Jilid 01
TIDAK seorangpun tahu, sejak kapan
kolam itu berada di dataran sempit di sebuah bukit. Dibawah sebatang pohon yang
besar dan rimbun, berdaun tiga bentuk.
Sebenarnya bukan karena pohon itu
pohon ajaib yang berdaun tiga bentuk dalam jenis yang berbeda. Tetapi pohon yang
besar itu memang terdiri dari tiga batang pohon. Tiga batang pohon yang tumbuh
berimpitan. Ketika pohon itu menjadi semakin besar, maka ketiga batangnya
seolah-olah luluh menjadi satu. Sedang cabang-cabangnya berhiaskan daunnya
masing-masing yang berbeda.
Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus
tahun kolam itu tidak dijamah. Meskipun airnya bening dan bersumber dari mata
air yang deras dibawah batang pohon raksasa yang berdaun tiga jenis itu. Namun
sendang itu adalah sendang yang berada dilingkungan hutan kecil di bukit yang
jarang disentuh kaki manusia. Airnya yang berlimpah menyusup disela-sela
batu-batu padas dan mengalir tidak terarah, sehingga akhirnya terjun kedalam
sebuah lereng terjal dan hilang masuk kedalam luweng yang dalam, menyatu dengan
aliran air dibawah batu-batu padas yang keras.
Dari musim kemusim, kolam itu tetap
melimpahkan airnya yang bening. Meskipun langit bersih dan udara kering di musim
kemarau, namun kolam itu seakan-akan tidak pernah susut.
Sekali-kali dari gerumbul-gerumbul
yang lebat diseputar kolam itu, beberapa ekor binatang turun dengan ragu-ragu.
Jika terdengar aum harimau, maka binatang-binatang yang lainpun segera berlari
tunggang langgang, hilang dibalik rimbunnya dedaunan.
Binatang buas itu pulalah yang
menyebabkan daerah itu jarang dikunjungi manusia. Meskipun dibawah bukit itu
terdapat beberapa padukuhan, namun tidak seorangpun diantara mereka yang pernah
bermimpi untuk menyadap air dari kolam itu bagi kepentingan padukuhan mereka.
Karena itulah, maka
padukuhan-padukuham dibawah bukit itu menggantungkan air bagi sawah dan ladang
mereka dari hujan yang jatuh dari langit. Sehingga dimusim kemarau, tidak ada
diantara mereka yang dapat menanam jenis padi yang manapun selain satu dua orang
mencoba juga menanam padi gaga dan palawija.
Meskipun demikian, orang-orang
dipadukuhan dibawah bukit itu tidak berusaha merubah keadaan mereka. Mereka
hidup seperti nenek moyang mereka yang tinggal sejak lama didaerah itu. Bahkan
mereka merasa wajib menghormati dengan segala tata cara dan kebiasaan yang
mereka pertahankan. Seolah-olah apa yang ada dan berlaku di padukuhan mereka
haruslah mutlak berlangsung terus dari tahun ketahun.
Dan agaknya tidak seorangpun yang
mengganggu mereka hidup dalam dunia yang telah mereka hayati dengan tenang untuk
waktu yang lama.
Namun dalam pada itu, dijalan setapak
yang panjang, dua orang sedang berjalan dalam terik panasnya matahari. Agaknya
mereka adalah dua orang perantau yang datang dari tempat yang jauh dan telah
menempuh jarak yang panjang.
Wajah-wajah mereka yang merah
terbakar oleh panasnya matahari di siang hari, dan dinginnya embun dimalam hari,
membuat mereka nampak letih dan lelah.
Tetapi keduanya sama sekali tidak
mengeluh. Mereka melangkah terus menuruti jalan sempit itu menuju kebukit.
“Ayah,“ desis yang seorang. Seorang
gadis yang meningkat dewasa, “ada beberapa padukuhan kecil yang tersebar
didaerah yang luas.”
Yang seorang mengerutkan keningnya.
Ia juga melihat padukuhan yang berpencar dibawah bukit. Tetapi ia menjawab,
“Swasti, kita tidak akan menuju kepadukuhan itu. Di tanah berbatu padas sebelah,
aku mendengar arus air dibawah tanah. Agaknya arus air itu berasal dari bukit
yang nampak dibelakang daerah yang dihuni oleh orang dibeberapa padukuhan.
Sedangkan didaerah ini aku sama sekali tidak melihat parit dan saluran air yang
mengalir di musim kering ini.”
“Ayah,“ jawab gadis itu, “sumber air
yang mengalir dibawah tanah itu mungkin memang berasal dari bukit dibelakang
padukuhan yang tersebar itu. Tetapi mungkin pula tidak. Air itu sudah berada
dibawah tanah sejak dari seberang bukit.”
Orang tua yang berjalan disamping
anak gadisnya itu tersenyum. Jawabnya, “Marilah kita lihat Swasti. Naluriku
mengatakan bahwa sumber air itu berada dibukit yang nampak itu. Tetapi jika aku
salah, maka aku akan dapat menelusurinya sampai keseberang bukit. Pendengaranku
masih cukup kuat untuk menangkap suara arus dibawah tanah dan mengikuti
arahnya.”
Gadis itu tidak menjawab. Tetapi ia
percaya bahwa ayahnya memang dapat menangkap desir air dibawah tanah dan
mengikuti arahnya, karena ayahnya memang seorang yang memiliki kelebihan dari
orang kebanyakan.
Untuk beberapa saat keduanya terdiam.
Mereka masih berjalan terus menyusuri jalan setapak. Mereka sengaja menghindari
padukuhan yang berada dibawah bukit, untuk tidak menarik perhatian
penghuni-penghuninya.
“Kau lelah?“ terdengar orang tua itu
bertanya kepada anak gadisnya.
Gadis itu tidak menjawab. Tetapi
wajahnya yang kemerah-merahan menunduk dalam-dalam, seolah-olah ia ingin melihat
sejenak ujung kakinya yang kecil melangkahi batu-batu disepanjang jalan sempit.
Orang tua itu menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Jika kau diam itu berarti bahwa kau memang lelah. Dan
aku-pun mengerti bahwa kau memang sudah lelah.”
Swasti tidak menjawab.
“Kau adalah seorang gadis yang luar
biasa Swasti,“ berkata orang tua itu.
“Ayah selalu memuji aku, agar aku
tetap berjalan terus mengikuti ayah,“ desis gadis itu.
Orang tua itu tersenyum. Jawabnya,
“Kau menangkap maksudku Swasti. Tetapi akupun berkata sebenarnya. Tidak ada
gadis yang akan dapat bertahan untuk berjalan-jalan berhari-hari seperti kau,
sejak kita meninggalkan padepokan kita yang dilumatkan oleh gempa dan tanah
longsor itu.”
Swasti tidak menjawab.
“Karena aku menyadari, bahwa
perjalanan kita adalah perjalanan yang berat, maka aku tidak membawa para
cantrik yang ada dipadepokan. Aku serahkan mereka kembali kepada orang tua
mereka, dengan harapan, bahwa apabila kita sudah menemukan tempat untuk menetap,
maka para cantrik yang lima orang itu akan aku panggil.”
Swasti masih tetap berdiam diri.
“Tetapi sudah tentu aku tidak dapat
meninggalkan kau. Kau adalah anakku satu-satunya. Sepeninggal ibumu, kau adalah
tumpuan hidupku, karena masa depanku ada padamu.”
Swasti masih tetap melangkah sambil
menundukkan kepalanya.
“Swasti, jika kau memang lelah
sekali, kita akan beristirahat dibawah pohon yang rimbun itu,“ berkata ayahnya
kemudian.
Swasti mengangkat wajahnya. Dipinggir
jalan sempit itu dilihatnya sebatang pohon yang besar. Tetapi gadis itu
bertanya, “Ayah, beberapa ratus tonggak lagi kita akan sampai kebukit itu.
Nampaknya disekitar bukit itu masih terdapat hutan yang barangkali tidak begitu
luas dan lebat. Jika kita berjalan terus, maka kita akan segera sampai. Dan kita
akan dapat beristirahat dipinggir hutan itu.”
Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Ia
tahu bahwa anak gadisnya telah sangat lelah. Tetapi Swasti ingin segera sampai
ketujuan agar ia dapat beristirahat cukup lama dan tidak terganggu.
Orang tua itu mengangguk-angguk.
Kemudian katanya dalam nada yang dalam, “Baiklah Swasti. Kita berdoa,
mudah-mudahan mata air dari aliran dibawah tanah itu berada di lereng bukit itu,
meskipun aku juga meragukannya, bahwa dipadukuhan ini tidak terdapat parit yang
mengalir. Agaknya air dipadukuhan ini sangat tergantung kepada air hujan tanpa
memanfaatkan arus air yang terdengar mengalir dibawah tanah.”
“Tetapi air dibawah tanah itu cukup
dalam ayah. Ketika aku menengok kedalam luweng yang terbuka itu, nampak arus itu
berada jauh dibawah batu-batu padas.”
“Itulah sebabnya kita harus menemukan
sumbernya. Mudah-mudahan. Tetapi jika tidak, maka kita akan membuat pertimbangan
lain.”
Swasti hanya mengangguk-angguk saja.
Ia mengikuti langkah ayahnya meskipun sekali-kali ia harus menyeka keringatnya
dikening.
Demikianlah maka keduanya berjalan
terus. Ketika mereka sampai dibawah sebatang pohon yang rimbun, mereka hanya
berhenti sebentar karena Swasti mengajak ayahnya melanjutkan perjalanan.
Tetapi belum beberapa langkah, mereka
tertegun. Dikejauhan mereka melihat beberapa orang petani berjalan mengikuti
seseorang yang agak berbeda dalam sikap dan pakaian.
“Kau lihat yang seorang itu Swasti ?“
bertanya ayahnya.
Swasti memandang kearah beberapa
orang yang berjalan disepanjang pematang, menyilang jalan sempat yang dilalui
oleh kedua orang itu.
Sambil mengangguk Swasti menjawab,
“Ya ayah.”
“Apakah kau juga melihat kelainan
padanya ?”
“Ya. Pakaiannya dan barangkali juga
sikapnya.”
Ayahnya mengangguk. Namun katanya
kemudian, “Kita tidak mempunyai persoalan dengan mereka. Kita akan berjalan
terus tanpa menarik perhatian mereka.”
Swasti tidak menjawab. Tetapi
keduanya dengan sengaja memperlambat langkah mereka, agar para petani dan
seorang yang agak asing itu mendahului menyilang jalan setapak itu.
Swasti dan ayahnya memang tidak
banyak menarik perhatian. Orang itu hanya sekedar berpaling. Namun merekapun
segera berjalan terus tanpa menghiraukan kedua orang ayah dan anak perempuannya
itu.
Namun dalam pada itu, ternyata Swasti
dan ayahnyalah yang banyak memperhatikan orang itu meskipun dengan diam-diam.
Nampaknya ia memang orang asing atau pendatang dipadukuhan yang kering dimusim
kemarau itu.
“Agaknya ada juga orang-orang kota
yang tertarik pada daerah kering ini ayah,“ berkata Swasti.
Ayahnya mengangguk. Jawabnya,
“Mungkin orang kota yang ingin berbuat sesuatu bagi kemajuan padukuhan yang
lamban itu. Atau mungkin ia memang berasal dari salah satu padukuhan itu,
kemudian pindah kekota atau merantau, untuk mendapatkan penghidupan yang lebih
baik. Setelah ia berhasil, ia pulang kembali menengok keluarganya dengan sikap
dan pakaian yang lain.”
Swasti hanya mengangguk-angguk saja.
Keduanyapun kemudian melanjutkan
perjalanan mereka meskipun sekali-sekali Swasti masih saja berpaling, memandang
beberapa orang petani dan seorang yang asing itu berjalan semakin jauh.
“Bulak ini panjang Swasti,“ berkata
ayahnya, “nampaknya tanahnya kurang mendapat garapan.”
Swasti mengerutkan keningnya.
Kemudian katanya, “Tetapi tanda itu ayah?”
Ayahnya mengerutkan keningnya.
Merekapun kemudian berhenti sejenak pada sebuah batu di pinggir jalan setapak
itu.
“Sebuah tanda perbatasan antara dua
padukuhan yang dipimpin oleh Buyut yang berbeda,“ berkata ayahnya.
Swasti memperhatikan batu yang
disusun seperti sebentuk candi kecil dengan beberapa huruf yang terpahat
padanya.
Sambil mengangguk-angguk ia berkata,
“Ya ayah. Dua kelompok padukuhan yang berbeda meskipun mula-mula mereka berada
dalam satu lingkungan. Tetapi agaknya seorang Buyut yang mempunyai dua orang
anak laki-laki kembar terpaksa membagi wilayahnya menjadi dua kelompok padukuhan
dibawah pimpinan dua orang anak kembarnya.”
Ayah Swasti mengangguk-angguk.
Katanya, “Mudah-mudahan kedua orang Buyut itu akan tetap rukun seperti dua orang
saudara. Terlebih-lebih lagi keduanya adalah saudara kembar yang lahir pada saat
yang hampir bersamaan dari seorang ibu yang sama.”
Swasti masih memandang sesusun batu
yang merupakan sebuah candi kecil itu. Kemudian sambil mengangguk-angguk ia
berkata, “Pembagian itu sudah terjadi agak lama ayah, sehingga kedua orang Buyut
itu sudah setua ayah atau bahkan lebih.”
“Ah,“ ayah Swasti menyahut, “aku
belum terlalu tua. Kedua Buyut itu tentu jauh lebih tua daripadaku.”
Swasti memandang ayahnya sejenak.
Kemudian jawabnya, “Memang ayah belum terlalu tua. Jika ada uban yang tumbuh itu
adalah karena musim kemarau yang terlalu panjang.”
Ayahnya tertawa. Sambil bergeser ia
berkata, “Marilah. Kita berjalan lagi. Bukankah kau ingin beristirahat setelah
kita sampai keujung hutan dilereng bukit itu.”
Swasti mengangguk. Iapun kemudian
mengikuti ayahnya melanjutkan perjalanan menuju kekaki bukit.
Ketika matahari turun di sebelah
Barat, maka sinarnya yang terik mulai memudar. Awan yang putih terapung dilangit
dihembus angin ke Utara. Sekumpulan burung bangau yang putih seperti awan yang
dihanyutkan angin itu, terbang kearah yang berlawanan, dengan leher dan kaki
yang terjulur panjang.
Swasti menarik nafas dalam-dalam.
Mereka sudah semakin dekat dengan ujung hutan dikaki bukit. Meskipun agaknya
hutan itu tidak terlalu besar, tetapi cukup padat oleh tetumbuhan liar.
“Tentu masih dihuni oleh binatang
buas,“ desis Swasti.
Ayahnya mengangguk. Katanya,
“Nampaknya demikian Swasti. Tetapi mudah-mudahan binatang-binatang buas itu
tidak mengganggu. Meskipun demikian kita memang harus berhati-hati. Bukankah kau
pandai memanjat ?”
Swasti mengangguk. Tetapi tatapan
matanya bagaikan tertambat pada batang-batang pohon di ujung hutan dihadapan
mereka.
Keduanya masih berjalan terus
meskipun Swasti nampaknya menjadi semakin lelah. Tetapi hutan itu sudah dekat.
Tanah yang basah dan getaran yang dapat ditangkap oleh ketajaman indera ayah
gadis itu, memberikan harapan bahwa mata air itu akan dapat mereka ketemukan
dihutan dihadapan mereka.
Swasti menarik nafas dalam-dalam
ketika bayangan pepohonan hutan itu mulai menyentuh tubuhnya. Kemudian
dilemparkannya seonggok bungkusan yang dibawanya. Dengan serta merta
dijatuhkannya tubuhnya yang ramping diatas tanah dipinggir hutan itu tanpa
menghiraukan kemungkinan binatang merayap yang dapat menyengat tubuhnya.
“Tanah ini memang basah ayah,“ desis
Swasti.
Ayahnya mengangguk-angguk.
Dipandanginya padang perdu yang sempit dipinggir hutan itu, yang membatasi
daerah persawahan. Keheranan nampak membayang diwajahnya.
“Apa yang ayah perhatikan ?” bertanya
Swasti.
“Tanah ini basah Swasti. Tetapi sawah
itu justru nampak kering dimusim kemarau.“ sahut ayahnya.
“Ada sesuatu yang kurang pada
penghuni padukuhan yang tersebar ini ayah. Mereka kurang pengetahuan tentang
bercocok tanam, atau mereka memang malas untuk mencari yang belum pernah mereka
miliki.”
Ayahnya mengangguk-angguk. Sejenak ia
masih memandang daerah yang luas dihadapannya. Namun iapun kemudian duduk
disebelah anaknya yang masih saja berbaring. Bahkan oleh angin yang semilir,
Swasti mulai dijalari oleh perasaan kantuk.
“Jangan tidur,“ desis ayahnya.
Swasti menarik nafas dalam-dalam.
Namun iapun dengan malasnya bangkit dan duduk pula bersandar sebatang pohon.
“Aku letih sekali ayah. Bagaimana
kalau aku tidur barang sekejap?”
“Sebentar lagi senja akan menjadi
gelap. Jangan tidur disaat-saat seperti ini. Tunggulah sampai gelap. Kita akan
membuat perapian dan tidur bergantian.”
Swasti menggeliat. Katanya, “Tetapi
aku memerlukan air sekarang ayah.”
“Kau sudah minum bukan ? Di padukuhan
lewat ujung bulak ini kita sudah mendapatkan belas kasihan dari seseorang yang
sedang memetik kelapa. Kita mendapat air kelapa secukupnya.“ ayahnya berhenti
sejenak, lalu. “tetapi jika kau sudah mulai haus lagi, marilah. Kita mencari
batang merambat. Aku aku memotong pangkal dan ujungnya. Dan kita akan
mendapatkan air untuk minum.”
“Ayah hanya memerlukan air untuk
minum. Tetapi aku tidak.”
Ayahnya menarik nafas dalam-dalam.
Lalu, “Baiklah. Kita akan segera mencari air. Naluriku mengatakan, bahwa kita
sudah dekat dengan mata air.”
Swasti akan menjawab. Tetapi ia
melihat ayahnya sedang memusatkan pendengarannya sambil menyentuh tanah dengan
telapak tangannya. Karena itu Swasti tidak mengucapkan kata-katanya. Bahkan
iapun kemudian berdiri dan melangkah untuk melihat-lihat keadaan disekitarnya.
Didalam hati Swasti masih juga selalu
mengagumi ayahnya. Dengan melekatkan telapak tangannya ditanah, seolah-olah
lewat jalur urat nadinya, getaran-getaran bumi terdengar oleh telinga batinnya.
Sehingga dengan demikian ayahnya dapat mengetahui arah arus air dibawah
batu-batu padas yang dalam.
Swasti berpaling ketika ayahnya
memanggilnya.
“Swasti,“ berkata ayahnya,
“rasa-rasanya kita sudah tidak jauh lagi dari sebuah mata air. Tetapi apakah kau
tidak ingin beristirahat barang sejenak? Atau mungkin semalam ini ? Besok
pagi-pagi kita akan mencari mata air didaerah pebukitan ini.”
“Kenapa tidak malam nanti ayah?
Sekarang aku memang akan beristirahat. Mungkin aku memerlukan tidur sejenak,
meskipun setelah malam menjadi gelap. Tengah malam kita melanjutkan perjalanan.”
“Hutan ini belum pernah kita kenal,“
sahut ayahnya, “sebaiknya kita tidak memasukinya dimalam hari.”
Swasti termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian katanya, “Baiklah. Besok pagi2 kita melanjutkan perjalanan.”
Perlahan-lahan gelap malam mulai
turun menyelubungi bukit. Dengan batu titikan dan segumpal emput gelugut aren,
ayah Swasti membuat api. Dengan dedaunan kering dan ranting-ranting yang
berserakan, ia membuat perapian. Kemudian beberapa potong kayu diletakkannya
pula diatas api.
“Sekarang tidurlah,“ berkata ayah
Swasti.
Swasti yang memang sudah berbaring
menguap. Kemudian jawabnya, “Ya ayah. Aku akan tidur.”
Ayahnya memandang anak gadisnya
dengan tatapan kebapaan. Ia merasa iba melihat gadisnya yang letih berbaring
diatas rerumputan kering. Meskipun Swasti sempat membersihkan tempat ia
berbaring, namun rasa-rasanya bergejolak juga jantung ayahnya melihat anak
gadisnya terbaring diatas tanah.
Tetapi orang tua itu berkata didalam
hati, “Mudah-mudahan yang terjadi ini merupakan syarat keprihatinannya.
Mudah-mudahan kelak Yang Maha Agung memberikan hari-hari yang lebih cerah
kepadanya.”
Swasti yang lelah itu dengan tenang
tertidur nyenyak. Gadis itu terlalu percaya kepada ayahnya, bahwa ayahnya akan
dapat melindunginya dari segala bahaya.
Namun belum lagi tengah malam, Swasti
terkejut. Tiba-tiba saja ayahnya membangunkannya dengan tangan menggigil.
“Swasti, Swasti.”
Swasti terkejut. Namun rasa-rasanya
tubuhnya tertekan oleh himpitan kekuatan yang menahannya untuk meloncat bangkit.
Bahkan kemudian rasa-rasanya tubuhnya menjadi sangat lemah.
Namun ia memaksa diri untuk bangkit
dan duduk disebelah ayahnya yang ketakutan.
“Ada apa ayah ?“ bertanya Swasti.
“Seekor harimau Swasti. Seekor
harimau yang garang sekali.”
Swasti menjadi heran. Namun iapun
mulai mendengar dengus binatang buas itu.
“Tetapi …,“ suara Swasti terputus. Ia
merasa tekanan pada urat nadi dipergelangan tangannya, sehingga ia tidak
melanjutkan kata-katanya.
Dengan tegang Swasti memandang
ayahnya yang ketakutan. Sementara dengus harimau yang garang, semakin lama
semakin lama semakin mendekat.
“Ayah, apakah binatang buas tidak
takut melihat api ?“ bertanya Swasti yang lemah.
“Aku tidak tahu Swasti. Tetapi
binatang itu tentu akan menerkam kita.”
Ayah Swasti memalingkan wajahnya
ketika tiba-tiba saja seekor harimau yang besar muncul dari balik gerumbul dan
mulai merunduk mendekati kedua orang ayah dan anaknya itu.
Swasti menjadi heran melihat sikap
ayahnya. Tentu ada sebabnya kenapa ayahnya tidak berdiri tegak menghadapi
harimau yang sedang merunduk itu, dan justru merengek-rengek seperti anak-anak.
Sedang dirinya sendiri seolah-olah menjadi lemah tidak bertenaga.
Sementara itu harimau yang garang
itupun menjadi semakin dekat. Kemudian merendah di kaki depannya sehingga
dadanya menyentuh tanah. Ekornya dikibas-kibaskannya perlahan, sedang kedua
belah matanya bagaikan menyala.
Harimau yang garang itu siap untuk
meloncat menerkam orang tua dan anak gadisnya yang nampaknya ketakutan.
Namun ketika harimau itu mengaum,
tiba-tiba meloncatlah seorang anak muda disebelah perapian. Wajahnya yang tegang
menyala dengan penuh kemarahan.
“Jangan takut,“ geram anak muda itu,
“aku akan membunuh harimau yang buas itu.”
“O,“ ayah Swasti menyahut dengan
suara gemetar, “tetapi harimau itu sangat besar.”
Anak muda itu tidak menjawab. Ia
berdiri dengan kaki renggang dan sebilah pisau belati ditangan, siap menghadapi
harimau yang perhatiannya telah berpaling kepada anak muda itu.
Swasti termangu-mangu. Ternyata anak
muda itu adalah anak muda yang dilihatnya berjalan beriring dengan para petani
dipematang dengan pakaian dan sikap yang asing.
Ketika kemudian terdengar harimau itu
mengaum keras, maka anak muda itupun merendah pada lututnya. Ia telah bersiap
sepenuhnya ketika harimau itu kemudian meloncat menerkamnya.
Sejenak kemudian telah terjadi
pertarungan yang dahsyat antara seekor harimau yang besar dan garang, melawan
anak muda bersenjata pisau belati itu. Ternyata anak muda itu lincah sekali. Ia
mampu mengelak, dan bahkan kemudian meloncat kepunggung harimau itu. Tangan
kirinya memeluk leher harimau itu seperti melekat. Betapapun harimau itu
berusaha, namun anak muda dipunggungnya tidak dapat dilemparkannya.
Terdengar auman yang bagaikan
menyobek sepinya hutan dilereng bukit itu, ketika anak muda itu mulai
menghunjamkan pisau belatinya ketubuh harimau yang melonjak-lonjak dan
sekali-kali berguling-guling.
Tetapi harimau itu ternyata tidak
berdaya. Semakin lama luka-luka ditubuhnya menjadi semakin banyak. Darah
mengalir semakin deras. Tidak saja membasahi tubuhnya sendiri, tetapi anak muda
itupun mulai dilumuri oleh warna-warna merah. Bukan saja karena darah harimau
yang menjadi semakin tidak berdaya. Tetapi ternyata tubuh anak muda itu sendiri
telah terluka pula karenanya.
Swasti memandang perkelahian itu
dengan tanpa berkedip. Ia menjadi kagum melihat kesigapan anak muda itu. Ia
yakin bahwa sebentar lagi harimau yang garang itu tentu akan terbunuh.
Ayahnya yang gemetarpun nampaknya
menjadi semakin tenang. Ia melihat anak muda itu benar-benar telah menguasai
lawannya. Akhirnya, dengan auman yang dahsyat harimau itu berusaha melonjak dan
melepaskan diri dengan sisa tenaganya. Tetapi tidak berhasil. Bahkan
tusukan-tusukan berikutnya membuat harimau itu tidak berdaya.
Sesaat kemudian, maka pertempuran
itupun selesai. Anak muda yang perkasa itu melepaskan tubuh harimau yang telah
dibunuhnya. Sambil mengusap pisaunya yang berlumuran darah ia menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian katanya, “Jangan takut lagi kakek tua, Harimau itu sudah
mati.”
“Terima kasih ngger. Terima kasih.“
suara ayah Swasti masih bergetar.
Anak muda itupun kemudian berdiri
tegak memandang orang tua itu berganti-ganti dengan anak gadisnya. Setapak ia
melangkah maju kedekat perapian sambil berkata, “Jiwa kalian telah selamat.”
“Tetapi, tetapi angger sendiri
nampaknya teriuka,“ berkata ayah Swasti.
Anak muda itu memandangi tubuhnya.
Katanya sambil tersenyum, “Wajar sekali jika aku terluka. Kuku harimau itu lebih
tajam dari duri. Kekuatannya melampaui kekuatan seekor kerbau gila.”
“Tetapi angger dapat mengalahkannya.”
Anak muda itu tersenyum.
“Lalu. bagaimana dengan luka-luka
itu?“ bertanya ayah Swasti.
“Aku mempunyai obatnya. Aku akan
mandi, kemudian mengobati luka-lukaku.“ ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi
siapakah kau berdua ini ? Dan kemanakah tujuan kalian ? Aku lihat kalian sebagai
dua orang yang sedang bepergian jauh. Siang tadi, ketika kita bertemu, aku tidak
begitu menghiraukan kalian. Tetapi ketika aku melihat perapian, aku jadi
teringat. Aku sudah menduga bahwa kalianlah yang berada dipinggir hutan ini.”
“Ya ngger. Akupun ingat, bahwa kita
telah berjumpa. Sebenarnyalah bahwa aku tidak mempunyai tujuan tertentu. Kami
berdua dalam perjalanan perantauan menuruti kehendak hati.”
Anak muda itu memandang Swasti
sejenak. Gadis itu menundukkan kepalanya. Ia tidak berniat untuk bertanya lagi
kepada ayahnya, karena ia sudah dapat menangkap, apakah yang sebenarnya terjadi.
Meskipun demikian, ia tetap mengagumi
anak muda yang perkasa itu. Dalam usianya ia sudah memiliki ilmu kanuragan yang
mantap, sehingga kekuatannya dapat mengimbangi kekuatan seekor harimau.
Ketangkasannyapun melampaui ketangkasan orang kebanyakan.
“Perjalanan kalian hampir merenggut
jiwa kalian,“ berkata anak muda itu, “sayang sekali. Siapakah gadis itu?”
“Anakku,“ jawab ayah Swasti.
“Bawalah kepadukuhan. Tentu ada
tempat bagi kalian berdua.”
“Ah,“ jawab ayah Swasti, “kami tidak
pantas tinggal bersama angger. Kami adalah perantau yang tidak ada harganya.
Beribu terima kasih. Tetapi biarlah kami melanjutkan perjalanan kami.”
“Jangan merajuk seperti anak-anak
Kiai,“ berkata anak muda itu, “sekali lagi kalian bertemu dengan seekor harimau,
maka kalian akan mati.”
“Kami akan berhati-hati ngger. Adalah
salah kami, bahwa kami tidak memanjat sebatang pohon. Biasanya kami tidur diatas
pepohonan. Tetapi malam ini kami lengah, sehingga hampir saja maut menjemput
kami.”
Anak muda itu mengerutkan keningnya,
ia menjadi heran mendengar jawaban orang tua itu. Hampir diluar sadarnya ia
bertanya, “Jadi anak gadismu itu juga pandai memanjat ?”
Orang tua itu termangu-mangu,
sedangkan Swasti menundukkan kepalanya. Wajahnya menjadi merah.
“Begitulah ngger,“ jawab ayah Swasti,
“karena kebiasaan kami merantau, maka kadang-kadang anak gadisku berbuat yang
tidak biasa dilakukan oleh gadis-gadis yang lain. Ia memang dapat memanjat
meskipun harus ditolong. Kami membuat anyaman tali pada dahan-dahan untuk
menolong agar kami tidak terjatuh.”
“Kau tidak takut harimau kumbang yang
juga pandai memanjat ?”
“Tidak banyak terdapat harimau
kumbang ngger. Tetapi seandainya kami bertemu juga dengan harimau kumbang, maka
aku mungkin akan dapat melawannya dengan pedangku. Harimau pada umumnya lemah
jika mereka berada diatas pepohonan.”
Anak muda itu tersenyum. Jawabnya,
“Nampaknya kau memang seorang perantau yang berpengalaman menjelajahi hutan.
Tetapi pada suatu saat kau dihadapkan pada bayangan maut seperti yang baru saja
kau alami.“ anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi kau adalah orang yang
aneh. Kau tidak jera karena peristiwa ini. Bahkan seolah-olah kau cepat
melupakannya.”
Orang tua itu termangu-mangu.
Jawabnya, “Bukan begitu ngger. Tetapi aku berharap bahwa aku tidak akan bertemu
lagi dengan seekor harimau. Atau aku tidak membuat kelengahan lagi seperti yang
terjadi.”
“Kau sangka bahwa harimau hanya dapat
kau temui di malam hari ? Bagaimana disiang hari ?”
“Biasanya kami tidak menyelusuri
hutan seperti ini. Kami berjalan di bulak-bulak panjang. Dari padukuhan yang
satu kepadukuhan yang lain. Tetapi kami memang sering bermalam dipinggir-pinggir
hutan agar kami tidak mengganggu penghuni padukuhan dengan kecurigaan dan
mungkin tuduhan-tuduhan yang kurang baik.”
Anak muda itu mengangguk-angguk.
Setiap kali diluar sadarnya tatapan matanya menyambar wajah Swasti yang
tertunduk. Dalam keremangan cahaya api perapian, wajahnya nampak
kemerah-merahan.
Ada sesuatu yang menarik pada gadis
yang nampak kotor dan kumal itu.
Tetapi anak muda itupun kemudian
berkata, “Terserahlah kepadamu kakek tua. Aku sudah mempersalahkan kau pergi
kepadukuhan. Aku akan menanggungmu. Orang-orang padukuhan tidak akan berani
berbuat sesuatu atas orang-orang yang ada dalam perlindunganku.”
“Terima kasih ngger. Terima kasih.”
“Baiklah. Aku akan pergi. Jika kau
kemudian mengambil keputusan untuk datang kepadukuhanku, datanglah. Aku tinggal
dipadukuhan terbesar disebelah batas. Disudut padukuhan itu nampak sebatang
pohon randu alas yang besar.”
“Baik, baik ngger. Tetapi kami belum
mendengar nama angger. Mungkin pada suatu saat kami memang akan mencari angger.”
Anak muda itu tertawa. Katanya,
“Namaku Daruwerdi.”
Ayah Swasti mengangguk-angguk.
Desisnya, “Nama itu bagus sekali. Apakah angger juga berasal dari padukuhan
itu?”
Anak muda yang bernama Daruwerdi itu
tertawa semakin keras. Tanpa menjawab pertanyaan itu ia melangkah sambil
berkata, “Aku akan pulang. Sekali lagi aku memberi kesempatan. Bawalah gadismu
kepadukuhan itu. Jika kau mau, tinggallah disana. Barangkali itu lebih baik
bagimu dan bagi masa depan anakmu. Pada suatu saat anakmu memerlukan sesuatu
yang tidak dapat kau ketemukan diperantauanmu itu. Atau barangkali lebih baik
kau titipkan gadismu kepada seseorang yang dapat kau percaya agar ia dapat
menikmati kehidupan sewajarnya seperti gadis-gadis yang lain.”
“Ia satu-satunya anakku ngger.”
“Kau terlalu mementingkan dirimu
sendiri. Kau sama sekali tidak memikirkian nasib dan hari depan anakmu. Apalagi
seorang gadis.”
Orang tua itu tidak menjawab.
Sementara anak muda itu melangkah menjauh. Tetapi ia masih berhenti dan
berpaling, “Siapa nama anakmu itu kakek?”
Orang tua itu memandang Daruwerdi
sejenak. Kemudian jawabnya, “Swasti. Namanya Swasti ngger.”
“Nama itupun bagus sekali. Jangan kau
sia-siakan anakmu. Tatapan matanya mengandung kepahitan hidupnya. Dan kau masih
mementingkan dirimu sendiri.”
Daruwerdi tidak menunggu jawaban
orang tua itu. Iapun kemudian melangkah semakin jauh dan hilang dalam kegelapan,
di sela-sela pepohonan.
Ketika anak muda itu telah hilang,
Swasti beringsut mendekati ayahnya sambil bergumam, “Ayah memijit pusat nadi
tanganku.”
Orang tua itu tersenyum Jawabnya,
“Anak muda yang luar biasa. Aku mendengar kedatangannya. Karena itu aku biarkan
ia melawan harimau yang garang itu. Ternyata ia berhasil.”
“Ayah membiarkan ia melakukan
pekerjaan yang sangat berbahaya itu,“ desis Swasti.
“Jika ia tidak meyakini kemampuannya,
ia tidak akan melakukannya.”
Swasti tidak menjawab. Tubuhnya
terasa telah pulih kembali. Ia mengerti, bahwa ayahnya memaksanya untuk tidak
berbuat sesuatu saat Daruwerdi berkelahi dengan seekor harimaul yang garang itu.
Namun dalam pada itu, wajah ayah
Swastipun menegang pula. Tiba-tiba saja ia berbisik ditelinga anaknya, “Ia
datang kembali. Aku mendengar desir lembut. Berbuatlah seperti yang aku
kehendaki.”
Swasti mengangguk. Meskipun badannya
telah pulih kembali, tetapi ia tetap duduk dengan lemahnya seperti yang
dikehendaki oleh ayahnya.
Beberapa saat mereka menunggu. Desir
halus itu terdengar semakin dekat. Tetapi ayah Swasti tidak memalingkan wajahnya
seolah-olah ia sama sekali tidak mendengarnya.
Baru kemudian ketika terdengar
pepohonan yang dikuakkan, orang tua itu terkejut, sehingga ia tergeser beberapa
jengkal. Dengan serta merta ia berpaling memandang kearah suara desir dedaunan
yang tersibak.
Tetapi ternyata orang tua itu
benar-benar terkejut. Wajahnya menjadi tegang. Ternyata yang datang bukannya
Daruwerdi. Tetapi orang lain. Juga seorang anak muda. Tetapi anak muda itu
nampaknya lebih sederhana dalam pakaian seorang petani biasa.
“O,“ desis ayah Swasti, “siapakah kau
anak muda?”
Anak muda itu mengangguk hormat.
Dengan membungkuk-bungkuk ia melangkah mendekati sambil menjawab, “Kiai, jika
berkenan dihati, aku akan memperkenalkan diriku. Aku adalah anak padukuhan
disebelah hutan ini. Anak seorang janda miskin yang barangkali tidak berarti
sama sekali bagi Kiai.”
Anak Swasti mengerutkan keningnya.
Dengan heran ia bertanya, “Aku tidak mengerti maksud anak muda.”
Anak muda itu menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kedatangan Kiai kedaerah terpencil ini
menumbuhkan pertanyaan dihatiku. Ketika aku mendengar aum seekor harimau, aku
telah tertarik untuk melihatnya, karena sebenarnyalah aku memang melihat
menjelang senja dua orang yang memasuki hutan ini. Agaknya Kiai dan perempuan
yang barangkali sanak kadang Kiai.”
“Ia adalah anakku,“ jawab ayah
Swasti, “memang seekor harimau telah merunduk kami. Tetapi untunglah, seorang
anak muda yang bernama Daruwerdi telah menolong kami. Lihatlah ngger, harimau
itu telah dibunuhnya.”
“Luar biasa,“ desisnya. Tetapi
wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun. Apalagi keheranan.
Katanya selanjutnya, “Daruwerdi memang seorang anak muda yang perkasa, ia
tinggal dipadukuhan disebelah hutan ini pula. Tetapi berbeda dengan
padukuhan-padukuhan yang ada sebelah tanda batas itu. Ia berada dibawah
kekuasaan Buyut yang berbeda dengan kelompok padukuhanku.”
“O,“ ayah Swasti mengangguk-angguk.
“Ia berhasil membunuh harimau itu dengan hanya mempergunakan pisau belati?”
Anak muda itu tersenyum. Katanya,
“Tentu setiap orang ingin menolong Kiai dan anak gadis Kiai. Meskipun aku tidak
berkemampuan kanuragan, akupun berniat untuk menolong seandainya diperlukan.
Tetapi, rasa-rasanya yang dilakukan oleh Daruwerdi adalah sia-sia.”
Swasti dan ayahnya terkejut mendengar
kata-kata anak muda itu, sehingga dengan serta meria ayah Swasti bertanya,
“Kenapa sia-sia ngger ?”
Anak muda itu tertawa. Katanya,
“Apakah artinya yang telah dilakukan oleh Daruwerdi itu bagi Kiai ? Daruwerdi
menyangka Kiai tidak mampu berbuat apa-apa dan benar-benar ketakutan melihat
harimau itu datang merunduk Kiai dan anak gadis Kiai. Tetapi sentuhan jari-jari
Kiai pada nadi anak gadis Kiai, menumbuhkan pertanyaan dihatiku. Dan kemudian
akupun yakin, bahwa seandainya Daruwerdi tidak menolong Kiai akupun tidak akan
melakukannya, karena Kiai akan dapat membunuh harimau itu dengan sekali hembus
tanpa menitikkan keringat dan apalagi darah Kiai sendiri.”
Ayah Swasti menjadi tegang. Dengan
ragu-ragu ia bertanya, “Anak muda melihat semuanya yang telah terjadi ?”
“Aku melihat semuanya yang terjadi.
Aku tidak dapat menahan tertawa melihat tingkah laku Daruwerdi. Meskipun ia
seorang anak muda yang berani dan memiliki kemampuan yang tinggi, tetapi ia
tidak sempat melihat siapakah Kiai sebenarnya, sehingga ia dengan serta merta
telah berusaha menolong Kiai,“ jawab anak muda itu.
Ayah Swasti menarik nafas
dalam-dalam. Dengan nada dalam ia bertanya pula, “Apakah angger yakin bahwa
tanpa pertolongan anak muda yang berani itu aku dapat menyelamatkan diriku
sendiri ?”
Anak muda itu tertawa. Namun kemudian
sambil mengangguk hormat ia menjawab, “Kiai adalah seorang yang memiliki ilmu
tiada taranya. Karena itu, seperti yang aku katakan, tingkah laku Daruwerdi
adalah kesia-siaan dihadapan Kiai.”
Ayah Swasti memandang anak gadisnya
yang mengerutkan kening. Sekilas Swasti memandang anak muda dalam pakaian dan
sikap yang sederhana itu. Tetapi ketika tiba-tiba saja anak muda itu juga
memandangnya, maka dilemparkannya tatapan matanya kepepohonan yang
kehitam-hitaman didalam kelamnya malam.
“Angger,“ berkata ayah Swasti
kemudian, “dihari pertama kedatanganku didaerah ini, aku sudah dikejutkan oleh
peristiwa-peristiwa yang semula diluar dugaanku. Ternyata di dua kelompok
padukuhan yang dipimpin oleh dua orang buyut yang berbeda, meskipun mereka
adalah saudara kembar, masing-masing dihuni anak muda yang memiliki ilmu yang
tinggi. Meskipun kau tidak menunjukkan kemampuanmu seperti yang dilakukan oleh
Daruwerdi, tetapi pengamatanmu atas keadaan kami telah menunjukkan bahwa angger
adalah seorang anak muda yang luar biasa, yang tidak kalah tinggi ilmunya dari
Daruwerdi.”
“Ah,“ desis anak muda itu, “Kiai
keliru. Aku hanya dapat melihat. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa.”
“Jangan ingkar anak muda. Seperti
anak muda dapat melihat keadaanku, maka akupun kini menyadari, siapakah yang ada
dihadapanku.”
Anak muda itu tersenyum. Katanya
kemudian, “Daruwerdi memang seorang anak muda yang terlalu baik. Ia terdorong
oleh keinginannya yang tidak terkendali untuk menolong seseorang, sehingga ia
tidak melihat siapakah yang akan ditolongnya. Sementara aku adalah, seorang
gembala yang tidak berarti, yang selain menggembalakan kambing, aku selalu
tenggelam didalam lumpur.”
Ayah Swasti mengangguk-angguk. Sambil
tersenyum iapun menyahut, “Sungguh luar biasa. Daerah yang terpencil ini
ternyata memiliki kemampuan yang mengagumkan. Angger apakah banyak anak-anak
muda yang memiliki ilmu seperti angger Daruwerdi dan angger sendiri?”
Anak muda itu mengerutkan keningnya.
Kemudian jawabnya, “Hanya seorang Kiai, Daruwerdi.”
Orang tua itu masih saja tersenyum.
Katanya, “Angger memang senang bergurau. Baiklah. Angger tentu mengetahui apa
yang sudah aku ketahui tentang angger, seperti aku tahu apa yang angger ketahui
tentang aku.”
Ternyata bahwa anak muda itu memang
banyak tertawa. Wajahnya nampak cerah, sedang jawabnyapun rancak. “Tepat Kiai.
Dan karena itu pula aku tidak perlu bertanya, kemana Kiai akan pergi.”
Orang tua itu bertambah heran. Dengan
nada dalam dan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa angger tidak perlu bertanya,
kemana kami akan pergi ?”
Anak muda itu tertawa. Katanya,
“Meskipun aku tidak pasti, tetapi aku dapat menduga. Bukankah Kiai berjalan
menyusuri suara arus air dibawah tanah ?”
“Ah,“ orang itu menegang sejenak.
Tetapi anak muda itu masih tetap
tertawa dan meneruskan. “Kiai tentu ingin menemukan mata air yang menurut dugaan
Kiai tersembunyi di dalam hutan dibayangan bukit ini.”
Ayah Swasti mengangguk-angguk.
Akhirnya ia menjawab, “Kami tidak ingkar ngger. Agaknya angger memiliki
ketajaman penglihatan. Bukan saja penglihatan wadag yang telah melihat aku
dengan sengaja menyentuh pusat madi anakku agar tidak menumbuhkan kecurigaain
pada angger Daruwerdi. tetapi juga penglihatan perhitungan.”
“Kiai tidak usah memuji. Aku kira itu
bukannya suatu kelebihan. Bukankah wajar jika seorang perantau memerlukan tempat
yang dapat dihuni ? Salah satu syarat untuk sebuah padepokan adalah air.”
“Ya ngger. Kami memang sedang mencari
sumber air yang aku ketahui mengalir dibawah tanah.”
“Baiklah Kiai. Aku dapat memberikan
petunjuk serba sedikit karena aku adalah anak daerah ini.”
“Terima kasih ngger.”
“Kiai,” berkata anak muda itu,
“pendengaran Kiai memang sangat tajam. Kiai telah menempuh jalan yang benar,
tetapi pada suatu saat dapat kecewa karena arus air dibawah tanah itu sudah ada
sejak dari seberang bukit.”
“O,“ Swasti berdesis. Diluar sadarnya
ia berkata, “Jadi kami harus mendaki dan menuruni bukit ini, atau mencari jalan
melingkarnya ?”
Anak muda itu memandang Swasti
sejenak. Namun seperti yang selalu dilakukan, ia menjawab sambil tersenyum,
“Tidak. Kalian tidak perlu melakukannya meskipun kemungkinan itu dapat terjadi
jika ayahmu salah pilih.“ ia berhenti sejenak, lalu katanya kepada ayah Swasti,
“Kiai, dibawah tanah ini memang sudah mengalir sebuah sungai yang deras.
Sementara sumber yang terdapat dibayangan bukit ini hanya merupakan sebagian
saja dari arus sungai itu. Karena itu, jika Kiai menyelusuri suara sungai
dibawah tanah itu, mungkin sekali Kiai akan mengikuti arus yang lebih besar dari
seberang bukit.”
Ayah Swasti mengangguk-angguk.
Katanya, “Terima kasih ngger. Terima kasih. Aku mengerti sekarang, bahwa ada
tempuran dibawah tanah. Untunglah aku bertemu dengan angger di sini. Jika tidak,
mungkin sekali aku salah memilih jalur air sehingga aku harus berjalan lebih
jauh lagi.”
“Jika demikian Kiai, marilah. Aku
akan mengantar. Kiai sampai ke mata air itu. Sebenarnyalah bahwa tempat itu
adalah tempat yang sangat mapan untuk membuat sebuah padepokan.”
Ayah Swasti mengangguk-angguk. Tetapi
ia benar-benar telah menjadi heran. Dihari yang pertama didaerah itu, ia telah
bertemu dengan orang-orang yang tidak pernah diduganya.
Namun keheranan ayah Swasti bukan
saja karena sikap anak muda itu, tetapi bahwa ia mengetahui tentang manfaat air
dari mata air di bukit itu. Meskipun demikian, sawah-sawah tetap kering dimusim
kemarau.
“Anak muda,“ akhirnya ayah Swasti
tidak dapat menahan ingin tahunya, “menilik sikap dan keteranganmu tentang mata
air itu, agaknya kau tahu benar guna manfaatnya.”
Anak muda itu tertawa. Katanya, “Aku
sudah menyangka bahwa Kiai akan bertanya demikian. Jika di bukit ini ada mata
air, dan aku mengetahuinya, kenapa aku tidak berbuat sesuatu bagi sawah kami
yang kering.”
Ayah Swasti mengangguk kecil.
“Kiai,“ berkata anak muda itu, “ada
banyak sebabnya. Penghuni dari sekelompok padukuhan kami dan kelompok padukuhan
yang lain, masih dikuasai oleh tata kehidupan yang sudah berpuluh tahun
berlangsung. Mereka masih pula dibayangi oleh kepercayaan yang menghambat
kemajuan cara berpikir mereka. Menurut pendapat mereka, daerah dilereng bukit
ini merupakan daerah yang gawat. Tidak seorangpun yang akan berhasil memasuki
hutan yang lebat dan apalagi menemukan mata air.”
“Tetapi angger pernah melakukannya,“
potong orang tua itu.
“Mereka tidak percaya. Mereka
menyangka bahwa aku sekedar bermimpi.“ anak muda itu berhenti sejenak, lalu,
“bahkan seandainya mereka percaya bahwa aku pernah menemukan sumber air itu,
namun mereka tidak akan berani berbuat sesuatu.”
Ayah Swasti mengangguk-angguk. Tetapi
iapun kemudian bertanya, “Bagaimana dengan Daruwerdi?”
“Ia seorang anak muda yang cakap. Ia
melontarkan perhatiannya ketempat yang jauh. Ia mempunyai kawan dan hubungan
dengan orang-orang yang tidak dikenal dipadukuhan kami, sehingga ia tidak
mempedulikan lagi perkembangan padukuhan tempat ia tinggal.”
Ayah Swasti mengangguk-angguk. Namun
kemudian sambil berpaling kepada Swasti ia berkata, “Kita ternyata telah
mendapat anugerah dari Yang Maha Agung. Angger ini bersedia mengantarkan kita
sampai kemata air yang kita perlukan.”
Swasti tidak segera menjawab. Sekilas
ditatapnya mata anak muda yang jernih itu. Namun iapun hanya dapat menunduk
dalam-dalam.
“Angger,“ tiba-tiba saja ayah Swasti
bertanya, “apakah angger sudah menyebut nama angger ?”
Anak muda itu tertawa. Katanya,
“Apakah itu perlu sekali Kiai?”
“Sebutlah, agar kami tidak canggung
memanggil angger.”
Anak muda itu memandang orang tua itu
sesaat. Namun kemudian senyumnya yang cerah menghiasi bibirnya yang bergerak
menyebut namanya, “Namaku jelek Kiai. Tidak sebaik Daruwerdi.“ ia nampak
ragu-ragu. namun kemudian diucapkannya juga, “namaku Jlitheng.”
“Bohong,“ diluar sadarnya Swasti
tiba-tiba saja menjawab. Namun ketika terasa anak muda itu memandanginya, terasa
wajahnya menjadi panas, sehingga iapun menunduk semakin dalam.
Ayah Swastipun tertawa. Katanya,
“Menurut pengamatanku, angger bukan seorang anak muda yang termasuk berkulit
hitam.”
Anak muda itu tertawa. Katanya,
“Menurut ibuku, saat aku lahir, kulitku hitam seperti arang. Kakekkulah yang
memberi nama kepadaku Jlitheng.”
“Itu bukan nama ngger. Tetapi
panggilan. Atau nama panggilan. Tetapi angger tentu mempunyai nama lain.”
Anak muda itu tertawa semakin keras.
Katanya, “Panggil saja aku Jlitheng. Aku senang mendapat panggilanku.”
Ayah Swasti termangu-mangu. Namun
katanya kemudian, “Baiklah angger Jlitheng. Untuk sementara aku akan
mempergunakan nama panggilan itu.”
“Panggil saja namaku Kiai. Kiai tidak
perlu memakai sebutan apapun. Bagiku terasa lebih akrab dan akupun jauh lebih
muda dari Kiai. Mungkin sebaya atau lebih tua sedikit dengan anak Kiai.”
Ayah Swastipun tertawa semakin keras.
Tetapi Swasti menunduk semakin dalam. Rasa-rasanya pipinya menjadi tebal dan
lehernya tidak dapat diangkatnya. Sehingga untuk beberapa lamanya ia duduk
bagaikan membeku.
“Tetapi Kiai, akupun ingin mendengar
Kiai menyebut sebuah nama. Aku tidak peduli apakah itu benar-benar nama Kiai,
atau sekedar nama panggilan atau bahkan gelar Kiai.”
Orang tua itu tertawa. Jawabnya, “Aku
ingin memberi gelar kepadaku sendiri. Mungkin aku dapat menyebut beberapa gelar
kebesaran. Mungkin Gajah Limpad atau Garuda Yaksa atau gelar yang lebih dahsyat
lagi. Tetapi aku tidak dapat mengingkari namaku sendiri yang sederhana. Anak
muda, panggillah aku dengan namaku yang sebenarnya, Kiai Kanthi. Ya, namaku
memang Kiai Kanthi.”
Anak muda itu mangerutkan keningnya.
Sejenak ia seolah-olah sedang merenungi nama itu. Namun kemudian kepalanya
terangguk-angguk kecil. Dengan nada datar ia bertanya, “Aku memang tidak
bertanya, kemana Kiai akan pergi, tetapi aku sekarang bertanya, dari manakah
Kiai datang.”
Orang tua yang menyebut namanya Kiai
Kanthi itupun menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian, “Aku berasal dari
padepokan yang jauh ngger. Padepokan yang hancur dilanda gempa dan tanah longsor
yang dahsyat. Unturglah bahwa kami sempat mengungsi. Ada beberapa orang penghuni
padepokanku selain kami berdua. Merekapun sempat meninggalkan padepokan ketika
hujan lebat dan angin prahara mulai melanda padepokan kami. Air yang mengalir
dari lereng bukit bagaikan dituang dari langit. Ketika kemudian tanah bagaikan
diguncang, maka runtuhlah tebing bukit diatas Padepokanku. Sementara banjir yang
kemudian datang bagaikan menghanyutkan tanah garapan kami.”
“Kiai,” tiba-tiba anak muda itu
memotong, “apakah Kiai datang dari daerah Pucang Sewu disebelah Kali Buntung.”
Orang tua itu termangu-mangu.
“Sungai kecl itu memang seperti
setan. Dimusim kering airnya tidak lebih dari titik-titik embun. Tetapi jika
hujan turun dengan lebatnya, maka airnya dapat meluap sampai beratus-ratus
tonggak,“ desis anak muda itu.
Orang tua yang menyebut dirinya
bernama Kiai Kanthi itu masih termangu-mangu. Ditatapnya wajah anak muda itu
dengan tajamnya. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata,
“Tentu berita tentang bencana alam itu sudah sampai kepadukuhan ini.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya,
“Memang terdengar berita tentang bencana alam itu. Aku menghubungkan dengan
ceritera Kiai. Jadi apakah Kiai benar datang dari daerah Pucang Sewu yang
seakan-akan telah musnah itu ?”
Kiai Kanthi mengangguk. Jawabnya,
“Benar ngger. Aku adalah salah seorang penghuni Pucang Sewu. Pucang Sewu di
bagian Barat sampai saat ini masih tetap utuh. Tetapi agaknya daerah
persawahannya tidak akan mencukupi lagi. Sedangkan padepokanku bagaikan hanyut
oleh tanah yang longsor dilereng bukit, sedang sawah dan ladangku telah
dihanyutkan oleh banjir Kali Buntung.”
“Dan sekarang Kiai mencari tempat
untuk membuka padepokan baru,“ sahut Jlitheng, “agaknya Kiai memang senang
tempat dilereng bukit. Kali ini Kiai telah menuju kelereng bukit pula.”
Kiai Kanthi mengerutkan keninignya.
Kemudian sambil tersersyum ia menjawab, “Aku tidak pernah memikirkannya. Aku
tidak pernah menganggap bahwa tinggal di lereng bukit adalah lebh baik daripada
tinggal ditempat lain. Adalah kebetulan bahwa kali ini aku mengikuti arus air
dibawah tanah sampai kelereng bukit pula.”
Anak muda yang lebih senang dipanggil
Jlitheng itu tettawa. Katanya, “Marilah Kai. Aku antarkan Kiai memasuki hutan
ini. Sebelum pagi kita sudah akan sampai ditujuan.”
Kiai Kanthi memandang anak gadisnya
sejenak, seoah-olah ia ingin bertanya, apakah ia sudah tidak terlau lelah untuk
melanjutkan perjalanan, meskipun sejak semula Swasti minta kepada ayahnya untuk
melanjutkan perjalanan di malam hari.
Tetapi dalam pada itu, sebelum
ayahnya bertanya, Swasti sudah mendahului, “Terserahlah kepada ayah. Aku sudah
beriitirahat meskipun sebentar. Tetapi ayah sama sekali belum.”
“Akupun sudah,“ jawab ayahnya,
“ketika kau tertidur, aku sudah cukup beristirahat.”
Swasti tidak menjawab lagi.
Dipandanginya saja anak muda yang wajahnya nampak cerah dan selalu tersenyum itu
sejenak. Namun semakin lama wajah itu menjadi semakin kabur karena api
diperapian semakin susut.
“Baiklah,“ berkata ayah Swasti,
“marilah kita pergi.”
Swastipun kemudian bangkit sambil
membenahi dirinya dan sebungkus kecil pakaiannya. sementara ayahnya memadamkan
perapian agar apinya tidak menimbulkan bahaya kebakaran pada hutan dilereng
bukit itu.
Sejenak kemudian, ketiga orang itupun
telah melanjutkan perjalanann. Jlitheng berada dipaling depan. Dibelakangnya
berjalan Kiai Kanthi. Sedang dipaling belakang adalah Swasti.
Bagaimanapun juga Kiai Kanthi masih
juga harus berhati-hati. Ia sadar bahwa anak muda itu tentu anak muda yang
memiliki ilmu yang tinggi, sedangkan ia masih belum mengenalnya dengan baik,
sehingga kemungkinan yang tidak diharapkannya masih saja dapat terjadi.
Tetapi agaknya anak muda itu
benar-benar ingin menunjukkan mata air yang tersembunyi didalam hutan di bukit
itu. Langkahnya tetap, seolah-olah tanpa berpaling. Sekali-kali mereka harus
menyusuri celah-celah padas yang menanjak setinggi pepohonan. Namun sekali-kali
mereka harus berloncatan dari batu-batu raksasa kebatu berikutnya.
“Apakah tidak ada jalan lain yang
lebih baik ngger ?” bertanya Kiai Kanthi.
Jlitheng menyahut tanpa berherti,
“Ada Kiai. Tetapi jalan itu panjang sekali. Kita dapat menyusuri sela-sela
pepohonan. Jalannya memang lebih baik diri jalan yang kita tempuh sekarang.
Tetapi kita akan terlalu lama mencapai mata air itu.”
Kiai Kanthi tersenyum. Seakan-akan
kepada diri sendiri ia berkata, “Kau cerdik anak muda. Bukankah kau ingin
mengetahui, apakah anak gadisku mampu melakukan seperti yang kau lakukan
sekarang.”
“He?“ tiba-tiba saja Jlitheng
tertegun. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia berpaling sambil tertawa.
“Kiai mempunyai tangkapan yang tajam sekali. Dan sekarang ternyata bahwa Swasti
adalah seorang gadis yang luar biasa. Ia tidak saja mempunyai ketahanan tubuh
yang melampaui kebanyakan orang, bahkan laki-laki sekalipun, yang ternyata
dengan perjalanannya yang berat. Tetap iapun, mampu melewati jalan ini. Ia mamnu
berloncatan dari batu ke batu. Menanjak tebing dalam gelapnya malam. Mendaki
batu-batu padas yang licin oleh lumut hijau dan keseimbangan yang mantap.”
“Ah,“ Swasti berdesis, “jika aku
tahu, aku tidak mau.”
Jlitheng tertawa semakin panjang.
Katanya, “Tetapi semuanya sudah terjadi. Akulah yang akan dapat memanfaatkan
pertemuan ini sebaik-baiknya. Jika Kiai bersedia, aku akan mencoba mempelajari
ilmu yang tentu tersimpan tanpa batas di dalam diri Kiai.”
“Ah,“ potong Kiai Kanthi, “jangan
mengada-ada ngger. Aku sama sekali bukan orang yang kau maksud. Sekarang,
marilah. Kita melanjutkan perjalanan.”
Jlitheng menarik nafas panjang, iapun
kemudian mengangguk-angguk kecil. Tetapi tidak sepatah kata lagi keluar dari
mulutnya.
Ketiga orang itupun kemudian
melanjutkan perjalanan mereka. Kadang-kadang mereka mencuat dari hutan-hutan
kecil lewat batu-batu padas. Namun kemudaan mereka kembali memasuki hutan,
berjalan diantara pepohonan, dan kadang kadang menyusup diantara sulur-sulur
yang bergayutan.
Dalam gelap malam perjalanan mereka
terasa tersendat-sendat. Langkah mereka menjadi lamban dan sempit. Meskipun
mereka tetap maju menyusup semakin dalam.
Betapa tajamnya telinga Kiai Kanthi
ketika ia berdiri diatas batu padas yang basah, maka iapun berkata, “Jika kau
menyebut tempuran itu ngger, agaknya kita sudah berada diatasnya.”
“Ya Kiai,“ jawab Jlitheng, “karena
itu kita sudah hampir sampai. Disebelah kita akan menemukan air itu mengalir
diatas batu-batu padas dan tumpah kedalam parit-parit di sela-sela batu yang
membawa air itu masuk kebawah tanah dan mengalir menyatu dengan sungai yang
memang sudah terdapat sejak seberang bukit.”
Kiai Kanthi menarik nafas panjang.
Diluar sadarnya ia berpaling kepada anak gadisnya yang diketahuinya, tentu telah
menjadi sangat letih. Hanya karena tempaan yang pernah diterimanya dari ayahnya
sajalah, maka Swasti masih jalan dibelakangnya betapapun berat perjalanan itu.
Yang dikatakan oleh Jlitheng hampir
sampai itupun ternyata masih memerlukan waktu yang panjang. Mereka menyusup
semakin dalam diantara pepohonan.
Semakin jauh mereka berjalan, maka
semakin terasa pada kaki Kiai Kanthi, bahwa tanah memang menjadi semakin basah.
Oleh ketajaman perasaannya, maka Kiai Kanthi pun mengetahui, bahwa perjalanan
mereka memang sudah dekat.
Swasti menarik nafas dalam-dalam
ketika ia mulai mendengar gemerisik air. Bahkan rasa-rasanya ia ingin meloncat
berlari langsung menceburkan diri kedalamnya. Namun ia masih menahan diri.
Apalagi ia menyadari bahwa ia belum pernah menginjak daerah itu. Daerah yang
mungkin mempunyai rahasia yang dapat mencelakakannya.
Ternyata seperti yang diduganya, maka
Jlithengpun berkata, “Berhati-hatilah Kiai. Disini kita mendapatkan beberapa
jalur parit yang curam dan dalam, yang menampung air yang meluap dari sebuah
kolam.”
“O, semacam luweng maksudmu ngger ?”
“Ya. Luweng yang terbuka dan terbujur
memanjang.”
Kiai Kanthi tidak menjawab. Tetapi
pendengarannya yang semakin jelas, seolah-olah telah memberikan gambaran, betapa
berbahayanya daerah yang belum pernah dikenalnya itu.
Namun akhirnya merekapun sampai
kesebuah dataran yang agak luas. Hutan yang tumbuh pepat menunjukkan bahwa tanah
dibawah kaki mereka adalah tanah yang basah dan subur.
“Kita sudah sampai Kiai,“ desis
Jlitheng, meskipun yang nampak disekitar mereka hanyalah kelebatan hutan
semata-mata.
Tetapi Kiai Kanthipun menangkap
maksud anak muda itu. Iapun merasa bahwa ia telah sampai ketujuan. Hanya
kelebatan hutan dan kelamnya malan sajalah yang masih memberikan jarak antara
mereka dengan kolam yang sudah tidak jauh lagi dari mereka.
“Kiai,“ berkata Jlitheng. “tugasku
sudah selesai. Aku kira tidak ada lagi yang perlu aku kerjakan buat Kiai,
seandainya ada seekor bahkan dua ekor harimau datang bersama-sama sekalipun, aku
tidak perlu mencemaskan nasib Kiai dan anak gadis Kiai yang luar biasa itu.”
“Kau memang aneh anak muda,“ jawab
Kiai Kanthi, “namun demikian, aku kira kita masih akan berhubungan terus,
seperti aku pun ingin selalu berhubungan kelak dengan angger Daruwerdi. Bukankah
angger kenal baik dan bahkan mungkin bersahabat dengan angger Daruwerdi ?”
“Tentu Kiai. Meskipun kelompok
padukuhan kami dan kelompok padukuhan Daruwerdi diperintah oleh orang yang
berbeda, tetapi kami tetap rukun seperti keluarga, karena pada dasarnya kami
memang sekeluarga.”
“Tetapi aku melihat kelainan pada
sikap angger Daruwerdi,“ bertanya Kiai Kanthi.
Anak muda yang menyebut dirinya
Jlitheng itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah yang
berbeda Kiai ?”
“Menilik dari ujud lahiriahnya saja,
ia berpakaian lain dari kawan-kawannya. Dan maaf, agak berbeda pula dengan
pakaianmu ngger.”
“Ah. Kiai aneh sekali. Sudah barang
tentu pakaian kami berbeda-beda menurut selera kami masing-masing. Apakah Kai
dapat melihat perbedaan selera memilih pakaian sebagai sesuatu yang perlu
mendapat perhatian? Jika Kiai memperhatikan, mungkin terdapat kelainan pula pada
pakaianku dengan pakaian kawan-kawanku dan sebaliknya.”
Kai Kanthipun mengangguk-angguk.
Katanya, “Mungkin angger benar. Ya, agaknya aku memang sudah pikun.”
Jlitheng tertawa. Jawabnya, “Sudahlah
Kiai. Aku mohon diri. Besok aku akan datang lagi ketempat ini. Mungkin sendiri
mungkin bersama Daruwerdi. Ia tentu ingin juga bertemu dengan Kiai setelah ia
menolong Kiai dan anak gadis Kiai. Tetapi aku kira Kiai belum mengatakan bahwa
Kiai akan datang kemari kepada Daruwerdi.”
“Apakah angger akan memberitahukan
kepadanya ?” bertanya Kiai Kanthi, “dan apakah itu perlu ?”
Jlitheng mengerutkan dahinya. Dengan
suara datar ia bertanya, “Jadi bagaimana pesan Kiai ?”
“Sebaiknya jangan tergesa-gesa
memberitahukan kerada siapapun ngger. Aku kira aku lebih senang melihat daerah
ini untuk dua tiga hari, untuk dapat mengambil keputusan. apakah aku akan
menetap atau kemungkinan itu terpaksa aku lepaskan karena daerah ini kurang
memadai.”
“Baiklah Kiai. Tetapi aku berharap
Kiai akan kerasan tinggal dihutan ini. Disini ada air. Dataran yang cukup luas
dan pohon buah-buahan yang dapat untuk sementara membantu Kiai. meskipun
pepohonan yang memberikan buah-buahan yang dapat dimakan itu telah mengundang
beberapa jenis binatang. Disini banyak kera Kiai. Tetapi kera itu bagaikan
lenyap ditelan bukit, jika satu dua ekor harimau sampai ketempat ini.”
“Terima kasih atas segala keterangan
itu ngger. Aku akan melihat, apakah aku dapat berbuat sesuatu atas daerah ini.”
Anak muda yang menyebut dirinya
Jlitheng itupun sekali lagi minta diri dan meninggalkan Kiai Kanthi serta anak
gadisnya di daerah yang asing bagi keduanya itu.
Sejenak Kiai Kanthi masih
termangu-mangu. Ditebarkannya pandangan matanya kesekelilingnya. Tetapi gelap
sisa malam masih sangat membatasi jarak jangkau tatapan matanya. Namun tatapan
mata batin orang tua itu sudah melihat. bahwa didekat mereka terdapat sebuah
kolam yang airnya melimpah menglir bertebaran, menuju keparit-parit
dicelah-celah batu-batu padas yang seakan-akan telah disediakan oleh alam, yang
membawanya kedalam arus sungai dibawah tanah.
“Kita beristirahat Swasti,“ berkata
ayahnya, “tidak lama lagi, kita akan sampai keujung malam. Kita akan segera
menemukan air dan mempertimbangkan apakah kita dapat mempergunakan tempat ini.
Setelah terang, baru kita akan mengetahui keadaan disekitar kita.”
Swasti mengangguk. Dikuakkannya
rumput-rumput liar dibawah kakinya. Namun desisnya kemudian, “Tidak ada tempat
untuk tidur ayah. Tanah ini terlalu basah.”
“Ya, tanahnya terlalu basah. Tetapi
kau dapat beristirahat diatas dahan itu.”
Swasti mengangkat wajahnya.
Dilihatnya beberapa batang pohon besar. Dahannya yang bersilang melintang,
memberikan kemungkinan untuk beristirahat kepadanya.
“Tetapi apakah disini tidak ada
laba-laba hijau yang beracun, atau sebangsa cicak berleher merah ?”
“Mungkin memang ada Swasti, kita
belum mengenal daerah ini baik-baik. Karena itu berhati-hatilah.”
Swasti tidak menjawab. Tetapi iapun
kemudian mengumpulkan seonggok rerumputan liar dibawah sebatang pohon. Kemudian
dijatuhkannya dirinya, duduk sambil bersandar. Perlahan-lahan angin yang silir
terasa bagaikan membelai jantung, sehingga akhirnya, sambil duduk iapun
memejamkan matanya.
Ayahnyapun telah duduk didekatnya.
Sejenak ia mengamati anak gadisnya. Dalam tidur nampak remang-remang di dalam
kegelapan wajah gadis itu membayangkan beban yang berat menggantung dipundaknya.
“Kasihan,“ desis ayahnya. Bagamampun
juga sebagai seorang ayah ia dapat merasakan betapa berat perasaan anak gadisnya
mengikuti cara hidup yang dipilihnya. Kadang-kadang terngiang kata-kata
Daruwerdi tentang masa depan anaknya itu.
“Kakek mementingkan diri sendiri,”
kata-kata itu bagaikan terdengar bergema direlung hatinya berulang-ulang.
Kemudian, “Anak gadismu memerlukan masa depan sebagai seorang gadis sewajarnya.”
“Ah,“ desah orang tua itu. Namun
katanya kemudian didalam hati, seolah-olah ia telah mengucapkan janji. “Disini
aku akan membuka sebuah padepokan. Aku akan berusaha memberi kesempatan agar
Swasti dapat hidup sebagai seorang gadis sewajarnya, berkawan dengan gadis-gadis
yang lain dari kedua kelompok padukuhan itu.”
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Sekilas ia melihat wajah anaknya yang muram. Kemudian keningnya
menegang, ketika ia mendengar Swasti didalam tidurnya berdesah panjang.
Ternyata bahwa malam segera sampai
keujungnya. Langit menjadi merah. Sementara burung-burung liar berkicau
bersahut-sahutan.
Swasti membuka matanya. Dilihatnya
ayahnya masih duduk memeluk lutut.
“Ayah tidak beristirahat?“ bertanya
Swasti. Tetapi Swasti sendiri mengerti bahwa ayahnya tidak akan dapat tidur jika
ia sendiri sedang tidur nyenyak.
Ayahnya justru bangkit sambil
menggeliat. Katanya, “Aku sudah cukup beristirahat. Alangkah nyamannya pagi yang
bakal datang. Kita akan melihat, apakah yang ada disekitar tempat ini.”
Swastipun kemudan bangkit pula.
Setelah membenahi rambutnya maka iapun berkata, “Kita akan mencari mata air itu
ayah.”
Keduanyapun kemudian berjalan
menyibak lebatnya gerumbul-gerumbul diantara batang-batang pohon besar yang
tumbuh dihutan yang pepat itu. Namun seolah-olah Kiai Kanthi memiliki
penglihatan jauh melampaui wadagnya, sehingga ia pun dengan tepat telah memilih
arah yang benar menuju kesebuah kolam yang airnya melimpah-limpah disegala
musim.
Sejenak kedua orang itu
termangu-mangu. Cahaya pagi sudah mulai menembus rimbunnya dedaunan hutan dan
jatuh segumpal-segumpal diatas tanah yang lembab.
Dengan tegang keduanya memandang air
yang jernih meskipun kotor oleh daun-daun kering yang berjatuhan, tertimbun
didasar. Warna lumut yang hijau dan batang-batang kayu yang berpatahan silang
melintang. Namun dengan mata wadag, keduanya dapat melihat betapa
kelompok-kelompok ikan berenang dekat didasar kolam, menyusup diantara setimbun
sampah dan dahan-dahan yang rontok kedalam kolam itu.
Di luar sadarnya Swasti berkata,
“Tempat yang memungkinkan ayah. Kolam itu menyimpan ikan tidak terbilang
banyaknya dari bermacam-macam jenis. Agaknya seperti yang dikatakan oleh
Jlitheng. dihutan ini terdapat beberapa jenis pohon buah-buahan yang dapat
dimakan.”
Ayahnya mengangguk. Katanya,
“Nampaknya kita menemukan tempat yang kita cari. Meskipun demikian, kita akan
melihat barang satu dua hari. Apakah kita akan dapat membuka sebuah padepokan
disini. Kita akan melihat, apakah hujan yang lebat tidak akan meruntuhkan tebing
bukit itu dan menghancurkan lereng dibawahnya.”
“Tetapi nampaknya kolam ini sudah
berumur tua ayah. Jika tanah ditebing itu dapat diruntuhkan oleh air, maka kolam
ini tentu sudah tertimbun, meskipun sedikit demi sedikit, tetapi itu terjadi
setiap tahun dimusim basah.”
Ayahnya mengangguk-angguk. Namun
kemudan Swasti berkata, “Tetapi pohon besar itu ayah. Aku melihat kelainan dari
pohon-pohon yang lain. Aku melihat didahannya terdapat jenis daun yang
berlainan.”
Ayahnya memperhatikan pohon besar
itu. Iapun melihat jenis daun yang berbeda. Namun iapun melihat serat-serat kayu
yang berbeda pada batangnya yang besar, yang bagaikan anyaman sulur-sulur yang
besar dan membelit tubuh batangnya.
“Memang pohon itu mempunyai
kelainan,“ berkata ayah Swasti. Namun kemudian, “kita akan mengetahui jika kita
sudah berada disini.”
Swastipun kemudian meletakkan
sebungkus kecil pakaiannya. Katanya, “Aku akan membersihkan diri ayah. Aku
memerlukan air itu.”
Ayahnya mengangguk. Namun pesannya.
Berhati-hatilah. Mungkin ditempat ini terdapat banyak ular atau binatang
berbisa.”
Swasti mengangguk sambil melangkah
meninggalkan ayahnya memasuki gerumbul dan hilang di rimbunnya dedaunan. Ia
mencari arus air yang melimpah dari telaga yang jernih tetapi kotor itu.
Rasa-rasanya Swasti sudah tidak tahan
lagi. Dua hari ia tidak mandi. Ia hanya sempat mencuci wajahnya diparit yang
kebetulan dijumpainya diperjalanan.
Tetapi Swasti terkejut ketika ia
mendengar daun berdesir. Ketika ia menengadahkan wajahnya, ia bersungut-sungut
karena dua ekor kera nampaknya sedang memperhatikannya.
“Pergi,” bentak Swasti. Tetapi kera
itu tetap ditempatnya. Baru ketika Swasti melemparnya dengan batu kerikil kera
itupun melompat dari dahan kedahan yang lain.
Sementara Swasti sedang mandi di
belakang gerumbul, dengan air yang melimpah dari kolam yang bagaikan disaring
oleh bebatuan sehingga daun-daun kering dan lumut yang terdapat ditelaga tidak
mengotori arus air itu. Kiai Kanthi dengan saksama memperhatikan tempat
disekitarnya. Ketika ia menengadahkan kepalanya, dilihat disebelah lain dari
kolam itu terdapat sebatang pohon gayam yang berbuah lebat.
“Ada juga pohon gayam di sini,“
gumamnya. Namun bagi Kiai Kanthi hal itu merupakan isyarat yang baik. Untuk
sementara pohon gayam itu akan dapat menjadi sandaran makan mereka sehari-hari
disamping ikan yang berkeliaran di kolam dan binatang buruan dihutan. Bahkan
dengan demikian ia yakin, bahwa ditempat itu tentu masih terdapat beberapa
batang pohon gayam lainnya dan mungkin juga pohon yang lain yang dapat
memberikan bahan makan baginya sebelum ia berhasil membuka sesobek ladang untuk
menanam padi.
Ketika kemudian Swasti kembali
ketempat itu, maka hampir diluar sadarnya Kiai Kanthi berkata, “Aku sudah
mendapat kepastian Swasti, bahwa kita akan tinggal disini.”
Swasti menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Aku senang ayah, bahwa aku tidak harus berjalan lagi menempuh jarak
yang tidak pasti.”
Kiai Kanthi memandang anaknya
sejenak. Terasa dihatinya, betapa letihnya anak gadis itu meskipun ia tidak
pernah membantah untuk mengikutinya kemana ia pergi.
“Ya Swasti,“ suara orang tua itu
menjadi dalam, “aku mengerti bahwa kau sudah tidak ingin lagi menempuh
perjalanan yang melelahkan. Tetapi kita akan mendapat pekerjaan baru. Kita akan
membuka hutan ini.”
Swasti termangu-mangu. Dipandanginya
beberapa jenis pohon yang besar yang tumbuh disekitar kolam itu. Suatu pekerjaan
yang mustahil dilakukan. Bagaimana mungkin ia berdua dengan ayahnya akan dapat
menebang pohon-pohon raksasa dan gerumbul-gerumbul perdu yang lebat dan bahkan
diantaranya berduri.
Kiai Kanthi agaknya melihat
keragu-raguan anak gadisnya. Karena itu maka katanya, “Swasti. Sudah barang
tentu kita tidak akan menebang pohon-pohon raksasa ini. Kita akan menebas
pohon-pohon perdu dan membiarkan satu dua pohon besar yang tumbuh disana.“
“Jadi, kita tidak akan membangun
padepokan ditepi telaga ini ayah ? Jika demikian, kenapa kita bersusah payah
mengikuti arus air dibawah tanah itu ?”
“Swasti. Kita sudah menemukan tempat
ini. Tempat ini akan menjadi sumber dari kehidupan dipadepokan yang akan kita
bangun. Kita akan mengalirkan air yang tidak terkendali ini ketempat yang paling
baik bagi sebuah padepokan. Tentu tidak jauh dari tempat ini.”
Swasti mengangguk-angguk kecil. Ia
mengerti maksud ayahnya. Dengan demikian yang harus mereka kerjakan adalah
menebang perdu dan mungkin ilalang di sekitar tempat itu. yang kemudian harus
menyiapkan sebuah parit untuk mengaliri daerah itu, agar dapat menjadi sawah
yang subur, yang akan dapat menampung tebaran benih padi.
“Kita akan beristirahat hari ini
Swasti,“ berkata ayahnya, “alam telah menyediakan makanan bagi kita. Ikan di
telaga itu, binatang buruan dihutan dan lihat, beberapa batang pohon gayam.”
Swasti mengangguk-angguk. Namun
wajahnya membayang harapan yang cerah. Apalagi kelika ayahnya berkata
seterusnya, “Selanjutnya Swasti. kita akan bertetangga dengan dua kelompok
padukuhan yang diperintah oleh dua orang buyut yang bersaudara kembar. Kita akan
hidup dalam lingkungan yang lebih luas dan bersahabat dengan banyak orang.”
Swasti menundukkan kepalanya. Terasa
sesuatu menyekat kerongkongannya. Setelah menempuh perjalanan yang panjang.
meninggalkan padepokan yang hanyut oleh banjir dan tanah longsor, maka
ditemuinya tempat tinggal yang akan dapat menjadi daerah harapan bagi masa
depannya.
Seperti yang dikatakan oleh ayahnya,
maka pada hari itu keduanya benar2 ingin berstirahat. Swasti memungut beberapa
buah gayam terjatuh dan mengamat-amatinya.
Namun dengan suara parau ia berkata,
“Kita belum mempunyai belanga untuk merebusnya ayah.”
Ayahnya mengangguk-angguk. Katanya,
“Aku akan menghubungi orang-orang padukuhan kelak. Dihari ini kita akan mencari
binatang buruan dan memanggangnya diatas api.”
“Ada sebatang pohon jambu keluthuk
ayah.”
“Tentu tidak hanya sebatang. Bijinya
akan terhambur dan tumbuh pohon-pohon yang lain disekitarnya.”
“Ya. Ya. Ada beberapa batang. Tetapi
beberapa ekor kera tentu telah mendahului memetik buahnya yang masak.”
Kiai Kanthi mengangguk-angguk.
Teringat olehnya kata-kata anak muda yang menyebut drinya bernama Jlitheng. Anak
muda itu akan kembali lagi untuk menengoknya, sehingga Kiai Kanthi itupun
berkata, “Swasti. jika benar anak muda itu akan datang lagi, aku akan minta
tolong kepadanya untuk meminjamkan belanga kepada kita.”
Swasti memandang ayahnya sejenak.
Tetapi ia tidak menyahut.
Yang dilakukan oleh Swasti kemudian
adalah duduk bersandar sebatang pohon sambil merenungi keadaannya. Merenungi
dirinya dan masa depannya, sementara ayahnya berusaha untuk menangkap beberapa
ekor ikan di telaga itu dengan kail. Dicarinya sepotong ranting kayu untuk
mengikat serat pengikat kailnya yang sudah diberinya umpan.
Ternyata Kai Kanthi tidak usah
menunggu terlalu lama. Kailnya segera bergetar, dan seekor ikan telah
menggelepar terkait oleh ujung kailnya.
Dalam pada itu. Jlitheng yang sudah
tiba dirumahnya, sama sekali tidak mengatakan ke pada … bahwa ia telah bertemu
dengan dua orang … sedang mengembara dan memasuki … kan iapun seperti yang
dikatakan. … mengajaknya bersama-sama meng … gir telaga itu. Pertemuannya deng …
kan pertanyaan didalam dirinya. … milih bukit itu untuk membangun … ditempatnya
yang lama benar-benar sudah tidak memungkinkan bagi mereka untuk dapat hidup ?
Atau kedatangannya ketempat ini didorong oleh maksud-maksud tertentu ?
Sambil membelah kayu di kebun
Jlitheng selalu berangan-angan tentang dua orang ayah dan anak itu. Bagaimanapun
juga, ia harus menerima kehadiran orang-orang baru dengan curiga. Apalagi
Jlitheng mengetahui dengan pasti, bahwa orang yang menyebut dirinya Kiai Kanthi
dan anak perempuannya yang bernama Swasti itu memiliki kelebihan dari
orang-orang kebanyakan.
Jlitheng berpaling ketika ia
mendengar seorang perempuan yang sudah separobaya memanggilnya. Dilihatnya
ibunya berdiri di pintu sambil berkata, “Aku akan memetik daun ketela pohon
sebentar Jlitheng. Kau tinggal dirumah saja. Jangan pergi.”
“Baiklah biyung. Aku akan
menyelesaikan kayu bakar ini,“ jawab Jlitheng. Namun tiba-tiba ia teringat
kepada kedua ayah dan anak itu sehingga katanya kemudan, “tetapi nanti aku akan
pergi sebentar biyung. Aku akan melihat apakah tanaman kita di pategalan dapat
bersemi.”
“Tunggu sampai aku pulang.”
Jlitheng hanya mengangguk saja.
Ketika ibunya meninggalkannya
sendiri, maka Jlitheng malah berangan-angan kembali.
Jlitheng terkejut ketika seorang anak
muda sebayanya datang berlari-lari sambil memanggil namanya sejak di halaman
depan rumahnya. Dengan serta merta iapun bangkit dan menyahut, “Aku disini.”
Anak muda itupun segera melingkari
rumahnya dan menemukannya dikebun belakang.
“Jlitheng,“ katanya dengan nafas
masih terengah-engah, “aku melihat Daruwerdi melintasi jalan kecil kebukit batu
yang gundul itu lagi. Bahkan ia telah berjalan tidak dengan kawan-kawannya dari
padukuhan sebelah. Aku melihat dua orang yang sama sekali belum aku kenal.”
Jlitheng mengerutkan keningnya.
Diluar sadarnya ia berdesis, “Apakah ada hubungannya dengan orang tua itu.”
“Orang tua yang mana ?“ bertanya
kawannya.
Tetapi Jlitheng menggeleng. Jawabnya,
“Tidak. Maksudku, apakah hubungannya dengan bukit batu yang gundul itu. Kita
sudah melihat ia, dua tiga kali pergi ke bukit batu gundul itu.”
Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi
kemudian ia bertanya, “Sebenarnya apakah kepentinganmu dengan Daruwerdi sehingga
kau menyuruh aku dan Jatra untuk memberikan kepadamu jika kami melihat Danuwerdi
pergi ke bukit gundul itu?”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Iapun kemudian duduk lagi sambil memungut parang kecilnya. Sambil membelah kayu
ia menjawab, “Tidak ada kepentingan apa-apa. Tetapi kau lihat, bahwa bukit batu
yang gundul itu benar-benar bukit batu padas yang keras dan tidak memberi
kemungkinan apapun juga. Tetapi Daruwerdi sering pergi ke bukit itu. Aku sudah
pernah melihat dua kali. Kau juga pernah melihat dua kali, tiga kali dengan
sekarang ini dan Jatra pernah melihatnya sekali. Nah, bukankah hal itu sangat
menarik perhatian ?”
“Kenapa kau tidak bertanya saja
kepadanya, apa yang dicarinya.”
Jlitheng mengerutkan dahinya. Sambil
tersenyum iapun kemudian berkata, “Duduklah disini.”
Kawannyapun kemudian duduk
disebelahnya. semenara Jlithengpun berkata, “Tentu saja aku tidak dapat berbuat
demikian. Bahkan aku berharap bahwa Daruwerdi tidak mengetahui bahwa kita sedang
mengawasinya, ia menganggap bahwa kita semuanya sama sekali tidak menaruh
perhatian atas tingkah lakunya. Atau katakan, kami anak-anak pedukuhan yang
bodoh ini tidak sempat memikirkan apakah yang dilakukan olehnya di pegunungan
batu yang gundul itu. Apalagi kadang-kadang ia datang dengan orang yang tidak
kita kenal sama sekali.”
Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi
nampaknya ia tidak puas dengan jawaban Jlitheng. Sehingga Jlitheng perlu
menjelaskan. “Dengarlah. Bukankah aku tidak minta kepada setiap orang untuk
memperhatikan Daruwerdi ? Aku hanya percaya kepada kau dan Jatra. Itupun aku
selalu berpesan, bahwa yang kita lakukan ini jangan diketahui oleh siapapum
juga. Kawan-kawan kita yang lainpun jangan mengetahuinya. Baru kelak jika kita
sudah pasti mengetahui apa yang dilakukannya, maka kita akan memberitahukan
kepada kawan-kawan dan kepada Ki Buyut.”
“Kenapa dengan Ki Buyut?”
“Maksudku, jika yang dilakukan oleh
Daruwerdi itu akan merugikan kita semuanya disini.”
“Apakah ruginya seandainya Daruwerdi
akan menelan bukit batu yang gundul itu ?”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Bukit batu yang gundul itu memang tidak berarti. Meskipun letaknya di
perbatasan antara dua kelompok padukuhan, namun baik Ki Buyut yang muda maupun
Ki Buyut yang tua sama sekali tidak memperhatikannya. Tetapi kini Daruwerdilah
yang menaruh perhatian besar terhadap bukit gundul itu.”
Anak muda yang duduk disebelah
Jlitheng itu mengangguk-angguk. Sementara Jlithengpun berkata terus, “Kita anak
padukuhan ini. Kita wajib mengetahui apa saja yang terdapat dipadukuhan kita.”
“Sebelum kau datang Jlitheng,“ sahut
temannya, “gunung batu yang gundul itu sama sekali tidak mendapat perhatian kami
disini.”
“Agaknya memang demikian. Akupun
tidak akan memperhatikan, jika Daruwerdi tidak memperhatikan gunung itu
berlebihan.”
“Coba sebutkan, siapakah yang datang
lebih dahulu. Kau atau Daruwerdi.”
Jlitheng tertawa. Katanya, “Mungkin
aku, tetapi mungkin Daruwerdi. Aku tidak tahu pasti kapan ia datang. Yang aku
ingat, aku tinggal di rumah biyung setelah pengembaraanku gagal. Aku tidak
mendapat apa-apa dipengembaraan. Maksudku, agar hidupku dapat bertambah baik.”
Anak muda disebelah Jlitheng itupun
berpikir sejenak. Namun Jlitheng berkata, “Jangan bersusah payah mengingat saat
kedatanganku dan kedatangan Daruwerdi. Tidak ada gunanya lagi.”
Kawannya mengangguk-angguk.
“Nah, aku masih tetap minta tolong
kepadamu untuk memberitahukan kepadaku jika kau melihat Daruwerdi datang kebukit
batu yang gundul itu. Hanya jika kebetulan kau melihat. Kau tidak perlu dengan
bersusah payah mengawasinya.”
Kawan Jlitheng itupun termangu-mangu.
Namun iapun kemudian mengangguk sambil berkata, “Karena kau sering menolong aku
mengerjakan pekerjaanku disawah, maka aku tidak dapat menolak permintaanmu itu
Jlitheng.”
Jlitheng tertawa. Katanya, “Anggaplah
ini sekedar suatu permintaan.”
“Tetapi permainan ini berbahaya
bagiku. Setiap orang mengetahui bahwa Daruwerdi bukannya anak muda seperti kita.
Ia mempunyai banyak kelebihan dan pengetahuannyapun sangat luas.”
Jlitheng mengangguk. Jawabnya, “Ya.
Karena itu, lakukanlah dengan tidak menimbulkan kesan apapun padanya. Apalagi
aku hanya ingin kau mengatakan kepadaku pada saat kau melihatnya tanpa membuang
waktu khusus untuk mengawasinya. Adalah kebetulan bahwa sawahmu terletak dijalan
menuju kebukit padas yang gundul itu.”
“Bukan kebetulan. Tentu kau memilih
aku dan Jatra karena sawah kami terletak didekat bukit itu.”
Jlitheng tertawa. Jawabnya, “Tepat.
Dan agaknya kau memang memiliki kecerdasan.”
Kawan Jlitheng itupun kemudian
berkata, “Baiklah. Aku akan kembali kesawah. tetapi coba katakan, apakah
hasilnya aku dengan terengah-engah memberitahukan kepadamu bahwa sekarang
Daruwerdi pergi kebukit padas itu. Kau, hanya mendengar berita sambil tersenyum,
tertawa kemudian mengangguk-angguk. Sementara nafasku hampir putus dan jantungku
berdebaran semakin keras.”
Jlitheng tersenyum. Katanya, “Untuk
sementara aku hanya ingin meyakinkan, bahwa ia memang sering sekali pergi
kebukit gundul itu. Selebihnya masih perlu diselidiki. Dan kau tidak perlu
berlari-lari begitu.”
Anak muda itu mengangguk-angguk.
Iapun kemudian minta diri untuk kembali kesawahnya.
Sepeninggal kawannya, Jlitheng
kembali duduk sambil membelah kayu. Beberapa potong ranting dan dahan-dahan
kecil yang sudah terbelah dan terkelupas kulitnya, di jemurnya dibawah sinar
matahari yang belum terlalu panas.
Namun dalam pada itu, ia mulai
teringat lagi kepada dua orang ayah dan anak gadisnya yang berada di bukit yang
diselubungi oleh hutan yang meskipun tidak terlalu luas, tetapi cukup lebat.
Tiba-tiba saja Jlitheng merasa bahwa
ibunya telah terlalu lama pergi. Ia ingin segera melihat, apakah yang sudah
dilakukan oleh Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang bernama Swasti itu.
“Ibu tentu singgah di rumah
tetangga,“ katanya kepada diri sendiri, “masih sepagi ini biyung sudah sempat
membicarakan buruk baik tetangga-tetangga yang lain.”
Tetapi ia tersenyum ketika melihat
seorang perempuan berjalan-jalan perlahan-lahan sambil menjinjing seikat
dedaunan.
“Sudah kau isi tempayan didapur itu?“
bertanya perempuan itu.
“Sudah biyung. Pakiwanpun telah penuh
dan kayu sudah kering sebagian. Tetapi tentu sudah berlebihan untuk hari ini.”
Perempuan itu mengangguk-angguk.
Ketika melangkahi pintu masuk kedalam rumah ia sempat berkata, “Apakah kau akan
pergi sekarang ?”
“Ya biyung. Aku akan pergi ke
pategalan.”
“Aku sudah pergi kepategalan. Aku
memetik lembayung, bukan daun ketela pohon.. Tetapi kalau kau akan pergi,
pergilah. Tetapi jangan terlalu lama.”
Jlitheng mengangguk sambil menjawab,
“Aku hanya sebentar.”
Ketika perempuan itu masuk,
Jlithengpun menyelipkan parangnya didinding. Sejenak ia membenahi pakaiannya,
sebelum ia dengan tergesa-gesa meninggalkan rumahnya.
Namun demikian, Jlitheng masih sempat
singgah di sawah sejenak. Dipandanginya bukit padas yang gundul diujung bulak
sebelum jalan menjadi semakin sempit dan menuju kepadang perdu dipinggir hutan
yang menyelubungi bukit agak jauh dari padukuhan.
Bukit gundul itu memang menarik
perhatiannya, karena Daruwerdi sering mengunjunginya. Tetapi ia tidak dapat
langsung menyelidiki bukit padas itu, karena ia menduga, bahwa Daruwerdi
mempunyai orang-orang yang dipercayainya mengawasi bukit gundul itu.
Namun sejenak kemudian Jlithengpun
meneruskan perjalanannya. Ia tidak mau menarik perhatian orang lain, sehingga
karena itu, maka iapun telah mencari jalan yang paling sepi. Ia singgah sebentar
dipategalan, agar orang lain tidak memperhatikannya. Namun Jlitheng berharap,
seandainya ada orang yang melihatnya pergi kehutan, mereka akan menganggapnya
sedang mencari kayu bakar seperti yang sering dilakukannya untuk ditimbun di
belakang rumah, sehingga apabila kayu itu sudah tertimbun banyak sekali, ia
tidak perlu bersusah payah lagi untuk tiga empat pekan.
Kedatangannya ditelaga dilorong bukit
itu telah mengganggu Kiai Kanthi dan Swasti yang sedang beristirahat. Swasti
tertidur sambil bersandar sebatang pohon besar, sementara Kiai Kanthi berbaring
diatas sebuah batu meskipun ia tidak memejamkan matanya.
“Silahkan Kiai,“ berkata Jlitheng
ketika ia melihat Kiai Kanthi bangkit dan mempersilahkannya.
“Aku sudah cukup lama beristirahat.
Badanku terasa segar sekali. Swastipun sempat tidur setelah kita mencicipi ikan
ditelaga itu.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Iapun
melihat perapian yang tampaknya baru saja dipadamkan.
Swasti yang terbangun pula, telah
bergeser melingkari pohon tempat ia bersandar, seolah-olah ia dengan sengaja
ingin menyembunyikan diri. Agaknya, kelelahan dan keletihan yang sangat, membuat
ia menjadi malas dan masih ingin melanjutkan tidurnya barang sejenak.
“Aku sudah melihat beberapa puluh
langkah disekitar tempat ini ngger,“ berkata Kiai Kanthi.
Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya
kemudian, “Jika Kiai sependapat, sebenarnya aku sejak lama sudah mempunyai
rencana. Tetapi bukan maksudku untuk mengatakan kepada Kiai, bahwa aku mempunyai
kesempatan pertama. Kiai tetap orang pertama yang akan membuka kemungkinan baru
bagi daerah ini dengan menguasai air.”
“Apakah rencanamu ngger?”
Jlitheng termangu-mangu. Namun
kemudian katanya, “Sebaiknya aku tidak mengatakannya.”
“Kenapa?“ bertanya Kiai Kanthi.
“Seolah-olah aku merasa bahwa aku
adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk melihat kemasa depan yang
panjang. Dan seolah-olah aku tidak mau menerima kenyataan bahwa Kiailah orang
yang pertama-tama melihat manfaat air di telaga ini.”
Kiat Kanthi tersenyum. Katanya, “Aku
bukan anak-anak ngger. Bukan pula orang yang ingin berada diatas nama orang
lain. Apakah aku harus menutup penglihatanku tentang angger yang tentu sudah
sejak lama memperhatikan air yang melimpah ini? Bukankah angger pernah berkata,
bahwa hambatan yang paling besar datang dari sanak kadang dan tetangga angger
sendiri yang menganggap bahwa setiap perubahan akan berarti pengingkaran
terhadap peradaban yang telah ada ?”
Jlitheng mengangguk-angguk. Kemudian
katanya, “Terserahlah kepada Kiai. Tetapi jika Kiai mau mendengar, biarlah aku
katakan serba sedikit tentang sebuah impian.”
“Katakan ngger?”
“Kiai, dibawah bukit ini telah
memerintah dua orang Buyut yang sebenarnya adalah saudara kembar.”
“Aku sudah melihat tugu kecil
bertulis yang merupakan batas dari dua kelompok padukuhan yang dipimpin oleh dua
orang saudara kembar itu ngger.”
“Ya Kiai. Tugu itu dibuat dekat
sebelum Ki Buyut yang lama, yang menjadi tetua daerah ini wafat.“ Jlitheng
berhenti sejenak, lalu, “Ternyata bahwa kedua anak kembarnya telah memenuhi
harapannya. Mereka memimpin kedua kelompok padukuhan itu dengan rukun sampai
saat ini. Nah, rencanaku itu adalah meyakinkan kedua orang Buyut itu bahwa air
akan sangat berguna bagi sawah mereka yang kering dimusim kemarau.”
“Kau sudah mencoba?”
Jlitheng menggelengkan kepalanya.
Katanya, “Belum Kiai.”
“Kenapa ? Apakah Ki Buyut menurut
pertimbanganmu juga tidak ingin melihat kemungkinan yang baik bagi masa depan
itu ?”
“Bukan Kiai. Aku memang belum
sempat.”
“Belum sempat? Apakah kerjamu selama
ini?”
Jlitheng tersenyum. Katanya, “Aku
juga belum lama kembali kekampung halaman setelah aku pergi merantau,
menjelajahi daerah yang luas.”
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah menduga. Angger tentu bukan sekedar anak
padukuhan ini, tidak lebih dan tidak kurang, kedipan angger itulah yang membuat
angger berbeda dengan kawan-kawan angger disini.”
“Aku pergi sejak aku masih kecil.
Itulah sebabnya ketika aku kembali kepada ibuku, seorang yang telah menjadi
janda, banyak orang yang tidak dapat mengenali aku lagi. Bahkan orang-orang tua
di padukulun inipun telah banyak yang melupakan, bahwa dari biyungku itu pernah
lahir seorang anak laki-laki yang kemudian menjadi besar diperantauan.”
Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Namun
dengan demikian ia mendapat sedikit gambaran tentang anak muda yang menyebut
dirinya Jlitheng itu. Jlitheng tentu bertemu dengan seseorang diperantauannya
yang kemudian membimbingnya dalam olah kanuragan. Setelah ia mempunyai bekal
yang cukup, maka ia melanjutkan perantauannya dan kemudian kembali ke kampung
halamannya.
Tetapi disamping Jlitheng masih ada
seorang anak muda yang lain, yang bernama Daruwerdi. Mungkin anak muda itu
mempunyai ceritera yang lain tentang dirinya.
Terbersit keinginannya untuk bertanya
sesuatu tentang Daruwerdi. Tetapi seperti yang pernah dilakukan, agaknya
Jlitheng tidak dapat atau tidak mau mengatakan tentang anak muda yang agak lain
dari kawan-kawannya dipadukuhan-padukuhan itu.
Kiai Kanthi menarik nafas ketika
Jlitheng bertanya, “Apakah yang Kiai renungkan ? Tentang perantauanku itu ? Atau
tentang hal lain yang bersangkut paut dengan air itu ?”
“Ya, ya ngger,“ Kiai Kanthi
terbata-bata, “tentu tentang air yang melimpah itu. Tentang rencanamu untuk
menguasai air dan memanfaatkannya bagi dua kelompok padukuhan itu. He, kau belum
menyebut nama kedua padukuhan itu?”
“Ditugu itu telah tertulis,“ jawab
Jlitheng.
“Yang ditulis hanyalah satu nama. Ki
Buyut telah memerintah daerah yang bernama Lumban, yang terdiri dari beberapa
padukuhan besar dan kecil dan tunduk kepada Yang Dimuliakan Maharaja Majapahit
yang atas kehendaknya dan disetujui oleh para bebahu, telah membagi daerahnya
menjadi dua bagian yang akan dipimpin masing-masing oleh seorang dari kedua anak
kembarnya.”
“Nah, itulah namanya. Lumban Kulon
dan Lumban Wetan. Ki Buyut yang tua memerintah Lumban Kulon, sedang Ki Buyut
yang muda memimpin kelompok-kelompok padukuhan di Lumban Wetan. Pembagian itu
telah terjadi pada masa kedua anak kembar itu masih muda. Sejak daerah ini masih
langsung tunduk dibawah kekuasaan Majapahit serta para Adipati dibawah kuasanya.
Sekarang, setelah kekuasaan berpindah ke Demak, dengan sendirinya kami berada
dibawah kekuasaan Sultan Demak. Dan kedua orang Buyut itu sudah menjadi
kakek-kakek. Sebenarnya kini anak-anak merekalah yang mengambil alih pimpinan
atas daerah Lumban Kulon dan Lumban Wetan.”
Kiai Kanthi mengangguk-angguk.
Gambarannya mengenal daerah yang dihadapinya menjadi semakin jelas.
“Nah Kiai,“ berkata Jlitheng
kemudian, “Kiailah orang yang pertama-tama akan melakukan pekerjaan yang tentu
akan sangat bermanfaat bagi daerah Lumban seluruhnya. Aku akan mencoba menjadi
penghubung kelak dengan kedua Buyut yang sudah tua itu, namun yang masih dengan
tekun berusaha memimpin daerah masing-masing sebaik-baiknya.”
“Terima kasih ngger. Tetapi yang
dapat aku lakukan dengan anak gadisku tentang merupakan pekerjaan yang sangat
lamban dan mungkin tidak banyak manfaatnya.”
Jlitheng tertawa. Katanya, “Kiai,
bukan maksudku untuk mengurangi kemungkinan yang dapat Kiai lakukan. Tetapi
adalah benar-benar karena aku ingin melihat manfaat dari air seperti yang Kiai
kehendaki.“ anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “apakah Kiai tidak
berkeberatan jika aku membantu Kiai. Mungkin Kiai memerlukan tenaga seorang
laki-laki untuk membantu Kiai bukan saja membuat parit untuk mengarahkan arus
air itu, tetapi juga untuk membuat sebuah gubug kecil sebelum Kiai sempat
membuat sebuah rumah yang pantas.”
Tiba-tiba saja sebelum Kiai Kanthi
menjawab, terdengar suara Swasti dari balik pohon, “Itu tidak perlu ayah. Kita
yang sudah menetapkan rencana sejak kita belum bertemu dengan siapapun, harus
berani melaksanakan sampai selesai tanpa orang lain.”
Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun
Kiai Kanthilah, yang menjawab, “Swasti. Hatimu memang keras. Tetapi kita jangan
menyia-nyiakam setiap uluran tangan. Memang kita yang sudah terbiasa hidup
terpisah karena kita tenggelam dalam kesibukan padepokan, kadang-kadang merasa
bahwa kita akan dapat menyelesaikan semua persoalan kita tanpa orang lain. Di
Pucang Sewu kita kurang rapat berhubungan dengan orang-orang padukuhan, sehingga
kita terlalu yakin akan diri kita sendiri. Swasti, sebaiknya kita merubah cara
hidup yang demikian. Setidak-tidaknya kita mulai mencoba menyesuaikan diri
dengan daerah yang baru ini.”
Sejenak Kiai Kanthi menunggu. Tetapi
ia tidak mendengar lagi jawaban anaknya. Orang tua itu sadar, bahwa kata-katanya
tentu tidak memberikan kepuasan sepenuhnya pada anaknya. Tetapi ia akan mencoba
untuk melakukannya. Mencoba untuk memperbaharui tata cara hidupnya diantara
orang banyak.
“Angger,“ berkata Kiai Kanthi
kemudian, “sebelumnya kami mengucapkan terima kasih. Mungkin kami masih harus
belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan kami yang baru di daerah Lumban ini.”
Jlitheng tersenyum. Katanya, “Baiklah
Kiai. Tentu akupun akan mencoba menyesuaikan diri dengan cara hidup Kiai dan
anak gadis Kiai. Tetapi Kiai jangan terlalu cemas. Aku telah melaksanakan pesan
Kiai untuk sementara tidak berceritera tentang kedatangan Kiai dan rencana Kiai
menetap disini. Tetapi jika Kiai mulai berbuat sesuatu disini, maka tanpa
mengatakan kepada siapapun juga, orang-orang Lumban tentu akan mengetahuinya
juga.”
Kiai Kanthi mengangguk-angguk.
Jawabnya, “Tentu ngger. Tetapi nampaknya orang-orang Lumban adalah orang yang
ramah seperti angger.”
Jlitheng tertawa. Kemudian katanya,
“Aku akan pulang dahulu Kiai. Besok aku akan datang sambil membawa alat-alat
yang Kiai perlukan. Aku akan datang sebelum matahari terbit agar tidak menarik
perhatian orang lain jika mereka melihat aku membawa kapak, cangkul dan
alat-alat lain.”
“Terima kasih ngger. Aku juga sudah
membawa satu dua macam alat seperti itu. Tetapi memang kurang mencukupi. Karena
itu, kami berterima kasih jika angger bersedia membawa untuk kami,“ Kiai Kanthi
menjadi ragu-ragu sejenak. Baru kemudian ia melanjutkan, “tetapi selain
alat-alat itu. sebenarnyalah kami memerlukan belanga dan tempayan.”
Jlitheng mengerutkan keningnya, namun
iapun kemudian tertawa pendek. Katanya, “Baiklah Kiai. Aku akan membawa belanga,
kelenting dan tempayan.”
Sesaat kemudian Jlitheng itupun telah
meninggalkan Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang bersungut-sungut. Dengan nada
datar Swasti berkata, “Ayah sudah menyeret orang lain dalam kerja ini.”
Ayahnya tersenyum. Jawabnya, “Jangan
marah Swasti. Pertolongan itu harus kita terima. Nampaknya Jlitheng bukan
seorang yang mempunyai pamrih terlalu banyak. Apalagi ia memang sudah mempunyai
rencana sebelumnya.”
“Tidak. Rencana itu baru timbul di
kepalanya setelah ia bertemu dengan ayah.”
“Kau salah Swasti. Jlitheng tentu
sudah memperhatikan air ini sejak lama. Jika tidak, ia tidak akan mengenal
daerah ini demikian baiknya seperti mengenal halaman rumahnya sendiri.”
Swasti tidak menjawab. Agaknya yang
dikatakan ayahnya itu memang benar.
Dalam pada itu, Jlitheng telah turun
dengan tergesa-gesa agar ibunya tidak menunggunya terlalu lama. Ia masih harus
mencari beberapa potong kayu untuk menghilangkan jejak pertemuannya dengan orang
tua yang masih belum bersedia untuk dikenal oleh orang lain itu.
Tetapi Jlitheng tidak mengalami
kesulitan untuk mendapatkan beberapa potong kayu. Bahkan dalam waktu yang
singkat ia sudah memanggul seonggok kayu yang sudah agak kering.
Namun langkahnya terhenti ketika ia
sampai dipinggiran hutan itu. Ia mendengar suara orang bebantah. Cukup keras,
sehingga suaranya menembus pepohonan yang sudah mulai menipis.
Karena itu, maka Jlithengpun kemudian
sangat berhati-hati. Ia jarang mendengar orang-orang Lumban berbantah. Bahkan
seandainya mereka orang Lumbanpun. apakah yang mereka cari dipinggir hutan itu ?
Debar jantung Jlitheng menjadi
semakin keras ketika suara itu menjadi semakin dikenal. Diluar sadarnya ia
berdesis, “Daruwerdi.”
Sebenarnyalah ketika ia dengan sangat
berhati-hati berhasil mengintip dari balik gerumbul-gerumbul yang lebat di
pinggiran hutan itu, ia melihat Daruwerdi sedang berbantah dengan dua orang yang
berwajah kasar.
“Aku tidak akan berkata apa-apa
tentang pusaka itu,“ berkata Daruwerdi.
“Kau jangan membuat kami marah,“
sahut salah seorang dari kedua orang berwajah kasar itu, “Kiai Pusparuri sudah
memberikan wewenang kepadaku untuk mendapat keterangan tentang pusaka itu dari
seorang anak muda dari Lumban yang bernama Daruwerdi. Apakah kau masih akan
ingkar.”
“Sudah seribu kali aku katakan. Aku
tidak ingkar. Aku adalah Daruwerdi yang mengerti serba sedikit tentang
pusaka-pusaka itu. Tetapi aku hanya akan berbicara dengan Kiai Pusparuri sendiri
atau kepada seekor ular sanca bertanduk genap.”
“Persetan, aku tidak mengerti
kata-katamu. Jangan mengingau seperti orang gila. Katakan sesuatu tentang pusaka
itu, atau berikan saja kepada kami jika memang sudah berhasil kau dapatkan.”
Daruwerdi menjadi semakin tegang.
Dari balik gerumbul Jlitheng melihat, bagaimana anak muda itu berusaha
mengendalikan diri.
“Ki Sanak,“ berkata Daruwerdi,
“jangan memaksa. Kecuali jika aku berhadapan dengan seekor ular sanca bertanduk
genap.”
“Anak iblis. Kenapa kau mengigau
tentang ular sanca. Kiai Pusparuri sudah memberikan wewenang kepada kami untuk
melakukan apa saja. Aku harus kembali kepadepokan Pusparuri dengan keterangan
yang jelas atau membawa pusaka itu langsung untuk kami serahkan kepada guru.”
Daruwerdi menggeleng. Jawabnya, “Ki
Sanak. Jelas bahwa kalian bukannya utusan Kiai Pusparuri. Kalian sama sekali
tidak membawa tanda-tanda atau ciri dari padepokan Pusparuri.”
“Aku adalah muridnya terpercaya. Aku
memakai sabuk kulit ular. He, apakah sabuk semacam ini yang kau maksud dengan
ular sanca, bertanduk genap ?”
Daruwerdi tiba-tiba saja tertawa.
Katanya, “Ikat pinggang semacam itu dapat dibuat oleh siapa saja. Setiap orang
dapat menangkap seekor ular sanca, kemudian mengambil kulitnya.”
“Jadi apa yang kau maksud dengan
tanda-tanda atau ciri dari padepokan Pusparuri. Dan apakah yang kau maksud
dengan ular sanca bertanduk genap?”
“Itulah yang menunjukkan kepadaku,
bahwa kalian sama sekali bukan utusan dari padepokan Pusparuri. Jika kau memang
murid Kiai Pusparuri, kalian akan dapat mengatakan, ciri-ciri khusus dari
padepokan itu atau kalian tahu pasti siapakah ular sanca bertanduk genap itu.”
Wajah kedua orang itu menjadi merah
padam. Yang bertubuh tinggi besar menggeram, “Persetan. Menurut Kiai Pusparuri,
hari ini aku harus menjumpaimu disini. Kau kira dari siapa kami mengetahui,
bahwa aku harus datang menemuimu disini ?”
Daruwerdi termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian katanya, “Mungkin kau dapat menyadap rahasia pertemuan itu.
Tetapi aku tetap yakin, bahwa kalian bukan murid Kiai Pusparuri.”
“Jadi, kau tetap tidak mengakui
kehadiran kami ? Tempat ini hanya kami ketahui dari Kiai Pusparuri. Nama
Daruwerdipun kami dengar dari Kiai Pusparuri. Pesan untuk mengenakan ikat
pinggang kulit ular sanca inipun diucapkan oleh Kiat Pusparuri pula. Jika
mungkin Kiai Pusparuri lupa memberikan pesan yang lain, itu bukan salah kami.”
Daruwerdi memandang kedua orang itu
berganti-ganti. Namun akhirnya dengan ketetapan hati ia menggeleng dan menjawab
tegas, “Tidak. Aku tidak percaya kepada kalian.”
Kedua orang itu benar-benar sudah
kehilangan kesabaran Seperti Daruwerdi sendiri. Karena itu, maka ketika kedua
orang itu bergeser merenggang, Daruwerdi justru meloncat surut sambil
mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.”
“Kau memang terlalu sombong anak
Lumban. Setinggi2 tinggi ilmu yang pernah kau capai, kau adalah anak padukuhan
kecil dan miskin. Apalagi kau berhadapan dengan dua orang sekaligus. Jika kau
masih mempunyai otak, pikirlah sepuluh kali lagi, sebelum kau menyesal.”
Daruwerdi menggeram. Dengan suara
datar ia menjawab, “Jangan mengigau lagi. Sebut siapa sebenarnya kalian berdua
sebelum kalian mati.”
“Gila. Kau, anak Lumban, akan
membunuh kami berdua?”
“Kita akan melihat, siapakah yang
akan terbunuh.”
Sejenak kedua orang berwajah kasar
itu termangu-mangu. Namun salah seorang berkata, “Aku akan menyampaikan kepada
Kiai Pusparuri, bahwa kami terpaksa membunuh anak Lumban yang bernama Daruwerdi,
karena ia sudah menghina utusan yang mendapat wewenang sepenuhnya dari padepokan
Pusparuri.”
Daruwerdi tidak menjawab. Tetapi ia
sudah bersiap sepenuhnya untuk bertempur melawan kedua orang itu.
Namun dalam pada itu, ketiga orang
yang sudah bersiap untuk berkelahi itu telah dikejutkan oleh suara derap seekor
kuda. Ketika ketiganya berpaling, maka mereka melihat seekor kuda yang berpacu
mendekat. Dipunggung kuda itu nampak seorang penunggang yang nampaknya sudah
terlalu lemah, sehingga seolah-olah tertelungkup memeluk leher kudanya.
Daruwerdi terkejut, Iapun segera
meloncat menyongsong penunggang kuda itu. Dengan serta merta ia berusaha meraih
kendali dan menahan kuda itu sehingga berhenti, sementara orang yang duduk
dipunggungnya benar-benar telah menjadi terlalu lemah untuk menarik kendali.
“Gila,“ tiba-tiba saja orang yang
bertubuh tinggi dan besar itu menggeram, “aku binasakan monyet yang ternyata
belum mati itu.”
Tetapi kawannya menahannya. Katanya,
“Tidak ada gunanya. Biarlah ia berceritera apa yang terjadi. Anak Lumban itu
memang keras kepala. Jika ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka ia akan
menyadari, dengan siapa ia berhadapan.”
Orang yang bertubuh tinggi besar itu
tertegun. Ia hanya flSSfiaSSfi saja ketika Daruwerdi menolong penunggang kuda
yang ternyata telah terluka parah itu. Dilambungnya tergantung sepasang sarung
pedang, tetapi sudah kosong.
“Sapa kau ?“ Daruwerdi meyakinkan.
“ular sanca bertanduk genap?”
“Ya,“ suaranya lemah, “bermata berian
dan bertaring baja.”
“Tepat. Tetapi kenapa kau ?”
“Tandukku telah patah dan taringku
telah lepas,“ suaranya semakin lemah, “aku sudah menduga bahwa keduanya akan
datang kemari. Mereka berhasil menyadap rahasia pertemuan ini. Mereka mencegat
aku diperjalanan. Mereka mencoba membunuh dan melepas ikat pinggangku. Tetapi
aku yakin, kau tidak akan mengatakan sesuatu kepada mereka.”
“Aku tahu bahwa mereka bukan utusan
Kiai Pusparuri. Tetapi bagaimana dengan kau ?”
Orang itu menjadi semakin lemah.
Namun dalam pada itu terdengar kedua orang kasar itu hampir berbareng tertawa.
Salah seorang dari mereka berkata, “Ia akan mati. Aku tidak peduli apakah ia
akan mengatakan siapa sebenarnya kami berdua, karena anak Lumban itupun akan
segera mati pula. Biarlah kita tidak mendapatkan rahasia tentang pusaka itu.
Tetapi jika anak itu mati, maka Pusparuri tentu tidak akan mendapatkannya pula.
Kita akan mulai bersama-sama dari permulaan, karena kita sama-sama tidak
mempunyai bahan apapun juga. Dalam berlomba dengan orang-orang Pusparuri, kita
masih mempunyai harapan.”
Kawannya tidak menyahut. Tetapi ia
hanya mengangguk-angguk kecil.
Sementara itu, Daruwerdi masih
menekuni orang yang terluka parah. Terdengar ia mengucapkan sepalah dua patah
kata yang tidak jelas. Namun tiba-tiba setelah meletakkan kepala orang itu
diatas rerumputan. Danuwerdi berdiri tegak. Dengan suara bergetar ia berkata,
“Jadi kalian adalah sepasang demit yang paling gila di pesisir Utara. Menurut
utusan Kiai Pusparuri, kalian berdua adalah murid-murid dari perguruan Kendali
Putih.”
Keduanya tertawa berbareng Orang yang
bertubuh tinggi besar menyahut, “Ya. Kami datang dari perguruan Kendali Putih
dipesisir Lor. Kami berdua telah mencegat tikus kecil yang ternyata kau sebut
sebagai ular sanca bertanduk genap. Tetapi ia bukan seekor ular. Ja tidak lebih
dari seekor tikus.”
“Gila. Kalianlah yang tidak malu.
Kalian berdua telah berkelahi seperti perempuan. Kalian tidak berani berperang
tanding menghadapi Ular Sanca bersenjata rangkap ini. Dan sekarang, kalianpun
tentu akan berbuat serupa.”
Keduanya tertawa. Yang seorang
menjawab, “Nasibmulah yang buruk. Kau akan mengalami luka parah dan akan mati.
Aku kira tikus itupun sudah mati ketika dengan tergesa-gesa aku datang ketempat
ini menggantikan kedudukannya. Tetapi, aku masih mempunyai pertimbangan. Jika
kau mau mengatakan sedikit saja mengenai rahasia pusaka itu, maka kau akan tetap
hidup.”
“Persetan. Tidak ada orang yang akan
tetap tinggal hidup jika ia tidak berusaha melindungi hidupnya sendiri
dihadapanmu. Setiap orang mengenal perguruan Kendali Putih yang sama sekali
tidak memiliki warna putih seperti namanya walau sepeletikpun.”
“Jika demikian, kaupun akan mati
seperti murid Pusparuri itu.”
Daruwerdi menggeram. Ia sudah bersiap
menghadapi segala kemungkinan. Namun ia masih sempat berkata kepada orang yang
lerluka parah itu, “Kuatkan. Aku akan membunuh keduanya, dan aku akan berusaha
mengobati luka-lukamu. Di Lumban ada seorang dukun yang pandai.”
Yang terdengar adalah kedua orang
murid dari Kendali Putih itu tertawa. Yang seorang berkata, “Puaskan dirimu
dengan angan-angan gila itu. Baru kemudian kau akan mati.”
Daruwerdi tidak menjawab. Ia bergeser
setapak. Kemudian berdiri dengan kaki renggang dan merendah diatas lututnya.
Orang yang bertubuh tinggi besar
itulah yang tidak sabar lagi. Dengan garangnya ia segera menyerang lawannya. Ia
tidak mau membuang banyak waktu, sehingga dengan serta merta ia sudah
mempergunakan senjatanya yang mengerikan. Sebatang besi sepanjang pedang yang
kasar dan dibeberapa tempat nampak seolah-olah bergerigi tajam.
Sementara kawannyapun telah mencabut
senjatanya pula. Benar2 sebuah pedang yang besar.
“Sebutlah nama ayah bundamu untuk
yang terakhir kali,“ geram orang bertubuh tinggi dan besar itu.”
Daruwerdi meloncat mengelakkan
serangan lawannya sambil berdesis, “Kita akan melihat, siapakah yang akan mati.
Aku atau kalian berdua.”
Kedua lawan Daruwerdi tidak menjawab.
Mereka serentak menyerang dengan garangnya. Senjata mereka terayun-ayun
mengerikan, sementara orang yang bertubuh tinggi besar itu menggeram seperti
seekor harimau yang merunduk mangsanya.
Daruwerdi tidak mau menjadi korban
senjata-senjata lawan yang mengerikan itu. Iapun kemudian mencabut pedangnya
pula. Dengan lincahnya ia berloncatan melawan kedua lawannya yang ternyata
sangat garang dan kekar.
Beberapa langkah dari arena itu,
murid dari perguruan Pusparuri yang sudah menjadi semakin lemah, mencoba untuk
melihat pertempuran yang sengit itu. Meskipun pandangan matanya mengabur, namun
ia melihat, betapa kasarnya orang-orang dari perguruan Kendali Putih itu.
Seperti yang telah terjadi, maka ia tidak dapat mengelakkan diri dari bencana
melawan keduanya.
Meskipun keseimbangan perasaannya
tidak secerah saat-saat ia belum terlukai, namun ia masih dapat melihat, bahwa
kedua orang Kendali Pulih itu memang orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi,
disamping sifat mereka yang kasar dan liar.
Tetapi Daruwerdi dengan segala
kemampuannya, berusaha untuk dapat mengimbangi lawannya, ia tidak mau jatuh
menjadi korban seperti murid Kiai Pusparuri yang. diberi nama di Ular Sanca
bertanduk genap itu.
Selain murid dari perguruan Pusparuri
itu. dibelakang gerumbul masih ada orang lain yang memerhatikan perkelahian itu
dengan saksama. Sekali-kali nampak keningnya berkerut. Namun kemudian anak muda
dibelakang gerumbul itu menark nafas lega.
Jlithengpun mengikuti perkelahian itu
dengan dada yang berdebar-debar. Ia melihat kegarangan dua orang dari perguruan
Kendali Putih. Mereka bertempur bukan saja dengan ilmu yang mapan, tetapi mereka
kadang-kadang juga berteriak2 dan membentak2 seperti orang-orang yang kerasukan
setan.
Sejenak Jlitheng termangu-mangu.
Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya. Kadang-kadang ia menjadi bingung,
apakah ia akan tetap bersembunyi ditempatnya. Apakah ia akan tetap membiarkan
tingkah laku yang tidak jujur dari orang-orang Kendali Putih. Setelah usahanya
untuk menipu Daruwerdi tidak berhasil, maka ia mempergunakan kekerasan untuk
membinasakannya sama sekali.
Tetapi Jlithengpun merasa bimbang,
karena dengan demikian, maka ia akan terlibat dalam persoalan yang tidak
diketahuinya, dan yang bahkan justru ingin diketahuinya. Mungkin peristiwa itu
ada hubungannya dengan tingkah laku Danuwerdi yang kadang-kadang menarik
perhatiannya. Terutama karena Daruwerdi mempunyai perhatian yang khusus terhadap
bukit padas yang gundul itu.
Selagi Jlitheng termangu-mangu, maka
perkelahian itupun menjadi semakin sengit. Ternyata bahwa Daruwerdi benar-benar
seorang yang memiliki kemampuan yang sangat mengagumkan.
Karena itulah maka kedua orang dari
Perguruan Kendali Putih itu menjadi heran. Mereka mengira bahwa anak muda dari
Lumban itu tidak akan terlalu sulit diselesaikan. Menurut dugaan mereka, murid
Pusparuri itu sama sekali tidak berdaya melawan mereka berdua. Apalagi anak
padukuhan terpencil.
Tetapi ternyata bahwa Daruwerdi mampu
mengimbangi kemampuan mereka berdua. Dencan tangkas Daruwerdi berloncatan
menghindari serangan senjata lawan. Tetapi dengan tangkas pula ia berloncatan
menyerang. Pedangnya berputar seperti baling-baling. Tetapi tiba-tiba saja
terayun mendatar menyambar perut. Namun kadang-kadang terjulur mematuk seperti
seekor ular bandotan.
Kedua lawannya menjadi bingung.
Pedang ditangan Daruwerdi seolah-olah beterbangan disekitar tengkuk dan lambung
mereka.
Dengan demikian maka kedua orang dari
Perguruan Kendali Putih itu bertempur semakin kasar. Mereka mencoba untuk
menyerang Daruwerdi dari dua arah yang berbeda. Dengan demikian mereka mencoba
untuk memecah perhatian anak muda dari Lumban itu.
Tetapi ternyata mereka tidak
berhasil. Daruwerdi mampu menempatkan dirinya. Iapun mengimbangi langkah-langkah
lawannya yang panjang. Dengan tepat ia meloncat menempatkan diri pada sisi yang
lepas dari garis serangan lawannya. Bahkan tiba-tiba saja ialah yang meloncat
dan mengejutkan lawannya dengan serangan yang tidak terduga.
“Darimana anak Lumban ini mendapatkan
ilmu iblis itu,“ geram salah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu.
Daruwerdi yang juga mendengarnya
menjawab, “Aku tidak pernah mempelajari ilmu apapun. Tetapi karena kalian
menempuh garis hidup yang salah, maka ada sajalah yang membantu aku untuk
membunuh kalian berdua.”
“Persetan dengan tahayul itu,“ geram
orang yang tinggi besar, “kekuatan dan ilmu kanuragan akan menyelesaikan semua
masalah. Kaupun akan segera mati dengan perut terbelah.”
Daruwerdi tidak menjawab. Ia
memusatkan perhatiannya kepada serangan lawannya.
Ketiga orang itupun kemudian
berputaran Senjata mereka telah terayun menghantam dahan-dahan pepohonan.
Gerumbul-gerumbul perdu dipinggir hutan itu bagaikan terbabat bersih, sementara
batang besi orang bertubuh tinggi itu telah mematahkan pepohonan diarena
perkelahian itu.
Jlitheng menjadi cemas. Jika arena
itu menjadi semakin luas dan sempat ketempatnya bersembunyi. maka ia tidak akan
ingkar lagi. Ia harus terlibat kedalam persoalan yang belum dimengertinya itu.
Untunglah, bahwa berkisarnya arena
pertempuran itu tidak menuju kearah tempat Jlitheng bersembunyi. Karena itu, ia
tetap berada ditempatnya untuk melihat akhir dari pertempuran yang mendebarkan
jantung itu. Yang semakin lama menjadi semakin seru. Langkah-langkah mereka
menjadi semakin cepat, sedang ayunan senjata merekapun menjadi semakin
mengerikan. Angin yang terbersit dari ayunan senjata mereka yang bertempur itu
telah dapat mengguncang dahan-dahan kayu dan menggugurkan dedaunan yang mulai
menjadi kuning.
Namun semakin lama menjadi semakin
nyata, bahwa Danuwerdi tidak dapat dikuasai oleh kedua orang Kendali Putih itu
seperti murid perguruan Pusparuri yang berhasil mereka lukai. Bahkan semakin
lama Daruwerdi menjadi semakin cepat bergerak. Senjatanya semakin garang
menyambar-nyambar.
Dengan sebuah loncatan panjang
Daruwerdi menyerang orang yang bertubuh tinggi besar itu dengan ayunan senjata
mendatar. Namun tiba-tiba ia menggeliat dan kakinya yang menyentuh tanah telah
melontarkannya tinggi-tinggi. Serangannya segera berubah. Pedangnya terayun
menyambar kepala, seolah-olah Daruwerdi ingin membelah kepala itu pecah menjadi
dua.
Dengan serta merta orang bertubuh
tinggi besar itu menyilangkan senjatanya untuk menangkis serangan yang
mengejutkan itu. Sambil bergeser setapak ia memiringkan kepalanya.
Ketika sebuah benturan terjadi, maka
bunga apipun telah berloncatan diudara. Kedua senjata ditangan dua orang yang
berilmu tinggi itu bergetar. Namun ternyata bahwa tangan murid dari Kendali
Putih itu terasa bagaikan tersayat. Senjatanya hampir saja terlepas dari
tangannya yang bagaikan terkelupas.
Dengan loncatan panjang orang itu
menjauhi lawannya untuk memperbaiki keadaannya. Tetapi agaknya Daruwerdi
menyadari, bahwa keadaan lawannya itu menjadi semakin lemah. Karena itu, ia
tidak mau melepaskan kesempatan itu. Dengan cepat, iapun meloncat menyusul.
Tetapi Daruwerdi terpaksa berputar
ketika ia sadar, lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya pula dengan
pedang terjulur. Ternyata bahwa lawannya itupun mampu bergerak cepat dan
langsung memotong serangannya.
Daruwerdi berputar. Selangkah ia
bergeser, sehingga pedang lawannya terjulur sejengkal dari lambung.
Dengan cepat Daruwerdi
memperhitungkan keadaan. Ia sengaja melepaskan lawannya yang bertubuh tinggi
besar itu. Kini ia melihat pedang yang terjulur lurus. Karena itulah, maka
dengan serta merta ia memukul pedang itu dengan, sekuat-kuat tenaganya.
Getaran dari benturan pedang itu
terasa menggigit telapak tangan lawannya. Betapapun ia berusaha, namun pedang
itu telah meloncat dari genggaman.
Yang dihadapi oleh Daruwerdi adalah
seorang yang tidak bersenjata. Karena itu, maka jika ia berhasil memutar
pe-dangnya mendatar, maka ia akan dapat menyobek dada lawan menyilang.
Tetapi pada saat yang bersamaan,
orang bertubuh tinggi kekar itu telah mencoba menyelamatkan kawannya. Iapun
menyerang dengan serta merta. Dengan senjata ia memukul punggung Daruwerdi
sekuat-kuat tenaganya.
Daruwerdi menggeram. Ia terpaksa
meloncat menghindari serangan itu. Namun demikian kerasnya ayunan senjatanya,
maka orang itu justru terhuyung-huyung selangkah terseret oleh ayunan senjatanya
sendiri.
Kawannya melihat suatu kemungkinan
untuk memungut senjatanya yang terjatuh. Dengan satu loncatan ia berusaha meraih
pedangnya. Namun yang satu loncatan itu ternyata telah menyeretnya kedalam
pelukan maut, karena ujung pedang Daruwerdi seolah-olah telah menunggunya dan
langsung menghunjam kedalam jantungnya.
Terdengar sebuah keluhan tertahan.
Namun ketika Daruwerdi menarik pedangnya, maka orang itu langsung jatuh ditanah.
Mati.
Saat-saat yang demikian itu telah
mengguncangkan hati lawan Daruwerdi yang lain. Ia mencoba mempergunakan
saat-saat Daruwerdi menarik pedangnya yang terhunjam ketubuh lawannya. Sebuah
ayunan yang keras menghantam tengkuknya.
Namun Daruwerdi masih sempat
mengelak. Demikian pedangnya terlepas dari himpitan tubuh lawannya, iapun segera
meloncat mundur. Namun lawannya yang bagaikan menjadi gila menyerangnya dengan
serta merta. Sebuah sambaran mendatar telah mengarah kelambung.
Daruwerdi terpaksa menghindarinya
pula. karena ia belum siap untuk menangkis serangan itu. Namun ia terlambat
sedikit sehingga ujung tongkat besinya masih juga menyambar lengannya.
Daruwerdi berdesis. Lengannya telah
tersobek oleh gerigi yang terdapat pada tongkat besi yang mengerikan itu.
Namun dengan demikian hatinya serasa
menjadi terbakar. Kemarahan anak muda itu telah memuncak, sehingga wajahnya
menjadi merah padam semerah darahnya yang telah mangalir dari lukanya.
Tetapi Jlitheng yang melihat
pertempuran itu dari permulaan segera dapat menilai, bahwa yang seorang itu
tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Luka dilengan Daruwerdi tidak akan
banyak mempengaruhinya. Bahkan kemarahannya benar-benar telah memuncak, sehingga
tandangnyapun menjadi semakin garang.
Setelah murid Kendali Putih yang
seorang terbunuh, maka orang bertubuh tinggi besar itu tidak akan banyak dapat
memberikan perlawanan. Segera ia terdesak. Betapapun ia mencoba melindungi
dirinya dari sambaran pedang Daruwerdi yang marah itu, namun ia tidak banyak
berhasil. Rasa-rasanya, kejaran maut telah menjadi semakin dekat ketika ujung
pedang Daruwerdi berkali-kali telah berdesing ditelinganya.
Dan waktupun rasa-rasanya menjadi
semakin pendek bagi orang bertubuh tinggi besar itu. Ia tidak dapat berteriak
lagi karena nafasnya menjadi semakin pendek. Hidungnya justru seolah-olah telah
tertutup oleh dengusnya sendiri, sementara dadanya menjadi sesak.
Daruwerdi tidak banyak memberinya
kesempatan. Ia memburu dengan garangnya, ketika lawannya mencoba menghindarinya
dengan loncatan-loncatan surut.
Jlitheng memalingkan wajahnya ketika
tiba-tiba saja ia melihat pedang Daruwerdi menyambar perut lawannya. Justru
singgungan pada ujung pedang yang tajam itu, perut lawannya bagaikan tersayat
melintang.
Orang bertubuh tinggi besar itu masih
sempat menggeram. Namun sekali lagi Daruwerdi yang marah itu meloncat dengan
pedang terjulur.
Lawannya yang bertubuh tinggi besar
itu tidak dapat mengeluh lagi. Senjatanya yang mengerikan itupun terlepas dari
tangannya ketika ia mulai terhuyung-huyung dan jatuh tersungkur ditanah.
Daruwerdi berdiri termangu-mangu.
Sejenak kemudian iapun melangkah mendekati tubuh yang terbujur ditanah. Sekilas
iapun menatap mayat yang terbujur di sebelah lain dari arena itu pula. Dua orang
lawannya telah dibunuhnya.
Jlitheng memandang wajah Daruwerdi
yang kelam itu dengan hati yang berdebar-debar. Justru setelah kedua lawannya
dibunuh, Jlitheng harus menjaga dirinya, agar tidak menimbulkan suara yang
betapapun halusnya, karena ia yakin, pendengaran anak muda itupun sangat
tajamnya.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja
Daruwerdi teringat kepada utusan dari Pusparuri yang telah terluka parah. Dengan
tergesa-gesa iapun segera melompat mendekati tubuh yang terbaring diam itu.
“Ki Sanak,“ desis Daruwerdi sambil
berjongkok di samping tubuh itu, “he. ular sanca bertanduk genap.”
Wajah Daruwerdi menjadi tegang.
Diguncang-guncangnya tubuh yang terbaring diam itu.
“He, Ki Sanak. Ki Sanak.”
Dengan serta merta Daruwerdi
menempelkan telinganya didada orang itu. Namun kemudian dengan suara gemetar ia
bergumam, “Mati, iapun telah mati.”
Tubuh itu masih hangat. Tetapi
nafasnya lelah terputus sama sekali.
Daruwerdi kemudian berdiri termangu
mangu. Ia tersadar ketika terasa tangannya menjadi pedih oleh luka dilengannya.
“Gila,” ia menggeram.
Diambilnya sebuah bungkusan kecil
dikat pinggangnya. Kemudian ditaburkannya sebangsa serbuk pada lukanya.
Beberapa saat Jlitheng masih melihat
Daruwerdi termangu-mangu. Sekali-kali ia masih mengamat-amati mayat yang
terbaring direrumputan dengan darah yang bagaikan tergenang.
“AKU harus mencari orang untuk
menguburkan mereka,“ gumam Daruwerdi sambil melangkah pergi.
Ketika Daruwerdi telah hilang dibalik
gerumbul-gerumbul perdu untuk pergi kepadukuhan, maka Jlithengpun telah keluar
dari persembunyiannya. Didekatinya mayat-mayat itu satu demi satu. Pada murid
padepokan Pusparuri ia melihat dipergelangannya membelit sebatang akar berwarna
hitam dihiasi dengan kepala seekor ular yang terbuat dari perak.
“Ikat pinggang orang ini telah
diambil oleh murid dari perguruan Kendali Putih itu,“ desis Jlitheng.
Selebihnya anak muda itu tidak
menemukan apapun juga. Namun bagi Daruwerdi agaknya yang penting adalah sebutan
sandi dari ular sanca bertanduk genap itu, yang dijawabnya dengan mata berlian
dan bertaring baja.
“Apakah ia orang pertama setelah Kiai
Pusparuri sendiri ?“ bertanya Jlitheng didalam hatinya. “Tetapi siapa-pun ular
sanca itu, namun ternyata Daruwerdi mengetahui sesuatu rahasia tentang sebuah
pusaka.”
Diluar sadarnya Jlitheng melayangkan
pandangan matanya kearah bukit padas yang gundul tidak terlalu jauh dari hutan
itu. Bukit padas yang telah menarik perhatiannya.
Anak muda itupun sadar, bahwa
persoalan yang ingin diketahuinya itu agaknya telah menyangkut beberapa pihak
diluar padukuhan-padukuhan kecil yang bertebaran didaerah yang tidak terlalu
luas, di sebelah bukit. Bukit yang berhutan lebat dan bukit batu padas yang
gundul.
Ketika ia memungut senjata orang dari
perguruan Kendali Putih yang bertubuh tinggi besar itu, ia menarik nafas
dalam-dalam. Orang itu tentu mempunyai kekuatan yang sangat besar. Senjatanya,
sepotong besi yang diberikan semacam gerigi-gerigi kecil itu adalah termasuk
sebatang tongkat yang berat. Sedangkan orang yang terbunuh itu mampu
mengayunkannya seperti mengayunkan lidi.
Tetapi iapun menjadi kagum akan
kekuatan Daruwerdi. Anak muda itu mampu melawan dua kekuatan raksasa di
perguruan Kendali Putih yang telah berhasil membunuh ular sanca dari perguruan
Pusparuri itu.
Namun Jlitheng itupun segera
menyadari keadaannya. Iapun segera dengan tergesa-gesa mengambil seonggok kayu
yang akan dibawanya pulang. Ia tidak mau terlibat kedalam persoalan itu. Jika
Daruwerdi melihatnya sedang mengamat-amati mayat-mayat itu, maka mungkin sekali
anak muda itu akan mencurigainya pula.
Disepanjang jalan kembali sambil
membawa seonggok kayu diatas kepalanya, Jlitheng selaki memikirkan peristiwa
yang baru di lihatnya. Namun dengan demikian, ia menganggap bahwa Kiai Kanthi
agaknya tidak mempunyai hubungan langsung dengan Daruwerdi.
Meskipun demikian, ia mulai digelitik
oleh kecurigaan, bahwa kedatangan Kiai Kanthi dan anaknya itu bukannya karena
padepokannya yang lama tertimbun tanah longsor dan dihancurkan oleh badai dan
banjir. Tetapi apakah tidak mungkin bahwa kedatangan Kiai Kanthi itu juga
tertarik oleh berita yang sampai ketelinganya, bahwa anak muda yang bernama
Daruwerdi dari padukuhan Lumban telah menyimpan satu rahasia tentang sebuah
pusaka.
Ketika Jlitheng sampai dirumah,
ibunya sedang sibuk berada di dapur. Sambil bersungut-sungut ibunya menyapanya,
“Kau tentu bermain-main dikali.”
“Tidak biyung. Aku langsung pergi
kehutan mencari kayu.”
“Tetapi lama sekali. Dan bukankah kau
masih mempunyai persediaan kayu yang cukup?”
“Langit sudah mulai kelabu. Jika
sebentar lagi musim hujan tiba, maka kita akan selalu diganggu oleh kayu bakar
yang basah, yang berasap dan yang menyakitkan mata.”
Ibunya memberengut. Katanya, “Kayumu
itupun masih basah. Mataku sampai merah meniupnya.”
Jlitheng tidak menjawab.
Dilontarkannya onggokon kayu yang dibawanya itu di sebelah longkangan.
“Nanti sajalah aku masukkan
kebelakang lumbung.”
“Jika kau mau makan, makanlah. Nasi
sudah masak.
Jlitheng membersihkan dirinya di
pakiwan. Kemudian iapun masuk kedapur. Nasi dan lauknya telah tersedia di glodok
bambu. Meskipun anak muda itu sibuk menyuapi mulutnya, namun lia masih saja
memikirkan peristiwa yang baru saja dilihatnya.
Ketika matahari telah menyusup
kebalik cakrawala di ujung Barat, Jlitheng yang seperti biasanya duduk di mulut
lorong padukuhannya bersama beberapa orang kawannya, telah mendengar ceritera
tentang peristiwa yang terjadi. Salah seorang kawannya berkata dengan sangat
bernafsu, “Mereka akan merampok Daruwerdi. Tetapi ternyata Daruwerdi memang
seorang yang luar biasa. Ia mempunyai kekuatan dan ilmu yang tidak dipunyai oleh
orang lain. Ilmu yang mungkin langsung diterimanya dari langit.”
“Dari mana kau ketahui hal itu ?“
bertanya Jlitheng.
“Setiap orang mengatakannya. Beberapa
orang dari Lumban Kulon ikut membantunya menguburkan orang-orang itu. Mereka
membawa senjata yang mengerikan,“ jawab anak muda yang berceritera itu.
“Apakah Daruwerdi juga bersenjata ?“
bertanya Jlitheng.
“Agaknya Daruwerdi dapat melihat apa
yang bakal terjadi. Sebelum ia dirampok orang, ia selalu mempersiapkan senjata
pula. Nampaknya ia memang selalu membawa sebilah pedang.”
“Tetapi ia mempunyai jimat,“ desis
anak muda yang lain, “Daruwerdi kebal dari segala macam senjata.”
“Tetapi ia terluka,“ tiba-tiba saja
diluar sadarnya Jlitheng menyahut.
Semua orang berpaling kearahnya.
Seorang anak muda yang duduk didekatnya bertanya, “Siapa yang mengatakan bahwa
ia terluka?”
Jlitheng termangu-mangu sejenak. Lalu
katanya, “Aku justru ingin bertanya, siapakah yang sore tadi mengatakan, bahwa
Daruwerdi terluka.”
Tiba-tiba saja salah seorang dari
mereka yang ingin dianggap paling tahu menjawab, “Ya. Daruwerdi memang terluka.
Tetapi luka itu sama sekali tidak berarti. Justru lukanya itulah yang
menunjukkan bahwa ia adalah seorang anak muda yang kebal. Jika kau melihat
senjata lawannya, maka setidak-tidaknya tangan Daruwerdi seharusnya sudah patah.
Tetapi tangan itu hanya lecet saja sedikit.”
Anak-anak muda yang mendengarkan
ceritera itu mengangguk-angguk. Mereka masih duduk lebih lama lagi untuk
mendengarkan ceritera-ceritera yang semakin lama menjadi semakin jauh dari
kenyataan yang telah dilihat oleh Jlitheng. Anak-anak Lumban Kulon dan Lumban
Wetan agaknya terlalu mengagumi Daruwerdi.
Tetapi Jlitheng tidak membantahnya.
Ia membiarkan anak-anak muda Lumban itu membuat khayalan-khayalan tersendiri
tentang Daruwerdi yang mereka kagumi.
Ketika kemudian malam menjadi gelap,
dan anak-anak muda Lumban itu telah mulai merasa terganggu oleh nyamuk yang
menggigit tengkuk dan lengan, maka merekapun meninggalkan mulut lorong. Hanya
mereka yang bertugas ronda sajalah yang kemudian pergi ke gardu disudut
padukuhan.
“Sayang, Daruwerdi tinggal di Lumban
Kulon,“ desis salah seorang dari mereka yang meronda, “beruntunglah anak-anak
muda Lumban Kulon yang mendapat perlindungan dari anak muda seperti Daruwerdi.”
Jlitheng yang juga pergi ke gardu
mengangguk-angguk, Katanya, “Jika saja ia bersedia mengajari kita semua.”
Kawan-kawannya yang masih tinggal
mengerutkan keningnya. Yang seorang menyahut, “Tentui anak-anak Lumban Kulon
dahulu yang mendapat kesempatan jika ia bersedia.Tetapi sampai saat ini,
anak-anak Lumban Kulonpun belum ada yang diajarinya dalam olah kanuragan.”
“Apakah mereka pernah minta kepadanya
?“ bertanya Jlitheng.
“Entahlah,” jawab kawannya, “tetapi
ketika aku singgah di Lumban Kulon tadi siang, nampaknya merekapun ingin
mendapat kesempatan itu. Apalagi ketika mereka menyadari, bahwa ada juga
perampok yang sampai di padukuhan ini. Meskipun ,tidak banyak harta benda yang
tersimpan di Lumban Kulon dan Wetan, namun sebaiknya kita harus berjaga-jaga.
Jika kebetulan Darawerdi ada, maka persoalannya akan tidak terlalu berat. Tetapi
jika kebetulan ia pergi.”
Jlitheng tidak menyahut. Ia hanya
mengangguk-angguk saja seperti beberapa kawannya yang lain.
Ketika malam menjadi semakin dalam,
maka tiba-tiba saja Jlitheng berkata kepada kawan-kawannya, “Aku akan pergi
kesungai sebentar. Tetapi mungkin aku akan terus menengok sawah. Aku lupa,
apakah aku sudah mengaliri air sore tadi.”
“Ah, kau. Kau terlalu ceroboh dengan
sawahmu. Itulah sebabnya, kadang-kadang ibumu marah kepadamu. Air hanya setitik,
dan kau tidak memanfaatkannya.”
Jlitheng tidak menyahut. Iapun
kemudian berlari menghambur kedalam gelapnya malam.
Tetapi Jlitheng tidak pergi ke sungai
dan kesawah. Ia pasti, bahwa sawahnya telah diselenggarakannya sebaik-baiknya.
Dalam gelapnya malam Jlitheng
berjalan tergesa-gesa menuju kebukit. Bahkan kadang-kadang ia berlari-lari kecil
disepanjang pematang. Namun bagaimanapun juga ia sadar, bahwa ia harus
berhati-hati. Padukuhan Lumban tenyata tidak saja dijamah oleh Daruwerdi dan
kawan-kawannya yang masih merupakan rahasia baginya, tetapi juga oleh
orang-orang dari pihak lain yang saling bermusuhan.
Jlitheng tahu pasti, bahwa perguruan
Pusparuri dan perguruan Kendali Putih tidak akan menghentikan usahanya sampai
batas kematian satu dua orang-orangnya. Yang masih akan mereka lakukan tentu
masih terlalu banyak. Bahkan mungkin perguruan-perguruan lainpun akan segera
tersangkut pula.
“Bahkan mungkin orang tua dan anak
gadisnya itu,“ desis Jlitheng, “dan apakah dapat diyakini kebenarannya, bahwa
gadis itu adalah benar-benar anaknya?”
Bagaimanapun juga, Jlitheng memang
harus berhati-hati menghadapi keadaan yang masih samar-samar baginya.
Sejenak kemudian anak muda itu sudah
memasuki hutan di kaki bukit. Tetapi daerah pebukitan itu telah dikenalnya
dengan baik. Karena itulah maka iapun tidak mengalami kesulitan untuk menemukan
sumber air yang dicari oleh Kiai Kanthi dan Swasti, betapapun gelapnya malam di
hutan yang cukup pepat.
Langkah Jlitheng tertegun ketika ia
teringat, bahwa ia belum membawa pesanan Kiai Kanthi untuk membawa belanga dan
tempayan.
“Biarlah, besok saja aku bawa,“
desisnya.
Kedatangan Jlitheng agak mengejutkan
Swasti yang sedang duduk merenung dalam kegelapan. Gadis itu sedang menggantikan
ayahnya berjaga-jaga. Ketika ia mendengar langkah mendekat, maka disentuhnya
kaki ayahnya, sehingga orang tua itupun telah terbangun.
Kiai Kanthipun segera mendengar desir
lembut mendekat. Namun untuk beberapa saat ia masih berdiam diri sambil
menunggu.
Swasti menarik nafas dalam-dalam
ketika ia mendengar seseorang berkata masih dalam kegelapan, “Aku Kiai.
Jlitheng.”
Kiai Kanthipun segera bangkit. Sambil
menggeliat ia bergumam, “Kau mengejutkan aku ngger.”
Jlitheng yang kemudian menjadi
semakin dekat menyahut, “Maaf Kiai. Aku datang terlalu malam.”
Swastipun segera beringsut menjauh,
seolah-olah sengaja duduk dibelakang sebatang pohon besar untuk memisahkan diri.
Kiai Kanthi mengerutkan keningnya.
Namun ia tidak memanggil anaknya. Dibiarkannya Swasti yang seakan2 berlindung
dibalik sebatang pohon.
Jlithengpun kemudian duduk bersama
Kiai Kanthi. Betapa pun gelapnya malam namun seolah2 mereka saling dapat
memandang wajah masing2.
“Kiai,” berkata Jlitheng kemudian,
“aku lupa pesanan Kiai.”
Kiai Kanthi tertawa. Jawabnya, “Tidak
apa ngger. Tentu banyak yang angger yang sedang dilakukan, sehingga meskipun
masih muda, tetapi sudah menjadi seorang pelupa.”
“Tidak banyak yang aku lakukan Kiai.
Tetapi ada sesuatu yang sangat menarik perhatianku.”
Kiai Kanthi termangu-mangu sejenak,
sementara Jlitheng-pun kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya dipinggir
hutan itu.
Swasti yang mendengar juga peristiwa
yang diceriterakan oleh Jlitheng itu ternyata tertarik juga, sehingga iapun
telah beringsut setapak.
Kiai Kanthi mendengarkannya dengan
penuh minat. Sekali-kali ia mengerutkan keningnya, sekali-kali menarik nafas
dalam-dalam.
Jlithengpun memperhatikan orang tua
itu dengan saksama. Ia ingin melihat akibat dari ceriteranya untuk menjajagi
apakah Kiai Kanthi mempunyai hubungan dengan peristiwa yang baru saja terjadi
itu.
Namun agaknya Kiai Kanthi yang tua
itu dapat mengetahui, apa yang tersirat pada tatapan mata Jlitheng, sehingga
sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Apakah ada yang angger ingin
ketahui tentang aku dalam hubungannya dengan peristiwa itu?”
Jilid 02
“HE,“ Jlithenglah yang justru
terkejut, “maksud Kiai?”
“Mungkin ada kecurigaan padamu ngger,
bahwa aku mempunyai hubungan dengan peristiwa itu. Aku sadar, bahwa setiap orang
baru yang datang ketempat yang kebetulan mempunyai persoalannya tersendiri, akan
sangat menarik perhatian. Meskipun sekali lagi, hanya kebetulan saja.”
Jlitheng mengangguk-angguk kecil.
Katanya, “Ternyata aku tidak dapat bersembunyi lagi dihadapan Kiai. Banyak hal
yang Kiai ketahui dari keinginan yang sebenarnya masih tersimpan dihati. Kali
inipun Kiai ternyata dapat membaca perasaanku.“ Jlitheng berhenti sejenak, lalu,
“Baiklah Kiai. Terus terang aku memang agak curiga terhadap kedatangan Kiai padi
saat-saat ini. Aku ragu-ragu apakah benar-benar Kiai datang dari padepokan yang
hancur karena tanah yang longsor, gempa, banjir dan angin pusaran. Apakah
kedatangan Kiai kemari bukannya karena Kiai mempunyai hubungan dengan salah satu
dari kedua perguruan itu. Pusparuri atau Kendali Putih. Atau Kiai adalah salah
seorang yang mempunyai kepentingan yang sama dengan perguruan-perguruan itu,
tetapi Kiai mempunyai pihak tersendiri.”
Jlitheng terkejut ketika ternyata
Swastilah yang menjawab lantang, “Kamipun sudah mengetahui bahwa kau mencurigai
kami. Kesediaanmu menolong kami hanyalah karena kau ingin menjajagi kemampuan
kami. Sekarang kau tahu, bahwa aku mampu melakukan apa yang dapat kau lakukan.”
“Swasti,“ potong ayahnya.
“Kamipan tahu,“ Swasti meneruskan
tanpa menghiraukan kata-kata ayahnya, “kau menunjukkan tempat ini semata-mata
karena kau ingin mengikat kami di tempat yang kau ketahui dengan pasti. Setiap
saat kau ingin mengamati kami, maka kau tidak usah mencari kami diseluruh hutan
ini.”
“Ah,“ desah Kiai Kanthi, “jangan
berprasangka terlalu jauh Swasti.”
.Swasti memandang bayangan ayahnya
dan Jlitheng didalam kegelapan. Namun iapun kemudian terdiam.
Jlitheng mengangguk-angguk sambil
bergumam, “Aku mohon maaf Kiai, bahwa sikapku agaknya telah menyakiti hati anak
gadis Kiai.”
Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Ia
tidak mengira bahwa Jlitheng sama sekali tidak tersinggung oleh kata-kata
Swasti, bahkan ia masih sempat minta maaf kepadanya.
“Sebenarnyalah bahwa dalam keadaan
seperti ini didaerah terpencil seperti padukuhan Lumban ini. banyak mengundang
prasangka buruk.“ Jlitheng meneruskan.
“Itu bukan salahmu ngger,“ berkata
Kiai Kanthi, “tentu diantara kita masing-masing ada perasaan curiga karena kita
masing-masing belum mengenal lahir dan batin. Tetapi itu bukan berarti bahwa
kita masing-masing sudah melakukan kesalahan.”
“Baiklah Kiai. Kita akan melihat
perkembangan keadaan. Kita masih akan saling membuktikan tentang diri kita
masing-masing. Tetapi jika benar Kiai tidak bersentuhan dengan perguruan
Pusparuri dan Kendali Putih? maka yang aku ceriterakan itu hendaknya menjadi
bahan perhitungan Kiai menghadapi masa mendatang di padukuhan Lumban ini.”
“Terima kasih ngger. Sebenarnyalah
bahwa aku sudah mendengar serba sedikit tentang perguruan itu. Tetapi isinya aku
sama sekali tidak mengerti. Apalagi hubungannya dengan angger Daruwerdi.”
“Baiklah Kiai. Aku akan minta diri.
Kita sudah saling mengerti bahwa kita masih selalu dibelit oleh pertanyaan
tentang orang-orang yang sedang kita hadapi.”
Kiai Kanthi mengangguk-angguk.
Sementara Jlitheng melanjutkan, “Kiai. Sebagaimana Kiai yang berselubung
kepapaan seorang perantau, maka terhadap siapa pun aku mohon Kiai untuk tidak
mengatakan sesuatu tentang kemungkinan-kemungkinan yang Kiai anggap ada padaku.
Terutama apabila pada suatu saat Kiai bertemu dengan Daruwerdi.”
Kiai Kanthi tertawa kecil. Jawabnya,
“Aku sudah menduga ngger. Sejak semula aku sudah tidak dapat mengerti, bahwa
angger ini bernama Jlitheng anak seorang janda miskin dari padukuhan Lumban
Wetan. Tetapi akupun tidak akan bertanya siapakah angger sebenarnya, karena
angger tentu akan berusaha menyembunyikan diri.”
Jlithengpun tersenyum. Katanya,
“Untuk sementara kita dapat mengetahui menurut batas-batas yang kita buat
sendiri diantara kita. Tetapi aku masih tetap akan membantu Kiai mendirikan
sebuah gubug dipinggar hutan ini.”
“Terima kasih ngger. Tetapi jangan
lupa, besok aku memerlukan belanga dan tempayan.”
Jlitheng tertawa. Iapun kemudian
minta diri kepada Swasti.
“Silahkan,“ jawab Swasti pendek.
Jlitheng tersenyum. Katanya kepada
Kiai Kanthi, “Aku kira Swasti tidak menganggap aneh sikap kita masing-masing,
karena iapun telah terlibat kedalamnya. Jika ia bersikap tegang, mungkin karena
aku benar-benar telah menyinggung perasaannya. Sekali lagi aku mohon maaf Kiai.”
“Tidak ngger. Anak gadisku tidak
apa-apa. Itu memang sudah menjadi sifatnya. Swasti memang jarang bergaul sejak
dipadepokan kami yang lama, yang agaknya kurang angger percaya itu.”
Jlitheng tertawa semakin keras. Namun
iapun kemudian meninggalkan Kiai Kanthi dengan anaknya didalam gelapnya malam.
“Anak itu terlalu kasar,“ gumam
Swasti.
Kiai Kanthi menggeleng lemah.
Katanya, “Tidak Swasti. Ia tidak terlalu kasar. Tetapi ia dihputi oleh
kecurigaan. Mungkin iapun mengemban suatu tugas yang memaksanya bersikap
demikian.”
Swasti tidak menyahut. Tetapi
terdengar ia berdesah.
“Kita memang tidak dapat
menghindarkan diri dari sikap-sikap demikian. Apalagi dalam keadaan seperti
sekarang di padukuhan Lumban.”
“Kenapa kita memilih tempat ini
ayah,“ berkata Swasti kemudian, “mumpung kita belum terlanjur mulai dengan
membuat sebuah padepokan, sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini. Kita
mencari tempat yang jauh dari persoalan-persoalan yang menegangkan seperti ini.”
Kiai Kanthi menggeleng lemah.
Jawabnya, “Tidak Swasti. Dimanapun juga hidup mempunyai tantangannya
masing-masing. Mungkin berbeda dalam ujud, tetapi semuanya memerlukan kesediaan
untuk mengatasinya. Kita sudah bergulat dengan tanah longsor, banjir dan angin
pusaran serta gempa. Disini ternyata kita menghadapi tantangan yang berbeda.”
Swasti masih tetap berdiam diri.
“Apalagi setelah aku mendengar nama
perguruan-perguruan itu disebut Swasti. Perguruan Pusparuri, aku belum banyak
mengerti. Tetapi perguruan Kendali Putih, aku sudah mendengarnya. Mungkin
sekali-kali aku pernah menyinggungnya.”
Swasti tidak segera menjawab. Ia
mencoba mengingat-ingat apa yang pernah diceriterakan oleh ayahnya tentang
perguruan Kendali Putih.
“Apakah kau masih ingat Swasti, aku
pernah mengatakan kepadamu, bahwa perguruan Kendali Putih adalah sarang dari
orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Diperguruan itu berkumpul
orang-orang yang memiliki kemampuan dan ilmu yang tinggi. Tetapi hidup mereka
justru mereka habiskan untuk meneguk kepuasan duniawi. Mereka tidak segan
membunuh untuk sekedar mendapatkan sekeping emas atau sebutir berlian,“ berkata
ayahnya sambil memandang wajah anak gadisnya yang menegang.
Swasti mengangguk kecil. Jawabnya,
“Aku ingat ayah.”
“Ternyata sekarang orang-orang
Kendali Putih itu telah menjamah padukuhan yang terpencil ini justru karena
disiini ada angger Daruwerdi.“ sambung Kiai Kanthi.
“Namun dengan demikian, kita harus
mencari keterangan, siapakah sebenarnya Daruwerdi itu ayah. Seperti Jlitheng. ia
tentu mempunyai latar belakang kehidupan yang jauh berbeda dengan orang-orang
Lumban itu sendiri. Bahkan menurut dugaanku, maka Lumban justru telah menjadi
korban hadirnya Daruwerdi.”
Kiai Kanthi mengerutkan keningnya.
Katanya, “Aku belum dapat mengambil kesimpulan apapun juga Swasti. Untuk
sementara kita masih tidak akan terlibat. Kita akan melakukan seperti yang kita
rencanakan. Membuat sebuah tempat tinggal yang kecil, namun dapat memberikan
pegangan hidup. Bukan saja buat aku yang sudah semakin tua ini, tetapi juga
buatmu dimasa yang masih panjang.”
Swasti tidak menyahut. Iapun sadar,
bahwa ia harus berhati-hati menghadapi keadaan yang masih samar-samar.
“Nah,“ berkata ayahnya kemudian,
“sekarang giliranmu untuk tidur. Aku akan berjaga-jaga. Mudah-mudahan tidak ada
binatang buas yang tersesat sampai ketempat ini.”
Swasti tidak menjawab. Iapun kemudian
bersandar pada sebatang pohon sambil memejamkan matanya, sementara ayahnya duduk
sambil berselimut kain panjangnya.
Dalam pada itu, padukuhan Lumbanpun
sedang ditelan oleh kesenyapan malam. Beberapa orang anak muda yang sedang ronda
digardu dengan gelisah menunggu Jlitheng yang terlalu lama pergi.
“Anak malas itu tentu sibuk dengan
pematangnya yang pecah,“ desis yang seorang.
Sedang yang lain menyahut, “Ia
terlalu bodoh untuk mengerti.”
Kawan-kawannya tertawa. Namun suara
tertawa itu terputus ketika salah seorang melihat Jlitheng melangkah mendekat
sambil memegang perutnya. Dalam cahaya obor didepan gardu itu, kawan-kawannya
melihat wajah Jlitheng yang tegang.
“Kenapa perutmu ?“ bertanya seorang
kawannya.
“Sakit,“ sahut Jlitheng yang langsung
membaringkan dirinya di gardu yang sempit itu.
Kawan-kawannya membiarkannya meskipun
salah seorang dari mereka bergumam, “Kau sita tempat yang hanya sempit itu untuk
dirimu sendiri.”
Jlitheng tidak menyahut. Bahkan iapun
melingkar sambil menyelubungi seluruh tubuhnya dengan kain panjangnya.
Namun dalam pada itu, seisi gardu
itupun terkejut ketika mereka mendengar derap kaki kuda memecah sepinya malam.
Sejenak anak-anak muda itu tercengkam. Namun kemudaan mereka mulai
berdesak-desakan sambil gemetar.
“Kau dengar suara kaki kuda itu ?“
desis seseorang.
Kawannya yang sudah gemetar
menggeram, “Hanya orang tuli sajalah yang tidak mendengar suara derap kaki itu.”
Yang lainpun terdiam. Namun salah
seorang dari mereka tiba-tiba mengguncang kaki Jlitheng sambil berdesis,
“Jlitheng, bangun. Ada seekor kuda datang.”
Jlitheng tidak bergerak. Nampaknya ia
sudah tertidur nyenyak.
“Jlitheng, Jlitheng,“ yang lain ikut
mengguncang.
“O,“ Jlitheng tiba-tiba mengeluh,
“perutku sakit.”
“Bangun. Kau dengar derap kaki kuda
yang semakin dekat itu?”
“Peduli dengan seekor kuda.”
“Gila,“ kawannya yang bertubuh tinggi
menjadi jengkel, “jika kau dicekiknya, terserah. Kamipun tidak peduli.”
Tiba-tiba Jlitheng bangkit. Dengan
suara bergetar ia bertanya, “Apa yang terjadi ? Apa ?”
“Diamlah, Kuda itu sudah dekat.”
Jlitheng tidak sempat menjawab.
Ketika ia turun dari gardu, ternyata yang dilihatnya mendekat bukannya seekor
kuda. tetapi dua ekor kuda.
Penunggaang2 kuda itu telah menarik
kendali kuda masing-masing ketika mereka melihat beberapa orang anak muda
berdiri dimuka gardu, sehingga kedua ekor kuda itu berhenti beberapa langkah
saja dihadapan anak-anak muda itu.
Anak-anak muda itu menjadi gemetar
ketika mereka melihat dalam cahaya obor dua wajah yang garang memandang mereka
dengan tegang. Dada mereka bagaikan retak ketika salah seorang dari keduanya
tiba-tiba saja membentak, “He. kalian anak-anak Lumban ?”
Tidak ada yang dapat segera menjawab.
Mulut-mulut menjadi bagaikan membeku.
“He, apakah semuanya tuli,“ yang lain
hampir berteriak.
Jantung anak-anak muda itu bagaikan
rontok. Apalagi ketika salah seorang dari kedua orang berkuda itu meloncat
turun.
“He, kalian bisu atau tuli ? Jawab,
bukankah ini padukuhan Lumban ?”
Anak muda yang bertubuh tinggi, yang
kebetulan berdiri dipaling depan terpaksa berusaha untuk menjawab, “Ya Ki
Sanak.”
Orang itu tiba-tiba tertawa. Sambil
mengangguk-angguk ia berkata, “Kau anak berani. Kemarilah.”
Anak muda bertubuh tinggi itu menjadi
semakin gemetar. Sedangkan orang itu masih saja tertawa sambil berkata,
“Kemarilah anak muda. Kau nampaknya anak muda yang paling berani diantara semua
kawan-kawanmu.”
Anak muda bertubuh tinggi itu menjadi
semakin gemetar.
“Kenapa kau diam saja ?“ orang
berwajah garang itu bertanya. “Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya.”
Anak muda itu bagaikan menjadi
lumpuh. Karena itu ia sama sekali tidak bergeser.
“Baiklah. Jika kau tidak mau
mendekat, akulah yang akan mendekat. Tetapi setidak-tidaknya kau tidak bisu dan
tidak tuli.”
Ketika orang berwajah garang itu maju
selangkah, diluar sadarnya anak-anak muda Lumban Wetan itu bergeser mundur.
Karena itulah maka orang itupun tertawa semakin keras. Katanya, “Lumban memang
aneh. Ternyata anak-anak mudanya tidak lebih dari seekor cacing.”
Anak-anak muda itu menjadi semakin
gemetar.
Nyawa mereka rasa-rasanya telah
terloncat dari ubun-ubun ketika tiba-tiba saja orang itu membentak, “He, siapa
diantara kalian yang melihat dua orang kawanku yang datang ke padukuhan ini he
?”
Pertanyaan itu benar-benar
mengejutkan.
“Kalian menjadi bisu lagi. He, kau
yang paling berani yang tidak bisu dan tidak tuli. Jawab pertanyaanku.”
Tetapi anak muda yang bertubuh tinggi
itu benar-benar telah terbungkam. Keringatnya mengalir diseluruh tubuhnya, namun
badannya terasa menjadi sangat dingin seperti air wayu sewindu.
Orang bertubuh kekar dan berwajah
garang itu maju lagi selangkah. Sekali lagi ia berteriak, “Siapa yang melihat
dua orang kawanku datang kepadukuham ini ? Ia tidak kembali pada waktu yang
sudah di tentukan. Dan aku pasti bahwa keduanya telah sampai kepadukuhan ini.
Tetapi aku tidak dapat menjumpainya ditempat yang sudah di tentukan.“
Anak-anak muda itu benar-benar
menggigil. Mereka segera mengetahui bahwa yang dimaksud tentu dua orang yang
telah dibunuh oleh Daruwerdi disebelah bukit, yang kemudian dikuburkan bersama
seorang yang lain yang menurut keterangan justru kawan Daruwerdi sendiri yang
mati dibunuh oleh dua orang yang kemudian terbunuh pula itu.
Tetapi tidak ada mulut yang dapat
mengatakannya. Bahkan untuk menyebut bahwa kedua orang itu berurusan dengan
orang-orang Lumban Kulonpun tidak ada yang dapat mengucapkannya.
“He, cepat. Apakah kau
merahasiakannya ? Apakah terjadi sesuatu dengan kawan-kawanku itu ? Katakan.
Jika kalian mengetahui sesuatu tentang mereka.”
Kediaman anak-anak muda Lumban Weton
itu justru telah menumbuhkan kecurigaan pada kedua orang berwajah garang itu.
Yang masih duduk dipunggumg kuda tiba-tiba saja berteriak, “Cepat, sebut apa
yang terjadi. Kalian tentu mengetahui sesuatu yang kalian tidak dapat
mengatakannya. Tetapi jika kalian tidak mau mengatakan, maka kami akan mengambil
sikap. Kami akan memaksa kalian untuk mengatakannya.”
Darah disetiap tubuh rasa-rasanya
telah berhenti mengalir. Wajah-wajah garang itu bagaikan menyala. Orang yang
sudah turun dari kudanya itupun menggeram, “Kalian tentu mengetahui. Setiap
peristiwa akan segera diketahui oleh setiap orang dipadukuhan ini.”
Anak-anak muda dimuka gardu itu
seolah-olah telah menjadi patung yang beku. Nafaspun rasa-rasanya tidak lagi
dapat mengalir sewajarnya, sehingga dada mereka merasa sesak, dan kepala mereka
menjadi pening.
“Cepat,“ tiba-tiba saja orang itu
berteriak, “dipadukuhan seperti ini tidak ada yang dapat dirahasiakan. Juga
tentang kedua orang kawanku itu. Aku berjanji untuk tidak berbuat sesuatu atas
kalian jika kalian mengatakannya, dan jika kalian tidak terlibat dalam persoalan
dengan mereka.”
Tetapi mulut-mulut bagaikan
tersumbat.
“Aku tidak telaten,“ berkata orang
yang sudah turun dari kudanya, “aku akan mengambil seorang dari mereka dan
memaksanya untuk berbicara. Jika mulutnya tidak mau terbuka, maka aku akan
memeras darahnya sampai kering.”
Seorang anak muda yang kurus berwajah
pucat tiba-tiba saja telah terjatuh dan menjadi pingsan. Namun tidak seorangpun
yang berani bergerak untuk menolongnya.
Ketika orang yang berwajah, garang
itu melangkah maju sambil memandangi setiap wajah untuk menemukan seseorang yang
akan diperasnya, maka tiba-tiba saja terdengar seseorang merintih.
Orang berwajah garang itu tertegun.
Dengan tegang ia memperhatikan suara itu.
“He, kenapa kau,“ tiba-tiba orang itu
berteriak.
“Perutku sakit,“ yang menjawab adalah
Jlitheng sambil memegangi perutnya yang sakit. “Apakah aku boleh pergi kesungai
?”
Pertanyaan itu benar-benar telah
mengejutkan. Bukan saja kedua orang berwajah garang itu, tetapi kawan-kawan
Jlithengpun terkejut. Pertanyaan itu akan dapat mencelakakannya.
Ternyata dugaan kawan-kawannya itu
benar. Orang berwajah garang yang sudah tidak lagi berada dipumggung kudanya itu
benar-benar merasa tersinggung oleh pertanyaan Jlitheng. Karena itu, maka
tiba-tiba saja ia melambaikan tangannya sambil tersenyum. Tetapi senyumnya itu
nampaknya seperti senyum iblis yang melihat sesosok mayat yang baru diletakkan
dilubang kuburnya.
“Kemarilah cah bagus,“ desis orang
berwajah garang itu.
Tetapi panggilan itu rasa-rasanya
bagaikan sembilu yang menggores setiap jantung.
“Alangkah bodohnya Jlitheng,
kawan-kawannya menyesalinya. Tetapi tidak seorangpun yang berani menolongnya.
Tetapi Jlitheng memang seorang anak
yang dungu dihadapan kawan-kawannya. Ia melangkah maju sambil
terbungkuk-bungkuk.
“Perutku sakit sekali,“ ia masih
berdesis.
“Baiklah. Marillah. Aku antar kau
kesungai. Apakah kau dapat naik seekor kuda?”
Jlitheng menggeleng. Jawabnya,
“Tidak. Aku tidak dapat naik kuda.”
“Kalau begitu marilah. Aku jaga agar
kau tidak terjatuh.”
“Tetapi sungai itu tidak begitu
jauh,“ jawab Jlitheng.
Orang itu tersenyum. Dibelainya
kepala Jlitheng sambil berkata, “Meskipun tidak jauh, biarlah kami berdua
mengantarmu cah bagus.”
Ketika Jlitheng mendekati orang itu,
kawan-kawannya menjadi semakin berdebar-debar.
“Alangkah bodohnya,“ kawan-kawannya
berteriak didalam hati. Rasa-rasanya mereka ingin menggapai Jlitheng dan
menariknya, agar ia tidak mendekati orang berwajah garang itu. Tetapi merekapun
telah membeku oleh ketakutan dan kecemasan.
Tetapi Jlitheng melangkah terus
sambil memegangi perutnya.
“Terima kasih,“ desis Jlitheng.
Orang berwajah garang itupun kemudian
meloncat kepunggung kudanya. Dicahaya obor yang kemerah-merahan masih nampak ia
tersenyum sambil berkata, “Kemarilah. Aku tolong kau naik kuda bersamaku.”
Anak-anak muda itu menggigil ketika
mereka melihat Jlitheng mendekati orang berkuda itu.
Namun yang terdengar kemudian adalah
keluhan yang panjang. Tiba-tiba saja orang itu menyambar tangan Jlitheng dan
menariknya dengan semena-mena.
“Cepat anak gila. Kau harus
menunjukkan kepadaku, dimana kedua orang kawanku itu.“ bentak orang itu dengan
kasar.
“Aku akan pergi kesungai,“ Jlitheng
mulai berteriak.
“Tutup mulutmu. Aku bunuh kau,“
senyum diwajah orang itu sudah lenyap. Yang nampak kemudian adalah kegarangan
wajah yang mengerikan.
Kawan-kawannya hanya dapat memandang
dengan tegang saat kuda-kuda itu mulai bergerak. Mereka melihat Jlitheng
meronta. Tetapi tangan orang berwajah kasar itu bagaikan tanggem baja.
Sejenak kemudian kuda itu telah
berderap masuk kedalam kegelapan. Namun hati anak-anak muda itu bagaikan teriris
ketika mereka mendengar suara teriakan Jlitheng yang tertinggal, disela-sela
derap kaki-kaki kuda itu.
Ketika kemudian Jlitheng hilang
didalam kelam, maka anak-anak muda itu mulai saling berpandangan. Satu dua
diantara mereka menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba seorang yang bertubuh
gemuk berdesis, “Kasihan Jlitheng yang dungu itu.”
Kawan-kawannya masih menggigil. Namun
salah seorang dari mereka mulai melangkah mendekati kawannya yang pingsan.
“Bawa ia naik kegardu,“ desisnya.
Beramai-ramai anak muda itu diangkat
untuk dibaringkannya didalam gardu. Satu dua diantara mereka mulai memijat-mijat
keningnya, sedang yang lain masih saja berdiri kebingungan.
“Marilah kita pulang,“ tiba-tiba
seorang diantara mereka berdesis, “bagaimana jika mereka kembali lagi kemari ?”
“Ya. Kita pulang saja.”
Beberapa orang menjadi ragu-ragu.
Seorang yang paling tua berkata, “Mereka tidak akan kembali lagi. Kita menunggu
sejenak, apa yang terjadi dengan Jlitheng.”
Anak-anak muda itu menjadi semakin
ragu-ragu. Tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang meninggalkan gardu. Hati
mereka benar-benar menjadi kecut, sehingga mereka kebingungan, apakah yang
sebaiknya dilakukan.
Sementara itu, beberapa orang yang
tinggal disebelah-menyebelah gardu itu terkejut mendengar keributan yang
terjadi. Mereka mendengar beberapa orang berteriak. Membentak, tetapi juga
mengaduh.
Satu dua orang laki-laki telah keluar
dari rumahnya. Dengan hati-hati mereka mulai mengintip. Ketika mereka masih
melihat obor digardu menyala, dan mereka masih melihat anak-anak muda dimuka
gardu itu, maka merekapun segera mendekat.
Mereka hanya dapat mendengar apa yang
telah terjadi dengan Jlitheng.
“Kasihan janda itu,“ desis seseorang,
“anak itu hilang sejak kanak-kanak. Belum lama ia kembali. Kini ia mengalami
bencana.”
“Ya,“ sahut yang lain, “begitu lama
anak itu pergi, sehingga kita yang tua ini tidak lagi dapat mengingat bahwa
janda itu mempunyai anak laki-laki. Agaknya kini ia harus kehilangan untuk yang
kedua kalinya.”
“Apakah kita akan memberitahukan
kepadanya?“ bertanya seorang anak muda.
Seorang laki-laki tua maju selangkah.
Dengan sareh ia berkata, “Jangan tergesa-gesa. Kita akan menunggu perkembangan
dari peristiwa ini. Jika sekarang kita datang kerumahnya dan memberitahiulkannya
kepada ibunya, maka perempuan itu akan pingsan. Bahkan mungkin mati.”
Yang lain mengangguk-angguk Seorang
anak muda berkata, “Baiklah. Kita menunggu perkembangannya. Besok pagi-pagi kita
akan menelusuri jalan-jalan di Lumban Wetan dan kalau perlu di Lumban Kulon.
Mungkin kita dapat menemukannya.”
Anak muda itu tidak meneruskannya.
Tetapi yang lain menyahut, “Menemukannya hidup atau mati.”
Seorang tua menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Kita akan mengatakannya kepada Daruwerdi. Apakah yang
sebaiknya kita lakukan.”
“Ya. Besok kita menemui Daruwerdi di
Lumban Kulon,“ hampir berbareng beberapa orang menjawab.
Sejenak kemudian, maka orang-orang
tua itupun minta diri, kembali kerumah masing-masing, sedang beberapa orang anak
muda masih tetap berada digardu. Namun tidak seorang pun yang berani
membaringkan dirinya. Jika mereka mendengar derap kaki kuda, maka mereka sudah
siap menghambur melarikan diri.
Sementara itu, kedua ekor kuda dengan
penunggangnya telah berderap keluar padukuhan dengan membawa Jlitheng yang
meronta-ronta. Namun himpitan tangan orang berwajah garang itu semakin lama
menjadi semakin kuat mencengkam lengan Jlitheng.
“Aku akan pergi kesungai,“ teriak
Jlitheng.
“Tutup miulutmu, atau aku bunuh kau.“
bentak orang berwajah garang itu, “sekarang tunjukkan, dimana kau melihat kedua
orang kawanku. Dengan siapa mereka berhubungan, dan apakah yang sudah terjadi.”
“Aku tidak tahu, aku tidak tahu,“
Jlitheng masih berteriak.
“Jika kau tidak mau diam, aku cekik
kau sampai mati,“ geram orang berwajah garang itu.
Sejenak Jlitheng terdiam. Yang
terdengar dikesunyian malam hanyalah derap kaki kuda yang berlari kencang
dibulak panjang itu.
Namun ketika mereka sudah sampai
ditengah-tengah bulak, maka kuda itupun berjalan semakin lambat. Bahkan akhirnya
berhenti sama sekali.
Jlitheng masih tetap berada
dipunggung kuda. Orang berwajah garang yang memeganginya berdesis, “Kita berada
ditengah-tengah bulak anak manis.”
Jlitheng tidak menjawab.
“Nah, sekarang katakan kepadaku, apa
yang kau ketahui tentang kedua orang kawanku yang sudah mendahului aku datang
kepadulkuhan Lumban,“ bertanya orang berwajah garang itu, “akan dapat berbaik
hati kepadamu. Tetapi aku juga dapat berbuat sesuatu yang barangkali belum
pernah kau bayangkan.”
Jlitheng masih tetap diam.
“Misalnya,“ orang itu melanjutkan
kata-katanya, “mengikatmu dan menarik dibelakang kaki kuda. Atau mengikatmu
erat-erat dan menelungkupkan tubuhmu diparit yang airnya hanya mengalir sedalam
mata kaki, dengan sebuah batu besar dipunggung. Atau cara lain yang lain yang
barangkali lebih menarik.”
Jlitheng sama sekali tidak menjawab.
“He,“ orang itu mulai kehilangan
kesabaran,“ jawab pertanyaanku.”
Adalah dihiar dugaan, bahwa tiba-tiba
saja Jlitheng justru tertawa. Bahkan kemudian dengan tangkasnya ia turun ajari
punggung kudanya sebelum orang yang berwajah garang itu sempalt menyadari
keadaannya. Pegangan tangannya yang agak mengendor telah dipergunakan
sebaik-baiknya oleh Jlitheng, sehingga dengan mudah ia melepaskan diri bahkan
orang itu hampir jatuh karenanya.
Sejenak kemudian Jlitheng telah
berdiri beberapa langkah dari orang berwajah garang yang membawanya sambil
bertolak pinggang.
Sikap Jlitheng itu benar-benar telah
mengejutkan orang-orang dari perguruan Kendali Putih itu. Sesaat mereka bagaikan
terpukau sehingga keduanya justru membeku dipunggung kudanya.
“Nah Ki Sanak,“ berkata Jlitheng
dengan suara yang jauh berbeda dengan lengkingan-lengkingan ketakutan disaat ia
meninggalkan gardu, “marilah kita berbicara dengan baik. Kau dapat bertanya
dengan sopan, dan aku akan menjawab dengan wajar.”
Yang terdengar kemudian adalah geram
yang melontarkan kemarahan. Orang yang membawa Jlitheng bersamanya disatu
punggung kuda itupun bertanya dengan suara bergetar, “Apakah kau sudah menjadi
gila karena ketakutan ?”
“Tidak Ki Sanak,“ jawab Jlitheng
sareh, “aku memang ingin berbicara ditempat yang sepi seperti sekarang ini agar
tidak menakut-nakuti kawan-kawanku yang berada digardu. Apalagi ketika aku
menyadari, bahwa aku berhadapan dengan orang-orang dari perguruan Kendali
Putih.”
“Persetan,“ geram orang dari Kendali
Putih yang seorang lagi, “jawablah. Dimana kedua kawan-kawanku yang telah datang
lebih dahulu dipadukuhan ini.”
“Mereka telah mati,“ jawab Jlitheng
pendek.
Jawaban Jlitheng itu terdengar
bagaikan ledakan petir ditelinga mereka. Hampir berbareng keduanya telah
meloncat turun dari kuda mereka.
Sejenak keduanya memandang Jlitheng
dengan tanpa berkedip. Mereka telah menyadari, bahwa yang berdiri di hadapannya
itu tentu bukannya anak Lumban yang pingsan karena ketakutan seperti yang
terjadi, di gardu. Namun bagaimanapun juga bagi kedua orang Kendali Putih itu,
Lumban adalah padukuhan yang tidak berarti apa-apa bagi mereka.
Karena itu, salah seorang dari
keduanya membentak dengan kasarnya, “Anak setan. Katakan, apakah yang telah
terjadi.”
Jlitheng memandang kedua orang itu
berganti-ganti. Kemudian katanya, “Aku melihat semua dua orang Kendali Putih
yang datang kepadukuhan Lumban Kulon. Keduanya telah melukai seorang dari
perguruan Puspapuri dan berusaha untuk menipu Daruwerdi. Tetapi rahasia
kawan-kawanmu itu dapat diketahui, karena mereka tidak mampu menjawab istilah
sandi yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Daruwerdi dengan perguruan Pusparuri.
Dan itu adalah kebodohan yang menentukan bagi kedua kawan-kawanmu itu.”
“Gila,“ geram kedua orang Kendali
Putih itu, “siapakah kau sebenarnya? Apakah kau yang bernama Daruwerdi ?”
“Bukan aku. Aku hanya melihat
bagaimana Daruwerdi membunuh kedua orang kawanmu.”
“Bohong. Tentu dua puluh atau tiga
puluh orang Lumban telah beramai-ramai mengepung dan mengeroyoknya. Mungkin
diantaranya terdapat Daruwerdi dan kau sendiri.”
“Aku berkata sebenarnya,“ jawab
Jlitheng, “bukankah aku sudah berjanji untuk menjawab dengan wajar?”
“Tidak ada orang yang dapat
mengalahkan murid-murid dari perguruan Kendali Putih,“ teriak salah seorang dari
mereka.
“Ada. Daruwerdi. Kau dengar. Namanya
Daruwerdi. Rumahnya Lumban Kulon. Ia seorang diri telah membunuh kedua orang
kawan-kawanmu. Kau dengar.”
Kata-kata Jlitheng itu membuat kedua
orang Kendali Putih itu menjadi semakin marah. Dengan garangnya salah seorang
dari keduanya membentak, “Jangan mengigau. Aku dapat membunuhmu.”
Jlitheng termangu-nmngu. Ia bergeser
setapak ketika ia melihat salah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu
mengikat kudanya pada sebatang pohon perdu. Bahkan yang seorangpun telah berbuat
serupa pula.
Jlitheng sadar, bahwa keadaan menjadi
semakin gawat. Tetapi ia sudah melakukannya dengan sengaja dan telah
memperhitungkan akibatnya pula.
“He anak gila,“ salah seorang dari
kedua orang Kendali Putih itu menggeram, “kau belum mengenal kami berdua. Kau
belum mengenal perguruan Kendali Putih. Karena itu, nampaknya kau menganggap
kami berdua seperti anak-anak yang merengek minta makanan. Cobalah kau menyadari
keadaanmu. Agaknya kau belum terlambat minta ampun kepada kami dan mengatakan
sebenarnya seperti yang kami inginkan.”
“Ki Sanak,“ jawab Jlitheng, “aku
sudah mengatakan yang sebenarnya. Kedua orang Kendali Putih yang datang untuk
mencari keterangan tentang pusaka yang tidak aku ketahui namanya, telah terbuka
rahasianya sehingga kemudian telah dibunuh oleh Daruwerdi, anak muda dari Lumban
Kulon, setelah kedua orang Kendali Putih itu berhasil membunuh seorang dari
perguruan Pusparuri yang seharusnya mendapat keterangan dari Daruwerdi,“
Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “Ki Sanak. Jika kau bertanya sekali lagi, maka
jawabku akan sama pula dengan jawabku itu dan jawaban-jawabanku sebelumnya.
Karena itu, jangan bertanya lagi tentang kedua orang kawanmu. Mungkin kau lebih
baik bertanya siapakah Daruwerdi dan dimanakah rumahnya.”
Kedua orang itu tidak lagi dapat
mengendalikan kemarahannya. Karena itu tiba-tiba saja salah seorang dari mereka
telah mengayunkan tangannya menampar kening Jlitheng.
Tetapi orang itu terkejut. Ternyata
tangannya tidak menyetuh anak muda itu, meskipun Jlitheng tidak bergeser dari
tempatnya. Ia hanya menarik kepalanya sambil memiringkan wajahnya. Kemudian
seolah-olah seperti tidak terjadi sesuatu ia berkata, “Jangan cepat marah. Jika
kau ingin bertemu dengan Daruwerdi, marilah. Mungkin kalian berdua juga akan
dibunuhnya seperti kedua kawanmu yang telah mati itu.”
Keduanya tidak dapat menahan diri
lagi. Salah seorang dari mereka berkata kasar, “Setan alas. Aku akan membunuhmu
dengan caraku. Baru kemudian aku akan mencari Daruwerdi yang kau katakan itu.
Tetapi aku tidak percaya bualanmu, seolah-olah anak muda dari Lumban mampu
membunuh orang-orang Kendali Putih, apalagi seorang Daruwerdi melawan dua orang
kawan-kawanku.”
“Kenapa kau tidak percaya bahwa anak
muda Lumban mampu mempertahankan dirinya meskipun ia berhadapan dengan
orang-orang Kendali Putih?”
Pertanyaan itu benar-benar tantangan
dan penghinaan bagi kedua orang Kendali Putih itu. Karena itu, maka yang seorang
dari keduanya segera meloncat menerkam kepala Jlitheng sambil berteriak, “Aku
bunuh kau perlahan-lahan didalam parit itu.”
Tetapi tangannya juga tidak menyentuh
sehelai rambut-pun. Jlitheng mampu menghindar secepat terkaman orang Kendali
Putih itu.
“Gila,“ geram orang itu, “kau akan
menyesal dengan sikapmu.”
Orang itu tidak dapat menyelesaikan
kata-katanya. Tiba-tiba saja terasa lambungnya bagaikan meledak. Kaki Jlitheng
telah terjulur menghantam lambung tanpa diduga-duga.
Orang itu terdorong selangkah.
Terdengar ia menyeringai menahan sakit. Namun sekali lagi terjadi yang tidak
terduga-duga pula. Bagaikan terbang Jlitheng meloncat menyerangnya.
Orang itu tidak sempat menghindar.
Karena itu, ia telah menyilangkan tangannya menahan serangan kaki Jlitheng yang
terjulur lurus. Tetapi karena ia belum mapan pada keseimbangan seutuhnya, maka
dorongan kaki lawannya telah melemparkannya, sehingga ia jatuh terguling
ditanah.
Yang terjadi itu demikian cepatnya,
sehingga murid Kendali Putih yang seorang lagi itu sejenak justru bagaikan
tercengkam oleh keheranannya. Namun ketika ia melihat kawannya jatuh berguling,
maka dengan serta merta iapun meloncat menerkam Jlitheng pada tengkuknya.
Tetapi Jlitheng sempat menghindar.
Seolah-olah ditengkuknya itu terdapat sepasang mata yang melihat tangan lawannya
itu terjulur kearahnya. Bahkan dengan serta merta ia sempat memutar tubuhnya dan
dengan tangannya menghantam dada.
Lawannya ternyata cukup tangkas. Ia
meloncat mundur selangkah, sehingga tangan Jlitheng tidak menyentuhnya.
Pada saat Jlitheng siap untuk
meloncat memburu, langkahnya terhenti. Lawannya yang seorang ternyata telah
melenting berdiri dan siap untuk menyerangnya pula.
Jlitheng mempersiapkan diri
menghadapi kedua lawannya. Ia sadar, bahwa ia harus berhati-hati menghadapi
orang-orang Kendali Putih. Di pinggir hutan ia melihat, bagaimana orang-orang
Kendali Putih itu bertempur. Dan iapun melihat, seorang dari perguruan Pusparuri
telah terluka arang kranjang.
Ternyata kemarahan kedua orang
Kendali Putih itu tidak tertahankan lagi. Apalagi ketika keduanya sadar, bahwa
anak muda yang dihadapinya itu benar-benar memiliki bekal untuk melawan mereka.
“Gila. Ternyata anak-anak muda Lumban
memang harus dimusnakan,“ geram salah seorang dari kedua orang Kendali Putih
itu.
“Aku bukan anak muda dari Lumban,“
jawab Jlitheng, “Daruwerdi juga bukan anak Lumban. Jika orang-orang Kendali
Putih mendendam anak-anak Lumban, maka itu adalah suatu kebodohan. Anak-anak
muda Lumban adalah anak-anak muda yang hanya mengenal cangkul untuk bekerja
disawah. Itulah sebabnya, aku merasa wajib untuk melndungi mereka.”
Kedua orang lawannya menggeram. Salah
seorang dari kedua lawannya bertanya dengan nada melengking, “Siapakah kau
sebenarnya anak iblis ? Apakah kau juga yang membunuh kedua orang kawanku.”
“Jangan terlampau dungu. Aku sudah
menyebut beberapa kali. Yang membunuh kawanmu adalah Daruwerdi. Dan aku bukan
Daruwerdi. Aku Jlitheng. Meskipun aku tinggal di Lumban, tetapi jangan salahkan
anak-anak muda Lumban. Kalian, perguruan Kendali Putih hanya berurusan dengan
Daruwerdi dan aku, Jlitheng.”
“Persetan,“ orang-orang Kendali Putih
itu menggeram. Yang seorang berteriak, “akan aku musnakan seluruh isi padukuhan
Lumban.”
“Ki Sanak,“ berkata Jlitheng, “aku
tahu, bahwa kau berdua tentu akan mencari kesempatan untuk melepaskan dendammu
atas kematian kawan-kawanmu. Karena itu, kalian merupakan bahaya yang
sungguh-sungguh bagi Lumban. Agar anak-anak harimau tidak dibiarkan menjadi
besar dan menerkam, maka anak-anak harimau itu harus dimusnakan.”
Kemarahan telah memuncak karena sikap
Jlitheng. Karena itu maka sejenak kemudian perkelahian itupun telah menyala
kembali dengan dahsyatnya. Kedua orang Kendali Putih itu tidak lagi telaten
bertempur dengan tangan. Apalagi ketika terasa bahwa Jlitheng justru telah
berhasil membuat keduanya berkeringat.
Sejenak kemudian, kedua orang Kendali
Putih itu telah mencabut senjata mereka. Yang seorang telah menggenggam sebuah
golok yang besar, sedangkan yang lain telah menarik pedang panjangnya.
“Kau akan kami cincang menjadi
sayatan-sayatan daging dan potongan tulang,“ geram salah seorang dari keduanya.
Jlitheng meloncat surut. Sekilas
diperhatikannya senjata-senjata yang garang itu. Apalagi senjata2 itu berada
ditangan orang-orang Kendali Putih.
“Aku tidak boleh lengah,“ berkata
Jlitheng kepada diri sendiri, “dan aku tidak perlu berpura-pura. Aku harus
melawan mereka dengan senjata pula.”
Karena itulah, maka Jlithengpun
kemudian menggeram, “Ki Sanak. Senjata kalian adalah ciri kekerasan dari
perguruan Kendali Putih. Kalian benar-benar ingin menyelesaikan setiap persoalan
dengan kematian. Sikap kalian telah mendorong aku untuk berbuat serupa.”
Kedua orang itu tidak
menghiraukannya. Hampir berbareng mereka meloncat menyerang dengan senjata
terjulur.
Jlitheng sekali lagi meloncat agak
jauh surut. Ia berusaha mendapat kesempatan untuk mengurai senjatanya. Senjata
yang agak asing bagi lawann-lawannya.
Dari bawah kain panjangnya yang
kusut, Jlitheng mengurai sehelai ikat pinggang yang dibuatnya dari anyaman serat
sehingga menyerupai sehelai tampar yang lemas. Tetapi karena didalam anyaman itu
terdapat beberapa helai serat lulup kayu dadap cendana abang, serta tiga helai
janget yang tipis, maka tampar yang lemas itu merupakan tampar yang kuat sekali.
Sejenak kemudian, sehelai dadung
ditangan Jlitheng itu telah berputar. Suaranya berdesing seperti ssndaren yang
terbang diudara.
Kedua orang Kendali Puitih itu
terkejut melihat senjata lawannya. Apalagi setelah mereka mendengar suara
berdesing bagaikan suara sendaren.
Sejenak keduanya termangu-mangu.
Dalam gelapnya malam mereka melihat sesuatu yang diujung dadung ditangan
Jlitheng itu.
Ujung tampar yang berkilat-kilat itu
bagaikan seekor lalat yang berterbangan diseputar kedua lawannya. Jika sekali
benda itu hinggap ditubuh, maka tubuh mereka tentu akan tersobek melintang.
Karena itu, maka kedua orang Kendali
Putih itu menjadi semakin hati-hati. Mereka berloncatan menghindar dan
sekali-kali menyerang dengan garangnya. Mereka mencoba memecah perhatian
Jlitheng pada dua sisi yang berlawanan.
Namun Jlitheng benar-benar seorang
yang sangat tangkas. Kakinya bagaikan kaki kijang, sementara tangannya dengan
senjatanya bagaikan sayap seekor burung raksasa yang mengembang menyebarkan
maut.
Pertempuran itupun semakin lama
menjadi semakin seru. Jlithengpun harus bekerja bersungguh-sungguh. Seperti
kedua orang itupun semakin lama menjadi semakin kasar.
Jlitheng harus bekerja keras
menghindari benturan-benturan kekerasan yang tidak perlu. Apalagi karena ia
harus bertempur melawan dua orang.
Namun sejenak kemudian, Jlitheng
berhasil menguasai lawannya. Bukan saja karena ia telah menemukan
kelemahan-kelemahan lawannya, namun justru karena lawannya telah terlalu banyak
memeras tenaga mereka.
Dengan garangnya Jlitheng memutar
senjatanya. Sekali-kal ia masih harus meloncat menghindari ujung senjata kedua
orang Kendali Putih itu. Namun kemudian, kedua orang itu telah berada dalam
libatan tampar Jlitheng yang berdesing seperti sendaren. Benda yang tersangkut
diujung dadung itu semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin dekat dengan tubuh
lawannya.
Sejenak kemudian, terdengar sebuah
keluhan tertahan. Ternyata bahwa Jlitheng telah berhasil menyentuh punggung
lawannya dengan ujung senjatanya.
“Gila,“ geram orang itu. Lukanya
telah mengalirkan darah, sementara perasaan pedih rasa-rasanya menggigit sampai
ketulang.
Ternyata luka itu telah membuatnya
seperti orang gila. Orang yang bersenjata golok yang besar itu bertempur semakin
garang dan kasar. Namun dalam pada itu, semakin jelas bagi Jlitheng, bahwa
tenaganya telah menjadi semakin susut karenanya.
Saat-saat selanjutnya sudah tidak
terlampau berat lagi bagi Jlitheng. Luka dipunggung salah seorang lawannya itu,
seolah-olah telah menyusut separo dari segenap kemampuannya. Kecuali perasaan
sakit yang menyengat, tubuhnya semakin lama menjadi semakin lemah dan
seolah-olah telah kehabisan tenaga.
Jlitheng tidak mau melepaskan setiap
kesempatan. Ia tidak mlau membiarkan kesulitan akan berlarut-larut mencengkam
padukuhan Lumban, setidak-tidaknya Lumban Wetan. Ia berharap bahwa Daruwerdi
akan bertanggung jawab bagi keselamatan anak-anak muda di Lumban Kulon, karena
ia memang tinggal di padukuhan itu. Apalagi bahwa sumber persoalan ini
sebenarnya terletak padanya. Jika ia tidak mempunyai hubungan dengan orang-orang
dari berbagai perguruan. maka Lumban akan tetap menjadi padukuhan yang damai.
Yang perlu dilakukan bagi padukuhan itu adalah sekedar meningkatkan tata
kehidupan mereka tanpa mengaduknya dengan kegelisahan dan kecemasan.
“Sebenarnya yang mereka perlukan
adalah sebuah parit induk,“ berkata Jlitheng didalam hatinya, “bukan titik-titik
darah seperti yang telah terjadi dipinggir hutan, dan sekarang terpaksa disini.”
Tetapi Jlitheng tidak dapat ingkar.
Ia harus menyelesaikan tugas yang dipetiknya seridiri. Kedua orang itu harus
dapat dihapuskannya tanpa bekas, sehingga persoalannya tidak akan
berkepanjangan.
“Untuk itu aku terpaksa membunuh
mereka,“ geram Jlitheng didalam hatinya.
Dengan demikian maka Jliithengpun
bertempur semakin cepat dan garang. Ia harus segera menyelesaikan pertempuran
itu sebelum berkembang menjadi semakin buruk, karena ada pihak-pihak lain yang
terlibat. Apalagi Jlitheng sendiri masih merasa perlu untuk menyelubungi dirinya
dengan sikap yang lain dari kenyataan yang sebenarnya.
Karena itulah, maka benda yang
berkilat-kilat diujung dadung yang dipergunakan oleh Jlitheng sebagai senjatanya
itu, berputar semakin cepat. Benda itu mulai menyengat-nyengat ditubuh lawannya.
Dipundak, kemudian dibahu dan bahkan kening.
Kedua lawannya yang menjadi semakin
lemah karena tenaganya yang terperas habis, darahnyapun mengalir semakin banyak.
Perlahan-lahan mereka mulai kehilangan kemampuan perlawanannya, sehingga luka
ditubuh merekapun menjadi semakin banyak.
Dalam keadaan yang tidak lagi dapat
diatasi, salah seorang dari kedua orang itu menggeram, “Anak gila. Sebutkan,
siapakah kau sebenarnya. Senjatamu dan sikapmu mengingatkan aku kepada sebuah
perguruan yang hampir dilupa.”
Jlitheng meloncat surut. Namun
tiba-tiba sebuah serangan yang dahsyat telah melibat kedua lawannya. Betapapun
kedua orang itu berusaha, namun senjata anak muda itu telah menghantam punggung
dan dada, sehingga nafas mereka bagaikan terputus karenanya.
Keduanya telah terhuyung-huyung
hampir bersamaan. Senjata mereka perlahan-lahan terlepas pula, karena tangan
mereka tidak lagi dapat menggenggam.
Pada saat terakhir itulah maka
Jlitheng yang berdiri tegak dengan senjatanya ditangan berkata dengan nada
berat, “Ki Sanak. Aku tidak mempunyai pilihan lain bagi orang-orang Kendali
Putih. Aku kenal perguruan Kendali Putih dan telah ditegaskan pula oleh sikap
kedua kawanmu yang dibunuh oleh Daruwerdi. Dan yang terakhir adalah sikap kalian
berdua. Karena itu, bagi keselamatan orang-orang Lumban, aku telah mengambil
keputusan untuk membunuh kalian.”
“Persetan,“ geram salah seorang dari
orang-orang Kendali Putih, “kami tahu, kami akan mati.”
“Yang penting bagiku, bukan
kematianmu. Tetapi kecemasanku melihat nasib anak-anak muda Lumban.”
“Siapa kau ?“ suara orang Kendali
Putih itu semakin lambat.
“Namaku Arya Baskara, murid dari
perguruan yang memang sudah dilupakan sepeninggal Guruku, Kiai Baskara.”
“Namamu nunggak semi nama gurumu.
Jadi kau murid Baskara dari perguruan Rasa Jati yang sudah punah itu ?”
“Ya. Aku satu-satunya murid dari
perguruan Rasa Jati yang masih tinggal.”
“O,“ orang Kendali Putih itu
mengeluh, “kau memang gila. Gurumu menurut pendengaranku juga orang gila. Siapa
namamu ?”
Jlitheng memandang kedua orang yang
semakin lemah itu. Selangkah ia mendekat. Kemudian katanya, “Namaku sendiri
adalah Arya Candra Sangkaya.”
“He,“ wajah kedua orang yang sudah
tidak berdaya itu bagaikan menyala, “kau jangan mengigau. Apakah kau senang
menyebut nama-nama orang yang disegani waktu itu ? Candra Sangkaya adalah nama
seorang Pangeran keturunan Perabu Majapahit terakhir.”
“Bukan Candra Sangkaya. Namanya
Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Raden Kuda Surya Anggama. Salah seorang
Senapati yang gagal mempertahankan Kota Raja Majapahit dan gugur dimedan.
Usianya masih muda, meskipun waktu itu ia sudah mempunyai seorang anak
laki-laki. Akulah Candra Sangkaya yang jika aku mau, aku dapat mempergunakan
gelarku meskipun aku buat sendiri, Jlitheng.”
Kedua orang itu masih menggeram.
Tetapi keduanya sudah menjadi semakin lemah. Namun salah seorang dari keduanya
masih berkata, “Aku akan mati dengan senang hati, karena yang membunuhku adalah
murid yang tersisa dari perguruan Rasa Jati. Mungkin aku akan tersiksa disaat
terakhir, jika kau mengatakan bahwa kau adalah benar-benar anak Lumban. Tetapi
kau adalah orang yang memang pantas membunuhku.“ ia berhenti sejenak, nafasnya
sudah menjadi semakin sendat, “tetapi siapakah Daruwerdi? Apakah ia orang dari
perguruan Pusparuri ?”
“Pasti bukan orang Pusparuri. Tetapi
aku tidak tahu. Mungkin nama Daruwerdi itupun bukan namanya.”
“Orang-orang gila. Kalian lebih
senang bersembunyi dibalik nama yang aneh-aneh itu,“ nafasnya menjadi semakin
lambat.
Bahkan ketika Jlitheng melangkah
semakin dekat, ia melihat yang seorang dari kedua lawannya itu benar-benar sudah
tidak bernafas lagi.
“Kawanmu sudah mati,” desis Jlitheng.
Orang Kendali Putih yang masih hidup
itu berdesah. Katanya, “Kau cerdik. Kau berusaha menghilangkan jejakmu dengan
membunuh kami berdua. Tetapi Kendali Putih tentu akan melacak perjalananku,
karena mereka tahu. bahwa dua orang yang kau katakan dibunuh oleh Daruwerdi itu.
dan kami berdua, telah pergi kepadukuhan ini.”
“Apapun yang akan terjadi. Inilah
yang. paling baik aku lakukan saat ini untuk kepentingan orang-orang Lumban.”
Orang Kendali Putih itu
termangu-mangu didalam saat-saat yang paling gawat. Dilihatnya Jlitheng
mendekatinya. Namun matanya semakin lama menjadi semakin kabur. Meskipun
demikian, disaat terakhir itu, masih terucapkan betapapun lirihnya, “Jadi kau
anak Surya Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggana itu ?”
“Ya. Mungkin aku bukan berparas
bangsawan, karena ibuku benar-benar seorang pidak pedarakan. Tetapi ibuku bukan
seorang selir. Ibuku adalah isteri Pangeran Kuda Surya Anggana. Aku bangga atas
ayahku yang berani menentang arus, kawin dengan seorang perempuan kecil,
meskipun ia harus mengorbankan perasaan untuk waktu yang lama. Tetapi
disaat-saat Majapahit memerlukan kepemimpinannya sebagai seorang Senapati, maka
kedudukan ayahku telah pulih kembali.”
Jlitheng masih akan berbicara tentang
ayahnya, meskipun sebenarnya hal itu lebih banyak ditujukan kepada dirinya
sendiri. Tetapi ditelannya kata-katanya itu kembali. Bahkan japun segera
berjongkok disampiing orang Kendali Putih itu. Namun ia sudah mati.
“Aku memerlukan kau -,“ desis
Jlitheng, “sekali-kali aku ingin juga menumpahkan beban yang tersumbat dihati.
Hanya kepada orang-orang mati sajalah aku dapat mengatakannya, setidak-tidaknya
untuk sementara.”
Tetapi Jlitheng tidak dapat
berceritera terus tentang dirinya sendiri. Ia harus menghapus jejak. Karena itu,
maka iapun segera mengangkat kedua orang yang terbunuh itu kepunggung kuda
mereka masing-masing dan menuntun kuda itu kekuburan.
Jlitheng yang sebenarnya bernama Arya
Candra Sangkaya itu harus bekerja keras untuk menggali sebuah lubang yang besar
dan mengubur kedua orang itu kedalamnya.
“Bagaimana dengan kedua ekor kuda
ini?“ ia bergumam.
Akhirnya Jlitheng telah melepas
pelana dan rerakit pakaian kuda itu seluruhnya dan menguburnya pula disudut
kuburan itu. Kemudian dituntunnya kedua ekor kuda itu dan menghadapkannya kearah
yang tidak banyak dilalui orang, bahkan menuju ke hutan.
“Hiduplah bebas kuda-kuda manis,“
gumamnya, “meskipun mungkin pada suatu saat kau akan menemukan jalan pulang
kekandangmu.”
Kemudian dilecutnya kedua ekor kuda
itu, sehingga keduanya berlari seperti dikejar hantu menuju kedaerah yang tidak
dikenalinya.
Jlitheng yang berdiri di depan sebuah
kuburan yang dipergunakan oleh orang-orang Lumban itu memandang kekejauhan.
Didalam keremangan malam, ia mencoba untuk melihat bukit padas yang gundul.
Namun yang nampak hanyalah bayangan kehitam-hitaman yang tidak jelas.
Baru sejenak kemudian ia menyadari
keadaannya. Tubuhnya tentu kotor dan bahkan bernoda darah. Karena itu, maka
iapun segera berlari-lari kecil pergi kesungai. Meskipun dimalam yang dingin, ia
memaksa diri untuk mandi dam mencuci pakaiannya. Tetapi ia tidak dapat menunggu
pakaiannya kering. Dengan pakaian yang basah ia berjalan kembali kepadukuhannya.
Jlitheng menjadi berdebar-debar
ketika menengadahkan wajahnya. Langit telah menjadi merah. Sebentar lagi fajar
akan segera menyingsing.
“Aku bekerja lamban sekali,“ ia
bergumam, “hari sudah pagi. Mungkin anak-anak muda itu telah memberitakukan
kepada ibuku bahwa aku telah hilang dibawa oleh orang-orang Kendali Putih itu.”
Jlitheng tidak singgah lagi digardu.
Ia langsung pulang kerumahnya.
Ketika ia sampai dipinta dapur,
matahari sudah mulai menjenguk di ujung Timur. Langkahnya terhenti ketika ia
melihat ibunya sedang sibuk menghembus bara di perapian untuk menyalakan api.
“Biarlah aku saja yang menyalakan
biyung,“ berkata Jlitheng dari pintu.
Ibunya terkejut. Ketika ia berpaling
dilihatnya Jlitheng yang basah kuyup, “He, darimana kau ? Apakah kau kehujanan?”
“Tidak biyung, aku telah tergelincir
disungai ketika aku sedang mencuci muka.”
“Anak bengal. Berhati-hatilah. Cepat,
ganti pakaianmu agar kau tidak menjadi sakit.”
Jlithengpun segera pergi kebiliknya.
Ternyata ibunya belum mengetahui peristiwa yang terjadi di gardu perondan itu.
“Tetapi sebentar lagi tentu ada
seseorang yang datang untuk memberitahukan hal itu,“ berkata Jlitheng didalam
hatinya.
Ternyata bahwa dugaan Jlitheng tidak
keliru. Baru saja ia selesai berganti pakaian, maka ia sudah mendengar seseorang
mengetuk pintu rumahnya.
Jlitheng tidak mau terlambat. Jika
ibunya membuka pintu, maka ia akan segera mendengar peristiwa yang telah
terjadi. Sehingga karena itu, maka iapun tergesa-gesa pergi keruang depan untuk
membuka pintu rumahnya yang masih tertutup.
Seperti yang diduganya, yang datang
adalah seorang kawannya diantar oleh seseorang yang telah berusia separo baya.
Alangkah terkejutnya kedua orang itu
ketika mereka melihat Jlithenglah yang telah membuka pintu untuk mereka,
sehingga untuk beberapa saat mereka berdiri termangu-mangu.
“Marilah, silahkan masuk,“ Jlitheng
mempersilahkan.
Orang yang telah berusia separo baya
itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah aku melihat Jlitheng yang
sebenarnya ?”
“Ya paman. Aku memang Jlitheng. Aku
tahu, bahwa paman tentu terkejut melihat bahwa aku sudah berada dirumah. Karena
itu silahkan duduk, aku akan berceritera sedikit tentang peristiwa yang baru
saja terjadi atasku. Tetapi aku mohon, paman jangan berceritera kepada biyung
yang sudah tua dan sakit-sakitan itu.”
“Yang terjadi seperti sekedar mimpi,“
gumam kawan Jlitheng.
“Duduklah.”
“Terima kasih. Lebih baik kita duduk
diserambi saja,“ berkata orang yang sudah berusia separo baya.
Ketiganyapun kemudian duduk di sebuah
dingklik bambu diserambi. Hampir tidak sabar lagi kawannya bertanya, “Jlitheng,
apakah yang sudah terjadi. Kami semuanya menjadi gelisah. Bahkan kami sudah
mencoba mencarimu di bulak-bulak dan kesungai. Kami sudah berpikir buruk
sekali.”
“Aku mengerti,“ jawab Jlitheng,
“akupun sudah menduga, bahwa aku akan dicekiknya dan mayatku akan dilemparkannya
kesungai.”
“Tetapi kau masih segar,“ berkata
orang yang separo baya.
“Ya paman. Ternyata aku masih segar.”
“Mulailah berceritera,“ kawannya
mendesak.
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Ia harus berhati-hati agar ceriteranya tidak menumbuhkan persoalan yang dapat
mempersulit anak-anak muda Lumban. Ia sadar, bahwa ceritanya tentu akan segera
tersebar. Bukan saja di Lumban Wetan, tetapi tentu akan didengar oleh anak-anak
muda Lumban Kulon, dan barangkali juga Daruwerdi. Dengan demikian maka tidak
mustahil bahwa orang-orang Kendali Putihpun akan dapat menyadap keterangan yang
akan dikatakannya itu.
“He, kenapa kau diam saja ?“ kawannya
benar-benar tidak sabar lagi.
“Baiklah,“ berkata Jlitheng, “aku
sudah hampir pingsan saat aku dibawa oleh kedua orang yang menyebut dirinya
murid-murid dari perguruan Kendali Putih.”
“Ya, kami sudah melihat,“ kawannya
tidak sabar.
Jlitheng tersenyum. Kemudian iapun
melanjutkannya, “Ditengah bulak aku dipaksa untuk berceritera. Dan akupun tidak
dapat ingkar, bahwa telah terjadi peristiwa seperti yang sudah kita ketahui di
pinggir hutan itu.”
“Kau menceriterakannya ?“ bertanya
kawannya, “apakah itu bukan berarti bahaya bagi Daruwerdi?”
“Aku tidak dapat berbuat lain.”
Kawannya dan orang yang separo baya
itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari, bahwa apabila Jlitheng tidak mau
mengatakannya, ia sendiri akan dapat dibunuh oleh kedua orang itu.
“Lalu?” kawannya mendesak lagi.
“Orang-orang itu memang gila,“
berkata Jlitheng kemudian, “sebelum aku dilepaskannya, maka aku telah
dicekiknya. seolah-olah mereka benar-benar ingin membunuhku. Kemudian akupun
dibenamkannya didalam parit yang airnya hanya setinggi mata kaki. Tetapi
ternyata mereka tidak membunuhku. Mereka meninggalkan aku yang gemetar
kedinginan dan ketakutan didalam parit. Tetapi aku tidak berceritera kepada
biyung. Aku mengatakan kepadanya, bahwa aku tergelincir disungai sehingga
pakaianku basah kuyup.”
Kedua orang yang datang kepadanya itu
mengangguk-angguk. Yang separo baya kemudian bergumam, “Bersukurlah bahwa kau
masih tetap hidup.”
“Ya, aku masih beruntung bahwa aku
dapat kembali kepada ibuku.”
“Tetapi kami seisi gardu menjadi
gelisah. Ketika fajar mulai membayang, kami mencoba mencarimu dibulak. Tetapi
kami tidak menemukan tanda-tanda apapun, sehingga akhirnya aku berdua telah
diserahi tugas oleh kawan-kawan untuk memberitahukan kepada ibumu, bahwa kau
telah hilang dibawa oleh dua orang yang tidak dikenal.”
“Aku tidak dapat kembali kegardu
dengan pakaian yang kotor dan basah. Aku ingin berganti pakaian. Baru kemudian
menemui kalian.”
Kedua kawannya itupun kemudian
memberikan beberapa pesan, agar Jlitheng tidak keluar saja dahulu dari
padukuhan. Mungkin yang terjadi itu masih akan mempunyai akibat yang
berkepanjangan.
“Jika mereka kemudian mencari
Daruwerdi, apakah kira-kira nasib mereka akan seperti kedua orang kawannya yang
datang terdahulu?“ tiba-tiba saja kawannya bertanya.
Jlitheng menggeleng lemah. Jawabnya,
“Aku tidak tahu. Aku hanya mengatakan apa yang aku ketahui tanpa memperhitungkan
apapun juga.”
Akhirnya kedua orang kawannya itupun
menianggalkan Jlitheng yang nampak ketakutan. Tetapi yang dapat dilakukan oleh
kedua orang itu hanyalah beberapa pesan yang tidak berarti.
Sepeninggal kedua kawannya
Jlithengpun segera pergi ke dapur. Kepada ibunya yang bertanya tentang tamunya,
Jlitheng hanya mengatakan, bahwa keduanya menanyakan tentang air diparit yang
rusak diujung bulak, karena anak-anak kecil yang kurang berhati-hati saat-saat
mereka menggembalakan kerbau dan menggiringnya kesungai untuk dimandikan.
Sementara itu, seperti yang diduga
oleh Jlitheng, maka ceritera yang dibuatnya itu segera tersebar diseluruh
padukuhan. Bahkan ceritera itupun telah didengar pula oleh anak anak muda Lumban
Kulon.
“Daruwerdi akan mendengarnya juga,“
berkata Jlitheng didalam hatinya, “ia akan datang kepadaku dan bertanya, apakah
yang sebenarnya telah terjadi.”
Dugaan Jlitheng itupun tepat.
Demikian berita tentang Jlitheng itu sampai ketelinga Daruwerdi, maka iapun
dengan tergesa-gesa telah pergi ke Lumban Wetan untuk bertemu dengan Jlitheng.
“Cariterakan,“ berkata Daruwerdi.
Jlitheng menceritakan peristiwa itu
seperti yang diceriterakan kepada dua orang Lumban Wetan yang datang kepadanya.
“Jadi kau dilepaskan begitu saja ?”
bertanya Daruwerdi.
“Tidak. Aku telah dibenamkan didalam
parit.”
“Maksudku, kau tidak dibunuhnya.”
“Tentu tidak. Seperti yang kau lihat,
aku masih hidup. Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia menahan kejengkelannya
atas kebodohan Jlitheng. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah kau sadar, bahwa
dengan demikian kau sudah menghadapkan aku kepada kedua orang itu ?”
“Aku tidak mempunyai pilihan lain.
Jika aku tidak mengatakannya aku dicekiknya sampai mati.”
Daruwerdi mengangguk-angguk. Katanya,
“Baiklah Jlitheng. Itu memang bukan salahmu. Seandainya bukan kau namun tentu
akan ada pula orang lain yang menceritakan apa yang telah terjadi dipinggir
hutan itu. Dan akupun harus bersiap menghadapi segala kemungkinan.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Namun
tiba-tiba saja ia bertanya, “Daruwerdi. Apakah yang kira-kira akan kau lakukan
jika pada suatu saat orang-orang yang mengatakan dirinya murid dari Kendali
Putih itu datang dalam jumlah yang jauh lebih banyak ?”
Daruwerdi memandang wajah Jlitheng
yang cemas. Namun kemudian anak muda itu justru tertawa. Katanya, “Bersembunyi.
Bukankah itu cara yang paling baik untuk melawan mereka yang berjumlah melampaui
kekuatan dan kemampuan ?”
Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi ia
masih bertanya lagi, “Mungkin kau berhasil bersembunyi. Namun agaknya
orang-orang Kendali Putih itu adalah orang-orang yang kasar dan jahat.
Bagaimanakah jika seandainya ia melepaskan dendamnya kepada kami. anak-anak
Lumban yang tidak dapat membela diri ?”
Jawab Daruwerdi benar-benar diluar
dugaan. Suara tertawanya masih terdengar. Katanya, “Itu adalah nasib. Nasib
mereka yang menjadi sasaran itulah yang agaknya terlampau malang.”
Sejenak Jlitheng terdiam. Wajahnya
menegang. Namun katanya kemudian, “Daruwerdi. Kami, setidak-tidaknya aku
sendiri, merasa sangat cemas. Aku merasa tidak tenteram lagi karena peristiwa
yang berurutan telah terjadi itu. Jika benar katamu, maka ada kemungkinan besok
atau lusa, Lumban akan menjadi sasaran kemarahan orang-orang Kendali Putih.”
Daruwerdi mengerutkan keningnya.
Kemudian katanya, “Aku akan memikirkannya. Aku akan berusaha agar orang-orang
Kendali Putih hanya mendendam kepadaku.”
“Kau dapat menjamin ?”
Jawabnyapun sangat mendebarkan. “Aku
hanya dapat berusaha. Sebaiknya kalian jangan tergantung sekali dengan usahaku
itu.”
Jlitheng termangu-mangu sejenak.
Dipandanginya Daruwerdi yang berdiri tegak dengan wajah yang sedikit terangkat,
diwajahnya sama sekali tidak membayang kecemasan dan kekhawatiran tentang
kemungkinan-kemungkinan buruk yang menimpa dirinya.
“Tetapi,“ Jlithengpun kemudian
berkata, “kami hanya dapat menyandarkan keselamatan kami kepadamu. Ternyata kau
adalah satu-satunya orang yang dapat melawan penjahat-penjahat seperti yang
telah kau bunuh itu.”
“Jritheng,“ jawab Daruwerdi,
“seharusnya akulah yang menuntut perlindungan anak-anak muda Lumban. Bukankah
kau yang telah membuka rahasia pembunuhan itu ? Meskipun sudah aku katakan itu
bukan salahmu, dan sudah aku katakan, bahwa siapapun akan dapat menyebutnya
demikian. Namun karena itu, jangan kau menyalahkan aku pula bahwa aku sudah
terlibat kedalam suatu keadaan yang sebenarnya tidak aku kehendaki pula. Juga
apabila hal ini akasi menyentuh anak-anak muda Lumban.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi ia
masih bertanya, “Jika demikian, apakah kau mempunyai cara yang akan dapat
membantu kami menghindarkan diri dari bencana ini ?”
“Jlitheng,“ jawab Daruwerdi,
“nampaknya memang aneh, dan barangkali tidak pernah terpikir oleh kalian.
Bagaimana jika kalian bersikap seperti seorang laki-laki. Bukankah kalian
mempunyai tenaga dan pikiran ? Kenapa kalian tidak berusaha melindungi diri
kalian sendiri?”
“Kami tidak terbiasa berkelahi. Kami
tidak mempunyai bekal apapun untuk melawan langsung kepada orang-orang yang
garang itu.”
“Aku akan mengajari kalian untuk
sekedar dapat membela diri. Mungkin seorang-seorang kalian tidak akan dapat
berbuat apa-apa, karena untuk mencapai tingkatan orang-orang Kendali Putih
kalian memerlukan waktu satu atau dua tahun, bahkan lebih. Tetapi jumlah kalian
yang banyak itupun mempunyai pengaruh pula. Dua atau tiga orang Kendali Putih
tentu tidak akan mampu melawan kalian seluruh padukuhan Lumban Wetan dan Lumban
Kulon.”
Jlitheng memandang Daruwerdi sejenak.
Namun tiba-tiba saja ia tersenyum. Katanya, “Kau mau mengajar kami untuk membela
diri ?”
Sekali lagi Daruwerdi menegaskan,
“Ya. Ajaklah kawan-kawanmu. Kita akan segera mulai. Selain hal itu akan dapat
melindungi kalian dan padukuhan Lumban, maka akupun akan mempunyai kawan untuk
memnertahankan diri, jika pada suatu saat orang-orang Kendali Putih datang lagi
kepadukuhan ini.”
Kesanggupan Daruwerdi itupun kemudian
telah diceriterakan oleh Jlitheng kepada kawan-kawannya. Bahkan Jlitheng telah
menambahnya dengan beberapa harapan dan kemungkinan yang dikarangnya sendiri.
“Kita akan menjadi pengawal padukuhan
kita seperti seorang prajurit mengawal Kota Raja,“ katanya.
“Kau pernah melihat seorang prajurit
mengawal Kota Raja ?“ bertanya kawannya.
Jlitheng ragu-ragu sejenak. Namun
kemudian ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu.
Jlithenglah yang kemudian menjadi
penghubung antara anak-anak muda yang ingin mempelajari olah kanuragan dengan
Daruwerdi. Pada hari itu juga, Jlitheng telah memberitahukan beberapa nama
kepada Daruwerdi.
“Kami siap, kapanpun akan dimulai,“
berkata Jlitheng.
Daruwerdi tersenyum. Katanya kepada
Jlitheng, “Aku bangga atas kalian. Tetapi sayang. Agaknya kesediaan kalian untuk
cepat-cepat memiliki kemampuan kanuragan itu karena didesak oleh perasaan
takut.”
Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun
iapun tersenyum sambil menjawab, “Mungkin kau benar Daruwerdi. Kami menjadi
sangat ketakutan. Siang malam kami merasa tidak tenteram.”
“Peristiwa itu baru semalam terjadi.
Tetapi kau sudah merasa sangat tersiksa.”
“Karena itu, kami cepat-cepat ingin
memiliki bekal betapapun kecilnya.”
“Baik. Aku akan menyediakan sekedar
waktu. Setiap sore kalian harus datang ke padang ilalang disebelah bukit padas
yang gundul itu.”
“Bukit padas?” diluar sadarnya
Jlitheng bertanya.
“Ya. Aku kira tempat itu adalah
tempat yang paling baik. Cukup luas dan tidak akan terganggu. Jauh dari
padukuhan, sehingga anak-anak kecil tidak akan berkerumun seperti nonton wayang
beber.”
“Terima kasih,“ Jlitheng
mengangguk-angguk.
Dengan tergesa-gesa iapun segera
menemui kawan-kawannya. Baik dari Lumban Wetan maupun dari Lumban Kulon. Setiap
sore mereka harus berkumpul di padang ilalang disebelah bukit padas. Mereka akan
mendapat latihan membela diri jika benar-benar terjadi kerusuhan di padukuhan
itu.
Kesediaan Daruwerdi itupun segera
menjadi pusat pembicaraan. Setiap orang merasa wajib mengikutinya. Seperti
dikatakan oleh Daruwerdi, dorongan yang paling kuat dari diri mereka sebenarnya
adalah perasaan takut.
Namun dalam pada itu, Jlitheng tidak
melupakan Kiai Kanthi yang berada dibukit sebelah. Rasa-rasanya ia sudah terikat
pada suatu kewajiban untuk datang dan melaporkan apa yang telah terjadi.
Seolah-olah orang tua di bukit itu mempunyai pengaruh yang kuat atas darinya
tanpa dapat dihindari.
Karena itulah, maka ketika malam
menjadi gelap, Jlitheng dengan diam-diam telah pergi kebukit sambil membawa
sebuah belanga dan sebuah kelenting seperti yang dipesankan oleh Kiai Kanthi.
Namun dalam pida itu, Jlitheng merasa
heran kepada dirinya sendiri. Setelah pertanyaan tiba-tiba saja timbul, “Apakah
yang aku lakukan ini sekedar didorong oleh belas kasihan, atau perikemanusiaan.
atau karena orang tua itu melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginanku untuk
membuat saluran air yang dapat bermanfaat bagi sawah dan ladang di padukuhan
Lumban, atau sebab-sebab lain ?”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Tiba-tiba saja ia menggeram, “Sebenarnya aku belum tahu pasti, apakah sudah
sewajarnya aku menempatkan diriku dibawah pengaruh wibawanya. Aku harus tahu
pasti, bahwa ia benar-benar seorang tua yang pantas dihormati. Bukan sekedar
seorang perantau yang mencari tempat sandaran bagi hidupnya. Atau bahkan
meyakinkan bahwa ia bukan orang-orang Kendali Putih.”
Jlitheng tiba-tiba saja mempercepat
langkahnya. Sekilas terbayang, betapa orang tua itu berusaha menahan anak
gadisnya, saat mereka bertemu dengan seekor harimau. Mereka menyatakan diri
mereka sebagai perantau yang perlu dikasihani. Saat itu Kiai Kanthi tentu
mengetahui bahwa Daruwerdi ada disekitar mereka dan berusaha untuk tidak
memberikan kesan bahwa mereka memiliki ilmu. Kiai Kanthi sempat menekan pusat
syaraf anaknya, sehingga anaknya tidak dapat berbuat apa-apa.
“Tetapi apakah benar mereka memiliki
kemampuan yang berlebih-lebihan. Apa salahnya jika aku mengetahui lebih jauh.
Bukan sekedar mengenal ketahanan jasmaniah orang itu dan anaknya itu saat mereka
mendaki bukit melalui tebing tebing padas yang sulit.“
Jlitheng telah benar-benar meng ambil
keputusan.
Demikianlah, maka sejenak kemudian
Jlitheng telah berada di dekat sumber air dibukit itu. iapun mulai mempersiapkan
rencananya.
Kedatangan Jlitheng seperti biasa
disambut oleh Kiai Kanthi dengan gembira. Sebagaimana seseorang yang terpisah
dari lingkungannya, maka setiap kunjungan merupakan suatu kebahagiaan
tersendiri, karena memang pada kodratnya, seharusnya manusia hidup didalam suatu
lingkungan bersama diantara mereka.
“Aku membawa belanga dan kelenting
Kiai,“ berkata Jlitheng.
“O, terima kasih ngger. Terima
kasih,“ berkata Kiaa Kanthi sambil menerima benda-benda itu, “dengan benda-benda
ini kami akan dapat menyiapkan makanan kami lebih baik lagi, jauh lebih baik.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Sekilas
dilihatnya Swasti duduk bersandar sebatang pohon, menghadap kearah lain,
seolah-olah sedang menikmati kelamnya hutan dilereng bukit itu.
“Ia sama sekali tidak mengacuhkan
kedatanganku,“ gumam Jlitheng didalam hatinya, “seandainya ia tidak menghiraukan
aku, apakah ia tidak merasa senang, bahwa aku telah membawa belanga dan
kelenting baginya ?”
Jlitheng sendiri tidak tahu, kenapa
tiba-tiba saja ia merasa tersinggung. Sikap itu adalah sikap Swasti sejak ia
bertemu pertama kali. Gadis itu memang tidak pernah mengacuhkan kehadirannya.
Bahkan kadang-kadang justru berlindung dibalik batang-batang pohon.
Perasaan itu, telah membuat sikap
Jlitheng agak berbeda. Peristiwa yang terjadi di Lumbanpun agaknya telah
berpengaruh pula atasnya.
Kiai Kanthi ternyata memiliki
ketajaman penglihatan.
Bukan saja atas sikap Jlitheng yang
nampak, namun orang itu seolah-olah dapat membaca kerut dikening anak muda itu.
Tetapi Kiai Kanthi bersikap
hati-hati. Tentu ada sesuatu yang telah terjadi sehingga mempengaruhi sikap anak
muda itu. Meskipun demikian Kiai Kanthi tidak menanyakannya. Dipersilahkannya
anak muda itu duduk diatas sehelai ketepe yang dianyamnya dari daun ilalang.
“Terima kasih Kiai,“ Jlitheng
mengangguk-angguk. Namun sambil duduk ia berkata, “aku ingin berceritera tentang
sesuatu yang telah terjadi di Lumban, Kiai.”
“Apakah ada peristiwa lain yang telah
terjadi ngger ?“ bertanya Kiai Kanthi.
Jlitheng termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian iapun mulai berceritera tentang dua orang Kendali Putih yang
mencari keterangan tentang kedua kawannya yang hilang.
“Tidak ada pilihan lain kecuali
membunuh mereka,“ berkata Jlitheng.
Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia
mengerti bahwa Jlitheng telah dihadapkan pada suatu keadaan yang sulit, sehingga
tidak banyak kesempatan baginya untuk memikirkan tindakan yang lebih tepat dari
membunuh mereka.
Tetapi Kiai Kanthi terkejut ketika
Jlitheng kemudian bertanya, “Kiai, apakah benar Kiai tidak mengerti apa yang
telah terjadi di Lumban itu.”
Kiai Kanthi mengerutkan keningnya.
Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Aku tidak tahu maksudmu ngger. Bagaimana aku
dapat mengetahui peristiwa itu, karena setiap saat siang dan malam aku menunggui
anakku disini. Sekali-kali aku mengejar seekor binatang buruan atau mengail
ditelaga itu.”
Kiai Kanthi berhenti sejenak, lalu,
“tetapi memang sudah terpikir olehku, bahwa aku tidak akan dapat berada ditempat
ini seperti orang yang sedang bersembunyi untuk waktu yang terlalu lama.
Persediaan garam yang aku bawa pun telah tinggal sedikit, sehingga pada suatu
saat, aku tentu akan datang ke Lumban.”
Jlitheng termangu-mangu sejenak.
Dipandanginya wajah orang tua itu sejenak. Dalam cahaya perapian yang
kemerah-merahan Jlitheng memang melihat, kerut-kerut keheranan di wajah orang
tua itu
Tetapi Jlitheng sudah bertekat untuk
meyakinkan, apatah orang tua itu pantas dicurigai atau tidak. Selebihnya, apakah
benar seperti yang diduganya sejak ia melihat orang tua itu untuk pertama kali,
bahwa ia memang memiliki ilmu yang dapat dibanggakan sehingga sudah sepantasnya
ia menghormatinya seperti seharusnya diberikan kepada orang-orang tua dan
orang-orang berilmu.
Jlithengpun sadar, bahwa keinginannya
untuk mengetahui ilmu orang tua itu, juga didorong oleh suatu kerinduan kepada
gurunya. Sejak ia terpisah dari gunung, maka rasa-rasanya ia memang memerlukan
seseorang yang dapat dianggapnya sebagai gurunya dan lebih-lebih lagi sebagai
ayahnya yang juga sudah tidak ada lagi.
“Tetapi tidak semua orang dapat aku
anggap sebagai guru dan orang tuaku,“ anak muda itu menggeram didalam hatinya.
Karena itu, maka tiba-tiba saja sikap
Jlitheng telah benar berubah. Dengan suara yang lantang dan kata-kata yang agak
keras ia berkata, “Kiai, lelucon yang Kiai buat disini seharusnya sudah
berakhir. Sejak kedatangan Kiai dan anak gadis yang Kiai katakan anak Kiai itu,
Lumban bagaikan diguncang oleh gempa. Aku tidak tahu apakah sebenarnya yang
terjadi. Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa Lumban telah dijamah orang-orang
Kendali Putih dan orang Pusparuri. Sementara itu, Kiai yang berpura-pura sebagai
seorang perantau telah berada pula di tempat ini.”
“Angger,“ Kiai Kanthi memotong dengan
wajlah yang tegang, “kenapa tiba-tiba saja angger menuduh aku seperti itu ?”
Jlitheng seolah-olah tidak mendengar
kata-kata Kiai Kanthi. Bahkan ia menambahkannya, “Semula aku percaya dan bahkan
mengagumi rencana Kiai untuk membuka sebuah padepokan, justru didekat mata air
di bukit itu. Tetapi ternyata kedatangan Kiai telah diikuti oleh
pjeristiwa-peristiwa yang menumbuhkan korban jiwa.“
Kiai Kanthi termangu-mangu sejenak.
Dipandanginya Wajah anak muda itu, seolah-olah ia ingin melihat, apakah yang
tersirat pada kata-katanya itu.
“Angger,“ berkata Kiai Kanthi sareh,
“sebagai orang tua, aku mencoba untuk mengerti apakah yang angger maksud
sebenarnya dibalik kata-kata dan terlebih-lebih lagi sikap angger. Mungkin
angger benar-benar mencurigai kami. Tetapi mungkin angger mempunyai
maksud-maksud lain tertentu dengan sikap itu.”
“Apapun tanggapan Kiai, tetapi aku
akan tetap pada sikapku. Aku ingin membawa Kiai dan perempuan yang Kiai sebut
sebagai anak gadis Kiai itu ke Lumban. Kalian berdua harus dihadapkan kepada
kedua Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”
“Jangan begitu anakmas,“ berkata Kiai
Kanthi, “kau belum darat membuktikan bahwa kami berdua berbuat salah. Adalah
tidak adil bahwa angger akan menangkap kami dan membawa kami menghadap Ki Buyut.
Memang kami sudah berniat untuk menghadap Ki Buyut dan menyatakan niat kami
membuka sebuah padepokan. Tetapi bukan sebagai dua orang tawanan. Kami akan
menghadap sebagai manusia yang bebas dan dapat menentukan sikap menurut
keinginan kami.”
“Jangan membantah Kiai. Aku dapat
memaksa Kiai. Jika perlu aku akan minta bantuan kepada Daruwerdi. Aku sendiri
dapat membunuh dua orang murid perguruan terkenal Kendali Putih, dan
Daruwerdipun dapat melakukannya pula. Karena itu, tidak ada kesempatan bagi Kiai
untuk melawan kehendakku.”
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Kau memang aneh ngger. Malam ini kau membawa belanga dan
kelenting kepada kami. Tetapi tiba-tiba saja kau bermaksud menangkap kami. Jika
demikian maka belanga dan kelenting ini tidak akan ada artinya.”
Pertanyaan itu benar-benar tidak
diduga-duga oleh Jlitheng. Karena itu maka untuk sesaat ia justru terdiam.
Dipandanginya belanga dan kelenting yang dibawanya dengan diam-diam dari
padukuhan. Namun ternyata bahwa perasaannya telah digelut oleh berbagai macam
tanggapan atas orang tua itu, sehingga ia telah mengambil sikap untuk meyakinkan
siapakah sebenarnya yang telah dihadapinya itu. Apakah ia hanya sekedar seorang
perantau, seorang yang benar-benar mencari daerah baru, atau seseorang yang
memang mempunyai niat yang kurang baik seperti orang-orang Kendali Putih dan
mungkin juga seperti orang-orang Pusparuri, meskipun dengan gaya yang
berbeda-beda.
Namun dalam pada itu, selagi Jlitheng
merenungi pertanyaan Kiai Kanthi. tiba-tiba telah terdengar suara dari
kegelapan, “Ayah, kenapa ayah masih juga belum berbuat apa-apa.”
Jlitheng berpaling. Dilihatnya Swasti
tidak lagi duduk bersandar sebatang pohon diarah yang berseberangan, namun ia
telah berdiri tegak dengan sorot mata yang membara.
“Ayah,“ berkata Swasti, “aku tahu.
Kita berdua dianggapnya seperti orang-orang Kendali Putih. Atau setidak-tidaknya
kita mempunyai hubungan dengan mereka. Jika memang anak muda itu berniat
menangkap kami, maka ia harus membuktikan, bahwa ia memang mampu melakukannya.”
Kiai Kanthi menegang sejenak. Namun
kemudian ia melangkah mendekati anak gadisnya sambil berkata, “Sabarlah Swasti.
Kita harus mengerti, bahwa kecurigaan yang demikian, dapat saja timbul dihati
siapapun juga. Angger Jlitheng telah didorong oleh keadaan, sehingga ia telah
berubah sikap. Semula ia menerima kedatangan kami dengan baik. Itu adalah
nuraninya yang sebenarnya. Perubahan yang timbul itu tentu ada sebabnya.”
“Apapun sebabnya, tetapi aku tidak
akan bersedia datang kepada siapapun sebagai seorang tangkapan,“ geram Swasti.
“Aku sedang mencoba menjelaskan
kepadanya.”
Namun yang menjawab adalah Jlitheng,
“Bersedia atau tidak bersedia. Aku mempunyai alasan untuk memaksa kalian.
Pertama, karena aku adalah anak muda Lumban yang bertanggung jawab atas keamanan
dan ketenangan padukuhanku. Kedua, karena aku memang memiliki kemampuan untuk
menangkap kalian berdua.”
“Anakmas,“ berkata Kiai Kanthi,
“sikap anakmas memang sangat meragukan. Tentu anakmas tidak akan dapat berkata
kepada Ki Buyut Lumban Wetan apalagi Lumban Kulon, bahwa kaulah yang telah
menangkap kami karena Jlitheng adalah sekedar anak seorang janda miskin di
Lumban Wetan. Seorang anak muda yang dungu dan sedikit malas. Seorang pemimpi
yang berangan-angan tentang air yang mengalir diparit meskipun dimusim kemarau.
Tidak ngger. Tidak akan ada seorangpun yang mempercayaimu.”
Wajah Jlitheng benar-benar menjadi
tegang. Namun wajah itu bertambah tegang ketika Swasti meloncat maju sambil
berkata lantang, “Ayah jangan bersikap terlalu lunak. Memang kita adalah
orang-orang yang aneh. Kadang-kadang kita merasa perlu untuk hidup dan
lingkungan sesama. Tetapi kita adalah orang-orang yang telah diracuni oleh
kecurigaan dan permusuhan. Karena itu, biarlah ia memuaskan dirinya dengan
sikapnya. Aku akan membuktikan, bahwa ia tidak mempunyai kesempatan apapun untuk
menangkap kita. Apalagi ayah, sementara aku akan membela diriku dengan kekerasan
jika ia akan memaksa dengan kekerasan pula.”
“Swasti,“ potong Kiai Kanthi.
Tetapi Swasti sudah melangkah maju
mendekati Jlitheng. Sikapnyapun telah berubah, seperti sikap Jlitheng yang
berubah pula. Gadis itu tidak lagi berlindung dibalik sebatang pohon,
seakan-akan untuk menyembunyikan diri dari tatapan mata anak muda yang belum
banyak dikenalnya itu. Tetapi kini ia melangkah maju dan berhenti tidak lebih
dari dua langkah dihadapannya. Dengan tajamnya ia menatap mata Jlitheng yang
hitam pekat tanpa ragu-ragu.
Ternyata dada Jlitheng menjadi
berdebar-debar melihat sikap gadis yang mantap itu. Ia baru mengetahui, bahwa
gadis itu mampu mengikutinya meloncat batu-batu padas di tebing pegunungan saat
mereka mendaki mencari belumbang yang berair melimpah itu.
Terasa kulitnya meremang ketika
Jlitheng mendengar gadis itu berkata kepadanya, “Ki Sanak. Sekarang apa yang
ingin kau lakukan, lakukanlah. Jika kau memang mampu mengalahkan kami, separti
kau mengalahkan orang-orang Kendali Putih, terserahlah apa yang akan kau
lakukan. Mungkin kau merasa perlu membunuh kami seperti kau membunuh orang-orang
Kendali Putih, mengubur mayat kami didekat belumbang itu atau membiarkan mayat
kami menjadi makanan binatang buas. Kemudian, kau akan mengendalikan air
belumbang itu sebagai seorang pahlawan bagi Lumban Wetan dan Lumban Kulon, untuk
merebut perhatian rakyatnya yang kini tertuju kepada Daruwerdi.”
Dada Jlitheng tergetar. Ia tidak
menduga bahwa Swasti akan menghadapinya dengan tabah tanpa gentar sama sekali,
meskipun ia sudah menceriterakan tentang dua orang Kendali Putih yang telah
dibunuhnya. Sehingga dengan demikian, maka Jlitheng mulai menjajagi kemampuan
gadis itu menurut sikap dan tanggapannya.
Karena itu, Jlithengpun menjadi
semakin berhati-hati. Namun demikian ia harus selalu menyadari, apakah yang
sebenarnya ingin dilakukan atas kedua orang itu. Ia tidak boleh terdorong
sehingga yang terjadi kemudian akan menumbuhkan penyesalan dihatinya.
Yang ingin dilakukan adalah sekedar
meyakinkan diri, siapakah yang sebenarnya sedang dihadapinya, sehingga ia akan
dapat menempatkan diri dengan tepat sebaik-baiknya. Kecuali jika kemudian
ternyata bahwa keduanya adalah orang-orang yang bersangkut paut dengan perguruan
Kendali Putih atau perguruan lain yang mempunyai kepentingan dengan Daruwerdi
dan bersikap seperti orang-orang Kendali Putih itu.
Namun kini agaknya Swastilah yang
berdiri dihadapannya. Bukan Kiai Kanthi. Apalagi ketika ternyata bahwa Kiai
Kanthi agaknya membiarkan anak gadisnya itu menghadapinya.
Bagaimanapun juga ternyata bahwa
Jlitheng agak tersinggung. Dengan demikian Kiai Kanthi menempatkannya dalam
tataran anak gadisnya, sehingga orang tua itu menganggap bahwa Swasti akan dapat
menyelesaikan persoalannya.
“Aku telah membunuh dua orang murid
dari Kendali Putih. Apakah orang tua itu tidak dapat mengerti, tataran kemampuan
seseorang yang telah berhasil membunuh dua orang murid dari perguruan Kendali
Putih?”
Tetapi Jlitheng tidak dapat berpikir
lebih lama lagi. Swasti benar-benar telah bersikap untuk melawannya. Bahkan
kemudian gadis itu berkata, “Ki Sanak. Jangan menunggu lagi. Sebelum matahari
terbit, kita harus sudah dapat menentukan, apakah yang akan kita lakukan
masing-masing. Kau sudah mengambil jalan yang paling dekat untuk mengetahui
siapakah kami. Aku dan ayah. Dan akupun akan memilih jalan serupa untuk
menyatakan diri kami.”
Jlitheng tidak dapat menarik diri
dari persoalan yang sudah dimulainya. Karena itu, maka katanya kepada Kiai
Kanthi, “Kiai. Apakah Kiai sudah mempertimbangkan, bahwa Swastilah yang harus
berdiri didepan, karena tersinggung mendengar kata-kataku?”
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Namun ia tidak beranjak dari tempatnya. Dengan nada yang datar ia
menjawab, “Jangan bertanya begitu ngger. Aku menjadi bingung untuk menjawabnya.
Bukankah angger dapat menjajagi maksudku seperti aku dapat menjajagi maksud
angger ?” Karena itu, yang akan terjadi biarlah terjadi seperti yang kau hadapi
tanpa keterangan apapun.”
Debar jantung didalam dada Jlitheng
terasa semakin cepat berdetak. Tetapi ia benar-benar tidak dapat mengurungkan
niatnya.
Karena itu, maka katanya, “Baiklah
Kiai. Jika hal ini harus terjadi tanpa keterangan apapun juga.”
Swasti yang tidak sabar lagi berkata,
“Apapun yang kau sebutkan dengan peristiwa ini, bagiku jelas.”
Jlithengpun segera mempersiapkan
diri. Dadanya menjadi semakin terguncang ketika ia melihat Swasti mulai
bersikap. Ternyata bahwa gadis itu mengenakan pakaian rangkap sehingga ia telah
siap menghadapi segala kemungkinan.
Namun Jlitheng masih saja ragu-ragu
menghadapi gadis itu. Meskipun menilik sikapnya, Swasti tentu memiliki bekal
yang cukup. Apalagi gadis itu sudah mendengar, bahwa Jlitheng baru saja membunuh
dua orang dari perguruan Kendali Putih.
Karena Jlitheng masih ragu-ragu,
Swasti yang tidak sabar lagi telah memancing perkelahian. Dengan tangannya ia
menyerang kening meskipun tidak bersungguh-sungguh, karena iapun sadar, bahwa
Jlitheng telah bersiap sepenuhnya.
Meskipun demikian Jlitheng harus
mengelak. Ia bergeser setapak sambil memiringkan tubuhnya.
Namun tidak diduganya, bahwa
tiba-tiba saja Swasti telah menyerang dengan kakinya langsung kelambung anak
muda itu.
Serangan itu telah mengejutkan
Jlitheng. Namun iapun mampu bergerak cepat, sehingga iapun telah meloncat surut.
Tetapi Swasti tidak membiarkannya. Dengan cepat ia memburu. Serangan berikutnya
datang beruntun. Kakinya berputar mendatar.
Sekali lagi Jlitheng terpaksa
bergeser. Namun yang terjadi telah menggetarkan dadanya. Ternyata Swasti
benar-banar memiliki kelncahan bergerak dan tenaga yang besar. Jlitheng sadar,
bahwa pada bagian-bagian pertama dari perkelahian itu, Swasti tentu masih belum
mempergunakan segenap kekuatan dan kemampuannya. Namun telah terasa desir angin
yang menyentuh tubuhnya, saat-saat serangan Swasti menyambarnya.
Jlitheng tidak dapat merenungi saja
serangan-serangan Swasti. ia merasa perlu untuk memperkecil kemungkinan yang
dapat menjadi gawat baginya.
Karena itu maka Jlithengpun bukan
saja harus menghindar terus-menerus. Tetapi ketika ia mendapat kesempatan, maka
iapun mulai menyerang pula.
Sejenak kemudian, perkelahian itupun
meningkat semakin cepat dan keras. Masing-masing telah dibumbui oleh kehangatan
darah mudanya yang mulai menggelegak.
Meskipun sejak semula Jlitheng telah
menyangka bahwa Swasti memiliki kemampuan yang cukup, namun ketika keduanya
mulai membenturkan ilmunya, barulah Jlitheng menyadari, bahwa yang dihadapinya
bukannya sekedar murid-murid dari Kendali Putih. Meskipun ia harus melawan dua
orang murid perguruan Kendali Putih yang sudah banyak dikenal itu, namun ia
merasa, bahwa seorang gadis yang bernama Swasti itu memiliki kemampuan yang
lebih besar. Meskipun gadis itu berasal dari daerah yang dimusnakan oleh tanah
longsor, gempa dan banjir menurut pengakuannya, namun ia menyimpan ilmu yang
luar biasa dari perguruan yang belum dimengertinya.
Dalam pada itu, perkelahian diantara
kedua anak-anak muda itu semakin lama menjadi semakin sengit. Jlitheng terdorong
oleh kecepatan gerak lawannya telah mengerahkan kemampuannya ipula untuk
mengimbanginya. Bahkan ternyata. bahwa, kekuatan gadis itupun telah memeras
kekuatannya pula.
Ketika mula-mula ia menjajagi
kekuatan serangan Swasti dengan menangkis serangannya, terasa bahwa tangannya
telah tergetar. Meskipun saat itu Jlitheng belum mempergunakan segenap
kekuatannya namun iapun menyadari, bahwa Swasti-pun masih lebih banyak
menjajaginya pula.
Tetapi semakin lama, kedua anak-anak
muda itu tidak lagi sempat membuat pertimbangan-pertimbangan. Tenaga mereka
perlahan-lahan telah tersalur semakin besar, sehingga akhirnya, keduanya tidak
lagi mampu menahan diri dengan memperhitungkan hentakan-hentakan tenaga
masing-masing.
Kiai Kanthi memperhatikan perkelahian
itu dengan dada yang berdebar. Sejak Swasti meningkat semakin besar menjelang
remaja, ia sudah membuat gadis itu menyimpang dari kebanyakan kawan-kawannya.
Mula-mula Swasti merasakan tekanan ayahnya yang memaksanya untuk memisahkan
waktu bermainnya dengan tingkah laku yang tidak disukainya. Bersembunyi ditempat
yang tidak disentuh kaki manusia di balik rimbunnya hutan dilereng pegunungan
sebelum gempa dan tanah longsor yang dahsyat menghancurkan hutan kecil itu,
dengan latihan-latihan yang mula-mula terasa menjemukan.
Namun perlahan-lahan Swasti ternyata
tertarik juga pada olah kanuragan yang diajarkan oleh ayahnya.
Ketika ia menginjak usia remajanya,
maka Swasti telah memiliki dasar-dasar ilmu yang sudah jarang dikenal orang,
meskipun ada juga beberapa perguruan lain yang memiliki persamaan. Tetapi ada
ciri-ciri yang memberikan warna tersendiri bagi ilmu Kiai Kanthi yang
diturunkannya kepada anak gadisnya.
Kiai Kanthi mengerutkan keningnya
ketika ia melihat gadisnya terpaksa menghindar, dua langkah surut. Namun dengan
serta merta Swasti meloncat sambill menjulurkan kakinya lurus menyamping. Tetapi
ternyata bahwa ia tidak benar-benar ingin menyerang dengan kakinya. Sebuah
putaran telah mendorongnya kesampimg. Dengan lincahnya ia melenting dengan
tangan terjulur lurus.
Jlitheng sempat mengelak meskipun
desir angin yang lembut telah menyentuh wajahnya. Hampir saja keningnya disambar
tangan Swasti.
Betapapun gelapnya malam, dan
betapapun kecil api perapian yang menerangi arena perkelahian itu, namun
Jlitheng mulai melihat ciri-ciri yang khusus pada lawannya. Ia melihat Swasti
dalam sikap yang menumpukan kekuatan pada hentakkan-hentakkan yang cepat.
Semula Jlitheng mengira bahwa sikap
itu sesuai dengan unsur keperempuanan Swasti yang lebih sesuai dengan penempaan
diri dalam kecepatan bergerak daripada penyusunan kekuatan wadag. Namun ternyata
dugaannya salah. Meskipun Swasti seorang gadis, tetapi kekuatan tubuhnya
benar-benar mengagumkan.
Pengenalan Jlitheng pada unsur gerak
Swasti yang lain adalah, bahwa Swasti selalu membuka jari-jari tangannya. Dalam
keadaan yang tiba-tiba, serangannya lebih banyak tertuju kepada bagian yang
lemah dengan mempergunakan ibu jarinya. Bukan jari-jari yang lain. Ketika
Jlitheng agak terlambat mengelak, maka lehernya telah tersentuh ibu jari Swasti
tepat mengenai sasarannya, maka perlawanannya tentu akan terhenti. Mungkin ia
akan menjadi lemas dan pernafasannya bagaikan tersekat dikerongkongan.
Selain serangan-serangan tangannya
yang cepat dan berbahaya, kaki Swastipun merupakan bahaya yang setiap saat dapat
melumpuhkannya. Nampaknya Swasti terlalu percaya kepada tumitnya.
Sementara itu, Swastipun telah
menilai unsur-unsur gerak lawannya pula. Seperti Jlitheng, iapun melihat
beberapa kekuatan pada tata gerak Jlitheng. Jlitheng bergerak lebih mantap.
Menurut pengamatan Swasti. Jlitheng banyak mempergunakan sikunya, bukan saja
untuk menangkis, tetapi juga untuk menyerang.
Tetapi lebih dari ujud dan gerak
masing-masing, maka Jlitheng maupun Swasti telah menilai lawannya lewat sifat
dan watak gerak masing-masing. Betapapun cepatnya dan berbahayanya ibu jari
Swasti, namun menurut Jlitheng, watak ilmu gadis itu bukannya ilmu yang garang
dan kasar. Ada beberapa dasar tata gerak yang langsung melumpuhkan lawan, tetapi
bukannya serangan yang ganas dan langsung mematikan. Kecepatan bergerak Swasti
adalah ujud dari percikan watak ilmunya yang lebih banyak menghindari
benturan-benturan. Namun ternyata bahwa jika benturan itu harus terjadi, Swasti
telah mempersiapkan diri dengan kekuatan yang dapat diandalkan.
Swastipun melihat, bahwa Jlitheng
bukan saja bertempur dengan kekuatannya. Tetapi ia bertempur dengan lebih banyak
mempergunakan otaknya. Geraknya kadang-kadang tidak dapat diduganya terlebih
dahulu. Namun terasa, bahwa perhitungannya yang tepat, membuat lawannya
kadang-kadang bingung dan dihadapkan kepada keadaan yang tidak terduga.
Jika kedua, orang yang bertempur itu
berusaha menilai kekuatan dan kelemahan masing-masing, maka Kiai Kanthi mendapat
kesempatan yang cukup untuk melihat ciri-ciri gerak dan watak kedua ilmu yang
saling berbenturan itu. Sekali-kali ia menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
kepalanya terangguk-angguk lemah.
Tetapi Kiai Kanthi tidak menjadi
cemas. Nampaknya keduanya masih saling menjajagi. Dari unsur gerak yang paling
sederhana, sampai kepada ketepatan gerak dan arah yang rumit. Sentuhan-sentuhan
kecil sampai benturan-benturan yang dahsyat dengan mengerahkan segenap kekuatan
wadag.
Namun demikian, perlahan-lahan
pertempuran itupun meningkat semakin seru. Bukan saja benturan-benturan wadag
dengan sepenuh kekuatan, namun ketika tubuh mereka telah basah oleh keringat,
dan jantung mereka berdentang semakin cepat, maka sadar atau tidak sadar, mulai
mengalirlah kekuatan cadangan pada loncatan-loncatan yang cepat dan
benturan-benturan yang keras.
Kiai Kanthi yang berdiri diluar
lingkaran pertempuran mengerutkan keningnya. Ia harus semakin berhati-hati
menyaksikan pertempuran yang semakin meningkat itu. Bukan saja benturan kekuatan
wajar, tetapi penyaluran kekuatan cadangan yang mulai bersentuhan, memberikan
pertanda, bahwa keduanya semakin dalam dicengkam oleh perasaan daripada nalar.
Apalagi keduanya masih dialiri darah kemudaan mereka yang panas dan cepat
mendidih didalam jantung masing-masing.
Meskipun demikian. Kiai Kanthi masih
membiarkan keduanya bertempur. Dalam kegelapan ia menyaksikan pertempuran itu
dengan saksama. Tetapi ia tidak meninggalkan kewaspadaan. Apabila sesuatu
terjadi pada salah seorang dari keduanya, maka ia akan dibebani oleh tanggung
jawab, yang akan dapat membuatnya menyesal disepanjang hidupnya.
Tetapi, sifat ingin tahunyapun telah
mengekangnya pula untuk memisahkan keduanya, ia ingin lalui lebih jauh, betapa
tinggi ilmu yang telah dikuasai oleh anak muda yang mengaku bernama Jlitheng
itu.
Karena itu, maka orang tua itu masih
berdiri diam. Ia melihat Jlitheng menjadi semakin mantap dan Swastipun bergerak
semakin cepat.
Namun benturan-benturan yang kemudian
terjadi telah mendebarkan jantungnya. Kedua anak muda itu telah tidak lagi
sekedar mempercayakan dirinya pada kekuatan wajarnya.
Dengan tegang Kiai Kanthi melihat
Jlitheng yang terdesak surut, telah menghentakkan kakinya diatas tanah yang
lembab. Kiai Kanthi sadar, bahwa Jlitheng telah menghentakkan kekuatan
cadangannya pula lewat serangannya yang kemudian menyusul dengan cepat dan
keras. Sambil menggeram anak muda itu menyerang dengan menjulurkan tangannya.
Jari-jarinya nampak berkembang, seolah-olah ingin menerkam wajah lawannya.
Tetapi Swasti yang menyadari
keadaannyapun telah menyalurkan kekuatan cadangannya pula. Kakinya menjadi
semakin cepat, sehingga gadis itu seolah-olah tidak berjejak diatas tanah.
Tangannya yang kadang-kadang mengembang, membuatnya bagaikan terbang berputaran.
Dengan tangkasnya ia menghindari
serangan Jlitheng. Sambil merendahkan dirinya ia sempat menyentuh tangan
lawannya kesamping. Hampir diluar pengamatan mata wadag, kakinya telah terjulur
menyerang lambung lawannya yang terbuka.
Jlitheng tidak sempat mengelak.
Tetapi ia tidak membiarkan lambungnya dihantam tumit Swasti. Meskipun kaki
Swasti meluncur dengan cepat, namun Jlitheng masih sempat melindungi lambungnya
dengan sikunya.
Yang terjadi kemudian adalah suatu
benturan kekuatan. Ketika keduanya tergetar dan terdorong selangkah surut,
keduanya menyadari bahwa keduanya telah mulai mempergunakan kekuatan melampaui
kekuatan wadag mereka yang sewajarnya.
“Pantas anak ini dapat membunuh dua
orang murid Kendali Putih,” desis Kiai Kanthi yang hanya didengarnya sendiri. Ia
yakin bahwa Jlitheng masih akan meningkatkan perlawanannya. Demikian pula
Swasti, sehingga pada suatu saat mereka akan sampai pada tingkat yang
membahayakan.
Karena itu, maka iapun kemudian
melangkah maju. Dengan nada tinggi ia berkata, “Swasti, sudahlah. Bukan caranya
demikian untuk menyelesaikan masalah. Angger Jlitheng, sudahlah. Kita akan
berbicara dengan baik. Kita sudah dapat mengetahui, siapakah sebenarnya kita
masing-masing.”
Tetapi jantung Kiai Kanthi
berdentangan semakin cepat ketika ia mendengar Swasti menjawab, “Bukan salahku
ayah. Aku hanya melayaninya. Aku hanya membela diri dengan cara yang sama
seperti yang dipilihnya.”
“Angger Jlitheng …“ berkata Kiai
Kanthi yang terputus oleh jawaban anak muda itu, “ … aku ingin membuktikan
kata-kataku. Bahwa aku akan berhasil menangkap kalian berdua.”
“Tidak ngger. Aku tahu, bukan itulah
maksudmu yang sebenarnya.”
Jlitheng tidak menjawab. Justru
Swasti menyerang semakin cepat. Karena itu, maka Jlithengpun bergerak semakin
cepat pula.
“Ngger. Kau tentu hanya akan
meyakinkan, siapakah yang kau hadapi sekarang ini. Yang kau lakukan sudah cukup.
Bahkan sudah berlebihan.”
Jlitheng tidak menjawab. Persoalan
yang bergejolak dihatinya telah bergeser. Bukan saja keinginannya untuk
menjajagi dan meyakinkan siapakah yang sedang dihadapi, namun harga dirinya
sebagai seorang anak muda sudah tersinggung. Swasti adalah seorang gadis.
Umurnya tidak akan lebih tua daripadanya.
Sebagai seorang laki-laki yang pernah
membunuh dua orang murid perguruan Kendali Putih, apakah ia akan membiarkan
dirinya diletakkan dalam tataran yang setingkat dengan seorang gadis perantau
yang umurnya lebih muda daripadanya ?
Tiba-tiba saja Jlitheng menggeram.
Dengan tegang ia memandang ke dirinya sendiri sambil berkata didalam hati, “He,
apakah kau akan menyerah terhadap seorang gadis kecil yang dungu dan binal itu
?”
Karena itulah, maka Jlitheng justru
semakin mengerahkan tenaganya. Tenaga cadangannya yang mempunyai kekuatan
berlipat dari tenaga wajarnya. Bukan lagi seperti niatnya semula, tetapi
semata-mata karena ia seorang laki-laki, sedang Swasti adalah seorang gadis yang
lebih muda daripadanya.
Tetapi ternyata bahwa Swastipun mampu
pula berbuat serupa. Gadis itu tidak lagi sekedar bertumpu kepada kekuaatan
wajarnya, ia tidak lebih dari seorang gadis yang menurut kodratnya tidak akan
melebihi kekuatan seorang laki-laki. Tetapi Swasti ternyata memiliki kelebihan
dari gadis-gadis kebanyakan. Ia mampu mengungkap kekuatan yang tersembunyi
didalam dirinya, yang hanya dapat nampak dengan sikap dan laku yang khusus, yang
memerlukan waktu dan kemampuan untuk mempelajarinya.
Karena itu, betapapun Jlitheng
mengerahkan kekuatan dan ilmunya, yang wajar maupun yang tersembunyi, ternyata
bahwa Swasti mampu mengimbanginya. Kecepatan bergerak dari kaki gadis itu
kadang-kadang membuat Jlitheng kehilangan sasaran. Meskipun iapun mampu
melakukannya pula apabila Swasti menyerangnya.
Kedua anak muda itu bertempur semakin
dahsyat. Mereka tidak lagi dua orang yang bergerak dan berbenturan dalam keadaan
wajar, sehingga karena itu, maka pertempuran itupun telah membuat suasana yang
lain dihutan itu. Pepohonan berguncang bagaikan diputar oleh angin pusaran.
Ge-rumbul-gerumbul berserakan dan dahan-dahan berpatahan. Batu-batu padas pecah
dan terlempar berhamburan.
Kiai Kanthi semakin lama menjadi
semakin cemas. Ia melihat perkelahian itu berkembang semakin dahsyat. Bahkan
kemudian nampaknya kedua anak muda itu benar-benar telah kehilangan kendali.
Dengan hati-hati Kiai Kanthi
mendekat. Sekali lagi ia mencoba berteriak menghentikan pertempuran yang semakin
dahsyat titu. Tetapi suaranya bagaikan hilang ditelan oleh gemuruhnya angin yang
timbul karena ayunan kekuatan yang terungkap dari kekuatan cadangan yang justru
jauh lebih dahsyat dari kekuatan wajar kedua anak muda yang sedang bertempur
itu.
“Angger Jlitheng,“ teriak Kiai
Kanthi, “hentikan, hentikan.”
“Aku bukan laki-laki cengeng yang
menyerah kepada perempuan,“ geram Jlitheng.
Kiai Kanthi menjadi semakin
berdebar-debar. Ia sadar bahwa yang kemudian bergejolak, didada Jlitheng adalah
harga dirinya sebagai laki-laki.
Karena itu, maka iapun mencoba
menghentikan Swasti. Teriaknya, “Berhentilah Swasti. Marilah kita bicara.”
Tetapi Swastipun berteriak tidak
kalah lantangnya, “Aku bukan perampok yang mengulurkan kedua tangan dan kaki
untuk dikat dan diseret kehadapan siapapun.”
“Kita dapat berbicara dengan baik,“
Kiai Kanthipun berteriak pula.
“Bukan aku yang mulai,“ jawab Swasti.
“Siapapun yang mulai, hentikanlah.”
“Bukan aku yang harus menghentikan
lebih dahulu.”
Kiai Kanthi menjadi bingung.
Persoalannya sudah jauh bergeser, sehingga justru akan sangat sulit baginya
untuk menghentikannya, karena yang berbicara dihati kedua anak-anak muda itu
adalah perasaannya, bukan lagi nalarnya.
Dalam pada itu, ternyata keduanya
telah memeras segala kemampuan dan kekuatan. Swasti menyambar-nyambar seperti
seekor burung lawet diudara, sementara Jlitheng mengimbangi kecepatan itu dengan
sikap yang kuat dan tangguh seperti seekor burung elang. Tetapi sentuhan ujung
jarinya akan mampu mematahkan tulang dan menyobek kulit daging.
Semakin lama libatan serangan
masing-masing tidak semuanya dapat dielakkan dan ditangkis. Satu-satu tubuh
merelka telah tersentuh oleh kekuatan tenaga lawan yang dahsyat. Namun daya
tahan tubuh mereka masing-masingpun melampaui daya tahan orang kebanyakan.
Tetapi perasaan sakit dan nyeri telah
merambati tubuh mereka. Benturan dan sentuhan semakin sering terjadi.
Sekali-kali terdengar salah seorang diantara mereka berdesis tertahan. Namun
kadang-kadang terdengar juga hentakkan yang keras.
Kiai Kanthi menjadi semakin bingung.
Nampaknya keduanya telah kehilangan kesadaran dan pertimbangan.
“Aku harus menghentikannya,“ gumam
orang tua itu.
Karena itu maka Kiai Kanthipun justru
menjauhi beberapa langkah. Sekilas ia masih sempat melihat dedaunan yang
bergetar. Yang tidak mampu lagi berpegang pada ranting-rantingnya, telah runtuh
berjatuhan diantara semak-semak yang hancur berserakkan.
“Sekali lagi aku memperingatkan,“
teriak Kiai Kanthi.
Tetapi kedua anak-anak muda itu tidak
menghiraukannya.
Kiai Kanthi yang cemas itu tidak
dapat menunda lagi. Ia mulai melihat sentuhan-sentuhan yang berbahaya dari
keduanya. Salah seorang dari kedua anak muda itu kadang-kadang terlempar jatuh.
Meskipun ia segera melenting bangun, tetapi benturan-benturan berikutnya segera
menyusul dengan dahsyatnya.
Sejenak Kiai Kanthi termenung. Nampak
ia masih tetap ragu-ragu. Namun kemudian ia menyilangkan tangannya didadanya.
Dengan tajamnya dipandanginya kedua anak muda yang sedang bergulat dengan
ilmunya masing-masing untuk mempertahankan harga dirinya.
Kiai Kanthi tidak berteriak lagi.
Perlahan-lahan bibirnya bergerak, “Cukup, berhentilah. Berhentilah.”
Suaranya tidak terlalu keras. Tetapi
berbareng dengan lontaran kata-kata itu, seolah-olah angin prahara telah
bertiup. Ditelinga kedua anak muda yang sedang bertempur itu, suara Kiai Kanthi
bagaikan ledakan seribu guruh dilangit.
Sesaat kedua anak muda itu masih
bertahan. Mereka masih terlempar oleh ilmu masing-masing dalam benturan yang
dahsyat. Namun ketika Kiai Kanthi mengulangi kata-katanya maka merekapun
bagaikan lumpuh. Suara itu menggelegar didalam dada mereka, seolah-olah
meruntuhkan hati dan jantungnya.
Ketika sekali lagi Kiai Kanthi
bergumam, maka keduanya tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Keduanyapun diluar
sadar, telah menutup telinga masing-masing sambil menyeringai menahan nyeri
dijantungnya.
“Berhentilah,“ Kiai Kanthi masih
bergumam.
“Cukup ayah. Cukup,“ teriak Swasti.
“Ampun Kiai, aku akan berhenti,“
sambung Jlitheng.
Kiai Kanthi masih berdiri
ditempatnya. Dipandanginya kedua anak muda yang memegangi telinga mereka,
seolah-olah kata-kata yang dilontarkan oleh Kiai Kanthi itu menyusup kedalam
dada mereka lewat getaran selaput telinga.
Tetapi bagaimanapun juga mereka
menyumbat telinga mereka, namun suara itu tetap menghentak-hentak jantung,
seolah-olah hendak merontokkannya.
Namun perlahan-lahan hentakkan suara
yang bergulung-gulung didalam dada bagaikan amuk prahara itu, semakin mereda.
Semakin lama menjadi semakin lunak dan seolah-olah lenyap ditelan kesepian.
Kembali hutan dilereng gunung itu
menjadi senyap. Yang terdengar kemudian adalah gemerisik air dari beiumbang yang
berair melimpah, disisipi oleh desir angin lembut didedaunan.
“Angger Jlitheng,“ terdengar suara
Kiai Kanthi dengan nada dalam, suara wajarnya, “aku tidak mempunyai cara lain
untuk menghentikan kalian yang seolah-olah menjadi wuru karena terlalu banyak
minum tuak. Kalian seolah-olah tidak mendengar suaraku lagi, atau kalian
benar-benar telah kehilangan nalar. Angger Jlitheng tersinggung karena kau
seorang laki-laki, sedang lawanmu adalah seorang perempuan. Sedangkan Swasti
tersinggung karena kau akan ditangkap dan dibawa menghadap Ki Buyut Lumban Wetan
atau Lumban Kulon.”
Kedua anak muda itu kemudian duduk
tepekur. Ternyata perkelahian yang baru saja terakhir itu telah menghisap
sebagian besar tenaga mereka. Tenaga wajar dan tenaga yang tersimpan didalam
diri .sebagai tenaga cadangan, sehingga keduanya menjadi sangat letih. Nafas
mereka bekejaran bagaikan berebut dahulu lewat dilubang hidung. Dengan susah
payah mereka mencoba mengendalikan pernafasan mereka dan menguasai keletihan
yang terjadi pada tubuh masing-masing.
“ Yang ingin aku tanyakan, apakah
yang kau dapatkan dengan perkelahian itu ? Harga diri ?”
Kedua anak muda itu masih duduk
tepekur. Tetapi perlahan-lahan pernafasan mereka menjadi semakin teratur.
“Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian,
“aku mohon maaf. Semula aku sama sekali tidak ingin berkelahi karena harga diri.
Aku sebenarnya ingin menjajagi, siapakah sebenarnya Kiai Kanthi. Tetapi yang
berhadapan dengan aku kemudian ternyata adalah Swasti.“
Kiai Kanthi mengangguk-angguk.
Katanya, “Kau tidak mengatakan demikian, sehingga Swastilah yang mula-mula
tampil. Tetapi jika memang benar-benar kau kehendaki ingin menjajagi dan
mengetahui siapakah sebenarnya aku dengan caramu ngger, marilah. Kau tidak akan
lagi dibayangi oleh harga diri karena kau seorang laki-laki. Mungkin yang akan
membayangi kemudian adalah karena kau masih muda sehingga sepantasnyalah bahwa
kau harus dapat mengalahkan orang tua. Apakah begitu ?”
“Tidak Kiai. Aku tidak akan berani
lagi melakukannya. Aku sudah dapat mengetahui dengan bekal ilmuku yang sedikit.
Jika aku tidak dapat melampaui kemampuan Swasti, serta jika isi dadaku bagaikan
rontok mendengar suara Kiai, apakah aku masih akan mencoba menjajagi kemampuan
Kiai?”
“Mungkin saja ngger. Mungkin kau
menganggap bahwa dengan demikian kau akan mengetahui, perguruan manakah yang
sedang kau hadapi, seperti aku kini mengetahui, bahwa aku sedang berhadapan
dengan, perguruan Risang Alit.”
“Kiai,“ Jlitheng terkejut sehingga ia
tergeser selangkah, “darimana Kiai mengetahui?”
Kiai Kanthi tersenyum. Iapun kemudian
duduk pula bersama kedua anak muda yang kelelahan itu. Dihadapannya bara
perapian telah padam dan berserakkan.
Tangan Kiai Kanthi yang sudah mulai
dilukisi dengan kerut-kerut tahun itupun kemudian mengumpulkan beberapa potong
dahan dan sisa-sisa bara yang masih hangat.
“Perapian ini padam karena tanah dan
padas yang berserakkan oleh kaki kalian yang sedang berkelahi tanpa pengendalian
diri.”
Jlitheng dan Swasti tidak menyahut.
Sejenak Kiai Kanthi sibuk dengan
dahan-dahan yang tinggal sepotong-potong sisa api. Dikumpulkannya sisa api itu
diatas bekas perapian yang hangat.
“Apakah Kiai akan menyalakan perapian
itu ? Sebentar lagi fajar akan menyingsing,“ bertanya Jlitheng.
“Dinginnya bukan main. Angger yang
baru saja berkelahi mungkin tidak merasa dinginnya udara.”
“Apakah Kiai membawa titikan ?“
bertanya Jlitheng pula, “biarlah aku saja yang menyalakan.”
Kiai Kanthi tidak menjawab. Namun
Jlitheng dan Swasti melihat orang tua itu menggeserkan dahan-dahan kering itu
dengan tangannya.
Sejenak kemudian Jlitheng sekali lagi
tersentak, ia melihat bara mulai memerah dihadapannya, diantara dahan-dahan kayu
sisa perapian itu.
“Siapakah sebenarnya orang tua ini ?”
pertanyaan itu bergetar dihatinya. Sejak semula ia memang ingin memastikan,
apakah sudah sepantasnya ia berada dibawah pengaruh wibawanya. Namun kini
Jlitheng jadi yakin, bahwa ia memang sudah seharusnya menghormati orang tua itu
seperti gurunya sendiri. Apalagi karena orang tua itu telah mengetahui bahwa ia
berasal dari ilmu keturunan yang diwariskan oleh perguruan Risang Alit.
“Kiai,“ Jlithengpun kemudian bertanya
dengan nada yang dalam, “pertanyaanku semula belum Kiai jawab. Darimana Kiai
mengetahui bahwa aku adalah pewaris ilmu dari perguruan Risang Alit?”
“Ah, kau masih pura-pura tidak tahu
ngger. Bukankah kau sudah melepaskan hampir semua unsur gerak dari perguruanmu?
Aku tidak tahu pasti, siapakah yang langsung menjadi gurumu, sehingga kau
memiliki ilmu dari perguruan Risang Alit itu. Perguruan yang sudah tidak banyak
disebut orang lagi. Tetapi itu bukan berarti bahwa kelebihan ilmu dari perguruan
Risang Alit itu berkurang.”
Jlitheng termangu-mangu sejenak.
Namun dihadapan orang tua itu ia tidak merasa perlu untuk berahasia lagi. Karena
itu katanya, “Aku adalah murid Kiai Baskara yang lebih senang menyebut
padepokannya dengan nama Rasa Jati.”
Kiai Kanthi mengerutkan keningnya.
Namun kemudian ia tersenyum sambil berkata, “Jadi kau menerima warisan ilmu
Risang Alit lewat Kiai Baskara ? Jika demikian, wajarlah jika kau mampu membunuh
dua orang murid Kendali Putih.”
Jlitheng memandang Kiai Kanthi
sejenak. Namun diluar sadarnya ia berpaling kearah Swasti sambil berkata didalam
hatinya, “Tetapi ilmuku tidak lebih dari ilmu gadis itu. jika Swasti bertemu
dengan kedua orang Kendali Putih itu, iapun tentu akan dapat mengalahkan
mereka.”
“Angger Jlitheng,“ berkata Kiat
Kanthi kemudian, “jika kau ternyata murid Kiai Baskara. maka apakah salahnya
jika kau mengatakan, siapakah sebenarnya kau ini. Kau tentu bukan anak seorang
janda miskin yang merantau kemudian kembali pulang setelah kau sedikit menerima
ilmu dari seseorang.”
Jlitheng ragu-ragu sejenak, sekali
lagi ia memandang Swasti yang nampaknya masih acuh tidak acuh saja. Dalam
keremangan malam ia melihat Swasti memandang justru kearah kegelapan yang pekat.
“Kiai,“ berkata Jlitheng jika aku
tidak melihat betapa tingginya ilmu Kiai, maka aku tentu tidak akan mau
mengatakannya. Meskipun aku pernah juga menyebut namaku, tetapi dihadapan
orang-orang Kendali Putih yang aku yakin akan dapat aku selesaikan itu.”
“Jika kau tidak berkeberatan,
sebutlah namamu, keturunanmu dan barangkali sesuatu yang harus angger lakukannya
dan asalnya seperti yang pernah dikatakan.”
Jlitheng termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian ia mengatakan serba sedikit tentang dirinya. Namanya, orang
tuanya kepada murid-murid Kendali Putih yang telah dibunuhnya. Namun demikian,
Jlitheng tidak mengatakan apakah tugas yang harus dilakukannya di Lumban itu.
Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ketika
Jlitheng menyebut namanya, orang tua itu melihat anak gadisnya tergeser setapak.
Agaknya nama itu telah menarik perhatiannya. Tetapi sejenak kemudian,
pandangannya telah terlempar kembali kegelapnya dihutan itu.
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya didalam hatinya, “Swasti adalah gadis yang sangat angkuh.
Tetapi agaknya sikapnya yang berlebihan itu disebabkan oleh perasaan rendah diri
menghadapi seseorang yang meskipun seorang yang sederhana pula seperti
Jlitheng.”
Namun Kiat Kanthi tidak dapat
menyalahkan anak gadisnya. Ia memang melihat pakaian yang melekat pada anak
gadisnya yang meningkat dewasa, sehingga ia tidak akan dapat berbangga dengan
perkembangan wadagnya sebagai seorang gadis remaja. Itulah agaknya yang telah
membuatnya menjadi seorang gadis yang mudah tersinggung. Menuruti perasaan
rendah dirinya dengan sikap yang keras dan harga diri yang berlebih-lebihan.
“Kasihan anakku itu,“ tiba-tiba saja
perasaan ibanya lelah melonjak didalam hatinya, “aku akan berusaha, agar ia
dapat hidup seperti gadis-gadis sebayanya. Bergaul dengan kawan-kawannya dan
bekerja bersama-sama disawah atau ladang. Ikut serta dalam kesibukan peralatan
bersama kawan kawan gadis yang lain dan ikut berdesak-desakan menonton wayang
beber atau pertunjukkan tari. berlari-larian bersama gadis-gadis sebayanya
dipematang disaat padi sedang berbunga serta mencuci pakaian di sungai sambil
berdendang.
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Swasti tidak pernah terlibat dalam nafas kehidupan sewajarnya.
Sekali-kali ia bergaul juga dengan gadis-gadis padukuhan yang lenyap dilanda
banjir bandang dan gempa bumi serta tertimbun tanah longsor itu. Tetapi
hanya-sesaat-saat, karena hidupnya sebagian besar telah dirampas oleh sebuah
sanggar untuk menekuni olah kanuragan.
“Swasti berhasil menjadi seorang
gadis yang luar biasa. Ia dapat mengimbangi seorang anak muda dari perguruan
yang pernah menggemparkan seluruh Majapahit. Perguruan yang dipimpin oleh Risang
Alit. yang mempunyai ciri yang khusus, lewat seorang yang mengagumkan pula, Kiai
Baskara. Apalagi anak muda itu adalah putera Pangeran yang dipercaya untuk
menjadi salah seorang Senapati pada saat Majapahit mengalami kesulitan. Namun ia
telah gugur dimedan perang,“ berkata Kiai Kanthi didalam hatinya. Namun
kemudian, “Tetapi Swasti menjadi besar dengan sifat-sifatnya yang khusus pula.
Ia merasa rendah diri dihadapan kawan-kawannya dan apalagi dihadapan anak-anak
muda. Untuk mengisi perasaan itu, ia menjadi cepat tersinggung dan keras hati.
Sementara itu Jlitheng sendiri
menjadi termangu-mangu. Ia menunggu apa yang akan dilakukan oleh Kiai Kanthi
setelah orang tua itu mendengar ceritera tentang dirinya.
“Angger,“ berkata Kiai Kanthi, “aku
percaya sepenuhnya apa yang angger ceriterakan itu. Aku melihat kejujuran
memancar disorot mata angger. Selebihnya, meskipun angger tidak mengatakannya,
aku dapat meraba, apakah yang harus angger lakukan disini.”
“Tidak ada yang harus aku lakukan
Kiai. Aku memang seorang perantau yang senang menjelajahi desa, gunung dan
ngarai.”
Tetapi Kiai Kanthi justru tersenyum.
Sambil mengangguk angguk ia kemudian berkata, “Baiklah ngger. Tetapi masih
selalu menjadi pertanyaan dihatiku, apakah hubunganmu yang sebenarnya dengan
Daruwerdi. Apakah kalian telah bekerja bersama untuk suatu tugas tertentu, atau
kalian ternyata justru saling mencurigai dan saling mengawasi, atau karena
hubungan yang lain ?”
Jlitheng. mengerutkan keningnya.
Namun kemudian iapun tersenyum sambil menjawab, “Tidak ada hubungan apapun
Kiai.”
Kiai Kanthipun tertawa. Katanya,
“Baiklah ngger. Adalah suatu kebodohan jika aku mendesak terus, agar angger
mengatakan apa yang tidak ingin angger katakan. Tetapi bagiku, yang angger
sebutkan sudah cukup banyak, sehingga aku dapat mengenal angger yang
sebenarnya.”
“Sudahlah Kiai. Yang penting kemudian
adalah bagaimana kita akan menguasai air yang melimpah ini. Aku akan membantu
apa saja yang Kiai perintahkan. Dengan tulus aku menempatkan diri sebagai
seorang yang akan tunduk kepada segala perintah apapun juga.”
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Ia merasa bahwa ia tidak akan dapat melihat lebih dalam lagi,
apakah yang sedang dilakukan oleh Jlitheng di padukuhan Lumban, sedang kan di
padukuhan itu juga hadir Daruwerdi.
“Baiklah ngger,“ berkata Kiai Kanthi
kemudian, “aku sependapat, bahwa sebaiknya kita membicarakan bagaimana kita
menguasai air yang tentu akan sangat bermanfaat itu. Sedangkan masalah-masalah
lainnya, mungkin akan dapat aku dengar dari angger Daruwerdi sendiri.”
Wajah Jlitheng menegang sejenak.
Tetapi kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Mungkin itu lebih baik Kiai.
Tetapi aku mohon, agar Kiai sama sekali tidak menyebut tentang Kiai Baskara dan
tentang sumber ilmu yang mengalir dari perguruan Risang Alit. Aku kira itu tidak
perlu bagi Daruwerdi.”
Kiai Kanthi tertawa pendek. Katanya,
“Aku orang tua ngger. Aku tidak akan mengatakan apapun juga. Tetapi pesan angger
itu bagiku merupakan keterangan, bahwa angger dan Daruwerdi tidak sedang bekerja
bersama untuk suatu tugas, namun angger justru sedang mengawasi angger Daruwerdi
karena sesuatu yang tidak dapat angger katakan kepada sia-papun juga.”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Namun iapun kemudian mengangguk kecil sambil menyahut, “Mungkin Kiai benar.”
Kiai Kanthi tidak menjawab lagi.
Diangkatnya kedua tangannya di atas perapian yang hangat.
“Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian,
“baiklah aku mohon diri. Aku sudah terlalu lama pergi. Jika biyung mengetahui
aku tidak ada dirumah, ia akan menjadi gelisah.”
Kiai Kanthi memandang Jlitheng
sejenak. Nampak wajah anak muda itu bersungguh-sungguh. Karena itu, maka
katanya, “Silahkan ngger. Tetapi jika angger ingin lekas mengendalikain air
belumbang yang melimpah itu, sebaiknya kita segera membicarakan, apakah yang
sebaiknya kita lakukan.”
“Baiklah Kiai. Tentu Kiai tidak akan
betah tinggal di sini tanpa berbuat sesuatu.”
“Itu sudah aku kehendaki ngger. Aku
akan melakukan apa saja. Tetapi adalah lebih baik jika yang aku lakukan itu
berguna bukan hanya bagi aku dan anakku sendiri.”
“Ya, ya Kiai. Aku mengerti,“ sahut
Jlitheng cepat. Lalu, “Sekarang aku mohon diri Kiai. Aku akan berbuat sesuatu
sesuai dengan kehendak dan keinginan Kiai.”
“Datanglah secepatnya ngger.”
“Tentu Kiai,“ Jlithengpun kemudian
berdiri. Dipandanginya Swasti yang duduk sambil menundukkan wajahnya
dalam-dalam. Namun dengan ragu2 Jlitheng berkata, “Aku minta diri Swasti. Aku
minta maaf jika aku telah melakukan sesuatu yang tidak kau kehendaki.”
Swasti sama sekali tidak bergerak.
“Swasti,“ desis ayahnya, “kau harus
menjawab. Dan seterusnya kita akan mulai dengan suatu pergaulan baru di
padukuhan Lumban. Kita harus bergaul sebagaimana orang-orang Lumban bergaul
diantara mereka.”
Tetapi diluar dugaan Swasti menjawab,
“Anak muda itu bukan anak Lumban.”
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Lalu katanya, “Tetapi ia sudah menempatkan diri seperti anak muda
dari Lumban.”
Swasti terdiam. Tetapi terdengar
nafasnya mengalir semakin cepat, seperti pada saat-saat ia memusatkan ilmunya
didalam pertempuran yang dahsyat.
Sebenarnyalah terjadi ketegangan
didalam jiwa gadis itu. Ia mencoba untuk mengerti keterangan ayahnya bahwa ia
harus mulai dengan tata pergaulan baru. Tetapi, ia tidak cukup berani untuk
menghadapi tantangan hubungan baru dengan Jlitheng setelah mereka bertempur
dengan segenap kemampuan. Tetapi terlebih-lebih lagi, Swasti memang tidak
terbiasa bergaul dengan anak muda sejak ia berada dipadukuhannya yang lama.
“Swasti,“ ayahnya mendesak, “kau
jangan terkeras hati.”
Swasti mengangkat wajahnya.
Dipandanginya ayahnya sejenak. Kemudian hampir diuar sadarnya, ia terpaling
kearah anak muda yang termangu-mangu.
Terasa dada Swasti bergetar.
Cepat-cepat ia melemparkan pandangan matanya kekegelapan. Nafasnya menjadi
semakin cepat mengalir, melampaui saat-saat ia berada, dipuncak ketegangan
pertempuran.
“Swasti,“ ayahnya berdesis sekali
lagi.
Swasti tidak dapat mengelak lebih
lama. Ia sadar, bahwa ayahnya tentu akan mendesaknya terus sampai ia mengucapkan
sepatah dua patah kata. Karena itu, maka katanya, “Biarlah ia meninggalkan kita
dan melupakan apa yang telah terjadi ayah.”
Kiai Kanthi mengerutkan keningnya.
Namun katanya, “Bukan kepadaku. Kepada angger Jlitheng.”
Swasti ingin menjerit. Tetapi
dipaksanya mulutnya berkata, “Aku juga minta maaf.”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Baiklah Kiai. Aku sudah merasa ringan, bahwa aku sudah dimaafkan
meskipun dengan istilah apapun juga. Aku mohon diri sebelum pagi.”
“Ya. ya ngger. Kembalilah kepada
biyungmu. Tetapi kita sudah bersepakat untuk segera mulai dengan kerja kita.
Membuat sebuah padepokan, menguasai air dan memberikan suasana yang lebih baik
bagi padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”
Jlithengpun kemudian melangkah
meninggalkan Kiai Kanthi dan anak gadisnya. Ketika diluar sadarnya ia berpaling,
maka dilihatnya Swasti cepat-cepat memalingkan wajahnya. Agaknya iapun sedang
menatap langkah Jlitheng yang masuk kedalam kelamnya gerumbul-gerumbul liar
didalam hutan disisa malam yang sepi.
Sejenak kemudian Jlithengpun bagaikan
ditelan oleh kegelapan. Yang tinggal kemudian adalah Swasti dan Kiai Kanthi.
Sejenak mereka saling berdiam diri. Namun kemudian Kiai Kanthi berkata,
“Beristirahatlah Swasti. Kau tentu letih.”
Swasti tidak menjawab. Tetapi iapun
kemudian bangkit sambil mengibaskan pakaiannya yang lungset.
“Aku akan mandi. Aku tidak akan dapat
tidur. Pakaianku basah oleh keringat dan kotor oleh debu yang melekat.”
“Jika kau masih basah oleh keringat,
jangan mandi dahulu,“ cegah ayahnya.
“Keringatku sudah kering. Tetapi
pakaianku sangat kotor.”
Kiai Kanthi tidak mencegah lagi.
Dibiarkannya Swasti pergi keparit disebelah belumbang. Parit yang mengalirkan
air yang melimpah itu tanpa terarah, sehingga air yang mengalir itu menyusup
kecelah-celah batu padas dan hilang ditelan tanah.
Ketika Swasti tidak nampak lagi, Kiai
Kanthi mengelus dadanya sambil menghela nafas dalam sekali. Anak gadisnya hanya
mempunyai selembar ganti pakaian. Jika ia mandi, ia sekaligus mencuci pakaiannya
yang kotor, untuk nanti dipakai jika ia mandi dan mencuci pakaiannya yang
selembar lagi. Namun disamping pakaiannya sebagai seorang gadis, Swasti
mempunyai sepengadeg pakaian yang khusus, yang tidak dipunyai oleh gadis-gadis
lain. Pakaian yang dipakainya dalam olah kanuragan, yang mirip dengan pakaian
seorang laki-laki.
Ketika Swasti kembali dari balik
gerumbul-gerumbul yang rimbun, dilihatnya ayahnya duduk dipinggir belumbang
sambil memegangi walesan kail. Ketika seekor ikan terkait pada mata kailnya, ia
berkata, “Swasti, kita sekarang sudah mempunyai belanga dan kelenting. Kita akan
dapat memasak lebih baik dari saat-saat sebelumnya. Kita dapat merebus gayam dan
dedaunan.”
Swasti memandangi belanga dan
kelenting yang dibawa oleh Jlitheng sebelum ia berkelahi. Sejenak ia merenung,
mencari makna dari peristiwa yang baru saja terjadi.
“Anak muda itu tentu tidak
bersungguh-sungguh ingin menangkap kami,“ katanya didalam hati setelah tubuhnya
menjadi segar dan hatinya agak tenang, “jika demikian, ia tidak akan bersusah
payah membawa belanga dan kelenting.”
Tetapi semuanya sudah terlanjur
terjadi, sehingga ia sudah terlibat dalam perkelahian yang sengit, bukan saja
mempergunakan tenaga wajarnya, tetapi sudah jauh daripada itu.
Ketika kemudian matahari terbit,
Swasti duduk dimuka perapian sebagai seorang gadis yang sedang menunggui
masakannya. Beberapa ekor ikan yang didapat oleh ayahnya dengan kail
dipainggangnya diatas api, sedang dengan belanganya ia merebus beberapa buah
gayam yang sudah tua.
Diluar sadarnya, Swasti menengadahkan
wajahnya. Selembar awan hanyut dihembus oleh angin yang lembut mengalir ke
Utara.
Namun Swasti mulai berpikir, “Jika
awan itu menjadi semakin banyak dan berwarna kelabu, maka itu adalah pertanda
hujan akan turun. Dalam keadaan seperti ini, jika hujan turun, maka aku akan
kedinginan sepanjang hari dan mungkin sepanjang malam, karena pakaianku akan
menjadi basah semuanya.”
Tetapi Swasti tidak mengatakannya
kepada ayahnya, ia tahu, bahwa ayahnyapun sudah memikirkannya.
Dalam pada itu, Jlitheng yang sampai
kerumahnya menjelang pagi, langsung menuju kesumur untuk menimba air. Untunglah
bahwa ibunya masih belum bangun, sehingga ia tidak digelisahkan oleh
kepergiannya semalam suntuk.
Sambil menarik sengget, Jlitheng
masih saja berpikir tentang Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang aneh. Tetapi ia
tidak ragu-ragu lagi, bahwa keduanya adalah orang-orang yang luar biasa. Gadis
yang sedang meningkat dewasa, yang tentu masih lebih muda daripadanya itu,
ternyata memiliki kemampuan yang sama sekali tidak diduganya. Jika saat keduanya
datang, dan dibawanya naik kelereng bukit lewat batu batu padas yang
bergumpal-gumpal, ia sudah menjadi heran, bahwa Swasti dapat juga berloncatan
mengikutinya. Apalagi ketika ia sudah mengalami perkelahian yang hampir saja
lepas dari kekangan nalarnya.
Sementara itu, Jlitheng mulai
mendengarkan ibunya bekerja didapur. Seperti biasanya merebus air dan ketela
pohon.
Jlitheng tidak langsung masuk
kedapur. Setelah pakiwannya penuh, maka iapun segera pergi kehalaman depan
sambil membawa sapu lidinya.
Sehari itu, Jlitheng tidak banyak
berkumpul dengan kawan-kawannya. Disiang hari ia berbaring dibelakang lumbung
yang kosong. Apalagi jika paceklik panjang mencengkam padukuhun Lumban Wetan dan
Lumban Kulon. Maka hampir setiap lumbung dipadukuhan itu menjadi kosong.
Hanya orang-orang yang terhitung
kecukupan sajalah yang masih menyimpan beberapa ikat padi, sisa panen dimusim
basah. Dimusim kering orang-orang Lumban hanya dapat menanam palawija yang tidak
begitu banyak menghasilkan meskipun dapat juga dipakai untuk menyambung hidup
mereka sampai musim basah mendatang.
“Aku harus segera berbuat sesuatu,“
berkata Jlitheng.
Tetapi ia masih ragu-ragu. Apakah
sebaiknya ia mengatakannya lebih dahulu kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan atau
Lumban Kulon atau ia lebih dahulu membantu Kiai Kanthi membuat gubug kecil
sebelum dapat dibangun sebuah padepokan yang memadai buat orang yang luar biasa
itu bersama anak gadisnya.
Akhirnya Jlitheng mengambil keputusan
untuk menyampaikannya saja lebih dahulu kepada Ki Buyut. Jika ia membuat sebuah
gubug kecil dipinggir hutan itu, maka akan dapat menumbuhkan salah paham dan
kecurigaan. Karena itu sebaiknya hal itu diberitahukannya lebih dahulu kepada Ki
Buyut Lumban Wetan dan Luban Kulon.
“Tetapi aku tidak akan
memberitahukannya kepada biyung,“ desis Jlitheng yang kemudian menggeliat
bangkit.
Kepada ibunya Jlitheng minta diri
untuk pergi kegardu menemui kawan-kawannya, ia sama sekali tidak menyebut
rencananya untuk menghadap Ki Buyut, agar ibunya tidak digelisahkan oleh
persoalan-persoalan yang tidak diketahuinya.
Yang mula-mula akan didatangi adalah
Ki Buyut Lumban Wetan, karena ia berada didaerah Lumban Wetan itu pula.
Sebagai seorang anak janda miskin
yang tidak banyak dikenal, Jlitheng memang tidak terbiasa menghadap Ki Buyut
atau bebahu padukuhan yang lain. Namun Jlitheng termasuk seorang anak-muda yang
disukai oleh kawan-kawannya, karena ia suka membantu kawan-kawannya yang sedang
mengalami kesulitan atau sedang melakukan pekerjaan yang agak berat. Ia sering
membantu kawan-kawannya yang sedang memperbaiki dinding halaman, atau
memperbaiki lumbung yang miring, atau kerja-kerja lainnya. Bahkan ia rela
membantu kawan-kawannya dengan meminjamkan miliknya yang sedikit apabila
diperlukan.
Karena itu, ketika kawan-kawannya
melihat ia menyusuri jalan padukuhan untuk pergi kerumah Ki Buyut, maka beberapa
orang kawannya menyertainya dan bertanya disepanjang jalan, apakah keperluannya.
“Aku menemukan dua orang perantau
dihutan itu,“ berkata Jlitheng.
“Bagaimana kau menemukannya ?“
bertanya kawannya.
“
Ketika aku sedang mencari kayu.”
Kawan-kawannya tertarik akan ceritera
itu. Mereka tahu bahwa Jlitheng memang sering mencari kayu kehutan dilereng
bukit.
“Aku merasa kasihan kepada mereka,“
berkata Jlitheng setelah ia menceriterakan serba sedikit tentang Kiai Kanthi dan
anak gadisnya.
“Kasihan. Lalu apakah yang mereka
makan di hutan itu ?“ bertanya yang lain.
“Kiai Kanthi menangkap
binatang-binatang kecil dan memetik buah gayam yang banyak terdapat dihutan
itu.”
Demikian pandainya Jlitheng menyusun
ceriteranya sehingga kawan-kawannya benar-benar menjadi iba mendengarnya.
“Lalu, apakah yang ingin kau dapatkan
dari Ki Buyut ?“ bertanya salah seorang kawannya.
“Aku hanya akan minta ijin untuk
membuat sebuah gubug kecil dipinggir hutan itu.”
“Kenapa dipinggir hutan?” yang lain
memotong, “biarlah ia tinggal di padukuhan ini. Apa salahnya?”
“Aku sudah mengatakannya. Tetapi
agaknya perantau itu mempunyai harga diri juga. Ia tidak mau mengganggu orang
lain. Dipinggir hutan itu ia akan mencoba menghidupi diri mereka sendiri dengan
hasil yang dapat mereka petik dari hutan yang luas itu. Mungkin buah-buahan,
mungkin dedaunan atau binatang-binatang buruan yang kecil-kecil saja.”
“Jika seekor harimau datang merunduk
mereka, apalagi anaknya yang kau katakan seorang gadis.”
“Mereka berkeras hati. Nampaknya
harimau yang tidak begitu banyak terdapat dihutan itu, tidak ingin mengganggu
mereka.”
“Omong kosong. Darimana kau tahu ?
Aku kira masalahnya hanyalah waktu. Pada suatu saat akan datang seekor harimau
yang akan menerkam salah seorang dari keduanya.”
Jlitheng mengerutkan keningnya. Ia
menjadi sulit untuk mengatakan bahwa keduanya sama sekali tidak takut terhadap
harimau yang paling garang sekalipun.
Akhirnya ia menjawab, “Masih banyak
binatang buruan bagi harimau di hutan itu, sehingga mereka tidak akan menerkam
seseorang. Harimau yang berani menerkam seseorang, akan tersisih dari
pergaulannya, karena hal itu tidak disukai oleh lingkungan mereka.“
Kawan-kawannya mengangguk-angguk.
Merekapun pernah mendengar ceritera tentang seekor harimau yang akhirnya
membunuh diri karena terpisah dari masarakatnya. Satu kesalahan telah
dilakukannya, yaitu menerkam seorang petani yang sedang bekerja disawah.
“Hanya harimau yang tua dan lemah
sajalah yang karena terpaksa menghindari kelaparan telah berani menerkam
seseorang,“ desis salah seorang dari mereka.
Dalam pada itu, Jlitheng bersama
beberapa orang kawannya menjadi semakin dekat dengan rumah Ki Buyut di Lumban
Wetan. Satu dua orang yang ingin tahu telah mengikutinya dan bertanya-tanya
diantara mereka.
Dimuka regol halaman rumah Ki Buyut
Jlitheng berhenti. Ia menjadi ragu-ragu. Karena itu sejenak ia berdiri saja
termangu-mangu.
“Apakah Ki Buyut ada dirumah?“
tiba-tiba ia bergumam.
“Marilah kita coba untuk
menanyakannya,“ berkata seorang kawannya.
Namun ternyata kedatangan mereka
telah dilihat oleh seorang anak muda yang bertubuh sedang, berkulit
kekuning-kuningan, yang berdiri di tangga pendapa.
“Itu, kau lihat anak K i Buyut?“
desis seorang kawannya.
“Ya. Marilah kita temui saja Kumbara
agar ia menyampaikan kepada ayahnya bahwa kita akan menghadap,“ gumam Jlitheng.
Kawan-kawannya mengangguk. Hampir
berbareng merekapun melangkah memasuki regol halaman rumah Ki Buyut.
Anak muda yang berdiri ditangga
pendapa itu termangu-mangu. Ia melihat beberapa orang anak muda mendatanginya,
sehingga dahinya telah berkerut. Bahkan dadanyapun menjadi berdebar-debar,
karena agaknya anak-anak muda itu mempunyai keperluan yang cukup penting.
“Ada apa ?” Kumbara tidak sabar
menunggu.
Jlithenglah yang menyahut, “Maaf
Kumbara. Mungkin kedatangan kami telah mengejutkan kau dan barangkali Ki Buyut.
Tetapi kami tidak mempunyai kepentingan yang dapat menggelisahkan. Kami hanya
datang untuk menyampaikan sebuah ceritera. Barangkali Ki Buyut sempat
mendengarkannya.”
Kumbara termangu-mangu sejenak. Namun
iapun kemudian mengangguk-angguk. “Aku akan menyampaikannya kepada ayah.
Duduklah.”
Ketika Kumbara kemudian masuk kentang
dalam, maka anak-anak muda itupun duduk diatas tikar yang sudah terbentang
dipendapa. Sejenak mereka menunggu. Sementara Kumbara menyampaikan maksud
anak-anak muda itu kepada Ki Buyut.
Ternyata Ki Buyutpun tidak
berkeberatan. Ia mengenal Jlitheng dan anak-anak muda padukuhannya sebagai
anak-anak muda yang baik, yang tidak pernah menimbulkan kesulitan bagi padukuhan
dan tetangga-tetangga mereka.
Jilid 03
KARENA itu, maka Ki
Buyutpun kemudaan keluar dari ruang dalam bersama Kumbara menemui
anak-anak muda yang
sudah menunggunya dipendapa.
Meskipun demikian Ki
Buyut itupun berkata, “Aku menjadi berdebar-debar karena kunjungan kalian.
Kalian jarang sekali datang kemari. Tiba-tiba saja kalian datang bersama-sama
beberapa orang.”
Anak-anak muda itu
saling berpandangan. Namun kemudian mereka seperti berjanji memandang Jlitheng
yang termangu-mangu.”
“Ayo, siapakah yang
akan menjadi pembicara dari kalian,“ Ki Buyut mendesak sambil tersenyum.
Jlithenglah yang
kemudian beringsut setapak. Dipandanginya Ki Buyut yang tua itu sejenak.
Kemudian katanya, “Ki
Buyut. Mungkin kami telah mengejutkan Ki Buyut. Biasanya kami tidak pernah
datang bersama-sama, atau bahkan jarang sekali datang menghadap Ki Buyut.”
“Ya, ya. Kataikan, apa
keperluanmu. Aku tahu, bahwa kalian tentu mempunyai kepentingan sehingga kalian
memerlukan datang kepadaku.”
“Ya Ki Buyut,“
Jlitheng beringsut lagi, “sebenarnyalah bahwa aku telah menemukan dua orang
perantau di lereng bukit itu.”
“Menemukan?“ bertanya
Ki Buyut.
“Ya Ki Buyut.
Maksudku, saat aku mencari kayu, aku telah bertemu dengan dua orang perantau
yang barangkali dalam
keadaan sulit dilereng bukit yang berhutan itu.”
Ki Buyut mengerutkan
keningnya. Kemudian katanya, “Katakan tentang mereka berdua.”
Jlithengpun kemudian
menceriterakan serba sedikit tentang Kiai Kanthi dan Swasti seperti yang
dikatakannya kepada
anak-anak muda yang mengikutinya. Seperti kepada anak-anak muda itu
iapun telah berhasil
menumbuhkan perasaan iba pada Ki Buyut Lumban Wetan.
Sambil
mengangguk-angguk Ki Buyut berkata, “Sudah sewajarnya kita menaruh belas kasihan
kepada sesama. He.
kenapa mereka tidak mau menuju kepadukuhan ? Kenapa mereka berdua
justru memilih untuk
berada dihutan dilereng bukit itu?”
Jlitheng
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia menjawab, “Itulah
anehnya Ki Buyut.
Ketika aku tanyakan kepada mereka, orang tua itu mengatakan bahwa mereka
tidak mau menyusahkan
kita disini. Dan menilik kata-katanya, merekapun sebenarnya takut
dicurigai.”
Ki Buyut
mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah Jlitheng. Jika mereka memang
berkeras ingin tinggal
dilereng bukit itu, sudah barang tentu, aku tidak berkeberatan. Jika kau ingin
membantu, itu adalah perbuatan yang baik. Mungkin kau dapat meminjami alat-alat
untuk keperluannya, atau bahkan kau dan beberapa kawan-kawanmu dapat membantu
membuat sebuah gubug kecil. Tetapi sebaiknya kau memperingatkan, bahwa di hutan
itu terdapat beberapa ekor harimau yang mungkin dapat membahayakan mereka.”
“Aku sudah mencoba
memperingatkan mereka Ki Buyut. Tetapi nampaknya keduanya pandai memanjat,
sehingga mereka menganggap bahwa harimau itu akan dapat dihindarinya. Selebihnya
mereka menganggap bahwa harimau tidak akan menerkam seseorang jika tidak
terpaksa sekali.”
Ki Buyut
mengangguk-angguk ketika ia mendengar Jlitheng mengulangi ceriteranya tentang
seekor harimau yang
terasing dari lingkungannya seperti yang dikatakannya kepada kawankawannya.
Ki Buyutpun
mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Adalah menjadi kuwajibanmu Jlitheng,
untuk membantunya
sebagaimana seharusnya dilakukan bagi sesama.”
“Kami sudah siap Ki
Buyut,“ berkata Jlitheng, “jika Ki Buyut sudah mengijinkan, maka kami
tidak akan ragu-ragu
lagi.”
“Aku ikut bersamamu
Jlitheng,“ tiba-tiba saja Kumbara memotong pembicaraan itu.
Jlitheng mengerutkan
keningnya, seolah-olah ia tidak percaya pada pendengarannya. Namun
Kumbara mengulangi,
“Aku akan ikut serta membantu orang tua itu. Mungkin ia memerlukan alatalat,
mungkin keperluan yang lain. Tetapi mungkin juga pangan.”
Selagi Jlitheng
termangu-mangu, terdengar Ki Buyut berkata, “Biarlah ia ikut serta Jlitheng. Apa
anehnya ? Nampaknya
kau menjadi heran. Bukankah kau kenal Kumbara sehari-hari seperti kau
mengenal kawan-kawanmu
yang lain?”
“Ya, ya. Ki Buyut.
Tetapi kedua orang itu hanyalah dua orang perantau. Biar kami sajalah yang
membantunya. Kumbara
tidak perlu ikut serta bersama kami. Ia mempunyai pekerjaan yang
barangkali jauh lebih
penting dari dua orang perantau itu.”
“Apakah yang harus aku
kerjakan ? Bukankah pekerjaanku tidak banyak berbeda dengan
pekerjaanmu ?
Menggarap sawah, memelihara ternak dan sekali-kali duduk digardu perondan ?“
sahut Kumbara.
Jlitheng
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika demikian, baiklah. Tentu
kedua orang itu akan
sangat berterima kasih. Apalagi bahwa putera Ki Buyut sendiri telah bersedia
membantunya mempersiapkan sebuah gubug kecil.”
Ki Buyutpun
mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Tetapi Jlitheng. Aku masih
menyarankan, agar kau
menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon. Kakang Buyut di Lumban Kulonpun perlu
mengerti. Bukankah kau tahu, bahwa bukit itu terletak diujung padukuhan kami,
sehingga
bukit itu tidak
terletak didaerah Lumban Wetan, tetapi juga tidak di daerah Lumban Kulon
seluruhnya. Kami tidak
pernah membicarakan, siapakah yang berhak mengurusi bukit berhutan
yang tidak
menghasilkan apa-apa itu, seperti kami juga tidak pernah berbicara tentang bukit
gundul yang gersang
tanpa dapat memberikan apa-apa kepada padukuhan kami.”
Jlitheng
mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya Ki Buyut. Akupun sudah memikirkan kemungkinan
itu. Aku akan menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon untuk mengatakan maksud kami
membantu orang tua dan anak gadisnya itu.”
“Aku kira kakang Buyut
di Lumban Kulon juga tidak akan berkeberatan. Orang tua dan anak
gadisnya itu sama
sekali tidak akan mengganggu padukuhan Lumban Wetan maupun Lumban Kulon seperti
yang diharapkannya sendiri.”
“Ya Ki Buyut. Orang
tua itu memang tidak ingin mempersulit keadaan kita yang tidak terlalu baik
ini,“ jawab Jlitheng.
“Bagiku, itu sudah,
merupakan pertanda, bahwa orang tua itu tidak bermaksud buruk,“ berkata
Ki Buyut, “ia bukam
sejenis orang yang mementingkan diri sendiri. Tetapi ia dalam keadaan yang
pahit, masih juga
memikirkan orang lain.”
“Baiklah Ki Buyut.
Kami mohon diri. Kami akan menghadap Ki Buyut Lumban Kulon. Mungkin
besok kami akan muliai
dengan kerja kami, membantu orang tua itu.”
“Dimana ia tidur malam
ini ?”
“Mereka telah memilih
tempat didalam hutan itu. Mereka makan dari buah-buahan yang mereka dapatkan,
buruan kecil dan dedaunan.”
“Berbuatlah sesuatu
segera bagi mereka Jlitheng. Kau yang sudah mulai dengan niat yang baik,
teruskanlah.”
Jlitheng kemudian
minta diri. Ia masih akan menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon untuk minta
ijin seperti yang
dilakukannya pada Ki Buyut di Lumban Wetan.
Ketika Jlitheng dan
kawan-kawannya memasuki batas Lumban Kulon, maka beberapa orang
anak-anak mudapun
telah mengerumuninya dan bertanya, apakah keperluannya.
Seperti yang sudah
dilakukannya, maka iapun mengulangi lagi ceriteranya tentang kedua orang
yang ditemuinya di
lereng bukit.
“Kasihan,“ desis salah
seorang dari mereka, “nampaknya Ki buyut baru saja pulang dari
sawahnya. Aku kira ia
ada dirumahnya.”
“Terima kasih,“ sahut
Jlitheng.
“Ia sedang sibuk
memikirkan anak laki-lakinya,“ desis yang lain.
“Kenapa dengan Nugata
?“ bertanya Jlitheng.
“Ia sedang merajuk.
Nugata ingin seekor kuda yang bagus, tegar dan besar. Tidak seperti kuda
yang dimilikinya
sekarang, yang menurut pendapatnya, kecil, kurus dan sakit-sakitan.”
Jlitheng mengerutkan
keningnya. Katanya, “Seekor kuda yang tegar, besar dan baik, harganya
tidak sedikit.”
“Itulah sebabnya Ki
Buyut agak prihatin juga. Tetapi nampaknya ia berusaha untuk memenuhinya.”
Jlitheng
mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Jika demikian, apakah kedatangan
kami mungkin akan
dapat mengganggu perasaannya yang memang sedang buram itu?”
Tetapi anak-anak muda
Lumban Kulon itu menjawab hampir bersamaan, “Aku kira tidak.“
Jlitheng
mengangguk-angguk, sementara seorang anak muda Lumban Kulon berkata
selanjutnya, “Cobalah.
Jika kau memang menganggap penting tentang dua orang perantau yang
memerlukan bantuan
itu, datanglah. Jika Ki Buyut sedang sibuk atau sedang bingung, ia akan
dapat minta kalian
untuk datang lain kali.”
Meskipun agak
ragu-ragu namun Jlithengpun melanjutkan langkahnya menuju kerumah Ki Buyut di
Lumban Kulon saudara kembar Ki Buyut di Lumban Wetan, tetapi yang dianggap
saudara tua justru karena ia lahir kemudian. Menurut kepercayaan orang-orang
Lumban saudara kembar yang tua akan lahir mengiringi saudaranya yang muda.
Satu dua orang anak
muda Lumban Kulon yang tertarik pada masalah itupun mengikutinya pula, sehingga
iring-iringan anak-anak muda itu menjadi semakin panjang.
Tetapi ada pula
diantara mereka yang tidak mengacuhkannya. Bahkan seorang anak muda yang
berkulit kuning bergumam diantara kawan-kawannya, “Jlitheng anak baik. Tetapi ia
memang senang mencari pekerjaan.”
“Ia ingin menolong
kedua orang yang dikatakannya perantau itu,“ desis yang lain.
Tetapi seorang anak
muda yang gemuk pendek berkata, “He, kau tahu, kenapa Jlitheng
bersusah payah tentang
kedua orang itu ?”
“Ah kau. Kau tentu
berprasangka aneh. Justru kau sendirilah yang selalu mengejar gadisgadis,“
sahut kawannya yang
berkulit kuning, “bukankah kau akan mengatakan bahwa salah
seorang dari kedua
perantau itu seorang gadis ?”
Anak muda yang gemuk
itu tertawa. Namun seorang kawannya lagi berkata, “Meskipun ia
seorang gadis, tetapi
dapat dibayangkan. Seorang gadis kurus, sakit-sakitan, kumal dan barangkali suka
merengek-rengek.”
“Jangan menghina,“
potong kawannya.
Namun anak-anak muda
yang lain sempat pula tersenyum. Dalam pada itu, selagi anak-anak
muda itu masih
berkelompok dimulut lorong, mereka mendengar derap seekor kuda. Dengan
tergesa-gesa mereka
menepi meskipun mereka belum melihat kuda itu mendekat.
“Siapa ?” seseorang
berteka-teki. “Daruwerdi atau Nugata.”
Yang lain tidak sempat
menjawab, karena dari tikungan nampak seorang anak muda duduk
dipunggung kudanya.
Kuda itu mengurangi
kecepatannya. Bahkan kemudian berhenti dimulut lorong.
“Apakah yang kalian
tunggu disini ?“ bertanya anak muda dipunggung kuda itu.
“Kami akan pergi
kesawah.”
Anak muda itu
mengangguk-angguk. Namun kemudian, “Tetapi kalian masih saja berkumpul
disini.”
“Ya. Baru saja kami
bertemu dengan Jlitheng,“ sahut yang lain.
“Jlitheng anak Lumban
Wetan ?”
“Ya.”
“Apa keperluannya ?”
Salah seorang anak
muda itupun kemudian menceriterakan tentang dua orang perantau
sepertil yang
dikatakan Jlitheng.
Anak muda dipunggung
kuda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Seperti
kita masing-masing
tidak mempunyai pekerjaan. Biarlah perantau itu mengurus dirinya sendiri.”
Anak-anak muda dimulut
lorong itu tidak menyahut. Mereka memandangi saja ketika kuda itu
berderap dan hilang
kedalam padukuhan.
Anak-anak muda yang
tinggal dimulut lorong itu memandang debu yang masih mengepul.
Salah seorang
berdesis, “Kuda itulah yang dikatakan kecil, kurus, sakit-sakitan.”
“Seperti gadis
perantau itu.”
Yang lain tidak dapat
menahan tertawa mereka. Namun suara tertawa itupun bagaikan hanyut
oleh angin ketika anak
muda berkulit kuning itu berkata, “Apa urusan kita. dengan kuda Nugata.
Marilah, kita pergi
kesawah. Sore nanti kita pergi ke bukit gundul. Daruwerdi tentu sudah
menunggu, Kita akan
berlatih olah kanuragan.”
Anak-anak muda itupun
kemudian bersama-sama menyusuri pematang dan berpisah menuju
kesawah masing-masing.
Tetapi sawah di Lumban
Kulon dan Lumban Wetan memang tidak begitu baik. Tanahnya mulai
kering dimusim
kemarau. Palawijapun tidak dapat tumbuh dengan baik. Bahkan dimusim kering
yang panjang sawah
mereka benar-benar menjadi padang yang gersang sejauh mata
memandang.
Dalam pada itu
Jlitheng telah berada dirumah Ki Buyut di Lumban Kulon. Ki Buyut yang tua,
tetapi yang lahir
kemudian dari sepasang anak kembar itu, nampaknya memang lebih tua. Apalagi ia
nampak selalu bersungguh-sungguh, meskipun sebenarnya hatinya cukup lapang.
Kedatangan Jlithengpun
mengejutkan pula. Namun Ki Buyut di Lumban Kulon itu menarik nafas
dalam-dalam ketika ia
sudah mendengar maksud Jlitheng untuk menghadap.
“Kalian membuat aku
berdebar-debar,“ berkata Ki Buyut di Lumban Kulon. “Belum lama aku
mendengar peristiwa
yang terjadi di lereng bukit itu. Aku kira berita yang kau bawa adalah berita
yang berhubungan
dengan kematian dua orang yang dibunuh oleh Daruwerdi. Apalagi aku
mendengar bahwa kaupun
pernah dibawa oleh dua orang yang tidak dikenal.”
Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Teringat sekilas, dua orang yang terpaksa dibunuhnya
pula, dan yang dengan
diam-diam telah dikuburnya sama sekali. Tidak seorangpun yang
mengetahuinya,
sehingga yang tersebar hanyalah peristiwa yang terjadi atas Daruwerdi.
“Ki Buyut,“ berkata
Jlitheng kemudian, “peristiwa itu memang telah membuatku hampir
pingsan. Tetapi
agaknya jika terjadi peristiwa berikutnya yang berhubungan dengan peristiwa itu,
tentu akan lebih
banyak menyangkut Daruwerdi.”
Ki Buyut
mengangguk-angguk. Gumamnya seolah-olah kepada diri sendiri, “Karena itu,
latihan2
yang akan diadakan
oleh anak-anak itu mungkin akan dapat berakibat buruk.”
Jlitheng mengerutkan
keningnya. Katanya, “Kenapa berakibat buruk Ki Buyut ?”
“Orang-orang yang
memusuhi Daruwerdi itu menganggap bahwa kita semuanya telah
melibatkan diri,“
jawab Ki Buyut.
Jalan pikiran orang
tua itu memang dapat dimengerti. Namun Jlitheng mencoba untuk
menjelaskan, “Tetapi
Ki Buyut. Jika jumlah kami cukup banyak, maka aku kira, orang-orang jahat
itu tentu akan segan
pula untuk berbuat sesuatu. Meskipun kami belum mumpuni, namun dengan jumlah
yang berlipat ganda, mereka tentu akan memperhitungkan pula.”
Ki Buyut menarik nafas
panjang. Masih saja ia bergumam seolah-olah kepada diri sendiri,
“Selama ini tidak
pernah terjadi malapetaka di padukuhan ini. Tetapi kedatangan orang-orang baru
itu membuat aku menjadi cemas.”
Jlitheng
mengangguk-angguk. Nampaknya Ki Buyut di Lumban Kulon merasa bahwa keadaan
terakhir di
padukuhannya telah memburuk. Kehadiran orang-orang yang dianggapnya asing
memang telah membawa
persoalan tersendiri. Termasuk kedatangan Daruwerdi.
“Apakah Ki Buyut juga
mencurigai kehadiran Kiai Kanthi dan Swasti?” pertanyaan itu mulai
merayapi hatinya.
Namun ternyata Ki
Buyut kemudian berkata, “Jlitheng. Aku tidak berkeberatan dengan
maksudmu dan
kawan-kawanmu untuk membantu kedua orang yang kau sebut perantau itu, jika
Buyut Lumban Wetan
juga tidak berkeberatan. Tetapi aku berharap bahwa kehadirannya didaerah iini
tidak akan menambah persoalan-persoalan baru yang dapat menyulitkan keadaan kita
disini.”
Jlitheng
mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ki Buyut. Kami akan melihat dengan saksama,
apakah yang kira-kira
akan dilakukan oleh kedua orang itu. Yang seorang sudah terhitung orang
tua, sedang yang satu
adalah anaknya, seorang gadis. Aku kira mereka tidak akan menimbulkan
persoalan apapun juga
didaerah Lumban ini.”
“Sokurlah.
Mudah-mudahan untuk seterusnya kita akan dapat hidup tenang dan damai. Hidup
seperti yang pernah
kita alami dari tahun ketahun, dari masa ke masa. Disaat pergolakan terjadi
dipusat pemerintahan,
padukuhan ini tetap tenang. Kami berdua yang kebetulan dilahirkan
kembar dan menjadi
tetua di Lumban Kulon dan Lumban Wetan berusaha sekeras-kerasnya untuk
mempertahankan tata cara dan kehidupan yang berlaku didaerah kecil ini. Setiap
perubahan akan dapat menimbulkan goncangan-goncangan dan bahkan mungkin
kekisruhan.”
Jlitheng menjadi
berdebar-debar. Yang dikatakan itu adalah sikap Ki Buyut di Lumban Kulon.
Namun Jlitheng tidak
berputus asa bahwa untuk selanjutnya tidak akan dapat ditembus dengan
kenyataan dan
harapan-harapan bagi masa datang. Namun sayang sekali, bahwa permulaan itu
bersamaan saatnya
dengan goncangan ketenangan oleh orang-orang Kendali Putih yang telah
berusaha menipu
Daruwerdi.
Namun demikian, ijin
yang diberikan oleh Ki Buyut itu telah membuat Jlitheng berbesar hati. Ia
memang harus
berhati-hati untuk mengayunkan langkah berikutnya. Perubahan-perubahan yang
terjadi memang harus
dijaga sebaik-baiknya, agar tidak menimbulkan kekisruhan yang
mengganggu, apalagi
menimbulkan pertentangan-pertentangan didalam padukuhan yang tenang
itu.
Dalam pada itu, ketika
Jlitheng mohon diri kepada Ki Buyut, maka terdengar derap kuda
memasuki halaman.
Nugata yang masih berada di punggung kudanya, mengerutkan keningnya
melihat Jlitheng
bersama beberapa orang anak muda duduk dipendapa bersama ayahnya.
Tetapi ternyata bahwa
ia tidak tertarik sama sekali dengan persoalan yang dibawa oleh Jlitheng
seperti yang sudah
didengarnya diujung lorong. Sehingga karena itu, maka setelah kudanya
diserahkan kepada
seorang pembantunya, ia langsung masuk lewat longkangan tanpa berpaling
lagi.
Jlitheng dan
kawan-kawannya yang berada dipendapa itu hanya memandanginya saja. Mereka
menyangka bahwa Nugata
memang belum mengetahui persoalannya. Namun mereka-pun
mengerti, bahwa Nugata
lebih suka mempersoalkan masalahnya sendiri daripada masalah orang
lain.
Karena itu Jlithengpun
kemudian meninggalkan rumah Ki Buyut di Lumban Kulon itu. Ia ingin
segera berbuat
sesuatu, sehingga waktunya tidak banyak terbuang. Mulai terbayang di angan
angannya,
sebuah gubug kecil
dengan secuwil tanah buat halaman dan kebunnya. Kemudian orang tua itu tentu
memerlukan sebidang tanah yang lebih luas bagi sawah dan ladangnya.
Namun yang penting
bagi Jlitheng adalah bahwa orang tua dan anak gadisnya itu kemudian akan
berjuang menguasai air yang melimpah dilereng bukit itu untuk mengarahkannya
kesawah dan ladangnya yang akan dibuka.
Air itu tentu akan
dapat dimanfaatkan pula bagi padukuhan Lumban Kulon dan Lumban Wetan.
Parit yang hanya
menampung dan mengalir dimusim hujan itui tentu akan menjadi basah pula
dimusim kering.
Sementara itu beberapa
orang anak muda mengikut Jlitheng sampai kesebuah gardu parondan
yang berada didekat
padukuhan kecil yang terletak dibatas daerah Lumban Kulon dan Lumban
Wetan. Namun padukuhan
itu sendiri masih termasuk daerah Lumban Wetan.
Satu dua anak muda
Lumban Kulon masih tetap bersama mereka. Bahkan salah seorang dari
mereka bertanya,
“Jlitheng kapan kau akan mulai dengan kerjamu itu ?” anak muda itu berhenti
sejenak, namun
kemudian ia mulai berkelakar, “bukankah anak perantau itu seorang gadis yang
manis?”
“He, darimana kau tahu
?“ Jlitheng pura-pura bertanya.
Kawan-kawannya
tertawa. Tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang dapat membayangkan wajah
gadis itu dengan tepat. Seperti anak-anak muda Lumban Kulon yang tidak ikut
bersama mereka, maka bayangan tentang gadis perantau itu adalah sangat buram.
Dalam pada itu
Jlithengpun kemudian berkata, “Besok aku akan mulai. Tetapi tentu hanya
sekedar di waktu-waktu
senggang dan jika badan tidak terasa penat. Namun demikian, aku tidak
sampai hati melihat
kedua orang itu terlalu lama berada di hutan itu. Jika udara dingin malam hari
mulai menyelimuti pepohonan, maka merekapun menjadi basah oleh embun.”
“Apakah laki-laki itu
sudah teramat tua?“ bertanya seseorang.
“Belum tua sekali.
Tetapi tenaganya tentu sudah jauh susut,“ jawab Jlitheng.
Kawan-kawannya
mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka berkata, “Biarlah aku ikut
membantumu disaat-saat
senggang pula.”
Jlitheng tersenyum
kecut. Ia masih sempat pula berkelakar. “Tetapi jangan karena gadis yang
manis itu.”
Suara tertawa
terdengar diantara mereka. Tetapi salah seorang dari mereka segera berkata,
“Aku akan kesawah.
Pagi ini kerjaku hanya berjalan hilir mudik saja. Bukankah hari ini kita belum
akan mulai dengan
gubug itu?”
Jlitheng menggeleng.
Jawabnya, “Tentu belum.”
“Nah, jika kau akan
mulai kapan saja, dan jika kau memerlukan aku, panggillah aku. Aku sudah
mengatakan bahwa aku
bersedia membantu.”
“Terima kasih,“ jawab
Jlitheng.
“Sekarang, bukankah
kita masing-masing mempunyai pekerjaan ?“ desis anak muda itu.
“Silahkan,“ sahut
Jlitheng, “akupun akan pergi kesawah juga.”
Anak-anak muda itupun
kemudian meninggalkan Jlitheng kepekerjaan masing-masing. Namun
mereka telah
menyatakan diri, bersedia membantu rencana Jlitheng, pada saat Jlitheng akan
mulai dan diwaktu-waktu mereka yang terluang.
Yang tinggal digardu
itu kemudian tinggal Jlitheng sendiri. Anak-anak Lumban Kulonpun telah
pergi pula kesawah
mereka masing-masing.
Pada saat Jlitheng
sudah mulai melangkah untuk pergi kesawahnya pula, tiba-tiba saja ia
mendengar seseorang
memanggilnya. Dengan serta merta iapun berpaling. Dilihatnya Daruwerdi
berjalan tergesa-gesa
mendekatinya.
Jlitheng bergeser
kembali dan duduk dibibir gardu. Sambil tersenyum ia bertanya, “Kau nampak
tergesa-gesa ? Apakah
ada sesuatu ?”
“Aku memang
mencarimu,“ jawab Daruwerdi.
“Mencari aku ?“
Jlitheng mengerutkan keningnya, “apakah kau mempunyai kepentingan?”
Daruwerdipun kemudian
duduk pula disamping Jlitheng. Sejenak ia termangu-mangu. Namun
kemudian ia mulai
bertanya, “Apakah benar kau bertemu dengan dua orang perantau di lereng
bukit itu ?”
“Ya, kenapa ?“
Jlitheng mengerutkan keningnya.
“Seorang laki-laki tua
dan seorang gadis ?”
“Ya.”
Daruwerdi
mengangguk-angguk. Seperti kepada diri sendiri ia berdesis, “Jadi keduanya masih
dibukit itu.”
“Kau pernah melihat
mereka ?“ Jlitheng pura-pura bertanya.
“Ya. Aku pernah
menolong mereka ketika mereka hampir diterkam oleh seekor harimau. Tetapi
aneh sekali bahwa
keduanya justru berada dihutan yang hampir menelan mereka itu,“ desis
Daruwerdi.
“Apa yang telah
terjadi ?“ Jlitheng masih berpura-pura.
Daruwerdipun kemudian
berceritera tentang seekor harimau yang garang. Untunglah ia
melihatnya dan sempat
menolongnya.
“Aku kira keduanya
telah pergi,“ gumam Daruwerdi.
“Aku bertemu dengan
mereka ketika aku sedang mencari kayu.”
“Kau juga gila. Kenapa
kau mencari kayu dihutan yang dapat membahayakan dirimu ? Dihutan
itu ada beberapa ekor
harimau. Dan kedua orang perantau itu nampaknya juga gila seperti kau.”
Jlitheng mengerutkan
keningnya. Namun kemudian katanya, “Aku sudah sering sekali mencari
kayu dihutan itu.
Bukankah kau tahu juga kebiasaanku itu ? Baru sekali aku bertemu dengan
seekor harimau yang
nampaknya akan berbuat jahat. Tetapi aku dapat memanjat. Dan ternyata
harimau itu tidak
menunggui aku terlalu lama.”
“Apakah nilai kayu
bakar yang kau dapat dihutan itu lebih besar dari nyawamu ?“ bertanya
Daruwerdi.
Jlitheng mengerutkan
keningnya. Namun kemudian ia justru bertanya, “Apakah aku akan
menukarkan nyawaku
dengan kayu bakar?”
Daruwerdi meloncat
turun dari bibir gardu sambil bergumam, “Kau memang anak yang dungu.
Sudah tentu bukan
begitu maksudku. Tetapi aku hanya memberimu peringatan, bahwa kau dapat
saja diterkam
harimau.”
Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Mudah-mudahan tidak Daruwerdi. Kau
membuat aku menjadi
cemas. Selama ini aku tidak pernah memikirkan hal itu. Tetapi tiba-tiba saja aku
menjadi cemas.”
“Nah, katakan pula
kepada kedua orang perantau itu. Suruhlah mereka pergi saja dari lereng
bukit. Tetapi kalau
mereka memaksa untuk tinggal, suruhlah ia mendekati padukuhan ini agar
mereka tidak akan
menyesal.”
Jlitheng
mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku akan mencoba memperingatkan mereka, agar
mereka tinggal dibawah
bukit saja.“
Daruwerdipun kemudian
melangkah pergi sambil berkata, “Terserah kepadamu.“ lalu, “Sore
nanti aku akan datang
kebukit gundul itu. Bukankah anak-anak minta aku memberikan sedikit
petunjuk tentang olah
kanuragan ?”
“Ya. Aku juga akan
datang. Tetapi apakah aku mungkin akan dapat berkelahi seperti kau?”
Daruwerdi yang sudah
melangkah menjauh berhenti sejenak. Sambil berpaling ia berkata, “Kau
memang anak yang
paling dungu diseluruh Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Sampai matipun
kau tidak akan dapat
menyadap ilmu sejauh itu. Bahkan seandainya kau mempunyai seorang guru yang
mumpuni sekalipun.”
Jlitheng tidak
menjawab. Dipandanginya saja Daruwerdi yang berjalan menjauh. Namun tibatiba
saja Jlitheng
berlari-lari menyusulnya sambil berkata, “He, Daruwerdi. Apakah benar Nugata
minta kepada ayahnya
untuk dibelikan seekor kuda yang besar dan tegar?”
Daruwerdi berhenti.
Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Siapa yang mengatakannya ?”
“Anak-anak Lumban
Kulon.”
“Itu adalah pertanda
bahwa mereka tidak mempunyai pekerjaan lain daripada membicarakan
kawan-kawan mereka
sendiri. Itu bukan urusanku. Dan aku tidak akan mengurusnya pula
meskipun ia akan
membeli sepuluh atau duapuluh ekor lagi.”
Jlitheng berdiri
termangu-mangu. Sementara itu Daruwerdipun melangkah pula menjauh dan
hilang ditikungan.
Sepeninggal Daruwerdi
Jlitheng menggeliat seperti orang yang baru bangun dari tidur yang
nyenyak semalam
suntuk.
Bibirnya nampak
tersenyum, namun tidak sepatah katapun yang diucapkannya meskipun bagi
dirinya sendiri.
Sejenak kemudian iapun
dengan tergesa-gesa pula meninggalkan tempat itu. Disepanjang jalan
seolah-olah membayang
sekilas di kepalanya beberapa orang anak muda yang menarik
perhatiannya di
padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Anak-anak muda yang dengan
serta merta bersedia
membantunya. Kemudian wajah yang cerah dan terbuka dari anak Ki Buyut
di Lumban Wetan yang
bernama Kumbara. Disusul kemudian wajah yang acuh tak acuh dari
putera Ki Buyut di
Lumban Kulon. Yang terakhir adalah wajah Daruwerdi yang tampan dan
bersungguh-sungguh.
Jlitheng melangkah
semakin cepat. Sambil tersenyum ia berkata kepada diri sendiri, “Lalu
bagaimana dengan
wajahku sendiri?”
Seperti kawan-kawanya
Jlithengpun kemudian menengok sawahnya. Tetapi tidak banyak yang
dapat dikerjakan.
Sawahnya adalah sawah yang kurang baik seperti pada umumnya sawah di
Lumban Wetan dan
Lumban Kulon, yang menggantungkan air pada hujan yang jatuh dimusim
basah.
Disiang hari, ketika
kawan-kawannya pulang kerumah masing-masing, maka Jlithengpun justru
pergi ke sungai.
Kepada seorang kawannya ia berpesan agar disampaikannya kepada biyungnya,
bahwa ia akan mencuci
pakaiannya.”
Tetapi setelah sawah
menjadi sepi dipanasnya terik matahari, Jlithengpun telah pergi menyusuri sungai
yang hampir tidak mengalir lagi dan apalagi dibatasi oleh tebing yang tinggi,
mendekati bukit yang berhutan dan menyimpan mata air yang deras.
Tidak ada harapan
untuk dapat memanfaatkan sungai kecil yang dibatasi oleh tebing itu dimusim
kemarau. Namun tiba-tiba Jlitheng berhenti sejenak. Dipandanginya tebing sungai
itu serta batu-batu yang berserakan. Katanya didalam hati, “Untuk sementara air
yang melimpah itu dapat disalurkan lewat sungai kecil ini. Yang perlu dilakukan
kemudian adalah menyekat sungai ini
dengan beberapa
bendungan untuk menaikkan airnya kesawah.”
Tetapi Jlitheng tidak
yakin bahwa itu adalah cara yang terbaik. Mungkin Kiai Kanthi mempunyai
cara tersendiri.
Dengan berlari-lari
kecil, Jlitheng memanjat tebing diantara pepohonan hutan. Setelah
meloncati batu-batu
padas yang terjal dan memanjat lereng yang bagaikan dinding, akhirnya ia
sampai kedataran
ditepi kolam yang berair melimpah.
“O, marilah ngger,“
Kiai Kanthi mempersilahkan.
Jlitheng mengangguk
hormat. Sekilas ia memandang kesekelilingnya. Dilihatnya Swasti sedang
duduk membersihkan
buah gayam yang sudah tua dengan belanga yang dibawanya.
Jlitheng mengerutkan
keningnya. Meskipun Swasti tidak mengacuhkannya seperti biasa, tetapi
seolah-olah ia baru
dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas saat itu.
Tetapi ia tidak berani
terlalu lama memandanginya, karena iapun kemudian dipersilahkan oleh
Kiai Kanthi duduk
diatas sebuah batu yang nampaknya telah disediakan.
“Silahkan. Aku memang
telah menyediakan beberapa tempat duduk yang khusus,“ berkata Kiai
Kanthi sambil
tersenyum.
“Kiai,“ berkata
Jlitheng setelah mereka duduk berhadapan, “aku telah menghadap Ki Buyut
Lumban Wetan dan
Lumban Kulon. Keduanya menyatakan tidak berkeberatan untuk mengijinkan
Kiai membuat sebuah
gubuk kecil dilereng bukit. Namun persoalannya, setiap orang mencemaskan nasib
Kiai berdua, jika seekor harimau datang menerkam Kiai atau Swasti.”
“Aku memang menunggu
seekor harimau yang akan menerkam aku,“ tiba-tiba saja Swasti
menggeram.
Jlitheng memandang
Swasti sejenak. Tetapi Swasti tetap duduk sambil membersihkan buah
gayam yang akan
direbusnya, tanpa mengangkat wajahnya.
Kiai Kanthi tersenyum
melihat sikap anak gadisnya. Namun kemudian katanya, “Kau salah
mengerti Swasti. Tentu
saja maksud angger yang memilih mempergunakan gelar Jlitheng ini
bukan benar-benar
mencemaskan nasib kita berdua jika ada seekor harimau yang tersesat kemari.
Tetapi bukankah kita
tidak akan menepuk dada dihadapan orang-orang Lumban sambil
mengatakan bahwa kami
tidak takut menghadapi harimau, bahkan sepasang sekalipun? Jika ada
kesan demikian, maka
orang-orang Lumban tentu akan mencurigai kita, sehingga maksud kita
untuk menemukan tempat
baru yang tenang dan wajar, seperti kehidupan orang banyak dalam
hubungan bertetangga
tentu akan menjadi baur lagi. Orang-orang Lumban akan menganggap kita
orang lain, atau orang
yang tidak sewajarnya berada dalam pergaulan diantara mereka.”
Swasti masih tetap
pada sikapnya. Ia sama sekali tidak mengangkat kepalanya dan apalagi
berpaling.
“Karena itu ngger,“
berkata Kiai Kanthi, “peringatan itu tentu seharusnya kita perhatikan. Kita
harus melakukan
sesuatu yang dapat mereka mengerti tanpa menimbulkan masalah baru.”
“Kiai,“ berkata
Jlitheng, “Daruwerdi menyarankan, agar Kiai tinggal dekat dengan padukuhan,
sehingga tidak akan
mendapat gangguan binatang buas dihutan ini. Tetapi aku berpikir, jika
demikian, maka usaha
Kiai tentu akan sedikit terganggu oleh jarak.”
“Kau benar ngger.
Usahaku mengalirkan sekaligus menguasai air itu akan menjadi semakin
berat, karena aku
tidak dapat menungguinya setiap saat.”
“Karena itu Kiai.
Untuk memenuhi keduanya, aku berpendapat, bahwa sebaiknya Kiai membuat
sebuah padepokan kecil
dibawah bukit ini. Jarak antara gubug yang akan dibangun dengan
belumbang ini tidak
terlalu jauh, sementara kecurigaan dan kecemasan orang-orang Lumban
sudah berkurang.”
Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Dipandanginya Swasti sejenak. Tetapi ia nampaknya tidak
mendengarkan
percakapan itu.
“Anak bengal,“ desis
Kiai Kanthi lirih.
“Selebihnya Kiai,“
berkata Jlitheng kemudian, “sebelum Kiai berhasil menyusun jalur parit yang
sesuai dengan
keinginan Kiai, maka apakah Kiai sependapat, jika kita memanfaatkan sungai kecil
yang hampir kering itu
untuk menampung air yang melimpah itu.”
Kiai Kanthi
mengerutkan keningnya. Sementara Jlitheng meneruskan, “Kita akan dapat
menyekat sungai itu
dibeberapa tempat dengan bendungan-bendungan kecil dan mengangkat
airnya kesawah dan
ladang.”
Kiai Kanthi menarik
nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu terdengar Swasti berkata
dengan nada dalam,
“Tentu untuk kepentingan orang Lumban.”
Jlitheng mengerutkan
keningnya. Sekilas dilihatnya wajah Kiai Kanthi yang buram. Namun
kemudian orang tua itu
tertawa kecil sambil berkata, “Angger. Setiap orang dilandasi oleh
kepentingan diri yang
dapat sama, tetapi dapat berbeda dengan orang lain. Yang berbeda itu
kadang-kadang dapat
menimbulkan persoalan jika yang satu memaksakan kepentingannya sendiri
terhadap yang lain.
Tetapi yang mempunyai kepentingan yang samapun dapat juga berbenturan
karena mereka berebut
kepentingan.”
Jlitheng
termangu-mangu mendengar kata-kata Kiai Kanthi. Tetapi ia masih tetap menunggu
penjelasannya.
“Angger. Dengan jujur
aku ingin mengatakan, bahwa penguasaan air yang melimpah itu
pertama-tama tentu
karena kepentingan pribadiku. Aku berjalan menyusuri arus dibawah tanah
dengan suatu keinginan
untuk menemukan air, sokur sumbernya, untuk mengaliri suatu
padepokan yang akan
aku bangun kemudian. Dan atas petunjuk angger, aku dapat sampai
ketempat ini,“ Kiai
Kanthi berhenti sejenak, lalu, “Karena itulah maka sampai saat ini aku masih
memimpikan sebuah
padepokan yang dikelilingi oleh tanah persawahan dan ladang secukupnya,
yang dialiri oleh air
tanpa henti disegala musim. Bahkan jika mungkin sebuah belumbang untuk
memelihara jenis-jenis
ikan yang dapat menghiasi halaman dan kebun, tetapi juga dapat
menghasilkan bagi
hidup kami sehari-hari.”
Jlitheng
mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti maksud Kiai Kanthi sehingga karena itulah
maka ia tidak memotong
kata-kata orang tua.
“Meskipun demikian
ngger,“ berkata Kiai Kanthi selanjutnya, “aku sudah barang tentu tidak
akan dapat ingkar pada
suatu kewajiban untuk berbuat sesuatu bagi kepentingan lingkungannya.
Dalam hal ini, sudah
tentu adalah lingkunganku yang baru. Karena itu, maka aku tidak
berkeberatan untuk
menyalurkan air kedalam sungai kecil itu, setelah melalui padepokan yang
masih ada didalam
angan-anganku itu.”
Jlitheng masih
mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku mohon maaf Kiai jika ada
sesuatu yang kurang
sesuai dengan jalan pikiran Kiai. Tetapi menurut pendapatku, apa yang Kiai
katakan itupun
merupakan pemecahan yang baik. Air itu akan mengalir kesawah ladang disekitar
padepokan Kiai, akan
dialirkan atau katakan dengan istilah lain, akan dibuang kesungai kecil itu.”
Kiai Kanthi
mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Ya.
Begitulah kira-kira.”
“Jadi menurut Kiai,
yang manakah yang akan kita kerjakan lebih dahulu. Menguasai dan
mengarahkan arus air
itu, atau membuat suatu padepokan dengan membuka hutan dilereng bukit
ini lebih dahulu.”
Kiai Kanthi termenung
sejenak. Kemudian katanya masih sambil tersenyum, “Kau memang
cerdik ngger. Aku
menjadi bingung untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi nampaknya aku harus
menjawab, bahwa aku
akan berusaha menguasai air lebih dahulu meskipun aku belum
mempergunakannya,
karena sawah dan ladang itu memang belum ada. Tetapi aku ingin
mendapat gambaran
tentang sawah dan ladang itu kelak sehingga arus air itu sudah dapat
ditentukan, tanpa
menunggu sawah dan ladang itu sendiri.”
Jlithengpun tersenyum
pula. Jawabnya, “Kira-kira memang demikian Kiai. Kita akan segera
menanam patok.”
Dalam pada itu wajah
Swastipun menjadi gelap. Dengan demikian, maka orang-orang Lumban
mungkin akan
mempergunakan air itu lebih dahulu sebelum Kiai Kanthi mempergunakannya.
Tetapi Swasti tidak
mengatakan sesuatu. Bagaimanapun juga ia harus mempertimbangkan
kesediaan Jlitheng
untuk membantu membuat sebuah gubug yang dapat dipergunakannya untuk
sementara, sebelum
mereka dapat membangun sebuah padepokan yang tentu akan memerlukan
waktu yang panjang.
Dalam pada itu,
Jlithengpun kemudian minta diri setelah ia berjanji untuk datang dihari
berikutnya bersama
satu dua orang kawannya.
“Besok kita akan mulai
Kiai,“ berkata Jlitheng sambil melangkah.
“Terima kasih ngger.
Aku senang sekali.”
Jlitheng tersenyum.
Ketika ia berpaling memandang Swasti gadis itu sama sekali tidak
beringsut.
“Aku minta diri
Swasti.”
Tanpa mengangkat
wajahnya gadis itu menjawab, “Terima kasih.”
“Kiai Kanthi menarik
nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun juga tentang anak
gadisnya itu.
Seperti yang dikatakan
Jlitheng, maka iapun telah bersetuju dengan empat orang kawannya
yang sudah sempat
membantunya untuk datang di lereng bukit itu menjelang matahari terbit.
Namun disore hari,
ketika anak-anak muda berkumpul di dekat bukit padas yang gundul, Jlitheng
tidak mengatakannya
kepada orang lain. Kepada keempat kawannya itu ia berkata, “Jangan terlalu
banyak lebih dahulu.
Kita akan menjajagi, apakah yang akan kita kerjakan.”
Seperti yang
dijanjikan, Daruwerdi telah datang pula ketempat itu. Ia bersedia untuk
mengajari
anak-anak muda dari
Lumban Kulon dan Lumban Wetan untuk berlatih dalam olah kanuragan.
“Bagaimana ia dapat
mengajari anak-anak muda ini,“ berkata Jlitheng didalam hatinya ketika ia
melihat anak-anak muda
yang jumlahnya terlalu banyak.
Namun ternyata bahwa
Daruwerdi mempunyai kebijaksanaan tersendiri. Ketika anak-anak
sudah berkumpul
ditempat itu, maka iapun berdiri diatas sebuah batu padas dan mengucapkan
sesorah singkat. Ia
bersiap memberikan tuntunan olah kanuragan, tetapi anak-anak muda Lumban harus
bersungguh-sungguh.
Anak-anak muda Lumban
menjawab saur-manuk.
“Tetapi tidak mungkin
untuk berlatih bersama dalam jumlah ini,“ berkata Daruwerdi, “aku akan
membagi menjadi tiga
kelompok besar. Kelak, jika kalian akan mempelajari ilmu yang lebih dalam
lagi,
kelompok-kelompok itu akan terbagi menjadi semakin kecil.”
Daruwerdipun kemudian
membagi anak-anak muda Lumban itu menjadi kelompok besar yang
setiap kali akan
diajarinya berurutan kelompok demi kelompok.
Yang kemudian menjadi
persoalan bagi Jlitheng, bagaimana ia dapat berbuat diantara anakanak
muda itu, sehingga
Daruwerdi tidak dapat mengenali tata geraknya. Betapapun ia
memperbodoh diri dalam
sikap pura-pura namun ia masih juga cemas, bahwa Daruwerdi akan
dapat melihat, bahwa
sebenarnya ia sudah mempunyai bekal ilmu olah kanuragan.
“Mudah-mudahan aku
berhasil mengelabuinya,“ berkata Jlitheng didalam hatinya.
Karena itulah, maka
dihari itu, Jlitheng yang mendapat giliran dihari ketiga, justru
memperhatikan dengan
saksama, bagaimana anak-anak muda Lumban yang belum memiliki bekal sama sekali
itu mengikuti tuntunan Daruwerdi.
Kadang-kadang Jlitheng
harus menahan senyum melihat gerak-gerak yang menurut
pendapatnya aneh dan
lucu. Tetapi ia sadar, bahwa sikap yang demikian itulah yang harus
dilakukannya pula.
Ternyata bahwa dihari
itu anak-anak Lumban telah berlatih dengan sebaik-baiknya. Rasarasanya
matahari terlalu cepat
turun dan hilang dibalik pegunungan, sehingga waktu rasa-raisanya
berjalan terlampau
laju.
Jlitheng memperhatikan
perkembangan keadaan di Lumban itu dengan pertimbangan yang
dalam. Ia tidak dapat
mengkesampingkan pendapat Ki Buyut di Lumban Kulon, bahwa latihanlatihan
itu akan dapat
dianggap oleh orang-orang yang memusuhi Daruwerdi, seolah-olah setiap
anak muda di Lumban
telah melibatkan diri.
“Tetapi ini adalah
suatu permulaan dari perubahan-perubahan yang akan terjadi di Lumban,“
berkata Jlitheng
kepada dirinya sendiri, “dengan perubahan-perubahan yang sedikit demi sedikit,
maka akhirnya Lumban
tidak akan tenggelam didalam suasana masa lampau tanpa menghiraukan masa
depannya.”
Selebihnya Jlitheng
memang mengharap, bahwa perhatian anak-anak muda kebanyakan akan
tertuju pada olah
kanuragan. Hanya anak-anak muda dalam jumlah yang terbatas sajalah yang
akan memperhatikan dua
orang perantau yang akan membuka sebuah padepokan dilereng bukit.
“Tetapi pada saatnya,
semuanya akan diperlukan,“ berkata Jlitheng didalam hatinya, “untuk
menguasai air itu
diperlukan semua orang dipadukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”
Didini hari
berikutnya, Lumban bersama empat orang kawannya, dengan diam-diam telah pergi
kebukit dengan membawa
beberapa macam alat yang akan dipergunakan untuk membangun
sebuah gubug kecil.
Tidak seperti yang biasa dilakukan oleh Jlitheng jika ia memanjat seorang diri,
melalui tebing tebing curam dan meloncati batu-batu padas, tetapi ia memilih
jalan setapak yang lebih baik agar kawan-kawannya tidak mengalami kesulitan
meskipun dengan demikian perjalanan mereka akan bertambah panjang.
Keempat kawan Jlitheng
itu menjadi heran ketika mereka melihat dan kemudian diperkenalkan
kepada Swasti. Mereka
menyangka Swasti adalah seorang gadis perantau yang kusut, kurus dan
sakit-sakitan. Tetapi
ternyata Swasti adalah gadis yang nampak sehat dan segar, meskipun
pemalu.
“Seperti yang aku
janjikan kemarin Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “kami akan dapat mulai
dengan kerja ini.”
“Terima kasih ngger.
Terima kasih. Tetapi apakah yapg dapat aku pergunakan untuk
menyediakan minum jika
kalian haus, dan apa pula yang ada padaku, jika angger menjadi letih
dan lapar.”
Jlitheng tertawa
mendengar pertanyaan Kiai Kanthi. Jawabnya, “Tentu kami mengerti Kiai,
bahwa Kiai tidak akan
dapat menyediakannya buat kami. Tetapi sudah barang tentu kami tidak
akan mengharapkan
sesuatu yang akan dapat menyulitkan Kiai. Jika Swasti mendapatkan banyak
gayam dan merebusnya,
itupun sudah memadai buat kami semuanya, karena kamipun senang
sekali makan gayam
rebus.”
Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Terima kasih ngger. Terima
kasih.”
Dalam pada itu, maka
Jlithengpun segera mengajak kawan-kawannya untuk mulai bekerja.
Yang pertama-tama
mereka lakukan adalah memotong dahan-dahan kecil dan diruncingkannya
ujungnya untuk membuat
patok-patok yang akan menandai daerah yang akan dibangun untuk
sebuah padepokan
kecil. Dengan patok-patok itu, maka sudah akan didapat gambaran, apakah
yang akan terjadi
kelak di lereng bukit itu. Sehingga dengan demikian, maka arus air yang akan
mengalir lewat
padepokan itupun akan dapat pula ditentukan arahnya.
Kiai Kanthipun ikut
serta pula membuat patok-patok kayu dan menyiapkan sebuah rancangan
yang mereka
perbincangkan bersama sambil memotong dan meruncingkan patok-patok kayu itu.
“Aku kira sudah cukup
untuk kali ini,“ berkata Jlitheng kemudian, “marilah kita turun dan
menanam patok-patok
ini setelah kita memperhitungkan segala segi dan kemungkinannya.”
Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Swasti yang duduk
dimuka perapian.
Meskipun Swasti tidak berpaling, karena sikapnya yang seolah-olah acuh tidak
acuh, tetapi orang tua
itu melihat bahwa ada sesuatu yang terasa tergetar dihati gadisnya.
Karena itu, maka iapun
kemudian mendekatinya sambil berbisik, “Bagaimana pikiranmu tentang
rencana ini ?”
“Ayah lebih senang
berbicara dengan anak itu daripada dengan aku.“ sungut gadis itu.
“Ah, jangan begitu
Swasti. Bukankah kita berterima kasih atas uluran tangan yang diberikan
oleh angger Jlitheng.
Dan kau sudah mendengar pula pengakuannya serba sedikit, kitapun harus
memperhitungkannya
pula. Ia bukan anak Lumban seperti yang lain-lain. Tentu iapun mempunyai
perhitungan yang mapan, bukan sekedar ikut-ikutan seperti anak-anak muda Lumban
yang lain.”
“justru karena itu
ayah. Mungkin kita akan terjebak pada rencananya.”
“Jangan terlampau
berprasangka Swasti. Tetapi bahwa ia telah mencoba menjajagi
kemampuanmu itu ada
pula baiknya. Ia tidak akan menganggap kita sekedar penurut yang tidak
mempunyai sikap.”
“Tetapi sampai
sekarang ayah benar-benar seorang penurut,“ desis Swasti.
“Itupun telah aku
perhitungkan Swasti. Ia lebih banyak kesempatan bergaul dengan orangorang
Lumban, dengan Ki
Buyut dan anak-anak mudanya. Tentu sikap dan pandangannya
mempunyai hubungan
dengan lingkungan yang sedang dihayatinya sekarang.”
Swasti tidak menjawab
lagi. Pandangan matanya seolah-olah telah terlekat pada perapian yang
menyala ditungku yang
dibuatnya dari batu.
“Hati-hatilah tinggal
disini Swasti. Aku akan turun bersama anak-anak muda itu. Tentu tidak
terlalu jauh, karena
aku tidak ingin membuat padepokan didekat salah satu dari padukuhan kecil
yang termasuk Lumban
Wetan atau Lumban Kulon.”
Swasti mengangguk
kecil. Meskipun ia tidak mengatakannya, tetapi Kiai Kanthi dapat merasakan,
bahwa gadis itu masih belum puas dengan jawaban-jawaban yang telah diberikannya.
Namun Kiai Kanthipun
tidak akan memperbincangkan terlalu panjang. Jlitheng dan kawan kawannya
telah menunggu sambil
mengikat patok-patok kayu yang telah mereka siapkan.
Ketika Kiai Kanthi
mendekati anak-anak muda Lumban, maka anak-anak muda itu sudah selesai
mengikat patok-kayu
yang akan mereka bawa turun untuk menelusuri tempat seperti yang sudah
mereka perbincangkan.
Tempat yang barangkali paling baik untuk membuat sebuah padepokan.
Masih dilereng bukit,
tetapi ditempat yang datar dan agak luas. Dibawah dataran itu akan dapat
dibuka selembar tanah
persawahan dan ladang yang cukup.
“Bagaimana dengan
Swasti, “Jlithenglah yang kemudian bertanya.
“Biarlah ia merebus
Gayam dan barangkali merebus air yang akan dapat kita minum, meskipun
benar-benar hanya air
putih,“ jawab Kiai Kanthi.
“Tetapi, apakah itu
tidak berbahaya baginya ?“ bertanya anak muda yang lain.
“Ia pandai memanjat,“
jawab Kiai Kanthi, “jika ada binatang buas mendekat, maka ia akan
memanjat dan tidur
diatas dahan sampai binatang itu pergi. Dan aku kira jarang sekali ada seekor
binatang buas yang
mendekati manusia jika tidak terpaksa sekali.”
“Seperti yang pernah
aku ceriterakan,“ potong Jlitheng. Kawan-kawannya hanya mengangguk angguk kecil.
Sekilas dipandanginya Swasti yang sama sekali tidak acuh terhadap mereka yang
sibuk dengan kerja itu, namun ada semacam kekhawatiran untuk meninggalkan gadis
itu seorang
diri.
Tetapi ketika
anak-anak muda itu melihat ayah Swasti tidak mencemaskannya, maka merekapun
mencoba untuk tidak mencemaskannya pula.
Sejenak kemudian, maka
Kiai Kanthi, Jlitheng dan beberapa orang kawannya telah meninggalkan tempat itu,
sementara Swasti masih tetap duduk ditcmpatnya tanpa berpaling.
Beberapa saat lamanya,
Jlitheng dan kawan-kawannya menuruni tebing. Seperti saat mereka
memanjat naik, maka
Jlitheng telah memilih jalan yang paling mudah untuk dilalui, karena
kawankawannya bukannya orang terlatih untuk mendaki bukit, menuruni lereng
terjal dan ketrampilan kanuragan yang lain.
Tetapi mereka tidak
perlu mencari-cari lagi. Mereka telah membicarakan, bagian yang manakah
yang akan mereka
tandai, sebagai tempat yang akan dibangun sebuah padepokan, dan kelak
dibawahnya untuk
membuka tanah persawahan dan ladang.
Dalam pada itu, Swasti
masih tetap duduk dimuka perapiannya. Ia mencoba memikirkan masa
depan yang belum
terbentuk baginya. Namun sebagai seorang gadis, maka iapun mulai beranganangan.
Sekali-kali tangannya
menyentuh ranting-ranting kecil yang sedang menyala. Dengan jarijarinya
yang panjang gadis itu
kemudian bermain dengan bara-bara kecil yang pecah menjadi abu
yang panas.
Tetapi tangan Swasti
agak terbiasa dengan panas, dipadepokannya yang lama. ia berlatih
dengan pasir.
Mula-mula pasir ditepian sungai. Jika tidak seorangpun yang ada ditepian, maka
mulailah ia
menusuk-nusuk pasir dengan jari-jarinya. Namun kemudian ayahnya memberikan
latihan-latihan yang
lebih berat. Pasir itu dipanasinya dan latihan-latihan berikutnya dilakukan
ditempat tersembunyi.
Karena itulah, maka
jari-jari Swasti bukannya jari-jari seorang gadis yang halus dan lentik.
Namun setiap orang
tentu mengira, bahwa gadis itu terlalu banyak bekerja berat, sehingga jari
jarinya menjadi kasar.
“Namun dalam pada itu,
Swasti terkejut ketika ia mendengar desir mendekat. Telinganya yang
terlatih segera
mengetahui, bahwa seseorang sedang berjalan kearahnya. Bukan seseorang yang
dengan bersembunyi
merunduknya, tetapi seseorang yang berjalan agak cepat.
Swasti selalu ingat
pesan ayahnya, agar ia tidak memperlihatkan kemampuannya kepada
orang-orang lain.
Bahkan ayahnyapun selalu berusaha untuk merendahkan diri dalam olah
kanuragan.
Karena itulah, maka
untuk mempersiapkan diri, ia berpura-pura melakukan sesuatu. Perlahan lahan ia
berdiri dan melangkah mengambil seonggok kayu kering untuk dibawa kedekat
perapian.
Tetapi Swasti kemudian
berdiri tegak sambil menggeliat setelah ia melemparkan seonggok kayu
itu.
Bagaimanapun juga
gadis itu harus mempersiapkan diri, karena yang ada ditempat itu hanyalah
ia sendiri. Tanpa
ayahnya dan tanpa orang lain.
Swasti tahu pasti dari
arah mana suara itu datang. Dan iapun ternyata telah berdiri menghadap
kearah itu.
Tetapi Swasti menjadi
berdebar-debar ketika ia melihat seseorang yang menyibakkan
dedaunan. Seseorang
yang pernah dilihatnya disaat ia datang lewat bulak persawahan di Lumban.
Kemudian orang itu
datang lagi untuk menolongnya dari kegarangan seekor harimau hampir
bersamaan waktunya
dengan kedatangan Jlitheng. Tetapi karena Jlitheng kemudian berhasil
melihat permainan
ayahnya yang menekan pusat nadinya, sehingga ia tidak dapat berbuat
banyak, maka Jlitheng
sama sekali tidak menampakkan dirinya pada saat itu
“Daruwerdi,“ ia
berdesis didalam hatinya.
Sementara itu
Daruwerdi telah berdiri termangu-mangu. Dilihatnya Swasti menundukkan
kepalanya dalam-dalam
tanpa menyapanya.
“He, bukankah kau
gadis perantau itu ?” Daruwerdilah yang kemudian bertanya.
“Ya,“ jawab Swasti
pendek.
“Dimana kakek tua
itu?”
“Pergi.”
Daruwerdi mengerutkan
keningnya. Jawab gadis itu terlalu pendek bagi pertanyaanpertanyaannya.
Namun Daruwerdi
mencoba untuk mengerti, bahwa gadis itu tentu jarang bergaul
dan merasa rendah
diri.
“Kemana kakek tua itu
? Maksudku, pergi kemana ?” desak Daruwerdi.
Swasti termangu-mangu
sejenak. Namun iapun mengerti, bahwa kehadirannya tentu bukannya
rahasia lagi bagi
orang-orang Lumban. Ternyata Jlitheng telah membawa kawan-kawannya dan
bahkan ia sudah minta
ijin kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dari Lumban Kulon.
Karena itu, maka
jawabnya kemudian, “Ayah pergi bersama Jlitheng.”
“Dengan Jlitheng,“
Daruwerdi mengerutkan keningnya, “hanya berdua?”
“Tidak,“ jawab Swasti
masih terlalu pendek, sehingga Daruwerdi mendesaknya, “Dengan siapa
lagi?”
“Anak-anak muda dari
Lumban. Tiga atau empat orang.”
Daruwerdi menarik
nafas dalam-dalam. Ia memang sudah mendengar rencana Jlitheng untuk
membantu orang tua itu
membuat sebuah gubug kecil.
“Dan kau sekarang
sendiri?“ bertanya Daruwerdi tiba-tiba.
Swasti menjadi
ragu-ragu. Tetapi kemudian sambil mengangguk ia menjawab, “Ya, aku seorang
diri.”
“Gila. Kau sudah gila.
Dan kakek itupun sudah gila. Bukankah kau hampir mati dikunyah
harimau saat kau
datang beberapa hari yang lalu ? Dan sekarang kau ditinggalkan seorang diri
disini?”
Swasti kebingungan
sejenak. Tetapi jawabnya kemudian seperti yang sering diucapkan
ayahnya, “Aku dapat
memanjat. Jika ada seekor harimau yang datang, aku akan memanjat pohon itu
sampai harimau itu pergi.”
“Kalian memang
orang-orang yang tidak mengerti bahaya yang selalu merundukmu.
Kedunguanmu itu dapat
membunuhmu.”
Swasti tidak menjawab.
Tetapi kepalanya tunduk semakin dalam. Sekali-kali ia memandang
ujung kaki Daruwerdi.
Meskipun kaki itu kotor oleh lumpur, namun ia melihat kulit anak muda itu
agak berbeda dengan
kebanyakan anak-anak muda Lumban. Kulit Daruwerdi nampak lebih kuning dan cerah.
Tetapi Swasti tidak
berani mengangkat wajahnya dan memandang tubuh Daruwerdi lebih tinggi
lagi, selain mata
kakinya.
“Sebaiknya kalian
meninggalkan tempat ini,“ berkata Daruwerdi tiba-tiba, “daripada kalian
membuat gubug kecil
diantara daerah perburuan beberapa ekor harimau, kenapa kalian tidak
tinggal saja dekat
padukuhan? Apakah Jlitheng tidak pernah mengatakannya demikian?”
Swasti mengangguk
kecil. Jawabnya, “Ya.”
“Ya ? Ya, apa yang kau
maksud ?”
“Jlitheng pernah
berkata demikian.”
Daruwerdi menarik
nafas dalam-dalam. Gadis ini agaknya terlalu sulit untuk diajak berbicara.
Karena itu, maka
katanya, “Kearah mana kakek itu pergi?”
Swasti termangu-mangu
sejenak. Namun tatapan matanya mengarah ke semak-semak yang
tersibak.
“Kesana maksudmu?”
desak Daruwerdi. Swasti mengangguk kecil.
Daruwerdi tidak
menunggu lebih lama lagi. Tanpa, minta diri, iapun segera meloncat menyusup
kedalam
gerumbul-ge-rumbul perdu diantara pepohonan hutan, dan kemudian menghilang.
Sejenak Swasti
termangu-mangu. Daruwerdi mempunyai kelainan dengan anak-anak muda di
Lumban. Sikapnya,
kata-katanya dan pakaiannya.
“Jlitheng juga bukan
anak Lumban,“ tiba-tiba saja Swasti memperbandingkan keduanya diluar
sadarnya, “tetapi
Jlitheng telah luluh dan menyatu dengan anak-anak muda Lumban, sedangkan
Daruwerdi nampaknya
masih tetap memelihara jarak itu.“ Swasti mengerutkan keningnya sejenak.
Kemudian ia bertanya
kepada diri sendiri, “Tetapi apakah Daruwerdi mengenal siapakah Jlitheng
sebenarnya ?”
Namun dalam pada itu,
ketika Swasti menyadari apakah yang sedang diangan-angankan,
wajahnya terasa
menjadi panas. Meskipun tidak ada seorangpun, tetapi rasa-rasanya setiap
lembar daun
memandanginya sambil tersenyum. Seekor burung yang berkicau diatas dahan yang
rendah rasa-rasanya
telah menyindirnya dengan lagu yang nyaring.
“Pergi, pergi kau,“
bentak Swasti sambil melempar burung itu dengan kerikil.
Burung itu meloncat
kedahan yang lebih tinggi. Tetapi Swasti tidak menghiraukannya lagi
ketika burung itu
kemudian berkicau lebih keras.
Sementara itu
Daruwerdi telah menuruni tebing bukit itu dengan tergesa-gesa. Dengan mudah
ia dapat mengikuti
arah Jlitheng bersama Kiai Kanthi dan beberapa orang anak muda Lumban.
Sehingga karena itu,
maka sejenak kemudian Daruwerdi telah menemukannya.
Ketika Daruwerdi
muncul dari balik gerumbul, maka Jlithengpun menyapanya, “He, marilah
Daruwerdi. Kami sudah
mulai.”
Daruwerdi tidak segera
menjawab. Tetapi diperhatikannya tempat disekitarnya. Ia melihat
beberapa batang patok
telah ditancapkan diantara pepohonan hutan.
“Jadi, kalian akan
tetap membuat gubug itu disini ?“ bertanya Daruwerdi.
“Ya. Tempat ini sudah
cukup rendah. Jika Kiai Kanthi ingin pergi kepadukuhan, maka ia tinggal
menuruni beberapa
lapis padas.”
“Tetapi tempat ini
tetap merupakan tempat yang berbahaya. Setiap kali seekor harimau akan
lewat.“ Daruwerdi
berhenti sejenak. Tetapi ketika Kiai Kanthi akan menjawab. Daruwerdi
mendahului, “Kau tentu
akan mengatakan bahwa kau dan gadis itu dapat memanjat. Dan
barangkali kau akan
menceriterakan sebuah dongeng tentang seekor harimau yang terasing
karena menerkam
seseorang.”
Kiai Kanthi
mengerutkan keningnya. Namun iapun tersenyum sambil berkata, “Ya, ya ngger.
Aku memang akan
berkata begitu.”
“Tetapi saat kau
datang, hampir saja kau diterkam seekor harimau jika aku tidak datang
menolongmu.”
Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Katanya tesendat-sendat, “Benar ngger. Dan aku tidak akan
pernah melupakan apa
yang telah pernah terjadi itu.”
“Tetapi kau tidak
memperbaiki kesalahan yang pernah kau lakukan. Apakah untungmu
membuat gubug disini ?
Apakah tidak lebih baik jika kau tinggal dipadukuhan. Kau dapat memilih
,apakah kau ingin
tinggal di Lumban Wetan atau di Lumban Kulon.”
Kiai Kanthi
termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Angger Daruwerdi. Aku tidak
mempunyai secabik
tanahpun didaerah Lumban. Disini aku akan berusaha untuk membuka hutan
tanpa merugikan
siapapun juga, selain belas kasihan angger Jlitheng dan kawan-kawannya, yang
bersedia membantu
kami.”
“Kau orang aneh kakek.
Kau perantau yang bernasib kurang baik. Tetapi kau menganggap
dirimu seorang
kesatria yang sungkan menerima belas kasihan orang lain. Bukankah belas tenaga
dan sebidang tanah
tidak banyak bedanya?”
Kiai Kanthi
menundukkan kepalanya.
“Pikirkan Kakek.
Ketika aku bertemu dengan kau untuk pertama kali, aku sudah mengatakan,
bahwa kau terlalu
mementingkan dirimu sendiri. Harga diri atau mungkin kepuasan untuk
mengalami suatu
pederitaan seperti yang sering dilakukan oleh para petapa dengan gegayuhan
tertentu. Tetapi
apakah kau pernah memikirkan anak gadismu yang malang itu ?”
Kiai Kanthi tidak
segera menjawab. Namun kepalanya terangguk-angguk kecil.
“Tetapi terserah
kepadamu. Pendidikan seseorang kadang-kadang sulit dimengerti oleh orang
lain, termasuk
pendirianmu. Jlitheng dan kawan-kawannya telah menaruh belas kasihan kepadamu,
tetapi tanpa mempergunakan otaknya. Mereka sudah berbangga, bahwa mereka dapat
menolongmu. Tetapi mereka tidak memikirkan kelanjutan hidupmu dan hidup anak
gadismu itu.”
Kiai Kanthi masih
menunduk. Jlitheng dan kanwan-kawannya hanya berdiam diri sambil
mengangguk-angguk
kecil.
Tetapi Daruwerdi tidak
tinggal lebih lama lagi. Sekali lagi ia berkata, “Pikirkan. Jangan terlalu
bodoh dengan
memercayai ceritera tentang seeekor harimau yang terasing. Jangan membiarkan
dirimu merasa bahagia
oleh penderitaan hidup dan kesulitan rohaniah yang dialami anak gadismu.
Orang-orang masih akan
memberi kesempatan.”
Daruwerdi tidak
menunggu Kiai Kanthi menjawab. Iapun kemudian meninggalkan Kiai Kanthi
yang berdiri
termangu-mangu.
Salah seorang kawan
Jlithenglah yang memecahkan kesenyapan. “Aku kira, apa yang dikatakan
oleh Daruwerdi itu
benar.”
Jlitheng
mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mungkin benar. Tetapi kita sudah mulai dengan
kerja ini. Sebaiknya
kerja ini kita lanjutkan. Kelak jika ada pertimbangan lain dari Kiai Kanthi
terserah sajalah.”
Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia menyahut, “Aku kira demikian ngger.
Aku ingin meneruskan
kerja ini sampai pada suatu saat hatiku menjadi teguh atau sama sekali aku ingin
merubah sikapku ini.”
Kawan-kawan
Jlithengpun tidak menyahut. Bagi mereka, persoalan itu segera mereka lupakan.
Yang mereka lakukan
kemudian adalah menanam patok-patok sesuai dengan tempat-tempat yang ditunjuk
oleh Jlitheng setelah dibicarakan dengan Kiai Kanthi
“Nah,“ berkata
Jlitheng kemudian, “dengan patok-patok itu kita akan mendapat gambaran,
bagaimanakah ujud
padepokan kecil yang akan Kiai bangun di dataran yang tidak terlalu luas
dilereng bukit ini.”
Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku tidak dapat memimpikan bahwa seumurku
padepokan itu sudah
akan siap.”
“Kenapa tidak Kiai.
Disini Kiai tidak begitu sulit mencari batu untuk dinding halaman padepokan
Kiai, meskipun harus
mengumpulkan dari daerah yang agak luas disekitar tempat ini. Rumah dan
kelengkapannya akan
dibangun dengan kayu yang melimpah dihutan ini meskipun bukan kayu
yang terbaik,“ sahut
Jlitheng.
Kiai Kanthi tidak
menyahut. Ia hanya mengangguk-angguk kecil. Namun ia merasa betapa
unsur kemanusiaan
masih nampak jelas di padukuhan Lumban. Bahkan Jlitheng, yang bukan
orang Lumbanpun adalah
seorang yang sangat baik bagi sesama.
Meskipun demikian Kiai
Kanthi tidak menutup pengamatannya yang kadang-kadang tersembul
dipermukaan
pertimbangannya. Bukan mustahil bahwa orang-orang Lumban yang berbuat baik
kepadanya, termasuk
Jlitheng itu tidak mempunyai pamrih apapun juga.
“Itu sudah wajar,“
berkata Kiai Kanthi, “tetapi jika pamrih itu akan saling menguntungkan,
maka sudah barang
tentu, tidak akan ada keberatan apapun juga bagiku.”
Dalam pada itu, maka
yang dikerjakan oleh Jlitheng dan kawan-kawannya pada hari itu adalah
baru menanam beberapa
buah patok. Mereka masih akan menunggu Jiltheng dan Kiai Kanthi yang akan
memperhitungkan pengendalian air, sehingga yang akan mereka kerjakan dikeesokan
harinya, barulah
membuat patok-patok juga. Setelah Kiai Kanthi dan Jlitheng mendapat kepastian
arah air yang melimpah
dari belumbang di lereng bukit itu, maka mereka baru akan menanam
patok-patok
berikutnya.
Sebelum Jlitheng dan
kawan-kawannya kembali ke padukuhan, maka mereka masih sempat
singgah sejenak
dipinggir belumbang untuk mendapat beberapa buah gayam yang direbus oleh
Swasti.
Sementara itu, ketika
kawan-kawannya sedang sibuk makan jamuan yang terasa nikmat sekali
itu, Jlitheng
mendekati Kiai Kanthi sambil berbisik, “Daruwerdi nampaknya tidak setuju Kiai
tinggal disini.”
“Karena belas kasihan
ngger. Angger Daruwerdi tidak sampai hati melihat salah seorang dari
kami diterkam dan
dikoyak oleh seekor harimau atau oleh anjing hutan sekalipun.”
“Kiai percaya bahwa
itu alasannya?“ bertanya Jlitheng.
“Jika bukan karena
belas kasihan, apakah angger Jlitheng melihat alasan lain?“ bertanya Kiai
Kanthi.
“Aku melihat Kiai.
Bukankah dibawah tempat ini beberapa saat yang lalu, Daruwerdi telah
membunuh dua orang
Kendali Putih.”
“Bukankah itu bukan
maksud angger Daruwerdi. Justru orang-orang Kendali Putihlah yang telah
berusaha menipu angger
Daruwerdi. Bukankah begitu menurut ceriteramu?”
“Benar Kiai. Daruwerdi
telah membunuh kedua orang Kendali Putih yang telah berusaha
menipunya. Tetapi
bahwa pertemuan antara Daruwerdi dan orang-orang Pusparuri itu memang
direncanakan ditempat
itu. Tetapi yang datang adalah orang-orang Kendali Putih yang mengaku
sebagai orang dari
perguruan Pusparuri.”
Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Dipandanginya sekilas anak-anak muda Lumban yang sibuk
mengunyah gayam dan
meneguk air putih dari bumbung-bumbung bambu. Namun nampaknya air putih itu
demikian segarnya, melampaui air sere hangat dengan legen atau gula kelapa.
“Angger,“ berkata Kiai
Kanthi kemudian, “apakah dengan demikian justru ada kesengajaan pula
angger memilihkan
tempat bagi kami dilereng itu, agar kami langsung atau tidak langsung telah
menjadi pengawas yang
akan dapat membantu tugas-tugas angger yang belum aku ketahui.”
“Ah,“ tiba-tiba saja
Jlitheng tersenyum, “bukan maksudku Kiai. Tetapi jika terjadi demikian,
sudah tentu aku wajib
mengucapkan terima kasih.”
“Tentu aku tidak
berani berbuat demikian ngger. Jika pada suatu saat angger Daruwerdi
mengetahui, maka
nasibku akan menjadi sangat buruk.”
Tiba-tiba saja meledak
suara tertawa Jlitheng tanpa dapat ditahankannya lagi, sehingga kawankawannya
berpaling kepadanya dengan heran.
“Apa yang kau
tertawakan ?“ bertanya salah seorang kawannya.
Jlitheng memaksa diri
untuk berhenti tertawa. Jawabnya kemudian, “Kiai Kanthi telah
menceriterakan
pengalamannya yang lucu dikala mudanya.”
“Apa ?“ bertanya
kawan-kawannya sekaligus. Bahkan Swasti yang duduk agak jauhpun telah
memandangi ayahnya
dengan kerut dikeningnya.
“Apa yang sudah
diceriterakan ayah,“ bertanya Swasti didalam hatinya.
Tetapi Jlitheng
menggeleng. Katanya, “Tidak. Kiai Kanthi tidak bersedia mengulangi
ceriteranya.”
“Kau ceriterakan,“
minta kawan-kawannya.
Tetapi Jlitheng justru
menjadi bingung. Ia tidak tahu, ceritera apa yang dapat dikatakannya
kepada kawannya. Namun
Jlitheng tidak kehilangan akal. Katanya, “Nanti sajalah jika kita pulang.”
Kiai Kanthi sendiri
masih tersenyum. Agaknya Jlitheng telah menertawakannya ketika ia
mengatakan, bahwa Kiai
Kanthi tidak berani berbuat sesuatu karena takut kepada Daruwerdi.
Meskipun demikian,
meskipun pembicaraan antara Kiai Kanthi dan Jlitheng itu diucapkan sambil
bergurau, namun
ternyata hal itu telah menjadi perhatian keduanya dengan bersungguh-sungguh.
Dibawah dataran
dilereng bukit itulah, telah terjadi perjanjian antara Daruwerdi dengan orang
orang Pusparuri yang membicarakan masalah sebuah pusaka yang tidak diketahui
dengan pasti.
Ketika kemudian
Jlitheng dan kawan-kawannya meninggalkan tempat itu, dengan bersungut sungut
Swasti bertanya kepada ayahnya, “Apa yang ayah katakan kepada anak muda itu?”
Kiai Kanthi
mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak mengatakan apa-apa.”
“Tentu tidak. Anak
muda itu tertawa dengan serta-meria.“ desak Swasti.
Kiai Kanthi terpaksa
menceriterakan apa yang telah dipercakapkan dengan Jlitheng. Akhirnya
katanya, “Yang penting
Swasti, agaknya Jlitheng mempunyai pertimbangan tersendiri atas letak
padepokan itu justru
karena sikap Daruwerdi.”
Swasti menarik nafas
dalam-dalam. Sambil duduk bersandar sebatang pohon ia memandang
kekejauhan.
Seakan-akan ada sesuatu yang dicarinya.
“Bagaimana
pertimbanganmu Swasti ?“ bertanya ayahnya sambil duduk didekatnya.
“Anak muda yang
bernama Daruwerdi tadi datang kemari,“ tiba-tiba saja Swasti berdesis.
“O,“ sahut ayahnya,
“dan kau menunjukkan arah kerja kami ? Ia juga datang menemui aku.”
“Ya,“ sahut Swasti.
“Apa saja yang
dikatakannya kepadamu?”
“Ia menaruh belas
kasihan. Nampaknya ia seorang yang sangat memperhatikan kesulitan orang
lain,“ Swasti
seolah-olah bergumam kepada diri sendiri.
Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Katanya, “Ia memang menganjurkan agar kami pindah
kepadukuhan Lumban.
Tetapi seperti yang aku katakan, Jlitheng mempunyai perhitungan lain atas
sikap Daruwerdi itu.
Bukan karena belas kasihan tetapi berdasarkan atas kepentingannya.”
“Kenapa ia
berprasangka buruk?“ tiba-tiba saja Swasti bertanya.
Kiai Kanthi
mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian menjawab, “Bukan sekedar
prasangka, Swasti.
Jlitheng mempunyai perhitungan tersendiri. Aku tidak mengatakan bahwa
perhitungannya itu
tentu benar.”
“Nampaknya ayah sudah
berada dibawah pengaruh anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng
itu.”
“Bukan begitu Swasti.
Tetapi ia telah bersedia menolong kita. Ia sudah berbuat banyak.”
“Tetapi apakah
kira-kira yang akan dilakukan seandainya aku tidak dapat mengimbangi
ilmunya. Bahkan
seandainya ayah berada dibawah kemampuannya ?”
“Sudah aku katakan
Swasti. Dalam keadaan yang seakan-akan berkabut ini, kita memang saling
mencurigai. Yang
dilakukan adalah sekedar penjajagan. Bukan benar-benar bermusuhan.”
Swasti tidak menyahut.
Tetapi wajahnya nampak menjadi buram. Sekilas terbayang kedua anak
muda yang sebenarnya
merupakan orang lain bagi padukuhan Lumban itu. Seolah-olah semakin
lama menjadi semakin
jelas sifat dan tingkah laku keduanya.
Dalam pada itu,
Daruwerdi yang telah berada dirumahnya, duduk termenung sambil
memandangi cahaya
matahari yang seolah-olah masih bermain dihalaman meskipun sudah
menjadi semakin
condong. Sebentar lagi ia harus pergi ke bukit gundul untuk memberikan sekedar
tuntunan kepada anak-anak muda Lumban dalam olah kanuragan.
“Pekerjaan gila yang
sia-sia,“ gumamnya.
Tetapi Daruwerdi tidak
dapat menolak. Bahkan iapun mengharap, bahwa dengan demikian,
perhatian beberapa
pihak diluar padukuhan Lumban terhadapnya, akan menjadi baur oleh sikap
anak-anak muda Lumban.
“Tetapi yang aku
lakukan itu tentu merupakan sekedar lelucon bagi orang-orang Kendali Putih,“
desis Daruwerdi.
Sejenak Daruwerdi
masih merenung. Namun sejenak kemudian, iapun bangkit sambil
bergumam, “Aku harus
pergi ke bukit gundul. Tetapi malam nanti aku harus dapat bertemu
dengan anak itu. Ia
harus memberitahukan kepada orang-orang Pusparuri, hutan itu sudah dihuni
orang.”
Sambil berjalan
perlahan-lahan Daruwerdi masih berangan-angan. Tidak ada niatnya untuk
menyingkirkan kedua
orang perantau itu dengan kekerasan. Meskipun mereka berada di hutan itu, tetapi
nampaknya mereka tidak berbahaya.
“Meskipun demikian,
aku harus berhati-hati. Aku harus menemukan tempat lain yang lebih baik
untuk berbicara dengan
orang-orang Pusparuri atau orang-orang dari pihak manapun.”
Namun Daruwerdi
mengerutkan keningnya ketika tiba-tiba saja tumbuh pertanyaan,
“Bagaimana jika
orang-orang Pusparuri menemukan perantau itu dan bertindak langsung sebelum aku
menemuinya?”
Daruwerdi menarik
nafas dalam-dalam. Gumamnya, “Aku tidak peduli. Aku sudah
memperingatkan kedua
orang gila itu agar mereka menyingkir. Tetapi hutan itu cukup luas. Jika
orang-orang Pusparuri
atau pihak manapun juga tidak gila seperti kedua perantau itu, maka akan
dapat diatur tempat
lain yang lebih baik.”
Sementara itu,
Jlithengpun telah turun pula bersama kawan-kawannya. Mereka masih sempat
pulang sejenak,
sebelum merekapun pergi ke dekat bukit padas yang gundul untuk berlatih olah
kanuragan.
Namun dalam pada itu,
sebenarnyalah bahwa Lumban tidak terlepas dari pengawasan orang
asing. Justru karena
kehadiran orang yang kemudian menetap di Lumban, maka ketenangan
padukuhan itu
benar-benar telah terganggu.
Dalam pada itu, selagi
Daruwerdi sibuk dengan anak-anak muda di dekat bukit padas, dua
orang yang asing telah
mendekati padukuhan Lumban. Dari kejauhan mereka melihat dataran di
bawah bukit yang
dihampari oleh tanah persawahan yang nampaknya tidak begitu subur.
“Mereka semuanya tidak
pernah kembali,“ desis salah seorang dari keduanya.
“Daerah ini nampaknya
seperti neraka. Tanah gersang, bukit padas yang gundul. Namun
dibelakang nampak
bukit yang hijau karena hutan yang barangkali cukup lebat.”
Kedua orang itu
termangu-mangu sejenak. Dipandanginya dataran yang luas terbentang
diantara bukit padas
yang gundul dan bukit yang berwarna hijau. Tetapi dataran itu sendiri
nampaknya seperti
wajah orang yang sakit-sakitan. Pucat dan gersang.
“Kita akan
melihat-lihat keadadaannya,“ berkata salah seorang dari mereka.
“Nampaknya padukuhan
itu memang menyimpan kekuatan yang berbahaya. Tentu kita tidak
dapat mengabaikannya.
Kau dengar bahwa orang-orang Kendali Putih yang pernah menginjakkan
kakinya kedaerah ini
juga tidak pernah kembali ?”
“Tetapi mereka memang
tidak berjanji untuk datang kemari. Berbeda dengan kawan kita yang
memang sudah
bersepakat untuk mengadakan sebuah pembicaraan penting, percaya, bahwa
orang-orang Kendali
Putih dengan sengaja telah melakukan kejahatan terhadap orang Pusparuri.”
Semuanya tidak jelas,
Kita harus menyelidikinya. Tetapi kita harus berhati-hati. Mungkin kita
akan dapat mendengar
serba sedikit apabila kita sudah berada ditempat ini untuk beberapa hari.”
“Sulit untuk
menghubungi orang-orang didaerah kecil. Setiap orang baru akan segera dikenal
dan karena
peristiwa-peristiwa sebelumnya, akan dengan mudah dicurigainya pula.”
“Ada dua cara. Kita
menanggalkan pakaian kita dan menjadikan diri kita sebagai pengemis,
atau kita dengan
diam-diam mengambil satu atau dua orang dan membawanya kehutan dilereng
bukit itu. Kita
memaksanya untuk berbicara, kemudian mereka kita bunuh tanpa ada seorangpun
yang mengetahuinya.“
“Aku condong untuk
memilih yang kedua. Itu lebih cepat. Aku kira jika terjadi sesuatu didaerah
ini, maka setiap orang
akan segera mengetahuinya.”
Keduanya
mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian, marilah kita bersembunyi
dihutan
dilereng bukit itu.
Kita menunggu seseorang yang mungkin akan berguna bagi kita.”
“Tetapi, apakah kita
akan melalui padukuhan-padukuhan yang tersebar itu menuju kehutan
dilereng bukit itu?”
Kawannya
termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Sebentar lagi matahari akan turun.
Kita akan melanjutkan
perjalanan setelah gelap.”
Keduanyapun kemudian
berhenti dan duduk dibawah sebatang pohon yang berdaun lebat
menunggu matahari
tenggelam.
Dalam pada itu, ketika
matahari terbenam di ujung Barat anak-anak Lumban telah kembali dari
bukit padas yang
gundul. Satu dua orang diantara mereka sempat singgah kesungai kecil yang
hanya sekedar mengalir
membasahi pasir dan bebatuan. Namun dipinggir sungai itu terdapat
sebuah belik kecil
yang berair jernih.
Sementara anak-anak
Lumban itu membersihkan diri, maka dua orang yang menunggu gelap
itupun telah
mempersiapkan diri. Ketika bintang dilangit mulai nampak mereka-pun mulai
melanjutkan perjalanan
menyusuri jalan menuju kebukit yang menjadi kehitam-hitaman di malam
hari.
Adalah suatu
kebetulan, bahwa malam itu Jlitheng tidak berniat untuk naik kebukit berhutan
yang mempunyai mata
air yang melimpah itu. Ia berjanji kepada Kiai Kanthi dan Swasti untuk
datang dikeesokan
harinya bersama beberapa orang kawan. Sehingga malam itu, Jlitheng berada
diruruahnya sampai
menjelang tengah malam. Kemudian iapun minta diri kepada biyungnya untuk pergi
kegardu.
Digardu beberapa orang
kawannya telah mendahuluinya. Tetapi ketika ia sampai, ia masih
sempat ikut makan
ketela pohon rebus yang dibawa oleh salah seorang kawannya.
“Aku mencabut tiga
batang dihalaman belakang,“ desis kawannya yang membawa ketela pohon
itu.
Jlitheng
mengangguk-angguk sambil mengunyah. Namun tiba-tiba ia berkata, “Aku tidak
melihat Kuncung,“
desis Jlitheng.
“Ya. Biasanya ia sudah
berada digardu sejak sore,“ sahut kawannya.
“Mungkin ia sakit,“
yang lain menyahut, “jika tidak ia tentu datang, ia suka sekali bicara dan
sedikit sombong.
Tetapi menyenangkan. Tanpa Kuncung rasa-rasanya memang sepi.”
“Kita tunggu beberapa
saat,“ desis Jlitheng.
“Jika ia tidak
datang?“ bertanya kawannya.
Jlitheng
termangu-mangu. Gumamnya, “Apa kita akan menengok kerumahnya? Itu akan
mengejutkannya dan
mengganggu seluruh keluarganya.”
“Jadi ?”
“Tentu kita akan
menunggu sampai besok. Besok pagi-pagi, salah seorang dari kita yang akan
pulang kerumah,
singgah sejenak untuk menanyakannya, kenapa ia tidak datang.”
Kawan-kawannya
mengangguk-angguk. Dan perhatian merekapun kembali kepada ketela
pohon ddtengah-tengah
gardu itu.
Dalam pada itu,
dirumah anak muda yang bernama Kuncung itu telah timbul kegelisahan. Sejak
sore ia telah pergi.
Sampai tengah malam ia belum kembali. Biasanya, jika ia akan pergi ke gardu,
anak itu tentu makan
lebih dahulu.
“Tanyakan ke gardu
diujung desa,“ berkata ayahnya kepada adik Kuncung.
“Aku takut,“ desis
anak itu.
“Marilah, aku antar ke
gardu. Tetapi kaulah yang bertanya kepada kawan-kawan Kuncung.”
Diantar oleh ayahnya
adik Kuncung telah pergi ke gardu. Ternyata bahwa pertanyaan adik
Kuncung itu telah
mengejutkan kawan-kawannya. Salah seorang dari mereka menjawab, “Ia tidak
datang kemari. Justru
kami menunggunya.”
“Ia belum pulang. Ia
pergi kebukit padas yang gundul itu. Tetapi sampai sekarang ia tidak
kembali.”
Kawan-kawannya
termangu-mangu. Sejenak mereka saling berpandangan.
“Tolonglah,“ berkata
adik Jlitheng, “bantulah mencari kakang Kuncung. Ibuku menjadi sangat
cemas.”
Jlitheng mendekati
anak itu sambil menepuk pundaknya. Katanya, “Kami akan mencobanya.
Mudah-mudahan kami
menemukannya.”
“Apakah anak itu
dibawa wewe yang kehilangan anak?“ desis salah seorang dari anak-anak itu.
Pertanyaan itu telah
membuat beberapa orang kawannya menjadi semakin berdebar-debar.
Seorang yang memang
penakut telah mendesak dan berdiri diantara kawan-kawannya dengan
kaki gemetar.
Dalam pada itu
Jlitheng berkata kepada adik anak yang seakan-akan menghilang itu,
“Pulanglah. Kami akan
minta tolong kepada orang-orang padukuhan untuk mencari kakakmu.”
Dengan cemas anak
itupun memandang wajah Jlitheng. Sementara ayahnya termangu-mangu
dikegelapan. Namun
akhirnya ayahnyapun mendekat. Dengan gagap ia berkata, “Tolong ngger.”
Hanya itulah yang
terlontar dari mulutnya. Namun nampak kegelisahan yang sangat telah
mencengkam wajahnya.
Jlitheng memandang
orang tua itu. Orang itu pendiam yang dalam keadaan sehari-hari
memang sulit untuk
berbicara diantara banyak orang. Namun tiba-tiba ia sudah dihadapkan pada
suatu keadaan yang
membuat hatinya sangat gelisah.
Sepeninggal orang tua
itu Jlitheng menjadi bingung. Apalagi ketika ia melihat kawan-kawannya
yang bahkan telah
kehilangan akal.
“Apa yang dapat kita
lakukan ?“ bertanya salah seorang dari mereka.
“Kita akan mencarinya.
Kita membawa obor, tampah, kentongan dan pisau. Kita cari Kuncung
kemana saja. Mungkin
ia memang dibawa oleh kuntilanak.”
Kawan-kawannya
termangu-mangu. Namun ternyata mereka tidak mempunyai jalan lain untuk
mencarinya.
Namun dalam pada itu,
Jlitheng mempunyai pertimbangan lain. Jika dalam keadaan demikian
Daruwerdi tidak
berusaha menolong anak yang hilang itu, maka ia akan berbuat sendiri, karena
menurut perhitungan
Jlitheng, Kuncung telah mengalami nasib seperti yang pernah dialami. Tetapi
agaknya Kuncung tidak akan dapat membebaskan dirinya sendiri jika benar ia jatuh
ketangan
orang-orang yang ganas
seperti orang-orang Kendali Putih.
Sejenak kemudian
padukuhan Lumban Wetan telah menjadi ramai. Beberapa orang dalam
kelompok-kelompok
kecil berputar-putar dipadukuhan. Mereka berjalan beriring mendekati
tempat-tempat yang
dianggapnya wingit. Kuburan-kuburan pohon-pohon besar dan gerumbul gerumbul yang
lebat
Dalam hiruk pikuk
itulah Jlitheng hilang dari antara kawan-kawannya. Tetapi tidak seorangpun
yang menghiraukannya,
karena setiap kelompok mengira bahwa Jlitheng berada dikelompok yang
lain.
Hiruk pikuk itu
akhirnya terdengar pula dari padukuhan-padukuhan yang lain, bahkan sampai
ke Lumban Kulon,
sedangkan Daruwerdi yang tidur nyenyakpun telah terbangun.
“Ada apa ?” anak muda
itu bertanya kepada orang-orang yang sudah turun ke jalan.
“Seorang anak Lumban
Wetan telah hilang. Mungkir dibawa wewe yang kehilangan anaknya.
Mereka sedang mencari
berkeliling padukuhan. Bahkan ada yang pergi keluar padukuhan,“ jawab
salah seorang dari
mereka yang berada dijalan.
Daruwerdi
termangu-mangu sejenak. Sekilas terbersit pula dugaannya, seperti yang
diperhitungkan oleh
Jlitheng. Kuncung tentu sudah hilang, karena ia bertemu dengan orang-orang yang
asing bagi padukuhan yang tenang itu.
“Jarang sekali
seseorang diterkam harimau didaerah ini,“ berkata Daruwerdi didalam hatinya,
“kecuali jika mereka
sengaja mengumpankan diri kehutan seperti kedua orang perantau itu atau
seperti Jlitheng yang
sering mencari kayu dihutan itu meskipun mereka terlalu percaya kepada
dongeng tentang
harimau yang terasing itu.”
Ketika Daruwerdi masuk
kedalam biliknya, maka ia memutuskan untuk bersiap menghadapi
segala kemungkinan.
“Seandainya benar
Kuncung ditangkap oleh orang-orang yang asing bagi padukuhan ini, maka
ia tentu akan
mengatakan apa yang diketahuinya tentang kematian orang-orang Pusparuri dan
Kendali Putih
dipinggir hutan itu. Seandainya aku tidak keluar mencarinya, maka akulah yang
agaknya akan dicari
oleh mereka karena ceritera Kuncung,“ gumam Daruwerdi kepada diri sendiri.
Namun tiba-tiba saja
keningnya berkerut, “Tetapi dua orang yang menangkap Jlitheng itu tidak
pernah datang kepadaku
? Apakah ada pertimbangan lain. bahwa mereka sedang menyiapkan
kekuatan yang lebih
besar sehingga yang datang sekarang adalah orang-orang yang yakin akan
dapat mengalahkan aku
?”
Daruwerdi
termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari
rumahnya dan melihat
keadaan agar ia tidak terjebak didalam rumahnya yang sempit tanpa
memastikan sebelumnya,
apakah ia akan benar-benar ikut mencari Kuncung atau sekedar
bersiaga.
Namun dalam pada itu.
baik Daruwerdi maupun orang-orang Lumban Kulon sama sekali tidak
mengetahui, bahwa dari
halaman seberang, dibawah rimbunnya dedaunan seseorang sedang
bersembunyi dan
mengintai dengan hati-hati. Ketika orang itu melihat Daruwerdi keluar lagi dari
rumahnya dengan
senjata dilambung, maka ia menarik nafas dalam-dalam.
“Mudah-mudahan
Daruwerdi dapat menebak apa yang terjadi dan membawa aku langsung
ketempat yang aku
cari,“ katanya didalam hati.
Sebenarnyalah bahwa
Jlitheng telah berusaha mengamati apa yang akan dilakukan oleh
Daruwerdi. Ia sendiri
sama sekali tidak tahu kemana ia harus mencari. Tetapi ia berharap bahwa
berdasarkan atas
hubungan yang pernah dilakukan oleh Daruwerdi dengan orang-orang yang
tidak dikenalnya itu,
akan mempermudah pelacakannya terhadap anak yang malang itu.
Sejenak kemudian
Jlitheng telah meloncati dinding-dinding penyekat halaman untuk mengikuti
Daruwerdi yang
berjalan tergesa-gesa menyusuri jalan padukuhan. Ia sama sekali tidak berada
diantara anak-anak
muda yang lain dan orang-orang Lumban yang sedang mencari Kuncung
dengan caranya.
Ketika Daruwerdi telah
berada di bulak, maka Jlitheng harus menjadi lebih berhati-hati.
Daruwerdi bukannya
anak-anak Lumban kebanyakan sehingga karena itu, ia harus berusaha
dengan segenap
kemampuan yang ada, agar Daruwerdi tidak menyadari, bahwa ia sedang diikuti
oleh seseorang.
Dalam pada itu
Daruwerdi berjalan semakin lama semakin cepat. Dengan demikian, Jlithengpun
menjadi semakin cepat
pula mengikutinya.
Jlitheng menjadi
berdebar-debar ketika ternyata Daruwerdi telah menuju kearah bukit padas
yang gundul.
Rasa-rasanya memang ada hubungan yang khusus antara Daruwerdi dan bukit
gundul itu. Beberapa
orang kawan Jlitheng memang sering melihat, Daruwerdi pergi ke bukit itu
tanpa dapat
mengatakan, apa yang dikerjakannya disana.
Dengan sangat
hati-hati Jlitheng mengikutinya. Rasa-rasanya semakin dekat dengan bukit
padas yang gundul itu,
hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Seolah-olah Jlitheng akan
melihat sekelompok
orang yang telah siap menunggu kedatangan Daruwerdi untuk melakukan
segala perintahnya.
Jlitheng segera
bersembunyi dibalik semak-semak ketika Daruwerdi mulai melangkah naik
keatas batu-batu
padas. Dengan sangat hati-hati Jllitheng merayap dari balik gerumbul kebalik
gerumbul lainnya, agar
ia tidak terpisah terlalu jauh dari anak muda yang diikutinya.
Namun Jlitheng menjadi
berdebar-debar ketika ia melihat tidak seorangpun berada di bukit
padas itu. Bahkan
kemudian ia mendengar Daruwerdi itu memanggil, “Cempaka. Cempaka.”
Tetapi tidak terdengar
jawaban apapun juga. Ia masih mendengar Daruwerdi memanggil
beberapa kali. Namun
tidak seorangpun yang menjawab.
Daruwerdipun kemudian
menengadahkan wajahnya. Terdengar ia bergumam, “Masih belum
saatnya ia datang.”
Jlitheng menjadi
berdebar-debar. Ia melihat Daruwerdi kemudian duduk diatas batu padas.
“Gila,“ desis Jlitheng
didalam hatinya, “apakah ia hanya akan duduk saja disitu tanpa berbuat
sesuatu.”
Beberapa saat Jlitheng
masih menunggu. Tetapi akhirnya ia menggeram, “Jika aku menunggu
saja disini. anak yang
hilang itu akan diketemukan menjadi mayat. Ternyata Daruwerdi tidak ada
minat untuk
menolongnya.”
Sekilas ia
membayangkan betapa Daruwerdi telah berusaha menyelamatkan jiwa Kiai Kanthi
dan Swasti dari
terkaman seekor harimau dihutan dibukit sebelah. Tetapi kenapa ia tidak berusaha
dengan kesungguhan hati untuk menolong Kuncung yang hilang.
“Agaknya waktu itu
secara kebetulan saja Daruwerdi melihat peristiwa itu. Kehadiran Daruwerdi
saat itu dihutan itu
tentu ada kepentingan lain. Tentu karena ia menunggu satu dua orang dalam
hubungan yang khusus
dipinggir hutan itu seperti saat ia menunggu orang Pusparuri yang
ternyata telah dibunuh
oleh orang-orang Kendali Putih,“ Jlitheng mencoba menilai keadaan yang
sedang dihadapinya.
Dan ia-pun yakin karena ia mendengar Daruwerdi bergumam bahwa orang
yang disebutnya
Cempaka itu memang belum saatnya datang, sehingga yang dilakukan oleh
Daruwerdi justru lebih
banyak dihubungkan dengan kehadiran orang-orang yang asing bagi
padukuhan Lumban.
Namun dalam pada itu
Jlitheng menjadi bingung. Ia tidak sampai hati membiarkan Kuncung
hilang tanpa
pembelaan. Tetapi iapun mempunyai keinginan yang kuat untuk melihat, siapakah
yang bakal datang
dibukit padas dan yang disebut dengan panggilan Cepaka itu.
Sejenak Jlitheng
berbantah dengan dirinya sendiri. Namun akhirnya ia menggeretakkan giginya
sambil berkata kepada
diri sendiri, “Nyawa anak itu harus diselamatkan dahulu. Baru aku akan
datang lagi kemari.”
Jlitheng tidak
menunggu lebih lama lagi. Iapun kernudian beringsut dengan hati-hati
meninggalkan
tempatnya.
Ketika ia sudah
menjadi semakin jauh dari bukit padas itu. maka iapun kemudian dengan
tergesa-gesa melangkah
menyusuri bulak.
“Tetapi kemana aku
mencari anak itu?“ ia bertanya kepada diri sendiri, “daerah ini sangat luas.
Mungkin dibulak,
mungkin di padang perdu, mungkin dihutan itu.”
Sejenak Jlitheng
mengingat-ingat dimana ia terakhir bertemu dengan Kuncung. Dari bukit
gundul setelah mereka
mengikuti latihan-latihan yang diberikan oleh Daruwerdi. Kuncung singgah
sejenak dibelik
ditepian.
“Mungkin ketika ia
pulang dari sungai itulah, ia bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenal
itu,“ berkata Jlitheng
kepada diri sendiri. Tetapi Jlithengpun tidak segera dapat menebak, kemana
Kuncung itu dibawa
pergi.
Ketika Jlitheng
kemudian berlari-lari kecil menuju kelereng bukit, ia melihat dari kejauhan
sekelompok orang-orang
Lumban yang sedang mencari Kuncung. Dilihatnya beberapa buah obor
di ujung padukuhan.
Sementara diarah yang lain ia melihat pula beberapa obor dibawah pohon
randu alas raksasa.
“Orang-orang Lumban
kebingungan,“ desisnya, “tetapi sulit untuk menemukannya.”
Semula ada niatnya
untuk memanjat tebing menemui Kiai Kanthi. Namun akhirnya iapun
mengurungkannya,
karena hal itu hanya akan membuang waktu saja. Sudah barang tentu, anak
itu tidak akan dibawa
sampai kelereng yang terlalu tinggi.
Karena ia tidak
menemukan sesuatu dilereng bukit itu. maka Jlithengpun segera bergeser.
Bahkan kemudian ia
berlari-lari kecil. Dijelajahinya tempat yang dianggapnya tersembunyi
dipinggir hutan itu.
Namun ia tidak menemukan sesuatu.
Dengan demikian maka
Jlithengpun berusaha mencari ketempat yang lain. Tanpa mengenal
lelah ia berlari
menuju kekuburan yang terpisah dari padukuhan. Meskipun ia tidak mencari
kuntilanak, tetapi ia
menganggap bahwa tempat itu cukup tersembunyi jika ada orang yang
sengaja menyembunyikan
diri bersama Kuncung.
Tetapi Jlitheng tidak
menemukan yang dicarinya.
Keringat anak muda itu
mulai membasahi seluruh tubuhnya. Bukan saja karena ia berlari-lari.
Tetapi kegelisahannya
telah membuatnya seakan-akan diperas, sehingga keringatnya telah
mengalir diseluruh
wajah kulitnya.
Dalam pada itu,
ternyata bahwa Jlitheng telah salah hitung. Justru karena ia mengurungkan
niatnya memanjat
tebing lebih tinggi lagi, maka ia tidak berhasil menjumpai anak muda yang
sebenarnya memang
dibawa oleh dua orang yang tidak dikenal.
Adalah kebetulan bahwa
dua orang yang berjalan menuju ketempat yang sepi itu telah bertemu
dengan Kuncung seorang
diri.
Mula-mula Kuncung sama
sekali tidak menghiraukan dua orang yang datang menuju kearah ia
berjalan. Bahkan
kemudian iapun berhenti ketika salah seorang dari kedua onang itu
memanggilnya.
“Ki Sanak,“ berkata
salah seorang dari keduanya, “apakah kau dapat menolong kami?”
Kuncung yang tidak
berprasangka apapun itu menunggu keduanya. Baru ia merasa ngeri ketika
kedua orang itu
menjadi semakin dekat. Wajah keduanya membayangkan kekerasan dan
kekasaran.
Tetapi Kuncung sudah
terlambat. Salah seorang dari kedua orang itu telah melekatkan ujung
pisau belati
kelambungnya.
“Jangan berbuat
sesuatu yang dapat mempercepat kematianmu anak muda.”
Kuncung menjadi
gemetar. Iapun segera teringat peristit wa yang pernah dialami oleh Jlitheng.
Karena itu, maka
tu-buhnyapun segera menggigil. Namun demikian, iapun ingat, bahwa jika ia
tidak berbuat sesuatu,
maka iapun akan pulang dengan selamat seperti Jlitheng.
Karena itu, maka
Kuncungpun menurut saja apa yang dikatakan oleh kedua orang itu. Mereka
bertigapun kemudian
berjalan menuju kebutan dilereng bukit.
“Disana kita tidak
akan diganggu oleh siapapun,“ berkata salah seorang dari kedua orang itu.
Kuncung berjalan
dengan kaki gemetar. Tetapi ia tidak dapat menolak.
Ketika mereka sudah
sampai dikaki bukit, maka kedua orang itu telah membawa Kuncung
untuk naik ketempat
yang lebih tinggi. Salah steorang dari keduanya berkata, “Jika orang-orang
Lumban menyadari bahwa
kau tidak kembali, mereka tentu akan mencari. Aku kira ada orang orang penting
di Lumban. Bukan berarti bahwa kami berdua menjadi ketakutan. Tetapi kami ingin
berbicara dengan, kau
tanpa terganggu.”
Kuncung tidak dapat
berbuat lain. Dengan menggigil ia berjalan tertatih-tatih diantara
pepohonan hutan yang
semakin lama menjadi semakin lebat. Baru ketika mereka sudah berada
ditempat yang agak
tinggi, maka salah seorang dari keduanya-pun berkata, “Kita berhenti disini.
Kita berbicara dengan
hati terbuka. Kau mengerti maksudku ?”
Kuncung yang ketakutan
mengangguk. Dalam gelapnya malam yang seakan-akan semakin
kelam didalam hutan,
Kuncung tidak dapat melihat cukup jelas wajah-wajah orang yang tidak
dikenalnya itu.
“Jawab pertanyaanku
anak muda,“ berkata salah seorang dari keduanya, “apakah kau pernah
mendengar kabar
tentang kedatangan orang-orang asing di padukuhan Lumban?”
Kuncung mengerti, yang
ditanyakan oleh kedua orang itu tentu peristiwa yang baru saja terjadi.
Pembunuhan yang
dilakukan oleh Daruwerdi di kaki bukit itu.
Karena itu, agar ia
segera dibebaskan, iapun berceritera tentang peristiwa itu menurut
pendengarannya. Yang
ia ketahui dengan pasti, saat itu ada tiga sosok mayat yang oleh orang orang
Lumban telah dikuburkan sebaik-baiknya.
“Aku ikut
menyelenggarakan. Semua upacara dilakukan menurut yang seharusnya,“ Kuncung
mencoba mengambil hati
orang-orang itu.
Kedua orang berwajah
kasar itu mendengarkan ceritera Kuncung dengan saksama. Namun
kemudian salah seorang
dari mereka bertanya, “Apakah semuanya dibunuh oleh anak muda yang
kau sebut bernama
Daruwerdi itu ?”
Sejenak Kuncung
tertegun. Ia tidak dapat mengatakan dengan pasti, apakah yang sebenarnya
telah terjadi. Yang ia
dengar dari kawan-kawannya adalah bahwa Daruwerdi telah membunuh
lawan-lawannya.
Karena itu, maka
dengan ragu-ragu ia menjawab, “Tiga orang yang mati.”
“Kau sudah
mengatakannya,“ orang itu membentak, “tetapi siapakah yang membunuh ?
Apakah semuanya
dibunuh oleh anak itu ?”
“Ya,“ Kuncung
tergagap. Namun ia nampak semakin ragu-ragu.
Kedua orang itu mulai
menjadi panas. Mereka menduga bahwa salah seorang dari tiga orang
itu tentu dari
perguruan Pusparuri. Tetapi anak yang dibawanya itu tidak dapat mengatakan,
siapakah yang telah
membunuh mereka.
“Anak gila,“ bentak
salah seorang dari mereka, “apakah kau tidak pernah mendengar Daruwerdi
berceritera, atau kau
dengan sengaja dipesan agar kau tidak mengatakannya kepada siapapun
juga?”
Kuncung menjadi
semakin gemetar. Orang-orang itu beringsut semakin dekat. Bahkan tiba-tiba
saja salah seorang
dari mereka telah menerkam rambutnya sambil berteriak, “katakan Siapa yang
telah membunuh
mereka.”
Darah Kuncung bagaikan
berhenti mengalir. Wajah-wajah itu seolah-olah telah berubah
menjadi wajah hantu
yang semakin mengerikan. Dalam kegelapan Kuncung membayangkan
wajah-wajah itu telah
berubah menjadi buas. Giginya telah tumbuh menjadi taring-taring yang
tajam. Matanya menjadi
merah seperti bara dan lidahnya menjadi bercabang seperti lidah ular.
Kengerian yang sangat
telah mencengkam hati Kuncung. Ia teringat kepada ceritera hantu
yang sering menerkam
dan menghisap darah. Dan kini rasa-rasanya ia sudah berhadapan dengan
hatu-hantu itu.
Dalam pada itu,
dilereng bukit, disebelah peristiwa yang mengerikan bagi Kuncung itu, Kiai
Kanthi duduk
berselimut bersandar sebatang pohon. Sementara Swasti tidur diatas sehelai
ketepe
yang dianyamnya dari
daun-daun ilalang yang kering. Udara malam yang terasa panas,
menyebabkan kedua
orang itu tidak menyalakan perapian. Namun rasa-rasanya nyamuknya semakin lama
menjadi semakin banyak, sehingga Kiai Kanthi berusaha untuk menutup seluruh
tubuhnya dengan kain
panjangnya.
Namun dalam pada itu,
Kiai Kanthi tiba-tiba saja telah beringsut sambil mengangkat wajahnya.
Lamat-lamat dari jauh
sekali ia mendengar suara kentongan dalam irama yang aneh. Bahkan
kadang-kadang tidak
berirama sama sekali.
“Apakah artinya,“
pertanyaan itu tumbuh didalam hatinya.
Mula-mula ia tidak
menghiraukannya. Mungkin ada sesuatu yang tidak dimengertinya telah
terjadi. Tetapi,
bukankah dipadukuhan itu ada Daruwerdi dan Jlitheng.
Namun suara kentongan
yang bagaikan berbisik dikejauhan itu masih saja terdengar. Masih
dalam irama yang
timpang dan aneh.
Tiba-tiba saja Kiai
Kanthi menjadi gelisah. Tetapi ia tidak sampai hati membiarkan Swasti
seorang diri dalam
keadaan tidur. Karena itulah maka iapun kemudian membangunkan gadis itu
dan berkata,
“Hati-hatilah. Aku akan turun sejenak.”
“Ada apa ayah ?”
Swasti masih mengantuk.
“Dengarlah baik-baik.
Kau akan mendengarkan suara kentongan dalam irama yang aneh.”
Sejenak Swasti
terdiam. Seperti kata ayahnya, ia mencoba mendengarkan suara disela-sela
desir angin
didedaunan.
“Ya. Aku memang
mendengar suara kentongan. Nampaknya dipukul begitu saja tanpa irama
tertentu. Dan bukankah
tidak hanya satu atau dua kentongan?”
Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Suara yang kadang-kadang agak jelas, namun kadang-kadang
hilang itu memang
sangat menarik perhatiannya.
“Swasti,“ berkata Kiai
Kanthi, “aku akan melihat, apakah yang telah terjadi. Suara itu tentu
bukan suara gejog
meskipun mereka yang baru belajar. Juga saatnya tidak tepat untuk bermain
gejog, karena bulan
tidak sedang bulat.”
“Aku ikut ayah,“
tiba-tiba Swasti menyahut, “aku juga ingin melihat suara yang aneh itu.
Seperti suara kotekan
orang-orang padukuhan mencari anak yang dicuri kuntilanak.”
“He,“ tiba-tiba saja
Kiai Kanthi menengadahkan wajahnya. Lalu, “Mungkin Swasti. Memang
mungkin. Yang kita
dengar dari jauh ini hanyalah suara kentongannya. Mungkin diantara suara
kentongan terdapat
suara tampah, gembreng dan suara-suara yang lain.”
Swasti
mengangguk-angguk. Gumamnya, “Menarik sekali. Marilah ayah. Aku ikut bersama
ayah.”
Tetapi Kiai Kanthi
menjadi ragu-ragu. Katanya, “Bagaimana jika justru kau yang mereka sangka
wewe itu ?”
“Ah,” Swasti
memberengut, “menurut ceritera, wewe itu cantik sekali. Dan aku sama sekali
tidak cantik.”
Ayahnya tersenyum.
Namun iapun kemudian berkata, “Marilah. Bersiaplah menghadapi setiap
kemungkinan
disepanjang jalan.”
Swastipun membenahi
pakaiannya. Bukan pakaian seorang gadis sewajarnya. Iapun kemudian
menyelipkan senjatanya
dilambung. Senjata yang selalu disembunyikannya diantara onggokanonggokan
pakaiannya yang
sedikit. Dua buah pisau belati panjang dikedua lambungnya. Namun ia
masih juga membawa
beberapa buah pisau belati kecil dikat pinggangnya.
Sejenak kemudian,
kedua orang ayah dan anak itu menuruni tebing dengan hati-hati. Kecuali
malam gelapnya bukan
main, merekapun secara naluriah merasakan suasana yang berbeda.
Tiba-tiba saja langkah
Kiai Kanthi tertegun. Ia mendengar suara sesuatu agak dibawah.
Sehingga karena itu
maka iapun menjadi semakin berhati-hati.
“Swasti,“ bisiknya,
“kau mendengar suara lain ?”
“Suara orang
membentak-bentak ayah,“ jawab Swasti, “tetapi tidak tepat dibawah kita
sekarang.”
“Ya. Itupun tidak
kalah menariknya dengan suara kentongan itu.”
Sejenak keduanya
berhenti termangu-mangu. Namun kemudian Kiai Kanthipun berkata, “Kita
berbelok sedikit.
Swasti. Mungkin suara kentongan itu ada hubungannya dengan peristiwa
dibawah itu.”
Keduanyapun kemudian
bergeser menempuh jalan yang lain. Dengan sangat hati-hati mereka
beringsut diantara
pepohonan dan batu-batu padas. Tetapi suara-suara yang terdengar itu telah
menuntun mereka ke
arah yang benar.
Semakin dekat mereka
dengan suara itu, maka keduanyapun menjadi semakin berhati-hati.
Mereka beringsut
setapak demi setapak, sehingga akhirnya mereka dapat mendengarkan seluruh
pembicaraan antara dua
orang berwajah kasar itu dengan Kuncung yang ketakutan.
“Jika kau tidak
berterus terang, aku akan membunuhmu seperti membunuh seekor anjing,“
geram salah seorang
dari mereka.
“Aku tidak tahu,“
suara Kuncung hampir tidak terdengar, “aku hanya tahu tiga orang mati dan
orang-orang Lumban
ikut menguburnya dengan baik-baik.”
Dada Kiai Kanthi
menjadi berdebar-debar. Ia pernah mendengar, pembunuhan dilereng bukit
itu, yang dilakukan
oleh Daruwerdi. Dan iapun pernah mendengar ceritera Jlitheng tentang dua
orang Kendali Putih
yang datang kepadukuhan Lumban.
“Aku sudah menduga,
bahwa persoalannya tidak akan terhenti sampai kematian dua orang
yang dibunuh Jlitheng
itu,“ berkata Kiai Kanthi dengan berbisik ketelinga anak gadisnya.
Swasti mengangguk
kecil. Namun iapun sadar, bahwa ia harus bersiap sepenuhnya
menghadapi segala
kemungkinan yang bakal terjadi.
Meskipun agak sulit,
namun keduanya berhasil mendekat lagi beberapa langkah. Mereka
menjadi semakin jelas
setiap kata yang mengancam. Dan bahkan Kiai Kanthi mendengar, orangorang itu
agaknya mulai memukul korbannya.
“Hem,“ desah Kiai
Kanthi, “apakah yang mereka lakukan.”
Swasti nampaknya tidak
sabar lagi. Ia merangkak semakin dekat. Justru karena kedua orang itu
sedang marah dan
perhatiannya sepenuhnya telah terikat kepada anak muda Lumban itu, maka
mereka tidak segera
mendengar kehadiran orang lain disekitar mereka.
“He, katakan. Apakah
diantara mereka terdapat orang-orang Pusparuri atau orang Kendali Putih
atau orang lain lagi
?” suara orang itu menjadi semakin keras.
Yang terdengar
kemudian adalah suara tangis. Agaknya Kuncung itu mulai menangis, “Aku
tidak tahu. Sungguh
aku tidak tahu.”
“Aku bunuh kau.”
“Jangan, jangan,“
tangis Kuncung semakin keras.
“Anak gila,“ geram
salah seorang dari mereka, “kita harus mencari orang lain yang lebih tahu
tentang hal ini.
Mungkin kita akan langsung berhubungan dengan Daruwerdi. Tetapi mungkin kita
akan mencari
keterangan untuk menjajagi keadaan.”
“Lalu, anak ini ?“
desis yang lain.
“Bunuh saja. Dan
lemparkan mayatnya di tempat yang lebih tinggi, yang tentu tidak akan
diketahui orang.
Bahkan mungkin akan menjadi mangsa harimau yang tentu masih ada dihutan
ini.”
Mendengar jawaban
orang berwajah garang itu, tangis Kuncung menjadi semakin keras.
Hampir berteriak ia
berkata disela-sela tangisnya, “Jangan, jangan.”
“Berteriaklah,“
berkata orang berwajah garang itu, “suaramu akan hanyut oleh angin dihutan
ini. Tidak seorangpun
yang mendengar kecuali binatang buas yang sebentar lagi akan mengoyak
tubuhmu.”
“Jangan, jangan,“
Kuncung berlutut sambil berpegangan kain salah seorang dari kedua orang
yang garang itu. Namun
sebuah hentakan kaki telah melemparkan anak yang malang itu.
Adalah diluar
kehendaknya bahwa kepala Kuncung telah terantuk batu padas, sehingga
suaranyapun tiba-tiba
terputus.
“Kenapa anak itu ?”
salah seorang dari keduanya bertanya.
Yang seorang
mendekatinya sambil meraba tubuh Kuncung. Katanya, “Anak itu masih hidup. Ia
pingsan.”
“Kau tinggal
mencekiknya. Kemudian melemparkannya ketempat yang lebih dalam lagi agar
tidak seorangpun yang
menjupainya lagi.”
“Tetapi bahwa anak itu
hilang tentu akan menarik perhatian orang-orang Lumban.”
“Mereka tidak akan
mengetahui siapakah yang telah membawanya.”
“Mungkin. Tetapi
Daruwerdi sendiri tentu akan sampai pada perhitungan yang demikian.”
“Aku tidak peduli.
Bahkan jika perlu, Daruwerdi akan mati juga disini.”
Kawannya terdiam.
Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.
“Cepatlah. Kita masih
mempunyai banyak persoalan.”
Kawannyapun kemudian
melangkah selangkah maju. Dipandanginya tubuh Kuncung yang
terbaring dalam
kegelapan. Namun kemudian tanpa ragu-ragu orang itupun berjongkok sambil
mengulurkan tangannya
untuk mencekik leher Kuncung yang sedang pingsan.
Namun keduanya
terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar seseorang mendehem.
Hampir terlonjak
keduanya melompat surut.
“Selamat datang
dipadepokanku anak-anak,“ terdengar seseorang berkata dari balik gerumbul.
Kedua orang itu
benar-benar terkejut. Apalagi ketika kemudian mereka melihat bayangan dua
orang yang menyibak
gerumbul dan mendekati tempat mereka berdiri termangu-mangu.
“Siapa kau he ?” salah
seorang dari kedua orang itu bertanya.
Kiai Kanthi yang
mengintip apa yang telah terjadi, tidak dapat membiarkan pembunuhan itu
terjadi. Karena itu
maka iapun telah keluar dari persembunyiannya untuk mencegah pembunuhan
itu.
“Siapa kau he ? Siapa
?” orang itu membentak semakin keras.
“Kenapa kau berdua
berani memasuki padepokanku dan menginjak-injak taman bunga yang
aku pelihara rapi he?“
berkata Kiai Kanthi.
“Gila. Apakah kau
orang gila ?”
“Aku adalah pemilik
padepokan yang asri ini. Kau jangan merusakkan kebun bungaku. Dan
kehadiranmu telah
mengejutkan para cantrik, jejanggan dan para putut yang masih muda-muda.”
“He, orang gila.
Kenapa kau datang kemari.”
“Aku bukan orang gila.
Aku adalah pemilik petamanan dan padepokan ini. Aku datang
keduniamu untuk
memperingatkanmu agar kau tidak melanjutkan tingkahmu yang merusakkan
padepokanmu.”
“Bunuh saja sama
sekali,“ geram yang seorang dari kedua orang berwajah kasar itu.
“Aku bukan mahluk dari
duniamu sehingga kau tidak akan dapat membunuhku. Aku datang
dengan anak gadisku
kedunia manusia untuk mempertahankan milikku. Mungkin dari dunia
manusia kau melihat
daerah ini berupa hutan belukar. Tetapi sebenarnya ini adalah padepokan
yang sangat asri.”
Kedua orang itu tidak
sabar lagi mendengar kata-kata Kiai Kanthi. Bahkan Swastipun tidak
sabar pula, Katanya,
“Ayah terlalu berbelit-belit. Tangkap saja mereka dan barangkali ayah dapat
membawanya ke Lumban
Wetan atau Lumban Kulon bersama anak yang pingsan itu.”
Yang terdengar
kemudian adalah kedua orang itu menggeram. Salah seorang dari mereka
berkata dengan suara
bergetar oleh kemarahan, “Jangan banyak tingkah orang-orang gila. Kami
terpaksa membunuh
kalian pula seperti kami membunuh anak yang malang ini.“
“Apa salahnya kau akan
membunuh anak itu,“ potong Swasti dengan lantang, “kau sama sekali
tidak
berperikemanusiaan. He, apakah kalian orang-orang Kendali Putih?”
Kedua orang itu
mengerutkan keningnya. Hampir berbareng mereka bertanya, “Kau kenal
orang-orang Kendali
Putih?”
“Aku tahu bahwa kau
sedang memaksa anak itu menceriterakan apa yang tidak diketahuinya.
He, bukankah kau
sedang bertanya tentang orang-orang yang mati dilereng bukit ini?”
“Ya. Apakah kau
mengetahuinya ? Anak ini menyebut tiga sosok mayat. Siapakah mereka ? Dan
apakah ketiga-tiganya
telah dibunuh oleh anak muda yang disebutnya bernama Daruwerdi ?”
“Meskipun kau bunuh
sekalipun anak itu tidak akan dapat mengatakannya, karena yang
diketahuinya memang
sangat terbatas.”
“Apakah kau dapat
mengatakannya ?“ bertanya salah seorang dari kedua orang itu.
“Siapa kalian?“
tiba-tiba Swasti bertanya.
Kedua orang itu
termangu-mangu sejenak. Gadis itu sama sekali tidak gentar menghadapi
mereka. Kata-katanya
lantang dan sikapnya meyakinkan. Karena itulah maka keduanyapun
menjadi berhati-hati
karenanya.
“Siapa kalian ?” suara
Swasti semakin keras.
“Kami adalah
orang-orang Pusparuri,“ jawab salah seorang dari mereka, “karena itu. jangan
mencoba mengelabui
kami.”
Swasti terdiam
sejenak. Ketika ia berpaling ke ayahnya, maka dilihatnya ayahnya bergeser
selangkah maju. Dengan
ragu-ragu Kiai Kanthi bertanya, “Apakah benar kalian orang-orang
Pusparuri ?”
“Ya,“ geram salah
seorang dari mereka, “karena itu jangan bermain-main dengan kami.
Katakan saja apa yang
kalian ketahui tentang kawanku yang terdahulu, yang sampai sekarang
tidak pernah kembali.”
“Apakah kau tidak tahu
apa yang dilakukan oleh kawanmu itu ?”
“Kami tahu pasti.
Kawanku itu telah pergi ke padukuhan ini untuk suatu tugas.”
Tiba-tiba saja Swasti
menyahut mendahului ayahnya, “Tentu kau tidak akan membawa anak
yang pingsan itu
kemari jika kau tahu pasti apa yang terjadi.”
“Aku hanya tahu bahwa
seorang kawanku datang kemari.”
“Kau tahu tugas apa
yang dilakukan disini ?”
Kedua orang yang
mengaku dari Pusparuri itu termangu-mangu. Namun salah seorang
membentak, “Itu bukan
persoalanmu. Jawab pertanyaanku, apa yang kau ketahui tentang orang
Pusparuri yang datang
kemari.”
Kiai Kanthi menarik
nafas dalam-dalam. Ketika ia mendengar peristiwa antara orang-orang
Kendali Putih, orang
Pusparuri dan Daruwerdi, ia mengharap bahwa orang-orang Pusparuri itu
memiliki sifat yang
berbeda dengan orang-orang Kendali Putih. Ternyata diantara kedua
perguruan itu
nampaknya tidak banyak berbeda. Karena itulah, maka Kiai Kanthi justru mulai
menilai Daruwerdi, yang telah berhubung an dan bahkan ada tanda-tanda kerja sama
dengan
orang-orang Pusparuri.
“Jawab pertanyaan
kami,“ tiba-tiba orang Pusparuri itu membentak.
Swasti menggeram
sambil bergumam, “Jangan membentak, seperti terhadap anak yang
pingsan itu, supaya
mulutmu tidak aku sumbat.”
Kata-kata itu
benar-benar mengejutkan. Keduanya tidak mengira bahwa tiba-tiba saja gadis itu
menantangnya.
“Kau memang
orang-orang gila yang tidak mengetahui siapa kami. Baiklah. Bersiaplah untuk
mati Apapun yang akan
kalian lakukan, kalian akan mati sepertianak. muda itupun akan mati.
Tetapi jika kalian mau
menceritakan apa yang terjadi, maka jalan kematianmu akan sempurna.
Terutama bagi
perempuan itu. Kematiannya tidak akan dialaminya dalam kengerian justru karena
ia perempuan.”
“Kemarahan Swasti
telah melonjak jika ayahnya tidak menggamitnya. Bisiknya, “Hati-hatilah
Swasti. Jangan
terbiasa menuruti perasaan.”
Tetapi Swasti
berteriak, “Mereka bukan manusia wajar lagi ayah.”
“Ketahuilah,“ berkata
Kiai Kanthi tanpa menghiraukan kata-kata anaknya, “Kawanmu dari
Pusparuri itu memang
datang. Tetapi agaknya orang-orang Pusparuri, seperti kalian, tidak tahu
apa yang dilakukannya
disini. Persoalannya mungkin terbatas antara Daruwerdi dan pimpinan
tertinggi Pusparuri
serta orang yang berciri sandi ular sanca bertanduk genap.”
“Jangan mengingau.
Dimana ia kawanku itu he ?”
Kiai Kanthi
termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menceriterakan apa yang
diketahuinya dari
Jlitheng tentang orang Pusparuri dan orang-orang Kendali Putih.
“Gila,“ orang-orang
Pusparuri itu menggeram, “jadi orang-orang Kendali Putih itu telah
membunuh kawanku yang
datang untuk menjumpai Daruwerdi ?”
“Ya. Sekarang
kembalilah kepada kawan-kawanmu. Katakan apa yang sudah terjadi disini.
Mungkin kau mempunyai
adat tersendiri untuk menyelesaikan persoalanmu.”
Sejenak kedua orang
itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari mereka
berkata, “Kami akan
kembali untuk menghancurkan orang-orang Kendali Putih. Tetapi kami tidak
akan dapat membiarkan
kalian tetap hidup.”
Kiai Kanthi
mengerutkan keningnya. Sejenak ia justru termangu-mangu, sementara orangorang
Pusparuri itu
benar-benar telah dibakar oleh kemarahan. Salah seorang dari mereka
menggeram, “Tidak ada
seorangpun yang akan tetap tinggal hidup agar semua rencanaku tidak
kandas dijalan. Kami
masih akan menjumpai Daruwerdi untuk mencari kebenaran ceriteramu.
Tetapi jika justru
Daruwerdilah yang telah membunuhnya, maka iapun akan dimusnakan.”
Kiai Kanthi menarik
nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalian orang-orang aneh. Kami sudah
mengatakan apa yang
kami ketahui. Seharusnya kalian berterima kasih kepada kami. Bukan justru
sebaliknya. Bahkan
jika kalian juga berbaik hati kalian tentu akan menceriterakan serba sedikit
tentang Perguruan
Pusparuri meskipun dalam hubungannya dengan Daruwerdi itu kau tidak
mengerti.”
“Cukup,“ bentak salah
seorang dari mereka, “sudah aku katakan, tidak seorangpun yang akan
tetap hidup. Kalian
berdua akan mati. Dan anak itupun akan mati.”
Ternyata Swastilah
yang tidak sabar lagi. Dengan lantang ia berkata, “Sudahlah ayah. Jangan
merajuk seperti
kanak-kanak. Kalau mereka akan membunuh kita, kenapa bukan kita sajalah yang
membunuh mereka lebih dahulu.”
“Gila,“ salah seorang
dari kedua orang Pusparuri itu hampir berteriak, “kalian memang orang orang
gila.”
Kiai Kanthi menarik
nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Terserah kepadamu Swasti.
Apakah memang sudah
menjadi keharusan, bahwa demikian kita menginjak tlatah ini, kita
dihadapkan pada
keadaan yang sama sekali tidak kita inginkan.”
“Sudahlah ayah,“
potong Swasti, “ayah masih saja merajuk. Biarlah aku mencoba
mempertahankan diri.
Jika terpaksa aku akan membunuh mereka berdua.”
Kedua orang Pusparuri
itu benar-benar telah dibakar oleh kemarahan. Karena itu, tanpa
menjawab, tiba-tiba
saja salah seorang dari mereka telah meloncat menyerang Swasti. Tangannya
langsung mengarah kedadanya dengan sepenuh tenaga. Jika tangan itu menyentuh
sasaran, maka dada Swasti tentu akan sekaligus retak karenanya.
Swasti sadar, bahwa
orang-orang Pusparuri yang marah itu tentu akan menghantamnya sampai
mati pada pukulan
pertama. Itulah sebabnya, maka iapun sudah bersiaga, sepenuhnya.
Dengan demikian maka
ketika tangan orang Pusparuri itu terjulur kedadanya, Swasti sudah siap
untuk meloncat
menghindarinya.
Orang-orang Pusparuri
memang sudah mengira bahwa kedua orang itu tentu memiliki bekal
kemampuan. Namun bahwa
yang dilakukannya itu adalah tiba-tiba dan dibiar dugaan, tetapi
masih dapat juga
dihindari oleh gadis itu, tiba-tiba saja telah terbersit pertanyaan, “Apakah
keduanya benar-benar
mahluk dari dunia lain yang telah memasuki dunia manusia.”
Dalam pada itu,
ternyata Swasti tidak hanya sekedar menghindar. Meskipun malam gelap,
apalagi didalam
rimbunnya dedaunan sehingga mata bagaikan menjadi buta, namun ketajaman
mata Swasti masih
dapat menembus kelam, sehingga ia dapat melihat bayangan kedua orang
Pusparuri. Dengan
demikian, maka ketika lawannya gagal menyerangnya, justru Swastilah yang
kemudian meloncat
menyerang dengan cepat dan keras pula.
Yang dilakukan Swasti
itu telah membuat lawannya semakin heran. Lawannya yang terkejut
karena serangannya,
tiba-tiba saja telah menjatuhkan diri untuk menghindari sambaran serangan
Swasti.
Orang Pusparuri yang
lainpun tidak tinggal menontonnya saja. Meskipun ia juga dijalari oleh
keragu-raguan, apakah
yang dihadapinya itu mahluk sejenisnya, atau justru dari dunia yang lain.
Sebelum kawannya yang
berguling ditanah itu meloncat bangkit, maka kawannya telah
mendahului menyerang
Swasti pula.
Dengan demikian, maka
dalam kegelapan itu telah terjadi pertempuran yang dahsyat. Seorang
gadis seorang diri
bertempur melawan dua orang laki-laki yang garang.
Untuk sejenak Kiai
Kanthi masih berdiri diluar arena. Yang dilalukan kemudian adalah
mengangkat Kuncung
yang masih pingsan dan membawanya agak menjauh. Bahkan ketika kemudian Kuncung
muliai menggeliat. Kiai Kanthi telah menyentuh pusat syarafnya, sehingga
sekali lagi Kuncung
seolah-olah jatuh tertidur.
“Tidur sajalah anak
muda,“ desis Kiai Kanthi, “agar kau tidak malah menjadi hambatan kami
melawan orang-orang
garang itu.”
Dalam pada itu. Kiai
Kanthipun kemudian menekuni anak gadisnya yang sedang bertempur.
Bahkan kemudian timbul
niatnya untuk melihat, apakah Swasti benar-benar dapat menempatkan
diri diantara
anak-anak muda yang mengagumkan di Lumban Kulon dan Lumban Wetan.
Daruwerdi telah
berhasil membunuh dua orang Kendali Putih. Demikian juga Jlitheng.
“Apakah anak gadisku
juga mampu mempertahankan dirinya melawan keduanya meskipun
mungkin tataran
kemampuan orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri tidak sama,“
desis Kiai Kanthi
didalam hatinya.
Dalam pada itu,
pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Kedua orang
Pusparuri itu telah
mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengalalikan lawannya yang
tidak lebih dari
seorang gadis. Namun ternyata bahwa Swasti benar-benar tangkas, lincah dan
bahkan memiliki
kekuatan yang mengagumkan. Jauh melampaui kekuatan kebanyakan gadis.
Kedua orang
lawannyapun kemudian mengambil kesimpulan bahwa gadis itu memang orang
aneh. Mungkin ia
memang sejenis mahluk dari dunia lain. Tetapi mungkin juga manusia biasa
yang pernah mengalami
tempaan yang lama dan bersungguh-sungguh. Namun siapapuin
perempuan itu. ia
harus dibinasakan.
Kedua orang Pusparuri
itu tidak mau bekerja terlalu lama. Karena ku, ketika mereka menyadari
bahwa lawannya adalah
seorang yang tidak sewajarnya, maka merekapun tiba-tiba saja telah
menggenggam senjata
ditangaenya. Yang seorang menggenggam sebilah golok yang besar dan
berat, sementara yang
lain memegang pedang yang tajamnya rangkap timbal balik.
Kiai Kanthi menjadi
berdebar-debar melihat senjata-senjata itu. Anak gadisnya tidak membawa
senjata yang memadai.
Gadis itu hanya membawa pisau belati panjang yang jauh lebih kecil dari
senjata-senjata yang
garang itu.
Namun Swasti
benar-benar lincah. Dengan mantap iapun kemudian menggenggam kedua pisau
belatinya dikedua
tangannya.
Dalam malam yang gelap
itu, mereka telah terlibat dalam pertempuran senjata yang dahsyat.
Sebuah golok yang
besar terayun-ayun dengan derasnya, sementara pedang bertajam rangkap
berputaran seperti
baling-baling.
Tetapi gelap malam itu
justru memberikan kesempatan lebih banyak pada Swasti untuk
mempergunakan
batang-batang pepohonan sebagai perisainya. Sekali ia melenting menyerang
dengan cepatnya, namun
ketika kedua lawannya menyerang bersama-sama, Swasti meloncat
diantara batang-batang
pohon yang besar.
Kedua lawannya yang
garang itu menjadi semakin marah. Seperti seekor harimau yang
diganggu oleh seekor
kelinci kecil diantara keempat kakinya.
Namun ternyata bahwa
kedua orang itu akhirnya dapat mengurung dan membatasi gerak
Swasti. Senjata mereka
yang panjang dan tata gerak mereka yang garang dan kasar, berhasil
mendesak Swasti
sehingga Swasti lebih banyak menghindar sambil berloncatan diantara
pepohonan.
Meskipun demikian,
serangan Swasti yang tiba-tiba masih tetap merupakan bahaya bagi kedua
orang Pusparuri itu.
Bahkan kadang-kadang keduanya seolah-olah telah kehilangan lawannya yang dengan
tiba-tiba saja telah menyerang kearah lambung dengan pisau-pisau belatinya.
Pertempuran itupun
semakin lama menjadi semakin cepat. Swasti tidak mempunyai cara lain
untuk mengatasi kedua
lawannya selain dengan kecepatannya berloncatan diantara batang-batang pohon dan
gerumbul-gerumbul
Tetapi lawannya yang
marah tidak ingin melepaskannya. Keduanya ternyata mampu bekerja
bersama
sebaik-baiknya. Disaat-saat Swasti meloncat menghindari serangan pedang bermata
rangkap, tiba-tiba
saja golok yang besar itu telah terayun menebas lehernya.
Swasti tidak menangkis
dengan membenturkan senjatanya yang kecil. Ayunan tenaga lawannya
yang kuat atas
senjatanya yang berat, akan merupakan kekuatan yang besar. Meskipun dengan
mengerahkan
kekuatannya, Swasti dapat membentur senjata lawannya, tetapi dengan demikian ia
akan terlalu banyak memeras tenaganya, sehingga ia akan cepat menjadi lelah.
Yang dilakukan oleh
Swasti adalah memukul senjata lawannya menyamping, namun dengan
pisaunya yang lain. ia
berusaha menyerang dada lawannya yang terbuka.
Namun lawannyapun
cepat menghindar, sementara yang seorang lainnya telah menyerangnya
pula.
Kiai Kanthi yang
menyaksikan pertempuran itu. akhirnya melihat bahwa keadaan Swasti tidak
menguntungkan. Dengan
hati-hati ia melangkah mendekati arena. Namun tiba-tiba saja Swasti
berteriak, “Jangan
ganggu aku ayah.”
Ayahnya menarik nafas
dalam-dalam. Ia tahu kekerasan hati anaknya. Namun sudah barang
tentu dalam keadaan
yang gawat ia tidak akan membiarkan anaknya menjadi korban perasaannya itu.
Dalam pada itu, Swasti
masih bertempur dengan sengitnya. Sementara Kiai Kanthi mencoba
menilai kedua
lawannya.
“Apakah orang-orang
Kendali Putih itu juga memiliki kemampuan yang sama dengan orangorang
Pusparuri ?“ ia
bertanya didalam hatinya.
Namun dalam pada itu,
debar jantung Kiai Kanthi menjadi semakin cepat. Swasti benar-benar
mengalami kesulitan.
Ayunan senjata kedua lawannya yang besar dan berat itu memang
menyulitkan Swasti
yang bersenjata sepasang pisau belati.
Akhirnya Swasti tidak
dapat mengingkari kenyataan itu. ia lebih banyak terdesak dan kadangkadang
tangannya mulai
bergetar jika ia terpaksa membenturkan pisau belatinya menangkis
ayunan senjata
lawannya yang berat dan panjang.
Kiai Kanthi masih
termangu-mangu. Jika ia memaksa kearena, anaknya tentu akan marah
kepadanya dan seperti
biasanya jika ia marah, maka sehari penuh ia tidak akan mengucapkan
sepatah katapun.
Namun selagi Kiai
Kanthi terrrtangn-mangu. tiba-tiba saja wajahnya menegang. Bahkan ia
bergeser setapak maju.
Ia melihat Swasti berdiri dalam keadaan yang sulit. Lawannya berada
didua sisi yang
berbeda, sementara keduanya sudah siap untuk menyerang.
“Ia akan terpancing
pada satu keadaan yang sulit. Keduanya akan bekerja bersama menjebak
perhatian Swasti pada
satu sisi,“ berkata Kiai Kanthi kepada diri sendiri.
Karena itulah, maka
iapun segera mempersiapkan diri pula jika keadaan memaksa. Ia lebih
senang melihat Swasti
diam sehari penuh atau bahkan dua atau tiga hari daripada Swasti dibantai oleh
kedua orang lawannya.
Seperti yang
diperhitungkan oleh Kiai Kanthi. maka keduanya mulai bergerak. Tetapi seorang
diantara mereka
mencoba melingkar dengan putaran senjatanya yang bertajam dikedua sisinya.
Demikian keras putaran
itu, sehingga seolah-olah menimbulkan angin yang berdesing
mengguncang dedaunan.
Perhatian Swasti
memang lebih banyak tertuju kepada pedang yang berputar itu. Namun
sementara itu.
lawannya yang bergolok besar, bergeser mnedekat, seperti seekor harimau yang
perlahan-lahan
merunduk lawannya.
Namun tiba-tiba
terjadi sesuatu diluar perhitungan kedua orang itu. Meskipun perhatian Swasti
lebih banyak tertuju
kepada desing pedang bertajam rangkap, tetapi ternyata iapun mempunyai
perhitungan lain.
Sejenak kemudian,
seperti yang diperhitungkan, maka orang berpedang itupun meloncat
menyerang, langsung
menebas kekening. Dengan tangkasnya Swasti merendah sambil bergeser.
Pada saat itulah
lawannya yang lain meloncat menusuk dengan goloknya yang besar.
Yang tidak
diperhitungkan oleh orang bergolok itu adalah, bahwa Swasti tidak berguling atau
meloncat jauh-jauh
untuk menghindar, sementara seorang yang lain siap untuk memburunya.
Bahkan Kiai Kanthipun
tergetar hatinya melihat sikap anaknya. Bukan karena Swasti tidak lagi
sempat berbuat
sesuatu. Tetapi yang dilakukan adalah justru sangat mengejutkan.
Ketika orang bergolok
itu meloncat dengan senjatanya terjulur lurus, tanpa disangka-sangka
Swasti justru telah
melemparkan pisau belatinya. Demikian keras dan dengan bidikan yang tepat,
maka yang terdengar
kemudian adalah keluhan panjang. Ujung golok itul tidak sampai menyentuh
lawannya, karena pisau belati yang menghunjam kepusat jantung.
Yang terjadi itu
benar-benar telah menggoncangkan hati orang berpedang yang menjadi
tegang. Ia melihat
kawannya terhuyung-huyung, kemudian jatuh menelungkup, hanya beberapa
jengkal didepan
Swasti. Meskipun goloknya masih tetap ditangan, namun tidak ada kekuatan lagi
untuk menekankan
goloknya itu ketubuh gadis yang masih berdiri merendah.
Baru sekejap kemudian
kawannya menyadari apa yang telah terjadi. Karena itu, maka
terdengar ia
menggeretakkan giginya. Diantara gemeretak giginya ia menggeram, “Anak gila,
kuntilanak, setan,
tetekan. Kau harus mati dan mayatmu akan dicincang sampai lumat.”
Swasti meloncat
selangkah menjauh. Ia kemudian harus bersiap menghadapi lawannya yang
seorang lagi. Namun ia
merasa bahwa tugasnya akan menjadi lebih ringan, meskipun senjatanya
tidak lagi genap
sepasang.
Sementara itu, Kiai
Kanthi maju selangkah mendekati arena sambil berkata, “Ki Sanak dari
dunia wadag. Sudah aku
katakan, bahwa kami adalah penghuni hutan ini yang tidak akan dapat
kau kalahkan. Karena
itu, mumpung kau masih belum cidera oleh kuntilanak itu, pergilah.
Tinggalkan tempat
ini.“
“Gila. Kalian bukan
orang halus yang turun kedua wadag. Tetapi kalian adalah orang-orang gila
yang berkesempatan
untuk menyadap ilmu yang tinggi. Jika kalian tidak aku binasakan, maka
kalian akan merupakan
bahaya yang paling besar bagi sesamamu.”
Kiai Kanthi
mengerutkan keningnya. Tetapi Swasti sudah mendahuluinya, “Biarkan apa saja
yang akan dilakukan
ayah. Aku akan membunuhnya juga seperti kawannya agar ia tidak akan
dapat berbicara
tentang kita kepada siapapun juga.”
“Ah,“ desah Kiai
Kanthi, “kita dapat berbuat lain.“
Tetapi Swasti tidak
menjawab, karena orang berpedang itu sudah meloncat menyerangnya
dengan dahsyatnya.
Ayunan pedangnya yang
mengerikan itu, bagaikan badai yang melanda hutan itu, meskipun
hanya selingkar kecil.
Namun dedaunan dan dahan-dahan berpatahan dan runtuh ditanah.
Gerumbul-gerumbul
bagaikan ditebas, sementara pokok-pokok pepohonan telah terkelupas
kulitnya.
Namun Swasti mampu
mengimbangi kecepatan bergerak lawannya. Setelah seorang dari
mereka terbunuh, maka
Swasti mempunyai kesempatan lebih banyak. Bahkan ia dapat bertempur berhadapan,
meskipun ia hanya membawa sebilah belati panjang.
Kiai Kanthi hanya
dapat menarik nafas dalam-dalam. Anak gadisnya memang seorang yang
keras hati. Jika ia
sudah bersikap maka sulitlah baginya untuk mengendorkannya.
Karena itu, dengan
berdebar-debar Kiai Kanthi menyaksikan apa yang telah terjadi. Ja hanya
dapat menunggu akhir
dari perkelahian itu, meskipun ia tidak meninggalkan kewaspadaan, karena
bagaimanapun juga ia tidak akan dengan rela kehilangan anak gadisnya.
Dalam pada itu.
pertempuran itupun masih berlangsung dengan sengitnya. Namun Swasti telah
berhasil mendesak
lawannya, sehingga lawannya yang bersenjata pedang itulah yang kemudian
lebih banyak
berlindung diantara pepohonan.
Namun Swasti memang
mampu bergerak dengan cepat dan tangkas. Pisau belati panjangnya
yang tinggal sebilah
itu berputaran dan mematuk-matuk. Rasa-rasanya pisau itu telah menjadi
rangkap sepasang
seperti sebelumnya. Bahkan pisau itu bagaikan bertambah semakin banyak.
Seolah-olah menjadi
dua pasang, tiga pasang, dan kemudian seolah-olah berada diseputar
tubuhnya.
Sentuhan-sentuhan
pertama dari ujung belati, membuat orang itu menjadi semakin garang dan
kasar. Pedangnyapun
berputaran, menebas mendatar, namun kadang-kadang menusuk dengan
dahsyatnya. Namun
ternyata bahwa Swasti mampu bergerak lebih cepat dari lawannya.
Terasa pada beberapa
bagian tubuhnya, perasaan pedih telah menyengat-nyengat. Darah mulai
menitik dari
luka-lukanya, meskipun luka-luka itu tidak segera membunuhnya.
Namun kematian itu
memang sudah membayang. Ia sama sekali tidak dapat menghindarkan
diri dari tusukan
pisau belati panjang Swasti dipunggung, pundak dan kemudian lambung.
Betapa pedihnya
luka-luka ditubuh itu. Tetapi lebih pedih lagi luka diliatinya. Ia datang dengan
seorang kawannya untuk
mencari orang yang terdahulu datang dipadukuhan ini. tetapi tidak
kembali. Bahkan kini,
ia sendiri telah terjebak dalam kesulitan dan bahkan kedalam belitan maut.
“Apakah orang-orang
ini pula yang telah membunuh orang-orang Pusparuri dan Kendali Putih
?” pertanyaan itu
tumbuh dihatinya.
Tetapi ia tidak dapat
mempersoalkan terlalu lama, karena ujung pisau belati gadis itu telah
menggores lengannya.
Kemarahan orang
berpedang itu bagaikan telah membakar otaknya, sehingga ia tidak sempat
lagi berpikir. Oleh
perasaan pedih dikulitnya dan pedih diliatinya, maka iapun mengamuk seperti
seekor harimau yang
sedang wuru. Pedangnya diayun-ayunkannya sambil berteriak sekeraskerasnya.
Meloncat-loncat dan
menyerang sejadi-jadinya tanpa menghiraukan apa yang telah dan
akan terjadi atasnya.
Bagaimanapun juga
tabahnya hati Swasti, namun melihat lawannya menjadi gila, hatinya
tergetar pula.
Tiba-tiba saja ia merasa berhadapan dengan seseorang yang buas dan liar.
Justru karena itulah,
maka Swastipun kemudian justru terdesak. Bukan karena lawannya
berhasil mengerahkan
tenaga cadangan yang dapat mendorong kecepatan geraknya, tetapi
semata-mata karena
Swasti menjadi ngeri, melihatnya.
Kiat Kanthipun menjadi
semakin berdebar-debar. Lawan Swasti telah menjadi putus asa,
sehingga karena itu,
maka yajig dilakukannya tidak lebih dari bunuh diri. Tetapi keliarannya itu
ternyata telah membuat
Swasti menjadi ngeri.
Namun dengan demikian,
maka Swastipun telah kehilangan pengendalian diri. Jika semula ia
masih memikirkan
kemungkinan untuk menghidupi lawannya dan memikirkan penyelesaiannya
kemudian, maka pikiran
itu telah lenyap bersama kengerian yang mencengkamnya.
Pada saat-saat yang
gawat karena keliaran orang Pusparuri itulah, Swasti telah mengambil
sikap seperti yang
pernah dilakukannya. Ketika lawannya meloncat sambil memutar pedangnya
dengan gila, gadis itu
berdiri tegak menunggunya. Kemudian, sebuah loncatan yang deras telah
melemparkan pisau
belatinya tepat mematuk dada.
Terdengar orang itu
berteriak penuh kemarahan. Namun kemudian suaranya menghilang
diantara desir lembut
angin pegunungan.
“Ayah,“ desis Swasti
sambil memalingkan wajahnya.
Ayahnya mendekatinya.
Ketika ia menyentuh anak gadisnya, maka tiba-tiba saja Swasti telah
memeluknya. Terasa
didada ayahnya, nafas Swasti memburu seperti detak jantungnya.
Jilid 04
SAMBIL menepuk punggung anaknya Kiai
Kanthi. berkata, “Sudahlah Swasti. Beristirahatlah. Kau sudah menyelesaikan
tugasmu dengan baik, meskipun bukan yang terbaik, karena kedua lawanmu telah kau
bunuh.”
Swasti tidak menjawab. Ketika ayahnya
kemudian memegang pundaknya dan mendorongnya duduk dibawah sebatang pohon besar,
Swasti seolah-olah tidak mempunyai sikap lagi menghadapi kenyataan itu.
“Beristirahatlah Swasti. Kau tentu
lelah.”
Swasti mengangguk. Sementara ia
melihat ayahnya telah memungut pisau belatinya dari tubuh tawannya, dan
menusukkan ketanah beberapa kali, sehingga darah yang melekat telah menjadi
bersih karenanya.
“Inilah senjatamu. Nanti, kau dapat
mencucinya di parit dibawah telaga itu,“ desis ayahnya.
Swasti hanya mengangguk saja. Namun
ia masih gemetat seperti juga nafasnya masih saling memburu dilubang hidungnya.
“Kau dapat mengatur pernafasanmu. Kau
harus menjadi tenang dan mengerti seluruhnya atas peristiwa yang baru saja kau
alami,“ berkata ayahnya.
Swasti mengangguk. Dicobanya untuk
menguasai pernafasannya dan mengaturnya perlahan-lahan.
Akhirnya Swasti berhasil menenangkan
dirinya. Nafasnya mulai teratur dan detak jantungnya pun mulai menurun.
Namun dalam pada itu. selagi ia duduk
tenang dan menguasai diri sepenuhnya, perasaannya telah terganggu oleh suara
dikejauhan. Lamat-lamat Swasti mulai mendengar lagi suara kentongan dalam irama
yang tidak teratur.
“Suara kentongan itu ayah,“ desis
Swasti.
Ayahnya mengerutkan keningnya.
Katanya, “Agaknya anak yang dicari itu masih belum diketemukan. Dan mereka akan
tetap mencari meskipun sampai tiga hari tiga malam. Baru setelah tiga hari tiga
malam mereka tidak menemukannya, maka mereka akan menganggap anak itu benar
hilang. Dan merekapun akan melakukan upacara seolah-olah anak itu sudah
meninggal.”
“Ayah,“ tiba-tiba saja Swasti
bangkit, “apakah mereka mencari anak itu?”
Kiai Kanthi mengerutkan keningnya.
Dipandanginya anak muda yang terbaring. Tetapi ia tidak pingsan lagi. ia
tertidur karena sentuhan tangan Kiai Kanthi sebelum ia mengerti apakah yang
telah terjadi atasnya.
Kiai Kanthi mengangguk-angguk.
Katanya, “Mungkin. Mungkin anak itulah yang dicarinya.”
“Jadi, apakah kita akan mengatakannya
kepada mereka, bahwa kita telah menemukannya disini?”
Kiai Kanthi menjadi ragu-ragu.
Kemudian katanya, “Jika demikian, maka akan timbul banyak pertanyaan tentang
anak itu. Jika anak itu sadar, ia akan mengatakan, bahwa ia telah dibawa oleh
dua orang Pusparuri. Dan orang-orang padukuhan itupun akan mengusut pula, dimana
kedua orang Pusparuri itu. Terutama Daruwerdi. Agaknya ia memang mempunyai
hubungan dengan pimpinan perguruan Pusparuri meskipun tidak diketahui sepenuhnya
oleh orang-orang Pusparuri sendiri.”
“Jadi apakah yang sebaiknya kita
lakukan dengan anak muda itu, ayah?“ bertanya Swasti.
Tiba-tiba wajah Kiai Kanthi menjadi
cerah. Sambil tersenyum ia berkata, “Marilah kita bermain-main dengan
orang-orang padukuhan Lumban. Kita akan menghilangkan jejak yang dapat
menumbuhkan kecurigaan orang-orang padukuhan. Kita akan membawa anak muda itu
dan menyerahkan kembali kepada orang-orang Lumban tanpa menampakkan diri.”
“Maksud ayah?”
“Kita bawa anak muda itu dan kita
letakkan di bawah pohon randu alas di ujung padukuhan sebelah Utara, dibatas
hutan perdu. Kita akan dengan mudah bersembunyi agar tidak dilihat oleh
orang-orang Lumban yang sedang mencari anak itu.”
“Bagaimana jika mereka tidak
mencarinya kerandu alas itu ?”
“Aku akan membawa titikan dan membuat
api. Dengan sepercik belerang, maka api emput itu akan menyala seperti jika kita
menyalakan perapian. Api belerang yang kebiru-biruan itu akan mengundang
perhatian mereka.”
“Apakah mereka akan melihat api
belerang yang kecil itu?”
“Mudah-mudahan. Aku mengira, bahwa
mereka masih akan berputar-putar diseluruh padukuhan Lumban Wetan dan Lumban
Kulon serta sekitarnya. Pada suatu saat tentu ada sekelompok dari mereka yang
akan lewat didekat randu alas itu meskipun sudah empat lima kali mereka lewati.”
Swasti mengangguk-angguk. Katanya,
“Marilah kita coba ayah. Tetapi bagaimana membawa anak muda itu ?”
Kiai Kanthi mengerutkan keningnya.
Nampaknya iapun mulai memikirkan bagaimana membawa anak yang tertidur itu. Tentu
tidak mungkin untuk menyadarkannya, kemudian mengajaknya turun. Dengan demikian,
ia tentu akan bercerita tentang hutan yang dihuni oleh dua orang ayah dan anak
gila.
“Swasti,“ berkata ayahnya, “meskipun
aku sudah menjadi semakin tua, tetapi agaknya aku masih kuat mengangkatnya turun
sampai keujung padukuhan itu.”
Swasti termangu-mangu sejenak. Namun
katanya kemudian, “Aku tentu juga dapat membantu ayah. Agaknya aku-pun kuat
mengangkatnya diatas bahu.”
“Tetapi itu tidak pantas. Ia seorang
anak muda.”
“Ah,” Swasti berdesah.
Sejenak kemudian. Kiai Kanthipun
mencoba mengangkat anak muda itu di atas pundaknya. Kemudian membawanya
melangkah beberapa langkah.
“Tidak terlalu berat Swasti. Agaknya
aku akan dapat membawanya turun tanpa kesulitan.”
Swasti memandang ayahnya sejenak.
Tetapi ia tidak berkata sesuatu.
Keduanyapun kemudian menuruni tebing
pegunungan yang sudah tidak begitu tinggi meskipun kadang-kadang curam, tetapi
kadang-kadang bagaikan sudah disediakan tangga-tangga batu padas. Tetapi
keduanya dapat memilih jalan yang tidak terlalu sulit untuk mencapai dataran
dibawah.
Ternyata bahwa Kiai Kanthi yang tua
itu masih cukup kuat dan tangkas. Bagaimanapun juga ia aaalah seorang yang
mumpuni. Seorang yang memiliki kekuatan meiampaui kekuatan orang kebanyakana Dan
iapun mempunyai aaya tahan melampaui orang kebanyakan pula.
Tanpa mengalami kesulitan. Kiai
Kamthn dan Swastipun kemudian telah berada didataran dibawah butut. Kemudan
dengan hati-hati mereka membawa anak yang tertidur nyenyak itu kebawah sebatang
randu alas yang besar dan berdaun rimbun.
“Letakkan digerumbul dibawah pohon
itu ayah,“ desis Swasti.
“Mudah-mudahan anak itu tidak dipatuk
ular.”
“Ia tidak bergerak-gerak, tentu ia
tidak akan dipatuk ular.”
“Jadi, apakah ia akan kita biarkan
tidur terus, dan tidak ada yang akan dapat membangunkannya ?”
“Aku kira, Jlitheng yang sombong itu
akan dapat membangunkannya.”
“Tetapi biarlah kita menunggu sampai
kita yakin akan diketemukan. Kemudian kita bangunkan anak itu, sementara itu
kita bersembunyi baik-baik.”
“Terserah saja kepada ayah,“ desis
Swasti.
Kiai Kanthipun kemudian meletakkan
tubuh Kuncung didalam gerumbul yang tidak terlalu rimbun. Dengan sengaja ia
membiarkan kaki anak muda itu terjulur.
“Kita menunggu. Aku yakin, bahwa
salah satu kelompok dari mereka yang mencari anak yang hilang itu akan datang
lagi kebawah pohon randu alas yang besar ini.”
“Tetapi, bagaimanakah jika yang
sebenarnya mereka cari bukan anak ini ayah ?“ bertanya Swasti.
“Siapapun juga. tetapi kita telah
mengembalikan anak yang malang ini kepada keluarganya, sementara kita masih
mempunyai pekerjaan mengubur dua sosok mayat yang kita tinggalkan dihutan itu.”
Swasti mengangguk-angguk. Jawabnya,
“Mudah-mudahan kelompok yang kita dengar suara kentongan dan tetabuhannya itu
menuju kemari.”
Beberapa saat lamanya keduanya
menunggu. Tetapi ternyata kelompok pertama dari orang-orang yang mencari anak
yang diculik hantu itu tidak lewat dibawah pohon randu alas itu.
Namun beberapa saat kemudian kelompok
yang lain telah mendekat pula.
“Suaranya ribut sekali ayah,“ desis
Swasti.
“Ya.“ Mereka memukul apa saja yang
mereka dapat. Kentongan, tambir, tampah dan mungkin potongan-potongan besi dan
senjata. Mereka membunyikan asal saja membunyikan tanpa irama tertentu.”
“Nah, kalau kelompok yang kemudian
ini nampaknya benar-benar akan melalui jalan ini.” gumam Swasti.
Untuk sesaat lagi mereka menunggu.
Sejenak kemudian mereka melihat beberapa buah obor muncul dari padukuhan. Mereka
melalui jalan bulak yang semakin lama menjadi semakin dekat dengan pohon randu
alas itu.
“Aku akan menyalakan api yang
berwarna biru agar mereka tertarik dan datang kemari,“ berkata Kiai Kanthi.
Kiai Kanthipun kemudian menyalakan
api dengan titikan dan seperingkil belerang. Api yang berwarna kebiru-biruan
telah menyala. Dengan menggerakkan api itu, maka Kiai Kanthi mengharap, bahwa
api itu akan menarik perhatian.
“Mereka akan mengira, api ini
kemamang yang terbang mengitari pohon randu alas ini,“ desis Kiai Kanthi.
“Jika demikian mereka akan takut
mendekat,“ desis Swasti.
“Tidak. Jika mereka seorang seorang,
mereka memang akan takut mendekat. Tetapi bersama-sama mereka akan merupakan
kelompok pemberani yang justru akan datang untuk melihat, apakah yang terdapat
dibawah pohon randu alas ini.”
Ternyata beberapa orang yang berjalan
dibulak itu, benar-benar melihat sepercik api berwarna kebiru-biruan. Api yang
seolah-olah terbang berputaran mengelilingi pohon randu alas, karena Kiai Kanthi
memang membawa api diatas sebuah kulit kayu mengelilingi pohon randu alas itu.
Api yang tidak begitu besar. Tidak lebih dari sekepalan tangan. Namun dapat
dilihat dari bulak yang pendek, yang tidak begitu jauh dari pohon randu alas
itu, dan api itu mempunyai warna yang khusus.
Karena itu, maka seperti yang
diharapkan, maka nyata api yang kebiru-biruan itu benar-benar telah menarik
perhatian.
“He, kau lihat api dibawah pohon
randu alas itu,“ desis seseorang yang sedang memukul sepotong besi dengan
potongan besi yang lain.
Seorang yang memukul kentongan
disebelahnya mengerutkan keningnya. Iapun telah melihat api yang kebiru-biruan
itu. Maka katanya, “Ya. Api itu agak aneh. Apakah api itu mempunyai arti yang
khusus.”
“Mungkin. Mungkin sekali,“ sahut yamg
lain.
Api belerang itu akhirnya telah
menarik perhatian seluruh kelompok pencari anak yang hilang itu. Seorang yang
berambuti putih berdesis, “Menarik sekali. Apakah benar cahaya yang
kebiru-biruan itu mempunyai arti khusus ?”
“Mungkin sekali,“ sahut yang lain.
“Marilah kita lihat,“ berkata orang
tua itu lebih lanjut.
Sejenak kawan-kawannya saling berdiam
diri. Tetabuhan-nyapun terdiam beberapa saat.
“Marilah,“ orang tua itu mendesak.
Kawan-kawannya masih ragu-ragu. Namun
akhirnya orang tua itu berkata, “Aku akan berdiri dipaling muka. Berikan obor
itu kepadaku.”
Seorang anak muda yang pucat
memberikan obor kepada erang berambut putih itu. Kemudian, beriringan mereka
menuju kepohon randu aitas yang diputari oleh semacam cahaya yang berwarna
kebiru-biruan.
Kiai Kanthi telah memperhitungkan,
pada jarak yang mana ia harus bersembunyi. Sehingga karena itulah, maka
kelompok-kelompok orang-orang itu tertegun ketika mereka pielihat tiba-tiba saja
api yang berwarna kebiru-biruan itu hilang.
Meskipun demikian, orang berambut
putih itu berkata, “Kita akan membuktikannya kebawah randu alas itu. Pukul semua
alat yang ada pada kita sekeras-kerasnya. Jika ada hantu di randu alas itu,
biarlah mereka menyingkir karena telinga mereka menjadi sakit oleh suara ini.”
Dengan demikian, maka tetabuhanpun
menjadi semakin keras. Perlahan-lahan iring-iringan itu maju meskipun dengan
hati yang berdebar-debar.
Ketika mereka mendekati pohon randu
alas yang besar itu, mereka sama sekali tidak melihat sesuatu. Mereka tidak
melihat cahaya yang kebiru-biruan. Mereka tidak melihat seseorang dan tidak
melihat apapun juga.
“Tidak ada apa-apa,“ desis seseorang.
“Ya. Tidak ada,“ sahut yang lain.
Tetapi orang berambut putih itu
berkata, “Kita akan mencari disekeliling randu alas ini. Bunyikan tetabuhan itu
sekeras-kerasnya.”
Sekali lagi ocang-orang dalam
kelompok itu memukul benda-benda yang mereka bawa sekeras-kerasnya. Bunyinya
benar-benaT memekakkan telinga, sehingga jika mereka berbicara diantara sesama
mereka, maka merekapun harus berteriak sekeras-kerasnya pula.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja
salah seorang dari mereka menjerit. Suaranya metengking mengatasi suara
tetabuhan yang hiruk pikuk.
“Ada apa ?“ bertanya seorang kawannya
yang juga menjadi pucat.
“Ya Ada apa ?” desak yang lain.
Orang itu menjadi gagap. Sambil
menunjuk kesebuab gerumbul ditepi jalan, dibawah randu alas itu ia berkata
terputus-putus, “Itu, itu. Lihat.”
Semua orang berpaling kearah gerumbul
yang ditunjuk. Merekapun terperanjat ketika mereka melihat dua batang kaki yang
terulur dari gerumbul itu.
Belum lagi jantung mereka mereda,
mereka telah dikejutkan lagi oleh suara yang mengerikan, yang telah mendirikan
bulu tengkuk mereka.
Suara itu adalah suara perempuan.
Tetapi suara tertawa perempuan itu benar-benar suara tertawa hantu yang
menakutkan. Suara tertawa yang bagaikan menghentak jantung setiap orang yang
berada dibawah pohon randu alas itu.
“Itu adalah iblis betina,“ berkata
setiap orang dida-lam hati mereka masing-masing.
Suara tertawa itu semakin lama
terdengar semakin keras, Dan suara tertawa itu bagaikan meretakkan dada mereka.
Setiap orang telah melepaskan
benda-benda ditangannya. Mereka menutupi telinga mereka dengan kedua telapak
tarzan. Bahkan ada diantara mereka yang terduduk lemah tidak berdaya.
“Aku kembalikan anak itu kepada
kalian orang-orang Lumban yang dungu,“ terdengar suara yang tidak jelas
sumbernya, “aku tidak memerlukan anak yang bodoh dan penakut. Ambillah salah
seorang anakmu ke orang-orang Lumban. Untuk beberapa saat ia akan tetap
tertidur. Tetapi ia akan bangun pada saatnya. Mungkin untuk sehari dua hari
ingatannya belum pulih. Tetapi itu bukan salahnya.”
Orang-orang dibawah pohon randu alas
itu menjadi gemetar.
“Ambilah. Aku akan pergi,“ terdengar
suara itu melanjutkan. Disusul oleh suara tertawa berkepanjangan. Semakin lama
semakin jauh dan akhirnya hilang ditelan desau angin malam yang dingin.
Beberapa saat lamanya orang-orang
Lumban itu masih dicengkam ketakutan. Namun kemudian orang yang berambut putih
dan menggenggam obor ditangannya itu berkata, “Anak itu sudah diserahkannya.
Marilah, kita mengambilnya. Kita tidak bersalah dan kata tidak akan dikutuknya,
karena yang terjadi adalah oleh kehendak iblis betina itu sendiri.”
Beberapa orang masih ragu-ragu. Namun
akhirnya merekapun mendekati gerumbul dibawah pohon randu atas itu. Mereka masih
melihat dua batang kaki yang terjulur.
“Itu tentu kaki Kuncung,“ berkata
orang berambut putih itu.
Kemudian dibantu oleh beberapa orang
yang masih berdebar-debar, mereka menarik kaki yang mereka lihat.
“Kuncung, benar-benar-Kuncung,“ desis
beberapa orang.
Orang-orang yang kemudian
mengerumuninya menarik nafas dalam-dalam. Mereka telah menemukan anak yang
mereka cari. Tetapi ternyata bahwa Kuncung masih berdiam diri. ia masih tetap
tidur nyenyak.
“Ia mati,“ desis seseorang.
“Tidak, Ia tidur seperti yang
dikatakan oleh iblis betina itu. ia masih tetap bernafas,“ sahut orang berambut
putih.
“Marilah kita bawa kembali
kepadukuhan,“ berkata yang lain.
Kawan-kawannya mengangguk-angguk.
Merekapun kemudian beramai-ramai menggotong Kuncung yang masih tertidur nyenyak
dengan nafas yang mengalir teratur dari lubang hidungnya.
Ketika anak itu dibawa masuk ke
padukuhan, maka gemparlah padukuhan induk Lumban Wetan. Setiap orang telah
keluar dari rumahnya untuk melihat Kuncung yang baru saja dicuri oleh hantu
betina.
Sementara itu, Jlitheng yang
kebingungan, seolah-olah telah kehilangan akal. Kemana ia harus mencari Kuncung
yang hilang itu. Seluruh daerahl Lumban dan sekitarnya telah dijelajahinya Namun
ia tidak menemukannya. Bahkan kemudian muliai tumbuh di pikirannya, “Apakah
Kuncung benar-benar dibawa hantu ?”
Dalam kebingungan itu tiba-tiba saja
ia teringat kepada Daruwerdi yang berada di bukit gundul. Nampaknya ia memang
menunggu seseorang.
“Apakah tidak ada sekelompok orang
yang mencari kebukit itu ?“ bertanya Jlitheng kepada diri sendiri.
Tetapi Jlitheng menggelengkan
kepalanya. Bukit itu benar benar gundul, sehingga orang-orang Lumban tentu
menganggap bahwa tidak mungkin Kuncung disembunyikan ditempat itu.
Namun Jlithenglah yang kemudaan
berlari-lari kebukit gundul itu. Ia ingin mengetahui, apakah yang dilakukan
olehi Daruwerdi jika orang yang ditunggunya itu sudah datang. Apakah ada
hubungannya dengan hilangnya Jlitheng atau tidak.
Tetapi ia menggeram ketika ternyata
Daruwerdi telah tidak ada di bukit gundul itu. Sambil menghentakkan tangannya
Jlitheng bergumam, “Gila. Aku kehilangan semuanya. Aku tidak menemukan Kuncung,
sementara aku juga kehilangan Daruwerdi dan orang yang disebutnya Cempaka itu.”
Sejenak Jlitheng justru
termangu-mangu. Rasa-rasanya rahasia yang meliputi padepokan Lumban Wetan dan
Lumban Kulon justru menjadi semakin tebal.
Namun dalam pada itui Jlitheng
terkejut ketika ia mendengar suara kentongan dalam nada dara-muhik. Diluar
sadarnya ia bergumam, “Sokurlah. Anak itu sudah dapat diketemukan.“ Namun
tiba-tiba wajahnya menegang, “Tetapi hidup atau mati.”
Dengan serta merta Jlithengpun telah
meloncat berlari dengan sekencang-kencangnya lewat pematang dan jalan-jalan
sempit yang memintas, langsung menuju keinduk padukuhannya.
Dengan nafas terengah-engah ia
menemukan banyak orang yang berkerumun di banjar. Orang tua Kuncung duduk
disamping anaknya yang terbujur diam sambil menangis.
“Ia kehilangan jiwanya, meskipun
tidak nyawanya,“ desis beberapa orang.
Kuncung memang masih tertidur
nyenyak. Nafasnya mengalir dengan teratur. Tetapi tidak seorangpun yang dapat
membangunkannya.
Untuk sesaat Jlijtheng
termangu-mangu. Seorang kawannya yang melihatnya berlari-lari bertanya, “Kemana
kau selama ini Jlitheng ?”
“Aku ikut mencarinya. Tetapi aku
tersesat. Seolah-olah jalan menjadi asing. Untunglah aku masih mendengar suara
kentongan dan suara hiruk pikuk orang-orang yang mencari Kuncung,“ jawabnya.
“O, agaknya kaupun hampir
disambarnya,“ desis kawannya yang lain.
Dari kawan-kawannya Jlitheng
mendengar, bagaimana Kuncung itu diketemukan. Ketika sekelompok orang-orang
Lumban lewat didekat randu alas, mereka telah melihat seekor kemamang berwarna
kebiru-biruan terbang mengelilingi batang randu alas itu. Ketika kemudian mereka
mendekat, mereka menemukan Kuncung, setelah lebih dahulu mereka mendengar suara
hantu betina itu.
Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun
kemudian ia berdesis, “Mengerikan sekali. He, bagaimana jika aku juga dibawa
oleh hantu betina itu ?“ desis Jlitheng.
“Kau akan pingsan untuk waktu yang
lama, atau barangkali, yang sudah dikembalikan baru tubuhnya, belum jiwanya,“
sahut kawannya.
Sejenak Jlitheng terdiam. Namun
kemudian ia berkata, “Aku akan melihat, apakah Kuncung terluka atau itidak.”
“Tidak. Tidak ada tanda-tanda luka
padanya,“ sahut kawannya.
Namun Jlitheng mendesaknya. Ketika ia
menyibakkan beberapa orang, maka orang-orang itu membentaknya, “He, apa yang
akan kau lakukan Jlitheng ?”
Jlitheng memandang berkeliling.
Dilihatnya wajah-wajah yang tegang dan gelisah.
“Aku hanya ingin melihat saja,“
desisnya.
“Jangan kau ganggu. Kita menunggu ia
terbangun.”
“Apakah tidak dapat dibangunkan
seperti membangunkan orang tidur nyenyak?” beritanya Jiiitheng.
“Kau memang dungu. Ia tidak tidur
sewajarnya tidur.“ sahut sallah seorang tua.
“Tetapi nampaknya benar-benar seperti
tidur,“ Jlitheng membantah.
Tanpa menghiraukan orang-orang yang
memandanginya dengan marah, Jlitheng mendekati tubuh Kuncung yang terbujur.
Kemudian dirabanya seluruh tubuh itu.
“Jlitheng, jika kau membuatnya
celaka, maka kau akan dihukum oleh orang-orang disehiruh padukuhan,“ desis
seorang bertubuh tinggi besar, “kita sedang menunggu Ki Buyut di Lumban Wetan.
Sentuhan tanganmu mungkin akan menimbulkan akibat yang tidak dikehendaki.”
Jlitheng memandang orang itu sejenak.
Namun kemudian katanya, “Apakah aku boleh mengguncangnya seperti mengguncang
orang tidur?”
“Jangan,“ teriak seseorang.
Tetapi Jlitheng sudah melakukannya.
Perlahan-lahan diguncangnya kaki Kuncung yang tertidur nyenyak itu.
Tidak seorangpun yang melihat,
Jlitheng telah menyentuh tengkuk Kuncung disaat ia meraba-raba tubuh anak itu.
Nampaknya Jlitheng menjadi curiga bahwa keadaan Kuncung disebabkan oleh
kemampuan ilmu yang dapat membuatnya tidur.
Ternyata yang dilakukan Jlitheng itu
telah mengejutkan orang-orang yang berkerumun. Mereka hanya melihat Jlitheng
mengguncang kaki Kuncung. Namun kemudian mereka melihat Kuncung itu
perlahan-lahan mulai bergerak dan membuka matanya.
“He, anak itu bangun,“ tiba-tiba saja
Jlitheng berteriak.
Setiap orang terguncang hatinya.
Ternyata mereka benar-benar melihat Kuncung bergerak dan membuka matanya.
Kemudian terdengar anak muda itu merintih.
Dengan cemas orang tua Kuncung
bergeser mendekat. Diusapnya keningnya anaknya yang basah oleh keringat sambil
menyebut namanya, “Supada, ngger Supada.”
Tetapi ayahnya kemudian memanggil
dengan nama panggilannya sehari-hari “Cung, Kuncung.”
Namun itu lebih tajam menyentuh
perasaannya, sehingga karena itu, maka iapun mencoba untuk bangkit.
Dengan gemetar ayahnya membantunya
mengangkat kepalanya. Kemudian membantunya pula duduk diantara orang-orang
Lumban yang mengerumuninya.
Sejenak Kuncung kebingungan.
Dipandanginya orang-orang yang mengerumuninya. Kemudian terdengar ia bertanya,
“Dimanakah aku sekarang ?”
“Kau berada di banjar ngger. Banjar
padukuhan kita sendiri,“ sahut ayahnya.
Tetapi nampaknya Kuncung masih
bingung. Bahkan tiba-tiba saja ia bertanya, “Dimanakah kedua orang yang
mengerikan itu sekarang?”
“Siapa ?“ bertanya beberapa
orang-orang Lumban hampir berbareng.
Kuncung menggeleng sambil menjawab,
“Aku tidak tahu. Tetapi mereka telah membawa aku naik kebukit itu. Mereka
memaksa aku menceritakan sesuatu yang tidak aku ketahui.”
“Apa yang harus kau ceritakan?”
Kuncung menarik nafas dalam-dalam.
Beberapa orang kemudian berusaha untuk mengatur diri, sehingga orang-orang yang
mengerumuni Kuncung dapat melihat dan mendengar ia berceritera.
Kuncunmgpun kemudian menceritakan apa
yang dialaminya. Sejak ia kembali dari sungai yang hampir kering itu. Bagaimana
ia bertemu dengan dua orang yang garang dan membawanya pergi. Iapun menceritakan
apa yang ditanyakan oleh kedua orang itu kepadanya dan bagaimana ia mulai
memukulnya.
Orang-orang Lumban itu mendengarkan
ceritera Kuncung dengan tegang. Bahkan merekapun menjadi ngeri mendengarnya,
seolah-olah mereka melihat dan mengalami apa yang telah dialami olah anak muda
itu.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja
terdengar seseorang tertawa. Ketika orang-orang Lumban itu berpaling, mereka
melihat Jlitheng berusaha menahan tertawanya.
“Kenapa kau tertawa ?“ bertanya
beberapa orang hampir bersamaan.
Jlitheng terkejut ketika ia menyadari
bahwa semua orang memperhatikannya Dengan gagap iapun menjawab, “Aku geli
mendengar ceritera seseorang yang baru saja dibawa hantu betina. He, bukankah
Kuncung diculik wewe dan dikembalikan dibawah pohon randu alas ?”
Kata-kata itu telah memperingatkan
orang-orang Lumban, bagaimana mereka menemukan Kuncung. Karena itu, maka
orang-orang Lumban itupun mengangguk-angguk sambil berkata kepada diri sendiri,“
ia benar-benar kehilangan ingatan. Yang diceriterakan itu tentu bayangan yang
dibuat oleh hantu betina itu.”
Namun tiba-tiba saja salah seorang
dara mereka yang mengerumuni Kuncung itu bertanya, “Jlitheng, jika yang terjadi
itu sekedar khayalan, maka kenapa hal itu pernah terjadi juga atasmu. Dan itu
tentu bukan khayalan karena banyak orang yang melihat, bagaimana kau dibawa oleh
dua orang yang garang, tepat seperti yang dikatakan oleh Kuncung.”
“Itulah yang menggelikan,“ jawab
Jlitheng, “ia pernah mendengar atau melihat dua orang yang membawa aku. Dalam
ketidak sadarannya, karena ia dibawa oleh hantu betina, maka ingatan itu muncul
seolah-olah terjadi atas dirinya. Dibantu oleh bayangan semu yang memang
dibangunkan oleh ibhs betina itu, maka seolah-olah yang terjadi adalah
benar-benar telah terjadi.”
Orang-orang Lumban mengangguk-angguk
kecil. Penjelasan Jlitheng memang masuk akal. Bahkan seorang tua berkata,
“Darimana kau mendapatkan pengertian itu Jlitheng?”
Pertanyaan itu telah mengejutkan
Jlitheng. Namun ia berusaha menjawab, “Mungkin kek. Mungkin demikian. Aku hanya
menduga-duga.”
Tetapi orang-orang Lumban itu semakin
mempercayai Jlitheng karena Kuncung kemudian tidak dapat menjelaskan, bagaimana
mungkin ia berada dibawah pohon randu alas itu. Bahkan tertidur nyenyak seperti
orang yang sedang pingsan.”
Dalam pada itu, ketika Ki Buyut
Lumban Wetan datang ke banjar, maka orang yang mengerumuni Kuncung itupun
menyibak. Dihadapan Ki Buyut, Kuncung menceriterakan kembali apa yang pernah
diceriterakan.
Sementara itu, ketika perhatian
setiap orang tertuju kepada Ki Buyut dan Kuncung, maka Jlitheng berbisik kepada
kawannya yang duduk disebelahnya, “Aku akan kesungai.”
“Kenapa ?“ bertanya kawannya heran.
“Perutku sakit sekali.”
“He, kau dapat dibawa wewe seperti
Kuncung.”
“Sedangkan Kuncung saja telah
dikembalikannya. Ia tentu tidak memerlukan orang lain lagi. Setidak-tidaknya
untuk sisa malam ini.”
Kawannya tidak mencegahnya. Sementara
yang lain tidak memperhatikannya, ketika Jlitheng kemudian meninggalkan banjar.
Tetapi demakian ia sampai ketempat
yang sepi maka iapun segera berlari sekencang-kencangnya. Bahkan ia telah
mengerahkan kemampuan ilmunya untuk mendorong kekuatan kakinya, sehingga anak
muda itupun kemudian telah berlari kencang sekali menuju kebukit yang berhutan
lebat.
Dengan tangkasnya anak muda itu
meloncati batu-batu padas dilereng yang gelap. Didataran-dataran sempit,
pepohonan tumbuh hampir pepat. Tetapi Jlitheng yang nampaknya sudah terbiasa
itu, dapat menempuhnya dengan cepat seolah-olah ia sedang berjalan dijalan yang
datar dan rata.
Ketika ia sampai ketempat Kiai
Kanthi, dilihatnya orang tua itu duduk merenungi perapian yang kecil. Ia
berpaling ketika ia mendengar langkah seseorang mendekati. Namun Kiai Kanthi
seolah-olah sudah mengetahui, bahwa yang datang itu adalah Jlitheng.
Karena itu, maka ia sama sekali tidak
bergeser. Hanya wajahnya sajadah yang bergerak sambil tersenyum.
“Marilah ngger. Silahkan. Aku sudah
menduga, bahwa kau akan datang kemari,“ berkata Kiai Kanthi.
Jlitheng masih berdiri tegak.
Nafasnya terasa memburu.
“Duduklah,” sambung Kiai Kanthi.
“Dimana Swasti, Kiai?“ bertanya
Jlitheng.
“Baru mandi dibalik gerumbul itu.
Untunglah kau mengambil jalan ini. Jika kau mengambil sebelah, Swasti akan
terpaksa membenamkan dirinya,“ jawab orang tua itu.
Jlitheng termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian ia-pun duduk disamping Kiai Kanthi. Sejenak ia mengatur
pernafasannya.
“Kiai,“ katanya kemudian, “aku sudah
menduga, bukankah Kiai sudah mengembalikan seorang anak muda Lumban di bawah
pohon randu alas ?”
Kiai Kanthi tidak menyangkal. Sambil
mengangguk ia menjawab, “Ya ngger. Aku sudah bingung, bagaimana caranya
mengembalikan anak itu tanpa menumbuhkan kecurigaan. Aku sudah membunuh dua
orang dilereng bukit itu. Tepatnya, Swastilah yang sudah melakukannya.”
“Aku sudah menduga, bahwa Kuncung
tentu dibawa oleh orang-orang yang asing bagi kami. Siapakah kedua orang itu
Kiai?” beritanya Jlitheng.
Kiai Kanthipun kemudian
menceriterakan apa yang dilihat dan didengarnya. Dari awal sampai akhir.
“Jadi keduanya orang Pusparuri?”
Kiai Kanthi mengangguk. Jawabnya,
“Menurut tangkapanku, keduanya memang orang-orang Pusparuri. Mudah-mudahan
mereka tidak sedang menyelubungi diri dengan sikap dan sebutan itu.”
“Dimana keduanya sekarang ?”
“Aku mengubur mereka dibawah pohon
nyamplung yang besar itu.”
Jlitheng termangu-mangu sejenak.
Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Swasti menyibak gerumbul
dan berjalan melintas. Seperti biasanya gadis itu tidak mau duduk bersamanya. Ia
duduk beberapa langkah dibelakang ayahnya, bersandar sebatang pohon menghadap
kedalam gelapnya malam.
“Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian,
“nampaknya daerah ini menjadi semakin banyak didatangi oleh orang-orang yang
sebenarnya asing bagi Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”
“Termasuk kami berdua,“ tiba-tiba
saja Swasti memotong.
“Ya,“ jawab Jlitheng, “juga termasuk
aku dan Daruwerdi. Bahkan ketika aku mengikuti Daruwerdi kebukit gundul, ketika
kami sedang kebingungan mencari Kuncung, Daruwerdi sudah menyebut satu nama
lagi. Cempaka. Mungkin nama sebenarnya, tetapi mungkin juga sekedar sebulan
seperti Ular Sanca itu.”
“Dan apakah angger melihat orang yang
disebut Cempaka ?“ bertanya Kiai Kanthi.
“Tidak Kiai. Aku lebih berat mencari
Kuncung daripada menunggui Daruwerdi yang sedang menunggu Cempaka, Ketika
kemudian aku kembali kebukit gundul itu, Daruwerdi sudah tidak ada lagi.”
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Sekali lagi ia berdesah, “Nasibku agaknya memang kurang baik. Aku
telah memasuki daerah yang sedang bergejolak.”
Jlitheng tidak menyahut. Namun
Swastilah yang kemudian berkata, “Sudah aku katakan ayah. Apakah tidak sebaiknya
kita mencari tempat tinggal yang lain. Yang tidak dibayangi oleh kecurigaan dari
segala pihak dan tidak selalu dicemaskan oleh peristiwa-peristiwa seperti yang
baru saja terjadi. Kita berusaha menolong seseorang. Tetapi kita tidak dapat
menyatakan diri kita dengan terus terang.”
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Memang tempat ini dapat menumbuhkan ketegangan dihati.
Tetap aku belum memastikan bahwa tempat ini tidak akan dapat menjadi tempat yang
baik Swasti.”
“Dugaan-dugaan yang mengandung banyak
kemungkinan itu memang dapat saja kita lakukan. Tetapi kita tidak akan dapat
hidup dengan tenang dalam bayangan kegelisahan seperti sekarang,” Swasti
berhenti sejenak, lalu, “yang baru saja kita lakukan telah membuat kita sangat
lelah. Bukan saja badan kita, tetapi perasaan kita. Suaraku hampir menjadi serak
sama sekali, karena aku harus berteriak-teriak menirukan suara hantu betina yang
belum pernah aku dengar. Kemudian kita berlari-lari bersembunyi, justru karena
kita sudah menolong seseorang.”
“Swasti,“ berkata ayahnya dengan
sareh, “aku masih berharap untuk menemukan hari kemudian yang baik disini.”
“Bukan itu,“ bantah Swasti, “aku
tahu, justru keadaan yang menegangkan itulah yang sudah menarik hati ayah.”
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Apakah hanya aku saja yang sudah tertarik? Seandainya aku
mengiakan permintaanmu untuk meninggalkan tempat ini dan aku benar berangkat
esok pagi, apakah kira-kira kau akan mengikuti aku atau kau justru akan tetap
tinggal disini ?”
“Ah,” Swasti berdesah. Sementara
ayahnya tersenyum. Katanya, “Swasti. Aku mengenalmu sejak kau masih bayi. Aku
tahu sifat dan watakmu.”
“Ayah selalu berkata begitu,“ Swasti
berdesis.
Tetapi ayahnya masih saja tersenyum.
Bahkan Jlitheng-pun tersenyum pula. Katanya, “Kiai, daerah seperti ini memang
menjemukan, tetapi sekaligus sangat menarik untuk diperhatikan. Adalah wajar
bahwa kita yang sudah terlanjur mengetahui serba sedikit bayangan-bayangan yang
rahasia didaerah ini, ingin melihat kelanjutan dan apabila mungkin penyelesaian
dari peristiwa ini.”
“Sifat ingin tahu seseorang adalah
wajar sekali ngger. Tetapi mungkin diantara kita ada beberapa perbedaan. Jika
kami benar-benar hanya didorong oleh sekedar ingin tahu. Mungkin kau mempunyai
kepentingan yang lain,“ berkata Kiai Kanthi.
“Atau sebaliknya Kiai.
Setidak-tidaknya kita masing-masing mempunyai kepentingan yang beralasan sudut
penglihatan kita masing-masing,“ sahut Jlitheng.
“Itulah ujud kecurigaan yang
dikatakan oleh Swasti. Tetapi itupun wajar. Dan kadang-kadang saling mencurigai
adalah menarik sekali,“ sahut Kiai Kanthi.
Jlitheng tertawa. Namun kemudian
katanya, “Ah, sudahlah Kiai. Aku hanya ingin meyakinkan, apakah dugaanku benar.
Aku menjadi geli mendengar, bagaimana orang-orang Lumban menceriterakan tentang
hantu betina yang tertawa terkekeh-kekeh saat ia mengembalikan Kuncung.”
“Tetapi suaraku hampir putus karena
aku harus berteriak keras-keras,“ tiba-tiba saja Swasti menyahut hampir diluar
sadarnya.
Jlitheng tertawa tertahan, sementara
Kiai Kanthi tersenyum sambil berkata, “Kami sadar apa yang kami lakukan.
Kami-pun memang berharap bahwa angger dapat membangunkan anak yang tertidur itu
meskipun kami agak cemas, bahwa yang menjumpai keadaan anak itu justru adalah
angger Daruwerdi.”
“Aku masih harus menemukan anak muda
itu,“ berkata Jlitheng, “tetapi tentu aku sudah kehilangan orang yang disebutnya
bernama Cempaka. Mudah-mudahan pada saat yang lain aku akan dapat menemukannya
dalam keadaan yang bagaimanapun juga,“ Jlitheng berhenti sejenak, lalu,
“sudahlah Kiai. Aku minta diri. Mungkin masih ada yang harus aku lakukan. Jika
kawan-kawanku tidak lelah karena hampir semalam suntuk mereka harus mencari
Kuncung, maka aku akan kembali bersama mereka untuk meneruskan kerja kita,
membuka padepokan kecil itu.”
Ketika Jlitheng turun dari bukit itu
dengan hati-hati. karena ia masih memperhitungkan kemungkinan hadirnya
Daruwerdi, maka langit disebelah Timurpun mulai dibayangi oleh warna merah.
Karena itu, maka ketika ia sudah yakin bahwa seorangpun yang melihatnya, maka
iapun segera berlari-lari menuju kopadukuhannya.
Ternyata banjar padukuhan Lumban
Wetan telah sepi ketika ia datang memasuki regolnya. Hanya tiga orang anak muda
yang sedang berbaring digardu. Mereka terkejut ketika tiba-tiba saja melihat
seseorang berdiri dimuka gardu.
“Anak setan,“ desis salah seorang
dari mereka, “kau mengejutkan kami Jlitheng.”
Jlithengpun kemudian duduk diantara
mereka sambil bertanya, “Apakah Kuncung sudah pulang ?”
“Ya. Ia masih saja mengigau tentang
dua orang yang berwajah mengerikan,“ jawab salah seorang dari mereka.
Namun yang lain menyahut, “tetapi ada
bekas biru-biru pengab diwajahnya. Jika ia tidak berkata sebenarnya, bahwa kedua
orang itu telah memukulnya, maka apakah bekas biru-biru itu benar2 akan terdapat
diwajahnya.”
“Kau memang bodoh,“ jawab Jlitheng,
“setan betina itu tentu tidak berhati-hati. Ketika ia membawa Kuncung, mungkin
wajah anak itu telah membentur pepohonan atau mungkin batu atau apapun, sehingga
wajah itu telah menjadi merah biru.”
Yang lain mengangguk-angguk. Namun
kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Sudahlah. Aku akan tidur. Semalam
suntuk aku tidak tidur sama sekali. Menjelang pagi aku masih mempunyai waktu.
Mudah-mudahan tidak lambat bangun sehingga orang-orang yang- pulang dari pasar
lewat jalan ini akan membangunkan aku.”
“Dan mudah-mudahan kau tidak dibawa
hantu betina,“ desis Jlitheng.
Tentu saat begini anak muda itu
sambil membenai selimutnya.
Jlitheng tidak lama berada digardu
itu. Iapun kamudian bangkit dan melangkah pulang kerumahnya.
Tetapi biyungnya tidak gelisah
meskipun semalam suntuk Jlitheng tidak pulang, karena ia sudah mendengar dari
seseorang, bahwa Jlitheng telah berada di Banjar.
“Orang sudah lama pulang,“ berkata
ibunya, “apa kerjamu di Banjar ?”
“Menemani kawan-kawan yang bertugas
digardu,“ jawab Jlitheng singkat, “dan aku pergi kesungai barang sebentar.”
Ibunya tidak bertanya lagi. Sementara
Jlithengpun kemudian pergi kepakiwan, mengisi jambangan dan kemudian mandi untuk
menghapus keringat dan kotoran yang melekat di tubuhnya.
Namun dalam pada itu, Jlitheng tidak
dapat melepaskan ingatannya kepada peristiwa yang baru saja terjadi. Dua orang
Pusparuri yang terbunuh. Sayang, bahwa mayatnya telah dikuburkan dan ia malas
untuk membuka kembali. Jika belum terlanjur, maka ia akan dapat memastikan dari
ciri-cirinya, apakah kedua orang itu benar-benar orang-orang Pusparuri, karena
banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Mungkin orang-orang Kendali Putih yang
menyebut dirinya sebagai orang-orang Pusparuri, atau mungkin justru pihak lain
sama sekali, atau bahkan kawan-kawan Daruwerdi.
Sehari itu Jlitheng tidak
meninggalkan rumahnya. Siang hari ia berbaring dibelakang dapur, dibawah
sebatang pohon yang rimbun, diatas sehelai ketepe daun kelapa yang dianyam.
Sambil memandangi dedaunan yang bergetar ditiup angin, ia telah mencoba mengurai
peristiwa yang telah terjadi dipadukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon selama
ini, sampai pada saat terakhir. Bahkan sepercik-percik masih juga membersit
kecurigaannya kepada Kiai Kanthi dan anak gadisnya, Swasti.
“Tetapi nampaknya mereka adalah
orang-orang yang jujur dan sederhana dalam sikap,“ berkata Jlitheng kepada diri
sendiri, “meskipun keduanya ternyata mewarisi cabang ilmu kanuragan yang luar
biasa.”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Rasa-rasanya kedua orang ayah dan anak itu telah merupakan pesona yang tidak
dapat dilupakannya, sehingga setiap saat, rasa-rasanya ia angin pergi kebutan
itu seperti ia ingin pulang kerumah sendiri.
Tetapi hari itu Jlitheng tidak dapat
mengajak kawan-kawannya untuk pergi ke bukit, karena Jlitheng mengetahui bahwa
kebanyakan lawan-kawannya lelah dan mengantuk, karena hampir semalam suntuk
mereka telah mencari Kuncung. Sementara Jlitheng sendiri juga ingin beristirahat
setelah semalam-malaman berlari-lari menyusuri bulak dan lereng bukit. Dari
bukit gundul sampai kebukit yang berhutan lebat.
Hari itu setiap mulut di Lumban Wetan
dan Lumban Kulon masih membicarakan bagaimana seorang anak muda telah hilang di
culik iblis betina. Dari pintu kepintu orang-orang Lumban membicarakannya,
bahkan ceritera itupun telah mekar dan menjadi semakin mengerikan.
“Kuncung menjadi seperti orang gila.
Ia mengigau tentang dua orang yang bertubuh tinggi kekar bermata merah dan
bersenjata pedang yang besar sekali,“ berkata seseorang diantara kawan-kawannya.
“Ia memerlukan waktu dua tiga hari
untuk dapat pulih kembali kesadarannya,“ sahut yang lain.
“Tetapi Kuncung dapat menceriterakan
dengan pasti, apa yang terjadi atasnya berhubungan dengan dua orang yang
dikatakannya itu,“ yang lain menyambung.
Seorang tua yang berambut putih
memotong pembicaraan itu, “Biasanya memang demikian. Seseorang yang dibawa oleh
hantu perempuan, ia merasa mengalami sesuatu seperti benar-benar telah terjadi.”
Orang-orang yang mendengarkan
ceritera itu mengang-guk-angguk. Mereka percaya kepada orang tua yang mereka
anggap, mempunyai banyak pengalaman itu.
Namun dalam pada itu, disaat
orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon sibuk berbicara tentang hantu
perempuan yang membawa Kuncung, Daruwerdi mencoba merenungi ceritera itu dari
sudut yang lain. Ia tertarik kepada ceritera Kuncung tentang dua orang yang
datang kepadanya dan membawanya pergi kebukit.
Karena itu, maka Daruwerdi telah
memerlukan datang kerumah Kuncung untuk mendengar sendiri, apakah yang
dialaminya, yang menurut orang banyak hanyalah sekedar bayangan yang tumbuh
dikepalanya karena ia pernah melihat atau mendengar peristiwa serupa yang
terjadi atas Jlitheng. Sehingga hantu perempuan itu tinggal mempertajam
angan-angan ijtu, sehingga seolah-olah telah terjadi sebenarnya alasnya.
Ceritera Kuncung memang menarik
perhatian Daruwerdi. Meskipun ada juga kebimbangan, bahwa mungkin yang dikatakan
oleh orang-orang Lumban itu benar, namun ada juga sepercik dugaan, bahwa
sebenarnya yang diceriterakannya itu telah terjadi.
“Dua orang itu benar-benar datang ke
Lumban dan membawa Kuncung ke bukit. Kemudian memaksa Kuncung berbicara sehingga
anak itu menjadi ketakutan. Ketika orang-orang itu mulai memukulnya, maka ia
menjadi pingsan. “ Daruwerdi mencoba mencari kesimpulan “ baru ketika Kuncung
ditinggalkan, terjadilah sesuatu yang aneh itu. Yang tidak dapat aku jajagi
dengan nalar, bagaimana mungkin ia dapat sampai kebawah pohon randu alas.”
Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam.
Ia mencoba menganggap bahwa hantu betina itu telah menemukan Kuncung. Tetapi ia
kecewa bahwa anak itu seolah-olah tidak dapat berbuat apa-apa, justru karena ia
pingsan. Karena hantu betina itu mengetahui bahwa orang-orang Lumban mencari
seseorang maka hantu yang baik itu telah mengembalikan Kuncung kepada
orang-orang Lumban.
“Persetan,“ tiba-tiba Daruwerdi
menggeram aku tidak peduli tentang hantu itu. Tetapi dua orang itu benar-benar
menarik perhatian, setelah dua orang yang terdahulu datang menangkap Jlitheng.”
Diperjalanan kembali kepondoknya,
Daruwerdi menegang ketika ia teringat seorang gadis yang berada dilereng bukit
itu. Ia mulai curiga sejak kedua perantau itu memilih tempat tinggal yang aneh
tanpa mengenal takut terhadap binatang-binatang buas. Padahal mereka berdua
hampir saja telah diterkam oleh seekor harimau.
“Apakah ada hubungannya antara hantu
betina itu dengan gadis perantau itu ?” pertanyaan itu mulai membersit
dihatinya.
Tetapi Daruwerdi belum dapat
mengambil kesimpulan. Ia masih harus banyak melihat dan mendengar, apa yang di
Lumban.
Dalam pada itu, dihari-hari
berikutnya, orang-orang Lumban sudah mulai melupakan peristiwa yang
menggemparkan itu. Mereka tidak banyak lagi membicarakan hilangnya Kuncung,
meskipun satu dua orang masih menggelengkan kepalanya apabila mereka bertemu
dengan Kuncung di jalan-jalan padukuhan atau disawah. Karena setiap kali mereka
berbicara, Kuncung masih tetap yakin, bahwa yang dialaminya dengan dua orang
yang garang itu bukan sekedar bayangan. Tetapi benar-benar telah terjadi
atasnya. Namun ia tetap tidak dapat mengatakan, kenapa tiba-tiba saja ia sudah
berada dibawah pohon randu alas.
Sementara itu, Jlitheng telah mulai
sibuk pula membantu Kiai Kanthi bersama beberapa orang kawannya. Mereka telah
membuka sebuah dataran sempit dilereng bukit itu. Merekapun mulai mempersiapkan
membuat sebuah gubug kecil untuk tempat tinggal Kiai Kanthi dengan anak
gadisnya.
Disamping itu, maka Jlitheng tidak
henti-hentinya memperhatikan arus air yang meluap dari belumbang dilereng bukit
itu. Ia mulai membicarakan, kemana air itu akan diarahkan.
Jlitheng dan Kiai Kanthi bersepakat,
bahwa mereka tidak akan membuat parit yang khusus dilereng bukit. Mereka akan
mengarahkan air itu kesebuah lekuk yang akan mengalirkan air itu turun sampai
ketempat yang mereka kehendaki.
“Setelah air itu berada didataran,
barulah kita akan membuat saluran seperti yang kita rencanakan,“ berkata Kiai
Kanthi, “selebihnya, sisa air itu akan sangat berguna pula.”
“Untuk sementara kita akan
mengalirkan air itu kesungai. Dengan demikian kita tidak perlu membuat saluran
induk yang panjang. Apalagi sungai itu mengalir dekat perbatasan antara Lumban
Kulon dan Lumban Wetan. Bahkan kadang-kadang sungai itu berada didaerah Lumban
Wetan, tetapi di bagian yang lain sungai itu menjorok masuk kedaerah Lumban
Kulon,“ sahut Jlitheng.
“Tetapi, di wilayah manakah sungai
itu memasuki daerah Lumban ngger?“ bertanya Kiai Kanthi.
“Sungai itu memasuki daerah Lumban di
Lumban Wetan Kiai. Katakanlah bahwa bukit dan dataran dibawah bukit yang
menghadap kepadukuhan itu adalah daerah Lumban Wetan. Tetapi disisi yang lain,
dataran itu adalah tlatah Lumban Kulon, meskipun mereka seakan-akan tidak
menghiraukannya karena sampai saat ini tanah itu tidak pernah digarap.”
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Jlitheng yang agaknya mengetahui perasaan Kiai Kanthi berkata,
“Kiai, terlalu memikirkan masa yang jauh didepan. Tetapi orang Lumban sendiri
kurang memperhatikan batas antara dua kabuyutan itu.”
Kiai Kanthi mengangguk. Jawabnya, “Ya
ngger. Sejak ayunan cangkul yang pertama kita harus sudah mulai memikirkan. Jika
sungai itu mengalirkan air yang lebih banyak, maka mulailah timbul persoalan
antara Lumban Wetan dan Lumban Kulon yang sampai saat ini nampaknya tidak pernah
berselisih. Air itu akan memancing masalah, karena jika air itu mengalir
menyusuri sungai itu, maka kedua padukuhan itu tentu akan segera berpikir untuk
memanfaatkannya. Mereka tentu ingin mengaliri sawah mereka yang kering seperti
yang akan kita lakukan dibawah bukit ini.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi
katanya kemudian, “Kedua daerah itu akan dapat membicarakannya dengan baik.
Mereka akan membendung sungai itu dan menaikkan airnya kekedua arah. Satu parit
itu akan menyusuri bulak-bulak di Lumban Wetan dan satu lagi. kearah Lumban
Kulon.”
“Demikianlah menurut nalar. Tetapi
kadang-kadang akan timbul perasaan yang dapat mengaburkan nalar yang bening.
Iri, dengki dan barangkali juga ketamakan dari satu dua orang di Lumban Wetan
atau di Lumban Kulon. Jika demikian halnya, maka mulailah persoalan yang tidak
diharapkan itu,“ berkata Kiai Kanthi.
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Kita berdoa Kiai. Mudah-mudahan tidak akan timbul persoalan yang
demikian dipadukuhan ini.”
“Mudah-mudahan ngger. Tetapi kita
harus sudah berjaga-jaga, apakah yang sebaiknya dilakukan. Meskipun air itu
masih kurang.”
“Mudah-mudahan Ki Buyut di Lumban
Wetan dan Lumban Kulon akan dapat mengatasi masalahnya. Keduanya sudah tahu,
bahwa Kiai akan membangun padepokan disini,“ desis Jlitheng.
Demikianlah maka mereka semakin hari
menjadi semakin gairah bekerja. Meskipun kawan-kawan Jlitheng tidak banyak,
tetapi mereka senang melakukan pekerjaan itu, Disaat mereka tidak mempunyai
pekerjaan disawah, mereka menemukan cara untuk mengisi waktu dilereng bukit itu.
Sementara itu, Jlitheng sudah
menelusuri lekuk-lekuk batu padas yang akan dapat dipergunakannya untuk
menguasai arus air. Beberapa tempat, ia masih harus menimbuninya dengan tanah
yang cukup banyak agar arah air itu tidak terbagi. Sedangkan dibagian lain,
lekuk-lekuk padas itu sudah merupakan parit yang dibuat oleh arus air hujan
dimusim basah.
Ketika dataran sempit dan gubug kecil
itu baru dikerjakan oleh anak-anak muda Lumban Wetan, Jlitheng dan Kiai Kanthi
justru mulai menggarap saluran induk. Mereka menutup lekuk-lekuk yang tidak
perlu, tetapi juga mengeduk batubatu padas yang membatasi lekuk yang satu dengan
lekuk yang lain, yang sesuai dengan arah yang dikehendaki oleh Kiai Kanthi dan
Jlitheng.
Dengan demikian, maka kerja itu
merupakan kerja yang menjadi semakin besar. Tetapi Jlitheng tidak ingin banyak
menarik perhatian, sehingga hanya kawan-kawannya yang terdekat sajalah yang ikut
membantunya, seolah-olah yang mereka kerjakan sama sekali tidak berarti apa-apa.
Ketika anak-anak muda itu sibuk
bekerja, maka Swasti-pun sibuk menyiapkan minum dan makanan apa saja yang ada.
Kadang-kadang seekor binatang buruan. Tetapi kadang-kadang hanya beberapa buah
gayam dan ikan air panggang.
“Pada saatnya, kita akan dapat makan
jagung disini,“ berkata Kiai Kanthi, “aku sudah menanamnya dilereng yang agak
terbuka itu. Nampaknya benih itu sudah tumbuh.”
Tetapi Jlitheng sambil tertawa
menjawab, “Berapa bulan lagi jagung itu akan berobah Kiai? Apakah kira-kira
saluran itu masih belum siap seumur jagung itu ?”
Kiai Kanthipun tertawa. Tetapi ia
tidak menjawab.
Namun betapapun Jlitheng membatasi
kerja itu, tetapi hal itu sangat menarik perhatian Daruwerdi. Karena itu, maka
iapun memerlukan naik kelereng bukit untuk menyaksikan sendiri, apa yang
sebenarnya telah terjadi.
Kehadirannya dilereng bukit itu telah
mengejutkan Swasti yang baru sibuk memasak. Karena itu, sejenak ia tergagap.
Namun kemudian ia mencoba untuk menguasai perasaannya.
“Dimana ayahmu ?“ bertanya Daruwerdi.
“Mereka sedang bekerja dibawah,“
jawab Swasti.
“Apakah kau tidak takut berada disini
sendiri ?”
“Kenapa takut ? Bukankah sekarang
siang hari ? Dimalam hari aku disini bersama ayah.”
Daruwerdi termangu-mangu sejenak.
Diluar sadarnya ia memandang gadis perantau yang berpakaian kusut itu. Sambil
mengerutkan keningnya ia berkata didalam hati, “Gadis kumal ini berwajah cantik
juga. Jika saja ia sempat merawat tubuhnya, maka ia akan menjadi seorang gadis
yang tidak ada tandingnya di Lumban.”
Swasti yang merasa dipandang oleh
Daruwerdi dengan tajamnya, wajahnya menjadi merah. Selangkah ia beringsut. Tanpa
disengaja maka iapun berjongkok dimuka perapian dan melemparkan pandang matanya
ke api yang menyala.
Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam.
Beberapa langkah ia maju mendekat. Katanya, “Kenapa kau lebih senang tinggal
disini daripada dipadukuhan ?”
Swasti menjadi semakin
berdebar-debar. Apalagi ketika ia mendengar langkah Daruwerdi yang mendekat.
Tetapi Swastil tidak-berani memalingkan wajahnya.
Sebagai seorang gadis yang jarang
bergaul dengan orang lain, maka sikap Daruwerdi benar-benar membuat jantungnya
bagaikan semakin cepat berdetak didalam dadanya.
“Kenapa he?” Daruwerdi mendesak.
Swasti menjadi semakin bingung. Namun
kemudian ia menjawab, “Semuanya terserah kepada ayah. Ayah memilih tempat ini.
Dan akupun hanya mengikuti saja.”
“Tetapi kau berhak untuk mengajukan
pendapatmu. Katakan kepada ayahmu, bahwa kau takut berada disini seorang diri
meskipun siang hari. Jika harimau itu datang kemari, maka kau akan dapat
diterkamnya.”
“Aku dapat memanjat,“ jawab Swasti
tiba-tiba.
Daruwerdi mengerutkan keningnya.
Katanya, “Menarik sekali. He, cobalah memanjat. Anggaplah aku seekor harimau
yang akan menerkammu.”
Adalah diluar dugaan sama sekali,
bahwa tiba-tiba saja Daruwerdi itupun berjongkok disampingnya.
Swasti adalah seorang gadis yang
memiliki keberanian yang melampaui orang kebanyakan. Ia berani melawan Jlitheng
dan bahkan ia telah mengalahkan dan membunuh dua orang yang mengaku dari
perguruan Pusparuri. Tetapi demikian seorang anak muda berjongkok disampingnya,
maka tubuhnya tiba-tiba saja telah menjadi gemetar.
“Swasti. Namamu Swasti bukan?“
panggil Daruwerdi. Swasti menjadi semakin gelisah. Keringat dingin telah
mengalir diseluruh batang tubuhnya, sehingga rasa-rasanya seluruh badannya
menjadi basah.
“Swasti,“ ulang Daruwerdi, “sebaiknya
kau minta dengan sangat kepada ayahmu. Daripada ia membuat gubug di lereng bukit
ini, aku kira ia lebih baik membuat gubug di padukuhan Lumban. Sementara gubug
itu belum siap, maka kau dan ayahmu dapat tinggal dipondokku.”
Swasti masih gemetar. Sejengkal ia
bergeser. Kemudian katanya, “Semuanya terserah kepada ayah.”
“Ah, tentu tidak. Kau adalah anak
gadisnya. Kau bahkan mungkin satu-satunya anak. Karena itu, permintaanmu tentu
didengarkannya,“ berkata Daruwerdi.
Swasti tidak segera menyahut. Tetapi
kepalanya tertunduk dalam-dalam. Keringatnya masih saja mengalir ditubuhnya.
Sementara Daruwerdi berkata selanjutnya, “Kau tidak boleh menyia-nyiakan umurmu
sekarang ini. Nampaknya kau sudah meningkat dewasa. Dan jika kau sadar, maka kau
berwajah cantik.”
“Ah,“ tubuh Swasti tiba-tiba saja
telah meremang. Ia hampir tidak pernah sempat menilai dirinya. Jika sekali-kali
ia bercermin diwajah air telaga yang bening meskipun kotor, ia tidak berani
menyebut wajahnya sendiri, apakah ia seorang gadis yang cantik.
“Aku tidak berbohong,“ desis
Daruwerdi, “hanya karena kau tidak sempat merias diri,maka kau tidak menyadari
bahwa kau mempunyai bekal yang paling bernilai bagi seorang perempuan.”
“Ah,“ sekali lagi Swasti berdesis,
“aku tidak pernah mempunyai kesempatan untuk menilai diriku sendiri.”
Daruwerdi tertawa pendek. Katanya,
“Mulailah sekarang. Dan mulailah hidup dalam suatu lingkungan masarakat yang
barangkali jauh lebih baik dari pada hidup memencilkan diri. Aku bersedia
menolongmu. Aku mempunyai pengaruh yang khusus di Lumban Wetan dan Lumban Kulon.
Kedua Buyut padukuhan Lumban itu serta anak-anaknya menaruh hormat kepadaku,
sedangkan anak-anak muda di Lumban Wetan dan Lumban Kulon telah memohon agar aku
memberikan tuntunan kanuragan kepada mereka. Karena itu, maka apa yang akan aku
katakan, orang-orang Lumban tentu akan melakukannya. Apalagi orang-orang Lumban
termasuk orang yang baik dan ramah. Mereka tentu dengan senang hati menerimamu.”
Swasti menjadi semakin
berdebar-debar. Ketika Daruwerdi bergeser sejengkal mendekat, maka Swastipun
telah bergeser setapak menjauh.
“Pikirkan,“ tiba-tiba Daruwerdi
berdiri, “sebelum kau dikoyak harimau. Sekarang aku akan menemui ayahmu dan
anak-anak Lumban Wetan yang membantunya. Sebenarnya perbuatan itu adalah
perbuatan yang bodoh sekali. Tetapi juga mencurigakan.”
Wajah Swasti menegang sejenak. Tetapi
ia tidak menjawab. Baru ketika Daruwerdi melangkah meninggalkannya, ia menarik
nafas dalam-dalam. Bahkan, diam-diam ia masih saja memperhatikan.anak muda itu
hilang dibalik gerumbul-gerumbul yang padat.
Ketika Daruwerdi tidak nampak lagi,
maka Swastipun menjadi gelisah. Ia tidak tahu, perasaan apa yang tumbuh
dihatinya. Ia menjadi jengkel atas sikap anak muda itu, sehingga ia menjadi
gemetar. Tetapi ia tidak marah karenanya, meskipun ia tidak begitu senang karena
sikap itu.
“Hanya karena sikapnya ?” pertanyaan
itu tiba-tiba saja telah tumbuh dihati Swasti. Tetapi Swasti tidak berani
memikirkannya lebih jauh. Bahkan ia berusaha untuk membatasi perasaannya yang
menerawang mengikuti anak muda yang bernama Daruwerdi itu.
“Ah, aku harus menyiapkan makanan
ini,” Swasti berdesah. Dicobanya untuk memusatkan perhatiannya kepada kerjanya.
Namun kadang-kadang ia masih saja merenung tanpa ujung dan pangkal.
Bahkan kadang-kadang ia menyesali
sikap ayahnya. Pendapat anak muda yang bernama Daruwerdi itu ada baiknya juga.
Ia dapat tinggal di padukuhan, meskipun mungkin dipaling ujung yang berbatasan
dengan pategalan atau hutan perdu yang tidak tergarap.
“Tetapi ayah lebih senang menunggui
belumbang ini,“ desisnya.
Dalam pada itu, Kiai Kanthi dibantu
oleh Jlitheng dan beberapa orang kawannya, masih saja bekerja keras. Mereka
telah membuka beberapa bagian dari dataran yang sempit dilereng bukit. Sementara
Kiai Kanthi sendiri dan Jlitheng telah selesai menyiapkan saluran yang akan
dilalui air jika air itu sudah diarahkan menuju kelereng yang berhadapan dengan
padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Dibawah bukit itu akan dibuka tanah
persawahan yang akan digarap oleh Kiai Kanthi dengan anak gadisnya.
Namun yang penting bahwa air itu akan
dapat disalurkan kedaerah persawahan milik orang-orang Lumban Wetan dan Lumban
Kulon. Meskipun tidak akan mencukupi untuk seluruh tanah persawahan, tetapi yang
sebagian itu tentu akan memberikan banyak perubahan.
Dengan tekun Jlitheng telah berbuat
sejauh dapat dilakukan. Kiai Kanthi yang memiliki pengalaman lebih banyak,
bahkan agaknya juga berpengalaman menguasai air, telah menanam patok-patok pada
lereng-lereng padas yang akan menjadi saluran induk. Kadang-kadang Jlitheng
harus menimbuni sebuah lekuk yang dalam, agar arus air tidak terlalu deras,
sehingga dapat merusakkan tanggulnya sendiri. Namun kadang-kadang ia harus
memecah padas yang keras untuk menghubungkan saluran-saluran yang akan
dipergunakannya.
Orang-orang yang bekerja dilereng
bukit itu terkejut ketika mereka melihat Daruwerdi muncul dari balik gerumbul
perdu. Dengan tatapan mata yang tajam ia memandangi keadaan sekelilingnya. Dalam
waktu yang tidak terlalu panjang, maka telah terjadi perubahan yang besar
dilereng bukit itu. Bukan hasil pekerjaan yang sudah hampir rampung tetapi
Daruwerdi menjadi berdebar-debar melihat jiwa dari rencana itu. Dengan ketajaman
nalarnya, ia segera dapat mengerti, apa yang akan terjadi.
Karena itu, maka Daruwerdi menjadi
berdebar-debar. sekilas terbayang hasil pekerjaan yang akan merubah tatanan
kehidupan dipadukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.
“Inilah yang telah mengikat orang tua
itu disini,“ berkata Daruwerdi didalam hatinya, “bukan karena ia segan tinggal
dipadukuhan seperti yang pernah dikatakannya, tetapi ternyata dikepala orang tua
itu terbersit rencana yang besar.”
Daruwerdi termangu-mangu sejenak.
Namun ia menjadi semakin kagum akan rencana itu. Meskipun kemudian ia mencoba
memperkecil arti kerja orang tua itu, “Mungkin yang dipikirkannya adalah sekedar
air bagi tanah yang akan dibuka untuk dirinya sendiri, tanpa menyadari
kegunaannya yang besar bagi Lumban.”
Tetapi ia mengerutkan keningnya
ketika ia melihat beberapa orang Lumban yang membantunya. Kebanyakan dari mereka
adalah anak-anak muda dari Lumban Wetan. Namun ia menarik nafas dalam-dalam
ketika ia melihat seorang anak muda dari Lumban Kulon ikut pula diantara mereka.
“Artinya, bahwa kerja ini dilakukan
oleh orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon meskipun dalam perbandingan yang
tidak seimbang,“ berkata Daruwerdi didalam hatinya.
“Marilah ngger,“ Kiai Kanthipun
kemudian mempersilahkannya, “ini adalah sekedar pikiran orang tua dan anak-anak
muda yang sederhana. Mungkin yang kami lakukan mempunyai arti dan bahkan tidak
menghasilkan apa-apa. Tetapi nampaknya sangat menyenangkan hati.”
Daruwerdi melangkah mendekat. Ketika
ia memandang Jlitheng, maka Jlitheng itupun tersenyum sambil berkata, “Sekerdar
mengisi waktu karena tidak ada kerja disawah Daruwerdi.”
Daruwerdi mengangguk-angguk. Kemudian
iapun bertanya, “Apa rencana Kiai sebenarnya ?”
“Ah, sekedar membuat tempat tinggal
dan sebidang tanah untuk mencari makan ngger,“ jawab Kiai Kanthi.
“Untuk itu Kiai telah bekerja begitu
keras ?”
“Tanpa bekerja keras, aku tidak akan
memiliki apa-apa, ngger. Dengan bantuan beberapa anak muda ini, aku akan
mempunyai sebuah pondok kecil dan secabik tanah untuk menyebar benih jagung.”
“Dan apakah yang lakukan dengan
jalur-jalur air hujan itu ?” Daruwerdi mendesak.
“Untuk mengalirkan air kesebidang
tanah itu ngger,“ jawab Kiai Kanthi.
“Jika demikian, aku mempunyai
pikiran,“ berkata Daruwerdi. Namun Jlitheng telah menyahut, “Itulah Daruwerdi.
Tetapi air itu tidak akan kering dikotak-kotak pertama tanah Kiai Kanthi. Jika
air itu tersisa, maka air itu tentu dapat dipergunakan oleh orang-orang Lumban.”
“Itulah yang aku katakan. Hal itulah
yang ada dibenakku. Justru karena aku mengerti kepentingan orang-orang Lumban,“
berkata Daruwerdi.
“Dan kami sudah mengerjakannya,“
sahut Jlitheng, “meskipun sangat lamban.”
Wajah Daruwerdi menegang. Ia merasa
seolah-olah Jlitheng tidak mau mendengar tanggapannya atas air yang melimpah,
atau karena Jlitheng merasa telah memikirkannya terlebih dahulu.
Namun dalam pada itu Jlitheng
berkata, “Tetapi, apa yang kami kerjakan ini bukanlah pikiran kami. Kiai
Kanthilah yang mula-mula menyebutnya. Ia melihat air yang melimpah tanpa
dimanfaatkan oleh orang-orang Lumban. Karena keinginannya untuk membuat sebuah
padepokan, maka kami anak-anak Lumban dapat saling mengambil manfaat. Kami
membantu Kiai Kanthi, tetapi kamipun akan mendapatkan air yang sangat berharga
bagi Lumban.”
Daruwerdi memandang Jlitheng dengan
tajamnya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ditempat itu terdapat beberapa
orang saksi atas pembicaraan mereka, sehingga orang-orang itu tahu benar, bahwa
ia tidak akan dapat mengatakan bahwa pikiran untuk mengalirkan air ke sawah
orang-orang Lumban itu adalah karena pikirannya. Anak-anak muda Lumban itu
memang sudah mengerjakannya bersama Kiai Kanthi. perantau yang aneh itu.
Sejenak Daruwerdi termangu-mangu.
Namun kemudian katanya, “Siapapun yang memikirkannya, tetapi air itu memang
diperlukan oleh orang-orang Lumban. Karena itu, kalian harus berbuat
sebaik-baiknya, sehingga air itu tidak justru menjadi larut kedalam jalur-jalur
air hujan dan hilang kedalam tanah.”
“Demikianlah yang terjadi sekarang,
Daruwerdi,“ jawab Jlitheng, “air belumbang yang melimpah itu mengalir ke
lubang-lubang dan meresap kedalam tanah. Tetapi air itu tidak membuat tanah di
Lumban menjadi basah, karena air itu mengalir dengan derasnya dibawah tanah.”
Daruwerdi mengerutkan keningnya.
Tetapi ia tidak dapat membantah.
“Lakukanlah kerja ini
sebaik-baiknya,“ berkata Daruwerdi kemudian, “aku akan memberikan
petunjuk-petunjuk kelak jika air itu sudah mulai mengalir kedataran.”
Jlitheng menegang sejenak. Tetapi ia
segera berusaha menghapus kesan itu diwajahnya. Bahkan kemudian iapun tersenyum
sambil berkata, “Terima kasih Daruwerdi. Kami tentu akan memerlukan petunjuk
dari banyak pihak. Mungkin kau mempunyai pengetahuan yang cukup banyak tentang
jalur jalur air ditanah persawahan. Dan kamipun tentu akan minta petunjuk Ki
Buyut di Lumban Wetan dan Ki Buyut di Lumban Kulon.”
Daruwerdi termangu-mangu sejenak.
Tetapi ia tidak menjawab lagi. Dengan wajah yang berkerut ia memperhatikan
keadaan disekelilingnya. Meskipun belum ada ujud, tetapi ia sudah dapat
membayangkan, bahwa didataran sempit itu akan dibangun sebuah gubug sesuai
dengan patok kayu yang nampak diempat sudutnya. Tidak terlalu jauh dari gubug
itu, akan mengalir air dari belumbang yang melimpah. Sedikit lebih tinggi, dari
gubug itu, akan terdapat sebuah gerojogan air yang kemudian merambat menuruni
lereng sampai kedataran. Didataran itu kelak akan terdapat kotak-kotak sawah
yang tidak akan pernah kering disegala musim. Lumpur yang basah terbentang
diantara kotak-kotak pematang.
Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam.
Ia menyadari keterlambatannya. Selama ia berada di Lumban, ia tidak pernah
memikirkan perubahan yang dapat dilakukan atas padukuhan itu, sehingga akan
dapat menambah besar pengaruhnya atas orang-orang Lumban.
“Aku lebih banyak berpikir tentang
masalah-masalah yang besar,“ katanya didalam hati. “Namun air itu bagi
orang-orang Lumban akan menjadi masalah yang jauh lebih besar, meskipun bagiku
hanyalah masalah yang kecil.”
Untuk beberapa saat Daruwerdi masih
memperhatikan dataran sempit itu. Beberapa orang, anak muda yang sedang bekerja
di lereng itupun berhenti sejenak memperhatikan, apakah yang akan dilakukan oleh
Daruwerdi.
Tetapi Daruwerdi tidak menemukan
sesuatu yang dapat di lakukan sebagai imbangan kekecewaan hatinya. Ia tidak
dapat menemukan sesuatu yang akan dapat dianggap pikiran baru yang bermanfaat
bagi Lumban.
“Masih banyak waktu,“ katanya
kemudian didalam hati, “aku akan mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagi
padukuhan itu, sehingga mereka akan tetap menganggap aku orang terpenting
dipadukuhan ini.”
Dengan demikian, maka Daruwerdi tidak
berada terlalu lama dilereng bukit itu. Sekali lagi ia masih mencoba untuk
menyarankan agar Kiai Kanthi dan anaknya tinggal dipadukuhan. Tetapi dengan nada
dalam Kiai Kanthi menjawab, “Terima kasih ngger. Aku sudah mulai dengan
pekerjaan ini dibantu oleh anak-anak muda dari Lumban.”
Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Aku pernah mengatakan kepadamu Kiai. Kau adalah orang yang
mementingkan dirimu sendiri. Seharusnya kau memperhatikan anak gadismu yang
malang itu. Mungkin kau ingin mendapat sebutan cikal bakal, atau orang yang
babad-babad sebuah padepokan yang tentu kau harap akan dapat terkenal kelak.
Tetapi ketenaran namamu itu kau tebus dengan mengorbankan anak gadismu. Bukan
saja jasmani, tetapi juga jiwani. Ia akan menjadi gadis yang dungu dan bebal.
Gadis yang tidak akan pernah mendapatkan jodohnya dimasa mendatang, meskipun ia
sudah lama melampaui masa remajanya.”
Kata-kata itu telah menyentuh
perasaan Kiai Kanthi, sehingga terasa dadanya bergetar. Namun kemudian sambil
menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Anakku yang malang. Tetapi apakah memang
nasib telah membawanya ketempat yang sepi dan terasing? Anakmas, meskipun aku
akan membangun sebuah gubug disini, aku akan berusaha untuk memberikan
kesempatan anakku bergaul dengan orang-orang padukuhan. Ia akan ikut serta
bertanam padi bersama gadis-gadis Lumban jika diperkenakan. Ia akan ikut menuai
dan melakukan kerja yang lain. Jika air itu sudah turun ke dalam parit, maka
sawah akan terbentang semakin luas, dan kesempatan ikut menggarap sawah bagi
gadis-gadispun akan bertambah.”
Daruwerdi mengerutkan keningnya.
Dengan nada datar ia berkata. “Agaknya kau memang orang yang keras hati,
meskipun tanpa perhitungan. Itu terserah kepadamu. Anak itu adalah anakmu. Aku
tidak mempunyai sangkut paut dengan kau dan anakmu.”
Daruwerdi tidak menunggu jawaban
lagi. Dengan kesan yang buram ia melangkah meninggalkan Kiai Kanthi dan
anak-anak muda yang sedang bekerja dilereng bukit untuk membuat sebuah gubug
kecil bagi tempat tinggal Kiai Kanthi dan anaknya. Tetapi kerja yang lebih besar
dari itu adalah usaha mereka untuk menguasai arus air dari belumbang yang
melimpah itu.
Di lereng yang menurun Daruwerdi
menghentakkan tangannya dengan geram. Namun iapun kemudian bergumam, “Persetan
dengan orang-orang Lumban. Aku tidak peduli. Biar tanahnya menjadi kering dan
gersang. Atau Jlitheng akan diangkat menjadi pahlawan. Aku bukan orang Lumban,
dan aku tidak akan tinggal di Lumban terlalu lama.”
Dengan wajah yang gelap Daruwerdi
menuruni tebing semakin cepat. Dengan tangkas ia meloncat dari batu kebatu padas
yang lain, tanpa berpaling lagi.
Sementara itu, Kiai Kanthi dan
beberapa anak muda dari Lumban itupun telah melanjutkan kerja mereka. Dua orang
diantara mereka telah memotong beberapa batang kayu yang akan dipergunakan
sebagai tiang gubug kecil yang akan dibangun, sementara yang lain masih
menebangi pohon-pohon yang tidak diperlukan didataran sempit itu. Sedangkan Kiai
Kanthi, Jlitheng dengan satu dua orang lainnya, masih saja sibuk membenahi
saluran air yang juga ingin segera diselesaikan.
Dalam pada itu, jauh dari daerah
Lumban, disebuah padepokan yang besar, tidak jauh dari pusat Kota Demak,
seseorang sedang duduk dihadap oleh dua orang lainnya. Seorang yang berwajah
bulat, bermata terang dan tajam. Meskipun beberapa helai rambutnya telah putih,
tetapi nampak betapa tubuhnya yang kekar itu menyimpan kemampuan tiada taranya.
Sedangkan kedua orang lainnya, masih
nampak lebih muda. Wajah mereka nampak keras dan bersungguh-sungguh. Seorang
dari mereka berkumis lebat, sedangkan yang lain berwajah halus dan tampan.
Dengan sungguh-sungguh ketiganya
sedang membicarakan teka-teki yang sedang mereka hadapi. Seolah-olah teka-teki
yang tidak terpecahkan.
“Mereka tidak pernah kembali,“ desis
yang berkumis lebat.
“Dua orang yang menyusul itupum tidak
kembali,“ sahut yang lain.
Orang yang berwajah bulat itupun
mengerutkan keningnya. Katanya, “Kedua orang itu tidak tahu, apakah yang telah
dilakukan oleh Ular Sanca itu.”
“Tidak Kiai,“ jawab orang berkumis
lebat, “kami hanya memerintahkannya untuk menyusul kedaerah Lumban. Mereka harus
mencari keterangan, dimanakah Ular Sanca itu, atau mendengarkan kabar, apakah
sebenarnya yang telah terjadi di daerah Lumban. Tetapi mereka tidak pernah
kembali.”
“Apakah menurut dugaanmu, Daruwerdi
yang bergelar Padmasana itu berbuat curang ? Ia telah melepaskan perjanjian
diantara kita dan mencari keuntungan bagi dirinya sendiri atau bahkan ingin
memilikinya sendiri, karena pusaka itu akan dapat membuatnya menjadi seorang
prajurit pinunjul ?”
“Kiai Pusparuri,“ berkata orang
berkumis lebat itu, “aku tidak dapat mengatakannya demikian. Menurut
pengamatanku, ia adalah seorang anak muda yang keras hati, tetapi juga memegang
teguh janji yang telah disepakati.”
“Siapa tahu, bahwa ketamakan yang
tumbuh dihatinya karena keinginannya untuk menanjak jauh lebih cepat, telah
merubah sifat-sifat yang kau kenal itu,“ sahut kawannya yang berwajah bersih.
“Aku yakin,“ bantah orang berkumis.
Namun kemudian suaranya menurun, “tetapi banyak kemungkinan yang dapat terjadi.”
“Jadi apakah yang baik menurut
pertimbanganmu Sentika?“ bertanya orang berwajah bulat itu.
Orang berkumis lebat itu
termangu-mangu. Dipandanginya orang berwajah bersih itu sejenak. Namun karena
orang itu menunduk, maka ia tidak mendapatkan kesan apapun.
“Kiai,“ berkata orang berkumis itu,
“sulit untuk mengatakannya sekarang. Agaknya daerah Lumban merupakan rahasia
yang harus dijajagi sendiri. Aku akan menemui Daruwerdi untuk menuntut
pertanggungan jawab atas persetujuan yang sudah kita buat.”
“Apa pendapatmu Laksita?“ bertanya
orang berwajahl bulat itu kepada yang berwajah bersih.
“Kita kurang terbuka Kiai. Kita tidak
mengatakan yang sesungguhnya kepada kedua orang yang kita perintahkan untuk
menyusul Ular Sanca. Dengan demikian, mereka tidak mudah untuk mendapatkan
keterangan tentang Daruwerdi dan Ular Sanca itu. Mereka hanya tahu, bahwa salah
seorang dari kita telah pergi ke Lumban dan tidak pernah kembali.”
“Jadi, apakah sebaiknya yang kita
lakukan menurut pendapatmu ?”
“Aku kira, masih belum perlu kita
atau salah seorang dari kita untuk pergi ke Lumban. Kita akan dapat
memerintahkan satu dua orang yang dapat kita percaya, tetapi dengan keterangan
yang jelas. Mereka harus mengetahui dengan pasti, apakah yang seharusnya mereka
lakukan.”
“Bagaimana jika orang-orang itu
bertemu dengan orang-orang Gunung Kunir atau orang-orang Kendali Putih atau
perguruan-perguruan yang lain ? Jika nasib mereka buruk, maka meteka akan dapat
diperas dan dipaksa untuk mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak mereka
mengerti,“ sahut orang berkumis lebat itu.
“Jadi menurut kakang Sentika,
orang-orang Gunung Kunir dan Kendali Putih masih belum mengetahui sama sekali
tentang pusaka-pusaka itu ?“ bertanya Laksita.
Orang berkumis itu termangu-mangu.
“Kita mendengar hal itu dari seorang
perwira yang bertugas di Gedung perbendaharaan pusaka. Kemudian kita mendengar
jalur perjalanan Pangeran Pracimasanti. Pengawalnya masih melihat pusaka itu
sebelum Pangeran Pracimasanti dalam perjalanan jauhnya melewati daerah yang
disebut Sepasang Bukit Mati. Yang satu bukit gundul dan yang lain berhutan lebat
dan dihuni oleh binatang-biniatang buas. Sehingga hutan itu disebut hutan yang
paling wingit, karena setiap orang yang menyentuhkan kakinya, akan mati ditelan
binatang buas.”
Kiai Pusparuri mengerutkan keningnya.
Kemudian iapun memotong, “Kita sudah mendengar semuanya tentang hal itu. Tetapi
bagaimana dengan orang-orang Kendali Putih, orang-orang Gunung Kunir,
orang-orang yang menyebut dirinya perguruan Putih dari aliran Gatra Bantala yang
mempunyai ciri-ciri yang gila itu ?”
Laksita termangu-mangu sejenak. Namun
iapun menjawab, “Dugaanku justru yang menggelisahkan kita semuanya disini.
Merekapun tentu sudah mendengar seperti yang kita dengar. Orang-orang dari
Gedung Perbendaharaan Pusaka itu bukan orang-orang yang pandai menyimpan
rahasia. Tetapi mungkin mereka belum mendengar jalur perjalanan Pangeran
Pracimasanti yang melalui Sepasang Bukit Mati itu.”
Kiai Pusparuri mengangguk-angguk.
Lalu katanya, “Kita akan segera mengambil sikap. Kita harus mempersiapkan diri
menghadapi setiap kemungkinan. Pusaka itu akan memberikan pengaruh yang besar
pada siapapun yang memilikinya. Orang itu akan mempunyai kewibawaan tinggi,
kemampuan yang tidak ada duanya dalam olah kanuragan, dan pada pusaka itu
sendiri tersimpan kekuatan gaib yang tidak ada duanya.”
Sentika dan Laksita hanya
mengangguk-angguk saja. Mereka tahu, bahwa yang akan mereka hadapi adalah
tugas-tugas yang berat untuk memperebutkan sebuah pusaka seperti dongeng-dongeng
yang sudah banyak mereka dengar. Pusaka ditangan seseorang pada umumnya justru
tidak memberikan drajat, pangkat atau semat, tetapi malahan telah merampas nyawa
mereka, karena diantara para sakti telah terjadi saling berebutan dengan taruhan
yang paling mahal, ialah nyawanya.
“Mustahil bahwa Kiai Pusparuri tidak
memperhitungkan hal itu,“ berkata Sentika didalam hatinya.
Tetapi Laksita berkata lain didalam
dirinya, “Tentu bukan kewibawaan tinggi, kemampuan yang tidak ada duanya atau
kekuatan gaib yang tersimpan didalam pusaka itu. Tentu karena Kiai Pusparuri
mengetahui bahwa pada wrangka atau ukiran pusaka yang sedang dicari itu atau
pada peti atau kain pembungkusnya, terdapat keterangan tentang harta yang tidak
ternilai harganya, yang disimpan oleh Pangeran Pracimasanti sebagai bekal untuk
membangun kembali kekuasaan Keturunan Raden Wijaya. Tetapi sebelum hal itu
sempat dilakukan. Pangeran Pracimasanti telah dipanggil kembali menghadap
penciptanya tanpa diketahui oleh siapapun kecuali oleh seorang hambanya yang
paling setia, tetapi buta dan tuli.”
Namun Laksita tidak mengatakannya
kepada siapapun juga. Tidak pula kepada Sentika. ia menyimpan hal itu didalam
dirinya. Tetapi seperti bara didalam sekam, pengertian itu telah membakar
jantungnya perlahan-lahan. Keinginan yang serupa untuk memiliki pusaka itu telah
menghanguskan nalarnya, sehingga akhirnya ia tidak mempunyai pilihan lain,
kecuali menemukan pusaka itu. Mengambil keterangan yang diperlukan, kemudian
membiarkan pusaka itu diketemukan oleh orang lain.
Tetapi seperti yang dikatakan,
Laksita memang mencemaskan orang-orang dari perguruan lain. Jika ia
berkesempatan mendengar hal itu, maka adalah tidak mustahil bahwa orang lainpun
kesempatan yang sama. Bahkan mungkin merekapun dapat mendengarnya lebih banyak
lagi tentang Pangeran Pracimasanti atau tentang pusaka itu sendiri.
Dalam pada itu. Kiai Pusparuripun
berkata, “Santika dan Laksita. Cobalah kau jajagi sampai dimana pendengaran
orang-orang kita sendiri. Pelajari, apakah untung dan ruginya jika kita
memberikan perintah terbuka untuk mencari orang-orang kita yang telah pergi
kedaerah Sepasang Gunung Mati itu.”
Sentika dan Laksita mengangguk
dalam-dalam.
“Baiklah Kiai,“ berkata Santika yang
berkumis lebat itu, “kami akan melakukannya.”
“Waktu kalian tidak panjang. Aku akan
segera mengambil keputusan yang menentukan.”
“Baiklah Kiai,“ Laksitalah yang
kemudian menjawab, “aku memang menganggap bahwa kami berdua belum perlu turun ke
medan perburuan pusaka itu. Tetapi jika perlu dan keadaan memaksa, maka sudah
barang tentu, kami berdua tidak akan berpangku tangan. Apalagi kami mengetahui,
bahwa pusaka itu mempunyai arti yang sangat besar bagi seseorang yang
memilikinya.”
“Terima kasih. Tetapi lakukanlah
perintahku yang pertama,“ sahut Kiai Pusparuri.
“Ya Kiai,“ hampir berbareng keduanya
menjawab.
Kemudian Sentika dan Laksitapun minta
diri dari hadapan Kiai Pusparuri. Mereka ingin segera mengetahui, apakah medan
yang mereka hadapi merupakan medan yang sulit dan berat, bahkan tidak akan
terseberangi.
Di halaman padepokan, dibawah
sebatang pohon yang rimbun, mereka sempat berbincang sejenak, apakah yang
sebaiknya akan mereka lakukan.
“Kita masuki barak anak-anak itu.
Kita bertanya, apakah yang mereka ketahui tentang Pangeran Pracimasanti,“ desis
Sentika.
“Terlalu langsung,“ sahut Laksita,
“kita mencoba berbelit-belit sejenak. Mengucapkan kata-kata yang sulit mereka
mengerti. Kemudian baru kita akan sampai pada pokok masalahnya, sehingga
seolah-olah yang kita tanyakan itu bukannya pokok persoalan yang sebenarnya.
Dengan demikian mereka tidak akan terpancang pada persoalan itu saja. Kepada
orang lainpun mereka tidak akan memperbincangkannya lagi.”
“Kau selalu cerdik. Aku setuju.
Karena itu, kau sajalah yang mula-mula berbicara. Sedikit berbelit-belit dan
tidak mereka ketahui. Kemudian baru kau bertanya sambil lalu. Dan dengan acuh
tidak acuh, apakah diantara mereka mengetahui serba sedikit tentang Pangeran
Pracimasanti.”
“Jika tidak seorangpun yang tahu,
kita mundur sedikit. Kita bertanya tentang Sepasang Bukit Mati. Jika mereka
tidak mengerti, kita bertanya tentang yang lain lagi. Tentang Lumban dan
sekitarnya dan tentang Ular Sanca dan kedua orang kita yang tidak kembali itu.”
Sentika mengangguk-angguk, ia memang
menganggap laksita cerdik dan pandai berbicara. Karena itu, maka diserahkannya
soal itu kepada Laksita untuk menyampaikannya kepada orang-orangnya. Orang-orang
padepokan Pusparuri yang terikat kepada suatu anggapan, bahwa Kiai Pusparuri,
guru mereka adalah orang yang paling mumpuni diseluruh muka bumi. Dengan
demikian, maka apa yang dikatakan, apa yang diperintahkan dan apa yang
diputuskan, adalah ketentuan yang tidak dapat diganggu gugat lagi.
Ketika kemudian Sentika dan Laksita
berdiri diantara orang-orang perguruan Pusparuri. seperti biasanya keduanya
disambut dengan hati yang berdebar-debar dari orang-orang yang selalu siap
menunggu perintah.
Dengan caranya Laksita memberikan
sesorah singkat, ia mengucapkan kata-kata yang muluk dan sulit dimengerti.
Menyinggung mengenai masa depan dan harapan-harapan bagi setiap orang yang
patuh. Namun akhirnya ia sampai juga pada maksudnya. Sambil lalu ia bertanya,
“apakah ada diantara mereka yang pernah mendengar nama Pangeran Pracimasanti.”
Ternyata tidak seorangpun yang pernah
mendengarnya. Ketika kemudian Laksita bertanya tentang Sepasang Bukit Matipun
tidak ada yang pernah mengetahuinya pula. Sedangkan ketika Laksita terpaksa
menyebut padukuhan Lumban. maka beberapa orang diantara mereka menyatakan bahwa
mereka memang pernah mendengarnya.
“Tidak ada gunanya kita berbicara
dengan mereka,“ berkata Laksita ditelinga Sentika, “mereka adalah kerbau-kerbau
dungu yang hanya dapat diperintah dan dibentak.”
“Jadi?”
Laksita mengangkat pundaknya,
Katanya, “Aku tidak melihat jalan lain. Akhirnya kita juga yang harus berbuat
sesuatu untuk menemukannya.”
“Kau tadi yang mengatakan bahwa kita
belum perlu untuk pergi ke Lumban mencari keterangan tentang pusaka itu. Apakah
kau mempunyai pertimbangan lain sekarang ?”
“Aku mempunyai pertimbangan lain
setelah aku melihat kenyataan ini.”
“Apa?”
Laksita tidak menjawab. Dipandanginya
beberapa orang yang termangu-mangu memperhatikannya dengan saksama.
“Nanti sajalah,“ desis Laksita.
Seperti biasa Sentika tidak
membantah. Ia terlalu percaya kepada kecerdikan Laksita, sehingga karena itu,
maka iapun mengangguk-angguk diam.
Sementara ku, maka Laksitapun segera
menutup pertemuan itu. Dengan lantang ia berkata, “Bersiaplah. Mungkin dalam
waktu dekat kalian akan mendapat tugas khusus. Mungkin dua atau tiga orang.
Tetapi mungkin delapan atau sepuluh.”
Wajah-wajah yang mendengar perintah
itu menegang sejenak. Namun merekapun segera mengangguk-angguk. Ada diantara
mereka yang merasa lebih senang berada di arena tugas betapapun beratnya.
Kadang-kadang didalam tugas mereka mendapatkan sesuatu yang berharga, yang tidak
diketahui oleh orang lain, sehingga dapat dimilikinya sendiri. Satu dua orang
diantara mereka telah pernah mendapatkan keris atau timang dari emas.
Kadang-kadang sebentuk cincin atau kadang-kadang mereka sempat merampas
perhiasan yang sedang dipakai oleh seseorang. Atau dengan berdebar-debar
menyempatkan diri berbuat kasar terhadap perempuan dan gadis-gadis.
Ketika orang-orang itu telah
meninggalkan Sentika dan Laksita, maka mulailah Laksita menjelaskan, “Tidak ada
harapan. Aku masih berharap bahwa mereka dapat mengerti serba sedikit. Tetapi
ternyata mereka memang terlalu bodoh dan dungu. Untuk melakukan kekerasan,
mereka adalah orang-orang yang memang pilihan. Tetapi untuk menentukan sikap,
memang seharusnya bukan mereka. Aku tadi keliru menilai.”
“Jadi menurut pendapatmu, kita berdua
lebih baik pergi ke Lumban untuk menangani masalah ini secara langsung ?”
Laksita menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian katanya, “Kita berdua, atau salah seorang dari kita. Atau kita
bersama-sama mencari keterangan dengan sasaran yang berbeda agar kita dapat
membagi tenaga dan kesempatan, tidak harus langsung ke Lumban.”
“Jika demikian, kita akan
menyampaikan kepada Kiai Pusparuri. Aku memang condong berbuat demikian sejak
semula untuk mempercepat penyelesaian. Bagiku lebih cepat lebih baik. Korban
akan dapat dikurangi.”
“Kita mendapat waktu satu hari satu
malam untuk menyampaikan gagasan kita,“ desis Laksita.
“Aku condong untuk segera
menyampaikannya, agar kita segera dapat berbuat sesuatu.”
“Jangan tergesa-gesa. Kita menunggu
semalam. Mungkin kita masing-masing menemukan sesuatu yang lebih baik dari yang
kita pikirkan sekarang ini.”
Sentika mengangguk-angguk. “ Baiklah.
Aku akan menyabarkan diri semalam ini. Aku akan tidur dirumah isteriku yang ke
tiga. Ia memerlukan aku malam ini, karena sudah dua hari ia sakit panas.”
“Persetan dengan isterimu yang
ketiga, keempat atau ketigapuluh sembilan. Masalah yang kita hadapi adalah
masalah yang gawat. Dengan pusaka itu ditangan, Kiai Pusparuri akan
mempergunakan segala pengaruh dan wibawa yang ada untuk mempengaruhi pimpinan
pemerintahan. Sementara Kiai Pusparuri sedang memperhitungkan setiap langkah,
bagaimana ia dapat menyelusuri jalan yang licin disela-sela kuasa para Adipati
dan pimpinan tanah Perdikan diluar istana, dan para Bupati dan Nayaka serta para
Panglima didalam istana, kau ribut dengan isterimu yang tidak terhitung
jumlahnya itu.”
“Bukan maksudku. Memang mereka tidak
penting. Tetapi bagaimanapun juga merupakan sebagian dari hidupku.”
“Besok pagi-pagi kita bertemu. Kita
akan menentukan langkah yang paling baik menghadapi masalah yang gawat ini. Kita
masih harus memikirkan orang-orang Kendali Putih, orang-orang Gunung Kunir dan
ibhs-iblis dari Sanggar Gading,“ berkata Laksita sambil menghentakkan tangannya.
Dalam pada itu, di daerah Lumban,
anak-anak muda masih saja bernafsu untuk mendapatkan pengetahuan olah kanuragan
dari Daruwerdi. Ketika senja mulai turun, maka, latihan yang diadakan didekat
bukit gundul itu berakhir. Sakelompok-sekelompok anak-anak muda dari Lumban
Wetan dan Lumban Kulon meninggalkan bukit gundul itu kembali kepadukuhan. Tidak
ada diantara mereka yang berani seorang diri singgah disungai. Karena itulah,
maka sebagian anak-anak muda itu bersama-sama dalam kelompok yang besar turun
dan mandi bersama-sama. Meskipun demikian, ketika warna merah dilangit menjadi
buram kehitam-hitaman maka dengan tergesa-gesa mereka berpakaian dan
berlari-lari naik keatas tanggul.
“Tunggu, he tunggu,“ teriak seorang
anak muda yang gemuk.
“Cepat,“ sahut kakaknya, “jika kau
ketinggalan, maka kau akan disergap hantu.”
“Jangan sebut,“ anak gemuk itu
semakin ketakutan, “tunggu aku.”
Tetapi justru karena ia menjadi
semakin ketakutan, maka kakinya menjadi gemetar. Beberapa kali ia tergelincir
ketika ia memanjat tebing.
“Tunggu, hei tunggu,“ kakaknyapun
berteriak.
Beberapa orang anak muda berhenti.
Ketika mereka berpaling, mereka melihat seorang kawannya sedang menolong adiknya
yang gemuk naik keatas tanggul.
“Cepat,“ teriak salah seorang dari
anak-anak muda itu.
“Tunggulah sebentar.”
Jlitheng yang ada diantara mereka
kemudian berkata, “Kita menunggu mereka sebentar.”
“Sebentar lagi gelapnya menjadi
semakin pekat,“ desis seorang kawannya.
“Tetapi kita tidak sendiri. Kita akan
dapat saling menolong. Hantu itu tidak akan berani mengganggu kita berenam.”
Kawan-kawannya berhenti juga meskipun
gelisah. Yang lain telah menjadi semakin jauh dan hilang dibalik gerumbul perdu.
Sejenak kemudian kedua kakak beradik
itu telah menyusul. Merekapun semuanya bergegas menyusul kawan-kawannya yang
telah menjadi semakin jauh.
Namun dalam pada itu, yang menjadi
perhatian Jlitheng sama sekali bukan gelapnya malam dan hantu-hantu yang mulai
berkeliaran. Tetapi ia menjadi curiga, bahwa Daruwerdi masih berada dibukit
gundul ketika anak-anak muda dari Lumban sudah meninggalkannya.
“Apakah ia mempunyai rencana
tersendiri?“ berkata Jlitheng didalam hatinya.
Tetapi bersama-sama dengan beberapa
kawannya Jlitheng kembali kepadukuhan Lumban Wetan agar tidak menarik perhatian
mereka. Apalagi kawan-kawannya yang disiang hari ikut serta membantunya membuat
gubug dilereng bukit berhutan, sebelum mereka pergi kebukit gundul mengikuti
latihan yang diselenggarakan oleh Daruwerdi.
“Pikiran orang tua itu ternyata akan
sangat bermanfaat,“ desis seorang kawannya yang bersama Jlitheng kembali
kepadukuhan.
“Kita akan segera menyelesaikannya,“
sahut Jlitheng, “jika air itu sudah mengalir, maka akan terbukalah hati setiap
orang dipadukuhan ini,“ ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi jangan memberikan
harapan yang berlebih-lebihan kepada sanak kadang. Jika kerja ini meleset,
mereka akan menjadi sangat kecewa.”
“Ah, tentu tidak,“ jawab kawan
Jlitheng, “aku belum mengatakan kepada siapapun.”
“Kemarin aku dengar kau berceritera
tentang air kepada pamanmu,“ tiba-tiba kawannya menyahut.
“O, ya. Baru kepada paman,“ jawab
anak muda itu.
“Kepada Ki Lengit disudut padukuhan,
kau juga mengatakannya.”
“O ya. Hanya kepada paman dan Ki
Lengit.”
“Aku mendengar kau berceritera
tentang kerja dilereng bukit itu kepada Jinten, gadis berambut jagung itu.”
“Ah. Ya, ya. Baru kepadanya.”
“Baru kepada satu, dua, tiga,
sepuluh, duapuluh orang.“ Kawan-kawannya tertawa. Sementara Jlitheng sambil
tersenyum menengahi, “sudahlah. Tetapi untuk seterusnya, jangan kau ceriterakan
lagi.”
Anak muda itu mengangguk-angguk.
Namun dalam pada itu. ketika
anak-anak muda dari Lumban Wetan yang pulang bersama Jlitheng itu satu-satu
sudah masuk kedalam rumahnya, maka Jlithengpun dengan tergesa-gesa pulang pula
kerumahnya. Tetapi ia hanya sekedar minta ijin kepada ibunya. Kepada perempuan
tua itu ia berkata, bahwa ia akan berada digardu. karena ada masalah yang akan
dibicarakan dengan kawan-kawannya.
Tetapi kemudian dengan tergesa-gesa.
Jlitheng telah pergi kebukit gundul. Seperti yang pernah dilakukannya, maka
dengan sangat berhati-hati ia mencoba untuk mengintai, apa yang terjadi diatas
bukit padas itu.
Beberapa saat lamanya, Jlitheng
bersembunyi dibalik gerumbul dibawah bukit. Jika ia mulai memanjat, maka ia
tidak akan dapat mencari perlindungan dedaunan lagi. Ia hanya dapat berlindung
diantara batu-batu padas yang mencuat dan lekuk-lekuk yang digoreskan oleh air
hujan.
Jlitheng menjadi berdebar-debar
ketika ia melihat bayangan dalam kegelapan. Tidak jauh dari tempatnya
bersembunyi. Bayangan itu melintas kekaki bukit. Namun kemudian nampak ia duduk
diatas batu padas.
“Bukan Daruwerdi,“ desis Jlitheng
didalam hatinya.
Namun Jlitheng menjadi semakin
berdebar-debar. Menurut perhitungannya, tentu Daruwerdi akan segera datang.
Padahal, ketika anak-anak muda Lumban meninggalkan tempat itu, ia masih tetap
duduk diatas batu padas beberapa langkah dari orang asing itu duduk.
Karena itu, maka Jlitheng harus
berhati-hati. Jika ia bernasib baik, maka ia akan mendengar beberapa masalah
yang selama ini masih tetap gelap baginya meskipun pokok-pokok persoalannya
telah pernah di dengarnya.
Jlitheng menjadi gelisah, karena
nampaknya orang itu masih tetap duduk dengan tenang. Sama sekali tidak
menunjukkan kegelisahan seseorang yang sedang menunggu.
Jlithenglah yang kemudian menjadi
berdebar-debar. Ia hampir tidak sabar lagi melihat sikap orang itu, yang sama
sekali tidak terpengaruh oleh keadaan disekelilingnya.
“Mungkin waktunya memang belum
sampai,“ desis Jlitheng.
Tetapi ia harus menahan nafas ketika
ia kemudian melihat bayangan yang lain. Bayangan seseorang yang mendekati orang
yang telah duduk menunggunya.
“Akhirnya kau datang juga Cempaka,“
desis orang yang baru datang.
Jlitheng menjadi semakin
berdebar-debar. Orang itu adalah Cempaka, yang namanya pernah didengarnya
beberapa saat yang lampau.
“ Aku sudah mengirimkan pesan itu
Daruwerdi,“ jawab Cempaka, “apakah kau tidak menerima?”
“Ya. Tetapi aku terlambat menerima
pesanmu. Karena itu, aku menunggumu ditempat ini untuk waktu yang sangat lama.
Bersamaan dengan peristiwa yang sebenarnya sangat menarik, yang telah terjadi
dipadukuhan Lumban.”
“Apa yang telah terjadi ?“ bertanya
Cempaka.
“Seorang anak muda yang dibawa oleh
hantu,“ jawab Daruwerdi.
“Wewe?”
“Mungkin.”
Orang disebut Cempaka itu tertawa.
Katanya, “Memang sangat menarik. Sayang, aku tidak dapat datang pada waktu itu.
Apakah kau tidak berusaha mencari keterangan yang lebih mendalam ?”
“Aku terikat disini. Sebenarnya aku
juga ingin mencari anak itu,“ jawab Daruwerdi yang kemudian menceriterakan serba
sedikit tentang hilangnya Kuncung untuk hampir semalam suntuk.
Cempaka tertawa semakin keras.
Katanya, “Daerah ini memang penuh dengan rahasia. Aku sudah mendengar,
orang-orang Kendali Putih itu hilang di daerah ini. Kemudian orang-orang
Pusparuri juga tidak pernah kembali ke padepokannya. Aku memang mencurigaimu.”
Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ia bertanya, “Berapa orang menurut pendengaranmu yang telah hilang
didaerah ini?”
“Tiga orang Pusparuri dan empat orang
Kendali Putih,“ jawab Cempaka.
Daruwerdi tertawa. Katanya, “Ceritera
yang sangat menarik.”
“Kau yang membunuhnya ?“ bertanya
Cempaka.
Daruwerdi memandang wajah Cempaka
yang bersungguh-sungguh. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Kau
bersungguh-sungguh dengan kecurigaanmu itu ?”
“Tentu. Apakah kau dapat menyebut
orang lain kecuali kau?”
“Aku tidak ingkar. Tetapi jumlahnya
agak berbeda. Ketika aku berjanji untuk menerima Ular Sanca, maka dua orang
Kendali Putih telah ikut campur dengan membunuhnya. Karena keduanya memaksa aku
untuk berbicara tentang pusaka itu, maka aku tidak dapat menahan kesabaranku
lagi sehingga keduanya telah aku bunuh. Tetapi hanya itu.”
Cempaka menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Ceritera itu sudah berkembang, atau kau sudah ingkar.”
“Kau kenal aku Cempaka. Buat apa aku
ingkar ? Kau kira aku takut terhadap orang-orang Kendali Putih dan orang-orang
Pusparuri seandainya mereka mengetahui bahwa aku yang melakukannya ?”
Cempaka mengangguk-angguk. Jawabnya,
“Aku mengerti. Kau tidak pernah takut terhadap siapapun juga. Tetapi ceritera
itu memang aneh.”
“Ceritera itu agaknya memang sudah
berkembang. Tetapi bahwa ada dua orang Kendali Putih yang pernah datang, memang
mungkin sekali. Seorang anak muda dari Lumban Wetan mengaku pernah diseret oleh
dua orang yang tidak dikenal. Tetapi ia tetap hidup.”
Cempaka mengerutkan keningnya.
Katanya, “Daerah yang disebut Bukit Mati ini memang daerah yang aneh. Mungkin
memang benar bahwa Sepasang bukit ini adalah bukit yang tidak dapat dijamah oleh
manusia. Siapa yang bermain-main dengan Sepasang Bukit ini akan mati karenanya.”
“Kau mulai mempercayainya ?“ bertanya
Daruwerdi.
Cempaka tertawa. Katanya, “Dan kau
masih juga belum mati sampai hari ini. Tetapi memang mungkin akan terjadi besok
atau lusa.”
“Dan kaupun mulai bermain dengan
Sepasang Bukit Mati itu pula,” jawab Daruwerdi
Keduanya tertawa. Sementara Jlitheng
menahan nafasnya. Ia sadar bahwa kedua orang dibukit gundul itu adalah
orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga jika ia tidak
berhati-hati, maka ia akan terjebak dalam kesulitan.
Sementara itu, Cempaka berkata,
“Sudahlah Daruwerdi. Biarlah aku mencari keterangan yang lebih banyak tentang
orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri yang hilang itu. Meskipun
aku sudah berpesan kepada murid-murid Sanggar Gading, bahwa jika aku juga tidak
kembali, maka aku telah ditelan oleh Sepasang Bukit Mati.”
Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Kau bergurau. Tetapi mungkin itu mempunyai kepentingan dengan kau.”
“Butalah,“ jawab Cempaka “ .tetapi
bagaimana dengan persoalan kita ? Aku tahu. bahwa kau sudah mempunyai sikap yang
pernah kau tawarkan kepada orang-orang Pusparuri. Tetapi mungkin kau mempunyai
pertimbangan lain tentang pusaka itu ?”
“Sudah pernah aku katakan. Aku sudah
berjanji dengan orang-orang Pusparuri. Kecuali jika pihak lain dapat menunjukkan
bukti bahwa mereka lebih berkepentingan dengan pusaka itu daripada Kiai
Pusparuri sendiri.”
“Bukti itu pernah aku tawarkan. Bukan
aku sendiri. Tetapi seseorang yang mempunyai derajat yang sesuai dengan pusaka
itu. Jika ia memiliki pusaka itu, maka ia akan menjadi seorang yang berderajat
sesuai dengan derajatnya yang sebenarnya. Ia sama sekali tidak ingin merampas
kemukten dengan memiliki tahta. Tetapi ia ingin menggenggam hakekat dari
kekuasaan yang sebenarnya, yaitu pada inti kekuatan. Dengan kekuatan itu ia akan
dapat berbuat apa saja bagi kebahagiaan hidup umat manusia.”
Daruwerdi tidak segera menjawab.
Agaknya ia sedang merenungi kata-kata Cempaka. Namun kemudian ia bertanya,
“Apakah maksudnya ? Apakah ia ingin menjadi Senapati Agung yang pengaruhnya akan
melampaui pengaruh Raja justru karena ia menguasai prajurit ?”
Cempaka memandang Daruwerdi dengan
tajam. Kemudian ia mengangguk sambil menjawab, “Ya. Begitulah. Dengan kekuasaan
yang benar-benar berlandaskan kekuatan ia akan dapat berbuat banyak. Ia dapat
memperbaiki segala kesalahan dan kekurangan yang ada, yang nampaknya tidak
terjadi secara kebetulan.”
Daruwerdi terdiam sejenak. Namun
tiba-tiba saja ia tertawa. Semakin lama semakin keras, sehingga tubuhnya
terguncang-guncang.
“Kenapa kau tertawa ?” bertanya
Cempaka.
Daruwerdi berusaha untuk menahan
tertawanya. Disela-sela suara tertawanya yang tertahan-tahan ia berkata, “Aneh
sekali. Tetapi memang mungkin sekali hal itu dapat dilakukan. Setelah mempunyai
pengaruh yang sangat besar maka ia akan mengusir raja yang sedang berkuasa.”
Cempaka termangu-mangu. Namun
kemudian jawabnya, “Jangan terlalu bodoh. Orang yang aku katakan itu, bukan
orang yang berpikiran kerdil. Ia sadar tentang apa yang dilakukan.”
Tetapi suara tertawa Daruwerdi justru
meledak.
“Daruwerdi, apakah kau sudah menjadi
gila ?”
“Cempaka,“ berkata Daruwerdi diantara
gelak tertawanya yang semakin menurun, “kau jangan mengira akulah yang terlalu
bodoh atau yang berpikiran kerdil. He, kau kira orang yang kau katakan itu
benar-benar ingin mendapatkan pusaka itu karena pengaruh gaibnya ? Karena dengan
memiliki pusaka itu ia akan mendapatkan kekuasaan dan derajat?”
“Daruwerdi,“ Cempaka memotong, “kau
mulai mengigau. Coba katakan, jika kau mengerti, apakah yang sebenarnya ?”
“Tidak. Aku tidak mengerti.
Bertanyalah kepada orang yang kau sebut itu. Apakah benar seperti yang aku duga
? Atau benar-benar pengertiannya memang sangat kerdil ?”
Cempaka menjadi semakin tegang.
Dengan nada dalam ia bertanya, “Kau membuat aku semakin bingung. Daruwerdi. coba
katakan, apakah yang kau maksud sebenarnya.”
“Aku tidak tahu Cempaka. Tetapi
baiklah kau sampaikan kepada orang yang kau maksud. Selebihnya, aku akan
berusaha untuk menemukan pusaka itu secepatnya berdasarkan keterangan yang
kuterima. Setiap orang tentu mengira bahwa akulah orang yang memiliki keterangan
terbanyak tentang pusaka itu, karena akulah orang yang dapat bertemu dan
berhubungan dengan pengiring Pangeran yang terusir dan telah meninggal itu.
Meskipun pengiring itu tua dan cacat.”
Cempaka menggeram. Katanya, “Kau
memang iblis Daruwerdi. Tetapi berhati-hatilah sedikit dengan sikapmu itu.
Mungkin kau memang seorang yang pilih tanding. Tetapi tentu ada orang yang
melampaui kemampuanmu dan dapat mencekikmu sampai mati jika kau tidak mau
menyebut rahasia itu.”
“Siapapun dapat memaksa aku membuka
rahasia. Tidak usah dengan mencekikku. Tetapi aku minta seperti yang pernah aku
katakan,“ jawab Daruwerdi.
“Kau memang orang gila. Kau minta
yang sulit dilakukan. He, apakah kau kira permintaanmu itu wajar ?“ bertanya
Cempaka.
Daruwerdi tertawa kecil. Katanya,
“Orang-orang Pusparuri telah menyanggupinya. Tetapi itu tidak terlalu mengikat
bagiku. Jika pihak lain dapat menemukan orang itu lebih dahulu, maka aku akan
mengatakan kepadanya, sejauh yang aku ketahui tentang pusaka itu.”
“Kenapa kau sendiri tidak
melakukannya Daruwerdi ? Jika kau merasa seorang yang pinunjul, tentu kau akan
berani datang ke istana Kapangeranan dan menantangnya perang tanding.”
“Pertanyaan semacam itu sudah aku
dengar beberapa puluh kali. Orang-orang lain juga bertanya seperti itu kepadaku.
Dan jawabku selalu tidak berubah. Aku harus mengerti tentang diriku sendiri. Aku
tidak akan mampu melawan para pengawalnya yang jumlahnya jauh melampaui jumlah
pengawal Senapati Agung. Tetapi aku tidak akan dapat melupakan dendamku
kepadanya, karena ia telah membunuh ayahku,“ jawab Daruwerdi.
“Kau merasa dirimu terlalu lemah.
Tetapi kau memang keras kepala. Bagaimana jika terjadi sekelompok kekuatan
menangkapmu dan memeras keterangan dari mulutmu dengan kekerasan.”
“Adakah kelompok yang akan berbuat
demikian ? Aku adalah orang yang mudah mati. Jika aku ditangkap oleh sekelompok
yang manapun juga, maka rahasia tentang pusaka itu tidak akan terungkapkan.
Kelompok-kelompok yang sedang memburu pusaka itu akan mendendam terhadap
siapapun yang berani membunuhku. Dengan demikian, maka kelompok itu tentu akan
musna.”
“Kau kira tidak ada kekuatan yang
dapat menangkapmu tanpa diketahui oleh orang lain ? Sekarang misalnya. Aku akan
dapat menangkapmu dan membawamu kepadepokan tanpa diketahui oleh orang lain.
Dengan satu isyarat, maka orang-orangku akan datang dengan tali yang tidak akan
dapat kau putuskan.”
“He, kau kira aku juga sendiri,
sehingga kau dapat berbuat curang begitu ?“ bertanya Daruwerdi.
“Anak iblis,“ geram Cempaka, “aku
tahu, kau hanya menggertakku.”
“Kalau begitu lakukanlah yang ingin
kau lakukan itu. Tetapi jangan menyesal bahwa padepokanmu akan menjadi karang
abang. Orang-orang Pusparuri, orang-orang Kendali Putih dan orang yang mana
lagi. akan bersatu dan menghancurkan padepokanmu yang sombong itu.”
“Gila. Kau sungguh-sungguh gila.
Tetapi baiklah, aku akan mempertimbangkan kemungkinan yang kau kehendaki.”
“Kau mempunyai sepasukan pengikut
seperti orang-orang Pusparuri dan orang-orang Kendali Putih. Kau dapat menyerbu
ke istana Pangeran yang tamak itu dan kemudian menangkapnya dan menyeretnya
kepadaku. Aku akan membunuhnya perlahan-lahan meskipun ia akan merengek minta
maaf kepadaku. Aku tidak gentar berperang tanding. Tetapi ia sangat curang,
sehingga aku tidak akan dapat mempercayai kejantanannya dengan datang
keistananya dan menantangnya perang tanding, ia tidak akan segan-segan
menggerakkan pengawalnya untuk membunuhku dengan licik.”
“Persetan. Aku tidak perlu ceriteramu
yang sombong itu. Katakanlah bahwa kau tidak mampu menghadapinya. Aku akan
melakukannya. Tetapi jika kau ingkar tentang pusaka itu. maka kau akan mengalami
nasib yang paling buruk yang pernah terjadi atas seseorang.”
Daruwerdi tertawa. Dipandanginya
orang yang menyebut dirinya Cempaka itu dengan pandangan yang kecut.
“Jangan mengancam. Belum tentu bahwa
kaulah yang akan dapat membawa pangeran itu kepadaku. Mungkin orang-orang
Pusparuri. Mungkin dari pihak lain. Aku akan memberikan penawaran terbuka kepada
siapapun. Hanya orang-orang Kendali Putihlah yang bodoh, yang ingin memaksakan
kehendaknya tanpa melalui pembicaraan yang baik. Karena itu mereka tidak akan
pernah kembali kepadepokannya.”
“Dan kau telah melakukan sampai dua
rambahan. Dua orang yang kau bunuh terdahulu. Kemudian dua orang lagi. Sedangkan
yang terakhir adalah dua orang Pusparuri.”
“Itu ceritera yang sangat gila. Kau
sengaja membuat ceritera semacam itu agar orang-orang Kendali Putih dan
Pusparuri mendendamku. Tetapi jika mereka membunuh aku, maka kaupun kehilangan
kesempatan sama sekali untuk memiliki pusaka itu.”
Orang yang disebut Cempaka itu
menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Ternyata aku berhadapan dengan
orang yang paling licik yang pernah aku kenal. Daruwerdi, aku kira bahwa kau
adalah seorang laki-laki jantan dan berpegang teguh pada setiap janji yang kau
ucapkan. Tetapi sekarang, kau sudah berubah sama sekali. Kau bukan lagi
Padmasana yang aku kenal. Setelah kau memasang gelar yang asing itu, kau
benar-benar menjadi orang asing bagiku.”
“Mungkin,“ jawab Daruwerdi, “tetapi
itu bukan terjadi dengan tiba-tiba dan dengan sendirinya. Ada sebab yang
menyebabkan aku berubah jika dugaanmu benar.”
“Kematian ayahmu ?“ bertanya Cempaka.
“Ya. Kematian ayahku telah membuat
aku lupa segala-galanya. Aku lupa akan diriku sendiri disaat yang lampau. Lupa
akan sifat dan watak itu. Yang aku inginkan kemudian hanyalah membalas dendam.
Itu saja. Dan bagi mereka yang dapat menolongku, aku menyediakan imbalan yang
tidak ternilai harganya, meskipun belum sepadan dengan nilai ayahku itu.”
“Kau memang anak iblis. Tetapi
baiklah, aku akan melakukannya. Berapa hari kau memberi aku waktu ?”
“Lebih cepat lebih baik,“ jawab
Daruwerdi.
“Dan pusaka itu kini sudah ditangaumu
?“ bertanya orang itu.
“Pertanyaanmu juga gila. Aku tidak
dapat menjawab. Tetapi demikian orang yang aku maksud itu kau serahkan kepadaku,
maka imbalan itupun akan kalian terima.”
“Perubahan sifat dan watakmu membuat
aku ragu-ragu.“
“Terserah kepadamu,“ jawab Daruwerdi.
Cempakapun kemudian bangkit dan
berjalan selangkah maju. Katanya, “Aku akan melakukannya. Bukan saja karena
pusaka itu. Tetapi aku menjadi kasihan melihat seorang anak muda yang pernah
dipuji karena kejantanannya, tiba-tiba telah menjadi licik dan pengecut.”
Tiba-tiba saja Daruwerdi tertawa
berkepanjangan. Katanya, “Jangan mencoba menyinggung harga diriku. Aku sudah
tidak mempunyai harga diri lagi. Kau boleh menghina aku. Kau boleh mengumat
tanpa kendali. Apa saja yang kau katakan tentang diriku tidak akan aku hiraukan.
Bagiku, orang itu dapat kau bawa kemari.”
Terdengar Cempaka menggeretakkan
giginya. Tetapi ia masih berjalan mondar-mandir.
“Sudahlah Cempaka,“ berkata Daruwerdi
kemudian, “aku tidak dapat terlalu lama disini. Aku akan pergi kegardu ronda.
Aku senang berada digardu bersama anak-anak muda yang bodoh dan dungu. Yang
hanya tahu merebus ketela pohon sambil berkelakar tanpa arti. Jika kau perlukan
aku, hubungi aku. Aku akan sangat bergembira jika kau segera datang dengan orang
yang aku inginkan itu.”
Cempaka menggeram. Tetapi ia tidak
menjawab.
Daruwerdilah yang kemudian
meninggalkan tempat itu lebih dahulu, sambil berpesan, “Jika kau terlambat, maka
pusaka itu akan jatuh ketangan orang lain, dan kau akan kehilangan kesempatan
tanpa batas kemungkinan.”
“Gila,“ geram Cempaka sambil
menghentakkan tangannya. Tetapi Daruwerdi justru tertawa sambil meninggalkan
tempat itu.
Sepeninggal Daruwerdi, Cempaka masih
duduk beberapa saat sambil merenungi kata-kata Daruwerdi. Sekali-kali masih
terdengar ia menggeram dengan kesal.
Dalam pada itu, Jlitheng yang merasa
tidak perlu lagi menunggui Cempaka yang sedang merenung itupun kemudian
beringsut. Ia akan segera meninggalkan tempat itu, menemui kawan-kawannya
digardu. Jika ia terlalu lama tidak nampak, mungkin kawan-kawannya akan
mencarinya. Apalagi jika mereka tidak menemukannya dirumah. Maka tentu akan
timbul berbagai macam dugaan. Mungkin justru ada yang menyangka bahwa ia telah
dibawa hantu seperti Kuncung.
Tetapi malang bagi Jlitheng. Diluar
sadarnya, betapapun ia berhati2, namun seekor burung gemak yang bersembunyi
digerumbul pula, telah terkejut dan meloncat berlari sambil memekik-mekik karena
tersentuh kakinya.
“Gila,“ geram Jlitheng didalam
hatinya. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan lagi. Cempaka ternyata seorang yang
tangkas dan cepat menanggapi keadaan. Demikian ia mendengar gemerasak dedaunan
yang tersibak oleh burung gemak itu, maka iapun telah meloncat berdiri sambil
menggeram, “Siapa yang telah jemu memandang bintang di langit ?”
Jlitheng menjadi berdebar-debar.
Tetapi ia tidak ingin menanggapi orang itu. Ia masih harus tetap merahasiakan
dirinya sejauh dapat dilakukan. Jika ia tidak menghindar, maka berarti bahwa ia
harus bertempur. Pilihannya adalah dibunuh atau membunuh. Jika ia mati, maka
tugasnya akan selesai tanpa arti sama sekali. Tetapi jika ia membunuh, maka ia
tidak akan dapat mengikuti perkembangan persoalan yang telah didengarnya.
Kematian Cempaka akan menutup penyelidikannya, karena Daruwerdi akan segera
berhubungan dengan orang lain yang tidak dikenalnya, dan yang masih harus
diselidikinya sejak permulaan sekali.
Tetapi Jlitheng tidak banyak mendapat
kesempatan. Cempaka yang telah berdiri, telah maju selangkah dengan penuh
kewaspadaan.
Untuk sesaat Jlitheng masih tetap
berada ditempatnya yang terlindung oleh rimbunnya dedaunan. Namun ia telah
bersiap untuk berbuat sesuatu yang dianggapnya paling baik yang diketemukan
dalam waktu pendek itu.
Dalam pada itu, Cempaka yang bergeser
mendekat menggeram, “Keluarlah dari persembunyian itu. Marilah kita berhadapan
dengan jantan. Apakah kau orang yang disebut kawan Daruwerdi yang mengawasinya
jika terjadi sesuatu ?”
Jlitheng tidak menjawab. Ia masih
berdiri diam.
“Cepat, sebelum aku mengambil sikap
yang mungkin tidak akan menyenangkan bagimu,“ suara Cempaka menjadi semakin
keras.
Karena Jlitheng tidak menjawab dan
sama sekati tidak berbuat sesuatu, maka Cempakapun melangkah semakin dekat.
Dengan suara yang gemetar oleh kemarahan, ia berkata, “He, apakah kau seorang
pengecut atau seorang yang gila.”
Memang tidak senang disebut sebagai
seorang pengecut. Tetapi Jlitheng masih tetap mengendalikan dirinya. Ia tidak
akan melayani orang itu dalam satu pertengkaran jasmaniah. Ia tidak mau dibunuh,
tetapi terhadap orang itu, ia tidak ingin membunuh.
“Jika kau tetap tidak mau keluar, aku
akan. mengeluarkanmu dari gerumbul itu,“ agaknya kemarahan orang itu tidak
terkendai lagi.
Jlitheng menjadi berdebar-debar
ketika ia melihat Cempaka itu memungut batu padas sebesar genggaman tangannya.
Kemudian ia memusatkan pendengarannya untuk mengetahui dimanakah arah yang
paling tepat dari orang yang bersembunyi dibalik gerumbul itu.
Jlitheng yang berada dibalik gerumbul
dapat melihat dari sela-sela dedaunan, apa yang akan dilakukan oleh Cempaka.
Nampaknya memang sederhana sekali. Cempaka akan melemparkan sebuah batu padas
kedalam gerumbul itu. Namun Jlithengpun sadar, bahwa kekuatan lontar orang yang
bernama Cempaka itu tentu bukanlah kekuatan orang kebanyakan. Karena itulah,
maka iapun telah mempersiapkan dirinya pula.
Seperti yang diduganya, maka sejenak
kemudian, Cempaka telah melemparkan batu padas itu dengan sekuat tenaganya.
Seperti yang diperhitungkan, maka kekuatan lontarannya benar-benar mengerikan.
Yang terdengar kemudian adalah suara
gemerasak, bagaikan angin prahara. Batu yang hanya segenggam tangan itu telah
melanda gerumbul tempat Jlitheng bersembunyi, bagaikan sebuah pisau yang terbang
menebas dedaunan pada gerumbul itu. Ranting-rantingpun berpatahan dan desir
anginnya bukan saja menggugurkan daun-daun yang sudah menjadi kuning, tetapi
gerumbul itu bagaikan disapu menjadi gundul.
Namun dalam pada itu, orang yang
bernama Cempaka itu sempat melihat, bayangan hitam yang bagaikain angin,
terlontar dari balik gerumbul yang dihantamnya itu kebalik gerumbul yang lain,
sehingga karena itu, kemarahannyapun telah menjadi semakin menyala dihatinya.
“Siapa kau he ? Siapa ? Jika kau
pengikut Daruwerdi, katakanlah. Aku tidak akan membunuhmu, meskipun yang kau
lakukan atas perintahnya itu sangat menjengkelkan.”
Jlitheng tidak menjawab. Tetapi
seolah-olah ia tidak berani berkedip, karena Cempaka telah memungut batu padas
sebesar genggaman tangannya pula.
“Kau harus mengerti, dengan siapa kau
berhadapan,“ geram Cempaka.
Jlitheng telah bersiap-siap
menghadapi prahara yang luar biasa itu. Jika sekali lagi Cempaka melemparkan
batunya, maka iapun harus segera bergeser kebalik gerumbul berikutnya.
Tetapi apakah ia akan berbuat
demikian sampai tiga empat kali ? Jika akhirnya ia tidak sempat lagi berpindah
gerumbul-gerumbul yang akan menjadi gundul, maka da harus menghadapi orang itu.
Namun Jlitheng menjadi berdebar-debar
ketika ia melihat Cempaka bersiap untuk mengayunkan batu itu. Dengan
sungguh-sungguh Jlitheng memperhatikan, apa yang akan terjadi kemudian.
Akhirnya Jlitheng memutuskan untuk
meninggalkan saja tempat itu selagi orang yang menyebut dirinya bernama Cempaka
itu belum melihat wajah dan ujudnya. Selain malam yang buram, juga karena
Jlitheng tidak pernah dengan terang-terangan menghadapinya.
Karena itu, ketika sekali lagi
Cempaka melontarkan batu padas ditangannya bagaikan hembusan badai yang dahsyat,
Jlitheng tidak lagi meloncat dan bersembunyi kegerumbul yang lain. Tetapi iapun
kemudian meloncat berlari meninggalkan tempat itu.
“Pengecut,” Cempaka berteriak ketika
ia melihat bayangan yang dengan tangkas meloncat menghindari lontaran batu
padasnya. Bukan saja bersembunyi dibalik gerumbul yang lain seperti yang telah
dilakukan, tetapi bayangan itupun berlari dengan cepatnya meninggalkan kaki
bukit gundul itu tanpa menghiraukan gerumbul yang bagaikan dihantam amukan badai
yang mengerikan, hanya oleh sebutir batu padas yang besarnya tidak lebih dari
genggaman tangannya, namun yang lontarannya dilambari oleh kekuatan yang luar
biasa dahsyatnya.
Agaknya Cempaka tidak mau melepaskan
orang yang telah mengganggunya itu begitu saja. Karena itu, maka iapun segera
meloncat mengejarnya. Cempaka merasa bahwa ia akan dapat menyalurkan,
kemampuannya pada lontaran kakinya untuk mempercepat larinya, sehingga ia akan
segera dapat menangkap orang yang telah membuatnya marah itu.
Sejenak kemudian maka Cempaka telah
berlari seperti angin. Ia menyalurkan kemampuannya yang luar biasa tidak lagi
pada ayunan tangannya yang melontarkan batu padas itu. Tetapi pada ayunan
kakinya untuk segera menangkap Jlitheng.
Tetapi Cempaka terkejut melihat orang
yang dikejarnya. Ternyata orang yang dikejarnya itupun mampu berlari sangat
cepat. Seperti yang dilakukannya.
“Gila,“ geramnya, “sejak aku melihat
ia berhasil menghindari lemparanku, aku sudah curiga, bahwa ia bukannya orang
yang tidak berilmu.”
Karena itu, maka Cempakapun kemudian
telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Ia tidak mau kehilangan
orang yang telah mengintipnya dan mendengarkan segala pembicaraannya, meskipun
orang itu memang mungkin sekali diperintahkan oleh Daruwerdi.
Dalam pada itu, Jlithengpun mengumpat
didalam hatinya. Ternyata orang yang menyebut dirinya Cempaka itu benar-benar
orang yang luar biasa, sehingga ia tidak dapat memperpanjang jarak antara
dirinya dengan orang yang mengejarnya itu.
Tetapi Jlitheng tidak mau tertangkap.
Karena itu iapun berusaha mempercepat langkahnya menyusuri jalan setapak. Bahkan
kemudian iapun memotong arah, melintasi pematang dan meloncati parit-parit.
Jlithengpun kemudian sadar, bahwa ia
tidak akan dapat berlari lebih cepat lagi. Dan iapun sadar, bahwa ia tidak akan
dapat meninggalkan orang yang mengejarnya. Karena itu, maka yang dilakukannya
adalah memilih jalan yang mungkin dapat mengurangi kecepatan laju langkah orang
yang mengejarnya, karena Jlitheng merasa, bahwa ia lebih mengenal jalan-jalan
sempit, .pematang-pematang, tanggul parit dan bahkan menyusup diantara
gerumbul-gerumbul perdu.
Tetapn betapum juga, Jlitheng masih
sempat membuat pertimbangan. Ia tidak mau memberikan kesan, bahwa ia adalah
orang dari Lumban Wetan. Iapun tidak mau memberikan kesan, bahwa ia tinggal
diatas bukit berhutan, karena dengan demikian akan dapat menuntun perhitungan
Daruwerdi atas dirinya yang tinggal di Lumban Wetan, atau mereka yang menghuni
bukit berhutan itu.
Karena itu, Jlitheng justru berlari
kearah yang lain sama sekali. Iapun juga tidak berlari menuju ke Lumban Kulon,
karena dengan demikian ia akan menyusul Daruwerdi yang tentu berjalan tidak
secepat ia berlari.
Sambil berlari orang yang menyebut
dirinya Cempaka itu-pun mencoba untuk menebak. Namun ia sama sekali tidak dapat
menduga-duga, siapa orang itu, jika ia bukan pengikut Daruwerdi.
“Jika benar ia pengikut Daruwerdi,
maka pantaslah jika orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri yang
pernah datang kemarn tidak akan pernah kembali,“ berkata Cempaka itu didalam
hatinya.
Karena pikiran itulah, maka ia mulai
menimbang-nimbang. Ia mulai membayangkan, apakah memang begini cara Daruwerdi
membinasakan lawannya. Ia memancing orang yang tidak disukainya dengan cara
seperti yang sedang terjadi itu. Kemudian dengan licik membinasakan mereka.
“Persetan,“ geram Cempaka, “aku bukan
orang yang hanya setingkat dengan budak-budak dari Kendali Putih dan budak-budak
Pusparuri. Aku tidak peduli siapakah orang itu. Aku harus menangkapnya dan
kemudian memaksanya berbicara.
Tetapi setiap kali orang yang
menyebuit dirinya Cempaka itu tanya dapat mengumpat, karena ia jtidak dapat
segera menangkap lawannya.
Sebenarnyalah bahwa diantara kedua
orang itu telah terjadi pertempuran yang aneh. Mereka tidak mengadu ketangkasan,
kecepatan bergerak dalam tata kanuragan, tidak pula mengadu ilmu pedang dan
membenturkan kekuatan. Tetapi mereka sedang berlomba kecepatan berlari dan daya
ketahanan mereka. Mereka harus mengatur pernafasan mereka sebaik-baiknya agar
mereka tidak segera diburu oleh desah nafas dilubang hidung. Merekapun harus
tetap mempertahankan kecepatan ayunan kaki mereka, agar mereka setidak-tidaknya
dapat mempertahankan jarak antara keduanya.
Demikianlah, maka keduanya telah
berlari seperti angin didalam gelapnya malam. Jlithenglah seolah-olah yang telah
memilih jalan yang akan mereka lalui. Kesempatan memilih dan pengenalan atas
daerah yang menjadi arena bertarungan itulah agaknya yang memberikan keuntungan
kepadanya, ia dapat dengari tiba-tiba berbelok karena ia memang mengenal jalur
jalan itu dengan baik. ia dengan tangkasnya meloncati parit yang cukup lebar
meskipun tidak berair dimusim kering, ia dapat berlalu seperti angin dipematang
yang sempit, karena ia mengerti, dimanakah tanah yang keras dan dimanakah yang
gembur atau licin.
Karena itulah, maka jarak yang semula
bagaikan telah ditentukan itu semakin lama menjadu semakin panjang. Jlitheng
perlahan-lahan dapat menjauhi orang yang mengejarnya
“Persetan,“ geram Cempaka, “orang
gila itu harus dibunuh biarpun ia pengikut Daruwerdi.”
Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa
karena orang yang dikejarnya seolah-olah menjadi semaikin jauh. Setiap kali ia
mengatur keseimbangan selagi berlari dipematang yang sempit apalagi
kadang-kadang licin dan miring, sehingga kecepatannya harus dikuranginya.
“O, gila.“ ia menggeram. Tetapi orang
yang menyebut dirinya bernama Cempaka itu tidak dapat berbuat apa-apa. Justru
yang terjadi adalah, bahwa jarak mereka semakin lama menjadi semakin panjang.
Kenyataan itu memang sangat
menyakitkan hati. Tetapi ia tidak dapat mengingkarinya. Dengan kemarahan yang
menghentak jantung, ia melihat orang yang dikejarnya semakin lama menjadi
semakin jauh menusuk kepusat kegelapan.
“Berhenti pengecut,“ oleh kemarahan
yang memuncak, maka iapun telah berteriak sekuat-kuatnya. Apalagi Cempaka
menyadari, bahwa mereka sedang berada dibulak yang panjang, sehingga tidak akan
ada orang yang mendengarnya. Mungkin ada satu dua orang yang berada disawahnya
dimalam hari, tetapi mereka tidak akan dapat berbuat sesuatu atau memberikan
keterangan suatu apapun tentang suaranya.
Tetapi Jlitheng sama sekali tidak
berhenti. Ia tidak dapat menuruti perasaannya yang sakit oleh teriakan-teriakan
orang yang menyebut dirinya Cempaka itu dengan mengumpatinya sebagai seorang
pengecut.
Tetapi iapun tidak dapat melepaskan
perhitungannya untuk waktu yang cukup panjang dalam tugasnya.
Karena itulah, Jlithetng masih
berlari terus, Ia sudah mengelilingi beberapa padukuhan di Lumban Wetan dan
Lumban Kulon lewat bulak-bulak panjang. Bahkan kadang-kadang ia sudah terdorong
ketempat yang agak jauh dari padukuhan Lumban. Namun Jlitheng setiap kali telah
melingkar kembali mendekati bukit gundul itu.
Akhirnya Cempakapun harus mengakui,
bahwa ia tidak akan dapat mengejar orang yang telah bersembunyi dan mendengarkan
percakapannya dengan Daruwerdi. Namun dugaannyapun kuat, bahwa orang itu adalah
pengikut Daruwerdi yang mendapat tugas daripadanya untuk mengamati keadaan,
seperti yang dikatakan oleh Daruwerdi sendiri.
Ada keinginannya untuk menemui
Daruwerdi dan mengumpatinya, karena kecurigaannya. Tetapi iapun sudah terlanjur
mengatakan kepada Daruwerdi bahwa dengan isyarat, ia akan dapat memanggil
orang-orangnya untuk datang kebukit gundul dan menangkap Daruwerdi.
Karena itu, niatnya untuk bertemu
dengan Daruwerdi itu-pun diurungkannya. Lebih baik baginya untuk meninggalkan
tempat itu, dan mempersiapkan diri menghadapi tugas-tugas berikutnya sehubungan
dengan permintaan Daruwerdi untuk menangkap seseorang yang pernah membunuh
ayahnya.
Tetapi Cempaka tidak dapat
tergesa-gesa berbuat demikian, karena ia masih harus melaporkan hasil
pembicaraannya dengan Daruwerdi dan merencanakan langkah-langkah berikutnya yang
mapan.
Dalam pada itu, Jlitheng masih saja
berlari. Baru ketika ia yakin bahwa orang yang menyebut dirinya Cempaka sudah
tidak mengejarnya terus, ia memilih arah yang sebenarnya.
Hampir diluar sadarnya, maka iapun
telah melangkah dengan tergesa-gesa menuju kebukit berhutan. Seolah-olah ada
keharusan baginya untuk datang dan menceriterakan apa yang terjadi kepada orang
tua yang bernama Kiai Kanthi itu.
Ketika Jlitheng mendekati tempat yang
dihuni oleh Kiai Kanthi, malam telah menjadi semakin kelam. Namun agaknya Kiai
Kanthi masih belum tidur menunggui anak gadisnya yang nyenyak. Karena itu, maka
iapun mendengar desir halus mendekati tempatnya.
“Aku Kiai,“ desis Jlitheng sebelum
Kiai Kanthi meloncat berdiri.
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Tentu ada ceritera yang menarik.”
“Apakah Kiai sudah mengetahuinya ?”
bertanya Jlitheng.
Kiai Kanthi menggeleng. Jawabnya,
“Belum ngger. Tetapi menilik nafasmu yang bekejaran, maka kau tentu sedang dalam
ketegangan. Dan mungkin kau sudah melakukan sesuatu yang telah memeras
tenagamu.”
Jlitihengpun kemudian duduk
disampiing Kiai Kanthi diatas anyaman ilalang. Sejenak ia mengatur
pernafasannya. Baru kemudian ia mulai berceritera.
“Aku tidak tahu Kiai apakah Kiai
terlibat didalam masalah ini atau tidak. Seandainya Kiai akut serta dalam
perebutan pusaka itu, maka aku telah terjebak disini,“ berkata Jlitheng.
“Kau masih saja ragu-ragu ngger,“
berkata Kiai Kanthi, “tetapi akupun menyadari bahwa hal itu wajar sekali. Namun
jika masih ada sedikit kepercayaan, biarlah sekali lagi aku menegaskan, bahwa
aku telah mengungsi dari padepokanku yang hancur oleh banjir, gempa dan tanah
longsor.”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Sambil mengangguk ia berkata, “Aku percaya Kiai.”
Namun tiba-tiba saja terdengar Swasti
yang masih memejamkan matanya menyahut, “Percaya atau tidak percaya, itu bukan
persoalan kita ayah, seperti juga kita dapat percaya atau tidak percaya. Karena
sebenarnyalah bahwa kadang-kadang orang yang menginginkan sendiri, selalu
mempersoalkan niat orang lain.”
“Ah,“ desis Kiai Kanthi, “jika kau
masih tidur, tidur sajalah. Jangan separo tertidur, separo ikut dalam
pembicaraan ini, sehingga kata-katamu tidak ubahnya seperti orang yang sedang
mengingau didalam tidur.”
“Aku tilak tidur ayah,“ jawab Swasti.
Tetapi ia tidak bangkit.
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ia tidak banyak menghiraukan gadis itu. Setelah beberapa kali ia bertemu
maka iapun mulai mengenal sifat gadis itu.
Tetapi tiba-tiba saja Swasti bertanya
masih sambil berbaring dibelakang pohon, “Kenapa Daruwerdi harus dicurigai dan
dibayangi ?”
Kiai Kanthi menarik nafas pula.
Katanya, “Seperti yang selalu aku katakan Swasti, pendatang didaerah ini tentu
akan saling mencurigai.”
“Tetapi Daruwerdi tidak mencurigai
siapapun disini,“ berkata Swasti kemudian.
Kiai Kanthi tersenyum. Katanya, “Ia
terlalu banyak bertanya dan banyak memperhatikan kita. Apakah itu salah satu
bentuk kecurigaan atau bukan, aku tidak dapat mengatakannya.”
Swasti mengerutkan keningnya. Tetapi
ia tidak menjawab lagi.
Jlitheng yang termangu-mangupun
kemudian berkata, “Kiai. Besok aku dan beberapa orang kawan akan melanjutkan
kerja ini. Mudah-mudahan air itu cepat dapat dikendalikan. Besok kita akan
mencoba, mengalirkan sebagian kecil dari arusnya, apakah air itu dapat mengalir
seperti yang kita kehendaki.”
“Baiklah mgger. Aku kira besok kita
sudah dapat melakukannya. Kita membuka sedikit tebing arus air yang mengalir ke
luweng dibawah tanah itu. Dengan demikian kita akan dapat mengetahui dan
menentukan kerja kita seterusnya.”
“Sementara yang lain mulai menaikkan
tulang-tulang atap gubug Kiai itu,“ desis Jlitheng kemudian.
Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Lalu
katanya, “Alangkah senangnya tinggal dibawah atap, meskipun atap ilalang.”
“Beberapa saat lagi, padepokan Kiai
akan siap dilereng bukit ini. Bukan sekedar rumah beratap ilalang. Jika
orang-orang Lumban dapat memetik hasil jerih payah Kiai dengan mempergunakan air
itu, maka mereka akan membantu dengan senang hati.”
Kiai Kanthi tertawa. Desisnya,
“Mudah-mudahan ngger.“
Jlithengpun kemudian minta diri. Ia
harus segara kembali kepada kawan-kawannya. Jika ada kecurigaan Daruwerdi dan
mencarinya, maka tugasnya akan bertambah sulit.
Dihari berikutnya, Jlitheng dan
beberapa orang kawannya telah mulai bekerja pula membantu Kiai Kanthi dilereng
bukit berhutan itu. Salah satu dari yang disebut Sepasang Bukit Mati.
Selagi beberapa orang sibuk memasang
tulang-tulang rumah gubug Kiai Kanthi, maka Jlitheng dan Kiai Kanithi sendiri
dengan sungguh-sungguh sedang memperhitungkan kemungkinan arus air yang akan
mulai dialirkan sedikit demi sedikit lewat saluran yang sudah disiapkannya.
“Kita akan menyobek tebing saluran
air itu sedikit,“ berkata Kiai Kanthi. “Dengan demikian, kita akan mengetahui
apakah jalur air itu sudah benar.”
“Kita akan memecah batu padas itu
Kiai, agar alirannya tidak cepat membesar karena pintu airnya juga dengan cepat
membesar,“ berkata Jlitheng.
“Bagus ngger. Bagus. Kita akan
membuat pintu air justru pada batu padas yang keras,“ sahut Kiai Kanthi.
Kedua orang ituipun kemudian memilih
tempat yang paling baik, sesuai dengan jalur parit yang sudah tersedia. Dengan
hati-hati mereka memecah tanggul yang terjadi dari batu batu padas yang keras.
Seperti yang mereka perhitungkan,
maka ketika pintu yang dibuat oleh Jlitheng dan Kiai Kanthi itu cukup dalam, air
yang bergejolak didalam jalurnya menuju keluweng dibawah tanah itupun mulai
meluap. Sedikit demi sedikit, lewat pintu pada batu padas yang cukup keras.
“Sudah cukup Kiai,“ berkata Jlitheng
kemudian.
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Dipandanginya air yang meluap dan kemudian menjalar menyusuri jalur
jalan yang memang sudah disediakan, menuruni tebing bukit berhutan itu.
“Kita akan melihat, apakah air itu
dapat terkendali sampai kebawah bukit Kiai,“ berkata Jlitheng, “dan kita akan
mengikuti, apakah luapan air itu akan benar-benar masuk kedalam sungai.”
“Jadi?“ bertanya Kiai Kanthi.
“Kita akan turun. Aku akan minta agar
kawan-kawan meneruskan kerja mereka, sementara kita turun,“ jawab Jlitheng.
Keduanyapun kemudian berlari-lari
menuruni tebing, setelah mereka berpesan kepada anak-anak muda yang lain, yang
sibuk dengan gubug Kiai Kanthi. Mereka seolah-olah berlomba dengan ujung arus
air yang menuruni jalurnya. Kadang-kadang Jlitheng memotong arah, memintas
sehingga ia dapat mendahului arus air yang cukup cepat, meskipun tidak terlalu
deras, karena pintu yang dibuat oleh Jlitheng dan Kiai Kanthi memang belum
terlalu besar.
Ketika mereka sampai dibawah bukit,
mereka masih sempat melihat ujung air itu meleleh dan masuk kedalam parit yang
sudah tersedia. Lewat parit itu, maka airpun menuju ke padang perdu, menyusup
disela-sela gerumbul-gerumbul liar menuju kesungai yang hampir tidak berair
dimusim kering.
“Kita akan segera dapat membuktikan
Kiai,“ berkata Jlitheng sambil tersenyum, “orang-orang padukuhan Lumban tidak
akan segan berbuat sesuatu bagi Kiai, yang akan membangun sebuah padepokan.
Mungkin padang perdu ini akan segera berubah menjadi tanah persawahan dan
pategalan yang subur, yang basah disegala musim.”
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Dengan hati yang berdebar-debar Kiai Kanthi melihat, air yang masih
terlalu sedikit itu akhirnya tumpah kedalam sungai seperti yang mereka
kehendaki.
“Kerja kita sudah selesai Kiai, pada
tahap pertama,“ berkata Jlitheng kemudian.
“Ya. Kita akan dapat mengatur,
seberapa banyak air yang akan kita sadap dari belumbang itu,“ sahut Kiai Kanthi.
“Seluruhnya Kiai. Bukankah itu lebih
baik daripada air itu hilang ditelan tanah ?”
Tetapi wajah Kiai Kanthi nampaknya
dibayangi oleh keragu-raguan, sehingga Jlithengpun bertanya, “Apa Kiai mempunyai
pendapat lain?”
Jilid 05
“NAMPAKNYA memang demikian ngger. Air
itu akan lebih baik kita pergunakan disini daripada hilang didalam tanah. Tetapi
kau lupa, bahwa pada suatu saat, tempat yang rendah. Mungkin air yang muncul
dari dalam tanah itu, sejak lama menjadi sumber penghidupan orang-orang
disekitarnya. Jika kita yang disini, menyadap air itu seluruhnya, maka mata air
ditempat yang jauh itu akan menjadi kering. Kau dapat membayangkan akibatnya
atas orang-orang yang mengantungkan diri pada sumber air itu.”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kiai benar. Aku tidak memikirkan sampai
sejauh itu, Kiai.“ ia berhenti sejenak, lalu, “justru sikap itu harus kita
perhatikan. Kita harus memberitahukan hal itu kepada orang-orang lain yang
mungkin akan dengan serakah mengambil air dari belumbang itu seluruhnya bagi
tanah Lumban Wetan atau Lumban Kulon.”
“Kemungkinan itu memang besar sekali.
Meskipun demikian, kita akan berusaha untuk meyakinkan mereka, bahwa mereka
tidak boleh terlalu mementingkan diri sendiri.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Sementara
itu, gemericik air yang menuruni tebing, telah menyatu dengan arus air sungai
yang hampir kering.
Pengaruh air dari belumbang itu
memang belum nampak. Tetapi bagi Kiai Kanthi dan Jlitheng, rasa-rasanya semuanya
sudah jelas.
Bahkan Jlithengpun kemudian berkata,
“Kiai, kita akan dapat menunjukkan air itu kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan
Lumban Kulon. Mereka akan dapat mengerahkan orang-orangnya untuk membendung
sungai atau untuk sementara mengalirkan arus air itu kedadam parit yang sudah
ada, meskipun kering dimusim kemarau.”
Tetap Kiai Kanthi menggeleng.
Jawabnya, “Semula aku tidak memikirkannya ngger. Tetapi sekarang aku melihat,
bahwa jika air itu akan dialirkan langsung keparit, maka parit itu hanya akan
mengairi sawah dan ladang di daerah Lumban Wetan. Hal itu akan dapat menimbulkan
persoalan bagi Lumban Kulon. Karena itu, memang sebaiknya kita melakukan seperti
yang kau katakan beberapa saat yang lampau. Air itu masuk kedalam sungai,
kemudian diangkat kedalam parit disebelah menyebelah sungai, sehingga Lumban
Wetan dan Lumban Kulon akan dapat menikmatinya meskipun tidak memenuhi segala
kebutuhan dimusim kering, tetapi sudah akan dapat mendorong kemajuan hasil tanah
yang cukup besar.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Sambil
memandang kearah Lumban Wetan dan Lumban Kulon ia berkata, “Kiai benar. Sekali
lagi nampak, bahwa Kiai berpikir jauh. Agaknya aku masih harus mengendapkan diri
untuk dapat melihat jarak seperti yang Kiai lihat. Meskipun sampai saat ini
nampaknya tidak ada persoalan atas Lumban Wetan dan Lumban Kulon. tetapi jika
masailah air itu mulai terasa, justru akan dapat menimbuilkan persoalan baru
yang cukup gawat. Apalagi menilik sikap putra Ki Buyut di Lumban Kulon. Agaknya
sikapnya tidak selunak sikap ayahnya yang menjadi semakin tua.”
Kiai Kanthipun memandangi pula
beberapa pedukuhan diantara bulak-bulak yang tidak begitu subur dan bahkan
kering dimusim kemarau. Sambil mengangguk-angguk ia berdesis, “Mudah-mudahan
akan segera terjadi perubahan. Tetapi bukan perubahan sifat dan watak
orang-orang Lumban yang ramah dan baik hati. Jika air itu mulai menyentuh daerah
yang kering itu, maka akan mudah timbul nafsu ketamakan dan rakus. Hal itulah
yang harus dihindarkan pada setiap usaha perubahan keadaan. Beberapa orang akan
mungkin sekali berusaha untuk mendapat yang lebih banyak dari orang lain.”
“Tetapi tentu tidak benar pula
apabila kita akan membiarkan kesempatan perbaikan itu terjadi Kiai.”
“Ya, ya, ngger. Kesulitannya adalah
mencari keseimbangan itulah,“ jawab Kiai Kanthi.
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Namun kemudian katanya, “Aku akan berbicara dengan Ki Buyut di Lumban Wetan dan
Lumban Kulon, bahwa air telah dapat diarahkan sesuai dengan kepentingan
orang-orang Lumban. Tetapi tidak segera Kiai.”
“Malam nanti ?”
Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Lebih
baik dua atau tiga hari lagi setelah semuanya cukup meyakinkan. Sementara gubug
Kiai Kanthipun akan sudah menjadi rapat. Dalam waktu satu dua hari ini, aku akan
pergi Kiai.”
Kiai Kanthi mengerutkan keningnya.
Namun kemudian ia berdesis, “Ada hubungannya dengan permintaan Daruwerdi seperti
yang pernah angger ceriterakan ?”
“Ya. Malam nanti aku pergi.
Mudah-mudahan sehari besok aku dapat menyelesaikan pekerjaan itu, sehingga malam
besok aku sudah berada disini. Jika aku terlalu lama pergi, akan timbul
kecurigaan orang-orang Lumban, terutama Daruwerdi sendiri. Jika orang yang
menyebut dirinya Cempaka itu sempat menceriterakan kepada Daruwerdi bahwa ada
orang yang mengintainya saat mereka berdua mengadakan pembicaraan, maka
Daruwerdi tentu akan mencari jawab, siapakah orang yang telah melakukannya itu.”
Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia
mengerti, tentu Jlitheng berkepentingan dengan rencana Cempaka untuk memenuhi
permintaan Daruwerdi sebagai ganti pusaka yang dijanjikannya. Meskipun pusaka
itu sendiri masih belum ditunjukkannya.
“Aku wajib mencari, siapakah orang
yang dimaksud oleh Daruwerdi membunuh ayahnya itu. Apakah benar hal itu pernah
terjadi. Jika benar, maka aku akan dapat mencari jalur, siapakah sebenarnya
Daruwerdi itu, dan untuk siapa sebenarnya ia bekerja. Sampai saat ini nampaknya
ia bekerja untuk pihak manapun yang dapat memenuhi permintaannya itu. Tetapi aku
masih menyangsikan, apakah pemintaannya itu memang benar-benar beralasan. Atau
ia sengaja membenturkan kekuatan-kekuatan yang disebutnya sebagai perguruan
Kendali Putih, Pusparuri, dan perguruan yang dianut oleh Cempaka itu sendiri.”
Kiai Kanthi mengangguk-angguk.
Katanya, “Aku adalah orang tua yang sangat picik ngger. Aku tidak pernah
mengetahui apapun juga selain padepokanku yang dilanda banjir, gempa dan tanah
longsor itu. Karena itu, aku tidak akan dapat ikut membantu, memecahkan masalah
itu. Yang dapat aku lakukan tidak lebih dari membuat parit ini.”
“Kiaipun masih perlu diselidiki,
apakah yang Kiai katakan itu benar. Seandainya Kiai benar-benar orang padepokan
terpencil yang dilanda bencana itu, tetapi setidak-tidaknya Kiai tentu pernah
mendengar dan mengetahui beberapa perguruan yang ini. Apalagi aku mengerti,
sampai dimanakah tingkat ilmu Kiai yang sebenarnya.”
Kiai Kanthi mengangguk-angguk.
Jawabnya, “Baiklah kita tidak berbicara tentang hal itu. Jika angger mau pergi,
berhati-hatilah, karena masalah yang angger hadapi agaknya masalah yang cukup
gawat.”
“Ya Kiai,“ jawab Jlitheng, “tidak
banyak Pangeran yang aku kenal. Jika ada diantara mereka masih mempunyai ikatan
permusuhan karena suatu pambunuhan, maka orang itu pantas aku telusur lebih
jauh, apakah benar orang itu yang dimaksud oleh Daruwerdi. Jika benar, maka
orang itu akan berada dalam bahaya.”
“Tetapi tanpa orang itu, apakah kau
akan dapat mencapai akhir dari tugasmu, sampai saat pusaka itu dapat diketemukan
?”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Mudah-mudahan aku menemukan satu jalur yang dapat memecahkan hal itu.
Mungkin aku dapat berbicara dengan orang yang menjadi sasaran dendam Daruwerdi,
sehingga aku menemukan cara untuk memancing pusaka itu.”
Kiai Kanthi mengangguk-angguk.
Jawabnya, “Silahkan ngger. Tentu banyak cara. Tetapi tentu banyak pula
kesulitannya. Silahkan pergi barang satu dua hari. Tetapi angger benar, bahwa
lebih cepat lebih baik. karena penyelidikan itu tidak akan angger lakukan
sendiri. Angger tentu mempunyai orang-orang yang akan angger tugaskan.”
Jlitheng tersenyum. Jawabnya, “Kiai
mulai berkhayal. Aku adalah aku seorang diri. Tetapi aku tidak akan membantah
khayalan Kiai yang wajar itu.”
Kiai Kanthipuin tertawa juga,
sementara Jlitheng berkata, “Marilah Kiai. Kita kembali. Anak-anak yang membuat
gubug itu tentu sudah ingin beristirahat. Merekapun akan bergembira jika mereka
mendengar bahwa air itu sudah dapat tersalur. Tetapi tidak terlalu besar.”
Keduanyapun kemudian menanggalkan
tepian sungai yang hampir kering dimusim kemarau itu, kembali memanjat tebing.
Seperti yang dikatakan oleh Jlitheng, maka kawannya telah merasa lelah dan haus,
sehingga mereka memerlukan istirahat.
“Swasti tentu sudah menyediakan
minuman dan makanan bagi kita,“ berkata Jlitheng kemudian.
Seperti biasanya, maka anak-anak muda
ituipun kemudian naik untuk beristirahat. Seperti biasanya pula, Swasti telah
menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka.
Hari itu, anak-anak muda yang
membantu Kiai Kanthi membuat gubug telah mendengar dan kemudian ketika mereka
pulang, memerlukan melihat, bahwa air telah dapat tersalur lewat jalur yang
dipersiapkan turun kesungai. Air itu akan sangat berguna bagi padukuhan Lumban
Wetan dan Lumban Kulon dihari-hari mendatang.
“Tetapi jangan ceriterakan kepada
siapapun lebih dahulu,“ berkata Jlitheng, “kita memerlukan pertimbangan yang
jauh.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk.
Mereka mengerti setelah Jlitheng memberikan penjelasan lebih jauh dari
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi karena air itu.
“Karena itu, aku akan menghadap Ki
Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Sebelum itu, aku minta kalian
benar-benar diam.“ minta Jlitheng sekali lagi.
Kawan-kawannya masih
mengangguk-angguk. Sementara Jlithengpun kemudian berkata, “Dua atau tiga hari
lagi aku akan menghadap Ki Buyut bersama kalian dan memperkenalkan Kiai Kanthi.”
“Kenapa dua tiga hari lagi Jlitheng
?“ bertanya seorang kawannya.
“Itulah sayangnya,“ sahut Jlitheng,
“besok aku harus pergi kerumah pamanku. Aku sudah mengatakan kepada biyung,
bahwa aku sedang sibuk. Tetapi biyung berkeras menyuruh aku menemui paman.
Dengan demikian, aku harus pergi barang satu dua hari.”
“Apakah pamanmu sakit ?“ bertanya
kawannya yang lain.
“Sudah lama biyung tidak bertemu
dengan paman, adik satu-satunya. Semalam biyung bermimpi bahwa rumah paman
dilanda banjir. Karena itu biyung minta agar aku segera pergi kerumah paman
untuk melihat apa yang terjadi.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk,
sementara Jlitheng berkata terus, “Jika saja bukan biyungku yang menyuruhnya,
aku tidak akan bersedia pergi. Tetapi aku tidak dapat membantah perintah
biyung.”
Kawannya mengagguk-angguk. Mereka
mengerti, bahwa ibu Jlitheng yang sudah menjadi janda itu tidak dapat menyuruh
orang lain, kecuali Jlitheng. Dan agaknya Jlithengpun sangat mengasihi ibunya
seperti ibunya mengasihinya.
“Jadi besok dan lusa, sebelum kau
kembali, kita tidak naik kebukit ?”
“Pergilah. Bantulah orang tua itu.“
Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “tetapi jangan lupa membawa senjata seperti
biasanya. Jika kalian bertemu dengan harimau, maka kalian harus melawan
beramai-ramai. Jangan justru melarikan diri. Karena jika kalian melarikan diri,
salah seorang dari kalian akan dikejarnya sampai dapat. Tetapi jika kalian
bersama-sama melawan, maka harimau itu tentu akan dapat kalian kalahkan,
betapapun juga kuat dan garangnya seekor harimau. Apalagi kalian, dihampir tiga
atau empat hari sekali masih terus berlatih kanuragan.”
“Ah,“ desis anak-anak muda itu. Salah
seorang berkata, “Apa yang sudah dapat kita lakukan.”
“He, aku sudah dapat mengayunkan
parang dengan dangan baik. Jika harimau itu datang, kalian harus menyerang
beramai-ramai dengan parang atau golok terhunus. Kalian dapat melakukannya
sambil berteriak-teriak. Mungkin harimau itu akan menjadi takut dan berlari.”
“Sudahlah,“ berkata kawannya,
“mudah-mudahan kita tidak bertemu dengan harimau seperi biasanya. Kebiasaan kami
berteriak-teriak berdendang dan ura-ura agaknya dapat menakut-nakuti binatang
jenis apapun juga.”
“Mudah-mudahan,“ Jlitheng.
mengangguk-angguk, ia-pun sependapat bahwa kebiasaan kawannya berteriak-teriak
didalam hutan itu telah menakut-nakuti harimau yang tidak terbiasa mendengar
suara yang demikian, meskipun Jlitheng-pun tahu, bahwa kawan-kawannya
berteriak-teriak karena ada juga yang berasaan takut dan ngeri memasuki hutan
yang masih dihuni binatang buas itu.
Demikianlah, maka ketika bayangan
senja turun diatas padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kuton. maka Jlithengpun
menemui ibunya untuk minta ijin pergi barang satu dua hari.
“Pekerjaan di bukit itu hampir
selesai biyung. Kami bersepakat untuk mengerjakannya siang dan malam.”
“Kau mengada-ada saja Jlitheng. Mana
mungkin kerja itu kau lakukan malam hari. Kau akan membuang-buang waktu saja,
dan bahkan mungkin salah seorang dari kalian akan dapat tergelincir jatuh.”
“Malam hari kami hanya mengerjakan
anyaman. Dinding, tutup keyong, atap ilalang dan lain-lain yang masih kurang.
Pagi-pagi kami dapat lekatkannya pada gubug yang sudah siap itu.”
“Ah, terserah saja kepadamu. Tetapi
hati-hati. Binatang buas berkeliaran dimalam hari.”
“Kami menyalakan obor biyung.
Binatang buas takut kepada api,” jawab Jlitheng. Lalu, “Malam nanti aku akan
mulai.”
Ibunya tidak melarangnya. Karena itu,
maka ketika malam mulai gelap, Jlithengpun minta diri.
“Hantu betina itu akan mencari anak.
Pakailah dingo atau kunyit dikeningmu. Akar dingo akan menjauhkan kau dari
hantu-hantu.”
Jlitheng menahan senyumnya. Tetapi ia
menurut. Ia mengambil sepotong akar dingo dan diusapkan pada keningnya. Baru
kemudian Jlitheng berangkat meninggalkan padukuhan Lumban Wetan.
“Dimalam hari Jlitheng berjalan
dengan cepatnya. Ia tidak berjalan lewat jalan-jalan yang rata. Tetapi ia
memintas melewati jalan-jalan sempit dan bahkan pematang. Dengan hati-hati ia
melintas tidak terlalu jauh dari bukit gundul. Ia tidak mau bertemu dengan
siapapun. Apa lagi Daruwerdi atau orang-orang yang berhubungan dengan anak muda
itu.
Untuk menghilangkan kesan tentang
dirinya, maka Jlitheng telah mengenakan pakaian yang lain sekali dari
pakaian-pakaiannya yang disembunyikan di bulak panjang, di antara pakaiannya
yang disembunyikan di bulak panjang, di antara batu-batu padas didekat sebatang
randu alas yang jarang di dekati seseorang. Dengan pakaian itu, ia tidak lagi
nampak sebagai seorang anak petani yang hidup sederhana sekali.
Dengan demikian, jika ada seseorang
yang tanpa dapat dihindari melihatnya, sama sekali tidak akan menghubungkannya
dengan seorang anak petani di padukuhan Lumban Wetan.
Karena waktu yang ada bagi Jlitheng
tidak terlalu banyak maka iapun berjalan dengan tergesa-gesa. Ia harus sampai
ketempat ia menyimpan kudanya disebuah padukuhan yang besar yang agak jauh dari
Lumban Wetan, yang dititipkan kepada seorang saudagar yang sudah dikenalnya
sebelumnya, dipercayanya dan mengerti persoalannya, karena sentuhan ilmu dari
sumber yang sama.
Baru tengah malam ia sampai kerumah
saudagar itu. Ketika ia mengetuk pintu, maka saudagar itupun terkejut. Dengan
hati-hati ia bangkit dari pembaringannya, meraih senjatanya. Baru kemudian ia
berjalan keruang dalam.
“Siapa ?“ ia bertanya. Sementara
tangannya telah memegang hulu pedangnya.
“Aku paman. Arya Baskara.”
“He ?” tetapi ia masih ragu-ragu,
“benar kau angger Baskara ?”
“Ya,“ jawab Jlitheng.
“Baskara siapa ? Ada seribu orang
yang bernama Baskara.“ saudagar itu masih bertanya.
“Baskara Candra Sangkaya,“ jawab
Jlitheng, “apakah paman sudah lupa suaraku.”
“O, kau ngger,“ dengan tergesa-gesa
saudagar itu membuka selarak pintu.
Ketika pintu itu terbuka, maka
seorang anak muda berdiri sambil tersenyum didepan pintu. Oleh cahaya lampu
minyak yang redup, maka saudagar itu segera mengenal, bahwa yang datang itu
memang Arya Baskara.
“Silahkan ngger, silahkan. Kau datang
ditengah malam, sehingga aku terkejut karenanya.“ saudagar itu mempersilahkan.
“Aku dalam perjalanan ke Demak
paman,“ berkata Jlitheng yang dikenal oleh saudagar itu bernama Arya Baskara.
“Sehubungan, dengan tugas anakmas ?“
bertanya saudagar itu.
“Tentu paman. Dan agaknya
persoalannya menjadi semakin buram. Nampaknya tempat yang disebut Sepasang Bukit
Mati itu menjadi semakin menarik perhatian orang.”
“Itu sudah wajar ngger. Kabar tentang
Sepasang Bukit Mati itu tentu cepat tersebar. Jika salah satu kelompok mulai
memperhatikan tempat itu, maka kelompok yang lainpun tentu akan segera mendengar
karena tidak mustahil bahwa mereka mempunyai orang-orang yang saling menyusup
diantara kelompok-kelompok yang bersaing itu,“ berkata saudagar itu pula.
Kemudian iapun bertanya, “Lalu, apa pula yang akan angger lakukan di Kota Raja
?”
“Banyak masalah yang tidak aku
ketahui dengan pasti, paman. Karena itu aku memerlukan bantuan orang-orang yang
berada di Kota Raja. Karena tugas yang aku lakukan mungkin akan memerlukan
bantuan.”
Saudagar itu mengangguk-angguk.
Katanya, “Itu sudah wajar sekali, anakmas. Tetapi berhati-hatilah. Mungkin ada
orang-orang yang hilir mudik pula Sepasang Bukit Mati itu, sehingga kau akan
menjumpainya diperjalanan. Jika kau dapat mengimbangi kemampuannya, maka itu
bukannya hambatan yang berarti. Tetapi jika yang kau jumpai adalah sekelompok
orang yang tidak kau kenal, maka akibatnya akan dapat menyulitkanmu.”
Jlitheng tersenyum. Katanya,
“Mudah-mudahan tidak paman. Mudah-mudahan aku tidak bertemu dengan orang-orang
itu.”
Saudagar itu termangu-mangu. Namun
nampak kecemasan membayang diwajahnya. Sehingga akhirnya ia berkata, “Apakah aku
dapat mengawanimu diperjalanan?”
Jlitheng tertawa. Katanya, “Terima
kasih paman. Paman masih harus melanjutkan beristirahat.”
“Aku juga mempunyai rencana ke Kota
Raja meskipun sebenarnya tidak perlu tergesa-gesa karena urusan pekerjaanku. Aku
meninggalkan beberapa barang ditempat kawanku berdagang.”
“Terima kasih. Aku tidak ingin
menyulitkan paman. Apalagi tugas dan pekerjaan paman adalah mencari hubungan
seluas-luasnya. Jika karena sesuatu hal paman mulai bermusuhan dengan satu dua
pihak, maka daerah pekerjaan paman akan menyempit.”
“Ah,“ saudagar itu tertawa pula.
Jawabnya, “Tentu aku tidak dapat terlalu mementingkan diriku sendiri. Tetapi
jika kau dapat pergi sendiri, pergilah ngger. Besok atau lusa aku akan pergi
juga ke Kota Raja.”
“Aku hanya akan berada di Kota Raja
sehari paman. Besok malam aku akan sampai ketempat ini menjelang tengah malam.
Dan aku akan meneruskan perjalananku ke Lumban Wetan dengan berjalan kaki.”
“Begitu tergesa-gesa ?”
“Karena keadaanku dan tugas yang
harus aku lakukan didekat Sepasang Bukit Mati itu.”
Saudagar itu tidak menyarankan
sesuatu lagi. iapun kemudian mempersiapkan kuda yang akan dipergunakan oleh Arya
Baskara. Sengaja ia tidak membangunkan pekatiknya, agar tidak bertanya-tanya
sesuatu tentang tamunya yang aneh itu, dan yang bahkan mungkin akan
diceriterakannya kepada tetangga-tangganya.
Lewat tengah malam, Jlitheng berpacu
meninggalkan rumah saudagar itu. ia harus berlomba dengan waktu. Pagi-pagi benar
ia harus sudah berada di Kota Raja.
“Tetapi waktunya tidak terlalu
mendesak,“ desis Jlitheng sambil menengadahkan wajahnya, memandang
bintang-bintang dilangit. Seperti yang pernah dipelajarinya, ia dapat melihat
waktu dengan memperhatikan letak bintang-bintang yang bergeser dilangit.
Namun demikian, Jlitheng tidak
memperlambat lari kudanya, yang suara derap kakinya, bagaikan mengoyak kesepian
malam yang dalam.
Tetapi tiba-tiba saja Jlitheng
mengerutkan keningnya, ia mulai menarik kekang kudanya, sehingga derap kakinya
menjadi semakin lambat. Sehingga akhirnya berhenti sama sekali.
Beberapa puluh langkah dihadapannya,
ia melihat beberapa orang terlibat dalam perkelahian yang sengit. Tetapi
Jlitheng masih belum mengetahui dengan pasti, apakah yang sebenarnya terjadi.
Karena itu, iapun harus berhati-hati.
Mungkin ia tidak mempunyai kepentingan apapun juga. Tetapi mungkin ia akan
terlibat kedalamnya.
Sejenak Jlitheng mengamati
perkelahian itu. Meskipun malam cukup gelap, namun ketajaman matanya dapat
menangkap peristiwa itu dengan jelas.
Sejenak kemudian Jlithengpun meloncat
turun dari kudanya. Ditambatkannya kudanya pada sebatang pohon perdu di pinggir
jalan. Selangkah-selangkah ia maju mendekat. Jjatheng ingin melihat, apakah
diantara mereka yang terlibat ada yang pernah dikenalnya.
Dalam pada itu, orang-orang yang
sedang berkelahi itupun telah melihat kehadirannya. Mereka menjadi
berdebar-debar, karena perkelahian yang seakan-akan telah seimbang itu tentu
akan segera berubah, jika ada orang lain yang memilih salah satu pihak untuk
dibantunya.
“Siapa kau he pendatang,“ tiba-tiba
Jlitheng mendengar seseorang diantara mereka yang bertempur itu berteriak.
Jlitheng mengerutkan keningnya.
Tetapi dia sempat mengetahui, yang bertanya kepadanya adalah seorang yang
bertubuh tinggi kekurus-kurusan, yang bertempur dengan senjata yang tidak begitu
banyak dipergunakan. Dua potong besi yang satu sama lain dihubungkan dengan
seutas rantai.
Namun nampaknya senjata itu sangat
berbahaya ditangan orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu. Sekali kali
kedua potong besi itu berada dikedua tangannya. Namun kadang-kadang sepotong
diantaranya terlepas dan berputar menyambar-nyambar.
“Apa yang kalian perebutkan ?“
bertanya Jlitheng kemudian.
“Jangan hiraukan kami,“ jawab yang
lain.
Tetapi jawaban itu benar-benar telah
mengejutkan Jlitheng, Dengan seksama ia memperhatikan orang yang suaranya pernah
dikenalnya itu.
“Cempaka,“ desis Jlitheng yang hanya
dapat didengarnya sendiri.
Sejenak Jlitheng termangu-mangu, Ia
mencoba menilai, apakah yang sedang dihadapi, dan apakah sebaiknya yang harus
dilakukan.
Tetapi ia sudah berada ditempat yang
jauh dari Lumbaa Wetan dan Lumban Kulon. Ia sudah jauh dari sepasang Bukit Mati,
sehingga Cempaka tentu tidak akan menghubungkannya dengan orang yang disangkanya
pengikut Daruwerdi, yang pernah dikejarnya, tetapi tidak dapat ditangkapnya.
“Jika kau ingin lewat, lewatlah,“
terdengar suara orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan yang sedang bertempur
dengan orang yang menyebut dirinya Cempaka itu.
“Pergilah,“ teriak Cempaka Kemudian.
Tetapi Jlitheng masih tetap berdiri
ditempatnya. Dari pengamatannya yang singkat, ia segera melihat, bahwa Cempaka
bersama dua orang kawannya harus bertempur melawan lima orang lawan. Namun
agaknya keseimbangan pertempuran itu tidak segera berubah, sehingga sulit untuk
mengetahui, pihak manakah yang akan menang.
Sejenak Jlitheng masih
termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Apakah aku dapat berdiam diri melihat
perkelahian semacam ini ? Meskipun aku tidak mengetahui persoalannya, tetapi aku
berhak mengajukan permohonan, agar perkelahian ini dihentikan. Apakah tidak ada
cara lain yang lebih baik dari berkelahi dan saling membunuh ?”
“Persetan,“ jawab orang yang
kekurus-kurusan itu, “bukan urusanmu.”
Tetapi Jlitheng berkata pula, “Itu
adalah persoalan setiap orang. Karena kalian dan aku adalah sesama titah yang
disebut manusia.”
“Jangan sesorah,“ bentak orang yang
kekurus-kurusan itu sambil bertempur, “pergilah jika kau tidak ingin mengalami
nasib buruk disini.”
Jlitheng terdiam sejenak. Hampir saja
ia memanggil nama orang yang menyebut dirinya Cempaka. Tetapi bibirnya yang
sudah akan bergerak itu terkatub lagi, karena jika nama itu hanya dipergunakan
di bukit gundul itu, maka Cempaka akan segera menghubungkannya dengan orang yang
telah gagal ditangkap itu.
Karena itu, maka Jlithengpun kemudian
berkata, “Kalian tentu bukan anak-anak lagi. Cobalah berpikir. Apakah yang
sebenarnya terjadi.”
“Diam kau,“ orang yang tinggi
kekurus-kurusan itu berteriak.
Jlitheng termangu-mangu sejenak. Ia
berkepentingan dengan orang yang disebutnya bernama Cempaka itu. Karena itu,
maka dengan cepat ia mencoba mengambil sikap yang paling baik.
“He orang kurus,“ teriak Jlitheng,
“kau jangan membentak-bentak. Aku bermaksud baik. Dan adalah menjadi kewajibanku
untuk mencegah pertumpahan darah. Dengar, kau tentu belum mengenal aku. Aku
adalah Raden Bantaradi. Seorang Senapati dalam susunan keprajuritan Demak. Aku
dapat juga berbuat lebih buruk dari yang kau lakukan.”
Orang-orang yang sedang bertempur itu
agaknya terpengaruh juga oleh kata-kata Jlitheng. Apalagi pada saat itu Jlitheng
memang mengenakan pakaian sebagaimana dipakai oleh orang-orang Kota Raja.
Namun tiba-tiba orang bertubuh tinggi
itu berkata, “Aku tidak paduli siapa kau. Tetapi aku harus membunuh kelinci dari
Sanggar Gading ini.”
“Sanggar Gading,“ Jlitheng terkejut.
“Apakah kau pernah mendengar nama
perguruan Sanggar Gading ?” justru Cempaka itulah yang bertanya.
Jlitheng termamgu-mangu sejenak.
Namun kemudian ia menjawab, “Sebagai seorang Senapati aku banyak mengetahui
nama-nama perguruan. Aku kenal Sanggar Gading sebagai sebuah perguruan yang
besar. He, apakah benar kau anak Sanggar Gading?”
Cempaka tertawa. Ia masih bertempur
dengan sengitnya meskipun derai tertawanya terdengar berkepanjangan. Diantara
derai tertawanya dan dengus nafasnya ia berkata, “Dari manapun aku datang, tidak
ada bedanya bagimu Senapati. Kami adalah orang-orang yang hidup dalam
keterasingan kami.”
“Kau benar. Tetapi padepokan dan
perguruan bukannya papan untuk menempa diri sekedar karena nafsu ketamakan dan
kesombongan. Karena itu, apakah sebenarnya yang menjadn sebab perkelahian ini ?”
Hampir berbareng kedua orang yang
sedang bertempur itu tertawa. Yang terdengar adalah jawaban orang yang
kekurus-kurusan, “Pergilah, sebaiknya kau tidak usah melibatkan diri meskipun
aku tahu bahwa kau sebenarnya bukan seorang Senapati, karena setiap orang akan
dengan mudah menyebut dirinya seorang Senapati.”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian katanya, “Aku tidak akan memaksamu untuk percaya. Dan akupun tidak akan
memaksamu untuk berhenti berkelahi. Yang akan mati, matilah dalam pstempuran
itu. Yang tetap hidup, biarlah hidup. Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian.”
Jlithengpun kemudian melangkah menepi
dan duduk diatas sebuah batu dipinggir jalan sambil memperhatikan perkelahian
itu.
“Kenapa kau tidak segera pargi he ?“
bertanya orang yang kekurus-kurusan sambil bertempur.
“Jangan urusi aku. Uruslah tugas dan
kewajibanmu sendiri. Jika kau harus bertempur, bertempurlah. Aku ingin duduk
disini melihat apa yang akan terjadi. Aku ingin tahu pasti siapakah yang akan
kalah dan siapakah yang akan menang. Aku ingin melihat darah memancar dari
luka.”
“Persetan,“ orang yang
kekurus-kurusan itu mengumpat, “jika lawanku sudah terbunuh, dan kau masih ada
disitu, maka kaupun akan aku bunuh.”
“Baik. Aku akan memperhitungkan
akibat itu. Dan aku akan tetap berada disini,“ jawab Jlitheng.
Sikap Jlitheng benar-benar membuat
orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu menjadi semakin marah. Sementara
orang yang bernama Cempaka itu melihat kemungkinan yang dapat dimanfaatkannya.
Karena itu, maka ia tidak lagi mengumpati orang yang duduk memperhatikan
pertempuran itu dan mengaku sebagai seorang Senapati.
Beberapa saat kemudian, pertempuran
itu berlangsung dengan sengitnya. Meskipun jumlah Cempaka dan kawan-kawannya
lebih sedikit dari jumlah lawannya, namun untuk beberapa saat, ia masih mampu
bertahan.
Tetapi agaknya Cempaka dan
kawan-kawannya itu telah terlalu memaksa diri memeras segenap kemampuannya.
Karena itu, maka ikemudiah ternyata bahwa tenaganyalah yang menjadi lebih dahulu
susut. Dengan demikian maka keseimbangan pertempuran itu mulai bergeser.
“Sebentar lagi kau akan mati tikus
kecil dari Sanggar Gading. Jangan menyesal. Kecuali jika kalian bersedia
menyebutkan, siapakah yang kini menyimpan pusaka itu,“ berkata orang yang
kekurus-kurusan.
“Kau gila. Sudah aku katakan. Tidak
seorangpun yang mengerti dimana letak pusaka itu,“ jawab Cempaka.
“Jika demikian, kami sendiri akan
pergi ke bukit yang disebut Sepasang Bukit Mati itu. Kami akan menemui anak muda
yang dianggap sumber dari segala macam keterangan tentang pusaka itu.”
“Jika kau mau pergi, pergilah. Aku
tidak mempunyai sangkut paut. Kenapa kalian memaksa kami bertempur disini?“
bertanya Cempaka.
Orang yang bertubuh tinggi
kekurus-kurusan itu berkata, “Ternyata kau bertanya pula seperti orang gila yang
mengaku dirinya Senapati itu.”
“Ya. Mungkin sebagian benar.”
Jlitheng yang duduk dipinggir jalan
itu tertawa. Katanya. “Berbantahlah sambil berkelahi. Menarik sekali untuk
dilihat dan didengarkan. Akupun menunggu jawab atas pertanyaan itu.”
“Semua sudah gila,“ teriak orang yang
kekurus-kurusan itu, “He, tikus dari Sanggar Gading. Aku pasti, bahwa kau baru
datang dari Sepasang Bukit Mati. Kau tentu sudah bertemu dengan anak muda yang
dianggap satu-satunya sumber keterangan itu. Kau tentu sudah membicarakan
sesuatu syarat bagi penyerahan pusaka itu. Karena itu maka sebaiknya kau jtidak
usah kembali keperguruanmu. Dengan demikian jalur antara Sanggar Gading dan anak
muda itu akan terputus.”
“Dan kau akan membuat jalur baru,“
potong orang yang menyebut dirinya Cempaka.
“Ya. Aku akan membuat jalur baru. Dan
akulah satu-satunya orang yang akan mendengar dari mulutnya, dimanakah pusaka
itu tersimpan.”
Orang yang menamakan diri Cempaka itu
tertawa. Katanya, “Aku sudah dapat menebak sejak semula. Pertanyaanmu dan
tuduhanmu bahwa aku mengerti sesuatu tentang pusaka itu adalah sekedar cara
untuk memaksa aku berkelahi.”
“Membunuh tanpa alasan memang berat
bagiku. Tetapi membunuh dalam perkelahian apapun alasannya memang sangat
menarik.”
Orang yang bernama Cempaka itu tidak
menjawab kata-kata lawannya. Namun bahkan ia berteriak kepada Jlitheng yang
duduk diatas batu, “Nah Senapati. Kau dengar apa katanya ? Aku sudah bertanya
hal itu untuk kepantinganmu.”
“Terima kasih,“ jawab Jlitheng.
“Aku tidak peduli,“ teriak lawan
Cempaka, “siapa-pun dan apapun sebabnya, aku akan membunuh semua orang dengan
caraku. Termasuk kau yang menganggap dirimu sendiri seorang Senapati. Tetapi itu
adalah salahmu karena kau tidak mau pergi dari tempat ini.”
Jlitheng termangu-mangu. Semakin lama
ia melihat keadaan Cempaka dan kawan-kawannya menjadi semakin sulit. Karena itu,
maka tiba-tiba iapun berdiri sambil berkata, “Sebaiknya aku tidak melihat saja
perkelahian ini. Aku akan ikut serta.”
Cempaka dan lawannya menjadi
berdebar-debar. Mereka mulai menebak, kepada siapakah orang itu akan berpihak.
“Aku melihat perkelahian yang tidak
adil,“ berkata Jlitheng, “tiga orang yang harus bertempur melawan jumlah yang
lebih banyak. Karena itu, aku akan bergabung dengan orang yang lebih sedikit
tanpa memperhatikan alasan-alasannya perkelahian ini, meskipun nampaknya orang
yang berjumlah lebih banyak itulah menyebabkan pertengkaran ini terjadi.”
Orang yang bertubuh kekurus-kurusan
itu menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa orang yang ingin melibatkan diri
itupun tentu bukan orang kebanyakan. Mungkin ia bemar-banar seorang Senapati.
Tetapi setidak-tidaknya ia dapat mengukur diri setelah memperhatikan perkelahian
itu.
Dalam pada itu, Jlithengpun ternyata
tidak hanya bermain-main. Iapun kemudian mempersiapkan diri untuk melibatkan
diri dalam perkelahian yang mulai berat sebelah itu.
Sebenarnyalah bahwa ia memang
mempunyai kepentingan. Setelah diperhitungkan untung dan ruginya, maka Jlitheng
menganggap bahwa Cempaka baginya lebih penting dari orang yang belum dikenalnya
sama sekali. Jika ia berhasil mmyelamatkan Cempaka, maka langkah penyelidikannya
lebih lanjut telah mendapat pancadan. Ia akan dapat mulai dengan orang yang
bernama Cempaka dari Sanggar Gading. Seandainya ia tidak akan melakukannya
sendiri, maka seorang kawannya akan dapat menelusur, siapakah Cempaka itu
sebenarnya dan siapakah yang akan menjadi sasarannya sesuai dengan permintaan
Daruwerdi. Orang yang disebut telah membunuh orang tuanya. Dan orang itu adalah
seorang Pangeran.
Karena itu, ketika ternyata Cempaka
menjadi semakin terdesak, iapun berkata, “Ki Sanak dari Sanggar Gading yang
tidak aku ketahui namanya. Aku berada dipihakmu.”
“Apa kepentinganmu ?“ bertanya orang
yang menyebut dirinya Cempaka.
“Entahlah. Tetapi karena lawanmu
mengumpat-umpat, aku menjadi benci kepadanya. Aku ingin memanfaatkan pertempuran
ini untuk menangkapnya, hidup atau mati,“ Jlitheng berhenti sejenak, lalu,
“tetapi bagaimana jika aku ingin memanggilmu.”
“Ia bergelar Cempaka Kuning,“ orang
yang kekurus-kurusan itulah yang menjawab.
“Dan kau ?” bertanya Jlitheng
kemudian kepada lawan Cempaka.
“Persetan. Masuklah kearena jika kau
ingin mati pula,“ geram orang yang kekurus-kurusan itu.
Cempakalah yang kemudian tertawa.
Katanya, “Orang itu adalah keluarga dari padepokan Kendali Putih. Ia merasa
kehilangan orang-orangnya. Dan sekarang ia menjadi gila dan berbuait apa saja
diluar nalar dan perhitungan. Ia ingin membunuh siapa saja yang mungkin
dibunuhnya tanpa sebab.”
“Kendali Putih,“ gumam Jlitheng.
“Kau kenal perguruan Kendali Putih ?“
bertanya Cempaka.
“Seperti aku mengenal perguruan
Sanggar Gading, aku-pun mengenal perguruan Kendali Putih. Perguruan Pusparuri
dan perguraan-perguruan yang lain. Banyak perguruan telah diketahui oleh
kalangan keprajuritan di Demak, sesuai dengan sifat dan bentuk perguruan. Yang
manakah yang menurunkan ilmu putih dan yang manakah yang diwarnai oleh ilmu
hitam.”
“Persetan. Jangan banyak bicara. Aku
akan membunuhmu,“ geram orang bertubuh kekurus-kurusan itu.
Tiba-tiba saja orang itu telah
meloncat meninggalkan Cempaka yang digelari Cempaka Kuning itu, langsung
menyerang Jlitheng yang menyebut dirinya seorang Senapati.
Cempaka tidak dapat memburunya,
karena seorang yang lainpun segera menyerangnya pula dengan sengitnya, sehingga
iapun harus meloncat menghindar dan kemudian bertempur melawannya.
Jlitheng yang mengaku seorang
Senapati itulah yang kemudian harus bertempur melawan orang yang bertubuh
kekurus-kurusan itu. Seperti yang dilihatnya, maka orang itu memakai tenaga yang
tidak seimbang dengan tubuhnya yang kurus. Ketika orang itu membenturkan
kekuatannya, maka terasa tubuh Jlitheng tergetar karenanya.
“Orang Kendali Putih ini memang kuat
sekali,“ berkata Jlitheng didalam hatinya.
Sebelumnya ia pernah bertempur
melawan dua orang yang karena tidak ada jalan lain, harus dibunuhnya. Tetapi
yang seorang ini mempunyai tataran ilmu yang lebih tinggi, sehingga iapun harus
mengerahkan kemampuannya untuk bertempur seorang melawan seorang.
Demikianlah maka pertempuran itupun
menjadi semakin sengit. Cempaka dan kawan-kawannya menjadi lebih mantap
menghadapi lawannya yang jumlahnya berkurang. Bahkan kemudian mereka bertiga,
segera dapat menemukan keseimbangan pertempuran itu kembali, meskipun mereka
telah memeras segenap kemampuan mereka.
Dalam pada itu, Jlithengpun segera
terlibat dalam pertempuran yang keras. Orang bertubuh kekurus-kurusan itu
ternyata lebih senang membenturkan senjatanya dilambari dengan kekuatannya yang
dibanggakannya daripada meloncat menghindari serangan yang datang dari lawannya.
Orang yang kurus itu merasa bahwa kekuatannya jarang dapat dimbangi oleh
lawannya.
Tetapi melawan Cempaka ia sudah
merasa, bahwa ia tidak dapat membanggakan kekuatannya saja, karena Cempaka
Kuningpun memiliki kekuatan melampaui orang kebanyakan.
Ketika ia mulai dengan serangannya
atas lawannya yang baru, ia menganggap bahwa orang baru itu tentu akan terkejut
membentur kekuatannya. Tetapi orang yang kekurus-kurusan itulah justru yang
terkejut. Ternyata seperti Cempaka, orang yang mengaku bernama Senapati
Bantaradi itupun memiliki kekuatan yang luar biasa.
Semakin lama maka orang yang
kekurus-kurusan kupun bertempur semakin kasar. Bukan saja ia mencoba mendesak
lawannya dengan kekuatannya yang keras dan liar, tetapi ia juga ingin
mempengaruhi lawannya dengan hentakkan dan teriakan-teriakan yang memekakkan
telinga.
“Jangan berteriak-teriak orang
kurus,“ berkata Jlitheng, “nanti seisi beberapa padukuhan disekeliling bulak ini
akan terbangun dan berdatangan kemari.”
“Aku akan membunuh mereka semua,“
teriak orang kekurus-kurusan itu.
“Membunuh akupun kau tidak mampu.
Apalagi orang dari beberapa padukuhan yang bersenjata. Meskipun seorang demi
seorang, mereka tidak dapat melawanmu, tetapi bersama-sama mereka akan dapat
membunuhmu sepertil dalam rampogan macan di alun-alun.”
“Tutup mulutmu,“ teriak orang yang
kekurus-kurusan itu.
Jlitheng sempat tertawa sambil
meloncat menghindari serangan lawannya yang datang dengan kasarnya, “Jika setiap
orang melemparmu dengan sebuah batu, maka kau akan berkubur dibawah timbunan
batu-batu itu. Betapapun besar kekuatanmu, tetapi kau tidak akan dapat melawan
lontaran batu dari segala penjuru. Sementara merekapun akan melemparkan
senjata-senjata mereka pula kearahmu.”
Orang yang kekurus-kurusan itu
menggeram. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kau terlalu sombong. Tetapi sebenarnya
hatimu sebesar menir. Kau berkhayal bahwa orang-orang padukuhan akan datang
membantumu. He, orang yang mengaku prajurit. Bagaimana jika orang-orang
padukuhan datang dan justru melemparimu dengan batu.”
“Mereka tidak akan melakukan. Mereka
tidak akan melawan prajurit Demak yang sedang mengemban tugas.”
“Mereka tidak akan percaya bahwa
seorang perwira dari tatanan keprajuritan Demak dalam pakaian kebesarannya
berkeliaran seorang diri. Kau adalah seorang prajurit yang memalsukan. Kau bukan
prajurit. Dan orang-orang padukuhan akan segera mengetahuinya.”
Tetapi Jlitheng hanya tertawa saja.
Sambil menyerang ia berteriak, “Kau juga pandai berkhayal.”
Orang kekurus-kurusan itu tidak
menjawab lagi. Iapun segera menyerang dengan garangnya. Dengan sepenuh tenaga ia
ingin segera mengakhiri peirtempuran yang menjengkelkan itu, karena kehadiran
seseorang yang mengaku dirinya seorang prajurit.
Pertempuran itu semakin lama menjadi
semakin keras dan kasar. Orang yang kekurus-kurusan iu benar-benar seorang yang
mempergunakan segala macam cara untuk mengalahkan lawannya. Kasar, liar dan
licik.
Sementara itu Jlitheng menyesuaikan
diri dengan pengakuannya, bahwa ia adalah seorang Senapati. Pakaiannya memang
meyakinkan, bahwa ia seorang Senapati dari Demak.
Karena itu, maka iapun berusaha,
untuk tidak tergelincir dalam sikap dan perbuatannya, sebagaimana seorang
Senapati perang yang berwibawa.
Dengan demikian, maka ia berusaha
untuk tidak terseret oleh kekasaran lawannya. Justru karena itu, maka ia dapat
menilai segala macam tata gerak dan Imu lawannya sebaik-baiknya. Dengan
kecepatan gerak dan kekuatannya, Jlitheng mampu mengimbangi kekasaran dan
keliaran lawannya. Bahkan dengan pengamatan dan perhitungan yang cermat,
akhirnya ala berhasil mendesak lawannya yang meskipun agak kekurus-kurusan,
tetapi memiliki ilmu yang luar biasa dan kekuatan raksasa pula.
Sementara itu, Cempaka dan
kawan-kawannyapun berhasil tetap bertahan melawan jumlah yang lebih banyak.
Mereka mulai dapat membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu. Mereka mulai
memperhitungkan ketahanan waktu untuk melawan keempat orang yang kasar dan
garang itu.
“Kita tidak dapat memperhitungkan,
kapan pertempuran ini akan selesai,“ berkata Cempaka didalam hatinya, “mungkin
menjelang pagi, mungkin setelah matahari naik, bahkan mungkin masih akan
berlangsung sehari penuh.”
Namun dengan kesadaran yang demikian,
ia selalu berusaha untuk mengamati tata geraknya, sehingga ia membatasi diri
pada tata gerak yang menentukan pertempuran itu, meskipun bersama dengan kedua
orang kawannya, ia juga berusaha untuk segera mengakhiri pertempuran yang seru
itu.
Tetapi agaknya kedua belah pihak
tidak mau membiarkan senjata lawan menyobek tubuhnya dan menghentakkan nyawanya
dari tubuhnya. Karena itu, maka masing-masing telah bertempur dengan segenap
kemampuan dan ilmu yang ada.
Namun dalam pada itu, lambat laun,
Jlitheng berhasil mendesak lawannya, betapapun orang yang kekurus-kurusan itu
berusaha untuk mempertahankan dirinya dengan kasar dan liar. Bahkan
kadang-kadang ia masih saja meloncat sambil berteriak. Senjatanya yang agak
asing itu berputaran. Sekali-kali tongkat yang terikat pada sepotong rantai itu
menyambar, namun kemudian mematuk dengan cepatnya. Bahkan kemudian dua potong
tongkat besi itu, tiba-tiba saja telah berada didalam genggaman seperti sepasang
bindi.
Melawan senjata yang demikian,
Jlitheng harus berhati-hati. Ia kemudian tidak mempergunakan senjata panjang,
karena dengan demikian, senjatanya akan dapat terbelit oleh rantai pengikat dua
potong besi itu. Yang dipergunakannya adalah sebuah trisula bertangkai pendek,
yang terbuat dari besi baja pilihan. Dengan trisula bertangkai pendek itu, maka
ia tidak ragu-ragu untuk memukul potongan besi yang berputaran. Bahkan ialah
yang berusaha untuk melihat rantai lawannya dengan ujung-ujung trisulanya.
Tetapi lawannya cukup cepat pula
mempemainkan senjatanya. Bahkan kadang-kadang Jlitheng harus meloncat beberapa
langkah surut jika senjata lawannya menyambar mendatar setinggi lambungnya.
Melawan Jiltheng orang yang
kekurus-kurusan itu memang harus membuat perhitungan yang khusus, karena
Jlitheng mampu membentur tongkat besinya yang berputar seperti baling-baling.
Setiap kali, dengan bangga ia berhasil merenggut atau mematahkan pedang
lawannya. Tetapi trisula Jlitheng ternyata memiliki kekhususan, sehingga setiap
benturan justru membuat tangannya menjadi pedih.
Sementara itu. Cempaka sempat menilai
ilmu orang yang mengaku Senapati dan yang menyebut dirinya bernama Bantaradi
itu. Ternyata bahwa Senapati itu mempunyai ilmu yang cukup tinggi, sehingga
akhirnya ia berhasil mendesak lawannya.
“Aku tidak dapat memperhitungkan,
bagaimana akhirnya jika aku harus bertempur melawannya,“ berkata Cempaka didalam
hatinya. Kemudian, “Mudah-mudahan ia benar-benar seorang Senapati. Ia bukan
sekedar membantu aku, karena aku dalam kedudukan yang lemah, yang menurut
perhitungannya, akan lebih mudah dibinasakan pula setelah kelima orang Kendali
Putih itu dapat dilumpuhkan.”
Tetapi menilik tata geraknya, maka
Cempaka menganggap bahwa orang yang mengaku Senapati itu sama sekali bukan dari
kelompok orang-orang liar dan kasar yang sekedar mengaku-aku sebagai seorang
Senapati, meskipun seperti yang dikatakan oleh orang kekurus-kurusan itu bahwa
agak aneh, seorang perwira dalam pakaian kebesaran hanya seorang diri
berkeliaran dimalam hari.
“Nanti, setelah semuanya selesai, aku
akan dapat memperkenalkannya,“ berkata Cempaka Kuning didalami hatinya.
Sementara itu, benturan-benturan
senjata antara Jlitheng dan orang yang kekurus-kurusan itu terjadi semakin
sering. Justru karena Jlitheng sudah pasti tentang kekuatan lawannya, maka iapun
mulai dengan usahanya untuk meringkihkan bukan saja genggaman lawannya, tetapi
juga hatinya. Jika setiap kali tangannya terasa pedih dan sakit, maka iapun akan
menjadi gelisah pula karenanya.
Namun kemudian lawannyalah yang
berusaha untuk menghindari benturan. Orang yang kekurus-kurusan itu tidak lagi
memutar tongkat besinya pada ujung sepanjang rantai pengikatnya. Tetapi ia lebih
banyak menggenggam sepasang senjatanya itu ditangan. Dengan dua potong besi itu,
ia berusaha untuk menyerang lawannya tanpa mengadakan benturan kekuatan dengan
langsung.
Jlitheng yang mengaku seorang
Senapati itupun kemudian bertempur semakin tangkas dan cepat. Trisulanya
menyambar-nyambar dan setiap kali mematuk dada lawan dengan dahsyatnya.
Lawannya mulai terdorong surut oleh
serangan-serangan Jlitheng yang membadai. Ia tidak segan menyerang lawannya
meskipun ia yakin, bahwa lawannya akan mampu menangkisnya, karena setiap
benturan akan memberikan tekanan kepada lawannya.
Dengan segenap kemampuannya, maka
orang yang kekurus-kurusan itu berusaha mempergunakan kecepatannya untuk melawan
kekuatan dan kegarangan Jlitheng. Tetapi ternyata bahwa Jlithengpun mampu
mengimbangi kecepatannya.
Itulah sebabnya, maka semakin lama
semakin terasa, bahwa orang yang kekurus-kurusan itu akan kehilangan kesempatan
untuk mempertahankan dirinya lebih lama lagi.
Tetapi orang yang kekurus-kurusan itu
tidak mau menyerah. Ia adalah seseorang yang mendapat kepercayaan oleh
pimpinannya untuk menentukan sikap terhadap siapapun juga yang dianggap dapat
mempersulit kedudukan perguruannya. Termasuk orang-orang dari perguruan Sanggar
Gading, yang menurut perhitungannya telah membuat hubungan khusus dengan anak
muda yang berada disekitar Bukit Mati.
Namun ternyata bahwa Jlitheng
benar-benar tidak dapat dimbanginya. Bahkan semakin lama, terasa ujung trisula
lawannya yang bertangkai sangat pendek itu semakin dekat dari kulitnya.
Sekali-kali terasa angin yang berdesir lembut jika ujung trisula itu menyambar
tubuhnya hanya berjarak setebal daun. Bahkan rasa-rasanya ujung trisula itu
sudah mulai menjamahnya.
Orang yang kekurus-kurusan itu
terkejut ketika terasa sentuhan pada pundaknya. Tetapi ternyata bahwa pundaknya
tidak tersayat. Segores tipis warna kemerah-merahan memang membekas. Tetapi
darahnya tidak menitik karenanya.
“Gila,“ teriak orang kekurus-kurusan
itu.
“Menyerahlah,“ desis Jlitheng, “aku
akan membawamu ke Demak. Kau harus memberikan keterangan tentang perguruanmu dan
usahamu untuk menguasai pusaka yang belum dikenal di tlatah Sepasang Bukit
Mati,“ sahut Jlitheng.
“Persetan,“ geramnya. Dengan buasnya
ia justru menyerang Jlitheng dengan sekuat tenaganya dan segenap kemampuan
ilmunya.
Jlitheng surut selangkah. Namun
kemudian iapun meloncat maju. Tepat saat lawannya justru mengayunkan tongkat
ditangan kirinya.
Jlitheng tidak menghindar. Dengan
trisulanya ia sengaja menangkis tongkat besi itu. Ketika tongkat besi itu
menyusup disela-sela ujung trisulanya, maka dengan sepenuh tenaganya ia memutar
trisulanya sambil menghentak merenggut tongkat besi itu dari tangan lawannya.
Tetapi Jlitheng terkejut karena
lawannya sama sekali tidak mempertahankan tongkatnya. Dibiarkannya tongkatnya
terlepas begitu saja dari tangannya. Namun sekejap kemudian tongkat yang
terlepas itu telah berputar justru menyerang kening Jlitheng yang
termangu-mangu.
Namun Jlitheng sempat merendah sambil
bergeser. Baru tersadar, bahwa tongkat itu terikat oleh seutas rantai. Justru
dengan serta merta lawannya telah mempergunakan tongkat itu untuk menyerang.
Jlitheng kemudian semakin tertarik
kepada rantai lawannya. Jika ia ingin melibat, lebih baik langsung pada
rantainya. Tidak pada tongkat-tongkat besi yang terayun-ayun diujung rantai itu.
Namun seperti yang pernah dilakukan,
lawannyapun segera menangkap tongkat-tongkat besi itu dan mengganggamnya
ditangan seperti sepasang pedang.
“Gila,“ geram Jlitheng.
Dengan demikian pertempuran itu masih
merupakan pertempuran yang sengit. Sementara Cempaka dan dua orang kawannya,
masih harus berhadapan dengan jumlah yang lebih banyak, sehingga Cempaka
sendirilah yang kemudian harus melawan dua orang lawan sekaligus.
Tetapi keduanya bukan orang-orang
sekuat orang kekurus-kurusan itu. Sehingga meskipun dengan memaksakan diri dan
memeras segenap tenaga dan kemampuan, Cempaka masih berhasil mempertahankan
dirinya. Sementara kawannya yang dua orang itupun bertempur dengan memeras
kemampuan, karena lawan merekapun adalah orang-orang yang memiliki kelebihan
dari orang kebanyakan.
Namun dalam pada itu, Jlitheng yang
semakin mendesak lawannya, justru merasa dirinya dikejar pula oleh waktu itulah
sebabnya, maka iapun bertepur semakin garang. Trisulanya menyambar-nyambar
semakin cepat menyusup diantara kedua ujung tongkat besi orang-orang
kekurus-kurusan itu. Bahkan diantara putaran tongkat yang dahsyat itu diujung
rantai pengikatnya.
Ketika Jlitheng berhasil memukul
tongkat ditangan kiri lawannya, maka ia dengan serta merta telah meloncat maju
selangkah. Tiba-tiba saja kakinya terayun deras sekali mengarah lambung. Tetapi
lawannya tidak membiarkan lambungnya dihantam kaki Jlitheng. Dengan tongkat
ditangan kanan, lawannya menangkis serangan kaki Jlitheng. Tetapi ternyata bahwa
Jlitheng telah menarik serangannya. Ia meloncat dan berputar setengah lingkaran.
Trisulanya berputar seiring dengan putaran tubuhnya. Kemudian dengan derasnya
terayun langsung kekepala lawannya.
Tetapi ternyata lawannyapun mampu
bergerak cepat. Dengan tangkasnya ia telah menggenggam pangkal tongkatnya.
Dengan merentang rantainya ia melindungi kepalanya.
Sementara itu, trisula Jlitheng telah
terayun deras sekali. Ketika trisulanya menyentuh rantai itu, terasa rantai itu
mengendor. Namun tiba-tiba saja orang kekurus-kurusan itu menghentakkan
tangannya sehingga rantai itu menegang dengan tiba-tiba.
Untunglah bahwa Jlitheng cukup cepat
sehingga trisulanya tidak terpental dari tangannya.
Namun dalam pada itu, lawannya yang
kekurus-kurusan itu akhirnya tidak dapat mengimbangi kenyataan, bahwa akhirnya
ia tidak akan dapat mempertahankan diri lebih lama lagi. Karena itulah, maka ia
mulai memikirkan jalan yang paling baik untuk menyelamatkan diri.
Jlitheng yang masih belum
memperhitungkan kemungkinan itu, terkejut ketika tiba-tiba saja ia mendengar
isyarat dari mulut lawannya. Demikian tiba-tiba dan disusul dengan loncatan
surut dan kemudian langkah-langkah panjang menghindarkan diri dari arena
perkelahian, diikuti oleh kawannya.
Mula-mula Jlitheng berusaha untuk
mengejarnya. Namun akhirnya ia menyadari kepentingannya. Ia harus segera berada
di Demak dan segera pula kembali ke padukuhan Lumban. Karena itu, maka niatnya
untuk mengejar lawannya itupun diurungkannya.
Karena Jlitheng kemudian berhenti,
maka Cempaka dan kawan-kawannyapun berhenti pula. Meskipun demikian, nampak
betapa mereka menjadi kecewa. Namun tidak seorang-pun diantara mereka yang
menanyakannya kepada Jlitheng, karena mereka sadar, bahwa mereka tidak berhak
untuk menuntut agar Jlitheng melakukan tindakan lebih jauh lagi dari yang sudah
dikerjakan.
Tetapi agaknya Jlitheng mengetahui
perasaan Cempaka dan kawan-kawannya sehingga ia berusaha menjelaskan sikapnya,
“Aku tidak perlu mengejar mereka. Bahwa aku sudah tahu tenteng mereka, itu sudah
cukup. Karena pada setiap saat aku akan dapat mengambil tindakan atas perguruan
Kendali Putih.”
Cempaka menarik nafas dalam-dalam.
Namun ia mengangguk sambil berkata, “Terserah kepadamu. Tetapi apakah kau benar
seorang Senapati prajurit dari Demak ?”
Jlitheng tertawa. Katanya, “Apakah
pakaianku memang pantas disebut seorang Senapati ?”
Cempaka mulai ragu-ragu.
Dipardanginya wajah Jlitheng yang tidak memberikan kesan kesungguhan. Bahkan
sambil tertawa ia berkata, “Seharusnya kau dapat membedakan, apakah aku
benar-benar seorang Senapati atau bukan. Pakaianku memang mirip pakaian seorang
prajurit. Tetapi aku bukan seorang prajurit.”
“Siapakah kau sebenarnya ?“ bertanya
Cempaka.
“Aku adalah orang yang kabur
kanginan. Orang yang tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak mempunyai
kepentingan apapun juga. Aku melihatkan diri karena aku melihat ketidak adilan.
Kau bertiga harus melawan lima orang sehingga pertempuran itu menjadi berat
sebelah. He, apakah kau memang dari perguruan Sanggar Gading ?”
“Ya,“ Cempaka tidak dapat ingkar
lagi.
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Satu keterangan telah didapatkannya. Cempaka adalah orang Sanggar Gading.
“Aku mengucapkan terima kasih atas
pertolonganmu,“ berkata Cempaka kemudian.
“Itu tidak pening. Tetapi apakah
sebenarnya yang menyebabkan kalian bertempur dengan orang-orang Kendali Putih.”
“Kau sudah mendengar sebagian dari
persoalan itu.”
“Ya,“ Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam, “tetapi apakah arti pusaka yang kalian perebutkan itu ? Apakah
pusaka itu mempunyai nilai gaib yang dapat membuat seseorang menjadi sesembahan,
atau membuat seseorang menjadi pilih tanding, atau nilai-nilai yang lain?”
Jlitheng mengerutkan keringnya ketika
ia melihat Cempaka tersenyum. Tetapi Cempaka kemudian berkata, “Aku titak tahu.
Tetapi pusaka itu penting sekali bagi perguruan Sanggar Gading.”
“Dan kau sudah mendapatkannya ?”
Cempaka itupun tiba-tiba telah
tertawa. Katanya, “Belum. Dan aku berkata sebenarnya, bahwa aku belum
mendapatkan pusaka itu.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Namun
iapun kemudan tertawa pula. Justru berkepanjangan. Diantara deri tertawanya ia
berkata, “Alangkah lucunya. Kalian sudah mempertaruhkan nyawa kalian untuk
sesuatu yang tidak jelas. Apakah artinya itu bukan suatu kedunguan atau bahkan
kegilaan ?”
“Kita memang orang-orang gila. Tetapi
memperebutkan pusaka itu bukan suatu kegilaan yang lebih gila dari kegilaanmu
mencampuri persoalanku yang dapat merenggut nyawamu juga,“ berkata Cempaka.
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Aku hanya ingin menolongmu. Jika kau tersinggung dengan istilah itu,
baiklah aku katakan lagi, bahwa aku tidak senang melihat ketidak adilan. Aku
sama sekali tidak berkepentingan dengan pusaka itu dan segala tingkah lakumu
kemudian. Aku akan meneruskan perjalananku. Mungkin aku akan singgah di Demak.
Mungkin tidak. Tetapi mungkin aku justru akan singgah di perguruan Sanggar
Gading.”
“Pergilah kesana. Tandangmu membuat
aku tertarik kepadamu. Jika kau bersedia, bergabunglah dengan kami. Ada tugas
penting yang akan kami lakukan,“ berkata Cempaka.
Jlitheng termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian ia bertanya, “Tugas apa?”
“Aku belum tahu pasti. Tetapi jika
kau bersedia, datanglah,” sambung Cempaka.
Dada Jlitheng menjadi berdebar-debar.
Ia teringat pembicaraan Cempaka dengan Daruwerdi di Bukit Gundul. Bahkan
Daruwerdi menuntut imbalan yang mahal dari pusaka yang dijanjikan.
Karena itu, sejenak kemudian Jlitheng
berkata, “Apakah persoalannya ada hubungannya dengan pusaka itu ? Jika ada, aku
lebih baik tidak ikut campur, karena aku tidak mau terlibat dalam persoalan yang
menyangkut banyak pihak. Tetapi jika persoalan itu benar-benar tugas
perguruanmu, aku mungkin akan dapat mempertimbangkan.”
Cempaka memandang Jlitheng sejenak.
Tetapi ia tidak melihat kesan yang mencurigakan pada wajah itu. Dalam keremangan
malam ia melihat, seakan-akan Jlitheng berkata dengan jujur dan tanpa maksud
tertentu. Karena itu, maka iapun kemudian menjawab, “Tidak. Tidak ada sangkut
pautnya dengan pusaka itu. Tetapi yang harus kami lakukan adalah persoalan yang
menyangkut harga diri perguruan Sanggar Gading.”
“Dendam? Kebencian? Atau menyangkut
harta, benda?”
“Harga diri,“ sahut Cempaka, “tetapi
aku tidak tahu pasti.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Ia
melihat satu kemungkinan untuk maju selangkah dalam tugasnya. Tetapi iapun
melihat bahaya yang tersembunyi dibalik kemungkinan itu.
Sambil mengangguk-angguk iapun
kemudian berkata, “Ki Sanak. Mungkin aku akan benar-benar datang ke padepokanmu.
Mungkin aku akan dapat berbuat sesuatu. Tetapi keterlibatanku memerlukan
kejelasan, sehingga aku tidak akan salah sasaran. Mungkin yang telah menyentuh
harga dirimu itu justru orang yang pernah aku kenal baik, atau malahan
sahabat-sahabatku. Tetapi hal itu dapat aku bicarakan kelak jika benar-benar aku
sempat datang ke Sanggar Gading.”
“Kau orang yang aneh. Apakah
keterlibatanmu kali ini mempunyai alasan dan landasan yang jelas? Kau tidak
mengenal aku dan kaupun tidak mengenal orang-orang kendali Putih. Tetapi kau
langsung terjun digelanggang perselisihan ini.”
“Tetapi bagiku cukup jelas.
Orang-orang Kendali Putih itu bukan sanak kadangku. Bukan sahabat-sahabatku dan
bukan saudara-saudara seperguruanku,“ jawab Jlitheng.
Cempaka mengangguk-angguk. Katanya,
“Baiklah. Jika kau ingin datang, datanglah. Tetapi yang akan kami lakukan tidak
akan menunggu sampai waktu yang lebih dari yang sudah ditentukan.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya,
“Aku akan datang pada waktu yang kau tentukan. Jika dalam sepuluh hari itu aku
tidak datang, maka mungkin aku sudah berada ditempat yang jauh. Mungkin aku
sudah berada di Tuban atau mungkin di Blambangan. Bahkan mungkin aku sudah
menyeberang ke Bali.”
Cempaka mengerutkan keningnya. Namun
iapun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah kepadamu. Tetapi siapa
namamu ?”
“Namaku memang Bantaradi. Tetapi aku
bukan Senapati Demak seperti yang aku katakan. Pertemuan kita mungkin ada
gunanya. Tetapi mungkin tidak berkelanjutan apapun juga,“ berkata Jlitheng
kemudian, “aku- minta diri. Aku akan melanjutkan perjalananku yang masih sangat
jauh, karena perjalananku memang tanpa batas.”
Cempaka tidak menahannya lagi. Ia
memandang Jlitheng dengan kening yang berkerut. Ia melihat sesuatu yang asing
pada anak muda itu. Dan nampaknya Jlitheng telah berhasil menimbulkan anggapan,
bahwa ia sama sekali tidak bersangkut paut dengan pusaka yang sedang menjadi
rebutan diantara baberapa golongan itu.
Sejenak kemudian Jlitheng telah
meloncat kepunggung kudanya dan kemudian berkata, “Berhati-hatilah menghadapi
orang-orang Kendali Putih. He, apakah kau akan mengajak aku datang kepadepokan
Kendali Putih sebelum sepuluh hari ini?”
Cempaka menjadi ragu-ragu. Tetapi
akhirnya ia menggeleng. “Tidak. Meskipun aku tidak tahu pasti, apa yang akan aku
lakukan, karena aku hanya akan melakukannya. Kakak kandungkulah yang mengetahui
dengan pasti, persoalan yang bagaikan mengindap didalam jantung perguruan.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Kemudian
sambil menggerakkan kendali kudanya ia berkata, “Kita berpisah. Mudah-mudahan
kita dapat bertemu lagi.”
Cempaka menarik nafas dalam-dalam, ia
hanya memandangi saja kuda yang kemudian berlari meninggalkannya membawa
Jlitheng dipunggungnya.
“Anak muda yang luar biasa,“ berkata
Cempaka. Kedua orang kawannya hanya mengangguk-angguk saja.
“Ia memiliki tenaga yang cukup besar
dan kecepatan bergerak yang mengagumkan. Ia akan dapat menjadi kawan yang baik
dalam tugas berat yang mendatang,“ berkata Cempaka pula.
“Tetapi kita belum mengenalnya dengan
baik,“ berkata salah seorang dari kawan Cempaka.
“Aku telah dapat menarik kesimpulan,
bahwa ia sama sekali tidak bersangkut paut dengan pusaka yang sedang
diperebutkan itu. Mungkin iapun akan mempunyai tuntutan tertentu atau sama
sekali tidak, namun sudah tentu tidak berkisar pada pusaka yang bernilai sangat
tinggi bagi perguruan kita itu,“ sahut Cempaka.
“Agaknya memang demikian. Tetapi jika
kemudian ia mendengar serba sedikit tentang pusaka itu, mungkin sikapnya akan
berubah.”
“Kita akan menunggunya,“ desis
Cempaka kemudian, “seandainya ia mempunyai maksud tertentu, bukan persoalan yang
sulit bagi kita, karena ia hanya seorang diri.”
“Maksudmu, setelah kita
mempergunakannya, anak muda itu akan kita singkirkan ?“ bertanya seorang
kawannya.
“Jika ia akan dapat menjadi
pengganggu. Jika tidak, biarlah ia pergi tanpa kita sakiti hatinya,“ jawab
Cempaka.
Kedua kawannya tidak bertanya lagi.
Merekapun kemudian bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Namun dalam pada itu, Cempaka telah
tenggelam kedalam angan-angannya. Jika ia berhasil mememuhi permintaan
Daruwerdi, maka ia akan mendapatkan pusaka yang sangat diperlukan oleh saudara
tuanya, yang memimpin padepokan Sanggar Gading Setidak-tidaknya ia akan mendapat
petunjuk pasti, untuk menemukan pusaka itu. Karena pada pusaka itu terdapat
petunjuk yang sangat berharga. Mungkin tergores pada wrangkanya, atau mungkin
pada peti tempat pusaka itu disimpan, atau pada selembar kain yang terdapat
dalam peti itu pula. Tetapi menurut pendengarannya, bahwa pada pusaka itu
terdapat petunjuk, dimanakah harta benda yang tidak ternilai harganya telah
disimpan.
“Mungkin pusaka itu memang mempunyai
pengaruh gaib,“ berkata Cempaka didalam hatinya, “tetapi harta benda yang tidak
ternilai itupun mampunyai daya tarik dapat membuat banyak orang menjadi gila.“
Tetapi Cempaka tidak mengatakan
kepada seorangpun juga dari perguruannya, selain kakak kandungnya. Keduanya
berusaha untuk mendapatkan pusaka itu, apapun yang harus mereka lakukan. Seperti
juga beberapa perguruan dan beberapa kelompok orang-orang pilihan yang sudah
mendengar serba sedikit tentang pusaka itu, telah berusaha untuk menemukannya.
Apakah mereka tertarik karena mereka menganggap pusaka itu akan dapat mengangkut
mereka kejenjang kekuasaan tertinggi atau karena mereka memang sudah mengetahui,
bahwa disamping pusaka itu terdapat harta benda yang sangat besar.
Dalam pada itu, Jlitheng berpacu
dengan kencang menuju ke Kota Raja. Ia sudah mempunyai rencana tersendiri untuk
melaksanakan niatnya. Peristiwa yang baru saja terjadi, telah menjadi salah satu
bahan yang dapat menambah bekal dalam tugasnya.
Sebelum matahari terbit, Jlitheng
telah memasuki Kota Raja. Ia langsung menuju kesebuah rumah yang cukup besar
dengan halaman yang luas, meskipun rumah itu terletak di bagian yang tidak cukup
ramai.
Tetapi Jlitheng tidak turun dihalaman
depan dan menambatkan kudanya pada tonggak disudut pendapa, tetapi ia langsung
memasuki seketeng sebelah kiri dan masuk ke halaman samping.
Seorang penghuni rumah itu terkejut
melihat seekor kuda dengan penunggangnya langsung memasuki seketeng. Karena itu,
maka iapun segera menyongsong dan menghentikannya.
Jlitheng tersenyum. Iapun segera
meloncat turun sambil berkata, “Jangan terkejut. Aku ingin bertemu dengan paman
Sri Panular.”
Orang itu termangu-mangu. Dengan
ragu-ragu ia bertanya, “Siapakah Ki Sanak?”
Jlitheng tersenyum. Katanya pula,
“Sampaikan pesanku. Cepatlah sedikit. Matahari sudah akan terbit.”
Orang itu masih termangu-mangu. Namun
iapun berpaling ketika seorang perempuan menjelang setengah usia datang menyapa
anak muda yang datang berkuda itu, “Kau ngger. Marilah. Pamanmu sudah berada
disanggar.”
Jlitheng mengangguk hormat. Jawabnya,
“Terima kasih bibi. Aku datang agak kesiangan.”
Perempuan itu tertawa sambil
mendekatinya ia berkata, “Masuklah. Aku akan memanggil pamanmu.”
“Biarlah aku menyusul ke sanggar saja
bibi,“ jawab Jlitheng.
Perempuan itu mengeratkan keningnya.
Katanya, “Duduk sajalah dipringgitan. Biarlah aku memanggil pamanmu.”
“Aku tidak ingin mengganggu paman,
bibi. Biarlah aku pergi ke Sanggar.”
Perempuan itu menarik nafas panjang.
Lalu, “Baiklah. Marilah aku bawa kau ke Sanggar di belakang.”
Jlithengpun kemudian menyerahkan
kudanya kepada orang yang masih kebingungan. Kemudian mengikuti perempuan itu
menuju ke longkangan dibelakang. Dibelakang longkangan terdapat sebuah bilik
yang terpisah. Lewat bilik itu mereka memasuki sebuah ruangan yang cukup luas,
berdinding kayu. Agak lebih rapat dari bagian-bagian yang lain dari rumah yang
besar itu.
“Kakang Sri Panular,“ terdengar
perempuan itu berkata ketika mereka memasuki sebuah pintu, “angger Arya Baskara
datang untuk menghadap.”
Sejenak mereka menunggu. Baru
kemudian terdengar jawaban dari keremangan ruangan Sanggar, “Aku senang sekali
oleh kedatangannya. Marilah ngger. Mendekatlah.”
“Masuklah,“ berkata perempuan itu,
“aku akan menyiapkan jamuan bagi angger.”
“Ah,“ desis Jlitheng, “bibi jangan
menjadi terlalu sibuk karena kedatanganku.”
Perempuan itu tersenyum. Katanya,
“Tidak ngger. Sudah seharusnya aku menjamu seorang tamu.”
“Terima kasih bibi,“ jawab Jlitheng
kemudian.
Sepeninggal perempuan itu, maka
Jlithengpun kemudian memasuki sanggar yang masih remang-remang. Disudut ia
melihat seseorang duduk diatas sebuah batu hitam yang dialasi dengan sehelai
kulit harimau loreng.
“Marilah ngger,“ orang yang duduk itu
mempersalahkan.
Jlithengpun kemudian mendekat. Dengan
hormatnya ia membungkuk dihadapan orang yang duduk diatas batu itu sambil
berkata, “Aku menyampaikan baktiku paman.”
Terdengar suasa tertawa tertahan.
Lalu, “Silahkan duduk diamben bambu itu ngger. Kau selalu membuat hatiku menjadi
cerah. Semakin sering kau datang, aku tentu akan menjadi semakin muda.”
Jlithengpun kemudian duduk disebuah
amben beberapa langkah dari batu hitam itu. Diluar sadarnya ia mulai mengedarkan
pandangan matanya keseluruh ruangan yang menjadi semakin terang disaat matahari
mulai terbit.
“Tidak ada perubahan, apapun juga,“
berkata orang yang duduk di atas batu hitam itu.
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Ketika ia memandang sebilah ujung tombak yang tidak bertangkai, yang terpancang
pada sebuah lubang bambu disamping sebuah perisai yang terbuat dari baja, maka
orang yang duduk itu berkata, “Senjata itulah yang baru bagi sanggar ini ngger.
Aku mendapatkannya dari seorang kawan yang berhasil merampasnya dari para bajak
laut yang kadang-kadang turun kepantai dan merampok para nelayan yang memang
sudah miskin.
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Tetapi menilik bentuknya, senjata dan
perisai itu bukan milik kita paman. Maksudku, bukan prajurit dan orang-orang
Demak.”
“Tepat ngger. Senjata dan perisai itu
dapat dirampas dari bajak laut, yang barangkali mendapatkannya dari orang-orang
seberang. Entah dengan cara apa. Apakah senjata itu ditukar dengan kebutuhan
mereka, atau para bajak laut itu merampas dengan kekerasan.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Diluar
sadarnya ia berdesis, “Dan sekarang senjata dan perisai itu berada ditangan
paman.”
Orang itu tertawa pendek. Katanya,
“Aku mengumpulkan berbagai jenis senjata. Bukan saja senjata yang aku dapatkan
dari masa kemasa, pemerintahan yang berpindah-pindah di negeri ini lewat
siapapun juga seperti yang kau lihat bergantung dididing. Tetapi juga senjata
dari negeri seberang.”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Di sanggar itu memang terdapat senjata sejak jaman purbakala di tanah ini. Kapak
batu, tombak dan sumpit yang sederhana. Tetapi juga senjata yang sudah berlapis
emas dengan teretes berlian dari masa kejayaan kerajaan demi kerajaan.”
Tetapi kedatangan Jlitheng ketempat
itu, bukannya untuk berbicara tentang berbagai macam senjata. Tetapi ia
mempunyai keperluan yang penting, sehubungan dengan niatnya untuk membayangi
Sepasang Bukit Mati yang bersangkutan dengan pusaka yang mempunyai nilai
tersendiri itu.
Karena itu maka sejenak kemudian,
setelah memberikan beterapa penjelasan maka Jlithengpun berkata, “Paman,
kedatanganku adalah satu usaha untuk memecahka rahasia yang meyelimuti pusaka
itu. Aku telah mendapatkan beberapa bahan yang barangkali penting untuk
dibicarakan.”
Orang tua itu mengangguk-angguk.
Katanya, “Aku memang sudah menduga, bahwa kau sudah menemukan sesuatu yang
barangkali dapat dipakai sebagai sandaran usahamu untuk memecahkan rahasia
pusaka itu. Jika masalahnya tetap berkepanjangan, maka akan semakin banyak
kelompok yang terlibat kedalamnya, yang akan berarti menambah korban yang sama
sekali tidak berarti. Sesuatu yang kecil dan tidak berarti, lewat berita dan
ceritera mulut kemulut, akan dapat memjadi sesuatu yang sangat dikagumi.
Sepercik api akan dapat dianggap sebagai panasnya luapan Gunung yang sedang
meledak.”
“Agaknya demikian juga tentang pusaka
itu paman. Setiap orang menganggap pentingnya pusaka yang sekarang masih belum
ditemukan,“ sahut Jlitheng.
“Apalagi pusaka itu yang memang
disertai dengan satu keterangan tentang harta benda yang disimpan oleh Pangeran
Pracimasanti. Berita dan ceritera tentang pusaka itu tentu akan berkembang
semakin besar, seolah-olah siapa yang memiliki pusaka itu, adalah orang yang
akan dapat menjadi Maha Raja diatas permukaan bumi,“ berkata Sri Panular.
Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya,
"Kedatanganku akan mohon petunjuk kepada paman, apakah yang harus kita kerjakan
selanjutnya.”
Orang tua itu mengangguk-angguk.
Katanya, “Apa yang sudah kau ketahui dan bagaimana menurut pendapatmu ?”
Jlithengpun kemudian menceriterakan
apa yang ada dan apa yang telah terjadi di sekitar Sepasang Bukit Mati.
Kedatangan orang-orang dari padepokan Kendali Putih, orang-orang Pusparuri dan
orang-orang dari Sanggar Gading yang telah berhubungan dengan seorang anak muda
yang bernama Daruwerdi. Kemudian, yang masih merupakan teka-teki baginya adalah
dua orang ayah dan anak perempuan yang berada di salah saru dari Sepasang Bukit
Mati itu. Orang yang menurut pengakuannya harus berpindah dari daerahnya, karena
banjir, gempa dan tanah longsor.
Sri Panular mendengarkan keterangan
Jlitheng dengan saksama. Apalagi ketika Jlitheng menceriterakan apa yang
didengarnya tentang pembicaraan Daruwerdi dan Cempaka, serta apa yang dialaminya
diperjalanannya ke Demak dari Lumban.
Orang tua itu mengangguk-angguk.
Dengan nada dalam ia berkata, “Kau sudah mendapat jalan itu ngger, meskipun kau
harus sangat berhati-hati. Memasuki padepokan Sanggar Gading bukan satu
pekerjaan yang mudah. Bukan pula satu permainan yang akan menyenangkan.”
“Aku sadar paman. Tetapi aku kira itu
adalah jalan yang paling baik. Diluar perhitunganku, kebetulan sekali aku
mendapat kesempatan untuk menolong anak Sanggar Gading itu,“ berkata Jlitheng
kemudian, “tetapi disamping kemungkinan yang baik itu, aku harus mempersiapkan
diri menghadapi segala kemungkinan. Akupun harus mendapat akal untuk
meninggalkan Lumban untuk waktu yang agak lama.”
“Apakah kau berniat untuk datang
kepadepokan Sanggar Gading ?”
“Agaknya aku akan menempuh jalan itu
untuk mangetahui, siapakah yang menjadi sasaran dendam Daruwerdi. Jika dendam
itu tidak benar-benar membakar hati dan jantungnya, aku kira Daruwerdi tidak
akan bersedia menukarnya dengan pusaka yang menjadi rebutan itu.”
“Kau yakin bahwa Daruwerdi
benar-benar mengetahui dengan pasti tentang pusaka itu?“ bertanya Sri Panular.
Jlitheng menjadi ragu-ragu sejenak.
Namun kemudian ia berkata, “Menurut pengakuannya. Jika tidak, apakah ia akan
berani mempertaruhkannya untuk mendapatkan orang yang dimaksudkan ?”
Sri Panular mengangguk-angguk.
Katanya, “Baiklah ngger. Jika kau sudah bertekad untuk melakukannya.”
“Tetapi paman,“ berkata Jlitheng
dengan serta merta, “itu barulah salah satu jalan. Jalan yang semula ingin aku
sampaikan kepada paman, adalah bahwa sebaiknya paman mencari keterangan,
siapakah diantara para Pangeran yang pernah berhutang nyawa, yang pernah
membunuh seseorang dalam persoalan apapun juga. Jika demikian, maka kita akan
dapat mencari keterangan, siapakah yang telah dibunuh, dan orang yang dibunuh
itulah yang mempunyai hubungan dengan Daruwerdi, yang menurut pengakuan anak
muda itu adalah ayahnya.“
Sri Panular mengangguk-angguk. Namun
iapun berkata, “Baiklah. Itu salah satu jalan yang dapat ditempuh. Tetapi tentu
ada jalan lain. Kita akan mencari keterangan tentang Daruwerdi itu sendiri. Jika
orang-orang Pusparuri dapat menghubunginya, tentu ada diantara mereka yang sudah
mengenalnya sebelumnya. Demikian juga orang Sanggar Gading itu.”
“Jalan yang dapat juga dilalui
meskipun tentu agak licin. Tetapi kita memang harus menempuh segala jalan.
Sementara aku akan melalui jalan yang lebih pendek, meskipun sangat berbahaya.”
“Kau sudah benar-benar bertekad
melakukannya ?”
“Ya paman. Aku kira jalan itu adalah
kesempatan yang paling dekat, meskipun yang paling berbahaya.”
Sri Panular mengangguk-angguk.
Katanya, “Baiklah. Semua jalan akan kita tempuh untuk melacak jejak Pangeran
Pracimasanti. Jika saja pengawalnya yang setia, meskipun cacat itu dapat
diketemukan, mungkin kita tidak akan kehilangan jejak. Tetapi abdinya yang setia
itupun bagaikan hilang ditelan bumi. Karena itu, tentu ada rahasia tersendiri,
kenapa anak muda yang bernama Daruwerdi itu mengaku dapat menunjukkan pusaka
yang hilang itu. Mungkin anak muda itu, sengaja atau tidak sengaja, dapat
menguasai abdi yang setia dan cacat itu. Namun bagaimanapun juga, kita harus
menyelamatkan apa yang pernah disimpan oleh Pangeran Pracimasanti. Dengan
demikian kita sudah berbuat satu kebajikan bagi sesama.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Ia sadar
sepenuhnya akan tugas yang akan dilakukannya. Yang tersimpan disamping pusaka
itu tentu harta benda yang tidak sedikit, yang akan dapat dipergunakan untuk
kepentingan Demak yang sedang tumbuh! Selain pusaka itu sendiri akan kembali ke
gedung perbendaharaan pusaka, maka harta benda itupun tentu akan sangat
bermanfaat. Demak memerlukan banyak sekali beaya untuk membangun dirinya,
sementara beberapa pihak lebih senang untuk bekerja bagi kepentingan diri
sendiri.
Dalam pada itu, maka Jlithengpun
kemudian berkata, “Paman. Sebelum aku memasuki sarang orang-orang Sanggar
Gading, aku harus kembali ke Lumban lebih dahulu. Aku harus menghapus segala
kecurigaan karena aku akan pergi untuk beberapa hari.”
“Lakukanlah. Akupun akan melakukan
usaha yang lain. Seperti yang kau maksud, aku akan mencari keterangan tentang
seorang Pangeran yang pernah terlibat dalam pertentangan dan pembunuhan,
sehingga Daruwerdi mendendamnya.”
“Itulah yang akan aku sampaikan.
Selebihnya, kita akan mengikuti perkembangan keadaan.”
“Dan kau akan berada disini berapa
hari ?“ bertanya Sri Panular.
“Malam nanti aku harus kembali ke
Lumban paman. Kepergianku yang lama akan menimbulkan pertanyaan bagi anak-anak
muda Lumban. Tetapi juga akan dapat menarik perhatian Daruwerdi.”
Sri Panular mengangguk-angguk. Namun
kemudian katanya, “Waktu itu sangat pendek. Tetapi untuk menambah bekal tugasmu,
biarlah yang pendek ini kita pergunakan sebaik-baiknya.”
“Maksud paman?“ bertanya Jlitheng.
“Kau tentu sudah mendapat banyak
bekal dari kakang Baskara. Kau tentu sudah memiliki beberapa jenis senjata yang
sering dipergunakan. Tetapi untuk menjaga keselamatanmu jika kau berada didalam
lingkungan lawan yang banyak. … aku akan memberikan beberapa petunjuk yang
mungkin pernah kau ketahui pula dari kakang Baskara. Tetapi yang kemudian aku
kembangkan.”
“Apakah itu paman ?“ bertanya
Jlitheng.
“Aku mempunyai sejenis paser yang
mungkin berguna bagimu. Jika orang-orang Sanggar Gading kemudian mengenalimu,
dan kau harus menyelamatkan diri dari orang-orang Sanggar Gading, atau di dalam
lingkungan yang manapun juga, maka senjata semacam itu akan sangat berguna. Kau
tidak perlu menganggap dirimu licik, jika kau berusaha melepaskan diri dari satu
kepungan dengan mempergunakan paser-paser semacam itu.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Ia
percaya bahwa senjata itu tentu akan sangat berguna, karena Sri Panular adalah
salah seorang ahli senjata dari jenis apapun juga. Jika didinding sanggarnya
tersimpan banyak senjata, bukannya sekedar sebagai perhiasan. Tetapi semuanya
telah dipelajarinya dan diperhitungkannya untung dan ruginya.
Demikianlah, waktu yang sehari itu
telah dipergunakan oleh Jlitheng untuk menguasai penggunaan senjata kecil yang
dapat dipergunakannya dalam jumlah yang banyak.
Ia tidak saja melemparkan paser satu
demi satu. Tetapi ia akan dapat melemparkan dua, tiga dan bahkan lima buah paser
sekaligus dengan arah yang memencar, sehingga dengan demikian ia akan dapat
membuka jalan dihadapannya, apabila beberapa orang menghalanginya.
“Aku terpaksa mempergunakan racun,“
berkata Sri Panular, “tetapi racunku bukan racun yang membunuh. Seseorang akan
dapat pingsan karenanya. Tetapi seorang yang mengerti serba sedikit tentang
obat-obatan, akan dapat menyembuhkannya. Memang mungkin akan dapat terjadi
kematian jika seseorang tidak tertolong sama sekali, dan orang itu tidak
mempunyai daya tahan yang cukup. Tetapi kejadian itu adalah satu dari sepuluh.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Ia sadar,
bahwa Sri Panular bukannya seorang ahli senjata yang tidak berperikemanusiaan.
Meskipun ia selalu bermain-main dengan senjata, tetapi senjata baginya adalah,
alat yang paling buruk untuk menyelesaikan, persoalan-persoalan yang timbul
diantara sesama.
Dengan senjata paser-paser kecil,
maka Jlitheng telah mendapatkan sebuah ikat pinggang yang khusus pula dari Sri
Panular. Ikat pinggang yang dapat dipergunakannya untuk membawa paser-paser
kecil cukup banyak.
“Tetapi berhati-hatilah,“ berkata Sri
Panular, “jangan terlalu sering dipergunakan. Tetapi juga jangan menganggap
bahwa paser-paser ini akan selalu dapat menyelesaikan tugasmu, karena banyak
diantara orang-orang yang berkeliaran dalam dunia kekerasan yang mampu
menghindari lontaran tanganmu.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Ia
mengerti sepenuhnya setiap pesan dari Sri Panular. Maka katanya, “Paman,
bagaimanapun juga, paser-paser ini telah menambah bekalku. Terutama niatku untuk
berada ditengah-tengah orang-orang Sanggar Gading.”
“Kau akan memasuki daerah yang sangat
berbahaya. Aku akan berada dirumah pada saat-saat yang gawat bagimu itu.
Disekitar sepuluh sampai lima belas hari, aku selalu bersiap jika aku kau
perlukan. Disaat-saat orang-orang Sanggar akan memenuhi permintaan Daruwerdi itu
akan mungkin sekali terjadi sesuatu yang tidak kau duga sama sekali,“ berkata
Sri Panular, lalu, “berbuatlah dengan keyakinan. Kau adalah murid Ki Baskara
yang telah menurunkan ilmu pedang yang luar biasa kepadamu. Kau juga mampu
mempergunakan senjata lentur. Dan sekarang, kau kuasai penggunaan
senjata-senjata kecil itu. Latkukanlah dengan penuh tanggung jawab. Tetapi
segalanya harus kau landasi dengan permohonan kepada Yang Maha Kasih. Jika
kerjamu kau tujukan bagi kebajikan sesama, maka kau akan selalu mendapat
perlindungannya.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Namun
hatinya bagaikan berkembang. Ia sadar sepenuhnya, apakah yang sedang
dihadapinya. Tetapi iapun menganggap, sudah sewajarnya ia mempertaruhkan nyawa
bagi pusaka dan harta benda yang akan sangat besar manfaatnya bagi Demak dan
sesamanya itu. Karena Jlithengpun mengerti, bahwa Pangeran Pracimasanti tidak
bermaksud membangun kembali Kajayaan Majapahit dalam arti yang sempit.
Menurut pendapat Jlitheng, maka
Majapahit bukanya nama dan tempat kedudukan puncak pemerintahan. Tetapi apa yang
sudah pernah dicapainya. Persatuan yang mengikat seluruh persada Nusantara.
Apapun namanya dan dimanapun kedudukan Kota Raja sebagai tempat pimpinan
pemerintahan, dan siapapun nama orang yang memegang kendali, bukan masalah yang
pertama. Tetapi ujud dan isi Nusantara itulah yang tentu akan diperjuangkan oleh
Pangeran Pracimasanti dengan bekal yang disediakannya, tetapi tidak sempat
dipergunakannya.
“Bekal itu tentu jauh dari pada
mencukupi,“ berkata Jlitheng didalam hatinya, “tetapi itu lebih baik daripada
bekal itu jatuh ketangan orang-orang yang hanya mementingkan pribadi
masing-masing.”
Karena itulah, maka tekat Jlithengpun
menjadi semakin bulat. Ia adalah murid Baskara, orang yang aneh. Dan iapun
mempunyai kegemaran yang kadang-kadang aneh pula bagi orang lain. Namun,
terhadap tekadnya untuk menemukan pusaka dan harta benda itu adalah
bersungguh-sungguh.
Justru karena Jlitheng memang sudah
memiliki ketrampilan yang tinggi, maka dalam satu hari ia sudah pandai
mempergunakan senjata-senjata kecil itu. Sehingga karena itu, maka iapun merasa
dirinya menjadi semakin kuat untuk tampil diantara orang-orang Sanggar Gading.
Ketika senja turun, maka Jlithengpun
bersiap-siap untuk meninggalkan rumah Sri Panular. Ia harus kembali lagi ke
Lumban. Kemudian mengatur diri, agar kepergiannya ke Sanggar Gading untuk
beberapa hari tidak menumbuhkan kecurigaan.
“Menjelang saat yang berbahaya itu,
lakukanlah latihan sebaik-baiknya ngger,“ berkata Sri Panular, “kau sudah
menguasai ilmu pernafasan. Kau harus mematangkan ilmu itu dalam waktu kurang
dari sepuluh hari ini. Kau harus mampu menguasai segenap bagian dari tubuhmu
dalam keadaan yang gawat. Kau harus melatih diri mempertajam gerak-gerak
naluriah yang terkendali. Kesadaranmu harus dapat dengan cepat menanggapi
keadaan yang berkembang setiap saat.”
“Ya Paman,” Jlitheng
mengangguk-angguk, “aku akan mempergunakan waktu yang pendek itu
sebaik-baiknya.”
“Bahaya bagimu bukan saja di Sanggar
Gading. Tetapi jika kau benar-benar akan menyertai mereka memasuki daerah yang
belum kau ketahui itu, maka kaupun akan dapat menjadi umpan yang mungkin tidak
kau sadari. Mungkin kau akan dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading memasuki
sebuah gapura yang dijaga oleh pengawal-pengawal yang terlatih. Jika kau
berhasil masuk, maka kau akan berhadapan dengan pengawal-pengawal yang
melindungi rumah itu, yang sudah barang tentu bukannya orang kebanyakan.”
“Terima kasih paman,“ sahut Jlitheng,
“aku akan melakukannya segala pesan paman.”
“Kau masih juga harus memperhatikan
orang tua yang datang kebukit bersama anaknya itu. Jangan terlalu percaya.
Tetapi juga jangan terlampau mencurigainya. Mungkin ia benar-benar orang yang
menyingkir dari gempa, banjir dan tanah longsor. Tetapi mungkin mereka adalah
orang-orang yang juga ingin mendekati Sepasang Bukit Mati.”
Jlitheng memperhatikan segala pesan
pamannya itu dengan sungguh-sungguh. Sepeninggal gurunya, maka Sri Panular
adalah orang yang paling dekat dengan dirinya. Dalam olah kanuragan juga dalam
setiap usaha dalam tugas-tugas kewajibannya.
Ketika gelap sudah menyelubungi
seluruh Kota Raja, maka Jlithengpun mohon diri kepada Sri Panular dan isterinya.
Ia harus kembali ke Lumban tanpa diketahui oleh siapa-pun. Apalagi oleh Cempaka
atau orang Sanggar Gading yang lain.
Ketika ia meninggalkan Kota Raja,
maka kudanyapun dipacunya semakin cepat. Dilaluinya padukuhan-padukuhan kecil
dan besar dengan meninggalkan pertanyaan pada orang-orang yang mendengar derap
kaki kudanya. Bahkan kadang-kadang Jlitheng benar-benar tidak dapat menghindari
anak-anak muda yang sedang berada di gardu-gardu.
Tetapi kesan yang ditinggalkannya
adalah, bahwa ia adalah seseorang yang bepergian jauh dengan tergesa-gesa.
Agar tidak menimbulkan kesan yang
mencurigakan, Jlitheng kadang-kadang terpaksa menganggukkan kepalanya sambil
tertawa dihadapan gardu-gardu yang diterangi dengan obor, ditunggui oleh
beberapa orang yang sedang meronda.
“Selamat malam,“ Jlitheng mengucapkan
salam kepada orang-orang yang memperhatikannya.
“Siapa ?” seorang anak muda digardu
bertanya kepada kawannya.
Kawannya menggeleng. Jawabnya, “Aku
belum mengenalnya.”
“Tetapi nampaknya ia telah mengenal
kami.”
“Mungkin saja. Kami adalah
pengawal-pengawal yang banyak dikenal orang, tetapi kami belum tentu dapait
mengenalnya seorang demi seorang.”
“Ah. Sombong benar anak ini,“ desis
seorang yang duduk disudut, “kau baru menjadi pengawal padukuhan kecil. Jika kau
menjadi seorang Bupati, apa saja yang akan kau katakan tentang dirimu ?”
Kawan-kawannya tertawa. Anak muda itu
menjadi tegang sejenak. Tetapi iapun kemudian tertawa pula.
Jlitheng yang berpacu kembali ke
Lumban itu telah mengambil jalan lain dari jalan yang dilaluinya ketika ia
berangkat ke Kota Raja. Namun iapun harus sampai ke Lumban sebelum pagi.
Disepanjang jalan Jlitheng sudah
mulai menganyam angan-angan. Bagaimana sebaiknya ia minta diri kepada
kawan-kawannya agar tidak memancing kecurigaan Daruwerdi. Kepada Kiai Kanthi ia
dapat mengatakan, bahwa ia akan pergi untuk lima hari atau lebih dalam usahanya
untuk mencari jejak orang yang dimaksud oleh Daruwerdi tanpa menyebut
orang-orang Sanggar Gading dan peristiwa yang ditemuinya diperjalanan, karena
seperti pesan Sri Panular, maka ia tidak boleh terlalu percaya kepada orang yang
kurang diketahuinya asal-usulnya itu. Tetapi kedua orang yang mengaku ayah dan
anak itu sudah terlanjur mengetahui tentang dirinya.
“Tetapi aku yakin, bahwa keduanya
adalah orang yang baik,“ berkata Jlitheng kepada diri sendiri, “sayang anak
gadisnya masih terlalu lugu dan kurang mempertimbangkan sikapnya. Agaknya ia
benar-benar seorang gadis yang kurang bergaul selain dengan ayahnya dan
barangkali seorang dua orang tetangganya ditempatnya yang lama. Meskipun
demikian ia memiliki ilmu yang ngedab-edabi.”
Demikianlah, Jlitheng harus
melakukannya seperti saat ia berangkat. Ia harus singgah untuk menitipkan
kudanya. Kemudian iapun segera minta diri kepada saudagar yang sudah mengenalnya
dengan baik itu.
“Aku menjadi bimbang,“ berkata
saudagar itu, “ada maksudku untuk menyusul anakmas ke Demak. Tetapi
jangan-jangan kita berselisih jalan. Karena itu aku lebih baik menunggu saja
dirumah sampai anakmas kembali ke Lumban.”
“Aku harus segera berbuat sesuatu
paman,“ berkata Jlitheng kemudian, “aku sudah menghubungi orang yang aku percaya
di Demak, yang dengan sepenuh hati bersedia membantu membebaskan pusaka yang
menjadi rebutan itu dari tangan orang-orang yang tidak berhak.”
Saudagar itu mengangguk-angguk. Namun
dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah aku dapat mengetahui, siapakah orang yang
pantas untuk dihubungi di Demak itu ? Maksudku, apakah aku boleh ikut campur
secara langsung!”
“Paman,“ berkata Jlitheng,
“sebenarnyalah aku tidak ingin melibatkan paman secara langsung dalam persoalan
ini. Bantuan paman sudah cukup banyak. Tetapi akupun tidak berkeberatan jika
paman mengetahui, siapakah orang yang aku hubungi di Demak, karena orang itu
adalah keluarga sendiri. Justru orang yang bagiku seperti guruku sendiri.”
Saudagar itu mengerutkan keningnya.
Ia juga mempunyai sangkut paut dalam hubungan jalur ilmu kanuragan Karena itu,
maka katanya, “Siapakah orang itu ?”
“Paman Sri Panular.”
Saudagar itu menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah mengira. Tetapi aku tidak dapat menyebutnya
sebelum kau mengatakannya. Tetapi agaknya orang itu adalah orang yang tepat. Kau
tentu tahu serba sedikit tentang perjalanan hidup Sri Panular, ngger.”
Jlitheng mengangguk-angguk.
“Agaknya persoalanmu telah
menggelitik hatiku untuk ikut mencampurinya secara langsung. Tetapi aku tidak
akan berbuat apa-apa. Maksudku, jika kau memerlukan bantuanku, aku tidak
berkeberatan untuk melakukannya. Misalnya kau memerlukan hubungan dengan kakang
Sri Panular, tetapi kau tidak sempat pergi langsung kepadanya.”
“Terima kasih paman. Sejauh ini aku
berharap, paman tidak dengan langsung terlibat, karena tugas paman sehari-hari.
Adalah agak sulit bagi paman untuk memisahkan antara kewajiban paman dengan
tugas-tugas yang sulit ini. Sebagai seorang saudagar paman memerlukan hubungan
seluas-luasnya. Mungkin orang-orang yang berdiri berseberangan dalam hubungan
dengan pusaka itu, ternyata adalah orang-orang yang memerlukan sesuatu dari
paman.”
“Jika aku mengetahuinya, maka
hubungan itu akan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya,“ jawab saudagar itu.
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Paman terlalu baik. Tetapi paman jangan berkorban terlalu banyak.
Bantuan paman telah cukup memberikan landasan kerjaku disini.”
Saudagar itu tersenyum. Katanya, “Apa
yang dapat aku lakukan, aku ingin melakukan lebih banyak lagi ngger. Tetapi aku
akan menjaga, bahwa aku justru tidak mengganggu langkah-langkah yang sudah
angger tentukan.”
Jlithengpun tersenyum. Meskipun ia
berkata, “Bukan maksudku paman. Tetapi baiklah aku mengucapkan banyak terima
kasih.”
Jlithengpun kemudian minta dari.
Seperti ketika datang, iapun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa. Setelah
menukarkan pakaiannya dan menyembunyikannya, maka dengan tergesa-gesa pula
Jlitheng kembali kerumahnya di Lumban Wetan.
Karena ketika ia datang, hari masih
belum pagi, maka iapun langsung pergi ke kandang dan berbaring diatas tumpukan
jerami kering. Sejenak kemudian, iapun telah tertidur. Betapa dinginnya malam,
namun diatas setumpuk jerami, rasa-rasanya badan Jlitheng telah menjadi hangat.
Ketika fajar menyingsing, Jlitheng
terbangun oleh suara senggot timba. Karena itu, sambil megusap matanya, iapun
bangkit dengan malasnya.
“Biar aku yang mengisinya biyung,“
berkata Jlitheng kepada ibunya yang sedang mengambil air.
“He, kau sudah datang?“ bertanya
ibunya.
Semalam aku turun. Aku tidak betah
tidur di bukit yang banyak nyamuknya itu,“ berkata Jlitheng.
Sambil menguap ia berjalan kesumur.
Kemudian ia mulai menarik senggot timba dan mengambil air untuk mengisi
jambangan di dapur dan di pakiwan.
“Apakah pekerjaanmu di bukit itu
sudah selesai,“ tiba-tiba saja ibunya bertanya.
“Belum biyung. Ternyata tidak secepat
yang kami duga. Karena itu maka kami putuskan untuk mengerjakannya disiang hari
saja. Dimalam hari, yang kami lakukan ternyata sangat sedikit. Kecuali malam
sangat dingin, nyamuknya banyak sekali, sehingga kami hanya sempat saling
berebut dekat dengan perapian tanpa berbuat apa-apa.”
“Aku tidak mengerti, apakah
sebenarnya yang kalian lakukan dibukit itu ? Membuat rumah buat seorang kakek
dan anak gadisnya ? Kenapa kalian begitu baik hati dengan bersusah payah
melakukan kerja ini ?“ bertanya Ibunya.
“Biyung,“ berkata Jlitheng kemudian,
“aku adalah salah seorang yang pernah merasakan betapa seseorang merasa dirinya
dalam kurnia yang tiada taranya, apabila ia mendapatkan kasih dari sesamanya.
Aku adalah salah satu dari banyak orang yang memerlukan pertolongan. Biyung
telah memberikan segala-galanya kepadaku. Karena itulah rasa-rasanya akupun
wajib berbuat demikian sekarang, ketika aku sudah merasa hidup tenang.”
“Ah,“ ibu Jlitheng berdesah. Tetapi
ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun sekilas teringat olehnya, bagaimana anak
muda itu datang kepadanya dalam keadaan yang menyedihkan, sehingga ia menjadi
belas kasihan kepadanya. Menerimanya sebagai anaknya yang disebutnya telah pergi
sejak masa kanak-kanaknya.
Perempuan itu menarik nafas
dalam-dalam, ia berkeras mengatakan demikian meskipun ada beberapa orang yang
menjadi heran karenanya. Karena menurut ingatan mereka, perempuan itu memang
tidak mempunyai anak.
“Sekitar duapuluh tahun yang lalu,“
berkata perempuan itu kepada tetangga-tetangganya yang meragukannya, “aku
sendiri sudah hampir lupa. Apalagi kalian.”
Tetangga-tetangganya tidak
menghiraukannya lagi. Apalagi ternyata kemudian bahwa Jlitheng bersikap baik dan
segera dapat luluh dalam pergaulan anak-anak muda di Lumban Wetan, sehingga
kehadirannya tidak menimbulkan persoalan apapun juga. Keragu-raguan
tetangga-tetangganyapun segera dapat dilupakannya dan Jlitheng diterima dengan
senang sebagai keluarga sendiri di Lumban Wetan.
Perempuan itupun kemudian
meninggalkan Jlitheng dan masuk kedapur. Pikirannya yang sederhana seperti juga
orang-orang Lumban yang lain tidak pernah menghubungkan kehadiran anak angkatnya
itu dengan segala macam persoalan yang tidak banyak diketahuinya didaerah itu.
justru dikampung halamannya. Perempuan itu tidak pernah mengetahui, apakah yang
terjadi didaerah yang oleh orang-orang lain disebut Sepasang Bukit Mati itu.
Perempuan itu tidak pernah mempersoalkan dan mengingat-ingat lagi, apakah di
daarah itu pernah dilalui seorang Pangeran trah Majapahit langsung yang bernama
Pangeran Pracimasanti.
Jlitheng yang kemudian melanjutkan
mengambil air, sempat juga bertanya kepada diri sendiri, “Apakah orang-orang
Lumban tidak ada yang pernah mendengar ceritera tentang Pangeran Pracimasanti
yang lewat didaerah Sepasang Bukit Mati, yang membawa bekal cukup banyak dan
kemudian tersimpan disekitar tempat ini.
Sekilas terbayang oleh Jlitheng,
seorang anak muda yang lain yang berada dipadukuhan itu pula. Dan Jlithengpun
bertanya pula kepada diri sendiri, “Apakah sebenarnya yang diketahui oleh
Daruwerdi? Apakah ia mengerti dengan pasti tentang pusaka itu atau ia juga
pernah mendengar tentang harta yang tersimpan dan hanya diketahui oleh orang
cacat, abdi Pangeran Pracimasanti yang setia itu?”
Tetapi Jlithengpun kemudian
menyingkirkan masalah itu dari angan-angannya. Desisnya, “Nanti sajalah, pada
saatnya aku harus menyelidikinya. Bukan sekedar menduga-duga.”
Dengan demikian maka tangannyapun
menjadi semakin cepat menarik senggot timba sehingga suaranya berderit semakin
keras. Seperti biasanya maka Jlithengpun mengisi segala jambangan dan persediaan
air sampai penuh.
Baru kemudian ia kembali kekandang
dan berbaring diatas setumpuk jerami kering. Tetapi ia tidak dapat memejamkan
matanya, karena hari menjadi semakin terang.
“Aku harus mempergunakan hari-hariku
sebaik-baiknya,“ berkata Jlitheng didalam hati, “sebelum sepuluh hari, aku harus
sudah berada di padepokan Sanggar Gading.”
Anak muda itu menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi kembali bukit gundul membayang di angan-angannya. Kembali ia
bertanya-tanya apakah yang sebenarnya dicari Daruwerdi di bukit gundul itu ?
Apakah ia sudah pasti bahwa yang ditinggalkan oleh Pangeran Pracimasanti ada
dibulkiit gundul itu, pusaka dengan beberapa petunjuk mengenai penyimpanan harta
benda, atau justru harta bendanya sendiri memang berada di bukit gundul itu.
Atau bukit itu sekedar tempat yang baik untuk bertemu dengan orang-orang yang
membuat janji dengannya.
Tiba-tiba saja Jlitheng bangkit. Ia
ingin menemui kawan-kawannya yang akan pergi ke bukit berhutan untuk membantu
Kiai Kanthi menyelesaikan gubugnya dan melihat apakah sudah waktunya ia menemui
Ki Buyut Lumban Wetan dan Ki Buyut Lumban Kulon.
Salelah minta diri kepada ibu
angkatnya, maka Jlitheng-pun kemudian meninggalkan rumahnya mencari
kawan-kawannya. Ternyata kawan-kawannya yang dipesannya untuk bekerja terus
meskipun ia tidak ada, telah bersiap-siap untuk berangkat kebukit.
“He, kau sudah datang,“ bertanya
salah seorang kawannya.
“Ya. Aku tergesa-gesa kembali setelah
aku mengetahui bahwa paman tidak apa-apa. Paman sehat-sehat saja. Bahkan panen
musim basah yang lalu melimpah-limpah. Pategalannya juga menghasilkan jagung
berlipat dari panen yang lalu.”
“O,“ kawan-kawannya mengangguk,
“sokurlah.”
“Itulah agaknya makna dari banjir
sesuai dengan mimpi biyung,“ berkata Jlitheng kemudian.
“Banjir dalam arti yang baik,“ desis
seorang kawannya.
Seperti biasanya, maka merekapun
kemudian berangkat ke buikit berhutan yang menjadi pasangan bukit gundul
sehingga daerah itu disebut Sepasang Bukit Mati. Dua bukit yang mati menurut
pengertian yang berbeda. Yang satu mati tanpa dapat ditanami dan dimanfaatkan
hasilnya sedangkan yang lain mati tanpa dapat dimanfaatkan untuk apapun juga
meskipun daerah itu berhutan lebat, karena dihutan itu banyak didapat
binatang-binatang buas dan binatang melata yang berbisa.
Tetapi orang tua dan anak gadisnya
itu telah menembus batas mati bukit berhutan itu. ia tidak mengindahkan
peringatan beberapa orang kepadanya, termasuk Daruwerdi. Bahkan kemudian
Jlitheng sendiri telah terseret pula naik keatas bukit itu bersama beberapa
orang kawannya.
“Bukit yang sebuah ini telah mulai
hidup,“ desis Jlitheng didalam hatinya, “bahkan akan dapat menghidupi daerah
sekitarnya. Air yang tersimpan dibukit sudah akan mulai mengalir.”
Ketika kemudian mereka memanjat naik,
Kiai Kanthi yang melihat Jlitheng telah berada diantara kawan-kawannya itupun
menyongsongnya sambil berkata, “Kau tidak hadir sehari ngger. Bagaimana dengan
pamanmu yang menurut mimpi Ibumu rumahnya dilanda banjir itu ? Bukan demikian ?
Aku mengetahuinya dari kawan-kawanmu.”
Jlitheng tersenyum. Ia tahu bahwa
Kiai Kanthi ingin menyesuaikan diri sesuai dengan pengertian kawan-kawannya
tentang kepergiannya. Karena itu, maka kepada Kiai Kanthi pun ia menjawab
seperti jawabannya yang diberikan kepada kawan-kawannya.
“Sokurlah,“ berkata Kiai Kanthi,
“dengan demikian maka kita akan dapat segera menemui Ki Buyut dan menyerahkan
air itu kepada mereka berdua. Ki Buyut Lumban Kulon dan Ki Buyut Lumban Wetan.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Iapun
ingin segera menyelesaikan pekerjaan itu, dan kemudian meninggalkan Lumban untuk
beberapa lamanya masuk kedalam sarang orang-orang Sanggar Gading.
Karena
itu, maka katanya, “Kita harus menyiapkan segalanya. Jika saatnya datang, maka
air yang mengalir kesungai itu akan kita buka sesuai dengan kemungkinan yang
pertimbangan kita sebanyak-banyaknya yang mungkin dapat disalurkan agar tidak
menganggu kemungkinan-kemungkinan lain. Kemudian, kita harus sudah dapat
menyerahkan gubug kecil itu kepada Kiai Kanthi yang akan membuka sebidang tanah
garapan dibawah bukit, yang akan diairi air dari belakang itu juga.”
“Aku tidak terlalu banyak memerlukan
air itu, “sahut Kiai Kanthli, lalu, “meskipun mungkin akan berkembang, sesuai
dengan perkembangan padepokanku.”
“Ya,“ jawab Jlitheng, “namun semuanya
sudah jelas. Tanah garapan Kiai Kanthipun sudah jelas, seperti pathok-pathok
yang telah kita pasang. Demikian pula saluran air bagi tanah garapan yang tidak
begitu luas dibawah bukit itu.”
“Dengan demikian, maka kapankah
sebaiknya kita akan menghadap Ki Buyut. Mula-mula Ki Buyut Lumban Wetan kemudian
Ki Buyut Lumban Kulon,“ bertanya anak-anak muda yang ikut bersama Jlitheng ke
bukit itu.
“Kita segera menghadap. Dengan
demikian, kita akan segera dapat memanfaatkan air,“ desis Jlitheng.
Kiai Kanthi hanya mengangguk-angguk
saja.
“Gubug itu sudah siap,“ berkata
seorang anak muda. “kita tinggal mengetrapkan pintunya. Malam nanti, jika
dikehendaki, Kiai Kanthi sudah dapat tidur didalam gubugnya meskipun belum ada
perabotnya sama sekali.”
Kiai Kanthi tertawa. Katanya, “Aku
tidak tergesa-gesa ngger.”
“Tetapi jika gubug itu memang sudah
selesai, bukankah lebih baik Kiai mempergunakannya?” bestanya Jlitheng.
“Ya. ya. Aku akan mempergunakannya.”
“Disaat lain, jika Ki Buyut Lumban
Wetan dan Lumban Kulon sudah dapat mengenyam hasil air yang akan segera
menyusuri parit persawahan padukuhan Lumban. maka ia tidak akan keberatan untuk
membantu membuat sebuah padepokan kecil di kaki bukit ini,“ berkata Jlitheng
kemudian, “menurut pendengaranku, bukankah Kiai tidak bersedia tinggal bersama
kami dipadukuhan ?”
“Bukan maksudku ngger. Tetapi aku
ingin tidak mengganggu padukuhan yang sudah mapan itu dengan persoalan-persoalan
baru. Biarlah aku membuat sebuah padepokan kecil yang terpisah meskipun dalam
tata kehidupan aku merupakan bagian dari Lumban.”
“Tetapi bukankah maksud Kiai,
meskipun padepokan Kiai merupakan bagian dari Lumban, namun bukan Lumban Wetan
dan bukan Lumban Kulon,“ desis Jlitheng.
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Namun kemudian liapun tersenyum. Katanya, “Bagi Ki Buyut di Lumban
Wetan dan Ki Buyut di Lumban Kulon, aku tidak akan ada artinya.”
Jlitheng mengerutkan keningnya.
Meskipun tidak terucapkan, tetapi Kiai Kanthi seolah-olah melihat gerak hati
Jlitheng
“Bukankah Kiai ingin berdiri tanpa
kewajiban tertentu kepada Ki Buyut sebagai setiap orang di Lumban ?”
Tetapi Kiai Kanthi tidak berkata
apapun tentang tanggapannya itu. Karena Jlitheng tidak mengatakan apa-apa lagi.
maka Kiai Kanthipun kemudian terdiam.
Dalam pada itu, anak-anak muda yang
ikut serta bersama Jlitheng naik kebukit itu sudah mulai mengerjakan pintu gubug
Kiai Kanthi, sementara dua orang diantara mereka telah memanjat dinding untuk
memasang tutup keyong.
“Kalian harus mengikat tutup keyong
itu erat-erat,“ berkata Jlitheng, “sudah sering terjadi, seekor macan kumbang
masuk kedalam rumah seseorang atau kedalam kandang, lewat tutup keyong.”
“Kami membuatnya dengan anyaman
khusus dan kami mengikatnya dengan ijuk rangkap,“ sahut kawannya yang sedang
memanjat.
Jlitheng mengangguk-angguk ia memang
melihat anyaman tutup keyong itu cukup kuat. Beberapa buah bambu menyilang
terkait pada rusuk atap yang terbuat dari anyaman ilalang.
Dalam pada itu, maka Jlithengpun
berkata kepada kawan-kawannya, “Selesaikan gubug itu. Trapkan pintu. Kalian
harus memperkuat uger-ugernya dengan tali-tali ijuk rangkap, seperti tali
pengikat tutup keyong. Aku dan Kiai Kantihi akan menyelusuri air. Mudah-mudahan
sawah kalian akan cepat menjadi basah dimusim kemarau.”
Demikianlah bersama Kiai Kanthi,
Jlithengpun pergi memanjat tebing menuju kebelumbang yang masih saja meluap.
Sambil berbincang mereka menilai, betapa tingginya nilai kerja yang sedang
mereka lakukan.
“Tetapi Kiai,“ berkata Jlitheng
kemudian, “dalam waktu dekat aku akan meninggalkan Lumban untuk waktu yang agak
panjang.”
“Kemana?“ bertanya Kiai Kanthi.
Sekilas terngiang pesan Sri Panular,
agar ia tidak terlalu terbuka terhadap siapapun juga. Demikian pula terhadap
kedua orang perantau yang tinggal dibukit itu.
Karena itu, maka katanya, “Aku masih
harus melakukan berbagai macam tugas. Meskipun aku tidak jelas, tugas apa yang
akan dibebankan kepadaku. Tetapi pada suatu saat aku akan kembali lagi
kepadukuhan ini. Sementara sebelum aku pergi maka parit, gubug dan rencana
padepokan Kiai harus sudah menjadi masak, agar aku dapat ikut membayangkan masa
depan yang baik bagi Kiai dan anak perempuan Kiai yang garang itu.”
“Ah,“ desis Kiai Kanthi, “tentu tugas
itu tugas yang penting. Lakukanlah dengan penuh tanggung jawab. Meskipun aku dan
anakku bukanlah seseorang yang memiliki harga sama sekali, tetapi jika Kami
harus membantumu, kami akan berbuat apa saja sesuai dengan keadaan dan kemampuan
kami.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya,
“Terima kasih Kiai. Memang mungkin aku memerlukan bantuan seseorang. Tetapi
sebelum aku tahu pasti, apa yang akan aku lakukan, maka aku tidak dapat berbuat
sesuatu.”
Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Tetapi
ia tidak bertanya lagi. Ia sadar, bahwa yang akan dilakukan oleh Jlitheng tidak
perlu diketahuinya.
Dalam pada itu keduanyapun pergi
kebelumbang yang airnya melimpah dan seolah-olah hilang dibawah tanah lewat
luweng dan terowongan-terowongan air. Ketika mereka melalui tempat yang
dipergunakan oleh Kiai Kanthi untuk sementara tinggal dibawah pepohonan dan
anyaman ketepe yang disangkutkan pada dahan-dahan kayu, mereka melihat Swasti
sedang sibuk dengan perapiannya.
Swasti berpaling ketika ia mendengar
langkah mendekat. Dilihatnya ayahnya dan Jlitheng berjalan menuju kebelumbang.
“Kami akan membuka air,“ berkata Kiai
Kanthi.
Swasti menarik nafas dalam-dalam
katanya. Kemudian, “Dan orang-orang Lumbanlah yang pertama-tama akan
menikmatinya.”
“Tidak,“ berkata Kiai Kanthi. Lalu,
“Kita.”
“Kenapa kita ? Kita belum mulai
membuka sawah dan ladang dibawah bukit.”
“Tetapi kita sekarang sudah mempunyai
tempat tinggal. Rumah itu sudah dapat kita diami sejak hari ini. He apakah rumah
itu bukan hasil dari melimpahnya air ini. meskipun tidak secara langsung ?”
Swasti termangu-mangu, sementara
ayahnya tertawa sambil berkata, “Kita akan merayakan hari yang berbahagia ini.
Kita akan pindah kerumah kita yang baru.”
Swasti mengerutkan keningnya. Namun
ia tidak menjawab. Ia kemudian memalingkan wajahnya ketika ia melihat
Jlithengpun tertawa pula.
Swasti tidak bertanya lagi. Ia
kembali sibuk dengan kerjanya, sementara Kiai Kanthi dan Jlitheng memanjat
mendekati blumbang yang menyimpan air cukup banyak itu.
Sejenak Kiai Kanthi dan Jlitheng
memperhitungkan setiap kemungkinan. Air belumbang itu melimpah lewat beberapa
jalur dari tanggul belumbang yang telah dibuat oleh alam.
“Kita ambil beberapa arah saja Kiai,
karena seperti Kiai katakan sebelumnya, bahwa kita akan dapat menutup air itu
seluruhnya, sehingga kemungkinan yang buruk akan terjadi atas padukuhan yang
meskipun terletak agak jauh dari bukit ini, tetapi mempergunakan air dari sumber
dibelumbang ini, yang mengalir dibawah tanah, dan muncul kepermukaan sebagai
sumber mata air,“ bertata Jlitheng kemudian.
Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia
mulai memberikan beberapa tanda pada jalur air yang meluap pada tanggul
belumbang itu. Sebagian dari luapan air itu akan disalurkan lewat jalur-jalur
padas dilereng bukit itu, yang sebelumnya telah digarapnya bersama Jlitheng.
“Kita akan mengundang Ki Buyut dari
Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Kita dengan beberapa anak muda itu, akan membuka
jalur itu dengan disaksikan oleh Ki Buyut di Lumban Kulon dan Lumban Wetan,“
berkata Jlitheng.
“Ah,“ desis Kiai Kanthi, “apakah itu
perlu ? Kita buka saja air itu sekarang. Nanti kau pergi kepada Ki Buyut untuk
melaporkan, bahwa air sudah mengalir kesungai. Besok Ki Buyut dapat mengerahkan
beberapa puluh orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon untuk menyempurnakan
bendungan sungai itu, dan menaikkan airnya kedalam parit. Tetapi hanya dimusim
hujan, tetapi juga dimusim kemarau, meskipun sudah barang tentu tidak aklan
mencukupi segala kebutuhan. Tetapi air itu akan dapat membantu untuk keperluan
yang memakai.”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Ia sudah menduga, bahwa Kiai Kanthi tentu tidak ingin mempergunakan segala macam
upacara yang hanya akan nampak dalam gelar, tetapi tidak mempengaruhi isi yang
sebenarnya dari peristiwa itu. Bahkan dengan segala macam upacara, orang tua itu
justru akan menjadi bingung. Apalagi jika ada diantara mereka yang ingin singgah
dan melihat-lihat gubugnya yang dibuat oleh anak-anak muda dari Lumban itu.
Karena itu, maka Jlithengpun berkata,
“Baiklah Kiai. Jika demikian, nanti aku akan datang kepada Ki Buyut di Lumban
Wetan dan Lumban Kulon untuk mengatakan, bahwa besok pagi kita akan mulai
membuka jalur air yang akan mengalir kesungai kecil itu. Biarlah Ki Buyut Lumban
Wetan berdiri disebelah Timur sungai, sementara Ki Buyut di Lumban Kulon akan
berdiri di sebelah Barat sungai pada tempat yang berhadapan, didekat air itu
akan dinaikkan kedalam parit. Biarlah mereka menyaksikan air itu mulai mengalir.
Dan biarlah mereka dengan penuh harapan memerintahkan untuk menyempurnakan
bendungan agar air dapat segera naik.”
Kiai Kanthi mengerutkan keningnya.
Lalu iapun mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya. Biarlah mereka menunggu
disebelah menyebelah sungai. Mereka akan bergembira melihat ujung air itu
mengailir dimusim kering. Air sungai yang hampir kering itu akan bertambah besar
dan dengan bendungan, air itu akan naik kedalam parit.“ Namun kemudian suara
Kiai Kanthi menurun, “Mudah-mudahan air itu tidak justru menumbuhkan persoalan
bagi Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya,
“Mudah-mudahan Kiai. Tetapi sampai hari ini kita semuanya dapat melihat, bahwa
kedua Buyut yang sebenarnya adalah saudara kembar itu dapat menyesuaikan diri
masing-masing dengan damai dan tenang. Tetapi entahlah. Apakah anak-anak mereka
akan dapat juga berbuat demikian.”
“Mereka mempunyai anak laki-laki yang
menurut katamu, agak berbeda sifat dan pembawaannya,“ berkata Kiai Kanthi.
“Ya. Tetapi mudah-mudahan mereka
dapat melihat kepentingan orang-orang Lumban lebih dari kepentingan mereka
masing-masing.”
Kiai Kanthi mengangguk-angguk.
Sementara Jlitheng berkata, “Tetapi itu bukan berarti kita harus tidak berbuat
sesuatu bagi orang-orang Lumban dan bagi Kiai sendiri. Setelah gubug itu
selesai, kita akan membuka hutan perdu dibawah bukit. Tidak begitu sulit. Kita
akan membuat pematang, membajak dan kemudian mengairi tanah yang segera dapat
Kiai tanami. Kami, orang-orang Lumban tentu akan dengan senang hati memberikan
benih kepada Kiai, karena Kiaipun telah memberikan air kepada kami, orang-orang
Lumban.”
“Siapakah yang memberikan air ?“
bertanya Kiai Kanthi.
“Kiai, Kiai Kanthi. Sebelumnya tidak
ada satu usaha sama sekali untuk memanfaatkan air. Bahkan bukit ini dan bukit
gundul sebelah disebut dengan Sepasang Bukit Mati.”
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Tetapi angger harus menentukan, kapan
angger akan pergi kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Kulon itu. Kemudian kita
akan menentukan hari yang akan membuka kemungkinan baru bagi tanah persawahan di
Lumban. Setidak-tidaknya sebagian dari Lumban.”
“Nanti aku akan menghadap Ki Buyut,
Kiai. Aku akan mohon kesempatan kepada keduanya untuk dapat hadir dipinggir
sungai. Kita akan memecah batu-batu padas yang merupakan tanggul alam belumbang
itu pada tempat yang sudah Kiai tandai. Air akan mengalir cukup deras, sementara
bagian yang lain masih akan tetap mengalir menembus kebawah tanah untuk tempat
yang jauh.”
“Terserahlah kepada angger. Aku akan
menunggu, kapan hal itu akan kita lakukan.”
“Baiklah Kiai. Jika patok-patok itu
sudah selesai, dan semua tanda sudah cukup, sebaiknya aku turun saja dan pergi
kepada Ki Buyut,“ berkata Jlitheng kemudian, lalu, “sementara itu biarlah,
kawan-kawan menyelesaikan gubug itu. Malam nanti Kiai akan dapat menempatinya.”
“Kawan-kawan angger akan menjadi
heran. Tiba-tiba saja kau menjadi seorang yang dengan berani hilir mudik seorang
diri melalu hutan dibukit Mati ini.”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Mereka tidak akan berpikir sampai sejauh itu. Kita berdua juga menjadi
orang-orang berani. Bahkan Swasti tidak mereka persoalkan, karena menurut mereka
Swasti pandai memanjat. Aku-pun pandai memanjat jika seekor harimau merundukku.”
Kiai Kanthi tersenyum. Namun kemudian
sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah ngger. Agaknya semuanya sudah
siap. Semakin cepat hal itu dilakukan akan menjadi semakin baik. Juga bagiku,
karena aku akan segera berani membuka tanah garapan dibawah bukit ini setelah
orang-orang Lumban Wetan dan Kulon menganggap, aku telah berbuat sesuatu bagi
padukuhan mereka.”
Dalam pada itu, maka Jlithengpun
segera minta diri. Ketika ia lewat disebelah perapian Swasti, ia berhenti
sejenak sambil bertanya, “Apa yang sudah masak Swasti ?”
Swasti mengerutkan keningnya.
Jawabnya acuh tak acuh, “Air.”
Jlitheng mengerutkan keningnya.
Swasti memang tidak begitu ramah terhadapnya. Tetapi menurut dugaan Jlitheng dan
penglihatannya selama ia bersama beberapa anak muda ikut serta membantu Kiai
Kanthi membuat gubug, Swasti memang tidak terlalu ramah terhadap orang lain.
“Ia sangat sedikit bergaul dengan
orang lain. Siang malam ia sibuk dengan ayahnya yang sudah tua, yang agaknya
dengan bersungguh-sungguh ingin mmurunkan ilmunya kepada anak gadisnya, yang
barangkali karena justru tidak ada orang lain yang dapat diambil menjadi
muridnya,“ berkata Jlitheng didalam hatinya.
“Terima kasih Swasti,“ berkata
Jlitheng kemudian, “sebenarnya aku juga sudah haus. Air jambu keluthuk yang
direbus dengan gula kelapa dan sepotong daun sere itu memang segar sekali.
Tetapi biarlah nanti saja aku datang lagi untuk minum bersama-sama dengan
kawan-kawan.”
Tetapi Swasti tidak berpaling. Ia
masih sibuk dengan kerjanya. Merebus setandan pisang yang didapatkannya pada
serumpun pisang liar yang tumbuh dilereng bukit itu. Swasti tidak sabar menunggu
pisang itu masak. Apalagi, ia akan menjadi kehilangan, karena ia harus berebut
dengan beberapa ekor kera. Karena itu, ia lebih senang mengambil pisang itu
sebelum masak benar menyimpannya satu dua hari dan merebusnya.
Jlithengpun kemudian berlari turun
tebing menemui kawan-kawannya, sementara Kiai Kanthi telah singgah pula
melihat-lihat Swasti yang sedang sibuk.
Kepada kawan-kawannya Jlitheng minta
diri, untuk menghadap Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon.
“Sekarang?“ bertanya seorang
kawannya.
“Ya, sekarang,“ jawab Jlitheng
“Sendiri ?” yang lain bertanya.
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Keheranan diantara kawannya memang ada. Namun Jlitheng menjawab, “Ya sendiri.
Kenapa?”
“Jika kau bertemu dengan seekor
harimau, apakah kau dapat melawanya seorang diri ?” bertanya yang lain pula.
“Aku pandai memanjat. Harimau tidak
akan dapat memanjat. Apalagi disiang hari jarang sekali ada harimau yang
berkeliaran.”
“Mungkin sekali kau bertemu dengan
seekor harimau.”
“Jika tidak terpaksa karena
kelaparan, harimau tidak akan berbuat apa-apa,“ jawab Jlitheng.
Kawan-kawannya tidak menjawab lagi.
Dibiarkannya saja Jlitheng kemudian menuruni tebing pergi menghadap Ki Buyut di
Lumban Wetan dan Ki Buyut di Lumban Kulon.
Kedatangan Jlitheng kepada Ki Buyut
di kedua bagian dari padukuhan Lumban itu telah disambut dengan baik. Ternyata
kedua orang itu dapat mengerti penjelasan Jlitheng tentang manfaat air yang akan
mengalir untuk sementara langsung turun kesungai dan kemudian harus diangkat
lagi kedalam parit.
“Tetapi kaulah yang bertanggung jawab
Jlitheng,“ berkata Ki Buyut di Lumban Wetan, “jika penunggu bukit itu marah, kau
harus dapat menjelaskan kepada mereka. Dengan demikian mereka tidak akan
mengganggu orang-orang Lumban dengan pegebluk misalnya.”
“Aku sudah berbicara dengan mereka
lantaran orang tua yang datang bersama anak gadisnya itu Ki Buyut. Nampaknya
orang tua itu sudah mendapat persetujuan.”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya
kemudian, “Jika memang tidak ada bahayanya, air itu akan sangat bermanfaat bagi
kami.”
“Tentu Ki Buyut. Air itu sangat
berguna bagi Lumban.”
Sementara Jlitheng menghadap Ki Buyut
di Lumban Kulon, maka masalah yang dikemukakan oleh Ki Buyut itupun hampir sama.
Jika orang-orang halus yang menghuni Bukit Mati itu memperkenankan, maka Lumban
tinggal menerima saja sebagai suatu anugerah.
“Anugerah dari Yang Maha Agung, Ki
Buyut,“ berkata Jlitheng.
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Namun
iapun mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya. Dari Yang Maha Agung. Tetapi
bagaimana dengan penghuni Bukit Mati itu ?”
“Kuasanya tidak menyamai bahkan
mendekatipun tidak dari Yang Maha Agung itu,“ jawab Jlitheng.
Ki Buyut di Lumban Kulon itu
termangu-mangu. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya.
Demikianlah.”
Jlithengpun kemudian minta diri
setelah segala sesuatunya disetujui. Jlitheng telah berbicara tentang hari,
tentang tempat dimana kedua Buyut itu akan berdiri berhadapan diseberang
menyeberang sungai. Kemudian mereka akan menyaksikan air yang akan mengalir
dibawah kaki mereka. Dan Jlithengpun telah berbicara tentang cara mengangkat air
sehingga air itu dapat mengalir ke bulak-bulak di Lumban Wetan dan Lumban Kulon.
Setelah semua pembicaraan selesai dan
ditemukan kesepakatan waktu, maka Jlithengpun dengan tergesa-gesa kembali ke
Bukit bermata air itu.
Tetapi langkahnya tertegun diujung
padukuhan Lumban Kulon ketika ia bertemu dengan Daruwerdi. Dengan
sungguh-sungguh Daruwerdi bertanya kepadanya, “Apa keperluanmu menghadap Ki
Buyut, Jlitheng ?”
Jlitheng tidak menyembunyikan
persoalan yang dibawanya. Ia mengatakan tentang air dan tentang kedua orang
Buyut yang telah bersedia datang kepinggir sungai.
“Kau gila,“ geram Daruwerdi.
“Kenapa ?“ bertanya Jlitheng,
“bukankah air itu akan bermanfaat.”
“Kau kira orang tua itu tidak
mempunyai pamrih apapun juga? Aku justru mulai curiga bahwa pada suatu saat
kedua orang itu akan berbuat sesuatu yang dapat merugikan Lumban Kulon dan
Lumban Wetan,“ berkata Daruwerdi.
“Aku kira tidak Daruwerdi,“ jawab
Jlitheng, “tetapi bahwa ia memang mempunyai pamrih itu sudah dikatakannya. Ia
mohon kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon untuk dapat membuat
sebuah daerah garapan dibawah bukit itu. Kemudian membuat rumah yang lebih baik
dari rumah gubugnya yang sekarang. Dan akan lahirlah sebuah padepokan dibawah
bukit itu.”
“Dan kalian akan diperbudaknya.
Membuat padepokan tanpa mendapat keuntungan apapun juga,“ desis Daruwerdi.
“Keunitungan itu telah kami dapatkan
lebih dahulu. Air.”
“Tetapi air itu bukan mlik orang tua
itu. Tanpa orang tua itupun kita dapat memanfaatkan air dibukit yang lebat itu.”
“Tetapi sampai saat terakhir kita
tidak berbuat apa-apa. Kedatangan orang tua itulah yang telah mendorong kami
untuk melakukannya. Mengendalikan air yang melimpah itu. Kedua orang Buyut
itupun dapat menerimanya meskipun mula-mula mereka agak cemas juga tentang
orang-orang halus yang menunggui bukit itu.”
“Persetan dengan dua orang Buyut tua
itu.“ Daruwerdi menggeram pula. Namun kemudian, “Dan kau akan menompang pada
keberhasilan orang tua itu menguasai air. Kau akan berdiri diatas semua orang,
terutama anak-anak mudanya dengan menepuk dada. Seolah-olah kau ikut menentukan,
mengendalikan air bagi bulak-bulak di Lumban Wetan dan Lumban Kulan.”
“Ah,“ desah Jlitheng, “aku tidak
berbuat apa-apa. Aku hanya perantara yang lari kian kemari dalam hubungan ini.
Tetapi dengan itupun aku sudah cukup bangga akan diriku.”
“Pantas sekali,“ sahut Daruwerdi
dalam nada datar, “kau memang tidak lebih dari budak kecil yang tidak mempunyai
arti. Tetapi nikmatilah kebanggaanmu itu sepuas-puasnya. Anak-anak muda di
Lumban Kulon dan Lumban Wetan pada saatnya akan dapat menilai, siapakah yang
lebih penting bagi mereka. Kau atau aku.”
“Aku atau kau ?” Jlitheng menjadi
heran, “aku tidak mengerti. Apakah hubungan hal ini dengan aku dan kau ?”
“Kau memang dungu. Sengaja atau tidak
sengaja kau telah berbuat sesuatu yang bodoh. Tetapi karena kebodohanmu itulah
aku dapat memaafkannya sehingga aku tidak menantangmu berkelahi.”
“Berkelahi ? Mana mungkin,“ desis
Jlitheng dengan suara gemetar.
“Ya kau memang bodoh sekali. Pada
saat seperti sekarang, dimana aku memerlukan pemusatan pikiran terhadap sesuatu
kewajiban yang penting, kau teluh menarik perhatian orang-orang Lumban dengan
tingkahmu yang aneh-aneh itu. Kau telah menarik perhatian mereka dengan air.”
“Aku tidak sengaja berbuat sesuatu
yang menyakiti hatimu.”
“Aku tidak sakit hati. Tetapi aku
muak melihat tingkah lakumu. Jika kau seorang yang memiliki ilmu, maka aku
tantang kau berperang tanding. Tetapi dengan kedunguanmu itu, hal itu tidak
mungkin aku lakukan. Karena orang-orang akan mengatakan bahwa aku telah berbuat
sewenang-wenang, karena dengan sangat mudah aku akan membunuhmu.”
“Tetapi, tetapi aku tidak berbuat
apa-apa yang dapat mengganggumu,“ suara Jlitheng menjadi semakin gemetar.
“Pergilah kelinci dungu. Tetapi jika
kau masih tetap dungu, kau akan menyesal bahwa air sungai yang mengali semakin
deras karena menampung luapan air belumbang dari bukit itu akan menyeretmu
hanyut sampai kekedung yang dihuni oleh buaya yang buas.”
“Tetapi, tetapi aku tidak bersalah,“
Jlitheng menjadi ketakutan.
“Pergi. Pergi. Tetapi hati-hati.
Jangan menjadi sombong dan merasa dirimu orang yang paling berguna di Lumban
Kulon dan Lumban Wetan karena tingkah orang tua itu.”
Jlitheng tidak menjawab lagi. Tetapi
dengan tergesa-gesa iapun melangkah meninggalkan Daruwerdi yang berdiri bertolak
pinggang.
Namun Daruwerdi tidak melihat, bahwa
Jlithengpun kemudian menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Jika perlu,
kaupun harus dipaksa untuk mengerti tentang kebutuhan orang-orang Lumban.”
Namun Jlitheng tidak berpaling. Ia
berjalan terus menuju kebukit berhutan lebat itu. Langkahnya semakin lama
menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian ia berlari sekencang angin semilir di
lembah yang akan segera menjadi basah.
Ketika Jlitheng sampai kepada
kawan-kawannya diatas bukit, mereka sudah mengumpulkan alat-alat mereka. Kerja
mereka telah selesai. Pintu telah terpasang, dan tutup keyongpun telah melekat
diujung sebelah njenyebelah dengan ikatan-ikatan yang kuat.
“Sudah selesai,“ desis Jlitheng sambi
tersenyum.
Kiai Kanthipun tersenyum pula.
Katanya, “Nanti malam aku sudah dapat tidur di dalam gubugku yang hangat.
Menyenangkan sekali ngger. Aku mengucapkan beribu terima kasih.”
Jlitheng dan kawan-kawannyapun merasa
senang pula karena mereka telah berhasil menyelesaikan kerja mereka. Gubug itu
benar-benar telah berujud, meskipun sederhana sekali dengan kayu yang mereka
dapat disekitar tempat itu.
“Tetapi belum ada perabotnya sama
sekali Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian.
“Mudah sekali ngger. Aku dapat
membuatnya dengan kayu dan bambu-bambu liar dilereng.”
“Kami masih akan tetap membantu,
Kiai,“ jawab Jlitheng, “tetapi kitapun harus mempersiapkan saat-saat kita
mengalirkan air kesungai dengan disaksikan oleh Ki Buyut di Lumban Wetan dan
Lumban Kulon itu pula.”
Jlitheng pun kemudian menceriterakan
hasil pertemuannya dengan Ki Buyut dikedua bagian dari Lumban itu. Mereka telah
bersetuju untuk datang kepinggir sungai pada saat yang ditentukan, disebelah
menyebelah untuk menyaksikan air yang akan mengalir disungai itu.
Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Iapun tidak ingkar, bahwa hal itu akan dapat memberikan kesempatan
kepadanya untuk mendapat tempat di daerah Lumban Wetan dan Lumban Kulon.
“Aku memang mempunyai pamrih, selain
aku akan ikut berbahagia melihat sawah yang hijau disegala musim didaerah Lumban
ini,“ berkata Kiai Kanthi kemudian.
Sekali lagi Jlitheng dan
kawan-kawannya membuat rencana apa yang akan mereka kerjakan. Pada hari yang
sudah ditentukan mereka akan membawa alat-alat khusus untuk memecah batu-batu
padas pada bibir belumbang. Linggis dan dandang, selain cangkul dan parang.
Setelah tidak ada lagi yang perlu
diperbincangkan, maka Jlitheng dan kawan-kawannyapun segera minta diri. Besok
mereka tidak akan datang lagi. Tetapi mereka akan datang pada saat yang
ditentukan untuk membuka air belumbang itu.
“Aku mengucapkan beribu terima kasih
ngger, bahwa dengan demikian kami akan dapat tinggal disebuah gubug yang dapat
melindungi kami dari dinginnya malam. Apalagi jika musim hujan datang, maka
gubug ini akan sangat berguna bagi kami!”
“Kiai akan menempatinya untuk satu
musim menjelang musim berikutnya. Mudah-mudahan tanah garapan dibawah bukit ini
segera akan dapat dibuka. Bukankah dengan demikian, padepokan kecil yang
barangkali Kiai inginkan itu dapat dimulai pembuatannya pula ? Padepokan kecil
yang akan berada dibawah bukit yang basah,“ berkata Jlitheng, “tentu akan sangat
menyenangkan.”
Kiai Kanthi tertawa. Jawabnya,
“Sebuah mimpi yang indah. Tetapi sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih
atas segala bantuan kalian.”
Jlitheng dan kawan-kawannyapun
kemudian meninggalkan tempat itu. Mereka sibuk membicarakan saat-saat untuk
membuka tanggul belumbang itu, sehingga airnya akan melimpah mengalir lewat
jalur yang sudah dipersiapkan masuk kedalam sungai.
“Ki Buyut dari Lumban Kulon dan
Lumban Wetan tentu akan senang sekali melihat sebagian dari sawah yang gersang
dan kering dimusim kemarau itu akan menjadi hijau disegala musim.”
Demikianlah, maka hari-hari yang
ditentukan itu selalu membayang diangan-angan anak-anak muda yang merasa dirinya
ikut mengambil bagian pada kerja yang akan sangat besar artinya bagi orang-orang
Lumban itu. Namun dalam pada itu, Jlitheng sendiri telah disibukkan dengan
saat-saat yang menegangkan. Dengan waktu yang sangat sempit itu ia berusaha
meningkatkan kemampuannya. Ia sudah bertekad untuk benar-benar memasuki sarang
serigala yang garang. Sanggar Gading.
Dimalam hari, Jlitheng masih harus
menampakkan diri barang sejenak digardu bersama kawan-kawannya. Namun kemudian
dengan berbagali alasan, ia minta diri. Ia mengatakan bahwa kesehatannya sangat
buruk, sehingga ia harus tidur dirumah.
Namun dalam pada itu, malam-malam
yang gelap itu telah dipergunakannya sebaik-baiknya. Tetapi Jlitheng sama sekali
tidak mendekati bukit gundul, karena ia tahu, Daruwerdi sering pergi kebukit
itu.
Dalam kelamnya malam, Jlitheng lebih
senang pergi ke sungai yang hampir kering. Ditikungan sungai yang rimbun oleh
pepohonan, dengan beberapa buah batu besar, ia menemukan tempat untuk berlatih.
Mula-mula Jlitheng hanya mengulang
unsur-unsur gerak yang sudah dikuasainya. Ia bergerak dengan wajar untuk
menghangatkan tubuhnya. Namun kemudian semakin lama menjadi semakin cepat,
sehingga akhirnya Jlitheng mulai dengan tekanan-tekanan yang berat pada
unsur-unsur gerak tertentu. Jlitheng berusaha untuk meningkatkan kecepatan
tangan dan kakinya. Karena pada saat-saat terakhir ia memang jarang sekali
mempergunakan kesempatan khusus untuk meningkatkan ilmunya.
Dengan sungguh-sungguh Jlitheng bukan
saja melakukan gerakan-gerakan yang cepat dan kuat, tetapi ia menilai pula,
apakah ada diantara unsur-unsur geraknya yang masih mungkin disempurnakan
menurut kemampuannya.
Pada tingkat terakhir Jlitheng
bergerak bagaikan burung sikatan. Meloncat-loncat dari batu kebatu dengan gerak
yang mantap. Kadang-kadang Jlitheng melenting tinggi namun kadang-kadang
bagaikan bergeser saja tampi menggerakkan kakinya. Tetapi geseran itu telah
mendorongnya melangkah batas antara batu yang satu dengan batu yang lain.
Tetapi latihan-latihan itu tidak
memberikan kepuasan kepada Jlitheng. Ia hanya dapat mengungkapkan unsur-unsur
gerak dasar yang sudah dikuasainya. Namun dalam keadaan yang sebenarnya, ia
harus menyesuaikan diri dengan gerak lawan dan kepentingan saat didalam arena
yang sebenarnya.
Meskipun demikian, latihan-latihan
itu akan dapat memberikan kemungkinan yang lebih baik bagi kecepatannya bergerak
dan kekuatan tenaganya.
Dengan mengingat pesan yang diberikan
oleh Sri Panular, maka Jlithengpun telah bekerja dengan sungguh-sungguh.
Namun dalam pada itu, selagi ia
tenggelam dalam latihan-latihan kecepatan geraknya, tiba-tiba saja terasa
sesuatu telah menyentuh tubuhnya. Tidak hanya satu kali, tetapi dua tiga kali.
Sehingga akhirnya Jlitheng justru telah menghentikan latihannya. Sambil berdiri
tegak diatas sebuah batu yang besar, ia memperhatikan keadaan disekelilingnya ia
mencoba mendengar atau melihat setiap lembar daun. Namun keburaman malam masih
tetap membatasi pandangan matanya yang tajam.