Jilid 33
SEMENTARA itu, di luar bilik tahanan Wijangpun berkata kepada
Paksi, “Ternyata kau benar, Paksi. Anak-anak muda itu tidak
berada di padepokan itu lagi.”
“Jika demikian, kita dapat segera mengambil keputusan
tentang padepokan itu.”
“Ya. Tidak ada pilihan lain. Padepokan itu harus segera
dihancurkan. Kekalahan para pengikut di penginapan itu akan
dapat mengusik kemapanan Ki Gede Lenglengan. Sebelum ia
mengambil sikap, maka sebaiknya kita datang lebih dahulu
kepadanya.”
“Apakah sebaiknya kita menemui Ki Tumenggung Yudatama?”
“Aku sependapat. Hari pasaran mendatang, padepokan itu
kita kepung dan mereka yang tidak bersedia menyerah, apaboleh
buat.”
Demikianlah, keduanyapun segera menemui Ki Tumenggung
Yudatama. Untunglah bahwa Ki Tumenggung Yudatama berada
di barak pasukannya.
Dengan jelas dan terperinci sesuai dengan keterangan Wigati
serta pengamatan Wijang dan Paksi selama ia mengamati
padepokan itu, maka Wijang dan Paksi mengusulkan, agar
secepatnya padepokan itu ditembus oleh pasukan yang telah
dipersiapkan.
“Baiklah, Pangeran. Jika isyarat itu sudah diberikan, maka
kitapun akan segera mengambil langkah-langkah yang
diperlukan.”
“Pasaran mendatang tinggal dua hari lagi, Ki Tumenggung.”
“Hari ini aku akan pergi ke penginapan itu. Namun
sebelumnya kita akan menghadap Kangjeng Sultan untuk
memberikan laporan tentang anak-anak muda itu, serta rencana
kita mengepung Padepokan Watukambang.”
Demikianlah, Ki Tumenggung Yudatamapun bekerja dengan
cepat. Pada saat itu juga mereka bertiga telah menghadap
Kangjeng Sultan Hadiwijaya, yang menerima mereka dengan baik.
“Lakukan apa yang baik menurut pertimbangan kalian
bertiga,” berkata Kangjeng Sultan.
“Hamba mohon restu, Sinuhun,” desis Ki Tumenggung
Yudatama.
“Berhati-hatilah dengan Lenglengan. Ia seorang yang sekarang
tentu memiliki ilmu yang sangat tinggi.”
“Hamba, Sinuhun. Hamba akan berhati-hati.”
“Jangan hadapi Lenglengan seorang diri. Biarlah Benawa,
Paksi dan satu dua orang pilihan lainnya bersama-sama Ki
Tumenggung menghadapinya. Mungkin kalian memerlukan
kemampuan bersama untuk mengalahkannya. Namun kalian
juga harus menjaga agar Lenglengan tidak dapat melarikan diri.”
“Hamba, Sinuhun.”
“Aku tidak tahu, apakah ada orang lain yang berilmu tinggi di
padepokan itu.”
“Hamba sudah menjajagi kemampuan salah seorang
kepercayaannya. Agaknya kepercayaan Ki Gede Lenglengan yang
lain pun tidak terpaut banyak dari orang itu.”
“Tetapi kita tidak tahu, ada berapa orang kepercayaan Ki Gede
Lenglengan itu.”
“Hamba akan berhati-hati sekali, Sinuhun. Hamba akan
membawa orang-orang terbaik sebelum hamba memasuki
padepokan itu.”
“Waktumu tinggal sedikit, Ki Tumenggung.”
“Masih ada dua hari, Sinuhun. Sementara itu sebagian dari
kekuatan Pajang telah berada di Manjung, Nglungge dan di hutan
sebelah Padukuhan Manjung.”
Kangjeng Sultan Hadiwijayapun mengangguk-angguk sambil
berkata, “Baiklah, Ki Tumenggung. Aku serahkan kepadamu,
mana yang baik menurut pertimbanganmu, Benawa dan Paksi.”
“Kami mohon restu, Sinuhun.”
“Bawa orang-orang terbaik. Lenglengan adalah seorang yang
tidak dapat dijajagi kemampuannya.”
“Apakah ada orang yang mampu menjajagi kemampuan
Pangeran Benawa?”
“Ah, Ki Tumenggung, aku bukan apa-apa.”
“Mungkin Benawa memiliki dasar ilmu yang kuat,” berkata
Kangjeng Sultan, “tetapi ia masih terlalu muda untuk dapat
mengetahui dan mengatasi, betapa liciknya Lenglengan.”
“Hamba mengerti, Sinuhun.”
Demikianlah, maka Ki Tumenggung itupun segera minta diri.
Waktunya memang sangat sempit untuk mempersiapkan
serangan yang meyakinkan terhadap sebuah padepokan yang
kuat sebagaimana Padepokan Watukambang.
Namun Ki Tumenggung adalah seorang prajurit pilihan.
Bersama beberapa orang prajuritnya yang terpilih, maka Ki
Tumenggungpun segera mempersiapkan pasukannya. Namun Ki
Tumenggung harus sangat berhati-hati, agar persiapannya tidak
diketahui oleh Ki Gede Lenglengan dan orang-orangnya.
Dalam pada itu, Wijang dan Paksi telah menghubungi Ki Ajar
Permati. Bahkan mereka telah mempersilahkan Ki Ajar Permati
untuk bertemu dan berbicara langsung dengan Ki Tumenggung
Yudatama.
“Serahkan Lenglengan kepadaku, Ki Tumenggung,” berkata Ki
Ajar Permati.
“Ki Gede Lenglengan adalah seorang yang memiliki ilmu yang
sangat tinggi, Ki Ajar,” sahut Ki Tumenggung.
“Aku tahu.”
“Bahkan Kangjeng Sultan sendiri telah berpesan, agar
Pangeran Benawa tidak seorang diri menghadapi Ki Gede
Lenglengan.”
“Aku pun tentu akan berpesan seperti itu, jika aku sendiri
tidak dapat menghadapinya. Tetapi bukan karena Pangeran
Benawa tidak mampu mengimbangi ilmu Ki Gede Lenglengan.”
“Karena apa menurut perhitungan Ki Ajar?”
“Kangjeng Sultan tentu mempertimbangkan kelicikan Ki Gede
Lenglengan. Jika Pangeran Benawa tidak dibenarkan untuk
menghadapinya sendiri, itu semata-mata untuk menutup
kemungkinan Ki Gede Lenglengan itu melarikan diri.”
Ki Tumenggung mengangguk-angguk kecil. Sementara Ki
Ajarpun berkata, “Seandainya Pangeran Benawa dan Angger
Paksi bersedia aku pun akan minta agar Pangeran Benawa dan
Paksi ikut mengawasi agar Ki Gede Lenglengan tidak sempat lari.
Sementara itu, aku ingin membuat perbandingan ilmu dengan Ki
Gede Lenglengan itu tanpa orang lain.”
“Kami mengerti maksud Ki Ajar. Tetapi sebagai seorang
senapati di medan perang, aku dapat mengambil kebijaksanaan
sesuai dengan pertimbangan keadaan.”
“Aku mohon. Selain itu, aku kebetulan bukan seorang
prajurit.”
“Meskipun Ki Ajar bukan prajurit, tetapi Ki Ajar akan berada
di pihak pasukan Pajang. Sedangkan aku adalah senapati yang
ditunjuk oleh Kangjeng Sultan Hadiwijaya.”
Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
katanya, “Baiklah, Ki Tumenggung. Aku menyadari sepenuhnya,
bahwa Ki Tumenggung terikat pada sikap seorang senapati
perang. Aku berjanji akan tunduk kepada perintah Ki
Tumenggung.”
“Terima kasih atas kesediaan Ki Ajar. Di medan pertempuran,
hanya ada seorang senapati tertinggi yang memegang seluruh
kendali atas pasukannya. Bahkan Pangeran Benawa dan Paksi
berada di bawah perintah senapati yang mendapat wewenang dari
Kangjeng Sultan.”
“Aku mengerti,” sahut Pangeran Benawa.
“Baiklah. Kita akan segera menyusun pasukan yang akan
mengepung padepokan itu.”
Ternyata bahwa Ki Ajar Permati banyak memberikan
keterangan yang dapat memberikan gambaran kepada Ki
Tumenggung Yudatama atas tugas yang sedang diembannya.
Demikianlah, maka segala sesuatunyapun telah disiapkan
dengan sebaik-baiknya. Ketika hari pasaran tiba, maka pasar di
Manjung itu nampak ramai sekali. Demikian pula penginapan di
Nglunggepun pada hari itu menjadi penuh sebagaimana
penginapan di Manjung.
Pasar di Manjung yang terasa sangat ramai itu memang
menarik perhatian seorang yang dikirim oleh Ki Gede Lenglengan.
Namun kegagalan yang parah yang baru saja terjadi, telah
membuat orang itu sangat berhati-hati. Bahkan orang itu tidak
berani memberikan isyarat kepada Ki Gede Lenglengan, bahwa
penginapan di Manjung nampak penuh dengan beberapa orang
saudagar yang membawa harta yang banyak. Pada umumnya
para saudagar itu membawa seorang atau dua orang pengawal.
Seperti pada saat perampokan yang gagal beberapa waktu
sebelumnya, para pengawal itu bersama-sama orang-orang yang
diupah untuk mengamankan penginapan itu, berhasil
menghancurkan sekelompok orang yang dikirim oleh Ki Gede
Lenglengan.
Orang yang dikirim oleh Ki Gede Lenglengan itu masih
dibayangi oleh kegagalan yang terjadi. Beberapa orang terbaik
dari Padepokan Watukambang itu telah hilang dan agaknya
mereka tidak akan pernah kembali. Bahkan agaknya yang masih
hidup dan berhasil melarikan diri pun tidak berani lagi kembali
ke padepokan, karena Ki Gede Lenglengan tentu akan
menghukum mereka. Bahkan ada di antara mereka yang
dihukum itu mati terikat pada tiang kayu di halaman bangunan
utama Padepokan Watukambang.
Wira Sidat, salah seorang kepercayaan Ki Gede Lenglengan itu
telah terbunuh. Wigati, yang bagaikan anak sendiri dari Ki Gede
Lenglengan telah hilang pula.
Ketika orang yang dikirim oleh Ki Gede Lenglengan itu kembali
ke padepokan setelah hari menjadi gelap, tidak mengisyaratkan
agar Ki Gede Lenglengan mengirimkan orang ke Manjung.
“Kau menjadi ketakutan?” bertanya Wira Sampak,
kepercayaan Ki Gede Lenglengan yang lain.
“Bukan begitu, Kang. Tetapi akibat buruk yang dapat timbul
tidak seimbang dengan kemungkinan baik yang dapat terjadi.
Yang menginap di penginapan Manjung hanyalah penjual kelapa,
gerabah dan barang-barang anyaman.”
“Kau bohong.”
“Tidak.”
“Tentu ada beberapa orang saudagar yang menginap.”
“Aku memang melihat ada orang berkuda yang menginap di
penginapan itu. Tetapi pada umumnya mereka membawa
pengawalnya masing-masing.”
“Kau menjadi silau dan berusaha untuk mencegah agar kita
tidak datang ke Manjung.”
“Bukan karena silau. Tetapi menurut perhitunganku, tidak
baik jika kita malam ini datang ke Manjung. Orang-orang upahan
itu masih nampak buas. Para Pengawal dari saudagar-saudagar
berkuda itupun benar-benar telah mempersiapkan diri.”
“Aku tidak dapat kau takut-takuti.”
“Kang, kau jangan kehilangan perhitungan. Maaf Kang, jika
aku menganggap kau terlalu bernafsu untuk mendapat tempat
terhormat di padepokan ini, tetapi kau tidak mau membuat
pertimbangan-pertimbangan yang lebih dalam.”
Orang itu terkejut. Tangan Wira Sampak telah menampar
mulutnya, sehingga bibirnya terasa menjadi pedih.
“Jaga mulutmu agar aku tidak mengoyakkannya.”
Orang itu mengusap mulutnya yang berdarah. Katanya,
“Terserah saja atas tanggapan Kakang Wira Sampak. Tetapi aku
sudah berusaha untuk mencegah malapetaka. Sebenarnyalah
memang ada beberapa orang yang nampaknya saudagarsaudagar
kaya. Mereka datang berkuda dengan satu atau dua
pengawal. Tetapi hari ini agaknya justru terlalu banyak orang di
penginapan. Jika Kakang ingin juga pergi ke Manjung, maka
Kakang harus mengerahkan terlalu banyak orang dari padepokan
ini. Aku tidak yakin, bahwa Ki Gede Lenglengan akan
menyetujuinya. Sedangkan jika yang Kakang bawa hanya
sebanyak kebiasaan yang kita lakukan, maka akibat yang parah
itu akan terjadi seperti Kakang Wira Sidat, maka agaknya Kakang
Wira Sampak pun tidak akan pernah kembali.”
“Diam kau, pengecut,” bentak Wira Sampak. “Aku bukan Wira
Sidat yang dungu itu.”
“Terserahlah kepadamu, Kang.”
Namun tiba-tiba pembicaraan mereka terhenti. Seorang yang
rambutnya ubanan datang mendekat.
“Mari, Kang,” berkata Wira Sampak, “aku sedang menulari
pengecut ini untuk sedikit mempunyai keberanian.”
“Aku hanya memberikan pertimbangan kepada Kakang Wira
Sampak. Terserah kepada Kakang Wira Sampak dan Kakang Sura
Sangga.”
Laki-laki yang rambutnya sudah mulai ubanan itupun
berkata, “Aku sependapat, bahwa malam ini bukan saat yang
baik untuk turun ke Manjung.”
“Kenapa, Kakang Sura Sangga?”
“Manjung memang terlalu ramai hari ini.”
“Dari mana Kakang tahu? Dari ceritera tikus clurut ini?”
“Tidak. Ada orang lain yang menceriterakan kepadaku.
Cakrawara juga baru saja masuk.”
“Cakrawara?”
“Ya. Ia baru saja datang.”
“Apa katanya?”
“Manjung terlalu ramai hari ini.”
“Bukankah keadaan seperti itu yang kita tunggu?”
“Ya. Tetapi hari ini kesibukan di Manjung agak mencurigakan.
Di Pajang, Cakrawara melihat kesibukan yang melebihi takaran.”
“Apakah ada hubungannya?”
“Aku tidak tahu pasti. Tetapi kita harus berhati-hati. Aku
sudah bertemu dan berbicara dengan Ki Gede Lenglengan. Ki
Gede juga tidak berminat untuk memerintahkan sekelompok di
antara kita pergi ke Manjung.”
Wira Sampak itu menarik nafas panjang. Katanya, “Tentu
tidak ada hubungannya antara kesibukan di Manjung dan
kesibukan di barak prajurit itu. Jika hari ini Manjung menjadi
semakin ramai, karena para pedagang, para saudagar dan orangorang
yang akan melintas merasa Manjung telah aman setelah
orang-orang upahan di penginapan itu berhasil menggagalkan
usaha saudara-saudara kita mengumpulkan dana bagi
perjuangan masa depan kita.”
“Mungkin kau benar, Sampak. Tetapi bukankah waktu kita
masih panjang. Kita tidak terlalu tergesa-gesa sehingga
menempuh jalan yang sangat berbahaya. Manjung yang baru saja
merasa menang itu akan menyambut kedatangan kita dengan
hangat jika kita datang malam ini. Seandainya kita berhasil juga,
tetapi korban kita akan terlalu banyak dibandingkan dengan hasil
yang akan kita peroleh.”
Wira Sampak menjadi sangat kecewa. Tetapi ia tidak dapat
memaksakan kehendaknya. Selain orang yang bertugas
mengawasi keadaan di Manjung itu, Cakrawara juga telah
memberikan beberapa pertimbangan sehingga Ki Gede
Lenglengan tidak bermaksud memerintahkan sekelompok orangorangnya
untuk pergi ke Manjung.
Bahkan dalam pada itu, Cakrawara telah minta kepada Ki
Gede Lenglengan untuk mempersiapkan orang-orangnya
menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi di
padepokannya.
“Padepokan kami tersekat dari dunia luar,” berkata Ki Gede
Lenglengan. “Tidak ada orang yang pernah menjamah daerah ini.”
“Jangan menjadi lengah. Mungkin saja orang-orangmu yang
tertangkap ketika kau gagal menguasai penginapan di Manjung
itu berceritera tentang padepokanmu ini.”
“Tidak ada yang akan berceritera. Mungkin ada orang-orangku
yang tertangkap. Tetapi aku yakin, bahwa tidak seorang pun di
antara mereka yang akan berkhianat.”
“Kau terlena dalam mimpimu itu, Ki Gede. Tetapi apa
salahnya jika kita menjadi lebih berhati-hati?”
Ki Gede tertawa. Katanya, “Baik. Baik. Aku akan
memerintahkan beberapa orang mengawasi jalan yang melintasi
sekat itu. Jalan yang tidak pernah dikenal oleh siapa pun kecuali
orang-orangku sendiri.”
“Bukankah kau tidak akan dirugikan jika kau perintahkan
beberapa orang pergi ke sekat itu?”
“Ya. Ya. Aku mengerti.”
Ki Gede Lenglengan memang memanggil seorang
kepercayaannya. Seorang yang tubuhnya terhitung pendek.
Tetapi orang itu nampaknya sangat cekatan.
“He, Ajak Bungkik,” berkata Ki Gede Lenglengan ketika orang
yang bertubuh pendek itu datang menghadap, “pergilah ke sekat
padepokan kita bersama dua atau tiga orang. Awasi. Kau tahu
apa yang harus kau lakukan jika ada orang yang mendekat.”
“Untuk apa sekat itu diawasi, Ki Gede?”
Ki Gede Lenglenganpun membentak, “He, dungu. Kita harus
berhati-hati. Setelah kegagalan kita di Manjung, maka mungkin
sekali ada satu atau dua orang yang tertangkap.”
“Kenapa jika ada di antara kita yang tertangkap? Apakah kita
mencemaskan kemungkinan bahwa di antara mereka ada yang
berkhianat dengan menunjukkan rahasia sekat itu?”
“Ya,” yang menyahut adalah Ki Cakrawara, “hal itu mungkin
saja terjadi.”
Orang bertubuh pendek yang disebut Ajak Bungkik itu
tertawa. Tetapi suara tertawanyapun terputus ketika Ki Gede
Lenglengan membentaknya, “Kenapa kau tertawa?”
Ajak Bungkik itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki
Gede, adakah seorang di antara kita yang berani menyebut
rahasia tempat ini? Mereka yang berani menyebut rahasia ini
akan terkutuk, bukan saja sepanjang hidupnya, tetapi di
dunianya yang lain, ia pun akan terkutuk sepanjang waktu.
Tanpa henti.”
Ki Gede Lenglengan mengangguk-angguk. Katanya, “Kau
benar Bungkik. Tetapi jika ada di antara mereka itu orang-orang
gila yang tidak yakin akan kutukan itu?”
“Baik, Ki Gede. Aku akan pergi ke sekat itu.”
“Dengar, Bungkik,” berkata Ki Cakrawara, “aku melihat
kegiatan sekelompok prajurit di Pajang. Aku pun melihat
Manjung menjadi sangat ramai melebihi takaran.”
“Pergilah, Bungkik. Mungkin ada gunanya kau berada di sekat
itu. Tetapi ingat, jika kau bertindak, kau harus yakin bahwa
tindakanmu itu tuntas. Jika kau ragu, lebih baik kau
bersembunyi saja.”
“Aku mengerti, Ki Gede.”
Ajak Bungkik itupun kemudian telah pergi menemui beberapa
orang kawannya. Kepada mereka, Ajak Bungkik itu telah
menyampaikan perintah Ki Gede Lenglengan untuk pergi ke
sekat.
“Perintah seperti ini belum pernah diberikan oleh Ki Gede,”
berkata seorang kawannya.
“Ki Cakrawara yang mengusulkannya. Tetapi aku dapat
mengerti kecemasan Ki Cakrawara itu. Ia baru saja datang dari
Pajang. Ia seorang yang sangat berhati-hati.”
“Baiklah. Tetapi siapa saja yang akan pergi bersama kita?”
“Tiga atau empat orang.”
Tetapi ketika mereka menyampaikan perintah itu kepada
seorang yang bertubuh tinggi besar dan berdada bidang, maka
orang itu berkata, “Tunggu sebentar. Aku makan dulu. Sore tadi
aku belum makan.”
“Tetapi ini sudah hampir tengah malam. Kita akan sampai di
sekat itu sedikit tengah malam.”
“Biasanya juga tidak pernah diawasi. Tidak akan ada apa-apa.
Tidak ada orang yang pernah menyentuh lingkungan kita.”
“Ki Cakrawara mencemaskan salah seorang di antara kita
yang tertangkap akan membuka rahasia.”
“Tidak akan terjadi. Tidak seorang pun di antara kita yang
akan membiarkan dirinya terkutuk selama-lamanya.”
“Tetapi cepatlah sebelum Ki Gede Lenglengan tahu, bahwa kita
masih berada di sini. Bukan karena rahasia sekat itu. Tetapi
karena kita tidak segera melakukan perintahnya.”
“Jika demikian, biarlah nasiku aku bawa saja. Aku dapat
makan di mana saja.”
Sebenarnyalah, ketika mereka berangkat meninggalkan
padepokan untuk pergi ke sekat, malam pun telah sampai ke
pertengahannya. Embun pun telah mulai menitik dari dedaunan.
Rumput-rumput yang tumbuh di tanggul-tanggul parit telah
mulai basah. Di tengah-tengah sawah, di dedaunan padi, beribu
kunang berkeredipan seperti beribu bintang yang bergayut di
langit.
“Dinginnya,” desah seorang yang berperut buncit.
Ajak Bungkik tertawa pendek. Katanya, “Kau sakit-sakitan
saja selama ini.”
“Aku tidak sakit-sakitan,” jawab orang yang kedinginan.
“Justru kulitku masih peka terhadap perubahan cuaca.”
Kawan-kawannya yang mendengarnya tertawa berbareng.
Dalam pada itu, mereka yang mendapat tugas untuk
mengawasi sekat itu berjalan dengan malas menuruni kaki
Gunung Merapi. Di sebelah-menyebelah bulak yang luas
membentang sampai ke ujung cakrawala.
Namun sebenarnyalah bahwa mereka telah terlambat.
Menjelang tengah malam, orang terakhir dari kelompok terakhir
prajurit Pajang telah memasuki lingkungan yang tersekat itu.
Mereka mengikuti Pangeran Benawa dan Paksi yang sudah
mengenal lingkungan itu dengan baik.
Pasukan Pajang itupun kemudian merayap di belakang
gerumbul-gerumbul perdu, menyusuri sekat yang memanjang,
menjauhi jalan utama di padepokan yang seakan-akan terpisah
dari dunia di sekitarnya itu. Merekapun kemudian berhenti di
pategalan yang rimbun, mengatur diri.
Dengan jelas dan terperinci, Pangeran Benawa menguraikan
medan yang akan mereka hadapi.
Dengan demikian, maka Ki Tumenggung Yudatamapun segera
memberikan perintah-perintah. Padepokan itu harus terkepung.
Tidak seorang pun yang boleh lolos. Apalagi Ki Gede Lenglengan.
“Aku akan berada di dekat Ki Ajar Permati,” berkata Ki
Yudatama. “Demikian pula aku minta Pangeran Benawa dan
Paksi juga ikut mengawasi agar Ki Gede Lenglengan tidak luput
dari tangan kita.”
Setelah memberikan perintah-perintahnya kepada para
prajurit, maka Ki Yudatamapun kemudian berkata, “Sekarang,
bergeraklah. Hati-hati. Kita tidak boleh kehilangan kesempatan
terbaik ini.”
Namun dalam pada itu, Paksipun berkata, “Ki Tumenggung,
meskipun menurut keterangan yang kami dapatkan, anak-anak
muda yang dicadangkan bagi angkatan mendatang itu tidak ada
di sini, namun aku minta agar para prajurit tetap melihat
kemungkinan itu. Jika mereka menemui anak-anak muda dalam
kelompok tertentu, aku mohon, agar mereka mendapat perlakuan
yang khusus. Mungkin mereka adalah anak-anak muda yang
sedang diracuni otaknya itu.”
“Bukankah kau ingin mengatakan, bahwa kita jangan
mengganggu adikmu?”
“Seperti itu, Ki Tumenggung. Tetapi tidak seutuhnya. Selain
adikku, maka anak-anak muda itu juga harus mendapat
perlakuan khusus.”
“Baik. Aku akan memerintahkannya kepada setiap pemimpin
kelompok.”
Sejenak kemudian, maka pesan-pesan terakhirpun telah
diberikan. Serentak, para prajurit itupun mulai bergerak sesuai
dengan petunjuk-petunjuk yang telah mereka terima.
Di malam yang gelap, kelompok-kelompok prajurit itu telah
merayap di sepanjang pematang, mendekati sebuah padepokan
yang terhitung besar, justru berada di dunia yang seakan-akan
terpisah dari dunia yang lain.
Mereka semuanya, termasuk Ki Tumenggung Yudatama belum
pernah melihat lingkungan itu. Tetapi petunjuk dan ancar-ancar
yang diberikan oleh Pangeran Benawa dan Paksi demikian
jelasnya, sehingga seakan-akan mereka merasa pernah datang
mengunjungi dunia yang terpisah itu.
Malampun semakin lama menjadi semakin dalam. Semua
prajurit Pajang telah berada di tempatnya. Mereka tinggal
menunggu isyarat sebagaimana disepakati. Panah sendaren.
Ki Tumenggung Yudatama telah mengisyaratkan pula kepada
para prajuritnya, bahwa mereka dapat memanfaatkan saat-saat
terakhir untuk sekedar beristirahat menjelang fajar menyingsing.
Dalam pada itu, Ajak Bungkik dan kawan-kawannya yang
berada di mulut sekat yang memisahkan dunianya dengan dunia
di luarnya, duduk terkantuk-kantuk di atas sebongkah batu yang
besar. Dengan mata yang separo terpejam, orang yang bertubuh
tinggi, berbadan besar itupun berkata, “Untuk apa kita berada di
sini sampai fajar merekah? Kita bukan orang-orang yang
menyempatkan diri mengagumi terbitnya matahari di pagi hari.”
“Pada saat terang tanah, kita kembali,” berkata orang yang
perutnya buncit.
“Tidak,” sahut Ajak Bungkik, “kita akan berada di sini sampai
matahari terbit. Setelah itu, baru kita yakin bahwa tidak ada
orang yang menyusup memasuki lingkungan ini.”
Yang lain tidak membantah. Tetapi orang yang bertubuh tinggi
besar itu justru berbaring di atas baru yang besar meskipun
sambil menggeramang, “Batunya basah. Apakah tadi di sini
hujan?”
“Kau benar-benar bodoh. Batu itu tidak basah karena hujan.
Tetapi oleh embun.”
“O,” orang itu tidak menghiraukannya. Hanya beberapa saat
saja kemudian ia sudah mendengkur.
Ketika seorang kawannya akan membangunkannya, Ajak
Bungkik itu berkata, “Biar saja. Bukankah kita tidak berbuat
apa-apa?”
“Apakah aku juga boleh tidur?” bertanya orang itu.
“Tidurlah,” jawab Ajak Bungkik.
Orang itu memang benar-benar akan berbaring. Tetapi
ternyata tidak ada tempat yang kering, sehingga akhirnya ia
duduk saja sambil memeluk lututnya.
Dalam pada itu, langitpun mulai menjadi terang. Cahaya
merah nampak membayang di atas cakrawala di sebelah timur.
“Sudah siang,” berkata orang yang perutnya buncit.
“Kenapa kita harus tergesa-gesa,” sahut Ajak Bungkik.
Orang yang perutnya buncit itu tidak menyahut.
Dalam pada itu, Ki Tumenggung Yudatama yang sudah berada
di tempat yang ditentukan, telah memanggil dua orang
penghubungnya. Dari tempatnya, Ki Tumenggung telah melihat
remang-remang padepokan yang terhitung besar itu dikelilingi
oleh dinding yang kokoh.
“Fajar sudah menyingsing,” berkata Ki Tumenggung Yudatama
yang mengambil keputusan untuk menyerang padepokan itu
setelah fajar. Ki Tumenggung mempertimbangkan, bahwa para
penghuni padepokan itu tentu telah mengenal medan jauh lebih
baik dari para prajuritnya, sehingga jika pertempuran terjadi
malam hari, prajuritnya akan mengalami kesulitan menghadapi
medan.
Karena itu, untuk mencari keseimbangan atas medan, maka
Ki Tumenggung telah menentukan bahwa serangan akan dimulai
setelah fajar.
Setelah semuanya dianggap mapan, maka Ki Tumenggungpun
bertanya kepada Ki Ajar Permati, “Bagaimana menurut
pertimbangan Ki Ajar?”
“Aku kira saatnya sudah tepat, Ki Tumenggung.”
“Baiklah. Aku akan memerintahkan para penghubung yang
bertugas untuk melepaskan panah sendaren.” Lalu katanya
kepada Pangeran Benawa dan Paksi, “Aku mohon Pangeran
Benawa mempersiapkan diri. Aku akan segera mulai.”
“Baik, Ki Tumenggung.”
“Dan kau juga, Paksi.”
“Ya, Ki Tumenggung.”
Ki Tumenggungpun kemudian telah mengangkat tangannya,
sementara itu lima orang telah bersiap dengan busur dan panah
sendarennya.
Ketika Ki Tumenggung Yudatama menurunkan tangannya,
maka kelima anak panah sendaren itupun telah meluncur
dengan cepat ke udara.
Sejenak kemudian, dengung anak panah sendaren itupun
telah menggetarkan udara di atas padepokan yang letaknya
terpencil itu.
Seluruh isi padepokan yang sudah terbangun terkejut
mendengar suara sendaren itu. Yang masih tidur karena bertugas
di malam hari telah terbangun pula.
“Ada apa ini?” bertanya Ki Gede Lenglengan yang juga sudah
bangun.
Dengan tergesa-gesa Ki Cakrawarapun menemui Ki Gede
sambil berkata, “Ki Gede, ternyata kecurigaanku atas kesibukan
para prajurit serta kesibukan di Manjung yang melampaui
takaran itu terbukti sekarang.”
“Terbukti bagaimana?”
“Kau dengar suara panah sendaren?”
“Ya. Aku dengar.”
“Apa artinya menurut pendapatmu?”
“Akan ada serangan.”
“Kau benar.”
Ki Cakrawara menarik nafas dalam-dalam, sementara Ki Gede
Lenglengan itupun berkata, “Lalu setelah aku mengakui
kebenaranmu, maka kita akan bertempur melawan mereka.”
“Ya. Tetapi apa kerja Ajak kerdil itu, he?”
“Mungkin Ajak Bungkik itu sudah mati dibunuh orang-orang
yang datang itu.”
“Mungkin,” desis Ki Cakrawara.
Dalam pada itu, beberapa orang kepercayaan Ki Gede berlarilari
menemuinya.
“Bukankah suara itu suara panah sendaren?” bertanya Wira
Sampak.
“Ya,” jawab Ki Gede Lenglengan.
“Apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang, Ki Gede?”
“Pertanyaan yang bodoh. Bukankah kita semua sudah tahu,
bahwa kita harus segera bersiap dan menghadapi mereka?”
“Apakah kita harus mengerahkan semua kekuatan, Ki Gede?
Bagaimana dengan orang-orang yang selama ini kita pekerjakan
di padepokan ini?” bertanya Sura Sangga.
“Bukankah sebagian dari mereka sudah mulai dapat kita
percaya bahwa mereka akan bertempur untuk kita?”
“Ya. Sebagian.”
“Mereka yang masih sangat meragukan, masukkan saja ke
dalam bilik tahanan. Tutup semua pintu dan selarak dengan
kuat.”
“Baik, Ki Gede.”
“Kita harus bergerak cepat, Ki Gede,” berkata Ki Cakrawara.
“Ya. Tetapi orang-orangku tidak menduga bahwa hal seperti
ini akan terjadi.”
“Kita harus segera mengatur pertahanan sebaik-baiknya.”
Ki Gede Lenglenganpun kemudian telah memberikan perintahperintah
kepada beberapa orang kepercayaannya yang datang
menemuinya. Pada umumnya mereka merasa gelisah. Peristiwa
itu demikian tiba-tiba saja dihadapkan di muka hidung mereka.
Namun pengalaman mereka yang luas telah dapat menuntun
mereka untuk segera berada di tempat-tempat yang penting
untuk mempertahankan padepokan mereka.
Tetapi para prajurit telah bergerak dengan cepat. Ketika
sekelompok orang di dalam padepokan itu bergerak untuk
menutup pintu gerbang yang terbuka, maka beberapa orang
prajurit telah berada di pintu gerbang, sehingga pertempuranpun
segera terjadi.
Sura Sangga yang berdiri di halaman depan itupun telah
meneriakkan aba-aba. Sementara Wira Sampak memimpin
sekelompok orang di bagian belakang padepokannya. Sedangkan
kepercayaan Ki Gede Lenglengan yang lain, telah berteriak-teriak
di antara barak-barak di padepokan itu. Namun sebagian dari
mereka telah memasukkan beberapa orang pekerja yang masih
dianggap meragukan ke dalam bilik tahanan yang memanjang
namun tertutup rapat. Pintu-pintunyapun telah diselarak dengan
kuat. Beberapa orang masih juga mendapat perintah untuk
menjaga orang-orang yang masih dianggap meragukan itu.
Dalam pada itu, Ajak Bungkik masih berada di sekat yang
memisahkan padepokannya dengan dunia luar. Ia tidak
mendengar suara panah sendaren yang dilontarkan oleh para
penghubung prajurit Pajang itu. Karena itu, Ajak Bungkik itu
masih saja berada di tempatnya.
Baru kemudian, setelah langit menjadi semakin terang, iapun
mengajak kawan-kawannya untuk kembali ke padepokan.
Namun seorang di antara kawan-kawannya itupun bertanya,
“Apakah tidak mungkin, seseorang atau sekelompok orang
memasuki sekat ini di siang hari?”
“Tidak. Orang-orang tersesat mungkin saja memasuki
lingkungan kita meskipun ia tidak gila. Namanya saja juga
tersesat. Artinya, ia tidak tahu di mana ia berada dan ke mana ia
harus pergi.”
“Tetapi mereka tidak akan menemukan jalur jalan untuk
melampaui sekat yang rumit itu.”
“Mungkin justru tanpa disengaja.”
“Kau tidak yakin, bahwa sekat itu telah memisahkan kita dari
dunia luar?” Ajak Bungkik mulai menjadi jengkel.
Kawan-kawannya tidak menjawab. Jika Ajak Bungkik itu
marah, maka ia tentu akan mengajak bertengkar dan kemudian
menantang berkelahi. Di antara mereka, bahkan yang bertubuh
raksasa itu, tidak akan ada yang dapat mengalahkan Ajak
Bungkik.
Dengan demikian, maka pembicaraan merekapun terputus.
Mereka berjalan saja seenaknya sambil menikmati segarnya
udara pagi di kaki Gunung Merapi.
Burung-burung liarpun terdengar berkicau dengan gembira.
Suaranya mengumandang menyusup di antara dedaunan.
Ajak Bungkik itu menarik nafas panjang. Jarang sekali ia
sempat memperhatikan, betapa segarnya udara pagi di kaki
Gunung Merapi itu. Bahkan tiba-tiba saja Ajak Bungkik itu
terkejut melihat ujung Gunung Merapi yang menjadi merah
menyala. Seakan-akan ujung gunung itu sedang membara.
“He, apa yang terjadi?”
“Ada apa?” bertanya kawannya.
“Kenapa ujung Gunung Merapi itu?”
“Apakah kau belum pernah melihatnya?”
Ajak Bungkik itu terdiam. Sementara kawannya berkata,
“Sebentar lagi matahari akan terbit. Sinarnya sudah mulai
terlempar ke ujung gunung itu. Warna merah itu akan menjalar
menuruni tebing. Namun kemudian akan hilang dengan
sendirinya jika matahari kemudian sudah mulai nampak.”
Ajak Bungkik itu mengerutkan dahinya. Tiba-tiba saja
jantungnya menjadi berdebar-debar. Menurut perasaannya, alam
pagi itu menjadi sangat ramah kepadanya. Oleh hembusan angin
pagi, daun padi yang hijau segar itu seakan-akan melambaikan
tangannya, mengucapkan selamat jalan kepadanya.
“Aku tidak akan pergi ke mana-mana,” tiba-tiba saja Ajak
Bungkik itu berdesis.
“Apa yang kau katakan?” bertanya kawannya yang mendengar
desis Ajak Bungkik itu, tetapi tidak jelas bunyinya.
“Tidak apa-apa,” sahut Ajak Bungkik itu.
Semakin lama, merekapun menjadi semakin dekat dengan
padepokan mereka yang tertutup di tempat terpencil itu.
Dalam pada itu, pertempuran sudah berlangsung dengan
sengitnya. Terutama di pintu gerbang. Sekelompok prajurit
berusaha menembus pintu gerbang yang akan ditutup itu.
Namun para prajurit dengan cepat dapat mencegahnya, sehingga
pertempuran telah terjadi.
Sementara itu, beberapa orang prajurit yang lain berusaha
untuk memasuki padepokan itu dari pintu butulan. Ada beberapa
pintu butulan yang sempat ditutup dan diselarak dari dalam.
Namun para prajurit itu berusaha untuk memecahkan pintu
butulan itu.
Adalah satu kelengahan, bahwa orang-orang padepokan itu
merasa bahwa tempatnya tidak akan terusik. Karena itu, maka
pintu gerbang maupun pintu-pintu butulan tidak dibuat cukup
kuat sehingga mudah dipecahkan.
Seorang prajurit yang bertubuh tinggi besar mengayunkan
kapaknya untuk memecah pintu butulan itu. Sekali dua kali,
kapaknya masih belum berhasil. Namun kemudian daun pintu
regol butulan itupun mulai pecah.
Dalam pada itu, sekelompok pengikut Ki Gede Lenglengan
telah bersiap-siap di belakang pintu regol butulan itu untuk
menyongsong para prajurit yang akan segera memasuki halaman
samping padepokan yang untuk beberapa lama terpisah dari
dunia di sekitarnya.
Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, pintu regol
butulan itupun benar-benar telah pecah. Demikian pintu itu
roboh, maka ujung-ujung senjatapun telah mencuat dari
belakang pintu yang roboh itu.
Tetapi para prajuritpun telah siap menghadapinya.
Sekelompok prajurit yang membawa perisai di tangan kirinya,
bergerak maju sambil melindunginya dirinya.
Ternyata bahwa para pengikut Ki Gede Lenglengan di pintu
gerbang butulan itu sulit untuk membendung arus yang
mendesak dari luar, yang datang melanda dengan derasnya
seperti arus air yang meluap dari bendungan yang dadal.
Dengan demikian, maka pertempuranpun mulai merembes ke
dalam lingkungan padepokan. Sementara para prajurit belum
berhasil menembus pertahanan di pintu gerbang utama, karena
para pengikut Ki Gede Lenglengan mempertahankan mati-matian,
sekelompok prajurit yang lain telah berhasil masuk ke dalam
padepokan lewat regol butulan.
Seorang penghubungpun segera memberitahukan kepada
kelompok-kelompok yang lain, agar mereka memasuki pintu yang
sudah berhasil dibuka itu.
Sekelompok prajurit yang memasuki regol butulan yang
terbuka itupun langsung berlari-larian ke pintu gerbang induk.
Beberapa di antara mereka terhenti karena para pengikut Ki Gede
Lenglengan telah menghambatnya. Namun sebagian yang lain
telah berhasil mencapai pintu gerbang induk.
Dengan mengerahkan kekuatan yang ada, mereka telah
menyerang para pengikut Ki Gede Lenglengan yang bertahan di
pintu gerbang induk itu dari belakang.
Mereka yang mempertahankan pintu gerbang induk itu
terkejut. Baru mereka sadari, bahwa salah satu pintu butulan
tentu sudah terbuka, sehingga para prajurit itu dapat memasuki
dinding padepokan. Bahkan semakin lama menjadi semakin
banyak.
Sura Sangga yang memimpin para cantrik di halaman depan,
masih saja berteriak-teriak memberikan aba-aba. Namun karena
prajurit Pajang masih saja mengalir, maka para cantrik yang
mempertahankan pintu gerbang utama itu telah mengalami
kesulitan. Mereka harus bertempur melawan pasukan yang
datang dari luar. Tetap mereka pun harus menghadapi para
prajurit yang sudah berhasil memasuki padepokan itu.
Apalagi ketika sekelompok prajurit telah berhasil membuka
satu pintu butulan lagi dari dalam. Mereka mengangkat selarak
yang berat dan kemudian membuka pintu regol butulan itu.
Ki Gede Lenglengan dan Ki Cakrawara tidak dapat tinggal
diam. Setiap kali pengikutnya telah datang menemui mereka,
memberikan laporan tentang arus prajurit Pajang yang tidak
terbendung.
“Kau yakin, bahwa mereka adalah prajurit Pajang?”
“Ya, Ki Gede. Nampak beberapa tunggul yang dibawa oleh para
prajurit. Ada pula kelebet lambang kelompok-kelompok di dalam
kesatuan mereka lebih besar.”
“Bagaimana mereka dapat mengetahui tempat ini?”
“Tentu ada pengkhianatan. Bukankah aku sudah
memperingatkanmu, bahwa di antara mereka yang tertangkap,
tentu akan dapat terungkap keterasingan padepokanmu ini?”
sahut Ki Cakrawara.
“Pengkhianat itu tentu akan dikutuk sepanjang jaman.”
“Kalau ia terkutuk sepanjang jaman, apa yang akan terjadi
padanya?”
“Ia akan dibakar di api neraka.”
“Apakah mereka percaya kepada neraka?”
“Tentu. Setiap orang harus mempercayainya.”
“Kau juga percaya?”
Ki Gede Lenglengan termangu-mangu sejenak.
Namun sambil tertawa Ki Cakrawara itupun berkata, “Jika
kau percaya bahwa orang-orang yang terkutuk akan masuk
neraka, maka kau tidak akan berbuat sebagaimana kau lakukan
selama ini.”
“Kau juga.”
“Itulah anehnya.” Namun Ki Cakrawara itupun berkata,
“Sudahlah. Waktu kita sedikit. Kita akan turun ke medan.”
Ki Gede Lenglengan menarik nafas dalam-dalam. Katanya,
“Kita tidak perlu cemas. Tidak ada orang yang dapat
mengimbangi ilmuku. Aku akan membunuh mereka seorang demi
seorang sampai orang yang terakhir.”
“Dan kau masih juga mengatakan, bahwa kau percaya bahwa
orang-orang yang terkutuk akan dilemparkan ke neraka?”
“He?”
“Sudahlah. Turunlah ke medan. Kau tidak boleh terlalu
sombong dan merendahkan lawan-lawanmu. Kau akan
menyesal.”
Tetapi Ki Gede Lenglengan tertawa. Katanya, “Aku tidak
pernah merendahkan lawan-lawanku. Salah mereka jika mereka
benar-benar rendah di mataku. Tidak akan ada orang yang
mampu menyamai kemampuanku sekarang ini.”
Ki Cakrawarapun kemudian telah beranjak dari tempatnya
sambil berkata, “Aku akan melihat medan. Terserah kepadamu.
Padepokan ini adalah padepokanmu. Jika kau masih akan duduk
sambil melamun, lakukanlah. Tetapi kau akan terkejut jika tibatiba
ujung sebilah keris melekat di lehermu.”
Ki Gede Lenglengan tidak menjawab. Tetapi ia tertawa
berkepanjangan.
Dalam pada itu, Ki Cakrawarapun telah turun ke longkangan
di belakang bangunan utama Padepokan Watukambang. Bersama
dengan dua orang pengawalnya, Ki Cakrawara itupun melangkah
ke samping. Dari longkangan sudah terdengar riuhnya
pertempuran. Beberapa orang telah berteriak-teriak keras sekali.
Sementara itu di sisi yang lain, sekelompok orang bersorak-sorak
menyoraki kemenangan-kemenangan kecil yang mereka dapatkan
di medan.
Langkah Ki Cakrawara tertegun. Ki Gede Lenglengan telah
memanggilnya.
“Aku pergi bersamamu, Ki Cakrawara,” berkata Ki Gede
Lenglengan.
Ki Cakrawara memang menunggu Ki Gede Lenglengan yang
diikuti oleh sepuluh orang pengawalnya yang terbaik.
“Di mana pemimpin mereka?” bertanya Ki Gede Lenglengan
kepada orangnya yang memberikan laporan kepadanya itu.
“Kami tidak tahu, Ki Gede. Yang kami ketahui hanyalah
pemimpin-pemimpin kelompok di antara mereka. Tetapi kami
belum melihat senapati mereka yang memegang pimpinan
tertinggi pasukan Pajang itu.”
“Mungkin senapati itu mempergunakan ciri khusus. Tetapi
mungkin pula tidak.”
“Kita tidak usah mencarinya,” berkata Ki Cakrawara. “Jika
kita berada di halaman depan, membunuh lawan sebanyakbanyaknya,
maka pemimpin mereka tentu akan menemui kita.”
Ki Gede Lenglengan tertawa. Katanya, “Aku setuju. Aku pun
akan membunuh sebanyak-banyaknya. Bahkan prajurit Pajang
yang ada di halaman depan itu akan mati semuanya jika kita
berada di antara mereka.”
Ki Cakrawara tidak menjawab. Tetapi ia melangkah semakin
cepat menuju ke halaman depan Padepokan Watukambang.
Tetapi langkah mereka tertegun. Sekelompok prajurit berlarilari
ke arah mereka.
Para pengawal Ki Gede Lenglengan dan Ki Cakrawara segera
menyongsong para prajurit itu, sehingga merekapun segera
terlibat dalam pertempuran.
Ki Cakrawara dan Ki Gede Lenglengan sempat menyaksikan
pertempuran itu sejenak. Namun merekapun kemudian telah
meninggalkan mereka. Berdua, tanpa seorang pengawal pun
keduanya pergi ke halaman depan.
Para prajurit yang bertempur dengan para pengawal Ki Gede
dan Ki Cakrawara itu tidak sempat meninggalkan lawan-lawan
mereka karena mereka segera terlibat dalam pertempuran yang
sengit.
Para pengawal terpilih itu segera telah mendesak sekelompok
prajurit yang menyerang mereka dengan hentakan-hentakan yang
sempat mengejutkan.
Namun para prajurit itupun segera bangkit. Mereka adalah
prajurit yang telah mengalami latihan khusus untuk menghadapi
tugas yang terberat sekalipun.
Karena itu, maka sekelompok prajurit itupun segera
menghimpun kekuatan mereka mengimbangi hentakan-hentakan
para pengawal Ki Gede Lenglengan dan Ki Cakrawara.
Dengan demikian, maka pertempuranpun menjadi semakin
sengit. Kedua belah pihak memiliki kelebihan dari yang lain,
sehingga mereka saling menyerang, saling mendesak dan saling
bertahan.
Dalam pada itu, Ki Cakrawara dan Ki Gede Lenglengan telah
berada di halaman depan. Mereka menyaksikan pertempuran
yang menjadi semakin seru. Prajurit Pajang yang memasuki
halaman depan itu menjadi semakin banyak.
Ki Cakrawara termangu-mangu sejenak melihat kesigapan
para prajurit Pajang. Mereka adalah prajurit-prajurit yang benarbenar
telah terlatih dengan baik.
“Kau biarkan saja orang-orangmu semakin menyusut?”
bertanya Ki Cakrawara.
“Gila, orang-orang Pajang. Mereka mengira bahwa hanya
mereka sajalah yang mampu bertempur dengan garang.”
“Jangan tunggu sampai orangmu yang terakhir.”
Ki Gede Lenglenganpun menggeram. Iapun kemudian
melangkah memasuki medan pertempuran bersama Ki
Cakrawara.
Kedua orang itu ternyata adalah orang-orang yang terlalu
garang. Ketika para prajurit menyadari bahwa keduanya adalah
orang yang berilmu tinggi, maka para prajurit itupun segera
bertempur di dalam kelompok-kelompok kecil untuk menghadapi
Ki Cakrawara dan Ki Gede Lenglengan.
Namun kelompok-kelompok kecil itu ternyata tidak mampu
menahan gerak Ki Cakrawara dan Ki Gede Lenglengan. Satu-satu
prajurit yang bertempur dalam kelompok-kelompok kecil itu
terlempar dari arena.
Ki Cakrawara dan Ki Gede Lenglengan memang benar-benar
berniat melaksanakan niatnya untuk membunuh lawan
sebanyak-banyaknya.
Namun tiba-tiba saja Ki Gede Lenglengan tertegun. Seperti
melihat hantu, ia melihat seorang tua yang menguak prajurit
Pajang yang sedang bertempur itu.
“Apakah aku berhadapan dengan hantu?” desis Ki Gede
Lenglengan.
Ki Cakrawara yang mendengar suara Ki Gede itupun meloncat
mendekatinya sambil bertanya, “Ada apa?”
“Orang itu.”
“Kenapa dengan orang itu?”
Ki Gede Lenglengan tidak segera menjawab. Orang tua itulah
yang melangkah semakin lama menjadi semakin dekat.
Orang itu berhenti beberapa langkah di depan Ki Gede
Lenglengan yang telah ditinggalkan oleh sekelompok prajurit
Pajang yang bertempur melawannya.
Ki Cakrawarapun telah berhenti bertempur pula. Ia melihat
betapa wajah Ki Gede Lenglengan menjadi tegang seakan-akan Ki
Gede itu benar-benar melihat hantu.
“Kau masih ingat kepadaku, Lenglengan?” bertanya orang
yang melangkah mendekat itu.
Ki Gede Lenglengan menjadi sangat tegang. Dipandanginya
orang itu dengan tajamnya, seakan-akan sorot matanya itu
langsung menembus sampai ke jantung.
“Kau tentu tidak lupa kepadaku, Lenglengan. Aku memang
bertambah tua dari tahun ke tahun. Tetapi dalam beberapa
tahun terakhir ini, aku tidak terlalu banyak berubah. Aku tahu
itu, jika aku bercermin di belumbang.”
“Iblis tua .Bukankah kau sudah mati?”
“Kaulah yang mengira bahwa aku sudah mati. Tetapi aku
belum mati, Lenglengan. Jika aku sudah mati, maka tentu aku
sekarang tidak akan berada di sini.”
“Siapa orang ini, Ki Gede?” bertanya Ki Cakrawara.
“Ajar Permati. Namanya Ajar Permati. Ia sudah mati beberapa
tahun yang lalu. Aku sendiri melemparkan mayatnya ke dalam
jurang. Tetapi agaknya ia telah menjadi hantu atau iblis, sehingga
ia sempat datang kepadaku pada waktu yang gawat seperti ini.”
“Kau terlalu tergesa-gesa mengambil kesimpulan pada waktu
itu, Lenglengan. Ternyata waktu aku kau lemparkan ke jurang
itu, aku belum mati.”
“Jadi, kaulah yang menjadi cecunguk para prajurit Pajang ini?
Kau bawa mereka untuk membalas dendam kepadaku?”
“Bukan aku. Aku memang bekerja sama dengan para prajurit
Pajang, Lenglengan. Tetapi tidak semata-mata untuk membalas
dendam. Aku datang untuk menghentikan kegiatanmu,
mempersiapkan kekacauan di masa depan. Para prajurit Pajang
telah menenun usahamu meracuni anak-anak muda, bekerja
sama dengan Harya Wisaka, untuk membentuk apa yang kalian
namakan angkatan mendatang.”
“Omong kosong. Kau tidak tahu apa-apa tentang angkatan
mendatang.”
“Aku memang tidak tahu apa-apa. Para prajurit Pajanglah
yang tahu tentang angkatan mendatang itu. Karena itu, mereka
telah datang kemari.”
“Kau manfaatkan kesempatan ini untuk membalas dendam?”
“Lenglengan, jika kau mau menyerah kepada para prajurit
Pajang, maka aku akan melupakan apa yang telah terjadi. Buat
apa aku mendendammu?”
“Kau licik, Permati. Kau hadapi aku dengan cara yang tidak
pantas.”
“Aku tidak tahu maksudmu, Lenglengan.”
“Jika kau datang tanpa prajurit Pajang, aku akan
menghormatimu. Jika kau ingin membuat penyelesaian antara
dua orang laki-laki, aku akan melayanimu. Tetapi cara yang kau
tempuh ini sangat memuakkan.”
“Lenglengan, sudah aku katakan, bahwa prajurit Pajang itu
datang karena kau berdiri di pihak Harya Wisaka. Bahkan kau
sudah mempersiapkan apa yang kau sebut angkatan mendatang.
Karena itu, maka Pajang merasa perlu untuk menghancurkan
padepokan ini. Karena itu, sebelum pertumpahan darah ini
menjadi semakin berlarut, menyerah sajalah. Jika kau menyerah,
persoalan di antara kita pun akan aku lupakan.”
“Permati, kau akan melihat bahwa sebentar lagi orang terakhir
dari prajurit Pajang itu akan mati. Aku akan membunuh mereka
semuanya. Tidak seorang pun akan tertinggal. Nah, kemudian
kita akan menyelesaikan persoalan kita.”
“Sudahlah. Jangan berbelit-belit. Sebaiknya kau segera
menyerah. Dengan demikian, maka jumlah kematian akan
dikurangi. Sementara itu persoalan di antara kitapun akan kita
anggap sudah selesai.”
“Cukup, Permati. Kau tidak usah banyak bicara. Jika kau
memang datang untuk menjajagi kemampuanku, aku akan
melayanimu.”
“Baiklah, Lenglengan. Jika kau benar-benar mengeraskan
hatimu.”
“Aku selesaikan tugasku sebagai pemimpin padepokan ini
dahulu, Permati. Baru akan melayanimu.”
“Tidak. Aku tidak akan membiarkan kau membunuh lagi.
Menurut pendapatku, kau sudah terlalu banyak membunuh.”
“Tetapi aku masih akan membunuh lagi. Setidak-tidaknya
seorang.”
“Aku tahu. Tentu akulah yang kau maksud. Tetapi kau akan
kecewa bahwa kau tidak akan berhasil melakukannya.”
Ki Gede Lenglengan tertawa. Katanya, “Kau sedang berkhayal,
Permati.”
Namun Cakrawara tiba-tiba menyela, “Kenapa kau hanya
berbicara saja, Lenglengan? Lakukan yang akan kau lakukan.
Aku akan berada di antara mereka yang sedang bertempur. Jika
kau tidak dapat melakukannya karena kau melayani orang itu,
biarlah aku membunuh semua prajurit yang ada di halaman ini.”
Ki Gede Lenglengan mengangguk. Katanya, “Biarlah. Biarlah
Sura Sangga membantumu. Sebelum matahari sampai ke
puncak, semua prajurit yang memasuki padepokan ini sudah
akan mati. Ajar yang malang inilah yang justru akan mati lebih
dahulu.”
Ki Ajar Permati tidak menjawab. Tetapi ia tersenyum sambil
bergeser selangkah surut.
Seperti yang dikatakannya, maka Ki Cakrawarapun segera
meninggalkan Ki Gede Lenglengan terjun ke medan pertempuran.
Dengan ilmunya yang sangat tinggi, maka Ki Cakrawara yakin,
bahwa ia akan dapat membunuh seberapa saja yang ia
kehendaki. Apalagi di halaman itu terdapat juga para pengikut Ki
Gede Lenglengan yang dipimpin oleh Sura Sangga.
Dengan garangnya, maka Ki Cakrawara itu bertempur
menghadapi sekelompok kecil prajurit Pajang. Dalam waktu yang
singkat, dua di antara para prajurit terpilih dari Pajang itu telah
terlempar dari arena. Meskipun mereka masih dapat bangkit
berdiri, namun dari mulut mereka mengalir darah. Dada mereka
terasa bagaikan terhimpit oleh sebongkah batu karang. Sehingga
karena itu, maka keduanya sudah tidak mampu lagi untuk
bertempur melawan Ki Cakrawara yang garang itu.
Sekejap kemudian, maka seorang prajurit Pajang menggeliat
ketika lambungnya tersentuh tiga jari-jari tangan Ki Cakrawara.
Namun prajurit itupun segera jatuh terbaring di tanah, sehingga
hampir saja tubuhnya justru terinjak oleh kawannya sendiri.
Namun kawan-kawannya masih belum sempat mengangkat
dan menyingkirkan tubuh itu menepi. Ki Cakrawara benar-benar
menjadi sangat garang. Jari-jari tangannya yang kokoh
mengembang, menerkam orang-orang terdekat. Ketika jari-jari itu
sempat menyentuh pundak seorang prajurit, maka pundak
itupun terkoyak.
Namun Ki Cakrawara itu terkejut ketika di antara prajurit
Pajang itu terdapat seorang yang masih terhitung muda, langsung
menghadapinya. Bahkan orang itu pun telah minta kepada para
prajurit untuk meninggalkannya.
“Serahkan orang ini kepadaku,” berkata orang yang masih
terhitung muda itu.
Ki Cakrawara meloncat surut. Diamatinya orang itu dengan
seksama. Namun tiba-tiba saja iapun berdesis, “Kaukah Pangeran
Benawa?”
“Kau pernah mengenal aku? Kapan dan di mana?” bertanya
Pangeran Benawa.
“Kau dikenali setiap orang di kotaraja. Kau sering berkuda
berkeliling kota. Kau sering bermain sodoran di alun-alun. Kau
justru berada di mana-mana. Bahkan di pasar dan di pasar
hewan.”
“Kau kenali aku meskipun aku tidak mengenakan pakaian
kepangeranan?”
“Mataku lebih tajam dari mata burung hantu di malam hari,
Pangeran. Mungkin orang lain tidak dapat mengenalimu. Tetapi
kau tidak dapat mengelabuhi aku.”
“Baik. Aku tidak akan ingkar. Aku memang Benawa.”
“Kenapa Pangeran berada di sini dalam keadaan yang buruk
ini, bahkan akan dapat membahayakan jiwa Pangeran?”
“Aku berada di dalam pasukan Pajang yang datang untuk
menangkap Ki Gede Lenglengan.”
“Kenapa Ki Gede Lenglengan harus ditangkap?”
“Kau tentu tahu jawabnya,” sahut Pangeran Benawa. Namun
kemudian iapun bertanya, “Kau siapa, Ki Sanak?”
“Namaku Cakrawara, Pangeran. Aku dikenali sebagai seorang
yang memiliki ilmu siluman, meskipun sebenarnya tidak. Ilmuku
adalah ilmu yang wajar-wajar saja. Tetapi karena aku ditempa
oleh seorang yang ilmunya sangat tinggi dan kemudian aku
berhasil menyadap sampai tuntas, maka aku pun berilmu sangat
tinggi.”
“Mengagumkan. Karena itu agaknya maka kau dapat
menghalau beberapa orang prajurit dalam waktu dekat.”
“Ya. Dalam waktu yang pendek, prajurit-prajurit Pajang di
padepokan ini akan mati. Apalagi setelah Ki Gede Lenglengan
membunuh orang tua yang namanya Permati itu, maka para
prajurit Pajang akan segera dilibat oleh angin pusaran yang
dahsyat, sehingga boleh keluar dari padepokan yang tersekat ini
hidup-hidup.”
“Kau tentu bukan murid Ki Gede Lenglengan.”
“Tentu bukan.”
“Apa hubunganmu dengan Ki Gede Lenglengan?”
“Aku sahabatnya. Aku bekerja sama dengan Ki Gede
Lenglengan untuk menangkap masa depan. Setelah Harya Wisaka
ditangkap, maka kami harus menyusun rencana sendiri.”
“Dalam mimpimu kau menganyam masa depan. Bangunlah,
dan hadapi kenyataan ini. Kau tidak akan dapat berbuat banyak
di hadapan para prajurit pilihan.”
“Kau lihat, Pangeran. Dalam waktu sekejap aku telah
menyingkirkan beberapa orang prajurit. Bukankah akan sangat
mudah membunuh mereka? Para cantrik padepokan inilah yang
akan menghabisi mereka yang sudah tidak berdaya.”
“Aku akan menghentikanmu, Cakrawara.”
“Pangeran akan melibatkan diri?”
“Aku sudah melibatkan diri. Aku adalah salah satu dari para
prajurit Pajang itu.”
“Baik. Kaupun memang harus dibunuh karena kau akan
dapat membuka rahasia padepokan yang tersembunyi ini.”
Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya ia
berhadapan dengan seorang yang terlalu yakin akan ilmunya
yang sangat tinggi.
Pangeran Benawapun kemudian bergeser selangkah surut.
Dipersiapkannya dirinya untuk menghadapi segala kemungkinan.
Pangeran Benawapun menyadari, bahwa lawannya memang
seorang yang berilmu tinggi.
“Pangeran,” berkata Ki Cakrawara, “kedatangan Pangeran
agaknya memang sudah menjadi keharusan, bahwa Pajang akan
kehilangan putera mahkotanya. Umur Pajang memang tidak akan
lebih panjang dari umur Sultan Hadiwijaya sendiri.”
Tetapi Pangeran Benawa itu tersenyum. Katanya, “Kau terlalu
yakin akan kemampuanmu. Aku percaya, Cakrawara. Tetapi apa
yang terjadi, tidak hanya tergantung kepadamu saja, tetapi juga
tergantung kepada orang lain, tergantung kepada keadaan dan
lingkungan dan yang menentukan adalah justru Yang Maha
Agung.”
Ki Cakrawara tertawa. Katanya, “Kau mencari sandaran
karena kau mengakui akan kelemahanmu, Pangeran.”
“Ternyata kau tidak mengerti apa yang aku katakan. Baiklah.
Nanti kau akan mengerti, apa yang sebenarnya terjadi.”
Ki Cakrawara masih saja tertawa. Sementara Pangeran
Benawa sudah siap untuk bertempur.
“Sayang sekali, bahwa kau tidak akan berumur panjang,
Pangeran. Tetapi itu adalah karena kesalahanmu sendiri.
Seharusnya, seorang putera mahkota tidak berkeliaran bersama
para prajurit yang sedang bertugas.”
“Aku senang dapat bertemu dengan kau, Cakrawara,” jawab
Pangeran Benawa. “Kau telah melengkapi sifat-sifat orang yang
selama ini aku kenal.”
Cakrawara mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun
berkata, “Jaga dirimu baik-baik, Pangeran.”
Pangeran Benawa tidak menjawab lagi. Ketika kemudian
Cakrawara itu menyerang, maka Pangeran Benawapun bergeser
menghindar.
Sejenak kemudian, maka keduanyapun telah terlibat dalam
pertempuran yang semakin lama semakin sengit.
Namun dengan demikian, maka Pangeran Benawa tidak
sempat untuk ikut menjaga agar Ki Gede Lenglengan tidak
meninggalkan medan jika ia terdesak oleh Ki Ajar Permati.
“Mudah-mudahan Paksi dapat melakukannya,” berkata
Pangeran Benawa di dalam hatinya.
Namun Paksipun ternyata harus bertempur menghadapi
seorang yang memiliki kelebihan dari orang yang lain. Ketika ia
melihat Sura Sangga mengamuk, maka Paksi tidak dapat
membiarkannya.
Sura Sangga dengan beberapa orang cantrik dari Padepokan
Watukambang itu bertempur dengan garangnya. Para cantrik itu
sendiri tidak terlalu banyak dapat berbuat menghadapi para
prajurit yang terlatih dengan baik. Tetapi agaknya Sura Sangga
memiliki kelebihan. Sambil berteriak-teriak memberikan
perintah-perintah yang dapat membesarkan hati para cantrik itu,
Sura Sangga yang bersenjata sebuah golok yang besar telah
mengaduk medan.
Ketika seorang anak muda tiba-tiba saja telah memasuki
lingkaran pertempuran, maka Sura Sangga menjadi sangat
marah. Dengan garang iapun berkata, “Marilah, anak muda, jika
kau ingin membunuh diri.”
Kepada para prajurit Paksipun berkata, “Biarlah aku mencoba
menahannya.”
Para prajurit yang mengenal Paksi dengan baik, segera
bergeser menjauhi Sura Sangga. Mereka percayakan Sura Sangga
yang garang itu kepada Paksi, anak muda yang membawa
tongkat di medan pertempuran itu.
“Sebut nama ibu bapakmu, anak muda. Kau akan segera
mati.”
“Bapakku bernama Tumenggung Sarpa Biwada.”
“He, kau anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada?”
“Ya.”
“Omong kosong. Anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidak
akan berada di antara prajurit Pajang. Ia adalah salah seorang
pemimpin yang membantu perjuangan Harya Wisaka. Seorang
anaknya berada di sini.”
“Di mana ia sekarang?”
“Kau mau apa? Anak itu sudah terlindung dengan baik.”
“Biarlah ia menyebut tentang diriku. Apakah aku anak
Tumenggung Sarpa Biwada atau bukan.”
“Jika kau benar anak Tumenggung Sarpa Biwada, maka kau
tentu sudah mengkhianati ayahmu sendiri.”
“Ya. Aku memang sudah mengkhianati ayahku sendiri.”
“Jika demikian, buat apa kau cari saudaramu itu?”
“Aku memerlukannya.”
“Persetan dengan kau, pengkhianat. Kau akan mati di sini.”
Paksi tidak menjawab lagi. Apalagi Sura Sanggapun telah
meloncat menyerang dengan garangnya. Goloknya yang besar dan
panjang itu terayun-ayun mengerikan.
Namun Sura Sanggapun terkejut ketika goloknya yang besar
itu membentur tongkat Paksi. Nampaknya anak muda itu tidak
perlu mengerahkan tenaganya untuk menepis goloknya yang
terayun ke arah lambungnya.
“Gila anak ini,” geram Sura Sangga.
Paksi mendengar geram itu, tetapi ia tidak menyahut. Bahkan
tongkatnya telah terjulur lurus mengenai lawannya.
Sura Sangga berteriak kesakitan. Iapun terdorong beberapa
langkah surut. Bahkan kemudian Sura Sangga itupun berteriakteriak
mengumpat kasar.
Telinga Paksipun terasa panas mendengarnya. Karena itu,
maka iapun segera menyerang lawannya dengan tangkasnya.
Namun justru itu, Sura Sangga itu mengumpat semakin kotor.
Tetapi Sura Sangga itu terdiam ketika tongkat Paksi tepat
mengenai tengkuknya. Sura Sangga itu terdorong beberapa
langkah justru ke depan. Kemudian iapun jatuh tertelungkup.
Wajahnya yang tersuruk ke tanah itu menjadi kotor oleh debu
yang melekat pada keningnya yang basah oleh keringat. Bahkan
wajah Sura Sangga itupun menjadi terluka. Dahinya terkelupas,
sehingga darahpun mengalir dari luka itu.
Tetapi Paksi tidak sempat menyelesaikan lawannya yang jatuh
tersuruk itu. Beberapa orang cantrik dari padepokan itu hampir
bersamaan telah menyerang Paksi serentak.
Namun Paksi cukup tangkas. Dengan cepat ia meloncat,
melenting sambil memutar tongkatnya. Sebuah pedang terlempar
dari tangan seorang cantrik. Ketika cantrik yang lain
menyerangnya dengan tombak pendek, maka dengan cepat Paksi
mengungkit tombak itu sehingga terlepas dari tangan cantrik
yang lain itu, terlempar ke udara, jatuh beberapa langkah dari
cantrik itu.
Ketika kemudian Sura Sangga bangkit berdiri, maka tulangtulangnyapun
seakan-akan telah menjadi retak. Tengkuknya
terasa sakit sekali. Demikian pula luka di dahinya terasa pedih,
sementara darah dari luka di dahinya itu mengalir membasahi
wajahnya.
Kemarahan Sura Sangga telah membakar seluruh isi dadanya.
Dengan geram iapun berkata, “Aku bunuh kau, pengkhianat.”
“Darahmu semakin banyak mengalir,” berkata Paksi. “Kau
nampak seperti seorang yang terluka parah. Padahal dahimu
hanya lecet sedikit saja tergores batu padas.”
“Persetan, kau.” Mata Sura Sangga bagaikan menyala.
Tetapi Sura Sangga tidak lagi setangkas sebelumnya. Namun
beberapa orang cantrik telah membantunya.
Paksi memang sedikit mengalami kesulitan. Tetapi kesulitan
itu membuatnya menjadi semakin panas. Tongkatnya berputar
semakin cepat. Serangan-serangannyapun menjadi semakin
garang.
Seorang demi seorang lawannya telah terlempar dari arena.
Sementara Sura Sangga menjadi lamban.
Meskipun demikian. Sura Sangga itu masih saja mengumpatumpat
dan sekali-sekali berteriak, “Aku bunuh kau.”
Paksi menjadi semakin marah ketika seorang cantrik telah
melontarkan tombaknya. Dalam kesibukannya, Paksi terlambat
mengelak. Tombak yang mengarah ke punggungnya itu sempat
melukai lengannya sehingga lengannya itu berdarah.
Paksi yang sempat melihat cantrik yang melemparkan tombak
itu tidak memaafkannya. Darahnya yang mulai panas, serta
keringatnya yang telah membasahi seluruh pakaiannya,
membuatnya sulit untuk mengendalikan dirinya. Karena itu,
maka dengan cepatnya ia meloncat sambil mengayunkan
tongkatnya.
Cantrik itu memang mencoba untuk mengelak dengan
meloncat ke samping. Tetapi ayunan tongkat Paksipun berputar.
Kemudian tongkat itu justru mematuk perutnya, sehingga cantrik
itupun terbungkuk kesakitan.
Paksi tidak membiarkannya. Dengan kerasnya Paksi memukul
tengkuk cantrik itu, sehingga cantrik itupun terjerembab jatuh.
Daya tahan cantrik itu tidak sebesar daya tahan Sura Sangga.
Demikian cantrik itu jatuh menelungkup, maka nafasnyapun
telah terhenti, sehingga ia tidak sempat menggeliat.
Namun dalam pada itu, seorang cantrik yang lain sempat
mempergunakan kesempatan itu untuk mengayunkan pedangnya
ke arah punggung Paksi. Tetapi Paksi menyadari datangnya
serangan dari belakangnya itu. Karena itu, maka Paksipun justru
meloncati tubuh cantrik yang jatuh terjerembab itu dan
menjatuhkan dirinya pada punggungnya. Sekali ia berguling,
kemudian meloncat bangkit dengan cepatnya.
Dalam pada itu, keadaan Sura Sangga sudah berangsur baik.
Karena itu, maka Sura Sangga itupun telah menyerang Paksi
pula sambil berteriak nyaring.
Teriakan itu membuat jantung Paksi menjadi semakin
membara. Karena itu, maka Paksi yang berhasil menghindari
ayunan golok Sura Sangga itu telah menyerangnya dengan cepat.
Tongkatnya berhasil memukul dada Sura Sangga dengan
kerasnya. Kemudian terayun sekali lagi mengenai kening orang
yang garang itu.
Sura Sangga itupun terhuyung-huyung ke samping. Sebelum
ia sempat menyadari apa yang telah terjadi, tongkat Paksi
terayun dengan deras sekali menghantam bagian belakang
kepalanya.
Terdengar Sura Sangga itu berteriak nyaring. Namun
suaranyapun kemudian segera patah. Sura Sangga itu jatuh di
tanah seperti sebatang pohon pisang yang rebah.
Paksi tidak sempat merenungi tubuh Sura Sangga. Beberapa
orang cantrik menyerangnya bersama-sama. Namun dengan
tangkasnya Paksi melawan mereka.
Dalam pada itu, pertempuran masih saja membakar
padepokan itu. Ki Ajar Permati dan Ki Gede Lenglenganpun telah
terlibat dalam pertempuran yang sengit. Keduanya adalah orangorang
yang berilmu tinggi. Mereka mempunyai persoalan
tersendiri yang membuat jantung keduanya semakin membara.
Ki Gede Lenglengan yang merasa pernah membunuh dan
melemparkan mayat Ki Ajar Permati ke dalam jurang, rasarasanya
tidak mau menerima kenyataan, bahwa Ki Ajar Permati
itu telah datang ke padepokan yang telah direbutnya dengan licik
itu. Bahkan Ki Ajar Permati itu telah menantangnya untuk
bertempur.
Sementara itu, betapapun Ki Ajar Permati berusaha untuk
meredam dendam di dadanya, namun ketika Ki Ajar itu mulai
bertempur melawan Lenglengan yang pernah ditolongnya namun
yang kemudian meracuninya, maka dendam itu rasa-rasanya
mencuat pula ke permukaan.
Dengan demikian, maka keduanyapun telah meningkatkan
kemampuan mereka untuk dapat mengalahkan lawannya.
Lenglengan yang telah menempa diri beberapa tahun di saatsaat
terakhir memang ingin menjajagi kemampuan ilmu Ki Ajar
Permati. Karena itu, Ki Gede Lenglengan tidak segera sampai ke
puncak ilmunya. Ia ingin tahu, sampai di mana batas
kemampuan Ki Ajar Permati yang pernah memimpin Padepokan
Watukambang itu.
Sementara itu, Ki Ajar Permatipun ingin tahu pula puncak
kemampuan Ki Gede Lenglengan. Karena itu seperti juga Ki Gede
Lenglengan, maka Ki Ajar Permatipun meningkatkan ilmunya
selapis demi selapis pula.
Namun akhirnya keduanya menyadari, bahwa mereka berdua
telah mencapai tataran ilmu yang sangat tinggi, sehingga
merekapun harus mengerahkan ilmu mereka masing-masing.
Dengan demikian, maka pertempuran di antara merekapun
telah berlangsung dengan dahsyatnya. Serangan-serangan
merekapun datang silih berganti. Bahkan kemudian telah terjadi
pula benturan-benturan ilmu yang seakan-akan telah
menggetarkan udara di halaman Padepokan Watukambang.
Di sisi lain, orang yang merasa ilmunya tidak tertandingi,
bertempur dengan sengitnya melawan Pangeran Benawa. Namun
Ki Cakrawarapun harus segera menyadari, bahwa Pangeran
Benawa yang masih muda itu memiliki tataran ilmu yang tidak
dapat diremehkannya.
Ketika benturan-benturan terjadi, maka Ki Cakrawara dapat
menjajagi kemampuan Pangeran Benawa yang mengagumkan itu.
“Anak Karebet ini tentu mewarisi sebagian dari ilmu ayahnya,”
berkata Cakrawara di dalam hatinya.
Karena itu, maka Ki Cakrawara tidak ingin membiarkan
pertempuran itu berlangsung terlalu lama. Ia harus segera
menyelesaikan anak Karebet itu. Kemudian membunuh para
prajurit Pajang yang berada di halaman.
Dengan demikian, maka Ki Cakrawara itu telah meningkatkan
ilmu sampai ke puncak. Ia ingin segera menggilas putera
mahkota yang telah berkeliaran sampai ke Padepokan
Watukambang.
Ketika Ki Cakrawara itu menghentakkan ilmunya, maka
Pangeran Benawa memang terdesak beberapa saat. Tetapi sesaat
kemudian, Pangeran Benawapun telah menjadi mapan kembali.
Serangan-serangan Ki Cakrawarapun kemudian datang
dengan dahsyat, seperti prahara yang berusaha mengguncang
bukit. Namun Pangeran Benawa yang kokoh seperti bukit karang
itu tidak mudah tergoyahkan.
Pangeran Benawa memang merasakan udara panas
melibatnya. Ayunan tangan Ki Cakrawara seolah-olah telah
menaburkan udara panas di seputar tubuh Pangeran Benawa.
Namun dari tubuh Pangeran Benawa seakan-akan telah
mengembun udara yang dingin, yang dapat meredam panas di
seputar tubuhnya.
Ki Cakrawara memang tidak menduga sama sekali, bahwa
tingkat kemampuan ilmu Pangeran Benawa sudah sedemikian
tinggi. Bukan saja udara panas yang ditaburkan tidak mampu
membakar kulit Pangeran Benawa, tetapi justru udara yang
dingin itu terasa di kulit Ki Cakrawara.
“Iblis kecil ini ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi,”
geram Ki Cakrawara di dalam hatinya.
Dengan demikian, maka Ki Cakrawara tidak lagi dapat
menengadahkan dadanya sambil berkata, “Aku akan membunuh
semua prajurit Pajang sampai orang yang terakhir.”
Apalagi pada saat itu, Ki Cakrawara sempat melihat
kegelisahan medan pertempuran. Para cantrik pengikut Ki Gede
Lenglengan rasa-rasanya mulai mendapat kesulitan.
“Dimana Sura Sangga?” bertanya Ki Cakrawara di dalam
hatinya
Namun sorak prajurit Pajang di sisi lain membuat Ki
Cakrawara semakin bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan
Sura Sangga? Pertanyaan itu semakin menekan dadanya.
Namun tiba-tiba saja Ki Cakrawara melihat beberapa orang
pengikut Ki Gede Lenglengan mengusung tubuh yang sudah tidak
berdaya lagi.
Pangeran Benawa yang juga melihatnya, justru ingin tahu,
siapakah yang telah diusung itu. Tentu seorang yang dianggap
penting oleh para pengikut Ki Gede Lenglengan.
Karena itu, maka Pangeran Benawa seakan-akan sengaja
memberi waktu kepada Ki Cakrawara untuk mengetahui,
siapakah orang itu.
Hampir di luar sadarnya Ki Cakrawarapun berteriak,
“Siapakah orang itu?”
Terdengar seseorang menjawab, “Ki Sura Sangga.”
“Sura Sangga? Kenapa? Siapakah yang telah mencederainya
atau bahkan membunuhnya?”
“Seorang anak muda bersenjata tongkat,” jawab orang itu.
Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu, bahwa
anak muda yang bersenjata tongkat itu adalah Paksi.
“Para pengikut Ki Gede Lenglenganlah yang akan habis
sampai orang yang terakhir. Bukan para prajurit Pajang.”
Ki Cakrawara terkejut mendengar suara Pangeran Benawa. Ia
sadar, bahwa iapun sedang terlibat dalam pertempuran melawan
seorang yang berilmu tinggi.
Namun Ki Cakrawarapun mengerti, bahwa lawannya yang
masih muda itu telah memberinya kesempatan. Ia tidak
memanfaatkan kelengahannya ketika perhatiannya tertuju
kepada Sura Sangga yang sudah tidak berdaya itu.
“Nah,” berkata Pangeran Benawa kemudian, “bagaimana
dengan kau?”
“Persetan dengan Sura Sangga yang rapuh itu. Sudah
sepantasnya ia mati.”
“Sudah sepantasnya semua cantrik dari padepokan ini mati.
Kecuali mereka yang menyerah. Kau pun akan mati juga jika kau
tidak menyerah.”
“Apa? Aku? Kau kira aku ini siapa, Pangeran? Meskipun kau
bertulang baja berkulit tembaga, kau tidak akan dapat
mengalahkan aku.”
Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, “Semakin banyak
kawan-kawanmu mati, maka kau akan menghadapi lawan
semakin banyak.”
“Aku tidak peduli. Bahkan seandainya ayahmu, Sultan
Hadiwijaya ada di sini.”
“Jangan menyebut ayahandaku. Kehadiranku di sini sudah
mewakilinya.”
“Sejak mudanya, ayahmu memang pengecut. Ia tidak pernah
berani hadir di pertempuran manapun juga.”
“Kau membuat darahku mendidih. Udara panasmu tidak
membuat jantungku membara. Tetapi kata-katamu itu membuat
telingaku seperti disentuh api.”
“Jika kau akan marah, marahlah. Kita sudah berada di
medan. Kau dapat berbuat apa saja. Tetapi aku pun dapat
berbuat sekehendakku pula.”
Degup jantung Pangeran Benawa serasa menjadi semakin
cepat. Kemarahannya benar-benar telah membakar isi dadanya.
Apalagi ketika Ki Cakrawara itu berkata, “Pangeran, ayahmu itu
tidak lebih dari seekor ayam jantan yang hanya dapat memburu
betina, tetapi tidak berani turun ke gelanggang.”
Pangeran Benawa tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
Dengan demikian, maka Pangeran Benawapun telah
meningkatkan ilmunya sampai ke puncak.
Serangan-serangan Pangeran Benawa kemudian datang
melanda lawannya seperti badai. Dalam ilmu puncaknya,
Pangeran Benawa menjadi sangat berbahaya bagi lawannya.
Dalam pada itu, Ki Ajar Permati dan Ki Gede Lenglenganpun
telah sampai ke puncak kemampuan mereka. Meskipun ilmu
mereka merambat dari lapis ke lapis, namun ternyata ilmu
mereka masih saja tetap berimbang.
Dalam ilmu puncaknya, maka arena pertempuran antara Ki
Ajar Permati melawan Ki Gede Lenglengan itu bagaikan lingkaran
angin pusaran yang dahsyat. Sehingga dengan demikian, maka
baik para pengikut Ki Gede Lenglengan maupun para prajurit
Pajang telah bergeser menjauhinya.
Dalam pada itu, Ki Tumenggung Yudatama bersama tiga orang
pengawalnya sempat memperhatikan arena pertempuran itu
dengan seksama. Ki Yudatama sendiri tidak mengikat diri dengan
seorang lawan tertentu. Tetapi Ki Tumenggung itu seakan-akan
menjelajahi seluruh medan. Sekali-sekali Ki Tumenggung itu
terjun ke arena pertempuran bersama ketiga orang pengawal
terpilihnya jika ia melihat sekelompok prajurit Pajang yang
terdesak. Namun jika keseimbangan telah tercapai lagi, maka Ki
Tumenggungpun telah bergeser meninggalkan kelompok prajurit
Pajang itu.
Di halaman belakang padepokan itu, Ki Tumenggung melihat
lingkaran pertempuran yang nampaknya agak menyulitkan para
prajurit Pajang. Agaknya seorang kepercayaan Ki Gede
Lenglengan bersama beberapa orang yang terpilih, bertempur
dengan garangnya. Sekelompok prajurit Pajang yang bertempur
melawan mereka agaknya telah terdesak.
“Siapa orang itu?” bertanya Ki Tumenggung.
Seorang pengawalnyapun telah menyusup di arena
pertempuran dan menyempatkan diri bertanya, siapakah yang
memimpin sekelompok pengikut Ki Gede Lenglengan yang sedang
mengamuk itu.
“Namanya Wira Sampak.”
Pengawal Ki Tumenggung itupun segera menyampaikannya
kepada Ki Tumenggung Yudatama, bahwa yang memimpin
sekelompok cantrik yang sedang mengamuk itu adalah Wira
Sampak.
Ki Tumenggungpun menggeram. Katanya, “Orang itu harus
dihentikan.”
Demikianlah, Ki Tumenggung bersama ketiga orang
pengawalnyapun segera terjun ke arena pertempuran itu.
Wira Sampak yang melihat kedatangan orang baru itupun
berteriak, “Siapa kau, He? Apakah kau sudah jemu hidup
sehingga kau berani memasuki arena pertempuran ini?”
“Aku Tumenggung Yudatama,” jawab Ki Tumenggung.
“Menyerahlah. Kau akan diperlakukan dengan adil.”
Wira Sampak itu justru tertawa berkepanjangan sehingga
perutnya telah terguncang-guncang. Katanya, “Kau minta aku
menyerah, Ki Tumenggung?”
“Ya.”
“Kau kira aku itu siapa dan kau itu siapa? Kedudukanmu
tidak lebih dari seorang Tumenggung. Apakah kau mampu
menangkap petir sehingga kau berani memerintahkan aku
menyerah?”
“Aku memang tidak dapat menangkap petir. Tetapi aku akan
dapat menangkapmu, karena kau bukan petir.”
“Persetan dengan celotehanmu itu, Ki Tumenggung. Sebaiknya
kau tundukkan kepalamu agar aku dapat memenggalmu dengan
sekali tebas. Kau tidak akan mengalami kesakitan di saat-saat
kematianmu. Besok seluruh prajurit Pajang akan berkabung
karena seorang tumenggung yang dibanggakan telah gugur di
pertempuran.”
Ki Tumenggung Yudatama tidak menjawab lagi. Iapun segera
bergeser maju. Pedang yang sudah di tangannya itupun segera
teracu.
Wira Sampakpun segera bersiap pula. Ia menggenggam
sebuah bindi di tangannya. Dengan garangnya Wira Sampak
itupun telah meloncat menyerang dengan ayunan bindinya yang
besar dan berat.
Tetapi Ki Tumenggungpun cukup tangkas. Dengan cepat
iapun mengelak. Kemudian pedangnya dengan cepat pula terjulur
ke arah lambung.
Tetapi Wira Sampakpun sempat mengelak pula, sehingga
ujung pedang Ki Tumenggung tidak mengenai sasaran.
Demikianlah, sejenak kemudian pertempuran antara
keduanyapun segera meningkat menjadi semakin sengit. Para
cantrik Padepokan Watukambang tidak sempat mendekati
pertempuran itu, karena para pengawal Ki Tumenggungpun
segera menghalanginya.
Sementara itu, para prajurit Pajang yang semula mengalami
kesulitan segera dapat memanfaatkan keadaan itu. Karena Wira
Sampak harus bertempur melawan Ki Tumenggung Yudatama,
sementara para pengawal Ki Tumenggungpun telah terjun pula di
arena, maka lawan para prajurit Pajang itupun telah menyusut.
Dengan demikian, maka para prajurit Pajang itupun telah
mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Mereka tidak
tahu, apakah Ki Tumenggung akan berhasil dengan segera
memenangkan pertempuran, karena menurut penilaian mereka,
Wira Sampak adalah seorang yang berilmu tinggi pula.
Seandainya, Ki Tumenggung mengalami kesulitan, maka satu
dua orang prajurit bersama-sama pengawal Ki Tumenggung itu
akan dapat membantunya sehingga dengan cepat dapat
menguasai keadaan
Karena itu, maka para prajurit Pajang itupun telah
mengerahkan sisa kemampuan mereka untuk melindas para
pengikut Ki Gede Lenglengan.
Dengan demikian maka pasukan para pengikut Ki Gede
Lenglengan itulah yang kemudian mengalami kesulitan.
Ternyata bahwa kemampuan Ki Wira Sampak tidak
menggetarkan sebagaimana kata-katanya. Ketika Ki Yudatama
mengerahkan kemampuannya, maka Wira Sampak itupun segera
terdesak. Senjatanya yang terayun-ayun mengerikan itu tidak
mampu menyentuh tubuh Ki Tumenggung Yudatama. Bahkan
ujung pedang Ki Tumenggunglah yang kemudian mulai
menggores kulitnya.
Wira Sampak itu mengumpat kasar ketika tangan kirinya
meraba bahunya yang berdarah. Kemarahannyapun kemudian
telah menyala, membakar jantungnya. Sambil berteriak nyaring,
Wira Sampak itupun meloncat menyerang dengan ayunan
bindinya yang berat.
Tetapi Ki Tumenggung telah menebas bindi yang terayun itu,
sehingga bergeser ke samping. Justru pada saat itu, kaki Ki
Tumenggung terayun dengan derasnya menghantam lambung
Wira Sampak sehingga Wira Sampak itu terdorong beberapa
langkah surut.
Hampir saja Wira Sampak itu kehilangan keseimbangannya.
Namun bertelekan pada bindinya, Wira Sampak masih tetap
dapat bertahan untuk tidak jatuh terguling di tanah.
Namun Ki Tumenggung tidak memberinya kesempatan.
Demikian Wira Sampak berdiri tegak, maka pedang Ki
Tumenggung itu menebas mendatar.
Wira Sampak masih sempat bergeser surut selangkah,
sehingga ujung pedang Ki Tumenggung tidak menggores dadanya.
Namun pedang itupun berputar. Ujungnya terjulur menggapai
tubuh Wira Sampak.
Ternyata Wira Sampak tidak mempunyai kesempatan lagi.
Meskipun ia berusaha menangkis dengan bindinya, namun ujung
pedang Ki Tumenggung itu telah menggores lambungnya.
Memang tidak terlalu dalam. Namun darahpun mengalir dari luka
yang menganga itu.
Wira Sampak meloncat beberapa langkah surut untuk
mengambil jarak. Sementara itu, Ki Tumenggung tidak tergesagesa
memburunya. Dibiarkannya Wira Sampak menilai, apa yang
telah terjadi pada dirinya.
“Menyerahlah,” berkata Ki Tumenggung.
Namun Wira Sampak justru mengumpat kasar. Dengan
lantang Wira Sampak itupun justru berteriak, “Aku bunuh kau,
Ki Tumenggung.”
“Kenapa kau tidak mau melihat kenyataan tentang dirimu?
Kau sudah terluka. Darah sudah mengalir dari tubuhmu.
Semakin banyak kau bergerak, maka darahpun akan semakin
banyak mengalir dari luka-lukamu.”
Tetapi Wira Sampak itu justru membentak, “Kaulah yang
harus menyerah, Ki Tumenggung. Tidak ada orang yang dapat
mengalahkan Wira Sampak.”
Kesabaran Ki Tumenggungpun akhirnya sampai pada
batasnya. Apalagi Wira Sampak selalu membentaknya,
mengumpat kasar dan berteriak-teriak mengancam.
Karena itulah, maka ketika Wira Sampak menyerangnya, Ki
Tumenggung tidak memberinya kesempatan lagi.
Ayunan bindi Wira Sampak yang berat itu sama sekali tidak
berhasil menyentuh tubuh Ki Tumenggung. Dengan
merendahkan diri, Ki Tumenggung terhindar dari sambaran bindi
Wira Sampak yang terayun dengan derasnya.
Demikian bindi itu terayun di atas kepalanya, maka Ki
Tumenggung yang sudah kehilangan kesabaran itupun segera
mengakhiri pertempuran. Ki Tumenggung tidak ingin terikat
terlalu lama di tempat itu karena ia harus mengamati seluruh
medan.
Pedang Ki Tumenggungpun terjulur dengan cepat, mematuk
lambung Wira Sampak yang sedang mengayunkan bindinya itu.
Terdengar Wira Sampak berteriak nyaring. Lambungnya telah
terkoyak oleh pedang Ki Tumenggung, sehingga lukanyapun telah
menganga.
Wira Sampak tidak lagi mampu untuk berdiri tegak. Lukalukanya
yang sangat parah itu telah menghentikan mimpimimpinya
tentang keperkasaan dirinya.
Perlahan-lahan Wira Sampak itupun kemudian telah terjatuh
pada lututnya. Ia masih mencoba bertelekan pada bindinya.
Namun kemudian iapun roboh dan terbaring di tanah.
Darah yang hangat mengalir dari luka-lukanya. Terutama dari
lambungnya yang terkoyak.
Beberapa orang pengikut Ki Gede Lenglengan yang
mengetahui peristiwa itu terkejut. Beberapa orang yang
berloncatan mendekatinya telah dihadang oleh para prajurit
Pajang.
Namun Ki Tumenggungpun berkata, “Biarlah orang-orangnya
berusaha menyelamatkan nyawanya. Tetapi bukan berarti bahwa
pertempuran harus berhenti. Kecuali jika mereka semuanya telah
menyerah.”
Tetapi beberapa orang pengikut Ki Gede Lenglengan itu justru
telah menyerang para prajurit yang sedang termangu-mangu
mendengarkan perintah Ki Tumenggung Yudatama.
“Kami masih memberi kesempatan kalian untuk menyerah,”
berkata Ki Tumenggung Yudatama. “Siapa yang ingin
mempergunakan kesempatan itu, pergunakanlah. Tetapi siapa
yang tidak mau menyerah, akan dibinasakan. Kami tidak akan
ragu-ragu menuntaskan pertempuran ini.”
Namun para pengikut Ki Gede Lenglengan tidak segera
memanfaatkan kesempatan itu. Mereka masih saja bertempur
dengan garangnya melawan para prajurit yang kedudukannya
semakin mapan.
Dalam pada itu, seperti yang diperintahkan oleh Ki
Tumenggung Yudatama, para prajurit itu tidak menghalangi dua
orang cantrik yang mencoba untuk membantu Ki Wira Sampak
yang terbaring diam. Namun mereka tidak dapat berbuat apaapa.
Wira Sampak itu sudah tidak bernyawa lagi.
Ki Tumenggung Yudatama tidak menunggui arena
pertempuran itu lebih lama lagi. Bersama ketiga orang
pengawalnya, maka Ki Tumenggungpun telah meninggalkan
lingkaran pertempuran yang sudah tidak mencemaskannya lagi
itu untuk melihat keadaan arena pertempuran yang lain.
Sementara itu, di halaman depan, debupun mengepul tinggi.
Dua pusaran pertempuran telah terjadi di halaman depan. Ki
Cakrawara yang bertempur melawan Pangeran Benawapun sudah
mengerahkan kemampuannya sampai ke puncak. Serangan Ki
Cakrawara datang seperti arus banjir bandang. Namun Pangeran
Benawa adalah seorang yang memiliki ilmu yang tidak dapat
dijajagi oleh lawannya. Jika semula Ki Cakrawara merasa dirinya
tidak terkalahkan, namun kemudian iapun harus mengakui
kenyataan yang terjadi, bahwa Pangeran Benawa adalah seorang
yang berilmu sangat tinggi.
Serangan-serangan Ki Cakrawara bukannya sekedar
menebarkan udara panas yang ternyata mampu diredam oleh
Pangeran Benawa, namun telapak tangan Ki Cakrawara itupun
kemudian seolah-olah telah membara. Ketika telapak tangannya
itu sempat menyentuh kulit Pangeran Benawa, maka sentuhan
itu telah menimbulkan luka bakar yang nyeri.
Namun sentuhan itu bukan saja menimbulkan luka bakar di
kulit Pangeran Benawa, tetapi jantung Pangeran Benawapun
bagaikan telah terbakar pula.
Karena itu, maka serangan-serangan Pangeran Benawa
selanjutnya telah menggulung semua kesempatan bagi Ki
Cakrawara. Kedua tangan Pangeran Benawa itu bergerak dengan
cepat sekali, sehingga seakan-akan tangan Pangeran Benawa
menjadi beberapa pasang.
Ki Cakrawarapun mengalami kesulitan untuk menangkis
serangan Pangeran Benawa. Beberapa kali Ki Cakrawara
berusaha untuk menangkis serangan Pangeran Benawa dengan
telapak tangannya yang membara, namun Ki Cakrawara tidak
lagi berhasil menyentuh kulit Pangeran Benawa. Bahkan semakin
lama Pangeran Benawa itu semakin membingungkannya. Bukan
saja tangannya yang seakan-akan menjadi beberapa pasang,
tetapi Pangeran Benawa seolah-olah berada di segala arah di
sekitarnya.
Ki Cakrawara itupun mengerahkan segenap kemampuan yang
dimilikinya. Bukan saja wadagnya, tetapi juga panggraitanya.
Namun Ki Cakrawara itu kadang-kadang masih juga kehilangan
jejak lawannya.
Serangan-serangan Pangeran Benawalah yang kemudian
beberapa kali sempat mengenainya. Tangan Pangeran Benawa
yang seolah-olah menjadi beberapa pasang itu setiap kali
menghantam tubuhnya. Bahkan dari segala arah.
Ki Cakrawara itupun terhuyung-huyung dan bahkan hampir
saja jatuh terjerembab ketika tangan Pangeran Benawa mengenai
tengkuknya.
Namun Ki Cakrawara itu justru menjatuhkan dirinya.
Berputar sekali, kemudian melenting berdiri.
Dalam keadaan yang sulit itulah, tiba-tiba saja di seputar Ki
Cakrawara itu terdengar desis seperti suara arus angin. Pangeran
Benawa yang siap menyerang sempat melihat debu yang berputar
di sekeliling lawannya itu. Sehingga sejenak kemudian, Ki
Cakrawara itupun seakan-akan telah terlindung oleh pusaran
angin keras.
Pangeran Benawa justru bergeser selangkah surut. Namun
kemudian putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya itu telah
menghentakkan ilmunya. Kedua telapak tangannya itupun
ditakupkannya. Namun kemudian, Pangeran Benawa itupun
justru segera meloncat ke arah angin pusaran itu. Tangannya
yang terangkat itupun segera terayun dengan derasnya
menghantam pusaran angin itu.
Yang terjadi adalah benturan ilmu yang dahsyat. Bukan saja
telapak tangan Pangeran Benawa, tetapi getar ilmunyalah yang
telah membentur kekuatan ilmu Ki Cakrawara.
Yang terjadi telah menggetarkan jantung para prajurit dan
para pengikut Ki Gede Lenglengan yang sempat menyaksikannya.
Pangeran Benawa itu telah terangkat dan terlempar ke samping.
Tubuhnyapun kemudian jatuh terbanting di tanah dan berguling
beberapa kali.
Ketika Paksi yang sedang bertempur melawan beberapa orang
pengikut Ki Gede Lenglengan sepeninggal Sura Sangga
melihatnya, iapun segera berlari mendekatinya. Namun Pangeran
Benawa itu sudah tertatih-tatih berdiri.
“Pangeran,” desis Paksi.
Pangeran Benawa itupun menyahut, “Aku tidak apa-apa,
Paksi.”
Sementara itu, hampir berbareng keduanya berpaling ke arah
Ki Cakrawara. Mereka tidak melihat lagi angin pusaran yang
mengitarinya. Mereka tidak lagi melihat debu yang berterbangan
serta getar udara panas. Yang mereka lihat, Ki Cakrawara itu
terbaring di tanah sambil berdesah kesakitan.
Beberapa orang pengikut Ki Gede Lenglengan melihat
keadaannya. Tetapi tidak seorang pun yang datang mendekat.
Mereka sibuk bertempur melawan para prajurit Pajang yang tidak
memberi mereka kesempatan. Pada saat mereka terkejut,
pertempuran yang terjadi di seputarnya seolah-olah memang
terhenti. Namun kemudian para prajurit Pajangpun telah
menghentak mereka lagi, justru semakin keras.
Selain mereka tidak mendapat kesempatan, mereka memang
tidak berani dengan tergesa-gesa mendekati. Mereka masih
merasa cemas, bahwa lawan Ki Cakrawara itu akan menyapu
mereka pula dengan ilmunya yang dahsyat. Karena itu, maka
justru Pangeran Benawa dan Paksilah yang datang mendekati
tubuh Ki Cakrawara itu. Pangeran Benawa dan Paksi itupun
berjongkok di sebelah-menyebelah tubuh yang terbaring sambil
menggeliat itu.
“Pangeran,” desis Ki Cakrawara sambil menyeringai menahan
sakit, “aku sekarang yakin, bahwa apa yang dilakukan
Lenglengan itu tidak ada artinya selain membuat keresahan.”
“Maksudmu?”
“Jika Pangeran mampu berbuat seperti yang baru saja
Pangeran lakukan, lalu apa saja yang dapat dilakukan oleh
Kangjeng Sultan Hadiwijaya sendiri?”
“Kau akan dapat berbicara dengan ayahanda pada
kesempatan lain.”
Tetapi Ki Cakrawara itu menggeleng. Katanya, “Tidak akan
ada kesempatan lagi, Pangeran. Sampaikan permohonan ampun
kepada Kangjeng Sultan.”
“Kau akan dapat menyampaikannya sendiri, Ki Cakrawara.”
“Tidak. Umurku sudah sampai ke batas. Aku merasa bahwa
aku harus kembali ke Yang Maha Pencipta, yang selama ini tidak
pernah menyentuh jiwaku. Namun pada saat seperti ini, aku
merasakan kuasa tanganNya.”
“Kau masih sempat mohon ampun kepadaNya.”
“Aku mohon ampun,” suara Ki Cakrawarapun merendah.
Kemudian terdengar suaranya sangat perlahan, “Alangkah
tenteramnya hati mereka yang sudah mengenal sebelumnya dan
meyakininya.”
“Ki Cakrawara juga meyakininya.”
Tetapi Ki Cakrawara itu tidak sempat menjawab. Matanyapun
telah terpejam, serta nafasnya telah terhenti.
Pangeran Benawa menyentuh leher orang itu. Tubuhnya
masih terasa hangat. Tetapi detak darahnyapun telah terhenti.
Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Namun tibatiba
saja keduanya menyadari, bahwa pertempuran masih belum
selesai.
Karena itu, maka keduanyapun segera bangkit berdiri. Ketika
mereka berpaling ke lingkaran pertempuran antara Ki Gede
Lenglengan dengan Ki Ajar Permati, maka yang mereka lihat
adalah debu yang tebal menyerupai kabut yang menutup
pandangan mereka.
Hampir di luar sadar, merekapun segera mengetrapkan Aji
Sapta Pandulu, sehingga pandangan mata mereka berhasil
menembus kabut itu meskipun hanya lamat-lamat.
Tetapi agaknya keduanya memang agak terlambat. Pada saat
itu, mereka sempat melihat bayangan yang meluncur seperti
anak panah meninggalkan arena.
Merekapun melihat, bahwa bayangan yang lain mencoba
mengejarnya, namun sekali lagi debu yang seperti kabut itupun
telah terhambur. Beberapa saat Aji Sapta Pandulu itupun tidak
mampu menembus. Baru sesaat kemudian, Pangeran Benawa
dan Paksi dapat melihat ke dalam lingkaran kabut yang tebal itu.
Namun yang mereka lihat tinggallah seorang yang berdiri
termangu-mangu.
Beberapa saat kemudian, ketika kabut itu terkuak, mereka
melihat Ki Ajar Permati berdiri termangu-mangu. Tangannya
masih memegangi dadanya yang nampaknya terasa nyeri. Di
sudut bibirnya nampak setitik darah.
“Ki Ajar,” Pangeran Benawa berlari mendekat disusul oleh
Paksi.
“Aku tidak dapat menangkapnya,” desis Ki Ajar Permati. “Ia
berhasil melindungi dirinya dengan permainan kabutnya.”
“Jadi Lenglengan itu sempat melarikan diri?”
Ki Ajar Permati mengangguk.
“Tetapi bagaimana dengan Ki Ajar sendiri?”
Ki Ajar Permati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
katanya, “Ia berhasil melukaiku. Luka dalam. Tetapi aku pun
telah melukainya pula. Ketika ia merasa bahwa ia tidak akan
dapat mengalahkan aku, maka iapun melarikan diri.”
“Ki Ajar perlu beristirahat.”
“Aku tidak apa-apa. Aku menyesal bahwa Lenglengan berhasil
melarikan diri.”
“Sayang sekali,” desis Paksi. “Seharusnya aku ikut menjaga
agar Ki Gede Lenglengan tidak mempunyai kesempatan. Aku kira
bahwa ia tidak akan lari secepat itu.”
“Seandainya Angger Paksi ada di sini, agaknya masih saja
mempunyai kesempatan untuk melarikan diri, karena permainan
kabutnya yang sulit ditembus penglihatan, bahkan dengan Aji
Sapta Pandulu sekalipun.”
Paksi tidak menjawab. Ia hanya dapat mengangguk-angguk
mengiyakan. Kabut itu memang sulit ditembus penglihatan,
bahkan dengan Aji Sapta Pandulu sekalipun.
“Sekarang,” berkata Ki Ajar Permati kemudian, “segala
sesuatunya terserah kepada Ki Tumenggung Yudatama.”
“Di mana Ki Tumenggung?” desis Pangeran Benawa.
“Ki Tumenggung mengelilingi seluruh medan,” sahut Paksi.
Pangeran Benawapun kemudian memerintahkan seorang
penghubung untuk mencari dan melaporkan apa yang terjadi
kepada Ki Tumenggung Yudatama.
Beberapa saat kemudian, Ki Tumenggung telah berada di
halaman depan Padepokan Watukambang itu. Pertempuran di
sana-sini masih terjadi.
Ki Tumenggung itupun kemudian memerintahkan para
pengawalnya untuk memberitakan kepada semua pengikutnya,
bahwa Ki Gede Lenglengan telah melarikan diri, sementara Ki
Cakrawara telah terbunuh. Kesempatan terakhir untuk
menyerah, siapa yang tidak menyerah, akan ditumpas habis.
Demikianlah, maka beberapa orang pengawal Ki Tumenggung
telah meneriakkan pesan Ki Tumenggung itu di segala sudut
padepokan. Merekapun dengan lantang berkata, “Ini adalah
kesempatan yang terakhir. Siapa yang tidak mempergunakan
kesempatan ini, akan ditumpas habis.”
Ternyata bahwa para pengikut Ki Gede Lenglengan itu masih
saja tetap orang-orang yang mempunyai perasaan, meskipun
kepala mereka sudah diracuni dengan berbagai macam
keyakinan. Namun ketika mereka berada dalam keadaan yang
paling rumit, maka merekapun masih juga sempat membuat
pertimbangan untuk memilih antara hidup dan mati. Meskipun
satu dua orang ada yang bertekad untuk mati dalam pengabdian,
namun sebagian terbesar dari para pengikut Ki Gede Lenglengan
yang tersisa itu menyerah.
Dengan demikian, maka beberapa saat kemudian,
pertempuran di padepokan terpencil itu sudah berakhir.
Pertempuran yang terhitung menegangkan. Beberapa orang
korban telah jatuh di kedua belah pihak.
Di antara orang-orang padepokan itu yang terbunuh adalah Ki
Cakrawara, seorang yang merasa dirinya memiliki kemampuan
yang sangat tinggi sehingga menyentuh langit. Namun ketika ia
harus berhadapan dengan Pangeran Benawa, maka orang itu
tidak berdaya untuk mempertahankan hidupnya.
Para pengikut Ki Gede Lenglengan yang telah menyerah
itupun kemudian dikumpulkan di halaman depan, dijaga oleh
para prajurit Pajang dengan ketat. Para tawanan itu telah
meletakkan senjata mereka di depan tangga pendapa sebagai
pernyataan kesungguhan mereka untuk menyerahkan diri.
Ki Tumenggung Yudatamapun kemudian telah memberikan
beberapa peringatan kepada para tawanannya. Namun kemudian
merekapun diperintahkan untuk mengumpulkan kawan-kawan
mereka yang terluka dan terbunuh, sebagaimana para prajurit
Pajang.
Sementara itu, Pangeran Benawa dan Paksi telah menyusup
segala sudut padepokan itu. Mereka memasuki bangsal-bangsal
yang telah kosong.
Namun Pangeran Benawa telah menemukan sebuah bangsal
panjang kuat dan tertutup rapat, diselarak dari luar dengan
selarak yang besar.
“Bangsal apa ini?” desis Pangeran Benawa.
“Marilah kita lihat,” sahut Paksi.
Pangeran Benawa memang merasa ragu. Namun akhirnya
Pangeran Benawa itu telah mengangkat selarak yang berat itu.
Ketika ia membuka pintu bangsal itu, merekapun segera
melihat sebuah ruangan yang agak luas. Namun karena dinding
yang rapat, maka di dalam bangsal itu nampak hanya remangremang
saja.
Ternyata ada beberapa orang yang berada di dalam bangsal
itu. Demikian mereka melihat pintu terbuka, maka beberapa
orang itupun segera bergeser mundur. Mereka kemudian
berkumpul berdesakan hampir di ujung bangsal.
Sejenak Pangeran Benawa dan Paksi termangu-mangu. Baru
beberapa saat kemudian, Pangeran Benawa itupun bertanya,
“Siapakah kalian? Apakah kalian juga para murid atau pengikut
Ki Gede Lenglengan?”
Beberapa saat tidak terdengar jawaban, sehingga Pangeran
Benawa mengulanginya, “Siapakah kalian? Jika kalian
memerlukan pertolongan, kami, para prajurit Pajang akan
mencoba menolong kalian.”
Orang-orang yang berada di dalam bangsal itu saling
berpandangan sejenak. Namun mereka masih tetap berdiam diri.
“Jika tidak seorang pun di antara kalian yang tidak mau
berbicara, maka kami tidak dapat berbuat apa-apa. Kami akan
menutup dan menyelarak pintu ini kembali dan meninggalkan
kalian di ruangan ini. Kamipun tidak akan tahu-menahu lagi, apa
yang terjadi di padepokan ini.”
“Tunggu, Ki Sanak,” desis seseorang.
Pangeran Benawapun tertegun.
Dari antara orang-orang yang berkumpul di ujung bangsal itu
seorang melangkah maju sambil terbongkok-bongkok. “Ampun, Ki
Sanak. Kami mendengar keributan di luar bangsal. Kami tidak
tahu apa yang terjadi. Siapakah kalian berdua dan apakah
maksud Ki Sanak berdua memasuki bangsal ini?”
“Baru saja terjadi pertempuran di luar. Para prajurit Pajang
memasuki padepokan ini. Kami adalah bagian dari mereka.”
“Apakah Ki Sanak akan membebaskan kami?”
“Mungkin kami akan melakukannya. Tetapi kami tidak dapat
berbuat dengan tergesa-gesa tanpa penelitian yang dalam. Karena
itu, pada saatnya nanti akan datang orang yang akan
menentukan, apakah kalian akan dilepaskan atau tidak. Segala
sesuatu akan tergantung pada hasil penelitian. Namun kalian
boleh berpengharapan.”
“Hanya berpengharapan?”
“Untuk sementara, ya.”
Orang itu terdiam. Dipandanginya kawan-kawannya yang
berada di dalam ruangan itu. Baru kemudian iapun berkata, “Ki
Sanak, selama ini kami di padepokan ini diperlakukan sebagai
seekor binatang peliharaan yang setiap kali dipergunakan untuk
menggarap sawah. Seperti seekor lembu yang di sore hari
dimasukkan ke dalam kandang. Diberi makan secukupnya agar
kami tetap kuat. Namun esok pagi, kami digiring ke sawah untuk
melakukan kerja yang berat hampir sehari penuh. Orang-orang
yang menunggui kami juga membawa cambuk sebagaimana
mereka menunggu seekor lembu penarik bajak. Punggung dan
lambung kami setiap hari menjadi sasaran, agar kami bekerja
lebih giat.”
“Aku pernah melihatnya, Ki Sanak.”
“Kau pernah melihatnya?”
“Ya.”
“Jadi sejak kapan kau berada di padepokan ini?”
“Sejak lama. Kami melihat perlakuan yang tidak sepatutnya
dilakukan atas sesamanya.”
“Selama ini kalian berada di mana? Apakah kalian juga murid
Ki Gede Lenglengan?”
“Bukan. Kami berdua bukan murid Ki Gede Lenglengan. Kami
datang justru untuk menangkapnya.”
“Apakah sekarang Ki Gede sudah tertangkap?”
Pangeran Benawa menggeleng.
Namun sebelum Pangeran Benawa itu berkata sesuatu lagi
kepada orang-orang yang disimpan dalam bangsal yang agak
panjang itu, seorang lurah prajurit mendatanginya dengan nafas
terengah-engah. “Ki Tumenggung Yudatama mencari Pangeran.”
“Baiklah, aku akan menemuinya. Marilah, Paksi,” ajak
Pangeran Benawa.
Namun agaknya orang-orang yang berada di ujung bangsal
itupun mendengar sebutan itu. Karena itu, orang yang
terbongkok-bongkok itupun bertanya dengan suara gagap,
“Siapakah yang Ki Sanak maksudkan dengan Pangeran?”
“Pangeran Benawa,” jawab prajurit itu yang justru menjadi
heran mendengar pertanyaan itu. “Apakah kau belum pernah
melihat Pangeran Benawa?”
“Jadi, jadi Ki Sanak ini, eh, maksudku pangeran ini Pangeran
Benawa?”
“Ya.”
Orang itupun segera duduk di lantai bangsal itu sambil
membungkuk hormat sampai dahinya menyentuh lantai.
“Ampun, Pangeran. Hamba tidak tahu.”
Orang-orang yang lainpun segera duduk pula di lantai.
Sebagian dari mereka membungkuk dalam-dalam, sedangkan
sebagian yang lain menyembah.
“Kami mohon ampun,” desis seorang yang lain.
“Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak marah. Bukankah
dengan sengaja aku tidak mengenakan ciri-ciri kepangerananku?”
“Hamba, Pangeran.”
“Nah, untuk sementara kalian akan tetap tinggal di sini. Tetapi
seperti yang sudah aku katakan, kalian sekarang dapat
berpengharapan, meskipun segala sesuatunya akan ditentukan
oleh mereka yang memang berkewajiban. Namun apa yang
pernah aku lihat terjadi di padepokan ini, akan dapat menjadi
pertimbangan bagi mereka yang akan menentukan nasib kalian.”
“Hamba dan kawan-kawan hamba mohon belas kasihan,
Pangeran. Kami sudah merasa terlalu lama dikurung seperti
seekor kerbau yang sangat dungu. Kami sudah terlalu lama
diperlakukan tidak seperti manusia lagi. Hamba dan kawankawan
hamba merindukan satu kehidupan yang wajar. Tidaklah
bermimpi terlalu jauh, jika kami diperkenankan pulang ke rumah
kami, betapa pun miskinnya kami, kami akan sangat berterima
kasih.”
“Baiklah, kami akan memperhatikannya,” berkata Pangeran
Benawa kemudian. “Sekarang, aku minta diri dahulu.”
Beberapa orang yang ada di bangsal itu menyembah. Yang
lain, yang tidak terbiasa, telah membungkuk dalam-dalam.
Sejenak kemudian, Pangeran Benawa, Paksi dan lurah prajurit
yang memanggilnya telah meninggalkan bangsal itu. Pintupun
kemudian ditutup kembali dan diselarak dari luar dengan selarak
yang kuat.
Jika sebelumnya bangsal yang tertutup rapat itu dijaga oleh
para pengikut Ki Gede Lenglengan, maka kemudian bangsal itu
dijaga oleh para prajurit Pajang.
Dalam pada itu, Pangeran Benawa dan Paksipun kemudian
telah menemui Ki Tumenggung Yudatama dan Ki Ajar Permati di
depan pendapa dari bangunan utama padepokan itu. Agaknya Ki
Tumenggung masih mengatur para prajurit menanggapi keadaan
setelah pertempuran berakhir.
“Apakah Pangeran dan Paksi sudah melihat-lihat isi
padepokan ini?” bertanya Ki Tumenggung.
“Ya, Ki Tumenggung,” jawab Pangeran Benawa.
“Apakah ada yang menarik perhatian, Pangeran? Bagaimana
dengan anak-anak muda dari angkatan mendatang itu?”
“Kami tidak menemukan anak-anak muda itu, Ki
Tumenggung,” Paksilah yang menjawab. “Mungkin benar kata
perempuan yang telah dapat kita tangkap lebih dahulu itu,
bahwa anak-anak itu sudah dipindahkan.”
“Mungkin sudah ada isyarat yang dapat ditangkap oleh Ki
Gede Lenglengan, bahwa pada waktu dekat, padepokannya akan
diketahui oleh orang lain.”
“Mungkin sekali, Ki Tumenggung,” Ki Ajar menganggukangguk,
“mungkin kegagalan para pengikut Ki Gede Lenglengan
merampok Manjung telah mengisyaratkan agar Ki Gede
Lenglengan menjadi lebih berhati-hati.”
“Tetapi kegagalan itu baru saja terjadi,” sahut Tumenggung
Yudatama.
“Bukan kegagalan yang terakhir,” berkata Ki Ajar, “tetapi
kegagalannya yang terdahulu.”
Ki Tumenggung Yudatama mengangguk-angguk. “Baiklah,”
berkata Ki Tumenggung kemudian, “mungkin untuk satu dua
hari kami masih akan berada di padepokan ini, Ki Ajar. Kami
masih akan mengatur bagaimana sebaiknya kami membawa para
tawanan, terutama yang sedang terluka parah.”
“Sebaiknya Ki Tumenggung memang tidak tergesa-gesa,”
sahut Pangeran Benawa. “Ki Tumenggung juga harus
menyelesaikan persoalan sekelompok orang yang telah
diperbudak oleh Ki Gede Lenglengan. Mereka dikurung dalam
satu bangsal yang panjang di bagian belakang dari padepokan ini.
Menurut mereka, mereka diperlakukan seperti seekor lembu.
Mereka diberi makan dan minum cukup, namun kemudian
mereka dipekerjakan di sawah atau di mana saja tanpa belas
kasihan.”
Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Sebelum mereka benarbenar
memasuki padepokan itu, Pangeran Benawa sudah pernah
mengatakan, bahwa di padepokan itu ada sekelompok orang yang
diperlakukan sebagai budak-budak belian.
“Baiklah,” berkata Ki Tumenggung, “kita akan menangani
mereka. Kita memang memerlukan waktu.”
Di sisa hari itu, Padepokan Watukambang nampak sibuk
sekali. Tabib yang menyertai pasukan Pajang ke Watukambang
seakan-akan tidak sempat minum karena kesibukannya. Para
prajurit yang terluka dan bahkan yang parah, sangat
memerlukannya. Beberapa orang prajurit yang dapat
membantunya, telah berusaha berbuat apa saja yang mungkin
mereka lakukan.
Kecuali para prajurit, maka para pengikut Ki Gede yang
terlukapun memerlukan penanganan. Meskipun mereka adalah
musuh yang baru saja bertempur antara hidup dan mati, tetapi
mereka tidak dapat dibiarkan dalam keadaan luka parah tanpa
perawatan untuk menolong jiwanya apabila mungkin. Meskipun
kelak kemudian mereka harus dihukum, tetapi mereka tidak
boleh dibiarkan mati dalam keadaannya itu.
Ketika malam turun, Ki Tumenggung Yudatama masih belum
sempat berbicara dengan orang-orang yang dikurung oleh Ki
Gede Lenglengan di bangsal panjang itu. Bahkan para petugas di
dapur pun hampir lupa memberi makan bagi mereka, setelah di
siang hari mereka tidak makan, karena tidak ada pihak-pihak
yang sempat melakukannya.
Namun, meskipun Ki Tumenggung belum sempat menangani
mereka, tetapi ketika senja turun, Pangeran Benawa dan Paksi
telah berada di dalam bangsal yang panjang itu lagi.
Orang-orang yang berada di bangsal itu tidak merasa takut
lagi kepada Pangeran Benawa dan Paksi karena sikapnya yang
ramah. Meskipun ia seorang pangeran, tetapi perhatiannya
terhadap orang-orang kecil itu sangat besar.
Dalam pembicaraannya dengan beberapa orang, maka
Pangeran Benawa dan Paksi mengetahui, bahwa orang-orang
yang ada di dalam bangsal itu berasal dari daerah yang berbedabeda.
Alasan mereka ditangkap dan dibawa ke padepokan itupun
berbeda-beda pula.
“Hamba tersesat waktu itu,” berkata seorang yang sudah
separo baya. “Hamba tidak tahu jalan yang harus hamba tempuh.
Ternyata hal itu menyeret hamba ke dalam kesulitan yang
berkepanjangan. Mula-mula hamba dituduh memata-matai
padepokan ini, sehingga karena itu maka hamba harus
ditangkap. Disekap dalam bilik sempit selama beberapa hari.
Baru kemudian seorang di antara mereka datang untuk
memeriksa hamba. Hamba sudah mengatakan apa yang
sebenarnya kepada orang itu, namun orang itu tidak percaya,
sehingga hambapun berada di sini.”
“Untuk selanjutnya menjadi budak di sini?”
“Hamba, Pangeran,” wajah orang itupun menjadi sayu.
“Sudah berapa lama kau di sini?”
“Hamba tidak dapat ingat lagi akan waktu. Bahkan hariharipun
hamba tidak tahu lagi jika tidak ada orang lain yang
memberitahukan kepadaku. Hamba tidak tahu, apakah hari ini
Pon, Wage atau Kliwon.”
“Tetapi bukankah kau dapat mengingat, meskipun barangkali
tidak tepat, seberapa lama kau dijadikan budak di sini?”
Orang itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Mungkin
sudah satu tahun.”
“Tentu lebih,” berkata seorang yang masih nampak muda.
“Aku sudah berada di sini kira-kira setahun. Sedangkan Paman
sudah berada di sini lebih dahulu.”
“Ya, ya. Sekitar itulah.”
Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Sementara Paksipun
bertanya kepada orang yang masih terhitung muda, “Kau kenapa
berada di sini?”
“Aku berkelahi dengan seseorang di dekat pasar Mungge. Aku
tidak tahu siapa lawanku. Tetapi aku menyakitinya.” Orang itu
berhenti sejenak, lalu, “Tetapi nasibku memang buruk. Lima
orang kemudian menjemputku di pasar dan membawaku
bersama mereka. Ternyata aku sampai di sini.”
Pangeran Benawapun kemudian bertanya, “Kenapa kau
berkelahi dengan orang yang tidak kau kenal itu?”
“Orang itu mengganggu seorang gadis. Hamba kenal gadis itu,
karena gadis itu tinggal sepadukuhan dengan hamba.
Sebenarnya hamba tidak akan melawan orang yang mengganggu
gadis itu. Tetapi ia melarikan diri.”
“Kemudian kembali bersama kawan-kawannya?” sambung
Pangeran Benawa.
“Hamba, Pangeran.”
Pangeran Benawa dan Paksi mengangguk-angguk. Banyak
ceritera yang mereka dengar, kenapa orang-orang itu menjadi
budak di Padepokan Watukambang.
Seorang di antara merekapun kemudian berkata, “Sebenarnya
tawanan yang disimpan di Watukambang ini lebih banyak dari
kami yang ada di sini.”
“Di mana mereka sekarang?”
“Sebagian dari mereka yang dianggap memenuhi syarat, dapat
menyatakan kesetiaannya kepada Ki Gede Lenglengan. Mereka
akan mengalami masa-masa percobaan. Mereka mendapat
perlakukan jauh lebih baik dari kami.”
“Kenapa kalian tidak melakukan hal yang sama dengan
mereka yang menyatakan kesetiaan mereka itu?”
“Merekalah yang memilih. Kami tidak tahu, dasar apakah
yang mereka pergunakan untuk memilih di antara kami orangorang
yang bersedia menyatakan kesetiaan. Tetapi ada orang
yang telah terpilih, namun dalam waktu satu dua bulan
dilemparkan kembali kemari, karena ternyata orang itu tidak
memenuhi syarat.”
Namun tiba-tiba saja Paksi bertanya, “Apakah kau pernah
melihat sekelompok anak muda yang ditangani secara khusus di
padepokan ini?”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu orang
itupun berkata, “Aku tidak tahu dengan pasti. Tetapi di sini
pernah ada sekelompok anak muda yang disebut anak-anak mas
bagi hari depan.”
“Itulah yang kami maksudkan. Anak-anak muda bagi
angkatan mendatang.”
“Ya,” tiba-tiba yang lain menyahut, “itulah yang benar. Bukan
bagi hari depan. Tetapi mereka adalah anak-anak mas bagi masa
mendatang.”
“Apakah mereka sudah tidak ada di sini?”
“Sudah beberapa lama kami tidak melihat kelompok itu lagi.
Mereka adalah kelompok anak-anak muda yang berilmu tinggi.
Mereka ditangani langsung oleh Ki Gede Lenglengan dan seorang
yang kami tidak tahu.”
Paksi mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah terasa
getar yang mengguncang jantungnya.
“Baiklah,” berkata Pangeran Benawa, “kami mengucapkan
terima kasih. Meskipun kalian masih harus tetap tinggal di
bangsal ini, tetapi percayalah, bahwa keadaan kalian tentu akan
menjadi lebih baik.”
Sejenak kemudian, maka Pangeran Benawa dan Paksipun
telah keluar dari dalam bangsal itu. Beberapa orang prajurit
bertugas berdiri tegak dengan tombak pendek di tangan mereka.
Demikian Pangeran Benawa dan Paksi melangkah di hadapan
mereka, maka merekapun serentak mengangguk hormat.
Menjelang tidur, maka Pangeran Benawa dan Paksi masih
berbincang beberapa lama dengan Ki Tumenggung Yudatama dan
Ki Ajar Permati. Menurut Ki Tumenggung, tidak ada orang yang
lebih baik dari Ki Ajar Permati yang dapat memimpin padepokan
yang terpencil itu.
“Apa yang dapat aku lakukan di sini, Ki Tumenggung? Aku
hanya seorang diri. Tanpa seorang pun yang akan menjadi kawan
untuk tinggal di sini. Bukankah padepokan ini harus dibersihkan
setiap hari? Sawah dan ladang harus digarap. Kelengkapan
sanggar harus dirawat. Bagaimana aku dapat melakukan itu
semua hanya seorang diri?”
“Ki Ajar akan segera mempunyai beberapa orang kawan.
Orang-orang yang ditawan dan dijadikan budak oleh Ki Gede
Lenglengan itu tentu ada yang dengan suka rela tinggal bersama
Ki Ajar di sini. Mungkin dua atau tiga orang. Mungkin lebih.
Sementara itu, Ki Ajar akan dapat memanggil beberapa orang
anak muda terpilih yang dapat menjadi murid Ki Ajar, karena
murid-murid Ki Ajar sebelumnya telah terbunuh.”
Ki Ajar termangu-mangu. Namun kemudian iapun
mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah. Aku akan
bertanya kepada mereka yang berada di dalam bangsal yang
tertutup rapat itu, Ki Tumenggung.”
“Besok aku akan mulai berbicara dengan mereka, Ki Ajar.
Mungkin Ki Ajar, Pangeran Benawa dan Paksi akan dapat ikut
serta dalam pembicaraan itu.”
“Baiklah, Ki Tumenggung,” desis Ki Ajar kemudian. Dalam
pada itu, di luar padepokan, Ki Gede Lenglengan telah berjalan
semakin jauh dari padepokan. Ketika ia melarikan diri dari
padepokan, ia telah bertemu dengan Ajak Bungkik yang sedang
kebingungan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Demikian Ki Gede Lenglengan melihat Ajak Bungkik, maka
iapun langsung meloncat dan mencekiknya.
“Ampun, Ki Gede. Ampun,” wajah Ajak Bungkik itupun
menjadi pucat.
“Apa yang kau lakukan semalam, he? Kau tentu hanya tidur
mendengkur. Kau tidak melihat sepasukan yang kuat telah
mendatangi padepokan yang kita yakini tidak pernah diketahui
oleh siapapun juga?”
“Tidak, Ki Gede. Kami tidak tidur. Kami berjaga-jaga sampai
matahari terbit.”
“Omong kosong. Jika demikian, kenapa kau tidak melihat
pasukan yang tidak hanya terdiri dari satu dua orang. Tetapi
beberapa kelompok yang sangat kuat?”
“Kami sama sekali tidak melihat seorang pun, Ki Gede.
Mungkin ketika kami sampai di mulut sekat, mereka sudah
berada di dalam.”
Ki Gede Lenglengan termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian dilepaskannya tangannya dari leher Ajak Bungkik.
“Setelah itu, kenapa kau tidak segera kembali, memasuki
arena pertempuran membantu saudara-saudaramu?”
“Kami menjadi ragu-ragu, Ki Gede. Kami tidak tahu suasana
yang sebenarnya. Kami mengira bahwa padepokan itu sudah
diduduki oleh para prajurit. Memang masih nampak pertempuran
di sana-sini. Tetapi keadaannya benar-benar meragukan. Karena
itu, aku dan kawan-kawanku memilih menunggu.”
“Pengecut. Seharusnya kalian turun di medan apa pun yang
terjadi.”
“Kami mohon maaf. Sekarang kami akan melakukan apa saja
yang Ki Gede perintahkan. Bahkan seandainya Ki Gede
memerintahkan kami memasuki padepokan itu.”
“Pikiran gila. Aku tidak memerintahkan kalian untuk
membunuh diri.”
“Apa saja yang Ki Gede perintahkan.”
“Ikut aku.”
“Ki Gede akan ke mana?”
“Menghindar. Aku harus menyusun kekuatan untuk merebut
padepokan itu kembali.”
“Masih adakah artinya?” bertanya Ajak Bungkik.
“Kenapa?”
“Sudah ada orang luar yang mengetahui keberadaan
padepokan kita.”
Ki Gede Lenglengan termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian katanya, “Kita pergi menemui anak-anak dari angkatan
mendatang di padepokan mereka yang baru. Meskipun
padepokan mereka letaknya tidak terpencil, tetapi keberadaan
anak-anak itu di sana tetap merupakan rahasia sampai saatnya
mereka dapat mengangkat beban yang diletakkan oleh angkatan
sebelumnya di pundaknya.”
“Kami akan melakukan apa saja menurut perintah Ki Gede.”
Ki Gede Lenglengan itupun kemudian telah mengajak Ajak
Bungkik dan beberapa orang yang bertugas bersama Ajak
Bungkik itu untuk pergi meninggalkan padepokan mereka yang
terpencil, yang menurut pendapat mereka tidak akan dapat
diketahui oleh orang lain. Namun ternyata bahwa padepokan itu
sudah direbut oleh para prajurit Pajang.
Dengan cepat Ki Gede Lenglengan melewati sekat yang
memisahkan padepokan itu dengan dunia di luarnya. Mereka
seakan-akan telah memasuki sebuah dunia yang asing. Meskipun
mereka mengenali dunia yang mereka masuki, tetapi mereka
telah sering berada di dunia mereka sendiri yang terasing dan
terpencil.
Menurut Ki Gede, dunia yang lain itu adalah dunia yang
hiruk-pikuk. Dunia yang isinya saling berkait, sehingga seakanakan
mereka yang ada di dunia yang lain itu telah kehilangan
kesendirian mereka. Mereka tidak mempunyai kesempatan untuk
berbuat sesuatu atas namanya sendiri, bagi kepentingannya
sendiri dan untuk kesenangannya sendiri. Mereka harus
menghiraukan kepentingan orang lain bahkan apakah orang lain
merasa terganggu atau tidak.
Namun saat itu Ki Gede harus memasuki dunia yang tidak
disenanginya itu, karena ia telah kehilangan dunianya sendiri.
Dunia yang seutuhnya bagi dirinya, bagi kepentingannya dan
bagi kesenangannya. Jika di dunianya itu ada orang lain, maka
mereka adalah penyangga-penyangga dari kepentingannya dan
kesenangannya.
Karena itu, betapapun sakit hatinya, namun Ki Gede
Lenglengan terpaksa menjalaninya. Ia harus mulai sebuah
perjalanan yang cukup panjang, mengitari kaki Gunung Merapi.
Setelah untuk waktu yang panjang Ki Gede Lenglengan tidak
lagi mengembara, maka perjalanan itu sangat tidak disukainya.
Sementara itu padepokannya telah diduduki oleh para prajurit
Pajang.
Ketika kemudian malam turun, maka Ki Gede Lenglengan itu
mengumpat-umpat sepuas-puasnya. Ia harus tidur di sembarang
tempat. Mula-mula Ki Gede ingin minta ijin menginap di sebuah
banjar padukuhan. Bahkan Ki Gede sudah berniat untuk boleh
atau tidak boleh tidur di banjar itu. Namun Ki Gede masih juga
merasa cemas, jika saja Ki Ajar Permati dan beberapa orang
prajurit yang terpilih melacaknya, mungkin mereka akan dapat
menemukannya.
Ternyata Ki Gede merasa segan untuk berhadapan dengan Ki
Ajar Permati sebelum ia sempat membenahi diri dan ilmunya,
yang ternyata masih belum dapat menyamai tataran ilmu Ki Ajar
Permati.
Karena itu, Ki Gede Lenglengan itu telah mengajak Ajak
Bungkik dan kawan-kawannya untuk bermalam di tempat
terbuka.
Udara terasa betapa dinginnya. Titik-titik embun terasa sangat
mengganggu Ki Gede Lenglengan. Biasanya ia berada dalam
sebuah bilik yang hangat. Yang dilayani oleh orang-orang yang
sangat patuh kepadanya. Setiap saat ia dapat memerintahkan
orang-orangnya itu untuk menyediakan minuman hangat
baginya.
Tetapi Ki Gede itu tidak mempunyai pilihan lain. Malam itu Ki
Gede tidur di tempat yang terbuka tanpa selimut selain kain
panjangnya sendiri.
Hampir semalaman Ki Gede tidak dapat tidur. Ia merasa
dirinya tersiksa dengan keadaannya itu.
Di Padepokan Watukambang, Paksi juga tidak dapat
memejamkan matanya. Ia selalu memikirkan adiknya yang masih
belum dapat diketemukannya.
Berbagai macam pikiran hinggap di kepalanya. Bahkan
kemudian telah tumbuh bayangan-bayangan yang mengerikan
tentang adiknya itu. Di bawah bimbingan Ki Gede Lenglengan,
adiknya itu tidak saja mendapat bimbingan dalam olah
kanuragan, tetapi tentu kepalanya juga diracuni dengan
bayangan-bayangan yang salah tentang angkatan mendatang.
“Jika adikku berilmu tinggi, maka apakah yang akan
dilakukannya? Aku akan menjadi semakin sulit untuk
mendekatinya dan berbicara dengan baik. Ia sudah terlanjur
membentangkan jarak di antara kami berdua,” berkata Paksi di
dalam hatinya.
Paksi menjadi ngeri membayangkan, betapa ia harus
berhadapan dengan adiknya, meskipun berbeda ayah. Apakah
mungkin ia harus menyakiti dan apalagi membunuh adiknya?
Jika hal itu tidak dilakukannya, apakah mungkin ia membiarkan
dirinya dibunuh oleh adiknya? Sungguh kematian yang sia-sia
setelah sekian lamanya ia mencari adiknya untuk
mengentaskannya dari dunia yang gelap itu.
Pikiran Paksi memang menjadi kalut. Di dini hari, Paksi
terkejut ketika ia mendengar Pangeran Benawa bertanya
kepadanya, “Kau belum tidur?”
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sulit bagi hamba
untuk dapat tidur malam ini, Pangeran.”
“Panggil aku Wijang.”
“Tidak di antara para prajurit dan di hadapan Ki Tumenggung
Yudatama.”
Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu
Paksipun bertanya, “Pangeran juga belum tidur?”
“Hampir. Aku masih mempunyai waktu sebentar untuk tidur.”
Paksi tidak bertanya lagi. Iapun mencoba untuk
menyingkirkan angan-angannya dan mencoba untuk tidur di sisa
malam yang tinggal sedikit itu.
Namun oleh perasaan letih lahir dan batin, Paksipun sempat
tertidur meskipun hanya beberapa saat yang pendek.
Di keesokan harinya, seperti yang dikatakan oleh Ki
Tumenggung, maka Ki Tumenggung akan bertemu dengan orangorang
yang ditawan oleh Ki Gede Lenglengan.
Bersama Ki Ajar Permati, Pangeran Benawa dan Paksi, Ki
Tumenggung itu duduk di ruangan yang tidak terlalu luas, di
sebelah bangsal tempat para tawanan itu disekap.
“Panggil orang pertama,” bertanya Ki Tumenggung kepada
seorang lurah prajurit.
“Dari mana kita mulai, Ki Tumenggung? Dari yang tua atau
yang muda, atau dari sisi mana kita memandangnya?”
“Lakukan dengan acak. Yang mana saja yang kau panggil
lebih dahulu.”
Lurah prajurit itu mengangguk. Iapun kemudian melangkah
menuju ke bangsal di sebelah.
Seorang demi seorang telah dipanggil oleh Ki Lurah dan
dibawa menghadap Ki Tumenggung. Berbagai macam pertanyaan
sudah diajukan. Sebagian dari jawaban-jawaban itu sudah
didengar oleh Pangeran Benawa dan Paksi, karena mereka sudah
lebih dahulu bertanya.
Namun dalam pada itu, Ki Ajar Permatipun memperhatikan
jawaban-jawaban setiap orang yang dibawa menghadap Ki
Tumenggung dengan seksama. Mungkin terselip hal-hal yang
berarti bagi dirinya, karena Ki Tumenggung memang
menginginkan beberapa orang bersedia tinggal di padepokan itu.
Tetapi jika mungkin beberapa orang itu akan dipilihnya dari
antara orang-orang yang ditawan itu.
Namun dalam pada itu. Pangeran Benawa sempat
mengingatkan, “Ki Tumenggung, orang-orang itu bukan tawanan
kita. Mereka adalah tawanan Ki Gede Lenglengan.”
“Ya. Kenapa?”
“Sikap Ki Tumenggung agak terlalu keras terhadap mereka.
Justru mereka menginginkan perlindungan dari kita.”
Ki Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Katanya,
“Baiklah, Pangeran. Tetapi kita tidak dapat bersikap terlalu lunak
kepada mereka, meskipun mereka bukan tawanan kita. Baru saja
mereka menghadapi sikap yang sangat keras dari Ki Gede
Lenglengan. Jika kita terlalu lunak, maka yang nampak pada
mereka adalah kelemahan, sehingga mereka menduga, bahwa
mereka akan dapat memanfaatkan kelemahan itu bagi
kepentingan mereka.”
“Tetapi yang kita lihat, mereka menjadi ketakutan. Bukankah
kita berharap bahwa mereka menganggap kita bukan hantu yang
sama menakutkannya dengan Ki Gede Lenglengan? Atau bahkan
lebih lagi?”
Ki Tumenggung Yudatama mengangguk-angguk. Katanya,
“Baiklah, Pangeran. Aku akan bersikap lebih baik.”
Sebenarnyalah, Ki Tumenggung menjadi sedikit lebih lunak
menghadapi orang-orang yang berada di bangsal tahanan itu.
Namun dengan demikian, maka pertanyaan-pertanyaan Ki
Tumenggung mendapat jawaban yang lebih lancar dan terbuka.
Ki Ajar sempat menemukan beberapa orang yang dianggapnya
akan dapat membantunya. Bahkan mungkin di antara mereka
akan bersedia mempelajari ilmu kanuragan seberapa jauh dapat
mereka capai. Bahkan jika kemudian orang itu memenuhi syarat,
ia akan dapat menjadi murid utama Ki Ajar Permati yang sudah
tidak mempunyai siapa-siapa lagi.
Ki Tumenggung memerlukan waktu sehari penuh untuk
berbicara dengan mereka seorang-seorang. Ki Tumenggung hanya
beristirahat di waktu makan siang dan di sore hari, untuk minum
minuman hangat dan makan beberapa potong makanan.
Namun dalam pembicaraan itu, Ki Tumenggung menemukan
kesimpulan bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang
malang. Mereka tersuruk ke dalam sarang Ki Gede Lenglengan
untuk mengalami penderitaan dalam waktu yang lama.
Bahkan beberapa orang dapat menunjukkan bilur-bilur di
kulit mereka akibat penganiayaan yang sewenang-wenang. Bilurbilur
itu ada yang terdapat di punggung, di lambung, lengan dan
paha. Bahkan hampir di mana pun. Ada pula yang terdapat di
wajah menyilang menyentuh mata.
“Bagaimana menurut pendapat Ki Ajar?” bertanya Ki
Tumenggung.
“Kita bebaskan mereka.”
“Untuk kepentingan Ki Ajar sendiri?”
“Aku ingin berbicara dengan sepuluh orang di antara mereka.
Kecuali mereka memiliki tubuh dan benih kekuatan daya tahan
tubuh sehingga mereka akan dapat pulang sehari dua hari kapan
saja mereka kehendaki.”
“Baiklah, Ki Ajar. Besok aku berikan waktu kepada Ki Ajar
untuk berbicara dengan mereka.”
“Tidak usah besok, Ki Tumenggung. Nanti malam aku dapat
berbicara dengan mereka sepuluh orang.”
“Terserah saja kepada Ki Ajar jika itu yang Ki Ajar kehendaki.”
Sebenarnyalah, setelah beristirahat menjelang sampai lewat
senja, maka seorang lurah prajurit telah memanggil sepuluh
orang di antara mereka yang berada di dalam bangsal tahanan
itu.
Sepuluh orang yang pada umumnya masih muda-muda itu
menjadi cemas. Mereka tidak tahu, untuk apa mereka dipanggil
secara khusus.
Kesepuluh orang itu diterima oleh Ki Ajar Permati, Pangeran
Benawa dan Paksi. Mereka tidak perlu datang menemui Ki Ajar
seorang demi seorang. Tetapi Ki Ajar telah menerima mereka
bersepuluh bersama-sama.
Ki Ajar tidak mulai dengan pertanyaan yang melingkarlingkar.
Karena mereka sudah berbicara dengan Ki Tumenggung,
yang juga didengar oleh Ki Ajar, maka Ki Ajar itu ingin langsung
saja ke persoalannya.
“Aku ingin menanyakan satu sikap dari kalian,” berkata Ki
Ajar Permati.
Jilid 34
KESEPULUH orang itu masih saja berdebar-debar. Mereka
menebak-nebak di dalam hati, apakah kira-kira yang akan
dikatakan oleh Ki Ajar Permati.
“Anak-anakku,” berkata Ki Ajar Permati kemudian, “apakah
kalian ingin segera pulang ke kampung halaman?”
Beberapa orang saling berpandangan. Keragu-raguan yang
sangat nampak membayang di wajah mereka. Tidak seorang pun
di antara mereka yang menjawab.
Ki Ajar Permatipun tersenyum. Ia dapat mengerti, kenapa
orang-orang itu dibayangi oleh keragu-raguan.
“Anak-anakku,” berkata Ki Ajar Permati kemudian, “baiklah
aku beritahukan, Ki Tumenggung sudah mengambil keputusan,
bahwa kalian semuanya akan dibebaskan. Kalian semuanya yang
pernah ditawan dan diperlakukan tidak wajar di padepokan ini,
akan diperkenankan pulang ke rumah kalian.”
Sepercik kegembiraan telah memuncul dari wajah-wajah
mereka. Seorang yang tidak dapat mengendalikan dirinya
bergeser setapak maju sambil bertanya, “Jadi, apakah kami boleh
segera pulang?”
“Besok kalian boleh pulang.”
“Besok kami boleh pulang?” sahut yang lain.
“Ya,” Ki Ajar Permati mengangguk-angguk.
Seorang lagi di antara mereka bergeser setapak maju sambil
bertanya untuk meyakinkan pendengarannya, “Jadi besok kami
sudah dapat meninggalkan neraka ini?”
“Ya. Kalian akan bebas.”
“Ternyata Yang Maha Agung tidak meninggalkan kami,” desis
orang itu sambil mengusap matanya yang basah. Katanya
selanjutnya dengan suara sendat, “Ibuku sudah menjadi semakin
tua. Ayahku sudah tidak ada. Aku mempunyai tiga orang adik
yang harus dihidupi.”
“Kau belum beristri?”
Orang itu menggeleng. Katanya, “Belum, Ki Ajar.”
“Apakah adikmu perempuan atau laki-laki?”
“Seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Aku berharap
adikku laki-laki sudah dapat membantu ibu mengerjakan sawah,
sedang adikku perempuan dapat mengerjakan pekerjaan di
rumah.”
Ki Ajar Permati mengangguk-angguk. Katanya, “Keluargamu
tentu akan merasa sangat gembira menerima kau kembali kepada
mereka.”
“Ya, Ki Ajar.”
Namun dengan demikian, maka Ki Ajar itu pun berkata di
dalam hatinya, “Anak ini sangat diperlukan oleh keluarganya.
Apakah aku akan memberikan tawaran kepadanya untuk tinggal
di padepokan ini?”
Namun akhirnya Ki Ajar Permati berpendapat, bahwa ia hanya
ingin menawarkan kesempatan. Apakah kesempatan itu akan
dipergunakan atau tidak, tergantung sekali kepada kesepuluh
orang itu.
Karena itu, maka beberapa saat kemudian, Ki Ajar Permati
itupun mulai berbicara tentang niatnya untuk mendapatkan
beberapa orang yang bersedia tinggal bersamanya di padepokan
itu.
“Jangan salah paham,” berkata Ki Ajar kepada mereka
kemudian. “Bukan maksudku untuk menghambat kebebasan
kalian. Yang aku katakan itu tidak lebih hanya satu tawaran.
Besok kalian akan pulang ke rumah kalian masing-masing. Aku
akan menunggu, siapa di antara kalian yang bersedia kembali,
akan aku terima dengan senang hati. Jika aku mengundang
kalian sekarang ini, karena menurut pendapatku, kalian masih
muda, sehingga masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi
atas kalian di masa mendatang. Kepada kalianlah aku
memberikan tawaran. Tidak kepada orang-orang yang lebih tua.
Tetapi tawaranku ini dapat kalian tolak jika kalian tidak tertarik.
Mungkin kalian melihat kemungkinan yang lebih baik dari masa
depan kalian lewat jalan yang lain.”
Seorang anak muda yang bertubuh tinggi bertanya, “Apakah
yang akan kami lakukan dan bekal apakah yang akan kami
dapatkan bagi masa depan kami jika kami berada di padepokan
ini? Selama ini kami sudah banyak kehilangan waktu. Bahkan
kami pun sudah berputus-asa dan menganggap bahwa hidup
kami adalah sia-sia.”
“Anak muda,” jawab Ki Ajar Permati, “padepokan ini, sebelum
dikuasai oleh Ki Gede Lenglengan, adalah padepokan yang aku
bangun bersama beberapa orang muridku. Pada kesempatan lain
akan aku ceriterakan, apakah yang pernah terjadi di padepokan
ini sehingga aku terusir, bahkan hampir saja aku mati. Tetapi
Yang Maha Agung agaknya masih belum menghendaki hal itu
terjadi.” Ki Ajar berhenti sejenak. Sepuluh orang yang
dipanggilnya itu mendengarkannya dengan seksama. “Di sini
kalian akan belajar berbagai macam pengetahuan menurut batasbatas
pengetahuanku. Tentang olah kanuragan, tentang
menggarap sawah, sedikit tentang kerajinan bambu, kayu, besi,
tanah, mengenali lingkungan dan alam dan lain-lain yang perlu
sebagai bekal masa depan. Tetapi sekali lagi, hanya sebatas
pengetahuanku. Kalian tidak dapat menuntut terlalu banyak.”
Keterangan Ki Ajar itu sangat menarik. Tetapi seorang anak
muda telah bertanya, “Tetapi bukankah kami tidak akan
dipekerjakan lagi sebagai seekor kerbau?”
“Kita akan bekerja keras. Mungkin sekeras apa yang pernah
kalian lakukan. Tetapi dengan kesadaran memiliki padepokan ini,
sehingga kemauan kerja itu akan tumbuh dari dalam diri kita
sendiri. Kalian tidak boleh salah menilai kehidupan yang akan
kita bangun di padepokan ini, seolah-olah kitalah yang menjadi
Yang Dipertuan. Kemudian para budak-budaklah, sebagaimana
kalian pada masa kepemimpinan Ki Gede Lenglengan, yang
bekerja keras melayani kita. Kita memang akan menjadi Yang
Dipertuan di padepokan ini, tetapi kita pulalah yang akan
menjadi budak-budak itu atas kemauan kita sendiri.”
Kesepuluh orang yang mendengarkan itupun menganggukangguk
kecil. Mereka mengerti maksud Ki Ajar Permati.
“Karena itu, kalian dapat menentukan pilihan. Yang sudah
berada di padepokan ini sehari dua hari, sebulan atau setahun,
namun kemudian tidak kerasan, mereka setiap saat dapat
meninggalkan padepokan ini.”
Sejenak suasana menjadi hening. Sepuluh orang itu
nampaknya sedang memikirkan tawaran Ki Ajar Permati.
“Kalian mempunyai waktu untuk membuat pertimbanganpertimbangan.
Besok kalian akan pulang. Keluarga kalian sudah
lama menunggu. Kalian dapat membicarakan tawaranku ini
dengan keluarga kalian. Baru setelah tiga atau empat hari, kalian
mengambil keputusan. Siapa yang menerima tawaranku, akan
kembali ke padepokan ini. Siapa yang tidak menerima, biarlah
mereka tidak kembali lagi.”
“Tetapi bagaimana kami dapat sampai ke padepokan ini
seorang diri seandainya aku ingin kembali? Kecuali jalan terlalu
rumit, mungkin aku akan bertemu dengan sisa-sisa para
pengikut Ki Gede Lenglengan.”
“Aku akan menunggu kalian selama lima hari di penginapan
Manjung. Kita akan bersama-sama naik ke padepokan ini.”
Orang-orang itu mengangguk-angguk. Seorang di antara
mereka berkata, “Terima kasih atas kesempatan ini, Ki Ajar. Kami
akan memikirkannya serta memperbincangkannya dengan
keluarga kami.”
“Baiklah. Tetapi ingat, bahwa kita akan bekerja keras.
Mungkin sekeras sebagaimana pernah kalian lakukan. Namun
yang akan kita lakukan itu akan berarti bagi kita pula. Tidak bagi
orang lain.”
Demikianlah, maka kesepuluh orang itupun telah
dikembalikan ke bangsal yang diperuntukkan bagi mereka.
Pangeran Benawa telah memberitahukan kepada mereka, bahwa
mereka boleh mengabarkan kabar kebebasan itu kepada kawankawan
mereka, para tawanan di Padepokan Watukambang itu.
“Biarlah malam nanti mereka dapat tidur nyenyak di malam
terakhir mereka berada di padepokan ini, kecuali mereka yang
kelak berniat untuk kembali ke padepokan ini.”
Kabar kebebasan itu benar-benar telah menggemparkan seisi
bangsal. Ketika seorang dari sepuluh orang yang menghadap Ki
Ajar Permati itu mewakili kawan-kawannya menyampaikan
keputusan Ki Tumenggung bahwa esok mereka dapat
meninggalkan padepokan itu, maka orang-orang sebangsal
itupun telah bersorak. Bahkan ada di antara mereka yang
terduduk di pembaringan sambil menangis terisak-isak seperti
anak-anak.
Pangeran Benawa dan Paksi yang mendengar sorak itu
tersenyum. Mereka ikut merasakan kegembiraan yang meledak
dari mereka yang sudah merasa terlalu lama diperlakukan seperti
seekor binatang. Mereka yang kebebasannya terbelenggu.
Bahkan Pangeran Benawa itupun kemudian berkata kepada
Paksi, “Marilah, kita lihat mereka.”
“Marilah, Pangeran.”
Pangeran Benawapun kemudian berkata kepada Ki Ajar
Permati, “Kami akan ikut bergembira bersama mereka, Ki Ajar.”
“Silahkan, Ngger. Sudah sepantasnya kita ikut bergembira
bersama mereka yang sedang bergembira. Tetapi kita juga ikut
berprihatin bersama mereka yang sedang menyandang duka.”
“Ya, Ki Ajar. Aku mengerti.”
“Bahkan Pangeran dan Angger Paksi telah melakukannya.”
Pangeran Benawa tersenyum sambil mengangguk hormat.
Orang-orang yang sedang bersuka-ria di bangsal tahanan itu
tertegun ketika mereka melihat pintu bangsal itu terbuka.
Demikian mereka melihat Pangeran Benawa dan Paksi memasuki
ruangan, maka berebut mereka mendapatkannya. Sebagian
langsung berlutut dan berusaha menyentuh kaki Pangeran
Benawa, yang lain memeluk Paksi sambil berdesah, “Kami
bersukur, anak muda. Akhirnya tangan Yang Maha Agung terasa
menyentuh kami.”
Pangeran Benawa sibuk menarik mereka yang berjongkok
untuk berdiri. Katanya berulang kali, “Bangkitlah. Berdirilah.”
Ketika mereka sudah menjadi tenang, maka Pangeran
Benawapun berkata, “Kami datang untuk mengucapkan selamat
kepada kalian. Besok kalian akan meninggalkan padepokan yang
telah agak lama kalian huni. Namun sekaligus mengikat kalian
dalam perbudakan.”
“Terima kasih, Pangeran. Kami tidak akan melupakan jasa
Pangeran dan Raden Paksi,” berkata seorang di antara mereka.
“Bukan karena jasa kami. Tetapi Ki Tumenggung atas
pertimbangan Ki Ajar memang menentukan bahwa kalian harus
dibebaskan setelah Ki Gede Lenglengan terusir dari padepokan
ini.”
“Sayang sekali, orang itu tidak dapat ditangkap.”
“Ya, sayang sekali.”
“Orang itu sangat menakutkan. Pada satu saat ia akan datang
kembali kemari. Ia akan membawa banyak kawan-kawannya. Ia
tentu akan menjemput anak-anak muda yang telah ditempanya
di sini beberapa saat lalu.”
“Siapakah mereka itu?” bertanya Paksi.
“Kami tidak tahu, Raden. Tetapi kami pernah melihat
sekelompok anak muda yang mendapat perlakuan khusus.”
“Berapa orang?”
“Tidak terlalu banyak. Tidak ada sepuluh orang.”
“Mereka itulah yang kami maksudkan. Bukankah aku pernah
bertanya tentang anak-anak muda angkatan mendatang kepada
satu dua orang di bangsal ini?”
“Ya,” sahut seorang yang lain, “namun akhir-akhir ini kami
sudah tidak dapat melihat mereka lagi. Mereka tentu berada di
satu tempat. Pada kesempatan lain, mereka akan datang bersama
Ki Gede Lenglengan untuk mengambil kembali padepokannya.”
“Ini bukan padepokan Ki Gede Lenglengan,” jawab Paksi.
“Padepokan ini adalah padepokan Ki Ajar Permati. Justru
Lenglenganlah yang merebutnya dengan cara yang sangat licik,
kotor dan keji.”
Mereka yang mendengarkan mengangguk-angguk.
“Baiklah,” berkata Pangeran Benawa, “kami mengucapkan
selamat jalan kepada kalian yang besok akan meninggalkan
padepokan ini. Sebaiknya kalian berjalan bersama-sama sampai
ke sekat yang memisahkan padepokan ini dengan dunia di
luarnya. Sekelompok prajurit akan mengawasi kalian sampai ke
tempat yang meyakinkan, bahwa kalian tidak akan diganggu lagi
oleh para pengikut Ki Gede Lenglengan.”
“Terima kasih, Pangeran,” berkata beberapa orang hampir
bersamaan.
“Beristirahatlah malam nanti dengan sebaik-baiknya. Malam
nanti adalah malam terakhir bagi kalian bermalam di padepokan
yang tentu kalian anggap sebagai neraka ini.”
“Ya, Pangeran.”
“Mimpi kalian akan mendahului keberangkatan kalian menuju
ke kebebasan,” berkata Paksi sambil tersenyum. “Kalian tentu
merasa diri kalian seperti burung yang besok akan dilepaskan
dari sangkar yang dipanggang di atas api. Selamat malam.”
Pangeran Benawa dan Paksipun kemudian telah
meninggalkan bangsal yang panjang itu.
Namun dalam pada itu, ternyata orang-orang yang akan
mendapatkan kebebasan di keesokan harinya itu justru tidak
dapat tidur. Mereka sudah berangan-angan, betapa keluarganya
akan menjadi sangat gembira menyambut kedatangannya yang
agaknya telah dianggap hilang atau mati.
Di keesokan harinya, dengan upacara singkat, Ki Tumenggung
dan Ki Ajar Permati telah melepas orang-orang yang telah
diperbudak oleh Ki Gede Lenglengan itu.
Wajah-wajah merekapun menjadi cerah, secerah langit di saat
matahari terbit.
Sementara itu sekelompok prajurit telah siap untuk
mengantar mereka sampai ke seberang sekat yang memisahkan
padepokan itu dengan dunia di luarnya. Sehingga para prajurit
itu yakin bahwa orang-orang itu tidak akan mengalami kesulitan
dengan sisa-sisa pengikut Ki Gede Lenglengan.
Dalam pada itu, Pangeran Benawa dan Paksi masih saja
berada di padepokan itu. Ki Tumenggung sendiri sudah
merencanakan untuk segera kembali ke Pajang sambil membawa
beberapa orang kawan yang lain.
“Aku mohon Ki Tumenggung bersabar sampai sepekan,”
berkata Ki Ajar Permati.
“Kenapa sepekan?”
“Aku berjanji untuk berada sepekan di Manjung menunggu
mereka yang bersedia untuk tinggal bersamaku di padepokan
ini.”
“Apakah aku yang harus berada di sini?”
“Masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi, justru karena
Ki Gede Lenglengan tidak tertangkap.”
“Kangjeng Sultan tentu menungguku.”
“Ki Tumenggung dapat mengirimkan penghubung untuk
menyampaikan laporan kepada Kangjeng Sultan.”
Ki Tumenggung itupun tersenyum. Katanya, “Baiklah, aku
mengalah. Aku akan berada di sini sampai sepekan.”
“Jika Ki Tumenggung berkenan, biarlah para tawanan itu
tetap berada di sini sampai sepekan pula,” berkata Paksi.
Ki Tumenggung mengerutkan dahinya. Lalu katanya, “Ya.
Mereka akan pergi ke Pajang bersamaku.”
“Terima kasih, Ki Tumenggung. Jika diperkenankan, aku akan
berusaha mendapatkan keterangan serba sedikit tentang adikku
yang sudah tidak berada di sini lagi.”
“Aku tidak berkeberatan, Paksi. Tetapi kau pun harus
mengingat, bahwa selama berada di tangan Ki Gede Lenglengan
atau orang-orang yang pikirannya sejalan, otak adikmu tentu
sudah diracuni. Jika kau menemukannya, mungkin kau justru
akan mengalami kesulitan. Kau tentu akan bersikap manis
kepadanya, tetapi adikmu tentu mendendammu. Kau tentu
dianggap berkhianat karena kau tidak mengikut langkah
ayahmu. Sementara itu adikmu adalah seorang anak muda yang
dibentuk untuk meneruskan apa yang disebutnya sebagai satu
perjuangan yang panjang. Adikmu adalah salah seorang dari
anak-anak muda yang disebut angkatan mendatang itu.”
Paksi menarik nafas panjang. Seolah-olah ditujukan kepada
dirinya sendiri ia bergumam, “Apakah aku sudah terlambat?”
“Kita akan mencobanya,” sahut Pangeran Benawa. “Kita tidak
tahu pasti, apa yang telah terjadi dengan adikmu. Tetapi menurut
perhitungan nalar, maka adikmu tentu sudah dibelenggu oleh
ajaran-ajaran Ki Gede Lenglengan. Meskipun demikian, kita
dapat mencobanya. Mudah-mudahan kita dapat bertemu dan
berbicara dengan terbuka.”
Tetapi Ki Tumenggung menggelengkan kepalanya. Katanya,
“Menurut pendapatku, Paksi memang sudah terlambat. Jika
Paksi pergi juga untuk mencarinya, maka Paksi tentu akan
menghadapi rintangan dan hambatan yang sulit dapat ditembus,
karena rintangan dan hambatan itu akan berlapis, sebagaimana
Paksi datang ke padepokan ini. Dengan kekuatan yang terhitung
besar, kita pecahkan padepokan ini. Tetapi kita tidak
menemukan adik Paksi itu.”
“Terbalik, Ki Tumenggung,” sahut Pangeran Benawa sambil
tersenyum.
“Apa yang terbalik, Pangeran?”
“Kita menyerang padepokan ini dengan kekuatan yang
terhitung besar karena kita sudah mendapat keterangan bahwa
anak-anak muda itu sudah tidak berada di sini.”
Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
iapun mengangguk sambil berdesis, “Ya, Pangeran Benawa.
Meskipun demikian, padepokan ini dapat dipakai sebagai ukuran,
bahwa adik Paksi itu berada di lingkungan sebagaimana
padepokan ini. Paksi tidak akan mudah memasukinya dan
bertemu dengan adiknya itu.”
“Terima kasih atas peringatan Ki Tumenggung,” desis Paksi.
“Tetapi sulit bagiku untuk mengurungkan niat mencari adikku
itu. Mungkin yang terjadi adalah sama sekali berlawanan dengan
niatku menemuinya karena keadaan. Tetapi aku ingin
mencobanya, Ki Tumenggung.”
“Jika tekadmu sudah tidak dapat digoyahkan lagi, terserah
kepadamu. Tetapi kau harus sangat berhati-hati.”
“Aku menyertainya, Ki Tumenggung. Mudah-mudahan apa
pun yang terjadi, kami berdua tidak akan kehabisan akal.”
“Baiklah, Pangeran, kami akan berdoa bagi Pangeran Benawa
dan Paksi. Selanjutnya, jika Paksi masih ingin berbicara dengan
para tawanan, tentu tidak ada keberatannya apa-apa. Silahkan.
Mungkin Pangeran dan Paksi akan mendapatkan petunjukpetunjuk
tentang anak-anak muda itu.”
Sebenarnyalah, Pangeran Benawa dan Paksi berusaha untuk
mendapat keterangan tentang anak-anak muda yang telah
dikirim ke tempat yang lain di sisi selatan kaki Gunung Merapi.
Di hari-hari berikutnya, dengan sabar Pangeran Benawa dan
Paksi berbicara dengan beberapa orang tawanan. Seorang demi
seorang mereka dipanggil untuk menghadap Pangeran Benawa
dan Paksi.
Namun ternyata tidak banyak keterangan yang didapat oleh
Pangeran Benawa dan Paksi tentang adik laki-laki Paksi,
meskipun adik laki-laki Paksi itu banyak dikenal di padepokan
itu.
Raden Lajer Laksita memang memiliki beberapa kelebihan dari
kawan-kawannya, sehingga ia termasuk seorang anak muda pada
tataran tertinggi di antara beberapa orang anak muda yang lain.
Namun ketika Pangeran Benawa dan Paksi memanggil seorang
yang rambutnya sudah mulai memutih, maka keteranganketerangan
yang didengarnya dapat sedikit menambah
pengenalannya atas arah dan tujuan sekelompok anak muda
yang disiapkan bagi angkatan mendatang itu.
“Siapakah namamu?” bertanya Pangeran Benawa kepada
orang yang rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban itu.
“Ki Gede Lenglengan memanggil hamba Riwut,” jawab orang
itu.
“Itu adalah nama panggilanmu menurut lidah Ki Gede
Lenglengan. Tetapi siapakah namamu yang sebenarnya?”
“Nama hamba yang sebenarnya adalah Surareja, Pangeran.”
“Apa hubunganmu dengan Ki Gede Lenglengan?”
“Hamba tidak mempunyai hubungan khusus dengan Ki Gede
Lenglengan.”
“Jadi kenapa kau berada di sini? Apakah kau memang
seorang yang menganggap dirimu pejuang untuk ikut
mempersiapkan angkatan mendatang di sini?”
Surareja menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hamba
terlempar ke tempat ini bukan atas keinginan hamba sendiri.”
“Jadi?”
“Sebenarnya hamba adalah pemomong Raden Suminar. Ketika
Raden Suminar untuk sementara berada di sini, hamba pun
berada di sini pula.”
“Bukankah Raden Suminar itu murid Ki Gede Lenglengan?”
“Ya. Tetapi bukan murid murni dari perguruan ini. Ketika
Raden Suminar memasuki padepokan ini, Raden Suminar sudah
berbekal ilmu. Namun di sini ilmu Raden Suminar itu
dimatangkan, dilengkapi, diisi dan semakin ditingkatkan.”
“Ketika Raden Suminar itu bergabung dengan Harya Wisaka,
kenapa kau tidak ikut pula?” bertanya Paksi.
“Ilmuku tidak selengkap ilmu Raden Suminar. Aku tidak
diperlukan oleh Harya Wisaka. Bahkan mungkin aku hanya akan
menjadi penghambat bagi Raden Suminar. Karena itu, aku
ditinggalkan saja di padepokan ini, mengabdi kepada Ki Gede
Lenglengan.”
“Pada saat Raden Suminar sudah tidak ada di padepokan ini,
bukankah ada beberapa orang anak muda yang ditempa di sini
dan dipersiapkan sebagaimana Raden Suminar untuk
mendukung perjuangan Harya Wisaka di masa mendatang?”
bertanya Pangeran Benawa.
“Hamba, Pangeran. Ada beberapa orang anak muda yang
ditempa di sini. Mereka memang dipersiapkan untuk melanjutkan
perjuangan di masa mendatang. Tetapi Harya Wisaka itu sendiri
telah tertangkap.”
“Karena itukah mereka telah dipindahkan ke sisi selatan kaki
Gunung Merapi?”
“Ada beberapa sebab, Pangeran. Di antaranya memang karena
Harya Wisaka tertangkap serta gugurnya Raden Suminar. Tetapi
tentu ada sebab-sebab lain yang menimbulkan kekhawatiran Ki
Gede Lenglengan, bahwa pada suatu saat padepokannya yang
terpencil ini akan diketahui orang.”
“Tetapi Ki Gede tidak meletakkan penjagaan di mulut sekat
yang memisahkan padepokan ini dengan dunia luar.”
“Ketika beberapa lama setelah timbul kecemasan itu tidak
terjadi apa-apa, maka keyakinan Ki Gede Lenglengan bahwa
padepokan ini tidak akan diketahui oleh orang lain, kembali
menjadi kuat. Itu adalah satu kelengahan.”
“Apa yang kau ketahui tentang anak-anak muda itu, Ki
Surareja?” bertanya Paksi kemudian.
“Tidak banyak, Raden.”
“Mereka sekarang ditempatkan di mana?”
“Tidak seorang pun tahu kecuali Ki Gede Lenglengan sendiri.”
“Ki Surareja,” berkata Pangeran Benawa kemudian, “ketika
Paman Harya Wisaka tertangkap, setelah Raden Suminar gugur,
Paman Harya Wisaka telah menyadari betapa anak-anak muda
itu akan hidup dalam kesia-siaan. Raden Suminar yang telah
dipersiapkan dengan baik itupun akhirnya terkapar mati tanpa
arti apa-apa. Karena itu, maka akhirnya Paman Harya Wisaka
mengambil keputusan untuk memberitahukan kepada kami, di
mana anak-anak muda itu ditempa untuk menjadi seorang
pejuang yang tangguh sebagaimana Raden Suminar. Namun yang
akhirnya akan terdampar ke dalam kematian yang sia-sia.”
“Pangeran berkata sebenarnya?”
“Ya. Kenapa aku berbohong? Bukankah akhirnya kami benarbenar
menemukan padepokan ini?”
“Apakah pengakuan Harya Wisaka itu diberikan setelah
mengalami tekanan lahir dan batin?”
“Kau kira ada orang yang dapat memaksa Harya Wisaka
berbicara tanpa dikehendakinya sendiri?”
“Harya Wisaka memang seorang yang berilmu tinggi. Tetapi di
Pajang pun ada orang yang berilmu tinggi, yang akan dapat
memberikan tekanan kewadagan, sehingga memaksa Harya
Wisaka untuk berbicara.”
“Harya Wisaka adalah seorang laki-laki. Bahkan mungkin
kami pun tidak akan dapat memaksamu berbicara meskipun kau
harus mati dengan luka arang keranjang. Tetapi dengan
kesadaran betapa pentingnya menyelamatkan jiwa anak-anak
muda itu dari masa depan yang kelam dan tidak berarti sama
sekali bagi dirinya sendiri dan bagi orang banyak, mungkin kau
akan berbicara tentang anak-anak muda itu.”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pangeran
telah mengusik ketenangan jiwa hamba. Sampai saat ini hamba
yang tertangkap dalam pertempuran tidak merasa cemas sama
sekali tentang nasib hamba. Hamba sudah pasrah seandainya
hamba dihukum mati dengan cara apapun juga. Justru karena
itu, hamba tidak pernah merasa gelisah. Tetapi keterangan
Pangeran itu benar-benar membuat hamba menjadi gelisah.”
“Jadi kau sudah pasrah seandainya kau dihukum mati?”
“Ya, Pangeran.”
“Apakah yang kau maksud dengan pasrah? Pasrah kepada
para petugas Pajang yang berwenang untuk mengadilimu,
kemudian pasrah kepada para prajurit yang akan melaksanakan
hukuman itu?”
“Ya.”
“Hanya itu? Kepada siapa kau pasrahkan nyawamu?”
Pertanyaan itu terasa menyengat jantung Surareja.
Dipandangnya Pangeran Benawa dengan tajamnya. Kemudian
dipandanginya pula wajah Paksi.
Akhirnya Surareja yang rambutnya sudah mulai ubanan itu
menundukkan wajahnya.
Sementara itu Pangeran Benawa berkata selanjutnya, “Ki
Surareja, terserah kepadamu, apakah kau bersedia untuk
memberikan beberapa petunjuk tentang anak-anak muda itu
atau tidak. Jika kau masih mempunyai keinginan untuk
menyelamatkan anak-anak muda itu dari kegelapan di masa
depannya, tolonglah mereka. Kelak mereka akan berterima kasih
kepadamu.”
Surareja itu semakin menundukkan wajahnya. Namun
seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri. Surareja itupun
bergumam, “Bagaimana aku tahu, bahwa Pangeran dan Raden
Paksi akan menyelamatkan mereka? Bukan sebaliknya
menangkap dan menghukum mereka dengan hukuman mati.”
Paksilah yang segera menyahut, “Seorang di antara mereka
adalah adikku.”
Surareja mengerutkan dahinya. Sementara Paksi berkata
selanjutnya, “Lajer Laksita adalah adikku.”
“Bukankah Raden Lajer Laksita itu putera Ki Tumenggung
Sarpa Biwada?”
“Ya. Aku juga putera Ki Tumenggung Sarpa Biwada.”
“Tetapi....”
“Aku sudah berkhianat menurut sisi penglihatan para
pengikut Harya Wisaka. Aku memang tidak sependapat dengan
ayah. Karena itu, aku bukan pengikut Harya Wisaka. Tetapi
adikku yang sedang meningkat dewasa itu telah dibentuk oleh
ayah menjadi seorang Suminar baru. Jika ia tidak diselamatkan,
maka nasibnya tentu akan seperti Raden Suminar. Bahkan
mungkin akan lebih buruk lagi, karena para pengikut Harya
Wisaka itu sekarang tidak lebih dari sebuah gerombolan yang
tidak lagi mempunyai pengikat yang cukup berwibawa.”
Surareja menarik nafas dalam-dalam. Nampak keragu-raguan
yang sangat sedang mencengkam jantungnya, sehingga tubuhnya
menjadi basah oleh keringat.
“Ki Surareja,” desis Pangeran Benawa kemudian.
“Hamba, Pangeran.”
“Aku sudah tahu, bahwa anak-anak muda dari padepokan ini
yang jumlahnya tidak mencapai sepuluh orang itu berada di sisi
selatan kaki Gunung Merapi. Mereka diasuh oleh sepasang
suami-istri yang berilmu tinggi. Namun orang yang mengatakan
hal itu tidak mengetahui nama sepasang suami-istri itu.”
Surareja terkejut. Bahkan iapun bertanya, “Siapa yang
mengatakan hal itu kepada Pangeran?”
“Kau tidak perlu tahu, Ki Surareja. Kau berpendirian lain, itu
berarti bahwa aku telah mengadu kalian berdua, jika aku
memberitahukanmu.”
Surareja menarik nafas panjang. Katanya, “Keterangan itu
benar, Pangeran.”
“Dapatkah kau menyebutkan, siapakah sepasang suami-istri
itu?”
“Ki Gede Lenglengan tidak menyebut namanya. Tetapi Ki Gede
pernah di luar sadarnya mengatakan, bahwa sepasang suamiistri
iblis itu dapat mencala putra mencala putri.”
“Mereka dapat berganti rupa menjadi orang lain?”
“Maksudku tidak sejauh itu. Sepasang suami-istri itu pada
suatu saat dapat menjadi dua orang suami-istri yang nampak
lembut, baik dan akrab. Namun pada saat yang lain benar-benar
dapat berhati iblis. Mereka membunuh dengan tanpa berkedip.”
Jantung Pangeran Benawa dan Paksi menjadi berdebar-debar.
Sementara itu orang yang rambutnya mulai ubanan itu berkata
selanjutnya, “Mula-mula kedua orang suami-istri itu bermusuhan
dengan Harya Wisaka. Namun tidak karena landasan paham dan
sikap mereka terhadap Pajang. Tetapi sekedar persaingan yang
tidak mempunyai landasan apapun. Mereka sama-sama
menginginkan pusaka istana yang hilang dari bangsal
perbendaharaan. Namun ketika sepasang suami-istri itu sempat
bertemu dengan Ki Gede Lenglengan yang memang sudah mereka
kenal sejak masa muda mereka, maka kedua orang suami-istri
itu bersedia dan bahkan menjadi pendukung yang kuat dari
perjuangan Harya Wisaka. Sehingga akhirnya justru mereka
mendapat kepercayaan untuk membentuk masa depan beberapa
orang anak muda yang semula ditempa di padepokan ini.”
Pangeran Benawa dan Paksi saling berpandangan sejenak.
Meskipun mereka tidak mempunyai kepastian, tetapi tiba-tiba
saja angan-angan mereka hinggap pada sepasang suami-istri
yang aneh yang pernah mereka jumpai di sisi selatan kaki
Gunung Merapi. Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.
Namun merekapun berkata di dalam hati, “Mungkin tidak ada
hubungannya sama sekali dengan kedua orang itu.”
Karena itu, baik Pangeran Benawa maupun Paksi tidak
menyahut sama sekali.
Dalam pada itu, Pangeran Benawapun bertanya, “Apalagi yang
dapat kau katakan tentang sepasang suami-istri itu?”
“Tidak ada lagi, Pangeran. Hamba memang tidak banyak
mengetahui tentang kedua orang itu.”
“Kau pernah bertemu dengan orang itu?”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun wajahnya
membayangkan keragu-raguan yang dalam.
Kemudian iapun berkata, “Aku pernah melihat orang itu.
Tetapi jaraknya tidak terlalu dekat.”
“Jadi orang itu pernah datang kemari dan mengetahui bahwa
di sini ada sebuah padepokan?”
“Tidak. Tidak di sini. Tetapi di tempat lain. Pembicaraan
antara mereka dilakukan di tempat yang juga dirahasiakan.
Waktu itu, hamba mendapat kesempatan mengikuti Ki Gede
Lenglengan bersama seorang kepercayaannya yang lain.”
“Siapa orang itu?”
“Ki Prana Sanggit.”
“Kau dapat menunjukkan kepada kami orang yang bernama
Prana Sanggit itu?”
“Orang itu sudah terbunuh, Pangeran. Hamba melihat
mayatnya pada saat siap dikuburkan.”
“Jadi Prana Sanggit itu sudah terbunuh?” Paksi menegaskan.
“Ya, Raden.”
“Jadi kau satu-satunya orang yang dapat memberikan
keterangan tentang suami-istri itu?”
“Aku sudah mengatakan apa yang aku ketahui, Raden.”
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia memang harus
pergi ke kaki Gunung Merapi di sisi selatan.
Namun Paksi dan Pangeran Benawa tidak segera
meninggalkan padepokan itu. Ia masih mencoba untuk berbicara
dengan beberapa orang yang lain. Namun tidak seorang pun di
antara mereka yang dapat memberikan keterangan lebih jelas
dari laki-laki yang rambutnya sudah mulai ubanan itu.
Dalam pada itu, Ki Ajar Permati telah menepati janjinya untuk
berada di Manjung, menunggu beberapa orang yang bersedia
tinggal bersamanya di padepokan. Padepokan yang kemudian
telah menjadi padepokan yang terbuka, karena sudah banyak
diketahui orang, terutama para prajurit Pajang.
Selama sepekan di Manjung, ternyata Ki Ajar Permati telah
menerima lebih dari sepuluh orang. Ternyata ada seorang anak
muda yang datang bersama seorang kawannya yang menyatakan
ingin sekali tinggal di Padepokan Watukambang.
“Ketika aku menceriterakan niatku untuk kembali ke
padepokan ini, ia menyatakan keinginannya, apabila
diperkenankan, untuk ikut berguru di Padepokan Watukambang,
Ki Ajar.”
Ki Ajar tersenyum. Katanya, “Baiklah. Tetapi ia harus
menyadari sebelumnya, bahwa berada di sebuah padepokan
berbeda dengan bekerja keras. Mungkin sikapku pun akan
berbeda. Sebagai seorang guru dan pemimpin padepokan, aku
tidak akan seramah sekarang ini.”
Anak muda itu berpaling kepada kawannya. Dengan nada
berat iapun berkata, “Nah, kau dengar?”
Kawannya itu mengangguk. Katanya, “Ayah juga mengatakan
seperti itu.”
“Ayahmu?” bertanya Ki Ajar Permati.
“Ya, Ki Ajar. Ayah juga pernah berguru. Tetapi hanya sebentar.
Dengan berat hati ayah harus meninggalkan perguruannya.”
“Kenapa?”
“Ayah dipanggil kakek untuk segera menikah. Kakek sudah
sepakat dengan seorang sahabatnya untuk mengikat
persaudaraan mereka lebih erat.”
“Dan ayahmu benar-benar pulang?”
“Ya. Ayah minta diri kepada gurunya. Kemudian ayahpun
menikah dengan gadis yang sudah ditetapkan. Maka kemudian
lahirlah anak-anaknya, termasuk aku.”
Ki Ajar tertawa. Ia senang mendengar cara anak muda itu
berceritera. Katanya kemudian, “Baiklah, jika kau sudah siap
bekerja keras.”
Dalam pada itu, seorang anak muda yang lain telah membawa
adiknya ke Manjung. Dengan ragu-ragu iapun berkata, “Ki Ajar,
aku adalah anak yang tertua. Seperti sudah pernah aku
sampaikan kepada Ki Ajar, bahwa ayahku sudah tidak ada. Ibuku
menjadi semakin tua. Karena itu, aku akan menjadi seorang ayah
bagi adik-adikku. Seorang dari adikku itu justru ingin berada di
padepokan. Aku sudah mengatakan kepadanya, bahwa tinggal di
padepokan adalah sama artinya dengan bekerja keras. Tetapi ia
benar-benar ingin, sementara ibu pun telah mengijinkannya.”
Ki Ajar mengangguk-angguk. Dipandanginya seorang remaja
yang memasuki masa dewasanya. Tubuhnya nampak kokoh oleh
kerja yang sehari-hari dilakukannya. Kulitnya berwarna tembaga
oleh sinar matahari yang setiap hari memanggangnya.
“Baiklah,” berkata Ki Ajar Permati, “aku tidak berkeberatan.
Biarlah ia bersamaku di padepokan.”
“Terima kasih, Ki Ajar,” berkata anak muda yang memasuki
usia dewasanya itu. “Aku akan patuh dan menjalankan segala
perintah dan petunjuk Ki Ajar.”
Ki Ajar tersenyum. Katanya, “Kau akan menjadi murid yang
baik.”
Sementara itu, ada tiga orang yang datang atas kehendak
mereka sendiri. Mereka termasuk orang-orang yang tertawan.
Meskipun mereka tidak termasuk sepuluh orang yang dipanggil
Ki Ajar, tetapi karena mereka mendengar dari seorang di antara
kesepuluh orang itu, maka merekapun telah datang untuk
menyatakan keinginan mereka tinggal di padepokan itu.
“Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi, Ki Ajar,” berkata
seorang di antara mereka. “Kedua orang tuaku memang sudah
lama meninggal. Sementara itu, selama aku berada di padepokan
ini, istriku pun telah meninggal pula. Karena itu, maka aku
merasa bahwa sebaiknya aku berada di Padepokan
Watukambang saja.”
Sementara itu, seorang yang lain berkata, “Ki Ajar, selama aku
berada di dalam perbudakan, ternyata istriku telah meninggalkan
aku. Ia telah menikah lagi dengan orang lain. Sedangkan orang
lain itu adalah sepupuku sendiri. Seorang anakku ikut bersama
mereka. Ibunya dan suaminya yang sekarang tidak melepaskan
anak itu untuk aku asuh. Karena itu, aku berniat untuk
menenggelamkan hidupku di padepokan ini. Aku tidak pernah
berniat untuk menikah lagi, jika hanya sampai sekian batas
kesetiaan seorang perempuan.”
“Belum tentu kalau istrimu bukan seorang perempuan yang
setia. Tetapi karena kau disangkanya hilang dan setelah lebih
dari setahun tidak ada kabar beritanya, maka istrimu tidak dapat
menolak ketika lamaran dari saudara sepupumu itu datang.”
“Ya, ya, Ki Ajar benar. Istriku memang sudah hampir gila
memikirkan kepergianku. Menurut ayah dan ibuku,
pernikahannya itu dapat menjadi obat baginya.”
“Baiklah. Jika kalian semuanya bersedia untuk bekerja keras
bersamaku, maka aku tidak akan berkeberatan atas kehadiran
kalian semuanya.”
Demikianlah, setelah lewat sepekan, maka Ki Ajarpun telah
mengajak orang-orang yang menyatakan kesediaannya berada di
padepokan itu meninggalkan Manjung. Mereka akan memasuki
sebuah dunia yang tidak lagi disekat dan dipisahkan oleh dunia
di luarnya, meskipun letak padepokan itu tetap saja terasing.
Setelah Ki Ajar berada lagi di padepokan, maka Ki
Tumenggung Yudatamapun berniat untuk meninggalkan
padepokan itu. Tetapi seperti rencana semula, sebagian dari
prajuritnya akan tinggal di padepokan itu. Ki Tumenggung masih
memikirkan kemungkinan, bahwa Ki Gede Lenglengan akan
kembali lagi.
“Mudah-mudahan tidak, Ki Tumenggung,” berkata Ki Ajar
Permati. “Setelah sekat padepokan ini terbuka, Lenglengan tidak
akan tertarik lagi kepada padepokan ini, karena padepokan ini
tidak ada perbedaannya dengan padepokan-padepokan yang
berdiri di mana-mana. Meskipun demikian, bahwa Ki
Tumenggung berkenan meninggalkan sebagian prajurit Pajang,
aku mengucapkan terima kasih.”
Dalam pada itu, Pangeran Benawa dan Paksi pun telah berniat
untuk meninggalkan padepokan itu pula. Dengan nada berat
Paksipun berkata, “Pangeran, hamba berniat untuk menyusuri
lorong-lorong di sisi selatan kaki Gunung Merapi. Mungkin
hamba akan berada di sana untuk waktu yang agak panjang.”
“Aku akan pergi bersamamu, Paksi.”
“Pangeran adalah putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya.
Agaknya kurang baik bagi Pangeran untuk terlalu lama berada di
luar istana. Karena itu, apakah tidak sebaiknya Pangeran kembali
ke Pajang bersama Ki Tumenggung Yudatama, sementara itu,
biarlah hamba pergi ke sisi selatan kaki Gunung Merapi ini.”
“Aku akan pergi bersamamu, Paksi. Aku sadari, bahwa
sebaiknya aku segera kembali ke istana. Karena itu, pada saatnya
mungkin aku akan meninggalkanmu di sisi selatan kaki Gunung
Merapi.”
“Mungkin Kangjeng Sultan telah menunggu kehadiran
Pangeran di istana.”
“Biarlah Ki Tumenggung Yudatama mengatakan kepada
Ayahanda, bahwa aku akan pergi ke sisi selatan Gunung Merapi.
Tetapi tidak akan terlalu lama.”
“Kangjeng Sultan akan dapat menjadi kesepian. Raden
Sutawijaya juga tidak berada di kasatrian. Bukankah Raden
Sutawijaya pergi ke Alas Mentaok?”
“Mungkin Kakangmas Sutawijaya justru sudah berada di
istana sekarang.”
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia mengenal Pangeran
Benawa dengan baik. Karena itu, ia tidak akan dapat merubah
keinginannya untuk pergi bersamanya.
Demikianlah, ketika Ki Ajar dan beberapa orang yang bersedia
berada di padepokan itu telah siap, Ki Tumenggungpun telah
minta diri bersama sebagian dari prajurit-prajuritnya. Bersama Ki
Tumenggung telah dibawa pula para tawanan yang tertangkap
dan yang telah menyerah.
Dengan upacara kecil, Ki Ajar dan seisi padepokan itu telah
melepas Ki Tumenggung yang meninggalkan padepokan itu. Para
prajurit yang ditinggalkan di padepokan itupun telah memberikan
penghormatan kepada kawan-kawannya yang berangkat menuju
ke Pajang.
Ternyata Ki Lurah Wirapranata yang diserahi pimpinan atas
para prajurit yang ditinggalkan adalah seorang yang baik dan
rajin. Diperintahkannya para prajuritnya untuk menyesuaikan
diri dengan kehidupan di sebuah padepokan. Mereka tidak
berpijak dengan kaku pada kedudukan mereka sebagai seorang
prajurit. Tetapi mereka pun telah mencoba untuk ikut berbuat
sebagaimana dilakukan oleh penghuni padepokan itu.
Ki Ajar Permati memang harus mulai segala-galanya dari
permulaan. Diajaknya para cantriknya yang baru untuk
mengenali lingkungannya. Ternyata banyak pula para prajurit
yang ikut melakukannya. Mereka berjalan berkeliling lingkungan
yang semula terpencil itu. Sawah, pategalan, sungai, belumbang
yang menyimpan berbagai jenis ikan, padang rumput untuk
menggembalakan kambing, lembu dan kerbau yang banyak
terdapat di padepokan itu. Lingkungan yang dipagari dengan
pagar bambu yang rapat, tempat para cantrik di padepokan itu
memelihara ayam, dan semuanya yang terdapat di lingkungan
yang semula tidak dikenal oleh dunia di sekitarnya.
Para cantrik yang semula menjadi budak di padepokan itu
sudah mengenali semuanya itu. Tetapi orang-orang yang baru
saja memasuki padepokan itu, harus berdecak kagum. Ternyata
di padepokan itu segala kebutuhan seakan-akan telah dapat
dipenuhi. Bahkan di padepokan itu, terdapat juga para cantrik
yang pandai membuat kerajinan bambu, kayu dan besi. Ada
beberapa perapian pande besi terdapat di sudut padepokan.
Sebuah barak yang panjang untuk mengerjakan pekerjaan kayu
dan bambu.
“Di satu sisi, aku menaruh hormat kepada Ki Gede
Lenglengan,” berkata Ki Ajar Permati, “Tetapi di sisi lain, Ki Gede
Lenglengan adalah orang yang terkutuk. Kebengisannya yang
tidak terkendali, nafsunya yang melonjak-lonjak di dadanya serta
mimpinya yang buruk, membuatnya menjadi orang yang tidak
terkendali.”
Para cantriknya dan para prajurit mendengarkannya dengan
sungguh-sungguh. Sementara itu, Ki Ajarpun berkata
selanjutnya, “Sekarang, kitalah yang tinggal di sini. Yang kita
anggap baik akan kita pertahankan. Bahkan jika mungkin kita
tingkatkan. Daerah ini bukan lagi daerah tertutup. Karena itu,
maka hubungan kita dengan dunia luar akan berjalan lebih
mantap.”
Demikianlah, maka padepokan yang namanya masih tetap
dipertahankan oleh Ki Ajar Permati, yaitu Padepokan
Watukambang, telah mulai dengan langkah pertamanya.
Sementara itu, maka Pangeran Benawa dan Paksipun telah
menemui Ki Ajar Permati serta Ki Lurah Wirapranata. Mereka
minta diri untuk melanjutkan usaha mereka mencari adik lakilaki
Paksi yang telah dipindahkan dari Padepokan Watukambang.
“Apakah Pangeran dan Angger Paksi menemukan petunjukpetunjuk
baru untuk menelusuri jejak adik laki-laki Angger itu?”
bertanya Ki Ajar Permati.
“Tidak begitu jelas, Ki Ajar,” jawab Pangeran Benawa. “Yang
dapat kami ketahui, adik laki-laki Paksi bersama beberapa orang
anak muda telah diserahkan kepada sepasang suami-istri di sisi
selatan kaki Gunung Merapi ini.”
“Apakah Pangeran memerlukan pasukan untuk menangkap
kedua orang itu?” bertanya Ki Lurah Wirapranata.
“Tidak, Ki Lurah. Kami masih harus menemukan siapakah
kedua orang suami-istri itu.”
“Jika Pangeran sudah menemukan, panggil kami. Kami akan
menangkap mereka jika Pangeran menghendaki.”
Pangeran Benawa mengangguk. Katanya, “Baiklah, Ki Lurah.
Tetapi kami tidak dapat mengatakan, kapan kami dapat
menemukan mereka.”
“Kapan saja Pangeran memerintahkan.”
“Terima kasih atas kesediaan Ki Lurah.”
Sementara itu, Ki Ajarpun berkata, “Pangeran dan Angger
Paksi harus berhati-hati. Bukan saja kedua orang suami-istri itu
tentu orang berilmu tinggi. Tetapi ada kemungkinan Pangeran
dan Angger Paksi bertemu dengan Ki Gede Lenglengan. Aku yakin
bahwa Ki Gede Lenglengan tentu juga pergi ke padepokan suamiistri
itu, di mana mereka menempatkan anak-anak muda dari
angkatan mendatang.”
“Ya, Ki Ajar. Kami akan berhati-hati.”
“Persoalannya adalah karena adik Angger Paksi itu sendiri,
menganggap bahwa Angger Paksi telah berkhianat kepada
ayahnya serta perjuangannya.”
“Aku menyadari itu, Ki Ajar.”
“Dengan demikian, pekerjaan yang Angger pikul adalah
pekerjaan yang berat sekali.”
“Ya, Ki Ajar. Mudah-mudahan Yang Maha Agung memberi
jalan kepadaku agar aku dapat membawa adikku itu pulang. Ibu
tentu akan merasa gembira sekali.”
Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku akan
berdoa bagi keberhasilan Angger Paksi dan Pangeran Benawa
yang akan menyertai Angger.”
“Terima kasih, Ki Ajar.”
“Kapan Pangeran Benawa dan Angger Paksi akan berangkat?”
“Besok pagi-pagi, Ki Ajar.”
“Baiklah. Namun ada yang ingin aku peringatkan kepada
Pangeran Benawa.”
“Tentang apa, Ki Ajar?”
“Jangan pernah mengenakan cincin kerajaan itu di sepanjang
perjalanan.”
Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, “Baiklah, Ki Ajar. Aku
mengerti.”
“Pangeran akan dapat terlibat dalam persoalan yang lain, yang
sama sekali tidak Pangeran duga sebelumnya.”
“Terima kasih atas peringatan itu, Ki Ajar. Aku akan
menyembunyikan cincin itu agar aku tidak terjerat dalam
persoalan baru.”
Malam menjelang kepergian Pangeran Benawa dan Paksi,
keduanya telah menyempatkan diri menemui para penghuni baru
Padepokan Watukambang itu untuk minta diri. Juga kepada para
prajurit yang berada di padepokan itu.
Demikianlah, di dini hari berikutnya, padepokan itu sudah
nampak sibuk. Dua orang cantrik telah menyalakan api,
menjerang air dan menanak nasi. Mereka mempunyai beberapa
butir telur yang dapat mereka rebus. Sayur kacang panjang yang
dingin pun segera dipanasi.
Ketika cahaya fajar membayang di langit, maka Wijang dan
Paksipun telah siap pula untuk berangkat, menempuh sebuah
perjalanan baru yang panjang.
“Silahkan makan dahulu, Pangeran dan Angger Paksi. Kalian
berdua akan berjalan jauh. Bahkan kalian tidak tahu, di mana
dan kapan kalian akan sampai ke tujuan.”
Keduanya memang tidak menolak. Merekapun kemudian
makan pagi lebih dahulu sebelum berangkat meninggalkan
padepokan.
Baru ketika langit menjadi semakin terang, menjelang
matahari terbit, keduanya sekali lagi minta diri kepada penghuni
padepokan itu serta para prajurit untuk meninggalkan
Padepokan Watukambang.
“Selamat jalan, Pangeran. Selamat jalan, Angger Paksi,” desis
Ki Ajar Permati. “Aku mohon kalian berdua datang lagi ke
padepokan ini. Kapan pun.”
Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, “Tentu, Ki Ajar. Pada
suatu hari kami akan singgah di padepokan ini.”
Sejenak kemudian, maka Pangeran Benawa dan Paksi itupun
telah keluar dan regol padepokan. Mereka akan melewati bulak di
antara sawah yang digarap oleh para cantrik dan orang-orang
yang telah diperbudak oleh Ki Gede Lenglengan.
Untuk beberapa saat mereka berjalan di jalan yang rata dan
nampak terpelihara di antara tanaman yang nampak hijau subur.
Air yang jernih mengalir di parit yang membujur panjang di
pinggir jalan itu. Beberapa batang pohon turi tumbuh di atas
tanggul parit, yang dapat menjadi tempat berlindung bagi mereka
yang berjalan di bawah teriknya matahari.
Di kejauhan nampak hutan lereng pegunungan yang hijau
lebat melindungi lingkungan dari ganasnya air hujan.
Ketika cahaya matahari pagi nampak bagaikan membakar
langit, maka keduanya telah sampai di sekat yang memisahkan
padepokan itu dari dunia di sekitarnya. Namun sekat itu seakanakan
sudah runtuh pada saat pasukan Pajang memasuki
padepokan yang tertutup itu. Padepokan yang ternyata menjadi
bagian dari landasan kekuatan Harya Wisaka, justru untuk
jangka yang panjang.
Pangeran Benawa yang dalam pengembaraannya mengenakan
nama Wijang, serta Paksi itupun kemudian mulai menuruni kaki
Gunung Merapi melalui tanah yang miring, berbatu-batu padas
ditebari dengan batu-batu yang besar berserakan di mana-mana.
Untuk beberapa saat mereka berjalan di atas tanah yang sama
sekali tidak layak untuk dilalui. Tidak ada lorong sekecil apa pun.
Tidak ada jalan setapak yang menandai bahwa lingkungan itu
sering didatangi orang meskipun jarang-jarang.
Namun agaknya dalam waktu dekat, maka di atas tanah yang
berbatu-batu padas di sela-sela batu-batu raksasa itu, akan
menjelujur jalan setapak menuju ke Padepokan Watukambang.
Dalam pada itu, Wijang dan Paksi telah sepakat untuk lebih
dahulu pergi ke Manjung. Mereka ingin melihat keadaan Manjung
setelah mereka tidak lagi diancam oleh para pengikut Ki Gede
Lenglengan. Mereka tidak perlu lagi takut dirampok di atas sasak
penyeberangan yang menuju ke Nglungge. Demikian pula
sebaliknya. Penginapan di Manjung dan Nglungge pun tidak lagi
dicemaskan oleh kedatangan sekelompok orang-orang bersenjata
yang akan merampas bekal dan harta benda orang-orang yang
menginap.
Kedatangan Wijang dan Paksi di penginapan di Manjung,
disambut dengan ramah sekali oleh pemilik penginapan itu.
Meskipun pemilik penginapan itu tidak mengetahui dengan pasti,
dengan siapa ia berhadapan, namun ia tahu, bahwa kedua orang
itu tentu mempunyai peran yang penting pada saat prajurit
Pajang menghancurkan padepokan yang sebelumnya tidak
diketahuinya itu.
“Aku persilahkan kalian berdua menginap di penginapanku
kapan saja kalian kehendaki,” berkata pemilik penginapan itu.
“Terima kasih,” sahut Wijang. Namun yang kemudian berkata,
“Kami tidak akan menginap. Kami datang untuk memberikan
peringatan.”
“Peringatan?” orang itu mengerutkan dahinya.
“Mungkin keadaan sudah menjadi jauh lebih baik sekarang.
Meskipun demikian, sebaiknya di penginapan ini masih harus
ada petugas-petugas untuk menjaga segala kemungkinan.
Mungkin sisa-sisa penghuni padepokan yang sudah dihancurkan
itu. Mungkin justru perampok dari tempat lain yang mendengar
peristiwa yang terjadi di sini serta melihat bahwa penginapan ini
seakan-akan menjadi lengah. Dengan sedikit perhitungan,
mereka dapat memanfaatkan keadaan yang berkembang di
daerah ini.”
Pemilik penginapan itu mengangguk-angguk sambil berkata,
“Terima kasih atas peringatan ini. Aku akan memanggil orangorangku
yang dahulu. Mungkin mereka tidak lagi dibayangi
ketakutan sekarang ini. Untuk menghadapi gerombolan
perampok yang lain, yang tentu tidak akan sekuat para penghuni
padepokan itu, orang-orangku itu akan dapat mengatasinya.”
“Tolong sampaikan pesan ini juga kepada pemilik penginapan
di Nglungge, agar orang-orang yang menginap menjadi lebih
tenang.”
Namun Wijang dan Paksi tidak terlalu lama berada di rumah
pemilik penginapan itu. Meskipun pemilik penginapan itu
mencoba menahannya, namun keduanya terpaksa meninggalkan
penginapan itu karena mereka sudah berniat untuk mulai dengan
perjalanan mereka menuju ke sisi selatan kaki Gunung Merapi.
Demikian mereka mulai dengan perjalanan mereka, maka
Wijangpun berkata, “Agaknya kita akan menuju ke arah yang
sama dengan Ki Gede Lenglengan.”
Paksi mengangguk-angguk. Ia pun sadar bahwa Wijang ingin
memperingatkannya, bahwa mereka mungkin sekali akan
bertemu dengan Ki Gede Lenglengan di perjalanan. Jika
demikian, maka itu akan berarti bahwa mereka akan bertemu
dengan orang yang ilmunya sangat tinggi. Orang yang tidak dapat
ditangkap oleh Ki Ajar Permati meskipun mereka sudah bertemu
di medan.
Meskipun keduanya akan menempuh perjalanan panjang
melalui jalan yang kadang-kadang mendaki, namun kadangkadang
bagaikan menukik turun, keduanya tidak mengalami
kesulitan. Keduanya telah memiliki pengalaman pengembaraan
yang cukup.
Tetapi kadang-kadang mereka sampai juga di jalan datar yang
panjang, di antara sawah yang nampak hijau terbentang dari
cakrawala sampai ke cakrawala.
Namun mereka pun sering pula menyusup jalan yang
menembus padukuhan-padukuhan yang keadaannya sangat
berbeda-beda. Kadang-kadang mereka berjalan di padukuhan
yang nampak cerah, bersih dan dihuni oleh orang-orang yang
tataran hidupnya cukup baik. Namun mereka juga melewati
padukuhan-padukuhan yang nampak muram. Di sebelahmenyebelah
jalan nampak rumah yang sederhana meskipun
halamannya cukup luas. Tetapi tanaman yang tumbuh di
atasnya, daunnya tidak nampak hijau dan rimbun. Tetapi jarang
dan agak kekuning-kuningan.
Ketika mereka sampai di sebuah padukuhan yang nampak
gersang itu, Wijangpun berkata, “Padukuhan ini memerlukan
perhatian khusus.”
“Nampaknya tanahnya kering dan tandus.”
“Ya. Tetapi aku juga tidak melihat jalur-jalur parit di sekitar
padukuhan ini.”
Paksi mengerutkan dahinya. Sementara Wijangpun berkata,
“Sebenarnya lingkungan ini cukup basah. Jika saja dibuat parit,
maka air akan mengalir dari lereng.”
“Agaknya tidak ada orang yang mengarahkannya. Atau orangorang
padukuhan ini memang orang-orang malas.”
Belum lagi duapuluh langkah, Wijang dan Paksi itu melihat
tiga orang laki-laki yang masih terhitung muda, duduk-duduk
sambil memeluk lutut di mulut sebuah lorong.
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah agaknya
yang mereka lakukan sehari-hari. Tentu bukan hanya tiga orang
itu. Tetapi masih banyak yang lain yang kerjanya hanyalah
duduk-duduk sambil memeluk lutut.”
Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Rasa-rasanya hati ini
tergelitik untuk berbicara dengan mereka. Jika saja aku bukan
putera Ayahanda Sultan, aku dapat menutup mata melihat
keadaan seperti ini.”
Paksi mengangguk sambil berdesis, “Itu adalah kepedulian
Pangeran terhadap rakyatnya.”
“Namaku Wijang.”
“Putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya namanya bukan Wijang.”
Wijang memandang Paksi dengan tajam. Namun kemudian ia
tersenyum. Katanya, “Ya, kau benar, Paksi. Aku keliru.
Seharusnya aku berkata, bahwa setiap orang harus
mempedulikan lingkungannya. Termasuk kita. Wijang dan Paksi.
Kita tidak dapat membiarkan mereka tertinggal dalam kehidupan
mereka yang apa adanya tanpa berusaha untuk dapat
meningkatkannya.”
Paksipun tertawa pendek. Dengan nada berat iapun berkata,
“Apakah kita akan melakukannya sekarang?”
“Apa salahnya? Kita akan berbicara dengan mereka. Jika
mereka mau mendengarkan, sukurlah. Jika tidak, bukankah kita
tidak kehilangan apa-apa?”
“Kita akan berbicara dengan ketiga orang itu?”
“Tidak. Kita akan berbicara dengan Ki Bekel.”
“Jika demikian, maka kita akan mencari rumah Ki Bekel.”
Wijang mengangguk-angguk.
Beberapa puluh langkah lagi, keduanya tertegun. Mereka
melihat dua orang perempuan duduk di tangga sebuah regol
halaman yang sudah agak miring karena tidak terpelihara.
Seorang dari mereka sedang sibuk mencari kutu rambut dan
yang seorang lagi sambil asyik berbicara tanpa henti-hentinya.
“Itu adalah bayangan dari seluruh kehidupan di padukuhan
ini, Paksi,” desis Wijang.
“Aku akan bertanya kepada mereka, di manakah rumah Ki
Bekel dari padukuhan ini.”
Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Bertanyalah. Hati-hati.
Jangan membuat mereka curiga. Agaknya mereka tidak ingin
terusik dari kehidupan mereka yang tenang dan tenteram.”
“Tetapi tanpa greget sama sekali. Yang mereka jalani sekarang
adalah apa yang telah mereka jalani kemarin. Apa adanya tanpa
usaha peningkatan sama sekali.”
Wijang tidak menjawab. Sementara itu, Paksipun telah
melangkah mendekati dua orang perempuan yang duduk di
tangga regol itu.
Kedua orang perempuan itu memang terkejut. Tetapi jauhjauh
Paksi sudah mengangguk hormat sambil berkata, “Maaf,
Bibi. Apakah aku boleh bertanya?”
Sikap Paksi itu membuat kedua orang itu menjadi tenang.
Seorang di antara mereka segera bangkit berdiri dan bertanya,
“Ada apa, anak muda?”
“Bibi, di manakah rumah Ki Bekel padukuhan ini?”
“Ki Bekel? Apakah kau akan menemui Ki Bekel?”
“Ya, Bibi.”
“Untuk apa?”
“Sekedar memperkenalkan diri.”
Perempuan itu memandang Paksi dari ujung kakinya sampai
ke kepalanya. Dengan nada tinggi perempuan itu masih saja
bertanya, “Untuk apa kau memperkenalkan diri?”
“Tidak apa-apa, Bibi.”
Kedua orang perempuan itu saling berpandangan. Yang
seorang, yang juga telah bangkit berdiri, bertanya, “Siapakah
kalian?”
“Namaku Paksi, Bibi. Itu kakakku, namanya Wijang.”
Perempuan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau dapat
sampai ke rumah Ki Bekel lewat lorong sebelah. Atau kau dapat
berjalan melingkar mengikuti jalan induk ini. Kau akan sampai di
banjar, kemudian dua rumah dari banjar adalah rumah Ki
Bekel.”
“Terima kasih, Bibi.”
Kedua orang perempuan itu tidak menjawab. Namun mereka
agaknya tertarik pada kehadiran dua orang anak muda yang
belum pernah mereka kenal.
Sejenak kemudian, maka Wijang dan Paksipun memilih
menyusuri jalan induk itu meskipun harus melingkar. Jika
mereka memilih lorong sebelah, maka ada tiga orang laki-laki
yang duduk memeluk lutut di mulut lorong itu.
“Betapa malasnya kedua orang perempuan itu. Matahari
sudah melewati puncak dan mulai bergulir ke barat. Nampaknya
mereka masih saja belum membenahi diri. Jika hal itu karena
mereka sibuk melakukan kerja, maka mereka adalah orang-orang
yang rajin. Tetapi agaknya kerja kedua perempuan itu sejak pagi,
juga hanya duduk-duduk, berbincang tentang keluarga mereka,
tentang sanak kadang mereka, tentang tetangga-tetangga mereka
dan tentang apa saja yang tidak berarti,” desis Wijang.
Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Jika saja mereka sedikit
berbenah diri, maka mereka tidak akan kelihatan begitu kotor
sebagaimana halaman rumah mereka.”
“Bagaimana dengan halaman rumah mereka?”
“Nampaknya sudah sepekan tidak dibersihkan.”
Wijang tidak segera menyahut. Diperhatikannya dinding
halaman yang kotor, berlumut dan di sana-sini sudah mulai
retak-retak.
Beberapa saat kemudian, seperti yang dikatakan oleh
perempuan itu, merekapun sampai di depan banjar. Banjar itu
nampak sepi dan juga kurang terpelihara.
“Kita sudah hampir sampai,” berkata Wijang.
Paksi mengerutkan dahinya. Katanya, “Tidak banyak anak di
sini. Aku baru melihat dua orang anak yang berlari-larian di
halaman.”
“Ya,” sahut Wijang, “tetapi mungkin anak-anak itu sedang
menggembala kambing atau sedang merumput di pategalan.”
Paksi tidak sempat menyahut. Mereka sudah sampai di pintu
regol halaman sebuah rumah yang nampaknya lebih besar dari
rumah-rumah di sekitarnya. Lebih terawat dan halamannya yang
luas juga nampak lebih bersih.
“Agaknya inilah rumah Ki Bekel,” berkata Paksi.
“Ya. Rumah ini lebih besar dari yang lain. Marilah.”
Keduanyapun segera memasuki regol halaman rumah Ki Bekel
itu.
Ketika seorang yang sedang duduk di tangga pendapa melihat
kehadiran kedua orang anak muda itu, maka orang itupun
bangkit dan menyongsongnya.
“Apakah ini rumah Ki Bekel?” bertanya Wijang.
“Ya. Rumah ini adalah rumah Ki Bekel,” jawab orang itu.
“Apakah aku dapat menemuinya?”
“Untuk apa?”
“Ada sedikit pesan bagi Ki Bekel.”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
menjawab, “Ki Bekel masih tidur. Tadi juga ada seorang yang
mencarinya. Tetapi orang dari padukuhan ini saja.”
“Masih tidur? Maksudmu sejak pagi Ki Bekel belum bangun?”
“Belum, Ki Sanak. Semalam Ki Bekel berada di rumah
tetangga sebelah yang melahirkan anaknya yang pertama. Ikut
berjaga-jaga dan membaca tembang.”
“Semalam suntuk?”
“Tidak. Menjelang tengah malam, Ki Bekel baru pulang.”
“Menjelang tengah malam?”
“Ya.”
“Lalu tidur sampai sekarang?”
“Ya.”
“Bagaimana dengan kebiasaan Ki Bekel di hari-hari lain, jika
Ki Bekel tidak berjaga-jaga di tempat orang yang sedang
melahirkan atau mengunjungi perhelatan?”
“Ki Bekel tidak terlalu sering tidur terlalu malam.”
“Kalau bangun?”
“Biasanya Ki Bekel bangun lebih pagi. Pada saat matahari
sepenggalah, Ki Bekel tentu sudah bangun.”
“Sampai matahari sepenggalah?”
“Ya, kenapa? Bukankah biasa seseorang bangun saat
matahari sepenggalah?”
Wijang dan Paksi saling berpandangan sejenak. Agaknya Ki
Bekelpun seorang pemalas, sehingga seluruh padukuhan seakanakan
telah menirukannya, menjadi seorang pemalas pula.
“Kapan Ki Bekel akan bangun?” bertanya Paksi.
“Aku tidak tahu, Ki Sanak.”
“Apakah Ki Bekel dapat dibangunkan?”
“Tidak ada yang berani membangunkannya. Nyi Bekel pun
tidak. Apalagi orang lain.”
“Jika ada masalah yang penting?”
“Yang berkepentingan harus menunggu.”
“Jika masalah itu penting sekali sehingga harus mendapat
penanganan dengan cepat?”
“Bukankah ada bebahu yang lain?”
“Jadi orang yang berkepentingan harus mencari bebahu yang
lain? Siapa?”
“Menurut kepentingannya. Jika persoalannya menyangkut
tentang ketenangan dan tata tertib, maka itu adalah tugas Ki
Jagabaya. Mengenai persoalan-persoalan yang bersifat umum
yang menyangkut hubungan antara keluarga padukuhan ini,
adalah urusan Ki Kamituwa. Jika persoalannya menyangkut
sawah dan pategalan, itu adalah urusan bebahu yang lain lagi.”
Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Namun Wijangpun
kemudian berkata, “Ki Sanak, jika demikian, biarlah kami
menunggu. Mungkin di banjar atau di mana saja.”
“Kau tidak usah pergi ke banjar. Jika kau memang akan
menunggu, tunggulah di serambi gandok itu.”
Wijang dan Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
Wijangpun berkata, “Baiklah. Kami akan menunggu di sini.”
“Nah, jika kau akan menunggu, silahkan duduk di serambi
gandok. Mungkin kau merasa lebih bebas duduk di serambi
daripada di pendapa.”
Wijanglah yang menjawab, “Terima kasih, Ki Sanak. Kami
akan menunggu di serambi.”
Keduanyapun kemudian dipersilahkan duduk di serambi, di
atas sebuah amben bambu yang memanjang.
Beberapa saat lamanya mereka duduk di serambi sambil
berbincang tentang padukuhan yang kering itu. Tetapi Ki Bekel
masih juga belum menemuinya. Agaknya Ki Bekel itu masih
belum bangun juga. Sementara itu, orang yang mempersilahkan
mereka duduk itupun tidak nampak lagi di pendapa.
“Sampai kapan kita harus menunggu?” bertanya Paksi.
“Kita tunggu sebentar lagi. Bukankah kita perlu bertemu
dengan Ki Bekel itu untuk menunjukkan kepedulian kita?”
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Wijangpun
berkata pula, “Biarlah kita sedikit bersabar.”
Ketika mereka mendengar langkah di pintu seketeng, maka
yang mereka lihat kemudian keluar dari pintu itu adalah orang
yang mempersilahkannya duduk di serambi sambil membawa
minuman hangat serta beberapa potong makanan.
Ketika orang itu meletakkan sebuah nampan kayu di amben
panjang itu, Paksipun bertanya, “Apakah Ki Bekel sudah
bangun?”
“Sudah, Ki Sanak. Baru saja.”
“Ki Sanak sudah menyampaikan kedatangan kami kepada Ki
Bekel?”
“Sudah. Aku sudah mengatakan, bahwa ada dua orang yang
menunggu di serambi gandok.”
“Apakah Ki Bekel akan menemui kami?”
“Ya. Ketika aku mengatakan bahwa ada dua orang yang belum
aku kenal datang untuk bertemu dengan Ki Bekel, maka Ki
Bekelpun mengatakan bahwa ia akan segera menemui Ki Sanak
berdua.”
“Terima kasih, Ki Sanak. Kami akan menunggu.”
“Silahkan minum, Ki Sanak. Silahkan makan apa adanya.”
“Terima kasih,” jawab Wijang.
Sejenak kemudian, orang itupun telah hilang di balik pintu
seketeng itu lagi.
Beberapa saat keduanya menunggu. Tetapi Ki Bekel masih
juga belum keluar.
“Kenapa lama sekali?”
“Mungkin Ki Bekel itu baru mandi.”
Paksi mengangguk-angguk. Tetapi rasa-rasanya ia tidak sabar
lagi menunggu.
Ketika kesabaran mereka yang menunggu di serambi itu
hampir habis, maka mereka melihat seseorang keluar dari pintu
pringgitan. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun kemudian
orang itu melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Wijang
dan Paksi naik ke pringgitan.
“Kita pergi ke pringgitan,” desis Wijang.
Paksi mengangguk.
Demikianlah, maka keduanyapun segera melangkah turun
dari serambi gandok. Namun demikian mereka melangkah, orang
itupun berteriak, “Bawa minumanmu dan makanan itu kemari.”
Wijang dan Paksi tertegun. Sejenak mereka saling
berpandangan.
“Baiklah,” desis Wijang, “kita bawa minuman kita dan
makanan itu ke pringgitan.”
Sejenak kemudian, maka Wijang dan Paksipun telah duduk di
pringgitan ditemui oleh laki-laki yang baru saja bangun tidur.
Ternyata ia masih belum juga mandi. Bahkan sekali-sekali orang
itu masih menguap sambil menggosok matanya.
“Semalam aku berada di rumah tetangga yang melahirkan
anaknya yang pertama,” desis orang itu.
“Bukankah aku menghadap Ki Bekel?” bertanya Wijang.
“Ya, aku bekel di sini. Tetapi dengar kata-kataku, semalam
aku berjaga-jaga di rumah tetangga sebelah yang telah dikurniai
seorang bayi laki-laki.”
“Semalam suntuk, Ki Bekel?” bertanya Paksi meskipun ia
sudah tahu bahwa Ki Bekel pulang menjelang tengah malam.
“Tidak. Tetapi aku pulang menjelang tengah malam.”
Paksi mengangguk-angguk.
Sementara itu, Ki Bekel sambil menguap tanpa menutup
mulutnya dengan tangannya, bertanya, “Siapakah kalian?”
“Namaku Wijang, Ki Bekel. Ini adikku, Paksi.”
Ki Bekel mengangguk. Dengan nada datar iapun bertanya
pula, “Untuk apa kalian datang kemari?”
“Maaf, Ki Bekel. Kami adalah perantau yang sudah
menjelajahi seribu lembah dan ngarai. Kami sudah melintasi
dataran yang luas serta mendaki lereng-lereng pegunungan.”
“Untuk apa hal itu kau katakan kepadaku?”
“Sekedar pengantar, Ki Bekel. Aku hanya ingin mengatakan,
bahwa sudah banyak padukuhan yang aku kunjungi.”
“Lalu?”
“Aku mencoba untuk memperbandingkan kesuburan tanah di
setiap padukuhan yang aku lewati.”
“Aku tahu arah bicaramu,” potong Ki Bekel. “Kau akan
mengatakan bahwa tanah di padukuhan ini nampak kering dan
gersang. Bukankah begitu?”
“Aku tidak bermaksud menyinggung perasaan Ki Bekel. Jika
aku mengatakan bahwa tanah di padukuhan ini nampak kering
dan gersang, justru aku merasa ikut prihatin akan keadaan ini.”
“Kau tidak usah ikut berprihatin. Kami yang tinggal di sini
tidak pernah merasa prihatin. Inilah yang ada pada kami. Kami
harus menerimanya apa adanya tanpa merasa prihatin.”
“Aku sependapat, Ki Bekel. Tetapi jika kita dikurniai akal
budi, apakah tidak sebaiknya kita pergunakan? Demikian pula
tenaga dan kemampuan kita.”
“Wah,” Ki Bekel itu dengan serta-merta memotong, “kau anak
kemarin sore sudah menggurui aku. Lihat, rambutku sudah
ubanan. Seharusnya kau hormati orang-orang tua. Apakah ayah
dan ibumu tidak pernah mengajarimu unggah-ungguh?”
“Tentu, Ki Bekel. Aku hormati orang-orang tua. Ayah dan ibu
kami mengajari kami, agar kami selalu menghormati orang-orang
tua.”
“Jadi kenapa kau sekarang mengajari kami?”
“Ki Bekel, terus terang kami merasa prihatin melihat tanah
kering dan tandus di padukuhan ini. Padahal seharusnya tanah
di padukuhan ini dapat menjadi jauh lebih subur.”
“Kau jangan mengguncang ketenangan hidup di padukuhan
ini, anak muda. Biarlah yang terjadi di padukuhan ini kami
terima dengan senang hati. Ada sebagian bulak kami yang subur
di lereng gumuk itu. Selebihnya, inilah apa adanya.”
“Ki Bekel,” berkata Wijang, “jika Ki Bekel berkenan, kami akan
berada di padukuhan ini barang satu dua hari. Kami berjanji
untuk menunjukkan cara terbaik yang dapat dilakukan oleh
padukuhan ini, agar padukuhan ini tidak menjadi padukuhan
yang kering dan tandus.”
Ki Bekel tertawa. Katanya, “Apa yang dapat kau lakukan
dalam satu dua hari? Apakah kau seorang yang mempunyai
kekuatan ajaib sehingga dapat menjadikan daerah ini subur?”
“Tidak, Ki Bekel. Kami hanya dapat menunjukkan caranya.
Segala sesuatunya tergantung kepada Ki Bekel dan rakyat
padukuhan ini.”
“Sudahlah, anak muda. Kita tidak mau mempersulit diri.
Hidup kami sudah mapan. Padukuhan ini adalah padukuhan
yang tenang dan tenteram. Aku tidak mau padukuhan ini
menjadi gelisah karena nafsu ketamakan yang mencengkam
setiap jantung penghuninya. Mereka akan berlomba-lomba dan
berebut harta milik keduniawian.”
“Bukankah kita dibenarkan untuk mendapatkan yang terbaik
di dunia ini? Tetapi kita harus menempuh cara yang benar.
Sedangkan apa yang kita miliki kemudian, juga akan dapat
berarti bagi orang lain.”
Ki Bekel itupun tertawa. Sekali lagi ia menguap tanpa
menutup mulutnya dengan tangannya. Bahkan tangannya telah
memungut sepotong makanan untuk menyuapi mulutnya.
“Terima kasih, anak-anak,” berkata Ki Bekel. “Aku senang
bertemu dengan anak-anak yang mau mengajari orang setua aku.
Baiklah, sekarang habiskan minuman kalian. Makanlah
makanan yang masih ada ini. Aku tidak berkeberatan jika kalian
akan berada di sini satu atau dua hari. Tetapi sebaiknya kalian
tidak menyinggung perasaan orang-orang tua di sini.”
“Tidak, Ki Bekel. Jika Ki Bekel tidak berkeberatan, aku akan
berbicara dengan anak-anak mudanya. Tidak dengan orang-orang
tua. Jika anak-anak mudanya dapat mengerti apa yang aku
katakan, mudah-mudahan padukuhan ini tidak menjadi
padukuhan yang semakin lama menjadi semakin kering dan
tandus. Jika hal itu terjadi, maka semua yang tumbuh di
padukuhan ini akan kering. Pepohonan akan berdaun kuning.
Sawah hanya dapat ditanami di musim hujan. Sedangkan
pategalan hampir tidak memberikan hasil apa-apa sepanjang
tahun.”
“Apakah kita harus menggugat, kenapa tanah kami menjadi
kering dan tandus?”
“Ya. Kita harus menggugat diri kita sendiri. Kenapa kita tidak
berusaha, sedangkan kita telah mendapatkan kurnia akal dan
budi disamping wadag kita?”
“Mimpimu menarik, anak muda. Tetapi jangan kecewa jika
kau nanti akan terbangun sebelum berhasil.”
“Kita sama-sama tidak akan kehilangan apa-apa, Ki Bekel.
Jika gagal, ya, gagallah usaha ini. Tetapi bukankah tidak ada
barang yang hilang. Tidak ada yang dirugikan?”
“Baiklah. Kau akan dapat berhubungan dengan Ki Kamituwa
dan Ki Jagabaya.”
“Terima kasih, Ki Bekel. Tetapi bagaimana caranya aku
bertemu dengan mereka? Apakah aku harus menemui mereka di
rumah mereka masing-masing?”
“Tidak. Biarlah mereka dipanggil kemari. Aku juga ingin ikut
mendengarkan pembicaraanmu dengan kedua orang bebahu itu.”
“Terima kasih, Ki Bekel. Jika demikian, bukankah berarti aku
harus menunggu mereka di sini?”
“Ya. Kalian menunggu saja di sini.”
Ki Bekel itupun kemudian bertepuk tangan.
Orang yang menerima Wijang dan Paksi itulah yang kemudian
datang lewat sisi samping pendapa.
“Pergilah ke rumah Ki Kamituwa dan Ki Jagabaya. Aku
menunggu kedatangan mereka.”
“Baik, Ki Bekel.”
Orang itupun kemudian melangkah menuju ke regol halaman
dan segera turun ke jalan.
“Nah, silahkan duduk sambil menunggu Ki Kamituwa dan Ki
Jagabaya. Aku akan mandi.”
“Silahkan, Ki Bekel. Silahkan.”
Ki Bekelpun bangkit berdiri sambil menggeliat. Dengan
malasnya Ki Bekel itupun melangkah masuk pintu pringgitan.
Beberapa saat Wijang dan Paksi menunggu. Sambil meneguk
minuman, maka merekapun telah makan sepotong makanan
yang dihidangkan kepada mereka.
“Pada dasarnya penghuni padukuhan ini adalah orang-orang
yang baik. Tetapi mereka terlalu malas,” berkata Wijang.
Paksi mengangguk-angguk kecil.
Wijang mengerutkan dahinya. Tiba-tiba saja ia bertanya,
“Bukankah kau tidak kecewa, Paksi? Kita akan menunda
perjalanan barang dua tiga hari?”
Paksi menggeleng sambil menjawab pendek, “Tidak. Aku tidak
apa-apa.”
Namun Wijangpun berkata, “Aku minta maaf, Paksi. Aku tidak
minta pertimbanganmu dahulu. Tetapi segala sesuatunya
terserah kepadamu. Jika kau ingin segera meneruskan
perjalanan, maka kita dapat saja memberikan sedikit gambaran
kepada Ki Bekel, Ki Kamituwa dan Ki Jagabaya, apa yang
sebaiknya mereka lakukan. Sedangkan kita akan segera dapat
meneruskan perjalanan kita.”
“Aku tidak apa-apa. Bukankah sudah aku katakan, bahwa
aku tidak apa-apa?”
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hatinya ia
berkata, “Seharusnya aku minta persetujuannya lebih dahulu
untuk menunda perjalanan barang dua atau tiga hari.”
Tetapi semuanya telah terlanjur. Karena itu, maka Wijangpun
hanya dapat menyesali keterlanjurannya itu.
Beberapa saat kemudian, maka orang yang mendapat perintah
dari Ki Bekel untuk memanggil Ki Kamituwa dan Ki Jagabaya itu
telah datang bersama seorang laki-laki yang bertubuh tegap,
berkumis tebal dan berjambang panjang.
Ketika kemudian orang itu duduk di pringgitan, maka orang
itupun telah memperkenalkan dirinya, “Aku kamituwa di sini.”
“O,” Wijang dan Paksi yang telah lebih dahulu menyebut
namanya, mengangguk-angguk. Mereka mengira bahwa orang itu
adalah Ki Jagabaya. Namun ternyata bahwa orang itu adalah Ki
Kamituwa.
Baru beberapa saat kemudian, seorang yang lain memasuki
regol halaman rumah itu. Seorang yang berperawakan sedang,
agak kekurus-kurusan dan berjanggut pendek dan jarang.
Karena Ki Kamituwa sudah datang lebih dahulu, maka yang
datang itu tentu Ki Jagabaya.
Sebenarnyalah Ki Kamituwa itupun berkata, “Itu Ki Jagabaya
juga sudah datang.”
Ki Jagabaya itupun naik ke pendapa pula dan duduk di
pringgitan bersama Ki Kamituwa dan dua orang yang asing bagi
padukuhan itu.
“Di mana Ki Bekel?” bertanya Ki Jagabaya.
“Menurut kedua anak muda itu, Ki Bekel sedang mandi.”
“Wah,” desis Ki Jagabaya.
Wijang dan Paksi melihat kesan yang aneh di wajah Ki
Jagabaya. Namun Ki Kamituwapun berkata, “Tidak apa-apa,
anak-anak muda. Tetapi biasanya jika Ki Bekel mandi, maka kita
yang menunggunya sempat tidur barang sejenak.”
“Lama sekali?” bertanya Paksi.
“Lama sekali. Apalagi jika Ki Bekel itu mandi keramas. Jika
kita mulai mencuci beras dan menanaknya, nasi itu tentu sudah
masak.”
“Apaboleh buat,” berkata Ki Kamituwa.
Ki Jagabayapun mengangguk-angguk sambil menyahut, “Ya,
tentu hanya itu saja yang dapat kita katakan, apaboleh buat.”
Ki Kamituwa mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun
tertawa. Demikian pula Ki Jagabaya. Bahkan Wijang dan
Paksipun ikut tertawa pula.
Sebenarnyalah bahwa mereka harus menunggu terlalu lama.
Laki-laki yang memanggil Ki Kamituwa dan Ki Jagabaya telah
menghidangkan minuman bagi Ki Kamituwa dan Ki Jagabaya
serta menuang lagi minuman di mangkuk Wijang dan Paksi.
“Angger Wijang dan Angger Paksi,” berkata Ki Kamituwa,
“apakah Angger tahu, apakah keperluan Ki Bekel memanggil
kami? Mungkin ada hubungannya dengan kehadiran Angger
berdua?”
Wijang yang menjawab pertanyaan itu berkata terus terang,
apa yang telah dibicarakannya dengan Ki Bekel.
Ki Kamituwa dan Ki Jagabaya yang mendengarkannya
mengangguk-angguk. Dengan nada berat Ki Kamituwa berkata,
“Aku hargai niat Angger berdua. Tetapi aku meragukan, apakah
kami, penghuni padukuhan ini akan dapat menanggapinya
dengan baik pula.”
“Maaf, Ki Kamituwa. Jika aku boleh berterus-terang, namun
orang-orang padukuhan ini terlalu malas untuk berpikir dan
apalagi berbuat sesuatu. Agaknya penghuni padukuhan ini tidak
terbiasa bekerja dengan keras, sehingga kesejahteraan
padukuhan dan penghuninya tidak meningkat.”
“Kami bukan orang-orang yang tamak, anak muda. Kami
harus menerima dengan segala senang hati, apa yang menjadi
hak kita.”
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukangguk
iapun kemudian berkata, “Jadi itukah pegangan Ki Bekel
para bebahu dan rakyat padukuhan ini?”
“Bukankah dengan demikian hidup tidak terasa gelisah? Aku
mempunyai seorang sepupu laki-laki yang tinggal di kademangan
sebelah. Ia hidup berkecukupan. Sawahnya luas dan subur. Ia
mempunyai peternakan kambing dan ayam. Namun hidupnya
selalu gelisah. Siang dan malam saudara sepupuku itu selalu
dibayangi oleh kecemasan, jika ternaknya diserang penyakit.
Siang malam iapun digelisahkan oleh air untuk mengairi
sawahnya yang luas. Hampir setiap saat ia marah dan
membentak-bentak di rumah karena anak-anaknya dianggapnya
malas dan tidak mau bekerja keras. Nah, seperti itulah yang
Angger maksud dengan bentuk kehidupan yang sejahtera?”
“Tentu tidak, Ki Kamituwa,” jawab Wijang. “Tetapi bukankah
kita dibenarkan untuk berusaha agar kehidupan kita dapat
meningkat tanpa harus menjadi gelisah, uring-uringan dan selalu
dibayangi oleh kecemasan?”
“Dapatkan kau memberikan contoh, kehidupan yang
bagaimana yang kau maksudkan?” bertanya Ki Jagabaya.
“Misalnya, seisi padukuhan ini bersama-sama membuat parit
untuk mengalirkan air yang terbuang di lereng berbatu-batu
padas itu, sehingga sawah tadah hujan itu akan mendapat air
sepanjang tahun. Dengan demikian, maka sawah yang kering itu
akan dapat diairi tanpa menunggu musim hujan. Bukan hanya
duduk-duduk saja di simpang tiga, sementara padi dan jagung di
lumbung menjadi semakin tipis, sehingga setiap keluarga harus
sangat berhemat. Mungkin tidak lagi dapat makan tiga kali
sehari.”
Tetapi jawab Ki Jagabaya sangat mengejutkan Wijang dan
Paksi, “Air itulah yang akan dapat menjadi masalah. Pamanku di
kademangan sebelah hampir saja berkelahi melawan sepupunya
sendiri karena berebut air. Untunglah ada yang melihatnya,
sehingga perkelahian itu dapat dicegah.”
“Itu adalah akibat buruk yang mungkin dapat terjadi. Tetapi
jika air itu diatur dengan baik, serta semua orang mentaatinya,
maka tidak akan timbul masalah. Apalagi jika air itu berlimpah.
Bukankah air dari lereng bukit padas itu cukup banyak? Air itu
mengalir dan ditampung di sungai yang semakin lama menjadi
semakin dalam tanpa memberikan arti apa-apa bagi padukuhan
ini.”
“Angan-angan Angger itu hanya akan menimbulkan persoalan.
Biarlah hidup kami tetap tenang seperti sekarang.”
“Dengan selembar pakaian? Makan yang tersendat dan atap
rumah yang tiris?”
“Mungkin terasa sulit bagi orang lain. Tetapi kami sudah
terbiasa, Ngger. Tidak ada masalah. Seperti yang sudah aku
katakan, bahwa kami menerima apa adanya. Nrima ing pandum.”
Wijang belum sempat menjawab, ketika Ki Bekel keluar dari
ruang dalam. Wajahnya nampak lebih segar serta pakaiannyapun
menjadi lebih rapi setelah Ki Bekel itu mandi dan berbenah diri
cukup lama.
Ketika Ki Bekel sudah duduk, maka pembicaraan merekapun
dilanjutkan. Sambil tertawa Ki Bekelpun berkata, “Sudahlah,
Ngger. Jangan ajari orang-orang tua ini. Kami sudah hidup di sini
sejak kami lahir. Ayah dan ibu kami sudah tinggal di sini
berpuluh tahun. Selama itu tidak pernah ada persoalan.
Sekarang kau datang untuk mengusik ketenangan hidup kami.”
“Seperti yang aku katakan, Ki Bekel. Apa salahnya jika kita
mencoba. Jika gagal, gagallah kerja itu. Kita tidak akan merasa
dirugikan kecuali kita sudah kehilangan tenaga dan waktu.”
Ki Bekel itupun kemudian menyahut, “Kerja itu akan sia-sia,
Ngger.”
“Jika saja Ki Bekel memperkenankan kami bersama-sama
dengan anak-anak muda padukuhan ini mencobanya.”
“Tentu saja aku tidak berkeberatan. Tetapi aku tidak akan
dapat memaksa mereka jika mereka berkeberatan.”
“Aku mengerti, Ki Bekel.”
“Baiklah. Kami tidak berkeberatan jika kau tinggal di sini satu
atau dua hari. Bertemu dan berbicara dengan anak-anak muda.
Hasilnya, aku tidak dapat mengatakan.”
“Terima kasih, Ki Bekel. Tetapi di mana aku dapat bertemu
dengan anak-anak muda itu?”
“Di sore hari beberapa orang anak muda sering duduk-duduk
di regol padukuhan. Yang lain kadang-kadang berada di regol
banjar atau di bawah pohon preh di simpang empat itu.”
“Apa yang mereka kerjakan?”
Ki Bekel mengerutkan dahinya. Justru Ki Bekel itu bertanya,
“Apa yang seharusnya mereka lakukan?”
“Jadi mereka hanya duduk-duduk saja?”
“Ya.”
“Pada kesempatan lain? Di pagi hari misalnya?”
“Di musim hujan mereka mengerjakan sawah.”
“Di musim seperti ini?”
Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
menjawab, “Ya, tergantung kebutuhan. Ada yang menggali ubi
panjang, gadung, lembong atau apa saja di kebun untuk selingan
jika beras di dapur mulai menipis serta padi di lumbung tinggal
beberapa ikat saja.”
“Baiklah, Ki Bekel. Aku akan bertemu dengan mereka. Tetapi
apakah ada seseorang yang dapat memperkenalkan kami dengan
mereka agar tidak terjadi salah paham?”
“Biarlah Ki Jagabaya nanti menyertai kalian.”
Tetapi Ki Jagabaya itu menggeliat sambil berkata, “Ki Bekel,
aku sedang memperbaiki kandang ayamku. Biarlah Ki Kamituwa
sajalah yang mengantar mereka.”
“Kenapa harus aku?” sahut Ki Kamituwa. “Sehari penuh aku
kerja di kebun. Aku belum beristirahat sama sekali.”
Wijang dan Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian Ki Bekelpun berkata, “Baiklah. Jika kalian tidak
sempat, nanti jika kalian pulang, tolong, katakan kepada anakanak
muda yang kalian jumpai untuk datang ke rumah ini.”
“Baiklah, Ki Bekel,” desis Ki Jagabaya, sedangkan Ki
Kamituwa hanya mengangguk-angguk kecil.
“Katakan kepada mereka, bahwa aku baru saja mencabut
ketela pohon di halaman belakang rumah. Biarlah mereka ikut
makan ketela pohon rebus dengan serundeng kelapa.”
“Baik, Ki Bekel,” Ki Jagabaya pulalah yang menjawab.
Sejenak kemudian, maka kedua orang bebahu itu minta diri.
Sementara itu, Ki Bekelpun telah bertepuk tangan pula.
Ketika laki-laki yang nampaknya pembantu di rumah Ki Bekel
itu datang, maka Ki Bekelpun berkata, “Cabut empat atau lima
batang pohon ketela di kebun belakang. Beberapa orang anak
muda akan datang kemari. Katakan kepada istrimu untuk
menyiapkan minuman buat mereka.”
“Baik, Ki Bekel,” jawab orang itu. Namun ketika ia memasuki
pintu seketeng, maka orang itupun mulai menggeramang, “Sehari
semalam aku kerja tanpa beristirahat sama sekali.”
Dalam pada itu, maka Ki Bekelpun berkata kepada Wijang dan
Paksi, “Nah, sambil menunggu mereka yang bersedia datang
kemari, kalian dapat beristirahat di gandok. Jika kalian
bermalam di sini, maka kalian akan tidur di gandok itu pula.”
“Terima kasih, Ki Bekel.”
“Aku juga akan beristirahat.”
Wijang dan Paksi termangu-mangu sejenak. Bukankah Ki
Bekel baru saja bangun tidur, mandi, duduk-duduk berbincang
di pringgitan? Kapan ia bekerja sehingga harus beristirahat?
Tetapi Wijang dan Paksi tidak menanyakannya.
Ketika Ki Bekel itu bangkit, maka Wijang dan Paksipun
bangkit pula.
“Silahkan, Ngger,” berkata Ki Bekel sambil melangkah ke pintu
pringgitan.
Wijang dan Paksipun hampir bersamaan menjawab, “Terima
kasih, Ki Bekel.”
Keduanyapun segera meninggalkan pringgitan dan pergi ke
gandok. Ketika mereka membuka pintu bilik yang ditunjuk oleh
Ki Bekel, maka mereka melihat sebuah ruangan yang berisi
perabot yang sederhana. Sebuah amben bambu yang agak besar.
Sebuah geledeg bambu di sudut. Sebuah ajug-ajug lampu minyak
kelapa dan sebuah sapu lidi untuk membersihkan debu di amben
bambu itu.
“Nampaknya bilik ini tidak pernah dibersihkan,” desis Wijang.
Paksi mengangguk-angguk. Ketika kemudian Paksi
membersihkan amben bambu yang di atasnya dibentangkan tikar
pandan yang putih itu dengan sapu lidi, maka debupun
berhamburan di dalam bilik itu, sehingga Paksi dan Wijang harus
menutup hidung mereka.
“Di sini malam nanti kita tidur,” desis Wijang.
“Masih lebih bersih dari rerumputan kering di pategalan,”
jawab Paksi.
Wijang tersenyum. Agaknya Paksi sudah tidak dibebani lagi
oleh perasaan kecewanya, karena perjalanan untuk mencari
adiknya itu tertunda dua atau tiga hari.
Namun selagi keduanya baru saja duduk di amben itu,
pembantu Ki Bekel itu memanggil mereka
“Silahkan masuk ke ruang dalam, anak-anak muda. Ki Bekel
telah menunggu.”
“Ada apa?”
“Silahkan menemani Ki Bekel makan.”
“Terima kasih. Kami akan segera datang.”
Demikian orang itu pergi, maka Wijangpun berdesis, “Makan
pada saat seperti ini, terhitung makan siang atau makan sore?”
“Kapan saja,” jawab Paksi. “Sebenarnya aku juga sudah mulai
merasa lapar.”
Ternyata Ki Bekel adalah orang yang baik. Tetapi ia adalah
seorang pemalas sehingga seakan-akan tidak mempunyai waktu
untuk berpikir dan berbuat sesuatu yang berarti bagi
padukuhannya.
Sejenak kemudian, maka Wijang dan Paksipun telah duduk di
ruang dalam untuk makan bersama Ki Bekel dan Nyi Bekel.
Makan yang dihidangkan bagi Ki Bekel itupun cukup
sederhana. Nasi, sayur lodeh namun pedasnya bukan main dan
serundeng kelapa yang agaknya telah dibuat untuk dua tiga hari
sekaligus. Serundeng kelapa itu pulalah yang agaknya
dimaksudkan oleh Ki Bekel untuk makan ketela rebus yang
ditawarkan kepada anak-anak muda yang bersedia datang ke
rumahnya.
Sambil makan, Ki Bekel tidak terlalu banyak berbicara. Nyi
Bekel sekali-sekali menyodorkan sayur dan serundeng itu kepada
Wijang dan Paksi.
“Mari, Ngger, jangan malu-malu. Hanya inilah yang dapat
kami suguhkan bagi Angger.”
“Kami mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati Bibi
ini,” sahut Wijang.
Ketika mereka selesai makan, maka minuman hangatpun
telah dihidangkan pula bagi mereka.
Namun selagi mereka mulai meneguk minuman hangatnya,
mereka mendengar suara beberapa orang di pringgitan.
“Mereka sudah datang,” berkata Ki Bekel.
“Begitu cepat mereka datang,” desis Wijang hampir di luar
sadarnya. Agaknya anak-anak mudanya di padukuhan itu tidak
terlalu malas sebagaimana orang-orang tua mereka.
Tetapi Wijang dan Paksi menjadi kecewa ketika Ki Bekel
itupun berkata, “Agaknya mereka lebih tertarik pada ketela rebus
dan serundengnya daripada persoalan yang akan Angger berdua
sampaikan kepada mereka.”
Tetapi keduanya tidak menyahut.
Kepada istrinya, Ki Bekel itupun bertanya, “Apakah ketela itu
sudah masak?”
“Sebentar lagi, Ki Bekel. Tetapi sudah hampir.”
“Jika sudah masak, biarlah ketela itu dibawa ke pringgitan
bersama serundeng itu. Mungkin perlu beberapa lembar daun
pisang dan beberapa mangkuk air untuk mencuci tangan.”
“Baik, Ki Bekel,” jawab istrinya.
“Marilah, anak-anak muda,” berkata Ki Bekel, “kalian akan
bertemu dengan anak-anak muda seumur kalian. Mudahmudahan
pembicaraan kalian dapat berkait.”
Wijang dan Paksipun kemudian mengikut Ki Bekel ke
pringgitan menemui beberapa orang anak muda yang sudah
duduk sebelum dipersilahkan. Tetapi ketika mereka melihat Ki
Bekel keluar dari ruang dalam, merekapun serentak bangkit
berdiri sambil mengangguk hormat.
“Duduklah,” berkata Ki Bekel.
Ketika kemudian Ki Bekel, Wijang dan Paksi duduk, anakanak
muda itupun duduk pula.
Tetapi di hadapan mereka masih belum terhidang ketela rebus
dengan serundeng kelapa.
Ki Bekelpun kemudian memperkenalkan Wijang dan Paksi
kepada anak-anak muda padukuhannya.
“Mereka berdua adalah pengembara yang pernah menjelajahi
banyak sekali padukuhan-padukuhan. Mereka telah mencoba
melihat dan membuat perbandingan antara padukuhan yang satu
dengan padukuhan lainnya. Ketika mereka berjalan melewati
padukuhan kita, maka hati mereka telah terusik.”
“Kenapa, Ki Bekel?” bertanya salah seorang dari anak-anak
muda itu.
“Menurut penilaiannya, padukuhan kita adalah padukuhan
yang kering dan tandus.”
“Jadi kenapa?” sahut anak muda yang lain. “Inilah yang kita
miliki sekarang. Kenapa orang yang sekedar lewat merasa
terusik? Apanya pula yang telah mengusiknya?”
“Padukuhan kita nampak kering dan gersang, kenapa kita
tidak berbuat apa-apa untuk membuat padukuhan kita basah
dan subur?”
Seorang anak muda yang bertubuh tinggi tiba-tiba saja
bertanya, “Benarkah kau mempertanyakan hal itu?”
“Ya, Ki Sanak,” jawab Wijang.
“Alangkah dungunya kau. Kenapa hal itu kau tanyakan
kepada kami? Kami pun bertanya sebagaimana kau tanyakan,
kenapa tanah ini kering dan gersang?”
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukankah kita
mempunyai akal? Kita dapat mengusahakan agar tanah ini
setidak-tidaknya tidak terlalu kering.”
“Apakah kita dapat merubah alam yang terbentang ini?”
“Kita tidak merubahnya. Kita hanya mengusahakan
memanfaatkan apa yang ada. Mencari kemungkinankemungkinan
baru dengan bekal apa yang telah digelar ini.”
Seorang anak muda yang lainpun berdesis, “Kita bukan
pemimpin. Kita hadapi kenyataan ini tanpa mengeluh dan
meratap.”
“Pada dasarnya kalian adalah orang-orang yang tabah. Sayang
bahwa kalian tidak memanfaatkan apa yang dikurniakan kepada
kita. Termasuk akal budi kita.”
“Ki Bekel,” berkata seorang anak muda yang kurus, “sudah
sejak nenek moyang kita, kita hidup dalam suasana yang tenang.
Jangan biarkan orang-orang ini merusak ketenangan kita, Ki
Bekel. Beberapa hari yang lalu, padukuhan sebelah, yang
terhitung padukuhan yang lebih subur dari padukuhan kita,
telah diguncang pula oleh kedatangan beberapa orang yang tidak
dikenal. Apakah Ki Bekel belum mendengar?”
“Sudah. Aku sudah mendengar. Ki Jagabaya padukuhan
sebelah telah datang kemari dan memberitahukan apa yang telah
terjadi di padukuhan sebelah.”
“Bukankah dengan demikian kita pantas mencurigai orangorang
asing ini?”
“Tunggu,” berkata Ki Bekel, “mereka agak berbeda dengan
beberapa orang yang datang di padukuhan sebelah. Meskipun
aku tidak melihat sendiri orang-orang yang mengusik di
padukuhan sebelah, tetapi menilik ceritera Ki Jagabaya, mereka
adalah orang-orang yang kasar dan bahkan agak liar. Mereka
minta dilayani apa saja yang mereka butuhkan. Bahkan mereka
telah menyakiti dua orang yang mereka anggap tidak mematuhi
perintah-perintah mereka.”
Orang-orang asing di padukuhan sebelah itu ternyata sangat
menarik perhatian Wijang dan Paksi. Hampir di luar sadarnya
Paksipun bertanya, “Siapakah yang Ki Bekel maksudkan orang
asing di padukuhan sebelah?”
“Mereka tidak menyebut nama mereka. Tetapi mereka yang
terdiri dari lima atau enam orang itu telah mendatangi
padukuhan sebelah. Sikap mereka melampaui sekelompok
perampok yang ganas. Mereka minta apa saja yang mereka
butuhkan. Ketika mereka pergi, maka mereka telah membawa
apa yang mereka dapatkan di rumah Ki Bekel.”
“Tentu Ki Gede Lenglengan,” desis Wijang. “Mereka tentu juga
mengikuti arah yang kita tempuh, meskipun mereka ternyata
melalui jalan yang melewati padukuhan sebelah.”
“Kalian berdua mengenal mereka?”
“Jika saja kami dapat melihat mereka,” sahut Wijang. “Tetapi
kami hampir memastikan bahwa mereka adalah orang-orang dari
Padepokan Watukambang.”
“Tepat. Mereka memang tidak menyebut nama mereka. Tetapi
ada di antara para bebahu yang mendengar mereka menyebut
Padepokan Watukambang.”
“Jika demikian, maka sudah pasti bahwa mereka adalah Ki
Gede Lenglengan dengan beberapa orang pengikutnya.”
“Apakah kalian berdua bukan pengikut orang itu pula?”
bertanya anak muda yang kurus dan agaknya sakit-sakitan itu.
“Bukan, Ki Sanak. Kami bukan pengikut mereka. Jika benar
dugaan kami bahwa mereka adalah Ki Gede Lenglengan, maka
kami telah mengenal mereka. Tetapi sikap kami sangat berbeda.”
Anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak.
Namun pembicaraan itu terputus ketika pembantu Ki Bekel
itu menghidangkan ketela yang direbus dengan santan yang
masih mengepul. Selain ketela rebus itu, maka telah dihidangkan
pula serundeng kelapa.
“Minumnya menyusul,” berkata pembantu Ki Bekel itu. “Nyi
Bekel baru mempersiapkannya.”
“Apa kerja istrimu?” bertanya Ki Bekel.
“Istriku juga sibuk membantu Nyi Bekel di dapur. Tetapi
istriku juga harus mencuci kuali dan mangkuk-mangkuk yang
kotor. Menyingkirkan sisa makan di ruang dalam, membersihkan
lantai...”
“Cukup, cukup,” potong Ki Bekel.
Pembantu Ki Bekel itu terdiam. Iapun kemudian melangkah
surut. Namun sejenak kemudian iapun kembali sambil membawa
minuman hangat bagi anak-anak muda yang sudah berada di
pringgitan itu.
Sementara itu, Ki Bekelpun berkata, “Nanti kita berbicara lagi.
Sekarang, silahkan. Ketela rebus itu masih hangat. Dengan
serundeng kelapa tentu cocok sekali.”
Anak-anak muda itu tidak menunggu Ki Bekel mengulang.
Merekapun segera mengambil masing-masing sesobek daun
pisang. Kemudian sepotong ketela yang direbus dengan santan,
dan sejemput serundeng.
Sementara itu, pembantu Ki Bekel itu mulai menyalakan
lampu minyak di pendapa, di pringgitan dan di ruang-ruang yang
lain.
Ketika anak-anak muda itu sedang makan ketela, Wijang dan
Paksi sempat melihat keadaan mereka. Bukan saja pakaian
mereka yang lusuh, tetapi kulit mereka pun tidak nampak bersih.
Nampaknya beberapa orang di antara mereka terkena penyakit
gatal-gatal pada kulit mereka. Sedangkan yang lain
pernafasannya agak terganggu.
Anak-anak muda di padukuhan itu bukannya anak-anak
muda yang kesehatannya terpelihara baik. Mungkin nafas
kehidupan di padukuhan itu memang tidak menguntungkan bagi
mereka yang sedang tumbuh, sehingga seperti tanaman dan
pepohonannya, pertumbuhan mereka tidak dapat subur.
Setelah mereka selesai makan barulah Ki Bekel berkata lagi,
“Nah, terserah kepada kalian, anak-anak muda. Angger Wijang
dan Paksi menganjurkan agar kita mengadakan perubahan sikap
hidup kita. Terus-terang kau menangkap maksud kedua
pengembara itu. Mereka menganggap kita terlalu malas berusaha,
sehingga keadaan kita tidak dapat berubah dari tahun ke tahun.”
“Orang asing itu telah menghina kita, Ki Bekel,” seorang anak
muda yang bertubuh tinggi menggeram. Nampaknya anak muda
itu merasa tersinggung.
“Maaf, Ki Sanak,” sahut Wijang dengan serta-merta, “jangan
berprasangka buruk. Mungkin kalian tidak malas. Tetapi kalian
belum tergugah. Nah, jika demikian, maka kami berniat
membangunkan kalian. Bukan sebaliknya mengajak kalian
bermimpi. Tetapi jika kita dengan sungguh-sungguh berusaha,
maka Yang Maha Agung tentu akan mengijinkannya.”
Tetapi anak muda yang bertubuh tinggi itu berkata, “Ki
Sanak, jangan campuri kehidupan di padukuhan kami. Kami
tidak ingin kehidupan kami menjadi goncang.”
Sementara itu, yang lainpun berkata, “Jika kau mau lewat,
lewatlah. Kami tidak pernah merasa berkeberatan jika ada orang
asing lewat di padukuhan kami. Tetapi jangan ikut campur dan
apalagi mengganggu kehidupan kami.”
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Paksipun
berkata, “Apakah kalian tidak ingin melakukan sesuatu yang
berarti bagi padukuhan kalian?”
“Apakah maksud Ki Sanak?”
“Sebagai peninggalan anak cucu. Jika kalian tidak berbuat
sesuatu, maka kehidupan padukuhan ini memang tidak akan
berubah. Mungkin kalian merasa tenang dan tenteram. Tetapi
kelak, apakah anak cucu kalian dapat menerima nafas kehidupan
seperti ini? Jarak antara kalian dengan penghuni padukuhanpadukuhan
lain menjadi semakin jauh. Mereka dapat
menyisakan penghasilan mereka dan menabungnya untuk
membeli pedati, lembu atau seekor kuda yang baik. Sementara
itu, kehidupan kalian masih saja tetap dalam ketenangan dan
ketenteraman yang beku.”
“Cukup,” bentak orang yang bertubuh tinggi. “Jangan
membuat kami marah. Kami adalah orang yang menyukai
ketenangan dan ketenteraman. Tetapi itu tidak berarti bahwa kau
dapat menghina kami sekehendak hati.”
Paksipun terdiam. Nampaknya memang sulit untuk
menembus hati mereka, agar mereka bangkit dan berbuat
sesuatu untuk memperbaiki kesejahteraan padukuhan mereka.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja ada seorang di antara
anak muda itu yang bertanya, “Ki Sanak, seandainya, sekali lagi
seandainya kami mau mendengarkan pendapat kalian, apa yang
harus kami lakukan?”
“Yang pertama kali adalah membuat parit untuk mengalirkan
air dari gumuk berbatu-batu padas itu.”
“Kami sudah mempunyai parit, tetapi parit kami itu telah
mengering.”
“Karena parit itu tidak dipelihara dengan baik. Cobalah
menelusuri parit itu. Apakah yang salah. Kemudian membual
parit baru untuk mengairi tanah yang lebih jauh letaknya dari
sumber air itu. Jika kalian berhasil, maka dalam dua tiga musim,
maka tentu sudah timbul perubahan di padukuhan ini.”
“Jadi sekarang kami harus bekerja keras memperbaiki serta
membuat perpanjangannya, baru dua tiga musim lagi kami akan
memetik hasilnya?”
“Ya.”
“Adakah seseorang yang mau menyia-nyiakan waktu untuk
kerja yang belum tentu akan membuahkan hasil?”
“Kerja ini bukan kerja yang sia-sia. Tetapi sudah tentu bahwa
hasilnya tidak dapat kita nikmati langsung. Dua tiga musim
adalah waktu yang pendek dibanding dengan masa datang yang
sangat panjang bagi padukuhan ini. Bagi anak cucu dan
keturunan selanjutnya. Jika kita tidak mulai sekarang, maka
jangankan dua tiga musim, dua tiga windu pun tidak akan timbul
perubahan di padukuhan ini. Bahkan kehidupan akan menjadi
semakin sulit, karena kotak-kotak sawah yang diwariskan dari
satu keturunan ke keturunan berikutnya semakin lama akan
menjadi semakin sempit.”
“Maaf, Ki Sanak. Mimpimu tidak menarik perhatianku.”
Bahkan seseorang berkata kepada kawannya, “Marilah kita
pulang. Malam telah turun. Aku sudah mengantuk.”
“Mengantuk?” bertanya Paksi.
“Ya.”
“Senja baru saja berlalu, dan kau telah mengantuk?”
“Ya. Aku terbiasa tidur lepas senja.”
“Dan bangun?”
“Aku tidak pernah merencanakan, kapan aku akan bangun.
Mungkin saat matahari naik sepenggalah, mungkin lebih pagi
atau bahkan lebih siang.”
Paksi hanya dapat mengangguk-angguk kecil.
Ki Bekel mendengarkan pembicaraan itu dengan sungguhsungguh.
Semakin lama justru menjadi semakin tertarik. Selama
ini ia tidak pernah mempersoalkan, kapan anak-anak muda itu
berangkat tidur dan kapan mereka bangun.
Dalam pada itu, beberapa orang anak muda mulai menjadi
gelisah. Karena itu, maka seorang di antara merekapun berkata,
“Ki Bekel, kami mohon diri. Terima kasih atas ketela pohon dan
serundengnya. Kapan-kapan kami akan datang lagi.”
“Baiklah. Lusa aku akan memanen garut di kebun belakang.
Aku ingin mengundang kalian.”
“Kami tentu akan datang, Ki Bekel.”
Demikianlah, maka anak-anak muda itupun meninggalkan
pringgitan rumah Ki Bekel. Wijang dan Paksi memandang mereka
dengan kecewa. Agaknya anak-anak muda padukuhan itu sama
sekali tidak tertarik untuk bekerja keras membangun padukuhan
mereka.
Ki Bekel yang mengikuti pembicaraan itu dengan sungguhsungguh
berdesis, “Itulah Ngger, anak-anak muda kami. Aku
minta maaf, bahwa mereka tidak tertarik pada niat baik Angger
berdua.”
“Apaboleh buat, Ki Bekel. Aku berterima kasih bahwa Ki Bekel
sudah memberi kesempatan kepada kami berdua untuk bertemu
dan berbicara dengan anak-anak muda itu. Jika kami tidak
berhasil meyakinkan mereka, itu bukan salah Ki Bekel.”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnya apa yang
Angger katakan itu cukup menarik untuk diperhatikan. Selama
ini aku memang tidak pernah memikirkan kemungkinankemungkinan
sebagaimana Angger katakan. Aku menerima
warisan jabatan ini dari ayahku. Aku juga menerima padukuhan
ini sebagaimana adanya. Tidak seorang pun yang pernah berkata
kepadaku, bahwa masih ada kemungkinan untuk membuat
perubahan-perubahan seperti yang kalian berdua katakan.
Semula memang terdengar aneh, tetapi semakin lama, rasarasanya
pantas untuk direnungkan.”
“Terima kasih, Ki Bekel. Pernyataan Ki Bekel ini rasa-rasanya
telah mengobati perasaan kecewaku terhadap anak-anak muda di
padukuhan ini. Tetapi bahwa Ki Bekel menaruh perhatian,
bahkan harapan, maka aku pun yakin, bahwa perlahan-lahan Ki
Bekel akan dapat meyakinkan mereka. Mungkin memerlukan
waktu yang lama. Namun itu jauh lebih baik daripada tidak sama
sekali.”
“Aku akan mencoba mempelajarinya, anak muda.”
Namun pembicaraan merekapun terhenti. Tiga orang anak
muda telah kembali ke rumah Ki Bekel yang masih berbincang
dengan Wijang dan Paksi di pringgitan.
“Naiklah,” berkata Ki Bekel.
Dengan ragu-ragu ketiga orang anak muda itupun naik dan
duduk di pringgitan.
“Ada yang ketinggalan di sini?” bertanya Ki Bekel.
Seorang dari anak muda itu menyahut, “Tidak, Ki Bekel.”
“Jadi, ada keperluan?”
“Maaf Ki Bekel, bahwa aku tidak dapat berterus-terang di
hadapan kawan-kawan.”
“Apa?”
“Sebenarnya aku tertarik kepada gagasan kedua pengembara
itu.”
Wijangpun dengan serta-merta menyahut, “Terima kasih, Ki
Sanak. Apakah itu berarti bahwa Ki Sanak bersedia untuk
melakukan sesuatu untuk melaksanakan gagasan itu?”
Anak muda itu memandang kedua orang kawannya bergantiganti.
Kemudian dipandanginya Ki Bekel sambil berdesis, “Jika Ki
Bekel tidak berkeberatan.”
“Tentu tidak, anak muda,” sahut Ki Bekel. “Meskipun
barangkali aku tidak dapat membantu, tetapi aku tidak akan
menghalangi. Bahkan aku menduga bahwa jika kalian ingin
mencobanya, agaknya masih ada satu dua orang yang bersedia
bekerja sama dengan kalian.”
“Tetapi kami mohon perlindungan Ki Bekel, jika kawan-kawan
kami yang tidak ingin ada kesibukan di padukuhan ini marah
kepada kami.”
“Apakah ada yang akan marah?”
“Ketika kami pulang tadi, Wandawa sudah menyatakan
sikapnya. Tidak seorang pun di antara kami yang dibenarkan
untuk menerima gagasan tentang parit itu.”
“Wandawa memang tidak memerlukan. Tanahnya luas dan
terletak di daerah yang termasuk agak subur. Tetapi ia tidak
berhak melarang kalian untuk berbuat sesuatu yang kalian
anggap baik.”
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya tiba-tiba
nampak muram. Katanya, “Mungkin ayah Wandawa yang
berkeberatan.”
“Kenapa dengan ayahnya?”
“Ia seorang yang berilmu tinggi. Ia mempunyai pengaruh yang
besar di padukuhan ini. Beberapa orang di antara rakyat
padukuhan ini bekerja dan mendapatkan nafkah daripadanya.”
Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Ternyata tidak semua
orang padukuhan ini malas bekerja. Ada juga di antara mereka
yang menjual tenaganya.
“Agaknya mereka orang-orang yang sudah kelaparan, sehingga
mau tidak mau mereka harus bekerja,” berkata Wijang di dalam
hatinya
Namun tiba-tiba saja Paksi bertanya, “Tetapi bukankah yang
memegang pimpinan pemerintahan di sini adalah Ki Bekel?”
“Ya,” Ki Bekel mengangguk-angguk, “tetapi Ki Cakrajaya itu
dapat memaksakan kehendaknya.”
“Apakah Ki Cakrajaya itu yang dimaksud dengan ayah
Wandawa yang berkeberatan atas gagasan kami?” bertanya Paksi.
“Ya,” Ki Bekel mengangguk-angguk, “ia dapat mempergunakan
kekerasan atau mengancam untuk memecat semua orang yang
bekerja padanya dan tinggal di padukuhan ini.”
“Hanya satu orang?”
Ki Bekel termangu-mangu. Namun kemudian iapun
mengangguk sambil berkata, “Ya. Hanya satu orang.”
“Apakah kuasa Ki Bekel di padukuhan ini tidak mampu
mematahkan pengaruhnya?”
Ki Bekel tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Wijang
dan Paksi berganti-ganti.
“Ki Bekel,” berkata Paksi kemudian, “Ki Bekel mempunyai
wewenang di sini. Jika yang seorang itu menentang wewenang Ki
Bekel, maka Ki Bekel dapat mempergunakan wewenang itu. Ki
Bekel dapat memerintahkan para bebahu dan bahkan seluruh
rakyat padukuhan ini untuk mengetrapkan kuasa Ki Bekel.”
“Seharusnya memang begitu, Ngger. Tetapi yang terjadi agak
lain. Tidak seorang pun yang berani menentang Ki Cakrajaya.”
“Mungkin tidak seorang pun yang berani. Tetapi bukankah Ki
Bekel dan seisi padukuhan ini tidak hanya seorang? Tetapi lebih
dari sepuluh orang. Bahkan duapuluh orang. Apakah duapuluh
orang isi padukuhan ini tidak dapat mengatasi yang satu orang
itu?”
“Orang itu berilmu tinggi.”
“Ki Bekel harus mencoba.”
“Jika aku gagal?”
“Kami berdua akan membantu.”
“Apakah kalian berdua dapat melawan Ki Cakrajaya?”
“Kami belum tahu, Ki Bekel. Tetapi kami tidak berkeberatan
untuk mencobanya.”
Ki Bekel termangu sejenak. Namun kemudian katanya,
“Baiklah. Kami akan mencoba.” Lalu katanya kepada anak-anak
muda itu, “Apakah kalian berani mencobanya? Maksudku, jika
Wandawa marah, kalian berani melawannya? Tidak harus
seorang melawan seorang. Tetapi kalian bersama-sama. Jika ada
di antara kalian yang berani melakukannya, maka yang lain pun
akan berani pula.”
“Nah, demikian pula untuk melawan Ki Cakrajaya, Ki Bekel,”
sahut Wijang. “Seperti yang Ki Bekel katakan, jika ada seorang
saja bebahu yang berani memaksakan wewenangnya terhadap Ki
Cakrajaya, maka yang lain pun akan melakukannya pula.
Betapapun tinggi ilmu Ki Cakrajaya, ia tidak akan dapat melawan
semua bebahu padukuhan ini serta orang-orang yang setia
kepada Ki Bekel.”
Tetapi Wijang dan Paksi melihat keragu-raguan di sorot mata
Ki Bekel. Orang-orang padukuhan itu adalah orang-orang yang
tidak ingin terjadi gejolak yang mereka anggap akan dapat
mengganggu ketenangan dan ketenteraman padukuhan mereka.
Namun akhirnya Wijanglah yang berbicara, “Baiklah. Jika
tidak ada orang yang dapat mengatasi Ki Cakrajaya, maka biarlah
aku yang mengatasinya.”
“Tetapi aku ingin mengingatkanmu, anak muda. Ki Cakrajaya
adalah seorang yang berilmu tinggi.”
“Aku mengerti.”
Dengan demikian, maka mereka dapat mengesampingkan
Wandawa dan ayahnya, Ki Cakrajaya, dari pembicaraan mereka.
Ternyata bahwa ada juga anak-anak muda dari padukuhan
yang beku, yang ingin mengguncang kebekuan itu.
Merekapun kemudian telah membuat beberapa kesepakatan
dengan Ki Bekel, Wijang dan Paksi.
Demikianlah, ketika menginjak wayah sepi uwong, anak-anak
muda itupun telah minta diri. Besok mereka akan bertemu
dengan Wijang dan Paksi di gumuk di seberang padang perdu.
Mereka akan melihat kemungkinan terbaik untuk mengalirkan
air ke padukuhan.
Sepeninggal anak-anak muda itu, maka Ki Bekel masih duduk
beberapa lama dengan Wijang dan Paksi di pringgitan. Setelah
berbincang kesana-kemari tentang niat anak-anak muda yang
ingin membuat perubahan di padukuhan itu, maka Wijangpun
bertanya, “Ki Bekel, sebenarnya aku tertarik kepada ceritera Ki
Bekel tentang orang-orang asing yang lewat di padukuhan
sebelah.”
“Seperti yang aku katakan, Ngger. Jika kalian ingin mendapat
keterangan yang lebih lengkap, biarlah besok atau lusa, Angger
kami antar ke rumah Ki Bekel yang telah kedatangan orang-orang
asing yang liar itu.”
“Terima kasih, Ki Bekel. Secepat-cepatnya lusa kami akan
pergi ke padukuhan itu. Bukankah besok kami telah membuat
kesepakatan dengan anak-anak muda itu?”
Ki Bekel itupun mengangguk-angguk.
Namun dalam pada itu, pembantu Ki Bekel setelah melihat
anak-anak muda itu meninggalkan pringgitan, maka iapun
berkata, “Ki Bekel, makan sudah tersedia di ruang dalam.”
“Aku masih kenyang,” desis Paksi.
“Jangan menolak.”
“Bukankah belum lama kita makan.”
“Sudah. Sudah lama. Malam sudah sangat larut. Mungkin
pembicaraan kita dengan anak-anak muda yang tinggal itu
sangat mengasyikkan, sehingga kita lupa akan waktu.”
Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berkata apa-apa
lagi.
Makan malam Ki Bekel itu masih juga sama sederhananya
dengan saat mereka makan siang. Namun agaknya Nyi Bekel
sempat memetik daun lembayung, sehingga malam itu mereka
makan selain dengan sayur lodeh yang pedasnya bukan kepalang
serta serundeng kelapa, mereka juga mendapat gudangan
lembayung dan daun ketela gantung.
Menjelang tengah malam, maka Wijang dan Paksipun telah
berada di dalam biliknya di gandok. Mereka berduapun segera
membaringkan diri serta berusaha memejamkan mata.
Meskipun mereka berada di padukuhan yang disebut tenang
dan tenteram, namun Wijang dan Paksi telah membagi sisa
malam untuk bergantian berjaga-jaga. Di daerah yang asing itu,
maka banyak kemungkinan akan dapat terjadi.
Di hari berikutnya, maka pagi-pagi Wijang dan Paksi sudah
siap menunggu Ki Bekel yang baru mandi. Ia sudah berpesan
kepada istrinya, agar Ki Bekel itu dibangunkan pagi-pagi sekali.
“Menjelang fajar aku akan membangunkan Ki Bekel.”
“Fajar? Untuk apa aku bangun menjelang fajar.”
“Ki Bekel berpesan agar aku membangunkan pagi-pagi.”
“Tunggu matahari sepenggalah.”
“Anak-anak itu tentu sudah terlalu lama menunggu.”
“Aku tidak biasa bangun menjelang fajar.”
“Baiklah. Aku akan membangunkan Ki Bekel sedikit lewat
saat matahari terbit.”
Ki Bekel mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun
berkata, “Baiklah. Aku akan bangun pada saat matahari terbit.”
Wijang dan Paksi menunggu Ki Bekel mandi sampai wayah
pasar temawon. Itupun Nyi Bekel menganggap bahwa Ki Bekel
sudah mendapat banyak kemajuan. Bangun pagi dan berada di
pakiwan dalam waktu yang terhitung singkat.
Setelah mandi dan berbenah diri, maka Ki Bekel telah
mengajak kedua orang tamunya duduk serta minum minuman
hangat.
“Minumlah dahulu, anak muda. Nanti kita pergi ke gumuk.”
“Anak-anak itu tentu sudah menunggu, Ki Bekel.”
“Mungkin. Tetapi mereka akan memaklumi bahwa tugasku
terlalu banyak, sehingga kita terlambat datang.”
Wijang dan Paksi saling berpandangan sejenak. Mereka tidak
mengerti, tugas apakah yang dimaksud Ki Bekel terlalu banyak
itu. Dan kenapa mereka harus terlambat datang dan bukan
terpaksa terlambat datang.
Baru ketika matahari benar-benar sudah sepenggalah mereka
meninggalkan rumah Ki Bekel pergi ke gumuk untuk menemui
beberapa orang anak muda yang semalam datang kembali ke
rumah Ki Bekel.
Sebenarnyalah bahwa Wijang dan Paksi sudah menjadi
gelisah. Anak-anak muda itu tentu sudah menunggu terlalu
lama.
Tetapi ternyata ketika mereka sampai di tempat sesuai dengan
kesepakatan, anak-anak muda itu juga baru saja datang. Bahkan
seorang di antaranya, datang hampir bersamaan dengan Wijang,
Paksi dan Ki Bekel.
“Maaf, kami datang terlambat,” berkata Wijang kepada anakanak
muda itu.
Namun seorang di antara merekapun berkata, “Kami juga
baru saja datang.”
Ki Bekel tertawa. Katanya, “Kedua anak muda ini tergesa-gesa
saja. Jika aku menurutinya, kami akan terlalu lama menunggu di
sini.”
Wijang dan Paksipun tertawa pula. Mereka sadari, bahwa
kelambatan bagi orang-orang padukuhan itu adalah hal yang
wajar-wajar saja.
Namun akhirnya, Wijang, Paksi, Ki Bekel dan anak-anak
muda itu mulai memperhatikan keadaan di sekeliling mereka.
Tiga batang pohon raksasa tumbuh pada jarak yang berdekatan.
Batu padas yang miring, serta air yang mengalir dari atas batu
padas yang miring itu, melimpah ke bawah, masuk ke dalam
lekuk yang tidak begitu dalam.
“Air ini dapat disalurkan ke sawah-sawah yang kering itu.
Bukankah sama sekali tidak merugikan orang lain. Di sisi yang
lain juga terdapat arus air yang melimpah seperti ini. Jika
padukuhan lain memerlukannya, maka mereka juga dapat
membuat saluran air bagi kotak-kotak sawah mereka,” berkata
Wijang.
Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun katanya, “Aku
sependapat. Persoalannya adalah, bagaimana kita dapat
membuat parit itu.”
“Jika Ki Bekel dapat mengerahkan orang sepadukuhan.”
“Mungkin ada juga dua tiga orang yang mau datang sambil
membawa alat-alat untuk menggali parit. Tetapi bayangkan,
berapa tahun parit itu akan dapat menggapai sawah kita?”
“Kenapa hanya dua tiga orang? Kenapa tidak lima puluh atau
enam puluh orang?”
“Aku mengenal orang-orangku dengan baik, Ngger. Sikap
anak-anak muda ini adalah contoh yang paling baik dari sikap
orang-orang tua di padukuhan ini.”
Wijang dan Paksi memandang beberapa orang anak muda
yang bersedia datang. Tidak lebih dari enam orang.
“Bagaimana pendapat kalian?” bertanya Wijang.
“Kami hanya dapat mengumpulkan enam orang kawan-kawan
kami. Pada umumnya mereka memang segan untuk bekerja.
Sementara hasilnya tidak segera dapat dinikmati. Berbeda
dengan mereka yang bekerja di rumah Ki Cakrajaya. Meskipun
sedikit, tetapi hasilnya dapat mereka terima pada hari itu juga.”
“Jadi, bagaimana jika kalian berenam ini membuat saluran air
dari tempat ini ke sawah kalian yang letaknya tidak terlalu jauh.”
“Baru setelah rambut kami ubanan, saluran air itu akan
sampai ke padukuhan.”
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun
bertanya, “Tetapi bukankah kalian bersedia untuk melakukan
kerja bagi tanah kalian?”
“Tentu,” jawab salah seorang dari mereka. “Kami sudah
sampai di sini.”
“Baiklah,” berkata Wijang. “Kalian harus mampu
menunjukkan kepada anak-anak muda di padukuhan kalian,
bahwa apa yang ingin kalian lakukan itu akan benar-benar dapat
memberikan harapan bagi masa mendatang.”
“Apa yang harus kami lakukan?”
“Ada hutan bambu di sebelah?”
“Ya.”
“Kalian dapat mengambil beberapa puluh bambu yang kalian
perlukan. Kalian dapat membuat talang air dari bambu untuk
mengalirkan air ke sekotak sawah kalian. Tidak hanya satu lonjor
saluran air. Tetapi tiga atau empat. Bambu tidak usah membeli.
Sambung-bersambung.”
“Tetapi seberapa air yang dapat mengalir lewat saluran air dari
bambu itu, meskipun kami membuat empat atau lima saluran
bambu?”
“Bukankah yang kalian lakukan sekedar contoh? Salurkan air
itu ke salah satu kotak sawah kalian yang terdekat. Air yang
mengalir tanpa henti-hentinya itu akan dapat menggenangi kotak
sawah itu. Nah, kalian dapat menanami kotak sawah itu dengan
tanaman yang sangat berarti bagi padukuhanmu. Padi, misalnya.
Jika kemudian ternyata padi itu tumbuh dan berbuah, maka
orang-orang padukuhan akan mendapat gambaran, betapa
pentingnya saluran air itu. Mereka tentu tidak akan berkeberatan
untuk membuat saluran air bagi bulak-bulak di sekitar
padukuhan kalian.”
“Jadi kami harus menunggu sekian lama?”
“Sudah aku katakan, bahwa jika kalian berhasil, meskipun
barangkali setahun dua tahun lagi, maka anak cucu kalianlah
yang akan menikmatinya.”
Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara
Paksipun berkata, “Jika kalian tertarik dan bersedia membuat
saluran air dari bambu itu, maka kami akan membantumu
selama dua tiga hari. Karena setelah itu, maka kami akan
melanjutkan pengembaraan kami.”
“Terima kasih Ki Sanak, jika kalian bersedia membantu kami.
Jika satu atau dua kotak sawah menjadi basah, sebagaimana Ki
Sanak katakan, aku yakin, bahwa banyak orang akan tertarik
untuk ikut membuat parit yang menuju ke bulak di sekitar
padukuhan. Bahkan kami akan dapat memperbaiki parit induk
untuk mengalirkan air sampai ke tengah-tengah bulak yang
kering itu.”
“Besok kita akan mulai,” berkata Paksi.
“Baik, Ki Sanak. Besok kita akan mulai.”
“Tetapi jangan terlalu siang. Kita akan mulai sebelum
matahari terbit. Udaranya tentu terasa nyaman sekali.”
“Sebelum matahari terbit?” bertanya salah seorang di antara
anak muda itu. “Jadi kapan kita harus bangun?”
“Kalian harus bangun menjelang fajar,” jawab Paksi.
Anak-anak muda itu saling berpandangan. Namun kemudian
mereka tertawa. Seorang di antara merekapun berkata, “Kami
tidak terbiasa bangun pagi-pagi sekali.”
“Kalian harus mencoba.”
“Baiklah, kami akan mencobanya.”
Namun pembicaraan merekapun segera terputus. Dari
kejauhan mereka melihat Wandawa dan beberapa orang
kawannya mendatangi tempat itu.
Salah seorang anak muda yang berada di tempat itu berdesis,
“Ki Bekel, Wandawa dan kawan-kawannya telah datang. Mereka
tentu berusaha mencegah niat kita memasang talang bambu yang
panjang sampai ke kotak-kotak sawah.”
“Aku akan mencegahnya. Tetapi jika Wandawa ingin memaksa
dengan kekerasan, bukankah kalian dapat mengatasinya?”
“Kami akan mencobanya, Ki Bekel.”
“Mereka datang berempat.”
“Mugi itu agaknya telah berkhianat. Semalam ia bersedia
untuk datang bersama-sama dengan kami. Tetapi ternyata anak
itu menemui Wandawa dan memberitahukan rencana kami.”
Sejenak kemudian, Wandawa dan tiga orang kawannya telah
menjadi semakin dekat. Dengan wajah yang tegang,
dipandanginya anak-anak muda yang telah datang lebih dahulu
itu seorang demi seorang. Kemudian Wandawa itu melangkah
mendekati Ki Bekel sambil berkata, “Jadi Ki Bekel juga hadir di
sini pagi ini?”
“Ya, Wandawa.”
“Ki Bekel juga ingin membuat padukuhan kita ini resah dan
kacau?”
“Kenapa?”
“Selama ini kita hidup dalam ketenangan dan ketenteraman,
Ki Bekel. Kedua orang anak muda ini datang untuk mengguncang
ketenangan itu. Seharusnya Ki Bekel mengusir mereka. Bukan
sebaliknya justru melibatkan diri.”
“Kenapa padukuhan kita menjadi resah dan apalagi kacau?”
bertanya Ki Bekel.
Wandawa memang agak kebingungan menjawab pertanyaan
itu. Namun kemudian iapun menjawab, “Sebaiknya kemapanan
ini tidak usah diusik dengan cara apapun juga.”
“Siapa yang akan mengusik kemapanan?”
Wandawa terdiam sejenak. Dengan wajah yang tegang iapun
kemudian berkata, “Pokoknya aku dan ayah berkeberatan dengan
rencana pembuatan parit itu.”
“Kau dan ayahmu tentu mempunyai alasan, kenapa kalian
berkeberatan,” sahut Ki Bekel.
“Apapun alasan kami tidak penting. Yang penting tidak
seorang pun akan membuat parit ke bulak di padukuhan itu.”
“Kami tidak akan membuat parit, Wandawa,” Paksilah yang
menyahut. “Membuat parit dibutuhkan banyak sekali tenaga dan
waktu.”
“Jadi apa yang akan kalian lakukan?”
“Kami akan membuat talang air dari bambu yang disambungsambung.
Empat atau lima jelujur talang bambu.”
“Bukankah itu sama saja?”
“Tidak. Tentu ada bedanya.”
“Persetan dengan talang bambumu. Kami sangat
berkeberatan.”
“Sudahlah, Wandawa. Biarkan saja apa yang ingin mereka
lakukan. Ini tidak mengganggu air di sawahmu yang terhitung
subur di padukuhan kita yang kering dan gersang ini.”
“Aku tidak peduli,” jawab Wandawa. “Yang penting, urungkan
niat anak-anak muda itu.”
“Tentu saja aku tidak berhak mengurungkannya karena yang
mereka lakukan itu sama sekali tidak bertentangan dengan
paugeran yang berlaku di padukuhan dan bahkan seluruh
kademangan kita ini.”
Tiba-tiba saja Mugi yang telah memberitahukan rencana
pembuatan parit itu berkata, “Ki Bekel, jika parit itu nanti
terwujud, maka ayah Wandawa akan menjadi sangat marah. Ia
akan dapat kehilangan banyak tenaga karena mereka akan sibuk
di sawah mereka masing-masing. Setidak-tidaknya upah tenaga
akan menjadi semakin mahal.”
“Tutup mulutmu,” bentak Wandawa.
“Bukankah tadi ayahmu berkata begitu?”
Wandawa justru telah menampar mulut Mugi sambil
membentak, “Haruskah hal itu kau katakan kepada Ki Bekel?”
Mugi terkejut. Mulutnya terasa pedih. Dari bibirnya yang
pecah, darah mulai mengalir.
“Aku rontokkan gigimu, anak dungu,” Wandawa hampir
berteriak.
Wijang dan Paksi saling berpandangan sejenak. Jadi itulah
alasan yang sebenarnya dari Ki Cakrajaya.
Ki Bekelpun kemudian mengangguk-angguk sambil berdesis,
“Jadi itukah alasan sebenarnya dari ayahmu, Wandawa? Selama
ini, ayahmu dan aku sendiri, selalu berbicara tentang kemapanan
hubungan antara penghuni padukuhan kita. Jadi itulah latar
belakangnya.”
Jilid 35
“AKU TIDAK peduli dengan igauan anak setan ini. Tetapi Ki Bekel
dapat melihat sendiri. Sebelum parit atau talang itu benar-benar
di buat, di padukuhan kita telah timbul persoalan. Jika anakanak
itu nekat melanjutkan rencananya, maka persoalan ini akan
menjadi semakin berkembang.”
“Katakan kepadaku, Wandawa. Siapakah yang telah
menumbuhkan persoalan ini? Anak-anak itu atau kau?”
Wajah Wandawa menjadi merah. Dengan suara yang bergetar
iapun berkata, “Jika tidak ada gagasan gila ini, aku tentu tidak
akan berbuat apa-apa.”
“Sudahlah, Wandawa. Pulanglah. Biarlah anak-anak ini
membuat talang sesuai dengan gagasan yang mereka terima dari
kedua pengembara itu. Jika talang itu memberikan kenyataan
yang baik, maka rakyat di padukuhan kita tentu akan bersedia
membuat parit ke bulak yang kering itu. Justru sekarang aku
harus mengakui, betapa malasnya kita sebelumnya. Sikapmu,
sikap ayahmu dan tekad anak-anak muda ini akan membuka
mata kita, bahwa yang terjadi bukanlah kemapanan, ketenangan
dan ketenteraman. Tetapi kemalasan berpikir dan berbuat.”
“Ki Bekel,” berkata Wandawa, “aku minta Ki Bekel
menghentikan rencana itu.”
Ki Bekel menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Aku
tidak akan menghentikan rencana itu.”
“Jika demikian, aku akan menyampaikannya kepada ayah. Ki
Bekellah yang bertanggung jawab terhadap ayah jika ayah
marah.”
Ki Bekel justru tersenyum. Katanya, “Wandawa, terserah saja
kepadamu. Tetapi ingat, bahwa akulah Bekel di sini. Bukan
ayahmu.”
“Aku tahu. Tetapi ayah adalah sahabat baik Ki Demang.
Sedangkan Ki Bekel berada di bawah perintah Ki Demang. Jika Ki
Demang memerintahkan untuk membatalkan rencana ini, maka
Ki Bekel tidak akan dapat berbuat apa-apa.”
Ki Bekel justru tertawa. Katanya, “Terserah saja kepada
ayahmu, Wandawa. Jika ia ingin berbicara dengan Ki Demang,
biarlah ia melakukannya. Ki Demang tidak hanya mengurusi
padukuhan ini. Tetapi Ki Demang juga harus memperhatikan
padukuhan yang baru saja disinggahi oleh beberapa orang yang
telah merampok padukuhan itu habis-habisan.”
Wandawa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
berkata, “Kau akan menyesal, Ki Bekel.”
“Tidak. Aku tidak akan menyesali sikapku ini. Anak-anak
muda ini juga tidak. Jika Ki Demang mendengar gagasan ini,
maka ia tentu akan mendukungnya.”
Wandawa tidak menjawab. Namun iapun segera melangkah
meninggalkan tempat itu.
Ki Bekel, Wijang, Paksi serta anak-anak muda yang sudah
siap untuk membuat talang air dari bambu itu memperhatikan
Wandawa serta kawan-kawannya yang melangkah semakin jauh.
Nampaknya mereka benar-benar menjadi marah. Apalagi
Wandawa. Ia tidak saja marah kepada mereka yang akan
membuat talang, tetapi ia pun marah kepada Mugi yang begitu
dungunya dengan mengatakan alasan Ki Cakrajaya yang
sebenarnya tentang pembuatan talang air itu.
“Kita tidak akan terpengaruh oleh sikap mereka,” berkata Ki
Bekel.
“Ya,” berkata salah seorang di antara anak-anak muda itu.
“Bagus,” berkata Wijang. “Seperti yang kita bicarakan, besok
kita akan datang sebelum matahari terbit. Kalian harus berlatih
bangun pagi-pagi. Jika kalian tidak bersedia berlatih bekerja
keras, maka kalian tidak akan dapat melahirkan perubahan apaapa.
Jika kalian hanya ingin yang termudah, tidak berani
menghadapi kesulitan, maka tidak akan ada yang dapat kalian
capai. Karena untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, kalian
harus berani berbuat dan bekerja keras. Sebenarnyalah
kebahagiaan yang diimpikan oleh setiap orang itu memerlukan
pengorbanan. Jika kita ingin mengail ikan, maka kita harus
bersedia mengorbankan umpan.”
Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Seorang di antara
mereka berkata, “Baiklah. Besok kita akan datang menjelang
matahari terbit.”
“Kalian dapat tidur sejak matahari terbenam,” berkata Ki
Bekel sambil tertawa.
“Tetapi Ki Bekel sendiri juga harus bangun pagi-pagi.”
“Ya. Aku akan bangun pagi-pagi sekali. Menjelang fajar.”
Anak-anak muda itupun tertawa pula. Seorang di antara
mereka berkata, “Tidak ada yang berani membangunkan Ki
Bekel.”
“Tentu ada. Hari ini aku bangun pagi-pagi. Jika kalian tidak
percaya, bertanyalah kepada kedua orang pengembara ini.”
Wijang dan Paksi hanya tersenyum saja.
Demikianlah, beberapa saat kemudian mereka telah
meninggalkan tempat itu. Mereka akan bekerja esok. Mereka
akan datang sebelum matahari terbit sambil membawa peralatan
yang diperlukan untuk menebang bambu serta membuat saluran
air yang panjang.
Dalam pada itu, Wandawa dan kawan-kawannya telah
menghadap ayahnya. Wandawa memberitahukan, bahwa di
antara anak-anak muda itu terdapat Ki Bekel.
“Apa yang akan mereka lakukan?”
“Mereka akan membuat talang air, Ayah. Mereka ingin
mengalirkan air ke sawah mereka.”
“Iblis manakah yang telah memberikan gagasan tentang talang
air itu?”
“Ada dua orang pengembara di antara mereka. Tentu
keduanyalah yang telah mempengaruhi Ki Bekel untuk ikut serta
bersama anak-anak itu untuk membuat talang air. Kedua orang
pengembara itulah yang telah minta berbicara dengan anak-anak
muda di padukuhan ini.”
“Kerja itu harus dihentikan.”
“Ya,” jawab Wandawa. “Tetapi mulut Mugi itu sangat lancang.”
“Kenapa?”
“Ia sudah mengatakan alasan Ayah yang sebenarnya, kenapa
kita berkeberatan jika orang-orang padukuhan ini membuat
parit.”
“Gila,” geram Ki Cakrajaya. “Apakah aku harus mengoyak
mulutnya?”
“Aku sudah menamparnya sehingga mulutnya berdarah.”
“Biarlah jika alasan yang sebenarnya itu sudah terlanjur
dikatakan, meskipun terasa agak mengganggu. Biarlah aku
menemui Ki Bekel dan langsung menyatakan keberatan itu.”
“Nampaknya Ki Bekel sudah bertekad untuk
melaksanakannya. Sebaiknya yang menemui Ki Demang, serta
minta Ki Demang mengurungkan rencana Ki Bekel untuk
membuat talang air itu.”
“Aku akan menemui Ki Bekel lebih dahulu. Jika Ki Bekel
menjadi keras kepala, aku akan menemui Ki Demang. Tergantung
sekali kepada Ki Demang, apa yang akan dilakukannya. Jika Ki
Demang berkeberatan untuk mencegah Ki Bekel, maka aku
sendiri akan mencegahnya.”
Wandawa mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Terserah saja
kepada Ayah.”
“Besok aku akan menemui Ki Bekel yang tentu berada di
gumuk itu.”
“Besok aku akan ikut bersama Ayah.”
“Tetapi kau harus menahan diri. Meskipun seandainya Ki
Bekel tetap menolak, besok aku belum akan bertindak. Aku akan
lebih dahulu menemui Ki Demang.”
Wandawa mengangguk-angguk pula. Tetapi ia tidak
menjawab.
Dalam pada itu, beberapa orang anak muda telah
mempersiapkan peralatan yang akan mereka bawa esok.
Sebagian dari alat-alat itu mereka pinjam dari Ki Bekel,
sedangkan yang lain, mereka kumpulkan dari sanak kadang
mereka.
Ketika di sore hari anak-anak muda itu bertemu dan
berbincang dengan kawan-kawannya, ternyata ada empat atau
lima orang lagi yang ingin ikut mencoba bekerja buat dari depan.
“Malas juga bangunan pagi-pagi sekali,” desis seorang di
antara mereka. “Tetapi rasa-rasanya ingin juga mencoba.”
“Menurut Paksi, salah seorang dari kedua orang pengembara
itu, segala sesuatunya tergantung kepada niat kita. Apakah kita
benar-benar ingin melakukannya atau tidak.”
“Baiklah,” berkata salah seorang dari mereka. “Jika Ki Bekel
juga ikut, kami akan mencoba untuk bangun pagi-pagi.”
Seorang yang lain menyahut, “Aku akan tidur sejak sekarang.”
Kawan-kawannya yang mendengar kelakar itupun tertawa.
Namun tiba-tiba saja seorang di antara mereka berdesis,
“Bagaimana dengan Wandawa dan ayahnya?”
Anak muda yang telah dahulu datang ke gumuk itu
menjawab, “Kita akan berusaha mengatasinya jika Wandawa
ingin mengganggu. Sedangkan ayahnya akan diredam oleh Ki
Bekel.”
“Tetapi pengaruh Ki Cakrajaya itu besar sekali. Tidak saja di
padukuhan ini, tetapi di seluruh kademangan.”
“Kita akan melihat, apa saja yang dapat dilakukannya.
Seandainya karena usahanya maka kerja ini harus dihentikan,
kita akan berhenti.”
“Jadi apa yang kita lakukan besok itu akan sia-sia?”
“Mungkin. Tetapi menurut Wijang, kita harus berusaha.”
“Siapakah Wijang itu?”
“Salah seorang dari kedua pengembara itu. Yang seorang
namanya Wijang, yang seorang namanya Paksi.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk.
“Nah, sekarang kita pulang, beristirahat sebaik-baiknya. Tidur
nyenyak sampai menjelang fajar. Kita akan mencoba bangun
pagi-pagi sekali.”
“Ya, Ki Bekel.”
“Sekarang tidurlah. Agar kita tidak terlambat bangun.”
“Bukankah malam baru saja turun?”
“Tetapi kita akan bangun menjelang fajar.”
Wijang tertawa. Katanya, “Aku terbiasa tidur setelah wayah
sepi uwong.”
Ki Bekel mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi iapun
bertanya, “Jadi, waktu tidur kalian hanya begitu pendek?”
“Tetapi itu sudah cukup bagi kami.”
Ki Bekel tertawa. Katanya, “Baiklah. Aku akan mencobanya.
Tetapi dari sedikit. Jika aku memaksa diri dengan serta-merta,
mungkin aku akan menjadi sakit-sakitan.”
Wijang dan Paksipun tertawa pula.
“Kami memang harus mengakui,” berkata Ki Bekel kemudian,
“bahwa kami adalah orang-orang yang malas. Tetapi kemalasan
ini sudah berlangsung lama, sehingga untuk melakukan
perubahan, diperlukan waktu.”
“Kami tahu, Ki Bekel,” sahut Wijang.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian, Ki Bekelpun benar-benar
pergi ke biliknya. Ia sudah berpesan kepada Nyi Bekel dan
kepada pembantu-pembantunya agar Ki Bekel itu dibangunkan
pagi-pagi sekali.
“Yang tentu akan bangun pagi-pagi adalah anak-anak muda
pengembara itu,” berkata Nyi Bekel.
“Mereka tentu tidak berani membangunkan aku.”
“Baiklah, aku akan berusaha untuk bangun pagi-pagi.”
Namun sebelum Ki Bekel tidur, terdengar pintu pringgitan
diketuk keras-keras.
“Siapa?” bertanya Ki Bekel yang matanya sudah redup.
“Ki Bekel, buka pintunya.”
Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Sementara Nyi Bekel
berdesis, “Siapakah mereka, Kakang. Nampaknya bukan orang
padukuhan ini. Suaranya terdengar keras dan kasar.”
Karena Ki Bekel tidak segera menjawab, maka terdengar lagi
pintu itu diketuk semakin keras.
“Buka pintunya, Ki Bekel. Kau dengar.”
“Siapa kau?” bertanya Ki Bekel.
“Buka dahulu pintunya. Ki Bekel akan tahu, siapa aku.”
Meskipun Ki Bekel terhitung orang yang malas, tetapi ia
bukan seorang penakut. Karena itu, maka iapun segera bangkit.
Disambarnya sebatang tombak pendeknya. Kemudian melangkah
keluar dari biliknya menuju ke pintu pringgitan.
“Hati-hatilah, Kakang.”
“Masuklah ke dalam bilik, Nyi,” desis Ki Bekel.
Perlahan-lahan Ki Bekelpun melangkah ke pintu. Diangkatnya
selarak pintunya. Kemudian ditariknya sindik kayu di atas daun
pintu itu.
Dengan cepat Ki Bekel itu meloncat surut. Demikian pintu
terbuka, maka Ki Bekel itupun melihat beberapa orang berdiri di
belakang pintu. Orang-orang itu belum pernah dilihatnya
sebelumnya.
Namun ketika seorang di antara mereka akan melangkah
masuk, Ki Bekel itupun berkata, “Berdiri saja di situ.”
Orang itu tertegun. Ujung tombak Ki Bekel merunduk setinggi
jantung orang yang berdiri di depan pintu itu.
“Siapa kalian dan untuk apa kalian datang malam-malam
begini?”
Orang itu memandang wajah Ki Bekel dengan tajamnya.
Namun ia tidak melihat kecemasan membayang di wajah itu.
“Ki Bekel,” berkata orang yang berdiri di paling depan,
“sebenarnya kami tidak berurusan dengan Ki Bekel.”
“Jadi, kenapa kalian kemari?”
“Kami berurusan dengan Wijang dan Paksi. Dua orang yang
mengaku sebagai pengembara.”
“Ada apa dengan mereka?”
“Bukankah mereka bermalam di sini? Bukan di banjar?”
“Ya. Malam ini mereka memang berada di sini.”
“Serahkan kedua orang itu kepada kami.”
“Kenapa aku harus menyerahkan mereka?”
“Mereka telah melakukan kejahatan di kademangan kami.”
“Kejahatan apa?”
“Sebenarnya mereka tidak hanya berdua. Tetapi kawankawannya
ada sekitar empat orang. Mereka telah mengambil
dengan paksa barang-barang milik beberapa keluarga di
kademangan kami.”
“Kademangan mana, Ki Sanak?”
“Kami adalah orang-orang dari Kademangan Randucawang.”
Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Ia teringat kepada
penuturan beberapa orang tentang pemerasan yang terjadi di
sebuah padukuhan di kademangannya. Bahkan Ki Demang pun
telah membenarkannya. Tetapi ciri-ciri orang yang memeras dan
merampas beberapa barang berharga itu tidak seperti yang
nampak pada kedua orang pengembara yang masih muda itu.
Apalagi menilik sikap keduanya serta kesediaan mereka
membantu menyelenggarakan perubahan di padukuhan itu.
Apakah nanti akan berhasil atau tidak, bukan soal. Tetapi
keduanya telah menyampaikan gagasan yang masuk akal bagi
kesejahteraan padukuhan itu.
“Ki Sanak,” berkata Ki Bekel, “menurut pengamatan kami,
tentu bukan kedua orang pengembara yang bermalam di sini.
Jika Ki Sanak orang Randucawang, Ki Sanak tentu sudah
mendengar, bahwa salah satu padukuhan di kademangan kami
juga pernah didatangi beberapa orang yang memeras dan bahkan
katakan saja, merampok beberapa orang penghuninya. Tetapi
ciri-ciri dari para perampok itu sama sekali tidak sama dengan
ciri-ciri kedua orang anak muda yang sekarang bermalam di
rumahku ini.”
“Kami akan bertemu dengan mereka.”
“Baik. Tetapi kalian harus berjanji bahwa kalian tidak akan
bertindak sendiri. Aku bekel di sini. Segala sesuatunya, akulah
yang memutuskan.”
“Ki Bekel, peristiwa kejahatan itu terjadi di kademangan kami.
Karena itu, maka kami akan minta untuk membawa kedua orang
itu ke kademangan kami.”
“Jika yang datang Ki Demang Randucawang atau Ki Jagabaya
atau bebahu Randucawang yang hampir semuanya sudah aku
kenal, maka aku akan menyerahkannya. Tetapi aku belum
mengenal Ki Sanak. Bahkan aku belum mengenal seorang pun di
antara kalian. Padahal aku banyak mempunyai kenalan di
Randucawang.”
“Ki Bekel, aku adalah utusan demang Randucawang itu.”
“Sudah aku katakan, jika yang datang bebahu Randucawang
yang hampir semuanya sudah aku kenal, maka aku akan
menyerahkan mereka berdua. Tetapi aku tidak akan
menyerahkan mereka kepada orang yang tidak aku kenal.”
“Ki Bekel, kami datang dengan membawa kuasa dari Ki
Demang. Itu tidak ada bedanya, bahwa Ki Demang sendiri datang
kemari.”
“Apakah kalian dapat membuktikan bahwa kalian telah
mendapat kuasa dari Ki Demang?”
“Ki Demang hanya memberikan perintah lesan.”
“Karena itu, aku tidak dapat menyerahkan mereka.”
“Jangan berkeras, Ki Bekel.”
“Aku akan bertindak sebagai seorang bekel di sini.”
“Ki Bekel, jika Ki Bekel berkeberatan untuk menyerahkan
keduanya, maka kami akan terpaksa mempergunakan
kekerasan.”
Ki Bekel menjadi tegang. Ujung tombaknyapun menjadi
bergetar. Dengan nada tinggi iapun berkata, “Jadi kalian juga
akan merampok seperti orang-orang yang kalian cari itu?”
“Kami tidak merampok. Tetapi kami sedang berusaha
menangkap perampok.”
“Tetapi cara yang kau pakai tidak ada bedanya dengan cara
seorang perampok. Bahkan kau akan merampok wewenangku di
padukuhan ini.”
“Terserah saja apa yang akan Ki Bekel katakan. Tetapi kami
akan mengambil kedua orang anak muda itu dan membawa ke
Randucawang.”
“Tidak. Besok aku akan menemui Ki Demang Randucawang.
Aku sendiri akan membawa kedua orang anak muda itu dan
menanyakan kepada Ki Demang, apakah benar mereka yang
dicari.”
“Aku tidak mau menunggu sampai besok. Aku akan membawa
mereka sekarang.”
“Jika demikian, pengakuan kalian sebagai orang
Randucawang justru meragukan.”
“Percaya atau tidak itu terserah saja kepada Ki Bekel. Tetapi
yang penting, kami akan membawa kedua orang itu.”
“Tidak. Aku tidak akan menyerahkan mereka.”
“Ki Bekel, bukankah selama ini tidak ada persoalan di antara
kita? Jika Ki Bekel tidak mau menyerahkan keduanya, maka
akan timbul perselisihan antara Ki Bekel dengan Ki Demang di
Randucawang.”
“Aku tidak yakin. Besok aku akan pergi ke Randucawang.”
“Kami tidak dapat menunggu sampai esok. Serahkan
keduanya sekarang, atau Ki Bekel akan menyesali kekerasan hati
Ki Bekel.”
“Aku tidak akan menyesal.”
Tiba-tiba saja orang itu bergeser mundur selangkah. Kepada
beberapa orang yang datang bersamanya, orang itu berkata, “Cari
kedua orang itu. Ia ada di sini. Aku pikir keduanya ada di gandok
kiri atau kanan.”
Namun mereka terkejut karena mereka mendengar suara di
seketeng. “Kami ada di sini.”
Ketika orang-orang yang datang ke rumah Ki Bekel itu
berpaling, mereka melihat dua orang berdiri di depan pintu
seketeng. Remang-remang cahaya lampu minyak yang menyala di
pendapa itu sempat menggapai mereka.
“Ki Sanak,” terdengar suara Wijang, “kami sama sekali tidak
pernah melakukan perampokan sebagaimana kalian tuduhkan.
Jika saja Ki Bekel meragukan bahwa kalian orang-orang
Randucawang, maka kami pun akan menyatakan bahwa kami
berkeberatan untuk ditangkap dan dibawa ke Randucawang.
Sebaliknya jika Ki Bekel tidak meragukan kalian, maka kami
akan melakukan apa saja yang diperintahkannya.”
“Setan kau,” geram orang yang berdiri di depan pintu.
“Tangkap mereka.”
Beberapa orang itupun segera menghambur berlari ke arah
Wijang dan Paksi yang sengaja menunggu mereka di halaman.
Orang yang berdiri di depan pintu itu masih berada di depan
pintu. Kepada Ki Bekel iapun berkata, “Ki Bekel, kami telah
menemukan kedua orang itu. Sebaiknya Ki Bekel tidak usah ikut
campur. Kami akan menangkap mereka dan membawa mereka ke
Randucawang.”
Orang itu tidak menunggu jawaban. Namun orang itu pun
segera berlari pula ke pintu seketeng.
Demikian orang itu meninggalkan pintu pringgitan, maka Ki
Bekelpun segera meloncat keluar. Dilihatnya beberapa orang itu
telah mengepung Wijang dan Paksi.
“Menyerahlah,” berkata orang yang telah menemui Ki Bekel di
muka pintu pringgitan. Seorang yang berkumis lebat tetapi
berjanggut tipis dan jarang.
Ki Bekel yang masih berdiri di pendapa itu melihat Wijang dan
Paksi yang berdiri di dalam kepungan orang-orang yang tidak
dikenal itu berdiri berdampingan. Nampaknya keduanya sama
sekali tidak menjadi cemas melihat orang-orang yang garang
mengepung mereka.
“Jika kalian menyerah, kami masih akan mempertimbangkan
banyak hal tentang kalian berdua. Kalian akan mendapat banyak
pengampunan, sehingga hukuman kalian akan menjadi sangat
ringan,” berkata orang berkumis lebat itu.
“Kami tidak memerlukan pengampunan karena kami tidak
bersalah,” jawab Wijang.
“Kalian tidak akan dapat ingkar.”
“Hanya orang yang merasa bersalah saja yang minta diampuni
kesalahannya. Sementara itu, kami merasa tidak pernah berbuat
sesuatu yang dapat dianggap satu kesalahan. Jika di sini kami
menyampaikan gagasan untuk membuat saluran air, bukankah
itu bukan satu kesalahan?”
“Kami tidak berbicara tentang saluran air.”
“Aku yakin, bahwa kalian datang karena saluran air itu.
Bukan karena perampokan yang terjadi di Randucawang,
meskipun kalian mengaku orang-orang Randucawang. Jika
persoalannya adalah perampokan di Randucawang, di antara
kalian tentu ada satu atau dua orang bebahu. Tetapi ternyata
tidak. Tidak ada di antara kalian yang dapat mengaku bebahu
Randucawang karena Ki Bekel mengenal semua bebahu di
Randucawang itu.”
“Persetan dengan igauanmu.”
“Kalian tentu datang untuk menangkap kami dan mungkin
untuk menyakiti kami karena kalian yakin bahwa kamilah yang
telah melontarkan gagasan untuk membuat talang air itu.”
“Dugaan yang tepat,” sahut Ki Bekel yang berdiri di pendapa
dengan tombak di tangan. “Agaknya mereka datang karena
rencana itu. Aku pun menjadi semakin yakin, bahwa mereka
bukan orang-orang Randucawang.”
“Aku tidak peduli,” berkata orang yang berkumis lebat.
“Keduanya harus ditangkap dan dibawa ke Randucawang.” Lalu
katanya kepada kawan-kawannya, “Tangkap mereka. Jika mereka
melawan, mereka harus ditundukkan. Jika karena itu maka
mereka terluka, itu adalah salah mereka sendiri.”
Kawan-kawannya tidak menunggu terlalu lama. Lima orang
bergerak serentak menyerang Wijang dan Paksi. Sementara orang
yang berkumis lebat itu berdiri termangu-mangu. Agaknya ia
sedang mengamati Ki Bekel, jika Ki Bekel itu akan ikut campur.
Ki Bekel berdiri dengan tegang menyaksikan Wijang dan Paksi
berloncatan membela diri.
Namun Ki Bekel mengurungkan niatnya untuk turun ke arena
ketika ia menyaksikan bagaimana Wijang dan Paksi menghadapi
kelima orang laki-laki yang garang yang mengaku datang dari
Randucawang itu.
Dalam waktu yang singkat, seorang dari kelima orang itu
terdorong beberapa langkah surut. Bahkan orang itu tidak lagi
mampu mempertahankan keseimbangannya, sehingga jatuh
terbanting. Namun orang itupun segera bangkit berdiri meskipun
harus menyeringai menahan sakit di punggungnya.
Tetapi belum lagi mampu berdiri tegak, maka seorang
kawannya telah terlempar menimpanya, sehingga kedua-duanya
justru jatuh berguling di tanah.
Seorang di antara mereka mampu segera bangkit sambil
menahan pinggangnya dengan tangannya. Sedangkan yang
seorang lagi baru kemudian tertatih-tatih berdiri.
Sementara itu, ketiga orang kawannya justru telah mengambil
jarak. Ternyata kedua orang pengembara itu memiliki
kemampuan melindungi diri mereka.
Seorang di antara orang-orang yang mengaku dari
Randucawang itu menggeram, “Ternyata dugaan kami benar.
Kalian tentu bagian dari mereka yang telah merampok di
Randucawang. Ternyata kalian mempunyai kemampuan dalam
olah kanuragan, meskipun kasar dan liar.”
“Apakah hanya para perampok saja yang memiliki
kemampuan untuk membela dirinya?”
“Ya.”
“Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga perampok
atau orang upahan yang kerjanya menyakiti orang lain untuk
beberapa keping uang. Bahkan membunuh?”
“Persetan kau orang-orang yang licik,” geram orang itu.
“Semula kami memang tidak ingin membunuh. Kami hanya ingin
membawa kalian ke kademangan kami. Tetapi jika kalian
bersikukuh untuk menolak, bahkan melawan, maka mungkin
saja kalian akan mati di halaman rumah Ki Bekel ini.”
“Aku menjadi saksi,” berkata Ki Bekel yang telah melihat
kemampuan Wijang dan Paksi, “siapa pun yang mati, tidak akan
menjadi persoalan. Tidak akan ada yang dianggap bersalah
karena pembunuhan. Apalagi karena aku meragukan bahwa
kalian benar-benar orang Randucawang. Seandainya benar kalian
orang-orang Randucawang, aku akan memberi penjelasan kepada
Ki Demang Randucawang bahwa kalian telah melanggar unggahungguh
dan paugeran padukuhan ini.”
Orang yang berkumis lebat dan berjanggut tipis itupun
menggeram, “Ki Bekel, jika kau tetap melindungi kedua orang itu,
maka kau akan kami anggap ikut bersalah.”
“Siapa yang melindungi para pengembara itu? Bukankah aku
berdiri di sini dan tidak berbuat apa-apa? Kawan-kawanmu
itulah yang harus bertanggung jawab jika mereka tidak berhasil
menangkap kedua orang pengembara itu, apapun alasan kalian
yang sebenarnya.”
Orang berkumis lebat itu menggeram. Tetapi ia tidak dapat
mengingkari kenyataan yang dihadapinya. Kedua orang
pengembara itu tidak mudah untuk ditaklukkan. Apalagi
ditangkap dan dibawa keluar dari padukuhan.
Dalam pada itu, kedua orang yang jatuh berguling itu sudah
bangkit kembali. Mereka menggeliat untuk melenturkan tubuh
mereka yang terasa sakit
Seorang di antara kedua orang itupun tiba-tiba saja menarik
goloknya sambil menggeram, “Aku tidak peduli, apakah aku
harus menangkapnya hidup-hidup atau mati. Tetapi aku akan
membunuh mereka berdua.”
Orang berkumis tebal itupun berkata kepada Ki Bekel, “Lihat,
Ki Bekel. Orang-orangku sudah kehabisan kesabaran.”
“Apa yang harus aku lakukan? Bukankah aku sama sekali
tidak menghalangi usaha kalian untuk menangkapnya?”
“Ki Bekel dapat memerintahkan mereka untuk menyerah.”
“Mereka bukan orang-orangku. Aku tidak dapat memerintah
mereka. Seandainya itu aku lakukan, merekapun berhak untuk
tidak mentaati perintahku.”
“Tetapi padukuhan ini berada di bawah perintah Ki Bekel.”
“Apakah dengan demikian mereka harus tunduk kepada
perintahku?”
“Bukankah itu wajar?”
“Jika demikian, kenapa kalian tidak menurut perintahku?
Jika kalian menurut perintahku, tidak akan terjadi pertempuran
di sini. Sementara itu, aku akan dapat membawa keduanya
menghadap Ki Demang di Randucawang.”
“Persetan,” geram orang yang baru saja terpelanting jatuh
sehingga pinggangnya terasa sakit sekali. “Aku akan membunuh
mereka.”
Kelima orang itupun telah menarik senjata mereka masingmasing.
Agaknya mereka benar-benar merasa tersinggung karena
mereka berlima tidak segera berhasil menguasai kedua orang
pengembara itu.
Sejenak kemudian, maka kelima orang itupun telah
berloncatan kembali di sekitar Wijang dan Paksi. Namun di
tangan mereka sudah teracu senjata mereka masing-masing.
Paksi termangu-mangu sejenak. Meskipun sejak semula ia
sudah memegangi tongkatnya, namun ia masih belum
mengerahkan kemampuannya. Tetapi menghadapi lawanlawannya
yang mengacu-acukan senjatanya, maka tongkat
Paksipun berputar semakin cepat.
Dalam pada itu, di kedua belah tangan Wijangpun telah
tergenggam sepasang pisau belatinya. Ketika kedua Lawannya
mulai menyerang, maka sepasang pisau belati di tangan Wijang
itupun mulai berputar seperti baling-baling.
Ki Bekel yang menyaksikan pertempuran yang terjadi di
samping pendapa itu menarik nafas dalam-dalam. Iapun yakin,
bahwa kedua orang pengembara itu ternyata memiliki ilmu yang
tinggi, sehingga Ki Bekel sendiri tidak perlu turun dan melibatkan
diri di arena.
“Siapakah sebenarnya keduanya?” pertanyaan itu mulai
menggelitik jantung Ki Bekel. Namun Ki Bekel pun yakin, bahwa
kedua orang itu tentu bukan bagian dari para perampok yang
manapun juga. Bahkan Ki Bekelpun menjadi semakin yakin pula,
bahwa orang-orang yang datang itu bukan orang-orang
Randucawang. Mereka tentu diupah untuk menangkap Wijang
dan Paksi serta mengancamnya, mungkin dengan menyakitinya
atau melukainya, agar mereka tidak lagi memimpin
pembangunan talang air dari bambu sebelum padukuhan itu
dapat membuat parit yang baru atau memperbaiki dan
memanfaatkan parit yang sudah ada tetapi rusak serta
menyempurnakannya.
Dalam pada itu, pertempuran itupun menjadi semakin sengit.
Senjatapun terdengar berdentang beradu. Bunga-bunga api
berloncatan di keremangan cahaya lampu minyak dari pendapa.
Namun Ki Bekel tidak lagi merasa cemas. Beberapa kali orangorang
yang bertempur melawan Wijang dan Paksi itu terdesak
beberapa langkah surut. Meskipun mereka mengerahkan segala
kemampuan mereka, namun mereka tidak mampu menguasai
kedua orang pengembara yang akan mereka tangkap itu.
Dalam pada itu, orang yang berkumis lebat itupun menjadi
cemas. Iapun dapat melihat, bahwa orang-orangnya justru
mengalami kesulitan. Apalagi ketika orang itu mendengar seorang
di antara kelima orang itu berteriak nyaring. Ujung pisau belati
Wijang telah menyentuh bahunya, sehingga kulitnya telah
terluka. Meskipun lukanya tidak begitu dalam, tetapi darahpun
telah mengalir dari luka itu. Dibasahi oleh keringatnya sendiri,
maka luka itu terasa nyeri sekali.
Sementara itu seorang yang lain telah jatuh menelungkup.
Tongkat Paksi yang mengenai punggungnya, telah mendorong
orang itu demikian kerasnya, sehingga orang itu tidak mampu
untuk tetap tegak berdiri. Dengan derasnya ia terdorong dan
jatuh menelungkup. Wajahnya tersuruk menggores tanah yang
keras berdebu, sehingga dahinya telah tertoreh beberapa larik
luka.
Ketika orang itu bangkit berdiri, maka darah telah meleleh di
wajahnya.
Orang itu menggeram. Kemarahannya telah membakar isi
dadanya. Darahnya yang bagaikan mendidih telah memanasi
seluruh tubuhnya.
Sementara itu, orang berkumis lebat yang masih berdiri di
luar arena pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Ia harus
berbuat sesuatu untuk membantu orang-orangnya. Dua orang
pengembara itu harus berhasil ditangkap. Bahkan menilik
suasananya, agaknya orang-orangnya hanya dapat menangkap
mati kedua pengembara itu.
Ketika ia melihat Ki Bekel yang memperhatikan pertempuran
itu dengan segenap perhatiannya, maka timbullah gagasannya
untuk mempergunakan Ki Bekel sebagai alat untuk memaksa
kedua orang pengembara itu agar mereka menyerah.
“Aku akan menguasai Ki Bekel. Jika keduanya tidak bersedia
menyerah, maka taruhannya adalah nyawa Ki Bekel itu sendiri,”
berkata orang berkumis lebat itu di dalam hatinya.
Karena itu, selagi Ki Bekel memperhatikan pertempuran itu
dengan seksama, maka orang berkumis lebat yang telah menarik
pedangnya itu tiba-tiba saja telah meloncat. Ia berniat untuk
memukul tombak Ki Bekel agar tombak itu terjatuh. Kemudian
menempelkan ujung pedang dan memaksa kedua orang
pengembara itu menyerah.
Tetapi ternyata Ki Bekel sempat melihat gerakan orang itu.
Karena itu, ketika orang itu mengayunkan pedangnya memukul
ujung tombak Ki Bekel, maka Ki Bekel sempat menarik
tombaknya sehingga pedang orang berkumis lebat itu tidak
menyentuhnya.
Namun justru karena gerakan yang tiba-tiba, maka Ki
Bekelpun tidak mampu lagi memperhitungkan gerak naluriahnya.
Tiba-tiba saja tombaknya menggeliat. Dengan cepat Ki Bekel itu
telah menjulurkan tombaknya, langsung ke dada orang yang
meloncat ke arahnya itu.
Terdengar orang berkumis lebat itu berteriak. Kemudian
mengumpat dengan kasarnya. Namun suaranyapun segera patah
di kerongkongan.
Orang itupun terjatuh di tanah seperti sebatang pisang yang
roboh. Sekali orang itu menggeliat. Namun kemudian iapun
terdiam untuk selama-lamanya.
Ki Bekelpun segera meloncat dan berjongkok di sampingnya.
Ketika ia meraba leher orang itu, maka tidak ada lagi tanda-tanda
kehidupannya.
“Aku tidak sengaja membunuhnya,” desis Ki Bekel yang
menjadi sangat gelisah.
Dalam pada itu, kelima orang yang bertempur melawan
Wijang dan Paksipun melihat, bahwa orang berkumis lebat itu
telah terbunuh. Karena itu, maka mereka merasa bahwa tidak
ada gunanya untuk bertempur terus. Merekapun merasa bahwa
kedua orang yang mereka hadapi ternyata adalah orang-orang
yang berilmu tinggi.
Karena itu, maka seorang di antara merekapun segera bersuit
nyaring untuk memberikan isyarat kepada kawan-kawannya agar
mereka serentak melarikan diri dan berpencar ke arah yang
berbeda-beda.
Tetapi isyarat itupun ditangkap pula oleh Wijang dan Paksi.
Karena itu demikian mereka mulai bergerak untuk melarikan diri,
Wijang dan Paksi segera meloncat menangkap dua orang di
antara mereka. Ketika mereka meronta, maka tangkai pisau belati
Wijang telah memukul keningnya, sehingga orang itu terhuyunghuyung.
Kepalanya terasa menjadi sangat pening, matanya
berkunang-kunang dan akhirnya iapun jatuh terguling di tanah.
Sementara itu, orang yang ditangkap oleh Paksipun telah
meronta pula. Namun tongkat Paksi dengan kerasnya memukul
kaki orang itu, sehingga rasa-rasanya tulangnya menjadi retak.
Karena itu, maka orang itupun tidak mampu segera bangkit.
Apalagi melarikan diri.
Wijang dan Paksi tidak menghiraukan lagi ketiga orang yang
berlari berpencaran. Seorang berlari lewat pintu regol yang
terbuka. Seorang meloncat dinding halaman di sebelah gandok
dan seorang lagi berlari ke kebun belakang menyusup di antara
tanaman.
Tetapi dua orang itu sudah cukup. Wijang dan Paksipun
kemudian telah memaksa kedua orang itu bangkit dan mengikat
mereka masing-masing pada sebatang pohon dengan ikat kepala
mereka sendiri.
Baru kemudian, Ki Bekel, Wijang dan Paksi telah mengangkat
tubuh orang berkumis lebat itu dan membawanya naik ke
pendapa.
“Aku tidak sengaja membunuhnya,” desis Ki Bekel.
“Peristiwa ini terjadi begitu saja dengan cepatnya, sehingga Ki
Bekel tidak sempat membuat pertimbangan-pertimbangan,” desis
Wijang.
“Ya. Ternyata besok kita tidak dapat mulai dengan kerja itu.
Aku harus memberikan laporan kepada Ki Demang.”
“Apakah di padukuhan ini tidak terbiasa dengan isyarat
kentongan pada keadaan yang gawat seperti ini?”
“Ya,” jawab Ki Bekel. “Dalam keadaan yang memaksa, di
padukuhan ini dapat dibunyikan tanda bahaya dengan
kentongan dalam irama titir. Tadi aku sudah berpikir untuk
membunyikan kentongan. Tetapi ketika aku melihat bahwa
kalian akan segera dapat segera menguasai keadaan, maka niat
itupun aku urungkan.”
Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Sementara Ki Bekel
berkata selanjutnya, “Pada satu kesempatan, ketika dibunyikan
isyarat kentongan dalam irama titir, seluruh padukuhan menjadi
sangat ketakutan. Kegelisahan dan kecemasan meliputi seisi
padukuhan ini, sehingga aku berpendapat, bahwa jika tidak perlu
sekali, kentongan tidak akan dibunyikan dengan irama titir.”
Wijang yang masih mengangguk-angguk itupun bertanya,
“Jadi, bagaimana dengan orang yang tertangkap dan terbunuh
ini? Apakah Ki Bekel akan menanganinya sendiri?”
“Biarlah para bebahu dipanggil.”
Ki Bekelpun kemudian memanggil pembantunya.
Diperintahkannya orang itu pergi ke rumah Ki Jagabaya dan
bebahu yang lain. Juga menjemput salah seorang anak muda
yang di keesokan harinya akan pergi ke gumuk kecil untuk
membuat talang air.
Tetapi pembantu Ki Bekel itu berkata, “Aku takut, Ki Bekel.
Jika di jalan aku bertemu dengan salah seorang di antara
mereka, maka aku akan menjadi sasaran dendam mereka.”
“Bukankah mereka tidak mengenalmu?”
“Siapapun yang mereka jumpai, tentu akan mengalami nasib
buruk.”
Paksilah yang kemudian menyahut, “Marilah bersama aku.
Jika saja aku tahu di mana rumah mereka, aku dapat pergi
sendiri.”
“Nah, biarlah kau diantar oleh Paksi.”
Pembantu di rumah Ki Bekel itu masih saja ragu-ragu. Namun
Ki Bekel itupun berkata, “Pergilah. Jika kau bertemu dengan
mereka, biarlah Paksi yang mengatasinya.”
Akhirnya pembantu Ki Bekel itupun turun ke jalan bersama
Paksi, menyusuri jalan padukuhan.
Sejenak kemudian, merekapun telah sampai ke rumah Ki
Jagabaya yang sedang tidur nyenyak.
Memang sulit untuk membangunkan Ki Jagabaya. Namun
Paksi dengan sengaja telah mengetuk pintu pringgitan agak keras
dan menghentak, sehingga Ki Jagabaya dan seisi rumahnya
terkejut karenanya.
“Siapa di luar?” teriak Ki Jagabaya yang karena terkejut,
iapun telah tersentak. Tiba-tiba saja matanya tidak lagi terasa
mengantuk.
“Aku, Ki Jagabaya. Pembantu di rumah Ki Bekel.”
“Ada apa malam-malam begini? Kau telah mengejutkan aku.”
“Ki Jagabaya diminta datang ke rumah Ki Bekel.”
“Malam-malam begini?”
“Ya. Ada sesuatu yang penting.”
“Ada apa? Begitu pentingkah sehingga malam-malam begini
aku harus dibangunkan?”
“Ya, sangat penting.”
Terdengar langkah Ki Jagabaya menuju ke pintu pringgitan.
Kemudian terdengar pula selarak pintu diangkat.
Sesaat kemudian, maka pintu pringgitan itupun terbuka.
Ki Jagabaya berdiri di pintu, di tangannya digenggamnya keris
yang sudah telanjang.
Sejenak Ki Jagabaya mengamati dua orang yang berdiri
termangu-mangu di pringgitan. Seorang di antaranya memang
dikenalnya sebagai pembantu Ki Bekel.
“Ada apa sehingga kau bangunkan aku malam-malam?”
“Ada beberapa orang perampok di rumah Ki Bekel.”
“Perampok?”
“Ya. Seorang di antara mereka terbunuh oleh Ki Bekel. Dua
orang diikat pada pohon yang ada di halaman.”
“Baik. Baik. Aku akan pergi.”
“Ki Bekel minta Ki Jagabaya singgah sebentar di rumah Ki
Kamituwa.”
“Kenapa bukan kau saja?”
“Aku akan pergi ke rumah Trima.”
“Kenapa dengan Trima?”
“Ki Bekel minta Trima memberitahukan kawan-kawannya
tentang rajapati yang terjadi di rumah Ki Bekel.”
“Bukankah lebih penting Ki Kamituwa dan bebahu yang lain?”
“Ki Bekel minta Ki Jagabaya melakukannya. Aku harus
memberi tahu Trima. Sedangkan Trima juga harus memberitahu
beberapa orang kawannya.”
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
iapun berkata, “Baik. Baik. Aku singgah di rumah Ki Kamituwa.”
Pembantu di rumah Ki Bekel itupun segera minta diri. Masih
diantar Paksi, orang itu pergi ke rumah salah seorang anak muda
yang di keesokan harinya berjanji untuk berada di gumuk kecil.
Sementara itu Ki Jagabaya telah berbenah diri sambil
bersungut, “Enak-enaknya orang tidur. Kenapa Ki Bekel tidak
memanggil aku besok pagi saja?”
Nyi Bekel yang duduk sambil menggeliat di bibir
pembaringannya berkata, “Dinginnya malam ini, Kang.”
“Tidurlah. Aku sebenarnya juga malas keluar di malam seperti
ini. Aku sudah mulai mengantuk lagi.”
Nyi Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia justru
harus bangkit dan melepas Ki Jagabaya di pintu pringgitan,
karena ia harus menyelarak pintu dari dalam.
Ki Jagabaya yang menyelipkan keris di pinggangnya, berjalan
di dalam gelapnya malam dengan malasnya. Ki Jagabaya sama
sekali tidak takut seandainya ia bertemu dengan salah seorang
perampok di jalan padukuhan. Tetapi yang sangat
mengganggunya adalah kemalasan berjalan di dinginnya malam.
Ketika ia membangunkan Ki Kamituwa, maka seperti juga Ki
Jagabaya, maka Ki Kamituwa itupun mengeluh karena ia harus
bangun di dinginnya malam.
“Ki Bekel tidak pernah memberikan perintah seperti ini,”
berkata Ki Kamituwa.
“Tentu anak-anak yang bertualang itulah yang telah
mempengaruhi Ki Bekel,” desis Ki Jagabaya.
Namun Ki Jagabaya itupun kemudian berkata, “Tetapi
menurut pembantunya, di rumah Ki Bekel itu terjadi
perampokan. Seorang di antaranya telah terbunuh oleh Ki Bekel.”
“Itupun tidak pernah terjadi sebelumnya.”
Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa sebagaimana diminta oleh Ki
Bekel, telah singgah di rumah beberapa orang bebahu.
Betapapun segannya, namun para bebahu itu harus pergi ke
rumah Ki Bekel.
Untuk menghilangkan keseganan dan kemalasan mereka,
maka para bebahu itu telah membangunkan dan mengajak
tetangga-tetangga mereka pergi ke rumah Ki Bekel untuk melihat
apa yang telah terjadi.
Dalam pada itu, pembantu di rumah Ki Bekel itu telah
membangunkan Trima yang tidur nyenyak.
“Apakah sekarang sudah hampir fajar?” bertanya Trima.
“Belum. Tetapi sesuatu telah terjadi di rumah Ki Bekel.”
“Apa?”
“Perampokan. Seorang di antara para perampok itu terbunuh.”
Trima mengerutkan dahinya. Kemudian katanya, “Baik. Aku
akan pergi ke rumah Ki Bekel.”
“Ajak kawan-kawanmu,” berkata Paksi. “Dengan demikian,
mungkin sekali kerja kita tertunda. Atau kita mulai dari kerja
yang dapat dilakukan lebih dahulu.”
“Baik. Aku akan mengajak kawan-kawanku yang seharusnya
esok mulai dengan kerja. Sebenarnya apa pun yang dapat kami
lakukan, akan kami lakukan besok. Jika niat yang sudah
bergejolak ini tertunda lagi, mungkin lusa gemuruh di dada kami
sudah mereda.”
“Kami mengerti.”
Malam itu ternyata banyak orang yang berkumpul di halaman
rumah Ki Bekel. Bukan saja para bebahu, tetapi banyak pula
tetangga-tetangga Ki Bekel dan anak-anak muda yang
berdatangan. Meskipun mereka merasa segan untuk keluar di
malam yang dingin, serta kemalasan mereka mengatasi perasaan
kantuk, namun perampokan adalah satu peristiwa yang sangat
jarang terjadi. Apalagi setelah mereka mendengar bahwa salah
seorang di antara para perampok itu telah terbunuh oleh Ki Bekel
sedangkan dua orang perampok yang lain telah tertangkap dan
masing-masing diikat pada sebatang pohon.
Dalam kesibukan itu, Ki Bekel menyempatkan diri berbicara
dengan anak-anak muda yang di keesokan harinya akan mulai
dengan kerja mereka.
“Jika kerja ini tertunda,” berkata Trima, “maka gelora di dalam
hati mereka akan mereda, sehingga untuk mengangkatnya
kembali diperlukan waktu.”
“Baiklah,” berkata Ki Bekel, “besok kalian pergi saja ke gumuk
kecil. Mulailah dengan kerja itu bersama Wijang dan Paksi. Aku
akan menyelesaikan persoalan yang terjadi malam ini. Aku harus
melapor kepada Ki Demang. Kemudian menguburkan orang yang
terbunuh itu. Mungkin aku harus memberikan penjelasan,
apakah peristiwa ini berdiri sendiri, atau mungkin dapat
dihubungkan dengan perampokan yang pernah terjadi di
padukuhan lain.”
Trima itupun kemudian berpaling kepada Wijang dan Paksi.
Sementara itu, seorang kawannya bertanya, “Apakah Wijang dan
Paksi harus berada di rumah Ki Bekel? Mungkin mereka harus
menjawab beberapa pertanyaan pula.”
“Tetapi akulah yang telah membunuh. Wijang dan Paksi
memang terlibat dalam perkelahian. Tetapi mereka hanya
membela diri saja.”
“Bukankah orang-orang yang mengaku dari Kademangan
Randucawang itu datang untuk mencari Wijang dan Paksi?”
“Aku akan dapat memberikan penjelasan kepada Ki Demang.
Tetapi mungkin pula aku harus pergi ke Randucawang untuk
mengundang Ki Demang Randucawang jika bersedia. Biarlah Ki
Demang Randucawang melihat, apakah orang yang terbunuh itu
orang Randucawang atau bukan. Jika orang itu memang orang
Randucawang, maka akupun harus memberi penjelasan kepada
Ki Demang di Randucawang. Mungkin Wijang dan Paksi memang
diperlukan untuk memberikan keterangan. Tetapi jika keduanya
harus ada, maka biarlah mereka dipanggil. Tetapi sebelumnya, ia
dapat bekerja bersama anak-anak di gumuk kecil itu.”
“Baiklah, Ki Bekel. Tetapi jika benar orang-orang ini ada
hubungannya dengan keberatan Wandawa dan ayahnya, maka
akan dapat terjadi sesuatu di gumuk kecil itu.”
“Wijang dan Paksi akan membantu mengatasinya.”
“Tetapi mereka orang asing bagi kita.”
“Seorang bebahu akan pergi bersama kalian.”
Trima mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, apakah
kami diperbolehkan pulang sekarang agar kami dapat tidur lagi?
Besok kami harus bangun pagi-pagi sekali.”
“Sudah waktunya untuk tidak bermalas-malasan lagi
sekarang,” berkata Ki Bekel.
Trima mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun
tersenyum.
Namun dalam pada itu, sebelum Trima dan kawan-kawannya
meninggalkan rumah Ki Bekel, Ki Jagabaya dengan wajah yang
tegang menemui Ki Bekel di pendapa sambil berkata, “Ki Bekel,
kedua orang yang terikat di pohon itu mati.”
“Mati? Bagaimana mungkin hal itu terjadi?”
“Aku tidak tahu, tetapi keduanya telah mati.”
Ki Bekelpun segera meloncat turun ke halaman diikuti oleh
Wijang, Paksi dan anak-anak muda yang ada di pendapa.
Sebenarnyalah kedua orang yang masing-masing terikat pada
sebatang pohon itu telah meninggal. Wijang dan Paksi
menemukan luka yang menganga di dada yang agaknya telah
menembus jantung mereka.
Ki Bekel menjadi tegang. Katanya, “Keduanya akan menjadi
sumber keterangan, siapakah yang menggerakkan mereka datang
kemari malam ini.”
“Terlalu banyak orang berkerumun, Ki Bekel. Sehingga aku
tidak melihat seseorang yang telah menusuk dada orang itu.”
“Tentu kawan-kawannya sendiri,” geram Ki Bekel. “Dengan
demikian mereka tidak akan dapat berceritera tentang seseorang
yang memerintahkan mereka datang malam ini kemari.”
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mereka telah
menutup jalur untuk menelusuri, siapakah yang berada di balik
kehadiran mereka. Ternyata orang yang mengupah orang-orang
itu adalah orang yang berperhitungan jauh tanpa menghiraukan
nilai nyawa seseorang. Mereka menganggap bahwa kepentingan
mereka jauh lebih berharga dari tiga nyawa orang-orang
upahannya.”
“Mereka sudah terlanjur menapak. Karena itu, maka untuk
menyembunyikan perbuatan-perbuatan mereka yang
bertentangan dengan paugeran, maka mereka harus melakukan
pelanggaran-pelanggaran berikutnya,” sahut Paksi.
Terasa jantung Ki Bekel berdegup semakin cepat. Namun
dengan geram Ki Bekel itupun berkata kepada Trima, “Besok, kau
dan kawan-kawanmu harus mulai dengan kerja itu. Biarlah
Wijang dan Paksi bersama kalian. Justru usaha untuk
menggagalkan kerja itu harus menjadi cambuk bagi kita. Biarlah
aku yang mengurus orang-orang yang terbunuh di halaman
rumahku ini. Aku akan berbicara dengan Ki Demang. Juga Ki
Demang Randucawang. Karena orang-orang ini mengaku orang
Randucawang.”
Trima mengangguk-angguk. Sebagai anak muda iapun merasa
tertantang untuk melaksanakan rencananya. Peristiwa yang
terjadi di rumah Ki Bekel itu akan menjadi pemacu kerja yang
akan dilakukannya.
“Bukan waktunya lagi untuk bermalas-malas. Kemalasan kita
tidak akan pernah memberikan harapan cerah bagi anak cucu
kita,” berkata Trima di dalam hatinya.
Sejenak kemudian, maka Ki Bekel justru telah minta agar
anak-anak muda yang besok pagi akan pergi ke gumuk kecil itu
pulang. “Tidurlah jika masih sempat. Besok kalian akan mulai
dengan kerja besar kalian.”
Trima dan kawan-kawannyapun segera meninggalkan
halaman rumah Ki Bekel. Peristiwa di halaman rumah Ki Bekel
itu justru telah mendera mereka untuk melaksanakan rencana
mereka.
“Aku sependapat dengan Ki Bekel,” berkata Trima yang sudah
berbicara panjang dengan Ki Bekel, Wijang dan Paksi.
“Kedatangan orang-orang itu tentu ada hubungannya dengan
rencana pembuatan talang air yang akan kita kerjakan esok.”
“Ya,” sahut kawannya. “Alasan mereka untuk menangkap
perampok di Randucawang tentu alasan yang dibuat-buat.
Menurut Ki Bekel, mereka tentu bukan orang-orang
Randucawang.”
“Ki Bekel tentu akan menyelesaikan masalah itu dengan
tuntas. Tugas kita adalah membuktikan, bahwa air itu dapat
disalurkan dengan cara yang bermacam-macam ke bulak-bulak
kita yang kering.”
Dalam pada itu, Ki Bekelpun telah minta agar Wijang dan
Paksi beristirahat karena esok pagi mereka juga akan pergi ke
gumuk kecil.
Tetapi Wijang dan Paksi menggeleng sambil tersenyum.
Dengan nada datar Wijang menjawab, “Kami sudah terbiasa tidak
tidur semalam suntuk, Ki Bekel.”
Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Katanya, “Terserahlah
kepada kalian. Kalian tentu tahu apa yang harus kalian lakukan,
karena kalian adalah pengembara yang sudah terbiasa
menentukan sikap kalian sendiri.”
“Ya, Ki Bekel.”
Dalam pada itu, maka kedua orang tawanan yang masingmasing
terikat pada sebatang pohon, namun yang kemudian
diketemukan telah meninggal itupun telah ditempatkan di
pendapa pula, sehingga di atas tikar pandan yang dibentangkan
di pendapa, terbujur tiga sosok mayat yang tidak dikenal.
Malam itu Ki Bekel, Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu
hampir tidak dapat tidur sama sekali. Di dini hari, para bebahu
itu tertidur sambil bersandar dinding di pringgitan. Beberapa
orang masih berdatangan untuk melihat apa yang telah terjadi.
Ki Bekel dan Ki Jagabayalah yang harus menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang yang berdatangan itu.
“Perintahkan mereka untuk bangun, Ki Bekel,” berkata Ki
Jagabaya ketika ia melihat para bebahu yang tertidur.
“Biarlah mereka beristirahat. Biarlah besok mereka sibuk
pada saat penguburan ketiga orang itu.”
“Bukankah kita menunggu Ki Demang?”
“Ya. Ki Demang dan Ki Demang Randucawang. Besok pagipagi
aku akan menemui Ki Demang dan langsung ke
Randucawang.”
Tetapi Ki Jagabaya ternyata tidak membiarkan mereka tidur
lebih lama lagi. Ketika Ki Bekel baru sibuk berbicara dengan
beberapa orang yang berdatangan, maka Ki Jagabayapun telah
membangunkan mereka.
“Ki Jagabaya mengejutkan aku,” desis Ki Kebayan.
“Bangun. Jangan hanya aku dan Ki Bekel saja yang harus
berjaga-jaga semalam suntuk. Kita dapat bergantian.”
Ki Kebayan menguap. Katanya, “Baiklah. Silahkan Ki
Jagabaya beristirahat. Biarlah aku menemani Ki Bekel.”
Tetapi Ki Jagabaya bersungut sambil berkata, “Langit sudah
menjadi merah. Bagaimana mungkin aku dapat beristirahat?
Sebentar lagi matahari terbit. Ki Bekel akan menemui Ki Demang
dan Ki Demang dari Randucawang.”
Ki Kebayan tidak menjawab. Ia hanya menguap. Namun
kemudian matanya telah terpejam lagi sambil bersandar dinding.
Ki Jagabaya menghentakkan kakinya. Tetapi Ki Kebayan itu
sudah lelap.
“Orang-orang malas,” geram Ki Jagabaya. Apalagi ketika ia
melihat Ki Kamituwa yang tidur di sudut pringgitan. Nampaknya
nyenyak sekali.
Tetapi Ki Jagabaya tidak sempat membangunkannya. Iapun
harus segera turun ke halaman ketika Ki Bekel memanggilnya.
Ketika Ki Jagabaya itu melangkah mendekati Ki Bekel yang
berada di antara beberapa orang yang datang, iapun melihat Ki
Cakrajaya bersama anak laki-lakinya, Wandawa.
“Selamat malam, Ki Jagabaya,” berkata Ki Cakrajaya.
Ki Jagabaya mengangguk hormat sambil menjawab, “Selamat
malam, Ki Cakrajaya.”
“Aku baru saja mendengar bahwa telah terjadi perampokan di
rumah ini.”
“Ya, Ki Cakrajaya. Tiga orang telah terbunuh,” jawab Ki
Jagabaya.
Namun Ki Bekelpun segera menyahut, “Sebenarnya bukan
perampokan, Ki Cakrajaya.”
“Jadi apa?”
“Ada beberapa orang yang datang untuk mencari kedua orang
pengembara yang kebetulan bermalam di rumahku ini. Mereka
mengaku orang dari Randucawang.”
“O,” Ki Cakrajaya mengangguk-angguk. Sementara itu Ki
Bekelpun bertanya, “Ki Cakrajaya, bukankah Ki Cakrajaya
mempunyai banyak kenalan di Kademangan Randucawang? Nah,
apakah orang-orang itu benar-benar orang Randucawang?”
“Aku memang mengenal banyak orang Randucawang, Ki
Bekel. Tetapi kenalanku adalah orang-orang terpandang. Jika
mereka orang-orang yang hidupnya berada di tataran rendahan,
aku tentu belum mengenal mereka.”
“Tetapi mungkin Ki Cakrajaya pernah melihatnya.”
Ki Cakrajaya termangu-mangu sejenak. Sementara Ki
Bekelpun berkata, “Marilah, silahkan melihat ketiga sosok mayat
itu, Ki Cakrajaya.”
Ki Cakrajaya tidak dapat mengelak. Iapun kemudian melihat
ketiga sosok tubuh yang terbujur membeku.
Nampak ketegangan membayang di wajah Ki Cakrajaya.
Demikian pula wajah Wandawa. Bahkan kemudian Wandawapun
segera meninggalkan ketiga sosok mayat itu dan kembali turun
ke halaman.
Ki Cakrajaya menggeleng. Katanya, “Aku belum pernah
melihat mereka.”
“Kami telah kehilangan jejak,” berkata Ki Bekel.
“Maksud Ki Bekel?”
“Sebenarnya dua orang di antara mereka dapat kami tangkap
hidup-hidup. Agar mereka tidak melarikan diri, maka mereka
kami ikat pada batang pohon yang tumbuh di halaman. Namun
ternyata di antara sekian banyak orang yang berkerumun untuk
melihat kedua orang perampok itu, adalah justru kawan mereka.
Dengan tanpa menghargai nyawa kawan-kawannya sendiri,
mereka telah menusuk dada kedua orang itu sampai ke jantung,
sehingga kedua orang itupun telah meninggal pula.”
“Kematian mereka adalah tanggung jawab Ki Bekel.”
“Kenapa tanggung jawabku?”
“Keduanya sudah menjadi tawanan Ki Bekel ketika mereka
masih hidup. Merekapun terikat sehingga mereka tidak dapat
melindungi diri mereka sendiri. Karena itu, maka seharusnya Ki
Bekel melindungi mereka dari kemarahan rakyat padukuhan ini.”
“Bukan rakyat padukuhan ini yang telah membunuhnya, Ki
Cakrajaya.”
“Jadi siapa?”
“Jika rakyat padukuhan ini yang membunuhnya, maka bekas
penganiayaan yang ada pada tubuh orang itu, tentu tidak seperti
yang kita lihat. Luka tusukan di dadanya itulah yang telah
membunuhnya.”
“Mungkin saja orang padukuhan ini yang marah telah
menusuk dada kedua orang itu.”
“Mereka tidak akan melakukannya.”
“Jadi menurut Ki Bekel, siapakah yang telah membunuhnya?”
“Seperti sudah aku katakan. Kawan-kawannya sendiri.”
“Tidak masuk akal, bahwa kawan-kawannya sendiri telah
membunuhnya.”
“Kenapa tidak masuk akal? Justru dugaan itulah yang paling
masuk akal. Mereka berusaha menghilangkan jejak, siapakah
yang telah mengupah mereka untuk datang kemari.”
“Mereka datang untuk merampok. Siapakah yang telah
mengupahnya?”
“Sudah aku katakan pula. Mereka tidak datang untuk
merampok. Tetapi mereka datang untuk menangkap kedua orang
pengembara itu dan mengaku orang-orang Randucawang.”
Ki Cakrajaya termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak
berkata apa-apa lagi tentang ketiga orang yang terbunuh itu.
Bahkan kemudian Wandawa telah mengajak ayahnya itu untuk
pulang saja.
Beberapa saat kemudian, maka langitpun menjadi terang. Ki
Bekelpun segera bersiap untuk pergi ke rumah Ki Demang untuk
melaporkan peristiwa yang telah terjadi di rumahnya.
Kepada Wijang dan Paksi, Ki Bekel itu berkata, “Pergilah ke
gumuk itu. Mudah-mudahan anak-anak itu tidak terlambat
bangun dan datang terlalu siang. Pergilah bersama Ki Kebayan.”
“Baik, Ki Bekel,” sahut Wijang.
“Aku akan menemui Ki Demang dan Ki Demang
Randucawang.”
Demikian Wijang dan Paksi meninggalkan rumah Ki Bekel,
maka Ki Bekelpun telah pergi pula ke rumah Ki Demang. Agar
perjalanannya menjadi lebih cepat, maka Ki Bekelpun telah naik
kuda.
Ketika Wijang dan Paksi sampai di gumuk kecil, cahaya
matahari sudah mulai nampak. Baru setelah menunggu beberapa
saat, beberapa orang anak muda mulai berdatangan.
“Maaf, aku terlambat sedikit,” desis Trima. “Sejak dari rumah
Ki Bekel aku tidak dapat tidur lagi. Namun menjelang fajar aku
justru tertidur sesaat. Untunglah aku segera terbangun oleh
kegelisahanku sendiri serta mimpi yang mencengkam.”
“Kami juga baru datang,” jawab Paksi.
“Apakah kalian juga tertidur menjelang fajar?”
“Tidak. Kami tidak tidur sama sekali.”
“Kalian tidak merasa mengantuk? Aku yang sempat tidur
sesaat masih merasa sangat mengantuk.”
“Jika kita mulai dengan kerja kita, perasaan kantuk itu akan
segera hilang.”
Trima mengangguk-angguk. Kawan-kawannya duduk
bertebaran di atas rerumputan kering dan batu-batu padas.
Nampaknya mereka masih saja malas untuk mengerjakan
sesuatu. Bahkan masih ada di antara mereka yang menguap
sambil menggosok matanya.
Tetapi ternyata Trima sudah berhasil menambah jumlah anakanak
muda yang bersedia bekerja bersamanya.
“Mumpung masih pagi. Marilah, kita mulai dengan kerja besar
kita sambil berdoa di dalam hati kita masing-masing, agar kerja
kita dapat menghasilkan sesuatu yang berarti bagi kehidupan
rakyat padukuhan kita yang kering, tandus dan miskin ini,”
berkata Wijang.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, anak-anak muda itu
mulai dengan kerja mereka. Yang pertama-tama mereka lakukan
adalah mempersiapkan tempat penampungan air yang akan
mereka alirkan dengan talang bambu ke kotak sawah terdekat
yang tanahnya menjadi pecah-pecah dan kering.
“Aku Sudah menghubungi Mbah Rejeb,” berkata Trima.
“Apa katanya?” bertanya seorang kawannya.
“Mbah Rejeb nampak acuh tak acuh. Iapun menganggap
bahwa kami sedang bermimpi.”
“Tetapi bukankah Mbah Rejeb tidak keberatan?”
“Tidak. Meskipun ia tidak menyambut rencana itu dengan
harapan, tetapi ia tidak menolak.”
“Yang penting, Mbah Rejeb tidak menolak bahwa sawahnya
akan menjadi kotak percobaan dengan talang air yang akan kita
buat.”
Sementara tempat penampungan itu disiapkan, Paksipun
berkata, “Marilah, sebagian dari kita pergi ke hutan bambu. Kita
akan menebang bambu yang sudah tua. Kita akan membawanya
kemari dan mengerjakannya menjadi talang-talang air.”
Beberapa orang di antara anak-anak muda itu bersama Paksi
telah pergi ke hutan bambu yang berada tidak terlalu jauh dari
tempat itu. Hutan bambu itu masih berada di dalam lingkungan
padukuhan, sehingga anak-anak muda itu merasa menebang
milik mereka sendiri. Apalagi hutan bambu itu seakan-akan tidak
dihiraukan lagi. Beberapa padukuhan yang memerlukan bambu
juga mengambil bambu di hutan jika bambu di kebun mereka
sendiri tidak mencukupi.
Namun ketika sekelompok anak-anak muda itu mendekati
hutan bambu yang lebat itu, mereka nampak ragu-ragu.
Hutan bambu itu menjadi bagian dari hutan lereng gunung
yang lebat yang memanjang, berhubungan dengan hutan yang
menjadi wilayah kademangan tetangganya.
“Di hutan itu terdapat binatang buas,” berkata salah seorang
dari mereka.
“Ya,” sahut yang lain. “Harimau loreng di hutan itu terkenal
garang dan buas.”
Anak-anak muda itu memperlambat langkah mereka sehingga
Paksi berjalan di paling depan.
“Paksi,” berkata salah seorang di antara anak-anak muda itu
pula, “kita harus menjadi sangat berhati-hati. Jika ada harimau
lapar, sementara angin yang membawa bau keringat kita
berhembus ke hutan itu, maka harimau itu akan mencari kita.”
“Biarlah harimau itu mencari kita. Tetapi kita tidak mencari
harimau itu.”
“Seseorang di antara kita akan diterkamnya.”
“Bukankah kita tidak sendiri? Sementara kita masing-masing
membawa parang.”
“Maksudmu, apakah kita akan melawan harimau itu?”
“Tentu. Bukankah kita tidak ingin membiarkan hidup kita
diakhiri oleh taring harimau itu seandainya benar-benar ada
seekor harimau yang mendatangi kita?”
“Apakah kita akan dapat melawan seekor harimau meskipun
kita berlima?”
“Enam orang. Bukankah kita berenam? Apakah aku tidak
dihitung?” bertanya Paksi.
“Ya. Meskipun kita berenam, kita tidak akan dapat berbuat
apa-apa.”
“Seandainya kita tidak dapat melawan harimau itu, maka di
hutan bambu, kita mempunyai banyak kesempatan untuk
menghindar. Harimau itu tentu juga tidak akan dapat berjalan di
dalam rumpun-rumpun bambu yang lebat. Sementara kita
mempunyai akal yang tidak dimiliki oleh seekor harimau.”
“Tetapi naluri harimau itu justru lebih berarti dari akal kita
jika kita berada di tengah-tengah hutan bambu.”
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudahmudahan
tidak ada seekor harimau yang akan mengangguk kita.
Biasanya harimau akan menjauhi manusia. Hanya harimau yang
tua, lemah dan kelaparan sajalah yang sering memburu manusia,
karena tidak lagi mampu memburu seekor kijang. Dengan
demikian, harimau yang akan mendekat, tentu seekor harimau
yang sudah lemah.”
“Betapapun lemahnya, tetapi seekor harimau tidak akan dapat
kita lawan.”
“Karena kita tidak mencobanya. Jika kita mencobanya, maka
betapapun garangnya seekor harimau, kita tentu akan dapat
mengalahkannya. Setidak-tidaknya mengusirnya. Kecuali jika
kita memang menyerahkan diri kita untuk dikoyak-koyak oleh
harimau itu.”
Anak-anak muda itu terdiam. Namun mereka justru
menganggap Paksi terlalu sombong, meskipun maksud Paksi
hanya sekedar membesarkan hati mereka.
Sejenak kemudian, maka merekapun telah berada di tepi
hutan. Sederet hutan bambu seakan-akan memagari hutan yang
lebat memanjang di kaki Gunung Merapi itu.
“Beberapa padukuhan telah menebang bambu di sini pula.
Mereka juga tidak bertemu dengan harimau.”
“Pernah terjadi, Paksi,” berkata seorang anak muda yang
nampak pucat. “Seekor harimau menghampiri orang-orang yang
sedang menebang bambu. Tetapi waktu itu yang datang ikut
menebang bambu cukup banyak. Lebih dari dua puluh orang.
Merekapun segera berteriak-teriak sambil mengacu-acukan
parang mereka, sehingga harimau itupun bergerak meninggalkan
mereka.”
“Nah, bukankah harimau itu juga dapat ditakut-takuti?”
“Tetapi kita sekarang hanya enam orang.”
“Tidak apa-apa.”
Anak-anak muda itupun telah memaksa diri mereka masingmasing
untuk kemudian menebang bambu meskipun sebenarnya
mereka masih saja merasa cemas.
Tetapi ternyata tidak ada seekor harimau yang datang
mendekat, sehingga mereka berhasil menebang dan
mengumpulkan setumpuk batang bambu.
“Kita akan mengusungnya ke tempat kawan-kawan kita
membuat tempat penampungan air itu,” berkata Paksi.
Anak-anak muda itupun termangu-mangu. Rasa-rasanya
sangat malas untuk mengusung setumpuk bambu itu.
Karena itu, maka untuk beberapa saat mereka hanya
memandangi saja bambu-bambu yang telah mereka tebang dan
mereka timbun di bawah sebatang pohon di padang perdu itu.
Paksilah yang pertama-tama memikul dua batang bambu yang
besar sambil berkata, “Jika terasa terlalu berat, maka kalian
cukup membawanya sebatang-sebatang saja. Nanti kita ajak
kawan-kawan kita yang membuat tempat penampungan air itu
untuk mengusung bambu-bambu ini. Besok kita akan melakukan
lagi.”
“Besok kita mencari bambu lagi?” bertanya seorang anak
muda.
“Ya. Besok dan lusa sampai bambu itu cukup untuk membuat
talang air lima jalur sampai ke sawah Mbah Rejeb.”
Anak-anak muda itu saling berpandangan. Tetapi Paksi tidak
menghiraukan mereka lagi. Iapun meninggalkan tempat itu
sambil mengusung dua batang bambu di atas kepalanya dialasi
dengan segenggam ilalang yang dilipat-lipat.
Anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun mereka tidak
akan mampu mengusung dua batang bambu sekaligus. Mungkin
dengan memaksa diri mereka kuat mengangkat dan
meletakkannya di atas kepala. Tetapi pada saat mereka beringsut
selangkah, mereka tentu akan merasa sangat letih.
Karena itu, seperti yang dikatakan oleh Paksi, mereka masingmasing
hanya membawa sebatang bambu.
Dalam pada itu, selagi anak-anak muda itu sibuk
mempersiapkan pembuatan talang air, Ki Demang telah berada di
rumah Ki Bekel. Sementara itu, Ki Bekel sendiri langsung pergi ke
rumah Ki Demang di Randucawang.
Seorang bebahu yang menerima kedatangan Ki Demang telah
menunjukkan orang-orang yang telah terbunuh dan terbaring di
pendapa.
“Seorang di antara mereka terbunuh oleh Ki Bekel saat orang
itu menyerang Ki Bekel dengan tiba-tiba, sehingga Ki Bekel tidak
sempat membuat pertimbangan-pertimbangan lain. Dengan gerak
naluriah, Ki Bekel telah menjulurkan tombaknya menyongsong
lawannya yang sedang menyerangnya.”
Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara bebahu itupun
berkata selanjutnya, “Sedangkan dua orang yang lain sebenarnya
dapat ditangkap hidup-hidup. Tetapi ketika banyak orang
berkerumun di halaman ini serta mengamati keduanya yang
diikat masing-masing pada sebatang pohon, ternyata kawan dari
kedua orang yang tertangkap hidup-hidup itupun hadir pula.
Tidak seorang pun yang menyadari apa yang telah terjadi. Tetapi
pada saat kami melihat darah mengalir di dadanya, barulah kami
sadari, bahwa orang itu sudah terbunuh. Tentu oleh kawannya
sendiri untuk menghindari agar persoalannya tidak dapat
ditelusur lebih lanjut, siapakah yang telah memerintahkan
mereka.”
“Menurut pendapatku, keduanya bukan orang Randucawang.”
“Ki Bekel juga menduga seperti itu. Namun Ki Bekel ingin
kepastiannya. Jika Ki Demang Randucawang bersedia datang,
maka kita akan dapat mendengar kesaksiannya.”
Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu terdengar
derap kaki kuda yang berhenti di depan regol. Sejenak kemudian,
maka Ki Bekel dan Ki Demang Randucawang memasuki regol
halaman rumah Ki Bekel itu.
Ketika Ki Demang melihat kehadiran Ki Demang
Randucawang, maka iapun segera menyongsongnya.
“Selamat datang, Ki Demang.”
Ki Demang Randucawang itu mengangguk hormat sambil
menjawab, “Terima kasih, Ki Demang. Aku memerlukan datang
setelah aku mendengar peristiwa yang terjadi di sini dari Ki
Bekel.”
Ki Bekelpun kemudian membawa kedua orang demang itu ke
pendapa. Kepada Ki Demang Randucawang iapun berkata,
“Inilah, Ki Demang, orang yang mengaku penghuni Kademangan
Randucawang. Bahkan orang itu mengaku telah mendapat
perintah Ki Demang untuk menangkap kedua orang pengembara
yang kebetulan berada di rumahku, karena keduanya diduga
telah melakukan perampokan di Kademangan Randucawang.”
Ki Demang Randucawang itupun kemudian mengamati ketiga
orang yang terbujur di pendapa rumah Ki Bekel itu. Namun
kemudian Ki Demangpun menggelengkan kepalanya sambil
berkata, “Aku tidak mengenal mereka. Aku pun tidak pernah
memerintahkan mereka untuk menangkap perampok-perampok
yang telah merampok di Randucawang.”
“Tetapi apakah benar telah terjadi perampokan di
Randucawang, Ki Demang?” bertanya Ki Bekel.
“Ya. Tetapi perampokan itu tidak dilakukan oleh kebanyakan
perampok. Perampok itu dapat melakukan hal-hal yang
nampaknya mustahil. Ketika beberapa orang mencoba
melawannya, maka dengan kekuatan ilmunya salah seorang dari
para perampok itu telah merobohkan regol rumah orang yang
dirampoknya itu tanpa menyentuhnya.”
“Apakah para perampok itu sudah kelihatan tua?”
“Ya. Ada di antara mereka yang sudah kelihatan tua. Tetapi
justru orang itulah yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Karena
itu, maka aku telah memutuskan untuk tidak memburunya.
Siapa pun yang mencoba menangkapnya, tentu akan mati
olehnya.”
“Sedangkan kedua orang pengembara yang ada di rumah Ki
Bekel?”
“Keduanya masih muda. Ujud mereka, wajah mereka dan
kata-kata serta sikap mereka, sama sekali tidak mencerminkan
sikap dan tingkah laku seorang perampok. Mereka pun telah
memberikan gagasan untuk mencari jalan, agar padukuhan ini
tidak tertinggal terlalu jauh dari padukuhan-padukuhan yang
lain.”
“Gagasan apa yang mereka berikan?” bertanya Ki Demang.
“Membuat saluran air. Tetapi itu adalah sekedar perwujudan
dari dasar gagasannya. Gagasan yang mendasar dari kedua orang
pengembara itu adalah melawan kemalasan. Kesediaan bekerja
keras untuk membangun padukuhan ini.”
Kedua orang demang itu saling berpandangan. Dengan nada
dalam Ki Demangpun kemudian berkata, “Aku ingin berbicara
dengan kedua orang pengembara itu.”
“Aku akan mengatakan kepada mereka. Biarlah nanti saat
malam turun, mereka datang menghadap Ki Demang.”
Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Demang
Randucawangpun berkata, “Tentu bukan bagian dari para
perampok yang telah merampok di Kademangan Randucawang.”
“Perampok di Randucawang itu tentu gerombolan yang pernah
merampok di padukuhan sebelah,” berkata Ki Demang. “Ciri-ciri
para perampoknyapun sama. Perampok di padukuhan sebelah itu
juga menunjukkan kemampuannya yang sangat tinggi, sehingga
orang-orang padukuhan tidak berani berbuat apa-apa
terhadapnya.”
“Namun agaknya mereka hanya sekedar lewat. Sebelumnya
dan sesudah itu tidak pernah lagi ada perampokan seperti itu.
Jika saja ada sekelompok perampok yang memanfaatkan
ketakutan kami, mungkin mereka akan berhasil.”
“Tetapi kami sudah mengenal ciri-ciri para perampoknya,”
sahut Ki Demang. “Karena itu, jika ciri-cirinya tidak sama seperti
perampok yang mengerikan itu, maka mereka tentu dapat
dilawan oleh orang-orang padukuhan.”
Ki Demang Randucawang itu berada di rumah Ki Bekel untuk
beberapa lama. Namun kemudian setelah dihidangkan minuman
dan makanan, maka Ki Demang Randucawang itupun minta diri.
Ki Demang sendiri berada tidak terlalu lama di rumah Ki
Bekel. Ki Bekel sempat menceriterakan sikap Ki Cakrajaya yang
tidak menyetujui gagasan kedua orang pengembara itu.
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Ki Cakrajaya adalah
seorang yang sangat berpengaruh di kademangan itu. Jika ia
tidak sependapat, maka persoalannya akan dapat menjadi rumit.
“Ki Cakrajaya berkata, bahwa ia ingin menemui Ki Demang.”
Ki Demang mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian
menjawab, “Baiklah. Biarlah Ki Cakrajaya menemui aku.
Mungkin aku dapat menjelaskan persoalannya.”
Tetapi sikap Ki Cakrajaya itu benar-benar menggelisahkan Ki
Demang.
Beberapa saat kemudian, Ki Demangpun telah minta diri pula.
Sebelum ia meninggalkan rumah Ki Bekel, maka Ki Demang
itupun memberikan persetujuannya, bahwa ketiga sosok mayat
itu akan dikuburkan.
“Nanti, biarlah kedua orang pengembara itu menghadap Ki
Demang,” berkata Ki Bekel.
Sementara itu, di rumahnya, Ki Cakrajaya menjadi sangat
marah kepada anaknya. Ternyata di luar pengetahuan Ki
Cakrajaya, Wandawa telah menghubungi dan minta beberapa
orang upahan untuk mengambil dua orang pengembara di rumah
Ki Bekel.
“Jika ketahuan bahwa kau yang telah memerintahkan mereka,
maka kedudukan kita akan menjadi semakin lemah. Bahkan
seorang kawanmu yang sudah membuka rahasia alasan kita yang
sebenarnya menentang membuat saluran air itu, sudah
mencoreng arang di wajah kita. Kemudian kau telah
memerintahkan orang-orang upahan itu untuk mengambil kedua
orang pengembara yang berada di rumah Ki Bekel, tetapi justru
gagal. Untunglah kedua orang yang tertangkap hidup itu dapat
dibungkam agar tidak berbicara dan menyebut-nyebut namamu.”
“Jadi kenapa Ayah masih risau?” bertanya Wandawa.
“Bahwa kau telah berbuat lancang. Mungkin pada kesempatan
lain kau akan melakukan lagi satu perbuatan yang merugikan
sekali. Selebihnya, kau telah mengeluarkan uang banyak tanpa
hasil apa-apa. Upah orang-orangmu itu banyak sekali. Selain
upah mereka, maka setiap nyawa dari kawan-kawan merekapun
mempunyai harga tersendiri. Semalam tiga orang di antara
mereka mati.”
“Aku tidak akan membayar upah mereka. Aku mengupah
mereka untuk satu tugas tertentu. Tetapi mereka tidak dapat
melakukannya. Dengan demikian, aku tidak merasa wajib
membayarnya.”
“Kau tahu akibatnya?” bertanya Ki Cakrajaya.
Wandawa terdiam. Sementara ayahnya berkata, “Jika mereka
merasa kecewa, maka akan dapat membuat kesulitan kepada
kita. Untuk selanjutnya, kita pun akan kesulitan jika kita
memerlukan tenaga mereka untuk kepentingan yang lebih besar.
Bahkan mungkin mereka akan mendendam kepada kita dan
mengambil langkah-langkah kewadagan.”
“Bukankah kita tidak takut kepada mereka? Ayah mempunyai
ilmu yang tinggi.”
“Aku mempunyai ilmu yang tinggi yang dapat melindungi
diriku sendiri. Tetapi kau sendiri? Ilmumu tidak maju-maju
karena kau terlalu malas untuk berlatih. Kau merasa dapat
melindungi dirimu sendiri dengan uangmu, uang kita.”
Wandawa tidak segera menjawab. Wajahnya nampak gelap.
“Wandawa,” berkata ayahnya, “lain kali kau tidak boleh
bertindak sendiri tanpa sepengetahuanku. Kita masih beruntung,
bahwa yang kau lakukan semalam masih dapat diredam. Tetapi
kau harus membayar upah yang kau janjikan serta tebusan
untuk setiap nyawa.”
“Orang-orang itu seharusnya juga mempunyai harga diri.
Mereka seharusnya tidak menuntut upah dari tugas yang gagal
itu.”
“Jangan berharap. Kecuali jika mereka sendiri yang
menyatakan kepadamu, bahwa mereka tidak minta upah dari
tugas yang gagal itu.”
Wandawa termangu-mangu sejenak. Sementara ayahnya
berkata pula, “Ingat, Wandawa. Jangan berbuat apa-apa tanpa
sepengetahuanku. Kali ini kita masih dapat menyelamatkan diri
meskipun harus mengorbankan tiga nyawa. Sementara itu, kita
harus membayar tebusan bagi ketiganya.”
Wandawa tidak menyahut.
“Hari ini kita jangan berbuat apa-apa.”
“Kedua orang pengembara itu tentu sudah mulai mengerjakan
rencana gilanya itu bersama-sama anak-anak dungu yang
berhasil dipengaruhinya.”
“Jangan menyebut mereka anak-anak dungu. Mereka justru
anak-anak yang dapat melihat lebih jauh ke depan dari kawankawannya.
Justru mereka yang tidak terpengaruh oleh kedua
pengembara dengan gagasannya yang cemerlang itulah yang
dungu.”
“Tetapi bukankah Ayah menghendaki rencana itu batal?”
“Ya. Aku menginginkan anak-anak muda itu tetap dungu agar
mereka tidak mau mendengarkan gagasan kedua orang
pengembara itu.”
“Aku tetap berpendirian, bahwa kedua orang pengembara
itulah yang harus dihapuskan lebih dahulu.”
“Kau dengar dari orang-orang yang sempat melarikan diri,
bahwa kedua orang pengembara itu dan bahkan Ki Bekel
mencurigai bahwa kitalah yang telah menggerakkan orang-orang
yang datang ke rumah Ki Bekel. Mereka tidak percaya bahwa
orang-orang yang datang itu adalah orang-orang Randucawang.
Sementara itu, Ki Demang Randucawang telah diminta pula
untuk datang melihat orang-orang yang terbunuh itu.”
Wandawa termangu-mangu sejenak.
“Persoalannya tidak lagi sederhana, Wandawa. Semakin lama
semakin rumit. Apalagi jika kau masih saja bertindak sendiri
tanpa sepengetahuanku.”
Wandawa masih saja diam. Tetapi Ki Cakrajaya tidak yakin,
bahwa kediaman Wandawa itu berarti menyetujui pendapatnya.
Meskipun demikian, Ki Cakrajaya itu berkata sekali lagi, “Jika
kau tidak mau semuanya menjadi gagal, sekali lagi aku
peringatkan, jangan berbuat apa-apa lebih dahulu. Aku akan
menemui Ki Demang. Aku akan mempergunakan pengaruhku
dan sedikit menakut-nakuti. Mudah-mudahan aku dapat
menghentikan dengan bersandar pada kuasa Ki Demang di
kademangan ini. Dengan demikian, maka Ki Bekel tidak akan
dapat berbuat apa-apa. Ia harus tunduk membatalkan kerja
anak-anak muda itu.”
Wandawa tidak menjawab.
Ki Cakrajayapun kemudian telah mempersiapkan kudanya.
Bersama seorang pengawalnya, maka Ki Cakrajayapun telah pergi
ke rumah Ki Demang.
Kedatangan Ki Cakrajaya membuat Ki Demang menjadi
berdebar-debar. Ia belum lama pulang dari rumah Ki Bekel untuk
melihat ketiga orang yang terbunuh itu.
“Marilah, Ki Cakrajaya. Silahkan naik.”
Ki Cakrajaya mengangguk sambil melangkah menaiki tangga
pendapa rumah Ki Demang. Kemudian duduk di pringgitan.
“Dari mana saja Ki Cakrajaya?” bertanya Ki Demang.
“Dari rumah, Ki Demang. Aku sengaja ingin menemui Ki
Demang. Ada sedikit masalah yang ingin aku bicarakan.”
Jantung Ki Demang berdebar semakin cepat. Ia tahu, apa
yang akan dibicarakan oleh Ki Cakrajaya.
Sementara itu Ki Cakrajayapun telah mengedarkan
pandangan matanya memandangi tiang-tiang pendapa di rumah
Ki Demang. Gebyok kayu yang memisahkan pringgitan dan
bagian dalam rumahnya. Ukiran-ukiran yang rumit yang terdapat
pada tiang-tiang pendapa serta gebyok penyekat itu.
Tiba-tiba saja Ki Cakrajaya itu berkata kepada pengawalnya,
“Kau lihat, sunggingan ukiran rumah Ki Demang ini sudah
nampak suram.”
“Ya, Ki Cakrajaya. Mungkin Ki Demang tidak begitu rajin
membersihkannya. Atau mungkin karena sudah terlalu lama
tidak disungging lagi.”
“Apakah sunggingan pada ukiran itu sudah terlalu lama?
Sungging pada uleng itu masih nampak cerah.”
“Ya, Ki Demang.”
“Ki Demang, bukankah aku telah mengupah orang untuk
menyungging ukiran-ukiran di rumah Ki Demang beberapa waktu
yang lalu?”
Dengan nada dalam Ki Demang itupun menjawab, “Ya, Ki
Cakrajaya.”
“Aku kira sudah waktunya aku mengupah lagi orang itu untuk
menyungging kembali ukiran-ukiran yang bagus dan rumit di
rumah Ki Demang ini.”
Baju Ki Demang mulai basah oleh keringat. Katanya,
“Sudahlah, Ki Cakrajaya. Aku mengucapkan terima kasih. Aku
kira warna sungging itu masih cerah jika nanti aku bersihkan.”
“Tidak apa-apa, Ki Demang. Aku kenal baik dengan juru
sungging itu. Orang itu juga yang telah mewarnai ukiran-ukiran
pada tiang-tiang di pendapa rumahku.”
“Aku mengucapkan terima kasih, Ki Cakrajaya. Agaknya aku
belum memerlukannya sekarang. Selain warna-warna pada
ukiran itu masih terang, apalagi jika dibersihkan, aku pun
sedang sibuk sehingga aku masih belum sempat memikirkan
ukiran pada tiang dan gebyok di rumahku.”
Ki Cakrajaya tersenyum. Katanya, “Jangan segan-segan, Ki
Demang. Atau mungkin Ki Demang memerlukan yang lain?
Seekor kuda tunggangan yang tegar atau sepasang lembu untuk
mengerjakan sawah?”
“Tidak, Ki Cakrajaya. Sekarang aku belum memerlukan apaapa.
Segala sesuatunya masih cukup.”
“Baiklah,” Ki Cakrajaya mengangguk-angguk. “Nampaknya Ki
Demang memang belum memerlukan apa-apa sekarang. Agaknya
justru akulah yang memerlukan bantuan Ki Demang sekarang
ini.”
Ki Demang menjadi semakin berdebar-debar. Ia sudah
menduga, bantuan apakah yang diperlukan oleh Ki Cakrajaya itu.
Meskipun demikian, Ki Demang itu masih juga bertanya,
“Bantuan apakah yang dimaksud Ki Cakrajaya?”
Ki Cakrajaya itu menaik nafas dalam-dalam. Setelah
merenung sejenak, maka iapun berkata, “Bukankah Ki Demang
sudah mendengar kehadiran dua orang pengembara di rumah Ki
Bekel?”
Ki Demang menarik nafas panjang. Sambil menganggukangguk
iapun menjawab, “Ya, Ki Cakrajaya. Aku sudah
mendengar. Tadi aku berada di rumah Ki Bekel karena beberapa
orang perampok telah datang ke rumah Ki Bekel itu.”
“Mereka bukan perampok, Ki Demang.”
“Bukan perampok?”
“Maksudku, mereka tidak akan merampok di rumah Ki Bekel.”
“Jadi menurut Ki Cakrajaya, siapakah mereka itu?”
“Inilah yang sulit aku katakan, karena tentu tidak ada seorang
pun yang bersedia menjadi saksi.”
“Maksud Ki Cakrajaya?”
“Seseorang yang mendengar pembicaraan antara Ki Demang
Randucawang dan orang yang terbunuh itu sama sekali tidak
menyentuh niat orang-orang yang datang ke rumah Ki Bekel itu
untuk menguasai harta bendanya.”
Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Orang-orang itu
mengaku orang Randucawang. Bahkan mereka mengaku
diperintah oleh Ki Demang Randucawang.”
“Ya. Untuk menangkap kedua orang pengembara itu.”
“Dari mana Ki Cakrajaya mengetahuinya?”
“Banyak orang yang mengatakannya. Tetapi aku mendengar
langsung dari orang yang mendengar sendiri pembicaraan itu.”
“Siapa?”
“Orang itu tidak ingin dikenal namanya.”
Ki Demang tidak dapat memaksa Ki Cakrajaya untuk
menyebut nama itu.
“Lalu, pertolongan apakah yang dapat aku berikan?”
“Ki Demang, aku dan barangkali kita semua tidak tahu,
siapakah kedua orang pengembara itu. Mungkin tidak nampak
pada mereka ciri-ciri seorang penjahat. Tetapi siapapun mereka,
dan apakah ia berbohong atau tidak tentang diri mereka sendiri,
namun kehadiran mereka telah menimbulkan keributan yang
dapat meluas menjadi keresahan yang mencengkam seluruh
kademangan ini. Peristiwa di rumah Ki Bekel itu adalah contoh
yang paling baik. Setelah peristiwa itu, mungkin akan menyusul
peristiwa-peristiwa yang lain yang akan membuat rakyat
kademangan ini menjadi semakin resah.”
“Mereka tidak berbuat apa-apa.”
“Di hadapan Ki Demang dan Ki Bekel. Tetapi siapa tahu, apa
yang akan dikerjakannya kemudian di belakang Ki Demang dan
Ki Bekel.”
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam.
“Ki Demang,” berkata Ki Cakrajaya lebih lanjut, “bahwa kedua
orang yang tertangkap hidup-hidup itu akhirnya terbunuh, tentu
karena pokal kedua pengembara itu sendiri.”
“Tetapi kedua orang pengembara itulah yang menangkap
mereka berdua.”
“Satu permainan yang sempurna. Dengan demikian, maka
keduanya akan dapat mengenyahkan segala macam kecurigaan
terhadap mereka. Bahkan mereka telah menjadi seorang
pahlawan di sini. Apalagi dengan gagasan-gagasannya yang tidak
masuk akal itu.”
“Gagasan itu berbobot, Ki Cakrajaya.”
Ki Cakrajaya seakan-akan tidak mendengarnya. Ia masih
berkata selanjutnya, “Setelah kedua orang itu ditangkapnya,
sehingga keduanya dianggap sebagai pahlawan, maka pada satu
kesempatan kedua orang itu telah mereka bunuh sendiri.”
“Apa gunanya mereka membunuh kedua orang yang sudah
tertangkap, menyerah dan tidak kuasa lagi melawan. Mereka
telah terikat pula pada sebatang pohon. Lalu apa gunanya
pembunuhan itu?”
Ki Cakrajaya tertawa. Katanya, “Seharusnya kau dapat
merabanya, Ki Demang.”
“Bagaimana menurut Ki Cakrajaya?”
“Keduanya tentu ingin menghapus jejak. Jika keduanya yang
tertangkap hidup itu sempat bersaksi, maka mereka akan dapat
mengatakan siapakah kedua orang pengembara yang ingin
mereka tangkap itu sebenarnya. Orang-orang yang terbunuh itu
tentu akan dapat menunjukkan cacat dari kedua orang
pengembara itu.”
“Jika demikian, kenapa keduanya tidak menangkap kedua
pengembara itu melalui jalur yang wajar. Misalnya, keduanya
datang kepadaku dan kemudian kepada Ki Bekel. Bukankah
dengan demikian pelaksanaannya akan menjadi lebih mudah dan
bahkan mungkin tidak harus menelan korban jiwa?”
“Agaknya mereka tidak ingin terlambat. Sebelum kedua orang
itu melarikan diri, maka keduanya harus ditangkap.”
“Tetapi kenapa mereka harus mengaku orang-orang
Randucawang dan bahkan mengaku mendapat perintah dari Ki
Demang Randucawang?”
“Tentu ada beberapa hal yang tidak kita ketahui, Ki Demang.
Karena itu, aku minta Ki Demang bertindak bijaksana. Sebelum
persoalan yang menyangkut keduanya menjadi semakin
berkembang sehingga keresahanpun menjalar sampai ke manamana,
maka sebaiknya keduanya diusir dari kademangan ini.
Bahkan jika Ki Demang ingin tegas, Ki Demang dapat menangkap
mereka dan memaksa mereka mengaku, siapakah sebenarnya
mereka berdua.”
“Bagaimana aku dapat mengusir mereka, Ki Cakrajaya?
Sekarang mereka justru sedang mengembangkan satu gagasan
yang sangat menarik. Beberapa puluh kali aku mencoba untuk
membuat padukuhan itu bergerak. Aku sudah mengadakan
penyuluhan tentang peningkatan kesejahteraan hidup. Memenuhi
kebutuhan sendiri dalam batas kecukupan. Kerja dan mengusir
kemalasan. Tetapi seisi padukuhan itu sama sekali tidak
menanggapinya. Apalagi ketika bekel yang sekarang diwisuda. Ki
Bekel itu memang orang malas sejak mudanya. Kemudian para
bebahu pun terdiri dari orang-orang malas pula. Kemalasan itu
benar-benar telah mencengkam padukuhan itu, sehingga mereka
tidak peduli lagi tentang nasib buruk yang menimpa padukuhan
mereka. Ki Cakrajaya tentu sudah mengetahuinya. Sawah yang
kering dan gersang. Rerumputan pun tidak dapat hidup.
Meskipun ada sebagian tanah yang subur, seperti tanah milik Ki
Cakrajaya, yang lain adalah tanah kering di musim kemarau.
Bahkan tanahnya pun menjadi pecah-pecah dan mengeras
seperti batu padas. Nah, gagasan menyalurkan air dari gumuk
kecil itu perlu disambut dengan harapan. Sedangkan air di
gumuk kecil itu seakan-akan tidak terbatas dan tidak akan
pernah kering di segala musim.”
“Kau sudah terbius pula oleh harapan-harapan yang kosong
itu, Ki Demang. Apa yang dapat dilakukan oleh anak-anak itu
dengan talang bambu? Seberapa air yang mereka dapatkan lewat
talang bambu itu? Ki Demang, mereka menunggu kita semua
lengah. Dengan demikian, kita hanya akan dapat menyesal.”
“Apa yang akan mereka lakukan? Jika mereka ingin
merampok, kenapa mereka tidak memilih sebuah padukuhan
yang paling kaya di kademangan ini? Justru memilih padukuhan
miskin dan kering?”
“Ki Demang lupa, bahwa aku tinggal di padukuhan itu. Itulah
yang membuat aku sangat cemas. Mungkin hanya ada satu dua
orang yang akan menjadi sasaran mereka. Antara lain adalah
keluargaku yang termasuk memiliki kelebihan dibanding dengan
para penghuni yang lain.”
“Ki Cakrajaya, biarlah aku berbicara dengan Ki Bekel agar
tidak akan pernah lengah. Biarlah Ki Bekel mengawasi kedua
orang pengembara itu.”
“Itu tidak akan banyak menolong, Ki Demang.”
“Ki Cakrajaya, sebenarnya terdengar aneh jika Ki Cakrajaya
mencemaskan keluarga Ki Cakrajaya. Selama ini keluarga Ki
Cakrajaya dianggap keluarga yang tidak dapat disentuh oleh
tangan siapa pun. Bahkan tangan Ki Bekel pun tidak mampu
menjangkau kebebasan keluarga Ki Cakrajaya untuk berbuat apa
saja di padukuhan. Sementara itu, di kademangan ini, tangan
dan kakiku telah Ki Cakrajaya ikat dengan keping-keping uang.
Namun kadang-kadang juga dengan bayangan-bayangan hitam
yang menakutkan. Bagaimana mungkin Ki Cakrajaya menjadi
ketakutan menghadapi dua orang anak-anak itu?”
“Dua orang anak-anak itu yang nampak di mata kita.”
“Sudahlah, Ki Cakrajaya. Jangan cemas. Ki Cakrajaya adalah
orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Demikian pula anak lakilaki
Ki Cakrajaya itu. Kemudian beberapa orang yang bekerja
pada Ki Cakrajaya. Selebihnya kesiagaan Ki Bekel serta anakanak
muda di padukuhan.”
“Ki Bekel mempergunakan tiga perempat waktu hidupnya
untuk tidur. Siang dan malam.”
“Maaf, Ki Cakrajaya. Baiklah aku berterus-terang. Sebenarnya
aku ingin melihat hasil gagasan anak-anak muda yang menyebut
diri mereka pengembara itu.”
Wajah Ki Cakrajaya menjadi tegang. Nada suaranya pun telah
meninggi, “Ki Demang, aku minta Ki Demang memerintahkan
kedua orang pengembara itu pergi.”
Namun Ki Demang itu menggeleng. “Ki Cakrajaya, aku
bukannya orang yang tidak mengenal terima kasih atas segala
macam pemberian Ki Cakrajaya bagi keluargaku. Tetapi aku juga
ingin melihat kehidupan di padukuhan itu berubah.”
“Perubahan itu tidak perlu, Ki Demang. Kehidupan di
padukuhanku sudah cukup tenang dan tenteram. Biarlah
ketenangan itu tidak terusik oleh mimpi-mimpi buruk yang hanya
akan membuat malapetaka saja di padukuhan kami. Kerja yang
sia-sia. Harapan yang kosong yang justru akan menjerumuskan
padukuhan kami ke dalam kemelaratan yang semakin dalam.”
“Ki Cakrajaya,” berkata Ki Demang, “selama ini aku telah
menjadikan diriku sebagai seekor kerbau yang dicocok hidung di
hadapan Ki Cakrajaya. Aku sudah berbuat banyak bagi
kepentingan Ki Cakrajaya. Tetapi kali ini, beri kesempatan rakyat
padukuhan Ki Cakrajaya itu untuk bangkit. Kebangkitan
padukuhan itu akan memberikan keuntungan pula kepada Ki
Cakrajaya. Ki Cakrajaya dapat memperluas jaring-jaring
perdagangan. Semakin tinggi kesejahteraan rakyat di sekitar Ki
Cakrajaya, maka kebutuhan merekapun akan meningkat.
Dagangan Ki Cakrajayapun akan menjadi semakin laku. Tidak
hanya di pasar-pasar yang sedang ramai di hari pasaran. Tetapi
di rumah pun Ki Cakrajaya akan melayani banyak orang yang
kehidupan mereka menjadi semakin baik.”
“Mimpi seperti itulah yang aku maksudkan, Ki Demang.
Daripada mereka merasa menjadi sangat kecewa setelah mereka
terbangun, maka sebaiknya Ki Demang mencegahnya.”
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam.
“Ki Demang,” berkata Ki Cakrajaya, “jangan menunggu aku
bertindak sendiri. Jika aku sudah memutuskan untuk
mempergunakan kekerasan, maka persoalannya akan berbeda.”
“Ki Cakrajaya,” berkata Ki Demang, “bukankah Ki Cakrajaya
mempunyai alasan yang lain kecuali yang telah Ki Cakrajaya
katakan?”
“Ya. Aku tidak mau kesejahteraan hidup orang-orang di
sekitarku meningkat. Mereka tentu akan meninggalkan
pekerjaannya di rumahku dan di sawahku. Meskipun mereka
malas, tetapi mengupah mereka masih termasuk
menguntungkan. Tenaga dari padukuhan lain, akan terasa jauh
lebih mahal meskipun mereka dapat bekerja lebih cepat dari
orang-orang malas itu.”
“Ki Cakrajaya terlalu mementingkan diri sendiri.”
“Ya. Aku tidak ingkar. Bahkan aku telah melakukannya sejak
lama.”
“Tetapi seharusnya Ki Cakrajaya memperhitungkan
kemungkinan lain yang lebih baik.”
“Tidak. Aku tidak menginginkan satu perubahan apa pun
terjadi di padukuhan ini.”
“Jika demikian, bukankah orang-orang yang datang untuk
menangkap kedua pengembara, tetapi justru tiga orang di antara
mereka terbunuh itu, Ki Cakrajaya pula yang mengirimkan?”
“Tidak,” Ki Cakrajaya menjawab dengan tegas. “Aku tidak
akan berbuat sebodoh itu. Buat apa aku mengirimkan orang jika
aku mempunyai jalan lain? Bukankah aku dapat berbicara
dengan Ki Demang untuk minta agar anak-anak itu diusir dari
padukuhan kami?”
“Ki Cakrajaya, aku akan berusaha untuk memenuhi
keinginan-keinginan Ki Cakrajaya yang lain. Tetapi aku tidak
berani mengusir kedua orang pengembara yang sudah membuat
kesepakatan dengan Ki Bekel. Seperti yang aku katakan, aku pun
sangat berharap, bahwa padukuhan yang satu itu dapat
menyusul ketertinggalannya. Sementara padukuhan-padukuhan
yang lain menjadi semakin sejahtera, di padukuhan itu masih
saja terdengar dengkur orang yang tertidur lelap, meskipun
perutnya lapar.”
“Aku adalah satu di antara mereka yang menghendaki
padukuhan itu tertidur terus.”
“Maaf, Ki Cakrajaya. Kali ini biarkan padukuhan itu mulai
bangkit. Seperti yang aku katakan tadi, kebangkitan padukuhan
itu akan dapat menumbuhkan pula kemampuan daya beli
mereka. Nah, tentu satu kemungkinan baru untuk memasarkan
barang-barang dagangan Ki Cakrajaya. Seandainya Ki Cakrajaya
belum mulai sekarang, Ki Cakrajaya dapat memikirkan
kemungkinan untuk menjual selain kebutuhan sehari-hari, juga
kain lurik. Bukankah setiap orang membutuhkannya? Juga alatalat
pertanian yang selama ini seakan-akan tidak diperlukan
karena sawah para penghuninya menjadi kering.”
“Ki Demang jangan mengajari aku berdagang. Aku sudah
melakukannya bertahun-tahun. Selain berdagang hasil bumi,
peralatan pertanian, aku juga sudah berdagang kain. Bahkan aku
membawa dagangan kain sutera halus buatan negeri asing.
Perhitungan serta naluriku sebagai pedagang, tentu lebih tajam
dari Ki Demang yang setiap hari hanya mengurusi orang-orang
kademangan yang dungu ini.”
“Aku percaya, Ki Cakrajaya. Aku juga tahu bahwa Ki
Cakrajaya seorang pedagang emas, intan, berlian dan batu-batu
permata yang lain. Berdagang wesi aji dan berbagai macam benda
yang bertuah. Tetapi mungkin ada satu hal yang terlampaui tidak
sempat Ki Cakrajaya pikirkan.”
“Sudah cukup, Ki Demang,” berkata Ki Cakrajaya. “Aku hanya
minta dalam dua atau selambat-lambatnya tiga hari ini, kedua
orang pengembara itu sudah pergi. Atau Ki Demang tidak usah
terkejut jika hubungan kita selama ini diketahui oleh banyak
orang.”
Ki Demang mengatupkan giginya rapat-rapat. Terasa dadanya
menjadi pepat. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Yang
kemudian menghentak-hentak di dadanya adalah penyesalan,
bahwa ia sudah menerima banyak pemberian dari Ki Cakrajaya.
Sementara itu, Ki Cakrajaya tidak menunggu lebih lama lagi.
Iapun kemudian bangkit berdiri dan berkata, “Aku minta diri, Ki
Demang. Ki Demang sudah tahu keinginanku. Aku berharap Ki
Demang dapat memenuhinya.”
Ki Demang tidak menjawab. Sementara itu, Ki Cakrajayapun
segera meninggalkan rumah Ki Demang itu.
Sepeninggal Ki Cakrajaya, Ki Demang duduk merenungi
dirinya sendiri. Penyesalan semakin terasa menghunjam di
hatinya. Ada niatnya untuk mengusir kedua orang perantau itu
dan tidak memperdulikan keadaan padukuhan yang miskin itu.
Tetapi ternyata nuraninya tidak membenarkannya.
“Kenapa baru sekarang aku dapat mendengarkan kata
nuraniku sendiri?” berkata Ki Demang itu kepada diri sendiri.
Dalam pada itu, di gumuk kecil, Wijang dan Paksi telah
menunjukkan kerja yang harus dilakukan. Wijang dan Paksi
berhasil memaksa dengan caranya, sehingga anak-anak muda itu
bersedia mengusung setumpuk bambu ke dekat gumuk kecil.
Sementara yang lain telah mulai membuat semacam kolam
penampungan air yang mengalir dari atas serta dari sela-sela
batu-batu padas. Ternyata air itu cukup deras sehingga akan
mencukupi untuk mengairi sebulak sawah. Namun untuk
sementara air itu masih harus dialirkan mengikuti jalur alami
yang telah dibuat oleh arus air itu sendiri, sebelum dibuat sebuah
parit yang memadai.
Wijang dan Paksipun telah memberikan beberapa petunjuk,
bagaimana mereka harus membuat talang. Membuat tiang-tiang
penyangga di tanah-tanah yang lekuk. Namun mereka harus
meratakan tanah-tanah yang agak mencuat dari permukaan.
“Kita akan mulai membuat talang air. Sementara sebagian
dari kita masih akan menebang bambu dari hutan di sebelah,”
berkata Paksi.
Namun ternyata agak di luar dugaan Wijang dan Paksi, bahwa
anak-anak muda itu menjadi gembira dengan kerja yang mereka
lakukan. Pada saat lewat tengah hari, dua orang telah datang dari
padukuhan sambil membawa makan dan minum bagi anak-anak
muda yang sedang sibuk bekerja.
“Kita berhenti sebentar untuk makan,” berkata Wijang.
Mereka yang menyiapkan tempat penampungan air dan
mereka yang mengusung bambupun kemudian menghentikan
kerja mereka. Mereka mencuci tangan dan kaki. Kemudian duduk
di bawah pepohonan yang rimbun.
Alangkah nikmatnya makan di bawah pohon yang rimbun itu.
Sekali-sekali mereka mengusap keringat yang masih saja
mengalir di leher dan kening.
Yang mereka makan pada waktu itu tidak berbeda dengan apa
yang mereka makan sehari-hari. Namun rasa-rasanya jadi lain.
Yang mereka makan itu seolah-olah jenis nasi dan sayur yang
belum pernah mereka makan sebelumnya.
Kedua orang yang membawa makan dan minum itupun telah
ikut pula makan bersama anak-anak muda itu. Sekali-sekali
mereka meneguk air dari dalam gendi. Terasa betapa segarnya.
Tetapi seorang anak muda yang sudah selesai makan berkata,
“Kita tidak kekurangan minum di sini. Air yang menitik itu
rasanya segar sekali. Meskipun udara terasa terik, namun air itu
tetap dingin, sehingga ketika melewati kerongkongan, rasarasanya
seluruh tubuh telah berendam di air yang dingin dan
sejuk di bawah pepohonan yang rimbun serta diusap oleh silirnya
angin yang lembut.”
Kawannya tertawa. Katanya, “Itulah sebabnya, maka mata ini
tiba-tiba saja telah mengantuk.”
Namun baru saja mulutnya terkatup, anak muda itu telah
bangkit berdiri sambil berdesis, “Siapa yang sudah mendengkur
ini, he?”
Yang lain pun berpaling. Ternyata seorang anak muda yang
bertubuh tinggi kekurus-kurusan sudah tertidur di atas
rerumputan kering di bawah sebatang pohon waru.
“Bukan main,” gumam seorang anak muda yang bertubuh
pendek. “Tetapi mataku ternyata juga sudah ingin terpejam.”
“Kalian dapat beristirahat sebaik-baiknya,” berkata Paksi.
“Mungkin tidur. Tetapi setelah kalian bangun beberapa saat lagi,
kalian tidak boleh menjadi malas. Kalian harus benar-benar
terbangun untuk bekerja keras lagi.”
Dalam pada itu, selagi mereka masih beristirahat, mereka
melihat Ki Bekel berjalan di teriknya sinar matahari ke arah
mereka.
“Selamat siang, Ki Bekel,” sapa Wijang dan Paksi hampir
bersamaan.
“Selamat siang. Selamat siang, anak-anak muda.”
“Selamat siang, Ki Bekel,” jawab anak-anak muda itu.
Sementara seorang yang lainpun berkata, “Kami baru saja
makan, Ki Bekel. Perut kami telah terisi penuh. Mungkin Ki Bekel
juga belum sempat makan di rumah?”
“Sudah. Aku sudah makan bersama beberapa orang yang baru
saja menguburkan ketiga sosok mayat itu. Aku sudah kenyang.”
Ki Bekel itupun kemudian telah ikut duduk pula di bawah
pohon yang rimbun bersama dengan anak-anak muda yang
sedang beristirahat itu. Ternyata kerja anak-anak muda itu
membuat jantung Ki Bekel bergetar. Ia tidak mengira bahwa
anak-anak yang malas itu mampu menebang dan kemudian
mengumpulkan setumpuk batang bambu serta membuat tanggul
penampungan air. Begitu cepatnya mereka mengerjakannya.
Namun anak-anak muda yang datang itu memang lebih
banyak dari kemarin. Satu perkembangan yang sangat
menggembirakan.
“Kami sedang beristirahat, Ki Bekel,” berkata Wijang
kemudian.
“Silahkan,” sahut Ki Bekel. “Aku baru dapat datang kemari
setelah lewat tengah hari. Tadi pagi kami menyelenggarakan
penguburan ketiga orang yang terbunuh, setelah mendapat
persetujuan Ki Demang dan Ki Demang dari Randucawang.”
“Kami baru mulai dengan kerja yang sesungguhnya, Ki Bekel.
Baru inilah yang dapat kami kerjakan.”
“Menurut pendapatku, kalian bekerja sangat cepat. Setumpuk
bambu dan tanggul yang membujur ini, bukankah kalian baru
mulai pagi tadi?”
“Ya, Ki Bekel.”
“Aku tidak dapat membayangkan, bagaimana anak-anak
malas ini dapat mengerjakan semuanya ini setengah hari.”
“Kami terdiri dari banyak orang, Ki Bekel,” sahut Paksi.
“Aku merasa sangat bangga, bahwa anak-anak padukuhan
kami bersedia untuk menempuh jalan kehidupan yang baru. Aku
tidak pernah bermimpi bahwa anak-anak muda yang malas itu
akan bangkit. Mudah-mudahan tidak hanya hari ini atau hanya
dua tiga hari saja. Tetapi untuk seterusnya. Mudah-mudahan
pula banyak anak muda yang tertarik dan ikut bersama kita yang
sudah ada di sini.”
“Mudah-mudahan, Ki Bekel. Tanah ini telah dikaruniakan
kepada kita. Kita harus mensukurinya dan memanfaatkannya
dengan baik.”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya seakan-akan
ditujukannya kepada dirinya sendiri, “Aku terlambat
menyadarinya. Tanpa goncangan yang kuat, kami tidak tergerak
untuk berbuat seperti sekarang ini. Peristiwa yang terjadi
semalam merupakan tantangan yang justru menuntut jawaban
kita semua.”
“Anak-anak muda itu sudah menjawabnya.”
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Kepada Wijang dan
Paksi iapun kemudian berkata, “Anak-anak muda, aku minta
kalian tidak hanya dua atau tiga hari saja di sini. Aku ingin
kalian tetap berada di sini. Keberadaan kalian akan banyak
memberikan arti bagi padukuhan kami yang selama ini jauh
tertinggal dari padukuhan-padukuhan lain.”
Wijang dan Paksi saling berpandangan sejenak. Namun
kemudian Wijangpun berkata, “Kami mohon maaf, Ki Bekel. Kami
hanya dapat tinggal di sini untuk dua tiga hari saja. Kami masih
harus menempuh perjalanan panjang.”
“Bukankah kalian pengembara yang tidak terikat oleh waktu
dan ruang? Kalian dapat berada di mana saja dan kapan saja
tanpa ada bedanya.”
Wijang tersenyum. Katanya, “Ki Bekel benar. Tetapi kami tidak
dapat berada di satu tempat terlalu lama. Kami tidak dapat
tinggal lebih dari sepekan.”
“Itukah paugeran yang mengikat seorang pengembara?”
“Tidak, Ki Bekel. Tetapi niat kami dalam pengembaraan
kamilah yang telah mengikat kami.”
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Sementara Wijangpun
berkata, “Ki Bekel, kami akan mulai membuat talang air.
Sedangkan sebagian lagi masih akan mengumpulkan bambu,
karena kami membutuhkan bambu cukup banyak.”
Ki Bekel mengangguk-angguk, sedangkan Paksi berkata
selanjutnya, “Jika kami sudah mulai, maka anak-anak muda itu
tinggal melanjutkannya. Mereka akan dapat melakukannya
sendiri. Apalagi Ki Bekel sendiri telah hadir di arena. Agaknya
tidak akan ada kesulitan lagi, Ki Bekel.”
Ki Bekel terdiam. Sebenarnyalah bahwa ia merasa kecewa
bahwa anak-anak muda yang mengaku sebagai pengembara itu
akan segera meninggalkan kerja yang baru dimulai itu.
Sebenarnya Wijang sendiri juga ingin melihat air yang
kemudian akan mengalir lewat beberapa jalur talang bambu dan
tumpah di atas tanah yang kering milik Mbah Rejeb.
Tetapi Wijangpun tahu benar bahwa Paksi ingin segera
melanjutkan perjalanan untuk mencari adiknya. Jika mereka
menemukan adik Paksi itu berada di dalam keadaan yang buruk,
maka Paksi akan dapat menyalahkannya, karena mereka terlalu
lama menyusulnya. Karena itu, maka Wijang tidak dapat
menunda-nunda lagi perjalanan mereka.
Dalam pada itu, setelah beristirahat beberapa saat, maka
Wijang dan Paksipun telah mengajak anak-anak muda itu untuk
bangkit dan melanjutkan kerja mereka.
Beberapa orang di antara mereka sempat tertidur. Sementara
yang lain mulai memejamkan mata mereka.
Rasa-rasanya memang malas sekali untuk mulai dengan kerja
berat di teriknya matahari, justru setelah mereka beristirahat di
bawah rimbunnya pepohonan. Angin yang berhembus di padang
perdu di kaki gunung itu membuat anak-anak muda itu seakanakan
terbius.
“Marilah,” Ki Bekellah yang bangkit lebih dahulu, “aku akan
ikut bekerja sama kalian.”
“Ah, jangan Ki Bekel,” cegah Wijang. “Bahwa Ki Bekel hadir di
sini sudah memberikan dorongan yang sangat kuat kepada
kami.”
“Tidak apa-apa. Aku harus ikut pula mengalami kerja. Sejak
kanak-kanak aku adalah seorang yang malas pula, sehingga
orang tuaku tidak memberikan teladan, apa yang sebaiknya
harus aku lakukan. Nah, sekarang aku mendapat teladan,
bagaimana sebuah padukuhan harus bekerja bagi kesejahteraan
padukuhannya.”
Ternyata Ki Bekel memang tidak dapat dicegah.
Disingsingkannya kain panjangnya. Dilepaskan bajunya pula.
Dengan mengenakan caping bambu, Ki Bekelpun mulai ikut
bekerja bersama dengan anak-anak muda yang masih saja
menggeliat dan mengusap matanya.
Tetapi ketika cangkul sudah berada di tangan, maka
merekapun telah kehilangan perasaan kantuk mereka. Demikian
pula mereka yang mengusung bambu dari pinggir hutan bambu.
Wijang dan Paksi sendiri juga mulai dengan kerja mereka Ia
minta Trima dan beberapa orang yang lain untuk membantu
Wijang mulai menggarap talang air dari lajur-lajur bambu yang
sudah ada. Sementara itu, Paksi telah menemani anak-anak
muda yang sedang mengusung bambu. Anak-anak muda itu
masih saja dibayangi oleh ketakutan mereka terhadap
kemungkinan munculnya seekor harimau loreng.
Dengan terampil Wijang memotong bambu yang terhitung
besar. Dilubanginya bambu itu di arah ruasnya untuk
menghilangkan sekat-sekat ruasnya itu.
Agaknya Wijang ingin membuat satu jelujur talang lebih
dahulu. Biarlah kemudian anak-anak muda itu membuatnya
pula.
Sementara itu, mataharipun bergerak semakin ke barat.
Semakin lama menjadi semakin rendah.
Ketika Wijang dan Paksi melihat bahwa anak-anak muda yang
bekerja bersama mereka itu menjadi sangat lebih, maka Wijang
dan Paksipun telah menghentikan kerja itu. Kepada anak-anak
muda itu, Wijangpun berkata, “Besok kita mulai lebih pagi lagi.
Malam nanti kita tidur nyenyak. Mudah-mudahan kita tidak
terganggu lagi. Sebelum tidur, gosoklah kaki dan tangan kalian
dengan kencur yang dipipis dengan sedikit beras. Mudahmudahan
besok kalian merasa segar dan sehat saat bangun
tidur. Apalagi jika kalian bangun pagi-pagi sekali.”
Beberapa saat kemudian, gumuk kecil itupun menjadi sepi.
Wijang, Paksi dan anak-anak muda yang bekerja keras untuk
membuat talang air itu sudah kembali ke padukuhan dan pulang
ke rumah masing-masing.
Namun tidak semua orang tua menjadi bangga atas kesediaan
anaknya bekerja keras membuat talang air yang akan dialirkan
ke sawah Mbah Rejeb itu. Ketika seorang yang bertubuh agak
pendek, kurus dan perutnya buncit pulang, ayah dan ibunya
segera memanggilnya.
“Ke mana saja kau sehari-harian, he?”
“Aku pergi ke gumuk kecil itu, Ayah.”
“Ada apa di gumuk kecil?”
“Kami sedang membuat talang air.”
“Talang air apa?”
“Kami sedang mencoba untuk mengalirkan air dari gumuk
kecil itu ke bulak sawah yang kering itu. Meskipun tidak
semuanya akan kebagian air, tetapi rasa-rasanya sebagian besar
dari sawah kita akan dapat menjadi basah di segala musim.
Bukan hanya di musim hujan saja kita dapat menanami sawah
kita.”
“Bohong. Siapakah yang mengatakannya?”
“Dua orang pengembara. Tetapi Ki Bekel sependapat. Bahkan
Ki Bekel ikut bekerja bersama kami.”
“Ternyata kau menjadi semakin sering berbohong, he? Besok
kau tidak usah pergi ke gumuk kecil. Kau ikut ayah bekerja di
rumah Ki Cakrajaya. Besok lusa Ki Cakrajaya akan mengirim
gula kelapa tiga pedati ke pasar Mancawarna. Besok kita akan
menghitung dan menempatkannya ke dalam keranjang.”
“Tetapi aku sudah berjanji kepada Trima dan kepada Ki Bekel,
besok aku akan datang ke gumuk kecil itu.”
“Jangan dungu. Apakah kau mendapat upah jika kau bekerja
di gumuk kecil itu?”
“Tidak, Ayah.”
“Nah, jika demikian, kenapa kau pergi juga ke gumuk?”
“Kami bekerja dengan pengharapan bagi masa depan
padukuhan kita ini.”
“Masa depan? Kau telah terbius oleh janji-janji manis.
Berbeda dengan kerja di rumah Ki Cakrajaya. Kita akan langsung
mendapat upah meskipun hanya sedikit. Tetapi besok kau perlu
makan.”
“Di gumuk aku juga mendapat makanan, Ayah. Makan hingga
perutku menjadi kenyang sekali.”
“Siapa yang memberi makan?”
“Mungkin Ki Bekel.”
“Kau jangan membual.”
“Tidak, Ayah. Aku tidak membual. Jika aku sekedar membual,
aku akan merasa lapar sekali sekarang ini. Tetapi rasa-rasanya
perutku masih kenyang.”
“Persetan dengan kerjamu di gumuk kecil itu. Pokoknya besok
kau harus kerja di rumah Ki Cakrajaya bersamaku.”
Anak itu diam. Ia tidak berani membantah lagi. Ayahnya
adalah seorang yang keras hati. Jika ia masih saja membantah,
maka ayahnya akan segera marah. Mungkin sekali tangannya
akan menampar mulutnya itu.
Dengan gelisah anak itupun pergi ke belakang mencari
neneknya di dapur.
“Nek,” berkata anak itu, “Nenek mempunyai kencur?”
“Kencur? Untuk apa?”
“Aku tadi kerja keras di gumuk kecil, Nek. Aku dinasehatkan
agar tangan dan kakiku diolesi kencur yang dipipis dengan
sedikit beras.”
“O, beras kencur, maksudmu?”
“Ya, Nek. Beras dan kencur.”
“Aku mempunyai kencur sedikit. Besok kita dapat mencari di
kebun belakang.”
“Berasnya?”
Neneknya termangu-mangu. Dengan nada berat neneknya itu
berkata, “Berasnya tinggal sedikit sekali, Ngger. Besok beras itu
akan dibuat bubur untuk makan adikmu. Untuk kita, ayahmu
sudah menyediakan gaplek yang cukup.”
“Sedikit saja, Nek. Beberapa butir.”
“Baiklah. Nanti nenek ambilkan. Kau tidak usah berceritera
kepada ayah dan ibumu tentang beras kencur itu. Katakan saja,
kencur itu dipipis dengan sedikit garam.”
“Ya, Nek.”
“Sekarang, mandilah. Tubuhmu akan terasa segar.”
Dalam pada itu, ketika anak-anak muda yang ikut ke gumuk
kecil beristirahat untuk melepas lelah yang bagaikan
mencengkam sampai ke tulang, maka Wijang dan Paksi yang
sudah mandi dan berbenah diri, menemui Ki Bekel. Dengan raguragu
Wijangpun bertanya, “Apakah Ki Demang benar-benar ingin
bertemu dengan kami?”
“Ya. Tetapi agaknya kalian masih letih.”
“Tidak, Ki Bekel. Kami tidak letih.”
“He. Aku yang hanya ikut membantu kerja kalian, itupun aku
mulai setelah matahari sudah turun, merasa sangat letih.”
“Seumur Ki Bekel sebaiknya memang sudah tidak melakukan
kerja kasar sebagaimana kami lakukan. Tetapi berbeda dengan
orang-orang seumurku.”
“Anak-anak muda yang lain itupun merasa sangat letih.
Bagaimana mungkin kalian tidak?”
“Apakah kami berdua kelihatan letih?”
“Tidak. Itulah yang membuatku heran.”
“Ki Bekel, selama ini anak-anak muda padukuhan ini tidak
pernah berbuat apa-apa. Karena itu, maka merekapun akan
cepat merasa letih. Tetapi jika mereka sudah terbiasa dengan
kerja keras, maka mereka tidak akan secepat itu menjadi letih.”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Sambil tersenyum iapun
menyahut, “Kenapa tidak kau katakan saja, bahwa aku juga tidak
pernah kerja keras?”
Wijang dan Paksipun tersenyum pula. Namun sekali lagi
Wijangpun bertanya, “Apakah kami sebaiknya pergi menghadap
Ki Demang?”
“Kita pergi bersama-sama.”
“Tetapi bukankah Ki Bekel merasa letih?”
“Aku memang letih. Tetapi biarlah aku pergi bersama kalian.”
Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Bekelpun telah pergi
menemui Ki Demang bersama Wijang dan Paksi.
Ketika mereka sampai di rumah Ki Demang, lampu sudah
dinyalakan di pendapa, pringgitan dan di setiap ruang.
Sejenak kemudian, Ki Bekel, Wijang dan Paksipun telah
duduk di pringgitan ditemui oleh Ki Demang. Namun ternyata
betapapun Ki Demang berusaha untuk menyembunyikan
kegelisahannya, Ki Bekel masih juga dapat merasakannya.
Meskipun demikian, Ki Bekel tidak menyinggungnya.
“Ki Demang,” berkata Ki Bekel kemudian, “aku sengaja datang
sambil mengajak kedua orang pengembara sebagaimana aku
katakan. Mungkin Ki Demang ingin berbicara dengan mereka
tentang gagasan mereka mengalirkan air dari gumuk kecil itu ke
sawah kami yang kering. Menurut kedua pengembara itu, air
yang tidak pernah kering yang mengalir dari celah-celah batubatu
padas serta saluran-saluran yang terjadi secara alami di
sekitar gumuk kecil itu, dapat dimanfaatkan untuk mengairi
sawah.”
Ki Demang mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Ki
Demang itupun bertanya, “Apakah kalian berdua dapat menetap
di kademangan ini untuk selanjutnya?”
Wijanglah yang menjawab, “Sayang, Ki Demang, kami adalah
pengembara. Kami tidak dapat tinggal terlalu lama di satu
tempat. Kami sudah mengatakan kepada Ki Bekel, bahwa kami
hanya dapat memulai kerja besar ini. Selanjutnya terserah
kepada anak-anak mudanya. Bahkan kemudian Ki Bekel sendiri
telah turun tangan.”
Ki Demang itu mengangguk-angguk kecil. Dengan ragu-ragu
Ki Demang itupun bertanya pula, “Jadi sampai kapan kau berada
di padukuhan itu?”
“Kami akan berada di padukuhan itu dua atau tiga hari lagi,
Ki Demang.”
“Lalu, sesudah itu kalian akan pergi ke mana?”
“Kami adalah pengembara, Ki Demang. Kami tidak tahu,
langkah kami sampai ke mana.”
Adalah di luar sadarnya jika kemudian Ki Demang itu
bertanya, “Jadi, kenapa kalian harus pergi?”
“Aku juga sudah berusaha menahannya. Jika keduanya tidak
dapat tinggal untuk seterusnya, aku berharap mereka dapat
tinggal satu dua bulan saja,” sahut Ki Bekel.
Wijang termangu-mangu sejenak. Namun Paksilah yang
menjawab, “Kami mohon maaf, Ki Bekel dan Ki Demang. Kami
tidak dapat tinggal lebih lama lagi. Tetapi kami berjanji, bahwa
pada saat lain, jika keadaan mengijinkan, kami akan singgah lagi
di kademangan ini.”
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan
jantung Ki Demang terasa menjadi semakin tenang.
“Jika saja kalian dapat tinggal lebih lama lagi,” desis Ki
Demang.
Wijang tidak menyahut. Ia tahu benar keinginan Paksi.
Sebelum dapat menemukan adiknya maka ia tidak akan dapat
menahan Paksi terlalu lama di suatu tempat. Jika ia
memaksanya, maka Paksi tentu akan meninggalkannya.
“Bahwa aku menyertainya, tidak semestinya aku justru
menjadi penghambatnya,” berkata Wijang di dalam hatinya.
Ki Demang yang gelisah itu rasa-rasanya terlepas dari satu
jebakan yang akan dapat menjeratnya. Ki Cakrajaya telah
mengancamnya agar kedua orang pengembara itu diusir dari
kademangan dalam waktu dua atau tiga hari. Jika keduanya
memang ingin pergi, bukankah ia tidak perlu mengusirnya? Tidak
perlu menyakiti hati keduanya yang sudah berniat baik
melahirkan gagasan yang akan sangat berarti bagi padukuhan
yang miskin itu? Tetapi Ki Demang pun tidak dapat membiarkan
mereka tetap berada di kademangannya, karena jika demikian, Ki
Cakrajaya mengancam akan membuka rahasia Ki Demang,
bahwa ia sudah banyak menerima pemberian dari Ki Cakrajaya.
Pemberian yang tentu saja bukannya tanpa pamrih.
Dalam kesempatan itu, Ki Demang justru telah mengucapkan
terima kasih kepada kedua anak muda pengembara itu.
“Sebelum kalian pergi, aku harap kalian singgah sebentar,
anak-anak muda.”
Wijang dan Paksi tidak segera menjawab. Sementara Ki
Demang berkata selanjutnya, “Atas nama orang-orang
kademangan ini, aku akan menyampaikan pertanda terima kasih
kami bagi kalian berdua.”
“Ki Demang,” berkata Wijang, “bahwa kami diterima dengan
baik di kademangan ini sudah merupakan penghargaan yang
sangat besar bagi kami. Karena itu, Ki Demang tidak usah
memberikan pertanda terima kasih itu kepada kami. Dalam
pengembaraan kami, kenang-kenangan yang seharusnya kami
simpan dengan baik itu, justru akan dapat tercecer di jalan.”
“Jangan menolak, anak-anak muda. Mungkin nilainya tidak
seberapa. Tetapi pertanda terima kasih itu kami berikan dengan
tulus.”
Wijang dan Paksi tidak menyahut. Memang tidak sepantasnya
mereka menolak pemberian dari Ki Demang itu agar tidak
menyinggung perasaannya.
“Datanglah esok sore. Kenang-kenangan itu akan aku
persiapkan esok pagi.”
“Terima kasih, Ki Demang.”
Ki Bekel tidak menyela. Ia duduk saja sambil tersenyumsenyum.
Namun sebenarnyalah Ki Bekel menjadi curiga. Ki
Demang itu rasa-rasanya telah mendorong agar kedua
pengembara itu segera pergi, meskipun sebagai basa-basi Ki
Demang itu mencoba menahan mereka.
Dalam pada itu, Ki Demang itupun tidak lagi nampak sangat
gelisah. Bahkan kemudian Ki Demang itu lebih banyak
tersenyum dan tertawa. Kata-katanya pun menjadi lancar dan
mengalir seperti gemerciknya air di sungai.
Ki Demangpun kemudian telah menanyakan gagasan Wijang
dan Paksi yang telah berhasil menggerakkan beberapa orang
anak muda, dan bahkan termasuk ki Bekel sendiri.
“Mudah-mudahan Ki Bekel berhasil,” berkata Ki Demang
kemudian. “Dengan demikian padukuhan itu tidak akan semakin
jauh tertinggal dari padukuhan-padukuhan yang lain.”
“Ya, Ki Demang. Mungkin pada saat-saat sangat diperlukan
kelak, kami akan minta bantuan Ki Demang untuk
menyelesaikan pekerjaan kami.”
“Silahkan, Ki Bekel. Jika saja aku dapat membantu, aku akan
membantunya.”
Beberapa saat lamanya mereka berbincang. Setelah minum
minuman hangat dan makan beberapa potong makanan yang
dihidangkan, maka Ki Bekel, Wijang dan Paksi itupun minta diri.
Demikian mereka sampai di rumah Ki Bekel, maka makan
malam pun telah disediakan. Seperti juga kemarin, sederhana
saja.
Dalam pada itu, Ki Bekel masih saja merasa terganggu oleh
sikap Ki Demang. Ki Bekel itu telah mengambil kesimpulan,
bahwa Ki Demang menghendaki agar Wijang dan Paksi segera
meninggalkan kademangan itu. Tetapi Ki Demang sendiri tidak
menantang gagasan untuk membuat saluran air dari gumuk kecil
ke sawah yang kering dan gersang.
“Tentu ada hubungannya dengan Ki Cakrajaya,” berkata Ki
Bekel di dalam hatinya.
Namun Ki Bekel tidak dapat membiarkan perasaannya yang
berbicara. Ia sadar, bahwa Ki Demang mempunyai wewenang
untuk menggagalkan rencana pembuatan saluran air itu dengan
alasan apapun juga. Karena itu, maka Ki Bekel itupun harus
bersikap sangat berhati-hati.
Setelah makan malam, maka Ki Bekel yang masih saja
berangan-angan tentang saluran air serta sikap Ki Demang
itupun berkata, “Besok kita akan pergi ke gumuk itu pagi-pagi
sekali. Karena itu, sebaiknya kalian berdua beristirahat. Kalian
harus menyimpan tenaga kalian dengan sebaik-baiknya bagi
esok.”
Wijang dan Paksi mengangguk. Dengan nada dalam
Wijangpun menjawab, “Baik, Ki Bekel. Kami akan beristirahat.”
Keduanyapun kemudian telah masuk ke dalam bilik yang
diperuntukkan bagi mereka, namun keduanya tidak juga segera
tidur.
“Kau rasakan sikap Ki Demang yang agak aneh?” bertanya
Wijang.
“Baru kemudian,” jawab Paksi.
“Bagaimana menurut pendapatmu?”
“Ki Demang ingin agar kita segera pergi.”
“Ya. Tentu ada hubungannya dengan Ki Cakrajaya.”
“Aku juga berpendapat demikian. Jika saja aku tidak sedang
memburu adikku, maka aku justru ingin berada di sini sampai
kerja itu selesai.”
“Apaboleh buat.”
“Tetapi pada kesempatan lain, aku benar-benar ingin datang
kemari.”
“Aku juga. Kita dapat pergi bersama-sama lagi. Atau katakan,
jika kita pulang ke Pajang, maka jalan di daerah inipun akan
sangat menarik.”
Paksi mengangguk-angguk. Namun Wijangpun kemudian
berkata, “Marilah kita tidur. Besok kita akan berada di gumuk
kecil itu lagi.”
Keduanyapun kemudian telah membaringkan tubuh mereka.
Paksi menarik kain panjangnya, sehingga hampir menutupi
wajahnya.
Pagi-pagi sekali keduanyapun telah terbangun. Seperti
biasanya merekapun segera berbenah diri.
Pagi itu, Ki Bekelpun telah bangun pagi-pagi pula. Ketika
Wijang dan Paksi telah selesai dan duduk di serambi, maka Ki
Bekelpun telah berada di pakiwan pula.
Namun Ki Bekel itu menjadi kecewa. Demikian ia bangun,
mandi dan berpakaian, ia ingin menunjukkan bahwa ia pun
dapat bangun lebih pagi dari kedua pengembara itu. Namun
ternyata bahwa Wijang dan Paksi telah duduk di serambi.
“Untunglah bahwa kita tidak bertaruh,” desis Ki Bekel.
“Maksud Ki Bekel?” bertanya Wijang.
“Aku telah mandi dan berpakaian dengan tergesa-gesa. Aku
ingin membangunkan kalian dan menyatakan kemenanganku
pagi ini, bahwa aku telah bangun lebih dahulu. Ternyata kalian
telah selesai.”
Wijang dan Paksi tertawa. Sambil tertawa Paksipun berkata,
“Apakah sebaiknya kami berdua tidur saja lagi agar Ki Bekel
sempat membangunkan kami?”
Ki Bekelpun tertawa berkepanjangan.
Pagi itu, ternyata Nyi Bekel dan pembantu di rumah Ki Bekel
itupun telah bangun pagi-pagi pula. Karena itu, sebelum
matahari terbit, maka nasi pun telah masak.
“Kita makan pagi. Baru kita pergi ke gumuk kecil.”
Wijang dan Paksi tidak menolak. Merekapun kemudian duduk
di ruang dalam. Lampu minyak di ruang dalam itu masih
menyala meskipun ayam sudah berkotek di halaman.
Demikian mereka selesai maka, maka Ki Bekelpun telah
mengajak mereka berangkat.
“Baru saja kalian selesai makan,” berkata Nyi Bekel.
“Beristirahatlah dahulu barang sebentar. Nanti lambung kalian
terasa sakit.”
Tetapi Ki Bekel menjawab, “Kami akan berjalan perlahanlahan
saja, Nyi. Bukankah hari masih pagi? Kami tidak tergesagesa.”
“Jika Ki Bekel tidak tergesa-gesa, kenapa Ki Bekel tidak duduk
saja lebih dahulu?”
“Aku tidak pernah merasakan betapa segarnya berjalan di pagi
hari selagi embun masih menitik dari ujung dedaunan. Aku tidak
pernah melihat saat-saat matahari lepas dari garis cakrawala.”
“Terlambat, Ki Bekel,” desis Nyi Bekel.
“Kenapa terlambat? Bukankah matahari belum terbit?”
“Maksudku, bukan hari ini. Tetapi seharusnya Ki Bekel
mengajak aku berjalan-jalan menjelang matahari terbit. Tentu
saja tidak sekarang. Tetapi saat-saat kita masih muda.”
Ki Bekel tertawa. Katanya, “Apa salahnya kita pergi sekarang,
Nyi?”
“Ah, aku belum mandi.”
“Kau yang tidak dapat bangun pagi.”
“Bukankah aku bangun lebih dahulu dari Ki Bekel? Tetapi
aku segera sibuk di dapur, sehingga aku belum sempat mandi.”
Ki Bekel masih tertawa. Katanya, “Sudahlah, kami akan
berangkat.”
Ketiganyapun kemudian meninggalkan rumah Ki Bekel
menuju ke gumuk kecil yang banyak menyimpan air. Beberapa
pohon raksasa tumbuh di sekitar gumuk kecil itu. Namun
pepohonan itu terpisah dari hutan yang memanjang yang seakanakan
dipagari oleh hutan bambu.
Hari memang masih pagi. Matahari masih berada di balik
cakrawala. Burung-burung liar berkicau bersahutan, seakanakan
meneriakkan kerinduan mereka terhadap matahari yang
sudah semalam suntuk bersembunyi.
Jilid 36
“JARANG sekali aku melihat saat-saat menjelang matahari terbit
seperti ini,” berkata Ki Bekel. “Biasanya aku masih melingkar di
pembaringan. Bahkan sampai matahari hampir mencapai
puncaknya. Jika hari hujan, aku menjadi lebih parah lagi.
Hampir sehari-harian aku berada di dalam bilik sambil
mendengkur.”
“Ki Bekel dapat menghitung, sampai umur Ki Bekel sekarang
ini, Ki Bekel memerlukan waktu berapa tahun untuk tidur dan
berapa tahun terjaga.”
“He?”
“Jika kebiasaan Ki Bekel tidur semalam dan separo hari,
berarti tiga perempat masa hidup Ki Bekel berada di
pembaringan. Jika umur Ki Bekel sekarang misalnya empat
puluh lima, maka Ki Bekel telah tertidur selama tigapuluh tiga
tahun lebih dan terjaga kurang dari duabelas tahun.”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Bukankah itu berarti
bahwa hidupku itu sia-sia?”
“Jika saja Ki Bekel dapat memanfaatkan waktu Ki Bekel yang
pendek itu dengan sebaik-baiknya.”
“Ternyata aku telah banyak sekali kehilangan karena
kemalasanku. Demikian pula para bebahu, orang-orang
padukuhanku dan bahkan sebagian besar dari anak-anak
mudanya.”
“Tetapi sekarang Ki Bekel sudah memulainya untuk
memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.”
Ki Bekel itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Terima kasih.
Selama ini aku tidak pernah memikirkan, berapa tahu aku tidur
dan berapa tahun aku terjaga.”
Wijang dan Paksipun ikut tertawa pula.
Sebelum embun tuntas dihisap sinar matahari yang mulai
memancarkan sinarnya yang kekuning-kuningan, Ki Bekel,
Wijang dan Paksi sudah berada di gumuk kecil. Ternyata anakanak
muda padukuhan itupun benar-benar berusaha untuk
dapat bangun lebih pagi. Meskipun kedatangan Ki Bekel lebih
dahulu dari mereka, tetapi jarak waktunya tidak terlalu jauh.
“Maaf, Ki Bekel,” berkata Trima, “kami terlambat. Kami
menunggu yang satu dengan yang lain, sehingga kami menjadi
kesiangan.”
“Kami juga baru saja datang,” berkata Ki Bekel.
“Kita beristirahat sebentar,” berkata Wijang kemudian.
“Sebentar lagi kita akan mulai dengan kerja besar kita.”
Anak-anak muda itupun kemudian telah duduk di atas batubatu
padas. Ternyata jumlah mereka bertambah lagi. Sementara
itu anak muda yang bertubuh agak pendek, kurus dan perutnya
buncit ada pula di antara mereka. Anak muda itu berhasil
meyakinkan ayahnya, bahwa air itu akan dapat menjadi harapan
di masa datang bagi padukuhan mereka.
Demikianlah, setelah beristirahat sejenak, maka Wijangpun
telah mengajak kawan-kawannya untuk mulai dengan kerja
mereka. Wijang dan Paksi telah memberikan contoh bagaimana
mereka harus menghilangkan sekat pada ruas-ruas bambu yang
akan mereka pergunakan sebagai talang air.
“Kita membuat satu jalur saja lebih dahulu, Paksi,” berkata
Wijang.
“Kenapa tidak lima sama sekali?”
“Kita berada di sini hanya sampai esok. Jika kita membuat
lima jalur sekaligus, tentu tidak akan selesai. Tetapi jika kita
membuat satu sebagai contoh sehingga talang itu benar-benar
mengalir, mereka akan dapat meneruskannya sendiri.”
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian sambil
mengangguk-angguk berkata, “Baiklah. Aku mengerti. Ki Demang
nampaknya juga ingin agar kita pergi. Tetapi tanpa kita, anakanak
muda itu akan dapat bekerja sendiri.”
Demikianlah atas kesepakatan itu, maka Wijangpun telah
memberitahukan kepada anak-anak muda itu untuk
menyelesaikan satu jalur saja lebih dahulu.
“Kenapa tidak seluruhnya saja?” bertanya Trima.
“Kita akan membuat contohnya lebih dahulu. Jika besok kami
meneruskan pengembaraan kami, maka kalian akan dapat
membuat jalur-jalur yang lain. Bahkan mungkin kalian tidak
hanya ingin membuat lima. Tetapi lebih dari itu. Bahkan
kemudian kalian dapat membuat parit yang cukup besar.”
Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Namun Trimapun
kemudian bertanya, “Kenapa kau tidak tinggal di sini lebih lama
lagi sehingga setidak-tidaknya kerja kami yang mula-mula ini
selesai seluruhnya?”
“Sebenarnya aku sangat ingin untuk tinggal beberapa lama di
sini. Tetapi ada sesuatu yang memaksa kami pergi.”
“Ki Cakrajaya?”
“Tidak. Seandainya Ki Cakrajaya menginginkan aku pergi, aku
dapat saja menolaknya. Tetapi ada persoalan yang harus kami
selesaikan.”
Anak-anak muda itu memang tidak akan dapat menahan
kedua orang pengembara itu untuk lebih lama tinggal.
Hari itu, Wijang dan Paksi bersama-sama anak-anak muda
yang jumlahnya semakin banyak itu telah bekerja keras untuk
membuat satu jalur talang air sampai ke sawah Mbah Rejeb.
Mereka mempunyai waktu dua hari dengan hari berikutnya, hari
terakhir Wijang dan Paksi berada di padukuhan itu.
Hari itu, sebagian besar dari satu jalur talang air sudah siap.
Esok mereka tinggal merangkai sehingga air akan mengalir di
sawah Mbah Rejeb.
Ternyata anak-anak muda itu justru menjadi semakin gembira
dengan kerja mereka. Sebagian dari mereka masih sempat
bermain dengan air. Di teriknya panas matahari, maka air itu
dapat membuat mereka menjadi sedikit sejuk.
Seperti di hari sebelumnya, di tengah hari mereka beristirahat
untuk makan. Ki Bekel yang ada di antara mereka, ikut makan
pula dengan lahapnya. Meskipun hanya sekedar sayur keluwih
serta buntil lompong ungu, namun terasa alangkah nikmatnya.
Ketika bayangan pepohonan sudah menjadi semakin panjang
karena matahari yang menjadi semakin rendah di sore hari, maka
Wijangpun bertanya kepada Ki Bekel, “Sebentar lagi matahari
akan terbenam. Apakah kita akhiri kerja kita hari ini, Ki Bekel?”
Ki Bekel mengerutkan dahinya. Ditengadahkannya kepalanya
sambil berdesis, “Begitu cepatnya matahari mengarungi langit
hari ini.”
Seorang anak muda yang berdiri di sebelahnya pun
memandang langit sambil berkata, “Hari ini terasa terlampau
pendek. Aku belum merasa letih.”
Paksi tersenyum sambil menyahut, “Agaknya kerja ini
semakin terasa menarik, sehingga kalian menjadi lupa waktu.”
Seorang anak muda yang lainpun berkata, “Berbeda dengan
kemarin. Rasa-rasanya hari ini memang terlalu pendek.”
Wijanglah yang menyahut, “Kita simpan tenaga kita untuk
esok. Esok kita akan bekerja lagi sepanjang hari. Jika lusa kami
pergi meninggalkan padukuhan ini, maka kalian masih akan
melanjutkan kerja ini. Bukan sekedar membuat talang air empat
atau lima lanjur, tetapi arah pandangan ke depan kalian adalah
sebuah parit yang cukup besar. Parit kalian yang rusak itu akan
dapat menampung air dan membawanya ke tengah-tengah bulak
setelah kalian perbaiki.”
Anak-anak muda yang bekerja membuat talang air itupun
kemudian menghentikan kerja mereka. Merekapun kemudian
membersihkan tangan dan kaki mereka dengan air yang bening
dan segar.
“Besok kita datang pagi-pagi seperti hari ini,” berkata Paksi.
“Kami akan datang lebih pagi,” berkata seorang anak muda.
Yang lain pun menyambung, “Kita harus menyelesaikan talang
air yang satu itu sebelum kalian pergi.”
“Bagus,” sahut Ki Bekel. “Besok kalian harus datang lebih pagi
dari kami.”
Demikianlah sejenak kemudian, Ki Bekel serta anak-anak
muda yang bekerja di gumuk kecil itupun telah meninggalkan
kerja mereka untuk dilanjutkan di keesokan harinya.
Berbeda dengan hari sebelumnya, hari itu mereka tidak
merasa lelah sama sekali. Bahkan mereka merasa bahwa kerja
mereka terlalu pendek.
Tetapi seperti kemarin, Wijang berpesan agar anak-anak muda
itu menggosok kaki dan tangannya dengan beras kencur.
“Tubuh kalian akan terasa hangat. Darah kalian akan
mengalir dengan lancar sehingga perasaan letih akan hilang,
setidak-tidaknya berkurang.”
Wijang dan Paksi sendiri, demikian mereka sampai di rumah
Ki Bekel, merekapun langsung pergi ke pakiwan. Bergantian
mereka mandi dan menimba air mengisi jambangan.
Setelah berbenah diri, maka merekapun pergi ke serambi
samping. Mereka tahu, Ki Bekel sedang duduk-duduk di serambi
samping sambil minum minuman hangat.
“Kalian sudah mandi?” bertanya Ki Bekel.
“Sudah, Ki Bekel,” jawab Wijang setelah duduk pula di
serambi.
“Keringatku belum kering. Karena itu aku belum mandi.”
Paksilah yang menjawab, “Ki Bekel minum wedang jahe yang
masih panas. Keringat Ki Bekel tidak akan segera kering. Justru
akan menjadi semakin banyak.”
Ki Bekel tertawa. Katanya, “Masih ada sisa-sisa kemalasan.
Minumlah, anak-anak muda. Biarlah Nyi Bekel menyediakan.”
“Sudah, Ki Bekel. Di serambi gandok sudah disediakan
minuman kami.”
“Benar?”
“Ya, Ki Bekel.”
“Nah, duduklah. Biarlah kalian minum bersamaku di sini.”
“Terima kasih, Ki Bekel. Kami justru akan mohon diri untuk
pergi ke rumah Ki Demang. Bukankah hari ini kami diminta
untuk datang? Ki Demang akan memberikan kenang-kenangan.
Sebenarnya kami masih belum dapat menerima kenangkenangan
itu sekarang, karena kami masih akan melanjutkan
pengembaraan. Kenang-kenangan itu apa pun ujudnya, akan
menjadi beban bagi kami. Tetapi adalah tidak sepantasnya kami
menolak uluran tangan itu.”
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia berkata
kepada Wijang dan Paksi, bahwa pemberian kenang-kenangan itu
hanya satu cara untuk mempercepat kepergian kedua orang
pengembara itu. Tetapi Ki Bekel sempat menahan diri.
“Baiklah,” berkata Ki Bekel. “Sampaikan kepada Ki Demang,
Bahwa aku minta maaf karena aku tidak dapat mendampingi
kalian. Aku masih ingin bermalas-malasan duduk sambil minum
minuman hangat.”
“Asal tidak sampai esok pagi,” desis Paksi.
Ki Bekel tertawa. Wijang dan Paksipun tertawa pula.
Ketika langit menjadi buram, Wijang dan Paksi telah
meninggalkan rumah Ki Bekel. Mereka berjalan menyusuri jalan
padukuhan. Kemudian melalui bulak pendek, mereka mencapai
padukuhan induk.
Ternyata Ki Demang sudah menunggu. Bahkan Ki Demang
sempat merasa gelisah. Jika kedua pengembara itu tidak datang
ke rumahnya, mungkin sekali mereka akan menunda
kepergiannya dari padukuhan yang kering dan gersang itu.
Namun demikian seorang pembantunya memberitahukan
bahwa ada dua orang anak muda yang mencari Ki Demang, maka
Ki Demangpun segera mengetahuinya, bahwa keduanya adalah
pengembara yang harus diusirnya.
Ketika Wijang dan Paksi dipersilahkan duduk di pringgitan,
maka pembantu di rumah Ki Demang itu sedang sibuk
menyalakan lampu minyak di pringgitan, di pendapa, dan di
setiap ruangan di rumah Ki Demang itu.
Sejenak kemudian, maka Ki Demangpun telah menemui
kedua orang pengembara itu di pringgitan. Dengan ramah Ki
Demang itupun bertanya, “Apakah kalian jadi pergi esok pagi?”
“Kami akan melanjutkan perjalanan lusa, Ki Demang. Besok
kami masih harus menyelesaikan contoh talang yang harus
dibuat oleh anak-anak muda padukuhan yang gersang itu.”
Ki Demang mengerutkan dahinya. Katanya, “Jadi kalian
belum akan pergi esok pagi?”
“Belum, Ki Demang.”
Ki Demang mengerutkan dahinya. Ada sesuatu yang melintas
di kepalanya. Tetapi terbendung ketika akan meluncur lewat
bibirnya.
Wijang dengan latar belakang kehidupannya di istana
menanggapi sikap Ki Demang itu dengan matang. Justru karena
itu, maka iapun bertanya, “Apakah Ki Demang berkeberatan?”
“Tidak. Tidak,” jawab Ki Demang dengan serta-merta.
“Sebaiknya Ki Demang berterus-terang, apakah Ki Demang
menghendaki kami pergi esok?”
Wajah Ki Demang menjadi tegang. Sementara Wijang berkata
selanjutnya, “Mungkin Ki Cakrajaya telah mengusulkan kepada
Ki Demang. Bahkan mungkin dengan agak memaksa.”
“Tidak. Tidak,” suara Ki Demang justru mulai menurun.
“Ki Demang,” berkata Wijang, “besok lusa kami benar-benar
akan meninggalkan padukuhan itu. Aku tidak ingin menjadi
sumber keributan di sini. Tetapi aku mohon Ki Demang jangan
membatalkan rencana pembuatan talang air itu.”
Ki Demang termangu-mangu sejenak. Ketika ia memandang
wajah Wijang sekilas, ia melihat betapa tajam sorot mata
pengembara itu. Bahkan dari mata itu seakan-akan telah
memancar sinar bagaikan sinar kilat yang menyambar
jantungnya.
“Orang ini bukan orang kebanyakan,” berkata Ki Demang di
dalam hatinya.
“Ki Demang,” berkata Wijang, “padukuhan itu sudah terlalu
lama menderita. Miskin, kering dan tandus. Karena itu, sudah
waktunya untuk bangkit dari derita yang berkepanjangan.
Mungkin kebangkitan rakyat padukuhan itu tidak menyenangkan
Ki Cakrajaya, karena Ki Cakrajaya merasa berkepentingan
dengan kemiskinan tetangga-tetangganya. Adalah kebetulan
bahwa para bebahu dan rakyat padukuhan itu seakan-akan telah
dijangkiti penyakit aneh. Semuanya orang-orang yang malas.
Tidak seorang pun di antara mereka yang sempat melihat jalan
keluar dari kemiskinan itu.”
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera
dapat menyahut. Bahkan Wijang masih saja berkata, “Seandainya
kami tidak mempunyai kepentingan yang lain, maka kami tidak
akan segera pergi, meskipun Ki Demang menghendaki. Aku akan
tinggal lebih lama lagi untuk mengajak orang-orang padukuhan
itu bangun dari tidur yang panjang meskipun selalu dibayangi
oleh mimpi buruk.”
Ki Demang menjadi gelisah. Sekilas ia memandang wajah
Wijang dan Paksi berganti-ganti.
Bahkan hampir di luar sadarnya, Ki Demang itupun bertanya,
“Siapakah kalian berdua sebenarnya?”
“Kami adalah dua orang bersaudara yang mengembara.
Bukankah kami sudah mengatakannya?”
“Aku percaya, bahwa kalian adalah pengembara. Tetapi yang
aku tanyakan, siapakah kedua orang yang mengembara itu?
Alasan pengembaraannya dan apakah tujuannya?”
“Sudahlah, Ki Demang. Tidak ada gunanya Ki Demang
mengetahui siapa kami. Yang penting, kami akan pergi dari
kademangan ini. Tetapi sekali lagi aku minta, jangan hentikan
kerja anak-anak muda itu. Semakin lama mereka menjadi
semakin tertarik dengan kerja mereka. Jumlah mereka pun
menjadi semakin banyak. Mudah-mudahan besok menjadi lebih
banyak lagi.”
Ki Demang termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja
suaranya menjadi parau, “Aku merasa sangat bersalah, anakanak
muda.”
“Kenapa?”
“Aku tidak berbuat apa-apa terhadap padukuhan yang miskin
itu. Bahkan aku telah ikut serta menghimpit padukuhan itu agar
tetap menjadi miskin, meskipun setiap kali muncul juga
keinginanku untuk berbuat sesuatu yang berarti. Sebagai
seorang demang aku bermimpi agar padukuhan itu menjadi hijau
subur. Bahkan kadang-kadang terbersit pula niatku untuk
melakukan sesuatu. Tetapi setiap kali rencanaku terbentur oleh
kerakusanku sendiri. Setiap kali Ki Cakrajaya datang dengan
membawa sesuatu bagiku. Kemudian memperbaiki rumahku.
Membuat rumahku ini menjadi sebagus sekarang ini. Ki
Cakrajaya pula yang membawa seseorang untuk mewarnai ukiran
pada gebyok, tiang dan uleng di pendapa pringgitan itu. Bahkan
lama-lama aku menerima pemberian uangnya. Dengan demikian
aku telah terbelenggu.” Ki Demang itu berhenti sejenak.
Wajahnya nampak murung. Dengan suaranya yang parau iapun
berkata selanjutnya, “Namun semakin lama hal ini menjadi beban
perasaan yang semakin berat. Bahkan kemudian telah
menghimpitku. Aku tidak dapat mengatakannya kepada
rakyatku, terutama dari padukuhan miskin itu.”
Wijang dan Paksi saling berpandangan sejenak. Dengan nada
dalam Wijangpun berkata, “Ki Demang, masih ada waktu untuk
membetulkan kesalahan itu.”
Ki Demang tidak segera menjawab. Pandangan matanya
menerawang ke tempat yang jauh, menembus keremangan
malam.
“Apakah aku masih akan dapat memperbaiki kesalahanku?”
“Kenapa? Jika Ki Demang membantu kerja anak-anak muda
itu, maka Ki Demang sudah memperbaiki sebagian besar dari
kesalahan yang pernah Ki Demang lakukan.”
“Tetapi Ki Cakrajaya telah mengancamku. Ia akan membuka
rahasia itu.”
“Sebaiknya Ki Demang mengakuinya. Bahkan sebaiknya Ki
Demang mengatakan lebih dahulu kepada rakyat di daerah yang
miskin dan malas itu, bahwa Ki Demang memang telah
mengumpulkan uang dari mereka.”
Ki Demang termangu-mangu sejenak. Sementara Wijangpun
berkata selanjutnya, “Ki Demang dapat berterus terang, bahwa Ki
Demang telah mendapat uang dan pemberian berbagai macam
barang dari Ki Cakrajaya yang asalnya justru dari kemiskinan di
padukuhan itu. Sekarang Ki Demang datang untuk
mengembalikannya kepada padukuhan yang miskin itu lewat
pembuatan parit untuk mengalirkan air dari gumuk kecil itu.”
“Ki Demang,” berkata Wijang kemudian, “biarlah besok lusa
aku pergi. Bukankah itu tuntutan sementara Ki Cakrajaya?
Sementara itu, biarlah Ki Bekel dan anak-anak mudanya
menyelesaikan talang air itu. Jika mereka sudah melihat bukti,
bahwa air dapat mengaliri sawah yang kering milik Mbah Rejeb,
maka mata rakyat padukuhan itu akan terbuka. Apalagi jika Ki
Demang sendiri turun ke padukuhan itu. Untuk itu Ki Demang
tidak perlu tergesa-gesa. Ki Demang perlu membuat perhitungan
yang tepat. Ki Demang dapat berbicara dengan Ki Bekel. Aku
yakin bahwa Ki Bekel itu dapat diajak berbicara. Satu-satunya
kelemahan Ki Bekel adalah kemalasannya itu.”
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. Yang
sekarang diinginkan oleh Ki Cakrajaya adalah kepergian kalian
berdua.”
“Ki Cakrajaya mengira, jika kami berdua pergi, maka kerja di
gumuk kecil itu akan berhenti dengan sendirinya. Tetapi setelah
Ki Bekel ikut campur, maka keadaannya akan berbeda.”
Ki Demang mengangguk-angguk. Anak-anak muda
pengembara itu telah memberikan jalan baginya. Meskipun tidak
tepat benar, namun pendapat anak-anak itu dapat dipergunakan
untuk mempertimbangkan langkah-langkah yang akan
diambilnya.
Yang penting bagi Ki Demang, ia ingin terlepas dari belitan
suap yang pernah diberikan oleh Ki Cakrajaya.
Dengan nada berat Ki Demangpun kemudian berkata, “Aku
mengucapkan terima kasih, anak muda. Mudah-mudahan aku
menemukan jalan terbaik bersama Ki Bekel. Tetapi aku sudah
bertekad untuk membebaskan diri dari jeratan Ki Cakrajaya apa
pun akibatnya. Mungkin aku akan dipermalukan di depan orang
banyak. Bahkan mungkin akan berakibat buruk bagi jabatanku.
Tetapi aku sudah memutuskan.”
“Seandainya demikian, Ki Demang, bantuan Ki Demang bagi
saluran air itu akan mengembalikan nama baik Ki Demang.
Meskipun seandainya, jabatan Ki Demang sudah terlanjur
terlepas, namun nama Ki Demang tidak lagi tercemar.”
“Aku mengerti, anak muda. Tetapi tolong, jangan buka rahasia
ini. Biarlah pada saatnya aku sendiri yang mengatakannya
kepada rakyatku. Mudah-mudahan sepeninggal kalian berdua,
aku masih mempunyai waktu, karena tuntutan sementara Ki
Cakrajaya sudah terpenuhi.”
“Tentu, Ki Demang. Kami tidak akan mengatakannya kepada
siapapun. Juga tidak kepada Ki Bekel. Biarlah pada saat yang
tepat, Ki Demang sendiri yang menyampaikannya.”
“Terima kasih, anak muda. Kedatanganmu memberikan terang
di kademangan ini, khususnya di padukuhan miskin itu. “Ki
Demang itu berhenti sejenak, namun kemudian ia bertanya pula,
“Jika kalian tidak berkeberatan, apakah aku boleh tahu,
siapakah kalian berdua?”
“Itu tidak penting, Ki Demang. Barangkali ada sedikit dari niat
kami melakukan pengembaraan ini yang Ki Demang boleh
mengetahuinya. Kami melacak segerombolan orang yang lari dari
padepokannya. Kami mempunyai kepentingan dengan mereka.
Aku dengar, bahwa seorang perampok di sebuah padukuhan
mirip dengan ciri-ciri orang yang sedang kami lacak.”
“O. Kalian prajurit Pajang?”
Wijang menggeleng. Katanya, “Bukan, Ki Demang. Kami
mempunyai kepentingan khusus. Tetapi yang kami lakukan ini
sepengetahuan para pejabat di Pajang. Jika perlu, kami memang
dapat memanggil sepasukan prajurit untuk membantu tugas
kami.”
Ki Demang mengangguk-angguk. Nampaknya ada sesuatu
yang tergerak di hatinya. Tetapi Ki Demang itu nampak ragu-ragu
untuk mengatakannya.
Wijang yang panggraitanya cukup tajam itupun berkata, “Ki
Demang, jika ada sesuatu yang ingin Ki Demang katakan,
katakanlah. Tidak apa-apa.”
Ternyata wibawa Wijang telah mencengkam jantung Ki
Demang. Tiba-tiba saja Ki Demang merasa bahwa ia harus
menghormati kedua orang pengembara itu. Bahkan Ki Demang
itu merasa seolah-olah ia berhadapan dengan pemimpinnya.
“Anak muda,” berkata Ki Demang kemudian, “jika aku
mengalami kesulitan, apakah kalian dapat membantu?
Maksudku, jika terjadi kekerasan yang dilakukan oleh Ki
Cakrajaya. Ia mempunyai beberapa orang upahan yang akan
dapat menakut-nakuti orang sekademangan.”
“Tentu, Ki Demang. Tetapi jika aku tidak berada di
kademangan ini, tentu aku tidak mengetahui kapan Ki Demang
itu mengalami kesulitan. Namun aku akan berusaha pada
kesempatan lain datang lagi ke kademangan ini.”
Ki Demang itupun mengangguk-angguk.
Sementara itu Wijangpun berkata selanjutnya, “Untuk
mengatasi orang-orang upahan Ki Cakrajaya, Ki Demang dapat
berbicara dengan para bebahu. Jika tiba saatnya Ki Demang
berterus-terang, hadapi mereka dengan Ki Bekel di padukuhan
yang terpencil itu.”
“Ya, anak muda. Aku akan melakukannya di saat yang tepat,”
berkata Ki Demang sambil menundukkan wajahnya. Agaknya
penyesalan yang dalam telah menekan perasaannya.
Beberapa saat mereka saling berdiam diri. Wijanglah yang
kemudian berkata, “Ki Demang, kami datang memenuhi
kesanggupan kami untuk datang hari ini. Kami juga ingin
memberitahukan bahwa kami akan meninggalkan kademangan
ini besok lusa. Agaknya kami tidak sempat datang lagi untuk
minta diri kepada Ki Demang. Karena itu, maka kedatangan kami
sekarang sekaligus untuk minta diri.”
Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Aku berjanji
untuk sekedar memberikan kenang-kenangan kepada kalian
berdua. Sebenarnyalah jika hal itu aku katakan kemarin, karena
aku ingin kalian segera pergi dari kademangan ini. Ki Cakrajaya
mendesaknya dan mengancam akan membuka rahasiaku jika
aku tidak melakukannya.”
“Keinginan Ki Cakrajaya itu akan terpenuhi. Aku hanya
menunda sehari saja. Ia tidak akan berkeberatan.”
“Kenang-kenangan ini juga disediakan oleh Ki Cakrajaya.
Tetapi sebenarnya aku merasa segan untuk mengatakannya
setelah aku mengenal kalian lebih banyak.”
“Apakah ujud kenang-kenangan itu, Ki Demang?”
“Uang. Dan tidak seberapa. Ki Cakrajaya selalu menilai segala
sesuatunya dengan uang. Ia telah meninggalkan beberapa keping
uang yang menurutnya sangat kalian perlukan di perjalanan.”
Wijang tersenyum. Katanya, “Aku mengucapkan terima kasih,
Ki Demang. Tetapi biarlah aku titipkan uang itu kepada Ki
Demang. Barangkali uang itu akan dapat membantu kerja anakanak
muda di padukuhan yang miskin itu. Mungkin untuk
membeli beras atau sayuran dan lauknya. Mungkin hanya cukup
untuk satu hari. Tetapi yang satu hari itu akan sangat berarti
untuk menebalkan tekad kerja mereka. Meskipun selama ini Ki
Bekel menyatakan kesanggupannya untuk menyediakan makan
bagi mereka yang bekerja. Tetapi jika yang bekerja menjadi
semakin banyak serta untuk waktu yang panjang, maka Ki Bekel
akan mengalami kesulitan. Apalagi nampaknya Ki Bekel sendiri
bukan seorang yang berkecukupan.”
“Baik, anak muda. Sekali lagi aku berterima kasih. Aku yakin
bahwa di dalam pengembaraan kalian, kalian tidak akan
kekurangan bekal. Bukan saja uang yang disediakan oleh Ki
Cakrajaya itu saja. Aku pun akan dapat membantu Ki Bekel.
Mungkin aku mempunyai beras lebih banyak dari Ki Bekel. Aku
pun mempunyai uang lebih banyak. Di antaranya adalah uang
pemberian Ki Cakrajaya itu.”
“Dengan demikian kami menjadi semakin berpengharapan,
bahwa air itu pada saatnya akan mengalir. Padukuhan itu akan
menjadi lebih hijau dan sebagian besar dari sawah yang ada di
padukuhan itu akan dapat ditanami di sepanjang musim.
Sedikitnya panen dua kali setahun dan satu selingan palawija.
Sementara itu, mereka yang sawahnya tidak sempat dialiri
karena keadaan alam yang belum teratasi, setidak-tidaknya akan
dapat bekerja dan membantu tetangganya yang karena nasibnya
yang lebih baik, sawahnya menjadi basah. Di musim panen
mereka dapat ikut menuai padi dengan bawon yang pantas untuk
menyambung hidup mereka dari musim paceklik ke musim yang
lebih baik.”
Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan
bukan sekedar harapan, anak muda.”
“Baiklah,” berkata Wijang kemudian, “aku dan adikku minta
diri. Besok lusa kami akan meninggalkan padukuhan kering itu.
Namun aku minta ijin untuk bertemu dengan Ki Bekel dari
padukuhan yang telah mengalami perampokan itu.”
“Apakah Ki Bekel itu harus aku panggil sekarang?”
“Bukankah ia tinggal di padukuhan lain?”
“Tidak apa-apa. Jika perlu, aku akan memanggilnya. Biarlah
pembantuku pergi ke rumah Ki Bekel.”
“Terima kasih, Ki Demang. Biarlah besok lusa, dalam
perjalananku meninggalkan kademangan ini, aku akan singgah.
Jika Ki Demang memanggil Ki Bekel untuk kepentingan kami
para pengembara, mungkin Ki Bekel akan merasa tersinggung
meskipun yang memanggil Ki Demang. Bahkan mungkin dapat
menimbulkan pertanyaan yang tidak Ki Demang inginkan
sehubungan dengan rencana Ki Demang untuk membuka diri
pada waktu yang Ki Demang anggap tepat.”
Ki Demang mengangguk pula. Katanya, “Baiklah, anak muda.
Silahkan besok menemui Ki Bekel. Tetapi karena Ki Bekel
agaknya tidak tahu siapakah sebenarnya kalian, ia akan
menganggap bahwa kalian adalah pengembara sebagaimana
kebanyakan pengembara. Mungkin sikapnya akan mengecewakan
kalian.”
“Bukankah kami juga pengembara sebagaimana pengembara
yang lain? Mungkin pertanyaan kami tentang sekelompok orang
yang merampok di padukuhan Ki Bekel itu akan dapat membuka
pengenalan Ki Bekel terhadap kami, sehingga kami adalah dua
orang pengembara yang mempunyai kepentingan yang khusus.”
“Ya, anak muda. Mudah-mudahan usaha kalian dapat
berhasil. Meskipun aku tidak tahu pasti, persoalan apa yang
sebenarnya telah terjadi, tetapi aku justru yakin, bahwa kalian
adalah bagian dari pimpinan pemerintahan di Pajang.”
Wijang tersenyum. Sementara Ki Demangpun berkata
selanjutnya, “Jika kalian adalah dua orang kakak beradik yang
mengembara sebagaimana para pengembara yang lain, kalian
tidak akan tertarik kepada kemiskinan di padukuhan kering itu.
Kalian tidak akan menurunkan gagasan yang sangat berani bagi
padukuhan itu.”
Wijang tersenyum. Katanya, “Sudahlah. Kita akan saling
berdoa, semoga yang kita lakukan itu akan mendapat bimbingan
dari Yang Maha Agung.”
“Ya, anak muda. Kita akan saling berdoa.”
Demikianlah, beberapa saat kemudian, Wijang dan Paksipun
minta diri untuk kembali ke rumah Ki Bekel sekaligus minta diri
bahwa esok lusa mereka akan melanjutkan pengembaraan
mereka.
Ketika mereka sampai di rumah Ki Bekel di padukuhan yang
miskin itu, Ki Bekel sudah berada di biliknya. Ki Bekel memang
ingin segera tidur agar besok dapat bangun pagi-pagi.
Wijang dan Paksi tidak berusaha menemuinya. Ketika mereka
melihat di ruang dalam lampu sudah menjadi redup, maka
merekapun langsung pergi ke bilik mereka di gandok.
“Apakah Ki Bekel tidur tanpa mandi lebih dahulu?” desis
Paksi.
“Ah, tentu tidak. Bukankah kita agak lama berbincang di
rumah Ki Demang,” sahut Wijang.
Ketika keduanya membuka pintu bilik mereka di gandok,
mereka tertegun. Mereka melihat di dalam bilik mereka telah
tersedia makan malam mereka. Agaknya Ki Bekel sudah terlalu
lama menunggui, sehingga akhirnya Ki Bekel itu makan lebih
dahulu sebelum pergi ke bilik tidurnya.
“Kita memang belum makan malam,” desis Wijang.
Paksi mengangguk-angguk. Iapun kemudian duduk di amben
panjang sambil meraih mangkuk untuk menyendok nasi
sebagaimana Wijang.
“Kita cuci mangkuknya di sumur saja sambil mencuci kaki
dan tangan,” berkata Paksi.
“Yang lain? Mangkuk yang masih berisi sayur serta ceting
nasinya yang masih tersisa?”
“Biarlah di situ saja.”
Keduanyapun kemudian pergi ke sumur untuk mencuci
mangkuk, sekaligus mencuci kaki dan tangan mereka.
Seperti biasanya keduanya bangun pagi-pagi sekali. Tetapi
hari itu, Ki Bekelpun bangun lebih pagi. Meskipun demikian
ketika Ki Bekel pergi ke pakiwan, Paksi yang sedang menimba air
itu ternyata sudah mandi lebih dahulu.
“Jadi hari ini aku masih kalah lagi,” berkata Ki Bekel.
Paksi tertawa. Katanya, “Ki Bekel harus berpacu lebih cepat
untuk dapat mengalahkan kami.”
“Dengan demikian, maka aku sudah tidak mempunyai
kesempatan lagi untuk memenangkannya. Aku tidak yakin bahwa
besok pagi, aku dapat bangun lebih pagi. Kecuali jika kalian
sengaja bangun lebih siang dan tidak segera berangkat.”
Paksi masih saja tertawa. Katanya, “Apakah kami harus
memberi satu kesempatan pada hari kami yang terakhir?”
Ki Bekelpun tertawa pula.
Setelah selesai berbenah diri serta makan pagi, maka
ketiganyapun telah berangkat ke gumuk kecil. Kepada Nyi Bekel,
Ki Bekelpun berpesan, “Jika ada orang mencari aku, biarlah Ki
Kamituwa menyelesaikan masalahnya, kecuali masalah pribadi.
Hanya jika persoalannya tidak terpecahkan, biarlah Ki Kamituwa
menyusul aku ke gumuk kecil.”
“Baik, Ki Bekel,” jawab Nyi Bekel.
Ternyata ketiganya sampai ke gumuk kecil lebih pagi sedikit
dari sehari sebelumnya. Mereka datang hampir bersamaan
dengan kedatangan Trima dan dua orang anak muda yang lain.
Baru kemudian yang lain menyusul.
Sebagaimana harapan Wijang dan Paksi, ternyata yang datang
menjadi lebih banyak lagi. Dua orang anak muda yang
sebelumnya tidak nampak, pagi itu datang bersama kawankawannya
ke gumuk kecil itu.
“Selamat datang,” berkata Ki Bekel. “Di sini kita sedang
membangunkan sebuah harapan. Berhasil atau tidak, itu
persoalan nanti. Yang penting kita sudah berbuat sesuatu dengan
pertimbangan dan perhitungan yang mapan. Bukan asal saja
melakukan sesuatu yang mungkin sia-sia. Jika yang kita
kerjakan ini juga sia-sia dan harapan kita terlepas, apaboleh
buat. Itu berarti bahwa otak kita masih belum cukup tajam
untuk merencanakan kerja yang dapat menjanjikan hari depan
yang lebih baik. Meskipun demikian, kita sudah mendapatkan
satu pengalaman yang akan dapat kita kembangkan di kemudian
hari.”
Kedua orang anak muda yang baru datang itu mengangguk.
Seorang di antaranya berkata, “Aku mohon maaf, Ki Bekel.
Bahwa aku telah terlambat mengambil bagian dalam kerja ini.
Meskipun mungkin tenaga dan kemampuan kami tidak berarti
apa-apa, tetapi kesediaan kami untuk ikut, merupakan
kepedulian kami terhadap kampung halaman kita.”
“Tidak ada yang terlambat. Yang datang kemudian pun tidak
terlambat. Kerja masih panjang. Mungkin masih satu dua musim
lagi sebelum kita benar-benar menikmati hasilnya. Tetapi jika
kerja tidak dimulai, maka yang dua musim itupun tidak akan
pernah datang sampai anak cucu kita sekalipun.”
“Ya, Ki Bekel. Kami mengerti.”
“Nah, sekarang setelah beristirahat sebentar, maka kita akan
mulai dengan kerja kita hari ini.”
Anak-anak muda itupun segera bangkit. Seperti hari-hari
sebelumnya, merekapun segera mulai dengan kerja mereka. Yang
akan mereka lakukan pada hari itu adalah menyelesaikan satu
jalur talang air lebih dahulu.
Seperti di hari sebelumnya, maka rasa-rasanya kerja itu
menjadi semakin menarik. Tidak lagi terasa ada ketegangan dan
keterpaksaan. Bahkan ada di antara anak-anak muda itu yang
bekerja sambil berdendang. Suaranya memanjat naik gumukgumuk
kecil di kaki gunung itu.
Ketika panas matahari terasa mengusik kulit mereka, maka
merekapun mulai bermain-main dengan air yang menyusup
keluar dari celah-celah batu padas yang lumutan dan licin.
Betapa segarnya.
Ketika matahari naik sepenggalah, maka Wijang dan Paksipun
segera mengajak kawan-kawannya untuk memasang talang
bambu yang sudah mereka persiapkan untuk satu jalur lebih
dahulu.
Demikianlah, maka anak-anak muda itupun telah mengusung
bambu-bambu yang sekat ruasnya sudah dihilangkan, diletakkan
membujur panjang dari gumuk itu sampai ke bulak padukuhan
mereka. Di ujung bulak, pada jarak yang terdekat, terdapat
sekotak sawah Mbah Rejeb yang kering. Tanahnya nampak
pecah-pecah karena kepanasan oleh terik matahari di musim
panas.
Ternyata kerja itu benar-benar kerja yang berat. Keringat
anak-anak muda itu telah membasahi pakaian mereka. Beberapa
orang di antara mereka bahkan telah membuka baju mereka.
Untuk melindungi panas matahari, mereka mengenakan caping
bambu yang lebar.
Demikian bambu itu sudah ditempatkan di sepanjang jarak
yang diperlukan, maka merekapun bersama-sama telah
menyambung bambu-bambu itu. Sementara yang lain telah
memasang tiang-tiang bambu pendek untuk mengatur ketinggian
talang itu.
Kerja yang berat itu justru menjadi sangat menarik. Tidak
seorang pun di antara mereka yang mengeluh.
Kerja itu dihentikan pada saat matahari tepat mencapai
puncaknya. Dengan lantang Wijangpun berkata, “Beristirahatlah.
Matahari berada tepat di puncak langit. Nanti, kita akan
melanjutkannya lagi.”
Sementara itu, dua orang perempuan telah datang sambil
membawa gendi berisi wedang sere yang sudah dingin, bakul
berisi nasi serta sayur dan sekedar lauknya, bothok mlandingan
yang bahannya dapat dicari di kebun sendiri, dan kelapa dan
buah mlandingan.
Seperti sebelumnya, maka Ki Bekelpun ikut makan pula
bersama anak-anak muda itu. Sebagaimana anak-anak muda itu
pula, maka Ki Bekelpun makan dengan lahapnya. Oleh kerja yang
berat, terik matahari yang menyengat serta memang sudah
waktunya, maka perut mereka memang terasa lapar. Apalagi
mereka yang tidak sempat makan pagi di rumah. Mungkin karena
waktu yang terlalu pagi sehingga orang tuanya belum sempat
menanak nasi, apalagi membuat sayur, tetapi ada pula yang
memang tidak tersedia bahan untuk menyiapkan makan pagi.
Setelah makan siang, maka merekapun mendapat kesempatan
untuk beristirahat sejenak. Ada di antara mereka yang dudukduduk
di atas batu di pinggir kolam yang mereka buat untuk
menampung air. Ada yang duduk bersandar pepohonan sambil
terkantuk-kantuk oleh silirnya angin. Bahkan ada di antara
mereka yang benar-benar tertidur nyenyak di bawah sebatang
pohon yang rindang. Demikian saja mereka berbaring di atas
rerumputan.
Ki Bekel, Wijang dan Paksi duduk di atas setumpuk bambu
yang masih sedang digarap untuk dihilangkan sekat ruasnya.
Sedangkan Ki Bekel sempat juga berbaring di bawah bayangan
dedaunan yang lebat. Bajunya dibukanya di bagian dadanya
sambil dikipasi dengan caping bambunya.
Seperti hari sebelumnya, mereka beristirahat beberapa lama.
Wijang dan Paksi dengan sengaja tidak mendekati Ki Bekel agar
mereka tidak mempunyai kesempatan untuk berbicara tentang
sikap Ki Demang yang masih harus menyembunyikan cacatnya
sampai waktu yang dianggapnya tepat.
Ketika matahari sudah sedikit melewati puncak, maka Wijang
dan Paksipun telah bangkit berdiri. Didekatinya Ki Bekel yang
masih berbaring sambil mengipasi dadanya dengan caping
bambunya.
“Kita mulai lagi, Ki Bekel.”
Ki Bekel tidak ingin bermalas-malasan lagi. Iapun segera
bangkit sambil berkata, “Baik. Baik. Kita akan mulai lagi.”
Demikianlah, maka derap kerja yang semakin menarik bagi
anak-anak muda itu telah dimulai lagi. Wijang dan Paksi bersama
beberapa orang telah menyambung bambu yang satu dengan
bambu berikutnya.
Kerja itu memang membutuhkan ketelatenan. Sementara itu,
matahari bergerak terus di putaran langit yang cerah. Tidak
selembar awan pun yang nampak bergerak di udara. Di sebelah
utara nampak segumpal kecil awan berlabuh di cakrawala.
Keringat telah membasahi seluruh tubuh anak-anak muda
yang bekerja di bawah teriknya matahari. Yang tidak berbaju,
kulitnya menjadi semakin kelam, berkilat-kilat seakan-akan
berminyak.
Wijang, Paksi dan beberapa anak muda masih sibuk
menyambung bambu yang satu dengan yang lainnya dengan hatihati
agar air tidak terlalu banyak terbuang.
Adalah wajar jika talang air itu di beberapa tempat merembes
dan bahkan menitik. Tetapi jangan terlalu banyak, sehingga air
yang mengalir di talang itu tetap sampai di sasaran.
Sementara itu, Wijang dan Paksi masih harus mengatur
ketinggian talang bambu itu agar air dapat mengalir dengan
lancar, tetapi tidak tumpah ruah lewat lubang-lubang pada setiap
ruasnya. Lubang-lubang yang dibuat untuk menghilangkan
sekat-sekat pada ruas bambu itu.
Ternyata kerja itu tidak dapat dipaksakan untuk segera
selesai. Meskipun anak-anak muda yang ada di gumuk kecil itu
semuanya ikut menanganinya. Ketinggian talang itu harus benarbenar
diperhitungkan, sehingga tiang-tiang bambu yang pendek
itupun harus diukur satu demi satu.
Sekali-sekali Wijang minta mulut talang dibuka agar dapat
dipastikan air tidak tumpah atau bahkan mengalir ke arah yang
berlawanan.
Namun mulut talang itupun kemudian ditutup kembali.
Meskipun kemudian matahari menjadi semakin rendah,
namun tidak seorang pun di antara anak-anak muda itu yang
berniat menghentikan pekerjaan sebelum selesai. Bahkan
bayangan senjapun mulai membayang. Cahaya matahari menjadi
semakin redup.
Sementara itu, Wijang dan Paksipun telah memasang bambu
terakhir pada ujung talang yang sampai di kotak sawah Mbah
Rejeb yang kering itu.
Sambil meletakkan ujung bambu itu pada patok terakhir,
maka Wijangpun berkata, “Trima, buka mulut talang itu.”
Trimapun segera berlari. Seorang kawannya mengikutinya
untuk membantu meletakkan mulut talang di tempat yang sudah
disiapkan.
Dengan nafas terengah-engah, Trima bersama seorang
kawannyapun segera memasang mulut talang itu. Demikian air
mulai masuk ke dalam talang, maka Trima dan kawannyapun
berlari kembali ke sawah Mbah Rejeb.
Nafas mereka hampir terputus. Mereka harus berlari lebih
cepat dari ujung aliran air di sepanjang talang itu.
Sebelum mereka sampai di kotak sawah Mbah Rejeb, Trima
sudah berteriak, “Air sudah mengalir.”
Wijang, Paksi, Ki Bekel dan anak-anak muda itu menjadi
tegang. Mereka menunggu dengan penuh harapan agar air lewat
talang itu dapat mengalir ke kotak sawah Mbah Rejeb.
Demikian Trima dan kawannya sampai, maka airpun telah
tertumpah dari ujung talang bambu itu. Air yang jernih dari
semacam kolam penampungan air yang dibuat oleh anak-anak
muda itu pula.
Orang-orang yang menyaksikan titik air yang pertama
tertumpah itupun bersorak dengan gembiranya. Beberapa orang
anak muda saling berpelukan. Ki Bekelpun segera menepuk bahu
Wijang dan Paksi sambil berkata, “Kami berhutang budi kepada
kalian berdua.”
“Kita sudah melakukan bersama-sama, Ki Bekel.”
“Tetapi kalianlah yang menurunkan gagasan tentang
penyaluran air itu. Kalian berdualah yang telah memaksa kami
untuk meninggalkan kemalasan kami. Tanpa harapan yang
kalian tiupkan, kami tidak akan mampu bangkit. Bahkan
mungkin sampai anak cucu. Apalagi ketamakan Ki Cakrajaya dan
anaknya Wandawa itu selalu membayangi kami. Ki Demang pun
sama sekali tidak membantu kami dengan cara apapun juga
selain sesekali memberikan peringatan tentang musim kering
yang terasa terlalu panjang di padukuhan kami.”
“Tetapi sekarang Ki Bekel dan anak-anak muda padukuhan
ini sudah bangun.”
“Ya,” berkata Ki Bekel sambil mengangguk-angguk.
Beberapa saat lamanya mereka mengamati air yang mengalir
dari talang bambu itu. Meskipun hanya satu lajur, namun
arusnya cukup deras, sehingga anak-anak muda itu bersamasama
telah mandi di pancuran talang air yang hanya selajur itu.
Namun Wijang dan Paksi telah memperingatkan, bahwa
bambu itu masih baru. Mungkin di dalam aliran air itu masih
terbawa gelugut yang dapat membuat kulit mereka menjadi gatal.
Tetapi oleh kegembiraan yang meluap, anak-anak muda itu
tidak menghiraukannya.
Karena itu, maka Paksipun berkata kepada mereka, “Nanti, di
rumah kalian harus mandi sekali lagi dengan air sumur agar
kalian tidak menjadi gatal-gatal sehingga semalam kalian tidak
dapat tidur. Jika kalian tidak dapat tidur, maka besok kalian
akan terlambat datang.”
“Baik,” jawab salah seorang di antara mereka, “nanti kami
akan mandi lagi di rumah.”
Wijang dan Paksi memandang kegembiraan itu sambil
tersenyum. Wijangpun kemudian berbisik kepada Ki Bekel, “Tiang
penyangga talang itu tidak perlu setinggi orang, Ki Bekel. Tetapi
dapat lebih rendah lagi. Jika kali ini kita pasang agak tinggi, agar
langsung dapat dilihat aliran air yang tumpah lewat talang
bambu itu. Kami pun sudah mengira, bahwa anak-anak itu akan
dengan gembira mandi dari aliran air yang melewati talang itu.”
Ki Bekelpun tersenyum. Katanya, “Biarlah mereka
menumpahkan kegembiraan itu.”
Beberapa saat lamanya Ki Bekel, Wijang dan Paksi menunggu.
Baru setelah anak-anak itu puas saling berdesakan mandi dari
air pancuran yang tertuang lewat talang bambu itu, merekapun
bersiap-siap untuk pulang.
Hari itu mereka terlambat pulang. Langit sudah menjadi
muram. Senja telah turun.
Ki Bekel, Wijang dan Paksi berjalan menyusuri pematang
menuju ke padukuhan. Sementara itu, anak-anak muda yang
masih basah, bukan saja tubuhnya, tetapi sebagian juga
pakaiannya, sudah berlari-lari mendahului pulang. Mereka ingin
segera memberitahukan kepada Mbah Rejeb, bahwa air sudah
mengalir sampai ke kotak sawahnya di ujung bulak yang selama
musim kemarau menjadi kering dan bahkan seakan-akan telah
pecah-pecah sampai ke lapisan di bawahnya.
Mbah Rejeb yang baru duduk-duduk di serambi depan
rumahnya terkejut melihat anak-anak muda yang datang berlarilari
memasuki halaman rumahnya yang tidak terlalu luas.
“Ada apa?” bertanya Mbah Rejeb.
Trimalah yang menjawab, “Air sudah mengalir, Mbah. Air dari
gumuk kecil itu.”
“He?” Mbah Rejeb dengan serta-merta bangkit berdiri.
“Air sudah mengalir, meskipun baru satu talang air yang siap.
Besok kami akan membuat beberapa talang air. Kami akan
membuktikan bahwa air dari gumuk itu dapat mengairi sawah
kita yang hanya basah di musim hujan. Jika hujan terlambat,
maka paceklik akan berkepanjangan. Bahkan kadang-kadang
kita hanya sempat makan dedaunan yang menjadi semakin
menyusut.”
Mbah Rejeb itupun dengan serta-merta berkata, “Marilah. Aku
akan melihatnya.”
Ternyata Trima dan kawan-kawannya tidak berkeberatan
untuk mengantar Mbah Rejeb pergi ke ujung bulak.
Ketika Mbah Rejeb dan anak-anak muda itu keluar dari regol
halaman rumahnya yang sederhana, mereka berpapasan dengan
Ki Bekel, Wijang dan Paksi.
“Kalian akan pergi kemana?” bertanya Ki Bekel.
“Mbah Rejeb ingin melihat air yang sudah mengalir itu.”
Ki Bekel tersenyum. Katanya, “Baiklah. Antar Mbah Rejeb.
Hati-hati, gelap sudah turun.”
“Apakah anak-anak ini tidak membual, Ki Bekel?”
“Tidak, Uwa. Mereka berkata sebenarnya. Air memang sudah
mengalir.”
Mbah Rejeb itupun kemudian di antar oleh anak-anak muda
pergi ke sawahnya. Orang tua itu berjalan dengan cepat di paling
depan. Sementara itu anak-anak mudapun mengikutinya di
belakang.
Ki Bekel, Wijang dan Paksi tersenyum melihat Mbah Rejeb
yang tua itu masih mampu berjalan begitu cepat, sehingga ada di
antara anak-anak muda yang harus berlari-lari kecil.
“Apakah Ki Bekel tidak pergi ke sawah?” bertanya salah
seorang di antara anak-anak muda itu.
Ki Bekel menggeleng. Katanya, “Kalian sajalah yang pergi. Aku
akan beristirahat.”
Meskipun malam sudah turun, tetapi Mbah Rejeb yang sudah
terbiasa menyusuri pematang sawah, masih saja berjalan dengan
cepat. Apalagi kotak-kotak sawah itu tidak ditumbuhi tanaman
apapun. Tanahnya yang kering tidak memungkinkan tanaman
dapat tumbuh dengan baik dan menjanjikan panenan yang
memadai. Sehingga karena itu, maka bulak itupun nampaknya
seperti sebuah padang yang kerontang.
Beberapa saat kemudian, merekapun telah sampai di kotak
sawah Mbah Rejeb yang menjadi berdebar-debar. Ia mendengar
gemericik air seperti air yang mengalir dari sebuah pancuran.
“Air. Itu suara air,” desis Mbah Rejeb.
“Ya, Mbah. Itu suara air.”
Mbah Rejeb yang tua itupun kemudian berlari-lari kecil. Ia
tidak lagi menyusuri pematang. Tetapi Mbah Rejeb itu berlari
melintasi kotak-kotak sawah yang kering.
Ketika ia sampai di sawahnya, tiba-tiba saja terasa kakinya
menginjak tanah yang basah. Di hadapannya, talang air mengalir
seperti sebuah pancuran menumpahkan air tanpa henti.
“Ini baru satu lajur, Mbah. Besok kami akan membuat lima
lajur atau lebih. Meskipun air itu belum mencukupi untuk
mengairi beberapa kota sawah, tetapi kami sudah membuktikan,
bahwa jika kita mau, kita akan dapat mendapatkan air itu di
segala musim. Tidak hanya di musim basah menunggu hujan
turun.”
Mbah Rejeb itu menjadi begitu gembira sehingga seperti anakanak
muda yang melihat air mulai mengalir di talang bambu itu,
maka dengan pakaian yang dipakainya Mbah Rejeb itu
berjongkok di bawah air yang mengalir seperti pancuran itu.
“Alangkah segarnya,” desis Mbah Rejeb. Seteguk air masuk ke
dalam mulutnya dan bahkan tertelan pula.
Anak-anak muda itu membiarkan Mbah Rejeb berjongkok
beberapa saat di bawah pancuran. Sementara itu, ada juga di
antara anak-anak muda itu yang pakaiannya masih juga basah.
“Kalian luar biasa,” berkata Mbah Rejeb setelah berdiri. “Air
ini akan membasahi kotak sawahku ini. Tetapi jika kita berhasil
membuat parit, maka seluruh bulak ini akan basah.”
“Itulah yang kami inginkan, Mbah.”
“Nah. Biarlah orang banyak mengetahui apa yang terjadi ini.
Aku akan menemui tetangga-tetangga kita dan berceritera
tentang air ini.”
“Jangan sekarang, Mbah. Kita buat mereka terkejut. Biarlah
air menggenang lebih dahulu. Sementara itu, kami akan
membuat jalur-jalur berikutnya. Empat atau lima jalur lagi.
Biarlah mereka melihat air agak banyak, sehingga mereka
mempunyai gambaran yang lebih baik tentang perlunya sebuah
parit.”
“Sebenarnya kita sudah mempunyai parit,” berkata anak
muda yang lain. “Kita tinggal mengalirkan air dari gumuk kecil
itu.”
“Parit itu harus diperbaiki lebih dahulu.”
“Ya. Di sana-sini tanggulnya sudah koyak. Bahkan beberapa
puluh langkah di sebelah simpang tiga itu sudah tertimbun
tanah.”
“Jika parit itu sudah diperbaiki, maka kita tinggal membuat
parit dari gumuk kecil itu dan kita tumpahkan ke dalam parit
kita. Air itu sudah akan mengalir ke seluruh bulak ini,” berkata
Trima.
“Kita akan mengerjakannya.”
“Kita, seluruh padukuhan. Laki-laki dan perempuan,” berkata
Mbah Rejeb.
Namun akhirnya Mbah Rejeb itupun menjadi kedinginan.
Tubuhnya bergetar dan giginyapun gemeretak. Bukan karena
marah, tetapi karena pakaiannya yang basah.
Tetapi Mbah Rejeb itu masih tertawa. Katanya, “Nah, marilah
kita pulang. Aku sudah kedinginan.”
Anak-anak muda itupun kemudian mengikuti Mbah Rejeb
yang pulang ke rumahnya. Ketika Mbah Rejeb itu memasuki regol
halaman, Trimapun berkata, “Jangan disebarluaskan dahulu,
Mbah. Kita akan mengejutkan tetangga-tetangga kita.”
“Kau kira kawan-kawanmu dapat menyembunyikan rahasia
ini?”
“Kita berusaha.”
“Jika tidak dapat?”
“Apaboleh buat. Tetapi setidak-tidaknya kita sudah mulai
mengerjakan jalur-jalur yang lain.”
“Nanti malam kawan-kawanmu sudah menceriterakan kepada
ayah dan ibunya. Kepada kakek dan neneknya. Ayah, ibu, kakek
dan nenek itu esok pagi-pagi sudah menceriterakannya kepada
tetangga-tetangganya. Mungkin di simpang-simpang jalan.
Mungkin di pasar, mungkin di mana saja mereka saling bertemu
dengan tetangga-tetangganya itu.”
Trima tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan kita dapat
menahan diri.”
“Baiklah. Aku akan mencobanya juga,” berkata Mbah Rejeb.
Sejenak kemudian, maka anak-anak itupun segera minta diri.
Sementara Mbah Rejeb itupun langsung pergi ke pakiwan sambil
membawa ganti pakaian.
“Kau kenapa, Ki?” bertanya isterinya yang juga sudah tua.
“Tidak apa-apa,” jawab Mbah Rejeb.
“Pakaianmu basah kuyup.”
“Aku tergelincir di sungai. Untung kepalaku tidak membentur
batu.”
Nyi Rejeb itupun menyahut, “Lain kali hati-hatilah, Ki. Orang
yang sudah setua Ki Rejeb sebaiknya jangan pergi ke sungai
setelah gelap.”
“Perutku sakit, Nyi. Aku tidak dapat menunggu sampai esok.”
Nyi Rejeb tidak menyahut lagi. Sementara itu Ki Rejeb telah
hilang di pintu belakang.
Dalam pada itu, selagi anak-anak muda padukuhannya
berbesar hati oleh keberhasilan mereka, Ki Cakrajaya telah pergi
menemui Ki Demang.
“Ternyata kedua orang pengembara itu belum juga pergi, Ki
Demang. Orangku masih melihat keduanya bekerja bersamasama
anak-anak muda di dekat gumuk kecil itu.”
“Aku sudah menemui mereka, Ki Cakrajaya. Aku sudah minta
agar mereka pergi. Mereka hanya boleh tinggal di sini sampai hari
ini.”
“Hari ini mereka harus sudah pergi.”
“Bukan hari ini mereka sudah harus pergi. Menurut
pendengaranku, Ki Cakrajaya menetapkan bahwa mereka berdua
tidak boleh lebih dari hari ini berada di kademangan ini.”
“Tidak. Maksudku, selambat-lambatnya hari ini mereka harus
sudah meninggalkan kademangan ini.”
“Bukankah hanya berselisih satu hari? Besok mereka akan
pergi. Akulah yang menentukan hari kepergian mereka. Aku juga
sudah memberikan apa yang Ki Cakrajaya maksudkan dengan
kenang-kenangan yang berupa uang. Mereka mengucapkan
terima kasih atas pemberian Ki Cakrajaya itu. Merekapun akan
menepati perintahku untuk pergi esok pagi.”
Ki Cakrajaya mengerutkan dahinya. Dengan nada berat iapun
berkata, “Baiklah, Ki Demang. Aku akan menunggu. Jika esok
mereka belum pergi, maka aku tidak akan dapat bersabar lagi.
Aku akan membuka rahasia Ki Demang. Ki Demang akan dapat
kehilangan kedudukan.”
“Tetapi aku tidak merugikan padukuhan-padukuhan lain, Ki
Cakrajaya. Aku hanya merugikan satu padukuhan.”
“Tidak, Ki Demang. Ki Demang juga menyalurkan hasil bumi
dari beberapa padukuhan hanya kepadaku. Ki Demang juga telah
menempatkan aku dalam jajaran tertinggi orang-orang yang
berpengaruh di kademangan ini. Semuanya itu Ki Demang
lakukan, karena aku telah menyuap Ki Demang.”
Ki Demang tidak menjawab. Tetapi ia sudah berjanji di dalam
dirinya, bahwa pada saat yang tepat, ia akan membuka cacat
yang melekat pada dirinya itu, terutama di hadapan para
penghuni padukuhan yang miskin itu. Perasaan bersalah bahwa
ia tidak berbuat sesuatu, bahkan justru menghambat
pembaharuan di padukuhan itu, akhirnya telah menjadi beban
baginya. Hampir setiap hari terjadi gejolak di dalam dirinya.
Kadang-kadang keinginannya untuk berbuat sesuatu itu begitu
kuat. Namun kemudian pupus karena ia tidak akan dapat
melakukannya. Pemberian Ki Demang itu telah membelenggunya,
sehingga pada suatu saat terasa, bahwa ia tidak akan kuat lagi
mengusung beban yang diletakannya sendiri di pundaknya.
“Ki Demang,” berkata Ki Cakrajaya kemudian, “aku minta diri.
Aku akan melihat, apakah esok siang orang-orangku masih dapat
melihat kedua orang itu.”
“Jangan besok siang, Ki Cakrajaya. Besok sore.”
Ki Cakrajaya mengerutkan dahinya. Katanya, “Ya. Besok sore.”
Sepeninggal Ki Cakrajaya, Ki Demang duduk sendiri di
pringgitan. Jantungnya masih saja terasa bergejolak. Ia tidak
dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atas dirinya, jika ia
berterus-terang kepada orang-orang yang tinggal di padukuhan
yang miskin itu, dan yang bahkan dijaga agar tetap miskin untuk
seterusnya. Jika Ki Demang berhasil mempertahankan
kemiskinan itu sampai keturunan berikutnya, maka padukuhan
itu tidak akan pernah dapat bangkit. Sehingga dengan demikian,
keturunan Ki Cakrajaya akan tetap dapat memanfaatkan
kemiskinan itu untuk keinginannya.
Dalam pada itu, betapapun gembiranya anak-anak muda yang
telah berhasil mengalirkan air meskipun baru pada satu lajur
talang bambu itu, namun mereka berusaha untuk tidak
menceriterakannya kepada orang lain. Trima minta agar mereka
tetap diam sampai saatnya beberapa jalur talang bambu itu dapat
menyalurkan air sebagaimana yang satu lajur itu.
Ketika malam menjadi semakin dalam, maka anak-anak muda
itupun segera berbaring di pembaringan. Mereka ingin cepat tidur
agar besok mereka dapat bangun pagi-pagi sekali.
Dalam pada itu, Wijang dan Paksi masih juga bermalam di
rumah Ki Bekel. Malam itu keduanya sudah menyatakan minta
diri. Esok pagi mereka akan meninggalkan padukuhan itu untuk
melanjutkan pengembaraan mereka.
“Kalau saja aku seorang perempuan, maka kepergian kalian
akan aku tangisi,” berkata Ki Bekel.
“Contoh itu sudah siap, Ki Bekel. Anak-anak akan dapat
menyelesaikan. Ketinggian tiang penyangga tidak lagi harus
mengukur satu demi satu. Tinggi talang itu sudah menjadi jelas.
Yang harus mereka buat adalah tinggal menyesuaikan dengan
talang yang sudah ada.”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun iapun berkata,
“Meskipun demikian, dibutuhkan api yang menyalakan minyak
seberapa pun banyaknya.”
“Bukankah, niat itu sudah menyala. Tinggal memeliharanya.
Jangan sampai kehabisan minyak agar api itu tetap dapat
berkobar dari hari ke hari.”
Ki Bekel itu mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun
bertanya, “Apakah kalian akan pergi esok pagi-pagi sekali?”
“Kami masih akan pergi ke gumuk kecil itu, Ki Bekel. Namun
sekedar untuk minta diri. Kami akan langsung meninggalkan
padukuhan bahkan kademangan ini.”
“Sukurlah jika kalian berdua masih sempat minta diri kepada
anak-anak muda yang justru semakin tertarik kepada kerja
mereka di gumuk kecil itu. Bukankah kalian juga sudah minta
diri kepada Ki Demang?”
“Ya, Ki Bekel.”
“Apa katanya?”
“Ki Demang mengucapkan selamat jalan. Kami diberinya
tambahan uang sebagai bekal di perjalanan.”
Ki Bekel mengangguk-angguk sambil berdesis, “Jadi kalian
diberi bekal uang oleh Ki Demang?”
“Ya, Ki Bekel. Dengan pemberian itu Ki Demang memang
menginginkan agar kami segera pergi.”
“Apakah kalian memang membutuhkan uang untuk
menambah bekal kalian?”
“Tidak, Ki Bekel. Kami sudah mempunyai bekal cukup.”
Ki Bekel mengerutkan dahinya. Ada sesuatu bergejolak di
jantungnya. Namun Wijang dan Paksi dapat meraba, apa yang
sedang dipikirkan oleh Ki Bekel itu. Karena itu, maka Wijangpun
berkata, “Ki Bekel, kami sudah mempunyai bekal. Ki Bekel tidak
usah memikirkannya. Bahkan uang yang diberikan oleh Ki
Demang itu pun tidak dapat kami terima.”
Ki Bekel menarik nafas panjang. Katanya, “Maaf, anak-anak
muda. Ada terbersit niat kami untuk memberikan tambahan
bekal itu. Tetapi kami terlalu miskin, sehingga jika kami mencoba
memberikannya juga, tentu jumlahnya sangat sedikit.”
Wijang itupun menyahut sambil tersenyum, “Sudahlah, Ki
Bekel. Sudah aku katakan, bahwa kami sudah membawa bekal
yang cukup. Aku tidak sekedar membual. Jika Ki Bekel berniat
memberikan tambahan bekal itu, tolong, pergunakan untuk
kepentingan air yang sedang Ki Bekel perjuangkan bersama
anak-anak muda padukuhan ini.”
“Kami hanya dapat mengucapkan terima kasih, anak muda.
Kami berharap bahwa pada suatu saat kami dapat bertemu lagi
tidak dalam keadaan seperti ini. Kalian tidak lagi mengenakan
pakaian serta sebutan pengembara. Kami ingin bertemu kalian
yang sebenarnya.”
Wijang tertawa. Paksipun tertawa pula. Dengan nada dalam
Paksipun berkata, “Inilah kami yang sebenarnya, Ki Bekel.”
Tetapi Ki Bekel menjawab dengan tegas, “Tidak. Kalian
bukannya anak-anak muda sebagaimana aku kenal sekarang.
Mungkin nama kalian pun berbeda. Bukan Wijang dan Paksi.
Kenyataan kalian itulah yang pada suatu saat ingin aku ketahui.”
Wijang dan Paksi hanya dapat tertawa.
Sejenak kemudian, ketika di luar sudah terdengar suara-suara
malam di sela-sela desah angin yang lembut, maka Ki Bekelpun
mempersilahkan Wijang dan Paksi untuk beristirahat.
“Aku sudah mengantuk, anak-anak muda. Aku tidak ingin
besok pagi datang kemudian dari anak-anak muda itu.”
“Tetapi apakah kerja Ki Bekel tidak terbengkalai karena Ki
Bekel selalu berada di gumuk kecil itu?”
“Tidak, anak muda. Ada bebahu yang lain yang dapat
mengerjakannya. Aku juga sudah berpesan, jika ada yang tidak
terselesaikan, biarlah aku disusul di gumuk kecil itu.”
Wijang dan Paksipun mengangguk-angguk.
Demikianlah, sejenak kemudian maka Wijang dan Paksipun
telah berada di gandok. Sementara itu, Ki Bekelpun langsung
pergi ke biliknya. Ia ingin cepat tidur agar esok pagi Ki Bekel
tidak terlambat datang di gumuk kecil itu.
Ketika ayam jantan berkokok untuk yang terakhir menjelang
fajar, maka Ki Bekelpun sudah siap untuk berangkat. Namun ia
masih juga belum dapat bangun lebih pagi dari Wijang dan Paksi.
Nyi Bekellah yang menjadi terlalu sibuk di dapur untuk segera
mempersiapkan makan pagi bagi Ki Bekel dan kedua orang anak
muda yang berada di rumahnya itu.
“Ki Bekel akan berangkat ke gumuk pagi-pagi sekali?”
bertanya Nyi Bekel.
“Anak-anak juga akan datang lebih pagi. Biarlah aku datang
mendahului mereka.”
“Tetapi semakin lama semakin dini. Dalam sepekan
mendatang, Ki Bekel akan berangkat tengah malam.”
“Bukan begitu, Nyi. Bukankah semakin pagi udaranya terasa
semakin sejuk? Udara belum begitu panas dan debu pun belum
terlalu banyak bertebaran.”
Nyi Bekel tidak menjawab. Ia masih saja sibuk
mempersiapkan makan pagi bagi Ki Bekel yang nampaknya tidak
begitu sabar menunggu.
Setelah mereka selesai makan pagi dan siap untuk berangkat,
Wijangpun berkata, “Ki Bekel, aku juga ingin mohon diri kepada
Nyi Bekel. Nanti dari gumuk itu kami akan langsung
meninggalkan padukuhan ini. Karena kami tidak akan singgah
lagi di rumah ini, maka kami akan mohon diri sekarang juga.”
Ki Bekelpun kemudian telan memanggil Nyi Bekel yang berada
di belakang.
“Ada apa?” bertanya Nyi Bekel.
“Kedua anak muda itu akan minta diri.”
“Apakah mereka jadi akan meninggalkan padukuhan ini pada
hari ini?”
“Ya. Mereka akan meninggalkan kita dan padukuhan ini.
Tetapi mereka sudah meninggalkan gagasan yang sangat berarti
bagi kita di padukuhan ini.”
Nyi Bekelpun kemudian telah pergi menemui Wijang dan
Paksi. Dengan sikap keibuan Nyi Bekel itupun berpesan, “Hatihati
di perjalanan, Ngger. Banyak batu-batu padas yang runcing
serta duri-duri yang tajam.”
“Ya, Nyi. Kami akan berhati-hati,” jawab Wijang.
“Jangan lupa, mohon tuntunan-Nya di sepanjang jalan.
Meskipun kalian pengembara yang berpengalaman sekalipun,
tanpa tuntunan-Nya, kalian akan dapat tersesat. Bukan hanya
arah perjalanan kalian saja yang dapat tersesat, tetapi juga sikap
dan tingkah laku. Cermatlah menjatuhkan pilihan atas masalahmasalah
yang kalian hadapi.”
“Ya, Nyi.”
“Nah, selamat jalan anak-anak.”
“Doa Nyi Bekel hendaknya menyertai kami.”
“Aku akan berdoa bagi kalian.”
Demikianlah, maka Wijang dan Paksipun meninggalkan
rumah Ki Bekel bersama-sama dengan Ki Bekel sendiri pergi ke
gumuk kecil.
Udara pagi menjelang matahari terbit memang terasa segar.
Burung-burung liar terdengar berkicau di pepohonan. Satu dua
tetes embun masih menitik dari dedaunan yang basah.
Ki Bekel, Wijang dan Paksi berjalan menyusuri jalan setapak,
menuju ke gumuk kecil di kaki Gunung Merapi. Untuk mengatasi
dinginnya udara pagi, merekapun berjalan dengan cepat. Sekalisekali
mereka meloncati lekuk-lekuk batu padas. Aliran air yang
sama sekali tidak terarah serta bebatuan yang tersebar.
Ketika mereka sampai di gumuk kecil, ternyata anak-anak
muda yang mengerjakan talang bambu itu masih belum datang.
Tetapi mereka tidak perlu menunggu terlalu lama. Hanya selang
beberapa saat anak-anak muda itu sudah mulai berdatangan.
Bahkan ada dua orang anak muda yang baru sekali itu ikut
datang ke gumuk kecil di kaki Gunung Merapi itu.
“Kami singgah sebentar di kotak sawah Mbah Rejeb,” berkata
Trima.
“Air sudah mulai tergenang setelah semalam suntuk talang
bambu itu mengalir,” berkata anak muda yang lain.
“Sukurlah,” desis Ki Bekel. “Apakah Mbah Rejeb sudah
mengetahui bahwa air mulai menggenang di kotak sawahnya?”
“Mbah Rejeb ada di sawahnya. Ketika kami datang ke kotak
sawahnya yang dialiri air itu, Mbah Rejeb sudah berada di sana.”
“Mbah Rejeb tentu gembira sekali melihat sawahnya menjadi
basah,” desis Ki Bekel.
“Mbah Rejeb tadi minta maaf kepada kami,” berkata Trima
kemudian.
“Kenapa?” bertanya Ki Bekel.
“Ketika kami minta ijin untuk mengalirkan air ke sawahnya,
Mbah Rejeb menanggapinya dengan acuh tak acuh. Bahkan
Mbah Rejeb menganggap bahwa kami sedang bermimpi,
meskipun Mbah Rejeb tidak berkeberatan.”
Ki Bekel tersenyum. Katanya, “Nanti, bukan hanya Mbah
Rejeb yang menyesali sikapnya. Tetapi seisi padukuhan ini akan
mengakui, bahwa gagasan ini bukan sekedar mimpi. Tetapi
bahwa kita benar-benar telah memperjuangkan sebuah harapan
untuk digapai.”
“Kita akan mulai dengan membuat lajur-lajur berikutnya,”
berkata Trima kemudian.
“Ya,” sahut Ki Bekel. “Tetapi sebelumnya, Wijang dan Paksi
akan minta diri kepada kalian.”
Anak-anak muda itu sudah mengetahui meskipun belum
pasti, bahwa Wijang dan Paksi akan melanjutkan
pengembaraannya. Meskipun demikian, ketika Ki Bekel
mengatakannya, terasa jantung merekapun tergetar.
Trima yang melangkah mendekat berkata, “Kenapa kalian
tidak menunda keberangkatan kalian? Bukankah kita sedang
asyik dengan talang air yang sudah menunjukkan awal dari
keberhasilan itu?”
Wijanglah yang menjawab dengan nada berat, “Sebenarnya
kami ingin menunggui perjuangan kalian merebut masa depan
lebih lama lagi. Tetapi kami tidak dapat berada di satu tempat
terlalu lama. Karena itu, kami minta diri. Ada panggilan lain yang
harus kami jalani sesuai dengan niat kami sejak kami berangkat
mengembara.”
“Bagaimana jika kalian hanya sekedar menunda beberapa hari
saja?”
“Kami sudah terlalu lama berhenti di sini,” jawab Wijang.
Anak-anak muda yang lainpun berusaha untuk menahan agar
Wijang dan Paksi tidak segera meninggalkan padukuhan itu.
Tetapi Wijang dan Paksi sudah mengambil keputusan untuk
melanjutkan pengembaraannya.
Kepergian Wijang dan Paksi memang menimbulkan
kekecewaan di hati anak-anak muda itu. Apalagi mereka yang
baru sehari mulai atau bahkan baru akan mulai. Namun sebelum
meninggalkan mereka, Wijangpun berkata, “Aku yakin, bahkan
kalian akan dapat menyelesaikan pekerjaan ini. Bukan hanya
sampai pada lima atau enam jalur talang air. Tetapi kalian akan
bekerja tanpa jemu sampai mengalirkan sebuah parit yang cukup
besar dari gumuk kecil ini untuk menuangkan air ke parit yang
sudah ada setelah parit itu diperbaiki. Di bawah bimbingan Ki
Bekel, maka masa depan padukuhan ini akan dapat kalian bina
sehingga padukuhan ini tidak akan menjadi padukuhan yang
miskin. Kalian akan menjadi pilar-pilar penyangga dari masa
depan itu.”
Anak-anak muda itu mengangguk-angguk kecil.
“Atas nama seisi padukuhan, aku mengucapkan selamat jalan
bagi kalian, Angger Wijang dan Paksi,” berkata Ki Bekel
kemudian.
“Kami akan berusaha untuk dapat sampai ke padukuhan ini
kembali di kemudian hari.”
Demikianlah, maka Wijang dan Paksipun meninggalkan Ki
Bekel dan anak-anak muda yang sedang bekerja di gumuk kecil
itu. Kekecewaan mereka atas kepergian kedua orang pengembara
itu akan mereka tebus dengan kerja keras sebagaimana
diteladani oleh Wijang dan Paksi.
Ketika Wijang dan Paksi sudah tidak nampak lagi, terlindung
oleh tikungan dan gerumbul-gerumbul perdu serta gundukangundukan
batu padas, maka Ki Bekel telah mengajak anak-anak
muda itu untuk mulai dengan kerja mereka.
“Kita akan menyiapkan bambu untuk membuat jalur-jalur
talang yang baru,” berkata Ki Bekel.
Serentak anak-anak muda itupun mulai bergerak. Mereka
segera menggenggam alat-alat yang mereka perlukan. Mereka
akan menyiapkan bambu yang akan mereka pergunakan untuk
talang air. Mereka akan membuat lubang-lubang pada ruasnya,
kemudian menghilangkan sekat-sekat pada ruas itu.
Dalam pada itu, Wijang dan Paksipun telah mulai lagi dengan
perjalanan mereka. Namun seperti yang mereka katakan, mereka
akan singgah untuk menemui Ki Bekel yang padukuhannya telah
mengalami perampokan yang dilakukan oleh beberapa orang.
Ketika Wijang dan Paksi memasuki padukuhan itu, maka
orang-orang padukuhan itu memandanginya dengan curiga.
Bahkan ketika ia bertanya di manakah rumah Ki Bekel, ternyata
seorang remaja yang berdiri di pinggir jalan itu menggelengkan
kepalanya.
“Aku ingin bertemu dengan Ki Bekel,” berkata Wijang.
Remaja itupun menggeleng lagi.
“Ada berita penting yang harus segera didengar oleh Ki Bekel,”
berkata Wijang. “Jika terlambat, maka seluruh padukuhan ini
akan mengalami kesulitan.”
Remaja itu mengerutkan dahinya.
“Tolong, tunjukkan rumah Ki Bekel. Kami akan menemuinya
dan memberikan laporan kepadanya.”
Remaja itu ternyata terpengaruh juga oleh ceritera Paksi.
Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “Berjalanlah terus.
Kalian akan sampai di sebuah simpang empat. Beberapa langkah
lagi kalian akan melihat sebuah regol yang baru diperbaiki. Di
sebelah regol itu terdapat gentong berisi air minum. Nah, regol
yang diperbaiki itu adalah regol halaman rumah Ki Bekel. Kau
dapat bertanya kepada orang yang sedang memperbaiki regol itu.”
“Terima kasih,” jawab Paksi, “kami akan pergi ke rumah Ki
Bekel.”
Wijang dan Paksipun kemudian melangkah menyusuri jalan
utama padukuhan itu. Seperti yang dikatakan oleh remaja yang
mereda temui, keduanya sampai ke sebuah simpang empat. Tidak
jauh dari simpang empat itu, mereka melihat dua orang sedang
memperbaiki sebuah regol halaman.
“Tentu rumah itu rumah Ki Bekel,” desis Paksi.
“Ya. Regolnya sedang diperbaiki.”
Ketika mereka sampai di regol yang sedang diperbaiki itu,
Wijangpun bertanya kepada kedua orang itu, “Apakah Ki Bekel
ada di rumah?”
Keduanya nampak ragu-ragu. Ada semacam kecurigaan di
sorot mata mereka.
“Apakah keperluan kalian?” bertanya salah seorang dari kedua
orang yang sedang memperbaiki regol itu.
“Ada sedikit persoalan yang ingin kami bicarakan, Ki Sanak.
Mungkin tidak penting bagi Ki Bekel. Tetapi agaknya penting bagi
kami berdua.”
Kedua orang itu masih saja termangu-mangu. Namun dalam
pada itu, seorang yang bertubuh tinggi tegap berkumis tebal,
nampak turun dari tangga pendapa rumahnya.
“Itukah Ki Bekel?” bertanya Wijang dengan serta-merta.
Hampir di luar sadarnya, kedua orang itu menjawab hampir
bersamaan, “Ya.”
“Terima kasih, Ki Sanak,” jawab Wijang yang kemudian
menggamit Paksi.
Keduanyapun kemudian melangkah memasuki halaman
rumah yang cukup luas itu. Bedanya nampak jelas dengan
rumah Ki Bekel di padukuhan miskin itu. Ki Bekel padukuhan ini
agaknya jauh lebih berkecukupan dari Ki Bekel dari padukuhan
miskin itu.
Ki Bekel memang agak terkejut melihat kedua orang yang
masih muda, memasuki halaman rumahnya. Keduanya sama
sekali masih belum dikenalnya.
“Maaf, Ki Bekel,” berkata Wijang, “kami datang untuk
menemui Ki Bekel.”
Ki Bekel memandang mereka berdua dengan tajamnya.
Dengan nada berat Ki Bekel itupun kemudian bertanya,
“Siapakah kalian berdua?”
“Kami adalah dua orang kakak beradik yang sedang
mengembara, Ki Bekel.”
“O. Apakah kalian kehabisan bekal dan datang menemui aku
untuk minta uang?”
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Namun Wijang dan Paksi
sadar, bahwa mereka harus menahan diri. Ki Demang sudah
mengatakan kepada mereka bahwa mungkin sambutan Ki Bekel
akan mengecewakan mereka.
“Kami sudah terbiasa menempuh perjalanan tanpa bekal, Ki
Bekel. Sehingga kami tidak memerlukan bekal apapun di
pengembaraan kami.”
“Jadi, untuk apa kau mencari aku?”
“Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan.”
“Kalian, dua orang pengembara mempunyai persoalan yang
akan kalian bicarakan dengan aku?”
“Ya, Ki Bekel.”
“He, kalian pikir, kalian ini siapa? Kau kira aku tidak
mempunyai pekerjaan sehingga aku harus secara khusus
berbicara dengan pengembara?”
“Mungkin ada manfaatnya, Ki Bekel. Mungkin tidak bagi Ki
Bekel. Tetapi akan bermanfaat bagi aku dan bagi Pajang.”
“Bagi Pajang? Kau sebut-sebut Pajang? Kalian adalah debu
bagi Pajang. Pergilah, aku tidak mau kau ganggu. Ada kerja yang
lebih penting yang harus aku kerjakan.”
“Maaf, Ki Bekel. Kami hanya minta waktu beberapa saat saja.
Selanjutnya kami akan segera pergi.”
“Pergi. Sebelum aku menjadi marah.”
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Paksilah yang kemudian
berkata, “Kami mempunyai satu pertanyaan yang penting, Ki
Bekel. Jika Ki Bekel bersedia menjawab, kami akan sangat
berterima kasih.”
“Aku tidak mempunyai urusan dengan para pengembara.
Kalau aku melayani para pengembara, maka aku tidak akan
sempat berbuat apa-apa.”
Wijang dan Paksi harus tetap menahan diri menanggapi sikap
Ki Bekel itu. Mereka tidak akan dapat memaksakan kehendak
mereka. Jika mereka melakukannya juga, maka akan dapat
timbul keributan di padukuhan itu.
Karena keduanya tidak segera beranjak pergi, maka Ki
Bekelpun kemudian membentak mereka, “Pergi. Cepat pergi. Aku
tidak dapat melayani kalian.”
Namun dalam pada itu, selagi Wijang dan Paksi masih
termangu-mangu, seekor kuda yang berderap di jalan utama itu
berhenti di depan regol. Penunggangnyapun segera meloncat
turun dan menuntun kuda itu memasuki halaman.
Dengan tergopoh-gopoh Ki Bekelpun menyongsongnya sambil
mempersilahkan tamu itu. “Ki Demang. Marilah, Ki Demang.
Silahkan.”
Ki Demangpun kemudian menuntun kudanya melintasi
halaman. Sementara itu, Ki Bekelpun menghampiri Wijang dan
Paksi sambil menggeram tertahan, “Pergi. Yang datang itu adalah
Ki Demang. Bukankah aku sudah mengatakan, bahwa aku sibuk
sekali. Aku tidak dapat melayani kalian, para pengembara.”
Wijang dan Paksi termangu-mangu sejenak. Namun Ki Bekel
itu terkejut ketika Ki Demang mendekati keduanya sambil
berkata, “Jadi kalian sudah sampai di sini?”
“Ya, Ki Demang. Kami sedang berusaha meyakinkan Ki Bekel,
bahwa kami datang tidak untuk minta uang. Kami sudah terbiasa
mengembara tanpa bekal sama sekali.”
Ki Demang tersenyum. Katanya, “Ki Bekel, berikan
kesempatan kepada mereka untuk menemui Ki Bekel.”
Ki Bekel justru menjadi heran. Dengan tidak sadar iapun
bertanya, “Siapakah mereka, Ki Demang? Apakah Ki Demang
sudah mengenal mereka?”
“Keduanya adalah pengembara. Keduanya sudah datang
menemui aku. Kedatanganku justru untuk memberitahukan
kepada Ki Bekel, bahwa dua orang pengembara akan datang
menemui Ki Bekel. Tetapi aku kira mereka akan datang nanti
agak siang atau di sore hari.”
Ki Bekel masih saja termangu-mangu. Rasa-rasanya Ki Bekel
sulit untuk mengerti, bahwa Ki Demang memerlukan datang
kepadanya karena kedua orang pengembara.
“Ada beberapa pertanyaan yang akan diajukan kepada Ki
Bekel.”
Ki Bekel itu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat
mengelak lagi. Karena itu, maka dipersilahkannya Ki Demang
naik ke pendapa. Ia ingin menemui kedua pengembara itu di
serambi gandok.
Namun justru Ki Demanglah yang mengajak keduanya,
“Marilah. Kita berbicara di pringgitan.”
Wijang dan Paksi memang menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika Ki
Demang naik, sekali lagi iapun mengajak keduanya, “Marilah.
Naiklah.”
Ki Bekel tidak dapat berbuat lain. Iapun kemudian mengikuti
Ki Demang naik ke pendapa langsung pergi ke pringgitan.
Sementara itu Wijang dan Paksipun telah ikut pula menuju ke
pringgitan.
Sejenak kemudian, maka mereka berempatpun telah duduk di
atas tikar pandan rangkap yang putih, yang sebenarnya Ki Bekel
sama sekali tidak menyediakannya bagi para pengembara.
Ki Demanglah yang kemudian berkata, “Ki Bekel, seperti yang
aku katakan tadi, sebenarnya aku datang untuk
memberitahukan, bahwa kedua pengembara ini berniat ingin
bertemu dengan Ki Bekel.”
“Demikian pentingkah sehingga Ki Demang memerlukan
datang sendiri ke rumahku?”
“Tidak. Tetapi aku tidak ingin terjadi salah paham.
Padukuhan ini baru saja didatangi oleh segerombolan orang yang
melakukan kejahatan. Di antaranya terdapat orang yang berilmu
tinggi, yang dengan sombongnya dengan sengaja
memamerkannya. Mungkin ia bermaksud menakut-nakuti orang
yang ingin menangkapnya. Aku khawatir bahwa masih saja ada
kecurigaan terhadap orang-orang yang belum dikenal di
padukuhan ini, termasuk kedua orang pengembara ini.”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Dipandanginya kedua orang
pengembara itu sejenak. Kemudian iapun bertanya, “Untuk
apakah sebenarnya mereka menemui aku, Ki Demang?”
“Bertanyalah sendiri kepada mereka,” jawab Ki Demang.
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia tidak
ingin mengorbankan waktunya hanya untuk berbincang dengan
dua orang pengembara. Bagi Ki Bekel, waktunya akan lebih
berarti jika ia menangani beberapa masalah yang masih belum
terselesaikan di padukuhannya.
Tetapi kehadiran Ki Demang telah memaksanya untuk
melayani dua orang pengembara yang masih muda itu.
“Ki Bekel,” Wijanglah yang kemudian berbicara, “kami datang
untuk menanyakan beberapa hal tentang orang-orang yang telah
merampok di padukuhan ini.”
Ki Bekel mengerutkan dahinya. Ia ingin membentak
pengembara itu. Apa wewenangnya menanyakan tentang
perampokan yang telah terjadi di padukuhannya?
Sekilas dipandanginya Ki Demang.
“Jika saja tidak ada Ki Demang,” berkata Ki Bekel itu di dalam
hatinya.
Dalam pada itu, Ki Demangpun berkata, “Ki Bekel, keduanya
telah datang kepadaku. Mereka bertanya tentang para perampok
itu. Tetapi aku tidak dapat menyebutkannya dengan jelas. Karena
itu, aku minta keduanya datang menemui Ki Bekel.”
Ki Bekel menarik nafas panjang. Ia tidak dapat mengelak lagi.
Betapapun ia merasa telah kehilangan waktu sia-sia, namun
iapun akhirnya menjawab juga.
Disebutnya ciri-ciri beberapa orang perampok yang telah
datang ke padukuhannya sesuai dengan keterangan orang yang
telah mengalami perampokan itu.
Wijang dan Paksi mendengarkannya dengan seksama.
Keduanyapun kemudian telah mengambil kesimpulan, bahwa
mereka adalah sekelompok orang yang dipimpin langsung oleh Ki
Gede Lenglengan.
“Terima kasih, Ki Bekel,” berkata Wijang. “Keterangan Ki Bekel
sangat penting artinya bagi kami.”
“Untuk apa kau tanyakan ciri-ciri para perampok itu?”
bertanya Ki Bekel.
“Aku mempunyai kepentingan dengan mereka,” jawab Wijang.
“Apa kepentingan kalian? Bukankah kalian pengembara yang
tidak punya tujuan? Apakah kalian termasuk kelompok mereka
sehingga kalian akan menuntut bagian kalian?” bertanya Ki
Bekel.
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Sementara Paksipun
berkata, “Apakah seorang perampok harus menyatakan dirinya?
Seandainya kami bagian dari mereka, apakah kami akan begitu
mudahnya mengaku di hadapan Ki Bekel? Ki Bekel, pertanyaan
Ki Bekel adalah pertanyaan yang seharusnya tidak usah
diucapkan, karena pertanyaan itu tidak akan mendapatkan
jawabnya.”
Wajah Ki Bekel terasa menjadi panas. Namun Ki Demanglah
yang kemudian menengahi, “Nah, anak-anak muda, kalian sudah
mendapatkan jawabannya.”
“Ya, Ki Demang. Kami sudah mendapat gambaran tentang
mereka. Gambaran tentang mereka serta ciri-ciri mereka itulah
yang sangat kami perlukan.”
“Mudah-mudahan berarti bagi kalian.”
“Kami mengucapkan sekali lagi terima kasih, Ki Demang.
Kami juga mengucapkan sekali lagi terima kasih kepada Ki Bekel.
Mungkin waktu Ki Bekel sangat terbatas karena kesibukan Ki
Bekel. Karena itu, kami akan segera minta diri,” berkata Wijang
kemudian.
Dengan singkat Ki Bekel menjawab, “Pergilah.”
Namun Ki Demang justru berpesan, “Hati-hatilah di
perjalanan, anak-anak muda.”
“Baik, Ki Demang. Kami akan berhati-hati. Mudah-mudahan
kami dapat menyelesaikan panggilan yang sedang kami emban.”
Ki Bekel hanya dapat mengerutkan dahinya. Ada beberapa
macam pertanyaan yang bergejolak di dalam dadanya. Tetapi jika
ia mendengar jawaban yang menyakitkan itu sekali lagi, mungkin
ia tidak dapat menahan diri lagi meskipun agaknya Ki Demang
bersikap baik kepada kedua orang pengembara itu.
“Agaknya karena sikap Ki Demang itulah, maka keduanya
menjadi besar kepala. Mereka menganggap aku tidak berharga,”
katanya di dalam hatinya.
Ki Demang tidak bertanya apa-apa lagi sampai kedua
pengembara itu keluar dari regol halaman rumahnya.
Sepeninggal keduanya, maka Ki Bekel itupun bertanya kepada
Ki Demang, “Menurut Ki Demang, apakah keduanya pantas
mendapat perlakuan terlalu baik?”
“Aku menghargai keduanya, Ki Bekel. Keduanya sedang
melacak para perampok yang telah mengganggu ketenteraman
padukuhan ini. Menurut dugaanku, mereka mengikuti arah
perjalanan para perampok itu sehingga mereka akan berhasil
menyusulnya.”
“Tentu mereka adalah kawan-kawan para perampok itu.”
“Aku yakin bukan. Ada tugas lain yang harus mereka lakukan
berhubungan dengan para perampok itu.”
“Jika demikian, kenapa mereka tidak berterus-terang? Jika
mereka berdua adalah prajurit, misalnya. Kenapa mereka tidak
mengatakan kepada Ki Demang atau kepadaku, bahwa keduanya
prajurit?”
“Aku mengenal mereka. Mereka bukan orang-orang jahat. Aku
percaya kepada panggraitaku meskipun aku tidak dapat
menjawab pertanyaan Ki Bekel kenapa mereka tidak berterusterang
tentang diri mereka berdua.”
Ki Bekel menarik nafas panjang. Tetapi ia tidak bertanya lagi.
Dalam pada itu, maka sejenak kemudian, Ki Demangpun telah
minta diri. Katanya, “Aku datang khusus untuk memberitahukan
kepada Ki Bekel tentang kedua orang anak muda itu.”
Sepeninggal Ki Demang, rasa-rasanya Ki Bekel ingin
menangkap kembali kedua orang yang menjadi sangat manja di
hadapan Ki Demang. Mereka sadar, bahwa Ki Demang akan
melindungi mereka, sehingga pengembara itu berani
merendahkannya.
“Aku tidak seyakin Ki Demang bahwa panggraitanya itu benar.
Kedua pengembara itu tentu pandai berbicara dan
memutarbalikkan kenyataan tentang diri mereka, sehingga Ki
Demang telah terpengaruh.”
Ki Bekelpun kemudian telah memerintahkan pembantunya
untuk menyiapkan kudanya. Ia ingin menyusul dan memberikan
sedikit pelajaran bagi kedua pengembara itu, agar mereka dapat
menghormati seseorang yang memiliki jabatan sebagaimana Ki
Bekel itu. Apalagi di hadapan atasnya langsung.
Namun sebelum Ki Bekel berangkat dengan menunggang
kudanya yang sudah siap, beberapa orang berdatangan sambil
menggiring Wijang dan Paksi memasuki kembali halaman rumah
Ki Bekel.
Ki Bekel yang melihat kedua orang yang mengaku pengembara
itu dibawa masuk ke halaman rumahnya, memandang mereka
berdua berganti-ganti dengan tajamnya.
“Ada apa?” bertanya Ki Bekel.
“Kami menangkap kedua orang yang mencurigakan ini, Ki
Bekel,” jawab Ki Jagabaya dari padukuhan itu.
“Kenapa Ki Jagabaya menangkapnya?”
“Seorang remaja datang ke rumahku untuk melaporkan,
bahwa ada dua orang yang mencurigakan, mencari rumah Ki
Bekel. Kata mereka, ada hal yang sangat penting yang akan
dibicarakannya dengan Ki Bekel.”
“Di mana kau temukan keduanya?”
“Agaknya remaja itu sempat ragu-ragu. Ia pulang lebih
dahulu. Ketika ia menceriterakan kepada ayahnya, maka ayahnya
menyuruhnya datang ke rumahku. Agaknya aku telah banyak
kehilangan waktu. Ketika aku kemudian pergi ke rumah Ki Bekel,
aku singgah di rumah Ki Kamituwa. Kami berdua mengajak
beberapa orang tetangga untuk datang kemari. Jika perlu, maka
kami akan dapat bertindak bersama-sama.”
“Tetapi kau sudah membawa kedua orang pengembara itu.”
“Aku bertemu dengan mereka ketika mereka akan
meninggalkan padukuhan ini. Kami telah menangkap mereka dan
membawanya kemari. Segala sesuatunya terserah kepada Ki
Bekel.”
Ki Bekel memandang kedua orang anak muda itu dengan
sorot mata yang membayangkan kebencian. Dengan nada berat
Ki Bekelpun berkata, “Di hadapan Ki Demang kau telah berani
merendahkan aku. Kau telah menganggap aku terlalu bodoh
sehingga telah melontarkan pertanyaan yang sia-sia. Sekarang Ki
Demang tidak ada di sini. Kalian tidak akan dapat bermanjamanja.”
“Meskipun Ki Demang tidak ada di sini, tetapi Ki Demang
akan tahu juga apa yang akan terjadi di sini.”
“Persetan dengan ancamanmu. Kami dapat mengatakan
alasan apa saja kepada Ki Demang, sehingga kami harus
menghukummu.”
“Bukankah aku juga dapat berkata apa saja kepada Ki
Demang, bahwa aku telah diperlakukan tidak sewajarnya di sini?”
“Ki Demang tentu akan mempercayai aku dan rakyatku. Kau
tidak akan mempunyai kesempatan apapun juga untuk membela
dirimu. Sesali sikapmu. Tetapi sudah terlambat. Kalian akan
menerima hukuman akibat dari sikap kalian.”
“Apa yang telah dilakukannya, Ki Bekel?” bertanya Ki
Jagabaya.
“Anak ini telah merendahkan namaku di hadapan Ki
Demang.”
“Ki Demang tidak menghukum anak ini?”
“Mereka berdua berhasil mengambil hati Ki Demang, sehingga
Ki Demang tidak marah kepada mereka. Tetapi aku bersikap lain.
Aku pun mencurigai, bahwa keduanya mempunyai sangkut paut
dengan para perampok beberapa saat yang lalu. Karena mereka
telah menanyakan ciri-ciri dan arah kepergian para perampok
itu.”
“Jika demikian, apakah kita akan menghukum mereka?”
bertanya Ki Kamituwa.
“Ya,” jawab Ki Bekel. “Kita akan menghukum mereka.”
“Hukuman apa yang pantas kita trapkan kepada mereka? Lalu
bagaimana kira-kira sikap Ki Demang jika keduanya melaporkan
kepadanya.”
“Biarlah aku yang bertanggung jawab kepada Ki Demang. Aku
akan menjelaskan, apa yang telah mereka lakukan di padukuhan
ini sehingga menimbulkan kemarahan seluruh rakyat padukuhan
ini.”
“Apa yang kami lakukan?” bertanya Paksi.
“Kalian sudah menyinggung harga diriku. Kalian juga
memata-matai padukuhan ini. Jika kalian tidak kami tangkap
dan kami hukum, maka nanti malam kawan-kawanmu tentu
akan datang merampok di padukuhan ini lagi.”
Namun tiba-tiba saja Paksipun berkata, “Baik. Seandainya
kami adalah sebagian dari sekelompok perampok yang ditangkap
di padukuhan ini, maka kawan-kawan kami akan datang untuk
mengambil kami berdua.”
Kata-kata Paksi itu ternyata telah menimbulkan keraguraguan
di antara mereka. Beberapa orang mulai merenunginya.
Jika benar keduanya bagian dari gerombolan perampok itu, maka
persoalannya justru akan menjadi gawat. Perampok yang pernah
datang ke padukuhan itu adalah orang-orang berilmu tinggi.
Mereka mampu melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.
Namun tiba-tiba saja seorang di antara mereka yang
menggiring Wijang dan Paksi itupun berkata, “Kita tidak akan
pernah melepaskan mereka lagi. Kawan-kawannya tentu tidak
tahu, bahwa mereka berada di sini.”
Paksi justru tertawa. Katanya, “Jangan terlalu bodoh. Jika
kami bagian dari sekelompok perampok, maka kelompok kami itu
tentu tahu, bahwa kami berada di sini. Apalagi jika kami memang
ditugaskan untuk memata-matai padukuhan ini. Jika sampai
nanti sore kami tidak kembali kepada mereka, maka mereka
tentu akan datang untuk mengambil kami ke padukuhan ini.
Nah, kalian dapat membayangkan, apa yang akan terjadi.”
Orang-orang yang menggiring Wijang dan Paksi itupun
menjadi termangu-mangu. Namun seorang yang bertubuh tinggi
besar dan berkumis lebat menyibak orang-orang yang berada di
halaman rumah Ki Bekel itu sambil berkata, “Ki Bekel, ketika
para perampok itu datang, kami semuanya belum siap
menghadapinya. Mereka datang tiba-tiba saja. Sebelumnya
padukuhan kita adalah padukuhan yang tenang dan tenteram.
Tetapi sekarang, keadaannya sudah lain. Kita akan
mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Jika kawan-kawan kedua
orang ini datang untuk mengambilnya, kita akan menyambut
mereka dengan hangat. Akibatnya tentu akan jauh berbeda. Pada
saat kita belum siap, kita memang menjadi terkejut dan cemas
menghadapi orang-orang yang datang dengan senjata telanjang.
Tetapi sekarang kitapun akan menggenggam senjata telanjang
pula. Bahkan dengan demikian kita akan dapat membuktikan
kepada Ki Demang, bahwa keduanya benar-benar bagian dari
gerombolan perampok yang ganas yang pantas untuk dihukum.”
Ki Bekel masih juga ragu-ragu. Namun kedua orang
pengembara itu telah menyakiti hatinya.
Sementara itu, seorang yang bertubuh agak gemuk berkata
lantang, “Aku setuju. Selanjutnya kita akan bersiap untuk
menghadapi para perampok. Seandainya kita tidak menangkap
kedua orang ini, maka kita pun harus bersiap menghadapi para
perampok itu. Kita tidak mau menjadi lahan yang subur dari para
perampok dengan membiarkan mereka mengambil apa saja yang
mereka maui di padukuhan kita ini.”
Tiba-tiba saja seperti meledak orang-orang itupun berteriak,
“Kita hukum mereka. Kita hukum mereka.”
Seorang yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan berteriak
melengking di antara suara yang gaduh itu, “Aku tahu bahwa Ki
Bekel adalah orang yang berilmu tinggi. Karena itu, para
perampok itu tidak akan berarti apa-apa bagi Ki Bekel. Pada
beberapa waktu yang lalu, Ki Bekel tidak sempat menghadapi
para perampok itu karena yang terjadi adalah demikian tiba-tiba.”
Ki Bekel itupun menggeretakkan giginya. Dengan lantang
iapun kemudian berkata, “Tangkap mereka. Jika keduanya
melawan, biarlah aku yang menyelesaikannya.”
Orang-orang yang berada di halaman itupun serentak telah
bergerak. Mereka membuat lingkaran mengepung Wijang dan
Paksi yang berdiri termangu-mangu.
“Orang-orang ini sulit diajak berbicara,” berkata Wijang.
“Kita sudah mencoba untuk menghindari kekerasan. Namun
nampaknya dendam orang-orang padukuhan ini sangat
mendalam, sehingga nalar mereka menjadi kabur di bawah
bayang-bayang dendam mereka,” sahut Paksi.
“Pernyataan Ki Demang tidak mampu melunakkan hati Ki
Bekel yang selain juga mendendam, ia juga seorang yang mudah
tersinggung, agak tinggi hati dan kurang menghargai orang lain,
terutama dari tataran terendah.”
“Apa yang harus kita lakukan?”
“Meloloskan diri. Bukankah kita tidak akan membiarkan
korban jatuh di padukuhan ini?”
“Ya. Aku sependapat.”
Wijang dan Paksi tidak mempunyai banyak waktu untuk
membicarakan sikap yang akan mereka ambil. Namun mereka
sama sekali tidak berniat untuk menciderai seseorang. Jika itu
terjadi, tentu tidak disengaja atau karena mereka tidak
mempunyai pilihan lain.
“Ki Sanak,” berkata Wijang kemudian kepada orang-orang
yang mengepungnya, “dengarlah baik-baik, Ki Sanak. Kami sama
sekali tidak berniat untuk bermusuhan dengan kalian. Tetapi jika
kalian tetap berniat menangkap kami, maka tentu saja kami
berkeberatan. Jika dalam gesekan kewadagan ini ada di antara
kalian yang terpaksa kami sakiti, kami minta maaf sebelumnya.”
Tetapi Ki Bekel yang marah itu masih saja menjadi salah
paham. Dengan garang iapun berkata, “Ternyata kalian adalah
orang-orang yang sangat sombong. Siapapun kalian, maka kami
akan menangkap kalian hidup atau mati.”
“Jangan berkata begitu, Ki Bekel. Jangan gege pati. Akibatnya
akan dapat tidak baik.”
“Persetan kalian. Jika demikian, menyerahlah. Kami akan
mengikat kalian pada pohon jambu air itu.”
“Itulah yang tidak aku senangi,” jawab Wijang.
“Senang atau tidak senang, aku tidak peduli.”
“Akibatnya akan berbeda. Jika aku tidak senang terhadap
perlakuanmu, maka aku pun dapat membuat kalian tidak
senang.”
“Cukup. Tangkap mereka dan ikat pada pohon jambu itu.”
Orang-orang yang mengepung Wijang dan Paksi itupun segera
bergerak maju. Tetapi Wijang dan Paksi tidak membiarkan orangorang
itu menyentuh tubuh mereka. Paksipun segera memutar
tongkatnya di atas kepalanya, sementara Wijang yang bergeser
menjauhpun telah bersiap pula.
Tiga orang yang pertama mendekati dan menggapai
lengannya, telah terlempar jatuh.
Seorang yang bertubuh agak gemuk itulah yang kemudian
meloncat menyergap Wijang dari belakang. Dengan tangannya
yang kokoh orang itu menyekap kedua lengan Wijang.
“Pukul perutnya,” teriak orang yang agak gemuk itu.
Orang yang tinggi besar itulah yang datang mendekat bersama
dua orang kawannya.
Tetapi sebelum orang itu sempat memukulnya, Wijang telah
mengibaskan orang itu. Demikian kerasnya, sehingga sekapan
orang itu terlepas. Bahkan orang itu telah terpelanting dan jatuh
menimpa kawan-kawannya.
Orang yang bertubuh tinggi besar itu tertegun melihat
kawannya yang dianggapnya mempunyai tenaga yang sangat
besar itu terlepas.
Tetapi sejenak kemudian orang itupun menyergap Wijang
dengan garangnya.
Namun yang terjadi kemudian sama sekali tidak dapat
dimengerti oleh orang-orang yang sedang berusaha menangkap
Wijang dan Paksi itu. Tiba-tiba saja mereka melihat orang yang
bertubuh tinggi besar itu terangkat tinggi-tinggi di atas kepala
pengembara itu. Kemudian tubuhnya diputar semakin lama
semakin cepat. Ketika tubuh itu dilepaskan, maka tubuh itu telah
terlempar ke dalam kerumunan orang-orang yang sedang
bergerak maju mendekati Wijang.
Terdengar beberapa orang berteriak. Namun suara teriakan
itupun telah diatasi oleh teriakan yang lain. Dua orang
terhuyung-huyung dan jatuh terbanting di tanah. Seorang
memegangi dadanya, seorang lagi memegangi lambungnya.
Ternyata tongkat Paksi telah menyentuh dada dan lambung
kedua orang itu. Hanya sentuhan kecil. Tetapi sentuhan itu
terasa bagaikan petir yang menyambar.
Orang-orang yang mengepung Wijang dan Paksi itupun tibatiba
telah bergeser surut. Beberapa orang tengah menolong
orang-orang yang terjatuh karena tertimpa oleh kawankawannya.
Oleh orang yang bertubuh tinggi besar serta orang
yang agak gemuk itu. Sementara itu orang yang menimpa mereka
itupun masih menyeringai menahan sakit di punggungnya. Baru
kemudian merekapun berusaha untuk bangkit berdiri.
Sementara itu, dua orang yang tersentuh tongkat Paksi,
merangkak keluar dari arena. Rasa-rasanya mereka tidak lagi
dapat bangkit berdiri. Bahkan ketika kawan-kawannya
membantunya, rasa-rasanya keduanya tidak lagi memiliki tenaga.
“Sudahlah,” berkata Wijang kemudian, “jangan memaksa kami
berbuat lebih kasar lagi. Sampai saat ini kami masih tetap
menahan diri. Tetapi jika kalian masih saja mendesak dan
memaksa kami, mungkin sekali kesabaran kami akan sampai ke
batas.”
Orang-orang padukuhan itu termangu-mangu. Tidak seorang
pun yang menyahut. Tetapi sebagian besar dari mereka
memandang Ki Bekel dengan tajamnya.
“Hanya Ki Bekel yang dapat melakukannya,” berkata orangorang
itu di dalam hatinya.
Sebenarnyalah bahwa jantung Ki Bekel itupun bagaikan
terbakar. Sebagai seorang yang berkedudukan tertinggi di
padukuhan itu, ia merasa bertanggung jawab. Ki Bekel itupun
merasa bahwa dirinya telah berbekal ilmu ketika ia menjabat
kedudukan yang diwarisinya dari ayahnya. Sejak ia masih
remaja, ayahnya telah mempersiapkannya dengan baik. Ia telah
dikirim pada seorang guru yang mempersiapkannya bukan saja
sebagai seorang pemimpin, tetapi juga dalam olah kanuragan.
Karena dengan kepercayaan diri yang tinggi, Ki Bekel itupun
melangkah maju sambil berkata lantang, “Minggirlah. Aku akan
menangkap mereka berdua. Tetapi jangan urai kepungan ini agar
mereka tidak dapat melarikan diri.”
“Ki Bekel,” berkata Wijang, “kami tidak pernah menduga
bahwa akan terjadi akibat yang sangat buruk ini. Aku minta Ki
Bekel mempertimbangkan sikap Ki Bekel. Biarkan kami pergi.
Seperti yang kami katakan sejak awal, kami tidak bermaksud
buruk. Kami pun sudah mencoba dengan berbagai cara dan
alasan agar tidak terjadi kekerasan seperti ini.”
“Persetan dengan celotehmu itu. Menyerah atau kalian akan
menyesali kesombongan kalian.”
“Ki Bekel, seharusnya Ki Bekel dapat menilai sikap Ki
Demang. Kenapa Ki Demang tidak berniat menangkap kami.”
“Kalian dapat mengelabuhinya. Tetapi kalian tidak dapat
mengelabui aku.”
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sekali lagi aku
mohon, Ki Bekel. Biarkan kami pergi.”
“Cukup. Menyerah atau bersiaplah. Aku akan menangkap
kalian berdua.”
Wijang melangkah selangkah maju sambil berkata kepada
Paksi, “Biarlah aku melakukannya, Paksi. Awasi saja orang-orang
yang mengepung kita.”
Paksi mengangguk sambil berdesis, “Baiklah. Hati-hatilah.”
Wijang mengangguk. Iapun menyadari, bahwa menilik
sikapnya Ki Bekel tentu bukan orang kebanyakan.
“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Ki Bekel.
“Melawan. Aku tidak mau ditangkap.”
“Bagaimana dengan yang seorang lagi?”
“Biarlah adikku menjadi saksi. Aku akan menghadapimu Ki
Bekel. Kau telah memaksaku untuk melakukannya.”
“Persetan. Ternyata kau lebih sombong dari dugaanku.”
“Aku ingin menjelaskan dengan cara ini kepadamu, bahwa
seorang pemimpin tidak boleh menuduh seseorang melakukan
kejahatan dengan semena-mena. Seorang pemimpin juga tidak
boleh meremehkan orang-orang yang dianggapnya termasuk pada
tataran pergaulan yang terendah. Yang kau lakukan Ki Bekel,
merupakan kesalahan yang sangat besar yang akan kau sesali
kemudian.”
“Cukup. Kau kira sesorahmu itu dapat melunakkan hatiku?”
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian
telah bersiap menghadapi Ki Bekel yang marah itu.
Dalam pada itu Paksi telah bergeser ke samping. Seperti pesan
Wijang, maka iapun mengawasi orang-orang yang sedang
mengepung mereka berdua.
Ki Bekel yang juga sudah berada di dalam kepungan itupun
melangkah mendekati Wijang sambil menggeram, “Bersiaplah.
Aku akan menghancurkan kebanggaan dan kesombonganmu
serta gerombolanmu.”
Wijang tidak menjawab. Tetapi iapun melangkah mendekat
pula.
Namun tiba-tiba saja Ki Bekelpun telah meloncat menyerang.
Tangannya dengan cepat terjulur lurus ke arah dada Wijang.
Namun Wijangpun dengan cepat mengelak. Ia belum menjajagi
kekuatan dan kemampuan Ki Bekel sehingga ia masih harus
berhati-hati menghadapinya.
Serangan-serangan Ki Bekelpun kemudian datang beruntun.
Cepat dan berbahaya. Sekali-sekali Wijang dengan sengaja
menyentuh serangan-serangan itu. Menangkis sambil mengelak.
Dengan demikian, maka beberapa saat kemudian Wijangpun
berhasil menjajagi kekuatan dan kemampuan Ki Bekel. Iapun
kemudian dengan cepat pula dapat mengukur, seberapa jauh
kemampuan Ki Bekel di dalam olah kanuragan.
Namun Wijangpun menyadari, bahwa, Ki Bekel itu tentu
masih belum mengerahkan segenap kemampuannya. Karena itu,
maka Wijangpun telah berusaha memancing, seberapa tinggi
puncak kemampuan Ki Bekel itu.
Karena itulah maka Wijang tidak hanya sekedar menangkis
dan menghindar. Tetapi Wijangpun kemudian telah menghentak
pula menyerang.
Serangan-serangan Wijang yang datang membadai itu telah
mengejutkan Ki Bekel. Ia tidak mengira bahwa anak muda
pengembara itu mampu berbuat sebagaimana dilakukan itu.
Karena itu, maka Ki Bekelpun segera berloncatan surut untuk
mengambil jarak.
Wijang tidak memburunya. Ia melihat betapa wajah Ki Bekel
menjadi tegang. Nafasnya mengalir semakin cepat. Rasa-rasanya
sulit untuk mempercayai tataran kemampuan pengembara itu.
“Ki Bekel,” berkata Wijang kemudian, “sekali lagi aku minta Ki
Bekel berpikir jernih. Aku akan pergi. Jangan halangi jalanku
atau aku akan membuka jalanku sendiri. Jika aku harus
membuka jalanku sendiri, maka aku tidak bertanggung jawab
atas segala akibat yang dapat timbul.”
Ki Bekel itu menggeram. Ia tidak mau melihat kenyataan itu.
Karena itu, maka iapun berkata, “Aku akan membungkam
mulutmu.”
Wijang tidak sempat menjawab. Orang itu tiba-tiba saja telah
meloncat menyerang dengan garangnya. Kakinya terjulur
mengarah ke lambung.
Tetapi Wijang dengan sigapnya menghindar. Bahkan sambil
berputar kaki Wijang telah menyambar dada Ki Bekel.
Ki Bekel itupun terhuyung-huyung. Namun akhirnya ia tidak
dapat mempertahankan keseimbangannya, sehingga Ki Bekel
itupun jatuh terlentang.
Ki Bekel berusaha untuk segera melenting berdiri. Namun
demikian ia bangkit, tangan Wijang telah menyambar
tengkuknya, sehingga sekali lagi Ki Bekel itu jatuh. Tertelungkup.
Ki Bekel itu mengerang kesakitan. Wajahnya menjadi kotor
oleh debu. Bahkan terasa pahit di mulutnya yang menjadi sangat
kotor.
Betapa kemarahan membara di jantungnya. Namun Ki Bekel
itu tidak segera dapat bangkit berdiri. Sekali terdengar ia
mengerang kesakitan.
Sementara itu, Wijangpun bergeser mundur. Iapun segera
memberi isyarat kepada Paksi. Sebagaimana mereka putuskan,
bahwa mereka akan berusaha meloloskan diri dari orang-orang
padukuhan itu. Dengan demikian, maka Wijang dan Paksi akan
menghindari kemungkinan yang lebih buruk lagi.
Paksilah yang kemudian berjalan di depan sambil memutar
tongkatnya.
Orang-orang yang mengepung Wijang dan Paksi itu terkejut
melihat keadaan Ki Bekel. Menurut anggapan para penghuni
padukuhan itu, Ki Bekel adalah orang yang tidak terkalahkan.
Namun melawan anak muda pengembara itu, Ki Bekel seakanakan
menjadi tidak berdaya.
Karena itu, maka orang-orang yang mengepung Wijang dan
Paksi itupun menjadi gelisah. Bahkan kemudian perasaan takut
pun mulai menyelinap di hati mereka. Sehingga ketika Paksi
memutar tongkatnya sambil melangkah ke arah regol yang
sedang diperbaiki itu, orang-orang yang mengepungnya telah
menyibak.
Sebelum Ki Bekel dapat bangkit dan memberikan aba-aba,
maka Wijang dan Paksipun telah menghambur keluar regol
halaman. Keduanyapun kemudian berlari menjauhi regol
halaman rumah Ki Bekel itu. Bukan karena ketakutan, tetapi
justru perasaan khawatir, bahwa karena tingkah laku mereka, di
padukuhan itu akan jatuh korban.
Rasa-rasanya memang aneh bagi Wijang dan Paksi yang harus
berlari kencang seperti dua ekor tupai yang diburu oleh anakanak
sepadukuhan.
Ketika Ki Bekel kemudian bangkit berdiri sambil mengusap
wajahnya yang kotor oleh debu dan tanah berpasir, serta darah
yang meleleh di sela-sela bibirnya, karena dua buah giginya patah
ketika ia jatuh terjerembab, maka iapun segera bertanya, “Di
mana pengembara edan itu?”
Orang-orang yang berada di halaman itu saling berpandangan.
Tetapi tidak seorang pun yang menjawab.
“Di mana kedua iblis itu, he?”
Orang yang bertubuh tinggi besar yang punggungnya masih
terasa sakit itupun menjawab, “Mereka melarikan diri, Ki Bekel.”
“Lari? Dan kalian tidak berusaha menangkap mereka?”
“Bagaimana mungkin kami dapat melakukannya, Ki Bekel?”
“Jadi kalian yang jumlahnya sekian banyak itu tidak berani
menangkap hanya dua orang pengembara?”
Seorang yang bertubuh agak gemuk itupun berdesis, “Mereka
mempunyai ilmu iblis, Ki Bekel.”
Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun Ki Bekel itupun
sempat mengingat-ingat, apa yang telah terjadi atas dirinya
hampir di luar sadarnya. Dengan kain panjangnya ia mengusap
wajahnya beberapa kali. Beberapa goresan nampak di dahi dan
hidungnya.
Namun Ki Bekel tidak dapat menyalahkan orang-orang yang
berada di halaman rumahnya. Ki Bekel tahu, bahwa kedua orang
pengembara itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan
dirinya tidak mampu berbuat apa-apa menghadapi seorang saja
di antara mereka.
“Biarlah iblis itu lari,” desis Ki Bekel kemudian. “Jika saja
mereka tidak lari, aku akan membunuh mereka.”
Orang-orang yang berada di halaman itu tidak ada yang
menyahut. Tetapi mereka melihat kenyataan di hadapan mereka,
bahwa Ki Bekel itu tentu akan dikalahkan seandainya
perkelahian itu akan berlanjut.
Untuk beberapa saat lamanya orang-orang yang berada di
halaman rumah itu saling berdiam diri. Baru kemudian Ki Bekel
itupun berkata, “Pulanglah. Tetapi jangan kehilangan
kewaspadaan. Mungkin kedua pengembara itu akan kembali
bersama dengan kawan-kawannya.”
Orang-orang padukuhan itupun kemudian telah
meninggalkan halaman rumah Ki Bekel itu pula ke rumah
masing-masing kecuali para bebahu padukuhan. Tetapi beberapa
orang di antara mereka justru berhenti di mulut jalan. Mereka
masih membicarakan kedua orang pengembara yang gagal
mereka tangkap.
“Nampaknya keduanya memang bukan orang jahat,” berkata
seorang yang bertubuh kecil dan pendek.
Orang yang bertubuh tinggi dan besar itupun berkata, “Ya.
Agaknya mereka bukan orang jahat Meskipun punggungku rasarasanya
patah ketika aku dilemparkannya, tetapi nampaknya
mereka tidak ingin menyakiti siapa pun.”
“Tetapi lambungku rasa-rasanya telah dilubangi dengan
tongkat itu.”
“Tetapi bukankah tidak apa-apa? Hanya sedikit biru?”
Orang yang lambungnya tersentuh tongkat Paksi itupun
berkata, “Kelihatannya memang hanya sedikit biru. Tetapi
sakitnya sampai ke jantung.”
“Kau memang cengeng,” berkata tetangganya yang lain.
“Kemarin kau merintih kesakitan di belakang regol halaman
rumahmu. Aku kira ada yang terjadi. Ternyata kau hanya
diseruduk oleh kambing peliharaanmu sendiri.”
“Sakitnya bukan main. Coba kau pergi ke rumahku. Aku lepas
kambing jantanku itu. Jika kau diseruduk pantatmu, maka tiga
hari kau tidak akan dapat berjalan.”
Tetangga-tetangganya yang ikut berbincang di mulut jalan
padukuhan itu tertawa.
Namun seorang di antara merekapun berkata, “Agaknya Ki
Demang benar. Panggraita Ki Demang cukup tajam, sehingga Ki
Demang menanggapi kehadiran kedua orang itu dengan baik
sebagaimana dikatakan oleh Ki Bekel.”
“Ki Bekel memang agak tinggi hati.”
“Keduanya adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Menilik
wajah mereka, mereka masih terlalu muda. Namun agaknya
pengembaraan mereka telah membuat mereka menjadi matang.”
“Jika orang itu ingin membunuhku, maka agaknya dengan
mudah dapat dilakukan. Tetapi aku tidak mati,” berkata orang
yang bertubuh tinggi besar.
“Meskipun ujudnya sedang-sedang saja, tetapi bagaimana
mungkin ia dapat mengangkatmu seperti mengangkat seonggok
kapuk saja.”
“Aku juga keheranan atas tenaganya yang sangat besar. Aku
diangkatnya begitu saja tanpa ancang-ancang.”
“Ke mana mereka sekarang?”
“Entahlah. Bukankah kita tidak mau cari perkara?”
Orang-orang itupun terdiam. Sementara itu, orang yang
perutnya tersentuh tongkat Paksi itupun berkata, “Aku akan
pulang. Keluargaku harus bersukur, bahwa aku masih sempat
pulang. Jika perutku benar-benar berlubang, maka yang pulang
hanyalah namaku. Anakku tidak akan ada yang mencarikan
makan. Padahal mereka masih terlalu kecil untuk mencari makan
sendiri. Aku tidak mau mereka menjadi anak tiri dari laki-laki
manapun.”
Orang itu masih akan berbicara lagi. Tetapi seorang
tetangganyapun berkata, “Sudahlah. Pulanglah. Suaramu tentu
lebih menggelisahkan daripada kemungkinan kembalinya kedua
orang itu tadi.”
“He?”
“Anak dan istrimu menunggumu di rumah.”
Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun
melangkah dengan kepala tunduk pulang ke rumahnya. Tetapi
beberapa langkah kemudian orang itu berhenti. Ia masih saja
berkata, “Aku akan pergi ke sawah. Tetapi aku harus pulang
dahulu mengambil cangkul dan menunjukkan kepada keluargaku
bahwa aku tidak apa-apa. Aku dapat mengatasi kesulitan akibat
pukulan tongkat anak muda yang berilmu tinggi itu.”
“Ya,” kawannya memotongnya, “baru sekarang kami, tetanggatetanggamu
sejak kita masih kanak-kanak, mengetahui bahwa
kau kebal.”
“Kau mulai menghina.”
Tetangganya itu tertawa. Bahkan yang lainpun tertawa pula.
Seorang di antara mereka berkata, “Jangan marah. Orang yang
cepat marah, akan lekas menjadi tua. Sementara istrimu masih
tetap muda.”
Orang itu bersungut-sungut. Namun iapun meneruskan
langkahnya, pulang ke rumahnya.
“Apa yang dilakukannya di rumah?” desis salah seorang
tetangganya.
“Ia harus bersukur bahwa anak dan istrinya betah
mendengarkan celotehnya yang agaknya berlangsung siang dan
malam.”
“Mereka tentu sudah terbiasa, sehingga tidak akan
menimbulkan masalah lagi.”
Namun sejenak kemudian, orang-orang yang masih berada di
ujung jalan itupun telah beranjak pulang ke rumah masingmasing.
Dalam pada itu, Wijang dan Paksipun sudah menjadi semakin
jauh dari padukuhan itu. Sambil melangkah di atas jalan sempit,
Wijangpun bertanya, “Menurut pendapatmu, bagaimana sikap
orang-orang padukuhan itu?”
“Mereka tidak marah kepada kita,” jawab Paksi. “Ternyata
bahwa mereka tidak mengejar kita.”
Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Bekel padukuhan itu
terlalu tinggi hati dan sombong. Mudah-mudahan yang terjadi
dapat menjadi pelajaran baginya. Keterangan Ki Demang tidak
didengarkannya. Ia lebih senang mendengarkan kata hatinya
yang sombong itu.”
“Orang itu akan berpikir dua tiga kali tentang sikapnya
terhadap kita.”
“Bukankah Ki Bekel sudah telanjur bersikap? Jika saja kita
tidak mempunyai kemampuan untuk meloloskan diri, apakah
kita tidak menjadi bubur. Kita akan jatuh di tangan orang-orang
padukuhan ini, sementara Ki Bekel justru menginginkan kita
dilumatkan. Tidak ada orang yang akan dapat melindungi kita.”
Paksi mengangguk-angguk. Iapun membayangkan orangorang
yang tidak bersalah, yang harus mengalami nasib buruk
karena sikap orang-orang yang berpikiran pendek.
Untuk beberapa saat keduanya tidak berbicara. Mereka
seakan-akan tenggelam ke dalam angan-angan mereka masingmasing.
Dalam pada itu, mereka berdua masih menyusuri jalan
sempit. Mereka merasa bahwa mereka telah menempuh arah
yang benar. Ki Gede Lenglengan juga berjalan melalui
kademangan itu. Mungkin mereka akan dapat keterangan dari
padukuhan-padukuhan yang mereka lewati tentang sekelompok
orang yang langsung dipimpin oleh Ki Gede Lenglengan beberapa
hari yang telah lewat.
Namun kedua orang pengembara itu merasa bahwa mereka
tidak akan menuju ke daerah yang asing. Bahkan rasa-rasanya
mereka akan pulang ke rumah mereka yang sudah lama mereka
tinggalkan.
Ketika Paksi menengadahkan wajahnya, maka dilihatnya
selembar awan bergayut di langit. Sekelompok burung pipit
terbang melintas dengan cepatnya, seperti selembar kain hitam
yang tembus pandang melayang membayangi awan yang putih.
Namun sekejap kemudian telah hilang ke arah tenggara.
“Kita akan melingkari gunung ini,” berkata Wijang.
“Ya. Kita akan menjelajahi kembali sisi selatan kaki Gunung
Merapi.”
“Daerah yang sudah banyak kita kenal.”
Keduanyapun berjalan semakin cepat, seakan-akan mereka
ingin segera sampai ke sisi selatan.
Namun jalan yang mereka lalui bukan jalan yang lebar dan
rata. Jalan yang mereka lalui adalah sebuah lorong sempit yang
berbatu-batu.
Namun keduanyapun kemudian telah turun ke sebuah jalan
yang lebih besar. Jalan yang nampaknya lebih ramai. Ada bekas
jalan pedati yang menjelujur sepanjang jalan itu.
Mereka berduapun menepi ketika mereka berpapasan dengan
dua orang berkuda. Nampaknya dua orang saudagar dalam
perjalanan.
“Marilah, kita ikuti jalan ini,” berkata Wijang.
Paksi mengangguk. Menurut dugaannya, jalan itu akan
menuju di arah lain.
Tetapi menurut penglihatan mereka, di depan mereka terdapat
sebuah padukuhan yang lebih besar dari padukuhan-padukuhan
yang lain.
Demikianlah beberapa saat mereka berjalan menuju ke
padukuhan di hadapan mereka. Sebuah padukuhan yang
memang di ujung bulak persawahan yang nampaknya subur. Air
yang jernih mengalir di parit yang membujur di pinggir jalan.
“Mudah-mudahan di padukuhan itu ada pasar meskipun kecil
atau sudah sepi. Asal masih ada kedai yang buka,” desis Paksi.
“Kau sudah lapar?”
“Aku haus. Tetapi aku tidak ingin minum air parit. Bukankah
kau akan mengatakan bahwa di parit itu mengalir air yang
jernih?”
Wijang tertawa.
Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah sampai di
regol padukuhan. Keduanyapun semakin yakin, bahwa
padukuhan itu termasuk padukuhan yang alami dibandingkan
dengan padukuhan-padukuhan di sekitarnya. Di pintu regol
padukuhan mereka berpapasan dengan sebuah pedati yang
agaknya mengangkut hasil bumi.
Di belakang pedati itu, dua orang perempuan berjalan sambil
menggendong bakul berisi berbagai macam kebutuhan dapur.
Wijang dan Paksi melangkah terus menyusuri jalan
padukuhan. Semakin lama semakin dalam. Namun mereka masih
belum sampai ke pasar.
Ternyata pasar itu justru terletak di sisi lain dari padukuhan
itu.
Pasar itu memang bukan satu pasar yang besar. Tetapi
nampaknya hari itu adalah hari pasaran. Menilik bekasnya, maka
hari itu di pasar itu penuh dengan para penjual dan pembeli
sehingga meluap sampai di pinggir jalan.
Meskipun saat itu pasar sudah nampak agak lengang, namun
masih ada juga satu dua kedai yang pintunya terbuka.
Sedangkan di sudut pasar itu masih terdengar suara pandai besi
yang sedang menempa.
“Marilah, kita lihat. Apa yang dikerjakan oleh pandai besi itu,”
ajak Wijang.
“Bukankah kau mencari kedai?”
“Kedai itu masih belum akan tutup.”
Paksi tidak menyahut lagi. Tetapi bersama-sama dengan
Wijang keduanya memasuki pasar yang sudah menjadi agak sepi
itu.
Di sudut pasar itu, beberapa orang pandai besi masih sibuk
menempa besi yang merah membara. Sementara yang lain masih
juga membakar besi di dalam bara api yang merah dihembus oleh
ububan di sebelah perapian.
Wijang dan Paksipun kemudian berdiri sambil mengamati
benda yang sedang ditempa itu.
“Sebuah pedang,” desis Wijang.
“Ya,” Paksi mengangguk-angguk.
Beberapa lama mereka menunggui pandai besi yang sedang
menempa sebilah pedang itu. Hasilnya memang tidak terlalu
baik. Tetapi nampaknya pedang yang tidak terlalu panjang itu
mencukupi kebutuhan bagi orang-orang pedesaan.
Ketika Wijang dan Paksi kemudian berjongkok di sebelah
gubuk tempat pande besi itu bekerja, Wijang menggamit Paksi
sambil berdesis, “Tidak hanya sebuah. Lihat, ada beberapa bilah
pedang yang sudah siap di sebelah ububan itu.”
Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin sebuah
pesanan.”
“Mungkin sekali.”
Agaknya seorang di antara pandai besi itu melihat dua orang
anak muda memperhatikan beberapa bilah pedang yang
teronggok di sebelah ububan itu. Sambil mengusap keringatnya
orang itu berdesis, “Kau tertarik pada pedang-pedang itu, anak
muda?”
“Ki Sanak membuat beberapa buah pedang Pesanan?”
“Ya. Tetapi jika kau ingin membeli, kami tidak berkeberatan.
Kami masih juga membuat pedang yang lain.”
Wijang dan Paksipun kemudian melihat-lihat pedang yang
sudah siap itu. Tinggal memberi hulu dan membuat sarungnya.
“Kau tertarik, anak muda?” bertanya pandai besi itu.
Wijang tersenyum. Katanya, “Pedang yang baik. Siapakah
yang memesannya?”
“Orang sepadukuhan telah memesan pedang. Bahkan orangorang
dari padukuhan sebelah menyebelah.”
“Kenapa tiba-tiba mereka memesan pedang sekian
banyaknya?”
Pandai besi itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya
Wijang dan Paksi berganti-ganti. Pandai besi itu tidak melihat
kesan buruk pada wajah-wajah mereka. Karena itu, maka iapun
menjawab, “Beberapa hari yang lalu, sebuah padukuhan telah
dirampok. Orang-orang padukuhan itu tidak dapat berbuat apaapa.
Mereka tidak berani melawan karena orang-orang
padukuhan itu tidak mempunyai senjata yang memadai. Hanya
ada satu dua orang yang mempunyai keris. Tetapi agaknya keris
terlalu kecil dan pendek untuk berkelahi melawan perampok yang
bersenjata pedang dan golok. Karena itu, maka orang-orang
padukuhan itupun telah memesan pedang. Jika para perampok
itu datang kembali, maka mereka sudah siap untuk
melawannya.”
Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Namun ingatan
merekapun segera lari kepada Ki Gede Lenglengan.
“Apakah perampok itu jumlahnya banyak?” bertanya Wijang.
“Tidak terlalu banyak. Tetapi pemimpinnya, seseorang yang
sudah cukup tua tetapi masih nampak garang, mempunyai ilmu
yang tinggi.”
Wijang dan Paksi masih mengangguk-angguk.
“Nah, apakah kalian juga akan membeli pedang?”
“Kami belum pernah mempergunakan pedang, Ki Sanak. Ada
keinginan untuk memilikinya. Tetapi kami tidak tahu untuk apa.
Aku membayangkan, alangkah gagahnya jika aku membawa
pedang di lambung.”
“Jika demikian, cobalah memiliki pedang.”
Tetapi pande besi yang lain, yang rambutnya sudah putih
tergerai di bawah ikat kepalanya, menyahut, “Jangan, anak
muda. Jika kalian tidak pernah membawa pedang, sebaiknya
kalian tetap tidak membawa pedang. Pedang adalah ciri
kekerasan. Alangkah damainya kalian yang tidak terbiasa
membawa pedang, karena kalian akan dijauhkan dari
kekerasan.”
Namun pandai besi yang muda menyahut, “Tetapi jika bahaya
itu datang mengancam kita?”
“Tanpa pedang di lambung, kalian akan merasa lebih tenang.
Hidup kalian akan terasa damai.”
Pandai besi yang muda tidak menyahut. Namun iapun
kembali ke pekerjaannya, menempa besi dan baja untuk
membuat pedang.
Orang yang rambutnya sudah mulai putih itu sambil bekerja
berkata, “Kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini ternyata
memberikan kesempatan kerja yang lebih luas kepada kami.
Tetapi setiap kali kami harus merenung, adakah kerja kami ini
tidak bertentangan dengan tatanan kehidupan antara sesama
yang seharusnya saling mengasihi?”
Wijang dan Paksi tidak menjawab. Tetapi pandai besi yang
muda itu berkata, “Senjata ini semata-mata untuk
mempertahankan diri, Kek. Bukankah di dalam kenyataan hidup
ini masih ada orang yang ingin berbuat jahat, yang ingin
memaksakan kehendaknya atas kita? Seandainya orang-orang
padukuhan itu tidak membuat pedang, apa yang dapat mereka
lakukan jika para perampok itu datang kembali dengan
membawa pedang di lambung mereka?”
“Aku tidak ingkar dari kenyataan itu. Nyatanya aku pun ikut
membuat pedang. Tetapi sebaiknya kedua anak muda itu tidak
membeli pedang. Jangan membayangkan bahwa kalian akan
nampak gagah jika di lambung kalian tergantung pedang.”
Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kami
tidak akan membawa pedang di lambung. Kami hanya ingin
sekedar melihat, bagaimana pedang itu dibuat.”
Orang yang berambut putih itupun terdiam. Namun
tangannya masih saja sibuk untuk menyelesaikan pedang yang
sedang digarapnya.
Beberapa saat kemudian, maka Wijang dan Paksipun minta
diri. Perasaan haus itu terasa mengganggu mereka lagi. Apalagi
mereka berada di panasnya perapian dari pandai besi itu.
“Kita singgah di kedai itu sebentar,” berkata Wijang.
Namun ketika mereka baru beranjak beberapa langkah dari
tempat pandai besi itu bekerja, mereka tertarik kepada
sekelompok orang yang berjalan menuju ke tempat pandai besi
itu bekerja di sudut pasar.
“Apa yang akan mereka lakukan? Apakah mereka itu orangorang
padukuhan yang memesan pedang?” desis Paksi.
“Tidak. Tentu bukan. Mereka tentu bukan orang-orang
padukuhan yang memesan pedang. Tampang mereka bukan
tampang orang-orang lugu yang mencoba untuk melindungi diri
mereka sendiri dengan pedang. Tetapi orang-orang itu justru
orang-orang yang telah matang bermain pedang.”
Paksi mengangguk-angguk. Namun Wijangpun kemudian
menariknya minggir. Agaknya lincak bambu itu dipergunakan
oleh seorang penjual makanan dan minuman untuk
mempersilahkan tamu-tamunya duduk. Tetapi karena hari sudah
terlalu siang, maka penjual makanan dan minuman itu sudah
pulang.
Sebenarnyalah bahwa sekelompok orang itu telah melangkah
menuju ke tempat pandai besi itu bekerja. Seorang di antara
mereka tubuhnya tinggi besar dan dengan perut yang buncit,
berkumis tebal, sedangkan rambutnya terurai lepas di bawah ikal
kepalanya yang dililitkan begitu saja di kepalanya.
“Apa yang kalian kerjakan, kakek tua?” bertanya orang yang
tinggi besar dan perutnya buncit itu.
“Kami membuat parang, Ki Sanak.”
“Parang apa?”
“Parang pembelah kayu. Untuk mereka yang bekerja di dapur
atau pencari kayu bakar di hutan.”
Orang itu tertawa. Katanya, “Jangan menganggap mataku
buta atau otakku tumpul. Menurut penglihatanku, kau sedang
membuat pedang.”
“Pedang?” suara orang berambut putih itu meninggi. “Apakah
aku membuat pedang? Ki Sanak, ini namanya parang pembelah
kayu bakar.”
Orang yang bertubuh tinggi besar dengan perut buncit itu
tertawa semakin keras. Katanya, “Untuk apa kau membuat
pedang, Ki Sanak? Bahkan tidak hanya sebuah. Sejak dua tiga
hari yang lalu, orang-orangku melihat kau membuat pedang.”
“Ya,” orang tua itu menarik nafas dalam-dalam, “kami
memang mendapat pesanan pedang dari orang-orang
Karangwaru.”
“Kenapa mereka beramai-ramai membuat pedang?”
“Sekelompok perampok telah datang ke padukuhan itu, Ki
Sanak. Untuk menjaga kemungkinan buruk itu terulang, maka
merekapun telah memesan pedang kepada kami.”
Yang kemudian tertawa bukan hanya orang bertubuh tinggi
besar dan perutnya buncit itu. Tetapi kawan-kawannya pun
tertawa pula.
“Orang-orang Karangwaru akan melawan jika di padukuhan
mereka didatangi sekelompok perampok?”
“Ya, Ki Sanak. Ketika perampok itu datang beberapa hari yang
lalu, mereka sama sekali tidak siap menghadapinya.”
“Kemudian merekapun mempersiapkan diri dengan memesan
sejumlah pedang kepadamu?”
“Ya.”
Namun tiba-tiba saja suara tertawa orang yang bertubuh
tinggi besar itu terdiam, seakan-akan ikut tertelan ke dalam
perutnya yang buncit itu. Dengan lantang iapun bertanya, “Jadi
di Padukuhan Karangwaru beberapa hari yang lalu telah
didatangi sekelompok perampok?”
“Ya, Ki Sanak. Pemimpinnya sudah tua, tetapi ia memiliki
ilmu yang sangat tinggi.”
“Persetan dengan tikus itu. Kau tahu, siapakah pemimpin
gerombolan perampok itu?”
“Orang-orang Karangwaru tidak mengatakannya. Mereka
agaknya belum mengenal orang yang memimpin perampokan
itu.”
“Gila. Jadi ada sekelompok perampok yang berani merampok
di daerah ini? Ini wilayahku. Ini wewenangku. Daerah ini ada di
dalam kuasaku.”
“He, apa maksudmu? Apakah kalian wakil dari Pajang yang
bertugas untuk melindungi kami?”
“Orang tua yang dungu. Kami bukan petugas dari Pajang.
Tetapi aku adalah Sura Tunda. Kau tentu sudah pernah
mendengar namaku.”
“O,” orang tua itu mengangguk-angguk. “Ya. Aku sudah
pernah mendengar nama itu. Nama yang dapat membuat setiap
bulu di tubuh orang yang mendengarnya, meremang. Sura
Tunda.”
“Jika demikian, kau tentu tahu, bahwa tidak ada gerombolan
lain yang boleh mengusik daerah ini.”
“Entahlah, Ki Sanak. Aku tidak tahu apa-apa kecuali bekerja
di perapian ini.”
“Jika kau tidak tahu, sekarang aku akan memberitahu
kepadamu, bahwa kuasaku sekarang sudah merembes sampai
lingkungan ini. Sejak sepekan ini aku sudah memperluas daerah
kuasaku. Siapa yang mencoba menentang, akan aku hancurkan.
Kuasaku itu meliputi Padukuhan Karangwaru pula.”
Pandai besi yang berambut putih itu mengangguk-angguk.
Katanya, “Baiklah, Ki Sanak. Nanti aku beritahukan pula kepada
orang-orang Karangwaru yang memesan pedang-pedang ini.”
Jilid 37
“YA. Katakan kepada orang-orang Karangwaru, bahwa aku, Sura
Tunda, telah memperluas daerah pengaruhnya sampai ke
Karangwaru. Karena itu, maka mereka tidak perlu takut terhadap
gerombolan-gerombolan yang akan mengganggu padukuhan itu.
Akulah yang akan menanganinya.”
“Baik, Ki Sanak. Baik. Aku akan mengatakan kepada mereka.”
“Karena itu pula, maka mereka tidak perlu memesan pedang
kepadamu. Pedang itu tidak akan ada gunanya.”
“Tentu ada gunanya, Ki Sanak. Jika gerombolan itu tiba-tiba
kembali? Bukankah kau tidak setiap hari berada di Karangwaru?”
“Orang-orang Karangwaru tidak boleh bersenjata.”
“Tentu sebagian besar pedang itu sudah siap. Apa salahnya
jika mereka menyimpan senjata di rumahnya?”
“Mereka akan dapat melawan gerombolanku.”
“Apakah mereka berani melakukannya? Berbeda dengan
gerombolan yang sekedar lewat. Mereka memang harus dilawan.”
“Kau tidak usah membantah, kakek tua. Serahkan pedangpedang
itu kepadaku. Orang-orangku juga membutuhkannya.”
“Kalau kau membutuhkan pedang, kau dapat memesan
kepadaku dengan harga yang sama dengan orang-orang
Karangwaru.”
Orang berambut putih itu tertawa. Katanya, “Jangan
bergurau, Kek. Waktuku tidak banyak. Serahkan pedang-pedang
yang sudah siap itu kepadaku.”
“Ki Sura Tunda, orang-orang Karangwaru sudah memberikan
uang panjar kepadaku. Jika pedang-pedang ini tidak aku
serahkan kepada mereka, maka mereka akan menuntut uang itu
kembali.”
“Katakan saja bahwa pedang-pedang mereka telah aku ambil.”
“Tentu mereka tidak mau tahu. Mereka tentu menuntut
kepadaku untuk mengembalikan uang yang telah aku terima.
Padahal uang itu telah habis aku belanjakan bahan-bahan
pembuatan pedang ini.”
Ki Sura Tunda itu tertawa semakin keras. Di sela-sela suara
tertawanya iapun berkata, “Orang tua yang malang. Agaknya
nasibmu memang buruk.”
“Karena itu, jangan ambil pedang-pedang itu, Ki Sura Tunda.
Jika pedang-pedang itu kau ambil aku harus menjual tanah
pekaranganku untuk mengembalikan uang panjar itu. Lalu aku
dan keluargaku akan berkeliaran tanpa tempat tinggal.”
“Uruslah dirimu sendiri, kakek yang malang. Yang penting
bagiku, pedang-pedang itu harus berada di tanganku.”
Paksi telah menggamit sambil berdesis, “Orang itu akan
memaksa mengambil pedang-pedang itu.”
“Kasihan pande besi tua itu,” sahut Wijang.
“Apakah kita akan ikut campur?”
“Tunggu. Kita akan melihat, apa yang akan terjadi. Kau lihat
pande besi yang tua itu tidak nampak ketakutan?”
“Aku lihat. Tentu ada sesuatu di balik sikapnya itu.”
Wijang dan Paksi tidak beranjak dari tempatnya. Sementara
itu, orang yang menyebut dirinya Sura Tunda itupun berkata
lantang, “Kek, jangan halangi orang-orangku mengambil pedangpedang
yang telah kau buat. Kami memerlukannya. Ada beberapa
orang yang menyatakan diri untuk ikut bersama kami. Karena
itu, maka aku ambil pedang-pedangmu untuk aku bagikan
kepada mereka. Dengan demikian, maka kau sudah membantu
menegakkan kuasaku di daerah ini, sehingga untuk seterusnya
kau tidak akan terganggu lagi.”
“Jangan, Ki Sanak. Sudah aku katakan, bahwa aku sudah
menerima uang panjar dari orang-orang Karangwaru.”
“Diam,” akhirnya kesabaran Sura Tunda itupun sampai ke
batas. Kepada orang-orangnya Sura Tunda itupun berkata
lantang, “Ambil pedang-pedang yang sudah siap itu.”
Tetapi pande besi yang tua itu tiba-tiba saja bangkit berdiri
sambil berkata, “Sura Tunda, aku katakan sekali lagi jangan
ganggu kami. Kami juga sedang mencari uang untuk menghidupi
keluarga kami. Jika kau ingin mencari kekayaan, harta benda
dan apa saja dengan caramu, lakukanlah. Aku tidak akan
mengganggumu. Tetapi kau jangan menggangguku.”
Wajah Sura Tunda menjadi merah. Kemarahannya bagaikan
meledakkan jantungnya. Namun justru untuk sesaat Sura Tunda
berdiri saja dengan mulut yang bergetar.
Baru kemudian ia dapat berbicara, “Jadi kau akan melawan?”
“Ya,” jawab pande besi yang tua itu.
“Kau sadari, apa yang kau lakukan, kakek tua?”
“Aku sadari sepenuhnya. Daripada aku harus berhadapan
dengan orang-orang Karangwaru, maka aku lebih senang
berhadapan kau dan orang-orangmu.”
“Gila. Apakah kau memang sudah gila, Kek?”
“Tidak. Aku dan kawan-kawanku yang bekerja di sini tidak
gila. Jika aku menyerahkan pedang-pedang itu, maka aku benarbenar
sudah gila, karena aku harus menjual tanah pekaranganku
dan rumahku.”
“Kau tahu, bahwa kau akan dapat mati karena pokalmu itu?”
“Kalau aku mati, maka aku tidak perlu lagi berpikir untuk
mengembalikan uang panjar yang sudah aku terima dari orangorang
Karangwaru.”
“Setan kau, kakek tua,” Sura Tunda itupun menjadi semakin
marah. Lalu katanya kepada orang-orangnya, “Tangkap orang tua
itu. Aku ingin ia tetap hidup. Biarlah ia mati dibunuh orangorang
Karangwaru jika ia tidak dapat mengembalikan uang
panjar yang sudah diterimanya.”
Dua orang pengikut Sura Tunda itupun segera bergerak.
Namun orang tua itupun berkata, “Biarlah aku datang kepada
kalian. Jika kalian datang kemari, agaknya akan sangat
berbahaya bagi kalian. Jika kalian terperosok ke dalam perapian
itu, maka kalian akan menjadi cacat. Bahkan mungkin mati.”
Wijanglah yang kemudian menggamit Paksi sambil berbisik,
“Kita tidak perlu ikut campur.”
“Ya, orang tua itu nampaknya cukup meyakinkan.”
Sebenarnyalah, pande besi yang tua itupun kemudian keluar
dari gubuk tempatnya bekerja. Demikian ia berada di depan
gubuknya, maka dua orang telah menangkap lengannya.
Namun tiba-tiba saja kedua orang itu telah terlempar. Seorang
di antaranya menimpa Sura Tunda itu, sehingga hampir saja
Sura Tunda itu jatuh terlentang.
Untunglah tangan Sura Tunda dengan cepat mampu
menggapai sebatang pohon pelindung di depan gubuk pande besi
itu, sehingga sejenak kemudian, Sura Tunda itupun telah berdiri
tegak.
Darah Sura Tunda itu bagaikan mendidih di seluruh
tubuhnya. Hampir berteriak Sura Tunda itupun berkata kepada
orang-orangnya, “Lakukan, apa yang harus kalian lakukan. Ambil
pedang-pedang itu. Siapa yang menghalangi, singkirkan. Yang
melawan, dapat kalian habisi saja.”
Namun orang-orang yang bekerja di gubuk itupun segera
berloncatan. Ternyata merekapun dengan sigap melawan para
perampok yang ingin mengambil pedang-pedang yang sedang
mereka buat.
Sejenak Sura Tunda berdiri termangu-mangu. Namun
akhirnya ia melihat, bahwa para pande besi itu bukan orang
kebanyakan. Mereka dengan tangkasnya berloncatan melawan
para pengikut Sura Tunda yang akan merampas pedang-pedang
yang telah mereka buat dengan susah payah.
Karena itu, terbakar oleh kemarahan yang memuncak, Sura
Tunda pun segera turun ke arena perkelahian. Sura Tunda
itupun langsung menghadapi pande besi tua, yang agaknya
menjadi pemimpin dari kawan-kawannya yang masih mudamuda
itu.
“Kakek tua yang tidak tahu diri. Jika kau keras kepala, aku
akan membunuhmu.”
Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun
kemudian menjawab, “Bukankah sudah aku katakan, jika aku
mati, maka aku tidak perlu lagi memikirkan, bagaimana aku
harus mencari uang untuk mengembalikan uang panjar dari
orang-orang Karangwaru.”
“Kau sudah gila, kakek tua. Tetapi baiklah, aku akan
membunuhmu dengan caraku. Cara yang tentu lebih buruk dari
cara yang dapat diambil oleh orang-orang Karangwaru.”
Orang tua itu tidak menjawab. Tetapi iapun segera bersiap
menghadapi Sura Tunda.
Sejenak kemudian, pertempuran itu berlangsung semakin
sengit. Untunglah pasar itu sudah berangsur sepi, sehingga tidak
terlalu banyak orang yang harus berlari-lari meninggalkan pasar
itu.
Sementara itu, Wijang dan Paksi masih saja berada di
tempatnya untuk menyaksikan pertempuran yang semakin seru
itu.
Namun akhirnya Sura Tunda harus mengakui kenyataan.
Pande besi tua itu ternyata memiliki ilmu yang lebih tinggi dari
Sura Tunda sendiri. Sementara itu, kawan-kawannya yang
bekerja bersamanya, telah melawan para pengikut Sura Tunda
dengan segenap kemampuan mereka. Ternyata bahwa mereka
bukannya orang-orang yang tidak berdaya. Sebagian dari mereka
memiliki bekal olah kanuragan yang dapat mereka pergunakan
untuk melindungi diri mereka.
Dalam pada itu, kemarahan Sura Tunda rasa-rasanya tidak
dapat diendapkannya lagi. Dengan garangnya, Sura Tunda
itupun berteriak kepada para pengikutnya, “Panggil semua orang
kemari. Kita bakar gubuk dan perapian ini. Kita akan
menghancurkan semua peralatannya. Kita bawa semua pedang
yang sudah jadi.”
Dua orang berlari meninggalkan arena. Di luar gerbang pasar
terdengar mereka bersuit nyaring.
Sejenak kemudian, sekelompok pengikut Sura Tunda yang
tidak ikut masuk ke dalam pasar, telah berada di dalam pasar itu
pula. Dengan geram Sura Tunda itu berteriak, “Hancurkan
tempat kerja pande besi itu dan bakar gubuknya.”
Wijang dan Paksi menjadi berdebar-debar, meskipun pande
besi yang tua itu mampu mengalahkan Sura Tunda, tetapi jumlah
pengikut Sura Tunda itu terlalu banyak. Mereka akan dapat
benar-benar menghancurkan tempat kerja pande besi itu.
Karena itu, maka Wijangpun berkata, “Bukankah kita tidak
akan tinggal diam dan membiarkan Sura Tunda menghancurkan
peralatan pande besi itu?”
“Ya. Marilah kita berbuat sesuatu.”
Sebelum para pengikut sura Tunda yang berdatangan semakin
banyak itu benar-benar merusak peralatan pande besi serta
membakar gubuk itu, maka Wijang dan Paksi telah mendekati
lingkaran pertempuran itu. Dengan lantang Wijangpun berteriak,
“Apa yang telah terjadi? Berhentilah, kenapa kalian berkelahi.”
Wijang memang tidak mempergunakan suara wajarnya. Pada
getar suaranya terasa hentakan-hentakan pada dinding jantung
orang-orang yang mendengarnya, sehingga dengan demikian,
maka orang-orang yang bertempur itu berloncatan surut.
Dengan demikian, maka pertempuran itupun telah terhenti.
“Apa yang terjadi?” bertanya Wijang pula.
“Kau siapa?” bertanya Sura Tunda.
“Kami orang-orang Karangwaru. Kami datang untuk
mengambil sebagian pedang yang kami pesan. Bukankah sudah
ada sebagian yang telah jadi?”
“Setan kau, orang-orang Karangwaru,” geram Sura Tunda.
“Aku datang untuk mengambil pedang-pedang yang sudah siap.”
“Itu pedang pesanan kami,” jawab Wijang. “Kami sudah
memberikan uang panjar. Tidak ada orang lain yang dapat
membeli pedang-pedang itu.”
Pande besi yang rambutnya sudah ubanan itu menarik nafas
dalam-dalam. Sikap Wijang itu telah mengisyaratkan kepadanya,
bahwa kedua orang anak muda itu bukan orang kebanyakan.
“Kenapa aku tidak dapat mengenalinya ketika ia berbicara
tentang pedang?” bertanya pande besi tua itu di dalam hatinya.
Namun Sura Tunda itupun berteriak, “Jangan menghalangi
kami. Aku tidak peduli, apakah kalian sudah memberikan uang
panjar atau belum. Tetapi aku memerlukan pedang-pedang itu.”
“Gila kau, Sura Tunda. Kami, orang-orang Karangwaru
memerlukan pedang-pedang itu untuk melawan para perampok.”
“Kami akan menghancurkan setiap gerombolan perampok
yang mengganggu daerah kuasa kami.”
“Persetan dengan daerah kuasamu. Kami, orang-orang
Karangwaru akan melawan kau dan para pengikutmu pula.
Pedang-pedang itu akan sangat berarti bagi kami.”
“Setan, kau. Sekarang kau hanya berdua di sini. Kau mau
apa, he?”
“Para pande besi itu nampaknya berusaha mempertahankan
pedang-pedang yang sudah kami pesan. Tentu kami akan
berpihak kepada mereka.”
“Selagi masih ada kesempatan, pergilah. Jangan
mengharapkan pedang itu lagi. Pedang itu kami perlukan untuk
melindungi daerah kuasa kami, termasuk Karangwaru. Karena
itu, orang-orang Karangwaru tidak memerlukan pedang lagi.”
“Kami memerlukan pedang itu. Justru untuk melawanmu dan
para pengikutmu.”
Kemarahan Sura Tunda tidak dapat dibendung lagi. Karena
itu, maka iapun berteriak nyaring, “Kalian tahu apa yang harus
kalian lakukan. Jangan ragu-ragu. Yang keras kepala, akan
dibinasakan.”
Wijang dan Paksipun segera bergeser saling menjauh.
Sementara itu, pande besi yang tua serta kawan-kawannya telah
bersiap pula untuk bertempur lagi. Meskipun mereka belum tahu
tingkat kemampuan kedua orang anak muda yang mengaku
orang-orang Karangwaru itu, serta mereka menyadari bahwa
lawan terlalu banyak, namun pande besi itu tidak mau
menyerahkan hasil kerja mereka kepada Sura Tunda dan para
pengikutnya.
Sejenak kemudian, pertempuranpun telah menyala kembali.
Jumlah pengikut Sura Tunda sudah menjadi lebih banyak. Tetapi
dua orang anak muda yang asing, telah berpihak kepada pande
besi itu.
Pande besi yang tua itu masih bertempur melawan Sura
Tunda. Namun Sura Tunda tidak lagi sendiri. Seorang
pengikutnya yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan telah
bergabung bersamanya, sehingga pande besi tua itu harus
bertempur melawan dua orang lawan.
Dalam pada itu, Wijang dan Paksi telah melibatkan diri pula.
Ternyata keduanya telah mengacaukan para pengikut Sura
Tunda. Orang-orang yang bertempur melawan keduanya, segera
terpelanting dan terlempar dari arena. Sebagian dari mereka
masih mampu melenting bangkit berdiri untuk meneruskan
pertempuran. Tetapi ada di antara mereka yang menyeringai
menahan sakit.
Paksi yang membawa tongkat, seakan-akan telah berubah
menjadi hantu yang menakutkan. Tongkatnya berputaran
semakin cepat. Sentuhan-sentuhan tongkatnya, rasa-rasanya
telah meretakkan tulang.
Para pengikut Sura Tunda itupun telah mempergunakan
senjata mereka pula. Ada yang mempergunakan pedang, ada
yang membawa bindi dan ada yang membawa kapak.
Sementara itu Wijangpun telah menarik sepasang pisau
belatinya pula untuk melawan senjata-senjata para pengikut
Sura Tunda.
Namun Wijang dan Paksi memang sengaja tidak ingin
membunuh. Tetapi dalam pertempuran yang semakin sengit,
keduanya sulit untuk menjaga agar senjata mereka tidak melukai
lawannya.
Sekali-sekali ujung pisau belati Wijang juga menyentuh dan
menggores tubuh lawannya, sehingga darahnya telah menitik.
Sementara itu, tongkat Paksi telah membuat beberapa orang
kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pertempuran.
Bahkan ada di antara mereka yang tulang lengannya benar-benar
menjadi retak. Seorang yang lain, pergelangan tangannya tidak
lagi dapat digerakkan. Sedangkan seorang yang bertubuh tinggi
kekurus-kurusan jatuh tersungkur karena tongkat Paksi
menyambar pahanya sehingga tulang pahanya menjadi retak.
Beberapa orang pande besi itu sempat melihat sekilas kedua
orang anak muda yang sedang bertempur dengan garangnya itu.
Mereka menyadari, bahwa keduanya adalah orang-orang yang
berilmu tinggi.
Bahkan pande besi yang tua itupun berkata kepada dirinya
sendiri, “Alangkah bodohnya aku memperlakukan kedua anak
muda itu sebagai anak-anak muda yang dungu. Ternyata mereka
adalah anak-anak yang berilmu tinggi sekali.”
Pande besi yang tua itu masih bertempur melawan Sura
Tunda. Ternyata Sura Tunda masih saja mengalami kesulitan
meskipun seorang pengikutnya membantunya.
Semakin lama, kawan-kawan Sura Tunda pun menjadi
semakin menyusut. Beberapa orang yang berusaha untuk
menghentikan perlawanan Wijang dan Paksi yang mengaku
orang-orang Karangwaru itu sudah tidak berdaya. Yang masih
mampu bertempur sudah menjadi putus asa. Mereka seakanakan
hanya tinggal mengepung Wijang dan Paksi dalam sebuah
lingkaran yang semakin longgar.
Para pande besi yang mempertahankan pedang yang telah
mereka buat dengan susah payah itupun semakin mendesak
lawan-lawan mereka pula, karena sebagian dari para pengikut
Sura Tunda sudah tidak berdaya dan yang lain dalam kelompok
menghadapi Wijang dan Paksi.
Dalam pada itu, Sura Tunda sendiri menjadi semakin sulit.
Ketika orang-orangnya menjadi semakin menyusut, maka seorang
pande besi yang masih muda telah mengambil lagi pasangan Sura
Tunda, sehingga dengan demikian Sura Tunda harus bertempur
lagi seorang melawan seorang dengan pande besi yang tua itu.
Dalam pada itu, Sura Tunda sudah tidak mempunyai harapan
lagi. Para pengikutnya pun tidak mungkin lagi dapat
mengalahkan para pande besi yang bertempur bersama-sama
dengan kedua orang Karangwaru itu.
Karena itu, maka Sura Tunda itu tidak mempunyai pilihan
lain. Ketika keadaannya menjadi semakin rumit, maka ia pun
segera bersuit nyaring.
Dalam waktu yang singkat, maka pertempuran itupun segera
menjadi kacau. Orang-orang Sura Tunda yang masih mungkin
melarikan diri telah dengan sengaja membuat pertempuran itu
menjadi tidak menentu. Mereka berlarian silang-menyilang untuk
memberikan peluang kepada Sura Tunda untuk menghilang.
Baru kemudian mereka berusaha untuk melarikan diri,
meninggalkan arena pertempuran, sambil membantu kawankawan
mereka yang kesakitan dan luka.
Pande besi yang tua itupun memberi isyarat kepada orangorangnya
untuk tidak mengejar mereka. Iapun telah melepaskan
Sura Tunda pula.
“Orang-orang itu akan menjadi sangat berbahaya, Kek,”
berkata salah seorang pande besi yang masih muda.
“Kita akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Kita akan
berbicara dengan orang-orang Karangwaru, para bebahu
padukuhan ini serta orang-orang yang ditugaskan di pasar ini.”
“Tetapi kedua orang anak muda itu bukan benar-benar orang
Karangwaru. Mereka telah membantu kita serta menyesuaikan
diri dengan keadaan yang sedang kita hadapi.”
Pande besi yang tua itu menarik nafas dalam-dalam.
Selangkah demi selangkah orang itu mendekati Wijang dan Paksi
yang berdiri termangu-mangu. “Terima kasih, anak muda. Kalian
telah membantu menyelamatkan kami.”
“Bukan apa-apa, Kek. Bukankah sudah menjadi kewajiban
kita untuk saling membantu?”
“Aku minta maaf atas kebodohanku, anak muda.”
“Maksud Kakek?”
“Aku tidak dapat melihat kemampuan kalian berdua sejak
awal. Kalian tentu menertawakan aku ketika aku mencoba
menggurui Angger.”
“Tidak, Kek. Tidak. Nasehat Kakek itu sangat berarti. Adalah
kebetulan bahwa kami berdua yang mendengarkan kali ini. Tetapi
nasehat Kakek itu akan sangat berarti pula bagi orang lain.”
Orang itu menarik nafas panjang. Ketika ia mengedarkan
pandangan matanya, maka dilihatnya pasar itu sudah sepi. Satu
dua orang yang berdatangan kembali setelah suasana menjadi
tenang, masih berdiri termangu-mangu. Namun merekapun
kemudian segera mengemasi barang-barang mereka yang tersisa.
“Jangan takut untuk datang lagi ke pasar ini,” berkata pande
besi yang tua itu kepada mereka. “Pasar ini tidak boleh mati.”
Lalu suaranya menurun seolah-olah ditujukan kepada diri
sendiri, “Di sini aku mencari nafkah. Jika pasar ini mati, maka
lapangan kerja kami juga akan mati.”
“Tidak, Kek,” sahut Paksi. “Kakek sudah mempunyai beberapa
orang langganan. Seandainya, hanya seandainya pasar ini mati,
namun jika Kakek masih bekerja di sini, akan berdatangan
orang-orang yang sudah terbiasa berhubungan dengan Kakek.
Bahkan orang-orang baru pun akan berdatangan karena mereka
membutuhkan alat-alat pertanian serta alat-alat kerja yang lain.
Parang, kapak, dan ternyata Kakek juga membuat senjata.
Sepanjang senjata itu berada di tangan yang benar untuk
kepentingan yang benar seperti orang-orang Karangwaru, maka
Kakek tidak perlu merasa bersalah.”
“Ya, Ngger,” kakek itu mengangguk-angguk.
“Nah, silahkan Kakek melanjutkan kerja kakek. Aku kira Sura
Tunda akan berpikir ulang, jika ia ingin datang kemari.”
“Kami akan menyelesaikan kerja kami untuk hari ini, anakanak
muda. Kami akan pergi ke Karangwaru untuk menyerahkan
pesanan mereka yang sudah siap. Jika pedang-pedang itu jatuh
ke tangan orang lain, maka aku harus mengganti uang panjar
itu.”
“Jadi, Kakek akan pergi ke Karangwaru?”
“Ya, Ngger.”
Paksi itupun kemudian berpaling kepada Wijang sambil
berdesis, “Apakah kita juga akan pergi ke Karangwaru? Kita akan
dapat mendengar sedikit keterangan tentang perampok itu.”
Wijang mengangguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan pergi
bersama mereka ke Karangwaru.”
“Kalian berdua juga akan pergi ke Karangwaru?” bertanya
kakek tua itu.
“Ya, Kek,” jawab Wijang. “Kami ingin mendapat sedikit
keterangan tentang para perampok yang telah mengganggu
ketenangan orang-orang Karangwaru.”
“Baik, anak-anak muda. Tetapi silahkan menunggu sebentar.
Kami akan membenahi peralatan kami.”
Wijang dan Paksipun kemudian duduk di atas amben panjang
di depan gubuk itu. Sementara itu, beberapa orang yang telah
mengemasi barang-barang dagangan mereka, maka mereka pun
telah meninggalkan pasar itu pula.
Sambil membenahi alat-alatnya pande besi yang tua itupun
berkata, “Aku juga harus berbicara dengan Ki Bekel di
padukuhan ini, anak muda. Pasar ini merupakan penghasilan
yang baik bagi padukuhan ini, sehingga jika pasar ini mati, maka
padukuhan ini akan kehilangan sumber yang terhitung deras.
Karena itu, Ki Bekel harus mengambil langkah-langkah untuk
mengatasi gerombolan-gerombolan seperti gerombolan Sura
Tunda yang merasa dirinya berkuasa di daerah ini.”
“Bukankah Kakek dan Ki Bekel dapat bekerja sama dengan
orang-orang Karangwaru yang telah terlanjur mempersiapkan
diri?”
“Ya. Itu adalah rencana yang sangat menarik. Orang-orang
Karangwaru bukan sekelompok orang penakut. Tetapi perampok
yang pernah datang ke Karangwaru itu dipimpin oleh seorang
yang berilmu sangat tinggi. Orang-orang Karangwaru yakin,
bahwa sebenarnya mereka bukan sekelompok perampok. Hanya
karena keadaan yang memaksa, maka mereka telah merampok
rumah seorang saudagar kaya di Karangwaru. Pemimpinnya telah
memperlihatkan kelebihannya, dan bahkan tidak masuk akal
bagi orang-orang Karangwaru.”
Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Bagi keduanya,
keterangan itu sudah mengarah. Sekelompok orang yang
merampok di Karangwaru itu tentu Ki Gede Lenglengan dan
beberapa orang yang mengikutinya.
Dengan demikian, maka mereka menjadi semakin yakin,
bahwa arah yang mereka tempuh adalah arah yang benar.
Demikianlah, setelah para pande besi itu selesai mengemasi
alat-alatnya, maka merekapun meninggalkan gubuk mereka
sambil membawa pedang yang telah siap untuk mereka serahkan
kepada orang-orang Karangwaru.
Karangwaru terletak tidak terlalu jauh dari pasar. Bahkan
Karangwaru adalah sebuah padukuhan yang terletak di
kademangan yang sama.
Ternyata Ki Bekel di Karangwaru adalah seorang yang ramah.
Beberapa orang pande besi yang membawa pedang itu
diterimanya dengan baik. Demikian pula Wijang dan Paksi yang
datang bersama dengan mereka.
“Baru sebagian, Ki Bekel,” berkata pande besi tua itu.
“Terima kasih,” jawab Ki Bekel. “Aku baru merencanakan
untuk melihat seberapa jauh pesanan kami sudah dikerjakan
bersama Ki Jagabaya. Sebenarnya pagi tadi kami akan pergi ke
pasar. Tetapi kami harus menunggui perbaikan bendungan,
sehingga kami menunda rencana kami itu.”
“Adalah kebetulan bahwa Ki Bekel tidak pergi ke pasar pagi
tadi,” desis pande besi itu.
“Kenapa?”
Pande besi itupun kemudian menceriterakan apa yang telah
terjadi di pasar. Sekelompok orang yang dipimpin oleh seorang
yang menyebut dirinya Sura Tunda telah datang ke tempat kerja
pande besi itu.
“Untunglah ada kedua anak muda ini, sehingga kami dapat
mengatasi gerombolan yang jumlahnya cukup banyak itu.”
Ki Bekel mendengarkannya dengan sungguh-sungguh,
kemudian dengan nada ragu iapun bertanya, “Apakah ciri-ciri
pimpinan segerombolan perampok itu seperti yang pernah aku
katakan datang merampok di padukuhan ini?”
“Tidak, Ki Bekel. Sama sekali berbeda. Bahkan Sura Tunda
telah menyatakan diri untuk menjadi pelindung di daerah ini,
termasuk Padukuhan Karangwaru.”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Dengan demikian
Sura Tunda itu akan dapat dengan leluasa memeras daerah yang
disebutnya dilindunginya itu.”
“Ya. Karena itu, maka Karangwaru tidak memerlukan lagi
pedang-pedang ini, sehingga pedang-pedang ini akan diambil oleh
Sura Tunda.”
“Jadi Sura Tunda itu bukan orang yang ilmunya tidak dapat
dimengerti itu?”
“Tidak, Ki Bekel. Ternyata bahwa kami mampu melawannya.
Meskipun agaknya tanpa kedua orang anak muda itu kami
mengalami kesulitan, karena jumlah mereka terlalu banyak.”
“Baiklah. Terima kasih atas kesediaan kami mempertahankan
pedang-pedang kami dan bahkan mengantarkannya kemari.”
“Mungkin kalian memerlukannya. Jika Sura Tunda itu datang
kemari, maka sebagian dari laki-laki di Karangwaru sudah
memiliki senjata yang memadai. Sedangkan sebagian yang lain
akan segera kami selesaikan.”
“Terima kasih.”
“Namun aku ingin minta kepada Ki Bekel, agar kita dapat
bekerja bersama menghadapi Sura Tunda dan para pengikutnya.”
“Tentu. Kita saling membutuhkan. Apalagi kedua orang anak
muda itu. Mudah-mudahan kita akan dapat melawan Sura Tunda
dan para pengikutnya. Namun kami, orang-orang Karangwaru
harus berhati-hati menghadapi sekelompok orang yang dipimpin
oleh orang yang berilmu sangat tinggi itu. Jumlah mereka tidak
banyak. Tetapi nampaknya mereka tidak akan terlawan.”
“Aku kira mereka tidak akan datang lagi ke padukuhan ini, Ki
Bekel,” berkata Wijang menyela.
Ki Bekel itu mengerutkan dahinya. Pande besi yang tua itu,
serta kawan-kawannya pun merasa tertarik kepada keterangan
Wijang itu.
“Kenapa orang-orang itu tidak akan datang lagi?” bertanya Ki
Bekel.
“Mereka hanya lewat. Pada dasarnya mereka memang bukan
perampok,” jawab Wijang.
“Dari mana kau tahu?” bertanya Ki Bekel.
Wijang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
berkata, “Aku juga berkepentingan dengan mereka.”
Ki Bekel memandang Wijang dan Paksi berganti-ganti.
Sementara itu pande besi yang tua itupun berkata, “Jadi
kehadiran kalian di sini ada hubungannya dengan perampok
yang berilmu tinggi itu?”
“Aku hanya sekedar mengikuti arah perjalanannya.”
“Tentu bukannya tanpa maksud”
Wijang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya,
“Sudahlah. Kami akan segera meneruskan perjalanan kami
mengikuti arah perjalanan orang-orang yang kalian sebut
perampok itu.”
Tetapi Ki Bekel masih bertanya, “Jika mereka sebenarnya
bukan perampok, siapakah mereka itu?”
“Mereka pada dasarnya memang bukan perampok. Mereka
justru lebih berbahaya dari sekelompok perampok. Orang itu jauh
lebih berbahaya dari Sura Tunda.”
Ki Bekel dan pande besi yang tua itu mengangguk-angguk.
Sementara Wijangpun berkata, “Sebaiknya kami minta diri. Kami
akan melanjutkan perjalanan kami.”
“Kenapa kalian tidak bermalam barang semalam di sini?
Besok pagi-pagi kalian dapat melanjutkan perjalanan.
Seandainya kalian berangkat juga sekarang, maka beberapa saat
lagi langit pun akan menjadi suram. Senja akan segera turun.”
“Terima kasih, Ki Bekel. Mudah-mudahan di perjalanan
pulang kelak kami dapat singgah. Jika sebentar lagi malam
turun, kami tidak harus segera berhenti. Sebagai pengembara
kami dapat saja berjalan siang atau malam.”
Pande besi yang tua itu juga tidak dapat mencegah kedua
anak muda itu untuk bermalam. Wijang dan Paksi berniat untuk
melanjutkan perjalanan mereka.
Setelah minum minuman hangat serta makan beberapa
potong makanannya, maka keduanyapun telah minta diri.
“Sura Tunda bukan orang yang menakutkan,” berkata Wijang.
“Jika Ki Bekel berhasil menggerakkan semua laki-laki di
padukuhan ini maka Sura Tunda tidak akan berani berbuat apaapa
di sini. Apalagi jika Ki Bekel berhubungan dengan para bekel
di padukuhan yang lain serta berbicara dengan Ki Demang.
Kakek pande besi itu tentu bersedia bekerja sama dengan
padukuhan-padukuhan di kademangan ini.”
“Tentu, Ngger,” sahut pande besi itu. “Dengan bekerja sama
kami akan menjadi semakin kuat.”
“Ki Bekel,” berkata Wijang kemudian, “kami mohon diri.
Mudah-mudahan padukuhan ini untuk selanjutnya tidak akan
diganggu oleh siapapun. Kek, dan saudara-saudaraku pande besi
yang lain, kami minta diri.”
Demikianlah Wijang dan Paksipun meninggalkan padukuhan
itu. Namun dengan demikian mereka yakin, bahwa mereka telah
menempuh jalan yang benar. Mereka berada di jalan yang telah
dilalui oleh Ki Gede Lenglengan, menuju ke sisi selatan kaki
Gunung Merapi.
Ketika kemudian malam turun, maka keduanya berada di
sebuah padukuhan kecil. Meskipun padukuhan itu kecil, tetapi
lingkungannya nampak sangat subur. Air melimpah di manamana.
Parit-parit nampaknya tetap mengalir di segala musim.
Meskipun demikian, nampaknya kehidupan di padukuhan itu
tetap saja sederhana. Orang-orang padukuhan itu memanfaatkan
kesuburan tanahnya secukupnya saja.
Tetapi seperti kebanyakan orang-orang di padukuhan yang
pernah dilewatinya, maka penghuni padukuhan itu agaknya juga
orang-orang yang ramah. Wijang dan Paksi telah mendapat
kesempatan untuk bermalam di banjar. Bahkan penunggu banjar
itu telah menyuguhi mereka ketela rebus yang masih hangat
menjelang tengah malam.
“Kami telah merepotkan Paman dan Bibi,” berkata Wijang.
“Tidak apa-apa. Ketela itu adalah ketela yang kami tanam di
kebun belakang banjar ini. Ternyata ketela itu berarti juga
sebagaimana dapat kami suguhkan bagi kalian malam ini.”
“Kami hanya dapat mengucapkan terima kasih.”
Penunggu banjar itu tersenyum. Ditinggalkannya Wijang dan
Paksi yang duduk di serambi banjar.
“Silahkan tidur di amben bambu itu, Ki Sanak. Maaf, hanya
seperti inilah yang dapat kami sediakan bagi kalian.”
“Sudah lebih dari cukup, Paman. Terima kasih atas semuanya
ini.”
“Besok pagi, jika kalian ingin pergi pagi-pagi sekali, tinggalkan
saja mangkuk itu di situ. Kalian dapat mandi di pakiwan. Jika
aku belum bangun esok pagi, kami mengucapkan selamat jalan.
Tetapi jika kalian tidak tergesa-gesa, kalian dapat menunggu aku
bangun. Maaf, kadang-kadang aku memang terlambat bangun.
Apalagi jika sampai tengah malam aku belum tidur. Mungkin
karena aku tidak mempunyai banyak kerja di pagi hari.”
“Baik, Paman. Kami tidak ingin terlalu banyak mengganggu.
Jika Paman esok belum bangun, kami mohon diri.”
Penunggu banjar itupun kemudian meninggalkan Wijang dan
Paksi di serambi gandok itu. Tetapi rumah penunggu banjar itu
hanya beradu dinding halaman saja dengan halaman banjar itu.
Pada dinding itu terdapat sebuah pintu butulan.
“Meskipun hidupnya sederhana saja, tetapi orang itu agaknya
terbiasa membantu orang lain yang memerlukannya,” berkata
Wijang sambil berbaring.
“Ya. Ia orang baik,” desis Paksi yang masih duduk di bibir
amben.
“Aku hanya akan tidur sebentar. Nanti, jika kau mengantuk,
bangunkan aku. Ganti kau yang tidur,” berkata Wijang sambil
memejamkan matanya.
Paksi tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian bersandar
dinding sambil menyilangkan kakinya di amben bambu, di
sebelah Wijang.
Sejenak kemudian, Wijangpun telah tertidur nyenyak.
Di dini hari, Wijang itupun terbangun dengan sendirinya
sebelum Paksi membangunkannya. Wijanglah yang kemudian
duduk bersandar dinding. Sementara Paksi berbaring untuk
dapat tidur barang sekejap.
Pagi-pagi sekali keduanya sudah berbenah diri. Kemudian
bersiap untuk berangkat.
“Bukankah kita tidak perlu membangunkan penunggu banjar
ini untuk minta diri?” bertanya Paksi.
Wijang menggeleng.
Sebelum matahari terbit, maka kedua orang anak muda itu
telah meninggalkan banjar. Mereka berjalan menyusuri jalan
padukuhan yang masih sepi. Namun satu dua sudah ada orang
yang terbangun dan menyapu halaman rumah mereka dengan
sapu lidi.
Ketika kemudian matahari terbit, Wijang dan Paksi sudah
berada di tengah-tengah bulak panjang. Di hadapan mereka, di
seberang tanah persawahan yang subur, terdapat sebuah padang
perdu. Di seberang padang perdu terdapat hutan di lereng
gunung yang lebat.
Sementara itu, penunggu banjar itupun telah terbangun.
Ketika ia menggeliat, iapun teringat bahwa ada dua orang yang
bermalam di banjar.
“Nyi,” penunggu banjar itu dengan serta-merta bangkit dan
mencari istrinya.
“Ada apa, Kang?”
“Kau sudah merebut air?”
“Sudah, Kang. Ada apa?”
“Kau sudah memberi minum kedua orang yang bermalam di
banjar?”
“O, belum. Aku lupa bahwa ada orang yang bermalam di
banjar.”
“Tolong. Buatkan mereka minuman. Apa saja. Aku akan
menengoknya.”
Penunggu banjar itupun dengan tergesa-gesa lewat pintu
butulan melihat dua orang anak muda yang bermalam di banjar.
Tetapi keduanya sudah tidak ditemuinya. Yang masih terdapat di
serambi gandok itu tinggal sebuah mangkuk yang masih berisi
ketela rebus yang tinggal sepotong.
“Anak-anak itu sudah pergi,” desis penunggu banjar itu.
“Kasihan. Mereka belum sempat minum minuman hangat.
Apalagi makan apa saja. Ketela atau pisang rebus.”
Sambil mengambil mangkuk dengan sepotong ketela rebus
yang tersisa, orang itu masih saja bergumam, “Padahal mereka
akan menempuh perjalanan di daerah yang jauh dari padukuhan.
Mereka akan menempuh perjalanan melewati padang perdu yang
panjang. Kemudian menyusuri jalan di pinggir hutan yang lebat.
Mereka tidak akan bertemu dengan makanan sampai mereka
melintasi hutan itu. Mungkin baru sore nanti mereka sampai ke
lingkungan yang berpenghuni.”
Namun tiba-tiba saja mata orang itu terbelalak. Ketika ia
memungut mangkuknya, dilihatnya di bawah sepotong ketela
rebus itu beberapa keping uang.
“Uang. Ini benar-benar uang,” katanya kepada diri sendiri.
Dengan gemetar ia meraba uang itu. Katanya, “Bagaimana
mungkin di mangkuk ini ada uang. Apakah kedua orang
pengembara itu yang meletakkannya? Jika demikian, mereka
tentu orang yang mempunyai banyak sekali uang. Dengan uang
ini aku akan dapat membeli dua ekor kambing. Jika mataku
tidak rabun, uang yang ada di mangkuk itu adalah keping-keping
uang perak.”
Ketika ia mengatakan kepada istrinya, maka istrinya pun
menjadi gemetar. Katanya, “Apakah itu benar-benar uang,
Kakang. Aku belum pernah melihat keping-keping uang perak.”
“Uang. Ini uang. Kita pernah mempunyai sekeping uang perak
di antara beberapa keping uang tembaga ketika kita menjual
kambing kita untuk membiayai pengobatan anak kita. Waktu itu
kita memerlukan uang untuk membayar tabib yang baik dan
membeli reramuan obat-obatan, sehingga kita harus menjual
kambing kita meskipun ditangisi oleh anak kita. Tetapi kita ingin
anak itu sembuh.”
“Sekarang kita dapat membeli kambing lagi, Kakang.”
“Ya. Besok hari pasaran aku akan pergi ke pasar.”
“Yang Maha Pencipta itu agaknya selalu memelihara
ciptaanNya. Anak kita akan menjadi sangat bergembira jika ia
dapat menggembalakan kambing lagi bersama teman-temannya.”
“Aku akan membeli dua ekor kambing muda. Jantan dan
betina. Sisanya dapat untuk membeli kain panjang buatmu, Nyi.”
“Aku dapat memakai kain panjang apa saja. Kau yang
membutuhkannya, Kakang. Jika ada tamu di banjar, kau
memerlukan pakaian yang lebih pantas.”
“Kita akan membeli kain panjang dua lembar, ya Nyi.”
“Terserah kepada Kakang. Tetapi apakah uang itu memang
untuk kita?”
“Jika tidak untuk kita, uang itu tentu tidak akan diletakkan di
dalam mangkuk itu.”
“Jika mereka hanya sekedar meletakkan selama mereka tidur,
tetapi mereka lupa untuk memungutnya kembali?”
“Kita akan menunggu sampai hari pasaran. Jika benar mereka
sekedar lupa, maka mereka akan segera kembali. Tetapi jika
sampai pada hari pasaran mereka tidak kembali, berarti mereka
tidak sekedar lupa.”
“Jika mereka kembali?”
“Kita harus mengembalikannya, Nyi. Utuh seperti saat kita
temukan.”
Perempuan itu mengangguk-angguk.
“Sekarang, biarlah aku simpan uang itu bersama mangkuk
dan ketela yang sepotong itu. Jika mereka memang kelupaan dan
kembali lagi, kita berikan mangkuk itu sebagaimana saat aku
mengambilnya.”
Penunggu banjar itupun kemudian menyimpan uang di dalam
mangkuk bersama sepotong ketela rebus itu di dalam geledeg di
ruang dalam rumahnya yang tidak begitu besar. Anaknya tidak
pernah membuka geledeg itu, sehingga ia tidak akan melihat
bahwa di geledeg itu ada uangnya.
Dalam pada itu, Wijang dan Paksi yang sudah berada di bulak
panjang berjalan semakin jauh dari padukuhan kecil itu. Sambil
menengadahkan wajahnya Wijangpun berdesis, “Penunggu banjar
itu agaknya sudah bangun sekarang.”
“Ia akan terkejut melihat uang di mangkuk itu.”
“Mudah-mudahan uang itu tidak diketemukan oleh orang
lain.”
“Kelak jika ada kesempatan kita singgah lagi. Mungkin orang
itu masih ingat kepada kita.”
“Tetapi nampaknya kita memerlukan waktu yang panjang bagi
pengembaraan itu.”
Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Agaknya kita
memerlukan waktu yang panjang.”
Untuk sesaat keduanyapun saling berdiam diri. Mereka
melangkah di jalan yang semakin lama semakin sempit dan
agaknya semakin jarang dilewati orang.
Jalan itupun kemudian berbelok memasuki padang perdu
yang miring. Di seberang padang perdu itu, nampak hutan di
kaki gunung yang lebat.
“Kita sudah memasuki sisi selatan kaki Gunung Merapi,
Paksi,” berkata Wijang kemudian. “Sekarang kita akan pergi ke
mana?”
“Marilah kita cari gubuk yang pernah kita tinggalkan itu.”
Wijang mengerutkan dahinya. Katanya, “Mungkin kita masih
menemukan bekasnya.”
Perjalanan merekapun menjadi semakin sulit. Mereka mulai
berjalan di tanah yang berlekuk. Kadang-kadang mereka harus
mendaki. Namun kadang-kadang mereka harus menuruni tebing,
menyusuri sungai-sungai kecil yang berbatu-batu besar.
Hutan di sebelah adalah hutan yang lebat, yang tentu dihuni
oleh beberapa jenis binatang buas.
“Kita akan pergi ke sebelah gumuk itu,” berkata Paksi sambil
menunjuk puncak sebuah gumuk yang tidak begitu besar di kaki
Gunung Merapi itu.
Wijang mengangguk-angguk. Sementara itu, mataharipun
mulai turun di sisi barat.
“Kita tidak akan menemui padukuhan lagi di jalur perjalanan
kita,” berkata Wijang.
“Ya.”
“Kita harus menemukan sesuatu.”
“Kau mulai lapar?” Wijang tersenyum.
“Tentu ada sesuatu yang kita dapatkan di gumuk kecil itu,”
berkata Paksi.
Keduanyapun kemudian berjalan melingkari gumuk kecil.
Seperti yang dikatakan oleh Paksi, maka merekapun menjumpai
bukan sekedar beberapa batang pohon pisang, tetapi beberapa
rumpun. Beberapa batang di antaranya berbuah. Dan beberapa
tandan di antaranya sudah masak. Bahkan nampaknya tidak
seorang pun yang pernah mengambil buahnya, sehingga
nampaknya beberapa tandan telah membusuk dan jatuh di
tanah.
“Kau salah jika kau menganggap bahwa buah pisang itu
utuh,” berkata Wijang.
Paksi mengangguk-angguk. Sebagian dari buah pisang itu
nampaknya sudah dimakan burung. Tetapi agaknya di sekitar
gumuk itu terdapat banyak sekali pohon pisang, sehingga masih
banyak juga pisang yang tidak tersentuh oleh paruh burung.
Wijang dan Paksi kemudian duduk beristirahat di atas sebuah
batu yang besar. Mereka tidak menghadapi minuman hangat dan
nasi yang masih mengepul seperti di kedai-kedai. Tetapi di depan
mereka terdapat setandan pisang.
Tetapi keduanya hanya memerlukan beberapa buah pisang
saja. Keduanya sudah terbiasa menjalani laku mengurangi
makan dan minum. Bahkan mereka pun pernah menjalani laku
selama tiga hari tiga malam yang pada setiap hari mereka hanya
minum semangkuk air putih dan tiga buah pisang raja.
Setelah makan pisang dan menghirup air di sebuah mata air
kecil di pinggir sungai kecil, mereka masih duduk beristirahat
sambil memperhatikan lingkungan di sekitarnya. Mereka
memperhatikan puncak Gunung Merapi yang bersih. Jalur-jalur
yang agaknya lekuk-lekuk yang dalam, menjulur dari puncaknya.
Wijangpun kemudian berdesis, “Kita tinggal melingkari gumuk
ini. Kita akan segera berada di sekitar gubuk yang pernah kita
tinggalkan itu.”
Paksi mengangguk-angguk. Dipandanginya puncak Gunung
Merapi. Hutan lereng gunung, jalur-jalur jurang yang dalam di
lambung serta beberapa bukit yang ada di kaki Gunung Merapi
itu.
“Ya. Kita sudah tidak jauh lagi.”
Wijang itupun kemudian bangkit berdiri sambil berkata, “Kita
akan meneruskan perjalanan. Mudah-mudahan kita akan sampai
sebelum gelap.”
Keduanyapun kemudian melanjutkan perjalanan mereka.
Masing-masing membawa beberapa buah pisang untuk bekal di
perjalanan mereka yang sudah tidak terlalu panjang lagi.
Sebenarnyalah, setelah mereka melingkari gumuk kecil itu,
mereka sampai di tempat yang sudah mereka kenal. Mereka
berada di pinggir sebuah sungai. Sebuah gerojogan berada tidak
jauh agak di arah udik.
“Air terjun itu,” desis Paksi.
“Ya,” Wijang mengangguk-angguk, “gubuk itu ada di
seberang.”
Wajah keduanya menjadi cerah. Rasa-rasanya mereka
menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang.
“Ingat, Paksi,” berkata Wijang, “di sini banyak ular. Kau harus
bersiap-siap sebelum kakimu dipatuk ular yang paling tajam
bisanya.”
Paksi tersenyum. Iapun mengangguk sambil berkata, “Aku
akan menelan reramuan itu.”
Demikianlah maka keduanyapun kemudian menuruni jurang
yang agak dalam. Demikian kaki mereka menyentuh air, maka
rasa-rasanya seluruh tubuh mereka menjadi segar kembali
setelah mereka berjalan di teriknya sinar matahari. Lelah dan
panas yang serasa membakar kulit tiba-tiba telah hilang.
“Kita lihat air terjun itu,” desis Paksi.
“Apakah kita tidak melihat gubukmu lebih dahulu? Nanti atau
besok kita masih mempunyai banyak waktu untuk pergi melihat
air terjun itu.”
Paksi mengangguk kecil sambil berkata, “Ya. Kita akan
melihat gubuk itu dahulu.”
Demikian merekapun telah naik tebing di seberang. Demikian
mereka sampai di atas, rasa-rasanya mereka ingin segera
meloncat ke gubuk yang pernah mereka tinggalkan.
Untuk sesaat mereka mengamati keadaan di sekitar mereka.
Semuanya memang telah berubah. Pohon perdu tumbuh di
mana-mana di sela-sela batang ilalang. Namun agaknya
lingkungan itu tidak lagi pernah dijamah oleh seseorang.
“Kita akan menemukan kembali rumah kita,” desis Paksi.
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Keduanyapun kemudian
menyibak batang ilalang dan berjalan ke arah gubuk yang telah
mereka tinggalkan.
Gubuk mereka memang tidak begitu jauh lagi. Beberapa saat
kemudian, ketika matahari sudah menjadi semakin rendah, Paksi
dan Wijang itu telah menemukan sisa-sisa gubuk yang pernah
mereka huni.
Tetapi gubuk yang sederhana itu telah rusak. Atapnya sudah
diterbangkan angin. Beberapa tiang sudah roboh. Sedangkan
dindingnya sudah lapuk.
Paksi dan Wijang berdiri termangu-mangu. Mereka
memandangi sisa-sisa gubuk mereka dengan jantung yang
bergetar.
“Kita harus mulai dari permulaan,” berkata Paksi.
“Apa salahnya?” desis Wijang. “Kau masih mempunyai
beberapa alat dapur yang masih utuh.”
“Apakah kita masih dapat memakainya? Mangkuk-mangkuk
dari tanah itu sudah menjadi kehijau-hijauan oleh lumut yang
tebal.”
Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Kita haru membeli lagi
yang baru.”
“Kita dapat membeli di pasar itu. Aku kira pasar itu masih
ada. Atau bahkan menjadi semakin besar.”
“Kita tidak tergesa-gesa. Kita dapat membuat perapian dan
mengasapi buruan kita.”
“Jika kita akan menanak nasi?” Wijang menarik nafas dalamdalam.
Namun Paksipun kemudian berkata, “Tetapi hari ini kita
belum memerlukannya. Bahkan mungkin kita tidak
memerlukannya untuk selanjutnya, karena kita akan segera
bergerak.”
“Ya. Kita memang akan segera bergerak. Tetapi bukankah ada
baiknya jika kita mempunyai sarang tempat untuk hinggap?”
“Aku tidak berkeberatan. Tetapi kita jangan terlena dengan
sarang kita saja.”
“Paksi, bukankah ketika kita mendekati tempat ini, kita
seakan-akan tidak sabar lagi untuk segera sampai? Untuk segera
melihat apakah gubuk itu masih ada?”
“Aku memang ingin segera melihat gubuk yang pernah kita
huni ini. Tetapi setelah itu, aku merasa terlalu lamban bergerak
untuk menemukan adikku. Jika kita tertambat pada gubuk ini,
maka kesempatan kita untuk menemukan adikku itu menjadi
semakin tipis.”
“Aku setuju untuk bergerak lebih cepat, Paksi. Tetapi
bukankah kita harus merenungkan, ke mana kita akan pergi.
Siapa yang pertama-tama akan kita hubungi dan mencari jawab
dari berbagai macam pertanyaan yang lain?”
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara Wijangpun
berkata, “Besok kita khususkan waktu kita sehari untuk
memperbaiki gubuk ini. Ada sebagian bahannya yang masih
dapat dipergunakan.”
Paksi tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk kecil.
Sementara itu, langitpun menjadi semakin muram. Senja
mulai turun. Sementara itu, Paksi dan Wijang masih mempunyai
beberapa buah pisang yang dapat mereka makan.
Malam itu keduanya tidur di atas ketepe yang masih mereka
temukan di gubuk itu. Bergantian. Mereka tidak tahu, apakah
lingkungan itu masih saja seperti pada saat-saat mereka tinggal
di gubuk itu, atau menjadi lebih garang. Karena itu, maka
mereka harus lebih berhati-hati.
Wijanglah yang tidur lebih dahulu. Baru kemudian di tengah
malam tanpa dibangunkan, Wijang itupun bangun sendiri.
“Tidurlah,” berkata Wijang. “Aku sudah terlalu lama tidur.
Kepalaku akan dapat menjadi pening jika aku tidur lebih lama
lagi.”
Paksilah yang kemudian berbaring berselimut kain
panjangnya. Dinginnya malam serasa menggigit tulang. Kaki
Gunung Merapi itu rasa-rasanya telah membeku. Dedaunan,
pepohonan dan rerumputan berdiri diam mematung. Tidak ada
angin seberapa lembutnya pun.
Sejenak kemudian, Paksipun terlelap. Ia memang sudah mulai
mengantuk pada saat Wijang itu terbangun.
Menjelang fajar Paksipun telah bangun. Keduanyapun telah
pergi ke sungai untuk membersihkan diri.
Ketika langit terang, keduanya telah duduk di depan gubuk
mereka yang berserakkan. Dengan nada berat Wijangpun
bertanya, “Apakah kau sudah siap untuk memperbaiki gubuk
kita?”
Paksi mengangguk sambil berdesis, “Marilah. Aku kira kita
tidak memerlukan waktu terlalu lama.”
“Ya. Besok kita dapat turun untuk melihat suasana. Kita
harus mengenali kembali lingkungan ini sebelum kita bergerak.
Menurut jejak pelacakan kita, Ki Gede Lenglengan memang
berada di sisi selatan Gunung Merapi. Sedang sepasang suamiistri
itu untuk sementara kita anggap saja Repak Rembulung dan
Pupus Rembulung, sebelum kita menemukan kemungkinan lain.”
Paksi mengangguk-angguk. Sementara itu Wijang yang benarbenar
bersikap sebagai seorang kakak yang sangat
memperhatikan adiknya berkata, “Nah, apakah kita akan mencari
makanan lebih dahulu sebelum mulai dengan kerja?”
“Ke mana kita mencari makanan?”
“Di sebelah ada hutan yang memberikan kesempatan kita
berburu. Di sungai banyak terdapat ikan. Nah, kita akan dapat
mengasapinya. Kita buat api di pinggir sungai itu. Mungkin
asapnya akan membubung. Mudah-mudahan tidak ada orang
yang memperhatikannya dan apalagi datang untuk
menengoknya.”
“Nanti saja, Wijang. Sekarang kita mulai dengan kerja. Kita
berharap bahwa di rumpun pisang itu kita mendapatkan pisang
yang sudah masak.”
Wijang mengangguk-angguk. Iapun kemudian bangkit berdiri
sambil menarik sepasang pisau belatinya. Katanya, “Nah, kau
pakai yang satu. Kau siapkan tiangnya. Aku akan mengambil
pelepah kelapa itu untuk membuat ketepe. Dinding gubuk ini
harus diperbaharui.”
Paksi tidak menjawab. Diterimanya pisau belati itu.
Namun ketika Wijang melangkah pergi, Paksipun berkata,
“Kau akan memanjat pohon kelapa itu?”
“Ya. Bukankah di pinggir kali kecil itu berderet pohon kelapa
yang berdaun lebat? Bukan hanya daunnya, tetapi juga buahnya.
Tidak ada yang memetiknya, sehingga berjatuhan dan hanyut ke
hilir. Yang tersangkut di tepian akan tumbuh dan berbuah pula.”
Paksi tidak bertanya lagi. Tetapi ia mulai memilih potonganpotongan
bambu yang masih mungkin dipakai. Yang sudah lapuk
telah disingkirkan.
Untuk menggantikan bambu yang sudah tidak dapat
dipergunakan lagi, maka Paksipun harus memotong bambu dari
rumpun bambu atau batang kayu yang tegak dan lurus, di
pinggir hutan.
Sehari itu, keduanya telah bekerja keras untuk membangun
kembali gubuk itu. Wijangpun kemudian menyeret beberapa
pelepah kelapa untuk membuat ketepe yang dapat dipergunakan
untuk dindingnya.
Sementara itu, mereka masih menemukan bekas atap ilalang
yang dihanyutkan angin. Merekapun harus memperbaharuinya
pula. Dicarinya ilalang kering untuk melengkapi atap gubuknya.
Seperti yang mereka perhitungkan, maka hari itu juga mereka
telah menyelesaikan sebagian besar dari gubuk mereka. Atap pun
telah terpasang. Demikian pula dinding ketepe meskipun lembarlembar
daun kelapanya masih basah. Jika daun itu kering dan
menyusut, maka mereka harus merangkapinya dengan yang baru
agar menjadi rapat.
Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka Paksipun
berkata, “Kita sudahi kerja kita hari ini. Kita sempat mencari ikan
dan mandi di sungai. Malam nanti kita akan mengasapi beberapa
ekor ikan yang dapat kita tangkap. Sementara itu, kita dapat
memetik buah pisang di rumpun-rumpun pisang di dekat tebing
sungai itu.”
Wijang mengangguk. Katanya, “Baiklah. Malam nanti kita
sudah dapat tidur di dalam sebuah gubuk yang tertutup serta
beratap.”
Demikianlah, maka keduanyapun pergi ke sungai untuk
membersihkan diri. Mereka sempat lewat di rumpun batang
pisang yang lebat. Beberapa tandan pisang yang masak masih
bergayut di batangnya. Ada di antaranya yang telah roboh. Tetapi
ada pula yang telah dimakan burung.
Ketika malam turun, maka Wijang dan Paksi yang letih telah
berbaring di dalam gubuknya. Beberapa ekor ikan yang telah
diasapi diletakkan di atas selembar daun pisang. Di sebelahnya,
terkumpul duri beberapa ekor ikan yang telah dimakan
dagingnya serta kulit pisang kapok kuning.
Sambil berbaring keduanya masih sempat berbincang tentang
rencana apa yang segera akan mereka lakukan.
“Paksi,” berkata Wijang kemudian, “kita tidak boleh tergesagesa.
Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di lingkungan
ini setelah kita beberapa lama meninggalkannya. Mungkin
adikmu berada di tangan Repak Rembulung dan Pupus
Rembulung. Namun kita ketahui, bahwa sebelumnya ada
permusuhan antara Repak Rembulung dan Pupus Rembulung
serta beberapa perguruan yang lain dengan Harya Wisaka. Jika
adikmu merupakan bagian dari anak-anak muda yang
dipersiapkan bagi masa datang oleh Harya Wisaka, seharusnya
mereka tidak berada di lingkungan Repak Rembulung dan Pupus
Rembulung.”
Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Menurut perhitungan
nalar memang demikian. Tetapi mungkin ada perubahan sikap
justru setelah Harya Wisaka tertangkap. Kita pun tidak tahu
hubungan antara Ki Gede Lenglengan dengan Repak Rembulung
dan Pupus Rembulung.”
“Ya. Banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Karena itu,
apakah yang sebaiknya kita lakukan? Apakah berusaha mencari
hubungan dengan Repak Rembulung dan Pupus Rembulung?
Mungkin kita dapat pergi ke Panjatan. Atau mungkin ke tempat
yang lain. Tetapi kita harus tetap menyadari, bahwa
sebenarnyalah di antara perguruan-perguruan itupun terdapat
persaingan. Mereka dahulu terikat dalam satu kerjasama untuk
menentang Paman Harya Wisaka. Tetapi sekarang setelah Paman
Harya Wisata tertangkap, persoalannya tentu berbeda. Aku tidak
yakin, bahwa mereka sudah melupakan cincin kerajaan yang
mereka anggap berada di daerah ini. Sepanjang cincin itu masih
belum mereka ketemukan, maka mereka tentu masih berusaha
mencarinya.”
“Tetapi berita bahwa cincin itu sudah berada di istana tentu
sudah mereka dengar pula. Pangeran Benawa telah berada di
istana pula.”
“Tetapi Pangeran Benawa itu sekarang sedang meninggalkan
istana, sementara cincin itu masih ada padanya.”
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian
bergumam seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “Tidak
seorang pun tahu, ke mana perginya Pangeran Benawa sekarang.
Tidak pula ada ceritera tentang daru yang jatuh di daerah ini,
sehingga agaknya mereka tidak berkumpul saling bermusuhan di
sisi selatan kaki Gunung Merapi.”
“Kau benar, Paksi. Meskipun demikian, daerah ini merupakan
daerah yang asing bagi kita sekarang.”
Paksi mengangguk-angguk.
“Sudahlah,” berkata Wijang, “kita beristirahat. Aku akan tidur
sampai tengah malam. Kemudian bergantian kau yang tidur.”
Paksi mengangguk pula.
Ketika Wijang memejamkan matanya, maka Paksi justru
bangkit berdiri dan melangkah ke pintu. Didorongnya pintu
gubuknya yang juga terbuat dari ketepe yang dirangkap.
Demikian Paksi berada di luar pintu, maka terasa dingin
malam menjadi semakin mencengkam. Langit nampak bersih
ditaburi bintang yang jumlahnya tidak terhitung. Hutan lereng
gunung nampak hitam pekat. Gumuk-gumuk kecil yang
berserakan bagaikan batu-batu raksasa yang tergolek membeku.
Paksipun duduk di atas sebuah batu yang besar. Batu itu
sudah berada di tempat itu sejak ia membual gubuknya pertama
kali.
Paksi sempat merenung beberapa lama. Wajah-wajah dari
orang-orang terdekat mulai membayang di angan-angannya.
Ibunya, adik perempuannya dan yang paling jelas nampak adalah
adik laki-lakinya. Wajah itu nampak muram dengan beberapa
bercak noda yang melekat.
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan itu semakin
lama semakin menghunjam di dadanya. Apakah ia akan dapat
menemukan adiknya? Tetapi seandainya ia dapat
menemukannya, apakah adiknya mau mendengar kata-katanya,
bahkan seandainya ia mengatasnamakan ibunya?
Jantung Paksi terasa berdentang semakin cepat. Ia merasa
betapa beratnya hari-hari yang akan dijalaninya dalam
hubungannya dengan usahanya mencari dan membawa adiknya
pulang dan menyerahkannya kepada ibunya.
Paksipun menyadari, bahwa di hati adiknya telah tertabur
racun. Adiknya tidak lagi menganggapnya sebagai saudaranya.
Tetapi justru sebagai musuhnya.
Ketika Paksi kemudian menengadahkan wajahnya, dilihatnya
sebuah bintang meluncur dengan cepat. Ia sudah sering melihat
lintang alian yang meluncur di langit. Bahkan apa yang disebut
ndaru dan teluh braja, yang berwarna kehijau-hijauan dan
kemerah-merahan.
Paksi itupun kemudian bangkit berdiri. Beberapa langkah ia
berjalan ke samping gubuk kecilnya.
Langkahnya terhenti ketika Paksi mendengar aum seekor
harimau di pinggir hutan lereng gunung. Suaranya bergaung oleh
gema yang seakan-akan sahut-menyahut.
Namun ketika dingin malam terasa semakin menusuk-nusuk
kulit, Paksipun masuk kembali ke dalam gubuknya. Kemudian
ditutupnya kembali pintunya rapat-rapat.
Seperti malam sebelumnya, menjelang tengah malam, Wijang
telah terbangun. Sambil duduk dan mengusap matanya,
Wijangpun berdesis, “Sekarang giliranmu tidur.”
Paksi tidak menjawab. Dibaringkannya tubuhnya di atas
anyaman ketepe berselimut kain panjangnya.
Wijanglah yang kemudian duduk sambil menyilangkan
kakinya. Namun beberapa saat kemudian, setelah Paksi tertidur,
Wijangpun bangkit dan melangkah keluar pula dari gubuknya.
Tetapi Wijangpun tidak lama berada di luar. Ia merasa lebih
hangat berada di dalam gubuknya daripada di luar. Sementara
itu kabut pun mulai turun dari lambung bukit, menyelimuti
Gunung Merapi yang seakan-akan kedinginan itu.
Menjelang fajar, Paksipun telah terbangun. Berdua mereka
pergi ke sungai yang tidak terlalu jauh dari gubuk itu. Sementara
itu kabut masih tersangkut di kaki bukit, sehingga Wijang dan
Paksi harus sangat berhati-hati. Kecuali jalan yang licin,
pandangan mata mereka pun terhalang oleh lapisan kabut yang
keputih-putihan itu.
Setelah mereka berbenah diri, maka Wijangpun berkata,
“Paksi, sebaiknya kita mengamati keadaan di sekitar tempat ini
untuk menentukan sikap kita lebih jauh.”
Paksi mengangguk. Katanya, “Ya. Kita akan melihat-lihat.
Apakah telah terjadi perubahan di lingkungan ini.”
Menjelang matahari terbit, maka keduanyapun telah
meninggalkan gubuk mereka. Keduanya belum merencanakan
untuk membersihkan lingkungan di sekitar gubuk itu. Mereka
masih belum tahu, apakah mereka akan tinggal untuk waktu
yang panjang di gubuk itu.
Beberapa saat kemudian, keduanya mulai menuruni kaki
Gunung Merapi. Mereka berjalan di padang perdu yang bagaikan
bergelombang. Gerumbul perdu berserakkan di sana-sini. Tidak
jauh dari padang perdu itu nampak hutan lereng gunung yang
garang. Pohon-pohon raksasa tumbuh saling berdesakan. Namun
pohon-pohon perdu pun tumbuh pula di antaranya, sehingga
agaknya sulit untuk menyibak memasuki hutan yang lebat dan
liar itu.
Beberapa saat kemudian, Wijang dan Paksi sampai pada
sebuah jalan setapak yang sempit di sela-sela lekuk-lekuk tanah
di padang perdu itu. Tetapi agaknya jalan itu tidak pernah
tersentuh kaki. Mungkin sekali dua kali ada orang yang sedang
mencari kayu lewat di jalan setapak itu. Itupun tentu jarang
sekali, karena di hutan itu masih berkeliaran berbagai jenis
binatang buas.
Menurut penglihatan Wijang dan Paksi, masih belum terdapat
banyak perubahan di sekitar tempat itu. Yang mereka lihat masih
yang dahulu juga. Ada sebatang pohon raksasa di dekat sebuah
gumuk kecil yang roboh. Agaknya angin pusaran yang kuat telah
memutar dan mencabut pohon itu sehingga roboh. Daundaunnya
sudah rontok. Namun beberapa tunas baru justru telah
tumbuh di pangkal batang yang roboh itu. Agaknya sebagian
akarnya yang masih menghunjam ke bumi, masih juga mampu
menghisap makanan dari dalam tanah untuk menghidupi tunastunas
yang baru itu.
“Nampaknya kita akan sampai ke jalan yang menuju ke pasar,
Paksi,” berkata Wijang kemudian.
“Ya. Tetapi apakah sebaiknya kita benar-benar pergi ke
pasar?”
“Baiklah. Mungkin ada yang dapat kita dengar apa yang
terjadi di pasar itu.”
Dengan kesepakatan itu maka merekapun berjalan lebih cepat
menuju ke pasar.
Ketika mereka semakin mendekati pasar yang sering mereka
kunjungi, jantung mereka menjadi berdebar-debar. Dari kejauhan
mereka sudah melihat, bahwa masih ada kesibukan di pasar itu.
Namun rasa-rasanya pasar itu menjadi lebih sepi dari beberapa
saat yang lewat, ketika mereka masih sering datang ke pasar itu.
Beberapa puluh langkah dari pintu gerbang pasar mereka
berhenti. Dengan nada dalam Paksipun berdesis, “Apakah karena
hari ini bukan hari pasaran, maka pasar itu nampak agak sepi?”
“Bukan karena itu, Paksi. Ketika kita sering datang ke pasar
ini, merupakan bukan hari pasaran, pasar ini nampak lebih
ramai dari hari ini.”
Paksi mengangguk-angguk. Sudah cukup lama ia tidak pergi
ke pasar itu. Agaknya memang sudah terjadi banyak perubahan.
“Marilah. Kita masuk. Kita sudah berada di pasar. Jika nanti
kita kembali ke gubuk, kita dapat membawa beberapa alat yang
barangkali kita perlukan. Di pasar itu tentu masih ada orang
yang berjualan gerabah. Kita dapat membeli mangkuk, periuk
dan barangkali kuali, di samping bumbu dapur, terutama garam,”
ajak Wijang.
Paksi mengangguk sambil menjawab, “Marilah, kita akan
melihat, apakah isi pasar itu masih seperti dahulu.”
Keduanyapun kemudian melangkah mendekati pintu gerbang
pasar. Beberapa buah kedai masih nampak berdiri di depan
pasar. Tetapi pada hari itu hanya ada dua buah kedai yang
dibuka.
Sesaat kemudian, maka mereka pun telah berada di dalam
pasar. Masih banyak orang berjualan. Masih banyak pula orang
yang berbelanja. Tetapi memang tidak seramai beberapa waktu
yang lalu.
Ketika keduanya berjalan untuk melihat-lihat, merekapun
terkejut. Demikian mereka berpaling, mereka melihat penjual
dawet itu masih berjualan, meskipun tempatnya agak bergeser.
“Bukankah kalian berdua yang dahulu sering membeli
dawetku?” bertanya penjual dawet itu.
Wijang dan Paksipun melangkah mendekat. Sambil tersenyum
Paksipun menjawab, “Ya, Paman. Kami dahulu sering membeli
dawet di sini. Tetapi bukankah dahulu Paman tidak berjualan di
sini?”
“Hanya sedikit beringsut, anak muda. Agak lebih jauh dari
pintu gerbang. Duduklah. Apakah sekarang kalian juga akan
membeli dawet lagi?”
“Ya, Paman,” jawab Wijang dengan serta-merta.
Paksipun tersenyum pula. Iapun ingin juga minum dawet
cendol yang manis itu setelah sebelumnya ia hanya minum air
dari belik saja.
Sambil menyendok cendol ke dalam mangkuk, penjual dawet
itupun bertanya, “Ke mana saja kalian selama ini? Sudah lama
sekali kalian tidak nampak di pasar.”
“Menengok pamanku, Paman.”
“Ya. Saat itu kau memang mengatakan akan menengok
pamanmu. Tetapi begitu lama?”
“Kami tidak boleh pulang. Paman dan bibi sendirian di
rumah.”
“Apakah mereka tidak mempunyai anak?”
“Ada, Paman. Tetapi tidak seorang pun dari anak-anaknya
yang tinggal bersamanya. Setelah mereka menikah, maka satusatu
mereka meninggalkan paman dan bibi, ikut suami mereka
masing-masing.”
“Apakah anaknya semuanya perempuan?”
“Ya. Enam orang. Semuanya perempuan. Sementara itu
paman dan bibi tidak mau meninggalkan rumah warisan dari
kakek dan nenek. Jika saja paman dan bibi mau tinggal bersama
salah seorang anaknya, maka tidak akan ada masalah lagi.
Semua anak perempuannya minta agar paman dan bibi tinggal
bersama mereka. Tetapi mereka tidak mau. Mereka memilih
kesepian tinggal di rumah warisan. Nah, ketika aku dan Kakang
menengok mereka, maka kami berdualah yang jadi pengganti
anak-anak mereka. Kami mau tidak mau harus tinggal bersama
mereka.”
“Sekarang, kenapa mereka kalian tinggalkan?”
Paksi termangu-mangu sejenak. Yang menyahut adalah
Wijang, “Anak paman yang bungsu baru saja melahirkan. Ada
alasan baginya untuk minta bibi menungguinya. Bahkan
bersama paman.”
“Lalu rumah paman dan bibimu kalian tinggal begitu saja?”
“Tidak. Rumah itu kami titipkan tetangga. Tetapi tetangga ini
masih ada juga hubungan darah meskipun sudah agak jauh.”
Penjual dawet itu terdiam. Sementara itu mangkuk Wijang dan
Paksipun telah kosong pula.
“Tambah lagi, Ngger?” bertanya penjual dawet itu.
Meskipun masih terhitung pagi, tetapi rasa-rasanya Wijang
dan Paksi itu sudah kehausan. Karena itu, maka merekapun
telah minta tambah lagi semangkuk dawet cendol.
“Lagi, Ngger?” bertanya penjual dawet itu ketika melihat
mangkuk dawet cendol Wijang dan Paksi telah habis kembali.
Wijang tertawa. Katanya, “Perutku sudah penuh dawet,
Paman. Meskipun kami belum makan pagi, rasa-rasanya perut
kami sudah kenyang.”
“Tetapi ada seorang yang minum dawet empat mangkuk
sekaligus, Ngger.”
Paksi mengerutkan dahinya. Rasa-rasanya ia memang pernah
mendengar penjual dawet itu berkata demikian.
Namun Wijangpun menjawab, “Perutku tidak cukup untuk
menampung empat mangkuk dawet itu, Paman.”
Penjual dawet itu tertawa
Dalam pada itu, selagi mereka masih duduk di lincak di depan
penjual dawet itu, Paksipun bertanya, “Paman, kenapa pasar ini
terasa sepi? Mungkin hari ini memang bukan hari pasaran, tetapi
bukankah biasanya tidak di hari pasaran pun pasar ini terasa
lebih ramai?”
“Hari ini pasar ini sudah bertambah ramai. Tiga hari yang
lalu, pasar ini menjadi sangat sepi. Hampir tidak ada seorang pun
yang berjualan dan berbelanja di pasar ini.”
“Kenapa?”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ada seorang
perempuan yang membimbing anaknya membeli dawet, maka
Paksi dan Wijangpun bergeser menepi, sehingga perempuan dan
anaknya itu duduk pula di lincak panjang itu.
“Pasarnya sudah mulai agak ramai lagi, ya Kang?” berkata
perempuan itu.
“Ya. Dua hari dawetku tidak laku.”
“Jadi kemarin dan kemarin lusa, Kakang juga berjualan?”
“Ya. Menurut pendapatku, aku tidak akan diganggu.”
“Bukan itu, Kang. Tetapi seharusnya Kakang juga
memperhitungkan, bahwa pasar ini akan menjadi sepi dan tidak
ada orang yang membeli.”
“Aku sudah memperhitungkan. Aku pun hanya membuat
dawet dan cendolnya seperempat dari hari-hari biasanya. Namun
ternyata yang seperempat itu pun tidak habis.”
“Seharusnya Kakang tahu, bahwa pasar ini akan menjadi
kosong barang dua tiga hari. Baru hari ini Kakang keluar dengan
dagangan Kakang.”
“Aku salah hitung. Barangkali aku hanya ingin
menyombongkan diri bahwa aku tidak takut meskipun terjadi
kerusuhan.”
“Kakang tidak usah berbuat seperti itu. Kecuali dagangan
Kakang tidak laku, jika terjadi sesuatu dengan Kakang, itu
karena salah Kakang sendiri.”
Penjual dawet itu mengangguk-angguk.
Sementara itu, perempuan dan anaknya itu telah selesai
menghirup dawet semangkuk. Perempuan itupun kemudian
membayar harga dawet itu sambil berkata, “Sudahlah, Kang.
Tetapi lain kali, Kakang harus lebih berhati-hati. Uang memang
dapat dicari, Kang. Tetapi di mana Kakang akan membeli nyawa,
jika nyawa Kakang hilang?”
Penjual dawet itu tertawa. Katanya, “Baiklah. Lain kali aku
akan berhati-hati.”
Ketika perempuan dan anaknya itu sudah pergi, maka
Wijangpun bertanya, “Ada apa sebenarnya beberapa hari yang
lalu itu?”
Penjual dawet itu termangu-mangu. Diedarkannya
pandangannya ke sekelilingnya, seakan-akan ada yang sedang
dicarinya, namun kemudian penjual dawet itupun berkata, “Ada
orang ngamuk, Ngger.”
“Orang ngamuk?”
“Semula orang itu memang tidak mengamuk. Tetapi agaknya
ia memerlukan uang. Karena itu maka orang itu pun memaksa
beberapa orang yang berjualan di pasar untuk memberi uang
kepadanya, yang jumlahnya terhitung besar.”
Wijang dan Paksi mendengarkan ceritera penjual dawet itu
dengan seksama. Sementara itu penjual dawet itupun berkata,
“Tentu saja ada yang merasa berkeberatan. Apalagi mereka yang
dagangannya belum laku.”
“Orang itu tidak mau mengerti?”
“Ya. Orang itu tidak mau mengerti. Karena itu, maka segera
terjadi perselisihan. Ketika beberapa orang laki-laki termasuk
orang yang bertugas di pasar ini berusaha mengusirnya, maka
orang itupun telah mengamuk.”
“Ia seorang diri?”
“Sebenarnya ia tidak seorang diri. Tetapi agaknya kawankawannya
tidak ikut campur.”
“Orang itu telah membunuh?”
“Tidak ada yang terbunuh. Tetapi beberapa orang terluka
cukup parah. Ia berhenti ketika beberapa orang menyatakan
kesediaan mereka untuk mengumpulkan uang sebagaimana ia
minta.”
“Paman dapat menyebut ciri-ciri orang itu?”
“Untuk apa kau mengetahui ciri-cirinya?”
“Tidak apa-apa, Paman. Sekedar ingin tahu saja.”
Penjual dawet itupun kemudian telah menyebut ciri-ciri orang
itu dan satu dua orang yang datang bersamanya.
Wijang dan Paksi mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Ciri-ciri orang itu menunjukkan bahwa orang itu ialah Ki Gede
Lenglengan.
“Jadi orang itu telah pernah berada di pasar ini?” berkata
Paksi di dalam hatinya.
Dengan demikian, maka Paksipun menjadi berdebar-debar. Ia
merasa bahwa ia sudah berada tidak terlalu jauh lagi dari
adiknya. Tetapi ke mana ia harus mencarinya?
Menurut dugaannya, maka Ki Gede Lenglengan tidak akan
kembali lagi ke pasar itu. Ia tentu akan melanjutkan perjalanan.
Tetapi jika tempat tinggal suami isteri yang menerima anak-anak
muda dari padepokan Ki Gede Lenglengan itu tidak jauh dari
pasar ini, maka Ki Gede Lenglengan itu tentu akan pernah
kembali lagi.
Hampir di luar sadarnya Wijangpun bertanya, “Bagaimana
dengan perempuan-perempuan cantik yang dahulu sering
berbelanja di pasar ini tetapi mereka membayar menurut
kehendak mereka sendiri itu? Mereka yang tidak mau tahu
tentang harga yang sebenarnya dari bahan-bahan makan atau
alat-alat yang mereka beli?”
“Sudah jarang sekali terjadi, Ngger. Dahulu memang
berkeliaran orang-orang aneh di pasar ini. Tetapi mereka tidak
mengamuk seperti beberapa hari yang lalu itu.”
“Tetapi bukankah perkelahian sering terjadi?”
“Ya. Di antara orang-orang asing itu.”
“Tetapi apakah sepasar ini tidak mampu menangkap satu
orang yang mengamuk itu?”
“Tidak, Ngger. Bahkan orang itu telah menunjukkan
pangewan-ewan. Ia dapat menunjukkan hal-hal yang tidak
masuk akal. Kau lihat cabang pohon yang patah itu? Kami tidak
tahu apa yang sudah terjadi. Tiba-tiba saja yang kami lihat,
cabang itu berderak dan patah.”
Wijang dan Paksi hanya mengangguk-angguk saja. Mereka
pun hampir pasti, bahwa orang itu adalah Ki Gede Lenglengan.
Dalam pada itu, beberapa saat lamanya Wijang dan Paksi
duduk di lincak panjang di depan penjual dawet itu. Sejenak
kemudian, dua orang perempuan telah berhenti di lincak itu
pula.
“Paman,” berkata Paksi kemudian, “kami minta diri. Besok
kami akan singgah lagi jika kami pergi ke pasar.”
“Kalian tidak kembali ke rumah paman kalian?”
“Ya. Tetapi kami masih mempunyai waktu selama paman dan
bibi masih menunggui cucunya yang baru lahir itu.”
Demikianlah, Wijang dan Paksi telah melangkah lagi
berkeliling di dalam pasar. Mereka tidak melihat penjual nasi
megana itu. Mungkin orang itu masih takut kepada orang yang
mengamuk. Tetapi mungkin juga karena orang itu memang
sudah tidak berjualan lagi.
Namun beberapa saat kemudian, Wijangpun berkata, “kita
berhenti di kedai itu, Paksi.”
Paksi mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun
mengangguk. Katanya, “Marilah.”
Keduanyapun kemudian telah singgah di salah satu kedai
yang buka di depan pasar itu. Dari pemilik kedai itu, Wijang dan
Paksi mendengar ceritera tentang orang yang mengamuk
beberapa hari yang lalu seperti ceritera penjual dawet cendol itu.
Bahkan orang-orang yang sudah lebih dahulu duduk di kedai itu,
juga masih memperbincangkannya.
“Tidak ada seorang pun yang dapat mencegahnya,” berkata
salah seorang yang duduk di kedai itu. “Berapa pun banyaknya
uang yang dimintanya, harus disediakan. Jika tidak, maka
akibatnya akan menjadi sangat buruk.”
“Mudah-mudahan ia tidak kembali lagi.”
“Ya. Agaknya orang itu hanya sekedar lewat. Sebelumnya
belum pernah ada yang melihat orang itu berkeliaran di sini atau
di sekitar padukuhan ini.”
Wijang dan Paksi ikut mendengarkan pembicaraan itu. Tetapi
tidak ada petunjuk-petunjuk lebih jauh.
Sambil menyuapi mulutnya Paksipun bertanya, “Apakah kita
akan pergi ke Panjatan?”
Wijang mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi iapun
bertanya, “Kenapa tiba-tiba saja kau akan pergi ke Panjatan?
Apakah kau mengira bahwa Ki Gede Lenglengan menemui Repak
Rembulung dan Pupus Rembulung di Panjatan?”
“Bukankah itu satu kemungkinan?”
Wijang mengangguk-angguk. Panjatan memang salah satu
tempat yang harus dilihat. Mungkin adik Paksi itu memang
dibawa ke Panjatan, karena Repak Rembulung dan Pupus
Rembulung seakan-akan memiliki lingkungan tersendiri di
padukuhan itu.
“Baiklah,” berkata Wijang, “kita sudah tahu, setidak-tidaknya
dugaan kita kuat, bahwa Ki Gede Lenglengan itu sudah pernah
singgah di pasar ini, sehingga menurut dugaan kita, Ki Gede
Lenglengan itu berada di sekitar tempat ini. Dengan demikian,
maka kita akan mencoba mencarinya di tempat-tempat yang ada
hubungannya dengan Repak Rembulung dan Pupus Rembulung,
karena kita juga menduga, bahwa adikmu yang diasuh oleh dua
orang suami-istri itu berada di tangan Repak Rembulung dan
Pupus Rembulung.”
Paksipun mengangguk-angguk. Sementara itu Wijangpun
berkata perlahan-lahan, “Tetapi kita harus sangat berhati-hati.
Jika Ki Gede Lenglengan berada bersama-sama dengan Repak
Rembulung dan Pupus Rembulung, maka kumpulan itu akan
menjadi kumpulan yang sangat berbahaya.”
Paksi masih mengangguk-angguk. Dihirupnya wedang sere
yang hangat setelah ia menghabiskan nasinya.
“Aku mengerti,” berkata Paksi kemudian. “Kita memang harus
sangat berhati-hati.”
“Jika kita ingin pergi ke Panjatan, menurut pendapatku
sebaiknya kita pergi di malam hari. Banyak perlindungan yang
kita dapatkan dari kegelapan malam. Apalagi Repak Rembulung
dan Pupus Rembulung sudah mengenal kita berdua, meskipun
mereka hanya mengenal ujud saja. Tetapi jika adikmu melihat
kita, maka keadaan akan menjadi sangat gawat.”
“Jika aku ingin bertemu dengan adikku, maka ia tentu akan
melihat aku.”
“Tetapi bukankah tidak dengan serta-merta? Jika kita tahu di
mana adikmu itu berada, maka kita dapat membuat rencana
khusus untuk dapat menemuinya.”
Paksi mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Wijang,
bahwa mereka berdua tidak dapat begitu saja datang ke Panjatan
untuk mencari adik laki-lakinya.
Karena itu, maka keduanyapun kemudian sepakat untuk
pulang ke gubuk mereka lebih dahulu, agar mereka dapat
merenungi langkah-langkah yang akan mereka lakukan.
Sebelum keduanya pulang, maka keduanya masih
memerlukan singgah di pasar. Paksipun kemudian setuju untuk
membeli kelengkapan sehari-hari serta bahan makan yang
mereka butuhkan sehari-hari pula, terutama garam.
Ketika mereka keluar dari pintu gerbang pasar, merekapun
terkejut. Tiba-tiba saja di hadapan mereka berdiri Kinong.
“Kinong? Kau Kinong, kan?”
“Ya, Kakang.”
“Kau cepat menjadi besar, Kinong. Kau sudah begitu tinggi
sekarang.”
“Ya, Kakang.”
“Kau masih bekerja di pasar ini?”
“Masih, Kakang. Setiap hari aku berada di pasar. Ibu juga
setiap hari masih berada di pasar. Aku pernah berhenti dan
membantu tetangga bekerja di sawah. Tetapi di musim seperti
sekarang ini, untuk sementara tidak ada kerja di sawah. Karena
itu, aku kembali ke pasar.”
“Tetapi kau datang terlalu siang.”
“Aku ragu-ragu untuk datang hari ini, Kakang. Beberapa hari
ini pasar kosong, setelah orang yang berilmu sangat tinggi itu
mengacaukannya.”
“Tetapi bukankah sekarang sudah menjadi ramai lagi?”
“Aku tadi sekedar ingin melihat. Besok aku akan datang pagipagi.”
“Mungkin besok kita akan ketemu lagi. Sementara pasar akan
menjadi lebih ramai.”
“Kakang sudah tahu apa yang terjadi beberapa hari yang
lalu?”
“Sudah, Kinong. Aku sudah mendengar dari paman penjual
dawet cendol dan dari pemilik kedai itu.”
“Kakang sekarang sudah kembali kemari?”
“Tetapi pada saatnya aku harus pergi lagi.”
“Seharusnya Kakang tidak pergi lagi.”
Paksi dan Wijang tertawa. Kinong memang tidak lagi kanakkanak
seperti saat mereka tinggalkan. Sekarang Kinong sudah
menjadi remaja. Tubuhnya cepat tinggi. Tetapi nampak kurus.
Wijang dan Paksipun kemudian minta diri.
Sambil mengangguk hormat Kinong berkata, “Silahkan,
Kakang. Besok aku mengharap Kakang datang pula ke pasar.”
Paksi tertawa. Diambilnya keping uang dari kampilnya sambil
berkata, “Belilah nasi megana. He, di mana penjual nasi megana
itu sekarang? Apakah ia masih berjualan atau tidak?”
“Masih, Kakang. Tetapi agaknya ia menjadi ketakutan
sehingga sampai hari ini ia masih belum nampak.”
“Kalau begitu, belilah yang lain. Nasi tumpang, atau ketan ragi
di ujung sana.”
Kinong nampak ragu-ragu untuk menerima uang itu. Namun
Paksi mendesaknya, “Jangan segan, Kinong. Bukankah kita tetap
berkawan seperti dahulu?”
Kinong akhirnya menerima uang itu sambil berdesis,
“Seharusnya aku melakukan sesuatu untuk menerima imbalan.”
“Ini bukan upah, Kinong. Tetapi sebagai seorang kawan, kita
wajib saling membantu. Pada satu saat, akulah yang akan
membutuhkan bantuanmu. Apa pun ujudnya.”
Kinong mengangguk. Katanya, “Terima kasih, Kakang. Jika
Kakang memerlukan tenaga untuk mengerjakan apa saja di
rumah Kakang, panggil aku. Hampir setiap hari aku berada di
pasar.”
Paksi menepuk bahu Kinong sambil berkata, “Sudahlah. Aku
akan pulang.”
“Jika saja aku tahu, Kakang berdua datang pagi ini.”
Wijanglah yang menyahut, “Besok kami datang pagi-pagi.”
“Aku juga akan datang pagi-pagi sekali.”
Ketika Wijang dan Paksi kemudian meninggalkan pasar itu,
maka Kinong pun telah tenggelam di antara orang banyak. Tetapi
Kinong masih belum membawa keranjangnya. Seperti yang
dikatakan, ia baru melihat-lihat, apakah pasar itu sudah menjadi
ramai lagi.
Hari itu, Wijang dan Paksi telah mempunyai seperangkat alat
dapur lagi, meskipun baru yang paling penting. Disingkirkannya
alat-alat dapurnya yang lama yang sudah menjadi hijau karena
lumutan. Namun di antaranya masih ada yang dapat
dipergunakannya.
Tetapi Wijang dan Paksi baru akan membuat api setelah hari
menjadi gelap, agar asap yang naik, tidak mudah dilihat orang
dari kejauhan.
Namun Wijang dan Paksi sudah merencanakan, malam nanti,
mereka akan pergi ke Panjatan.
Di sisa hari itu, keduanya telah sibuk membersihkan ilalang.
Mula-mula di sekitar gubuk mereka, sehingga halaman gubuk
mereka menjadi nampak bersih seperti saat mereka masih tinggal
di situ. Beberapa bagian dari gubuk mereka yang masih belum
mapan, telah mereka perbaiki lagi. Wijang masih saja memanjat
pohon kelapa untuk mengambil pelepahnya. Ia masih
memerlukan beberapa lembar ketepe untuk merangkapi dinding
gubuknya yang kurang rapat, sehingga angin masih mengalir
masuk ke dalam.
Namun keduanya belum merencanakan untuk menanam
jagung atau tanaman lain seperti sebelumnya.
Hari itu, keduanya sempat melihat goa yang ada di belakang
air terjun. Goa yang pernah menjadi tempat Paksi menempa diri,
melengkapkan dasar-dasar ilmunya.
Semuanya masih sama seperti saat ditinggalkannya. Namun
lumut yang tebal telah menutup guratan yang ada di dinding
ruangan yang agak luas di dalam goa itu.
Namun Paksi tidak memerlukannya lagi. Apalagi Wijang.
Mereka sudah menguasai dengan baik, apa yang terpahat di
dinding padas yang keras itu.
Ketika kemudian malam turun, maka merekapun telah
menyalakan api. Merebus air dan menanak nasi. Mengasapi ikan
yang mereka tangkap. Menyiapkan sambal terasi dan membuat
wedang jahe dengan gula kelapa. Karena mereka belum sempat
membuat gula sendiri, maka mereka membeli gula kelapa ketika
mereka pergi ke pasar.
Sedikit lewat wayah sepi bocah, Wijang dan Paksi telah siap
untuk berangkat ke Panjatan.
Perjalanan yang mereka tempuh memang agak panjang. Tetapi
sebagai pengembara mereka memiliki ingatan yang tajam
terhadap lingkungan yang pernah mereka jelajahi. Karena itu,
maka mereka tidak mengalami kesulitan untuk menemukan jalan
ke Panjatan.
Jalan yang menuju padukuhan itu masih seperti dahulu.
Masih banyak pohon gayam yang tumbuh di pinggir jalan.
Namun tiba-tiba saja Wijang memberi isyarat kepada Paksi
untuk berhenti.
“Ada yang mengawasi kita,” desis Wijang.
Paksi mengangguk. Katanya, “Ya. Aku juga merasakannya.”
Karena itu, maka keduanyapun berhenti. Keduanya duduk di
bawah sebatang pohon gayam yang terhitung besar. Lebih besar
dari pohon gayam yang tumbuh di sebelah-menyebelah.
“Mereka masih berada di sekitar tempat ini,” desis Wijang.
“Ya. Mereka justru mendekat.”
Wijang dan Paksipun segera mempersiapkan diri. Paksi
meletakkan tongkatnya dekat di sisinya, sementara di
pergelangan tangan Wijang telah dikenakan pula perisai
khususnya.
Sebenarnyalah empat orang telah merayap mendekati Wijang
dan Paksi yang duduk di bawah pohon gayam itu. Namun Wijang
dan Paksi masih saja tetap berdiam diri. Bahkan Wijang sempat
bersandar pohon gayam yang besar itu, meskipun sebenarnya ia
sudah siap menghadapi segala kemungkinan.
Tetapi agaknya keempat orang yang merayap mendekat itu
juga masih menunggu, apa yang akan dilakukan oleh kedua
orang yang berjalan malam-malam menuju ke Panjatan.
Untuk beberapa saat mereka beradu kesabaran. Paksi
sebenarnya sudah tidak sabar lagi. Tetapi setiap kali Wijang
memberinya isyarat untuk tetap berdiam diri.
Akhirnya, keempat orang yang merayap mendekat itulah yang
tidak sabar lagi. Merekapun kemudian berloncatan ke tanggul
parit di pinggir jalan.
Tetapi Wijang masih tetap bersandar pohon gayam, sementara
Paksipun masih saja duduk di tempatnya.
“Setan alas,” geram seorang yang bertubuh tinggi besar dan
berkumis lebat, “apa yang kalian lakukan di sini?”
Wijang yang masih bersandar pohon gayam itu berkata,
“Kalian mengejutkan kami.”
Tetapi keempat orang itu tidak yakin. Mereka sama sekali
tidak melihat kedua orang itu terkejut.
“Apa yang kalian lakukan di sini malam-malam, he?”
“Bukankah kalian melihat bahwa kami tidak berbuat apa-apa?
Kami duduk saja di sini sambil mengantuk.”
“Jangan mencoba berpura-pura. Katakan, siapakah kalian
berdua?”
Wijang termangu-mangu. Namun setelah merenung sejenak,
iapun berkata, “Sebenarnya apakah yang kalian cari, sehingga
malam-malam kalian mengawasi jalan menuju ke Panjatan?”
“Kalian belum menjawab pertanyaanku, siapakah kalian?”
“Kami orang baru di Panjatan,” jawab Wijang.
Paksi mengerutkan dahinya. Karena ia tidak tahu maksud
Wijang, maka Paksi lebih baik berdiam diri daripada ia salah
ucap jika ia mencoba menyambung kata-kata Wijang.
Sementara itu, orang yang bertubuh tinggi besar dan
berkumis tebal itupun bertanya untuk meyakinkan
pendengarannya, “Jadi kalian orang baru di Panjatan?”
“Ya.”
“Kalian berasal dari mana?”
“Kami datang dari Pajang.”
Orang yang bertubuh tinggi besar itu menggeram. Katanya,
“Jadi benar berita bahwa Repak Rembulung dan Pupus
Rembulung sudah berkhianat.”
“Berkhianat? Maksudmu?”
“Bukankah kalian berada di Panjatan tinggal bersama-sama
Repak Rembulung dan Pupus Rembulung?”
“Ya,” jawab Wijang.
“Kau pengikut Harya Wisaka?”
Wijang menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun
menjawab, “Ya. Tetapi sayang sekali, Harya Wisaka sudah
tertangkap. Apakah kau tidak mendengar?”
“Tentu aku mendengar. Orang di seluruh Pajang
mendengarnya. Tetapi aku tidak peduli. Aku mendendam kepada
Harya Wisaka dan sisa-sisa pengikutnya. Beberapa orang
saudara-saudaraku seperguruan telah dibunuh oleh Harya
Wisaka dan para pengikutnya. Bahkan Harya Wisaka sendiri
telah membunuh beberapa orang di antara mereka dengan
tangannya.”
“Para pengikut Harya Wisaka tidak bersalah. Kami juga tidak
bersalah. Kami sama sekali tidak tahu-menahu tentang
perbuatan Harya Wisaka, karena kami berada di sebuah
padepokan terpencil.”
“Tetapi justru kalian adalah anak-anak muda yang
dipersiapkan oleh Harya Wisaka untuk meneruskan apa yang
disebutnya perjuangan itu. Pada saat yang gawat, kalian telah
dititipkan kepada Repak Rembulung dan Pupus Rembulung yang
sebelumnya bersama-sama kami menentang gerombolan yang
dipimpin oleh Harya Wisaka itu.”
“Tetapi Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung telah
menerima kami dengan baik.”
“Itulah yang kami maksudkan dengan pengkhianatan.
Seharusnya Repak Rembulung dan Pupus Rembulung
membunuh kalian, anak-anak muda yang dipersiapkan bagi
masa mendatang itu. Karena kalian adalah bagian dari
gerombolan Harya Wisaka.”
“Ada beberapa alasan kenapa Ki Repak Rembulung dan Nyi
Pupus Rembulung menerima kami,” berkata Wijang. “Yang
terpenting adalah, bahwa Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus
Rembulung mulai meyakini kebenaran perjuangan Harya Wisaka.
Penyebab yang lain adalah, menurut kepercayaannya yang tidak
tertangkap, Harya Wisaka, memberikan uang kepada Ki Repak
Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung untuk membiayai hidup
kami serta balas jasa kepada mereka. Selebihnya, Harya Wisaka
menjanjikan masa depan yang terbaik bagi Repak Rembulung
dan Pupus Rembulung.”
“Omong kosong. Yang terpenting bagi Repak Rembulung dan
Pupus Rembulung adalah uangnya. Bukan pengertian tentang
kebenaran perjuangan Harya Wisaka.”
“Apa pun alasannya, tetapi kami sekarang adalah keluarga Ki
Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung.”
“Nah, dengan demikian, maka kami mempunyai alasan ganda
untuk menangkap kalian dan membawanya ke perguruan kami.”
“Alasan ganda apa?”
“Pertama, kau merupakan bagian dari Harya Wisaka. Kalian
akan dapat menjadi sasaran dendam perguruan kami. Kedua,
kalian adalah keluarga Repak Rembulung dan Pupus Rembulung
yang telah berkhianat terhadap kebersamaan kami menentang
Harya Wisaka.”
“Sebenarnya itu bukan kesalahan kami. Karena itu, kalian
tidak dapat menuntut balas kepada kami. Baik kami sebagai
bagian dari gerombolan Harya Wisaka, maupun kami sebagai
keluarga baru Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung.”
“Persetan dengan alasanmu. Yang penting bagi kami, kami
harus membalas dendam atas kejahatan yang pernah dilakukan
oleh Harya Wisaka sendiri serta para pengikutnya atas perguruan
kami.”
“Jadi untuk itukah kalian malam-malam begini merayaprayap
di pematang sawah yang basah? Sekedar untuk menunggu
apakah ada orang yang kau anggap ikut bersalah itu lewat atau
tidak?”
“Bukan itu,” sahut orang yang bertubuh tinggi besar itu.
“Sebenarnya kami hanya ingin tahu, apakah benar Repak
Rembulung dan Pupus Rembulung berada di Panjatan bersama
beberapa orang anak muda pengikut Harya Wisaka yang disebut
angkatan mendatang itu. Sekarang, setelah kami kebetulan
menemui kalian di sini, maka kami yakin, bahwa Repak
Rembulung dan Pupus Rembulung berada di Panjatan bersama
para pengikut Harya Wisaka itu.”
“Kalian keliru. Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus
Rembulung tidak berada di Panjatan sekarang. Tadi siang mereka
sedang pergi ke tempat yang tidak kami ketahui.”
“Kami tidak tergesa-gesa. Jika mereka pergi, maka pada suatu
saat mereka akan kembali. Yang sekarang ada adalah kalian.
Nasib kalianlah yang buruk. Kenapa kalian malam-malam
berkeliaran sehingga kalian telah berjumpa dengan kami, yang
mendendam para pengikut Harya Wisaka sampai ke ujung
rambut, serta yang merasa perlu untuk menghukum Ki Repak
Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung yang sudah berkhianat.”
“Jika Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung tahu
bahwa kalian telah bertindak licik maka perguruan kalian akan
diratakan dengan tanah.”
“Tidak ada yang tahu, siapa yang melakukannya. Keluarga
Repak Rembulung dan Pupus Rembulung hanya akan
menemukan mayat kalian di bawah pohon gayam ini. Repak
Rembulung dan Pupus Rembulung akan meratapi kematian
kalian, karena kalian dapat mendatangkan uang baginya.
Selanjutnya, kami akan dapat memanfaatkan kemarahan Repak
Rembulung dan Pupus Rembulung untuk menghimpun diri dan
menghancurkan mereka sama sekali, karena bagi kami, kedua
orang itu selain pengkhianat, juga orang yang sombongnya
sampai menggapai langit.”
“Kalian telah membuat kami marah,” geram Wijang.
“Jika kalian marah, apa yang akan kalian lakukan?”
“Membunuh kalian dan meninggalkan mayat kalian di bawah
pohon gayam ini. Perguruan kalianlah yang akan meratapi
kematian kalian. Setelah saudara-saudara seperguruan kalian
mati dibunuh oleh Harya Wisaka dan para pengikutnya, sekarang
adalah giliran kalian.”
“Bersiaplah,” geram orang yang bertubuh raksasa itu. “Kami
bukan orang-orang licik yang menyerang kalian sebelum kalian
bersiap.”
“Jika benar kalian bukan orang-orang licik, maka kita akan
bertempur seorang melawan seorang.”
“Nasib kalianlah yang memang teramat buruk. Kami akan
melakukan bersama-sama, membunuh kalian berdua.”
Wijangpun kemudian bangkit berdiri sambil menggeliat.
Bahkan sambil menguap iapun berkata kepada Paksi, “Adikku,
berdirilah. Ada empat ekor cecurut yang sedang menjelang
kematiannya.”
Paksi berusaha menyesuaikan diri dengan gaya Wijang.
Karena itu, maka katanya, “Apakah kau tidak dapat
menyelesaikan mereka seorang diri? Aku letih sekali. Aku ingin
tidur barang sejenak. Nanti, menjelang fajar kita harus sudah
berada di sanggar untuk berlatih.”
Wijang termangu-mangu sejenak. Kemudian jawabnya,
“Mungkin aku akan dapat membunuh mereka. Tetapi aku sedang
malas bekerja sendiri. Marilah, kita selesaikan mereka sebentar,
baru kemudian kita beristirahat.”
Kesombongan kedua orang yang dianggap sebagai pengikut
Harya Wisaka itu membuat keempat orang itu menjadi sangat
marah. Seorang yang bertubuh pendek berkata lantang, “Kita
gantung tubuh mereka pada cabang pohon gayam ini.”
Tetapi Paksi menyahut, “Apakah kalian membawa tali?”
“Diam, kau,” bentak yang lain, yang bertubuh sedang agak
kekurus-kurusan. “Kainmu dapat dipergunakan untuk
menggantungmu setelah kalian berdua kami cincang sampai
mati.”
Wijang dan Paksipun kemudian bergeser ke tengah jalan,
sementara keempat orang itupun berloncatan mengepung mereka
dari segala arah.
Wijang dan Paksi tidak berkata apa-apa lagi. Tetapi
merekapun telah mempersiapkan diri untuk menghadapi
keempat orang itu.
Ketika keempat orang itu mulai bergerak, maka Wijang dan
Paksi telah mengambil jarak.
Sejenak kemudian, maka orang-orang itupun mulai
menyerang. Mereka telah menggenggam senjata di tangan
mereka. Dua orang di antara mereka bersenjata golok. Seorang
bersenjata bindi dan seorang yang lain bersenjata kapak.
Sementara itu Wijangpun telah memegang sepasang pisau
belatinya di kedua belah tangannya. Wijang dan Paksi masih
belum tahu tataran kemampuan lawan-lawan mereka. Karena
itu, maka mereka harus berhati-hati. Mereka tidak boleh
mengalami kesulitan karena kelengahan mereka sendiri.
Sejenak kemudian, Wijang dan Paksi itupun sudah terlibat
dalam pertempuran. Masing-masing harus menghadapi dua
orang lawan.
Orang yang bertubuh tinggi dan besar itu bersama orang yang
bertubuh pendek bersama-sama menghadapi Wijang. Sedang dua
orang yang lain, seorang yang bertubuh sedang agak kekuruskurusan
dan yang seorang lagi berwajah garang, bertempur
melawan Paksi.
Orang yang bertubuh raksasa itu sambil menggeram telah
mengayun-ayunkan kapaknya. Sedangkan orang yang bertubuh
pendek, memutar bindinya seperti baling-baling.
Ternyata bahwa keempat orang itu cukup tangkas
mempermainkan senjata mereka. Agaknya mereka benar-benar
menguasai senjata mereka dengan baik. Sehingga dengan
demikian, maka serangan-serangan merekapun menjadi sangat
berbahaya.
Namun Wijangpun menguasai senjatanya dengan matang
pula. Meskipun di tangan Wijang hanya tergenggam pisau belati,
namun pisau belati itu menjadi sangat berbahaya bagi lawanlawannya.
Sementara itu, dua orang yang bertempur melawan Paksi,
masing-masing menggenggam golok yang besar dan panjang di
tangan mereka. Mereka menempatkan diri di arah yang
berlawanan, sehingga mereka dapat menyerang Paksi dari arah
yang berlawanan pula.
Tetapi Paksi cukup tangkas menghadapi mereka. Meskipun
kedua orang lawannya berada di arah yang berlawanan, namun
Paksi sama sekali tidak menjadi bingung menghadapi mereka.
Dalam pertempuran yang terjadi kemudian, maka Wijang dan
Paksipun telah mampu menjajagi ilmu lawannya. Mereka
memang harus berhati-hati, karena lawan-lawan mereka memang
memiliki bekal yang kuat.
Dengan senjatanya yang pendek, Wijang harus bergerak
dengan cepat. Setiap kali ia menyerang, maka Wijangpun harus
segera keluar dari jarak jangkau senjata lawannya yang terayunayun
mengerikan itu. Suara kapak dan bindi itu berdesing susulmenyusul
seperti suara beberapa ekor kumbang yang
berterbangan mengitari tubuh Wijang.
Tetapi dengan kecepatan gerak yang melampaui kecepatan
ayunan senjata lawannya, maka Wijang selalu berhasil
menghindar dari serangan kapak dari orang yang bertubuh
raksasa itu, serta bindi orang yang bertubuh pendek.
Karena serangan-serangannya tidak juga kunjung menyentuh
sasaran, maka orang yang bertubuh tinggi besar itu semakin
menjadi marah. Dendamnya yang menyala di dadanya, dibumbui
oleh kegagalan-kegagalan serangannya, membuat orang bertubuh
raksasa itu mengerahkan kemampuannya. Ia Ingin segera
berhasil menghancurkan orang yang dianggapnya pengikut Harya
Wisaka yang sangat dibencinya itu.
Tetapi Wijang itu masih saja mampu menghindar. Dan bahkan
menangkis dengan senjatanya yang pendek itu.
Umpatan-umpatan kasar telah meluncur dari mulut orang
yang bertubuh raksasa itu. Kapaknya semakin cepat berayun
mengarah ke tubuh Wijang. Namun setiap kali, kapak itu tidak
menyentuh apapun juga.
Sementara itu orang yang bertubuh pendek telah memilih
sasaran yang rendah. Ia ingin mematahkan tulang kaki
lawannya. Dengan derasnya bindinya terayun menyapu kaki
Wijang. Tetapi dengan ringannya Wijang itu melenting tinggi,
sehingga ayunan bindi itu tidak menyentuh sasaran.
Namun ketika keduanya bersama-sama mengerahkan segenap
kemampuan mereka, maka Wijang tidak selalu sempat
menghindari serangan lawannya. Beberapa kali ia harus
menangkis dengan pisau belatinya. Kadang-kadang Wijang
menepis serangan lawan. Namun kadang-kadang Wijang terpaksa
menangkis ayunan kapak lawannya dengan menyilangkan pisau
belatinya.
Tetapi kedua lawannya berusaha mendesaknya. Seranganserangan
mereka menjadi semakin cepat. Namun justru karena
itu, jantung orang yang bertubuh tinggi besar itu terguncang
ketika ia melihat lawannya menangkis kapaknya dengan
pergelangan tangannya. Demikian kerasnya ia mengayunkan
kapaknya pada saat lawannya dalam kedudukan yang lemah.
Baru saja Wijang meloncat menghindari serangan bindi orang
bertubuh pendek itu, namun demikian kakinya menyentuh
tanah, maka kapak lawannya yang bertubuh raksasa itu terayun
ke arah kepalanya. Wijang tidak sempat menghindar. Iapun tidak
dapat penangkis dengan pisau belatinya, karena ayunan itu
cukup keras. Karena itu, maka Wijangpun telah mempergunakan
perisai yang melindungi pergelangan tangannya untuk menangkis
tajamnya kapak lawannya.
Dengan cepat Wijang tidak menyilangkan pisau belatinya,
tetapi kedua pergelangan tangan Wijanglah yang bersilang di
depan kepalanya.
Kapak orang bertubuh raksasa yang terayun deras itu
membentur perisai di pergelangan tangan Wijang dengan
kerasnya.
Akibatnya justru sangat mengejutkan bagi orang bertubuh
raksasa itu. Kapaknya bagaikan telah membentur dinding baja
yang tebal, sehingga justru karena itu, maka getar dan benturan
itu telah menjalar sampai ke ujung tangkai kapaknya.
Tangan raksasa itupun terasa menjadi sangat pedih. Hanya
dengan susah payah saja ia berhasil mempertahankan
kedudukannya, sehingga orang bertubuh raksasa itu telah
meloncat surut
Wijang telah siap meloncat memburunya. Namun lawannya
yang seorang lagi telah mengayunkan bindinya ke arah
punggung.
Namun Wijang sempat berbalik. Sambil merendah dengan
berlutut pada sebelah kakinya, Wijang menangkis bindi itu
dengan menyilangkan pisau belatinya. Namun tiba-tiba saja bindi
itu bagaikan berputar dan terhisap lepas dari tangan orang yang
bertubuh pendek itu, jatuh setapak di depan kaki Wijang.
Ketika orang itu siap untuk meloncat dan meraih bindinya,
maka ujung pisau belati Wijang telah terangkat siap mematuk
orang bertubuh pendek itu.
Orang itu meloncat surut. Sementara itu, orang yang
bertubuh raksasa itupun belum siap sepenuhnya untuk kembali
bertempur.
“Masih ada kesempatan untuk menyerah,” berkata Wijang
kemudian.
Namun orang yang bersenjata kapak itu justru menggeram.
Tangannya yang sudah menggenggam tangkai kapaknya dengan
baik, telah siap untuk mengayunkan kapaknya lagi.
“Apakah kita akan bertempur terus?” bertanya Wijang.
“Persetan, kau,” geram orang berkapak itu.
“Kawanmu telah kehilangan senjatanya.”
“Kau akan kehilangan nyawamu.”
Wijang tertawa. Katanya, “Apakah kau merasa akan menang
dalam pertempuran ini? Jika para pengikut Harya Wisaka telah
membunuh saudara-saudara seperguruanmu, itu peringatan
bahwa kemampuan para pengikut Harya Wisaka lebih tinggi dari
kemampuan saudara-saudara seperguruanmu. Nah, sekarang
aku akan membuktikannya.”
“Kau akan menyesali kesombonganmu.”
“Bukan aku yang akan menyesal. Tetapi kau.”
Orang bersenjata kapak itu tiba-tiba telah berlari sambil
mengangkat kapaknya siap untuk diayunkannya ke kepala
Wijang.
Sementara itu, kawannya yang kehilangan bindinya
menunggu kesempatan. Jika perhatian lawannya itu sepenuhnya
tertuju kepada kawannya yang bersenjata kapak, maka ia berniat
untuk menggapai senjatanya.
Ternyata Wijang tidak beranjak dari tempatnya. Ia berdiri
sambil menyilangkan tangannya sebagaimana dilakukan
sebelumnya. Ia telah siap menangkis serangan itu dengan perisai
di pergelangan tangannya.
Tetapi lawannya benar-benar telah mengerahkan segenap
tenaga dan kekuatannya. Dengan ancang-ancang yang cukup,
maka serangannya itu akan merupakan serangan yang
menentukan.
Dengan gelora yang bagaikan hendak meledakkan dadanya,
orang itupun berteriak keras-keras. Kapaknya terangkat semakin
tinggi. Kemudian pada saat kapak itu mulai bergerak berayun
mengarah ke kepala Wijang, sementara orang itu masih berlari.
Namun yang terjadi sangat mengejutkannya. Ternyata Wijang
tidak menangkis serangan itu. Bahkan iapun telah bergeser,
menghindar sambil merendahkan tubuhnya. Tangannya yang
bersilang itupun telah ditariknya pula di sisi tubuhnya.
Kapak itu terayun mengerikan. Tetapi kapak itu tidak
menyentuh apa-apa sama sekali. Dengan demikian, maka tubuh
orang itu justru telah terseret oleh ayunan kapaknya, sehingga
orang itu justru terhuyung-huyung.
Ketika kaki Wijang menyentuh punggungnya, maka orang
itupun tidak mampu lagi mempertahankan keseimbangannya,
sehingga iapun jatuh tertelungkup.
Terdengar orang itu menyeringai menahan sakit. Dadanya
telah menimpa kapaknya sendiri. Untunglah, bahwa tulangtulang
iganya itu hanya membentur punggung dari kapaknya.
Jika saja tulang-tulangnya itu terkena tajam kapaknya, maka
tulang-tulang iganya itu tentu menjadi rantas.
Meskipun demikian, meskipun tulang-tulang iganya itu hanya
menimpa punggung kapaknya, namun rasa-rasanya tulangtulang
iganya itu telah menjadi retak.
Meskipun demikian, orang bersenjata kapak itu masih
berusaha untuk bangkit berdiri. Meskipun ia harus menyeringai
menahan sakit, namun ia masih saja menggeram, “Aku bunuh
kau.”
Wijang tersenyum sambil berkata, “Jadi kau masih belum
mengakui kenyataan ini?”
“Kenyataan yang mana? Kenyataan bahwa aku akan
mengambil nyawamu?”
“Kau memang gila,” berkata Wijang. “Tetapi jangan menunggu
aku kehilangan kesabaran.”
“Aku akan mengoyak mulutmu.”
Wijang memandang orang itu dengan tajamnya. Kemudian
katanya, “Aku akan mengembalikan bindi kawanmu. Kita akan
mulai lagi. Tetapi aku tidak akan mengendalikan diri lagi. Kalian
akan mengalami kenyataan yang amat pahit.”
Orang yang bertubuh pendek dan bersenjata bindi itu
termangu-mangu. Ia ragu-ragu mengambil bindinya. Ia
menyangka bahwa lawannya itu sekedar menjebaknya.
Namun Wijang itu bergeser beberapa langkah sambil berkata,
“Cepat. Ambil senjatamu sebelum aku mulai.”
Dengan tergesa-gesa orang itupun menggapai bindinya.
Kemudian berdiri tegak menghadapi kemungkinan untuk
bertempur lagi.
Tetapi orang bertubuh agak pendek dan bersenjata bindi itu
telah dicengkam oleh perasaan aneh. Kenapa lawannya itu
membiarkannya mengambil bindinya? Sementara itu, dalam
pertempuran yang akan terjadi lagi, bindinya itu akan dapat
mencelakainya.
Tetapi ia tidak sempat berpikir terlalu panjang. Kawannya
yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata kapak itu sudah mulai
mengayunkan kapaknya lagi, meskipun dadanya masih terasa
sakit.
Wijangpun segera memutar pisau belatinya seperti balingbaling
di kedua belah tangannya. Ketika orang yang bersenjata
kapak itu menyerangnya, maka Wijangpun dengan cepat
mengelak.
Sementara itu, Paksipun bertempur dengan sengit pula.
Kedua lawannya yang bersenjata golok menyerangnya beruntun
dari arah yang berbeda. Dengan tenaga yang besar, kedua lawan
Paksi itu mengayunkan golok mereka tanpa terkendali lagi.
Mereka benar-benar ingin menebas leher Paksi hingga terpisah
dari tubuhnya, atau mengoyak lambungnya sehingga isi perutnya
terburai keluar.
Namun sepasang golok itu tidak mampu menembus
pertahanan Paksi. Tongkatnya berputar dengan cepatnya,
sehingga seakan-akan tubuhnya dikelilingi kabut yang rapat.
Setiap serangan dari mana pun arahnya, tentu membentur
perisai putaran tongkat anak muda itu.
Namun kedua orang lawan Paksi itu tidak segera berputus
asa. mereka masih saja menyerang dengan garangnya. Kadangkadang
serangan mereka datang beruntun. Namun kadangkadang
serangan mereka pun datang bersamaan.
Tetapi tidak segores pun serangan mereka berhasil mengenai
kulit lawannya.
Bahkan ketika Paksi sudah mulai berkeringat, maka Paksipun
telah mulai menyerang pula.
Tongkat Paksi yang berputar seperti baling-baling, sehingga
tubuhnya bagaikan diselimuti oleh kabut itu, sekali-sekali justru
telah mematuk dengan cepat seperti kepala seekor ular. Namun
kemudian tongkat itu menebas mendatar.
Semakin lama serangan-serangan Paksipun menjadi semakin
cepat. Tongkatnya mulai menyentuh tubuh lawannya. Seorang di
antara kedua orang lawannya yang bertubuh sedang agak
kekurus-kurusan itu meloncat surut sambil mengaduh tertahan
ketika tongkat Paksi mematuk pundaknya.
“Anak iblis,” justru orang yang berwajah garang itulah yang
mengumpat. “Kau akan menyesal karena kau sudah menyakiti
seorang di antara kami.”
Namun baru saja mulutnya terkatup, orang itu justru
berteriak sambil mengumpat semakin kasar. Ternyata tongkat
Paksi yang terayun mendatar telah menyambar lengannya. Terasa
tulang di lengannya itu menjadi nyeri seakan-akan telah menjadi
retak.
Tongkat Paksi tidak berhenti berputar. Rasa-rasanya semakin
lama justru menjadi semakin cepat. Ujungnya bagaikan lalat yang
berterbangan di seputar tubuh kedua lawannya yang setiap kali
akan dapat hinggap di tubuh mereka.
Sebenarnyalah beberapa kali Paksi berhasil mengenai
lawannya. Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu
terpelanting jatuh ketika tongkat Paksi mendorong dadanya,
justru pada saat orang itu meloncat surut mengambil jarak.
Dengan sigapnya ia berdiri. Tetapi sebelum ia tegak benar,
maka kawannya telah terlempar pula. Kaki Paksilah yang telah
mengenai dadanya, sehingga orang itu terjatuh dan menimpa
kawannya yang sedang berusaha untuk berdiri tegak.
Dengan demikian, maka keduanya telah berguling-guling lagi
di tanah. Namun Paksipun tidak melepaskan mereka. Dengan
cepat ia meloncat memburu.
Ketika orang yang berwajah garang itu dengan cepat melenting
berdiri, tongkat Paksipun telah terayun dengan derasnya,
menghantam punggung.
Orang itu berteriak kesakitan. Dengan derasnya ia jatuh
tertelungkup. Wajahnya telah tersuruk ke dalam tanah yang
kotor berdebu.
Sementara itu, ketika lawannya yang lain telah berdiri tegak,
maka sambil membelakanginya, tongkat Paksi terjulur mematuk
perut orang itu, sehingga orang itu terbungkuk kesakitan.
Dalam keadaan yang demikian, maka Paksipun meloncat
sambil memutar rubuhnya. Satu kakinya terayun mendatar
menyambar kening lawannya.
Tidak ada kesempatan untuk mempertahankan keseimbangan
tubuhnya. Dengan kerasnya orang itu terpelanting jatuh
menimpa pohon yang tumbuh di pinggir jalan itu.
Dengan serta-merta orang itupun mengaduh kesakitan. Ketika
ia mencoba untuk bangkit, maka iapun terhuyung-huyung dan
jatuh pula di tanah sambil menahan sakit. Tulang-tulang di
punggungnya rasa-rasanya telah berpatahan.
Lawan Paksi yang seorang menjadi bimbang. Ia sadar, bahwa
ia tidak akan menang melawan anak muda itu.
“Pengikut Harya Wisaka ini memang berilmu tinggi,” berkata
lawannya itu di dalam hatinya
Paksi melihat kebimbangan di sorot mata lawannya. Karena
itu, maka iapun berkata, “Nah, apakah kalian masih akan
berusaha menangkap kami? Sebaiknya kalian melihat kenyataan
bahwa kalian tidak akan mungkin dapat melakukannya.”
Kedua lawannya tidak menjawab. Yang seorang masih
kesakitan, sedangkan yang seorang lagi semakin dicengkam oleh
kebimbangan.
Selain lawan Paksi itu masih dicengkam oleh keragu-raguan,
maka tiba-tiba saja mereka melihat orang yang bersenjata kapak
itu terlempar dan jatuh ke dalam kotak-kotak sawah yang
tanahnya basah berlumpur. Kapaknya terlepas dari tangannya
dan jatuh ke dalam parit yang airnya nampak bening, gemericik
mengalir tidak berkeputusan.
Sementara itu, orang yang bersenjata bindi itupun telah
meletakkan senjatanya di tanah sambil berkata, “Aku menyerah.”
Wijang menggeram. Katanya, “Aku akan membunuhmu.”
Orang bersenjata bindi itu memandang Wijang dengan sorot
mata yang memelas. Tetapi ia tidak berkata apapun juga.
Wijang masih berdiri sambil bertolak pinggang. Sementara itu
Paksipun datang mendekatinya sambil berdesis, “Apa yang akan
kita lakukan atas mereka?”
Sebelum Wijang menjawab, ia melihat orang yang bertubuh
tinggi besar dan bersenjata kapak yang tercebur ke dalam lumpur
itu berusaha untuk bangkit
Namun kemudian Wijang itupun bertanya kepada orang yang
bersenjata bindi itu, “Kalian datang dari perguruan mana?”
Orang itu bersenjata bindi itu termangu-mangu. Di luar
sadarnya ia berpaling kepada kawannya yang masih berusaha
naik ke tanggul parit.
“Jawab pertanyaanku,” Wijang membentak, “kalian murid dari
perguruan mana?”
Orang itu masih belum menjawab.
“Baik, baik. Jika kalian tidak mau menjawab, maka kalian
akan mati tanpa kami kenali, siapakah yang telah kami bunuh.
Tetapi jika kalian datang dari sebuah perguruan yang sudah
pernah kami dengar namanya, maka kami akan mengabari
saudara-saudara seperguruan kalian, bahwa kalian mati di sini.
Atau bahkan kami akan membiarkan kalian pergi.”
Orang-orang itu masih tetap berdiam diri. Sementara itu orang
yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata kapak itu sudah
berdiri di atas tanggul parit.
Wijanglah yang berkata kepadanya, “Kapakmu terjatuh ke
dalam parit. Jika kau ingin mengambilnya, ambil. Kau akan lebih
berbangga mati dengan senjata di tangan daripada dengan
merundukkan kepalamu di hadapanku sebelum pisauku
menghunjam menusuk punggungmu menembus sampai ke
jantung.”
Orang bertubuh raksasa itu berdiri dengan ragu. Namun
akhirnya iapun berkata, “Aku menyerah. Apa pun yang kami
lakukan, tidak akan berarti apa-apa.”
“Apakah kau juga berkeberatan menyebut perguruanmu?
Apakah kalian datang dari Perguruan Sad, Umbul Telu, Tegal
Arang atau dari mana?”
“Kau kenali nama-nama perguruan itu?”
“Ya. Aku kenal juga dengan orang-orang dari Goa Lampin.”
Orang bertubuh raksasa itupun kemudian menjawab, “Kami
datang dari perguruan yang belum kau sebut.”
“Perguruan apa?”
“Perguruan Kayu Legi.”
Wijang dan Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
Wijangpun menggeram, “Kau akan menipu kami?”
“Tidak. Aku berkata sebenarnya. Kami mendengar bahwa ada
beberapa orang anak muda yang memang dikirim oleh para
pengikut Harya Wisaka ke daerah ini dan diserahkan kepada Ki
Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung yang mempunyai
beberapa tempat tinggal. Satu di antaranya adalah Panjatan.
Karena itu, kami mendapat tugas untuk mengawasi padukuhan
ini.”
Wijang mengangguk-angguk kecil. Iapun kemudian berpaling
kepada Paksi sambil berkata, “Biarlah mereka pergi. Biarlah
berita itu tersebar di daerah ini, bahwa anak-anak muda yang
dikirim oleh Harya Wisaka, bukan anak yang masih ingusan.
Biarlah mereka memberitahukan kepada guru mereka, bahwa
tidak ada gunanya memusuhi kami, karena kami tidak berniat
memusuhi mereka.”
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada
orang yang bertubuh tinggi besar itu, “Pergilah. Katakan bahwa
kami memang tidak berniat memusuhi siapa pun di sini. Kami
dipersiapkan untuk pada satu saat berada di istana Pajang.
Dengan atau tanpa cincin kerajaan itu. Jika hal itu terjadi, maka
kami akan melihat, perguruan yang manakah yang dapat kami
ajak bekerja sama dengan kami serta perguruan manakah yang
harus kami hancurkan untuk selama-lamanya. Jika setelah
beberapa perguruan bergabung kalian tidak dapat mengalahkan
kekuatan Harya Wisaka, maka perguruan-perguruan yang
terpisah itu tidak akan mampu berbuat apa-apa.”
“Tetapi sekarang Harya Wisaka sudah tertangkap.”
“Kekuatan kami tidak terletak hanya pada satu orang.
Meskipun Harya Wisaka sudah tertangkap, tetapi pancaran
perjuangannya tidak meredup. Jika sekarang kami tidak
bergerak, karena kami bukan orang-orang bodoh yang tidak
mempunyai perhitungan.”
Orang-orang itupun terdiam. Sementara Wijangpun berkata,
“Sampai sekarang, yang sudah menyatakan kesediaannya
berjuang bersama kami adalah Ki Repak Rembulung dan Nyi
Pupus Rembulung. Keduanya memiliki beberapa orang pengikut
dari beberapa tempat. Tetapi dalam waktu dekat, tidak akan ada
gerakan apa-apa, karena kami tidak mau terperosok lagi ke
dalam satu kegagalan yang pahit. Baru setelah kami benar-benar
bersiap, kami akan mulai dengan gerakan kami. Nah, terserah
kepada kalian, kepada orang-orang Kayu Legi, di mana kalian
akan berdiri.”
Orang-orang yang mengaku dari Perguruan Kayu Legi itu
mengangguk-angguk kecil. Sementara Wijangpun berkata,
“Pergilah. Sampaikan salam kami kepada guru kalian. Dendam
yang membakar jantungnya tidak perlu dikipasi terus. Yang
pernah terjadi biarlah terjadi. Kita memandang masa-masa
mendatang. Namun seandainya gurumu tidak setuju, tidak apaapa.
Tetapi jangan ganggu kami. Jangan ganggu Ki Repak
Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung agar kalian tidak
memaksa kami bergerak lebih cepat di daerah ini. Sekali lagi aku
beritahukan, bahwa anak-anak dari angkatan mendatang itu
bukan anak-anak ingusan. Sekarang kalian berhadapan dengan
dua orang di antara mereka. Sementara itu beberapa kelompok di
antara kami telah berada di daerah ini. Siapa yang membuka
permusuhan dengan kami, nasibnya sudah dapat diramalkan.”
Keempat orang itu masih tetap berdiam diri. Sementara itu,
Paksipun berkata, “Sekarang pergilah. Ambil senjata kalian yang
terjatuh. Kami beritahu sekali lagi, bahwa Ki Repak Rembulung
dan Nyi Pupus Rembulung hari ini tidak berada di Panjatan.”
Keempat orang itu masih saja merasa ragu. Namun kemudian
orang yang bertubuh raksasa itupun berkata, “Baiklah. Kami
minta diri.”
Demikianlah, maka keempat orang itupun segera
meninggalkan tempat itu. Mereka yang senjatanya terlepas dari
tangan masih sempat memungutnya dan membawa pergi.
Seorang di antara mereka harus dibantu oleh kawannya, karena
punggungnya yang kesakitan. Rasa-rasanya tulangnya menjadi
retak.
Demikian keempat orang itu berjalan menjauh, maka
Paksipun berdesis, “Ternyata bahaya bagi anak-anak itu dapat
datang dari segala arah.”
“Ya. Banyak orang yang mendendam terhadap Harya Wisaka.”
“Jika kita tidak segera berhasil, mungkin sekali para petugas
sandi dari Pajanglah yang akan berhasil lebih dahulu menangkap
mereka. Tetapi tentu dengan pilihan, hidup atau mati.”
Wijang mengangguk-angguk. Ia menangkap penyesalan yang
tersirat dari kata-kata Paksi, bahwa mereka telah terlalu lama
berhenti di perjalanan.
Namun Wijang dapat mengerti, sehingga karena itu, ia sama
sekali tidak menanggapinya agar tidak timbul salah paham.
Namun Paksi itu kemudian bertanya, “Sekarang, apakah kita
akan langsung pergi ke Panjatan?”
Wijang mengangguk. Katanya, “Ya. Kita akan langsung pergi
ke Panjatan.”
“Marilah. Kita masih mempunyai waktu.”
Demikianlah, maka Wijang dan Paksipun segera meneruskan
perjalanan mereka ke Padukuhan Panjatan.
Wijang dan Paksi masih ingat betul, di mana mereka pernah
berdiri di depan regol rumah yang dihuni oleh Ki Repak
Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung. Pada waktu mereka
datang ke Panjatan, maka tiba-tiba saja mereka sudah
berhadapan dengan seorang perempuan yang mengenakan
pakaian berwarna hijau pupus. Nyi Pupus Rembulung.
Ketika mereka kemudian berdiri beberapa puluh langkah dari
regol Padukuhan Panjatan, merekapun berhenti. Dengan nada
dalam Wijang berdesis, “Jika dugaan orang-orang yang mengaku
dari perguruan Kayu Legi itu benar, bahwa anak-anak muda yang
dikirim kepada Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung
berada di Panjatan, maka padukuhan itu tentu dapat
perlindungan lebih dari biasanya oleh para pengikut Ki Repak
Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung. Apalagi jika Ki Repak
Rembulung Nyi Pupus Rembulung sendiri ada di padukuhan itu.
Bahkan jika demikian, maka Ki Gede Lenglengan tentu juga
berada di Panjatan.”
Paksi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kita akan
mendekati regol padukuhan itu tidak melewati jalan ini.”
“Baik,” sahut Wijang, “kita akan turun ke sawah.”
Demikianlah, Wijang dan Paksipun segera turun ke sawah.
Mereka merayap mendekati regol padukuhan dari arah samping.
Mula-mula mereka bergeser ke arah dinding padukuhan. Sambil
berlindung di antara batang-batang perdu mereka semakin
mendekati regol.
Dengan mengetrapkan ilmu mereka, Sapta Pandulu dan Sapta
Pangrungu, mereka mencoba untuk mengetahui apakah ada
penjagaan khusus di regol padukuhan.
Namun menurut penilikan mereka berdua, tidak seorang pun
berada di regol padukuhan itu. Tidak terdengar suara dan
bahkan tidak terdengar desah nafas. Apalagi nampak sosok
tubuh seseorang.
Meskipun demikian, keduanya tidak ingin memasuki
padukuhan itu lewat regol. Merekapun kemudian telah meloncati
dinding padukuhan setelah mereka yakin, bahwa tidak ada
pengawasan atas dinding padukuhan itu.
Sesaat kemudian, maka mereka berdua telah berada di dalam
lingkungan Padukuhan Panjatan. Padukuhan yang mempunyai
ciri yang khusus, karena di padukuhan itu tinggal Ki Repak
Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung, meskipun mereka tidak
selalu berada di padukuhan itu, karena Ki Repak Rembulung dan
Nyi Pupus Rembulung mempunyai tempat tinggal yang lain.
Bahkan mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa sepasang
suami-istri yang seakan-akan dibayangi oleh kabut rahasia itulah
yang disebut Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.
Namun Wijang dan Paksi tidak melihat sesuatu yang menarik
di dalam padukuhan itu. Di malam hari, padukuhan ini nampak
lengang seperti padukuhan-padukuhan yang lain. Sepi. Tidak ada
seorang pun yang berada di jalan.
“Kita lihat gardu itu. Bukankah tidak jauh dari regol rumah
Repak Rembulung itu terdapat sebuah gardu?”
Paksi mengangguk-angguk.
Dengan sangat berhati-hati mereka berusaha mendekati gardu
yang pernah mereka lihat. Tetapi keduanya tidak menyusuri jalan
utama padukuhan itu. Mereka telah memilih melintasi halaman
dan kebun, sehingga setiap kali mereka harus meloncati dinding
halaman.
Baru beberapa saat kemudian mereka sampai ke halaman
yang terletak berseberangan dengan gardu yang pernah mereka
lihat.
Ternyata gardu itu kosong. Tidak seorang pun berada di gardu
itu. Bahkan lampu di gardu itu pun tidak menyala sama sekali.
Wijang dan Paksi itupun kemudian bergeser pula. Merekapun
kemudian berhenti di halaman rumah yang berseberangan
dengan regol rumah seorang perempuan yang dikenalnya sebagai
Pupus Rembulung itu.
Ternyata regol itupun sepi-sepi saja. Tetapi ada satu atau dua
orang yang berjaga-jaga.
Wijangpun kemudian telah menggamit Paksi sambil berbisik,
“Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka berada di sini.”
Paksi mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bertanya,
“Apakah mungkin Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus
Rembulung sengaja menyamarkan keberadaan mereka?”
“Memang mungkin. Tetapi seandainya demikian, permainan Ki
Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung itu sangat
berbahaya,” jawab Wijang.
“Mungkin mereka terlalu yakin akan kekuatan yang tersimpan
di dalam rumah itu. Kehadiran Ki Gede Lenglengan bersama
beberapa orangnya, menambah keyakinan Ki Repak Rembulung
dan Nyi Pupus Rembulung akan kekuatan yang tersimpan di
rumah mereka, sehingga mereka tidak memerlukan pengawasan
di luar rumah.”
Keduanya akhirnya mengambil keputusan untuk
meninggalkan Padukuhan Panjatan. Mereka berkesimpulan
bahwa Repak Rembulung dan Pupus Rembulung serta anak-anak
muda yang diserahkan oleh Ki Gede Lenglengan kepada mereka,
tidak berada di Panjatan.
Meskipun demikian, Paksi itupun berkata, “Kita dapat
menghubungi pande besi di pasar itu.”
Wijangpun mengangguk-angguk. Salah seorang di antara
mereka adalah orang Panjatan.
“Ya. Besok kita dapat berhubungan dengan Lebak. Mudahmudahan
ia masih bekerja di pasar. Agaknya besok pasar itu
sudah menjadi lebih ramai lagi.”
Dengan demikian, maka kedua orang itupun kemudian telah
meninggalkan Padukuhan Panjatan. Mereka berharap bahwa
Lebak, yang rumahnya di Padukuhan Panjatan itu, akan dapat
memberikan sedikit keterangan tentang tempat tinggal Ki Repak
Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung, meskipun seandainya
Lebak tidak tahu pasti, apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin
Lebak dapat menyebut orang-orang baru yang tinggal di Panjatan,
terutama anak-anak muda.
Jilid 38
DI PERJALANAN kembali ke gubuk mereka, Wijang dan Paksi
tidak menemui hambatan apapun. Tetapi agaknya mereka tidak
akan tidur semalam suntuk, karena ketika mereka sampai di
gubuk mereka, langit telah nampak menjadi semburat merah.
“Sebentar lagi fajar akan menyingsing,” berkata Wijang. Lalu
iapun bertanya, “Apakah kau masih akan tidur meskipun
sebentar?”
Paksi menggeleng. Katanya, “Tidak. Bukankah sudah saatnya
kita bangun sekarang seandainya kita tidur semalam?”
Wijang mengangguk-angguk.
“Namun lebih baik kita pergi ke sungai.”
Merekapun kemudian membersihkan diri di sebuah belik kecil
dengan mata air yang bening, yang terdapat di pinggir sungai.
Ketika kemudian matahari terbit, maka Wijang dan Paksi
sempat duduk di dalam gubuknya. Sebelum cahaya matahari
menembus cahaya fajar, Paksi masih sempat memanasi
minuman. Namun demikian langit menjadi cerah, Paksipun telah
memadamkan apinya agar asapnya tidak menarik perhatian.
Sambil menghirup minuman hangat, Wijang dan Paksi masih
berbincang tentang keberadaan Repak Rembulung dan Pupus
Rembulung.
“Kita nanti akan menemui Lebak di pasar,” desis Paksi.
“Ya. Kita kemarin juga berjanji untuk datang pagi-pagi.”
“Berjanji?”
“Ya. Kepada Kinong.”
Paksi tersenyum. Katanya, “Jika demikian, apakah kita akan
berangkat sekarang?”
“Ya. Kita tentu sudah terlambat menurut perhitungan waktu
Kinong.”
Keduanyapun kemudian telah berkemas serta membenahi
pakaian mereka. Sesaat kemudian, merekapun sudah menuruni
kaki Gunung Merapi untuk pergi ke pasar.
Ternyata pasar itu sudah menjadi semakin ramai. Mereka
yang berjualan di pasar itu sudah menjadi semakin banyak.
Demikian pula para pembelinya.
Demikian mereka berdiri di depan pintu gerbang pasar,
mereka melihat Kinong membawa bakul di atas kepalanya.
Agaknya Kinong tergesa-gesa.
Namun ternyata Kinong sempat melihat mereka pula. Seperti
yang dikatakan Wijang, maka Kinong itu berkata, “Kalian datang
terlalu siang.”
Wijang dan Paksi tersenyum. Tetapi mereka tidak sempat
menjawab, karena Kinong tidak berhenti. Dengan berlari-lari kecil
Kinong membawa bakul itu ke sebuah pedati yang berhenti di
ujung deretan kedai yang juga sudah semakin banyak yang
membuka pintunya. Sudah ada empat buah kedai yang sudah
menjajakan dagangannya. Nasi hangat, sayur dengan berbagai
lauknya serta bermacam-macam makanan.
Namun nampaknya tidak hanya sebakul saja barang yang
dibawa Kinong ke pedati yang berhenti di ujung deretan kedai itu.
Ternyata anak itu masih berlari-lari kecil masuk kembali ke
pasar.
Wijang dan Paksi yang tidak terburu-buru itu menunggu
sampai Kinong selesai. Mereka justru ingin tahu, apa yang
dibawa Kinong dan dimuat di pedati itu.
Setelah berlari-lari kecil hilir-mudik, maka Kinongpun telah
selesai. Sambil tersenyum-senyum ia melangkah mendekati
Wijang dan Paksi yang masih berada di luar pagar.
“Kau sibuk hari ini, Konong?” bertanya Paksi.
Kinong yang masih tersenyum-senyum itupun berkata, “Ya.
Rejeki.”
“Apa saja yang kau bawa ke pedati itu?”
“Bahan makan. Ada beras, ada jagung, dan kebutuhan dapur.
Garam, gula kelapa, terasi, ikan yang sudah diasinkan dan
beberapa kebutuhan yang lain.”
“Apakah ada orang yang akan mengadakan perhelatan atau
upacara?”
Kinong menggeleng sambil menjawab, “Entahlah. Aku tidak
tahu.”
“Siapa yang berbelanja itu?”
Kinong termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
menjawab, “Kau lihat dua orang perempuan yang menuju ke
pedati itu? Nah, merekalah yang berbelanja.”
“Kau pernah lihat mereka sebelumnya?”
Kinong mengerutkan dahinya. “Mungkin. Mungkin aku pernah
melihatnya, tetapi kapan, aku lupa.”
“Di pasar ini? Sudah lama?” desak Paksi.
“Agaknya belum terlalu lama. Juga di pasar ini. Entah kapan.”
Paksi tersenyum. Katanya, “Sukurlah. Mudah-mudahan kau
mendapat banyak rejeki seperti hari ini.”
Tiba-tiba saja Kinong itu bertanya, “Kakang sudah makan
pagi?”
“Sudah. Kenapa?”
“Kalau Kakang berdua belum makan pagi, marilah, kita
makan pagi. Nasi tumpang atau ketan ragi atau ketela rebus
legen? Nah, apa saja. Aku yang bayar.”
Wijang dan Paksi tertawa serentak, sehingga beberapa orang
di sekitarnya berpaling.
“Terima kasih, Kinong,” jawab Wijang. “Sayang, kami sudah
makan pagi meskipun hanya nasi wadang. Nasi yang semalam
tersisa. Tetapi kami sudah kenyang. Nah, kau dapat menabung
uangmu itu. Bukankah kau masih senang menabung?”
Kinong itu mengangguk.
“Nah, lihat, pedati itu sudah mulai bergerak.”
Kinong pun memandang pedati yang memang sudah mulai
bergerak itu. Iapun berdesis, “Jarang orang memberikan upah
sebanyak kedua orang perempuan itu.”
“Tetapi barang yang kau bawa cukup banyak, Kinong. Nah,
sebaiknya sekarang kau beristirahat di depan penjual nasi
tumpang itu. Minum dawet cendol, makan nasi tumpang,
lempeng gendar dan besengek tempe.”
Kinong tersenyum. Namun ia masih berkata, “Marilah. Makan
apa saja. Aku ingin makan bersama Kakang berdua.”
Paksi menepuk bahu Kinong sambil berkata, “Makanlah. Aku
ingin melihat pande besi itu. Nampaknya pande besi itu sudah
mulai bekerja lagi.”
“Ya. Sudah sejak pagi-pagi tadi. Tanpa pande besi itu, rasarasanya
pasar ini memang sepi,” jawab Kinong. Namun iapun
kemudian bertanya, “Tetapi apa yang Kakang cari pada pande
besi itu?”
“Kami ingin membeli kapak kecil untuk membelah kayu
bakar. Atau parang atau sebangsanya.”
“Nanti aku cari Kakang di tempat pande besi itu.”
“Baik. Sekarang pergilah ke penjual nasi itu.”
Tetapi sebelum Kinong pergi ke penjual nasi, terdengar
seseorang memanggilnya.
Kinong berpaling. Seorang perempuan memberi isyarat
kepadanya untuk mendekat.
“Sebentar ya, Kang,” berkata Kinong sambil berlari membawa
keranjangnya.
Perempuan yang memanggil Kinong itu adalah seorang
penjual sayuran. Seorang perempuan yang sedang berbelanja
cukup banyak memerlukan bantuan Kinong untuk membawanya.
“Kau bersedia membawa sayuran itu sampai ke rumah?”
bertanya perempuan itu.
“Di mana Bibi tinggal?” bertanya Kinong.
“Tidak jauh. Padukuhan di seberang bulak sebelah.”
“Banyuurip?”
“Bukan. Masih menyusur parit di sebelah gumuk.”
“Padukuhan mana?”
“Tegalsari.”
Kinong termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
mengangguk sambil menjawab, “Baik, Bi. Aku akan mengantar
Bibi ke Tegalsari.”
Wijang dan Paksi saling berpandangan. Kinong adalah seorang
anak yang sangat rajin bekerja. Nampaknya ia tidak mempunyai
kesempatan untuk bermain sebagaimana para remaja sebayanya.
“Sukurlah bahwa Kinong mengerjakan pekerjaannya dengan
gembira,” desis Wijang.
Paksi mengangguk-angguk. Dipandanginya Kinong yang
bekerja dengan tangkasnya, mengisi keranjangnya dengan
berbagai macam sayuran yang telah dibeli oleh perempuan itu.
Sementara itu perempuan itu sendiri masih membawa sebakul
sayuran pula, yang kemudian digendongnya di punggungnya.
Sejenak kemudian, maka Kinongpun telah mengusung
keranjangnya di atas kepalanya, mengikuti perempuan yang
mengupahnya.
“Sekarang kita ke mana?” desis Paksi.
“Bukankah kita berniat menemui Lebak? Kita pergi ke pande
besi itu.”
Keduanyapun kemudian melangkah menyusup di antara
orang-orang yang sedang berbelanja di pasar. Mereka menuju ke
tempat para pande besi bekerja membuat berbagai macam alat
dari besi dan baja.
“Lebak ada di sana,” desis Paksi.
“Apakah kita dapat mengganggunya? Nampaknya ia sedang
sibuk.”
“Kita bertanya saja kepadanya, apakah ada sedikit waktu
untuk berbicara.”
Di depan tempat para pande besi itu bekerja, keduanya
berhenti. Dengan agak ragu Paksipun berkata, “Lebak? Apakah
ada waktu sedikit? Aku ingin bertanya serba sedikit. Jika
sekarang kau sedang sibuk, maka aku akan datang nanti di saatsaat
kau beristirahat.”
Lebak memandang kedua orang anak muda itu. Ia mengenal
mereka berdua. Tetapi sudah agak lama keduanya tidak nampak
di pasar itu.
Sejenak Lebak termangu-mangu. Namun kemudian iapun
berkata, “Baiklah. Jika tidak terlalu lama, kita berbicara sekarang
saja.”
Lebakpun kemudian minta ijin kepada seorang yang sudah
separo baya. Namun tubuhnya masih nampak kokoh.
Lebakpun kemudian mendekati Wijang dan Paksi yang berdiri
tidak jauh dari tempat kerja para pande besi itu. Namun
demikian Lebak menghampirinya, maka merekapun segera
berjongkok di dekat alat-alat yang terbuat dari besi dan baja yang
sudah siap, yang dapat dibeli oleh mereka yang
membutuhkannya.
“Lebak,” desis Paksi, “bukankah kau baru saja pulang ke
Panjatan?”
“Sudah beberapa hari yang lalu,” jawab Lebak.
“Maaf, Lebak. Kami ingin tahu, apakah di Panjatan ada
penghuni baru? Maksudku beberapa orang anak muda?”
Lebak mengerutkan dahinya. Sementara Paksipun berkata,
“Lebak, aku mencari seorang sahabatku. Ia bersama dua atau
tiga orang sepupunya berada di rumah bibinya di Panjatan. Nah,
jika benar mereka berada di sana, kau tentu pernah melihatnya
atau mendengar dari kawan-kawanmu, bahwa ada orang baru di
padukuhanmu.”
Lebak mengerutkan dahinya. Katanya sambil menggeleng,
“Aku tidak melihat orang lain di padukuhanku. Ketika aku
pulang beberapa hari yang lalu, yang aku temui adalah orangorang
yang sudah aku kenal dengan baik. Kawan-kawanku pun
tidak ada yang mengatakan bahwa di padukuhan kami ada
orang-orang baru. Sebenarnyalah tidak mudah orang baru berada
di padukuhan kami.”
Wijang dan Paksipun mengangguk-angguk. Mereka memang
menjadi semakin yakin, bahwa Repak Rembulung dan Pupus
Rembulung tidak berada di Panjatan, meskipun mereka
mempunyai landasan yang kuat di padukuhan itu.
“Baiklah, Lebak. Kami mengucapkan terima kasih.”
“Maaf. Hanya itulah yang dapat aku beritahukan kepadamu.”
“Itu sudah cukup.”
“Mungkin lebih baik kalian pergi saja ke Panjatan. Tetapi
kalian harus berhati-hati.”
“Mungkin pada kesempatan lain, kami akan pergi ke Panjatan.
Jika saja aku tahu kapan kau pulang.”
Lebak mengerutkan dahinya. Dengan suara yang dalam iapun
berkata, “Bukan maksudku menolak kunjunganmu. Tetapi jika
kalian pergi ke Panjatan bersama saat-saat aku pulang, mungkin
akibatnya akan panjang. Bukan saja bagi kalian. Tetapi juga bagi
keluargaku.”
Wijang dan Paksi mengangguk-angguk.
“Aku mengerti, Lebak. Sekali lagi kami mengucapkan terima
kasih,” desis Paksi.
Keduanyapun kemudian telah minta diri. Sambil bangkit
berdiri Wijangpun berkata, “Kau ditunggu oleh tugasmu, Lebak.”
Lebakpun berdiri pula sambil tersenyum. Katanya, “Sejak
matahari terbit, aku sudah ditunggu oleh pekerjaan itu.”
Wijang dan Paksipun kemudian telah meninggalkan Lebak
yang segera kembali ke pekerjaannya. Sementara itu, Wijang dan
Paksi masih menyusuri pasar yang menjadi lebih ramai dari
sehari sebelumnya.
Ketika keduanya berhenti sejenak di dekat seorang penjual
kerajinan bambu, seorang perempuan yang lewat tiba-tiba
berhenti. Seorang perempuan yang pernah berharap untuk
mengambil Paksi menjadi menantunya.
“Kau, Ngger,” perempuan itu menepuk punggung Paksi.
Paksi terkejut. Ketika ia berpaling, dilihatnya perempuan yang
berniat mengambilnya sebagai menantu itu tertawa lebar.
“Bibi. Apakah Bibi tidak berjualan hari ini?”
“Ya. Anak perempuanku yang menungguinya. Aku baru saja
menemui seorang saudaraku di pintu gerbang pasar.”
“O.”
“He, apakah kau sudah menikah?”
Pertanyaan itu membuat jantung Paksi berdebaran. Namun
Paksipun menggeleng sambil menjawab, “Belum, Bibi.”
“Sayang sekali. Tetapi sekarang kau tidak dapat lagi melamar
anak perempuanku itu. Anakku memang terlalu cantik, sehingga
banyak anak-anak muda yang datang melamarnya. Seperti bunga
yang dikerumuni kumbang.”
“O. Apakah anak Bibi itu sekarang sudah menikah?”
“Sudah. Belum lama. Ia dapat melakukan sayembara pilih.
Beberapa orang anak muda yang melamarnya harus menunggu,
siapakah di antara mereka yang tertimpa rembulan di dalam
mimpinya, maka anak muda itulah yang akan dipilih oleh
anakku.”
Paksi mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling kepada Wijang,
maka dilihatnya Wijang sedang menahan tertawanya.
“Ternyata seorang di antara anak-anak muda itu adalah
seorang anak bebahu padukuhan yang kaya. Seorang yang
pandai dan rajin. Seorang yang cerdas dan lebih-lebih lagi,
berwajah tampan.”
“O, sukurlah. Anak muda itu tentu akan menggantikan
ayahnya menjadi bebahu padukuhan itu kelak.”
“Ia mempunyai beberapa orang saudara laki-laki. Di antaranya
ada yang lebih tua, yang kelak akan mewarisi kedudukan
ayahnya.”
“O,” Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Meskipun
demikian, bebahu itu tentu mempunyai sawah yang luas.
Mungkin juga pategalan dan kebun kelapa.”
“Ya.”
“Anak perempuan Bibi itu seharusnya tidak perlu lagi ikut
berjualan di pasar. Ia dapat membantu suaminya di rumah.
Mungkin menunggu perempuan yang bekerja di sawah. Mungkin
menunggui mereka yang sedang menumbuk padi. Atau tugastugas
yang lain.”
Perempuan itu menggeleng. Katanya, “Sejak kecil ia sudah
terbiasa berada di pasar. Ikut berjualan. Kebiasaan itu tidak
dapat begitu saja ditinggalkannya.”
“Jika saja suaminya tidak berkeberatan.”
Perempuan itu termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya,
“Ya. Suaminya tidak berkeberatan. Bahkan suaminya dengan
rajin ikut membantunya.”
“Maksud Bibi?”
“Suaminya ikut berjualan di pasar. Ternyata pekerjaan itu
cocok baginya. Meskipun ia anak orang kaya, tetapi ia tidak
segan-segan bekerja berat bersama isterinya.”
“O.”
“Dengan begitu keduanya nampak sangat berbahagia.”
“Sukurlah. Bibi tentu kecewa bila Bibi mengambil aku sebagai
menantu. Aku adalah orang yang tidak betah untuk tinggal. Aku
selalu berkeliaran ke mana-mana.”
“Tetapi jika kau mempunyai isteri cantik seperti anakku, maka
kau tentu akan betah tinggal di rumah. Kau tidak akan beranjak
sejenak pun.”
“Ah.”
“Jangan menyesal, anak muda. Mudah-mudahan kelak kau
mendapat seorang isteri yang cantik dan baik hati.”
“Mudah-mudahan, Bibi. Doakan saja.”
Perempuan itupun kemudian meninggalkan Paksi.
Wijang masih menekan perutnya karena menahan tertawanya.
Demikian perempuan itu pergi, maka iapun bertanya, “Apakah
anaknya cantik sekali?”
“Kau akan pingsan melihatnya.”
“He?”
Paksi tertawa. Katanya, “Ketika mudanya, penjual nasi
tumpang itu tentu lebih cantik, dari anak perempuan itu.”
“Jadi?”
“Sudahlah. Kita pergi ke arah pintu gerbang saja.”
“Kau tidak membeli kebutuhan sehari-hari?”
“Bukankah masih ada di rumah?”
Wijang mengangguk-angguk. Keduanyapun melangkah
menuju ke pintu gerbang.
Setelah sempat singgah di sebuah kedai, maka keduanyapun
meninggalkan pasar itu kembali ke gubuk mereka yang
tersembunyi.
Sambil berbaring di atas selembar ketepe di dalam gubuknya,
Wijang itupun berkata, “Kita tidak menemukan mereka di
Panjatan. Menurut pendapatmu, apa yang akan kita lakukan
kemudian, Paksi?”
“Aku masih mempunyai jalur yang lain yang mungkin akan
sampai kepada Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.”
“Jalur yang mana?”
“Kau ingat Ki Pananggungan?”
“He? Ki Pananggungan?”
“Ya.”
Wijang mengangguk-angguk.
“Kau ingat Kemuning?”
“Gadis cantik kemenakan Ki Pananggungan itu?”
“Ya.”
“Aku ingat.”
“Kemuning adalah anak angkat Repak Rembulung dan Pupus
Rembulung.”
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam
iapun berkata, “Mungkin kita akan dapat menempuh jalur ini.”
“Kita akan mencoba. Kita pergi ke Padukuhan Kembang Arum
untuk menemui Ki Pananggungan.”
“Tetapi kita tidak boleh terlalu berharap, Paksi. Setelah sekian
lama kita tidak bertemu, mungkin saja telah terjadi perubahan
pada diri Ki Pananggungan.”
“Tetapi Ki Pananggungan bukan orang yang mudah berubah
haluan.”
“Nampaknya memang begitu. Tetapi bahwa Repak Rembulung
dan Pupus Rembulung telah bersedia bekerja sama dengan Ki
Gede Lenglengan untuk mengasuh anak-anak muda yang
disebutnya angkatan masa datang itu juga merupakan sesuatu
yang tidak kita perhitungkan sebelumnya.”
“Repak Rembulung dan Pupus Rembulung sangat berbeda
dengan Ki Pananggungan, Wijang.”
“Sementara itu, Ki Pananggungan telah mengenal aku sebagai
Pangeran Benawa.”
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia berdiam diri.
Pengenalan Ki Pananggungan atas Pangeran Benawa itu memang
akan dapat segera mengganggu jika Ki Pananggungan berubah
haluan.
“Tetapi aku yakin bahwa Ki Pananggungan tidak akan
berubah. Apalagi setelah Harya Wisaka tertangkap.”
“Justru setelah Harya Wisaka tertangkap.”
Paksi terdiam. Memang banyak hal yang tidak terduga akan
dapat terjadi.
Namun justru Wijanglah yang berkata, “Baiklah, Paksi, kita
akan menemui Ki Pananggungan. Agaknya perubahan sikap pada
Ki Pananggungan adalah kemungkinan yang sangat kecil.”
“Besok kita pergi ke Kembang Arum.”
Wijang mengangguk-angguk. Namun iapun justru bangkit
sambil berkata, “Marilah, kita mencari kelapa muda. Aku haus.”
Paksi yang duduk di sebelahnya sambil bersandar tiang
bambu itupun segera bangkit berdiri pula.
Sejenak kemudian, keduanya telah pergi ke pinggir sungai.
Dengan tangannya Wijang memanjat naik untuk memetik dua
buah kelapa muda serta keduanya masih sempat mencari ikan
dan udang dengan kelapa yang masih belum terlalu tua.
Demikian langit menjadi gelap, maka Paksipun telah
menyalakan api, sementara Wijang membawa seonggok kayu
bakar yang telah kering ke dalam gubuknya.
Menjelang wayah sepi bocah, keduanyapun makan nasi
hangat dengan pepes ikan dan udang yang gurih.
Seperti biasanya mereka telah menanak nasi sekaligus untuk
esok pagi. Demikian pula lauk dan sayurnya.
Namun malam itu keduanya telah sepakat, esok pagi, mereka
akan pergi ke Padukuhan Kembang Arum untuk menemui Ki
Pananggungan.
Malam itu, seperti biasanya, keduanya bergantian tidur di
dalam gubuk mereka. Biasanya Wijang yang tidur lebih dahulu.
Baru kemudian lewat tengah malam, Paksilah yang tidur
sementara Wijanglah yang berjaga-jaga.
Tetapi malam itu ternyata Paksi merasa sulit untuk tidur. Ia
mulai membayangkan pertemuannya dengan Kemuning. Seorang
gadis yang cantik, yang pernah diselamatkannya dari tangan
Bahu Langlang, yang hampir saja menjadikan gadis itu seorang
budak, seorang pelayan, tetapi juga seorang isteri yang ke sekian.
Baru di dini hari, Paksi sempat tidur sekilas. Namun
kemudian iapun harus segera bangun lagi ketika langit mulai
dibayangi oleh cahaya fajar.
Keduanyapun segera berbenah diri. Mereka masih sempat
makan pagi dan mencuci mangkuk-mangkuk yang kotor.
Menempatkannya di sudut gubuk mereka.
Paksi dan Wijang menyadari, bahwa mereka akan
meninggalkan gubuk mereka untuk waktu yang agak lama.
Sehingga karena itu, maka mereka telah menyimpan sisa bahanbahan
pangan dan kebutuhan dapur dengan baik.
Ketika matahari kemudian terbit, maka merekapun
meninggalkan gubuk mereka. Mereka masih berniat untuk pada
satu hari kembali lagi ke gubuk kecil mereka yang terlindung itu.
Ketika mereka turun ke jalan setapak, maka terasa hangatnya
sinar matahari pagi. Di kejauhan, di pepohonan hutan masih
terdengar kicau burung-burung liar menyambut hari baru yang
segar. Sementara titik-titik embun masih nampak bergayutan di
ujung dedaunan.
“Kita akan singgah di pasar sebentar,” berkata Paksi.
“Apakah kita akan membeli bekal di perjalanan?”
“Tidak. Aku ingin berbicara dengan Kinong sebentar. Jika kita
pergi begitu saja, Kinong akan kehilangan.”
Wijang tersenyum. Katanya, “Baik. Kita menemui Kinong
sebentar.”
Demikianlah, keduanyapun langsung menuju ke pasar.
Agaknya pasar menjadi semakin ramai. Bahkan hari itu adalah
hari pasaran, sehingga pasar itu nampak penuh berdesakan.
Bahkan beberapa orang yang berjualan tidak tertampung ke
dalam pasar, sehingga mereka menjajakan dagangannya di luar
dinding pasar.
Sementara itu, di sudut pasar itu terdapat pula beberapa ekor
kambing, lembu bahkan kerbau yang terikat untuk dijual.
Di pintu gerbang pasar, Wijang dan Paksi telah bertemu
dengan Kinong yang berjalan dengan sebelah tangan melenggang,
sedang tangannya yang lain menjinjing keranjang kecilnya.
“Kinong,” Paksipun memanggilnya.
Kinong berpaling. Ketika dilihatnya Paksi dan Wijang, iapun
segera mendekatinya sambil berkata, “Hari ini Kakang berdua
datang lebih pagi.”
Paksi dan Wijang tertawa.
“Kau yang terlambat datang,” berkata Wijang.
Tetapi Kinong menggeleng sambil mencibir, “Kau salah,
Kakang. Aku sudah membantu membawa beras dan sayuran
ketika seorang perempuan dan seorang laki-laki berbelanja.”
“Laki-laki itu tidak mau membawa beras dan sayuran itu?”
“Tangannya hanya dua. Laki-laki itu tidak dapat membawa
semuanya. Meskipun tidak terlalu berat, tetapi ada beberapa
kereneng dan bakul. Perempuan itu sudah menggendong bakul
dan kedua tangannya menjinjing kereneng. Sedangkan laki-laki
itu sudah mengusung di atas kepalanya sebuah bakul yang lain.
Tetapi masih ada yang belum terbawa.”
“Mereka memanggilmu?”
“Perempuan itu sudah mengenal ibu. Ia mencari ibu. Tetapi
sudah beberapa hari ini ibu tidak pergi ke pasar. Jadi akulah
yang datang membantunya.”
“Lalu, di mana mereka sekarang? Apakah mereka dapat
membawa semuanya itu pulang?”
“Ternyata mereka membawa seekor kuda beban.”
Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Sementara Kinongpun
berkata, “Nah, aku sudah mendapat rejeki sepagi ini. Apakah
Kakang berdua sudah makan pagi.”
Paksi dan Wijang tersenyum. Sambil menepuk bahunya
Paksipun menjawab, “Sudah, Kinong. Kami sudah makan. Jika
kau akan makan pagi, makanlah.”
“Kakang berdua mau minum wedang srebat?”
“Terima kasih, Kinong,” Paksi termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian iapun bertanya, “Kenapa ibumu sudah
beberapa hari tidak pergi ke pasar? Bukankah ibumu tidak
sakit?”
“Tidak, Kakang. Ibu baru sibuk ikut menuai padi di sawah.”
“Kinong,” berkata Paksi kemudian, “kami berdua ingin minta
diri. Kami akan pergi untuk beberapa hari.”
Kinong mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi iapun
bertanya, “Apakah Kakang berdua akan kembali?”
“Kami belum dapat memastikannya, Kinong,” jawab Wijang.
“Tetapi kami merencanakan untuk kembali.”
“Kalian akan pergi ke rumah paman kalian?”
“Ya.”
“Tentu untuk waktu yang lama,” desis Kinong.
“Salam buat keluargamu, Kinong.”
“Terima kasih, Kakang.”
“Tetapi aku ingin bertanya sedikit, Kinong,” berkata Paksi
kemudian.
“Tentang apa, Kakang?”
“Tentang dua orang yang berbelanja dengan membawa pedati
kemarin?”
“Kedua orang perempuan itu?”
“Ya.”
“Apa yang akan Kakang tanyakan?”
“Apakah kau mendengar serba sedikit, apa yang mereka
bicarakan tentang bahan-bahan makan yang mereka beli?
Apakah mereka akan mengadakan perhelatan atau mengadakan
upacara atau apa?”
Kinong termangu-mangu sejenak. Ia mencoba mengingat-ingat
apa yang pernah didengarnya dari mulut kedua orang perempuan
itu.
Namun Kinong itupun menggelengkan kepalanya sambil
berkata, “Aku tidak pernah memperhatikannya, Kakang.”
Paksi menarik nafas panjang. Sementara itu, Kinongpun
berkata, “Yang aku dengar ketika mereka membeli ikan yang
sudah diasinkan itu, seorang di antara mereka mengatakan,
bahwa anak-anak itu tidak begitu suka ikan yang sudah
diasinkan. Mereka lebih suka ikan yang masih segar, yang
langsung ditangkap di belumbang.”
Paksi mengangguk-angguk.
“Atau ikan ayam, daging lebu atau daging kambing.”
“Siapakah yang mereka maksud anak-anak? Tentu bukan
anak-anak kecil.”
“Mungkin. Tetapi kenapa?”
Paksi tersenyum. Katanya, “Tidak apa-apa, Kinong. Aku hanya
ingin tahu.”
“Apa yang ingin Kakang ketahui?”
Paksi tertawa. Katanya, “Sudahlah, Kinong. Kami minta diri.”
Kinong memandang Paksi dengan kerut di dahi. Namun
Wijang telah menepuk bahunya sambil berkata, “Sampai ketemu
lagi, Kinong.”
Kinong mengangguk. Tetapi ia tidak berbicara apa-apa lagi.
Paksi dan Wijangpun kemudian telah meninggalkan pasar itu.
Kinong yang masih berdiri di pintu gerbang memandangi mereka
dengan jantung yang berdebaran. Meskipun keduanya hanyalah
orang-orang yang dikenalnya di pasar itu, namun rasa-rasanya
ada ikatan yang tersangkut pada keduanya.
Namun Kinongpun seakan-akan terbangun dari mimpinya
ketika seseorang memanggilnya, “Kinong.”
Kinong berpaling. Penjual sayuran itulah yang memanggilnya.
“Kau mau membawa sayuran ini ke rumah Bi Merta?”
bertanya penjual sayur itu.
Kinong sudah terbiasa membantu Bi Merta yang rumahnya
hanya beberapa puluh langkah saja dari pasar.
“Tentu,” jawab Kinong.
“Bi Merta akan membuat bancakan. Cucunya genap berumur
selapan esok pagi.”
Sejenak kemudian, Kinong dengan keranjang di atas
kepalanya berjalan mengikuti Bi Merta keluar dari pintu gerbang
pasar.
Dalam pada itu, Wijang dan Paksipun berjalan semakin lama
semakin jauh dari pasar. Sambil melangkah menyusuri jalan
yang digurati oleh jalur-jalur bekas roda pedati, Paksi itupun
berkata, “Apakah mungkin, orang yang berbelanja sepedati itu
bekerja untuk Repak Rembulung dan Pupus Rembulung?”
“Aku juga berpikir demikian,” berkata Wijang.
“Mungkin kita dapat mengikuti jejak pedati itu.”
“Ada banyak jejak pedati. Bahkan kita pun akan dapat
terjebak ke dalam sarang mereka yang belum kita ketahui.”
“Mungkin kita dapat menunggu beberapa hari lagi. Pedati
dengan dua orang perempuan itu tentu akan berada di pasar itu
lagi.”
“Apakah pasar ini pasar terdekat? Kau pernah berceritera
tentang pasar ketika kau bertemu dengan ibu Kemuning.”
“Ya. Tetapi pasar itu lebih kecil dari pasar ini.”
“Tentu mencukupi kebutuhan jika yang mereka perlukan
hanyalah bahan pangan saja.”
“Itu terjadi jika rumah mereka lebih dekat dengan pasar itu
daripada pasar yang lebih besar ini.”
“Ya. Kita belum tahu, di manakah anak-anak muda itu
ditempa. Mungkin di sebuah padepokan. Mungkin di sebuah
rumah di sebuah padukuhan, namun mampu meredam getar
kesibukan di dalam rumah itu. Atau kemungkinan-kemungkinan
yang lain.”
Keduanya terdiam sejenak. Namun keduanya justru sedang
mencari jalan terbaik untuk sampai kepada Repak Rembulung
dan Pupus Rembulung.
Namun mereka tidak menemukan jalan yang lebih baik
daripada pergi ke Padukuhan Kembang Arum untuk menemui Ki
Pananggungan.
Perjalanan mereka berdua jauh lebih cepat dari perjalanan
Paksi pada saat mengantar Kemuning dan ibunya yang telah
dibebaskannya dari tangan Bahu Lalang.
Sebagai seorang yang berpengalaman dalam pengembaraan,
Paksi dan Wijang tidak lupa jalan menuju ke Padukuhan
Kembang Arum. Mereka menuruni kaki Gunung Merapi. Melewati
jalan-jalan kecil dan bahkan jalan setapak. Bahkan menuruni
tebing-tebing rendah dan sekali-sekali memanjat naik, menyusuri
sungai-sungai kecil dan kembali turun ke jalan.
Keduanyapun kemudian sampai ke sebuah pasar yang lebih
kecil, yang hanya ramai di hari-hari pasaran.
Karena itu, ketika keduanya sampai di pasar itu, pasar itupun
sudah hampir kosong.
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Di pasar itu ia bertemu
dengan ibu Kemuning yang sedang menjual sehelai kain lurik
pada saat ia bersama Kemuning disekap oleh Bahu Langlang.
Ketika Paksi termenung sejenak, maka Wijangpun berkata,
“Kau kenang gadis dan ibunya itu?”
Paksi tergagap. Namun kemudian iapun tersenyum.
“Marilah. Kita langsung pergi ke Kembang Arum. Bukankah
Kembang Arum sudah tidak terlalu jauh lagi?”
Keduanyapun kemudian melanjutkan perjalanan mereka.
Paksi sengaja mengajak Wijang untuk berjalan melewati rumah
Bahu Langlang.
Namun keduanya terkejut ketika mereka melihat rumah Bahu
Langlang itu sudah rata dengan tanah. Nampaknya rumah itu
telah terbakar sampai lumat. Yang tersisa hanyalah sepotongsepotong
kayu dan bambu yang sudah menjadi arang.
“Apakah rumah ini dibakar atau terbakar?” desis Paksi.
“Melihat bekasnya, maka api tidak sempat dipadamkan.”
“Kita tidak tahu, siapakah yang terakhir tinggal di rumah ini
sepeninggal Bahu Langlang.”
Wijang mengangguk-angguk.
“Marilah,” berkata Paksi kemudian, “nampaknya kebakaran
itu terjadi beberapa bulan yang lalu.”
“Apakah tetangga-tetangganya tidak ada yang tahu?”
“Pada masa Bahu Langlang masih tinggal di sini, rumah ini
agaknya telah terpisah dari lingkungannya. Mungkin tetanggatetangganya
merasa ketakutan untuk berhubungan dengan
penghuni rumah ini.”
Ketika keduanya akan beranjak pergi, mereka melihat seorang
yang membawa cangkul di pundaknya berjalan melewati jalan itu
pula. Demikian orang itu sampai di depan bekas rumah Bahu
Langlang, maka Paksipun bertanya, “Ki Sanak, bukankah rumah
ini dahulu rumah orang yang bernama Bahu Langlang?”
Orang yang membawa cangkul itu memandang Paksi dengan
tajamnya. Meskipun agak ragu, orang itupun menjawab, “Ya.
Tetapi Bahu Langlang sendiri sudah lama pergi.”
“Lalu, siapakah yang tinggal di rumah ini?”
Orang itu menggeleng. Katanya, “Berangsur-angsur
penghuninya pergi meninggalkan rumah ini.”
“Yang terakhir?”
“Rumah ini sudah kosong untuk beberapa lama.”
“Kenapa tiba-tiba rumah ini terbakar atau dibakar?”
“Tidak seorang pun tahu. Yang kita tahu, di tengah malam itu,
rumah ini sudah menyala. Semula tidak seorang pun berani
datang untuk memadamkannya. Apalagi semua orang tahu,
bahwa rumah ini memang sudah kosong. Karena itu, maka
penghuni padukuhan ini membiarkan saja rumah yang memang
agak terpisah itu terbakar. Apinya tidak akan menjalar ke rumahrumah
yang lain. Kami sempat menjadi berdebar-debar ketika
beberapa batang pohon di kebun belakang rumah itu terbakar.
Karena itu, maka yang kami lakukan adalah menebang
pepohonan di kebun belakang dan samping, dekat dinding
halaman untuk mencegah agar api tidak menjalar ke manamana.
Ternyata usaha kami berhasil. Api dapat dikendalikan dan
tidak menjalar ke mana-mana.”
Paksi dan Wijang mengangguk-angguk. Sementara itu, orang
itupun berkata selanjutnya, “Kemudian, karena itu sudah agak
lama kosong dan tidak lagi ada yang menghiraukannya setelah
terbakar, maka beberapa orang telah memberanikan diri
mengambil sisa-sisa kayu dan pepohonan yang terbakar.”
“Untuk apa?”
“Hanya untuk kayu bakar. Selain untuk kayu bakar, sisa-sisa
kayu itu tidak dapat lagi dipergunakan untuk apa pun.”
“Baiklah,” berkata Paksi kemudian, “kami minta diri. Terima
kasih atas keterangan Ki Sanak.”
“Siapakah kalian berdua dan apakah kalian mencari Ki Bahu
Langlang?”
“Tidak. Kami tidak mencari Bahu Langlang. Kami hanya
pernah mendengar bahwa di sini tinggal seorang gegedug yang
namanya Bahu Langlang.”
“Tetapi telah datang gegedug lain yang lebih tinggi
kemampuannya, sehingga Bahu Langlang terusir.”
“Kami minta diri, Ki Sanak.”
Orang yang membawa cangkul itu memandangi saja Paksi dan
Wijang yang berjalan menjauhi sisa-sisa rumah Bahu Langlang
yang terbakar itu.
Orang yang membawa cangkul itu terkejut ketika seorang
kawannya muncul dari tikungan sambil bertanya, “Ada apa,
Kakang?”
Orang yang membawa cangkul itupun menyahut, “Kedua
orang itu bertanya apakah rumah yang terbakar ini rumah Ki
Bahu Langlang.”
“Siapakah mereka berdua?”
“Ketika aku tanyakan tentang diri mereka, mereka tidak
menjawab. Merekapun mengaku tidak mencari Ki Bahu
Langlang.”
“Lalu apa yang mereka cari?”
Orang yang membawa cangkul itu menggeleng. Katanya, “Aku
katakan kepada mereka, bahwa Ki Bahu Langlang telah terusir
oleh orang-orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi.”
“Apa kata mereka?”
“Merekapun segera pergi.”
“Mungkin mereka anak buah Ki Bahu Langlang yang sudah
lama meninggalkannya, sekarang mereka kembali. Tetapi yang
mereka temukan hanyalah sisa-sisa rumahnya saja.”
“Mungkin. Mereka memang bertanya apakah rumah ini
terbakar atau dibakar.”
“Jika rumah ini dibakar, maka kedua orang itu tentu akan
mencari, siapakah yang telah berani membakar rumah Ki Bahu
Langlang.”
“Tetapi nampaknya mereka bukan orang-orang yang garang
seperti Ki Bahu Langlang.”
“Jangan menilai sifat dan watak seseorang hanya dari ujud
lahiriahnya saja.”
“Katanya ujud lahiriah adalah pengejawantahan batin
seseorang.”
“Tentu tidak. Seseorang yang licik dan penipu, biasanya apa
yang nampak justru bertentangan dengan sikap batinnya.”
Orang yang membawa cangkul itu mengangguk-angguk.
Katanya, “Ya. kau benar.”
Kedua orang itupun kemudian beranjak pergi menjauhi
halaman bekas rumah Ki Bahu Langlang yang sudah menjadi
abu.
Dalam pada itu, Wijang dan Paksipun berjalan semakin jauh
pula. Mereka langsung menuju ke Padukuhan Kembang Arum.
Namun ketika langit menjadi buram, Wijangpun berkata,
“Apakah kita akan berjalan terus?”
“Bukankah kita belum letih?”
“Bukan karena kita letih. Tetapi jika kita sampai di Kembang
Arum setelah jauh malam, kita tentu akan mengejutkan Ki
Pananggungan. Akan lebih baik jika kita mengetuk pintunya di
pagi hari.”
Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
mengangguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan memasuki regol
halaman rumah Ki Pananggungan esok pagi.”
Dengan demikian, maka Paksi dan Wijang itu tidak
meneruskan perjalanannya sampai ke Kambang Arum. Mereka
berhenti di sebuah padukuhan yang masih berjarak berapa bulak
lagi. Sementara itu malampun menjadi semakin dalam, ketika
keduanya memasuki regol banjar padukuhan.
Beberapa orang yang sedang meronda di banjar padukuhan
itu terkejut melihat dua orang yang tidak mereka kenal berjalan
menyeberang halaman banjar. Serentak mereka berdiri. Dua
orang di antara mereka telah turun dari pendapa menyongsong
Wijang dan Paksi yang kemudian berhenti di halaman.
“Siapakah kalian, Ki Sanak?” bertanya salah seorang dari dua
orang peronda yang menyongsong mereka itu.
“Namaku Wijang, Ki Sanak. Ini adikku, Paksi. Kami sedang
dalam perjalanan ke Kembang Arum. Tetapi kami ternyata
kemalaman di sini.”
“Kembang Arum?”
“Ya, Ki Sanak. Bukankah Kembang Arum masih berjarak
berapa bulak lagi? Selain kami sudah merasa sangat letih, kami
pun tidak ingin mengejutkan paman kami yang tinggal di
Kembang Arum. Karena itu, kami ingin mohon apabila diijinkan
untuk bermalam di banjar ini.”
Kedua orang peronda itu memperhatikan Wijang dan Paksi
dengan seksama. Seorang di antara mereka berpaling kepada
kawan-kawannya yang berdiri di tangga pendapa.
“Kedua orang ini minta ijin untuk bermalam.”
“Biarlah mereka naik,” berkata seorang yang agaknya paling
tua di antara mereka yang sedang meronda.
Wijang dan Paksipun kemudian telah dipersilahkan naik ke
pendapa
Orang yang agaknya tertua di antara para peronda itupun
kemudian bertanya, “Aku sudah mendengar nama kalian. Tetapi
kami belum mendengar, dari manakah asal kalian.”
Wijang dan Paksi termangu-mangu sejenak. Namun
Wijangpun kemudian telah menjawab, “Kami tinggal di Turi, Ki
Sanak.”
“Turi? Jadi kalian sudah menempuh perjalanan yang
panjang.”
“Ki Sanak pernah pergi ke Turi?”
“Ya. Aku pernah ke Turi. Jaraknya cukup jauh, sedang jalan
ke Turi masih harus melingkar-lingkar sehingga menjadi semakin
jauh.”
“Kami mengambil jalan pintas, Ki Sanak.”
“Jalan yang rumit. Kecuali harus melalui jalan setapak yang
turun naik, juga harus melewati padang perdu di pinggir hutan.”
“Ya. Kami memilih jalan yang rumit tetapi lebih dekat daripada
harus menempuh jalan yang melingkar-lingkar sehingga jaraknya
menjadi sangat jauh.”
“Siapa yang akan kau temui di Kembang Arum?” bertanya
seorang yang lebih muda.
“Ki Pananggungan. Pamanku bernama Ki Pananggungan.”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
berdesis, “Aku belum pernah mendengarnya.”
“Ki Sanak sering pergi ke Kembang Arum?” bertanya Paksi
kemudian.
“Ya. Aku juga mempunyai paman di Padukuhan Kembang
Arum. Tetapi aku memang tidak banyak mengenal orang-orang
Kembang Arum selain tetangga-tetangga terdekat pamanku itu.”
Wijang dan Paksi hanya mengangguk-angguk saja.
Dalam pada itu, orang yang tertua di antara para peronda
itupun berkata, “Jika saja kalian datang beberapa waktu yang
lalu, mungkin kami tidak dapat menerima kalian bermalam di
banjar ini.”
“Kenapa?” bertanya Wijang.
“Sebelumnya, selagi perburuan cincin kerajaan yang hilang itu
masih terasa hangat, maka padukuhan inipun telah ditambah
pula oleh satu dua orang yang sedang berburu pusaka keraton
yang dikabarkan hilang dan turun ke daerah ini. Tetapi ternyata
ada di antara mereka yang tidak sekedar memburu pusaka itu.
Ada di antara mereka yang sempat pulang merampas milik orangorang
padukuhan ini. Karena itu, pada saat itu, kami mencurigai
orang-orang yang belum kami kenal sebelumnya.”
“Apakah sekarang perampokan seperti itu sudah tidak terjadi
lagi?”
“Tidak. Padukuhan kami terasa aman sekarang. Meskipun
demikian, kami masih tetap berhati-hati, sehingga kami masih
tetap meronda secara bergilir. Di tengah malam tiga orang di
antara kami akan berkeliling padukuhan sambil membawa
kentongan-kentongan kecil untuk kotekan, agar mereka yang
tidur terlalu lelap dapat terbangun. Mungkin saja justru dalam
keadaan aman ini kami menjadi lengah, sehingga dimanfaatkan
oleh pencuri-pencuri yang licik.”
Wijang dan Paksi masih saja mengangguk-angguk. Dengan
nada berat Paksi berkata, “Sukurlah jika keadaan sudah aman
sekarang. Dengan demikian maka kehadiran kami di sini tidak
lagi dicurigai.”
“Ya. Sudah kami katakan, bahwa kami dapat menerima kalian
untuk bermalam.”
“Kami hanya dapat mengucapkan terima kasih, Ki Sanak,”
berkata Wijang kemudian.
“Nah, kalian dapat tidur di serambi. Pakiwan banjar ini
terletak di sisi kiri agak ke belakang. Di sebelah sumur. Kalian
dapat mencuci kaki dan tangan dan barangkali mencuci muka di
pakiwan itu sebelum kalian tidur.”
Wijang dan Paksipun kemudian telah pergi ke pakiwan.
Kemudian seorang di antara mereka yang meronda telah
menunjukkan sebuah amben yang agak besar yang terletak di
serambi banjar.
Tetapi sebelum keduanya berbaring, mereka telah dipanggil
lagi ke pendapa.
“Ada apa?” bisik Paksi.
“Entahlah,” sahut Wijang.
Ternyata keduanya hanya diajak makan ketela rebus oleh para
peronda yang agaknya telah merebus ketela di belakang.
Wijang dan Paksi memang sudah merasa agak lapar. Karena
itu, ketela yang direbus dengan santan dan garam itu terasa enak
sekali.
Baru setelah makan ketela rebus yang masih hangat itu,
keduanya kembali ke serambi.
“Biarlah kau tidur dahulu,” desis Paksi.
“Bangunkan aku di dini hari. Waktunya pendek. Kaupun
harus tidur meskipun hanya sebentar.”
Wijangpun kemudian telah membaringkan dirinya, sementara
Paksi masih duduk bersandar dinding, menghadap ke pintu bilik
di serambi itu. Tetapi pintu itu tidak dapat diselarak. Daunnya
ditutup hanya untuk mencegah angin malam yang dingin.
Beberapa saat kemudian, Wijangpun telah tertidur. Paksi yang
masih duduk itu mendengar suara kotekan yang semakin lama
menjadi semakin jauh. Agaknya tiga orang di antara peronda itu
sedang berkeliling sambil membunyikan kentongan-kentongan
kecil mereka dengan irama kotekan.
Suara kentongan-kentongan kecil itu semakin lama menjadi
semakin jauh, sehingga akhirnya tidak terdengar lagi.
Paksi yang duduk bersandar dinding itu menggeliat.
Sementara Wijang tertidur nyenyak. Nafasnya terdengar mengalir
dengan teratur dari lubang hidungnya.
Beberapa lama Paksi duduk bersandar dinding. Di sebelahmenyebelah,
di kebun rumah para penghuni padukuhan itu,
telah terdengar ayam jantan berkokok bersahut-sahutan untuk
yang kedua kalinya setelah ayam jantan itu berkokok untuk
pertama kalinya di tengah malam.
Paksi memandangi Wijang yang masih tidur. Rasa-rasanya ia
tidak ingin membangunkannya meskipun sisa malam tinggal
sedikit.
Tetapi Wijang itupun bangun sendiri tanpa dibangunkannya.
Sambil mengusap matanya iapun berkata, “Aku sudah terlalu
lama tidur. Kenapa kau tidak membangunkan aku?”
“Aku belum mengantuk,” desis Paksi.
“Tidurlah. Kau harus beristirahat barang sejenak.”
“Apakah aku akan dapat tidur?” Paksi justru bertanya.
“Singkirkan angan-anganmu tentang Kemuning barang
sejenak. Besok kau akan dapat bertemu dengan gadis itu.
Sekarang tidurlah. Jangan kau manjakan angan-anganmu.”
“Ah, kau,” desis Paksi.
Wijang menggosok matanya. Tetapi ia tersenyum sambil
bangkit dan duduk di bibir amben bambu itu.
Paksilah yang kemudian telah berbaring menelentang.
Dikatupkannya matanya. Paksi memang mencoba untuk dapat
tidur.
Namun telinga mereka yang tajam itu mendengar para
peronda yang berada di pendapa itu berbicara dengan seseorang
yang nampaknya baru datang.
“Para peronda keliling itu melaporkan kepadaku bahwa ada
dua orang menginap di banjar ini.”
“Ya, Ki Jagabaya.”
“Apakah mereka masih ada di dalam bilik di serambi itu?”
“Nampaknya mereka masih ada di sana.”
“Kita sekarang harus berhati-hati lagi. Meskipun padukuhan
kita aman, tetapi aku mendengar di Padukuhan Karang Anyar
telah terjadi lagi perampokan.”
“Karang Anyar?”
“Ya. Karang Anyar di Kademangan Jelabar.”
“O. Padukuhan itu letaknya jauh dari padukuhan kita, Ki
Jagabaya.”
“Meskipun jauh, siapa tahu, bahwa perampok-perampok itu
berkeliaran tanpa batas jarak.”
“Tetapi kedua orang itu nampaknya orang baik-baik, Ki
Jagabaya. Mereka masih muda. Sama sekali di matanya tidak
membayangkan keliaran watak mereka.”
“Kau tidak akan dapat melihat seseorang langsung menembus
sampai ke jantung. Di mana mereka sekarang? Aku hanya ingin
melihat. Jika mereka masih ada, agaknya mereka memang tidak
akan mengganggu.”
“Mereka berada di bilik di serambi.”
Wijang yang duduk di bibir pembaringan segera
membaringkan dirinya di samping Paksi sambil berbisik, “Mereka
agaknya akan kemari.”
Sebenarnyalah, sejenak kemudian, Wijang dan Paksi
mendengar langkah beberapa orang mendekati pintu bilik di
serambi itu. Wijang dan Paksipun segera memejamkan mata
mereka. Mereka mengatur pernafasan mereka, sehingga mereka
benar-benar seperti orang yang sedang tidur.
Ki Jagabaya dan tiga orang peronda yang mengikutinya berdiri
termangu-mangu sejenak di luar pintu. Namun seorang di antara
peronda itu menggamit Ki Jagabaya sambil berbisik perlahan
sekali, “Ki Jagabaya mendengar mereka mendengkur?”
Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun
kembali melangkah surut. Perlahan-lahan pula Ki Jagabaya
menutup pintu bilik itu. Iapun berbisik, “Mereka tidur nyenyak
sekali.”
“Nampaknya mereka letih sekali, Ki Jagabaya. Menurut
pengakuan mereka, mereka berasal dari Turi.”
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam
iapun bertanya, “Mereka akan pergi ke mana?”
“Mereka akan pergi ke Kembang Arum, Ki Jagabaya.”
Ki Jagabaya tidak bertanya lagi. Iapun kemudian
meninggalkan bilik itu diikuti oleh para peronda.
“Keduanya agaknya letih dan lapar. Ketika kami persilahkan
mereka ikut makan ketela rebus yang disediakan bagi para
peronda, mereka makan dengan lahapnya.”
Ki Jagabaya mengangguk-angguk pula. Katanya kemudian,
“Menurut ujudnya, mereka bukan orang jahat. Ternyata
merekapun tidak beranjak dari banjar dan bahkan tidur
mendengkur.”
“Ya, Ki Jagabaya,” sahut salah seorang dari mereka.
Sementara itu di dalam bilik di serambi itu Wijang menggamit
Paksi. “Nah, dengar. Kau makan ketela terlalu banyak. Kau
habiskan hampir separo, sehingga para peronda itu masih
merasa lapar.”
“Ketela itu masih tersisa. Mereka tidak akan dapat
menghabiskannya.”
“Kau dengar apa yang dikatakan peronda itu?”
“Orang itu hanya ingin mengatakan, bahwa kita lapar.”
“Sst. Jangan keras-keras. Jika Ki Jagabaya mempunyai Aji
Sapta Pangrungu, maka ia akan mendengarnya.”
Paksi terdiam. Namun agaknya Ki Jagabaya itu tidak
mendengarnya. Bahkan Ki Jagabaya itu masih bertanya, “Apakah
anak-anak itu mengatakan, siapakah yang akan dikunjunginya di
Kembang Arum?”
“Kalau tidak salah dengar, nama orang yang akan dikunjungi
di Kembang Arum adalah Ki Pananggungan.”
“Ki Pananggungan,” ulang Ki Jagabaya. Sambil menganggukangguk
Ki Jagabayapun berkata, “Aku memang pernah
mendengar nama itu di Kembang Arum. Ia termasuk orang yang
dituakan di sana. Tetapi secara pribadi aku belum pernah
mengenalnya. Kadangku yang tinggal di Kembang Arumlah yang
pernah menyebut namanya.”
“Jika demikian, bukankah keduanya tidak berbahaya,
sehingga kita akan membiarkannya tidur?”
“Ya. Biarkan kedua orang itu tidur. Nanti, setelah dini hari,
jika kalian akan pulang, serahkan saja keduanya kepada
penunggu banjar ini.”
“Ya, Ki Jagabaya.”
“Sekarang, aku akan pulang.”
Ki Jagabaya itu tidak menunggu lagi. Nampaknya ia sudah
mulai mengantuk, sehingga karena itu, maka iapun segera
bangkit dan berkata, “Aku akan pulang.”
Ki Jagabaya itupun kemudian minta diri kepada para peronda
yang bertugas di banjar.
Demikian Ki Jagabaya pergi, maka sejenak kemudian telah
terdengar suara kentongan dengan irama kotekan. Nampaknya
para peronda keliling itu telah berjalan kembali ke banjar.
Suaranya semakin lama menjadi semakin dekat.
Sejenak kemudian, maka tiga orang peronda yang berkeliling
itupun telah kembali bergabung dengan kawan-kawannya.
Setelah meletakkan kentongan kecilnya mereka pun berbaring di
atas tikar yang dibentangkan di pendapa banjar.
“Jangan tidur,” berkata seorang kawannya.
“Tidak. Tetapi kami lelah setelah berkeliling padukuhan.”
“Kau tadi singgah di rumah Ki Jagabaya?” bertanya kawannya
yang tidak ikut berkeliling.
“Ya.”
“Ki Jagabaya baru saja dari sini.”
“Ki Jagabaya sudah datang kemari?”
“Ya.”
“Begitu cepat.”
“Bukankah kalian kenal Ki Jagabaya? Ia seorang yang tidak
pernah menunda persoalan. Begitu ia mendengar laporanmu,
iapun langsung datang kemari.”
Para peronda yang berbaring setelah berkeliling itu tidak
bertanya lebih lanjut. Bagi mereka, jika Ki Jagabaya sudah
datang ke banjar, maka tidak ada persoalan lagi bagi mereka
yang menginap di banjar itu.
Dalam pada itu, ketika pendapa banjar itu menjadi sepi, maka
Wijangpun berbisik, “Tidurlah. Masih ada waktu sedikit.”
Paksi tidak menjawab. Tetapi iapun segera memejamkan
matanya. Ia memang ingin tidur meskipun hanya sebentar.
Beberapa saat kemudian, maka Paksi itupun terlelap.
Wijanglah yang kemudian duduk bersandar dinding menghadap
ke pintu. Namun tidak lagi terdengar langkah kaki atau
pembicaraan lagi di pendapa.
“Apakah para peronda itu tidur?” bertanya Wijang di dalam
hatinya.
Tetapi Wijang tidak beranjak dari tempat duduknya.
Sebenarnyalah para peronda di pendapa itu tertidur. Bahkan
mereka yang tidak berkeliling pun tertidur pula sambil bersandar
tiang.
Tetapi agaknya padukuhan itu memang aman. Tidak ada
peristiwa apa-apa yang terjadi malam itu.
Menjelang fajar, Paksipun telah terbangun dengan sendirinya.
Ketika ia duduk di amben bambu itu, maka Wijangpun berdesis,
“Aku ingin melihat, apakah para peronda itu tertidur.”
“Kenapa?”
“Aku tidak mendengar suara apa-apa.”
Wijang tidak menunggu jawaban Paksi. Iapun membuka pintu
biliknya dengan hati-hati. Kemudian melangkah ke pendapa.
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat para peronda
itu tidur di atas tikar yang digelar di pendapa. Seorang tidur
bersandar tiang dan seorang lagi tidur sambil duduk di sudut.
“Padukuhan ini adalah padukuhan yang aman, sehingga para
peronda itu merasa tidak perlu berjaga-jaga sampai dini,” berkata
Wijang di dalam hatinya.
Rasa-rasanya Wijang ingin membangunkan salah seorang dari
mereka. Tetapi Wijang justru cemas, bahwa hal itu akan dapat
membuat peronda itu salah paham.
Karena itu, maka Wijangpun kembali ke dalam biliknya.
Tetapi tidak lama kemudian, penjaga banjar itulah yang
terbangun. Ketika ia melihat para peronda masih tertidur, maka
sambil bergeramang penunggu banjar itu membangunkan
mereka.
“Setiap kali kalian yang mendapat giliran meronda, kalian
selalu tertidur. Tidak hanya satu dua di antara kalian. Tetapi
semuanya.”
Para peronda yang terkejut itupun segera bangkit berdiri.
Seorang yang tertua di antara mereka mengusap matanya yang
masih kabur. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata,
“Maaf, Kang. Aku mengantuk sekali.”
“Nah, sebentar lagi fajar akan datang. Apakah kalian akan
pulang atau tidak.”
“Tentu. Kami akan pulang. Kami akan melanjutkan tidur di
rumah.”
Para peronda itupun segera membenahi pakaian mereka.
Mumpung masih gelap, mereka akan segera pulang sebelum
orang-orang terbangun.
Namun ketika mereka turun ke halaman, seorang di antara
merekapun teringat dua orang yang bermalam di banjar itu.
Karena itu, maka orang itupun berkata, “Kakang, ada dua orang
kemalaman yang tidur di serambi.”
“Siapa?”
“Orang lewat. Bertanyalah kepada mereka.”
“Jadi mereka juga belum bangun?”
“Kami belum melihatnya.”
“Kapan mereka datang?”
“Sudah malam. Kau sudah tidur.”
“Jadi orang-orang malas itu masih belum bangun juga?
Apakah mereka tidak akan meneruskan perjalanan mereka?”
“Entahlah. Mungkin mereka sudah pergi ketika kami tidur.”
Namun Wijang dan Paksi sudah berdiri di sudut pendapa.
Dengan suara yang dalam Wijang berkata, “Kami sudah bangun,
Ki Sanak. Kami juga sudah siap untuk melanjutkan perjalanan.”
“O,” penunggu banjar itu berpaling. Dengan nada tinggi
penunggu banjar itupun bertanya, “Kenapa kalian tidak minta ijin
kepadaku?”
“Kami sudah minta ijin para peronda, Ki Sanak.”
“Para peronda hanya berada di banjar setiap malam sesuai
dengan gilirannya. Tetapi akulah yang bertanggung jawab atas
banjar ini.”
“Kami tidak tahu, Ki Sanak.”
“Sudahlah,” berkata orang tertua di antara para peronda, “tadi
malam Ki Jagabaya juga sudah datang kemari. Ki Jagabaya tidak
berkeberatan keduanya bermalam di sini.”
“Tetapi jika terjadi sesuatu, siapa yang bertanggung jawab
kepada Ki Bekel? Tentu aku.”
“Tidak. Kami, para peronda akan bertanggung jawab, karena
kami yang telah mengijinkan mereka bermalam di sini. Ki
Jagabaya tentu juga bersedia bertanggung jawab. Tetapi
bukankah tidak terjadi apa-apa?”
Penunggu banjar itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun
kemudian mengangguk-angguk.
“Ki Sanak,” berkata orang yang tertua di antara para peronda
itu, “kalian tidak perlu tergesa-gesa. Kalian dapat mandi lebih
dahulu. Berbenah diri dan baru kemudian melanjutkan
perjalanan. Berbeda dengan kami. Kami tidak mau kesiangan dan
ditonton oleh tetangga-tetangga kami jika mereka sudah bangun.”
“Terima kasih, Ki Sanak,” jawab Wijang.
Para peronda itupun kemudian meninggalkan halaman
banjar. Mereka berjalan agak tergesa-gesa, karena bayangan fajar
telah nampak di langit.
Sementara itu, penunggu banjar itu memandang Wijang dan
Paksi dengan tajamnya. Dengan nada tinggi orang itupun
berkata, “Jika kalian mandi, kalian harus mengisi jambangan itu
lagi. Aku bukan pelayanmu yang mengisi jambangan setelah
kalian pergunakan.”
Wijang dan Paksi saling berpandangan. Namun Wijangpun
kemudian menjawab, “Baik, Ki Sanak.”
“Kalian juga harus membersihkan bilik tempat kalian tidur
semalam.”
“Sudah, Ki Sanak,” jawab Paksi.
“Seharusnya kalian minta ijin kepadaku. Bukan kepada para
peronda. Mereka tidak tahu tatanan yang seharusnya berlaku di
banjar ini.”
“Kami minta maaf, Ki Sanak.”
“Nah, kalau mau mandi, cepat mandi. Kalau mau pergi, cepat
pergi.”
Namun agaknya Wijang dan Paksi tidak ingin mandi di
pakiwan banjar itu. Karena itu, maka Wijangpun berkata, “Kami
akan minta diri, Ki Sanak.”
“Jadi kalian lebih baik tidak mandi daripada harus mengisi
kembali jambangan di pakiwan itu?”
“Tidak. Bukan itu alasannya, Ki Sanak. Tetapi kami memang
orang-orang malas yang tidak berani mandi pagi-pagi seperti ini.
Sementara itu, kami sudah harus melanjutkan perjalanan, agar
kami tidak kesiangan sampai di tujuan.”
“Tepat. Kalian memang orang-orang malas. Pergilah jika kalian
ingin pergi.”
“Kami minta diri, Ki Sanak.”
Orang itu tidak menjawab. Sementara Wijangpun berkata,
“Kami mengucapkan terima kasih bahwa semalam kami telah
mendapat tempat yang hangat untuk bermalam.”
“Jangan berterima kasih kepadaku. Berterimakasihlah kepada
orang-orang yang memberimu tempat bermalam meskipun
mereka telah melanggar hak dan wewenangku.”
Wijang dan Paksi saling berpandangan. Namun keduanyapun
kemudian mengangguk hormat sementara itu Wijang
mengulanginya, “Kami minta diri, Ki Sanak.”
Orang itu tidak menjawab. Bahkan orang itu telah melangkah
pergi meninggalkan mereka berdua.
Wijang dan Paksipun kemudian meninggalkan banjar itu.
Demikian mereka turun ke jalan, maka Paksipun berkata, “Kita
telah bertemu banyak orang dengan sifat dan wataknya yang
bermacam-macam. Penunggu banjar ini termasuk orang yang
keras dan mempunyai harga diri yang terlalu berlebihan.”
Wijang tertawa. Katanya, “Seseorang kadang-kadang memang
ingin menunjukkan bahwa ia berkuasa. Ia mempunyai wewenang
untuk menentukan tatanan di lingkungan kekuasaannya.
Penjaga banjar itupun ingin menunjukkan bahwa ialah yang
berkuasa di banjar itu.”
“Sementara itu ada penunggu banjar yang lain yang bukan
saja membuka pintu banjarnya bagi orang-orang yang
kemalaman, tetapi juga membuka hatinya.”
Wijang menarik nafas dalam-dalam.
Demikianlah, maka keduanyapun telah meninggalkan
padukuhan tempat mereka bermalam. Ketika mereka menjumpai
sebuah sungai kecil yang airnya bening, maka keduanyapun
menyempatkan diri untuk mandi.
“Kita masih mempunyai waktu. Hari masih pagi,” berkata
Wijang.
Keduanyapun kemudian telah menuruni tebing yang tidak
terlalu dalam. Di sebuah lekuk yang agak dalam keduanya mandi
sambil mencuci kain panjang serta baju mereka. Sementara itu,
matahari pagipun telah bertengger di langit.
Sejuknya mandi di pagi hari. Di sungai, mereka tidak perlu
menimba air mengisi jambangan di pakiwan banjar yang
penunggunya berwajah gelap.
Namun Wijangpun kemudian mengangkat wajahnya sambil
berdesis, “Kau dengar langkah orang berlari?”
“Ya. Ke arah ini.”
Tanpa bersepakat mereka telah menyambar kain dan baju
yang mereka jemur sesudah dicuci.
Wijang dan Paksi itupun segera melekat pada tebing yang
tidak terlalu tinggi, di balik rimbunnya dedaunan segerumbul
pohon perdu.
Sejenak kemudian, maka merekapun melihat tiga orang anak
muda yang berlari-lari di atas tanggul. Namun nampaknya
mereka tidak saling berkejaran. Tetapi mereka sekedar berlari
untuk memanaskan tubuh mereka, sebelum memasuki laku yang
lebih berat. Mungkin latihan-latihan olah kanuragan. Tetapi
mungkin juga sekedar untuk kesegaran tubuh mereka.
“Siapakah mereka, Paksi?” desis Wijang.
“Apakah anak-anak padukuhan di sekitar tempat ini
mempunyai kebiasaan berlari-lari di pagi hari?”
Wijang menggeleng. Katanya, “Tidak. Anak-anak muda
padukuhan-padukuhan di sekitar tempat ini tentu tidak terbiasa
berlari-lari pagi untuk memanasi membuka pematang untuk
mengalirkan air ke dalam kotak-kotak sawah mereka atau
melakukan kerja yang lain di kebun.”
“Jika demikian, siapakah mereka itu?”
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Padukuhan
Kembang Arum tidak terlalu jauh lagi. Agaknya kau benar, Paksi.
Ki Pananggungan akan dapat menjadi pancatan untuk sampai
kepada Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.”
“Apakah menurut pendapatmu, mereka adalah bagian dari
anak-anak muda dari angkatan mendatang?”
“Ya.”
Paksi mengerutkan keningnya. Ada beberapa hal yang tidak
sesuai. Rumah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung tentu
tidak terlalu dekat dengan Kembang Arum. Ia pernah
menemukan ibu Kemuning di pasar kecil itu. Ketika itu
Kemuning dan ibunya yang mencari Padukuhan Kembang Arum
telah tersesat dan jatuh ke tangan Bahu Langlang. Dengan
demikian, maka rumah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung
agaknya tidak terlalu dekat, sehingga seandainya anak-anak
muda yang oleh Ki Gede Lenglengan diserahkan kepada Repak
Rembulung dan Pupus Rembulung itu berlari-lari sekedar untuk
memanaskan tubuh mereka, mereka tentu tidak akan sampai di
tempat itu.
Ketika hal itu dikemukakannya kepada Wijang, maka
Wijangpun berdesis, “Ya. Kau benar, Paksi. Tetapi bagaimanapun
juga, agaknya ada hubungan antara anak-anak yang berlari-lari
itu dengan anak-anak muda yang semula berada di padepokan Ki
Gede Lenglengan.”
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun bergumam
dengan nada dalam, “Tetapi adikku tidak bersama mereka.”
“Baiklah. Rasa-rasanya aku menjadi semakin ingin segera
sampai di rumah Ki Pananggungan. Mungkin kita mendapat
beberapa jawaban dari pertanyaan yang bertimbun di dalam diri
kita.”
“Kita akan segera berangkat.”
“Tetapi kain dan baju kita ini belum kering.”
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun keduanya telah
menggelar lagi pakaian mereka yang basah di atas bebatuan agar
menjadi lebih cepat kering.
Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka mereka berdua
telah siap untuk meneruskan perjalanan.
Sejenak kemudian, mereka telah memanjat naik ke atas tebing
untuk seterusnya berjalan menyusuri tanggul turun ke jalan.
“Bukankah kita tinggal mengikuti jalan ini?” desis Paksi.
“Ya. Jalan ini akan langsung sampai ke Kembang Arum,”
sahut Wijang.
Demikianlah, keduanya telah berjalan semakin cepat menuju
ke Padukuhan Kembang Arum.
Beberapa bulak telah mereka lampaui. Sementara
mataharipun menjadi semakin tinggi. Ketika mereka melewati
kotak-kotak sawah yang siap ditanami padi, maka nampak
matahari seakan bercermin di wajah air yang tergenang.
“Kita sudah hampir sampai,” berkata Paksi.
“Ya. Bukankah Padukuhan Kembang Arum sudah berada di
hadapan kita?”
Paksi mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah terasa
debar jantungnya menjadi semakin cepat. Di rumah Ki
Pananggungan itu tinggal seorang gadis yang cantik dan luruh.
Kemuning.
Beberapa saat kemudian, maka Wijang dan Paksi itu sudah
berdiri di pintu gerbang padukuhan.
Paksi menarik nafas dalam-dalam ketika mereka memasuki
pintu gerbang padukuhan itu. Sejenak mereka berdiri termangumangu.
Namun keduanyapun kemudian telah melanjutkan
langkah mereka menyusuri jalan padukuhan itu. Mereka akan
langsung sampai ke depan regol halaman rumah Ki
Pananggungan.
Di jalan padukuhan itu, mereka berpapasan dua orang anak
yang akan menggembalakan kambing mereka. Kedua orang anak
yang agaknya kakak beradik itu menggiring kambing mereka
keluar dari padukuhan menuju ke bulak.
Sejenak kemudian keduanya telah berdiri termangu-mangu di
depan regol rumah Ki Pananggungan. Ketika Paksi
menengadahkan wajahnya ke langit, maka dilihatnya matahari
sudah hampir mencapai puncaknya.
“Sudah tengah hari,” desis Paksi.
Wijang tidak menyahut. Ia tahu bahwa Paksi sekedar ingin
melepaskan ketegangannya.
Namun keduanya terkejut ketika mereka melihat seorang
perempuan keluar dari regol halaman dengan menggendong
bakul kecil.
Perempuan itu tertegun. Dipandanginya Wijang dan Paksi
yang berdiri termangu-mangu di depan regol.
“Siapakah kalian berdua, Ki Sanak? Apakah kalian mencari
seseorang?”
Wijanglah yang menyahut, “Kami ingin bertemu dengan Ki
Pananggungan, Bibi.”
“O. Silahkan. Agaknya Ki Pananggungan sudah siap pergi ke
sawah.”
“Bibi juga akan pergi ke sawah?”
“Ya. Ada dua orang yang membantu Ki Pananggungan
mengerjakan sawahnya. Aku akan mengirim mereka makan dan
minum.”
“Ki Pananggungan sendiri tidak pergi ke sawah?”
“Hampir semalam suntuk Ki Pananggungan menunggui air di
sawah. Baru tadi pagi, sedikit lewat fajar, Ki Pananggungan
pulang. Karena itu, Ki Pananggungan agak terlambat pergi ke
sawah. Tetapi dua orang telah membantu menggarap sawahnya
yang besok akan mulai ditanami.”
“Terima kasih, Bibi.”
“Nah, silahkan, sebentar lagi Ki Pananggungan akan
berangkat.”
“Apakah Nyi Pananggungan ada?”
“Ada. Baru saja Nyi Pananggungan selesai masak.
Masakannya yang sekarang aku bawa ke sawah.”
“Terima kasih, Bibi.”
Perempuan itupun kemudian meninggalkan Wijang dan Paksi
yang masih saja termangu-mangu.
Namun sejenak kemudian, keduanyapun telah melangkah
masuk melewati regol halaman. Demikian mereka berada di
halaman, maka merekapun melihat seorang laki-laki yang masih
terhitung muda, berdiri termangu-mangu di pintu longkangan
sambil memegangi tangkai cangkulnya. Agaknya orang itu juga
akan pergi ke sawah bersama Ki Pananggungan.
Orang itu memandang Wijang dan Paksi berganti-ganti.
Kemudian diletakannya cangkulnya. Selangkah-selangkah ia
maju mendekati Wijang dan Paksi.
“Bukankah kalian anak-anak muda yang pernah tinggal di
rumah ini?”
Wijang dan Paksi mengangguk hormat. Merekapun segera
dapat mengenali laki-laki yang pernah mereka kenal ketika
mereka berada di rumah Ki Pananggungan beberapa waktu
sebelumnya.
“Ya, Kang. Kakang masih ingat kepada kami?”
“Tentu,” jawab orang itu. Lalu iapun bertanya, “Kalian baru
datang?”
“Ya, Kakang.”
“Baiklah. Silahkan duduk. Aku beritahukan kepada Ki
Pananggungan, bahwa kalian datang kemari.”
Tetapi sebelum orang itu melangkah masuk lewat pintu
seketeng, Ki Pananggungan justru telah keluar.
Orang itupun terkejut melihat Wijang dan Paksi. Hampir saja
ia menyebut gelar Wijang yang sebenarnya. Namun ia masih
sempat menyadari keadaan Pangeran Benawa dalam pakaian
orang kebanyakan. Pangeran Benawa tentu tidak senang
mendengar gelarnya disebut di hadapan orang lain.
Karena itu, maka dengan ramah Ki Pananggunganpun
bertanya, “Bukankah aku berhadapan dengan Angger Wijang dan
Angger Paksi?”
“Ya, Ki Pananggungan. Sesudah cukup lama kami pergi, maka
rasa-rasanya kami ingin kembali melihat keadaan keluarga dan
padukuhan ini.”
“Marilah, Ngger. Silahkan naik.”
“Tetapi Ki Pananggungan akan pergi ke sawah.”
“Biarlah Mijan pergi sendiri.” Lalu katanya kepada laki-laki
yang menunggunya, “Pergilah sendiri, Mijan. Aku akan menemui
tamu-tamuku yang sudah lama tidak berkunjung kemari.”
“Baik, Ki Pananggungan.”
“Jika Ki Pananggungan akan pergi ke sawah, biarlah kami ikut
ke sawah,” sahut Paksi.
“Tidak. Tidak terlalu penting. Sudah ada dua orang di sawah.
Kemudian Mijan akan menyusul mereka.”
Mijanpun kemudian berkata, “Aku minta diri, Ki. Silahkan
kalian berdua duduk. Aku akan pergi ke sawah.”
“Baik. Silahkan, Kakang,” sahut Paksi.
Sepeninggal Mijan, maka Ki Pananggungan telah
mempersilahkan Wijang dan Paksi naik ke pendapa.
“Selamat datang di rumahku, Pangeran dan kau Angger
Paksi.”
“Maaf, Ki Pananggungan. Seperti ketika aku datang kemari
sebelumnya, panggil aku Wijang.”
“Baik, Pangeran. Meskipun rasa-rasanya aku telah melakukan
kesalahan yang besar.”
“Ki Pananggungan tidak bersalah. Ki Pananggungan justru
akan aku anggap bersalah, jika Ki Pananggungan memanggilku
pangeran. Jika aku tidak mempunyai maksud tertentu, aku tentu
tidak akan berada di sini dalam keadaan seperti ini.”
“Hamba, Pangeran.”
“Nah. Panggil aku Wijang.”
“Baik, Wijang.”
“Nah, terima kasih. Aku minta Ki Pananggungan untuk
selanjutnya tidak lupa.”
Ki Pananggungan tersenyum sambil menyahut, “Aku akan
berusaha, Ngger.”
Wijang mengangguk-angguk. Sementara Paksipun bertanya,
“Kelihatannya rumah ini sepi, Ki Pananggungan. Apakah Nyi
Pananggungan ada?”
“Ada, ada Ngger. Nyi Pananggungan ada di belakang. Tetapi
Nyi Pananggungan sekarang sendiri berada di dapur.”
“Nyi Permati?”
Ki Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Nyi
Permati sudah meninggalkan rumah ini bersama dengan
Kemuning yang dijemput oleh ayah dan ibunya.”
“Maksud Ki Pananggungan, Repak Rembulung dan Pupus
Rembulung yang mengangkat Kemuning menjadi anaknya itu?”
“Ya, Ngger.”
Paksi dan bahkan juga Wijang menjadi tegang. Sementara itu
Ki Pananggunganpun berkata, “Aku tidak dapat menahan
mereka. Apalagi Repak Rembulung dan Pupus Rembulung
memerlukan kawan untuk melayani beberapa orang yang tinggal
di rumahnya.”
Jantung Paksi dan Wijang berdesis. Dengan serta-merta
Paksipun bertanya, “Siapa saja yang tinggal di rumah Repak
Rembulung dan Pupus Rembulung?”
“Aku tidak begitu jelas, Ngger. Tetapi yang sepintas aku
dengar, ada beberapa orang yang tinggal bersamanya. Orangorang
yang berdatangan dari sebuah padukuhan di pinggir Kali
Praga. Mereka adalah sanak kadang Pupus Rembulung.”
“Dari padukuhan di pinggir Kali Praga?” ulang Paksi.
“Ya. Mereka sudah sangat lama tidak bertemu dengan Pupus
Rembulung, sehingga mereka menjadi sangat rindu sehingga
mereka memerlukan datang dan untuk beberapa hari akan
berada di rumah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.
Mereka terdiri dari beberapa orang yang di antaranya adalah
anak-anak muda.”
Keterangan Ki Pananggungan itu memang sangat menarik.
Namun jika mereka datang dari sebuah padukuhan di pinggir
Kali Praga, maka tentu tidak ada sangkut-pautnya dengan anakanak
muda yang semula berada di padepokan Ki Gede
Lenglengan.
Meskipun demikian Paksi masih belum percaya begitu saja
jika orang-orang yang berada di rumah Repak Rembulung dan
Pupus Rembulung itu berasal dari pinggir Kali Praga.
Mungkin saja Repak Rembulung dan Pupus Rembulung
sengaja mengaburkan keberadaan anak-anak muda itu di
rumahnya.
“Ki Pananggungan,” bertanya Paksi, “apakah mereka benarbenar
orang dari pinggir Kali Praga atau Kali Opak?”
“Kali Praga, Ngger. Itu jelas sekali bagiku. Pupus Rembulung
sendiri yang mengatakannya kepadaku.”
“Sudah berapa lama Nyi Permati dan Kemuning pergi
meninggalkan rumah ini?”
Ki Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa
ada hubungan khusus antara Paksi dan Kemuning. Meskipun
masih sangat terbatas, tetapi Ki Pananggungan mengerti
perasaan anak muda itu terhadap kemenakannya.
“Belum terlalu lama, Ngger. Baru sekitar dua bulan yang lalu.
Jika saja Angger datang lebih cepat, maka Angger akan dapat
bertemu dengan Kemuning, bahkan dengan ayah dan ibunya itu.”
Jantung Paksi bergejolak menghentak-hentak di dadanya. Ada
beberapa hal yang membuatnya menjadi sangat gelisah. Berita
tentang kehadiran beberapa orang di rumah Repak Rembulung
dan Pupus Rembulung meskipun disebutnya datang dari pinggir
Kali Praga, tetapi Paksi langsung menghubungkannya dengan
kehadiran beberapa orang anak muda asuhan Ki Gede
Lenglengan. Justru anak-anak muda itu telah dikirim lebih
dahulu. Baru kemudian Ki Gede Lenglengan dan beberapa orang
pergi menyusulnya.
Selebihnya, Paksi seakan-akan telah merasa kehilangan. Ia
tidak lagi dapat menjumpai Kemuning di rumah Ki
Pananggungan itu.
“Ki Pananggungan,” berkata Paksi kemudian, “apakah Ki
Pananggungan dapat menunjukkan kepada kami, di mana rumah
Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung itu?”
“Terus terang, Ngger, aku belum pernah melihat rumahnya
yang baru itu. Bahkan rumahnya yang lama pun aku belum
pernah mengunjunginya. Aku tidak tahu, kenapa Repak
Rembulung dan Pupus Rembulung sering berpindah-pindah
tempat tinggal.”
“Jadi Kemuning telah dibawa oleh Ki Repak Rembulung dan
Nyi Pupus Rembulung ke tempat tinggalnya yang baru?”
“Ya, Ngger. Tetapi Angger Paksi tidak perlu merasa terlalu
cemas sebagaimana saat Kemuning berada di tangan Bahu
Langlang. Repak Rembulung dan Pupus Rembulung adalah
seorang ayah dan ibu yang baik bagi Kemuning. Bagaimanapun
sifat keduanya di luar rumah, tetapi di rumah mereka adalah
seorang ayah dan ibu.”
“Tetapi di rumahnya sekarang tinggal beberapa orang lain.
Jika itu terjadi sejak dua bulan yang lalu, apakah mereka
sekarang masih tetap tinggal di rumah Ki Repak Rembulung dan
Nyi Pupus Rembulung? Sehingga Kemuning masih belum dapat
pulang sampai sekarang?”
Wijang memang ikut merasa gelisah. Tetapi kesempatannya
merenungi persoalan itu masih lebih banyak dari Paksi. Karena
itu, maka Wijangpun berdesis, “Tenanglah, Paksi.”
Namun Ki Pananggungan justru tersenyum. Katanya, “Ngger,
Kemuning justru telah pulang ke rumah ayah dan ibunya.
Seandainya tamu-tamu itu sudah pulang, aku tidak dapat
mengharap Kemuning itu pulang ke rumah ini karena ia sudah
berada di rumah kedua orang tuanya.”
“Tetapi Kemuning pernah ditinggalkan begitu saja, sehingga
gadis itu harus pergi bersama ibunya mencari rumah Ki
Pananggungan di Kembang Arum ini.”
“Sudah aku katakan kepadanya, Ngger. Kepada ayah dan
ibunya. Untunglah bahwa Bahu Langlang sudah lama tidak ada
lagi di rumahnya. Jika orang itu dapat diketemukan, maka orang
itu tentu akan dilumatkan.”
“Apakah ayah dan ibu Kemuning yang membakar rumah
Bahu Langlang?”
“Apakah rumah Bahu Langlang itu dibakar?”
“Tidak ada yang tahu, Ki Pananggungan. Apakah terbakar
atau dibakar. Tetapi rumah itu sudah menjadi abu.”
“Jika rumah itu sengaja dibakar, adalah pekerjaan yang siasia.
Tidak ada gunanya, karena Bahu Langlang sudah pergi.
Orang itu sudah mengaku bersalah dan ingin memperbaiki
kesalahannya. Itu pun sudah lama terjadi.”
“Ki Pananggungan,” berkata Paksi kemudian, “jika demikian,
maka kami minta diri. Kami akan mencari rumah Ki Repak
Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung.”
Ki Pananggungan terkejut. Dengan serta-merta iapun
mencegahnya, “Jangan tergesa-gesa pergi, Ngger. Jika Angger
akan mencari rumah mereka itu terserah saja kepada Angger
Paksi. Tetapi tentu tidak sekarang. Angger baru saja datang dari
perjalanan yang jauh.”
“Aku sudah banyak kehilangan waktu di perjalanan, Ki
Pananggungan.”
Namun Wijanglah yang kemudian berkata, “Jangan tergesagesa,
Paksi. Tenanglah. Kita harus merencanakan langkahlangkah
yang akan kita ambil.”
“Beberapa kali kita berhenti di perjalanan, sehingga aku
datang terlambat.”
“Tidak, Ngger. Kau tidak terlambat,” berkata Ki Pananggungan
yang menduga bahwa Paksi menjadi sangat kecewa karena tidak
dapat bertemu dengan Kemuning.
Tetapi Wijang dapat mengerti sepenuhnya. Paksi bukan saja
gelisah karena Kemuning tidak ada lagi di rumah Ki
Pananggungan. Tetapi Paksipun menjadi gelisah karena ia
menduga bahwa yang berada di rumah Ki Repak Rembulung dan
Nyi Pupus Rembulung di antaranya adalah adik laki-laki yang
dicarinya itu.
“Paksi, kita tidak boleh kehilangan nalar sehingga bertindak
dengan tergesa-gesa. Lebih baik kita mohon kepada Ki
Pananggungan agar kita diijinkan untuk bermalam di sini.
Setidak-tidaknya malam nanti.”
“Tentu, Ngger. Tentu. Kami tidak akan berkeberatan. Bahkan
aku mohon kalian tidak hanya bermalam semalam. Tetapi untuk
sementara kalian dapat tinggal di sini. Aku berjanji untuk
membantu Angger berdua menemukan Kemuning.”
Paksi justru terkejut mendengar pernyataan Ki
Pananggungan. Barulah ia sadar, bahwa Ki Pananggungan tidak
tahu-menahu tentang adiknya yang oleh Ki Gede Lenglengan
telah diserahkan kepada sepasang suami-istri di sisi selatan kaki
Gunung Merapi.
Karena itu, maka Paksipun menarik nafas dalam-dalam.
Dipandanginya Wijang dengan kerut di dahi. Nampaknya Wijang
dapat mengerti, bahwa Paksi baru menyadari keadaannya
menurut tanggapan Ki Pananggungan.
Sambil tersenyum Wijang itupun berkata, “Nah, bukankah
lebih baik kita sambil mengucapkan terima kasih atas
kesempatan yang diberikan oleh Ki Pananggungan, beristirahat
barang semalam?”
Paksi mengangguk sambil berdesis, “Ya. Kita akan mohon
untuk diperkenankan berada di rumah ini setidak-tidaknya
semalam.”
“Tidak. Jangan hanya semalam. Aku mohon kalian tinggal di
sini. Bahkan setelah kalian menemukan rumah kedua orang tua
Kemuning itu.”
Paksi menundukkan kepalanya. Sementara Wijangpun
berkata, “Terima kasih atas kesempatan ini, Ki Pananggungan.”
“Nah, sekarang aku persilahkan kalian duduk dahulu. Aku
akan memberitahu Nyi Pananggungan. Nampaknya ia belum tahu
bahwa Angger berdua datang menengok keluarga kami. Demikian
kita bertemu, kita langsung tersuruk ke dalam pembicaraannya
yang agaknya bersungguh-sungguh.”
“Silahkan, Ki Pananggungan. Silahkan.”
Ki Pananggungan itupun kemudian masuk ke ruang dalam
untuk menemui isterinya.
Demikian Nyi Pananggungan mengetahui, bahwa yang ada di
pringgitan adalah Paksi dan Wijang, maka dengan tergesa-gesa
Nyi Pananggungan itupun pergi ke pringgitan untuk
menemuinya.
“Selamat datang, Angger berdua. Sudah agak lama kami
mengharap Angger berdua datang mengunjungi keluarga kami.”
“Maaf, Nyi,” Wijanglah yang menyahut, “ada-ada saja masalah
yang menghambat. Masalah yang sebenarnya kami buat sendiri.”
“Terus terang, Ngger, Kemuning juga sangat mengharap
kedatangan Angger Paksi. Tetapi rasa-rasanya seperti
mengharapkan embun menitik di tengah hari.”
“Kami mohon maaf, Nyi. Seperti yang dikatakan Kakang
Wijang, kami tidak segera dapat mengunjungi keluarga ini.”
“Sekarang Kemuning sudah kembali kepada ayah dan
ibunya.”
“Ya, Nyi. Tadi Ki Pananggungan juga sudah mengatakannya.”
Ki Pananggunganlah yang kemudian menyahut, “Aku sudah
berjanji untuk membantunya mencari rumah orang tua
Kemuning yang baru.”
“Ya, Ngger. Orang tua Kemuning memang sering berpindahpindah.
Tetapi sebenarnyalah orang memang mempunyai
beberapa buah rumah. Mungkin rumah yang dipergunakannya
sekarang adalah rumah yang lebih besar dari rumahnya yang
dahulu, yang ditinggalinya bersama Nyi Permati dan Kemuning,
yang menurut Kemuning memang tidak begitu besar. Pada saat
kedua orang tuanya menerima banyak tamu yang bermalam,
maka mereka menerima tamu mereka di rumahnya yang lebih
besar.”
“Ya, Nyi.”
“Nyi,” berkata Ki Pananggungan kemudian, “mereka berdua
akan bermalam di rumah ini. Besok atau besok lusa aku akan
membantu mereka mencari rumah orang tua Kemuning itu.”
“Ke mana Ki Pananggungan akan mencarinya?”
“Aku harus mengingat-ingat apa yang pernah dikatakan oleh
Rembulung. Mungkin ada petunjuk yang dapat membawa kedua
anak muda itu sampai kepadanya.”
“Angger berdua tidak usah tergesa-gesa. Waktunya masih
panjang. Jika Angger berdua akan memburu puncak bukit kecil
di kaki Gunung Merapi itu, maka puncak bukit itu tidak akan
beranjak dari tempatnya.”
Paksi menundukkan wajahnya. Sementara Wijang tersenyumsenyum
saja sebagaimana Ki Pananggungan dan Nyi
Pananggungan.
“Nah, duduklah. Aku akan menyiapkan minuman.”
Dalam pada itu, ketika Nyi Pananggungan berada di dapur,
maka Ki Pananggunganpun bertanya, “Menurut pendengaranku,
Harya Wisaka sudah tertangkap, Ngger. Apakah memang
demikian?”
“Benar, Ki Pananggungan,” Wijanglah yang menjawab.
“Bagaimana dengan para pengikutnya?”
Wijang menarik nafas panjang. Namun kemudian iapun
berkata, “Itulah yang masih kami cemaskan.”
“Di lingkungan ini, Ngger, sejak semula memang tidak terlalu
terasa benturan antara kekuatan-kekuatan yang semula ingin
menguasai cincin kerajaan itu, meskipun getarnya sampai di sini
pula. Bahkan kemudian seakan-akan larut dihanyutkan oleh
waktu. Sementara itu, berita tentang pemberontakan Harya
Wisaka terdengar semakin keras. Sedangkan kelompok-kelompok
kekuatan yang lain, yang pernah memusuhi Harya Wisaka itupun
tidak banyak lagi terdengar.”
Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Namun Paksi nampak
menjadi gelisah. Agaknya ada persoalan yang ingin dikatakannya.
Tetapi Paksi masih saja merasa ragu.
Wijang yang dapat mengerti perasaan Paksi itulah yang
kemudian berkata, “Ki Pananggungan, sebenarnyalah bahwa ada
dua hal yang membuat Paksi menjadi gelisah. Yang pertama, ia
merasa sangat kecewa bahwa ia tidak dapat bertemu dengan
Kemuning. Di sepanjang jalan menuju ke Kembang Arum, sekalisekali
terucapkan nama Kemuning meskipun ia berusaha untuk
tetap mengendapkannya.”
Ki Pananggungan itupun tersenyum. Ia sudah dapat meraba
gejolak perasaan anak muda itu. Sementara Wijangpun berkata
selanjutnya, “Sedangkan persoalan yang kedua yang membuat
Paksi gelisah adalah tamu-tamu di rumah Ki Repak Rembulung
dan Nyi Pupus Rembulung.”
“Kenapa dengan tamu-tamu itu?”
“Ki Pananggungan,” berkata Wijang yang suaranya menjadi
berat, “ketika Paman Harya Wisaka tertangkap, maka terloncat
dari mulutnya, bahwa beberapa orang anak muda telah
diserahkan kepada seorang yang bernama Ki Gede Lenglengan
untuk ditempa agar menjadi pemimpin di masa datang, sesuai
dengan jalur perjuangan Paman Harya Wisaka. Mereka adalah
anak-anak muda yang disebut angkatan mendatang. Ketika kami
berhasil memasuki Padepokan Watukambang yang dipimpin oleh
Ki Gede Lenglengan itu, ternyata bahwa anak-anak muda yang
disebut angkatan mendatang itu sudah tidak ada di padepokan.
Menurut seorang di antara mereka yang berhasil kami bujuk
untuk memberikan keterangan, anak-anak muda itu telah
dititipkan kepada sepasang suami-istri yang tinggal di sisi selatan
kaki Gunung Merapi. Orang itu tidak tahu siapakah nama
sepasang suami-istri itu. Tetapi pada waktu itu, arah perkiraan
kami langsung hinggap pada Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus
Rembulung. Sementara itu, Ki Gede Lenglengan yang luput dari
tangan para prajurit Pajang telah pergi ke selatan pula. Kami
berhasil menelusuri jejaknya sehingga sampai ke sisi selatan kaki
Gunung Merapi ini. Yang paling menggelisahkan Paksi adalah,
bahwa salah seorang dari anak-anak muda dari angkatan
mendatang itu adalah adik laki-laki Paksi yang bernama Lajer
Laksita.”
Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Seakan-akan
ditujukan kepada diri sendiri iapun bergumam, “Jadi itulah
masalahnya. Dua persoalan yang meskipun terpisah, akan saling
berkait. Menurut Rembulung, tamu-tamu itu datang dari sebuah
padukuhan di pinggir Kali Praga. Tetapi memang mungkin saja
Rembulung tidak berterus-terang kepadaku.”
“Ki Pananggungan,” berkata Wijang kemudian, “sebaiknya
kami berdua dengan berterus-terang minta bantuan Ki
Pananggungan untuk mengetahui, siapakah sebenarnya yang
berada di rumah Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus
Rembulung.”
“Baiklah. Seperti sudah aku janjikan, aku akan membantu
kalian. Kita akan mencari rumah Repak Rembulung dan Pupus
Rembulung.”
“Tetapi Ki Pananggungan, Repak Rembulung dan Pupus
Rembulung akan dapat mengenali kami.”
“Apakah kalian pernah berhubungan dengan keduanya.”
“Pernah, Ki Pananggungan. Kami pernah melibatkan diri pada
saat Repak Rembulung dan Pupus Rembulung dikeroyok oleh
beberapa orang sehingga rasa-rasanya pertemuan itu tidak adil.”
“Kau membantu mereka?”
Wijang mengangguk.
Ki Pananggunganpun menjadi termangu-mangu. Sementara
itu Paksi masih saja menundukkan wajahnya.
“Yang aneh bagi kami, Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus
Rembulung telah menasehati kami agar kami mencari jalan yang
baik dan benar untuk menyongsong masa depan kami yang
panjang. Nasehat yang tidak pernah kami duga akan keluar dari
mulut seorang Repak Rembulung dan seorang Pupus
Rembulung.”
“Bukankah sudah aku katakan, bahwa keduanya memang
aneh? Di rumah mereka adalah ayah dan ibu yang baik. Yang
dengan penuh kasih sayang mengasuh Kemuning. Memberinya
nasehat agar kelak Kemuning menjadi seorang yang baik, yang
berjalan di jalan lurus sesuai dengan petunjuk dari Yang Maha
Agung.”
“Nasehat itu pulalah yang diberikan kepada kami,” desis
Wijang.
“Repak Rembulung dan Pupus Rembulung berdiri dengan
kedua kaki pada alas yang berbeda.”
Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Pertentangan yang
tumbuh di dalam diri Repak Rembulung dan Pupus Rembulung
itu akan dapat meledak di hari-hari tua mereka.”
“Kau benar, Wijang,” sahut Ki Pananggungan.
“Nah, bagaimana menurut pertimbangan Ki Pananggungan?
Apa yang sebaiknya kami lakukan?”
“Begini, Ngger, jika Angger berdua setuju, biarlah aku saja
yang mencari Rumah Rembulung. Aku akan dapat memberikan
alasan apa saja. Mungkin karena aku rindu kepada Kemuning.”
“Lalu, apakah yang harus kami kerjakan?”
“Kalian tinggal di rumah ini.”
“Tetapi bukankah sangat berbahaya bagi Ki Pananggungan?”
Ki Pananggungan itu tersenyum. Katanya, “Ingat, aku adalah
kakak ayah Kemuning itu. Aku akan datang sebagai seorang
paman yang ingin menengok kemenakannya. Apalagi
kemenakannya itu pernah tinggal bersamanya.”
Wijang mengangguk-angguk sementara Paksi menarik nafas
dalam-dalam.
“Tetapi tentu tidak hari ini. Besok aku akan pergi. Mungkin
dalam pembicaraan kami pernah disebut-sebut kata-kata yang
dapat menjadi petunjuk, ke mana aku harus mencarinya. Nanti
aku akan berbicara dengan Nyi Pananggungan.”
“Tetapi sebelumnya, kami mohon maaf, Ki Pananggungan,
bahwa kami datang untuk membuat Ki Pananggungan menjadi
sibuk. Bahkan harus melakukan sesuatu yang berbahaya,” sahut
Paksi.
“Apa yang berbahaya? Menengok seorang adik bukan
pekerjaan yang berbahaya.”
“Tetapi seandainya dugaan kami benar, maka di rumah itu
ada seorang yang bernama Ki Gede Lenglengan. Orang itu baru
datang kemudian. Belum terlalu lama.”
“Aku akan berhati-hati, Ngger. Mudah-mudahan Ki Gede
Lenglengan bukan orang yang gila, sehingga mengganggu saudara
dari orang yang memberinya tempat berlindung.”
“Ki Gede Lenglengan memang gila, Ki Pananggungan,” desis
Wijang. “Kangjeng Sultan di Pajang di masa mudanya pernah
mengenal orang yang bernama Lenglengan. Agaknya orang itu
pulalah yang kemudian bernama Ki Gede Lenglengan.”
Ki Pananggungan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
iapun berkata, “Aku akan berhati-hati, Ngger.”
Sementara itu, maka Nyi Pananggunganpun telah minta
mereka untuk masuk ke ruang dalam. Katanya, “Mumpung nasi
masih hangat, silahkan, Ngger.”
“Begitu cepatnya,” berkata Wijang di luar sadarnya.
Nyi Pananggunganpun menyahut, “Sudah ada, Ngger. Tetapi
seadanya saja. Yang lain tadi dibawa ke sawah untuk mereka
yang sedang mengerjakan sawah. Marilah, Ngger.”
Merekapun kemudian masuk ke ruang dalam. Ternyata nasi,
lauk dan sayurnya memang masih hangat. Agaknya Nyi
Pananggungan telah memanasinya lagi.
Sejenak kemudian mereka telah duduk di amben bambu di
ruang dalam. Nasi, sayur lodeh keluwih, serundeng kelapa dan
sambal terasi. Ikan kakap goreng yang nampaknya baru saja
turun dari perapian.
“Ikan itu diambil dari belumbang di belakang, Ngger,” berkata
Nyi Pananggungan.
“Siapa yang menangkapnya?” berkata Wijang.
“Anak tetangga sebelah, Ngger. Ia tinggal bersama kami di
sini.”
Wijang mengangguk-angguk. Namun bau sambal terasi itu
membuat Wijang dan Paksi merasa lapar.
Setelah mereka selesai makan, maka Ki Pananggungan telah
membawa Wijang dan Paksi ke bilik di gandok sebelah kanan.
Katanya, “Kalian dapat beristirahat di bilik ini, Ngger.”
“Terima kasih, Ki Pananggungan.” Wijang dan Paksi menjawab
hampir bersamaan.
Keduanya memang beristirahat sejenak. Perut mereka terasa
kenyang. Sambil duduk di lincak bambu yang panjang, keduanya
kembali berbicara tentang Repak Rembulung dan Pupus
Rembulung.
“Dugaanku kuat, bahwa yang ada di rumah Repak Rembulung
dan Pupus Rembulung itu adalah anak-anak muda yang disebut
angkatan mendatang itu, Wijang.”
“Ya. Kemungkinannya memang besar sekali. Agaknya kepada
Ki Pananggungan, Repak Rembulung dan Pupus Rembulung
tidak mau berterus-terang.”
“Jika benar Ki Gede Lenglengan itu ada di rumah Repak
Rembulung, maka Ki Pananggungan benar-benar harus berhatihati
sekali. Ki Gede Lenglengan itu memang gila.”
Paksi mengangguk-angguk. Meskipun agak ragu iapun
berkata, “Sebaiknya kita minta agar kita diperbolehkan
mengikutinya.”
“Ki Pananggungan tentu tidak akan menyetujuinya.”
Paksi menarik nafas dalam-dalam.
Sejenak keduanya saling berdiam diri tenggelam di dalam
angan-angan mereka masing-masing.
Namun Paksilah yang kemudian bangkit berdiri sambil
berkata, “Aku akan mengisi jambangan di pakiwan.”
“He,” Wijangpun bangkit pula, “biar aku saja yang mengisi
jambangan.”
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”
“Kau kerjakan pekerjaan yang lain. Menyapu halaman atau
membelah kayu bakar.”
Wijang tidak menunggu jawaban Paksi. Iapun segera pergi ke
sumur untuk mengisi jambangan. Sementara Paksi masih hilirmudik
mencari sapu lidi. Ketika ia berada di rumah itu, maka
iapun mengerjakan apa saja untuk membantu meringankan
pekerjaan di rumah itu. Waktu itu di rumah itu masih ada
Kemuning dan Nyi Permati.
Ketika Paksi mendapatkan sapu lidi, maka kenangannya
kepada Kemuning terasa menjadi semakin tajam.
Namun ketika Paksi baru mulai menyapu halaman, maka
seorang remaja datang menghampirinya. Dengan agak ragu
remaja itupun berkata, “Biarlah aku saja yang menyapu
halaman.”
Paksi memandang anak itu sejenak. Ia mencoba mengingatingat,
apakah ia pernah mengenal anak itu sebelumnya.
Ternyata bahwa Paksi dapat mengenalinya. Sambil tersenyum
iapun berkata, “Bukankah kau Dukut anak yang tinggal di rumah
sebelah?”
Remaja itu mengangguk.
“Kau ingat kepadaku?”
“Ya.”
“Nah, jika kau ingat kepadaku, siapa namaku?”
“Paksi.”
“Tepat. Kakakku itu?”
“Wijang.”
“Bagus. Kaukah yang tadi menangkap kakap di belumbang di
kebun belakang?”
Anak itu mengangguk.
“Bagus. Kenapa kau tidak menegurku?”
Anak itu diam saja
Karena anak itu diam saja, maka Paksipun berkata,
“Sudahlah. Kau lakukan kerja yang lain. Selama aku di sini
beberapa waktu yang lalu, aku juga sering menyapu halaman.
Waktu itu kau tidak berada di rumah ini. Tetapi kau sering
bermain-main di sini.”
Anak itu masih berdiri termangu-mangu, sehingga Paksipun
berkata sekali lagi, “Dukut, kau ambil sapu yang lain, kemudian
menyapu halaman samping.”
Dukut itu mengangguk. Kemudian iapun pergi meninggalkan
Paksi.
Sementara itu, Ki Pananggungan yang melihat Wijang mengisi
jambangan pakiwan, dengan tergesa-gesa mendapatkannya.
Katanya gagap, “Sudahlah, Pangeran. Biarlah nanti hamba yang
mengisi pakiwan atau pembantu-pembantu hamba, sebentar lagi
mereka akan pulang dari sawah.”
“Ki Pananggungan agaknya lupa, siapa namaku.”
“Baik, baik. Tetapi jangan menimba air untuk mengisi
pakiwan.”
“Bukankah aku pernah melakukannya?”
“Tetapi sekarang tidak perlu lagi, Pangeran. Eh, Wijang.”
Wijang tersenyum. Katanya, “Sudahlah. Aku juga perlu
bergerak agar urat-urat darahku tidak membeku.”
“Tetapi tidak dengan menimba air untuk mengisi jambangan
seperti ini.”
Wijang bahkan tertawa. Tetapi ia masih saja menarik senggot
timba untuk menaikkan air dari sumur.
Ki Pananggunganpun akhirnya harus mengalah. Wijang tidak
mau berhenti menimba air.
“Silahkan Ki Pananggungan meninggalkan aku di sini. Nanti
jika jambangan itu sudah penuh, serta aku sudah mandi, aku
akan kembali ke gandok.”
Ki Pananggungan terpaksa meninggalkan Wijang yang masih
sibuk mengisi jambangan di pakiwan.
Ketika Ki Pananggungan masuk ke dapur lewat pintu butulan,
Nyi Pananggungan yang berada di dapur pun bertanya, “Ada apa,
Kakang? Nampaknya kau gelisah.”
“Aku tidak sedang gelisah, Nyi. Tetapi rasanya tidak mapan
jika tamu-tamu kita harus menimba air sendiri.”
Nyi Pananggungan tersenyum. Katanya, “Biar saja, Kakang.
Bukankah ia selalu melakukannya beberapa waktu yang lalu
ketika mereka berada di sini. Paksi sekarang juga sedang
menyapu halaman. Apa salahnya?”
Ki Pananggungan hanya dapat menarik nafas. Tetapi ia tidak
berkata apa-apa lagi.
Ketika Ki Pananggungan membuka pintu pringgitan, maka ia
memang melihat Paksi yang sedang sibuk menyapu halaman
depan.
Demikianlah Wijang dan Paksi berada di rumah itu seperti
mereka berada di rumah mereka sendiri. Sebagaimana
dilakukannya beberapa waktu sebelumnya. Mereka mengerjakan
apa yang dapat mereka kerjakan di rumah itu.
Ketika malam turun, maka keduanyapun dipersilahkan untuk
duduk di ruang dalam. Nyi Pananggungan sudah menyiapkan
makan malam bagi mereka.
“Marilah, Ngger,” Ki Pananggungan mempersilahkan, “makan
seadanya.”
Yang kemudian terhidang adalah nasi hangat, pepesan udang
dan sayur seperti yang dihidangkan siang tadi.
Setelah mereka selesai makan, maka Wijang dan Paksi tidak
segera pergi ke bilik yang telah disediakan bagi mereka. Tetapi
mereka masih berbincang dengan Ki Pananggungan dan Nyi
Pananggungan.
“Besok aku akan pergi ke rumah Rembulung,” berkata Ki
Pananggungan.
“Sebenarnya kami tidak ingin membuat Ki Pananggungan
menjadi sibuk. Bahkan jika Ki Pananggungan berkenan, biarlah
Ki Pananggungan memberikan sedikit petunjuk ke mana kami
harus pergi.”
“Tidak, Ngger. Tidak apa-apa. Aku juga ingin melihat
Kemuning. Rasa-rasanya aku sudah rindu kepadanya.”
“Kami hanya dapat mengucapkan terima kasih, Ki
Pananggungan. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu atas Ki
Pananggungan. Di jalan maupun di rumah orang tua Kemuning.”
“Orang tua Kemuning adalah adik Ki Pananggungan,” sahut
Nyi Pananggungan. “Tetapi tidak akan terjadi sesuatu di rumah
itu.”
Namun Paksipun kemudian berdesis, “Bagaimana menurut
pertimbangan Ki Pananggungan jika kami ikut bersama Ki
Pananggungan?”
Ki Pananggungan tersenyum sambil menggeleng, “Tidak
usaha, Ngger. Nanti akan dapat timbul salah paham.”
Paksi menarik nafas panjang. Namun ia tidak berkata apa-apa
lagi.
Ki Pananggunganlah yang kemudian berpesan, “Selama aku
pergi, aku titip rumah ini, Ngger. Jangan pergi ke mana-mana.”
“Kalau kami ikut pergi ke sawah?” bertanya Wijang.
“Tentu saja tidak apa-apa. Maksudku jangan pergi jauh atau
bahkan pergi dan tidak kembali lagi,” jawab Ki Pananggungan
sambil tertawa.
Demikianlah, beberapa saat mereka masih berbincang.
Namun kemudian Ki Pananggunganpun telah mempersilahkan
tamu-tamunya untuk beristirahat di bilik yang telah disediakan
kepada mereka di gandok.
Seperti yang direncanakan, pagi-pagi sekali Ki Pananggungan
sudah siap. Nyi Pananggungan telah menyediakan makan pagi,
sementara pembantunya yang tua telah menyiapkan kudanya.
Wijang dan Paksi juga sudah berada di halaman pula ketika Ki
Pananggungan siap untuk berangkat.
“Menurut Pupus Rembulung, rumahnya berada di dekat
sebuah belumbang yang tidak jauh dari sebatang pohon yang
besar, seperti pohon beringin tetapi mempunyai beberapa macam
bunga yang berbeda-beda. Ada yang menyebut lima macam, ada
yang mengatakan tujuh macam. Entahlah siapakah yang benar.
Tetapi aku juga belum pernah melihat pohon itu,” berkata Nyi
Pananggungan.
“Pohon Manca Warna. Mudah-mudahan dengan ancar-ancar
itu aku dapat menemukan rumah Rembulung.”
“Rembulung juga sering mandi di belumbang itu.”
Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan
berusaha menemukan mereka. Mungkin aku baru kembali dalam
dua atau tiga hari mendatang.”
“Hati-hati di jalan, Kakang.”
“Aku akan selalu berhati-hati.” Lalu katanya kepada Wijang
dan Paksi, “Titip rumahku, Ngger.”
Demikianlah, sejenak kemudian, maka Ki Pananggunganpun
telah melarikan kudanya menempuh perjalanan.
“Jika benar rumah Rembulung ada di dekat pohon Manca
Warna itu, maka sedikit lewat wayah pasar temawon, Kakang
Pananggungan sudah akan sampai, Ngger.”
Wijang menengadahkan wajahnya. Langit masih nampak
muram. Sementara itu, ayam-ayampun mulai turun dari
kandangnya.
Terdengar seekor induk ayam berkotek memanggil anakanaknya.
Sedang di sisi lain, seekor ayam jantan berkokok
dengan nada menantang. Kemudian mengepakkan sayapnya
beberapa kali.
Hari masih pagi. Namun bayangan fajar telah nampak di
langit yang bersih.
Ki Pananggunganpun melarikan kudanya semakin cepat.
Jalan-jalan masih nampak sepi. Tetapi di bulak panjang, Ki
Pananggungan telah mendahului sebuah pedati yang merayap
dengan malas ke pasar yang terletak tidak jauh di depan.
Meskipun pasar itu kecil saja, tetapi di hari pasaran, pasar itu
menjadi ramai sehingga para pedagang tidak tertampung
seluruhnya di dalam pasar. Beberapa penjual terpaksa berjualan
di luar dinding pasar.
Ketika Ki Pananggungan sampai di pasar itu, ia terpaksa
memperlambat jalan kudanya. Namun kemudian, kudanyapun
telah berlari lagi.
Ki Pananggungan melarikan kudanya ke arah timur di
sepanjang jalan di kaki Gunung Merapi. Kadang-kadang jalannya
menjadi sulit, sehingga perjalanan kuda itu terganggu. Bagaikan
siput yang merayap di bebatuan. Namun demikian ruas itu sudah
terlewatkan, maka kuda Ki Pananggungan itupun berlari lagi
dengan kencangnya.
Sekali-sekali jalan menanjak naik. Namun kemudian menukik
turun. Jika jalan menjadi datar, maka di sebelahnya terdapat
jurang yang cukup dalam.
Sementara itu, mataharipun memanjat langit semakin tinggi.
Panasnya mulai terasa menyengat kulit.
Ki Pananggungan sudah pernah pergi ke Jati Anom di sisi
sebelah timur kaki Gunung Merapi, melewati sendang di dekat
pohon Manca Warna itu.
Karena itu, maka tujuan pertama adalah sendang yang pernah
disebut-sebut oleh Nyi Pupus Rembulung.
Seperti yang diperhitungkan, maka sedikit lewat wayah pasar
temawon, Ki Pananggungan telah mendekati sendang di dekat
pohon Manca Warna itu.
Ki Pananggungan itupun menengadahkan wajahnya. Langit
masih saja nampak cerah. Matahari yang sudah menjadi semakin
tinggi, terasa sinarnya menjadi semakin menusuk.
Beberapa saat kemudian, Ki Pananggunganpun telah sampai
di sendang yang airnya nampak bening kehijau-hijauan.
Beberapa kelompok ikan wader pari berenang dengan riangnya.
Agaknya wader pari itu jarang sekali merasa terganggu hidupnya
di sendang yang airnya bening itu.
Di pinggir sendang terdapat beberapa buah batu besar yang
agaknya sering dipergunakan untuk mencuci pakaian.
Sedangkan luapan air sendang itu mengalir lewat sebuah
genangan yang agak dalam, turun ke dalam parit yang mengalir
ke bulak di sebelah belumbang itu. Genangan air itu setiap hari
dipergunakan untuk memandikan ternak sehabis bekerja keras di
sawah.
Ki Pananggungan membiarkan kudanya minum air yang
mengalir di parit yang menuju ke bulak. Airnya nampak jernih,
sehingga kerikil-kerikil kecil di dasar parit itupun nampak jelas.
Ki Pananggungan termangu-mangu sejenak. Sendang itu
nampak sepi. Mungkin orang-orang yang pergi ke sendang itu
sudah pulang. Mereka yang mencuci pakaiannya dan mereka
yang memandikan ternak di genangan air yang melimpah dari
sendang itu. Ki Pananggungan melangkah mondar-mandir di
dekat sendang itu. Setelah kudanya cukup banyak minum,
diikatnya kudanya itu pada sebatang pohon perdu yang tumbuh
di dekat sendang itu.
Di sekitar sendang itu, Ki Pananggungan melihat beberapa
batang pohon raksasa. Sebangsa pohon preh dan beringin. Tidak
terlalu jauh dari sendang itu terdapat sepasang pohon benda
yang sudah tua. Pohonnya yang menunjukkan ketuaannya itu
masih tetap berdiri kokoh menghunjam ke dalam bumi.
Agak jauh dari sendang itu, lamat-lamat dilihat sebatang
pohon yang disebut pohon Manca Warna itu.
Ki Pananggungan menarik nafas panjang.
Namun beberapa saat kemudian, Ki Pananggungan melihat
seseorang berjalan sambil memanggul bajaknya dan menggiring
sepasang lembu yang besar-besar.
Dibiarkannya orang itu meletakkan bajaknya, kemudian
melepas lembunya dan menggiringnya turun ke dalam air di
genangan air yang melimpah dari sendang itu.
Ki Pananggungan memandang orang itu dengan kerut di
keningnya. Sementara itu, orang yang kemudian memandikan
lembunya itu juga memandang Ki Pananggungan sekilas.
“Aku belum pernah melihat orang ini,” berkata orang yang
memandikan lembunya itu di dalam hatinya.
Sementara itu Ki Pananggungan justru telah mendekati orang
itu sambil bertanya, “Ki Sanak, bukankah pohon yang lamatlamat
nampak itu pohon Manca Warna?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian orang
itupun mengangguk, “Ya, Ki Sanak. Pohon itu disebut pohon
Manca Warna. Apakah Ki Sanak akan pergi ke pohon itu untuk
melihat nasib?”
“Nasib?”
“Ya. Siapa yang nasibnya baik di waktu mendatang, akan
dapat melihat bunga melati pada pohon Manca Warna itu. Tetapi
siapa yang melihat kembang bangah, maka nasibnya akan
menjadi buruk.”
“Tidak, Ki Sanak. Aku tidak akan pergi untuk melihat nasib
pada pohon Manca Warna itu.”
“O. Tentu setidak-tidaknya Ki Sanak akan dapat melihat
keajaiban alam.”
“Keajaiban apa?” bertanya Ki Pananggungan.
“Bukankah sangat ajaib jika sebatang pohon dapat
mempunyai berbagai macam bunga?”
“Bunga apa saja, Ki Sanak?”
“Tidak semua orang dapat melihat jenis-jenis bunga apa
pohon Manca Warna itu. Ada bunga randu, bunga belimbang
lingkir, bunga gayam dan banyak lagi.”
“Bunga melati itu?”
“Ya. Bunga melati.”
“Tetapi itu bukan satu keajaiban, Ki Sanak.”
“Bagaimana kau dapat mengatakan bahwa itu bukan satu
keajaiban?”
“Dahulu, Ki Sanak. Ketika pohon beringin itu mulai tumbuh,
maka bersamaan dengan itu tumbuh pula berbagai macam pohon
yang saling berdekatan. Akhirnya pohon-pohon itu saling
menyatu dibalut oleh sulur-sulur dan akar-akar beringin, maka
cabangnya pun mencuat dari batang yang nampaknya menjadi
satu itu.”
“Kau akan kualat, Ki Sanak.”
Ki Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Ia menyesal
bahwa ia telah menyinggung perasaan orang itu, sementara itu ia
membutuhkan pertolongannya untuk menunjukkan rumah
Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.
Namun akhirnya Ki Pananggungan itupun berkata, “Aku
minta maaf, Ki Sanak. Sebenarnyalah bahwa aku belum pernah
memperhatikan dengan sungguh-sungguh pohon Manca Warna
itu. Mungkin Ki Sanak benar, bahwa itu memang satu keajaiban.”
Orang itu mengerutkan dahinya. Namun ia tidak menjawab.
Perhatiannya segera beralih kepada lembunya yang akan
dimandikannya.
Tetapi sekali lagi orang itu berpaling kepada Ki Pananggungan
ketika Ki Pananggungan kemudian berkata, “Ki Sanak,
sebenarnya aku datang kemari untuk mencari adikku. Ia tinggal
tidak jauh dari sendang yang terletak di dekat pohon Manca
Warna. Kalau yang nampak itu pohon Manca Warna, maka tentu
sendang inilah yang dimaksud. Atau barangkali ada sendang lain
di dekat tempat ini?”
“Tidak, Ki Sanak. Ini adalah satu-satunya sendang di
lingkungan ini. Di belakang pohon benda yang besar itu juga ada
mata air yang terhitung deras. Tetapi di belakang pohon benda
itu tidak ada sendang. Airnya menggenang tidak seberapa banyak
karena airnya itu kemudian mengalir di dua batang parit yang
mengairi sawah di sisi yang lain dari padukuhan itu.”
“Kalau begitu, tentu sendang inilah yang dimaksud.”
Orang yang sedang memandikan lembunya itu menganggukangguk.
Namun kemudian iapun bertanya, “Siapakah yang Ki
Sanak cari?”
“Namanya Rembulung. Repak Rembulung. Sedangkan istrinya
dipanggil Pupus Rembulung.”
Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun
menggeleng. “Aku belum pernah mendengar namanya, Ki Sanak.
Aku lahir, besar dan tua di padukuhan ini. Aku mengenal banyak
orang. Penghuni padukuhan ini semuanya aku kenal. Penghuni
padukuhan tetangga pun banyak pula yang aku kenal. Tetapi
nama itu aku belum pernah mendengarnya.”
“Ki Sanak, Repak Rembulung dan Pupus Rembulung belum
terlalu lama tinggal di sini. Ia orang baru. Sementara itu, akhirakhir
ini di rumahnya telah berdatangan beberapa orang tamu.”
Orang itu masih mengingat-ingat. Sementara Ki
Pananggunganpun berkata, “Mungkin Ki Sanak melihat rumah
yang nampak terlalu banyak penghuninya atau kadang-kadang
jika sedang memandikan lembunya melihat satu dua orang gadis
yang mencuci pakaian terlalu banyak.”
Orang itu tiba-tiba saja mengangguk-angguk. Katanya, “Ki
Sanak, mungkin yang kau maksud itu adalah sepasang suamiistri
yang tinggal di tempat terpencil itu. Di bekas sebuah
pategalan yang dibelinya dari penghuni padukuhan ini. Sepasang
suami-istri itu membangun sebuah rumah yang terhitung besar.
Karena rumah itu terletak di bekas pategalan, maka rumah itu
seakan-akan menjadi terpencil, sehingga pergaulan penghuninya
menjadi tersisih pula. Tetapi bukan maksud kami untuk
menyisihkan penghuni rumah itu. Jika berpapasan dengan kami,
merekapun mengangguk hormat pula sebagaimana kami lakukan
terhadap mereka.”
“Mungkin, Ki Sanak. Memang mungkin sekali. Di manakah
letaknya pategalan itu?”
“Di sebelah padukuhan ini, di antara sebuah sungai kecil yang
agak curam.”
“Apakah aku dapat pergi ke sana dengan naik seekor kuda?”
“Dapat saja, Ki Sanak. Tetapi dengan sedikit melingkar. Ki
Sanak harus melalui ujung padukuhan ini. Di sebelahnya
terdapat sebuah jembatan bambu. Ki Sanak dapat meniti
jembatan itu. Jembatan itu cukup kuat.”
“Terima kasih, Ki Sanak. Aku akan melihat penghuni rumah
yang terpencil itu. Mudah-mudahan penghuni rumah itu yang
aku cari. Jika tidak pun tidak mengapa.”
“Silahkan, Ki Sanak. Mudah-mudahan merekalah yang kau
cari.”
Ki Pananggunganpun kemudian minta diri. Sekali lagi ia
mengucapkan terima kasih.
Sejenak kemudian, maka Ki Pananggunganpun telah
menyusuri jalan padukuhan. Seperti petunjuk orang yang sedang
memandikan lembunya itu, maka di ujung padukuhan Ki
Pananggungan pun telah menyeberang sungai lewat sebuah
jembatan bambu.
Ketika Ki Pananggungan menengadahkan wajahnya, maka
dilihatnya matahari telah sampai ke puncaknya.
Dengan jantung yang berdebaran, Ki Pananggungan
membelokkan kudanya mengikuti jalan yang tidak terlalu lebar
menuju ke sebuah rumah yang terletak di bekas sebuah
pategalan.
Namun ketika Ki Pananggungan itu mendekati regol, maka
dilihatnya seseorang berdiri di pinggir jalan sambil
memandanginya dengan tajamnya.
“Ki Sanak,” sapa orang itu ketika Ki Pananggungan melintas di
depannya.
Ki Pananggunganpun menghentikan kudanya. Bahkan Ki
Pananggungan itu meloncat turun.
“Kau akan pergi ke mana Ki Sanak?” bertanya orang itu.
“Aku akan pergi ke rumah itu, Ki Sanak,” jawab Ki
Pananggungan.
“Siapakah yang kau cari?”
“Aku mencari Repak Rembulung atau Pupus Rembulung.”
“Kau siapa?”
“Aku kakak Repak Rembulung.”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja dari
kejauhan terdengar seseorang menyebut nama Ki Pananggungan.
“Kakang Pananggungan?”
Ki Pananggungan berpaling. Dilihatnya Repak Rembulung
berdiri di pintu regol halaman rumah di bekas pategalan itu.
“Kau, Repak Rembulung?”
“Marilah, Kakang.”
Ki Pananggungan itupun kemudian menuntun kudanya
memasuki regol halaman rumah, yang ternyata benar, rumah
Repak Rembulung.
Sambil melangkah menyeberangi halaman, Repak Rembulung
itupun bertanya, “Dari mana Kakang tahu, bahwa aku tinggal di
sini?”
“Bukankah kau meskipun tidak langsung pernah mengatakan
kepadaku?”
“Kapan?” bertanya Repak Rembulung sambil mengerutkan
dahinya. Bahkan langkahnya pun terhenti di tengah-tengah
halaman.
“Apakah kau sudah lupa? Kau tinggal di sebuah padukuhan
dekat sebuah sendang yang airnya bening dan tidak kering di
segala musim. Sendang itu berada dekat dengan pohon seperti
pohon beringin, tetapi mempunyai berbagai jenis bunga.”
“Aku pernah mengatakan begitu?”
“Ya. Dan kau juga mengatakan bahwa kau sering mandi di
sendang itu pula.”
“Kakang, aku tidak pernah mandi di sendang itu.”
“Kau sendiri yang mengatakannya. Apakah kau benar-benar
mandi, atau sekedar membual, aku tidak tahu.”
Repak Rembulung masih mengingat-ingat. Iapun kemudian
bergumam, “Aku tidak ingat lagi, bahwa aku pernah
mengatakannya kepada Kakang.”
“Jika kau tidak mengatakan kepadaku, dari siapa aku tahu
bahwa kau tinggal di sini?”
Repak Rembulung tidak menjawab.
“Repak Rembulung, umurku lebih tua dari umurmu. Tetapi
kau sudah hampir menjadi pikun. Sementara itu ingatanku
masih tetap jernih.”
“Mungkin, Kakang. Mungkin aku sudah hampir menjadi
pikun.” Repak Rembulung itupun mengangguk-angguk. Namun
kemudian iapun berkata, “Mari. Marilah, Kakang. Aku
persilahkan Kakang naik.”
Keduanyapun melangkah lagi ke pendapa rumah Repak
Rembulung yang terhitung besar. Di belakang pendapa yang
berbentuk joglo, terdapat dua wuwung bangunan limasan. Di
belakangnya terdapat sebuah longkangan yang berhubungan
dengan longkangan samping, di belakang seketeng. Kemudian
masih ada lagi bangunan limasan satu wuwung lagi. Di sebelah
menyebelah terdapat gandok yang memanjang sampai ke
belakang.
Ketika Ki Pananggungan itu sudah duduk di pendapa, maka
Repak Rembulungpun berkata, “Silahkan duduk, Kakang. Aku
beritahu Pupus Rembulung.”
Ki Pananggungan mengangguk. Katanya, “Juga beritahu
anakmu. Sebenarnyalah aku rindu pada Kemuning setelah
beberapa bulan aku tidak melihatnya.”
Repak Rembulung tersenyum. Katanya, “Baik, Kakang. Aku
beritahu Kemuning dan Nyi Permati juga.”
Sejenak kemudian, Ki Repak Rembulungpun hilang di balik
pintu masuk ke ruang dalam.
Ki Pananggunganpun kemudian duduk sendiri di pendapa. Ia
sempat mengamati keadaan di sekitarnya. Keningnya berkerut
ketika ia melihat dua orang anak muda melintas, kemudian
masuk ke sebuah pintu bilik di gandok sebelah kanan.
“Agaknya mereka yang disebut sanak kadang Pupus
Rembulung dari padukuhan di pinggir Kali Praga,” berkata Ki
Pananggungan di dalam hati. Kemudian iapun bertanya kepada
diri sendiri, “Tetapi apakah yang dikatakan Pangeran Benawa dan
Angger Paksi itu benar, bahwa anak-anak muda itu adalah jalur
Harya Wisaka bagi masa mendatang? Jika demikian, maka
mereka tentu bukan orang-orang dari padukuhan di dekat Kali
Praga.”
Jantung Ki Pananggungan berdesir ketika ia melihat
Kemuning di halaman rumah itu berjalan bersama seorang anak
muda yang berwajah tampan. Nampaknya hubungan mereka
begitu dekat. Ki Pananggungan melihat Kemuning itu tertawa
sambi mencubit lengan anak muda itu. Namun kemudian
Kemuningpun berlari masuk ke pintu seketeng.
Hampir saja Ki Pananggungan berteriak memanggil. Tetapi Ki
Pananggungan masih menahan diri, sehingga suaranya kembali
tertelan di kerongkongan.
Namun tiba-tiba saja terasa punggungnya menjadi basah oleh
keringat.
“Siapakah anak muda itu?” bertanya Ki Pananggungan di
dalam hatinya.
Di luar sadarnya, Ki Pananggungan itupun mulai
membayangkan hubungan antara Kemuning dengan anak muda
yang tampan itu. Mereka telah berkenalan dan tinggal serumah.
Setiap hari mereka bertemu, berbincang dan barangkali juga
bergurau.
Ki Pananggungan itupun telah teringat pula kepada Paksi.
Agaknya anak muda itu sifatnya berbeda dengan Paksi yang lebih
banyak mengekang diri. Tetapi agaknya anak muda itu tidak.
Dengan demikian tanggapan Kemuningpun berbeda. Agaknya
Kemuning merasa lebih bebas berhubungan dengan anak muda
itu daripada dengan Paksi yang nampak selalu bersungguhsungguh.
Ki Pananggungan melihat anak muda itu selangkah mengejar
Kemuning. Namun demikian Kemuning hilang di balik pintu
seketeng, anak muda yang masih tertawa itu berhenti. Bahkan
iapun berbalik melangkah ke gandok.
Ki Pananggungan itupun menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian iapun berkata di dalam hatinya, “Di rumah ini ada
Repak Rembulung, ada Pupus Rembulung yang menurut
pengamatanku dapat menjadi ayah dan ibu yang baik di rumah.
Mudah-mudahan mereka sempat menilik pergaulan anak
gadisnya yang sudah meningkat dewasa itu. Bahkan di rumah ini
juga ada Nyi Permati. Justru ibu kandung Kemuning. Nyi Permati
yang menjadi pemomong Kemuning itu tentu akan dapat memberi
petunjuk jalan kehidupan bagi seorang yang meningkat menjadi
seorang gadis dewasa.”
Tetapi angan-angan Ki Pananggungan itu terputus. Dengan
tergopoh-gopoh seorang perempuan keluar dari ruang dalam.
Dengan ramah perempuan itu menyapa, “Kakang, selamat datang
di rumah kami yang sederhana ini, Kakang.”
Ki Pananggunganpun bangkit berdiri. Pupus Rembulung dan
Repak Rembulung kemudian diikuti oleh Nyi Permati yang
menyambutnya dengan mata yang basah.
“Silahkan duduk, Kakang,” Pupus Rembulung
mempersilahkan.
Ki Pananggunganpun kemudian duduk kembali bersama
Repak Rembulung, Pupus Rembulung dan Nyi Permati.
Berganti-ganti mereka bertanya tentang keselamatan
perjalanan Ki Pananggungan serta keluarga yang ditinggalkan.
“Mbokayu tinggal sendiri di rumah, Kakang?”
“Ada beberapa orang yang menemaninya di rumah, Nyi.
Seorang yang meskipun sudah agak tua, tetapi masih kuat untuk
menimba air mengisi pakiwan. Seorang remaja anak tetangga.
Dan seorang perempuan yang sudah lama tinggal bersama kami.”
“Kenapa Mbokayu tidak datang kemari bersama Kakang?”
“Bukankah baru kali ini aku menemukan rumahmu? Jika aku
mengajak mbokayumu, tetapi kami tidak menemukan rumahmu,
maka perjalanan mbokayumu akan sia-sia.”
Pupus Rembulung tertawa. Sementara Ki Repak Rembulung
bertanya, “Maaf, Kakang, bukankah Kakang tidak membawa
persoalan yang penting yang akan Kakang sampaikan kepada
kami?”
“Ah,” potong Pupus Rembulung, “kenapa kau tergesa-gesa
bertanya tentang kepentingan kedatangan Kakang
Pananggungan. Kakang tentu letih. Biarlah Kakang beristirahat.
Kakang Pananggungan tentu tidak akan tergesa-gesa pulang.
Kakang tentu akan bermalam, bahkan mungkin dua atau tiga
malam.”
----