumban adalah orang yang ramah seperti angger.”

 

Jlitheng tertawa. Kemudian katanya, “Aku akan pulang dahulu Kiai. Besok aku akan datang sambil membawa alat-alat yang Kiai perlukan. Aku akan datang sebelum matahari terbit agar tidak menarik perhatian orang lain jika mereka melihat aku membawa kapak, cangkul dan alat-alat lain.”

 

“Terima kasih ngger. Aku juga sudah membawa satu dua macam alat seperti itu. Tetapi memang kurang mencukupi. Karena itu, kami berterima kasih jika angger bersedia membawa untuk kami,“ Kiai Kanthi menjadi ragu-ragu sejenak. Baru kemudian ia melanjutkan, “tetapi selain alat-alat itu. sebenarnyalah kami memerlukan belanga dan tempayan.”

 

Jlitheng mengerutkan keningnya, namun iapun kemudian tertawa pendek. Katanya, “Baiklah Kiai. Aku akan membawa belanga, kelenting dan tempayan.”

 

Sesaat kemudian Jlitheng itupun telah meninggalkan Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang bersungut-sungut. Dengan nada datar Swasti berkata, “Ayah sudah menyeret orang lain dalam kerja ini.”

 

Ayahnya tersenyum. Jawabnya, “Jangan marah Swasti. Pertolongan itu harus kita terima. Nampaknya Jlitheng bukan seorang yang mempunyai pamrih terlalu banyak. Apalagi ia memang sudah mempunyai rencana sebelumnya.”

 

“Tidak. Rencana itu baru timbul di kepalanya setelah ia bertemu dengan ayah.”

 

“Kau salah Swasti. Jlitheng tentu sudah memperhatikan air ini sejak lama. Jika tidak, ia tidak akan mengenal daerah ini demikian baiknya seperti mengenal halaman rumahnya sendiri.”

 

Swasti tidak menjawab. Agaknya yang dikatakan ayahnya itu memang benar.

 

Dalam pada itu, Jlitheng telah turun dengan tergesa-gesa agar ibunya tidak menunggunya terlalu lama. Ia masih harus mencari beberapa potong kayu untuk menghilangkan jejak pertemuannya dengan orang tua yang masih belum bersedia untuk dikenal oleh orang lain itu.

 

Tetapi Jlitheng tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan beberapa potong kayu. Bahkan dalam waktu yang singkat ia sudah memanggul seonggok kayu yang sudah agak kering.

 

Namun langkahnya terhenti ketika ia sampai dipinggiran hutan itu. Ia mendengar suara orang bebantah. Cukup keras, sehingga suaranya menembus pepohonan yang sudah mulai menipis.

 

Karena itu, maka Jlithengpun kemudian sangat berhati-hati. Ia jarang mendengar orang-orang Lumban berbantah. Bahkan seandainya mereka orang Lumbanpun. apakah yang mereka cari dipinggir hutan itu ?

 

Debar jantung Jlitheng menjadi semakin keras ketika suara itu menjadi semakin dikenal. Diluar sadarnya ia berdesis, “Daruwerdi.”

 

Sebenarnyalah ketika ia dengan sangat berhati-hati berhasil mengintip dari balik gerumbul-gerumbul yang lebat di pinggiran hutan itu, ia melihat Daruwerdi sedang berbantah dengan dua orang yang berwajah kasar.

 

“Aku tidak akan berkata apa-apa tentang pusaka itu,“ berkata Daruwerdi.

 

“Kau jangan membuat kami marah,“ sahut salah seorang dari kedua orang berwajah kasar itu, “Kiai Pusparuri sudah memberikan wewenang kepadaku untuk mendapat keterangan tentang pusaka itu dari seorang anak muda dari Lumban yang bernama Daruwerdi. Apakah kau masih akan ingkar.”

 

“Sudah seribu kali aku katakan. Aku tidak ingkar. Aku adalah Daruwerdi yang mengerti serba sedikit tentang pusaka-pusaka itu. Tetapi aku hanya akan berbicara dengan Kiai Pusparuri sendiri atau kepada seekor ular sanca bertanduk genap.”

 

“Persetan, aku tidak mengerti kata-katamu. Jangan mengingau seperti orang gila. Katakan sesuatu tentang pusaka itu, atau berikan saja kepada kami jika memang sudah berhasil kau dapatkan.”

 

Daruwerdi menjadi semakin tegang. Dari balik gerumbul Jlitheng melihat, bagaimana anak muda itu berusaha mengendalikan diri.

 

“Ki Sanak,“ berkata Daruwerdi, “jangan memaksa. Kecuali jika aku berhadapan dengan seekor ular sanca bertanduk genap.”

 

“Anak iblis. Kenapa kau mengigau tentang ular sanca. Kiai Pusparuri sudah memberikan wewenang kepada kami untuk melakukan apa saja. Aku harus kembali kepadepokan Pusparuri dengan keterangan yang jelas atau membawa pusaka itu langsung untuk kami serahkan kepada guru.”

 

Daruwerdi menggeleng. Jawabnya, “Ki Sanak. Jelas bahwa kalian bukannya utusan Kiai Pusparuri. Kalian sama sekali tidak membawa tanda-tanda atau ciri dari padepokan Pusparuri.”

 

“Aku adalah muridnya terpercaya. Aku memakai sabuk kulit ular. He, apakah sabuk semacam ini yang kau maksud dengan ular sanca, bertanduk genap ?”

 

Daruwerdi tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Ikat pinggang semacam itu dapat dibuat oleh siapa saja. Setiap orang dapat menangkap seekor ular sanca, kemudian mengambil kulitnya.”

 

“Jadi apa yang kau maksud dengan tanda-tanda atau ciri dari padepokan Pusparuri. Dan apakah yang kau maksud dengan ular sanca bertanduk genap?”

 

“Itulah yang menunjukkan kepadaku, bahwa kalian sama sekali bukan utusan dari padepokan Pusparuri. Jika kau memang murid Kiai Pusparuri, kalian akan dapat mengatakan, ciri-ciri khusus dari padepokan itu atau kalian tahu pasti siapakah ular sanca bertanduk genap itu.”

 

Wajah kedua orang itu menjadi merah padam. Yang bertubuh tinggi besar menggeram, “Persetan. Menurut Kiai Pusparuri, hari ini aku harus menjumpaimu disini. Kau kira dari siapa kami mengetahui, bahwa aku harus datang menemuimu disini ?”

 

Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Mungkin kau dapat menyadap rahasia pertemuan itu. Tetapi aku tetap yakin, bahwa kalian bukan murid Kiai Pusparuri.”

 

“Jadi, kau tetap tidak mengakui kehadiran kami ? Tempat ini hanya kami ketahui dari Kiai Pusparuri. Nama Daruwerdipun kami dengar dari Kiai Pusparuri. Pesan untuk mengenakan ikat pinggang kulit ular sanca inipun diucapkan oleh Kiat Pusparuri pula. Jika mungkin Kiai Pusparuri lupa memberikan pesan yang lain, itu bukan salah kami.”

 

Daruwerdi memandang kedua orang itu berganti-ganti. Namun akhirnya dengan ketetapan hati ia menggeleng dan menjawab tegas, “Tidak. Aku tidak percaya kepada kalian.”

 

Kedua orang itu benar-benar sudah kehilangan kesabaran Seperti Daruwerdi sendiri. Karena itu, maka ketika kedua orang itu bergeser merenggang, Daruwerdi justru meloncat surut sambil mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.”

 

“Kau memang terlalu sombong anak Lumban. Setinggi2 tinggi ilmu yang pernah kau capai, kau adalah anak padukuhan kecil dan miskin. Apalagi kau berhadapan dengan dua orang sekaligus. Jika kau masih mempunyai otak, pikirlah sepuluh kali lagi, sebelum kau menyesal.”

 

Daruwerdi menggeram. Dengan suara datar ia menjawab, “Jangan mengigau lagi. Sebut siapa sebenarnya kalian berdua sebelum kalian mati.”

 

“Gila. Kau, anak Lumban, akan membunuh kami berdua?”

 

“Kita akan melihat, siapakah yang akan terbunuh.”

 

Sejenak kedua orang berwajah kasar itu termangu-mangu. Namun salah seorang berkata, “Aku akan menyampaikan kepada Kiai Pusparuri, bahwa kami terpaksa membunuh anak Lumban yang bernama Daruwerdi, karena ia sudah menghina utusan yang mendapat wewenang sepenuhnya dari padepokan Pusparuri.”

 

Daruwerdi tidak menjawab. Tetapi ia sudah bersiap sepenuhnya untuk bertempur melawan kedua orang itu.

 

Namun dalam pada itu, ketiga orang yang sudah bersiap untuk berkelahi itu telah dikejutkan oleh suara derap seekor kuda. Ketika ketiganya berpaling, maka mereka melihat seekor kuda yang berpacu mendekat. Dipunggung kuda itu nampak seorang penunggang yang nampaknya sudah terlalu lemah, sehingga seolah-olah tertelungkup memeluk leher kudanya.

 

Daruwerdi terkejut, Iapun segera meloncat menyongsong penunggang kuda itu. Dengan serta merta ia berusaha meraih kendali dan menahan kuda itu sehingga berhenti, sementara orang yang duduk dipunggungnya benar-benar telah menjadi terlalu lemah untuk menarik kendali.

 

“Gila,“ tiba-tiba saja orang yang bertubuh tinggi dan besar itu menggeram, “aku binasakan monyet yang ternyata belum mati itu.”

 

Tetapi kawannya menahannya. Katanya, “Tidak ada gunanya. Biarlah ia berceritera apa yang terjadi. Anak Lumban itu memang keras kepala. Jika ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka ia akan menyadari, dengan siapa ia berhadapan.”

 

Orang yang bertubuh tinggi besar itu tertegun. Ia hanya flSSfiaSSfi saja ketika Daruwerdi menolong penunggang kuda yang ternyata telah terluka parah itu. Dilambungnya tergantung sepasang sarung pedang, tetapi sudah kosong.

 

“Sapa kau ?“ Daruwerdi meyakinkan.

 

“ular sanca bertanduk genap?”

 

“Ya,“ suaranya lemah, “bermata berian dan bertaring baja.”

 

“Tepat. Tetapi kenapa kau ?”

 

“Tandukku telah patah dan taringku telah lepas,“ suaranya semakin lemah, “aku sudah menduga bahwa keduanya akan datang kemari. Mereka berhasil menyadap rahasia pertemuan ini. Mereka mencegat aku diperjalanan. Mereka mencoba membunuh dan melepas ikat pinggangku. Tetapi aku yakin, kau tidak akan mengatakan sesuatu kepada mereka.”

 

“Aku tahu bahwa mereka bukan utusan Kiai Pusparuri. Tetapi bagaimana dengan kau ?”

 

Orang itu menjadi semakin lemah. Namun dalam pada itu terdengar kedua orang kasar itu hampir berbareng tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, “Ia akan mati. Aku tidak peduli apakah ia akan mengatakan siapa sebenarnya kami berdua, karena anak Lumban itupun akan segera mati pula. Biarlah kita tidak mendapatkan rahasia tentang pusaka itu. Tetapi jika anak itu mati, maka Pusparuri tentu tidak akan mendapatkannya pula. Kita akan mulai bersama-sama dari permulaan, karena kita sama-sama tidak mempunyai bahan apapun juga. Dalam berlomba dengan orang-orang Pusparuri, kita masih mempunyai harapan.”

 

Kawannya tidak menyahut. Tetapi ia hanya mengangguk-angguk kecil.

 

Sementara itu, Daruwerdi masih menekuni orang yang terluka parah. Terdengar ia mengucapkan sepalah dua patah kata yang tidak jelas. Namun tiba-tiba setelah meletakkan kepala orang itu diatas rerumputan. Danuwerdi berdiri tegak. Dengan suara bergetar ia berkata, “Jadi kalian adalah sepasang demit yang paling gila di pesisir Utara. Menurut utusan Kiai Pusparuri, kalian berdua adalah murid-murid dari perguruan Kendali Putih.”

 

Keduanya tertawa berbareng Orang yang bertubuh tinggi besar menyahut, “Ya. Kami datang dari perguruan Kendali Putih dipesisir Lor. Kami berdua telah mencegat tikus kecil yang ternyata kau sebut sebagai ular sanca bertanduk genap. Tetapi ia bukan seekor ular. Ja tidak lebih dari seekor tikus.”

 

“Gila. Kalianlah yang tidak malu. Kalian berdua telah berkelahi seperti perempuan. Kalian tidak berani berperang tanding menghadapi Ular Sanca bersenjata rangkap ini. Dan sekarang, kalianpun tentu akan berbuat serupa.”

 

Keduanya tertawa. Yang seorang menjawab, “Nasibmulah yang buruk. Kau akan mengalami luka parah dan akan mati. Aku kira tikus itupun sudah mati ketika dengan tergesa-gesa aku datang ketempat ini menggantikan kedudukannya. Tetapi, aku masih mempunyai pertimbangan. Jika kau mau mengatakan sedikit saja mengenai rahasia pusaka itu, maka kau akan tetap hidup.”

 

“Persetan. Tidak ada orang yang akan tetap tinggal hidup jika ia tidak berusaha melindungi hidupnya sendiri dihadapanmu. Setiap orang mengenal perguruan Kendali Putih yang sama sekali tidak memiliki warna putih seperti namanya walau sepeletikpun.”

 

“Jika demikian, kaupun akan mati seperti murid Pusparuri itu.”

 

Daruwerdi menggeram. Ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun ia masih sempat berkata kepada orang yang lerluka parah itu, “Kuatkan. Aku akan membunuh keduanya, dan aku akan berusaha mengobati luka-lukamu. Di Lumban ada seorang dukun yang pandai.”

 

Yang terdengar adalah kedua orang murid dari Kendali Putih itu tertawa. Yang seorang berkata, “Puaskan dirimu dengan angan-angan gila itu. Baru kemudian kau akan mati.”

 

Daruwerdi tidak menjawab. Ia bergeser setapak. Kemudian berdiri dengan kaki renggang dan merendah diatas lututnya.

 

Orang yang bertubuh tinggi besar itulah yang tidak sabar lagi. Dengan garangnya ia segera menyerang lawannya. Ia tidak mau membuang banyak waktu, sehingga dengan serta merta ia sudah mempergunakan senjatanya yang mengerikan. Sebatang besi sepanjang pedang yang kasar dan dibeberapa tempat nampak seolah-olah bergerigi tajam.

 

Sementara kawannyapun telah mencabut senjatanya pula. Benar2 sebuah pedang yang besar.

 

“Sebutlah nama ayah bundamu untuk yang terakhir kali,“ geram orang bertubuh tinggi dan besar itu.”

 

Daruwerdi meloncat mengelakkan serangan lawannya sambil berdesis, “Kita akan melihat, siapakah yang akan mati. Aku atau kalian berdua.”

 

Kedua lawan Daruwerdi tidak menjawab. Mereka serentak menyerang dengan garangnya. Senjata mereka terayun-ayun mengerikan, sementara orang yang bertubuh tinggi besar itu menggeram seperti seekor harimau yang merunduk mangsanya.

 

Daruwerdi tidak mau menjadi korban senjata-senjata lawan yang mengerikan itu. Iapun kemudian mencabut pedangnya pula. Dengan lincahnya ia berloncatan melawan kedua lawannya yang ternyata sangat garang dan kekar.

 

Beberapa langkah dari arena itu, murid dari perguruan Pusparuri yang sudah menjadi semakin lemah, mencoba untuk melihat pertempuran yang sengit itu. Meskipun pandangan matanya mengabur, namun ia melihat, betapa kasarnya orang-orang dari perguruan Kendali Putih itu. Seperti yang telah terjadi, maka ia tidak dapat mengelakkan diri dari bencana melawan keduanya.

 

Meskipun keseimbangan perasaannya tidak secerah saat-saat ia belum terlukai, namun ia masih dapat melihat, bahwa kedua orang Kendali Pulih itu memang orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, disamping sifat mereka yang kasar dan liar.

 

Tetapi Daruwerdi dengan segala kemampuannya, berusaha untuk dapat mengimbangi lawannya, ia tidak mau jatuh menjadi korban seperti murid Kiai Pusparuri yang. diberi nama di Ular Sanca bertanduk genap itu.

 

Selain murid dari perguruan Pusparuri itu. dibelakang gerumbul masih ada orang lain yang memerhatikan perkelahian itu dengan saksama. Sekali-kali nampak keningnya berkerut. Namun kemudian anak muda dibelakang gerumbul itu menark nafas lega.

 

Jlithengpun mengikuti perkelahian itu dengan dada yang berdebar-debar. Ia melihat kegarangan dua orang dari perguruan Kendali Putih. Mereka bertempur bukan saja dengan ilmu yang mapan, tetapi mereka kadang-kadang juga berteriak2 dan membentak2 seperti orang-orang yang kerasukan setan.

 

Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya. Kadang-kadang ia menjadi bingung, apakah ia akan tetap bersembunyi ditempatnya. Apakah ia akan tetap membiarkan tingkah laku yang tidak jujur dari orang-orang Kendali Putih. Setelah usahanya untuk menipu Daruwerdi tidak berhasil, maka ia mempergunakan kekerasan untuk membinasakannya sama sekali.

 

Tetapi Jlithengpun merasa bimbang, karena dengan demikian, maka ia akan terlibat dalam persoalan yang tidak diketahuinya, dan yang bahkan justru ingin diketahuinya. Mungkin peristiwa itu ada hubungannya dengan tingkah laku Danuwerdi yang kadang-kadang menarik perhatiannya. Terutama karena Daruwerdi mempunyai perhatian yang khusus terhadap bukit padas yang gundul itu.

 

Selagi Jlitheng termangu-mangu, maka perkelahian itupun menjadi semakin sengit. Ternyata bahwa Daruwerdi benar-benar seorang yang memiliki kemampuan yang sangat mengagumkan.

 

Karena itulah maka kedua orang dari Perguruan Kendali Putih itu menjadi heran. Mereka mengira bahwa anak muda dari Lumban itu tidak akan terlalu sulit diselesaikan. Menurut dugaan mereka, murid Pusparuri itu sama sekali tidak berdaya melawan mereka berdua. Apalagi anak padukuhan terpencil.

 

Tetapi ternyata bahwa Daruwerdi mampu mengimbangi kemampuan mereka berdua. Dencan tangkas Daruwerdi berloncatan menghindari serangan senjata lawan. Tetapi dengan tangkas pula ia berloncatan menyerang. Pedangnya berputar seperti baling-baling. Tetapi tiba-tiba saja terayun mendatar menyambar perut. Namun kadang-kadang terjulur mematuk seperti seekor ular bandotan.

 

Kedua lawannya menjadi bingung. Pedang ditangan Daruwerdi seolah-olah beterbangan disekitar tengkuk dan lambung mereka.

 

Dengan demikian maka kedua orang dari Perguruan Kendali Putih itu bertempur semakin kasar. Mereka mencoba untuk menyerang Daruwerdi dari dua arah yang berbeda. Dengan demikian mereka mencoba untuk memecah perhatian anak muda dari Lumban itu.

 

Tetapi ternyata mereka tidak berhasil. Daruwerdi mampu menempatkan dirinya. Iapun mengimbangi langkah-langkah lawannya yang panjang. Dengan tepat ia meloncat menempatkan diri pada sisi yang lepas dari garis serangan lawannya. Bahkan tiba-tiba saja ialah yang meloncat dan mengejutkan lawannya dengan serangan yang tidak terduga.

 

“Darimana anak Lumban ini mendapatkan ilmu iblis itu,“ geram salah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu.

 

Daruwerdi yang juga mendengarnya menjawab, “Aku tidak pernah mempelajari ilmu apapun. Tetapi karena kalian menempuh garis hidup yang salah, maka ada sajalah yang membantu aku untuk membunuh kalian berdua.”

 

“Persetan dengan tahayul itu,“ geram orang yang tinggi besar, “kekuatan dan ilmu kanuragan akan menyelesaikan semua masalah. Kaupun akan segera mati dengan perut terbelah.”

 

Daruwerdi tidak menjawab. Ia memusatkan perhatiannya kepada serangan lawannya.

 

Ketiga orang itupun kemudian berputaran Senjata mereka telah terayun menghantam dahan-dahan pepohonan. Gerumbul-gerumbul perdu dipinggir hutan itu bagaikan terbabat bersih, sementara batang besi orang bertubuh tinggi itu telah mematahkan pepohonan diarena perkelahian itu.

 

Jlitheng menjadi cemas. Jika arena itu menjadi semakin luas dan sempat ketempatnya bersembunyi. maka ia tidak akan ingkar lagi. Ia harus terlibat kedalam persoalan yang belum dimengertinya itu.

 

Untunglah, bahwa berkisarnya arena pertempuran itu tidak menuju kearah tempat Jlitheng bersembunyi. Karena itu, ia tetap berada ditempatnya untuk melihat akhir dari pertempuran yang mendebarkan jantung itu. Yang semakin lama menjadi semakin seru. Langkah-langkah mereka menjadi semakin cepat, sedang ayunan senjata merekapun menjadi semakin mengerikan. Angin yang terbersit dari ayunan senjata mereka yang bertempur itu telah dapat mengguncang dahan-dahan kayu dan menggugurkan dedaunan yang mulai menjadi kuning.

 

Namun semakin lama menjadi semakin nyata, bahwa Danuwerdi tidak dapat dikuasai oleh kedua orang Kendali Putih itu seperti murid perguruan Pusparuri yang berhasil mereka lukai. Bahkan semakin lama Daruwerdi menjadi semakin cepat bergerak. Senjatanya semakin garang menyambar-nyambar.

 

Dengan sebuah loncatan panjang Daruwerdi menyerang orang yang bertubuh tinggi besar itu dengan ayunan senjata mendatar. Namun tiba-tiba ia menggeliat dan kakinya yang menyentuh tanah telah melontarkannya tinggi-tinggi. Serangannya segera berubah. Pedangnya terayun menyambar kepala, seolah-olah Daruwerdi ingin membelah kepala itu pecah menjadi dua.

 

Dengan serta merta orang bertubuh tinggi besar itu menyilangkan senjatanya untuk menangkis serangan yang mengejutkan itu. Sambil bergeser setapak ia memiringkan kepalanya.

 

Ketika sebuah benturan terjadi, maka bunga apipun telah berloncatan diudara. Kedua senjata ditangan dua orang yang berilmu tinggi itu bergetar. Namun ternyata bahwa tangan murid dari Kendali Putih itu terasa bagaikan tersayat. Senjatanya hampir saja terlepas dari tangannya yang bagaikan terkelupas.

 

Dengan loncatan panjang orang itu menjauhi lawannya untuk memperbaiki keadaannya. Tetapi agaknya Daruwerdi menyadari, bahwa keadaan lawannya itu menjadi semakin lemah. Karena itu, ia tidak mau melepaskan kesempatan itu. Dengan cepat, iapun meloncat menyusul.

 

Tetapi Daruwerdi terpaksa berputar ketika ia sadar, lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya pula dengan pedang terjulur. Ternyata bahwa lawannya itupun mampu bergerak cepat dan langsung memotong serangannya.

 

Daruwerdi berputar. Selangkah ia bergeser, sehingga pedang lawannya terjulur sejengkal dari lambung.

 

Dengan cepat Daruwerdi memperhitungkan keadaan. Ia sengaja melepaskan lawannya yang bertubuh tinggi besar itu. Kini ia melihat pedang yang terjulur lurus. Karena itulah, maka dengan serta merta ia memukul pedang itu dengan, sekuat-kuat tenaganya.

 

Getaran dari benturan pedang itu terasa menggigit telapak tangan lawannya. Betapapun ia berusaha, namun pedang itu telah meloncat dari genggaman.

 

Yang dihadapi oleh Daruwerdi adalah seorang yang tidak bersenjata. Karena itu, maka jika ia berhasil memutar pe-dangnya mendatar, maka ia akan dapat menyobek dada lawan menyilang.

 

Tetapi pada saat yang bersamaan, orang bertubuh tinggi kekar itu telah mencoba menyelamatkan kawannya. Iapun menyerang dengan serta merta. Dengan senjata ia memukul punggung Daruwerdi sekuat-kuat tenaganya.

 

Daruwerdi menggeram. Ia terpaksa meloncat menghindari serangan itu. Namun demikian kerasnya ayunan senjatanya, maka orang itu justru terhuyung-huyung selangkah terseret oleh ayunan senjatanya sendiri.

 

Kawannya melihat suatu kemungkinan untuk memungut senjatanya yang terjatuh. Dengan satu loncatan ia berusaha meraih pedangnya. Namun yang satu loncatan itu ternyata telah menyeretnya kedalam pelukan maut, karena ujung pedang Daruwerdi seolah-olah telah menunggunya dan langsung menghunjam kedalam jantungnya.

 

Terdengar sebuah keluhan tertahan. Namun ketika Daruwerdi menarik pedangnya, maka orang itu langsung jatuh ditanah. Mati.

 

Saat-saat yang demikian itu telah mengguncangkan hati lawan Daruwerdi yang lain. Ia mencoba mempergunakan saat-saat Daruwerdi menarik pedangnya yang terhunjam ketubuh lawannya. Sebuah ayunan yang keras menghantam tengkuknya.

 

Namun Daruwerdi masih sempat mengelak. Demikian pedangnya terlepas dari himpitan tubuh lawannya, iapun segera meloncat mundur. Namun lawannya yang bagaikan menjadi gila menyerangnya dengan serta merta. Sebuah sambaran mendatar telah mengarah kelambung.

 

Daruwerdi terpaksa menghindarinya pula. karena ia belum siap untuk menangkis serangan itu. Namun ia terlambat sedikit sehingga ujung tongkat besinya masih juga menyambar lengannya.

 

Daruwerdi berdesis. Lengannya telah tersobek oleh gerigi yang terdapat pada tongkat besi yang mengerikan itu.

 

Namun dengan demikian hatinya serasa menjadi terbakar. Kemarahan anak muda itu telah memuncak, sehingga wajahnya menjadi merah padam semerah darahnya yang telah mangalir dari lukanya.

 

Tetapi Jlitheng yang melihat pertempuran itu dari permulaan segera dapat menilai, bahwa yang seorang itu tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Luka dilengan Daruwerdi tidak akan banyak mempengaruhinya. Bahkan kemarahannya benar-benar telah memuncak, sehingga tandangnyapun menjadi semakin garang.

 

Setelah murid Kendali Putih yang seorang terbunuh, maka orang bertubuh tinggi besar itu tidak akan banyak dapat memberikan perlawanan. Segera ia terdesak. Betapapun ia mencoba melindungi dirinya dari sambaran pedang Daruwerdi yang marah itu, namun ia tidak banyak berhasil. Rasa-rasanya, kejaran maut telah menjadi semakin dekat ketika ujung pedang Daruwerdi berkali-kali telah berdesing ditelinganya.

 

Dan waktupun rasa-rasanya menjadi semakin pendek bagi orang bertubuh tinggi besar itu. Ia tidak dapat berteriak lagi karena nafasnya menjadi semakin pendek. Hidungnya justru seolah-olah telah tertutup oleh dengusnya sendiri, sementara dadanya menjadi sesak.

 

Daruwerdi tidak banyak memberinya kesempatan. Ia memburu dengan garangnya, ketika lawannya mencoba menghindarinya dengan loncatan-loncatan surut.

 

Jlitheng memalingkan wajahnya ketika tiba-tiba saja ia melihat pedang Daruwerdi menyambar perut lawannya. Justru singgungan pada ujung pedang yang tajam itu, perut lawannya bagaikan tersayat melintang.

 

Orang bertubuh tinggi besar itu masih sempat menggeram. Namun sekali lagi Daruwerdi yang marah itu meloncat dengan pedang terjulur.

 

Lawannya yang bertubuh tinggi besar itu tidak dapat mengeluh lagi. Senjatanya yang mengerikan itupun terlepas dari tangannya ketika ia mulai terhuyung-huyung dan jatuh tersungkur ditanah.

 

Daruwerdi berdiri termangu-mangu. Sejenak kemudian iapun melangkah mendekati tubuh yang terbujur ditanah. Sekilas iapun menatap mayat yang terbujur di sebelah lain dari arena itu pula. Dua orang lawannya telah dibunuhnya.

 

Jlitheng memandang wajah Daruwerdi yang kelam itu dengan hati yang berdebar-debar. Justru setelah kedua lawannya dibunuh, Jlitheng harus menjaga dirinya, agar tidak menimbulkan suara yang betapapun halusnya, karena ia yakin, pendengaran anak muda itupun sangat tajamnya.

 

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Daruwerdi teringat kepada utusan dari Pusparuri yang telah terluka parah. Dengan tergesa-gesa iapun segera melompat mendekati tubuh yang terbaring diam itu.

 

“Ki Sanak,“ desis Daruwerdi sambil berjongkok di samping tubuh itu, “he. ular sanca bertanduk genap.”

 

Wajah Daruwerdi menjadi tegang. Diguncang-guncangnya tubuh yang terbaring diam itu.

 

“He, Ki Sanak. Ki Sanak.”

 

Dengan serta merta Daruwerdi menempelkan telinganya didada orang itu. Namun kemudian dengan suara gemetar ia bergumam, “Mati, iapun telah mati.”

 

Tubuh itu masih hangat. Tetapi nafasnya lelah terputus sama sekali.

 

Daruwerdi kemudian berdiri termangu mangu. Ia tersadar ketika terasa tangannya menjadi pedih oleh luka dilengannya.

 

“Gila,” ia menggeram.

 

Diambilnya sebuah bungkusan kecil dikat pinggangnya. Kemudian ditaburkannya sebangsa serbuk pada lukanya.

 

Beberapa saat Jlitheng masih melihat Daruwerdi termangu-mangu. Sekali-kali ia masih mengamat-amati mayat yang terbaring direrumputan dengan darah yang bagaikan tergenang.

 

“AKU harus mencari orang untuk menguburkan mereka,“ gumam Daruwerdi sambil melangkah pergi.

 

Ketika Daruwerdi telah hilang dibalik gerumbul-gerumbul perdu untuk pergi kepadukuhan, maka Jlithengpun telah keluar dari persembunyiannya. Didekatinya mayat-mayat itu satu demi satu. Pada murid padepokan Pusparuri ia melihat dipergelangannya membelit sebatang akar berwarna hitam dihiasi dengan kepala seekor ular yang terbuat dari perak.

 

“Ikat pinggang orang ini telah diambil oleh murid dari perguruan Kendali Putih itu,“ desis Jlitheng.

 

Selebihnya anak muda itu tidak menemukan apapun juga. Namun bagi Daruwerdi agaknya yang penting adalah sebutan sandi dari ular sanca bertanduk genap itu, yang dijawabnya dengan mata berlian dan bertaring baja.

 

“Apakah ia orang pertama setelah Kiai Pusparuri sendiri ?“ bertanya Jlitheng didalam hatinya. “Tetapi siapa-pun ular sanca itu, namun ternyata Daruwerdi mengetahui sesuatu rahasia tentang sebuah pusaka.”

 

Diluar sadarnya Jlitheng melayangkan pandangan matanya kearah bukit padas yang gundul tidak terlalu jauh dari hutan itu. Bukit padas yang telah menarik perhatiannya.

 

Anak muda itupun sadar, bahwa persoalan yang ingin diketahuinya itu agaknya telah menyangkut beberapa pihak diluar padukuhan-padukuhan kecil yang bertebaran didaerah yang tidak terlalu luas, di sebelah bukit. Bukit yang berhutan lebat dan bukit batu padas yang gundul.

 

Ketika ia memungut senjata orang dari perguruan Kendali Putih yang bertubuh tinggi besar itu, ia menarik nafas dalam-dalam. Orang itu tentu mempunyai kekuatan yang sangat besar. Senjatanya, sepotong besi yang diberikan semacam gerigi-gerigi kecil itu adalah termasuk sebatang tongkat yang berat. Sedangkan orang yang terbunuh itu mampu mengayunkannya seperti mengayunkan lidi.

 

Tetapi iapun menjadi kagum akan kekuatan Daruwerdi. Anak muda itu mampu melawan dua kekuatan raksasa di perguruan Kendali Putih yang telah berhasil membunuh ular sanca dari perguruan Pusparuri itu.

 

Namun Jlitheng itupun segera menyadari keadaannya. Iapun segera dengan tergesa-gesa mengambil seonggok kayu yang akan dibawanya pulang. Ia tidak mau terlibat kedalam persoalan itu. Jika Daruwerdi melihatnya sedang mengamat-amati mayat-mayat itu, maka mungkin sekali anak muda itu akan mencurigainya pula.

 

Disepanjang jalan kembali sambil membawa seonggok kayu diatas kepalanya, Jlitheng selaki memikirkan peristiwa yang baru di lihatnya. Namun dengan demikian, ia menganggap bahwa Kiai Kanthi agaknya tidak mempunyai hubungan langsung dengan Daruwerdi.

 

Meskipun demikian, ia mulai digelitik oleh kecurigaan, bahwa kedatangan Kiai Kanthi dan anaknya itu bukannya karena padepokannya yang lama tertimbun tanah longsor dan dihancurkan oleh badai dan banjir. Tetapi apakah tidak mungkin bahwa kedatangan Kiai Kanthi itu juga tertarik oleh berita yang sampai ketelinganya, bahwa anak muda yang bernama Daruwerdi dari padukuhan Lumban telah menyimpan satu rahasia tentang sebuah pusaka.

 

Ketika Jlitheng sampai dirumah, ibunya sedang sibuk berada di dapur. Sambil bersungut-sungut ibunya menyapanya, “Kau tentu bermain-main dikali.”

 

“Tidak biyung. Aku langsung pergi kehutan mencari kayu.”

 

“Tetapi lama sekali. Dan bukankah kau masih mempunyai persediaan kayu yang cukup?”

 

“Langit sudah mulai kelabu. Jika sebentar lagi musim hujan tiba, maka kita akan selalu diganggu oleh kayu bakar yang basah, yang berasap dan yang menyakitkan mata.”

 

Ibunya memberengut. Katanya, “Kayumu itupun masih basah. Mataku sampai merah meniupnya.”

 

Jlitheng tidak menjawab. Dilontarkannya onggokon kayu yang dibawanya itu di sebelah longkangan.

 

“Nanti sajalah aku masukkan kebelakang lumbung.”

 

“Jika kau mau makan, makanlah. Nasi sudah masak.

 

Jlitheng membersihkan dirinya di pakiwan. Kemudian iapun masuk kedapur. Nasi dan lauknya telah tersedia di glodok bambu. Meskipun anak muda itu sibuk menyuapi mulutnya, namun lia masih saja memikirkan peristiwa yang baru saja dilihatnya.

 

Ketika matahari telah menyusup kebalik cakrawala di ujung Barat, Jlitheng yang seperti biasanya duduk di mulut lorong padukuhannya bersama beberapa orang kawannya, telah mendengar ceritera tentang peristiwa yang terjadi. Salah seorang kawannya berkata dengan sangat bernafsu, “Mereka akan merampok Daruwerdi. Tetapi ternyata Daruwerdi memang seorang yang luar biasa. Ia mempunyai kekuatan dan ilmu yang tidak dipunyai oleh orang lain. Ilmu yang mungkin langsung diterimanya dari langit.”

 

“Dari mana kau ketahui hal itu ?“ bertanya Jlitheng.

 

“Setiap orang mengatakannya. Beberapa orang dari Lumban Kulon ikut membantunya menguburkan orang-orang itu. Mereka membawa senjata yang mengerikan,“ jawab anak muda yang berceritera itu.

 

“Apakah Daruwerdi juga bersenjata ?“ bertanya Jlitheng.

 

“Agaknya Daruwerdi dapat melihat apa yang bakal terjadi. Sebelum ia dirampok orang, ia selalu mempersiapkan senjata pula. Nampaknya ia memang selalu membawa sebilah pedang.”

 

“Tetapi ia mempunyai jimat,“ desis anak muda yang lain, “Daruwerdi kebal dari segala macam senjata.”

 

“Tetapi ia terluka,“ tiba-tiba saja diluar sadarnya Jlitheng menyahut.

 

Semua orang berpaling kearahnya. Seorang anak muda yang duduk didekatnya bertanya, “Siapa yang mengatakan bahwa ia terluka?”

 

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Aku justru ingin bertanya, siapakah yang sore tadi mengatakan, bahwa Daruwerdi terluka.”

 

Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka yang ingin dianggap paling tahu menjawab, “Ya. Daruwerdi memang terluka. Tetapi luka itu sama sekali tidak berarti. Justru lukanya itulah yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang anak muda yang kebal. Jika kau melihat senjata lawannya, maka setidak-tidaknya tangan Daruwerdi seharusnya sudah patah. Tetapi tangan itu hanya lecet saja sedikit.”

 

Anak-anak muda yang mendengarkan ceritera itu mengangguk-angguk. Mereka masih duduk lebih lama lagi untuk mendengarkan ceritera-ceritera yang semakin lama menjadi semakin jauh dari kenyataan yang telah dilihat oleh Jlitheng. Anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan agaknya terlalu mengagumi Daruwerdi.

 

Tetapi Jlitheng tidak membantahnya. Ia membiarkan anak-anak muda Lumban itu membuat khayalan-khayalan tersendiri tentang Daruwerdi yang mereka kagumi.

 

Ketika kemudian malam menjadi gelap, dan anak-anak muda Lumban itu telah mulai merasa terganggu oleh nyamuk yang menggigit tengkuk dan lengan, maka merekapun meninggalkan mulut lorong. Hanya mereka yang bertugas ronda sajalah yang kemudian pergi ke gardu disudut padukuhan.

 

“Sayang, Daruwerdi tinggal di Lumban Kulon,“ desis salah seorang dari mereka yang meronda, “beruntunglah anak-anak muda Lumban Kulon yang mendapat perlindungan dari anak muda seperti Daruwerdi.”

 

Jlitheng yang juga pergi ke gardu mengangguk-angguk, Katanya, “Jika saja ia bersedia mengajari kita semua.”

 

Kawan-kawannya yang masih tinggal mengerutkan keningnya. Yang seorang menyahut, “Tentui anak-anak Lumban Kulon dahulu yang mendapat kesempatan jika ia bersedia.Tetapi sampai saat ini, anak-anak Lumban Kulonpun belum ada yang diajarinya dalam olah kanuragan.”

 

“Apakah mereka pernah minta kepadanya ?“ bertanya Jlitheng.

 

“Entahlah,” jawab kawannya, “tetapi ketika aku singgah di Lumban Kulon tadi siang, nampaknya merekapun ingin mendapat kesempatan itu. Apalagi ketika mereka menyadari, bahwa ada juga perampok yang sampai di padukuhan ini. Meskipun ,tidak banyak harta benda yang tersimpan di Lumban Kulon dan Wetan, namun sebaiknya kita harus berjaga-jaga. Jika kebetulan Darawerdi ada, maka persoalannya akan tidak terlalu berat. Tetapi jika kebetulan ia pergi.”

 

Jlitheng tidak menyahut. Ia hanya mengangguk-angguk saja seperti beberapa kawannya yang lain.

 

Ketika malam menjadi semakin dalam, maka tiba-tiba saja Jlitheng berkata kepada kawan-kawannya, “Aku akan pergi kesungai sebentar. Tetapi mungkin aku akan terus menengok sawah. Aku lupa, apakah aku sudah mengaliri air sore tadi.”

 

“Ah, kau. Kau terlalu ceroboh dengan sawahmu. Itulah sebabnya, kadang-kadang ibumu marah kepadamu. Air hanya setitik, dan kau tidak memanfaatkannya.”

 

Jlitheng tidak menyahut. Iapun kemudian berlari menghambur kedalam gelapnya malam.

 

Tetapi Jlitheng tidak pergi ke sungai dan kesawah. Ia pasti, bahwa sawahnya telah diselenggarakannya sebaik-baiknya.

 

Dalam gelapnya malam Jlitheng berjalan tergesa-gesa menuju kebukit. Bahkan kadang-kadang ia berlari-lari kecil disepanjang pematang. Namun bagaimanapun juga ia sadar, bahwa ia harus berhati-hati. Padukuhan Lumban tenyata tidak saja dijamah oleh Daruwerdi dan kawan-kawannya yang masih merupakan rahasia baginya, tetapi juga oleh orang-orang dari pihak lain yang saling bermusuhan.

 

Jlitheng tahu pasti, bahwa perguruan Pusparuri dan perguruan Kendali Putih tidak akan menghentikan usahanya sampai batas kematian satu dua orang-orangnya. Yang masih akan mereka lakukan tentu masih terlalu banyak. Bahkan mungkin perguruan-perguruan lainpun akan segera tersangkut pula.

 

“Bahkan mungkin orang tua dan anak gadisnya itu,“ desis Jlitheng, “dan apakah dapat diyakini kebenarannya, bahwa gadis itu adalah benar-benar anaknya?”

 

Bagaimanapun juga, Jlitheng memang harus berhati-hati menghadapi keadaan yang masih samar-samar baginya.

 

Sejenak kemudian anak muda itu sudah memasuki hutan di kaki bukit. Tetapi daerah pebukitan itu telah dikenalnya dengan baik. Karena itulah maka iapun tidak mengalami kesulitan untuk menemukan sumber air yang dicari oleh Kiai Kanthi dan Swasti, betapapun gelapnya malam di hutan yang cukup pepat.

 

Langkah Jlitheng tertegun ketika ia teringat, bahwa ia belum membawa pesanan Kiai Kanthi untuk membawa belanga dan tempayan.

 

“Biarlah, besok saja aku bawa,“ desisnya.

 

Kedatangan Jlitheng agak mengejutkan Swasti yang sedang duduk merenung dalam kegelapan. Gadis itu sedang menggantikan ayahnya berjaga-jaga. Ketika ia mendengar langkah mendekat, maka disentuhnya kaki ayahnya, sehingga orang tua itupun telah terbangun.

 

Kiai Kanthipun segera mendengar desir lembut mendekat. Namun untuk beberapa saat ia masih berdiam diri sambil menunggu.

 

Swasti menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar seseorang berkata masih dalam kegelapan, “Aku Kiai. Jlitheng.”

 

Kiai Kanthipun segera bangkit. Sambil menggeliat ia bergumam, “Kau mengejutkan aku ngger.”

 

Jlitheng yang kemudian menjadi semakin dekat menyahut, “Maaf Kiai. Aku datang terlalu malam.”

 

Swastipun segera beringsut menjauh, seolah-olah sengaja duduk dibelakang sebatang pohon besar untuk memisahkan diri.

 

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun ia tidak memanggil anaknya. Dibiarkannya Swasti yang seakan2 berlindung dibalik sebatang pohon.

 

Jlithengpun kemudian duduk bersama Kiai Kanthi. Betapa pun gelapnya malam namun seolah2 mereka saling dapat memandang wajah masing2.

 

“Kiai,” berkata Jlitheng kemudian, “aku lupa pesanan Kiai.”

 

Kiai Kanthi tertawa. Jawabnya, “Tidak apa ngger. Tentu banyak yang angger yang sedang dilakukan, sehingga meskipun masih muda, tetapi sudah menjadi seorang pelupa.”

 

“Tidak banyak yang aku lakukan Kiai. Tetapi ada sesuatu yang sangat menarik perhatianku.”

 

Kiai Kanthi termangu-mangu sejenak, sementara Jlitheng-pun kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya dipinggir hutan itu.

 

Swasti yang mendengar juga peristiwa yang diceriterakan oleh Jlitheng itu ternyata tertarik juga, sehingga iapun telah beringsut setapak.

 

Kiai Kanthi mendengarkannya dengan penuh minat. Sekali-kali ia mengerutkan keningnya, sekali-kali menarik nafas dalam-dalam.

 

Jlithengpun memperhatikan orang tua itu dengan saksama. Ia ingin melihat akibat dari ceriteranya untuk menjajagi apakah Kiai Kanthi mempunyai hubungan dengan peristiwa yang baru saja terjadi itu.

 

Namun agaknya Kiai Kanthi yang tua itu dapat mengetahui, apa yang tersirat pada tatapan mata Jlitheng, sehingga sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Apakah ada yang angger ingin ketahui tentang aku dalam hubungannya dengan peristiwa itu?”

 

Jilid 02

 

“HE,“ Jlithenglah yang justru terkejut, “maksud Kiai?”

 

“Mungkin ada kecurigaan padamu ngger, bahwa aku mempunyai hubungan dengan peristiwa itu. Aku sadar, bahwa setiap orang baru yang datang ketempat yang kebetulan mempunyai persoalannya tersendiri, akan sangat menarik perhatian. Meskipun sekali lagi, hanya kebetulan saja.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Ternyata aku tidak dapat bersembunyi lagi dihadapan Kiai. Banyak hal yang Kiai ketahui dari keinginan yang sebenarnya masih tersimpan dihati. Kali inipun Kiai ternyata dapat membaca perasaanku.“ Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “Baiklah Kiai. Terus terang aku memang agak curiga terhadap kedatangan Kiai padi saat-saat ini. Aku ragu-ragu apakah benar-benar Kiai datang dari padepokan yang hancur karena tanah yang longsor, gempa, banjir dan angin pusaran. Apakah kedatangan Kiai kemari bukannya karena Kiai mempunyai hubungan dengan salah satu dari kedua perguruan itu. Pusparuri atau Kendali Putih. Atau Kiai adalah salah seorang yang mempunyai kepentingan yang sama dengan perguruan-perguruan itu, tetapi Kiai mempunyai pihak tersendiri.”

 

Jlitheng terkejut ketika ternyata Swastilah yang menjawab lantang, “Kamipun sudah mengetahui bahwa kau mencurigai kami. Kesediaanmu menolong kami hanyalah karena kau ingin menjajagi kemampuan kami. Sekarang kau tahu, bahwa aku mampu melakukan apa yang dapat kau lakukan.”

 

“Swasti,“ potong ayahnya.

 

“Kamipan tahu,“ Swasti meneruskan tanpa menghiraukan kata-kata ayahnya, “kau menunjukkan tempat ini semata-mata karena kau ingin mengikat kami di tempat yang kau ketahui dengan pasti. Setiap saat kau ingin mengamati kami, maka kau tidak usah mencari kami diseluruh hutan ini.”

 

“Ah,“ desah Kiai Kanthi, “jangan berprasangka terlalu jauh Swasti.”

 

.Swasti memandang bayangan ayahnya dan Jlitheng didalam kegelapan. Namun iapun kemudian terdiam.

 

Jlitheng mengangguk-angguk sambil bergumam, “Aku mohon maaf Kiai, bahwa sikapku agaknya telah menyakiti hati anak gadis Kiai.”

 

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Ia tidak mengira bahwa Jlitheng sama sekali tidak tersinggung oleh kata-kata Swasti, bahkan ia masih sempat minta maaf kepadanya.

 

“Sebenarnyalah bahwa dalam keadaan seperti ini didaerah terpencil seperti padukuhan Lumban ini. banyak mengundang prasangka buruk.“ Jlitheng meneruskan.

 

“Itu bukan salahmu ngger,“ berkata Kiai Kanthi, “tentu diantara kita masing-masing ada perasaan curiga karena kita masing-masing belum mengenal lahir dan batin. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita masing-masing sudah melakukan kesalahan.”

 

“Baiklah Kiai. Kita akan melihat perkembangan keadaan. Kita masih akan saling membuktikan tentang diri kita masing-masing. Tetapi jika benar Kiai tidak bersentuhan dengan perguruan Pusparuri dan Kendali Putih? maka yang aku ceriterakan itu hendaknya menjadi bahan perhitungan Kiai menghadapi masa mendatang di padukuhan Lumban ini.”

 

“Terima kasih ngger. Sebenarnyalah bahwa aku sudah mendengar serba sedikit tentang perguruan itu. Tetapi isinya aku sama sekali tidak mengerti. Apalagi hubungannya dengan angger Daruwerdi.”

 

“Baiklah Kiai. Aku akan minta diri. Kita sudah saling mengerti bahwa kita masih selalu dibelit oleh pertanyaan tentang orang-orang yang sedang kita hadapi.”

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Sementara Jlitheng melanjutkan, “Kiai. Sebagaimana Kiai yang berselubung kepapaan seorang perantau, maka terhadap siapa pun aku mohon Kiai untuk tidak mengatakan sesuatu tentang kemungkinan-kemungkinan yang Kiai anggap ada padaku. Terutama apabila pada suatu saat Kiai bertemu dengan Daruwerdi.”

 

Kiai Kanthi tertawa kecil. Jawabnya, “Aku sudah menduga ngger. Sejak semula aku sudah tidak dapat mengerti, bahwa angger ini bernama Jlitheng anak seorang janda miskin dari padukuhan Lumban Wetan. Tetapi akupun tidak akan bertanya siapakah angger sebenarnya, karena angger tentu akan berusaha menyembunyikan diri.”

 

Jlithengpun tersenyum. Katanya, “Untuk sementara kita dapat mengetahui menurut batas-batas yang kita buat sendiri diantara kita. Tetapi aku masih tetap akan membantu Kiai mendirikan sebuah gubug dipinggar hutan ini.”

 

“Terima kasih ngger. Tetapi jangan lupa, besok aku memerlukan belanga dan tempayan.”

 

Jlitheng tertawa. Iapun kemudian minta diri kepada Swasti.

 

“Silahkan,“ jawab Swasti pendek.

 

Jlitheng tersenyum. Katanya kepada Kiai Kanthi, “Aku kira Swasti tidak menganggap aneh sikap kita masing-masing, karena iapun telah terlibat kedalamnya. Jika ia bersikap tegang, mungkin karena aku benar-benar telah menyinggung perasaannya. Sekali lagi aku mohon maaf Kiai.”

 

“Tidak ngger. Anak gadisku tidak apa-apa. Itu memang sudah menjadi sifatnya. Swasti memang jarang bergaul sejak dipadepokan kami yang lama, yang agaknya kurang angger percaya itu.”

 

Jlitheng tertawa semakin keras. Namun iapun kemudian meninggalkan Kiai Kanthi dengan anaknya didalam gelapnya malam.

 

“Anak itu terlalu kasar,“ gumam Swasti.

 

Kiai Kanthi menggeleng lemah. Katanya, “Tidak Swasti. Ia tidak terlalu kasar. Tetapi ia dihputi oleh kecurigaan. Mungkin iapun mengemban suatu tugas yang memaksanya bersikap demikian.”

 

Swasti tidak menyahut. Tetapi terdengar ia berdesah.

 

“Kita memang tidak dapat menghindarkan diri dari sikap-sikap demikian. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang di padukuhan Lumban.”

 

“Kenapa kita memilih tempat ini ayah,“ berkata Swasti kemudian, “mumpung kita belum terlanjur mulai dengan membuat sebuah padepokan, sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini. Kita mencari tempat yang jauh dari persoalan-persoalan yang menegangkan seperti ini.”

 

Kiai Kanthi menggeleng lemah. Jawabnya, “Tidak Swasti. Dimanapun juga hidup mempunyai tantangannya masing-masing. Mungkin berbeda dalam ujud, tetapi semuanya memerlukan kesediaan untuk mengatasinya. Kita sudah bergulat dengan tanah longsor, banjir dan angin pusaran serta gempa. Disini ternyata kita menghadapi tantangan yang berbeda.”

 

Swasti masih tetap berdiam diri.

 

“Apalagi setelah aku mendengar nama perguruan-perguruan itu disebut Swasti. Perguruan Pusparuri, aku belum banyak mengerti. Tetapi perguruan Kendali Putih, aku sudah mendengarnya. Mungkin sekali-kali aku pernah menyinggungnya.”

 

Swasti tidak segera menjawab. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang pernah diceriterakan oleh ayahnya tentang perguruan Kendali Putih.

 

“Apakah kau masih ingat Swasti, aku pernah mengatakan kepadamu, bahwa perguruan Kendali Putih adalah sarang dari orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Diperguruan itu berkumpul orang-orang yang memiliki kemampuan dan ilmu yang tinggi. Tetapi hidup mereka justru mereka habiskan untuk meneguk kepuasan duniawi. Mereka tidak segan membunuh untuk sekedar mendapatkan sekeping emas atau sebutir berlian,“ berkata ayahnya sambil memandang wajah anak gadisnya yang menegang.

 

Swasti mengangguk kecil. Jawabnya, “Aku ingat ayah.”

 

“Ternyata sekarang orang-orang Kendali Putih itu telah menjamah padukuhan yang terpencil ini justru karena disiini ada angger Daruwerdi.“ sambung Kiai Kanthi.

 

“Namun dengan demikian, kita harus mencari keterangan, siapakah sebenarnya Daruwerdi itu ayah. Seperti Jlitheng. ia tentu mempunyai latar belakang kehidupan yang jauh berbeda dengan orang-orang Lumban itu sendiri. Bahkan menurut dugaanku, maka Lumban justru telah menjadi korban hadirnya Daruwerdi.”

 

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku belum dapat mengambil kesimpulan apapun juga Swasti. Untuk sementara kita masih tidak akan terlibat. Kita akan melakukan seperti yang kita rencanakan. Membuat sebuah tempat tinggal yang kecil, namun dapat memberikan pegangan hidup. Bukan saja buat aku yang sudah semakin tua ini, tetapi juga buatmu dimasa yang masih panjang.”

 

Swasti tidak menyahut. Iapun sadar, bahwa ia harus berhati-hati menghadapi keadaan yang masih samar-samar.

 

“Nah,“ berkata ayahnya kemudian, “sekarang giliranmu untuk tidur. Aku akan berjaga-jaga. Mudah-mudahan tidak ada binatang buas yang tersesat sampai ketempat ini.”

 

Swasti tidak menjawab. Iapun kemudian bersandar pada sebatang pohon sambil memejamkan matanya, sementara ayahnya duduk sambil berselimut kain panjangnya.

 

Dalam pada itu, padukuhan Lumbanpun sedang ditelan oleh kesenyapan malam. Beberapa orang anak muda yang sedang ronda digardu dengan gelisah menunggu Jlitheng yang terlalu lama pergi.

 

“Anak malas itu tentu sibuk dengan pematangnya yang pecah,“ desis yang seorang.

 

Sedang yang lain menyahut, “Ia terlalu bodoh untuk mengerti.”

 

Kawan-kawannya tertawa. Namun suara tertawa itu terputus ketika salah seorang melihat Jlitheng melangkah mendekat sambil memegang perutnya. Dalam cahaya obor didepan gardu itu, kawan-kawannya melihat wajah Jlitheng yang tegang.

 

“Kenapa perutmu ?“ bertanya seorang kawannya.

 

“Sakit,“ sahut Jlitheng yang langsung membaringkan dirinya di gardu yang sempit itu.

 

Kawan-kawannya membiarkannya meskipun salah seorang dari mereka bergumam, “Kau sita tempat yang hanya sempit itu untuk dirimu sendiri.”

 

Jlitheng tidak menyahut. Bahkan iapun melingkar sambil menyelubungi seluruh tubuhnya dengan kain panjangnya.

 

Namun dalam pada itu, seisi gardu itupun terkejut ketika mereka mendengar derap kaki kuda memecah sepinya malam. Sejenak anak-anak muda itu tercengkam. Namun kemudaan mereka mulai berdesak-desakan sambil gemetar.

 

“Kau dengar suara kaki kuda itu ?“ desis seseorang.

 

Kawannya yang sudah gemetar menggeram, “Hanya orang tuli sajalah yang tidak mendengar suara derap kaki itu.”

 

Yang lainpun terdiam. Namun salah seorang dari mereka tiba-tiba mengguncang kaki Jlitheng sambil berdesis, “Jlitheng, bangun. Ada seekor kuda datang.”

 

Jlitheng tidak bergerak. Nampaknya ia sudah tertidur nyenyak.

 

“Jlitheng, Jlitheng,“ yang lain ikut mengguncang.

 

“O,“ Jlitheng tiba-tiba mengeluh, “perutku sakit.”

 

“Bangun. Kau dengar derap kaki kuda yang semakin dekat itu?”

 

“Peduli dengan seekor kuda.”

 

“Gila,“ kawannya yang bertubuh tinggi menjadi jengkel, “jika kau dicekiknya, terserah. Kamipun tidak peduli.”

 

Tiba-tiba Jlitheng bangkit. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Apa yang terjadi ? Apa ?”

 

“Diamlah, Kuda itu sudah dekat.”

 

Jlitheng tidak sempat menjawab. Ketika ia turun dari gardu, ternyata yang dilihatnya mendekat bukannya seekor kuda. tetapi dua ekor kuda.

 

Penunggaang2 kuda itu telah menarik kendali kuda masing-masing ketika mereka melihat beberapa orang anak muda berdiri dimuka gardu, sehingga kedua ekor kuda itu berhenti beberapa langkah saja dihadapan anak-anak muda itu.

 

Anak-anak muda itu menjadi gemetar ketika mereka melihat dalam cahaya obor dua wajah yang garang memandang mereka dengan tegang. Dada mereka bagaikan retak ketika salah seorang dari keduanya tiba-tiba saja membentak, “He. kalian anak-anak Lumban ?”

 

Tidak ada yang dapat segera menjawab. Mulut-mulut menjadi bagaikan membeku.

 

“He, apakah semuanya tuli,“ yang lain hampir berteriak.

 

Jantung anak-anak muda itu bagaikan rontok. Apalagi ketika salah seorang dari kedua orang berkuda itu meloncat turun.

 

“He, kalian bisu atau tuli ? Jawab, bukankah ini padukuhan Lumban ?”

 

Anak muda yang bertubuh tinggi, yang kebetulan berdiri dipaling depan terpaksa berusaha untuk menjawab, “Ya Ki Sanak.”

 

Orang itu tiba-tiba tertawa. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kau anak berani. Kemarilah.”

 

Anak muda bertubuh tinggi itu menjadi semakin gemetar. Sedangkan orang itu masih saja tertawa sambil berkata, “Kemarilah anak muda. Kau nampaknya anak muda yang paling berani diantara semua kawan-kawanmu.”

 

Anak muda bertubuh tinggi itu menjadi semakin gemetar.

 

“Kenapa kau diam saja ?“ orang berwajah garang itu bertanya. “Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya.”

 

Anak muda itu bagaikan menjadi lumpuh. Karena itu ia sama sekali tidak bergeser.

 

“Baiklah. Jika kau tidak mau mendekat, akulah yang akan mendekat. Tetapi setidak-tidaknya kau tidak bisu dan tidak tuli.”

 

Ketika orang berwajah garang itu maju selangkah, diluar sadarnya anak-anak muda Lumban Wetan itu bergeser mundur. Karena itulah maka orang itupun tertawa semakin keras. Katanya, “Lumban memang aneh. Ternyata anak-anak mudanya tidak lebih dari seekor cacing.”

 

Anak-anak muda itu menjadi semakin gemetar.

 

Nyawa mereka rasa-rasanya telah terloncat dari ubun-ubun ketika tiba-tiba saja orang itu membentak, “He, siapa diantara kalian yang melihat dua orang kawanku yang datang ke padukuhan ini he ?”

 

Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan.

 

“Kalian menjadi bisu lagi. He, kau yang paling berani yang tidak bisu dan tidak tuli. Jawab pertanyaanku.”

 

Tetapi anak muda yang bertubuh tinggi itu benar-benar telah terbungkam. Keringatnya mengalir diseluruh tubuhnya, namun badannya terasa menjadi sangat dingin seperti air wayu sewindu.

 

Orang bertubuh kekar dan berwajah garang itu maju lagi selangkah. Sekali lagi ia berteriak, “Siapa yang melihat dua orang kawanku datang kepadukuham ini ? Ia tidak kembali pada waktu yang sudah di tentukan. Dan aku pasti bahwa keduanya telah sampai kepadukuhan ini. Tetapi aku tidak dapat menjumpainya ditempat yang sudah di tentukan.“

 

Anak-anak muda itu benar-benar menggigil. Mereka segera mengetahui bahwa yang dimaksud tentu dua orang yang telah dibunuh oleh Daruwerdi disebelah bukit, yang kemudian dikuburkan bersama seorang yang lain yang menurut keterangan justru kawan Daruwerdi sendiri yang mati dibunuh oleh dua orang yang kemudian terbunuh pula itu.

 

Tetapi tidak ada mulut yang dapat mengatakannya. Bahkan untuk menyebut bahwa kedua orang itu berurusan dengan orang-orang Lumban Kulonpun tidak ada yang dapat mengucapkannya.

 

“He, cepat. Apakah kau merahasiakannya ? Apakah terjadi sesuatu dengan kawan-kawanku itu ? Katakan. Jika kalian mengetahui sesuatu tentang mereka.”

 

Kediaman anak-anak muda Lumban Weton itu justru telah menumbuhkan kecurigaan pada kedua orang berwajah garang itu. Yang masih duduk dipunggumg kuda tiba-tiba saja berteriak, “Cepat, sebut apa yang terjadi. Kalian tentu mengetahui sesuatu yang kalian tidak dapat mengatakannya. Tetapi jika kalian tidak mau mengatakan, maka kami akan mengambil sikap. Kami akan memaksa kalian untuk mengatakannya.”

 

Darah disetiap tubuh rasa-rasanya telah berhenti mengalir. Wajah-wajah garang itu bagaikan menyala. Orang yang sudah turun dari kudanya itupun menggeram, “Kalian tentu mengetahui. Setiap peristiwa akan segera diketahui oleh setiap orang dipadukuhan ini.”

 

Anak-anak muda dimuka gardu itu seolah-olah telah menjadi patung yang beku. Nafaspun rasa-rasanya tidak lagi dapat mengalir sewajarnya, sehingga dada mereka merasa sesak, dan kepala mereka menjadi pening.

 

“Cepat,“ tiba-tiba saja orang itu berteriak, “dipadukuhan seperti ini tidak ada yang dapat dirahasiakan. Juga tentang kedua orang kawanku itu. Aku berjanji untuk tidak berbuat sesuatu atas kalian jika kalian mengatakannya, dan jika kalian tidak terlibat dalam persoalan dengan mereka.”

 

Tetapi mulut-mulut bagaikan tersumbat.

 

“Aku tidak telaten,“ berkata orang yang sudah turun dari kudanya, “aku akan mengambil seorang dari mereka dan memaksanya untuk berbicara. Jika mulutnya tidak mau terbuka, maka aku akan memeras darahnya sampai kering.”

 

Seorang anak muda yang kurus berwajah pucat tiba-tiba saja telah terjatuh dan menjadi pingsan. Namun tidak seorangpun yang berani bergerak untuk menolongnya.

 

Ketika orang yang berwajah, garang itu melangkah maju sambil memandangi setiap wajah untuk menemukan seseorang yang akan diperasnya, maka tiba-tiba saja terdengar seseorang merintih.

 

Orang berwajah garang itu tertegun. Dengan tegang ia memperhatikan suara itu.

 

“He, kenapa kau,“ tiba-tiba orang itu berteriak.

 

“Perutku sakit,“ yang menjawab adalah Jlitheng sambil memegangi perutnya yang sakit. “Apakah aku boleh pergi kesungai ?”

 

Pertanyaan itu benar-benar telah mengejutkan. Bukan saja kedua orang berwajah garang itu, tetapi kawan-kawan Jlithengpun terkejut. Pertanyaan itu akan dapat mencelakakannya.

 

Ternyata dugaan kawan-kawannya itu benar. Orang berwajah garang yang sudah tidak lagi berada dipumggung kudanya itu benar-benar merasa tersinggung oleh pertanyaan Jlitheng. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia melambaikan tangannya sambil tersenyum. Tetapi senyumnya itu nampaknya seperti senyum iblis yang melihat sesosok mayat yang baru diletakkan dilubang kuburnya.

 

“Kemarilah cah bagus,“ desis orang berwajah garang itu.

 

Tetapi panggilan itu rasa-rasanya bagaikan sembilu yang menggores setiap jantung.

 

“Alangkah bodohnya Jlitheng, kawan-kawannya menyesalinya. Tetapi tidak seorangpun yang berani menolongnya.

 

Tetapi Jlitheng memang seorang anak yang dungu dihadapan kawan-kawannya. Ia melangkah maju sambil terbungkuk-bungkuk.

 

“Perutku sakit sekali,“ ia masih berdesis.

 

“Baiklah. Marillah. Aku antar kau kesungai. Apakah kau dapat naik seekor kuda?”

 

Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Aku tidak dapat naik kuda.”

 

“Kalau begitu marilah. Aku jaga agar kau tidak terjatuh.”

 

“Tetapi sungai itu tidak begitu jauh,“ jawab Jlitheng.

 

Orang itu tersenyum. Dibelainya kepala Jlitheng sambil berkata, “Meskipun tidak jauh, biarlah kami berdua mengantarmu cah bagus.”

 

Ketika Jlitheng mendekati orang itu, kawan-kawannya menjadi semakin berdebar-debar.

 

“Alangkah bodohnya,“ kawan-kawannya berteriak didalam hati. Rasa-rasanya mereka ingin menggapai Jlitheng dan menariknya, agar ia tidak mendekati orang berwajah garang itu. Tetapi merekapun telah membeku oleh ketakutan dan kecemasan.

 

Tetapi Jlitheng melangkah terus sambil memegangi perutnya.

 

“Terima kasih,“ desis Jlitheng.

 

Orang berwajah garang itupun kemudian meloncat kepunggung kudanya. Dicahaya obor yang kemerah-merahan masih nampak ia tersenyum sambil berkata, “Kemarilah. Aku tolong kau naik kuda bersamaku.”

 

Anak-anak muda itu menggigil ketika mereka melihat Jlitheng mendekati orang berkuda itu.

 

Namun yang terdengar kemudian adalah keluhan yang panjang. Tiba-tiba saja orang itu menyambar tangan Jlitheng dan menariknya dengan semena-mena.

 

“Cepat anak gila. Kau harus menunjukkan kepadaku, dimana kedua orang kawanku itu.“ bentak orang itu dengan kasar.

 

“Aku akan pergi kesungai,“ Jlitheng mulai berteriak.

 

“Tutup mulutmu. Aku bunuh kau,“ senyum diwajah orang itu sudah lenyap. Yang nampak kemudian adalah kegarangan wajah yang mengerikan.

 

Kawan-kawannya hanya dapat memandang dengan tegang saat kuda-kuda itu mulai bergerak. Mereka melihat Jlitheng meronta. Tetapi tangan orang berwajah kasar itu bagaikan tanggem baja.

 

Sejenak kemudian kuda itu telah berderap masuk kedalam kegelapan. Namun hati anak-anak muda itu bagaikan teriris ketika mereka mendengar suara teriakan Jlitheng yang tertinggal, disela-sela derap kaki-kaki kuda itu.

 

Ketika kemudian Jlitheng hilang didalam kelam, maka anak-anak muda itu mulai saling berpandangan. Satu dua diantara mereka menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba seorang yang bertubuh gemuk berdesis, “Kasihan Jlitheng yang dungu itu.”

 

Kawan-kawannya masih menggigil. Namun salah seorang dari mereka mulai melangkah mendekati kawannya yang pingsan.

 

“Bawa ia naik kegardu,“ desisnya.

 

Beramai-ramai anak muda itu diangkat untuk dibaringkannya didalam gardu. Satu dua diantara mereka mulai memijat-mijat keningnya, sedang yang lain masih saja berdiri kebingungan.

 

“Marilah kita pulang,“ tiba-tiba seorang diantara mereka berdesis, “bagaimana jika mereka kembali lagi kemari ?”

 

“Ya. Kita pulang saja.”

 

Beberapa orang menjadi ragu-ragu. Seorang yang paling tua berkata, “Mereka tidak akan kembali lagi. Kita menunggu sejenak, apa yang terjadi dengan Jlitheng.”

 

Anak-anak muda itu menjadi semakin ragu-ragu. Tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang meninggalkan gardu. Hati mereka benar-benar menjadi kecut, sehingga mereka kebingungan, apakah yang sebaiknya dilakukan.

 

Sementara itu, beberapa orang yang tinggal disebelah-menyebelah gardu itu terkejut mendengar keributan yang terjadi. Mereka mendengar beberapa orang berteriak. Membentak, tetapi juga mengaduh.

 

Satu dua orang laki-laki telah keluar dari rumahnya. Dengan hati-hati mereka mulai mengintip. Ketika mereka masih melihat obor digardu menyala, dan mereka masih melihat anak-anak muda dimuka gardu itu, maka merekapun segera mendekat.

 

Mereka hanya dapat mendengar apa yang telah terjadi dengan Jlitheng.

 

“Kasihan janda itu,“ desis seseorang, “anak itu hilang sejak kanak-kanak. Belum lama ia kembali. Kini ia mengalami bencana.”

 

“Ya,“ sahut yang lain, “begitu lama anak itu pergi, sehingga kita yang tua ini tidak lagi dapat mengingat bahwa janda itu mempunyai anak laki-laki. Agaknya kini ia harus kehilangan untuk yang kedua kalinya.”

 

“Apakah kita akan memberitahukan kepadanya?“ bertanya seorang anak muda.

 

Seorang laki-laki tua maju selangkah. Dengan sareh ia berkata, “Jangan tergesa-gesa. Kita akan menunggu perkembangan dari peristiwa ini. Jika sekarang kita datang kerumahnya dan memberitahiulkannya kepada ibunya, maka perempuan itu akan pingsan. Bahkan mungkin mati.”

 

Yang lain mengangguk-angguk Seorang anak muda berkata, “Baiklah. Kita menunggu perkembangannya. Besok pagi-pagi kita akan menelusuri jalan-jalan di Lumban Wetan dan kalau perlu di Lumban Kulon. Mungkin kita dapat menemukannya.”

 

Anak muda itu tidak meneruskannya. Tetapi yang lain menyahut, “Menemukannya hidup atau mati.”

 

Seorang tua menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita akan mengatakannya kepada Daruwerdi. Apakah yang sebaiknya kita lakukan.”

 

“Ya. Besok kita menemui Daruwerdi di Lumban Kulon,“ hampir berbareng beberapa orang menjawab.

 

Sejenak kemudian, maka orang-orang tua itupun minta diri, kembali kerumah masing-masing, sedang beberapa orang anak muda masih tetap berada digardu. Namun tidak seorang pun yang berani membaringkan dirinya. Jika mereka mendengar derap kaki kuda, maka mereka sudah siap menghambur melarikan diri.

 

Sementara itu, kedua ekor kuda dengan penunggangnya telah berderap keluar padukuhan dengan membawa Jlitheng yang meronta-ronta. Namun himpitan tangan orang berwajah garang itu semakin lama menjadi semakin kuat mencengkam lengan Jlitheng.

 

“Aku akan pergi kesungai,“ teriak Jlitheng.

 

“Tutup miulutmu, atau aku bunuh kau.“ bentak orang berwajah garang itu, “sekarang tunjukkan, dimana kau melihat kedua orang kawanku. Dengan siapa mereka berhubungan, dan apakah yang sudah terjadi.”

 

“Aku tidak tahu, aku tidak tahu,“ Jlitheng masih berteriak.

 

“Jika kau tidak mau diam, aku cekik kau sampai mati,“ geram orang berwajah garang itu.

 

Sejenak Jlitheng terdiam. Yang terdengar dikesunyian malam hanyalah derap kaki kuda yang berlari kencang dibulak panjang itu.

 

Namun ketika mereka sudah sampai ditengah-tengah bulak, maka kuda itupun berjalan semakin lambat. Bahkan akhirnya berhenti sama sekali.

 

Jlitheng masih tetap berada dipunggung kuda. Orang berwajah garang yang memeganginya berdesis, “Kita berada ditengah-tengah bulak anak manis.”

 

Jlitheng tidak menjawab.

 

“Nah, sekarang katakan kepadaku, apa yang kau ketahui tentang kedua orang kawanku yang sudah mendahului aku datang kepadulkuhan Lumban,“ bertanya orang berwajah garang itu, “akan dapat berbaik hati kepadamu. Tetapi aku juga dapat berbuat sesuatu yang barangkali belum pernah kau bayangkan.”

 

Jlitheng masih tetap diam.

 

“Misalnya,“ orang itu melanjutkan kata-katanya, “mengikatmu dan menarik dibelakang kaki kuda. Atau mengikatmu erat-erat dan menelungkupkan tubuhmu diparit yang airnya hanya mengalir sedalam mata kaki, dengan sebuah batu besar dipunggung. Atau cara lain yang lain yang barangkali lebih menarik.”

 

Jlitheng sama sekali tidak menjawab.

 

“He,“ orang itu mulai kehilangan kesabaran,“ jawab pertanyaanku.”

 

Adalah dihiar dugaan, bahwa tiba-tiba saja Jlitheng justru tertawa. Bahkan kemudian dengan tangkasnya ia turun ajari punggung kudanya sebelum orang yang berwajah garang itu sempalt menyadari keadaannya. Pegangan tangannya yang agak mengendor telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh Jlitheng, sehingga dengan mudah ia melepaskan diri bahkan orang itu hampir jatuh karenanya.

 

Sejenak kemudian Jlitheng telah berdiri beberapa langkah dari orang berwajah garang yang membawanya sambil bertolak pinggang.

 

Sikap Jlitheng itu benar-benar telah mengejutkan orang-orang dari perguruan Kendali Putih itu. Sesaat mereka bagaikan terpukau sehingga keduanya justru membeku dipunggung kudanya.

 

“Nah Ki Sanak,“ berkata Jlitheng dengan suara yang jauh berbeda dengan lengkingan-lengkingan ketakutan disaat ia meninggalkan gardu, “marilah kita berbicara dengan baik. Kau dapat bertanya dengan sopan, dan aku akan menjawab dengan wajar.”

 

Yang terdengar kemudian adalah geram yang melontarkan kemarahan. Orang yang membawa Jlitheng bersamanya disatu punggung kuda itupun bertanya dengan suara bergetar, “Apakah kau sudah menjadi gila karena ketakutan ?”

 

“Tidak Ki Sanak,“ jawab Jlitheng sareh, “aku memang ingin berbicara ditempat yang sepi seperti sekarang ini agar tidak menakut-nakuti kawan-kawanku yang berada digardu. Apalagi ketika aku menyadari, bahwa aku berhadapan dengan orang-orang dari perguruan Kendali Putih.”

 

“Persetan,“ geram orang dari Kendali Putih yang seorang lagi, “jawablah. Dimana kedua kawan-kawanku yang telah datang lebih dahulu dipadukuhan ini.”

 

“Mereka telah mati,“ jawab Jlitheng pendek.

 

Jawaban Jlitheng itu terdengar bagaikan ledakan petir ditelinga mereka. Hampir berbareng keduanya telah meloncat turun dari kuda mereka.

 

Sejenak keduanya memandang Jlitheng dengan tanpa berkedip. Mereka telah menyadari, bahwa yang berdiri di hadapannya itu tentu bukannya anak Lumban yang pingsan karena ketakutan seperti yang terjadi, di gardu. Namun bagaimanapun juga bagi kedua orang Kendali Putih itu, Lumban adalah padukuhan yang tidak berarti apa-apa bagi mereka.

 

Karena itu, salah seorang dari keduanya membentak dengan kasarnya, “Anak setan. Katakan, apakah yang telah terjadi.”

 

Jlitheng memandang kedua orang itu berganti-ganti. Kemudian katanya, “Aku melihat semua dua orang Kendali Putih yang datang kepadukuhan Lumban Kulon. Keduanya telah melukai seorang dari perguruan Puspapuri dan berusaha untuk menipu Daruwerdi. Tetapi rahasia kawan-kawanmu itu dapat diketahui, karena mereka tidak mampu menjawab istilah sandi yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Daruwerdi dengan perguruan Pusparuri. Dan itu adalah kebodohan yang menentukan bagi kedua kawan-kawanmu itu.”

 

“Gila,“ geram kedua orang Kendali Putih itu, “siapakah kau sebenarnya? Apakah kau yang bernama Daruwerdi ?”

 

“Bukan aku. Aku hanya melihat bagaimana Daruwerdi membunuh kedua orang kawanmu.”

 

“Bohong. Tentu dua puluh atau tiga puluh orang Lumban telah beramai-ramai mengepung dan mengeroyoknya. Mungkin diantaranya terdapat Daruwerdi dan kau sendiri.”

 

“Aku berkata sebenarnya,“ jawab Jlitheng, “bukankah aku sudah berjanji untuk menjawab dengan wajar?”

 

“Tidak ada orang yang dapat mengalahkan murid-murid dari perguruan Kendali Putih,“ teriak salah seorang dari mereka.

 

“Ada. Daruwerdi. Kau dengar. Namanya Daruwerdi. Rumahnya Lumban Kulon. Ia seorang diri telah membunuh kedua orang kawan-kawanmu. Kau dengar.”

 

Kata-kata Jlitheng itu membuat kedua orang Kendali Putih itu menjadi semakin marah. Dengan garangnya salah seorang dari keduanya membentak, “Jangan mengigau. Aku dapat membunuhmu.”

 

Jlitheng termangu-nmngu. Ia bergeser setapak ketika ia melihat salah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu mengikat kudanya pada sebatang pohon perdu. Bahkan yang seorangpun telah berbuat serupa pula.

 

Jlitheng sadar, bahwa keadaan menjadi semakin gawat. Tetapi ia sudah melakukannya dengan sengaja dan telah memperhitungkan akibatnya pula.

 

“He anak gila,“ salah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu menggeram, “kau belum mengenal kami berdua. Kau belum mengenal perguruan Kendali Putih. Karena itu, nampaknya kau menganggap kami berdua seperti anak-anak yang merengek minta makanan. Cobalah kau menyadari keadaanmu. Agaknya kau belum terlambat minta ampun kepada kami dan mengatakan sebenarnya seperti yang kami inginkan.”

 

“Ki Sanak,“ jawab Jlitheng, “aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Kedua orang Kendali Putih yang datang untuk mencari keterangan tentang pusaka yang tidak aku ketahui namanya, telah terbuka rahasianya sehingga kemudian telah dibunuh oleh Daruwerdi, anak muda dari Lumban Kulon, setelah kedua orang Kendali Putih itu berhasil membunuh seorang dari perguruan Pusparuri yang seharusnya mendapat keterangan dari Daruwerdi,“ Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “Ki Sanak. Jika kau bertanya sekali lagi, maka jawabku akan sama pula dengan jawabku itu dan jawaban-jawabanku sebelumnya. Karena itu, jangan bertanya lagi tentang kedua orang kawanmu. Mungkin kau lebih baik bertanya siapakah Daruwerdi dan dimanakah rumahnya.”

 

Kedua orang itu tidak lagi dapat mengendalikan kemarahannya. Karena itu tiba-tiba saja salah seorang dari mereka telah mengayunkan tangannya menampar kening Jlitheng.

 

Tetapi orang itu terkejut. Ternyata tangannya tidak menyetuh anak muda itu, meskipun Jlitheng tidak bergeser dari tempatnya. Ia hanya menarik kepalanya sambil memiringkan wajahnya. Kemudian seolah-olah seperti tidak terjadi sesuatu ia berkata, “Jangan cepat marah. Jika kau ingin bertemu dengan Daruwerdi, marilah. Mungkin kalian berdua juga akan dibunuhnya seperti kedua kawanmu yang telah mati itu.”

 

Keduanya tidak dapat menahan diri lagi. Salah seorang dari mereka berkata kasar, “Setan alas. Aku akan membunuhmu dengan caraku. Baru kemudian aku akan mencari Daruwerdi yang kau katakan itu. Tetapi aku tidak percaya bualanmu, seolah-olah anak muda dari Lumban mampu membunuh orang-orang Kendali Putih, apalagi seorang Daruwerdi melawan dua orang kawan-kawanku.”

 

“Kenapa kau tidak percaya bahwa anak muda Lumban mampu mempertahankan dirinya meskipun ia berhadapan dengan orang-orang Kendali Putih?”

 

Pertanyaan itu benar-benar tantangan dan penghinaan bagi kedua orang Kendali Putih itu. Karena itu, maka yang seorang dari keduanya segera meloncat menerkam kepala Jlitheng sambil berteriak, “Aku bunuh kau perlahan-lahan didalam parit itu.”

 

Tetapi tangannya juga tidak menyentuh sehelai rambut-pun. Jlitheng mampu menghindar secepat terkaman orang Kendali Putih itu.

 

“Gila,“ geram orang itu, “kau akan menyesal dengan sikapmu.”

 

Orang itu tidak dapat menyelesaikan kata-katanya. Tiba-tiba saja terasa lambungnya bagaikan meledak. Kaki Jlitheng telah terjulur menghantam lambung tanpa diduga-duga.

 

Orang itu terdorong selangkah. Terdengar ia menyeringai menahan sakit. Namun sekali lagi terjadi yang tidak terduga-duga pula. Bagaikan terbang Jlitheng meloncat menyerangnya.

 

Orang itu tidak sempat menghindar. Karena itu, ia telah menyilangkan tangannya menahan serangan kaki Jlitheng yang terjulur lurus. Tetapi karena ia belum mapan pada keseimbangan seutuhnya, maka dorongan kaki lawannya telah melemparkannya, sehingga ia jatuh terguling ditanah.

 

Yang terjadi itu demikian cepatnya, sehingga murid Kendali Putih yang seorang lagi itu sejenak justru bagaikan tercengkam oleh keheranannya. Namun ketika ia melihat kawannya jatuh berguling, maka dengan serta merta iapun meloncat menerkam Jlitheng pada tengkuknya.

 

Tetapi Jlitheng sempat menghindar. Seolah-olah ditengkuknya itu terdapat sepasang mata yang melihat tangan lawannya itu terjulur kearahnya. Bahkan dengan serta merta ia sempat memutar tubuhnya dan dengan tangannya menghantam dada.

 

Lawannya ternyata cukup tangkas. Ia meloncat mundur selangkah, sehingga tangan Jlitheng tidak menyentuhnya.

 

Pada saat Jlitheng siap untuk meloncat memburu, langkahnya terhenti. Lawannya yang seorang ternyata telah melenting berdiri dan siap untuk menyerangnya pula.

 

Jlitheng mempersiapkan diri menghadapi kedua lawannya. Ia sadar, bahwa ia harus berhati-hati menghadapi orang-orang Kendali Putih. Di pinggir hutan ia melihat, bagaimana orang-orang Kendali Putih itu bertempur. Dan iapun melihat, seorang dari perguruan Pusparuri telah terluka arang kranjang.

 

Ternyata kemarahan kedua orang Kendali Putih itu tidak tertahankan lagi. Apalagi ketika keduanya sadar, bahwa anak muda yang dihadapinya itu benar-benar memiliki bekal untuk melawan mereka.

 

“Gila. Ternyata anak-anak muda Lumban memang harus dimusnakan,“ geram salah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu.

 

“Aku bukan anak muda dari Lumban,“ jawab Jlitheng, “Daruwerdi juga bukan anak Lumban. Jika orang-orang Kendali Putih mendendam anak-anak Lumban, maka itu adalah suatu kebodohan. Anak-anak muda Lumban adalah anak-anak muda yang hanya mengenal cangkul untuk bekerja disawah. Itulah sebabnya, aku merasa wajib untuk melndungi mereka.”

 

Kedua orang lawannya menggeram. Salah seorang dari kedua lawannya bertanya dengan nada melengking, “Siapakah kau sebenarnya anak iblis ? Apakah kau juga yang membunuh kedua orang kawanku.”

 

“Jangan terlampau dungu. Aku sudah menyebut beberapa kali. Yang membunuh kawanmu adalah Daruwerdi. Dan aku bukan Daruwerdi. Aku Jlitheng. Meskipun aku tinggal di Lumban, tetapi jangan salahkan anak-anak muda Lumban. Kalian, perguruan Kendali Putih hanya berurusan dengan Daruwerdi dan aku, Jlitheng.”

 

“Persetan,“ orang-orang Kendali Putih itu menggeram. Yang seorang berteriak, “akan aku musnakan seluruh isi padukuhan Lumban.”

 

“Ki Sanak,“ berkata Jlitheng, “aku tahu, bahwa kau berdua tentu akan mencari kesempatan untuk melepaskan dendammu atas kematian kawan-kawanmu. Karena itu, kalian merupakan bahaya yang sungguh-sungguh bagi Lumban. Agar anak-anak harimau tidak dibiarkan menjadi besar dan menerkam, maka anak-anak harimau itu harus dimusnakan.”

 

Kemarahan telah memuncak karena sikap Jlitheng. Karena itu maka sejenak kemudian perkelahian itupun telah menyala kembali dengan dahsyatnya. Kedua orang Kendali Putih itu tidak lagi telaten bertempur dengan tangan. Apalagi ketika terasa bahwa Jlitheng justru telah berhasil membuat keduanya berkeringat.

 

Sejenak kemudian, kedua orang Kendali Putih itu telah mencabut senjata mereka. Yang seorang telah menggenggam sebuah golok yang besar, sedangkan yang lain telah menarik pedang panjangnya.

 

“Kau akan kami cincang menjadi sayatan-sayatan daging dan potongan tulang,“ geram salah seorang dari keduanya.

 

Jlitheng meloncat surut. Sekilas diperhatikannya senjata-senjata yang garang itu. Apalagi senjata2 itu berada ditangan orang-orang Kendali Putih.

 

“Aku tidak boleh lengah,“ berkata Jlitheng kepada diri sendiri, “dan aku tidak perlu berpura-pura. Aku harus melawan mereka dengan senjata pula.”

 

Karena itulah, maka Jlithengpun kemudian menggeram, “Ki Sanak. Senjata kalian adalah ciri kekerasan dari perguruan Kendali Putih. Kalian benar-benar ingin menyelesaikan setiap persoalan dengan kematian. Sikap kalian telah mendorong aku untuk berbuat serupa.”

 

Kedua orang itu tidak menghiraukannya. Hampir berbareng mereka meloncat menyerang dengan senjata terjulur.

 

Jlitheng sekali lagi meloncat agak jauh surut. Ia berusaha mendapat kesempatan untuk mengurai senjatanya. Senjata yang agak asing bagi lawann-lawannya.

 

Dari bawah kain panjangnya yang kusut, Jlitheng mengurai sehelai ikat pinggang yang dibuatnya dari anyaman serat sehingga menyerupai sehelai tampar yang lemas. Tetapi karena didalam anyaman itu terdapat beberapa helai serat lulup kayu dadap cendana abang, serta tiga helai janget yang tipis, maka tampar yang lemas itu merupakan tampar yang kuat sekali.

 

Sejenak kemudian, sehelai dadung ditangan Jlitheng itu telah berputar. Suaranya berdesing seperti ssndaren yang terbang diudara.

 

Kedua orang Kendali Puitih itu terkejut melihat senjata lawannya. Apalagi setelah mereka mendengar suara berdesing bagaikan suara sendaren.

 

Sejenak keduanya termangu-mangu. Dalam gelapnya malam mereka melihat sesuatu yang diujung dadung ditangan Jlitheng itu.

 

Ujung tampar yang berkilat-kilat itu bagaikan seekor lalat yang berterbangan diseputar kedua lawannya. Jika sekali benda itu hinggap ditubuh, maka tubuh mereka tentu akan tersobek melintang.

 

Karena itu, maka kedua orang Kendali Putih itu menjadi semakin hati-hati. Mereka berloncatan menghindar dan sekali-kali menyerang dengan garangnya. Mereka mencoba memecah perhatian Jlitheng pada dua sisi yang berlawanan.

 

Namun Jlitheng benar-benar seorang yang sangat tangkas. Kakinya bagaikan kaki kijang, sementara tangannya dengan senjatanya bagaikan sayap seekor burung raksasa yang mengembang menyebarkan maut.

 

Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin seru. Jlithengpun harus bekerja bersungguh-sungguh. Seperti kedua orang itupun semakin lama menjadi semakin kasar.

 

Jlitheng harus bekerja keras menghindari benturan-benturan kekerasan yang tidak perlu. Apalagi karena ia harus bertempur melawan dua orang.

 

Namun sejenak kemudian, Jlitheng berhasil menguasai lawannya. Bukan saja karena ia telah menemukan kelemahan-kelemahan lawannya, namun justru karena lawannya telah terlalu banyak memeras tenaga mereka.

 

Dengan garangnya Jlitheng memutar senjatanya. Sekali-kal ia masih harus meloncat menghindari ujung senjata kedua orang Kendali Putih itu. Namun kemudian, kedua orang itu telah berada dalam libatan tampar Jlitheng yang berdesing seperti sendaren. Benda yang tersangkut diujung dadung itu semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin dekat dengan tubuh lawannya.

 

Sejenak kemudian, terdengar sebuah keluhan tertahan. Ternyata bahwa Jlitheng telah berhasil menyentuh punggung lawannya dengan ujung senjatanya.

 

“Gila,“ geram orang itu. Lukanya telah mengalirkan darah, sementara perasaan pedih rasa-rasanya menggigit sampai ketulang.

 

Ternyata luka itu telah membuatnya seperti orang gila. Orang yang bersenjata golok yang besar itu bertempur semakin garang dan kasar. Namun dalam pada itu, semakin jelas bagi Jlitheng, bahwa tenaganya telah menjadi semakin susut karenanya.

 

Saat-saat selanjutnya sudah tidak terlampau berat lagi bagi Jlitheng. Luka dipunggung salah seorang lawannya itu, seolah-olah telah menyusut separo dari segenap kemampuannya. Kecuali perasaan sakit yang menyengat, tubuhnya semakin lama menjadi semakin lemah dan seolah-olah telah kehabisan tenaga.

 

Jlitheng tidak mau melepaskan setiap kesempatan. Ia tidak mlau membiarkan kesulitan akan berlarut-larut mencengkam padukuhan Lumban, setidak-tidaknya Lumban Wetan. Ia berharap bahwa Daruwerdi akan bertanggung jawab bagi keselamatan anak-anak muda di Lumban Kulon, karena ia memang tinggal di padukuhan itu. Apalagi bahwa sumber persoalan ini sebenarnya terletak padanya. Jika ia tidak mempunyai hubungan dengan orang-orang dari berbagai perguruan. maka Lumban akan tetap menjadi padukuhan yang damai. Yang perlu dilakukan bagi padukuhan itu adalah sekedar meningkatkan tata kehidupan mereka tanpa mengaduknya dengan kegelisahan dan kecemasan.

 

“Sebenarnya yang mereka perlukan adalah sebuah parit induk,“ berkata Jlitheng didalam hatinya, “bukan titik-titik darah seperti yang telah terjadi dipinggir hutan, dan sekarang terpaksa disini.”

 

Tetapi Jlitheng tidak dapat ingkar. Ia harus menyelesaikan tugas yang dipetiknya seridiri. Kedua orang itu harus dapat dihapuskannya tanpa bekas, sehingga persoalannya tidak akan berkepanjangan.

 

“Untuk itu aku terpaksa membunuh mereka,“ geram Jlitheng didalam hatinya.

 

Dengan demikian maka Jliithengpun bertempur semakin cepat dan garang. Ia harus segera menyelesaikan pertempuran itu sebelum berkembang menjadi semakin buruk, karena ada pihak-pihak lain yang terlibat. Apalagi Jlitheng sendiri masih merasa perlu untuk menyelubungi dirinya dengan sikap yang lain dari kenyataan yang sebenarnya.

 

Karena itulah, maka benda yang berkilat-kilat diujung dadung yang dipergunakan oleh Jlitheng sebagai senjatanya itu, berputar semakin cepat. Benda itu mulai menyengat-nyengat ditubuh lawannya. Dipundak, kemudian dibahu dan bahkan kening.

 

Kedua lawannya yang menjadi semakin lemah karena tenaganya yang terperas habis, darahnyapun mengalir semakin banyak. Perlahan-lahan mereka mulai kehilangan kemampuan perlawanannya, sehingga luka ditubuh merekapun menjadi semakin banyak.

 

Dalam keadaan yang tidak lagi dapat diatasi, salah seorang dari kedua orang itu menggeram, “Anak gila. Sebutkan, siapakah kau sebenarnya. Senjatamu dan sikapmu mengingatkan aku kepada sebuah perguruan yang hampir dilupa.”

 

Jlitheng meloncat surut. Namun tiba-tiba sebuah serangan yang dahsyat telah melibat kedua lawannya. Betapapun kedua orang itu berusaha, namun senjata anak muda itu telah menghantam punggung dan dada, sehingga nafas mereka bagaikan terputus karenanya.

 

Keduanya telah terhuyung-huyung hampir bersamaan. Senjata mereka perlahan-lahan terlepas pula, karena tangan mereka tidak lagi dapat menggenggam.

 

Pada saat terakhir itulah maka Jlitheng yang berdiri tegak dengan senjatanya ditangan berkata dengan nada berat, “Ki Sanak. Aku tidak mempunyai pilihan lain bagi orang-orang Kendali Putih. Aku kenal perguruan Kendali Putih dan telah ditegaskan pula oleh sikap kedua kawanmu yang dibunuh oleh Daruwerdi. Dan yang terakhir adalah sikap kalian berdua. Karena itu, bagi keselamatan orang-orang Lumban, aku telah mengambil keputusan untuk membunuh kalian.”

 

“Persetan,“ geram salah seorang dari orang-orang Kendali Putih, “kami tahu, kami akan mati.”

 

“Yang penting bagiku, bukan kematianmu. Tetapi kecemasanku melihat nasib anak-anak muda Lumban.”

 

“Siapa kau ?“ suara orang Kendali Putih itu semakin lambat.

 

“Namaku Arya Baskara, murid dari perguruan yang memang sudah dilupakan sepeninggal Guruku, Kiai Baskara.”

 

“Namamu nunggak semi nama gurumu. Jadi kau murid Baskara dari perguruan Rasa Jati yang sudah punah itu ?”

 

“Ya. Aku satu-satunya murid dari perguruan Rasa Jati yang masih tinggal.”

 

“O,“ orang Kendali Putih itu mengeluh, “kau memang gila. Gurumu menurut pendengaranku juga orang gila. Siapa namamu ?”

 

Jlitheng memandang kedua orang yang semakin lemah itu. Selangkah ia mendekat. Kemudian katanya, “Namaku sendiri adalah Arya Candra Sangkaya.”

 

“He,“ wajah kedua orang yang sudah tidak berdaya itu bagaikan menyala, “kau jangan mengigau. Apakah kau senang menyebut nama-nama orang yang disegani waktu itu ? Candra Sangkaya adalah nama seorang Pangeran keturunan Perabu Majapahit terakhir.”

 

“Bukan Candra Sangkaya. Namanya Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Raden Kuda Surya Anggama. Salah seorang Senapati yang gagal mempertahankan Kota Raja Majapahit dan gugur dimedan. Usianya masih muda, meskipun waktu itu ia sudah mempunyai seorang anak laki-laki. Akulah Candra Sangkaya yang jika aku mau, aku dapat mempergunakan gelarku meskipun aku buat sendiri, Jlitheng.”

 

Kedua orang itu masih menggeram. Tetapi keduanya sudah menjadi semakin lemah. Namun salah seorang dari keduanya masih berkata, “Aku akan mati dengan senang hati, karena yang membunuhku adalah murid yang tersisa dari perguruan Rasa Jati. Mungkin aku akan tersiksa disaat terakhir, jika kau mengatakan bahwa kau adalah benar-benar anak Lumban. Tetapi kau adalah orang yang memang pantas membunuhku.“ ia berhenti sejenak, nafasnya sudah menjadi semakin sendat, “tetapi siapakah Daruwerdi? Apakah ia orang dari perguruan Pusparuri ?”

 

“Pasti bukan orang Pusparuri. Tetapi aku tidak tahu. Mungkin nama Daruwerdi itupun bukan namanya.”

 

“Orang-orang gila. Kalian lebih senang bersembunyi dibalik nama yang aneh-aneh itu,“ nafasnya menjadi semakin lambat.

 

Bahkan ketika Jlitheng melangkah semakin dekat, ia melihat yang seorang dari kedua lawannya itu benar-benar sudah tidak bernafas lagi.

 

“Kawanmu sudah mati,” desis Jlitheng.

 

Orang Kendali Putih yang masih hidup itu berdesah. Katanya, “Kau cerdik. Kau berusaha menghilangkan jejakmu dengan membunuh kami berdua. Tetapi Kendali Putih tentu akan melacak perjalananku, karena mereka tahu. bahwa dua orang yang kau katakan dibunuh oleh Daruwerdi itu. dan kami berdua, telah pergi kepadukuhan ini.”

 

“Apapun yang akan terjadi. Inilah yang. paling baik aku lakukan saat ini untuk kepentingan orang-orang Lumban.”

 

Orang Kendali Putih itu termangu-mangu didalam saat-saat yang paling gawat. Dilihatnya Jlitheng mendekatinya. Namun matanya semakin lama menjadi semakin kabur. Meskipun demikian, disaat terakhir itu, masih terucapkan betapapun lirihnya, “Jadi kau anak Surya Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggana itu ?”

 

“Ya. Mungkin aku bukan berparas bangsawan, karena ibuku benar-benar seorang pidak pedarakan. Tetapi ibuku bukan seorang selir. Ibuku adalah isteri Pangeran Kuda Surya Anggana. Aku bangga atas ayahku yang berani menentang arus, kawin dengan seorang perempuan kecil, meskipun ia harus mengorbankan perasaan untuk waktu yang lama. Tetapi disaat-saat Majapahit memerlukan kepemimpinannya sebagai seorang Senapati, maka kedudukan ayahku telah pulih kembali.”

 

Jlitheng masih akan berbicara tentang ayahnya, meskipun sebenarnya hal itu lebih banyak ditujukan kepada dirinya sendiri. Tetapi ditelannya kata-katanya itu kembali. Bahkan japun segera berjongkok disampiing orang Kendali Putih itu. Namun ia sudah mati.

 

“Aku memerlukan kau -,“ desis Jlitheng, “sekali-kali aku ingin juga menumpahkan beban yang tersumbat dihati. Hanya kepada orang-orang mati sajalah aku dapat mengatakannya, setidak-tidaknya untuk sementara.”

 

Tetapi Jlitheng tidak dapat berceritera terus tentang dirinya sendiri. Ia harus menghapus jejak. Karena itu, maka iapun segera mengangkat kedua orang yang terbunuh itu kepunggung kuda mereka masing-masing dan menuntun kuda itu kekuburan.

 

Jlitheng yang sebenarnya bernama Arya Candra Sangkaya itu harus bekerja keras untuk menggali sebuah lubang yang besar dan mengubur kedua orang itu kedalamnya.

 

“Bagaimana dengan kedua ekor kuda ini?“ ia bergumam.

 

Akhirnya Jlitheng telah melepas pelana dan rerakit pakaian kuda itu seluruhnya dan menguburnya pula disudut kuburan itu. Kemudian dituntunnya kedua ekor kuda itu dan menghadapkannya kearah yang tidak banyak dilalui orang, bahkan menuju ke hutan.

 

“Hiduplah bebas kuda-kuda manis,“ gumamnya, “meskipun mungkin pada suatu saat kau akan menemukan jalan pulang kekandangmu.”

 

Kemudian dilecutnya kedua ekor kuda itu, sehingga keduanya berlari seperti dikejar hantu menuju kedaerah yang tidak dikenalinya.

 

Jlitheng yang berdiri di depan sebuah kuburan yang dipergunakan oleh orang-orang Lumban itu memandang kekejauhan. Didalam keremangan malam, ia mencoba untuk melihat bukit padas yang gundul. Namun yang nampak hanyalah bayangan kehitam-hitaman yang tidak jelas.

 

Baru sejenak kemudian ia menyadari keadaannya. Tubuhnya tentu kotor dan bahkan bernoda darah. Karena itu, maka iapun segera berlari-lari kecil pergi kesungai. Meskipun dimalam yang dingin, ia memaksa diri untuk mandi dam mencuci pakaiannya. Tetapi ia tidak dapat menunggu pakaiannya kering. Dengan pakaian yang basah ia berjalan kembali kepadukuhannya.

 

Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika menengadahkan wajahnya. Langit telah menjadi merah. Sebentar lagi fajar akan segera menyingsing.

 

“Aku bekerja lamban sekali,“ ia bergumam, “hari sudah pagi. Mungkin anak-anak muda itu telah memberitakukan kepada ibuku bahwa aku telah hilang dibawa oleh orang-orang Kendali Putih itu.”

 

Jlitheng tidak singgah lagi digardu. Ia langsung pulang kerumahnya.

 

Ketika ia sampai dipinta dapur, matahari sudah mulai menjenguk di ujung Timur. Langkahnya terhenti ketika ia melihat ibunya sedang sibuk menghembus bara di perapian untuk menyalakan api.

 

“Biarlah aku saja yang menyalakan biyung,“ berkata Jlitheng dari pintu.

 

Ibunya terkejut. Ketika ia berpaling dilihatnya Jlitheng yang basah kuyup, “He, darimana kau ? Apakah kau kehujanan?”

 

“Tidak biyung, aku telah tergelincir disungai ketika aku sedang mencuci muka.”

 

“Anak bengal. Berhati-hatilah. Cepat, ganti pakaianmu agar kau tidak menjadi sakit.”

 

Jlithengpun segera pergi kebiliknya. Ternyata ibunya belum mengetahui peristiwa yang terjadi di gardu perondan itu.

 

“Tetapi sebentar lagi tentu ada seseorang yang datang untuk memberitahukan hal itu,“ berkata Jlitheng didalam hatinya.

 

Ternyata bahwa dugaan Jlitheng tidak keliru. Baru saja ia selesai berganti pakaian, maka ia sudah mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya.

 

Jlitheng tidak mau terlambat. Jika ibunya membuka pintu, maka ia akan segera mendengar peristiwa yang telah terjadi. Sehingga karena itu, maka iapun tergesa-gesa pergi keruang depan untuk membuka pintu rumahnya yang masih tertutup.

 

Seperti yang diduganya, yang datang adalah seorang kawannya diantar oleh seseorang yang telah berusia separo baya.

 

Alangkah terkejutnya kedua orang itu ketika mereka melihat Jlithenglah yang telah membuka pintu untuk mereka, sehingga untuk beberapa saat mereka berdiri termangu-mangu.

 

“Marilah, silahkan masuk,“ Jlitheng mempersilahkan.

 

Orang yang telah berusia separo baya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah aku melihat Jlitheng yang sebenarnya ?”

 

“Ya paman. Aku memang Jlitheng. Aku tahu, bahwa paman tentu terkejut melihat bahwa aku sudah berada dirumah. Karena itu silahkan duduk, aku akan berceritera sedikit tentang peristiwa yang baru saja terjadi atasku. Tetapi aku mohon, paman jangan berceritera kepada biyung yang sudah tua dan sakit-sakitan itu.”

 

“Yang terjadi seperti sekedar mimpi,“ gumam kawan Jlitheng.

 

“Duduklah.”

 

“Terima kasih. Lebih baik kita duduk diserambi saja,“ berkata orang yang sudah berusia separo baya.

 

Ketiganyapun kemudian duduk di sebuah dingklik bambu diserambi. Hampir tidak sabar lagi kawannya bertanya, “Jlitheng, apakah yang sudah terjadi. Kami semuanya menjadi gelisah. Bahkan kami sudah mencoba mencarimu di bulak-bulak dan kesungai. Kami sudah berpikir buruk sekali.”

 

“Aku mengerti,“ jawab Jlitheng, “akupun sudah menduga, bahwa aku akan dicekiknya dan mayatku akan dilemparkannya kesungai.”

 

“Tetapi kau masih segar,“ berkata orang yang separo baya.

 

“Ya paman. Ternyata aku masih segar.”

 

“Mulailah berceritera,“ kawannya mendesak.

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia harus berhati-hati agar ceriteranya tidak menumbuhkan persoalan yang dapat mempersulit anak-anak muda Lumban. Ia sadar, bahwa ceritanya tentu akan segera tersebar. Bukan saja di Lumban Wetan, tetapi tentu akan didengar oleh anak-anak muda Lumban Kulon, dan barangkali juga Daruwerdi. Dengan demikian maka tidak mustahil bahwa orang-orang Kendali Putihpun akan dapat menyadap keterangan yang akan dikatakannya itu.

 

“He, kenapa kau diam saja ?“ kawannya benar-benar tidak sabar lagi.

 

“Baiklah,“ berkata Jlitheng, “aku sudah hampir pingsan saat aku dibawa oleh kedua orang yang menyebut dirinya murid-murid dari perguruan Kendali Putih.”

 

“Ya, kami sudah melihat,“ kawannya tidak sabar.

 

Jlitheng tersenyum. Kemudian iapun melanjutkannya, “Ditengah bulak aku dipaksa untuk berceritera. Dan akupun tidak dapat ingkar, bahwa telah terjadi peristiwa seperti yang sudah kita ketahui di pinggir hutan itu.”

 

“Kau menceriterakannya ?“ bertanya kawannya, “apakah itu bukan berarti bahaya bagi Daruwerdi?”

 

“Aku tidak dapat berbuat lain.”

 

Kawannya dan orang yang separo baya itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari, bahwa apabila Jlitheng tidak mau mengatakannya, ia sendiri akan dapat dibunuh oleh kedua orang itu.

 

“Lalu?” kawannya mendesak lagi.

 

“Orang-orang itu memang gila,“ berkata Jlitheng kemudian, “sebelum aku dilepaskannya, maka aku telah dicekiknya. seolah-olah mereka benar-benar ingin membunuhku. Kemudian akupun dibenamkannya didalam parit yang airnya hanya setinggi mata kaki. Tetapi ternyata mereka tidak membunuhku. Mereka meninggalkan aku yang gemetar kedinginan dan ketakutan didalam parit. Tetapi aku tidak berceritera kepada biyung. Aku mengatakan kepadanya, bahwa aku tergelincir disungai sehingga pakaianku basah kuyup.”

 

Kedua orang yang datang kepadanya itu mengangguk-angguk. Yang separo baya kemudian bergumam, “Bersukurlah bahwa kau masih tetap hidup.”

 

“Ya, aku masih beruntung bahwa aku dapat kembali kepada ibuku.”

 

“Tetapi kami seisi gardu menjadi gelisah. Ketika fajar mulai membayang, kami mencoba mencarimu dibulak. Tetapi kami tidak menemukan tanda-tanda apapun, sehingga akhirnya aku berdua telah diserahi tugas oleh kawan-kawan untuk memberitahukan kepada ibumu, bahwa kau telah hilang dibawa oleh dua orang yang tidak dikenal.”

 

“Aku tidak dapat kembali kegardu dengan pakaian yang kotor dan basah. Aku ingin berganti pakaian. Baru kemudian menemui kalian.”

 

Kedua kawannya itupun kemudian memberikan beberapa pesan, agar Jlitheng tidak keluar saja dahulu dari padukuhan. Mungkin yang terjadi itu masih akan mempunyai akibat yang berkepanjangan.

 

“Jika mereka kemudian mencari Daruwerdi, apakah kira-kira nasib mereka akan seperti kedua orang kawannya yang datang terdahulu?“ tiba-tiba saja kawannya bertanya.

 

Jlitheng menggeleng lemah. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Aku hanya mengatakan apa yang aku ketahui tanpa memperhitungkan apapun juga.”

 

Akhirnya kedua orang kawannya itupun menianggalkan Jlitheng yang nampak ketakutan. Tetapi yang dapat dilakukan oleh kedua orang itu hanyalah beberapa pesan yang tidak berarti.

 

Sepeninggal kedua kawannya Jlithengpun segera pergi ke dapur. Kepada ibunya yang bertanya tentang tamunya, Jlitheng hanya mengatakan, bahwa keduanya menanyakan tentang air diparit yang rusak diujung bulak, karena anak-anak kecil yang kurang berhati-hati saat-saat mereka menggembalakan kerbau dan menggiringnya kesungai untuk dimandikan.

 

Sementara itu, seperti yang diduga oleh Jlitheng, maka ceritera yang dibuatnya itu segera tersebar diseluruh padukuhan. Bahkan ceritera itupun telah didengar pula oleh anak anak muda Lumban Kulon.

 

“Daruwerdi akan mendengarnya juga,“ berkata Jlitheng didalam hatinya, “ia akan datang kepadaku dan bertanya, apakah yang sebenarnya telah terjadi.”

 

Dugaan Jlitheng itupun tepat. Demikian berita tentang Jlitheng itu sampai ketelinga Daruwerdi, maka iapun dengan tergesa-gesa telah pergi ke Lumban Wetan untuk bertemu dengan Jlitheng.

 

“Cariterakan,“ berkata Daruwerdi.

 

Jlitheng menceritakan peristiwa itu seperti yang diceriterakan kepada dua orang Lumban Wetan yang datang kepadanya.

 

“Jadi kau dilepaskan begitu saja ?” bertanya Daruwerdi.

 

“Tidak. Aku telah dibenamkan didalam parit.”

 

“Maksudku, kau tidak dibunuhnya.”

 

“Tentu tidak. Seperti yang kau lihat, aku masih hidup. Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia menahan kejengkelannya atas kebodohan Jlitheng. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah kau sadar, bahwa dengan demikian kau sudah menghadapkan aku kepada kedua orang itu ?”

 

“Aku tidak mempunyai pilihan lain. Jika aku tidak mengatakannya aku dicekiknya sampai mati.”

 

Daruwerdi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Jlitheng. Itu memang bukan salahmu. Seandainya bukan kau namun tentu akan ada pula orang lain yang menceritakan apa yang telah terjadi dipinggir hutan itu. Dan akupun harus bersiap menghadapi segala kemungkinan.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Daruwerdi. Apakah yang kira-kira akan kau lakukan jika pada suatu saat orang-orang yang mengatakan dirinya murid dari Kendali Putih itu datang dalam jumlah yang jauh lebih banyak ?”

 

Daruwerdi memandang wajah Jlitheng yang cemas. Namun kemudian anak muda itu justru tertawa. Katanya, “Bersembunyi. Bukankah itu cara yang paling baik untuk melawan mereka yang berjumlah melampaui kekuatan dan kemampuan ?”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya lagi, “Mungkin kau berhasil bersembunyi. Namun agaknya orang-orang Kendali Putih itu adalah orang-orang yang kasar dan jahat. Bagaimanakah jika seandainya ia melepaskan dendamnya kepada kami. anak-anak Lumban yang tidak dapat membela diri ?”

 

Jawab Daruwerdi benar-benar diluar dugaan. Suara tertawanya masih terdengar. Katanya, “Itu adalah nasib. Nasib mereka yang menjadi sasaran itulah yang agaknya terlampau malang.”

 

Sejenak Jlitheng terdiam. Wajahnya menegang. Namun katanya kemudian, “Daruwerdi. Kami, setidak-tidaknya aku sendiri, merasa sangat cemas. Aku merasa tidak tenteram lagi karena peristiwa yang berurutan telah terjadi itu. Jika benar katamu, maka ada kemungkinan besok atau lusa, Lumban akan menjadi sasaran kemarahan orang-orang Kendali Putih.”

 

Daruwerdi mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Aku akan memikirkannya. Aku akan berusaha agar orang-orang Kendali Putih hanya mendendam kepadaku.”

 

“Kau dapat menjamin ?”

 

Jawabnyapun sangat mendebarkan. “Aku hanya dapat berusaha. Sebaiknya kalian jangan tergantung sekali dengan usahaku itu.”

 

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Daruwerdi yang berdiri tegak dengan wajah yang sedikit terangkat, diwajahnya sama sekali tidak membayang kecemasan dan kekhawatiran tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang menimpa dirinya.

 

“Tetapi,“ Jlithengpun kemudian berkata, “kami hanya dapat menyandarkan keselamatan kami kepadamu. Ternyata kau adalah satu-satunya orang yang dapat melawan penjahat-penjahat seperti yang telah kau bunuh itu.”

 

“Jritheng,“ jawab Daruwerdi, “seharusnya akulah yang menuntut perlindungan anak-anak muda Lumban. Bukankah kau yang telah membuka rahasia pembunuhan itu ? Meskipun sudah aku katakan itu bukan salahmu, dan sudah aku katakan, bahwa siapapun akan dapat menyebutnya demikian. Namun karena itu, jangan kau menyalahkan aku pula bahwa aku sudah terlibat kedalam suatu keadaan yang sebenarnya tidak aku kehendaki pula. Juga apabila hal ini akasi menyentuh anak-anak muda Lumban.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Jika demikian, apakah kau mempunyai cara yang akan dapat membantu kami menghindarkan diri dari bencana ini ?”

 

“Jlitheng,“ jawab Daruwerdi, “nampaknya memang aneh, dan barangkali tidak pernah terpikir oleh kalian. Bagaimana jika kalian bersikap seperti seorang laki-laki. Bukankah kalian mempunyai tenaga dan pikiran ? Kenapa kalian tidak berusaha melindungi diri kalian sendiri?”

 

“Kami tidak terbiasa berkelahi. Kami tidak mempunyai bekal apapun untuk melawan langsung kepada orang-orang yang garang itu.”

 

“Aku akan mengajari kalian untuk sekedar dapat membela diri. Mungkin seorang-seorang kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa, karena untuk mencapai tingkatan orang-orang Kendali Putih kalian memerlukan waktu satu atau dua tahun, bahkan lebih. Tetapi jumlah kalian yang banyak itupun mempunyai pengaruh pula. Dua atau tiga orang Kendali Putih tentu tidak akan mampu melawan kalian seluruh padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”

 

Jlitheng memandang Daruwerdi sejenak. Namun tiba-tiba saja ia tersenyum. Katanya, “Kau mau mengajar kami untuk membela diri ?”

 

Sekali lagi Daruwerdi menegaskan, “Ya. Ajaklah kawan-kawanmu. Kita akan segera mulai. Selain hal itu akan dapat melindungi kalian dan padukuhan Lumban, maka akupun akan mempunyai kawan untuk memnertahankan diri, jika pada suatu saat orang-orang Kendali Putih datang lagi kepadukuhan ini.”

 

Kesanggupan Daruwerdi itupun kemudian telah diceriterakan oleh Jlitheng kepada kawan-kawannya. Bahkan Jlitheng telah menambahnya dengan beberapa harapan dan kemungkinan yang dikarangnya sendiri.

 

“Kita akan menjadi pengawal padukuhan kita seperti seorang prajurit mengawal Kota Raja,“ katanya.

 

“Kau pernah melihat seorang prajurit mengawal Kota Raja ?“ bertanya kawannya.

 

Jlitheng ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu.

 

Jlithenglah yang kemudian menjadi penghubung antara anak-anak muda yang ingin mempelajari olah kanuragan dengan Daruwerdi. Pada hari itu juga, Jlitheng telah memberitahukan beberapa nama kepada Daruwerdi.

 

“Kami siap, kapanpun akan dimulai,“ berkata Jlitheng.

 

Daruwerdi tersenyum. Katanya kepada Jlitheng, “Aku bangga atas kalian. Tetapi sayang. Agaknya kesediaan kalian untuk cepat-cepat memiliki kemampuan kanuragan itu karena didesak oleh perasaan takut.”

 

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun iapun tersenyum sambil menjawab, “Mungkin kau benar Daruwerdi. Kami menjadi sangat ketakutan. Siang malam kami merasa tidak tenteram.”

 

“Peristiwa itu baru semalam terjadi. Tetapi kau sudah merasa sangat tersiksa.”

 

“Karena itu, kami cepat-cepat ingin memiliki bekal betapapun kecilnya.”

 

“Baik. Aku akan menyediakan sekedar waktu. Setiap sore kalian harus datang ke padang ilalang disebelah bukit padas yang gundul itu.”

 

“Bukit padas?” diluar sadarnya Jlitheng bertanya.

 

“Ya. Aku kira tempat itu adalah tempat yang paling baik. Cukup luas dan tidak akan terganggu. Jauh dari padukuhan, sehingga anak-anak kecil tidak akan berkerumun seperti nonton wayang beber.”

 

“Terima kasih,“ Jlitheng mengangguk-angguk.

 

Dengan tergesa-gesa iapun segera menemui kawan-kawannya. Baik dari Lumban Wetan maupun dari Lumban Kulon. Setiap sore mereka harus berkumpul di padang ilalang disebelah bukit padas. Mereka akan mendapat latihan membela diri jika benar-benar terjadi kerusuhan di padukuhan itu.

 

Kesediaan Daruwerdi itupun segera menjadi pusat pembicaraan. Setiap orang merasa wajib mengikutinya. Seperti dikatakan oleh Daruwerdi, dorongan yang paling kuat dari diri mereka sebenarnya adalah perasaan takut.

 

Namun dalam pada itu, Jlitheng tidak melupakan Kiai Kanthi yang berada dibukit sebelah. Rasa-rasanya ia sudah terikat pada suatu kewajiban untuk datang dan melaporkan apa yang telah terjadi. Seolah-olah orang tua di bukit itu mempunyai pengaruh yang kuat atas darinya tanpa dapat dihindari.

 

Karena itulah, maka ketika malam menjadi gelap, Jlitheng dengan diam-diam telah pergi kebukit sambil membawa sebuah belanga dan sebuah kelenting seperti yang dipesankan oleh Kiai Kanthi.

 

Namun dalam pida itu, Jlitheng merasa heran kepada dirinya sendiri. Setelah pertanyaan tiba-tiba saja timbul, “Apakah yang aku lakukan ini sekedar didorong oleh belas kasihan, atau perikemanusiaan. atau karena orang tua itu melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginanku untuk membuat saluran air yang dapat bermanfaat bagi sawah dan ladang di padukuhan Lumban, atau sebab-sebab lain ?”

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia menggeram, “Sebenarnya aku belum tahu pasti, apakah sudah sewajarnya aku menempatkan diriku dibawah pengaruh wibawanya. Aku harus tahu pasti, bahwa ia benar-benar seorang tua yang pantas dihormati. Bukan sekedar seorang perantau yang mencari tempat sandaran bagi hidupnya. Atau bahkan meyakinkan bahwa ia bukan orang-orang Kendali Putih.”

 

Jlitheng tiba-tiba saja mempercepat langkahnya. Sekilas terbayang, betapa orang tua itu berusaha menahan anak gadisnya, saat mereka bertemu dengan seekor harimau. Mereka menyatakan diri mereka sebagai perantau yang perlu dikasihani. Saat itu Kiai Kanthi tentu mengetahui bahwa Daruwerdi ada disekitar mereka dan berusaha untuk tidak memberikan kesan bahwa mereka memiliki ilmu. Kiai Kanthi sempat menekan pusat syaraf anaknya, sehingga anaknya tidak dapat berbuat apa-apa.

 

“Tetapi apakah benar mereka memiliki kemampuan yang berlebih-lebihan. Apa salahnya jika aku mengetahui lebih jauh. Bukan sekedar mengenal ketahanan jasmaniah orang itu dan anaknya itu saat mereka mendaki bukit melalui tebing tebing padas yang sulit.“

 

Jlitheng telah benar-benar meng ambil keputusan.

 

Demikianlah, maka sejenak kemudian Jlitheng telah berada di dekat sumber air dibukit itu. iapun mulai mempersiapkan rencananya.

 

Kedatangan Jlitheng seperti biasa disambut oleh Kiai Kanthi dengan gembira. Sebagaimana seseorang yang terpisah dari lingkungannya, maka setiap kunjungan merupakan suatu kebahagiaan tersendiri, karena memang pada kodratnya, seharusnya manusia hidup didalam suatu lingkungan bersama diantara mereka.

 

“Aku membawa belanga dan kelenting Kiai,“ berkata Jlitheng.

 

“O, terima kasih ngger. Terima kasih,“ berkata Kiaa Kanthi sambil menerima benda-benda itu, “dengan benda-benda ini kami akan dapat menyiapkan makanan kami lebih baik lagi, jauh lebih baik.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Sekilas dilihatnya Swasti duduk bersandar sebatang pohon, menghadap kearah lain, seolah-olah sedang menikmati kelamnya hutan dilereng bukit itu.

 

“Ia sama sekali tidak mengacuhkan kedatanganku,“ gumam Jlitheng didalam hatinya, “seandainya ia tidak menghiraukan aku, apakah ia tidak merasa senang, bahwa aku telah membawa belanga dan kelenting baginya ?”

 

Jlitheng sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja ia merasa tersinggung. Sikap itu adalah sikap Swasti sejak ia bertemu pertama kali. Gadis itu memang tidak pernah mengacuhkan kehadirannya. Bahkan kadang-kadang justru berlindung dibalik batang-batang pohon.

 

Perasaan itu, telah membuat sikap Jlitheng agak berbeda. Peristiwa yang terjadi di Lumbanpun agaknya telah berpengaruh pula atasnya.

 

Kiai Kanthi ternyata memiliki ketajaman penglihatan.

 

Bukan saja atas sikap Jlitheng yang nampak, namun orang itu seolah-olah dapat membaca kerut dikening anak muda itu.

 

Tetapi Kiai Kanthi bersikap hati-hati. Tentu ada sesuatu yang telah terjadi sehingga mempengaruhi sikap anak muda itu. Meskipun demikian Kiai Kanthi tidak menanyakannya. Dipersilahkannya anak muda itu duduk diatas sehelai ketepe yang dianyamnya dari daun ilalang.

 

“Terima kasih Kiai,“ Jlitheng mengangguk-angguk. Namun sambil duduk ia berkata, “aku ingin berceritera tentang sesuatu yang telah terjadi di Lumban, Kiai.”

 

“Apakah ada peristiwa lain yang telah terjadi ngger ?“ bertanya Kiai Kanthi.

 

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mulai berceritera tentang dua orang Kendali Putih yang mencari keterangan tentang kedua kawannya yang hilang.

 

“Tidak ada pilihan lain kecuali membunuh mereka,“ berkata Jlitheng.

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa Jlitheng telah dihadapkan pada suatu keadaan yang sulit, sehingga tidak banyak kesempatan baginya untuk memikirkan tindakan yang lebih tepat dari membunuh mereka.

 

Tetapi Kiai Kanthi terkejut ketika Jlitheng kemudian bertanya, “Kiai, apakah benar Kiai tidak mengerti apa yang telah terjadi di Lumban itu.”

 

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Aku tidak tahu maksudmu ngger. Bagaimana aku dapat mengetahui peristiwa itu, karena setiap saat siang dan malam aku menunggui anakku disini. Sekali-kali aku mengejar seekor binatang buruan atau mengail ditelaga itu.”

 

Kiai Kanthi berhenti sejenak, lalu, “tetapi memang sudah terpikir olehku, bahwa aku tidak akan dapat berada ditempat ini seperti orang yang sedang bersembunyi untuk waktu yang terlalu lama. Persediaan garam yang aku bawa pun telah tinggal sedikit, sehingga pada suatu saat, aku tentu akan datang ke Lumban.”

 

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah orang tua itu sejenak. Dalam cahaya perapian yang kemerah-merahan Jlitheng memang melihat, kerut-kerut keheranan di wajah orang tua itu

 

Tetapi Jlitheng sudah bertekat untuk meyakinkan, apatah orang tua itu pantas dicurigai atau tidak. Selebihnya, apakah benar seperti yang diduganya sejak ia melihat orang tua itu untuk pertama kali, bahwa ia memang memiliki ilmu yang dapat dibanggakan sehingga sudah sepantasnya ia menghormatinya seperti seharusnya diberikan kepada orang-orang tua dan orang-orang berilmu.

 

Jlithengpun sadar, bahwa keinginannya untuk mengetahui ilmu orang tua itu, juga didorong oleh suatu kerinduan kepada gurunya. Sejak ia terpisah dari gunung, maka rasa-rasanya ia memang memerlukan seseorang yang dapat dianggapnya sebagai gurunya dan lebih-lebih lagi sebagai ayahnya yang juga sudah tidak ada lagi.

 

“Tetapi tidak semua orang dapat aku anggap sebagai guru dan orang tuaku,“ anak muda itu menggeram didalam hatinya.

 

Karena itu, maka tiba-tiba saja sikap Jlitheng telah benar berubah. Dengan suara yang lantang dan kata-kata yang agak keras ia berkata, “Kiai, lelucon yang Kiai buat disini seharusnya sudah berakhir. Sejak kedatangan Kiai dan anak gadis yang Kiai katakan anak Kiai itu, Lumban bagaikan diguncang oleh gempa. Aku tidak tahu apakah sebenarnya yang terjadi. Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa Lumban telah dijamah orang-orang Kendali Putih dan orang Pusparuri. Sementara itu, Kiai yang berpura-pura sebagai seorang perantau telah berada pula di tempat ini.”

 

“Angger,“ Kiai Kanthi memotong dengan wajlah yang tegang, “kenapa tiba-tiba saja angger menuduh aku seperti itu ?”

 

Jlitheng seolah-olah tidak mendengar kata-kata Kiai Kanthi. Bahkan ia menambahkannya, “Semula aku percaya dan bahkan mengagumi rencana Kiai untuk membuka sebuah padepokan, justru didekat mata air di bukit itu. Tetapi ternyata kedatangan Kiai telah diikuti oleh pjeristiwa-peristiwa yang menumbuhkan korban jiwa.“

 

Kiai Kanthi termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Wajah anak muda itu, seolah-olah ia ingin melihat, apakah yang tersirat pada kata-katanya itu.

 

“Angger,“ berkata Kiai Kanthi sareh, “sebagai orang tua, aku mencoba untuk mengerti apakah yang angger maksud sebenarnya dibalik kata-kata dan terlebih-lebih lagi sikap angger. Mungkin angger benar-benar mencurigai kami. Tetapi mungkin angger mempunyai maksud-maksud lain tertentu dengan sikap itu.”

 

“Apapun tanggapan Kiai, tetapi aku akan tetap pada sikapku. Aku ingin membawa Kiai dan perempuan yang Kiai sebut sebagai anak gadis Kiai itu ke Lumban. Kalian berdua harus dihadapkan kepada kedua Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”

 

“Jangan begitu anakmas,“ berkata Kiai Kanthi, “kau belum darat membuktikan bahwa kami berdua berbuat salah. Adalah tidak adil bahwa angger akan menangkap kami dan membawa kami menghadap Ki Buyut. Memang kami sudah berniat untuk menghadap Ki Buyut dan menyatakan niat kami membuka sebuah padepokan. Tetapi bukan sebagai dua orang tawanan. Kami akan menghadap sebagai manusia yang bebas dan dapat menentukan sikap menurut keinginan kami.”

 

“Jangan membantah Kiai. Aku dapat memaksa Kiai. Jika perlu aku akan minta bantuan kepada Daruwerdi. Aku sendiri dapat membunuh dua orang murid perguruan terkenal Kendali Putih, dan Daruwerdipun dapat melakukannya pula. Karena itu, tidak ada kesempatan bagi Kiai untuk melawan kehendakku.”

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau memang aneh ngger. Malam ini kau membawa belanga dan kelenting kepada kami. Tetapi tiba-tiba saja kau bermaksud menangkap kami. Jika demikian maka belanga dan kelenting ini tidak akan ada artinya.”

 

Pertanyaan itu benar-benar tidak diduga-duga oleh Jlitheng. Karena itu maka untuk sesaat ia justru terdiam. Dipandanginya belanga dan kelenting yang dibawanya dengan diam-diam dari padukuhan. Namun ternyata bahwa perasaannya telah digelut oleh berbagai macam tanggapan atas orang tua itu, sehingga ia telah mengambil sikap untuk meyakinkan siapakah sebenarnya yang telah dihadapinya itu. Apakah ia hanya sekedar seorang perantau, seorang yang benar-benar mencari daerah baru, atau seseorang yang memang mempunyai niat yang kurang baik seperti orang-orang Kendali Putih dan mungkin juga seperti orang-orang Pusparuri, meskipun dengan gaya yang berbeda-beda.

 

Namun dalam pada itu, selagi Jlitheng merenungi pertanyaan Kiai Kanthi. tiba-tiba telah terdengar suara dari kegelapan, “Ayah, kenapa ayah masih juga belum berbuat apa-apa.”

 

Jlitheng berpaling. Dilihatnya Swasti tidak lagi duduk bersandar sebatang pohon diarah yang berseberangan, namun ia telah berdiri tegak dengan sorot mata yang membara.

 

“Ayah,“ berkata Swasti, “aku tahu. Kita berdua dianggapnya seperti orang-orang Kendali Putih. Atau setidak-tidaknya kita mempunyai hubungan dengan mereka. Jika memang anak muda itu berniat menangkap kami, maka ia harus membuktikan, bahwa ia memang mampu melakukannya.”

 

Kiai Kanthi menegang sejenak. Namun kemudian ia melangkah mendekati anak gadisnya sambil berkata, “Sabarlah Swasti. Kita harus mengerti, bahwa kecurigaan yang demikian, dapat saja timbul dihati siapapun juga. Angger Jlitheng telah didorong oleh keadaan, sehingga ia telah berubah sikap. Semula ia menerima kedatangan kami dengan baik. Itu adalah nuraninya yang sebenarnya. Perubahan yang timbul itu tentu ada sebabnya.”

 

“Apapun sebabnya, tetapi aku tidak akan bersedia datang kepada siapapun sebagai seorang tangkapan,“ geram Swasti.

 

“Aku sedang mencoba menjelaskan kepadanya.”

 

Namun yang menjawab adalah Jlitheng, “Bersedia atau tidak bersedia. Aku mempunyai alasan untuk memaksa kalian. Pertama, karena aku adalah anak muda Lumban yang bertanggung jawab atas keamanan dan ketenangan padukuhanku. Kedua, karena aku memang memiliki kemampuan untuk menangkap kalian berdua.”

 

“Anakmas,“ berkata Kiai Kanthi, “sikap anakmas memang sangat meragukan. Tentu anakmas tidak akan dapat berkata kepada Ki Buyut Lumban Wetan apalagi Lumban Kulon, bahwa kaulah yang telah menangkap kami karena Jlitheng adalah sekedar anak seorang janda miskin di Lumban Wetan. Seorang anak muda yang dungu dan sedikit malas. Seorang pemimpi yang berangan-angan tentang air yang mengalir diparit meskipun dimusim kemarau. Tidak ngger. Tidak akan ada seorangpun yang mempercayaimu.”

 

Wajah Jlitheng benar-benar menjadi tegang. Namun wajah itu bertambah tegang ketika Swasti meloncat maju sambil berkata lantang, “Ayah jangan bersikap terlalu lunak. Memang kita adalah orang-orang yang aneh. Kadang-kadang kita merasa perlu untuk hidup dan lingkungan sesama. Tetapi kita adalah orang-orang yang telah diracuni oleh kecurigaan dan permusuhan. Karena itu, biarlah ia memuaskan dirinya dengan sikapnya. Aku akan membuktikan, bahwa ia tidak mempunyai kesempatan apapun untuk menangkap kita. Apalagi ayah, sementara aku akan membela diriku dengan kekerasan jika ia akan memaksa dengan kekerasan pula.”

 

“Swasti,“ potong Kiai Kanthi.

 

Tetapi Swasti sudah melangkah maju mendekati Jlitheng. Sikapnyapun telah berubah, seperti sikap Jlitheng yang berubah pula. Gadis itu tidak lagi berlindung dibalik sebatang pohon, seakan-akan untuk menyembunyikan diri dari tatapan mata anak muda yang belum banyak dikenalnya itu. Tetapi kini ia melangkah maju dan berhenti tidak lebih dari dua langkah dihadapannya. Dengan tajamnya ia menatap mata Jlitheng yang hitam pekat tanpa ragu-ragu.

 

Ternyata dada Jlitheng menjadi berdebar-debar melihat sikap gadis yang mantap itu. Ia baru mengetahui, bahwa gadis itu mampu mengikutinya meloncat batu-batu padas di tebing pegunungan saat mereka mendaki mencari belumbang yang berair melimpah itu.

 

Terasa kulitnya meremang ketika Jlitheng mendengar gadis itu berkata kepadanya, “Ki Sanak. Sekarang apa yang ingin kau lakukan, lakukanlah. Jika kau memang mampu mengalahkan kami, separti kau mengalahkan orang-orang Kendali Putih, terserahlah apa yang akan kau lakukan. Mungkin kau merasa perlu membunuh kami seperti kau membunuh orang-orang Kendali Putih, mengubur mayat kami didekat belumbang itu atau membiarkan mayat kami menjadi makanan binatang buas. Kemudian, kau akan mengendalikan air belumbang itu sebagai seorang pahlawan bagi Lumban Wetan dan Lumban Kulon, untuk merebut perhatian rakyatnya yang kini tertuju kepada Daruwerdi.”

 

Dada Jlitheng tergetar. Ia tidak menduga bahwa Swasti akan menghadapinya dengan tabah tanpa gentar sama sekali, meskipun ia sudah menceriterakan tentang dua orang Kendali Putih yang telah dibunuhnya. Sehingga dengan demikian, maka Jlitheng mulai menjajagi kemampuan gadis itu menurut sikap dan tanggapannya.

 

Karena itu, Jlithengpun menjadi semakin berhati-hati. Namun demikian ia harus selalu menyadari, apakah yang sebenarnya ingin dilakukan atas kedua orang itu. Ia tidak boleh terdorong sehingga yang terjadi kemudian akan menumbuhkan penyesalan dihatinya.

 

Yang ingin dilakukan adalah sekedar meyakinkan diri, siapakah yang sebenarnya sedang dihadapinya, sehingga ia akan dapat menempatkan diri dengan tepat sebaik-baiknya. Kecuali jika kemudian ternyata bahwa keduanya adalah orang-orang yang bersangkut paut dengan perguruan Kendali Putih atau perguruan lain yang mempunyai kepentingan dengan Daruwerdi dan bersikap seperti orang-orang Kendali Putih itu.

 

Namun kini agaknya Swastilah yang berdiri dihadapannya. Bukan Kiai Kanthi. Apalagi ketika ternyata bahwa Kiai Kanthi agaknya membiarkan anak gadisnya itu menghadapinya.

 

Bagaimanapun juga ternyata bahwa Jlitheng agak tersinggung. Dengan demikian Kiai Kanthi menempatkannya dalam tataran anak gadisnya, sehingga orang tua itu menganggap bahwa Swasti akan dapat menyelesaikan persoalannya.

 

“Aku telah membunuh dua orang murid dari Kendali Putih. Apakah orang tua itu tidak dapat mengerti, tataran kemampuan seseorang yang telah berhasil membunuh dua orang murid dari perguruan Kendali Putih?”

 

Tetapi Jlitheng tidak dapat berpikir lebih lama lagi. Swasti benar-benar telah bersikap untuk melawannya. Bahkan kemudian gadis itu berkata, “Ki Sanak. Jangan menunggu lagi. Sebelum matahari terbit, kita harus sudah dapat menentukan, apakah yang akan kita lakukan masing-masing. Kau sudah mengambil jalan yang paling dekat untuk mengetahui siapakah kami. Aku dan ayah. Dan akupun akan memilih jalan serupa untuk menyatakan diri kami.”

 

Jlitheng tidak dapat menarik diri dari persoalan yang sudah dimulainya. Karena itu, maka katanya kepada Kiai Kanthi, “Kiai. Apakah Kiai sudah mempertimbangkan, bahwa Swastilah yang harus berdiri didepan, karena tersinggung mendengar kata-kataku?”

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak beranjak dari tempatnya. Dengan nada yang datar ia menjawab, “Jangan bertanya begitu ngger. Aku menjadi bingung untuk menjawabnya. Bukankah angger dapat menjajagi maksudku seperti aku dapat menjajagi maksud angger ?” Karena itu, yang akan terjadi biarlah terjadi seperti yang kau hadapi tanpa keterangan apapun.”

 

Debar jantung didalam dada Jlitheng terasa semakin cepat berdetak. Tetapi ia benar-benar tidak dapat mengurungkan niatnya.

 

Karena itu, maka katanya, “Baiklah Kiai. Jika hal ini harus terjadi tanpa keterangan apapun juga.”

 

Swasti yang tidak sabar lagi berkata, “Apapun yang kau sebutkan dengan peristiwa ini, bagiku jelas.”

 

Jlithengpun segera mempersiapkan diri. Dadanya menjadi semakin terguncang ketika ia melihat Swasti mulai bersikap. Ternyata bahwa gadis itu mengenakan pakaian rangkap sehingga ia telah siap menghadapi segala kemungkinan.

 

Namun Jlitheng masih saja ragu-ragu menghadapi gadis itu. Meskipun menilik sikapnya, Swasti tentu memiliki bekal yang cukup. Apalagi gadis itu sudah mendengar, bahwa Jlitheng baru saja membunuh dua orang dari perguruan Kendali Putih.

 

Karena Jlitheng masih ragu-ragu, Swasti yang tidak sabar lagi telah memancing perkelahian. Dengan tangannya ia menyerang kening meskipun tidak bersungguh-sungguh, karena iapun sadar, bahwa Jlitheng telah bersiap sepenuhnya.

 

Meskipun demikian Jlitheng harus mengelak. Ia bergeser setapak sambil memiringkan tubuhnya.

 

Namun tidak diduganya, bahwa tiba-tiba saja Swasti telah menyerang dengan kakinya langsung kelambung anak muda itu.

 

Serangan itu telah mengejutkan Jlitheng. Namun iapun mampu bergerak cepat, sehingga iapun telah meloncat surut. Tetapi Swasti tidak membiarkannya. Dengan cepat ia memburu. Serangan berikutnya datang beruntun. Kakinya berputar mendatar.

 

Sekali lagi Jlitheng terpaksa bergeser. Namun yang terjadi telah menggetarkan dadanya. Ternyata Swasti benar-banar memiliki kelncahan bergerak dan tenaga yang besar. Jlitheng sadar, bahwa pada bagian-bagian pertama dari perkelahian itu, Swasti tentu masih belum mempergunakan segenap kekuatan dan kemampuannya. Namun telah terasa desir angin yang menyentuh tubuhnya, saat-saat serangan Swasti menyambarnya.

 

Jlitheng tidak dapat merenungi saja serangan-serangan Swasti. ia merasa perlu untuk memperkecil kemungkinan yang dapat menjadi gawat baginya.

 

Karena itu maka Jlithengpun bukan saja harus menghindar terus-menerus. Tetapi ketika ia mendapat kesempatan, maka iapun mulai menyerang pula.

 

Sejenak kemudian, perkelahian itupun meningkat semakin cepat dan keras. Masing-masing telah dibumbui oleh kehangatan darah mudanya yang mulai menggelegak.

 

Meskipun sejak semula Jlitheng telah menyangka bahwa Swasti memiliki kemampuan yang cukup, namun ketika keduanya mulai membenturkan ilmunya, barulah Jlitheng menyadari, bahwa yang dihadapinya bukannya sekedar murid-murid dari Kendali Putih. Meskipun ia harus melawan dua orang murid perguruan Kendali Putih yang sudah banyak dikenal itu, namun ia merasa, bahwa seorang gadis yang bernama Swasti itu memiliki kemampuan yang lebih besar. Meskipun gadis itu berasal dari daerah yang dimusnakan oleh tanah longsor, gempa dan banjir menurut pengakuannya, namun ia menyimpan ilmu yang luar biasa dari perguruan yang belum dimengertinya.

 

Dalam pada itu, perkelahian diantara kedua anak-anak muda itu semakin lama menjadi semakin sengit. Jlitheng terdorong oleh kecepatan gerak lawannya telah mengerahkan kemampuannya ipula untuk mengimbanginya. Bahkan ternyata. bahwa, kekuatan gadis itupun telah memeras kekuatannya pula.

 

Ketika mula-mula ia menjajagi kekuatan serangan Swasti dengan menangkis serangannya, terasa bahwa tangannya telah tergetar. Meskipun saat itu Jlitheng belum mempergunakan segenap kekuatannya namun iapun menyadari, bahwa Swasti-pun masih lebih banyak menjajaginya pula.

 

Tetapi semakin lama, kedua anak-anak muda itu tidak lagi sempat membuat pertimbangan-pertimbangan. Tenaga mereka perlahan-lahan telah tersalur semakin besar, sehingga akhirnya, keduanya tidak lagi mampu menahan diri dengan memperhitungkan hentakan-hentakan tenaga masing-masing.

 

Kiai Kanthi memperhatikan perkelahian itu dengan dada yang berdebar. Sejak Swasti meningkat semakin besar menjelang remaja, ia sudah membuat gadis itu menyimpang dari kebanyakan kawan-kawannya. Mula-mula Swasti merasakan tekanan ayahnya yang memaksanya untuk memisahkan waktu bermainnya dengan tingkah laku yang tidak disukainya. Bersembunyi ditempat yang tidak disentuh kaki manusia di balik rimbunnya hutan dilereng pegunungan sebelum gempa dan tanah longsor yang dahsyat menghancurkan hutan kecil itu, dengan latihan-latihan yang mula-mula terasa menjemukan.

 

Namun perlahan-lahan Swasti ternyata tertarik juga pada olah kanuragan yang diajarkan oleh ayahnya.

 

Ketika ia menginjak usia remajanya, maka Swasti telah memiliki dasar-dasar ilmu yang sudah jarang dikenal orang, meskipun ada juga beberapa perguruan lain yang memiliki persamaan. Tetapi ada ciri-ciri yang memberikan warna tersendiri bagi ilmu Kiai Kanthi yang diturunkannya kepada anak gadisnya.

 

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya ketika ia melihat gadisnya terpaksa menghindar, dua langkah surut. Namun dengan serta merta Swasti meloncat sambill menjulurkan kakinya lurus menyamping. Tetapi ternyata bahwa ia tidak benar-benar ingin menyerang dengan kakinya. Sebuah putaran telah mendorongnya kesampimg. Dengan lincahnya ia melenting dengan tangan terjulur lurus.

 

Jlitheng sempat mengelak meskipun desir angin yang lembut telah menyentuh wajahnya. Hampir saja keningnya disambar tangan Swasti.

 

Betapapun gelapnya malam, dan betapapun kecil api perapian yang menerangi arena perkelahian itu, namun Jlitheng mulai melihat ciri-ciri yang khusus pada lawannya. Ia melihat Swasti dalam sikap yang menumpukan kekuatan pada hentakkan-hentakkan yang cepat.

 

Semula Jlitheng mengira bahwa sikap itu sesuai dengan unsur keperempuanan Swasti yang lebih sesuai dengan penempaan diri dalam kecepatan bergerak daripada penyusunan kekuatan wadag. Namun ternyata dugaannya salah. Meskipun Swasti seorang gadis, tetapi kekuatan tubuhnya benar-benar mengagumkan.

 

Pengenalan Jlitheng pada unsur gerak Swasti yang lain adalah, bahwa Swasti selalu membuka jari-jari tangannya. Dalam keadaan yang tiba-tiba, serangannya lebih banyak tertuju kepada bagian yang lemah dengan mempergunakan ibu jarinya. Bukan jari-jari yang lain. Ketika Jlitheng agak terlambat mengelak, maka lehernya telah tersentuh ibu jari Swasti tepat mengenai sasarannya, maka perlawanannya tentu akan terhenti. Mungkin ia akan menjadi lemas dan pernafasannya bagaikan tersekat dikerongkongan.

 

Selain serangan-serangan tangannya yang cepat dan berbahaya, kaki Swastipun merupakan bahaya yang setiap saat dapat melumpuhkannya. Nampaknya Swasti terlalu percaya kepada tumitnya.

 

Sementara itu, Swastipun telah menilai unsur-unsur gerak lawannya pula. Seperti Jlitheng, iapun melihat beberapa kekuatan pada tata gerak Jlitheng. Jlitheng bergerak lebih mantap. Menurut pengamatan Swasti. Jlitheng banyak mempergunakan sikunya, bukan saja untuk menangkis, tetapi juga untuk menyerang.

 

Tetapi lebih dari ujud dan gerak masing-masing, maka Jlitheng maupun Swasti telah menilai lawannya lewat sifat dan watak gerak masing-masing. Betapapun cepatnya dan berbahayanya ibu jari Swasti, namun menurut Jlitheng, watak ilmu gadis itu bukannya ilmu yang garang dan kasar. Ada beberapa dasar tata gerak yang langsung melumpuhkan lawan, tetapi bukannya serangan yang ganas dan langsung mematikan. Kecepatan bergerak Swasti adalah ujud dari percikan watak ilmunya yang lebih banyak menghindari benturan-benturan. Namun ternyata bahwa jika benturan itu harus terjadi, Swasti telah mempersiapkan diri dengan kekuatan yang dapat diandalkan.

 

Swastipun melihat, bahwa Jlitheng bukan saja bertempur dengan kekuatannya. Tetapi ia bertempur dengan lebih banyak mempergunakan otaknya. Geraknya kadang-kadang tidak dapat diduganya terlebih dahulu. Namun terasa, bahwa perhitungannya yang tepat, membuat lawannya kadang-kadang bingung dan dihadapkan kepada keadaan yang tidak terduga.

 

Jika kedua, orang yang bertempur itu berusaha menilai kekuatan dan kelemahan masing-masing, maka Kiai Kanthi mendapat kesempatan yang cukup untuk melihat ciri-ciri gerak dan watak kedua ilmu yang saling berbenturan itu. Sekali-kali ia menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk lemah.

 

Tetapi Kiai Kanthi tidak menjadi cemas. Nampaknya keduanya masih saling menjajagi. Dari unsur gerak yang paling sederhana, sampai kepada ketepatan gerak dan arah yang rumit. Sentuhan-sentuhan kecil sampai benturan-benturan yang dahsyat dengan mengerahkan segenap kekuatan wadag.

 

Namun demikian, perlahan-lahan pertempuran itupun meningkat semakin seru. Bukan saja benturan-benturan wadag dengan sepenuh kekuatan, namun ketika tubuh mereka telah basah oleh keringat, dan jantung mereka berdentang semakin cepat, maka sadar atau tidak sadar, mulai mengalirlah kekuatan cadangan pada loncatan-loncatan yang cepat dan benturan-benturan yang keras.

 

Kiai Kanthi yang berdiri diluar lingkaran pertempuran mengerutkan keningnya. Ia harus semakin berhati-hati menyaksikan pertempuran yang semakin meningkat itu. Bukan saja benturan kekuatan wajar, tetapi penyaluran kekuatan cadangan yang mulai bersentuhan, memberikan pertanda, bahwa keduanya semakin dalam dicengkam oleh perasaan daripada nalar. Apalagi keduanya masih dialiri darah kemudaan mereka yang panas dan cepat mendidih didalam jantung masing-masing.

 

Meskipun demikian. Kiai Kanthi masih membiarkan keduanya bertempur. Dalam kegelapan ia menyaksikan pertempuran itu dengan saksama. Tetapi ia tidak meninggalkan kewaspadaan. Apabila sesuatu terjadi pada salah seorang dari keduanya, maka ia akan dibebani oleh tanggung jawab, yang akan dapat membuatnya menyesal disepanjang hidupnya.

 

Tetapi, sifat ingin tahunyapun telah mengekangnya pula untuk memisahkan keduanya, ia ingin lalui lebih jauh, betapa tinggi ilmu yang telah dikuasai oleh anak muda yang mengaku bernama Jlitheng itu.

 

Karena itu, maka orang tua itu masih berdiri diam. Ia melihat Jlitheng menjadi semakin mantap dan Swastipun bergerak semakin cepat.

 

Namun benturan-benturan yang kemudian terjadi telah mendebarkan jantungnya. Kedua anak muda itu telah tidak lagi sekedar mempercayakan dirinya pada kekuatan wajarnya.

 

Dengan tegang Kiai Kanthi melihat Jlitheng yang terdesak surut, telah menghentakkan kakinya diatas tanah yang lembab. Kiai Kanthi sadar, bahwa Jlitheng telah menghentakkan kekuatan cadangannya pula lewat serangannya yang kemudian menyusul dengan cepat dan keras. Sambil menggeram anak muda itu menyerang dengan menjulurkan tangannya. Jari-jarinya nampak berkembang, seolah-olah ingin menerkam wajah lawannya.

 

Tetapi Swasti yang menyadari keadaannyapun telah menyalurkan kekuatan cadangannya pula. Kakinya menjadi semakin cepat, sehingga gadis itu seolah-olah tidak berjejak diatas tanah. Tangannya yang kadang-kadang mengembang, membuatnya bagaikan terbang berputaran.

 

Dengan tangkasnya ia menghindari serangan Jlitheng. Sambil merendahkan dirinya ia sempat menyentuh tangan lawannya kesamping. Hampir diluar pengamatan mata wadag, kakinya telah terjulur menyerang lambung lawannya yang terbuka.

 

Jlitheng tidak sempat mengelak. Tetapi ia tidak membiarkan lambungnya dihantam tumit Swasti. Meskipun kaki Swasti meluncur dengan cepat, namun Jlitheng masih sempat melindungi lambungnya dengan sikunya.

 

Yang terjadi kemudian adalah suatu benturan kekuatan. Ketika keduanya tergetar dan terdorong selangkah surut, keduanya menyadari bahwa keduanya telah mulai mempergunakan kekuatan melampaui kekuatan wadag mereka yang sewajarnya.

 

“Pantas anak ini dapat membunuh dua orang murid Kendali Putih,” desis Kiai Kanthi yang hanya didengarnya sendiri. Ia yakin bahwa Jlitheng masih akan meningkatkan perlawanannya. Demikian pula Swasti, sehingga pada suatu saat mereka akan sampai pada tingkat yang membahayakan.

 

Karena itu, maka iapun kemudian melangkah maju. Dengan nada tinggi ia berkata, “Swasti, sudahlah. Bukan caranya demikian untuk menyelesaikan masalah. Angger Jlitheng, sudahlah. Kita akan berbicara dengan baik. Kita sudah dapat mengetahui, siapakah sebenarnya kita masing-masing.”

 

Tetapi jantung Kiai Kanthi berdentangan semakin cepat ketika ia mendengar Swasti menjawab, “Bukan salahku ayah. Aku hanya melayaninya. Aku hanya membela diri dengan cara yang sama seperti yang dipilihnya.”

 

“Angger Jlitheng …“ berkata Kiai Kanthi yang terputus oleh jawaban anak muda itu, “ … aku ingin membuktikan kata-kataku. Bahwa aku akan berhasil menangkap kalian berdua.”

 

“Tidak ngger. Aku tahu, bukan itulah maksudmu yang sebenarnya.”

 

Jlitheng tidak menjawab. Justru Swasti menyerang semakin cepat. Karena itu, maka Jlithengpun bergerak semakin cepat pula.

 

“Ngger. Kau tentu hanya akan meyakinkan, siapakah yang kau hadapi sekarang ini. Yang kau lakukan sudah cukup. Bahkan sudah berlebihan.”

 

Jlitheng tidak menjawab. Persoalan yang bergejolak dihatinya telah bergeser. Bukan saja keinginannya untuk menjajagi dan meyakinkan siapakah yang sedang dihadapi, namun harga dirinya sebagai seorang anak muda sudah tersinggung. Swasti adalah seorang gadis. Umurnya tidak akan lebih tua daripadanya.

 

Sebagai seorang laki-laki yang pernah membunuh dua orang murid perguruan Kendali Putih, apakah ia akan membiarkan dirinya diletakkan dalam tataran yang setingkat dengan seorang gadis perantau yang umurnya lebih muda daripadanya ?

 

Tiba-tiba saja Jlitheng menggeram. Dengan tegang ia memandang ke dirinya sendiri sambil berkata didalam hati, “He, apakah kau akan menyerah terhadap seorang gadis kecil yang dungu dan binal itu ?”

 

Karena itulah, maka Jlitheng justru semakin mengerahkan tenaganya. Tenaga cadangannya yang mempunyai kekuatan berlipat dari tenaga wajarnya. Bukan lagi seperti niatnya semula, tetapi semata-mata karena ia seorang laki-laki, sedang Swasti adalah seorang gadis yang lebih muda daripadanya.

 

Tetapi ternyata bahwa Swastipun mampu pula berbuat serupa. Gadis itu tidak lagi sekedar bertumpu kepada kekuaatan wajarnya, ia tidak lebih dari seorang gadis yang menurut kodratnya tidak akan melebihi kekuatan seorang laki-laki. Tetapi Swasti ternyata memiliki kelebihan dari gadis-gadis kebanyakan. Ia mampu mengungkap kekuatan yang tersembunyi didalam dirinya, yang hanya dapat nampak dengan sikap dan laku yang khusus, yang memerlukan waktu dan kemampuan untuk mempelajarinya.

 

Karena itu, betapapun Jlitheng mengerahkan kekuatan dan ilmunya, yang wajar maupun yang tersembunyi, ternyata bahwa Swasti mampu mengimbanginya. Kecepatan bergerak dari kaki gadis itu kadang-kadang membuat Jlitheng kehilangan sasaran. Meskipun iapun mampu melakukannya pula apabila Swasti menyerangnya.

 

Kedua anak muda itu bertempur semakin dahsyat. Mereka tidak lagi dua orang yang bergerak dan berbenturan dalam keadaan wajar, sehingga karena itu, maka pertempuran itupun telah membuat suasana yang lain dihutan itu. Pepohonan berguncang bagaikan diputar oleh angin pusaran. Ge-rumbul-gerumbul berserakan dan dahan-dahan berpatahan. Batu-batu padas pecah dan terlempar berhamburan.

 

Kiai Kanthi semakin lama menjadi semakin cemas. Ia melihat perkelahian itu berkembang semakin dahsyat. Bahkan kemudian nampaknya kedua anak muda itu benar-benar telah kehilangan kendali.

 

Dengan hati-hati Kiai Kanthi mendekat. Sekali lagi ia mencoba berteriak menghentikan pertempuran yang semakin dahsyat titu. Tetapi suaranya bagaikan hilang ditelan oleh gemuruhnya angin yang timbul karena ayunan kekuatan yang terungkap dari kekuatan cadangan yang justru jauh lebih dahsyat dari kekuatan wajar kedua anak muda yang sedang bertempur itu.

 

“Angger Jlitheng,“ teriak Kiai Kanthi, “hentikan, hentikan.”

 

“Aku bukan laki-laki cengeng yang menyerah kepada perempuan,“ geram Jlitheng.

 

Kiai Kanthi menjadi semakin berdebar-debar. Ia sadar bahwa yang kemudian bergejolak, didada Jlitheng adalah harga dirinya sebagai laki-laki.

 

Karena itu, maka iapun mencoba menghentikan Swasti. Teriaknya, “Berhentilah Swasti. Marilah kita bicara.”

 

Tetapi Swastipun berteriak tidak kalah lantangnya, “Aku bukan perampok yang mengulurkan kedua tangan dan kaki untuk dikat dan diseret kehadapan siapapun.”

 

“Kita dapat berbicara dengan baik,“ Kiai Kanthipun berteriak pula.

 

“Bukan aku yang mulai,“ jawab Swasti.

 

“Siapapun yang mulai, hentikanlah.”

 

“Bukan aku yang harus menghentikan lebih dahulu.”

 

Kiai Kanthi menjadi bingung. Persoalannya sudah jauh bergeser, sehingga justru akan sangat sulit baginya untuk menghentikannya, karena yang berbicara dihati kedua anak-anak muda itu adalah perasaannya, bukan lagi nalarnya.

 

Dalam pada itu, ternyata keduanya telah memeras segala kemampuan dan kekuatan. Swasti menyambar-nyambar seperti seekor burung lawet diudara, sementara Jlitheng mengimbangi kecepatan itu dengan sikap yang kuat dan tangguh seperti seekor burung elang. Tetapi sentuhan ujung jarinya akan mampu mematahkan tulang dan menyobek kulit daging.

 

Semakin lama libatan serangan masing-masing tidak semuanya dapat dielakkan dan ditangkis. Satu-satu tubuh merelka telah tersentuh oleh kekuatan tenaga lawan yang dahsyat. Namun daya tahan tubuh mereka masing-masingpun melampaui daya tahan orang kebanyakan.

 

Tetapi perasaan sakit dan nyeri telah merambati tubuh mereka. Benturan dan sentuhan semakin sering terjadi. Sekali-kali terdengar salah seorang diantara mereka berdesis tertahan. Namun kadang-kadang terdengar juga hentakkan yang keras.

 

Kiai Kanthi menjadi semakin bingung. Nampaknya keduanya telah kehilangan kesadaran dan pertimbangan.

 

“Aku harus menghentikannya,“ gumam orang tua itu.

 

Karena itu maka Kiai Kanthipun justru menjauhi beberapa langkah. Sekilas ia masih sempat melihat dedaunan yang bergetar. Yang tidak mampu lagi berpegang pada ranting-rantingnya, telah runtuh berjatuhan diantara semak-semak yang hancur berserakkan.

 

“Sekali lagi aku memperingatkan,“ teriak Kiai Kanthi.

 

Tetapi kedua anak-anak muda itu tidak menghiraukannya.

 

Kiai Kanthi yang cemas itu tidak dapat menunda lagi. Ia mulai melihat sentuhan-sentuhan yang berbahaya dari keduanya. Salah seorang dari kedua anak muda itu kadang-kadang terlempar jatuh. Meskipun ia segera melenting bangun, tetapi benturan-benturan berikutnya segera menyusul dengan dahsyatnya.

 

Sejenak Kiai Kanthi termenung. Nampak ia masih tetap ragu-ragu. Namun kemudian ia menyilangkan tangannya didadanya. Dengan tajamnya dipandanginya kedua anak muda yang sedang bergulat dengan ilmunya masing-masing untuk mempertahankan harga dirinya.

 

Kiai Kanthi tidak berteriak lagi. Perlahan-lahan bibirnya bergerak, “Cukup, berhentilah. Berhentilah.”

 

Suaranya tidak terlalu keras. Tetapi berbareng dengan lontaran kata-kata itu, seolah-olah angin prahara telah bertiup. Ditelinga kedua anak muda yang sedang bertempur itu, suara Kiai Kanthi bagaikan ledakan seribu guruh dilangit.

 

Sesaat kedua anak muda itu masih bertahan. Mereka masih terlempar oleh ilmu masing-masing dalam benturan yang dahsyat. Namun ketika Kiai Kanthi mengulangi kata-katanya maka merekapun bagaikan lumpuh. Suara itu menggelegar didalam dada mereka, seolah-olah meruntuhkan hati dan jantungnya.

 

Ketika sekali lagi Kiai Kanthi bergumam, maka keduanya tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Keduanyapun diluar sadar, telah menutup telinga masing-masing sambil menyeringai menahan nyeri dijantungnya.

 

“Berhentilah,“ Kiai Kanthi masih bergumam.

 

“Cukup ayah. Cukup,“ teriak Swasti.

 

“Ampun Kiai, aku akan berhenti,“ sambung Jlitheng.

 

Kiai Kanthi masih berdiri ditempatnya. Dipandanginya kedua anak muda yang memegangi telinga mereka, seolah-olah kata-kata yang dilontarkan oleh Kiai Kanthi itu menyusup kedalam dada mereka lewat getaran selaput telinga.

 

Tetapi bagaimanapun juga mereka menyumbat telinga mereka, namun suara itu tetap menghentak-hentak jantung, seolah-olah hendak merontokkannya.

 

Namun perlahan-lahan hentakkan suara yang bergulung-gulung didalam dada bagaikan amuk prahara itu, semakin mereda. Semakin lama menjadi semakin lunak dan seolah-olah lenyap ditelan kesepian.

 

Kembali hutan dilereng gunung itu menjadi senyap. Yang terdengar kemudian adalah gemerisik air dari beiumbang yang berair melimpah, disisipi oleh desir angin lembut didedaunan.

 

“Angger Jlitheng,“ terdengar suara Kiai Kanthi dengan nada dalam, suara wajarnya, “aku tidak mempunyai cara lain untuk menghentikan kalian yang seolah-olah menjadi wuru karena terlalu banyak minum tuak. Kalian seolah-olah tidak mendengar suaraku lagi, atau kalian benar-benar telah kehilangan nalar. Angger Jlitheng tersinggung karena kau seorang laki-laki, sedang lawanmu adalah seorang perempuan. Sedangkan Swasti tersinggung karena kau akan ditangkap dan dibawa menghadap Ki Buyut Lumban Wetan atau Lumban Kulon.”

 

Kedua anak muda itu kemudian duduk tepekur. Ternyata perkelahian yang baru saja terakhir itu telah menghisap sebagian besar tenaga mereka. Tenaga wajar dan tenaga yang tersimpan didalam diri .sebagai tenaga cadangan, sehingga keduanya menjadi sangat letih. Nafas mereka bekejaran bagaikan berebut dahulu lewat dilubang hidung. Dengan susah payah mereka mencoba mengendalikan pernafasan mereka dan menguasai keletihan yang terjadi pada tubuh masing-masing.

 

“ Yang ingin aku tanyakan, apakah yang kau dapatkan dengan perkelahian itu ? Harga diri ?”

 

Kedua anak muda itu masih duduk tepekur. Tetapi perlahan-lahan pernafasan mereka menjadi semakin teratur.

 

“Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “aku mohon maaf. Semula aku sama sekali tidak ingin berkelahi karena harga diri. Aku sebenarnya ingin menjajagi, siapakah sebenarnya Kiai Kanthi. Tetapi yang berhadapan dengan aku kemudian ternyata adalah Swasti.“

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Kau tidak mengatakan demikian, sehingga Swastilah yang mula-mula tampil. Tetapi jika memang benar-benar kau kehendaki ingin menjajagi dan mengetahui siapakah sebenarnya aku dengan caramu ngger, marilah. Kau tidak akan lagi dibayangi oleh harga diri karena kau seorang laki-laki. Mungkin yang akan membayangi kemudian adalah karena kau masih muda sehingga sepantasnyalah bahwa kau harus dapat mengalahkan orang tua. Apakah begitu ?”

 

“Tidak Kiai. Aku tidak akan berani lagi melakukannya. Aku sudah dapat mengetahui dengan bekal ilmuku yang sedikit. Jika aku tidak dapat melampaui kemampuan Swasti, serta jika isi dadaku bagaikan rontok mendengar suara Kiai, apakah aku masih akan mencoba menjajagi kemampuan Kiai?”

 

“Mungkin saja ngger. Mungkin kau menganggap bahwa dengan demikian kau akan mengetahui, perguruan manakah yang sedang kau hadapi, seperti aku kini mengetahui, bahwa aku sedang berhadapan dengan, perguruan Risang Alit.”

 

“Kiai,“ Jlitheng terkejut sehingga ia tergeser selangkah, “darimana Kiai mengetahui?”

 

Kiai Kanthi tersenyum. Iapun kemudian duduk pula bersama kedua anak muda yang kelelahan itu. Dihadapannya bara perapian telah padam dan berserakkan.

 

Tangan Kiai Kanthi yang sudah mulai dilukisi dengan kerut-kerut tahun itupun kemudian mengumpulkan beberapa potong dahan dan sisa-sisa bara yang masih hangat.

 

“Perapian ini padam karena tanah dan padas yang berserakkan oleh kaki kalian yang sedang berkelahi tanpa pengendalian diri.”

 

Jlitheng dan Swasti tidak menyahut.

 

Sejenak Kiai Kanthi sibuk dengan dahan-dahan yang tinggal sepotong-potong sisa api. Dikumpulkannya sisa api itu diatas bekas perapian yang hangat.

 

“Apakah Kiai akan menyalakan perapian itu ? Sebentar lagi fajar akan menyingsing,“ bertanya Jlitheng.

 

“Dinginnya bukan main. Angger yang baru saja berkelahi mungkin tidak merasa dinginnya udara.”

 

“Apakah Kiai membawa titikan ?“ bertanya Jlitheng pula, “biarlah aku saja yang menyalakan.”

 

Kiai Kanthi tidak menjawab. Namun Jlitheng dan Swasti melihat orang tua itu menggeserkan dahan-dahan kering itu dengan tangannya.

 

Sejenak kemudian Jlitheng sekali lagi tersentak, ia melihat bara mulai memerah dihadapannya, diantara dahan-dahan kayu sisa perapian itu.

 

“Siapakah sebenarnya orang tua ini ?” pertanyaan itu bergetar dihatinya. Sejak semula ia memang ingin memastikan, apakah sudah sepantasnya ia berada dibawah pengaruh wibawanya. Namun kini Jlitheng jadi yakin, bahwa ia memang sudah seharusnya menghormati orang tua itu seperti gurunya sendiri. Apalagi karena orang tua itu telah mengetahui bahwa ia berasal dari ilmu keturunan yang diwariskan oleh perguruan Risang Alit.

 

“Kiai,“ Jlithengpun kemudian bertanya dengan nada yang dalam, “pertanyaanku semula belum Kiai jawab. Darimana Kiai mengetahui bahwa aku adalah pewaris ilmu dari perguruan Risang Alit?”

 

“Ah, kau masih pura-pura tidak tahu ngger. Bukankah kau sudah melepaskan hampir semua unsur gerak dari perguruanmu? Aku tidak tahu pasti, siapakah yang langsung menjadi gurumu, sehingga kau memiliki ilmu dari perguruan Risang Alit itu. Perguruan yang sudah tidak banyak disebut orang lagi. Tetapi itu bukan berarti bahwa kelebihan ilmu dari perguruan Risang Alit itu berkurang.”

 

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun dihadapan orang tua itu ia tidak merasa perlu untuk berahasia lagi. Karena itu katanya, “Aku adalah murid Kiai Baskara yang lebih senang menyebut padepokannya dengan nama Rasa Jati.”

 

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil berkata, “Jadi kau menerima warisan ilmu Risang Alit lewat Kiai Baskara ? Jika demikian, wajarlah jika kau mampu membunuh dua orang murid Kendali Putih.”

 

Jlitheng memandang Kiai Kanthi sejenak. Namun diluar sadarnya ia berpaling kearah Swasti sambil berkata didalam hatinya, “Tetapi ilmuku tidak lebih dari ilmu gadis itu. jika Swasti bertemu dengan kedua orang Kendali Putih itu, iapun tentu akan dapat mengalahkan mereka.”

 

“Angger Jlitheng,“ berkata Kiat Kanthi kemudian, “jika kau ternyata murid Kiai Baskara. maka apakah salahnya jika kau mengatakan, siapakah sebenarnya kau ini. Kau tentu bukan anak seorang janda miskin yang merantau kemudian kembali pulang setelah kau sedikit menerima ilmu dari seseorang.”

 

Jlitheng ragu-ragu sejenak, sekali lagi ia memandang Swasti yang nampaknya masih acuh tidak acuh saja. Dalam keremangan malam ia melihat Swasti memandang justru kearah kegelapan yang pekat.

 

“Kiai,“ berkata Jlitheng jika aku tidak melihat betapa tingginya ilmu Kiai, maka aku tentu tidak akan mau mengatakannya. Meskipun aku pernah juga menyebut namaku, tetapi dihadapan orang-orang Kendali Putih yang aku yakin akan dapat aku selesaikan itu.”

 

“Jika kau tidak berkeberatan, sebutlah namamu, keturunanmu dan barangkali sesuatu yang harus angger lakukannya dan asalnya seperti yang pernah dikatakan.”

 

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia mengatakan serba sedikit tentang dirinya. Namanya, orang tuanya kepada murid-murid Kendali Putih yang telah dibunuhnya. Namun demikian, Jlitheng tidak mengatakan apakah tugas yang harus dilakukannya di Lumban itu.

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ketika Jlitheng menyebut namanya, orang tua itu melihat anak gadisnya tergeser setapak. Agaknya nama itu telah menarik perhatiannya. Tetapi sejenak kemudian, pandangannya telah terlempar kembali kegelapnya dihutan itu.

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hatinya, “Swasti adalah gadis yang sangat angkuh. Tetapi agaknya sikapnya yang berlebihan itu disebabkan oleh perasaan rendah diri menghadapi seseorang yang meskipun seorang yang sederhana pula seperti Jlitheng.”

 

Namun Kiat Kanthi tidak dapat menyalahkan anak gadisnya. Ia memang melihat pakaian yang melekat pada anak gadisnya yang meningkat dewasa, sehingga ia tidak akan dapat berbangga dengan perkembangan wadagnya sebagai seorang gadis remaja. Itulah agaknya yang telah membuatnya menjadi seorang gadis yang mudah tersinggung. Menuruti perasaan rendah dirinya dengan sikap yang keras dan harga diri yang berlebih-lebihan.

 

“Kasihan anakku itu,“ tiba-tiba saja perasaan ibanya lelah melonjak didalam hatinya, “aku akan berusaha, agar ia dapat hidup seperti gadis-gadis sebayanya. Bergaul dengan kawan-kawannya dan bekerja bersama-sama disawah atau ladang. Ikut serta dalam kesibukan peralatan bersama kawan kawan gadis yang lain dan ikut berdesak-desakan menonton wayang beber atau pertunjukkan tari. berlari-larian bersama gadis-gadis sebayanya dipematang disaat padi sedang berbunga serta mencuci pakaian di sungai sambil berdendang.

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Swasti tidak pernah terlibat dalam nafas kehidupan sewajarnya. Sekali-kali ia bergaul juga dengan gadis-gadis padukuhan yang lenyap dilanda banjir bandang dan gempa bumi serta tertimbun tanah longsor itu. Tetapi hanya-sesaat-saat, karena hidupnya sebagian besar telah dirampas oleh sebuah sanggar untuk menekuni olah kanuragan.

 

“Swasti berhasil menjadi seorang gadis yang luar biasa. Ia dapat mengimbangi seorang anak muda dari perguruan yang pernah menggemparkan seluruh Majapahit. Perguruan yang dipimpin oleh Risang Alit. yang mempunyai ciri yang khusus, lewat seorang yang mengagumkan pula, Kiai Baskara. Apalagi anak muda itu adalah putera Pangeran yang dipercaya untuk menjadi salah seorang Senapati pada saat Majapahit mengalami kesulitan. Namun ia telah gugur dimedan perang,“ berkata Kiai Kanthi didalam hatinya. Namun kemudian, “Tetapi Swasti menjadi besar dengan sifat-sifatnya yang khusus pula. Ia merasa rendah diri dihadapan kawan-kawannya dan apalagi dihadapan anak-anak muda. Untuk mengisi perasaan itu, ia menjadi cepat tersinggung dan keras hati.

 

Sementara itu Jlitheng sendiri menjadi termangu-mangu. Ia menunggu apa yang akan dilakukan oleh Kiai Kanthi setelah orang tua itu mendengar ceritera tentang dirinya.

 

“Angger,“ berkata Kiai Kanthi, “aku percaya sepenuhnya apa yang angger ceriterakan itu. Aku melihat kejujuran memancar disorot mata angger. Selebihnya, meskipun angger tidak mengatakannya, aku dapat meraba, apakah yang harus angger lakukan disini.”

 

“Tidak ada yang harus aku lakukan Kiai. Aku memang seorang perantau yang senang menjelajahi desa, gunung dan ngarai.”

 

Tetapi Kiai Kanthi justru tersenyum. Sambil mengangguk angguk ia kemudian berkata, “Baiklah ngger. Tetapi masih selalu menjadi pertanyaan dihatiku, apakah hubunganmu yang sebenarnya dengan Daruwerdi. Apakah kalian telah bekerja bersama untuk suatu tugas tertentu, atau kalian ternyata justru saling mencurigai dan saling mengawasi, atau karena hubungan yang lain ?”

 

Jlitheng. mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil menjawab, “Tidak ada hubungan apapun Kiai.”

 

Kiai Kanthipun tertawa. Katanya, “Baiklah ngger. Adalah suatu kebodohan jika aku mendesak terus, agar angger mengatakan apa yang tidak ingin angger katakan. Tetapi bagiku, yang angger sebutkan sudah cukup banyak, sehingga aku dapat mengenal angger yang sebenarnya.”

 

“Sudahlah Kiai. Yang penting kemudian adalah bagaimana kita akan menguasai air yang melimpah ini. Aku akan membantu apa saja yang Kiai perintahkan. Dengan tulus aku menempatkan diri sebagai seorang yang akan tunduk kepada segala perintah apapun juga.”

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa ia tidak akan dapat melihat lebih dalam lagi, apakah yang sedang dilakukan oleh Jlitheng di padukuhan Lumban, sedang kan di padukuhan itu juga hadir Daruwerdi.

 

“Baiklah ngger,“ berkata Kiai Kanthi kemudian, “aku sependapat, bahwa sebaiknya kita membicarakan bagaimana kita menguasai air yang tentu akan sangat bermanfaat itu. Sedangkan masalah-masalah lainnya, mungkin akan dapat aku dengar dari angger Daruwerdi sendiri.”

 

Wajah Jlitheng menegang sejenak. Tetapi kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Mungkin itu lebih baik Kiai. Tetapi aku mohon, agar Kiai sama sekali tidak menyebut tentang Kiai Baskara dan tentang sumber ilmu yang mengalir dari perguruan Risang Alit. Aku kira itu tidak perlu bagi Daruwerdi.”

 

Kiai Kanthi tertawa pendek. Katanya, “Aku orang tua ngger. Aku tidak akan mengatakan apapun juga. Tetapi pesan angger itu bagiku merupakan keterangan, bahwa angger dan Daruwerdi tidak sedang bekerja bersama untuk suatu tugas, namun angger justru sedang mengawasi angger Daruwerdi karena sesuatu yang tidak dapat angger katakan kepada sia-papun juga.”

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian mengangguk kecil sambil menyahut, “Mungkin Kiai benar.”

 

Kiai Kanthi tidak menjawab lagi. Diangkatnya kedua tangannya di atas perapian yang hangat.

 

“Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “baiklah aku mohon diri. Aku sudah terlalu lama pergi. Jika biyung mengetahui aku tidak ada dirumah, ia akan menjadi gelisah.”

 

Kiai Kanthi memandang Jlitheng sejenak. Nampak wajah anak muda itu bersungguh-sungguh. Karena itu, maka katanya, “Silahkan ngger. Tetapi jika angger ingin lekas mengendalikain air belumbang yang melimpah itu, sebaiknya kita segera membicarakan, apakah yang sebaiknya kita lakukan.”

 

“Baiklah Kiai. Tentu Kiai tidak akan betah tinggal di sini tanpa berbuat sesuatu.”

 

“Itu sudah aku kehendaki ngger. Aku akan melakukan apa saja. Tetapi adalah lebih baik jika yang aku lakukan itu berguna bukan hanya bagi aku dan anakku sendiri.”

 

“Ya, ya Kiai. Aku mengerti,“ sahut Jlitheng cepat. Lalu, “Sekarang aku mohon diri Kiai. Aku akan berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak dan keinginan Kiai.”

 

“Datanglah secepatnya ngger.”

 

“Tentu Kiai,“ Jlithengpun kemudian berdiri. Dipandanginya Swasti yang duduk sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam. Namun dengan ragu2 Jlitheng berkata, “Aku minta diri Swasti. Aku minta maaf jika aku telah melakukan sesuatu yang tidak kau kehendaki.”

 

Swasti sama sekali tidak bergerak.

 

“Swasti,“ desis ayahnya, “kau harus menjawab. Dan seterusnya kita akan mulai dengan suatu pergaulan baru di padukuhan Lumban. Kita harus bergaul sebagaimana orang-orang Lumban bergaul diantara mereka.”

 

Tetapi diluar dugaan Swasti menjawab, “Anak muda itu bukan anak Lumban.”

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Tetapi ia sudah menempatkan diri seperti anak muda dari Lumban.”

 

Swasti terdiam. Tetapi terdengar nafasnya mengalir semakin cepat, seperti pada saat-saat ia memusatkan ilmunya didalam pertempuran yang dahsyat.

 

Sebenarnyalah terjadi ketegangan didalam jiwa gadis itu. Ia mencoba untuk mengerti keterangan ayahnya bahwa ia harus mulai dengan tata pergaulan baru. Tetapi, ia tidak cukup berani untuk menghadapi tantangan hubungan baru dengan Jlitheng setelah mereka bertempur dengan segenap kemampuan. Tetapi terlebih-lebih lagi, Swasti memang tidak terbiasa bergaul dengan anak muda sejak ia berada dipadukuhannya yang lama.

 

“Swasti,“ ayahnya mendesak, “kau jangan terkeras hati.”

 

Swasti mengangkat wajahnya. Dipandanginya ayahnya sejenak. Kemudian hampir diuar sadarnya, ia terpaling kearah anak muda yang termangu-mangu.

 

Terasa dada Swasti bergetar. Cepat-cepat ia melemparkan pandangan matanya kekegelapan. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir, melampaui saat-saat ia berada, dipuncak ketegangan pertempuran.

 

“Swasti,“ ayahnya berdesis sekali lagi.

 

Swasti tidak dapat mengelak lebih lama. Ia sadar, bahwa ayahnya tentu akan mendesaknya terus sampai ia mengucapkan sepatah dua patah kata. Karena itu, maka katanya, “Biarlah ia meninggalkan kita dan melupakan apa yang telah terjadi ayah.”

 

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun katanya, “Bukan kepadaku. Kepada angger Jlitheng.”

 

Swasti ingin menjerit. Tetapi dipaksanya mulutnya berkata, “Aku juga minta maaf.”

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah Kiai. Aku sudah merasa ringan, bahwa aku sudah dimaafkan meskipun dengan istilah apapun juga. Aku mohon diri sebelum pagi.”

 

“Ya. ya ngger. Kembalilah kepada biyungmu. Tetapi kita sudah bersepakat untuk segera mulai dengan kerja kita. Membuat sebuah padepokan, menguasai air dan memberikan suasana yang lebih baik bagi padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”

 

Jlithengpun kemudian melangkah meninggalkan Kiai Kanthi dan anak gadisnya. Ketika diluar sadarnya ia berpaling, maka dilihatnya Swasti cepat-cepat memalingkan wajahnya. Agaknya iapun sedang menatap langkah Jlitheng yang masuk kedalam kelamnya gerumbul-gerumbul liar didalam hutan disisa malam yang sepi.

 

Sejenak kemudian Jlithengpun bagaikan ditelan oleh kegelapan. Yang tinggal kemudian adalah Swasti dan Kiai Kanthi. Sejenak mereka saling berdiam diri. Namun kemudian Kiai Kanthi berkata, “Beristirahatlah Swasti. Kau tentu letih.”

 

Swasti tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian bangkit sambil mengibaskan pakaiannya yang lungset.

 

“Aku akan mandi. Aku tidak akan dapat tidur. Pakaianku basah oleh keringat dan kotor oleh debu yang melekat.”

 

“Jika kau masih basah oleh keringat, jangan mandi dahulu,“ cegah ayahnya.

 

“Keringatku sudah kering. Tetapi pakaianku sangat kotor.”

 

Kiai Kanthi tidak mencegah lagi. Dibiarkannya Swasti pergi keparit disebelah belumbang. Parit yang mengalirkan air yang melimpah itu tanpa terarah, sehingga air yang mengalir itu menyusup kecelah-celah batu padas dan hilang ditelan tanah.

 

Ketika Swasti tidak nampak lagi, Kiai Kanthi mengelus dadanya sambil menghela nafas dalam sekali. Anak gadisnya hanya mempunyai selembar ganti pakaian. Jika ia mandi, ia sekaligus mencuci pakaiannya yang kotor, untuk nanti dipakai jika ia mandi dan mencuci pakaiannya yang selembar lagi. Namun disamping pakaiannya sebagai seorang gadis, Swasti mempunyai sepengadeg pakaian yang khusus, yang tidak dipunyai oleh gadis-gadis lain. Pakaian yang dipakainya dalam olah kanuragan, yang mirip dengan pakaian seorang laki-laki.

 

Ketika Swasti kembali dari balik gerumbul-gerumbul yang rimbun, dilihatnya ayahnya duduk dipinggir belumbang sambil memegangi walesan kail. Ketika seekor ikan terkait pada mata kailnya, ia berkata, “Swasti, kita sekarang sudah mempunyai belanga dan kelenting. Kita akan dapat memasak lebih baik dari saat-saat sebelumnya. Kita dapat merebus gayam dan dedaunan.”

 

Swasti memandangi belanga dan kelenting yang dibawa oleh Jlitheng sebelum ia berkelahi. Sejenak ia merenung, mencari makna dari peristiwa yang baru saja terjadi.

 

“Anak muda itu tentu tidak bersungguh-sungguh ingin menangkap kami,“ katanya didalam hati setelah tubuhnya menjadi segar dan hatinya agak tenang, “jika demikian, ia tidak akan bersusah payah membawa belanga dan kelenting.”

 

Tetapi semuanya sudah terlanjur terjadi, sehingga ia sudah terlibat dalam perkelahian yang sengit, bukan saja mempergunakan tenaga wajarnya, tetapi sudah jauh daripada itu.

 

Ketika kemudian matahari terbit, Swasti duduk dimuka perapian sebagai seorang gadis yang sedang menunggui masakannya. Beberapa ekor ikan yang didapat oleh ayahnya dengan kail dipainggangnya diatas api, sedang dengan belanganya ia merebus beberapa buah gayam yang sudah tua.

 

Diluar sadarnya, Swasti menengadahkan wajahnya. Selembar awan hanyut dihembus oleh angin yang lembut mengalir ke Utara.

 

Namun Swasti mulai berpikir, “Jika awan itu menjadi semakin banyak dan berwarna kelabu, maka itu adalah pertanda hujan akan turun. Dalam keadaan seperti ini, jika hujan turun, maka aku akan kedinginan sepanjang hari dan mungkin sepanjang malam, karena pakaianku akan menjadi basah semuanya.”

 

Tetapi Swasti tidak mengatakannya kepada ayahnya, ia tahu, bahwa ayahnyapun sudah memikirkannya.

 

Dalam pada itu, Jlitheng yang sampai kerumahnya menjelang pagi, langsung menuju kesumur untuk menimba air. Untunglah bahwa ibunya masih belum bangun, sehingga ia tidak digelisahkan oleh kepergiannya semalam suntuk.

 

Sambil menarik sengget, Jlitheng masih saja berpikir tentang Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang aneh. Tetapi ia tidak ragu-ragu lagi, bahwa keduanya adalah orang-orang yang luar biasa. Gadis yang sedang meningkat dewasa, yang tentu masih lebih muda daripadanya itu, ternyata memiliki kemampuan yang sama sekali tidak diduganya. Jika saat keduanya datang, dan dibawanya naik kelereng bukit lewat batu batu padas yang bergumpal-gumpal, ia sudah menjadi heran, bahwa Swasti dapat juga berloncatan mengikutinya. Apalagi ketika ia sudah mengalami perkelahian yang hampir saja lepas dari kekangan nalarnya.

 

Sementara itu, Jlitheng mulai mendengarkan ibunya bekerja didapur. Seperti biasanya merebus air dan ketela pohon.

 

Jlitheng tidak langsung masuk kedapur. Setelah pakiwannya penuh, maka iapun segera pergi kehalaman depan sambil membawa sapu lidinya.

 

Sehari itu, Jlitheng tidak banyak berkumpul dengan kawan-kawannya. Disiang hari ia berbaring dibelakang lumbung yang kosong. Apalagi jika paceklik panjang mencengkam padukuhun Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Maka hampir setiap lumbung dipadukuhan itu menjadi kosong.

 

Hanya orang-orang yang terhitung kecukupan sajalah yang masih menyimpan beberapa ikat padi, sisa panen dimusim basah. Dimusim kering orang-orang Lumban hanya dapat menanam palawija yang tidak begitu banyak menghasilkan meskipun dapat juga dipakai untuk menyambung hidup mereka sampai musim basah mendatang.

 

“Aku harus segera berbuat sesuatu,“ berkata Jlitheng.

 

Tetapi ia masih ragu-ragu. Apakah sebaiknya ia mengatakannya lebih dahulu kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan atau Lumban Kulon atau ia lebih dahulu membantu Kiai Kanthi membuat gubug kecil sebelum dapat dibangun sebuah padepokan yang memadai buat orang yang luar biasa itu bersama anak gadisnya.

 

Akhirnya Jlitheng mengambil keputusan untuk menyampaikannya saja lebih dahulu kepada Ki Buyut. Jika ia membuat sebuah gubug kecil dipinggir hutan itu, maka akan dapat menumbuhkan salah paham dan kecurigaan. Karena itu sebaiknya hal itu diberitahukannya lebih dahulu kepada Ki Buyut Lumban Wetan dan Luban Kulon.

 

“Tetapi aku tidak akan memberitahukannya kepada biyung,“ desis Jlitheng yang kemudian menggeliat bangkit.

 

Kepada ibunya Jlitheng minta diri untuk pergi kegardu menemui kawan-kawannya, ia sama sekali tidak menyebut rencananya untuk menghadap Ki Buyut, agar ibunya tidak digelisahkan oleh persoalan-persoalan yang tidak diketahuinya.

 

Yang mula-mula akan didatangi adalah Ki Buyut Lumban Wetan, karena ia berada didaerah Lumban Wetan itu pula.

 

Sebagai seorang anak janda miskin yang tidak banyak dikenal, Jlitheng memang tidak terbiasa menghadap Ki Buyut atau bebahu padukuhan yang lain. Namun Jlitheng termasuk seorang anak-muda yang disukai oleh kawan-kawannya, karena ia suka membantu kawan-kawannya yang sedang mengalami kesulitan atau sedang melakukan pekerjaan yang agak berat. Ia sering membantu kawan-kawannya yang sedang memperbaiki dinding halaman, atau memperbaiki lumbung yang miring, atau kerja-kerja lainnya. Bahkan ia rela membantu kawan-kawannya dengan meminjamkan miliknya yang sedikit apabila diperlukan.

 

Karena itu, ketika kawan-kawannya melihat ia menyusuri jalan padukuhan untuk pergi kerumah Ki Buyut, maka beberapa orang kawannya menyertainya dan bertanya disepanjang jalan, apakah keperluannya.

 

“Aku menemukan dua orang perantau dihutan itu,“ berkata Jlitheng.

 

“Bagaimana kau menemukannya ?“ bertanya kawannya.

 

 “ Ketika aku sedang mencari kayu.”

 

Kawan-kawannya tertarik akan ceritera itu. Mereka tahu bahwa Jlitheng memang sering mencari kayu kehutan dilereng bukit.

 

“Aku merasa kasihan kepada mereka,“ berkata Jlitheng setelah ia menceriterakan serba sedikit tentang Kiai Kanthi dan anak gadisnya.

 

“Kasihan. Lalu apakah yang mereka makan di hutan itu ?“ bertanya yang lain.

 

“Kiai Kanthi menangkap binatang-binatang kecil dan memetik buah gayam yang banyak terdapat dihutan itu.”

 

Demikian pandainya Jlitheng menyusun ceriteranya sehingga kawan-kawannya benar-benar menjadi iba mendengarnya.

 

“Lalu, apakah yang ingin kau dapatkan dari Ki Buyut ?“ bertanya salah seorang kawannya.

 

“Aku hanya akan minta ijin untuk membuat sebuah gubug kecil dipinggir hutan itu.”

 

“Kenapa dipinggir hutan?” yang lain memotong, “biarlah ia tinggal di padukuhan ini. Apa salahnya?”

 

“Aku sudah mengatakannya. Tetapi agaknya perantau itu mempunyai harga diri juga. Ia tidak mau mengganggu orang lain. Dipinggir hutan itu ia akan mencoba menghidupi diri mereka sendiri dengan hasil yang dapat mereka petik dari hutan yang luas itu. Mungkin buah-buahan, mungkin dedaunan atau binatang-binatang buruan yang kecil-kecil saja.”

 

“Jika seekor harimau datang merunduk mereka, apalagi anaknya yang kau katakan seorang gadis.”

 

“Mereka berkeras hati. Nampaknya harimau yang tidak begitu banyak terdapat dihutan itu, tidak ingin mengganggu mereka.”

 

“Omong kosong. Darimana kau tahu ? Aku kira masalahnya hanyalah waktu. Pada suatu saat akan datang seekor harimau yang akan menerkam salah seorang dari keduanya.”

 

Jlitheng mengerutkan keningnya. Ia menjadi sulit untuk mengatakan bahwa keduanya sama sekali tidak takut terhadap harimau yang paling garang sekalipun.

 

Akhirnya ia menjawab, “Masih banyak binatang buruan bagi harimau di hutan itu, sehingga mereka tidak akan menerkam seseorang. Harimau yang berani menerkam seseorang, akan tersisih dari pergaulannya, karena hal itu tidak disukai oleh lingkungan mereka.“

 

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Merekapun pernah mendengar ceritera tentang seekor harimau yang akhirnya membunuh diri karena terpisah dari masarakatnya. Satu kesalahan telah dilakukannya, yaitu menerkam seorang petani yang sedang bekerja disawah.

 

“Hanya harimau yang tua dan lemah sajalah yang karena terpaksa menghindari kelaparan telah berani menerkam seseorang,“ desis salah seorang dari mereka.

 

Dalam pada itu, Jlitheng bersama beberapa orang kawannya menjadi semakin dekat dengan rumah Ki Buyut di Lumban Wetan. Satu dua orang yang ingin tahu telah mengikutinya dan bertanya-tanya diantara mereka.

 

Dimuka regol halaman rumah Ki Buyut Jlitheng berhenti. Ia menjadi ragu-ragu. Karena itu sejenak ia berdiri saja termangu-mangu.

 

“Apakah Ki Buyut ada dirumah?“ tiba-tiba ia bergumam.

 

“Marilah kita coba untuk menanyakannya,“ berkata seorang kawannya.

 

Namun ternyata kedatangan mereka telah dilihat oleh seorang anak muda yang bertubuh sedang, berkulit kekuning-kuningan, yang berdiri di tangga pendapa.

 

“Itu, kau lihat anak K i Buyut?“ desis seorang kawannya.

 

“Ya. Marilah kita temui saja Kumbara agar ia menyampaikan kepada ayahnya bahwa kita akan menghadap,“ gumam Jlitheng.

 

Kawan-kawannya mengangguk. Hampir berbareng merekapun melangkah memasuki regol halaman rumah Ki Buyut.

 

Anak muda yang berdiri ditangga pendapa itu termangu-mangu. Ia melihat beberapa orang anak muda mendatanginya, sehingga dahinya telah berkerut. Bahkan dadanyapun menjadi berdebar-debar, karena agaknya anak-anak muda itu mempunyai keperluan yang cukup penting.

 

“Ada apa ?” Kumbara tidak sabar menunggu.

 

Jlithenglah yang menyahut, “Maaf Kumbara. Mungkin kedatangan kami telah mengejutkan kau dan barangkali Ki Buyut. Tetapi kami tidak mempunyai kepentingan yang dapat menggelisahkan. Kami hanya datang untuk menyampaikan sebuah ceritera. Barangkali Ki Buyut sempat mendengarkannya.”

 

Kumbara termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk. “Aku akan menyampaikannya kepada ayah. Duduklah.”

 

Ketika Kumbara kemudian masuk kentang dalam, maka anak-anak muda itupun duduk diatas tikar yang sudah terbentang dipendapa. Sejenak mereka menunggu. Sementara Kumbara menyampaikan maksud anak-anak muda itu kepada Ki Buyut.

 

Ternyata Ki Buyutpun tidak berkeberatan. Ia mengenal Jlitheng dan anak-anak muda padukuhannya sebagai anak-anak muda yang baik, yang tidak pernah menimbulkan kesulitan bagi padukuhan dan tetangga-tetangga mereka.

 

Jilid 03

KARENA itu, maka Ki Buyutpun kemudaan keluar dari ruang dalam bersama Kumbara menemui

anak-anak muda yang sudah menunggunya dipendapa.

Meskipun demikian Ki Buyut itupun berkata, “Aku menjadi berdebar-debar karena kunjungan kalian. Kalian jarang sekali datang kemari. Tiba-tiba saja kalian datang bersama-sama beberapa orang.”

Anak-anak muda itu saling berpandangan. Namun kemudian mereka seperti berjanji memandang Jlitheng yang termangu-mangu.”

“Ayo, siapakah yang akan menjadi pembicara dari kalian,“ Ki Buyut mendesak sambil tersenyum.

Jlithenglah yang kemudian beringsut setapak. Dipandanginya Ki Buyut yang tua itu sejenak.

Kemudian katanya, “Ki Buyut. Mungkin kami telah mengejutkan Ki Buyut. Biasanya kami tidak pernah datang bersama-sama, atau bahkan jarang sekali datang menghadap Ki Buyut.”

“Ya, ya. Kataikan, apa keperluanmu. Aku tahu, bahwa kalian tentu mempunyai kepentingan sehingga kalian memerlukan datang kepadaku.”

“Ya Ki Buyut,“ Jlitheng beringsut lagi, “sebenarnyalah bahwa aku telah menemukan dua orang perantau di lereng bukit itu.”

“Menemukan?“ bertanya Ki Buyut.

“Ya Ki Buyut. Maksudku, saat aku mencari kayu, aku telah bertemu dengan dua orang perantau

yang barangkali dalam keadaan sulit dilereng bukit yang berhutan itu.”

Ki Buyut mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Katakan tentang mereka berdua.”

Jlithengpun kemudian menceriterakan serba sedikit tentang Kiai Kanthi dan Swasti seperti yang

dikatakannya kepada anak-anak muda yang mengikutinya. Seperti kepada anak-anak muda itu

iapun telah berhasil menumbuhkan perasaan iba pada Ki Buyut Lumban Wetan.

Sambil mengangguk-angguk Ki Buyut berkata, “Sudah sewajarnya kita menaruh belas kasihan

kepada sesama. He. kenapa mereka tidak mau menuju kepadukuhan ? Kenapa mereka berdua

justru memilih untuk berada dihutan dilereng bukit itu?”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia menjawab, “Itulah

anehnya Ki Buyut. Ketika aku tanyakan kepada mereka, orang tua itu mengatakan bahwa mereka

tidak mau menyusahkan kita disini. Dan menilik kata-katanya, merekapun sebenarnya takut

dicurigai.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah Jlitheng. Jika mereka memang

berkeras ingin tinggal dilereng bukit itu, sudah barang tentu, aku tidak berkeberatan. Jika kau ingin membantu, itu adalah perbuatan yang baik. Mungkin kau dapat meminjami alat-alat untuk keperluannya, atau bahkan kau dan beberapa kawan-kawanmu dapat membantu membuat sebuah gubug kecil. Tetapi sebaiknya kau memperingatkan, bahwa di hutan itu terdapat beberapa ekor harimau yang mungkin dapat membahayakan mereka.”

“Aku sudah mencoba memperingatkan mereka Ki Buyut. Tetapi nampaknya keduanya pandai memanjat, sehingga mereka menganggap bahwa harimau itu akan dapat dihindarinya. Selebihnya mereka menganggap bahwa harimau tidak akan menerkam seseorang jika tidak terpaksa sekali.”

Ki Buyut mengangguk-angguk ketika ia mendengar Jlitheng mengulangi ceriteranya tentang

seekor harimau yang terasing dari lingkungannya seperti yang dikatakannya kepada kawankawannya.

Ki Buyutpun mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Adalah menjadi kuwajibanmu Jlitheng,

untuk membantunya sebagaimana seharusnya dilakukan bagi sesama.”

“Kami sudah siap Ki Buyut,“ berkata Jlitheng, “jika Ki Buyut sudah mengijinkan, maka kami

tidak akan ragu-ragu lagi.”

“Aku ikut bersamamu Jlitheng,“ tiba-tiba saja Kumbara memotong pembicaraan itu.

Jlitheng mengerutkan keningnya, seolah-olah ia tidak percaya pada pendengarannya. Namun

Kumbara mengulangi, “Aku akan ikut serta membantu orang tua itu. Mungkin ia memerlukan alatalat, mungkin keperluan yang lain. Tetapi mungkin juga pangan.”

Selagi Jlitheng termangu-mangu, terdengar Ki Buyut berkata, “Biarlah ia ikut serta Jlitheng. Apa

anehnya ? Nampaknya kau menjadi heran. Bukankah kau kenal Kumbara sehari-hari seperti kau

mengenal kawan-kawanmu yang lain?”

“Ya, ya. Ki Buyut. Tetapi kedua orang itu hanyalah dua orang perantau. Biar kami sajalah yang

membantunya. Kumbara tidak perlu ikut serta bersama kami. Ia mempunyai pekerjaan yang

barangkali jauh lebih penting dari dua orang perantau itu.”

“Apakah yang harus aku kerjakan ? Bukankah pekerjaanku tidak banyak berbeda dengan

pekerjaanmu ? Menggarap sawah, memelihara ternak dan sekali-kali duduk digardu perondan ?“

sahut Kumbara.

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika demikian, baiklah. Tentu

kedua orang itu akan sangat berterima kasih. Apalagi bahwa putera Ki Buyut sendiri telah bersedia membantunya mempersiapkan sebuah gubug kecil.”

Ki Buyutpun mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Tetapi Jlitheng. Aku masih

menyarankan, agar kau menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon. Kakang Buyut di Lumban Kulonpun perlu mengerti. Bukankah kau tahu, bahwa bukit itu terletak diujung padukuhan kami, sehingga

bukit itu tidak terletak didaerah Lumban Wetan, tetapi juga tidak di daerah Lumban Kulon

seluruhnya. Kami tidak pernah membicarakan, siapakah yang berhak mengurusi bukit berhutan

yang tidak menghasilkan apa-apa itu, seperti kami juga tidak pernah berbicara tentang bukit

gundul yang gersang tanpa dapat memberikan apa-apa kepada padukuhan kami.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya Ki Buyut. Akupun sudah memikirkan kemungkinan itu. Aku akan menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon untuk mengatakan maksud kami membantu orang tua dan anak gadisnya itu.”

“Aku kira kakang Buyut di Lumban Kulon juga tidak akan berkeberatan. Orang tua dan anak

gadisnya itu sama sekali tidak akan mengganggu padukuhan Lumban Wetan maupun Lumban Kulon seperti yang diharapkannya sendiri.”

“Ya Ki Buyut. Orang tua itu memang tidak ingin mempersulit keadaan kita yang tidak terlalu baik ini,“ jawab Jlitheng.

“Bagiku, itu sudah, merupakan pertanda, bahwa orang tua itu tidak bermaksud buruk,“ berkata

Ki Buyut, “ia bukam sejenis orang yang mementingkan diri sendiri. Tetapi ia dalam keadaan yang

pahit, masih juga memikirkan orang lain.”

“Baiklah Ki Buyut. Kami mohon diri. Kami akan menghadap Ki Buyut Lumban Kulon. Mungkin

besok kami akan muliai dengan kerja kami, membantu orang tua itu.”

“Dimana ia tidur malam ini ?”

“Mereka telah memilih tempat didalam hutan itu. Mereka makan dari buah-buahan yang mereka dapatkan, buruan kecil dan dedaunan.”

“Berbuatlah sesuatu segera bagi mereka Jlitheng. Kau yang sudah mulai dengan niat yang baik,

teruskanlah.”

Jlitheng kemudian minta diri. Ia masih akan menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon untuk minta

ijin seperti yang dilakukannya pada Ki Buyut di Lumban Wetan.

Ketika Jlitheng dan kawan-kawannya memasuki batas Lumban Kulon, maka beberapa orang

anak-anak mudapun telah mengerumuninya dan bertanya, apakah keperluannya.

Seperti yang sudah dilakukannya, maka iapun mengulangi lagi ceriteranya tentang kedua orang

yang ditemuinya di lereng bukit.

“Kasihan,“ desis salah seorang dari mereka, “nampaknya Ki buyut baru saja pulang dari

sawahnya. Aku kira ia ada dirumahnya.”

“Terima kasih,“ sahut Jlitheng.

“Ia sedang sibuk memikirkan anak laki-lakinya,“ desis yang lain.

“Kenapa dengan Nugata ?“ bertanya Jlitheng.

“Ia sedang merajuk. Nugata ingin seekor kuda yang bagus, tegar dan besar. Tidak seperti kuda

yang dimilikinya sekarang, yang menurut pendapatnya, kecil, kurus dan sakit-sakitan.”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Katanya, “Seekor kuda yang tegar, besar dan baik, harganya

tidak sedikit.”

“Itulah sebabnya Ki Buyut agak prihatin juga. Tetapi nampaknya ia berusaha untuk memenuhinya.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Jika demikian, apakah kedatangan

kami mungkin akan dapat mengganggu perasaannya yang memang sedang buram itu?”

Tetapi anak-anak muda Lumban Kulon itu menjawab hampir bersamaan, “Aku kira tidak.“

Jlitheng mengangguk-angguk, sementara seorang anak muda Lumban Kulon berkata

selanjutnya, “Cobalah. Jika kau memang menganggap penting tentang dua orang perantau yang

memerlukan bantuan itu, datanglah. Jika Ki Buyut sedang sibuk atau sedang bingung, ia akan

dapat minta kalian untuk datang lain kali.”

Meskipun agak ragu-ragu namun Jlithengpun melanjutkan langkahnya menuju kerumah Ki Buyut di Lumban Kulon saudara kembar Ki Buyut di Lumban Wetan, tetapi yang dianggap saudara tua justru karena ia lahir kemudian. Menurut kepercayaan orang-orang Lumban saudara kembar yang tua akan lahir mengiringi saudaranya yang muda.

Satu dua orang anak muda Lumban Kulon yang tertarik pada masalah itupun mengikutinya pula, sehingga iring-iringan anak-anak muda itu menjadi semakin panjang.

Tetapi ada pula diantara mereka yang tidak mengacuhkannya. Bahkan seorang anak muda yang berkulit kuning bergumam diantara kawan-kawannya, “Jlitheng anak baik. Tetapi ia memang senang mencari pekerjaan.”

“Ia ingin menolong kedua orang yang dikatakannya perantau itu,“ desis yang lain.

Tetapi seorang anak muda yang gemuk pendek berkata, “He, kau tahu, kenapa Jlitheng

bersusah payah tentang kedua orang itu ?”

“Ah kau. Kau tentu berprasangka aneh. Justru kau sendirilah yang selalu mengejar gadisgadis,“

sahut kawannya yang berkulit kuning, “bukankah kau akan mengatakan bahwa salah

seorang dari kedua perantau itu seorang gadis ?”

Anak muda yang gemuk itu tertawa. Namun seorang kawannya lagi berkata, “Meskipun ia

seorang gadis, tetapi dapat dibayangkan. Seorang gadis kurus, sakit-sakitan, kumal dan barangkali suka merengek-rengek.”

“Jangan menghina,“ potong kawannya.

Namun anak-anak muda yang lain sempat pula tersenyum. Dalam pada itu, selagi anak-anak

muda itu masih berkelompok dimulut lorong, mereka mendengar derap seekor kuda. Dengan

tergesa-gesa mereka menepi meskipun mereka belum melihat kuda itu mendekat.

“Siapa ?” seseorang berteka-teki. “Daruwerdi atau Nugata.”

Yang lain tidak sempat menjawab, karena dari tikungan nampak seorang anak muda duduk

dipunggung kudanya.

Kuda itu mengurangi kecepatannya. Bahkan kemudian berhenti dimulut lorong.

“Apakah yang kalian tunggu disini ?“ bertanya anak muda dipunggung kuda itu.

“Kami akan pergi kesawah.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Namun kemudian, “Tetapi kalian masih saja berkumpul

disini.”

“Ya. Baru saja kami bertemu dengan Jlitheng,“ sahut yang lain.

“Jlitheng anak Lumban Wetan ?”

“Ya.”

“Apa keperluannya ?”

Salah seorang anak muda itupun kemudian menceriterakan tentang dua orang perantau

sepertil yang dikatakan Jlitheng.

Anak muda dipunggung kuda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Seperti

kita masing-masing tidak mempunyai pekerjaan. Biarlah perantau itu mengurus dirinya sendiri.”

Anak-anak muda dimulut lorong itu tidak menyahut. Mereka memandangi saja ketika kuda itu

berderap dan hilang kedalam padukuhan.

Anak-anak muda yang tinggal dimulut lorong itu memandang debu yang masih mengepul.

Salah seorang berdesis, “Kuda itulah yang dikatakan kecil, kurus, sakit-sakitan.”

“Seperti gadis perantau itu.”

Yang lain tidak dapat menahan tertawa mereka. Namun suara tertawa itupun bagaikan hanyut

oleh angin ketika anak muda berkulit kuning itu berkata, “Apa urusan kita. dengan kuda Nugata.

Marilah, kita pergi kesawah. Sore nanti kita pergi ke bukit gundul. Daruwerdi tentu sudah

menunggu, Kita akan berlatih olah kanuragan.”

Anak-anak muda itupun kemudian bersama-sama menyusuri pematang dan berpisah menuju

kesawah masing-masing.

Tetapi sawah di Lumban Kulon dan Lumban Wetan memang tidak begitu baik. Tanahnya mulai

kering dimusim kemarau. Palawijapun tidak dapat tumbuh dengan baik. Bahkan dimusim kering

yang panjang sawah mereka benar-benar menjadi padang yang gersang sejauh mata

memandang.

Dalam pada itu Jlitheng telah berada dirumah Ki Buyut di Lumban Kulon. Ki Buyut yang tua,

tetapi yang lahir kemudian dari sepasang anak kembar itu, nampaknya memang lebih tua. Apalagi ia nampak selalu bersungguh-sungguh, meskipun sebenarnya hatinya cukup lapang.

Kedatangan Jlithengpun mengejutkan pula. Namun Ki Buyut di Lumban Kulon itu menarik nafas

dalam-dalam ketika ia sudah mendengar maksud Jlitheng untuk menghadap.

“Kalian membuat aku berdebar-debar,“ berkata Ki Buyut di Lumban Kulon. “Belum lama aku

mendengar peristiwa yang terjadi di lereng bukit itu. Aku kira berita yang kau bawa adalah berita

yang berhubungan dengan kematian dua orang yang dibunuh oleh Daruwerdi. Apalagi aku

mendengar bahwa kaupun pernah dibawa oleh dua orang yang tidak dikenal.”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Teringat sekilas, dua orang yang terpaksa dibunuhnya

pula, dan yang dengan diam-diam telah dikuburnya sama sekali. Tidak seorangpun yang

mengetahuinya, sehingga yang tersebar hanyalah peristiwa yang terjadi atas Daruwerdi.

“Ki Buyut,“ berkata Jlitheng kemudian, “peristiwa itu memang telah membuatku hampir

pingsan. Tetapi agaknya jika terjadi peristiwa berikutnya yang berhubungan dengan peristiwa itu,

tentu akan lebih banyak menyangkut Daruwerdi.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Gumamnya seolah-olah kepada diri sendiri, “Karena itu, latihan2

yang akan diadakan oleh anak-anak itu mungkin akan dapat berakibat buruk.”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Katanya, “Kenapa berakibat buruk Ki Buyut ?”

“Orang-orang yang memusuhi Daruwerdi itu menganggap bahwa kita semuanya telah

melibatkan diri,“ jawab Ki Buyut.

Jalan pikiran orang tua itu memang dapat dimengerti. Namun Jlitheng mencoba untuk

menjelaskan, “Tetapi Ki Buyut. Jika jumlah kami cukup banyak, maka aku kira, orang-orang jahat

itu tentu akan segan pula untuk berbuat sesuatu. Meskipun kami belum mumpuni, namun dengan jumlah yang berlipat ganda, mereka tentu akan memperhitungkan pula.”

Ki Buyut menarik nafas panjang. Masih saja ia bergumam seolah-olah kepada diri sendiri,

“Selama ini tidak pernah terjadi malapetaka di padukuhan ini. Tetapi kedatangan orang-orang baru itu membuat aku menjadi cemas.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Nampaknya Ki Buyut di Lumban Kulon merasa bahwa keadaan

terakhir di padukuhannya telah memburuk. Kehadiran orang-orang yang dianggapnya asing

memang telah membawa persoalan tersendiri. Termasuk kedatangan Daruwerdi.

“Apakah Ki Buyut juga mencurigai kehadiran Kiai Kanthi dan Swasti?” pertanyaan itu mulai

merayapi hatinya.

Namun ternyata Ki Buyut kemudian berkata, “Jlitheng. Aku tidak berkeberatan dengan

maksudmu dan kawan-kawanmu untuk membantu kedua orang yang kau sebut perantau itu, jika

Buyut Lumban Wetan juga tidak berkeberatan. Tetapi aku berharap bahwa kehadirannya didaerah iini tidak akan menambah persoalan-persoalan baru yang dapat menyulitkan keadaan kita disini.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ki Buyut. Kami akan melihat dengan saksama,

apakah yang kira-kira akan dilakukan oleh kedua orang itu. Yang seorang sudah terhitung orang

tua, sedang yang satu adalah anaknya, seorang gadis. Aku kira mereka tidak akan menimbulkan

persoalan apapun juga didaerah Lumban ini.”

“Sokurlah. Mudah-mudahan untuk seterusnya kita akan dapat hidup tenang dan damai. Hidup

seperti yang pernah kita alami dari tahun ketahun, dari masa ke masa. Disaat pergolakan terjadi

dipusat pemerintahan, padukuhan ini tetap tenang. Kami berdua yang kebetulan dilahirkan

kembar dan menjadi tetua di Lumban Kulon dan Lumban Wetan berusaha sekeras-kerasnya untuk mempertahankan tata cara dan kehidupan yang berlaku didaerah kecil ini. Setiap perubahan akan dapat menimbulkan goncangan-goncangan dan bahkan mungkin kekisruhan.”

Jlitheng menjadi berdebar-debar. Yang dikatakan itu adalah sikap Ki Buyut di Lumban Kulon.

Namun Jlitheng tidak berputus asa bahwa untuk selanjutnya tidak akan dapat ditembus dengan

kenyataan dan harapan-harapan bagi masa datang. Namun sayang sekali, bahwa permulaan itu

bersamaan saatnya dengan goncangan ketenangan oleh orang-orang Kendali Putih yang telah

berusaha menipu Daruwerdi.

Namun demikian, ijin yang diberikan oleh Ki Buyut itu telah membuat Jlitheng berbesar hati. Ia

memang harus berhati-hati untuk mengayunkan langkah berikutnya. Perubahan-perubahan yang

terjadi memang harus dijaga sebaik-baiknya, agar tidak menimbulkan kekisruhan yang

mengganggu, apalagi menimbulkan pertentangan-pertentangan didalam padukuhan yang tenang

itu.

Dalam pada itu, ketika Jlitheng mohon diri kepada Ki Buyut, maka terdengar derap kuda

memasuki halaman. Nugata yang masih berada di punggung kudanya, mengerutkan keningnya

melihat Jlitheng bersama beberapa orang anak muda duduk dipendapa bersama ayahnya.

Tetapi ternyata bahwa ia tidak tertarik sama sekali dengan persoalan yang dibawa oleh Jlitheng

seperti yang sudah didengarnya diujung lorong. Sehingga karena itu, maka setelah kudanya

diserahkan kepada seorang pembantunya, ia langsung masuk lewat longkangan tanpa berpaling

lagi.

Jlitheng dan kawan-kawannya yang berada dipendapa itu hanya memandanginya saja. Mereka

menyangka bahwa Nugata memang belum mengetahui persoalannya. Namun mereka-pun

mengerti, bahwa Nugata lebih suka mempersoalkan masalahnya sendiri daripada masalah orang

lain.

Karena itu Jlithengpun kemudian meninggalkan rumah Ki Buyut di Lumban Kulon itu. Ia ingin

segera berbuat sesuatu, sehingga waktunya tidak banyak terbuang. Mulai terbayang di angan angannya,

sebuah gubug kecil dengan secuwil tanah buat halaman dan kebunnya. Kemudian orang tua itu tentu memerlukan sebidang tanah yang lebih luas bagi sawah dan ladangnya.

Namun yang penting bagi Jlitheng adalah bahwa orang tua dan anak gadisnya itu kemudian akan berjuang menguasai air yang melimpah dilereng bukit itu untuk mengarahkannya kesawah dan ladangnya yang akan dibuka.

Air itu tentu akan dapat dimanfaatkan pula bagi padukuhan Lumban Kulon dan Lumban Wetan.

Parit yang hanya menampung dan mengalir dimusim hujan itui tentu akan menjadi basah pula

dimusim kering.

Sementara itu beberapa orang anak muda mengikut Jlitheng sampai kesebuah gardu parondan

yang berada didekat padukuhan kecil yang terletak dibatas daerah Lumban Kulon dan Lumban

Wetan. Namun padukuhan itu sendiri masih termasuk daerah Lumban Wetan.

Satu dua anak muda Lumban Kulon masih tetap bersama mereka. Bahkan salah seorang dari

mereka bertanya, “Jlitheng kapan kau akan mulai dengan kerjamu itu ?” anak muda itu berhenti

sejenak, namun kemudian ia mulai berkelakar, “bukankah anak perantau itu seorang gadis yang

manis?”

“He, darimana kau tahu ?“ Jlitheng pura-pura bertanya.

Kawan-kawannya tertawa. Tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang dapat membayangkan wajah gadis itu dengan tepat. Seperti anak-anak muda Lumban Kulon yang tidak ikut bersama mereka, maka bayangan tentang gadis perantau itu adalah sangat buram.

Dalam pada itu Jlithengpun kemudian berkata, “Besok aku akan mulai. Tetapi tentu hanya

sekedar di waktu-waktu senggang dan jika badan tidak terasa penat. Namun demikian, aku tidak

sampai hati melihat kedua orang itu terlalu lama berada di hutan itu. Jika udara dingin malam hari mulai menyelimuti pepohonan, maka merekapun menjadi basah oleh embun.”

“Apakah laki-laki itu sudah teramat tua?“ bertanya seseorang.

“Belum tua sekali. Tetapi tenaganya tentu sudah jauh susut,“ jawab Jlitheng.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka berkata, “Biarlah aku ikut

membantumu disaat-saat senggang pula.”

Jlitheng tersenyum kecut. Ia masih sempat pula berkelakar. “Tetapi jangan karena gadis yang

manis itu.”

Suara tertawa terdengar diantara mereka. Tetapi salah seorang dari mereka segera berkata,

“Aku akan kesawah. Pagi ini kerjaku hanya berjalan hilir mudik saja. Bukankah hari ini kita belum

akan mulai dengan gubug itu?”

Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Tentu belum.”

“Nah, jika kau akan mulai kapan saja, dan jika kau memerlukan aku, panggillah aku. Aku sudah

mengatakan bahwa aku bersedia membantu.”

“Terima kasih,“ jawab Jlitheng.

“Sekarang, bukankah kita masing-masing mempunyai pekerjaan ?“ desis anak muda itu.

“Silahkan,“ sahut Jlitheng, “akupun akan pergi kesawah juga.”

Anak-anak muda itupun kemudian meninggalkan Jlitheng kepekerjaan masing-masing. Namun

mereka telah menyatakan diri, bersedia membantu rencana Jlitheng, pada saat Jlitheng akan mulai dan diwaktu-waktu mereka yang terluang.

Yang tinggal digardu itu kemudian tinggal Jlitheng sendiri. Anak-anak Lumban Kulonpun telah

pergi pula kesawah mereka masing-masing.

Pada saat Jlitheng sudah mulai melangkah untuk pergi kesawahnya pula, tiba-tiba saja ia

mendengar seseorang memanggilnya. Dengan serta merta iapun berpaling. Dilihatnya Daruwerdi

berjalan tergesa-gesa mendekatinya.

Jlitheng bergeser kembali dan duduk dibibir gardu. Sambil tersenyum ia bertanya, “Kau nampak

tergesa-gesa ? Apakah ada sesuatu ?”

“Aku memang mencarimu,“ jawab Daruwerdi.

“Mencari aku ?“ Jlitheng mengerutkan keningnya, “apakah kau mempunyai kepentingan?”

Daruwerdipun kemudian duduk pula disamping Jlitheng. Sejenak ia termangu-mangu. Namun

kemudian ia mulai bertanya, “Apakah benar kau bertemu dengan dua orang perantau di lereng

bukit itu ?”

“Ya, kenapa ?“ Jlitheng mengerutkan keningnya.

“Seorang laki-laki tua dan seorang gadis ?”

“Ya.”

Daruwerdi mengangguk-angguk. Seperti kepada diri sendiri ia berdesis, “Jadi keduanya masih

dibukit itu.”

“Kau pernah melihat mereka ?“ Jlitheng pura-pura bertanya.

“Ya. Aku pernah menolong mereka ketika mereka hampir diterkam oleh seekor harimau. Tetapi

aneh sekali bahwa keduanya justru berada dihutan yang hampir menelan mereka itu,“ desis

Daruwerdi.

“Apa yang telah terjadi ?“ Jlitheng masih berpura-pura.

Daruwerdipun kemudian berceritera tentang seekor harimau yang garang. Untunglah ia

melihatnya dan sempat menolongnya.

“Aku kira keduanya telah pergi,“ gumam Daruwerdi.

“Aku bertemu dengan mereka ketika aku sedang mencari kayu.”

“Kau juga gila. Kenapa kau mencari kayu dihutan yang dapat membahayakan dirimu ? Dihutan

itu ada beberapa ekor harimau. Dan kedua orang perantau itu nampaknya juga gila seperti kau.”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Aku sudah sering sekali mencari

kayu dihutan itu. Bukankah kau tahu juga kebiasaanku itu ? Baru sekali aku bertemu dengan

seekor harimau yang nampaknya akan berbuat jahat. Tetapi aku dapat memanjat. Dan ternyata

harimau itu tidak menunggui aku terlalu lama.”

“Apakah nilai kayu bakar yang kau dapat dihutan itu lebih besar dari nyawamu ?“ bertanya

Daruwerdi.

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia justru bertanya, “Apakah aku akan

menukarkan nyawaku dengan kayu bakar?”

Daruwerdi meloncat turun dari bibir gardu sambil bergumam, “Kau memang anak yang dungu.

Sudah tentu bukan begitu maksudku. Tetapi aku hanya memberimu peringatan, bahwa kau dapat

saja diterkam harimau.”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah-mudahan tidak Daruwerdi. Kau

membuat aku menjadi cemas. Selama ini aku tidak pernah memikirkan hal itu. Tetapi tiba-tiba saja aku menjadi cemas.”

“Nah, katakan pula kepada kedua orang perantau itu. Suruhlah mereka pergi saja dari lereng

bukit. Tetapi kalau mereka memaksa untuk tinggal, suruhlah ia mendekati padukuhan ini agar

mereka tidak akan menyesal.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku akan mencoba memperingatkan mereka, agar

mereka tinggal dibawah bukit saja.“

Daruwerdipun kemudian melangkah pergi sambil berkata, “Terserah kepadamu.“ lalu, “Sore

nanti aku akan datang kebukit gundul itu. Bukankah anak-anak minta aku memberikan sedikit

petunjuk tentang olah kanuragan ?”

“Ya. Aku juga akan datang. Tetapi apakah aku mungkin akan dapat berkelahi seperti kau?”

Daruwerdi yang sudah melangkah menjauh berhenti sejenak. Sambil berpaling ia berkata, “Kau

memang anak yang paling dungu diseluruh Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Sampai matipun

kau tidak akan dapat menyadap ilmu sejauh itu. Bahkan seandainya kau mempunyai seorang guru yang mumpuni sekalipun.”

Jlitheng tidak menjawab. Dipandanginya saja Daruwerdi yang berjalan menjauh. Namun tibatiba

saja Jlitheng berlari-lari menyusulnya sambil berkata, “He, Daruwerdi. Apakah benar Nugata

minta kepada ayahnya untuk dibelikan seekor kuda yang besar dan tegar?”

Daruwerdi berhenti. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Siapa yang mengatakannya ?”

“Anak-anak Lumban Kulon.”

“Itu adalah pertanda bahwa mereka tidak mempunyai pekerjaan lain daripada membicarakan

kawan-kawan mereka sendiri. Itu bukan urusanku. Dan aku tidak akan mengurusnya pula

meskipun ia akan membeli sepuluh atau duapuluh ekor lagi.”

Jlitheng berdiri termangu-mangu. Sementara itu Daruwerdipun melangkah pula menjauh dan

hilang ditikungan.

Sepeninggal Daruwerdi Jlitheng menggeliat seperti orang yang baru bangun dari tidur yang

nyenyak semalam suntuk.

Bibirnya nampak tersenyum, namun tidak sepatah katapun yang diucapkannya meskipun bagi

dirinya sendiri.

Sejenak kemudian iapun dengan tergesa-gesa pula meninggalkan tempat itu. Disepanjang jalan

seolah-olah membayang sekilas di kepalanya beberapa orang anak muda yang menarik

perhatiannya di padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Anak-anak muda yang dengan

serta merta bersedia membantunya. Kemudian wajah yang cerah dan terbuka dari anak Ki Buyut

di Lumban Wetan yang bernama Kumbara. Disusul kemudian wajah yang acuh tak acuh dari

putera Ki Buyut di Lumban Kulon. Yang terakhir adalah wajah Daruwerdi yang tampan dan

bersungguh-sungguh.

Jlitheng melangkah semakin cepat. Sambil tersenyum ia berkata kepada diri sendiri, “Lalu

bagaimana dengan wajahku sendiri?”

Seperti kawan-kawanya Jlithengpun kemudian menengok sawahnya. Tetapi tidak banyak yang

dapat dikerjakan. Sawahnya adalah sawah yang kurang baik seperti pada umumnya sawah di

Lumban Wetan dan Lumban Kulon, yang menggantungkan air pada hujan yang jatuh dimusim

basah.

Disiang hari, ketika kawan-kawannya pulang kerumah masing-masing, maka Jlithengpun justru

pergi ke sungai. Kepada seorang kawannya ia berpesan agar disampaikannya kepada biyungnya,

bahwa ia akan mencuci pakaiannya.”

Tetapi setelah sawah menjadi sepi dipanasnya terik matahari, Jlithengpun telah pergi menyusuri sungai yang hampir tidak mengalir lagi dan apalagi dibatasi oleh tebing yang tinggi, mendekati bukit yang berhutan dan menyimpan mata air yang deras.

Tidak ada harapan untuk dapat memanfaatkan sungai kecil yang dibatasi oleh tebing itu dimusim kemarau. Namun tiba-tiba Jlitheng berhenti sejenak. Dipandanginya tebing sungai itu serta batu-batu yang berserakan. Katanya didalam hati, “Untuk sementara air yang melimpah itu dapat disalurkan lewat sungai kecil ini. Yang perlu dilakukan kemudian adalah menyekat sungai ini

dengan beberapa bendungan untuk menaikkan airnya kesawah.”

Tetapi Jlitheng tidak yakin bahwa itu adalah cara yang terbaik. Mungkin Kiai Kanthi mempunyai

cara tersendiri.

Dengan berlari-lari kecil, Jlitheng memanjat tebing diantara pepohonan hutan. Setelah

meloncati batu-batu padas yang terjal dan memanjat lereng yang bagaikan dinding, akhirnya ia

sampai kedataran ditepi kolam yang berair melimpah.

“O, marilah ngger,“ Kiai Kanthi mempersilahkan.

Jlitheng mengangguk hormat. Sekilas ia memandang kesekelilingnya. Dilihatnya Swasti sedang

duduk membersihkan buah gayam yang sudah tua dengan belanga yang dibawanya.

Jlitheng mengerutkan keningnya. Meskipun Swasti tidak mengacuhkannya seperti biasa, tetapi

seolah-olah ia baru dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas saat itu.

Tetapi ia tidak berani terlalu lama memandanginya, karena iapun kemudian dipersilahkan oleh

Kiai Kanthi duduk diatas sebuah batu yang nampaknya telah disediakan.

“Silahkan. Aku memang telah menyediakan beberapa tempat duduk yang khusus,“ berkata Kiai

Kanthi sambil tersenyum.

“Kiai,“ berkata Jlitheng setelah mereka duduk berhadapan, “aku telah menghadap Ki Buyut

Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Keduanya menyatakan tidak berkeberatan untuk mengijinkan

Kiai membuat sebuah gubuk kecil dilereng bukit. Namun persoalannya, setiap orang mencemaskan nasib Kiai berdua, jika seekor harimau datang menerkam Kiai atau Swasti.”

“Aku memang menunggu seekor harimau yang akan menerkam aku,“ tiba-tiba saja Swasti

menggeram.

Jlitheng memandang Swasti sejenak. Tetapi Swasti tetap duduk sambil membersihkan buah

gayam yang akan direbusnya, tanpa mengangkat wajahnya.

Kiai Kanthi tersenyum melihat sikap anak gadisnya. Namun kemudian katanya, “Kau salah

mengerti Swasti. Tentu saja maksud angger yang memilih mempergunakan gelar Jlitheng ini

bukan benar-benar mencemaskan nasib kita berdua jika ada seekor harimau yang tersesat kemari.

Tetapi bukankah kita tidak akan menepuk dada dihadapan orang-orang Lumban sambil

mengatakan bahwa kami tidak takut menghadapi harimau, bahkan sepasang sekalipun? Jika ada

kesan demikian, maka orang-orang Lumban tentu akan mencurigai kita, sehingga maksud kita

untuk menemukan tempat baru yang tenang dan wajar, seperti kehidupan orang banyak dalam

hubungan bertetangga tentu akan menjadi baur lagi. Orang-orang Lumban akan menganggap kita

orang lain, atau orang yang tidak sewajarnya berada dalam pergaulan diantara mereka.”

Swasti masih tetap pada sikapnya. Ia sama sekali tidak mengangkat kepalanya dan apalagi

berpaling.

“Karena itu ngger,“ berkata Kiai Kanthi, “peringatan itu tentu seharusnya kita perhatikan. Kita

harus melakukan sesuatu yang dapat mereka mengerti tanpa menimbulkan masalah baru.”

“Kiai,“ berkata Jlitheng, “Daruwerdi menyarankan, agar Kiai tinggal dekat dengan padukuhan,

sehingga tidak akan mendapat gangguan binatang buas dihutan ini. Tetapi aku berpikir, jika

demikian, maka usaha Kiai tentu akan sedikit terganggu oleh jarak.”

“Kau benar ngger. Usahaku mengalirkan sekaligus menguasai air itu akan menjadi semakin

berat, karena aku tidak dapat menungguinya setiap saat.”

“Karena itu Kiai. Untuk memenuhi keduanya, aku berpendapat, bahwa sebaiknya Kiai membuat

sebuah padepokan kecil dibawah bukit ini. Jarak antara gubug yang akan dibangun dengan

belumbang ini tidak terlalu jauh, sementara kecurigaan dan kecemasan orang-orang Lumban

sudah berkurang.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Dipandanginya Swasti sejenak. Tetapi ia nampaknya tidak

mendengarkan percakapan itu.

“Anak bengal,“ desis Kiai Kanthi lirih.

“Selebihnya Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “sebelum Kiai berhasil menyusun jalur parit yang

sesuai dengan keinginan Kiai, maka apakah Kiai sependapat, jika kita memanfaatkan sungai kecil

yang hampir kering itu untuk menampung air yang melimpah itu.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Sementara Jlitheng meneruskan, “Kita akan dapat

menyekat sungai itu dibeberapa tempat dengan bendungan-bendungan kecil dan mengangkat

airnya kesawah dan ladang.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu terdengar Swasti berkata

dengan nada dalam, “Tentu untuk kepentingan orang Lumban.”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Sekilas dilihatnya wajah Kiai Kanthi yang buram. Namun

kemudian orang tua itu tertawa kecil sambil berkata, “Angger. Setiap orang dilandasi oleh

kepentingan diri yang dapat sama, tetapi dapat berbeda dengan orang lain. Yang berbeda itu

kadang-kadang dapat menimbulkan persoalan jika yang satu memaksakan kepentingannya sendiri

terhadap yang lain. Tetapi yang mempunyai kepentingan yang samapun dapat juga berbenturan

karena mereka berebut kepentingan.”

Jlitheng termangu-mangu mendengar kata-kata Kiai Kanthi. Tetapi ia masih tetap menunggu

penjelasannya.

“Angger. Dengan jujur aku ingin mengatakan, bahwa penguasaan air yang melimpah itu

pertama-tama tentu karena kepentingan pribadiku. Aku berjalan menyusuri arus dibawah tanah

dengan suatu keinginan untuk menemukan air, sokur sumbernya, untuk mengaliri suatu

padepokan yang akan aku bangun kemudian. Dan atas petunjuk angger, aku dapat sampai

ketempat ini,“ Kiai Kanthi berhenti sejenak, lalu, “Karena itulah maka sampai saat ini aku masih

memimpikan sebuah padepokan yang dikelilingi oleh tanah persawahan dan ladang secukupnya,

yang dialiri oleh air tanpa henti disegala musim. Bahkan jika mungkin sebuah belumbang untuk

memelihara jenis-jenis ikan yang dapat menghiasi halaman dan kebun, tetapi juga dapat

menghasilkan bagi hidup kami sehari-hari.”

Jlitheng mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti maksud Kiai Kanthi sehingga karena itulah

maka ia tidak memotong kata-kata orang tua.

 

“Meskipun demikian ngger,“ berkata Kiai Kanthi selanjutnya, “aku sudah barang tentu tidak

akan dapat ingkar pada suatu kewajiban untuk berbuat sesuatu bagi kepentingan lingkungannya.

Dalam hal ini, sudah tentu adalah lingkunganku yang baru. Karena itu, maka aku tidak

berkeberatan untuk menyalurkan air kedalam sungai kecil itu, setelah melalui padepokan yang

masih ada didalam angan-anganku itu.”

Jlitheng masih mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku mohon maaf Kiai jika ada

sesuatu yang kurang sesuai dengan jalan pikiran Kiai. Tetapi menurut pendapatku, apa yang Kiai

katakan itupun merupakan pemecahan yang baik. Air itu akan mengalir kesawah ladang disekitar

padepokan Kiai, akan dialirkan atau katakan dengan istilah lain, akan dibuang kesungai kecil itu.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Ya.

Begitulah kira-kira.”

“Jadi menurut Kiai, yang manakah yang akan kita kerjakan lebih dahulu. Menguasai dan

mengarahkan arus air itu, atau membuat suatu padepokan dengan membuka hutan dilereng bukit

ini lebih dahulu.”

Kiai Kanthi termenung sejenak. Kemudian katanya masih sambil tersenyum, “Kau memang

cerdik ngger. Aku menjadi bingung untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi nampaknya aku harus

menjawab, bahwa aku akan berusaha menguasai air lebih dahulu meskipun aku belum

mempergunakannya, karena sawah dan ladang itu memang belum ada. Tetapi aku ingin

mendapat gambaran tentang sawah dan ladang itu kelak sehingga arus air itu sudah dapat

ditentukan, tanpa menunggu sawah dan ladang itu sendiri.”

Jlithengpun tersenyum pula. Jawabnya, “Kira-kira memang demikian Kiai. Kita akan segera

menanam patok.”

Dalam pada itu wajah Swastipun menjadi gelap. Dengan demikian, maka orang-orang Lumban

mungkin akan mempergunakan air itu lebih dahulu sebelum Kiai Kanthi mempergunakannya.

Tetapi Swasti tidak mengatakan sesuatu. Bagaimanapun juga ia harus mempertimbangkan

kesediaan Jlitheng untuk membantu membuat sebuah gubug yang dapat dipergunakannya untuk

sementara, sebelum mereka dapat membangun sebuah padepokan yang tentu akan memerlukan

waktu yang panjang.

Dalam pada itu, Jlithengpun kemudian minta diri setelah ia berjanji untuk datang dihari

berikutnya bersama satu dua orang kawannya.

“Besok kita akan mulai Kiai,“ berkata Jlitheng sambil melangkah.

“Terima kasih ngger. Aku senang sekali.”

Jlitheng tersenyum. Ketika ia berpaling memandang Swasti gadis itu sama sekali tidak

beringsut.

“Aku minta diri Swasti.”

Tanpa mengangkat wajahnya gadis itu menjawab, “Terima kasih.”

“Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun juga tentang anak

gadisnya itu.

Seperti yang dikatakan Jlitheng, maka iapun telah bersetuju dengan empat orang kawannya

yang sudah sempat membantunya untuk datang di lereng bukit itu menjelang matahari terbit.

Namun disore hari, ketika anak-anak muda berkumpul di dekat bukit padas yang gundul, Jlitheng

tidak mengatakannya kepada orang lain. Kepada keempat kawannya itu ia berkata, “Jangan terlalu

banyak lebih dahulu. Kita akan menjajagi, apakah yang akan kita kerjakan.”

Seperti yang dijanjikan, Daruwerdi telah datang pula ketempat itu. Ia bersedia untuk mengajari

anak-anak muda dari Lumban Kulon dan Lumban Wetan untuk berlatih dalam olah kanuragan.

“Bagaimana ia dapat mengajari anak-anak muda ini,“ berkata Jlitheng didalam hatinya ketika ia

melihat anak-anak muda yang jumlahnya terlalu banyak.

Namun ternyata bahwa Daruwerdi mempunyai kebijaksanaan tersendiri. Ketika anak-anak

sudah berkumpul ditempat itu, maka iapun berdiri diatas sebuah batu padas dan mengucapkan

sesorah singkat. Ia bersiap memberikan tuntunan olah kanuragan, tetapi anak-anak muda Lumban harus bersungguh-sungguh.

Anak-anak muda Lumban menjawab saur-manuk.

“Tetapi tidak mungkin untuk berlatih bersama dalam jumlah ini,“ berkata Daruwerdi, “aku akan

membagi menjadi tiga kelompok besar. Kelak, jika kalian akan mempelajari ilmu yang lebih dalam

lagi, kelompok-kelompok itu akan terbagi menjadi semakin kecil.”

Daruwerdipun kemudian membagi anak-anak muda Lumban itu menjadi kelompok besar yang

setiap kali akan diajarinya berurutan kelompok demi kelompok.

Yang kemudian menjadi persoalan bagi Jlitheng, bagaimana ia dapat berbuat diantara anakanak

muda itu, sehingga Daruwerdi tidak dapat mengenali tata geraknya. Betapapun ia

memperbodoh diri dalam sikap pura-pura namun ia masih juga cemas, bahwa Daruwerdi akan

dapat melihat, bahwa sebenarnya ia sudah mempunyai bekal ilmu olah kanuragan.

“Mudah-mudahan aku berhasil mengelabuinya,“ berkata Jlitheng didalam hatinya.

Karena itulah, maka dihari itu, Jlitheng yang mendapat giliran dihari ketiga, justru

memperhatikan dengan saksama, bagaimana anak-anak muda Lumban yang belum memiliki bekal sama sekali itu mengikuti tuntunan Daruwerdi.

Kadang-kadang Jlitheng harus menahan senyum melihat gerak-gerak yang menurut

pendapatnya aneh dan lucu. Tetapi ia sadar, bahwa sikap yang demikian itulah yang harus

dilakukannya pula.

Ternyata bahwa dihari itu anak-anak Lumban telah berlatih dengan sebaik-baiknya. Rasarasanya

matahari terlalu cepat turun dan hilang dibalik pegunungan, sehingga waktu rasa-raisanya

berjalan terlampau laju.

Jlitheng memperhatikan perkembangan keadaan di Lumban itu dengan pertimbangan yang

dalam. Ia tidak dapat mengkesampingkan pendapat Ki Buyut di Lumban Kulon, bahwa latihanlatihan

itu akan dapat dianggap oleh orang-orang yang memusuhi Daruwerdi, seolah-olah setiap

anak muda di Lumban telah melibatkan diri.

“Tetapi ini adalah suatu permulaan dari perubahan-perubahan yang akan terjadi di Lumban,“

berkata Jlitheng kepada dirinya sendiri, “dengan perubahan-perubahan yang sedikit demi sedikit,

maka akhirnya Lumban tidak akan tenggelam didalam suasana masa lampau tanpa menghiraukan masa depannya.”

Selebihnya Jlitheng memang mengharap, bahwa perhatian anak-anak muda kebanyakan akan

tertuju pada olah kanuragan. Hanya anak-anak muda dalam jumlah yang terbatas sajalah yang

akan memperhatikan dua orang perantau yang akan membuka sebuah padepokan dilereng bukit.

“Tetapi pada saatnya, semuanya akan diperlukan,“ berkata Jlitheng didalam hatinya, “untuk

menguasai air itu diperlukan semua orang dipadukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”

Didini hari berikutnya, Lumban bersama empat orang kawannya, dengan diam-diam telah pergi

kebukit dengan membawa beberapa macam alat yang akan dipergunakan untuk membangun

sebuah gubug kecil. Tidak seperti yang biasa dilakukan oleh Jlitheng jika ia memanjat seorang diri, melalui tebing tebing curam dan meloncati batu-batu padas, tetapi ia memilih jalan setapak yang lebih baik agar kawan-kawannya tidak mengalami kesulitan meskipun dengan demikian perjalanan mereka akan bertambah panjang.

Keempat kawan Jlitheng itu menjadi heran ketika mereka melihat dan kemudian diperkenalkan

kepada Swasti. Mereka menyangka Swasti adalah seorang gadis perantau yang kusut, kurus dan

sakit-sakitan. Tetapi ternyata Swasti adalah gadis yang nampak sehat dan segar, meskipun

pemalu.

“Seperti yang aku janjikan kemarin Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “kami akan dapat mulai

dengan kerja ini.”

“Terima kasih ngger. Terima kasih. Tetapi apakah yapg dapat aku pergunakan untuk

menyediakan minum jika kalian haus, dan apa pula yang ada padaku, jika angger menjadi letih

dan lapar.”

Jlitheng tertawa mendengar pertanyaan Kiai Kanthi. Jawabnya, “Tentu kami mengerti Kiai,

bahwa Kiai tidak akan dapat menyediakannya buat kami. Tetapi sudah barang tentu kami tidak

akan mengharapkan sesuatu yang akan dapat menyulitkan Kiai. Jika Swasti mendapatkan banyak

gayam dan merebusnya, itupun sudah memadai buat kami semuanya, karena kamipun senang

sekali makan gayam rebus.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Terima kasih ngger. Terima

kasih.”

Dalam pada itu, maka Jlithengpun segera mengajak kawan-kawannya untuk mulai bekerja.

Yang pertama-tama mereka lakukan adalah memotong dahan-dahan kecil dan diruncingkannya

ujungnya untuk membuat patok-patok yang akan menandai daerah yang akan dibangun untuk

sebuah padepokan kecil. Dengan patok-patok itu, maka sudah akan didapat gambaran, apakah

yang akan terjadi kelak di lereng bukit itu. Sehingga dengan demikian, maka arus air yang akan

mengalir lewat padepokan itupun akan dapat pula ditentukan arahnya.

Kiai Kanthipun ikut serta pula membuat patok-patok kayu dan menyiapkan sebuah rancangan

yang mereka perbincangkan bersama sambil memotong dan meruncingkan patok-patok kayu itu.

“Aku kira sudah cukup untuk kali ini,“ berkata Jlitheng kemudian, “marilah kita turun dan

menanam patok-patok ini setelah kita memperhitungkan segala segi dan kemungkinannya.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Swasti yang duduk

dimuka perapian. Meskipun Swasti tidak berpaling, karena sikapnya yang seolah-olah acuh tidak

acuh, tetapi orang tua itu melihat bahwa ada sesuatu yang terasa tergetar dihati gadisnya.

Karena itu, maka iapun kemudian mendekatinya sambil berbisik, “Bagaimana pikiranmu tentang

rencana ini ?”

“Ayah lebih senang berbicara dengan anak itu daripada dengan aku.“ sungut gadis itu.

“Ah, jangan begitu Swasti. Bukankah kita berterima kasih atas uluran tangan yang diberikan

oleh angger Jlitheng. Dan kau sudah mendengar pula pengakuannya serba sedikit, kitapun harus

memperhitungkannya pula. Ia bukan anak Lumban seperti yang lain-lain. Tentu iapun mempunyai perhitungan yang mapan, bukan sekedar ikut-ikutan seperti anak-anak muda Lumban yang lain.”

“justru karena itu ayah. Mungkin kita akan terjebak pada rencananya.”

“Jangan terlampau berprasangka Swasti. Tetapi bahwa ia telah mencoba menjajagi

kemampuanmu itu ada pula baiknya. Ia tidak akan menganggap kita sekedar penurut yang tidak

mempunyai sikap.”

“Tetapi sampai sekarang ayah benar-benar seorang penurut,“ desis Swasti.

“Itupun telah aku perhitungkan Swasti. Ia lebih banyak kesempatan bergaul dengan orangorang

Lumban, dengan Ki Buyut dan anak-anak mudanya. Tentu sikap dan pandangannya

mempunyai hubungan dengan lingkungan yang sedang dihayatinya sekarang.”

Swasti tidak menjawab lagi. Pandangan matanya seolah-olah telah terlekat pada perapian yang

menyala ditungku yang dibuatnya dari batu.

“Hati-hatilah tinggal disini Swasti. Aku akan turun bersama anak-anak muda itu. Tentu tidak

terlalu jauh, karena aku tidak ingin membuat padepokan didekat salah satu dari padukuhan kecil

yang termasuk Lumban Wetan atau Lumban Kulon.”

Swasti mengangguk kecil. Meskipun ia tidak mengatakannya, tetapi Kiai Kanthi dapat merasakan, bahwa gadis itu masih belum puas dengan jawaban-jawaban yang telah diberikannya.

Namun Kiai Kanthipun tidak akan memperbincangkan terlalu panjang. Jlitheng dan kawan kawannya

telah menunggu sambil mengikat patok-patok kayu yang telah mereka siapkan.

Ketika Kiai Kanthi mendekati anak-anak muda Lumban, maka anak-anak muda itu sudah selesai

mengikat patok-kayu yang akan mereka bawa turun untuk menelusuri tempat seperti yang sudah

mereka perbincangkan. Tempat yang barangkali paling baik untuk membuat sebuah padepokan.

Masih dilereng bukit, tetapi ditempat yang datar dan agak luas. Dibawah dataran itu akan dapat

dibuka selembar tanah persawahan dan ladang yang cukup.

“Bagaimana dengan Swasti, “Jlithenglah yang kemudian bertanya.

“Biarlah ia merebus Gayam dan barangkali merebus air yang akan dapat kita minum, meskipun

benar-benar hanya air putih,“ jawab Kiai Kanthi.

“Tetapi, apakah itu tidak berbahaya baginya ?“ bertanya anak muda yang lain.

“Ia pandai memanjat,“ jawab Kiai Kanthi, “jika ada binatang buas mendekat, maka ia akan

memanjat dan tidur diatas dahan sampai binatang itu pergi. Dan aku kira jarang sekali ada seekor

binatang buas yang mendekati manusia jika tidak terpaksa sekali.”

“Seperti yang pernah aku ceriterakan,“ potong Jlitheng. Kawan-kawannya hanya mengangguk angguk kecil. Sekilas dipandanginya Swasti yang sama sekali tidak acuh terhadap mereka yang sibuk dengan kerja itu, namun ada semacam kekhawatiran untuk meninggalkan gadis itu seorang

diri.

Tetapi ketika anak-anak muda itu melihat ayah Swasti tidak mencemaskannya, maka merekapun mencoba untuk tidak mencemaskannya pula.

Sejenak kemudian, maka Kiai Kanthi, Jlitheng dan beberapa orang kawannya telah meninggalkan tempat itu, sementara Swasti masih tetap duduk ditcmpatnya tanpa berpaling.

Beberapa saat lamanya, Jlitheng dan kawan-kawannya menuruni tebing. Seperti saat mereka

memanjat naik, maka Jlitheng telah memilih jalan yang paling mudah untuk dilalui, karena kawankawannya bukannya orang terlatih untuk mendaki bukit, menuruni lereng terjal dan ketrampilan kanuragan yang lain.

Tetapi mereka tidak perlu mencari-cari lagi. Mereka telah membicarakan, bagian yang manakah

yang akan mereka tandai, sebagai tempat yang akan dibangun sebuah padepokan, dan kelak

dibawahnya untuk membuka tanah persawahan dan ladang.

Dalam pada itu, Swasti masih tetap duduk dimuka perapiannya. Ia mencoba memikirkan masa

depan yang belum terbentuk baginya. Namun sebagai seorang gadis, maka iapun mulai beranganangan.

Sekali-kali tangannya menyentuh ranting-ranting kecil yang sedang menyala. Dengan jarijarinya

yang panjang gadis itu kemudian bermain dengan bara-bara kecil yang pecah menjadi abu

yang panas.

Tetapi tangan Swasti agak terbiasa dengan panas, dipadepokannya yang lama. ia berlatih

dengan pasir. Mula-mula pasir ditepian sungai. Jika tidak seorangpun yang ada ditepian, maka

mulailah ia menusuk-nusuk pasir dengan jari-jarinya. Namun kemudian ayahnya memberikan

latihan-latihan yang lebih berat. Pasir itu dipanasinya dan latihan-latihan berikutnya dilakukan

ditempat tersembunyi.

Karena itulah, maka jari-jari Swasti bukannya jari-jari seorang gadis yang halus dan lentik.

Namun setiap orang tentu mengira, bahwa gadis itu terlalu banyak bekerja berat, sehingga jari jarinya menjadi kasar.

“Namun dalam pada itu, Swasti terkejut ketika ia mendengar desir mendekat. Telinganya yang

terlatih segera mengetahui, bahwa seseorang sedang berjalan kearahnya. Bukan seseorang yang

dengan bersembunyi merunduknya, tetapi seseorang yang berjalan agak cepat.

Swasti selalu ingat pesan ayahnya, agar ia tidak memperlihatkan kemampuannya kepada

orang-orang lain. Bahkan ayahnyapun selalu berusaha untuk merendahkan diri dalam olah

kanuragan.

Karena itulah, maka untuk mempersiapkan diri, ia berpura-pura melakukan sesuatu. Perlahan lahan ia berdiri dan melangkah mengambil seonggok kayu kering untuk dibawa kedekat perapian.

Tetapi Swasti kemudian berdiri tegak sambil menggeliat setelah ia melemparkan seonggok kayu

itu.

Bagaimanapun juga gadis itu harus mempersiapkan diri, karena yang ada ditempat itu hanyalah

ia sendiri. Tanpa ayahnya dan tanpa orang lain.

Swasti tahu pasti dari arah mana suara itu datang. Dan iapun ternyata telah berdiri menghadap

kearah itu.

Tetapi Swasti menjadi berdebar-debar ketika ia melihat seseorang yang menyibakkan

dedaunan. Seseorang yang pernah dilihatnya disaat ia datang lewat bulak persawahan di Lumban.

Kemudian orang itu datang lagi untuk menolongnya dari kegarangan seekor harimau hampir

bersamaan waktunya dengan kedatangan Jlitheng. Tetapi karena Jlitheng kemudian berhasil

melihat permainan ayahnya yang menekan pusat nadinya, sehingga ia tidak dapat berbuat

banyak, maka Jlitheng sama sekali tidak menampakkan dirinya pada saat itu

“Daruwerdi,“ ia berdesis didalam hatinya.

Sementara itu Daruwerdi telah berdiri termangu-mangu. Dilihatnya Swasti menundukkan

kepalanya dalam-dalam tanpa menyapanya.

“He, bukankah kau gadis perantau itu ?” Daruwerdilah yang kemudian bertanya.

“Ya,“ jawab Swasti pendek.

“Dimana kakek tua itu?”

“Pergi.”

Daruwerdi mengerutkan keningnya. Jawab gadis itu terlalu pendek bagi pertanyaanpertanyaannya.

Namun Daruwerdi mencoba untuk mengerti, bahwa gadis itu tentu jarang bergaul

dan merasa rendah diri.

“Kemana kakek tua itu ? Maksudku, pergi kemana ?” desak Daruwerdi.

Swasti termangu-mangu sejenak. Namun iapun mengerti, bahwa kehadirannya tentu bukannya

rahasia lagi bagi orang-orang Lumban. Ternyata Jlitheng telah membawa kawan-kawannya dan

bahkan ia sudah minta ijin kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dari Lumban Kulon.

Karena itu, maka jawabnya kemudian, “Ayah pergi bersama Jlitheng.”

“Dengan Jlitheng,“ Daruwerdi mengerutkan keningnya, “hanya berdua?”

“Tidak,“ jawab Swasti masih terlalu pendek, sehingga Daruwerdi mendesaknya, “Dengan siapa

lagi?”

“Anak-anak muda dari Lumban. Tiga atau empat orang.”

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah mendengar rencana Jlitheng untuk

membantu orang tua itu membuat sebuah gubug kecil.

“Dan kau sekarang sendiri?“ bertanya Daruwerdi tiba-tiba.

Swasti menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian sambil mengangguk ia menjawab, “Ya, aku seorang

diri.”

“Gila. Kau sudah gila. Dan kakek itupun sudah gila. Bukankah kau hampir mati dikunyah

harimau saat kau datang beberapa hari yang lalu ? Dan sekarang kau ditinggalkan seorang diri

disini?”

Swasti kebingungan sejenak. Tetapi jawabnya kemudian seperti yang sering diucapkan

ayahnya, “Aku dapat memanjat. Jika ada seekor harimau yang datang, aku akan memanjat pohon itu sampai harimau itu pergi.”

“Kalian memang orang-orang yang tidak mengerti bahaya yang selalu merundukmu.

Kedunguanmu itu dapat membunuhmu.”

Swasti tidak menjawab. Tetapi kepalanya tunduk semakin dalam. Sekali-kali ia memandang

ujung kaki Daruwerdi. Meskipun kaki itu kotor oleh lumpur, namun ia melihat kulit anak muda itu

agak berbeda dengan kebanyakan anak-anak muda Lumban. Kulit Daruwerdi nampak lebih kuning dan cerah.

Tetapi Swasti tidak berani mengangkat wajahnya dan memandang tubuh Daruwerdi lebih tinggi

lagi, selain mata kakinya.

“Sebaiknya kalian meninggalkan tempat ini,“ berkata Daruwerdi tiba-tiba, “daripada kalian

membuat gubug kecil diantara daerah perburuan beberapa ekor harimau, kenapa kalian tidak

tinggal saja dekat padukuhan? Apakah Jlitheng tidak pernah mengatakannya demikian?”

Swasti mengangguk kecil. Jawabnya, “Ya.”

“Ya ? Ya, apa yang kau maksud ?”

“Jlitheng pernah berkata demikian.”

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Gadis ini agaknya terlalu sulit untuk diajak berbicara.

Karena itu, maka katanya, “Kearah mana kakek itu pergi?”

Swasti termangu-mangu sejenak. Namun tatapan matanya mengarah ke semak-semak yang

tersibak.

“Kesana maksudmu?” desak Daruwerdi. Swasti mengangguk kecil.

Daruwerdi tidak menunggu lebih lama lagi. Tanpa, minta diri, iapun segera meloncat menyusup

kedalam gerumbul-ge-rumbul perdu diantara pepohonan hutan, dan kemudian menghilang.

Sejenak Swasti termangu-mangu. Daruwerdi mempunyai kelainan dengan anak-anak muda di

Lumban. Sikapnya, kata-katanya dan pakaiannya.

“Jlitheng juga bukan anak Lumban,“ tiba-tiba saja Swasti memperbandingkan keduanya diluar

sadarnya, “tetapi Jlitheng telah luluh dan menyatu dengan anak-anak muda Lumban, sedangkan

Daruwerdi nampaknya masih tetap memelihara jarak itu.“ Swasti mengerutkan keningnya sejenak.

Kemudian ia bertanya kepada diri sendiri, “Tetapi apakah Daruwerdi mengenal siapakah Jlitheng

sebenarnya ?”

Namun dalam pada itu, ketika Swasti menyadari apakah yang sedang diangan-angankan,

wajahnya terasa menjadi panas. Meskipun tidak ada seorangpun, tetapi rasa-rasanya setiap

lembar daun memandanginya sambil tersenyum. Seekor burung yang berkicau diatas dahan yang

rendah rasa-rasanya telah menyindirnya dengan lagu yang nyaring.

“Pergi, pergi kau,“ bentak Swasti sambil melempar burung itu dengan kerikil.

Burung itu meloncat kedahan yang lebih tinggi. Tetapi Swasti tidak menghiraukannya lagi

ketika burung itu kemudian berkicau lebih keras.

Sementara itu Daruwerdi telah menuruni tebing bukit itu dengan tergesa-gesa. Dengan mudah

ia dapat mengikuti arah Jlitheng bersama Kiai Kanthi dan beberapa orang anak muda Lumban.

Sehingga karena itu, maka sejenak kemudian Daruwerdi telah menemukannya.

Ketika Daruwerdi muncul dari balik gerumbul, maka Jlithengpun menyapanya, “He, marilah

Daruwerdi. Kami sudah mulai.”

Daruwerdi tidak segera menjawab. Tetapi diperhatikannya tempat disekitarnya. Ia melihat

beberapa batang patok telah ditancapkan diantara pepohonan hutan.

“Jadi, kalian akan tetap membuat gubug itu disini ?“ bertanya Daruwerdi.

“Ya. Tempat ini sudah cukup rendah. Jika Kiai Kanthi ingin pergi kepadukuhan, maka ia tinggal

menuruni beberapa lapis padas.”

“Tetapi tempat ini tetap merupakan tempat yang berbahaya. Setiap kali seekor harimau akan

lewat.“ Daruwerdi berhenti sejenak. Tetapi ketika Kiai Kanthi akan menjawab. Daruwerdi

mendahului, “Kau tentu akan mengatakan bahwa kau dan gadis itu dapat memanjat. Dan

barangkali kau akan menceriterakan sebuah dongeng tentang seekor harimau yang terasing

karena menerkam seseorang.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun iapun tersenyum sambil berkata, “Ya, ya ngger.

Aku memang akan berkata begitu.”

“Tetapi saat kau datang, hampir saja kau diterkam seekor harimau jika aku tidak datang

menolongmu.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya tesendat-sendat, “Benar ngger. Dan aku tidak akan

pernah melupakan apa yang telah pernah terjadi itu.”

“Tetapi kau tidak memperbaiki kesalahan yang pernah kau lakukan. Apakah untungmu

membuat gubug disini ? Apakah tidak lebih baik jika kau tinggal dipadukuhan. Kau dapat memilih

,apakah kau ingin tinggal di Lumban Wetan atau di Lumban Kulon.”

Kiai Kanthi termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Angger Daruwerdi. Aku tidak

mempunyai secabik tanahpun didaerah Lumban. Disini aku akan berusaha untuk membuka hutan

tanpa merugikan siapapun juga, selain belas kasihan angger Jlitheng dan kawan-kawannya, yang

bersedia membantu kami.”

“Kau orang aneh kakek. Kau perantau yang bernasib kurang baik. Tetapi kau menganggap

dirimu seorang kesatria yang sungkan menerima belas kasihan orang lain. Bukankah belas tenaga

dan sebidang tanah tidak banyak bedanya?”

Kiai Kanthi menundukkan kepalanya.

“Pikirkan Kakek. Ketika aku bertemu dengan kau untuk pertama kali, aku sudah mengatakan,

bahwa kau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Harga diri atau mungkin kepuasan untuk

mengalami suatu pederitaan seperti yang sering dilakukan oleh para petapa dengan gegayuhan

tertentu. Tetapi apakah kau pernah memikirkan anak gadismu yang malang itu ?”

Kiai Kanthi tidak segera menjawab. Namun kepalanya terangguk-angguk kecil.

“Tetapi terserah kepadamu. Pendidikan seseorang kadang-kadang sulit dimengerti oleh orang

lain, termasuk pendirianmu. Jlitheng dan kawan-kawannya telah menaruh belas kasihan kepadamu, tetapi tanpa mempergunakan otaknya. Mereka sudah berbangga, bahwa mereka dapat menolongmu. Tetapi mereka tidak memikirkan kelanjutan hidupmu dan hidup anak gadismu itu.”

Kiai Kanthi masih menunduk. Jlitheng dan kanwan-kawannya hanya berdiam diri sambil

mengangguk-angguk kecil.

Tetapi Daruwerdi tidak tinggal lebih lama lagi. Sekali lagi ia berkata, “Pikirkan. Jangan terlalu

bodoh dengan memercayai ceritera tentang seeekor harimau yang terasing. Jangan membiarkan

dirimu merasa bahagia oleh penderitaan hidup dan kesulitan rohaniah yang dialami anak gadismu.

Orang-orang masih akan memberi kesempatan.”

Daruwerdi tidak menunggu Kiai Kanthi menjawab. Iapun kemudian meninggalkan Kiai Kanthi

yang berdiri termangu-mangu.

Salah seorang kawan Jlithenglah yang memecahkan kesenyapan. “Aku kira, apa yang dikatakan

oleh Daruwerdi itu benar.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mungkin benar. Tetapi kita sudah mulai dengan

kerja ini. Sebaiknya kerja ini kita lanjutkan. Kelak jika ada pertimbangan lain dari Kiai Kanthi

terserah sajalah.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia menyahut, “Aku kira demikian ngger.

Aku ingin meneruskan kerja ini sampai pada suatu saat hatiku menjadi teguh atau sama sekali aku ingin merubah sikapku ini.”

Kawan-kawan Jlithengpun tidak menyahut. Bagi mereka, persoalan itu segera mereka lupakan.

Yang mereka lakukan kemudian adalah menanam patok-patok sesuai dengan tempat-tempat yang ditunjuk oleh Jlitheng setelah dibicarakan dengan Kiai Kanthi

“Nah,“ berkata Jlitheng kemudian, “dengan patok-patok itu kita akan mendapat gambaran,

bagaimanakah ujud padepokan kecil yang akan Kiai bangun di dataran yang tidak terlalu luas

dilereng bukit ini.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku tidak dapat memimpikan bahwa seumurku

padepokan itu sudah akan siap.”

“Kenapa tidak Kiai. Disini Kiai tidak begitu sulit mencari batu untuk dinding halaman padepokan

Kiai, meskipun harus mengumpulkan dari daerah yang agak luas disekitar tempat ini. Rumah dan

kelengkapannya akan dibangun dengan kayu yang melimpah dihutan ini meskipun bukan kayu

yang terbaik,“ sahut Jlitheng.

Kiai Kanthi tidak menyahut. Ia hanya mengangguk-angguk kecil. Namun ia merasa betapa

unsur kemanusiaan masih nampak jelas di padukuhan Lumban. Bahkan Jlitheng, yang bukan

orang Lumbanpun adalah seorang yang sangat baik bagi sesama.

Meskipun demikian Kiai Kanthi tidak menutup pengamatannya yang kadang-kadang tersembul

dipermukaan pertimbangannya. Bukan mustahil bahwa orang-orang Lumban yang berbuat baik

kepadanya, termasuk Jlitheng itu tidak mempunyai pamrih apapun juga.

“Itu sudah wajar,“ berkata Kiai Kanthi, “tetapi jika pamrih itu akan saling menguntungkan,

maka sudah barang tentu, tidak akan ada keberatan apapun juga bagiku.”

Dalam pada itu, maka yang dikerjakan oleh Jlitheng dan kawan-kawannya pada hari itu adalah

baru menanam beberapa buah patok. Mereka masih akan menunggu Jiltheng dan Kiai Kanthi yang akan memperhitungkan pengendalian air, sehingga yang akan mereka kerjakan dikeesokan

harinya, barulah membuat patok-patok juga. Setelah Kiai Kanthi dan Jlitheng mendapat kepastian

arah air yang melimpah dari belumbang di lereng bukit itu, maka mereka baru akan menanam

patok-patok berikutnya.

Sebelum Jlitheng dan kawan-kawannya kembali ke padukuhan, maka mereka masih sempat

singgah sejenak dipinggir belumbang untuk mendapat beberapa buah gayam yang direbus oleh

Swasti.

Sementara itu, ketika kawan-kawannya sedang sibuk makan jamuan yang terasa nikmat sekali

itu, Jlitheng mendekati Kiai Kanthi sambil berbisik, “Daruwerdi nampaknya tidak setuju Kiai tinggal disini.”

“Karena belas kasihan ngger. Angger Daruwerdi tidak sampai hati melihat salah seorang dari

kami diterkam dan dikoyak oleh seekor harimau atau oleh anjing hutan sekalipun.”

“Kiai percaya bahwa itu alasannya?“ bertanya Jlitheng.

“Jika bukan karena belas kasihan, apakah angger Jlitheng melihat alasan lain?“ bertanya Kiai

Kanthi.

“Aku melihat Kiai. Bukankah dibawah tempat ini beberapa saat yang lalu, Daruwerdi telah

membunuh dua orang Kendali Putih.”

“Bukankah itu bukan maksud angger Daruwerdi. Justru orang-orang Kendali Putihlah yang telah

berusaha menipu angger Daruwerdi. Bukankah begitu menurut ceriteramu?”

“Benar Kiai. Daruwerdi telah membunuh kedua orang Kendali Putih yang telah berusaha

menipunya. Tetapi bahwa pertemuan antara Daruwerdi dan orang-orang Pusparuri itu memang

direncanakan ditempat itu. Tetapi yang datang adalah orang-orang Kendali Putih yang mengaku

sebagai orang dari perguruan Pusparuri.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Dipandanginya sekilas anak-anak muda Lumban yang sibuk

mengunyah gayam dan meneguk air putih dari bumbung-bumbung bambu. Namun nampaknya air putih itu demikian segarnya, melampaui air sere hangat dengan legen atau gula kelapa.

“Angger,“ berkata Kiai Kanthi kemudian, “apakah dengan demikian justru ada kesengajaan pula

angger memilihkan tempat bagi kami dilereng itu, agar kami langsung atau tidak langsung telah

menjadi pengawas yang akan dapat membantu tugas-tugas angger yang belum aku ketahui.”

“Ah,“ tiba-tiba saja Jlitheng tersenyum, “bukan maksudku Kiai. Tetapi jika terjadi demikian,

sudah tentu aku wajib mengucapkan terima kasih.”

“Tentu aku tidak berani berbuat demikian ngger. Jika pada suatu saat angger Daruwerdi

mengetahui, maka nasibku akan menjadi sangat buruk.”

Tiba-tiba saja meledak suara tertawa Jlitheng tanpa dapat ditahankannya lagi, sehingga kawankawannya berpaling kepadanya dengan heran.

“Apa yang kau tertawakan ?“ bertanya salah seorang kawannya.

Jlitheng memaksa diri untuk berhenti tertawa. Jawabnya kemudian, “Kiai Kanthi telah

menceriterakan pengalamannya yang lucu dikala mudanya.”

“Apa ?“ bertanya kawan-kawannya sekaligus. Bahkan Swasti yang duduk agak jauhpun telah

memandangi ayahnya dengan kerut dikeningnya.

“Apa yang sudah diceriterakan ayah,“ bertanya Swasti didalam hatinya.

Tetapi Jlitheng menggeleng. Katanya, “Tidak. Kiai Kanthi tidak bersedia mengulangi

ceriteranya.”

“Kau ceriterakan,“ minta kawan-kawannya.

Tetapi Jlitheng justru menjadi bingung. Ia tidak tahu, ceritera apa yang dapat dikatakannya

kepada kawannya. Namun Jlitheng tidak kehilangan akal. Katanya, “Nanti sajalah jika kita pulang.”

Kiai Kanthi sendiri masih tersenyum. Agaknya Jlitheng telah menertawakannya ketika ia

mengatakan, bahwa Kiai Kanthi tidak berani berbuat sesuatu karena takut kepada Daruwerdi.

Meskipun demikian, meskipun pembicaraan antara Kiai Kanthi dan Jlitheng itu diucapkan sambil

bergurau, namun ternyata hal itu telah menjadi perhatian keduanya dengan bersungguh-sungguh.

Dibawah dataran dilereng bukit itulah, telah terjadi perjanjian antara Daruwerdi dengan orang orang Pusparuri yang membicarakan masalah sebuah pusaka yang tidak diketahui dengan pasti.

Ketika kemudian Jlitheng dan kawan-kawannya meninggalkan tempat itu, dengan bersungut sungut Swasti bertanya kepada ayahnya, “Apa yang ayah katakan kepada anak muda itu?”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak mengatakan apa-apa.”

“Tentu tidak. Anak muda itu tertawa dengan serta-meria.“ desak Swasti.

Kiai Kanthi terpaksa menceriterakan apa yang telah dipercakapkan dengan Jlitheng. Akhirnya

katanya, “Yang penting Swasti, agaknya Jlitheng mempunyai pertimbangan tersendiri atas letak

padepokan itu justru karena sikap Daruwerdi.”

Swasti menarik nafas dalam-dalam. Sambil duduk bersandar sebatang pohon ia memandang

kekejauhan. Seakan-akan ada sesuatu yang dicarinya.

“Bagaimana pertimbanganmu Swasti ?“ bertanya ayahnya sambil duduk didekatnya.

“Anak muda yang bernama Daruwerdi tadi datang kemari,“ tiba-tiba saja Swasti berdesis.

“O,“ sahut ayahnya, “dan kau menunjukkan arah kerja kami ? Ia juga datang menemui aku.”

“Ya,“ sahut Swasti.

“Apa saja yang dikatakannya kepadamu?”

“Ia menaruh belas kasihan. Nampaknya ia seorang yang sangat memperhatikan kesulitan orang

lain,“ Swasti seolah-olah bergumam kepada diri sendiri.

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Ia memang menganjurkan agar kami pindah

kepadukuhan Lumban. Tetapi seperti yang aku katakan, Jlitheng mempunyai perhitungan lain atas

sikap Daruwerdi itu. Bukan karena belas kasihan tetapi berdasarkan atas kepentingannya.”

“Kenapa ia berprasangka buruk?“ tiba-tiba saja Swasti bertanya.

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian menjawab, “Bukan sekedar

prasangka, Swasti. Jlitheng mempunyai perhitungan tersendiri. Aku tidak mengatakan bahwa

perhitungannya itu tentu benar.”

“Nampaknya ayah sudah berada dibawah pengaruh anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng

itu.”

“Bukan begitu Swasti. Tetapi ia telah bersedia menolong kita. Ia sudah berbuat banyak.”

“Tetapi apakah kira-kira yang akan dilakukan seandainya aku tidak dapat mengimbangi

ilmunya. Bahkan seandainya ayah berada dibawah kemampuannya ?”

“Sudah aku katakan Swasti. Dalam keadaan yang seakan-akan berkabut ini, kita memang saling

mencurigai. Yang dilakukan adalah sekedar penjajagan. Bukan benar-benar bermusuhan.”

Swasti tidak menyahut. Tetapi wajahnya nampak menjadi buram. Sekilas terbayang kedua anak

muda yang sebenarnya merupakan orang lain bagi padukuhan Lumban itu. Seolah-olah semakin

lama menjadi semakin jelas sifat dan tingkah laku keduanya.

Dalam pada itu, Daruwerdi yang telah berada dirumahnya, duduk termenung sambil

memandangi cahaya matahari yang seolah-olah masih bermain dihalaman meskipun sudah

menjadi semakin condong. Sebentar lagi ia harus pergi ke bukit gundul untuk memberikan sekedar tuntunan kepada anak-anak muda Lumban dalam olah kanuragan.

“Pekerjaan gila yang sia-sia,“ gumamnya.

Tetapi Daruwerdi tidak dapat menolak. Bahkan iapun mengharap, bahwa dengan demikian,

perhatian beberapa pihak diluar padukuhan Lumban terhadapnya, akan menjadi baur oleh sikap anak-anak muda Lumban.

“Tetapi yang aku lakukan itu tentu merupakan sekedar lelucon bagi orang-orang Kendali Putih,“

desis Daruwerdi.

Sejenak Daruwerdi masih merenung. Namun sejenak kemudian, iapun bangkit sambil

bergumam, “Aku harus pergi ke bukit gundul. Tetapi malam nanti aku harus dapat bertemu

dengan anak itu. Ia harus memberitahukan kepada orang-orang Pusparuri, hutan itu sudah dihuni orang.”

Sambil berjalan perlahan-lahan Daruwerdi masih berangan-angan. Tidak ada niatnya untuk

menyingkirkan kedua orang perantau itu dengan kekerasan. Meskipun mereka berada di hutan itu, tetapi nampaknya mereka tidak berbahaya.

“Meskipun demikian, aku harus berhati-hati. Aku harus menemukan tempat lain yang lebih baik

untuk berbicara dengan orang-orang Pusparuri atau orang-orang dari pihak manapun.”

Namun Daruwerdi mengerutkan keningnya ketika tiba-tiba saja tumbuh pertanyaan,

“Bagaimana jika orang-orang Pusparuri menemukan perantau itu dan bertindak langsung sebelum aku menemuinya?”

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya, “Aku tidak peduli. Aku sudah

memperingatkan kedua orang gila itu agar mereka menyingkir. Tetapi hutan itu cukup luas. Jika

orang-orang Pusparuri atau pihak manapun juga tidak gila seperti kedua perantau itu, maka akan

dapat diatur tempat lain yang lebih baik.”

Sementara itu, Jlithengpun telah turun pula bersama kawan-kawannya. Mereka masih sempat

pulang sejenak, sebelum merekapun pergi ke dekat bukit padas yang gundul untuk berlatih olah

kanuragan.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Lumban tidak terlepas dari pengawasan orang

asing. Justru karena kehadiran orang yang kemudian menetap di Lumban, maka ketenangan

padukuhan itu benar-benar telah terganggu.

Dalam pada itu, selagi Daruwerdi sibuk dengan anak-anak muda di dekat bukit padas, dua

orang yang asing telah mendekati padukuhan Lumban. Dari kejauhan mereka melihat dataran di

bawah bukit yang dihampari oleh tanah persawahan yang nampaknya tidak begitu subur.

“Mereka semuanya tidak pernah kembali,“ desis salah seorang dari keduanya.

“Daerah ini nampaknya seperti neraka. Tanah gersang, bukit padas yang gundul. Namun

dibelakang nampak bukit yang hijau karena hutan yang barangkali cukup lebat.”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya dataran yang luas terbentang

diantara bukit padas yang gundul dan bukit yang berwarna hijau. Tetapi dataran itu sendiri

nampaknya seperti wajah orang yang sakit-sakitan. Pucat dan gersang.

“Kita akan melihat-lihat keadadaannya,“ berkata salah seorang dari mereka.

“Nampaknya padukuhan itu memang menyimpan kekuatan yang berbahaya. Tentu kita tidak

dapat mengabaikannya. Kau dengar bahwa orang-orang Kendali Putih yang pernah menginjakkan

kakinya kedaerah ini juga tidak pernah kembali ?”

“Tetapi mereka memang tidak berjanji untuk datang kemari. Berbeda dengan kawan kita yang

memang sudah bersepakat untuk mengadakan sebuah pembicaraan penting, percaya, bahwa

orang-orang Kendali Putih dengan sengaja telah melakukan kejahatan terhadap orang Pusparuri.”

Semuanya tidak jelas, Kita harus menyelidikinya. Tetapi kita harus berhati-hati. Mungkin kita

akan dapat mendengar serba sedikit apabila kita sudah berada ditempat ini untuk beberapa hari.”

“Sulit untuk menghubungi orang-orang didaerah kecil. Setiap orang baru akan segera dikenal

dan karena peristiwa-peristiwa sebelumnya, akan dengan mudah dicurigainya pula.”

“Ada dua cara. Kita menanggalkan pakaian kita dan menjadikan diri kita sebagai pengemis,

atau kita dengan diam-diam mengambil satu atau dua orang dan membawanya kehutan dilereng

bukit itu. Kita memaksanya untuk berbicara, kemudian mereka kita bunuh tanpa ada seorangpun

yang mengetahuinya.“

“Aku condong untuk memilih yang kedua. Itu lebih cepat. Aku kira jika terjadi sesuatu didaerah

ini, maka setiap orang akan segera mengetahuinya.”

Keduanya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian, marilah kita bersembunyi dihutan

dilereng bukit itu. Kita menunggu seseorang yang mungkin akan berguna bagi kita.”

“Tetapi, apakah kita akan melalui padukuhan-padukuhan yang tersebar itu menuju kehutan

dilereng bukit itu?”

Kawannya termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Sebentar lagi matahari akan turun.

Kita akan melanjutkan perjalanan setelah gelap.”

Keduanyapun kemudian berhenti dan duduk dibawah sebatang pohon yang berdaun lebat

menunggu matahari tenggelam.

Dalam pada itu, ketika matahari terbenam di ujung Barat anak-anak Lumban telah kembali dari

bukit padas yang gundul. Satu dua orang diantara mereka sempat singgah kesungai kecil yang

hanya sekedar mengalir membasahi pasir dan bebatuan. Namun dipinggir sungai itu terdapat

sebuah belik kecil yang berair jernih.

Sementara anak-anak Lumban itu membersihkan diri, maka dua orang yang menunggu gelap

itupun telah mempersiapkan diri. Ketika bintang dilangit mulai nampak mereka-pun mulai

melanjutkan perjalanan menyusuri jalan menuju kebukit yang menjadi kehitam-hitaman di malam

hari.

Adalah suatu kebetulan, bahwa malam itu Jlitheng tidak berniat untuk naik kebukit berhutan

yang mempunyai mata air yang melimpah itu. Ia berjanji kepada Kiai Kanthi dan Swasti untuk

datang dikeesokan harinya bersama beberapa orang kawan. Sehingga malam itu, Jlitheng berada

diruruahnya sampai menjelang tengah malam. Kemudian iapun minta diri kepada biyungnya untuk pergi kegardu.

Digardu beberapa orang kawannya telah mendahuluinya. Tetapi ketika ia sampai, ia masih

sempat ikut makan ketela pohon rebus yang dibawa oleh salah seorang kawannya.

“Aku mencabut tiga batang dihalaman belakang,“ desis kawannya yang membawa ketela pohon

itu.

Jlitheng mengangguk-angguk sambil mengunyah. Namun tiba-tiba ia berkata, “Aku tidak

melihat Kuncung,“ desis Jlitheng.

“Ya. Biasanya ia sudah berada digardu sejak sore,“ sahut kawannya.

“Mungkin ia sakit,“ yang lain menyahut, “jika tidak ia tentu datang, ia suka sekali bicara dan

sedikit sombong. Tetapi menyenangkan. Tanpa Kuncung rasa-rasanya memang sepi.”

“Kita tunggu beberapa saat,“ desis Jlitheng.

“Jika ia tidak datang?“ bertanya kawannya.

Jlitheng termangu-mangu. Gumamnya, “Apa kita akan menengok kerumahnya? Itu akan

mengejutkannya dan mengganggu seluruh keluarganya.”

“Jadi ?”

“Tentu kita akan menunggu sampai besok. Besok pagi-pagi, salah seorang dari kita yang akan

pulang kerumah, singgah sejenak untuk menanyakannya, kenapa ia tidak datang.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Dan perhatian merekapun kembali kepada ketela

pohon ddtengah-tengah gardu itu.

Dalam pada itu, dirumah anak muda yang bernama Kuncung itu telah timbul kegelisahan. Sejak

sore ia telah pergi. Sampai tengah malam ia belum kembali. Biasanya, jika ia akan pergi ke gardu,

anak itu tentu makan lebih dahulu.

“Tanyakan ke gardu diujung desa,“ berkata ayahnya kepada adik Kuncung.

“Aku takut,“ desis anak itu.

“Marilah, aku antar ke gardu. Tetapi kaulah yang bertanya kepada kawan-kawan Kuncung.”

Diantar oleh ayahnya adik Kuncung telah pergi ke gardu. Ternyata bahwa pertanyaan adik

Kuncung itu telah mengejutkan kawan-kawannya. Salah seorang dari mereka menjawab, “Ia tidak

datang kemari. Justru kami menunggunya.”

“Ia belum pulang. Ia pergi kebukit padas yang gundul itu. Tetapi sampai sekarang ia tidak

kembali.”

Kawan-kawannya termangu-mangu. Sejenak mereka saling berpandangan.

“Tolonglah,“ berkata adik Jlitheng, “bantulah mencari kakang Kuncung. Ibuku menjadi sangat

cemas.”

Jlitheng mendekati anak itu sambil menepuk pundaknya. Katanya, “Kami akan mencobanya.

Mudah-mudahan kami menemukannya.”

“Apakah anak itu dibawa wewe yang kehilangan anak?“ desis salah seorang dari anak-anak itu.

Pertanyaan itu telah membuat beberapa orang kawannya menjadi semakin berdebar-debar.

Seorang yang memang penakut telah mendesak dan berdiri diantara kawan-kawannya dengan

kaki gemetar.

Dalam pada itu Jlitheng berkata kepada adik anak yang seakan-akan menghilang itu,

“Pulanglah. Kami akan minta tolong kepada orang-orang padukuhan untuk mencari kakakmu.”

Dengan cemas anak itupun memandang wajah Jlitheng. Sementara ayahnya termangu-mangu

dikegelapan. Namun akhirnya ayahnyapun mendekat. Dengan gagap ia berkata, “Tolong ngger.”

Hanya itulah yang terlontar dari mulutnya. Namun nampak kegelisahan yang sangat telah

mencengkam wajahnya.

Jlitheng memandang orang tua itu. Orang itu pendiam yang dalam keadaan sehari-hari

memang sulit untuk berbicara diantara banyak orang. Namun tiba-tiba ia sudah dihadapkan pada

suatu keadaan yang membuat hatinya sangat gelisah.

Sepeninggal orang tua itu Jlitheng menjadi bingung. Apalagi ketika ia melihat kawan-kawannya

yang bahkan telah kehilangan akal.

“Apa yang dapat kita lakukan ?“ bertanya salah seorang dari mereka.

“Kita akan mencarinya. Kita membawa obor, tampah, kentongan dan pisau. Kita cari Kuncung

kemana saja. Mungkin ia memang dibawa oleh kuntilanak.”

Kawan-kawannya termangu-mangu. Namun ternyata mereka tidak mempunyai jalan lain untuk

mencarinya.

Namun dalam pada itu, Jlitheng mempunyai pertimbangan lain. Jika dalam keadaan demikian

Daruwerdi tidak berusaha menolong anak yang hilang itu, maka ia akan berbuat sendiri, karena

menurut perhitungan Jlitheng, Kuncung telah mengalami nasib seperti yang pernah dialami. Tetapi agaknya Kuncung tidak akan dapat membebaskan dirinya sendiri jika benar ia jatuh ketangan

orang-orang yang ganas seperti orang-orang Kendali Putih.

Sejenak kemudian padukuhan Lumban Wetan telah menjadi ramai. Beberapa orang dalam

kelompok-kelompok kecil berputar-putar dipadukuhan. Mereka berjalan beriring mendekati

tempat-tempat yang dianggapnya wingit. Kuburan-kuburan pohon-pohon besar dan gerumbul gerumbul yang lebat

Dalam hiruk pikuk itulah Jlitheng hilang dari antara kawan-kawannya. Tetapi tidak seorangpun

yang menghiraukannya, karena setiap kelompok mengira bahwa Jlitheng berada dikelompok yang

lain.

Hiruk pikuk itu akhirnya terdengar pula dari padukuhan-padukuhan yang lain, bahkan sampai

ke Lumban Kulon, sedangkan Daruwerdi yang tidur nyenyakpun telah terbangun.

“Ada apa ?” anak muda itu bertanya kepada orang-orang yang sudah turun ke jalan.

“Seorang anak Lumban Wetan telah hilang. Mungkir dibawa wewe yang kehilangan anaknya.

Mereka sedang mencari berkeliling padukuhan. Bahkan ada yang pergi keluar padukuhan,“ jawab

salah seorang dari mereka yang berada dijalan.

Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Sekilas terbersit pula dugaannya, seperti yang

diperhitungkan oleh Jlitheng. Kuncung tentu sudah hilang, karena ia bertemu dengan orang-orang yang asing bagi padukuhan yang tenang itu.

“Jarang sekali seseorang diterkam harimau didaerah ini,“ berkata Daruwerdi didalam hatinya,

“kecuali jika mereka sengaja mengumpankan diri kehutan seperti kedua orang perantau itu atau

seperti Jlitheng yang sering mencari kayu dihutan itu meskipun mereka terlalu percaya kepada

dongeng tentang harimau yang terasing itu.”

Ketika Daruwerdi masuk kedalam biliknya, maka ia memutuskan untuk bersiap menghadapi

segala kemungkinan.

“Seandainya benar Kuncung ditangkap oleh orang-orang yang asing bagi padukuhan ini, maka

ia tentu akan mengatakan apa yang diketahuinya tentang kematian orang-orang Pusparuri dan

Kendali Putih dipinggir hutan itu. Seandainya aku tidak keluar mencarinya, maka akulah yang

agaknya akan dicari oleh mereka karena ceritera Kuncung,“ gumam Daruwerdi kepada diri sendiri.

Namun tiba-tiba saja keningnya berkerut, “Tetapi dua orang yang menangkap Jlitheng itu tidak

pernah datang kepadaku ? Apakah ada pertimbangan lain. bahwa mereka sedang menyiapkan

kekuatan yang lebih besar sehingga yang datang sekarang adalah orang-orang yang yakin akan

dapat mengalahkan aku ?”

Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari

rumahnya dan melihat keadaan agar ia tidak terjebak didalam rumahnya yang sempit tanpa

memastikan sebelumnya, apakah ia akan benar-benar ikut mencari Kuncung atau sekedar

bersiaga.

Namun dalam pada itu. baik Daruwerdi maupun orang-orang Lumban Kulon sama sekali tidak

mengetahui, bahwa dari halaman seberang, dibawah rimbunnya dedaunan seseorang sedang

bersembunyi dan mengintai dengan hati-hati. Ketika orang itu melihat Daruwerdi keluar lagi dari

rumahnya dengan senjata dilambung, maka ia menarik nafas dalam-dalam.

“Mudah-mudahan Daruwerdi dapat menebak apa yang terjadi dan membawa aku langsung

ketempat yang aku cari,“ katanya didalam hati.

Sebenarnyalah bahwa Jlitheng telah berusaha mengamati apa yang akan dilakukan oleh

Daruwerdi. Ia sendiri sama sekali tidak tahu kemana ia harus mencari. Tetapi ia berharap bahwa

berdasarkan atas hubungan yang pernah dilakukan oleh Daruwerdi dengan orang-orang yang

tidak dikenalnya itu, akan mempermudah pelacakannya terhadap anak yang malang itu.

Sejenak kemudian Jlitheng telah meloncati dinding-dinding penyekat halaman untuk mengikuti

Daruwerdi yang berjalan tergesa-gesa menyusuri jalan padukuhan. Ia sama sekali tidak berada

diantara anak-anak muda yang lain dan orang-orang Lumban yang sedang mencari Kuncung

dengan caranya.

Ketika Daruwerdi telah berada di bulak, maka Jlitheng harus menjadi lebih berhati-hati.

Daruwerdi bukannya anak-anak Lumban kebanyakan sehingga karena itu, ia harus berusaha

dengan segenap kemampuan yang ada, agar Daruwerdi tidak menyadari, bahwa ia sedang diikuti

oleh seseorang.

Dalam pada itu Daruwerdi berjalan semakin lama semakin cepat. Dengan demikian, Jlithengpun

menjadi semakin cepat pula mengikutinya.

Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ternyata Daruwerdi telah menuju kearah bukit padas

yang gundul. Rasa-rasanya memang ada hubungan yang khusus antara Daruwerdi dan bukit

gundul itu. Beberapa orang kawan Jlitheng memang sering melihat, Daruwerdi pergi ke bukit itu

tanpa dapat mengatakan, apa yang dikerjakannya disana.

Dengan sangat hati-hati Jlitheng mengikutinya. Rasa-rasanya semakin dekat dengan bukit

padas yang gundul itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Seolah-olah Jlitheng akan

melihat sekelompok orang yang telah siap menunggu kedatangan Daruwerdi untuk melakukan

segala perintahnya.

Jlitheng segera bersembunyi dibalik semak-semak ketika Daruwerdi mulai melangkah naik

keatas batu-batu padas. Dengan sangat hati-hati Jllitheng merayap dari balik gerumbul kebalik

gerumbul lainnya, agar ia tidak terpisah terlalu jauh dari anak muda yang diikutinya.

Namun Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia melihat tidak seorangpun berada di bukit

padas itu. Bahkan kemudian ia mendengar Daruwerdi itu memanggil, “Cempaka. Cempaka.”

Tetapi tidak terdengar jawaban apapun juga. Ia masih mendengar Daruwerdi memanggil

beberapa kali. Namun tidak seorangpun yang menjawab.

Daruwerdipun kemudian menengadahkan wajahnya. Terdengar ia bergumam, “Masih belum

saatnya ia datang.”

Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia melihat Daruwerdi kemudian duduk diatas batu padas.

“Gila,“ desis Jlitheng didalam hatinya, “apakah ia hanya akan duduk saja disitu tanpa berbuat

sesuatu.”

Beberapa saat Jlitheng masih menunggu. Tetapi akhirnya ia menggeram, “Jika aku menunggu

saja disini. anak yang hilang itu akan diketemukan menjadi mayat. Ternyata Daruwerdi tidak ada

minat untuk menolongnya.”

Sekilas ia membayangkan betapa Daruwerdi telah berusaha menyelamatkan jiwa Kiai Kanthi

dan Swasti dari terkaman seekor harimau dihutan dibukit sebelah. Tetapi kenapa ia tidak berusaha dengan kesungguhan hati untuk menolong Kuncung yang hilang.

“Agaknya waktu itu secara kebetulan saja Daruwerdi melihat peristiwa itu. Kehadiran Daruwerdi

saat itu dihutan itu tentu ada kepentingan lain. Tentu karena ia menunggu satu dua orang dalam

hubungan yang khusus dipinggir hutan itu seperti saat ia menunggu orang Pusparuri yang

ternyata telah dibunuh oleh orang-orang Kendali Putih,“ Jlitheng mencoba menilai keadaan yang

sedang dihadapinya. Dan ia-pun yakin karena ia mendengar Daruwerdi bergumam bahwa orang

yang disebutnya Cempaka itu memang belum saatnya datang, sehingga yang dilakukan oleh

Daruwerdi justru lebih banyak dihubungkan dengan kehadiran orang-orang yang asing bagi

padukuhan Lumban.

Namun dalam pada itu Jlitheng menjadi bingung. Ia tidak sampai hati membiarkan Kuncung

hilang tanpa pembelaan. Tetapi iapun mempunyai keinginan yang kuat untuk melihat, siapakah

yang bakal datang dibukit padas dan yang disebut dengan panggilan Cepaka itu.

Sejenak Jlitheng berbantah dengan dirinya sendiri. Namun akhirnya ia menggeretakkan giginya

sambil berkata kepada diri sendiri, “Nyawa anak itu harus diselamatkan dahulu. Baru aku akan

datang lagi kemari.”

Jlitheng tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun kernudian beringsut dengan hati-hati

meninggalkan tempatnya.

Ketika ia sudah menjadi semakin jauh dari bukit padas itu. maka iapun kemudian dengan

tergesa-gesa melangkah menyusuri bulak.

“Tetapi kemana aku mencari anak itu?“ ia bertanya kepada diri sendiri, “daerah ini sangat luas.

Mungkin dibulak, mungkin di padang perdu, mungkin dihutan itu.”

Sejenak Jlitheng mengingat-ingat dimana ia terakhir bertemu dengan Kuncung. Dari bukit

gundul setelah mereka mengikuti latihan-latihan yang diberikan oleh Daruwerdi. Kuncung singgah

sejenak dibelik ditepian.

“Mungkin ketika ia pulang dari sungai itulah, ia bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenal

itu,“ berkata Jlitheng kepada diri sendiri. Tetapi Jlithengpun tidak segera dapat menebak, kemana

Kuncung itu dibawa pergi.

Ketika Jlitheng kemudian berlari-lari kecil menuju kelereng bukit, ia melihat dari kejauhan

sekelompok orang-orang Lumban yang sedang mencari Kuncung. Dilihatnya beberapa buah obor

di ujung padukuhan. Sementara diarah yang lain ia melihat pula beberapa obor dibawah pohon

randu alas raksasa.

“Orang-orang Lumban kebingungan,“ desisnya, “tetapi sulit untuk menemukannya.”

Semula ada niatnya untuk memanjat tebing menemui Kiai Kanthi. Namun akhirnya iapun

mengurungkannya, karena hal itu hanya akan membuang waktu saja. Sudah barang tentu, anak

itu tidak akan dibawa sampai kelereng yang terlalu tinggi.

Karena ia tidak menemukan sesuatu dilereng bukit itu. maka Jlithengpun segera bergeser.

Bahkan kemudian ia berlari-lari kecil. Dijelajahinya tempat yang dianggapnya tersembunyi

dipinggir hutan itu. Namun ia tidak menemukan sesuatu.

Dengan demikian maka Jlithengpun berusaha mencari ketempat yang lain. Tanpa mengenal

lelah ia berlari menuju kekuburan yang terpisah dari padukuhan. Meskipun ia tidak mencari

kuntilanak, tetapi ia menganggap bahwa tempat itu cukup tersembunyi jika ada orang yang

sengaja menyembunyikan diri bersama Kuncung.

Tetapi Jlitheng tidak menemukan yang dicarinya.

Keringat anak muda itu mulai membasahi seluruh tubuhnya. Bukan saja karena ia berlari-lari.

Tetapi kegelisahannya telah membuatnya seakan-akan diperas, sehingga keringatnya telah

mengalir diseluruh wajah kulitnya.

Dalam pada itu, ternyata bahwa Jlitheng telah salah hitung. Justru karena ia mengurungkan

niatnya memanjat tebing lebih tinggi lagi, maka ia tidak berhasil menjumpai anak muda yang

sebenarnya memang dibawa oleh dua orang yang tidak dikenal.

Adalah kebetulan bahwa dua orang yang berjalan menuju ketempat yang sepi itu telah bertemu

dengan Kuncung seorang diri.

Mula-mula Kuncung sama sekali tidak menghiraukan dua orang yang datang menuju kearah ia

berjalan. Bahkan kemudian iapun berhenti ketika salah seorang dari kedua onang itu

memanggilnya.

“Ki Sanak,“ berkata salah seorang dari keduanya, “apakah kau dapat menolong kami?”

Kuncung yang tidak berprasangka apapun itu menunggu keduanya. Baru ia merasa ngeri ketika

kedua orang itu menjadi semakin dekat. Wajah keduanya membayangkan kekerasan dan

kekasaran.

Tetapi Kuncung sudah terlambat. Salah seorang dari kedua orang itu telah melekatkan ujung

pisau belati kelambungnya.

“Jangan berbuat sesuatu yang dapat mempercepat kematianmu anak muda.”

Kuncung menjadi gemetar. Iapun segera teringat peristit wa yang pernah dialami oleh Jlitheng.

Karena itu, maka tu-buhnyapun segera menggigil. Namun demikian, iapun ingat, bahwa jika ia

tidak berbuat sesuatu, maka iapun akan pulang dengan selamat seperti Jlitheng.

Karena itu, maka Kuncungpun menurut saja apa yang dikatakan oleh kedua orang itu. Mereka

bertigapun kemudian berjalan menuju kebutan dilereng bukit.

“Disana kita tidak akan diganggu oleh siapapun,“ berkata salah seorang dari kedua orang itu.

Kuncung berjalan dengan kaki gemetar. Tetapi ia tidak dapat menolak.

Ketika mereka sudah sampai dikaki bukit, maka kedua orang itu telah membawa Kuncung

untuk naik ketempat yang lebih tinggi. Salah steorang dari keduanya berkata, “Jika orang-orang

Lumban menyadari bahwa kau tidak kembali, mereka tentu akan mencari. Aku kira ada orang orang penting di Lumban. Bukan berarti bahwa kami berdua menjadi ketakutan. Tetapi kami ingin

berbicara dengan, kau tanpa terganggu.”

Kuncung tidak dapat berbuat lain. Dengan menggigil ia berjalan tertatih-tatih diantara

pepohonan hutan yang semakin lama menjadi semakin lebat. Baru ketika mereka sudah berada

ditempat yang agak tinggi, maka salah seorang dari keduanya-pun berkata, “Kita berhenti disini.

Kita berbicara dengan hati terbuka. Kau mengerti maksudku ?”

Kuncung yang ketakutan mengangguk. Dalam gelapnya malam yang seakan-akan semakin

kelam didalam hutan, Kuncung tidak dapat melihat cukup jelas wajah-wajah orang yang tidak

dikenalnya itu.

“Jawab pertanyaanku anak muda,“ berkata salah seorang dari keduanya, “apakah kau pernah

mendengar kabar tentang kedatangan orang-orang asing di padukuhan Lumban?”

Kuncung mengerti, yang ditanyakan oleh kedua orang itu tentu peristiwa yang baru saja terjadi.

Pembunuhan yang dilakukan oleh Daruwerdi di kaki bukit itu.

Karena itu, agar ia segera dibebaskan, iapun berceritera tentang peristiwa itu menurut

pendengarannya. Yang ia ketahui dengan pasti, saat itu ada tiga sosok mayat yang oleh orang orang Lumban telah dikuburkan sebaik-baiknya.

“Aku ikut menyelenggarakan. Semua upacara dilakukan menurut yang seharusnya,“ Kuncung

mencoba mengambil hati orang-orang itu.

Kedua orang berwajah kasar itu mendengarkan ceritera Kuncung dengan saksama. Namun

kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah semuanya dibunuh oleh anak muda yang

kau sebut bernama Daruwerdi itu ?”

Sejenak Kuncung tertegun. Ia tidak dapat mengatakan dengan pasti, apakah yang sebenarnya

telah terjadi. Yang ia dengar dari kawan-kawannya adalah bahwa Daruwerdi telah membunuh

lawan-lawannya.

Karena itu, maka dengan ragu-ragu ia menjawab, “Tiga orang yang mati.”

“Kau sudah mengatakannya,“ orang itu membentak, “tetapi siapakah yang membunuh ?

Apakah semuanya dibunuh oleh anak itu ?”

“Ya,“ Kuncung tergagap. Namun ia nampak semakin ragu-ragu.

Kedua orang itu mulai menjadi panas. Mereka menduga bahwa salah seorang dari tiga orang

itu tentu dari perguruan Pusparuri. Tetapi anak yang dibawanya itu tidak dapat mengatakan,

siapakah yang telah membunuh mereka.

“Anak gila,“ bentak salah seorang dari mereka, “apakah kau tidak pernah mendengar Daruwerdi

berceritera, atau kau dengan sengaja dipesan agar kau tidak mengatakannya kepada siapapun

juga?”

Kuncung menjadi semakin gemetar. Orang-orang itu beringsut semakin dekat. Bahkan tiba-tiba

saja salah seorang dari mereka telah menerkam rambutnya sambil berteriak, “katakan Siapa yang

telah membunuh mereka.”

Darah Kuncung bagaikan berhenti mengalir. Wajah-wajah itu seolah-olah telah berubah

menjadi wajah hantu yang semakin mengerikan. Dalam kegelapan Kuncung membayangkan

wajah-wajah itu telah berubah menjadi buas. Giginya telah tumbuh menjadi taring-taring yang

tajam. Matanya menjadi merah seperti bara dan lidahnya menjadi bercabang seperti lidah ular.

Kengerian yang sangat telah mencengkam hati Kuncung. Ia teringat kepada ceritera hantu

yang sering menerkam dan menghisap darah. Dan kini rasa-rasanya ia sudah berhadapan dengan

hatu-hantu itu.

Dalam pada itu, dilereng bukit, disebelah peristiwa yang mengerikan bagi Kuncung itu, Kiai

Kanthi duduk berselimut bersandar sebatang pohon. Sementara Swasti tidur diatas sehelai ketepe

yang dianyamnya dari daun-daun ilalang yang kering. Udara malam yang terasa panas,

menyebabkan kedua orang itu tidak menyalakan perapian. Namun rasa-rasanya nyamuknya semakin lama menjadi semakin banyak, sehingga Kiai Kanthi berusaha untuk menutup seluruh

tubuhnya dengan kain panjangnya.

Namun dalam pada itu, Kiai Kanthi tiba-tiba saja telah beringsut sambil mengangkat wajahnya.

Lamat-lamat dari jauh sekali ia mendengar suara kentongan dalam irama yang aneh. Bahkan

kadang-kadang tidak berirama sama sekali.

“Apakah artinya,“ pertanyaan itu tumbuh didalam hatinya.

Mula-mula ia tidak menghiraukannya. Mungkin ada sesuatu yang tidak dimengertinya telah

terjadi. Tetapi, bukankah dipadukuhan itu ada Daruwerdi dan Jlitheng.

Namun suara kentongan yang bagaikan berbisik dikejauhan itu masih saja terdengar. Masih

dalam irama yang timpang dan aneh.

Tiba-tiba saja Kiai Kanthi menjadi gelisah. Tetapi ia tidak sampai hati membiarkan Swasti

seorang diri dalam keadaan tidur. Karena itulah maka iapun kemudian membangunkan gadis itu

dan berkata, “Hati-hatilah. Aku akan turun sejenak.”

“Ada apa ayah ?” Swasti masih mengantuk.

“Dengarlah baik-baik. Kau akan mendengarkan suara kentongan dalam irama yang aneh.”

Sejenak Swasti terdiam. Seperti kata ayahnya, ia mencoba mendengarkan suara disela-sela

desir angin didedaunan.

“Ya. Aku memang mendengar suara kentongan. Nampaknya dipukul begitu saja tanpa irama

tertentu. Dan bukankah tidak hanya satu atau dua kentongan?”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Suara yang kadang-kadang agak jelas, namun kadang-kadang

hilang itu memang sangat menarik perhatiannya.

“Swasti,“ berkata Kiai Kanthi, “aku akan melihat, apakah yang telah terjadi. Suara itu tentu

bukan suara gejog meskipun mereka yang baru belajar. Juga saatnya tidak tepat untuk bermain

gejog, karena bulan tidak sedang bulat.”

“Aku ikut ayah,“ tiba-tiba Swasti menyahut, “aku juga ingin melihat suara yang aneh itu.

Seperti suara kotekan orang-orang padukuhan mencari anak yang dicuri kuntilanak.”

“He,“ tiba-tiba saja Kiai Kanthi menengadahkan wajahnya. Lalu, “Mungkin Swasti. Memang

mungkin. Yang kita dengar dari jauh ini hanyalah suara kentongannya. Mungkin diantara suara

kentongan terdapat suara tampah, gembreng dan suara-suara yang lain.”

Swasti mengangguk-angguk. Gumamnya, “Menarik sekali. Marilah ayah. Aku ikut bersama

ayah.”

Tetapi Kiai Kanthi menjadi ragu-ragu. Katanya, “Bagaimana jika justru kau yang mereka sangka

wewe itu ?”

“Ah,” Swasti memberengut, “menurut ceritera, wewe itu cantik sekali. Dan aku sama sekali

tidak cantik.”

Ayahnya tersenyum. Namun iapun kemudian berkata, “Marilah. Bersiaplah menghadapi setiap

kemungkinan disepanjang jalan.”

Swastipun membenahi pakaiannya. Bukan pakaian seorang gadis sewajarnya. Iapun kemudian

menyelipkan senjatanya dilambung. Senjata yang selalu disembunyikannya diantara onggokanonggokan

pakaiannya yang sedikit. Dua buah pisau belati panjang dikedua lambungnya. Namun ia

masih juga membawa beberapa buah pisau belati kecil dikat pinggangnya.

Sejenak kemudian, kedua orang ayah dan anak itu menuruni tebing dengan hati-hati. Kecuali

malam gelapnya bukan main, merekapun secara naluriah merasakan suasana yang berbeda.

Tiba-tiba saja langkah Kiai Kanthi tertegun. Ia mendengar suara sesuatu agak dibawah.

Sehingga karena itu maka iapun menjadi semakin berhati-hati.

“Swasti,“ bisiknya, “kau mendengar suara lain ?”

“Suara orang membentak-bentak ayah,“ jawab Swasti, “tetapi tidak tepat dibawah kita

sekarang.”

“Ya. Itupun tidak kalah menariknya dengan suara kentongan itu.”

Sejenak keduanya berhenti termangu-mangu. Namun kemudian Kiai Kanthipun berkata, “Kita

berbelok sedikit. Swasti. Mungkin suara kentongan itu ada hubungannya dengan peristiwa

dibawah itu.”

Keduanyapun kemudian bergeser menempuh jalan yang lain. Dengan sangat hati-hati mereka

beringsut diantara pepohonan dan batu-batu padas. Tetapi suara-suara yang terdengar itu telah

menuntun mereka ke arah yang benar.

Semakin dekat mereka dengan suara itu, maka keduanyapun menjadi semakin berhati-hati.

Mereka beringsut setapak demi setapak, sehingga akhirnya mereka dapat mendengarkan seluruh

pembicaraan antara dua orang berwajah kasar itu dengan Kuncung yang ketakutan.

“Jika kau tidak berterus terang, aku akan membunuhmu seperti membunuh seekor anjing,“

geram salah seorang dari mereka.

“Aku tidak tahu,“ suara Kuncung hampir tidak terdengar, “aku hanya tahu tiga orang mati dan

orang-orang Lumban ikut menguburnya dengan baik-baik.”

Dada Kiai Kanthi menjadi berdebar-debar. Ia pernah mendengar, pembunuhan dilereng bukit

itu, yang dilakukan oleh Daruwerdi. Dan iapun pernah mendengar ceritera Jlitheng tentang dua

orang Kendali Putih yang datang kepadukuhan Lumban.

“Aku sudah menduga, bahwa persoalannya tidak akan terhenti sampai kematian dua orang

yang dibunuh Jlitheng itu,“ berkata Kiai Kanthi dengan berbisik ketelinga anak gadisnya.

Swasti mengangguk kecil. Namun iapun sadar, bahwa ia harus bersiap sepenuhnya

menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Meskipun agak sulit, namun keduanya berhasil mendekat lagi beberapa langkah. Mereka

menjadi semakin jelas setiap kata yang mengancam. Dan bahkan Kiai Kanthi mendengar, orangorang itu agaknya mulai memukul korbannya.

“Hem,“ desah Kiai Kanthi, “apakah yang mereka lakukan.”

Swasti nampaknya tidak sabar lagi. Ia merangkak semakin dekat. Justru karena kedua orang itu

sedang marah dan perhatiannya sepenuhnya telah terikat kepada anak muda Lumban itu, maka

mereka tidak segera mendengar kehadiran orang lain disekitar mereka.

“He, katakan. Apakah diantara mereka terdapat orang-orang Pusparuri atau orang Kendali Putih

atau orang lain lagi ?” suara orang itu menjadi semakin keras.

Yang terdengar kemudian adalah suara tangis. Agaknya Kuncung itu mulai menangis, “Aku

tidak tahu. Sungguh aku tidak tahu.”

“Aku bunuh kau.”

“Jangan, jangan,“ tangis Kuncung semakin keras.

“Anak gila,“ geram salah seorang dari mereka, “kita harus mencari orang lain yang lebih tahu

tentang hal ini. Mungkin kita akan langsung berhubungan dengan Daruwerdi. Tetapi mungkin kita

akan mencari keterangan untuk menjajagi keadaan.”

“Lalu, anak ini ?“ desis yang lain.

“Bunuh saja. Dan lemparkan mayatnya di tempat yang lebih tinggi, yang tentu tidak akan

diketahui orang. Bahkan mungkin akan menjadi mangsa harimau yang tentu masih ada dihutan

ini.”

Mendengar jawaban orang berwajah garang itu, tangis Kuncung menjadi semakin keras.

Hampir berteriak ia berkata disela-sela tangisnya, “Jangan, jangan.”

“Berteriaklah,“ berkata orang berwajah garang itu, “suaramu akan hanyut oleh angin dihutan

ini. Tidak seorangpun yang mendengar kecuali binatang buas yang sebentar lagi akan mengoyak

tubuhmu.”

“Jangan, jangan,“ Kuncung berlutut sambil berpegangan kain salah seorang dari kedua orang

yang garang itu. Namun sebuah hentakan kaki telah melemparkan anak yang malang itu.

Adalah diluar kehendaknya bahwa kepala Kuncung telah terantuk batu padas, sehingga

suaranyapun tiba-tiba terputus.

“Kenapa anak itu ?” salah seorang dari keduanya bertanya.

Yang seorang mendekatinya sambil meraba tubuh Kuncung. Katanya, “Anak itu masih hidup. Ia

pingsan.”

“Kau tinggal mencekiknya. Kemudian melemparkannya ketempat yang lebih dalam lagi agar

tidak seorangpun yang menjupainya lagi.”

“Tetapi bahwa anak itu hilang tentu akan menarik perhatian orang-orang Lumban.”

“Mereka tidak akan mengetahui siapakah yang telah membawanya.”

“Mungkin. Tetapi Daruwerdi sendiri tentu akan sampai pada perhitungan yang demikian.”

“Aku tidak peduli. Bahkan jika perlu, Daruwerdi akan mati juga disini.”

Kawannya terdiam. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.

“Cepatlah. Kita masih mempunyai banyak persoalan.”

Kawannyapun kemudian melangkah selangkah maju. Dipandanginya tubuh Kuncung yang

terbaring dalam kegelapan. Namun kemudian tanpa ragu-ragu orang itupun berjongkok sambil

mengulurkan tangannya untuk mencekik leher Kuncung yang sedang pingsan.

Namun keduanya terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar seseorang mendehem.

Hampir terlonjak keduanya melompat surut.

“Selamat datang dipadepokanku anak-anak,“ terdengar seseorang berkata dari balik gerumbul.

Kedua orang itu benar-benar terkejut. Apalagi ketika kemudian mereka melihat bayangan dua

orang yang menyibak gerumbul dan mendekati tempat mereka berdiri termangu-mangu.

“Siapa kau he ?” salah seorang dari kedua orang itu bertanya.

Kiai Kanthi yang mengintip apa yang telah terjadi, tidak dapat membiarkan pembunuhan itu

terjadi. Karena itu maka iapun telah keluar dari persembunyiannya untuk mencegah pembunuhan

itu.

“Siapa kau he ? Siapa ?” orang itu membentak semakin keras.

“Kenapa kau berdua berani memasuki padepokanku dan menginjak-injak taman bunga yang

aku pelihara rapi he?“ berkata Kiai Kanthi.

“Gila. Apakah kau orang gila ?”

“Aku adalah pemilik padepokan yang asri ini. Kau jangan merusakkan kebun bungaku. Dan

kehadiranmu telah mengejutkan para cantrik, jejanggan dan para putut yang masih muda-muda.”

“He, orang gila. Kenapa kau datang kemari.”

“Aku bukan orang gila. Aku adalah pemilik petamanan dan padepokan ini. Aku datang

keduniamu untuk memperingatkanmu agar kau tidak melanjutkan tingkahmu yang merusakkan

padepokanmu.”

“Bunuh saja sama sekali,“ geram yang seorang dari kedua orang berwajah kasar itu.

“Aku bukan mahluk dari duniamu sehingga kau tidak akan dapat membunuhku. Aku datang

dengan anak gadisku kedunia manusia untuk mempertahankan milikku. Mungkin dari dunia

manusia kau melihat daerah ini berupa hutan belukar. Tetapi sebenarnya ini adalah padepokan

yang sangat asri.”

Kedua orang itu tidak sabar lagi mendengar kata-kata Kiai Kanthi. Bahkan Swastipun tidak

sabar pula, Katanya, “Ayah terlalu berbelit-belit. Tangkap saja mereka dan barangkali ayah dapat

membawanya ke Lumban Wetan atau Lumban Kulon bersama anak yang pingsan itu.”

Yang terdengar kemudian adalah kedua orang itu menggeram. Salah seorang dari mereka

berkata dengan suara bergetar oleh kemarahan, “Jangan banyak tingkah orang-orang gila. Kami

terpaksa membunuh kalian pula seperti kami membunuh anak yang malang ini.“

“Apa salahnya kau akan membunuh anak itu,“ potong Swasti dengan lantang, “kau sama sekali

tidak berperikemanusiaan. He, apakah kalian orang-orang Kendali Putih?”

Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Hampir berbareng mereka bertanya, “Kau kenal

orang-orang Kendali Putih?”

“Aku tahu bahwa kau sedang memaksa anak itu menceriterakan apa yang tidak diketahuinya.

He, bukankah kau sedang bertanya tentang orang-orang yang mati dilereng bukit ini?”

“Ya. Apakah kau mengetahuinya ? Anak ini menyebut tiga sosok mayat. Siapakah mereka ? Dan

apakah ketiga-tiganya telah dibunuh oleh anak muda yang disebutnya bernama Daruwerdi ?”

“Meskipun kau bunuh sekalipun anak itu tidak akan dapat mengatakannya, karena yang

diketahuinya memang sangat terbatas.”

“Apakah kau dapat mengatakannya ?“ bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

“Siapa kalian?“ tiba-tiba Swasti bertanya.

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Gadis itu sama sekali tidak gentar menghadapi

mereka. Kata-katanya lantang dan sikapnya meyakinkan. Karena itulah maka keduanyapun

menjadi berhati-hati karenanya.

“Siapa kalian ?” suara Swasti semakin keras.

“Kami adalah orang-orang Pusparuri,“ jawab salah seorang dari mereka, “karena itu. jangan

mencoba mengelabui kami.”

Swasti terdiam sejenak. Ketika ia berpaling ke ayahnya, maka dilihatnya ayahnya bergeser

selangkah maju. Dengan ragu-ragu Kiai Kanthi bertanya, “Apakah benar kalian orang-orang

Pusparuri ?”

“Ya,“ geram salah seorang dari mereka, “karena itu jangan bermain-main dengan kami.

Katakan saja apa yang kalian ketahui tentang kawanku yang terdahulu, yang sampai sekarang

tidak pernah kembali.”

“Apakah kau tidak tahu apa yang dilakukan oleh kawanmu itu ?”

“Kami tahu pasti. Kawanku itu telah pergi ke padukuhan ini untuk suatu tugas.”

Tiba-tiba saja Swasti menyahut mendahului ayahnya, “Tentu kau tidak akan membawa anak

yang pingsan itu kemari jika kau tahu pasti apa yang terjadi.”

“Aku hanya tahu bahwa seorang kawanku datang kemari.”

“Kau tahu tugas apa yang dilakukan disini ?”

Kedua orang yang mengaku dari Pusparuri itu termangu-mangu. Namun salah seorang

membentak, “Itu bukan persoalanmu. Jawab pertanyaanku, apa yang kau ketahui tentang orang

Pusparuri yang datang kemari.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia mendengar peristiwa antara orang-orang

Kendali Putih, orang Pusparuri dan Daruwerdi, ia mengharap bahwa orang-orang Pusparuri itu

memiliki sifat yang berbeda dengan orang-orang Kendali Putih. Ternyata diantara kedua

perguruan itu nampaknya tidak banyak berbeda. Karena itulah, maka Kiai Kanthi justru mulai menilai Daruwerdi, yang telah berhubung an dan bahkan ada tanda-tanda kerja sama dengan

orang-orang Pusparuri.

“Jawab pertanyaan kami,“ tiba-tiba orang Pusparuri itu membentak.

Swasti menggeram sambil bergumam, “Jangan membentak, seperti terhadap anak yang

pingsan itu, supaya mulutmu tidak aku sumbat.”

Kata-kata itu benar-benar mengejutkan. Keduanya tidak mengira bahwa tiba-tiba saja gadis itu

menantangnya.

“Kau memang orang-orang gila yang tidak mengetahui siapa kami. Baiklah. Bersiaplah untuk

mati Apapun yang akan kalian lakukan, kalian akan mati sepertianak. muda itupun akan mati.

Tetapi jika kalian mau menceritakan apa yang terjadi, maka jalan kematianmu akan sempurna.

Terutama bagi perempuan itu. Kematiannya tidak akan dialaminya dalam kengerian justru karena

ia perempuan.”

“Kemarahan Swasti telah melonjak jika ayahnya tidak menggamitnya. Bisiknya, “Hati-hatilah

Swasti. Jangan terbiasa menuruti perasaan.”

Tetapi Swasti berteriak, “Mereka bukan manusia wajar lagi ayah.”

“Ketahuilah,“ berkata Kiai Kanthi tanpa menghiraukan kata-kata anaknya, “Kawanmu dari

Pusparuri itu memang datang. Tetapi agaknya orang-orang Pusparuri, seperti kalian, tidak tahu

apa yang dilakukannya disini. Persoalannya mungkin terbatas antara Daruwerdi dan pimpinan

tertinggi Pusparuri serta orang yang berciri sandi ular sanca bertanduk genap.”

“Jangan mengingau. Dimana ia kawanku itu he ?”

Kiai Kanthi termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menceriterakan apa yang

diketahuinya dari Jlitheng tentang orang Pusparuri dan orang-orang Kendali Putih.

“Gila,“ orang-orang Pusparuri itu menggeram, “jadi orang-orang Kendali Putih itu telah

membunuh kawanku yang datang untuk menjumpai Daruwerdi ?”

“Ya. Sekarang kembalilah kepada kawan-kawanmu. Katakan apa yang sudah terjadi disini.

Mungkin kau mempunyai adat tersendiri untuk menyelesaikan persoalanmu.”

Sejenak kedua orang itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari mereka

berkata, “Kami akan kembali untuk menghancurkan orang-orang Kendali Putih. Tetapi kami tidak

akan dapat membiarkan kalian tetap hidup.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Sejenak ia justru termangu-mangu, sementara orangorang

Pusparuri itu benar-benar telah dibakar oleh kemarahan. Salah seorang dari mereka

menggeram, “Tidak ada seorangpun yang akan tetap tinggal hidup agar semua rencanaku tidak

kandas dijalan. Kami masih akan menjumpai Daruwerdi untuk mencari kebenaran ceriteramu.

Tetapi jika justru Daruwerdilah yang telah membunuhnya, maka iapun akan dimusnakan.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalian orang-orang aneh. Kami sudah

mengatakan apa yang kami ketahui. Seharusnya kalian berterima kasih kepada kami. Bukan justru

sebaliknya. Bahkan jika kalian juga berbaik hati kalian tentu akan menceriterakan serba sedikit

tentang Perguruan Pusparuri meskipun dalam hubungannya dengan Daruwerdi itu kau tidak

mengerti.”

“Cukup,“ bentak salah seorang dari mereka, “sudah aku katakan, tidak seorangpun yang akan

tetap hidup. Kalian berdua akan mati. Dan anak itupun akan mati.”

Ternyata Swastilah yang tidak sabar lagi. Dengan lantang ia berkata, “Sudahlah ayah. Jangan

merajuk seperti kanak-kanak. Kalau mereka akan membunuh kita, kenapa bukan kita sajalah yang membunuh mereka lebih dahulu.”

“Gila,“ salah seorang dari kedua orang Pusparuri itu hampir berteriak, “kalian memang orang orang gila.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Terserah kepadamu Swasti.

Apakah memang sudah menjadi keharusan, bahwa demikian kita menginjak tlatah ini, kita

dihadapkan pada keadaan yang sama sekali tidak kita inginkan.”

“Sudahlah ayah,“ potong Swasti, “ayah masih saja merajuk. Biarlah aku mencoba

mempertahankan diri. Jika terpaksa aku akan membunuh mereka berdua.”

Kedua orang Pusparuri itu benar-benar telah dibakar oleh kemarahan. Karena itu, tanpa

menjawab, tiba-tiba saja salah seorang dari mereka telah meloncat menyerang Swasti. Tangannya langsung mengarah kedadanya dengan sepenuh tenaga. Jika tangan itu menyentuh sasaran, maka dada Swasti tentu akan sekaligus retak karenanya.

Swasti sadar, bahwa orang-orang Pusparuri yang marah itu tentu akan menghantamnya sampai

mati pada pukulan pertama. Itulah sebabnya, maka iapun sudah bersiaga, sepenuhnya.

Dengan demikian maka ketika tangan orang Pusparuri itu terjulur kedadanya, Swasti sudah siap

untuk meloncat menghindarinya.

Orang-orang Pusparuri memang sudah mengira bahwa kedua orang itu tentu memiliki bekal

kemampuan. Namun bahwa yang dilakukannya itu adalah tiba-tiba dan dibiar dugaan, tetapi

masih dapat juga dihindari oleh gadis itu, tiba-tiba saja telah terbersit pertanyaan, “Apakah

keduanya benar-benar mahluk dari dunia lain yang telah memasuki dunia manusia.”

Dalam pada itu, ternyata Swasti tidak hanya sekedar menghindar. Meskipun malam gelap,

apalagi didalam rimbunnya dedaunan sehingga mata bagaikan menjadi buta, namun ketajaman

mata Swasti masih dapat menembus kelam, sehingga ia dapat melihat bayangan kedua orang

Pusparuri. Dengan demikian, maka ketika lawannya gagal menyerangnya, justru Swastilah yang

kemudian meloncat menyerang dengan cepat dan keras pula.

Yang dilakukan Swasti itu telah membuat lawannya semakin heran. Lawannya yang terkejut

karena serangannya, tiba-tiba saja telah menjatuhkan diri untuk menghindari sambaran serangan

Swasti.

Orang Pusparuri yang lainpun tidak tinggal menontonnya saja. Meskipun ia juga dijalari oleh

keragu-raguan, apakah yang dihadapinya itu mahluk sejenisnya, atau justru dari dunia yang lain.

Sebelum kawannya yang berguling ditanah itu meloncat bangkit, maka kawannya telah

mendahului menyerang Swasti pula.

Dengan demikian, maka dalam kegelapan itu telah terjadi pertempuran yang dahsyat. Seorang

gadis seorang diri bertempur melawan dua orang laki-laki yang garang.

Untuk sejenak Kiai Kanthi masih berdiri diluar arena. Yang dilalukan kemudian adalah

mengangkat Kuncung yang masih pingsan dan membawanya agak menjauh. Bahkan ketika kemudian Kuncung muliai menggeliat. Kiai Kanthi telah menyentuh pusat syarafnya, sehingga

sekali lagi Kuncung seolah-olah jatuh tertidur.

“Tidur sajalah anak muda,“ desis Kiai Kanthi, “agar kau tidak malah menjadi hambatan kami

melawan orang-orang garang itu.”

Dalam pada itu. Kiai Kanthipun kemudian menekuni anak gadisnya yang sedang bertempur.

Bahkan kemudian timbul niatnya untuk melihat, apakah Swasti benar-benar dapat menempatkan

diri diantara anak-anak muda yang mengagumkan di Lumban Kulon dan Lumban Wetan.

Daruwerdi telah berhasil membunuh dua orang Kendali Putih. Demikian juga Jlitheng.

“Apakah anak gadisku juga mampu mempertahankan dirinya melawan keduanya meskipun

mungkin tataran kemampuan orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri tidak sama,“

desis Kiai Kanthi didalam hatinya.

Dalam pada itu, pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Kedua orang

Pusparuri itu telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengalalikan lawannya yang

tidak lebih dari seorang gadis. Namun ternyata bahwa Swasti benar-benar tangkas, lincah dan

bahkan memiliki kekuatan yang mengagumkan. Jauh melampaui kekuatan kebanyakan gadis.

Kedua orang lawannyapun kemudian mengambil kesimpulan bahwa gadis itu memang orang

aneh. Mungkin ia memang sejenis mahluk dari dunia lain. Tetapi mungkin juga manusia biasa

yang pernah mengalami tempaan yang lama dan bersungguh-sungguh. Namun siapapuin

perempuan itu. ia harus dibinasakan.

Kedua orang Pusparuri itu tidak mau bekerja terlalu lama. Karena ku, ketika mereka menyadari

bahwa lawannya adalah seorang yang tidak sewajarnya, maka merekapun tiba-tiba saja telah

menggenggam senjata ditangaenya. Yang seorang menggenggam sebilah golok yang besar dan

berat, sementara yang lain memegang pedang yang tajamnya rangkap timbal balik.

Kiai Kanthi menjadi berdebar-debar melihat senjata-senjata itu. Anak gadisnya tidak membawa

senjata yang memadai. Gadis itu hanya membawa pisau belati panjang yang jauh lebih kecil dari

senjata-senjata yang garang itu.

Namun Swasti benar-benar lincah. Dengan mantap iapun kemudian menggenggam kedua pisau

belatinya dikedua tangannya.

Dalam malam yang gelap itu, mereka telah terlibat dalam pertempuran senjata yang dahsyat.

Sebuah golok yang besar terayun-ayun dengan derasnya, sementara pedang bertajam rangkap

berputaran seperti baling-baling.

Tetapi gelap malam itu justru memberikan kesempatan lebih banyak pada Swasti untuk

mempergunakan batang-batang pepohonan sebagai perisainya. Sekali ia melenting menyerang

dengan cepatnya, namun ketika kedua lawannya menyerang bersama-sama, Swasti meloncat

diantara batang-batang pohon yang besar.

Kedua lawannya yang garang itu menjadi semakin marah. Seperti seekor harimau yang

diganggu oleh seekor kelinci kecil diantara keempat kakinya.

Namun ternyata bahwa kedua orang itu akhirnya dapat mengurung dan membatasi gerak

Swasti. Senjata mereka yang panjang dan tata gerak mereka yang garang dan kasar, berhasil

mendesak Swasti sehingga Swasti lebih banyak menghindar sambil berloncatan diantara

pepohonan.

Meskipun demikian, serangan Swasti yang tiba-tiba masih tetap merupakan bahaya bagi kedua

orang Pusparuri itu. Bahkan kadang-kadang keduanya seolah-olah telah kehilangan lawannya yang dengan tiba-tiba saja telah menyerang kearah lambung dengan pisau-pisau belatinya.

Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin cepat. Swasti tidak mempunyai cara lain

untuk mengatasi kedua lawannya selain dengan kecepatannya berloncatan diantara batang-batang pohon dan gerumbul-gerumbul

Tetapi lawannya yang marah tidak ingin melepaskannya. Keduanya ternyata mampu bekerja

bersama sebaik-baiknya. Disaat-saat Swasti meloncat menghindari serangan pedang bermata

rangkap, tiba-tiba saja golok yang besar itu telah terayun menebas lehernya.

Swasti tidak menangkis dengan membenturkan senjatanya yang kecil. Ayunan tenaga lawannya

yang kuat atas senjatanya yang berat, akan merupakan kekuatan yang besar. Meskipun dengan

mengerahkan kekuatannya, Swasti dapat membentur senjata lawannya, tetapi dengan demikian ia akan terlalu banyak memeras tenaganya, sehingga ia akan cepat menjadi lelah.

Yang dilakukan oleh Swasti adalah memukul senjata lawannya menyamping, namun dengan

pisaunya yang lain. ia berusaha menyerang dada lawannya yang terbuka.

Namun lawannyapun cepat menghindar, sementara yang seorang lainnya telah menyerangnya

pula.

Kiai Kanthi yang menyaksikan pertempuran itu. akhirnya melihat bahwa keadaan Swasti tidak

menguntungkan. Dengan hati-hati ia melangkah mendekati arena. Namun tiba-tiba saja Swasti

berteriak, “Jangan ganggu aku ayah.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu kekerasan hati anaknya. Namun sudah barang

tentu dalam keadaan yang gawat ia tidak akan membiarkan anaknya menjadi korban perasaannya itu.

Dalam pada itu, Swasti masih bertempur dengan sengitnya. Sementara Kiai Kanthi mencoba

menilai kedua lawannya.

“Apakah orang-orang Kendali Putih itu juga memiliki kemampuan yang sama dengan orangorang

Pusparuri ?“ ia bertanya didalam hatinya.

Namun dalam pada itu, debar jantung Kiai Kanthi menjadi semakin cepat. Swasti benar-benar

mengalami kesulitan. Ayunan senjata kedua lawannya yang besar dan berat itu memang

menyulitkan Swasti yang bersenjata sepasang pisau belati.

Akhirnya Swasti tidak dapat mengingkari kenyataan itu. ia lebih banyak terdesak dan kadangkadang

tangannya mulai bergetar jika ia terpaksa membenturkan pisau belatinya menangkis

ayunan senjata lawannya yang berat dan panjang.

Kiai Kanthi masih termangu-mangu. Jika ia memaksa kearena, anaknya tentu akan marah

kepadanya dan seperti biasanya jika ia marah, maka sehari penuh ia tidak akan mengucapkan

sepatah katapun.

Namun selagi Kiai Kanthi terrrtangn-mangu. tiba-tiba saja wajahnya menegang. Bahkan ia

bergeser setapak maju. Ia melihat Swasti berdiri dalam keadaan yang sulit. Lawannya berada

didua sisi yang berbeda, sementara keduanya sudah siap untuk menyerang.

“Ia akan terpancing pada satu keadaan yang sulit. Keduanya akan bekerja bersama menjebak

perhatian Swasti pada satu sisi,“ berkata Kiai Kanthi kepada diri sendiri.

Karena itulah, maka iapun segera mempersiapkan diri pula jika keadaan memaksa. Ia lebih

senang melihat Swasti diam sehari penuh atau bahkan dua atau tiga hari daripada Swasti dibantai oleh kedua orang lawannya.

Seperti yang diperhitungkan oleh Kiai Kanthi. maka keduanya mulai bergerak. Tetapi seorang

diantara mereka mencoba melingkar dengan putaran senjatanya yang bertajam dikedua sisinya.

Demikian keras putaran itu, sehingga seolah-olah menimbulkan angin yang berdesing

mengguncang dedaunan.

Perhatian Swasti memang lebih banyak tertuju kepada pedang yang berputar itu. Namun

sementara itu. lawannya yang bergolok besar, bergeser mnedekat, seperti seekor harimau yang

perlahan-lahan merunduk lawannya.

Namun tiba-tiba terjadi sesuatu diluar perhitungan kedua orang itu. Meskipun perhatian Swasti

lebih banyak tertuju kepada desing pedang bertajam rangkap, tetapi ternyata iapun mempunyai

perhitungan lain.

Sejenak kemudian, seperti yang diperhitungkan, maka orang berpedang itupun meloncat

menyerang, langsung menebas kekening. Dengan tangkasnya Swasti merendah sambil bergeser.

Pada saat itulah lawannya yang lain meloncat menusuk dengan goloknya yang besar.

Yang tidak diperhitungkan oleh orang bergolok itu adalah, bahwa Swasti tidak berguling atau

meloncat jauh-jauh untuk menghindar, sementara seorang yang lain siap untuk memburunya.

Bahkan Kiai Kanthipun tergetar hatinya melihat sikap anaknya. Bukan karena Swasti tidak lagi

sempat berbuat sesuatu. Tetapi yang dilakukan adalah justru sangat mengejutkan.

Ketika orang bergolok itu meloncat dengan senjatanya terjulur lurus, tanpa disangka-sangka

Swasti justru telah melemparkan pisau belatinya. Demikian keras dan dengan bidikan yang tepat,

maka yang terdengar kemudian adalah keluhan panjang. Ujung golok itul tidak sampai menyentuh lawannya, karena pisau belati yang menghunjam kepusat jantung.

Yang terjadi itu benar-benar telah menggoncangkan hati orang berpedang yang menjadi

tegang. Ia melihat kawannya terhuyung-huyung, kemudian jatuh menelungkup, hanya beberapa

jengkal didepan Swasti. Meskipun goloknya masih tetap ditangan, namun tidak ada kekuatan lagi

untuk menekankan goloknya itu ketubuh gadis yang masih berdiri merendah.

Baru sekejap kemudian kawannya menyadari apa yang telah terjadi. Karena itu, maka

terdengar ia menggeretakkan giginya. Diantara gemeretak giginya ia menggeram, “Anak gila,

kuntilanak, setan, tetekan. Kau harus mati dan mayatmu akan dicincang sampai lumat.”

Swasti meloncat selangkah menjauh. Ia kemudian harus bersiap menghadapi lawannya yang

seorang lagi. Namun ia merasa bahwa tugasnya akan menjadi lebih ringan, meskipun senjatanya

tidak lagi genap sepasang.

Sementara itu, Kiai Kanthi maju selangkah mendekati arena sambil berkata, “Ki Sanak dari

dunia wadag. Sudah aku katakan, bahwa kami adalah penghuni hutan ini yang tidak akan dapat

kau kalahkan. Karena itu, mumpung kau masih belum cidera oleh kuntilanak itu, pergilah.

Tinggalkan tempat ini.“

“Gila. Kalian bukan orang halus yang turun kedua wadag. Tetapi kalian adalah orang-orang gila

yang berkesempatan untuk menyadap ilmu yang tinggi. Jika kalian tidak aku binasakan, maka

kalian akan merupakan bahaya yang paling besar bagi sesamamu.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Tetapi Swasti sudah mendahuluinya, “Biarkan apa saja

yang akan dilakukan ayah. Aku akan membunuhnya juga seperti kawannya agar ia tidak akan

dapat berbicara tentang kita kepada siapapun juga.”

“Ah,“ desah Kiai Kanthi, “kita dapat berbuat lain.“

Tetapi Swasti tidak menjawab, karena orang berpedang itu sudah meloncat menyerangnya

dengan dahsyatnya.

Ayunan pedangnya yang mengerikan itu, bagaikan badai yang melanda hutan itu, meskipun

hanya selingkar kecil. Namun dedaunan dan dahan-dahan berpatahan dan runtuh ditanah.

Gerumbul-gerumbul bagaikan ditebas, sementara pokok-pokok pepohonan telah terkelupas

kulitnya.

Namun Swasti mampu mengimbangi kecepatan bergerak lawannya. Setelah seorang dari

mereka terbunuh, maka Swasti mempunyai kesempatan lebih banyak. Bahkan ia dapat bertempur berhadapan, meskipun ia hanya membawa sebilah belati panjang.

Kiai Kanthi hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Anak gadisnya memang seorang yang

keras hati. Jika ia sudah bersikap maka sulitlah baginya untuk mengendorkannya.

Karena itu, dengan berdebar-debar Kiai Kanthi menyaksikan apa yang telah terjadi. Ja hanya

dapat menunggu akhir dari perkelahian itu, meskipun ia tidak meninggalkan kewaspadaan, karena bagaimanapun juga ia tidak akan dengan rela kehilangan anak gadisnya.

Dalam pada itu. pertempuran itupun masih berlangsung dengan sengitnya. Namun Swasti telah

berhasil mendesak lawannya, sehingga lawannya yang bersenjata pedang itulah yang kemudian

lebih banyak berlindung diantara pepohonan.

Namun Swasti memang mampu bergerak dengan cepat dan tangkas. Pisau belati panjangnya

yang tinggal sebilah itu berputaran dan mematuk-matuk. Rasa-rasanya pisau itu telah menjadi

rangkap sepasang seperti sebelumnya. Bahkan pisau itu bagaikan bertambah semakin banyak.

Seolah-olah menjadi dua pasang, tiga pasang, dan kemudian seolah-olah berada diseputar

tubuhnya.

Sentuhan-sentuhan pertama dari ujung belati, membuat orang itu menjadi semakin garang dan

kasar. Pedangnyapun berputaran, menebas mendatar, namun kadang-kadang menusuk dengan

dahsyatnya. Namun ternyata bahwa Swasti mampu bergerak lebih cepat dari lawannya.

Terasa pada beberapa bagian tubuhnya, perasaan pedih telah menyengat-nyengat. Darah mulai

menitik dari luka-lukanya, meskipun luka-luka itu tidak segera membunuhnya.

Namun kematian itu memang sudah membayang. Ia sama sekali tidak dapat menghindarkan

diri dari tusukan pisau belati panjang Swasti dipunggung, pundak dan kemudian lambung.

Betapa pedihnya luka-luka ditubuh itu. Tetapi lebih pedih lagi luka diliatinya. Ia datang dengan

seorang kawannya untuk mencari orang yang terdahulu datang dipadukuhan ini. tetapi tidak

kembali. Bahkan kini, ia sendiri telah terjebak dalam kesulitan dan bahkan kedalam belitan maut.

“Apakah orang-orang ini pula yang telah membunuh orang-orang Pusparuri dan Kendali Putih

?” pertanyaan itu tumbuh dihatinya.

Tetapi ia tidak dapat mempersoalkan terlalu lama, karena ujung pisau belati gadis itu telah

menggores lengannya.

Kemarahan orang berpedang itu bagaikan telah membakar otaknya, sehingga ia tidak sempat

lagi berpikir. Oleh perasaan pedih dikulitnya dan pedih diliatinya, maka iapun mengamuk seperti

seekor harimau yang sedang wuru. Pedangnya diayun-ayunkannya sambil berteriak sekeraskerasnya.

Meloncat-loncat dan menyerang sejadi-jadinya tanpa menghiraukan apa yang telah dan

akan terjadi atasnya.

Bagaimanapun juga tabahnya hati Swasti, namun melihat lawannya menjadi gila, hatinya

tergetar pula. Tiba-tiba saja ia merasa berhadapan dengan seseorang yang buas dan liar.

Justru karena itulah, maka Swastipun kemudian justru terdesak. Bukan karena lawannya

berhasil mengerahkan tenaga cadangan yang dapat mendorong kecepatan geraknya, tetapi

semata-mata karena Swasti menjadi ngeri, melihatnya.

Kiat Kanthipun menjadi semakin berdebar-debar. Lawan Swasti telah menjadi putus asa,

sehingga karena itu, maka yajig dilakukannya tidak lebih dari bunuh diri. Tetapi keliarannya itu

ternyata telah membuat Swasti menjadi ngeri.

Namun dengan demikian, maka Swastipun telah kehilangan pengendalian diri. Jika semula ia

masih memikirkan kemungkinan untuk menghidupi lawannya dan memikirkan penyelesaiannya

kemudian, maka pikiran itu telah lenyap bersama kengerian yang mencengkamnya.

Pada saat-saat yang gawat karena keliaran orang Pusparuri itulah, Swasti telah mengambil

sikap seperti yang pernah dilakukannya. Ketika lawannya meloncat sambil memutar pedangnya

dengan gila, gadis itu berdiri tegak menunggunya. Kemudian, sebuah loncatan yang deras telah

melemparkan pisau belatinya tepat mematuk dada.

Terdengar orang itu berteriak penuh kemarahan. Namun kemudian suaranya menghilang

diantara desir lembut angin pegunungan.

“Ayah,“ desis Swasti sambil memalingkan wajahnya.

Ayahnya mendekatinya. Ketika ia menyentuh anak gadisnya, maka tiba-tiba saja Swasti telah

memeluknya. Terasa didada ayahnya, nafas Swasti memburu seperti detak jantungnya.

Jilid 04

 

SAMBIL menepuk punggung anaknya Kiai Kanthi. berkata, “Sudahlah Swasti. Beristirahatlah. Kau sudah menyelesaikan tugasmu dengan baik, meskipun bukan yang terbaik, karena kedua lawanmu telah kau bunuh.”

 

Swasti tidak menjawab. Ketika ayahnya kemudian memegang pundaknya dan mendorongnya duduk dibawah sebatang pohon besar, Swasti seolah-olah tidak mempunyai sikap lagi menghadapi kenyataan itu.

 

“Beristirahatlah Swasti. Kau tentu lelah.”

 

Swasti mengangguk. Sementara ia melihat ayahnya telah memungut pisau belatinya dari tubuh tawannya, dan menusukkan ketanah beberapa kali, sehingga darah yang melekat telah menjadi bersih karenanya.

 

“Inilah senjatamu. Nanti, kau dapat mencucinya di parit dibawah telaga itu,“ desis ayahnya.

 

Swasti hanya mengangguk saja. Namun ia masih gemetat seperti juga nafasnya masih saling memburu dilubang hidungnya.

 

“Kau dapat mengatur pernafasanmu. Kau harus menjadi tenang dan mengerti seluruhnya atas peristiwa yang baru saja kau alami,“ berkata ayahnya.

 

Swasti mengangguk. Dicobanya untuk menguasai pernafasannya dan mengaturnya perlahan-lahan.

 

Akhirnya Swasti berhasil menenangkan dirinya. Nafasnya mulai teratur dan detak jantungnya pun mulai menurun.

 

Namun dalam pada itu. selagi ia duduk tenang dan menguasai diri sepenuhnya, perasaannya telah terganggu oleh suara dikejauhan. Lamat-lamat Swasti mulai mendengar lagi suara kentongan dalam irama yang tidak teratur.

 

“Suara kentongan itu ayah,“ desis Swasti.

 

Ayahnya mengerutkan keningnya. Katanya, “Agaknya anak yang dicari itu masih belum diketemukan. Dan mereka akan tetap mencari meskipun sampai tiga hari tiga malam. Baru setelah tiga hari tiga malam mereka tidak menemukannya, maka mereka akan menganggap anak itu benar hilang. Dan merekapun akan melakukan upacara seolah-olah anak itu sudah meninggal.”

 

“Ayah,“ tiba-tiba saja Swasti bangkit, “apakah mereka mencari anak itu?”

 

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Dipandanginya anak muda yang terbaring. Tetapi ia tidak pingsan lagi. ia tertidur karena sentuhan tangan Kiai Kanthi sebelum ia mengerti apakah yang telah terjadi atasnya.

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin. Mungkin anak itulah yang dicarinya.”

 

“Jadi, apakah kita akan mengatakannya kepada mereka, bahwa kita telah menemukannya disini?”

 

Kiai Kanthi menjadi ragu-ragu. Kemudian katanya, “Jika demikian, maka akan timbul banyak pertanyaan tentang anak itu. Jika anak itu sadar, ia akan mengatakan, bahwa ia telah dibawa oleh dua orang Pusparuri. Dan orang-orang padukuhan itupun akan mengusut pula, dimana kedua orang Pusparuri itu. Terutama Daruwerdi. Agaknya ia memang mempunyai hubungan dengan pimpinan perguruan Pusparuri meskipun tidak diketahui sepenuhnya oleh orang-orang Pusparuri sendiri.”

 

“Jadi apakah yang sebaiknya kita lakukan dengan anak muda itu, ayah?“ bertanya Swasti.

 

Tiba-tiba wajah Kiai Kanthi menjadi cerah. Sambil tersenyum ia berkata, “Marilah kita bermain-main dengan orang-orang padukuhan Lumban. Kita akan menghilangkan jejak yang dapat menumbuhkan kecurigaan orang-orang padukuhan. Kita akan membawa anak muda itu dan menyerahkan kembali kepada orang-orang Lumban tanpa menampakkan diri.”

 

“Maksud ayah?”

 

“Kita bawa anak muda itu dan kita letakkan di bawah pohon randu alas di ujung padukuhan sebelah Utara, dibatas hutan perdu. Kita akan dengan mudah bersembunyi agar tidak dilihat oleh orang-orang Lumban yang sedang mencari anak itu.”

 

“Bagaimana jika mereka tidak mencarinya kerandu alas itu ?”

 

“Aku akan membawa titikan dan membuat api. Dengan sepercik belerang, maka api emput itu akan menyala seperti jika kita menyalakan perapian. Api belerang yang kebiru-biruan itu akan mengundang perhatian mereka.”

 

“Apakah mereka akan melihat api belerang yang kecil itu?”

 

“Mudah-mudahan. Aku mengira, bahwa mereka masih akan berputar-putar diseluruh padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon serta sekitarnya. Pada suatu saat tentu ada sekelompok dari mereka yang akan lewat didekat randu alas itu meskipun sudah empat lima kali mereka lewati.”

 

Swasti mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah kita coba ayah. Tetapi bagaimana membawa anak muda itu ?”

 

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Nampaknya iapun mulai memikirkan bagaimana membawa anak yang tertidur itu. Tentu tidak mungkin untuk menyadarkannya, kemudian mengajaknya turun. Dengan demikian, ia tentu akan bercerita tentang hutan yang dihuni oleh dua orang ayah dan anak gila.

 

“Swasti,“ berkata ayahnya, “meskipun aku sudah menjadi semakin tua, tetapi agaknya aku masih kuat mengangkatnya turun sampai keujung padukuhan itu.”

 

Swasti termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Aku tentu juga dapat membantu ayah. Agaknya aku-pun kuat mengangkatnya diatas bahu.”

 

“Tetapi itu tidak pantas. Ia seorang anak muda.”

 

“Ah,” Swasti berdesah.

 

Sejenak kemudian. Kiai Kanthipun mencoba mengangkat anak muda itu di atas pundaknya. Kemudian membawanya melangkah beberapa langkah.

 

“Tidak terlalu berat Swasti. Agaknya aku akan dapat membawanya turun tanpa kesulitan.”

 

Swasti memandang ayahnya sejenak. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.

 

Keduanyapun kemudian menuruni tebing pegunungan yang sudah tidak begitu tinggi meskipun kadang-kadang curam, tetapi kadang-kadang bagaikan sudah disediakan tangga-tangga batu padas. Tetapi keduanya dapat memilih jalan yang tidak terlalu sulit untuk mencapai dataran dibawah.

 

Ternyata bahwa Kiai Kanthi yang tua itu masih cukup kuat dan tangkas. Bagaimanapun juga ia aaalah seorang yang mumpuni. Seorang yang memiliki kekuatan meiampaui kekuatan orang kebanyakana Dan iapun mempunyai aaya tahan melampaui orang kebanyakan pula.

 

Tanpa mengalami kesulitan. Kiai Kamthn dan Swastipun kemudian telah berada didataran dibawah butut. Kemudan dengan hati-hati mereka membawa anak yang tertidur nyenyak itu kebawah sebatang randu alas yang besar dan berdaun rimbun.

 

“Letakkan digerumbul dibawah pohon itu ayah,“ desis Swasti.

 

“Mudah-mudahan anak itu tidak dipatuk ular.”

 

“Ia tidak bergerak-gerak, tentu ia tidak akan dipatuk ular.”

 

“Jadi, apakah ia akan kita biarkan tidur terus, dan tidak ada yang akan dapat membangunkannya ?”

 

“Aku kira, Jlitheng yang sombong itu akan dapat membangunkannya.”

 

“Tetapi biarlah kita menunggu sampai kita yakin akan diketemukan. Kemudian kita bangunkan anak itu, sementara itu kita bersembunyi baik-baik.”

 

“Terserah saja kepada ayah,“ desis Swasti.

 

Kiai Kanthipun kemudian meletakkan tubuh Kuncung didalam gerumbul yang tidak terlalu rimbun. Dengan sengaja ia membiarkan kaki anak muda itu terjulur.

 

“Kita menunggu. Aku yakin, bahwa salah satu kelompok dari mereka yang mencari anak yang hilang itu akan datang lagi kebawah pohon randu alas yang besar ini.”

 

“Tetapi, bagaimanakah jika yang sebenarnya mereka cari bukan anak ini ayah ?“ bertanya Swasti.

 

“Siapapun juga. tetapi kita telah mengembalikan anak yang malang ini kepada keluarganya, sementara kita masih mempunyai pekerjaan mengubur dua sosok mayat yang kita tinggalkan dihutan itu.”

 

Swasti mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mudah-mudahan kelompok yang kita dengar suara kentongan dan tetabuhannya itu menuju kemari.”

 

Beberapa saat lamanya keduanya menunggu. Tetapi ternyata kelompok pertama dari orang-orang yang mencari anak yang diculik hantu itu tidak lewat dibawah pohon randu alas itu.

 

Namun beberapa saat kemudian kelompok yang lain telah mendekat pula.

 

“Suaranya ribut sekali ayah,“ desis Swasti.

 

“Ya.“ Mereka memukul apa saja yang mereka dapat. Kentongan, tambir, tampah dan mungkin potongan-potongan besi dan senjata. Mereka membunyikan asal saja membunyikan tanpa irama tertentu.”

 

“Nah, kalau kelompok yang kemudian ini nampaknya benar-benar akan melalui jalan ini.” gumam Swasti.

 

Untuk sesaat lagi mereka menunggu. Sejenak kemudian mereka melihat beberapa buah obor muncul dari padukuhan. Mereka melalui jalan bulak yang semakin lama menjadi semakin dekat dengan pohon randu alas itu.

 

“Aku akan menyalakan api yang berwarna biru agar mereka tertarik dan datang kemari,“ berkata Kiai Kanthi.

 

Kiai Kanthipun kemudian menyalakan api dengan titikan dan seperingkil belerang. Api yang berwarna kebiru-biruan telah menyala. Dengan menggerakkan api itu, maka Kiai Kanthi mengharap, bahwa api itu akan menarik perhatian.

 

“Mereka akan mengira, api ini kemamang yang terbang mengitari pohon randu alas ini,“ desis Kiai Kanthi.

 

“Jika demikian mereka akan takut mendekat,“ desis Swasti.

 

“Tidak. Jika mereka seorang seorang, mereka memang akan takut mendekat. Tetapi bersama-sama mereka akan merupakan kelompok pemberani yang justru akan datang untuk melihat, apakah yang terdapat dibawah pohon randu alas ini.”

 

Ternyata beberapa orang yang berjalan dibulak itu, benar-benar melihat sepercik api berwarna kebiru-biruan. Api yang seolah-olah terbang berputaran mengelilingi pohon randu alas, karena Kiai Kanthi memang membawa api diatas sebuah kulit kayu mengelilingi pohon randu alas itu. Api yang tidak begitu besar. Tidak lebih dari sekepalan tangan. Namun dapat dilihat dari bulak yang pendek, yang tidak begitu jauh dari pohon randu alas itu, dan api itu mempunyai warna yang khusus.

 

Karena itu, maka seperti yang diharapkan, maka nyata api yang kebiru-biruan itu benar-benar telah menarik perhatian.

 

“He, kau lihat api dibawah pohon randu alas itu,“ desis seseorang yang sedang memukul sepotong besi dengan potongan besi yang lain.

 

Seorang yang memukul kentongan disebelahnya mengerutkan keningnya. Iapun telah melihat api yang kebiru-biruan itu. Maka katanya, “Ya. Api itu agak aneh. Apakah api itu mempunyai arti yang khusus.”

 

“Mungkin. Mungkin sekali,“ sahut yamg lain.

 

Api belerang itu akhirnya telah menarik perhatian seluruh kelompok pencari anak yang hilang itu. Seorang yang berambuti putih berdesis, “Menarik sekali. Apakah benar cahaya yang kebiru-biruan itu mempunyai arti khusus ?”

 

“Mungkin sekali,“ sahut yang lain.

 

“Marilah kita lihat,“ berkata orang tua itu lebih lanjut.

 

Sejenak kawan-kawannya saling berdiam diri. Tetabuhan-nyapun terdiam beberapa saat.

 

“Marilah,“ orang tua itu mendesak.

 

Kawan-kawannya masih ragu-ragu. Namun akhirnya orang tua itu berkata, “Aku akan berdiri dipaling muka. Berikan obor itu kepadaku.”

 

Seorang anak muda yang pucat memberikan obor kepada erang berambut putih itu. Kemudian, beriringan mereka menuju kepohon randu aitas yang diputari oleh semacam cahaya yang berwarna kebiru-biruan.

 

Kiai Kanthi telah memperhitungkan, pada jarak yang mana ia harus bersembunyi. Sehingga karena itulah, maka kelompok-kelompok orang-orang itu tertegun ketika mereka pielihat tiba-tiba saja api yang berwarna kebiru-biruan itu hilang.

 

Meskipun demikian, orang berambut putih itu berkata, “Kita akan membuktikannya kebawah randu alas itu. Pukul semua alat yang ada pada kita sekeras-kerasnya. Jika ada hantu di randu alas itu, biarlah mereka menyingkir karena telinga mereka menjadi sakit oleh suara ini.”

 

Dengan demikian, maka tetabuhanpun menjadi semakin keras. Perlahan-lahan iring-iringan itu maju meskipun dengan hati yang berdebar-debar.

 

Ketika mereka mendekati pohon randu alas yang besar itu, mereka sama sekali tidak melihat sesuatu. Mereka tidak melihat cahaya yang kebiru-biruan. Mereka tidak melihat seseorang dan tidak melihat apapun juga.

 

“Tidak ada apa-apa,“ desis seseorang.

 

“Ya. Tidak ada,“ sahut yang lain.

 

Tetapi orang berambut putih itu berkata, “Kita akan mencari disekeliling randu alas ini. Bunyikan tetabuhan itu sekeras-kerasnya.”

 

Sekali lagi ocang-orang dalam kelompok itu memukul benda-benda yang mereka bawa sekeras-kerasnya. Bunyinya benar-benaT memekakkan telinga, sehingga jika mereka berbicara diantara sesama mereka, maka merekapun harus berteriak sekeras-kerasnya pula.

 

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja salah seorang dari mereka menjerit. Suaranya metengking mengatasi suara tetabuhan yang hiruk pikuk.

 

“Ada apa ?“ bertanya seorang kawannya yang juga menjadi pucat.

 

“Ya Ada apa ?” desak yang lain.

 

Orang itu menjadi gagap. Sambil menunjuk kesebuab gerumbul ditepi jalan, dibawah randu alas itu ia berkata terputus-putus, “Itu, itu. Lihat.”

 

Semua orang berpaling kearah gerumbul yang ditunjuk. Merekapun terperanjat ketika mereka melihat dua batang kaki yang terulur dari gerumbul itu.

 

Belum lagi jantung mereka mereda, mereka telah dikejutkan lagi oleh suara yang mengerikan, yang telah mendirikan bulu tengkuk mereka.

 

Suara itu adalah suara perempuan. Tetapi suara tertawa perempuan itu benar-benar suara tertawa hantu yang menakutkan. Suara tertawa yang bagaikan menghentak jantung setiap orang yang berada dibawah pohon randu alas itu.

 

“Itu adalah iblis betina,“ berkata setiap orang dida-lam hati mereka masing-masing.

 

Suara tertawa itu semakin lama terdengar semakin keras, Dan suara tertawa itu bagaikan meretakkan dada mereka.

 

Setiap orang telah melepaskan benda-benda ditangannya. Mereka menutupi telinga mereka dengan kedua telapak tarzan. Bahkan ada diantara mereka yang terduduk lemah tidak berdaya.

 

“Aku kembalikan anak itu kepada kalian orang-orang Lumban yang dungu,“ terdengar suara yang tidak jelas sumbernya, “aku tidak memerlukan anak yang bodoh dan penakut. Ambillah salah seorang anakmu ke orang-orang Lumban. Untuk beberapa saat ia akan tetap tertidur. Tetapi ia akan bangun pada saatnya. Mungkin untuk sehari dua hari ingatannya belum pulih. Tetapi itu bukan salahnya.”

 

Orang-orang dibawah pohon randu alas itu menjadi gemetar.

 

“Ambilah. Aku akan pergi,“ terdengar suara itu melanjutkan. Disusul oleh suara tertawa berkepanjangan. Semakin lama semakin jauh dan akhirnya hilang ditelan desau angin malam yang dingin.

 

Beberapa saat lamanya orang-orang Lumban itu masih dicengkam ketakutan. Namun kemudian orang yang berambut putih dan menggenggam obor ditangannya itu berkata, “Anak itu sudah diserahkannya. Marilah, kita mengambilnya. Kita tidak bersalah dan kata tidak akan dikutuknya, karena yang terjadi adalah oleh kehendak iblis betina itu sendiri.”

 

Beberapa orang masih ragu-ragu. Namun akhirnya merekapun mendekati gerumbul dibawah pohon randu atas itu. Mereka masih melihat dua batang kaki yang terjulur.

 

“Itu tentu kaki Kuncung,“ berkata orang berambut putih itu.

 

Kemudian dibantu oleh beberapa orang yang masih berdebar-debar, mereka menarik kaki yang mereka lihat.

 

“Kuncung, benar-benar-Kuncung,“ desis beberapa orang.

 

Orang-orang yang kemudian mengerumuninya menarik nafas dalam-dalam. Mereka telah menemukan anak yang mereka cari. Tetapi ternyata bahwa Kuncung masih berdiam diri. ia masih tetap tidur nyenyak.

 

“Ia mati,“ desis seseorang.

 

“Tidak, Ia tidur seperti yang dikatakan oleh iblis betina itu. ia masih tetap bernafas,“ sahut orang berambut putih.

 

“Marilah kita bawa kembali kepadukuhan,“ berkata yang lain.

 

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Merekapun kemudian beramai-ramai menggotong Kuncung yang masih tertidur nyenyak dengan nafas yang mengalir teratur dari lubang hidungnya.

 

Ketika anak itu dibawa masuk ke padukuhan, maka gemparlah padukuhan induk Lumban Wetan. Setiap orang telah keluar dari rumahnya untuk melihat Kuncung yang baru saja dicuri oleh hantu betina.

 

Sementara itu, Jlitheng yang kebingungan, seolah-olah telah kehilangan akal. Kemana ia harus mencari Kuncung yang hilang itu. Seluruh daerahl Lumban dan sekitarnya telah dijelajahinya Namun ia tidak menemukannya. Bahkan kemudian muliai tumbuh di pikirannya, “Apakah Kuncung benar-benar dibawa hantu ?”

 

Dalam kebingungan itu tiba-tiba saja ia teringat kepada Daruwerdi yang berada di bukit gundul. Nampaknya ia memang menunggu seseorang.

 

“Apakah tidak ada sekelompok orang yang mencari kebukit itu ?“ bertanya Jlitheng kepada diri sendiri.

 

Tetapi Jlitheng menggelengkan kepalanya. Bukit itu benar benar gundul, sehingga orang-orang Lumban tentu menganggap bahwa tidak mungkin Kuncung disembunyikan ditempat itu.

 

Namun Jlithenglah yang kemudaan berlari-lari kebukit gundul itu. Ia ingin mengetahui, apakah yang dilakukan olehi Daruwerdi jika orang yang ditunggunya itu sudah datang. Apakah ada hubungannya dengan hilangnya Jlitheng atau tidak.

 

Tetapi ia menggeram ketika ternyata Daruwerdi telah tidak ada di bukit gundul itu. Sambil menghentakkan tangannya Jlitheng bergumam, “Gila. Aku kehilangan semuanya. Aku tidak menemukan Kuncung, sementara aku juga kehilangan Daruwerdi dan orang yang disebutnya Cempaka itu.”

 

Sejenak Jlitheng justru termangu-mangu. Rasa-rasanya rahasia yang meliputi padepokan Lumban Wetan dan Lumban Kulon justru menjadi semakin tebal.

 

Namun dalam pada itui Jlitheng terkejut ketika ia mendengar suara kentongan dalam nada dara-muhik. Diluar sadarnya ia bergumam, “Sokurlah. Anak itu sudah dapat diketemukan.“ Namun tiba-tiba wajahnya menegang, “Tetapi hidup atau mati.”

 

Dengan serta merta Jlithengpun telah meloncat berlari dengan sekencang-kencangnya lewat pematang dan jalan-jalan sempit yang memintas, langsung menuju keinduk padukuhannya.

 

Dengan nafas terengah-engah ia menemukan banyak orang yang berkerumun di banjar. Orang tua Kuncung duduk disamping anaknya yang terbujur diam sambil menangis.

 

“Ia kehilangan jiwanya, meskipun tidak nyawanya,“ desis beberapa orang.

 

Kuncung memang masih tertidur nyenyak. Nafasnya mengalir dengan teratur. Tetapi tidak seorangpun yang dapat membangunkannya.

 

Untuk sesaat Jlijtheng termangu-mangu. Seorang kawannya yang melihatnya berlari-lari bertanya, “Kemana kau selama ini Jlitheng ?”

 

“Aku ikut mencarinya. Tetapi aku tersesat. Seolah-olah jalan menjadi asing. Untunglah aku masih mendengar suara kentongan dan suara hiruk pikuk orang-orang yang mencari Kuncung,“ jawabnya.

 

“O, agaknya kaupun hampir disambarnya,“ desis kawannya yang lain.

 

Dari kawan-kawannya Jlitheng mendengar, bagaimana Kuncung itu diketemukan. Ketika sekelompok orang-orang Lumban lewat didekat randu alas, mereka telah melihat seekor kemamang berwarna kebiru-biruan terbang mengelilingi batang randu alas itu. Ketika kemudian mereka mendekat, mereka menemukan Kuncung, setelah lebih dahulu mereka mendengar suara hantu betina itu.

 

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berdesis, “Mengerikan sekali. He, bagaimana jika aku juga dibawa oleh hantu betina itu ?“ desis Jlitheng.

 

“Kau akan pingsan untuk waktu yang lama, atau barangkali, yang sudah dikembalikan baru tubuhnya, belum jiwanya,“ sahut kawannya.

 

Sejenak Jlitheng terdiam. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan melihat, apakah Kuncung terluka atau itidak.”

 

“Tidak. Tidak ada tanda-tanda luka padanya,“ sahut kawannya.

 

Namun Jlitheng mendesaknya. Ketika ia menyibakkan beberapa orang, maka orang-orang itu membentaknya, “He, apa yang akan kau lakukan Jlitheng ?”

 

Jlitheng memandang berkeliling. Dilihatnya wajah-wajah yang tegang dan gelisah.

 

“Aku hanya ingin melihat saja,“ desisnya.

 

“Jangan kau ganggu. Kita menunggu ia terbangun.”

 

“Apakah tidak dapat dibangunkan seperti membangunkan orang tidur nyenyak?” beritanya Jiiitheng.

 

“Kau memang dungu. Ia tidak tidur sewajarnya tidur.“ sahut sallah seorang tua.

 

“Tetapi nampaknya benar-benar seperti tidur,“ Jlitheng membantah.

 

Tanpa menghiraukan orang-orang yang memandanginya dengan marah, Jlitheng mendekati tubuh Kuncung yang terbujur. Kemudian dirabanya seluruh tubuh itu.

 

“Jlitheng, jika kau membuatnya celaka, maka kau akan dihukum oleh orang-orang disehiruh padukuhan,“ desis seorang bertubuh tinggi besar, “kita sedang menunggu Ki Buyut di Lumban Wetan. Sentuhan tanganmu mungkin akan menimbulkan akibat yang tidak dikehendaki.”

 

Jlitheng memandang orang itu sejenak. Namun kemudian katanya, “Apakah aku boleh mengguncangnya seperti mengguncang orang tidur?”

 

“Jangan,“ teriak seseorang.

 

Tetapi Jlitheng sudah melakukannya. Perlahan-lahan diguncangnya kaki Kuncung yang tertidur nyenyak itu.

 

Tidak seorangpun yang melihat, Jlitheng telah menyentuh tengkuk Kuncung disaat ia meraba-raba tubuh anak itu. Nampaknya Jlitheng menjadi curiga bahwa keadaan Kuncung disebabkan oleh kemampuan ilmu yang dapat membuatnya tidur.

 

Ternyata yang dilakukan Jlitheng itu telah mengejutkan orang-orang yang berkerumun. Mereka hanya melihat Jlitheng mengguncang kaki Kuncung. Namun kemudian mereka melihat Kuncung itu perlahan-lahan mulai bergerak dan membuka matanya.

 

“He, anak itu bangun,“ tiba-tiba saja Jlitheng berteriak.

 

Setiap orang terguncang hatinya. Ternyata mereka benar-benar melihat Kuncung bergerak dan membuka matanya. Kemudian terdengar anak muda itu merintih.

 

Dengan cemas orang tua Kuncung bergeser mendekat. Diusapnya keningnya anaknya yang basah oleh keringat sambil menyebut namanya, “Supada, ngger Supada.”

 

Tetapi ayahnya kemudian memanggil dengan nama panggilannya sehari-hari “Cung, Kuncung.”

 

Namun itu lebih tajam menyentuh perasaannya, sehingga karena itu, maka iapun mencoba untuk bangkit.

 

Dengan gemetar ayahnya membantunya mengangkat kepalanya. Kemudian membantunya pula duduk diantara orang-orang Lumban yang mengerumuninya.

 

Sejenak Kuncung kebingungan. Dipandanginya orang-orang yang mengerumuninya. Kemudian terdengar ia bertanya, “Dimanakah aku sekarang ?”

 

“Kau berada di banjar ngger. Banjar padukuhan kita sendiri,“ sahut ayahnya.

 

Tetapi nampaknya Kuncung masih bingung. Bahkan tiba-tiba saja ia bertanya, “Dimanakah kedua orang yang mengerikan itu sekarang?”

 

“Siapa ?“ bertanya beberapa orang-orang Lumban hampir berbareng.

 

Kuncung menggeleng sambil menjawab, “Aku tidak tahu. Tetapi mereka telah membawa aku naik kebukit itu. Mereka memaksa aku menceritakan sesuatu yang tidak aku ketahui.”

 

“Apa yang harus kau ceritakan?”

 

Kuncung menarik nafas dalam-dalam. Beberapa orang kemudian berusaha untuk mengatur diri, sehingga orang-orang yang mengerumuni Kuncung dapat melihat dan mendengar ia berceritera.

 

Kuncunmgpun kemudian menceritakan apa yang dialaminya. Sejak ia kembali dari sungai yang hampir kering itu. Bagaimana ia bertemu dengan dua orang yang garang dan membawanya pergi. Iapun menceritakan apa yang ditanyakan oleh kedua orang itu kepadanya dan bagaimana ia mulai memukulnya.

 

Orang-orang Lumban itu mendengarkan ceritera Kuncung dengan tegang. Bahkan merekapun menjadi ngeri mendengarnya, seolah-olah mereka melihat dan mengalami apa yang telah dialami olah anak muda itu.

 

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terdengar seseorang tertawa. Ketika orang-orang Lumban itu berpaling, mereka melihat Jlitheng berusaha menahan tertawanya.

 

“Kenapa kau tertawa ?“ bertanya beberapa orang hampir bersamaan.

 

Jlitheng terkejut ketika ia menyadari bahwa semua orang memperhatikannya Dengan gagap iapun menjawab, “Aku geli mendengar ceritera seseorang yang baru saja dibawa hantu betina. He, bukankah Kuncung diculik wewe dan dikembalikan dibawah pohon randu alas ?”

 

Kata-kata itu telah memperingatkan orang-orang Lumban, bagaimana mereka menemukan Kuncung. Karena itu, maka orang-orang Lumban itupun mengangguk-angguk sambil berkata kepada diri sendiri,“ ia benar-benar kehilangan ingatan. Yang diceriterakan itu tentu bayangan yang dibuat oleh hantu betina itu.”

 

Namun tiba-tiba saja salah seorang dara mereka yang mengerumuni Kuncung itu bertanya, “Jlitheng, jika yang terjadi itu sekedar khayalan, maka kenapa hal itu pernah terjadi juga atasmu. Dan itu tentu bukan khayalan karena banyak orang yang melihat, bagaimana kau dibawa oleh dua orang yang garang, tepat seperti yang dikatakan oleh Kuncung.”

 

“Itulah yang menggelikan,“ jawab Jlitheng, “ia pernah mendengar atau melihat dua orang yang membawa aku. Dalam ketidak sadarannya, karena ia dibawa oleh hantu betina, maka ingatan itu muncul seolah-olah terjadi atas dirinya. Dibantu oleh bayangan semu yang memang dibangunkan oleh ibhs betina itu, maka seolah-olah yang terjadi adalah benar-benar telah terjadi.”

 

Orang-orang Lumban mengangguk-angguk kecil. Penjelasan Jlitheng memang masuk akal. Bahkan seorang tua berkata, “Darimana kau mendapatkan pengertian itu Jlitheng?”

 

Pertanyaan itu telah mengejutkan Jlitheng. Namun ia berusaha menjawab, “Mungkin kek. Mungkin demikian. Aku hanya menduga-duga.”

 

Tetapi orang-orang Lumban itu semakin mempercayai Jlitheng karena Kuncung kemudian tidak dapat menjelaskan, bagaimana mungkin ia berada dibawah pohon randu alas itu. Bahkan tertidur nyenyak seperti orang yang sedang pingsan.”

 

Dalam pada itu, ketika Ki Buyut Lumban Wetan datang ke banjar, maka orang yang mengerumuni Kuncung itupun menyibak. Dihadapan Ki Buyut, Kuncung menceriterakan kembali apa yang pernah diceriterakan.

 

Sementara itu, ketika perhatian setiap orang tertuju kepada Ki Buyut dan Kuncung, maka Jlitheng berbisik kepada kawannya yang duduk disebelahnya, “Aku akan kesungai.”

 

“Kenapa ?“ bertanya kawannya heran.

 

“Perutku sakit sekali.”

 

“He, kau dapat dibawa wewe seperti Kuncung.”

 

“Sedangkan Kuncung saja telah dikembalikannya. Ia tentu tidak memerlukan orang lain lagi. Setidak-tidaknya untuk sisa malam ini.”

 

Kawannya tidak mencegahnya. Sementara yang lain tidak memperhatikannya, ketika Jlitheng kemudian meninggalkan banjar.

 

Tetapi demakian ia sampai ketempat yang sepi maka iapun segera berlari sekencang-kencangnya. Bahkan ia telah mengerahkan kemampuan ilmunya untuk mendorong kekuatan kakinya, sehingga anak muda itupun kemudian telah berlari kencang sekali menuju kebukit yang berhutan lebat.

 

Dengan tangkasnya anak muda itu meloncati batu-batu padas dilereng yang gelap. Didataran-dataran sempit, pepohonan tumbuh hampir pepat. Tetapi Jlitheng yang nampaknya sudah terbiasa itu, dapat menempuhnya dengan cepat seolah-olah ia sedang berjalan dijalan yang datar dan rata.

 

Ketika ia sampai ketempat Kiai Kanthi, dilihatnya orang tua itu duduk merenungi perapian yang kecil. Ia berpaling ketika ia mendengar langkah seseorang mendekati. Namun Kiai Kanthi seolah-olah sudah mengetahui, bahwa yang datang itu adalah Jlitheng.

 

Karena itu, maka ia sama sekali tidak bergeser. Hanya wajahnya sajadah yang bergerak sambil tersenyum.

 

“Marilah ngger. Silahkan. Aku sudah menduga, bahwa kau akan datang kemari,“ berkata Kiai Kanthi.

 

Jlitheng masih berdiri tegak. Nafasnya terasa memburu.

 

“Duduklah,” sambung Kiai Kanthi.

 

“Dimana Swasti, Kiai?“ bertanya Jlitheng.

 

“Baru mandi dibalik gerumbul itu. Untunglah kau mengambil jalan ini. Jika kau mengambil sebelah, Swasti akan terpaksa membenamkan dirinya,“ jawab orang tua itu.

 

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun duduk disamping Kiai Kanthi. Sejenak ia mengatur pernafasannya.

 

“Kiai,“ katanya kemudian, “aku sudah menduga, bukankah Kiai sudah mengembalikan seorang anak muda Lumban di bawah pohon randu alas ?”

 

Kiai Kanthi tidak menyangkal. Sambil mengangguk ia menjawab, “Ya ngger. Aku sudah bingung, bagaimana caranya mengembalikan anak itu tanpa menumbuhkan kecurigaan. Aku sudah membunuh dua orang dilereng bukit itu. Tepatnya, Swastilah yang sudah melakukannya.”

 

“Aku sudah menduga, bahwa Kuncung tentu dibawa oleh orang-orang yang asing bagi kami. Siapakah kedua orang itu Kiai?” beritanya Jlitheng.

 

Kiai Kanthipun kemudian menceriterakan apa yang dilihat dan didengarnya. Dari awal sampai akhir.

 

“Jadi keduanya orang Pusparuri?”

 

Kiai Kanthi mengangguk. Jawabnya, “Menurut tangkapanku, keduanya memang orang-orang Pusparuri. Mudah-mudahan mereka tidak sedang menyelubungi diri dengan sikap dan sebutan itu.”

 

“Dimana keduanya sekarang ?”

 

“Aku mengubur mereka dibawah pohon nyamplung yang besar itu.”

 

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Swasti menyibak gerumbul dan berjalan melintas. Seperti biasanya gadis itu tidak mau duduk bersamanya. Ia duduk beberapa langkah dibelakang ayahnya, bersandar sebatang pohon menghadap kedalam gelapnya malam.

 

“Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “nampaknya daerah ini menjadi semakin banyak didatangi oleh orang-orang yang sebenarnya asing bagi Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”

 

“Termasuk kami berdua,“ tiba-tiba saja Swasti memotong.

 

“Ya,“ jawab Jlitheng, “juga termasuk aku dan Daruwerdi. Bahkan ketika aku mengikuti Daruwerdi kebukit gundul, ketika kami sedang kebingungan mencari Kuncung, Daruwerdi sudah menyebut satu nama lagi. Cempaka. Mungkin nama sebenarnya, tetapi mungkin juga sekedar sebulan seperti Ular Sanca itu.”

 

“Dan apakah angger melihat orang yang disebut Cempaka ?“ bertanya Kiai Kanthi.

 

“Tidak Kiai. Aku lebih berat mencari Kuncung daripada menunggui Daruwerdi yang sedang menunggu Cempaka, Ketika kemudian aku kembali kebukit gundul itu, Daruwerdi sudah tidak ada lagi.”

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia berdesah, “Nasibku agaknya memang kurang baik. Aku telah memasuki daerah yang sedang bergejolak.”

 

Jlitheng tidak menyahut. Namun Swastilah yang kemudian berkata, “Sudah aku katakan ayah. Apakah tidak sebaiknya kita mencari tempat tinggal yang lain. Yang tidak dibayangi oleh kecurigaan dari segala pihak dan tidak selalu dicemaskan oleh peristiwa-peristiwa seperti yang baru saja terjadi. Kita berusaha menolong seseorang. Tetapi kita tidak dapat menyatakan diri kita dengan terus terang.”

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang tempat ini dapat menumbuhkan ketegangan dihati. Tetap aku belum memastikan bahwa tempat ini tidak akan dapat menjadi tempat yang baik Swasti.”

 

“Dugaan-dugaan yang mengandung banyak kemungkinan itu memang dapat saja kita lakukan. Tetapi kita tidak akan dapat hidup dengan tenang dalam bayangan kegelisahan seperti sekarang,” Swasti berhenti sejenak, lalu, “yang baru saja kita lakukan telah membuat kita sangat lelah. Bukan saja badan kita, tetapi perasaan kita. Suaraku hampir menjadi serak sama sekali, karena aku harus berteriak-teriak menirukan suara hantu betina yang belum pernah aku dengar. Kemudian kita berlari-lari bersembunyi, justru karena kita sudah menolong seseorang.”

 

“Swasti,“ berkata ayahnya dengan sareh, “aku masih berharap untuk menemukan hari kemudian yang baik disini.”

 

“Bukan itu,“ bantah Swasti, “aku tahu, justru keadaan yang menegangkan itulah yang sudah menarik hati ayah.”

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah hanya aku saja yang sudah tertarik? Seandainya aku mengiakan permintaanmu untuk meninggalkan tempat ini dan aku benar berangkat esok pagi, apakah kira-kira kau akan mengikuti aku atau kau justru akan tetap tinggal disini ?”

 

“Ah,” Swasti berdesah. Sementara ayahnya tersenyum. Katanya, “Swasti. Aku mengenalmu sejak kau masih bayi. Aku tahu sifat dan watakmu.”

 

“Ayah selalu berkata begitu,“ Swasti berdesis.

 

Tetapi ayahnya masih saja tersenyum. Bahkan Jlitheng-pun tersenyum pula. Katanya, “Kiai, daerah seperti ini memang menjemukan, tetapi sekaligus sangat menarik untuk diperhatikan. Adalah wajar bahwa kita yang sudah terlanjur mengetahui serba sedikit bayangan-bayangan yang rahasia didaerah ini, ingin melihat kelanjutan dan apabila mungkin penyelesaian dari peristiwa ini.”

 

“Sifat ingin tahu seseorang adalah wajar sekali ngger. Tetapi mungkin diantara kita ada beberapa perbedaan. Jika kami benar-benar hanya didorong oleh sekedar ingin tahu. Mungkin kau mempunyai kepentingan yang lain,“ berkata Kiai Kanthi.

 

“Atau sebaliknya Kiai. Setidak-tidaknya kita masing-masing mempunyai kepentingan yang beralasan sudut penglihatan kita masing-masing,“ sahut Jlitheng.

 

“Itulah ujud kecurigaan yang dikatakan oleh Swasti. Tetapi itupun wajar. Dan kadang-kadang saling mencurigai adalah menarik sekali,“ sahut Kiai Kanthi.

 

Jlitheng tertawa. Namun kemudian katanya, “Ah, sudahlah Kiai. Aku hanya ingin meyakinkan, apakah dugaanku benar. Aku menjadi geli mendengar, bagaimana orang-orang Lumban menceriterakan tentang hantu betina yang tertawa terkekeh-kekeh saat ia mengembalikan Kuncung.”

 

“Tetapi suaraku hampir putus karena aku harus berteriak keras-keras,“ tiba-tiba saja Swasti menyahut hampir diluar sadarnya.

 

Jlitheng tertawa tertahan, sementara Kiai Kanthi tersenyum sambil berkata, “Kami sadar apa yang kami lakukan. Kami-pun memang berharap bahwa angger dapat membangunkan anak yang tertidur itu meskipun kami agak cemas, bahwa yang menjumpai keadaan anak itu justru adalah angger Daruwerdi.”

 

“Aku masih harus menemukan anak muda itu,“ berkata Jlitheng, “tetapi tentu aku sudah kehilangan orang yang disebutnya bernama Cempaka. Mudah-mudahan pada saat yang lain aku akan dapat menemukannya dalam keadaan yang bagaimanapun juga,“ Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “sudahlah Kiai. Aku minta diri. Mungkin masih ada yang harus aku lakukan. Jika kawan-kawanku tidak lelah karena hampir semalam suntuk mereka harus mencari Kuncung, maka aku akan kembali bersama mereka untuk meneruskan kerja kita, membuka padepokan kecil itu.”

 

Ketika Jlitheng turun dari bukit itu dengan hati-hati. karena ia masih memperhitungkan kemungkinan hadirnya Daruwerdi, maka langit disebelah Timurpun mulai dibayangi oleh warna merah. Karena itu, maka ketika ia sudah yakin bahwa seorangpun yang melihatnya, maka iapun segera berlari-lari menuju kopadukuhannya.

 

Ternyata banjar padukuhan Lumban Wetan telah sepi ketika ia datang memasuki regolnya. Hanya tiga orang anak muda yang sedang berbaring digardu. Mereka terkejut ketika tiba-tiba saja melihat seseorang berdiri dimuka gardu.

 

“Anak setan,“ desis salah seorang dari mereka, “kau mengejutkan kami Jlitheng.”

 

Jlithengpun kemudian duduk diantara mereka sambil bertanya, “Apakah Kuncung sudah pulang ?”

 

“Ya. Ia masih saja mengigau tentang dua orang yang berwajah mengerikan,“ jawab salah seorang dari mereka.

 

Namun yang lain menyahut, “tetapi ada bekas biru-biru pengab diwajahnya. Jika ia tidak berkata sebenarnya, bahwa kedua orang itu telah memukulnya, maka apakah bekas biru-biru itu benar2 akan terdapat diwajahnya.”

 

“Kau memang bodoh,“ jawab Jlitheng, “setan betina itu tentu tidak berhati-hati. Ketika ia membawa Kuncung, mungkin wajah anak itu telah membentur pepohonan atau mungkin batu atau apapun, sehingga wajah itu telah menjadi merah biru.”

 

Yang lain mengangguk-angguk. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Sudahlah. Aku akan tidur. Semalam suntuk aku tidak tidur sama sekali. Menjelang pagi aku masih mempunyai waktu. Mudah-mudahan tidak lambat bangun sehingga orang-orang yang- pulang dari pasar lewat jalan ini akan membangunkan aku.”

 

“Dan mudah-mudahan kau tidak dibawa hantu betina,“ desis Jlitheng.

 

Tentu saat begini anak muda itu sambil membenai selimutnya.

 

Jlitheng tidak lama berada digardu itu. Iapun kamudian bangkit dan melangkah pulang kerumahnya.

 

Tetapi biyungnya tidak gelisah meskipun semalam suntuk Jlitheng tidak pulang, karena ia sudah mendengar dari seseorang, bahwa Jlitheng telah berada di Banjar.

 

“Orang sudah lama pulang,“ berkata ibunya, “apa kerjamu di Banjar ?”

 

“Menemani kawan-kawan yang bertugas digardu,“ jawab Jlitheng singkat, “dan aku pergi kesungai barang sebentar.”

 

Ibunya tidak bertanya lagi. Sementara Jlithengpun kemudian pergi kepakiwan, mengisi jambangan dan kemudian mandi untuk menghapus keringat dan kotoran yang melekat di tubuhnya.

 

Namun dalam pada itu, Jlitheng tidak dapat melepaskan ingatannya kepada peristiwa yang baru saja terjadi. Dua orang Pusparuri yang terbunuh. Sayang, bahwa mayatnya telah dikuburkan dan ia malas untuk membuka kembali. Jika belum terlanjur, maka ia akan dapat memastikan dari ciri-cirinya, apakah kedua orang itu benar-benar orang-orang Pusparuri, karena banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Mungkin orang-orang Kendali Putih yang menyebut dirinya sebagai orang-orang Pusparuri, atau mungkin justru pihak lain sama sekali, atau bahkan kawan-kawan Daruwerdi.

 

Sehari itu Jlitheng tidak meninggalkan rumahnya. Siang hari ia berbaring dibelakang dapur, dibawah sebatang pohon yang rimbun, diatas sehelai ketepe daun kelapa yang dianyam. Sambil memandangi dedaunan yang bergetar ditiup angin, ia telah mencoba mengurai peristiwa yang telah terjadi dipadukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon selama ini, sampai pada saat terakhir. Bahkan sepercik-percik masih juga membersit kecurigaannya kepada Kiai Kanthi dan anak gadisnya, Swasti.

 

“Tetapi nampaknya mereka adalah orang-orang yang jujur dan sederhana dalam sikap,“ berkata Jlitheng kepada diri sendiri, “meskipun keduanya ternyata mewarisi cabang ilmu kanuragan yang luar biasa.”

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya kedua orang ayah dan anak itu telah merupakan pesona yang tidak dapat dilupakannya, sehingga setiap saat, rasa-rasanya ia angin pergi kebutan itu seperti ia ingin pulang kerumah sendiri.

 

Tetapi hari itu Jlitheng tidak dapat mengajak kawan-kawannya untuk pergi ke bukit, karena Jlitheng mengetahui bahwa kebanyakan lawan-kawannya lelah dan mengantuk, karena hampir semalam suntuk mereka telah mencari Kuncung. Sementara Jlitheng sendiri juga ingin beristirahat setelah semalam-malaman berlari-lari menyusuri bulak dan lereng bukit. Dari bukit gundul sampai kebukit yang berhutan lebat.

 

Hari itu setiap mulut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon masih membicarakan bagaimana seorang anak muda telah hilang di culik iblis betina. Dari pintu kepintu orang-orang Lumban membicarakannya, bahkan ceritera itupun telah mekar dan menjadi semakin mengerikan.

 

“Kuncung menjadi seperti orang gila. Ia mengigau tentang dua orang yang bertubuh tinggi kekar bermata merah dan bersenjata pedang yang besar sekali,“ berkata seseorang diantara kawan-kawannya.

 

“Ia memerlukan waktu dua tiga hari untuk dapat pulih kembali kesadarannya,“ sahut yang lain.

 

“Tetapi Kuncung dapat menceriterakan dengan pasti, apa yang terjadi atasnya berhubungan dengan dua orang yang dikatakannya itu,“ yang lain menyambung.

 

Seorang tua yang berambut putih memotong pembicaraan itu, “Biasanya memang demikian. Seseorang yang dibawa oleh hantu perempuan, ia merasa mengalami sesuatu seperti benar-benar telah terjadi.”

 

Orang-orang yang mendengarkan ceritera itu mengang-guk-angguk. Mereka percaya kepada orang tua yang mereka anggap, mempunyai banyak pengalaman itu.

 

Namun dalam pada itu, disaat orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon sibuk berbicara tentang hantu perempuan yang membawa Kuncung, Daruwerdi mencoba merenungi ceritera itu dari sudut yang lain. Ia tertarik kepada ceritera Kuncung tentang dua orang yang datang kepadanya dan membawanya pergi kebukit.

 

Karena itu, maka Daruwerdi telah memerlukan datang kerumah Kuncung untuk mendengar sendiri, apakah yang dialaminya, yang menurut orang banyak hanyalah sekedar bayangan yang tumbuh dikepalanya karena ia pernah melihat atau mendengar peristiwa serupa yang terjadi atas Jlitheng. Sehingga hantu perempuan itu tinggal mempertajam angan-angan ijtu, sehingga seolah-olah telah terjadi sebenarnya alasnya.

 

Ceritera Kuncung memang menarik perhatian Daruwerdi. Meskipun ada juga kebimbangan, bahwa mungkin yang dikatakan oleh orang-orang Lumban itu benar, namun ada juga sepercik dugaan, bahwa sebenarnya yang diceriterakannya itu telah terjadi.

 

“Dua orang itu benar-benar datang ke Lumban dan membawa Kuncung ke bukit. Kemudian memaksa Kuncung berbicara sehingga anak itu menjadi ketakutan. Ketika orang-orang itu mulai memukulnya, maka ia menjadi pingsan. “ Daruwerdi mencoba mencari kesimpulan “ baru ketika Kuncung ditinggalkan, terjadilah sesuatu yang aneh itu. Yang tidak dapat aku jajagi dengan nalar, bagaimana mungkin ia dapat sampai kebawah pohon randu alas.”

 

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menganggap bahwa hantu betina itu telah menemukan Kuncung. Tetapi ia kecewa bahwa anak itu seolah-olah tidak dapat berbuat apa-apa, justru karena ia pingsan. Karena hantu betina itu mengetahui bahwa orang-orang Lumban mencari seseorang maka hantu yang baik itu telah mengembalikan Kuncung kepada orang-orang Lumban.

 

“Persetan,“ tiba-tiba Daruwerdi menggeram aku tidak peduli tentang hantu itu. Tetapi dua orang itu benar-benar menarik perhatian, setelah dua orang yang terdahulu datang menangkap Jlitheng.”

 

Diperjalanan kembali kepondoknya, Daruwerdi menegang ketika ia teringat seorang gadis yang berada dilereng bukit itu. Ia mulai curiga sejak kedua perantau itu memilih tempat tinggal yang aneh tanpa mengenal takut terhadap binatang-binatang buas. Padahal mereka berdua hampir saja telah diterkam oleh seekor harimau.

 

“Apakah ada hubungannya antara hantu betina itu dengan gadis perantau itu ?” pertanyaan itu mulai membersit dihatinya.

 

Tetapi Daruwerdi belum dapat mengambil kesimpulan. Ia masih harus banyak melihat dan mendengar, apa yang di Lumban.

 

Dalam pada itu, dihari-hari berikutnya, orang-orang Lumban sudah mulai melupakan peristiwa yang menggemparkan itu. Mereka tidak banyak lagi membicarakan hilangnya Kuncung, meskipun satu dua orang masih menggelengkan kepalanya apabila mereka bertemu dengan Kuncung di jalan-jalan padukuhan atau disawah. Karena setiap kali mereka berbicara, Kuncung masih tetap yakin, bahwa yang dialaminya dengan dua orang yang garang itu bukan sekedar bayangan. Tetapi benar-benar telah terjadi atasnya. Namun ia tetap tidak dapat mengatakan, kenapa tiba-tiba saja ia sudah berada dibawah pohon randu alas.

 

Sementara itu, Jlitheng telah mulai sibuk pula membantu Kiai Kanthi bersama beberapa orang kawannya. Mereka telah membuka sebuah dataran sempit dilereng bukit itu. Merekapun mulai mempersiapkan membuat sebuah gubug kecil untuk tempat tinggal Kiai Kanthi dengan anak gadisnya.

 

Disamping itu, maka Jlitheng tidak henti-hentinya memperhatikan arus air yang meluap dari belumbang dilereng bukit itu. Ia mulai membicarakan, kemana air itu akan diarahkan.

 

Jlitheng dan Kiai Kanthi bersepakat, bahwa mereka tidak akan membuat parit yang khusus dilereng bukit. Mereka akan mengarahkan air itu kesebuah lekuk yang akan mengalirkan air itu turun sampai ketempat yang mereka kehendaki.

 

“Setelah air itu berada didataran, barulah kita akan membuat saluran seperti yang kita rencanakan,“ berkata Kiai Kanthi, “selebihnya, sisa air itu akan sangat berguna pula.”

 

“Untuk sementara kita akan mengalirkan air itu kesungai. Dengan demikian kita tidak perlu membuat saluran induk yang panjang. Apalagi sungai itu mengalir dekat perbatasan antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Bahkan kadang-kadang sungai itu berada didaerah Lumban Wetan, tetapi di bagian yang lain sungai itu menjorok masuk kedaerah Lumban Kulon,“ sahut Jlitheng.

 

“Tetapi, di wilayah manakah sungai itu memasuki daerah Lumban ngger?“ bertanya Kiai Kanthi.

 

“Sungai itu memasuki daerah Lumban di Lumban Wetan Kiai. Katakanlah bahwa bukit dan dataran dibawah bukit yang menghadap kepadukuhan itu adalah daerah Lumban Wetan. Tetapi disisi yang lain, dataran itu adalah tlatah Lumban Kulon, meskipun mereka seakan-akan tidak menghiraukannya karena sampai saat ini tanah itu tidak pernah digarap.”

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Jlitheng yang agaknya mengetahui perasaan Kiai Kanthi berkata, “Kiai, terlalu memikirkan masa yang jauh didepan. Tetapi orang Lumban sendiri kurang memperhatikan batas antara dua kabuyutan itu.”

 

Kiai Kanthi mengangguk. Jawabnya, “Ya ngger. Sejak ayunan cangkul yang pertama kita harus sudah mulai memikirkan. Jika sungai itu mengalirkan air yang lebih banyak, maka mulailah timbul persoalan antara Lumban Wetan dan Lumban Kulon yang sampai saat ini nampaknya tidak pernah berselisih. Air itu akan memancing masalah, karena jika air itu mengalir menyusuri sungai itu, maka kedua padukuhan itu tentu akan segera berpikir untuk memanfaatkannya. Mereka tentu ingin mengaliri sawah mereka yang kering seperti yang akan kita lakukan dibawah bukit ini.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Kedua daerah itu akan dapat membicarakannya dengan baik. Mereka akan membendung sungai itu dan menaikkan airnya kekedua arah. Satu parit itu akan menyusuri bulak-bulak di Lumban Wetan dan satu lagi. kearah Lumban Kulon.”

 

“Demikianlah menurut nalar. Tetapi kadang-kadang akan timbul perasaan yang dapat mengaburkan nalar yang bening. Iri, dengki dan barangkali juga ketamakan dari satu dua orang di Lumban Wetan atau di Lumban Kulon. Jika demikian halnya, maka mulailah persoalan yang tidak diharapkan itu,“ berkata Kiai Kanthi.

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita berdoa Kiai. Mudah-mudahan tidak akan timbul persoalan yang demikian dipadukuhan ini.”

 

“Mudah-mudahan ngger. Tetapi kita harus sudah berjaga-jaga, apakah yang sebaiknya dilakukan. Meskipun air itu masih kurang.”

 

“Mudah-mudahan Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon akan dapat mengatasi masalahnya. Keduanya sudah tahu, bahwa Kiai akan membangun padepokan disini,“ desis Jlitheng.

 

Demikianlah maka mereka semakin hari menjadi semakin gairah bekerja. Meskipun kawan-kawan Jlitheng tidak banyak, tetapi mereka senang melakukan pekerjaan itu, Disaat mereka tidak mempunyai pekerjaan disawah, mereka menemukan cara untuk mengisi waktu dilereng bukit itu.

 

Sementara itu, Jlitheng sudah menelusuri lekuk-lekuk batu padas yang akan dapat dipergunakannya untuk menguasai arus air. Beberapa tempat, ia masih harus menimbuninya dengan tanah yang cukup banyak agar arah air itu tidak terbagi. Sedangkan dibagian lain, lekuk-lekuk padas itu sudah merupakan parit yang dibuat oleh arus air hujan dimusim basah.

 

Ketika dataran sempit dan gubug kecil itu baru dikerjakan oleh anak-anak muda Lumban Wetan, Jlitheng dan Kiai Kanthi justru mulai menggarap saluran induk. Mereka menutup lekuk-lekuk yang tidak perlu, tetapi juga mengeduk batubatu padas yang membatasi lekuk yang satu dengan lekuk yang lain, yang sesuai dengan arah yang dikehendaki oleh Kiai Kanthi dan Jlitheng.

 

Dengan demikian, maka kerja itu merupakan kerja yang menjadi semakin besar. Tetapi Jlitheng tidak ingin banyak menarik perhatian, sehingga hanya kawan-kawannya yang terdekat sajalah yang ikut membantunya, seolah-olah yang mereka kerjakan sama sekali tidak berarti apa-apa.

 

Ketika anak-anak muda itu sibuk bekerja, maka Swasti-pun sibuk menyiapkan minum dan makanan apa saja yang ada. Kadang-kadang seekor binatang buruan. Tetapi kadang-kadang hanya beberapa buah gayam dan ikan air panggang.

 

“Pada saatnya, kita akan dapat makan jagung disini,“ berkata Kiai Kanthi, “aku sudah menanamnya dilereng yang agak terbuka itu. Nampaknya benih itu sudah tumbuh.”

 

Tetapi Jlitheng sambil tertawa menjawab, “Berapa bulan lagi jagung itu akan berobah Kiai? Apakah kira-kira saluran itu masih belum siap seumur jagung itu ?”

 

Kiai Kanthipun tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.

 

Namun betapapun Jlitheng membatasi kerja itu, tetapi hal itu sangat menarik perhatian Daruwerdi. Karena itu, maka iapun memerlukan naik kelereng bukit untuk menyaksikan sendiri, apa yang sebenarnya telah terjadi.

 

Kehadirannya dilereng bukit itu telah mengejutkan Swasti yang baru sibuk memasak. Karena itu, sejenak ia tergagap. Namun kemudian ia mencoba untuk menguasai perasaannya.

 

“Dimana ayahmu ?“ bertanya Daruwerdi.

 

“Mereka sedang bekerja dibawah,“ jawab Swasti.

 

“Apakah kau tidak takut berada disini sendiri ?”

 

“Kenapa takut ? Bukankah sekarang siang hari ? Dimalam hari aku disini bersama ayah.”

 

Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Diluar sadarnya ia memandang gadis perantau yang berpakaian kusut itu. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata didalam hati, “Gadis kumal ini berwajah cantik juga. Jika saja ia sempat merawat tubuhnya, maka ia akan menjadi seorang gadis yang tidak ada tandingnya di Lumban.”

 

Swasti yang merasa dipandang oleh Daruwerdi dengan tajamnya, wajahnya menjadi merah. Selangkah ia beringsut. Tanpa disengaja maka iapun berjongkok dimuka perapian dan melemparkan pandang matanya ke api yang menyala.

 

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Beberapa langkah ia maju mendekat. Katanya, “Kenapa kau lebih senang tinggal disini daripada dipadukuhan ?”

 

Swasti menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika ia mendengar langkah Daruwerdi yang mendekat. Tetapi Swastil tidak-berani memalingkan wajahnya.

 

Sebagai seorang gadis yang jarang bergaul dengan orang lain, maka sikap Daruwerdi benar-benar membuat jantungnya bagaikan semakin cepat berdetak didalam dadanya.

 

“Kenapa he?” Daruwerdi mendesak.

 

Swasti menjadi semakin bingung. Namun kemudian ia menjawab, “Semuanya terserah kepada ayah. Ayah memilih tempat ini. Dan akupun hanya mengikuti saja.”

 

“Tetapi kau berhak untuk mengajukan pendapatmu. Katakan kepada ayahmu, bahwa kau takut berada disini seorang diri meskipun siang hari. Jika harimau itu datang kemari, maka kau akan dapat diterkamnya.”

 

“Aku dapat memanjat,“ jawab Swasti tiba-tiba.

 

Daruwerdi mengerutkan keningnya. Katanya, “Menarik sekali. He, cobalah memanjat. Anggaplah aku seekor harimau yang akan menerkammu.”

 

Adalah diluar dugaan sama sekali, bahwa tiba-tiba saja Daruwerdi itupun berjongkok disampingnya.

 

Swasti adalah seorang gadis yang memiliki keberanian yang melampaui orang kebanyakan. Ia berani melawan Jlitheng dan bahkan ia telah mengalahkan dan membunuh dua orang yang mengaku dari perguruan Pusparuri. Tetapi demikian seorang anak muda berjongkok disampingnya, maka tubuhnya tiba-tiba saja telah menjadi gemetar.

 

“Swasti. Namamu Swasti bukan?“ panggil Daruwerdi. Swasti menjadi semakin gelisah. Keringat dingin telah mengalir diseluruh batang tubuhnya, sehingga rasa-rasanya seluruh badannya menjadi basah.

 

“Swasti,“ ulang Daruwerdi, “sebaiknya kau minta dengan sangat kepada ayahmu. Daripada ia membuat gubug di lereng bukit ini, aku kira ia lebih baik membuat gubug di padukuhan Lumban. Sementara gubug itu belum siap, maka kau dan ayahmu dapat tinggal dipondokku.”

 

Swasti masih gemetar. Sejengkal ia bergeser. Kemudian katanya, “Semuanya terserah kepada ayah.”

 

“Ah, tentu tidak. Kau adalah anak gadisnya. Kau bahkan mungkin satu-satunya anak. Karena itu, permintaanmu tentu didengarkannya,“ berkata Daruwerdi.

 

Swasti tidak segera menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. Keringatnya masih saja mengalir ditubuhnya. Sementara Daruwerdi berkata selanjutnya, “Kau tidak boleh menyia-nyiakan umurmu sekarang ini. Nampaknya kau sudah meningkat dewasa. Dan jika kau sadar, maka kau berwajah cantik.”

 

“Ah,“ tubuh Swasti tiba-tiba saja telah meremang. Ia hampir tidak pernah sempat menilai dirinya. Jika sekali-kali ia bercermin diwajah air telaga yang bening meskipun kotor, ia tidak berani menyebut wajahnya sendiri, apakah ia seorang gadis yang cantik.

 

“Aku tidak berbohong,“ desis Daruwerdi, “hanya karena kau tidak sempat merias diri,maka kau tidak menyadari bahwa kau mempunyai bekal yang paling bernilai bagi seorang perempuan.”

 

“Ah,“ sekali lagi Swasti berdesis, “aku tidak pernah mempunyai kesempatan untuk menilai diriku sendiri.”

 

Daruwerdi tertawa pendek. Katanya, “Mulailah sekarang. Dan mulailah hidup dalam suatu lingkungan masarakat yang barangkali jauh lebih baik dari pada hidup memencilkan diri. Aku bersedia menolongmu. Aku mempunyai pengaruh yang khusus di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Kedua Buyut padukuhan Lumban itu serta anak-anaknya menaruh hormat kepadaku, sedangkan anak-anak muda di Lumban Wetan dan Lumban Kulon telah memohon agar aku memberikan tuntunan kanuragan kepada mereka. Karena itu, maka apa yang akan aku katakan, orang-orang Lumban tentu akan melakukannya. Apalagi orang-orang Lumban termasuk orang yang baik dan ramah. Mereka tentu dengan senang hati menerimamu.”

 

Swasti menjadi semakin berdebar-debar. Ketika Daruwerdi bergeser sejengkal mendekat, maka Swastipun telah bergeser setapak menjauh.

 

“Pikirkan,“ tiba-tiba Daruwerdi berdiri, “sebelum kau dikoyak harimau. Sekarang aku akan menemui ayahmu dan anak-anak Lumban Wetan yang membantunya. Sebenarnya perbuatan itu adalah perbuatan yang bodoh sekali. Tetapi juga mencurigakan.”

 

Wajah Swasti menegang sejenak. Tetapi ia tidak menjawab. Baru ketika Daruwerdi melangkah meninggalkannya, ia menarik nafas dalam-dalam. Bahkan, diam-diam ia masih saja memperhatikan.anak muda itu hilang dibalik gerumbul-gerumbul yang padat.

 

Ketika Daruwerdi tidak nampak lagi, maka Swastipun menjadi gelisah. Ia tidak tahu, perasaan apa yang tumbuh dihatinya. Ia menjadi jengkel atas sikap anak muda itu, sehingga ia menjadi gemetar. Tetapi ia tidak marah karenanya, meskipun ia tidak begitu senang karena sikap itu.

 

“Hanya karena sikapnya ?” pertanyaan itu tiba-tiba saja telah tumbuh dihati Swasti. Tetapi Swasti tidak berani memikirkannya lebih jauh. Bahkan ia berusaha untuk membatasi perasaannya yang menerawang mengikuti anak muda yang bernama Daruwerdi itu.

 

“Ah, aku harus menyiapkan makanan ini,” Swasti berdesah. Dicobanya untuk memusatkan perhatiannya kepada kerjanya. Namun kadang-kadang ia masih saja merenung tanpa ujung dan pangkal.

 

Bahkan kadang-kadang ia menyesali sikap ayahnya. Pendapat anak muda yang bernama Daruwerdi itu ada baiknya juga. Ia dapat tinggal di padukuhan, meskipun mungkin dipaling ujung yang berbatasan dengan pategalan atau hutan perdu yang tidak tergarap.

 

“Tetapi ayah lebih senang menunggui belumbang ini,“ desisnya.

 

Dalam pada itu, Kiai Kanthi dibantu oleh Jlitheng dan beberapa orang kawannya, masih saja bekerja keras. Mereka telah membuka beberapa bagian dari dataran yang sempit dilereng bukit. Sementara Kiai Kanthi sendiri dan Jlitheng telah selesai menyiapkan saluran yang akan dilalui air jika air itu sudah diarahkan menuju kelereng yang berhadapan dengan padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Dibawah bukit itu akan dibuka tanah persawahan yang akan digarap oleh Kiai Kanthi dengan anak gadisnya.

 

Namun yang penting bahwa air itu akan dapat disalurkan kedaerah persawahan milik orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Meskipun tidak akan mencukupi untuk seluruh tanah persawahan, tetapi yang sebagian itu tentu akan memberikan banyak perubahan.

 

Dengan tekun Jlitheng telah berbuat sejauh dapat dilakukan. Kiai Kanthi yang memiliki pengalaman lebih banyak, bahkan agaknya juga berpengalaman menguasai air, telah menanam patok-patok pada lereng-lereng padas yang akan menjadi saluran induk. Kadang-kadang Jlitheng harus menimbuni sebuah lekuk yang dalam, agar arus air tidak terlalu deras, sehingga dapat merusakkan tanggulnya sendiri. Namun kadang-kadang ia harus memecah padas yang keras untuk menghubungkan saluran-saluran yang akan dipergunakannya.

 

Orang-orang yang bekerja dilereng bukit itu terkejut ketika mereka melihat Daruwerdi muncul dari balik gerumbul perdu. Dengan tatapan mata yang tajam ia memandangi keadaan sekelilingnya. Dalam waktu yang tidak terlalu panjang, maka telah terjadi perubahan yang besar dilereng bukit itu. Bukan hasil pekerjaan yang sudah hampir rampung tetapi Daruwerdi menjadi berdebar-debar melihat jiwa dari rencana itu. Dengan ketajaman nalarnya, ia segera dapat mengerti, apa yang akan terjadi.

 

Karena itu, maka Daruwerdi menjadi berdebar-debar. sekilas terbayang hasil pekerjaan yang akan merubah tatanan kehidupan dipadukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.

 

“Inilah yang telah mengikat orang tua itu disini,“ berkata Daruwerdi didalam hatinya, “bukan karena ia segan tinggal dipadukuhan seperti yang pernah dikatakannya, tetapi ternyata dikepala orang tua itu terbersit rencana yang besar.”

 

Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Namun ia menjadi semakin kagum akan rencana itu. Meskipun kemudian ia mencoba memperkecil arti kerja orang tua itu, “Mungkin yang dipikirkannya adalah sekedar air bagi tanah yang akan dibuka untuk dirinya sendiri, tanpa menyadari kegunaannya yang besar bagi Lumban.”

 

Tetapi ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat beberapa orang Lumban yang membantunya. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda dari Lumban Wetan. Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat seorang anak muda dari Lumban Kulon ikut pula diantara mereka.

 

“Artinya, bahwa kerja ini dilakukan oleh orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon meskipun dalam perbandingan yang tidak seimbang,“ berkata Daruwerdi didalam hatinya.

 

“Marilah ngger,“ Kiai Kanthipun kemudian mempersilahkannya, “ini adalah sekedar pikiran orang tua dan anak-anak muda yang sederhana. Mungkin yang kami lakukan mempunyai arti dan bahkan tidak menghasilkan apa-apa. Tetapi nampaknya sangat menyenangkan hati.”

 

Daruwerdi melangkah mendekat. Ketika ia memandang Jlitheng, maka Jlitheng itupun tersenyum sambil berkata, “Sekerdar mengisi waktu karena tidak ada kerja disawah Daruwerdi.”

 

Daruwerdi mengangguk-angguk. Kemudian iapun bertanya, “Apa rencana Kiai sebenarnya ?”

 

“Ah, sekedar membuat tempat tinggal dan sebidang tanah untuk mencari makan ngger,“ jawab Kiai Kanthi.

 

“Untuk itu Kiai telah bekerja begitu keras ?”

 

“Tanpa bekerja keras, aku tidak akan memiliki apa-apa, ngger. Dengan bantuan beberapa anak muda ini, aku akan mempunyai sebuah pondok kecil dan secabik tanah untuk menyebar benih jagung.”

 

“Dan apakah yang lakukan dengan jalur-jalur air hujan itu ?” Daruwerdi mendesak.

 

“Untuk mengalirkan air kesebidang tanah itu ngger,“ jawab Kiai Kanthi.

 

“Jika demikian, aku mempunyai pikiran,“ berkata Daruwerdi. Namun Jlitheng telah menyahut, “Itulah Daruwerdi. Tetapi air itu tidak akan kering dikotak-kotak pertama tanah Kiai Kanthi. Jika air itu tersisa, maka air itu tentu dapat dipergunakan oleh orang-orang Lumban.”

 

“Itulah yang aku katakan. Hal itulah yang ada dibenakku. Justru karena aku mengerti kepentingan orang-orang Lumban,“ berkata Daruwerdi.

 

“Dan kami sudah mengerjakannya,“ sahut Jlitheng, “meskipun sangat lamban.”

 

Wajah Daruwerdi menegang. Ia merasa seolah-olah Jlitheng tidak mau mendengar tanggapannya atas air yang melimpah, atau karena Jlitheng merasa telah memikirkannya terlebih dahulu.

 

Namun dalam pada itu Jlitheng berkata, “Tetapi, apa yang kami kerjakan ini bukanlah pikiran kami. Kiai Kanthilah yang mula-mula menyebutnya. Ia melihat air yang melimpah tanpa dimanfaatkan oleh orang-orang Lumban. Karena keinginannya untuk membuat sebuah padepokan, maka kami anak-anak Lumban dapat saling mengambil manfaat. Kami membantu Kiai Kanthi, tetapi kamipun akan mendapatkan air yang sangat berharga bagi Lumban.”

 

Daruwerdi memandang Jlitheng dengan tajamnya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ditempat itu terdapat beberapa orang saksi atas pembicaraan mereka, sehingga orang-orang itu tahu benar, bahwa ia tidak akan dapat mengatakan bahwa pikiran untuk mengalirkan air ke sawah orang-orang Lumban itu adalah karena pikirannya. Anak-anak muda Lumban itu memang sudah mengerjakannya bersama Kiai Kanthi. perantau yang aneh itu.

 

Sejenak Daruwerdi termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Siapapun yang memikirkannya, tetapi air itu memang diperlukan oleh orang-orang Lumban. Karena itu, kalian harus berbuat sebaik-baiknya, sehingga air itu tidak justru menjadi larut kedalam jalur-jalur air hujan dan hilang kedalam tanah.”

 

“Demikianlah yang terjadi sekarang, Daruwerdi,“ jawab Jlitheng, “air belumbang yang melimpah itu mengalir ke lubang-lubang dan meresap kedalam tanah. Tetapi air itu tidak membuat tanah di Lumban menjadi basah, karena air itu mengalir dengan derasnya dibawah tanah.”

 

Daruwerdi mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak dapat membantah.

 

“Lakukanlah kerja ini sebaik-baiknya,“ berkata Daruwerdi kemudian, “aku akan memberikan petunjuk-petunjuk kelak jika air itu sudah mulai mengalir kedataran.”

 

Jlitheng menegang sejenak. Tetapi ia segera berusaha menghapus kesan itu diwajahnya. Bahkan kemudian iapun tersenyum sambil berkata, “Terima kasih Daruwerdi. Kami tentu akan memerlukan petunjuk dari banyak pihak. Mungkin kau mempunyai pengetahuan yang cukup banyak tentang jalur jalur air ditanah persawahan. Dan kamipun tentu akan minta petunjuk Ki Buyut di Lumban Wetan dan Ki Buyut di Lumban Kulon.”

 

Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Dengan wajah yang berkerut ia memperhatikan keadaan disekelilingnya. Meskipun belum ada ujud, tetapi ia sudah dapat membayangkan, bahwa didataran sempit itu akan dibangun sebuah gubug sesuai dengan patok kayu yang nampak diempat sudutnya. Tidak terlalu jauh dari gubug itu, akan mengalir air dari belumbang yang melimpah. Sedikit lebih tinggi, dari gubug itu, akan terdapat sebuah gerojogan air yang kemudian merambat menuruni lereng sampai kedataran. Didataran itu kelak akan terdapat kotak-kotak sawah yang tidak akan pernah kering disegala musim. Lumpur yang basah terbentang diantara kotak-kotak pematang.

 

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari keterlambatannya. Selama ia berada di Lumban, ia tidak pernah memikirkan perubahan yang dapat dilakukan atas padukuhan itu, sehingga akan dapat menambah besar pengaruhnya atas orang-orang Lumban.

 

“Aku lebih banyak berpikir tentang masalah-masalah yang besar,“ katanya didalam hati. “Namun air itu bagi orang-orang Lumban akan menjadi masalah yang jauh lebih besar, meskipun bagiku hanyalah masalah yang kecil.”

 

Untuk beberapa saat Daruwerdi masih memperhatikan dataran sempit itu. Beberapa orang, anak muda yang sedang bekerja di lereng itupun berhenti sejenak memperhatikan, apakah yang akan dilakukan oleh Daruwerdi.

 

Tetapi Daruwerdi tidak menemukan sesuatu yang dapat di lakukan sebagai imbangan kekecewaan hatinya. Ia tidak dapat menemukan sesuatu yang akan dapat dianggap pikiran baru yang bermanfaat bagi Lumban.

 

“Masih banyak waktu,“ katanya kemudian didalam hati, “aku akan mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagi padukuhan itu, sehingga mereka akan tetap menganggap aku orang terpenting dipadukuhan ini.”

 

Dengan demikian, maka Daruwerdi tidak berada terlalu lama dilereng bukit itu. Sekali lagi ia masih mencoba untuk menyarankan agar Kiai Kanthi dan anaknya tinggal dipadukuhan. Tetapi dengan nada dalam Kiai Kanthi menjawab, “Terima kasih ngger. Aku sudah mulai dengan pekerjaan ini dibantu oleh anak-anak muda dari Lumban.”

 

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku pernah mengatakan kepadamu Kiai. Kau adalah orang yang mementingkan dirimu sendiri. Seharusnya kau memperhatikan anak gadismu yang malang itu. Mungkin kau ingin mendapat sebutan cikal bakal, atau orang yang babad-babad sebuah padepokan yang tentu kau harap akan dapat terkenal kelak. Tetapi ketenaran namamu itu kau tebus dengan mengorbankan anak gadismu. Bukan saja jasmani, tetapi juga jiwani. Ia akan menjadi gadis yang dungu dan bebal. Gadis yang tidak akan pernah mendapatkan jodohnya dimasa mendatang, meskipun ia sudah lama melampaui masa remajanya.”

 

Kata-kata itu telah menyentuh perasaan Kiai Kanthi, sehingga terasa dadanya bergetar. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Anakku yang malang. Tetapi apakah memang nasib telah membawanya ketempat yang sepi dan terasing? Anakmas, meskipun aku akan membangun sebuah gubug disini, aku akan berusaha untuk memberikan kesempatan anakku bergaul dengan orang-orang padukuhan. Ia akan ikut serta bertanam padi bersama gadis-gadis Lumban jika diperkenakan. Ia akan ikut menuai dan melakukan kerja yang lain. Jika air itu sudah turun ke dalam parit, maka sawah akan terbentang semakin luas, dan kesempatan ikut menggarap sawah bagi gadis-gadispun akan bertambah.”

 

Daruwerdi mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia berkata. “Agaknya kau memang orang yang keras hati, meskipun tanpa perhitungan. Itu terserah kepadamu. Anak itu adalah anakmu. Aku tidak mempunyai sangkut paut dengan kau dan anakmu.”

 

Daruwerdi tidak menunggu jawaban lagi. Dengan kesan yang buram ia melangkah meninggalkan Kiai Kanthi dan anak-anak muda yang sedang bekerja dilereng bukit untuk membuat sebuah gubug kecil bagi tempat tinggal Kiai Kanthi dan anaknya. Tetapi kerja yang lebih besar dari itu adalah usaha mereka untuk menguasai arus air dari belumbang yang melimpah itu.

 

Di lereng yang menurun Daruwerdi menghentakkan tangannya dengan geram. Namun iapun kemudian bergumam, “Persetan dengan orang-orang Lumban. Aku tidak peduli. Biar tanahnya menjadi kering dan gersang. Atau Jlitheng akan diangkat menjadi pahlawan. Aku bukan orang Lumban, dan aku tidak akan tinggal di Lumban terlalu lama.”

 

Dengan wajah yang gelap Daruwerdi menuruni tebing semakin cepat. Dengan tangkas ia meloncat dari batu kebatu padas yang lain, tanpa berpaling lagi.

 

Sementara itu, Kiai Kanthi dan beberapa anak muda dari Lumban itupun telah melanjutkan kerja mereka. Dua orang diantara mereka telah memotong beberapa batang kayu yang akan dipergunakan sebagai tiang gubug kecil yang akan dibangun, sementara yang lain masih menebangi pohon-pohon yang tidak diperlukan didataran sempit itu. Sedangkan Kiai Kanthi, Jlitheng dengan satu dua orang lainnya, masih saja sibuk membenahi saluran air yang juga ingin segera diselesaikan.

 

Dalam pada itu, jauh dari daerah Lumban, disebuah padepokan yang besar, tidak jauh dari pusat Kota Demak, seseorang sedang duduk dihadap oleh dua orang lainnya. Seorang yang berwajah bulat, bermata terang dan tajam. Meskipun beberapa helai rambutnya telah putih, tetapi nampak betapa tubuhnya yang kekar itu menyimpan kemampuan tiada taranya.

 

Sedangkan kedua orang lainnya, masih nampak lebih muda. Wajah mereka nampak keras dan bersungguh-sungguh. Seorang dari mereka berkumis lebat, sedangkan yang lain berwajah halus dan tampan.

 

Dengan sungguh-sungguh ketiganya sedang membicarakan teka-teki yang sedang mereka hadapi. Seolah-olah teka-teki yang tidak terpecahkan.

 

“Mereka tidak pernah kembali,“ desis yang berkumis lebat.

 

“Dua orang yang menyusul itupum tidak kembali,“ sahut yang lain.

 

Orang yang berwajah bulat itupun mengerutkan keningnya. Katanya, “Kedua orang itu tidak tahu, apakah yang telah dilakukan oleh Ular Sanca itu.”

 

“Tidak Kiai,“ jawab orang berkumis lebat, “kami hanya memerintahkannya untuk menyusul kedaerah Lumban. Mereka harus mencari keterangan, dimanakah Ular Sanca itu, atau mendengarkan kabar, apakah sebenarnya yang telah terjadi di daerah Lumban. Tetapi mereka tidak pernah kembali.”

 

“Apakah menurut dugaanmu, Daruwerdi yang bergelar Padmasana itu berbuat curang ? Ia telah melepaskan perjanjian diantara kita dan mencari keuntungan bagi dirinya sendiri atau bahkan ingin memilikinya sendiri, karena pusaka itu akan dapat membuatnya menjadi seorang prajurit pinunjul ?”

 

“Kiai Pusparuri,“ berkata orang berkumis lebat itu, “aku tidak dapat mengatakannya demikian. Menurut pengamatanku, ia adalah seorang anak muda yang keras hati, tetapi juga memegang teguh janji yang telah disepakati.”

 

“Siapa tahu, bahwa ketamakan yang tumbuh dihatinya karena keinginannya untuk menanjak jauh lebih cepat, telah merubah sifat-sifat yang kau kenal itu,“ sahut kawannya yang berwajah bersih.

 

“Aku yakin,“ bantah orang berkumis. Namun kemudian suaranya menurun, “tetapi banyak kemungkinan yang dapat terjadi.”

 

“Jadi apakah yang baik menurut pertimbanganmu Sentika?“ bertanya orang berwajah bulat itu.

 

Orang berkumis lebat itu termangu-mangu. Dipandanginya orang berwajah bersih itu sejenak. Namun karena orang itu menunduk, maka ia tidak mendapatkan kesan apapun.

 

“Kiai,“ berkata orang berkumis itu, “sulit untuk mengatakannya sekarang. Agaknya daerah Lumban merupakan rahasia yang harus dijajagi sendiri. Aku akan menemui Daruwerdi untuk menuntut pertanggungan jawab atas persetujuan yang sudah kita buat.”

 

“Apa pendapatmu Laksita?“ bertanya orang berwajahl bulat itu kepada yang berwajah bersih.

 

“Kita kurang terbuka Kiai. Kita tidak mengatakan yang sesungguhnya kepada kedua orang yang kita perintahkan untuk menyusul Ular Sanca. Dengan demikian, mereka tidak mudah untuk mendapatkan keterangan tentang Daruwerdi dan Ular Sanca itu. Mereka hanya tahu, bahwa salah seorang dari kita telah pergi ke Lumban dan tidak pernah kembali.”

 

“Jadi, apakah sebaiknya yang kita lakukan menurut pendapatmu ?”

 

“Aku kira, masih belum perlu kita atau salah seorang dari kita untuk pergi ke Lumban. Kita akan dapat memerintahkan satu dua orang yang dapat kita percaya, tetapi dengan keterangan yang jelas. Mereka harus mengetahui dengan pasti, apakah yang seharusnya mereka lakukan.”

 

“Bagaimana jika orang-orang itu bertemu dengan orang-orang Gunung Kunir atau orang-orang Kendali Putih atau perguruan-perguruan yang lain ? Jika nasib mereka buruk, maka meteka akan dapat diperas dan dipaksa untuk mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak mereka mengerti,“ sahut orang berkumis lebat itu.

 

“Jadi menurut kakang Sentika, orang-orang Gunung Kunir dan Kendali Putih masih belum mengetahui sama sekali tentang pusaka-pusaka itu ?“ bertanya Laksita.

 

Orang berkumis itu termangu-mangu.

 

“Kita mendengar hal itu dari seorang perwira yang bertugas di Gedung perbendaharaan pusaka. Kemudian kita mendengar jalur perjalanan Pangeran Pracimasanti. Pengawalnya masih melihat pusaka itu sebelum Pangeran Pracimasanti dalam perjalanan jauhnya melewati daerah yang disebut Sepasang Bukit Mati. Yang satu bukit gundul dan yang lain berhutan lebat dan dihuni oleh binatang-biniatang buas. Sehingga hutan itu disebut hutan yang paling wingit, karena setiap orang yang menyentuhkan kakinya, akan mati ditelan binatang buas.”

 

Kiai Pusparuri mengerutkan keningnya. Kemudian iapun memotong, “Kita sudah mendengar semuanya tentang hal itu. Tetapi bagaimana dengan orang-orang Kendali Putih, orang-orang Gunung Kunir, orang-orang yang menyebut dirinya perguruan Putih dari aliran Gatra Bantala yang mempunyai ciri-ciri yang gila itu ?”

 

Laksita termangu-mangu sejenak. Namun iapun menjawab, “Dugaanku justru yang menggelisahkan kita semuanya disini. Merekapun tentu sudah mendengar seperti yang kita dengar. Orang-orang dari Gedung Perbendaharaan Pusaka itu bukan orang-orang yang pandai menyimpan rahasia. Tetapi mungkin mereka belum mendengar jalur perjalanan Pangeran Pracimasanti yang melalui Sepasang Bukit Mati itu.”

 

Kiai Pusparuri mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita akan segera mengambil sikap. Kita harus mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. Pusaka itu akan memberikan pengaruh yang besar pada siapapun yang memilikinya. Orang itu akan mempunyai kewibawaan tinggi, kemampuan yang tidak ada duanya dalam olah kanuragan, dan pada pusaka itu sendiri tersimpan kekuatan gaib yang tidak ada duanya.”

 

Sentika dan Laksita hanya mengangguk-angguk saja. Mereka tahu, bahwa yang akan mereka hadapi adalah tugas-tugas yang berat untuk memperebutkan sebuah pusaka seperti dongeng-dongeng yang sudah banyak mereka dengar. Pusaka ditangan seseorang pada umumnya justru tidak memberikan drajat, pangkat atau semat, tetapi malahan telah merampas nyawa mereka, karena diantara para sakti telah terjadi saling berebutan dengan taruhan yang paling mahal, ialah nyawanya.

 

“Mustahil bahwa Kiai Pusparuri tidak memperhitungkan hal itu,“ berkata Sentika didalam hatinya.

 

Tetapi Laksita berkata lain didalam dirinya, “Tentu bukan kewibawaan tinggi, kemampuan yang tidak ada duanya atau kekuatan gaib yang tersimpan didalam pusaka itu. Tentu karena Kiai Pusparuri mengetahui bahwa pada wrangka atau ukiran pusaka yang sedang dicari itu atau pada peti atau kain pembungkusnya, terdapat keterangan tentang harta yang tidak ternilai harganya, yang disimpan oleh Pangeran Pracimasanti sebagai bekal untuk membangun kembali kekuasaan Keturunan Raden Wijaya. Tetapi sebelum hal itu sempat dilakukan. Pangeran Pracimasanti telah dipanggil kembali menghadap penciptanya tanpa diketahui oleh siapapun kecuali oleh seorang hambanya yang paling setia, tetapi buta dan tuli.”

 

Namun Laksita tidak mengatakannya kepada siapapun juga. Tidak pula kepada Sentika. ia menyimpan hal itu didalam dirinya. Tetapi seperti bara didalam sekam, pengertian itu telah membakar jantungnya perlahan-lahan. Keinginan yang serupa untuk memiliki pusaka itu telah menghanguskan nalarnya, sehingga akhirnya ia tidak mempunyai pilihan lain, kecuali menemukan pusaka itu. Mengambil keterangan yang diperlukan, kemudian membiarkan pusaka itu diketemukan oleh orang lain.

 

Tetapi seperti yang dikatakan, Laksita memang mencemaskan orang-orang dari perguruan lain. Jika ia berkesempatan mendengar hal itu, maka adalah tidak mustahil bahwa orang lainpun kesempatan yang sama. Bahkan mungkin merekapun dapat mendengarnya lebih banyak lagi tentang Pangeran Pracimasanti atau tentang pusaka itu sendiri.

 

Dalam pada itu. Kiai Pusparuripun berkata, “Santika dan Laksita. Cobalah kau jajagi sampai dimana pendengaran orang-orang kita sendiri. Pelajari, apakah untung dan ruginya jika kita memberikan perintah terbuka untuk mencari orang-orang kita yang telah pergi kedaerah Sepasang Gunung Mati itu.”

 

Sentika dan Laksita mengangguk dalam-dalam.

 

“Baiklah Kiai,“ berkata Santika yang berkumis lebat itu, “kami akan melakukannya.”

 

“Waktu kalian tidak panjang. Aku akan segera mengambil keputusan yang menentukan.”

 

“Baiklah Kiai,“ Laksitalah yang kemudian menjawab, “aku memang menganggap bahwa kami berdua belum perlu turun ke medan perburuan pusaka itu. Tetapi jika perlu dan keadaan memaksa, maka sudah barang tentu, kami berdua tidak akan berpangku tangan. Apalagi kami mengetahui, bahwa pusaka itu mempunyai arti yang sangat besar bagi seseorang yang memilikinya.”

 

“Terima kasih. Tetapi lakukanlah perintahku yang pertama,“ sahut Kiai Pusparuri.

 

“Ya Kiai,“ hampir berbareng keduanya menjawab.

 

Kemudian Sentika dan Laksitapun minta diri dari hadapan Kiai Pusparuri. Mereka ingin segera mengetahui, apakah medan yang mereka hadapi merupakan medan yang sulit dan berat, bahkan tidak akan terseberangi.

 

Di halaman padepokan, dibawah sebatang pohon yang rimbun, mereka sempat berbincang sejenak, apakah yang sebaiknya akan mereka lakukan.

 

“Kita masuki barak anak-anak itu. Kita bertanya, apakah yang mereka ketahui tentang Pangeran Pracimasanti,“ desis Sentika.

 

“Terlalu langsung,“ sahut Laksita, “kita mencoba berbelit-belit sejenak. Mengucapkan kata-kata yang sulit mereka mengerti. Kemudian baru kita akan sampai pada pokok masalahnya, sehingga seolah-olah yang kita tanyakan itu bukannya pokok persoalan yang sebenarnya. Dengan demikian mereka tidak akan terpancang pada persoalan itu saja. Kepada orang lainpun mereka tidak akan memperbincangkannya lagi.”

 

“Kau selalu cerdik. Aku setuju. Karena itu, kau sajalah yang mula-mula berbicara. Sedikit berbelit-belit dan tidak mereka ketahui. Kemudian baru kau bertanya sambil lalu. Dan dengan acuh tidak acuh, apakah diantara mereka mengetahui serba sedikit tentang Pangeran Pracimasanti.”

 

“Jika tidak seorangpun yang tahu, kita mundur sedikit. Kita bertanya tentang Sepasang Bukit Mati. Jika mereka tidak mengerti, kita bertanya tentang yang lain lagi. Tentang Lumban dan sekitarnya dan tentang Ular Sanca dan kedua orang kita yang tidak kembali itu.”

 

Sentika mengangguk-angguk, ia memang menganggap laksita cerdik dan pandai berbicara. Karena itu, maka diserahkannya soal itu kepada Laksita untuk menyampaikannya kepada orang-orangnya. Orang-orang padepokan Pusparuri yang terikat kepada suatu anggapan, bahwa Kiai Pusparuri, guru mereka adalah orang yang paling mumpuni diseluruh muka bumi. Dengan demikian, maka apa yang dikatakan, apa yang diperintahkan dan apa yang diputuskan, adalah ketentuan yang tidak dapat diganggu gugat lagi.

 

Ketika kemudian Sentika dan Laksita berdiri diantara orang-orang perguruan Pusparuri. seperti biasanya keduanya disambut dengan hati yang berdebar-debar dari orang-orang yang selalu siap menunggu perintah.

 

Dengan caranya Laksita memberikan sesorah singkat, ia mengucapkan kata-kata yang muluk dan sulit dimengerti. Menyinggung mengenai masa depan dan harapan-harapan bagi setiap orang yang patuh. Namun akhirnya ia sampai juga pada maksudnya. Sambil lalu ia bertanya, “apakah ada diantara mereka yang pernah mendengar nama Pangeran Pracimasanti.”

 

Ternyata tidak seorangpun yang pernah mendengarnya. Ketika kemudian Laksita bertanya tentang Sepasang Bukit Matipun tidak ada yang pernah mengetahuinya pula. Sedangkan ketika Laksita terpaksa menyebut padukuhan Lumban. maka beberapa orang diantara mereka menyatakan bahwa mereka memang pernah mendengarnya.

 

“Tidak ada gunanya kita berbicara dengan mereka,“ berkata Laksita ditelinga Sentika, “mereka adalah kerbau-kerbau dungu yang hanya dapat diperintah dan dibentak.”

 

“Jadi?”

 

Laksita mengangkat pundaknya, Katanya, “Aku tidak melihat jalan lain. Akhirnya kita juga yang harus berbuat sesuatu untuk menemukannya.”

 

“Kau tadi yang mengatakan bahwa kita belum perlu untuk pergi ke Lumban mencari keterangan tentang pusaka itu. Apakah kau mempunyai pertimbangan lain sekarang ?”

 

“Aku mempunyai pertimbangan lain setelah aku melihat kenyataan ini.”

 

“Apa?”

 

Laksita tidak menjawab. Dipandanginya beberapa orang yang termangu-mangu memperhatikannya dengan saksama.

 

“Nanti sajalah,“ desis Laksita.

 

Seperti biasa Sentika tidak membantah. Ia terlalu percaya kepada kecerdikan Laksita, sehingga karena itu, maka iapun mengangguk-angguk diam.

 

Sementara ku, maka Laksitapun segera menutup pertemuan itu. Dengan lantang ia berkata, “Bersiaplah. Mungkin dalam waktu dekat kalian akan mendapat tugas khusus. Mungkin dua atau tiga orang. Tetapi mungkin delapan atau sepuluh.”

 

Wajah-wajah yang mendengar perintah itu menegang sejenak. Namun merekapun segera mengangguk-angguk. Ada diantara mereka yang merasa lebih senang berada di arena tugas betapapun beratnya. Kadang-kadang didalam tugas mereka mendapatkan sesuatu yang berharga, yang tidak diketahui oleh orang lain, sehingga dapat dimilikinya sendiri. Satu dua orang diantara mereka telah pernah mendapatkan keris atau timang dari emas. Kadang-kadang sebentuk cincin atau kadang-kadang mereka sempat merampas perhiasan yang sedang dipakai oleh seseorang. Atau dengan berdebar-debar menyempatkan diri berbuat kasar terhadap perempuan dan gadis-gadis.

 

Ketika orang-orang itu telah meninggalkan Sentika dan Laksita, maka mulailah Laksita menjelaskan, “Tidak ada harapan. Aku masih berharap bahwa mereka dapat mengerti serba sedikit. Tetapi ternyata mereka memang terlalu bodoh dan dungu. Untuk melakukan kekerasan, mereka adalah orang-orang yang memang pilihan. Tetapi untuk menentukan sikap, memang seharusnya bukan mereka. Aku tadi keliru menilai.”

 

“Jadi menurut pendapatmu, kita berdua lebih baik pergi ke Lumban untuk menangani masalah ini secara langsung ?”

 

Laksita menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kita berdua, atau salah seorang dari kita. Atau kita bersama-sama mencari keterangan dengan sasaran yang berbeda agar kita dapat membagi tenaga dan kesempatan, tidak harus langsung ke Lumban.”

 

“Jika demikian, kita akan menyampaikan kepada Kiai Pusparuri. Aku memang condong berbuat demikian sejak semula untuk mempercepat penyelesaian. Bagiku lebih cepat lebih baik. Korban akan dapat dikurangi.”

 

“Kita mendapat waktu satu hari satu malam untuk menyampaikan gagasan kita,“ desis Laksita.

 

“Aku condong untuk segera menyampaikannya, agar kita segera dapat berbuat sesuatu.”

 

“Jangan tergesa-gesa. Kita menunggu semalam. Mungkin kita masing-masing menemukan sesuatu yang lebih baik dari yang kita pikirkan sekarang ini.”

 

Sentika mengangguk-angguk. “ Baiklah. Aku akan menyabarkan diri semalam ini. Aku akan tidur dirumah isteriku yang ke tiga. Ia memerlukan aku malam ini, karena sudah dua hari ia sakit panas.”

 

“Persetan dengan isterimu yang ketiga, keempat atau ketigapuluh sembilan. Masalah yang kita hadapi adalah masalah yang gawat. Dengan pusaka itu ditangan, Kiai Pusparuri akan mempergunakan segala pengaruh dan wibawa yang ada untuk mempengaruhi pimpinan pemerintahan. Sementara Kiai Pusparuri sedang memperhitungkan setiap langkah, bagaimana ia dapat menyelusuri jalan yang licin disela-sela kuasa para Adipati dan pimpinan tanah Perdikan diluar istana, dan para Bupati dan Nayaka serta para Panglima didalam istana, kau ribut dengan isterimu yang tidak terhitung jumlahnya itu.”

 

“Bukan maksudku. Memang mereka tidak penting. Tetapi bagaimanapun juga merupakan sebagian dari hidupku.”

 

“Besok pagi-pagi kita bertemu. Kita akan menentukan langkah yang paling baik menghadapi masalah yang gawat ini. Kita masih harus memikirkan orang-orang Kendali Putih, orang-orang Gunung Kunir dan ibhs-iblis dari Sanggar Gading,“ berkata Laksita sambil menghentakkan tangannya.

 

Dalam pada itu, di daerah Lumban, anak-anak muda masih saja bernafsu untuk mendapatkan pengetahuan olah kanuragan dari Daruwerdi. Ketika senja mulai turun, maka, latihan yang diadakan didekat bukit gundul itu berakhir. Sakelompok-sekelompok anak-anak muda dari Lumban Wetan dan Lumban Kulon meninggalkan bukit gundul itu kembali kepadukuhan. Tidak ada diantara mereka yang berani seorang diri singgah disungai. Karena itulah, maka sebagian anak-anak muda itu bersama-sama dalam kelompok yang besar turun dan mandi bersama-sama. Meskipun demikian, ketika warna merah dilangit menjadi buram kehitam-hitaman maka dengan tergesa-gesa mereka berpakaian dan berlari-lari naik keatas tanggul.

 

“Tunggu, he tunggu,“ teriak seorang anak muda yang gemuk.

 

“Cepat,“ sahut kakaknya, “jika kau ketinggalan, maka kau akan disergap hantu.”

 

“Jangan sebut,“ anak gemuk itu semakin ketakutan, “tunggu aku.”

 

Tetapi justru karena ia menjadi semakin ketakutan, maka kakinya menjadi gemetar. Beberapa kali ia tergelincir ketika ia memanjat tebing.

 

“Tunggu, hei tunggu,“ kakaknyapun berteriak.

 

Beberapa orang anak muda berhenti. Ketika mereka berpaling, mereka melihat seorang kawannya sedang menolong adiknya yang gemuk naik keatas tanggul.

 

“Cepat,“ teriak salah seorang dari anak-anak muda itu.

 

“Tunggulah sebentar.”

 

Jlitheng yang ada diantara mereka kemudian berkata, “Kita menunggu mereka sebentar.”

 

“Sebentar lagi gelapnya menjadi semakin pekat,“ desis seorang kawannya.

 

“Tetapi kita tidak sendiri. Kita akan dapat saling menolong. Hantu itu tidak akan berani mengganggu kita berenam.”

 

Kawan-kawannya berhenti juga meskipun gelisah. Yang lain telah menjadi semakin jauh dan hilang dibalik gerumbul perdu.

 

Sejenak kemudian kedua kakak beradik itu telah menyusul. Merekapun semuanya bergegas menyusul kawan-kawannya yang telah menjadi semakin jauh.

 

Namun dalam pada itu, yang menjadi perhatian Jlitheng sama sekali bukan gelapnya malam dan hantu-hantu yang mulai berkeliaran. Tetapi ia menjadi curiga, bahwa Daruwerdi masih berada dibukit gundul ketika anak-anak muda dari Lumban sudah meninggalkannya.

 

“Apakah ia mempunyai rencana tersendiri?“ berkata Jlitheng didalam hatinya.

 

Tetapi bersama-sama dengan beberapa kawannya Jlitheng kembali kepadukuhan Lumban Wetan agar tidak menarik perhatian mereka. Apalagi kawan-kawannya yang disiang hari ikut serta membantunya membuat gubug dilereng bukit berhutan, sebelum mereka pergi kebukit gundul mengikuti latihan yang diselenggarakan oleh Daruwerdi.

 

“Pikiran orang tua itu ternyata akan sangat bermanfaat,“ desis seorang kawannya yang bersama Jlitheng kembali kepadukuhan.

 

“Kita akan segera menyelesaikannya,“ sahut Jlitheng, “jika air itu sudah mengalir, maka akan terbukalah hati setiap orang dipadukuhan ini,“ ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi jangan memberikan harapan yang berlebih-lebihan kepada sanak kadang. Jika kerja ini meleset, mereka akan menjadi sangat kecewa.”

 

“Ah, tentu tidak,“ jawab kawan Jlitheng, “aku belum mengatakan kepada siapapun.”

 

“Kemarin aku dengar kau berceritera tentang air kepada pamanmu,“ tiba-tiba kawannya menyahut.

 

“O, ya. Baru kepada paman,“ jawab anak muda itu.

 

“Kepada Ki Lengit disudut padukuhan, kau juga mengatakannya.”

 

“O ya. Hanya kepada paman dan Ki Lengit.”

 

“Aku mendengar kau berceritera tentang kerja dilereng bukit itu kepada Jinten, gadis berambut jagung itu.”

 

“Ah. Ya, ya. Baru kepadanya.”

 

“Baru kepada satu, dua, tiga, sepuluh, duapuluh orang.“ Kawan-kawannya tertawa. Sementara Jlitheng sambil tersenyum menengahi, “sudahlah. Tetapi untuk seterusnya, jangan kau ceriterakan lagi.”

 

Anak muda itu mengangguk-angguk.

 

Namun dalam pada itu. ketika anak-anak muda dari Lumban Wetan yang pulang bersama Jlitheng itu satu-satu sudah masuk kedalam rumahnya, maka Jlithengpun dengan tergesa-gesa pulang pula kerumahnya. Tetapi ia hanya sekedar minta ijin kepada ibunya. Kepada perempuan tua itu ia berkata, bahwa ia akan berada digardu. karena ada masalah yang akan dibicarakan dengan kawan-kawannya.

 

Tetapi kemudian dengan tergesa-gesa. Jlitheng telah pergi kebukit gundul. Seperti yang pernah dilakukannya, maka dengan sangat berhati-hati ia mencoba untuk mengintai, apa yang terjadi diatas bukit padas itu.

 

Beberapa saat lamanya, Jlitheng bersembunyi dibalik gerumbul dibawah bukit. Jika ia mulai memanjat, maka ia tidak akan dapat mencari perlindungan dedaunan lagi. Ia hanya dapat berlindung diantara batu-batu padas yang mencuat dan lekuk-lekuk yang digoreskan oleh air hujan.

 

Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia melihat bayangan dalam kegelapan. Tidak jauh dari tempatnya bersembunyi. Bayangan itu melintas kekaki bukit. Namun kemudian nampak ia duduk diatas batu padas.

 

“Bukan Daruwerdi,“ desis Jlitheng didalam hatinya.

 

Namun Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar. Menurut perhitungannya, tentu Daruwerdi akan segera datang. Padahal, ketika anak-anak muda Lumban meninggalkan tempat itu, ia masih tetap duduk diatas batu padas beberapa langkah dari orang asing itu duduk.

 

Karena itu, maka Jlitheng harus berhati-hati. Jika ia bernasib baik, maka ia akan mendengar beberapa masalah yang selama ini masih tetap gelap baginya meskipun pokok-pokok persoalannya telah pernah di dengarnya.

 

Jlitheng menjadi gelisah, karena nampaknya orang itu masih tetap duduk dengan tenang. Sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan seseorang yang sedang menunggu.

 

Jlithenglah yang kemudian menjadi berdebar-debar. Ia hampir tidak sabar lagi melihat sikap orang itu, yang sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan disekelilingnya.

 

“Mungkin waktunya memang belum sampai,“ desis Jlitheng.

 

Tetapi ia harus menahan nafas ketika ia kemudian melihat bayangan yang lain. Bayangan seseorang yang mendekati orang yang telah duduk menunggunya.

 

“Akhirnya kau datang juga Cempaka,“ desis orang yang baru datang.

 

Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar. Orang itu adalah Cempaka, yang namanya pernah didengarnya beberapa saat yang lampau.

 

“ Aku sudah mengirimkan pesan itu Daruwerdi,“ jawab Cempaka, “apakah kau tidak menerima?”

 

“Ya. Tetapi aku terlambat menerima pesanmu. Karena itu, aku menunggumu ditempat ini untuk waktu yang sangat lama. Bersamaan dengan peristiwa yang sebenarnya sangat menarik, yang telah terjadi dipadukuhan Lumban.”

 

“Apa yang telah terjadi ?“ bertanya Cempaka.

 

“Seorang anak muda yang dibawa oleh hantu,“ jawab Daruwerdi.

 

“Wewe?”

 

“Mungkin.”

 

Orang disebut Cempaka itu tertawa. Katanya, “Memang sangat menarik. Sayang, aku tidak dapat datang pada waktu itu. Apakah kau tidak berusaha mencari keterangan yang lebih mendalam ?”

 

“Aku terikat disini. Sebenarnya aku juga ingin mencari anak itu,“ jawab Daruwerdi yang kemudian menceriterakan serba sedikit tentang hilangnya Kuncung untuk hampir semalam suntuk.

 

Cempaka tertawa semakin keras. Katanya, “Daerah ini memang penuh dengan rahasia. Aku sudah mendengar, orang-orang Kendali Putih itu hilang di daerah ini. Kemudian orang-orang Pusparuri juga tidak pernah kembali ke padepokannya. Aku memang mencurigaimu.”

 

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bertanya, “Berapa orang menurut pendengaranmu yang telah hilang didaerah ini?”

 

“Tiga orang Pusparuri dan empat orang Kendali Putih,“ jawab Cempaka.

 

Daruwerdi tertawa. Katanya, “Ceritera yang sangat menarik.”

 

“Kau yang membunuhnya ?“ bertanya Cempaka.

 

Daruwerdi memandang wajah Cempaka yang bersungguh-sungguh. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Kau bersungguh-sungguh dengan kecurigaanmu itu ?”

 

“Tentu. Apakah kau dapat menyebut orang lain kecuali kau?”

 

“Aku tidak ingkar. Tetapi jumlahnya agak berbeda. Ketika aku berjanji untuk menerima Ular Sanca, maka dua orang Kendali Putih telah ikut campur dengan membunuhnya. Karena keduanya memaksa aku untuk berbicara tentang pusaka itu, maka aku tidak dapat menahan kesabaranku lagi sehingga keduanya telah aku bunuh. Tetapi hanya itu.”

 

Cempaka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ceritera itu sudah berkembang, atau kau sudah ingkar.”

 

“Kau kenal aku Cempaka. Buat apa aku ingkar ? Kau kira aku takut terhadap orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri seandainya mereka mengetahui bahwa aku yang melakukannya ?”

 

Cempaka mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku mengerti. Kau tidak pernah takut terhadap siapapun juga. Tetapi ceritera itu memang aneh.”

 

“Ceritera itu agaknya memang sudah berkembang. Tetapi bahwa ada dua orang Kendali Putih yang pernah datang, memang mungkin sekali. Seorang anak muda dari Lumban Wetan mengaku pernah diseret oleh dua orang yang tidak dikenal. Tetapi ia tetap hidup.”

 

Cempaka mengerutkan keningnya. Katanya, “Daerah yang disebut Bukit Mati ini memang daerah yang aneh. Mungkin memang benar bahwa Sepasang bukit ini adalah bukit yang tidak dapat dijamah oleh manusia. Siapa yang bermain-main dengan Sepasang Bukit ini akan mati karenanya.”

 

“Kau mulai mempercayainya ?“ bertanya Daruwerdi.

 

Cempaka tertawa. Katanya, “Dan kau masih juga belum mati sampai hari ini. Tetapi memang mungkin akan terjadi besok atau lusa.”

 

“Dan kaupun mulai bermain dengan Sepasang Bukit Mati itu pula,” jawab Daruwerdi

 

Keduanya tertawa. Sementara Jlitheng menahan nafasnya. Ia sadar bahwa kedua orang dibukit gundul itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga jika ia tidak berhati-hati, maka ia akan terjebak dalam kesulitan.

 

Sementara itu, Cempaka berkata, “Sudahlah Daruwerdi. Biarlah aku mencari keterangan yang lebih banyak tentang orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri yang hilang itu. Meskipun aku sudah berpesan kepada murid-murid Sanggar Gading, bahwa jika aku juga tidak kembali, maka aku telah ditelan oleh Sepasang Bukit Mati.”

 

Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau bergurau. Tetapi mungkin itu mempunyai kepentingan dengan kau.”

 

“Butalah,“ jawab Cempaka “ .tetapi bagaimana dengan persoalan kita ? Aku tahu. bahwa kau sudah mempunyai sikap yang pernah kau tawarkan kepada orang-orang Pusparuri. Tetapi mungkin kau mempunyai pertimbangan lain tentang pusaka itu ?”

 

“Sudah pernah aku katakan. Aku sudah berjanji dengan orang-orang Pusparuri. Kecuali jika pihak lain dapat menunjukkan bukti bahwa mereka lebih berkepentingan dengan pusaka itu daripada Kiai Pusparuri sendiri.”

 

“Bukti itu pernah aku tawarkan. Bukan aku sendiri. Tetapi seseorang yang mempunyai derajat yang sesuai dengan pusaka itu. Jika ia memiliki pusaka itu, maka ia akan menjadi seorang yang berderajat sesuai dengan derajatnya yang sebenarnya. Ia sama sekali tidak ingin merampas kemukten dengan memiliki tahta. Tetapi ia ingin menggenggam hakekat dari kekuasaan yang sebenarnya, yaitu pada inti kekuatan. Dengan kekuatan itu ia akan dapat berbuat apa saja bagi kebahagiaan hidup umat manusia.”

 

Daruwerdi tidak segera menjawab. Agaknya ia sedang merenungi kata-kata Cempaka. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah maksudnya ? Apakah ia ingin menjadi Senapati Agung yang pengaruhnya akan melampaui pengaruh Raja justru karena ia menguasai prajurit ?”

 

Cempaka memandang Daruwerdi dengan tajam. Kemudian ia mengangguk sambil menjawab, “Ya. Begitulah. Dengan kekuasaan yang benar-benar berlandaskan kekuatan ia akan dapat berbuat banyak. Ia dapat memperbaiki segala kesalahan dan kekurangan yang ada, yang nampaknya tidak terjadi secara kebetulan.”

 

Daruwerdi terdiam sejenak. Namun tiba-tiba saja ia tertawa. Semakin lama semakin keras, sehingga tubuhnya terguncang-guncang.

 

“Kenapa kau tertawa ?” bertanya Cempaka.

 

Daruwerdi berusaha untuk menahan tertawanya. Disela-sela suara tertawanya yang tertahan-tahan ia berkata, “Aneh sekali. Tetapi memang mungkin sekali hal itu dapat dilakukan. Setelah mempunyai pengaruh yang sangat besar maka ia akan mengusir raja yang sedang berkuasa.”

 

Cempaka termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Jangan terlalu bodoh. Orang yang aku katakan itu, bukan orang yang berpikiran kerdil. Ia sadar tentang apa yang dilakukan.”

 

Tetapi suara tertawa Daruwerdi justru meledak.

 

“Daruwerdi, apakah kau sudah menjadi gila ?”

 

“Cempaka,“ berkata Daruwerdi diantara gelak tertawanya yang semakin menurun, “kau jangan mengira akulah yang terlalu bodoh atau yang berpikiran kerdil. He, kau kira orang yang kau katakan itu benar-benar ingin mendapatkan pusaka itu karena pengaruh gaibnya ? Karena dengan memiliki pusaka itu ia akan mendapatkan kekuasaan dan derajat?”

 

“Daruwerdi,“ Cempaka memotong, “kau mulai mengigau. Coba katakan, jika kau mengerti, apakah yang sebenarnya ?”

 

“Tidak. Aku tidak mengerti. Bertanyalah kepada orang yang kau sebut itu. Apakah benar seperti yang aku duga ? Atau benar-benar pengertiannya memang sangat kerdil ?”

 

Cempaka menjadi semakin tegang. Dengan nada dalam ia bertanya, “Kau membuat aku semakin bingung. Daruwerdi. coba katakan, apakah yang kau maksud sebenarnya.”

 

“Aku tidak tahu Cempaka. Tetapi baiklah kau sampaikan kepada orang yang kau maksud. Selebihnya, aku akan berusaha untuk menemukan pusaka itu secepatnya berdasarkan keterangan yang kuterima. Setiap orang tentu mengira bahwa akulah orang yang memiliki keterangan terbanyak tentang pusaka itu, karena akulah orang yang dapat bertemu dan berhubungan dengan pengiring Pangeran yang terusir dan telah meninggal itu. Meskipun pengiring itu tua dan cacat.”

 

Cempaka menggeram. Katanya, “Kau memang iblis Daruwerdi. Tetapi berhati-hatilah sedikit dengan sikapmu itu. Mungkin kau memang seorang yang pilih tanding. Tetapi tentu ada orang yang melampaui kemampuanmu dan dapat mencekikmu sampai mati jika kau tidak mau menyebut rahasia itu.”

 

“Siapapun dapat memaksa aku membuka rahasia. Tidak usah dengan mencekikku. Tetapi aku minta seperti yang pernah aku katakan,“ jawab Daruwerdi.

 

“Kau memang orang gila. Kau minta yang sulit dilakukan. He, apakah kau kira permintaanmu itu wajar ?“ bertanya Cempaka.

 

Daruwerdi tertawa kecil. Katanya, “Orang-orang Pusparuri telah menyanggupinya. Tetapi itu tidak terlalu mengikat bagiku. Jika pihak lain dapat menemukan orang itu lebih dahulu, maka aku akan mengatakan kepadanya, sejauh yang aku ketahui tentang pusaka itu.”

 

“Kenapa kau sendiri tidak melakukannya Daruwerdi ? Jika kau merasa seorang yang pinunjul, tentu kau akan berani datang ke istana Kapangeranan dan menantangnya perang tanding.”

 

“Pertanyaan semacam itu sudah aku dengar beberapa puluh kali. Orang-orang lain juga bertanya seperti itu kepadaku. Dan jawabku selalu tidak berubah. Aku harus mengerti tentang diriku sendiri. Aku tidak akan mampu melawan para pengawalnya yang jumlahnya jauh melampaui jumlah pengawal Senapati Agung. Tetapi aku tidak akan dapat melupakan dendamku kepadanya, karena ia telah membunuh ayahku,“ jawab Daruwerdi.

 

“Kau merasa dirimu terlalu lemah. Tetapi kau memang keras kepala. Bagaimana jika terjadi sekelompok kekuatan menangkapmu dan memeras keterangan dari mulutmu dengan kekerasan.”

 

“Adakah kelompok yang akan berbuat demikian ? Aku adalah orang yang mudah mati. Jika aku ditangkap oleh sekelompok yang manapun juga, maka rahasia tentang pusaka itu tidak akan terungkapkan. Kelompok-kelompok yang sedang memburu pusaka itu akan mendendam terhadap siapapun yang berani membunuhku. Dengan demikian, maka kelompok itu tentu akan musna.”

 

“Kau kira tidak ada kekuatan yang dapat menangkapmu tanpa diketahui oleh orang lain ? Sekarang misalnya. Aku akan dapat menangkapmu dan membawamu kepadepokan tanpa diketahui oleh orang lain. Dengan satu isyarat, maka orang-orangku akan datang dengan tali yang tidak akan dapat kau putuskan.”

 

“He, kau kira aku juga sendiri, sehingga kau dapat berbuat curang begitu ?“ bertanya Daruwerdi.

 

“Anak iblis,“ geram Cempaka, “aku tahu, kau hanya menggertakku.”

 

“Kalau begitu lakukanlah yang ingin kau lakukan itu. Tetapi jangan menyesal bahwa padepokanmu akan menjadi karang abang. Orang-orang Pusparuri, orang-orang Kendali Putih dan orang yang mana lagi. akan bersatu dan menghancurkan padepokanmu yang sombong itu.”

 

“Gila. Kau sungguh-sungguh gila. Tetapi baiklah, aku akan mempertimbangkan kemungkinan yang kau kehendaki.”

 

“Kau mempunyai sepasukan pengikut seperti orang-orang Pusparuri dan orang-orang Kendali Putih. Kau dapat menyerbu ke istana Pangeran yang tamak itu dan kemudian menangkapnya dan menyeretnya kepadaku. Aku akan membunuhnya perlahan-lahan meskipun ia akan merengek minta maaf kepadaku. Aku tidak gentar berperang tanding. Tetapi ia sangat curang, sehingga aku tidak akan dapat mempercayai kejantanannya dengan datang keistananya dan menantangnya perang tanding, ia tidak akan segan-segan menggerakkan pengawalnya untuk membunuhku dengan licik.”

 

“Persetan. Aku tidak perlu ceriteramu yang sombong itu. Katakanlah bahwa kau tidak mampu menghadapinya. Aku akan melakukannya. Tetapi jika kau ingkar tentang pusaka itu. maka kau akan mengalami nasib yang paling buruk yang pernah terjadi atas seseorang.”

 

Daruwerdi tertawa. Dipandanginya orang yang menyebut dirinya Cempaka itu dengan pandangan yang kecut.

 

“Jangan mengancam. Belum tentu bahwa kaulah yang akan dapat membawa pangeran itu kepadaku. Mungkin orang-orang Pusparuri. Mungkin dari pihak lain. Aku akan memberikan penawaran terbuka kepada siapapun. Hanya orang-orang Kendali Putihlah yang bodoh, yang ingin memaksakan kehendaknya tanpa melalui pembicaraan yang baik. Karena itu mereka tidak akan pernah kembali kepadepokannya.”

 

“Dan kau telah melakukan sampai dua rambahan. Dua orang yang kau bunuh terdahulu. Kemudian dua orang lagi. Sedangkan yang terakhir adalah dua orang Pusparuri.”

 

“Itu ceritera yang sangat gila. Kau sengaja membuat ceritera semacam itu agar orang-orang Kendali Putih dan Pusparuri mendendamku. Tetapi jika mereka membunuh aku, maka kaupun kehilangan kesempatan sama sekali untuk memiliki pusaka itu.”

 

Orang yang disebut Cempaka itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Ternyata aku berhadapan dengan orang yang paling licik yang pernah aku kenal. Daruwerdi, aku kira bahwa kau adalah seorang laki-laki jantan dan berpegang teguh pada setiap janji yang kau ucapkan. Tetapi sekarang, kau sudah berubah sama sekali. Kau bukan lagi Padmasana yang aku kenal. Setelah kau memasang gelar yang asing itu, kau benar-benar menjadi orang asing bagiku.”

 

“Mungkin,“ jawab Daruwerdi, “tetapi itu bukan terjadi dengan tiba-tiba dan dengan sendirinya. Ada sebab yang menyebabkan aku berubah jika dugaanmu benar.”

 

“Kematian ayahmu ?“ bertanya Cempaka.

 

“Ya. Kematian ayahku telah membuat aku lupa segala-galanya. Aku lupa akan diriku sendiri disaat yang lampau. Lupa akan sifat dan watak itu. Yang aku inginkan kemudian hanyalah membalas dendam. Itu saja. Dan bagi mereka yang dapat menolongku, aku menyediakan imbalan yang tidak ternilai harganya, meskipun belum sepadan dengan nilai ayahku itu.”

 

“Kau memang anak iblis. Tetapi baiklah, aku akan melakukannya. Berapa hari kau memberi aku waktu ?”

 

“Lebih cepat lebih baik,“ jawab Daruwerdi.

 

“Dan pusaka itu kini sudah ditangaumu ?“ bertanya orang itu.

 

“Pertanyaanmu juga gila. Aku tidak dapat menjawab. Tetapi demikian orang yang aku maksud itu kau serahkan kepadaku, maka imbalan itupun akan kalian terima.”

 

“Perubahan sifat dan watakmu membuat aku ragu-ragu.“

 

“Terserah kepadamu,“ jawab Daruwerdi.

 

Cempakapun kemudian bangkit dan berjalan selangkah maju. Katanya, “Aku akan melakukannya. Bukan saja karena pusaka itu. Tetapi aku menjadi kasihan melihat seorang anak muda yang pernah dipuji karena kejantanannya, tiba-tiba telah menjadi licik dan pengecut.”

 

Tiba-tiba saja Daruwerdi tertawa berkepanjangan. Katanya, “Jangan mencoba menyinggung harga diriku. Aku sudah tidak mempunyai harga diri lagi. Kau boleh menghina aku. Kau boleh mengumat tanpa kendali. Apa saja yang kau katakan tentang diriku tidak akan aku hiraukan. Bagiku, orang itu dapat kau bawa kemari.”

 

Terdengar Cempaka menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih berjalan mondar-mandir.

 

“Sudahlah Cempaka,“ berkata Daruwerdi kemudian, “aku tidak dapat terlalu lama disini. Aku akan pergi kegardu ronda. Aku senang berada digardu bersama anak-anak muda yang bodoh dan dungu. Yang hanya tahu merebus ketela pohon sambil berkelakar tanpa arti. Jika kau perlukan aku, hubungi aku. Aku akan sangat bergembira jika kau segera datang dengan orang yang aku inginkan itu.”

 

Cempaka menggeram. Tetapi ia tidak menjawab.

 

Daruwerdilah yang kemudian meninggalkan tempat itu lebih dahulu, sambil berpesan, “Jika kau terlambat, maka pusaka itu akan jatuh ketangan orang lain, dan kau akan kehilangan kesempatan tanpa batas kemungkinan.”

 

“Gila,“ geram Cempaka sambil menghentakkan tangannya. Tetapi Daruwerdi justru tertawa sambil meninggalkan tempat itu.

 

Sepeninggal Daruwerdi, Cempaka masih duduk beberapa saat sambil merenungi kata-kata Daruwerdi. Sekali-kali masih terdengar ia menggeram dengan kesal.

 

Dalam pada itu, Jlitheng yang merasa tidak perlu lagi menunggui Cempaka yang sedang merenung itupun kemudian beringsut. Ia akan segera meninggalkan tempat itu, menemui kawan-kawannya digardu. Jika ia terlalu lama tidak nampak, mungkin kawan-kawannya akan mencarinya. Apalagi jika mereka tidak menemukannya dirumah. Maka tentu akan timbul berbagai macam dugaan. Mungkin justru ada yang menyangka bahwa ia telah dibawa hantu seperti Kuncung.

 

Tetapi malang bagi Jlitheng. Diluar sadarnya, betapapun ia berhati2, namun seekor burung gemak yang bersembunyi digerumbul pula, telah terkejut dan meloncat berlari sambil memekik-mekik karena tersentuh kakinya.

 

“Gila,“ geram Jlitheng didalam hatinya. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan lagi. Cempaka ternyata seorang yang tangkas dan cepat menanggapi keadaan. Demikian ia mendengar gemerasak dedaunan yang tersibak oleh burung gemak itu, maka iapun telah meloncat berdiri sambil menggeram, “Siapa yang telah jemu memandang bintang di langit ?”

 

Jlitheng menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak ingin menanggapi orang itu. Ia masih harus tetap merahasiakan dirinya sejauh dapat dilakukan. Jika ia tidak menghindar, maka berarti bahwa ia harus bertempur. Pilihannya adalah dibunuh atau membunuh. Jika ia mati, maka tugasnya akan selesai tanpa arti sama sekali. Tetapi jika ia membunuh, maka ia tidak akan dapat mengikuti perkembangan persoalan yang telah didengarnya. Kematian Cempaka akan menutup penyelidikannya, karena Daruwerdi akan segera berhubungan dengan orang lain yang tidak dikenalnya, dan yang masih harus diselidikinya sejak permulaan sekali.

 

Tetapi Jlitheng tidak banyak mendapat kesempatan. Cempaka yang telah berdiri, telah maju selangkah dengan penuh kewaspadaan.

 

Untuk sesaat Jlitheng masih tetap berada ditempatnya yang terlindung oleh rimbunnya dedaunan. Namun ia telah bersiap untuk berbuat sesuatu yang dianggapnya paling baik yang diketemukan dalam waktu pendek itu.

 

Dalam pada itu, Cempaka yang bergeser mendekat menggeram, “Keluarlah dari persembunyian itu. Marilah kita berhadapan dengan jantan. Apakah kau orang yang disebut kawan Daruwerdi yang mengawasinya jika terjadi sesuatu ?”

 

Jlitheng tidak menjawab. Ia masih berdiri diam.

 

“Cepat, sebelum aku mengambil sikap yang mungkin tidak akan menyenangkan bagimu,“ suara Cempaka menjadi semakin keras.

 

Karena Jlitheng tidak menjawab dan sama sekati tidak berbuat sesuatu, maka Cempakapun melangkah semakin dekat. Dengan suara yang gemetar oleh kemarahan, ia berkata, “He, apakah kau seorang pengecut atau seorang yang gila.”

 

Memang tidak senang disebut sebagai seorang pengecut. Tetapi Jlitheng masih tetap mengendalikan dirinya. Ia tidak akan melayani orang itu dalam satu pertengkaran jasmaniah. Ia tidak mau dibunuh, tetapi terhadap orang itu, ia tidak ingin membunuh.

 

“Jika kau tetap tidak mau keluar, aku akan. mengeluarkanmu dari gerumbul itu,“ agaknya kemarahan orang itu tidak terkendai lagi.

 

Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Cempaka itu memungut batu padas sebesar genggaman tangannya. Kemudian ia memusatkan pendengarannya untuk mengetahui dimanakah arah yang paling tepat dari orang yang bersembunyi dibalik gerumbul itu.

 

Jlitheng yang berada dibalik gerumbul dapat melihat dari sela-sela dedaunan, apa yang akan dilakukan oleh Cempaka. Nampaknya memang sederhana sekali. Cempaka akan melemparkan sebuah batu padas kedalam gerumbul itu. Namun Jlithengpun sadar, bahwa kekuatan lontar orang yang bernama Cempaka itu tentu bukanlah kekuatan orang kebanyakan. Karena itulah, maka iapun telah mempersiapkan dirinya pula.

 

Seperti yang diduganya, maka sejenak kemudian, Cempaka telah melemparkan batu padas itu dengan sekuat tenaganya. Seperti yang diperhitungkan, maka kekuatan lontarannya benar-benar mengerikan.

 

Yang terdengar kemudian adalah suara gemerasak, bagaikan angin prahara. Batu yang hanya segenggam tangan itu telah melanda gerumbul tempat Jlitheng bersembunyi, bagaikan sebuah pisau yang terbang menebas dedaunan pada gerumbul itu. Ranting-rantingpun berpatahan dan desir anginnya bukan saja menggugurkan daun-daun yang sudah menjadi kuning, tetapi gerumbul itu bagaikan disapu menjadi gundul.

 

Namun dalam pada itu, orang yang bernama Cempaka itu sempat melihat, bayangan hitam yang bagaikain angin, terlontar dari balik gerumbul yang dihantamnya itu kebalik gerumbul yang lain, sehingga karena itu, kemarahannyapun telah menjadi semakin menyala dihatinya.

 

“Siapa kau he ? Siapa ? Jika kau pengikut Daruwerdi, katakanlah. Aku tidak akan membunuhmu, meskipun yang kau lakukan atas perintahnya itu sangat menjengkelkan.”

 

Jlitheng tidak menjawab. Tetapi seolah-olah ia tidak berani berkedip, karena Cempaka telah memungut batu padas sebesar genggaman tangannya pula.

 

“Kau harus mengerti, dengan siapa kau berhadapan,“ geram Cempaka.

 

Jlitheng telah bersiap-siap menghadapi prahara yang luar biasa itu. Jika sekali lagi Cempaka melemparkan batunya, maka iapun harus segera bergeser kebalik gerumbul berikutnya.

 

Tetapi apakah ia akan berbuat demikian sampai tiga empat kali ? Jika akhirnya ia tidak sempat lagi berpindah gerumbul-gerumbul yang akan menjadi gundul, maka da harus menghadapi orang itu.

 

Namun Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Cempaka bersiap untuk mengayunkan batu itu. Dengan sungguh-sungguh Jlitheng memperhatikan, apa yang akan terjadi kemudian.

 

Akhirnya Jlitheng memutuskan untuk meninggalkan saja tempat itu selagi orang yang menyebut dirinya bernama Cempaka itu belum melihat wajah dan ujudnya. Selain malam yang buram, juga karena Jlitheng tidak pernah dengan terang-terangan menghadapinya.

 

Karena itu, ketika sekali lagi Cempaka melontarkan batu padas ditangannya bagaikan hembusan badai yang dahsyat, Jlitheng tidak lagi meloncat dan bersembunyi kegerumbul yang lain. Tetapi iapun kemudian meloncat berlari meninggalkan tempat itu.

 

“Pengecut,” Cempaka berteriak ketika ia melihat bayangan yang dengan tangkas meloncat menghindari lontaran batu padasnya. Bukan saja bersembunyi dibalik gerumbul yang lain seperti yang telah dilakukan, tetapi bayangan itupun berlari dengan cepatnya meninggalkan kaki bukit gundul itu tanpa menghiraukan gerumbul yang bagaikan dihantam amukan badai yang mengerikan, hanya oleh sebutir batu padas yang besarnya tidak lebih dari genggaman tangannya, namun yang lontarannya dilambari oleh kekuatan yang luar biasa dahsyatnya.

 

Agaknya Cempaka tidak mau melepaskan orang yang telah mengganggunya itu begitu saja. Karena itu, maka iapun segera meloncat mengejarnya. Cempaka merasa bahwa ia akan dapat menyalurkan, kemampuannya pada lontaran kakinya untuk mempercepat larinya, sehingga ia akan segera dapat menangkap orang yang telah membuatnya marah itu.

 

Sejenak kemudian maka Cempaka telah berlari seperti angin. Ia menyalurkan kemampuannya yang luar biasa tidak lagi pada ayunan tangannya yang melontarkan batu padas itu. Tetapi pada ayunan kakinya untuk segera menangkap Jlitheng.

 

Tetapi Cempaka terkejut melihat orang yang dikejarnya. Ternyata orang yang dikejarnya itupun mampu berlari sangat cepat. Seperti yang dilakukannya.

 

“Gila,“ geramnya, “sejak aku melihat ia berhasil menghindari lemparanku, aku sudah curiga, bahwa ia bukannya orang yang tidak berilmu.”

 

Karena itu, maka Cempakapun kemudian telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Ia tidak mau kehilangan orang yang telah mengintipnya dan mendengarkan segala pembicaraannya, meskipun orang itu memang mungkin sekali diperintahkan oleh Daruwerdi.

 

Dalam pada itu, Jlithengpun mengumpat didalam hatinya. Ternyata orang yang menyebut dirinya Cempaka itu benar-benar orang yang luar biasa, sehingga ia tidak dapat memperpanjang jarak antara dirinya dengan orang yang mengejarnya itu.

 

Tetapi Jlitheng tidak mau tertangkap. Karena itu iapun berusaha mempercepat langkahnya menyusuri jalan setapak. Bahkan kemudian iapun memotong arah, melintasi pematang dan meloncati parit-parit.

 

Jlithengpun kemudian sadar, bahwa ia tidak akan dapat berlari lebih cepat lagi. Dan iapun sadar, bahwa ia tidak akan dapat meninggalkan orang yang mengejarnya. Karena itu, maka yang dilakukannya adalah memilih jalan yang mungkin dapat mengurangi kecepatan laju langkah orang yang mengejarnya, karena Jlitheng merasa, bahwa ia lebih mengenal jalan-jalan sempit, .pematang-pematang, tanggul parit dan bahkan menyusup diantara gerumbul-gerumbul perdu.

 

Tetapn betapum juga, Jlitheng masih sempat membuat pertimbangan. Ia tidak mau memberikan kesan, bahwa ia adalah orang dari Lumban Wetan. Iapun tidak mau memberikan kesan, bahwa ia tinggal diatas bukit berhutan, karena dengan demikian akan dapat menuntun perhitungan Daruwerdi atas dirinya yang tinggal di Lumban Wetan, atau mereka yang menghuni bukit berhutan itu.

 

Karena itu, Jlitheng justru berlari kearah yang lain sama sekali. Iapun juga tidak berlari menuju ke Lumban Kulon, karena dengan demikian ia akan menyusul Daruwerdi yang tentu berjalan tidak secepat ia berlari.

 

Sambil berlari orang yang menyebut dirinya Cempaka itu-pun mencoba untuk menebak. Namun ia sama sekali tidak dapat menduga-duga, siapa orang itu, jika ia bukan pengikut Daruwerdi.

 

“Jika benar ia pengikut Daruwerdi, maka pantaslah jika orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri yang pernah datang kemarn tidak akan pernah kembali,“ berkata Cempaka itu didalam hatinya.

 

Karena pikiran itulah, maka ia mulai menimbang-nimbang. Ia mulai membayangkan, apakah memang begini cara Daruwerdi membinasakan lawannya. Ia memancing orang yang tidak disukainya dengan cara seperti yang sedang terjadi itu. Kemudian dengan licik membinasakan mereka.

 

“Persetan,“ geram Cempaka, “aku bukan orang yang hanya setingkat dengan budak-budak dari Kendali Putih dan budak-budak Pusparuri. Aku tidak peduli siapakah orang itu. Aku harus menangkapnya dan kemudian memaksanya berbicara.

 

Tetapi setiap kali orang yang menyebuit dirinya Cempaka itu tanya dapat mengumpat, karena ia jtidak dapat segera menangkap lawannya.

 

Sebenarnyalah bahwa diantara kedua orang itu telah terjadi pertempuran yang aneh. Mereka tidak mengadu ketangkasan, kecepatan bergerak dalam tata kanuragan, tidak pula mengadu ilmu pedang dan membenturkan kekuatan. Tetapi mereka sedang berlomba kecepatan berlari dan daya ketahanan mereka. Mereka harus mengatur pernafasan mereka sebaik-baiknya agar mereka tidak segera diburu oleh desah nafas dilubang hidung. Merekapun harus tetap mempertahankan kecepatan ayunan kaki mereka, agar mereka setidak-tidaknya dapat mempertahankan jarak antara keduanya.

 

Demikianlah, maka keduanya telah berlari seperti angin didalam gelapnya malam. Jlithenglah seolah-olah yang telah memilih jalan yang akan mereka lalui. Kesempatan memilih dan pengenalan atas daerah yang menjadi arena bertarungan itulah agaknya yang memberikan keuntungan kepadanya, ia dapat dengari tiba-tiba berbelok karena ia memang mengenal jalur jalan itu dengan baik. ia dengan tangkasnya meloncati parit yang cukup lebar meskipun tidak berair dimusim kering, ia dapat berlalu seperti angin dipematang yang sempit, karena ia mengerti, dimanakah tanah yang keras dan dimanakah yang gembur atau licin.

 

Karena itulah, maka jarak yang semula bagaikan telah ditentukan itu semakin lama menjadu semakin panjang. Jlitheng perlahan-lahan dapat menjauhi orang yang mengejarnya

 

“Persetan,“ geram Cempaka, “orang gila itu harus dibunuh biarpun ia pengikut Daruwerdi.”

 

Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa karena orang yang dikejarnya seolah-olah menjadi semaikin jauh. Setiap kali ia mengatur keseimbangan selagi berlari dipematang yang sempit apalagi kadang-kadang licin dan miring, sehingga kecepatannya harus dikuranginya.

 

“O, gila.“ ia menggeram. Tetapi orang yang menyebut dirinya bernama Cempaka itu tidak dapat berbuat apa-apa. Justru yang terjadi adalah, bahwa jarak mereka semakin lama menjadi semakin panjang.

 

Kenyataan itu memang sangat menyakitkan hati. Tetapi ia tidak dapat mengingkarinya. Dengan kemarahan yang menghentak jantung, ia melihat orang yang dikejarnya semakin lama menjadi semakin jauh menusuk kepusat kegelapan.

 

“Berhenti pengecut,“ oleh kemarahan yang memuncak, maka iapun telah berteriak sekuat-kuatnya. Apalagi Cempaka menyadari, bahwa mereka sedang berada dibulak yang panjang, sehingga tidak akan ada orang yang mendengarnya. Mungkin ada satu dua orang yang berada disawahnya dimalam hari, tetapi mereka tidak akan dapat berbuat sesuatu atau memberikan keterangan suatu apapun tentang suaranya.

 

Tetapi Jlitheng sama sekali tidak berhenti. Ia tidak dapat menuruti perasaannya yang sakit oleh teriakan-teriakan orang yang menyebut dirinya Cempaka itu dengan mengumpatinya sebagai seorang pengecut.

 

Tetapi iapun tidak dapat melepaskan perhitungannya untuk waktu yang cukup panjang dalam tugasnya.

 

Karena itulah, Jlithetng masih berlari terus, Ia sudah mengelilingi beberapa padukuhan di Lumban Wetan dan Lumban Kulon lewat bulak-bulak panjang. Bahkan kadang-kadang ia sudah terdorong ketempat yang agak jauh dari padukuhan Lumban. Namun Jlitheng setiap kali telah melingkar kembali mendekati bukit gundul itu.

 

Akhirnya Cempakapun harus mengakui, bahwa ia tidak akan dapat mengejar orang yang telah bersembunyi dan mendengarkan percakapannya dengan Daruwerdi. Namun dugaannyapun kuat, bahwa orang itu adalah pengikut Daruwerdi yang mendapat tugas daripadanya untuk mengamati keadaan, seperti yang dikatakan oleh Daruwerdi sendiri.

 

Ada keinginannya untuk menemui Daruwerdi dan mengumpatinya, karena kecurigaannya. Tetapi iapun sudah terlanjur mengatakan kepada Daruwerdi bahwa dengan isyarat, ia akan dapat memanggil orang-orangnya untuk datang kebukit gundul dan menangkap Daruwerdi.

 

Karena itu, niatnya untuk bertemu dengan Daruwerdi itu-pun diurungkannya. Lebih baik baginya untuk meninggalkan tempat itu, dan mempersiapkan diri menghadapi tugas-tugas berikutnya sehubungan dengan permintaan Daruwerdi untuk menangkap seseorang yang pernah membunuh ayahnya.

 

Tetapi Cempaka tidak dapat tergesa-gesa berbuat demikian, karena ia masih harus melaporkan hasil pembicaraannya dengan Daruwerdi dan merencanakan langkah-langkah berikutnya yang mapan.

 

Dalam pada itu, Jlitheng masih saja berlari. Baru ketika ia yakin bahwa orang yang menyebut dirinya Cempaka sudah tidak mengejarnya terus, ia memilih arah yang sebenarnya.

 

Hampir diluar sadarnya, maka iapun telah melangkah dengan tergesa-gesa menuju kebukit berhutan. Seolah-olah ada keharusan baginya untuk datang dan menceriterakan apa yang terjadi kepada orang tua yang bernama Kiai Kanthi itu.

 

Ketika Jlitheng mendekati tempat yang dihuni oleh Kiai Kanthi, malam telah menjadi semakin kelam. Namun agaknya Kiai Kanthi masih belum tidur menunggui anak gadisnya yang nyenyak. Karena itu, maka iapun mendengar desir halus mendekati tempatnya.

 

“Aku Kiai,“ desis Jlitheng sebelum Kiai Kanthi meloncat berdiri.

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu ada ceritera yang menarik.”

 

“Apakah Kiai sudah mengetahuinya ?” bertanya Jlitheng.

 

Kiai Kanthi menggeleng. Jawabnya, “Belum ngger. Tetapi menilik nafasmu yang bekejaran, maka kau tentu sedang dalam ketegangan. Dan mungkin kau sudah melakukan sesuatu yang telah memeras tenagamu.”

 

Jlitihengpun kemudian duduk disampiing Kiai Kanthi diatas anyaman ilalang. Sejenak ia mengatur pernafasannya. Baru kemudian ia mulai berceritera.

 

“Aku tidak tahu Kiai apakah Kiai terlibat didalam masalah ini atau tidak. Seandainya Kiai akut serta dalam perebutan pusaka itu, maka aku telah terjebak disini,“ berkata Jlitheng.

 

“Kau masih saja ragu-ragu ngger,“ berkata Kiai Kanthi, “tetapi akupun menyadari bahwa hal itu wajar sekali. Namun jika masih ada sedikit kepercayaan, biarlah sekali lagi aku menegaskan, bahwa aku telah mengungsi dari padepokanku yang hancur oleh banjir, gempa dan tanah longsor.”

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia berkata, “Aku percaya Kiai.”

 

Namun tiba-tiba saja terdengar Swasti yang masih memejamkan matanya menyahut, “Percaya atau tidak percaya, itu bukan persoalan kita ayah, seperti juga kita dapat percaya atau tidak percaya. Karena sebenarnyalah bahwa kadang-kadang orang yang menginginkan sendiri, selalu mempersoalkan niat orang lain.”

 

“Ah,“ desis Kiai Kanthi, “jika kau masih tidur, tidur sajalah. Jangan separo tertidur, separo ikut dalam pembicaraan ini, sehingga kata-katamu tidak ubahnya seperti orang yang sedang mengingau didalam tidur.”

 

“Aku tilak tidur ayah,“ jawab Swasti. Tetapi ia tidak bangkit.

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak banyak menghiraukan gadis itu. Setelah beberapa kali ia bertemu maka iapun mulai mengenal sifat gadis itu.

 

Tetapi tiba-tiba saja Swasti bertanya masih sambil berbaring dibelakang pohon, “Kenapa Daruwerdi harus dicurigai dan dibayangi ?”

 

Kiai Kanthi menarik nafas pula. Katanya, “Seperti yang selalu aku katakan Swasti, pendatang didaerah ini tentu akan saling mencurigai.”

 

“Tetapi Daruwerdi tidak mencurigai siapapun disini,“ berkata Swasti kemudian.

 

Kiai Kanthi tersenyum. Katanya, “Ia terlalu banyak bertanya dan banyak memperhatikan kita. Apakah itu salah satu bentuk kecurigaan atau bukan, aku tidak dapat mengatakannya.”

 

Swasti mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

 

Jlitheng yang termangu-mangupun kemudian berkata, “Kiai. Besok aku dan beberapa orang kawan akan melanjutkan kerja ini. Mudah-mudahan air itu cepat dapat dikendalikan. Besok kita akan mencoba, mengalirkan sebagian kecil dari arusnya, apakah air itu dapat mengalir seperti yang kita kehendaki.”

 

“Baiklah mgger. Aku kira besok kita sudah dapat melakukannya. Kita membuka sedikit tebing arus air yang mengalir ke luweng dibawah tanah itu. Dengan demikian kita akan dapat mengetahui dan menentukan kerja kita seterusnya.”

 

“Sementara yang lain mulai menaikkan tulang-tulang atap gubug Kiai itu,“ desis Jlitheng kemudian.

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Alangkah senangnya tinggal dibawah atap, meskipun atap ilalang.”

 

“Beberapa saat lagi, padepokan Kiai akan siap dilereng bukit ini. Bukan sekedar rumah beratap ilalang. Jika orang-orang Lumban dapat memetik hasil jerih payah Kiai dengan mempergunakan air itu, maka mereka akan membantu dengan senang hati.”

 

Kiai Kanthi tertawa. Desisnya, “Mudah-mudahan ngger.“

 

Jlithengpun kemudian minta diri. Ia harus segara kembali kepada kawan-kawannya. Jika ada kecurigaan Daruwerdi dan mencarinya, maka tugasnya akan bertambah sulit.

 

Dihari berikutnya, Jlitheng dan beberapa orang kawannya telah mulai bekerja pula membantu Kiai Kanthi dilereng bukit berhutan itu. Salah satu dari yang disebut Sepasang Bukit Mati.

 

Selagi beberapa orang sibuk memasang tulang-tulang rumah gubug Kiai Kanthi, maka Jlitheng dan Kiai Kanithi sendiri dengan sungguh-sungguh sedang memperhitungkan kemungkinan arus air yang akan mulai dialirkan sedikit demi sedikit lewat saluran yang sudah disiapkannya.

 

“Kita akan menyobek tebing saluran air itu sedikit,“ berkata Kiai Kanthi. “Dengan demikian, kita akan mengetahui apakah jalur air itu sudah benar.”

 

“Kita akan memecah batu padas itu Kiai, agar alirannya tidak cepat membesar karena pintu airnya juga dengan cepat membesar,“ berkata Jlitheng.

 

“Bagus ngger. Bagus. Kita akan membuat pintu air justru pada batu padas yang keras,“ sahut Kiai Kanthi.

 

Kedua orang ituipun kemudian memilih tempat yang paling baik, sesuai dengan jalur parit yang sudah tersedia. Dengan hati-hati mereka memecah tanggul yang terjadi dari batu batu padas yang keras.

 

Seperti yang mereka perhitungkan, maka ketika pintu yang dibuat oleh Jlitheng dan Kiai Kanthi itu cukup dalam, air yang bergejolak didalam jalurnya menuju keluweng dibawah tanah itupun mulai meluap. Sedikit demi sedikit, lewat pintu pada batu padas yang cukup keras.

 

“Sudah cukup Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian.

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya air yang meluap dan kemudian menjalar menyusuri jalur jalan yang memang sudah disediakan, menuruni tebing bukit berhutan itu.

 

“Kita akan melihat, apakah air itu dapat terkendali sampai kebawah bukit Kiai,“ berkata Jlitheng, “dan kita akan mengikuti, apakah luapan air itu akan benar-benar masuk kedalam sungai.”

 

“Jadi?“ bertanya Kiai Kanthi.

 

“Kita akan turun. Aku akan minta agar kawan-kawan meneruskan kerja mereka, sementara kita turun,“ jawab Jlitheng.

 

Keduanyapun kemudian berlari-lari menuruni tebing, setelah mereka berpesan kepada anak-anak muda yang lain, yang sibuk dengan gubug Kiai Kanthi. Mereka seolah-olah berlomba dengan ujung arus air yang menuruni jalurnya. Kadang-kadang Jlitheng memotong arah, memintas sehingga ia dapat mendahului arus air yang cukup cepat, meskipun tidak terlalu deras, karena pintu yang dibuat oleh Jlitheng dan Kiai Kanthi memang belum terlalu besar.

 

Ketika mereka sampai dibawah bukit, mereka masih sempat melihat ujung air itu meleleh dan masuk kedalam parit yang sudah tersedia. Lewat parit itu, maka airpun menuju ke padang perdu, menyusup disela-sela gerumbul-gerumbul liar menuju kesungai yang hampir tidak berair dimusim kering.

 

“Kita akan segera dapat membuktikan Kiai,“ berkata Jlitheng sambil tersenyum, “orang-orang padukuhan Lumban tidak akan segan berbuat sesuatu bagi Kiai, yang akan membangun sebuah padepokan. Mungkin padang perdu ini akan segera berubah menjadi tanah persawahan dan pategalan yang subur, yang basah disegala musim.”

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Dengan hati yang berdebar-debar Kiai Kanthi melihat, air yang masih terlalu sedikit itu akhirnya tumpah kedalam sungai seperti yang mereka kehendaki.

 

“Kerja kita sudah selesai Kiai, pada tahap pertama,“ berkata Jlitheng kemudian.

 

“Ya. Kita akan dapat mengatur, seberapa banyak air yang akan kita sadap dari belumbang itu,“ sahut Kiai Kanthi.

 

“Seluruhnya Kiai. Bukankah itu lebih baik daripada air itu hilang ditelan tanah ?”

 

Tetapi wajah Kiai Kanthi nampaknya dibayangi oleh keragu-raguan, sehingga Jlithengpun bertanya, “Apa Kiai mempunyai pendapat lain?”

 

 

Jilid 05

 

“NAMPAKNYA memang demikian ngger. Air itu akan lebih baik kita pergunakan disini daripada hilang didalam tanah. Tetapi kau lupa, bahwa pada suatu saat, tempat yang rendah. Mungkin air yang muncul dari dalam tanah itu, sejak lama menjadi sumber penghidupan orang-orang disekitarnya. Jika kita yang disini, menyadap air itu seluruhnya, maka mata air ditempat yang jauh itu akan menjadi kering. Kau dapat membayangkan akibatnya atas orang-orang yang mengantungkan diri pada sumber air itu.”

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kiai benar. Aku tidak memikirkan sampai sejauh itu, Kiai.“ ia berhenti sejenak, lalu, “justru sikap itu harus kita perhatikan. Kita harus memberitahukan hal itu kepada orang-orang lain yang mungkin akan dengan serakah mengambil air dari belumbang itu seluruhnya bagi tanah Lumban Wetan atau Lumban Kulon.”

 

“Kemungkinan itu memang besar sekali. Meskipun demikian, kita akan berusaha untuk meyakinkan mereka, bahwa mereka tidak boleh terlalu mementingkan diri sendiri.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Sementara itu, gemericik air yang menuruni tebing, telah menyatu dengan arus air sungai yang hampir kering.

 

Pengaruh air dari belumbang itu memang belum nampak. Tetapi bagi Kiai Kanthi dan Jlitheng, rasa-rasanya semuanya sudah jelas.

 

Bahkan Jlithengpun kemudian berkata, “Kiai, kita akan dapat menunjukkan air itu kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Mereka akan dapat mengerahkan orang-orangnya untuk membendung sungai atau untuk sementara mengalirkan arus air itu kedadam parit yang sudah ada, meskipun kering dimusim kemarau.”

 

Tetap Kiai Kanthi menggeleng. Jawabnya, “Semula aku tidak memikirkannya ngger. Tetapi sekarang aku melihat, bahwa jika air itu akan dialirkan langsung keparit, maka parit itu hanya akan mengairi sawah dan ladang di daerah Lumban Wetan. Hal itu akan dapat menimbulkan persoalan bagi Lumban Kulon. Karena itu, memang sebaiknya kita melakukan seperti yang kau katakan beberapa saat yang lampau. Air itu masuk kedalam sungai, kemudian diangkat kedalam parit disebelah menyebelah sungai, sehingga Lumban Wetan dan Lumban Kulon akan dapat menikmatinya meskipun tidak memenuhi segala kebutuhan dimusim kering, tetapi sudah akan dapat mendorong kemajuan hasil tanah yang cukup besar.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Sambil memandang kearah Lumban Wetan dan Lumban Kulon ia berkata, “Kiai benar. Sekali lagi nampak, bahwa Kiai berpikir jauh. Agaknya aku masih harus mengendapkan diri untuk dapat melihat jarak seperti yang Kiai lihat. Meskipun sampai saat ini nampaknya tidak ada persoalan atas Lumban Wetan dan Lumban Kulon. tetapi jika masailah air itu mulai terasa, justru akan dapat menimbuilkan persoalan baru yang cukup gawat. Apalagi menilik sikap putra Ki Buyut di Lumban Kulon. Agaknya sikapnya tidak selunak sikap ayahnya yang menjadi semakin tua.”

 

Kiai Kanthipun memandangi pula beberapa pedukuhan diantara bulak-bulak yang tidak begitu subur dan bahkan kering dimusim kemarau. Sambil mengangguk-angguk ia berdesis, “Mudah-mudahan akan segera terjadi perubahan. Tetapi bukan perubahan sifat dan watak orang-orang Lumban yang ramah dan baik hati. Jika air itu mulai menyentuh daerah yang kering itu, maka akan mudah timbul nafsu ketamakan dan rakus. Hal itulah yang harus dihindarkan pada setiap usaha perubahan keadaan. Beberapa orang akan mungkin sekali berusaha untuk mendapat yang lebih banyak dari orang lain.”

 

“Tetapi tentu tidak benar pula apabila kita akan membiarkan kesempatan perbaikan itu terjadi Kiai.”

 

“Ya, ya, ngger. Kesulitannya adalah mencari keseimbangan itulah,“ jawab Kiai Kanthi.

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku akan berbicara dengan Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon, bahwa air telah dapat diarahkan sesuai dengan kepentingan orang-orang Lumban. Tetapi tidak segera Kiai.”

 

“Malam nanti ?”

 

Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Lebih baik dua atau tiga hari lagi setelah semuanya cukup meyakinkan. Sementara gubug Kiai Kanthipun akan sudah menjadi rapat. Dalam waktu satu dua hari ini, aku akan pergi Kiai.”

 

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berdesis, “Ada hubungannya dengan permintaan Daruwerdi seperti yang pernah angger ceriterakan ?”

 

“Ya. Malam nanti aku pergi. Mudah-mudahan sehari besok aku dapat menyelesaikan pekerjaan itu, sehingga malam besok aku sudah berada disini. Jika aku terlalu lama pergi, akan timbul kecurigaan orang-orang Lumban, terutama Daruwerdi sendiri. Jika orang yang menyebut dirinya Cempaka itu sempat menceriterakan kepada Daruwerdi bahwa ada orang yang mengintainya saat mereka berdua mengadakan pembicaraan, maka Daruwerdi tentu akan mencari jawab, siapakah orang yang telah melakukannya itu.”

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia mengerti, tentu Jlitheng berkepentingan dengan rencana Cempaka untuk memenuhi permintaan Daruwerdi sebagai ganti pusaka yang dijanjikannya. Meskipun pusaka itu sendiri masih belum ditunjukkannya.

 

“Aku wajib mencari, siapakah orang yang dimaksud oleh Daruwerdi membunuh ayahnya itu. Apakah benar hal itu pernah terjadi. Jika benar, maka aku akan dapat mencari jalur, siapakah sebenarnya Daruwerdi itu, dan untuk siapa sebenarnya ia bekerja. Sampai saat ini nampaknya ia bekerja untuk pihak manapun yang dapat memenuhi permintaannya itu. Tetapi aku masih menyangsikan, apakah pemintaannya itu memang benar-benar beralasan. Atau ia sengaja membenturkan kekuatan-kekuatan yang disebutnya sebagai perguruan Kendali Putih, Pusparuri, dan perguruan yang dianut oleh Cempaka itu sendiri.”

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku adalah orang tua yang sangat picik ngger. Aku tidak pernah mengetahui apapun juga selain padepokanku yang dilanda banjir, gempa dan tanah longsor itu. Karena itu, aku tidak akan dapat ikut membantu, memecahkan masalah itu. Yang dapat aku lakukan tidak lebih dari membuat parit ini.”

 

“Kiaipun masih perlu diselidiki, apakah yang Kiai katakan itu benar. Seandainya Kiai benar-benar orang padepokan terpencil yang dilanda bencana itu, tetapi setidak-tidaknya Kiai tentu pernah mendengar dan mengetahui beberapa perguruan yang ini. Apalagi aku mengerti, sampai dimanakah tingkat ilmu Kiai yang sebenarnya.”

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah kita tidak berbicara tentang hal itu. Jika angger mau pergi, berhati-hatilah, karena masalah yang angger hadapi agaknya masalah yang cukup gawat.”

 

“Ya Kiai,“ jawab Jlitheng, “tidak banyak Pangeran yang aku kenal. Jika ada diantara mereka masih mempunyai ikatan permusuhan karena suatu pambunuhan, maka orang itu pantas aku telusur lebih jauh, apakah benar orang itu yang dimaksud oleh Daruwerdi. Jika benar, maka orang itu akan berada dalam bahaya.”

 

“Tetapi tanpa orang itu, apakah kau akan dapat mencapai akhir dari tugasmu, sampai saat pusaka itu dapat diketemukan ?”

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah-mudahan aku menemukan satu jalur yang dapat memecahkan hal itu. Mungkin aku dapat berbicara dengan orang yang menjadi sasaran dendam Daruwerdi, sehingga aku menemukan cara untuk memancing pusaka itu.”

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya, “Silahkan ngger. Tentu banyak cara. Tetapi tentu banyak pula kesulitannya. Silahkan pergi barang satu dua hari. Tetapi angger benar, bahwa lebih cepat lebih baik. karena penyelidikan itu tidak akan angger lakukan sendiri. Angger tentu mempunyai orang-orang yang akan angger tugaskan.”

 

Jlitheng tersenyum. Jawabnya, “Kiai mulai berkhayal. Aku adalah aku seorang diri. Tetapi aku tidak akan membantah khayalan Kiai yang wajar itu.”

 

Kiai Kanthipuin tertawa juga, sementara Jlitheng berkata, “Marilah Kiai. Kita kembali. Anak-anak yang membuat gubug itu tentu sudah ingin beristirahat. Merekapun akan bergembira jika mereka mendengar bahwa air itu sudah dapat tersalur. Tetapi tidak terlalu besar.”

 

Keduanyapun kemudian menanggalkan tepian sungai yang hampir kering dimusim kemarau itu, kembali memanjat tebing. Seperti yang dikatakan oleh Jlitheng, maka kawannya telah merasa lelah dan haus, sehingga mereka memerlukan istirahat.

 

“Swasti tentu sudah menyediakan minuman dan makanan bagi kita,“ berkata Jlitheng kemudian.

 

Seperti biasanya, maka anak-anak muda ituipun kemudian naik untuk beristirahat. Seperti biasanya pula, Swasti telah menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka.

 

Hari itu, anak-anak muda yang membantu Kiai Kanthi membuat gubug telah mendengar dan kemudian ketika mereka pulang, memerlukan melihat, bahwa air telah dapat tersalur lewat jalur yang dipersiapkan turun kesungai. Air itu akan sangat berguna bagi padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon dihari-hari mendatang.

 

“Tetapi jangan ceriterakan kepada siapapun lebih dahulu,“ berkata Jlitheng, “kita memerlukan pertimbangan yang jauh.”

 

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka mengerti setelah Jlitheng memberikan penjelasan lebih jauh dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi karena air itu.

 

“Karena itu, aku akan menghadap Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Sebelum itu, aku minta kalian benar-benar diam.“ minta Jlitheng sekali lagi.

 

Kawan-kawannya masih mengangguk-angguk. Sementara Jlithengpun kemudian berkata, “Dua atau tiga hari lagi aku akan menghadap Ki Buyut bersama kalian dan memperkenalkan Kiai Kanthi.”

 

“Kenapa dua tiga hari lagi Jlitheng ?“ bertanya seorang kawannya.

 

“Itulah sayangnya,“ sahut Jlitheng, “besok aku harus pergi kerumah pamanku. Aku sudah mengatakan kepada biyung, bahwa aku sedang sibuk. Tetapi biyung berkeras menyuruh aku menemui paman. Dengan demikian, aku harus pergi barang satu dua hari.”

 

“Apakah pamanmu sakit ?“ bertanya kawannya yang lain.

 

“Sudah lama biyung tidak bertemu dengan paman, adik satu-satunya. Semalam biyung bermimpi bahwa rumah paman dilanda banjir. Karena itu biyung minta agar aku segera pergi kerumah paman untuk melihat apa yang terjadi.”

 

Kawan-kawannya mengangguk-angguk, sementara Jlitheng berkata terus, “Jika saja bukan biyungku yang menyuruhnya, aku tidak akan bersedia pergi. Tetapi aku tidak dapat membantah perintah biyung.”

 

Kawannya mengagguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa ibu Jlitheng yang sudah menjadi janda itu tidak dapat menyuruh orang lain, kecuali Jlitheng. Dan agaknya Jlithengpun sangat mengasihi ibunya seperti ibunya mengasihinya.

 

“Jadi besok dan lusa, sebelum kau kembali, kita tidak naik kebukit ?”

 

“Pergilah. Bantulah orang tua itu.“ Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “tetapi jangan lupa membawa senjata seperti biasanya. Jika kalian bertemu dengan harimau, maka kalian harus melawan beramai-ramai. Jangan justru melarikan diri. Karena jika kalian melarikan diri, salah seorang dari kalian akan dikejarnya sampai dapat. Tetapi jika kalian bersama-sama melawan, maka harimau itu tentu akan dapat kalian kalahkan, betapapun juga kuat dan garangnya seekor harimau. Apalagi kalian, dihampir tiga atau empat hari sekali masih terus berlatih kanuragan.”

 

“Ah,“ desis anak-anak muda itu. Salah seorang berkata, “Apa yang sudah dapat kita lakukan.”

 

“He, aku sudah dapat mengayunkan parang dengan dangan baik. Jika harimau itu datang, kalian harus menyerang beramai-ramai dengan parang atau golok terhunus. Kalian dapat melakukannya sambil berteriak-teriak. Mungkin harimau itu akan menjadi takut dan berlari.”

 

“Sudahlah,“ berkata kawannya, “mudah-mudahan kita tidak bertemu dengan harimau seperi biasanya. Kebiasaan kami berteriak-teriak berdendang dan ura-ura agaknya dapat menakut-nakuti binatang jenis apapun juga.”

 

“Mudah-mudahan,“ Jlitheng. mengangguk-angguk, ia-pun sependapat bahwa kebiasaan kawannya berteriak-teriak didalam hutan itu telah menakut-nakuti harimau yang tidak terbiasa mendengar suara yang demikian, meskipun Jlitheng-pun tahu, bahwa kawan-kawannya berteriak-teriak karena ada juga yang berasaan takut dan ngeri memasuki hutan yang masih dihuni binatang buas itu.

 

Demikianlah, maka ketika bayangan senja turun diatas padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kuton. maka Jlithengpun menemui ibunya untuk minta ijin pergi barang satu dua hari.

 

“Pekerjaan di bukit itu hampir selesai biyung. Kami bersepakat untuk mengerjakannya siang dan malam.”

 

“Kau mengada-ada saja Jlitheng. Mana mungkin kerja itu kau lakukan malam hari. Kau akan membuang-buang waktu saja, dan bahkan mungkin salah seorang dari kalian akan dapat tergelincir jatuh.”

 

“Malam hari kami hanya mengerjakan anyaman. Dinding, tutup keyong, atap ilalang dan lain-lain yang masih kurang. Pagi-pagi kami dapat lekatkannya pada gubug yang sudah siap itu.”

 

“Ah, terserah saja kepadamu. Tetapi hati-hati. Binatang buas berkeliaran dimalam hari.”

 

“Kami menyalakan obor biyung. Binatang buas takut kepada api,” jawab Jlitheng. Lalu, “Malam nanti aku akan mulai.”

 

Ibunya tidak melarangnya. Karena itu, maka ketika malam mulai gelap, Jlithengpun minta diri.

 

“Hantu betina itu akan mencari anak. Pakailah dingo atau kunyit dikeningmu. Akar dingo akan menjauhkan kau dari hantu-hantu.”

 

Jlitheng menahan senyumnya. Tetapi ia menurut. Ia mengambil sepotong akar dingo dan diusapkan pada keningnya. Baru kemudian Jlitheng berangkat meninggalkan padukuhan Lumban Wetan.

 

“Dimalam hari Jlitheng berjalan dengan cepatnya. Ia tidak berjalan lewat jalan-jalan yang rata. Tetapi ia memintas melewati jalan-jalan sempit dan bahkan pematang. Dengan hati-hati ia melintas tidak terlalu jauh dari bukit gundul. Ia tidak mau bertemu dengan siapapun. Apa lagi Daruwerdi atau orang-orang yang berhubungan dengan anak muda itu.

 

Untuk menghilangkan kesan tentang dirinya, maka Jlitheng telah mengenakan pakaian yang lain sekali dari pakaian-pakaiannya yang disembunyikan di bulak panjang, di antara pakaiannya yang disembunyikan di bulak panjang, di antara batu-batu padas didekat sebatang randu alas yang jarang di dekati seseorang. Dengan pakaian itu, ia tidak lagi nampak sebagai seorang anak petani yang hidup sederhana sekali.

 

Dengan demikian, jika ada seseorang yang tanpa dapat dihindari melihatnya, sama sekali tidak akan menghubungkannya dengan seorang anak petani di padukuhan Lumban Wetan.

 

Karena waktu yang ada bagi Jlitheng tidak terlalu banyak maka iapun berjalan dengan tergesa-gesa. Ia harus sampai ketempat ia menyimpan kudanya disebuah padukuhan yang besar yang agak jauh dari Lumban Wetan, yang dititipkan kepada seorang saudagar yang sudah dikenalnya sebelumnya, dipercayanya dan mengerti persoalannya, karena sentuhan ilmu dari sumber yang sama.

 

Baru tengah malam ia sampai kerumah saudagar itu. Ketika ia mengetuk pintu, maka saudagar itupun terkejut. Dengan hati-hati ia bangkit dari pembaringannya, meraih senjatanya. Baru kemudian ia berjalan keruang dalam.

 

“Siapa ?“ ia bertanya. Sementara tangannya telah memegang hulu pedangnya.

 

“Aku paman. Arya Baskara.”

 

“He ?” tetapi ia masih ragu-ragu, “benar kau angger Baskara ?”

 

“Ya,“ jawab Jlitheng.

 

“Baskara siapa ? Ada seribu orang yang bernama Baskara.“ saudagar itu masih bertanya.

 

“Baskara Candra Sangkaya,“ jawab Jlitheng, “apakah paman sudah lupa suaraku.”

 

“O, kau ngger,“ dengan tergesa-gesa saudagar itu membuka selarak pintu.

 

Ketika pintu itu terbuka, maka seorang anak muda berdiri sambil tersenyum didepan pintu. Oleh cahaya lampu minyak yang redup, maka saudagar itu segera mengenal, bahwa yang datang itu memang Arya Baskara.

 

“Silahkan ngger, silahkan. Kau datang ditengah malam, sehingga aku terkejut karenanya.“ saudagar itu mempersilahkan.

 

“Aku dalam perjalanan ke Demak paman,“ berkata Jlitheng yang dikenal oleh saudagar itu bernama Arya Baskara.

 

“Sehubungan, dengan tugas anakmas ?“ bertanya saudagar itu.

 

“Tentu paman. Dan agaknya persoalannya menjadi semakin buram. Nampaknya tempat yang disebut Sepasang Bukit Mati itu menjadi semakin menarik perhatian orang.”

 

“Itu sudah wajar ngger. Kabar tentang Sepasang Bukit Mati itu tentu cepat tersebar. Jika salah satu kelompok mulai memperhatikan tempat itu, maka kelompok yang lainpun tentu akan segera mendengar karena tidak mustahil bahwa mereka mempunyai orang-orang yang saling menyusup diantara kelompok-kelompok yang bersaing itu,“ berkata saudagar itu pula. Kemudian iapun bertanya, “Lalu, apa pula yang akan angger lakukan di Kota Raja ?”

 

“Banyak masalah yang tidak aku ketahui dengan pasti, paman. Karena itu aku memerlukan bantuan orang-orang yang berada di Kota Raja. Karena tugas yang aku lakukan mungkin akan memerlukan bantuan.”

 

Saudagar itu mengangguk-angguk. Katanya, “Itu sudah wajar sekali, anakmas. Tetapi berhati-hatilah. Mungkin ada orang-orang yang hilir mudik pula Sepasang Bukit Mati itu, sehingga kau akan menjumpainya diperjalanan. Jika kau dapat mengimbangi kemampuannya, maka itu bukannya hambatan yang berarti. Tetapi jika yang kau jumpai adalah sekelompok orang yang tidak kau kenal, maka akibatnya akan dapat menyulitkanmu.”

 

Jlitheng tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan tidak paman. Mudah-mudahan aku tidak bertemu dengan orang-orang itu.”

 

Saudagar itu termangu-mangu. Namun nampak kecemasan membayang diwajahnya. Sehingga akhirnya ia berkata, “Apakah aku dapat mengawanimu diperjalanan?”

 

Jlitheng tertawa. Katanya, “Terima kasih paman. Paman masih harus melanjutkan beristirahat.”

 

“Aku juga mempunyai rencana ke Kota Raja meskipun sebenarnya tidak perlu tergesa-gesa karena urusan pekerjaanku. Aku meninggalkan beberapa barang ditempat kawanku berdagang.”

 

“Terima kasih. Aku tidak ingin menyulitkan paman. Apalagi tugas dan pekerjaan paman adalah mencari hubungan seluas-luasnya. Jika karena sesuatu hal paman mulai bermusuhan dengan satu dua pihak, maka daerah pekerjaan paman akan menyempit.”

 

“Ah,“ saudagar itu tertawa pula. Jawabnya, “Tentu aku tidak dapat terlalu mementingkan diriku sendiri. Tetapi jika kau dapat pergi sendiri, pergilah ngger. Besok atau lusa aku akan pergi juga ke Kota Raja.”

 

“Aku hanya akan berada di Kota Raja sehari paman. Besok malam aku akan sampai ketempat ini menjelang tengah malam. Dan aku akan meneruskan perjalananku ke Lumban Wetan dengan berjalan kaki.”

 

“Begitu tergesa-gesa ?”

 

“Karena keadaanku dan tugas yang harus aku lakukan didekat Sepasang Bukit Mati itu.”

 

Saudagar itu tidak menyarankan sesuatu lagi. iapun kemudian mempersiapkan kuda yang akan dipergunakan oleh Arya Baskara. Sengaja ia tidak membangunkan pekatiknya, agar tidak bertanya-tanya sesuatu tentang tamunya yang aneh itu, dan yang bahkan mungkin akan diceriterakannya kepada tetangga-tangganya.

 

Lewat tengah malam, Jlitheng berpacu meninggalkan rumah saudagar itu. ia harus berlomba dengan waktu. Pagi-pagi benar ia harus sudah berada di Kota Raja.

 

“Tetapi waktunya tidak terlalu mendesak,“ desis Jlitheng sambil menengadahkan wajahnya, memandang bintang-bintang dilangit. Seperti yang pernah dipelajarinya, ia dapat melihat waktu dengan memperhatikan letak bintang-bintang yang bergeser dilangit.

 

Namun demikian, Jlitheng tidak memperlambat lari kudanya, yang suara derap kakinya, bagaikan mengoyak kesepian malam yang dalam.

 

Tetapi tiba-tiba saja Jlitheng mengerutkan keningnya, ia mulai menarik kekang kudanya, sehingga derap kakinya menjadi semakin lambat. Sehingga akhirnya berhenti sama sekali.

 

Beberapa puluh langkah dihadapannya, ia melihat beberapa orang terlibat dalam perkelahian yang sengit. Tetapi Jlitheng masih belum mengetahui dengan pasti, apakah yang sebenarnya terjadi.

 

Karena itu, iapun harus berhati-hati. Mungkin ia tidak mempunyai kepentingan apapun juga. Tetapi mungkin ia akan terlibat kedalamnya.

 

Sejenak Jlitheng mengamati perkelahian itu. Meskipun malam cukup gelap, namun ketajaman matanya dapat menangkap peristiwa itu dengan jelas.

 

Sejenak kemudian Jlithengpun meloncat turun dari kudanya. Ditambatkannya kudanya pada sebatang pohon perdu di pinggir jalan. Selangkah-selangkah ia maju mendekat. Jjatheng ingin melihat, apakah diantara mereka yang terlibat ada yang pernah dikenalnya.

 

Dalam pada itu, orang-orang yang sedang berkelahi itupun telah melihat kehadirannya. Mereka menjadi berdebar-debar, karena perkelahian yang seakan-akan telah seimbang itu tentu akan segera berubah, jika ada orang lain yang memilih salah satu pihak untuk dibantunya.

 

“Siapa kau he pendatang,“ tiba-tiba Jlitheng mendengar seseorang diantara mereka yang bertempur itu berteriak.

 

Jlitheng mengerutkan keningnya. Tetapi dia sempat mengetahui, yang bertanya kepadanya adalah seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan, yang bertempur dengan senjata yang tidak begitu banyak dipergunakan. Dua potong besi yang satu sama lain dihubungkan dengan seutas rantai.

 

Namun nampaknya senjata itu sangat berbahaya ditangan orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu. Sekali kali kedua potong besi itu berada dikedua tangannya. Namun kadang-kadang sepotong diantaranya terlepas dan berputar menyambar-nyambar.

 

“Apa yang kalian perebutkan ?“ bertanya Jlitheng kemudian.

 

“Jangan hiraukan kami,“ jawab yang lain.

 

Tetapi jawaban itu benar-benar telah mengejutkan Jlitheng, Dengan seksama ia memperhatikan orang yang suaranya pernah dikenalnya itu.

 

“Cempaka,“ desis Jlitheng yang hanya dapat didengarnya sendiri.

 

Sejenak Jlitheng termangu-mangu, Ia mencoba menilai, apakah yang sedang dihadapi, dan apakah sebaiknya yang harus dilakukan.

 

Tetapi ia sudah berada ditempat yang jauh dari Lumbaa Wetan dan Lumban Kulon. Ia sudah jauh dari sepasang Bukit Mati, sehingga Cempaka tentu tidak akan menghubungkannya dengan orang yang disangkanya pengikut Daruwerdi, yang pernah dikejarnya, tetapi tidak dapat ditangkapnya.

 

“Jika kau ingin lewat, lewatlah,“ terdengar suara orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan yang sedang bertempur dengan orang yang menyebut dirinya Cempaka itu.

 

“Pergilah,“ teriak Cempaka Kemudian.

 

Tetapi Jlitheng masih tetap berdiri ditempatnya. Dari pengamatannya yang singkat, ia segera melihat, bahwa Cempaka bersama dua orang kawannya harus bertempur melawan lima orang lawan. Namun agaknya keseimbangan pertempuran itu tidak segera berubah, sehingga sulit untuk mengetahui, pihak manakah yang akan menang.

 

Sejenak Jlitheng masih termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Apakah aku dapat berdiam diri melihat perkelahian semacam ini ? Meskipun aku tidak mengetahui persoalannya, tetapi aku berhak mengajukan permohonan, agar perkelahian ini dihentikan. Apakah tidak ada cara lain yang lebih baik dari berkelahi dan saling membunuh ?”

 

“Persetan,“ jawab orang yang kekurus-kurusan itu, “bukan urusanmu.”

 

Tetapi Jlitheng berkata pula, “Itu adalah persoalan setiap orang. Karena kalian dan aku adalah sesama titah yang disebut manusia.”

 

“Jangan sesorah,“ bentak orang yang kekurus-kurusan itu sambil bertempur, “pergilah jika kau tidak ingin mengalami nasib buruk disini.”

 

Jlitheng terdiam sejenak. Hampir saja ia memanggil nama orang yang menyebut dirinya Cempaka. Tetapi bibirnya yang sudah akan bergerak itu terkatub lagi, karena jika nama itu hanya dipergunakan di bukit gundul itu, maka Cempaka akan segera menghubungkannya dengan orang yang telah gagal ditangkap itu.

 

Karena itu, maka Jlithengpun kemudian berkata, “Kalian tentu bukan anak-anak lagi. Cobalah berpikir. Apakah yang sebenarnya terjadi.”

 

“Diam kau,“ orang yang tinggi kekurus-kurusan itu berteriak.

 

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Ia berkepentingan dengan orang yang disebutnya bernama Cempaka itu. Karena itu, maka dengan cepat ia mencoba mengambil sikap yang paling baik.

 

“He orang kurus,“ teriak Jlitheng, “kau jangan membentak-bentak. Aku bermaksud baik. Dan adalah menjadi kewajibanku untuk mencegah pertumpahan darah. Dengar, kau tentu belum mengenal aku. Aku adalah Raden Bantaradi. Seorang Senapati dalam susunan keprajuritan Demak. Aku dapat juga berbuat lebih buruk dari yang kau lakukan.”

 

Orang-orang yang sedang bertempur itu agaknya terpengaruh juga oleh kata-kata Jlitheng. Apalagi pada saat itu Jlitheng memang mengenakan pakaian sebagaimana dipakai oleh orang-orang Kota Raja.

 

Namun tiba-tiba orang bertubuh tinggi itu berkata, “Aku tidak paduli siapa kau. Tetapi aku harus membunuh kelinci dari Sanggar Gading ini.”

 

“Sanggar Gading,“ Jlitheng terkejut.

 

“Apakah kau pernah mendengar nama perguruan Sanggar Gading ?” justru Cempaka itulah yang bertanya.

 

Jlitheng termamgu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Sebagai seorang Senapati aku banyak mengetahui nama-nama perguruan. Aku kenal Sanggar Gading sebagai sebuah perguruan yang besar. He, apakah benar kau anak Sanggar Gading?”

 

Cempaka tertawa. Ia masih bertempur dengan sengitnya meskipun derai tertawanya terdengar berkepanjangan. Diantara derai tertawanya dan dengus nafasnya ia berkata, “Dari manapun aku datang, tidak ada bedanya bagimu Senapati. Kami adalah orang-orang yang hidup dalam keterasingan kami.”

 

“Kau benar. Tetapi padepokan dan perguruan bukannya papan untuk menempa diri sekedar karena nafsu ketamakan dan kesombongan. Karena itu, apakah sebenarnya yang menjadn sebab perkelahian ini ?”

 

Hampir berbareng kedua orang yang sedang bertempur itu tertawa. Yang terdengar adalah jawaban orang yang kekurus-kurusan, “Pergilah, sebaiknya kau tidak usah melibatkan diri meskipun aku tahu bahwa kau sebenarnya bukan seorang Senapati, karena setiap orang akan dengan mudah menyebut dirinya seorang Senapati.”

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku tidak akan memaksamu untuk percaya. Dan akupun tidak akan memaksamu untuk berhenti berkelahi. Yang akan mati, matilah dalam pstempuran itu. Yang tetap hidup, biarlah hidup. Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian.”

 

Jlithengpun kemudian melangkah menepi dan duduk diatas sebuah batu dipinggir jalan sambil memperhatikan perkelahian itu.

 

“Kenapa kau tidak segera pargi he ?“ bertanya orang yang kekurus-kurusan sambil bertempur.

 

“Jangan urusi aku. Uruslah tugas dan kewajibanmu sendiri. Jika kau harus bertempur, bertempurlah. Aku ingin duduk disini melihat apa yang akan terjadi. Aku ingin tahu pasti siapakah yang akan kalah dan siapakah yang akan menang. Aku ingin melihat darah memancar dari luka.”

 

“Persetan,“ orang yang kekurus-kurusan itu mengumpat, “jika lawanku sudah terbunuh, dan kau masih ada disitu, maka kaupun akan aku bunuh.”

 

“Baik. Aku akan memperhitungkan akibat itu. Dan aku akan tetap berada disini,“ jawab Jlitheng.

 

Sikap Jlitheng benar-benar membuat orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu menjadi semakin marah. Sementara orang yang bernama Cempaka itu melihat kemungkinan yang dapat dimanfaatkannya. Karena itu, maka ia tidak lagi mengumpati orang yang duduk memperhatikan pertempuran itu dan mengaku sebagai seorang Senapati.

 

Beberapa saat kemudian, pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Meskipun jumlah Cempaka dan kawan-kawannya lebih sedikit dari jumlah lawannya, namun untuk beberapa saat, ia masih mampu bertahan.

 

Tetapi agaknya Cempaka dan kawan-kawannya itu telah terlalu memaksa diri memeras segenap kemampuannya. Karena itu, maka ikemudiah ternyata bahwa tenaganyalah yang menjadi lebih dahulu susut. Dengan demikian maka keseimbangan pertempuran itu mulai bergeser.

 

“Sebentar lagi kau akan mati tikus kecil dari Sanggar Gading. Jangan menyesal. Kecuali jika kalian bersedia menyebutkan, siapakah yang kini menyimpan pusaka itu,“ berkata orang yang kekurus-kurusan.

 

“Kau gila. Sudah aku katakan. Tidak seorangpun yang mengerti dimana letak pusaka itu,“ jawab Cempaka.

 

“Jika demikian, kami sendiri akan pergi ke bukit yang disebut Sepasang Bukit Mati itu. Kami akan menemui anak muda yang dianggap sumber dari segala macam keterangan tentang pusaka itu.”

 

“Jika kau mau pergi, pergilah. Aku tidak mempunyai sangkut paut. Kenapa kalian memaksa kami bertempur disini?“ bertanya Cempaka.

 

Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu berkata, “Ternyata kau bertanya pula seperti orang gila yang mengaku dirinya Senapati itu.”

 

“Ya. Mungkin sebagian benar.”

 

Jlitheng yang duduk dipinggir jalan itu tertawa. Katanya. “Berbantahlah sambil berkelahi. Menarik sekali untuk dilihat dan didengarkan. Akupun menunggu jawab atas pertanyaan itu.”

 

“Semua sudah gila,“ teriak orang yang kekurus-kurusan itu, “He, tikus dari Sanggar Gading. Aku pasti, bahwa kau baru datang dari Sepasang Bukit Mati. Kau tentu sudah bertemu dengan anak muda yang dianggap satu-satunya sumber keterangan itu. Kau tentu sudah membicarakan sesuatu syarat bagi penyerahan pusaka itu. Karena itu maka sebaiknya kau jtidak usah kembali keperguruanmu. Dengan demikian jalur antara Sanggar Gading dan anak muda itu akan terputus.”

 

“Dan kau akan membuat jalur baru,“ potong orang yang menyebut dirinya Cempaka.

 

“Ya. Aku akan membuat jalur baru. Dan akulah satu-satunya orang yang akan mendengar dari mulutnya, dimanakah pusaka itu tersimpan.”

 

Orang yang menamakan diri Cempaka itu tertawa. Katanya, “Aku sudah dapat menebak sejak semula. Pertanyaanmu dan tuduhanmu bahwa aku mengerti sesuatu tentang pusaka itu adalah sekedar cara untuk memaksa aku berkelahi.”

 

“Membunuh tanpa alasan memang berat bagiku. Tetapi membunuh dalam perkelahian apapun alasannya memang sangat menarik.”

 

Orang yang bernama Cempaka itu tidak menjawab kata-kata lawannya. Namun bahkan ia berteriak kepada Jlitheng yang duduk diatas batu, “Nah Senapati. Kau dengar apa katanya ? Aku sudah bertanya hal itu untuk kepantinganmu.”

 

“Terima kasih,“ jawab Jlitheng.

 

“Aku tidak peduli,“ teriak lawan Cempaka, “siapa-pun dan apapun sebabnya, aku akan membunuh semua orang dengan caraku. Termasuk kau yang menganggap dirimu sendiri seorang Senapati. Tetapi itu adalah salahmu karena kau tidak mau pergi dari tempat ini.”

 

Jlitheng termangu-mangu. Semakin lama ia melihat keadaan Cempaka dan kawan-kawannya menjadi semakin sulit. Karena itu, maka tiba-tiba iapun berdiri sambil berkata, “Sebaiknya aku tidak melihat saja perkelahian ini. Aku akan ikut serta.”

 

Cempaka dan lawannya menjadi berdebar-debar. Mereka mulai menebak, kepada siapakah orang itu akan berpihak.

 

“Aku melihat perkelahian yang tidak adil,“ berkata Jlitheng, “tiga orang yang harus bertempur melawan jumlah yang lebih banyak. Karena itu, aku akan bergabung dengan orang yang lebih sedikit tanpa memperhatikan alasan-alasannya perkelahian ini, meskipun nampaknya orang yang berjumlah lebih banyak itulah menyebabkan pertengkaran ini terjadi.”

 

Orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa orang yang ingin melibatkan diri itupun tentu bukan orang kebanyakan. Mungkin ia bemar-banar seorang Senapati. Tetapi setidak-tidaknya ia dapat mengukur diri setelah memperhatikan perkelahian itu.

 

Dalam pada itu, Jlithengpun ternyata tidak hanya bermain-main. Iapun kemudian mempersiapkan diri untuk melibatkan diri dalam perkelahian yang mulai berat sebelah itu.

 

Sebenarnyalah bahwa ia memang mempunyai kepentingan. Setelah diperhitungkan untung dan ruginya, maka Jlitheng menganggap bahwa Cempaka baginya lebih penting dari orang yang belum dikenalnya sama sekali. Jika ia berhasil mmyelamatkan Cempaka, maka langkah penyelidikannya lebih lanjut telah mendapat pancadan. Ia akan dapat mulai dengan orang yang bernama Cempaka dari Sanggar Gading. Seandainya ia tidak akan melakukannya sendiri, maka seorang kawannya akan dapat menelusur, siapakah Cempaka itu sebenarnya dan siapakah yang akan menjadi sasarannya sesuai dengan permintaan Daruwerdi. Orang yang disebut telah membunuh orang tuanya. Dan orang itu adalah seorang Pangeran.

 

Karena itu, ketika ternyata Cempaka menjadi semakin terdesak, iapun berkata, “Ki Sanak dari Sanggar Gading yang tidak aku ketahui namanya. Aku berada dipihakmu.”

 

“Apa kepentinganmu ?“ bertanya orang yang menyebut dirinya Cempaka.

 

“Entahlah. Tetapi karena lawanmu mengumpat-umpat, aku menjadi benci kepadanya. Aku ingin memanfaatkan pertempuran ini untuk menangkapnya, hidup atau mati,“ Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “tetapi bagaimana jika aku ingin memanggilmu.”

 

“Ia bergelar Cempaka Kuning,“ orang yang kekurus-kurusan itulah yang menjawab.

 

“Dan kau ?” bertanya Jlitheng kemudian kepada lawan Cempaka.

 

“Persetan. Masuklah kearena jika kau ingin mati pula,“ geram orang yang kekurus-kurusan itu.

 

Cempakalah yang kemudian tertawa. Katanya, “Orang itu adalah keluarga dari padepokan Kendali Putih. Ia merasa kehilangan orang-orangnya. Dan sekarang ia menjadi gila dan berbuait apa saja diluar nalar dan perhitungan. Ia ingin membunuh siapa saja yang mungkin dibunuhnya tanpa sebab.”

 

“Kendali Putih,“ gumam Jlitheng.

 

“Kau kenal perguruan Kendali Putih ?“ bertanya Cempaka.

 

“Seperti aku mengenal perguruan Sanggar Gading, aku-pun mengenal perguruan Kendali Putih. Perguruan Pusparuri dan perguraan-perguruan yang lain. Banyak perguruan telah diketahui oleh kalangan keprajuritan di Demak, sesuai dengan sifat dan bentuk perguruan. Yang manakah yang menurunkan ilmu putih dan yang manakah yang diwarnai oleh ilmu hitam.”

 

“Persetan. Jangan banyak bicara. Aku akan membunuhmu,“ geram orang bertubuh kekurus-kurusan itu.

 

Tiba-tiba saja orang itu telah meloncat meninggalkan Cempaka yang digelari Cempaka Kuning itu, langsung menyerang Jlitheng yang menyebut dirinya seorang Senapati.

 

Cempaka tidak dapat memburunya, karena seorang yang lainpun segera menyerangnya pula dengan sengitnya, sehingga iapun harus meloncat menghindar dan kemudian bertempur melawannya.

 

Jlitheng yang mengaku seorang Senapati itulah yang kemudian harus bertempur melawan orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu. Seperti yang dilihatnya, maka orang itu memakai tenaga yang tidak seimbang dengan tubuhnya yang kurus. Ketika orang itu membenturkan kekuatannya, maka terasa tubuh Jlitheng tergetar karenanya.

 

“Orang Kendali Putih ini memang kuat sekali,“ berkata Jlitheng didalam hatinya.

 

Sebelumnya ia pernah bertempur melawan dua orang yang karena tidak ada jalan lain, harus dibunuhnya. Tetapi yang seorang ini mempunyai tataran ilmu yang lebih tinggi, sehingga iapun harus mengerahkan kemampuannya untuk bertempur seorang melawan seorang.

 

Demikianlah maka pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Cempaka dan kawan-kawannya menjadi lebih mantap menghadapi lawannya yang jumlahnya berkurang. Bahkan kemudian mereka bertiga, segera dapat menemukan keseimbangan pertempuran itu kembali, meskipun mereka telah memeras segenap kemampuan mereka.

 

Dalam pada itu, Jlithengpun segera terlibat dalam pertempuran yang keras. Orang bertubuh kekurus-kurusan itu ternyata lebih senang membenturkan senjatanya dilambari dengan kekuatannya yang dibanggakannya daripada meloncat menghindari serangan yang datang dari lawannya. Orang yang kurus itu merasa bahwa kekuatannya jarang dapat dimbangi oleh lawannya.

 

Tetapi melawan Cempaka ia sudah merasa, bahwa ia tidak dapat membanggakan kekuatannya saja, karena Cempaka Kuningpun memiliki kekuatan melampaui orang kebanyakan.

 

Ketika ia mulai dengan serangannya atas lawannya yang baru, ia menganggap bahwa orang baru itu tentu akan terkejut membentur kekuatannya. Tetapi orang yang kekurus-kurusan itulah justru yang terkejut. Ternyata seperti Cempaka, orang yang mengaku bernama Senapati Bantaradi itupun memiliki kekuatan yang luar biasa.

 

Semakin lama maka orang yang kekurus-kurusan kupun bertempur semakin kasar. Bukan saja ia mencoba mendesak lawannya dengan kekuatannya yang keras dan liar, tetapi ia juga ingin mempengaruhi lawannya dengan hentakkan dan teriakan-teriakan yang memekakkan telinga.

 

“Jangan berteriak-teriak orang kurus,“ berkata Jlitheng, “nanti seisi beberapa padukuhan disekeliling bulak ini akan terbangun dan berdatangan kemari.”

 

“Aku akan membunuh mereka semua,“ teriak orang kekurus-kurusan itu.

 

“Membunuh akupun kau tidak mampu. Apalagi orang dari beberapa padukuhan yang bersenjata. Meskipun seorang demi seorang, mereka tidak dapat melawanmu, tetapi bersama-sama mereka akan dapat membunuhmu sepertil dalam rampogan macan di alun-alun.”

 

“Tutup mulutmu,“ teriak orang yang kekurus-kurusan itu.

 

Jlitheng sempat tertawa sambil meloncat menghindari serangan lawannya yang datang dengan kasarnya, “Jika setiap orang melemparmu dengan sebuah batu, maka kau akan berkubur dibawah timbunan batu-batu itu. Betapapun besar kekuatanmu, tetapi kau tidak akan dapat melawan lontaran batu dari segala penjuru. Sementara merekapun akan melemparkan senjata-senjata mereka pula kearahmu.”

 

Orang yang kekurus-kurusan itu menggeram. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kau terlalu sombong. Tetapi sebenarnya hatimu sebesar menir. Kau berkhayal bahwa orang-orang padukuhan akan datang membantumu. He, orang yang mengaku prajurit. Bagaimana jika orang-orang padukuhan datang dan justru melemparimu dengan batu.”

 

“Mereka tidak akan melakukan. Mereka tidak akan melawan prajurit Demak yang sedang mengemban tugas.”

 

“Mereka tidak akan percaya bahwa seorang perwira dari tatanan keprajuritan Demak dalam pakaian kebesarannya berkeliaran seorang diri. Kau adalah seorang prajurit yang memalsukan. Kau bukan prajurit. Dan orang-orang padukuhan akan segera mengetahuinya.”

 

Tetapi Jlitheng hanya tertawa saja. Sambil menyerang ia berteriak, “Kau juga pandai berkhayal.”

 

Orang kekurus-kurusan itu tidak menjawab lagi. Iapun segera menyerang dengan garangnya. Dengan sepenuh tenaga ia ingin segera mengakhiri peirtempuran yang menjengkelkan itu, karena kehadiran seseorang yang mengaku dirinya seorang prajurit.

 

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin keras dan kasar. Orang yang kekurus-kurusan iu benar-benar seorang yang mempergunakan segala macam cara untuk mengalahkan lawannya. Kasar, liar dan licik.

 

Sementara itu Jlitheng menyesuaikan diri dengan pengakuannya, bahwa ia adalah seorang Senapati. Pakaiannya memang meyakinkan, bahwa ia seorang Senapati dari Demak.

 

Karena itu, maka iapun berusaha, untuk tidak tergelincir dalam sikap dan perbuatannya, sebagaimana seorang Senapati perang yang berwibawa.

 

Dengan demikian, maka ia berusaha untuk tidak terseret oleh kekasaran lawannya. Justru karena itu, maka ia dapat menilai segala macam tata gerak dan Imu lawannya sebaik-baiknya. Dengan kecepatan gerak dan kekuatannya, Jlitheng mampu mengimbangi kekasaran dan keliaran lawannya. Bahkan dengan pengamatan dan perhitungan yang cermat, akhirnya ala berhasil mendesak lawannya yang meskipun agak kekurus-kurusan, tetapi memiliki ilmu yang luar biasa dan kekuatan raksasa pula.

 

Sementara itu, Cempaka dan kawan-kawannyapun berhasil tetap bertahan melawan jumlah yang lebih banyak. Mereka mulai dapat membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu. Mereka mulai memperhitungkan ketahanan waktu untuk melawan keempat orang yang kasar dan garang itu.

 

“Kita tidak dapat memperhitungkan, kapan pertempuran ini akan selesai,“ berkata Cempaka didalam hatinya, “mungkin menjelang pagi, mungkin setelah matahari naik, bahkan mungkin masih akan berlangsung sehari penuh.”

 

Namun dengan kesadaran yang demikian, ia selalu berusaha untuk mengamati tata geraknya, sehingga ia membatasi diri pada tata gerak yang menentukan pertempuran itu, meskipun bersama dengan kedua orang kawannya, ia juga berusaha untuk segera mengakhiri pertempuran yang seru itu.

 

Tetapi agaknya kedua belah pihak tidak mau membiarkan senjata lawan menyobek tubuhnya dan menghentakkan nyawanya dari tubuhnya. Karena itu, maka masing-masing telah bertempur dengan segenap kemampuan dan ilmu yang ada.

 

Namun dalam pada itu, lambat laun, Jlitheng berhasil mendesak lawannya, betapapun orang yang kekurus-kurusan itu berusaha untuk mempertahankan dirinya dengan kasar dan liar. Bahkan kadang-kadang ia masih saja meloncat sambil berteriak. Senjatanya yang agak asing itu berputaran. Sekali-kali tongkat yang terikat pada sepotong rantai itu menyambar, namun kemudian mematuk dengan cepatnya. Bahkan kemudian dua potong tongkat besi itu, tiba-tiba saja telah berada didalam genggaman seperti sepasang bindi.

 

Melawan senjata yang demikian, Jlitheng harus berhati-hati. Ia kemudian tidak mempergunakan senjata panjang, karena dengan demikian, senjatanya akan dapat terbelit oleh rantai pengikat dua potong besi itu. Yang dipergunakannya adalah sebuah trisula bertangkai pendek, yang terbuat dari besi baja pilihan. Dengan trisula bertangkai pendek itu, maka ia tidak ragu-ragu untuk memukul potongan besi yang berputaran. Bahkan ialah yang berusaha untuk melihat rantai lawannya dengan ujung-ujung trisulanya.

 

Tetapi lawannya cukup cepat pula mempemainkan senjatanya. Bahkan kadang-kadang Jlitheng harus meloncat beberapa langkah surut jika senjata lawannya menyambar mendatar setinggi lambungnya.

 

Melawan Jiltheng orang yang kekurus-kurusan itu memang harus membuat perhitungan yang khusus, karena Jlitheng mampu membentur tongkat besinya yang berputar seperti baling-baling. Setiap kali, dengan bangga ia berhasil merenggut atau mematahkan pedang lawannya. Tetapi trisula Jlitheng ternyata memiliki kekhususan, sehingga setiap benturan justru membuat tangannya menjadi pedih.

 

Sementara itu. Cempaka sempat menilai ilmu orang yang mengaku Senapati dan yang menyebut dirinya bernama Bantaradi itu. Ternyata bahwa Senapati itu mempunyai ilmu yang cukup tinggi, sehingga akhirnya ia berhasil mendesak lawannya.

 

“Aku tidak dapat memperhitungkan, bagaimana akhirnya jika aku harus bertempur melawannya,“ berkata Cempaka didalam hatinya. Kemudian, “Mudah-mudahan ia benar-benar seorang Senapati. Ia bukan sekedar membantu aku, karena aku dalam kedudukan yang lemah, yang menurut perhitungannya, akan lebih mudah dibinasakan pula setelah kelima orang Kendali Putih itu dapat dilumpuhkan.”

 

Tetapi menilik tata geraknya, maka Cempaka menganggap bahwa orang yang mengaku Senapati itu sama sekali bukan dari kelompok orang-orang liar dan kasar yang sekedar mengaku-aku sebagai seorang Senapati, meskipun seperti yang dikatakan oleh orang kekurus-kurusan itu bahwa agak aneh, seorang perwira dalam pakaian kebesaran hanya seorang diri berkeliaran dimalam hari.

 

“Nanti, setelah semuanya selesai, aku akan dapat memperkenalkannya,“ berkata Cempaka Kuning didalami hatinya.

 

Sementara itu, benturan-benturan senjata antara Jlitheng dan orang yang kekurus-kurusan itu terjadi semakin sering. Justru karena Jlitheng sudah pasti tentang kekuatan lawannya, maka iapun mulai dengan usahanya untuk meringkihkan bukan saja genggaman lawannya, tetapi juga hatinya. Jika setiap kali tangannya terasa pedih dan sakit, maka iapun akan menjadi gelisah pula karenanya.

 

Namun kemudian lawannyalah yang berusaha untuk menghindari benturan. Orang yang kekurus-kurusan itu tidak lagi memutar tongkat besinya pada ujung sepanjang rantai pengikatnya. Tetapi ia lebih banyak menggenggam sepasang senjatanya itu ditangan. Dengan dua potong besi itu, ia berusaha untuk menyerang lawannya tanpa mengadakan benturan kekuatan dengan langsung.

 

Jlitheng yang mengaku seorang Senapati itupun kemudian bertempur semakin tangkas dan cepat. Trisulanya menyambar-nyambar dan setiap kali mematuk dada lawan dengan dahsyatnya.

 

Lawannya mulai terdorong surut oleh serangan-serangan Jlitheng yang membadai. Ia tidak segan menyerang lawannya meskipun ia yakin, bahwa lawannya akan mampu menangkisnya, karena setiap benturan akan memberikan tekanan kepada lawannya.

 

Dengan segenap kemampuannya, maka orang yang kekurus-kurusan itu berusaha mempergunakan kecepatannya untuk melawan kekuatan dan kegarangan Jlitheng. Tetapi ternyata bahwa Jlithengpun mampu mengimbangi kecepatannya.

 

Itulah sebabnya, maka semakin lama semakin terasa, bahwa orang yang kekurus-kurusan itu akan kehilangan kesempatan untuk mempertahankan dirinya lebih lama lagi.

 

Tetapi orang yang kekurus-kurusan itu tidak mau menyerah. Ia adalah seseorang yang mendapat kepercayaan oleh pimpinannya untuk menentukan sikap terhadap siapapun juga yang dianggap dapat mempersulit kedudukan perguruannya. Termasuk orang-orang dari perguruan Sanggar Gading, yang menurut perhitungannya telah membuat hubungan khusus dengan anak muda yang berada disekitar Bukit Mati.

 

Namun ternyata bahwa Jlitheng benar-benar tidak dapat dimbanginya. Bahkan semakin lama, terasa ujung trisula lawannya yang bertangkai sangat pendek itu semakin dekat dari kulitnya. Sekali-kali terasa angin yang berdesir lembut jika ujung trisula itu menyambar tubuhnya hanya berjarak setebal daun. Bahkan rasa-rasanya ujung trisula itu sudah mulai menjamahnya.

 

Orang yang kekurus-kurusan itu terkejut ketika terasa sentuhan pada pundaknya. Tetapi ternyata bahwa pundaknya tidak tersayat. Segores tipis warna kemerah-merahan memang membekas. Tetapi darahnya tidak menitik karenanya.

 

“Gila,“ teriak orang kekurus-kurusan itu.

 

“Menyerahlah,“ desis Jlitheng, “aku akan membawamu ke Demak. Kau harus memberikan keterangan tentang perguruanmu dan usahamu untuk menguasai pusaka yang belum dikenal di tlatah Sepasang Bukit Mati,“ sahut Jlitheng.

 

“Persetan,“ geramnya. Dengan buasnya ia justru menyerang Jlitheng dengan sekuat tenaganya dan segenap kemampuan ilmunya.

 

Jlitheng surut selangkah. Namun kemudian iapun meloncat maju. Tepat saat lawannya justru mengayunkan tongkat ditangan kirinya.

 

Jlitheng tidak menghindar. Dengan trisulanya ia sengaja menangkis tongkat besi itu. Ketika tongkat besi itu menyusup disela-sela ujung trisulanya, maka dengan sepenuh tenaganya ia memutar trisulanya sambil menghentak merenggut tongkat besi itu dari tangan lawannya.

 

Tetapi Jlitheng terkejut karena lawannya sama sekali tidak mempertahankan tongkatnya. Dibiarkannya tongkatnya terlepas begitu saja dari tangannya. Namun sekejap kemudian tongkat yang terlepas itu telah berputar justru menyerang kening Jlitheng yang termangu-mangu.

 

Namun Jlitheng sempat merendah sambil bergeser. Baru tersadar, bahwa tongkat itu terikat oleh seutas rantai. Justru dengan serta merta lawannya telah mempergunakan tongkat itu untuk menyerang.

 

Jlitheng kemudian semakin tertarik kepada rantai lawannya. Jika ia ingin melibat, lebih baik langsung pada rantainya. Tidak pada tongkat-tongkat besi yang terayun-ayun diujung rantai itu.

 

Namun seperti yang pernah dilakukan, lawannyapun segera menangkap tongkat-tongkat besi itu dan mengganggamnya ditangan seperti sepasang pedang.

 

“Gila,“ geram Jlitheng.

 

Dengan demikian pertempuran itu masih merupakan pertempuran yang sengit. Sementara Cempaka dan dua orang kawannya, masih harus berhadapan dengan jumlah yang lebih banyak, sehingga Cempaka sendirilah yang kemudian harus melawan dua orang lawan sekaligus.

 

Tetapi keduanya bukan orang-orang sekuat orang kekurus-kurusan itu. Sehingga meskipun dengan memaksakan diri dan memeras segenap tenaga dan kemampuan, Cempaka masih berhasil mempertahankan dirinya. Sementara kawannya yang dua orang itupun bertempur dengan memeras kemampuan, karena lawan merekapun adalah orang-orang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.

 

Namun dalam pada itu, Jlitheng yang semakin mendesak lawannya, justru merasa dirinya dikejar pula oleh waktu itulah sebabnya, maka iapun bertepur semakin garang. Trisulanya menyambar-nyambar semakin cepat menyusup diantara kedua ujung tongkat besi orang-orang kekurus-kurusan itu. Bahkan diantara putaran tongkat yang dahsyat itu diujung rantai pengikatnya.

 

Ketika Jlitheng berhasil memukul tongkat ditangan kiri lawannya, maka ia dengan serta merta telah meloncat maju selangkah. Tiba-tiba saja kakinya terayun deras sekali mengarah lambung. Tetapi lawannya tidak membiarkan lambungnya dihantam kaki Jlitheng. Dengan tongkat ditangan kanan, lawannya menangkis serangan kaki Jlitheng. Tetapi ternyata bahwa Jlitheng telah menarik serangannya. Ia meloncat dan berputar setengah lingkaran. Trisulanya berputar seiring dengan putaran tubuhnya. Kemudian dengan derasnya terayun langsung kekepala lawannya.

 

Tetapi ternyata lawannyapun mampu bergerak cepat. Dengan tangkasnya ia telah menggenggam pangkal tongkatnya. Dengan merentang rantainya ia melindungi kepalanya.

 

Sementara itu, trisula Jlitheng telah terayun deras sekali. Ketika trisulanya menyentuh rantai itu, terasa rantai itu mengendor. Namun tiba-tiba saja orang kekurus-kurusan itu menghentakkan tangannya sehingga rantai itu menegang dengan tiba-tiba.

 

Untunglah bahwa Jlitheng cukup cepat sehingga trisulanya tidak terpental dari tangannya.

 

Namun dalam pada itu, lawannya yang kekurus-kurusan itu akhirnya tidak dapat mengimbangi kenyataan, bahwa akhirnya ia tidak akan dapat mempertahankan diri lebih lama lagi. Karena itulah, maka ia mulai memikirkan jalan yang paling baik untuk menyelamatkan diri.

 

Jlitheng yang masih belum memperhitungkan kemungkinan itu, terkejut ketika tiba-tiba saja ia mendengar isyarat dari mulut lawannya. Demikian tiba-tiba dan disusul dengan loncatan surut dan kemudian langkah-langkah panjang menghindarkan diri dari arena perkelahian, diikuti oleh kawannya.

 

Mula-mula Jlitheng berusaha untuk mengejarnya. Namun akhirnya ia menyadari kepentingannya. Ia harus segera berada di Demak dan segera pula kembali ke padukuhan Lumban. Karena itu, maka niatnya untuk mengejar lawannya itupun diurungkannya.

 

Karena Jlitheng kemudian berhenti, maka Cempaka dan kawan-kawannyapun berhenti pula. Meskipun demikian, nampak betapa mereka menjadi kecewa. Namun tidak seorang-pun diantara mereka yang menanyakannya kepada Jlitheng, karena mereka sadar, bahwa mereka tidak berhak untuk menuntut agar Jlitheng melakukan tindakan lebih jauh lagi dari yang sudah dikerjakan.

 

Tetapi agaknya Jlitheng mengetahui perasaan Cempaka dan kawan-kawannya sehingga ia berusaha menjelaskan sikapnya, “Aku tidak perlu mengejar mereka. Bahwa aku sudah tahu tenteng mereka, itu sudah cukup. Karena pada setiap saat aku akan dapat mengambil tindakan atas perguruan Kendali Putih.”

 

Cempaka menarik nafas dalam-dalam. Namun ia mengangguk sambil berkata, “Terserah kepadamu. Tetapi apakah kau benar seorang Senapati prajurit dari Demak ?”

 

Jlitheng tertawa. Katanya, “Apakah pakaianku memang pantas disebut seorang Senapati ?”

 

Cempaka mulai ragu-ragu. Dipardanginya wajah Jlitheng yang tidak memberikan kesan kesungguhan. Bahkan sambil tertawa ia berkata, “Seharusnya kau dapat membedakan, apakah aku benar-benar seorang Senapati atau bukan. Pakaianku memang mirip pakaian seorang prajurit. Tetapi aku bukan seorang prajurit.”

 

“Siapakah kau sebenarnya ?“ bertanya Cempaka.

 

“Aku adalah orang yang kabur kanginan. Orang yang tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak mempunyai kepentingan apapun juga. Aku melihatkan diri karena aku melihat ketidak adilan. Kau bertiga harus melawan lima orang sehingga pertempuran itu menjadi berat sebelah. He, apakah kau memang dari perguruan Sanggar Gading ?”

 

“Ya,“ Cempaka tidak dapat ingkar lagi.

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Satu keterangan telah didapatkannya. Cempaka adalah orang Sanggar Gading.

 

“Aku mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu,“ berkata Cempaka kemudian.

 

“Itu tidak pening. Tetapi apakah sebenarnya yang menyebabkan kalian bertempur dengan orang-orang Kendali Putih.”

 

“Kau sudah mendengar sebagian dari persoalan itu.”

 

“Ya,“ Jlitheng menarik nafas dalam-dalam, “tetapi apakah arti pusaka yang kalian perebutkan itu ? Apakah pusaka itu mempunyai nilai gaib yang dapat membuat seseorang menjadi sesembahan, atau membuat seseorang menjadi pilih tanding, atau nilai-nilai yang lain?”

 

Jlitheng mengerutkan keringnya ketika ia melihat Cempaka tersenyum. Tetapi Cempaka kemudian berkata, “Aku titak tahu. Tetapi pusaka itu penting sekali bagi perguruan Sanggar Gading.”

 

“Dan kau sudah mendapatkannya ?”

 

Cempaka itupun tiba-tiba telah tertawa. Katanya, “Belum. Dan aku berkata sebenarnya, bahwa aku belum mendapatkan pusaka itu.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Namun iapun kemudan tertawa pula. Justru berkepanjangan. Diantara deri tertawanya ia berkata, “Alangkah lucunya. Kalian sudah mempertaruhkan nyawa kalian untuk sesuatu yang tidak jelas. Apakah artinya itu bukan suatu kedunguan atau bahkan kegilaan ?”

 

“Kita memang orang-orang gila. Tetapi memperebutkan pusaka itu bukan suatu kegilaan yang lebih gila dari kegilaanmu mencampuri persoalanku yang dapat merenggut nyawamu juga,“ berkata Cempaka.

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku hanya ingin menolongmu. Jika kau tersinggung dengan istilah itu, baiklah aku katakan lagi, bahwa aku tidak senang melihat ketidak adilan. Aku sama sekali tidak berkepentingan dengan pusaka itu dan segala tingkah lakumu kemudian. Aku akan meneruskan perjalananku. Mungkin aku akan singgah di Demak. Mungkin tidak. Tetapi mungkin aku justru akan singgah di perguruan Sanggar Gading.”

 

“Pergilah kesana. Tandangmu membuat aku tertarik kepadamu. Jika kau bersedia, bergabunglah dengan kami. Ada tugas penting yang akan kami lakukan,“ berkata Cempaka.

 

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia bertanya, “Tugas apa?”

 

“Aku belum tahu pasti. Tetapi jika kau bersedia, datanglah,” sambung Cempaka.

 

Dada Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia teringat pembicaraan Cempaka dengan Daruwerdi di Bukit Gundul. Bahkan Daruwerdi menuntut imbalan yang mahal dari pusaka yang dijanjikan.

 

Karena itu, sejenak kemudian Jlitheng berkata, “Apakah persoalannya ada hubungannya dengan pusaka itu ? Jika ada, aku lebih baik tidak ikut campur, karena aku tidak mau terlibat dalam persoalan yang menyangkut banyak pihak. Tetapi jika persoalan itu benar-benar tugas perguruanmu, aku mungkin akan dapat mempertimbangkan.”

 

Cempaka memandang Jlitheng sejenak. Tetapi ia tidak melihat kesan yang mencurigakan pada wajah itu. Dalam keremangan malam ia melihat, seakan-akan Jlitheng berkata dengan jujur dan tanpa maksud tertentu. Karena itu, maka iapun kemudian menjawab, “Tidak. Tidak ada sangkut pautnya dengan pusaka itu. Tetapi yang harus kami lakukan adalah persoalan yang menyangkut harga diri perguruan Sanggar Gading.”

 

“Dendam? Kebencian? Atau menyangkut harta, benda?”

 

“Harga diri,“ sahut Cempaka, “tetapi aku tidak tahu pasti.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia melihat satu kemungkinan untuk maju selangkah dalam tugasnya. Tetapi iapun melihat bahaya yang tersembunyi dibalik kemungkinan itu.

 

Sambil mengangguk-angguk iapun kemudian berkata, “Ki Sanak. Mungkin aku akan benar-benar datang ke padepokanmu. Mungkin aku akan dapat berbuat sesuatu. Tetapi keterlibatanku memerlukan kejelasan, sehingga aku tidak akan salah sasaran. Mungkin yang telah menyentuh harga dirimu itu justru orang yang pernah aku kenal baik, atau malahan sahabat-sahabatku. Tetapi hal itu dapat aku bicarakan kelak jika benar-benar aku sempat datang ke Sanggar Gading.”

 

“Kau orang yang aneh. Apakah keterlibatanmu kali ini mempunyai alasan dan landasan yang jelas? Kau tidak mengenal aku dan kaupun tidak mengenal orang-orang kendali Putih. Tetapi kau langsung terjun digelanggang perselisihan ini.”

 

“Tetapi bagiku cukup jelas. Orang-orang Kendali Putih itu bukan sanak kadangku. Bukan sahabat-sahabatku dan bukan saudara-saudara seperguruanku,“ jawab Jlitheng.

 

Cempaka mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika kau ingin datang, datanglah. Tetapi yang akan kami lakukan tidak akan menunggu sampai waktu yang lebih dari yang sudah ditentukan.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan datang pada waktu yang kau tentukan. Jika dalam sepuluh hari itu aku tidak datang, maka mungkin aku sudah berada ditempat yang jauh. Mungkin aku sudah berada di Tuban atau mungkin di Blambangan. Bahkan mungkin aku sudah menyeberang ke Bali.”

 

Cempaka mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah kepadamu. Tetapi siapa namamu ?”

 

“Namaku memang Bantaradi. Tetapi aku bukan Senapati Demak seperti yang aku katakan. Pertemuan kita mungkin ada gunanya. Tetapi mungkin tidak berkelanjutan apapun juga,“ berkata Jlitheng kemudian, “aku- minta diri. Aku akan melanjutkan perjalananku yang masih sangat jauh, karena perjalananku memang tanpa batas.”

 

Cempaka tidak menahannya lagi. Ia memandang Jlitheng dengan kening yang berkerut. Ia melihat sesuatu yang asing pada anak muda itu. Dan nampaknya Jlitheng telah berhasil menimbulkan anggapan, bahwa ia sama sekali tidak bersangkut paut dengan pusaka yang sedang menjadi rebutan diantara baberapa golongan itu.

 

Sejenak kemudian Jlitheng telah meloncat kepunggung kudanya dan kemudian berkata, “Berhati-hatilah menghadapi orang-orang Kendali Putih. He, apakah kau akan mengajak aku datang kepadepokan Kendali Putih sebelum sepuluh hari ini?”

 

Cempaka menjadi ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia menggeleng. “Tidak. Meskipun aku tidak tahu pasti, apa yang akan aku lakukan, karena aku hanya akan melakukannya. Kakak kandungkulah yang mengetahui dengan pasti, persoalan yang bagaikan mengindap didalam jantung perguruan.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Kemudian sambil menggerakkan kendali kudanya ia berkata, “Kita berpisah. Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi.”

 

Cempaka menarik nafas dalam-dalam, ia hanya memandangi saja kuda yang kemudian berlari meninggalkannya membawa Jlitheng dipunggungnya.

 

“Anak muda yang luar biasa,“ berkata Cempaka. Kedua orang kawannya hanya mengangguk-angguk saja.

 

“Ia memiliki tenaga yang cukup besar dan kecepatan bergerak yang mengagumkan. Ia akan dapat menjadi kawan yang baik dalam tugas berat yang mendatang,“ berkata Cempaka pula.

 

“Tetapi kita belum mengenalnya dengan baik,“ berkata salah seorang dari kawan Cempaka.

 

“Aku telah dapat menarik kesimpulan, bahwa ia sama sekali tidak bersangkut paut dengan pusaka yang sedang diperebutkan itu. Mungkin iapun akan mempunyai tuntutan tertentu atau sama sekali tidak, namun sudah tentu tidak berkisar pada pusaka yang bernilai sangat tinggi bagi perguruan kita itu,“ sahut Cempaka.

 

“Agaknya memang demikian. Tetapi jika kemudian ia mendengar serba sedikit tentang pusaka itu, mungkin sikapnya akan berubah.”

 

“Kita akan menunggunya,“ desis Cempaka kemudian, “seandainya ia mempunyai maksud tertentu, bukan persoalan yang sulit bagi kita, karena ia hanya seorang diri.”

 

“Maksudmu, setelah kita mempergunakannya, anak muda itu akan kita singkirkan ?“ bertanya seorang kawannya.

 

“Jika ia akan dapat menjadi pengganggu. Jika tidak, biarlah ia pergi tanpa kita sakiti hatinya,“ jawab Cempaka.

 

Kedua kawannya tidak bertanya lagi. Merekapun kemudian bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka.

 

Namun dalam pada itu, Cempaka telah tenggelam kedalam angan-angannya. Jika ia berhasil mememuhi permintaan Daruwerdi, maka ia akan mendapatkan pusaka yang sangat diperlukan oleh saudara tuanya, yang memimpin padepokan Sanggar Gading Setidak-tidaknya ia akan mendapat petunjuk pasti, untuk menemukan pusaka itu. Karena pada pusaka itu terdapat petunjuk yang sangat berharga. Mungkin tergores pada wrangkanya, atau mungkin pada peti tempat pusaka itu disimpan, atau pada selembar kain yang terdapat dalam peti itu pula. Tetapi menurut pendengarannya, bahwa pada pusaka itu terdapat petunjuk, dimanakah harta benda yang tidak ternilai harganya telah disimpan.

 

“Mungkin pusaka itu memang mempunyai pengaruh gaib,“ berkata Cempaka didalam hatinya, “tetapi harta benda yang tidak ternilai itupun mampunyai daya tarik dapat membuat banyak orang menjadi gila.“

 

Tetapi Cempaka tidak mengatakan kepada seorangpun juga dari perguruannya, selain kakak kandungnya. Keduanya berusaha untuk mendapatkan pusaka itu, apapun yang harus mereka lakukan. Seperti juga beberapa perguruan dan beberapa kelompok orang-orang pilihan yang sudah mendengar serba sedikit tentang pusaka itu, telah berusaha untuk menemukannya. Apakah mereka tertarik karena mereka menganggap pusaka itu akan dapat mengangkut mereka kejenjang kekuasaan tertinggi atau karena mereka memang sudah mengetahui, bahwa disamping pusaka itu terdapat harta benda yang sangat besar.

 

Dalam pada itu, Jlitheng berpacu dengan kencang menuju ke Kota Raja. Ia sudah mempunyai rencana tersendiri untuk melaksanakan niatnya. Peristiwa yang baru saja terjadi, telah menjadi salah satu bahan yang dapat menambah bekal dalam tugasnya.

 

Sebelum matahari terbit, Jlitheng telah memasuki Kota Raja. Ia langsung menuju kesebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang luas, meskipun rumah itu terletak di bagian yang tidak cukup ramai.

 

Tetapi Jlitheng tidak turun dihalaman depan dan menambatkan kudanya pada tonggak disudut pendapa, tetapi ia langsung memasuki seketeng sebelah kiri dan masuk ke halaman samping.

 

Seorang penghuni rumah itu terkejut melihat seekor kuda dengan penunggangnya langsung memasuki seketeng. Karena itu, maka iapun segera menyongsong dan menghentikannya.

 

Jlitheng tersenyum. Iapun segera meloncat turun sambil berkata, “Jangan terkejut. Aku ingin bertemu dengan paman Sri Panular.”

 

Orang itu termangu-mangu. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapakah Ki Sanak?”

 

Jlitheng tersenyum. Katanya pula, “Sampaikan pesanku. Cepatlah sedikit. Matahari sudah akan terbit.”

 

Orang itu masih termangu-mangu. Namun iapun berpaling ketika seorang perempuan menjelang setengah usia datang menyapa anak muda yang datang berkuda itu, “Kau ngger. Marilah. Pamanmu sudah berada disanggar.”

 

Jlitheng mengangguk hormat. Jawabnya, “Terima kasih bibi. Aku datang agak kesiangan.”

 

Perempuan itu tertawa sambil mendekatinya ia berkata, “Masuklah. Aku akan memanggil pamanmu.”

 

“Biarlah aku menyusul ke sanggar saja bibi,“ jawab Jlitheng.

 

Perempuan itu mengeratkan keningnya. Katanya, “Duduk sajalah dipringgitan. Biarlah aku memanggil pamanmu.”

 

“Aku tidak ingin mengganggu paman, bibi. Biarlah aku pergi ke Sanggar.”

 

Perempuan itu menarik nafas panjang. Lalu, “Baiklah. Marilah aku bawa kau ke Sanggar di belakang.”

 

Jlithengpun kemudian menyerahkan kudanya kepada orang yang masih kebingungan. Kemudian mengikuti perempuan itu menuju ke longkangan dibelakang. Dibelakang longkangan terdapat sebuah bilik yang terpisah. Lewat bilik itu mereka memasuki sebuah ruangan yang cukup luas, berdinding kayu. Agak lebih rapat dari bagian-bagian yang lain dari rumah yang besar itu.

 

“Kakang Sri Panular,“ terdengar perempuan itu berkata ketika mereka memasuki sebuah pintu, “angger Arya Baskara datang untuk menghadap.”

 

Sejenak mereka menunggu. Baru kemudian terdengar jawaban dari keremangan ruangan Sanggar, “Aku senang sekali oleh kedatangannya. Marilah ngger. Mendekatlah.”

 

“Masuklah,“ berkata perempuan itu, “aku akan menyiapkan jamuan bagi angger.”

 

“Ah,“ desis Jlitheng, “bibi jangan menjadi terlalu sibuk karena kedatanganku.”

 

Perempuan itu tersenyum. Katanya, “Tidak ngger. Sudah seharusnya aku menjamu seorang tamu.”

 

“Terima kasih bibi,“ jawab Jlitheng kemudian.

 

Sepeninggal perempuan itu, maka Jlithengpun kemudian memasuki sanggar yang masih remang-remang. Disudut ia melihat seseorang duduk diatas sebuah batu hitam yang dialasi dengan sehelai kulit harimau loreng.

 

“Marilah ngger,“ orang yang duduk itu mempersalahkan.

 

Jlithengpun kemudian mendekat. Dengan hormatnya ia membungkuk dihadapan orang yang duduk diatas batu itu sambil berkata, “Aku menyampaikan baktiku paman.”

 

Terdengar suasa tertawa tertahan. Lalu, “Silahkan duduk diamben bambu itu ngger. Kau selalu membuat hatiku menjadi cerah. Semakin sering kau datang, aku tentu akan menjadi semakin muda.”

 

Jlithengpun kemudian duduk disebuah amben beberapa langkah dari batu hitam itu. Diluar sadarnya ia mulai mengedarkan pandangan matanya keseluruh ruangan yang menjadi semakin terang disaat matahari mulai terbit.

 

“Tidak ada perubahan, apapun juga,“ berkata orang yang duduk di atas batu hitam itu.

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang sebilah ujung tombak yang tidak bertangkai, yang terpancang pada sebuah lubang bambu disamping sebuah perisai yang terbuat dari baja, maka orang yang duduk itu berkata, “Senjata itulah yang baru bagi sanggar ini ngger. Aku mendapatkannya dari seorang kawan yang berhasil merampasnya dari para bajak laut yang kadang-kadang turun kepantai dan merampok para nelayan yang memang sudah miskin.

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Tetapi menilik bentuknya, senjata dan perisai itu bukan milik kita paman. Maksudku, bukan prajurit dan orang-orang Demak.”

 

“Tepat ngger. Senjata dan perisai itu dapat dirampas dari bajak laut, yang barangkali mendapatkannya dari orang-orang seberang. Entah dengan cara apa. Apakah senjata itu ditukar dengan kebutuhan mereka, atau para bajak laut itu merampas dengan kekerasan.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia berdesis, “Dan sekarang senjata dan perisai itu berada ditangan paman.”

 

Orang itu tertawa pendek. Katanya, “Aku mengumpulkan berbagai jenis senjata. Bukan saja senjata yang aku dapatkan dari masa kemasa, pemerintahan yang berpindah-pindah di negeri ini lewat siapapun juga seperti yang kau lihat bergantung dididing. Tetapi juga senjata dari negeri seberang.”

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Di sanggar itu memang terdapat senjata sejak jaman purbakala di tanah ini. Kapak batu, tombak dan sumpit yang sederhana. Tetapi juga senjata yang sudah berlapis emas dengan teretes berlian dari masa kejayaan kerajaan demi kerajaan.”

 

Tetapi kedatangan Jlitheng ketempat itu, bukannya untuk berbicara tentang berbagai macam senjata. Tetapi ia mempunyai keperluan yang penting, sehubungan dengan niatnya untuk membayangi Sepasang Bukit Mati yang bersangkutan dengan pusaka yang mempunyai nilai tersendiri itu.

 

Karena itu maka sejenak kemudian, setelah memberikan beterapa penjelasan maka Jlithengpun berkata, “Paman, kedatanganku adalah satu usaha untuk memecahka rahasia yang meyelimuti pusaka itu. Aku telah mendapatkan beberapa bahan yang barangkali penting untuk dibicarakan.”

 

Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang sudah menduga, bahwa kau sudah menemukan sesuatu yang barangkali dapat dipakai sebagai sandaran usahamu untuk memecahkan rahasia pusaka itu. Jika masalahnya tetap berkepanjangan, maka akan semakin banyak kelompok yang terlibat kedalamnya, yang akan berarti menambah korban yang sama sekali tidak berarti. Sesuatu yang kecil dan tidak berarti, lewat berita dan ceritera mulut kemulut, akan dapat memjadi sesuatu yang sangat dikagumi. Sepercik api akan dapat dianggap sebagai panasnya luapan Gunung yang sedang meledak.”

 

“Agaknya demikian juga tentang pusaka itu paman. Setiap orang menganggap pentingnya pusaka yang sekarang masih belum ditemukan,“ sahut Jlitheng.

 

“Apalagi pusaka itu yang memang disertai dengan satu keterangan tentang harta benda yang disimpan oleh Pangeran Pracimasanti. Berita dan ceritera tentang pusaka itu tentu akan berkembang semakin besar, seolah-olah siapa yang memiliki pusaka itu, adalah orang yang akan dapat menjadi Maha Raja diatas permukaan bumi,“ berkata Sri Panular.

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, "Kedatanganku akan mohon petunjuk kepada paman, apakah yang harus kita kerjakan selanjutnya.”

 

Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Apa yang sudah kau ketahui dan bagaimana menurut pendapatmu ?”

 

Jlithengpun kemudian menceriterakan apa yang ada dan apa yang telah terjadi di sekitar Sepasang Bukit Mati. Kedatangan orang-orang dari padepokan Kendali Putih, orang-orang Pusparuri dan orang-orang dari Sanggar Gading yang telah berhubungan dengan seorang anak muda yang bernama Daruwerdi. Kemudian, yang masih merupakan teka-teki baginya adalah dua orang ayah dan anak perempuan yang berada di salah saru dari Sepasang Bukit Mati itu. Orang yang menurut pengakuannya harus berpindah dari daerahnya, karena banjir, gempa dan tanah longsor.

 

Sri Panular mendengarkan keterangan Jlitheng dengan saksama. Apalagi ketika Jlitheng menceriterakan apa yang didengarnya tentang pembicaraan Daruwerdi dan Cempaka, serta apa yang dialaminya diperjalanannya ke Demak dari Lumban.

 

Orang tua itu mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia berkata, “Kau sudah mendapat jalan itu ngger, meskipun kau harus sangat berhati-hati. Memasuki padepokan Sanggar Gading bukan satu pekerjaan yang mudah. Bukan pula satu permainan yang akan menyenangkan.”

 

“Aku sadar paman. Tetapi aku kira itu adalah jalan yang paling baik. Diluar perhitunganku, kebetulan sekali aku mendapat kesempatan untuk menolong anak Sanggar Gading itu,“ berkata Jlitheng kemudian, “tetapi disamping kemungkinan yang baik itu, aku harus mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Akupun harus mendapat akal untuk meninggalkan Lumban untuk waktu yang agak lama.”

 

“Apakah kau berniat untuk datang kepadepokan Sanggar Gading ?”

 

“Agaknya aku akan menempuh jalan itu untuk mangetahui, siapakah yang menjadi sasaran dendam Daruwerdi. Jika dendam itu tidak benar-benar membakar hati dan jantungnya, aku kira Daruwerdi tidak akan bersedia menukarnya dengan pusaka yang menjadi rebutan itu.”

 

“Kau yakin bahwa Daruwerdi benar-benar mengetahui dengan pasti tentang pusaka itu?“ bertanya Sri Panular.

 

Jlitheng menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Menurut pengakuannya. Jika tidak, apakah ia akan berani mempertaruhkannya untuk mendapatkan orang yang dimaksudkan ?”

 

Sri Panular mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah ngger. Jika kau sudah bertekad untuk melakukannya.”

 

“Tetapi paman,“ berkata Jlitheng dengan serta merta, “itu barulah salah satu jalan. Jalan yang semula ingin aku sampaikan kepada paman, adalah bahwa sebaiknya paman mencari keterangan, siapakah diantara para Pangeran yang pernah berhutang nyawa, yang pernah membunuh seseorang dalam persoalan apapun juga. Jika demikian, maka kita akan dapat mencari keterangan, siapakah yang telah dibunuh, dan orang yang dibunuh itulah yang mempunyai hubungan dengan Daruwerdi, yang menurut pengakuan anak muda itu adalah ayahnya.“

 

Sri Panular mengangguk-angguk. Namun iapun berkata, “Baiklah. Itu salah satu jalan yang dapat ditempuh. Tetapi tentu ada jalan lain. Kita akan mencari keterangan tentang Daruwerdi itu sendiri. Jika orang-orang Pusparuri dapat menghubunginya, tentu ada diantara mereka yang sudah mengenalnya sebelumnya. Demikian juga orang Sanggar Gading itu.”

 

“Jalan yang dapat juga dilalui meskipun tentu agak licin. Tetapi kita memang harus menempuh segala jalan. Sementara aku akan melalui jalan yang lebih pendek, meskipun sangat berbahaya.”

 

“Kau sudah benar-benar bertekad melakukannya ?”

 

“Ya paman. Aku kira jalan itu adalah kesempatan yang paling dekat, meskipun yang paling berbahaya.”

 

Sri Panular mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Semua jalan akan kita tempuh untuk melacak jejak Pangeran Pracimasanti. Jika saja pengawalnya yang setia, meskipun cacat itu dapat diketemukan, mungkin kita tidak akan kehilangan jejak. Tetapi abdinya yang setia itupun bagaikan hilang ditelan bumi. Karena itu, tentu ada rahasia tersendiri, kenapa anak muda yang bernama Daruwerdi itu mengaku dapat menunjukkan pusaka yang hilang itu. Mungkin anak muda itu, sengaja atau tidak sengaja, dapat menguasai abdi yang setia dan cacat itu. Namun bagaimanapun juga, kita harus menyelamatkan apa yang pernah disimpan oleh Pangeran Pracimasanti. Dengan demikian kita sudah berbuat satu kebajikan bagi sesama.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia sadar sepenuhnya akan tugas yang akan dilakukannya. Yang tersimpan disamping pusaka itu tentu harta benda yang tidak sedikit, yang akan dapat dipergunakan untuk kepentingan Demak yang sedang tumbuh! Selain pusaka itu sendiri akan kembali ke gedung perbendaharaan pusaka, maka harta benda itupun tentu akan sangat bermanfaat. Demak memerlukan banyak sekali beaya untuk membangun dirinya, sementara beberapa pihak lebih senang untuk bekerja bagi kepentingan diri sendiri.

 

Dalam pada itu, maka Jlithengpun kemudian berkata, “Paman. Sebelum aku memasuki sarang orang-orang Sanggar Gading, aku harus kembali ke Lumban lebih dahulu. Aku harus menghapus segala kecurigaan karena aku akan pergi untuk beberapa hari.”

 

“Lakukanlah. Akupun akan melakukan usaha yang lain. Seperti yang kau maksud, aku akan mencari keterangan tentang seorang Pangeran yang pernah terlibat dalam pertentangan dan pembunuhan, sehingga Daruwerdi mendendamnya.”

 

“Itulah yang akan aku sampaikan. Selebihnya, kita akan mengikuti perkembangan keadaan.”

 

“Dan kau akan berada disini berapa hari ?“ bertanya Sri Panular.

 

“Malam nanti aku harus kembali ke Lumban paman. Kepergianku yang lama akan menimbulkan pertanyaan bagi anak-anak muda Lumban. Tetapi juga akan dapat menarik perhatian Daruwerdi.”

 

Sri Panular mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Waktu itu sangat pendek. Tetapi untuk menambah bekal tugasmu, biarlah yang pendek ini kita pergunakan sebaik-baiknya.”

 

“Maksud paman?“ bertanya Jlitheng.

 

“Kau tentu sudah mendapat banyak bekal dari kakang Baskara. Kau tentu sudah memiliki beberapa jenis senjata yang sering dipergunakan. Tetapi untuk menjaga keselamatanmu jika kau berada didalam lingkungan lawan yang banyak. … aku akan memberikan beberapa petunjuk yang mungkin pernah kau ketahui pula dari kakang Baskara. Tetapi yang kemudian aku kembangkan.”

 

“Apakah itu paman ?“ bertanya Jlitheng.

 

“Aku mempunyai sejenis paser yang mungkin berguna bagimu. Jika orang-orang Sanggar Gading kemudian mengenalimu, dan kau harus menyelamatkan diri dari orang-orang Sanggar Gading, atau di dalam lingkungan yang manapun juga, maka senjata semacam itu akan sangat berguna. Kau tidak perlu menganggap dirimu licik, jika kau berusaha melepaskan diri dari satu kepungan dengan mempergunakan paser-paser semacam itu.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa senjata itu tentu akan sangat berguna, karena Sri Panular adalah salah seorang ahli senjata dari jenis apapun juga. Jika didinding sanggarnya tersimpan banyak senjata, bukannya sekedar sebagai perhiasan. Tetapi semuanya telah dipelajarinya dan diperhitungkannya untung dan ruginya.

 

Demikianlah, waktu yang sehari itu telah dipergunakan oleh Jlitheng untuk menguasai penggunaan senjata kecil yang dapat dipergunakannya dalam jumlah yang banyak.

 

Ia tidak saja melemparkan paser satu demi satu. Tetapi ia akan dapat melemparkan dua, tiga dan bahkan lima buah paser sekaligus dengan arah yang memencar, sehingga dengan demikian ia akan dapat membuka jalan dihadapannya, apabila beberapa orang menghalanginya.

 

“Aku terpaksa mempergunakan racun,“ berkata Sri Panular, “tetapi racunku bukan racun yang membunuh. Seseorang akan dapat pingsan karenanya. Tetapi seorang yang mengerti serba sedikit tentang obat-obatan, akan dapat menyembuhkannya. Memang mungkin akan dapat terjadi kematian jika seseorang tidak tertolong sama sekali, dan orang itu tidak mempunyai daya tahan yang cukup. Tetapi kejadian itu adalah satu dari sepuluh.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa Sri Panular bukannya seorang ahli senjata yang tidak berperikemanusiaan. Meskipun ia selalu bermain-main dengan senjata, tetapi senjata baginya adalah, alat yang paling buruk untuk menyelesaikan, persoalan-persoalan yang timbul diantara sesama.

 

Dengan senjata paser-paser kecil, maka Jlitheng telah mendapatkan sebuah ikat pinggang yang khusus pula dari Sri Panular. Ikat pinggang yang dapat dipergunakannya untuk membawa paser-paser kecil cukup banyak.

 

“Tetapi berhati-hatilah,“ berkata Sri Panular, “jangan terlalu sering dipergunakan. Tetapi juga jangan menganggap bahwa paser-paser ini akan selalu dapat menyelesaikan tugasmu, karena banyak diantara orang-orang yang berkeliaran dalam dunia kekerasan yang mampu menghindari lontaran tanganmu.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya setiap pesan dari Sri Panular. Maka katanya, “Paman, bagaimanapun juga, paser-paser ini telah menambah bekalku. Terutama niatku untuk berada ditengah-tengah orang-orang Sanggar Gading.”

 

“Kau akan memasuki daerah yang sangat berbahaya. Aku akan berada dirumah pada saat-saat yang gawat bagimu itu. Disekitar sepuluh sampai lima belas hari, aku selalu bersiap jika aku kau perlukan. Disaat-saat orang-orang Sanggar akan memenuhi permintaan Daruwerdi itu akan mungkin sekali terjadi sesuatu yang tidak kau duga sama sekali,“ berkata Sri Panular, lalu, “berbuatlah dengan keyakinan. Kau adalah murid Ki Baskara yang telah menurunkan ilmu pedang yang luar biasa kepadamu. Kau juga mampu mempergunakan senjata lentur. Dan sekarang, kau kuasai penggunaan senjata-senjata kecil itu. Latkukanlah dengan penuh tanggung jawab. Tetapi segalanya harus kau landasi dengan permohonan kepada Yang Maha Kasih. Jika kerjamu kau tujukan bagi kebajikan sesama, maka kau akan selalu mendapat perlindungannya.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Namun hatinya bagaikan berkembang. Ia sadar sepenuhnya, apakah yang sedang dihadapinya. Tetapi iapun menganggap, sudah sewajarnya ia mempertaruhkan nyawa bagi pusaka dan harta benda yang akan sangat besar manfaatnya bagi Demak dan sesamanya itu. Karena Jlithengpun mengerti, bahwa Pangeran Pracimasanti tidak bermaksud membangun kembali Kajayaan Majapahit dalam arti yang sempit.

 

Menurut pendapat Jlitheng, maka Majapahit bukanya nama dan tempat kedudukan puncak pemerintahan. Tetapi apa yang sudah pernah dicapainya. Persatuan yang mengikat seluruh persada Nusantara. Apapun namanya dan dimanapun kedudukan Kota Raja sebagai tempat pimpinan pemerintahan, dan siapapun nama orang yang memegang kendali, bukan masalah yang pertama. Tetapi ujud dan isi Nusantara itulah yang tentu akan diperjuangkan oleh Pangeran Pracimasanti dengan bekal yang disediakannya, tetapi tidak sempat dipergunakannya.

 

“Bekal itu tentu jauh dari pada mencukupi,“ berkata Jlitheng didalam hatinya, “tetapi itu lebih baik daripada bekal itu jatuh ketangan orang-orang yang hanya mementingkan pribadi masing-masing.”

 

Karena itulah, maka tekat Jlithengpun menjadi semakin bulat. Ia adalah murid Baskara, orang yang aneh. Dan iapun mempunyai kegemaran yang kadang-kadang aneh pula bagi orang lain. Namun, terhadap tekadnya untuk menemukan pusaka dan harta benda itu adalah bersungguh-sungguh.

 

Justru karena Jlitheng memang sudah memiliki ketrampilan yang tinggi, maka dalam satu hari ia sudah pandai mempergunakan senjata-senjata kecil itu. Sehingga karena itu, maka iapun merasa dirinya menjadi semakin kuat untuk tampil diantara orang-orang Sanggar Gading.

 

Ketika senja turun, maka Jlithengpun bersiap-siap untuk meninggalkan rumah Sri Panular. Ia harus kembali lagi ke Lumban. Kemudian mengatur diri, agar kepergiannya ke Sanggar Gading untuk beberapa hari tidak menumbuhkan kecurigaan.

 

“Menjelang saat yang berbahaya itu, lakukanlah latihan sebaik-baiknya ngger,“ berkata Sri Panular, “kau sudah menguasai ilmu pernafasan. Kau harus mematangkan ilmu itu dalam waktu kurang dari sepuluh hari ini. Kau harus mampu menguasai segenap bagian dari tubuhmu dalam keadaan yang gawat. Kau harus melatih diri mempertajam gerak-gerak naluriah yang terkendali. Kesadaranmu harus dapat dengan cepat menanggapi keadaan yang berkembang setiap saat.”

 

“Ya Paman,” Jlitheng mengangguk-angguk, “aku akan mempergunakan waktu yang pendek itu sebaik-baiknya.”

 

“Bahaya bagimu bukan saja di Sanggar Gading. Tetapi jika kau benar-benar akan menyertai mereka memasuki daerah yang belum kau ketahui itu, maka kaupun akan dapat menjadi umpan yang mungkin tidak kau sadari. Mungkin kau akan dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading memasuki sebuah gapura yang dijaga oleh pengawal-pengawal yang terlatih. Jika kau berhasil masuk, maka kau akan berhadapan dengan pengawal-pengawal yang melindungi rumah itu, yang sudah barang tentu bukannya orang kebanyakan.”

 

“Terima kasih paman,“ sahut Jlitheng, “aku akan melakukannya segala pesan paman.”

 

“Kau masih juga harus memperhatikan orang tua yang datang kebukit bersama anaknya itu. Jangan terlalu percaya. Tetapi juga jangan terlampau mencurigainya. Mungkin ia benar-benar orang yang menyingkir dari gempa, banjir dan tanah longsor. Tetapi mungkin mereka adalah orang-orang yang juga ingin mendekati Sepasang Bukit Mati.”

 

Jlitheng memperhatikan segala pesan pamannya itu dengan sungguh-sungguh. Sepeninggal gurunya, maka Sri Panular adalah orang yang paling dekat dengan dirinya. Dalam olah kanuragan juga dalam setiap usaha dalam tugas-tugas kewajibannya.

 

Ketika gelap sudah menyelubungi seluruh Kota Raja, maka Jlithengpun mohon diri kepada Sri Panular dan isterinya. Ia harus kembali ke Lumban tanpa diketahui oleh siapa-pun. Apalagi oleh Cempaka atau orang Sanggar Gading yang lain.

 

Ketika ia meninggalkan Kota Raja, maka kudanyapun dipacunya semakin cepat. Dilaluinya padukuhan-padukuhan kecil dan besar dengan meninggalkan pertanyaan pada orang-orang yang mendengar derap kaki kudanya. Bahkan kadang-kadang Jlitheng benar-benar tidak dapat menghindari anak-anak muda yang sedang berada di gardu-gardu.

 

Tetapi kesan yang ditinggalkannya adalah, bahwa ia adalah seseorang yang bepergian jauh dengan tergesa-gesa.

 

Agar tidak menimbulkan kesan yang mencurigakan, Jlitheng kadang-kadang terpaksa menganggukkan kepalanya sambil tertawa dihadapan gardu-gardu yang diterangi dengan obor, ditunggui oleh beberapa orang yang sedang meronda.

 

“Selamat malam,“ Jlitheng mengucapkan salam kepada orang-orang yang memperhatikannya.

 

“Siapa ?” seorang anak muda digardu bertanya kepada kawannya.

 

Kawannya menggeleng. Jawabnya, “Aku belum mengenalnya.”

 

“Tetapi nampaknya ia telah mengenal kami.”

 

“Mungkin saja. Kami adalah pengawal-pengawal yang banyak dikenal orang, tetapi kami belum tentu dapait mengenalnya seorang demi seorang.”

 

“Ah. Sombong benar anak ini,“ desis seorang yang duduk disudut, “kau baru menjadi pengawal padukuhan kecil. Jika kau menjadi seorang Bupati, apa saja yang akan kau katakan tentang dirimu ?”

 

Kawan-kawannya tertawa. Anak muda itu menjadi tegang sejenak. Tetapi iapun kemudian tertawa pula.

 

Jlitheng yang berpacu kembali ke Lumban itu telah mengambil jalan lain dari jalan yang dilaluinya ketika ia berangkat ke Kota Raja. Namun iapun harus sampai ke Lumban sebelum pagi.

 

Disepanjang jalan Jlitheng sudah mulai menganyam angan-angan. Bagaimana sebaiknya ia minta diri kepada kawan-kawannya agar tidak memancing kecurigaan Daruwerdi. Kepada Kiai Kanthi ia dapat mengatakan, bahwa ia akan pergi untuk lima hari atau lebih dalam usahanya untuk mencari jejak orang yang dimaksud oleh Daruwerdi tanpa menyebut orang-orang Sanggar Gading dan peristiwa yang ditemuinya diperjalanan, karena seperti pesan Sri Panular, maka ia tidak boleh terlalu percaya kepada orang yang kurang diketahuinya asal-usulnya itu. Tetapi kedua orang yang mengaku ayah dan anak itu sudah terlanjur mengetahui tentang dirinya.

 

“Tetapi aku yakin, bahwa keduanya adalah orang yang baik,“ berkata Jlitheng kepada diri sendiri, “sayang anak gadisnya masih terlalu lugu dan kurang mempertimbangkan sikapnya. Agaknya ia benar-benar seorang gadis yang kurang bergaul selain dengan ayahnya dan barangkali seorang dua orang tetangganya ditempatnya yang lama. Meskipun demikian ia memiliki ilmu yang ngedab-edabi.”

 

Demikianlah, Jlitheng harus melakukannya seperti saat ia berangkat. Ia harus singgah untuk menitipkan kudanya. Kemudian iapun segera minta diri kepada saudagar yang sudah mengenalnya dengan baik itu.

 

“Aku menjadi bimbang,“ berkata saudagar itu, “ada maksudku untuk menyusul anakmas ke Demak. Tetapi jangan-jangan kita berselisih jalan. Karena itu aku lebih baik menunggu saja dirumah sampai anakmas kembali ke Lumban.”

 

“Aku harus segera berbuat sesuatu paman,“ berkata Jlitheng kemudian, “aku sudah menghubungi orang yang aku percaya di Demak, yang dengan sepenuh hati bersedia membantu membebaskan pusaka yang menjadi rebutan itu dari tangan orang-orang yang tidak berhak.”

 

Saudagar itu mengangguk-angguk. Namun dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah aku dapat mengetahui, siapakah orang yang pantas untuk dihubungi di Demak itu ? Maksudku, apakah aku boleh ikut campur secara langsung!”

 

“Paman,“ berkata Jlitheng, “sebenarnyalah aku tidak ingin melibatkan paman secara langsung dalam persoalan ini. Bantuan paman sudah cukup banyak. Tetapi akupun tidak berkeberatan jika paman mengetahui, siapakah orang yang aku hubungi di Demak, karena orang itu adalah keluarga sendiri. Justru orang yang bagiku seperti guruku sendiri.”

 

Saudagar itu mengerutkan keningnya. Ia juga mempunyai sangkut paut dalam hubungan jalur ilmu kanuragan Karena itu, maka katanya, “Siapakah orang itu ?”

 

“Paman Sri Panular.”

 

Saudagar itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah mengira. Tetapi aku tidak dapat menyebutnya sebelum kau mengatakannya. Tetapi agaknya orang itu adalah orang yang tepat. Kau tentu tahu serba sedikit tentang perjalanan hidup Sri Panular, ngger.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk.

 

“Agaknya persoalanmu telah menggelitik hatiku untuk ikut mencampurinya secara langsung. Tetapi aku tidak akan berbuat apa-apa. Maksudku, jika kau memerlukan bantuanku, aku tidak berkeberatan untuk melakukannya. Misalnya kau memerlukan hubungan dengan kakang Sri Panular, tetapi kau tidak sempat pergi langsung kepadanya.”

 

“Terima kasih paman. Sejauh ini aku berharap, paman tidak dengan langsung terlibat, karena tugas paman sehari-hari. Adalah agak sulit bagi paman untuk memisahkan antara kewajiban paman dengan tugas-tugas yang sulit ini. Sebagai seorang saudagar paman memerlukan hubungan seluas-luasnya. Mungkin orang-orang yang berdiri berseberangan dalam hubungan dengan pusaka itu, ternyata adalah orang-orang yang memerlukan sesuatu dari paman.”

 

“Jika aku mengetahuinya, maka hubungan itu akan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya,“ jawab saudagar itu.

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Paman terlalu baik. Tetapi paman jangan berkorban terlalu banyak. Bantuan paman telah cukup memberikan landasan kerjaku disini.”

 

Saudagar itu tersenyum. Katanya, “Apa yang dapat aku lakukan, aku ingin melakukan lebih banyak lagi ngger. Tetapi aku akan menjaga, bahwa aku justru tidak mengganggu langkah-langkah yang sudah angger tentukan.”

 

Jlithengpun tersenyum. Meskipun ia berkata, “Bukan maksudku paman. Tetapi baiklah aku mengucapkan banyak terima kasih.”

 

Jlithengpun kemudian minta dari. Seperti ketika datang, iapun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa. Setelah menukarkan pakaiannya dan menyembunyikannya, maka dengan tergesa-gesa pula Jlitheng kembali kerumahnya di Lumban Wetan.

 

Karena ketika ia datang, hari masih belum pagi, maka iapun langsung pergi ke kandang dan berbaring diatas tumpukan jerami kering. Sejenak kemudian, iapun telah tertidur. Betapa dinginnya malam, namun diatas setumpuk jerami, rasa-rasanya badan Jlitheng telah menjadi hangat.

 

Ketika fajar menyingsing, Jlitheng terbangun oleh suara senggot timba. Karena itu, sambil megusap matanya, iapun bangkit dengan malasnya.

 

“Biar aku yang mengisinya biyung,“ berkata Jlitheng kepada ibunya yang sedang mengambil air.

 

“He, kau sudah datang?“ bertanya ibunya.

 

Semalam aku turun. Aku tidak betah tidur di bukit yang banyak nyamuknya itu,“ berkata Jlitheng.

 

Sambil menguap ia berjalan kesumur. Kemudian ia mulai menarik senggot timba dan mengambil air untuk mengisi jambangan di dapur dan di pakiwan.

 

“Apakah pekerjaanmu di bukit itu sudah selesai,“ tiba-tiba saja ibunya bertanya.

 

“Belum biyung. Ternyata tidak secepat yang kami duga. Karena itu maka kami putuskan untuk mengerjakannya disiang hari saja. Dimalam hari, yang kami lakukan ternyata sangat sedikit. Kecuali malam sangat dingin, nyamuknya banyak sekali, sehingga kami hanya sempat saling berebut dekat dengan perapian tanpa berbuat apa-apa.”

 

“Aku tidak mengerti, apakah sebenarnya yang kalian lakukan dibukit itu ? Membuat rumah buat seorang kakek dan anak gadisnya ? Kenapa kalian begitu baik hati dengan bersusah payah melakukan kerja ini ?“ bertanya Ibunya.

 

“Biyung,“ berkata Jlitheng kemudian, “aku adalah salah seorang yang pernah merasakan betapa seseorang merasa dirinya dalam kurnia yang tiada taranya, apabila ia mendapatkan kasih dari sesamanya. Aku adalah salah satu dari banyak orang yang memerlukan pertolongan. Biyung telah memberikan segala-galanya kepadaku. Karena itulah rasa-rasanya akupun wajib berbuat demikian sekarang, ketika aku sudah merasa hidup tenang.”

 

“Ah,“ ibu Jlitheng berdesah. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun sekilas teringat olehnya, bagaimana anak muda itu datang kepadanya dalam keadaan yang menyedihkan, sehingga ia menjadi belas kasihan kepadanya. Menerimanya sebagai anaknya yang disebutnya telah pergi sejak masa kanak-kanaknya.

 

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam, ia berkeras mengatakan demikian meskipun ada beberapa orang yang menjadi heran karenanya. Karena menurut ingatan mereka, perempuan itu memang tidak mempunyai anak.

 

“Sekitar duapuluh tahun yang lalu,“ berkata perempuan itu kepada tetangga-tetangganya yang meragukannya, “aku sendiri sudah hampir lupa. Apalagi kalian.”

 

Tetangga-tetangganya tidak menghiraukannya lagi. Apalagi ternyata kemudian bahwa Jlitheng bersikap baik dan segera dapat luluh dalam pergaulan anak-anak muda di Lumban Wetan, sehingga kehadirannya tidak menimbulkan persoalan apapun juga. Keragu-raguan tetangga-tetangganyapun segera dapat dilupakannya dan Jlitheng diterima dengan senang sebagai keluarga sendiri di Lumban Wetan.

 

Perempuan itupun kemudian meninggalkan Jlitheng dan masuk kedapur. Pikirannya yang sederhana seperti juga orang-orang Lumban yang lain tidak pernah menghubungkan kehadiran anak angkatnya itu dengan segala macam persoalan yang tidak banyak diketahuinya didaerah itu. justru dikampung halamannya. Perempuan itu tidak pernah mengetahui, apakah yang terjadi didaerah yang oleh orang-orang lain disebut Sepasang Bukit Mati itu. Perempuan itu tidak pernah mempersoalkan dan mengingat-ingat lagi, apakah di daarah itu pernah dilalui seorang Pangeran trah Majapahit langsung yang bernama Pangeran Pracimasanti.

 

Jlitheng yang kemudian melanjutkan mengambil air, sempat juga bertanya kepada diri sendiri, “Apakah orang-orang Lumban tidak ada yang pernah mendengar ceritera tentang Pangeran Pracimasanti yang lewat didaerah Sepasang Bukit Mati, yang membawa bekal cukup banyak dan kemudian tersimpan disekitar tempat ini.

 

Sekilas terbayang oleh Jlitheng, seorang anak muda yang lain yang berada dipadukuhan itu pula. Dan Jlithengpun bertanya pula kepada diri sendiri, “Apakah sebenarnya yang diketahui oleh Daruwerdi? Apakah ia mengerti dengan pasti tentang pusaka itu atau ia juga pernah mendengar tentang harta yang tersimpan dan hanya diketahui oleh orang cacat, abdi Pangeran Pracimasanti yang setia itu?”

 

Tetapi Jlithengpun kemudian menyingkirkan masalah itu dari angan-angannya. Desisnya, “Nanti sajalah, pada saatnya aku harus menyelidikinya. Bukan sekedar menduga-duga.”

 

Dengan demikian maka tangannyapun menjadi semakin cepat menarik senggot timba sehingga suaranya berderit semakin keras. Seperti biasanya maka Jlithengpun mengisi segala jambangan dan persediaan air sampai penuh.

 

Baru kemudian ia kembali kekandang dan berbaring diatas setumpuk jerami kering. Tetapi ia tidak dapat memejamkan matanya, karena hari menjadi semakin terang.

 

“Aku harus mempergunakan hari-hariku sebaik-baiknya,“ berkata Jlitheng didalam hati, “sebelum sepuluh hari, aku harus sudah berada di padepokan Sanggar Gading.”

 

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kembali bukit gundul membayang di angan-angannya. Kembali ia bertanya-tanya apakah yang sebenarnya dicari Daruwerdi di bukit gundul itu ? Apakah ia sudah pasti bahwa yang ditinggalkan oleh Pangeran Pracimasanti ada dibulkiit gundul itu, pusaka dengan beberapa petunjuk mengenai penyimpanan harta benda, atau justru harta bendanya sendiri memang berada di bukit gundul itu. Atau bukit itu sekedar tempat yang baik untuk bertemu dengan orang-orang yang membuat janji dengannya.

 

Tiba-tiba saja Jlitheng bangkit. Ia ingin menemui kawan-kawannya yang akan pergi ke bukit berhutan untuk membantu Kiai Kanthi menyelesaikan gubugnya dan melihat apakah sudah waktunya ia menemui Ki Buyut Lumban Wetan dan Ki Buyut Lumban Kulon.

 

Salelah minta diri kepada ibu angkatnya, maka Jlitheng-pun kemudian meninggalkan rumahnya mencari kawan-kawannya. Ternyata kawan-kawannya yang dipesannya untuk bekerja terus meskipun ia tidak ada, telah bersiap-siap untuk berangkat kebukit.

 

“He, kau sudah datang,“ bertanya salah seorang kawannya.

 

“Ya. Aku tergesa-gesa kembali setelah aku mengetahui bahwa paman tidak apa-apa. Paman sehat-sehat saja. Bahkan panen musim basah yang lalu melimpah-limpah. Pategalannya juga menghasilkan jagung berlipat dari panen yang lalu.”

 

“O,“ kawan-kawannya mengangguk, “sokurlah.”

 

“Itulah agaknya makna dari banjir sesuai dengan mimpi biyung,“ berkata Jlitheng kemudian.

 

“Banjir dalam arti yang baik,“ desis seorang kawannya.

 

Seperti biasanya, maka merekapun kemudian berangkat ke buikit berhutan yang menjadi pasangan bukit gundul sehingga daerah itu disebut Sepasang Bukit Mati. Dua bukit yang mati menurut pengertian yang berbeda. Yang satu mati tanpa dapat ditanami dan dimanfaatkan hasilnya sedangkan yang lain mati tanpa dapat dimanfaatkan untuk apapun juga meskipun daerah itu berhutan lebat, karena dihutan itu banyak didapat binatang-binatang buas dan binatang melata yang berbisa.

 

Tetapi orang tua dan anak gadisnya itu telah menembus batas mati bukit berhutan itu. ia tidak mengindahkan peringatan beberapa orang kepadanya, termasuk Daruwerdi. Bahkan kemudian Jlitheng sendiri telah terseret pula naik keatas bukit itu bersama beberapa orang kawannya.

 

“Bukit yang sebuah ini telah mulai hidup,“ desis Jlitheng didalam hatinya, “bahkan akan dapat menghidupi daerah sekitarnya. Air yang tersimpan dibukit sudah akan mulai mengalir.”

 

Ketika kemudian mereka memanjat naik, Kiai Kanthi yang melihat Jlitheng telah berada diantara kawan-kawannya itupun menyongsongnya sambil berkata, “Kau tidak hadir sehari ngger. Bagaimana dengan pamanmu yang menurut mimpi Ibumu rumahnya dilanda banjir itu ? Bukan demikian ? Aku mengetahuinya dari kawan-kawanmu.”

 

Jlitheng tersenyum. Ia tahu bahwa Kiai Kanthi ingin menyesuaikan diri sesuai dengan pengertian kawan-kawannya tentang kepergiannya. Karena itu, maka kepada Kiai Kanthi pun ia menjawab seperti jawabannya yang diberikan kepada kawan-kawannya.

 

“Sokurlah,“ berkata Kiai Kanthi, “dengan demikian maka kita akan dapat segera menemui Ki Buyut dan menyerahkan air itu kepada mereka berdua. Ki Buyut Lumban Kulon dan Ki Buyut Lumban Wetan.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Iapun ingin segera menyelesaikan pekerjaan itu, dan kemudian meninggalkan Lumban untuk beberapa lamanya masuk kedalam sarang orang-orang Sanggar Gading.

 

 Karena itu, maka katanya, “Kita harus menyiapkan segalanya. Jika saatnya datang, maka air yang mengalir kesungai itu akan kita buka sesuai dengan kemungkinan yang pertimbangan kita sebanyak-banyaknya yang mungkin dapat disalurkan agar tidak menganggu kemungkinan-kemungkinan lain. Kemudian, kita harus sudah dapat menyerahkan gubug kecil itu kepada Kiai Kanthi yang akan membuka sebidang tanah garapan dibawah bukit, yang akan diairi air dari belakang itu juga.”

 

“Aku tidak terlalu banyak memerlukan air itu, “sahut Kiai Kanthli, lalu, “meskipun mungkin akan berkembang, sesuai dengan perkembangan padepokanku.”

 

“Ya,“ jawab Jlitheng, “namun semuanya sudah jelas. Tanah garapan Kiai Kanthipun sudah jelas, seperti pathok-pathok yang telah kita pasang. Demikian pula saluran air bagi tanah garapan yang tidak begitu luas dibawah bukit itu.”

 

“Dengan demikian, maka kapankah sebaiknya kita akan menghadap Ki Buyut. Mula-mula Ki Buyut Lumban Wetan kemudian Ki Buyut Lumban Kulon,“ bertanya anak-anak muda yang ikut bersama Jlitheng ke bukit itu.

 

“Kita segera menghadap. Dengan demikian, kita akan segera dapat memanfaatkan air,“ desis Jlitheng.

 

Kiai Kanthi hanya mengangguk-angguk saja.

 

“Gubug itu sudah siap,“ berkata seorang anak muda. “kita tinggal mengetrapkan pintunya. Malam nanti, jika dikehendaki, Kiai Kanthi sudah dapat tidur didalam gubugnya meskipun belum ada perabotnya sama sekali.”

 

Kiai Kanthi tertawa. Katanya, “Aku tidak tergesa-gesa ngger.”

 

“Tetapi jika gubug itu memang sudah selesai, bukankah lebih baik Kiai mempergunakannya?” bestanya Jlitheng.

 

“Ya. ya. Aku akan mempergunakannya.”

 

“Disaat lain, jika Ki Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon sudah dapat mengenyam hasil air yang akan segera menyusuri parit persawahan padukuhan Lumban. maka ia tidak akan keberatan untuk membantu membuat sebuah padepokan kecil di kaki bukit ini,“ berkata Jlitheng kemudian, “menurut pendengaranku, bukankah Kiai tidak bersedia tinggal bersama kami dipadukuhan ?”

 

“Bukan maksudku ngger. Tetapi aku ingin tidak mengganggu padukuhan yang sudah mapan itu dengan persoalan-persoalan baru. Biarlah aku membuat sebuah padepokan kecil yang terpisah meskipun dalam tata kehidupan aku merupakan bagian dari Lumban.”

 

“Tetapi bukankah maksud Kiai, meskipun padepokan Kiai merupakan bagian dari Lumban, namun bukan Lumban Wetan dan bukan Lumban Kulon,“ desis Jlitheng.

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian liapun tersenyum. Katanya, “Bagi Ki Buyut di Lumban Wetan dan Ki Buyut di Lumban Kulon, aku tidak akan ada artinya.”

 

Jlitheng mengerutkan keningnya. Meskipun tidak terucapkan, tetapi Kiai Kanthi seolah-olah melihat gerak hati Jlitheng

 

“Bukankah Kiai ingin berdiri tanpa kewajiban tertentu kepada Ki Buyut sebagai setiap orang di Lumban ?”

 

Tetapi Kiai Kanthi tidak berkata apapun tentang tanggapannya itu. Karena Jlitheng tidak mengatakan apa-apa lagi. maka Kiai Kanthipun kemudian terdiam.

 

Dalam pada itu, anak-anak muda yang ikut serta bersama Jlitheng naik kebukit itu sudah mulai mengerjakan pintu gubug Kiai Kanthi, sementara dua orang diantara mereka telah memanjat dinding untuk memasang tutup keyong.

 

“Kalian harus mengikat tutup keyong itu erat-erat,“ berkata Jlitheng, “sudah sering terjadi, seekor macan kumbang masuk kedalam rumah seseorang atau kedalam kandang, lewat tutup keyong.”

 

“Kami membuatnya dengan anyaman khusus dan kami mengikatnya dengan ijuk rangkap,“ sahut kawannya yang sedang memanjat.

 

Jlitheng mengangguk-angguk ia memang melihat anyaman tutup keyong itu cukup kuat. Beberapa buah bambu menyilang terkait pada rusuk atap yang terbuat dari anyaman ilalang.

 

Dalam pada itu, maka Jlithengpun berkata kepada kawan-kawannya, “Selesaikan gubug itu. Trapkan pintu. Kalian harus memperkuat uger-ugernya dengan tali-tali ijuk rangkap, seperti tali pengikat tutup keyong. Aku dan Kiai Kantihi akan menyelusuri air. Mudah-mudahan sawah kalian akan cepat menjadi basah dimusim kemarau.”

 

Demikianlah bersama Kiai Kanthi, Jlithengpun pergi memanjat tebing menuju kebelumbang yang masih saja meluap. Sambil berbincang mereka menilai, betapa tingginya nilai kerja yang sedang mereka lakukan.

 

“Tetapi Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “dalam waktu dekat aku akan meninggalkan Lumban untuk waktu yang agak panjang.”

 

“Kemana?“ bertanya Kiai Kanthi.

 

Sekilas terngiang pesan Sri Panular, agar ia tidak terlalu terbuka terhadap siapapun juga. Demikian pula terhadap kedua orang perantau yang tinggal dibukit itu.

 

Karena itu, maka katanya, “Aku masih harus melakukan berbagai macam tugas. Meskipun aku tidak jelas, tugas apa yang akan dibebankan kepadaku. Tetapi pada suatu saat aku akan kembali lagi kepadukuhan ini. Sementara sebelum aku pergi maka parit, gubug dan rencana padepokan Kiai harus sudah menjadi masak, agar aku dapat ikut membayangkan masa depan yang baik bagi Kiai dan anak perempuan Kiai yang garang itu.”

 

“Ah,“ desis Kiai Kanthi, “tentu tugas itu tugas yang penting. Lakukanlah dengan penuh tanggung jawab. Meskipun aku dan anakku bukanlah seseorang yang memiliki harga sama sekali, tetapi jika Kami harus membantumu, kami akan berbuat apa saja sesuai dengan keadaan dan kemampuan kami.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih Kiai. Memang mungkin aku memerlukan bantuan seseorang. Tetapi sebelum aku tahu pasti, apa yang akan aku lakukan, maka aku tidak dapat berbuat sesuatu.”

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ia sadar, bahwa yang akan dilakukan oleh Jlitheng tidak perlu diketahuinya.

 

Dalam pada itu keduanyapun pergi kebelumbang yang airnya melimpah dan seolah-olah hilang dibawah tanah lewat luweng dan terowongan-terowongan air. Ketika mereka melalui tempat yang dipergunakan oleh Kiai Kanthi untuk sementara tinggal dibawah pepohonan dan anyaman ketepe yang disangkutkan pada dahan-dahan kayu, mereka melihat Swasti sedang sibuk dengan perapiannya.

 

Swasti berpaling ketika ia mendengar langkah mendekat. Dilihatnya ayahnya dan Jlitheng berjalan menuju kebelumbang.

 

“Kami akan membuka air,“ berkata Kiai Kanthi.

 

Swasti menarik nafas dalam-dalam katanya. Kemudian, “Dan orang-orang Lumbanlah yang pertama-tama akan menikmatinya.”

 

“Tidak,“ berkata Kiai Kanthi. Lalu, “Kita.”

 

“Kenapa kita ? Kita belum mulai membuka sawah dan ladang dibawah bukit.”

 

“Tetapi kita sekarang sudah mempunyai tempat tinggal. Rumah itu sudah dapat kita diami sejak hari ini. He apakah rumah itu bukan hasil dari melimpahnya air ini. meskipun tidak secara langsung ?”

 

Swasti termangu-mangu, sementara ayahnya tertawa sambil berkata, “Kita akan merayakan hari yang berbahagia ini. Kita akan pindah kerumah kita yang baru.”

 

Swasti mengerutkan keningnya. Namun ia tidak menjawab. Ia kemudian memalingkan wajahnya ketika ia melihat Jlithengpun tertawa pula.

 

Swasti tidak bertanya lagi. Ia kembali sibuk dengan kerjanya, sementara Kiai Kanthi dan Jlitheng memanjat mendekati blumbang yang menyimpan air cukup banyak itu.

 

Sejenak Kiai Kanthi dan Jlitheng memperhitungkan setiap kemungkinan. Air belumbang itu melimpah lewat beberapa jalur dari tanggul belumbang yang telah dibuat oleh alam.

 

“Kita ambil beberapa arah saja Kiai, karena seperti Kiai katakan sebelumnya, bahwa kita akan dapat menutup air itu seluruhnya, sehingga kemungkinan yang buruk akan terjadi atas padukuhan yang meskipun terletak agak jauh dari bukit ini, tetapi mempergunakan air dari sumber dibelumbang ini, yang mengalir dibawah tanah, dan muncul kepermukaan sebagai sumber mata air,“ bertata Jlitheng kemudian.

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia mulai memberikan beberapa tanda pada jalur air yang meluap pada tanggul belumbang itu. Sebagian dari luapan air itu akan disalurkan lewat jalur-jalur padas dilereng bukit itu, yang sebelumnya telah digarapnya bersama Jlitheng.

 

“Kita akan mengundang Ki Buyut dari Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Kita dengan beberapa anak muda itu, akan membuka jalur itu dengan disaksikan oleh Ki Buyut di Lumban Kulon dan Lumban Wetan,“ berkata Jlitheng.

 

“Ah,“ desis Kiai Kanthi, “apakah itu perlu ? Kita buka saja air itu sekarang. Nanti kau pergi kepada Ki Buyut untuk melaporkan, bahwa air sudah mengalir kesungai. Besok Ki Buyut dapat mengerahkan beberapa puluh orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon untuk menyempurnakan bendungan sungai itu, dan menaikkan airnya kedalam parit. Tetapi hanya dimusim hujan, tetapi juga dimusim kemarau, meskipun sudah barang tentu tidak aklan mencukupi segala kebutuhan. Tetapi air itu akan dapat membantu untuk keperluan yang memakai.”

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menduga, bahwa Kiai Kanthi tentu tidak ingin mempergunakan segala macam upacara yang hanya akan nampak dalam gelar, tetapi tidak mempengaruhi isi yang sebenarnya dari peristiwa itu. Bahkan dengan segala macam upacara, orang tua itu justru akan menjadi bingung. Apalagi jika ada diantara mereka yang ingin singgah dan melihat-lihat gubugnya yang dibuat oleh anak-anak muda dari Lumban itu.

 

Karena itu, maka Jlithengpun berkata, “Baiklah Kiai. Jika demikian, nanti aku akan datang kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon untuk mengatakan, bahwa besok pagi kita akan mulai membuka jalur air yang akan mengalir kesungai kecil itu. Biarlah Ki Buyut Lumban Wetan berdiri disebelah Timur sungai, sementara Ki Buyut di Lumban Kulon akan berdiri di sebelah Barat sungai pada tempat yang berhadapan, didekat air itu akan dinaikkan kedalam parit. Biarlah mereka menyaksikan air itu mulai mengalir. Dan biarlah mereka dengan penuh harapan memerintahkan untuk menyempurnakan bendungan agar air dapat segera naik.”

 

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Lalu iapun mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya. Biarlah mereka menunggu disebelah menyebelah sungai. Mereka akan bergembira melihat ujung air itu mengailir dimusim kering. Air sungai yang hampir kering itu akan bertambah besar dan dengan bendungan, air itu akan naik kedalam parit.“ Namun kemudian suara Kiai Kanthi menurun, “Mudah-mudahan air itu tidak justru menumbuhkan persoalan bagi Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”

 

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Kiai. Tetapi sampai hari ini kita semuanya dapat melihat, bahwa kedua Buyut yang sebenarnya adalah saudara kembar itu dapat menyesuaikan diri masing-masing dengan damai dan tenang. Tetapi entahlah. Apakah anak-anak mereka akan dapat juga berbuat demikian.”

 

“Mereka mempunyai anak laki-laki yang menurut katamu, agak berbeda sifat dan pembawaannya,“ berkata Kiai Kanthi.

 

“Ya. Tetapi mudah-mudahan mereka dapat melihat kepentingan orang-orang Lumban lebih dari kepentingan mereka masing-masing.”

 

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Sementara Jlitheng berkata, “Tetapi itu bukan berarti kita harus tidak berbuat sesuatu bagi orang-orang Lumban dan bagi Kiai sendiri. Setelah gubug itu selesai, kita akan membuka hutan perdu dibawah bukit. Tidak begitu sulit. Kita akan membuat pematang, membajak dan kemudian mengairi tanah yang segera dapat Kiai tanami. Kami, orang-orang Lumban tentu akan dengan senang hati memberikan benih kepada Kiai, karena Kiaipun telah memberikan air kepada kami, orang-orang Lumban.”

 

“Siapakah yang memberikan air ?“ bertanya Kiai Kanthi.

 

“Kiai, Kiai Kanthi. Sebelumnya tidak ada satu usaha sama sekali untuk memanfaatkan air. Bahkan bukit ini dan bukit gundul sebelah disebut dengan Sepasang Bukit Mati.”

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Tetapi angger harus menentukan, kapan angger akan pergi kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Kulon itu. Kemudian kita akan menentukan hari yang akan membuka kemungkinan baru bagi tanah persawahan di Lumban. Setidak-tidaknya sebagian dari Lumban.”

 

“Nanti aku akan menghadap Ki Buyut, Kiai. Aku akan mohon kesempatan kepada keduanya untuk dapat hadir dipinggir sungai. Kita akan memecah batu-batu padas yang merupakan tanggul alam belumbang itu pada tempat yang sudah Kiai tandai. Air akan mengalir cukup deras, sementara bagian yang lain masih akan tetap mengalir menembus kebawah tanah untuk tempat yang jauh.”

 

“Terserahlah kepada angger. Aku akan menunggu, kapan hal itu akan kita lakukan.”

 

“Baiklah Kiai. Jika patok-patok itu sudah selesai, dan semua tanda sudah cukup, sebaiknya aku turun saja dan pergi kepada Ki Buyut,“ berkata Jlitheng kemudian, lalu, “sementara itu biarlah, kawan-kawan menyelesaikan gubug itu. Malam nanti Kiai akan dapat menempatinya.”

 

“Kawan-kawan angger akan menjadi heran. Tiba-tiba saja kau menjadi seorang yang dengan berani hilir mudik seorang diri melalu hutan dibukit Mati ini.”

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mereka tidak akan berpikir sampai sejauh itu. Kita berdua juga menjadi orang-orang berani. Bahkan Swasti tidak mereka persoalkan, karena menurut mereka Swasti pandai memanjat. Aku-pun pandai memanjat jika seekor harimau merundukku.”

 

Kiai Kanthi tersenyum. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah ngger. Agaknya semuanya sudah siap. Semakin cepat hal itu dilakukan akan menjadi semakin baik. Juga bagiku, karena aku akan segera berani membuka tanah garapan dibawah bukit ini setelah orang-orang Lumban Wetan dan Kulon menganggap, aku telah berbuat sesuatu bagi padukuhan mereka.”

 

Dalam pada itu, maka Jlithengpun segera minta diri. Ketika ia lewat disebelah perapian Swasti, ia berhenti sejenak sambil bertanya, “Apa yang sudah masak Swasti ?”

 

Swasti mengerutkan keningnya. Jawabnya acuh tak acuh, “Air.”

 

Jlitheng mengerutkan keningnya. Swasti memang tidak begitu ramah terhadapnya. Tetapi menurut dugaan Jlitheng dan penglihatannya selama ia bersama beberapa anak muda ikut serta membantu Kiai Kanthi membuat gubug, Swasti memang tidak terlalu ramah terhadap orang lain.

 

“Ia sangat sedikit bergaul dengan orang lain. Siang malam ia sibuk dengan ayahnya yang sudah tua, yang agaknya dengan bersungguh-sungguh ingin mmurunkan ilmunya kepada anak gadisnya, yang barangkali karena justru tidak ada orang lain yang dapat diambil menjadi muridnya,“ berkata Jlitheng didalam hatinya.

 

“Terima kasih Swasti,“ berkata Jlitheng kemudian, “sebenarnya aku juga sudah haus. Air jambu keluthuk yang direbus dengan gula kelapa dan sepotong daun sere itu memang segar sekali. Tetapi biarlah nanti saja aku datang lagi untuk minum bersama-sama dengan kawan-kawan.”

 

Tetapi Swasti tidak berpaling. Ia masih sibuk dengan kerjanya. Merebus setandan pisang yang didapatkannya pada serumpun pisang liar yang tumbuh dilereng bukit itu. Swasti tidak sabar menunggu pisang itu masak. Apalagi, ia akan menjadi kehilangan, karena ia harus berebut dengan beberapa ekor kera. Karena itu, ia lebih senang mengambil pisang itu sebelum masak benar menyimpannya satu dua hari dan merebusnya.

 

Jlithengpun kemudian berlari turun tebing menemui kawan-kawannya, sementara Kiai Kanthi telah singgah pula melihat-lihat Swasti yang sedang sibuk.

 

Kepada kawan-kawannya Jlitheng minta diri, untuk menghadap Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon.

 

“Sekarang?“ bertanya seorang kawannya.

 

“Ya, sekarang,“ jawab Jlitheng

 

“Sendiri ?” yang lain bertanya.

 

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Keheranan diantara kawannya memang ada. Namun Jlitheng menjawab, “Ya sendiri. Kenapa?”

 

“Jika kau bertemu dengan seekor harimau, apakah kau dapat melawanya seorang diri ?” bertanya yang lain pula.

 

“Aku pandai memanjat. Harimau tidak akan dapat memanjat. Apalagi disiang hari jarang sekali ada harimau yang berkeliaran.”

 

“Mungkin sekali kau bertemu dengan seekor harimau.”

 

“Jika tidak terpaksa karena kelaparan, harimau tidak akan berbuat apa-apa,“ jawab Jlitheng.

 

Kawan-kawannya tidak menjawab lagi. Dibiarkannya saja Jlitheng kemudian menuruni tebing pergi menghadap Ki Buyut di Lumban Wetan dan Ki Buyut di Lumban Kulon.

 

Kedatangan Jlitheng kepada Ki Buyut di kedua bagian dari padukuhan Lumban itu telah disambut dengan baik. Ternyata kedua orang itu dapat mengerti penjelasan Jlitheng tentang manfaat air yang akan mengalir untuk sementara langsung turun kesungai dan kemudian harus diangkat lagi kedalam parit.

 

“Tetapi kaulah yang bertanggung jawab Jlitheng,“ berkata Ki Buyut di Lumban Wetan, “jika penunggu bukit itu marah, kau harus dapat menjelaskan kepada mereka. Dengan demikian mereka tidak akan mengganggu orang-orang Lumban dengan pegebluk misalnya.”

 

“Aku sudah berbicara dengan mereka lantaran orang tua yang datang bersama anak gadisnya itu Ki Buyut. Nampaknya orang tua itu sudah mendapat persetujuan.”

 

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jika memang tidak ada bahayanya, air itu akan sangat bermanfaat bagi kami.”

 

“Tentu Ki Buyut. Air itu sangat berguna bagi Lumban.”

 

Sementara Jlitheng menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon, maka masalah yang dikemukakan oleh Ki Buyut itupun hampir sama. Jika orang-orang halus yang menghuni Bukit Mati itu memperkenankan, maka Lumban tinggal menerima saja sebagai suatu anugerah.

 

“Anugerah dari Yang Maha Agung, Ki Buyut,“ berkata Jlitheng.

 

Ki Buyut mengerutkan keningnya. Namun iapun mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya. Dari Yang Maha Agung. Tetapi bagaimana dengan penghuni Bukit Mati itu ?”

 

“Kuasanya tidak menyamai bahkan mendekatipun tidak dari Yang Maha Agung itu,“ jawab Jlitheng.

 

Ki Buyut di Lumban Kulon itu termangu-mangu. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya. Demikianlah.”

 

Jlithengpun kemudian minta diri setelah segala sesuatunya disetujui. Jlitheng telah berbicara tentang hari, tentang tempat dimana kedua Buyut itu akan berdiri berhadapan diseberang menyeberang sungai. Kemudian mereka akan menyaksikan air yang akan mengalir dibawah kaki mereka. Dan Jlithengpun telah berbicara tentang cara mengangkat air sehingga air itu dapat mengalir ke bulak-bulak di Lumban Wetan dan Lumban Kulon.

 

Setelah semua pembicaraan selesai dan ditemukan kesepakatan waktu, maka Jlithengpun dengan tergesa-gesa kembali ke Bukit bermata air itu.

 

Tetapi langkahnya tertegun diujung padukuhan Lumban Kulon ketika ia bertemu dengan Daruwerdi. Dengan sungguh-sungguh Daruwerdi bertanya kepadanya, “Apa keperluanmu menghadap Ki Buyut, Jlitheng ?”

 

Jlitheng tidak menyembunyikan persoalan yang dibawanya. Ia mengatakan tentang air dan tentang kedua orang Buyut yang telah bersedia datang kepinggir sungai.

 

“Kau gila,“ geram Daruwerdi.

 

“Kenapa ?“ bertanya Jlitheng, “bukankah air itu akan bermanfaat.”

 

“Kau kira orang tua itu tidak mempunyai pamrih apapun juga? Aku justru mulai curiga bahwa pada suatu saat kedua orang itu akan berbuat sesuatu yang dapat merugikan Lumban Kulon dan Lumban Wetan,“ berkata Daruwerdi.

 

“Aku kira tidak Daruwerdi,“ jawab Jlitheng, “tetapi bahwa ia memang mempunyai pamrih itu sudah dikatakannya. Ia mohon kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon untuk dapat membuat sebuah daerah garapan dibawah bukit itu. Kemudian membuat rumah yang lebih baik dari rumah gubugnya yang sekarang. Dan akan lahirlah sebuah padepokan dibawah bukit itu.”

 

“Dan kalian akan diperbudaknya. Membuat padepokan tanpa mendapat keuntungan apapun juga,“ desis Daruwerdi.

 

“Keunitungan itu telah kami dapatkan lebih dahulu. Air.”

 

“Tetapi air itu bukan mlik orang tua itu. Tanpa orang tua itupun kita dapat memanfaatkan air dibukit yang lebat itu.”

 

“Tetapi sampai saat terakhir kita tidak berbuat apa-apa. Kedatangan orang tua itulah yang telah mendorong kami untuk melakukannya. Mengendalikan air yang melimpah itu. Kedua orang Buyut itupun dapat menerimanya meskipun mula-mula mereka agak cemas juga tentang orang-orang halus yang menunggui bukit itu.”

 

“Persetan dengan dua orang Buyut tua itu.“ Daruwerdi menggeram pula. Namun kemudian, “Dan kau akan menompang pada keberhasilan orang tua itu menguasai air. Kau akan berdiri diatas semua orang, terutama anak-anak mudanya dengan menepuk dada. Seolah-olah kau ikut menentukan, mengendalikan air bagi bulak-bulak di Lumban Wetan dan Lumban Kulan.”

 

“Ah,“ desah Jlitheng, “aku tidak berbuat apa-apa. Aku hanya perantara yang lari kian kemari dalam hubungan ini. Tetapi dengan itupun aku sudah cukup bangga akan diriku.”

 

“Pantas sekali,“ sahut Daruwerdi dalam nada datar, “kau memang tidak lebih dari budak kecil yang tidak mempunyai arti. Tetapi nikmatilah kebanggaanmu itu sepuas-puasnya. Anak-anak muda di Lumban Kulon dan Lumban Wetan pada saatnya akan dapat menilai, siapakah yang lebih penting bagi mereka. Kau atau aku.”

 

“Aku atau kau ?” Jlitheng menjadi heran, “aku tidak mengerti. Apakah hubungan hal ini dengan aku dan kau ?”

 

“Kau memang dungu. Sengaja atau tidak sengaja kau telah berbuat sesuatu yang bodoh. Tetapi karena kebodohanmu itulah aku dapat memaafkannya sehingga aku tidak menantangmu berkelahi.”

 

“Berkelahi ? Mana mungkin,“ desis Jlitheng dengan suara gemetar.

 

“Ya kau memang bodoh sekali. Pada saat seperti sekarang, dimana aku memerlukan pemusatan pikiran terhadap sesuatu kewajiban yang penting, kau teluh menarik perhatian orang-orang Lumban dengan tingkahmu yang aneh-aneh itu. Kau telah menarik perhatian mereka dengan air.”

 

“Aku tidak sengaja berbuat sesuatu yang menyakiti hatimu.”

 

“Aku tidak sakit hati. Tetapi aku muak melihat tingkah lakumu. Jika kau seorang yang memiliki ilmu, maka aku tantang kau berperang tanding. Tetapi dengan kedunguanmu itu, hal itu tidak mungkin aku lakukan. Karena orang-orang akan mengatakan bahwa aku telah berbuat sewenang-wenang, karena dengan sangat mudah aku akan membunuhmu.”

 

“Tetapi, tetapi aku tidak berbuat apa-apa yang dapat mengganggumu,“ suara Jlitheng menjadi semakin gemetar.

 

“Pergilah kelinci dungu. Tetapi jika kau masih tetap dungu, kau akan menyesal bahwa air sungai yang mengali semakin deras karena menampung luapan air belumbang dari bukit itu akan menyeretmu hanyut sampai kekedung yang dihuni oleh buaya yang buas.”

 

“Tetapi, tetapi aku tidak bersalah,“ Jlitheng menjadi ketakutan.

 

“Pergi. Pergi. Tetapi hati-hati. Jangan menjadi sombong dan merasa dirimu orang yang paling berguna di Lumban Kulon dan Lumban Wetan karena tingkah orang tua itu.”

 

Jlitheng tidak menjawab lagi. Tetapi dengan tergesa-gesa iapun melangkah meninggalkan Daruwerdi yang berdiri bertolak pinggang.

 

Namun Daruwerdi tidak melihat, bahwa Jlithengpun kemudian menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Jika perlu, kaupun harus dipaksa untuk mengerti tentang kebutuhan orang-orang Lumban.”

 

Namun Jlitheng tidak berpaling. Ia berjalan terus menuju kebukit berhutan lebat itu. Langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian ia berlari sekencang angin semilir di lembah yang akan segera menjadi basah.

 

Ketika Jlitheng sampai kepada kawan-kawannya diatas bukit, mereka sudah mengumpulkan alat-alat mereka. Kerja mereka telah selesai. Pintu telah terpasang, dan tutup keyongpun telah melekat diujung sebelah njenyebelah dengan ikatan-ikatan yang kuat.

 

“Sudah selesai,“ desis Jlitheng sambi tersenyum.

 

Kiai Kanthipun tersenyum pula. Katanya, “Nanti malam aku sudah dapat tidur di dalam gubugku yang hangat. Menyenangkan sekali ngger. Aku mengucapkan beribu terima kasih.”

 

Jlitheng dan kawan-kawannyapun merasa senang pula karena mereka telah berhasil menyelesaikan kerja mereka. Gubug itu benar-benar telah berujud, meskipun sederhana sekali dengan kayu yang mereka dapat disekitar tempat itu.

 

“Tetapi belum ada perabotnya sama sekali Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian.

 

“Mudah sekali ngger. Aku dapat membuatnya dengan kayu dan bambu-bambu liar dilereng.”

 

“Kami masih akan tetap membantu, Kiai,“ jawab Jlitheng, “tetapi kitapun harus mempersiapkan saat-saat kita mengalirkan air kesungai dengan disaksikan oleh Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon itu pula.”

 

Jlitheng pun kemudian menceriterakan hasil pertemuannya dengan Ki Buyut dikedua bagian dari Lumban itu. Mereka telah bersetuju untuk datang kepinggir sungai pada saat yang ditentukan, disebelah menyebelah untuk menyaksikan air yang akan mengalir disungai itu.

 

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Iapun tidak ingkar, bahwa hal itu akan dapat memberikan kesempatan kepadanya untuk mendapat tempat di daerah Lumban Wetan dan Lumban Kulon.

 

“Aku memang mempunyai pamrih, selain aku akan ikut berbahagia melihat sawah yang hijau disegala musim didaerah Lumban ini,“ berkata Kiai Kanthi kemudian.

 

Sekali lagi Jlitheng dan kawan-kawannya membuat rencana apa yang akan mereka kerjakan. Pada hari yang sudah ditentukan mereka akan membawa alat-alat khusus untuk memecah batu-batu padas pada bibir belumbang. Linggis dan dandang, selain cangkul dan parang.

 

Setelah tidak ada lagi yang perlu diperbincangkan, maka Jlitheng dan kawan-kawannyapun segera minta diri. Besok mereka tidak akan datang lagi. Tetapi mereka akan datang pada saat yang ditentukan untuk membuka air belumbang itu.

 

“Aku mengucapkan beribu terima kasih ngger, bahwa dengan demikian kami akan dapat tinggal disebuah gubug yang dapat melindungi kami dari dinginnya malam. Apalagi jika musim hujan datang, maka gubug ini akan sangat berguna bagi kami!”

 

“Kiai akan menempatinya untuk satu musim menjelang musim berikutnya. Mudah-mudahan tanah garapan dibawah bukit ini segera akan dapat dibuka. Bukankah dengan demikian, padepokan kecil yang barangkali Kiai inginkan itu dapat dimulai pembuatannya pula ? Padepokan kecil yang akan berada dibawah bukit yang basah,“ berkata Jlitheng, “tentu akan sangat menyenangkan.”

 

Kiai Kanthi tertawa. Jawabnya, “Sebuah mimpi yang indah. Tetapi sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih atas segala bantuan kalian.”

 

Jlitheng dan kawan-kawannyapun kemudian meninggalkan tempat itu. Mereka sibuk membicarakan saat-saat untuk membuka tanggul belumbang itu, sehingga airnya akan melimpah mengalir lewat jalur yang sudah dipersiapkan masuk kedalam sungai.

 

“Ki Buyut dari Lumban Kulon dan Lumban Wetan tentu akan senang sekali melihat sebagian dari sawah yang gersang dan kering dimusim kemarau itu akan menjadi hijau disegala musim.”

 

Demikianlah, maka hari-hari yang ditentukan itu selalu membayang diangan-angan anak-anak muda yang merasa dirinya ikut mengambil bagian pada kerja yang akan sangat besar artinya bagi orang-orang Lumban itu. Namun dalam pada itu, Jlitheng sendiri telah disibukkan dengan saat-saat yang menegangkan. Dengan waktu yang sangat sempit itu ia berusaha meningkatkan kemampuannya. Ia sudah bertekad untuk benar-benar memasuki sarang serigala yang garang. Sanggar Gading.

 

Dimalam hari, Jlitheng masih harus menampakkan diri barang sejenak digardu bersama kawan-kawannya. Namun kemudian dengan berbagali alasan, ia minta diri. Ia mengatakan bahwa kesehatannya sangat buruk, sehingga ia harus tidur dirumah.

 

Namun dalam pada itu, malam-malam yang gelap itu telah dipergunakannya sebaik-baiknya. Tetapi Jlitheng sama sekali tidak mendekati bukit gundul, karena ia tahu, Daruwerdi sering pergi kebukit itu.

 

Dalam kelamnya malam, Jlitheng lebih senang pergi ke sungai yang hampir kering. Ditikungan sungai yang rimbun oleh pepohonan, dengan beberapa buah batu besar, ia menemukan tempat untuk berlatih.

 

Mula-mula Jlitheng hanya mengulang unsur-unsur gerak yang sudah dikuasainya. Ia bergerak dengan wajar untuk menghangatkan tubuhnya. Namun kemudian semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga akhirnya Jlitheng mulai dengan tekanan-tekanan yang berat pada unsur-unsur gerak tertentu. Jlitheng berusaha untuk meningkatkan kecepatan tangan dan kakinya. Karena pada saat-saat terakhir ia memang jarang sekali mempergunakan kesempatan khusus untuk meningkatkan ilmunya.

 

Dengan sungguh-sungguh Jlitheng bukan saja melakukan gerakan-gerakan yang cepat dan kuat, tetapi ia menilai pula, apakah ada diantara unsur-unsur geraknya yang masih mungkin disempurnakan menurut kemampuannya.

 

Pada tingkat terakhir Jlitheng bergerak bagaikan burung sikatan. Meloncat-loncat dari batu kebatu dengan gerak yang mantap. Kadang-kadang Jlitheng melenting tinggi namun kadang-kadang bagaikan bergeser saja tampi menggerakkan kakinya. Tetapi geseran itu telah mendorongnya melangkah batas antara batu yang satu dengan batu yang lain.

 

Tetapi latihan-latihan itu tidak memberikan kepuasan kepada Jlitheng. Ia hanya dapat mengungkapkan unsur-unsur gerak dasar yang sudah dikuasainya. Namun dalam keadaan yang sebenarnya, ia harus menyesuaikan diri dengan gerak lawan dan kepentingan saat didalam arena yang sebenarnya.

 

Meskipun demikian, latihan-latihan itu akan dapat memberikan kemungkinan yang lebih baik bagi kecepatannya bergerak dan kekuatan tenaganya.

 

Dengan mengingat pesan yang diberikan oleh Sri Panular, maka Jlithengpun telah bekerja dengan sungguh-sungguh.

 

Namun dalam pada itu, selagi ia tenggelam dalam latihan-latihan kecepatan geraknya, tiba-tiba saja terasa sesuatu telah menyentuh tubuhnya. Tidak hanya satu kali, tetapi dua tiga kali. Sehingga akhirnya Jlitheng justru telah menghentikan latihannya. Sambil berdiri tegak diatas sebuah batu yang besar, ia memperhatikan keadaan disekelilingnya ia mencoba mendengar atau melihat setiap lembar daun. Namun keburaman malam masih tetap membatasi pandangan matanya yang tajam.

 

[ bersambung ke 02