Seri Arya Manggada II
Jilid 01
SEJENAK kemudian, ketiga orang bertubuh raksasa itu mulai dipaksa untuk mengelak
dari serangan-serangan Manggada dan Laksana. Namun seranganserangan kedua orang
anak muda yang bertempur berpasangan itu rasa-rasanya selalu memburu mereka.
Sehingga dengan demikian maka kedua orang itupun telah mulai dengan
seranganserangan mereka pula.
Dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin lama semakin cepat. Berbeda
dengan lawan-lawan ketiga raksasa yang terdahulu, maka kedua anak muda itu
justru telah lebih dahulu mengenai mereka. Seorang diantara mereka harus
menyeringai menahan sakit ketika serangan Manggada mengenai lambungnya. Kemudian
disusul pula oleh tumit Laksana yang langsung menghantam dada. Bahkan kemudian
sekali lagi Manggada sempat mengayunkan sisi telapak tangannya mengenai tengkuk
yang seorang lagi sehingga orang itu jatuh menelungkup.
Meskipun ia masih bangkit lagi, namun wajahnya bukan saja menjadi kotor, tetapi
kulit didahinya tersobek hampir sampai ke pelipis. Sehingga dengan demikian maka
darahpun mulai mengucur.
Dalam perkelahian selanjutnya, ternyata ketiga orang itu sama sekali tidak
berdaya. Manggada dan Laksana benar-benar telah meningkatkan ilmu mereka,
sehingga dalam waktu yang pendek ketiga orang itu telah tidak berdaya sama
sekali. Bahkan ketika Ki Sudagar sendiri serta ayah Miranti mencoba membantunya,
kedua anak muda itu sama sekali tidak menjadi goyah.
Ketika para pengikut Ki Sudagar Resakanti itu mulai meraba senjatanya, maka
Manggadapun berkata “Jangan mencoba menarik senjata kalian. Akupun juga
bersenjata. Jika kalian menarik pedang, berarti akan terjadi pembunuhan disini,
karena kalian bertiga tidak akan mampu mengimbangi ilmu pedang kami berdua”
Ketiga orang itu termangu-mangu. Namun ketika mereka melihat Manggada menarik
pedangnya dan memutarnya dengan cepat, maka ketiganya menjadi semakin ragu-ragu.
“Apakah kalian ingin terbunuh disini?“ bentak Laksana tiba-tiba. Lalu katanya
pula “Yang pertama akan mati bukan kalian bertiga, tetapi Ki Sudagar Resakanti.
Ia merupakan sumber dari kekisruhan ini. Kedua adalah ayah Miranti, yang telah
sampai hati menjual anak gadisnya”
Wajah ketiga orang itu menjadi semakin tegang. Numun tiba-tiba saja terdengar Ki
Sudagar Resakanti berteriak “Bunuh ketiga cucurut itu. Aku yang bertanggung
jawab. Mereka telah mengacaukan rencanaku yang telah matang”
Ketiga orang itu berpaling sejenak. Wajah Ki Sudagar memang telah menjadi merah
membara. Karena itu, maka ketiga orang itupun benar-benar telah menarik
senjatanya dan mencoba berpencar. Namun ternyata mereka tidak banyak mendapat
kesempatan. Manggada telah siap menyerang sambil berkata “jadi kalian sama
sekali tidak mau mendengar kata-kataku?“
Sebelum orang-orang itu menjawab, maka Manggada dan Laksana Loluh meloncat
menyerang. Senjata mereka berputaran dengan cepat menyusup perhanan ketiga orang
bertubuh raksasa itu. Seorang diantara mereka setiap kali harus bergeser
mengambil jarak, karena ia harus menyeka darahnya yang mengucur dari luka
didahinya. Tetapi justru karena itu, maka orang itulah yang terbebas dari ujung
pedang Manggada dan Laksana. Kedua orang bertubuh raksasa itu hampir berbareng
mengaduh kesakitan. Ujung pedang Manggada dan Laksana telah mengoyak tubuh kedua
orang yang bertubuh raksasa itu. Seorang dilambungnya dan seorang dipundaknya.
Dengan pucat keduanya meraba lukanya yang mulai memancarkan darah yang masih
hangat dari tubuh mereka.
“Ki Sudagar“ geram Manggada “sekali lagi aku peringatkan, jika kau tidak
memerintahkan orang-orangmu berhenti maka kau adalah orang yang akan mati
pertama kali.
Wajah Ki Sudagar menjadi pucat ketika Manggada mendekatinya sambil berkata
kepada Laksana “Jika ketiga orang itu masih melawan, hancurkan mereka. Aku akan
membunuh Ki Sudagar”
Wajah Ki Sudagar menjadi semakin pucat. Setelah termangu-mangu sejenak, maka
iapun berkata “Baik. Baiklah. Orang-orangku akan berhenti”
“Bawa orang-orangmu pergi. Tinggalkan tempat ini. Jangan bermimpi lagi untuk
mengambil Miranti sebagai menantumu. Biarlah ia merancang hari depannya dengan
anak muda yang dicintainya, sehingga ia akan memiliki keutuhan pilihan. Apapun
yang terjadi kelak adalah tanggung jawabnya sendiri”
Ki Sudagar masih termangu-mangu. Namun Manggada itu membentak “ Cepat, sebelum
kami berdua menjadi gila”
Ki Sudagar tidak menjawab lagi. Iapun segera melangkah menuju ke kudanya diikuti
oleh ayah Miranti dan ketiga orang yang telah terluka itu. Sejenak kemudian,
maka kuda-kuda mereka telah berderap meninggalkan rumah itu.
Manggada dan Laksana telah menyarungkan pedangnya. Kemudian katanya kepada Ki
Bekel “Segalanya sekarang terserah kepada Ki Bekel. Namun menurut pendapatku,
biarlah untuk sementara Miranti berada dirumah Ki Bekel. Selanjutnya,
terserah apa yang terbaik dilakukannya
sesuai dengan pertimbangan Ki Bekel”
“Kita akan membicarakannya ngger“ berkata Ki Bekel.
“Maaf Ki Bekel. Aku tidak dapat mengikuti Ki Bekel kembali ke padukuhun Ki
Bekel. Kami berdua akan melanjutkan perjalanan. Kami serahkan kedua ekor kuda
itu disini” sahut Manggada “bukankah aku singgah untuk sekedar minta ijin
bermalam di banjar. Tetapi sekarang hari telah siang. Bahkan hampir tengah hari.
Bukankah aku tidak perlu bermalam lagi?”
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Namun saudara Ki Winduwara itu berkata “Aku
mohon angger berdua sudi bermalam disini barang semalam saja”
Tetapi Manggada dan Laksana menggeleng. Dengan nada rendah Laksana berkata “Kami
akan melanjutkan pernjalanan kami yang mash panjang. Kami mohon maaf”
Ki Winduwaralah yang kemudian berkata kepada anaknya Sela Aji. Kaulah yang wajib
mengucapkan seribu kali terima kasih kepada mereka berdua. Mereka telah berbuat
terlalu banyak bagi kalian berdua. sehingga kalian bebas dari bencana”
Sela Aji lelah mengajak Miranti untuk mendekati kedua orang anak muda itu.
Dengan suara yang lemah Sela Aji yang kepalanya masih pening itu berkata “Aku
mengucapkan beribu terima kasih”
Manggada tersenyum. Sambil minta diri maka ditepuknya pundak Sela Aji sambil
berkata “Kau tempuh jalanmu dengan kesulitan yang hampir mencelakaimu. Karena
itu, kau harus menyelamatkan perkawinan kalian sampai akhir hidup kalian”
Sela Aji mengangguk kecil. Demikian pula Miranti. Bahkan dari sela-sela bibirnya
ia berucap "Terima kasih anak-anak muda yang baik”
Ki Bekel, Kl Winduwara, para bebahu dan paman Sela Aji tidak mampu lagi menahan
kedua anak muda itu.
Keduanyapun segera minta diri betapapun paman Sela Aji itu menahannya.
Demikianlah kedua orang anak muda itu telah melanjutkan perjalanan mereka.
Mereka memang merasa letih dan kantuk. Semalam mereka tidak jadi menumpang untuk
tidur di banjar.
Namun Laksana itupun kemudian berkata “Ternyata bukan bersumber dari hutan
Jatimalang. Lebih-lebih lagi mereka bukan kawan yang baik untuk menjajagi ilmu
kita. Kita masih memerlukan orang lain yang lebih baik dari ketiga orang raksasa
dungu itu”
“Ah kau. Kau harus ingat pesan ayahmu” jawab Manggada.
“Ya, ya. Aku ingat“ sahut Laksana sambil tersenyum. Namun katanya kemudian “He,
bukankah Miranti gadis yang cantik?“
“Ah kau“ desis Manggada.
Laksana tertawa. Namun ia tidak menjawab lagi.
Manggada dan Laksana memutuskan untuk tidak segera kembali ke rumah ayah
Manggada. Padahal mereka meninggalkan tempat berguru, terutama Manggada,
didorong oleh perasaan rindu pada ayah dan ibunya.
Namun ternyata, kedua anak muda itu tiba-tiba saja merasa perlu melihat dunia
ini lebih banyak. Justru karena mereka telah hadir di cakrawala, maka mereka
merasa tetapa sempitnya penglihatan mereka.
Karenanya, kedua anak muda itu telah memutuskan untuk tidak segera pulang.
Dengan demikian, keduanya tidak memilih jalan terdekat menuju ke Pajang, tempat
tinggal orang tua Manggada, tapi melingkar.
Manggada dan Laksana berjalan menelusuri jalan sempit yang membawa mereka ke
dekat sebuah hutan yang tidak seluas hutan Jatimalang. Ketika mereka menuruni
tebing sebuah sungai, tidak jauh dari hutan kecil itu, Manggada sempat bertanya
kepada seorang petani yang sedang mencuci cangkulnya sambil memandikan seekor
lembu.
“Ki Sanak, sungai ini disebut sungai apa?“
Petani itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, ia justru bertanya “Apakah
anak-anak muda bukan penghuni padukuhan di sekitar tempat ini?“
“Bukan Ki Sanak“ jawab Manggada.
Petani itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Sungai ini disebut Kali Jlantah,
yang mengalir dari antara lereng Gunung Lawu dan Gunung Kukusan”
Manggada mengangguk-angguk. Namun ia masih juga bertanya “Hutan yang di sebelah
itu?“
Petani itu mengangkat wajahnya. Tetapi hutan itu tidak nampak dari tempat mereka
berdiri, karena terhalang tebing. Namun petani itu sudah tahu pasti, bahwa tidak
terlalu jauh dari tempat itu memang terdapat sebuah hutan.
Karena itu ia jawab “Hutan itu disebut hutan Nguter, anak-anak muda, karena
letaknya tidak jauh dari sebuah padukuhan yang disebut Nguter. Sebuah padukuhan
yang mulai lumbuh, meskipun tidak terlalu cepat”
Tetapi apakah letaknya yang dekat dengan hutan itu tidak mengganggu?” bertanya
Laksana.
“Tentu tidak” jawab petani itu “tetapi sekali-sekali memang pernah ada seekor
harimau yang berkeliaran mendekati padukuhan. Pernah terjadi ternak dimangsa
oleh harimau yang kebetulan kelaparan. Biasanya harimau-harimau yang telah
menjadi tua dan tidak lagi mampu berburu di hutan yang lebat itu”
Kedua anak muda itupun mengangguk-angguk. Namun keduanya tiba-tiba saja ingin
melihat-lihat padukuhan yang ada di dekat hutan itu.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada petani itu, keduanya lalu menyusuri Kali
Jlantah menuju kesebuah padukuhan yang dipisahkan bulak panjang dan berada tidak
jauh pula dari sebuah hutan yang disebut Hutan Nguter, sebagaimana nama
padukuhan terdekat dan hutan itu.
Demikian keduanya naik ke atas tebing, mereka telah berada di sebuah padang
perdu itu, terdapat bulak yang luas sekali. Di kejauhan, nampak sebuah hutan
yang dipisahkan oleh padang perdu pula, serta bulak panjang dengan sebuah
padukuhan.
Manggada dan Laksana kemudian menyeberangi padang perdu dan turun ke jalan
sempit di ujung bulak. Menyusuri jalan sempit itu, mereka melintasi sebuah bulak
yang luas.
Beberapa buah gubug terdapat diantara kotak-kotak sawah. Agaknya orang-orang
yang pergi ke sawah tidak perlu hilir mudik pulang ke rumah masing-masing, di
waktu mereka beristirahat di tengah hari. Biasanya, keluarga merekalah yang
pergi ke sawah untuk mengirimkan makan siang mereka.
Matahari memang terasa semakin panas menyengat kulit. Namun di jalan sempit, di
tengah-tengah bulak yang luas itu, Manggada dan Laksana mulai bertemu dengan
beberapa orang yang membawa makanan ke sawah.
Dua orang anak berjalan sambil berteriak-teriak menyanyikan sebuah tembang yang
patah-patah dan tidak berujung pangkal. Sementara beberapa puluh langkah di
belakang mereka, seorang perempuan separo baya menggendong sebuah bakul makanan
sambil mengusap keringat di keningnya.
Tetapi kerja itu sudah dilakukannya setiap hari.
Kedua anak muda itu berjalan semakin lama semakin dekat dengan hutan yang tidak
begitu besar itu. Sedangkan di sisi lain, nampak sebuah padukuhan yang hijau,
diantara tanaman yang subur di sawah.
Agak jauh di depan mereka, nampak seorang perempuan yang berjalan menggendong
bakul pula. Tetapi kedua anak muda itu tidak dapat melihat dengan jelas, karena
jaraknya yang masih cukup jauh.
Nampaknya, perempuan itu bukannya seorang perempuan yang sudah seperti baya,
sebagaimana yang dijumpainya sebelumnya. Tetapi perempuan itu adalah perempuan
yang masih cukup muda.
Namun kedua anak muda itu tidak berpapasan dengan perempuan itu. Sebelum mereka
bertemu jalan, perempuan itu sudah berbelok meniti sebuah pematang.
Laksana tiba-tiba saja menarik nafas panjang, sementara Manggada sempat bertanya
"Kenapa?“
“Tidak apa-apa” jawab Laksana.
Manggada tersenyum. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.
Namun ketika Manggada dan Laksana berjalan semakin dekat dengan pematang tempat
perempuan itu berbelok, dan berjalan di tengah-tengah hijaunya batang padi,
tiba-tiba saja mereka terkejut.
Kedua anak muda itu mendengar jerit panjang. Kemudian mereka melihatl perempuan
yang masih nampak tersembul diantara batang padi itu berbalik, berlari dengan
cepatnya. Namun ketika perempuan itu meloncati parit di ujung pematang, ia
terperosok jatuh.
Manggada dan Laksana dengan cepat berlari mendekatinya. Dengan serta merta,
keduanya telah menolongnya berdiri sambil bertanya hampir berbareng “Ada apa?“
Perempuan itu ternyata adalah seorang perempuan muda Wajahnya menjadi pucat, dan
bibirnya yang bergerak nampaknya tidak dapat melontarkan kata-kata. Tetapi
tagnannya bergerak menunjuk ke satu arah.
Manggada dan Laksana berpaling mengikuti arah tangan perempuan itu. Ternyata
keduanya terkejut. Manggada dan Laksana telah memapah perempuan muda itu
beberapa langkah surut.
Kedua unuk muda itu telah melihat seekor harimau yang tersembul dari rimbunnya
batang padi muda yang tumbuh subur.
Perempuan yang ketakutan itu menjadi sangat gemetar. Tetapi Manggada berkata
“Jangan cemas. Kami akan berusaha untuk mengusir harimau itu”
“Tetapi, tetapi“ perempuan itu nampaknya masih akan berbicara. Namun mulutnya
bagaikan sulit untuk dipergunakan.
“Tenanglah“ berkata Laksana.
Manggada dan Laksana kemudian meletakkan perempuan muda itu duduk di pinggir
jalan. Sementara Manggada dan laksana mempersiapkan diri untuk melawan harimau
itu.
Keduanya tiba-tiba teringat pekerjaan mereka sebelum meninggalkan padukuhan
tempat mereka menempa diri. Mereka memang sering berburu binatang buas untuk
diambil kulitnya, yang dapat mereka jual kepada para pedagang kulit binatang
buas.
Tetapi yang mereka hadapi saat ini bukan sekadar harimau buruan, tapi mereka
harus melindungi seorang perempuan muda yang ketakutan.
Karena itu, mereka tidak saja harus memperhatikan diri mereka berdua, tetapi
juga harus memperhatikan perempuan itu. Jika perempuan itu menjadi semakin
ketakutan, maka ia akan dapat menjadi pingsan karenanya.
Di pinggang kedua anak muda itu, masih terselip pedang. Karenanya, mereka dapat
mempergunakannya untuk melawan harimau itu, karena mereka tidak sedang
memerlukan kulitnya.
Menghadapi seekor harimau yang besar itu, kedua anak muda itu berpencar. Harimau
itu, menurut pengamatan Manggada dan Laksana, adalah seekor harimau yang memang
sudah agak tua, yang sudah malas berburu kijang atau jenis-jenis binatang buruan
lainnya.
Nampaknya harimau itu sudah menjadi sangat lapar, sehingga tidak sabar lagi
menunggu senja. Dengan harapan untuk bertemu buruan yang lemah, dan tidak mampu
berlari secepat kijang atau rusa, harimau itu telah menyeberangi padang perdu di
pinggir hutan itu untuk memasuki bulak persawahan.
Beberapa saat kemudian, harimau itu mulai merunduk. Harimau itu menjadi marah,
ketika melihat dua orang anak muda yang dengan sengaja datang mendekatinya.
Sementara itu, dari kejauhan seorang yang juga akan mengirim makan ke sawah dan
melihat harimau yang sudah berada di jalan bulak itu, telah berteriak-teriak
sambil berlari menjauh tanpa menghiraukan apa yang dapat terjadi atas mereka
yang sudah berhadapan dengan harimau itu.
Sebenarnyalah perempuan muda yang duduk di tanggul parit, agak mundur beberapa
langkah dari Manggada dan Laksana dengan sangat ketakutan. Ia sama sekali sudah
tidak mempunyai kemampuan lagi untuk berlari menjauh. Kakinya bagaikan telah
membeku.
Teriakan orang yang berlari menjauh itu, ternyata telah didengar oleh beberapa
orang, sehingga mereka yang berada di sawah atau mulai beristirahat di gubug,
telah meloncat turun dan berlari ke jalan.
“Ada apa?“ bertanya seseorang. Harimau, harimau“ teriak orang itu sambil berlari
tanpa berhenti.
Sejenak kemudian, berita tentang kehadiran seekor harimau di sawah itu telah
sampai ke padukuhan. Orang-orang padukuhan yang menganggap bahwa seekor harimau
dapat mendatangkan kematian, kemudian membunyikan kentongan dalam nada titir.
Seekor harimau yang turun ke sawah, atau bahkan datung ke padukuhan, bukannya
untuk pertama kali. Namun demikian, harimau masih juga merupakan seekor binatang
yang menakutkan. Belum setahun, seekor hurimau telah membunuh seorang petani
yang bekerja di sawah dan singgah di padang perdu untuk mencari kayu bakar.
Sepekan kemudian, baru ditemukan sisa-sisa tubuhnya yang telah dikoyak-koyak
oleh harimau, diseret ke dalam hutan. Sedangkan sebelumnya, seekor harimau telah
menerkam beberapa ekor kambing beberapa malam berturut-turut.
Seekor diantara harimau yang turun ke padukuhan itu, telah berhasil dibunuh oleh
para petani. Mereka yang marah, ramai-ramai berusaha menjebak harimau itu dan
membunuhnya. Diantara para petani itu, seorang yang bertubuh tinggi kekar,
berjanggut dan berjambang, dengan bulu dada yang lebat, adalah orang yang paling
berani. Ia adalah orang yang memimpin perburuan harimau itu, sehingga berhasil
membunuhnya.
Suara titir dan teriakan-teriakan, kembali membangkitkan kemarahan para petani,
sehingga mereka bergegas keluar dari rumahnya
“Dimana harimau itu?“ bertanya seorang petani pada seorang yang berlari-lari di
lorong, di muka rumahnya.
“Di sawah“ jawab orang itu “hampir saja menerkam orang”
“Siapa yang akan diterkamnya? Lalu bagaimana?“ bertanya orang itu kembali.
“Entahlah“ jawab orang itu dengan nafas terengah-engah “beberapa orang laki-laki
bersenjata telah mendatanginya”
“Siapa yang akan diterkam?“ bertanya orang itu mendesak.
“Mas Rara“ jawab orang itu.
“Mas Rara?“ mata orang itu terbelalak. Dengan tangkasnya ia berlari masuk ke
dalam rumahnya untuk mengambil sebatang tombak pendek. Kemudian berlari dengan
cepat menuju ke gerbang padukuhan.
Ia segera tahu di mana harimau itu. Karena itu, ia pun berlari sepanjang bulak
dengan tombak pendek di tangannya.
Akhirnya, dari kejauhan ia melihat beberapa orang berkerumun. Dari kejauhan
sudah nampak beberapa buah ujung senjata yang mencuat diantara beberapa orang
yang berdiri dalam lingkaran.
Dengan jantung berdebar, ia bertanya kepada diri sendiri “Apa yang telah terjadi
dengan Mas Rara?“
Sejenak kemudian, ia telah menyibak orang-orang yang berdiri dalam lingkaran. Ia
berharap bahwa ia tidak terlambat.
Yang dilihatnya di dalam lingkaran orang-orang padukuhan itu, adalah Mas Rara
yang pingsan. Kepalanya terletak di pangkuan kakak laki-lakinya. Sementara kedua
orang tuanya menangisi di sebelahnya.
“Kenapa dengan Mas Rara, kakang?“ bertanya yang bertubuh kekar itu. Suaranya
menggelegar dan membangunkan ayah Mas Rara dari keadaannya.
Sambil berpaling, berdesis “Kau Resa”
“Bagaimana dengan Rara kakang?“ bertanya orang bertubuh kekar yang dipanggil
Resa itu.
“Ia pingsan. Tubuhnya menjadi dingin seperti membeku” jawab ayah Mas Rara.
Resa lalu berjongkok di sebelahnya. Namun ia berkata “Ki Sampar tentu akan
segera menyembuhkannya”
Seorang tua yang sibuk mengobati Mas Rara berpaling. Tetapi sekejap kemudian ia
telah sibuk lagi memijit-mijit kening Mas Rara dengan sejenis reramuan.
Resa pun kemudian bangkit berdiri sambil berkata “Apakah harimau itu telah
lari?“
“Tidak Ki Resa“ jawab seseorang.
“Lalu?“ bertanya Resa.
Beberapa orang di sisi lain telah menyibak. Di belakang mereka, seekor harimau
yang besar tergolek tidak bernyawa.
“Kalian telah membunuhnya beramai-ramai?“ bertanya Resa.
“Tidak Ki Resa“ jawab beberapa orang hampir berbareng.
“Lalu bagaimana?“ bertanya Resa heran.
“Dua orang anak muda itulah yang membunuhnya“ jawab seorang.
“Dua orang anak muda?“ Resa menjadi semakin heran.
Beberapa orang pun kemudian menunjuk dua orang anak muda yang berdiri diantara
mereka, yang mengerumuni Mas Rara yang pingsan itu.
“Siapa mereka?“ hampir diluar sadarnya Resa bertanya.
Orang-orang itu menggelengkan kepalanya. Memang tidak seorang pun diantara
mereka mengenai kedua orang anak muda itu.
Namun wajah Resa telah berubah. Ia justru tidak senang melihat dua orang anak
muda yang telah membunuh seekor harimau yang sangat besar. Yang lebih besar dari
seekor harimau yang pernah dibunuhnya bersama-sama dengan beberapa orang.
Namun Resa masih herusaha untuk bersikap wajar. Apalagi Mas Rara masih belum
sadarkan diri.
Tetapi sejenak kemudian, Mas Rara mulai bergerak. Dengan nada rendah, Ki Sampar
berkata kepada orang-orang yang berkerumun “Mundurlah. Mundurlah agar udara
menjadi segar. Jika kalian berkerumun terlalu dekat, udara akan menjadi pengab.
Bau keringat kalian akan membuatnya pingsan lagi”
Ayahnya pun telah berkata pula kepada orang-orang itu “Tolonglah, tolonglah”
Orang-orang yang berkerumun itupun berdesakan mundur. Sementara itu, Mas Rara
benar-benar telah sadar. Bahkan kemudian gadis itu menangis tersedu-sedu.
“Sudahlah Rara. Sudahlah“ berkata kakaknya yang kemudian mengusap air matanya
dengan jari-jarinya “jangan menangis. Kau berada di sawah. Nanti orang-orang
melihatmu menangis”
“Kakang“ desis Mas Rara. Namun wajahnya tiba-tiba nampak ketakutan “bagaimana
dengan harimau itu”
“Harimau itu sudah mati“ jawab kakaknya.
“Mati? Kaulah yang membunuhnya kakang?“ bertanya Mas Rara.
Kakaknya menggeleng. Namun katanya “Sudahlah. Nanti kau akan tahu. Sekarang,
bangkitlah dan coba duduk. Kau perlu minum”
Mas Rara memang berusaha untuk bangkit. Minum seteguk air yang dibawanya untuk
mengirim ayahnya dan kakaknya yang bekerja di sawah. Air kendi yang segar, telah
membuat tenaganya pulih kembali. Apalagi ketika ia melihat banyak orang
bersenjata mengerumuninya, sehingga ia tidak perlu ketakutan lagi. Apalagi
ketika ia melihat pamannya yang bertubuh tegap tegar, dan dikagumi oleh
orang-orang sepadukuhannya karena keberaniannya. Bahkan, ada orang yang
menyebutnya Ki Resa, si pembunuh harimau.
“Paman telah membunuh harimau itu?“ bertanya Mas Rara.
Resa menjadi agak bimbang untuk menjawab. Namun kemudian katanya Sudahlah. Kau
harus merasa sehat lebih dahulu. Kemudian, jika mungkin, pulanglah, agar kau
tidak kepanasan di tengah sawah ini”
“Ia masih lemah paman“ desis kakaknya.
“Kau dapat memapahnya“ berkata pamannya. Kakaknya mengangguk kecil. Katanya
“Baiklah. Aku akan mencobanya”
“Aku dapat berjalan sendiri kakang“ berkata Mas Rara.
“Marilah. Aku akan membantumu“ jawab kakaknya.
Dibantu oleh kakaknya, Mas Rara pun telah berjalan tertatih-tatih bersama
ibunya.
Sementara ayahnya masih sempat menemui Manggada dan Laksana untuk mengucapkan
terima kasih. Katanya kemudian “Kami mohon kalian berdua bersedia untuk singgah
di rumah kami”
Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Sementara ayah Mas Rara
mendesaknya “Kami mohon anak-anak muda. Kami mohon”
Manggada dan Laksana tidak dapat menolak permintaan itu. Karena itu, katanya
hampir berbareng “Baiklah. Kami akan singgah”
Ketika orang-orang itu kemudian beriringan kembali ke padukuhan, maka beberapa
orang diantara mereka berniat membawa harimau itu kembali untuk diambil
kulitnya.
Namun Resa yang pernah digelari Pembunuh harimau, membentak “Untuk apa kalian
bawa harimau itu?“
“Kulitnya laku dijual Ki Resa“ jawab salah seorang diantara mereka.
“Tetapi harimau itu adalah hak ke dua anak muda itu“ jawab Ki Resa yang
tiba-tiba saja berkata “He, panggil anak-anak muda itu. Cepat, sebelum ia pergi
jauh”
Orang-orang itu menjadi heran. Nada kata-kata Ki Resa nampaknya tidak begitu
ramah.
“Cepat“ bahkan ia membentak.
Seorang diantara mereka telah berlari-lari menyusul kedua orang anak muda yang
berjalan paling belakang dari iring-iringan itu.
“Anak-anak muda“ berkata orang itu“ Ki Resa minta kalian untuk menemuinya
sebentar. Hanya sebentar”
Kedua anak muda itu termangu-mangu. Namun mereka pun melangkah kembali,
mendekati Ki Resa yang memandangi mereka dengan tajamnya.
“Kalian yang mengaku telah membunuh harimau ini?“ bertanya Resa.
“Ya Ki Sanak“ jawab Manggada “kami terpaksa membunuhnya, karena harimau itu akan
menerkam gadis yang pingsan itu”
“Aku pamannya. Aku adalah Ki Resa yang digelari Pembunuh Harimau. Kenapa kau
harus melakukannya? Apa kalian kira, tanpa kalian aku tidak mampu membunuhnya?“
bertanya Ki Resa.
Manggada dan Laksana menjadi heran. Ia tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja
orang itu menjadi marah kepada mereka.
Karena Manggada dan Laksana tidak segera menjawab, maka Ki Resa membentak
“Kenapa? Kenapa kalian diam saja? kalian sudah mengaku dapat membunuh harimau
itu, sekarang kalian harus dapat mempertanggung-jawabkan”
Manggadalah yang kemudian bertanya “Ki Resa, apakah kami telah melakukan
kesalahan?“
“Kau terlalu sombong. Kau dan kawanmu itu, dengan sengaja ingin menunjukkan
kepada orang-orang padukuhan ini bahwa kalian adalah orang-orang yang memiliki
kelebihan dengan membunuh harimau tua yang sudah tidak bergigi itu” jawab Ki
Resa “Kau kira dengan permainanmu itu, aku akan mengagumimu?“
Manggada dan Laksana akhirnya mengerti kenapa orang itu menjadi marah. Agaknya,
orang yang telah disebut pembunuh harimau, adalah orang yang sangat dikagumi di
padukuhan itu. Kehadiran mereka berdua, dianggap menjadi saingan bagi orang itu.
Wajah Laksana menjadi tegang. Tetapi sebelum ia mengatakan sesuatu, Manggada
telah mendahului “Ki Resa. Jika kami dianggap bersalah, kami minta maaf. Tetapi
kami tidak sempat berpikir sama sekali pada waktu itu. Apalagi kami sama sekali
tidak tahu bahwa perbuatan kami telah membuat Ki Resa tidak senang. Sebab, saat
itu harimau telah meloncat menerkam, sebelum Ki Resa datang”
Ki Resa mengerutkan keningnya. Jawaban anak muda itu nampaknya dapat dimengerti
oleh orang-orang yang ikut mendengar pembicaraan itu, sehingga Ki Resa menahan
diri untuk menghindari prasangka buruk dari orang-orang yang akan mengambil
kulit harimau itu.
Bahkan kemudian, sambil melangkah pergi, ia berkata “Jika kalian menginginkan
kulitnya, bicaralah dengan anak-anak itu”
Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Sementara itu, orang-orang yang
akan membawa harimau itu telah berbicara kepada Manggada dan Laksana.
“Bawalah“ jawab Manggada “tetapi kulit harimau itu tidak dapat dijual mahal.
Beberapa buah lubang terdapat pada kulit itu”
Seorang anak muda yang lebih tua sedikit dari Manggada bertanya “Jadi seharusnya
bagaimana?“
“Kulit harimau akan menjadi lebih mahal jika tidak terdapat luka-luka di
tubuhnya“ jawab Manggada.
“Tetapi hampir tidak mungkin dapat membunuh harimau tanpa melukainya“ desis anak
muda itu.
Manggada tidak menjawab. Ia memang tidak ingin bercerita lebih panjang tentang
kebiasaannya menangkap harimau, hingga pada suatu saat pamannya harus
menghentikannya.
Sementara itu, seorang telah berlari-lari kembali dari iring-iringan yang
menjadi semakin jauh. Dengan nada tinggi, orang itu berkata Ki Sanak. Marilah.
Kami, bukan saja keluarga Mas Rara, tetapi seisi padukuhan, mempersilahkan
kalian singgah.
“Baik, baik Ki Sanak jawab Manggada kami akan segera menyusul bersama
saudara-saudara yang akan membawa harimau ini untuk dikuliti”
Akhirnya, beberapa orang telah mengangkat harimau yang cukup berat itu untuk
dibawa ke padukuhan bersama dengan Manggada dan Laksana. Agak jauh di hadapan
mereka, Ki Resa berjalan cepat, menyusul iring-iringan Mas Rara.
Dalam pada itu, Laksana berdesis kepada Manggada “Kenapa kau terlalu merendahkan
diri terhadap Ki Resa? Jika itu jadi perselisihan, bukan salah kita. Aku justru
ingin tahu, apakah orang yang disebut Pembunuh Harimau itu dapat mengalahkan aku
seorang diri. Tanpa kau”
“Sudahlah“ berkata Manggada “kita akan memasuki satu lingkungan baru. Sebaiknya
kita bersikap baik, sehingga kesan pertama yang ditangkap oleh orang-orang
padukuhan atas kita, cukup baik. Mungkin pada kesempatan lain kita akan dapat
bersikap lain terhadap Ki Resa”
Laksana termangu-mangu. Namun ia tidak menjawab lagi.
Keduanya tidak banyak berbicara lagi. Iring-iringan itu telah melewati bulak
panjang. Semakin lama semakin bertambah-tambah. Orang-orang yang berada di
sawah, hampir semuanya ikut bersama-sama iring-iringan itu kembali ke padukuhan.
Bahkan beberapa orang seakan-akan menyongsong mereka, untuk melihat apa yang
telah terjadi dengan Mas Rara.
Seorang gadis yang sebaya dengan Mas Rara, yang tidak berani menyongsong ke
sawah, berbisik kepada kawannya di mulut lorong padukuhan “Jika terjadi sesuatu
atas Mas Rara, maka Raden Panji akan marah sekali. Seisi padukuhan ini akan
dihukumnya tanpa ampun”
“Sukurlah bahwa Mas Rara dapat diselamatkan. Beberapa saat lagi, ia akan duduk
di pelaminan dengan seorang bangsawan tinggi yang sangat dihormati“ sahut
kawannya juga seorang gadis.
Gadis yang pertama itu, berkata lagi “Banyak kawan-kawan sebayu kita menjadi
iri”
Tetapi gadis yang pertama mencubitnya. Katanya “Ah, apakah kau juga iri?“
“Bukankah bakal suaminya, Raden Panji, berkuasa dan kaya raya?“ jawabnya sambil
menghindari cubitan kawannya.
Yang lain tidak menjawab lagi. Mereka telah melihat iring-iringan datang. Di
bagian depan, orang tua Mas Rara disusul Mas
Rara yang dibimbing kakaknya. Namun Mas Rara, meskipun masih nampak lemah, tapi
sudah mampu berjalan lebih baik.
Ketika iring-iringan itu memasuki padukuhan, tidak banyak pertanyaan dapat
dijawab. Iring-iringan itu langsung menuju ke rumah Mas Rara.
Karena beberapa orang ikut masuk ke halaman rumah Mas Rara, orang tua gadis itu
sibuk mencari kedua anak muda yang telah membunuh harimau, yang hampir saja
menerkam anak gadisnya.
“Mereka ada di belakang“ berkata Resa yang sudah ada di rumah itu pula.
”Kami akan menyambut mereka sebagai pernyataan terima kasih“ berkata ayah Mas
Rara.
“Biarkan saja mereka“ berkata Ki Resa dengan nada berat “mereka akan menjadi
manja, dan bahkan sombong. Mereka akan mengira bahwa di padukuhan ini tidak ada
orang lain yang dapat melakukan sesuatu yang lebih baik dari yang dapat mereka
lakukan. Mereka mengira bahwa membunuh harimau adalah satu kerja yang tidak ada
bandingnya”
Ayah Mas Rara menarik nafas dalam-dalam. Dengan sabar, orang tua itu berkata
“Seluruh padukuhan itu tahu Resa, bahwa kau tentu akan mampu melakukannya.
Tetapi saat itu, adalah kebetulan bahwa kedua orang anak muda itu ada di dekat
anakmu, yang hampir saja di terkam seekor harimau. Sudah tentu tidak seorang pun
akan memilih untuk menunggu kedatanganmu”
“Aku mengerti kakang, aku mengerti“ jawab Resa “tetapi dengan demikian, seluruh
isi padukuhan ini dengar serta merta telah mengaguminya. Terimalah keduanya
dengan wajar. Tanpa harus dibuat-buat”
“Apakah yang aku lakukan tidak wajar? Aku, orang tua dari seorang gadis yang
diselamatkan jiwanya. Bukankah wajar jika aku merasa sangat bergembira, dan
menyatakan sukur kepada Yang Maha Pencipta, yang telah melindungi anakku dengan
lantaran kedua anak muda itu?“ bertanya ayah Mas Rara.
“Ketika aku membunuh harimau, orang-orang padukuhan ini tidak menjadi gempar
seperti ini“ geram Ki Resa.
“Kenapa tidak?“ bertanya ayah Mas Rara “bukankah waktu itu justru semua orang
keluar dari rumahnya, ikut beramai-ramai membunuh harimau itu. Kaulah yang
berhasil menghunjamkan tombak pendekmu ke tubuh harimau itu, sehingga harimau
itu tidak bernafas lagi, setelah lukanya arang keranjang dihujani senjata oleh
orang sepadukuhan”
“Kakang memperkecil keberhasilanku, seolah-olah aku hanya dapat melakukannya
dengan bantuan orang sepadukuhan“ geram Ki Resa.
Ayah Mas Rara menarik nafas dalam-lalam. Namun ia tidak bertanya lagi.
Sementara itu, bersama beberapa orang, Manggada dan Laksana telah memasuki
halaman itu pula. Dengan tergesa-gesa, ayah Mas Rara mempersilahkan naik ke
pendapa yang tidak begitu luas.
Beberapa orang laki-laki telah ikut duduk pula di pendapa. Mereka adalah
orang-orang yang mengagumi kedua anak muda yang belum mereka kenal itu.
Sebenarnyalah mereka mengetahui bahwa sebelumnya, Ki Resa pernah juga membunuh
seekor harimau bersama-sama dengan hampir setiap laki-laki padukuhan yang keluar
sambil membawa senjata. Sehingga Ki Resa digelari Pembunuh Harimau. Namun ketika
kemanakannya sendiri hampir diterkam seekor harimau, justru Orang lainlah yang
menolongnya.
Orang-orang yang ada dipendapa itu ingin mengenai lebih jauh kedua anak muda
itu. Siapakah mereka, dan dari mana saja mereka berjalan, atau menuju kemana,
sehingga mereka melintasi bulak panjang didekat padukuhan mereka.
Beberapa saat kemudian, ayah Mas Rara berkata dengan nada rendah “Selamat datang
dipadukuhan Nguter anak-anak muda”
“Terima kasih Ki Sanak. Tetapi bolehkah aku tahu nama Ki Sanak? Bukankah Ki
Sanak orang tua gadis itu?“ bertanya Manggada.
Ayah Mas Rara tertawa. Katanya “Ya anak-anak muda. Aku adalah ayah gadis itu.
Namaku Ki Partija“ kemudian, sambil menunjuk kakak Mas Rara yang sudah duduk di
pendapa itu pula, ia berkata “Itu adalah anakku yang sulung. Namanya Wirantana.
Kakak anak gadisku yang akhir-akhir dipanggd Mas Rara”
“Kenapa akhir-akhir ini?“ bertanya Laksana.
“Namanya bukan Mas Rara, tetapi Wiranti. Karena anak gadisku akan diambil
menjadi isteri Raden Panji Prangpranata, maka orang-orangpun telah memanggilnya
Mas Rara.
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun hampir di luar sadarnya, Laksana
bertanya “Nama Ki Sanak agak bernada lain dengan nama anak-anak Ki Sanak”
Ki Partija, ayah gadis itu tersenyum. Katanya “Nama itu adalah pemberian kedua
orang tuaku. Aku memang tidak merubahnya, meskipun setelah kawin aku mempunyai
nama lain. Tetapi aku tidak pernah mempergunakannya”
“Siapa nama itu?“ bertanya Manggada.
“Wirasentana. Nama yang aku buat sendiri setelah aku berumah tangga. Tetapi
jarang sekali orang yang memanggilku demikian. Orang-orang di sekitarku masih
saja memanggilku Ki Partija. Aku senang dengan panggilan itu” jawab orang itu.
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara itu, hidangan mulai
disuguhkan. Minuman dan makanan.
Setelah meneguk minuman dan mencicipi beberapa potong makanan, Manggada dan
Laksana minta diri untuk melanjutkan perjalanan.
Tetapi ternyata ia tidak berhasil keluar dari pendapa rumah itu. Ki Wirapartija
telah mencegahnya. Dengan sungguh-sungguh, ia minta agar kedua anak muda itu
menunggu. Besok keluarga itu akan mengadakan upacara, mengucapkan sukur kepada
Yang Maha Agung yaitu ALLAH swt. bahwa anaknya telah diselamatkan dari maut.
Anak gadis yang diharapkan akan dapat menjadi tumpuan kebanggaan orang tuanya.
“Kami benar-benar tidak rela angger berdua meninggalkan rumahku sebelum hadir
dalam upacara sukuran itu“ berkata Ki Partija Wirasentana.
Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Tetapi sebelum mereka
menjawab, Ki Partija telah berkata
“Sekali lagi aku minta anak-anak muda untuk tetap tinggal. Kami akan
mempersilahkan angger berdua untuk beristirahat di gandok sebelah kanan. Kalian
telah menyelamatkan jiwa anakku. Itu bukan sekadar satu peristiwa yang dapat
dilakukan begitu saja, dan kemudian tidak punya kesan apapun. Angger berdua
harus tahu, bahwa yang kalian lakukan itu tidak akan dapat dilupakan seumur
hidup. Bahkan akan tetap berpengaruh pada sikap dan cara berpikirnya”
Kedua anak muda itu tidak dapat memaksa. Beberapa orang telah menekankan
permintaan Ki Partija dengan sungguh-sungguh. Akhirnya Manggada berkata
“Baiklah. Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya”
“Bagus“ Ki Partija hampir berteriak. Lalu katanya kepada anak laki-lakinya
“Wirantana. Bawa kedua anak muda ini ke gandok kanan. Biarlah mereka
beristirahat”
Wirantana mengangguk kecil. Kemudian katanya “Marilah Ki Sanak, perlu
beristirahat. Kami telah menyiapkan gandok sebelah kanan bagi Ki Sanak berdua”
Manggada dan Laksana pun kemudian meninggalkan pendapa. Ki Partija kemudian
berkata kepada orang-orang yang ikut duduk di pendapa itu “Biarlah anak-anak
muda itu beristirahat lebih dahulu. Berkelahi dengan seekor harimau, bukan
pekerjaan ringan. Jauh lebih berat daripada mengisi sepuluh jambangan pakiwan
yang besar-besar. Bahkan akan dapat mengancam nyawa mereka sendiri. Adalah
jarang ada anak-anak muda yang memiliki kemampuan sebagaimana kedua anak muda
itu”
“Nanti sore kalian akan mendapat kesempatan berbincang-bincang lagi dengan
mereka“ berkata Ki Partija.
Ketika pendapa rumah itu telah menjadi sepi, Ki Resa telah menemui kakaknya, Ki
Partija Wirasentana. Seperti diduga oleh kakaknya, Ki Resa kemudian berkata
“Kakang terlalu memanjakan anak-anak itu. seperti yang sudah aku katakan. Jika
mereka mau pergi, biar saja mereka pergi. Untuk apa kakang menahan mereka”
“Resa“ berkata kakaknya “seperti yang sudah aku katakan. Aku memang menjadi
sangat bergembira bahwa anakmu lepas dari maut. Kau tidak boleh memikirkan
kepentinganmu sendiri, seakan-akan anak-anak muda itu menyaingi kebesaran namamu
sebagai pembunuh harimau. Kau mendapatkan kebesaran namamu sendiri, sehingga
anak itupun mendapatkannya pula. Jika saat itu kami harus menunggu kedatanganmu,
maka anakmu, Mas Rara, tentu sudah mati diterkam harimau yang besar itu. Apa
daya seorang gadis”
“Aku tidak mengecilkan arti kemampuannya kakang. Kakang dapat mengucapkan terima
kasih, memberinya sedikit uang, dan menyuruhnya pergi” berkata Ki Resa.
Tetapi kakaknya menggeleng. Katanya “Persoalannya menyangkut hidup dan mati.
Bukan sekadar upah seperti menebang sebatang pohon. Bagi Mas Rara, juga bagiku,
semua milikku tidak akan cukup untuk membayar jasa yang telah diberikan“ Ki
Partija berhenti sejenak. Lalu “Apalagi kedua anak muda itu sebaya, bahkan lebih
muda sedikit dari Wirantana. Mereka akan dapat menjadi kawan yang baik”
Ki Resa hanya dapat menggeram. Ia tidak dapat membantah niat kakaknya untuk
menahan kedua anak muda itu.
Seperti yang dikatakan oleh ayahnya, Wirantana menjadi cepat akrab dengan
Manggada dan Laksana. Wirantana yang sedikit lebih tua dari kedua anak muda itu,
ternyata juga belum terlalu lama tinggal di rumahnya. Anak muda itu juga baru
saja kembali dari rumah seorang sahabat ayahnya yang memiliki kemampuan ilmu
kanuragan.
“Tetapi yang kami pelajari, adalah sangat sederhana sekali“ berkata Wirantana.
Manggada tersenyum sambil menjawab “Kami tidak mendapatkan apa-apa selain ilmu
dasar. Hanya itu”
“Tetapi kalian berdua mampu membunuh seekor harimau“ berkata Wirantana.
“Satu kebetulan. Atau mungkin karena terdorong oleh satu kewajiban yang harus
kami lakukan untuk membantu sesama” jawab Manggada.
Wirantana mengangguk-angguk. Namun katanya “Tetapi aku masih sangsi, apakah aku
mampu melakukannya, seandainya terpaksa aku melakukannya. Meskipun umurku lebih
tua dari kalian, namun agaknya dalam ilmu kanuragan, kalian sudah lebih dewasa
dari aku”
Manggada menggeleng lemah. Namun Laksanalah yang berkata “Kami masih baru mulai.
Kami belum apa-apa”
Demikianlah, mereka sempat berbicara tentang berbagai macam pengalaman mereka
masing-masing. Saat-saat mereka berada di perguruan mereka. Adalah diluar sadar
bahwa Laksana kemudian menceriterakan pula kebiasaan mereka menangkap harimau
untuk diambil kulitnya, dan dijual kepada pedagang kulit binatang buas dan
binatang liar. Sehingga pada suatu saat pamannya menghentikannya, karena hal itu
dianggap dapat mengganggu keseimbangan kehidupan di hutan.
Wirantana mengangguk-angguk. Katanya “Jadi membunuh, bahkan menangkap harimau
adalah pekerjaan kalian sehari-hari?“
Anak-anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun hal itu sudah terlanjur
dikatakannya.
Wirantana nampaknya memang tidak menaruh perhatian yang berlebihan Namun ketika
ia kembali ke pendapa, ia telah menceritakan kepada ayahnya.
Ayahnya mengangguk-angguk. Ia percaya akan ceritera itu. Kedua anak muda itu
tentu anak-anak muda yang memang memiliki kelebihan dari anak-anak muda
kebanyakan. Bahkan dari Wirantana yang
pernah dikirimnya berguru, dan belum lama kembali kepada keluarganya.
Tetapi Ki Partija memang tidak perlu merasa iri. Bahkan ia menganggap kehadiran
kedua anak muda itu akan dapat membantu anaknya mengembangkan ilmunya.
“Jika saja anak-anak muda itu mau tinggal bersama Wirantana untuk beberapa lama”
berkata Ki Partija Wirasentana di dalam hatinya.
Namun pada hari itu, Ki Partija telah mempersiapkan segala-galanya dengan cepat.
Besok mereka akan menyelenggarakan upacara ucapan sukur dengan memanggil
tetangga-tetangganya. Makan bersama, dan kelenengan sepanjang malam. Ki Partija
memang mempunyai kelompok yang terbiasa mengadakan latihan-latihan menabuh
gamelan, sehingga justru pada malam sukuran, Ki Partija ingin mencoba kemampuan
kawan-kawannya itu.
Dengan demikian, sejak hari itu, beberapa perempuan telah menjadi sibuk. Mereka
mulai mengumpulkan bahan-bahan mentah yang dapat mereka lakukan pada hari itu.
Dari lumbung, beberapa orang perempuan telah mengambil padi dan mulai
menumbuknya di lesung yang panjang. Kemudian yang lain mengambil daun pisang di
kebun belakang yang cukup luas. Kemudian yang lain lagi pergi ke pategalan
memetik dedaunan yang dapat dipergunakan untuk membuat nasi megana.
Namun bukan saja hasil kebun dan pategalan sendiri. Beberapa orang tetangga yang
ikut mengucap sukur bahwa Mas Rara selamat, telah datang memberikan sumbangan
apa saja. Yang kebiasaannya membuat gula kelapa, telah datang dengan membawa
setenggok gula kelapa. Ada yang membaw sebakul telur itik. Tetapi ada juga yang
membawa dua ekor ayam hidup-hidup.
Dengan demikian, beberapa macam bahan telah datang sendiri, sehingga Ki Partija
Wirasentana tidak perlu membelinya lagi keesokan harinya.
Malam itu di rumah Ki Partija sudah ramai dikunjungi orang. Beberapa orang duduk
di pendapa namun ada juga yang duduk-duduk di serambi gandok. Terutama anak-anak
muda yang ingin berkenalan dengan Manggada dan Laksana.
Namun dalam pada itu, yang sangat mengejutkan adalah kehadiran seorang utusan
dari Raden Panji Prangpranata yang juga hadir di pendapa.
Dengan tergopoh-gopoh Ki Partija Wirasentana telah menemui tamunya yang khusus
itu. Tentu ada sesuatu yang penting sehingga Raden Panji Prangpranata teleh
mengirimkan utusan untuk datang ke rumahnya.
Dengan penuh hormat, Ki Partija Wirasentana menyapa tamunya, serta menanyakan
keselamatan perjalanannya. Juga ditanyakan pula keselamatan Raden Panji
Prangpranata serta keluarganya.
“Baik, Ki Partija Wirasentana” jawab utusan itu “Kami dan keluarga Raden Panji
dalam keadaan selamat”
Ki Partija mengangguk-angguk sambil berdesis “Sukurlah, namun kedatangan Ki
Sanak yang tiba-tiba telah membuat hatiku berdebar-debar. Sebab kami akan
menyelanggarakan upacara pernyataan sukur karena Mas Rara telah diselamatkan
dari terkaman seekor harimau yang sangat besar”
Orang itu tersenyum, katanya “Baru saja aku mendengar tentang hal itu.
Sebenarnya kedatanganku tidak ada sangkut pautnya dengan rencana Ki Partija
menyelenggarakan upacara pernyataan sukur. Aku justru terkejut ketika memasuki
halaman rumah ini, ternyata banyak orang berada di dalamnya”
Ki Partija Wirasentana mengangguk-angguk sambil berkata “Kebetulan sekali Ki
Sanak. Dengan demikian Ki Sanak dapat menyampaikan kepada Raden Panji, bahwa
baru saja terjadi peristiwa yang hampir saja merenggut jiwa Mas Rara”
“Tetapi bukankah Mas Rara sudah selamat sekarang?” bertanya utusan itu.
“Sudah Ki Sanak. Itulah sebabnya kami membuat upacara pernyataan sukur besok
malam” jawab Ki Partija Wirasentana yang tina-tiba bertanya “apakah Ki Sanak
akan bermalam sampai besok?”
Orang itu tersenyum, katanya “Aku hanya bermalam semalam. Besok apgi aku sudah
berangkat kembali”
“Kenapa tidak besok lusa saja?” sahut Ki Partija “besok Ki Sanak dapat ikut
upacara pernyataan sukur itu. Besok malam Mas Rara akan menari untuk membuat
suasana semakin meriah”
“Mas Rara akan menari besok?” bertanya orang itu.
“Ya” jawab Ki Partija.
“Mas Rara dapat menari?” bertanya utusan itu pula.
“Anakku adalah penari terbaik di padukuhan ini” jawab Ki Partija “Aku mempunyai
seperangkat gamelan yang akan dipergunakan besok. Para penabuh juga dari
padukuhan ini”
Utusan itu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah melihat itu ada di
pringgitan.
“Nanti, jika kawan-kawan sudah lengkap, kami akan mengadakan latihan” berkata Ki
Partija.
Utusan itu mengangguk-angguk, namun katanya “Beruntunglah aku melihat latihan
itu, sehingga aku dapat melihat Mas Rara menari. Aku tentu akan menceritakannya
pada Raden Panji Prangpranata”
“Apalagi jika Ki Sanak sempat menyaksikannya besok” berkata Ki Partija.
Tetapi orang itu tersenyum sambil berkata “Aku besok harus kembali”
Ki Partija pun kemudian menanyakan keperluan utusan itu datang ke padukuhan
Nguter.
“Ki Partija Wirasentana” jawab orang itu “sebenarnya aku mendapat perintah dari
Raden Panji untuk melihat keadaan Mas Rara yang sudah agak lama tidak
dikunjunginya, karena kesibukannya. Selain itu, Raden Panji nampaknya sudah
mulai bersiap-siap untuk menentukan hari perkawinannya dengan Mas Rara. Oleh
karena itu. Raden Panji minta Ki Partija untuk bersiap-siap. Dalam waktu dua
tiga pekan lagi, Raden Panji akan mengirim utusan lagi.
Ki Partija mengangguk-angguk. Katanya “Kami hanya menunggu perintah, Ki Sanak.
Apapun yang diperintahkan oleh Raden Panji, kami akan melaksanakan. Kami tidak
berwenang untuk menyatakan pendapat apapun di hadapan Raden Panji Prangpranata”
“Ada dua kemungkinan yang akan ditawarkan Raden Panji“ berkata utusan itu pula
“perkawinan agung itu diadakan di sini, kemudian diboyong Raden Panji, atau
perkawinan agung diadakan di rumah Raden Panji. Ditinjau dari segi adat, maka
perkawinan itu sebaiknya dilakukan di sini. Tetapi mengingat tempat dan
kelayakan bagi para tamu Raden Panji yang akan diundang, sebaiknya perkawinan
dilakukan di rumah Raden Panji”
Ki Partija mengangguk-angguk. Katanya “Sekali lagi aku nyatakan, kami hanya
melakukan segala perintah Raden Panji. Dimanapun perkawinan agung itu dilakukan,
kami tidak akan berkeberatan”
“Kesulitan yang lain jika perkawinan itu dilakukan di sini, jaraknya terlalu
jauh dari para tamu yang akan diundang oleh Raden Panji. Jika upacara selesai,
Raden Panji harus menyediakan penginapan yang pantas bagi para tamunya. Dan itu
agaknya tidak mungkin dilakukan mengingat tidak ada rumah yang pantas di sini.
Jarak perjalanan ke tempat ini sangat melelahkan. Berkuda, lebih dari setengah
hari perjalanan. Aku memang tidak terlalu cepat berpacu, karena aku tidak
tergesa-gesa. Beberapa kali aku berhenti untuk makan, terutama yang aku tidak
tahan adalah minum, serta memberi minuman dan makanan kudaku” berkata utusan
itu.
Ki Partija mengangguk-angguk. Katanya “Sudah aku katakan Ki Sanak. Terserah
kepada Raden Panji. Kami hanya tinggal melaksanakannya”
Utusan itu mengangguk-angguk. Lalu katanya “Jika demikian Ki Partija, aku akan
menyampaikannya kepada Raden Panji. Namun agaknya Raden Panji cenderung untuk
melaksanakan perkawinan itu di rumah Raden Panji yang memadai. Pada suatu saat,
Raden Panji akan mengirimkan utusan disertai dengan pertanda dirinya untuk
menjemput Mas Rara. Aku juga belum tahu, kapan itu dilakukan. Apalagi jika Raden
Panji kemudian mempunyai rencana lain.
“Kami akan melakukan dengan sebaik-baiknya. Kami menunggu dengan sabar dan
dengan kesungguhan hati“ jawab Ki Partija.
“Nah, jika Ki Partija tidak mempunyai persoalan lagi, biarlah hasil pembicaraan
ini aku bawa kepada Raden Panji“ berkata utusan itu “sekarang, silahkan Ki
partija meneruskan acara yang telah kau susun. Mungkin latihan atau apa. Tetapi
jika Ki Partija tidak berkeberatan, aku ingin berbicara dengan kedua anak muda
yang telah berhasil membunuh harimau itu”
“Tentu. Aku sama sekali tidak berkeberatan“ berkata Ki Partija Wirasentana “aku
akan memanggilnya. Anak-anak muda itu masih berada di gandok. Beberapa orang
anak muda dari padukuhan Nguter ini telah datang untuk menemuinya dan berbicara
dengan keduanya”
Ki Partija pun kemudian menyuruh seseorang untuk memanggil Manggada dan Laksana
agar datang ke pendapa untuk menemui utusan dari Raden Panji Prangpranata.
Sejenak kemudian, kedua anak muda itu telah hadir. Beberapa orang anak muda dari
Nguter, ikut naik ke pendapa dan duduk pula diantara mereka.
Utusan itu agak terkejut melihat keduanya. Masih terlalu muda. Sementara itu,
dari seseorang ia telah mendengar, bahwa adik Ki Partija telah mendapat gelar
Pembunuh Harimau. Namun yang kemudian menolong Mas Rara. justru dua orang yang
masih sangat muda.
Untuk beberapa saat, utusan itu berbicara dengan Manggada dan Laksana. Memang
tidak terlalu banyak yang mereka bicarakan selain peristiwa sekitar pembunuhan
harimau yang hampir saja menerkam Mas Rara itu.
“Kalian akan mendapat hadiah secukupnya dari Raden Panji“ berkata utusan itu.
Tetapi Manggada menggeleng sambil berkata “Terima kasih. Bukan maksud kami untuk
mendapatkan hadiah apapun. Kami melakukannya karena kami merasa berkewajiban”
Orang itu tersenyum. Katanya “Aku tahu. Raden Panji memberikan hadiah karena
rasa terima kasihnya. Mungkin sekadar kenangan bagi kalian berdua.Tetapi Raden
Panji tidak akan menilainya dengan uang, karena keselamatan jiwa Mas Rara tidak
akan dapat dihargai berapapun juga”
Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Keduanya kemudian mengangguk
hormat. Namun keduanya sama sekali tidak menjawab lagi.
Demikianlah. Sejenak kemudian, utusan itu berkata kepada Ki Partija Wirasentana
“Silahkan meneruskan rencana kalian. Latihan atau memasang perlengkapan,
memindahkan gamelan atau apapun juga. Bukankah gamelan besok tidak akan
ditempatkan di pringgitan?“
“Kami akan melakukan latihan dahulu Ki Sanak. Besok siang baru gamelan akan
dipindah di sisi pendapa, berseberangan dengan pringgitan itu“ jawab Ki Partija
Wirasentana.
Sejenak kemudian, Ki Partija Wirasentana telah mempersilahkan para penabuh untuk
menempati tempatnya. Hampir semuanya orang dari padukuhan Nguter, meskipun ada
satu dua orang datang dari padukuhan tetangga. Tetapi sudah menjadi kebiasaan
mereka untuk setiap kali melakukan latihan bersama dengan orang-orang Nguter.
Utusan Raden Panji ternyata seorang yang mampu menikmati irama gamelan. Apalagi
ketika para penari mulai melakukan latihan. Beberapa orang membawakan pethilan
tari topeng. Namun yang paling menarik adalah ketika Mas Rara melakukan latihan
sangat memikat para pehpnton. Apalagi besok, jika Mas Rara mengenakan pakaian
lengkap seorang penari.
Anak-anak muda Nguter memandanginya tanpa berkedip. Mas Rara bukan saja seorang
penari yang baik, tapi juga seorang gadis yang sangat cantik.
Manggada dan Laksana memandang gadis itu bagaikan membeku. Mereka belum pernah
melihat gadis secantik gadis yang sedang menari itu. Anak gadis Ki Wiradadi yang
diambil oleh sekelompok orang berilmu hitam untuk dikorbankan, juga cantik. Tapi
gadis itu tidak sedang bersolek seperti Mas Rara. Anak gadis Ki Wiradadi justru
nampak kusut dan lemah. Sedangkan Mas Rara nampak bersih dan segar.
Selagi Mas Rara menari dengan asyiknya, di halaman, pamannya pun tengah
mengaguminya. Bahkan Ki Resa yang digelari Pembunuh Harimau itu sempat menggeram
“Kenapa gadis itu telah dijual?“
Sekilas Ki Resa memandang utusan Raden Panji Prangpranata. Dengan mata yang
memancarkan ketidak senangan, ia kemudian meninggalkan halaman, dan keluar regol
turun ke jalan.
Ternyata di jalan, di depan rumah Ki Partija Wirasentana, cukup ramai. Meski
yang berlangsung di pendapa baru latihan, tapi telah banyak orang datang. Bukan
saja untuk menonton, tetapi juga untuk ikut menyatakan kegembiraan mereka bahwa
Mas Rara selamat.
Ki Resa tidak menghiraukan mereka. Ia hanya mengangguk jika ada orang mengangguk
kepadanya. Namun tidak sepatah kata keluar dari mulutnya.
Beberapa orang yang melihat sikapnya, menjadi heran. Beberapa orang hanya
mendengar bahwa Ki Resa merasa kurang senang karena ia didahului oleh dua orang
anak muda yang telah membunuh harimau itu.
Orang-orang itu coba untuk mengerti, bahwa Ki Resa yang mendapat panggilan
Pembunuh Harimau itu menjadi kecewa karena bukan dirinya yang membunuh harimau
itu. Tetapi justru dua orang anak muda.
Namun tidak seorang pun yang dapat menyalahkan kedua anak muda itu. Jika
keduanya tidak berbuat sesuatu, apalagi membunuh harimau itu, Mas Rara tidak
akan dapat lagi menari di pendapa rumahnya.
Demikianlah. Malam itu rumah Mas Rara menjadi sangat sibuk. Orang-orang
perempuan mulai memasak untuk menyiapkan hidangan buat besok.
Namun akhirnya pendapa rumah itu sepi, ketika latihan telah selesai, serta
orang-orang yang ikut menyatakan kegembiraan mereka telah pulang, karena malam
berikutnya mereka akan datang lagi sebagai tamu dalam upacara pernyataan sukur.
Beberapa orang yang tinggal dan mulai merasa ngantuk, berbaring di serambi. Ki
Partija Wirasentana pun telah beristirahat setelah mempersilahkan Manggada dan
Laksana beristirahat di gandok, ditemani Wirantana. Sementara itu, utusan Raden
Panji Prangpranata dipersilahkan beristirahat di biliknya.
Namun dalam pada itu, meskipun pendapa keadaannya sepi, tapi tidak demikian
halnya dengan didapur. Beberapa orang masih saja sibuk. Tetapi beberapa orang
mulai berbaring di mana saja tersedia tempat, meskipun di sebelah orang yang
sedang mengkukur kelapa.
Ketika matahari terbit di hari berikutnya, rumah Mas Rara menjadi semakin sibuk.
Malam mendatang, akan diselenggarakan upacara yang menarik itu.
Namun pagi itu utusan Raden Panji Prangpranata telah minta diri. Betapapun Ki
Partija Wirasentana mencoba menahannya, namun utusan itu tetap mohon diri untuk
kembali.
“Aku tidak berani melanggar perintah Raden Panji“ berkata utusan itu “jika aku
tidak pulang hari ini, Raden Panji akan marah”
Dengan demikian, keluarga Mas Rara tidak dapat menahannya lagi, Namun utusan itu
sempat sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Manggada dan Laksana yang
telah menyelamatkan Mas Rara.
“Jika tidak perkawinan agung itu akan batal. Yang terjadi adalah iring-iringan
untuk mengantarkan tubuh membeku ke kuburan. Ah, itu memang tidak akan terjadi“
berkata utusan itu.
“Kami sekadar melakukan kewajiban. Bukankah kewajiban kita adalah saling
tolong-menolong?“ sahut Manggada.
“Ya. Meskipun demikian, kami harus mengenal kalian, tempat tinggal kalian dan
keluarga kalian“ berkata utusan itu.
Tetapi Manggada menggeleng. Katanya “Ki Sanak boleh mengenai nama kami. Itu
sudah cukup. Besok kami sudah akan meninggalkan tempat ini. Dan barangkali kita
tidak akan bertemu lagi”
Orang itu tersenyum. Katanya “Kalian memang anak-anak muda yang rendah hati.
Tetapi apa salahnya jika kami mengenai kalian lebih banyak? Seandainya kami
tidak ingin memberikan apapun juga, bukankah kita dapat berkenalan dan
bersahabat lebih akrab?”
Tetapi Manggada hanya tersenyum. Sementara Laksana berkata “Tetapi kami dapat
menduga sebelumnva apa yang akan Ki Sanak lakukan”
“Baiklah“ berkata utusan itu. Namun ia berharap bahwa ayah Mas Rara akan dapat
memberikan lebih banyak keterangan tentang kedua orang anak muda itu.
Sementara utusan itu minta diri. Ki Resa tidak mendekat. la benar-benar merasa
benci kepadanya, meskipun orang itu tidak lebih dari seorang utusan.
Sebenarnyalah bahwa Ki Resa sangat membenci orang yang disebut Raden Panji
Prangpranata. Seorang yang berkedudukan tinggi, kaya raya serta memiliki
kekuasaan atas daerah yang luas, termasuk padukuhan Nguter.
Sejenak kemudian, orang itu minta diri. Wirantana, Manggada dan Laksana
mengantarkannya sampai ke regol halaman.
Demikian kuda itu berpacu meninggalkan halaman Ki Partija, Ki Resa mendekati
mereka sambil berdesis kepada Wirantana “He, apakah kau rela adikmu dijual oleh
ayah ibumu?“
Wirantana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Aku tidak tahu maksud
paman”
“Kau memang bodoh. Apalagi kau agak lama meninggalkan kedua orang tuamu, karena
menuntut ilmu. Sekarang kau telah kembali. Kau tidak lagi Wirantana yang bodoh,
lemah dan tidak mampu berpikir. Kau sekarang sudah memiliki ilmu. Umurmu sudah
menjadi makin dewasa. Karena itu, kau harus mampu berpikir tentang sikap kedua
orang tuamu atas adikmu itu” geram Ki Resa.
Tetapi Ki Resa tidak menunggu Wirantana menjawab. Ia segera melangkah
meninggalkan anak muda itu.
Wirantana berdiri termangu-mangu. Namun kemudian ia bergumam “Aku tidak mengerti
maksud paman. Kenapa paman menganggap Mas Rara telah dijual kepada Raden Panji”
“Bagaimana sebennrnya?“ bertanya Manggada.
“Aku tidak tahu. Aku harus bertanya kepada ayah dan ibu, apa yang sebenarnya
terjadi atas adikku itu. Tetapi aku sama sekali tidak melihat kesan yang tidak
wajar pada adikku” berkata Wirantana.
“Ia seorang gadis“ berkata Manggada biasanya seorang gadis tidak pernah
menyatakan pendapatnya. apapun yang akan terjadi atas dirinya”
“Tetapi adikku sangat terbuka hatinya kepadaku. la tidak pernah menyembunyikan
sesuatu. Apalagi jika benar kata paman, bahwa Mas Rara telah dijual” berkata
Wirantana.
“Mungkin Mas Rara sendiri tidak tahu apa yang telah dibicarakan tentang dirinya,
oleh ayah dan ibumu“ desis Manggada.
Anak-anak muda itu tidak berbicara lebih lanjut ketika beberapa orang datang
mendekati mereka sambil tersenyum. Seorang diantara mereka berkata “ He, apakah
aku masih mendapat bagian kerja di rumahmu Wirantana? Mengusung gamelan atau
memasang oncor di sudut-sudut halaman, atau apa saja?“
“Ah“ sahut Wirantana “tidak ada kerja apapun di rumah. Hanya sekadar menyapu.
halaman. Dan itu sudah aku lakukan”
Orang-orang itu tertawa. Namun sambil memasuki legol, seorang diantara mereka
berkata “Jika kerja sudah habis, maka biarlah menunggu saja waktunya suguhan
dikeluarkan”
Wirantana juga tertawa. Namun ia tidak menjawab.
Beberapa saat anak-anak muda itu masih berdiri di regol. Namun kemudian
Wirantana berkata “Silahkan beristirahat di serambi gandok. Aku akan berbicara
dengan ayah dan ibu”
Manggada dan Laksana tidak menolak. Keduanya kemudian pergi ke serambi gandok,
sementara Wirantana pergi ke ruang dalam untuk berbicara dengan ayahnya.
Sementara itu, kesibukan masih saja berlangsung di luar dan di dalam rumah
sampai kedapur. Mas Rara sendiri ternyata bukan seorang gadis yang manja. Ia
ikut sibuk bersama perempuan-perempuan di dapur.
Ketika Wirantana kemudian menghadap ayahnya, dan menyampaikan pertanyaannya,
maka ayahnya sama sekali tidak mau memberikan keterangan, sehingga Wirantana
menjadi sangat kecewa.
Dengan wajah tegang, Wirantana menemui Manggada dan Laksana yang duduk di amben
panjang, di serambi gandok.
“Ayah masih saja menganggap aku anak-anak“ berkata Wirantana
“Bagaimana?” bertanya Manggada.
“Ayah dan ibu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Ayah hanya mengatakan
bahwa Raden Panji adalah orang yang berwibawa dan sangat berkuasa“ jawab
Wirantana.
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Wirantana berkata
“Tetapi menilik keterangan itu, memang ada unsur yang tidak wajar dalam
perkawinan yang akan dilangsungkan antara Mas Rara dan Raden Panji. Namun
agaknya perkawinan itu akan memberikan kebanggaan, bukan saja keluargaku, tapi
seluruh padukuhan Nguter. Ternyata Mas Rara sangat dihormati, sebelum ia menjadi
isteri Raden Panji. Para penghuni padukuhan ini tentu berharap, Mas Rara akan
dapat mengangkat derajad seluruh padukuhan ini. Mas Rara akan dapat memanfaatkan
kekuasaan Raden Panji bagi kepentingan padukuhan kecil yang sampai saat ini
tidak memiliki kelebihan apapun juga dari padukuhan-padukuhan lain”
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada datar Manggada berkata “Jika
demikian, perkawinan itu akan memberikan arti kepada padukuhan ini”
“Ya. Tetapi paman agaknya sangat tidak setuju” berkata Wirantana.
“Mungkin lambat laun kau akan mengerti apa sebabnya adikmu menjadi isteri Raden
Panji, dan kenapa pamanmu tidak menyukainya“ berkata Laksana. Lalu “Tetapi
menilik sikap tetangga-tetanggamu, semua akan ikut berbangga atas rencana
perkawinan itu”
Wirantana mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan anak muda yang telah menolong
adiknya dari cabikan taring harimau itu.
“Ya“ berkata Wirantana kemudian “Seluruh padukuhan ikut bergembira karena adikku
selamat. Dari tetangga-tetangga kami mendapat banyak sekali sumbangan. Bahan
mentah, bahkan keamanan yang sudah siap untuk disuguhkan dan ada diantara mereka
yang menyumbang uang”
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara Wirantana berkata selanjutnya
“Kami tidak dapat menolaknya. Jika kami tidak mau menerima sumbangan Itu,
tetangga-tetangga kami akan menjadi sakit hati. Mereka menuduh kami mulai
menjadi sombong sebelum Mas Rara menjadi isteri Raden Panji”
Namun tiba-tiba Manggada bertanya “Apakah kau pernah bertemu dengan Raden
Panji?“
Wirantana menggeleng. Katanya “Belum. Aku belum lama kembali”
“Bagaimana dengan adikmu?“ bertanya Manggada pula.
“Anak itu tidak pernah mengatakan sesuatu. Sebagaimana layaknya seorang gadis,
ia menerimanya dengan wajar. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia merasa dijual
seperti yang dikatakan paman. Seperti sudah aku katakan, ia Hanya terbuka
padaku. Tetapi aku tidak tahu tentang soal yang satu ini” suara Wirantana
merendah.
Manggada dan Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Namun agaknya Wirantana
merasa belum puas jika belum mengetahui kenapa pamannya selalu menganggap
bahwa adiknya telah dijual.
Tetapi Wirantana kemudian berkata “Baiklah. Biarlah aku membantu mengatur tempat
di pendapa”
“Kami dapat membantumu“ berkata Manggada.
“Kalian adalah tamu kami“ jawab Wirantana. Tetapi sambil tersenyum Laksana
berkata “Di mana-mana kami tidak terbiasa diperlakukan sebagai tamu. Kami lebih
sering berada di satu tempat untuk melakukan kerja apapun”
Wirantana pun tidak berkeberatan. Ia sadar, bahwa perasaan kedua anak muda itu
tentu tidak enak, jika mereka hanya sekadar duduk sementara orang lain sibuk di
halaman, di pendapa dan dimana-mana.
Demikianlah. Menjelang senja, semuanya sudah siap. Bahkan orang mulai memasang
obor disudut-sudut halaman, di regol dan bahkan di belakang rumah.
Para penabuh gamelan dan para penari sudah mulai mempersiapkan diri. Demikian
pula Mas Rara.
Sejenak kemudian, gamelan pun mulai dibunyikan. Suasana di rumah Ki Partija
Wirasentana menjadi semakin meriah. Lampu-lampu minyak terdapat di mana-mana.
Sementara di dapur, segala sesuatu telah dipersiapkan.
Malam itu, bukan saja seisi rumah Ki Partija Wirasentana merasa bersukur atas
keselamatan Mas Rara, tapi seisi padukuhan menjadi bergembira karenanya. Sejak
orang tua sampai kanak-kanak. Yang biasanya tidur sejak hari gelap, sempat
bermain-main sampai jauh malam. Bahkan dengan sedikit uang saku untuk membeli
gelali, kacang serta binteng jae.
Ada diantara mereka yang tertarik pada suara gamelan, dun melihat beberapa saat
di halaman. Mereka sekejap mengagumi orang-orang yang menari di pendapa. Namun
kemudian mereka berlari-lari lagi di halaman.
Ketika para tamu di pendapa dipersilahkan makan nasi punar yang berwarna kuning,
anak-anak pun dipanggil pula ke longkangan. Mereka juga mendapat sepincuk nasi
punar, kedele goreng dan sekerat daging ayam serta telur dadar.
Betapa gembiranya anak-anak itu. Mereka tidak saja makari nasi kuning, tetapi
justru saat mereka berdesakan untuk menerima sepincuk nasi itulah yang sangat
menarik bagi mereka.
Namun semuanya itu perlahan-lahan berlalu. Ki Bekel padukuhan Nguter atas nama
Ki Partija Wirasentana menyatakan kegembiraan hati seluruh keluarga serta
mengucapkan sukur kehadapan Yang Maha Agung, bahwa Mas Rara telah diselamatkan.
Manggada dan Laksana sama sekali tidak menduga, bahwa Ki Bekel telah memanggil
mereka berdua dan diperkenalkan kepada semua orang yang hadir di pendapa.
Wajah kedua anak muda itu menjadi merah. Kaki meleka rasa-rasanya menjadi
seberat timah, ketika melangkah di pendapa. Semua mata memandang mereka berdua.
Bahkan ketika orang-orang Nguter bertepuk tangan gemuruh, Manggada dan Laksana
hampir menjadi pingsan karenanya. Mereka agaknya memilih berkelahi melawan
seekor harimau daripada berdiri di pendapa itu.
Namun, sementara semua orang bersuka itu, Ki Resa masih saja tetap menyendiri
sambil bergeremang. Ia tidak dapat mencegah apa yang akan terjadi dengan Mas
Rara, yang akan diperisteri Raden Panji Prangpranata itu.
Ki Resa sama sekali tidak mau naik ke pendapa. Ia berlalan hilir mudik di depan
regol rumah kakaknya itu.
Lewat tengah malam, suasana sudah menjadi tenang. Irama gamelan tidak lagi
gemuruh mengiringi tari-tarian. Yang terdengar adalah suara gamelan yang tenang,
mengalir dalam irama terayun lembut. Kadang-kadang melengking dalam nada tinggi,
namun kemudian menurun rendah seperti seekor burung yang melayang-layang di
udara malam.
Menjelang dini, satu dua orang mulai mohon diri. Terutama orang-orang tua yang
sudah tidak tahan lagi duduk semalam suntuk. Udara malam yang dingin,
rasa-rasanya membuat darah mereka lambat mengalir. Namun anak-anak muda tetap
bertahan sampai fajar. Baru ketika langit menjadi merah, keramaian di pendapa
itu resmi dinyatakan selesai.
Tetapi dari dapur sekali lagi telah mengalir minuman panas dan nasi langgi yang
hangat dengan serundeng kuning gemerisik dan dendeng basah yang lunak. Tidak
digoreng dengan minyak, tetapi dipanggang di atas api kecil.
Mereka yang ikut menghadiri keramaian dalam upacara sukuran itu, ternyata pulang
dengan perut kenyang. Ki Bekel yang terhitung masih belum terlalu tua, bertahan
sampai selesai. Bahkan sampai orang terakhir meninggalkan pendapa rumah itu.
Ki Bekel masih sempat menemui Mas Rara untuk mengucapkan selamat, dan kemudian
berpesan “Lain kali berhati-hati. Di hutan itu masih terdapat beberapa ekor
binatang buas yang kadang-kadang mengganggu kita. Namun jika anak-anak muda itu
kelak meninggalkan padukuhan ini, kita masih mempunyai Ki Resa, Si Pembunuh
Harimau. Karena itu, kita tidak usah khawatir. Meskipun demikian, sebaiknya
jangan pergi sendiri jika kau mengirim nasi ayahmu di sawah yang dekat dengan
hutan itu. Kau boleh mengirim nasi ke sawah, tetapi yang jauh dari hutan. Jika
terjadi sesuatu atasmu, Raden Panji tentu tidak hanya menyalahkan ayahmu, tetapi
kami semua. Penduduk padukuhan Nguter. Barangkali akulah yang akan menerima
hukuman paling berat”
Mas Rara mengangguk hormat, sambil berdesis bertahan “Ya Ki Bekel”
“Ajak ayahmu jika kau akan pergi ke sawah dekat hutan itu“ berkata Ki Bekel pula
“tidak ada seekor harimau pun yang berani mengusikmu”
“Ya Ki Bekel“ sekali lagi Mas Rara mengangguk. Namun kemudian Ki Bekel bertanya
“Di mana Ki Resa? Aku tidak melihatnya sejak sore”
“Paman agak sibuk Ki Bekel“ jawab Mas Rara.
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya “Salam buat pamanmu”
“Ya Ki Bekel“ jawab Mas Rara sambil mengangguk hormat.
Demikianlah. Ki Bekel kemudian minta diri. Ketika ia keluar dari regol, langit
sudah menjadi semakin terang. Namun Ki Bekel sudah tidak bertemu dengan Ki Resa.
Yang kemudian tinggal adalah orang-orang yang membersihkan jalan di depan rumah
Ki Partija Wirasentana, Jalan yang menjadi kotor oleh dedaunan bungkus makanan,
karena di sepanjang jalan di depan rumah itu bertebaran orang-orang yang
memanfaatkan keramaian itu untuk berjualan.
Demikian pula orang-orang yang sibuk membersihkan halaman pendapa, bahkan bagian
dalam rumah. Perempuan-perempuan di dapur sibuk membersihkan perkakas yang
kotor.
Manggada dan Laksana ikut pula membantu Wirantana membersihkan halaman. Mencabut
tiang-tiang obor dan membantu menyimpan gamelan ke ruang tengah.
Ketika matahari memanjat semakin tinggi, sebagian kerja di bagian luar rumah
sudah hampir selesai. Karena itu, Manggada dan Laksana mulai membicarakan, kapan
mereka akan meneruskan perjalanan.
Namun sebelum mereka mengambil keputusan, menjelang tengah hari, datang dua
orang berkuda memasuki regol rumah Ki Partija Wirasentana. Dua orang yang
kemudian menyatakan diri utusan Raden Panji Prangpranata.
Ki Partija Wirasentana terkejut bukan buatan. Baru saja utusan yang datang
terdahulu kemarin meninggalkan rumah itu, tiba-tiba dua orang yang lain telah
datang pula.
Tetapi dengan ramah seorang diantaranya berkata “Kami mohon maaf, bahwa
kedatangan kami telah mengejutkan Ki Wirasentana. Sebenarnya tidak ada hal yang
terlalu penting. Kami hanya akan menyampaikan beberapa pesan”
Ki Wirasentana menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku sudah menjadi sangat
berdebar-debar”
“Kami mengerti“ jawab salah seorang diantara mereka “karena itu kami merasa
wajib untuk segera memberikan ketenangan kepada Ki Wirasentana”
Ternyata kedua orang itu tidak tergesa-gesa menyampaikan sesuatu. Mereka sempat
menunggu minuman hangat dan beberapa potong makanan, sebelum mereka menyampaikan
pesan dari Raden Panji, sehingga Ki Partija Wirasentana menjadi tenang.
Baru setelah meneguk minuman hangat, dan makan beberapa potong makanan, salah
seorang dari mereka berkata “Baiklah Ki Wirasentana. Kami memang membawa pesan
dari Raden Panji Prangpranata”
Ki Partija mengangguk-angguk, sementara utusan itu berkata selanjutnya “Utusan
yang kemarin datang kemari, telah memberikan laporan kepada Raden Panji. Semua
keterangan yang diberikan telah diterima Raden Panji dengan hati-hati. Karena
persoalannya menyangkut seorang perempuan yang akan menjadi isterinya”
Ki Partija Wirasentana masih mengangguk-angguk. Sedangkan utusan itu melanjutkan
“Ternyata Raden Panji kemudian mengambil kesimpulan, bahwa segala sesuatunya
harus dipercepat pelaksanaannya. Apalagi ketika utusan yang datang sebelum kami
itu melaporkan bahwa Mas Rara benar-benar sudah menjadi dewasa penuh. Ketika
kemarin utusan itu melihat latihan yang dilakukan Mas Rara, ia mengambil
kesimpulan, Mas Rara sudah pantas melaksanakan perkawinan dengan Raden Panji
Prangpranata”
Ki Partija Wirasentana menarik nafas dalam-dalam. Sedangkan utusan itu masih
berkata “Peristiwa yang terjadi atas Mas Rara, sangat mengejutkan Raden Panji.
Bagi Raden Panji, kurang pantas jika bakal isterinya masih harus pergi ke sawah
mendukung bakul berisi makanan, untuk mengirim ayahnya. Apakah tidak ada orang
lain yang dapat melakukannya?”
Ki Partija mengangguk kecil sambil berkata “Aku minta maaf. Tolong, sampaikan
pada Raden Panji. Aku tidak mengira bahwa suatu saat Mas Rara akan bertemu
harimau. Bagiku, seorang gadis harus dapat melakukan pekerjaan yang memang harus
dilakukannya. Ia tidak boleh menjadi manja, meskipun ia sudah pasti akan menjadi
isteri seorang pemimpin yang berkuasa. Jika ia menjadi manja, ia tidak akan
dapat menjadi seorang isteri yang baik”
Utusan Raden Panji itu tersenyum sambil menjawab “Maksud Ki Partija memang baik.
Tetapi yang telah terjadi itu mencemaskan hati Raden Panji. Karena itu, selagi
peristiwa seperti itu belum terulang, biarlah segala sesuatunya segera
diselesaikan”
“Maksud Raden Panji?“ bertanya Ki Partija Wirasentana.
“Ki Partija“ berkata utusan itu “Raden Panji akan segera menyelesaikan segala
macam upacara yang harus dilakukan. Raden Panji dalam akhir pekan ini akan
mengirim utusan resmi untuk menyerahkan mas kawin bagi Mas Rara”
“Akhir pekan ini?“ Ki Partija Wirasentana terkejut “begitu cepat?“
“Ya. Sebulan kemudian, perkawinan diselenggarakan. Keterangan utusan kemarin, Ki
Partija menyerahkan kepada kebijaksanaan Raden Panji, apakah perkawinan itu akan
diselenggarakan di sini atau di rumah Raden Panji. Ternyata Raden Panji
mengambil keputusan, perkawinan diselenggarakan di rumah Raden Panji. Karena
itu, agar segala persiapan dapat diselenggarakan dengan baik, setelah upacara
penyerahan mas kawin, pertengahan bulan, Mas Rara akan dijemput dan dibawa ke
rumah Raden Panji. Mas Rara akan mengalami pingitan setengah bulan. Memang
terlalu pendek, karena seharusnya pingitan berlangsung empatpuluh hari empat
puluh malam. Tetapi Raden Panji menganggap bagi Mas Rara tidak perlu. Segala
sesuatunya dilakukan karena rasa cemas, akan terjadi lagi sesuatu yang bisa
mencelakai Mas Rara” berkata utusan itu.
Ki Partija termangu-mangu sejenak. Kemudian ia berdesis “Kenapa begitu
tergesa-gesa? Aku kira tidak setiap saat ada harimau keluar dari hutan. Apalagi
sejak peristiwa itu terjadi, Mas Rara tidak pernah lagi pergi ke sawah mengirim
makanan”
“Tetapi apakah Ki Partija Wirasentana mempunyai alasan bahwa waktu sebulan itu
terasa terlalu pendek?“ Bukankah segala sesuatunya akan dilakukan di rumah Raden
Panji? Sejak sekarang Raden Panji sudah menugaskan orang untuk melakukan apa
saja yang penting bagi perkawinan agung itu. Rumah Ki Tumenggung sudah mulai
dibenahi. Bahkan sampai dinding halaman pun telah diperbaiki dan dibersihkan.
Setiap hari tidak kurang dari lima orang bekerja keras membersihkan rumah,
beserta halaman dan kebun belakang“ berkata utusan itu.
Ki Partija hanya dapat mengangguk-angguk. Jika segala sesuatunya dilakukan di
rumah Raden Panji, ia tidak mempunyai alasan waktu itu terlalu pendek.
Karena itu, Ki Partijapun berkata “Terserah kepada Raden Panji. Apapun yang
diperintahkan, akan kami lakukan dengan sebaik-baiknya”
“Sukurlah” berkata orang itu “utusan yang kemarin datang juga mengatakan, Ki
Partija menyerahkan segala sesuatunya pada Raden Panji”
Ki Partija mengangguk-angguk. Ia memang tidak bisa berbuat lain daripada
mengiakan segala pesan Raden Panji Prangpranata.
Namun kemudian utusan itu berpesan “Ki Partija. Selain itu semua, Ki Partija
diminta menahan dua orang anak muda yang telah menolong Mas Rara agar tidak
meninggalkan tempat ini. Raden Panji benar-benar merasa berhutang budi. Jika
mereka mengaku pengembara, maka mereka tentunya tidak mempunyai batasan waktu
sampai kapan harus kembali pulang. Diharap mereka dapat ikut menghadap Raden
Panji saat Mas Rara dijemput kelak”
Ki Partija Wirasentana mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya “Tetapi
sebaiknya Ki Sanak berbicara langsung dengan mereka. Mereka tentu akan lebih
memperhatikan pesan itu daripada aku yang mengatakannya”
“Baiklah. Aku akan bertemu dengan mereka. Selama keduanya berada di sini, semua
biaya hidupnya ditanggung Raden Panji” berkata utusan itu.
“Ah, bukan begitu“ berkata Ki Partija “mereka tidak memerlukan apa-apa kecuali
makan. Dan itu tidak seberapa. Apalagi keduanya sebaya dengan anakku, sehingga
mereka merasa mempunyai kawan seimbang di sini”
“Jangan segan-segan“ berkata utusan itu “meskipun hanya makan dan minum, tetapi
mereka akan berada di sini kira-kira setengah bulan”
“Bukan apa-apa“ jawab Ki Partija “terima kasih atas perhatian Raden Panji. Untuk
makan dua orang, aku tidak merasa keberatan”
Sebelum utusan itu menjawab, Ki Partija Wirasentana telah mendahuluinya “Maaf Ki
Sanak. Aku akan memanggil anak-anak itu”
Sejenak kemudian, Manggada dan Laksana telah menghadap utusan Raden Panji
Prangpranata, untuk mendengarkan permintaan Raden Panji.
Setelah usai, Manggada dan Laksana saling berpandangan. Namun kemudian Manggada
menjawab “Sebenarnya kami tidak ingin menetap di suatu tempat untuk waktu
terlalu lama. Sebenarnya kami sudah harus sampai di rumah. Jika orang tua kami
mengetahui bahwa kami telah meninggalkan rumah paman tetapi belum sampai di
rumah, mereka akan gelisah”
“Tetapi ini perintah Raden Panji Prangpranata“ berkata utusan itu “tidak
seorangpun berwenang menolak perintahnya. Apalagi perintah kepada kalian berdua
mengandung kemungkinan menguntungkan bagi kalian. Setidak-tidaknya, secara
pribadi, Raden Panji dapat mengucapkan terima kasih kepada kalian”
“Yang kami lakukan tidak lebih dari kewajiban terhadap sesama“ berkata Manggada.
“Tidak ada alasan apapun juga“ berkata utusan itu sambil tertawa. Katanya
kemudian “Seharusnya kalian berdua berterima kasih karena mendapat perhatian
khusus dari Raden Panji Prangpranata. Sebaiknya kalian menyesuaikan diri dengan
keinginannya. Jika kalian tidak meneputi perintahnya, Raden Panji akan marah,
meskipun semula ia berniat mengucapkan terima kasih pada kalian”
“Anak-anak muda“ berkata Ki Partija Wirasentana kemudian “aku minta kalian
bersedia. Seperti yang dikatakan utusan Raden Panji, untuk kepentingan apapun
Raden Panji tidak ingin perintahnya ditentang. Sebaiknya, kalian berdua tetap
tinggal di sini sampai Raden Panji menjemput Mas Rara untuk dibawa ke rumahnya,
menjelang perkawinan agung itu”
Manggada dan Laksana termangu-mangu. Namun kemudian Manggada berkata “Baiklah.
Jika kami memang harus menunggu, kami akan menunggu”
“Terima kasih“ berkata Ki Partija Wirasentana “Wirantana tentu akan senang
mendengar keputusanmu. Ia akan mendapat kawan yang sebaya di rumah ini”
Demikianlah, Manggada dan Laksana kemudian meninggalkan pendapa. Kedua utusan
itu masih berbincang beberapa lama. Namun kemudian keduanya minta diri untuk
segera kembali,
“Begitu cepat?“ bertanya Ki Partija “aku kira Ki Sanak berdua akan bermalam.
Bukankah Ki Sanak hampir semalam menempuh perjalanan, karena menjelang tengah
hari KiSanak sampai di sini”
Namun seorang diantara mereka menjawab “Kami masih akan singgah di rumah seorang
kadang. Kami akan bermalam di sana. Besok pagi-pagi kami akan menempuh
perjalanan kembali”
Keduanya tidak dapat ditahan-tahan lagi, dan kemudian meninggalkan rumah Ki
Partija Wirasentana. Namun demikian
masih meninggalkan pesan, agar kedua orang anak muda itu benar-benar tidak
meninggalkan rumah Ki Partija Wirasentana.
Karena itulah, Ki Partija benar-benar minta agar Manggada dan Laksana tidak
meninggalkan rumahnya.
“Kita tidak dapat menduga apa yang akan dilakukan oleh Raden Panji jika kita
menolak perintahnya“ berkata Ki Partija Wirasentana. Lalu katanya pula “Meskipun
seandainya angger berdua telah jauh, Raden Panji akan memerintahkan
orang-orangnya untuk melacak sampai kalian berdua ditemukan. Selain itu, aku pun
agaknya akan menemui kesulitan”
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sebenarnya mereka tidak menjadi takut
diancam akan dilacak sampai ke manapun. Mereka sadar, bahwa kekuasaan Raden
Panji ada batasnya. Keduanya merasa dapat menyelamatkan diri mereka sendiri dari
jangkauan tangan para pengikut Raden Panji. Tetapi jika yang kemudian mengalami
kesulitan adalah Ki Partija, maka persoalannya akan berbeda.
Karena itu, kedua orang anak muda itu terpaksa menunggu untuk waktu yang lama.
Sampai saatnya Mas Rara dijemput. Mereka berdua agaknya harus ikut bersama
orang-orang yang menjemput Mas Rara itu, menghadap Raden Panji.
“Orang yang aneh“ berkata Manggada “orang itu memaksa memberikan hadiah kepada
orang lain, dengan mengancam”
“Kita tidak dapat menolak, justru karena kita mengingat keselamatan Ki Partija
Wirasentana” berkata Laksana.
Manggada mengangguk-angguk. Mereka memang tidak mempunyai pilihan lain.
Untunglah di rumah itu ada anak muda yang hampir sebaya dengan mereka. Anak Ki
Partija Wirasentana sendiri, sehingga mereka dapat bergerak lebih bebas. Bersama
Wirantana,
mereka tidak merasa berada dalam tahanan, karena mereka di pagi hari telah ikut
ke sawah. Mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Wirantana, membantu Ki
Partija Wirasentana.
Tetapi Mas Rara tidak lagi mengirimkan makanan ke sawah. Pekerjaan itu kemudian
dilakukan oleh orang lain. Seorang laki-laki muda pembantu Ki Partija.
Ternyata Manggada dan Laksana juga terampil bekerja di sawah. Mereka telah
terbiasa melakukannya, di samping kebiasaan mereka memasuki hutan untuk berburu
binatang.
Manggada dan Laksana menjadi semakin akrab dengan Wirantana. Karena Wirantana
baru saja pulang dari sebuah perguruan, maka mereka sempat berlatih bersama.
Meskipun Wirantana belum mencapai tataran sebagaimana Manggada dan Laksana,
namun perbedaan itu hanyalah selapis tipis. Pada saat-saat tertentu, mereka
mampu berlatih dengan baik. Di sore hari, jika tidak ada pekerjaan di sawah,
atau bahkan di malam hari.
Dengan latihan-latihan itu, mereka bertiga mampu mungembangkan kemampuan mereka
masing-masing. Manggada dan Laksana yang mempunyai dasar unsur-unsur ilmu yang
berbeda dari Wirantana, dapat saling mengambil keuntungan dari perbedaan itu.
Anak-anak muda yang masih ingin berkembang itu, telah berusaha menemukan sesuatu
yang dapat memperkaya unsur-unsur gerak mereka masing-masing.
Namun atas usul Wirantana, mereka selalu menyembunvikan kemampuan mereka yang
sebenarnya dari pamannya, Ki Resa.
“Kenapa?“ bertanya Manggada.
“Entahlah“ jawab Wirantana “aku tidak tahu, kenapa aku tidak begitu yakin akan
niat baik paman. Paman selalu mencela
sikap ayah. Meskipun mungkin paman benar, tetapi cara yang ditempuh oleh paman,
terasa agak kurang mapan”
“Bukankah Ki Resa itu adik ayahmu?“ bertanya Laksana.
“Ya. Tetapi umur mereka terpaut banyak. Ayah adalah anak sulung, sedang paman
Resa anak bungsu. Diantara mereka, masih ada dua orang saudara ayah. Seorang
laki-laki dan seorang perempuan. Sebenarnya empat, Tetapi dua orang meninggal di
saat mereka sedang tumbuh. Kedua-duanya perempuan” jawab Wirantana.
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun Laksana kemudian bertanya “Pamanmu
tidak setuju bahwa Mas Rara akan menjadi isteri Raden Panji”
“Ya. Itu jelas. Paman selalu menuduh ayah menjual anak gadisnya. Namun
seharusnya paman juga mempertimbangkan kekuasaan Raden Panji. Sementara itu, aku
tidak melihat akibat buruk pada Mas Rara sampai saat ini” jawab Wirantana.
Tetapi ia pun berkata selanjutnya “ Namun aku kadang kadang melihat Mas Rara
merenung. Aku tidak tahu sebabnya. Agaknya hal yang satu ini disembunyikannya
rapat-rapat, meskipun dalam hal lain, Mas Rara selalu terbuka padaku. Tetapi
sebagai seorang gadis, Mas Rara memang tidak banyak pilihan. Terutama tentang
jodohnya”
“Sepekan lagi, akan datang utusan Raden Panji untuk memberikan Mas Kawin kepada
Mas Rara“ desis Laksana.
“Tiga hari lagi“ sahut Wirantana “dua hari telah lewat. Karena itu ayah sudah
bersiap-siap untuk menerima utusan itu” Wirantana berhenti sejenak, lalu “Tetapi
nampaknya paman menjadi semakin jauh dari ayah”
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara Wirantana berkata selanjutnya
“Telah dua hari paman tidak kembali”
“Apakah pamanmu mempunyai rumah yang lain?“ bertanya Manggada.
“Ya. Paman memang mempunyai rumah sendiri. Warisan yang diterima dari kakek,
sebagaimana ayah. Tetapi paman memang sering berada di sini” jawab Wirantana.
“Apakah pamanmu belum berkeluarga?“ bertanya Laksana.
Wirantana termangu-mangu. Katanya dengan nada dalam “Ada sudah lama pergi dari
rumah. Baru beberapa saat aku berada kembali diantara keluargaku. Karena itu,
aku tidak tahu dengan jalan apa yang telah terjadi dengan paman, serta
keluarganya. Namun menurut pendengaranku, paman memang pernah kawin”
“Pernah kawin?“ bertanya Laksana.
“Ya. Tetapi aku tidak tahu jelas, kenapa paman sekarang sendiri” jawab
Wirantana.
Manggada dan Laksana tidak bertanya lebih jauh. Agaknya Wirantana bukan saja
tidak banyak mengetahui tentang pamannya, tetapi ia pun agak segan untuk
menceriterakannya.
Demikianlah, Ki Partija Wirasentana bersama keluarganya menjadi sibuk ketika
hari yang ditentukan menjadi semakin dekat. Ki Partija merasa perlu untuk
menyediakan penginapan bagi para utusan itu. Jika mereka menempuh perjalanan di
siang hari, maka para tamu yang akan membawa mas kawin itu harus bermalam di
padukuhan Nguter.
Karena itulah, Ki Partija membersihkan kedua gandok rumahnya. Manggada dan
Laksana, bersama Wirantana. Berada di balik belakang, Bahkan Ki Partija telah
meminjam rumah di depannya, untuk disediakan pula sebagai penginapan, karena
rumah. itu juga memiliki gandok kiri kanan yang memadai.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itu datang. Seluruh keluarga Ki Partija
diminta bersiap menyambut utusan. Ki Resa yang pergi telah kembali. Bahkan ia
tidak menolak ketika Ki Partija memanggilnya untuk ikut menerima tamu yang akan
datang. Ki Partija Wirasentana juga minta beberapa orang tua untuk ikut menerima
utusan Raden Panji, yang akan datang untuk menyerahkan mas kawin.
Tetapi karena Ki Partija tidak tahu waktu yang tepat saat kedatangan utusan itu,
maka di hari kelima, sejak menjelang tengah hari, beberapa orang telah
bersiap-siap menyambutnya.
Jika mereka berangkat di malam hari, maka mereka akan Mampai di sini menjelang
tengah hari, seperti utusan yang datang sepekan lalu“ berkata Nyi Partija.
Mereka tidak akan menempuh perjalanan semalam suntuk, karena mereka membawa mas
kawin. Meskipun kita mendapat mas kawin berlebihan bahkan tanpa mas kawinpun
kita tidak akan berkeberatan, namun betapapun kecilnya, mas kawin itu tentu akan
menarik perhatian. Terutama bagi orang yang berniat jahat” sahut Ki Partija
Wirasentana. Isterinya mengangguk-angguk. Namun bagaimanapun juga, mereka telah
bersiap untuk menerima tamu utusan Raden Panji Prangpranata.
Ternyata KI Partija dan orang-orang yang telah bersiap di pendapa harus menunggu
sampai sore hari. Ketika matahari menjadi semakin rendah, orang yang ditugaskan
oleh Ki Partija Wirasentana mengamati kedatangan utusan itu di mulut lorong
padukuhan, telah berlari-lari untiik menyampaikan laporan, bahwa sebuah
iring-iringan telah nampak di bulak, di sebelah padukuhan.
“Apakah mereka itu utusan Raden Panji?“ bertanya Ki Partija Wirasentana.
“Entahlah. Tetapi mereka berlima, dan dua ekor kuda tanpa penunggang. Agaknya
dua ekor kuda itu membawa beban“ jawab orang yang mengamati jalan bulak itu.
Ki Partija hampir memastikan bahwa mereka itulah utusan Raden Panji. Karena itu,
orang-orang yang berada di pendapa itupun telah bersiap-siap menyambut tamu-tamu
mereka.
Sebenarnyalah bahwa lima orang itu adalah utusan Raden Panji, yang harus membawa
mas kawin untuk orang tua Mas Rara.
Kelima orang itu kemudian diterima dengan sangat hormat oleh Ki Partija dengan
keluarganya. Bahkan Ki Resa pun ikut menerima mereka. Sikapnya berubah sama
sekali. Ia tidak lagi berwajah muram. Marah-marah dengan menuduh kakaknya telah
menjual anak gadisnya. Dengan sikap yang ramah. Ki Resa ikut menerima utusan
Raden Panji di pendapa.
Wirantana, Manggada dan Laksana sempat memperhatikan sikap Ki Resa. Bahkan
Wirantana sempat berdesis “Sikap paman agak berbeda dari kebiasaannya. Ketika
Utusan yang terdahulu datang, paman sama sekali tidak mau ikut menerima. Tetapi
sekarang paman nampak bersikap baik”
Manggada mengangguk-angguk. Katanya “Mungkinsesuatu telah berkembang di dalam
dadanya”
Wirantana mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Bahkan ia menjadi
tegang, menyaksikan pertemuan yang diliputi kegembiraan sangat besar itu.
Sejenak kemudian, hidanganpun disuguhkan. Sambil berbincang dan tertawa-tawa,
mereka menghirup minuman hangat, dan mencicipi beberapa potong makanan.
Namun sebenarnyalah, bahwa utusan yang datang itu tidak sebagaimana dibayangkan
oleh Ki Partija. Ia menyangka bahwa utusan yang datang adalah orang-orang tua
yang akan menyampaikan mas kawin dengan berbagai macam upacara adat. Diantara
mereka tidak ada seorang perempuanpun. Hanya lima orang yang berpakaian sebagai
pelayan dalam di rumah Raden Panji Prangpranata.
Meskipun demikian, orang tertua diantara mereka telah menggenapi adat itu. Ia
merupakan utusan dan sekaligus mewakili orang-orang tua yang datang dengan resmi
untuk melamar Mas Rara, dengan menyerahkan Mas Kawin. Kelima orang itupun
kemudian mengambil mas kawin yang harus diserahkan. Tidak seperti biasanya,
berupa sanggan dan pakaian sepengadeg, diiringi dua atau tiga buah jodang berisi
makanan, disamping sejumlah uang. Yang dibawa kelima orang utusan itu membuat Ki
Partija tercengang.
Agaknya Raden Panji ingin menyelesaikan upacara itu tanpa mengikuti urutan adat.
Ia begitu saja menyerahkan sejumlah uang yang nilainya tidak pernah dibayangkan
oleh KI Partija Wirasentana. Lima kampil berisi kepingan-kepingan uang.
Diantaranya kepingan uang perak dan emas. Selain itu, Raden Panji juga
mengirimkan pakaian lima pangandeg. Yang tidak pernah diduga sebelumnya adalah,
Raden Panji telah menyerahkan pula perhiasan sepengandeg. Centhung, tusuk konde,
cunduk montul, kalung, subang, cincin, peniti renteng, bahkan pendhing. Semuanya
dari emas dengan tretes permata.
Ki Partija Wirasentana tercenung beberapa saat. Yang dihadapinya itu seolah-olah
sebuah mimpi ajaib. Karena itu. Ki Partija terkejut ketika yang tertua diantara
kelima orang itu berkata “Semua yang dikirimkan Raden Panji telah kami serahkan.
Dengan sengaja kami menunjukkan semuanya ini dihadapan saksi, sehingga jika
Raden Panji menanyakannya, tidak akan ada selisihnya. Memang kami tidak menganut
adat yang seharusnya berlaku dalam upacara asok tukon. Kami tidak disertai
orang-orang tua laki-laki dan perempuan. Tidak pula membawa sanggan dan jodang.
Semua itu dilakukan Raden Panji karena keadaan. Jarak yang panjang, serta waktu
yang terasa sempit”
Ki Partija Wirasentana mengangguk dalam-dalam. Dengan nada rendah, ia berkata
“Ki Sanak. Apa yang diberikan oleh Raden Panji Prangpranata kepada keluarga
kami, sudah terlalu banyak, Bahkan kami tidak tahu, bagaimana menghitung semua
itu. Adapun mengenai upacara berdasarkan adat, kami sama sekali tidak merasa
terlampaui. Jika ada perbedaan dari kebiasaan yang berlaku, hanyalah sekadar
laku. Bukan isi dari upacara itu. Karenanya, kami mengucapkan beribu terima
kasih tidak hanya satu dua kali. Tetapi berkalikali dan setiap saat”
Kelima orang utusan itu tertawa. Yang tertua diantara mereka berkata “Yang
diberikan kepada Mas Rara memang sangat banyak. Itu jika dihitung dengan angka
yang kita kenal. Tetapi tentu tidak bagi Raden Panji Prangpranata, karena Raden
Panji memiliki jauh lebih banyak dari yang kita duga”
Ki Partija Wirasentana mengangguk-angguk. Demikian pula Ki Resa, yang juga
menjadi sangat heran melihat barang-barang berharga sekian banyaknya.
Namun pembicaraan itu terputus ketika para pelayan menghidangkan makan yang
memang sudah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Nasi maupun lauk pauknya masih
hangat.
Ternyata kelima orang utusan itu juga tidak mempergunakan basa basi, sebagaimana
orang-orang yang datang untuk menyerahkan asok tukon. Yang tertua diantara
mereka telah mengatakan langsung keperluannya, sekaligus mengakhirinya “Silahkan
menyimpan barang-barang ini Ki Partija. Nampaknya kita akan segera menikmati
hidangan yang masih hangat ini”
Ki Partija pun kemudian memanggil Wirantana. Kemudian mempersilahkan adiknya, Ki
Resa bersama Wirantana untuk menyimpan barang-barang yang sangat berharga itu.
Keduanya telah memasukkan benda-benda berharga itu ke dalam peti. Kemudian
menyimpan peti itu di dalam bilik Ki Partija, langsung di bawah pengawasan Ki
Partija sendiri.
Manggada dan Laksana yang tahu, bahwa barang-barang itu sangat tinggi nilainya,
tidak berani menawarkan diri untuk membantu menyimpan di ruang dalam. Hal itu
akun dapat mengundang persoalan. Karena itu, keduanya hanya mengamati saja dari
kejauhan, ketika Ki Resa dan Wirantana membawa barang-barang berharga itu masuk.
Sementara itu, setelah barang-barang berharga disimpan, Ki Partija Wirasentana
mempersilahkan tamu-tamunya menikmati hidangan bersama keluarga Ki Partija.
Bahkan yang tertua diantara para utusan itu telah sempat bertanya tentang dua
orang anak muda yang telah menolong Mas Rara dari cengkaman tajamnya kuku-kuku
harimau.
“Apakah mereka masih ada di sini?“ bertanya utusan itu.
“Ya Ki Sanak. Sebagaimana pesan yang terdahulu. anak-anak muda itu ternyata
bersedia tinggal di sini” jawab Ki Partija.
“Sukurlah. Raden Panji Prangpranata memang ingin bertemu langsung dengan
anak-anak itu. Pada saat Mas Rara dijemput kelak, keduanya akan diminta ikut
bersama dengan utusan yang menjemput itu” berkata orang tertua itu.
Ki Partija sempat berpaling kearah kedua orang anak muda itu. Sementara
Wirantana yang telah selesai menyimpan barang-barang berharga itu, telah berada
diantara mereka.
Demikianlah Sebagaimana direncanakan, maka Ki Partija Wirasentana telah
membersihkan gandok rumahnya yang disediakan bagi tamu-tamunya. Tapi karena
jumlahnya tidak sebanyak yang diduga, Ki Partija mengurungkan rencananya
meminjam rumah di sebelah depan.
Malam itu, para utusan Raden Panji bermalam di rumah Ki Partija. Sementara Ki
Partija Wirasentana dengan isterinya, sekali lagi menghitung uang dan perhiasan
yang telah mereka terima. Tetapi mereka tidak mampu menyebut angka sesuai dengan
nilai barang-barang yang telah diberikan Raden Panji Prangpranata kepada mereka.
“Ternyata anak itu membawa rejeki yang tidak terhitiing jumlahnya, Nyi Rejeki
lahiriah“ berkata Ki Partija Wirasentana datar.
Isterinya mengungguk kecil. Tetapi tidak ada kesan kegembiraan yang nampak di
wajahnya.
Sementara itu, Mas Rara terbaring di biliknya menengadah, memandang atap. Ia
berusaha memejamkan matanya, tapi tidak dapat tidur nyenyak. Setiap kali, di
luar sadarnya, matanya terbuka.
Di luar, suara jengkerik dan bilalang berderik bersahutan. Angin malam berhembus
agak kencang. Mendung memang melintas. Tetapi sejenak kemudian, bintang-bintang
mulai berkeredipan lagi di langit.
Manggada, Laksana dan Wirantana telah tidur mendekur. Seakan-akan anak-anak muda
itu sama sekali tidak dibebani oleh perasaan apapun juga.
Meskipun rumah Ki Partija Wirasentana nampaknya menjadi lelap, tetapi Ki Partija
telah memerintahkan beberapa orang meronda di rumahnya. Mereka telah mendapat
pesan Jika sesuatu terjadi, mereka harus segera memberikan isyarat. Jika
keadaannya memang sangat genting, mereka diminta untuk membunyikan kentongan
tanpa ragu-ragu.
Namun ternyata sampai terdengar ayam jantan berkokok untuk terakhir kalinya,
tidak terjadi sesuatu di rumah itu. Beberapa orang yang ditugaskan untuk meronda
rumah itu telah berkumpul dan duduk di serambi belakang. Sementara langit mulai
menjadi cerah.
Para utusan yang bermalam di rumah Ki Partija Wirasentana, telah terbangun.
Bergantian mereka pergi ke pakiwan. Sementara orang-orang perempuan telah sibuk
di dapur, termasuk Mas Rara sendiri.
Badan Mas Rara kelihatan lesu. Matanya redup, karena hampir semalaman ia tidak
tidur sama sekali.
Manggada, Laksana dan Wirantana sibuk bergantian menimba air, mengisi jambangan
di pakiwan. Kemudian mereka juga membantu membersihkan halaman dan kerja yang
lain.
Ketika matahari naik, para tamu telah berada di pendapa. Hidangan telah
disuguhkan pula. Minuman hangat dan nasi yang hangat pula. Ki Partija
Wirasentana telah minta isterinya menyiapkan makan pagi-pagi, karena kelima
orang tamu mereka, utusan Raden Panji Prangpranata itu, akan meninggalkan rumah
itu.
Ketika para tamu itu mulai menyenduk nasi ke mangkuk mereka, Ki Resa pun telah
datang pula dengan wajah yang cerah. Ki Partija telah memanggilnya untuk ikut
bersama dengan tamu-tamunya, makan bersama di pendapa.
Ki Resa tidak menolak. Iapun naik ke pendapa. Sikapnya tidak berubah. Ramah dan
banyak tersenyum dan tertawa.
Seperti yang direncanakan. Beberapa saat kemudian, setelah para tamu itu selesai
makan dan minum serta setelah beristirahat pula sebentar, sementara matahari
naik semakin tinggi, maka para tamu itupun telah minta diri meninggulkan
padepokan Nguter.
“Kami ingin minta diri kepada Mas Rara“ berkata orang tertua dari para utusan
itu.
Ki Partija Wirasentana termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian ia pun mengangguk hormat sambil berkata “Gadis itu gadis pemalu”
Kelima orang utusan itu tertawa. Seorang diantaranya berkata “Ia akan menjadi
isteri Raden Panji”
Ki Partija masih saja termangu-mangu. Sementara utusan itu berkata “Mas Rara
harus menyesuaikan diri. Ia akan menerima tamu-tamu Raden Panji. Diantaranya,
ada pemimpin. Karena itu, ia tidak boleh menjadi gadis pemalu”
Ki Partija tidak dapat menjawab. Karena itu ia bangkit dan melangkah masuk,
mencari Mas Rara.
Ternyata Mas Rara masih berada di dapur.
Seperti yang diduga, Mas Rara menolak untuk pergi ke pendapa. Ia merasa malu
berhadapan dengan utusan Raden Panji Prangpranata.
Tetapi ayahnya memaksa. Dengan nada rendah, ayahnya berkata “Mas Rara. Jika kau
tidak mau pergi ke pendapa, utusan itu tidak akan meninggalkan rumah ini. Mereka
tidak perduli terlambat menghadap Raden Panji, dan kemudian dimarahi, atau
bahkan dihukum. Mereka merasa wajib untuk minta diri padamu, karena kau bakal
isteri Raden Panji”
“Tetapi aku malu ayah“ jawab Mas Rara.
“Jadi kau biarkan tamu-tamu itu berada di pendapa sampai nanti siang, atau nanti
sore, atau bahwa bermalam lagi? Atau sampai datang utusan Raden Panji menyusul
mereka?“ bertanya ayahnya.
Mas Rara menjadi bingung. Namun ibunya kemudian berkata dengan lembut “Kau harus
belajar dengan kewajiban-kewajiban yang bakal dibebankan kepadamu Mas Rara. Kau
bukan lagi kanak-kanak. Kau tidak boleh selalu dikekang perasaan malu”
Mas Rara masih tetap ragu-ragu. Namun akhirnya Mas Rara terpaksa mengikuti
ayahnya ke pendapa, sambil berpegangan tangan ibunya.
Ketika Mas Rara keluar lewat pintu pringgitan, wajahnya menunduk. Sementara itu,
kelima orang utusan Raden Panji mendekatinya. Seorang diantara mereka berkata
“Bukankah Mas Rara pernah menari dihadapan banyak tamu? Utusan yang pernah
datang kemari menceriterakan bahwa Mas Rara adalah seorang penari yang baik.
Kenapa Mas Rara sekarang merasa malu terhadap kami? Anggap saja kami berada
diantara para penonton, jika Mas Rara sedang menari”
Mas Rara tersenyum tertahan. Tetapi ia justru menjadi semakin menunduk Wajahnya
menjadi merah.
Ki Partija tersenyum. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.
Selanjutnya, para utusan itu minta diri untuk kembali dan memberikan laporan
kepada Raden Panji.
Ki Partija menggamit anaknya. Tetapi anaknya tidak tanggap. la masih saja
menundukkan kepala sambil mempermainkan jari-jari tangannya sendiri.
“He“ akhirnya Ki Partija tidak sabar “kau harus menjawab. Para utusan itu minta
diri”
Mas Rara termangu-mangu. Tetapi wajahnya justru terusa panas.
Sekali lagi para utusan itu minta diri “Kami mohon diri Mas Rara. Kami harus
kembali menghadap Raden Panji untuk memberikan laporun, bahwa kami telah
melakukan perintah dengan sebaik-baiknya”
Dengan jantung berdebaran, Mas Rara akhirnya menjawab “Selamat jalan”
“Kau tidak mengucapkan terima kasih?“ bertanya bapaknya.
“Ah“ desah gadis itu.
Kelima utusan itu tertawa. Sementara, atas desakan ayahnya, Mas Rara berkata
“Aku mengucapkan terima kasih”
“Tidak buat kami “ jawab salah seorang dari para utusan itu. Agaknya ia ingin
menggoda Mas Rara. Karena itu ia bertanya “Jadi terima kasih itu buat siapa?“
Wajah Mas Rara terasa semakin panas. Ia tidak menjawab sama sekali.
“Sudahlah berkata utusan itu“ Kami sudah mengerti, terima kasih itu tentu Mas
Rara tujukan kepada calon suarni yang memerintahkan kami datang kemari”
Hampir saja Mas Rara lari ke dalam. Nanum orang-orang itu sambil tertawa
bergerak, dan melangkah menuju tangga pendapa.
Ki Partija membimbing Mas Rara untuk ikut mengantar tamunya sampai ke regol
halaman, diikuti Nyi Partija.
Di regol, utusan itu sekali lagi minta diri kepada ayah dan ibu Mas Rara. Bahkan
sekali lagi kepada Mas Rara. Kepada Ki Resa yang ikut pula mengantar, mereka
telah minta diri pula.
Namun yang tertua diantara mereka berpesan “Jangan biarkan anak-anak itu pergi”
Ki Partija tersenyum sambil menjawab “Kami akan selalu berusaha memenuhi
perintah Raden Panji Ki Sanak”
“Terima kasih“ jawab orang itu.
Sejenak kemudian, utusan Raden Panji itu telah meninggalkan regol halaman rumah
Ki Partija. Mas Rara tidak lagi menunggu lebih lama. Ia kemudian berlari masuk
lewat seketheng ke ruang dalam melalui butulan.
Ki Partija suami isteri membiarkannya. Anaknya memang tidak terbiasa bergaul
dengan orang-orang yang belum dikenalnya. Lebih-lebih orang yang datang dari
luar pudukuhan.
Demikianlah. Sepeninggal utusan itu, beberapa orang tetangga yang berada di
pendapa telah minta diri. Ki Partija mengucapkan terima kasih kepada mereka yang
bersedia ikut melepas para utusan itu.
Sepeninggal para tamu, rumah Ki Partija menjadi lengang. Manggada dan Laksana
telah dipersilakan oleh Wirantana kembali ke gandok sepeninggal tamu-tamunya.
“Kalian tidak boleh meninggalkan rumah ini“ berkatu Wirantana kepada kedua anak
muda itu.
“Aku sudah terlalu lama di sini“ desis Laksana.
“Tetapi ini perintah Raden Panji“ jawab Wirantana.
“Siapakah sebenarnya Raden Panji itu? Demikian besarkah kuasanya, sehingga apa
yang diinginkan harus jadi?“ bertanya Laksana kemudian.
“Aku tidak tahu. Aku belum lama pulang jawab Wirantana.
“Menurut ayahmu?“ bertanya Laksana mendesak.
“Ayah tidak pernah berbicara dengan aku tentang Mas Rara. Aku masih dianggap
anak-anak yang cukup disuapi makan dan minum“ jawab Wirantana.
Laksana tidak bertanya lagi. la mengerti bahwa Wirantana tidak banyak mengetahui
tentang bakal adik iparnya itu.
Demikianlah. Meski jemu, Manggada dan Laksana harus tetap tinggal di rumah itu.
Sebenarnya mereka tidak takut pada Raden Panji. Keduanya sadar, kekuasaan Raden
Panji tidak akan menjangkaunya. Jika ada utusan yang mengejarnya di luar batas
kekuasaan Raden Panji, utusan itu dapat dilawannya.
Tetapi yang mereka pikirkan justru Ki Partija sekeluarga. Jika benar Raden Panji
menjadi marah, karena anak muda itu meninggalkan rumah Ki Partija, kemudian
menjatuhkan kemarahan itu kepada keluarga itu, maka Manggada dan Laksana akan
merasa bersalah. Karenanya, kedua anak muda itu bertahan untuk tetap tinggal di
rumah itu.
Hari itu, Manggada dan Laksana ikut Wirantana ke sawah Dengan bekerja di sawah,
anak-anak muda itu bisa melupakan kejenuhan mereka Namun di sore hari, ketika
keduanya berada di serambi gandok, rasa-rasanya mereka ingin segera meneruskan
perjalanan.
Baru jika Wirantama datang, mereka dapat mengisi waktu dengan
berbincang-bincang, bergurau, dan bahkan berbicara tentang olah kanuragan.
Namun ketika malam turun, ketiga anak muda itu justru berada di kebun belakang.
Di tempat yang agak jauh dari rumah mereka.
Dalam kegelapan malam, diantara pepohonan dan tanaman empon-empon yang di musim
kering seakan-akan telah hilang, tapi pada musim hujan tumbuh lagi, anak-anak
muda itu mencoba meningkatkan ilmu mereka. Juga berusaha untuk mempertajam
penglihatan mereka. Berganti-ganti mereka berlatih olah kanuragan. Namun mereka
selalu menjaga agar tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Juga pamannya.
Ketika saat sepi mencengkam padukuhan Nguter, ketiga anak muda itu berhenti
berlatih. Mereka kemudian pergi ke pakiwan, dan selanjutnya membenahi pakaiannya
yang basah oleh keringat.
Manggada dan Laksana berada di dalam biliknya, ketika terdengar suara kentongan
di tengah malam. Keduanya bahkan telah berbaring. Laksana yang merasa letih,
sudah memejamkan niatnya. Hampir saja ia tertidur, ketika ia mendengar pintu
biliknya diketuk.
“Siapa?“ bertanya Manggada.
“Aku “ jawab orang yang mengetuk pintu.
“Wirantana?“ bertanya Manggada pula.
“Ya“ jawab yang di luar.
Manggada pun bangkit dan membuka pintu. Laksana yang sudah hampir tertidur,
telah duduk di bibir pembaringannya.
Ketika pintu terbuka, Wirantana masuk sambil berdesah “Aku tidak dapat tidur.
Aku merasa gelisah”
“Kenapa?“ bertanya Manggada.
Wirantana yang kemudian duduk diamben panjang di dalam bilik itu berdesis
“Entahlah. Tetapi aku tidak dapat tidur”
Manggada menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya “Kau memikirkan emas
kawin yang diterima oleh adikmu itu”
“Kenapa aku memikirkanhya? Mas Kawin itu diberikan kepada adikku? Kenapa aku
harus memikjrkannya?“ bertanya Wirantana.
“Bukan mas kawin itu sendiri. Tetapi mungkin kau merasa cemas, bahwa dirumah ini
tersimpan harta benda yang cukup banyak” berkata Manggada.
“Sst“ desis Wirantana “jangan terlalu keras”
“Mungkin kecemasan itu tidak kau sadari“ berkata Laksana ”tetapi memang ada
baiknya kita berhati-hati”
Wirantana termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Mungkin kalian benar. Baiklah.
Aku akan kembali ke bilikku. Bagaimanapun juga benda-benda berharga yang
sebelumnya tidak kita miliki ini akan dapat mengundang persoalan”
Manggada dan Laksana tidak menjawab. Tetapi keduanya bangkit ketika Wirantana
kemudian keluar dari bilik itu dan kembali kebiliknya sendiri.
Demikian menyelarak pintu, maka Laksana telah menjatuhkan diri lagi di
pembaringannya. Sambil memejamkan matanya ia berkata “Aku sudah hampir tertidur”
Manggada hanya tersenyum saja. Tetapi rasa-rasanya iapun tidak mudah untuk
tidur. Benda-benda berharga itu memang dapat menarik perhatian orang-orang yang
berniat jahat. Tetapi Manggada tidak ingin mengganggu Laksana yang ternyata
beberapa saat kemudian telah tertidur nyenyak.
Sementara itu, malampun menjadi semakin larut. Diluar suara bilalang masih terus
berderik disela-sela bunyi angkup. Merintih berkepanjangan.
Di dalam biliknya, Wirantana juga tidak dapat tidur. Bahkan iapun kemudian duduk
dipembaringannya. Suara-suara malam bagaikan berbisik ketelinganya agar
Wirantana bertahan unluk tetap terjaga.
Untuk beberapa lama Wirantana duduk di pembaringannya. Kemudian ia bergeser
menepi untuk dapat bersandar dinding. Namun rasa-rasanya menjadi semakin tidak
mengantuk. Pendapat Manggada dan Laksana justru menjadi semakin mengganggu
perasaannya.
Wirantana tiba-tiba tertarik suara gemerisik diluar dinding biliknya, yang
terdengar bergeser menyusurii dinding. Bukan gemerisiknya angin malam
didedaunan.
Tiba-tiba saja wirantana sadar bahwa suara itu adalah suara langkah seseorang.
“Agaknya yang dicemaskan akan terjadi“ berkata Wirantana didalam hatinya.
Tetapi Wirantana masih tetap berdiam diri. Ia memang ingin melihat, apa yang
akan dilakukan oleh orang-orang itu dan barangkali dapat diketahui siapakah
mereka.
Karena Wirantana berusaha untuk berdiam diri, serta berusaha mengatur
pernafasannya dengan baik, maka ia memberikan kesan bahwa ia sudah tertidur
nyenyak.
Demikian pula Manggada didalam biliknya. Ia bahkan telah berbaring
dipembaringannya meskipun masih belum tidur.
Dibiliknya, ternyata Mas Rara pun tidak dapat tidur pula meskipun dengan
kegelisahan yang berbeda. Sedangkan Ki Partija Wirasentana dan isterinya juga
masih saja selalu gelisah. Sebuah peti yang berisi benda-benda berharga ada
dibawah pembaringannya. Bagaimanapun juga benda sebanyak itu belum pernah
dimiliki sebelumnya.
Namun bukan hanya karena nilai-nilai yang tersimpan pada benda-benda itu. Tetapi
persoalan yang terkandung didalamnya telah membuat mereka gelisah.
Dalam pada itu, maka Wirantama semakin lama justru menjadi semakin gelisah. Ia
telah mendengar langkah langkah yang berurutan. Tentu tidak hanya seorang saja
atau bahkan tentu lebih dari dua orang.
Sejenak Wirantana masih bertahan ditempatnya. Ia menunggu perkembangan keadaan.
Namun ia juga berharap bahwa Manggada dan Laksana atau salah seorang dari mereka
masih tetap terjaga pula.
Namun Wirantana menjadi sedikit tegang, karena ia mengerti, bahwa pamannya ada
dirumah itu pula. Jika terjadi sesuatu, pamannya akan dapat membantunya.
Wirantana tahu pasti, bahwa pamannya adalah seorang yang berilmu.
Tetapi Wirantana kemudian menjadi curiga. Orang yang berada diluar terlalu
banyak untuk sekelompok pencuri. Karena itu, maka iapun telah memperhitungkan,
bahwa orang-orang itu bukan pencuri yang akan memasuki rumah itu dengan
diam-diam dan mengambil harta benda yang disimpan oleh ayahnya. Tetapi mereka
tentu akan memasuki rumah itu dengan paksa dan tidak dengan sembunyi-sembunyi
berusaha merampas benda-benda berharga itu.
Karena itu, maka Wirantanapun tidak lagi menunggu dengan diam-diam. Iapun
kemudian telah bergeser lagi. Namun untuk mempersiapkan senjatanya.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian, maka telah terdengar pintu butulan diketuk
orang. Tidak terlalu keras. Tetapi cukup dapat membangunkan orang-orang yang
tidur diruang dalam.
Wirantana adalah orang yang pertama keluar dari biliknya. la ingin
memperingatkan ayahnya agar berhati-hati. Kemudian minta kepada pamannya untuk
tidak dengan serta merta membuka pintu butulan.
Tetapi Wirantana terlambat. Ketika ia sampai ke ruang tengah maka ia telah
melihat pamannya membuka pintu butulan.
“Paman“ Wirantana berteriak.
Tetapi tepat pada saat itu, pamannya telah mengangkat selarak. Satu dorongan
yang kuat telah menempa tubuh pamannya. Ternyata orang-orang yang berada diluar
pintu telah mendorongnya keras-keras, sehingga Ki Resa terdorong beberapa
langkah surut Namun Ki Resa tidak mempunyai banyak kesompatan Ketika ia berusaha
memperbaiki keseimbangannya. maka tiba tiba sebuah pukulan yang keras dengan
sepotong besi telah mengenai tengkuknya.
Ki Resa terhuyung-huyung beberapa langkah. Bahkan telah melanggar dinding. Namun
Ki Resa masih berusaha mencabut keris. Tetapi agaknya, daya tahannya tidak mampu
lagi mengatasi kesulitan didalam dirinya. Perlahan-lahan Ki Resa itu terjatuh
disudut ruang.
Wirantana sempat meloncat mundur. Ketika ia melihat ayahnya membuka pintu
biliknya, maka Wirantana segera meloncat masuk sambil mendorong ayahnya. Dengan
cepat Wirantana menutup pintu bilik itu dari dalam dengan selarak yang kuat.
“Apa yang terjadi?“ bertanya ayahnya. Wirantana tidak segera menjawab. Tetapi ia
sudah menggenggam pedang ditangannya.
“Dimuna Mas Rara?“ bertanya Wirantana tiba-tiba.
“Didalam biliknya“ jawab ibunya.
Namun Wirantana tidak sempat bertanya lagi. Sejenak kemudian pintu bilik itu
sudah digedor dari luar.
“Jangan dibuka“ desis Wirantana.
“Siapakah mereka?“ bertanya Ki Partija Wirasentana.
“Mereka adalah sekelompok penjahat“ jawab Wirantana.
“Bagaimana dengan adikmu“ Nyi Partija Wirasentana hampir menangis.
Wirantana memang menjadi bingung. Ia tahu bahwa adiknya tentu akan menjadi
sangat ketakutan. Tetapi jika ia membuka pintu itu dan keluar, maka orang-orang
itu tentu menjadi sangat berbahaya, bukan saja baginya, tetapi juga bagi ayah
dan ibunya serta benda-benda berharga yang baru saja diserahkan oleh Raden
Panji.
Sementara itu, pintu bilik itu telah berderak-derak keras. Orang-orang yang ada
diruang dalam berusaha untuk merusaknya sambil berteriak “Keluar. Atau aku bakar
rumah ini”
Wirantana memang benar-benar menjadi bingung. Tetapi ia siap di pintu bilik itu.
Demikian pintu terbuka, maka ia tidak akan berpikir panjang. Pedangnya tentu
akan mengoyak perut orang-orang yang akan menerobos masuk kedalam bilik itu.
Namun dalam pada itu, ternyata suara ribut itu terdengar oleh Manggada yang
berada digandok. Dengan hati-hati ia telah membangunkan Laksana dan memberi
isyarat bahwa sesuatu memang telah terjadi.
Laksanapun segera mempersiapkan diri. Pedangnya kemudian telah terselip
dipinggangnya.
“Marilah. Kita melihat apa yang telah terjadi“ berkata Laksana.
Kedua orang anak muda itu dengan sangat berhati-hati telah keluar dari pintu
bilik mereka di gandok. Merekapun kemudian dengan hati-hati telah memasuki
halaman samping. Lewat seketheng mereka memasuki longkangan.
Keduanya terkejut ketika keduanya melihat bahwa pintu telah terbuka. Karenu itu,
maka merekapun segera telah mendekat.
Namun tiba-tiba seseorang telah meloncat menyerang mereka, Nampaknya orang itu
telah mendapat tugas untuk berjaga-jaga diluar.
Manggada sempat mengelak. Dengan lantang ia berkata “Laksana. Cegah orang itu.
Aku akan masuk”
Laksanapun segera menempatkan diri untuk melawan orang itu. Sementara Manggada
telah meloncat mendekati pintu.
Dengan hati-hati ia bergerak masuk. Ia melihat Ki Resa terbaring disudut
ruangan. Agaknya Ki Resa tidak sempat membela dirinya ketika ia begitu tiba-tiba
mendapat serangan.
Ketika Manggada kemudian berada di ruang dalam, maka orang-orang yang sedang
berusaha memecah pintu bilik Ki Wirasentana melihatnya. Karena itu, maka dua
orang diantara mereka telah meloncat menyerang Manggada.
Tetapi Manggada cukup tangkas. Iapun segera berloncatan diantara perabot rumah
yang ada diruang dalam. Pedangnya langsung berputaran.
Kedua orang yang menyerangnya terkejut. Pada benturan yang terjadi, orang-orang
itu langsung mengetahui, bahwa anak muda itu memiliki ilmu yang mapan.
Demikianlah, maka Manggada telah bertempur ditempat yang kurang menguntungkan.
Tetapi lawannya yang bertempur berpasangan itupun tidak dapat dengan leluasa
mengambil arah. Sehingga dengan demikian, maka pertempuran itu masih belum
berkembang sampai ke puncak ilmu masing-masing.
Sementara itu, Wirantana mendengar pertempuran yang terjadi diluar. Sementara
itu, ia mendengar saura Manggada lantang ”He, siapakah kalian yang telah berani
memasuki rumah ini?“
“Persetan. Aku sumbat mulutmu dengan ujung pedang“ geram salah seorang dari
mereka.
Manggada tidak menjawab. Tetapi ia sudah berloncatan di tempat yang agak sempit
untuk bertempur. Karena itu ia kemudian memusatkan perlawanannya pada
ketrampilan tangannya menggerakkan senjatanya.
Ternyata Manggada tidak mengalami kesulitan melawan kedua orang lawannya itu.
Apalagi ketika sejenak kemudian, Laksana telah mendesak lawannya yang berusaha
masuk ke ruang dalam untuk mendapat bantuan dari kawan-kawannya. Perhatian
orang-orang itu benar-benar terpecah.
Namun untunglah bahwa orang-orang itu tidak tahu, bahwa Mas Rara ada di dalam
bilik yang mana, sehingga mereka tidak langsung dapat mempergunakannya sebagai
taruhan.
Ketika seorang lagi berusaha untuk membantu kawannya yang terdesak oleh Laksana,
Wirantana berusaha untuk dapat mengetahui apa yang terjadi di luar. Ia juga
mendengar suara Laksana, ketika pemuda itu berteriak “Jika kalian percaya kepada
kemampuan kalian, kita bertempur di luar”
Tidak ada jawaban. Tetapi dengan bantuan seorang kawannya, maka lawan Laksana
itu mendesak Laksana yang dengan sengaja menarik perhatian kedua orang itu
dengan langkah langkah surut.
Sejenak kemudian, Laksana telah bertempur dengan dua orang lawan di longkangan.
Di tempat yang lebih lapang, Laksana mampu bergerak lebih bebas daripada
Manggada yang ada di dalam. Dengan demikian, pertempuran dj longkangan lebih
cepat berkembang, sehingga ketiga orang itu bagai bayangan di kegelapan.
Sementara itu, Wirantana berusaha mengangkat selarak pintu bilik ayahnya, yang
sudah hampir dapat dipecah oleh orang-orang yang memasuki rumah itu. Dengan
isyarat ia minta ayahnya mundur.
Ki Partija Wirasentana memang melangkah mundur, tapi ia memegang sebuah luwuk
kehitaman, dengan pamor berkeredipan. Luwuk pusaka peninggalan orang tuanya.
Demikian pintu terbuka, Wirantana dengan cepat, memanfaatkan kesempatan saat
orang yang berada di luar pintu memperhatikan pertempuran yang sedang terjadi di
ruang itu.
Dengan garang, Wirantana meloncat keluar setelah berdesis “Tutup, dan selarak
kembali pintu itu ayah”
Dua orang yang masih berdiri di muka pintu terkejut. Wirantana yang langsung
menyerang berhasil mendesak kedua orang yang berada di depan pintu untuk
melangkah surut. Dengan demikian, Ki Partija sempat menutup dan menyelarak pintu
itu kembali.
Wirantana sempat menarik nafas panjang ketika melihat pintu bilik adiknya masih
tertutup rapat, meski ia tahu bahwa adiknya tentu sudah terbangun dan menjadi
ketakutan di dalam biliknya. Tetapi kehadiran Manggada di ruang itu telah
membuatnya berbesar hati, karena Wirantana mengetahui tataran kemampuan anak
muda itu. Dan ia pun mengerti bahwa Laksana telah bertempur di longkangan.
Sejenak kemudian, ketiga anak muda itu telah bertempur masing-masing melawan dua
orang. Meski demikian, Wirantana masih juga merasa curiga, bahwa masih ada orang
lain selain mereka berenam.
Sebenarnyalah, selain keenam orang itu, ada orang ketujuh yang berusaha mengoyak
dinding dari luar dengan kapak besar.
Nyi Wirasentana menjadi sangat ketakutan. Tetapi Ki Partija menenangkannya.
Katanya “Jangan takut Nyi. Aku sudah siap menebas lehernya. Begitu kepalanya
mencuat masuk ke dalam dinding, ia akan mati”
Nyi Wirasentana menjadi agak tenang. Tetapi ketika ia mendengar kapak yang
berderak-derak memecahkan dinding bilik itu dari luar, ia menjadi semakin
gemetar.
Sementara itu, Manggada mulai memancing lawannya untuk bertempur di luar. Sambil
menggeser mundur, ia mendekati pintu untuk kemudian meloncat keluar.
Agaknya, kedua lawannya juga ingin bertempur di luar. Di tempat yang lebih
lapang. Agar mereka dapat bergerak lebih banyak serta dapat memilih arah.
Tetapi Wirantana berusaha untuk tetap bertempur di dalam. Ia merasa wajib
mengawasi bilik adiknya, dan sekaligus bilik ayahnya, meski ia yakin bahwa
ayahnya
akan mampu melindungi dirinya serta ibunya, apabila hanya seorang saja diantara
lawannya yang berusaha masuk kedalam bilik itu.
Di longkangan, Laksana bertempur melawan dua orang lawan yang kasar Namun
Laksana sama sekali tidak gentar menghadapi mereka. Ternyata ia memiliki
kelebihan dalam ilmu pedang dari lawannya. Meski kedua lawannya bertempur dengan
keras dan kasar. Laksana yang tangkas itu sempat membuat kedua lawannya
kebingungan.
Manggada yang telah berada di luar, telah berloncatan dengan cepatnya. Bahkan
Manggada berhasil memancing lawannya turun ke halaman depan. Dengan demikian, ia
mendapat kesempatan untuk berloncatan semakin panjang.
Kedua lawan Manggada terkejut menghadapi anak muda itu, Ternyata anak muda itu
memang memiliki ilmu yang cukup tinggi, sehingga kedua orang itu tidak segera
dapat mengalahkannya. Bahkan beberapa kali kedua orang itu kebingungan dan
berloncatan mengambil jarak. Hanya karena keduanya mampu bekerja sama dengan
baik, saling mengisi, dan memperhitungkan saat-saat paling baik untuk menyerang
serta menghindar, mereka dapat bertahan lebih lama.
Namun demikian, Manggada tidak ingin membiarkan kedua lawannya, dan orang-orang
lain yang datang ke rumah itu, sampai melakukan kejahatan. Dengan demikian,
Manggada berniat mengakhiri perlawanan kedua orang itu secepatnya.
Dengan tangkasnya, Manggada menekan kedua orang lawannya. Pedangnya terayun-ayun
mendebarkan. Sekali menggapai lawannya yang seorang, namun kemudian terayun
menebas kearah lawannya yang lain. Beberapa kali Manggada dengan sengaja tidak
menghindari serangan lawan-lawannya, tetapi langsung membentur serangan itu
dengan menangkisnya. Ternyata bahwa kekuatan Manggada telah menggetarkan
pegangan tangan lawannya atas senjata mereka.
Ketika Manggada menghentakkan kemampuannya, kedua lawannya menjadi semakin
terdesak. Dalam serangan yang cepat, Manggada telah mendesak seorang lawannya,
sehingga ia meloncat beberapa langkah surut. Tetapi Manggada tidak sempat
memburu. Lawannya yang lain telah berusaha mengenainya dengan serangan lurus
mengarah ke lambung. Namun Manggada dengan cepat meloncat menghindar sambil
menyerang lawannya yang seorang lagi, sehingga lawannya yang tidak menduga itu
terkejut. Dengan serta merta, ia meloncat mundur. Ujung pedang Manggada memang
tidak menyentuhnya, tapi Manggada tidak membiarkannya. Sebelum lawan yang lain
meloncat menyerangnya, Manggada bergeser, memburu lawannya dengan pedang tetap
terjulur.
Dengan tergesa-gesa, lawannya berusaha menangkis serangan itu. Tetapi Manggada
sempat memutar pedangnya, sehingga lawannya mengaduh perlahan. Ujung pedang
Manggada sempat menyentuhnya, meski tidak terlalu dalam.
Dengan demikian, perlawanan kedua orang di halaman itu menjadi semakin lemah.
Tapi kedua orang itu masih berusaha untuk bertahan. Mereka berharap jika
kawan-kawannya mampu mengalahkan lawan-lawan mereka, maka mereka akan datang dan
membantu mengalahkan anak muda itu.
Dalam pada itu, Laksana pun mampu membuat lawannya terdesak. Meski sekali-sekali
Laksana juga harus berloncatan surut, tapi arena itu seakan-akan telah dikuasai
sepenuhnya oleh Laksana. Bahkan Kadang-kadang kedua lawannya harus berloncatan
surut beberapa langkah, karena desakan Laksana yang sulit untuk diatasi.
Di dalam rumah, Wirantana masih bertempur pula melawan dua orang. Wirantana
memang harus menjaga diri agar ia tidak keluar dari ruang dalam. Jika ia
terhisap keluar, maka tidak ada lagi yang mengawasi bilik kedua orang tuanya dan
adiknya.
Sementara itu, Mas Rara menjadi gemetar di dalam biliknya. Meskipun ia tidak
tahu apa yang terjadi, tetapi Mas Rara sudah menduga, bahwa kedatangan
orang-orang itu tentu ada hubungannya dengan mas kawin yang diterimanya dari
Raden Panji Prangpranata.
Karena itu, Mas Rara pun memikirkan ayah dan ibunya. Jika orang-orang itu sempat
masuk kedalam bilik kedua orang tuanya, maka nasib kedua orang tuanya tentu akan
menjadi buruk sekali. Mungkin para perampok itu akan menyakiti orang tuanya,
bahkan mungkin lebih dari itu. Kemungkinan lain adalah, seandainya orang tuanya
selamat, maka masih harus dipertanyakan sikap Raden Panji Prangpranata.
Kebingungan dan kecemasan berbaur di dalam hatinya. Namun Mas Rara tidak berani
beranjak dari biliknya. Tapi ia menyadari, bahwa pertempuran telah terjadi di
longkangan rumahnya, di depan gandok di belakang seketheng.
Mas Rara tidak mendengar apa yang terjadi di halaman, karena suaranya tertelan
oleh kekerasan yang terjadi di ruang dalam.
Dalam pada itu, orang-orang yang datang kerumah itu telah berusaha dengan
segenap kemampuan mereka untuk mengalahkan anak-anak muda itu. Dengan garang,
seorang diantara mereka yang bertempur melawan Wirantana berteriak “Menyerahlah.
Jika kau tetap melawan, kau akan mengalami nasib
yung lebih buruk. Kau ayah dan ibu serta Mas Rara yang teluh dilamar oleh Raden
Panji Prangpranata”
Dalam pada itu, selagi Ki Partija Wirasentana yang berada di dalam biliknya
masih dibayangi kecemasan karenu suara kapak yang semakin keras berderak pada
dinding biliknya, serta dentang senjata di ruang dalam, beberapa orang peronda
bersiap-siap mengelilingi padepokan mereka untuk terakhir kalinya di malam itu,
sebelum mereka pulang.
Empat orang telah bersiap di muka gardu, sementara tiga orang tetap berjaga-jaga
menunggu gardu.
Sejenak kemudian, keempat orang itu mulai berkeliling sambil membunyikan
kentongan kecil dengan irama khusus, sebagaimana sering mereka perdengarkan jika
sedang meronda. Suara kotekan itu kemudian menelusuri jalan-jalan padukuhan,
diselingi dengan dendang gembira untuk membangunkan orang-orang yang terlalu
nyenyak tidur, sehingga dapat terjadi kemungkinan buruk jika seorang pencuri
masuk ke dalam rumah mereka.
Manggada menjadi cemas mendengar suara itu. Ia tidak ingin kehilangan kedua
lawannya. Ia berniat menangkap mereka hidup-hidup.
Namun, suara kentongan dalam irama kotekan itu mengacaukan rencananya.
Lawan-lawannya, juga lawan Laksana dan Wirantana, menjadi semakin cemas
menghadapi anak-anak muda itu dan sebentar lagi tentu para peronda. Karena itu,
beberapa saat kemudian, terdengar suitan nyaring dari longkangan, yang ternyata
adalah isyarat dari salah seorang diantara mereka yang memasuki halaman rumah Ki
Partija Wirasentana itu.
Demikianlah. Sekejap kemudian, orang-orang yang sedang bertempur itu melakukan
gerakan agak mengejutkan lawan-lawan mereka, seakan-akan mereka serentak akan
menyerang.
Namun ternyata, mereka berloncatan menjauh dan kemudian melarikan diri.
Manggada dan Laksana berusaha untuk mengejar mereka. Tetapi ketika mereka
berlari dan kemudian meloncati dinding halaman, turun ke jalan, mereka bertemu
dengan para peronda yang juga berlari-lari ke regol halaman.
“He, berhenti, berhenti“ teriak salah seorang peronda.
Manggada dan Laksana terpaksa berhenti. Jika mereka berlari Lerus, mengejar
orang-orang yang melarikan diri itu, akan terjadi salah paham. Para peronda yang
belum melihat mereka dengan jelas dalam keremangan dini hari, akan mengira
mereka berdua adalah orang-orang yang justru harus mereka tangkap, sebagaimana
orang-orang yang telah berlari lebih dulu. Apalagi belum semua orang padukuhan
itu mengenai mereka berdua dengan baik.
Keempat orang peronda itu telah mengepung mereka sambil mempersiapkan senjata
yang mereka bawa, karena Manggada dan Laksana masih menggenggam senjata.
“Siapa kalian?“ bertanya orang tertua diantara para peronda.
“Kami adalah tamu Ki Partija“ jawab Manggada “kami sebenarnya sedang mengejar
orang-orang yang berniat jahat di rumah ini”
Seorang diantara para peronda itu ternyata dengan cepat mengenali kedua anak
muda itu. Karenanya orang itu berkata lantang “He, bukankah kalian anak-anak
muda yang telah menolong Mas Rara dari harimau yang akan menerkamnya, dan
kemudian singgah di rumah Ki Partija?”
“Ya. Malam ini rumah Ki Partija telah didatangi beberapa orang perampok“ jawab
Manggada.
Tetapi orang-orang itu tidak segera percaya. Namun seorang diantara mereka
berkata “Kami memang melihat beberapa orang berlari-lari. Namun segera hilang ke
halaman sebelah, sebelum kalian meloncat ke jalan”
“Orang-orang itulah yang sedang kami kejar“ jawab Manggada.
Beberapa orang diantara mereka saling berpandangan. Memang terasa sedikit
kecurigaan nampak di sorot mata mereka. Sehingga Laksana bertanya “Bagaimana
tanggapan kalian atas hal ini? Kami telah kehilangan buruan”
“Dimana Ki Partija Wirasentana?“ bertanya yang tertua diantara para peronda itu.
“Ada di dalam“ jawab Manggada. Lalu katanya “Marilah kita temui Ki Partija”
Jilid 2
PARA peronda itu kemudian mengikuti anak-anak muda itu ke regol. Namun regol itu
masih diselarak dari dalam, sehingga Manggada berkata “Kita lewat regol butulan
saja. Atau aku harus meloncat masuk dan membuka regol ini?“
“Buka saja regol ini“ berkata salah seorang diantara mereka.
Manggada kemudian meloncat dinding dan masuk ke halaman. Kemudian membuka
selarak pintu dari dalam.
Bersama-sama dengan peronda itu, mereka naik ke pendapa rumah Ki Partija
Wirasentana, yang telah menjadi sepi.
Wirantana ternyata masih berada di dalam. Ketika kedua orang lawannya melarikan
diri. setelah mendengar isyarat kawannya yang berada di luar, Wirantana tidak
mengejar mereka, karena ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan orangtua
dan adiknya.
Demikian kedua orang lawannya melarikan diri, Wirantana cepat-cepat mengetuk
pintu bilik adiknya.
“Mas Rara, Mas Rara. Buka pintu, mumpung orang-orang itu sudah melarikan diri“
berkata Wirantana.
Mas Rara ragu-ragu. Tetapi ketika sekali lagi Wirantana memanggilnya, maka ia
pun segera membuka pintu.
Demikian ia melihat kakaknya berdiri tegak, ia segera memeluknya sambil
menangis.
“Jangan menangis. Marilah, masuk kebilik ayah dan ibu“ berkata Wirantana.
Mas Rara kemudian dibimbing mendekati pintu bilik ayah dan ibunya
“Ayah, buka pintu Mas Rara akan masuk“ berkata Wirantana.
Pintu itu tidak segera dibuka. Namun ketika Wirantana mengetuk sekai lagi,
burulah pintu itu dibuka sedikit. Karena Winintana tidak sabar lagi, ia segera
mendorong adiknya masuk ke dalam bilik itu.
Wirantana mendengar pintu diselarak. Namun tiba-tiba saja Wirantana mendengar
Mas Rara menjerit.
“Mas Rara, ayah, ibu“ teriak Wirantana dengan cemas.
Tanpa menghiraukan apapun lagi. Wirantana mengetuk pintu bilik itu keras-keras.
Pada saat itu, Manggada dan Laksana telah naik ke pendapa. Teriakan dan jerit
dari dalam itu mengejutkan mereka. Karena itu, mereka pun meloncat lewat
seketheng, masuk ke longkangan dan langsung masuk lewat pintu butulan yang masih
terbuka.
Manggada dan Laksana melihat Wirantana sedang mengetuk-ngetuk pintu bilik
ayahnya.
“Ada apa” bertanya Laksana.
“Aku tidak tahu. Mas Rara menjerit di dalam“ jawab Wirantana.
Namun sebentar kemudian, pintu bilik terbuka. Mereka melihat ayah Mas Rara
membimbing gadis yang hampir menjadi pingsan itu. Di belakangnya, ibunya
berjalan menunduk sambil menekan dadanya dengan kedua telapak tangannya.
“Apa yang telah terjadi?“ bertanya Wirantana.
“Lihatlah“ berkata ayahnya dengan suara serak.
Wirantana melangkah memasuki bilik itu diikuti oleh Manggada dan Laksana. Namun
mereka terkejut ketika melihat seseorang yang tubuhnya baru separo berada di
dalam bilik itu, namun sudah tidak bernyawa lagi.
“Ayah agaknya telah membunuh orang ini“ berkata Wirantana termangu-mangu sambil
mengamati luwuk ayahnya yang terletak di atas lincak bambu, dan masih berlumuran
darah yang mulai mengering.
Manggada dan Laksana termangu-mangu. Mas Rara tentu menjerit karena terkejut.
“Paman masih pingsan“ tiba-tiba saja Wirantana berdesis.
Ketiga anak muda itu ternyata tidak tergesa-gesa mengambil orang itu. Tetapi
perhatian mereka lebih dahulu tertuju kepada Ki Resa yang pingsan.
Ketika ketiga anak muda itu mendekatinya, mereka melihat Ki Resa mulai bergerak.
“Paman sudah mulai sadar“ berkata Wirantana. Ketiga orang itu kemudian
mengangkat tubuh Ki Resa dan dibaringkannya di atas sebuah amben di ruang tengah
itu.
Namun dalam pada itu, beberapa orang peronda yang semula telah naik kependapa
menyusul pula lewat pintu butulan itu. Dengan jantung yang berdebaran, mereka
melihat apa yang telah terjadi di ruangan itu.
“Aku akan memukul kentongan“ desis seorang diantara mereka “bukan kentongan
kecil ini, tetapi kentongan di gardu”
“Tidak perlu“ berkata Ki Partija Wirasentana “tolong Ki Sanak, sampaikan saja
kepada Ki Bekel, bahwa beberapa orang perampok telah memasuki rumah ini.
Se-orang diantara mereka dengan terpaksa telah kubunuh. Aku merasa begitu
ketakutan, sehingga aku tidak dapat berbuat lain, kecuali membunuhnya”
Para peronda itu termangu-mangu sejenak. Kemudian seorang diantara mereka
mendorong kawannya sambil berkata “Pergilah kerumah Ki Bekel”
Tetapi orang yang didorong itu memanggil kawannya yang lain “Kau sajalah pergi
ke rumuh Ki Bekel. Aku berjaga-jaga di sini, jika perampok itu kembali”
Yang digamit termangu-mangu sejenak. Tetapi ternyata ia telah berterus-terang
“Aku tidak berani seorang diri”
“Pergilah bersama-sama“ berkata Ki Partija Wirasentana aku sudah mempunyai
beberapa kawan di sini”
Para peronda itu termangu-mangu. Namun seorang diantara mereka bartanya “Apa
salahnya jika aku memukul kentongan saja? Yang datang tentu bukan hanya Ki
Bekel, tapi para bebahu dan anak-anak sepadukuhan”
“Jangan“ jawab Ki Partija “nanti seisi padukuhan menjadi gelisah. Semua orang
menjadi ketakutan”
Orang-orang yang sedang meronda itu termangu-mangu. Manggada kemudian berkata
“Apakah aku harus mengantarkan kalian?”
“Tidak. Tidak“ jawab salah seorang dari mereka. Lain katanya kepada kawan-
kawannya ”Marilah kita menemiu Ki Bekel”
Demikianlah, orang-orang itu kemudian pergi ke remah Ki Bekel. Tetapi merek
singgah di gardu dan mengajak semua orang yang ada di gardu karena sebenarnyalah
mereka ngeri jika bertemu dengan perampok yang datang ke rumah Ki Partija, yang
baru saja menerima mas kawin dari Raden Panji Prangpranata.
Sementara itu, Ki Partija menjadi sibuk dengan adiknya. Sementara Mas Rara duduk
ditunggui ibunya, dan kakaknya Wirantana, yang juga menjadi cemas. Namun Mas
Rara telah sedikit menjadi tenang.
Sedangkan di dalam bilik Ki Partija, sesosok tubuh yang mulai membeku masih saja
berada ditempatnya. Ki Partija memang menunggu Ki Bekel untuk menyaksikan
kaadaan itu.
Perlahan-lahan Ki Resa mulai bergerak-gerak. Kemudian tangannya mulai
meraba-raba tengkuknya. Dengan nada rendah, ia mulai bertanya “Apa yang telah
terjadi”
“Perampokan, Resa” jawab Ki Partija
”Perampokan” wajah Ki Resa menjadi tegang “apa yang telah dibawanya?”
“Tidak ada yang dapat dibawa“ jawab Ki Partija.
“O. Mana Mas Rara” bertanya Ki Resa.
Ki Partija Wirasentana menarik nafas dalam-dalam. Sambil menunjuk anak gadisnya,
ia menjawab “Itu, bersama ibu dan kakanya”
Ki Resa kemudian berusaha untuk bangkit dan duduk, dibantu oleh kakaknya.
Kemudian memandang berkeliling sambil bertanya “Bagaimana dengan mas kawin itu”
“Untunglah, masih dapat kita selamatkan“ jawab Ki Partija.
Ki Resa menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku semula tidak mengira bahwa hal
seperti itu akan terjadi. Aku mendengar Wirantana memanggil. Tetapi aku
terlambat menyadarinya.
Semuanya sudah teratasi“ berkata Ki Partija “kita sudah berhasil mengusir para
perampok itu”
“Tidak seorangpun yang tertangkap?” bertanya Ki Resa.
“Sayang sekali“ jawab Ki Partija “tidak seorangpun yang tertangkap. Tetapi ada
seorang diantara mereka yang terbunuh”
“Terbunuh” wajah Ki Resa menjadi tegang.
“Ya. Yang terbunuh ada didalam bilik itu, pada saat-saat gawat, orang itu
berusaha masuk kedalam bilikku lewat dinding luar. Dengan kapak, orang itu
memecah dinding. Namun aku berhasil mengatasi perasaan takutku, atau justru
sebaliknya, karena aku menjadi sangat ketakutan, aku telah membunuhnya selagi ia
berusaha masuk kedalam lewat dinding yang telah dipecahkannya” berkata Ki
Partija Wirasentana.
Ki Resa perlahan-lahan bergeser menepi, dan berusaha untuk bangkit berdiri.
Tertatih-tatih, Ki Resa masuk kedalam bilik Ki Partija untuk melihat orang yang
terbunuh, sebagaimana dikatakan oleh kakaknya itu.
Ki Resa tertegun sejenak. Wajahnya menjadi merah. Namun ia kemudian menarik
nafas dalam-dalam, ia berdiri tegak sambil memandang tubuh yang telah membeku
itu.
Ketika ia kemudian keluar dari bilik itu, ia berrkata “ Sukurlah, bahwa kakang
berdua tidak mengalami sesuatu. Juga Mas Rara dam Wirasentana, Nampaknya para
perampok itu orang-orang buas dan liar. Mereka telah menempuh cara yang paling
kasar. Untunglah kakang sempat membunuhnya, jika tidak, kakang akan dapat
dibunuhnya”
“Yang Maha Agung masih melindungi kita semuanya“ desis Ki Partija Wirasentana
“namun aku sama sekali tidak pernah bermimpi untuk melakukan pembunuhan. Kali
ini aku benar-benar tidak tahu cara untuk menghindarinya. Di dalam bilik itu,
aku simpan mas kawin yang baru saja kita terima dari Raden Panji. Didalam bilik
itu pula aku simpan nyawaku dan nyawa Nyi Partija”
Ki Resa mengangguk-angguk. Katanya “Tidak seorangpun dapat menyalahkan kakang.
Kakang benar-benar sakedar membela diri, jika kakang tidak membunuhnya, kakang
yang akan dibunuh, bahkan berdua. Selanjutnya, harta benda kakang akan dirampas
dan dibawa padahal. Benda-benda berharga itu pemberian Raden Panji untuk Mas
Rara”
Ki Parti|a mengangguk-angguk. Katanya “Kita menuggu Ki Bekel”
Ki Resa kemudian duduk diamben yang panjang, di ruang tengah, yang masih belum
dibenahi. Beberapa macam alat-alat rumah tangga masih terserak.
Tak lama kemudian, Ki Bekel datang bersama beberapa bebahu dan beberapa orang
peronda yang telah memberi-tahukan kepadanya. Bersama mereka, Ki Bekel
menyaksikan isi rumah Ki Partija yang berserakan, serta melihat keadaan salah
seorang perampok yang terbunuh.
“Tenty ada hubungannya dengan kedatangan utusan Raden Panji” berkata Ki Bekel.
“Nampaknya begitu jawab Ki Partija. Untunglah seisi rumah ini dapat mengatasi
para perampok itu, jika tidak, kita semuanya akan menjadi kalut. Raden Panji
akan marah pada kita semuanya” Ki Bekel berhenti sejenak, lalu katanya “Tetapi
kenapa Ki Partija tidak memberikan isyarat, misalnya dengan memukul kentongan.
Dengan demikian, kami dapat memberikan bantuan sejauh dapat kami lakukan”
“Kami tidak sempat melakukannya Ki Bekel. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba.
Adikku tidak sempat berbuat sesuatu, karena demikian ia membuka pintu, ia
langsung mendapat satu pukulan telak, yang membuatnya pingsan” berkata Ki
Partija.
“Ki Resa agaknya terlalu tergesa-gesa membuka pintu“ berkata Ki Bekel.
“Aku sama sekali tidak berpikir tentang perampok“ desis Ki Resa.
“Tetapi sukurlah semuanya dapat diatasi“ berkata Ki Bekel.
“Bagaimana dengan perampok yang terbunuh itu” bertanya Ki Partija.
“Besok, biarlah orang-orang padukuhan ini membantu kalian menguburkan orang itu.
Malam ini, biarlah tubuh itu dibawa saja ke banjar padukuhan“ berkata Ki Bekel.
“Terima kasih Ki Bekel“ jawab Ki Partija.
“Sementara itu, aku akan menempatkan sebagian peronda di pendapa rumah ini.
Biarlah orang-orang khusus berada digardu untuk mengatasi keadaan jika
diperlukan“ berkata Ki Bekel “rasa-rasanya kita semua ikut bertanggung jawab
atas keselamatan Mas Rara, yang kebetulan tinggal di padukuhan ini”
“Ternyata, kedua anak muda yang telah menolong Mas Rara dari terkaman harimau
itu, telah menyelamatkan kami“ tiba-tiba Wirantana memotong.
Ki Bekel berpaling kepadanya. Kemudian dipandanginya Ki Partija Wirasentana,
seakan-akan minta pertimbangan apakah yang dikatakan Wirantana itu benar.
Ki Partija yang termangu-mangu itu kemudian berkata “Ya, ya Ki Bekel. Aku belum
mengatakannya. Bersama anakku, mereka bertempur melawan para perampok yang
terdiri dari enam atau tujuh orang”
Ki Bekel mengangguk-angguk. sambil berpaling kepada Manggada dan Laksana, Ki
Bekel berkata “mendahului Raden Panji Prangpranata. Aku mengucapkan terima kasih
atas bantuan kalian, Untunglah kalian masih tetap berada disini, sehingga dapat
membantu Ki Partija melindungi mas kawin yang baru saja diterima dari Raden
Panji, sekaligus melindungi Mas Rara”
“Kami hanya sekadar membantu Ki Bekel“ jawab Manggada “Wirantanalah yang lebih
banyak terlibat dalam perlawanan, dan kemudian berhasil mengusir para perampok
itu. Sayang kami tidak dapat menangkap seorangpun diantara mereka”
Ki Resa dengan nada rendah kemudian berkata “Ternyata penyerahan mas kawin itu
sudah didengar oleh orang-orang yang berniat buruk, dan segerombolan diantara
mereka telah datang”
“Tetapi untuk selanjutnya, tidak akan terjadi sesuatu” berkata Ki Bekel. Lalu
katanya pula “Seisi padukuhan ini akan ikut membanlu kalian”
Ki Resa mengangguk kecil. Katanya “Terima kasih Ki Bekel. Mudah-mudahan niat
buruk itu tidak menjalar pada gerombolan- gerombolan yang lain”
“Ya, Ki Bekel” desis Ki Partija Wirasentana. Apakah Ki Partija mempertimbangkan
untuk memberikan kepada Raden Panji?” bertanya Ki Bekel.
Sebelum Ki Partija menjawab, Ki Resa telah mendahuluinya “Tidak perlu Ki Bekel.
Jika hal itu dilakukan, Raden Panji akan menjadi gelisah, sehingga mungkin akan
mengambil keputusan yang tidak menguntungkan. Karena itu, biarlah kita berusaha
menjaga benda-benda berharga itu dengan sebaik-baiknya. Gerombolan-gerombolan
itupun tentu akan membuat perhitungan, apakah korban yang akan mereka berikan
sesuai dengan nilai dari benda-benda berharga itu. Berapa pun besarnya mas kawin
dari Raden Panji, nilainya tentu tetap terbatas”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling, Ki Partija Wirasentana pun
mengangguk-angguk Katanya “Aku sependapat dengan Resa, Ki Bekel. Aku tidak
merasa perlu untuk melaporkannya kepada Raden Panji. Dengan demikian, Raden
Panji akan menganggap kami terlalu manja. Segala sesuatunya disandarkan kepada
Raden Panji”
“Baiklah“ berkata Ki Bekel “ jika Ki Partija berniat untuk tidak menyampaikannya
kepada Raden Panji, biarlah kau mengatur kesiagaan anak-anak muda untuk membantu
kalian. Sudah beberapa kali aku katakan, kami ikut bertanggung jawab atas
keselamatan Mas Rara. Mungkin kali ini para perampok itu sekadar berusaha
mengambil benda-benda berharga yang dibawa oleh utusan Raden Panji itu sebagai
mas kawin. Namun tidak mustahil orang berniat lebih dari itu”
“Apa maksud Ki Bekel” bertanya Ki Partija Wirasentana dengan wajah cemas.
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Bukan maksudku menakut-nakuti Ki
Partija, tetapi hendaknya Ki Partija dan Ki Resa menjadi lebih berhati-hati.
“Aku tidak mengerti Ki Bekel“ desis Ki Partija.
“Orang yang berniat jahat itu dapat saja pada kesempatan lain justru mengambil
Mas Rara” berkata Ki Bekel.
“Apakah itu satu tantangan kepada Raden Panji Prangpranata yang mempunyai
kekuasaan luas itu” bertanya Ki Partija Wirasentana.
“Bukan. Bukan satu tantangan“ jawab Ki Bekel “tetapi dengan demikian, orang yang
mengambil Mas Rara itu menuntut tebusan uang. Atau barangkali benda-benda
berharga dan bernilai tinggi”
Ki Partija menarik nafas dalam-dalam. Sambil memandang adiknya ia berkata “Satu
kemungkinan buruk, Resa. Tetapi kita memang harus berhati-hati. Kemungkinan
seperti itu akan dapat terjadi”
Resa menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian “Tetapi apakah ada orang
yang berani menentang atau bahkan dengan cara itu, menantang Raden Panji”
“Bukan berhadapan langsung“ jawab Ki Bekel “Mas Rara akan menjadi taruhan. Jika
Raden Panji tidak mau memenuhi tuntutan orang itu, Mas Rara akan meng-alami
nasib sangat buruk bahkan mungkin sekali Mas Rara dibunuh”
“Ah“ desah Ki Resa “mengerikan sekali. Tetapi orang itu akan tahu akibatnya jika
Raden Panji marah”
“Tidak ada yang tahu siapa yang mengambil Mas Rara” jawab Ki Bekel “sudah tentu
Raden Panji tidak akan dapat menghukum semua orang, karena sebagian besar dari
mereka mungkin tidak bersalah. Yang bersalah mungkin hanya dua atau tiga orang
dari seluruh Kademangan ini, atau bahkan mungkin orang dari Kademangan lain atau
dari tempat yang jauh”
Ki Partija mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Ki Bekel. Karena itu katanya
“Peringatan Ki Bekel sangat herharga bagi kami. Kami akan lebih berhati-hati.
Namun kami benar-benar mohon Ki Bekel melindungi anakku”
“Aku dan Ki Jagabaya akan mengaturnya. Namun Ki Partija harus menyiapkan
kentongan. Jangan hanya sebuah di serambi gandok, tapi di longkangan-longkangan
pun sebaiknya disediakan kentongan, meski kentongan yang lebih kecil. Sementara
itu, digardu akan ditambah dengan beberapa orang anak muda setiap malam“ jawab
Ki Bekel. Namun kemudian katanya “Tetapi di siang hari, kami berharap keluarga
ini dapat melindungi Mas Rara dengan baik. Di sini adn Ki Partija Wirasentana
sendiri. Wirantana yang serba sedikit sudah mempelajari ilmu olah kunuragan. Ki
Resa yang sudah yang sudah sama-sama kita ketahui tingkat kemampuannya dan
beberapa orang laki-laki pembantu di rumah Ki Partija juga dapal diikut sertakan
dalam kesiagaan itu. Gamel, dan barangkali pembantu-pembantu yang lain, yang
sering menjemur padi dan gabah serta memandikan lembu, atau orang-orang lain
lagi yang ada di rumah ini. Sementara itu, di siang hari atau di malam hari,
jika kami mendengar isyarat suara kentongan, kami akan selalu siap datang
membantu. Tetapi kami mohon Mas Rara tidak pergi kemanapun, untuk keperluan
apapun. Tidak usah pergi berbelanja ke pasar. Tidak usah ikut mencuci ke sungai
bersama gadis-gadis sebayanya. Tidak usah ikut ibunya ke peralatan, meskipun
hanya di rumah sebelah menyebelah”
Ki Partija Wirasentana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata “Baik Ki
Bekel. Aku akan menjaga Mas Rara sebaik-baiknya. Jika terjadi sesuatu dengan
anak itu, akibatnya akan dapat terpercik kepada orang lain”
“Sudahlah“ berkata Ki Bekel “bagaimana pun juga, kau jangan terlalu terbenam
dalam kecemasan. Peristiwa malam ini dapat kita jadikan semacam peringatan. Kita
masih dapat mengucap sukur bahwa dalam peringatan ini tidak jatuh korban,
meskipun Ki Patrija tidak dapat mengelakkan diri untuk membunuh. Tetapi yang
dilakukan oleh Ki Partija adalah semata-mata membela diri”
Ki Partija mengangguk-angguk. Katanya “Terima kasih Ki Bekel. Namun bagaimanapun
juga kita harus menahan agar Mas Rara tidak keluar dari halaman rumah ini”
Demikianlah. Sejenak kemudian, Ki Bekel minta diri. Demikian pula orang-orang
lain yang ada di rumah Ki Partija Wirasentana.
Seperti yang dikatakan Ki Bekel, tubuh yang terbunuh di dalam bilik Ki Partija
telah dibawa ke banjar. Namun Ki Partija tidak sampai hati membebankan semua
penyelenggaranya kepada padukuhan. Karena itu, semua beaya penguburan di
tanggung Ki Partija Wirasentana.
Sementara itu, di rumah Ki Partija Wirasentana beberapa orang tengah sibuk
membenahi rumahnya yang rusak, karena seseorang telah memecahkan dinding, juga
isi rumah yang tercerai berai. Bahkan halaman yang terinjak-injak kaki, selagi
beberapa orang bertempur.
Namun dalam pada itu, Wirantana telah berbicara sungguh-sungguh dengan Manggada
dan Laksana. Ia berbicara tentang kemungkinan sebagaimana dikatakan oleh Ki
Bekel.
“Aku mohon“ berkata Wirasentana “kita bersama-sama menjaga Mas Rara. Ia memang
adikku, tapi aku yakin bahwa kalian tidak berkeberatan. Bukankah kalian telah
menyelamatkannya dari terkaman harimau yang garang itu? Tentu kalian juga tidak
akan membiarkannya jatuh ke tangan orang-orang yang hanya akan mengambil
keuntungan daripadanya, namun yang akan benar-benar dapat mencelakainya. Bahkan
membunuhnya. Jika hal itu terjadi, bencana itu akan berlanjut dengan kemarahan
Raden Panji. Ayah dan ibu dapat dituduh menyia-nyiakan anak itu, sementara anak
itu jiwanya benar-benar terancam”
Kedua anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggada
menjawab “Kami sudah berada di rumah ini Wiruntana. Bagaimanapun juga kami sudah
berjanji untuk tidak melanggar pesan Raden Panji. Kami akan berada disini sampai
saatnya kami ikut dibawa kerumah Raden Panji bersama Mas Rara, sekitar setengah
bulan lagi. Selama ini, tentu saja kami akan ikut bertanggung jawab, upapun yang
akan terjadi atas Mas Rara”
“Terima kasih. Peringatan Ki Bekel nampaknya sangat menggelisahkan ayah dan ibu”
berkata Wirantana.
“Tetapi Ki Partija tidak sendiri“ jawab Laksana “Ki Bekel dan seluruh padukuhan
ini akan berpihak kepadanya jika terjadi sesuatu. Dalam keadaan yang tiba-tiba,
pamanmu dan kau sendiri merupakan perisai yang dapat melindungi adikmu
sebaik-baiknya”
Wirantana mengangguk-angguk. Katanya “Nampaknya kita memang harus berhati-hati.
Persoalannya saling berkaitan.
Usaha untuk merampok yang gagal itu, bagi para perampok, dapat dipergunakan
semacam usaha penjajagan atas kekuatan yang ada di rumah ini. Jika mereka datang
lagi, mereka akan membawa kekuatan yang lebih besar. Atau mereka akan mencuri
kesempatan untuk menginbil Mas Rara”
Namun Manggada dan Laksana menyadari, betapa Wirantana menjadi gelisah
sebagaimana ayah dan ibunya. Karena itu, Manggada kemudiun berkata “Yakinkan
dirimu. Bahwa selama aku ada disini, dalam perjalanan menuju ke rumah Raden
Panji, serta selama aku mendapat kesempatan berada di rumah Raden Panji, aku
akan ikut bertangguug |awab, demikian pula Laksana. Kami akan berada diantara
seluruh penghuni padukuhan ini, untuk melindungi Mas Rara, kemudian sudah barang
tentu bersama-sama para pengawal yang akan dikirim Raden Panji saat penjemputan
Mas Rara”
Wirantana menganguk angguk. Katanya “Terima kasih. Setidak-tidaknya kesediaan
kalian telah membuat hatiku menjadi tenang. Agaknya ayah dan ibu akan menjadi
tenang pula mendengar kesediaan kalian, di samping kesediaan paman”
“Jangan cemas. Sejauh dapat kami lakukan“ jawab Manggada.
Wirantana mengangguk-angguk. Lalu katanya “ Mas Rara untuk selanjutnya akan
selalu berada di ruang dalam. Memang menjemukan. Selama setengah bulan, di saat
mandi dan mencuci. Di pakiwan, seluruh isi halaman ini harus bersiap-siap. Dan
itu akan dilakukan pagi dan sore”
“Apaboleh buat“ berkata Manggada. Kami akan mangawasi bagian depan rumah itu.
Kau dan Ki Partija mengawasi bagian dalam. Selanjutnya, Ki Partija, Wirantana
akan dapat menunjuk satu dua orang untuk mengawasi bagian belakang. barangkali
pamanmu atau orang lain.
Wirantana mengnngguk-angguk. la sadar bahwa pekerjaan ini sangat menjemukan. la
dan ayahnya akan bergantian menemani Mas Rara.
Tetapi tidak dapal diambil jalan lain. Peringatan Ki Bekel memang masuk akal.
Sementara di malam hari, para peronda pun mendapat pesan khusus dari Ki Bekel
untuk ikut mengawasi rumah itu.
Namun seperti pendapat Ki Resa, Ki Partija Wirasentana tidak berniat memberikan
laporan kepada Raden Panji Prangpranata.
Demikianlah. Hari demi hari melangkah dengan ketegangan yang mencengkam seisi
rumah itu. Para pekerja telah melengkapi diri mereka dengan senjata di lambung.
Parang tidak pernah terlepas dari setiap pekerja di rumah itu.
Ki Partija yang merasa sangat beruntung, bahwa dua anak muda yang telah
menyelamatkan Mas Rara dari terkaman harimau itu masih berada di rumahnya.
Dengan demikian, kedua anak muda itu, bersama anaknya, merupakan pelindung
terbaik bagi Mas Rara, di samping pamannya. Namun karena Ki Resa kadang-kadang
mempunyai kepentingan sendiri, maka jarang berada di rumah Ki Partija
Wirasentana.
Yang sering nampak di halaman, di kebun dan bahkan di sebelah kandang, adalah
ketiga anak muda itu. Manggada, Laksana dan Wirantana. Namun jika di rumah itu
sedang ada beberapa orang pekerja menjemur padi di halaman, atau sedang
mengerjakan pekerjaan lain, ketiga anak muda itu menyempatkan diri ke sanggar.
Dalam pada itu, Manggada dan Laksana berlandaskan pada ilmu serta pengalamannya,
berusaha mengembangkan ilmunya. Bahkan ia sempat memungut beberapa unsur gerak
yang bermanfaat untuk melengkapi ilmunya dari Wirantana. Demikian pula
sebaliknya. Mereka yakin, guru-guru mereka tidak akan keberatan melihat kejadian
itu.
Dengan demikian, betapapun lambatnya, ilmu mereka telah meningkat. Apalagi pada
Manggada dan Laksana yang telah mendapat alas kokoh, yang diberikan seorang Ajar
yang tinggal di pondok terpencil bersama seorang bertubuh bongkok dan sepasang
harimau yang dapat dikendalikannya dengan baik.
Namun sampai hari yang dijanjikan Raden Panji untuk menjemput Mas Rara tiba,
tidak pernah lagi terjadi gangguan berarti atas Mas Rara. Tidak ada perampok
yang akan mengambil benda-benda berharga di rumah Ki Partija. Tidak ada pula
orang yang berusaha mengambil Mas Rara untuk kepentingan apapun.
Namun Ki Bekel tetap membantu sebaik-baiknya. Di malam hari, pura peronda tetap
mendapat perintah untuk lebih sering melihat-lihat keadaun rumah itu.
“Jangan hanya lewat sambil memukul kentongan“ berkata Ki Bekel “kalian harus
melihat dan meyakinkan, bahwa tidak terjadi sesuatu di rumah itu. Sebagaimana
kalian ketahui, jika Raden Panji Prangpranata marah, kita semua dapat mengalami
perlakuan buruk, karena ia memegang kekuasaan pemerintahan di daerah ini. Bahkan
mempunyai wewenang atas sekumlah prajurit”
sebenarnyalah. Menjelang hari yang ditentukan itu, para peronda melakukan
tugasnya dengan sebaik-baiknya. Tetapi untuk menenteramkan hati para peronda,
jumlah mereka berlipat dua. Bahkan sejak tiga hari sebelum hari yang ditentukan,
sebagian dari para peronda itu berjaga-jaga di regol halaman rumah Ki Partija
bergantian.
Namun Ki Partija Wirasentana yang merasa mendapat bantuan besar dari para
peronda, setiap malam, menjelang hari-hari yang ditentukan itu, mengirimkan
minuman dan makanan bagi para peronda.
Mendekati hari yang ditentukan, Ki Partija memang sudah bersiap-siap untuk
menerima utusan Raden Panji yang akan menjemput Mas Rara. Tentu satu kelompok
utusan yang lebih besar dari saat mereka datang untuk menyerahkan mas kawin.
Tetapi Wirantana yang kebetulan berada di regol halaman rumahnyai terkejut
ketika melihat dua orang berkuda yang langsung menuju keregol itu. Bahkan
keduanya telah berloncatan turun sambil mengangguk hormat.
Namun kemudian Wirantana menyadari, bahwa seorang diantara kudua orang itu
adalah orang yang pernah datang sebagai utusan Raden Panji pada suat menyerahkan
mas kawin. karena itu. Wirantana dengan tergesa-gesa telah menyuruh mereka
masuk.
Kepada seorang yang sedang sibuk membersihkan halaman, Wirantana berkata
“Katakan kepada ayah, ada utusan dari Raden Panji Prangpranata”
“Katakan, bahwa kami tidak membawa persoalan baru agar Ki Partija tidak menjadi
gelisah“ berkata utusan yang pernah datang kerumah itu sebelumnya.
Demikianlah, Wirantana mempersilahkan kedua orang itu naik dan duduk di pendapa.
Sementara itu, Ki Partija yang diberitahu dengan tergesa-gesa keluar dari
pringgitan.
Dengan ramah Ki Partija Wirasentana menyapa tamu-tamunya, serta menayakan kabar
keselamatan.
Namun dalam pada itu, baik Ki Partija Wirasentana maupun Wirantana,
bertanya-tanya di dalam hati, kenapa hanya dua orang yang datang menjemput Mas
Rara. Apakah selanjutnya Mas Rara harus pergi bersama mereka dengan berjalan
kaki atau naik kuda atau bagaimana”
Tetapi Ki Partija Wirasentana dan Wjrantana sama sekali tidak berani
menanyakannya. Jika terjadi salah paham, utusan itu akan menganggap bahwa Mas
Rara telah menjadi terlalu manja dengan minta dijemput iring-iringan yang
panjang dengan berbagai macam pertanda kebesaran.
Namun sebelum Ki Partija bertanya, utusan itu telah lebih dulu menyampaikan
pesan Raden Panji. Seorang diantara mereka berkata “Ki Partija Wirasentana.
Kami, telah mendahului utusan Raden Panji yang sebenarnya untuk menjemput Mas
Rara. Utusan itu baru akan datang besok pagi. Mereka akan bermalam di sini
semalam.
Hari berikutnya, mereka akan kembali sambil membawa Mas Rara. Iring-iringan yang
membawa Mas Rara akan berangkat menjelang fajar dan akan sampai di rumah Raden
Panji malam hari. Iring-iringan itu tidak akan berhenti di perjalanan. Jika
harus berhenti, hanya sekadar beristirahat. Namun mereka akan meneruskan
perjalanan meskipun menjelang tengah malam, bahkan dini hari berikutnya mereka
baru sampai”
Ki Partija Wirasentana menarik nafas dalam-dalam. Namun ia mulai membayangkan
bahwa perjalanan itu adalah perjalanan yang sangat berat. Apalagi jika Mas Rara
harus berjalan kaki. Sementara itu, Mas Rara memang belum pernah belajar naik
kuda. Mungkin ia akan dapat naik kuda tetapi kudanya harus dituntun oleh
seseorang.
Dengan nada rendah, Ki Partija Wirasentana kemudian menjawab “Segala sesuatunya
aku serahkan kepada Raden Panji”
“Nah, dengan demikian, kami berdua akan bermalam di sini dua malam. Bukankah Ki
Partija tidak berkeberatan”
“Tentu tidak Ki Sanak. Segala sesuatunya memang sudah dipersiapkan” jawab Ki
Partija.
Dengan demikian, hari itu, Ki Partija Wirasentana dan keluarganya menjadi sibuk.
Mereka bukan saja menyiapkan hidangan dan pelayanan terhadap kedua orang
tamunya, tetapi juga bersiap-siap untuk menerima tamu lebih banyak lagi di hari
berikutnya. Tetapi Ki Partija Wirasentana tidak berani bertanya jumlah tamunya
yang bakal datang. la hanya menghubungi tetangga terdekat, jika diperlukan, Ki
Partija akan meminjam beberapa ruangan bagi tamu-tamunya itu.
Tentu saja tetangga-tetangganya tidak berkeberatan sama sekali. Apalagi mereka
tahu, tamu yang akan datang itu adalah utusan Raden Panji Prangpranata yang akan
mengambil Mas Rara sebagai isteri.
Manggada dan Laksana yang telah diberitahu Wirantana, menjadi sedikit lega. Ia
sudah terlalu lama terkungkung tanpa berbuat sesuatu yang berarti bagi banyak
orang.
Jika Mas Rara kemudian dijemput, mereka tentu akan segera mendapatkan
kebebasannya kembali. Mereka tidak memikirkan, apakah akan menerima hadiah dari
Raden Panji atau tidak.
Malam pada itu, ketika Ki Resa datang, seperti ketika utusan yang terakhir
datang, sikapnya sangat ramah. Banyak hal yang telah dibicarakan ususan itu
dengan Ki Resa tentang kesalamatan Mas Rara.
Namun baik KI Partija maupun Ki Resa, masih belum mengatakan perampokan yang
telah terjadi di rumah itu. Ki Partija memang minta agar Ki Resa tidak
tergesa-gesa menyampaikannya. Ki Partija Wirasentana sendirilah yang akan
menyampaikannya jika semua utusan Raden Panji telah datang.
Namun menjelang senja, Ki Resa sudah tidak nampak di rumah itu. Ki Partija
memang tidak menghiraukannya, karena adiknya itu sudah punya rumah sendiri.
Malam itu, Ki Partija Wirasentana masih saja diganggu oleh kegelisahan. Namun
kehadiran kedua orang utusun Raden Panji itu membuatnya sedikit tenang. Keduanya
tentu orang orang yang berilmu tinggi. Jika terjadi sesuatu, lawan yang
bagaimanapun kuatnya akan teratasi.
Seperti malam sebelumnya, beberapa orang peronda berada di regol halaman rumah
itu ketika malam turun. Kedua orang utusan yang masih duduk di pendapa, telah
mendapat keterangan bahwa para peronda selalu memperhatikan keselamatan para
penghuni padukuhan itu, sehingga mereka terbiasa berada di regol-regol halaman,
selain mereka yang berada di gardu.
Namun agaknya kedua utusan itu dapat menangkap maksud Ki Partija Wirasentana
bahwa para peronda yang ada di regol halaman itu ikut membantu berjaga-jaga di
rumah yang akan mengadakan upacara pelepasan anak gadisnya. Tetapi mereka sama
sekali belum mendapat keterangan tentang perampokan yang telah terjadi.
Ketika malam menjadi semakin dalam, kedua orang itu dipersilahkan beristirahat
di gandok sebelah. Sementara Manggada dan Laksana berada di gandok lain. Namun
keduanya telah diberi tahu, bahwa besok mereka akan berada di bilik Laksana,
karena tamu yang lain akan datang menjemput Mas Rara dan bermalam di rumah itu
semalam.
Ternyata malam itu tidak terjadi sesuatu. Padukuhan Nguter terasa tenang dan
bahkan sepi. Sekali-sekali, di malam hari, memang terdengar para peronda
berkeliling padukuhan sambil membunyikan kentongan-kentongan kecil dengan irama
kotekan. Dengan demikian, mereka yang tertidur terlalu nyenyak akan terbangun.
Ketika kemudian fajar menyingsing, dapur di rumah Ki Partija sudah tampak sibuk.
Beberapa orang perempuan telah menyiapkan minuman panas bagi dua orang tamu
utusan Raden Panji, serta kedua orang anak muda yang telah menyelamatkan Mas
Rara.
Tetapi agaknya keluarga Ki Partija Wirasentana memang lebih memperhatikan kedua
utusan Raden Panji itu daripada Manggada dan Laksana, selain Wirantana. Bagi
Wirantana, kedua anak muda itu merupakan tamu yang sangat berarti bagi
keluarganya. Tanpa kedua anak muda itu, segalanya tidak akan terjadi. Mas Rara
tentu sudah diterkam harimau. Jika kemudian datang utusan Raden Panji, mereka
tidak akan datang membawa mas kawin. Tetapi mereka akan datang untuk
memaki-maki. Bahkan mungkin, Raden Panji mempunyai prasangka buruk terhadap Ki
Partija Wirasentana.
Karena itu, Wirantana selalu memperhatikan kedua anak muda itu. Apalagi karena
umurnya yang sebaya, sehingga banyak hal yang dapat dilakukannya bersama kedua
anak muda itu.
Ketika kemudian matahari terbit. serta kedua orang utusan itu telah duduk di
pendapa bersama Ki Partija Wirasentana, minuman hangatpun dihidangkan bersama
beberapa jenis makanan. Sementara itu,
di dapur tengah dipersiapkan makan pagi bagi tamu-tamunya itu.
Wirantana yang kemudian menemui ayahnya diruang dalam, berkata “Aku bawa kedua
anak muda itu ke pendapa, ayah. Biar mereka minum dan makan bersama
utusan-utusan itu”
“He, jangan“ cegah ayahnya “biar saja anak-anak muda itu di serambi. Kawani
mereka minum dan makan makanan yang akan dihidangkan.
“Kenapa mereka tidak dipersilahkan naik ke pendapa bersama-sama para tamu itu
ayah? bertanya Wirantana.
“Mereka adalah utusan Raden Panji“ jawab ayahnya.
“Mereka hanya utusaan Raden Panji“ sahut Wirantana sedangkan anak muda-muda itu
telah menyelamatkan Mas Rara. Semuanya tidak akan berarti apa-apa tanpa kedua
anak-anak muda itu”
ayahnya menarik dalam-dalam. Katanya “Aku sama sekali tidak mengecilkan arti
mereka berdua. Tetapi aku hanya sekadar menempatkan mereka dalam terapan
unggah-ungguh. Mereka masih terlalu muda untuk duduk dan berbincang dengan
orang-orang tua yang berbicara ten-tang perkawinan Mas Rara dengan Raden Panji”
Wirantana menarik nafas dalam-dalam. Namun ia kemudian berkata “Baiklah, jika
itu alasan ayah. Tetapi bagiku keduanya justru merupakan orang-orang yang paling
penting, bagi kita, Kecali mereka telah menyelamatkan Mas Rara, mereka juga
telah menyelamatkan mas kawin yang telah ayah terima dari Raden Panji”
Ki Partija menarik nafas dalam-dalam. Yang diutarakan anaknya itu telah
mengingatkannya, betapa penting kedudukan kedua anak muda itu di rumahnya.
Apalagi keduanya bertahan di rumahnya karena keduanya diperlukan oleh Raden
Panji.
Karena itu, ketika kemudian dihidangkan minuman dan makanan ke serambi gandok,
hidangan itu tidak ubahnya dengan hidangan yang disuguhkan kepada para tamu di
pendapa.
Namun hari itu, Ki Partija Wirasentana harus bersiap-siap menerima tamu yang
lebih banyak lagi. Ia memang kesulitan untuk menduga berapa orang yang akan
datang, sementara rasa-rasanya ia segan menanyakan kepada kedua utusan yang
mendahului itu.
Tetapi agaknya utusun itu mengerti kesulitan Ki Partija Wirasentana, ketika ia
mendengar pembicaraan Ki Partija Wirasentana dengan Wirantana di halaman untuk
membicarakan beberapa rumah tetangga yang harus mereka pinjam.
“Ki Partija“ berkata utusan itu “barangkali ada gunanya Ki Partija mengetahui,
utusan yang hari ini akan datang kira-kira sepuluh orang. Mereka akan datang
berkuda, dan berharap Mas Rara juga bersedia berkuda besok”
“Anakku belum pernah naik kuda“ berkata Ki Partija Wirasentana.
Para pengawal akan menjaganya. Seekor kuda yang paling jinak akan di bawa kemari
nanti siang. Mas Rara akan dapat duduk di atas kuda itu, yang akan dituntun para
pengawal berkuda“ berkata utusan itu. Namun kemudian katanya “Tetapi jika tidak
memungkinkan, Mas Rara akan dibawa dengan tandu. Tandu itu akan disiapkan disini
nanti, agar besok tandu itu dapat dipergunakan. Namun tentu saja perjalanan kita
akan menjadi bertambah lama”
Ki Partija Wirasentana mengangguk-angguk. Tetapi ia berdesis “Aku akan berbicara
dengan Mas Rara”
“Nanti Ki Partija dapat membicarakannya jika rombongan utusan itu sudah datang“
berkata salah seorang utusan itu.
Ki Partija mengangguk-angguk. Katanya Baiklah. Sementara ini biarlah kami
membuat persiapan-persiapun”
“Mereka baru akan datang setelah lewat tengah hari, seandainya mereka berangkat
menjelang dini hari, sebagaimana direncanakan” berkata utusan itu.
Ki Partija mengangguk-angguk. Dengan demikian, ia telah mendapat gambaran,
penyambutan yang dapat diberikan. Baik hidangan yang harus disiapkan, maupun
penginapan bagi para utusan yang harus tetap merasa mendapat penghormatan cukup.
Demikianlah. Hari itu Ki Partija memang menjadi sibuk. Ketika Ki Resa datang, Ki
Resalah yang kemudian menemani kedua orang utusan itu di pendapa. Bahkan
kemudian keduanya ingin berjalan-jalan di sepanjang jalan-jalan padukuhan.
Sedangkan Ki Partija Wirasentana sendiri menjadi sibuk untuk menyiapkan
bilik-bilik di rumah tetangga, sehingga menjadi tempat yang pantas untuk
bermalam. Sementara itu, Ki Partija telah mohon kepada Ki Bekel bantuan
pengamanan tamu-tamunya yang tersebar. Meskipun tamu-tamunya itu tentu memiliki
kemampuan prajurit, tetapi karena mereka terpisah-pisah, maka jika terjadi
sesuatu pada satu dua orang yang tidak sempat memberikan isyarat, maka Ki
Partija Wirasentana tentu akan mengalami kesulitan.
“Baiklah” berkata Ki Bekel “aku sendiri akan memimpin para peronda. Malam nanti
aku akan berada di gardu”
“Tidak“ jawab Ki Partija “aku mohon Ki Bekel ikut menemui tamu-tamuku”
Ki Bekel tersenyum. Katanya “Bukankah tamu-tamumu akan datang sebelum matahari
turun? Aku akan ikut menerima tamumu itu. Tetapi kemudian, menjelang senja, aku
akan mmdi diri untukmengaturpara peronda”
Ki Partija leimnngu-mangu. Namun kemudian ia ber-kuta “ Baiklnh. Sebelumnyu aku
mengucapkan terima kasih”
Namun dalam pada itu, Nyi Partija Wirasentana telah mulai sibuk dengan Mas Rara,
bersama dua orang perempuan yang sudah berusia tua. Keduanya telah memandikan
Mas Rara secara khusus upacara mandi yang biasa dilakukan sehari sebelum
perkawinan. Yang dilakukan atas Mas Rara hanya sekedar usaha untuk membuat Mas
Rara menjadi lebih cerah dan berbau wangi.
Tetapi dengan demikian, diluar sadarnya, beberapa kali Nyi Partija Wirasentana
telah menitikkan air mata. Ia merasa bahwa gadisnya itu akan hilang dari
keluarganya, untuk selama-lamanya.
Ketika Ki Partija melihat isterinya bersedih, berdesis “Bukankah kita berharap
agar anak kita mendapatkan kesempatan yang lebih baik di masa mendatang”
Nyi Partija tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk, sedangkan titik-titik air
matanya menjadi semakin deras.
“Nyi“ berkata Ki Partija Wirasentana “bukankah kita justru harus bersukur”
“Apakah kakang yakin begitu” bertanya Nyi Partija.
Ki Partija justru terdiam. Ditepuknya bahu isterinya sambil berdesis “Semua kita
serahkan kepada Yang Maha Agung”
Isterinya menarik nafas dalam-dalam, Tetapi titik-titik air mata itu masih saja
mengembun dari matanya.
Mas Rara sendiri tidak menangis. Ia melihat ibunya dengan wajah yang sayu.
Tetapi seakan-akan gadis itu sudah kehilangan perasaannya, menghadapi hari-hari
perkawinannya. Pandangannya terasa kosong, dan keningnya tidak pernah nampak
berkerut lagi.
Sementara itu, ketika matahari menjadi semakin tinggi, dan kemudian menggapai
puncak langit, sebuah iring-iringan orang berkuda mendekati padukuhan Nguter.
Beberapa orang berkuda sambil membawa beberapa ekor kuda tanpa penunggangnya.
Kuda yang akan dipergunakan untuk Mas Rara jika gadis itu bersedia. Jika tidak,
Mas Rara akan dipersilahkan naik ke atas sebuah tandu yang akan dipersiapkan di
padukuhan Nguter.
Seorang diatara mereka, berkuda paling depan sambil membawa tombak pendek.
Nampaknya ia adalah pemimpin dari iring-iringan yang akan menjemput Mas Rara
itu.
Sepanjang perjalanan, kelompok orang berkuda itu sama sekali tidak menemui
hambatan. Mereka melewati jalan-jalan padukuhan dan bulak-bulak panjang.
Kehadiran mereka di sepanjang perjalanan memang menarik perhatian banyak orang.
Tetapi tidak seorangpun yang sempat bertanya, karena iring-iringan itu berjalan
agak cepat, meski tidak berpacu.
Telapi di luar pengetahuan mereka, yang berada di dalam iring iringan itu, dua
orang tengah mengamati mereka dari kejauhan. Mereka sempat menghitung jumlah
orang berkuda itu, sehingga dengan demikian mereka dapat memperkirakan kekuatan
dari orang-orang yang akan menjemput Mas Rara itu.
“Sekitar sepuluh orang“ desis seorang diantara mereka.
“Ada kuda yang tidak berpenumpang” sahut yang lain.
“Kita dapat membicarakannya dengan Ki Lurah” berkata orang pertama.
Kedua orang itu mengagguk-angguk. Namun seorang diantara mereka bergumam selain
mereka, masih ada dua orang anak muda yang harus diperhitungkan. Kedua anak muda
yang juga akan dibawa menghadap Raden Panji.
“Siapa?” bertanya kawannya.
“Dua anak muda yang telah menolong Mas Rara, ketika gadis itu hampir diterkam
harimau“ jawab yang lain.
Kawannya mengangguk-angguk. Katanya “Jadi dua belas orang. Kita harus menghitung
kedua anak muda itu, karena mereka juga memiliki kemampuan untuk bertempur”
“Dua orang lagi” jawab yang lain“ yang kemarin sudah datang mendahului”
“Ya. Ki Lurah sudah tahu“ gumam kawannya.
Ketika iring-iringan itu lewat. keduanya meninggalkan tempat itu untuk
memberikan laporan kepada Ki Lurah. Seorang yang bertubuh tinggi kekar dan
berkumis lebat. Seorang pemimpin gerombolan yang disegani.
Namun untuk menghadapi setidak-tidaknya empat belas orang prajurit, gerombolan
itu masih memerlukan bantuan dari gerombolan lain, yang tinggal di tempat yang
agak jauh. Tetapi sebelumnya gerombolan itu memang sudah dihubungi. Apabila
diperlukan, akan datang penghubung untuk memberitahukannya.
Dalam pada itu, bebarapa saat kemudian, kelompok utusan Raden Panji telah
memasuki pedukuhan Nguter, kemudian menyususuri jalan pedukuhan langsung menuju
ke rumah Ki Partija Wirasentana.
Pedukuhan Nguter segera menjadi ramai. Orang-orang pedukuhan itu telah keluar
dari regol-regol halaman untuk menyaksikan iring-iringan. Mereka tahu bahwa
iring-iringan itu datang untuk menjemput Mas Rara.
“Gadis itu telah membawa keberuntungan bagi orang-tuanya“ desis perempuan
separuh baya.
Perempuan lain menjawab “Ki Partija Wirasentana suami isteri adalah orang-orang
yang selalu berprihatin bagi anak-anaknya. Sekarang ia akan menarik buahnya.
Anak gadisnya akan menjadi isteri seorang berpangkat tinggi dan punya kekuasaan
yang besar”
Perempuan separuh baya itu mengangguk-angguk. Katanya “Gadisku yang diambil
orang pedukuhan sebelah itu ternyata hidupnya tidak lebih baik dari kita
semuanya. Sawah suaminya hanya beberapa kotak saja. Sementara masih harus
mengurusi mertuanya yang sudah mulai pikun”
Perempuan yang lain itu pun menyahut “Bukankah itu sudah cukup baik daripada
menjadi perawan tua seperti anak Priman itu”
“O, itu salah orangtuanya. Ayah dan ibunya terlalu garang dan pilihannya pun
terlampau sulit untuk dapat dipenuhi, sehingga akhirnya, gadis itu malah tidak
pernah mendapat jodohnya“ sahut perempuan setengah baya itu.
Keduanya terdiam. Iring-iringan itu menjadi semakin jauh. Namun terasa keagungan
yang akan memancar dari rumuh Ki Partija Wirasentana.
“Kekuatan apa yang mendekatkan Mas Rara pada sebuah iring-iringan pemburu yang
ternyata adalak Raden Panji Prangpranata, yang melihatnya dan kemudian
tergila-gila kepada gadis itu“ desis seorang perempuan lain.
Sementara, iring-iringan itu telah mendekati regol halaman rumah Ki Partija yang
sudah mengetahui akan kedatangan iring-iringan itu.
Karena itu, bersama beberapa orang tua, bahkan Ki Bekel pedukuhan Nguter, serta
dua utusan yang terdahulu, Ki Partija Wirasentana menyambut iring-iringan yang
datang itu di regol halaman rumahnya.
Sejenak kemudian, maka para tamu itu telah berada di pendapa induk di atas tikar
pandan yang putih. Sementara beberapa orang pembantu di rumah Ki Partija telah
menerima kuda-kuda para tamu dan menambatkannya di patok-patok yang sudah
tersedia.
Selelah masing-masing pihak saling menyatakan keselamatan mereka, maka orang
tertua dari utusan Raden Panji Prungpranata itupun telah menyampaikan pesan
serta tugas kedatangan mereka ke rumah Ki Partija Wirasentana itu.
Memang bukan satu hal yang baru, karena masing-masing pihak telah mengetahui
kepentingan kedatangan utusan itu.
Ki Bekellah yang mewakili Ki Partija Wirasentana menerima utusun itu dan
menerima pesan-pesannya. Kemudian atas nama Ki Partija Wirasentana mengucapkan
terimakasih atas perkenan Raden Panji Prangpranata untuk menjemput anak
gadisnya.
Sementara itu, Ki Resa pun telah berada pula diantara mereka. Dengan sikap yang
sangat ramah ia ikut serta memberikan beberapa keterangan tentang Mas Rara dan
keadaannya.
Ketika pembicaraan mereka sampai pada keberangkatan Mas Rara esok ke rumah Raden
Panji, maka pada kesempatan itulah Ki Partija Wirasentana menceriterakan bahwa
telah terjadi usaha perampokan di rumah itu.
Para utusan itu terkejut. Demikian pula utusan yang telah datang sebelumnya.
Bahwa dengan serta merta kedua utusan itu bertanya hampir berbareng “Kenapa Ki
Partija tidak pernah mengatakannya sebelumnya”
“Aku memang menunggu sampai semuanya hadir“ jawab Ki Partija Wirasentana “dengan
demikian, maka kita akan dapat membicarakannya bersama-sama sehubungan dengan
akan keberangkatan Mas Rara esok. Ki Bekel telah memperingatkan kepadaku, bahwa
yang dapat terjadi mungkin sekali bukan sekedar perampokan harta benda, tetapi
juga usaha untuk menangkap Mas Rara, membawanya dan menjadikannya taruhan untuk
mendapat uang tebusan sebanynk-banyaknya”
Orang tertua diantara para utusan itu mengangguk-angguk. Namun dengan menyesal
orang itu berkata “Kenapa Ki Partija tidak memberitahukan hal itu kepada Raden
Panji”
Sebelum Ki Partija menjawab, Ki Resalah yang telah menjawab lebih dulu “Kami
tidak ingin terlalu menggantungkan diri kepada Raden Panji. Bukan karena kami
tidak yakin bahwa Raden Panji tentu akan menolong. Tetapi kami tidak ingin
memberikan kesan, bahwa kami menjadi terlalu manja. Segala sesuatunya kami
bebankan kepada Raden Panji. Karena itu, hal-hal yang dapat kami selesaikan,
telah kami selesaikan sendiri”
Utusan Raden Panji itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Resa berkata selanjutnya
“Jika para utusan Raden Panji tidak berkeberatan, biarlah besok aku ikut
mengantarkan Mas Rara sampai ke rumah Raden Panji”
Utusan yang tertua itu tersenyum. Katanya “Jika hal itu merepotkan Ki Resa, aku
kira tidak perlu Ki Resa lakukan. Kami sudah menjadi dua belas orang. Tentu
sudah cukup banyak. Kami kebetulan adalah prajurit-prajurit Pajang yang
setidak-tidaknya telah dibekali dengan kemampuan olah kanuragan serba sedikit,
sehingga jika ada yang berniat jahat, maka kami akan berusaha mengatasinya.
“Aku percaya sepenuhnya“ jawab Ki Resa “jika aku ingin ikut serta, semata-mata
karena kecintaan orangtua terhadap anaknya yang sulit untuk disembunyikannya.
Jika aku tidak ikut dalam iring-iringan besok, maka aku justru akan menjadi
sangat gelisah untuk waktu yang lama. Tetapi jika aku ikut serta, maka
sekembalinya aku dari rumah Raden Panji, maka aku akan dapat segera tidur
nyenyak karena aku tahu bahwa anakku itu sudah selamat sampai ketujuan”
Utusan yang tertua itu tersenyum. Katanya “Ternyata bahwa keluarga Ki Partija
Wirasentana adalah keluarga yang sangat akrab, menjunjung tinggi harga diri dan
kewibawaan. Itulah sebabnya, maka keluarga ini telah menerima anugerah sehingga
seorang diantaranya, telah mencuat dari antara sasamanya, karena akan menjadi
isteri seorang yang terpandang, berkuasa dan berwibawa pula”
“Ah, Ki Sanak terlalu memuji“ berkata Ki Partija Wirasentana segala sesuatunya
kami kembalikan kepada kurnia Yang Maha Agung”
Sementara itu, maka hidanganpun segera telah dihidangkan. Ki Bekel atas nama Ki
Partija telah mempersilahkan para tamu baik utusan dari Raden Panji maupun
orang-orang tua dari padukuhan Nguter untuk minum dan makan makanan yang
disuguhkan.
Dalam pada itu, ketika pembicaraan dilanjutkan, maka setelah beberapa kali
ditanyakan kepada Mas Rara yang terpaksa hadir dalam pembicaraan itu, gadis itu
berkeberatan jika harus naik kuda dengan cara apapun. Karena itu, maka
berkali-kali ia berkata dengan nada dalam hampir tidak terdengar oleh orang lain
“Aku akan berjalan kaki saja”
“Tidak“ berkata ayahnya “jika kau berkeberatan untuk naik kuda, maka kau akan
dibawa dengun tandu. Mereka akan membawamu dengan tandu berganti-ganti. empat
orang pada setiap giliran.
“Tidak. Aku juga tidak mau naik tandu. Aku akan berjalan kaki saja” Jawab Mas
Rara.
“Jangan mempersulit tugas para utusan itu Mas Rara“ berkata ayahnya “kesannya
tentu kurang baik. Kau akan disangka menjadi terlalu manja”
“Tidak. Aku justru tidak mau bermanja-manja. Aku akan berjalan kaki. Bukankah
hal itu telah terbiasa aku lakukan” berkata Mas Rara.
Ayah memang menjadi agak kebingungan. Karena itu, maka ia masih belum dapat
memberikan jawaban kepada utusan yang datang itu.
Namun tiba-tiba Wirantana berkata “Ayah. Bagaimana jika Mas Rara naik pedati
yang ditarik dengan seekor kuda”
Ayahnya mengerutkan keningnya. Sementara Wirantana berkata “Bukankah Ki Jagabaya
dari Kademangan mempunyai sejenis pedati yang ditarik oleh seekor kuda”
Ayahnya mengangguk-angguk. Desisnya “Kereta kuda”
Ki Bekel mengangguk-angguk pula. Katanya “Ya. Ki Jagabaya dari Kademangan memang
banyak akalnya. la telah membuat sebuah kereta kuda yang cukup bagus. Aku kira
Ki Jagabaya tidak akan berkeberatan untuk dipergunukan”
Ki Partija Wirasentana termangu-mangu sejenak. Pendapat Wirantana memang
menarik. Meminjam kereta Ki Jagabaya dari Kademangan, yang juga sudah dikenal
baik Ki Partija. Meski hubungan mereka tidak terlalu dekal, tapi dengan pengaruh
Ki Bekel. Ki Jagabaya akan bersedia meminjamkannya.
Namun agaknya Ki Resa bersikap lain. Katanya Apakah pantas kita mengganggu Ki
Jagabaya, yang selama ini tidak tahu menahu tentang persoalan yang kita hadapi”
“Ah“ sahut Ki Bekel “Ki Jagabaya tentu sudah mendengar bahwa Mas Rara akan
menjadi istri Raden Panji Prangpranata. Ki Jagabaya juga tahu siapa Raden Panji
itu.
Mungkin itu satu-sutunya pemecahan, selain mengikuti keinginan Mas Rara untuk
berjalan kaki. Tapi jika Mas Rara benar-benar akan berjalan kaki, maka kuda-kuda
yang dibawa para utusan tidak ada gunanya. Semua orang yang menjemputnya tentu
akan berjalan kaki pula.
“Jika bukan Ki Jagabaya, kita juga harus memikirkan Raden Panji itu sendiri. Apa
pantas bahwa bakal istri Raden Panji mempergunakan sebuah kereta pinjaman”
berkata Ki Resa kemudian.
Tetapi salah seorang dari utusan Raden Panji berkata “Aku kira, jika itu
pemecahan terbaik, Raden Panji tidak akan keberatan. Kereta itu tentu akan
segera dikembalikan. Bahkan Raden Panji tentu akan sangat berterima kasih pada
Ki Jagabaya”
Ki Resa menarik nafas dalam-dalam. Tapi ia segera tersenyum sambil berkata ”Jika
demikian, maka tentu tidak akan ada keberatannya lagi”
“Tetapi semuanya harus diselesaikan hari ini. Besok kita akan berangkat
pagi-pagi” berkata salah seorang utusan itu.
Ki Partija pun kemudian telah mempersilahkan tamu-tamunya untuk beristirahat di
tempat yang sudah disediakan. Sementara itu, ia sendiri akan pergi ke rumah Ki
Jagabaya di padukuhan lain bersama Ki Bekel.
Ternyata Ki Partija tidak menemui kesulitan. Ki Jagabaya dengan senang hati
meminjamkan kereta kudanya. Bahkan katanya kemudian “Biarlah kusirnya ikut
serta. Ia tentu tidak akan keberatan. Selain ia memang terbiasa mengendalikan
kuda penarik kereta itu, ia adalah orang yang ikut membuat kereta itu. Tetapi
sudah tentu kecepatan kereta kudaku tidak akan dapat menyamai kecepatan kuda
yang berlari tanpa beban. Apalagi keretaku kalau dibawa lari terlalu kencang,
rodanya akan dapat lepas dari porosnya”
Ki Bekel tertawa. Ki Jagabaya pun tertawa pula.
Sementara itu Ki Partija berkata “Bukankah itu jauh lebih baik dari pada anak
gadisku berjalan kaki? la benar-benar tidak mau naik kuda dengan cara apapun. Ia
juga tidak mau dibawa dengan tandu. la ingin berjalan kaki. Kereta Ki Jagabaya
menjadi sutu-satunya jalan keluar terbaik”
“Silahkan, silahkan“ berkata Ki Jagabaya dengan ramah “Orangku akan mengurus
segala sesuatunya mengenai kereta dan kuda itu. Kebetulan ia juga pandai
menyabit rumput. Aku tahu siapa calon suami Mas Rara. Adalah satu kehormatan
bagiku bila Mas Rara bersedia naik kereta kudaku”
Ki Partija menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mendapatkan pemecahan atas
kesulitannya. Karena itu, berkali-kali dia mengucapkan terima kasih.
“Besok, sebelum fajar. kereta itu sudah berada di rumah Ki Partija berkata Ki
Jagabaya “biarlah malam ini segala sesuatunya dibenahi”
Ki Partija bersama Ki Bekel kemudian mohon diri. Ki Bekel ternyata tidak lagi
kembali ke rumah Ki Partija.
“Besok pagi-pagi aku akan datang“ berkata Ki Bekel.
Ketika Ki Partija kemudian sampai di rumahnya, masih ada beberapa orang yang
menunggu untuk mendengarkan keterangannya, apakah kereta itu dapat dipinjamkan
atau tidak.
Ki Jagabaya sangat baik. Selain keretanya juga sais, gamel serta pekatiknya juga
dipinjamkannya. Besok, menjelang fajar, kereta itu sudah berada disini” berkata
Ki Partija.
Sukurlah berkata seorang diantara tetangganya, aku ikut memikirkan, bagaimana
perjalanan Mas Rara nanti. Tetapi nampaknya kereta itu cukup memadai, meski
tidak akan dapat berlari cepat”
Dengan demikian, tetangga-tetangganya kemudian minta diri untuk pulang. Besok
mereka akan datang kembali untuk melepas Mas Rara yang akan pergi ke rumah bakal
suaminya, menjelang hari perkawinannya.
Malam itu, semua keluarga Ki Partija hampir tidak dapat tidur. Ki Partija duduk
di bibir pembaringannya. Demikian pula Nyi Partija. Rasa-rasanya hati mereka
pedih berpisah dengan gadisnya, meski gadis itu akan kawin. Seakan-akan mereka
akan kehilangan hartanya yang paling berharga. Bahkan Nyi Partija mulai
terdengar terisak.
Ki Partija menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada lembut, ia berkata “Sudahlah
Nyi. Kita justru harus berdoa agar anak kita menemukan kebahagiaan di hari
depannya. Apalagi menurut perhitungan
lahiriah, Raden Panji adalah orang berkuasa, kaya dan bersungguh-sungguh”
Nyi Partija masih saja menitikkan airmata, tapi ia tidak mengatakan sesuatu.
Sebenarnya, Ki Partija juga merasa sedih harus melepaskan anak gadisnya. Ada
sesuatu yang tidak dapat dikatakan kepada siapapun juga, selain harus dipikulnya
sendiri. Ia tidak pernah membicarakannya dengan siapapun, juga pada isterinya,
karena ia tidak ingin membebani perasaan siapapun.
Sementara itu, Mus Rara sendiri juga tidak dapat tidur di dalam kamarnya. Meski
ia berbaring, matanya tetap terbuka memandangi langit-langit di atas biliknya.
Dari matanya, meleleh air bening. Namun Mas Rara tidak mengeluh. Tidak ada orang
yang mau mendengarkannya. Semua orang menganggap bahwa dia akan menjadi sangat
bahagia. Ia akan menjadi gadis yang dapat menjunjung derajat orang tuanya,
karena berhasil jadi istri orang besar.
Wirantana pun tidak bisa tidur. Ia menjadi gelisah didalam biliknya. Sementara
Manggada dan Laksana yang juga berada dibilik itu, ikut-ikutan tak bisa tidur.
Kegelisahan Wirantana membuat Manggada dan Laksana ketularan.
“Sudahlah“ berkata Manggada yang kemudian bangkit duduk “seharusnya kau bersukur
karena adikmu akan segera kawin dengan orang terpandang”
“Tetapi rasa-rasanya ada sesuatu yang tersembunyi dari peristiwa ini. Ayah dan
ibu nampaknya tidak terbuka“ berkata Wirantana ”Sejak aku kembali dari berguru,
aku merasakan sesuatu yang tidak wajar. Juga pada paman Resa. Entahlah, aku
merasa menjadi orang asing di rumah ini. Tidak seperti waktu aku belum
meninggalkan rumah ini. Semuanya akrab dan saling terbuka. Tidak ada rahasia
yang menyelubungi rumah ini. Apalagi penghuninya”
“Tidurlah“ berkata Manggada kau harus beristirahat”
“Esok aku akan ikut. Boleh tidak boleh. Paman Resa juga akan ikut. Ada sesuatu
yang mendesakku untuk ikut. Mungkin bahaya sedang mengancam Mas Rara, sehingga
paman dan aku didorong oleh naluri untuk menyelamatkan Mas Rara”
“Perasaanmu terlalu peka. Mungkin karena kau terlalu sayang pada adikmu,
sebagairnana Ki Resa sayang pada kemenakannya” berkata Laksana sambil berbaring.
Ia sudah menutupi kedua matanya dengan lengan agar dapat tidur. Tetapi
pembicaraan antara Wirantana dan Manggada semakin membuatnya gelisah dan tidak
dapat tidur.
“Mungkin. Tapi aku tidak dapat menyingkirkannya“ berkata Wirantana ”Bukankah
besok paman ikut pula. Sais kereta kudu Ki Jagabaya juga akan ikut serta.
Bukan-kah dengan demikian aku mempunyai kawan dalam perjalanan pulang ke
padukuhan ini”
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun Laksana masih juga berkata
“Sekarang tidurlah. Besok kita akan bangun pagi-pagi”
Wirantana mengangguk. Iapun kemudian telah berbaring pula diamben yang cukup
besar untuk mereka bertiga. Gandok sebelah menyebelah telah diperuntukkan bagi
para tamu sehingga Manggada dan Laksana harus berada pula di bilik Wirantana.
Yang tidak nampak di rumah itu kemudian adalah Ki Resa. Seperti malam-malam
sebelumnya, ia bagaikan telah hilang. Telapi sebelum fajar ia telah berada di
rumah itu kembali.
Di dini hari, maka semua orang telah terbangun. Mereka segera bersiap-siap, agar
sebelum matahari terbit, mereka dapat mulai dengan perjalanan menuju ke rumah
Raden Panji Prangpranata.
Menjelang fajar semuanya telah bersiap di pendapa. Hidanganpun telah disuguhkan
pula. Mas Rara juga sudah berbenah diri dan berpakaian rapi meskipun tidak
berpakaian pengantin.
Ki Partija terkejut ketika ia melihat Wirantana pun teluh bersiap. Karena itu,
maka Ki Partija telah memanggilnya dan bertanya. “Kau akan pergi kemana?”
“Aku akan menyertai perjalanan Mas Rara” Jawab Wirantana.
“Untuk apa? Sudah banyak pengawal yang mengantarkannya. Pamanmu, bahkan akan
ikut pula“ berkata ayahnya.
Sementara Ki Resa yang ada disebelahnya telah berkata “Kau tidak usah berbuat
aneh-aneh Wirantana. Kau tidak perlu ikut mengantar Mas Rara. Kau dapat
menyinggung perasaan para utusan itu, karena kita seakan-akan tidak
mempercayainya. Bahkan aku akan ikut serta itupun telah aku pertimbangkan
berulang kali. Tetapi rasa-rasanya ada sesuatu yang telah mendesak, sehingga aku
merasa berkewajiban untuk ikut serta”
Wirantana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata “Aku tidak ingin
melepas kedua anak muda yang telah menolong Mas Rara, sebagai pernyataan terima
kasih. Bukankah keduanya telah dipanggil oleh Raden Panji Prangpranata”
“Kenapa kau harus melepas mereka sampai ke rumah Raden Panji? Bukankah kau dapat
melepas mereka di halaman ini saja” bertanya Ki Resa.
Tetapi jawab Wirantana “Aku akan mengawani paman pulang. Mengawani sais pedati
kuda itu”
Ki Partija menjadi bingung. Soal perjalanan Mas Rara sudah teratasi, Ki Jagabaya
telah mengirimkan kereta kuda yang dijanjikannya. Namun tiba-tiba saja Wirantana
berniat untuk ikut.
Ketika hal itu diketahui utusan Raden Panji, ia berkata “Tidak ada keberatannya.
Jika kakak Mas Rara ingin ikut, ada baiknya. Biar Raden Panji bisa mengenal
kakak iparnya, di samping Ki Resa yang akan mewakili Ki Partija menyerahkan Mas
Rara”
Ki Resa termangu-mangu sejenak. Tapi Ki Partija kemudian berkata “Jika demikian,
baiklah. Biar Wirantana ikut mengantarkan Mas Rara, serta melepas kedua anak
muda yang telah menyelamatkan nyawa adiknya”
Ki Resa ternyata masih juga bergumam “Kau masih seperti kanak-kanak saja
Wirantana. Ingin ikut-ikutan apapun yang dilakukan oleh orang lain”
Wirantana tidak menjawab. Ia memang agak takut dan menghormati pamannya. Namun
rasa-rasanya ada dorongan kuat yang memaksanya ikut dalam iring-iringan itu.
Demikianlah. Saat langit makin cerah, iring-iringan siap. Begitu matahari
tarbit. mereka berangkat meninggalkan halaman rumah itu.
Nyai Partija tidak dapat menahan tangisnya ketika ia melepas Mas Rara dan
membantunya naik ke atas pedati. Diciuminya anak gadis itu beberapa kali,
sehingga wajahnya basah airmata. Apalagi ketika ia melihat bahwa Mas Rara tidak
lagi menangis seperti dirinya.
Meskipun matanya basah, tapi wajah gadis itu seakan kosong. Mas Rara sudah
kehilangan perasaannya, sehingga ia tidak dapat lagi merasakan perpisahan itu.
“Mas Rara“ desis ibunya.
Mas Rara hanya berkata lirih “Tubuhku bukan milikku lagi ibu. Aku tidak perlu
menangisinya”
“Tidak anakku, tidak“ Nyi Partija hampir menjerit sehingga semua orang berpaling
padanya.
“Jangan menangis ibu“ bisik Mas Rara yang berkaca-kaca “bukankah aku akan kawin
dengan orang berkedudukan tinggi, kaya raya dan berkuasa”
Ibunya justru memeluk anaknya semakin erat. Namun Ki Partija mendekatinya sambil
berkata “Sudahlah Nyi. Semuanya sudah siap berangkat”
Ki Partija kemudian menggandeng istrinya mundur. Sementura itu, pemimpin utusan
Raden Panji telah sekali lagi minta diri.
Sejenak kemudian, iring-iringan itu berangkat meninggalkan halaman rumah Ki
Partija. Nyi Partija menjerit, seakan-akan melepas mayat anaknya untuk dibawa ke
kubur.
Sebaliknya, Ki Bekel dan beberapa bebahu desa yang ikut melepas keberangkatan
Mas Rara, yang didampingi Ki Resi, Wirantana, Manggada dan Laksana, nampak cerah
wajahnya. Seolah-olah mereka bisa merasakan kebahagiaan yang nantinya bakal
diperoleh Mas Rara beserta orangtua dan saudaranya. Oleh karenanya mereka tidak
terlalu memperhatikan apa yang dilakukan Nyi Partija Wirasentana.
Kebahagiaan Mas Rara dan Ki Partija, berarti pula kebahagiaan seluruh penduduk
pedukuhan Nguter. Kenapa Nyi Partija jadi histeris dan nelangsa, mereka sama
sekali tak tahu dan tak habis pikir. Tapi mereka memupusnya dengan anggapan
bahwa apa yang diperbuat Nyi Partija adalah luapan rasa seorang ibu yang akan
ditinggal anak tercintanya. Bukan apa-apa, sehingga tak perlu dikhawatirkan.
Ki Bekelpun tetap tersenyum melihat iring-iringan yang sudah keluar dari halaman
rumah Ki Partija. Tangannya masih tetap melambai-lambai. Seakan-akan dialah Ki
Partija yang berbahagia.
Tak lama kemudian. iring-iringan itu sudah menyusuri jalan-jalan padukuhan
Nguter. Berjejal orang yang ingin melihat keberangkatan Mas Rara dengan pedati
yang ditarik seekor kuda besar milik Ki Jagabaya. Sebuah kereta kuda yang sangat
menyenangkan.
“Satu perjalanan yang sangat menarik“ seorang perempuan separo baya berdesis
“sebentar lagi, Mas Rara akan membuat kedua orangtuanya jadi orang sangat
dihormati. Selama ini Ki Partija adalah orang yang baik. Anak-anaknya juga baik
dan cukup ramah. Mudah-mudahan kelak mereka tidak berubah”
Tetapi di halaman rumah Ki Partija, beberapa orang jadi heran melihat sikap Nyi
Partija. Namun mereka hanya menduga perempuan itu sangat mengasihi anaknya
sehingga merasa segan melepaskannya, meski untuk menjalani masa yang harus
dijalani setiap orang. Perkawinan.
Demikianlah, iring-iringan itu berjalan agak lebih cepat. Meski tak dapat
berpacu dengan kuda-kuda lepas, tapi karena itu tidak merambat sebagaimana
pedati yang ditarik seekor lembu.
Ketika matahari naik, mereka sudah berada di bulak panjang. Orang-orang yang
kebetulan ada di sawah, berlari-lari melintasi pematang menuju jalan untuk
melihat apa yang sebenarnya lewat. Beberapa diantara mereka memang tahu bahwa
hari itu Mas Rara telah dijemput oleh utusan bakal suaminya. Raden Panji
Prangpranata, seorang berkedudukan tinggi.
Iring-iringan itu berjalan terus. Wirantana, Manggada dan Laksana berada tepat
di belakang kereta kuda yang ditumpangi Mas Rara, yang duduk di dalam kereta
sambil menunduk. Seakan-akan tidak lagi tertarik pada apapun di sekitarnya.
Mas Rara tidak lagi ingin melihat sawah yang menghijau, atau perbukitan yang
kemerah-merahan yang disirami sinar matahari pagi.
Di bagian depan kereta, duduk dua orang yang saling berdiam diri. Keduanya
adalah sais dan pembantunya. Di sisi pedati itu, terikat seekor kuda cadangan
jika kuda penarik pedati letih.
Ki Resa berada paling depan bersama pemimpin utusan Raden Panji yang memimpin
utusan Raden Panji yang menjemput Mas Rara. Sebab Ki Resa adalah wakil Ki
Partija menyerahkan Mas Rara pada keluarga, Raden Panji Prangpranata.
Iring-iringan itu memang sangat menarik perhatian. Tiap melewati padukuhan,
selain ada yang bertanya siapakah yang sebenarnya lewat, dan mereka berjejal di
sepanjang jalan.
Menjelang matahari menggapai puncak langit, panasnya mulai menyengat kulit.
Untunglah pedati Ki Jagabaya dilengkapi atap dari anyaman bambu sehingga Mas
Rara tidak mengalami cubitan matahari. Namun demikian, keringat membasahi
seluruh tubuhnya. Bukan saja karena udara yang panas, tapi juga karena
kegelisahan yang mencengkam.
Beberapa saat kemudian, iring-iringan itu telah mendekati jalan yang menyusup di
celah-celah bukit kecil di sebelah kanan dan kiri jalan. Hutan kecil menyelimuti
kedua bukit itu, sehingga rasa-rasanya iring-iringan itu akan memasuki satu
daerah yang jarang dilalui orang meskipun jalan itu merupakan satu-satunya jalan
menuju ke rumah Raden Panji.
Yang tidak diduga oleh iring-iringan itu adalah bahwa di bukit sebelah kiri
sekelompok orang telah menunggu.
Bahkan beberapa diantara mereka rasa-rasanya sudah tidak sabar lagi, sehingga
dipanasnya matahari siang mereka berdiri mengamati jalan.
Namun orang-orang itu sempat mengumpat-umpat. Matahari semakin panas, tapi
iring-iringan itu belum nampak. Kawan-kawannya yang berlindung di bawah
rimbunnya pepohonan sempat menertawakannya. Seorang yang bertubuh gemuk dengan
perut besar berkata “Sudahlah. Mereka tidak akan lolos dari tangan kita.
Tunggulah dengan tenang di sini”
“Setan kau“ geram seorang yang bertubuh tinggi berkumis lebat “Bagamiana jika
mereka merubah rencana mereka”
“Tidak. Mereka tidak akan merubah rencana“ jawab orang yang bermata seperti matu
burung hantu.
Mereka pun terdiam. Sementara matahari menjadi semakin tinggi. Tapi tiba-tiba
saja orang yang berdiri di atas sebongkah batu padas berkata lantang “Itulah.
Iring-iringan itu mulai nampak”
Yang bertubuh gemuk tertawa “Nah, kau yakin sekarang”
“Tutup mulutmu“ geram yang berkumis lebat. Orang-orang itu segera menempatkan
dirinya sesuai perintah sambil menunggu iring-iringan sampai. Namun pemimpin
dari kelompok itu bertanya “Berapa orang bersama kita sekarang”
“Duapuluh orang“ sahut orang yang bertubuh tinggi berkumis lebat itu.
“Sudah jauh dari cukup“ sahut orang yang bertubuh gemuk “menurut perhitunganku,
sepuluh orang saja sudah cukup”
“Mereka semuanya berjumlah sekitar limabelas orang“ berkata pemimpin kelompok
itu.
“Tetapi mereka adalah tikus-tikus kecil yang tidak mampu berbuat banyak. Mereka
memang prajurit-prajurit. Tetapi mereka prajurit kehormatan yang tugasnya hanya
berjaga-jaga di regol bangsawan. Sesekali berbaris memberikan penghormatan.
Kemudian kembali ke gardu minum-minuman panas dengan gula kelapa. Sagon yang
hangat dan hawug-hawug manis. Itu saja”
“Jangan merendahkan kemampuan mereka“ berkata pemimpin kelompok itu “kita harus
dapat membawa Mas Rara hidup-hidup. Jika ia berniat membunuh diri, kita harus
mencegahnya. Sementara itu, harta kekayaan, emas dan perhiasan yang ada dan
dipakai oleh Mas Rara atau dibawa iring-iringan itu menjadi milik kita selain
upah yang di terima”
“Kita tidak akan gagal. Kita dengan dua puluh orang adalah kekuatan yang selama
ini belum pernah kita himpun. Sekarang kita berkesempatan untuk mencoba, apakah
kekuatan ini bukan berarti banjir bandang yang tidak akan dapat dibendung oleh
siapapun” sahut orang yang bertubuh tinggi berkumis lebat itu.
Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Ia yakin akan kekuatannya. Apalagi
jumlah mereka ternyata lebih banyak dari iring-iringan itu. Menurut ukuran
mereka, seorang lawan seorang pun mereka akan menang. Apalagi menurut perkiraan,
prajurit kehormutan itu bukan prajurit yang mampu bermain senjata. Mereka hanya
bisa berbaris dan memberi hormat para pemimpin dan Senapati yang lewat dihadapan
mereka.
Makin lama, iring-iringan itu makin dekat. Duapuluh orang yang menunggu itu
telah bersembunyi dibalik bebatuan, gumpalan-gumpalan padas, rimbunnya
gerumbul-gerumbul perdu di lereng bukit dan semak-semak.
Di sepanjang perjalanan, Ki Resa lebih banyak bicara pada pemimpin utusan Raden
Panji. Dengan ramah, diceriterakannya lingkungan yang mereka lewati. Nama-nama
padukuhan, perbukitan dan sungai-sungai yang mengalir ditengah-tengah
persawahan. Bahkan sungai-sungai yang kecil sekalipun juga diceriterakannya.
Termasuk kebiasaan sungai-sungai itu pada musim basah maupun kering.
Pemimpin pasukan utusan Raden Panji itu tidak ingin mengecewakan Ki Resa yang
begitu ramah. Sesekali terdengar suara tawanya. Namun dengan demikian, pimpinan
utusan itu tidak sempat memperhatikan jalan dihadapannya.
Tapi Manggada dan Laksana yang pernah mendapat pengalaman berat di daerah
perbukitan, diluar kehendak mereka, telah memperhatikan pepohonan dilereng bukit
kecil yang dikiri-kanan jalan yang mereka lewati itu. Naluri mereka sebagai
pengembara, telah memperingatkan mereka bahwa celah-celah bukit itu adalah
lingkungan yang berbahaya.
Keduanya ternyata telah melihat sesuatu. Mereka melihat ujung batang ilalang
bergerak-bergerak. Bukan oleh angin, karena geruknya tidak merata. Demikian pula
pada gerumbul perdu liar.
Ketika Manggada menggamit Laksana, sebelum mengatakan sesuatu. Laksanalah yang
justru berdesis “Angin yang aneh itu”
“Ya“ sahut Manggada.
“Apa yang kalian katakan” bertanya Wirantana.
“Ada, yang kurang wajar dibalik semak-semak dilereng bukit kecil itu“ desis
Manggada.
Wirantana coba memperhatikannya. Tapi ketajaman penglihatan dan penggraitanya
tidak setajam Manggada dan Laksana. Hanya dengan memusatkan segenap
perhatiannya, akhirnya Wirantana melihat juga keanehan itu.
“Aku akan memberitahu paman“ berkata Wirantana.
Tetapi Manggada menggeleng. Katanya “Jangan. Aku akan berbicara dengan pimpinan
prajurit yang menjemput adikmu”
Wirantana termangu-mangu sejenak. Tapi ia kemudian mengangguk dan berkata
“Terserah padamu”
Manggada kemudian mempercepat kudanya, melintasi kereta kuda dan kemudian
berderap disebelah pemimpin prajurit utusan itu.
Ternyata sikap Manggada bukan lagi sikap anak-anak muda yang kerjanya hanya
berkelakar dan sesekali bergurau dengan para peronda digardu jika tidak sedang
berada di sanggar. Dengan sikap seorang yang memiliki ketajaman penglihatan, ia
berkata “Aku melihat sesuatu yang tidak wajar dibalik gerumbul-gerumbul perdu
dan batang ilalang liar itu”
Pemimpin utusan yang lebih banyak mendengarkan cerita Ki Resa itu tersentak. Ia
sadar bahwa iring-iringan itu akan memasuki daerah berbahaya. Bukit kecil yang
lerengnya ditumbuhi pohon-pohon perdu rimbun serta batu-batu padas.
Namun Ki Resa yang juga terkejut mendengar laporan Manggada itu memotong hampir
diluar sadarnya “Kau jangan mengigau anak iblis”
“Aku minta kalian memperhatikannya“ sahut Manggada.
“Setiap hari aku melewati daerah ini. Aku tidak pernah mendapat kesulitan
apa-apa“ jawab Ki Resa.
Tetapi perhatian pemimpin utusan itu telah tertuju pada lereng bukit kecil
sebelah-menyebelah jalan yang mereka lalui itu. Jaraknya sudah menjadi makin
dekat, sehingga pemimpin utusan itu tiba-tiba menghentikan iring-iringan.
Ketika ia mengangkat tangannya untuk memberi isyarat, Ki Resa justru bertanya
Kenapa kita harus berhenti disini? Apakah igauan anak itu pantas diperhatikan?”
Pemimpin prajurit itu tidak menjawab. Ia mulai melihat gerakan dedaunan yang
tidak wajar. Apalagi orang-orang yang bersembunyi dibalik dedaunan itu telah
mengumpat-umpat karena iring-iringan itu berhenti. Dengan demikian, guncangan
tubuhnya telah menggerakkan dedaunan tempat mereka berlindung.
“Ki Resa“ berkata pemimpin utusan itu “aku minta Ki Resa memperhatikan dengan
sungguh-sungguh”
Ki Resa termangu-mangu sejenak. Ia kemudian melihat juga getar dedaunan. Bukan
karena angin. Tetapi Ki Resa kemudian bertanya “Tetapi bukankah kemarin
iring-iringan ini juga melewati jalan itu”
“Ya. Tapi ketika kami datang, kami tidak membawa barang-barang berharga, karena
barang-barang itu telah lebih dulu sampai dan kemudian sekelompok orang telah
berusaha merampoknya. Agaknya orang-orang itu terlambat mengetahuinya. Saat ini,
mereka tentu menyangka barang-barang itu dipakai oleh Mas Rara, sehingga mereka
berusaha untuk merampasnya” berkata pemimpin prajurit itu.
Ki Resa termangu-mangu. Wajahnya menjadi tegang, sehingga tidak sesadarnya ia
menggeram.
Pemimpin prajurit itu melihat betapa jantung Ki Resa bergejolak. Karena itu ia
berkata “Sebaiknya kita jangan kehilangan pegangan. Kita hadapi segalanya dengan
kekuatan dan penalaran jernih. Jika kita mata gelap, kita akan kehilangan
beberapa kemungkinan terbaik yang dapat kita lakukan”
“Setan itu harus dihancurkan sampai lumat“ geram Ki Resa.
“Kita belum tahu kekuatan mereka. Karena itu kita harus hati-hati” kata pemimpin
utusan itu.
Beberapa saat iring-iringan itu tidak bergerak. Sementara Wirantana mendekati
adiknya yang mulai ketakutan. Tapi Mas Rara masih saja menunduk dalam-dalam.
Laksana kemudian berdesis pada Wirantana “Jaga adikmu baik-baik. Mungkin akan
ada usaha menculiknya. Dengan menguasai adikmu, orang-orang itu akan dapat minta
tebusan sebanyak-banyaknya pada Raden Panji.
Wirantana mengangguk. Tiba-tiba giginya jadi gemeretak. Katanya “Inilah agaknya
yang menggelitik aku untuk ikut dalam iring-iringan ini”
Sementara itu, kedua orang yang duduk di pedati itu telah memutar pedangnya dan
meletakkannya di pangkuan mereka. Sementara itu, seorang diantaranya telah
meraih cambuk yang besar, yang sebelumnya hanya merupakan hiasan saja di bagian
depan keretanya.
Seluruh kekuatan yang mengawal Mas Rara telah mempersiapkan diri menghadapi
segala kemungkinan.
Pemimpin utusan itu telah menepuk pundak Manggada sambil berkata “Terimakasih
anak muda. Ternyata kelebihanmu tidak hanya sekadar membunuh seekor harimau.
Tetapi kau memiliki ketajaman penglihatan melampaui seorang prajurit, karena
kaulah yang pertama kali sempat melihatnya, meskipun aku membawa sekelompok
prajurit”
Manggada tidak menjawab. Tetapi tatapan matanya tidak lepas dari lereng bukit
kecil yang sudah terlalu dekat didepannya.
Sebenarnyalah, bahwa beberapa orang prajurit telah mempersiapkan senjata jarak
jauh mereka. Beberapa orang dengan tangkasnya telah menarik busur yang semula
terselip dalam endong yang tergantung pada ikat pinggang para prajurit itu, siap
untuk dipasang di busurnya.
Wajah Ki Resa yang menjadi tegang dan kemerah-merahan itu bagaikan tersentuh
lidah api. Giginya gemeretak dan sesekali terdengar geramnya yang garang.
“Kita akan menyerang mereka“ berkata Ki Resa.
“Jangan tergesa-gesa“ berkata pemimpin prajurit itu “mereka mempunyai landasan
yang jauh lebih baik dari kita. Kita membawa perempuan yang harus mendapat
perlindungan khusus. Perempuan itu adalah Mas Rara, bakal isteri Raden Panji”
“Jadi kita akan menunggu disini“ bertanya Ki Resa.
“Kita akan melakukan satu gerakan yang pantas bagi gerakan prajurit. berkata
pemimpin utusan itu.
Prajurit itu kemudian berdesis kepada Manggada “Kau dan adikmu serta Wirantana
sebaiknya menjaga Mas Rara. Kami akan bergerak maju”
Manggada mengangguk-angguk. Ia sadar bahwa tugas itu adalah tugas yang sangat
berat. Tetapi nampaknya pemimpin prajurit itu memiliki kepercayaan penuh
kepadanya.
“Ki Resa“ berkata pemimpin utusan itu “kita akan bergerak maju”
Tetapi jawab Ki Resa “Aku tidak sampai hati meninggalkan anakku dalam keadaan
seperti ini. Sebaiknya kita bergerak bersama-sama dan tidak meninggalkan Mas
Rara disini”
“Itu berbahaya sekali“ berkata pemimpin prajurit itu. Kita percayakan Mas Rara
kepada beberapa orang yang memiliki kemampuan untuk menjaganya. Sementara itu,
kita akan melihat suasana. Jika kita harus bergerak mundur, maka kita akan
bertempur disini. Tidak dicelah-celah itu”
Ki Resa menjadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Jika kalian akan
menyongsong mereka, biarlah aku membantu menjaga Mas Rara di sini. Aku tidak
sampai hati meninggalkannya hanya ditunggui anak-anak”
Pemimpin pasukan itu menjadi ragu-ragu. Tapi kemudian katanya “Baiklah. Memang
tugas kami menghadapi orang-orang yang mencegat itu. Jika Ki Resa ingin tetap di
sini untuk ikut menjaga Mas Rara, silahkan. Kami mengucapkan terima kasih”
Dengan demikian, pemimpin prajurit yang mengawal Mas Rara, termasuk dua utusan
yang lebih dulu datang ke rumah Ki Partija, bersiap menyongsong lawan. Mereka
turun dari kuda dan mengikatkannya pada batang-batang pohon atau perdu yang
tumbuh di pinggir jalan.
Dengan isyarat, pemimpin prajurit itu memerintahkan para prajurit bergerak.
Beberapa orang bahkan telah menyiapkan busur, lengkap dengan anak panah yang
siap diluncurkan.
Tapi pemimpin prajurit itu memberi isyarat bahwa mereka tidak maju lewat jalan
yang menembus celah-celah bukit kecil itu. Pemimpin prajurit itu mengisyaratkan
agar para prajurit berpencar.
Dengan demikian, mereka bisa mengecoh para pencegat, sambil memecahkan
konsentrasi mereka. Tanpa perbuatan semacam itu, mereka bisa terdesak dalam
waktu singkat. Sebab mereka belum mengetahui kekuatan para pencegat tersebut.
Untuk memberi semangat kepada para bawahannya, pimpinan prajurit tersebut juga
ikut terjun ke gelanggang, sehingga dia bisa langsung mengawasi dan mengkomando
bawahannya bila nanti terdesak.
Manggada, Laksana dan Wirantana, tetap di tempat sambil mengamati pembagian
tugas berdasar siasat dari pemimpin prajurit. Kendati ada perasaan untuk ikut
bersama prajurit itu mendahului menyerbu para pencegat, namun mereka sadar bahwa
sasaran utama gerombolan yang akan mencegat iring-iringan itu adalah Mas Rara.
Oleh karenanya, mereka menahan keinginan tersebut. Calon istri Raden Panji
Prangpranata lebih penting dijaga keselamatannya.
Namun sebelum meninggalkan kereta Mas Rara, pemimpin prajurit itu sempat
berbisik di telinga Manggada, tanpa terdengar orang lain “Hati-hati. Dalam
keadaan seperti ini, kita pantas mencurigai siapa saja”
Manggada tidak begitu mengerti pesan itu. Tapi ia mencoba untuk memahaminya.
Ketika para prajurit mendekati bukit, Manggada telah berada di sebelah kereta
Mas Rara. Laksana dan Wirantana pun telah siap menghadapi segala kemungkinan.
Sedang di depan kereta itu, Ki Resa teluh turun dari kudanya dan mengamati para
prajurit dengan seksama.
Kedua orang yang dikirim Ki Jagabaya mula-mula tetap duduk di atas kereta, meski
senjata sudah mereka siapkan. Namun akhirnya, kedua orang itu turun juga. Tapi
tidak beranjak lebih dua langkah dari kereta mereka.
Seorang diantara mereka justru menggenggam sebuah cambuk besar, yang semula
hanya jadi hiasan kereta. Cambuk itu bisa jadi senjata cukup berbahaya. Meski
demikian, di lambungnya tetap terselip sebilah pedang. Sedang yang satunya hanya
menggeser pedangnya agar siap dicabut jika lawan datang mendekat.
Orang-orang yang bersembunyi di belakang gerumbul-gerumbul liar mengumpat
habis-habisan melihat sikap para prajurit. Mereka akhirnya menyadari bahwa
prajurit-prajurit itu ternyata bukan sekadar prajurit kehormatan yang hanya bisa
berdiri di sebelah regol jika ada tamu terhormat datang ke rumah Raden Panji.
Mereka benar-benar prajurit yang siap bertempur.
Apalagi ketika prajurit-prajurit itu kemudian menebar dan siap memanjat bukit.
Separo dari mereka di sebelah kiri jalan, sebagian lagi di sebelah kanan.
Pemimpin penghadang Mas Rara itu kemudian meneriakkan aba-aba untuk menyerang
para prajurit yang mulai memanjat. Tapi para prajurit sudah siap.
Untuk menahan arus serangan, para prajurit yang membawa busur dan anak panah
telah menyerang mereka, sehingga orang-orang liar itu terpaksa berhenti untuk
menghindar atau menangkis anak-anak panah yang melesat bagai angin itu.
Dengan demikian, pemimpin prajurit sempat menilai lawan-lawannya. Ternyata
mereka orang-orang yang memiliki kemampuan dan pengalaman bermain senjata. Anak
panah yang dilontarkan para prajurit tidak ada yang langsung dapat menghentikan
seorangpun diantara mereka. Dua orang memang terluka lengannya, tapi sama sekali
tidak berarti. Darah yang menitik satu-satu, tidak dihiraukannya.
Tapi para prajurit itu benar-benar telah siap. Mereka jadi makin berhati-hati
setelah mereka menyadari keadaan lawan. Ketika orang-orang itu menyerang makin
dekat, dan busur serta anak panah tak menguntungkan lagi, mereka mencabut
senjatanya masing-masing. Ada yang pakai pedang, ada yang pakai tombak pendek.
Sementara senjata lawan-lawan mereka ujudnya cukup mengerikan dan mendirikan
bulu tengkuk.
Ada yang membawa bindi, tombak bertaji di sebelah mata tombaknya, atau canggah
bertangkai pendek. Ada pula yang membawa kapak bertangkai panjang, atau
jenis-jenis senjata lainnya.
Para prajurit memang harus benar-benar mengerahkan segenap kemampuannya untuk
melawan orang-orang itu, yang menurut pengamatan para prajurit, merupakan
gerombolan perampok yang sudah berpengalaman.
Dalam pada itu, dengan isyarat, pemimpin perampok memerintahkan sebagian
orang-orangnya untuk langsung menyerang orang-orang yang berjaga-jaga di sekitar
kereta yang membawa Mas Rara.
Pemimpin prajurit tidak dapat berbuat banyak. Dalam waktu yang pendek, mereka
sudah telah digempur oleh perampok-perampok itu. Meskipun demikian, pemimpin
prajurit itu sempat memerintahkan dua orang diantara mereka untuk ikut
melindungi Mas Rara.
“Di sana ada Manggada, Laksana. Wirantana dan Ki Resa. Mudah-mudahan kalian akan
dapat melindunginya “ berkata pemimpin prajurit itu.
la tidak dapat pergi ke kereta Mas Rara meski sebenarnya ia ingin melakukannya.
Sebab ia harus mengatur prajurit-prajuritnya lebih dulu menghadapi kelompok
orang kasar dan liar itu.
Demikianlah. Pertempuranpun berlangsung. Pemimpin prajurit beberapa kali
meneriakkan aba-aba. Selain untuk membesarkan hati bawahannya, ia juga mulai
melihat beberapa kelemahan pada pertahanan orang-orangnya.
“Kalian adalah prajurit prajurit yang memiliki kemampuan bertempur dalam
kesatuan. Jangan terpancing untuk melepaskan kesatuan itu sampai kelompok yang
sekecil sekalipun“ teriak pemimpin prajurit itu.
Perintah itu ternyata berarti sekali bagi para prajurit. Mereka yang biasa
bertempur dalam kerjasama, kemudian mengetrapkannya untuk menghadapi lawan-lawan
kasar dan bertempur secara keras itu. Tapi secara pribadi, prajurit-prajurit itu
memiliki kemampuan yang memadai karena latihan-latihan cukup berat.
Sementara itu. beberapa orang penghadang iring-iringan itu telah berlari-lari
menuju ke kereta Mas Rara. Namun Manggada. Laksana, Wirantana dan kedua sais
kereta itu, serta Ki Resa, sudah siap menghadapi mereka. Sementara dua orang
prajurit yang diperintahkan pimpinan pasukan, juga telah menyusul orang-orang
itu.
Namun orang-orang yang akan menyerang kereta Mas Rara itu cukup cerdik. Mereka
coba mengurangi lawan mereka, sehingga seorang diantara mereka kemudian
berteriak “Kita bantai dulu dua orang itu. Mereka tentu akan mengganggu tugas
kita mengambil Mas Rara”
Tapi ketika orang-orang itu berhenti, Manggada dan Laksana tanggap akan keadaan.
Tanpa menunggu, Manggada berteriak ke arah Wirantana “Bantu Ki Resa jika ada
yang datang. Aku akan membantu kedua prajurit itu sambil menghentikan mereka
agar tidak mencapai kereta ini”
Sebenarnya kedua prajurit itu terkejut melihat orang-orang yang diikutinya
berhenti. Apalagi ketika mereka bersiap menyerangnya. Berdua mereka tentu tidak
akan mampu melawan pecahan kelompok perampok itu. Karenanya kedua prajurit itu
sudah bersiap untuk melarikan diri, berputar dan kemudian bergabung dengan
orang-orang yang menjaga Mas Rara.
Bersama mereka, kedua prajurit itu tentu akan dapat menyelesaikan tugasnya
dengan baik. Tidak harus melawan orang yang jumlahnya terlalu banyak dibanding
jumlah mereka yang hanya berdua.
Tetapi niat itu diurungkan ketika kedua prajurit itu melihat dua anak muda
berlari-lari menyongsong mereka “Anak-anak muda itu“ desis seorang diantara
kedua prajurit itu.
“Mereka bukan anak-anak muda kebanyakan“ desis yang lain “mereka adalah
anak-anak muda yang aneh”
“Kita harus bertahan“ desis prajurit pertama. Keduanya terdiam. Namun
masing-masing telah mempersiapkan senjatanya untuk menghadapi orang-orang yang
berbalik menyerangnya. Namun sejenak kemudian, orang-orang yang mengetahui kalau
anak muda telah berlari ke arah mereka. Karena itu, sebagian dari mereka bersiap
kedua prajurit di belakang mereka, sebagian lagi menghadapi kedua anak muda itu.
“Kebetulan sekali“ desis seorang diantara perampok-peranpok itu “kita akan
membantai empat orang sekaligus”
Sejenak kemudian, Manggada dan Laksana telah mendekati sekelompok diantara
orang-orang yang mencegat perjalanan mereka itu. Sebagian dari mereka telah
menyerang dua orang prajurit yang telah bersiap sebelumnya.
Dengan demikian, pertempuran terjadi dengan sengitnya. Empat orang melawan
hampir separo dari dua puluh orang yang menghentikan perjalanan Mas Rara itu.
Sekitar tujuh orang bertempur dengan garangnya, dan berusaha secepatnya
menghabisi nyawa keempat orang yang telah berani menghadapi mereka itu.
Tetapi kedua orang prajurit itu mampu bertempur dengan tangkas. Sementara itu,
Manggada dan Laksana pun memiliki ketangkasan melampaui prajurit.
Dengan demikian, Manggada dan Laksana telah mengejutkan lawan-lawan mereka.
Justru setiap sentuhan senjata serta benturan kekuatan, lawan-lawan anak muda
itu harus berdesah menahun gejolak di dalam jantung mereka. Kemarahan yang
menjadi semakin membara, namun juga pengakuan bahwa keduanya tidak mudah untuk
ditundukkan.
Pertempuran semakin lama menjadi semakin sengit. Ketujuh orang itu telah
mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka memung berniat untuk dengan cepat
menyelesaikan pertempuran itu.
Di dekat pedati, Ki Resa menyaksikan dengan wajah yang tegang. Dentang senjata
serta teriakan orang-orang yang sedang bertempur itu, seolah-olah dentang genta
sebesar bukit di telinganya.
Keringat mulai membasahi keningnya. Jantungnya berdentang semakin cepat,
sementara tangannya menjadi gemetar.
Wirantana yang juga berada di dekat kereta Mas Rara, menjadi tegang sebagaimana
Ki Resa. Ia melihat pertempuran di bukit itu menjadi semakin garang. Namun jarak
yang agak jauh, telah menghalangi penglihatannya, sehingga ia tidak dapat
melihat, apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi Wirantana sempat melihat
pertempuran yang lebih dekat dari mereka. Dua orang prajurit bersama Manggada
dan Laksana, bertempur melawan sekitar tujuh orang.
Dalam pada itu, ternyata salah seorang dari ketujuh orang yang bertempur melawan
dua orang prajurit serta Manggada dan Laksana, telah memberikan isyarat. Isyarat
yang tidak diketahui oleh keempat orang lawan mereka.
Namun tiba-tiba dua orang diantara mereka telah meloncat keluar dari arena
pertempuran dan berlari ke arah Mas Rara yang ditunggui oleh Ki Resa, Wirantana
dan dua orang yang dikirim oleh Ki Jagabaya bersama pedati kudanya.
Kedua orang prajurit dan kedua anak muda itu termangu-mangu sejenak. Namun
mereka kemudian tidak banyak menghiraukan lagi. Di dekat kereta Mas Rara ada Ki
Resa serta Wirantana. Masih ada sais dan pembantunya, sehingga menurut
perhitungan mereka, kedua orang itu tidak akan mampu berbuat banyak.
Bahkan dengan kepergian dua orang itu, tugas kedua prajurit serta kedua anak
muda itu menjadi semakin ringan.
Ki Resa yang melihat dua orang berlari-lari ke arahnya segera bersiap. Ki Resa
dan Wirantana telah menambatkan kuda mereka pula. Sementara sais dan pembantunya
telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Dua orang itu ternyata telah memilih lawan. Seorang langsung menyerang Ki Resa,
sedangkan seorang lagi menyerang Wirantana. Pertempuran segera terjadi. Sais dan
pembantunya telah bersiap di sebelah menyebelah kereta. Merekalah yang kemudian
menjaga Mas Rara dengan mempersiapkan senjata mereka sebaik-baiknya.
Tetapi adalah di luar dugaan setiap orang. Ki Resa yang digelari pembunuh
harimau, serta ditakuti oleh banyak orang itu, ternyata tidak mampu bertahan
sepenginang. Hanya beberapa saat saja ia bertahan, kemudian terdengar teriakan
kesakitan. Sejenak kemudian, Ki Resa telah berguling jatuh.
Sementara itu, Wirantana masih bertahan sekuat tenaganya. Tanpa mengenal gentar,
ia bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Ia memang mampu mendesak
lawannya yang justru semakin lama menjadi semakin jauh dari kereta kuda itu.
Namun Wirantana menjadi sangat gelisah ketika ia melihat pamannya jatuh
terguling dan tidak bergerak lagi. Sementara itu, ia tidak dapat berbuat
apa-apa, karena ia masih terikat dalam pertempuran melawan seorang lawannya.
Tetapi Wirantana masih herpengharapan. Kedua orang sais dan pembantunya itu
dengan serta merta telah menyerang orang yang telah menjatuhkan Ki Resa.
Ledakan cambuk mulai terdengar memekakkan telinga. Ternyata bahwa ujung cambuk
yang menggeliat dan menghentak-hentak itu telah mendesak orang yang berusaha
untuk dapat menggapai kereta kuda yang didalamnya terdapat Mas Rara itu.
Wirantana menjadi sedikit berpengharapan ketika ia melihat sais dan pembantunya
itu mampu mendesak lawannya menjauhi kereta kuda itu.
Namun yang tidak terduga-duga itupun telah terjadi. Dalam ketakutan itu,
tiba-tiba saja Ki Resa yang terbaring itu telah meloncat bangkit. Dengan cepat
ia berlari ke arah pedati yang berhenti di pinggir jalan itu. Sekali loncat, Ki
Resa telah duduk di tempat sais. Satu hentakan telah mengejutkan kuda sang
menarik pedati itu, sehingga kuda itu segera berlari. Tetapi Ki Resa telah
membawa keretanya justru berbalik ke arah padukuhan Nguter. Namun ada lebih dari
sepuluh simpangan yang akan dapat dilaluinya. sebelum jalan itu memasuki
padukuhan Nguter.
Tidak seorang pun menduga bahwa hal itu akan terjadi. Mas Rara yang ada di dalam
pedati menjerit. Tetapi pedati yang ditarik seekor kuda itu terus berlari.
Wirantana pun berteriak keras-keras dengan suara parau “Paman, paman.
Ki Resa berpalingpun tidak. Bahkan ia telah berdiri ditempat sais kereta itu
biasanya duduk.
Wirantana tidak ingin membiarkan hal itu terjadi tanpa diketahui sebab-sebabnya.
Ia yang menganggap sikap pamannya agak kurang dimengerti, menjadi semakin
membingungkannya. Karena itu, Wirantana segera berlari meninggalkan lawannya
kearah kudanya.
Untunglah bahwa pembantu sais itu tanggap akan keadaan. Ketika lawan Wirantana
mengejarnya, pembantu sais dengan cambuk di tangannya telah menyerang orang itu,
sehingga orang itu tidak dapat mencegah Wirantana yang dengan kecepatan yang
tinggi telah meloncat ke punggung kudanya.
Sejenak kemudian, kuda itu telah berlari seperti angin mengejar Ki Resa yang
telah melarikan Mas Rara.
Ternyata Ki Resa menyadari, apa yang terjadi. Sambil mengumpat ia menghentikan
kereta kudanya yang tidak dapat berpacu secepat kuda Wirantana. Dengan sigap, Ki
Resa meloncat turun. Pedangnya ternyata telah berayun di tangannya.
Wirantana yang melihat pamannya meloncat turun. telah menarik kekang kudanya
pula. Iapun telah meloncat turun pula.
“Apa artinya ini paman” teriak Wirantana.
“Aku peringatkan, jangan mencampuri persoalan ini. Sebaiknya kau tidak mengikuti
aku dan Mas Rara“ geram Ki Resa.
“Aku minta paman membawa Mas Rara kembali, Mas Rara akan dibawa menghadap Raden
Panji Prangpranata sebagaimana direncanakan“ minta Wirantana.
“Sekali lagi aku peringatkan. Kau tidak mempunyai kesempatan berbuat apa-apa.
Aku akan membunuhmu jika kau keras kepala. Karena itu, pergilah“ suara Ki Resa
gemetar.
“Aku akan mencegahnya sampai aku mendapat penjelasan yang dapat meyakinkan aku“
berkata Wirantana.
“Kau jangan terlalu sombong menghadapi aku“ berkata Ki Resa “sementara itu,
orang-orang yang mencegat Mas Rara akan membunuh semua prajurit dan orang-orang
yang bersama mereka”
“Jadi paman bekerjasama dengan mereka? Paman berpura-pura jatuh dan tidak
bangkit lagi. Paman ternyata telah melakukan hal yang serupa sampai dua kali.
Ketika rumah ayah dirampok orang, paman begitu cepat menjadi pingsan. Agaknya
paman telah bekerjasama dengan mereka. Sekarang paman bekerjasama dengan
orang-orang untuk mencegat Mas Rara, menculiknya dan mempergunakannya untuk
memeras Raden Panji” berkata Wirantana.
Ki Resa tertawa. Suara tertawanya bergetar memenuhi udara. Bagi Wirantana,
pamannya itu tiba-tiba saja telah berubah menjadi iblis yang garang.
Tetapi Wirantana sama sekali tidak menjadi ketakutan. Bahkan kemarahannya justru
telah meggelegak. “Paman“ berkata Wirantana “aku hormati paman sebagai
orangtuaku sendiri. Tetapi dalam keadaan seperti ini, aku terpaksa melawan
paman”
“Bagaimana jika orang-orang yang mencegat iring-iringan ini kemudian datang
kemari, sedangkan semua prajurit dan orang-orang yang menyertai Mas Rara telah
terbunuh” bertanya Ki Resa.
“Aku akan mempertaruhkan nyawaku demi kehormatan adikku. Adikku tidak akan dapat
dipergunakan sebagai alat untuk memeras Raden Panji Prangpranata” geram
Wirantana.
Ki Resa tidak menjawab lagi. Tetapi senjatanya mulai terjulur.
Tetapi Wirantana telah mengangkat pedangnya pula. Dengan nada rendah ia berkata
“Maaf paman. Aku terpaksa berani melawan paman dalam keadaan seperti ini”
Ki Resa masih juga tidak menjawab. Tetapi ia sudah meloncat menyerang dengan
garangnya. Anak itu harus segera diselesaikan agar ia dengan cepat dapat
menyingkirkan Mas Rara.
Keduanya segera bertempur dengan sengitnya. Ternyata Ki Resa harus mengakui,
bahwa Wirantana yang baru pulang dari berguru itu memiliki bekal yang semakin
mapan untuk menghadapinya.
Dalam pada itu, sais dan pembantunya segera mengalami kesulitan menghadapi dua
orang yang garang. Sais yang telah kehilangan kudanya itu memberi isyarat kepada
kawannya untuk bertempur sambil berlari-lari.
Beberapa saat kemudian, keduanya telah bergeser semakin dekat dengan arena
pertempuran yang lain.
Sambil bertempur, tiba-tiba saja Manggada berteriak kepada salah seorang
prajurit yang bertempur bersamanya “Bantu kedua orang sais itu”
Seorang prajurit yang sedang bertempur itupun tanggap. Ia pun segera melompat
meninggalkan arena untuk membantu kedua orang sais yang mengalami kesulitan,
sehingga harus bertempur sambil berlari-lari mendekati arena pertempuran itu.
Ketika seorang diantara lawan-lawannya berusaha mencegahnya, Laksana telah
meloncat menyerang sehingga prajurit itu sempat meninggalkan lawannya. Sementara
Manggada telah berloncatan dengan garangnya.
Kedua sais mengucap sukur didalam hati ketika seorang prajurit datang mendekati
mereka. Seorang diantara kedua lawan mereka harus menghadapi prajurit yang
datang membantu itu, sehingga mereka berdua tinggal melawan seorang saja. Dengan
demikian, mereka menjadi semakin berpengharapan untuk tetap hidup.
Manggada dan Laksana pun kemudian masing-masing harus melawan dua orang. Tetapi
Manggada dan Laksana sama sekali tidak menjadi goyah. Keduanya mampu bertempur
mengatasi kedua orang lawan masing-masing.
Bahkan ketika pertempuran itu masih juga belum ada tanda-tanda segera selesai,
sementara keduanya terguncang oleh sikap Ki Resa yang sulit diketahui, Manggada
dan Laksana telah menghentakkan segala kemampuannya.
Tetapi adalah diluar dugaan mereka. Kedua orang anak muda yang marah dan gelisah
itu, seakan-akan telah menumpahkan segala-galanya yang dimilikinya dalam ilmu
kanuragan. Gelora di dalam dada mereka, serta darah muda mereka yang mendidih,
bagaikan telah mematangkan kekuatan, kemampuan dan ilmu yang tersimpan di dalam
diri mereka.
Adalah mengejutkan bahwa tiba-tiba saja kekuatan mereka bagaikan berlipat.
Sesuatu rasa-rasanya telah menggelegak, bergelora dan muncul dari dasar ke
permukaan. Bahkan kedua anak muda itu untuk sesaat bagaikan dituntun oleh
pedangnya. Namun barulah mereka sadar bahwa kemampuan ilmu pedangnyalah yang
telah bergetar menggerakkan pedang itu.
Keduanya dalam saat yang gawat itu ingat apa yang pernah terjadi atas diri
mereka. Mereka teringat, bagaimana seorang Ajar yang tinggal di tempat terpencil
bersama seorang yang punggungnya bongkok namun berilmu sangat tinggi, memberikan
bekal kepada mereka. Ki Ajar yang seakan-akan telah meningkatkan alas kemampuan
ilmu mereka, sehingga dengan demikian ilmu mereka pun terangkat dalam
keutuhannya dan semakin tinggi.
Ketika kedua anak muda itu berada dalam gegolak kemarahan yang memuncak,
kekuatan itu telah muncul dari dasarnya, yang tersimpan didalam diri mereka,
sehingga baik Manggada maupun Laksana telah menjadi semakin garang.
Karena itulah, kedua lawan masing-masing menjadi sangat terkejut ketika
tiba-tiba saja senjata mereka bersentuhan. Kekuatan kedua anak muda itu
benar-benar bagaikan berlipat.
Dua orang yang bertempur melawan Manggada telah bergeser menebar untuk mengambil
tempat yang lapang. Mereka berusaha untuk meyakinkan diri bahwa mereka adalah
orang-orang yang ditakuti, serta memang memiliki kekuatan dan kemampuan yang
bisa mendukung kegarangan mereka.
Tetapi Manggada yang marah, yang menghentakkan segenap kemampuan didalam diri
mereka, justru bagaikan mendapat kesempatan untuk menguji ilmunya.
Dalam pertempuran yang berkembang selanjutnya, kedua lawan Manggada benar-benar
menjadi heran. Dua orang anak yang masih terhitung muda itu, ternyata telah
memiliki ilmu yang tidak dapat mereka jangkau sama sekali. Perlahan-lahan tetapi
pasti, kedua orang itu telah terdesak. Bahkan ketika seorang diantara keduanya
menjadi marah pula, dan mencoba menghantam Manggada dengan pedangnya yang
dilambari segenap kekuatannya, orang itu akhirnya menyesal. Benturan yang sangat
keras telah terjadi. Manggada tidak berusaha untuk menghindar. Namun ia telah
menangkis serangan itu. Rasa-rasanya Manggada ingin menjajagi kemampuan sendiri
yang masih baru saja dikenalinya dengan baik.
Lawannya benar-benar terkejut. Benturan itu telah menggetarkan pedangnya.
Telapak tangannya terasa menjadi sangat panas. Bahkan rasa-asanya kulitnya akan
terkelupas. Sebelum ia sempat memperbaiki keadaan tangannya, terasa pedang
Manggada berputar. Pedangnya sendiri tiba-tiba bagaikan telah hanyut dihisap
oleh putaran pedang anak muda itu. Satu hentakkan telah melemparkan pedang orang
itu sehingga jatuh beberapa langkah dari padanya.
Dalam keadaan yang gawat itu, kawannya telah meloncat menyerang Manggada dengan
garangnya. Sabetan pedang yang terayun deras langsung mengarah ke leher anak
muda itu.
Tetapi Manggada sempat melihat serangan itu. Dengan tangkas ia telah merendahkan
dirinya. Begitu ayunan pedang itu meluncur diatas kepalanya, pedang Manggada pun
telah terjulur langsung menusuk dada lawannya.
Terdengar erang kesakitan. Namun ketika kemudian Manggada menarik pedangnya,
orang itu terhuyung-huyung roboh. Ternyata sentuhan ujung pedang Manggada telah
menggapai jantungnya, sehingga orang itu tidak sempat berbuat sesuatu. Tarikan
nafas yang panjang, telah mengakhiri hidupnya.
Sementara itu, kawannya yang telah kehilangan senjatanya tidak sempat berbuat
banyak. Ketika ia melihat kawannya tertusuk pedang dadanya, ia berusaha
melarikan diri. Tetapi sebelum ia sempat meloncat menjauh, Manggada dengan cepat
telah bangkit. Ternyata kemarahannya yang memuncak telah membuat darahnya
bagaikan menggelegak. Dengan derasnya, Manggada telah mehgayunkan pedangnya
dengan satu tebasan mendatar.
Ujung pedang Manggada ternyata telah mengoyak dada lawannya itu menyilang.
Dengan demikian, lawannya itupun telah terdorong dan bahkan kemudian terlempar
jatuh terlentang. Darah bagaikan memancar dari luka itu demikian derasnya,
sehingga orang itu tidak lagi mempunyai kesempatan untuk bangkit kembali.
Pada saat yang demikian, Laksana pun telah mendesak lawan-lawannya. Seorang
diantara kedua lawannya ternyata mampu bergerak cepat sekali, sehingga sesekali
Laksana harus bergeser mundur.
Sementara itu, Manggada meloncat meninggalkan arena menuju ke tempat kedua orang
sais yang juga tengah bertempur sambil berteriak pada Laksana yang masih
bertempur dengan sengitnya “Selesaikan lawan-lawanmu. Bantu para prajurit di
bukit. Aku akan mengurus Ki Resa yang aneh itu”
Laksana tidak menjawab. Sementara Manggada berlari dengan cepat. Ketika ia
sempat mendekati sais dan pembantunya yang sedang bertempur, ia mengayunkan
pedangnya. Segores luka telah menyilang di punggung orang yang bertempur melawan
kedua orang sais dan pembantunya yang kurang memiliki kemampuan itu. Untunglah
bahwa seorang diantaranya pandai bermain cambuk, sehingga sempat menyulitkan
lawannya. Tetapi lawannya itu kemudian tidak berdaya lagi, terbaring diatas
rerumputan kering.
Ketika Manggada kemudian meloncat kepunggung kudanya, sais dan pembantunya
segera membantu prajurit yang tadi membantunya.
Seorang yang harus bertempur melawan tiga orang itupun tidak mampu berlahan
terlalu lama. Iapun segera terdesak.
Sementara itu, Manggada telah berpacu menyusul Wirantana yang masih bertempur
melawan Ki Resa. Meskipun kemampuan Wirantana sudah meningkat jauh setelah ia
pergi berguru, tetapi Ki Resa yang disebut pembunuh harimau itu ternyata tidak
mudah dikalahkannya. Bahkan perlahan-lahan Ki Resa telah mampu mendesak
Wirantana. Meskipun dasar ilmu Wirantana cukup tinggi, tetapi anak muda itu
masih belum cukup berpengalaman untuk menghadapi pamannya yang garang dan keras
itu.
Bahkan Ki Resa masih sekali lagi memperingatkannya “Wirantana. Jika kau tidak
mau pergi, aku benar-benar akan membunuhmu”
Wirantana menggeram. Katanya “Paman jangan bermimpi buruk seperti itu.
Seharusnya paman cepat bangun dan menyadari apa yang telah paman lakukan”
Ki Resa menggeram. Dengan garang ia berkata “Jika demikian, kau akan mati. Aku
akan membawa Mas Rara sejauh-jauhnya tanpa dapat diketahui oleh siapapun”
Wirantana tidak menjawab. Ia telah menyerang dengan cepatnya. Namun Ki Resa
memang memiliki kemampuan yang tinggi.
Pada saat yang demikian, Mas Rara sudah turun dari pedatinya. Ia memang menjadi
ketakutan melihat pertempuran itu. Iapun tidak mampu berbuat sesuatu selain
menjadi gemetar.
Ketika Mas Rara berniat untuk melarikan diri dari pertempuran antara kakaknya
dan pamannya, kakinya rasa-rasanya menjadi sangat berat. Ia tidak sampai hati
meninggalkan kakaknya dalam kesulitan. Tetapi iapun tidak mau jatuh ketangan
pamannya yang kasar dan garang itu.
Pada saat yang demikian, seekor kuda dengan penunggangnya telah berlari
mendekat. Mas Rara pun segera melihat bahwa penunggang kuda itu adalah anak muda
yang telah menolongnya ketika ia hampir saja diterkam oleh seekor harimau.
Karena itu, harapannya telah berkembang. Kuda itu berpacu sangat cepat, sehingga
sejenak kemudian Manggada telah meloncat turun dan langsung berlari ke arena.
“Setan kau“ geram Ki Resa yang serba sedikit mengetahui kemampuan anak muda itu.
Manggada tidak menyahut sama sekali. Ia segera menempatkan diri di sebelah
Wirantana yang meloncat surut mengambil jarak dari pamannya yang kehilangan akal
itu.
“Ki Resa“ tiba-tiba Manggada berdesis “kami ingin Ki Resa
mempertanggung-jawabkan langkah-langkah yang kami ambil”
Tetapi Ki Resa menggeram “Kalian akan mati bersama-sama”
Tidak ada lagi pembicaraan. Manggada dan Wirantana telah bersiap untuk bertempur
melawan Ki Resa yang garang itu.
Tetapi Ki Resa sudah berada ditengah arus. Apakah ia akan kembali atau
berlanjut, tidak akan banyak bedanya.
Ia harus menempuh tekanan yang sangat berat. Kedua orang anak muda itu memiliki
bekal yang cukup untuk mengatasinya.
Namun Ki Resa harus menghadapinya. Sementara Mas Rara telah menjadi semakin jauh
daripadanya.
Ketika Ki Resa sekali menengok kearah Mas Rara, maka Wirantana segera tanggap
akan niatnya. Iapun telah meloncat dan berdiri diantara Ki Resa dengan adiknya
itu.
Ki Resa mengumpat kasar.
Sementara itu Manggada sempat juga bertanya “Apakah sebenarnya maksud Ki Resa
terhadap Mas Rara?”
“Persetan, apa pedulimu“ geram Ki Resa.
“Jangan sampai terjadi salah paham. Tetapi agaknya Ki Resa berniat buruk
terhadap Mas Rara. Justru karena Ki Resa telah berpura-pura pingsan” berkata
Manggada pula.
“Tutup mulutmu. Bersiaplah untuk mati“ suara Ki Resa bergetar oleh kemarahan
yang menggelegak di dadanya.
Manggada tidak bertanya lagi. Dari arah yang berbeda, Manggada dan Wirantana
kemudian telah mendekati Ki Resa.
Sejenak kemudian, merekapun telah terlibat lagi dalam pertempuran yang sengit.
Tetapi Wirantana tidak sendiri. Ia bertempur bersama Manggada yang justru telah
mampu mengangkat kekuatan yang semula masih tersembunyi di bawah permukaan.
Sementara itu, Laksanapun menjadi semakin garang. Dua orang lawannya telah tidak
berdaya. Keduanya telah terluka di tubuh mereka. Seorang terluka di lambung,
sedangkan yang lain dilsisi bagian dadanya. Namun luka mereka cukup dalam,
sehingga mereka tidak mampu lagi meneruskan pertempuran.
Seorang lagi yang bertempur melawan prajurit yang mengawal Mas Rara yang dikirim
oleh Raden Panji Prangpranata itupun telah kehilangan keberanian, sehingga
dengan serta merta telah melarikan diri ke bukit. Ia berharap bahwa
kawan-kawannya yang bertempur di bukit akan dapat menguasai keadaan.
Sebenarnya pertempuran di bukit masih berlangsung dengan sengitnya. Ternyata
kekuatan mereka justru seim-bang. Pemimpin prajurit yang mengawal Mas Rara tidak
dapat meninggalkan prajurit-prajuritnya yang mengalami pertempuran yang sengit,
sehingga ia benar-benar mempercayakan Mas Rara kepada Ki Resa serta kakak gadis
itu, Wirantana.
Demikian sengitnya pertempuran itu, sehingga pemimpin prajurit itu tidak tahu
apa yang telah terjadi dengan Mas Rara. Namun Laksana dan seorang prajurit yang
kehilangan lawannya itu telah menuju ke bukit pula. Prajurit itu telah mengejar
lawannya yang justru juga telah berlari ke bukit itu.
Ketika orang yang dikejar oleh prajurit itu mampu mencapai bukit, maka
kawan-kawannya telah menyambutnya dengan harapan. Meskipun hanya seorang, tetapi
mereka berharap bahwa yang seorang itu akan dapat mempengaruhi keadaan yang
seimbang itu.
Namun kemudian seorang prajurit ternyata telah menyusul. Bahkan kemudian seorang
anak muda. Kehadiran Laksana tidak banyak mendapat perhatian. Orang-orang yang
bertempur di bukit memang tidak begitu memperhatikannya. Bahkan ketika Laksana
berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Namun orang yang baru saja melarikan diri
dari pertempuran di ngarai itu berteriak “Hati-hati. Anak itu sangat berbahaya”
Pemimpin prajurit yang bertempur dengan segenap kemampuannya itupun melihat
kehadiran Laksana. la memang heran, kenapa Laksana tidak datang bersama
Manggada. Biasanya keduanya tidak pernah berpisah. Karena itu, ketika Laksana
berada tidak jauh daripadanya, iapun bertanya “Dimana saudaramu”
“Ia berada bersama Mas Rara“ jawab Laksana.
Pemimpin prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata saudara anak muda itu
tidak berada dalam keadaan yang gawat.
Di bukit, Laksana langsung melibatkan diri kedalam pertempuran. Ia memang tidak
terbiasa bertempur dalam satu kesatuan sebagaimana para prajurit yang meskipun
dalam kelompok yang paling kecil yang terdiri dari dua atau tiga orang, mereka
mampu menunjukkan kerjasama yang baik. Saling mengisi dan yang satu tanggap atas
sikap yang lain. Karena itu, untuk melawan yang jumlahnya lebih banyak, para
prajurit itu tidak membebani satu atau dua orang yang harus
bertempur melawan lawan yang rangkap.
Mereka seakan-akan bergantian menghadapi kelebihan jumlah lawan itu.
Tetapi Laksana tidak merasa perlu berbuat demikian. Ia bertempur melawan orang
yang terdekat dengannya Bahkan jika dua orang sekaligus, maka ia akan
menghadapinya sendiri.
Para prajurit yang menyadari cara anak muda itu bertempur, sama sekali tidak
langsung mengganggunya. Namun prajurit yang ada didekatnya, selalu mengawasinya.
Jika anak muda itu berada dalam kesulitan, maka prajurit yang terdekat harus
berusaha mempengaruhi medan.
Dalam waktu yang pendek, Laksana ternyata telah mendapat dua orang lawan, justru
karena seorang yang berteriak tentang kemampuannya itu. Namun Laksana sama
sekali tidak gentar. Meskipun sebelumnya ia telah mengerahkan tenaganya, namun
kedua orang lawannya itupun sudah bertempur pula sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, maka Laksana telah bertempur dengan garangnya. Kedua
orang lawannya segera mengakui, bahwa anak muda itu benar-benar memiliki ilmu
yang tinggi. Sementara itu Laksana yang menghentakkan
segenap kekuatan yang ada didalam dirinya, telah mengungkit pula landasan
kekuatan yang pernah diwarisinya dari Ki Ajar.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ternyata kedua lawan Laksana itu sudah
mulai bergeser surut. Mereka merasa betapa senjata anak muda itu sangat
berbahaya bagi mereka. Beberapa kali desing senjata ibu bagaikan telah menyentuh
telinga mereka.
Pemimpin orang-orang yang mencegat iring-iringan Mas Rara itu memang menjadi
tidak telaten. Dengan marah ia berteriak ”Cepat, selesaikan mereka. Kita tidak
mempunyai waktu banyak. Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Lihat, waktu
telah berjalan terlalu cepat. Bunga itu tentu sudah dipetik sekarang. Mas Rara
tentu sudah dikuasainya”
Kata-kata itu benar-benar mengejutkan semua prajurit yang mendengarnya. Terutama
pemimpinnya. Karena itu, maka ia menjadi sangat marah. Sejalan dengan itu, ia
merasa sangat menyesal, bahwa ia tidak berada didekat Mas Rara.
“Tetapi aku percaya kepada pamannya, kakaknya dan kedua orang anak muda itu”
berkata pemimpin prajurit itu didalam hatinya.
Namun dalam pada itu, iapun telah meneriakkan aba-aba yang garang “Hancurkan
para perampok sampai orang yang terakhir. Sisakan satu dua orang saja akan kita
peras sampai darahnya kering jika Mas Rara benar-benar hilang”
“Cepat, bunuh semua orang“ pemimpin perampok itu berteriak. la masih ingin
mempengaruhi agar para prajurit menjadi gelisah. Katanya “Sebenarnya sasaran
kita sudah tercapai sampai disini. Seandainya kita tinggalkan tempat ini, kita
sudah tidak akan dirugikan apapun lagi”
“Jangan seorangpun lolos dari tempat ini“ teriak pemimpin prajurit itu.
Tetapi pemimpin perampok itu tertawa. Katanya “Kalian tidak akan dapat berbuat
apa-apa. Jika Mas Rara sudah kami kuasai, maka kalian harus meletakkan senjata,
membungkuk dihadapan kami dan membiarkan leher kalian ditebas hingga kepala
kalian terlepas”
“Tidak benar“ teriak Laksana “kakang Manggada dan Wirantana tetap menguasai Mas
Rara”
Pemimpin perampok itu termangu-mangu. Tetapi iapun segera berteriak “Ki Resa
akan menyelesaikan segala-galanya”
Sekali lagi para prajurit itu terkejut.
Sementara itu, pemimpin perampok itu tertawa sambil berkata lantang “Kalian
telah dipermainkan oleh Ki Resa. Sekarang Mas Rara tentu sudah dikuasai Ki Resa.
Jika kalian tidak menyerah, maka Mas Rara tidak akan pernah kalian ketemukan.
Tetapi jika kalian menyerah dan memberikan leher kalian, maka kami masih
berpikir untuk mengembalikan Mas Rara kepada satu dua orang diantara kalian”
Kata-kata itu telah menimbulkan ketegangan dihati para prajurit yang mendapat
tugas untuk mengambil Mas Rara. Mereka sama sekali tidak mengira, bahwa pamannya
sendiri telah berniat buruk.
Dengan nada kebingungan pemimpin prajurit itu bertanya “Apakah Ki Resa
menginginkan tebusan”
“Ketahuilah, Ki Resa sudah beberapa lama menaruh hati kepada gadis itu. Karena
itu, maka ia berusaha menggagalkan usaha kalian membawa Mas Rara kepada Raden
Panji” berkata pemimpin perampok itu Namun katanya kemudian “Tetapi jika Raden
Panji bersedia memberi tebusan jauh lebih besar dari upah yang kami terima dari
Ki Resa, maka kami akan mengambil gadis itu dari tangan Ki Resa dengan
perjanjian tersendiri. Kamilah yang akan membunuh Ki Resa”
“Kalian memang iblis“ geram pemimpin prajurit yang menjadi bingung karena
kata-kata pemimpin perampok yang simpang siur itu. Namun Laksana tiba-tiba telah
menjelaskan “Jangan hiraukan mereka. Mas Rara dan Ki Resa, kedua-duanya telah
dikuasai oleh kakang Manggada, Wirantana, seorang prajurit yang masih ada disana
dan sais pedati serta pembantunya. Ki Resa sudah tidak berdaya, sementara Mas
Rara dalam keadaan baik”
“Omong kosong“ teriak pemimpin perampok itu.
Laksana yang marah itu memang memperhitungkan, bahwa orang itu adalah pemimpin
perampok yang telah mencegat perjalanan para prajurit yang menjemput Mas Rara.
Karena itu, maka Laksana telah melepaskan lawannya dan langsung berlari menuju
ke pemimpin perampok yang berteriak-teriak itu.
Sambil berlari Laksana berkata “Aku sudah tahu segala-galanya tentang Ki Resa
dan tentang kalian. Tetapi ternyata kalian lebih rakus dari Ki Resa yang berbuat
bagi kepentingan satu keinginan yang menurut keyakinannya akan baik baginya.
Tetapi kalian adalah ular berkepala rangkap sehingga kalian berusaha menggigit
kesana kemari. Karena itu, maka hukuman bagi kalian adalah dengan memenggal
semua kepala yang melekat ditubuh”
Pemimpin prajurit yang menjemput Mas Rara itu masih termangu-mangu sejenak. Ia
memang belum yakin terhadap apa yang dikatakan baik oleh pemimpin perampok itu
maupun yang dikatakan oleh Laksana.
Tetapi sejenak kemudian Laksana benar-benar telah menyerang pemimpin perampok
itu sambil berteriak “Jangan seorangpun dibiarkan lolos”
Pertempuranpun telah menjadi semakin sengit. Dilereng bukit kecil itu, dentang
senjata beradu mengumandang diantara teriakan-teriakan marah orang-orang yang
sedang bertempur. Tetapi sekali-sekali terdengar juga jerit ngeri dari orang
yang tertusuk senjata dilambungnya dan jatuh terguling dari bibir batu padas ke
batu dibawahnya.
Para perampok itu memang menjadi semakin garang bahkan menjadi liar. Namun
Laksana dan para prajurit yang telah basah oleh keringat itupun bertempur
semakin cepat dan keras pula.
Laksana yang telah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya dengan landasan
kekuatan yang mendasari ilmunya, telah mengejutkan pemimpin perampok itu.
Pedangnya berputaran semakin cepat. Sekali-sekali menebas mendatar, kemudiun
terayun menyilang. Ketika pemimpin perampok itu bergeser surut, maka ujung
pedang itu mematuk seperti kepala seekor ular bandotan.
Semakin lama pemimpin perampok itu menjadi semakin bingung menghadapi anak muda
itu, sehingga akhirnya iapun memberi isyarat kepada seorang pengikutnya. Dengan
serta merta pengikutnya itupun telah meloncat mendekatinya dan langsung
melibatkan diri melawan Laksana yang bagaikan banteng ketaton.
Laksana memang terdesak surut beberapa langkah. Tetapi ia sekedar mengambil
ancang-ancang serta untuk mengamati lawannya yang baru. Namun kemudian
serangannyapun telah membadai pula.
Demikian pula para prajurit yang marah. Pemimpin prajurit itu sekali lagi
berteriak “Jangan biarkan seorangpun lolos”
Pemimpin perampok itu masih juga berteriak “Mas Rara akan mati ditangan kami”
“Omong kosong“ Laksanalah yang menjawab “jangan hiraukan. Aku bertanggung jawab
atas keteranganku. Mas Rara selamat”
Benturan senjatapun menjadi semakin garang. Para prajurit memang telah menebar,
seakan-akan mengepung arena pertempuran itu. Perlahan-lahan jumlah para prajurit
menjadi semakin lebih banyak dari para perampok yang satu-satu kehilangan
kesempatan untuk melawan.
Sementara itu, Manggada dan Wirantana masih bertempur melawan Ki Resa yang
jantungnya bagaikan terbakar oleh kemarahannya. Ternyata rencananya tidak
berjalan selancar yang diinginkannya.
Tetapi memang tidak ada jalan kembali bagi Ki Resa. Dengan demikian maka ia
harus bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya.
Namun kedua orang anak muda itu benar-benar telah mendesak Ki Resa sehingga
beberapa langkah ia terdorong surut. Senjata kedua anak muda itu bagaikan
mengelilingi tubuhnya dan sekali-sekali menyentuh bajunya. Anak-anak muda itu
mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga Ki Resa itu menjadi
semakin kesulitan menghindari serangan-serangan senjata mereka.
“Paman“ geram Wirantana kemudian “menyerahlah. Kita akan berbicara.
“Iblis kau“ teriak Ki Resa sambil menyerang dengan garang.
Tetapi Wirantana sempat meloncat surut. Sementara Manggada justru menjulurkan
senjatanya menggapai kearah punggung.
Ki Resa menggeliat. Namun Manggada yang telah berhasil mengangkat landasan
kemampuannya itu benar-benar merupakan kekuatan yang sulit untuk dilawan.
Ki Resa memang berhasil menggeliat menghindari ujung pedang Manggada. Tetapi
ujung pedang itupun telah berputar pula langsung menebas kesamping.
Ki Resa harus meloncat surut menghindari kejaran ujung pedang Manggada. Namun
tiba-tiba saja Ki Resa berteriak sambil mengumpat kasar. Dengan serta merta Ki
Resa melenting tinggi berputar diudara dan berdiri tegak beberapa langkah dari
Manggada dan Wirantana.
Tetapi lengan Ki Resa telah tergores ujung senjata Wirantana meskipun tidak
begitu dalam.
Ternyata ketika ujung pedang Wirantana hampir mengoyak lengan pamannya, dengan
kekuatan naluriah, Wirantana justru menahan ayunan pedangnya sehingga yang
terjadi hanyalah satu goresan yang tidak dalam di lengan pamannya.
Meskipun demikian, darah mulai menitik dari tubuh Ki Resa yang dijuluki Pembunuh
Harimau itu.
“Paman“ desis Wirantana sambil berdiri termangu-mangu.
“Kau sudah melukai lenganku anak iblis“ geram Ki Resa.
“Kita dapat berbicara dengan baik“ sahut Manggada.
Tetapi Ki Resa tidak menghiraukannya. Tiba-tiba saja ia sudah meloncat menyerang
lagi dengan garangnya.
Pertempuran telah berlangsung lagi semakin sengit. Ki Resa benar-benar telah
sampai kepuncak kemampuannya. Namun setiap kali ia membentur kekuatan dan
kemampuan Manggada yang harus diakuinya sebagai satu kenyataan berada diatas
kekuatan dan kemampuannya. Sementara itu Wirantana yang baru saja meninggalkan
perguruannya telah memiliki bekal yang tinggi pula.
Dalam keadaan yang kalut, maka Ki Resa seakan-akan menjadi tidak menghiraukan
lagi apa yang akan terjadi atas dirinya. Dengan sisa tenaga dan puncak
kemampuannya ia telah mengamuk sejadi-jadinya.
Mas Rara yang menyaksikan pertempuran itu dengan jantung yang berdentangan.
Memang sudah agak lama ia merasakan keanehan sikap pamannya kepadanya. Tetapi ia
tidak mengerti arti dari keanehan sikap itu. Bahkan sampai saatnya ia
menyaksikan pertempuran yang membuatnya hampir kehilangan akal itu, ia tidak
tahu pasti apa yang sebenarnya dikehendaki oleh pamannya itu.
Tetapi bagi Wirantana dan Manggada, sikap Ki Resa tentu sikap yang tidak
sewajarnya. Bahkan tentu berniat buruk, apalagi dengan bekerja sama dengan para
perampok yang telah mencegat perjalanan Mas Rara ke rumah bakal suaminya, Raden
Panji Prangpranata.
Namun bagaimanapun juga, Mas Rara benar-benar telah terguncang hatinya
menyaksikan pertempuran antara pamannya dan kakaknya itu. Pamannya yang
dihormatinya sebagaimana orang tuanya sendiri. Apalagi ketika ia melihat bahwa
darah telah membasahi pakaian pamannya itu.
Namun ternyata bahwa Ki Resa sama sekali sudah tidak terkendali lagi. Ketika
dengan garangnya ia meloncat menyerang Manggada, maka Manggada sempat bergeser
kesamping. Tetapi Ki Resa tidak melepaskannya, ia justru telah berputar dan
menyerang sekali lagi.
Tetapi seperti Wirantana, ternyata Manggada masih merasa ragu. Ketika terasa
ujung pedangnya menyentuh lambung Ki Resa, maka Manggada justru telah menarik
pedangnya.
Meskipun demikian, ujung pedangnya memang telah melukai lambung Ki Resa.
Kulitnya telah tergores pula dan darahpun telah mengalir dari luka itu.
Ketika Ki Resa bergeser mundur, Manggada sempat pula berkata “Ki Resa, bangunlah
dari mimpi burukmu. Masih ada kesempatan untuk berbicara”
Tetapi Manggada terkejut. Justru saat ia berbicara, Ki Resa meloncat
menyerangnya.
Manggada masih sempat mengelak. Namun Ki Resa telah memburunya seperti orang
yang benar-benar telah kehilangan akal. Beberapa langkah Manggada masih juga
bergeser surut sambil berusaha menangkis setiap serangan.
Sementara itu Wirantanalah yang telah menyerang Ki Resa yang sedang membabi buta
itu.
Ki Resa seakan-akan tidak menghiraukan serangan itu. Ujung pedang Wirantana
memang telah menempel ke pundak Ki Resa, tetapi Ki Resa sama sekali tidak
menghiraukannya. Baru ketika Manggada meloncat mengambil iarak, Ki Resa telah
berpaling dan memburu Wirantana.
Satu serangan yang keras telah memaksa Wirantana juga berloncatan surut. Namun
ketika Wirantana benar-benar terdesak, bukan karena kemampuan Ki Resa, tetapi
pengaruh hubungan keluarga yang masih sulit disingkirkan oleh Wirantana. maka
Manggada tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun telah menyerang Ki Resa dengan
uluran pedangnya.
Ki Resa yang berusaha mengelak, justru masuk ke garis ayunan pedang Wirantana.
Karena itu, maka sebuah goresan telah menyilang dipunggung pamannya itu.
Ki Resa menggeram. Ia tidak dapat lagi menahan perasaan pedih dari luka-luka
ditubuhnya. Luka dilengannya, dilambungnya dan kemudian di punggungnya, terasa
bagaikan disengat api. Apalagi ketika keringatnya mengalir membasahi
luka-lukanya.
Wirantana masih juga sekali lagi berusaha menyadarkan pamannya itu. Katanya
betapapun terdengar nada keraguan
“Paman. Apakah paman benar-benar tidak mau melihat kenyataan ini”
“Tutup mulutmu tikus kecil“ bentak Ki Resa yang justru meloncat menyerang.
Wirantana benar-benar kehilangan kesadarannya. Sambil mengelak, iapun telah
berputar sambil mengayunkan pedangnya. Ki Resa tidak berusaha untuk menghindar.
Tetapi ia berusaha menangkis serangan itu dengan sekuat tenaganya.
Namun Ki Resa memang sudah mulai letih. Tangannya terasa menjadi pedih.
Sementara itu, Manggada telah mengacukan senjatanya pula. Satu lagi goresan
telah melukai pundaknya.
Namun Ki Resa benar-benar telah menjadi gila. Darah telah membasahi seluruh
tubuhnya. Namun ia sama sekali tidak berniat untuk menghentikan perlawanannya.
Mas Rara pun telah berpaling. Bagaimanapun juga, ia tidak sampai hati melihat
seluruh pakaian pamannya basah oleh darahnya.
Beberapa saat kemudian, Mas Rara justru mendengar kakaknya memanggil-manggil
“Paman. Paman”
Diluar sadarnya, Mas Rara berpaling kembali kearah pamannya. Namun ia terkejut.
Dilihatnya pamannya terbaring diam, sementara Wirantana dan Manggada berjongkok
di sebelahnya.
“Paman. Paman“ Wirantana mengguncang tubuh pamannya.
Ki Resa membuka matanya. Tetapi darah sudah terlalu banyak mengalir dari
lukanya.
Dalam keadaan yang gawat itu Ki Resa berdesis “Dimana Mas Rara”
“Ada disini paman“ desis Wirantana.
Mas Rara memang sudah berdiri di belakang kakaknya. Ia masih agak ketakutan
menghadapi sikap pamannya yang tidak dimengertinya.
“Wirantana“ berkata Ki Resa dengan suara yang dalam “sudah lama aku
menginginkannya. Diam-diam aku mencintainya”
“Tetapi tidak mungkin paman. Mas Rara adalah kemanakan paman sendiri. Bukankah
paman adik ayah” bertanya Wirantana.
Ki Resa tidak menjawab. Nafasnya semakin memburu.
“Sudahlah“ berkata Wirantana “kita bawa paman ke padukuhan terdekat. Mungkin ada
seorang tabib yang dapat mengobatinya”
Ki Resa menjadi semakin lemah. Disela-sela bibirnya terdengar desis perlahan
“Ayahmu, ayahmu“
“Aku mohon maaf“ suara Ki Resa bagaikan tersumbat dikerongkongan.
“Kita angkat paman ke dalam pedati” berkata Wirantana.
Tetapi ternyata semuanya tiduk berarti lagi. Darah yang mengalir terlalu banyak
itu telah membuatnya terlalu lemah dan tidak mampu lagi bertahan untuk tetap
hidup. Karena itu, ketika Wirantana akan mengangkatnya bersama Manggada, maka
Wirantanapun menarik nafas sambil berdesis “Kita terlambat Manggada”
Tubuh itu tidak jadi diangkat. Wirantanapun kemudian berdiri dengan kepala
tunduk.
“Kita telah membunuhnya“ desis anak muda itu.
“Aku mohon maaf Wirantana“ desis Manggada.
“Kau tidak bersalah Manggada. Paman memang bersalah“ jawab Wirantana.
Namun merekapun berpaling ketika mereka mendengar isak tangis Mas Rara.
Wirantana mendekati adiknya sambil berdesis “Sudahlah Mas Rara. Kita tidak
berniat melakukannya. Beberapa kali aku sudah memberikan peringatan. Tetapi
paman benar-benar sudah kehilangan penalarannya. Mungkin paman merasa bahwa
kematian adalah jalan yang paling baik untuk menghindari pertanggung-jawaban
dari langkah yang telah diambilnya. Ia tidak sekedar main-main. Ia telah
mengerahkan sekelompok orang untuk mencegat iring-iringan ini. Tentu ada korban
diantara para prajurit”
Mas Rara menutup wajahnya. Sementara Wirantanapun kemudian membimbingnya kembali
ke pedatinya.
“Naiklah. Kita akan kembali ketempat kita berhenti“ berkata Wirantana.
“Bagaimana dengan paman” bertanya Mas Rara.
“Aku akan membawanya, Paman akan aku tompangkan diatas punggung kuda” jawab
Wirantana.
Sejenak kemudian, maka Manggada telah mengendalikan kereta kuda itu. Diikatnya
kudanya dibelakang kereta. Sementara itu Wirantana duduk diatas punggung kudanya
sambil membawa tubuh pamannya.
Sementara itu pertempuran di bukitpun telah menjadi semakin reda. Perlawanan
para perampok sudah tidak banyak berarti lagi. Mereka memang tidak sempat
melarikan diri, karena para prajurit telah berusaha mengepungnya. Sehingga
beberapa saat kemudian maka pertempuran pun telah berakhir.
Pemimpin prajurit yang mengawal Mas Rara segera mengatur orang-orangnya.
Kemarahan masih memancar di wajahnya. Apalagi ternyata sogores luka telah
menyilang dipunggungnya. Untunglah bahwa luka itu tidak dalam. sehingga obat
yang dibawanya dapat membuatnya untuk sementara memampatkan luka-lukanya.
Pemimpin perampok itupun kemudian harus melihat kenyataan. Dibawah bukit kecil
itu, semuanya telah berkumpul. Para perampok yang bekerja bagi kepentingan Ki
Resa itu akan menjadi tawanan dan dibawa menghadap Raden Panji Prangpranata.
Namun orang yang bertanggung jawab atas peristiwa itu telah terbunuh, Ki Resa.
Ternyata beberapa orang prajurit memang telah terluka. Dua orang diantaranya
parah. Sementara itu, tiga orang perampok telah terbunuh. Sedangkan beberapa
orang yang lain telah terluka pula.
“Perjalanan masih cukup jauh“ berkata pemimpin prajurit itu ”Mereka membuat
kepalaku menjadi bagaikan pecah. Sebenarnya aku ingin membunuh mereka semua,
sehingga tidak akan menjadi beban diperjalanan”
Tetapi pemimpin prajurit itu tidak dapat melakukannya. Ia tidak dapat membunuh
orang-orang yang sudah tidak berdaya betapapun darahnya bagaikan mendidih.
Ternyata perjalanan Mas Rara benar-benar terlambat. Bukan saja karena
pertempuran itu, tetapi mereka harus menunggu para perampok itu menguburkan
kawan-kawannya. Sementara itu Wirantana dan Manggadapun tengah berbicara dengan
Laksana dan Mas Rara. Apa yang harus mereka lakukan dengan Ki Resa.
“Apakah kita akan menguburkannya bersama-sama dengan para penjahat” desis Mas
Rara “kita bawa paman pulang. Kita serahkan kepada ayah dan ibu”
“Tetapi perjalanan kita sudah cukup jauh. Apakah kita harus kembali” bertanya
Manggada.
Tetapi paman tidak dapat dikubur bersama para penjahat itu“ Mas Rara mulai
menangis lagi.
“Tetapi apakah kita dapat kembali” bertanya Wirantana.
Ketika mereka berpaling kepada pemimpin prajurit yang sedang sibuk sambil
membentak-bentak marah, maka mereka menjadi ragu untuk menyampaikan kepadanya,
bahwa mereka ingin membawa Ki Resa kembali”
Tetapi Manggada kemudian mengusulkan “Aku dan Laksana akan membawanya pulang.
Kalian akan meneruskan perjalanan menghadap Raden Panji Prangpranata”
Wirantana termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia berkata “Aku merasa ragu.
Apakah ayah dan ibu akan dapat mengerti. Atau bahkan mungkin akan dapat timbul
salah paham”
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara Wirantana berkata “Aku akan
membawa paman kembali”
“Jangan“ potong Mas Rara “aku takut berjalan sendiri”
“Manggada dan Laksana akan menemanimu“ berkata Wirantana.
“Aku tidak mau“ jawab Mas Rara.
Wirantana memang menjadi bingung. Sementara itu pemimpin prajurit itupun telah
berteriak “He, kenapa kau belum berbuat apa-apa”
“Apa yang kau maksud” bertanya Wirantana.
“Korban yang lain telah dikuburkan“ bentak pemimpin prajurit itu. Lalu katanya
“Kau jangan membuat perjalanan ini semakin lambat”
“Kami sedang membicarakan tentang penguburan paman“ jawab Wirantana berteriak
pula.
“Cepat lakukan. Apalagi yang harus dipikirkan“ Pemimpin prajurit itu menjadi
semakin keras.
Jilid 3
TETAPI Wirantanapun menjadi marah. Katanya “ Ini adalah pamanku. Kau kira ia
akan dapat disejajarkan dengan para perampok itu?“
“Justru pamanmu otak dari peristiwa ini“ pemimpin prajurit itupun menjadi
semakin marah.
Wirantana menggeretakkan giginya. Katanya “Pamanku yang mengupah mereka. Pamanku
tidak sama dengan mereka”
“Tetapi akibat dari tingkah pamanmu maka tugasku telah terhambat. Orang-orangku
terluka dan bahkan akupun telah terluka“ berkata pemimpin prajurit itu.
“Kau kira kami hanya duduk saja bertopang dagu? Siapa yang telah menyelamatkan
Mas Rara? Tanpa kami, kalian telah kehilangan Mas Rara. Dan kalian akan mendapat
hukuman dari Raden Panji” geram Wirantana.
“Sudahlah” desis Manggada “jangan timbulkan persoalan baru”
Pemimpin prajurit itupun termangu-mangu sejenak. Tanpa anak-anak muda itu, maka
agaknya persoalannya memang
akan menjadi semakin rumit. Namun demikian ia masih juga berkata “Apapun yang
akan kau lakukan atas pamanmu. Aku tidak mau dihambat lebih lama lagi”
“Jika kau akan pergi dahulu, pergilah. Tetapi Mas Rara tidak akan mau beranjak
dari tempat ini sebelum pamannya dikuburkan dengan baik” jawab Wirantana.
Pemimpin prajurit itu tidak dapat mengatasi lagi jika itu merupakan keputusan
Mas Rara. Saat itu Mas Rara adalah segala-galanya. Karena itu, maka pemimpin
prajaurit itupun telah menampakkan kemurahannya kepada para tawanannya.
Dengan ketus pemimpin prajurit itu membentak-bentak, agar para tawanannya itu
dengan cepat menguburkan kawan-kawannya yang terbunuh.
Dalam pada itu, Wirantanapun kemudian telah memutuskan untuk menguguburkan Ki
Resa ditempat itu, tetapi terpisah dari para perampok. Memberinya pertanda yang
jelas, sehingga pada suatu saat akan dapat dilakukan upacara pemindahan
kuburnya.
Dibantu oleh sais kereta kuda itu, bersama Manggada dan Laksana, mereka telah
menggali lubang kubur, dibawah sebatang pohon cangkring agak jauh dari jalan.
Beberapa orang prajurit telah membantunya pula, agar segalu sesuatunya dapat
berlangsung lebih cepat.
Namun bagaimanapun juga, perjalanan mereka tentu akan menjadi semakin lambat
karena mereka akan membawa tawanan yang hanya berjalan kaki, sambil membawa
kawan-kawan mereka yang terluka.
Demikianlah Akhrnya mereka selesai dengan tugas terakhir mereka di bawah bukit
kecil itu. Semua korban telah dlkuburkan. Ki Resi pun telah dikuburkan pula.
Sejenak kemudian, iring-iringan yang menjadi semakin besar itu mulal bergerak
kembali. Beberapa orang prajurit yang lerluka dan tidak mampu berkuda sendiri,
telah didampingi oleh temannya. Numun para tawanan terpaksa harus berjalan
diantara orang-orang berkuda itu, dengan tangan terikat. Hanya mereka yang
membantu kawan-kawannya yang terluka saja yang dlbebaskan dari ikatan.
Perjalanan menuju rumah Raden Panji Prangpranata terpaksa jadi makin lambat,
para tawanan yang terluka ada yang tidak mampu lagi berjalan Karena itu,
kawan-kawannya harus membuat usungan dari bambu, yang mereka potong dari
pinggir-pinggir jalan atau dipategalan-pategalan.
Setiap kali, pemimpin prajurit yang menjemput Mas Rara itu membentak-bentak
marah. Bahkan kadang-kadang prajurit-prajuritnya sendiri ikut dibentak-bentak.
Mas Rara duduk di kereta kudanya yang berjalan lambat. Namun bagi Mas Rara,
perjalanan yang lebih lambat itu terasa lebih baik, karena tubuhnya tidak
terguncang-guncang.
Wirantana berkuda tidak lebih dari dua langkah di sebelah kereta itu. Setiap
kali Mas Rara tidak melihat kakaknya, ia memanggil-manggil. Manggada dan Laksana
berkuda di belakang kereta itu.
Kedua anak muda itu telah memberikan ketenangan di hati Mas Rara. Meski kedua
anak muda itu belum lama dikenalnya, namun Mas Rara rasa-rasanya telah menaruh
kepercayaan yang sangat besar pada mereka.
Demikianlah. Iring-iringan itu merambat seperti siput sakit. Pemimpin prajurit
hampir kehilangan akal, dan berniat membunuh orang-orang yang terluka parah.
Untunglah pada saat-saat terakhir penalarannya masih mampu menahan, sehingga di
luar sadarnya pemimpin prajurit itu menekan dadanya dengan telapak tangan,
seakan-akan ingin mengendapkan gejolak yang hampir tak tertahankan.
Dengan hambatan yang sangat menyakitkan hati, justru bersumber dari orang yang
dianggap akan sangat membantunya itu, pemimpin prajurit utusan Raden Panji
memutuskan untuk bermalam di perjalanan. Ketika mereka memasuki sebuah padukuhan
besar, pemimpin prajurit itu telah menemui Ki Bekel, dan menyatakan maksudnya
untuk bermalam di padukuhan itu.
Ketika Ki Bekel mengetahui bahwa iring-iringan itu adalah utusan Raden Panji
Prangpranata, yang menjemput bakal istri Raden Panji, Ki Bekel mempersilahkan
mereka bermalam di banjar.
“Tetapi sebagian terpaksa bermalam di rumah-rumah sekitar banjar“ berkata Ki
Bekel “banjar itu terlalu sempit untuk bermalam sekian banyak orang”
“Tidak perlu Ki Bekel“ berkata pemimpin prajurit itu “banjar itu cukup luas”
Ki Bekel sendiri berada di banjar ketika para prajurit mengatur diri untuk
bermalam. Para tawanan ditempatkan di pendapa, diawasi beberapa orang prajurit
bersenjata karena mereka terikat, sulit bagi mereka untuk melakukan gerakan
apapun. Apalagi pemimpin prajurit setiap kali membentak-bentak mereka. Bahkan
seorang diantara mereka, yang mencoba membantah, telah dipukul mulutnya hingga
sebuah giginya patah.
Ki Bekel yang baik itu telah memerintahkan orang-orangnya untuk menyediakan
makan dan minum bagi iring-iringan itu. Ki Bekel juga mengerahkan orang-orang
yang dianggap mampu memberikan pengobatan pada para prajurit dan para tawanan
yang terluka.
Yang agak sulit bagi Ki Bekel, menyediakan makanan buat kuda-kuda para prajurit.
Tetapi hal itu akhirnya teratasi juga.
Mas Rara sendiri ditempatkan di sebuah bilik yang ada di banjar. Yang ada di
pintu bilik itu adalah kakaknya dan kedua anak muda yang telah menolongnya dari
kuku-kuku tajam seekor harimau, serta melepaskannya dari tangan pamannya yang
ternyala lebih garang dari seekor harimau tua.
Ketiga anak muda itupun telah berbaring di atas sehelai tikar pandan yang
dibentangkan hampir menyilang pintu bilik itu. Bahkan setiap kali Mas Rara
memanggil nama kakaknya.
“Aku di sini” Jawab Wlrantana.
“Jangan pergi kakang” desis Mas Rara.
“Aku tldak akan pergi. Jika aku pergi, ke pakiwan misalnya, maka MANGGADA dan
Laksana akan ada ada di sini “ jawab Wirantana.
Pemimpin prajurit itupun tidak mengganggu ketiga anak muda itu. Mereka mengerti
bahwa ada ketergantungan dari Mas Rara kepada kakaknya dan dua orang anak muda
itu. Mas Rara nampaknya lebih percaya kepada anak-anak muda itu dari pada kepada
para prajurit.
Dua orang sais dan pembantunya telah berada di serambi itu pula. Tetapl mereka
Justru berada di ujung. Dua orang prajurit telah menemanl mereka dan kemudian
beristirahat bersama-sama di atas tlkar yang panjang.
Para prajurit memang tampak letih, sebagaimana Manggada, Laksana dan Wirantana.
Mas Rarapun merasa dirinya seperti di perjalanan menuju ke neraka. Bahkan
kadang- kadang Mas Rara tidak tahu lagi,
apakah ia masih seorang yang bebas dan memiliki dirinya sendiri atau tidak.
Tetapi tubuhnya memang terasa sangat lelah.
Beberapa orang prajurit telah mendapat tugas untuk berjaga-jaga. Dua orang di
regol banjar, dan empat orang mengawani para tawanan. Mereka akan melakukan
tugas itu berganti-ganti. Sementara yang tidak sedang bertugas dapat
beristirahat sepenuhnya.
Ketika orang-orang yang ditugaskan Ki Bekel untuk menyiapkan makan dan minum
telah siap, maka Ki Bekel mempersilahkan mereka untuk makan dan minum.
“Seadanya, selagi masih hangat“ berkata Ki Bekel kepada pemimpin prajurit.
“Terima kasih Ki Bekel“ jawab pemimpin prajurit itu “atas nama Raden Panji
Prangpranata”
“Ah bukan apa-apa“ desls Ki Bekel “hanya sekadarnya”
Ternyata suguhan itu menjadi sangat berarti bagi para prajurit dan juga para
tawanan. Mereka memang merasa sangat lapar. Tenaga mereka yang seakan-akan telah
terkuras habis itu memerlukan dukungan baru agar tubuh mereka terasa tetap
segar.
Tetapi beberapa orang diantara mereka, setelah perutnya menjadi kenyang, justru
telah tertidur mendekur di sembarang tempat.
Pemimpin prajurit itupun tidak mengganggu mereka asal bukan yang sedang
bertugas. Pemimpin prajurit itupun merasa betapa tubuhnya menjadi letih.
Wirantana sendiri hampir tidak dapat beristirahat. Setiap kali adiknya selalu
memanggll-manggilnya dari dalam bilik. Namun Wirantana menyadarl, bahwa Mas Rara
sedang dalam keadaan yang kurang menentu. Ketakutan, kecemasan dan berbagai
macam perasaan berbaur di dalam hatinya.
Namun kemudian ternyata bahwa akhirnya Mas Rarapun sempat beristirahat barang
sejenak di dalam biliknya. Tetapi makan yang di suguhkan kepadanya hanya
dimakannya sedikit sekali.
Malam itu, tidak terjadi sesuatu di banjar yang dipergunakan oleh para prajurit
utusan Raden Panji itu beristirahat. Para prajuritpun sempat beristirahat dengan
baik. Semantara pagi-pagi benar, demikian mereka selesai berbenah diri, Ki Bekel
telah berada di banjar itu pula dan mempersilahkan para prajurit untuk makan dan
minum. Demikian pula para tawanan.
“Kami di padukuhan ini tahu, bahwa para prajurit akan berangkat pagi-pagi”
berkata Ki Bekel.
Pemimpin prajurit itu hanya dapat mengucapkan terima-kasih yang sebesar-besarnya
kepada Ki Bekel, yang telah membantu dengan sungguh-sungguh kesulitan yang
dialami oleh para prajurit yang mengemban tugas dari Raden Panji Prangpranata
itu.
Demikianlah, ketika matahari mulai melontarkan sinarnya yang kekuning-kuningan,
maka iring-iringan itu telah mulai bergerak lagi. Mas Rara telah berada di dalam
keretanya pula. Namun seperti di hari sebelumnya, iring-iringan itu merambat
sangat lamban.
Tetapi pemimpin prajurit itu tidak dapat mengatasinya. Ia tidak mampu berbuat
lebih jauh dari yang dapat dilakukannya itu. la tidak dapat melepaskan
orang-orang yang telah berusaha merampok iring-iringan itu, tetapi la juga tidak
dapat memerintahkan untuk membunuh mereka semuanya.
Mataharipun kemudian memanjat langit semakin tinggi. Bahkan kemudian telah
mencapai puncak langit. Namun iring-iringan itu masih belum sampai ketujuan.
Ketika panas matahari bagaikan membakar punggung, maka pemimpin prajurit itupun
telah memerintahkan iring-iringan itu untuk beristirahat. Ia melihat, terutama
para prajurit yang terluka, telah menjadi sangat letih. Kuda-kuda merekapun
menjadi haus. Sementara itu, pemimpin prajurit itu juga memikirkan keadaan Mas
Rara yang berada di dalam kereta. Meski ia hanya duduk, namun ia tentu merasa
letih juga.
Namun setelah menempuh perjalanan yang berat dan lamban, akhirnya iring-iringan
itu telah mendekati tujuan. Sebuah padukuhan yang besar di luar dindlng kota
Pajang, justru agak di Utara.
Itu adalah padukuhan khusus. Disekelilingnya terdapat dinding yang lebih tinggi
dari rata-rata dinding yang terdapat pada padukuhan-padukuhan lain. Di samping
beberapa pintu gerbang yang lebih kecil, terdapat sebuah pintu gerbang induk
yang besar, dengan pintu yang kokoh. Padukuhan itu adalah padukuhan Banyuanyar.
Sebelum iring-iringan itu memasuki pintu gerbang padukuhan, pemimpin prajurit
memberitahukan pada Wirantana bahwa yang ada dihadapan mereka adalah padukuhan
yang akan mereka masuki.
“Di padukuhan itu Raden Panji Prangpranata tinggal“ berkata pimpinan prajurit
itu.
Wirantana mengangguk-angguk. Ia merasa sedikit lega, bahwa perjalanan yang
panjang, melelahkan dan lamban itu, akan segera berakhir. Menurut pendapat
Wirantana, sebelum mereka sampai tujuan, bahaya masih mengancam adik
perempuannya.
Makin dekat mereka dengan pintu gerbang padukuhan Banyuanyar, ketegangan menjadi
semakin menurun. Tetapi jantung serasa berdebar pula oleh sebab yang lain.
Wirantana tidak lagi mencemaskan adik perempuannya, tetapi ia mulai membayangkan
seseorang yang bernama Raden Panji Prangpranata.
Ketika ia berada di sebelah Manggada, di sisi kereta Mas Rara, tiba-tiba saja ia
berdesis “Rasa-rasanya aku ingin segera bertemu dengan Raden Panji”
“Apakah kau pernah bertemu sebelumnya?“ bertanya Manggada.
Wirantana menggeleng. Katanya “Aku belum pernah bertemu dengan Raden Panji”
Manggada mengangguk-angguk. Sementara Laksana bertanya pula “Di mana Raden Panji
pernah bertemu dengan adikmu?“
“Aku tidak begitu jelas. Tetapi menurut keterangan ayah dan ibu, Raden Panji
ketika sedang dalam perjalanan keliling untuk melihat-lihat daerah yang menjadi
tanggung-jawabnya diluar kota Pajang, telah singgah di banjar padukuhan Nguter.
Pada saat itu, persiapan dilakukan dengan sangat hati-hati. Beberapa orang gadis
ditunjuk untuk menghidangkan hidangan bagi Raden Panji Prangpranata. Termasuk
Mas Rara“ jawab Wirantana.
“Kau berada dimana pada waktu itu?“ bertanya Manggada.
“Aku masih berada di sebuah perguruan“ jawab Wirantana.
Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ujung iring-iringan
itu sudah berada di mulut pintu gerbang.
Seorang prajurit menyongsong keluar pintu gerbang. Ketika ia berbicara dengan
pemimpin prajurit yang datang itu, tampak terjadi ketegangan.
“Kau di sini“ berkata Wirantana kepada Manggada dan Laksana. Sebelum Manggada
dan Laksana menyahut, Wirantana telah mendekati pemimpin prajurit itu.
Baru kemudian ia tahu, bahwa ternyata Raden Panji Prangpranata sangat cemas
karena kedatangan Mas Rara terlambat.
“Raden Panji telah menyiapkan sekelompok prajurit untuk menyusul kalian“ berkata
prajurit itu.
“Hal ini adalah di luar kemampuan kami untuk mengatasi“ jawab pemimpin prajurit
yang membawa Mas Rara itu “sebagaimana kau lihat, aku membawa kawan-kawan kita
yang terluka. Tetapi juga tawanan. Orang-orang yang telah mencegat perjalanan
kami”
Prajurit yang menyongsong itu mengangguk-angguk. Lalu katanya “Baiklah. Mari,
Mas Rara akan ditempatkan di rumah Raden Panji yang sebelah Timur, sebelum Raden
Panji sendiri akan menerimanya”
Pemimpin prajurit itu mengangguk sambil menjawab “Baik. Tapi bagaimana dengan
tawanan yang kami bawa?“
Prajurit yang menerima kedatangan iring-iringan itu termangu-mangu sejenak.
Katanya kemudian “Kami akan membawa mereka”
la kemudian memerintahkan beberapa prajurit yang ada di regol untuk
mengambil-alih para tawanan. Meski demikian, karena hal itu diluar perhltungan,
ia masih minta pertimbangan beberapa orang prajurit lain, sehingga akhirnya ia
berkata “Biarlah mereka membawa para tawanan itu”
Pemimpin prajurit yang baru datang menyerahkan para tawanan pada pemimpin
kelompok yang akan membawa para tawanan itu ke barak.
Beberapa saat kemudian, para tawanan diterima oleh sekelompok prajurit yang
kemudian membawanya pergi, Yang tinggal kemudian adalah para prajurit yang akan
membawa Mas Rara ke tempat yang telah disediakan.
Ketika iring-iringan itu kemudian memasuki regol padukuhan. Wirantana, Manggada
dan Laksana segera mengetahui bahwa padukuhan itu sudah dibenahi, dan dalam
keadaan siap menerima calon istri Raden Panji Prangpranata.
Wirantana mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga, ia merasa berbangga bahwa
adiknya mendapat kehormatan besar. selain karena ia akan jadi istri seorang yang
berpengaruh dan berkuasa, ternyata ia juga dianggap seorang yang harus
dihormati.
Beberapa saat kemudian, mereka telah menyusuri jalan induk padukuhan Banyuanyar.
Penduduk yang tahu kedatangan Mas Rara, telah keluar dari regol-regol halaman
rumah mereka untuk melihat wajah gadis yang akan jadi istri pemimpin mereka.
Beberapa orang memang sempat melihat wajah Mas Rara, meski sekilas. Namun wajah
itu selalu menunduk dalam-dalam. Sedangkan yang lain, sama sekali tak
melihatnya.
Di tengah-tengah padukuhan itu, iring-iringan memasuki sebuah halaman rumah yang
tidak terlalu luas, tapi sangat bagus. Pendapanya yang sedang-sedang saja,
memberikan kesan ramping. Demikian pula gandok kiri dan kanan, juga bukan gandok
besar dan panjang. Tapi cukup memberikan kelengkapan bentuk sebuah rumah yang
utuh.
Ketika kereta kuda Mas Rara berhenti di halaman, pemimpin prajurit kemudian
mempersilahkan Wirantana membantu Mas Rara turun dari keretanya, dan membawanya
ke pendapa.
Beberapa orang perempuan telah siap menyambutnya. Demikian Mas Rara mendekati
pendapa, perempuan-perempuan itu bergegas menyongsong dan membimbingnya.
Mas Rara jadi bingung. Tapi ia tidak dapat berbuat lain kecuali mengikuti saja
kemana perempuan-perempuan itu membawanya.
Sejenak kemudian, Mas Rara telah duduk di pendapa. Seorang laki-laki setengah
baya kemudian berbicara pada pemimpin prajurit yang membawa Mas Rara itu.
“Biarlah kakaknya ikut naik ke pendapa“ berkata orang setengah baya itu.
“Kedua anak muda itu adalah sahabatnya. Keduanya adalah yang telah menoiong Mas
Rara dari keganasan seekor harimau. Bukankah Raden Panji memerintahkan agar
kedua-nya kami bawa serta?“ berkata pemimpin prajurit itu.
“Ya. Tapi biarlah keduanya berada di gandok saja“ berkata orang setengah baya
itu.
“Kenapa?“ bertanya pemimpin prajurit itu.
“Mereka bukan keluarga Mas Rara. Kedudukan mereka lain dari kakak Mas Rara“
berkata orang setengah baya itu. Lalu katanya perlahan-lahan “Raden Panji tidak
begitu senang terhadap kedua anak muda itu?“
“Jika demikian, kenapa Raden Panji memerintahkan dengan sungguh-sungguh agar
keduanya harus kami bawa bersama Mas Rara?” bertanya kepala prajurit itu pula.
“Bukankah sepantasnya Raden Panji mengucapkan terima kasih kepada mereka?” jawab
orang setengah baya itu.
Kepala prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia kemudian memberanikan
diri bertanya “Kenapa Raden Panji tidak senang pada mereka? Bukankah Raden Panji
belum pernah bertemu dengan kedua anak muda itu?“
Orang setengah baya itu menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya “Aku tidak
tahu”
Pemimpin prajurit itu tidak bertanya lagi. Katanya “Kau sajalah yang mengatur.
Kau yang membawa keduanya ke gandok, sementara kakak Mas Rara ke pendapa”
Orang setengah baya itu menarik nafas panjang. Tetapi sambil mengangguk kecil,
ia berkata “Baiklah. Aku akan mempersilahkannya”
Pemimpin prajurit itu kemudian memerintahkan bawahannya menarik diri dari
halaman rumah itu, dan kembali ke barak masing-masing. Mereka yang terluka,
memerlukan perawatan yang sebaik-baiknya. Namun ternyata seorang diantara yang
terluka tidak dapat diselamatkan jiwanya, meski ia sudah mendapat perawatan
sementara.
Tetapi pemimpin prajurit memerintahkan pada para prajurit untuk sementara jangan
sampai terdengar keluarga Mas Rara. Mereka tentu akan merasa sedih mendengar
bahwa diantara mereka yang menjemputnya, ada korban. Apalagi ia sadar bahwa
penyebab bencana itu adalah pamannya sendiri.
Orang setengah baya itu kemudian mempersilahkan Wirantana untuk naik ke pendapa.
Tetapi Manggada dan Laksana dipersilahkan naik ke serambi gandok.
Wirantana mulai merasakan sesuatu yang kurang pada tempatnya. Karena itu ia
berkata “Biarlah kedua orang sahabatku itu duduk bersamaku di pendapa”
Tetapi orang setengah baya itu menggeleng. Katanya “Maaf Ki Sanak. Raden Panji
memerintahkan bahwa hanya keluarga Mas Rara saja yang dipersilahkan naik ke
pendapa. Bukan maksudnya untuk membedakan tamu, tapi sekedar untuk mengetahui
mana keluarga Mas Rara, mana yang bukan keluarganya”
“Tetapi keduanya sudah seperti keluarga sendiri. Tanpa keduanya, Mas Rara tidak
akan pernah duduk di pendapa rumah ini“ berkata Wirantana. Lalu katanya pula
“Dua kali keduanya menyelamatkan Mas Rara. Karena itu, mereka berhak disebut
keluarga kami”
“Maaf Ki Sanak. Aku hanya, menerima perintah dari Raden Panji“ jawab orang itu.
“Jika demikian, biarlah aku disini saja“ berkata Wirantana.
“Ki Sanak dimohon untuk naik“ berkata orang itu”
Tetapi Wirantana tetap tidak mau. Bahkan Manggada dan Laksana telah minta
kepadanya untuk naik.
“Biarlah kami menunggu di serambi“ berkata Manggada.
“Tidak“ jawab Wirantana.
Sementara itu, seorang perempuan yang berada di pendapa telah mendatangi orang
yang mempersilahkan Wirantana itu sambil berkata “Mas Rara memanggil kakaknya”
Orang setengah baya itu berkata “Nah, bukankah Ki Sanak dipersilahkan naik”
“Hanya dengan kedua orang kawanku ini aku akan naik“ jawab Wirantana.
“Tetapi Mas Rara memanggil“ desis orang itu,
Tetapi Wirantana tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan katanya “Biar Mas Rara
datang kemari”
Orang yang sudah separo baya itu mengerutkan keningnya. Tetapi akhirnya ia tldak
dapat berbuat lain. Katanya “Baiklah. Tetapi aku sudah melakukan sesuai dengan
perintah Raden Panji. Padahal di sini perintah Raden Panji harus dilakukan
dengan baik. Jika Raden Panji menjadi marah, maka aku tidak bertanggung jawab”
“Begitu mudah Raden Panji marah?“ bertanya Wirantana.
“Setiap perintahnya yang tidak dilakukan dengan baik, dapat membuatnya marah.
Itu wajar sekali. Bukan hanya Raden Panji. Setiap orang yang dikecewakan orang
lain, akan marah. Hanya ungkapan kemarahannya yang berbeda-beda. Karena Raden
Panji memiliki segala-galanya di sini, ia dapat menjadi marah dan melakukan apa
saja yang dikehendaki atas orang-orang yang tidak melakukan perintahnya” berkata
orang itu.
“Menarik sekali“ berkata Wirantana.
“Pada saatnya kau akan berkata lain“ jawab orang itu. Wirantana termangu-mangu.
Sementara Manggada dan Laksana telah mempersilahkan Wirantana naik ke pendapa.
Sendiri.
“Kami akan menunggu di serambi“ desis Manggada beberapa kali.
Tetapi Wirantana berkeras untuk mengajak mereka naik ke pendapa.
Akhirnya ketiga orang itu naik. Mereka duduk agak jauh dari Mas Rara yang
didampingi beberapa orang perempuan.
Sementara itu, orang yang separo baya duduk pula diantara mereka. Di pendapa itu
pula, tetapi agak menepi, duduk pula dua orang yang siap melaksanakan perintah
orang separo baya itu.
Beberapa saat kemudian, para pelayan telah menghidangkan minuman untuk Mas Rara,
kakaknya serta orang-orang yang menyertainya, termasuk sais dan pembantunya yang
duduk di serambi gandok, ditemani seorang pembantu rumah itu.
Beberapa saat mereka harus menunggu. Mas Rara yang sebenarnya haus, rasa-rasanya
tidak dapat meneguk minuman yang dihidangkan Wedang sere yang manis dengan gula
aren itu rasa-rasanya sulit untuk melintas di tenggorokannya.
Berbeda dengan Mas Rara, maka Wirantana, Manggada dan Laksana telah meneguk
minumannya sehingga mangkuknya kering.
Untuk beberapa saat Mas Rara duduk diantara beberapa orang perempuan. Seorang
perempuan yang tertua diantara mereka berusaha memecahkan kebekuan dengan
sikapnya yang ramah. Beberapa pertanyaan diajukan kepada Mas Rara. Tetapi Mas
Rara nampaknya memang menjadi terlalu tegang, sehingga jawaban-jawabannya kadang
justru kurang dapat didengar oleh perempuan itu.
Meskipun demikian, perempuan-perempuan itu dapat mengerti sikap itu. Seorang
gadis yang berada di rumah bakal suaminya, memang dapat menjadi sangat tegang.
Apalagi yang dilakukan Mas Rara bukanlah kebiasaan yang berlaku diantara para
gadis. Biasanya calon pengantin laki-lakinya yang datang ke rumah calon
pengantin perempuan. Bahkan ada yang datang sejak selapan hari sebelum hari
perkawinan dilaksanakan.
Sementara itu, orang yang telah mempersilahkan Wirantana naik ke pendapa itu
satu-satu yang menanyakan keselamatan perjalanan iring-iringan itu. Tetapi
suasananya ternyata memang kurang menguntungkan. Agaknya orang itu menjadi
kecewa atas sikap Wirantana, sehingga pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya
tidak lebih sekadar melakukan kewajiban sebagai orang yang ditugaskan untuk
menerima keluarga Mas Rara.
Namun beberapa saat kemudian, telah datang seorang yang mendapat perintah dari
Raden Panji untuk menemui orang yang sudah separo baya itu. Dengan hormat orang
itu menyampaikan pesan Raden Panji kepada orang itu “Para tamu dipersilahkan
untuk beristirahat. Besok pagi-pagi Raden Panji akan datang menemui Mas Rara dan
para tamu dl sini”
“Ya, besok” jawab orang yang baru datang itu. Orang separo baya itu menarik
nafas dalam-dalam. Namun tidak ada yang dapat merubah perintah Raden Panji.
“Baiklah“ berkata orang separo baya itu “aku akan menyampaikannya pada para
tamu”
Ketika hal itu disampaikan pada Wirantana dan Mas Rara, maka tampak kekecewaan
memancar di wajah Wirantana. Sementara, Mas Rara justru berperasaan lain. Mas
Rara seakan-akan mendapat kesempatan menarik nafas, dan rasa-rasanya seperti
seorang pesakitan yang ditunda vonisnya.
Dengan demikian, setelah meneguk minuman dan makan sepotong makanan, orang
separo baya itu mempersilahkan para tamu beristirahat. Mas Rara mendapat tempat
di ruang dalam, sementara Wirantana dipersilahkan tidur di gandok kanan. Tapi
orang itu tidak mempersilahkan Manggada dan Laksana untuk istirahat di gandok
sebelah kiri, karena Wirantana tentu akan mencegahnya. Dengan demikian, Manggada
dan Laksana akan berada di gandok kanan bersama Wirantana, meski hanya ada satu
amben dalam bilik itu. Tapi cukup besar.
Sebenarnya Mas Rara merasa keberatan ditempatkan di ruang dalam. Ia merasa telah
dipisahkan dengan kakaknya. Tetapi perempuan-perempuan yang melayaninya telah
memberitahukan kepadanya bahwa kakaknya berada di gandok.
“Jika Mas Rara membutuhkannya, kami akan memanggilnya“ berkata yang tertua
diantara perempuan-perempuan itu.
Sementara Wirantana sempat bertanya pada orang yang menerima adiknya itu “Kenapa
Raden Panji baru dapat menemui Mas Rara besok pagi?“
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar, ia berkata “Raden Panji
akhir-akhir ini memang menjadi sangat sibuk”
“Tetapi bukankah kedatangan Mas Rara sudah direncanakan sebelumnya, sehingga
Raden Panji dapat menyiapkan waktunya untuk itu?“ bertanya Wirantana.
“Ya. Raden Panji memang telah menyiapkan waktunya. Tetapi karena sesuatu hal di
luar kemampuan kalian, serta para prajurit yang menjemput Mas Rara, kalian
datang terlambat. Memang bukan salah kalian. Tetapi tampaknya Raden Panji telah
mempunyai rencana lain dalam pengaturan tugasnya” berkata orang separo baya itu.
“Apakah begitu banyak tugas Raden Panji, sehingga ia sama sekali tidak sempat
untuk datang menemui Mas Rara meski hanya sekejap, dan kemudian ditinggalkannya
lagi” bertanya Wirantana.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, katanya “Akhir-akhir ini Raden
Panji jarang berada di rumah. Setiap kali Raden Panji harus pergi, mau tidak
mau. Jika tidak dipanggil menghadap ke Pajang, datang pemberitahuan bahwa telah
terjadi keributan di suatu tempat. Tampaknya, saat-saat terakhir ini, kerusuhan
menjadi semakin meningkat”
“Kerusuhan?“ bertanya Wirantana.
“Ya. Beberapa Kademangan mengalami kesulitan dengan sawah mereka. Panen sering
gagal, hama dan penyakit membunuh ratusam ternak” berkata orangtua itu “sehingga
karena itu, tugas Raden Panji menjadi semakin banyak, kaduag-kadang Raden Panji
Justru tidak sempat mengurusi dirinya sendiri karena tingkah laku orang-orang
yang kelaparan itu. Mereka harus mendapat penanganan khusus. Raden Panji
menganggap bahwu orang-orang yang kelaparan itu tidak dapat disamakan dengan
perampok, penyamun dan penjahat-penjahat lain. Mereka melakukan perbuatan
negatif sekadar untuk mempertahankan diri agar tidak mati kelaparan bersama
keluarga mereka”
Wirantana mengangguk-angguk. Keterangan itu telah membuat gambarannya tentang
Raden Panji jadi kabur. Semula ia menyangka bahwa Raden Panji adalah orang yang
sombong, keras dan mementingkan diri sendiri. Ternyata bahwa ia telah
memerintahkan bakal istrinya untuk datang kepadanya. Kemudian sikapnya yang
kurang ramah, dan seakan-akan justru mengabaikan kedatangan Mas Rara. Namun dari
cerita orang separo baya itu, Raden Panji seakan-akan merupakan seorang pahlawan
yang bijaksana, yang tahu menempatkan dirinya dalam gejolak waktu dan keadaan.
Sehingga justru karena itu, Raden Panji sama sekali bukan orang yang
mementingkan diri sendiri.
Tetapi Wirantana tidak dapat bertanya kepada orang itu tentang kepastian sosok
Raden Panji. Semua orang rasa-rasanya telah membuat tirai batas antara
pengenalannya dengan sosok itu sendiri. Ayahnya, ibunya, dan bahkan adiknya juga
tidak pernah mengatakan sesuatu tentang Raden Panji itu.
Tetapi Mas Rara memang harus menunggu kedatangan bakal suaminya besok. Mungkin
hari itu Raden Panji telah mendapat berita tentang satu peristiwa yang harus
segera ditanganinya.
Manggada dan Laksana yang sempat berbicara berdua saja ketika Wirantana pergi ke
pakiwan, telah menyatakan keheranannya pula atas sikap Raden Panji.
“Betapapun sibuknya, Raden Panji tentu dapat menyempatkan diri untuk melihat
calon istrinya. Apalagi ia telah mendapat laporan bahwa iring-iringan prajurit
yang menjemput calon istrinya telah mendapat gangguan. Sasarannya justru calon
istrinya itu sendiri” berkata Laksana.
“Ya. Tetapi barangkali Raden Panji justru kecewa setelah mendengar sikap paman
Mas Rara itu sendiri“ jawab Manggada “atau karena Raden Panji menganggap bahwa
tidak akan terjadi apa-apa lagi, karena orang yang langsung merencanakan
perbuatan itu telah terbunuh”
“Tetapi bagaimanapun juga, sikapnya kurang dapat dimengerti“ desis Laksana
“bahkan aku condong menganggapnya terlalu sombong karena ia seorang pemimpin
yang berpangkat tinggi, sedang keluarga Mas Rara adalah keluarga orang kecil”
Manggada mengangguk-angguk. Sebenarnyalah ia berpendapat bahwa Raden Panji
Prangpranata memang menganggap bahwa kedudukannya jauh lebih tinggi dari
kedudukan bakal isterinya, sehingga ia dapat berbuat apa saja menurut
keinginannya. Ia dapat memerintahkan untuk memanggil bakal isterinya. Kemudian
membiarkannya menunggu sampai ia sempat datang menemuinya.
Ketika Wirantana kemudian selesai, maka bergantianlah Manggada dan Laksana pergi
ke pakiwan.
Tetapi ketika ketiga orang anak muda itu kemudian duduk-duduk di serambi,
seorang diantara perempuan-perempuan yang menemani Mas Rara, datang. Dengan nada
rendah ia bertanya “Siapakah diantara anak-anak muda yang bernama Wirantana?“
“Aku“ jawab Wirantana.
“Maaf anakmas Mas Rara memanggil anakmas” berkata perempuan itu.
Wirantana mengungguk kecil sambil berkata “Baiklah. Aku akan datang segera“
“Marilah anakmas, aku akan mengantar anakmas menemui Mas Rara di ruang dalam“
berkata perempuan itu.
Wirantana berpaling kepada Manggada dan Laksana. Sambil mengangguk kecil
Manggada berkata “Lihatlah. Mungkin adikmu sangat memerlukanmu”
Wirantana kemudian mengikuti perempuan itu pergi ke ruang dalam.
“Silahkan anakmas“ perempuan itu mempersilahkan Wirantana masuk ke bilik
adiknya.
Di dalam bilik itu ternyata adiknya ditunggui oleh dua orang perempuan. Namun
ketika Wirantana masuk ke dalam bilik itu, kedua orang perempuan itu keluar.
“Ada yang perlu aku tolong?“ bertanya Wirantana setelah menutup pintu bilik itu.
Mas Rara tidak menjawab. Kepalanya menunduk dalam-dalam.
“Bukankah kau panggil aku?“ bertanya Wirantana pula.
Mas Rara masih tetap berdiam diri. Namun dari kedua matanya mengalir air mata.
“Apa yang terjadi?“ bertanya Wirantana gelisah.
Tetapi Mas Rara tidak menjawab.
“Mas Rara“ desak Wirantana “kenapa? Ada apa?“ Mas Rara masih tetap saja berdiam
diri.
“Apakah kau kecewa karena Raden Panji baru akan menemuimu besok?“ bertanya
Wirantana.
Mas Rara menggeleng kecil, hampir tidak tertangkap kesannya oleh Wirantana.
“Apa sebenarnya yang telah terjadi?“ desak Wirantana yang menjadi bingung oleh
sikap adiknya.
Tetapi Mas Rara tetap berdiam diri.
Wirantana jadi tambah bingung. Tetapi akhirnya ia duduk saja di bibir
pembaringan tanpa mengucapkan kata-kata apapun.
Keduanya saling berdiam diri untuk beberapa saat. Tetapi Wirantana menjadi
pening karena suasana itu. Akhirnya ia berkata “Barangkali kau belum dapat
mengatakannya sekarang Mas Rara. Tetapi aku tidak pantas berada di sini. Di luar
beberapa orang perempuan menunggu. Karena itu, biarlah aku keluar saja dulu.
Nanti jika kau merasa bahwa waktunya sudah datang untuk mengatakan sesuatu,
panggil aku lagi”
Mas Rara mengangguk. Namun justru karena itu Wirantana menjadi semakin tidak
mengerti dengan perasaan adiknya yang sebenarnya. Wirantana jadi semakin ragu.
Apakah adiknya merasa berbahagia atau tidak.
“Baiklah“ berkata Wirantana “aku akan menunggu di gandok”
Mas Rara diam membeku. Tetapi ketika Wirantana bangkit berdiri, Mas Rara
tiba-tiba terisak.
“Kenapa kau sebenarnya?“ Wirantana menjadi makin bingung. Apalagi ketika ia
kemudian mendengar suara adiknya diantara isak tangisnya “Aku ingin pulang”
Wirantana duduk kembali di bibir pembaringan adiknya. Dengan nada rendah ia
bertanya “Kenapa? Kenapa?“
Tetapi Mas Rara telah terdiam sama sekali. Tidak ada kata-kata yang terloncat
dari sela-sela bibirnya. Gadis itu menunduk saja, sementara air matanya menitik
satu-satu.
Wirantana benar-benar menjadi bingung. Ia mencoba untuk meraba-raba, apakah yang
telah terjadi dengan adiknya. Mungkin karena tingkah laku pamannya yang
membuatnya bukan saja sakit hati, tetapi juga sangat malu terhadap Raden Panji
dan orang-orang di sekitarnya.
Tetapi Mas Rara tetap tidak mau mengatakan sesuatu. Sehingga akhirnya Wirantana
berkata lagi “Baiklah. Aku menunggu di gandok”
Sekali lagi Mas Rara mengangguk.
Ketika Wirantana keluar, beberapa orang perempuan yang ada di depan bilik itu
bangkit berdiri dan mengangguk hormat, sehingga Wirantana menjudi segan
karenanya.
Manggada dan Laksana yang berada di gandok ternyata juga bertanya-tanya, untuk
apa Mas Rara memanggil Wirantana.
Sementara itu Wirantana telah berusaha untuk menenangkan hatinya sendiri “Mas
Rara belum pernah berpisah dengan ayah dan ibu“ berkata Wirantana di dalam
hatinya “Karena itu, agaknya ia selalu dibayangi kecemasan tentang dirinya
sendiri. Apalagi karena tingkah paman yang sama sekali tidak terduga”
Ketika kegelisahan Wirantana disampaikan pada Manggada dan Laksana, kedua anak
muda itu ikut-ikutan jadi gelisah. Meskipun Wirantana berusaha menenangkan
perasaannya, tetapi gejolak perasaan adiknya yang tertutup di bilik, makin
membuatnya gelisah.
“Mas Rara tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya“ berkata Wirantana di
dalam hatinya. Tetapi ia sadar bahwa hal itu terjadi ketika mereka masih remaja.
Ketika ia pergi berguru dan kemudian kembali, terjadi banyak perubahan. Adiknya
telah tumbuh menjadi gadls dewasa, sebagaimana dirinya juga telah menjadi
dewasa.
Manggada dan Laksana setiap kali hanya mengangguk-angguk saja, la tidak mau
menambah kegelisahan hati anak muda itu. Keduanya berusaha dapat membantu
meringankan beban perasaan Wirantana, meski tidak bisa memberikan jalan
keluarnya.
Ketika kemudian malam turun, setelah makan malam yang dihidangkan ke biliknya,
Wirantana bersama Manggada dan Laksana tetap berada di biliknya. Tidak ada minat
dari ketiga anak muda itu melihat-lihat keadaan. Apalagi Manggada dan Laksana
merasa diri mereka seakan-akan berada di tempat yang sangat asing.
Ketiga anak muda itu mendengar beberapa orang berbicara di pendapa. Tetapi
mereka merasa ragu-ragu untuk keluar dari dalam bilik itu.
Tapi ketika mereka kemudian mendengar percakapan di serambi gandok, Wirantana
membuka pintu bilik gandok itu.
Dua orang duduk di serambi. Seorang diantara mereka berdesis “Kami sangka kalian
sudah tidur. Mungkin lelah karena perjalanan yang panjang. Tetapi mungkin juga
karena merasa tidak ada lagi yang harus kalian kerjakan”
Wirantana termangu-mangu sejenak. Namun ia kemudian melangkah keluar diikuti
Manggada dan Laksana.
“Apakah Ki Sanak juga termasuk prajurit Pajang yang berada di bawah pimpinan
Raden Panji?“ bertanya Wirantana.
Kedua orang itu memandang Wirantana dengan tajamnya. Seorang diantara mereka
menjawab “Kami memang pembantu-pembantu terdekat Raden Panji. Bukankah kau kakak
Mas Rara yang akan diperisteri Raden Panji?“
“Ya “ jawab Wirantana.
“Sedangkan kedua orang anak muda itu disebut-sebut telah menyelamatkan Mas Rara
dari terkaman harimau yang tersesat itu?“ bertanya orang itu pula.
“Ya“ jawab Wirantana pula.
“Marilah. Duduklah. Masih belum terlalu malam untuk berbincang-bincang“ berkata
orang itu.
Wirantana, Manggada dan Laksana pun telah duduk pula bersama kedua orang itu.
Keduanya berganti-ganti bertanya tentang keluarga Wirantana. Tentang perjalanan
yang telah mereka tempuh dan tentang hambatan-hambatan yang terjadi.
“Kenapa pamanmu berlaku kasar terhadap adik perempuanmu itu?“ bertanya orang itu
tiba-tiba.
Pertanyaan yang sangat tidak disukai oleh Wirantana. Namun iapun telah menjawab
“Aku tidak tahu. Tidak ada yang tahu kenapa paman berbuat seperti itu. Aku kira
paman pun tidak tahu kenapa ia berlaku seperti itu”
Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Namun seorang diantara keduanya telah
bertanya pula “Pamanmu telah membunuh beberapa orang. Bahkan diantaranya
prajurit Pajang. Meskipun bukan karena tangannya sendiri, tetapi ia adalah
penyebab dari kemiatian itu”
“Ya“ jawab Wirantana. Ia menjadi semakin tidak senang dengan
pertanyaan-pertanyaan kedua orang itu. Namun ia pun tetap menjawab pula “Tetapi
paman juga telah terbunuh”
Kedua orang itu tersenyum. Seorang diantaranya justru tertawa sambil berkata
“Tetapi kematiannya adalah karena salahnya sendiri. Berbeda dengan prajurit itu”
“Kenapa dengan prajurit itu?“ bertanya Wirantana.
“Ia mati karena melaksanakan tugas. Ia mati sebagai pahlawan“ jawab orang itu.
“Apakah itu bukan salahnya sendiri?“ justru Wirantanalah yang bertanya.
“Kenapa salahnya sendiri?“ orang itu ganti bertanya.
“Jika ia menyesali kematiannya karena mengemban tugas, sebaiknya ia tidak
menjadi prajurit saja. Bukankah ketika ia menyatakan diri menjadi prajurit,
akibat seperti itu sudah diperhitungkan. Justru kematian yang paling berarti
dari seorang prajurit adalah mati di peperangan selagi menjalani pengabdian”
Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Seorang diantara mereka berkata
“Jadi itukah pandanganmu tentang seorang prajurit? Dia baru bararti jika mati di
medan perang? Atau katakanlah, tiap prajurit yang masuk dalam arena pertempuran,
untuk melaksanakan pengabdian, sebaiknya mati. Dengan demikian, ia baru bisa
berarti?“
“Tidak“ Jawab Wirantana “aku tidak mengatakan demikian. Aku hanya mengatakan
bahwa kematian yang paling berarti bagi seorang prajurit adalah mati di medan
perang, selagi menjalankan pengabdian. Tentu saja dalam arti luas”
Orang itu tertawa. Katanya “Pandai juga kau bermain dengan kata-kata. Tetapi
baiklah. Aku setuju dengan pendapatmu”
“Terima kasih“ jawab Wirantana. Ia berharap bahwa tidak ada pertanyaan lagi
tentang pamannya yang telah terbunuh itu. Tapi Wirantana salah duga. Orang itu
masih bertanya lagi “Apakah sebelumnya tidak ada tanda-tanda tentang sikap
pamanmu itu pada adikmu?“
“Tidak“ jawab Wirantana singkat.
Kedua orang itu mengerti bahwa Wirantana tidak senang mendengar
pertanyaan-pertanyaan mereka tentang pamannya. Tapi seorang diantara mereka
justru bertanya “Apakah pamanmu belum beristeri?“
Jantung Wirantana terasa berdenyut makin cepat. Tapi ia masih coba menjawab
“Belum”
“Berapa umur pamanmu?“ bertanya yang lain. Seperti mimpi, Wirantana menjawab
“Tigapuluh”
“Masih begitu muda?“ bertanya orang itu pula.
“Ya“ jawab Wirantana.
Orang itu tertawa. Dengan nada tinggi ia bertanya “Kau tidak senang mendengar
pertanyaan-pertanyaan tentang pamanmu?
“Tepat“ jawab Wirantana.
“Kau tersinggung? Seharusnya kau tidak usah tersinggung. Peristiwa itu
menunjukkan keadaan keluargamu yang rapuh. Jika tidak, peristiwa semacam itu
tidak akan terjadi. Sebenarnya Raden Panji jadi sangat kecewa. Siapa tahu
sebelum kejadian itu memang sudah ada hubungan antara pamanmu dengan Mas Rara“
berkata orang itu.
“Jika demikian, apakah pamanku begitu bodoh sehingga harus menunggu sampai Mas
Rara dijemput? Bukankah sebelumnya mereka dapat dengan mudah melarikan diri?“
justru Wirantanalah yang kemudian bertanya.
“Kenapa tidak mereka lakukan? Tapi jika hal itu mereka lakukan, Mas Rara tentu
tidak akan menerima mas kawin dari Raden Panji“ jawab orang itu.
Wajah Wirantana jadi panas. Manggada dan Laksana masih berdiam diri. Tapi
jantung mereka berdetak makin cepat.
Dengan suara bergetar, Wirantana berkata “Jadi kau nilai adikku tidak lebih dari
mas kawinnya?“
Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun seorang diantara mereka menjawab
“Ya. Mas kawin itu bagi keluargamu merupakan kurnia yang tidak ternilai. Jauh
lebih bernilai dari adikmu”
“Siapa yang menilai seperti itu, kau atau Raden Panji?“ tiba-tiba saja Manggada
yang tidak tahan lagi bertanya pula.
Lagi, kedua orang itu termangu-mangu. Wirantana yang tanggap justru mendesak
“Aku, sebagai kakak Mas Rara, merasa perlu untuk mendapat penjelasan dari Raden
Panji”
“Kau berani rnenanyakannya?“ bertanya salah seorang dari kedua orang itu.
“Kenapa tidak? Kami orang-orang padesan, adalah orang-orang yang terbuka. Lebih
baik aku bertanya pada Raden Panji dengan akibat apapun, daripada kegelisahan
ini kubawa pulang dan menyampaikannya pada ayah dan ibu. Mereka tentu akan jadi
gelisah. Bahkan jika Raden Panji memang kecewa, aku akan membawa adikku kembali.
Mas kawin itu masih utuh disimpan ayah di tempat yang paling tersembunyi,
setelah hampir terjadi perampokan“ jawab Wirantana.
“Kau tidak perlu bertanya pada Raden Panji“ berkata orang itu dengan nada
menurun.
“Aku akan bertanya. Raden Panji tentu mengerti bahwa orang-orang padesan seperti
kami tidak banyak mengenal unggah-ungguh. Tapi jika hanya bertanya tentang hal
itu kami harus digantung, akan kami jalani” jawab Wirantana.
“ Kau benar-benar akan digantung jika berani menanyakannya“ geram orang itu.
“Apa boleh buat“ jawab Wirantana.
“Mas Rara pun akan digantung pula“ berkata orang yang lain.
“Jika Raden Panji memang menganggap Mas Rara curang, dalam hubungannya dengan
paman, bertanya atau tidak bertanya, lambat atau cepat, ia juga akan digantung“
jawab Wirantana.
“Anak dungu” tiba-tiba seorang diantara mereka membentak “dengar perintah kami”
Wajah Wirantana jadi merah. Dengan geram ia berkata “Aku tidak akan menuruti
perintahmu. Besok aku akan bertanya pada Raden Panji, apakah ia benar-benar
kecewa terhadap adikku, dan menuduhnya berkhianat sebelum benar-benar jadi istri
Raden Panjl. Jika tuduhan itu benar-benar dilontarkan oleh Raden Panji,
sebaiknya dia mengambil langkah-langkah yang pantas dari seorang pemimpin”
Kedua orang itu menjadi tegang. Seorang diantara mereka berkata “Jika ada
diantara kalian yang menanyakan hal itu pada Raden Panji, setelah itu kita akan
membuat perhitungan”
“Aku akan menanggung semua akibat dari perbuatanku“ jawab Wirantana “mungkin
akibat itu sangat menyakitkan. Bahkan mungkin kematian. Tapi nilai adikku tidak
hanya sebesar mas kawin yang diberikan Raden Panji, berapapun banyaknya”
“Anak iblis“ geram seorang diantara kedua orang itu “pikirkan dulu segala
langkahmu agar kau tidak menyesal. Kau jangan menganggap aku sedang
bermain-main”
“Perjalanan yang kami tempuh juga bukan tamasya yang sejuk segar“ jawab
Wirantana “nyawa kami pun hampir tersangkut dalam perjalanan itu”
Kedua orang itu menggeretakkan gigi. Seorang diantara mereka berkata “Marilah.
Memang sulit bicara dengan orang-orang padesan yang dungu. Tapi jika besok ia
benar-benar digantung, itu bukan salah kita”
Dengan tergesa-gesa, kedua orung itu meninggalkan serambi gandok. Keduanya turun
ke halaman dan kemudian keluar dari regol.
Wirantana, Manggada dan Laksana masih duduk di serambi. Dengan geram Wirantana
berkata “Orang itu telah menghilangkan kantukku”
“Apa maksudnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan hati itu“ desis
Laksana.
“Kita memang perlu berhati-hati“ desis Manggada. Wirantana menarik nafas
dalam-dalam. Dengan nada rendah, ia bertanya “Jika kalian berdua mendapatkan
kesempatan untuk meninggalkan tempat ini, kalian akan meneruskan perjalanan
kemana?“
Manggada dan Laksana termangu-mangu. Dengan nada rendah Manggada berkata
“Agaknya kita masih harus jalan bersama-sama”
“Kenapa?“ bertanya Wirantana.
“Orang-orang itu telah mengancam. Sebaiknya kau tidak menempuh perjalanan
sendiri”
“Jadi kalian akan kembali lagi ke rumah kami?“ bertanya Wirantana.
Manggada dan Laksana hanya menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Wirantana
berdesis hampir pada diri sendiri “Jangan terlalu memikirkan keselamatan kami.
Aku tahu, kalian tentu punya kepentingan sendiri. Biarlah kami coba
menyelesaikan persoalan kami sendiri”
“Kami adalah pengembara yang tidak terikat oleh waktu dan keadaan“ jawab
Manggada “kami dapat mengubah rencana kami jika keadaan memanggil”
Wirantana tidak menjawab. Dalam keremangan cahaya lampu minyak, ia melihat
seseorang mendekati tempat itu. Seorang yang abdi tua dari orang yang menerima
kedatangan Mas Rara dan para pengiringnya.
Dengan ramah orang itu berdesis “Selamat malam anak-anak muda. Kiranya masih
belum mengantuk”
“Belum Kiai“ jawab Manggada “udara terlalu panas di dalam”
“Bolehkah aku duduk?“ bertanya orangtua itu.
“Silahkan Kiai, silahkan“ Wirantana mempersilahkan sambil membimbing orangtua
itu duduk di serambi gandok.
“Aku melihat dua orang tadi datang kemari“ berkata orangtua itu.
“Ya. Menurut keterangannya, mereka adalah pembantu dekat Raden Panji“ jawab
Wirantana.
Orangtua itu tersenyum sambil mengangguk-angguk. Katanya “Keduanya memang
mengabdi pada Raden Panji. Keduanya memang termasuk dekat, tapi tidak terlalu
dekat”
Ketiga anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara, orangtua itu kembali berkata
“Aku tidak begitu mengerti apa yang kalian bicarakan dengan kedua orang itu anak
muda. Tapi tampaknya kalian telah berselisih paham”
“Ya, Kiai“ jawab Wirantana “memang terjadi salah paham, tapi tidak terlalu
penting”
“Apakah ia menyebut tentang Raden Panji?“ bertanya orangtua itu.
Wirantana memang terbuka. Ia mengatakan apa yang telah dibicarakannya dengan
kedua orang tadi.
Tanggapan orangtua itu mengejutkan. Katanya “Pantas. Aku sudah mengira bahwa la
akan memperkecil arti Mas Rara bagi keluarganya, bagi Raden Panji dan bagi orang
banyak”
“Kenapa?“ bertanya Wirantana.
“Istri Raden Panji yang terakhir adalah salah seorang dari saudara mereka“ jawab
orangtua itu.
“Istri yang terakhir?“ bertanya Manggada dengan nada tinggi.
Orangtua itu termangu-mangu sejenak. Namun ia kemudian mengangguk-angguk sambil
menjawab “Ya, isteri yang terakhir, yang disingkirkannya beberapa saat lalu”
“Berapa isteri Raden Panji? Maksudku, sudah berapa kali ia kawin?“ bertanya
Wirantana.
Orangtua itu mengerutkan keningnya. Ia memang menjadi ragu-ragu. Tetapi akhirnya
ia berkata “Yang aku ketahui ngger, Raden Panji telah pernah kawin lima kali.
Dua diantaranya meninggal. Sedangkan tiga orang telah diceraikan. Yang terakhir
dicerai adalah adik dari orang yang datang kemari itu.
Jantung ketiga anak muda itu berdegup keras. Baru saat itu mereka tahu, bahwa
Raden Panji telah pernah kawin lima kali.
Tetapi mereka tidak banyak bertanya lagi. Orang itu kemudian berkata “selain
itu, aku tidak tahu apa-apa tentang Raden Panji Prangpranata”
“Ia seorang prajurit?“ bertanya Laksana.
“Ya“ jawab orangtua itu singkat.
Laksana mengangguk-angguk. Tetapi ternyata masih meluncur pertanyaannya “Kenapa
ia kawin sampai lima kali?“
Orangtua itu menggeleng. Katanya “Aku tidak tahu apa-apa lagi”
“Berapa putera Raden Panji“ bertanya Wirantana.
“Tidak seorangpun“ jawab orangtua itu. Wirantana mengerutkan dahinya. Tetapi ia
berdesis “Itulah agaknya yang jadi sebab Raden Panji masih saja ingin kawin.
Lima kali ia kawin, tetapi ternyata ia masih belum mempunyai anak yang akan
menyambung hidupnya, memperpanjang darah keturunannya”
“Tetapi bagaimana jika Raden Panji sendiri yang tidak dapat mempunyai anak,
karena mandul atau sebab-sebab lain?“ bertanya Manggada.
“Sudahlah” berkata orangtua itu “kita berbicara tentang yang lain. Tidak baik
kita membicarakan kekurangan seseorang. Apalagi orang itu adalah orang yang
selama ini sangat kita hormati”
Wirantana, Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka memang tidak berbicara
lagi tentang kekurangan-kekurangan Raden Panji. Tetapi orangtua itu berceritera
tentang kelebihan Raden Panji Prangpranata.
“Saat Demak kehilangan apinya, maka telah terjadi benturan kekuatan antara para
Adipati keturunan Demak, yang memperebutkan tahta. Kekuasaan Adipati Pajang
memang telah berkembang paling luas diantara mereka yang berebut tahta itu.
Pajang telah memasuki satu masa perang saudara melawan Jipang. Raden Panji
Prangpranata adalah seorang Senopati yang ikut menentukan kemenangan Pajang atas
Jipang. Karena itu maka Raden Panji sekarang telah mendapat kedudukun yang cukup
baik. Raden Panji bertugas untuk mengawasi dan mendapat wewenang mengambil sikap
atas nama Pajang bagi daerah yang luas di sebelah Timur kota Pajang. Agaknya
sampai ke padukuhan anak-anak muda ini”
Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara itu, orangtua itu berceritera
terus tentang kelebihan dan kuasa Raden Panji Prangpranata.
“Karena itu“ berkata orangtua itu kemudian “beruntunglah Mas Rara yang akan
menjadi isteri Raden Panji Prangpranata. Apalagi jika Mas Rara dapat memberi
anak kepada Raden Panji. Maka ia benar-benar akan menjadi seorang perempuan yang
sangat beruntung. Terhormat, kaya raya dan memiliki darah keturunan”
Wirantana menarik nafas dalam-dalam. Ia memang berharap adiknya, berbahagia. Ia
sudah merasa sangat kecewa ketika ia mendengar bahwa adiknya akan menjadi isteri
Raden Panji yang keenam. Namun ia sedikit dapat mengerti kenapa hal seperti itu
terjadi, ketika ia mendengar bahwa kelima isteri Raden Panji itu tidak berputera
sama sekali.
Namun orangtua itu kemudian telah minta diri, Malam menjadi semakin dalam.
Katanya “Sudahlah. Beristirahatlah. Besok kalian pagi-pagi harus sudah siap.
Bukankah Raden Panji besok akan menemui bakal isterinya?“
“Ya“ jawab Wirantana.
“Tidurlah. Raden Panji sangat menghargai waktu. Jika besok ia datang dan kalian
belum siap, maka kalian akan ditinggalkannya“ berkata orang itu.
“Ditinggal kemana?“ bertanya Wirantana pula.
“Maksudku, kalian tidak akan dihiraukan lagi. Raden Panji sangat membenci orang
yang terlambat“ jawab orangtua itu.
“Tetapi Raden Panji tidak mengatakan, kapan ia datang. Saat matahari terbit,
sepenggalah, saat gumatel atau saat pasar temawon? Atau tengah hari?“ sahut
Wirantana.
“Raden Panji yang menentukan segala-galanya. Bukan orang lain. Karena itu, maka
orang lainlah yang harus menyesuaikan diri. Bangunlah pagi-pagi, lalu mandi.
Kalian harus siap setiap saat Raden Panji memanggil kalian” berkata orangtua itu
pula.
“Jadi bagaimana dengan Mas Rara?“ bertanya Wirantana” Apakah ia sudah tahu akan
hal itu?“
“Tentu sudah. Perempuan-perempuan yang merawat dan melayani tentu sudah tahu,
kapan ia harus siap. Diantara perempuan-perempuan itu, terdapat juru riasnya. Ia
akan mulai meriasnya pagi-pagi sekali. Sudah tentu Mas Rara harus mandi sebelum
matahari terbit” berkata orangtua itu pula.
Wirantana menarik nafas dalam-dalam. Gambarannya tentang Raden Panji menjadi
semakin kabur. Ia tidak dapat melihat watak dan sifat Raden Panji sebagai satu
kebulatan. Setiap keterangan telah memberikan gambaran yang berbeda-beda.
Namun Wirantana memang tidak terlalu banyak bertanya. Tetapi keterangan orangtua
itu telah menahan keinginannya untuk berbicara langsung dengan Raden Panji.
Demikianlah, sejenak kemudian, maka orangtua itu pun telah meninggalkan gandok.
Tertatih-tatih ia berjalan di kegelapan melintas pendapa dan hilang di balik
regol halaman yang dijaga oleh prajurit bersenjata.
Wirantana tidak dapat mengatakan kepada siapa pun gambarannya tentang Raden
Panji itu. Namun yang penting baginya, apakah Raden Panji itu dapat
membahagiakan adiknya atau tidak.
Tetapi seperti yang dikatakan oleh orangtua itu, agar mereka beristirahat, maka
Wirantana pun kemudian telah mengajak Manggada dan Laksana masuk ke dalam
biliknya.
“Sebaiknya sekarang kita tidur saja“ berkata Wirantana.
Manggada dan Laksana pun telah mengikuti Wirantana pula. Laksanalah yang menutup
pintu bilik itu, menyelaraknya dan kemudian melangkah ke pembaringan.
Namun ternyata tidak mudah untuk segera dapat tidur. Apalagi Wirantana. Ia
selalu membayangkan sosok Raden Panji Prangpranata. Seorang prajurit yang gagah
berani, bertubuh tinggi kekar, berwajah keras. Terlalu yakin akan dirinya
sendiri, sombong dan menganggap orang lain tidak terlalu penting.
Bahkan Manggada dan Laksana pun telah ikut pula membayangkan Raden Panji itu di
dalam angan-angan mereka. Keduanya merasakan suasana yang aneh di rumah itu.
Sejak mereka datang, sudah terasa suasana yang agak kurang baik bagi keduanya.
Suasuna itu terasa sekali ketika seseorang mempersilahkan Wirantana untuk naik
dan menahan Manggada dan Laksana untuk tidak menyertainya. Namun kedua anak muda
itu telah mencoba untuk menempatkan diri dengan baik, sehingga mereka tidak
menunjukkan sikap bahwa mereka telah tersinggung.
Tetapi kedua anak muda itu tidak berkepentingan langsung sebagaimana Wirantana.
Karena itu, maka keduanya tidak terlalu dicekam oleh angan-angannya tentang
Raden Panji Prangpranata itu. Mereka hanya orang yang terkait karena kebetulan
saja. Seandainya mereka tidak menemukan Mas Rara hampir menjadi korban kuku-kuku
harimau yang ganas, maka mereka tidak akan berada di tempat itu.
Di ruang dalam, di bilik yang telah disediakan khusus bagi Mas Rara, ternyata
bahwa Mas Rara sendiri pun menjadi sangat gelisah. Seperti Wirantana, maka
hampir semalam suntuk gadis itu tidak dapat memejamkan matanya. Hanya karena
badannya yang letih sajalah ia akhirnya lelap sesaat.
Tetapi pagi-pagi sekali perempuan-perempuan yang menungguinya telah menjadi
sibuk. Mereka telah menyiapkan alat-alat untuk merias Mas Rara. Ternyata seperti
yang dikatakan oleh orangtua yang menemui Wirantana dan Manggada serta Laksana,
pagi-pagi sekali Mas Rara harus sudah disiapkan untuk menerima kedatangan Raden
Panji.
Ketika Mas Rara terbangun, maka dua orang perempuan sudah merasa gelisah
menunggu. Tetapi keduanya juga merasa segan untuk membangunkan gadis itu, karena
mereka tahu, bahwa Mas Rara belum lama tertidur.
Untunglah bahwa kesibukan di dalam bilik itu telah membangunkannya. Demikian ia
bangkit dan duduk di pembaringan, maka kedua orang perempuan itu sudah
mendekatinya. Seorang diantara mereka berkata “Mas Rara. Marilah kami bantu Mas
Rata mandi dengan air yang sudah kami siapkan”
Mas Rara termangu-mangu. Namun iapun kemudian berkata “Aku dapat mandi sendiri
bibi”
“Kami telah menyiapkan air bunga yang wangi. Mas Rara akan segera menerima
kedatangan Raden Panji Prangpranata. Karena itu, kami telah siap untuk membantu
Mas Rara mempersiapkan diri” berkata perempuan itu.
Mas Rara tidak dapat mengelak ketika kedua orang perempuan itu kemudian
membimbingnya membawa ke pakiwan.
Ternyata dua orang perempuan yang lain telah menunggu di pakiwan. Mereka telah
menyiapkan air bunga di sebuah jambangan khusus. Beberapa macam bunga telah
ditaburkan ke dalam air di jambangan itu.
Selain air bunga, telah disiapkan pula boreh berwarna kuning di dalam sebuah
mangkuk tembaga yang berukir.
Seperti seorang bayi, maka Mas Rara harus membiarkan dirinya dimandikan oleh
kedua orang perempuan itu. Kemudian mengusap seluruh tubuhnya dengan boreh itu.
Di pakiwan yang lain, Wirantana telah mandi pula. Ia tidak mau terlambat
sebagaimana dikatakan oleh orangtua di serambi gandok semalam. Setelah
Wirantana, maka Manggada dan Laksana pun telah berbenah diri pula.
Namun ternyata, ketiga anak muda yang berusaha untuk berpakaian serapi-rapinya
itu, masih juga menjadi berdebar-debar. Sosok Raden Panji menjadi semakin
membingungkan mereka. Karena itu, mereka jadi ingin berbuat sebaik-baiknya.
Mereka tidak mau memberikan kesan buruk, demikian Raden Panji melihat mereka.
Karenanya, ketiga anak muda itu berbuat apa saja yang dapat mereka lakukan.
Apalagi Wirantana, kakak Rara Wulan. Beberapa kali ia minta Manggada membetulkan
ikat kepalanya.
“Bukankah sudah tidak miring?“ bertanya Wirantana.
“Kau tidak akan didudukkan di pelaminan hari ini Wirantana“ Laksana sempat
bergurau dalam ketegangan itu.
Wirantana tertawa. Ia dapat juga menjawab “Tetapi aku adalah kakak Rara Wulan,
bakal istri Raden Panji yang besar itu”
Tapi jawaban itu justru merupakan ujung duri yang menyengat jantungnya sendiri.
Tiba-tiba saja ia teringat bahwa Rara Wulan akan menjadi istri Raden Panji yang
keenam.
Begitu matahari mulai naik, seorang pelayan menghidangkan makan pagi untuk
ketiga orang muda itu. Bahkan pelayan itu sempat berpesan “Silahkan anak-anak
muda, sebelum Raden Panji datang”
“Kapan Raden Panji datang? bertanya Wirantana.
“Kami tidak tahu anak muda. Pada saatnya, tentu akan datang utusan untuk
memberitahukan kedatangan Raden Panji“ jawab pelayan yang menghidangkan makan
pagi itu.
Wirantana menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu iapun berdesis “Terima kasih”
Sepeninggal pelayan itu, Wirantana mengajak Manggada dan Laksana makan.
Betapapun mereka memikirkan Raden Panji dan Mas Rara, namun anak-anak muda itu
ternyata juga mampu menikmati hidangan yang diberikan kepada mereka.
“Jika setiap hari kita sempat makan seperti ini, maka kita akan segera menjadi
gemuk“ desis Laksana.
“Tidak baik bagi pengembara“ jawab Manggada.
Wirantana menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Betapapun banyaknya kita makan,
dan betapapun enaknya makan yang dihidangkan, tetapi jika hidup kita selalu
dipanggang dalam kegelisahan, kita tidak akan dapat menjadi gemuk”
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sambil menyuapi mulutnya, Laksana
berkata “Aku sependapat. Ketenangan dan kedamaian dihati, membuat tubuh kita
menjadi segar”
Tetapi pembicaraan mereka terputus. Tiba-tiba saja mereka mendengar suara ribut
di halaman. Demikian mereka selesai makan, maka merekapun telah melangkah ke
pintu, untuk melihat siapa yang baru saja datang.
Ketiga anak muda itu menjadi berdebar-debar. Dua orang prajurit telah berada
dihalaman sambil memberikan beberapa pesan kepada kawan-kawannya yang memang
sudah berada di halaman rumah itu. Kemudian perempuan-perempuan yang melayani
Mas Rara pun telah mendapat pesan pula.
“Tampaknya Raden Panji sudah akan datang“ desis Wirantana.
Kedua anak muda yang lain telah mengangguk. Manggada berdesis “Sebentar lagi kau
akan dipanggil naik”
“Bersama kalian“ sahut Wirantana.
“Jangan. Segala sesuatunya tergantung kepada perintah Raden Panji. Jangan
membantah, sehingga kesan pertama pertemuanmu dengan Raden Panji tidak terasa
suram. Biarkan kami berada dimana saja. Malahan kami akan bergabung dengan kedua
orang tenaga Ki Jagabaya yang membawa pedati kuda itu” berkata Manggada
selanjutnya.
“Tetapi itu tidak adil“ jawab Wirantana.
“Jika persoalannya adalah persoalan keluarga, maka itu cukup adil” jawab
Manggada.
Wirantana tidak menjawab lagi. Tetapi ia masih memperhatikan kedua prajurit yang
memberikan beberapa pesan itu.
Beberapa orang perempuan yang melayani Mas Rara pun telah kembali pula kedalam
bilik yang diperuntukkan bagi Mas Rara. Sementara itu, seorang yang sudah
berusia agak lanjut, sempat memberikan tuntunan apa yang harus dilakukan oleh
Mas Rara. Bagaimana ia harus menghadap Raden Panji, berlutut di hadapannya, dan
menyembah.
“Lakukan dengan sepenuh hati“ pesan perempuan itu dengan nada lembut “kau akan
menjadi seorang istri yang baik”
Mas Rara tidak menjawab. Ia menurut saja “ketika perempuan itu
mempersilahkannya. Beberapa kali perempuan itu memperbaiki sikapnya, sehingga
akhirnya perempuan itu berkata “Bagus Mas Rara. Kau sudah melakukan yang paling
baik untuk menyenangkan hati Raden Panji”
Jantung Mas Rara berdegup semakin keras. Ia tidak menjawab. Tetapi hatinya
menjerit. Ia merasa sebagai sesuatu yang sekadar untuk menyenangkan hati Raden
Panji.
Tetapi sejak semula Mas Rara memang merasa bahwa ia telah kehilangan dirinya
sendiri. Apa yang dilakukannya untuk kepentingan orang lain. Bukan untuk dan
karena niatnya sendiri.
Dalam pada itu, Wirantana dan kedua sahabatnya, Manggada serta Laksana, sudah
duduk di serambi untuk mempersiapkan diri. Kedua prajurit itu telah melihat
ketiga anak muda itu pula. Tetapi mereka seakan-akan tidak menghiraukannya.
“Mungkin mereka tidak tahu bahwa kau adalah kakak Mas Rara“ berkata Manggada.
“Aku akan tetap berada disini, jika tidak ada perintah untuk berbuat sesuatu.
Aku tidak mau dipersalahkan, atau bahkan mengetahui perlakuan kurang baik.
Karena itu, lebih baik menunggu saja disini desis Wirantana.
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka sependapat dengan Wirantana.
Agaknya, di tempat itu, mereka sama sekali tidak mengenal kebiasaan yang
berlaku.
Ketika prajurit itu merasa sudah cukup menyampaikan pesan-pesannya, keduanya
kemudian meninggalkan halaman itu tanpa berpaling lagi pada anak-anak muda yang
berada di serambi gandok. Sementara itu, orang yang berumur separo baya, yang
kemarin menerima kedatangan Mas Rara, mengikutinya sampai ke regol.
Sepeninggal kedua orang prajurit itu, rumah itu terasa makin sibuk. Di pendapa,
tikar pandan yang putih, berbunga-bunga anyaman berwarna biru, telah terbentang.
Sementara para pelayan membenahi pakaian mereka.
Diantara mereka yang sibuk itu, tidak seorangpun berbicara kepada Wirantana
tentang kedatangan Raden Panji. Sedangkan Wirantana sendiri tampaknya tidak mau
menemui orang-orang yang sibuk itu, untuk bertanya pada mereka apa yang harus
dilakukannya.
Namun ternyata anak-anak muda itu jadi gelisah dalam sikap menunggunya itu.
Beberapa saat telah lewal. Belum ada tanda-tanda lagi bahwa Raden Panji. akan
segera datang, Sementara, segala sesuatunya sudah siap. Telah dua kali pelayan
di rumah itu membersihkan debu diatas tikar pandan yang terbentang di pendapa.
“Berapa kali tikar itu dibersihkan dari debu?“ desis Manggada.
“Sehari dua puluh satu kali“ jawab Wirantana. Namun terasa hatinya yang kesal
terungkap pada nada kata-katanya itu.
Ketika seorang pelayan mengambil mangkuk-mangkuk dan sisa makan pagi dibilik
gandok, Wirantana bertanya “Kapan Raden Panji Prangpranata akan datang?“
Pelayan itu termangu-mangu sejenak. Namun ia kemudian menjawab “Sudah tentu
sebentar lagi. Segala sesuatunya telah dipersiapkan. Utusannya sudah datang
mendahuluinya”
Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara pelayan itu berkata “Aku harus
menyingkirkan sisa-sisa makanan itu sebelum rombongan Raden Panji datang”
Demikianlah. Pelayan itu dengan tergesa-gesa telah membawa sisa-sisa makanan itu
kebelakang. Pertanyaan Wirantana seakan-akan telah memperingatkannya bahwa
sebentar lagi rombongan Raden Panji akan datang.
Namun ternyata seisi rumah itu masih menunggu beberapa saat. Wirantana hampir
tidak sabar lagi kelika kemudian datang dua prajurit yang memberitahukan bahwa
Raden Panji Prangpranala sudah siap untuk berangkat.
“Sudah siap untuk berangkat, atau sudah sampai ke rumah ini“ desis Wirantana
dengan nada kesal.
“Menurut pendengaranku, siap untuk berangkat“ jawab Manggada.
“Jadi kita masih harus menunggu Raden Panji beranjak untuk turun dari pendapa,
kemudian melihat-lihat tanaman di halaman rumahnya yang tentu bagus sekali itu.
Lantas memberikan pesan pada orang-orangnya, menerima penghormatan para
prajurit, dan beristirahat di regol“ gumam Wirantana.
“Ah, kau“ sahut Laksana “kau harus belajar untuk bersabar sedikit”
“Aku tidak telaten. Coba bayangkan, kita harus menunggu Raden Panji itu tertidur
di regol“ geramnya.
“Sudahlah. Sebentar lagi Raden Panji akan datang“ berkata Manggada.
Di ruang dalam, Mas Rara pun telah dipersiapkan. Gadis itu harus kelihatan
sangat cantik. Kulitnya menjadi kekuning-kuningan, setelah diusap dengan boreh
yang berwarna kuning.
Sekali lagi pakaian dan riasnya dilihat oleh orang yang usianya sudah agak
lanjut itu.. Mas Rara telah dimintanya untuk berdiri dan berputar-putar untuk
dilihat kembali segala sesuatunya dari segala arah.
“Kita harus siap. Segala sesuatunya tidak boleh mengecewakan. Sebentar lagi
Raden Panji akan datang“ berkata perempuan itu.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian seorang lagi telah datang dan memberitahukan
bahwa sebuah iring-iringan kecil telah mulai bergerak dari regol rumah Raden
Panji di sebelah.
Demikianlah. Seisi rumah itu menjadi tegang. Raden Panji akan segera memasuki
regol halaman rumah itu. Para prajurit yang bertugas telah siap menerima
kehadiran Raden panji Prangpranata.
Sejenak kemudian, dua prajurit memasuki regol, mendahului sebuah iring-iringan
kecil. Bukan hanya sekelompok prajurit, tapi juga beberapa orang yang dituakan
oleh Raden Panji Piangpranata.
Raden Panji sendiri berjalan paling ujung. Sebelah menyebelah, agak
dibelakangnya, berjalan dua orang yang sudah separo baya. Dibelakangnya lagi,
beberapa orang bawahan Raden Panji dan beberapa pengiring yang lain.
Wirantara, Manggada dan Laksana menjadi tegang, seperti kebanyakan orang yang
ada disitu. Anak muda itu sudah ikut turun ke halaman. Berdiri beberapa langkah
disisi pendapa. Sementara itu, dari pintu pringgitan, beberapa orang telah
membimbing Mas Rara keluar dari ruang dalam.
Raden Panji dan Mas Rara memang belum memasuki upacara perkawinan. Tapi saat
itu, seakan-akan keduanya sudah akan dipertemukan, meski pakaian yang mereka
kenakan masih belum secerah dan semeriah pakaian pengantin.
Wirantana, Manggada dan Laksana termangu-mangu melihat Mas Rara yang telah
diberi pakaian sangat bagus. Pakaian yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Apalagi dipakai sehari-hari. Dan dengan pakaian itu, Mas Rara ternyata tidak
memberikan kesan seorang gadis desa yang setiap hari bekerja di sawah, menumbuk
padi dan bekerja didapur. Mas Rara tampak seperti seorang perempuan yang memang
pantas dihormati karena derajatnya.
“Aneh“ desis Manggada didalam hatinya “tidak seorangpun akan mengira bahwa gadis
itu adalah dari padukuhan Nguter asalnya. Padukuhan yang berada didekat hutan
lebat, diantara bukit-bukit padas dan padang perdu”
Demikian iring-iringan Raden Panji memasuki regol, dengan Raden Panji yang
berjalan paling depan, anak-anak muda yang berdiri disisi pendapa itu terkejut.
Untuk sesaat, mereka justru bagaikan membeku. Mereka melihat orang yang sama
sekali tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Raden Panji Prangpranata memang seorang yang bertubuh tinggi tegap, sebagaimana
umumnya seorang Senapati terpilih. Sikapnya mencerminkan sikap seorang prajurit
yang tegar lahir dan batinnya. Tapi yang membuat jantung anak-anak muda itu
berdebaran adalah kenyataan tentang Raden Panji itu. Wajahnya mecerminkan
umurnya yang telah mulai condong menurun. Bahkan tidak lebih muda dari
orang-orang separo baya yang menjadi pengapitnya.
Bahkan, jika dipandang wajahnya dengan seksama, akan tampak beberapa goresan
diwajah itu. Goresan senjata yang membuatnya benar-benar tampak sebagai seorang
prajurit yang telah menjelajahi pertempurun demi pertempuran. Namun wajah yang
demikian, dalam umur yang mendekati senja, membuatnya bukan lagi seorang pria
yang diimpi-impikan oleh gadis-gadis yang baru meninggalkan masa remajanya.
Wirantana benar-benar menjadi tegang melihat sosok Raden Panji itu. Ia sama
sekali tidak mengira bahwa ia akan melihat bakal iparnya seorang yang sudah
terlalu tua buat adiknya. Berwajah cacad, dan seorang pemimpin yang sangat
meyakini akan derajat dan kedudukannya.
Untuk beberapa saat lamanya, Wirantana bagaikan mematung. Ia tidak tahu apa yang
harus dilakukannya. Sementara, Manggada dan Laksana pun menjadi bingung. Mereka
tidak segera percaya bahwa orang yang menjadi ujung iring-iringan itu, dan
menjadi pusat segala perhatian, adalah Raden Panji Prangpranata.
Namun ternyata seorang yang mendahului berdiri disebelah tangga pendapa telah
memberitahukan kepada orang-orang yang ada disekitar pendapa itu “Raden Panji
Prangpranata berkenan naik ke pendapa, menemui bakal istrinya yang telah
disiapkan untuk menerimanya”
Demikianlah. Sejenak kemudian, Reden Panji naik ke pendapa dengan para
pengiringnya. Seperti yang sudah diberitahukan oleh perempuan-perempuan yang
harus melayaninya. Mas Rara menyambut kedatangan Raden Panji sambil berjongkok
dihadapannya dan kemudian menyembah.
Wirantana masih berdiri dihalaman. Diluar sadarnya, giginya telah terkatub rupat
“Jadi, inikah kenyataan itu?“ Wirantana menggeram dalam hati “ayah dan ibu tidak
pernah berterus terang kepadaku. Mas Rara pun lebih baik menahan diri, sambil
menangis dan membiarkan jantungnya terhimpit oleh perasaannya. Apakah yang
sebenarnya terjadi pada keluargaku?
Manggada dan Laksana hanya termangu-mangu saja. Mereka melihat sesuatu yang
tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Mas Rara yang cantik itu ternyata telah
dipersiapkun untuk menjadi bakal istri seorang yang telah terlalu tua baginya,
serta berwajah sama sekali tidak menarik.
Mungkin dari belakang Raden Panji masih bisa menggetarkan hati perempuan karena
bentuk tubuhnya. Tetapi ketika kemudian disadari bahwa laki-laki itu mengalami
cacat wajah, dan umurnya sudah mendekati senja, perempuan-perempuan yang semula
tertarik tidak akan dapat menginginkan kenyataan bahwa laki-laki itu sama sekali
tidak menarik hati.
Tetapi Mas Rara telah disiapkan untuk menjadi istri laki-laki itu. Istri yang
keenam.
Jantung Wirantana bagaikan terguncang. Dadanya terasa lebih sakit lagi ketika ia
sadar bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
Sejenak kemudian, Raden Panji Prangpranata telah duduk di pendapa. Mas Rara
duduk beberapa langkah dihadapannya, dikerumuninya oleh beberapa orang
perempuan.
Ternyata Mas Rara tidak dapat menahan gejolak hatinya, sehingga titik-titik air
matanya mulai meleleh dipipinya.
Agaknya Raden Panji melihat airmata itu. Bahkan pertanyaannya yang pertama
adalah justru tentang airmata itu.
“Kenapa ia menangis?“ bertanya Raden Panji “apakah pelayanan kalian tidak cukup
memadai?“
“Ampun Raden Panji“ jawab perempuan yang usianya sudah agak lanjut “Mas Rara
merasa sangat terharu, bahwa sebagai seorang gadis desa, ia telah mendapat
kesempatan untuk diangkat pada derajat yang tinggi. Sebab Raden Panji berkenan
memperistrinya”
“O“ Raden Panji mengangguk-angguk “ia memang cantik. Aku senang ia datang”
“la pasti datang tepat pada waktunya Raden“ jawab perempuan itu “kapan saja
Raden memerintahkan, gadis itu tentu akan menghadap”
Tetapi Raden Panji mengerutkan dahinya sambil berkata “Aku masih tetap
mempercayainya meskipun aku sudah mendengar bahwa pamannya telah berusaha untuk
melarikannya. Aku kira, seperti laporan yang aku dengar, gadis ini tidak pernah
mengadakan kesepakatan dengan pamannya untuk melarikan diri”
“Ya Raden“ jawab perempuan tua itu “ia adalah seorang gadis yang telah setia,
menurut dan memiliki banyak kepandaian”
“Aku sudah mengerti. Aku sudah mendapat laporan tentang itu “jawab Raden Panji.
lalu katanya “siapa saja yang menyertai gadis itu?
“Kakak kandungnya Raden“ jawab perempuan itu.
“O“ Raden Panji mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, seseorang yang duduk
beberapa jengkal dibelakang Raden Panji berkata “Kedua anak muda yang menolong
Mas Rara dari taring harimau itu juga ikut menyertai Mas Rara, Raden”
“O“ anak-anak sombong itu desis Raden Panji. Tetapi Raden Panji sama sekali
tidak bermaksud untuk menjaga agar kata-katanya tidak didengar oleh orang lain.
Meski tidak terlalu keras, tetapi kata-kata itu jelas didengar oleh orang-orang
bukan saja yang berada di pendapa, tapi juga yang berdiri disekitar pendapa,
termasuk Wirantana, Manggada dan Laksana.
Ketiga orang anak muda itu memang terkejut mendengar tanggapan Raden Panji
terhadap Manggada dan Laksana yang telah menolong Mas Rara dari terkaman harimau
di pinggir hutan itu. Namun untuk beberapa saat kedua anak muda itu masih
berusaha untuk menahan diri, sehingga keduanya masih berdiri termangu-magu di
tempatnya. Apalagi mereka menyadari, siapakah yang telah mengatakannya itu.
Meskipun demikian, Manggada dan Laksana bukannya tidak berbuat apa-apa. Mereka
justru telah bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan buruk yang dapat
terjadi.
Dalam ketegangan itu, Raden Panji itupun kemudian berkata “Aku sudah duduk
beberapa saat, tapi gadis itu belum berbicara apa-apa”
“Mas Rara seorang pemalu Raden“ sahut perempuan yang sudah agak tua itu “ia
hanya mampu menyampaikan ucapan selamat serta sembah baktinya dengan tingkah
laku”
“Ya. Ia sudah berjongkok dan menyembah dihadapanku. Tetapi ia harus menyapaku
dan menyampaikan baktinya langsung dengan kata-kata“ berkata Raden Panji.
Perempuan tua itu memang menjadi gelisah. Ia tidak menyangka bahwa Raden Panji
akan memerintahkan gadis itu untuk menyapanya, sehingga ia tidak mengajarinya
lebih dahulu.
Namun demikian, perempuan tua itu masih berusaha untuk menghindarkan Mas Rara
dari kebingungan.
“Raden, sebaiknya Raden Panjilah yang memberikan perintah atau pesan atau
pertanyaan“ berkata perempuan itu.
Tetapi jawaban Raden Panji membuat jantung perempuan Itu akan terlepas, sejak
kapan kau mulai memerintah aku?”
Keringat dingin telah mengalir diseluruh tubuh perempuan tua itu. Tetapi la
mencoba menuntun Mas Rara yang diketahuinya seorang gadis pemalu, dan lebih dari
itu, gadis itu nampalnya telah memikul beban di hatinya. Dan perempuan tua
itupun mengerti, bahwa sulit bagi seorang gadis untuk menerima satu kenyataan,
kawin dengan seorang laki-laki seperti Raden Panji itu.
Tetapi perempuan tua itu bukan untuk pertama kalinya melayani seorang gadis yang
akan jadi isteri Raden Panji. Karena itu, meski dengan jantung berdebaran, ia
masih mampu menyesuaikan dirinya.
Dengan lembut, perempuan itu berkata kepada Mas Rara “Cobalah Mas Rara menyapa
bakal suami Mas Rara, sekaligus menyampaikan sembah dan bakti Mas Rara”
Mas Rara masih saja menunduk. Rasa-rasanya, seisi dadanya telah bergejolak. la
tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Karena Mas Rara tidak dapat melakukannya sendiri, maka perempuan tua itu
kemudian berkata “Marilah Mas Rara. Aku akan menuntun Mas Rara. Tirukan
kata-kataku”
Mas Rara masih tetap menunduk dalam-dalam. Namun perempuan tua itu menggamitnya
sambil berbicara “Lakukanlah Mas Rara. Sebagai pernyataan cinta dan kesetiaan
seorang calon isteri kepada suaminya.
Kata-kata itu bagaikan ujung duri yang menusuk jantungnya. Tetapi Mas Rara
kemudian sadar bahwa ia memang telah kehilangan hak atas dirinya sendiri.
Karenanya, ia harus menirukan kata-kata orang tua itu meskipun bertentangan
dengan nuraninya.
Ketika orang tua itu mengucapkan beberapa patah kata, Mas Rara menirukannya,
meski hampir tidak terdengar. Menyapa Raden Panji serta menyatakan bakti seorang
calon isteri untuk menunjukkan cinta serta kesetiaannya, apapun yang sebenarnya
bergejolak di dalam hatinya.
“Aku tidak puas dengan caramu mengajarinya“ berkata Raden Panji kepada perempuan
tua itu. Lalu katanya “Sekarang, biar gadis itu berbicara sendiri. Seharusnya
kau mengajarinya tidak di hadapanku”
“Ampun Raden Panji “ perempuan tua itu mengangguk hormat.
“Jika gadis itu dapat mengucapkannya sendiri, tanpa kau tuntun lagi, kau aku
maafkan. Tetapi jika tidak, kau akan mendapat hukuman. Kau tahu siapa aku? Kau
tahu bagaimana aku menghukum seseorang?“
“Ampun Raden Panji. Hamba mohon ampun” minta perempuan itu.
“Tergantung kepada gadis itu“ jawab Raden Panji. Perempuan tua itu menjadi
semakin berdebar-debar. Segala sesuatunya memang tergantung kepada Mas Rara.
Di sebelah pendapa, Wirantana menjadi berkeringat. Bahkan kemudian ia berdesis
“Apa sebenarnya yang dilakukan oleh Raden Panji itu?“
Manggada dan Laksana juga menjadi heran. Mereka tidak mengerti sikap Raden
Panji.
Sementara itu, Mas Rara ternyata masih menyadari arti dari perbuatannya bagi
orang lain. Ia sadar bahwa perempuan tua itu akan mengalami kesulitan jika ia
tidak mengucapkan kata-kata sebagaimana diajarkan oleh perempuan itu.
Mas Rara yang telah kehilangan dirinya sendiri itu, ternyata masih sempat
memikirkan orang lain. Perempuan tua yang selalu bersikap baik kepadanya itu,
tampaknya benar-benar dalam kesulitan.
Karena itu, adalah di luar dugaan, tiba-tiba saja, meskipun suara terdengar dan
tidak, Mas Rara telah mengucapkan kata-kata itu kembali sebagaimana perempuan
tua itu menuntunnya.
Tiba-tiba saja Raden Panji tertawa. Di sela-sela derai tawanya, Raden Panji
berkata “Bagus. Bagus. Kau memang seorang gadis cantik dan pintar. Kau juga baik
hati. Jika aku tidak mengancam perempuan tua yang bodoh ini, kau tentu tidak
akan mengatakannya. Tetapi agaknya kau tidak mau melihat perempuan tua ini aku
hukum. Dengan demikian, kau memang pantas menjadi isteriku. Karena dengan
demikian, kau akan mendapat kemuliaan yang tinggi”
Mas Rara hanya menundukkan kepalanya saja. Sementara itu, perempuan tua yang
melayani Mas Rara itu, sempat menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia sempat
berdesir perlahan sekali, yang hanya dapat didengarnya sendiri ”Terimakasih Mas
Rara. Ternyata kau memang seorang gadis yang baik”
Demikianlah. Raden Panji pun telah mengambil tempat duduk di pendapa itu. Tidak
seorangpun berani mengaturnya. Raden Panji duduk di depan pintu pringgitan,
menghadap ke halaman. Sementara ia minta Mas Rara duduk di hadapannya.
“Aku belum sempat memandangi gadis itu sampai puas“ berkata Raden Panji. Namun
kata-kata itu telah membuat jantung Mas Rara bagaikan tersentuh api. Tetapi ia
tidak dapat mengelak untuk duduk di hadapan Raden Panji, di samping perempuan
tua yang hampir saja mendapat hukuman dari Raden Panji itu.
Namun demikian, mereka duduk, Raden Panji telah bertepuk tiga kali. Dua orang
pelayan khusus segera menghadapnya dengan kepala tunduk.
“Aku haus. Keluarkan hidangan sekarang saja“ perintah Raden Panji.
Kedua orang pelayan khusus itupun segera melakukan perintah itu. Dengan
tergesa-gesa, keduanya telah pergi ke dapur untuk menyiapkan hidangan yang harus
segera dibawa ke pendapa. Untunglah perempuan-perempuan yang ada di dapur adalah
orang-orang yang sudah terbiasa melayani Raden Panji, sehingga mereka pun sudah
siap pula menyediakan hidangan itu.
Sejenak kemudian, hidangan pun telah disajikan. Sementara itu beberapa orang
yang berdiri di sebelah menyebelah pendapa masih saja berdiri. Demikian pula
Wirantana, Manggada dan Laksana.
“Apa kita akan berdiri sehari penuh di sini?“ bertanya Wnantana.
Mangada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun merekapun mulai menjadi jemu.
Meskipun demikian, keduanya masih bertahan untuk tidak beranjak dari tempatnya.
“Kita menunggu sebentar“ berkata Manggada “beberapa orang juga masih berdiri di
halaman”
“Tetapi sampai kapan“ sahut Wirantana.
Manggada tidak menjawab. Seorang yang tampaknya melihat kegelisahan anak-anak
muda itu mendekati mereka sambil berdesis “Tunggulah sebentar, sampai Raden
Panji mempersilahkan. Biasanya setelah hidangan disuguhkan, Raden Panji akan
mempersilahkan orang-orang yang berdiri di halaman untuk duduk di serambi gandok
atau di mana saja, kecuali yang dipanggilnya naik ke pendapa”
Ketiga anak muda itu mengangguk-angguk kecil. Manggadalah yang berbisik
“Terimakasih”
Orang itu kemudian ternyata berdiri saja di belakang ketiga anak muda itu sambil
menyaksikan hidangan disuguhkan di pendapa.
Sebenarnyalah, ketika hidangan itu sudah dibagikan para tamu yang ada di
pendapa, Raden Panji pun berkata lantang “Suruh anak-anak muda itu naik. Aku
tahu, seorang adalah kakak Mas Rara dan dua orang adalah anak-anak muda yang
merasa dirinya menjadi pahlawan. Aku memang ingin menghormati mereka dan
mengucapkan terimakasih. Mereka merasa bahwa mereka telah menyelamatkan Mas Rara
dari kuku-kuku harimau tua yang sudah tidak bertenaga sama sekali itu”
Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Sementara itu Wirantana
berdesis “Kenapa tanggapannya terhadap kalian agak aneh?“
“Entahlah“ sahut Manggada “mungkin hanya satu ungkapan saja. Mungkin Raden Panji
memang orang yang baik”
Wirantana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian seseorang telah mempersiapkan
ketiga anak muda itu naik ke pendapa, duduk diantara beberapa orang tamu
terhormat.
“Nah“ berkata Raden Panji kemudian “aku persilahkan kalian semuanya menikmati
hidangan yang telah disajikan ini”
Hampir serentak para tamu telah mengangkat mangkuknya, menghirup minuman yang
masih panas. Wedang sere. Bahkan ada yang masih merasa terlalu panas, sehingga
bibirnya terasa pedih.
Tetapi semuanya telah mengangkat mangkuknya, diletakkan di bibir mereka.
Sementara Raden Panji sendiri tampaknya menghirup minumannya dengan nikmatnya.
Wirantana yang merasa bahwa mangkuknya masih terlalu panas, akan meletakkan
mangkuk itu. Namun orang yang duduk di sebelahnya berbisik tanpa menyingkirkan
mangkuknya dari mulutnya “Minumlah, meskipun tidak bersungguh-sungguh, karena
minumanmu masih panas”
Wirantana termangu-mangu. Namun iapun kemudian telah mendekatkan mangkuknya di
bibirnya pula.
Baru ketika Raden Panji meletakkan mangkuknya, para tamupun telah melakukannya
pula.
“Apa artinya ini semua“ berkata Wirantana di dalam hatinya. Tetapi ia masih
menahan diri untuk tetap berdiam diri.
Manggada dan Laksana pun merasa heran melihat kebiasaan yang agaknya memang
berlaku diantara orang-orang yang dekat dengan Raden Panji.
Demikian orang-orang yang ada di pendapa itu meletakkan mangkuknya. Raden Panji
tiba-tiba berkata kepada Wirantana “He, anak muda. Apakah kau memang kakak
kandung Mas Rara?“
Wirantana memang agak bingung. Tetapi kemudian iapun menjawab “Ya Raden Panji.
Aku adalah kakak kandungnya”
Raden Panji mengangguk-angguk. Katanya “Aku hampir tidak percaya. Mas Rara
adalah seorang gadis yang cantik. Tetapi kau tampaknya seperti benar-benar anak
pedesaan”
Wirantana benar-benar menjadi bingung, bagaimana harus menjawab. Selain ia
merasa tersinggung, iapun merasa heran bahwa Raden Panji telah mengatakan hal
itu di hadapan banyak orang.
Namun Raden Panji berkata selanjutnya “Tetapi ayah dan ibunyapun tidak pantas
menjadi orang tua Mas Rara. Apalagi setelah Mas Rara mengenakan pakaian yang
pantas. Maka rasa-rasanya Mas Rara bukan anak padukuhan Nguter.
Wajah Wirantana terasa panas. Orang itu bukan saja telah merendahkan dirinya,
tapi juga ayah dan ibunya. Diam-diam Wirantana memandang adiknya, yang dirias
dengan baik. Ia memang melihat bahwa adiknya tidak seperti anak-anak pedesaan.
Tidak seperti gadis Nguter kebanyakan. Tetapi bagaimanapun juga sulit baginya
untuk menerima kata-kata Raden Panji itu tentang orang tuanya.
Meskipun demikian, Wirantana masih saja menahan diri. Ia justru telah
menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sebenarnyalah yang merasa tersinggung bukan hanya Wirantana. Tetapi juga Mas
Rara. Tetapi gadis itu sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk berbuat
sesuatu selain menundukkan kepalanya. Namun Mas Rara harus bertahan dengan
sekuat tenaganya agar air mata tidak menitik. Apalagi untuk menangispun Mas Rara
tidak lagi berani melakukannya.
Karena Wirantana hanya menundukkan kepalanya saja, maka Raden Panji mulai
memandang kedua anak muda yang duduk di dekat Wirantana. Sambil
mengangguk-angguk, Raden Panji bertanya “Apakah kau berdua pernah berguru pada
seseorang?“
Manggada dan Laksana terkejut. Raden Panji memang memandang pada mereka. Tetapi
pertanyaan itu masih terasa meragukan. Apakah memang ditujukan pada mereka.
Namun dalam pada itu, Raden Panji tiba-tiba saja membentak “ He, kau yang merasa
dirimu pahlawan. Siapa namamu, he?“
Barulah Manggada dan Laksana yakin bahwa Raden Panji memang berbicara kepada
mereka. Mereka yakin bahwa Raden Panji sudah mengetahui nama mereka. Tetapi
keduanya harus menjawab pertanyaan itu ”Namaku Manggada Raden Panji. Dan ini
adalah adik sepupuku. Namanya Laksana”
Raden Panji mengangguk-angguk. Tetapi katanya “Apakah adik sepupumu itu bisu?“
Pertanyaan itu sangat mengejutkannya. Hampir di luar sadarnya, Manggada menjawab
”Tidak, Raden Panji”
“Jika tidak, suruh ia menjawab sendiri. Siapa namanya“ berkata Raden Panji tanpa
memandang kedua anak muda itu.
Jantung kedua anak muda itu bagaikan berdentang semakin cepat dan keras. Tapi
keduanya tidak dapat berbuat lain. Laksana akhirnya menjawab pertanyaan itu
“Namaku Laksana, Raden Panji”
“Bagus“ jawab Raden Panji “ternyata kalian tahu apa yang harus kalian lakukan“
Raden Panji mengangguk-angguk. Namun Raden Panji masih bertanya “Kenapa kalian
berdua menolong Mas Rara ketika hampir saja diterkam seekor harimau?“
Pertanyaan itu cukup membingungkan. Manggada dan Laksana bahkan Wirantana dan
orang-orang yang ada di pendapa itu, tidak mengerti kenapa Raden Panji bertanya
seperti itu. Karenanya, untuk beberapa saat Manggada dan Laksana tidak segera
bisa menjawab. Keduanya saling berpandangan dengan jantung berdebaran.
Dalam pada itu, Raden Panji telah bertanya lagi “He, apakah kalian pernah
berguru? Kalian belum menjawab pertanyaanku”
ketiganya jadi semakin bingung. Tetapi Manggada coba menjawab “Tidak Raden
Panji. Kami tidak pernah berguru“
“Jadi, kenapa kalian berusaha melawan seekor harimau. Bukankah itu berarti bahwa
kalian akan dapat mati diterkam oleh harimau itu?“ bertanya Raden Panji pula.
Kedua anak muda itu tidak tahu apakah Raden Panji sedang menguji mereka, atau
sedang bergurau, atau tengah menyelidiki mereka.
“He, sekarang kalian berdua jadi bisu“ bentak Raden Panji.
Manggada yang kebingunganpun tidak dapat berbuat lain kecuali menjawab apa saja
yang dapat dikatakannya “Raden Panji. Agaknya memang sudah menjadi kewajiban
kita untuk saling menolong”
“Apakah kau benar-benar berusaha menolong tanpa pamrih? Atau kalian mau
mempertaruhkan nyawa kalian karena ada yang ingin kalian dapatkan dari
pertolongan yang mahal itu?“ desak Raden Panji.
Manggada memang jadi makin bingung. Tapi ia masih berusaha menjawab “Tidak ada
pamrih apapun Raden Panji. Tiba-tiba saja, ketika kami melihat seekor harimau
merunduk siap menerkam Mas Rara, kami dengan serta merta berusaha menolongnya”
Tetapi Raden Panji justru tertawa. Katanya dengan nada tinggi “Apakah kau tidak
tahu bahwa taring harimau itu sangat tajam? Apakah kau tidak pernah mendengar
bahwa kuku-kuku harimau lebih runcing dari ujung duri?“
Kedua anak muda itu jadi makin bingung. Keduanya hanya dapat menundukkan
kepalanya. Sementara Raden Panji berkata selanjutnya “Aku tahu bahwa kau berdua
tidak jujur. Kalian tentu punya pamrih. Tapi tidak apa-apa. Itu wajar sekali
dilakukan anak-anak padesan. Apalagi untuk satu kerja yang harus mempertaruhkan
nyawa. Sedang untuk kerja-kerja kecil, dan tidak berarti, seseorang tentu
menginginkan upah sebanyak-banyaknya. Apalagi untuk membunuh seekor harimau.
Karena itu, aku berpesan agar kalian ikut dibawa kemari bersama Mas Rara, sebab
aku ingin memberi kalian upah sepantasnya”
Tetapi Raden Panji terkejut ketika Manggada menjawab “Ampun Raden Panji. Kami
sama sekali tidak menginginkan upah apapun. Kami melakukannya karena kami merasa
berkewajiban”
Beberapa orang berpuling pada Manggada. Bahkan orang yang duduk di dekatnya
langsung berdesis “Jangan menolak. Jangan pernah menolak pemberian Raden Panji.
Apalagi itu disebutyya sebagai satu hadiah”
Manggada memang mendengarnya. Tapi ia sudah terlanjur menolak. Karenanya ia jadi
makin bingung. Sementara itu, wajah Raden Panji menjadi merah. Anak muda itu
telah berani menolak pemberiannya. Dengan marah, Raden Panji pun membentak “Jadi
kau menolak hadiahku?“
Untuk sesaat Manggada termangu-mangu. Laksana pun tidak tahu apa yang harus
dilakukannya. Demikian pula Wirantana. Sementara, Mas Rara yang selalu gelisah,
jadi makin gelisah.
“Jika kalian tidak menginginkan hadiah, lalu apa?“ suara Raden Panji menjadi
gemetar “apakah kau berdua, atau salah seorang dari kalian, tertarik pada
kecantikan Mas Rara? Begitu kalian melihat, kalian telah jatuh cinta, sehingga
kalian ingin memilikinya dan bersedia mempertaruhkan nyawa untuk
menyelamatkannya? Beruntunglah kalian berhasil mengalahkan harimau itu yang
sudah tidak bertenaga itu. Tapi bukan berarti kalian adalah pahlawan yang mampu
menyelamatkan Mas Rara karena kemampuan dan ilmu kalian”
Manggada dan Laksana hampir kehabisan akal. Tapi mereka sekali lagi mendengar
orang di sebelahnya berdesis “Jangan kau tolak”
“Terlanjur“ kata Manggada berbisik.
“Katakan, itu basa-basi“ bisik orang itu kembali.
Manggada mengerti maksud kata-kata pendek itu. Karenanya dia langsung menjawab
“Ampun Raden Panji. Bukan maksud kami menolak kurnia yang akan diberikan pada
kami. Apalagi hadiah sebagai penghargaan atas usaha kami menyelamatkan Mas Rara.
Tadi hanya basa-basi. Bukan maksud kami yang sebenarnya. Sudah barang tentu kami
akan menerima dengan sepenuh hati hadiah yang akan diberikan Raden Pimpinan
kami”
Raden Panji mengerutkan keningnya. Numun tiba-tiba saja ia tertawa. Katanya “Kau
memang seorang yang tidak waras. Kau membuat jantungku hampir pecah. Tapi
kemudian kau membuatku tertawa”
“Ampun Raden Panji“ desis Manggada.
“Baik“ berkata Raden Panji kemudian“ kalian akan mendapat upah secukupnya. Aku
akan memberi kalian masing-masing pakaian sepengadeg. Pakaian yang pantas untuk
kalian, kecuali itu, aku juga akan memberi uang pada kalian. Tetapi kalian hanya
boleh bermalam di rumah ini terakhir semalam nanti. Besok kalian harus sudah
meninggalkan rumah ini”
Manggada dan Laksana jadi makin tidak mengerti akan sifat dan kebiasaan Raden
Panji. Karena itu, keduanya hanya mangangguk-angguk dalam.
“Nah” berkata Raden Panjl “sekarang kalian boleh ikut makan bersama kami,
hidangan berikutnya akan segera dihidangkan”
Para petugas khusus telah mengerti isyarat itu. Mereka harus segera
menghidangkan makan bagi para tamu, sesudah makanan dan minuman tadi. Namun
Raden Panji kemudian berkata “Aku persilahkan kalian makan di pendapa. Aku akan
berbicara sendiri dengan bakal isteriku”
Orang-orang yang ada di pendapa itu menjadi gelisah. Hampir saja mereka menduga
harus meninggalkan pendapa itu. Tapi ternyata Raden Panji berkata selanjutnya
“Aku akan membawa bakal isteriku masuk. Kalian aku persilahkan untuk makan di
sini”
Wajah Mas Rara tiba-tiba saja jadi pucat. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa
ketika tiba-tiba Raden Panji menarik tangannya dan berkata “Berdirilah”
Mas Rara menjadi ragu-ragu. Tapi sebelum ia berdiri tegak, Raden Panji sudah
menariknya memasuki pintu pringgitan.
Tubuh Mas Rara nampak gemetar. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi atas dirinya.
Rasa-rasanya ia telah ditarik dalam satu dunia yang gelap dan tidak diketahui
apa yang ada di dalamnya.
Beberapa orang saling berpandangan di pendapa, dan beberapa perempuan jadi
bingung.
Dalam pada itu, jantung Wirantana menjadi berdebaran. Ia tahu bahwa Raden Panji
adalah orang yang berkuasa, Bahkan kuasanya telah disahkan oleh Pajang. Tetapi
apakah wajar jika mempergunakan kuasanya tanpa menghiraukan perasaan orang lain
dan tanpa menghiraukan tatanan kehidupan? Mas Rara belum menjadi isterinya.
Tetapi gejolak perasaan Wirantana mereda ketika ia mendengar Raden Panji itu
memanggil seseorang. Ternyata perempuan yang sudah berusia agak lanjut itu
bangkit dan dengan tergesa-gesa masuk ke ruang dalam. Ia tidak mau dimarahi lagi
oleh Raden Panji. Apalagi mendapatkan hukuman daripadanya.
Ketika ia masuk ia melihat Raden Rara berlutut dihadapan Raden Panji yang
berdiri dibelakang pintu. Bahkan orang-orang yang duduk dipendapa pun sehingga
dapat melihatnya sekilas karena pintu itu segera dituyup. Demikian pula
Wirantana, Manggada dan Lukssna.
Demikian pintu itu tertutup, maka ketiga orang anak muda itu saling
berpandangan. Rasa-rasanya mereka mengalami satu peristiwa yang tidak dapat
mereka mengerti. Bahkan perasaan anak-anak muda itu bergejolak sebagaimana
mereka menghadapi paman Wirantana sendiri yang telah terbunuh diperjalanan.
Ketika perempuan tua itu berlutut pula dibelakang Mas Rara, Raden Panji pun
berkata “Aku tidak mau Mas Rara terlalu lama diluar. Aku tidak mau biji mata
laki-laki yang bagaikan terloncat keluar memandanginya terus-menerus. Apalagi
kedua orang anak muda itu. Anak muda yang merasa diri mereka pahlawan hanya
karena mereka dapat membunuh seekor harimau tua yang sakit-sakitan“ kata-kata
Raden Panji terputus. Namun tiba-tiba ia menggeram “Tetapi jika mereka juga
menganggap aku seekor harimau tua, maka mereka akan menyesal. Mereka akan aku
bunuh dan mayatnya akan dilemparkan kesungai”
Perempuan tua dibelakang Mas Rara itu termangu-mangu. Namun ia sama sekali tidak
berani berkata sesuatu.
“Kawani Mas Rara didalam biliknya“ berkata Raden Panji dengan wajah tegang.
“Baik Raden” jawab perempuan tua itu.
“Nah“ berkata Raden Panji kemudian kepada Mas Rara “kau akan aman di dalam.
Cantikmu tidak akan berkurang oleh tatapun mata liar orang-orang di pendapa. Kau
akan menjadi isteriku. Bukan isteri mereka”
Mas Rara hanya menunduk saja dalam-dalam. Tubuhnya masih gemetar.
“Kenapa kau diam saja?” bertanya Raden Panji “jawablah. Katakan bahwa kau
Berterima kasih akan sikapku ini”
Keringat Mas Rara mengulir semakin deras. Nunum ia menyadari bahwa ia memang
hurus mengatakannya. Sehingga karena itu tanpa kesadaran akan arti kata-katanya
justru karena kesadarannya bahwa ia harus menjawab, maka dari sela-sela bibirnya
terucapkan t”erima kasih Raden Panji”
Raden Panji tertawa. Katanya “Nah. Kau menjadi semakin pintar. Kau akan menjadi
seorang isteri yang baik. Yang lembut dan penuh pengertian. Siapa yang
mengajarimu he? Tentu bukan dirimu, orang padesan itu”
Mas Rara benar-benar menjadi bingung. Tetapi hampir diluar kehendaknya sendiri
ia berkata “Bibi ini Raden”
“Bagus, bagus“ Raden Panji terawa semakin keras. Suaranya terdengar sampai ke
pendapa. Orang-orang yang ada di pendapa memang menjadi berdebar-debar. Mereka
tidak tahu apa yang ditertawakan oleh Raden Panji.
Sementara itu, Raden Panji pun kemudian berkata kepada perempuan tua itu “Kau
akan mendapat hadiah pakaian sepengadeg, uang dan kedudukan”
Perempuan tua itu justru terkejut. Namun ia berkata juga “Terima kasih Raden
Panji”
“Nah. Bawa Mas Rara masuk kedalam biliknya. Peliharalah riasnya dan bahkan kau
harus memperbaikinya jika ada yang cacat” berkata Raden Panji “aku belum puas
memandanginya. Setelah pertemuan ini selesai, maka aku akan memandanginya
sepuas-puasnya didalam biliknya, sehingga orang lain tidak akan ikut
memandanginya pula”
Perempuan tua itu hanya dapat menunduk. Ia sudah beberapa kali melayani
perempuan-perempuan muda yang akan diperisteri oleh Raden Panji. Namun diantara
mereka memang tidak ada yang secantik Mas Rara.
“Baiklah“ berkata Raden Panji kemudian “aku akan kembali menemui orang-orang
yang ada di pendapa. Aku akan makan. Perutku sudah lapar. Aku sengaja tidak
makan, karena aku ingin makan bersama-sama dengan sahabat-sahabatku”
“Silahkan Raden“ desis perempuan tua itu. Tetapi diluar dugaan Raden Panji
membentuk “Bukan kau yang harus mempersilahkan aku. Tetapi calon isteriku”
“O“ perempuan tua itu justru beringsut surut. Hatinya yang mulai kembang itupun
segera berkerut kembali.
Mas Rara yang tidak lagi berbuat sesuatu atas landasan hatinya sendiri itu, lalu
apa yang sebaiknya ia lakukan. Dari sela-sela bibirnya tiba-tiba terdengar
kata-kata “Aku persilahkan Raden Panji”
Raden Panji tertawa membentak sehingga kedua orang perempuan yang sedang
berlutut itu terkejut.
Ketika Mas Rara kemudian menunduk, ia terkejut sehingga wajahnya menengadah. Ia
melihat wajah Raden Panji menunduk. Suara tertawanya masih mendengar, sehingga
Mas Rara hampir saja beringsut surut.
Tetapi ia sempat menahan diri untuk tetap berlutut ditempatnya. Ketika Raden
Panji itu menyentuh bahunya, maka terasa tangan itu sangat kasar. Ketika Raden
Panji memegang tangannya dan menariknya masuk ke ruang dalam, jantungnya yang
berdetak semakin cepat agaknya telah membuatnya tidak sempat memperhatikan
telapak tangan Raden Panji. Tetapi ketika ia sempat merasakan sentuhan telapak
tangan itu dibahunya, maka rasa-rasanya di telapak tangan Raden Panji itu tumbuh
duri.
Namun ia tidak menunjukkan perasaannya. Bahkan ia tidak sempat menghiraukannya
lebih lama, karena Raden Panji itupun berkata “Nah, sekarang tersenyumlah. Aku
akan kembali ke pendapa”
Mas Rara tahu, bahwa ia harus melakukan apa yang diperintahkan oleh Raden Panji.
Karena itu, maka Mas Rara pun kemudian telah lersenyum sambil memandang Raden
Panji yang sedang membungkuk itu, meskipun hatinya pedih.
“Mati aku“ desis Raden Panji. Sekali lagi ia menepuk bahu Mas Rara. Namun
kemudian iapun telah bergeser dan berkata kepada perempuan tua itu “Bawa Mas
Rara ke biliknya. Jaga agar tetap cantik, sehingga orang tidak akan menyangkanya
bahwa aku telah mengambilnya dari padukuhan yang jauh dari kota”
“Baik Raden“ jawab perempuan tua itu.
“Jika perlu panggil pembantu-pembantumu“ berkata Raden Panji pula.
“Baik Raden“ jawab perempuan itu dengan nada yang merendah.
Raden Panjipun kemudian telah kembali ke pendapa. Sementara makanpun telah
terhidang.
Dernikian Wirantana, Manggada dan Laksana melihat Raden Panji itu keluar, maka
jantungnya mulai mengendor. Ia melihat Raden Panji itu tersenyum-senyum sambil
memandang orang-orang yang ada di pendapa.
“Kita akan makan bersama“ berkata Raden Panji kepada orang-orang yang ada di
pendapa. Meskipun sebelum Raden Panji masuk keruang dalam sambil menarik Mas
Rara sudah mempersilahkan tamu-tamunya untuk makan, namun orang-orang yang ada
di pendapa itu tetap menunggunya.
Karena itu, maka ketika Raden Panji kemudian duduk menghadapi mangkuk dan mulai
menyendok nasi, maka yang lainpun telah melakukannya.
Beberapa saat lamanya, orang-orang di pendapa itu menikmati hidangan.
Sebagaimana derajad dan kedudukari Raden Panji, maka hidangan yang disediakan di
pendapa itupun merupakan hidangan yang baik.
Wirantana, Manggada dan Laksana telah makan pula bersama orang-orang lain yang
ada di pendapa itu. Namun agaknya Raden Panji telah memperhatikan mereka secara
khusus. Bahkan tiba-tiba saja Raden Panji itu berkata sambil tertawa “Ha,
makanlah sebanyak-banyaknya. Kalian tentu jarang sekali menjumpai makan sebaik
ini. Biasanya kalian hanya makan kuluban dedaunan. Atau barangkali sekali-sekali
ikan jika kalian mendapatkannya ketika kalian mengail. Atau barangkali sesobek
daging ayam jika tetangga-tetangga kalian mengadakan peralatan”
Wajah anak-anak muda itu terasa menjadi panas. Tetapi mereka masih saja dibebani
oleh berbagai macam pertimbangan sehingga mereka berusaha sejauh mungkin untuk
menahan diri meskipun mereka semakin menjadi muak melihat sikap dan tingkah laku
Raden Panji. Namun merekapun melihat para prajurit yang ada di halaman.
Nampaknya kekuasaan Raden Panji memang terlalu besar sehingga tidak seorangpun
dapat mengendalikannya lagi.
Sementara orang-orang di pendapa sedang makan, maka didalam biliknya Mas Rara
tidak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba saja ia telah memeluk orang tua itu
sambil menahan tangannya. Namun justru karena itu, maka Mas Rara itupun telah
terisak-isak. Dadanya serasa tersumbat oleh mata air yang ditahannya
sekuat-kuatnya.
“Jangan menangis Mas Rara“ berkata orang tua itu dengan nada lembut “nanti rias
wajahmu rusak. Bukankah Raden Panji berpesan, agar rias wajahmu dan pakaianmu
tidak boleh rusak? Nanti, setelah pertemuan itu selesai, Raden Panji masih akan
memandangimu sampai puas.
Tetapi tangis Mas Rara justru menjadi semakin meledak. Hampir saja ia menjerit.
Namun beruntunglah bahwa ia masih dapat menahannya.
“Cup, ngger. Jangan menangis. Nanti Raden Panji menjadi salah paham. Kau harus
mampu menempatkan dirimu sebagai calon isteri seorang besar, meskipun jika aku
jujur, aku seharusnya mengerti, kenapa kau menangis?“ berkata orang tua itu.
Mas Rara ternyata dapat mengerti kata-kata itu. Ia mencoba untuk menenangkan
hatinya yang bergejolak, sehingga isaknya pun menjadi reda.
Ketika di luar orang-orang sibuk makan dan minum, wanita tua yang ada di dalam
bilik Mas Rara telah memperbaiki rias wajahnya yang hampir rusak karena airmata.
Tapi wanita tua itu dengan cepat telah membuat rias wajah Mas Rara jadi seperti
sebelumnya. Demikian pula pakaian dan kelengkapan lain pada Mas Rara.
“Nah, kau memang cantik. Meskipun ada sedikit bekas tangis di matamu, tapi jika
kau tersenyum Raden Panji tidak akan mengetahuinya“ berkata wanita tua itu.
Mas Rara mengangguk. Namun hampir di luar sadarnya ia berkata “Apakah
isteri-isteri Raden Panji sebelumnya juga tersiksa seperti aku?“
“Pada umumnya begitu“ orangtua itu menarik nafas dalam-dalam, tapi justru karena
itu mereka sempat bertahan untuk menjadi isteri Raden Panji barang satu dua
tahun. Sementara itu, ada juga yang tidak peduli dengan keadaan Raden Panji. Ia
merasa akan mendapat derajat dan uang yang dapat mereka pergunakan untuk mencari
kepuasan jika ia sudah jadi isteri Raden Panji. Tapi ternyata perempuan tamak
itu menjadi isteri Raden Panji tidak lebih dari tiga bulan”
Wajah Mas Rara tiba-tiba tampak berbinaar. Dengan nada rendah ia berkata “Aku
akan menempuh cara itu”
Perempuan tua itu terkejut. Dengan cemas ia berkata “Jangan Mas Rara. Jangan”
“Bukankah orang seperti itu tidak akan mengalami siksaan terlalu lama disini?“
desis Mas Rara.
“Benar Mas Rara. Tetapi beberapa hari setelah ia keluar dari rumah Raden Panji,
ia diketemukan mati. Tubuhnya terbaring di halaman belakang rumahnya“ berkata
perempuan tua itu.
“O“ wajah Mas Rara menjadi pucat.
Sementara perempuan tua itu berkata lebih lanjut “Seorang lagi juga ditemukan
meninggal. Justru di rumah Raden Panji. Perempuan itu dikembalikan ke rumahnya
dalam keadaan tidak bernyawa lagi”
“Baiklah“ desis Mas Rara.
“Sst“ tiba-tiba saja jari perempuan tua itu telah melekat di bibir Mas Rara.
Katanya kemudian “Di sini dinding dan pintu punya telinga yang dapat mendengar
dan punya mulut untuk mengadu. Denting uang, kepingan uang membuat orang-orang
di sekitar Raden Panji menjadi gila”
Mas Rara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia bertanya “Kenapa
perempuan itu dibunuh?“
“Tidak ada yang berani menyebut perempuan itu dibunuh. Tetapi perempuan itu
mati“ jawab perempuan tua itu.
“Kenapa perempuan itu harus mati?“ bertanya Mas Rara.
“Dibawanya laki-laki yang memang menanganinya ke dalam rumah Raden Panji, di
saat Raden Panji bertugas. Laki-laki itu dengan diam-diam datang pada perempuan
yang sudah menjadi isteri Raden Panji itu“ desis perempuan tua itu “namun
ternyata laki-laki itu kemudian ditemukan mati di kedung di luar padukuhan ini,
seakan-akan tenggelam. Padahal laki-laki itu terbiasa mandi di kedung tersebut,
mencari ikan dan memandikan binatang peliharaannya. Beberapa hari kemudian,
perempuan yang sudah jadi isteri Raden Panji itupun telah meninggal pula di
rumah Raden Panji”
“Apakah tidak ada bekas-bekasnya? Mungkin ia dicekik atau ditusuk atau apapun“
bertanya Mas Rara.
Perempuan itu tiba-tiba menunduk sambil berdesis “Tidak”
“Racun?“ Mas Rara menebak.
Perempuan tua itu mengusap matanya. Katanya “Tetapi perempuan itu memang
bersalah. Ia adalah perempuan yang bersuami. Ia tidak pantas berhubungan dengan
laki-laki lain meskipun ada sebab-sebab yang menjadikannya berbuat gila seperti
itu”
Mas Rara menarik nafas dalam-dalam. Ia justru tidak menangis lagi. Ia sadar,
bahwa ia benar-benar telah terjebak ke dalam neraka yang mengerikan.
Sesaat ia memang menyesali nasibnya, karena secara kebetulan Raden Panji
melihatnya dan membawanya ke dalam jebakan yang akan dapat menyiksanya.
Namun tiba-tiba saja gejolak yang kurang dimengertinya telah membuat darahnya
bagaikan mendidih. Ia memang tidak dapat sekedar menyesali nasibnya, tapi ia
berniat untuk berdoa dengan sepenuh hatinya agar ia dibebaskan dari perasaannya
yang sedih. Ia ingin mendapat terang di hatinya, apakah ia memang ditakdirkan
untuk menjadi budak nafsu Raden Panji, yang ternyata tidak lagi memiliki sifat
sebagaimana orang kebanyakan.
Sementara itu, di luar, orang-orang masih sibuk menyuapi mulutnya. Beberapa
orangtua tidak lagi mampu menampung makanan ke dalam perutnya, tapi mereka masih
juga mengepal-ngepal nasi di mangkuknya karena Raden Panji belum selesai makan.
Wirantana, Manggada dan Laksana mendengar orang di sebelahnya berbisik “Makanlah
sampai Raden Panji selesai. Makan atau pura-pura makan”
“Satu permainan yang gila“ geram Wirantana di dalam hatinya. Namun dengan
demikian, ia jadi cemas bahwa adiknya akan mengalami kesulitan besar dalam
hidupnya nanti. Ia harus melakukan sebagaimana Raden Panji melakukannya dan
tidak akan berhenti sebelum Raden Panji sendiri berhenti.
Ketika Raden Panji selesai makan, dan mencuci tangannya pada mangkuk khusus,
yang lain ikut pula berhenti. Beberapa orang menengadah sambil menarik nafas
dalam-dalam. Rasa-rasanya mereka telah terbebas dari tugas yang sangat berat.
Beberapa saat kemudian, para petugas dapur mulai mengangkat mangkuk-mangkuk dan
sisa makanan dari pendapa. Sedang Raden Panji mengusap tangannya dengan selembar
kain berwarna biru tua.
“Makanan yang merisaukan“ bisik Wirantana.
Manggada dan Laksana mengerti maksud Wirantana, tapi mereka sama sekali tidak
menyahut.
Sementara itu, telah dihidangkan beberapa sisir pisang bagi orang-orang yang ada
di pendapa itu.
Baru kemudian Ruden Panji berkata “Kita sudah makan dan minum secukupnya. Nah,
nanti sebentar lagi aku akan segera kembali. Tapi silahkan kalian duduk dulu,
sementara aku akan menemui bakal isteriku. Aku mempunyai rencana untuk mengubah
hari perkawinanku. Sepekan lagi aku akan meresmikannya. Aku tidak mau menunggu
lebih lama lagi. Tampaknya aku akan mendapat tugas-tugas penting dari Pajang,
sehingga persoalan pribadiku harus aku selesaikan lebih dahulu.
Wirantana mengerutkan keningnya. Seharusnya Raden Panji memberitahukan hal itu
pada ayah dan ibunya. Bagaimanapun, ayah dan ibunya adalah orang yang paling
bertanggung-jawab atas Mas Rara.
Tetapi Wirantana tidak dapat mengatakannya saat itu. Ia merasa bahwa ia tidak
lebih dari seorang pengantar. Tidak ubahnya dengan kedua pembantu Ki Jagabaya
yang membawa pedati kuda ke tempat itu.
Dalam pada itu, Raden Panji berkata lagi “Silahkan duduk dulu. Aku akan
berbicara dengan Mas Rara di dalam“ namun tiba-tiba ia berpaling pada Manggada
dan Laksana sambil berkata “Kalian berdua akan segera menerima hadiah. Tapi
ingat, besok pagi-pagi benar kalian harus sudah meninggalkan tempat ini”
Manggada dan Laksana mengangguk hormat sambil berkata “Baiklah Raden Panji.
Besok pagi-pagi kami mohon diri”
“Ya. Hari ini kalian akan menerima hadiah, meskipun apa yang kalian lakukan
tidak lebih dari permainan anak-anak“ berkata Raden Panji.
Manggada dan Laksana mengatup gigi mereka rapat-rapat. Tapi mereka tidak bisa
berbuat upa-apa.
Sejenak kemudian, Raden Panji telah bangkit berdiri sambil berkata “Tunggu aku
di situ”
Ketika Raden Panji masuk, beberapa orang menarik nafas dalam-dalam. Tapi tidak
seorangpun berani bangkit dan meninggalkan tempatnya.
Orang yang duduk di sebelah Wirantana, Manggada dan Laksana tiba-tiba berkata
“Jika kita duduk di pendapa bersama Raden Panji, kita harus mengenal beberapa
sifat yang dimilikinya. Sebenarnya Raden Panji tidak perlu berbuat seperti itu.
Tapi….“
“Tapi?“ Manggada mengulang.
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya orang-orang yang duduk di
sekitarnya. Tampaknya mereka saling berbincang dengan temannya masing-masing,
tanpa menghiraukan orang yang duduk di sebelah anak-anak muda itu.
Tetapi orang itu menggeleng sambil berdesis “Tidak apa-apa. Raden Panji memang
seorang yang sering memberi hadiah pada orang-orang yang berjasa padanya.
Sebagaimana Raden Panji akan memberi hadiah pada kalian”
Manggada dan Laksana mengungguk-angguk. Tetapi mereka sadar bahwa bukan itu yang
akan dikatakan oleh orang itu. Sementara Wirantana bertanya “Apakah Raden Panji
sering memberi hadiah seperti ini?“
Pembicaraan diantara mereka terputus. Wirantana, Manggada dan Laksana tahu bahwa
orang itu tidak dapat mengatakan lebih banyak lagi tentang Raden Panji.
Karenanya, anak-anak muda itu tidak bertanya lebih banyak lagi.
Sementara itu, di ruang dalam, Raden Panji telah memanggil Mas Rara dan
perempuan tua yang melayani gadis itu.
“Nah“ berkata Raden Panji “aku sudah selesai makan. Seharusnya kaupun makan juga
bersamaku. Tapi aku tidak mau melihat mata laki-laki yang menjengkelkan di
pendapa itu, yang selalu menatapmu. Semua orang. Dan dari mata mereka terpancar
sorot perasaan mereka. Ada yang iri, ada yang dengki, dan yang lebih jahat lagi
ada diantara mereka yang memandangimu dengan penuh gairah. Rasa-rasanya aku
ingin membunuh mereka”
Jantung Mas Rara menjadi semakin berdebaran. Namun Raden Panji kemudian
mengatakan niatnya untuk mempercepat saat pernikahan mereka.
“Sebelum aku mendapat tugas penting dari Pajang“ berkata Raden Panji.
Wajah Mas Rara yang pucat menjadi semakin pucat. Jantungnyapun berdegup, semakin
cepat. Keringat dingin telah membasahi pakaian yang dipakainya.
Tetapi Raden Panji seakan-akan tidak melihat kegelisahan itu. Bahkan iapun
kemudian berkata “Dengan demikian, maka segalanya akan segera menjadi bersih.
Tidak ada lagi hambatan yang menghalangi kita”
Mas Rara menundukkan kepalanya. Ketegangan yang tajam telah mencengkam seisi
dadanya.
Namun Raden Panji justru bertanya “Mas Rara. Bukankah kau merasa bersukur atas
keputusanku itu? Kau akan segera menjadi seorang perempuan yang sangat dihormati
disini. Karena aku adalah orang yang paling berkuasa disini, maka kaupun akan
menjadi perempuan yang paling berbahagia. Semua perempuan akan menghormatimu
karena kau, adalah perempuan yang berkedudukan paling tinggi. Kau dengar? Kau
adalah perempuan yang berkedudukan paling tinggi”
Mas Rara masih menunduk. Isi dadanya menjadi semakin sakit. Rasa-rasanya
jantungnya akan meledak mendengar kata-kata Raden Panji itu.
“Mas Rara“ berkata Raden Panji kemudian “kau tidak usah merasa malu. Katakan,
apakah kau menjadi berbahagia karenanya?“
Darah Mas Rara mengalir semakin cepat di dalam tubuhnya. “Katakan“ perintah
Raden Panji.
Dan Mas Rarapun tahu bahwa ia memang harus menjawab sebagaimana diminta oleh
Raden Panji.
“Katakan“ desak Raden Panji “jangan membuat aku menjadi gila. Bukankah kau
merasa bahagia karena keputusanku untuk mempercepat hari pernikahan kita?“
Memang tidak ada pilihan lain. Meskipun kemudian yang hampir menjadi gila adalah
Mas Rara. tetapi Mas Rara itu menjawab “Ya Raden Panji”
“Katakan bahwa kau merasa berbahagia“ perintah Raden Panji.
“Aku merasa berbahagia Raden Panji“ berkata Mas Rara kemudian dengan mulutnya,
tetapi tidak dengan hatinya. Bahkan sebaliknya, hatinya menjadi semakin pedih.
Tetapi Raden Panji tertawa. Katanya “Sukurlah. Ternyata dugaanku benar. Kau
tentu menjadi tidak sabar menunggu hari perkawinan yang aku tetapkan. Jangan
cemas. Besok pagi-pagi kakakmu akan pulang memanggil ayah dan ibumu. Pekan ini
kita akan menikah dengan resmi”
Wajah Mas Rara menjadi tegang. Tetapi Raden Panji itu tertawa berkepanjangan.
Katanya kepada perempuan tua yang melayani Mas Rara itu “Siapkan Mas Rara untuk
memasuki hari perkawinannya. Ajari gadis itu apa yang harus dilakukannya sesudah
hari pernikahan itu. Agaknya ia masih terlalu bodoh sehingga ia harus tahu
tugasnya sebagai seorang isteri agar aku tidak menjadi marah dihari pertama
perkawinanku”
Perempuan tua itu mengangguk hormat sambil menjawab “Baik Raden Panji”
“Gadis yang cantik ini harus mengetahui kewajibannya dengan baik“ berkata Raden
Panji. Namun iapun kemudian tertawa berkepanjangan.
Ketika kemudian Raden Panji berdiri dan melangkah ke pintu, perempuan tua itu
bertanya “Ampun Raden Panji, apakah pakaian pengantin bagi Mas Rara harus
dipersiapkan yang baru, atau memakai pakaian pengantin yang sudah ada?“
Wajah Raden Panji menjadi merah. Matanya terbelalak sambil membentak “Perempuan
dungu. Jika kau bukan perempuan tua, aku tampar mulutmu. Kau kira aku siapa he?
Sudah tentu isteriku yang cantik ini tidak boleh memakai barang bekas. Ia harus
memakai pakaian yang paling baik dan baru. Kau dengar?“
“Ya, ya Raden“ jawab perempuan tua itu dengan nada gemetar “tetapi apakah
pakaian baru itu dapat dibuat dalam waktu yang pendek ini?“
“Kenapa tidak? Sehari pakaian itu harus jadi. Seandainya aku ingin pernikahanku
berlangsung besok, maka pakaian itu harus siap besok. Kerahkan lima atau bahkan
sepuluh orang untuk membuat pakaian itu atau jika perlu seratus orang” Raden
Panji hampir berteriak.
Perempuan tua itu menunduk dalam-dalam. Ia memang sudah menduga bahwa ia akan
dibentak-bentak dengan pertanyaannya. Tetapi ia menganggap bahwa lebih baik
dibentak-bentak sekarang daripada ia salah langkah. Jika ia keliru justru disaat
hari perkawinan, maka ia tidak akan mendapat ampun lagi. Karena ia tahu bahwa
tidak mungkin membuat pakaian pengantin dalam waktu yang singkat dengan
mengerahkan seratus orang sekalipun, karena pakaian itu hanya dapat dibuat oleh
seorang saja atau paling tidak dua tiga orang untuk membantunya.
Perempuan tua itu tidak bertanya lagi. Sementara Raden Panji bergumam “Lebih
baik berada di pendapa daripada aku harus membunuh perempuan tua yang dungu ini”
Perempuan tua itu hanya berdiam diri saja. Sementara Raden Panji telah melangkah
kembali kepintu. Sambil membuka pintu ia berkata “Besok kakakmu akan menjemput
orang tuamu”
Ketika Raden Panji telah berada diluar pintu, maka perempuan tua itu menarik
nafas dalam-dalam. Sementara Mas Rara bertanya dengan nada dalam “Kau tidak
apa-apa bibi?“
“Tidak Mas Rara. Tidak” jawab perempuan tua itu.
“Sukurlah“ desis Mas Rara.
“Lebih baik begitu Mas Rara. Jika aku melakukan kesalahan justru dihari
perkawinan, maka aku akan mengalami nasib yang sangat buruk“ jawab perempuan tua
itu.
Mas Rara mengangguk-angguk. Tetapi dari wajahnya memancar kegelisahan yang
sangat. Hari perkawinan itu akan diajukan begitu cepat sehingga ia tidak
mendapat
kesempatan untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya memasuki neraka yang
mengerikan itu.
Tetapi tidak seorangpun dapat merubah keputusan Raden Panji yang paling berkuasa
didaerah itu.
Di pendapa Raden Panji telah berkata lantang “He kau, Wirantana. Bukankah namamu
Wirantana?“
Wirantana mengangguk hormat sambil menjawab “Ya Raden Panji”
“Nah, besok kau harus pulang ke rumahmu. Besok pagi-pagi. Katakan kepada ayah
dan ibumu, bahwa mereka harus datang secepatnya kemari. Aku akan mempercepat
hari perkawinanku” berkata Raden Panji.
Wajah Wirantana menjadi tegang. Tetapi kemudian iapun berpendapat, bahwa hal itu
tentu akan lebih baik daripada pernikahan itu dipercepat tidak setahu ayah dan
ibunya.
Karena itu, maka Wirantana itupun sekali lagi mengangguk hormat sambil berkata
“Ya Raden Panji. Besok aku akan memberitahukan kepada ayah ibuku”
“Bagus. Tetapi kau harus pergi sendiri dan kembali sebelum sepekan bersama ayah
dan ibumu. Kedua orang anak yang sombong itu tidak perlu kau bawa lagi kemari.
Aku tidak mengundangnya dihari pernikahanku” berkata Raden Panji.
Manggada dan Laksana menahan nafasnya sehingga dadanya merasa sesak. Darahnya
menjadi panas. Namun ia sadar, bahwa ia harus bertahan untuk tidak berbuat
apapun juga. Jika ia melakukan satu kesalahan setidak-tidaknya menurut Raden
Panji, maka ia yakin, bahwa jiwanya akan terancam.
Karena itu, maka kedua orang anak muda itu hanya mengatupkan giginya saja
rapat-rapat.
Sejenak kemudian, maka Raden Panji yang merasa bahwa keperluannya sudah cukup
telah membubarkan pertemuan itu. Para pengawalnya segera bersiap untuk membawa
Raden Panji kembali kerumahnya.
Namun Raden Panji masih sempat minta diri kepada Mas Rara “Aku akan
mempersiapkan segala-galanya. Jangan cemas. Perkawinan kita akan berlangsung
dalam pekan ini juga”
Mas Rara menunduk meskipun ia tahu bahwa ia harus menjawab. Karena itu terdengar
suaranya perlahan sekali “Terima kasih Raden Panji”
“Kau harus mempersiapkan dirimu baik-baik. Perempuan tua itu akan mengajarimu
apa yang harus kau lakukan dihari pertama pernikahan kita itu“ berkata Raden
Panji kemudian. Lalu “Besok kakakmu akan menjemput orang tuamu”
Mas Rara tidak menjawab. Sementara Raden Panjipun kemudian telah meninggalkannya
dan selanjutnya meninggalkan rumah itu.
Sepeninggal Raden Panji, maka pendapa dan bahkan halaman rumah itupun menjadi
lengang. Beberapa orang yang hadir di pendapa itu sebagian ikut mengiringi Raden
Panji kembali ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa patok saja bersama para
prajurit pengawal. Sedangkan yang lain pulang kerumah masing-masing. Orang yang
duduk disebelah Wirantana itu sempat berkata “Berbuatlah sebaik-baiknya sesuai
dengan keinginan Raden Panji untuk kebaikanmu dan kebaikan adik perempuanmu”
Wirantana mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud orang itu. Karena itu, maka ia
berdesis “Terima kasih Ki Sanak. Tetapi siapa nama Ki Sanak itu?“ bertanya
Wirantana.
“Namaku Wirasta“ jawab orang itu “aku belum lama tinggal di padukuhan ini.
Tetapi dalam waktu yang pendek aku segera mengenali sifat Raden Panji”
Wirantana mengangguk-angguk. Sementara Manggada bertanya “Dimana rumah Ki
Sanak?“
“Beberapa ratus langkah dari rumah ini“ jawab orang itu “tidak terlalu jauh”
Tiba-tiba saja Laksana bertanya pula “Apakah kami boleh berkunjung ke rumah Ki
Sanak?“
Orang itu tersenyum sambil menggeleng “Tidak perlu anak muda. Bukan maksudku
menolak kebaikan hati kalian. Tetapi aku tidak ingin mendapat perhatian khusus
dari Raden Panji disini, justru karena aku tahu sifat Raden Panji”
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara orang itu berkata “Aku mohon
kalian mengerti”
“Ya, ya“ sahut Manggada “apalagi kami berdua. Nampaknya Raden Panji tidak senang
melihat kehadiran kami, meskipun kami datang atas undangan Raden Panji itu”
Orang itu mengangguk angguk. Namun iapun kemudian melangkah sambil berrdesis
“Aku minta diri”
Orang itupun kemudian telah meninggalkan halaman rumah itu tanpa berpaling lagi.
Nampaknya ia benar-benar tidak ingin menarik perhatian Radenn Panji dan
orang--orangnya.
Beberapa saat kemudian, maka rumah itu menjadi lengang. Meskipun masih ada satu
dua orang prajurit yang nampaknya mendapat tugas untuk berjaga-jaga, tetapi
tidak ada lagi orang yang hilir mudik di halaman. Satu dua orang pelayan masih
membenahi pendapa yang telah kosong.
Wirantana, Manggada dan Laksanapun kemudian telah pergi ke tempat kedua orang
yang melayani kereta berkuda yang mereka pinjam dari Ki Jagabaya.
“Besok kita pulang“ berkata Wirantana kepada mereka berdua.
“Baiklah“ jawab seorang diantara mereka “rasa-rasanya aku sudah lama
meninggalkan anak isteriku”
Wirantana tersenyum. Namun katanya “Tetapi sehari kemudian kita akan kembali
kemari. Aku akan menghadap Ki Jagabaya untuk memohon agar aku diperkenankan
meminjam pedati itu lagi”
“Untuk apa?“ bertanya orang itu.
“Aku harus membawa ayah dan ibuku kemari sebelum sepekan“ jawab Wirantana.
Orang yang melayani kereta itu mengangguk-angguk. Katanya “Segala sesuatunya
terserah kepada Ki Jagabaya. Jika aku diperintahkan untuk kembali kemari, maka
akupun akan kembali”
“Terima kasih“ jawab Wirantana “kita dapat mempersiapkan diri sejak sekarang”
Ketika Wirantana, Manggada dan Laksana kembali ke gandok yang disediakan bagi
mereka, maka kedua orang itupun telah mulai membenahi kereta mereka. Besok
pagi-pagi sekali kereta itu akan menempuh lagi perjalanan panjang kembali ke
Nguter. Sedangkan sehari kemudian, mereka akan kembali lagi ke padukuhan itu.
Di biliknya, Manggada berdesis “Besok kita akan berpisah”
“Begitu cepatnya perpisahan itu terjadi. Sebenarnya aku ingin kalian hadir saat
adikku menikah sepekan lagi“ desis Wiratana.
Manggada menggeleng. Katanya “Tidak mungkin” Sementara Laksana menyambung “Kau
dengar, bahwa Raden Panji telah mengusir kami”
“Ya. Aku tidak mengerti kenapa Raden Panji telah berbuat sedemikian kasarnya“
gumam Wirantana “seharusnya ia berterima kasih kepada kalian”
Namun Manggada sempat juga bergurau “Raden Panji menjadi cemburu. Bukankah aku
atau Laksana jauh lebih muda dan tampan dari Raden Panji itu”
Wirantana yang wajahnya tegang itu sempat juga tersenyum. Namun Laksana menyahut
“Tetapi Mas Rara tentu akan memilih orang lain jika ia mendapat kesempatan.
Bukan Raden Panji tetapi juga bukan salah seorang diantara kami berdua”
Wirantana sempat tertawa pendek. Katanya “Untunglah kesempatan untuk memilih itu
tidak ada pada Mas Rara”
Laksana menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak berkata apapun.
Ketiganya berhenti bergurau ketika mereka melihat seseorang datang menemui
mereka. Ketiga anak muda itu segera dapat mengenalnya, bahwa orang itu adalah
pemimpin prajurit yang menjemput Mas Rara dari Nguter kemarin lusa.
Ketiga anak muda itu memang menjadi berdebar-debar. Tetapi wajah prajurit itu
nampak ramah dan tidak berkesan keras.
“Maaf anak-anak muda. Barangkali aku akan mengganggu kalian yang sedang
beristirahat“ berkata pemimpin prajurit itu.
“Ah tidak“ jawab Wirantana. Tetapi iapun berkata “Namun kehadiran Ki Sanak
memang agak mengejutkan. Barangkali ada perintah dari Raden Panji?“
“Aku datang bukan atas nama Raden Panji“ jawab perwira itu. Lalu katanya “Tetapi
atas keinginanku sendiri”
“O“ Wirantana mengangguk-angguk “terima kasih atas kunjungan Ki Sanak. Tetapi
apakah ada sesuatu yang penting?“
“Tidak anak-anak muda“ jawab prajurit itu “aku datang untuk mengucapkan terima
kasih”
Wirantana termangu-mangu sejenak. Berempat merekapun kemudian duduk diserambi
gandok.
“Aku tidak dapat melupakan bantuan kalian yang justru menentukan anak-anak muda”
berkata prajurit itu.
“Bantuan apa yang telah kami berikan?“ bertanya Wirantana.
“Ketika kami membawa Mas Rara kemari, bukankah kalian telah berbuat sesuatu yang
justru berhasil menyelamatkan Mas Rara meskipun harus mengorbankan pamannya.
Kalianiah yang pertama-tama melihat sekelompok penjahat yang telah berusaha
menjebak kami. Sudah tentu atas perintah Ki Sanak“ jawab prajurit itu
“selanjutnya,
“kalian pulalah yang telah mengambil Mas Rara dari tangan pamannya yang mencoba
melarikannya itu”
“Hanya satu langkah kecil dari seluruh tugas yang Ki Sanak lakukan“ desis
Wirantana.
“Sementara itu, meskipun Raden Panji juga menyatakan terima kasih kepada kalian,
tetapi seakan-akan kedua anak muda yang sebelumnya telah menolong Mas Rara dari
tajamnya taring seekor harimau itu telah diusirnya“ desis prajurit itu pula.
“Tidak apa-apa Ki Sanak“ sahut Manggada “kami tahu bahwa kami memang tidak
pantas untuk berada di rumah Raden Panji. Kamipun telah menerima hal ini dengan
hati terbuka. Besok pagi-pagi kami berdua akan meninggalkan tempat ini dengan
lapang dada, sementara Wirantana akan pulang menjemput kedua orang tuanya”
Prajurit itu mengangguk-angguk. Katanya “Tanpa kalian bertiga, maka aku kira
sudah menerima hukuman yang sangat berat karena Mas Rara tentu sudah hilang.
Mungkin akupun akan hilang pula dari percaturan para prajurit dibawah perintah
Raden Panji”
“Ah, tentu tidak. Ki Sanak tentu dapat mengatasinya“ berkata Laksana kemudian.
“Mungkin saat itu kami dapat mengalahkan para penjahat yang diupah oleh Ki Resa
itu. Tetapi bukankah kami akan kehilangan Mas Rara yang dilarikan oleh Ki Resa,
justru karena hal itu diluar perhitungan kami? Setidak-tidaknya kami akan
mengira bahwa Ki Resa berniat menyelamatkan kemenakannya itu“ desis pemimpin
prajurit yang menjemput Mas Rara itu.
Ketiga anak muda itu hanya mengangguk-angguk kecil saja. Sedangkan prajurit itu
berkata selanjutnya Rasa-rasanya sikap Raden Panji tidak adil terhadap kedua
orang anak muda ini. Mungkin pada saatnya, sikap yang demikian pula akan dialami
oleh Wirantana dan bahkan kedua orang tuanya”
“Sudahlah“ berkata Manggada “lupakan semuanya itu Ki Sanak”
Tetapi prajurit itu berkata terus “Bukannya aku tidak melaporkan hal ini kepada
Raden Panji. Aku telah melaporkan selengkapnya, Akupun agak terkejut melihat
sikapnya itu”
“Itu adalah ciri seorang yang mempunyai kekuasaan tanpa batas“ berkata Wirantana
hampir diluar sadarnya.
Prajurit itu mengangguk-angguk. Katanya “Aku mengenal sifat Raden Panji dengan
baik. Tetapi semakin lama, kami para prajurit bukannya semakin memahami sifat
dan wataknya, tetapi justru sebaliknya. Kami menjadi semakin tidak mengerti”
“Jika Raden Panji itu menikah sepekan lagi, mudah-mudahah peristiwa itu akan
dapat merubah sikapnya“ berkata Wirantana.
“Tetapi ketahuilah anak-anak muda. Raden Panji bukannya baru akan menikah untuk
pertama kali“ desis prajurit itu.
Wirantana mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud prajurit itu. Pernikahan yang
telah dilakukan Raden Panji berulang kali, sama sekali tidak merubah sifat dan
wataknya.
“Anak-anak muda“ berkata prajurit itu “aku tidak dapat berbuat lain kecuali
sekedar mengucapkan terima kasih. Tetapi apa yang telah kalian lakukan waktu
itu, benar-benar telah menyelamatkan nyawaku”
“Tidak ada yang kami lakukan“ desis Manggada “sudahlah. Mudah-mudahan Ki Sanak
akan dapat menempatkan diri Ki Sanak diantara keluarga besar kekuatan Pajang di
tempat ini”
Prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Mudah-mudahan aku tidak menjadi
gila disini. Mudah-mudahan aku segera ditarik ke Pajang untuk tugas lain. Aku
lebih senang ditugaskan di daerah-daerah yang keras meskipun berbahaya daripada
berada di dekat Raden Panji yang aneh itu, meskipun kami para prajurit disini
mendapat cukup makan dan pakaian. Bahkan seluruh keluarga para prajurit”
“Apakah keluarga Ki Sanak juga tinggal di padukuhan ini?“ bertanya Wirantana.
“Tidak“ jawab prajurit itu “adalah kebetulan bahwa aku sendiri tidak mempunyai
keluarga. isteriku meninggal sebelum kami mempunyai anak. Beberapa orang kawanku
yang mempunyai anak dan isteri, juga tidak dibawa kepadukuhan ini. Mereka
tinggal di keluarga mereka yang lain. Kami tidak menetap disini untuk
seterusnya. Mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama kami dipindahkan ke
tempat lain. Dan jika hal itu terjadi dalam waktu singkat, maka kami akan merasa
sangat berbahagia”
Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak menjawab, karena
mereka tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
Prajurit itu ternyata tidak terlalu lama berbicara dengan ketiga orang anak muda
itu. Beberapa saat kemudian mereka bangkit berdiri karena prajurit itu telah
minta diri untuk kembali ke kesatuan mereka.
“Prajurit-prajuritku mendapat tugas untuk menjaga tawanan“ berkata pemimpin
prajurit yang menjemput Mas Rara itu.
Demikianlah maka sejenak kemudian prajurit itupun telah meninggalkan ketiga
orang anak muda yang termangu-mangu. Ketika prajurit itu sampai keregol maka
Wirantanapun berdesis “Ternyata prajurit itu juga mengalami tekanan perasaan
selama ia berada di sini”
“Tetapi tentu ada orang yang memanfaatkan sifat dan watak Raden Panji itu untuk
kepentingan diri sendiri“ sahut Manggada.
“Ya“ guman Laksana “justru orang-orang yang demikian itulah orang-orang yang
berbahaya. Orang yang duduk disebelahnya itupun nampaknya mengerti keadaan di
lingkungan Raden Panji itu dengan baik”
“Tetapi ia mengaku orang baru disini“ sahut Laksana.
“Semakin lama akupun menjadi semakin tidak mengerti“ berkata Wirantana.
Manggada menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Memang agak berbeda dengan orang
yang duduk disebelahmu yang nampaknya justru berusaha untuk mengerti”
Wirantana termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba ia berkata “Ternyata para
prujurit yang bertugas disini selalu berharap untuk segera dipindahkan”
“Kenapa kau berkesimpulan seperti itu?“ bertanya Laksana.
“Meskipun mereka itu mendapat gaji yang cukup, makan dan pakaian bahkan bagi
keluarga mereka, tetapi keluarga mereka tidak mereka bawa ke padukuhan ini“
jawab Wirantana.
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka berkesimpulan bahwa tempat ini
memang tempat yang sulit untuk dimengerti. Hanya orang-orang yang
bersungguh-sungguh berusaha untuk mengerti secara khusus sajalah yang akan dapat
mengerti.
Bahkan bukan saja apa yang kasat mata, tetapi juga apa yang tersirat
daripadanya. Mereka justru berusaha untuk melihat jauh kepusat jantung Raden
Panji yang memiliki kekuasaan yang seakan-akan tidak terbatas itu.
Namun Manggada dan Laksana tidak akan mendapat kesempatan untuk melihat lebih
banyak lagi tentang isi dari padukuhan itu. Mereka besok harus meninggalkan
rumah itu pagi-pagi benar, bersama-sama dengan keberangkatan Wirantana pulang.
Ketiga orang itupun telah berbenah diri sebaik-baiknya. Mereka akan berpisah
besok. Meskipun Manggada dan Laksana belum terlalu lama mengenal Wirantana,
namun mereka seakan-akan telah merupakan sahabat-sahabat yang sangat akrab.
Apalagi mereka telah mengalami bersama-sama ancaman bagi jiwa mereka.
Menjelang senja turun, maka datang beberapa orang prajurit utusan Raden Panji
menemui Manggada dan Laksana. Mereka membawa dua bingkisan kecil yang berisi apa
yang oleh Raden Panji disebut pakaian sepengadeg. Tidak lebih dari selembar kain
panjang dan selembar baju lurik berwarna hitam. Tidak ada ikat kepala, apalagi
ikat pinggang yang dilengkapi dengan kamus dan timang.
“Kami mendapat pesan selain menyerahkan hadiah yang dijanjikan oleh Raden Panji,
maka kami juga harus memperingatkan bahwa besok pagi-pagi kalian berdua diminta
sudah tidak berada di padukuhan ini lagi” berkata pemimpin sekelompok prajurit
itu.
“Baik Ki Sanak“ jawab Manggada “aku juga sudah berjanji kepada Raden Panji”
“Baiklah anak muda. Kami hanyalah sekedar utusan“ desis prajurit itu.
“Kami tahu itu“ sahut Manggada pula. Prajurit-prajurit itupun termangu-mangu
sejenak.
Namun pemimpin kolompok itu kemudian mengangguk sambil berkata “Kami minta diri
anak-anak muda. Kami telah melakukan tugas kami”
“Sampaikan terima kasih kami kepada Raden Panji. Kami juga mohon diri, besok
sebelum matahari terbit, kami akan meninggalkan padukuhan ini” berkata Manggada.
Jilid 4
“AKU juga mohon diri“ sambung Wirantana “aku akan kembali menjemput ayah dan
ibuku. Sebelum sepekan mereka harus sudah berada di padukuhan ini”
“Baiklah anak-anak muda“ berkata pemimpin prajurit itu “kami akan
menyampaikannya kepada Raden Panji”
Sepeninggal para prajurit itu, Manggada berdesis “Untuk menyampaikan hadiah
seperti ini, kenapa harus sekelompok prajurit. Bukankah satu atau dua orang saja
sudah cukup?“
“Satu kehormatan“ desis Wirantana “bukankah dengan demikian kalian cukup
dihormati disini, sehingga untuk menyerahkan hadiah yang tidak berarti itu telah
dilakukan oleh sekelompok prajurit?“
“Kami memang tidak pernah memikirkan hadiah. Karena itu, kami tidak memikirkan
apakah hadiah itu benilai atau tidak” desis Manggada.
“Justru karena itu“ berkata Wirantana “justru karena hadiahnya tidak bernilai,
maka ada nilai yang lain yang diberikan kepada kalian. Satu penghormatan”
Manggada mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tertawa sambil berkata
”Nilai-nilai yang sulit aku dapatkan ditempat lain”
Ketiga anak muda itupun tertawa. Namun hati mereka terasa seperti disentuh ujung
duri. Mereka merasa betapa perlakuan yang diberikan oleh Raden Panji itu
benar-benar menyakiti hati mereka. Terutama Manggada dan Laksana. Namun demikian
Manggada juga merasa gelisah karena adiknya yang tentu merasa sangat gelisah
pula. Wirantana sudah membayangkan bahwa menjadi isteri Raden Panji bukannya
satu peristiwa yang bernilai tinggi, tetapi justru akan merupakan satu
penderitaan yang panjang. Apalagi Mas Rara adalah isteri Raden Panji yang
keenam. Ia akan menjadi endapan kepahitan hidup kelima isteri Raden Panji
sebelumnya.
Namun tiba-tiba terbersit satu pertanyaan ”Apakah aku akan membiarkan
penderitaan itu berkepanjangan?“
Wirantana menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, ketiga anak muda itupun
telah berada di dalam biliknya. Laksana sempat membaringkan diri dipembaringan,
sementara Manggada dan Wirantana duduk diamben bambu sambil merenung.
Sementara itu maka senjapun menjadi semakin gelap. Lampu telah dinyalakan
dimana-mana. Digandok itupun lampu telah dinyalakan pula.
“Aku akan berbicara dengan sais dan pembantunya itu“ berkata Wirantana.
Manggada dan laksana mengangguk. Dengan nada datar Manggada berkata “Aku akan
segera tidur agar besok aku dapat bangun dini hari”
Wirantana menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Bukankah kita menunggu makan
malam?“
Manggada tidak menjawab. Ia duduk sambil tersenyum, sementara Laksana masih saja
berbaring. Sekali-sekali matanya justru terpejam meskipun ia tidak ingin segera
tidur.
Kepada kedua orang yang melayani pedati berkuda itu Wirantana sudah berpesan,
agar pedati itu dipersiapkan. Mereka akan berangkat menjelang fajar.
“Kita tinggal berangkat“ berkata seorang diantara mereka “segalanya sudah siap”
“Baiklah“ berkata Wirantana “besok kita berangkat sebelum padukuhan ini
terbangun. Kita berangkat bersama-sama dengan Manggada dan Laksana meskipun
tujuan kita berbeda”
“Kedua orang anak itu akan pergi kemana?“ bertanya seorang yang lain.
“Mereka memang sedang mengembara. Mungkin mereka akan pergi ke Pajang“ jawab
Wirantana.
Demikian maka Wirantanapun telah meninggalkan kedua orang itu. Sementara itu,
kedua orang itu memang sudah menyiapkan segala-galanya. Bahkan senjata merekapun
telah mereka siapkan.
Ketika Wirantana kembali ke gandok ternyata makan malam bagi mereka telah
dipersiapkan.
Setelah makan malam maka rasa-rasanya udara menjadi panas sehingga bertiga
anak-anak muda itu justru duduk-duduk diserambi yang udaranya terasa lebih
sejuk.
Namun mereka tidak terlalu lama berada diserambi. Halaman rumah itu nampak
terlalu sepi. Meskipun ada dua orang prajurit yang berjaga, juga diregol dan
lima orang yang lain berada digardu meskipun dua orang diantaranya sudah
berbaring karena mendapat giliran tidur disore hari, namun suasananya terasa
sangat lengang.
Malam yang menjadi semakin dalam telah membuat ketiga orang itu mulai mengantuk.
Tetapi rasa-rasanya mereka masih belum puas berbicara justru disaat terakhir
mereka sempat melakukannya. Besok mereka sudah akan berpisah.
Tanpa mereka sadari, maka mereka telah berbicara kian kemari, termasuk
membicarakan sifat-sifat Raden Panji serta kemungkinan-kemungkinan yang dapat
terjadi atas Mas Rara.
Namun akhirnya mereka memang menjadi mengantuk sekali menjelang tengah malam.
Karena itu, maka Wirantanapun berkata “Baiklah. Kita akan beristirahat sekarang.
Besok menjelang fajar kita akan bersiap”
Manggada dan Laksanapun mengangguk-angguk. Dengan nada rendah agak tertelan
Manggada berkata “Aku juga sudah mengantuk”
Demikianlah, maka ketiga orang anak muda itupun telah membaringkan dirinya
dipembaringan. Sekali-sekali mereka menguap dan menggosok mata mereka. Memang
terasa sayang sekali bahwa mereka akan melewatkan saat-saat terakhir mereka
bertemu hanya untuk tidur. Namun mereka tidak dapat mengelak.
Tetapi ketika mata mereka telah terpejam, maka ketiga anak muda itu telah
dikejutkan oleh pembicaraan yang terjadi di halaman. Tidak terlalu keras. Namun
nampaknya bersungguh-sungguh.
“Aku mengemban tugas dari Raden Panji” terdengar suara yang berat.
“Apakah kau membawa pertanda perintah itu?“ bertanya suara yang lain.
“Ada“ jawab orang yang pertama.
Wirantana memang sangat tertarik oleh pembicaraan itu. Iapun segera bangkit,
memadamkan lampu dan dengan sangat berhati-hati membuka pintu bilik gandok.
Manggada dan Laksanapun telah ikut pula mengintip dari sela-sela pintu bilik
gandok itu. Mereka melihat dua orang yang berdiri dihadapan salah seorang dari
para prajurit yang bertugas, bahkan agaknya pemimpin kelompoknya. Sementara dua
orang prajaurit yang lain, yang sudah bersiap-siap untuk beristirahat setelah
tugasnya diregol digantikan oleh dua orang kawannya, berdiri termangu-mangu
didepan gardu.
Ketiga orang anak muda itu melihat salah seorang dari kedua orang yang mengaku
utusan Raden Panji itu telah menunjukkan sesuatu. Agaknya sebuah cincin.
“Kau tentu mengenal cincin ini. Cincin ini memang cincin pertanda perintah Raden
Panji“ berkata orang itu.
Pemimpin sekelompok prajurit yang bertugas itu menarik nafas dalam-dalam Namun
katanya “tetapi Mas Rara tentu sudah tidur”
“Tidak apa apa. Kita harus membangunkannya dan segera membawanya menghadap Raden
Panji” jawab orang itu.
“Tetapi kenapa harus malam-malam begini?“ bertanya pemimpin prajurit itu.
“Jangan bodoh“ jawab orang yang membawa cincin itu.
Pemimpin prajurit yang sedang bertugas di rumah itu menarik nafas dalam-dalam.
Namun keragu-raguannyapun kemudian telah terdesak kesamping ketika utusan Raden
Panji itu berkata ”Perintah Raden Panji. kami harus membawa Mas Kara. Tidak
boleh ada orang yang menghalanginya”
“Terserahlah” berkata pemimpin prajurit itu “tetapi sebenarnya aku kasihan
melihat gadis itu”
“Apakah kau akan melawan perintah Raden Panji?“ bertanya utusan itu.
“Tentu tidak. Ambillah“ jawabnya.
Tetapi utusan itu berkata “Kaulah yang membangunkannya dan membawanya kemari.
Aku akan membawanya sampai kepada Raden Panji”
“Kau yang mendapat perintah. Lakukan perintah itu“ jawab pemimpin prajurit yang
bertugas.
“Perintah Raden Panji termasuk perintah kepada kalian“ jawab utusan itu.
Tetapi pemimpin prajurit itu menggeleng. Katanya “Tentu tidak. Raden Panji hanya
memerintahkan kepadamu untuk mengambil gadis itu. Sekarang terserah kepadamu,
apakah kau akan membawanya menghadap atau tidak”
Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Seorang diantara mereka berkata
“Baiklah. Kami akan mengambilnya”
Meskipun sebenarnya ragu-ragu, tetapi kedua orang itupun telah menuju ke pintu
pringgitan. Dengan perlahan-lahan pintu itupun diketuknya.
Baru setelah diulang sampai dua tiga kali, maka terdengar seorang perempuan
menyapa “Siapa diluar?“
“Kami bibi. Mengemban perintah Raden Panji“ jawab salah seorang diantara
keduanya.
“Kenapa malam-malam?“ bertanya perempuan yang ada didalam itu.
“Kami hanya mengemban perintah bi ”jawab prajurit itu.
“Bagaimana kalau besok saja?“ bertanya perempuan yang ada di dalam.
“Apakah ada diantara kita yang berani menentang perintah Raden Panji?“ prajurit
itu justru bertanya.
Perempuan itupun kemudian telah membuka pintu. Sebelum orang tua itu bertanya,
prajurit itu telah menunjukkan cincin yang dipakainya sambil berkata “Aku
membawa pertanda pengemban perintah Raden Panji”
Perempuan tua yang melayani Mas Rara termangu-mangu. Ia menyadari apa yang akan
terjadi dengan gadis yang lugu itu. Tetapi iapun mengerti, apa yang terjadi
terhadap seseorang yang berani menentang perintah Raden Panji itu. Apalagi
tentang seorang perempuan cantik yang telah mengguncangkan hatinya sehingga
Raden Panji itu tidak sabar lagi menunggu waktu sepakan yang telah ditentukannya
sendiri”
Satu gejolak perasaan telah terjadi dihati perempuan tua itu. Rasa-rasanya ia
memang ingin menghalangi kedua orang itu mengambil Mas Rara. Tetapi perempuan
tua itu menyadari, bahwa ia tidak akan berdaya berbuat sesuatu untuk
mencegahnya.
”Maaf bibi“ berkata prajurit itu “aku minta bibi membangunkannya dan membawanya
kemari. Kami akan mengantar mereka kepada Raden Panji sekarang juga. Raden Panji
sudah berpesan agar aku segera kembali sambil membawa Mas Rara bersamaku. Raden
Panji sudah mengancam, jika aku gagal, maka leherku akan menjadi taruhan”
Perempuan tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “ Itulah
biliknya”
“Bawa gadis itu kemari“ berkata kedua orang itu hampir berbareng.
Tetapi perempuan tua itu menggeleng lemah. Katanya ”Kau ambil gadis itu sendiri,
Aku tidak sampai hati membangunkannya dan memberitahukannya bahwa ia diperlukan
Raden Panji sekarang juga, sementara masih ada tenggang waktu sepekan dengan
hari pernikahan yang ditentukan sendiri oleh Raden Panji”
Kedua orang itu menjadi tegang. Namun ia tidak akan dapat memaksa perempuan tua
itu untuk membangunkan Mas Rara. Sementara waktunya sudali menjadi terlalu lama.
Raden Panji yang memberikan perintah langsung kepada kedua orang itu nampaknya
tidak sabar lagi menunggu.
Karena itu, maka keduanyapun telah menyingkirkan perasaannya sendiri yang justru
berlawanan dengan tugas yang harus diembannya. Seorang diantara mereka berkata
”Aku akan membangunkannya”
Orang itu telah mendekati pintu bilik Mas Rara. Namun sebenarnyalah
keragu-raguan masih saja mencengkamnya.
Ketika diluar sadarnya prajurit itu menyentuh pintu, maka iapun tahu bahwa pintu
bilik itu telah diselarak dari dalam.
Perlahan-lahan orang itu mengetuk pintu sambil berdesis “Mas Rara, Mas Rara”
Beberapa saat orang itu mengetuk pintu, namun sama sekali. tidak terdengar
jawaban. Karena itu, maka prajurit itu mengetuk semakin keras.
“Mas Rara” panggil prajurit itu.
Mas Rara sebenarnya memang sudah terbangun. Tetapi ia justru menjadi ketakutan.
Yang terdengar diluar pintu adalah suara laki-Iaki.
“Mas Rara“ berkata prajurit yang membangunkannya itu “aku membawa pesan Raden
Panji. Pesan yang sangat penting bagi Mas Rara”
Mas Rara masih saja ragu-ragu. Namun karena pintu itu diketuk lagi, maka iapun
bertanya “Siapa diluar?“
Prajurit yang mendapat tugas untuk menjemput Mas Rara itu menarik nafas
dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata “Kami adalah utusan Raden Panji. Jika
Mas Rara ragu-ragu, maka silahkan membuka pintu. Kami akan menunjukkan pertanda
perintah dari Raden Panji”
“Kenapa tidak besok saja?“ bertanya Mas Rara.
“Pesan itu sangat penting Mas Rara” jawab prajurit itu ”aku persilahkan Mas Rara
melihat cincin itu. Mas Rara tentu akan yakin, bahwa kami adalah utusan Raden
Panji”
Mas Rara memang tidak dapat berbuat lain. Ia menyadari, bahwa dirinya bagaikan
seekor kelinci didalam kandang seekor harimau yang ganas.
Ketika prajurit itu mengetuk pintunya lagi, maka Mas Rara pun telah membukanya.
Diluar pintu ia melihat dua orang prajurit berdiri termangu-mangu. Beberapa
langkah dibelakangnya, orang tua yang melayaninya berdiri tegak dan tubuh
gemetar.
Demikian pintu terbuka, maka perempuan tua itu telah berlari memeluknya. Diluar
sadarnya, terasa air mata perempuan tua itu menitik dibahunya.
“Bibi“ desis Mas Rara.
Perempuan tua itu tidak menjawab sama sekali. Tetapi kedua orang prajurit itulah
yang kemudian mengangguk hormat.
Mas Rara berdiri tegak memandangi kedua orang prajurit yang menunduk itu.
Meskipun keduanya belum mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi Mas Rara
seakan-akan sudah tahu apa yang akan dilakukan Raden Panji atas dirinya.
Namun kemudian salah seorang dari kedua prajurit itu betapapun segannya,
terpaksa mengatakan “Mas Rara. Kami adalah utusan Raden Panji. Kami membawa
pertanda perintah. Kami ditugaskan untuk mempersilahkan Mas Rara bersama-sama
dengan kami menghadap Raden Panji”
Meskipun Mas Rara sudah menduga, namun ketika kedua orang prajurit itu
menyampaikan perintah Raden Panji, jantungnya masih juga berdentangan keras
sekali.
Perempuan tua yang kemudian melepaskan pelukannya itupun berdiri dengan cemasnya
disisi Mas Rara. Sudan beberapa kali ia menyaksikan perempuan yang menjadi
isteri Raden Panji. Namun perasaannya terasa lain ketika ia berhadapan dengan
Mas Rara. Apalagi jika ia melayani seorang perempuan yang tamak dan sombong.
Maka ia sama sekali tidak merasa tersentuh melihat saat-saat seperti yang sedang
terjadi itu. Ia merasa sangat benci kepada perempuan yang menyambut perintah
Raden Panji itu dengan sangat gembira dan penuh harapan.
Namun ternyata bahwa sikap Mas Rara itu berbeda. Pada saat yang sangat gawat
itu, ia justru menemukan keberanian yang sudah terlepas dari dirinya sejak ia
dinyatakan akan menjadi isteri Raden Panji. Pribadinya yang serasa hilang itu
tiba-tiba pula telah bangkit kembali didalam dirinya. Bahwa tubuhnya
rasa-rasanya tidak menjadi miliknya lagi, dengan serta merta telah tersentak
dari relung jantungnya.
Karena itu, maka Mas Rara itu dengan tengadah berkata “Katakan kepada Raden
Panji, bahwa aku tidak dapat menghadap sekarang. Kecuali hari telah larut malam,
katakan bahwa aku sedang sakit”
“Tetapi perintah Raden Panji mawanti-wanti” berkata prajurit itu “jika aku
kembali tanpa Mas Rara, maka aku akan mendapat hukuman yang sangat berat. Bahkan
mungkin aku akan dihukum mati”
“Kau tidak bersalah“ berkata Mas Rara “perintahnya telah sampai kepadaku. Tetapi
akulah yang menolaknya. Bukan kalian berdua”
“Benar Mas Rara. Tetapi apakah aku dapat meyakinkan Raden Panji bahwa Mas Rara
menolak perintah itu?“ desis prajaurit itu.
“Apakah kau akan membawa cincinku untuk meyakinkan Raden Panji?“ bertanya Mas
Rara.
“Tidak Mas Rara. Bukan cincin itu. Yang penting kami mengharap Mas Rara
menghadap Raden Panji. Apapun yang akan dilakukan Raden Panji benar-benar diluar
tanggung jawab kami. Jika kami melakukannya, itu semata-mata karena kamipun
merasa takut untuk menolak perintah itu“ berkata prajurit yang menjadi gelisah
itu.
“Katakan kepada Raden Panji, bahwa kau telah melakukan tugasmu dengan baik. Dan
katakan pula bahwa akulah yang menolak perintahnya. Jika Raden Panji marah dan
akan menjatuhkan hukuman, biarlah aku yang dihukum. Hukuman mati sekalipun“
jawab Mas Rara. Lalu katanya pula “Sampaikan kepada Raden Panji bahwa aku
menolak kemauannya. Aku baru akan menjadi isterinya sepekan lagi.
Wajah kedua utusan itu menjadi tegang. Mereka tidak mengira bahwa Mas Rara akan
menolak perintah yang diberikan Raden Panji. Secara kebetulan, seorang diantara
mereka juga melakukan perintah yang sama atas isteri Raden Panji yang ke lima.
Tapi perintah itu tidak ditolaknya. Utusan itu tidak tahu perasaan apa yang
bergejolak di hati perempuan itu. Tapi perempuan itu tampaknya merasa bangga
sekali. Baru beberapa hari kemudian pernikahannya akan berlangsung. Namun
keluarga itu tidak lama tampak utuh. Beberapa bulan kemudian hubungan mereka
mulai retak dan nasib isteri kelima itu menjadi kurang baik.
Tetapi sekarang, seorang perempuan dari padukuhan Nguter telah berani menentang
perintah Raden Panji. Bahkan menentang untuk menerima hukuman mati sekalipun.
Ketika keduanya masih termangu-mangu, Mas Rara yang seakan-akan telah menemukan
dirinya kembali itu berkata “Ki Sanak, kembalilah. Aku masih letih. Aku masih
ingin tidur lagi”
Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun seorang diantara mereka
berkata “Tidak Mas Rara. Aku harus kembali menghadap Raden Panji bersama Mas
Rara”
“Aku tidak mau“ bentak Mas Rara.
“Kami juga tidak berani kembali tanpa Mas Rara“ sahut yang seorang lagi.
“Terserah pada kalian. Tapi aku tidak akan pergi“ jawab Mas Rara.
Kedua orang itu menjadi bingung. Dengan gagap, seorang diantara mereka berkata
“Tidak. Mas Rara harus pergi”
“Aku tidak mau“ jawab Mas Rara tegas.
“Kami akan memaksa Mas Rara“ utusan yang kehilangan akal itu mulai mengancam.
Wajah Mas Rara jadi makin tegang. Dengan suara bergetar ia berkata “Kau tahu
siapa aku? Kau tidak akan dapat menakut-nakuti aku. Aku adalah calon isteri
Raden Panji. Jika kalian berani menentang perintahku, itu berarti kalian berani
menentang Raden Panji”
Kedua orang itu memang menjadi bimbang. Tetapi ketakutan yang bergejolak di
jantung mereka ternyata lebih berat dibanding keragu-raguan mereka, sehingga
seorang diantara mereka berkata “Raden Panjilah yang memerintahkan kami datang
kemari. Karena itu, yang kami lakukan adalah atas nama dan atas kuasanya. Karena
itu, jangan menentang kami”
Debar jantung Mas Rara bagaikan semakin cepat berdegup. Tapi ia masih berkata
lantang ”Pergi. Jangan mencoba mengganggu aku. Jika Raden Panji mengetahuinya,
kalian akan dihukum gantung”
“Kami mengemban perintah Raden Panji“ ulang salah seorang dari mereka, tetapi
Mas Rara tetap pada pendiriannya. Katanya ”Aku tidak mau. Jika kau akan
memaksakan, kalian akan menyesal. Aku dapat mengatakan hitam atau putih tentang
kalian kepada Raden Panji. Aku dapat mengatakan bahwa kalian telah memanfaatkan
keadaan itu untuk kepentingan dan kesenangan kalian sendiri”
“Gila“ wajah orang-orang itu menjadi marah. Seorang diantara mereka berkata
“Kami akan melakukannya dihadapan saksi-saksi, para prajurit yang bertugas di
tempat ini akan menjadi saksi apa yang telah kami lakukan. Mereka akan
mengatakan sesuai dengan apa yang mereka lihat”
Wajah Rara Wulan jadi panas. Ternyata orang-orang itu tidak lekas menjadi
ketakutan. Namun ia sudah bertekad untuk tidak mau pergi mengikuti keduanya.
Karena itu, Rara Wulan berkata ”Aku tidak peduli. Tapi aku tidak mau. Jika
kalian coba menjamah kulitku dan menjadi kotor, Raden Panji tentu tidak akan
memaafkan kalian lagi”
Kedua orang itu memang berpikir. Namun seorang diantara mereka tiba-tiba saja
telah mencabut pedangnya sambil berkata ”Mas Rara harus pergi. Aku memiliki
wewenang penuh untuk melakukan apa saja sampai Mas Rara berhasil aku bawa
menghadap Raden Panji”
“Termasuk membunuh aku?“ tanya Mas Rara.
Orang yang memegang pedang itu menjadi makin bingung. Ternyata Mas Rara sama
sekali tidak menjadi gentar melihat ujung pedang yang tajam runcing itu. Bahkan
sambil menengadahkan dadanya ia berkata “Marilah. Jika itu perintah Raden Panji,
lakukanlah”
Sejenak kedua orang itu tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Sementara itu,
perempuan tua yang melayani Mas Rara menjadi sangat ketakutan. Ketika seorang
diantara kedua utusan Raden Panji itu mengacungkan pedangnya, perempuan itu
bergeser mendekati Mas Rara.
Karena kedua orang itu tidak segera berbuat sesuatu, sekali lagi Mas Rara
berkata “Ayo, bunuh aku jika kau berani melakukannya. Nanti bawa tubuhku
menghadap Raden Panji. Kau tentu akan menerima hadiah yang sangat besar, atau
lehermu akan dipenggal di halaman rumah Raden Panji untuk dijadikan
pangewan-ewan. Kepalamu akan dijadikan peringatan bagi orang-orang yang berani
pada calon isterinya. Jika hal seperti ini kau lakukan dua tiga bulan lagi,
setelah aku benar-benar jadi isterinya, mungkin kau akan naik pangkat. Tapi jika
sekarang kau lakukan, berarti kau akan membunuh diri”
Kedua orang itu benar-benar menjadi bingung. Tampaknya Mas Rara terlalu yakin
akan dirinya. Seakan-akan dalam waktu singkat Mas Rara telah berubah sama
sekali. Bukan lagi seorang perempuan lembut, penurut dan tanpa berani mengangkat
wajahnya dihadapan seseorang. Namun tiba-tiba ia dapat menjadi garang dan
menantang ujung pedang.
Perempuan tua yang melayaninya menjadi sangat heran. Kekuatan apa yang telah
menggerakkan Mas Rara untuk berbuat demikian.
Namun dalam kebingungan dan tanpa dapat melihat jalan keluar yang lebih baik,
kedua orang itu telah melakukan kekerasan. Memang tidak menusuk jantung Mas Rara
dengan pedang. Justru senjata tajam yang sudah dicabut itu disarungkan kembali.
Keduanya kemudian memaksa Mas Rara untuk mengikutinya. Seorang diantara mereka
telah memegang lengan gadis itu dan menariknya sambil berkata “Aku tidak tahu
apakah jalan ini yang terbaik. Tetapi aku tidak mau mendapat hukuman karena
perempuan yang keras kepala ini”
Ketika Mas Rara meronta, yang seorang lagi telah membantunya, memegangi
lengannya yang satu lagi.
Mas Rara, seorang gadis lembut dan lugu, tidak dapat mengatasi kekuatan kedua
orang prajurit itu. Tangannya yang kasar dan tenaganya yang besar, telah
menyeret Mas Rara dari ruang dalam.
Mas Rara tidak mengira bahwa ia akan mendapat perlakuan sangat kasar. Sementara
itu, perempuan tua yang melayaninya telah memeluk dan menahannya sambil berkata
“Lepaskan. Lepaskan. Kau akan digantung besok jika kau berani berbuat kasar
terhadap calon isteri Raden Panji”
Tapi bagi kedua orang itu, berbuat kasar tentu akan lebih baik daripada tidak
membawa Mas Rara sama sekali. Apalagi Raden Panji telah mengancam, apapun
alasannya, ia tidak mau mendengarkan jika mereka datang tanpa Mas Kara.
Ketakutan akan pesan itulah yang telah membuat kedua utusan itu kebingungan dan
tidak dapat melihat jalan keluar.
Ketika keduanya menarik Mas Rara keluar ruang dalam, Mas Rara menjerit hingga
suaranya yang melengking telah mengejutkan semua orang yang ada di lingkungan
rumah itu.
Beberapa orang prajaurit berlari-larian ke pendapa, ketika mereka melihat kedua
utusan Raden Panji itu keluar dari pintu pringgitan.
“Apa yang terjadi?” tanya pemimpin prajurit yang bertugas sambil mengacungkan
tombaknya.
“Aku harus membawa gadis itu menghadap Raden Panji. Beliau yang memerintahkan.
Tidak ada alasan untuk mengelakkan perintah itu. Malam ini, Mas Rara harus
dihadapkan padanya. Tapi Mas Rara menolak, sehingga kami harus memaksanya.
Karena itu, aku minta dua orang diantara kalian pergi bersama kami untuk menjadi
saksi bahwa kami melakukan atas perintah Raden Panji dan tidak mengkhianatinya
sama sekali“ berkata salah seorang dari kedua utusan itu.
Para prajurit itu termangu-mangu. Seorang diantara mereka bertanya “Apakah
tindakan ini tidak membuat Raden Panji marah?“
“Kami sudah mendapat wewenang. Dengan cara apapun juga, Mas Rara harus
dihadapkan padanya malam ini juga“ berkata salah seorang dari utusan itu.
Katanya lagi “Karena itu, bantu aku agar tugas ini dapat kami selesaikan dengan
baik, sehingga kita semuanya tidak mendapat hukuman besok pagi”
Para prajurit itu termangu-mangu. Namun mereka yakin bahwa kedua orang itu
memang utusan Raden Panji, menilik pertanda yang mereka bawa. Dengan demikian,
keduanya telah bertindak atas nama Raden Panji.
Dalam keragu-raguan itu, Mas Rara meronta sekali lagi. Demikian tiba-tiba hingga
kedua orang prajurit yang memeganginya terkejut. Mas Rara memang dapat
melepaskan diri. Tapi ia tidak sempat berlari turun dari pendapa. Tangan-tangan
yang kuat itu telah menggapainya lagi. Bahkan kemudian tangan-tangan kasar itu
memeganginya lebih erat di lengannya, sehingga lengan Mas Rara terasa sakit.
Sekali lagi Mas Rara menjerit. Tapi suaranya bagaikan hilang ditelan geiapnya
malam.
Namun dalam pada itu, Wirantana, Manggada dan Laksana telah berdiri di halaman
rumah itu, Dengan sigapnya mereka meloncat naik ke pendapa Dengan geram
Wirantana bertanya ”Apa yang kalian lakukan atas adikku?“
“Kami mengemban tugas dari Raden Panji” berkata utusan itu sambil menunjukkan
cincin pertanda kekuasaan Raden Panji.
Wirantana, Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Wirantana
telah bertanya kepada Mas Rara “Apa yang mereka kehendaki?“
“Aku tidak mau. Aku tidak mau“ teriak Mas Rara.
Sedangkan perempuan tua yang melayani Mas Rara itupun telah berada di pendapa
rumuh itu dengan wajah yang tegang.
“Ki Sanak“ berkata Wirantana kemudian “Mas Rara datang ke rumah ini karena
permintaan Raden Panji. Mas Rara itu dalam waktu sepekan lagi akan menjadi
isteri Raden Panji. Kenapa sekarang kau perlakukan seperti itu?“
“Kami mengemban tugas. Kami harus membawa Mas Rara menghadap Raden Panji
sekarang ini. Seharusnya Mas Rara tidak menolaknya, sehingga tidak akan terjadi
sesuatu” berkata salah seorang dari mereka yang membawa Mas Rara itu.
“Tetapi bukankah kau dapat mengatakan kepada Raden Panji bahwa Mas Rara
berkeberatan untuk menghadap malam ini?“ sahut Wirantana.
“Kau belum mengenal Raden Panji dengan baik. Tetapi kau seharusnya sudah tahu,
meskipun kau baru mengenal beberapa saat, bahwa bagi Raden Panji, tidak akan
pernah mau mendengarkan jawaban seperti itu” berkata orang itu selanjutnya.
“Jadi, dianggap apa adikku itu? Apakah ia tidak dianggap sebagai seseorang yang
mempunyai perasaan, yang mempunyai kehendak dan harga diri? Ia baru akan menjadi
isteri Raden Panji sepekan lagi” berkata Wirantana. Lalu katanya ”Apapun yang
akan dilakukannya malam ini, namun Mas Rara harus mendapat hak untuk bersedia
atau tidak bersedia datang. Jika Mas Rara tidak bersedia datang, maka tidak ada
orang yang dapat memaksanya”
“Raden Panji dapat memaksanya“ jawab orang itu.
“Tidak“ geram Wirantana tegas.
“Jadi kau berani melawan Raden Panji?“ bertanya orang itu kemudian.
“Tidak. Aku tidak berani melawan Raden Panji, tetapi akupun tidak rela adikku
kehilangan haknya untuk menentukan kehendaknya dan mempertahankan harga dirinya“
jawab Wirantana.
“Cukup“ orang yang membawa Mas Rara itu menjadi semakin marah “Minggir, atau kau
akan mendapat hukuman dari Raden Panji. Ketahuilah, Raden Panji tidak pernah
tanggung-tanggung jika ia memberikan hukuman kepada seseorang yang telah berani
melawan kehendaknya”
“Hukuman sepantasnya hanya diberikan kepada orang-orang yang bersalah. Tidak
kepada orang-orang yang mempertahankan haknya” jawab Wirantana.
“Raden Panji tidak akan mempedulikan, apakah ia bersalah atau tidak. Tetapi
semua orang yang menentang kehendaknya, ia akan dihukum. Termasuk Mas Rara.
Karena itu, maka biarlah Mas Rara datang memenuhi perintah Raden Panji” jawab
orang itu.
Wirantana tiba-tiba telah menjadi garang pula. Gejolak perasaannya ternyata
tidak dapat dikendalikan lagi. Apalagi sikap kedua orang itu justru menjadi
semakin kasar terhadap Mas Rara. Seorang diantaranya seakan-akan telah
menyeretnya sementara yang lain berdiri menghadapi Wirantana, Manggada dan
Laksana.
Dengan lantang Wirantana berkata “Lepaskan adikku”
“Kau gila. Raden Panji mempunyai wewenang untuk menghukum mati kepada siapa saja
yang dianggapnya menghalangi tugasnya” berkata orang itu.
“Wewenang dari siapa?” bertanya Wirantana. Lalu katanya “kalau wewenang itu
diberikan oleh ayah dan ibunya, maka itu tidak akan mempunyai nilai sama sekali
untuk ditrapkan dalam tugas-tugasnya sebagai seorang prajurit”
”Tutup mulutmu. Raden Panji mendapat tugas dari Kangjeng Sultan di Pajang untuk
mengamankan daerah ini dari kekuasaan para penjahat dengan wewenang untuk
memberikan hukuman mati kepada siapa saja yang berani menentangnya” berkata
orang itu.
“Jika demikian, kaulah yang gila. Atau Raden Panji itulah yang sudah menjadi
gila“ Wirantana benar-benar telah kehilangan pengekangan diri.
Kedua orang prajurit yang mengambil Mas Rara itu terkejut. Mereka tidak menduga,
sama sekali, bahwa kata-kata yang keras itu akan terlontar dari mulut seseorang
apalagi dari sebuah padukuhan yang jauh.
Dengan lantang seorang diantara mereka berkata “Kau sudah benar-benar menjadi
jenuh untuk hidup. Kau akan digantung sebagaimana para penjahat yang telah
tertangkap”
“Wewenang untuk menghukum mati hanya diberikan kepada Raden Panji dalam tugasnya
memberantas kejahatan. Tidak untuk kepentingan diri sendiri, apalagi untuk
memaksa perempuan-perempuan muda menjadi isterinya yang ke enam, ketujuh bahkan
kelak isterinya yang ke seratus. Apalagi memaksa seorang perempuan yang bukan
isterinya datang kepadanya di malam hari seperti ini“ suara Wirantana tidak
kalah lantangnya.
“Tutup mulutmu“ bentak prajurit itu “atas nama Raden Panji dengan wewenang yang
diberikan kepadaku, jangan ganggu tugasku. Atau aku akan mempergunakan
wewenangku”
“Aku tidak akan mengganggumu jika kau tidak mengganggu adikku“ Wirantana
membentak pula.
“Aku melakukan perintah Raden Panji“ orang itu berteriak.
Tetapi Wirantanapun berteriak pula “Jika demikian, jika kalian telah menjadi
budak-budak yang mati, katakan, Raden Panji tidak boleh mengganggu adikku“
Wajah kedua orang prajurit itu menjadi merah. Namun dengan demikian, mereka
telah memusatkan perhatian mereka kepada Wirantana.
Dalam kesempatan itu, Mas Rara telah menghentakkan tangannya dan merenggutnya
dari pegangan prajurit itu. Demikian tiba-tiba dan diluar dugaan, sehingga
sejenak kemudian tangan Mas Rara telah terlepas.
Keberanian Mas Rara benar-benar telah tumbuh tanpa segera berlari kearah
Wirantana dan seakan-akan bersembunyi di belakang punggungnya.
Kemarahan kedua orang prajurit yang mengemban tugas Raden Panji itu sudah sampai
ke puncak. Kemarahan mereka telah dilandasi pula oleh perasaan takut jika mereka
gagal menjalankan perintah. Seandainya mereka tidak dapat membawa Mas Rara
menghadap Raden Panji, maka Raden Panji tentu akan menjadi kehilangan kesabaran
sebagaimana sering dilakukannya. Keduanya tentu akan mengalami nasib yang sangat
buruk. Apalagi tugas mereka adalah tugas yang sangat mudah. Membawa seorang
per-empuan menghadp Raden Panji. Hanya itu.
Karena itu, maka seorang diantara mereka berkata “Aku masih ingin memperingatkan
kalian sekali lagi. Aku tengah mengemban perintah Raden Panji. Bahkan lebih
dipercaya untuk membawa pertanda kuasanya. Cincin jabatannya. Jika kalian masih
menghalangi tugasku ini, maka aku akan mempergunakan kekerasan. Seperti Raden
Panji, maka aku berwenang untuk membunuh seorang yang melawan perintahnya,
karena seseorang yang melawan perintah Raden Panji yang berkuasa atas nama
Kanjeng Sultan adalah pengkhianat”
“Aku tidak berkeberatan disebut pengkhianat oleh Raden Panji karena mencegah
tingkah lakunya yang tidak pantas serta menerapkan wewenang yang tidak
sewajarnya atas seorang gadis yang tidak berdaya seperti Mas Rara. Meskipun Mas
Rara sudah ditetapkan menjadi bakal isteri Raden Panji, tetapi baru sepekan lagi
ia sah menjadi isterinya. Baru sepekan lagi Mas Rara wajib tunduk atas segala
kemauan Raden Panji. Tetapi tidak sekarang”
“Cukup “ bentak prajurit itu “aku memang harus menyumbat mulutmu”
“Kedua prajurit itu tiba-tiba saja telah bergerak. Sementara itu Manggada dan
Laksanapun telah bergerak pula. Mereka sama sekali tidak lagi menghiraukan
kemungkinan hukuman yang tidak terbayangkan karena kemarahan Raden Panji. Tetapi
kedua anak muda itu merasa wajib membela Wirantana.
“Lindungi adikku“ berkata Wirantana sambil mendorong adiknya kepada Manggada dan
Laksana.
Namun Manggadapun berkata ”Jaga Mas Rara baik-baik” Laksana tidak sempat
menjawab. Tetapi iapun bergeser mendekati Mas Rara ketika Manggada bergeser maju
dan berdiri disisi Wirantana.
Kedua prajurit yang marah itu tidak berpikir panjang lagi. Dengan serta merta
keduanya telah menyerang Wirantana dan Manggada, sehingga sejenak kemudian
merekapun telah bertempur dengan sengitnya.
Keributan itu telah menimbulkan kebingungan beberapa orang prajurit yang
bertugas meronda. Mereka berdiri termangu-mangu. Mereka tidak tahu apa yang
sebaiknya mereka lakukan. Mereka mengerti bahwa kedua orang kawannya itu sekedar
menjalankan perintah. Tetapi merekapun tahu, kenapa Wirantana, kakak Mas Rara
berkeras untuk mencegah tindakan kedua orang prajurit itu.
Sementara itu, ternyata kemampuan Wirantana dan Manggada untuk bertempur seorang
lawan seorang, jauh lebih tinggi dari kedua prajurit itu. Dengan demikian, maka
dalam waktu singkat, maka kedua orang prajurit itu sudah terdesak.
Namun dalam pada itu, salah seorang prajurit, yang mengenakan cincin pertanda
kekuasaan Raden Panji itu berteriak “Para prajurit yang bertugas, Atas nama
Raden Panji, kalian aku perintahkan untuk menangkap ketiga orang itu serta Mas
Rara”
Para prajurit masih juga ragu-ragu. Ada diantara mereka yang memang merasa
kasihan kepada Mas Rara. Namun ternyata ketika prajurit yang memakai pertanda
kuasa Raden Panji itu menyebut namanya, maka prajurit-prajurit itupun menjadi
cemas tentang nasib mereka sendiri.
Karena itu, maka merekapun mulai bergerak ke pendapa. Empat orang bersama-sama.
Namun Wirantana dan Manggadapun telah siap menyambut mereka.
Ketika kemudian mereka terlibat dalam perkelahian, maka Laksana tidak dapat
tinggal diam. Iapun telah terjun pula kedalam lingkaran perkelahian. Sementara
itu mereka bertigalah yang kemudian berusaha untuk melindungi Mas Rara yang
ketakutan.
Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa kedua orang yang dikirim oleh Ki Jagabaya
untuk melayani kereta berkuda itupun telah tanggap akan keadaan. Mereka dengan
cepat telah mengemasi pedati berkuda mereka.
Wirantana, Manggada dan Laksana yang bertempur melawan beberapa orang sekaligus
itu memang mengalami kesulitan, justru karena Rara Wulan menjadi sangat
ketakutan. Karena itu maka yang mereka lakukan kemudian adalah bergeser turun ke
halaman sambil membawa Mas Rara diantara mereka.
Pada saat itulah, pedati yang ditarik kuda itu telah memasuki halaman pula.
Dengan cambuk yang panjang yang diputar dan dihentak-hentakkan sendal pancing,
maka beberapa orang justru telah menyibak.
“Cepat, masuk” berkata kedua orang yang melayani pedati itu hampir bersamaan.
Salah seorang diantara kedua orang itulah yang kemudian menolong Mas Rara masuk,
sementara Manggada dan Laksana telah menghadangi setiap orang yang berusaha
mendekat.
Wirantana masih bertempur dengan sengitnya. Namun kemudian iapun mulai bergerak,
bergeser sejalan dengan gerak pedati menuju ke regol.
Dua orang prajurit masih berada di regol. Merekapun segera berusaha menghadangi
usaha Wirantana melarikan adiknya.
Tetapi Wirantana telah menyerang keduanya sehingga seorang diantara mereka
terdesak keluar. Sementara yang lain harus bergeser menjauh ketika cambuk sais
pedati yang ditarik kuda itu menghentak-hentakkan cambuknya dengan keras.
Demikian pedati berkuda itu lolos, maka Wirantana yang meloncat naik segera
bertindak ”Manggada, Laksana, cepat naik”
Kedua orang anak muda itupun telah meloncat naik pula. Para prajurit yang
berlari-lari memang berusaha untuk mengejar mereka. Semua prajurit yang ada di
halaman rumah yang dipergunakan oleh Mas Rara. Beberapa diantara mereka yang
semula masih bermimpi, bukan saja karena mereka terbangun dan terkejut, tetapi
merekapun tidak dapat sepenuhnya melakukan perintah kawannya yang membawa cincin
kekuasaan Raden Panji, karena mereka menganggap Mas Rara masih terlalu muda
untuk mengalami nasib yang buruk.
Tetapi kemudian mereka kemudian tidak dapat ingkar akan tugas mereka. Mereka
juga tidak mau mendapatkan hukuman dari Raden Panji karena mereka tidak membantu
para prajurit kepercayaannya yang justru memakai cincin kuasanya.
Wirantana, Manggada dan Laksana telah bersiap sepenuhnya. Kedua orang yang
melayani pedati itupun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Pedati
itu meskipun ditarik oleh kuda, tetapi tidak dapat berlari terlalu cepat.
Sementara Wirantana, Manggada dan Laksana tidak sempat mengambil seekor kudapun
meskipun dibelakang terdapat beberapa ekor kuda.
Lebih dari sepuluh orang prajurit telah mengejar mereka. Sementara itu, seorang
prajurit yang lain telah berlari minta bantuan prajurit berkuda yang ada di
padukuhan itu.
Jalan yang kurang menguntungkan, serta Mas Rara yang beberapa kali memekik kecil
oleh guncangan-guncangan roda pedati yang menginjak batu-batu padas, membuat
pedati itu semakin lambat. Para prajurit yang berlari itu ternyata semakin lama
menjadi semakin dekat. Mereka telah mengacu-acukan senjata mereka sambil
berteriak-teriak.
Tetapi yang tidak diduga telah terjadi pula. Beberapa orang berkuda telah muncul
dari tikungan. Dengan serta merta orang-orang berkuda itu justru telah menyerang
para prajurit yang sedang mengejar pedati itu.
Dengan demikian pertempuranpun telah terjadi, Namun memang tidak terlalu lama.
Orang-orang berkuda, yang jumlahnya hanya ampat orang itu ternyata mampu menahan
sepuluh orang yang mengejai pedati itu. sehingga jaraknya menjadi semakin jauh.
Bahkan kemudian pedati itu telah keluar dari padukuhan menyusuri jalan-jalan
bulak.
Dalam kegelapan malam, pedati itu meluncur terguncang-guncang menjauhi padukuhan
yang dipergunakan oleh Raden Panji sebagai landasan kekuatannya untuk mengawasi
daerah yang luas. Tetapi tidak semua prajurit Raden Panji berada di padukuhan
itu. Beberapa kelompok justru tersebar untuk mengawasi keadaan serta untuk
menegakkan kekuasaan yang diberikan oleh Pajang kepadanya. Sepuluh orang yang
mengejar mereka sudah tidak nampak lagi. Apalagi gelap malam memang telah
menghalangi pandangan mata mereka.
Tetapi beberapa saat kemudian, Wirantana, Manggada dan Laksana terkejut. Mereka
mendengar derap kaki kuda. Dan bahkan dalam keremangan malam di bulak yang
terbuka luas, mereka melihat empat orang penunggang kuda menyusul mereka.
Ketiga orang anak muda itu termangu-mangu. Mereka tidak tahu apa yang
dikehendaki oleh ampat orang berkuda itu. Apakah mereka benar-benar ingin
menolong atau sebaliknya, mereka menghendaki Mas Rara. Jika mereka berhasil
menguasai Mas Rara maka masih ada kemungkinan bagi mereka untuk memeras Raden
Panji. Sementara Raden Panji tentu ingin mendapatkan Mas Rara. Tidak sebagai
calon isterinya, tetapi sebagai seorang buruan yang harus dihukum berat. Mungkin
Raden Panji masih menghendaki Mas Rara sebagai seorang gadis. Tetapi tentu tidak
lagi sebagai isterinya kelak setelah Mas Rara berusaha melarikan diri dan
apalagi melawan perintahnya.
Bagaiamanapun sais pedati itu melecut kudanya, namun kuda yang menarik pedati
itu memang tidak dapat berlari cepat. Sehingga dengan demikian, maka keempat
orang berkuda itu semakin lama menjadi semakin dekat,
Seorang diantara mereka yang berkuda itu bergerak maju lebih cepat dari
kawan-kawannya sehingga beberapa saat kemudian telah berada hanya beberapa
langkah dibelakang pedati itu.
“Berhenti“ teriak orang itu “berhentilah. Aku ingin berbicara dengan kalian”
Pedati itu tidak juga berhenti. Sementara orang itu sekali lagi berteriak
“Berhenti. Apakah kalian tidak mengenal aku lagi?“
Malam memang gelap. Wirantana, Manggada dan Laksana yang juga berada didalam
pedati itu sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
“Pedati itu terlalu berat membawa beban enam orang. Karena itu, maka pedati itu
tidak dapat berlari lebih cepat. Berhentilah“ orang itu masih berteriak.
Pedati itu masih saja berlari. Namun roda pedati yang lebih berat dari roda
kereta biasa itu, serta enam orang yang ada didalam-nya benar-benar telah
membebani tenaga kuda yang menariknya.
Ketika roda pedati itu terperosok kedalam lumpur, maka pedati itu tertahan
sejenak. Mas Rara telah menjerit oleh goncangan yang tiba-tiba itu, sehingga
gadis itu terkejut bukan buatan.
Kuda-kuda yang menarik pedati itu memang segera dapat mengangkat roda yang
terperosok tidak begitu dalam itu. Namun dua orang penunggang kuda telah
berhasil menggapai kendali kuda penarik pedati itu dan menghentikannya.
Sais yang mengemudikan pedati itu ragu-ragu. Meskipun cambuknya telah siap
terayun, namun kedua orang sais itu masih ragu-ragu untuk menyerang meskipun
keretanya sudah berhenti.
Wirantana, Manggada dan Laksana telah berloncatan turun. Mereka telah bersiap
menghadapi segala kemungkinan.
Dua orang penunggang kuda yang tidak memegangi kendali kuda dan masih berada
dibelakang pedati itupun telah meloncat turun pula. Seorang diantara mereka
telah melangkah maju. Dengan nada rendah orang itu bertanya “kau benar-benar
tidak mengenal aku lagi?“
Ketiga orang anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun dalam jarak yang
semakin dekat ketiganya dapat melihat lebih jelas meskipun malam cukup gelap.
Tetapi di tempat terbuka maka cahaya bintang dilangit, membuat malam menjadi
remang-remang.
Akhirnya ketiga orang anak muda itu mengangguk-angguk. Wirantanalah yang
menyahut “Ya. Kami mengenal Ki Sanak. Bukankah Ki Sanak orang yang duduk
disebelah kami kemarin siang ketika Raden Panji datang menjumpai Mas Rara?“
“Tepat“ jawab orang itu.
“Sekarang, apakah yang Ki Sanak kehendaki?“ bertanya Wirantana.
“Sebaiknya kalian lebih cepat meninggalkan padukuhan ini. Agar pedati itu tidak
terlalu berat, pakailah kuda-kuda kami,. Tetapi ingat, jika segala sesuatunya
sudah selesai, maka kuda itu harus kalian kembalikan kepada kami“ berkata orang
itu.
Satu hal yang sama sekali tidak terduga. Namun Wirantana yang sedang menghadapi
kesulitan itu tidak sempat berpikir panjang. Apalagi orang itupun berkata
“Cepat. Tinggalkan tempat ini. Sebentar lagi, pasukan berkuda tentu akan
menyusul kalian, jika kalian terlambat”
Anak-anak muda itu tidak berpikir panjang lagi. Meskipun segera menerima ampat
ekor kuda, Wirantana, Manggada, Laksana dan seorang dari kedua orang sais itu.
Mereka berdua akan bergantian mengemudikan pedati yang menjadi semakin ringan
itu.
Namun Manggada sempat juga bertanya “Lalu bagaimana dengan Ki Sanak”
“Jangan pikirkan aku” jawab orang itu.
“Tetapi Ki Sanak telah melawan para prajurit yang mengejar kami“ berkata
Manggada.
“Mereka tidak mengenal kami. Malam cukup gelap, sementara kami tidak membiarkan
mereka sempat melihat wajah kami dengan jelas. Para prajuritpun tidak akan
mengira bahwa kami, yang tinggal disekitar rumah itu, akan melakukan perlawanan
seperti ini“ jawab orang itu.
Demikianlah, maka Wirantana dan yang lainpun telah melanjutkan perjalanan mereka
yang mendebarkan. Mereka sadar, bahwa prajurit berkuda tentu akan mengejar
mereka.
Namun rasa-rasanya perjalanan mereka memang menjadi lebih cepat. Pedati kuda
yang menjadi semakin ringan itu dapat melaju meskipun justru terguncang-guncang.
Sekali-sekali Mas Rara memekik bukan saja ketakutan, tetapi juga kesakitan.
Ketiga orang anak muda yang berpacu disebelah dan belakang pedati itu, setiap
kali mendengar pekik Mas Rara yang berpegangan tiang-tiang pedati itu kuat-kuat.
Manggada yang mendekati Wirantana itupun kemudian berkata “Kau naik saja
menemani Mas Rara. Biarlah kami berkuda dibelakang pedatimu.
“Lalu kuda ini?“ bertanya Wirantana.
“Sangkutkan kendalinya pada tiang pedati itu“ jawab Manggada.
“Terlalu pendek“ desis Wirantana kemudian.
Sais pedati itu ternyata menyahut pula “Disini ada tambang sabut kelapa”
Sais itu telah memberikan tambang itu kepada Wirantana. Namun Wirantanapun
berkata “Berhentilah sebentar”
Kereta itu memang berhenti. Hanya sebentar. Selama Wirantana mengikat kendali
kudanya dengan tali dan mengikatkan ujung tadi yang lain pada tiang kereta
berkudanya.
Sejenak kemudian kereta itu sudah berpacu kembali. Ditambah Wirantana, maka
berat pedati itu menjadi semakin mantap. Sementara itu, Wirantana pun dapat
mengawani Mas Rara yang ketakutan.
Beberapa saat kemudian, kereta berkuda itu melewati simpang empat
ditengah-tengah bulak. Beberapa saat kemudian, kereta itu akan memasuki sebuah
padukuhan.
Anak-anak muda itu memang menjadi berdebar-debar. Jika para peronda di padukuhan
itu menghentikan mereka, maka mereka akan kehilangan waktu.
Namun Manggadalah yang kemudian mendahului kereta itu mendekati regol.
Sebenarnyalah ada beberapa orang yang berdiri disebelah menyebelah regol. Bahkan
dua orang diantara mereka berdiri ditengah-tengah regol sambil mengangkat
tangannya.
Tetapi Manggada justru berteriak lebih dahulu “Minggir. Minggir. Kuda pedatiku
menjadi gila”
Teriakan itu begitu tiba-tiba sehingga orang-orang yang ada diregol itu
terkejut. Karena pedati itu justru berpacu semakin cepat, maka merekapun telah
berloncatan menepi.
Dengan demikian maka pedati itupun telah berderap dengan kencangnya lewat gardu
peronda di depan pintu gerbang yang terbuka diregol padukuhan.
Para peronda itu termangu-mangu sejenak. Namun merekapun tidak menghiraukannya
lagi. Mereka tidak akan dapat menolong karena kereta itu berpacu terlalu
kencang. Sehingga dalam waktu yang pendek, derapnya sudah tidak terdengar lagi.
Manggada yang masih tetap berpacu dipaling depan itu telah melakukan hal yang
sama ketika pedati berkuda itu akan keluar dari regol padukuhan diujung sebelah.
Para perondapun telah meloncat menepi ketika mereka melihat beberapa ekor kuda
berpacu seperti dikejar hantu.
Ketika pedati itu sampai ke bulak kembali, rasa-rasanya sesak nafas orang-orang
berkuda serta mereka yang ada didalam pedati itu menjadi longgar. Meskipun
demikian, mereka sama sekali tidak mengurangi laju kuda-kuda mereka pada
kemungkinan yang paling baik.
Namun anak-anak muda yang melarikan Mas Rara itu terkejut. Ketika mereka
mendekati simpang empat yang lain ditengah-tengah bulak itu, dalam keremangan
malam mereka melihat beberapa orang berkuda tengah memotong jalan mereka dari
arah kanan simpang empat itu.
“Tidak ada kesempatan untuk berhenti dan mengambil arah yang lain. Seakan-akan
begitu tiba-tiba beberapa orang prajurit berkuda telah berada didepan mereka.
Anak-anak muda yang membawa Mas Rara itu tidak mempunyai pilihan lain. Merekapun
segera bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atas mereka.
Beberapa langkah dari para prajurit berkuda yang berhenti disimpang empat itu.
Manggada telah memberi isyarat kepada yang lain untuk berhenti. Namun Laksana
telah menyusul Manggada dan berhenti disisinya, sementara Wirantanapun telah
meloncat pula dari dalam pedati.
“Jaga adikku baik-baik“ pesan Wirantana kepada sais pedati itu.
Beberapa saat anak-anak muda itu saling berhadapan dengan beberapa orang
prajurit 4berkuda. Semuanya ada tujuh orang dengan senjata masing-masing.
Namun pemimpin prajurit itu tiba-tiba saja telah meloncat turun sambil berkata
“Aku mengalami kesulitan malam ini”
Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia dapat mengenali prajurit itu.
Sementara itu pemimpin prajurit itu berkata selanjutnya “Aku mendapat perintah
untuk menangkap kalian, tetapi bagaimana mungkin hal ini dapat aku lakukan?“
“Apakah kalian tidak mengenal kami?“ bertanya prajurit itu.
“Ya. aku kenal. Kau adalah pemimpin prajurit Raden Panji yang mendapat tugas
menjemput Mas Rara“ jawab Manggada.
“Ya. Ternyata kalian telah menyelamatkan jiwaku pada saat itu. Karena itu aku
tidak berhasil membawa Mas Rara karena tingkah laku pamannya itu, maka aku tentu
akan digantung. Tanpa kalian maka Mas Rara tentu sudah hilang. Dan kami akan
tergantung di tiang gantungan itu”
Manggada justru menjadi termangu-mangu. Sementara pemimpin prajurit jtu berkata
”Kami adalah prajurit yang membawa Mas Rara itu dari padukuhannya. Kami mendapat
perintah dari Raden Panji untuk membawa Mas Rara kembali”
“Dan kalian berusaha untuk membawanya“ bertanya Manggada.
Pemimpin prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menggeleng
lemah. Katanya hampir hanya terdengar oleh dirinya sendiric ”Tidak. Aku tidak
dapat melakukannya. Aku tahu apa yang akan terjadi dengan Mas Rara jika ia kami
bawa kembali. Raden Panji tidak akan memperlakukannya lagi sebagai seorang gadis
yang akan dinikahinya sepekan lagi. Ia akan menghukum gadis itu dengan caranya.
Cara seorang yang seakan-akan memang sudah tidak wajar lagi. Kelakuannya tidak
pantas untuk disebut. Apalagi terhadap gadis-gadis yang diinginkannya”
“Jadi?“ bertanya Manggada.
“Baiklah. Teruskan perjalanan kalian. Aku akan mengatakan bahwa aku tidak dapat
menjumpai kalian telah mengambil jalan lain dari jalan yang kami telusuri“ jawab
prajurit itu.
“Apakah dengan demikian kalian tidak akan dihukum?“ bertanya Laksana.
“Hukumannya tentu akan lebih ringan. Kami dapat dianggap tidak melakukan tugas
kami sebaik-baiknya. Tetapi yang terjadi adalah diluar batas kemampuan kami”
jawab pemimpin prajurit itu.
Manggada, Laksana dan Wirantana saling berpandangan sejenak. Hampir berbareng
mereka mengucap “Terima kasih atas kebaikan kalian”
“Cepatlah, kamipun akan segera berpacu mengikuti jalan menyilang ini” Namun
kemudian pemimpin prajurit itu berdesis perlahan “mudah-mudahan tidak ada
pengkhianatan. Jika Raden Panji mengetahui hal itu, maka kami benar-benar akan
digantung di ara-ara”
“Apakah sebenarnya ia berhak melakukannya?“ bertanya Wirantana.
“Raden Panji mendapat wewenang tanpa batas. Maksudnya untuk mengatasi keadaan
yang tidak aman didaerah ini karena sebuah gerombolan perampok dan penyamun yang
besar dan kuat yang bahkan kemudian menghimpun para penjahat yang lain. Brandal,
gegedug dan bahkan pencuri-pencuri kecil, mereka ikut dalam satu gerombolan.
Raden Panji memang berhasil. Dengan kekerasan yang tidak tanggung-tanggung Raden
Panji berhasil menumpas gerombolan itu. Menangkap beberapa orang diantaranya.
Namun sebagian dari mereka sudah dihabisi oleh Raden Panji sendiri sebelum
dibawa ke Pajang”
“Bukankah dengan demikian Raden Panji menjadi seorang pahlawan?“ bertanya
Laksana.
“Tetapi setelah gerombolan perampok itu dimusnahkannya menjadi debu, maka
kekuasaan yang ada ditangannya dipergunakan menurut kehendak hatinya sendiri”
jawab prajurit itu. Lalu katanya pula “Kadang-kadang Raden Panji itu bertindak
bijaksana. Namun justru yang sering dilakukan, ia lupa pada sangkan paraning
dumadi”
“Apakah tidak ada laporan kepada para Senapati di Pajang?“ bertanya Wirantana.
“Siapa berani memberikan laporan? Jika laporan itu jatuh ketangan sahabat Raden
Panji, maka orang yang memberikan laporan itu akan dapat menjadi ndeg
pengamun-amun“ jawab prajurit itu. Namun katanya kemudian “Sudahlah. Lanjutkan
perjalananmu. Sebaiknya kalian tidak berhenti sejauh mungkin kuda kalian dapat
bertahan. Kalian dapat beristirahat sebentar untuk memberi kesempatan kuda
kalian minum dan makan rumput diperjalanan itu. Tetapi kalian harus segera
melanjutkan perjalanan kalian sampai ke rumah. Setelah itu terserah kepada
kalian. Tetapi pertimbangkan kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas kalian
sekeluarga”
“Jadi?“ bertanya Wirantana “apakah kami harus mengungsi?“
“Aku kira itu adalah kemungkinan yang paling baik” jawab pemimpin prajurit itu.
Lalu katanya ”Bawa Mas Rara keluar dari daerah kekuasaan Raden Panji. Tetapi
kalian harus tahu, bahwa Raden Panji adalah pendendam. Ia tentu masih akan
mencari Mas Rara sepanjang sisa umurnya”
Wirantana mengangguk-angguk. Katanya “Terima kasih atas keterangan Ki Sanak.
Bahkan kami segera melanjutkan perjalanan”
Perjalanan ke Nguter memang perjalanan yang agak panjang. Karena itu, maka semua
yang ada di iring-iringan itu harus mampu menyesuaikan diri dengan perjalanan
mereka yang berat. Jauh lebih berat dari perjalanan ke Pajang pulang balik.
Sejenak kemudian, maka Mas Rara dan para pengawalnya telah melanjutkan
perjalanan. Namun mereka masih akan selalu dibayangi oleh kekuasaan dan
kewenang-wenangan Raden Panji.
Meskipun demikian disepanjang perjalanan, anak-anak muda itu masih sempat
mengagumi keberanian pemimpin prajurit yang telah memberikan kesempatan kepada
Mas Rara untuk melarikan diri.
Dua kali anak-anak muda itu mendapat pertolongan dari orang yang berbeda,
sehingga mereka masih dapat melanjutkan perjalanan. Tetapi mereka tidak tahu,
apabila sekali lagi ada sekelompok prajurit mampu mengejar mereka lagi, maka
apakah mereka masih sempat untuk membebaskan diri.
Malam itu, pedati yang ditarik kuda itu masih berjalan terus diikuti oleh
beberapa penunggang kuda yang letih. Tetapi mereka tidak berhenti sejauh dapat
mereka capai. Ketika matahari terbit, iring-iringan itu memang sempat berhenti
sejenak disebelah jalan yang tidak begitu besar. Laksana telah dengan
tergesa-gesa pergi ke sebuah kedai yang baru saja dibuka, sementara kuda-kuda
mereka sempat beristirahat sambil minum air bening yang mengalir disebuah parit.
“Kasihan kuda-kuda itu“ desis Manggada.
Tetapi mereka tidak berhenti terlalu lama. Merekapun segera melanjutkan
perjalanan mereka menuju ke padukuhan Nguter. Wirantana merasa tidak perlu
mencari jalan lain dari jalan yang paling dekat yang dapat ditempuh, karena
orang-orang Raden Panji sudah tahu dengan pasti, dimanakah letaknya Nguter.
Yang penting menurut perhitungan Wirantana adalah sampai ke rumah dan langsung
mengungsi ke tempat yang berada diluar jangkauan kekuasaan Raden Panji.
“Tetapi kemana?“ pertanyaan itu telah semakin menggelisahkan Wirantana.
“Akan dipikirkan kemudian“ katanya didalam hati.
Demikianlah, maka secepat-cepat dapat dilakukan, pedati itupun berderap diatas
jalan yang tidak terlalu rata. Mas Rara yang telah sama sekali tidak mau makan
apapun yang dibeli oleh Laksana. Kegelisahannaya tidak memungkinkan untuk
menelan apapun juga.
Tetapi Manggada, Laksana dan Wirantana sendiri sempat makan makanan yang telah
dibeli sambil duduk dipunggung kuda. Demikian juga kedua orang yang dikirim oleh
Ki Jagabaya untuk melayani pedati serta kudanya itu.
Mataharipun menjadi semakin terik. Panasnya terasa makin menggigit kulit. Ketika
mereka melampaui jalan yang lewat diantara pegunungan yang kecil berbatu-batu
padas, maka mereka menjadi semakin berpengharapan bahwa mereka akan dapat sampai
ke rumah dengan selamat.
Tetapi perjalanan ke padukuhan Nguter memang jauh. Dengan demikian maka
Wirantana tidak dapat memaksa kuda-kuda dari iring-iringan yang kecil itu untuk
berjalan terus. Jika Wirantana memaksanya juga, maka mungkin kuda-kuda itu
justru akan kehabisan tenaga diperjalanan. Karena itu, maka perjalanan itupun
menjadi perjalanan yang cukup lama.
Sementara itn, Raden Panji yang mendapat laporan dari penolakan Mas Rara untuk
datang ke rumahnya, serta sikap anak-anak muda yang menyertainya dari padukuhan
Nguter telah membuatnya sangat marah. Demikian marahnya Raden Panji, sehingga
berteriak-teriak memberikan beberapa perintah. Apalagi ketika ia menyadari bahwa
prajurit-prajurit yang ada di rumah pondokan Mas Rara tidak dapat mengatasi
anak-anak muda itu. Bahkan hadirnya orang yang tidak dikenal dan ikut campur
dalam persoalan itu.
Kemarahan Raden Panji memuncak ketika ia mendapat laporan dari sekelompok
pasukan berkuda, bahwa mereka tidak menemukan Mas Rara setelah mereka
mengelilingi lingkungan itu, terutama mengikuti jalan kearah padukuhan Nguter.
“Kenapa kau kembali tanpa membawa Mas Rara?“ teriak Raden Panji.
Kakinya tiba-tiba saja telah menghantam pemimpin prajurit yang telah memberikan
kesempatan kepada Mas Rara untuk melepaskan diri sehingga prajurit itu jatuh
terlentang.
“Ampun Raden Panji” mohon prajurit itu kemudian ”jika Raden Panji berkenan, kami
akan menyusulnya ke padukuhan Nguter. Jalan manapun yang mereka tempuh, maka
kami berjanji bahwa kami akan datang lebih dahulu di rumah Mas Rara itu. Kami
akan menangkap kedua orang tuanya dan apabila Mas Rara langsung pulang, kamipun
akan menangkapnya dan membawanya menghadap Raden Panji”
“Setan kau. Kau akan melarikan diri dari hukuman yang pantas aku berikan
kepadamu he?“ bentak Raden Panji.
“Tidak Raden. Hukuman apapun yang akan diberikan kepadaku, akan aku terima
dengan kepala tunduk. Namun demi kesetiaanku, maka aku ingin benar-benar membawa
Mas Rara menghadap Raden Panji.
“Tidak. Kau tidak boleh pergi sendiri. Siapkan kudaku. Aku sendiri akan pergi ke
Nguter. Aku sendiri akan menangkap perempuan liar itu dan menghukumnya sepanjang
jalan dari Nguter sampai ke rumahku menurut caraku. Ia harus menjalani hukuman
yang terberat dari antara semua hukuman yang pernah aku berikan kepada
isteri-isteriku sebelumnya, sehingga akhirnya perempuan itu akan aku hukum mati
karena ia telah menghina aku yang berkuasa di daerah ini”
Tidak seorangpun yang berani menjawab apalagi membantah. Namun dalam pada itu,
Raden Panji itu berdesis dengan nada rendah ”Tetapi ia sangat cantik. Ia harus
menjadi isteriku sebelum aku akan menghukumnya dengan hukuman yang terberat”
Pemimpin prajurit itu mengumpat di dalam hati. Tetapi ia masih saja menundukkan
kepalanya. Ia tahu, Raden Panji adalah orang yang berilmu sangat tinggi sehingga
dengan ilmunya itu ia mampu menduduki jabatannya yang seakan-akan tidak dapat
diganggu gugat itu.
Tetapi pemimpin prajurit itu terkejut ketika Raden Panji tiba-tiba saja
membentak “Cepat, sediakan kudaku atau aku bunuh kau”
Pemimpin prajurit itupun segera bergerak. Ia dengan tergesa-gesa telah pergi ke
belakang untuk mencari orang yang terbiasa memelihara kuda yang paling baik
milik Raden Panji itu.
Dalam waktu tidak terlalu lama kuda itu memang sudah siap. Tetapi prajurit itu
tidak segera membawa kuda itu ke halaman. Ia masih memerintahkan orang yang
menyiapkan kuda itu untuk memberi makan lebih dahulu.
“Kuda ini telah makan dengan kenyang“ berkata gamel yang mengurusi kuda-kuda
Raden Panji itu.
“Tetapi kuda ini akan menempuh perjalanan jauh“ jawab prajaurit itu.
Gamel itu tidak menjawab lagi. Iapun telah menyiapkan makanan secukupnya bagi
kuda yang telah disiapkan bagj Raden Panji itu.
Namun sebelum kuda itu sempat makan, seorang prajurit berlari-lari ke belakang
sambil berkata “Kakang. Raden Panji sudah tidak sabar lagi. Cepat sebelum ia
datang sendiri kemari dan membunuhmu disini”
Pemimpin prajurit itu mengangguk. Katanya ”Baiklah. Aku akan membawa kuda ini ke
halaman depan”
Sejenak kemudian itu telah siap. Demikian pula beberapa ekor kuda yang lain.
Dengan lantang Raden Panji berkata ”Kita akan pergi. Lima belas orang akan ikut
bersamaku”
Sejenak kemudian, maka enam belas ekor kuda sudah berpacu menuju ke padukuhan
Nguter, termasuk pemimpin prajurit yang telah memberi kesempatan Mas Rara pergi,
bersama prajurit-prajurit. Sementara itu, beberapa orang yang lain harus tinggal
untuk menjaga para tawanan yang disimpan di padukuhan yang menjadi pusat
pengendalian dari pasukan Raden Panji itu.
Ternyata Raden Panji dan prajurit-prajuritnya berpacu lebih cepat dari pedati
yang ditumpangi Mas Rara. Meskipun jarak pada saat Raden Panji berangkat dengan
pedati Mas Rara cukup jauh, tetapi kuda Raden Panji berpacu seperti angin.
Prajurit yang pernah merasa diselamatkan kedudukannya oleh anak-anak muda yang
menyertai Mas Rara itu memang menjadi berdebar-debar. Ia telah berusaha
menghambat keberangkatan Raden Panji dengan menghambat kesiagaan kudanya. Tetapi
ternyata itu tidak berpengaruh banyak.
Kuda Raden Panji yang berpacu didepan memang seperti seekor kuda yang ketakutan
karena dikejar hantu. Tanpa menghiraukan bahaya yang dapat terjadi diperjalanan.
Raden Panji berpacu dengan cepatnya.
Di jalan yang agak ramai, Raden Panji memang sedikit mengurangi kecepatannya.
Tetapi laju kudanya masih tetap jauh lebih cepat dari laju pedati yang
ditunggangi oleh Mas Rara.
Hanya karena kesempatan yang telah didapatkannya dengan berlari lebih dahulu
sajalah, maka pedati itu tidak segera dapat disusul.
Wirantana rasa-rasanya ingin terbang saja melintasi jarak yang tersisa. Iapun
sudah membayangkan bahwa dibelakangnya sekelompok prajurit dibawah pimpinan
Raden Panji sendiri tengah memburunya. Seperti dikatakan oleh prajurit yang
melepaskannya meneruskan perjalanan itu bahwa Raden Panji adalah seorang
pendendam.
Sisa-sisa hari berjalan sangat cepat. Justru perjalanan merekalah yang terasa
maju sangat lamban. Ketika matahari terbenam Mas Rara masih belum sampai ke
rumahnya
Namun akhirnya, iring-iringan kecil itu telah mendekati padukuhan Nguter.
Padukuhan yang nampaknya sudah menjadi sepi. Pintu-pintu sudah ditutup setelah
lampu dan oncor mulai dipasang di regol-regol halaman. Nguter agaknya memang
sudah lelap.
Ketika pedati yang ditumpangi Mas Rara masuk ke regol padukuhan, maka
kegelisahan justru semakin membakar jantung.
Rasa-rasanya kudanya sudah tidak mau berlari lagi. Nampaknya kuda-kuda itu telah
menjadi sangat letih.
Dalam pada itu, jarak antara pedati yang membawa Mas Rara dengan iring-iringan
orang berkuda yang dipimpin langsung oleh Raden Panji itu menjadi semakin
pendek. Meskipun jarak yang ditempuh cukup panjang, tetapi Raden Panji tidak
terlalu banyak beristirahat. Kecepatan lari kudanyapun berlipat dengan kecepatan
lari kuda pedati Mas Rara.
Wirantana memang menjadi sangat gelisah. Ia harus segera sampai ke rumah.
Memaksa ayah dan ibunya berkemas dan dengan cepat pergi mengungsi.
Tetapi pedati itu memang tidak mau berjlan lebih cepat lagi. Sais yang memegang
kendali kuda penarik pedati itupun telah mencoba untuk menyentuh kudanya dengan
ujung cemeti. Tetapi kuda itu hanya menghentak dua tiga langkah. Lalu kembali
berlari dengan letihnya.
Karena kegelisahan yang menghentak jantung, maka Wirantana itupun kemudian
berkta kepada adiknya “Kita sudah ada di padukuhan. Biarlah aku mendahului
perjalanan kalian agar aku sempat minta kepada ayah dan ibu untuk bersiap-siap.
Kita semuanya harus mengungsi ketempat yang tidak diketahui oleh Raden Panji”
“Jangan tinggalkan aku, kakang“ minta Mas Rara.
“Tetapi kita tidak boleh terlambat“ jawab Wirantana.
“Kau tetap bersamaku“ berkata Mas Rara dengan suara yang sangat dalam.
Wirantana tidak sampai hati meninggalkan adiknya yang ketakutan. Namun iapun
berharap agar ayah dan ibunya akan sempat bersiap-siap menghadapi kemungkinan
yang sangat buruk itu.
Karena itu, maka Wirantana menjadi bingung.
Dalam pada itu, Manggadalah yang kemudian berkata ”Apakah kau sependapat, jika
aku mendahului perjalanan kalian? Bukankah perjalanan ini sudah tidak jauh
lagi?“
Wirantanalah yang ragu-ragu. Jika Raden Panji dan pasukannya datang menyusul,
maka ia tidak mempunyai seorang kawanpun untuk melindungi Mas Rara.
Namun akhirnya Wirantanapun setuju. Kedua orang sais dan pembantunya itu tentu
akan bersedia berbuat sesuatu.
Karena itu, maka Wirantanapun kemudian berkata “Baiklah. Pergilah. Biarlah ayah
dan ibu menyiapkan kuda agar kita dapat segera berangkat. Kuda pedati itu harus
diganti agar kita dapat berjalan lebih cepat. Mudah-mudahan Raden Panji tidak
membawa seorang atau lebih orang-orang yang ahli dalam menelusuri jejak”
Manggada dan Laksanapun tidak membuang waktu lagi. Keduanya telah mempercepat
derap kuda mereka yang masih lebih segar dari kuda penarik pedati itu. Apalagi
kuda-kuda kedua anak muda itu tidak menarik muatan apapun juga.
Demikianlah kedua ekor kuda itupun segera berpacu. Mereka sudah mengenal dengan
baik jalan menuju ke rumah Ki Partija Wirasentana. Karena itu, maka kedua anak
muda itu dengan cepat telah mendekati regol rumah Ki Partija Wirasentana.
Dengan tergesa-gesa keduanya langsung memasuki regol halaman yang ternyata masih
terbuka.
Namun kedua orang anak muda itu terkejut sekali. Demikian mereka memasuki regol,
maka beberapa orang yang sudah berada di halaman segera bergeser ke pintu. Tanpa
menutup pintu regol, orang-orang itu telah merundukkan ujung tombak pendek
mereka.
Manggada dan Laksana segera meloncat turun dari kudanya. Demikian mereka sempat
memperhatikan orang-orang yang berdiri dipintu, maka keduanya berdesis
“Prajurit”
“Kita terjebak“ berkata Manggada “untung Mas Rara tidak bersama kita”
“Tetapi bagaimana kita sempat memberitahukan kepadanya?“ desis Laksana.
Keduanyapun tidak segera mendapatkan jalan yang dapat mereka tempuh untuk
menyelamatkan Mas Rara.
Sementara itu, beberapa orang prajurit telah mengepung mereka. Sekilas Manggada
dan Laksana sempat menghitung. Delapan orang.
Manggada dan Laksanapun segera berdiri saling membelakangi. Dengan serta merta
mereka telah mencabut pedang-pedang mereka dan siap menghadapi segala
kemungkinan, meskipun bagi mereka delapan orang itu tentu terlalu banyak.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja dari pringgitan terdengar suara orang
bertanya “Siapakah mereka?“
Salah seorang prajurit menjawab “Kami tidak tahu. Kedua-duanya langsung menyerbu
masuk dan tiba-tiba saja telah mencabut pedang.
Beberapa orang telah melintasi pendapa dan kemudian turun kehalaman. Sementara
itu, beberapa buah obor menerangi halaman rumah itu.
Seorang diantara mereka yang turun dari pendapa itu adalah Ki Partija
Wirasentana. Berlari-lari ia mendekati Manggada dan Laksana sambil berkata
“Ngger, kaukah itu?“
“Ya“ jawab Manggada “kami datang tergesa-gesa Ki Partija. Tetapi kami terlambat.
Para prajurit ini telah berada disini.
“Prajurit yang mana? Apakah angger tahu, dari mana datangnya para prajurit ini?“
bertanya Ki Partija.
“Bukankah mereka prajurit Raden Panji?“ bertanya Laksana.
“Raden Panji Prangpranata maksud angger?“ bertanya Ki Partija pula.
“Ya “ jawab Laksana.
Ki Partija menggeleng. Katanya “Bukan ngger. Mereka bukan prajurit yang dikirim
oleh Raden Panji. Tetapi kenapa angger menjadi tergesa-gesa dan menyangka bahwa
para prajurit ini prajurit Raden Panji?“
Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggada berkata
“Ada sesuatu yang penting harus aku sampaikan kepada Ki Partija Wirasentana.
Tetapi prajurit-prajurit ini datang dari mana dan untuk apa?“
“Marilah, silahkan duduk“ berkata Ki Partija Wirasentana “tetapi kenapa angger
tiba-tiba saja telah menarik pedang? Apa yang sebenarnya terjadi?“
“Ki partija“ berkata Manggada yang menjadi sangat tegang. Mas Rara berada
diperjalanan. Beberapa saat lagi ia akan sampai kehalaman rumah ini. Kami minta
Ki Partija dengan cepat bersiap-siap. Kita harus mengungsi”
“Kenapa kita harus mengungsi? Apa yang telah terjadi?“ bertanya Ki Partija
tegang.
“Mas Rara melarikan diri dari tangan Raden Panji yang nampaknya ingin melanggar
paugeran. Raden Panji menghendaki Mas Rara sebelum hari pernikahan
dilangsungkan. Sedangkan Mas Rara berpegang teguh pada batas-batas ketentuan
hubungan antara laki-laki dan perempuan menurut paugeran“ jawab Manggada.
“Bagaimana hal itu dapat terjadi?“ bertanya Ki Partija.
“Wirantana tidak sampai hati melihat kesulitan Mas Rara. Kami telah menembus
para penjaga dan melarikan diri. Kami tahu, bahwa saat ini Raden Panji dengan
pasukannya sedang mengejar kami menuju kemari. Karena itu, Wirantana minta agar
Ki partija Wirasentana bersiap untuk mengungsi. Jika tidak, maka kedatangan
Raden Panji akan merupakan malapetaka bagi kita semuanya” berkata Manggada
kemudian.
Ki Partija memang menjadi bingung. Diluar sadarnya ia memandang orang-orang yang
turun bersamanya dari pringgitan.
Seorang diantara mereka, seorang yang bertubuh tinggi tegap berdada bidang
dengan lengan dan bahu yang kekar maju selangkah. Ketika ia berbicara, maka
Manggada dan Laksana terkejut. Suaranya tidak mencerminkan kegarangan tubuhnya.
Tetapi suaranya terdengar lembut “Aku mendengar ceritamu anak-anak muda. Memang
belum begitu jelas. Tetapi yang sedikit itu telah memberikan gambaran, bahwa
gadis yang disebut Mas Rara itu lari dari Raden Panji dan menuju kemari”
“Ya, ya Ki Sanak“ sahut Manggada.
Tiba-tiba saja Ki Partija memotong ”Kau tentu belum mengenalnya. Ki Tumenggung
Purbarana, sedangkan yang berdiri disebelahnya itu adalah Raden Puspasari. Salah
seorang bangsawan keturunan dari Majapahit yang kini berada di istana Pajang”
“Keturunan Majapahit?“ ulang Manggada dan Laksana hampir berbareng. Jantungnya
memang menjadi berdebar-debar.
“Tetapi bagaimana dengan Mas Rara?“ bertanya Manggada dengan tegang.
Raden Puspasari yang disebut sebagai keturunan dari Majapahit yang berada di
Pajang itu telah menyahut “Baiklah Ki Sanak. Biarlah Mas Rara kembali ke rumah
ini”
“Tetapi jika Raden Panji datang pula dengan prajurit-prajuritnya?“ bertanya
Manggada.
“Kami akan berbicara dengan Raden Panji“ jawab Raden Puspasari.
“Apakah Raden mengenal Raden Panji?“ bertanya Laksana tiba-tiba.
Bangsawan itu menggeleng. Katanya ”Secara pribadi belum. Tetapi bukankah kita
dapat berbicara dengan baik? Raden Panji adalah seorang Senopati perang. Karena
itu, maka penalarannya tentu dapat berjalan dengan baik“
Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Partija wirasentana
yang juga menjadi cemas bertanya “Apakah Raden dapat melindungi Mas Rara?“
Raden Puspasari tersenyum. Katanya “Kita akan berbicara baik-baik. Ki Partija.
Bukankah nalar budi yang ada pada kita dapat kita pergunakan untuk memecahkan
persoalan-persoalan? Jika kita bersikap baik dan berbicara dengan baik, aku kira
tidak akan ada persoalan yang tidak akan dapat kita selesaikan”
“Tetapi Raden Panji mempunyai sikap yang sangat keras menghadapi orang-orang
yang dianggap berani menentang perintahnya“ berkata Laksana dengan nada cemas.
“Ia seorang Senapati yang mendapat tugas untuk menenangkan satu daerah yang
bergejolak” sahut Ki Tumenggung Purbarana “dengan demikian maka memang perlu
sikap yang keras dan tegas.
“Tetapi juga kepada orang-orang yang tidak bersalah seperti Mas Rara” desis
Laksana.
“Tenanglah anak muda“ berkata Ki Tumenggung sambil tersenyum.
Manggada dan Laksana tidak sempat berbicara panjang. Mereka telah mendengar
gemeretak kereta kuda serta derap kaki kuda yang mengikutinya.
“Mereka datang“ berkata Manggada.
Sebenaranyalah sejenak kemudian sebuah pedati yang ditarik kuda telah memasuki
halaman rumah Ki Partija. Didalamnya terdapat Wirantana yang terkejut sekali
melihat beberapa prajurit telah berada di halaman rumah itu. Terdengar pekik
kecil Mas Rara yang ketakutan.
Dengan sigap Wirantana meloncat turun. Ia melihat Manggada dan Laksana memegang
pedang ditangannya, sehingga dengan serta merta iapun telah menarik pedangnya
pula.
Suasana memang menjadi tegang. Manggada dan Laksana yang semula mulai
menundukkan pedangnya, tiba-tiba pedang itu telah terangkat kembali. Terdengar
Manggada berdesis ”Apakah kami tidak berada dalam jebakan Raden Panji?“
“Kami bukan sekelompok prajurit dibawah pimpinan Raden Panji“ berkata Ki
Tumenggung Purbarana.
Wirantana masih bingung. Namun Ki Partija kemudian telah berlari-lari
mendapatkan Mas Rara yang gemetar.
“Ayah“ Mas Rara yang kemudian turun dari pedati itu langsung memeluk ayahnya.
“Marilah. Kita mendapatkan ibumu“ berkata ayahnya.
“Siapakah mereka ayah? Apakah mereka utusan Raden Panji?“ bertanya Mas Rara.
“Bukan. Bukan ngger“ jawab Ki Partija.
“Tetapi siapa?“ desak Wirantana
”Nanti aku ceriterakan. Sekarang marilah, masuklah” ajak Ki Partija.
Tetapi Wirantana berkata “Ayah. Kita harus menyelamatkan diri dari tangan Raden
Panji. Setidak-tidaknya kita harus menyelamatkan Mas Rara. Biarlah aku disini,
menghambat Raden Panji yang tentu akan mengejar kami”
“Sudahlah anak muda” berkata Raden Puspasari ”tenanglah. Kita masing-masing
membawa ceritera yang panjang yang tidak sempat kita ceriterakan sekarang.
Tetapi sebaiknya kita tidak usah gelisah. Biarlah nanti kita bersama-sama
berbicara dengan baik-baik jika Raden Panji datang. Betapapun keras hatinya,
jika kita bersikap baik dan lunak, maka aku kira hatinya akan menjadi lunak
pula”
“Tetapi Raden Panji adalah seorang yang keras hati “ berkata Wirantana.
“Kedua orang anak muda yang datang lebih dahulu itupun telah mengatakannya”
jawab Raden Puspasari “Tetapi aku masih tetap berkeyakinan, bahwa kita nanti
akan dapat berbicara dengan baik”
Wirantana termangu-mangu. Tetapi seperti juga Manggada dan Laksana, masih ada
kecurigaan yang memancar disorot mata mereka.
Namun dalam pada itu, Ki Partija telah membimbing Mas Rara naik kependapa,
kemudian masuk keruang dalam. Demikian Mas Rara bertemu dengan ibunya, maka
tangannya bagaikan meledak. Bahkan ibunya yang ingin menenangkan hati gadis itu,
ternyata telah ikut menangis pula.
“Sudahlah“ berkata Ki Partija ”duduklah dengan tenang. Mudah-mudahan
persoalannya akan segera dapat diselesaikan dengan baik”
Demikian Mas Rara dan ibunya duduk diruang dalam, maka Ki Partija Wirasentana
telah kembali ke halaman.
Meskipun Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari nampak tenang, tetapi
terasa ketegangan telah mencengkam halaman rumah itu. Beberapa orang prajurit
yang bersenjata tombak dan pedang, berdiri tegak tanpa mengetahui persoalan yang
sedang berkembang. Namun ketika mereka melihat Ki Tumenggung Purbarana dan Raden
Puspasari masih belum menunjukkan kegelisahannya, para prajurit itupun masih
berusaha untuk tetap tenang.
Dalam pada itu, maka Raden Panji yang marah berderap bersama para prajuritnya
menyusul Mas Rara. Hampir tanpa mengucapkan sepatah katapun disepanjang
perjalanan selain perintah-perintah dan umpatan-umpatan kasar. Raden Panji
memacu kudanya secepat-cepatnya. Sementara malam masih mencengkam.
Namun akhirnya Raden Panji dan para pengiringnya itupun menjadi semakin dekat
dengan padukuhan Nguter. Bahkan Raden Panji masih memaksa kudanya berlari lebih
cepat lagi.
Beberapa ekor kuda mulai tertinggal beberapa langkah dibelakang iring-iringan
itu. Semakin lama semakin banyak meskipun jaraknya tidak terlalu jauh. Sementara
itu kuda Raden Panji yang tegar itu masih berdiri dengan kecepatan yang sangat
tinggi, tanpa menghiraukan kemungkinan buruk yang dapat terjadi jika kuda itu
terperosok kakinya ke dalam lubang disepanjang jalan atau terantuk batu yang
cukup besar.
Darah Raden Panji justru terasa mendidih ketika ia memasuki pintu gerbang
padukuhan Nguter. Rasa-rasanya ia ingin meloncat menerkam dan mencekik Mas Rara
yang telah berani menolak kemauannya. Bahkan kemudian telah melarikan diri dari
tangannya. Satu hal yang belum pernah terjadi pada isteri-isterinya yang
terdahulu. Bahkan tidak seorangpun yang berani menentang kemauannya.
Dalam pada itu, orang-orang yang ada di halaman rumah Ki Partijapun segera
mendengar derap kaki kuda yang semakin lama semakin dekat. Ki Tumenggung
Purbaranapun segera memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk bergeser dan
menempatkan diri ditempat yang tidak menarik perhatian. Tidak ada tanda-tanda
bahwa di halaman itu telah bersiap sekelompok orang untuk melakukan kekerasan.
Sementara Wirantana, Manggada dan Laksanapun telah menepi pula, berdiri didepan
tangga pendapa. Didepannya Ki Partija Wirasentana berdiri bersama Ki Tumenggung
Purbarana dan Raden Puspasari.
Pedati yang ditarik kuda dan membawa Mas Rara melarikan diri itupun telah
digeser ke pinggir halaman, dibawah sebatang pohon nangka. Sedangkan kedua orang
yang melayani pedati itu berdiri termangu-mangu menunggu apa yang akan terjadi
kemudian.
Sejenak kemudian, maka derap kaki kuda disepanjang jalan padukuhan itu menjadi
semakin dekat. Orang-orang padukuhan yang semula terkejut mendengar derap kaki
dua tiga ekor kuda, serta gemeretak pedati, telah terkejut pula mendengar
pasukan berkuda lewat jalan padukuhan.
Beberapa orang yang terbangun dari tidurnya yang nyenyak menjadi berdebar-debar.
Mereka memang sudah mengira bahwa derap kaki kuda yang rasa-rasanya datang
berturut-turut itu ada hubungannya dengan Mas Rara.
“Apa yang telah terjadi?“ desis seorang perempuan yang menjadi cemas mendengar
kuda-kuda yang berlari-larian dimalam hari itu.
“Entahlah“ jawab suaminya “mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu”
Keduanya tidak bercakap-cakap lagi. Mereka sudah tidak mendengar apa-apa diluar.
Derap kaki kuda itu sudah menjauh dan keduanya memang yakin, bahwa kuda-kuda itu
menuju ke rumah Ki Partija Wirasentana.
Sebenarnyalah Raden Panji telah memacu kudanya langsung memasuki regol halaman
yang memang telah dibuka. Para prajuritnyapun telah mengikutinya pula, langsung
menebar dihalaman yang memang agak luas itu.
Namun ternyata Raden Panjipun terkejut melihat orang-orang yang sudah berada di
halaman. Meskipun mereka sama sekali tidak menunjukkan kesiagaan untuk
bertempur, namun orang-orang yang berdiri berderet di pinggir halaman, di depan
tangga pendapa serta pedati dibawah pohon nangka, membual jantungnya berdegup
semakin keras. Tiba-tiba saja masih diatas punggung kudanya Raden Panji
berteriak lantang “Jadi kalian sudah bersiap-siap untuk melawan aku he? Apakah
kalian sudah menjadi gila? Aku mendapat wewenang mengambil tindakan apapun untuk
membuat daerah ini tenteram. Siapa yang melawan perintahku sama dengan melawan
kekuasaan Pajang, sehingga mereka dapat disebut pemberontak. Dengan dasar itu,
aku akan dapat membunuh semua orang yang ada disini, yang sudah bersiap untuk
memberontak”
Orang-orang yang berdiri dihalaman masih belum ada yang menjawab ketika Raden
Panji kemudian berteriak ”Partija, Partija Wirasentana”
Ki Partija Wirasentana terkejut. Seperti seorang yang terbangun dari mimpi.
Wajahnya menjadi tegang dan jantungnya berdebar-debar.
Karena Ki Partija Wirasentana masih saja termangu-mangu, maka Raden Panji itupun
telah meloncat turun dari kudanya. Dengan demikian maka para prajuritnyapun
telah berloncatan turun pula. Seorang diantara prajurit-prajurit itu telah
mendekati Raden Panji untuk menerima kudanya dan membawanya menepi.
Beberapa langkah Raden Panji bergeser maju. Sekali lagi ia memanggil “Partija
Wirasentana. Kemari. Bukankah kau tidak tuli”
“Ya, ya Raden“ jawab Ki Partija gagap. Selangkah ia maju.
“Mana anakmu itu he?“ bentak Raden Panji.
“Ia ada didalam Raden“ jawab Ki Partija.
“Apakah kau kira kau dapat melawan Pajang?“ suaranya bergetar menghentak-hentak
karena kemarahan yng membakar isi dadanya.
Wajah Raden Panji masih tegang. Ia melihat dalam keremangan cahaya obor dan
lampu minyak, orang-orang yang berdiri dihalaman itu. Mereka tidak menunjukkan
sikap bermusuhan. Tetapi merekapun tidak menjadi ketakutan.
Dengan nada tinggi Raden Panji kemudian bertanya lantang ”Siapakah mereka? Kau
upah orang untuk melindungimu dari kuasaku? Tentu kau bayar mereka dengan Mas
Kawin yang kau terima untuk Mas Rara yang ternyata berkhianat itu”
“Sama sekali tidak Raden” berkata Ki Partija Wirasentana dengan jantung yang
berdebaran.
“Jadi siapakah mereka yang berada di halaman ini?” bertanya Raden Panji.
“Mereka adalah prajurit dari Pajang“ jawab Ki Partija Wirasentana.
“Kau jangan mengigau seperti orang gila. Aku memang melihat mereka berpakaian
seperti prajurit Pajang. Tetapi disini, akulah penguasa tunggal dari Pajang.
Tidak ada pasukan yang lain yang mendapat wewenang berkeliaran di daerah ini
tanpa ijinku“ Raden Panji hampir berteriak.
“Tetapi mereka benar- benar prajurit Pajang, Raden” jawab Ki Partija
Wirasentana.
“Siapa pemimpinnya, aku ingin bicara” geram Raden Panji.
Yang melangkah maju adalah Ki Tumenggung Purbarana. Seorang Tumenggung yang
memiliki bentuk tubuh yang meyakinkan. Namun sikapnya bukan sikap seorang
prajurit yang kasar.
”Siapa kau?“ bertanya Raden Panji.
“Aku Tumenggung Purbarana” jawab Ki Tumenggung.
Raden Panji mengerutkan keningriya. Ia memang melihat tanda-tanda seorang
perwira prajurit Pajang.
Raden Panji yang marah itu memang mencoba untuk mengekang diri. Dihadapan
seorang Tumenggung Raden Panji harus berpikir ulang untuk membentak-bentak.
Sebelum Raden Panji menjawab, Tumenggung Purbarana berkata selanjutnya “Yang
berdiri disebelah ini adalah Raden Puspasari. Cucu dari Pangeran Kuda Kertanata,
putera Prabu Brawijaya Pamungkas. Yang sekarang berada di Pajang, karena ibunda
Raden Puspasari yang berada di Demak telah memerintahkannya untuk menyertai
pusaka-pusaka yang disemayamkan dari Majapahit dan berada di Demak untuk
selanjutnya dibawa ke Pajang.
Wajah Raden Panji nampak menjadi semakin tegang. Namun kemudian tiba-tiba ia
berkata “Aku hormati kedudukan Ki Tumenggung serta Raden Puspasari. Tetapi aku
mohon maaf. Daerah ini adalah kuasaku. Aku mendapat wewenang dengan pertanda
cincin kekuasaan pemerintah Pajang di daerah ini”
“Ya, ya. Kami tahu Raden Panji“ jawab Ki Tumenggung Purbarana. Lalu katanya
“Raden Panji justru telah dianggap berhasil membuat daerah yang bergolak ini
menjadi tenang kembali“
“Tetapi kenapa Ki Tumenggung berada didaerah kuasaku tidak memberitahukan
kepadaku lebih dahulu, apalagi mendapat ijinku“ bertanya Raden Panji.
“Persoalan kami sekedar persoalan keluarga. Kami tidak mencampauri keberhasilan
Raden Panji di daerah ini. Kamipun sama sekali tidak mengulangi kuasa Raden
Panji untuk menentukan kebijaksanaan didaerah ini” jawab Ki Tumenggung
Purbarana.
“Jika demikian, kami yang mendapat tugas didaerah ini mohon agar Ki Tumenggung
serta Raden Puspasari meninggalkan daerah ini” berkata Raden Panji.
“Tentu. Kami akan segera meninggalkan daerah ini” jawab Ki Tumenggung Purbarana
“bahkan barangakali akan lebih cepat dari yang Raden duga”
“Tetapi apa hubungan Ki Tumenggung dengan Partija Wirasentana sehingga Ki
Tumenggung berada dirumah ini?”bertanya Raden Panji kemudian.
“Kami mendapat perintah untuk melihat kembali, apakah benar bahwa dirumah Ki
Partija ini telah dititipkan sebilah pusaka dari Majapahit, milik Pangeran Kuda
Kertanata yang dibawa oleh puteranya Raden Kuda Respada yang mengembara sejak
kanak-kanak. Yang kemudian hidup dan tinggal di padesan dengan nama Ki Respada.
Namun ketika isterinya meninggal saat melahirkan, maka Ki Respada telah
meneruskan perjalanan menuju ke Demak. Tetapi pusaka yang dibawanya dari
Majapahit itu telah ditinggalkan di sebuah padukuhan. Nama padukuhan itu Nguter.
Sedangkan orang yang mendapat titipan itu namanya Partija dan kemudian menjadi
Partija Wirasentana“ jawab Tumenggung Purbarana. Lalu katanya pula ”Raden
Puspasari ini adalah orang yang berhak untuk mengambil pusaka itu sesuai dengan
pesan ibundanya, karena Raden Kuda Respada itupun segera meninggal setelah
berada di Demak tanpa sempat melihat kembali keris pusakanya yang ditinggalkan”
Raden Panji menjadi semakin tegang. Katanya “Partija Wirasentana tidak pernah
mengatakannya”
“Mungkin Ki Partija menganggap bahwa hal itu tidak perlu dikatakan kepada
siapapun” berkata Ki Tumenggung Purbarana.
“Jika demikian, lakukanlah. Ambillah keris itu jika memang ada. Kemudian Ki
Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari aku persilahkan untuk meninggalkan
tempat ini. Aku masih akan menyelesaikan tugasku disini”
“Apakah disini ada pemberontak atau semacamnya sebagaimana disebut-sebut oleh
Raden Panji tadi?” bertanya Ki Tumenggung.
“Ya. Setidak-tidaknya ketiga orang anak muda yang telah melarikan isteriku itu“
jawab Raden Panji. Namun kemudian “Tetapi ini bukan tugas Ki Tumenggung. Tugas
itu adalah tugasku disini. Bukankah tugas Ki Tumenggung mengambil keris dan
membawanya kepada ibunda Raden Puspasari?“
“Ya Raden“ jawab Ki Tumenggung. Namun kemudian katanya “Tetapi selain keris,
Raden Puspasari masih mempunyai tugas yang lain”
“Apa?“ bertanya Raden Panji.
Ki Tumenggung Purbarana berpaling kepada Raden Puspasari. Katanya “Sebaiknya
Raden sajalah yang memberikan penjelasan”
Raden Puspasari melangkah selangkah maju. Katanya “Kami memang sedang mengemban
tugas untuk mengambil pusaka yang pernah ditinggalkan oleh paman Kuda Respada
disini. Tetapi tugas itu masih disertai dengan tugas yang lain. Tugas inilah
yang semula membuat kami agak bingung. Pada saat kami datang ke tempat ini, maka
yang ada dirumah ini tinggal keris pusaka itu. Sedangkan yang lain sudah tidak
ada dirumah ini”
“Yang lain apa maksud Raden?“ bertanya Raden Panji.
“Raden Panji“ berkata Raden Puspasari “yang terjadi disini memang membingungkan.
Aku tidak tahu, yang manakah yang sebaiknya dilakukan. Karena itu, maka bukankah
sebaiknya kita duduk dan berbicara sebaik-baiknya? Mungkin kita akan dapat
memecahkan persoalannya dengan baik”
“Tidak ada yang harus dibicarakan Raden. Raden Puspasari melakukan tugas yang
dibebankan dipundak Raden. Aku menjalankan tugas yang memang sudah aku emban
sejak lama. Tugas kita memang sangat berbeda“ jawab Raden Panji.
“Tetapi ada yang berkait Raden” berkata Raden Puspasari.
“Bagaimana mungkin tugas kita dapat berkait. Tugas itu tidak ada hubungannya
sama sekali “ jawab Raden Panji dengan nada tinggi.
Raden Puspasari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia masih bertanya “Jadi,
dapatkah kita duduk sejenak untuk berbicara?“
“Apa yang sebenarnya akan Raden katakan? Katakanlah. Aku tidak mempunyai banyak
waktu“ berkata Raden Panji.
Namun Raden Puspasari berkata “Raden. Bukankah hari telah jauh malam. Bahkan
sebentar lagi kita akan memasuki dini hari. Apakah kita tidak dapat menunda
persoalan kita sampai esok pagi?“
“Aku seorang prajurit Raden“ jawab Raden Panji “aku harus memanfaatkan waktu
sebaik-baiknya. Aku datang ke rumah ini karena aku mempunyai persoalan. Karena
itu, maka aku harus menyelesaikannya segera. Sementara itu aku mohon Radenpun
cepat menyelesaikan tugas Raden”
“Aku tidak tergesa-gesa seperti Raden Panji” jawab Raden Puspasari.
“Aku berkeberatan“ jawab Raden Panji.
“Baiklah jika demikian. Aku memang harus mengatakannya karena persoalannya sudah
terlanjur terkait. Seandainya, sekali lagi, seandainya Mas Rara tidak Raden
bawa, maka persolannya memang sama sekali tidak bersinggungan dengan tugas Raden
“ jawab Raden Puspasari.
“Apa hubungannya dengan Mas Rara?“ bertanya Raden Panji.
“Yang ditinggalkan oleh paman Raden Kuda Respada sebenarnya bukan hanya sekedar
sebilah keris pusaka. Tetapi keris itu akan menjadi pertanda kelak, bahwa
dirumah ini tinggal seorang anak yang pernah dilahirkan oleh isteri paman Raden
Kuda Respada. Namun bibi telah meninggal setelah melahirkan. Sementara paman
yang kemudian pergi ke Demak dengan meninggalkan bayi dan pusakanya tidak sempat
mengurusinya lagi karena paman juga segera meninggal“ jawab Raden Puspasari.
Lalu katanya “Bayi itu adalah bayi perempuan yang kemudian dibesarkan oleh Ki
Partija Wirasentana. Dinamainya bayi perempuan itu Wiranti, namun yang kemudian
dipanggil dengan Mas Rara ketika bayi yang telah menjadi gadis dewasa itu akan
diambil menjadi isteri Raden Panji. Sebenarnya rencana perkawinan itu sendiri
sama sekali tidak berpengaruh. Jika Raden Panji memang mencintainya dan Mas
Rarapun mencintai Raden Panji. Bahkan kami telah memutuskan untuk menyusul Mas
Rara esok pagi ke rumah Raden Panji. Namun tiba-tiba Mas Rara justru telah
kembali ke rumah ini“ Raden Puspasari berhenti sejenak, lalu katanya pula
“Karena itu, silahkan duduk Raden. Ternyata masih ada beberapa masalah yang
harus kita bicarakan”
Wajah Raden Panji menjadi tegang. Dipandanginya orang yang menyebut dirinya
Raden Puspasari itu. Kemudian Ki Tumenggung Purbarana, seorang yang memang
mengenakan pakaian seorang prajurit. Tubuh dan ujudnya memang meyakinkan, bahwa
ia adalah seorang prajurit yang berpangkat Tumenggung.
Untuk beberapa saat Raden Panji menjadi bingung. Tetapi tiba-tiba saja ia
berkata lantang ”Siapapun kalian, akulah penguasa yang sah di daerah ini atas
nama Sultan Pajang. Karena itu, kuasaku adalah sama dengan kuasa Sultan itu
sendiri”
“Bukanlah kami sudah menyatakan bahwa kami mengakui kuasa Raden Panji? Sejak
dari Pajang kami sudah membekali diri dengan pengakuan, bahwa di daerah ini ada
seorang Panji yang mendapat tugas untuk memulihkan keamanan dari gangguan para
perampok yang ganas. Raden Panji ternyata telah berhasil menghancurkan perampok
itu, sehingga daerah ini telah menjadi aman kembali “ jawab Raden Puspasari.
“Jika demikian, silahkan kalian meninggalkan tempat ini. Aku berhak menentukan,
apakah kalian dapat berbuat sesuatu di sini atau tidak“ jawab Raden Panji dengan
wajah yang menjadi tegang.
“Raden Panji“ berkata Raden Puspasari “aku telah mendapat perintah untuk
mengambil pusaka yang ditinggalkan pamanda Raden Kuda Respada. Itu tentu tidak
akan ada persoalan. Namun ibunda juga memerintahkan agar aku membawa bayi yang
pernah ditinggalkan oleh pamanda Raden Kuda Respada itu, yang sekarang telah
mekar menjadi seorang gadis dewasa. Nah, dalam hal inilah persoalan kita
berkait, karena gadis itu Raden tetapkan untuk menjadi isteri Raden yang ke
enam”
Ketegangan mencengkam, bukan saja wajah Raden Panji, tetapi jantungnya terasa
telah berdegup semakin keras. Dengan suara lantang, Raden Panji berkata “Gadis
itu telah melakukan kesalahan yang sangat besar di daerah kuasaku. Ia telah
berkhianat. Karena itu ia harus dihukum. Kuasaku di daerah ini belum pernah
dicabut”
“Baiklah“ berkata Raden Puspasari ”Mas Rara tidak akan melarikan diri. Aku akan
membawanya ke Pajang beserta keris pusaka pamanda Kuda Respada. Namun
persoalannya dengan Raden Panji masih belum selesai. Silahkan Raden Panji
mengusutnya ke Pajang agar Mas Rara diserahkan kepada Raden Panji untuk
menjalani hukuman”
“Jangan menganggap aku kanak-kanak“ jawab Raden Panji “aku akan menangkap Mas
Rara”
“Sudahlah Raden Panji“ potong Ki Tumenggung Purbarana “sebaiknya kita tidak
bersitegang dengan sikap kita masing-masing. Bukankah masih ada orang-orang yang
lebih berwenang memutuskan persoalan yang sedang kita hadapi. Kami akan
menyerahkan Mas Rara itu kepada ibunda Raden Puspasari. Sementara itu, Raden
Panji yang merasa dikhianati atau apa, dapat menuntutnya, sehingga persoalannya
akan diselesaikan di Pajang.
“Ki Tumenggung tidak dapat memperkecil kuasaku di sini. Meskipun pangkat Ki
Tumenggung lebih tinggi dari pangkatku, tetapi aku mengemban tugas yang mewakili
kuasa Sultan di Pajang. Karena itu, silahkan kalian meninggalkan tempat ini
tanpa mencampuri persoalan-persoalan yang terjadi di tempat ini, di daerah
kuasaku“ suara Raden Panji menjadi semakin keras.
“Baiklah Raden“ jawab Ki Tumenggung Purbarana “sudah beberapa kali kami katakan.
Besok, jika matahari telah terbit, kami akan pergi bersama Mas Rara dan pusaka
yang dibawa oleh pamanda Kuda Respada itu. Bukankah cukup jelas”
“Mas Rara tidak dapat dibawa. Ia melakukan kejahatan di sini, di daerah kuasaku.
Ia harus diadili di sini. Apalagi ia bakal isteriku yang telah berkhianat“ jawab
Raden Panji.
“Raden Panji tidak boleh berbuat demikian, meskipun Raden Panji memiliki
pertanda kuasa Sultan Pajang“ jawab Raden Puspasari “karena Sultan Pajang
sendiri tidak akan berbuat sebagaimana dilakukan oleh Raden Panji”
“Jangan mengada-ada“ kesabaran Raden Panji yang kasar itu sudah habis “sekali
lagi aku mempersilahkan kalian pergi sekarang. Tidak besok pagi. Tinggalkan Mas
Rara di sini. Ini perintah atas dasar kuasa yang aku terima dari Kangjeng
Sultan”
Tetapi Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari masih tetap bersikap tenang.
Dengan sareh Ki Tumenggung berkata “Raden Panji. Jangan perlakukan kami seperti
perampok dan penyamun di daerah ini, yang telah berhasil Raden tenangkan. Kami
juga prajurit Pajang, sebagaimana Raden Panji. Jika Raden Panji mendapat kuasa
untuk menumpas perampok dan penyamun di daerah ini, tentu bukan berarti bahwa
Raden Panji juga mendapat kuasa untuk memperlakukan kami seperti itu. Karena
itu, sekali lagi aku mengulangi permintaan Raden Puspasari. Silahkan duduk. Kita
berbicara. Dengan demikian, kita akan mendapatkan penyelesaian yang terbaik,
yang dapat kita pilih”
“Kuasa yang aku terima tidak terkecuali“ jawab Raden Panji “kedatangan kalian
akan dapat menimbulkan persoalan di sini, yang dapat mengguncangkan ketenangan
yang dengan susah payah telah aku pulihkan. Karena itu, masih atas dasar kuasa
yang aku terima dari Sultan, pergilah”
“Baiklah“ berkata Raden Puspasari kemudian “kami akan pergi. Tetapi keris pusaka
dari Majapahit serta Wiranti akan aku bawa”
“Bawalah pusaka itu. Tetapi Mas Rara tidak. Ia melakukan kejahatan disini. la
harus diadili disini, sebagaimana aku mengadili para perampok dan penyamun“
geram Raden Panji.
“Mas Rara bukan perampok dan bukan penyamun“ jawab Raden Puspasari.
“Ia berkhianat terhadapku. Justru terhadap seorang Senapati yang bertugas atas
dasar kuasa tertinggi“ jawab Raden Panji semakin keras.
“Raden“ berkata Raden Puspasari kemudian “baiklah. Marilah kita lihat sebentar
saja. Apakah sebenarnya kesalahan Mas Rara sehingga Raden menganggapnya
berkhianat, atau memberontak, atau mengganggu ketenangan daerah kuasa Raden
Panji”
Wajah Raden Panji menjadi tegang. Sementara Raden Puspasari berkata selanjutnya
“Dalam hal ini, meskipun aku baru mendengar sedikit dari anak-anak muda yang
mendahului perjalanan Mas Rara serta kakaknya, aku tahu, bahwa yang terjadi sama
sekali tidak dapat disebut sebagai satu pemberontakan atau pengkhianatan atau
semacamnya”
“Kalian tidak tahu pasti persoalannya” geram RadenPanji.
“Raden“ Ki Tumenggung Purbaranapun ternyata tidak lagi dapat menahan-perasaannya
yang bergejolak “Raden mendapat tugas di sini untuk menghancurkan para perampok
dan penyamun. Itu bukan berarti memberi wewenang kepada Raden Panji justru untuk
merampok”
“Merampok?“ wajah Raden Panji menjadi merah membara.
“Berapa tahun Raden Panji berada di tempat ini? Dua atau selama-lamanya tiga
tahun. Berapa kali selama itu Raden Panji telah kawin? Dan apa yang sebenarnya
Raden Panji lakukan di daerah ini terhadap perempuan-perempuau itu juga atas Mas
Rara?“ suara Ki Tumenggung Purbarana mulai bergetar “saat terakhir Raden akan
melakukan pelanggaran karena Raden Panji menghendaki Mas Rara sebelum hari
perkawinan dilangsungkan.
“Cukup“ bentak Raden Panji “aku tidak mau mendengar fitnah buruk itu. Kalian
tentu iri melihat keberhasilanku di sini. Namun dengan fitnah itu, akupun
menjadi curiga, apakah benar kalian prajurit Pajang yang mengemban tugas
sebagaimana yang kalian katakan”
“Kami juga memiliki pertanda sebagaimana perintah kuasa yang kau bawa Raden“
jawab Ki Tumenggung Purbarana.
“Omong kosong. Pertanda itu dapat dibuat sendiri atau dipalsukan“ geram Raden
Panji.
“Apakah Raden Panji juga melakukannya?“ bertanya Raden Puspasari.
“Aku sudah berada di sini lebih dari dua tahun. Jika pertanda yang aku bawa itu
palsu, maka Pajang mempunyai kesempatan luas untuk mengambil tindakan” jawab
Raden Panji lantang.
“Pertanda yang kau bawa memang tidak palsu Raden, tetapi pengetrapan kuasa di
daerah ini itulah yang akhirnya menjadi palsu“ sahut Raden Puspasari.
“Kau menghina seorang Senapati yang berkuasa di sini“ teriak Raden Panji yang
marah.
Namun tiba-tiba saja terdengar seseorang berkata “Raden Puspasari benar. Bukan
pertanda kuasa itu yang dipalsukan. Tetapi apa yang dilakukan Raden Panjilah
yang palsu”
Semua orang berpaling kearah suara itu. Seorang yang berjalan memauki halaman
itulah yang mengatakannya, sementara seorang yang lain menuntun kudanya
mendekat.
“Aku sengaja tidak ingin mengejutkan kalian. Karena itu, aku turun dari kudaku
pada jarak yang masih agak jauh. Aku terpaksa berlari-lari kecil kemari agar aku
tidak terlambat mendengar pembicaraan ini meskipun aku tidak mengira bahwa di
sini ada pihak lain yang telah datang lebih dahulu dari aku”
Manggada, Laksana dan Wirantana terkejut ketika melihat wajah orang itu setelah
tersentuh cahaya obor di halaman. Orang itu adalah orang yang pernah duduk di
sebelah mereka di pendapa rumah persinggahan Mas Rara. Mereka pulalah yang telah
memberikan beberapa ekor kuda. Namun agaknya mereka telah menyusul pula
perjalanan para prajurit berkuda yang dipimpin oleh Raden Panji sendiri.
“Aku datang berempat. Dua orang kawanku masih berada di luar regol untuk
mengatasi kesulitan jika hal itu terjadi“ berkata orang itu selanjutnya “namun
agaknya dengan kehadiran beberapa orang prajurit Pajang dari kesatuan yang lain,
keadaan akan berubah”
“Siapa kau?“ bertanya Raden Panji.
“Aku adalah tetangga Raden Panji“ jawab orang itu “tetapi mudah-mudahan Ki
Tumenggung Purbarana masih mengenal aku”
Ki Tumenggung Purbarana termangu-mangu sejenak. Dipandanginya orang yang
mengenakan pakaian sebagaimana orang kebanyakan dalam keremangan cahaya obor.
Orang itu tersenyum sambil berkata “Aku juga prajurit Pajang. Aku Panji
Wiratama”
“O“ Ki Tumenggung Purbarana mengangguk-angguk “Maaf adhi, aku memang agak lupa.
Sudah agak lama kita tidak bertemu”
“Sejak aku mendapat tugas dalam lingkungan prajurit sandi“ jawab Panji Wiratama.
Lalu katanya ”Nah, dalam rangka tugas sandiku, aku diperintahkan mengawasi tugas
Raden Panji Prangpranata. Beberapa laporan telah sampai ke Pajang tentang
tingkah lakunya. Sebenarnya aku tidak perlu terlibat langsung dalam tindakan
kewadagan. Tetapi aku tidak sampai hati melihat nasib gadis yang bernama Mas
Rara itu. Ia mempunyai kelainan dengan isteri Raden Panji sebelumnya. Agaknya
gadis itu tidak pantas mengalami nasib yang buruk karena tingkah laku Raden
Panji”
“Cukup“ teriak Raden Panji Prangpranata “aku tahu. Kalian semua ternyata telah
sepakat untuk menjatuhkan namaku. Agaknya kalian merasa iri hati akan
keberhasilanku serta kepercayaan yang aku terima dari Kangjeng Sultan di Pajang.
Nah, sekarang sekali lagi aku perintahkan kalian untuk pergi atau kalian akan
aku hancurkan disini atas nama Kangjeng Sultan Pajang”
“Raden Panji“ berkata Panji Wiratama “sudahlah. Aku mohon Raden Panji bersedia
meninjau kembali segala tingkah laku Raden Panji. Sementara itu Ki Tumenggung
Purbarana dan Raden Puspasari juga membawa pertanda kuasa Sultan Pajang. Akupun
memiliki pertanda tugas sandiku. Karena itu bukankah tidak baik terjadi benturan
kekerasan antara kekuatan Pajang sendiri, sementara Pajang baru berusaha untuk
menyusun diri menjadi negara yang besar”
“Aku tidak memperdulikan sesorahmu” bentak RadenPanji Prangpranata.
“Aku sudah cukup lama tinggal menjadi tetangga Raden Panji. Aku adalah saksi
yang akan dapat mengatakan segala tingkah laku Raden Panji yang tidak terpuji
bersama orang-orang yang bertugas bersamaku. Tetapi jika Raden Panji bersedia
mengerti, maka sudah tentu aku tidak akan sampai hati menjerumuskan Raden Panji
ke dalam kubangan yang dalam dan kotor. Apalagi aku tahu bahwa Raden Panji
adalah orang yang pernah berjasa disini meskipun dengan cara yang agak kasar
menghadapi para penjahat“ berkata Panji Wiratama kemudian.
Tetapi agaknya Raden Panji Prangpranata tidak mau mendengarkan kata-kata Panji
Wiratama maupun Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari yang berusaha untuk
mencari penyelesaian dengan cara yang lebih baik dari kekerasan.
Bahkan kemudian Raden Panji itu berkata kepada para prajuritnya “He anak-anak.
Bersiaplah. Kalian harus bermain-main lagi. Tidak dengan para prajurit yang
sering merampok dan menyamun. Tetapi dengan prajurit-prajurit Pajang sendiri
yang ternyata tidak tahu paugeran dan dengan sengaja melanggar hak dan
wewenangku. Tunjukkan kepada mereka bahwa kalian adalah prajurit-prajurit Pajang
terpilih yang sudah berbilang tahun mengarungi medan demi medan menghancurkan
kelompok-kelompok penjahat didaerah ini. Ingat siapa aku. Aku adalah orang yang
paling banyak memberikan hadiah kepada prajurit-prajuritku. Tetapi aku juga
orang yang tidak segan-segan menghukum prajurit-prajurit yang tidak berbuat
sebaik-baiknya dalam pertempuran, apalagi dihadapanku”
Para prajurit Raden Panji memang menjadi berdebar-debar. Mereka sadar, bahwa
Raden Panji berkata sesungguhnya. Jika mereka tidak baik menurut penilaian Raden
Panji, maka mereka tentu benar-benar akan dihukum. Hukuman yang pernah diberikan
oleh Raden Panji kepada prajurit-prajuritnya memang tidak tanggung-tanggung.
Karena itu, apapun yang terjadi, maka para prajurit Raden Panji itupun telah
mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
Tiga dari tujuh prajurit yang melepaskan Mas Rara ketika mereka mengejar sesaat
setelah Mas Rara meninggalkan pedukuhan Raden Panji, ada diantara para prajurit
yang mengiringi Raden Panji itu. Agaknya yang lain mendapat perintah untuk
menjaga para tawanan yang belum sempat mendapat perlakuan khusus dari Raden
Panji karena kesibukannya mengurus Mas Rara.
Ki Tumenggung Purbarana memang menjadi sedikit cemas menghadapi perkembangan
keadaan Raden Panji memang sulit diajak berbicara seperti telah dikatakan oleh
anak-anak muda yang menyelamatkan Mas Rara dari tangan Raden Panji.
Karena itu, maka Ki Tumenggung Purbaranapun telah memberikan isyarat pula kepada
prajurit-prajuritnya. Bahkan Panji Wiratamapun berkata kepada kawannya “Panggil
kedua kawanmu”
Orang itupun mengangguk. Kemudian iapun telah bergeser menuju ke regol halaman.
Berapa saat kemudian, maka dua orang menuntun kudanya memasuki halaman itu,
langsung mengikat kuda mereka ditepi didekat kedua ekor kuda yang lain.
Halaman rumah Ki Partija Wirasentana itu telah dicengkam ketegangan. Setiap
orang telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sementara tangan para prajurit
itupun telah berada di hulu senjata mereka masing-masing. Mereka ternyata akan
berhadapan dengan semua prajurit Pajang sendiri, sehingga dengan demikian maka
pertempuranpun akan menjadi pertempuran yang paling mendebarkan diri berbagai
macam pertempuran yang pernah mereka alami melawan para penjahat dan perampok.
Dalam pada itu dengan suara yang bergetar Raden Panji berkata lantang
“Anak-anak, tugas kalian adalah mengambil perempuan liar yang telah berkhianat
itu. Siapa yang mencoba menghalangi, singkirkan dengan cara sebagaimana kalian
lakukan terhadap para penjahat, karena sebenarnyalah setiap orang yang
menghalangi tugasku disini, aku perlakukan sebagai para, penjahat”
Wajah Ki Tumenggung Purbarana menjadi tegang. Dengan lantang iapun berkata “Aku
masih memperingatkan kau sekali lagi Panji Prangpranata” Suara Ki Tumenggung
memang berubah. Ia tidak lagi tersenyum dan berbicara dengan suara yang lembut.
Tetapi jawab Raden Panji “Kesempatan terakhir bagimu Tumenggung Purbarana.
Tinggalkan tempat ini”
Namun suara Panji Wiratama tidak lebih garangnya “Aku berhak menangkapmu
berdasarkan tugas dan wewenangku”
“Setan kau“ teriak Raden Panji “singkirkan orang itu. Dengar perintahku. Ambil
prempuan pengkhianat itu. Siapa menghalangi, patahkan lehernya”
Pertempuran memang tidak dapat dicegah. Beberapa orang prajurit mulai bergerak.
Sementara Raden Panji masih berteriak ”Masuk ke dalam rumah itu. cari sampai
ketemu. Ia menjadi penyebab peristiwa ini. Jika ada seorang saja diantara
prajuritku yang kulitnya tergores senjata, maka hukuman bagi perempuan itu akan
berlipat ganda. Ia akan mengalami hukuman picis. Hukuman picis yang pertama yang
aku berikan kepada seorang perempuan.
Pertempuran memang tidak dapat dicegah. Beberapa orang prajurit Pajang di bawah
perintah Raden Panji Prangpranata telah berusaha naik ke pendapa, menuju ke
pintu pringgitan. Tetapi para prajurit yang datang bersama-sama Ki Tumenggung
Purbarana dan Raden Puspasari telah mencegah mereka.
Sementra itu, Ki Partija Wirasentana sendiri menjadi bingung. Wirantana yang
gelisah menjadi termangu-mangu. Manggada ternyata masih sempat berpikir dan
berkata kepada Wirantana “Bawa ayahmu masuk. Lindungi adikmu yang ada di dalam.
Jika ada orang yang sempat menyusup”
“Baik. Aku dan ayah akan melindungi Mas Rara“ berkata Wirantana.
Iapun segera berlari mendekati ayahnya sambil berkata “Marilah. Lindungi Mas
Rara”
Ki Partija seperti orang yang terbangun dari mimpi yang sangat buruk. Sementara
itu Wirantana telah menariknya naik ke pendapa dan masuk keruang dalam.
Di ruang dalam Mas Rara dan ibunya duduk gemetar saling berpelukan. Mereka tidak
tahu apa yang terjadi di luar. Mereka hanya mendengar orang-orang saling
membentak. Tetapi Mas Rara tidak tatu pasti, apakah yang mereka katakan selain
teriakan Raden Panji untuk menghukumnya. Ia tidak mendengar jelas penjelasan
Raden Puspasari tentang dirinya.
Keduanya terkejut sekali ketika pintu tiba-tiba terbuka. Tetapi jantung mereka
bagaikan disiram setitik embun ketika mereka melihat Wirantana dan Ki Partija
Wirasentana yang masuk ke ruang dalam.
“Aku akan menemani kalian“ berkata Ki Partija.
Wirantana pun kemudian berdiri selangkah di sebelah adiknya. Sekilas ia sempat
memandang wajah yang basah itu. Baru ia menyadari, bahwa wajah gadis itu memang
lain dari wajahnya sendiri. Lain dari wajah ibunya dan lain dan wajah ayahnya.
“Ternyata ia seorang gadis asing“ desisnya.
Ki Partija Wirasentana pun kemudian telah memungut senjatanya dan bersiap-siap
menghadapi segala kemungkinan.
Sementara itu, di luar telah terjadi pertempuran yang sengit. Kedua belah pihak
memiliki ketangkasan yang seimbang. Prajurit Raden Panji adalah prajurit yang
untuk beberapa lamanya menjelajahi arena pertempuran melawan para penjahat,
sementara para prajurit yang datang bersama Ki Tumenggung Purbarana adalah
prajurit pilihan.
Manggada dan Laksana tidak dapat tinggal diam. Keduanyapun telah terlibat dalam
pertempuran melawan prajurit Raden Panji yang garang. Prajurit yang terbiasa
bertempur dengan keras dan kasar menghadapi para perampok dan penjahat di daerah
yang lain, yang harus mereka amankan.
Tetapi Manggada dan Laksana pun memiliki bekal yang cukup. Mereka memiliki
landasan ilmu yang mereka sadap dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Meskipun
belum begitu banyak, tetapi keduanya memiliki pengalaman yang keras pula.
Raden Panji Prangpranata sendiri adalah seorang Senapati perang yang memiliki
ilmu yang tinggi. Ia telah berhasil menguasai satu daerah yang luas selama ia
bertugas. Kekuasaannya seakan-akan tidak terbatas, karena kecuali Raden Panji
sendiri seorang yang berilmu tinggi, iapun memiliki kekuatan. Sepasukan prajurit
Pajang yang tangguh. Sehingga untuk beberapa lama Raden Panji merasa bahwa ia
adalah orang yang dapat berbuat apa saja menurut kehendaknya. Siapa yang mencoba
untuk menentangnya dengan tanpa kesulitan telah disingkirkan. Bahkan jika
dianggap perlu disingkirkan untuk selama-lamanya.
Raden Panji Prangpranata memang tidak saja berkuasa untuk menentukan satu
kebijaksanaan. Tetapi iapun merasa mempunyai wewenang untuk menghukum orang yang
dianggapnya bersalah tanpa dapat dibatalkan oleh orang lain. Bahkan iapun merasa
tidak perlu untuk mendengar pendapat orang lain apabilaia sendiri sudah
menganggap perlu untuk mengambil keputusan.
Namun dalam pada itu, di halaman rumah Ki Partija itu, ia telah bertemu dengan
seorang Senapati yang juga seorang pilihan. Ki Tumenggung Purbarana yang dengan
sengaja telah menempatkan diri menghadapi langsung Raden Panji Prangpranata.
Beberapa orang prajurit Raden Panji dengan cepat telah bergerak ke segala
celah-celah halaman. Mereka yang sudah untuk waktu yang lama mengikuti segala
perintah Raden Panji itupun menjadi sangat garang pula. Satu dua orang prajurit
memang berusaha untuk menembus pertahanan dan memasuki rumah lewat seketheng.
Namun para prajurit Pajang yang datang bersama Ki Tumenggung Purbarana telah
menyebar. Sementara Manggada dan Laksana telah ikut pula menghadapi para
prajurit yang berusaha memasuki seketheng sebelah kiri.
Sementara itu Panji Wiratama telah melibatkan diri pula dalam pertempuran itu.
Sebagai seorang petugas sandi, Panji Wiratama telah ditempa dengan ilmu
kanuragan, sehingga ia sama sekali tidak menjadi bingung menghadapi
prajurit-prajurit Raden Panji Prangpranata yang berpengalaman luas.
Raden Puspasari yang mendapat tugas untuk menjemput Mas Rara itu memang
termangu-mangu sejenak. Bukannya karena ia menjadi cemas menghadapi pertempuran
itu, tetapi pertempuran itu sama sekali tidak dikehendakinya.
Namun ia tidak banyak dapat berbuat sesuatu menghadapi seseorang yang keras
seperti Raden Panji Prangpranata, yang merasa dirinya orang yang paling
berkuasa.
Ketika pertempuran menjadi semakin sengit, maka Raden Puspasari telah naik
kependapa. Dengan jantung yang berdebaran ia melihat seluruh arena di halaman
itu. Bahkan satu dua orang prajurit telah bertempur di pendapa itu pula.
Mereka adalah prajurit-prajurit Raden Panji yang ingin menerobos memasuki pintu
pringgitan untuk mengambil Mas Rara, namun telah dihentikan dan dihadapi oleh
para prajurit Pajang yang datang bersama-sama dengan Raden Puspasari itu.
Dalam pada itu, hampir diluar sadarnya, Raden Puspasari sempat melihat Manggada
dan Laksana yang sedang bertempur. Dengan kening yang berkerut, Raden Puapasari
melihat, bahwa kedua anak muda itu ternyata mampu mengimbangi kemampuan para
prajurit Pajang. Mereka sama sekali tidak mengalami banyak kesulitan untuk
mempertahankan dirinya. Tangannyapun dengan tangkas mempermainkan pedang.
“Anak-anak muda yang berani“ berkata Raden Puspasari di dalam hatinya “agaknya
tidak banyak dari antara anak-anak muda yang berani mengambil sikap seperti
mereka. Di saat Raden Panji berada dalam puncak kekuasaannya, mereka berani
mengambil langkah yang dapat membahayakan hidup mereka untuk melindungi Mas Rara
yang diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh Raden Panji”
Sementara itu Manggada dan Laksana memang sedang bertempur dengan sengitnya.
Masing-masing menghadapi seorang prajurit yang terlatih dengan baik dan
berpengalaman luas. Namun kedua anak muda itu sama sekali tidak menjadi gentar.
Apalagi mereka sadar, bahwa langkah-langkah yang diambilnya ternyata mendapat
sandaran yang mapan. Justru seorang Tumenggung dari Pajang bersama pasukan
kecilnya.
Manggada dan Laksana memang telah mengambil jarak. Mereka menahan dua orang
prajurit yang akan menyelinap lewat seketheng untuk masuk ke dalam rumah melalui
pintu-pintu butulan atau pintu samping. Jika kedua orang prajurit itu berhasil
masuk dan menguasai Mas Rara, maka segala bentuk perlawanan memang harus
dihentikan, karena jiwa Mas Rara tentu akan terancam.
Namun Manggada dan Laksana memang berhasil menahan kedua orang prajurit itu.
Dengan ketangkasannya, kedua anak muda itu telah membuat kedua orang prajurit
yang bertempur melawannya menjadi heran
Kedua orang prajurit yang bertempur melawan Manggada dan Laksana itu pernahi
melihat keduanya ketika Raden Panji mengunjungi bakal isterinya di rumah yang
telah disediakan baginya. Tetapi berbeda dengan para prajurit yang menjemput Mas
Rara dari rumahnya dan harus bertempur melawan orang-orang yang telah diupah
oleh paman Mas Rara sendiri untuk mencegahnya, mereka belum pernah melihat
kemampuan kedua anak muda itu. Meskipun mereka mendengar bahwa kedua anak muda
itu pernah menolong Mas Rara ketika gadis itu hampir diterkam seekor harimau,
serta ceritera beberapa orang kawannya bahwa kedua anak muda itu telah
mempertaruhkah nyawanya di saat Mas Rara dijemput dari rumahnya, namun mereka
tidak mengira bahwa kedua anak muda itu
mampu mengimbangi mereka, prajurit yang berpengalaman.
Karena itu, maka kedua orang prajurit itupun kemudian telah mengerahkan segenap
kemampuannya. Seorang diantara mereka berkata “Anak-anak muda. Sebaiknya kau
tidak usah ikut campur. Kau bukan sanak bukan kadangnya. Jika perlawanan ini
dilakukan oleh kakaknya, maka hal itu masih dapat dimengerti. Tetapi kau bukan.
Karena itu, kami memberi kesempatan kepada kalian berdua untuk melarikan diri
jika kalian ingin selamat”
“Terima kasih” jawab Manggada “tetapi sebagaimana kau dengar, ternyata gadis itu
bukan sekedar anak Ki Partija Wirasentana. Tetapi ia adalah seorang gadis yang
seharusnya tidak berada di padukuhan. Ia seorang gadis bangsawan”
“Siapapun gadis itu, tetapi segala sesuatunya harus dikembalikan kepada
kekuasaan yang ada di daerah ini. Yang berkuasa adalah Raden Panji Prangpranata“
berkata prajurit itu.
“Bukan berarti Raden Panji dapat berbuat apa saja tanpa menghiraukan tatanan
yang berlaku di Pajang. Raden Panji bukan Sultan Pajang yang berlaku di Pajang
yang berhak dan berwenang membuat paugeran sekehendak hatinya“ jawab Manggada.
“Kau anak yang sombong“ geram prajurit itu “jika kau sia-siakan kesempatan ini,
maka kau akan menyesal. Jika kau tidak terbunuh dalam pertempuran ini, maka kau
akan mendapat hukuman pula dari Raden Panji. Jika kau tahu, Raden Panji tidak
pernah ragu-ragu menghukum orang yang dianggapnya bersalah.
“Tetapi Kangjeng Sultan Pajang pun tidak akan ragu-ragu menghukum Raden Panji
dengan kesewenang-wenangannya meskipun ia pernah berjasa dalam tugasnya yang
besar dan berat”
“Persetan kalian“ geram prajurit yang seorang lagi. Kalian memang ingin mati.
Jangan kau kira, bahwa keberhasilanmu membunuh seekor harimau akan dapat
menolongmu menghadapi senjata kami. Dengan membunuh seekor harimau kalian telah
menjadi kehilangan akal. Kepalamu menjadi besar dan tidak tahu diri”
Namun Laksana yang menjawab ”Kita buktikan saja. Kepala siapa yang besar
sekarang ini”
Prajurit itu menjadi merah. Dengan serta merta ia telah meloncat dengan
menjulurkan senjatanya kearah dada. Tetapi dengan tangkas Laksana telah
menangkisnya, sehingga ujung senjata itu sama sekali tidak menyentuh sasaran.
Bahkan Laksana sempat memutar pedangnya dan seolah-olah menggeliat dengan cepat,
sehingga sabetan mendatar justru telah memaksa prajurit itu meloncat surut.
Pertempuran itupun kemudian telah menjadi semakin sengit. Para prajurit itu
memperlakukan kedua anak muda itu seperti para perampok dan penjahat lainnya.
Merekalah yang mulai bertempur dengan kasar, keras dan tidak terkendali.
Namun Manggada dan Laksana tidak menjadi kehilangan akal. Mereka telah pernah
bertempur melawan orang-orang yang lebih keras dan lebih kasar dari para
prajaurit itu.
Raden Puspasari menarik nafas dalam-dalam. Namun ia harus bergeser ke samping
ketika seorang prajurit menyerangnya dengan tiba-tiba. Namun seorang prajurit
Pajang yang datang bersamanya telah menempatkan diri melawan prajurit itu.
Sementara itu, Raden Panji Prangpranata yang bertempur melawan Ki Tumenggung
Purbarana menjadi semakin keras pula. Ternyata Raden Panji memang seorang yang
berilmu tinggi. Dengan tangkas ia berloncatan di seputar lawannya. Meskipun
Raden Panji itu nampaknya sudah mendekati usia lanjutanya, namun ia masih
seorang Senapali yang pilih landing. Tubuhnya yang tua itu masih mampu melenting
dengan ringannya, seakan-akan tidak digantungi bobot sama sekali. Senjatanya
berputaran dengan cepatnya. Sekali mematuk, dan dikesempatan lain terayun dengan
derasnya.
Tetapi lawan yang dihadapi adalah Ki Tumenggung Purbarana. Seorang Tumenggung
yang pilih landing. Selain tubuhnya yang meyakinkan, Ki Tumenggung pun memiliki
bekal ilmu yang tinggi. Sebagai seorang Senapati perang, maka Ki Tumenggung
memiliki pengalaman yang tidak kalah luasnya dari Raden Panji Prangpranata.
Meskipun Raden Panji memiliki kecepatan gerak yang tinggi, tetapi Ki Tumenggung
sama sekali tidak menjadi bingung.
Sementara itu, di ruang dalam, Ki Partija Wirasentana dan Wirantana menunggui
Mas Rara dengan jantung yang berdebar-debar. Namun tidak ada niat mereka untuk
meninggalkan ruangan itu dan untuk selanjutnya mengungsi ke tempat lain. Di
halaman sudah terlanjur terjadi pertempuran. Karena itu, keduanya justru tidak
lagi merasa takut kepada Raden Panji Prangpranata. Apalagi ada beberapa orang
saksi yang juga datang dari Pajang.
Yang menjadi sangat gelisah adalah Raden Puspasari. Ia sama sekali tidak
menghendaki pertempuran seperti itu terjadi. Namun iapun tidak dapat mengingkari
kenyataan, bahwa Raden Panji Prangpranata sama sekali tidak mau mendengarkan
pendapat orang lain. Ia menganggap bahwa kebenaran itu hanya ada pada dirinya.
Dengan jantung yang berdebaran, Raden Puspasari menyaksikan pertempuran yang
menjadi semakin sengit. Bahkan korban telah mulai jatuh. Beberapa orang prajurit
telah terluka.
Namun Raden Panji sendiri tampaknya tidak begitu menghiraukannya. Ia bertempur
dengan garangnya. Namun lawannyapun seakan-akan telah kehabisan pola. Raden
Panji yang selalu berhasil menghancurkan lawannya dalam tugasnya di daerah itu,
kini telah membentur kekuatan yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Gegedug
yang paling garang sekalipun tidak membuatnya mengalami kesulitan. Namun Ki
Tumenggung Purbarana justru mulai membuatnya gelisah. Apalagi ketika terasa
bahwa Ki Tumenggung Purbarana mulai menekannya.
Dalam pada itu, para prajurit Raden Panjipun mulai mengalami kesulitan.
Lawan-lawan mereka ternyata memiliki kelebihan yang sulit mereka atasi. Para
prajurit yang berada di bawah perintah Ki Tumenggung Purbarana memang tidak
lebih baik dari para prajurit Raden Panji Prangpranata, sehingga diantara mereka
terdapat keseimbangan. Tetapi para prajurit yang harus bertempur melawan Panji
Wiratama dan kawan-kawannya dari prajurit sandi Pajang, harus memeras tenaganya
untuk dapat mengimbangi mereka. Bahkan prajurit-prajurit yang harus bertempur
dengan anak-anak muda yang pernah menolong Mas Rara dari cengkeraman kuku-kuku
seekor harimau itupun telah mengalami kesulitan pula. Manggada dan Laksana
ternyata memiliki bekal yang cukup tinggi untuk melawan para prajurit Pajang,
meskipun para prajurit Pajang itu memiliki pengalaman yang sangat luas.
Dengan demikian, semakin lama semakin terasa bahwa Raden Panji Prangapranata dan
para prajuritnya menjadi semakin terdesak.
Tetapi karena hal seperti itu belum pernah terjadi selama ia bertugas di daerah
yang luas itu, maka Raden Panji masih saja tidak mau mengakui kekalahan yang
perlahan-lahan mencengkamnya. Bahkan dengan lantang Raden Panji itu masih
meneriakkan aba-aba untuk menghancurkan lawannya.
“Bunuh semua orang yang tidak mau menyerah“ teriak Raden Panji Prangpranata
“jangan takut. Aku mempunyai pertanda kuasa dari Sultan Pajang”
Namun para prajuritnya yang tidak pernah gagal melaksanakan perintah Raden Panji
itu mulai menjadi gelisah. Yang mereka hadapi bukan para perampok dan para
penjahat, yang harus mereka bunuh jika tidak mau menyerah. Tetapi yang mereka
hadapi adalah prajurit-prajurit Pajang. Orang-orang yang memiliki kemampuan
setidak-tidaknya setingkat dengan mereka. Bahkan beberapa orang diantara mereka
memiliki kelebihan yang sulit diimbangi.
Ki Panji Wiratama ternyata dengan cepat menekan lawannya. Tidak ada niat sama
sekali untuk membunuh sesama prajurit Pajang. Namun Panji Wiratama tidak dapat
berbuat lain untuk menghentikan perlawanan prajurit Pajang itu tanpa melukainya.
Sebenarnyalah, prajurit yang melawan Panji Wiratama itu sulit untuk dapat
melindungi dirinya sendiri dari serangan-serangan yang membingungkan. Karena
itu, maka prajurit itu meloncat surut ketika senjata Panji Wiratama menyentuh
pundak.
Tetapi Panji Wiratama tidak melepaskannya. Demikian prajurit itu berdiri tegak,
maka ujung senjata Panji Wiratama telah memburunya. Seleret lukapun kemudian
tergores di dada prajurit itu.
Prajurit itu mengaduh terlahan Namun terasa betapa pedihnya luka di pundak dan
di dadanya.
Ternyata Panji Wiratama tidak melepaskannya. Selagi orang itu berusaha
memperbaiki keadaannya, maka kaki Panji Wiratama-lah yang menghantam lambungnya,
sehingga perutnya terasa mual.
Selagi orang itu terbongkok-bongkok menahan sakit di lambungnya, maka Panji
Wiratama telah mengetuk tengkuk orang itu dengan sisi telapak tangannya.
Orang itupun jatuh menelungkup. Bahkan langsung menjadi pingsan.
Prajurit yang lain sempat melihat apa yang terjadi atas kawannya itu. Ternyata
Panji Wiratama tidak mengetuk leher kawannya itu, maka leher prajurit itu akan
dapat terpenggal karenanya.
Semakin lama keadaan para prajurit Raden Panji menjadi semakin sulit. Tetapi
Raden Panji tidak mau mengakui kenyataan itu. Ia masih menuntut kemenangan
sebagaimana setiap terjadi benturan antara para prajuritnya dengan para perampok
dan penjahat. Bahkan setiap kali Raden Panji masih mengulangi perintahnya “Bunuh
yang tidak mau menyerah”
Tetapi tidak seperti yang selalu terjadi, maka para prajuritnya tidak dapat
melakukan perintah itu. Bahkan Raden Panji sendiri telah mengalami kesulitan
menghadapi lawannya, Ki Tumenggung Purbarana.
Raden Puspasari sendiri memang tidak terlibat dalam pertempuran itu. Hanya
sekali-sekali ia harus menghindar jika datang serangan tiba-tiba. Namun para
prajuritnya selalu berusaha untuk melindunginya.
Dalam kecemasan Raden Puspasari ternyata tertarik sekali kepada Manggada dan
Laksana yang dengan tangkas mengimbangi para prajurit yang menjadi lawan mereka.
Meskipun keduanya bukan prajurit dan umurnya masih terhitung sangat muda, namun
keduanya nampak tangkas dan cekatan. Keduanya sama sekali tidak mencemaskan,
meskipun keduanya harus melawan prajurit-prajurit yang berpengalaman. Bahkan
sekali-sekali kedua anak muda itu berloncatan dengan cepatnya, sehingga lawannya
menjadi kebingungan. Seperti anak kijang yang bermain-main di rerumputan“ desis
Raden Puspasari.
Sementara itu, keadaan Raden Panji Prangpranata bersama para prajuritnya menjadi
semakin sulit. Semakin lama semakin banyak orang-orangnya yang terluka, sehingga
tidak mampu lagi memberikan perlawanan yang berarti. Meskipun pada kedua belah
pihak nampaknya tidak dibakar oleh nafsu untuk saling membunuh, namun
bagaimanapun juga di dalam pertempuran yang sengit, kemungkinan itu akan dapat
terjadi.
Raden Panji sendirilah yang selalu berteriak-teriak untuk membunuh lawan yang
tidak mau menyerah. Namun Raden Panji beberapa kali harus berloncatan surut
untuk memperbaiki keadaannya yang semakin sulit.
Pada saatnya, maka Ki Tumenggung Purbarana yang berteriak-teriak “Raden Panji.
Sebagai seorang Senopati kau harus mampu menilai keadaan medan. Menyerahlah.
Selagi kita masih dikendalikan oleh penalaran kita. Jika perasaan mulai
menguasai otak kita, maka keadaan tentu akan lain”
“Setan kau Purbarana“ geram Raden Panji yang benar-benar tidak man melihat
kenyataan itu ”siapapun yang menentang kuasaku di sini, akan aku hancurkan
sampai lumat”
“Kau jangan kehilangan akal Raden Panji“ sahut Ki Tumenggung Purbarana “aku akan
memberimu kesempatan untuk menilai pertempuran ini dalam keseluruhan”
Tetapi Raden Panji justru meloncat menyerang dengan garangnya.
Ki Tumenggung Purbarana bergeser mengelak. Namun senjatanya telah berputar
mematuk tubuh Raden Panji. Tetapi ternyata Raden Panji yang tangkas itu masih
sempat menggeliat. Bahkan dengan cepat senjatanya terayun menyambar kearah
kening Ki Tumenggung.
Ki Tumenggung dengan cepat mengangkat senjata menangkis serangan Raden Panji
itu. Dengan demikian, kedua senjata itupun telah berbenturan. Masing-masing
dengan mengerahkan segenap kekuatannya.
Raden Panji mengumpat sejadi-jadinya. Hampir saja senjatanya terlepas dari
tangannya. Namun ia masih sempat mempertahankannya meskipun tangannya terasa
menjadi pedih.
Sambil meloncat mundur tiba-tiba saja ia berteriak “Jangan hiraukan yang lain.
Ambil perempuan pengkhianat itu. Aku hanya memerlukan perempuan itu. Siapa yang
menghalangi, bunuh saja di tempat”
Tetapi tidak seorangpun yang dapat melakukannya. Selain mereka masih harus
bertempur, merekapun tidak akan mampu melakukannya.
Di ruang dalam, Mas Rara mendengar teriakan Raden Panji itu. Dengan gemetar ia
telah memeluk ibunya, sementara Wirantana berkata “Jangan takut, ayah dan aku
ada di sini”
Tetapi Mas Rara memang menjadi ketakutan. Apalagi ia tidak tahu apa yang
sebenarnya telah terjadi di pendapa dan di halaman depan rumahnya.
Dalam pada itu, seakan-akan seluruh padukuhan menjadi ketakutan. Satu dua orang
yang mendengar keributan itu dan keluar dari rumahnya, menjadi berdebar-debar.
Satu dua orang itu mencoba untuk melihat apa yang terjadi di halaman rumah Ki
Partija. Tetapi demikian mereka melihat sebuah pertempuran yang sengit, maka
merekapun telah pergi menjauh. Beberapa orang yang lain yang ingin melihat
keadaan, telah diberitahu tentang apa yang telah terjadi.
“Apa, yang sebenarnya terjadi di rumah itu?“ desis seseorang.
“Kita tidak tahu. Ada dua pasukan yang datang ke rumah itu. Namun ternyata kedua
pasukan itu telah bertempur”
Dengan demikian, meskipun seakan-akan seisi padukuhan itu telah terbangun, namun
mereka tidak berani mendekat rumah Ki Partija Wirasentana. Meskipun ada niat
diantara mereka untuk membantu jika ada kesulitan yang terjadi. Tetapi mereka
tidak akan dapat melibatkan diri dalam pertempuran yang sengit. Merekapun tidak
tahu kepada siapa mereka harus berpijak.
Karena itu, mereka hanya dapat mengikuti pertempuran itu dari jarak yang agak
jauh, dengan jantung yang berdebar-debar. Namun demikian, pintu setiap rumah
telah ditutup rapat-rapat. Nyala lampu diperkecil dan perempuan-perempuan
memeluk anak-anak mereka semakin erat.
Seorang anak laki-laki merengek mencari ayahnya. Dengan susah payah ibunya
membujuknya agar anak itu diam.
“Ayah sedang meronda ngger. Tidurlah. Masih malam“ bisik ibunya dengan suara
yang gemetar.
Sebenarnyalah hampir setiap laki-laki memang keluar dari rumahnya dan berpesan
agar isterinya menyelarak pintu rapat-rapat. Yang tidak mendengar keributan
telah diketuk pintunya oleh tetangga-tetangganya dan dimintainya keluar rumah,
meskipun di luar rumah mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Pertempuran di halaman rumah Ki Partija masih saja berlangsung. Tidak ada
tanda-tanda bahwa Raden Panji akan menyerah, meskipun orang-orangnya semakin
terdesak. Beberapa orang justru telah terluka. Dan beberapa saat kemudian Raden
Panji sendiri telah tergores ujung senjata pula. Meskipun lukanya tidak dalam
dan tidak mempengaruhi kemampuannya, tetapi pakaiannya telah terkoyak lebar.
Dalam pada itu, Raden Puspasari akhirnya menjadi tidak sabar lagi. Iapun mulai
menyingsingkan kain panjangnya. Sikap Raden Panji menurut Raden Puspasari telah
melampaui batas wewenangnya, sementara ia tidak mau mendengarkan pendapat orang
lain sama sekali.
“Orang yang semula dianggap berjasa itu ternyata telah menjadi mabuk kekuasaan“
berkata Raden Puspasari di dalam hatinya. Namun katanya kemudian kepada dirinya
sendiri “Apa-boleh buat. Aku akan mengambil alih orang itu. Aku harus
benar-benar sampai hati untuk melumpuhkannya. Biarlah Ki Tumenggung Purbarana
menyelesaikan para prajuritnya”
Tetapi ketika Raden Puspasari melangkah ke tangga pendapa, ia terkejut
karenanya. Raden Puspasari telah mendengar derap kaki kuda mendekati halaman
rumah Ki Partija Wirasentana.
Karena itu, ia urung turun ke halaman. Dengan berdebar-debar Raden Puspasari
menunggu siapa yang telah datang itu. Mungkin prajurit-prajurit Raden Panji yang
menyusul. Mungkin orang lain. Atau siapapun.
Ternyata tidak hanya derap beberapa ekor kuda mendekati pintu gerbang halaman.
Namun mereka masih saja terikat dalam pertempuran, sehingga mereka tidak dapat
memperhatikannya dengan seksama. Tetapi derap kaki kuda itu telah menyentuh
setiap jantung yang ada di halaman rumah Ki Partija dan sedang bertempur itu.
Beberapa saat kemudiam, beberapa ekor kuda muncul dari luar regol. Dua orang
dalam pakaian perwira tinggi Pajang, diikuti oleh lima orang prajurit pengawal.
Bahkan menilik pakaiannya, mereka adalah prajurit khusus bagian dari
Wiratamtama.
Demikian mereka berada di halaman, maka pertempuran itupun seakan-akan telah
berhenti. Beberapa orang yang sedang bertempur itu telah berloncatan surut
mengambil jarak. Bahkan Raden Panjipun telah meloncat menjauhi Ki Tumenggung
Purbarana sambil berteriak “Siapa lagi yang datang ke halaman rumah pengkhianat
ini? Jika kalian prajurit Pajang, maka kewajiban kalian adalah melaporkan
kehadiran kalian kepada kami. Pasukan yang telah mendapat wewenang untuk
memelihara keamanan di daerah ini”
Dua orang perwira yang masih duduk dipunggung kudanya itu tidak segera menjawab.
Mereka memandang berkeliling halaman. Sekali-sekali mereka mengusap keringat di
kening.
Ketujuh orang itu nampak letih. Demikian pula kuda-kuda mereka.
Namun ketika mereka bergerak lebih dekat dan mulai disentuh oleh cahaya lampu
minyak di pendapa, maka orang-orang yang ada di halaman itupun terkejut. Raden
Puspasarilah yang pertama-tama menyebut namanya “Paman Wilamarta”
Orang yang disebut namanya itu memandang ke pendapa. Dengan nada rendah ia
berdesis “Raden sudah berada di sini”
“Ya. Aku mendapat tugas bersama Ki Tumenggung Purbarana“ jawab Raden Puspasari.
“Tetapi apa yang telah terjadi di sini?“ bertanya Ki Wilamarta,
Raden Puspasaripun kemudian turun dari pendapa. Sementara Ki Wilamarta dan para
pengiringnyapun meloncat turun dari kudanya.
Sambil mendekati Ki Wilamarta Raden Puspasaripun berkata “Silahkan Ki Wilamarta
bertanya kepada Raden Panji Prangpranata”
Ki Wilamarta mengerutkan keningnya. Dipandanginya Raden Panji Prangpranata,
Beberapa langkah Ki Wilamarta maju mendekat.
Sebelum Ki Wilamarta bertanya, Raden Panji telah berkata ”Selamat datang di
daerah tugasku Ki Wilamarta”
Ki Wilamarta tersenyum. Katanya “Aku menjadi kelelahan. Aku datang ke barak
induk pengendalian pasukanmu. Tetapi kau tidak ada. Aku mendapat keterangan
bahwa belum terlalu lama kau pergi ke Nguter untuk memburu para pengkhianat”
“Ya. Ya, Ki Wilamarta“ sahut Raden Panji dengan serta merta “aku memang sedang
berusaha menangkap pengkhianat yang ternyata mendapat perlindungan dari beberapa
orang prajurit
Pajang. Mereka datang ke daerah kuasaku tanpa melaporkan kehadirannya kepadaku”
“Siapa“ bertanya Ki Wilamarta.
“Tumenggung Purbarana“ jawab Raden Panji Prangpranata.
“Tetapi aku melihat Panji Wiratama ada di sini pula“ berkata Ki Wilamarta.
“Ya Ki Wilamarta“ jawab Panji Wiratama yang ada dikejauhan, yang telah mengambil
jarak pula dari lawannya ”aku telah datang pula kemari. Aku telah mencoba
mencegah tindakan yang diambil Raden Panji Prangpranata meskipun aku datang agak
terlambat. Tetapi Raden Panji sama sekali tidak menghiraukannya”
“Aku sedang menjalankan tugasku Ki Wilamarta sahut Raden Panji.
“Tugas apa?“ bertanya Ki Wilamarta.
“Aku sedang memburu pengkhianat dan para perampok Selama ini aku telah berhasil
menjalankan tugasku dengan baik. Menguasai daerah yang luas dan membersihkannva
dari kejahatan. Tetapi ternyata kemudian justru aku sendirilah yang dirampok dan
dikhianati“ jawab Raden Panji.
“Apa saja milik Raden Panji yang dirampok?” bertnya Ki Wilamarta.
Raden Panji termangu-mangu sejenuk. Namun keinudian iapun menjawab “Justru lebih
berharga dari harta benda. Calon isterikulah yang telah dirampok orang”
“Dan siapakah pengkhianat itu?“ bertanya Ki Wilamarta pula.
Raden Panji memang menjadi bingung. Tetapi iapun kemudian menjawab “Bakal
isteriku itu”
“Jika demikian, kenapa Raden Panji harus menyusul demikian jauhnya untuk
mengambil pengkhianat itu? Biar sajalah pengkhianat itu dibawa oleh para
perampok. Raden Panji tidak perlu berusaha menolongnya”
“Aku tidak akan menolongnyar Tetapi aku akan menangkap mereka semuanya” jawab
Raden Panji tersendat-sendat.
Ki Wilamarta tersenyum. Dipandanginya orang-orang yang ada di halaman itu. Raden
Puspasari, Ki Tumenggung Purbarana yang termangu-mangu, Panji Wiratama dan para
prajurit Pajang yang sedang saling bertempur itu.
Mereka pada umumnya telah mengenal Ki Wilamarta seorang Senapati dari prajurit
Wiratamtama Pajang. Seorang yang dekat sekali hubungannya dengan Sultan di
Pajang.
Halaman itupun kemudian telah dicengkam oleh suasana yang tegang namun hening.
Tidak seorangpun yang berbicara diantara mereka. Sementara Ki Wilamarta
melangkah ke pendapa dan kemudian naik serta berdiri tegak menghadap kehalaman.
“Raden Panji“ berkata Ki Wilamarta “kami, di Pajang telah menerima laporan
tentang tugas-tugas yang kau lakukan. Di samping keberhasilanmu menenangkan
daerah ini dari kerusuhan yang ditimbulkan oleh para perampok, maka Raden
Panjipun telah menimbulkan kegelisahan tersendiri. Tugas yang kau pikul telah
kau laksanakan dalam batas-batas wajar. Tetapi semakin lama menjadi semakin
sulit dimengerti, sehingga pada suatu saat, tingkah laku Raden Panji sudah
terlepas dari kendali”
“Itu fitnah“ potong Raden Panji.
Tetapi Ki Wilamarta seakan-akan tidak mendengarkannya. Ia berkata selanjutnya
“Aku mendapat tugas untuk mengikuti perkembangan tugas Raden Panji. Karena itu,
aku telah menugaskan Panji Wiratama yang belum kau kenal untuk mengamatimu dari
dekat. Ia tinggal beberapa rumah saja dari rumah yang kau pergunakan sebagai
barak induk pasukanmu. Ia tahu benar apa yang kau lakukan. Ia tahu, berapa orang
perempuan yang telah menjadi korbanmu. Selain itu, Raden Panji juga telah merasa
berwenang untuk menjatuhkan hukuman apa saja kepada orang yang dianggap
bersalah. Bahkan hukuman mati sekalipun”
“Puncak dari kegelisahan tugas Raden Panji adalah keinginan Raden Panji
mengambil calon isteri dari Nguter ini. Kami telah mendapat laporan lengkap.
Laporan itu kami hubungkan dengan tugas Ki Tumenggung Purbarana dan Raden
Puspasari. Kedua-duanya juga menyebutkan padukuhan Nguter. Apalagi ketika
laporan yang terperinci itu menyebut tentang Mas Rara“ dia berhenti sejenak.
“Karena itu, aku datang langsung ingin bertemu dengan Raden Panji. Tetapi saat
kami datang, Raden Panji sedang memburu pengkhianat dan perampok kemari. Ke
Nguter. Betapapun kami letih, kami berusaha menyusul kemari, meskipun harus
beristirahat beberapa kali di perjalanan”
Wajah Raden Panji menjadi merah. Dipandanginya orang di sekelilingnya. Nampak
beberapa orang perwira yang memiliki kekuasaan di dalam tataran keprajuritan
Pajang. Bahkan beberapa orang yang kedudukannya lebih tinggi dari kedudukannya.
Apalagi Ki Wilamarta sendiri telah datang ke tempat itu.
Sementara itu Ki Wilamarta telah berkata selanjutnya “Kau masih sempat mengingat
apa yang kau lakukan selama ini Raden Panji. Sekarang aku datang tidak untuk
melupakan keberhasilanmu. Tetapi aku sekadar membawa perintah baru bagimu.
Kembali ke Pajang”
Raden Panji yang tua itupun kemudian menundukkan kepalanya. Ia masih mendengar
Ki Wilamarta bertanya ”Bukankah aku tidak perlu menunjukkan pertanda tugasku
kepadamu? Bukankah wajahku yang telah kau kenal ini sudah merupakan pertanda
itu?”
“Ya Ki Wilamarta“ desis Raden Panji “aku tidak akan berani menanyakan pertanda
tugas Ki Wilamarta, justru aku mengenal Ki Wilamarta”
“Nah, jika demikian, marilah. Kita akan kembali ke Pajang“ berkata Ki Wilamarta.
“Aku tidak akan melawan perintah itu” jawab Raden Panji “tetapi aku akan
berbicara dengan para prajuritku. Aku akan kembali ke barak induk pengendalian
pasukanku. Aku akan mengumumkan mereka dan berbicara kepada mereka”
“Tidak Raden Panji“ jawab Ki Wilamarta “kita akan langsung pergi ke Pajang. Kita
akan mengambil jalan lain dan tidak akan singgah di barak pengendalian pasukanmu
itu”
“Tetapi aku masih mempunyai barang-barang di sana” desis Raden Panji.
“Biarlah orang lain mengurusnya“ jawab ki Wilamarta. Raden Panji tidak menjawab
lagi. Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk.
Namun Raden Puspasarilah yang berkata “Tentu paman Wilamarta tidak kembali ke
Pajang sekarang. Paman telah menjadi sangat letih. Kuda-kuda pamanpun letih.
Paman akan berada di sini sampai besok siang, sehingga cukup untuk beristirahat.
Besok kita bersama-sama menempuh perjalanan ke Pajang“
Ki Wilamarta termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Baiklah. Aku akan
beristirahat di sini sampai besok siang”
Dengan demikian, maka pertempuran di halaman itupun telah selesai. Beberapa
orang yang terluka sempat mendapat perawatan. Sementara Ki Wilamarta telah
memanggil beberapa orang untuk berbicara di pendapa. Raden Puspasari, Ki
Tumenggung Purbara-na, Panji Wiratama, Raden Panji Prangpranata serta Ki Partija
Wirasentana. Sedangkan di halaman para prajurit berada dalam kelompok-kelompok
mereka masing-masing. Namun mereka yang terluka telah dibaringkan di pringgitan
untuk mendapat perawatan. Apalagi mereka yang terluka cukup parah. Bahkan ada
dua diantara mereka yang nyawanya tidak dapat tertolong lagi.
Malam itu Ki Wilamarta telah memberikan beberapa perintah kepada para perwira
yang telah dikumpulkannya itu.
Ki Wilamarta yang membawa wewenang penuh dari Kangjeng Sultan itu telah
memerintahkan Panji Wiratama untuk menggantikan kedudukan Raden Panji
Prangpranata.
“Tugasmu tidak seberat tugas Raden Panji Prangpranata“ berkata Ki Wilamarta
”Apalagi satu atau dua tahun yang lalu”
“Ya Ki Wilamarta“ jawab Panji Wiratama “aku siap menjalankan perintah”
Para prajurit yang datang ke Nguter bersama-sama dengan Raden Panji Prangpranata
akan menjadi saksi perintahku. Tetapi untuk sandaran Ki Panji Wiratama dalam
menjalankan tugasnya, maka aku perintahkan Raden Panji menyerahkan pertanda
tugasnya kepada Ki Panji Wiratama”
Raden Panji Prangpranata tidak dapat mengingkarinya melakukan segala perintah Ki
Wilamarta.
Sementara itu, di ruang dalam Mas Rara masih saja ketakutan. Namun Wirantana
yang menemaninya berkata “Jangan takut. Segala sesuatunya telah berlalu”
Mas Rara tidak menjawab. Tetapi tubuhnya masih gemetar.
Demikianlah, maka segala sesuatunya telah diselesaikan oleh Ki Wilamarta. Para
perwira yang ada di pendapa itu sudah tahu pasti apa yang akan mereka lakukan
besok.
Namun masih ada satu hal yang mereka bicarakan, bagaimana mereka akan membawa
Mas Rara ke Pajang
“Mas Rara tidak mau duduk di punggung kuda” berkata Ki Partija Wirasentana
“namun atas kebaikan hati Ki Jagabaya, aku telah meminjam pedati kuda itu.
Pedati kuda yang beberapa hari yang lalu telah dibawa mengantarkan Mas Rara
menghadap Raden Panji Prangpranata”
“Apakah pedati itu masih dapat dipinjam?“ bertanya Ki Wilamarta.
“Besok aku akan berbicara dengan Ki Jagabaya“ jawab Ki Partija Wirasentana.
Tetapi Ki Wilamarta itupun kemudian telah bertanya kepada Raden Puspasari
”Apakah Mas Rara sudah siap berangkat besok?”
Raden Puspasari itupun termangu-mangu sejenak. Sambil memandangi Ki Partija
Wirasentana, Raden Puspasari itu berkata “Aku belum mengatakan apa-apa kepada
gadis itu”
Ki Wilamarta mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Kenapa Raden
belum berbicara dengan gadis itu?“
“Gadis itu baru datang. Ketika aku datang ke rumah ini, Mas Rara telah berada di
tempat Raden Panji Prangpranata. Namun kemudian telah melarikan diri “jawab
Raden Puspasari.
Ki Wilamarta pun mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Ya. Aku dapat mengerti dan
membayangkan peristiwanya. Tetapi bukankah sebaiknya Raden berbicara sekarang
dengan Mas Rara jika ia belum tidur?“
“Belum Ki Wilamarta“ jawab Ki Partija Wirasentana “gadis itu masih ketakutan di
dalam, ditunggui kakaknya, maksudku anakku, Wirantana”
Raden Puspasari mengangguk-angguk. Katanya kepada Ki Partija “Aku dan Ki
Tumenggung Purbarana akan berbicara dengan gadis itu”
“Tetapi Wiranti tentu tidak akan berani keluar “desis Ki Partija Wirasentana.
“Jadi?“ desis Raden Puspasari.
“Biarlah Raden dan Ki Tumenggung masuk ke pringgitan” berkata Ki Partija
Wirasentana.
Demikianlah. Diantar oleh Ki Partija, kedua utusan dari Pajang itu telah
memasuki pringgitan. Ketika pintu terbuka, Mas Rara telah memeluk ibunya
erat-erat.
“Jangan takut” berkata ayahnya ”keduanya adalah utusan dari Pajang yang justru
telah menolongmu”
Namun bagaimanapun juga, bayangan ketakutan itu masih nampak di wajah Mas Rara.
Raden Puspasari dan Ki Tumenggung Purbarana itupun kemudian telah duduk di ruang
dalam. Dengan sangat berhati-hati Raden Puspasari mulai berbicara dengan Wiranti
yang kemudian disebut Mas Rara.
Mas Rara sendiri menjadi sangat terkejut mendengar keterangan itu. Bahkan ketika
ia menyadari, bahwa para utusan dari Pajang itu berniat menjemputnya dan
membawanya ke
Pajang. Mas Rara telah memeluk ibunya erat-erat. Hampir berteriak Mas Rara
menangis “ Aku tidak mau. Aku tidak mau”
Bagi Mas Rara memang tidak ada orang lain yang dianggapnya sebagai ayah dan
ibunya kecuali Ki Partija Wirasentana suami isteri. Meskipun keduanya tidak
lebih dari orang-orang padesan, tetapi Mas Rara merasakan kesejukan kasih
sayangnya sejak ia masih belum menyadari kehadiran dirinya.
Namun Raden Puspasari, Ki Tumenggung Purbarana dan bahkan Ki Partija Wirasentana
suami isteri, dengan sabar berusaha, meyakinkan bahwa Mas Rara sudah sepantasnya
berada di Pajang.
Sampai dini hari mereka membujuk Mas Rara untuk bersedia pergi ke Pajang. Namun
mereka masih saja mengalami kesulitan. Apalagi di Pajang, sebenarnya Mas Rara
sudah tidak lagi mempunyai ayah dan ibu kandung lagi.
Meskipun demikian, dengan segala macam kesediaan dan janji, maka Mas Rara akan
pergi ke Pajang namun bersama dengan orang yang dianggap orang tuanya itu. Ki
Partija Wirasentana suami isteri, dan kakaknya Wirantana.
Raden Puspasari dan Ki Tumenggung Purbarana memang tidak berkeberatan. Merekapun
membayangkan bahwa akhirnya Wiranti itu tentu akan kembali lagi kepada Ki
Partija Wirasentana suami isteri, karena selain kedua orang tuanya sendiri sudah
tidak ada, hubungan antara Wiranti dengan kedua orang tua angkatnya itu sudah
terlanjur demikian eratnya.
Ketika fajar mulai membayang di langit, maka di pendapa rumah Ki Partija
Wirasentana itu Ki Wiratama telah mendapat laporan tentang kesediaan Mas Rara
pergi ke Pajang, namun bersama dengan seluruh keluarganya.
“Tentu tidak berkeberatan” berkata Ki Wilamarta” bagaimanapun juga, nama
Pangeran Kuda Kertanata masih juga dihormati. Demikian pula dengan Raden Kuda
Respada, ayah Wiranti itu”
Ketika kemudian matahari terbit, maka para perwira prajurit Pajang itu justru
baru mulai beristirahat. Namun demikian, Raden Panji Prangpranata merasa bahwa
dirinya selalu berada di dalam pengawasan.
Menjelang siang, mereka akan meninggalkan tempat itu ke arah yang berbeda,
meskipun perjalanan mereka akan mereka lakukan sampai jauh malam. Ki Wilamarta
akan membawa Raden Panji Prangpranata ke Pajang, bersama-sama dengan Raden
Pus-pasari dan Ki Tumenggung Purbarana yang akan membawa Mas Rara dengan seluruh
keluarganya ke Pajang. Sedangkan Ki Panji Wiratama bersama para prajurit yang
datang bersama Raden Panji serta para pembantunya, akan kembali ke padukuhan
induk pengendalian pasukan Pajang yang semula dipimpin oleh Raden Panji
Prangpranata.
Namun dalam pada itu, sebelum semuanya berangkat meninggalkan rumah Ki Partija
Wirasentana, setelah Ki Jagabaya meminjamkan pedati kudanya. maka dua orang anak
muda telah menemui Ki Partija Wirasentana untuk minta diri.
“Tidak“ jawab Ki Partija Wirasentana “kalian berdua akan pergi bersama kami ke
Pajang”
“Terima kasih Ki Partija“ jawab Manggada “kami sudah terlalu lama tersangkut di
padukuhan Nguter ini. Karena itu, maka kami mohon diri untuk menentukan
perjalanan kami. Sebenarnyalah kami sedang menempuh perjalanan pulang untuk
menjumpai orang tua kami setelah beberapa lama mengembara”
“Siapakah mereka Ki Partija?“ bertanya Ki Wiratama. Dengan singkat Ki Partija
telah meneeriterakan tentang kedua orang anak muda itu, yang bersama-sama dengan
anaknya telah membebaskan Wiranti dari tangan Raden Panji. Namun Wirantana
sempat menceriterakan apa yang pernah dilakukan oleh keduanya. Manggada dan
Laksana adalah orang yang telah menyelamatkan Mas Rara dari kuku-kuku dan taring
harimau lapar. Namun keduanya pula yang telah melepaskan Mas Rara dari nafsu
hitam Ki Resa, pamannya.
“Tanpa kedua orang anak muda itu, maka para prajurit yang dikirim oleh Raden
Panji untuk menjemput Mas Rara tentu akan dihancurkan di perjalanan“ berkata
Wirantana kemudian.
Ki Wilamarta menganagguk-angguk. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka iapun
dapat melihat kemampuan yang terpancar pada kedua orang anak muda itu.
Maka katanya kemudian “Anak-anak muda. Jika berkenan di hati kalian, aku ingin
menawarkan, agar kalian bersedia menjadi prajurit di Pajang”
Namun Manggada menjawab “Kami mengucapkan terima kasih. Memang sangat menarik
bagi kami untuk menjadi seorang prajurit. Tetapi kami mohon untuk minta ijin
dahulu kepada orang tua kami”
Ki Wilamarta tersenyum. Katanya “Baiklah. Sebenarnya kalian memang minta ijin
lebih dahulu”
Dengan demikian maka Ki Partija Wirasentana suami isteri, Wirantana dan bahkan
Mas Rara sendiri tidak dapat lagi mencegahnya. Manggada dan Laksana benar-benar
meninggalkan padukuhan Nguter dengan seribu macam kesan dan kenangan.
Kedua anak muda itu sempat melihat sepasang mata Raden Panji Prangpranata yang
menyala. Namun iapun melihat senyum ramah Raden Puspasari dan pandangan lembut
Ki Tumenggung Purbarana. Kepada Ki Panji Wiratama, Manggada dan Laksana
mengingatkari akan kuda-kuda yang disediakan bagi mereka.
“Kuda itu masih ada di sini“ desis Manggada.
Ketika mereka berdua meninggalkan halaman rumah itu, Mas Rara dan keluarganya
telah melepaskan mereka sampai ke regol. Dengan nada yang lemah Mas Rara
berbisik ”Terima kasih. Aku tidak akan pernah melupakan kalian berdua”
Manggada dan Laksana hanya dapat menarik nafas. Namun merekapun kemudian telah
melangkah meninggalkan regol halaman semakin lama semakin jauh.
Tamat