Jejak Dibalik Kabut .. 05


Jilid 33

SEMENTARA itu, di luar bilik tahanan Wijangpun berkata kepada

Paksi, “Ternyata kau benar, Paksi. Anak-anak muda itu tidak

berada di padepokan itu lagi.”

“Jika demikian, kita dapat segera mengambil keputusan

tentang padepokan itu.”

“Ya. Tidak ada pilihan lain. Padepokan itu harus segera

dihancurkan. Kekalahan para pengikut di penginapan itu akan

dapat mengusik kemapanan Ki Gede Lenglengan. Sebelum ia

mengambil sikap, maka sebaiknya kita datang lebih dahulu

kepadanya.”

“Apakah sebaiknya kita menemui Ki Tumenggung Yudatama?”

“Aku sependapat. Hari pasaran mendatang, padepokan itu

kita kepung dan mereka yang tidak bersedia menyerah, apaboleh

buat.”

Demikianlah, keduanyapun segera menemui Ki Tumenggung

Yudatama. Untunglah bahwa Ki Tumenggung Yudatama berada

di barak pasukannya.

Dengan jelas dan terperinci sesuai dengan keterangan Wigati

serta pengamatan Wijang dan Paksi selama ia mengamati

padepokan itu, maka Wijang dan Paksi mengusulkan, agar

secepatnya padepokan itu ditembus oleh pasukan yang telah

dipersiapkan.

“Baiklah, Pangeran. Jika isyarat itu sudah diberikan, maka

kitapun akan segera mengambil langkah-langkah yang

diperlukan.”

“Pasaran mendatang tinggal dua hari lagi, Ki Tumenggung.”

“Hari ini aku akan pergi ke penginapan itu. Namun

sebelumnya kita akan menghadap Kangjeng Sultan untuk

memberikan laporan tentang anak-anak muda itu, serta rencana

kita mengepung Padepokan Watukambang.”

Demikianlah, Ki Tumenggung Yudatamapun bekerja dengan

cepat. Pada saat itu juga mereka bertiga telah menghadap

Kangjeng Sultan Hadiwijaya, yang menerima mereka dengan baik.

“Lakukan apa yang baik menurut pertimbangan kalian

bertiga,” berkata Kangjeng Sultan.

“Hamba mohon restu, Sinuhun,” desis Ki Tumenggung

Yudatama.

“Berhati-hatilah dengan Lenglengan. Ia seorang yang sekarang

tentu memiliki ilmu yang sangat tinggi.”

“Hamba, Sinuhun. Hamba akan berhati-hati.”

“Jangan hadapi Lenglengan seorang diri. Biarlah Benawa,

Paksi dan satu dua orang pilihan lainnya bersama-sama Ki

Tumenggung menghadapinya. Mungkin kalian memerlukan

kemampuan bersama untuk mengalahkannya. Namun kalian

juga harus menjaga agar Lenglengan tidak dapat melarikan diri.”

“Hamba, Sinuhun.”

“Aku tidak tahu, apakah ada orang lain yang berilmu tinggi di

padepokan itu.”

“Hamba sudah menjajagi kemampuan salah seorang

kepercayaannya. Agaknya kepercayaan Ki Gede Lenglengan yang

lain pun tidak terpaut banyak dari orang itu.”

“Tetapi kita tidak tahu, ada berapa orang kepercayaan Ki Gede

Lenglengan itu.”

“Hamba akan berhati-hati sekali, Sinuhun. Hamba akan

membawa orang-orang terbaik sebelum hamba memasuki

padepokan itu.”

“Waktumu tinggal sedikit, Ki Tumenggung.”

“Masih ada dua hari, Sinuhun. Sementara itu sebagian dari

kekuatan Pajang telah berada di Manjung, Nglungge dan di hutan

sebelah Padukuhan Manjung.”

Kangjeng Sultan Hadiwijayapun mengangguk-angguk sambil

berkata, “Baiklah, Ki Tumenggung. Aku serahkan kepadamu,

mana yang baik menurut pertimbanganmu, Benawa dan Paksi.”

“Kami mohon restu, Sinuhun.”

“Bawa orang-orang terbaik. Lenglengan adalah seorang yang

tidak dapat dijajagi kemampuannya.”

“Apakah ada orang yang mampu menjajagi kemampuan

Pangeran Benawa?”

“Ah, Ki Tumenggung, aku bukan apa-apa.”

“Mungkin Benawa memiliki dasar ilmu yang kuat,” berkata

Kangjeng Sultan, “tetapi ia masih terlalu muda untuk dapat

mengetahui dan mengatasi, betapa liciknya Lenglengan.”

“Hamba mengerti, Sinuhun.”

Demikianlah, maka Ki Tumenggung itupun segera minta diri.

Waktunya memang sangat sempit untuk mempersiapkan

serangan yang meyakinkan terhadap sebuah padepokan yang

kuat sebagaimana Padepokan Watukambang.

Namun Ki Tumenggung adalah seorang prajurit pilihan.

Bersama beberapa orang prajuritnya yang terpilih, maka Ki

Tumenggungpun segera mempersiapkan pasukannya. Namun Ki

Tumenggung harus sangat berhati-hati, agar persiapannya tidak

diketahui oleh Ki Gede Lenglengan dan orang-orangnya.

Dalam pada itu, Wijang dan Paksi telah menghubungi Ki Ajar

Permati. Bahkan mereka telah mempersilahkan Ki Ajar Permati

untuk bertemu dan berbicara langsung dengan Ki Tumenggung

Yudatama.

“Serahkan Lenglengan kepadaku, Ki Tumenggung,” berkata Ki

Ajar Permati.

“Ki Gede Lenglengan adalah seorang yang memiliki ilmu yang

sangat tinggi, Ki Ajar,” sahut Ki Tumenggung.

“Aku tahu.”

“Bahkan Kangjeng Sultan sendiri telah berpesan, agar

Pangeran Benawa tidak seorang diri menghadapi Ki Gede

Lenglengan.”

“Aku pun tentu akan berpesan seperti itu, jika aku sendiri

tidak dapat menghadapinya. Tetapi bukan karena Pangeran

Benawa tidak mampu mengimbangi ilmu Ki Gede Lenglengan.”

“Karena apa menurut perhitungan Ki Ajar?”

“Kangjeng Sultan tentu mempertimbangkan kelicikan Ki Gede

Lenglengan. Jika Pangeran Benawa tidak dibenarkan untuk

menghadapinya sendiri, itu semata-mata untuk menutup

kemungkinan Ki Gede Lenglengan itu melarikan diri.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk kecil. Sementara Ki

Ajarpun berkata, “Seandainya Pangeran Benawa dan Angger

Paksi bersedia aku pun akan minta agar Pangeran Benawa dan

Paksi ikut mengawasi agar Ki Gede Lenglengan tidak sempat lari.

Sementara itu, aku ingin membuat perbandingan ilmu dengan Ki

Gede Lenglengan itu tanpa orang lain.”

“Kami mengerti maksud Ki Ajar. Tetapi sebagai seorang

senapati di medan perang, aku dapat mengambil kebijaksanaan

sesuai dengan pertimbangan keadaan.”

“Aku mohon. Selain itu, aku kebetulan bukan seorang

prajurit.”

“Meskipun Ki Ajar bukan prajurit, tetapi Ki Ajar akan berada

di pihak pasukan Pajang. Sedangkan aku adalah senapati yang

ditunjuk oleh Kangjeng Sultan Hadiwijaya.”

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian

katanya, “Baiklah, Ki Tumenggung. Aku menyadari sepenuhnya,

bahwa Ki Tumenggung terikat pada sikap seorang senapati

perang. Aku berjanji akan tunduk kepada perintah Ki

Tumenggung.”

“Terima kasih atas kesediaan Ki Ajar. Di medan pertempuran,

hanya ada seorang senapati tertinggi yang memegang seluruh

kendali atas pasukannya. Bahkan Pangeran Benawa dan Paksi

berada di bawah perintah senapati yang mendapat wewenang dari

Kangjeng Sultan.”

“Aku mengerti,” sahut Pangeran Benawa.

“Baiklah. Kita akan segera menyusun pasukan yang akan

mengepung padepokan itu.”

Ternyata bahwa Ki Ajar Permati banyak memberikan

keterangan yang dapat memberikan gambaran kepada Ki

Tumenggung Yudatama atas tugas yang sedang diembannya.

Demikianlah, maka segala sesuatunyapun telah disiapkan

dengan sebaik-baiknya. Ketika hari pasaran tiba, maka pasar di

Manjung itu nampak ramai sekali. Demikian pula penginapan di

Nglunggepun pada hari itu menjadi penuh sebagaimana

penginapan di Manjung.

Pasar di Manjung yang terasa sangat ramai itu memang

menarik perhatian seorang yang dikirim oleh Ki Gede Lenglengan.

Namun kegagalan yang parah yang baru saja terjadi, telah

membuat orang itu sangat berhati-hati. Bahkan orang itu tidak

berani memberikan isyarat kepada Ki Gede Lenglengan, bahwa

penginapan di Manjung nampak penuh dengan beberapa orang

saudagar yang membawa harta yang banyak. Pada umumnya

para saudagar itu membawa seorang atau dua orang pengawal.

Seperti pada saat perampokan yang gagal beberapa waktu

sebelumnya, para pengawal itu bersama-sama orang-orang yang

diupah untuk mengamankan penginapan itu, berhasil

menghancurkan sekelompok orang yang dikirim oleh Ki Gede

Lenglengan.

Orang yang dikirim oleh Ki Gede Lenglengan itu masih

dibayangi oleh kegagalan yang terjadi. Beberapa orang terbaik

dari Padepokan Watukambang itu telah hilang dan agaknya

mereka tidak akan pernah kembali. Bahkan agaknya yang masih

hidup dan berhasil melarikan diri pun tidak berani lagi kembali

ke padepokan, karena Ki Gede Lenglengan tentu akan

menghukum mereka. Bahkan ada di antara mereka yang

dihukum itu mati terikat pada tiang kayu di halaman bangunan

utama Padepokan Watukambang.

Wira Sidat, salah seorang kepercayaan Ki Gede Lenglengan itu

telah terbunuh. Wigati, yang bagaikan anak sendiri dari Ki Gede

Lenglengan telah hilang pula.

Ketika orang yang dikirim oleh Ki Gede Lenglengan itu kembali

ke padepokan setelah hari menjadi gelap, tidak mengisyaratkan

agar Ki Gede Lenglengan mengirimkan orang ke Manjung.

“Kau menjadi ketakutan?” bertanya Wira Sampak,

kepercayaan Ki Gede Lenglengan yang lain.

“Bukan begitu, Kang. Tetapi akibat buruk yang dapat timbul

tidak seimbang dengan kemungkinan baik yang dapat terjadi.

Yang menginap di penginapan Manjung hanyalah penjual kelapa,

gerabah dan barang-barang anyaman.”

“Kau bohong.”

“Tidak.”

“Tentu ada beberapa orang saudagar yang menginap.”

“Aku memang melihat ada orang berkuda yang menginap di

penginapan itu. Tetapi pada umumnya mereka membawa

pengawalnya masing-masing.”

“Kau menjadi silau dan berusaha untuk mencegah agar kita

tidak datang ke Manjung.”

“Bukan karena silau. Tetapi menurut perhitunganku, tidak

baik jika kita malam ini datang ke Manjung. Orang-orang upahan

itu masih nampak buas. Para Pengawal dari saudagar-saudagar

berkuda itupun benar-benar telah mempersiapkan diri.”

“Aku tidak dapat kau takut-takuti.”

“Kang, kau jangan kehilangan perhitungan. Maaf Kang, jika

aku menganggap kau terlalu bernafsu untuk mendapat tempat

terhormat di padepokan ini, tetapi kau tidak mau membuat

pertimbangan-pertimbangan yang lebih dalam.”

Orang itu terkejut. Tangan Wira Sampak telah menampar

mulutnya, sehingga bibirnya terasa menjadi pedih.

“Jaga mulutmu agar aku tidak mengoyakkannya.”

Orang itu mengusap mulutnya yang berdarah. Katanya,

“Terserah saja atas tanggapan Kakang Wira Sampak. Tetapi aku

sudah berusaha untuk mencegah malapetaka. Sebenarnyalah

memang ada beberapa orang yang nampaknya saudagarsaudagar

kaya. Mereka datang berkuda dengan satu atau dua

pengawal. Tetapi hari ini agaknya justru terlalu banyak orang di

penginapan. Jika Kakang ingin juga pergi ke Manjung, maka

Kakang harus mengerahkan terlalu banyak orang dari padepokan

ini. Aku tidak yakin, bahwa Ki Gede Lenglengan akan

menyetujuinya. Sedangkan jika yang Kakang bawa hanya

sebanyak kebiasaan yang kita lakukan, maka akibat yang parah

itu akan terjadi seperti Kakang Wira Sidat, maka agaknya Kakang

Wira Sampak pun tidak akan pernah kembali.”

“Diam kau, pengecut,” bentak Wira Sampak. “Aku bukan Wira

Sidat yang dungu itu.”

“Terserahlah kepadamu, Kang.”

Namun tiba-tiba pembicaraan mereka terhenti. Seorang yang

rambutnya ubanan datang mendekat.

“Mari, Kang,” berkata Wira Sampak, “aku sedang menulari

pengecut ini untuk sedikit mempunyai keberanian.”

“Aku hanya memberikan pertimbangan kepada Kakang Wira

Sampak. Terserah kepada Kakang Wira Sampak dan Kakang Sura

Sangga.”

Laki-laki yang rambutnya sudah mulai ubanan itupun

berkata, “Aku sependapat, bahwa malam ini bukan saat yang

baik untuk turun ke Manjung.”

“Kenapa, Kakang Sura Sangga?”

“Manjung memang terlalu ramai hari ini.”

“Dari mana Kakang tahu? Dari ceritera tikus clurut ini?”

“Tidak. Ada orang lain yang menceriterakan kepadaku.

Cakrawara juga baru saja masuk.”

“Cakrawara?”

“Ya. Ia baru saja datang.”

“Apa katanya?”

“Manjung terlalu ramai hari ini.”

“Bukankah keadaan seperti itu yang kita tunggu?”

“Ya. Tetapi hari ini kesibukan di Manjung agak mencurigakan.

Di Pajang, Cakrawara melihat kesibukan yang melebihi takaran.”

“Apakah ada hubungannya?”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi kita harus berhati-hati. Aku

sudah bertemu dan berbicara dengan Ki Gede Lenglengan. Ki

Gede juga tidak berminat untuk memerintahkan sekelompok di

antara kita pergi ke Manjung.”

Wira Sampak itu menarik nafas panjang. Katanya, “Tentu

tidak ada hubungannya antara kesibukan di Manjung dan

kesibukan di barak prajurit itu. Jika hari ini Manjung menjadi

semakin ramai, karena para pedagang, para saudagar dan orangorang

yang akan melintas merasa Manjung telah aman setelah

orang-orang upahan di penginapan itu berhasil menggagalkan

usaha saudara-saudara kita mengumpulkan dana bagi

perjuangan masa depan kita.”

“Mungkin kau benar, Sampak. Tetapi bukankah waktu kita

masih panjang. Kita tidak terlalu tergesa-gesa sehingga

menempuh jalan yang sangat berbahaya. Manjung yang baru saja

merasa menang itu akan menyambut kedatangan kita dengan

hangat jika kita datang malam ini. Seandainya kita berhasil juga,

tetapi korban kita akan terlalu banyak dibandingkan dengan hasil

yang akan kita peroleh.”

Wira Sampak menjadi sangat kecewa. Tetapi ia tidak dapat

memaksakan kehendaknya. Selain orang yang bertugas

mengawasi keadaan di Manjung itu, Cakrawara juga telah

memberikan beberapa pertimbangan sehingga Ki Gede

Lenglengan tidak bermaksud memerintahkan sekelompok orangorangnya

untuk pergi ke Manjung.

Bahkan dalam pada itu, Cakrawara telah minta kepada Ki

Gede Lenglengan untuk mempersiapkan orang-orangnya

menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi di

padepokannya.

“Padepokan kami tersekat dari dunia luar,” berkata Ki Gede

Lenglengan. “Tidak ada orang yang pernah menjamah daerah ini.”

“Jangan menjadi lengah. Mungkin saja orang-orangmu yang

tertangkap ketika kau gagal menguasai penginapan di Manjung

itu berceritera tentang padepokanmu ini.”

“Tidak ada yang akan berceritera. Mungkin ada orang-orangku

yang tertangkap. Tetapi aku yakin, bahwa tidak seorang pun di

antara mereka yang akan berkhianat.”

“Kau terlena dalam mimpimu itu, Ki Gede. Tetapi apa

salahnya jika kita menjadi lebih berhati-hati?”

Ki Gede tertawa. Katanya, “Baik. Baik. Aku akan

memerintahkan beberapa orang mengawasi jalan yang melintasi

sekat itu. Jalan yang tidak pernah dikenal oleh siapa pun kecuali

orang-orangku sendiri.”

“Bukankah kau tidak akan dirugikan jika kau perintahkan

beberapa orang pergi ke sekat itu?”

“Ya. Ya. Aku mengerti.”

Ki Gede Lenglengan memang memanggil seorang

kepercayaannya. Seorang yang tubuhnya terhitung pendek.

Tetapi orang itu nampaknya sangat cekatan.

“He, Ajak Bungkik,” berkata Ki Gede Lenglengan ketika orang

yang bertubuh pendek itu datang menghadap, “pergilah ke sekat

padepokan kita bersama dua atau tiga orang. Awasi. Kau tahu

apa yang harus kau lakukan jika ada orang yang mendekat.”

“Untuk apa sekat itu diawasi, Ki Gede?”

Ki Gede Lenglenganpun membentak, “He, dungu. Kita harus

berhati-hati. Setelah kegagalan kita di Manjung, maka mungkin

sekali ada satu atau dua orang yang tertangkap.”

“Kenapa jika ada di antara kita yang tertangkap? Apakah kita

mencemaskan kemungkinan bahwa di antara mereka ada yang

berkhianat dengan menunjukkan rahasia sekat itu?”

“Ya,” yang menyahut adalah Ki Cakrawara, “hal itu mungkin

saja terjadi.”

Orang bertubuh pendek yang disebut Ajak Bungkik itu

tertawa. Tetapi suara tertawanyapun terputus ketika Ki Gede

Lenglengan membentaknya, “Kenapa kau tertawa?”

Ajak Bungkik itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki

Gede, adakah seorang di antara kita yang berani menyebut

rahasia tempat ini? Mereka yang berani menyebut rahasia ini

akan terkutuk, bukan saja sepanjang hidupnya, tetapi di

dunianya yang lain, ia pun akan terkutuk sepanjang waktu.

Tanpa henti.”

Ki Gede Lenglengan mengangguk-angguk. Katanya, “Kau

benar Bungkik. Tetapi jika ada di antara mereka itu orang-orang

gila yang tidak yakin akan kutukan itu?”

“Baik, Ki Gede. Aku akan pergi ke sekat itu.”

“Dengar, Bungkik,” berkata Ki Cakrawara, “aku melihat

kegiatan sekelompok prajurit di Pajang. Aku pun melihat

Manjung menjadi sangat ramai melebihi takaran.”

“Pergilah, Bungkik. Mungkin ada gunanya kau berada di sekat

itu. Tetapi ingat, jika kau bertindak, kau harus yakin bahwa

tindakanmu itu tuntas. Jika kau ragu, lebih baik kau

bersembunyi saja.”

“Aku mengerti, Ki Gede.”

Ajak Bungkik itupun kemudian telah pergi menemui beberapa

orang kawannya. Kepada mereka, Ajak Bungkik itu telah

menyampaikan perintah Ki Gede Lenglengan untuk pergi ke

sekat.

“Perintah seperti ini belum pernah diberikan oleh Ki Gede,”

berkata seorang kawannya.

“Ki Cakrawara yang mengusulkannya. Tetapi aku dapat

mengerti kecemasan Ki Cakrawara itu. Ia baru saja datang dari

Pajang. Ia seorang yang sangat berhati-hati.”

“Baiklah. Tetapi siapa saja yang akan pergi bersama kita?”

“Tiga atau empat orang.”

Tetapi ketika mereka menyampaikan perintah itu kepada

seorang yang bertubuh tinggi besar dan berdada bidang, maka

orang itu berkata, “Tunggu sebentar. Aku makan dulu. Sore tadi

aku belum makan.”

“Tetapi ini sudah hampir tengah malam. Kita akan sampai di

sekat itu sedikit tengah malam.”

“Biasanya juga tidak pernah diawasi. Tidak akan ada apa-apa.

Tidak ada orang yang pernah menyentuh lingkungan kita.”

“Ki Cakrawara mencemaskan salah seorang di antara kita

yang tertangkap akan membuka rahasia.”

“Tidak akan terjadi. Tidak seorang pun di antara kita yang

akan membiarkan dirinya terkutuk selama-lamanya.”

“Tetapi cepatlah sebelum Ki Gede Lenglengan tahu, bahwa kita

masih berada di sini. Bukan karena rahasia sekat itu. Tetapi

karena kita tidak segera melakukan perintahnya.”

“Jika demikian, biarlah nasiku aku bawa saja. Aku dapat

makan di mana saja.”

Sebenarnyalah, ketika mereka berangkat meninggalkan

padepokan untuk pergi ke sekat, malam pun telah sampai ke

pertengahannya. Embun pun telah mulai menitik dari dedaunan.

Rumput-rumput yang tumbuh di tanggul-tanggul parit telah

mulai basah. Di tengah-tengah sawah, di dedaunan padi, beribu

kunang berkeredipan seperti beribu bintang yang bergayut di

langit.

“Dinginnya,” desah seorang yang berperut buncit.

Ajak Bungkik tertawa pendek. Katanya, “Kau sakit-sakitan

saja selama ini.”

“Aku tidak sakit-sakitan,” jawab orang yang kedinginan.

“Justru kulitku masih peka terhadap perubahan cuaca.”

Kawan-kawannya yang mendengarnya tertawa berbareng.

Dalam pada itu, mereka yang mendapat tugas untuk

mengawasi sekat itu berjalan dengan malas menuruni kaki

Gunung Merapi. Di sebelah-menyebelah bulak yang luas

membentang sampai ke ujung cakrawala.

Namun sebenarnyalah bahwa mereka telah terlambat.

Menjelang tengah malam, orang terakhir dari kelompok terakhir

prajurit Pajang telah memasuki lingkungan yang tersekat itu.

Mereka mengikuti Pangeran Benawa dan Paksi yang sudah

mengenal lingkungan itu dengan baik.

Pasukan Pajang itupun kemudian merayap di belakang

gerumbul-gerumbul perdu, menyusuri sekat yang memanjang,

menjauhi jalan utama di padepokan yang seakan-akan terpisah

dari dunia di sekitarnya itu. Merekapun kemudian berhenti di

pategalan yang rimbun, mengatur diri.

Dengan jelas dan terperinci, Pangeran Benawa menguraikan

medan yang akan mereka hadapi.

Dengan demikian, maka Ki Tumenggung Yudatamapun segera

memberikan perintah-perintah. Padepokan itu harus terkepung.

Tidak seorang pun yang boleh lolos. Apalagi Ki Gede Lenglengan.

“Aku akan berada di dekat Ki Ajar Permati,” berkata Ki

Yudatama. “Demikian pula aku minta Pangeran Benawa dan

Paksi juga ikut mengawasi agar Ki Gede Lenglengan tidak luput

dari tangan kita.”

Setelah memberikan perintah-perintahnya kepada para

prajurit, maka Ki Yudatamapun kemudian berkata, “Sekarang,

bergeraklah. Hati-hati. Kita tidak boleh kehilangan kesempatan

terbaik ini.”

Namun dalam pada itu, Paksipun berkata, “Ki Tumenggung,

meskipun menurut keterangan yang kami dapatkan, anak-anak

muda yang dicadangkan bagi angkatan mendatang itu tidak ada

di sini, namun aku minta agar para prajurit tetap melihat

kemungkinan itu. Jika mereka menemui anak-anak muda dalam

kelompok tertentu, aku mohon, agar mereka mendapat perlakuan

yang khusus. Mungkin mereka adalah anak-anak muda yang

sedang diracuni otaknya itu.”

“Bukankah kau ingin mengatakan, bahwa kita jangan

mengganggu adikmu?”

“Seperti itu, Ki Tumenggung. Tetapi tidak seutuhnya. Selain

adikku, maka anak-anak muda itu juga harus mendapat

perlakuan khusus.”

“Baik. Aku akan memerintahkannya kepada setiap pemimpin

kelompok.”

Sejenak kemudian, maka pesan-pesan terakhirpun telah

diberikan. Serentak, para prajurit itupun mulai bergerak sesuai

dengan petunjuk-petunjuk yang telah mereka terima.

Di malam yang gelap, kelompok-kelompok prajurit itu telah

merayap di sepanjang pematang, mendekati sebuah padepokan

yang terhitung besar, justru berada di dunia yang seakan-akan

terpisah dari dunia yang lain.

Mereka semuanya, termasuk Ki Tumenggung Yudatama belum

pernah melihat lingkungan itu. Tetapi petunjuk dan ancar-ancar

yang diberikan oleh Pangeran Benawa dan Paksi demikian

jelasnya, sehingga seakan-akan mereka merasa pernah datang

mengunjungi dunia yang terpisah itu.

Malampun semakin lama menjadi semakin dalam. Semua

prajurit Pajang telah berada di tempatnya. Mereka tinggal

menunggu isyarat sebagaimana disepakati. Panah sendaren.

Ki Tumenggung Yudatama telah mengisyaratkan pula kepada

para prajuritnya, bahwa mereka dapat memanfaatkan saat-saat

terakhir untuk sekedar beristirahat menjelang fajar menyingsing.

Dalam pada itu, Ajak Bungkik dan kawan-kawannya yang

berada di mulut sekat yang memisahkan dunianya dengan dunia

di luarnya, duduk terkantuk-kantuk di atas sebongkah batu yang

besar. Dengan mata yang separo terpejam, orang yang bertubuh

tinggi, berbadan besar itupun berkata, “Untuk apa kita berada di

sini sampai fajar merekah? Kita bukan orang-orang yang

menyempatkan diri mengagumi terbitnya matahari di pagi hari.”

“Pada saat terang tanah, kita kembali,” berkata orang yang

perutnya buncit.

“Tidak,” sahut Ajak Bungkik, “kita akan berada di sini sampai

matahari terbit. Setelah itu, baru kita yakin bahwa tidak ada

orang yang menyusup memasuki lingkungan ini.”

Yang lain tidak membantah. Tetapi orang yang bertubuh tinggi

besar itu justru berbaring di atas baru yang besar meskipun

sambil menggeramang, “Batunya basah. Apakah tadi di sini

hujan?”

“Kau benar-benar bodoh. Batu itu tidak basah karena hujan.

Tetapi oleh embun.”

“O,” orang itu tidak menghiraukannya. Hanya beberapa saat

saja kemudian ia sudah mendengkur.

Ketika seorang kawannya akan membangunkannya, Ajak

Bungkik itu berkata, “Biar saja. Bukankah kita tidak berbuat

apa-apa?”

“Apakah aku juga boleh tidur?” bertanya orang itu.

“Tidurlah,” jawab Ajak Bungkik.

Orang itu memang benar-benar akan berbaring. Tetapi

ternyata tidak ada tempat yang kering, sehingga akhirnya ia

duduk saja sambil memeluk lututnya.

Dalam pada itu, langitpun mulai menjadi terang. Cahaya

merah nampak membayang di atas cakrawala di sebelah timur.

“Sudah siang,” berkata orang yang perutnya buncit.

“Kenapa kita harus tergesa-gesa,” sahut Ajak Bungkik.

Orang yang perutnya buncit itu tidak menyahut.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung Yudatama yang sudah berada

di tempat yang ditentukan, telah memanggil dua orang

penghubungnya. Dari tempatnya, Ki Tumenggung telah melihat

remang-remang padepokan yang terhitung besar itu dikelilingi

oleh dinding yang kokoh.

“Fajar sudah menyingsing,” berkata Ki Tumenggung Yudatama

yang mengambil keputusan untuk menyerang padepokan itu

setelah fajar. Ki Tumenggung mempertimbangkan, bahwa para

penghuni padepokan itu tentu telah mengenal medan jauh lebih

baik dari para prajuritnya, sehingga jika pertempuran terjadi

malam hari, prajuritnya akan mengalami kesulitan menghadapi

medan.

Karena itu, untuk mencari keseimbangan atas medan, maka

Ki Tumenggung telah menentukan bahwa serangan akan dimulai

setelah fajar.

Setelah semuanya dianggap mapan, maka Ki Tumenggungpun

bertanya kepada Ki Ajar Permati, “Bagaimana menurut

pertimbangan Ki Ajar?”

“Aku kira saatnya sudah tepat, Ki Tumenggung.”

“Baiklah. Aku akan memerintahkan para penghubung yang

bertugas untuk melepaskan panah sendaren.” Lalu katanya

kepada Pangeran Benawa dan Paksi, “Aku mohon Pangeran

Benawa mempersiapkan diri. Aku akan segera mulai.”

“Baik, Ki Tumenggung.”

“Dan kau juga, Paksi.”

“Ya, Ki Tumenggung.”

Ki Tumenggungpun kemudian telah mengangkat tangannya,

sementara itu lima orang telah bersiap dengan busur dan panah

sendarennya.

Ketika Ki Tumenggung Yudatama menurunkan tangannya,

maka kelima anak panah sendaren itupun telah meluncur

dengan cepat ke udara.

Sejenak kemudian, dengung anak panah sendaren itupun

telah menggetarkan udara di atas padepokan yang letaknya

terpencil itu.

Seluruh isi padepokan yang sudah terbangun terkejut

mendengar suara sendaren itu. Yang masih tidur karena bertugas

di malam hari telah terbangun pula.

“Ada apa ini?” bertanya Ki Gede Lenglengan yang juga sudah

bangun.

Dengan tergesa-gesa Ki Cakrawarapun menemui Ki Gede

sambil berkata, “Ki Gede, ternyata kecurigaanku atas kesibukan

para prajurit serta kesibukan di Manjung yang melampaui

takaran itu terbukti sekarang.”

“Terbukti bagaimana?”

“Kau dengar suara panah sendaren?”

“Ya. Aku dengar.”

“Apa artinya menurut pendapatmu?”

“Akan ada serangan.”

“Kau benar.”

Ki Cakrawara menarik nafas dalam-dalam, sementara Ki Gede

Lenglengan itupun berkata, “Lalu setelah aku mengakui

kebenaranmu, maka kita akan bertempur melawan mereka.”

“Ya. Tetapi apa kerja Ajak kerdil itu, he?”

“Mungkin Ajak Bungkik itu sudah mati dibunuh orang-orang

yang datang itu.”

“Mungkin,” desis Ki Cakrawara.

Dalam pada itu, beberapa orang kepercayaan Ki Gede berlarilari

menemuinya.

“Bukankah suara itu suara panah sendaren?” bertanya Wira

Sampak.

“Ya,” jawab Ki Gede Lenglengan.

“Apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang, Ki Gede?”

“Pertanyaan yang bodoh. Bukankah kita semua sudah tahu,

bahwa kita harus segera bersiap dan menghadapi mereka?”

“Apakah kita harus mengerahkan semua kekuatan, Ki Gede?

Bagaimana dengan orang-orang yang selama ini kita pekerjakan

di padepokan ini?” bertanya Sura Sangga.

“Bukankah sebagian dari mereka sudah mulai dapat kita

percaya bahwa mereka akan bertempur untuk kita?”

“Ya. Sebagian.”

“Mereka yang masih sangat meragukan, masukkan saja ke

dalam bilik tahanan. Tutup semua pintu dan selarak dengan

kuat.”

“Baik, Ki Gede.”

“Kita harus bergerak cepat, Ki Gede,” berkata Ki Cakrawara.

“Ya. Tetapi orang-orangku tidak menduga bahwa hal seperti

ini akan terjadi.”

“Kita harus segera mengatur pertahanan sebaik-baiknya.”

Ki Gede Lenglenganpun kemudian telah memberikan perintahperintah

kepada beberapa orang kepercayaannya yang datang

menemuinya. Pada umumnya mereka merasa gelisah. Peristiwa

itu demikian tiba-tiba saja dihadapkan di muka hidung mereka.

Namun pengalaman mereka yang luas telah dapat menuntun

mereka untuk segera berada di tempat-tempat yang penting

untuk mempertahankan padepokan mereka.

Tetapi para prajurit telah bergerak dengan cepat. Ketika

sekelompok orang di dalam padepokan itu bergerak untuk

menutup pintu gerbang yang terbuka, maka beberapa orang

prajurit telah berada di pintu gerbang, sehingga pertempuranpun

segera terjadi.

Sura Sangga yang berdiri di halaman depan itupun telah

meneriakkan aba-aba. Sementara Wira Sampak memimpin

sekelompok orang di bagian belakang padepokannya. Sedangkan

kepercayaan Ki Gede Lenglengan yang lain, telah berteriak-teriak

di antara barak-barak di padepokan itu. Namun sebagian dari

mereka telah memasukkan beberapa orang pekerja yang masih

dianggap meragukan ke dalam bilik tahanan yang memanjang

namun tertutup rapat. Pintu-pintunyapun telah diselarak dengan

kuat. Beberapa orang masih juga mendapat perintah untuk

menjaga orang-orang yang masih dianggap meragukan itu.

Dalam pada itu, Ajak Bungkik masih berada di sekat yang

memisahkan padepokannya dengan dunia luar. Ia tidak

mendengar suara panah sendaren yang dilontarkan oleh para

penghubung prajurit Pajang itu. Karena itu, Ajak Bungkik itu

masih saja berada di tempatnya.

Baru kemudian, setelah langit menjadi semakin terang, iapun

mengajak kawan-kawannya untuk kembali ke padepokan.

Namun seorang di antara kawan-kawannya itupun bertanya,

“Apakah tidak mungkin, seseorang atau sekelompok orang

memasuki sekat ini di siang hari?”

“Tidak. Orang-orang tersesat mungkin saja memasuki

lingkungan kita meskipun ia tidak gila. Namanya saja juga

tersesat. Artinya, ia tidak tahu di mana ia berada dan ke mana ia

harus pergi.”

“Tetapi mereka tidak akan menemukan jalur jalan untuk

melampaui sekat yang rumit itu.”

“Mungkin justru tanpa disengaja.”

“Kau tidak yakin, bahwa sekat itu telah memisahkan kita dari

dunia luar?” Ajak Bungkik mulai menjadi jengkel.

Kawan-kawannya tidak menjawab. Jika Ajak Bungkik itu

marah, maka ia tentu akan mengajak bertengkar dan kemudian

menantang berkelahi. Di antara mereka, bahkan yang bertubuh

raksasa itu, tidak akan ada yang dapat mengalahkan Ajak

Bungkik.

Dengan demikian, maka pembicaraan merekapun terputus.

Mereka berjalan saja seenaknya sambil menikmati segarnya

udara pagi di kaki Gunung Merapi.

Burung-burung liarpun terdengar berkicau dengan gembira.

Suaranya mengumandang menyusup di antara dedaunan.

Ajak Bungkik itu menarik nafas panjang. Jarang sekali ia

sempat memperhatikan, betapa segarnya udara pagi di kaki

Gunung Merapi itu. Bahkan tiba-tiba saja Ajak Bungkik itu

terkejut melihat ujung Gunung Merapi yang menjadi merah

menyala. Seakan-akan ujung gunung itu sedang membara.

“He, apa yang terjadi?”

“Ada apa?” bertanya kawannya.

“Kenapa ujung Gunung Merapi itu?”

“Apakah kau belum pernah melihatnya?”

Ajak Bungkik itu terdiam. Sementara kawannya berkata,

“Sebentar lagi matahari akan terbit. Sinarnya sudah mulai

terlempar ke ujung gunung itu. Warna merah itu akan menjalar

menuruni tebing. Namun kemudian akan hilang dengan

sendirinya jika matahari kemudian sudah mulai nampak.”

Ajak Bungkik itu mengerutkan dahinya. Tiba-tiba saja

jantungnya menjadi berdebar-debar. Menurut perasaannya, alam

pagi itu menjadi sangat ramah kepadanya. Oleh hembusan angin

pagi, daun padi yang hijau segar itu seakan-akan melambaikan

tangannya, mengucapkan selamat jalan kepadanya.

“Aku tidak akan pergi ke mana-mana,” tiba-tiba saja Ajak

Bungkik itu berdesis.

“Apa yang kau katakan?” bertanya kawannya yang mendengar

desis Ajak Bungkik itu, tetapi tidak jelas bunyinya.

“Tidak apa-apa,” sahut Ajak Bungkik itu.

Semakin lama, merekapun menjadi semakin dekat dengan

padepokan mereka yang tertutup di tempat terpencil itu.

Dalam pada itu, pertempuran sudah berlangsung dengan

sengitnya. Terutama di pintu gerbang. Sekelompok prajurit

berusaha menembus pintu gerbang yang akan ditutup itu.

Namun para prajurit dengan cepat dapat mencegahnya, sehingga

pertempuran telah terjadi.

Sementara itu, beberapa orang prajurit yang lain berusaha

untuk memasuki padepokan itu dari pintu butulan. Ada beberapa

pintu butulan yang sempat ditutup dan diselarak dari dalam.

Namun para prajurit itu berusaha untuk memecahkan pintu

butulan itu.

Adalah satu kelengahan, bahwa orang-orang padepokan itu

merasa bahwa tempatnya tidak akan terusik. Karena itu, maka

pintu gerbang maupun pintu-pintu butulan tidak dibuat cukup

kuat sehingga mudah dipecahkan.

Seorang prajurit yang bertubuh tinggi besar mengayunkan

kapaknya untuk memecah pintu butulan itu. Sekali dua kali,

kapaknya masih belum berhasil. Namun kemudian daun pintu

regol butulan itupun mulai pecah.

Dalam pada itu, sekelompok pengikut Ki Gede Lenglengan

telah bersiap-siap di belakang pintu regol butulan itu untuk

menyongsong para prajurit yang akan segera memasuki halaman

samping padepokan yang untuk beberapa lama terpisah dari

dunia di sekitarnya.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, pintu regol

butulan itupun benar-benar telah pecah. Demikian pintu itu

roboh, maka ujung-ujung senjatapun telah mencuat dari

belakang pintu yang roboh itu.

Tetapi para prajuritpun telah siap menghadapinya.

Sekelompok prajurit yang membawa perisai di tangan kirinya,

bergerak maju sambil melindunginya dirinya.

Ternyata bahwa para pengikut Ki Gede Lenglengan di pintu

gerbang butulan itu sulit untuk membendung arus yang

mendesak dari luar, yang datang melanda dengan derasnya

seperti arus air yang meluap dari bendungan yang dadal.

Dengan demikian, maka pertempuranpun mulai merembes ke

dalam lingkungan padepokan. Sementara para prajurit belum

berhasil menembus pertahanan di pintu gerbang utama, karena

para pengikut Ki Gede Lenglengan mempertahankan mati-matian,

sekelompok prajurit yang lain telah berhasil masuk ke dalam

padepokan lewat regol butulan.

Seorang penghubungpun segera memberitahukan kepada

kelompok-kelompok yang lain, agar mereka memasuki pintu yang

sudah berhasil dibuka itu.

Sekelompok prajurit yang memasuki regol butulan yang

terbuka itupun langsung berlari-larian ke pintu gerbang induk.

Beberapa di antara mereka terhenti karena para pengikut Ki Gede

Lenglengan telah menghambatnya. Namun sebagian yang lain

telah berhasil mencapai pintu gerbang induk.

Dengan mengerahkan kekuatan yang ada, mereka telah

menyerang para pengikut Ki Gede Lenglengan yang bertahan di

pintu gerbang induk itu dari belakang.

Mereka yang mempertahankan pintu gerbang induk itu

terkejut. Baru mereka sadari, bahwa salah satu pintu butulan

tentu sudah terbuka, sehingga para prajurit itu dapat memasuki

dinding padepokan. Bahkan semakin lama menjadi semakin

banyak.

Sura Sangga yang memimpin para cantrik di halaman depan,

masih saja berteriak-teriak memberikan aba-aba. Namun karena

prajurit Pajang masih saja mengalir, maka para cantrik yang

mempertahankan pintu gerbang utama itu telah mengalami

kesulitan. Mereka harus bertempur melawan pasukan yang

datang dari luar. Tetap mereka pun harus menghadapi para

prajurit yang sudah berhasil memasuki padepokan itu.

Apalagi ketika sekelompok prajurit telah berhasil membuka

satu pintu butulan lagi dari dalam. Mereka mengangkat selarak

yang berat dan kemudian membuka pintu regol butulan itu.

Ki Gede Lenglengan dan Ki Cakrawara tidak dapat tinggal

diam. Setiap kali pengikutnya telah datang menemui mereka,

memberikan laporan tentang arus prajurit Pajang yang tidak

terbendung.

“Kau yakin, bahwa mereka adalah prajurit Pajang?”

“Ya, Ki Gede. Nampak beberapa tunggul yang dibawa oleh para

prajurit. Ada pula kelebet lambang kelompok-kelompok di dalam

kesatuan mereka lebih besar.”

“Bagaimana mereka dapat mengetahui tempat ini?”

“Tentu ada pengkhianatan. Bukankah aku sudah

memperingatkanmu, bahwa di antara mereka yang tertangkap,

tentu akan dapat terungkap keterasingan padepokanmu ini?”

sahut Ki Cakrawara.

“Pengkhianat itu tentu akan dikutuk sepanjang jaman.”

“Kalau ia terkutuk sepanjang jaman, apa yang akan terjadi

padanya?”

“Ia akan dibakar di api neraka.”

“Apakah mereka percaya kepada neraka?”

“Tentu. Setiap orang harus mempercayainya.”

“Kau juga percaya?”

Ki Gede Lenglengan termangu-mangu sejenak.

Namun sambil tertawa Ki Cakrawara itupun berkata, “Jika

kau percaya bahwa orang-orang yang terkutuk akan masuk

neraka, maka kau tidak akan berbuat sebagaimana kau lakukan

selama ini.”

“Kau juga.”

“Itulah anehnya.” Namun Ki Cakrawara itupun berkata,

“Sudahlah. Waktu kita sedikit. Kita akan turun ke medan.”

Ki Gede Lenglengan menarik nafas dalam-dalam. Katanya,

“Kita tidak perlu cemas. Tidak ada orang yang dapat

mengimbangi ilmuku. Aku akan membunuh mereka seorang demi

seorang sampai orang yang terakhir.”

“Dan kau masih juga mengatakan, bahwa kau percaya bahwa

orang-orang yang terkutuk akan dilemparkan ke neraka?”

“He?”

“Sudahlah. Turunlah ke medan. Kau tidak boleh terlalu

sombong dan merendahkan lawan-lawanmu. Kau akan

menyesal.”

Tetapi Ki Gede Lenglengan tertawa. Katanya, “Aku tidak

pernah merendahkan lawan-lawanku. Salah mereka jika mereka

benar-benar rendah di mataku. Tidak akan ada orang yang

mampu menyamai kemampuanku sekarang ini.”

Ki Cakrawarapun kemudian telah beranjak dari tempatnya

sambil berkata, “Aku akan melihat medan. Terserah kepadamu.

Padepokan ini adalah padepokanmu. Jika kau masih akan duduk

sambil melamun, lakukanlah. Tetapi kau akan terkejut jika tibatiba

ujung sebilah keris melekat di lehermu.”

Ki Gede Lenglengan tidak menjawab. Tetapi ia tertawa

berkepanjangan.

Dalam pada itu, Ki Cakrawarapun telah turun ke longkangan

di belakang bangunan utama Padepokan Watukambang. Bersama

dengan dua orang pengawalnya, Ki Cakrawara itupun melangkah

ke samping. Dari longkangan sudah terdengar riuhnya

pertempuran. Beberapa orang telah berteriak-teriak keras sekali.

Sementara itu di sisi yang lain, sekelompok orang bersorak-sorak

menyoraki kemenangan-kemenangan kecil yang mereka dapatkan

di medan.

Langkah Ki Cakrawara tertegun. Ki Gede Lenglengan telah

memanggilnya.

“Aku pergi bersamamu, Ki Cakrawara,” berkata Ki Gede

Lenglengan.

Ki Cakrawara memang menunggu Ki Gede Lenglengan yang

diikuti oleh sepuluh orang pengawalnya yang terbaik.

“Di mana pemimpin mereka?” bertanya Ki Gede Lenglengan

kepada orangnya yang memberikan laporan kepadanya itu.

“Kami tidak tahu, Ki Gede. Yang kami ketahui hanyalah

pemimpin-pemimpin kelompok di antara mereka. Tetapi kami

belum melihat senapati mereka yang memegang pimpinan

tertinggi pasukan Pajang itu.”

“Mungkin senapati itu mempergunakan ciri khusus. Tetapi

mungkin pula tidak.”

“Kita tidak usah mencarinya,” berkata Ki Cakrawara. “Jika

kita berada di halaman depan, membunuh lawan sebanyakbanyaknya,

maka pemimpin mereka tentu akan menemui kita.”

Ki Gede Lenglengan tertawa. Katanya, “Aku setuju. Aku pun

akan membunuh sebanyak-banyaknya. Bahkan prajurit Pajang

yang ada di halaman depan itu akan mati semuanya jika kita

berada di antara mereka.”

Ki Cakrawara tidak menjawab. Tetapi ia melangkah semakin

cepat menuju ke halaman depan Padepokan Watukambang.

Tetapi langkah mereka tertegun. Sekelompok prajurit berlarilari

ke arah mereka.

Para pengawal Ki Gede Lenglengan dan Ki Cakrawara segera

menyongsong para prajurit itu, sehingga merekapun segera

terlibat dalam pertempuran.

Ki Cakrawara dan Ki Gede Lenglengan sempat menyaksikan

pertempuran itu sejenak. Namun merekapun kemudian telah

meninggalkan mereka. Berdua, tanpa seorang pengawal pun

keduanya pergi ke halaman depan.

Para prajurit yang bertempur dengan para pengawal Ki Gede

dan Ki Cakrawara itu tidak sempat meninggalkan lawan-lawan

mereka karena mereka segera terlibat dalam pertempuran yang

sengit.

Para pengawal terpilih itu segera telah mendesak sekelompok

prajurit yang menyerang mereka dengan hentakan-hentakan yang

sempat mengejutkan.

Namun para prajurit itupun segera bangkit. Mereka adalah

prajurit yang telah mengalami latihan khusus untuk menghadapi

tugas yang terberat sekalipun.

Karena itu, maka sekelompok prajurit itupun segera

menghimpun kekuatan mereka mengimbangi hentakan-hentakan

para pengawal Ki Gede Lenglengan dan Ki Cakrawara.

Dengan demikian, maka pertempuranpun menjadi semakin

sengit. Kedua belah pihak memiliki kelebihan dari yang lain,

sehingga mereka saling menyerang, saling mendesak dan saling

bertahan.

Dalam pada itu, Ki Cakrawara dan Ki Gede Lenglengan telah

berada di halaman depan. Mereka menyaksikan pertempuran

yang menjadi semakin seru. Prajurit Pajang yang memasuki

halaman depan itu menjadi semakin banyak.

Ki Cakrawara termangu-mangu sejenak melihat kesigapan

para prajurit Pajang. Mereka adalah prajurit-prajurit yang benarbenar

telah terlatih dengan baik.

“Kau biarkan saja orang-orangmu semakin menyusut?”

bertanya Ki Cakrawara.

“Gila, orang-orang Pajang. Mereka mengira bahwa hanya

mereka sajalah yang mampu bertempur dengan garang.”

“Jangan tunggu sampai orangmu yang terakhir.”

Ki Gede Lenglenganpun menggeram. Iapun kemudian

melangkah memasuki medan pertempuran bersama Ki

Cakrawara.

Kedua orang itu ternyata adalah orang-orang yang terlalu

garang. Ketika para prajurit menyadari bahwa keduanya adalah

orang yang berilmu tinggi, maka para prajurit itupun segera

bertempur di dalam kelompok-kelompok kecil untuk menghadapi

Ki Cakrawara dan Ki Gede Lenglengan.

Namun kelompok-kelompok kecil itu ternyata tidak mampu

menahan gerak Ki Cakrawara dan Ki Gede Lenglengan. Satu-satu

prajurit yang bertempur dalam kelompok-kelompok kecil itu

terlempar dari arena.

Ki Cakrawara dan Ki Gede Lenglengan memang benar-benar

berniat melaksanakan niatnya untuk membunuh lawan

sebanyak-banyaknya.

Namun tiba-tiba saja Ki Gede Lenglengan tertegun. Seperti

melihat hantu, ia melihat seorang tua yang menguak prajurit

Pajang yang sedang bertempur itu.

“Apakah aku berhadapan dengan hantu?” desis Ki Gede

Lenglengan.

Ki Cakrawara yang mendengar suara Ki Gede itupun meloncat

mendekatinya sambil bertanya, “Ada apa?”

“Orang itu.”

“Kenapa dengan orang itu?”

Ki Gede Lenglengan tidak segera menjawab. Orang tua itulah

yang melangkah semakin lama menjadi semakin dekat.

Orang itu berhenti beberapa langkah di depan Ki Gede

Lenglengan yang telah ditinggalkan oleh sekelompok prajurit

Pajang yang bertempur melawannya.

Ki Cakrawarapun telah berhenti bertempur pula. Ia melihat

betapa wajah Ki Gede Lenglengan menjadi tegang seakan-akan Ki

Gede itu benar-benar melihat hantu.

“Kau masih ingat kepadaku, Lenglengan?” bertanya orang

yang melangkah mendekat itu.

Ki Gede Lenglengan menjadi sangat tegang. Dipandanginya

orang itu dengan tajamnya, seakan-akan sorot matanya itu

langsung menembus sampai ke jantung.

“Kau tentu tidak lupa kepadaku, Lenglengan. Aku memang

bertambah tua dari tahun ke tahun. Tetapi dalam beberapa

tahun terakhir ini, aku tidak terlalu banyak berubah. Aku tahu

itu, jika aku bercermin di belumbang.”

“Iblis tua .Bukankah kau sudah mati?”

“Kaulah yang mengira bahwa aku sudah mati. Tetapi aku

belum mati, Lenglengan. Jika aku sudah mati, maka tentu aku

sekarang tidak akan berada di sini.”

“Siapa orang ini, Ki Gede?” bertanya Ki Cakrawara.

“Ajar Permati. Namanya Ajar Permati. Ia sudah mati beberapa

tahun yang lalu. Aku sendiri melemparkan mayatnya ke dalam

jurang. Tetapi agaknya ia telah menjadi hantu atau iblis, sehingga

ia sempat datang kepadaku pada waktu yang gawat seperti ini.”

“Kau terlalu tergesa-gesa mengambil kesimpulan pada waktu

itu, Lenglengan. Ternyata waktu aku kau lemparkan ke jurang

itu, aku belum mati.”

“Jadi, kaulah yang menjadi cecunguk para prajurit Pajang ini?

Kau bawa mereka untuk membalas dendam kepadaku?”

“Bukan aku. Aku memang bekerja sama dengan para prajurit

Pajang, Lenglengan. Tetapi tidak semata-mata untuk membalas

dendam. Aku datang untuk menghentikan kegiatanmu,

mempersiapkan kekacauan di masa depan. Para prajurit Pajang

telah menenun usahamu meracuni anak-anak muda, bekerja

sama dengan Harya Wisaka, untuk membentuk apa yang kalian

namakan angkatan mendatang.”

“Omong kosong. Kau tidak tahu apa-apa tentang angkatan

mendatang.”

“Aku memang tidak tahu apa-apa. Para prajurit Pajanglah

yang tahu tentang angkatan mendatang itu. Karena itu, mereka

telah datang kemari.”

“Kau manfaatkan kesempatan ini untuk membalas dendam?”

“Lenglengan, jika kau mau menyerah kepada para prajurit

Pajang, maka aku akan melupakan apa yang telah terjadi. Buat

apa aku mendendammu?”

“Kau licik, Permati. Kau hadapi aku dengan cara yang tidak

pantas.”

“Aku tidak tahu maksudmu, Lenglengan.”

“Jika kau datang tanpa prajurit Pajang, aku akan

menghormatimu. Jika kau ingin membuat penyelesaian antara

dua orang laki-laki, aku akan melayanimu. Tetapi cara yang kau

tempuh ini sangat memuakkan.”

“Lenglengan, sudah aku katakan, bahwa prajurit Pajang itu

datang karena kau berdiri di pihak Harya Wisaka. Bahkan kau

sudah mempersiapkan apa yang kau sebut angkatan mendatang.

Karena itu, maka Pajang merasa perlu untuk menghancurkan

padepokan ini. Karena itu, sebelum pertumpahan darah ini

menjadi semakin berlarut, menyerah sajalah. Jika kau menyerah,

persoalan di antara kita pun akan aku lupakan.”

“Permati, kau akan melihat bahwa sebentar lagi orang terakhir

dari prajurit Pajang itu akan mati. Aku akan membunuh mereka

semuanya. Tidak seorang pun akan tertinggal. Nah, kemudian

kita akan menyelesaikan persoalan kita.”

“Sudahlah. Jangan berbelit-belit. Sebaiknya kau segera

menyerah. Dengan demikian, maka jumlah kematian akan

dikurangi. Sementara itu persoalan di antara kitapun akan kita

anggap sudah selesai.”

“Cukup, Permati. Kau tidak usah banyak bicara. Jika kau

memang datang untuk menjajagi kemampuanku, aku akan

melayanimu.”

“Baiklah, Lenglengan. Jika kau benar-benar mengeraskan

hatimu.”

“Aku selesaikan tugasku sebagai pemimpin padepokan ini

dahulu, Permati. Baru akan melayanimu.”

“Tidak. Aku tidak akan membiarkan kau membunuh lagi.

Menurut pendapatku, kau sudah terlalu banyak membunuh.”

“Tetapi aku masih akan membunuh lagi. Setidak-tidaknya

seorang.”

“Aku tahu. Tentu akulah yang kau maksud. Tetapi kau akan

kecewa bahwa kau tidak akan berhasil melakukannya.”

Ki Gede Lenglengan tertawa. Katanya, “Kau sedang berkhayal,

Permati.”

Namun Cakrawara tiba-tiba menyela, “Kenapa kau hanya

berbicara saja, Lenglengan? Lakukan yang akan kau lakukan.

Aku akan berada di antara mereka yang sedang bertempur. Jika

kau tidak dapat melakukannya karena kau melayani orang itu,

biarlah aku membunuh semua prajurit yang ada di halaman ini.”

Ki Gede Lenglengan mengangguk. Katanya, “Biarlah. Biarlah

Sura Sangga membantumu. Sebelum matahari sampai ke

puncak, semua prajurit yang memasuki padepokan ini sudah

akan mati. Ajar yang malang inilah yang justru akan mati lebih

dahulu.”

Ki Ajar Permati tidak menjawab. Tetapi ia tersenyum sambil

bergeser selangkah surut.

Seperti yang dikatakannya, maka Ki Cakrawarapun segera

meninggalkan Ki Gede Lenglengan terjun ke medan pertempuran.

Dengan ilmunya yang sangat tinggi, maka Ki Cakrawara yakin,

bahwa ia akan dapat membunuh seberapa saja yang ia

kehendaki. Apalagi di halaman itu terdapat juga para pengikut Ki

Gede Lenglengan yang dipimpin oleh Sura Sangga.

Dengan garangnya, maka Ki Cakrawara itu bertempur

menghadapi sekelompok kecil prajurit Pajang. Dalam waktu yang

singkat, dua di antara para prajurit terpilih dari Pajang itu telah

terlempar dari arena. Meskipun mereka masih dapat bangkit

berdiri, namun dari mulut mereka mengalir darah. Dada mereka

terasa bagaikan terhimpit oleh sebongkah batu karang. Sehingga

karena itu, maka keduanya sudah tidak mampu lagi untuk

bertempur melawan Ki Cakrawara yang garang itu.

Sekejap kemudian, maka seorang prajurit Pajang menggeliat

ketika lambungnya tersentuh tiga jari-jari tangan Ki Cakrawara.

Namun prajurit itupun segera jatuh terbaring di tanah, sehingga

hampir saja tubuhnya justru terinjak oleh kawannya sendiri.

Namun kawan-kawannya masih belum sempat mengangkat

dan menyingkirkan tubuh itu menepi. Ki Cakrawara benar-benar

menjadi sangat garang. Jari-jari tangannya yang kokoh

mengembang, menerkam orang-orang terdekat. Ketika jari-jari itu

sempat menyentuh pundak seorang prajurit, maka pundak

itupun terkoyak.

Namun Ki Cakrawara itu terkejut ketika di antara prajurit

Pajang itu terdapat seorang yang masih terhitung muda, langsung

menghadapinya. Bahkan orang itu pun telah minta kepada para

prajurit untuk meninggalkannya.

“Serahkan orang ini kepadaku,” berkata orang yang masih

terhitung muda itu.

Ki Cakrawara meloncat surut. Diamatinya orang itu dengan

seksama. Namun tiba-tiba saja iapun berdesis, “Kaukah Pangeran

Benawa?”

“Kau pernah mengenal aku? Kapan dan di mana?” bertanya

Pangeran Benawa.

“Kau dikenali setiap orang di kotaraja. Kau sering berkuda

berkeliling kota. Kau sering bermain sodoran di alun-alun. Kau

justru berada di mana-mana. Bahkan di pasar dan di pasar

hewan.”

“Kau kenali aku meskipun aku tidak mengenakan pakaian

kepangeranan?”

“Mataku lebih tajam dari mata burung hantu di malam hari,

Pangeran. Mungkin orang lain tidak dapat mengenalimu. Tetapi

kau tidak dapat mengelabuhi aku.”

“Baik. Aku tidak akan ingkar. Aku memang Benawa.”

“Kenapa Pangeran berada di sini dalam keadaan yang buruk

ini, bahkan akan dapat membahayakan jiwa Pangeran?”

“Aku berada di dalam pasukan Pajang yang datang untuk

menangkap Ki Gede Lenglengan.”

“Kenapa Ki Gede Lenglengan harus ditangkap?”

“Kau tentu tahu jawabnya,” sahut Pangeran Benawa. Namun

kemudian iapun bertanya, “Kau siapa, Ki Sanak?”

“Namaku Cakrawara, Pangeran. Aku dikenali sebagai seorang

yang memiliki ilmu siluman, meskipun sebenarnya tidak. Ilmuku

adalah ilmu yang wajar-wajar saja. Tetapi karena aku ditempa

oleh seorang yang ilmunya sangat tinggi dan kemudian aku

berhasil menyadap sampai tuntas, maka aku pun berilmu sangat

tinggi.”

“Mengagumkan. Karena itu agaknya maka kau dapat

menghalau beberapa orang prajurit dalam waktu dekat.”

“Ya. Dalam waktu yang pendek, prajurit-prajurit Pajang di

padepokan ini akan mati. Apalagi setelah Ki Gede Lenglengan

membunuh orang tua yang namanya Permati itu, maka para

prajurit Pajang akan segera dilibat oleh angin pusaran yang

dahsyat, sehingga boleh keluar dari padepokan yang tersekat ini

hidup-hidup.”

“Kau tentu bukan murid Ki Gede Lenglengan.”

“Tentu bukan.”

“Apa hubunganmu dengan Ki Gede Lenglengan?”

“Aku sahabatnya. Aku bekerja sama dengan Ki Gede

Lenglengan untuk menangkap masa depan. Setelah Harya Wisaka

ditangkap, maka kami harus menyusun rencana sendiri.”

“Dalam mimpimu kau menganyam masa depan. Bangunlah,

dan hadapi kenyataan ini. Kau tidak akan dapat berbuat banyak

di hadapan para prajurit pilihan.”

“Kau lihat, Pangeran. Dalam waktu sekejap aku telah

menyingkirkan beberapa orang prajurit. Bukankah akan sangat

mudah membunuh mereka? Para cantrik padepokan inilah yang

akan menghabisi mereka yang sudah tidak berdaya.”

“Aku akan menghentikanmu, Cakrawara.”

“Pangeran akan melibatkan diri?”

“Aku sudah melibatkan diri. Aku adalah salah satu dari para

prajurit Pajang itu.”

“Baik. Kaupun memang harus dibunuh karena kau akan

dapat membuka rahasia padepokan yang tersembunyi ini.”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya ia

berhadapan dengan seorang yang terlalu yakin akan ilmunya

yang sangat tinggi.

Pangeran Benawapun kemudian bergeser selangkah surut.

Dipersiapkannya dirinya untuk menghadapi segala kemungkinan.

Pangeran Benawapun menyadari, bahwa lawannya memang

seorang yang berilmu tinggi.

“Pangeran,” berkata Ki Cakrawara, “kedatangan Pangeran

agaknya memang sudah menjadi keharusan, bahwa Pajang akan

kehilangan putera mahkotanya. Umur Pajang memang tidak akan

lebih panjang dari umur Sultan Hadiwijaya sendiri.”

Tetapi Pangeran Benawa itu tersenyum. Katanya, “Kau terlalu

yakin akan kemampuanmu. Aku percaya, Cakrawara. Tetapi apa

yang terjadi, tidak hanya tergantung kepadamu saja, tetapi juga

tergantung kepada orang lain, tergantung kepada keadaan dan

lingkungan dan yang menentukan adalah justru Yang Maha

Agung.”

Ki Cakrawara tertawa. Katanya, “Kau mencari sandaran

karena kau mengakui akan kelemahanmu, Pangeran.”

“Ternyata kau tidak mengerti apa yang aku katakan. Baiklah.

Nanti kau akan mengerti, apa yang sebenarnya terjadi.”

Ki Cakrawara masih saja tertawa. Sementara Pangeran

Benawa sudah siap untuk bertempur.

“Sayang sekali, bahwa kau tidak akan berumur panjang,

Pangeran. Tetapi itu adalah karena kesalahanmu sendiri.

Seharusnya, seorang putera mahkota tidak berkeliaran bersama

para prajurit yang sedang bertugas.”

“Aku senang dapat bertemu dengan kau, Cakrawara,” jawab

Pangeran Benawa. “Kau telah melengkapi sifat-sifat orang yang

selama ini aku kenal.”

Cakrawara mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun

berkata, “Jaga dirimu baik-baik, Pangeran.”

Pangeran Benawa tidak menjawab lagi. Ketika kemudian

Cakrawara itu menyerang, maka Pangeran Benawapun bergeser

menghindar.

Sejenak kemudian, maka keduanyapun telah terlibat dalam

pertempuran yang semakin lama semakin sengit.

Namun dengan demikian, maka Pangeran Benawa tidak

sempat untuk ikut menjaga agar Ki Gede Lenglengan tidak

meninggalkan medan jika ia terdesak oleh Ki Ajar Permati.

“Mudah-mudahan Paksi dapat melakukannya,” berkata

Pangeran Benawa di dalam hatinya.

Namun Paksipun ternyata harus bertempur menghadapi

seorang yang memiliki kelebihan dari orang yang lain. Ketika ia

melihat Sura Sangga mengamuk, maka Paksi tidak dapat

membiarkannya.

Sura Sangga dengan beberapa orang cantrik dari Padepokan

Watukambang itu bertempur dengan garangnya. Para cantrik itu

sendiri tidak terlalu banyak dapat berbuat menghadapi para

prajurit yang terlatih dengan baik. Tetapi agaknya Sura Sangga

memiliki kelebihan. Sambil berteriak-teriak memberikan

perintah-perintah yang dapat membesarkan hati para cantrik itu,

Sura Sangga yang bersenjata sebuah golok yang besar telah

mengaduk medan.

Ketika seorang anak muda tiba-tiba saja telah memasuki

lingkaran pertempuran, maka Sura Sangga menjadi sangat

marah. Dengan garang iapun berkata, “Marilah, anak muda, jika

kau ingin membunuh diri.”

Kepada para prajurit Paksipun berkata, “Biarlah aku mencoba

menahannya.”

Para prajurit yang mengenal Paksi dengan baik, segera

bergeser menjauhi Sura Sangga. Mereka percayakan Sura Sangga

yang garang itu kepada Paksi, anak muda yang membawa

tongkat di medan pertempuran itu.

“Sebut nama ibu bapakmu, anak muda. Kau akan segera

mati.”

“Bapakku bernama Tumenggung Sarpa Biwada.”

“He, kau anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada?”

“Ya.”

“Omong kosong. Anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidak

akan berada di antara prajurit Pajang. Ia adalah salah seorang

pemimpin yang membantu perjuangan Harya Wisaka. Seorang

anaknya berada di sini.”

“Di mana ia sekarang?”

“Kau mau apa? Anak itu sudah terlindung dengan baik.”

“Biarlah ia menyebut tentang diriku. Apakah aku anak

Tumenggung Sarpa Biwada atau bukan.”

“Jika kau benar anak Tumenggung Sarpa Biwada, maka kau

tentu sudah mengkhianati ayahmu sendiri.”

“Ya. Aku memang sudah mengkhianati ayahku sendiri.”

“Jika demikian, buat apa kau cari saudaramu itu?”

“Aku memerlukannya.”

“Persetan dengan kau, pengkhianat. Kau akan mati di sini.”

Paksi tidak menjawab lagi. Apalagi Sura Sanggapun telah

meloncat menyerang dengan garangnya. Goloknya yang besar dan

panjang itu terayun-ayun mengerikan.

Namun Sura Sanggapun terkejut ketika goloknya yang besar

itu membentur tongkat Paksi. Nampaknya anak muda itu tidak

perlu mengerahkan tenaganya untuk menepis goloknya yang

terayun ke arah lambungnya.

“Gila anak ini,” geram Sura Sangga.

Paksi mendengar geram itu, tetapi ia tidak menyahut. Bahkan

tongkatnya telah terjulur lurus mengenai lawannya.

Sura Sangga berteriak kesakitan. Iapun terdorong beberapa

langkah surut. Bahkan kemudian Sura Sangga itupun berteriakteriak

mengumpat kasar.

Telinga Paksipun terasa panas mendengarnya. Karena itu,

maka iapun segera menyerang lawannya dengan tangkasnya.

Namun justru itu, Sura Sangga itu mengumpat semakin kotor.

Tetapi Sura Sangga itu terdiam ketika tongkat Paksi tepat

mengenai tengkuknya. Sura Sangga itu terdorong beberapa

langkah justru ke depan. Kemudian iapun jatuh tertelungkup.

Wajahnya yang tersuruk ke tanah itu menjadi kotor oleh debu

yang melekat pada keningnya yang basah oleh keringat. Bahkan

wajah Sura Sangga itupun menjadi terluka. Dahinya terkelupas,

sehingga darahpun mengalir dari luka itu.

Tetapi Paksi tidak sempat menyelesaikan lawannya yang jatuh

tersuruk itu. Beberapa orang cantrik dari padepokan itu hampir

bersamaan telah menyerang Paksi serentak.

Namun Paksi cukup tangkas. Dengan cepat ia meloncat,

melenting sambil memutar tongkatnya. Sebuah pedang terlempar

dari tangan seorang cantrik. Ketika cantrik yang lain

menyerangnya dengan tombak pendek, maka dengan cepat Paksi

mengungkit tombak itu sehingga terlepas dari tangan cantrik

yang lain itu, terlempar ke udara, jatuh beberapa langkah dari

cantrik itu.

Ketika kemudian Sura Sangga bangkit berdiri, maka tulangtulangnyapun

seakan-akan telah menjadi retak. Tengkuknya

terasa sakit sekali. Demikian pula luka di dahinya terasa pedih,

sementara darah dari luka di dahinya itu mengalir membasahi

wajahnya.

Kemarahan Sura Sangga telah membakar seluruh isi dadanya.

Dengan geram iapun berkata, “Aku bunuh kau, pengkhianat.”

“Darahmu semakin banyak mengalir,” berkata Paksi. “Kau

nampak seperti seorang yang terluka parah. Padahal dahimu

hanya lecet sedikit saja tergores batu padas.”

“Persetan, kau.” Mata Sura Sangga bagaikan menyala.

Tetapi Sura Sangga tidak lagi setangkas sebelumnya. Namun

beberapa orang cantrik telah membantunya.

Paksi memang sedikit mengalami kesulitan. Tetapi kesulitan

itu membuatnya menjadi semakin panas. Tongkatnya berputar

semakin cepat. Serangan-serangannyapun menjadi semakin

garang.

Seorang demi seorang lawannya telah terlempar dari arena.

Sementara Sura Sangga menjadi lamban.

Meskipun demikian. Sura Sangga itu masih saja mengumpatumpat

dan sekali-sekali berteriak, “Aku bunuh kau.”

Paksi menjadi semakin marah ketika seorang cantrik telah

melontarkan tombaknya. Dalam kesibukannya, Paksi terlambat

mengelak. Tombak yang mengarah ke punggungnya itu sempat

melukai lengannya sehingga lengannya itu berdarah.

Paksi yang sempat melihat cantrik yang melemparkan tombak

itu tidak memaafkannya. Darahnya yang mulai panas, serta

keringatnya yang telah membasahi seluruh pakaiannya,

membuatnya sulit untuk mengendalikan dirinya. Karena itu,

maka dengan cepatnya ia meloncat sambil mengayunkan

tongkatnya.

Cantrik itu memang mencoba untuk mengelak dengan

meloncat ke samping. Tetapi ayunan tongkat Paksipun berputar.

Kemudian tongkat itu justru mematuk perutnya, sehingga cantrik

itupun terbungkuk kesakitan.

Paksi tidak membiarkannya. Dengan kerasnya Paksi memukul

tengkuk cantrik itu, sehingga cantrik itupun terjerembab jatuh.

Daya tahan cantrik itu tidak sebesar daya tahan Sura Sangga.

Demikian cantrik itu jatuh menelungkup, maka nafasnyapun

telah terhenti, sehingga ia tidak sempat menggeliat.

Namun dalam pada itu, seorang cantrik yang lain sempat

mempergunakan kesempatan itu untuk mengayunkan pedangnya

ke arah punggung Paksi. Tetapi Paksi menyadari datangnya

serangan dari belakangnya itu. Karena itu, maka Paksipun justru

meloncati tubuh cantrik yang jatuh terjerembab itu dan

menjatuhkan dirinya pada punggungnya. Sekali ia berguling,

kemudian meloncat bangkit dengan cepatnya.

Dalam pada itu, keadaan Sura Sangga sudah berangsur baik.

Karena itu, maka Sura Sangga itupun telah menyerang Paksi

pula sambil berteriak nyaring.

Teriakan itu membuat jantung Paksi menjadi semakin

membara. Karena itu, maka Paksi yang berhasil menghindari

ayunan golok Sura Sangga itu telah menyerangnya dengan cepat.

Tongkatnya berhasil memukul dada Sura Sangga dengan

kerasnya. Kemudian terayun sekali lagi mengenai kening orang

yang garang itu.

Sura Sangga itupun terhuyung-huyung ke samping. Sebelum

ia sempat menyadari apa yang telah terjadi, tongkat Paksi

terayun dengan deras sekali menghantam bagian belakang

kepalanya.

Terdengar Sura Sangga itu berteriak nyaring. Namun

suaranyapun kemudian segera patah. Sura Sangga itu jatuh di

tanah seperti sebatang pohon pisang yang rebah.

Paksi tidak sempat merenungi tubuh Sura Sangga. Beberapa

orang cantrik menyerangnya bersama-sama. Namun dengan

tangkasnya Paksi melawan mereka.

Dalam pada itu, pertempuran masih saja membakar

padepokan itu. Ki Ajar Permati dan Ki Gede Lenglenganpun telah

terlibat dalam pertempuran yang sengit. Keduanya adalah orangorang

yang berilmu tinggi. Mereka mempunyai persoalan

tersendiri yang membuat jantung keduanya semakin membara.

Ki Gede Lenglengan yang merasa pernah membunuh dan

melemparkan mayat Ki Ajar Permati ke dalam jurang, rasarasanya

tidak mau menerima kenyataan, bahwa Ki Ajar Permati

itu telah datang ke padepokan yang telah direbutnya dengan licik

itu. Bahkan Ki Ajar Permati itu telah menantangnya untuk

bertempur.

Sementara itu, betapapun Ki Ajar Permati berusaha untuk

meredam dendam di dadanya, namun ketika Ki Ajar itu mulai

bertempur melawan Lenglengan yang pernah ditolongnya namun

yang kemudian meracuninya, maka dendam itu rasa-rasanya

mencuat pula ke permukaan.

Dengan demikian, maka keduanyapun telah meningkatkan

kemampuan mereka untuk dapat mengalahkan lawannya.

Lenglengan yang telah menempa diri beberapa tahun di saatsaat

terakhir memang ingin menjajagi kemampuan ilmu Ki Ajar

Permati. Karena itu, Ki Gede Lenglengan tidak segera sampai ke

puncak ilmunya. Ia ingin tahu, sampai di mana batas

kemampuan Ki Ajar Permati yang pernah memimpin Padepokan

Watukambang itu.

Sementara itu, Ki Ajar Permatipun ingin tahu pula puncak

kemampuan Ki Gede Lenglengan. Karena itu seperti juga Ki Gede

Lenglengan, maka Ki Ajar Permatipun meningkatkan ilmunya

selapis demi selapis pula.

Namun akhirnya keduanya menyadari, bahwa mereka berdua

telah mencapai tataran ilmu yang sangat tinggi, sehingga

merekapun harus mengerahkan ilmu mereka masing-masing.

Dengan demikian, maka pertempuran di antara merekapun

telah berlangsung dengan dahsyatnya. Serangan-serangan

merekapun datang silih berganti. Bahkan kemudian telah terjadi

pula benturan-benturan ilmu yang seakan-akan telah

menggetarkan udara di halaman Padepokan Watukambang.

Di sisi lain, orang yang merasa ilmunya tidak tertandingi,

bertempur dengan sengitnya melawan Pangeran Benawa. Namun

Ki Cakrawarapun harus segera menyadari, bahwa Pangeran

Benawa yang masih muda itu memiliki tataran ilmu yang tidak

dapat diremehkannya.

Ketika benturan-benturan terjadi, maka Ki Cakrawara dapat

menjajagi kemampuan Pangeran Benawa yang mengagumkan itu.

“Anak Karebet ini tentu mewarisi sebagian dari ilmu ayahnya,”

berkata Cakrawara di dalam hatinya.

Karena itu, maka Ki Cakrawara tidak ingin membiarkan

pertempuran itu berlangsung terlalu lama. Ia harus segera

menyelesaikan anak Karebet itu. Kemudian membunuh para

prajurit Pajang yang berada di halaman.

Dengan demikian, maka Ki Cakrawara itu telah meningkatkan

ilmu sampai ke puncak. Ia ingin segera menggilas putera

mahkota yang telah berkeliaran sampai ke Padepokan

Watukambang.

Ketika Ki Cakrawara itu menghentakkan ilmunya, maka

Pangeran Benawa memang terdesak beberapa saat. Tetapi sesaat

kemudian, Pangeran Benawapun telah menjadi mapan kembali.

Serangan-serangan Ki Cakrawarapun kemudian datang

dengan dahsyat, seperti prahara yang berusaha mengguncang

bukit. Namun Pangeran Benawa yang kokoh seperti bukit karang

itu tidak mudah tergoyahkan.

Pangeran Benawa memang merasakan udara panas

melibatnya. Ayunan tangan Ki Cakrawara seolah-olah telah

menaburkan udara panas di seputar tubuh Pangeran Benawa.

Namun dari tubuh Pangeran Benawa seakan-akan telah

mengembun udara yang dingin, yang dapat meredam panas di

seputar tubuhnya.

Ki Cakrawara memang tidak menduga sama sekali, bahwa

tingkat kemampuan ilmu Pangeran Benawa sudah sedemikian

tinggi. Bukan saja udara panas yang ditaburkan tidak mampu

membakar kulit Pangeran Benawa, tetapi justru udara yang

dingin itu terasa di kulit Ki Cakrawara.

“Iblis kecil ini ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi,”

geram Ki Cakrawara di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka Ki Cakrawara tidak lagi dapat

menengadahkan dadanya sambil berkata, “Aku akan membunuh

semua prajurit Pajang sampai orang yang terakhir.”

Apalagi pada saat itu, Ki Cakrawara sempat melihat

kegelisahan medan pertempuran. Para cantrik pengikut Ki Gede

Lenglengan rasa-rasanya mulai mendapat kesulitan.

“Dimana Sura Sangga?” bertanya Ki Cakrawara di dalam

hatinya

Namun sorak prajurit Pajang di sisi lain membuat Ki

Cakrawara semakin bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan

Sura Sangga? Pertanyaan itu semakin menekan dadanya.

Namun tiba-tiba saja Ki Cakrawara melihat beberapa orang

pengikut Ki Gede Lenglengan mengusung tubuh yang sudah tidak

berdaya lagi.

Pangeran Benawa yang juga melihatnya, justru ingin tahu,

siapakah yang telah diusung itu. Tentu seorang yang dianggap

penting oleh para pengikut Ki Gede Lenglengan.

Karena itu, maka Pangeran Benawa seakan-akan sengaja

memberi waktu kepada Ki Cakrawara untuk mengetahui,

siapakah orang itu.

Hampir di luar sadarnya Ki Cakrawarapun berteriak,

“Siapakah orang itu?”

Terdengar seseorang menjawab, “Ki Sura Sangga.”

“Sura Sangga? Kenapa? Siapakah yang telah mencederainya

atau bahkan membunuhnya?”

“Seorang anak muda bersenjata tongkat,” jawab orang itu.

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu, bahwa

anak muda yang bersenjata tongkat itu adalah Paksi.

“Para pengikut Ki Gede Lenglenganlah yang akan habis

sampai orang yang terakhir. Bukan para prajurit Pajang.”

Ki Cakrawara terkejut mendengar suara Pangeran Benawa. Ia

sadar, bahwa iapun sedang terlibat dalam pertempuran melawan

seorang yang berilmu tinggi.

Namun Ki Cakrawarapun mengerti, bahwa lawannya yang

masih muda itu telah memberinya kesempatan. Ia tidak

memanfaatkan kelengahannya ketika perhatiannya tertuju

kepada Sura Sangga yang sudah tidak berdaya itu.

“Nah,” berkata Pangeran Benawa kemudian, “bagaimana

dengan kau?”

“Persetan dengan Sura Sangga yang rapuh itu. Sudah

sepantasnya ia mati.”

“Sudah sepantasnya semua cantrik dari padepokan ini mati.

Kecuali mereka yang menyerah. Kau pun akan mati juga jika kau

tidak menyerah.”

“Apa? Aku? Kau kira aku ini siapa, Pangeran? Meskipun kau

bertulang baja berkulit tembaga, kau tidak akan dapat

mengalahkan aku.”

Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, “Semakin banyak

kawan-kawanmu mati, maka kau akan menghadapi lawan

semakin banyak.”

“Aku tidak peduli. Bahkan seandainya ayahmu, Sultan

Hadiwijaya ada di sini.”

“Jangan menyebut ayahandaku. Kehadiranku di sini sudah

mewakilinya.”

“Sejak mudanya, ayahmu memang pengecut. Ia tidak pernah

berani hadir di pertempuran manapun juga.”

“Kau membuat darahku mendidih. Udara panasmu tidak

membuat jantungku membara. Tetapi kata-katamu itu membuat

telingaku seperti disentuh api.”

“Jika kau akan marah, marahlah. Kita sudah berada di

medan. Kau dapat berbuat apa saja. Tetapi aku pun dapat

berbuat sekehendakku pula.”

Degup jantung Pangeran Benawa serasa menjadi semakin

cepat. Kemarahannya benar-benar telah membakar isi dadanya.

Apalagi ketika Ki Cakrawara itu berkata, “Pangeran, ayahmu itu

tidak lebih dari seekor ayam jantan yang hanya dapat memburu

betina, tetapi tidak berani turun ke gelanggang.”

Pangeran Benawa tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

Dengan demikian, maka Pangeran Benawapun telah

meningkatkan ilmunya sampai ke puncak.

Serangan-serangan Pangeran Benawa kemudian datang

melanda lawannya seperti badai. Dalam ilmu puncaknya,

Pangeran Benawa menjadi sangat berbahaya bagi lawannya.

Dalam pada itu, Ki Ajar Permati dan Ki Gede Lenglenganpun

telah sampai ke puncak kemampuan mereka. Meskipun ilmu

mereka merambat dari lapis ke lapis, namun ternyata ilmu

mereka masih saja tetap berimbang.

Dalam ilmu puncaknya, maka arena pertempuran antara Ki

Ajar Permati melawan Ki Gede Lenglengan itu bagaikan lingkaran

angin pusaran yang dahsyat. Sehingga dengan demikian, maka

baik para pengikut Ki Gede Lenglengan maupun para prajurit

Pajang telah bergeser menjauhinya.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung Yudatama bersama tiga orang

pengawalnya sempat memperhatikan arena pertempuran itu

dengan seksama. Ki Yudatama sendiri tidak mengikat diri dengan

seorang lawan tertentu. Tetapi Ki Tumenggung itu seakan-akan

menjelajahi seluruh medan. Sekali-sekali Ki Tumenggung itu

terjun ke arena pertempuran bersama ketiga orang pengawal

terpilihnya jika ia melihat sekelompok prajurit Pajang yang

terdesak. Namun jika keseimbangan telah tercapai lagi, maka Ki

Tumenggungpun telah bergeser meninggalkan kelompok prajurit

Pajang itu.

Di halaman belakang padepokan itu, Ki Tumenggung melihat

lingkaran pertempuran yang nampaknya agak menyulitkan para

prajurit Pajang. Agaknya seorang kepercayaan Ki Gede

Lenglengan bersama beberapa orang yang terpilih, bertempur

dengan garangnya. Sekelompok prajurit Pajang yang bertempur

melawan mereka agaknya telah terdesak.

“Siapa orang itu?” bertanya Ki Tumenggung.

Seorang pengawalnyapun telah menyusup di arena

pertempuran dan menyempatkan diri bertanya, siapakah yang

memimpin sekelompok pengikut Ki Gede Lenglengan yang sedang

mengamuk itu.

“Namanya Wira Sampak.”

Pengawal Ki Tumenggung itupun segera menyampaikannya

kepada Ki Tumenggung Yudatama, bahwa yang memimpin

sekelompok cantrik yang sedang mengamuk itu adalah Wira

Sampak.

Ki Tumenggungpun menggeram. Katanya, “Orang itu harus

dihentikan.”

Demikianlah, Ki Tumenggung bersama ketiga orang

pengawalnyapun segera terjun ke arena pertempuran itu.

Wira Sampak yang melihat kedatangan orang baru itupun

berteriak, “Siapa kau, He? Apakah kau sudah jemu hidup

sehingga kau berani memasuki arena pertempuran ini?”

“Aku Tumenggung Yudatama,” jawab Ki Tumenggung.

“Menyerahlah. Kau akan diperlakukan dengan adil.”

Wira Sampak itu justru tertawa berkepanjangan sehingga

perutnya telah terguncang-guncang. Katanya, “Kau minta aku

menyerah, Ki Tumenggung?”

“Ya.”

“Kau kira aku itu siapa dan kau itu siapa? Kedudukanmu

tidak lebih dari seorang Tumenggung. Apakah kau mampu

menangkap petir sehingga kau berani memerintahkan aku

menyerah?”

“Aku memang tidak dapat menangkap petir. Tetapi aku akan

dapat menangkapmu, karena kau bukan petir.”

“Persetan dengan celotehanmu itu, Ki Tumenggung. Sebaiknya

kau tundukkan kepalamu agar aku dapat memenggalmu dengan

sekali tebas. Kau tidak akan mengalami kesakitan di saat-saat

kematianmu. Besok seluruh prajurit Pajang akan berkabung

karena seorang tumenggung yang dibanggakan telah gugur di

pertempuran.”

Ki Tumenggung Yudatama tidak menjawab lagi. Iapun segera

bergeser maju. Pedang yang sudah di tangannya itupun segera

teracu.

Wira Sampakpun segera bersiap pula. Ia menggenggam

sebuah bindi di tangannya. Dengan garangnya Wira Sampak

itupun telah meloncat menyerang dengan ayunan bindinya yang

besar dan berat.

Tetapi Ki Tumenggungpun cukup tangkas. Dengan cepat

iapun mengelak. Kemudian pedangnya dengan cepat pula terjulur

ke arah lambung.

Tetapi Wira Sampakpun sempat mengelak pula, sehingga

ujung pedang Ki Tumenggung tidak mengenai sasaran.

Demikianlah, sejenak kemudian pertempuran antara

keduanyapun segera meningkat menjadi semakin sengit. Para

cantrik Padepokan Watukambang tidak sempat mendekati

pertempuran itu, karena para pengawal Ki Tumenggungpun

segera menghalanginya.

Sementara itu, para prajurit Pajang yang semula mengalami

kesulitan segera dapat memanfaatkan keadaan itu. Karena Wira

Sampak harus bertempur melawan Ki Tumenggung Yudatama,

sementara para pengawal Ki Tumenggungpun telah terjun pula di

arena, maka lawan para prajurit Pajang itupun telah menyusut.

Dengan demikian, maka para prajurit Pajang itupun telah

mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Mereka tidak

tahu, apakah Ki Tumenggung akan berhasil dengan segera

memenangkan pertempuran, karena menurut penilaian mereka,

Wira Sampak adalah seorang yang berilmu tinggi pula.

Seandainya, Ki Tumenggung mengalami kesulitan, maka satu

dua orang prajurit bersama-sama pengawal Ki Tumenggung itu

akan dapat membantunya sehingga dengan cepat dapat

menguasai keadaan

Karena itu, maka para prajurit Pajang itupun telah

mengerahkan sisa kemampuan mereka untuk melindas para

pengikut Ki Gede Lenglengan.

Dengan demikian maka pasukan para pengikut Ki Gede

Lenglengan itulah yang kemudian mengalami kesulitan.

Ternyata bahwa kemampuan Ki Wira Sampak tidak

menggetarkan sebagaimana kata-katanya. Ketika Ki Yudatama

mengerahkan kemampuannya, maka Wira Sampak itupun segera

terdesak. Senjatanya yang terayun-ayun mengerikan itu tidak

mampu menyentuh tubuh Ki Tumenggung Yudatama. Bahkan

ujung pedang Ki Tumenggunglah yang kemudian mulai

menggores kulitnya.

Wira Sampak itu mengumpat kasar ketika tangan kirinya

meraba bahunya yang berdarah. Kemarahannyapun kemudian

telah menyala, membakar jantungnya. Sambil berteriak nyaring,

Wira Sampak itupun meloncat menyerang dengan ayunan

bindinya yang berat.

Tetapi Ki Tumenggung telah menebas bindi yang terayun itu,

sehingga bergeser ke samping. Justru pada saat itu, kaki Ki

Tumenggung terayun dengan derasnya menghantam lambung

Wira Sampak sehingga Wira Sampak itu terdorong beberapa

langkah surut.

Hampir saja Wira Sampak itu kehilangan keseimbangannya.

Namun bertelekan pada bindinya, Wira Sampak masih tetap

dapat bertahan untuk tidak jatuh terguling di tanah.

Namun Ki Tumenggung tidak memberinya kesempatan.

Demikian Wira Sampak berdiri tegak, maka pedang Ki

Tumenggung itu menebas mendatar.

Wira Sampak masih sempat bergeser surut selangkah,

sehingga ujung pedang Ki Tumenggung tidak menggores dadanya.

Namun pedang itupun berputar. Ujungnya terjulur menggapai

tubuh Wira Sampak.

Ternyata Wira Sampak tidak mempunyai kesempatan lagi.

Meskipun ia berusaha menangkis dengan bindinya, namun ujung

pedang Ki Tumenggung itu telah menggores lambungnya.

Memang tidak terlalu dalam. Namun darahpun mengalir dari luka

yang menganga itu.

Wira Sampak meloncat beberapa langkah surut untuk

mengambil jarak. Sementara itu, Ki Tumenggung tidak tergesagesa

memburunya. Dibiarkannya Wira Sampak menilai, apa yang

telah terjadi pada dirinya.

“Menyerahlah,” berkata Ki Tumenggung.

Namun Wira Sampak justru mengumpat kasar. Dengan

lantang Wira Sampak itupun justru berteriak, “Aku bunuh kau,

Ki Tumenggung.”

“Kenapa kau tidak mau melihat kenyataan tentang dirimu?

Kau sudah terluka. Darah sudah mengalir dari tubuhmu.

Semakin banyak kau bergerak, maka darahpun akan semakin

banyak mengalir dari luka-lukamu.”

Tetapi Wira Sampak itu justru membentak, “Kaulah yang

harus menyerah, Ki Tumenggung. Tidak ada orang yang dapat

mengalahkan Wira Sampak.”

Kesabaran Ki Tumenggungpun akhirnya sampai pada

batasnya. Apalagi Wira Sampak selalu membentaknya,

mengumpat kasar dan berteriak-teriak mengancam.

Karena itulah, maka ketika Wira Sampak menyerangnya, Ki

Tumenggung tidak memberinya kesempatan lagi.

Ayunan bindi Wira Sampak yang berat itu sama sekali tidak

berhasil menyentuh tubuh Ki Tumenggung. Dengan

merendahkan diri, Ki Tumenggung terhindar dari sambaran bindi

Wira Sampak yang terayun dengan derasnya.

Demikian bindi itu terayun di atas kepalanya, maka Ki

Tumenggung yang sudah kehilangan kesabaran itupun segera

mengakhiri pertempuran. Ki Tumenggung tidak ingin terikat

terlalu lama di tempat itu karena ia harus mengamati seluruh

medan.

Pedang Ki Tumenggungpun terjulur dengan cepat, mematuk

lambung Wira Sampak yang sedang mengayunkan bindinya itu.

Terdengar Wira Sampak berteriak nyaring. Lambungnya telah

terkoyak oleh pedang Ki Tumenggung, sehingga lukanyapun telah

menganga.

Wira Sampak tidak lagi mampu untuk berdiri tegak. Lukalukanya

yang sangat parah itu telah menghentikan mimpimimpinya

tentang keperkasaan dirinya.

Perlahan-lahan Wira Sampak itupun kemudian telah terjatuh

pada lututnya. Ia masih mencoba bertelekan pada bindinya.

Namun kemudian iapun roboh dan terbaring di tanah.

Darah yang hangat mengalir dari luka-lukanya. Terutama dari

lambungnya yang terkoyak.

Beberapa orang pengikut Ki Gede Lenglengan yang

mengetahui peristiwa itu terkejut. Beberapa orang yang

berloncatan mendekatinya telah dihadang oleh para prajurit

Pajang.

Namun Ki Tumenggungpun berkata, “Biarlah orang-orangnya

berusaha menyelamatkan nyawanya. Tetapi bukan berarti bahwa

pertempuran harus berhenti. Kecuali jika mereka semuanya telah

menyerah.”

Tetapi beberapa orang pengikut Ki Gede Lenglengan itu justru

telah menyerang para prajurit yang sedang termangu-mangu

mendengarkan perintah Ki Tumenggung Yudatama.

“Kami masih memberi kesempatan kalian untuk menyerah,”

berkata Ki Tumenggung Yudatama. “Siapa yang ingin

mempergunakan kesempatan itu, pergunakanlah. Tetapi siapa

yang tidak mau menyerah, akan dibinasakan. Kami tidak akan

ragu-ragu menuntaskan pertempuran ini.”

Namun para pengikut Ki Gede Lenglengan tidak segera

memanfaatkan kesempatan itu. Mereka masih saja bertempur

dengan garangnya melawan para prajurit yang kedudukannya

semakin mapan.

Dalam pada itu, seperti yang diperintahkan oleh Ki

Tumenggung Yudatama, para prajurit itu tidak menghalangi dua

orang cantrik yang mencoba untuk membantu Ki Wira Sampak

yang terbaring diam. Namun mereka tidak dapat berbuat apaapa.

Wira Sampak itu sudah tidak bernyawa lagi.

Ki Tumenggung Yudatama tidak menunggui arena

pertempuran itu lebih lama lagi. Bersama ketiga orang

pengawalnya, maka Ki Tumenggungpun telah meninggalkan

lingkaran pertempuran yang sudah tidak mencemaskannya lagi

itu untuk melihat keadaan arena pertempuran yang lain.

Sementara itu, di halaman depan, debupun mengepul tinggi.

Dua pusaran pertempuran telah terjadi di halaman depan. Ki

Cakrawara yang bertempur melawan Pangeran Benawapun sudah

mengerahkan kemampuannya sampai ke puncak. Serangan Ki

Cakrawara datang seperti arus banjir bandang. Namun Pangeran

Benawa adalah seorang yang memiliki ilmu yang tidak dapat

dijajagi oleh lawannya. Jika semula Ki Cakrawara merasa dirinya

tidak terkalahkan, namun kemudian iapun harus mengakui

kenyataan yang terjadi, bahwa Pangeran Benawa adalah seorang

yang berilmu sangat tinggi.

Serangan-serangan Ki Cakrawara bukannya sekedar

menebarkan udara panas yang ternyata mampu diredam oleh

Pangeran Benawa, namun telapak tangan Ki Cakrawara itupun

kemudian seolah-olah telah membara. Ketika telapak tangannya

itu sempat menyentuh kulit Pangeran Benawa, maka sentuhan

itu telah menimbulkan luka bakar yang nyeri.

Namun sentuhan itu bukan saja menimbulkan luka bakar di

kulit Pangeran Benawa, tetapi jantung Pangeran Benawapun

bagaikan telah terbakar pula.

Karena itu, maka serangan-serangan Pangeran Benawa

selanjutnya telah menggulung semua kesempatan bagi Ki

Cakrawara. Kedua tangan Pangeran Benawa itu bergerak dengan

cepat sekali, sehingga seakan-akan tangan Pangeran Benawa

menjadi beberapa pasang.

Ki Cakrawarapun mengalami kesulitan untuk menangkis

serangan Pangeran Benawa. Beberapa kali Ki Cakrawara

berusaha untuk menangkis serangan Pangeran Benawa dengan

telapak tangannya yang membara, namun Ki Cakrawara tidak

lagi berhasil menyentuh kulit Pangeran Benawa. Bahkan semakin

lama Pangeran Benawa itu semakin membingungkannya. Bukan

saja tangannya yang seakan-akan menjadi beberapa pasang,

tetapi Pangeran Benawa seolah-olah berada di segala arah di

sekitarnya.

Ki Cakrawara itupun mengerahkan segenap kemampuan yang

dimilikinya. Bukan saja wadagnya, tetapi juga panggraitanya.

Namun Ki Cakrawara itu kadang-kadang masih juga kehilangan

jejak lawannya.

Serangan-serangan Pangeran Benawalah yang kemudian

beberapa kali sempat mengenainya. Tangan Pangeran Benawa

yang seolah-olah menjadi beberapa pasang itu setiap kali

menghantam tubuhnya. Bahkan dari segala arah.

Ki Cakrawara itupun terhuyung-huyung dan bahkan hampir

saja jatuh terjerembab ketika tangan Pangeran Benawa mengenai

tengkuknya.

Namun Ki Cakrawara itu justru menjatuhkan dirinya.

Berputar sekali, kemudian melenting berdiri.

Dalam keadaan yang sulit itulah, tiba-tiba saja di seputar Ki

Cakrawara itu terdengar desis seperti suara arus angin. Pangeran

Benawa yang siap menyerang sempat melihat debu yang berputar

di sekeliling lawannya itu. Sehingga sejenak kemudian, Ki

Cakrawara itupun seakan-akan telah terlindung oleh pusaran

angin keras.

Pangeran Benawa justru bergeser selangkah surut. Namun

kemudian putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya itu telah

menghentakkan ilmunya. Kedua telapak tangannya itupun

ditakupkannya. Namun kemudian, Pangeran Benawa itupun

justru segera meloncat ke arah angin pusaran itu. Tangannya

yang terangkat itupun segera terayun dengan derasnya

menghantam pusaran angin itu.

Yang terjadi adalah benturan ilmu yang dahsyat. Bukan saja

telapak tangan Pangeran Benawa, tetapi getar ilmunyalah yang

telah membentur kekuatan ilmu Ki Cakrawara.

Yang terjadi telah menggetarkan jantung para prajurit dan

para pengikut Ki Gede Lenglengan yang sempat menyaksikannya.

Pangeran Benawa itu telah terangkat dan terlempar ke samping.

Tubuhnyapun kemudian jatuh terbanting di tanah dan berguling

beberapa kali.

Ketika Paksi yang sedang bertempur melawan beberapa orang

pengikut Ki Gede Lenglengan sepeninggal Sura Sangga

melihatnya, iapun segera berlari mendekatinya. Namun Pangeran

Benawa itu sudah tertatih-tatih berdiri.

“Pangeran,” desis Paksi.

Pangeran Benawa itupun menyahut, “Aku tidak apa-apa,

Paksi.”

Sementara itu, hampir berbareng keduanya berpaling ke arah

Ki Cakrawara. Mereka tidak melihat lagi angin pusaran yang

mengitarinya. Mereka tidak lagi melihat debu yang berterbangan

serta getar udara panas. Yang mereka lihat, Ki Cakrawara itu

terbaring di tanah sambil berdesah kesakitan.

Beberapa orang pengikut Ki Gede Lenglengan melihat

keadaannya. Tetapi tidak seorang pun yang datang mendekat.

Mereka sibuk bertempur melawan para prajurit Pajang yang tidak

memberi mereka kesempatan. Pada saat mereka terkejut,

pertempuran yang terjadi di seputarnya seolah-olah memang

terhenti. Namun kemudian para prajurit Pajangpun telah

menghentak mereka lagi, justru semakin keras.

Selain mereka tidak mendapat kesempatan, mereka memang

tidak berani dengan tergesa-gesa mendekati. Mereka masih

merasa cemas, bahwa lawan Ki Cakrawara itu akan menyapu

mereka pula dengan ilmunya yang dahsyat. Karena itu, maka

justru Pangeran Benawa dan Paksilah yang datang mendekati

tubuh Ki Cakrawara itu. Pangeran Benawa dan Paksi itupun

berjongkok di sebelah-menyebelah tubuh yang terbaring sambil

menggeliat itu.

“Pangeran,” desis Ki Cakrawara sambil menyeringai menahan

sakit, “aku sekarang yakin, bahwa apa yang dilakukan

Lenglengan itu tidak ada artinya selain membuat keresahan.”

“Maksudmu?”

“Jika Pangeran mampu berbuat seperti yang baru saja

Pangeran lakukan, lalu apa saja yang dapat dilakukan oleh

Kangjeng Sultan Hadiwijaya sendiri?”

“Kau akan dapat berbicara dengan ayahanda pada

kesempatan lain.”

Tetapi Ki Cakrawara itu menggeleng. Katanya, “Tidak akan

ada kesempatan lagi, Pangeran. Sampaikan permohonan ampun

kepada Kangjeng Sultan.”

“Kau akan dapat menyampaikannya sendiri, Ki Cakrawara.”

“Tidak. Umurku sudah sampai ke batas. Aku merasa bahwa

aku harus kembali ke Yang Maha Pencipta, yang selama ini tidak

pernah menyentuh jiwaku. Namun pada saat seperti ini, aku

merasakan kuasa tanganNya.”

“Kau masih sempat mohon ampun kepadaNya.”

“Aku mohon ampun,” suara Ki Cakrawarapun merendah.

Kemudian terdengar suaranya sangat perlahan, “Alangkah

tenteramnya hati mereka yang sudah mengenal sebelumnya dan

meyakininya.”

“Ki Cakrawara juga meyakininya.”

Tetapi Ki Cakrawara itu tidak sempat menjawab. Matanyapun

telah terpejam, serta nafasnya telah terhenti.

Pangeran Benawa menyentuh leher orang itu. Tubuhnya

masih terasa hangat. Tetapi detak darahnyapun telah terhenti.

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Namun tibatiba

saja keduanya menyadari, bahwa pertempuran masih belum

selesai.

Karena itu, maka keduanyapun segera bangkit berdiri. Ketika

mereka berpaling ke lingkaran pertempuran antara Ki Gede

Lenglengan dengan Ki Ajar Permati, maka yang mereka lihat

adalah debu yang tebal menyerupai kabut yang menutup

pandangan mereka.

Hampir di luar sadar, merekapun segera mengetrapkan Aji

Sapta Pandulu, sehingga pandangan mata mereka berhasil

menembus kabut itu meskipun hanya lamat-lamat.

Tetapi agaknya keduanya memang agak terlambat. Pada saat

itu, mereka sempat melihat bayangan yang meluncur seperti

anak panah meninggalkan arena.

Merekapun melihat, bahwa bayangan yang lain mencoba

mengejarnya, namun sekali lagi debu yang seperti kabut itupun

telah terhambur. Beberapa saat Aji Sapta Pandulu itupun tidak

mampu menembus. Baru sesaat kemudian, Pangeran Benawa

dan Paksi dapat melihat ke dalam lingkaran kabut yang tebal itu.

Namun yang mereka lihat tinggallah seorang yang berdiri

termangu-mangu.

Beberapa saat kemudian, ketika kabut itu terkuak, mereka

melihat Ki Ajar Permati berdiri termangu-mangu. Tangannya

masih memegangi dadanya yang nampaknya terasa nyeri. Di

sudut bibirnya nampak setitik darah.

“Ki Ajar,” Pangeran Benawa berlari mendekat disusul oleh

Paksi.

“Aku tidak dapat menangkapnya,” desis Ki Ajar Permati. “Ia

berhasil melindungi dirinya dengan permainan kabutnya.”

“Jadi Lenglengan itu sempat melarikan diri?”

Ki Ajar Permati mengangguk.

“Tetapi bagaimana dengan Ki Ajar sendiri?”

Ki Ajar Permati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian

katanya, “Ia berhasil melukaiku. Luka dalam. Tetapi aku pun

telah melukainya pula. Ketika ia merasa bahwa ia tidak akan

dapat mengalahkan aku, maka iapun melarikan diri.”

“Ki Ajar perlu beristirahat.”

“Aku tidak apa-apa. Aku menyesal bahwa Lenglengan berhasil

melarikan diri.”

“Sayang sekali,” desis Paksi. “Seharusnya aku ikut menjaga

agar Ki Gede Lenglengan tidak mempunyai kesempatan. Aku kira

bahwa ia tidak akan lari secepat itu.”

“Seandainya Angger Paksi ada di sini, agaknya masih saja

mempunyai kesempatan untuk melarikan diri, karena permainan

kabutnya yang sulit ditembus penglihatan, bahkan dengan Aji

Sapta Pandulu sekalipun.”

Paksi tidak menjawab. Ia hanya dapat mengangguk-angguk

mengiyakan. Kabut itu memang sulit ditembus penglihatan,

bahkan dengan Aji Sapta Pandulu sekalipun.

“Sekarang,” berkata Ki Ajar Permati kemudian, “segala

sesuatunya terserah kepada Ki Tumenggung Yudatama.”

“Di mana Ki Tumenggung?” desis Pangeran Benawa.

“Ki Tumenggung mengelilingi seluruh medan,” sahut Paksi.

Pangeran Benawapun kemudian memerintahkan seorang

penghubung untuk mencari dan melaporkan apa yang terjadi

kepada Ki Tumenggung Yudatama.

Beberapa saat kemudian, Ki Tumenggung telah berada di

halaman depan Padepokan Watukambang itu. Pertempuran di

sana-sini masih terjadi.

Ki Tumenggung itupun kemudian memerintahkan para

pengawalnya untuk memberitakan kepada semua pengikutnya,

bahwa Ki Gede Lenglengan telah melarikan diri, sementara Ki

Cakrawara telah terbunuh. Kesempatan terakhir untuk

menyerah, siapa yang tidak menyerah, akan ditumpas habis.

Demikianlah, maka beberapa orang pengawal Ki Tumenggung

telah meneriakkan pesan Ki Tumenggung itu di segala sudut

padepokan. Merekapun dengan lantang berkata, “Ini adalah

kesempatan yang terakhir. Siapa yang tidak mempergunakan

kesempatan ini, akan ditumpas habis.”

Ternyata bahwa para pengikut Ki Gede Lenglengan itu masih

saja tetap orang-orang yang mempunyai perasaan, meskipun

kepala mereka sudah diracuni dengan berbagai macam

keyakinan. Namun ketika mereka berada dalam keadaan yang

paling rumit, maka merekapun masih juga sempat membuat

pertimbangan untuk memilih antara hidup dan mati. Meskipun

satu dua orang ada yang bertekad untuk mati dalam pengabdian,

namun sebagian terbesar dari para pengikut Ki Gede Lenglengan

yang tersisa itu menyerah.

Dengan demikian, maka beberapa saat kemudian,

pertempuran di padepokan terpencil itu sudah berakhir.

Pertempuran yang terhitung menegangkan. Beberapa orang

korban telah jatuh di kedua belah pihak.

Di antara orang-orang padepokan itu yang terbunuh adalah Ki

Cakrawara, seorang yang merasa dirinya memiliki kemampuan

yang sangat tinggi sehingga menyentuh langit. Namun ketika ia

harus berhadapan dengan Pangeran Benawa, maka orang itu

tidak berdaya untuk mempertahankan hidupnya.

Para pengikut Ki Gede Lenglengan yang telah menyerah

itupun kemudian dikumpulkan di halaman depan, dijaga oleh

para prajurit Pajang dengan ketat. Para tawanan itu telah

meletakkan senjata mereka di depan tangga pendapa sebagai

pernyataan kesungguhan mereka untuk menyerahkan diri.

Ki Tumenggung Yudatamapun kemudian telah memberikan

beberapa peringatan kepada para tawanannya. Namun kemudian

merekapun diperintahkan untuk mengumpulkan kawan-kawan

mereka yang terluka dan terbunuh, sebagaimana para prajurit

Pajang.

Sementara itu, Pangeran Benawa dan Paksi telah menyusup

segala sudut padepokan itu. Mereka memasuki bangsal-bangsal

yang telah kosong.

Namun Pangeran Benawa telah menemukan sebuah bangsal

panjang kuat dan tertutup rapat, diselarak dari luar dengan

selarak yang besar.

“Bangsal apa ini?” desis Pangeran Benawa.

“Marilah kita lihat,” sahut Paksi.

Pangeran Benawa memang merasa ragu. Namun akhirnya

Pangeran Benawa itu telah mengangkat selarak yang berat itu.

Ketika ia membuka pintu bangsal itu, merekapun segera

melihat sebuah ruangan yang agak luas. Namun karena dinding

yang rapat, maka di dalam bangsal itu nampak hanya remangremang

saja.

Ternyata ada beberapa orang yang berada di dalam bangsal

itu. Demikian mereka melihat pintu terbuka, maka beberapa

orang itupun segera bergeser mundur. Mereka kemudian

berkumpul berdesakan hampir di ujung bangsal.

Sejenak Pangeran Benawa dan Paksi termangu-mangu. Baru

beberapa saat kemudian, Pangeran Benawa itupun bertanya,

“Siapakah kalian? Apakah kalian juga para murid atau pengikut

Ki Gede Lenglengan?”

Beberapa saat tidak terdengar jawaban, sehingga Pangeran

Benawa mengulanginya, “Siapakah kalian? Jika kalian

memerlukan pertolongan, kami, para prajurit Pajang akan

mencoba menolong kalian.”

Orang-orang yang berada di dalam bangsal itu saling

berpandangan sejenak. Namun mereka masih tetap berdiam diri.

“Jika tidak seorang pun di antara kalian yang tidak mau

berbicara, maka kami tidak dapat berbuat apa-apa. Kami akan

menutup dan menyelarak pintu ini kembali dan meninggalkan

kalian di ruangan ini. Kamipun tidak akan tahu-menahu lagi, apa

yang terjadi di padepokan ini.”

“Tunggu, Ki Sanak,” desis seseorang.

Pangeran Benawapun tertegun.

Dari antara orang-orang yang berkumpul di ujung bangsal itu

seorang melangkah maju sambil terbongkok-bongkok. “Ampun, Ki

Sanak. Kami mendengar keributan di luar bangsal. Kami tidak

tahu apa yang terjadi. Siapakah kalian berdua dan apakah

maksud Ki Sanak berdua memasuki bangsal ini?”

“Baru saja terjadi pertempuran di luar. Para prajurit Pajang

memasuki padepokan ini. Kami adalah bagian dari mereka.”

“Apakah Ki Sanak akan membebaskan kami?”

“Mungkin kami akan melakukannya. Tetapi kami tidak dapat

berbuat dengan tergesa-gesa tanpa penelitian yang dalam. Karena

itu, pada saatnya nanti akan datang orang yang akan

menentukan, apakah kalian akan dilepaskan atau tidak. Segala

sesuatu akan tergantung pada hasil penelitian. Namun kalian

boleh berpengharapan.”

“Hanya berpengharapan?”

“Untuk sementara, ya.”

Orang itu terdiam. Dipandanginya kawan-kawannya yang

berada di dalam ruangan itu. Baru kemudian iapun berkata, “Ki

Sanak, selama ini kami di padepokan ini diperlakukan sebagai

seekor binatang peliharaan yang setiap kali dipergunakan untuk

menggarap sawah. Seperti seekor lembu yang di sore hari

dimasukkan ke dalam kandang. Diberi makan secukupnya agar

kami tetap kuat. Namun esok pagi, kami digiring ke sawah untuk

melakukan kerja yang berat hampir sehari penuh. Orang-orang

yang menunggui kami juga membawa cambuk sebagaimana

mereka menunggu seekor lembu penarik bajak. Punggung dan

lambung kami setiap hari menjadi sasaran, agar kami bekerja

lebih giat.”

“Aku pernah melihatnya, Ki Sanak.”

“Kau pernah melihatnya?”

“Ya.”

“Jadi sejak kapan kau berada di padepokan ini?”

“Sejak lama. Kami melihat perlakuan yang tidak sepatutnya

dilakukan atas sesamanya.”

“Selama ini kalian berada di mana? Apakah kalian juga murid

Ki Gede Lenglengan?”

“Bukan. Kami berdua bukan murid Ki Gede Lenglengan. Kami

datang justru untuk menangkapnya.”

“Apakah sekarang Ki Gede sudah tertangkap?”

Pangeran Benawa menggeleng.

Namun sebelum Pangeran Benawa itu berkata sesuatu lagi

kepada orang-orang yang disimpan dalam bangsal yang agak

panjang itu, seorang lurah prajurit mendatanginya dengan nafas

terengah-engah. “Ki Tumenggung Yudatama mencari Pangeran.”

“Baiklah, aku akan menemuinya. Marilah, Paksi,” ajak

Pangeran Benawa.

Namun agaknya orang-orang yang berada di ujung bangsal

itupun mendengar sebutan itu. Karena itu, orang yang

terbongkok-bongkok itupun bertanya dengan suara gagap,

“Siapakah yang Ki Sanak maksudkan dengan Pangeran?”

“Pangeran Benawa,” jawab prajurit itu yang justru menjadi

heran mendengar pertanyaan itu. “Apakah kau belum pernah

melihat Pangeran Benawa?”

“Jadi, jadi Ki Sanak ini, eh, maksudku pangeran ini Pangeran

Benawa?”

“Ya.”

Orang itupun segera duduk di lantai bangsal itu sambil

membungkuk hormat sampai dahinya menyentuh lantai.

“Ampun, Pangeran. Hamba tidak tahu.”

Orang-orang yang lainpun segera duduk pula di lantai.

Sebagian dari mereka membungkuk dalam-dalam, sedangkan

sebagian yang lain menyembah.

“Kami mohon ampun,” desis seorang yang lain.

“Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak marah. Bukankah

dengan sengaja aku tidak mengenakan ciri-ciri kepangerananku?”

“Hamba, Pangeran.”

“Nah, untuk sementara kalian akan tetap tinggal di sini. Tetapi

seperti yang sudah aku katakan, kalian sekarang dapat

berpengharapan, meskipun segala sesuatunya akan ditentukan

oleh mereka yang memang berkewajiban. Namun apa yang

pernah aku lihat terjadi di padepokan ini, akan dapat menjadi

pertimbangan bagi mereka yang akan menentukan nasib kalian.”

“Hamba dan kawan-kawan hamba mohon belas kasihan,

Pangeran. Kami sudah merasa terlalu lama dikurung seperti

seekor kerbau yang sangat dungu. Kami sudah terlalu lama

diperlakukan tidak seperti manusia lagi. Hamba dan kawankawan

hamba merindukan satu kehidupan yang wajar. Tidaklah

bermimpi terlalu jauh, jika kami diperkenankan pulang ke rumah

kami, betapa pun miskinnya kami, kami akan sangat berterima

kasih.”

“Baiklah, kami akan memperhatikannya,” berkata Pangeran

Benawa kemudian. “Sekarang, aku minta diri dahulu.”

Beberapa orang yang ada di bangsal itu menyembah. Yang

lain, yang tidak terbiasa, telah membungkuk dalam-dalam.

Sejenak kemudian, Pangeran Benawa, Paksi dan lurah prajurit

yang memanggilnya telah meninggalkan bangsal itu. Pintupun

kemudian ditutup kembali dan diselarak dari luar dengan selarak

yang kuat.

Jika sebelumnya bangsal yang tertutup rapat itu dijaga oleh

para pengikut Ki Gede Lenglengan, maka kemudian bangsal itu

dijaga oleh para prajurit Pajang.

Dalam pada itu, Pangeran Benawa dan Paksipun kemudian

telah menemui Ki Tumenggung Yudatama dan Ki Ajar Permati di

depan pendapa dari bangunan utama padepokan itu. Agaknya Ki

Tumenggung masih mengatur para prajurit menanggapi keadaan

setelah pertempuran berakhir.

“Apakah Pangeran dan Paksi sudah melihat-lihat isi

padepokan ini?” bertanya Ki Tumenggung.

“Ya, Ki Tumenggung,” jawab Pangeran Benawa.

“Apakah ada yang menarik perhatian, Pangeran? Bagaimana

dengan anak-anak muda dari angkatan mendatang itu?”

“Kami tidak menemukan anak-anak muda itu, Ki

Tumenggung,” Paksilah yang menjawab. “Mungkin benar kata

perempuan yang telah dapat kita tangkap lebih dahulu itu,

bahwa anak-anak itu sudah dipindahkan.”

“Mungkin sudah ada isyarat yang dapat ditangkap oleh Ki

Gede Lenglengan, bahwa pada waktu dekat, padepokannya akan

diketahui oleh orang lain.”

“Mungkin sekali, Ki Tumenggung,” Ki Ajar menganggukangguk,

“mungkin kegagalan para pengikut Ki Gede Lenglengan

merampok Manjung telah mengisyaratkan agar Ki Gede

Lenglengan menjadi lebih berhati-hati.”

“Tetapi kegagalan itu baru saja terjadi,” sahut Tumenggung

Yudatama.

“Bukan kegagalan yang terakhir,” berkata Ki Ajar, “tetapi

kegagalannya yang terdahulu.”

Ki Tumenggung Yudatama mengangguk-angguk. “Baiklah,”

berkata Ki Tumenggung kemudian, “mungkin untuk satu dua

hari kami masih akan berada di padepokan ini, Ki Ajar. Kami

masih akan mengatur bagaimana sebaiknya kami membawa para

tawanan, terutama yang sedang terluka parah.”

“Sebaiknya Ki Tumenggung memang tidak tergesa-gesa,”

sahut Pangeran Benawa. “Ki Tumenggung juga harus

menyelesaikan persoalan sekelompok orang yang telah

diperbudak oleh Ki Gede Lenglengan. Mereka dikurung dalam

satu bangsal yang panjang di bagian belakang dari padepokan ini.

Menurut mereka, mereka diperlakukan seperti seekor lembu.

Mereka diberi makan dan minum cukup, namun kemudian

mereka dipekerjakan di sawah atau di mana saja tanpa belas

kasihan.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Sebelum mereka benarbenar

memasuki padepokan itu, Pangeran Benawa sudah pernah

mengatakan, bahwa di padepokan itu ada sekelompok orang yang

diperlakukan sebagai budak-budak belian.

“Baiklah,” berkata Ki Tumenggung, “kita akan menangani

mereka. Kita memang memerlukan waktu.”

Di sisa hari itu, Padepokan Watukambang nampak sibuk

sekali. Tabib yang menyertai pasukan Pajang ke Watukambang

seakan-akan tidak sempat minum karena kesibukannya. Para

prajurit yang terluka dan bahkan yang parah, sangat

memerlukannya. Beberapa orang prajurit yang dapat

membantunya, telah berusaha berbuat apa saja yang mungkin

mereka lakukan.

Kecuali para prajurit, maka para pengikut Ki Gede yang

terlukapun memerlukan penanganan. Meskipun mereka adalah

musuh yang baru saja bertempur antara hidup dan mati, tetapi

mereka tidak dapat dibiarkan dalam keadaan luka parah tanpa

perawatan untuk menolong jiwanya apabila mungkin. Meskipun

kelak kemudian mereka harus dihukum, tetapi mereka tidak

boleh dibiarkan mati dalam keadaannya itu.

Ketika malam turun, Ki Tumenggung Yudatama masih belum

sempat berbicara dengan orang-orang yang dikurung oleh Ki

Gede Lenglengan di bangsal panjang itu. Bahkan para petugas di

dapur pun hampir lupa memberi makan bagi mereka, setelah di

siang hari mereka tidak makan, karena tidak ada pihak-pihak

yang sempat melakukannya.

Namun, meskipun Ki Tumenggung belum sempat menangani

mereka, tetapi ketika senja turun, Pangeran Benawa dan Paksi

telah berada di dalam bangsal yang panjang itu lagi.

Orang-orang yang berada di bangsal itu tidak merasa takut

lagi kepada Pangeran Benawa dan Paksi karena sikapnya yang

ramah. Meskipun ia seorang pangeran, tetapi perhatiannya

terhadap orang-orang kecil itu sangat besar.

Dalam pembicaraannya dengan beberapa orang, maka

Pangeran Benawa dan Paksi mengetahui, bahwa orang-orang

yang ada di dalam bangsal itu berasal dari daerah yang berbedabeda.

Alasan mereka ditangkap dan dibawa ke padepokan itupun

berbeda-beda pula.

“Hamba tersesat waktu itu,” berkata seorang yang sudah

separo baya. “Hamba tidak tahu jalan yang harus hamba tempuh.

Ternyata hal itu menyeret hamba ke dalam kesulitan yang

berkepanjangan. Mula-mula hamba dituduh memata-matai

padepokan ini, sehingga karena itu maka hamba harus

ditangkap. Disekap dalam bilik sempit selama beberapa hari.

Baru kemudian seorang di antara mereka datang untuk

memeriksa hamba. Hamba sudah mengatakan apa yang

sebenarnya kepada orang itu, namun orang itu tidak percaya,

sehingga hambapun berada di sini.”

“Untuk selanjutnya menjadi budak di sini?”

“Hamba, Pangeran,” wajah orang itupun menjadi sayu.

“Sudah berapa lama kau di sini?”

“Hamba tidak dapat ingat lagi akan waktu. Bahkan hariharipun

hamba tidak tahu lagi jika tidak ada orang lain yang

memberitahukan kepadaku. Hamba tidak tahu, apakah hari ini

Pon, Wage atau Kliwon.”

“Tetapi bukankah kau dapat mengingat, meskipun barangkali

tidak tepat, seberapa lama kau dijadikan budak di sini?”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Mungkin

sudah satu tahun.”

“Tentu lebih,” berkata seorang yang masih nampak muda.

“Aku sudah berada di sini kira-kira setahun. Sedangkan Paman

sudah berada di sini lebih dahulu.”

“Ya, ya. Sekitar itulah.”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Sementara Paksipun

bertanya kepada orang yang masih terhitung muda, “Kau kenapa

berada di sini?”

“Aku berkelahi dengan seseorang di dekat pasar Mungge. Aku

tidak tahu siapa lawanku. Tetapi aku menyakitinya.” Orang itu

berhenti sejenak, lalu, “Tetapi nasibku memang buruk. Lima

orang kemudian menjemputku di pasar dan membawaku

bersama mereka. Ternyata aku sampai di sini.”

Pangeran Benawapun kemudian bertanya, “Kenapa kau

berkelahi dengan orang yang tidak kau kenal itu?”

“Orang itu mengganggu seorang gadis. Hamba kenal gadis itu,

karena gadis itu tinggal sepadukuhan dengan hamba.

Sebenarnya hamba tidak akan melawan orang yang mengganggu

gadis itu. Tetapi ia melarikan diri.”

“Kemudian kembali bersama kawan-kawannya?” sambung

Pangeran Benawa.

“Hamba, Pangeran.”

Pangeran Benawa dan Paksi mengangguk-angguk. Banyak

ceritera yang mereka dengar, kenapa orang-orang itu menjadi

budak di Padepokan Watukambang.

Seorang di antara merekapun kemudian berkata, “Sebenarnya

tawanan yang disimpan di Watukambang ini lebih banyak dari

kami yang ada di sini.”

“Di mana mereka sekarang?”

“Sebagian dari mereka yang dianggap memenuhi syarat, dapat

menyatakan kesetiaannya kepada Ki Gede Lenglengan. Mereka

akan mengalami masa-masa percobaan. Mereka mendapat

perlakukan jauh lebih baik dari kami.”

“Kenapa kalian tidak melakukan hal yang sama dengan

mereka yang menyatakan kesetiaan mereka itu?”

“Merekalah yang memilih. Kami tidak tahu, dasar apakah

yang mereka pergunakan untuk memilih di antara kami orangorang

yang bersedia menyatakan kesetiaan. Tetapi ada orang

yang telah terpilih, namun dalam waktu satu dua bulan

dilemparkan kembali kemari, karena ternyata orang itu tidak

memenuhi syarat.”

Namun tiba-tiba saja Paksi bertanya, “Apakah kau pernah

melihat sekelompok anak muda yang ditangani secara khusus di

padepokan ini?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu orang

itupun berkata, “Aku tidak tahu dengan pasti. Tetapi di sini

pernah ada sekelompok anak muda yang disebut anak-anak mas

bagi hari depan.”

“Itulah yang kami maksudkan. Anak-anak muda bagi

angkatan mendatang.”

“Ya,” tiba-tiba yang lain menyahut, “itulah yang benar. Bukan

bagi hari depan. Tetapi mereka adalah anak-anak mas bagi masa

mendatang.”

“Apakah mereka sudah tidak ada di sini?”

“Sudah beberapa lama kami tidak melihat kelompok itu lagi.

Mereka adalah kelompok anak-anak muda yang berilmu tinggi.

Mereka ditangani langsung oleh Ki Gede Lenglengan dan seorang

yang kami tidak tahu.”

Paksi mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah terasa

getar yang mengguncang jantungnya.

“Baiklah,” berkata Pangeran Benawa, “kami mengucapkan

terima kasih. Meskipun kalian masih harus tetap tinggal di

bangsal ini, tetapi percayalah, bahwa keadaan kalian tentu akan

menjadi lebih baik.”

Sejenak kemudian, maka Pangeran Benawa dan Paksipun

telah keluar dari dalam bangsal itu. Beberapa orang prajurit

bertugas berdiri tegak dengan tombak pendek di tangan mereka.

Demikian Pangeran Benawa dan Paksi melangkah di hadapan

mereka, maka merekapun serentak mengangguk hormat.

Menjelang tidur, maka Pangeran Benawa dan Paksi masih

berbincang beberapa lama dengan Ki Tumenggung Yudatama dan

Ki Ajar Permati. Menurut Ki Tumenggung, tidak ada orang yang

lebih baik dari Ki Ajar Permati yang dapat memimpin padepokan

yang terpencil itu.

“Apa yang dapat aku lakukan di sini, Ki Tumenggung? Aku

hanya seorang diri. Tanpa seorang pun yang akan menjadi kawan

untuk tinggal di sini. Bukankah padepokan ini harus dibersihkan

setiap hari? Sawah dan ladang harus digarap. Kelengkapan

sanggar harus dirawat. Bagaimana aku dapat melakukan itu

semua hanya seorang diri?”

“Ki Ajar akan segera mempunyai beberapa orang kawan.

Orang-orang yang ditawan dan dijadikan budak oleh Ki Gede

Lenglengan itu tentu ada yang dengan suka rela tinggal bersama

Ki Ajar di sini. Mungkin dua atau tiga orang. Mungkin lebih.

Sementara itu, Ki Ajar akan dapat memanggil beberapa orang

anak muda terpilih yang dapat menjadi murid Ki Ajar, karena

murid-murid Ki Ajar sebelumnya telah terbunuh.”

Ki Ajar termangu-mangu. Namun kemudian iapun

mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah. Aku akan

bertanya kepada mereka yang berada di dalam bangsal yang

tertutup rapat itu, Ki Tumenggung.”

“Besok aku akan mulai berbicara dengan mereka, Ki Ajar.

Mungkin Ki Ajar, Pangeran Benawa dan Paksi akan dapat ikut

serta dalam pembicaraan itu.”

“Baiklah, Ki Tumenggung,” desis Ki Ajar kemudian. Dalam

pada itu, di luar padepokan, Ki Gede Lenglengan telah berjalan

semakin jauh dari padepokan. Ketika ia melarikan diri dari

padepokan, ia telah bertemu dengan Ajak Bungkik yang sedang

kebingungan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Demikian Ki Gede Lenglengan melihat Ajak Bungkik, maka

iapun langsung meloncat dan mencekiknya.

“Ampun, Ki Gede. Ampun,” wajah Ajak Bungkik itupun

menjadi pucat.

“Apa yang kau lakukan semalam, he? Kau tentu hanya tidur

mendengkur. Kau tidak melihat sepasukan yang kuat telah

mendatangi padepokan yang kita yakini tidak pernah diketahui

oleh siapapun juga?”

“Tidak, Ki Gede. Kami tidak tidur. Kami berjaga-jaga sampai

matahari terbit.”

“Omong kosong. Jika demikian, kenapa kau tidak melihat

pasukan yang tidak hanya terdiri dari satu dua orang. Tetapi

beberapa kelompok yang sangat kuat?”

“Kami sama sekali tidak melihat seorang pun, Ki Gede.

Mungkin ketika kami sampai di mulut sekat, mereka sudah

berada di dalam.”

Ki Gede Lenglengan termangu-mangu sejenak. Namun

kemudian dilepaskannya tangannya dari leher Ajak Bungkik.

“Setelah itu, kenapa kau tidak segera kembali, memasuki

arena pertempuran membantu saudara-saudaramu?”

“Kami menjadi ragu-ragu, Ki Gede. Kami tidak tahu suasana

yang sebenarnya. Kami mengira bahwa padepokan itu sudah

diduduki oleh para prajurit. Memang masih nampak pertempuran

di sana-sini. Tetapi keadaannya benar-benar meragukan. Karena

itu, aku dan kawan-kawanku memilih menunggu.”

“Pengecut. Seharusnya kalian turun di medan apa pun yang

terjadi.”

“Kami mohon maaf. Sekarang kami akan melakukan apa saja

yang Ki Gede perintahkan. Bahkan seandainya Ki Gede

memerintahkan kami memasuki padepokan itu.”

“Pikiran gila. Aku tidak memerintahkan kalian untuk

membunuh diri.”

“Apa saja yang Ki Gede perintahkan.”

“Ikut aku.”

“Ki Gede akan ke mana?”

“Menghindar. Aku harus menyusun kekuatan untuk merebut

padepokan itu kembali.”

“Masih adakah artinya?” bertanya Ajak Bungkik.

“Kenapa?”

“Sudah ada orang luar yang mengetahui keberadaan

padepokan kita.”

Ki Gede Lenglengan termangu-mangu sejenak. Namun

kemudian katanya, “Kita pergi menemui anak-anak dari angkatan

mendatang di padepokan mereka yang baru. Meskipun

padepokan mereka letaknya tidak terpencil, tetapi keberadaan

anak-anak itu di sana tetap merupakan rahasia sampai saatnya

mereka dapat mengangkat beban yang diletakkan oleh angkatan

sebelumnya di pundaknya.”

“Kami akan melakukan apa saja menurut perintah Ki Gede.”

Ki Gede Lenglengan itupun kemudian telah mengajak Ajak

Bungkik dan beberapa orang yang bertugas bersama Ajak

Bungkik itu untuk pergi meninggalkan padepokan mereka yang

terpencil, yang menurut pendapat mereka tidak akan dapat

diketahui oleh orang lain. Namun ternyata bahwa padepokan itu

sudah direbut oleh para prajurit Pajang.

Dengan cepat Ki Gede Lenglengan melewati sekat yang

memisahkan padepokan itu dengan dunia di luarnya. Mereka

seakan-akan telah memasuki sebuah dunia yang asing. Meskipun

mereka mengenali dunia yang mereka masuki, tetapi mereka

telah sering berada di dunia mereka sendiri yang terasing dan

terpencil.

Menurut Ki Gede, dunia yang lain itu adalah dunia yang

hiruk-pikuk. Dunia yang isinya saling berkait, sehingga seakanakan

mereka yang ada di dunia yang lain itu telah kehilangan

kesendirian mereka. Mereka tidak mempunyai kesempatan untuk

berbuat sesuatu atas namanya sendiri, bagi kepentingannya

sendiri dan untuk kesenangannya sendiri. Mereka harus

menghiraukan kepentingan orang lain bahkan apakah orang lain

merasa terganggu atau tidak.

Namun saat itu Ki Gede harus memasuki dunia yang tidak

disenanginya itu, karena ia telah kehilangan dunianya sendiri.

Dunia yang seutuhnya bagi dirinya, bagi kepentingannya dan

bagi kesenangannya. Jika di dunianya itu ada orang lain, maka

mereka adalah penyangga-penyangga dari kepentingannya dan

kesenangannya.

Karena itu, betapapun sakit hatinya, namun Ki Gede

Lenglengan terpaksa menjalaninya. Ia harus mulai sebuah

perjalanan yang cukup panjang, mengitari kaki Gunung Merapi.

Setelah untuk waktu yang panjang Ki Gede Lenglengan tidak

lagi mengembara, maka perjalanan itu sangat tidak disukainya.

Sementara itu padepokannya telah diduduki oleh para prajurit

Pajang.

Ketika kemudian malam turun, maka Ki Gede Lenglengan itu

mengumpat-umpat sepuas-puasnya. Ia harus tidur di sembarang

tempat. Mula-mula Ki Gede ingin minta ijin menginap di sebuah

banjar padukuhan. Bahkan Ki Gede sudah berniat untuk boleh

atau tidak boleh tidur di banjar itu. Namun Ki Gede masih juga

merasa cemas, jika saja Ki Ajar Permati dan beberapa orang

prajurit yang terpilih melacaknya, mungkin mereka akan dapat

menemukannya.

Ternyata Ki Gede merasa segan untuk berhadapan dengan Ki

Ajar Permati sebelum ia sempat membenahi diri dan ilmunya,

yang ternyata masih belum dapat menyamai tataran ilmu Ki Ajar

Permati.

Karena itu, Ki Gede Lenglengan itu telah mengajak Ajak

Bungkik dan kawan-kawannya untuk bermalam di tempat

terbuka.

Udara terasa betapa dinginnya. Titik-titik embun terasa sangat

mengganggu Ki Gede Lenglengan. Biasanya ia berada dalam

sebuah bilik yang hangat. Yang dilayani oleh orang-orang yang

sangat patuh kepadanya. Setiap saat ia dapat memerintahkan

orang-orangnya itu untuk menyediakan minuman hangat

baginya.

Tetapi Ki Gede itu tidak mempunyai pilihan lain. Malam itu Ki

Gede tidur di tempat yang terbuka tanpa selimut selain kain

panjangnya sendiri.

Hampir semalaman Ki Gede tidak dapat tidur. Ia merasa

dirinya tersiksa dengan keadaannya itu.

Di Padepokan Watukambang, Paksi juga tidak dapat

memejamkan matanya. Ia selalu memikirkan adiknya yang masih

belum dapat diketemukannya.

Berbagai macam pikiran hinggap di kepalanya. Bahkan

kemudian telah tumbuh bayangan-bayangan yang mengerikan

tentang adiknya itu. Di bawah bimbingan Ki Gede Lenglengan,

adiknya itu tidak saja mendapat bimbingan dalam olah

kanuragan, tetapi tentu kepalanya juga diracuni dengan

bayangan-bayangan yang salah tentang angkatan mendatang.

“Jika adikku berilmu tinggi, maka apakah yang akan

dilakukannya? Aku akan menjadi semakin sulit untuk

mendekatinya dan berbicara dengan baik. Ia sudah terlanjur

membentangkan jarak di antara kami berdua,” berkata Paksi di

dalam hatinya.

Paksi menjadi ngeri membayangkan, betapa ia harus

berhadapan dengan adiknya, meskipun berbeda ayah. Apakah

mungkin ia harus menyakiti dan apalagi membunuh adiknya?

Jika hal itu tidak dilakukannya, apakah mungkin ia membiarkan

dirinya dibunuh oleh adiknya? Sungguh kematian yang sia-sia

setelah sekian lamanya ia mencari adiknya untuk

mengentaskannya dari dunia yang gelap itu.

Pikiran Paksi memang menjadi kalut. Di dini hari, Paksi

terkejut ketika ia mendengar Pangeran Benawa bertanya

kepadanya, “Kau belum tidur?”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sulit bagi hamba

untuk dapat tidur malam ini, Pangeran.”

“Panggil aku Wijang.”

“Tidak di antara para prajurit dan di hadapan Ki Tumenggung

Yudatama.”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu

Paksipun bertanya, “Pangeran juga belum tidur?”

“Hampir. Aku masih mempunyai waktu sebentar untuk tidur.”

Paksi tidak bertanya lagi. Iapun mencoba untuk

menyingkirkan angan-angannya dan mencoba untuk tidur di sisa

malam yang tinggal sedikit itu.

Namun oleh perasaan letih lahir dan batin, Paksipun sempat

tertidur meskipun hanya beberapa saat yang pendek.

Di keesokan harinya, seperti yang dikatakan oleh Ki

Tumenggung, maka Ki Tumenggung akan bertemu dengan orangorang

yang ditawan oleh Ki Gede Lenglengan.

Bersama Ki Ajar Permati, Pangeran Benawa dan Paksi, Ki

Tumenggung itu duduk di ruangan yang tidak terlalu luas, di

sebelah bangsal tempat para tawanan itu disekap.

“Panggil orang pertama,” bertanya Ki Tumenggung kepada

seorang lurah prajurit.

“Dari mana kita mulai, Ki Tumenggung? Dari yang tua atau

yang muda, atau dari sisi mana kita memandangnya?”

“Lakukan dengan acak. Yang mana saja yang kau panggil

lebih dahulu.”

Lurah prajurit itu mengangguk. Iapun kemudian melangkah

menuju ke bangsal di sebelah.

Seorang demi seorang telah dipanggil oleh Ki Lurah dan

dibawa menghadap Ki Tumenggung. Berbagai macam pertanyaan

sudah diajukan. Sebagian dari jawaban-jawaban itu sudah

didengar oleh Pangeran Benawa dan Paksi, karena mereka sudah

lebih dahulu bertanya.

Namun dalam pada itu, Ki Ajar Permatipun memperhatikan

jawaban-jawaban setiap orang yang dibawa menghadap Ki

Tumenggung dengan seksama. Mungkin terselip hal-hal yang

berarti bagi dirinya, karena Ki Tumenggung memang

menginginkan beberapa orang bersedia tinggal di padepokan itu.

Tetapi jika mungkin beberapa orang itu akan dipilihnya dari

antara orang-orang yang ditawan itu.

Namun dalam pada itu. Pangeran Benawa sempat

mengingatkan, “Ki Tumenggung, orang-orang itu bukan tawanan

kita. Mereka adalah tawanan Ki Gede Lenglengan.”

“Ya. Kenapa?”

“Sikap Ki Tumenggung agak terlalu keras terhadap mereka.

Justru mereka menginginkan perlindungan dari kita.”

Ki Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Katanya,

“Baiklah, Pangeran. Tetapi kita tidak dapat bersikap terlalu lunak

kepada mereka, meskipun mereka bukan tawanan kita. Baru saja

mereka menghadapi sikap yang sangat keras dari Ki Gede

Lenglengan. Jika kita terlalu lunak, maka yang nampak pada

mereka adalah kelemahan, sehingga mereka menduga, bahwa

mereka akan dapat memanfaatkan kelemahan itu bagi

kepentingan mereka.”

“Tetapi yang kita lihat, mereka menjadi ketakutan. Bukankah

kita berharap bahwa mereka menganggap kita bukan hantu yang

sama menakutkannya dengan Ki Gede Lenglengan? Atau bahkan

lebih lagi?”

Ki Tumenggung Yudatama mengangguk-angguk. Katanya,

“Baiklah, Pangeran. Aku akan bersikap lebih baik.”

Sebenarnyalah, Ki Tumenggung menjadi sedikit lebih lunak

menghadapi orang-orang yang berada di bangsal tahanan itu.

Namun dengan demikian, maka pertanyaan-pertanyaan Ki

Tumenggung mendapat jawaban yang lebih lancar dan terbuka.

Ki Ajar sempat menemukan beberapa orang yang dianggapnya

akan dapat membantunya. Bahkan mungkin di antara mereka

akan bersedia mempelajari ilmu kanuragan seberapa jauh dapat

mereka capai. Bahkan jika kemudian orang itu memenuhi syarat,

ia akan dapat menjadi murid utama Ki Ajar Permati yang sudah

tidak mempunyai siapa-siapa lagi.

Ki Tumenggung memerlukan waktu sehari penuh untuk

berbicara dengan mereka seorang-seorang. Ki Tumenggung hanya

beristirahat di waktu makan siang dan di sore hari, untuk minum

minuman hangat dan makan beberapa potong makanan.

Namun dalam pembicaraan itu, Ki Tumenggung menemukan

kesimpulan bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang

malang. Mereka tersuruk ke dalam sarang Ki Gede Lenglengan

untuk mengalami penderitaan dalam waktu yang lama.

Bahkan beberapa orang dapat menunjukkan bilur-bilur di

kulit mereka akibat penganiayaan yang sewenang-wenang. Bilurbilur

itu ada yang terdapat di punggung, di lambung, lengan dan

paha. Bahkan hampir di mana pun. Ada pula yang terdapat di

wajah menyilang menyentuh mata.

“Bagaimana menurut pendapat Ki Ajar?” bertanya Ki

Tumenggung.

“Kita bebaskan mereka.”

“Untuk kepentingan Ki Ajar sendiri?”

“Aku ingin berbicara dengan sepuluh orang di antara mereka.

Kecuali mereka memiliki tubuh dan benih kekuatan daya tahan

tubuh sehingga mereka akan dapat pulang sehari dua hari kapan

saja mereka kehendaki.”

“Baiklah, Ki Ajar. Besok aku berikan waktu kepada Ki Ajar

untuk berbicara dengan mereka.”

“Tidak usah besok, Ki Tumenggung. Nanti malam aku dapat

berbicara dengan mereka sepuluh orang.”

“Terserah saja kepada Ki Ajar jika itu yang Ki Ajar kehendaki.”

Sebenarnyalah, setelah beristirahat menjelang sampai lewat

senja, maka seorang lurah prajurit telah memanggil sepuluh

orang di antara mereka yang berada di dalam bangsal tahanan

itu.

Sepuluh orang yang pada umumnya masih muda-muda itu

menjadi cemas. Mereka tidak tahu, untuk apa mereka dipanggil

secara khusus.

Kesepuluh orang itu diterima oleh Ki Ajar Permati, Pangeran

Benawa dan Paksi. Mereka tidak perlu datang menemui Ki Ajar

seorang demi seorang. Tetapi Ki Ajar telah menerima mereka

bersepuluh bersama-sama.

Ki Ajar tidak mulai dengan pertanyaan yang melingkarlingkar.

Karena mereka sudah berbicara dengan Ki Tumenggung,

yang juga didengar oleh Ki Ajar, maka Ki Ajar itu ingin langsung

saja ke persoalannya.

“Aku ingin menanyakan satu sikap dari kalian,” berkata Ki

Ajar Permati.

 

 Jilid 34

KESEPULUH orang itu masih saja berdebar-debar. Mereka

menebak-nebak di dalam hati, apakah kira-kira yang akan

dikatakan oleh Ki Ajar Permati.

“Anak-anakku,” berkata Ki Ajar Permati kemudian, “apakah

kalian ingin segera pulang ke kampung halaman?”

Beberapa orang saling berpandangan. Keragu-raguan yang

sangat nampak membayang di wajah mereka. Tidak seorang pun

di antara mereka yang menjawab.

Ki Ajar Permatipun tersenyum. Ia dapat mengerti, kenapa

orang-orang itu dibayangi oleh keragu-raguan.

“Anak-anakku,” berkata Ki Ajar Permati kemudian, “baiklah

aku beritahukan, Ki Tumenggung sudah mengambil keputusan,

bahwa kalian semuanya akan dibebaskan. Kalian semuanya yang

pernah ditawan dan diperlakukan tidak wajar di padepokan ini,

akan diperkenankan pulang ke rumah kalian.”

Sepercik kegembiraan telah memuncul dari wajah-wajah

mereka. Seorang yang tidak dapat mengendalikan dirinya

bergeser setapak maju sambil bertanya, “Jadi, apakah kami boleh

segera pulang?”

“Besok kalian boleh pulang.”

“Besok kami boleh pulang?” sahut yang lain.

“Ya,” Ki Ajar Permati mengangguk-angguk.

Seorang lagi di antara mereka bergeser setapak maju sambil

bertanya untuk meyakinkan pendengarannya, “Jadi besok kami

sudah dapat meninggalkan neraka ini?”

“Ya. Kalian akan bebas.”

“Ternyata Yang Maha Agung tidak meninggalkan kami,” desis

orang itu sambil mengusap matanya yang basah. Katanya

selanjutnya dengan suara sendat, “Ibuku sudah menjadi semakin

tua. Ayahku sudah tidak ada. Aku mempunyai tiga orang adik

yang harus dihidupi.”

“Kau belum beristri?”

Orang itu menggeleng. Katanya, “Belum, Ki Ajar.”

“Apakah adikmu perempuan atau laki-laki?”

“Seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Aku berharap

adikku laki-laki sudah dapat membantu ibu mengerjakan sawah,

sedang adikku perempuan dapat mengerjakan pekerjaan di

rumah.”

Ki Ajar Permati mengangguk-angguk. Katanya, “Keluargamu

tentu akan merasa sangat gembira menerima kau kembali kepada

mereka.”

“Ya, Ki Ajar.”

Namun dengan demikian, maka Ki Ajar itu pun berkata di

dalam hatinya, “Anak ini sangat diperlukan oleh keluarganya.

Apakah aku akan memberikan tawaran kepadanya untuk tinggal

di padepokan ini?”

Namun akhirnya Ki Ajar Permati berpendapat, bahwa ia hanya

ingin menawarkan kesempatan. Apakah kesempatan itu akan

dipergunakan atau tidak, tergantung sekali kepada kesepuluh

orang itu.

Karena itu, maka beberapa saat kemudian, Ki Ajar Permati

itupun mulai berbicara tentang niatnya untuk mendapatkan

beberapa orang yang bersedia tinggal bersamanya di padepokan

itu.

“Jangan salah paham,” berkata Ki Ajar kepada mereka

kemudian. “Bukan maksudku untuk menghambat kebebasan

kalian. Yang aku katakan itu tidak lebih hanya satu tawaran.

Besok kalian akan pulang ke rumah kalian masing-masing. Aku

akan menunggu, siapa di antara kalian yang bersedia kembali,

akan aku terima dengan senang hati. Jika aku mengundang

kalian sekarang ini, karena menurut pendapatku, kalian masih

muda, sehingga masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi

atas kalian di masa mendatang. Kepada kalianlah aku

memberikan tawaran. Tidak kepada orang-orang yang lebih tua.

Tetapi tawaranku ini dapat kalian tolak jika kalian tidak tertarik.

Mungkin kalian melihat kemungkinan yang lebih baik dari masa

depan kalian lewat jalan yang lain.”

Seorang anak muda yang bertubuh tinggi bertanya, “Apakah

yang akan kami lakukan dan bekal apakah yang akan kami

dapatkan bagi masa depan kami jika kami berada di padepokan

ini? Selama ini kami sudah banyak kehilangan waktu. Bahkan

kami pun sudah berputus-asa dan menganggap bahwa hidup

kami adalah sia-sia.”

“Anak muda,” jawab Ki Ajar Permati, “padepokan ini, sebelum

dikuasai oleh Ki Gede Lenglengan, adalah padepokan yang aku

bangun bersama beberapa orang muridku. Pada kesempatan lain

akan aku ceriterakan, apakah yang pernah terjadi di padepokan

ini sehingga aku terusir, bahkan hampir saja aku mati. Tetapi

Yang Maha Agung agaknya masih belum menghendaki hal itu

terjadi.” Ki Ajar berhenti sejenak. Sepuluh orang yang

dipanggilnya itu mendengarkannya dengan seksama. “Di sini

kalian akan belajar berbagai macam pengetahuan menurut batasbatas

pengetahuanku. Tentang olah kanuragan, tentang

menggarap sawah, sedikit tentang kerajinan bambu, kayu, besi,

tanah, mengenali lingkungan dan alam dan lain-lain yang perlu

sebagai bekal masa depan. Tetapi sekali lagi, hanya sebatas

pengetahuanku. Kalian tidak dapat menuntut terlalu banyak.”

Keterangan Ki Ajar itu sangat menarik. Tetapi seorang anak

muda telah bertanya, “Tetapi bukankah kami tidak akan

dipekerjakan lagi sebagai seekor kerbau?”

“Kita akan bekerja keras. Mungkin sekeras apa yang pernah

kalian lakukan. Tetapi dengan kesadaran memiliki padepokan ini,

sehingga kemauan kerja itu akan tumbuh dari dalam diri kita

sendiri. Kalian tidak boleh salah menilai kehidupan yang akan

kita bangun di padepokan ini, seolah-olah kitalah yang menjadi

Yang Dipertuan. Kemudian para budak-budaklah, sebagaimana

kalian pada masa kepemimpinan Ki Gede Lenglengan, yang

bekerja keras melayani kita. Kita memang akan menjadi Yang

Dipertuan di padepokan ini, tetapi kita pulalah yang akan

menjadi budak-budak itu atas kemauan kita sendiri.”

Kesepuluh orang yang mendengarkan itupun menganggukangguk

kecil. Mereka mengerti maksud Ki Ajar Permati.

“Karena itu, kalian dapat menentukan pilihan. Yang sudah

berada di padepokan ini sehari dua hari, sebulan atau setahun,

namun kemudian tidak kerasan, mereka setiap saat dapat

meninggalkan padepokan ini.”

Sejenak suasana menjadi hening. Sepuluh orang itu

nampaknya sedang memikirkan tawaran Ki Ajar Permati.

“Kalian mempunyai waktu untuk membuat pertimbanganpertimbangan.

Besok kalian akan pulang. Keluarga kalian sudah

lama menunggu. Kalian dapat membicarakan tawaranku ini

dengan keluarga kalian. Baru setelah tiga atau empat hari, kalian

mengambil keputusan. Siapa yang menerima tawaranku, akan

kembali ke padepokan ini. Siapa yang tidak menerima, biarlah

mereka tidak kembali lagi.”

“Tetapi bagaimana kami dapat sampai ke padepokan ini

seorang diri seandainya aku ingin kembali? Kecuali jalan terlalu

rumit, mungkin aku akan bertemu dengan sisa-sisa para

pengikut Ki Gede Lenglengan.”

“Aku akan menunggu kalian selama lima hari di penginapan

Manjung. Kita akan bersama-sama naik ke padepokan ini.”

Orang-orang itu mengangguk-angguk. Seorang di antara

mereka berkata, “Terima kasih atas kesempatan ini, Ki Ajar. Kami

akan memikirkannya serta memperbincangkannya dengan

keluarga kami.”

“Baiklah. Tetapi ingat, bahwa kita akan bekerja keras.

Mungkin sekeras sebagaimana pernah kalian lakukan. Namun

yang akan kita lakukan itu akan berarti bagi kita pula. Tidak bagi

orang lain.”

Demikianlah, maka kesepuluh orang itupun telah

dikembalikan ke bangsal yang diperuntukkan bagi mereka.

Pangeran Benawa telah memberitahukan kepada mereka, bahwa

mereka boleh mengabarkan kabar kebebasan itu kepada kawankawan

mereka, para tawanan di Padepokan Watukambang itu.

“Biarlah malam nanti mereka dapat tidur nyenyak di malam

terakhir mereka berada di padepokan ini, kecuali mereka yang

kelak berniat untuk kembali ke padepokan ini.”

Kabar kebebasan itu benar-benar telah menggemparkan seisi

bangsal. Ketika seorang dari sepuluh orang yang menghadap Ki

Ajar Permati itu mewakili kawan-kawannya menyampaikan

keputusan Ki Tumenggung bahwa esok mereka dapat

meninggalkan padepokan itu, maka orang-orang sebangsal

itupun telah bersorak. Bahkan ada di antara mereka yang

terduduk di pembaringan sambil menangis terisak-isak seperti

anak-anak.

Pangeran Benawa dan Paksi yang mendengar sorak itu

tersenyum. Mereka ikut merasakan kegembiraan yang meledak

dari mereka yang sudah merasa terlalu lama diperlakukan seperti

seekor binatang. Mereka yang kebebasannya terbelenggu.

Bahkan Pangeran Benawa itupun kemudian berkata kepada

Paksi, “Marilah, kita lihat mereka.”

“Marilah, Pangeran.”

Pangeran Benawapun kemudian berkata kepada Ki Ajar

Permati, “Kami akan ikut bergembira bersama mereka, Ki Ajar.”

“Silahkan, Ngger. Sudah sepantasnya kita ikut bergembira

bersama mereka yang sedang bergembira. Tetapi kita juga ikut

berprihatin bersama mereka yang sedang menyandang duka.”

“Ya, Ki Ajar. Aku mengerti.”

“Bahkan Pangeran dan Angger Paksi telah melakukannya.”

Pangeran Benawa tersenyum sambil mengangguk hormat.

Orang-orang yang sedang bersuka-ria di bangsal tahanan itu

tertegun ketika mereka melihat pintu bangsal itu terbuka.

Demikian mereka melihat Pangeran Benawa dan Paksi memasuki

ruangan, maka berebut mereka mendapatkannya. Sebagian

langsung berlutut dan berusaha menyentuh kaki Pangeran

Benawa, yang lain memeluk Paksi sambil berdesah, “Kami

bersukur, anak muda. Akhirnya tangan Yang Maha Agung terasa

menyentuh kami.”

Pangeran Benawa sibuk menarik mereka yang berjongkok

untuk berdiri. Katanya berulang kali, “Bangkitlah. Berdirilah.”

Ketika mereka sudah menjadi tenang, maka Pangeran

Benawapun berkata, “Kami datang untuk mengucapkan selamat

kepada kalian. Besok kalian akan meninggalkan padepokan yang

telah agak lama kalian huni. Namun sekaligus mengikat kalian

dalam perbudakan.”

“Terima kasih, Pangeran. Kami tidak akan melupakan jasa

Pangeran dan Raden Paksi,” berkata seorang di antara mereka.

“Bukan karena jasa kami. Tetapi Ki Tumenggung atas

pertimbangan Ki Ajar memang menentukan bahwa kalian harus

dibebaskan setelah Ki Gede Lenglengan terusir dari padepokan

ini.”

“Sayang sekali, orang itu tidak dapat ditangkap.”

“Ya, sayang sekali.”

“Orang itu sangat menakutkan. Pada satu saat ia akan datang

kembali kemari. Ia akan membawa banyak kawan-kawannya. Ia

tentu akan menjemput anak-anak muda yang telah ditempanya

di sini beberapa saat lalu.”

“Siapakah mereka itu?” bertanya Paksi.

“Kami tidak tahu, Raden. Tetapi kami pernah melihat

sekelompok anak muda yang mendapat perlakuan khusus.”

“Berapa orang?”

“Tidak terlalu banyak. Tidak ada sepuluh orang.”

“Mereka itulah yang kami maksudkan. Bukankah aku pernah

bertanya tentang anak-anak muda angkatan mendatang kepada

satu dua orang di bangsal ini?”

“Ya,” sahut seorang yang lain, “namun akhir-akhir ini kami

sudah tidak dapat melihat mereka lagi. Mereka tentu berada di

satu tempat. Pada kesempatan lain, mereka akan datang bersama

Ki Gede Lenglengan untuk mengambil kembali padepokannya.”

“Ini bukan padepokan Ki Gede Lenglengan,” jawab Paksi.

“Padepokan ini adalah padepokan Ki Ajar Permati. Justru

Lenglenganlah yang merebutnya dengan cara yang sangat licik,

kotor dan keji.”

Mereka yang mendengarkan mengangguk-angguk.

“Baiklah,” berkata Pangeran Benawa, “kami mengucapkan

selamat jalan kepada kalian yang besok akan meninggalkan

padepokan ini. Sebaiknya kalian berjalan bersama-sama sampai

ke sekat yang memisahkan padepokan ini dengan dunia di

luarnya. Sekelompok prajurit akan mengawasi kalian sampai ke

tempat yang meyakinkan, bahwa kalian tidak akan diganggu lagi

oleh para pengikut Ki Gede Lenglengan.”

“Terima kasih, Pangeran,” berkata beberapa orang hampir

bersamaan.

“Beristirahatlah malam nanti dengan sebaik-baiknya. Malam

nanti adalah malam terakhir bagi kalian bermalam di padepokan

yang tentu kalian anggap sebagai neraka ini.”

“Ya, Pangeran.”

“Mimpi kalian akan mendahului keberangkatan kalian menuju

ke kebebasan,” berkata Paksi sambil tersenyum. “Kalian tentu

merasa diri kalian seperti burung yang besok akan dilepaskan

dari sangkar yang dipanggang di atas api. Selamat malam.”

Pangeran Benawa dan Paksipun kemudian telah

meninggalkan bangsal yang panjang itu.

Namun dalam pada itu, ternyata orang-orang yang akan

mendapatkan kebebasan di keesokan harinya itu justru tidak

dapat tidur. Mereka sudah berangan-angan, betapa keluarganya

akan menjadi sangat gembira menyambut kedatangannya yang

agaknya telah dianggap hilang atau mati.

Di keesokan harinya, dengan upacara singkat, Ki Tumenggung

dan Ki Ajar Permati telah melepas orang-orang yang telah

diperbudak oleh Ki Gede Lenglengan itu.

Wajah-wajah merekapun menjadi cerah, secerah langit di saat

matahari terbit.

Sementara itu sekelompok prajurit telah siap untuk

mengantar mereka sampai ke seberang sekat yang memisahkan

padepokan itu dengan dunia di luarnya. Sehingga para prajurit

itu yakin bahwa orang-orang itu tidak akan mengalami kesulitan

dengan sisa-sisa pengikut Ki Gede Lenglengan.

Dalam pada itu, Pangeran Benawa dan Paksi masih saja

berada di padepokan itu. Ki Tumenggung sendiri sudah

merencanakan untuk segera kembali ke Pajang sambil membawa

beberapa orang kawan yang lain.

“Aku mohon Ki Tumenggung bersabar sampai sepekan,”

berkata Ki Ajar Permati.

“Kenapa sepekan?”

“Aku berjanji untuk berada sepekan di Manjung menunggu

mereka yang bersedia untuk tinggal bersamaku di padepokan

ini.”

“Apakah aku yang harus berada di sini?”

“Masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi, justru karena

Ki Gede Lenglengan tidak tertangkap.”

“Kangjeng Sultan tentu menungguku.”

“Ki Tumenggung dapat mengirimkan penghubung untuk

menyampaikan laporan kepada Kangjeng Sultan.”

Ki Tumenggung itupun tersenyum. Katanya, “Baiklah, aku

mengalah. Aku akan berada di sini sampai sepekan.”

“Jika Ki Tumenggung berkenan, biarlah para tawanan itu

tetap berada di sini sampai sepekan pula,” berkata Paksi.

Ki Tumenggung mengerutkan dahinya. Lalu katanya, “Ya.

Mereka akan pergi ke Pajang bersamaku.”

“Terima kasih, Ki Tumenggung. Jika diperkenankan, aku akan

berusaha mendapatkan keterangan serba sedikit tentang adikku

yang sudah tidak berada di sini lagi.”

“Aku tidak berkeberatan, Paksi. Tetapi kau pun harus

mengingat, bahwa selama berada di tangan Ki Gede Lenglengan

atau orang-orang yang pikirannya sejalan, otak adikmu tentu

sudah diracuni. Jika kau menemukannya, mungkin kau justru

akan mengalami kesulitan. Kau tentu akan bersikap manis

kepadanya, tetapi adikmu tentu mendendammu. Kau tentu

dianggap berkhianat karena kau tidak mengikut langkah

ayahmu. Sementara itu adikmu adalah seorang anak muda yang

dibentuk untuk meneruskan apa yang disebutnya sebagai satu

perjuangan yang panjang. Adikmu adalah salah seorang dari

anak-anak muda yang disebut angkatan mendatang itu.”

Paksi menarik nafas panjang. Seolah-olah ditujukan kepada

dirinya sendiri ia bergumam, “Apakah aku sudah terlambat?”

“Kita akan mencobanya,” sahut Pangeran Benawa. “Kita tidak

tahu pasti, apa yang telah terjadi dengan adikmu. Tetapi menurut

perhitungan nalar, maka adikmu tentu sudah dibelenggu oleh

ajaran-ajaran Ki Gede Lenglengan. Meskipun demikian, kita

dapat mencobanya. Mudah-mudahan kita dapat bertemu dan

berbicara dengan terbuka.”

Tetapi Ki Tumenggung menggelengkan kepalanya. Katanya,

“Menurut pendapatku, Paksi memang sudah terlambat. Jika

Paksi pergi juga untuk mencarinya, maka Paksi tentu akan

menghadapi rintangan dan hambatan yang sulit dapat ditembus,

karena rintangan dan hambatan itu akan berlapis, sebagaimana

Paksi datang ke padepokan ini. Dengan kekuatan yang terhitung

besar, kita pecahkan padepokan ini. Tetapi kita tidak

menemukan adik Paksi itu.”

“Terbalik, Ki Tumenggung,” sahut Pangeran Benawa sambil

tersenyum.

“Apa yang terbalik, Pangeran?”

“Kita menyerang padepokan ini dengan kekuatan yang

terhitung besar karena kita sudah mendapat keterangan bahwa

anak-anak muda itu sudah tidak berada di sini.”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian

iapun mengangguk sambil berdesis, “Ya, Pangeran Benawa.

Meskipun demikian, padepokan ini dapat dipakai sebagai ukuran,

bahwa adik Paksi itu berada di lingkungan sebagaimana

padepokan ini. Paksi tidak akan mudah memasukinya dan

bertemu dengan adiknya itu.”

“Terima kasih atas peringatan Ki Tumenggung,” desis Paksi.

“Tetapi sulit bagiku untuk mengurungkan niat mencari adikku

itu. Mungkin yang terjadi adalah sama sekali berlawanan dengan

niatku menemuinya karena keadaan. Tetapi aku ingin

mencobanya, Ki Tumenggung.”

“Jika tekadmu sudah tidak dapat digoyahkan lagi, terserah

kepadamu. Tetapi kau harus sangat berhati-hati.”

“Aku menyertainya, Ki Tumenggung. Mudah-mudahan apa

pun yang terjadi, kami berdua tidak akan kehabisan akal.”

“Baiklah, Pangeran, kami akan berdoa bagi Pangeran Benawa

dan Paksi. Selanjutnya, jika Paksi masih ingin berbicara dengan

para tawanan, tentu tidak ada keberatannya apa-apa. Silahkan.

Mungkin Pangeran dan Paksi akan mendapatkan petunjukpetunjuk

tentang anak-anak muda itu.”

Sebenarnyalah, Pangeran Benawa dan Paksi berusaha untuk

mendapat keterangan tentang anak-anak muda yang telah

dikirim ke tempat yang lain di sisi selatan kaki Gunung Merapi.

Di hari-hari berikutnya, dengan sabar Pangeran Benawa dan

Paksi berbicara dengan beberapa orang tawanan. Seorang demi

seorang mereka dipanggil untuk menghadap Pangeran Benawa

dan Paksi.

Namun ternyata tidak banyak keterangan yang didapat oleh

Pangeran Benawa dan Paksi tentang adik laki-laki Paksi,

meskipun adik laki-laki Paksi itu banyak dikenal di padepokan

itu.

Raden Lajer Laksita memang memiliki beberapa kelebihan dari

kawan-kawannya, sehingga ia termasuk seorang anak muda pada

tataran tertinggi di antara beberapa orang anak muda yang lain.

Namun ketika Pangeran Benawa dan Paksi memanggil seorang

yang rambutnya sudah mulai memutih, maka keteranganketerangan

yang didengarnya dapat sedikit menambah

pengenalannya atas arah dan tujuan sekelompok anak muda

yang disiapkan bagi angkatan mendatang itu.

“Siapakah namamu?” bertanya Pangeran Benawa kepada

orang yang rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban itu.

“Ki Gede Lenglengan memanggil hamba Riwut,” jawab orang

itu.

“Itu adalah nama panggilanmu menurut lidah Ki Gede

Lenglengan. Tetapi siapakah namamu yang sebenarnya?”

“Nama hamba yang sebenarnya adalah Surareja, Pangeran.”

“Apa hubunganmu dengan Ki Gede Lenglengan?”

“Hamba tidak mempunyai hubungan khusus dengan Ki Gede

Lenglengan.”

“Jadi kenapa kau berada di sini? Apakah kau memang

seorang yang menganggap dirimu pejuang untuk ikut

mempersiapkan angkatan mendatang di sini?”

Surareja menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hamba

terlempar ke tempat ini bukan atas keinginan hamba sendiri.”

“Jadi?”

“Sebenarnya hamba adalah pemomong Raden Suminar. Ketika

Raden Suminar untuk sementara berada di sini, hamba pun

berada di sini pula.”

“Bukankah Raden Suminar itu murid Ki Gede Lenglengan?”

“Ya. Tetapi bukan murid murni dari perguruan ini. Ketika

Raden Suminar memasuki padepokan ini, Raden Suminar sudah

berbekal ilmu. Namun di sini ilmu Raden Suminar itu

dimatangkan, dilengkapi, diisi dan semakin ditingkatkan.”

“Ketika Raden Suminar itu bergabung dengan Harya Wisaka,

kenapa kau tidak ikut pula?” bertanya Paksi.

“Ilmuku tidak selengkap ilmu Raden Suminar. Aku tidak

diperlukan oleh Harya Wisaka. Bahkan mungkin aku hanya akan

menjadi penghambat bagi Raden Suminar. Karena itu, aku

ditinggalkan saja di padepokan ini, mengabdi kepada Ki Gede

Lenglengan.”

“Pada saat Raden Suminar sudah tidak ada di padepokan ini,

bukankah ada beberapa orang anak muda yang ditempa di sini

dan dipersiapkan sebagaimana Raden Suminar untuk

mendukung perjuangan Harya Wisaka di masa mendatang?”

bertanya Pangeran Benawa.

“Hamba, Pangeran. Ada beberapa orang anak muda yang

ditempa di sini. Mereka memang dipersiapkan untuk melanjutkan

perjuangan di masa mendatang. Tetapi Harya Wisaka itu sendiri

telah tertangkap.”

“Karena itukah mereka telah dipindahkan ke sisi selatan kaki

Gunung Merapi?”

“Ada beberapa sebab, Pangeran. Di antaranya memang karena

Harya Wisaka tertangkap serta gugurnya Raden Suminar. Tetapi

tentu ada sebab-sebab lain yang menimbulkan kekhawatiran Ki

Gede Lenglengan, bahwa pada suatu saat padepokannya yang

terpencil ini akan diketahui orang.”

“Tetapi Ki Gede tidak meletakkan penjagaan di mulut sekat

yang memisahkan padepokan ini dengan dunia luar.”

“Ketika beberapa lama setelah timbul kecemasan itu tidak

terjadi apa-apa, maka keyakinan Ki Gede Lenglengan bahwa

padepokan ini tidak akan diketahui oleh orang lain, kembali

menjadi kuat. Itu adalah satu kelengahan.”

“Apa yang kau ketahui tentang anak-anak muda itu, Ki

Surareja?” bertanya Paksi kemudian.

“Tidak banyak, Raden.”

“Mereka sekarang ditempatkan di mana?”

“Tidak seorang pun tahu kecuali Ki Gede Lenglengan sendiri.”

“Ki Surareja,” berkata Pangeran Benawa kemudian, “ketika

Paman Harya Wisaka tertangkap, setelah Raden Suminar gugur,

Paman Harya Wisaka telah menyadari betapa anak-anak muda

itu akan hidup dalam kesia-siaan. Raden Suminar yang telah

dipersiapkan dengan baik itupun akhirnya terkapar mati tanpa

arti apa-apa. Karena itu, maka akhirnya Paman Harya Wisaka

mengambil keputusan untuk memberitahukan kepada kami, di

mana anak-anak muda itu ditempa untuk menjadi seorang

pejuang yang tangguh sebagaimana Raden Suminar. Namun yang

akhirnya akan terdampar ke dalam kematian yang sia-sia.”

“Pangeran berkata sebenarnya?”

“Ya. Kenapa aku berbohong? Bukankah akhirnya kami benarbenar

menemukan padepokan ini?”

“Apakah pengakuan Harya Wisaka itu diberikan setelah

mengalami tekanan lahir dan batin?”

“Kau kira ada orang yang dapat memaksa Harya Wisaka

berbicara tanpa dikehendakinya sendiri?”

“Harya Wisaka memang seorang yang berilmu tinggi. Tetapi di

Pajang pun ada orang yang berilmu tinggi, yang akan dapat

memberikan tekanan kewadagan, sehingga memaksa Harya

Wisaka untuk berbicara.”

“Harya Wisaka adalah seorang laki-laki. Bahkan mungkin

kami pun tidak akan dapat memaksamu berbicara meskipun kau

harus mati dengan luka arang keranjang. Tetapi dengan

kesadaran betapa pentingnya menyelamatkan jiwa anak-anak

muda itu dari masa depan yang kelam dan tidak berarti sama

sekali bagi dirinya sendiri dan bagi orang banyak, mungkin kau

akan berbicara tentang anak-anak muda itu.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pangeran

telah mengusik ketenangan jiwa hamba. Sampai saat ini hamba

yang tertangkap dalam pertempuran tidak merasa cemas sama

sekali tentang nasib hamba. Hamba sudah pasrah seandainya

hamba dihukum mati dengan cara apapun juga. Justru karena

itu, hamba tidak pernah merasa gelisah. Tetapi keterangan

Pangeran itu benar-benar membuat hamba menjadi gelisah.”

“Jadi kau sudah pasrah seandainya kau dihukum mati?”

“Ya, Pangeran.”

“Apakah yang kau maksud dengan pasrah? Pasrah kepada

para petugas Pajang yang berwenang untuk mengadilimu,

kemudian pasrah kepada para prajurit yang akan melaksanakan

hukuman itu?”

“Ya.”

“Hanya itu? Kepada siapa kau pasrahkan nyawamu?”

Pertanyaan itu terasa menyengat jantung Surareja.

Dipandangnya Pangeran Benawa dengan tajamnya. Kemudian

dipandanginya pula wajah Paksi.

Akhirnya Surareja yang rambutnya sudah mulai ubanan itu

menundukkan wajahnya.

Sementara itu Pangeran Benawa berkata selanjutnya, “Ki

Surareja, terserah kepadamu, apakah kau bersedia untuk

memberikan beberapa petunjuk tentang anak-anak muda itu

atau tidak. Jika kau masih mempunyai keinginan untuk

menyelamatkan anak-anak muda itu dari kegelapan di masa

depannya, tolonglah mereka. Kelak mereka akan berterima kasih

kepadamu.”

Surareja itu semakin menundukkan wajahnya. Namun

seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri. Surareja itupun

bergumam, “Bagaimana aku tahu, bahwa Pangeran dan Raden

Paksi akan menyelamatkan mereka? Bukan sebaliknya

menangkap dan menghukum mereka dengan hukuman mati.”

Paksilah yang segera menyahut, “Seorang di antara mereka

adalah adikku.”

Surareja mengerutkan dahinya. Sementara Paksi berkata

selanjutnya, “Lajer Laksita adalah adikku.”

“Bukankah Raden Lajer Laksita itu putera Ki Tumenggung

Sarpa Biwada?”

“Ya. Aku juga putera Ki Tumenggung Sarpa Biwada.”

“Tetapi....”

“Aku sudah berkhianat menurut sisi penglihatan para

pengikut Harya Wisaka. Aku memang tidak sependapat dengan

ayah. Karena itu, aku bukan pengikut Harya Wisaka. Tetapi

adikku yang sedang meningkat dewasa itu telah dibentuk oleh

ayah menjadi seorang Suminar baru. Jika ia tidak diselamatkan,

maka nasibnya tentu akan seperti Raden Suminar. Bahkan

mungkin akan lebih buruk lagi, karena para pengikut Harya

Wisaka itu sekarang tidak lebih dari sebuah gerombolan yang

tidak lagi mempunyai pengikat yang cukup berwibawa.”

Surareja menarik nafas dalam-dalam. Nampak keragu-raguan

yang sangat sedang mencengkam jantungnya, sehingga tubuhnya

menjadi basah oleh keringat.

“Ki Surareja,” desis Pangeran Benawa kemudian.

“Hamba, Pangeran.”

“Aku sudah tahu, bahwa anak-anak muda dari padepokan ini

yang jumlahnya tidak mencapai sepuluh orang itu berada di sisi

selatan kaki Gunung Merapi. Mereka diasuh oleh sepasang

suami-istri yang berilmu tinggi. Namun orang yang mengatakan

hal itu tidak mengetahui nama sepasang suami-istri itu.”

Surareja terkejut. Bahkan iapun bertanya, “Siapa yang

mengatakan hal itu kepada Pangeran?”

“Kau tidak perlu tahu, Ki Surareja. Kau berpendirian lain, itu

berarti bahwa aku telah mengadu kalian berdua, jika aku

memberitahukanmu.”

Surareja menarik nafas panjang. Katanya, “Keterangan itu

benar, Pangeran.”

“Dapatkah kau menyebutkan, siapakah sepasang suami-istri

itu?”

“Ki Gede Lenglengan tidak menyebut namanya. Tetapi Ki Gede

pernah di luar sadarnya mengatakan, bahwa sepasang suamiistri

iblis itu dapat mencala putra mencala putri.”

“Mereka dapat berganti rupa menjadi orang lain?”

“Maksudku tidak sejauh itu. Sepasang suami-istri itu pada

suatu saat dapat menjadi dua orang suami-istri yang nampak

lembut, baik dan akrab. Namun pada saat yang lain benar-benar

dapat berhati iblis. Mereka membunuh dengan tanpa berkedip.”

Jantung Pangeran Benawa dan Paksi menjadi berdebar-debar.

Sementara itu orang yang rambutnya mulai ubanan itu berkata

selanjutnya, “Mula-mula kedua orang suami-istri itu bermusuhan

dengan Harya Wisaka. Namun tidak karena landasan paham dan

sikap mereka terhadap Pajang. Tetapi sekedar persaingan yang

tidak mempunyai landasan apapun. Mereka sama-sama

menginginkan pusaka istana yang hilang dari bangsal

perbendaharaan. Namun ketika sepasang suami-istri itu sempat

bertemu dengan Ki Gede Lenglengan yang memang sudah mereka

kenal sejak masa muda mereka, maka kedua orang suami-istri

itu bersedia dan bahkan menjadi pendukung yang kuat dari

perjuangan Harya Wisaka. Sehingga akhirnya justru mereka

mendapat kepercayaan untuk membentuk masa depan beberapa

orang anak muda yang semula ditempa di padepokan ini.”

Pangeran Benawa dan Paksi saling berpandangan sejenak.

Meskipun mereka tidak mempunyai kepastian, tetapi tiba-tiba

saja angan-angan mereka hinggap pada sepasang suami-istri

yang aneh yang pernah mereka jumpai di sisi selatan kaki

Gunung Merapi. Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.

Namun merekapun berkata di dalam hati, “Mungkin tidak ada

hubungannya sama sekali dengan kedua orang itu.”

Karena itu, baik Pangeran Benawa maupun Paksi tidak

menyahut sama sekali.

Dalam pada itu, Pangeran Benawapun bertanya, “Apalagi yang

dapat kau katakan tentang sepasang suami-istri itu?”

“Tidak ada lagi, Pangeran. Hamba memang tidak banyak

mengetahui tentang kedua orang itu.”

“Kau pernah bertemu dengan orang itu?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun wajahnya

membayangkan keragu-raguan yang dalam.

Kemudian iapun berkata, “Aku pernah melihat orang itu.

Tetapi jaraknya tidak terlalu dekat.”

“Jadi orang itu pernah datang kemari dan mengetahui bahwa

di sini ada sebuah padepokan?”

“Tidak. Tidak di sini. Tetapi di tempat lain. Pembicaraan

antara mereka dilakukan di tempat yang juga dirahasiakan.

Waktu itu, hamba mendapat kesempatan mengikuti Ki Gede

Lenglengan bersama seorang kepercayaannya yang lain.”

“Siapa orang itu?”

“Ki Prana Sanggit.”

“Kau dapat menunjukkan kepada kami orang yang bernama

Prana Sanggit itu?”

“Orang itu sudah terbunuh, Pangeran. Hamba melihat

mayatnya pada saat siap dikuburkan.”

“Jadi Prana Sanggit itu sudah terbunuh?” Paksi menegaskan.

“Ya, Raden.”

“Jadi kau satu-satunya orang yang dapat memberikan

keterangan tentang suami-istri itu?”

“Aku sudah mengatakan apa yang aku ketahui, Raden.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia memang harus

pergi ke kaki Gunung Merapi di sisi selatan.

Namun Paksi dan Pangeran Benawa tidak segera

meninggalkan padepokan itu. Ia masih mencoba untuk berbicara

dengan beberapa orang yang lain. Namun tidak seorang pun di

antara mereka yang dapat memberikan keterangan lebih jelas

dari laki-laki yang rambutnya sudah mulai ubanan itu.

Dalam pada itu, Ki Ajar Permati telah menepati janjinya untuk

berada di Manjung, menunggu beberapa orang yang bersedia

tinggal bersamanya di padepokan. Padepokan yang kemudian

telah menjadi padepokan yang terbuka, karena sudah banyak

diketahui orang, terutama para prajurit Pajang.

Selama sepekan di Manjung, ternyata Ki Ajar Permati telah

menerima lebih dari sepuluh orang. Ternyata ada seorang anak

muda yang datang bersama seorang kawannya yang menyatakan

ingin sekali tinggal di Padepokan Watukambang.

“Ketika aku menceriterakan niatku untuk kembali ke

padepokan ini, ia menyatakan keinginannya, apabila

diperkenankan, untuk ikut berguru di Padepokan Watukambang,

Ki Ajar.”

Ki Ajar tersenyum. Katanya, “Baiklah. Tetapi ia harus

menyadari sebelumnya, bahwa berada di sebuah padepokan

berbeda dengan bekerja keras. Mungkin sikapku pun akan

berbeda. Sebagai seorang guru dan pemimpin padepokan, aku

tidak akan seramah sekarang ini.”

Anak muda itu berpaling kepada kawannya. Dengan nada

berat iapun berkata, “Nah, kau dengar?”

Kawannya itu mengangguk. Katanya, “Ayah juga mengatakan

seperti itu.”

“Ayahmu?” bertanya Ki Ajar Permati.

“Ya, Ki Ajar. Ayah juga pernah berguru. Tetapi hanya sebentar.

Dengan berat hati ayah harus meninggalkan perguruannya.”

“Kenapa?”

“Ayah dipanggil kakek untuk segera menikah. Kakek sudah

sepakat dengan seorang sahabatnya untuk mengikat

persaudaraan mereka lebih erat.”

“Dan ayahmu benar-benar pulang?”

“Ya. Ayah minta diri kepada gurunya. Kemudian ayahpun

menikah dengan gadis yang sudah ditetapkan. Maka kemudian

lahirlah anak-anaknya, termasuk aku.”

Ki Ajar tertawa. Ia senang mendengar cara anak muda itu

berceritera. Katanya kemudian, “Baiklah, jika kau sudah siap

bekerja keras.”

Dalam pada itu, seorang anak muda yang lain telah membawa

adiknya ke Manjung. Dengan ragu-ragu iapun berkata, “Ki Ajar,

aku adalah anak yang tertua. Seperti sudah pernah aku

sampaikan kepada Ki Ajar, bahwa ayahku sudah tidak ada. Ibuku

menjadi semakin tua. Karena itu, aku akan menjadi seorang ayah

bagi adik-adikku. Seorang dari adikku itu justru ingin berada di

padepokan. Aku sudah mengatakan kepadanya, bahwa tinggal di

padepokan adalah sama artinya dengan bekerja keras. Tetapi ia

benar-benar ingin, sementara ibu pun telah mengijinkannya.”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Dipandanginya seorang remaja

yang memasuki masa dewasanya. Tubuhnya nampak kokoh oleh

kerja yang sehari-hari dilakukannya. Kulitnya berwarna tembaga

oleh sinar matahari yang setiap hari memanggangnya.

“Baiklah,” berkata Ki Ajar Permati, “aku tidak berkeberatan.

Biarlah ia bersamaku di padepokan.”

“Terima kasih, Ki Ajar,” berkata anak muda yang memasuki

usia dewasanya itu. “Aku akan patuh dan menjalankan segala

perintah dan petunjuk Ki Ajar.”

Ki Ajar tersenyum. Katanya, “Kau akan menjadi murid yang

baik.”

Sementara itu, ada tiga orang yang datang atas kehendak

mereka sendiri. Mereka termasuk orang-orang yang tertawan.

Meskipun mereka tidak termasuk sepuluh orang yang dipanggil

Ki Ajar, tetapi karena mereka mendengar dari seorang di antara

kesepuluh orang itu, maka merekapun telah datang untuk

menyatakan keinginan mereka tinggal di padepokan itu.

“Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi, Ki Ajar,” berkata

seorang di antara mereka. “Kedua orang tuaku memang sudah

lama meninggal. Sementara itu, selama aku berada di padepokan

ini, istriku pun telah meninggal pula. Karena itu, maka aku

merasa bahwa sebaiknya aku berada di Padepokan

Watukambang saja.”

Sementara itu, seorang yang lain berkata, “Ki Ajar, selama aku

berada di dalam perbudakan, ternyata istriku telah meninggalkan

aku. Ia telah menikah lagi dengan orang lain. Sedangkan orang

lain itu adalah sepupuku sendiri. Seorang anakku ikut bersama

mereka. Ibunya dan suaminya yang sekarang tidak melepaskan

anak itu untuk aku asuh. Karena itu, aku berniat untuk

menenggelamkan hidupku di padepokan ini. Aku tidak pernah

berniat untuk menikah lagi, jika hanya sampai sekian batas

kesetiaan seorang perempuan.”

“Belum tentu kalau istrimu bukan seorang perempuan yang

setia. Tetapi karena kau disangkanya hilang dan setelah lebih

dari setahun tidak ada kabar beritanya, maka istrimu tidak dapat

menolak ketika lamaran dari saudara sepupumu itu datang.”

“Ya, ya, Ki Ajar benar. Istriku memang sudah hampir gila

memikirkan kepergianku. Menurut ayah dan ibuku,

pernikahannya itu dapat menjadi obat baginya.”

“Baiklah. Jika kalian semuanya bersedia untuk bekerja keras

bersamaku, maka aku tidak akan berkeberatan atas kehadiran

kalian semuanya.”

Demikianlah, setelah lewat sepekan, maka Ki Ajarpun telah

mengajak orang-orang yang menyatakan kesediaannya berada di

padepokan itu meninggalkan Manjung. Mereka akan memasuki

sebuah dunia yang tidak lagi disekat dan dipisahkan oleh dunia

di luarnya, meskipun letak padepokan itu tetap saja terasing.

Setelah Ki Ajar berada lagi di padepokan, maka Ki

Tumenggung Yudatamapun berniat untuk meninggalkan

padepokan itu. Tetapi seperti rencana semula, sebagian dari

prajuritnya akan tinggal di padepokan itu. Ki Tumenggung masih

memikirkan kemungkinan, bahwa Ki Gede Lenglengan akan

kembali lagi.

“Mudah-mudahan tidak, Ki Tumenggung,” berkata Ki Ajar

Permati. “Setelah sekat padepokan ini terbuka, Lenglengan tidak

akan tertarik lagi kepada padepokan ini, karena padepokan ini

tidak ada perbedaannya dengan padepokan-padepokan yang

berdiri di mana-mana. Meskipun demikian, bahwa Ki

Tumenggung berkenan meninggalkan sebagian prajurit Pajang,

aku mengucapkan terima kasih.”

Dalam pada itu, Pangeran Benawa dan Paksi pun telah berniat

untuk meninggalkan padepokan itu pula. Dengan nada berat

Paksipun berkata, “Pangeran, hamba berniat untuk menyusuri

lorong-lorong di sisi selatan kaki Gunung Merapi. Mungkin

hamba akan berada di sana untuk waktu yang agak panjang.”

“Aku akan pergi bersamamu, Paksi.”

“Pangeran adalah putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya.

Agaknya kurang baik bagi Pangeran untuk terlalu lama berada di

luar istana. Karena itu, apakah tidak sebaiknya Pangeran kembali

ke Pajang bersama Ki Tumenggung Yudatama, sementara itu,

biarlah hamba pergi ke sisi selatan kaki Gunung Merapi ini.”

“Aku akan pergi bersamamu, Paksi. Aku sadari, bahwa

sebaiknya aku segera kembali ke istana. Karena itu, pada saatnya

mungkin aku akan meninggalkanmu di sisi selatan kaki Gunung

Merapi.”

“Mungkin Kangjeng Sultan telah menunggu kehadiran

Pangeran di istana.”

“Biarlah Ki Tumenggung Yudatama mengatakan kepada

Ayahanda, bahwa aku akan pergi ke sisi selatan Gunung Merapi.

Tetapi tidak akan terlalu lama.”

“Kangjeng Sultan akan dapat menjadi kesepian. Raden

Sutawijaya juga tidak berada di kasatrian. Bukankah Raden

Sutawijaya pergi ke Alas Mentaok?”

“Mungkin Kakangmas Sutawijaya justru sudah berada di

istana sekarang.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia mengenal Pangeran

Benawa dengan baik. Karena itu, ia tidak akan dapat merubah

keinginannya untuk pergi bersamanya.

Demikianlah, ketika Ki Ajar dan beberapa orang yang bersedia

berada di padepokan itu telah siap, Ki Tumenggungpun telah

minta diri bersama sebagian dari prajurit-prajuritnya. Bersama Ki

Tumenggung telah dibawa pula para tawanan yang tertangkap

dan yang telah menyerah.

Dengan upacara kecil, Ki Ajar dan seisi padepokan itu telah

melepas Ki Tumenggung yang meninggalkan padepokan itu. Para

prajurit yang ditinggalkan di padepokan itupun telah memberikan

penghormatan kepada kawan-kawannya yang berangkat menuju

ke Pajang.

Ternyata Ki Lurah Wirapranata yang diserahi pimpinan atas

para prajurit yang ditinggalkan adalah seorang yang baik dan

rajin. Diperintahkannya para prajuritnya untuk menyesuaikan

diri dengan kehidupan di sebuah padepokan. Mereka tidak

berpijak dengan kaku pada kedudukan mereka sebagai seorang

prajurit. Tetapi mereka pun telah mencoba untuk ikut berbuat

sebagaimana dilakukan oleh penghuni padepokan itu.

Ki Ajar Permati memang harus mulai segala-galanya dari

permulaan. Diajaknya para cantriknya yang baru untuk

mengenali lingkungannya. Ternyata banyak pula para prajurit

yang ikut melakukannya. Mereka berjalan berkeliling lingkungan

yang semula terpencil itu. Sawah, pategalan, sungai, belumbang

yang menyimpan berbagai jenis ikan, padang rumput untuk

menggembalakan kambing, lembu dan kerbau yang banyak

terdapat di padepokan itu. Lingkungan yang dipagari dengan

pagar bambu yang rapat, tempat para cantrik di padepokan itu

memelihara ayam, dan semuanya yang terdapat di lingkungan

yang semula tidak dikenal oleh dunia di sekitarnya.

Para cantrik yang semula menjadi budak di padepokan itu

sudah mengenali semuanya itu. Tetapi orang-orang yang baru

saja memasuki padepokan itu, harus berdecak kagum. Ternyata

di padepokan itu segala kebutuhan seakan-akan telah dapat

dipenuhi. Bahkan di padepokan itu, terdapat juga para cantrik

yang pandai membuat kerajinan bambu, kayu dan besi. Ada

beberapa perapian pande besi terdapat di sudut padepokan.

Sebuah barak yang panjang untuk mengerjakan pekerjaan kayu

dan bambu.

“Di satu sisi, aku menaruh hormat kepada Ki Gede

Lenglengan,” berkata Ki Ajar Permati, “Tetapi di sisi lain, Ki Gede

Lenglengan adalah orang yang terkutuk. Kebengisannya yang

tidak terkendali, nafsunya yang melonjak-lonjak di dadanya serta

mimpinya yang buruk, membuatnya menjadi orang yang tidak

terkendali.”

Para cantriknya dan para prajurit mendengarkannya dengan

sungguh-sungguh. Sementara itu, Ki Ajarpun berkata

selanjutnya, “Sekarang, kitalah yang tinggal di sini. Yang kita

anggap baik akan kita pertahankan. Bahkan jika mungkin kita

tingkatkan. Daerah ini bukan lagi daerah tertutup. Karena itu,

maka hubungan kita dengan dunia luar akan berjalan lebih

mantap.”

Demikianlah, maka padepokan yang namanya masih tetap

dipertahankan oleh Ki Ajar Permati, yaitu Padepokan

Watukambang, telah mulai dengan langkah pertamanya.

Sementara itu, maka Pangeran Benawa dan Paksipun telah

menemui Ki Ajar Permati serta Ki Lurah Wirapranata. Mereka

minta diri untuk melanjutkan usaha mereka mencari adik lakilaki

Paksi yang telah dipindahkan dari Padepokan Watukambang.

“Apakah Pangeran dan Angger Paksi menemukan petunjukpetunjuk

baru untuk menelusuri jejak adik laki-laki Angger itu?”

bertanya Ki Ajar Permati.

“Tidak begitu jelas, Ki Ajar,” jawab Pangeran Benawa. “Yang

dapat kami ketahui, adik laki-laki Paksi bersama beberapa orang

anak muda telah diserahkan kepada sepasang suami-istri di sisi

selatan kaki Gunung Merapi ini.”

“Apakah Pangeran memerlukan pasukan untuk menangkap

kedua orang itu?” bertanya Ki Lurah Wirapranata.

“Tidak, Ki Lurah. Kami masih harus menemukan siapakah

kedua orang suami-istri itu.”

“Jika Pangeran sudah menemukan, panggil kami. Kami akan

menangkap mereka jika Pangeran menghendaki.”

Pangeran Benawa mengangguk. Katanya, “Baiklah, Ki Lurah.

Tetapi kami tidak dapat mengatakan, kapan kami dapat

menemukan mereka.”

“Kapan saja Pangeran memerintahkan.”

“Terima kasih atas kesediaan Ki Lurah.”

Sementara itu, Ki Ajarpun berkata, “Pangeran dan Angger

Paksi harus berhati-hati. Bukan saja kedua orang suami-istri itu

tentu orang berilmu tinggi. Tetapi ada kemungkinan Pangeran

dan Angger Paksi bertemu dengan Ki Gede Lenglengan. Aku yakin

bahwa Ki Gede Lenglengan tentu juga pergi ke padepokan suamiistri

itu, di mana mereka menempatkan anak-anak muda dari

angkatan mendatang.”

“Ya, Ki Ajar. Kami akan berhati-hati.”

“Persoalannya adalah karena adik Angger Paksi itu sendiri,

menganggap bahwa Angger Paksi telah berkhianat kepada

ayahnya serta perjuangannya.”

“Aku menyadari itu, Ki Ajar.”

“Dengan demikian, pekerjaan yang Angger pikul adalah

pekerjaan yang berat sekali.”

“Ya, Ki Ajar. Mudah-mudahan Yang Maha Agung memberi

jalan kepadaku agar aku dapat membawa adikku itu pulang. Ibu

tentu akan merasa gembira sekali.”

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku akan

berdoa bagi keberhasilan Angger Paksi dan Pangeran Benawa

yang akan menyertai Angger.”

“Terima kasih, Ki Ajar.”

“Kapan Pangeran Benawa dan Angger Paksi akan berangkat?”

“Besok pagi-pagi, Ki Ajar.”

“Baiklah. Namun ada yang ingin aku peringatkan kepada

Pangeran Benawa.”

“Tentang apa, Ki Ajar?”

“Jangan pernah mengenakan cincin kerajaan itu di sepanjang

perjalanan.”

Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, “Baiklah, Ki Ajar. Aku

mengerti.”

“Pangeran akan dapat terlibat dalam persoalan yang lain, yang

sama sekali tidak Pangeran duga sebelumnya.”

“Terima kasih atas peringatan itu, Ki Ajar. Aku akan

menyembunyikan cincin itu agar aku tidak terjerat dalam

persoalan baru.”

Malam menjelang kepergian Pangeran Benawa dan Paksi,

keduanya telah menyempatkan diri menemui para penghuni baru

Padepokan Watukambang itu untuk minta diri. Juga kepada para

prajurit yang berada di padepokan itu.

Demikianlah, di dini hari berikutnya, padepokan itu sudah

nampak sibuk. Dua orang cantrik telah menyalakan api,

menjerang air dan menanak nasi. Mereka mempunyai beberapa

butir telur yang dapat mereka rebus. Sayur kacang panjang yang

dingin pun segera dipanasi.

Ketika cahaya fajar membayang di langit, maka Wijang dan

Paksipun telah siap pula untuk berangkat, menempuh sebuah

perjalanan baru yang panjang.

“Silahkan makan dahulu, Pangeran dan Angger Paksi. Kalian

berdua akan berjalan jauh. Bahkan kalian tidak tahu, di mana

dan kapan kalian akan sampai ke tujuan.”

Keduanya memang tidak menolak. Merekapun kemudian

makan pagi lebih dahulu sebelum berangkat meninggalkan

padepokan.

Baru ketika langit menjadi semakin terang, menjelang

matahari terbit, keduanya sekali lagi minta diri kepada penghuni

padepokan itu serta para prajurit untuk meninggalkan

Padepokan Watukambang.

“Selamat jalan, Pangeran. Selamat jalan, Angger Paksi,” desis

Ki Ajar Permati. “Aku mohon kalian berdua datang lagi ke

padepokan ini. Kapan pun.”

Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, “Tentu, Ki Ajar. Pada

suatu hari kami akan singgah di padepokan ini.”

Sejenak kemudian, maka Pangeran Benawa dan Paksi itupun

telah keluar dan regol padepokan. Mereka akan melewati bulak di

antara sawah yang digarap oleh para cantrik dan orang-orang

yang telah diperbudak oleh Ki Gede Lenglengan.

Untuk beberapa saat mereka berjalan di jalan yang rata dan

nampak terpelihara di antara tanaman yang nampak hijau subur.

Air yang jernih mengalir di parit yang membujur panjang di

pinggir jalan itu. Beberapa batang pohon turi tumbuh di atas

tanggul parit, yang dapat menjadi tempat berlindung bagi mereka

yang berjalan di bawah teriknya matahari.

Di kejauhan nampak hutan lereng pegunungan yang hijau

lebat melindungi lingkungan dari ganasnya air hujan.

Ketika cahaya matahari pagi nampak bagaikan membakar

langit, maka keduanya telah sampai di sekat yang memisahkan

padepokan itu dari dunia di sekitarnya. Namun sekat itu seakanakan

sudah runtuh pada saat pasukan Pajang memasuki

padepokan yang tertutup itu. Padepokan yang ternyata menjadi

bagian dari landasan kekuatan Harya Wisaka, justru untuk

jangka yang panjang.

Pangeran Benawa yang dalam pengembaraannya mengenakan

nama Wijang, serta Paksi itupun kemudian mulai menuruni kaki

Gunung Merapi melalui tanah yang miring, berbatu-batu padas

ditebari dengan batu-batu yang besar berserakan di mana-mana.

Untuk beberapa saat mereka berjalan di atas tanah yang sama

sekali tidak layak untuk dilalui. Tidak ada lorong sekecil apa pun.

Tidak ada jalan setapak yang menandai bahwa lingkungan itu

sering didatangi orang meskipun jarang-jarang.

Namun agaknya dalam waktu dekat, maka di atas tanah yang

berbatu-batu padas di sela-sela batu-batu raksasa itu, akan

menjelujur jalan setapak menuju ke Padepokan Watukambang.

Dalam pada itu, Wijang dan Paksi telah sepakat untuk lebih

dahulu pergi ke Manjung. Mereka ingin melihat keadaan Manjung

setelah mereka tidak lagi diancam oleh para pengikut Ki Gede

Lenglengan. Mereka tidak perlu lagi takut dirampok di atas sasak

penyeberangan yang menuju ke Nglungge. Demikian pula

sebaliknya. Penginapan di Manjung dan Nglungge pun tidak lagi

dicemaskan oleh kedatangan sekelompok orang-orang bersenjata

yang akan merampas bekal dan harta benda orang-orang yang

menginap.

Kedatangan Wijang dan Paksi di penginapan di Manjung,

disambut dengan ramah sekali oleh pemilik penginapan itu.

Meskipun pemilik penginapan itu tidak mengetahui dengan pasti,

dengan siapa ia berhadapan, namun ia tahu, bahwa kedua orang

itu tentu mempunyai peran yang penting pada saat prajurit

Pajang menghancurkan padepokan yang sebelumnya tidak

diketahuinya itu.

“Aku persilahkan kalian berdua menginap di penginapanku

kapan saja kalian kehendaki,” berkata pemilik penginapan itu.

“Terima kasih,” sahut Wijang. Namun yang kemudian berkata,

“Kami tidak akan menginap. Kami datang untuk memberikan

peringatan.”

“Peringatan?” orang itu mengerutkan dahinya.

“Mungkin keadaan sudah menjadi jauh lebih baik sekarang.

Meskipun demikian, sebaiknya di penginapan ini masih harus

ada petugas-petugas untuk menjaga segala kemungkinan.

Mungkin sisa-sisa penghuni padepokan yang sudah dihancurkan

itu. Mungkin justru perampok dari tempat lain yang mendengar

peristiwa yang terjadi di sini serta melihat bahwa penginapan ini

seakan-akan menjadi lengah. Dengan sedikit perhitungan,

mereka dapat memanfaatkan keadaan yang berkembang di

daerah ini.”

Pemilik penginapan itu mengangguk-angguk sambil berkata,

“Terima kasih atas peringatan ini. Aku akan memanggil orangorangku

yang dahulu. Mungkin mereka tidak lagi dibayangi

ketakutan sekarang ini. Untuk menghadapi gerombolan

perampok yang lain, yang tentu tidak akan sekuat para penghuni

padepokan itu, orang-orangku itu akan dapat mengatasinya.”

“Tolong sampaikan pesan ini juga kepada pemilik penginapan

di Nglungge, agar orang-orang yang menginap menjadi lebih

tenang.”

Namun Wijang dan Paksi tidak terlalu lama berada di rumah

pemilik penginapan itu. Meskipun pemilik penginapan itu

mencoba menahannya, namun keduanya terpaksa meninggalkan

penginapan itu karena mereka sudah berniat untuk mulai dengan

perjalanan mereka menuju ke sisi selatan kaki Gunung Merapi.

Demikian mereka mulai dengan perjalanan mereka, maka

Wijangpun berkata, “Agaknya kita akan menuju ke arah yang

sama dengan Ki Gede Lenglengan.”

Paksi mengangguk-angguk. Ia pun sadar bahwa Wijang ingin

memperingatkannya, bahwa mereka mungkin sekali akan

bertemu dengan Ki Gede Lenglengan di perjalanan. Jika

demikian, maka itu akan berarti bahwa mereka akan bertemu

dengan orang yang ilmunya sangat tinggi. Orang yang tidak dapat

ditangkap oleh Ki Ajar Permati meskipun mereka sudah bertemu

di medan.

Meskipun keduanya akan menempuh perjalanan panjang

melalui jalan yang kadang-kadang mendaki, namun kadangkadang

bagaikan menukik turun, keduanya tidak mengalami

kesulitan. Keduanya telah memiliki pengalaman pengembaraan

yang cukup.

Tetapi kadang-kadang mereka sampai juga di jalan datar yang

panjang, di antara sawah yang nampak hijau terbentang dari

cakrawala sampai ke cakrawala.

Namun mereka pun sering pula menyusup jalan yang

menembus padukuhan-padukuhan yang keadaannya sangat

berbeda-beda. Kadang-kadang mereka berjalan di padukuhan

yang nampak cerah, bersih dan dihuni oleh orang-orang yang

tataran hidupnya cukup baik. Namun mereka juga melewati

padukuhan-padukuhan yang nampak muram. Di sebelahmenyebelah

jalan nampak rumah yang sederhana meskipun

halamannya cukup luas. Tetapi tanaman yang tumbuh di

atasnya, daunnya tidak nampak hijau dan rimbun. Tetapi jarang

dan agak kekuning-kuningan.

Ketika mereka sampai di sebuah padukuhan yang nampak

gersang itu, Wijangpun berkata, “Padukuhan ini memerlukan

perhatian khusus.”

“Nampaknya tanahnya kering dan tandus.”

“Ya. Tetapi aku juga tidak melihat jalur-jalur parit di sekitar

padukuhan ini.”

Paksi mengerutkan dahinya. Sementara Wijangpun berkata,

“Sebenarnya lingkungan ini cukup basah. Jika saja dibuat parit,

maka air akan mengalir dari lereng.”

“Agaknya tidak ada orang yang mengarahkannya. Atau orangorang

padukuhan ini memang orang-orang malas.”

Belum lagi duapuluh langkah, Wijang dan Paksi itu melihat

tiga orang laki-laki yang masih terhitung muda, duduk-duduk

sambil memeluk lutut di mulut sebuah lorong.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah agaknya

yang mereka lakukan sehari-hari. Tentu bukan hanya tiga orang

itu. Tetapi masih banyak yang lain yang kerjanya hanyalah

duduk-duduk sambil memeluk lutut.”

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Rasa-rasanya hati ini

tergelitik untuk berbicara dengan mereka. Jika saja aku bukan

putera Ayahanda Sultan, aku dapat menutup mata melihat

keadaan seperti ini.”

Paksi mengangguk sambil berdesis, “Itu adalah kepedulian

Pangeran terhadap rakyatnya.”

“Namaku Wijang.”

“Putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya namanya bukan Wijang.”

Wijang memandang Paksi dengan tajam. Namun kemudian ia

tersenyum. Katanya, “Ya, kau benar, Paksi. Aku keliru.

Seharusnya aku berkata, bahwa setiap orang harus

mempedulikan lingkungannya. Termasuk kita. Wijang dan Paksi.

Kita tidak dapat membiarkan mereka tertinggal dalam kehidupan

mereka yang apa adanya tanpa berusaha untuk dapat

meningkatkannya.”

Paksipun tertawa pendek. Dengan nada berat iapun berkata,

“Apakah kita akan melakukannya sekarang?”

“Apa salahnya? Kita akan berbicara dengan mereka. Jika

mereka mau mendengarkan, sukurlah. Jika tidak, bukankah kita

tidak kehilangan apa-apa?”

“Kita akan berbicara dengan ketiga orang itu?”

“Tidak. Kita akan berbicara dengan Ki Bekel.”

“Jika demikian, maka kita akan mencari rumah Ki Bekel.”

Wijang mengangguk-angguk.

Beberapa puluh langkah lagi, keduanya tertegun. Mereka

melihat dua orang perempuan duduk di tangga sebuah regol

halaman yang sudah agak miring karena tidak terpelihara.

Seorang dari mereka sedang sibuk mencari kutu rambut dan

yang seorang lagi sambil asyik berbicara tanpa henti-hentinya.

“Itu adalah bayangan dari seluruh kehidupan di padukuhan

ini, Paksi,” desis Wijang.

“Aku akan bertanya kepada mereka, di manakah rumah Ki

Bekel dari padukuhan ini.”

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Bertanyalah. Hati-hati.

Jangan membuat mereka curiga. Agaknya mereka tidak ingin

terusik dari kehidupan mereka yang tenang dan tenteram.”

“Tetapi tanpa greget sama sekali. Yang mereka jalani sekarang

adalah apa yang telah mereka jalani kemarin. Apa adanya tanpa

usaha peningkatan sama sekali.”

Wijang tidak menjawab. Sementara itu, Paksipun telah

melangkah mendekati dua orang perempuan yang duduk di

tangga regol itu.

Kedua orang perempuan itu memang terkejut. Tetapi jauhjauh

Paksi sudah mengangguk hormat sambil berkata, “Maaf,

Bibi. Apakah aku boleh bertanya?”

Sikap Paksi itu membuat kedua orang itu menjadi tenang.

Seorang di antara mereka segera bangkit berdiri dan bertanya,

“Ada apa, anak muda?”

“Bibi, di manakah rumah Ki Bekel padukuhan ini?”

“Ki Bekel? Apakah kau akan menemui Ki Bekel?”

“Ya, Bibi.”

“Untuk apa?”

“Sekedar memperkenalkan diri.”

Perempuan itu memandang Paksi dari ujung kakinya sampai

ke kepalanya. Dengan nada tinggi perempuan itu masih saja

bertanya, “Untuk apa kau memperkenalkan diri?”

“Tidak apa-apa, Bibi.”

Kedua orang perempuan itu saling berpandangan. Yang

seorang, yang juga telah bangkit berdiri, bertanya, “Siapakah

kalian?”

“Namaku Paksi, Bibi. Itu kakakku, namanya Wijang.”

Perempuan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau dapat

sampai ke rumah Ki Bekel lewat lorong sebelah. Atau kau dapat

berjalan melingkar mengikuti jalan induk ini. Kau akan sampai di

banjar, kemudian dua rumah dari banjar adalah rumah Ki

Bekel.”

“Terima kasih, Bibi.”

Kedua orang perempuan itu tidak menjawab. Namun mereka

agaknya tertarik pada kehadiran dua orang anak muda yang

belum pernah mereka kenal.

Sejenak kemudian, maka Wijang dan Paksipun memilih

menyusuri jalan induk itu meskipun harus melingkar. Jika

mereka memilih lorong sebelah, maka ada tiga orang laki-laki

yang duduk memeluk lutut di mulut lorong itu.

“Betapa malasnya kedua orang perempuan itu. Matahari

sudah melewati puncak dan mulai bergulir ke barat. Nampaknya

mereka masih saja belum membenahi diri. Jika hal itu karena

mereka sibuk melakukan kerja, maka mereka adalah orang-orang

yang rajin. Tetapi agaknya kerja kedua perempuan itu sejak pagi,

juga hanya duduk-duduk, berbincang tentang keluarga mereka,

tentang sanak kadang mereka, tentang tetangga-tetangga mereka

dan tentang apa saja yang tidak berarti,” desis Wijang.

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Jika saja mereka sedikit

berbenah diri, maka mereka tidak akan kelihatan begitu kotor

sebagaimana halaman rumah mereka.”

“Bagaimana dengan halaman rumah mereka?”

“Nampaknya sudah sepekan tidak dibersihkan.”

Wijang tidak segera menyahut. Diperhatikannya dinding

halaman yang kotor, berlumut dan di sana-sini sudah mulai

retak-retak.

Beberapa saat kemudian, seperti yang dikatakan oleh

perempuan itu, merekapun sampai di depan banjar. Banjar itu

nampak sepi dan juga kurang terpelihara.

“Kita sudah hampir sampai,” berkata Wijang.

Paksi mengerutkan dahinya. Katanya, “Tidak banyak anak di

sini. Aku baru melihat dua orang anak yang berlari-larian di

halaman.”

“Ya,” sahut Wijang, “tetapi mungkin anak-anak itu sedang

menggembala kambing atau sedang merumput di pategalan.”

Paksi tidak sempat menyahut. Mereka sudah sampai di pintu

regol halaman sebuah rumah yang nampaknya lebih besar dari

rumah-rumah di sekitarnya. Lebih terawat dan halamannya yang

luas juga nampak lebih bersih.

“Agaknya inilah rumah Ki Bekel,” berkata Paksi.

“Ya. Rumah ini lebih besar dari yang lain. Marilah.”

Keduanyapun segera memasuki regol halaman rumah Ki Bekel

itu.

Ketika seorang yang sedang duduk di tangga pendapa melihat

kehadiran kedua orang anak muda itu, maka orang itupun

bangkit dan menyongsongnya.

“Apakah ini rumah Ki Bekel?” bertanya Wijang.

“Ya. Rumah ini adalah rumah Ki Bekel,” jawab orang itu.

“Apakah aku dapat menemuinya?”

“Untuk apa?”

“Ada sedikit pesan bagi Ki Bekel.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun

menjawab, “Ki Bekel masih tidur. Tadi juga ada seorang yang

mencarinya. Tetapi orang dari padukuhan ini saja.”

“Masih tidur? Maksudmu sejak pagi Ki Bekel belum bangun?”

“Belum, Ki Sanak. Semalam Ki Bekel berada di rumah

tetangga sebelah yang melahirkan anaknya yang pertama. Ikut

berjaga-jaga dan membaca tembang.”

“Semalam suntuk?”

“Tidak. Menjelang tengah malam, Ki Bekel baru pulang.”

“Menjelang tengah malam?”

“Ya.”

“Lalu tidur sampai sekarang?”

“Ya.”

“Bagaimana dengan kebiasaan Ki Bekel di hari-hari lain, jika

Ki Bekel tidak berjaga-jaga di tempat orang yang sedang

melahirkan atau mengunjungi perhelatan?”

“Ki Bekel tidak terlalu sering tidur terlalu malam.”

“Kalau bangun?”

“Biasanya Ki Bekel bangun lebih pagi. Pada saat matahari

sepenggalah, Ki Bekel tentu sudah bangun.”

“Sampai matahari sepenggalah?”

“Ya, kenapa? Bukankah biasa seseorang bangun saat

matahari sepenggalah?”

Wijang dan Paksi saling berpandangan sejenak. Agaknya Ki

Bekelpun seorang pemalas, sehingga seluruh padukuhan seakanakan

telah menirukannya, menjadi seorang pemalas pula.

“Kapan Ki Bekel akan bangun?” bertanya Paksi.

“Aku tidak tahu, Ki Sanak.”

“Apakah Ki Bekel dapat dibangunkan?”

“Tidak ada yang berani membangunkannya. Nyi Bekel pun

tidak. Apalagi orang lain.”

“Jika ada masalah yang penting?”

“Yang berkepentingan harus menunggu.”

“Jika masalah itu penting sekali sehingga harus mendapat

penanganan dengan cepat?”

“Bukankah ada bebahu yang lain?”

“Jadi orang yang berkepentingan harus mencari bebahu yang

lain? Siapa?”

“Menurut kepentingannya. Jika persoalannya menyangkut

tentang ketenangan dan tata tertib, maka itu adalah tugas Ki

Jagabaya. Mengenai persoalan-persoalan yang bersifat umum

yang menyangkut hubungan antara keluarga padukuhan ini,

adalah urusan Ki Kamituwa. Jika persoalannya menyangkut

sawah dan pategalan, itu adalah urusan bebahu yang lain lagi.”

Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Namun Wijangpun

kemudian berkata, “Ki Sanak, jika demikian, biarlah kami

menunggu. Mungkin di banjar atau di mana saja.”

“Kau tidak usah pergi ke banjar. Jika kau memang akan

menunggu, tunggulah di serambi gandok itu.”

Wijang dan Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian

Wijangpun berkata, “Baiklah. Kami akan menunggu di sini.”

“Nah, jika kau akan menunggu, silahkan duduk di serambi

gandok. Mungkin kau merasa lebih bebas duduk di serambi

daripada di pendapa.”

Wijanglah yang menjawab, “Terima kasih, Ki Sanak. Kami

akan menunggu di serambi.”

Keduanyapun kemudian dipersilahkan duduk di serambi, di

atas sebuah amben bambu yang memanjang.

Beberapa saat lamanya mereka duduk di serambi sambil

berbincang tentang padukuhan yang kering itu. Tetapi Ki Bekel

masih juga belum menemuinya. Agaknya Ki Bekel itu masih

belum bangun juga. Sementara itu, orang yang mempersilahkan

mereka duduk itupun tidak nampak lagi di pendapa.

“Sampai kapan kita harus menunggu?” bertanya Paksi.

“Kita tunggu sebentar lagi. Bukankah kita perlu bertemu

dengan Ki Bekel itu untuk menunjukkan kepedulian kita?”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Wijangpun

berkata pula, “Biarlah kita sedikit bersabar.”

Ketika mereka mendengar langkah di pintu seketeng, maka

yang mereka lihat kemudian keluar dari pintu itu adalah orang

yang mempersilahkannya duduk di serambi sambil membawa

minuman hangat serta beberapa potong makanan.

Ketika orang itu meletakkan sebuah nampan kayu di amben

panjang itu, Paksipun bertanya, “Apakah Ki Bekel sudah

bangun?”

“Sudah, Ki Sanak. Baru saja.”

“Ki Sanak sudah menyampaikan kedatangan kami kepada Ki

Bekel?”

“Sudah. Aku sudah mengatakan, bahwa ada dua orang yang

menunggu di serambi gandok.”

“Apakah Ki Bekel akan menemui kami?”

“Ya. Ketika aku mengatakan bahwa ada dua orang yang belum

aku kenal datang untuk bertemu dengan Ki Bekel, maka Ki

Bekelpun mengatakan bahwa ia akan segera menemui Ki Sanak

berdua.”

“Terima kasih, Ki Sanak. Kami akan menunggu.”

“Silahkan minum, Ki Sanak. Silahkan makan apa adanya.”

“Terima kasih,” jawab Wijang.

Sejenak kemudian, orang itupun telah hilang di balik pintu

seketeng itu lagi.

Beberapa saat keduanya menunggu. Tetapi Ki Bekel masih

juga belum keluar.

“Kenapa lama sekali?”

“Mungkin Ki Bekel itu baru mandi.”

Paksi mengangguk-angguk. Tetapi rasa-rasanya ia tidak sabar

lagi menunggu.

Ketika kesabaran mereka yang menunggu di serambi itu

hampir habis, maka mereka melihat seseorang keluar dari pintu

pringgitan. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun kemudian

orang itu melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Wijang

dan Paksi naik ke pringgitan.

“Kita pergi ke pringgitan,” desis Wijang.

Paksi mengangguk.

Demikianlah, maka keduanyapun segera melangkah turun

dari serambi gandok. Namun demikian mereka melangkah, orang

itupun berteriak, “Bawa minumanmu dan makanan itu kemari.”

Wijang dan Paksi tertegun. Sejenak mereka saling

berpandangan.

“Baiklah,” desis Wijang, “kita bawa minuman kita dan

makanan itu ke pringgitan.”

Sejenak kemudian, maka Wijang dan Paksipun telah duduk di

pringgitan ditemui oleh laki-laki yang baru saja bangun tidur.

Ternyata ia masih belum juga mandi. Bahkan sekali-sekali orang

itu masih menguap sambil menggosok matanya.

“Semalam aku berada di rumah tetangga yang melahirkan

anaknya yang pertama,” desis orang itu.

“Bukankah aku menghadap Ki Bekel?” bertanya Wijang.

“Ya, aku bekel di sini. Tetapi dengar kata-kataku, semalam

aku berjaga-jaga di rumah tetangga sebelah yang telah dikurniai

seorang bayi laki-laki.”

“Semalam suntuk, Ki Bekel?” bertanya Paksi meskipun ia

sudah tahu bahwa Ki Bekel pulang menjelang tengah malam.

“Tidak. Tetapi aku pulang menjelang tengah malam.”

Paksi mengangguk-angguk.

Sementara itu, Ki Bekel sambil menguap tanpa menutup

mulutnya dengan tangannya, bertanya, “Siapakah kalian?”

“Namaku Wijang, Ki Bekel. Ini adikku, Paksi.”

Ki Bekel mengangguk. Dengan nada datar iapun bertanya

pula, “Untuk apa kalian datang kemari?”

“Maaf, Ki Bekel. Kami adalah perantau yang sudah

menjelajahi seribu lembah dan ngarai. Kami sudah melintasi

dataran yang luas serta mendaki lereng-lereng pegunungan.”

“Untuk apa hal itu kau katakan kepadaku?”

“Sekedar pengantar, Ki Bekel. Aku hanya ingin mengatakan,

bahwa sudah banyak padukuhan yang aku kunjungi.”

“Lalu?”

“Aku mencoba untuk memperbandingkan kesuburan tanah di

setiap padukuhan yang aku lewati.”

“Aku tahu arah bicaramu,” potong Ki Bekel. “Kau akan

mengatakan bahwa tanah di padukuhan ini nampak kering dan

gersang. Bukankah begitu?”

“Aku tidak bermaksud menyinggung perasaan Ki Bekel. Jika

aku mengatakan bahwa tanah di padukuhan ini nampak kering

dan gersang, justru aku merasa ikut prihatin akan keadaan ini.”

“Kau tidak usah ikut berprihatin. Kami yang tinggal di sini

tidak pernah merasa prihatin. Inilah yang ada pada kami. Kami

harus menerimanya apa adanya tanpa merasa prihatin.”

“Aku sependapat, Ki Bekel. Tetapi jika kita dikurniai akal

budi, apakah tidak sebaiknya kita pergunakan? Demikian pula

tenaga dan kemampuan kita.”

“Wah,” Ki Bekel itu dengan serta-merta memotong, “kau anak

kemarin sore sudah menggurui aku. Lihat, rambutku sudah

ubanan. Seharusnya kau hormati orang-orang tua. Apakah ayah

dan ibumu tidak pernah mengajarimu unggah-ungguh?”

“Tentu, Ki Bekel. Aku hormati orang-orang tua. Ayah dan ibu

kami mengajari kami, agar kami selalu menghormati orang-orang

tua.”

“Jadi kenapa kau sekarang mengajari kami?”

“Ki Bekel, terus terang kami merasa prihatin melihat tanah

kering dan tandus di padukuhan ini. Padahal seharusnya tanah

di padukuhan ini dapat menjadi jauh lebih subur.”

“Kau jangan mengguncang ketenangan hidup di padukuhan

ini, anak muda. Biarlah yang terjadi di padukuhan ini kami

terima dengan senang hati. Ada sebagian bulak kami yang subur

di lereng gumuk itu. Selebihnya, inilah apa adanya.”

“Ki Bekel,” berkata Wijang, “jika Ki Bekel berkenan, kami akan

berada di padukuhan ini barang satu dua hari. Kami berjanji

untuk menunjukkan cara terbaik yang dapat dilakukan oleh

padukuhan ini, agar padukuhan ini tidak menjadi padukuhan

yang kering dan tandus.”

Ki Bekel tertawa. Katanya, “Apa yang dapat kau lakukan

dalam satu dua hari? Apakah kau seorang yang mempunyai

kekuatan ajaib sehingga dapat menjadikan daerah ini subur?”

“Tidak, Ki Bekel. Kami hanya dapat menunjukkan caranya.

Segala sesuatunya tergantung kepada Ki Bekel dan rakyat

padukuhan ini.”

“Sudahlah, anak muda. Kita tidak mau mempersulit diri.

Hidup kami sudah mapan. Padukuhan ini adalah padukuhan

yang tenang dan tenteram. Aku tidak mau padukuhan ini

menjadi gelisah karena nafsu ketamakan yang mencengkam

setiap jantung penghuninya. Mereka akan berlomba-lomba dan

berebut harta milik keduniawian.”

“Bukankah kita dibenarkan untuk mendapatkan yang terbaik

di dunia ini? Tetapi kita harus menempuh cara yang benar.

Sedangkan apa yang kita miliki kemudian, juga akan dapat

berarti bagi orang lain.”

Ki Bekel itupun tertawa. Sekali lagi ia menguap tanpa

menutup mulutnya dengan tangannya. Bahkan tangannya telah

memungut sepotong makanan untuk menyuapi mulutnya.

“Terima kasih, anak-anak,” berkata Ki Bekel. “Aku senang

bertemu dengan anak-anak yang mau mengajari orang setua aku.

Baiklah, sekarang habiskan minuman kalian. Makanlah

makanan yang masih ada ini. Aku tidak berkeberatan jika kalian

akan berada di sini satu atau dua hari. Tetapi sebaiknya kalian

tidak menyinggung perasaan orang-orang tua di sini.”

“Tidak, Ki Bekel. Jika Ki Bekel tidak berkeberatan, aku akan

berbicara dengan anak-anak mudanya. Tidak dengan orang-orang

tua. Jika anak-anak mudanya dapat mengerti apa yang aku

katakan, mudah-mudahan padukuhan ini tidak menjadi

padukuhan yang semakin lama menjadi semakin kering dan

tandus. Jika hal itu terjadi, maka semua yang tumbuh di

padukuhan ini akan kering. Pepohonan akan berdaun kuning.

Sawah hanya dapat ditanami di musim hujan. Sedangkan

pategalan hampir tidak memberikan hasil apa-apa sepanjang

tahun.”

“Apakah kita harus menggugat, kenapa tanah kami menjadi

kering dan tandus?”

“Ya. Kita harus menggugat diri kita sendiri. Kenapa kita tidak

berusaha, sedangkan kita telah mendapatkan kurnia akal dan

budi disamping wadag kita?”

“Mimpimu menarik, anak muda. Tetapi jangan kecewa jika

kau nanti akan terbangun sebelum berhasil.”

“Kita sama-sama tidak akan kehilangan apa-apa, Ki Bekel.

Jika gagal, ya, gagallah usaha ini. Tetapi bukankah tidak ada

barang yang hilang. Tidak ada yang dirugikan?”

“Baiklah. Kau akan dapat berhubungan dengan Ki Kamituwa

dan Ki Jagabaya.”

“Terima kasih, Ki Bekel. Tetapi bagaimana caranya aku

bertemu dengan mereka? Apakah aku harus menemui mereka di

rumah mereka masing-masing?”

“Tidak. Biarlah mereka dipanggil kemari. Aku juga ingin ikut

mendengarkan pembicaraanmu dengan kedua orang bebahu itu.”

“Terima kasih, Ki Bekel. Jika demikian, bukankah berarti aku

harus menunggu mereka di sini?”

“Ya. Kalian menunggu saja di sini.”

Ki Bekel itupun kemudian bertepuk tangan.

Orang yang menerima Wijang dan Paksi itulah yang kemudian

datang lewat sisi samping pendapa.

“Pergilah ke rumah Ki Kamituwa dan Ki Jagabaya. Aku

menunggu kedatangan mereka.”

“Baik, Ki Bekel.”

Orang itupun kemudian melangkah menuju ke regol halaman

dan segera turun ke jalan.

“Nah, silahkan duduk sambil menunggu Ki Kamituwa dan Ki

Jagabaya. Aku akan mandi.”

“Silahkan, Ki Bekel. Silahkan.”

Ki Bekelpun bangkit berdiri sambil menggeliat. Dengan

malasnya Ki Bekel itupun melangkah masuk pintu pringgitan.

Beberapa saat Wijang dan Paksi menunggu. Sambil meneguk

minuman, maka merekapun telah makan sepotong makanan

yang dihidangkan kepada mereka.

“Pada dasarnya penghuni padukuhan ini adalah orang-orang

yang baik. Tetapi mereka terlalu malas,” berkata Wijang.

Paksi mengangguk-angguk kecil.

Wijang mengerutkan dahinya. Tiba-tiba saja ia bertanya,

“Bukankah kau tidak kecewa, Paksi? Kita akan menunda

perjalanan barang dua tiga hari?”

Paksi menggeleng sambil menjawab pendek, “Tidak. Aku tidak

apa-apa.”

Namun Wijangpun berkata, “Aku minta maaf, Paksi. Aku tidak

minta pertimbanganmu dahulu. Tetapi segala sesuatunya

terserah kepadamu. Jika kau ingin segera meneruskan

perjalanan, maka kita dapat saja memberikan sedikit gambaran

kepada Ki Bekel, Ki Kamituwa dan Ki Jagabaya, apa yang

sebaiknya mereka lakukan. Sedangkan kita akan segera dapat

meneruskan perjalanan kita.”

“Aku tidak apa-apa. Bukankah sudah aku katakan, bahwa

aku tidak apa-apa?”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hatinya ia

berkata, “Seharusnya aku minta persetujuannya lebih dahulu

untuk menunda perjalanan barang dua atau tiga hari.”

Tetapi semuanya telah terlanjur. Karena itu, maka Wijangpun

hanya dapat menyesali keterlanjurannya itu.

Beberapa saat kemudian, maka orang yang mendapat perintah

dari Ki Bekel untuk memanggil Ki Kamituwa dan Ki Jagabaya itu

telah datang bersama seorang laki-laki yang bertubuh tegap,

berkumis tebal dan berjambang panjang.

Ketika kemudian orang itu duduk di pringgitan, maka orang

itupun telah memperkenalkan dirinya, “Aku kamituwa di sini.”

“O,” Wijang dan Paksi yang telah lebih dahulu menyebut

namanya, mengangguk-angguk. Mereka mengira bahwa orang itu

adalah Ki Jagabaya. Namun ternyata bahwa orang itu adalah Ki

Kamituwa.

Baru beberapa saat kemudian, seorang yang lain memasuki

regol halaman rumah itu. Seorang yang berperawakan sedang,

agak kekurus-kurusan dan berjanggut pendek dan jarang.

Karena Ki Kamituwa sudah datang lebih dahulu, maka yang

datang itu tentu Ki Jagabaya.

Sebenarnyalah Ki Kamituwa itupun berkata, “Itu Ki Jagabaya

juga sudah datang.”

Ki Jagabaya itupun naik ke pendapa pula dan duduk di

pringgitan bersama Ki Kamituwa dan dua orang yang asing bagi

padukuhan itu.

“Di mana Ki Bekel?” bertanya Ki Jagabaya.

“Menurut kedua anak muda itu, Ki Bekel sedang mandi.”

“Wah,” desis Ki Jagabaya.

Wijang dan Paksi melihat kesan yang aneh di wajah Ki

Jagabaya. Namun Ki Kamituwapun berkata, “Tidak apa-apa,

anak-anak muda. Tetapi biasanya jika Ki Bekel mandi, maka kita

yang menunggunya sempat tidur barang sejenak.”

“Lama sekali?” bertanya Paksi.

“Lama sekali. Apalagi jika Ki Bekel itu mandi keramas. Jika

kita mulai mencuci beras dan menanaknya, nasi itu tentu sudah

masak.”

“Apaboleh buat,” berkata Ki Kamituwa.

Ki Jagabayapun mengangguk-angguk sambil menyahut, “Ya,

tentu hanya itu saja yang dapat kita katakan, apaboleh buat.”

Ki Kamituwa mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun

tertawa. Demikian pula Ki Jagabaya. Bahkan Wijang dan

Paksipun ikut tertawa pula.

Sebenarnyalah bahwa mereka harus menunggu terlalu lama.

Laki-laki yang memanggil Ki Kamituwa dan Ki Jagabaya telah

menghidangkan minuman bagi Ki Kamituwa dan Ki Jagabaya

serta menuang lagi minuman di mangkuk Wijang dan Paksi.

“Angger Wijang dan Angger Paksi,” berkata Ki Kamituwa,

“apakah Angger tahu, apakah keperluan Ki Bekel memanggil

kami? Mungkin ada hubungannya dengan kehadiran Angger

berdua?”

Wijang yang menjawab pertanyaan itu berkata terus terang,

apa yang telah dibicarakannya dengan Ki Bekel.

Ki Kamituwa dan Ki Jagabaya yang mendengarkannya

mengangguk-angguk. Dengan nada berat Ki Kamituwa berkata,

“Aku hargai niat Angger berdua. Tetapi aku meragukan, apakah

kami, penghuni padukuhan ini akan dapat menanggapinya

dengan baik pula.”

“Maaf, Ki Kamituwa. Jika aku boleh berterus-terang, namun

orang-orang padukuhan ini terlalu malas untuk berpikir dan

apalagi berbuat sesuatu. Agaknya penghuni padukuhan ini tidak

terbiasa bekerja dengan keras, sehingga kesejahteraan

padukuhan dan penghuninya tidak meningkat.”

“Kami bukan orang-orang yang tamak, anak muda. Kami

harus menerima dengan segala senang hati, apa yang menjadi

hak kita.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukangguk

iapun kemudian berkata, “Jadi itukah pegangan Ki Bekel

para bebahu dan rakyat padukuhan ini?”

“Bukankah dengan demikian hidup tidak terasa gelisah? Aku

mempunyai seorang sepupu laki-laki yang tinggal di kademangan

sebelah. Ia hidup berkecukupan. Sawahnya luas dan subur. Ia

mempunyai peternakan kambing dan ayam. Namun hidupnya

selalu gelisah. Siang dan malam saudara sepupuku itu selalu

dibayangi oleh kecemasan, jika ternaknya diserang penyakit.

Siang malam iapun digelisahkan oleh air untuk mengairi

sawahnya yang luas. Hampir setiap saat ia marah dan

membentak-bentak di rumah karena anak-anaknya dianggapnya

malas dan tidak mau bekerja keras. Nah, seperti itulah yang

Angger maksud dengan bentuk kehidupan yang sejahtera?”

“Tentu tidak, Ki Kamituwa,” jawab Wijang. “Tetapi bukankah

kita dibenarkan untuk berusaha agar kehidupan kita dapat

meningkat tanpa harus menjadi gelisah, uring-uringan dan selalu

dibayangi oleh kecemasan?”

“Dapatkan kau memberikan contoh, kehidupan yang

bagaimana yang kau maksudkan?” bertanya Ki Jagabaya.

“Misalnya, seisi padukuhan ini bersama-sama membuat parit

untuk mengalirkan air yang terbuang di lereng berbatu-batu

padas itu, sehingga sawah tadah hujan itu akan mendapat air

sepanjang tahun. Dengan demikian, maka sawah yang kering itu

akan dapat diairi tanpa menunggu musim hujan. Bukan hanya

duduk-duduk saja di simpang tiga, sementara padi dan jagung di

lumbung menjadi semakin tipis, sehingga setiap keluarga harus

sangat berhemat. Mungkin tidak lagi dapat makan tiga kali

sehari.”

Tetapi jawab Ki Jagabaya sangat mengejutkan Wijang dan

Paksi, “Air itulah yang akan dapat menjadi masalah. Pamanku di

kademangan sebelah hampir saja berkelahi melawan sepupunya

sendiri karena berebut air. Untunglah ada yang melihatnya,

sehingga perkelahian itu dapat dicegah.”

“Itu adalah akibat buruk yang mungkin dapat terjadi. Tetapi

jika air itu diatur dengan baik, serta semua orang mentaatinya,

maka tidak akan timbul masalah. Apalagi jika air itu berlimpah.

Bukankah air dari lereng bukit padas itu cukup banyak? Air itu

mengalir dan ditampung di sungai yang semakin lama menjadi

semakin dalam tanpa memberikan arti apa-apa bagi padukuhan

ini.”

“Angan-angan Angger itu hanya akan menimbulkan persoalan.

Biarlah hidup kami tetap tenang seperti sekarang.”

“Dengan selembar pakaian? Makan yang tersendat dan atap

rumah yang tiris?”

“Mungkin terasa sulit bagi orang lain. Tetapi kami sudah

terbiasa, Ngger. Tidak ada masalah. Seperti yang sudah aku

katakan, bahwa kami menerima apa adanya. Nrima ing pandum.”

Wijang belum sempat menjawab, ketika Ki Bekel keluar dari

ruang dalam. Wajahnya nampak lebih segar serta pakaiannyapun

menjadi lebih rapi setelah Ki Bekel itu mandi dan berbenah diri

cukup lama.

Ketika Ki Bekel sudah duduk, maka pembicaraan merekapun

dilanjutkan. Sambil tertawa Ki Bekelpun berkata, “Sudahlah,

Ngger. Jangan ajari orang-orang tua ini. Kami sudah hidup di sini

sejak kami lahir. Ayah dan ibu kami sudah tinggal di sini

berpuluh tahun. Selama itu tidak pernah ada persoalan.

Sekarang kau datang untuk mengusik ketenangan hidup kami.”

“Seperti yang aku katakan, Ki Bekel. Apa salahnya jika kita

mencoba. Jika gagal, gagallah kerja itu. Kita tidak akan merasa

dirugikan kecuali kita sudah kehilangan tenaga dan waktu.”

Ki Bekel itupun kemudian menyahut, “Kerja itu akan sia-sia,

Ngger.”

“Jika saja Ki Bekel memperkenankan kami bersama-sama

dengan anak-anak muda padukuhan ini mencobanya.”

“Tentu saja aku tidak berkeberatan. Tetapi aku tidak akan

dapat memaksa mereka jika mereka berkeberatan.”

“Aku mengerti, Ki Bekel.”

“Baiklah. Kami tidak berkeberatan jika kau tinggal di sini satu

atau dua hari. Bertemu dan berbicara dengan anak-anak muda.

Hasilnya, aku tidak dapat mengatakan.”

“Terima kasih, Ki Bekel. Tetapi di mana aku dapat bertemu

dengan anak-anak muda itu?”

“Di sore hari beberapa orang anak muda sering duduk-duduk

di regol padukuhan. Yang lain kadang-kadang berada di regol

banjar atau di bawah pohon preh di simpang empat itu.”

“Apa yang mereka kerjakan?”

Ki Bekel mengerutkan dahinya. Justru Ki Bekel itu bertanya,

“Apa yang seharusnya mereka lakukan?”

“Jadi mereka hanya duduk-duduk saja?”

“Ya.”

“Pada kesempatan lain? Di pagi hari misalnya?”

“Di musim hujan mereka mengerjakan sawah.”

“Di musim seperti ini?”

Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun

menjawab, “Ya, tergantung kebutuhan. Ada yang menggali ubi

panjang, gadung, lembong atau apa saja di kebun untuk selingan

jika beras di dapur mulai menipis serta padi di lumbung tinggal

beberapa ikat saja.”

“Baiklah, Ki Bekel. Aku akan bertemu dengan mereka. Tetapi

apakah ada seseorang yang dapat memperkenalkan kami dengan

mereka agar tidak terjadi salah paham?”

“Biarlah Ki Jagabaya nanti menyertai kalian.”

Tetapi Ki Jagabaya itu menggeliat sambil berkata, “Ki Bekel,

aku sedang memperbaiki kandang ayamku. Biarlah Ki Kamituwa

sajalah yang mengantar mereka.”

“Kenapa harus aku?” sahut Ki Kamituwa. “Sehari penuh aku

kerja di kebun. Aku belum beristirahat sama sekali.”

Wijang dan Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun

kemudian Ki Bekelpun berkata, “Baiklah. Jika kalian tidak

sempat, nanti jika kalian pulang, tolong, katakan kepada anakanak

muda yang kalian jumpai untuk datang ke rumah ini.”

“Baiklah, Ki Bekel,” desis Ki Jagabaya, sedangkan Ki

Kamituwa hanya mengangguk-angguk kecil.

“Katakan kepada mereka, bahwa aku baru saja mencabut

ketela pohon di halaman belakang rumah. Biarlah mereka ikut

makan ketela pohon rebus dengan serundeng kelapa.”

“Baik, Ki Bekel,” Ki Jagabaya pulalah yang menjawab.

Sejenak kemudian, maka kedua orang bebahu itu minta diri.

Sementara itu, Ki Bekelpun telah bertepuk tangan pula.

Ketika laki-laki yang nampaknya pembantu di rumah Ki Bekel

itu datang, maka Ki Bekelpun berkata, “Cabut empat atau lima

batang pohon ketela di kebun belakang. Beberapa orang anak

muda akan datang kemari. Katakan kepada istrimu untuk

menyiapkan minuman buat mereka.”

“Baik, Ki Bekel,” jawab orang itu. Namun ketika ia memasuki

pintu seketeng, maka orang itupun mulai menggeramang, “Sehari

semalam aku kerja tanpa beristirahat sama sekali.”

Dalam pada itu, maka Ki Bekelpun berkata kepada Wijang dan

Paksi, “Nah, sambil menunggu mereka yang bersedia datang

kemari, kalian dapat beristirahat di gandok. Jika kalian

bermalam di sini, maka kalian akan tidur di gandok itu pula.”

“Terima kasih, Ki Bekel.”

“Aku juga akan beristirahat.”

Wijang dan Paksi termangu-mangu sejenak. Bukankah Ki

Bekel baru saja bangun tidur, mandi, duduk-duduk berbincang

di pringgitan? Kapan ia bekerja sehingga harus beristirahat?

Tetapi Wijang dan Paksi tidak menanyakannya.

Ketika Ki Bekel itu bangkit, maka Wijang dan Paksipun

bangkit pula.

“Silahkan, Ngger,” berkata Ki Bekel sambil melangkah ke pintu

pringgitan.

Wijang dan Paksipun hampir bersamaan menjawab, “Terima

kasih, Ki Bekel.”

Keduanyapun segera meninggalkan pringgitan dan pergi ke

gandok. Ketika mereka membuka pintu bilik yang ditunjuk oleh

Ki Bekel, maka mereka melihat sebuah ruangan yang berisi

perabot yang sederhana. Sebuah amben bambu yang agak besar.

Sebuah geledeg bambu di sudut. Sebuah ajug-ajug lampu minyak

kelapa dan sebuah sapu lidi untuk membersihkan debu di amben

bambu itu.

“Nampaknya bilik ini tidak pernah dibersihkan,” desis Wijang.

Paksi mengangguk-angguk. Ketika kemudian Paksi

membersihkan amben bambu yang di atasnya dibentangkan tikar

pandan yang putih itu dengan sapu lidi, maka debupun

berhamburan di dalam bilik itu, sehingga Paksi dan Wijang harus

menutup hidung mereka.

“Di sini malam nanti kita tidur,” desis Wijang.

“Masih lebih bersih dari rerumputan kering di pategalan,”

jawab Paksi.

Wijang tersenyum. Agaknya Paksi sudah tidak dibebani lagi

oleh perasaan kecewanya, karena perjalanan untuk mencari

adiknya itu tertunda dua atau tiga hari.

Namun selagi keduanya baru saja duduk di amben itu,

pembantu Ki Bekel itu memanggil mereka

“Silahkan masuk ke ruang dalam, anak-anak muda. Ki Bekel

telah menunggu.”

“Ada apa?”

“Silahkan menemani Ki Bekel makan.”

“Terima kasih. Kami akan segera datang.”

Demikian orang itu pergi, maka Wijangpun berdesis, “Makan

pada saat seperti ini, terhitung makan siang atau makan sore?”

“Kapan saja,” jawab Paksi. “Sebenarnya aku juga sudah mulai

merasa lapar.”

Ternyata Ki Bekel adalah orang yang baik. Tetapi ia adalah

seorang pemalas sehingga seakan-akan tidak mempunyai waktu

untuk berpikir dan berbuat sesuatu yang berarti bagi

padukuhannya.

Sejenak kemudian, maka Wijang dan Paksipun telah duduk di

ruang dalam untuk makan bersama Ki Bekel dan Nyi Bekel.

Makan yang dihidangkan bagi Ki Bekel itupun cukup

sederhana. Nasi, sayur lodeh namun pedasnya bukan main dan

serundeng kelapa yang agaknya telah dibuat untuk dua tiga hari

sekaligus. Serundeng kelapa itu pulalah yang agaknya

dimaksudkan oleh Ki Bekel untuk makan ketela rebus yang

ditawarkan kepada anak-anak muda yang bersedia datang ke

rumahnya.

Sambil makan, Ki Bekel tidak terlalu banyak berbicara. Nyi

Bekel sekali-sekali menyodorkan sayur dan serundeng itu kepada

Wijang dan Paksi.

“Mari, Ngger, jangan malu-malu. Hanya inilah yang dapat

kami suguhkan bagi Angger.”

“Kami mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati Bibi

ini,” sahut Wijang.

Ketika mereka selesai makan, maka minuman hangatpun

telah dihidangkan pula bagi mereka.

Namun selagi mereka mulai meneguk minuman hangatnya,

mereka mendengar suara beberapa orang di pringgitan.

“Mereka sudah datang,” berkata Ki Bekel.

“Begitu cepat mereka datang,” desis Wijang hampir di luar

sadarnya. Agaknya anak-anak mudanya di padukuhan itu tidak

terlalu malas sebagaimana orang-orang tua mereka.

Tetapi Wijang dan Paksi menjadi kecewa ketika Ki Bekel

itupun berkata, “Agaknya mereka lebih tertarik pada ketela rebus

dan serundengnya daripada persoalan yang akan Angger berdua

sampaikan kepada mereka.”

Tetapi keduanya tidak menyahut.

Kepada istrinya, Ki Bekel itupun bertanya, “Apakah ketela itu

sudah masak?”

“Sebentar lagi, Ki Bekel. Tetapi sudah hampir.”

“Jika sudah masak, biarlah ketela itu dibawa ke pringgitan

bersama serundeng itu. Mungkin perlu beberapa lembar daun

pisang dan beberapa mangkuk air untuk mencuci tangan.”

“Baik, Ki Bekel,” jawab istrinya.

“Marilah, anak-anak muda,” berkata Ki Bekel, “kalian akan

bertemu dengan anak-anak muda seumur kalian. Mudahmudahan

pembicaraan kalian dapat berkait.”

Wijang dan Paksipun kemudian mengikut Ki Bekel ke

pringgitan menemui beberapa orang anak muda yang sudah

duduk sebelum dipersilahkan. Tetapi ketika mereka melihat Ki

Bekel keluar dari ruang dalam, merekapun serentak bangkit

berdiri sambil mengangguk hormat.

“Duduklah,” berkata Ki Bekel.

Ketika kemudian Ki Bekel, Wijang dan Paksi duduk, anakanak

muda itupun duduk pula.

Tetapi di hadapan mereka masih belum terhidang ketela rebus

dengan serundeng kelapa.

Ki Bekelpun kemudian memperkenalkan Wijang dan Paksi

kepada anak-anak muda padukuhannya.

“Mereka berdua adalah pengembara yang pernah menjelajahi

banyak sekali padukuhan-padukuhan. Mereka telah mencoba

melihat dan membuat perbandingan antara padukuhan yang satu

dengan padukuhan lainnya. Ketika mereka berjalan melewati

padukuhan kita, maka hati mereka telah terusik.”

“Kenapa, Ki Bekel?” bertanya salah seorang dari anak-anak

muda itu.

“Menurut penilaiannya, padukuhan kita adalah padukuhan

yang kering dan tandus.”

“Jadi kenapa?” sahut anak muda yang lain. “Inilah yang kita

miliki sekarang. Kenapa orang yang sekedar lewat merasa

terusik? Apanya pula yang telah mengusiknya?”

“Padukuhan kita nampak kering dan gersang, kenapa kita

tidak berbuat apa-apa untuk membuat padukuhan kita basah

dan subur?”

Seorang anak muda yang bertubuh tinggi tiba-tiba saja

bertanya, “Benarkah kau mempertanyakan hal itu?”

“Ya, Ki Sanak,” jawab Wijang.

“Alangkah dungunya kau. Kenapa hal itu kau tanyakan

kepada kami? Kami pun bertanya sebagaimana kau tanyakan,

kenapa tanah ini kering dan gersang?”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukankah kita

mempunyai akal? Kita dapat mengusahakan agar tanah ini

setidak-tidaknya tidak terlalu kering.”

“Apakah kita dapat merubah alam yang terbentang ini?”

“Kita tidak merubahnya. Kita hanya mengusahakan

memanfaatkan apa yang ada. Mencari kemungkinankemungkinan

baru dengan bekal apa yang telah digelar ini.”

Seorang anak muda yang lainpun berdesis, “Kita bukan

pemimpin. Kita hadapi kenyataan ini tanpa mengeluh dan

meratap.”

“Pada dasarnya kalian adalah orang-orang yang tabah. Sayang

bahwa kalian tidak memanfaatkan apa yang dikurniakan kepada

kita. Termasuk akal budi kita.”

“Ki Bekel,” berkata seorang anak muda yang kurus, “sudah

sejak nenek moyang kita, kita hidup dalam suasana yang tenang.

Jangan biarkan orang-orang ini merusak ketenangan kita, Ki

Bekel. Beberapa hari yang lalu, padukuhan sebelah, yang

terhitung padukuhan yang lebih subur dari padukuhan kita,

telah diguncang pula oleh kedatangan beberapa orang yang tidak

dikenal. Apakah Ki Bekel belum mendengar?”

“Sudah. Aku sudah mendengar. Ki Jagabaya padukuhan

sebelah telah datang kemari dan memberitahukan apa yang telah

terjadi di padukuhan sebelah.”

“Bukankah dengan demikian kita pantas mencurigai orangorang

asing ini?”

“Tunggu,” berkata Ki Bekel, “mereka agak berbeda dengan

beberapa orang yang datang di padukuhan sebelah. Meskipun

aku tidak melihat sendiri orang-orang yang mengusik di

padukuhan sebelah, tetapi menilik ceritera Ki Jagabaya, mereka

adalah orang-orang yang kasar dan bahkan agak liar. Mereka

minta dilayani apa saja yang mereka butuhkan. Bahkan mereka

telah menyakiti dua orang yang mereka anggap tidak mematuhi

perintah-perintah mereka.”

Orang-orang asing di padukuhan sebelah itu ternyata sangat

menarik perhatian Wijang dan Paksi. Hampir di luar sadarnya

Paksipun bertanya, “Siapakah yang Ki Bekel maksudkan orang

asing di padukuhan sebelah?”

“Mereka tidak menyebut nama mereka. Tetapi mereka yang

terdiri dari lima atau enam orang itu telah mendatangi

padukuhan sebelah. Sikap mereka melampaui sekelompok

perampok yang ganas. Mereka minta apa saja yang mereka

butuhkan. Ketika mereka pergi, maka mereka telah membawa

apa yang mereka dapatkan di rumah Ki Bekel.”

“Tentu Ki Gede Lenglengan,” desis Wijang. “Mereka tentu juga

mengikuti arah yang kita tempuh, meskipun mereka ternyata

melalui jalan yang melewati padukuhan sebelah.”

“Kalian berdua mengenal mereka?”

“Jika saja kami dapat melihat mereka,” sahut Wijang. “Tetapi

kami hampir memastikan bahwa mereka adalah orang-orang dari

Padepokan Watukambang.”

“Tepat. Mereka memang tidak menyebut nama mereka. Tetapi

ada di antara para bebahu yang mendengar mereka menyebut

Padepokan Watukambang.”

“Jika demikian, maka sudah pasti bahwa mereka adalah Ki

Gede Lenglengan dengan beberapa orang pengikutnya.”

“Apakah kalian berdua bukan pengikut orang itu pula?”

bertanya anak muda yang kurus dan agaknya sakit-sakitan itu.

“Bukan, Ki Sanak. Kami bukan pengikut mereka. Jika benar

dugaan kami bahwa mereka adalah Ki Gede Lenglengan, maka

kami telah mengenal mereka. Tetapi sikap kami sangat berbeda.”

Anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak.

Namun pembicaraan itu terputus ketika pembantu Ki Bekel

itu menghidangkan ketela yang direbus dengan santan yang

masih mengepul. Selain ketela rebus itu, maka telah dihidangkan

pula serundeng kelapa.

“Minumnya menyusul,” berkata pembantu Ki Bekel itu. “Nyi

Bekel baru mempersiapkannya.”

“Apa kerja istrimu?” bertanya Ki Bekel.

“Istriku juga sibuk membantu Nyi Bekel di dapur. Tetapi

istriku juga harus mencuci kuali dan mangkuk-mangkuk yang

kotor. Menyingkirkan sisa makan di ruang dalam, membersihkan

lantai...”

“Cukup, cukup,” potong Ki Bekel.

Pembantu Ki Bekel itu terdiam. Iapun kemudian melangkah

surut. Namun sejenak kemudian iapun kembali sambil membawa

minuman hangat bagi anak-anak muda yang sudah berada di

pringgitan itu.

Sementara itu, Ki Bekelpun berkata, “Nanti kita berbicara lagi.

Sekarang, silahkan. Ketela rebus itu masih hangat. Dengan

serundeng kelapa tentu cocok sekali.”

Anak-anak muda itu tidak menunggu Ki Bekel mengulang.

Merekapun segera mengambil masing-masing sesobek daun

pisang. Kemudian sepotong ketela yang direbus dengan santan,

dan sejemput serundeng.

Sementara itu, pembantu Ki Bekel itu mulai menyalakan

lampu minyak di pendapa, di pringgitan dan di ruang-ruang yang

lain.

Ketika anak-anak muda itu sedang makan ketela, Wijang dan

Paksi sempat melihat keadaan mereka. Bukan saja pakaian

mereka yang lusuh, tetapi kulit mereka pun tidak nampak bersih.

Nampaknya beberapa orang di antara mereka terkena penyakit

gatal-gatal pada kulit mereka. Sedangkan yang lain

pernafasannya agak terganggu.

Anak-anak muda di padukuhan itu bukannya anak-anak

muda yang kesehatannya terpelihara baik. Mungkin nafas

kehidupan di padukuhan itu memang tidak menguntungkan bagi

mereka yang sedang tumbuh, sehingga seperti tanaman dan

pepohonannya, pertumbuhan mereka tidak dapat subur.

Setelah mereka selesai makan barulah Ki Bekel berkata lagi,

“Nah, terserah kepada kalian, anak-anak muda. Angger Wijang

dan Paksi menganjurkan agar kita mengadakan perubahan sikap

hidup kita. Terus-terang kau menangkap maksud kedua

pengembara itu. Mereka menganggap kita terlalu malas berusaha,

sehingga keadaan kita tidak dapat berubah dari tahun ke tahun.”

“Orang asing itu telah menghina kita, Ki Bekel,” seorang anak

muda yang bertubuh tinggi menggeram. Nampaknya anak muda

itu merasa tersinggung.

“Maaf, Ki Sanak,” sahut Wijang dengan serta-merta, “jangan

berprasangka buruk. Mungkin kalian tidak malas. Tetapi kalian

belum tergugah. Nah, jika demikian, maka kami berniat

membangunkan kalian. Bukan sebaliknya mengajak kalian

bermimpi. Tetapi jika kita dengan sungguh-sungguh berusaha,

maka Yang Maha Agung tentu akan mengijinkannya.”

Tetapi anak muda yang bertubuh tinggi itu berkata, “Ki

Sanak, jangan campuri kehidupan di padukuhan kami. Kami

tidak ingin kehidupan kami menjadi goncang.”

Sementara itu, yang lainpun berkata, “Jika kau mau lewat,

lewatlah. Kami tidak pernah merasa berkeberatan jika ada orang

asing lewat di padukuhan kami. Tetapi jangan ikut campur dan

apalagi mengganggu kehidupan kami.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Paksipun

berkata, “Apakah kalian tidak ingin melakukan sesuatu yang

berarti bagi padukuhan kalian?”

“Apakah maksud Ki Sanak?”

“Sebagai peninggalan anak cucu. Jika kalian tidak berbuat

sesuatu, maka kehidupan padukuhan ini memang tidak akan

berubah. Mungkin kalian merasa tenang dan tenteram. Tetapi

kelak, apakah anak cucu kalian dapat menerima nafas kehidupan

seperti ini? Jarak antara kalian dengan penghuni padukuhanpadukuhan

lain menjadi semakin jauh. Mereka dapat

menyisakan penghasilan mereka dan menabungnya untuk

membeli pedati, lembu atau seekor kuda yang baik. Sementara

itu, kehidupan kalian masih saja tetap dalam ketenangan dan

ketenteraman yang beku.”

“Cukup,” bentak orang yang bertubuh tinggi. “Jangan

membuat kami marah. Kami adalah orang yang menyukai

ketenangan dan ketenteraman. Tetapi itu tidak berarti bahwa kau

dapat menghina kami sekehendak hati.”

Paksipun terdiam. Nampaknya memang sulit untuk

menembus hati mereka, agar mereka bangkit dan berbuat

sesuatu untuk memperbaiki kesejahteraan padukuhan mereka.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja ada seorang di antara

anak muda itu yang bertanya, “Ki Sanak, seandainya, sekali lagi

seandainya kami mau mendengarkan pendapat kalian, apa yang

harus kami lakukan?”

“Yang pertama kali adalah membuat parit untuk mengalirkan

air dari gumuk berbatu-batu padas itu.”

“Kami sudah mempunyai parit, tetapi parit kami itu telah

mengering.”

“Karena parit itu tidak dipelihara dengan baik. Cobalah

menelusuri parit itu. Apakah yang salah. Kemudian membual

parit baru untuk mengairi tanah yang lebih jauh letaknya dari

sumber air itu. Jika kalian berhasil, maka dalam dua tiga musim,

maka tentu sudah timbul perubahan di padukuhan ini.”

“Jadi sekarang kami harus bekerja keras memperbaiki serta

membuat perpanjangannya, baru dua tiga musim lagi kami akan

memetik hasilnya?”

“Ya.”

“Adakah seseorang yang mau menyia-nyiakan waktu untuk

kerja yang belum tentu akan membuahkan hasil?”

“Kerja ini bukan kerja yang sia-sia. Tetapi sudah tentu bahwa

hasilnya tidak dapat kita nikmati langsung. Dua tiga musim

adalah waktu yang pendek dibanding dengan masa datang yang

sangat panjang bagi padukuhan ini. Bagi anak cucu dan

keturunan selanjutnya. Jika kita tidak mulai sekarang, maka

jangankan dua tiga musim, dua tiga windu pun tidak akan timbul

perubahan di padukuhan ini. Bahkan kehidupan akan menjadi

semakin sulit, karena kotak-kotak sawah yang diwariskan dari

satu keturunan ke keturunan berikutnya semakin lama akan

menjadi semakin sempit.”

“Maaf, Ki Sanak. Mimpimu tidak menarik perhatianku.”

Bahkan seseorang berkata kepada kawannya, “Marilah kita

pulang. Malam telah turun. Aku sudah mengantuk.”

“Mengantuk?” bertanya Paksi.

“Ya.”

“Senja baru saja berlalu, dan kau telah mengantuk?”

“Ya. Aku terbiasa tidur lepas senja.”

“Dan bangun?”

“Aku tidak pernah merencanakan, kapan aku akan bangun.

Mungkin saat matahari naik sepenggalah, mungkin lebih pagi

atau bahkan lebih siang.”

Paksi hanya dapat mengangguk-angguk kecil.

Ki Bekel mendengarkan pembicaraan itu dengan sungguhsungguh.

Semakin lama justru menjadi semakin tertarik. Selama

ini ia tidak pernah mempersoalkan, kapan anak-anak muda itu

berangkat tidur dan kapan mereka bangun.

Dalam pada itu, beberapa orang anak muda mulai menjadi

gelisah. Karena itu, maka seorang di antara merekapun berkata,

“Ki Bekel, kami mohon diri. Terima kasih atas ketela pohon dan

serundengnya. Kapan-kapan kami akan datang lagi.”

“Baiklah. Lusa aku akan memanen garut di kebun belakang.

Aku ingin mengundang kalian.”

“Kami tentu akan datang, Ki Bekel.”

Demikianlah, maka anak-anak muda itupun meninggalkan

pringgitan rumah Ki Bekel. Wijang dan Paksi memandang mereka

dengan kecewa. Agaknya anak-anak muda padukuhan itu sama

sekali tidak tertarik untuk bekerja keras membangun padukuhan

mereka.

Ki Bekel yang mengikuti pembicaraan itu dengan sungguhsungguh

berdesis, “Itulah Ngger, anak-anak muda kami. Aku

minta maaf, bahwa mereka tidak tertarik pada niat baik Angger

berdua.”

“Apaboleh buat, Ki Bekel. Aku berterima kasih bahwa Ki Bekel

sudah memberi kesempatan kepada kami berdua untuk bertemu

dan berbicara dengan anak-anak muda itu. Jika kami tidak

berhasil meyakinkan mereka, itu bukan salah Ki Bekel.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnya apa yang

Angger katakan itu cukup menarik untuk diperhatikan. Selama

ini aku memang tidak pernah memikirkan kemungkinankemungkinan

sebagaimana Angger katakan. Aku menerima

warisan jabatan ini dari ayahku. Aku juga menerima padukuhan

ini sebagaimana adanya. Tidak seorang pun yang pernah berkata

kepadaku, bahwa masih ada kemungkinan untuk membuat

perubahan-perubahan seperti yang kalian berdua katakan.

Semula memang terdengar aneh, tetapi semakin lama, rasarasanya

pantas untuk direnungkan.”

“Terima kasih, Ki Bekel. Pernyataan Ki Bekel ini rasa-rasanya

telah mengobati perasaan kecewaku terhadap anak-anak muda di

padukuhan ini. Tetapi bahwa Ki Bekel menaruh perhatian,

bahkan harapan, maka aku pun yakin, bahwa perlahan-lahan Ki

Bekel akan dapat meyakinkan mereka. Mungkin memerlukan

waktu yang lama. Namun itu jauh lebih baik daripada tidak sama

sekali.”

“Aku akan mencoba mempelajarinya, anak muda.”

Namun pembicaraan merekapun terhenti. Tiga orang anak

muda telah kembali ke rumah Ki Bekel yang masih berbincang

dengan Wijang dan Paksi di pringgitan.

“Naiklah,” berkata Ki Bekel.

Dengan ragu-ragu ketiga orang anak muda itupun naik dan

duduk di pringgitan.

“Ada yang ketinggalan di sini?” bertanya Ki Bekel.

Seorang dari anak muda itu menyahut, “Tidak, Ki Bekel.”

“Jadi, ada keperluan?”

“Maaf Ki Bekel, bahwa aku tidak dapat berterus-terang di

hadapan kawan-kawan.”

“Apa?”

“Sebenarnya aku tertarik kepada gagasan kedua pengembara

itu.”

Wijangpun dengan serta-merta menyahut, “Terima kasih, Ki

Sanak. Apakah itu berarti bahwa Ki Sanak bersedia untuk

melakukan sesuatu untuk melaksanakan gagasan itu?”

Anak muda itu memandang kedua orang kawannya bergantiganti.

Kemudian dipandanginya Ki Bekel sambil berdesis, “Jika Ki

Bekel tidak berkeberatan.”

“Tentu tidak, anak muda,” sahut Ki Bekel. “Meskipun

barangkali aku tidak dapat membantu, tetapi aku tidak akan

menghalangi. Bahkan aku menduga bahwa jika kalian ingin

mencobanya, agaknya masih ada satu dua orang yang bersedia

bekerja sama dengan kalian.”

“Tetapi kami mohon perlindungan Ki Bekel, jika kawan-kawan

kami yang tidak ingin ada kesibukan di padukuhan ini marah

kepada kami.”

“Apakah ada yang akan marah?”

“Ketika kami pulang tadi, Wandawa sudah menyatakan

sikapnya. Tidak seorang pun di antara kami yang dibenarkan

untuk menerima gagasan tentang parit itu.”

“Wandawa memang tidak memerlukan. Tanahnya luas dan

terletak di daerah yang termasuk agak subur. Tetapi ia tidak

berhak melarang kalian untuk berbuat sesuatu yang kalian

anggap baik.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya tiba-tiba

nampak muram. Katanya, “Mungkin ayah Wandawa yang

berkeberatan.”

“Kenapa dengan ayahnya?”

“Ia seorang yang berilmu tinggi. Ia mempunyai pengaruh yang

besar di padukuhan ini. Beberapa orang di antara rakyat

padukuhan ini bekerja dan mendapatkan nafkah daripadanya.”

Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Ternyata tidak semua

orang padukuhan ini malas bekerja. Ada juga di antara mereka

yang menjual tenaganya.

“Agaknya mereka orang-orang yang sudah kelaparan, sehingga

mau tidak mau mereka harus bekerja,” berkata Wijang di dalam

hatinya

Namun tiba-tiba saja Paksi bertanya, “Tetapi bukankah yang

memegang pimpinan pemerintahan di sini adalah Ki Bekel?”

“Ya,” Ki Bekel mengangguk-angguk, “tetapi Ki Cakrajaya itu

dapat memaksakan kehendaknya.”

“Apakah Ki Cakrajaya itu yang dimaksud dengan ayah

Wandawa yang berkeberatan atas gagasan kami?” bertanya Paksi.

“Ya,” Ki Bekel mengangguk-angguk, “ia dapat mempergunakan

kekerasan atau mengancam untuk memecat semua orang yang

bekerja padanya dan tinggal di padukuhan ini.”

“Hanya satu orang?”

Ki Bekel termangu-mangu. Namun kemudian iapun

mengangguk sambil berkata, “Ya. Hanya satu orang.”

“Apakah kuasa Ki Bekel di padukuhan ini tidak mampu

mematahkan pengaruhnya?”

Ki Bekel tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Wijang

dan Paksi berganti-ganti.

“Ki Bekel,” berkata Paksi kemudian, “Ki Bekel mempunyai

wewenang di sini. Jika yang seorang itu menentang wewenang Ki

Bekel, maka Ki Bekel dapat mempergunakan wewenang itu. Ki

Bekel dapat memerintahkan para bebahu dan bahkan seluruh

rakyat padukuhan ini untuk mengetrapkan kuasa Ki Bekel.”

“Seharusnya memang begitu, Ngger. Tetapi yang terjadi agak

lain. Tidak seorang pun yang berani menentang Ki Cakrajaya.”

“Mungkin tidak seorang pun yang berani. Tetapi bukankah Ki

Bekel dan seisi padukuhan ini tidak hanya seorang? Tetapi lebih

dari sepuluh orang. Bahkan duapuluh orang. Apakah duapuluh

orang isi padukuhan ini tidak dapat mengatasi yang satu orang

itu?”

“Orang itu berilmu tinggi.”

“Ki Bekel harus mencoba.”

“Jika aku gagal?”

“Kami berdua akan membantu.”

“Apakah kalian berdua dapat melawan Ki Cakrajaya?”

“Kami belum tahu, Ki Bekel. Tetapi kami tidak berkeberatan

untuk mencobanya.”

Ki Bekel termangu sejenak. Namun kemudian katanya,

“Baiklah. Kami akan mencoba.” Lalu katanya kepada anak-anak

muda itu, “Apakah kalian berani mencobanya? Maksudku, jika

Wandawa marah, kalian berani melawannya? Tidak harus

seorang melawan seorang. Tetapi kalian bersama-sama. Jika ada

di antara kalian yang berani melakukannya, maka yang lain pun

akan berani pula.”

“Nah, demikian pula untuk melawan Ki Cakrajaya, Ki Bekel,”

sahut Wijang. “Seperti yang Ki Bekel katakan, jika ada seorang

saja bebahu yang berani memaksakan wewenangnya terhadap Ki

Cakrajaya, maka yang lain pun akan melakukannya pula.

Betapapun tinggi ilmu Ki Cakrajaya, ia tidak akan dapat melawan

semua bebahu padukuhan ini serta orang-orang yang setia

kepada Ki Bekel.”

Tetapi Wijang dan Paksi melihat keragu-raguan di sorot mata

Ki Bekel. Orang-orang padukuhan itu adalah orang-orang yang

tidak ingin terjadi gejolak yang mereka anggap akan dapat

mengganggu ketenangan dan ketenteraman padukuhan mereka.

Namun akhirnya Wijanglah yang berbicara, “Baiklah. Jika

tidak ada orang yang dapat mengatasi Ki Cakrajaya, maka biarlah

aku yang mengatasinya.”

“Tetapi aku ingin mengingatkanmu, anak muda. Ki Cakrajaya

adalah seorang yang berilmu tinggi.”

“Aku mengerti.”

Dengan demikian, maka mereka dapat mengesampingkan

Wandawa dan ayahnya, Ki Cakrajaya, dari pembicaraan mereka.

Ternyata bahwa ada juga anak-anak muda dari padukuhan

yang beku, yang ingin mengguncang kebekuan itu.

Merekapun kemudian telah membuat beberapa kesepakatan

dengan Ki Bekel, Wijang dan Paksi.

Demikianlah, ketika menginjak wayah sepi uwong, anak-anak

muda itupun telah minta diri. Besok mereka akan bertemu

dengan Wijang dan Paksi di gumuk di seberang padang perdu.

Mereka akan melihat kemungkinan terbaik untuk mengalirkan

air ke padukuhan.

Sepeninggal anak-anak muda itu, maka Ki Bekel masih duduk

beberapa lama dengan Wijang dan Paksi di pringgitan. Setelah

berbincang kesana-kemari tentang niat anak-anak muda yang

ingin membuat perubahan di padukuhan itu, maka Wijangpun

bertanya, “Ki Bekel, sebenarnya aku tertarik kepada ceritera Ki

Bekel tentang orang-orang asing yang lewat di padukuhan

sebelah.”

“Seperti yang aku katakan, Ngger. Jika kalian ingin mendapat

keterangan yang lebih lengkap, biarlah besok atau lusa, Angger

kami antar ke rumah Ki Bekel yang telah kedatangan orang-orang

asing yang liar itu.”

“Terima kasih, Ki Bekel. Secepat-cepatnya lusa kami akan

pergi ke padukuhan itu. Bukankah besok kami telah membuat

kesepakatan dengan anak-anak muda itu?”

Ki Bekel itupun mengangguk-angguk.

Namun dalam pada itu, pembantu Ki Bekel setelah melihat

anak-anak muda itu meninggalkan pringgitan, maka iapun

berkata, “Ki Bekel, makan sudah tersedia di ruang dalam.”

“Aku masih kenyang,” desis Paksi.

“Jangan menolak.”

“Bukankah belum lama kita makan.”

“Sudah. Sudah lama. Malam sudah sangat larut. Mungkin

pembicaraan kita dengan anak-anak muda yang tinggal itu

sangat mengasyikkan, sehingga kita lupa akan waktu.”

Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berkata apa-apa

lagi.

Makan malam Ki Bekel itu masih juga sama sederhananya

dengan saat mereka makan siang. Namun agaknya Nyi Bekel

sempat memetik daun lembayung, sehingga malam itu mereka

makan selain dengan sayur lodeh yang pedasnya bukan kepalang

serta serundeng kelapa, mereka juga mendapat gudangan

lembayung dan daun ketela gantung.

Menjelang tengah malam, maka Wijang dan Paksipun telah

berada di dalam biliknya di gandok. Mereka berduapun segera

membaringkan diri serta berusaha memejamkan mata.

Meskipun mereka berada di padukuhan yang disebut tenang

dan tenteram, namun Wijang dan Paksi telah membagi sisa

malam untuk bergantian berjaga-jaga. Di daerah yang asing itu,

maka banyak kemungkinan akan dapat terjadi.

Di hari berikutnya, maka pagi-pagi Wijang dan Paksi sudah

siap menunggu Ki Bekel yang baru mandi. Ia sudah berpesan

kepada istrinya, agar Ki Bekel itu dibangunkan pagi-pagi sekali.

“Menjelang fajar aku akan membangunkan Ki Bekel.”

“Fajar? Untuk apa aku bangun menjelang fajar.”

“Ki Bekel berpesan agar aku membangunkan pagi-pagi.”

“Tunggu matahari sepenggalah.”

“Anak-anak itu tentu sudah terlalu lama menunggu.”

“Aku tidak biasa bangun menjelang fajar.”

“Baiklah. Aku akan membangunkan Ki Bekel sedikit lewat

saat matahari terbit.”

Ki Bekel mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun

berkata, “Baiklah. Aku akan bangun pada saat matahari terbit.”

Wijang dan Paksi menunggu Ki Bekel mandi sampai wayah

pasar temawon. Itupun Nyi Bekel menganggap bahwa Ki Bekel

sudah mendapat banyak kemajuan. Bangun pagi dan berada di

pakiwan dalam waktu yang terhitung singkat.

Setelah mandi dan berbenah diri, maka Ki Bekel telah

mengajak kedua orang tamunya duduk serta minum minuman

hangat.

“Minumlah dahulu, anak muda. Nanti kita pergi ke gumuk.”

“Anak-anak itu tentu sudah menunggu, Ki Bekel.”

“Mungkin. Tetapi mereka akan memaklumi bahwa tugasku

terlalu banyak, sehingga kita terlambat datang.”

Wijang dan Paksi saling berpandangan sejenak. Mereka tidak

mengerti, tugas apakah yang dimaksud Ki Bekel terlalu banyak

itu. Dan kenapa mereka harus terlambat datang dan bukan

terpaksa terlambat datang.

Baru ketika matahari benar-benar sudah sepenggalah mereka

meninggalkan rumah Ki Bekel pergi ke gumuk untuk menemui

beberapa orang anak muda yang semalam datang kembali ke

rumah Ki Bekel.

Sebenarnyalah bahwa Wijang dan Paksi sudah menjadi

gelisah. Anak-anak muda itu tentu sudah menunggu terlalu

lama.

Tetapi ternyata ketika mereka sampai di tempat sesuai dengan

kesepakatan, anak-anak muda itu juga baru saja datang. Bahkan

seorang di antaranya, datang hampir bersamaan dengan Wijang,

Paksi dan Ki Bekel.

“Maaf, kami datang terlambat,” berkata Wijang kepada anakanak

muda itu.

Namun seorang di antara merekapun berkata, “Kami juga

baru saja datang.”

Ki Bekel tertawa. Katanya, “Kedua anak muda ini tergesa-gesa

saja. Jika aku menurutinya, kami akan terlalu lama menunggu di

sini.”

Wijang dan Paksipun tertawa pula. Mereka sadari, bahwa

kelambatan bagi orang-orang padukuhan itu adalah hal yang

wajar-wajar saja.

Namun akhirnya, Wijang, Paksi, Ki Bekel dan anak-anak

muda itu mulai memperhatikan keadaan di sekeliling mereka.

Tiga batang pohon raksasa tumbuh pada jarak yang berdekatan.

Batu padas yang miring, serta air yang mengalir dari atas batu

padas yang miring itu, melimpah ke bawah, masuk ke dalam

lekuk yang tidak begitu dalam.

“Air ini dapat disalurkan ke sawah-sawah yang kering itu.

Bukankah sama sekali tidak merugikan orang lain. Di sisi yang

lain juga terdapat arus air yang melimpah seperti ini. Jika

padukuhan lain memerlukannya, maka mereka juga dapat

membuat saluran air bagi kotak-kotak sawah mereka,” berkata

Wijang.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun katanya, “Aku

sependapat. Persoalannya adalah, bagaimana kita dapat

membuat parit itu.”

“Jika Ki Bekel dapat mengerahkan orang sepadukuhan.”

“Mungkin ada juga dua tiga orang yang mau datang sambil

membawa alat-alat untuk menggali parit. Tetapi bayangkan,

berapa tahun parit itu akan dapat menggapai sawah kita?”

“Kenapa hanya dua tiga orang? Kenapa tidak lima puluh atau

enam puluh orang?”

“Aku mengenal orang-orangku dengan baik, Ngger. Sikap

anak-anak muda ini adalah contoh yang paling baik dari sikap

orang-orang tua di padukuhan ini.”

Wijang dan Paksi memandang beberapa orang anak muda

yang bersedia datang. Tidak lebih dari enam orang.

“Bagaimana pendapat kalian?” bertanya Wijang.

“Kami hanya dapat mengumpulkan enam orang kawan-kawan

kami. Pada umumnya mereka memang segan untuk bekerja.

Sementara hasilnya tidak segera dapat dinikmati. Berbeda

dengan mereka yang bekerja di rumah Ki Cakrajaya. Meskipun

sedikit, tetapi hasilnya dapat mereka terima pada hari itu juga.”

“Jadi, bagaimana jika kalian berenam ini membuat saluran air

dari tempat ini ke sawah kalian yang letaknya tidak terlalu jauh.”

“Baru setelah rambut kami ubanan, saluran air itu akan

sampai ke padukuhan.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun

bertanya, “Tetapi bukankah kalian bersedia untuk melakukan

kerja bagi tanah kalian?”

“Tentu,” jawab salah seorang dari mereka. “Kami sudah

sampai di sini.”

“Baiklah,” berkata Wijang. “Kalian harus mampu

menunjukkan kepada anak-anak muda di padukuhan kalian,

bahwa apa yang ingin kalian lakukan itu akan benar-benar dapat

memberikan harapan bagi masa mendatang.”

“Apa yang harus kami lakukan?”

“Ada hutan bambu di sebelah?”

“Ya.”

“Kalian dapat mengambil beberapa puluh bambu yang kalian

perlukan. Kalian dapat membuat talang air dari bambu untuk

mengalirkan air ke sekotak sawah kalian. Tidak hanya satu lonjor

saluran air. Tetapi tiga atau empat. Bambu tidak usah membeli.

Sambung-bersambung.”

“Tetapi seberapa air yang dapat mengalir lewat saluran air dari

bambu itu, meskipun kami membuat empat atau lima saluran

bambu?”

“Bukankah yang kalian lakukan sekedar contoh? Salurkan air

itu ke salah satu kotak sawah kalian yang terdekat. Air yang

mengalir tanpa henti-hentinya itu akan dapat menggenangi kotak

sawah itu. Nah, kalian dapat menanami kotak sawah itu dengan

tanaman yang sangat berarti bagi padukuhanmu. Padi, misalnya.

Jika kemudian ternyata padi itu tumbuh dan berbuah, maka

orang-orang padukuhan akan mendapat gambaran, betapa

pentingnya saluran air itu. Mereka tentu tidak akan berkeberatan

untuk membuat saluran air bagi bulak-bulak di sekitar

padukuhan kalian.”

“Jadi kami harus menunggu sekian lama?”

“Sudah aku katakan, bahwa jika kalian berhasil, meskipun

barangkali setahun dua tahun lagi, maka anak cucu kalianlah

yang akan menikmatinya.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara

Paksipun berkata, “Jika kalian tertarik dan bersedia membuat

saluran air dari bambu itu, maka kami akan membantumu

selama dua tiga hari. Karena setelah itu, maka kami akan

melanjutkan pengembaraan kami.”

“Terima kasih Ki Sanak, jika kalian bersedia membantu kami.

Jika satu atau dua kotak sawah menjadi basah, sebagaimana Ki

Sanak katakan, aku yakin, bahwa banyak orang akan tertarik

untuk ikut membuat parit yang menuju ke bulak di sekitar

padukuhan. Bahkan kami akan dapat memperbaiki parit induk

untuk mengalirkan air sampai ke tengah-tengah bulak yang

kering itu.”

“Besok kita akan mulai,” berkata Paksi.

“Baik, Ki Sanak. Besok kita akan mulai.”

“Tetapi jangan terlalu siang. Kita akan mulai sebelum

matahari terbit. Udaranya tentu terasa nyaman sekali.”

“Sebelum matahari terbit?” bertanya salah seorang di antara

anak muda itu. “Jadi kapan kita harus bangun?”

“Kalian harus bangun menjelang fajar,” jawab Paksi.

Anak-anak muda itu saling berpandangan. Namun kemudian

mereka tertawa. Seorang di antara merekapun berkata, “Kami

tidak terbiasa bangun pagi-pagi sekali.”

“Kalian harus mencoba.”

“Baiklah, kami akan mencobanya.”

Namun pembicaraan merekapun segera terputus. Dari

kejauhan mereka melihat Wandawa dan beberapa orang

kawannya mendatangi tempat itu.

Salah seorang anak muda yang berada di tempat itu berdesis,

“Ki Bekel, Wandawa dan kawan-kawannya telah datang. Mereka

tentu berusaha mencegah niat kita memasang talang bambu yang

panjang sampai ke kotak-kotak sawah.”

“Aku akan mencegahnya. Tetapi jika Wandawa ingin memaksa

dengan kekerasan, bukankah kalian dapat mengatasinya?”

“Kami akan mencobanya, Ki Bekel.”

“Mereka datang berempat.”

“Mugi itu agaknya telah berkhianat. Semalam ia bersedia

untuk datang bersama-sama dengan kami. Tetapi ternyata anak

itu menemui Wandawa dan memberitahukan rencana kami.”

Sejenak kemudian, Wandawa dan tiga orang kawannya telah

menjadi semakin dekat. Dengan wajah yang tegang,

dipandanginya anak-anak muda yang telah datang lebih dahulu

itu seorang demi seorang. Kemudian Wandawa itu melangkah

mendekati Ki Bekel sambil berkata, “Jadi Ki Bekel juga hadir di

sini pagi ini?”

“Ya, Wandawa.”

“Ki Bekel juga ingin membuat padukuhan kita ini resah dan

kacau?”

“Kenapa?”

“Selama ini kita hidup dalam ketenangan dan ketenteraman,

Ki Bekel. Kedua orang anak muda ini datang untuk mengguncang

ketenangan itu. Seharusnya Ki Bekel mengusir mereka. Bukan

sebaliknya justru melibatkan diri.”

“Kenapa padukuhan kita menjadi resah dan apalagi kacau?”

bertanya Ki Bekel.

Wandawa memang agak kebingungan menjawab pertanyaan

itu. Namun kemudian iapun menjawab, “Sebaiknya kemapanan

ini tidak usah diusik dengan cara apapun juga.”

“Siapa yang akan mengusik kemapanan?”

Wandawa terdiam sejenak. Dengan wajah yang tegang iapun

kemudian berkata, “Pokoknya aku dan ayah berkeberatan dengan

rencana pembuatan parit itu.”

“Kau dan ayahmu tentu mempunyai alasan, kenapa kalian

berkeberatan,” sahut Ki Bekel.

“Apapun alasan kami tidak penting. Yang penting tidak

seorang pun akan membuat parit ke bulak di padukuhan itu.”

“Kami tidak akan membuat parit, Wandawa,” Paksilah yang

menyahut. “Membuat parit dibutuhkan banyak sekali tenaga dan

waktu.”

“Jadi apa yang akan kalian lakukan?”

“Kami akan membuat talang air dari bambu yang disambungsambung.

Empat atau lima jelujur talang bambu.”

“Bukankah itu sama saja?”

“Tidak. Tentu ada bedanya.”

“Persetan dengan talang bambumu. Kami sangat

berkeberatan.”

“Sudahlah, Wandawa. Biarkan saja apa yang ingin mereka

lakukan. Ini tidak mengganggu air di sawahmu yang terhitung

subur di padukuhan kita yang kering dan gersang ini.”

“Aku tidak peduli,” jawab Wandawa. “Yang penting, urungkan

niat anak-anak muda itu.”

“Tentu saja aku tidak berhak mengurungkannya karena yang

mereka lakukan itu sama sekali tidak bertentangan dengan

paugeran yang berlaku di padukuhan dan bahkan seluruh

kademangan kita ini.”

Tiba-tiba saja Mugi yang telah memberitahukan rencana

pembuatan parit itu berkata, “Ki Bekel, jika parit itu nanti

terwujud, maka ayah Wandawa akan menjadi sangat marah. Ia

akan dapat kehilangan banyak tenaga karena mereka akan sibuk

di sawah mereka masing-masing. Setidak-tidaknya upah tenaga

akan menjadi semakin mahal.”

“Tutup mulutmu,” bentak Wandawa.

“Bukankah tadi ayahmu berkata begitu?”

Wandawa justru telah menampar mulut Mugi sambil

membentak, “Haruskah hal itu kau katakan kepada Ki Bekel?”

Mugi terkejut. Mulutnya terasa pedih. Dari bibirnya yang

pecah, darah mulai mengalir.

“Aku rontokkan gigimu, anak dungu,” Wandawa hampir

berteriak.

Wijang dan Paksi saling berpandangan sejenak. Jadi itulah

alasan yang sebenarnya dari Ki Cakrajaya.

Ki Bekelpun kemudian mengangguk-angguk sambil berdesis,

“Jadi itukah alasan sebenarnya dari ayahmu, Wandawa? Selama

ini, ayahmu dan aku sendiri, selalu berbicara tentang kemapanan

hubungan antara penghuni padukuhan kita. Jadi itulah latar

belakangnya.”

 

Jilid 35

“AKU TIDAK peduli dengan igauan anak setan ini. Tetapi Ki Bekel

dapat melihat sendiri. Sebelum parit atau talang itu benar-benar

di buat, di padukuhan kita telah timbul persoalan. Jika anakanak

itu nekat melanjutkan rencananya, maka persoalan ini akan

menjadi semakin berkembang.”

“Katakan kepadaku, Wandawa. Siapakah yang telah

menumbuhkan persoalan ini? Anak-anak itu atau kau?”

Wajah Wandawa menjadi merah. Dengan suara yang bergetar

iapun berkata, “Jika tidak ada gagasan gila ini, aku tentu tidak

akan berbuat apa-apa.”

“Sudahlah, Wandawa. Pulanglah. Biarlah anak-anak ini

membuat talang sesuai dengan gagasan yang mereka terima dari

kedua pengembara itu. Jika talang itu memberikan kenyataan

yang baik, maka rakyat di padukuhan kita tentu akan bersedia

membuat parit ke bulak yang kering itu. Justru sekarang aku

harus mengakui, betapa malasnya kita sebelumnya. Sikapmu,

sikap ayahmu dan tekad anak-anak muda ini akan membuka

mata kita, bahwa yang terjadi bukanlah kemapanan, ketenangan

dan ketenteraman. Tetapi kemalasan berpikir dan berbuat.”

“Ki Bekel,” berkata Wandawa, “aku minta Ki Bekel

menghentikan rencana itu.”

Ki Bekel menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Aku

tidak akan menghentikan rencana itu.”

“Jika demikian, aku akan menyampaikannya kepada ayah. Ki

Bekellah yang bertanggung jawab terhadap ayah jika ayah

marah.”

Ki Bekel justru tersenyum. Katanya, “Wandawa, terserah saja

kepadamu. Tetapi ingat, bahwa akulah Bekel di sini. Bukan

ayahmu.”

“Aku tahu. Tetapi ayah adalah sahabat baik Ki Demang.

Sedangkan Ki Bekel berada di bawah perintah Ki Demang. Jika Ki

Demang memerintahkan untuk membatalkan rencana ini, maka

Ki Bekel tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

Ki Bekel justru tertawa. Katanya, “Terserah saja kepada

ayahmu, Wandawa. Jika ia ingin berbicara dengan Ki Demang,

biarlah ia melakukannya. Ki Demang tidak hanya mengurusi

padukuhan ini. Tetapi Ki Demang juga harus memperhatikan

padukuhan yang baru saja disinggahi oleh beberapa orang yang

telah merampok padukuhan itu habis-habisan.”

Wandawa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun

berkata, “Kau akan menyesal, Ki Bekel.”

“Tidak. Aku tidak akan menyesali sikapku ini. Anak-anak

muda ini juga tidak. Jika Ki Demang mendengar gagasan ini,

maka ia tentu akan mendukungnya.”

Wandawa tidak menjawab. Namun iapun segera melangkah

meninggalkan tempat itu.

Ki Bekel, Wijang, Paksi serta anak-anak muda yang sudah

siap untuk membuat talang air dari bambu itu memperhatikan

Wandawa serta kawan-kawannya yang melangkah semakin jauh.

Nampaknya mereka benar-benar menjadi marah. Apalagi

Wandawa. Ia tidak saja marah kepada mereka yang akan

membuat talang, tetapi ia pun marah kepada Mugi yang begitu

dungunya dengan mengatakan alasan Ki Cakrajaya yang

sebenarnya tentang pembuatan talang air itu.

“Kita tidak akan terpengaruh oleh sikap mereka,” berkata Ki

Bekel.

“Ya,” berkata salah seorang di antara anak-anak muda itu.

“Bagus,” berkata Wijang. “Seperti yang kita bicarakan, besok

kita akan datang sebelum matahari terbit. Kalian harus berlatih

bangun pagi-pagi. Jika kalian tidak bersedia berlatih bekerja

keras, maka kalian tidak akan dapat melahirkan perubahan apaapa.

Jika kalian hanya ingin yang termudah, tidak berani

menghadapi kesulitan, maka tidak akan ada yang dapat kalian

capai. Karena untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, kalian

harus berani berbuat dan bekerja keras. Sebenarnyalah

kebahagiaan yang diimpikan oleh setiap orang itu memerlukan

pengorbanan. Jika kita ingin mengail ikan, maka kita harus

bersedia mengorbankan umpan.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Seorang di antara

mereka berkata, “Baiklah. Besok kita akan datang menjelang

matahari terbit.”

“Kalian dapat tidur sejak matahari terbenam,” berkata Ki

Bekel sambil tertawa.

“Tetapi Ki Bekel sendiri juga harus bangun pagi-pagi.”

“Ya. Aku akan bangun pagi-pagi sekali. Menjelang fajar.”

Anak-anak muda itupun tertawa pula. Seorang di antara

mereka berkata, “Tidak ada yang berani membangunkan Ki

Bekel.”

“Tentu ada. Hari ini aku bangun pagi-pagi. Jika kalian tidak

percaya, bertanyalah kepada kedua orang pengembara ini.”

Wijang dan Paksi hanya tersenyum saja.

Demikianlah, beberapa saat kemudian mereka telah

meninggalkan tempat itu. Mereka akan bekerja esok. Mereka

akan datang sebelum matahari terbit sambil membawa peralatan

yang diperlukan untuk menebang bambu serta membuat saluran

air yang panjang.

Dalam pada itu, Wandawa dan kawan-kawannya telah

menghadap ayahnya. Wandawa memberitahukan, bahwa di

antara anak-anak muda itu terdapat Ki Bekel.

“Apa yang akan mereka lakukan?”

“Mereka akan membuat talang air, Ayah. Mereka ingin

mengalirkan air ke sawah mereka.”

“Iblis manakah yang telah memberikan gagasan tentang talang

air itu?”

“Ada dua orang pengembara di antara mereka. Tentu

keduanyalah yang telah mempengaruhi Ki Bekel untuk ikut serta

bersama anak-anak itu untuk membuat talang air. Kedua orang

pengembara itulah yang telah minta berbicara dengan anak-anak

muda di padukuhan ini.”

“Kerja itu harus dihentikan.”

“Ya,” jawab Wandawa. “Tetapi mulut Mugi itu sangat lancang.”

“Kenapa?”

“Ia sudah mengatakan alasan Ayah yang sebenarnya, kenapa

kita berkeberatan jika orang-orang padukuhan ini membuat

parit.”

“Gila,” geram Ki Cakrajaya. “Apakah aku harus mengoyak

mulutnya?”

“Aku sudah menamparnya sehingga mulutnya berdarah.”

“Biarlah jika alasan yang sebenarnya itu sudah terlanjur

dikatakan, meskipun terasa agak mengganggu. Biarlah aku

menemui Ki Bekel dan langsung menyatakan keberatan itu.”

“Nampaknya Ki Bekel sudah bertekad untuk

melaksanakannya. Sebaiknya yang menemui Ki Demang, serta

minta Ki Demang mengurungkan rencana Ki Bekel untuk

membuat talang air itu.”

“Aku akan menemui Ki Bekel lebih dahulu. Jika Ki Bekel

menjadi keras kepala, aku akan menemui Ki Demang. Tergantung

sekali kepada Ki Demang, apa yang akan dilakukannya. Jika Ki

Demang berkeberatan untuk mencegah Ki Bekel, maka aku

sendiri akan mencegahnya.”

Wandawa mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Terserah saja

kepada Ayah.”

“Besok aku akan menemui Ki Bekel yang tentu berada di

gumuk itu.”

“Besok aku akan ikut bersama Ayah.”

“Tetapi kau harus menahan diri. Meskipun seandainya Ki

Bekel tetap menolak, besok aku belum akan bertindak. Aku akan

lebih dahulu menemui Ki Demang.”

Wandawa mengangguk-angguk pula. Tetapi ia tidak

menjawab.

Dalam pada itu, beberapa orang anak muda telah

mempersiapkan peralatan yang akan mereka bawa esok.

Sebagian dari alat-alat itu mereka pinjam dari Ki Bekel,

sedangkan yang lain, mereka kumpulkan dari sanak kadang

mereka.

Ketika di sore hari anak-anak muda itu bertemu dan

berbincang dengan kawan-kawannya, ternyata ada empat atau

lima orang lagi yang ingin ikut mencoba bekerja buat dari depan.

“Malas juga bangunan pagi-pagi sekali,” desis seorang di

antara mereka. “Tetapi rasa-rasanya ingin juga mencoba.”

“Menurut Paksi, salah seorang dari kedua orang pengembara

itu, segala sesuatunya tergantung kepada niat kita. Apakah kita

benar-benar ingin melakukannya atau tidak.”

“Baiklah,” berkata salah seorang dari mereka. “Jika Ki Bekel

juga ikut, kami akan mencoba untuk bangun pagi-pagi.”

Seorang yang lain menyahut, “Aku akan tidur sejak sekarang.”

Kawan-kawannya yang mendengar kelakar itupun tertawa.

Namun tiba-tiba saja seorang di antara mereka berdesis,

“Bagaimana dengan Wandawa dan ayahnya?”

Anak muda yang telah dahulu datang ke gumuk itu

menjawab, “Kita akan berusaha mengatasinya jika Wandawa

ingin mengganggu. Sedangkan ayahnya akan diredam oleh Ki

Bekel.”

“Tetapi pengaruh Ki Cakrajaya itu besar sekali. Tidak saja di

padukuhan ini, tetapi di seluruh kademangan.”

“Kita akan melihat, apa saja yang dapat dilakukannya.

Seandainya karena usahanya maka kerja ini harus dihentikan,

kita akan berhenti.”

“Jadi apa yang kita lakukan besok itu akan sia-sia?”

“Mungkin. Tetapi menurut Wijang, kita harus berusaha.”

“Siapakah Wijang itu?”

“Salah seorang dari kedua pengembara itu. Yang seorang

namanya Wijang, yang seorang namanya Paksi.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk.

“Nah, sekarang kita pulang, beristirahat sebaik-baiknya. Tidur

nyenyak sampai menjelang fajar. Kita akan mencoba bangun

pagi-pagi sekali.”

“Ya, Ki Bekel.”

“Sekarang tidurlah. Agar kita tidak terlambat bangun.”

“Bukankah malam baru saja turun?”

“Tetapi kita akan bangun menjelang fajar.”

Wijang tertawa. Katanya, “Aku terbiasa tidur setelah wayah

sepi uwong.”

Ki Bekel mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi iapun

bertanya, “Jadi, waktu tidur kalian hanya begitu pendek?”

“Tetapi itu sudah cukup bagi kami.”

Ki Bekel tertawa. Katanya, “Baiklah. Aku akan mencobanya.

Tetapi dari sedikit. Jika aku memaksa diri dengan serta-merta,

mungkin aku akan menjadi sakit-sakitan.”

Wijang dan Paksipun tertawa pula.

“Kami memang harus mengakui,” berkata Ki Bekel kemudian,

“bahwa kami adalah orang-orang yang malas. Tetapi kemalasan

ini sudah berlangsung lama, sehingga untuk melakukan

perubahan, diperlukan waktu.”

“Kami tahu, Ki Bekel,” sahut Wijang.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian, Ki Bekelpun benar-benar

pergi ke biliknya. Ia sudah berpesan kepada Nyi Bekel dan

kepada pembantu-pembantunya agar Ki Bekel itu dibangunkan

pagi-pagi sekali.

“Yang tentu akan bangun pagi-pagi adalah anak-anak muda

pengembara itu,” berkata Nyi Bekel.

“Mereka tentu tidak berani membangunkan aku.”

“Baiklah, aku akan berusaha untuk bangun pagi-pagi.”

Namun sebelum Ki Bekel tidur, terdengar pintu pringgitan

diketuk keras-keras.

“Siapa?” bertanya Ki Bekel yang matanya sudah redup.

“Ki Bekel, buka pintunya.”

Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Sementara Nyi Bekel

berdesis, “Siapakah mereka, Kakang. Nampaknya bukan orang

padukuhan ini. Suaranya terdengar keras dan kasar.”

Karena Ki Bekel tidak segera menjawab, maka terdengar lagi

pintu itu diketuk semakin keras.

“Buka pintunya, Ki Bekel. Kau dengar.”

“Siapa kau?” bertanya Ki Bekel.

“Buka dahulu pintunya. Ki Bekel akan tahu, siapa aku.”

Meskipun Ki Bekel terhitung orang yang malas, tetapi ia

bukan seorang penakut. Karena itu, maka iapun segera bangkit.

Disambarnya sebatang tombak pendeknya. Kemudian melangkah

keluar dari biliknya menuju ke pintu pringgitan.

“Hati-hatilah, Kakang.”

“Masuklah ke dalam bilik, Nyi,” desis Ki Bekel.

Perlahan-lahan Ki Bekelpun melangkah ke pintu. Diangkatnya

selarak pintunya. Kemudian ditariknya sindik kayu di atas daun

pintu itu.

Dengan cepat Ki Bekel itu meloncat surut. Demikian pintu

terbuka, maka Ki Bekel itupun melihat beberapa orang berdiri di

belakang pintu. Orang-orang itu belum pernah dilihatnya

sebelumnya.

Namun ketika seorang di antara mereka akan melangkah

masuk, Ki Bekel itupun berkata, “Berdiri saja di situ.”

Orang itu tertegun. Ujung tombak Ki Bekel merunduk setinggi

jantung orang yang berdiri di depan pintu itu.

“Siapa kalian dan untuk apa kalian datang malam-malam

begini?”

Orang itu memandang wajah Ki Bekel dengan tajamnya.

Namun ia tidak melihat kecemasan membayang di wajah itu.

“Ki Bekel,” berkata orang yang berdiri di paling depan,

“sebenarnya kami tidak berurusan dengan Ki Bekel.”

“Jadi, kenapa kalian kemari?”

“Kami berurusan dengan Wijang dan Paksi. Dua orang yang

mengaku sebagai pengembara.”

“Ada apa dengan mereka?”

“Bukankah mereka bermalam di sini? Bukan di banjar?”

“Ya. Malam ini mereka memang berada di sini.”

“Serahkan kedua orang itu kepada kami.”

“Kenapa aku harus menyerahkan mereka?”

“Mereka telah melakukan kejahatan di kademangan kami.”

“Kejahatan apa?”

“Sebenarnya mereka tidak hanya berdua. Tetapi kawankawannya

ada sekitar empat orang. Mereka telah mengambil

dengan paksa barang-barang milik beberapa keluarga di

kademangan kami.”

“Kademangan mana, Ki Sanak?”

“Kami adalah orang-orang dari Kademangan Randucawang.”

Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Ia teringat kepada

penuturan beberapa orang tentang pemerasan yang terjadi di

sebuah padukuhan di kademangannya. Bahkan Ki Demang pun

telah membenarkannya. Tetapi ciri-ciri orang yang memeras dan

merampas beberapa barang berharga itu tidak seperti yang

nampak pada kedua orang pengembara yang masih muda itu.

Apalagi menilik sikap keduanya serta kesediaan mereka

membantu menyelenggarakan perubahan di padukuhan itu.

Apakah nanti akan berhasil atau tidak, bukan soal. Tetapi

keduanya telah menyampaikan gagasan yang masuk akal bagi

kesejahteraan padukuhan itu.

“Ki Sanak,” berkata Ki Bekel, “menurut pengamatan kami,

tentu bukan kedua orang pengembara yang bermalam di sini.

Jika Ki Sanak orang Randucawang, Ki Sanak tentu sudah

mendengar, bahwa salah satu padukuhan di kademangan kami

juga pernah didatangi beberapa orang yang memeras dan bahkan

katakan saja, merampok beberapa orang penghuninya. Tetapi

ciri-ciri dari para perampok itu sama sekali tidak sama dengan

ciri-ciri kedua orang anak muda yang sekarang bermalam di

rumahku ini.”

“Kami akan bertemu dengan mereka.”

“Baik. Tetapi kalian harus berjanji bahwa kalian tidak akan

bertindak sendiri. Aku bekel di sini. Segala sesuatunya, akulah

yang memutuskan.”

“Ki Bekel, peristiwa kejahatan itu terjadi di kademangan kami.

Karena itu, maka kami akan minta untuk membawa kedua orang

itu ke kademangan kami.”

“Jika yang datang Ki Demang Randucawang atau Ki Jagabaya

atau bebahu Randucawang yang hampir semuanya sudah aku

kenal, maka aku akan menyerahkannya. Tetapi aku belum

mengenal Ki Sanak. Bahkan aku belum mengenal seorang pun di

antara kalian. Padahal aku banyak mempunyai kenalan di

Randucawang.”

“Ki Bekel, aku adalah utusan demang Randucawang itu.”

“Sudah aku katakan, jika yang datang bebahu Randucawang

yang hampir semuanya sudah aku kenal, maka aku akan

menyerahkan mereka berdua. Tetapi aku tidak akan

menyerahkan mereka kepada orang yang tidak aku kenal.”

“Ki Bekel, kami datang dengan membawa kuasa dari Ki

Demang. Itu tidak ada bedanya, bahwa Ki Demang sendiri datang

kemari.”

“Apakah kalian dapat membuktikan bahwa kalian telah

mendapat kuasa dari Ki Demang?”

“Ki Demang hanya memberikan perintah lesan.”

“Karena itu, aku tidak dapat menyerahkan mereka.”

“Jangan berkeras, Ki Bekel.”

“Aku akan bertindak sebagai seorang bekel di sini.”

“Ki Bekel, jika Ki Bekel berkeberatan untuk menyerahkan

keduanya, maka kami akan terpaksa mempergunakan

kekerasan.”

Ki Bekel menjadi tegang. Ujung tombaknyapun menjadi

bergetar. Dengan nada tinggi iapun berkata, “Jadi kalian juga

akan merampok seperti orang-orang yang kalian cari itu?”

“Kami tidak merampok. Tetapi kami sedang berusaha

menangkap perampok.”

“Tetapi cara yang kau pakai tidak ada bedanya dengan cara

seorang perampok. Bahkan kau akan merampok wewenangku di

padukuhan ini.”

“Terserah saja apa yang akan Ki Bekel katakan. Tetapi kami

akan mengambil kedua orang anak muda itu dan membawa ke

Randucawang.”

“Tidak. Besok aku akan menemui Ki Demang Randucawang.

Aku sendiri akan membawa kedua orang anak muda itu dan

menanyakan kepada Ki Demang, apakah benar mereka yang

dicari.”

“Aku tidak mau menunggu sampai besok. Aku akan membawa

mereka sekarang.”

“Jika demikian, pengakuan kalian sebagai orang

Randucawang justru meragukan.”

“Percaya atau tidak itu terserah saja kepada Ki Bekel. Tetapi

yang penting, kami akan membawa kedua orang itu.”

“Tidak. Aku tidak akan menyerahkan mereka.”

“Ki Bekel, bukankah selama ini tidak ada persoalan di antara

kita? Jika Ki Bekel tidak mau menyerahkan keduanya, maka

akan timbul perselisihan antara Ki Bekel dengan Ki Demang di

Randucawang.”

“Aku tidak yakin. Besok aku akan pergi ke Randucawang.”

“Kami tidak dapat menunggu sampai esok. Serahkan

keduanya sekarang, atau Ki Bekel akan menyesali kekerasan hati

Ki Bekel.”

“Aku tidak akan menyesal.”

Tiba-tiba saja orang itu bergeser mundur selangkah. Kepada

beberapa orang yang datang bersamanya, orang itu berkata, “Cari

kedua orang itu. Ia ada di sini. Aku pikir keduanya ada di gandok

kiri atau kanan.”

Namun mereka terkejut karena mereka mendengar suara di

seketeng. “Kami ada di sini.”

Ketika orang-orang yang datang ke rumah Ki Bekel itu

berpaling, mereka melihat dua orang berdiri di depan pintu

seketeng. Remang-remang cahaya lampu minyak yang menyala di

pendapa itu sempat menggapai mereka.

“Ki Sanak,” terdengar suara Wijang, “kami sama sekali tidak

pernah melakukan perampokan sebagaimana kalian tuduhkan.

Jika saja Ki Bekel meragukan bahwa kalian orang-orang

Randucawang, maka kami pun akan menyatakan bahwa kami

berkeberatan untuk ditangkap dan dibawa ke Randucawang.

Sebaliknya jika Ki Bekel tidak meragukan kalian, maka kami

akan melakukan apa saja yang diperintahkannya.”

“Setan kau,” geram orang yang berdiri di depan pintu.

“Tangkap mereka.”

Beberapa orang itupun segera menghambur berlari ke arah

Wijang dan Paksi yang sengaja menunggu mereka di halaman.

Orang yang berdiri di depan pintu itu masih berada di depan

pintu. Kepada Ki Bekel iapun berkata, “Ki Bekel, kami telah

menemukan kedua orang itu. Sebaiknya Ki Bekel tidak usah ikut

campur. Kami akan menangkap mereka dan membawa mereka ke

Randucawang.”

Orang itu tidak menunggu jawaban. Namun orang itu pun

segera berlari pula ke pintu seketeng.

Demikian orang itu meninggalkan pintu pringgitan, maka Ki

Bekelpun segera meloncat keluar. Dilihatnya beberapa orang itu

telah mengepung Wijang dan Paksi.

“Menyerahlah,” berkata orang yang telah menemui Ki Bekel di

muka pintu pringgitan. Seorang yang berkumis lebat tetapi

berjanggut tipis dan jarang.

Ki Bekel yang masih berdiri di pendapa itu melihat Wijang dan

Paksi yang berdiri di dalam kepungan orang-orang yang tidak

dikenal itu berdiri berdampingan. Nampaknya keduanya sama

sekali tidak menjadi cemas melihat orang-orang yang garang

mengepung mereka.

“Jika kalian menyerah, kami masih akan mempertimbangkan

banyak hal tentang kalian berdua. Kalian akan mendapat banyak

pengampunan, sehingga hukuman kalian akan menjadi sangat

ringan,” berkata orang berkumis lebat itu.

“Kami tidak memerlukan pengampunan karena kami tidak

bersalah,” jawab Wijang.

“Kalian tidak akan dapat ingkar.”

“Hanya orang yang merasa bersalah saja yang minta diampuni

kesalahannya. Sementara itu, kami merasa tidak pernah berbuat

sesuatu yang dapat dianggap satu kesalahan. Jika di sini kami

menyampaikan gagasan untuk membuat saluran air, bukankah

itu bukan satu kesalahan?”

“Kami tidak berbicara tentang saluran air.”

“Aku yakin, bahwa kalian datang karena saluran air itu.

Bukan karena perampokan yang terjadi di Randucawang,

meskipun kalian mengaku orang-orang Randucawang. Jika

persoalannya adalah perampokan di Randucawang, di antara

kalian tentu ada satu atau dua orang bebahu. Tetapi ternyata

tidak. Tidak ada di antara kalian yang dapat mengaku bebahu

Randucawang karena Ki Bekel mengenal semua bebahu di

Randucawang itu.”

“Persetan dengan igauanmu.”

“Kalian tentu datang untuk menangkap kami dan mungkin

untuk menyakiti kami karena kalian yakin bahwa kamilah yang

telah melontarkan gagasan untuk membuat talang air itu.”

“Dugaan yang tepat,” sahut Ki Bekel yang berdiri di pendapa

dengan tombak di tangan. “Agaknya mereka datang karena

rencana itu. Aku pun menjadi semakin yakin, bahwa mereka

bukan orang-orang Randucawang.”

“Aku tidak peduli,” berkata orang yang berkumis lebat.

“Keduanya harus ditangkap dan dibawa ke Randucawang.” Lalu

katanya kepada kawan-kawannya, “Tangkap mereka. Jika mereka

melawan, mereka harus ditundukkan. Jika karena itu maka

mereka terluka, itu adalah salah mereka sendiri.”

Kawan-kawannya tidak menunggu terlalu lama. Lima orang

bergerak serentak menyerang Wijang dan Paksi. Sementara orang

yang berkumis lebat itu berdiri termangu-mangu. Agaknya ia

sedang mengamati Ki Bekel, jika Ki Bekel itu akan ikut campur.

Ki Bekel berdiri dengan tegang menyaksikan Wijang dan Paksi

berloncatan membela diri.

Namun Ki Bekel mengurungkan niatnya untuk turun ke arena

ketika ia menyaksikan bagaimana Wijang dan Paksi menghadapi

kelima orang laki-laki yang garang yang mengaku datang dari

Randucawang itu.

Dalam waktu yang singkat, seorang dari kelima orang itu

terdorong beberapa langkah surut. Bahkan orang itu tidak lagi

mampu mempertahankan keseimbangannya, sehingga jatuh

terbanting. Namun orang itupun segera bangkit berdiri meskipun

harus menyeringai menahan sakit di punggungnya.

Tetapi belum lagi mampu berdiri tegak, maka seorang

kawannya telah terlempar menimpanya, sehingga kedua-duanya

justru jatuh berguling di tanah.

Seorang di antara mereka mampu segera bangkit sambil

menahan pinggangnya dengan tangannya. Sedangkan yang

seorang lagi baru kemudian tertatih-tatih berdiri.

Sementara itu, ketiga orang kawannya justru telah mengambil

jarak. Ternyata kedua orang pengembara itu memiliki

kemampuan melindungi diri mereka.

Seorang di antara orang-orang yang mengaku dari

Randucawang itu menggeram, “Ternyata dugaan kami benar.

Kalian tentu bagian dari mereka yang telah merampok di

Randucawang. Ternyata kalian mempunyai kemampuan dalam

olah kanuragan, meskipun kasar dan liar.”

“Apakah hanya para perampok saja yang memiliki

kemampuan untuk membela dirinya?”

“Ya.”

“Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga perampok

atau orang upahan yang kerjanya menyakiti orang lain untuk

beberapa keping uang. Bahkan membunuh?”

“Persetan kau orang-orang yang licik,” geram orang itu.

“Semula kami memang tidak ingin membunuh. Kami hanya ingin

membawa kalian ke kademangan kami. Tetapi jika kalian

bersikukuh untuk menolak, bahkan melawan, maka mungkin

saja kalian akan mati di halaman rumah Ki Bekel ini.”

“Aku menjadi saksi,” berkata Ki Bekel yang telah melihat

kemampuan Wijang dan Paksi, “siapa pun yang mati, tidak akan

menjadi persoalan. Tidak akan ada yang dianggap bersalah

karena pembunuhan. Apalagi karena aku meragukan bahwa

kalian benar-benar orang Randucawang. Seandainya benar kalian

orang-orang Randucawang, aku akan memberi penjelasan kepada

Ki Demang Randucawang bahwa kalian telah melanggar unggahungguh

dan paugeran padukuhan ini.”

Orang yang berkumis lebat dan berjanggut tipis itupun

menggeram, “Ki Bekel, jika kau tetap melindungi kedua orang itu,

maka kau akan kami anggap ikut bersalah.”

“Siapa yang melindungi para pengembara itu? Bukankah aku

berdiri di sini dan tidak berbuat apa-apa? Kawan-kawanmu

itulah yang harus bertanggung jawab jika mereka tidak berhasil

menangkap kedua orang pengembara itu, apapun alasan kalian

yang sebenarnya.”

Orang berkumis lebat itu menggeram. Tetapi ia tidak dapat

mengingkari kenyataan yang dihadapinya. Kedua orang

pengembara itu tidak mudah untuk ditaklukkan. Apalagi

ditangkap dan dibawa keluar dari padukuhan.

Dalam pada itu, kedua orang yang jatuh berguling itu sudah

bangkit kembali. Mereka menggeliat untuk melenturkan tubuh

mereka yang terasa sakit

Seorang di antara kedua orang itupun tiba-tiba saja menarik

goloknya sambil menggeram, “Aku tidak peduli, apakah aku

harus menangkapnya hidup-hidup atau mati. Tetapi aku akan

membunuh mereka berdua.”

Orang berkumis tebal itupun berkata kepada Ki Bekel, “Lihat,

Ki Bekel. Orang-orangku sudah kehabisan kesabaran.”

“Apa yang harus aku lakukan? Bukankah aku sama sekali

tidak menghalangi usaha kalian untuk menangkapnya?”

“Ki Bekel dapat memerintahkan mereka untuk menyerah.”

“Mereka bukan orang-orangku. Aku tidak dapat memerintah

mereka. Seandainya itu aku lakukan, merekapun berhak untuk

tidak mentaati perintahku.”

“Tetapi padukuhan ini berada di bawah perintah Ki Bekel.”

“Apakah dengan demikian mereka harus tunduk kepada

perintahku?”

“Bukankah itu wajar?”

“Jika demikian, kenapa kalian tidak menurut perintahku?

Jika kalian menurut perintahku, tidak akan terjadi pertempuran

di sini. Sementara itu, aku akan dapat membawa keduanya

menghadap Ki Demang di Randucawang.”

“Persetan,” geram orang yang baru saja terpelanting jatuh

sehingga pinggangnya terasa sakit sekali. “Aku akan membunuh

mereka.”

Kelima orang itupun telah menarik senjata mereka masingmasing.

Agaknya mereka benar-benar merasa tersinggung karena

mereka berlima tidak segera berhasil menguasai kedua orang

pengembara itu.

Sejenak kemudian, maka kelima orang itupun telah

berloncatan kembali di sekitar Wijang dan Paksi. Namun di

tangan mereka sudah teracu senjata mereka masing-masing.

Paksi termangu-mangu sejenak. Meskipun sejak semula ia

sudah memegangi tongkatnya, namun ia masih belum

mengerahkan kemampuannya. Tetapi menghadapi lawanlawannya

yang mengacu-acukan senjatanya, maka tongkat

Paksipun berputar semakin cepat.

Dalam pada itu, di kedua belah tangan Wijangpun telah

tergenggam sepasang pisau belatinya. Ketika kedua Lawannya

mulai menyerang, maka sepasang pisau belati di tangan Wijang

itupun mulai berputar seperti baling-baling.

Ki Bekel yang menyaksikan pertempuran yang terjadi di

samping pendapa itu menarik nafas dalam-dalam. Iapun yakin,

bahwa kedua orang pengembara itu ternyata memiliki ilmu yang

tinggi, sehingga Ki Bekel sendiri tidak perlu turun dan melibatkan

diri di arena.

“Siapakah sebenarnya keduanya?” pertanyaan itu mulai

menggelitik jantung Ki Bekel. Namun Ki Bekel pun yakin, bahwa

kedua orang itu tentu bukan bagian dari para perampok yang

manapun juga. Bahkan Ki Bekelpun menjadi semakin yakin pula,

bahwa orang-orang yang datang itu bukan orang-orang

Randucawang. Mereka tentu diupah untuk menangkap Wijang

dan Paksi serta mengancamnya, mungkin dengan menyakitinya

atau melukainya, agar mereka tidak lagi memimpin

pembangunan talang air dari bambu sebelum padukuhan itu

dapat membuat parit yang baru atau memperbaiki dan

memanfaatkan parit yang sudah ada tetapi rusak serta

menyempurnakannya.

Dalam pada itu, pertempuran itupun menjadi semakin sengit.

Senjatapun terdengar berdentang beradu. Bunga-bunga api

berloncatan di keremangan cahaya lampu minyak dari pendapa.

Namun Ki Bekel tidak lagi merasa cemas. Beberapa kali orangorang

yang bertempur melawan Wijang dan Paksi itu terdesak

beberapa langkah surut. Meskipun mereka mengerahkan segala

kemampuan mereka, namun mereka tidak mampu menguasai

kedua orang pengembara yang akan mereka tangkap itu.

Dalam pada itu, orang yang berkumis lebat itupun menjadi

cemas. Iapun dapat melihat, bahwa orang-orangnya justru

mengalami kesulitan. Apalagi ketika orang itu mendengar seorang

di antara kelima orang itu berteriak nyaring. Ujung pisau belati

Wijang telah menyentuh bahunya, sehingga kulitnya telah

terluka. Meskipun lukanya tidak begitu dalam, tetapi darahpun

telah mengalir dari luka itu. Dibasahi oleh keringatnya sendiri,

maka luka itu terasa nyeri sekali.

Sementara itu seorang yang lain telah jatuh menelungkup.

Tongkat Paksi yang mengenai punggungnya, telah mendorong

orang itu demikian kerasnya, sehingga orang itu tidak mampu

untuk tetap tegak berdiri. Dengan derasnya ia terdorong dan

jatuh menelungkup. Wajahnya tersuruk menggores tanah yang

keras berdebu, sehingga dahinya telah tertoreh beberapa larik

luka.

Ketika orang itu bangkit berdiri, maka darah telah meleleh di

wajahnya.

Orang itu menggeram. Kemarahannya telah membakar isi

dadanya. Darahnya yang bagaikan mendidih telah memanasi

seluruh tubuhnya.

Sementara itu, orang berkumis lebat yang masih berdiri di

luar arena pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Ia harus

berbuat sesuatu untuk membantu orang-orangnya. Dua orang

pengembara itu harus berhasil ditangkap. Bahkan menilik

suasananya, agaknya orang-orangnya hanya dapat menangkap

mati kedua pengembara itu.

Ketika ia melihat Ki Bekel yang memperhatikan pertempuran

itu dengan segenap perhatiannya, maka timbullah gagasannya

untuk mempergunakan Ki Bekel sebagai alat untuk memaksa

kedua orang pengembara itu agar mereka menyerah.

“Aku akan menguasai Ki Bekel. Jika keduanya tidak bersedia

menyerah, maka taruhannya adalah nyawa Ki Bekel itu sendiri,”

berkata orang berkumis lebat itu di dalam hatinya.

Karena itu, selagi Ki Bekel memperhatikan pertempuran itu

dengan seksama, maka orang berkumis lebat yang telah menarik

pedangnya itu tiba-tiba saja telah meloncat. Ia berniat untuk

memukul tombak Ki Bekel agar tombak itu terjatuh. Kemudian

menempelkan ujung pedang dan memaksa kedua orang

pengembara itu menyerah.

Tetapi ternyata Ki Bekel sempat melihat gerakan orang itu.

Karena itu, ketika orang itu mengayunkan pedangnya memukul

ujung tombak Ki Bekel, maka Ki Bekel sempat menarik

tombaknya sehingga pedang orang berkumis lebat itu tidak

menyentuhnya.

Namun justru karena gerakan yang tiba-tiba, maka Ki

Bekelpun tidak mampu lagi memperhitungkan gerak naluriahnya.

Tiba-tiba saja tombaknya menggeliat. Dengan cepat Ki Bekel itu

telah menjulurkan tombaknya, langsung ke dada orang yang

meloncat ke arahnya itu.

Terdengar orang berkumis lebat itu berteriak. Kemudian

mengumpat dengan kasarnya. Namun suaranyapun segera patah

di kerongkongan.

Orang itupun terjatuh di tanah seperti sebatang pisang yang

roboh. Sekali orang itu menggeliat. Namun kemudian iapun

terdiam untuk selama-lamanya.

Ki Bekelpun segera meloncat dan berjongkok di sampingnya.

Ketika ia meraba leher orang itu, maka tidak ada lagi tanda-tanda

kehidupannya.

“Aku tidak sengaja membunuhnya,” desis Ki Bekel yang

menjadi sangat gelisah.

Dalam pada itu, kelima orang yang bertempur melawan

Wijang dan Paksipun melihat, bahwa orang berkumis lebat itu

telah terbunuh. Karena itu, maka mereka merasa bahwa tidak

ada gunanya untuk bertempur terus. Merekapun merasa bahwa

kedua orang yang mereka hadapi ternyata adalah orang-orang

yang berilmu tinggi.

Karena itu, maka seorang di antara merekapun segera bersuit

nyaring untuk memberikan isyarat kepada kawan-kawannya agar

mereka serentak melarikan diri dan berpencar ke arah yang

berbeda-beda.

Tetapi isyarat itupun ditangkap pula oleh Wijang dan Paksi.

Karena itu demikian mereka mulai bergerak untuk melarikan diri,

Wijang dan Paksi segera meloncat menangkap dua orang di

antara mereka. Ketika mereka meronta, maka tangkai pisau belati

Wijang telah memukul keningnya, sehingga orang itu terhuyunghuyung.

Kepalanya terasa menjadi sangat pening, matanya

berkunang-kunang dan akhirnya iapun jatuh terguling di tanah.

Sementara itu, orang yang ditangkap oleh Paksipun telah

meronta pula. Namun tongkat Paksi dengan kerasnya memukul

kaki orang itu, sehingga rasa-rasanya tulangnya menjadi retak.

Karena itu, maka orang itupun tidak mampu segera bangkit.

Apalagi melarikan diri.

Wijang dan Paksi tidak menghiraukan lagi ketiga orang yang

berlari berpencaran. Seorang berlari lewat pintu regol yang

terbuka. Seorang meloncat dinding halaman di sebelah gandok

dan seorang lagi berlari ke kebun belakang menyusup di antara

tanaman.

Tetapi dua orang itu sudah cukup. Wijang dan Paksipun

kemudian telah memaksa kedua orang itu bangkit dan mengikat

mereka masing-masing pada sebatang pohon dengan ikat kepala

mereka sendiri.

Baru kemudian, Ki Bekel, Wijang dan Paksi telah mengangkat

tubuh orang berkumis lebat itu dan membawanya naik ke

pendapa.

“Aku tidak sengaja membunuhnya,” desis Ki Bekel.

“Peristiwa ini terjadi begitu saja dengan cepatnya, sehingga Ki

Bekel tidak sempat membuat pertimbangan-pertimbangan,” desis

Wijang.

“Ya. Ternyata besok kita tidak dapat mulai dengan kerja itu.

Aku harus memberikan laporan kepada Ki Demang.”

“Apakah di padukuhan ini tidak terbiasa dengan isyarat

kentongan pada keadaan yang gawat seperti ini?”

“Ya,” jawab Ki Bekel. “Dalam keadaan yang memaksa, di

padukuhan ini dapat dibunyikan tanda bahaya dengan

kentongan dalam irama titir. Tadi aku sudah berpikir untuk

membunyikan kentongan. Tetapi ketika aku melihat bahwa

kalian akan segera dapat segera menguasai keadaan, maka niat

itupun aku urungkan.”

Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Sementara Ki Bekel

berkata selanjutnya, “Pada satu kesempatan, ketika dibunyikan

isyarat kentongan dalam irama titir, seluruh padukuhan menjadi

sangat ketakutan. Kegelisahan dan kecemasan meliputi seisi

padukuhan ini, sehingga aku berpendapat, bahwa jika tidak perlu

sekali, kentongan tidak akan dibunyikan dengan irama titir.”

Wijang yang masih mengangguk-angguk itupun bertanya,

“Jadi, bagaimana dengan orang yang tertangkap dan terbunuh

ini? Apakah Ki Bekel akan menanganinya sendiri?”

“Biarlah para bebahu dipanggil.”

Ki Bekelpun kemudian memanggil pembantunya.

Diperintahkannya orang itu pergi ke rumah Ki Jagabaya dan

bebahu yang lain. Juga menjemput salah seorang anak muda

yang di keesokan harinya akan pergi ke gumuk kecil untuk

membuat talang air.

Tetapi pembantu Ki Bekel itu berkata, “Aku takut, Ki Bekel.

Jika di jalan aku bertemu dengan salah seorang di antara

mereka, maka aku akan menjadi sasaran dendam mereka.”

“Bukankah mereka tidak mengenalmu?”

“Siapapun yang mereka jumpai, tentu akan mengalami nasib

buruk.”

Paksilah yang kemudian menyahut, “Marilah bersama aku.

Jika saja aku tahu di mana rumah mereka, aku dapat pergi

sendiri.”

“Nah, biarlah kau diantar oleh Paksi.”

Pembantu di rumah Ki Bekel itu masih saja ragu-ragu. Namun

Ki Bekel itupun berkata, “Pergilah. Jika kau bertemu dengan

mereka, biarlah Paksi yang mengatasinya.”

Akhirnya pembantu Ki Bekel itupun turun ke jalan bersama

Paksi, menyusuri jalan padukuhan.

Sejenak kemudian, merekapun telah sampai ke rumah Ki

Jagabaya yang sedang tidur nyenyak.

Memang sulit untuk membangunkan Ki Jagabaya. Namun

Paksi dengan sengaja telah mengetuk pintu pringgitan agak keras

dan menghentak, sehingga Ki Jagabaya dan seisi rumahnya

terkejut karenanya.

“Siapa di luar?” teriak Ki Jagabaya yang karena terkejut,

iapun telah tersentak. Tiba-tiba saja matanya tidak lagi terasa

mengantuk.

“Aku, Ki Jagabaya. Pembantu di rumah Ki Bekel.”

“Ada apa malam-malam begini? Kau telah mengejutkan aku.”

“Ki Jagabaya diminta datang ke rumah Ki Bekel.”

“Malam-malam begini?”

“Ya. Ada sesuatu yang penting.”

“Ada apa? Begitu pentingkah sehingga malam-malam begini

aku harus dibangunkan?”

“Ya, sangat penting.”

Terdengar langkah Ki Jagabaya menuju ke pintu pringgitan.

Kemudian terdengar pula selarak pintu diangkat.

Sesaat kemudian, maka pintu pringgitan itupun terbuka.

Ki Jagabaya berdiri di pintu, di tangannya digenggamnya keris

yang sudah telanjang.

Sejenak Ki Jagabaya mengamati dua orang yang berdiri

termangu-mangu di pringgitan. Seorang di antaranya memang

dikenalnya sebagai pembantu Ki Bekel.

“Ada apa sehingga kau bangunkan aku malam-malam?”

“Ada beberapa orang perampok di rumah Ki Bekel.”

“Perampok?”

“Ya. Seorang di antara mereka terbunuh oleh Ki Bekel. Dua

orang diikat pada pohon yang ada di halaman.”

“Baik. Baik. Aku akan pergi.”

“Ki Bekel minta Ki Jagabaya singgah sebentar di rumah Ki

Kamituwa.”

“Kenapa bukan kau saja?”

“Aku akan pergi ke rumah Trima.”

“Kenapa dengan Trima?”

“Ki Bekel minta Trima memberitahukan kawan-kawannya

tentang rajapati yang terjadi di rumah Ki Bekel.”

“Bukankah lebih penting Ki Kamituwa dan bebahu yang lain?”

“Ki Bekel minta Ki Jagabaya melakukannya. Aku harus

memberi tahu Trima. Sedangkan Trima juga harus memberitahu

beberapa orang kawannya.”

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian

iapun berkata, “Baik. Baik. Aku singgah di rumah Ki Kamituwa.”

Pembantu di rumah Ki Bekel itupun segera minta diri. Masih

diantar Paksi, orang itu pergi ke rumah salah seorang anak muda

yang di keesokan harinya berjanji untuk berada di gumuk kecil.

Sementara itu Ki Jagabaya telah berbenah diri sambil

bersungut, “Enak-enaknya orang tidur. Kenapa Ki Bekel tidak

memanggil aku besok pagi saja?”

Nyi Bekel yang duduk sambil menggeliat di bibir

pembaringannya berkata, “Dinginnya malam ini, Kang.”

“Tidurlah. Aku sebenarnya juga malas keluar di malam seperti

ini. Aku sudah mulai mengantuk lagi.”

Nyi Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia justru

harus bangkit dan melepas Ki Jagabaya di pintu pringgitan,

karena ia harus menyelarak pintu dari dalam.

Ki Jagabaya yang menyelipkan keris di pinggangnya, berjalan

di dalam gelapnya malam dengan malasnya. Ki Jagabaya sama

sekali tidak takut seandainya ia bertemu dengan salah seorang

perampok di jalan padukuhan. Tetapi yang sangat

mengganggunya adalah kemalasan berjalan di dinginnya malam.

Ketika ia membangunkan Ki Kamituwa, maka seperti juga Ki

Jagabaya, maka Ki Kamituwa itupun mengeluh karena ia harus

bangun di dinginnya malam.

“Ki Bekel tidak pernah memberikan perintah seperti ini,”

berkata Ki Kamituwa.

“Tentu anak-anak yang bertualang itulah yang telah

mempengaruhi Ki Bekel,” desis Ki Jagabaya.

Namun Ki Jagabaya itupun kemudian berkata, “Tetapi

menurut pembantunya, di rumah Ki Bekel itu terjadi

perampokan. Seorang di antaranya telah terbunuh oleh Ki Bekel.”

“Itupun tidak pernah terjadi sebelumnya.”

Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa sebagaimana diminta oleh Ki

Bekel, telah singgah di rumah beberapa orang bebahu.

Betapapun segannya, namun para bebahu itu harus pergi ke

rumah Ki Bekel.

Untuk menghilangkan keseganan dan kemalasan mereka,

maka para bebahu itu telah membangunkan dan mengajak

tetangga-tetangga mereka pergi ke rumah Ki Bekel untuk melihat

apa yang telah terjadi.

Dalam pada itu, pembantu di rumah Ki Bekel itu telah

membangunkan Trima yang tidur nyenyak.

“Apakah sekarang sudah hampir fajar?” bertanya Trima.

“Belum. Tetapi sesuatu telah terjadi di rumah Ki Bekel.”

“Apa?”

“Perampokan. Seorang di antara para perampok itu terbunuh.”

Trima mengerutkan dahinya. Kemudian katanya, “Baik. Aku

akan pergi ke rumah Ki Bekel.”

“Ajak kawan-kawanmu,” berkata Paksi. “Dengan demikian,

mungkin sekali kerja kita tertunda. Atau kita mulai dari kerja

yang dapat dilakukan lebih dahulu.”

“Baik. Aku akan mengajak kawan-kawanku yang seharusnya

esok mulai dengan kerja. Sebenarnya apa pun yang dapat kami

lakukan, akan kami lakukan besok. Jika niat yang sudah

bergejolak ini tertunda lagi, mungkin lusa gemuruh di dada kami

sudah mereda.”

“Kami mengerti.”

Malam itu ternyata banyak orang yang berkumpul di halaman

rumah Ki Bekel. Bukan saja para bebahu, tetapi banyak pula

tetangga-tetangga Ki Bekel dan anak-anak muda yang

berdatangan. Meskipun mereka merasa segan untuk keluar di

malam yang dingin, serta kemalasan mereka mengatasi perasaan

kantuk, namun perampokan adalah satu peristiwa yang sangat

jarang terjadi. Apalagi setelah mereka mendengar bahwa salah

seorang di antara para perampok itu telah terbunuh oleh Ki Bekel

sedangkan dua orang perampok yang lain telah tertangkap dan

masing-masing diikat pada sebatang pohon.

Dalam kesibukan itu, Ki Bekel menyempatkan diri berbicara

dengan anak-anak muda yang di keesokan harinya akan mulai

dengan kerja mereka.

“Jika kerja ini tertunda,” berkata Trima, “maka gelora di dalam

hati mereka akan mereda, sehingga untuk mengangkatnya

kembali diperlukan waktu.”

“Baiklah,” berkata Ki Bekel, “besok kalian pergi saja ke gumuk

kecil. Mulailah dengan kerja itu bersama Wijang dan Paksi. Aku

akan menyelesaikan persoalan yang terjadi malam ini. Aku harus

melapor kepada Ki Demang. Kemudian menguburkan orang yang

terbunuh itu. Mungkin aku harus memberikan penjelasan,

apakah peristiwa ini berdiri sendiri, atau mungkin dapat

dihubungkan dengan perampokan yang pernah terjadi di

padukuhan lain.”

Trima itupun kemudian berpaling kepada Wijang dan Paksi.

Sementara itu, seorang kawannya bertanya, “Apakah Wijang dan

Paksi harus berada di rumah Ki Bekel? Mungkin mereka harus

menjawab beberapa pertanyaan pula.”

“Tetapi akulah yang telah membunuh. Wijang dan Paksi

memang terlibat dalam perkelahian. Tetapi mereka hanya

membela diri saja.”

“Bukankah orang-orang yang mengaku dari Kademangan

Randucawang itu datang untuk mencari Wijang dan Paksi?”

“Aku akan dapat memberikan penjelasan kepada Ki Demang.

Tetapi mungkin pula aku harus pergi ke Randucawang untuk

mengundang Ki Demang Randucawang jika bersedia. Biarlah Ki

Demang Randucawang melihat, apakah orang yang terbunuh itu

orang Randucawang atau bukan. Jika orang itu memang orang

Randucawang, maka akupun harus memberi penjelasan kepada

Ki Demang di Randucawang. Mungkin Wijang dan Paksi memang

diperlukan untuk memberikan keterangan. Tetapi jika keduanya

harus ada, maka biarlah mereka dipanggil. Tetapi sebelumnya, ia

dapat bekerja bersama anak-anak di gumuk kecil itu.”

“Baiklah, Ki Bekel. Tetapi jika benar orang-orang ini ada

hubungannya dengan keberatan Wandawa dan ayahnya, maka

akan dapat terjadi sesuatu di gumuk kecil itu.”

“Wijang dan Paksi akan membantu mengatasinya.”

“Tetapi mereka orang asing bagi kita.”

“Seorang bebahu akan pergi bersama kalian.”

Trima mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, apakah

kami diperbolehkan pulang sekarang agar kami dapat tidur lagi?

Besok kami harus bangun pagi-pagi sekali.”

“Sudah waktunya untuk tidak bermalas-malasan lagi

sekarang,” berkata Ki Bekel.

Trima mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun

tersenyum.

Namun dalam pada itu, sebelum Trima dan kawan-kawannya

meninggalkan rumah Ki Bekel, Ki Jagabaya dengan wajah yang

tegang menemui Ki Bekel di pendapa sambil berkata, “Ki Bekel,

kedua orang yang terikat di pohon itu mati.”

“Mati? Bagaimana mungkin hal itu terjadi?”

“Aku tidak tahu, tetapi keduanya telah mati.”

Ki Bekelpun segera meloncat turun ke halaman diikuti oleh

Wijang, Paksi dan anak-anak muda yang ada di pendapa.

Sebenarnyalah kedua orang yang masing-masing terikat pada

sebatang pohon itu telah meninggal. Wijang dan Paksi

menemukan luka yang menganga di dada yang agaknya telah

menembus jantung mereka.

Ki Bekel menjadi tegang. Katanya, “Keduanya akan menjadi

sumber keterangan, siapakah yang menggerakkan mereka datang

kemari malam ini.”

“Terlalu banyak orang berkerumun, Ki Bekel. Sehingga aku

tidak melihat seseorang yang telah menusuk dada orang itu.”

“Tentu kawan-kawannya sendiri,” geram Ki Bekel. “Dengan

demikian mereka tidak akan dapat berceritera tentang seseorang

yang memerintahkan mereka datang malam ini kemari.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mereka telah

menutup jalur untuk menelusuri, siapakah yang berada di balik

kehadiran mereka. Ternyata orang yang mengupah orang-orang

itu adalah orang yang berperhitungan jauh tanpa menghiraukan

nilai nyawa seseorang. Mereka menganggap bahwa kepentingan

mereka jauh lebih berharga dari tiga nyawa orang-orang

upahannya.”

“Mereka sudah terlanjur menapak. Karena itu, maka untuk

menyembunyikan perbuatan-perbuatan mereka yang

bertentangan dengan paugeran, maka mereka harus melakukan

pelanggaran-pelanggaran berikutnya,” sahut Paksi.

Terasa jantung Ki Bekel berdegup semakin cepat. Namun

dengan geram Ki Bekel itupun berkata kepada Trima, “Besok, kau

dan kawan-kawanmu harus mulai dengan kerja itu. Biarlah

Wijang dan Paksi bersama kalian. Justru usaha untuk

menggagalkan kerja itu harus menjadi cambuk bagi kita. Biarlah

aku yang mengurus orang-orang yang terbunuh di halaman

rumahku ini. Aku akan berbicara dengan Ki Demang. Juga Ki

Demang Randucawang. Karena orang-orang ini mengaku orang

Randucawang.”

Trima mengangguk-angguk. Sebagai anak muda iapun merasa

tertantang untuk melaksanakan rencananya. Peristiwa yang

terjadi di rumah Ki Bekel itu akan menjadi pemacu kerja yang

akan dilakukannya.

“Bukan waktunya lagi untuk bermalas-malas. Kemalasan kita

tidak akan pernah memberikan harapan cerah bagi anak cucu

kita,” berkata Trima di dalam hatinya.

Sejenak kemudian, maka Ki Bekel justru telah minta agar

anak-anak muda yang besok pagi akan pergi ke gumuk kecil itu

pulang. “Tidurlah jika masih sempat. Besok kalian akan mulai

dengan kerja besar kalian.”

Trima dan kawan-kawannyapun segera meninggalkan

halaman rumah Ki Bekel. Peristiwa di halaman rumah Ki Bekel

itu justru telah mendera mereka untuk melaksanakan rencana

mereka.

“Aku sependapat dengan Ki Bekel,” berkata Trima yang sudah

berbicara panjang dengan Ki Bekel, Wijang dan Paksi.

“Kedatangan orang-orang itu tentu ada hubungannya dengan

rencana pembuatan talang air yang akan kita kerjakan esok.”

“Ya,” sahut kawannya. “Alasan mereka untuk menangkap

perampok di Randucawang tentu alasan yang dibuat-buat.

Menurut Ki Bekel, mereka tentu bukan orang-orang

Randucawang.”

“Ki Bekel tentu akan menyelesaikan masalah itu dengan

tuntas. Tugas kita adalah membuktikan, bahwa air itu dapat

disalurkan dengan cara yang bermacam-macam ke bulak-bulak

kita yang kering.”

Dalam pada itu, Ki Bekelpun telah minta agar Wijang dan

Paksi beristirahat karena esok pagi mereka juga akan pergi ke

gumuk kecil.

Tetapi Wijang dan Paksi menggeleng sambil tersenyum.

Dengan nada datar Wijang menjawab, “Kami sudah terbiasa tidak

tidur semalam suntuk, Ki Bekel.”

Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Katanya, “Terserahlah

kepada kalian. Kalian tentu tahu apa yang harus kalian lakukan,

karena kalian adalah pengembara yang sudah terbiasa

menentukan sikap kalian sendiri.”

“Ya, Ki Bekel.”

Dalam pada itu, maka kedua orang tawanan yang masingmasing

terikat pada sebatang pohon, namun yang kemudian

diketemukan telah meninggal itupun telah ditempatkan di

pendapa pula, sehingga di atas tikar pandan yang dibentangkan

di pendapa, terbujur tiga sosok mayat yang tidak dikenal.

Malam itu Ki Bekel, Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu

hampir tidak dapat tidur sama sekali. Di dini hari, para bebahu

itu tertidur sambil bersandar dinding di pringgitan. Beberapa

orang masih berdatangan untuk melihat apa yang telah terjadi.

Ki Bekel dan Ki Jagabayalah yang harus menjawab

pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang yang berdatangan itu.

“Perintahkan mereka untuk bangun, Ki Bekel,” berkata Ki

Jagabaya ketika ia melihat para bebahu yang tertidur.

“Biarlah mereka beristirahat. Biarlah besok mereka sibuk

pada saat penguburan ketiga orang itu.”

“Bukankah kita menunggu Ki Demang?”

“Ya. Ki Demang dan Ki Demang Randucawang. Besok pagipagi

aku akan menemui Ki Demang dan langsung ke

Randucawang.”

Tetapi Ki Jagabaya ternyata tidak membiarkan mereka tidur

lebih lama lagi. Ketika Ki Bekel baru sibuk berbicara dengan

beberapa orang yang berdatangan, maka Ki Jagabayapun telah

membangunkan mereka.

“Ki Jagabaya mengejutkan aku,” desis Ki Kebayan.

“Bangun. Jangan hanya aku dan Ki Bekel saja yang harus

berjaga-jaga semalam suntuk. Kita dapat bergantian.”

Ki Kebayan menguap. Katanya, “Baiklah. Silahkan Ki

Jagabaya beristirahat. Biarlah aku menemani Ki Bekel.”

Tetapi Ki Jagabaya bersungut sambil berkata, “Langit sudah

menjadi merah. Bagaimana mungkin aku dapat beristirahat?

Sebentar lagi matahari terbit. Ki Bekel akan menemui Ki Demang

dan Ki Demang dari Randucawang.”

Ki Kebayan tidak menjawab. Ia hanya menguap. Namun

kemudian matanya telah terpejam lagi sambil bersandar dinding.

Ki Jagabaya menghentakkan kakinya. Tetapi Ki Kebayan itu

sudah lelap.

“Orang-orang malas,” geram Ki Jagabaya. Apalagi ketika ia

melihat Ki Kamituwa yang tidur di sudut pringgitan. Nampaknya

nyenyak sekali.

Tetapi Ki Jagabaya tidak sempat membangunkannya. Iapun

harus segera turun ke halaman ketika Ki Bekel memanggilnya.

Ketika Ki Jagabaya itu melangkah mendekati Ki Bekel yang

berada di antara beberapa orang yang datang, iapun melihat Ki

Cakrajaya bersama anak laki-lakinya, Wandawa.

“Selamat malam, Ki Jagabaya,” berkata Ki Cakrajaya.

Ki Jagabaya mengangguk hormat sambil menjawab, “Selamat

malam, Ki Cakrajaya.”

“Aku baru saja mendengar bahwa telah terjadi perampokan di

rumah ini.”

“Ya, Ki Cakrajaya. Tiga orang telah terbunuh,” jawab Ki

Jagabaya.

Namun Ki Bekelpun segera menyahut, “Sebenarnya bukan

perampokan, Ki Cakrajaya.”

“Jadi apa?”

“Ada beberapa orang yang datang untuk mencari kedua orang

pengembara yang kebetulan bermalam di rumahku ini. Mereka

mengaku orang dari Randucawang.”

“O,” Ki Cakrajaya mengangguk-angguk. Sementara itu Ki

Bekelpun bertanya, “Ki Cakrajaya, bukankah Ki Cakrajaya

mempunyai banyak kenalan di Kademangan Randucawang? Nah,

apakah orang-orang itu benar-benar orang Randucawang?”

“Aku memang mengenal banyak orang Randucawang, Ki

Bekel. Tetapi kenalanku adalah orang-orang terpandang. Jika

mereka orang-orang yang hidupnya berada di tataran rendahan,

aku tentu belum mengenal mereka.”

“Tetapi mungkin Ki Cakrajaya pernah melihatnya.”

Ki Cakrajaya termangu-mangu sejenak. Sementara Ki

Bekelpun berkata, “Marilah, silahkan melihat ketiga sosok mayat

itu, Ki Cakrajaya.”

Ki Cakrajaya tidak dapat mengelak. Iapun kemudian melihat

ketiga sosok tubuh yang terbujur membeku.

Nampak ketegangan membayang di wajah Ki Cakrajaya.

Demikian pula wajah Wandawa. Bahkan kemudian Wandawapun

segera meninggalkan ketiga sosok mayat itu dan kembali turun

ke halaman.

Ki Cakrajaya menggeleng. Katanya, “Aku belum pernah

melihat mereka.”

“Kami telah kehilangan jejak,” berkata Ki Bekel.

“Maksud Ki Bekel?”

“Sebenarnya dua orang di antara mereka dapat kami tangkap

hidup-hidup. Agar mereka tidak melarikan diri, maka mereka

kami ikat pada batang pohon yang tumbuh di halaman. Namun

ternyata di antara sekian banyak orang yang berkerumun untuk

melihat kedua orang perampok itu, adalah justru kawan mereka.

Dengan tanpa menghargai nyawa kawan-kawannya sendiri,

mereka telah menusuk dada kedua orang itu sampai ke jantung,

sehingga kedua orang itupun telah meninggal pula.”

“Kematian mereka adalah tanggung jawab Ki Bekel.”

“Kenapa tanggung jawabku?”

“Keduanya sudah menjadi tawanan Ki Bekel ketika mereka

masih hidup. Merekapun terikat sehingga mereka tidak dapat

melindungi diri mereka sendiri. Karena itu, maka seharusnya Ki

Bekel melindungi mereka dari kemarahan rakyat padukuhan ini.”

“Bukan rakyat padukuhan ini yang telah membunuhnya, Ki

Cakrajaya.”

“Jadi siapa?”

“Jika rakyat padukuhan ini yang membunuhnya, maka bekas

penganiayaan yang ada pada tubuh orang itu, tentu tidak seperti

yang kita lihat. Luka tusukan di dadanya itulah yang telah

membunuhnya.”

“Mungkin saja orang padukuhan ini yang marah telah

menusuk dada kedua orang itu.”

“Mereka tidak akan melakukannya.”

“Jadi menurut Ki Bekel, siapakah yang telah membunuhnya?”

“Seperti sudah aku katakan. Kawan-kawannya sendiri.”

“Tidak masuk akal, bahwa kawan-kawannya sendiri telah

membunuhnya.”

“Kenapa tidak masuk akal? Justru dugaan itulah yang paling

masuk akal. Mereka berusaha menghilangkan jejak, siapakah

yang telah mengupah mereka untuk datang kemari.”

“Mereka datang untuk merampok. Siapakah yang telah

mengupahnya?”

“Sudah aku katakan pula. Mereka tidak datang untuk

merampok. Tetapi mereka datang untuk menangkap kedua orang

pengembara itu dan mengaku orang-orang Randucawang.”

Ki Cakrajaya termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak

berkata apa-apa lagi tentang ketiga orang yang terbunuh itu.

Bahkan kemudian Wandawa telah mengajak ayahnya itu untuk

pulang saja.

Beberapa saat kemudian, maka langitpun menjadi terang. Ki

Bekelpun segera bersiap untuk pergi ke rumah Ki Demang untuk

melaporkan peristiwa yang telah terjadi di rumahnya.

Kepada Wijang dan Paksi, Ki Bekel itu berkata, “Pergilah ke

gumuk itu. Mudah-mudahan anak-anak itu tidak terlambat

bangun dan datang terlalu siang. Pergilah bersama Ki Kebayan.”

“Baik, Ki Bekel,” sahut Wijang.

“Aku akan menemui Ki Demang dan Ki Demang

Randucawang.”

Demikian Wijang dan Paksi meninggalkan rumah Ki Bekel,

maka Ki Bekelpun telah pergi pula ke rumah Ki Demang. Agar

perjalanannya menjadi lebih cepat, maka Ki Bekelpun telah naik

kuda.

Ketika Wijang dan Paksi sampai di gumuk kecil, cahaya

matahari sudah mulai nampak. Baru setelah menunggu beberapa

saat, beberapa orang anak muda mulai berdatangan.

“Maaf, aku terlambat sedikit,” desis Trima. “Sejak dari rumah

Ki Bekel aku tidak dapat tidur lagi. Namun menjelang fajar aku

justru tertidur sesaat. Untunglah aku segera terbangun oleh

kegelisahanku sendiri serta mimpi yang mencengkam.”

“Kami juga baru datang,” jawab Paksi.

“Apakah kalian juga tertidur menjelang fajar?”

“Tidak. Kami tidak tidur sama sekali.”

“Kalian tidak merasa mengantuk? Aku yang sempat tidur

sesaat masih merasa sangat mengantuk.”

“Jika kita mulai dengan kerja kita, perasaan kantuk itu akan

segera hilang.”

Trima mengangguk-angguk. Kawan-kawannya duduk

bertebaran di atas rerumputan kering dan batu-batu padas.

Nampaknya mereka masih saja malas untuk mengerjakan

sesuatu. Bahkan masih ada di antara mereka yang menguap

sambil menggosok matanya.

Tetapi ternyata Trima sudah berhasil menambah jumlah anakanak

muda yang bersedia bekerja bersamanya.

“Mumpung masih pagi. Marilah, kita mulai dengan kerja besar

kita sambil berdoa di dalam hati kita masing-masing, agar kerja

kita dapat menghasilkan sesuatu yang berarti bagi kehidupan

rakyat padukuhan kita yang kering, tandus dan miskin ini,”

berkata Wijang.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, anak-anak muda itu

mulai dengan kerja mereka. Yang pertama-tama mereka lakukan

adalah mempersiapkan tempat penampungan air yang akan

mereka alirkan dengan talang bambu ke kotak sawah terdekat

yang tanahnya menjadi pecah-pecah dan kering.

“Aku Sudah menghubungi Mbah Rejeb,” berkata Trima.

“Apa katanya?” bertanya seorang kawannya.

“Mbah Rejeb nampak acuh tak acuh. Iapun menganggap

bahwa kami sedang bermimpi.”

“Tetapi bukankah Mbah Rejeb tidak keberatan?”

“Tidak. Meskipun ia tidak menyambut rencana itu dengan

harapan, tetapi ia tidak menolak.”

“Yang penting, Mbah Rejeb tidak menolak bahwa sawahnya

akan menjadi kotak percobaan dengan talang air yang akan kita

buat.”

Sementara tempat penampungan itu disiapkan, Paksipun

berkata, “Marilah, sebagian dari kita pergi ke hutan bambu. Kita

akan menebang bambu yang sudah tua. Kita akan membawanya

kemari dan mengerjakannya menjadi talang-talang air.”

Beberapa orang di antara anak-anak muda itu bersama Paksi

telah pergi ke hutan bambu yang berada tidak terlalu jauh dari

tempat itu. Hutan bambu itu masih berada di dalam lingkungan

padukuhan, sehingga anak-anak muda itu merasa menebang

milik mereka sendiri. Apalagi hutan bambu itu seakan-akan tidak

dihiraukan lagi. Beberapa padukuhan yang memerlukan bambu

juga mengambil bambu di hutan jika bambu di kebun mereka

sendiri tidak mencukupi.

Namun ketika sekelompok anak-anak muda itu mendekati

hutan bambu yang lebat itu, mereka nampak ragu-ragu.

Hutan bambu itu menjadi bagian dari hutan lereng gunung

yang lebat yang memanjang, berhubungan dengan hutan yang

menjadi wilayah kademangan tetangganya.

“Di hutan itu terdapat binatang buas,” berkata salah seorang

dari mereka.

“Ya,” sahut yang lain. “Harimau loreng di hutan itu terkenal

garang dan buas.”

Anak-anak muda itu memperlambat langkah mereka sehingga

Paksi berjalan di paling depan.

“Paksi,” berkata salah seorang di antara anak-anak muda itu

pula, “kita harus menjadi sangat berhati-hati. Jika ada harimau

lapar, sementara angin yang membawa bau keringat kita

berhembus ke hutan itu, maka harimau itu akan mencari kita.”

“Biarlah harimau itu mencari kita. Tetapi kita tidak mencari

harimau itu.”

“Seseorang di antara kita akan diterkamnya.”

“Bukankah kita tidak sendiri? Sementara kita masing-masing

membawa parang.”

“Maksudmu, apakah kita akan melawan harimau itu?”

“Tentu. Bukankah kita tidak ingin membiarkan hidup kita

diakhiri oleh taring harimau itu seandainya benar-benar ada

seekor harimau yang mendatangi kita?”

“Apakah kita akan dapat melawan seekor harimau meskipun

kita berlima?”

“Enam orang. Bukankah kita berenam? Apakah aku tidak

dihitung?” bertanya Paksi.

“Ya. Meskipun kita berenam, kita tidak akan dapat berbuat

apa-apa.”

“Seandainya kita tidak dapat melawan harimau itu, maka di

hutan bambu, kita mempunyai banyak kesempatan untuk

menghindar. Harimau itu tentu juga tidak akan dapat berjalan di

dalam rumpun-rumpun bambu yang lebat. Sementara kita

mempunyai akal yang tidak dimiliki oleh seekor harimau.”

“Tetapi naluri harimau itu justru lebih berarti dari akal kita

jika kita berada di tengah-tengah hutan bambu.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudahmudahan

tidak ada seekor harimau yang akan mengangguk kita.

Biasanya harimau akan menjauhi manusia. Hanya harimau yang

tua, lemah dan kelaparan sajalah yang sering memburu manusia,

karena tidak lagi mampu memburu seekor kijang. Dengan

demikian, harimau yang akan mendekat, tentu seekor harimau

yang sudah lemah.”

“Betapapun lemahnya, tetapi seekor harimau tidak akan dapat

kita lawan.”

“Karena kita tidak mencobanya. Jika kita mencobanya, maka

betapapun garangnya seekor harimau, kita tentu akan dapat

mengalahkannya. Setidak-tidaknya mengusirnya. Kecuali jika

kita memang menyerahkan diri kita untuk dikoyak-koyak oleh

harimau itu.”

Anak-anak muda itu terdiam. Namun mereka justru

menganggap Paksi terlalu sombong, meskipun maksud Paksi

hanya sekedar membesarkan hati mereka.

Sejenak kemudian, maka merekapun telah berada di tepi

hutan. Sederet hutan bambu seakan-akan memagari hutan yang

lebat memanjang di kaki Gunung Merapi itu.

“Beberapa padukuhan telah menebang bambu di sini pula.

Mereka juga tidak bertemu dengan harimau.”

“Pernah terjadi, Paksi,” berkata seorang anak muda yang

nampak pucat. “Seekor harimau menghampiri orang-orang yang

sedang menebang bambu. Tetapi waktu itu yang datang ikut

menebang bambu cukup banyak. Lebih dari dua puluh orang.

Merekapun segera berteriak-teriak sambil mengacu-acukan

parang mereka, sehingga harimau itupun bergerak meninggalkan

mereka.”

“Nah, bukankah harimau itu juga dapat ditakut-takuti?”

“Tetapi kita sekarang hanya enam orang.”

“Tidak apa-apa.”

Anak-anak muda itupun telah memaksa diri mereka masingmasing

untuk kemudian menebang bambu meskipun sebenarnya

mereka masih saja merasa cemas.

Tetapi ternyata tidak ada seekor harimau yang datang

mendekat, sehingga mereka berhasil menebang dan

mengumpulkan setumpuk batang bambu.

“Kita akan mengusungnya ke tempat kawan-kawan kita

membuat tempat penampungan air itu,” berkata Paksi.

Anak-anak muda itupun termangu-mangu. Rasa-rasanya

sangat malas untuk mengusung setumpuk bambu itu.

Karena itu, maka untuk beberapa saat mereka hanya

memandangi saja bambu-bambu yang telah mereka tebang dan

mereka timbun di bawah sebatang pohon di padang perdu itu.

Paksilah yang pertama-tama memikul dua batang bambu yang

besar sambil berkata, “Jika terasa terlalu berat, maka kalian

cukup membawanya sebatang-sebatang saja. Nanti kita ajak

kawan-kawan kita yang membuat tempat penampungan air itu

untuk mengusung bambu-bambu ini. Besok kita akan melakukan

lagi.”

“Besok kita mencari bambu lagi?” bertanya seorang anak

muda.

“Ya. Besok dan lusa sampai bambu itu cukup untuk membuat

talang air lima jalur sampai ke sawah Mbah Rejeb.”

Anak-anak muda itu saling berpandangan. Tetapi Paksi tidak

menghiraukan mereka lagi. Iapun meninggalkan tempat itu

sambil mengusung dua batang bambu di atas kepalanya dialasi

dengan segenggam ilalang yang dilipat-lipat.

Anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun mereka tidak

akan mampu mengusung dua batang bambu sekaligus. Mungkin

dengan memaksa diri mereka kuat mengangkat dan

meletakkannya di atas kepala. Tetapi pada saat mereka beringsut

selangkah, mereka tentu akan merasa sangat letih.

Karena itu, seperti yang dikatakan oleh Paksi, mereka masingmasing

hanya membawa sebatang bambu.

Dalam pada itu, selagi anak-anak muda itu sibuk

mempersiapkan pembuatan talang air, Ki Demang telah berada di

rumah Ki Bekel. Sementara itu, Ki Bekel sendiri langsung pergi ke

rumah Ki Demang di Randucawang.

Seorang bebahu yang menerima kedatangan Ki Demang telah

menunjukkan orang-orang yang telah terbunuh dan terbaring di

pendapa.

“Seorang di antara mereka terbunuh oleh Ki Bekel saat orang

itu menyerang Ki Bekel dengan tiba-tiba, sehingga Ki Bekel tidak

sempat membuat pertimbangan-pertimbangan lain. Dengan gerak

naluriah, Ki Bekel telah menjulurkan tombaknya menyongsong

lawannya yang sedang menyerangnya.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara bebahu itupun

berkata selanjutnya, “Sedangkan dua orang yang lain sebenarnya

dapat ditangkap hidup-hidup. Tetapi ketika banyak orang

berkerumun di halaman ini serta mengamati keduanya yang

diikat masing-masing pada sebatang pohon, ternyata kawan dari

kedua orang yang tertangkap hidup-hidup itupun hadir pula.

Tidak seorang pun yang menyadari apa yang telah terjadi. Tetapi

pada saat kami melihat darah mengalir di dadanya, barulah kami

sadari, bahwa orang itu sudah terbunuh. Tentu oleh kawannya

sendiri untuk menghindari agar persoalannya tidak dapat

ditelusur lebih lanjut, siapakah yang telah memerintahkan

mereka.”

“Menurut pendapatku, keduanya bukan orang Randucawang.”

“Ki Bekel juga menduga seperti itu. Namun Ki Bekel ingin

kepastiannya. Jika Ki Demang Randucawang bersedia datang,

maka kita akan dapat mendengar kesaksiannya.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu terdengar

derap kaki kuda yang berhenti di depan regol. Sejenak kemudian,

maka Ki Bekel dan Ki Demang Randucawang memasuki regol

halaman rumah Ki Bekel itu.

Ketika Ki Demang melihat kehadiran Ki Demang

Randucawang, maka iapun segera menyongsongnya.

“Selamat datang, Ki Demang.”

Ki Demang Randucawang itu mengangguk hormat sambil

menjawab, “Terima kasih, Ki Demang. Aku memerlukan datang

setelah aku mendengar peristiwa yang terjadi di sini dari Ki

Bekel.”

Ki Bekelpun kemudian membawa kedua orang demang itu ke

pendapa. Kepada Ki Demang Randucawang iapun berkata,

“Inilah, Ki Demang, orang yang mengaku penghuni Kademangan

Randucawang. Bahkan orang itu mengaku telah mendapat

perintah Ki Demang untuk menangkap kedua orang pengembara

yang kebetulan berada di rumahku, karena keduanya diduga

telah melakukan perampokan di Kademangan Randucawang.”

Ki Demang Randucawang itupun kemudian mengamati ketiga

orang yang terbujur di pendapa rumah Ki Bekel itu. Namun

kemudian Ki Demangpun menggelengkan kepalanya sambil

berkata, “Aku tidak mengenal mereka. Aku pun tidak pernah

memerintahkan mereka untuk menangkap perampok-perampok

yang telah merampok di Randucawang.”

“Tetapi apakah benar telah terjadi perampokan di

Randucawang, Ki Demang?” bertanya Ki Bekel.

“Ya. Tetapi perampokan itu tidak dilakukan oleh kebanyakan

perampok. Perampok itu dapat melakukan hal-hal yang

nampaknya mustahil. Ketika beberapa orang mencoba

melawannya, maka dengan kekuatan ilmunya salah seorang dari

para perampok itu telah merobohkan regol rumah orang yang

dirampoknya itu tanpa menyentuhnya.”

“Apakah para perampok itu sudah kelihatan tua?”

“Ya. Ada di antara mereka yang sudah kelihatan tua. Tetapi

justru orang itulah yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Karena

itu, maka aku telah memutuskan untuk tidak memburunya.

Siapa pun yang mencoba menangkapnya, tentu akan mati

olehnya.”

“Sedangkan kedua orang pengembara yang ada di rumah Ki

Bekel?”

“Keduanya masih muda. Ujud mereka, wajah mereka dan

kata-kata serta sikap mereka, sama sekali tidak mencerminkan

sikap dan tingkah laku seorang perampok. Mereka pun telah

memberikan gagasan untuk mencari jalan, agar padukuhan ini

tidak tertinggal terlalu jauh dari padukuhan-padukuhan yang

lain.”

“Gagasan apa yang mereka berikan?” bertanya Ki Demang.

“Membuat saluran air. Tetapi itu adalah sekedar perwujudan

dari dasar gagasannya. Gagasan yang mendasar dari kedua orang

pengembara itu adalah melawan kemalasan. Kesediaan bekerja

keras untuk membangun padukuhan ini.”

Kedua orang demang itu saling berpandangan. Dengan nada

dalam Ki Demangpun kemudian berkata, “Aku ingin berbicara

dengan kedua orang pengembara itu.”

“Aku akan mengatakan kepada mereka. Biarlah nanti saat

malam turun, mereka datang menghadap Ki Demang.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Demang

Randucawangpun berkata, “Tentu bukan bagian dari para

perampok yang telah merampok di Kademangan Randucawang.”

“Perampok di Randucawang itu tentu gerombolan yang pernah

merampok di padukuhan sebelah,” berkata Ki Demang. “Ciri-ciri

para perampoknyapun sama. Perampok di padukuhan sebelah itu

juga menunjukkan kemampuannya yang sangat tinggi, sehingga

orang-orang padukuhan tidak berani berbuat apa-apa

terhadapnya.”

“Namun agaknya mereka hanya sekedar lewat. Sebelumnya

dan sesudah itu tidak pernah lagi ada perampokan seperti itu.

Jika saja ada sekelompok perampok yang memanfaatkan

ketakutan kami, mungkin mereka akan berhasil.”

“Tetapi kami sudah mengenal ciri-ciri para perampoknya,”

sahut Ki Demang. “Karena itu, jika ciri-cirinya tidak sama seperti

perampok yang mengerikan itu, maka mereka tentu dapat

dilawan oleh orang-orang padukuhan.”

Ki Demang Randucawang itu berada di rumah Ki Bekel untuk

beberapa lama. Namun kemudian setelah dihidangkan minuman

dan makanan, maka Ki Demang Randucawang itupun minta diri.

Ki Demang sendiri berada tidak terlalu lama di rumah Ki

Bekel. Ki Bekel sempat menceriterakan sikap Ki Cakrajaya yang

tidak menyetujui gagasan kedua orang pengembara itu.

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Ki Cakrajaya adalah

seorang yang sangat berpengaruh di kademangan itu. Jika ia

tidak sependapat, maka persoalannya akan dapat menjadi rumit.

“Ki Cakrajaya berkata, bahwa ia ingin menemui Ki Demang.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian

menjawab, “Baiklah. Biarlah Ki Cakrajaya menemui aku.

Mungkin aku dapat menjelaskan persoalannya.”

Tetapi sikap Ki Cakrajaya itu benar-benar menggelisahkan Ki

Demang.

Beberapa saat kemudian, Ki Demangpun telah minta diri pula.

Sebelum ia meninggalkan rumah Ki Bekel, maka Ki Demang

itupun memberikan persetujuannya, bahwa ketiga sosok mayat

itu akan dikuburkan.

“Nanti, biarlah kedua orang pengembara itu menghadap Ki

Demang,” berkata Ki Bekel.

Sementara itu, di rumahnya, Ki Cakrajaya menjadi sangat

marah kepada anaknya. Ternyata di luar pengetahuan Ki

Cakrajaya, Wandawa telah menghubungi dan minta beberapa

orang upahan untuk mengambil dua orang pengembara di rumah

Ki Bekel.

“Jika ketahuan bahwa kau yang telah memerintahkan mereka,

maka kedudukan kita akan menjadi semakin lemah. Bahkan

seorang kawanmu yang sudah membuka rahasia alasan kita yang

sebenarnya menentang membuat saluran air itu, sudah

mencoreng arang di wajah kita. Kemudian kau telah

memerintahkan orang-orang upahan itu untuk mengambil kedua

orang pengembara yang berada di rumah Ki Bekel, tetapi justru

gagal. Untunglah kedua orang yang tertangkap hidup itu dapat

dibungkam agar tidak berbicara dan menyebut-nyebut namamu.”

“Jadi kenapa Ayah masih risau?” bertanya Wandawa.

“Bahwa kau telah berbuat lancang. Mungkin pada kesempatan

lain kau akan melakukan lagi satu perbuatan yang merugikan

sekali. Selebihnya, kau telah mengeluarkan uang banyak tanpa

hasil apa-apa. Upah orang-orangmu itu banyak sekali. Selain

upah mereka, maka setiap nyawa dari kawan-kawan merekapun

mempunyai harga tersendiri. Semalam tiga orang di antara

mereka mati.”

“Aku tidak akan membayar upah mereka. Aku mengupah

mereka untuk satu tugas tertentu. Tetapi mereka tidak dapat

melakukannya. Dengan demikian, aku tidak merasa wajib

membayarnya.”

“Kau tahu akibatnya?” bertanya Ki Cakrajaya.

Wandawa terdiam. Sementara ayahnya berkata, “Jika mereka

merasa kecewa, maka akan dapat membuat kesulitan kepada

kita. Untuk selanjutnya, kita pun akan kesulitan jika kita

memerlukan tenaga mereka untuk kepentingan yang lebih besar.

Bahkan mungkin mereka akan mendendam kepada kita dan

mengambil langkah-langkah kewadagan.”

“Bukankah kita tidak takut kepada mereka? Ayah mempunyai

ilmu yang tinggi.”

“Aku mempunyai ilmu yang tinggi yang dapat melindungi

diriku sendiri. Tetapi kau sendiri? Ilmumu tidak maju-maju

karena kau terlalu malas untuk berlatih. Kau merasa dapat

melindungi dirimu sendiri dengan uangmu, uang kita.”

Wandawa tidak segera menjawab. Wajahnya nampak gelap.

“Wandawa,” berkata ayahnya, “lain kali kau tidak boleh

bertindak sendiri tanpa sepengetahuanku. Kita masih beruntung,

bahwa yang kau lakukan semalam masih dapat diredam. Tetapi

kau harus membayar upah yang kau janjikan serta tebusan

untuk setiap nyawa.”

“Orang-orang itu seharusnya juga mempunyai harga diri.

Mereka seharusnya tidak menuntut upah dari tugas yang gagal

itu.”

“Jangan berharap. Kecuali jika mereka sendiri yang

menyatakan kepadamu, bahwa mereka tidak minta upah dari

tugas yang gagal itu.”

Wandawa termangu-mangu sejenak. Sementara ayahnya

berkata pula, “Ingat, Wandawa. Jangan berbuat apa-apa tanpa

sepengetahuanku. Kali ini kita masih dapat menyelamatkan diri

meskipun harus mengorbankan tiga nyawa. Sementara itu, kita

harus membayar tebusan bagi ketiganya.”

Wandawa tidak menyahut.

“Hari ini kita jangan berbuat apa-apa.”

“Kedua orang pengembara itu tentu sudah mulai mengerjakan

rencana gilanya itu bersama-sama anak-anak dungu yang

berhasil dipengaruhinya.”

“Jangan menyebut mereka anak-anak dungu. Mereka justru

anak-anak yang dapat melihat lebih jauh ke depan dari kawankawannya.

Justru mereka yang tidak terpengaruh oleh kedua

pengembara dengan gagasannya yang cemerlang itulah yang

dungu.”

“Tetapi bukankah Ayah menghendaki rencana itu batal?”

“Ya. Aku menginginkan anak-anak muda itu tetap dungu agar

mereka tidak mau mendengarkan gagasan kedua orang

pengembara itu.”

“Aku tetap berpendirian, bahwa kedua orang pengembara

itulah yang harus dihapuskan lebih dahulu.”

“Kau dengar dari orang-orang yang sempat melarikan diri,

bahwa kedua orang pengembara itu dan bahkan Ki Bekel

mencurigai bahwa kitalah yang telah menggerakkan orang-orang

yang datang ke rumah Ki Bekel. Mereka tidak percaya bahwa

orang-orang yang datang itu adalah orang-orang Randucawang.

Sementara itu, Ki Demang Randucawang telah diminta pula

untuk datang melihat orang-orang yang terbunuh itu.”

Wandawa termangu-mangu sejenak.

“Persoalannya tidak lagi sederhana, Wandawa. Semakin lama

semakin rumit. Apalagi jika kau masih saja bertindak sendiri

tanpa sepengetahuanku.”

Wandawa masih saja diam. Tetapi Ki Cakrajaya tidak yakin,

bahwa kediaman Wandawa itu berarti menyetujui pendapatnya.

Meskipun demikian, Ki Cakrajaya itu berkata sekali lagi, “Jika

kau tidak mau semuanya menjadi gagal, sekali lagi aku

peringatkan, jangan berbuat apa-apa lebih dahulu. Aku akan

menemui Ki Demang. Aku akan mempergunakan pengaruhku

dan sedikit menakut-nakuti. Mudah-mudahan aku dapat

menghentikan dengan bersandar pada kuasa Ki Demang di

kademangan ini. Dengan demikian, maka Ki Bekel tidak akan

dapat berbuat apa-apa. Ia harus tunduk membatalkan kerja

anak-anak muda itu.”

Wandawa tidak menjawab.

Ki Cakrajayapun kemudian telah mempersiapkan kudanya.

Bersama seorang pengawalnya, maka Ki Cakrajayapun telah pergi

ke rumah Ki Demang.

Kedatangan Ki Cakrajaya membuat Ki Demang menjadi

berdebar-debar. Ia belum lama pulang dari rumah Ki Bekel untuk

melihat ketiga orang yang terbunuh itu.

“Marilah, Ki Cakrajaya. Silahkan naik.”

Ki Cakrajaya mengangguk sambil melangkah menaiki tangga

pendapa rumah Ki Demang. Kemudian duduk di pringgitan.

“Dari mana saja Ki Cakrajaya?” bertanya Ki Demang.

“Dari rumah, Ki Demang. Aku sengaja ingin menemui Ki

Demang. Ada sedikit masalah yang ingin aku bicarakan.”

Jantung Ki Demang berdebar semakin cepat. Ia tahu, apa

yang akan dibicarakan oleh Ki Cakrajaya.

Sementara itu Ki Cakrajayapun telah mengedarkan

pandangan matanya memandangi tiang-tiang pendapa di rumah

Ki Demang. Gebyok kayu yang memisahkan pringgitan dan

bagian dalam rumahnya. Ukiran-ukiran yang rumit yang terdapat

pada tiang-tiang pendapa serta gebyok penyekat itu.

Tiba-tiba saja Ki Cakrajaya itu berkata kepada pengawalnya,

“Kau lihat, sunggingan ukiran rumah Ki Demang ini sudah

nampak suram.”

“Ya, Ki Cakrajaya. Mungkin Ki Demang tidak begitu rajin

membersihkannya. Atau mungkin karena sudah terlalu lama

tidak disungging lagi.”

“Apakah sunggingan pada ukiran itu sudah terlalu lama?

Sungging pada uleng itu masih nampak cerah.”

“Ya, Ki Demang.”

“Ki Demang, bukankah aku telah mengupah orang untuk

menyungging ukiran-ukiran di rumah Ki Demang beberapa waktu

yang lalu?”

Dengan nada dalam Ki Demang itupun menjawab, “Ya, Ki

Cakrajaya.”

“Aku kira sudah waktunya aku mengupah lagi orang itu untuk

menyungging kembali ukiran-ukiran yang bagus dan rumit di

rumah Ki Demang ini.”

Baju Ki Demang mulai basah oleh keringat. Katanya,

“Sudahlah, Ki Cakrajaya. Aku mengucapkan terima kasih. Aku

kira warna sungging itu masih cerah jika nanti aku bersihkan.”

“Tidak apa-apa, Ki Demang. Aku kenal baik dengan juru

sungging itu. Orang itu juga yang telah mewarnai ukiran-ukiran

pada tiang-tiang di pendapa rumahku.”

“Aku mengucapkan terima kasih, Ki Cakrajaya. Agaknya aku

belum memerlukannya sekarang. Selain warna-warna pada

ukiran itu masih terang, apalagi jika dibersihkan, aku pun

sedang sibuk sehingga aku masih belum sempat memikirkan

ukiran pada tiang dan gebyok di rumahku.”

Ki Cakrajaya tersenyum. Katanya, “Jangan segan-segan, Ki

Demang. Atau mungkin Ki Demang memerlukan yang lain?

Seekor kuda tunggangan yang tegar atau sepasang lembu untuk

mengerjakan sawah?”

“Tidak, Ki Cakrajaya. Sekarang aku belum memerlukan apaapa.

Segala sesuatunya masih cukup.”

“Baiklah,” Ki Cakrajaya mengangguk-angguk. “Nampaknya Ki

Demang memang belum memerlukan apa-apa sekarang. Agaknya

justru akulah yang memerlukan bantuan Ki Demang sekarang

ini.”

Ki Demang menjadi semakin berdebar-debar. Ia sudah

menduga, bantuan apakah yang diperlukan oleh Ki Cakrajaya itu.

Meskipun demikian, Ki Demang itu masih juga bertanya,

“Bantuan apakah yang dimaksud Ki Cakrajaya?”

Ki Cakrajaya itu menaik nafas dalam-dalam. Setelah

merenung sejenak, maka iapun berkata, “Bukankah Ki Demang

sudah mendengar kehadiran dua orang pengembara di rumah Ki

Bekel?”

Ki Demang menarik nafas panjang. Sambil menganggukangguk

iapun menjawab, “Ya, Ki Cakrajaya. Aku sudah

mendengar. Tadi aku berada di rumah Ki Bekel karena beberapa

orang perampok telah datang ke rumah Ki Bekel itu.”

“Mereka bukan perampok, Ki Demang.”

“Bukan perampok?”

“Maksudku, mereka tidak akan merampok di rumah Ki Bekel.”

“Jadi menurut Ki Cakrajaya, siapakah mereka itu?”

“Inilah yang sulit aku katakan, karena tentu tidak ada seorang

pun yang bersedia menjadi saksi.”

“Maksud Ki Cakrajaya?”

“Seseorang yang mendengar pembicaraan antara Ki Demang

Randucawang dan orang yang terbunuh itu sama sekali tidak

menyentuh niat orang-orang yang datang ke rumah Ki Bekel itu

untuk menguasai harta bendanya.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Orang-orang itu

mengaku orang Randucawang. Bahkan mereka mengaku

diperintah oleh Ki Demang Randucawang.”

“Ya. Untuk menangkap kedua orang pengembara itu.”

“Dari mana Ki Cakrajaya mengetahuinya?”

“Banyak orang yang mengatakannya. Tetapi aku mendengar

langsung dari orang yang mendengar sendiri pembicaraan itu.”

“Siapa?”

“Orang itu tidak ingin dikenal namanya.”

Ki Demang tidak dapat memaksa Ki Cakrajaya untuk

menyebut nama itu.

“Lalu, pertolongan apakah yang dapat aku berikan?”

“Ki Demang, aku dan barangkali kita semua tidak tahu,

siapakah kedua orang pengembara itu. Mungkin tidak nampak

pada mereka ciri-ciri seorang penjahat. Tetapi siapapun mereka,

dan apakah ia berbohong atau tidak tentang diri mereka sendiri,

namun kehadiran mereka telah menimbulkan keributan yang

dapat meluas menjadi keresahan yang mencengkam seluruh

kademangan ini. Peristiwa di rumah Ki Bekel itu adalah contoh

yang paling baik. Setelah peristiwa itu, mungkin akan menyusul

peristiwa-peristiwa yang lain yang akan membuat rakyat

kademangan ini menjadi semakin resah.”

“Mereka tidak berbuat apa-apa.”

“Di hadapan Ki Demang dan Ki Bekel. Tetapi siapa tahu, apa

yang akan dikerjakannya kemudian di belakang Ki Demang dan

Ki Bekel.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam.

“Ki Demang,” berkata Ki Cakrajaya lebih lanjut, “bahwa kedua

orang yang tertangkap hidup-hidup itu akhirnya terbunuh, tentu

karena pokal kedua pengembara itu sendiri.”

“Tetapi kedua orang pengembara itulah yang menangkap

mereka berdua.”

“Satu permainan yang sempurna. Dengan demikian, maka

keduanya akan dapat mengenyahkan segala macam kecurigaan

terhadap mereka. Bahkan mereka telah menjadi seorang

pahlawan di sini. Apalagi dengan gagasan-gagasannya yang tidak

masuk akal itu.”

“Gagasan itu berbobot, Ki Cakrajaya.”

Ki Cakrajaya seakan-akan tidak mendengarnya. Ia masih

berkata selanjutnya, “Setelah kedua orang itu ditangkapnya,

sehingga keduanya dianggap sebagai pahlawan, maka pada satu

kesempatan kedua orang itu telah mereka bunuh sendiri.”

“Apa gunanya mereka membunuh kedua orang yang sudah

tertangkap, menyerah dan tidak kuasa lagi melawan. Mereka

telah terikat pula pada sebatang pohon. Lalu apa gunanya

pembunuhan itu?”

Ki Cakrajaya tertawa. Katanya, “Seharusnya kau dapat

merabanya, Ki Demang.”

“Bagaimana menurut Ki Cakrajaya?”

“Keduanya tentu ingin menghapus jejak. Jika keduanya yang

tertangkap hidup itu sempat bersaksi, maka mereka akan dapat

mengatakan siapakah kedua orang pengembara yang ingin

mereka tangkap itu sebenarnya. Orang-orang yang terbunuh itu

tentu akan dapat menunjukkan cacat dari kedua orang

pengembara itu.”

“Jika demikian, kenapa keduanya tidak menangkap kedua

pengembara itu melalui jalur yang wajar. Misalnya, keduanya

datang kepadaku dan kemudian kepada Ki Bekel. Bukankah

dengan demikian pelaksanaannya akan menjadi lebih mudah dan

bahkan mungkin tidak harus menelan korban jiwa?”

“Agaknya mereka tidak ingin terlambat. Sebelum kedua orang

itu melarikan diri, maka keduanya harus ditangkap.”

“Tetapi kenapa mereka harus mengaku orang-orang

Randucawang dan bahkan mengaku mendapat perintah dari Ki

Demang Randucawang?”

“Tentu ada beberapa hal yang tidak kita ketahui, Ki Demang.

Karena itu, aku minta Ki Demang bertindak bijaksana. Sebelum

persoalan yang menyangkut keduanya menjadi semakin

berkembang sehingga keresahanpun menjalar sampai ke manamana,

maka sebaiknya keduanya diusir dari kademangan ini.

Bahkan jika Ki Demang ingin tegas, Ki Demang dapat menangkap

mereka dan memaksa mereka mengaku, siapakah sebenarnya

mereka berdua.”

“Bagaimana aku dapat mengusir mereka, Ki Cakrajaya?

Sekarang mereka justru sedang mengembangkan satu gagasan

yang sangat menarik. Beberapa puluh kali aku mencoba untuk

membuat padukuhan itu bergerak. Aku sudah mengadakan

penyuluhan tentang peningkatan kesejahteraan hidup. Memenuhi

kebutuhan sendiri dalam batas kecukupan. Kerja dan mengusir

kemalasan. Tetapi seisi padukuhan itu sama sekali tidak

menanggapinya. Apalagi ketika bekel yang sekarang diwisuda. Ki

Bekel itu memang orang malas sejak mudanya. Kemudian para

bebahu pun terdiri dari orang-orang malas pula. Kemalasan itu

benar-benar telah mencengkam padukuhan itu, sehingga mereka

tidak peduli lagi tentang nasib buruk yang menimpa padukuhan

mereka. Ki Cakrajaya tentu sudah mengetahuinya. Sawah yang

kering dan gersang. Rerumputan pun tidak dapat hidup.

Meskipun ada sebagian tanah yang subur, seperti tanah milik Ki

Cakrajaya, yang lain adalah tanah kering di musim kemarau.

Bahkan tanahnya pun menjadi pecah-pecah dan mengeras

seperti batu padas. Nah, gagasan menyalurkan air dari gumuk

kecil itu perlu disambut dengan harapan. Sedangkan air di

gumuk kecil itu seakan-akan tidak terbatas dan tidak akan

pernah kering di segala musim.”

“Kau sudah terbius pula oleh harapan-harapan yang kosong

itu, Ki Demang. Apa yang dapat dilakukan oleh anak-anak itu

dengan talang bambu? Seberapa air yang mereka dapatkan lewat

talang bambu itu? Ki Demang, mereka menunggu kita semua

lengah. Dengan demikian, kita hanya akan dapat menyesal.”

“Apa yang akan mereka lakukan? Jika mereka ingin

merampok, kenapa mereka tidak memilih sebuah padukuhan

yang paling kaya di kademangan ini? Justru memilih padukuhan

miskin dan kering?”

“Ki Demang lupa, bahwa aku tinggal di padukuhan itu. Itulah

yang membuat aku sangat cemas. Mungkin hanya ada satu dua

orang yang akan menjadi sasaran mereka. Antara lain adalah

keluargaku yang termasuk memiliki kelebihan dibanding dengan

para penghuni yang lain.”

“Ki Cakrajaya, biarlah aku berbicara dengan Ki Bekel agar

tidak akan pernah lengah. Biarlah Ki Bekel mengawasi kedua

orang pengembara itu.”

“Itu tidak akan banyak menolong, Ki Demang.”

“Ki Cakrajaya, sebenarnya terdengar aneh jika Ki Cakrajaya

mencemaskan keluarga Ki Cakrajaya. Selama ini keluarga Ki

Cakrajaya dianggap keluarga yang tidak dapat disentuh oleh

tangan siapa pun. Bahkan tangan Ki Bekel pun tidak mampu

menjangkau kebebasan keluarga Ki Cakrajaya untuk berbuat apa

saja di padukuhan. Sementara itu, di kademangan ini, tangan

dan kakiku telah Ki Cakrajaya ikat dengan keping-keping uang.

Namun kadang-kadang juga dengan bayangan-bayangan hitam

yang menakutkan. Bagaimana mungkin Ki Cakrajaya menjadi

ketakutan menghadapi dua orang anak-anak itu?”

“Dua orang anak-anak itu yang nampak di mata kita.”

“Sudahlah, Ki Cakrajaya. Jangan cemas. Ki Cakrajaya adalah

orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Demikian pula anak lakilaki

Ki Cakrajaya itu. Kemudian beberapa orang yang bekerja

pada Ki Cakrajaya. Selebihnya kesiagaan Ki Bekel serta anakanak

muda di padukuhan.”

“Ki Bekel mempergunakan tiga perempat waktu hidupnya

untuk tidur. Siang dan malam.”

“Maaf, Ki Cakrajaya. Baiklah aku berterus-terang. Sebenarnya

aku ingin melihat hasil gagasan anak-anak muda yang menyebut

diri mereka pengembara itu.”

Wajah Ki Cakrajaya menjadi tegang. Nada suaranya pun telah

meninggi, “Ki Demang, aku minta Ki Demang memerintahkan

kedua orang pengembara itu pergi.”

Namun Ki Demang itu menggeleng. “Ki Cakrajaya, aku

bukannya orang yang tidak mengenal terima kasih atas segala

macam pemberian Ki Cakrajaya bagi keluargaku. Tetapi aku juga

ingin melihat kehidupan di padukuhan itu berubah.”

“Perubahan itu tidak perlu, Ki Demang. Kehidupan di

padukuhanku sudah cukup tenang dan tenteram. Biarlah

ketenangan itu tidak terusik oleh mimpi-mimpi buruk yang hanya

akan membuat malapetaka saja di padukuhan kami. Kerja yang

sia-sia. Harapan yang kosong yang justru akan menjerumuskan

padukuhan kami ke dalam kemelaratan yang semakin dalam.”

“Ki Cakrajaya,” berkata Ki Demang, “selama ini aku telah

menjadikan diriku sebagai seekor kerbau yang dicocok hidung di

hadapan Ki Cakrajaya. Aku sudah berbuat banyak bagi

kepentingan Ki Cakrajaya. Tetapi kali ini, beri kesempatan rakyat

padukuhan Ki Cakrajaya itu untuk bangkit. Kebangkitan

padukuhan itu akan memberikan keuntungan pula kepada Ki

Cakrajaya. Ki Cakrajaya dapat memperluas jaring-jaring

perdagangan. Semakin tinggi kesejahteraan rakyat di sekitar Ki

Cakrajaya, maka kebutuhan merekapun akan meningkat.

Dagangan Ki Cakrajayapun akan menjadi semakin laku. Tidak

hanya di pasar-pasar yang sedang ramai di hari pasaran. Tetapi

di rumah pun Ki Cakrajaya akan melayani banyak orang yang

kehidupan mereka menjadi semakin baik.”

“Mimpi seperti itulah yang aku maksudkan, Ki Demang.

Daripada mereka merasa menjadi sangat kecewa setelah mereka

terbangun, maka sebaiknya Ki Demang mencegahnya.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam.

“Ki Demang,” berkata Ki Cakrajaya, “jangan menunggu aku

bertindak sendiri. Jika aku sudah memutuskan untuk

mempergunakan kekerasan, maka persoalannya akan berbeda.”

“Ki Cakrajaya,” berkata Ki Demang, “bukankah Ki Cakrajaya

mempunyai alasan yang lain kecuali yang telah Ki Cakrajaya

katakan?”

“Ya. Aku tidak mau kesejahteraan hidup orang-orang di

sekitarku meningkat. Mereka tentu akan meninggalkan

pekerjaannya di rumahku dan di sawahku. Meskipun mereka

malas, tetapi mengupah mereka masih termasuk

menguntungkan. Tenaga dari padukuhan lain, akan terasa jauh

lebih mahal meskipun mereka dapat bekerja lebih cepat dari

orang-orang malas itu.”

“Ki Cakrajaya terlalu mementingkan diri sendiri.”

“Ya. Aku tidak ingkar. Bahkan aku telah melakukannya sejak

lama.”

“Tetapi seharusnya Ki Cakrajaya memperhitungkan

kemungkinan lain yang lebih baik.”

“Tidak. Aku tidak menginginkan satu perubahan apa pun

terjadi di padukuhan ini.”

“Jika demikian, bukankah orang-orang yang datang untuk

menangkap kedua pengembara, tetapi justru tiga orang di antara

mereka terbunuh itu, Ki Cakrajaya pula yang mengirimkan?”

“Tidak,” Ki Cakrajaya menjawab dengan tegas. “Aku tidak

akan berbuat sebodoh itu. Buat apa aku mengirimkan orang jika

aku mempunyai jalan lain? Bukankah aku dapat berbicara

dengan Ki Demang untuk minta agar anak-anak itu diusir dari

padukuhan kami?”

“Ki Cakrajaya, aku akan berusaha untuk memenuhi

keinginan-keinginan Ki Cakrajaya yang lain. Tetapi aku tidak

berani mengusir kedua orang pengembara yang sudah membuat

kesepakatan dengan Ki Bekel. Seperti yang aku katakan, aku pun

sangat berharap, bahwa padukuhan yang satu itu dapat

menyusul ketertinggalannya. Sementara padukuhan-padukuhan

yang lain menjadi semakin sejahtera, di padukuhan itu masih

saja terdengar dengkur orang yang tertidur lelap, meskipun

perutnya lapar.”

“Aku adalah satu di antara mereka yang menghendaki

padukuhan itu tertidur terus.”

“Maaf, Ki Cakrajaya. Kali ini biarkan padukuhan itu mulai

bangkit. Seperti yang aku katakan tadi, kebangkitan padukuhan

itu akan dapat menumbuhkan pula kemampuan daya beli

mereka. Nah, tentu satu kemungkinan baru untuk memasarkan

barang-barang dagangan Ki Cakrajaya. Seandainya Ki Cakrajaya

belum mulai sekarang, Ki Cakrajaya dapat memikirkan

kemungkinan untuk menjual selain kebutuhan sehari-hari, juga

kain lurik. Bukankah setiap orang membutuhkannya? Juga alatalat

pertanian yang selama ini seakan-akan tidak diperlukan

karena sawah para penghuninya menjadi kering.”

“Ki Demang jangan mengajari aku berdagang. Aku sudah

melakukannya bertahun-tahun. Selain berdagang hasil bumi,

peralatan pertanian, aku juga sudah berdagang kain. Bahkan aku

membawa dagangan kain sutera halus buatan negeri asing.

Perhitungan serta naluriku sebagai pedagang, tentu lebih tajam

dari Ki Demang yang setiap hari hanya mengurusi orang-orang

kademangan yang dungu ini.”

“Aku percaya, Ki Cakrajaya. Aku juga tahu bahwa Ki

Cakrajaya seorang pedagang emas, intan, berlian dan batu-batu

permata yang lain. Berdagang wesi aji dan berbagai macam benda

yang bertuah. Tetapi mungkin ada satu hal yang terlampaui tidak

sempat Ki Cakrajaya pikirkan.”

“Sudah cukup, Ki Demang,” berkata Ki Cakrajaya. “Aku hanya

minta dalam dua atau selambat-lambatnya tiga hari ini, kedua

orang pengembara itu sudah pergi. Atau Ki Demang tidak usah

terkejut jika hubungan kita selama ini diketahui oleh banyak

orang.”

Ki Demang mengatupkan giginya rapat-rapat. Terasa dadanya

menjadi pepat. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Yang

kemudian menghentak-hentak di dadanya adalah penyesalan,

bahwa ia sudah menerima banyak pemberian dari Ki Cakrajaya.

Sementara itu, Ki Cakrajaya tidak menunggu lebih lama lagi.

Iapun kemudian bangkit berdiri dan berkata, “Aku minta diri, Ki

Demang. Ki Demang sudah tahu keinginanku. Aku berharap Ki

Demang dapat memenuhinya.”

Ki Demang tidak menjawab. Sementara itu, Ki Cakrajayapun

segera meninggalkan rumah Ki Demang itu.

Sepeninggal Ki Cakrajaya, Ki Demang duduk merenungi

dirinya sendiri. Penyesalan semakin terasa menghunjam di

hatinya. Ada niatnya untuk mengusir kedua orang perantau itu

dan tidak memperdulikan keadaan padukuhan yang miskin itu.

Tetapi ternyata nuraninya tidak membenarkannya.

“Kenapa baru sekarang aku dapat mendengarkan kata

nuraniku sendiri?” berkata Ki Demang itu kepada diri sendiri.

Dalam pada itu, di gumuk kecil, Wijang dan Paksi telah

menunjukkan kerja yang harus dilakukan. Wijang dan Paksi

berhasil memaksa dengan caranya, sehingga anak-anak muda itu

bersedia mengusung setumpuk bambu ke dekat gumuk kecil.

Sementara yang lain telah mulai membuat semacam kolam

penampungan air yang mengalir dari atas serta dari sela-sela

batu-batu padas. Ternyata air itu cukup deras sehingga akan

mencukupi untuk mengairi sebulak sawah. Namun untuk

sementara air itu masih harus dialirkan mengikuti jalur alami

yang telah dibuat oleh arus air itu sendiri, sebelum dibuat sebuah

parit yang memadai.

Wijang dan Paksipun telah memberikan beberapa petunjuk,

bagaimana mereka harus membuat talang. Membuat tiang-tiang

penyangga di tanah-tanah yang lekuk. Namun mereka harus

meratakan tanah-tanah yang agak mencuat dari permukaan.

“Kita akan mulai membuat talang air. Sementara sebagian

dari kita masih akan menebang bambu dari hutan di sebelah,”

berkata Paksi.

Namun ternyata agak di luar dugaan Wijang dan Paksi, bahwa

anak-anak muda itu menjadi gembira dengan kerja yang mereka

lakukan. Pada saat lewat tengah hari, dua orang telah datang dari

padukuhan sambil membawa makan dan minum bagi anak-anak

muda yang sedang sibuk bekerja.

“Kita berhenti sebentar untuk makan,” berkata Wijang.

Mereka yang menyiapkan tempat penampungan air dan

mereka yang mengusung bambupun kemudian menghentikan

kerja mereka. Mereka mencuci tangan dan kaki. Kemudian duduk

di bawah pepohonan yang rimbun.

Alangkah nikmatnya makan di bawah pohon yang rimbun itu.

Sekali-sekali mereka mengusap keringat yang masih saja

mengalir di leher dan kening.

Yang mereka makan pada waktu itu tidak berbeda dengan apa

yang mereka makan sehari-hari. Namun rasa-rasanya jadi lain.

Yang mereka makan itu seolah-olah jenis nasi dan sayur yang

belum pernah mereka makan sebelumnya.

Kedua orang yang membawa makan dan minum itupun telah

ikut pula makan bersama anak-anak muda itu. Sekali-sekali

mereka meneguk air dari dalam gendi. Terasa betapa segarnya.

Tetapi seorang anak muda yang sudah selesai makan berkata,

“Kita tidak kekurangan minum di sini. Air yang menitik itu

rasanya segar sekali. Meskipun udara terasa terik, namun air itu

tetap dingin, sehingga ketika melewati kerongkongan, rasarasanya

seluruh tubuh telah berendam di air yang dingin dan

sejuk di bawah pepohonan yang rimbun serta diusap oleh silirnya

angin yang lembut.”

Kawannya tertawa. Katanya, “Itulah sebabnya, maka mata ini

tiba-tiba saja telah mengantuk.”

Namun baru saja mulutnya terkatup, anak muda itu telah

bangkit berdiri sambil berdesis, “Siapa yang sudah mendengkur

ini, he?”

Yang lain pun berpaling. Ternyata seorang anak muda yang

bertubuh tinggi kekurus-kurusan sudah tertidur di atas

rerumputan kering di bawah sebatang pohon waru.

“Bukan main,” gumam seorang anak muda yang bertubuh

pendek. “Tetapi mataku ternyata juga sudah ingin terpejam.”

“Kalian dapat beristirahat sebaik-baiknya,” berkata Paksi.

“Mungkin tidur. Tetapi setelah kalian bangun beberapa saat lagi,

kalian tidak boleh menjadi malas. Kalian harus benar-benar

terbangun untuk bekerja keras lagi.”

Dalam pada itu, selagi mereka masih beristirahat, mereka

melihat Ki Bekel berjalan di teriknya sinar matahari ke arah

mereka.

“Selamat siang, Ki Bekel,” sapa Wijang dan Paksi hampir

bersamaan.

“Selamat siang. Selamat siang, anak-anak muda.”

“Selamat siang, Ki Bekel,” jawab anak-anak muda itu.

Sementara seorang yang lainpun berkata, “Kami baru saja

makan, Ki Bekel. Perut kami telah terisi penuh. Mungkin Ki Bekel

juga belum sempat makan di rumah?”

“Sudah. Aku sudah makan bersama beberapa orang yang baru

saja menguburkan ketiga sosok mayat itu. Aku sudah kenyang.”

Ki Bekel itupun kemudian telah ikut duduk pula di bawah

pohon yang rimbun bersama dengan anak-anak muda yang

sedang beristirahat itu. Ternyata kerja anak-anak muda itu

membuat jantung Ki Bekel bergetar. Ia tidak mengira bahwa

anak-anak yang malas itu mampu menebang dan kemudian

mengumpulkan setumpuk batang bambu serta membuat tanggul

penampungan air. Begitu cepatnya mereka mengerjakannya.

Namun anak-anak muda yang datang itu memang lebih

banyak dari kemarin. Satu perkembangan yang sangat

menggembirakan.

“Kami sedang beristirahat, Ki Bekel,” berkata Wijang

kemudian.

“Silahkan,” sahut Ki Bekel. “Aku baru dapat datang kemari

setelah lewat tengah hari. Tadi pagi kami menyelenggarakan

penguburan ketiga orang yang terbunuh, setelah mendapat

persetujuan Ki Demang dan Ki Demang dari Randucawang.”

“Kami baru mulai dengan kerja yang sesungguhnya, Ki Bekel.

Baru inilah yang dapat kami kerjakan.”

“Menurut pendapatku, kalian bekerja sangat cepat. Setumpuk

bambu dan tanggul yang membujur ini, bukankah kalian baru

mulai pagi tadi?”

“Ya, Ki Bekel.”

“Aku tidak dapat membayangkan, bagaimana anak-anak

malas ini dapat mengerjakan semuanya ini setengah hari.”

“Kami terdiri dari banyak orang, Ki Bekel,” sahut Paksi.

“Aku merasa sangat bangga, bahwa anak-anak padukuhan

kami bersedia untuk menempuh jalan kehidupan yang baru. Aku

tidak pernah bermimpi bahwa anak-anak muda yang malas itu

akan bangkit. Mudah-mudahan tidak hanya hari ini atau hanya

dua tiga hari saja. Tetapi untuk seterusnya. Mudah-mudahan

pula banyak anak muda yang tertarik dan ikut bersama kita yang

sudah ada di sini.”

“Mudah-mudahan, Ki Bekel. Tanah ini telah dikaruniakan

kepada kita. Kita harus mensukurinya dan memanfaatkannya

dengan baik.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya seakan-akan

ditujukannya kepada dirinya sendiri, “Aku terlambat

menyadarinya. Tanpa goncangan yang kuat, kami tidak tergerak

untuk berbuat seperti sekarang ini. Peristiwa yang terjadi

semalam merupakan tantangan yang justru menuntut jawaban

kita semua.”

“Anak-anak muda itu sudah menjawabnya.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Kepada Wijang dan

Paksi iapun kemudian berkata, “Anak-anak muda, aku minta

kalian tidak hanya dua atau tiga hari saja di sini. Aku ingin

kalian tetap berada di sini. Keberadaan kalian akan banyak

memberikan arti bagi padukuhan kami yang selama ini jauh

tertinggal dari padukuhan-padukuhan lain.”

Wijang dan Paksi saling berpandangan sejenak. Namun

kemudian Wijangpun berkata, “Kami mohon maaf, Ki Bekel. Kami

hanya dapat tinggal di sini untuk dua tiga hari saja. Kami masih

harus menempuh perjalanan panjang.”

“Bukankah kalian pengembara yang tidak terikat oleh waktu

dan ruang? Kalian dapat berada di mana saja dan kapan saja

tanpa ada bedanya.”

Wijang tersenyum. Katanya, “Ki Bekel benar. Tetapi kami tidak

dapat berada di satu tempat terlalu lama. Kami tidak dapat

tinggal lebih dari sepekan.”

“Itukah paugeran yang mengikat seorang pengembara?”

“Tidak, Ki Bekel. Tetapi niat kami dalam pengembaraan

kamilah yang telah mengikat kami.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Sementara Wijangpun

berkata, “Ki Bekel, kami akan mulai membuat talang air.

Sedangkan sebagian lagi masih akan mengumpulkan bambu,

karena kami membutuhkan bambu cukup banyak.”

Ki Bekel mengangguk-angguk, sedangkan Paksi berkata

selanjutnya, “Jika kami sudah mulai, maka anak-anak muda itu

tinggal melanjutkannya. Mereka akan dapat melakukannya

sendiri. Apalagi Ki Bekel sendiri telah hadir di arena. Agaknya

tidak akan ada kesulitan lagi, Ki Bekel.”

Ki Bekel terdiam. Sebenarnyalah bahwa ia merasa kecewa

bahwa anak-anak muda yang mengaku sebagai pengembara itu

akan segera meninggalkan kerja yang baru dimulai itu.

Sebenarnya Wijang sendiri juga ingin melihat air yang

kemudian akan mengalir lewat beberapa jalur talang bambu dan

tumpah di atas tanah yang kering milik Mbah Rejeb.

Tetapi Wijangpun tahu benar bahwa Paksi ingin segera

melanjutkan perjalanan untuk mencari adiknya. Jika mereka

menemukan adik Paksi itu berada di dalam keadaan yang buruk,

maka Paksi akan dapat menyalahkannya, karena mereka terlalu

lama menyusulnya. Karena itu, maka Wijang tidak dapat

menunda-nunda lagi perjalanan mereka.

Dalam pada itu, setelah beristirahat beberapa saat, maka

Wijang dan Paksipun telah mengajak anak-anak muda itu untuk

bangkit dan melanjutkan kerja mereka.

Beberapa orang di antara mereka sempat tertidur. Sementara

yang lain mulai memejamkan mata mereka.

Rasa-rasanya memang malas sekali untuk mulai dengan kerja

berat di teriknya matahari, justru setelah mereka beristirahat di

bawah rimbunnya pepohonan. Angin yang berhembus di padang

perdu di kaki gunung itu membuat anak-anak muda itu seakanakan

terbius.

“Marilah,” Ki Bekellah yang bangkit lebih dahulu, “aku akan

ikut bekerja sama kalian.”

“Ah, jangan Ki Bekel,” cegah Wijang. “Bahwa Ki Bekel hadir di

sini sudah memberikan dorongan yang sangat kuat kepada

kami.”

“Tidak apa-apa. Aku harus ikut pula mengalami kerja. Sejak

kanak-kanak aku adalah seorang yang malas pula, sehingga

orang tuaku tidak memberikan teladan, apa yang sebaiknya

harus aku lakukan. Nah, sekarang aku mendapat teladan,

bagaimana sebuah padukuhan harus bekerja bagi kesejahteraan

padukuhannya.”

Ternyata Ki Bekel memang tidak dapat dicegah.

Disingsingkannya kain panjangnya. Dilepaskan bajunya pula.

Dengan mengenakan caping bambu, Ki Bekelpun mulai ikut

bekerja bersama dengan anak-anak muda yang masih saja

menggeliat dan mengusap matanya.

Tetapi ketika cangkul sudah berada di tangan, maka

merekapun telah kehilangan perasaan kantuk mereka. Demikian

pula mereka yang mengusung bambu dari pinggir hutan bambu.

Wijang dan Paksi sendiri juga mulai dengan kerja mereka Ia

minta Trima dan beberapa orang yang lain untuk membantu

Wijang mulai menggarap talang air dari lajur-lajur bambu yang

sudah ada. Sementara itu, Paksi telah menemani anak-anak

muda yang sedang mengusung bambu. Anak-anak muda itu

masih saja dibayangi oleh ketakutan mereka terhadap

kemungkinan munculnya seekor harimau loreng.

Dengan terampil Wijang memotong bambu yang terhitung

besar. Dilubanginya bambu itu di arah ruasnya untuk

menghilangkan sekat-sekat ruasnya itu.

Agaknya Wijang ingin membuat satu jelujur talang lebih

dahulu. Biarlah kemudian anak-anak muda itu membuatnya

pula.

Sementara itu, mataharipun bergerak semakin ke barat.

Semakin lama menjadi semakin rendah.

Ketika Wijang dan Paksi melihat bahwa anak-anak muda yang

bekerja bersama mereka itu menjadi sangat lebih, maka Wijang

dan Paksipun telah menghentikan kerja itu. Kepada anak-anak

muda itu, Wijangpun berkata, “Besok kita mulai lebih pagi lagi.

Malam nanti kita tidur nyenyak. Mudah-mudahan kita tidak

terganggu lagi. Sebelum tidur, gosoklah kaki dan tangan kalian

dengan kencur yang dipipis dengan sedikit beras. Mudahmudahan

besok kalian merasa segar dan sehat saat bangun

tidur. Apalagi jika kalian bangun pagi-pagi sekali.”

Beberapa saat kemudian, gumuk kecil itupun menjadi sepi.

Wijang, Paksi dan anak-anak muda yang bekerja keras untuk

membuat talang air itu sudah kembali ke padukuhan dan pulang

ke rumah masing-masing.

Namun tidak semua orang tua menjadi bangga atas kesediaan

anaknya bekerja keras membuat talang air yang akan dialirkan

ke sawah Mbah Rejeb itu. Ketika seorang yang bertubuh agak

pendek, kurus dan perutnya buncit pulang, ayah dan ibunya

segera memanggilnya.

“Ke mana saja kau sehari-harian, he?”

“Aku pergi ke gumuk kecil itu, Ayah.”

“Ada apa di gumuk kecil?”

“Kami sedang membuat talang air.”

“Talang air apa?”

“Kami sedang mencoba untuk mengalirkan air dari gumuk

kecil itu ke bulak sawah yang kering itu. Meskipun tidak

semuanya akan kebagian air, tetapi rasa-rasanya sebagian besar

dari sawah kita akan dapat menjadi basah di segala musim.

Bukan hanya di musim hujan saja kita dapat menanami sawah

kita.”

“Bohong. Siapakah yang mengatakannya?”

“Dua orang pengembara. Tetapi Ki Bekel sependapat. Bahkan

Ki Bekel ikut bekerja bersama kami.”

“Ternyata kau menjadi semakin sering berbohong, he? Besok

kau tidak usah pergi ke gumuk kecil. Kau ikut ayah bekerja di

rumah Ki Cakrajaya. Besok lusa Ki Cakrajaya akan mengirim

gula kelapa tiga pedati ke pasar Mancawarna. Besok kita akan

menghitung dan menempatkannya ke dalam keranjang.”

“Tetapi aku sudah berjanji kepada Trima dan kepada Ki Bekel,

besok aku akan datang ke gumuk kecil itu.”

“Jangan dungu. Apakah kau mendapat upah jika kau bekerja

di gumuk kecil itu?”

“Tidak, Ayah.”

“Nah, jika demikian, kenapa kau pergi juga ke gumuk?”

“Kami bekerja dengan pengharapan bagi masa depan

padukuhan kita ini.”

“Masa depan? Kau telah terbius oleh janji-janji manis.

Berbeda dengan kerja di rumah Ki Cakrajaya. Kita akan langsung

mendapat upah meskipun hanya sedikit. Tetapi besok kau perlu

makan.”

“Di gumuk aku juga mendapat makanan, Ayah. Makan hingga

perutku menjadi kenyang sekali.”

“Siapa yang memberi makan?”

“Mungkin Ki Bekel.”

“Kau jangan membual.”

“Tidak, Ayah. Aku tidak membual. Jika aku sekedar membual,

aku akan merasa lapar sekali sekarang ini. Tetapi rasa-rasanya

perutku masih kenyang.”

“Persetan dengan kerjamu di gumuk kecil itu. Pokoknya besok

kau harus kerja di rumah Ki Cakrajaya bersamaku.”

Anak itu diam. Ia tidak berani membantah lagi. Ayahnya

adalah seorang yang keras hati. Jika ia masih saja membantah,

maka ayahnya akan segera marah. Mungkin sekali tangannya

akan menampar mulutnya itu.

Dengan gelisah anak itupun pergi ke belakang mencari

neneknya di dapur.

“Nek,” berkata anak itu, “Nenek mempunyai kencur?”

“Kencur? Untuk apa?”

“Aku tadi kerja keras di gumuk kecil, Nek. Aku dinasehatkan

agar tangan dan kakiku diolesi kencur yang dipipis dengan

sedikit beras.”

“O, beras kencur, maksudmu?”

“Ya, Nek. Beras dan kencur.”

“Aku mempunyai kencur sedikit. Besok kita dapat mencari di

kebun belakang.”

“Berasnya?”

Neneknya termangu-mangu. Dengan nada berat neneknya itu

berkata, “Berasnya tinggal sedikit sekali, Ngger. Besok beras itu

akan dibuat bubur untuk makan adikmu. Untuk kita, ayahmu

sudah menyediakan gaplek yang cukup.”

“Sedikit saja, Nek. Beberapa butir.”

“Baiklah. Nanti nenek ambilkan. Kau tidak usah berceritera

kepada ayah dan ibumu tentang beras kencur itu. Katakan saja,

kencur itu dipipis dengan sedikit garam.”

“Ya, Nek.”

“Sekarang, mandilah. Tubuhmu akan terasa segar.”

Dalam pada itu, ketika anak-anak muda yang ikut ke gumuk

kecil beristirahat untuk melepas lelah yang bagaikan

mencengkam sampai ke tulang, maka Wijang dan Paksi yang

sudah mandi dan berbenah diri, menemui Ki Bekel. Dengan raguragu

Wijangpun bertanya, “Apakah Ki Demang benar-benar ingin

bertemu dengan kami?”

“Ya. Tetapi agaknya kalian masih letih.”

“Tidak, Ki Bekel. Kami tidak letih.”

“He. Aku yang hanya ikut membantu kerja kalian, itupun aku

mulai setelah matahari sudah turun, merasa sangat letih.”

“Seumur Ki Bekel sebaiknya memang sudah tidak melakukan

kerja kasar sebagaimana kami lakukan. Tetapi berbeda dengan

orang-orang seumurku.”

“Anak-anak muda yang lain itupun merasa sangat letih.

Bagaimana mungkin kalian tidak?”

“Apakah kami berdua kelihatan letih?”

“Tidak. Itulah yang membuatku heran.”

“Ki Bekel, selama ini anak-anak muda padukuhan ini tidak

pernah berbuat apa-apa. Karena itu, maka merekapun akan

cepat merasa letih. Tetapi jika mereka sudah terbiasa dengan

kerja keras, maka mereka tidak akan secepat itu menjadi letih.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Sambil tersenyum iapun

menyahut, “Kenapa tidak kau katakan saja, bahwa aku juga tidak

pernah kerja keras?”

Wijang dan Paksipun tersenyum pula. Namun sekali lagi

Wijangpun bertanya, “Apakah kami sebaiknya pergi menghadap

Ki Demang?”

“Kita pergi bersama-sama.”

“Tetapi bukankah Ki Bekel merasa letih?”

“Aku memang letih. Tetapi biarlah aku pergi bersama kalian.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Bekelpun telah pergi

menemui Ki Demang bersama Wijang dan Paksi.

Ketika mereka sampai di rumah Ki Demang, lampu sudah

dinyalakan di pendapa, pringgitan dan di setiap ruang.

Sejenak kemudian, Ki Bekel, Wijang dan Paksipun telah

duduk di pringgitan ditemui oleh Ki Demang. Namun ternyata

betapapun Ki Demang berusaha untuk menyembunyikan

kegelisahannya, Ki Bekel masih juga dapat merasakannya.

Meskipun demikian, Ki Bekel tidak menyinggungnya.

“Ki Demang,” berkata Ki Bekel kemudian, “aku sengaja datang

sambil mengajak kedua orang pengembara sebagaimana aku

katakan. Mungkin Ki Demang ingin berbicara dengan mereka

tentang gagasan mereka mengalirkan air dari gumuk kecil itu ke

sawah kami yang kering. Menurut kedua pengembara itu, air

yang tidak pernah kering yang mengalir dari celah-celah batubatu

padas serta saluran-saluran yang terjadi secara alami di

sekitar gumuk kecil itu, dapat dimanfaatkan untuk mengairi

sawah.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Ki

Demang itupun bertanya, “Apakah kalian berdua dapat menetap

di kademangan ini untuk selanjutnya?”

Wijanglah yang menjawab, “Sayang, Ki Demang, kami adalah

pengembara. Kami tidak dapat tinggal terlalu lama di satu

tempat. Kami sudah mengatakan kepada Ki Bekel, bahwa kami

hanya dapat memulai kerja besar ini. Selanjutnya terserah

kepada anak-anak mudanya. Bahkan kemudian Ki Bekel sendiri

telah turun tangan.”

Ki Demang itu mengangguk-angguk kecil. Dengan ragu-ragu

Ki Demang itupun bertanya pula, “Jadi sampai kapan kau berada

di padukuhan itu?”

“Kami akan berada di padukuhan itu dua atau tiga hari lagi,

Ki Demang.”

“Lalu, sesudah itu kalian akan pergi ke mana?”

“Kami adalah pengembara, Ki Demang. Kami tidak tahu,

langkah kami sampai ke mana.”

Adalah di luar sadarnya jika kemudian Ki Demang itu

bertanya, “Jadi, kenapa kalian harus pergi?”

“Aku juga sudah berusaha menahannya. Jika keduanya tidak

dapat tinggal untuk seterusnya, aku berharap mereka dapat

tinggal satu dua bulan saja,” sahut Ki Bekel.

Wijang termangu-mangu sejenak. Namun Paksilah yang

menjawab, “Kami mohon maaf, Ki Bekel dan Ki Demang. Kami

tidak dapat tinggal lebih lama lagi. Tetapi kami berjanji, bahwa

pada saat lain, jika keadaan mengijinkan, kami akan singgah lagi

di kademangan ini.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan

jantung Ki Demang terasa menjadi semakin tenang.

“Jika saja kalian dapat tinggal lebih lama lagi,” desis Ki

Demang.

Wijang tidak menyahut. Ia tahu benar keinginan Paksi.

Sebelum dapat menemukan adiknya maka ia tidak akan dapat

menahan Paksi terlalu lama di suatu tempat. Jika ia

memaksanya, maka Paksi tentu akan meninggalkannya.

“Bahwa aku menyertainya, tidak semestinya aku justru

menjadi penghambatnya,” berkata Wijang di dalam hatinya.

Ki Demang yang gelisah itu rasa-rasanya terlepas dari satu

jebakan yang akan dapat menjeratnya. Ki Cakrajaya telah

mengancamnya agar kedua orang pengembara itu diusir dari

kademangan dalam waktu dua atau tiga hari. Jika keduanya

memang ingin pergi, bukankah ia tidak perlu mengusirnya? Tidak

perlu menyakiti hati keduanya yang sudah berniat baik

melahirkan gagasan yang akan sangat berarti bagi padukuhan

yang miskin itu? Tetapi Ki Demang pun tidak dapat membiarkan

mereka tetap berada di kademangannya, karena jika demikian, Ki

Cakrajaya mengancam akan membuka rahasia Ki Demang,

bahwa ia sudah banyak menerima pemberian dari Ki Cakrajaya.

Pemberian yang tentu saja bukannya tanpa pamrih.

Dalam kesempatan itu, Ki Demang justru telah mengucapkan

terima kasih kepada kedua anak muda pengembara itu.

“Sebelum kalian pergi, aku harap kalian singgah sebentar,

anak-anak muda.”

Wijang dan Paksi tidak segera menjawab. Sementara Ki

Demang berkata selanjutnya, “Atas nama orang-orang

kademangan ini, aku akan menyampaikan pertanda terima kasih

kami bagi kalian berdua.”

“Ki Demang,” berkata Wijang, “bahwa kami diterima dengan

baik di kademangan ini sudah merupakan penghargaan yang

sangat besar bagi kami. Karena itu, Ki Demang tidak usah

memberikan pertanda terima kasih itu kepada kami. Dalam

pengembaraan kami, kenang-kenangan yang seharusnya kami

simpan dengan baik itu, justru akan dapat tercecer di jalan.”

“Jangan menolak, anak-anak muda. Mungkin nilainya tidak

seberapa. Tetapi pertanda terima kasih itu kami berikan dengan

tulus.”

Wijang dan Paksi tidak menyahut. Memang tidak sepantasnya

mereka menolak pemberian dari Ki Demang itu agar tidak

menyinggung perasaannya.

“Datanglah esok sore. Kenang-kenangan itu akan aku

persiapkan esok pagi.”

“Terima kasih, Ki Demang.”

Ki Bekel tidak menyela. Ia duduk saja sambil tersenyumsenyum.

Namun sebenarnyalah Ki Bekel menjadi curiga. Ki

Demang itu rasa-rasanya telah mendorong agar kedua

pengembara itu segera pergi, meskipun sebagai basa-basi Ki

Demang itu mencoba menahan mereka.

Dalam pada itu, Ki Demang itupun tidak lagi nampak sangat

gelisah. Bahkan kemudian Ki Demang itu lebih banyak

tersenyum dan tertawa. Kata-katanya pun menjadi lancar dan

mengalir seperti gemerciknya air di sungai.

Ki Demangpun kemudian telah menanyakan gagasan Wijang

dan Paksi yang telah berhasil menggerakkan beberapa orang

anak muda, dan bahkan termasuk ki Bekel sendiri.

“Mudah-mudahan Ki Bekel berhasil,” berkata Ki Demang

kemudian. “Dengan demikian padukuhan itu tidak akan semakin

jauh tertinggal dari padukuhan-padukuhan yang lain.”

“Ya, Ki Demang. Mungkin pada saat-saat sangat diperlukan

kelak, kami akan minta bantuan Ki Demang untuk

menyelesaikan pekerjaan kami.”

“Silahkan, Ki Bekel. Jika saja aku dapat membantu, aku akan

membantunya.”

Beberapa saat lamanya mereka berbincang. Setelah minum

minuman hangat dan makan beberapa potong makanan yang

dihidangkan, maka Ki Bekel, Wijang dan Paksi itupun minta diri.

Demikian mereka sampai di rumah Ki Bekel, maka makan

malam pun telah disediakan. Seperti juga kemarin, sederhana

saja.

Dalam pada itu, Ki Bekel masih saja merasa terganggu oleh

sikap Ki Demang. Ki Bekel itu telah mengambil kesimpulan,

bahwa Ki Demang menghendaki agar Wijang dan Paksi segera

meninggalkan kademangan itu. Tetapi Ki Demang sendiri tidak

menantang gagasan untuk membuat saluran air dari gumuk kecil

ke sawah yang kering dan gersang.

“Tentu ada hubungannya dengan Ki Cakrajaya,” berkata Ki

Bekel di dalam hatinya.

Namun Ki Bekel tidak dapat membiarkan perasaannya yang

berbicara. Ia sadar, bahwa Ki Demang mempunyai wewenang

untuk menggagalkan rencana pembuatan saluran air itu dengan

alasan apapun juga. Karena itu, maka Ki Bekel itupun harus

bersikap sangat berhati-hati.

Setelah makan malam, maka Ki Bekel yang masih saja

berangan-angan tentang saluran air serta sikap Ki Demang

itupun berkata, “Besok kita akan pergi ke gumuk itu pagi-pagi

sekali. Karena itu, sebaiknya kalian berdua beristirahat. Kalian

harus menyimpan tenaga kalian dengan sebaik-baiknya bagi

esok.”

Wijang dan Paksi mengangguk. Dengan nada dalam

Wijangpun menjawab, “Baik, Ki Bekel. Kami akan beristirahat.”

Keduanyapun kemudian telah masuk ke dalam bilik yang

diperuntukkan bagi mereka, namun keduanya tidak juga segera

tidur.

“Kau rasakan sikap Ki Demang yang agak aneh?” bertanya

Wijang.

“Baru kemudian,” jawab Paksi.

“Bagaimana menurut pendapatmu?”

“Ki Demang ingin agar kita segera pergi.”

“Ya. Tentu ada hubungannya dengan Ki Cakrajaya.”

“Aku juga berpendapat demikian. Jika saja aku tidak sedang

memburu adikku, maka aku justru ingin berada di sini sampai

kerja itu selesai.”

“Apaboleh buat.”

“Tetapi pada kesempatan lain, aku benar-benar ingin datang

kemari.”

“Aku juga. Kita dapat pergi bersama-sama lagi. Atau katakan,

jika kita pulang ke Pajang, maka jalan di daerah inipun akan

sangat menarik.”

Paksi mengangguk-angguk. Namun Wijangpun kemudian

berkata, “Marilah kita tidur. Besok kita akan berada di gumuk

kecil itu lagi.”

Keduanyapun kemudian telah membaringkan tubuh mereka.

Paksi menarik kain panjangnya, sehingga hampir menutupi

wajahnya.

Pagi-pagi sekali keduanyapun telah terbangun. Seperti

biasanya merekapun segera berbenah diri.

Pagi itu, Ki Bekelpun telah bangun pagi-pagi pula. Ketika

Wijang dan Paksi telah selesai dan duduk di serambi, maka Ki

Bekelpun telah berada di pakiwan pula.

Namun Ki Bekel itu menjadi kecewa. Demikian ia bangun,

mandi dan berpakaian, ia ingin menunjukkan bahwa ia pun

dapat bangun lebih pagi dari kedua pengembara itu. Namun

ternyata bahwa Wijang dan Paksi telah duduk di serambi.

“Untunglah bahwa kita tidak bertaruh,” desis Ki Bekel.

“Maksud Ki Bekel?” bertanya Wijang.

“Aku telah mandi dan berpakaian dengan tergesa-gesa. Aku

ingin membangunkan kalian dan menyatakan kemenanganku

pagi ini, bahwa aku telah bangun lebih dahulu. Ternyata kalian

telah selesai.”

Wijang dan Paksi tertawa. Sambil tertawa Paksipun berkata,

“Apakah sebaiknya kami berdua tidur saja lagi agar Ki Bekel

sempat membangunkan kami?”

Ki Bekelpun tertawa berkepanjangan.

Pagi itu, ternyata Nyi Bekel dan pembantu di rumah Ki Bekel

itupun telah bangun pagi-pagi pula. Karena itu, sebelum

matahari terbit, maka nasi pun telah masak.

“Kita makan pagi. Baru kita pergi ke gumuk kecil.”

Wijang dan Paksi tidak menolak. Merekapun kemudian duduk

di ruang dalam. Lampu minyak di ruang dalam itu masih

menyala meskipun ayam sudah berkotek di halaman.

Demikian mereka selesai maka, maka Ki Bekelpun telah

mengajak mereka berangkat.

“Baru saja kalian selesai makan,” berkata Nyi Bekel.

“Beristirahatlah dahulu barang sebentar. Nanti lambung kalian

terasa sakit.”

Tetapi Ki Bekel menjawab, “Kami akan berjalan perlahanlahan

saja, Nyi. Bukankah hari masih pagi? Kami tidak tergesagesa.”

“Jika Ki Bekel tidak tergesa-gesa, kenapa Ki Bekel tidak duduk

saja lebih dahulu?”

“Aku tidak pernah merasakan betapa segarnya berjalan di pagi

hari selagi embun masih menitik dari ujung dedaunan. Aku tidak

pernah melihat saat-saat matahari lepas dari garis cakrawala.”

“Terlambat, Ki Bekel,” desis Nyi Bekel.

“Kenapa terlambat? Bukankah matahari belum terbit?”

“Maksudku, bukan hari ini. Tetapi seharusnya Ki Bekel

mengajak aku berjalan-jalan menjelang matahari terbit. Tentu

saja tidak sekarang. Tetapi saat-saat kita masih muda.”

Ki Bekel tertawa. Katanya, “Apa salahnya kita pergi sekarang,

Nyi?”

“Ah, aku belum mandi.”

“Kau yang tidak dapat bangun pagi.”

“Bukankah aku bangun lebih dahulu dari Ki Bekel? Tetapi

aku segera sibuk di dapur, sehingga aku belum sempat mandi.”

Ki Bekel masih tertawa. Katanya, “Sudahlah, kami akan

berangkat.”

Ketiganyapun kemudian meninggalkan rumah Ki Bekel

menuju ke gumuk kecil yang banyak menyimpan air. Beberapa

pohon raksasa tumbuh di sekitar gumuk kecil itu. Namun

pepohonan itu terpisah dari hutan yang memanjang yang seakanakan

dipagari oleh hutan bambu.

Hari memang masih pagi. Matahari masih berada di balik

cakrawala. Burung-burung liar berkicau bersahutan, seakanakan

meneriakkan kerinduan mereka terhadap matahari yang

sudah semalam suntuk bersembunyi.

 

 

Jilid 36

“JARANG sekali aku melihat saat-saat menjelang matahari terbit

seperti ini,” berkata Ki Bekel. “Biasanya aku masih melingkar di

pembaringan. Bahkan sampai matahari hampir mencapai

puncaknya. Jika hari hujan, aku menjadi lebih parah lagi.

Hampir sehari-harian aku berada di dalam bilik sambil

mendengkur.”

“Ki Bekel dapat menghitung, sampai umur Ki Bekel sekarang

ini, Ki Bekel memerlukan waktu berapa tahun untuk tidur dan

berapa tahun terjaga.”

“He?”

“Jika kebiasaan Ki Bekel tidur semalam dan separo hari,

berarti tiga perempat masa hidup Ki Bekel berada di

pembaringan. Jika umur Ki Bekel sekarang misalnya empat

puluh lima, maka Ki Bekel telah tertidur selama tigapuluh tiga

tahun lebih dan terjaga kurang dari duabelas tahun.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Bukankah itu berarti

bahwa hidupku itu sia-sia?”

“Jika saja Ki Bekel dapat memanfaatkan waktu Ki Bekel yang

pendek itu dengan sebaik-baiknya.”

“Ternyata aku telah banyak sekali kehilangan karena

kemalasanku. Demikian pula para bebahu, orang-orang

padukuhanku dan bahkan sebagian besar dari anak-anak

mudanya.”

“Tetapi sekarang Ki Bekel sudah memulainya untuk

memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.”

Ki Bekel itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Terima kasih.

Selama ini aku tidak pernah memikirkan, berapa tahu aku tidur

dan berapa tahun aku terjaga.”

Wijang dan Paksipun ikut tertawa pula.

Sebelum embun tuntas dihisap sinar matahari yang mulai

memancarkan sinarnya yang kekuning-kuningan, Ki Bekel,

Wijang dan Paksi sudah berada di gumuk kecil. Ternyata anakanak

muda padukuhan itupun benar-benar berusaha untuk

dapat bangun lebih pagi. Meskipun kedatangan Ki Bekel lebih

dahulu dari mereka, tetapi jarak waktunya tidak terlalu jauh.

“Maaf, Ki Bekel,” berkata Trima, “kami terlambat. Kami

menunggu yang satu dengan yang lain, sehingga kami menjadi

kesiangan.”

“Kami juga baru saja datang,” berkata Ki Bekel.

“Kita beristirahat sebentar,” berkata Wijang kemudian.

“Sebentar lagi kita akan mulai dengan kerja besar kita.”

Anak-anak muda itupun kemudian telah duduk di atas batubatu

padas. Ternyata jumlah mereka bertambah lagi. Sementara

itu anak muda yang bertubuh agak pendek, kurus dan perutnya

buncit ada pula di antara mereka. Anak muda itu berhasil

meyakinkan ayahnya, bahwa air itu akan dapat menjadi harapan

di masa datang bagi padukuhan mereka.

Demikianlah, setelah beristirahat sejenak, maka Wijangpun

telah mengajak kawan-kawannya untuk mulai dengan kerja

mereka. Wijang dan Paksi telah memberikan contoh bagaimana

mereka harus menghilangkan sekat pada ruas-ruas bambu yang

akan mereka pergunakan sebagai talang air.

“Kita membuat satu jalur saja lebih dahulu, Paksi,” berkata

Wijang.

“Kenapa tidak lima sama sekali?”

“Kita berada di sini hanya sampai esok. Jika kita membuat

lima jalur sekaligus, tentu tidak akan selesai. Tetapi jika kita

membuat satu sebagai contoh sehingga talang itu benar-benar

mengalir, mereka akan dapat meneruskannya sendiri.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian sambil

mengangguk-angguk berkata, “Baiklah. Aku mengerti. Ki Demang

nampaknya juga ingin agar kita pergi. Tetapi tanpa kita, anakanak

muda itu akan dapat bekerja sendiri.”

Demikianlah atas kesepakatan itu, maka Wijangpun telah

memberitahukan kepada anak-anak muda itu untuk

menyelesaikan satu jalur saja lebih dahulu.

“Kenapa tidak seluruhnya saja?” bertanya Trima.

“Kita akan membuat contohnya lebih dahulu. Jika besok kami

meneruskan pengembaraan kami, maka kalian akan dapat

membuat jalur-jalur yang lain. Bahkan mungkin kalian tidak

hanya ingin membuat lima. Tetapi lebih dari itu. Bahkan

kemudian kalian dapat membuat parit yang cukup besar.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Namun Trimapun

kemudian bertanya, “Kenapa kau tidak tinggal di sini lebih lama

lagi sehingga setidak-tidaknya kerja kami yang mula-mula ini

selesai seluruhnya?”

“Sebenarnya aku sangat ingin untuk tinggal beberapa lama di

sini. Tetapi ada sesuatu yang memaksa kami pergi.”

“Ki Cakrajaya?”

“Tidak. Seandainya Ki Cakrajaya menginginkan aku pergi, aku

dapat saja menolaknya. Tetapi ada persoalan yang harus kami

selesaikan.”

Anak-anak muda itu memang tidak akan dapat menahan

kedua orang pengembara itu untuk lebih lama tinggal.

Hari itu, Wijang dan Paksi bersama-sama anak-anak muda

yang jumlahnya semakin banyak itu telah bekerja keras untuk

membuat satu jalur talang air sampai ke sawah Mbah Rejeb.

Mereka mempunyai waktu dua hari dengan hari berikutnya, hari

terakhir Wijang dan Paksi berada di padukuhan itu.

Hari itu, sebagian besar dari satu jalur talang air sudah siap.

Esok mereka tinggal merangkai sehingga air akan mengalir di

sawah Mbah Rejeb.

Ternyata anak-anak muda itu justru menjadi semakin gembira

dengan kerja mereka. Sebagian dari mereka masih sempat

bermain dengan air. Di teriknya panas matahari, maka air itu

dapat membuat mereka menjadi sedikit sejuk.

Seperti di hari sebelumnya, di tengah hari mereka beristirahat

untuk makan. Ki Bekel yang ada di antara mereka, ikut makan

pula dengan lahapnya. Meskipun hanya sekedar sayur keluwih

serta buntil lompong ungu, namun terasa alangkah nikmatnya.

Ketika bayangan pepohonan sudah menjadi semakin panjang

karena matahari yang menjadi semakin rendah di sore hari, maka

Wijangpun bertanya kepada Ki Bekel, “Sebentar lagi matahari

akan terbenam. Apakah kita akhiri kerja kita hari ini, Ki Bekel?”

Ki Bekel mengerutkan dahinya. Ditengadahkannya kepalanya

sambil berdesis, “Begitu cepatnya matahari mengarungi langit

hari ini.”

Seorang anak muda yang berdiri di sebelahnya pun

memandang langit sambil berkata, “Hari ini terasa terlampau

pendek. Aku belum merasa letih.”

Paksi tersenyum sambil menyahut, “Agaknya kerja ini

semakin terasa menarik, sehingga kalian menjadi lupa waktu.”

Seorang anak muda yang lainpun berkata, “Berbeda dengan

kemarin. Rasa-rasanya hari ini memang terlalu pendek.”

Wijanglah yang menyahut, “Kita simpan tenaga kita untuk

esok. Esok kita akan bekerja lagi sepanjang hari. Jika lusa kami

pergi meninggalkan padukuhan ini, maka kalian masih akan

melanjutkan kerja ini. Bukan sekedar membuat talang air empat

atau lima lanjur, tetapi arah pandangan ke depan kalian adalah

sebuah parit yang cukup besar. Parit kalian yang rusak itu akan

dapat menampung air dan membawanya ke tengah-tengah bulak

setelah kalian perbaiki.”

Anak-anak muda yang bekerja membuat talang air itupun

kemudian menghentikan kerja mereka. Merekapun kemudian

membersihkan tangan dan kaki mereka dengan air yang bening

dan segar.

“Besok kita datang pagi-pagi seperti hari ini,” berkata Paksi.

“Kami akan datang lebih pagi,” berkata seorang anak muda.

Yang lain pun menyambung, “Kita harus menyelesaikan talang

air yang satu itu sebelum kalian pergi.”

“Bagus,” sahut Ki Bekel. “Besok kalian harus datang lebih pagi

dari kami.”

Demikianlah sejenak kemudian, Ki Bekel serta anak-anak

muda yang bekerja di gumuk kecil itupun telah meninggalkan

kerja mereka untuk dilanjutkan di keesokan harinya.

Berbeda dengan hari sebelumnya, hari itu mereka tidak

merasa lelah sama sekali. Bahkan mereka merasa bahwa kerja

mereka terlalu pendek.

Tetapi seperti kemarin, Wijang berpesan agar anak-anak muda

itu menggosok kaki dan tangannya dengan beras kencur.

“Tubuh kalian akan terasa hangat. Darah kalian akan

mengalir dengan lancar sehingga perasaan letih akan hilang,

setidak-tidaknya berkurang.”

Wijang dan Paksi sendiri, demikian mereka sampai di rumah

Ki Bekel, merekapun langsung pergi ke pakiwan. Bergantian

mereka mandi dan menimba air mengisi jambangan.

Setelah berbenah diri, maka merekapun pergi ke serambi

samping. Mereka tahu, Ki Bekel sedang duduk-duduk di serambi

samping sambil minum minuman hangat.

“Kalian sudah mandi?” bertanya Ki Bekel.

“Sudah, Ki Bekel,” jawab Wijang setelah duduk pula di

serambi.

“Keringatku belum kering. Karena itu aku belum mandi.”

Paksilah yang menjawab, “Ki Bekel minum wedang jahe yang

masih panas. Keringat Ki Bekel tidak akan segera kering. Justru

akan menjadi semakin banyak.”

Ki Bekel tertawa. Katanya, “Masih ada sisa-sisa kemalasan.

Minumlah, anak-anak muda. Biarlah Nyi Bekel menyediakan.”

“Sudah, Ki Bekel. Di serambi gandok sudah disediakan

minuman kami.”

“Benar?”

“Ya, Ki Bekel.”

“Nah, duduklah. Biarlah kalian minum bersamaku di sini.”

“Terima kasih, Ki Bekel. Kami justru akan mohon diri untuk

pergi ke rumah Ki Demang. Bukankah hari ini kami diminta

untuk datang? Ki Demang akan memberikan kenang-kenangan.

Sebenarnya kami masih belum dapat menerima kenangkenangan

itu sekarang, karena kami masih akan melanjutkan

pengembaraan. Kenang-kenangan itu apa pun ujudnya, akan

menjadi beban bagi kami. Tetapi adalah tidak sepantasnya kami

menolak uluran tangan itu.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia berkata

kepada Wijang dan Paksi, bahwa pemberian kenang-kenangan itu

hanya satu cara untuk mempercepat kepergian kedua orang

pengembara itu. Tetapi Ki Bekel sempat menahan diri.

“Baiklah,” berkata Ki Bekel. “Sampaikan kepada Ki Demang,

Bahwa aku minta maaf karena aku tidak dapat mendampingi

kalian. Aku masih ingin bermalas-malasan duduk sambil minum

minuman hangat.”

“Asal tidak sampai esok pagi,” desis Paksi.

Ki Bekel tertawa. Wijang dan Paksipun tertawa pula.

Ketika langit menjadi buram, Wijang dan Paksi telah

meninggalkan rumah Ki Bekel. Mereka berjalan menyusuri jalan

padukuhan. Kemudian melalui bulak pendek, mereka mencapai

padukuhan induk.

Ternyata Ki Demang sudah menunggu. Bahkan Ki Demang

sempat merasa gelisah. Jika kedua pengembara itu tidak datang

ke rumahnya, mungkin sekali mereka akan menunda

kepergiannya dari padukuhan yang kering dan gersang itu.

Namun demikian seorang pembantunya memberitahukan

bahwa ada dua orang anak muda yang mencari Ki Demang, maka

Ki Demangpun segera mengetahuinya, bahwa keduanya adalah

pengembara yang harus diusirnya.

Ketika Wijang dan Paksi dipersilahkan duduk di pringgitan,

maka pembantu di rumah Ki Demang itu sedang sibuk

menyalakan lampu minyak di pringgitan, di pendapa, dan di

setiap ruangan di rumah Ki Demang itu.

Sejenak kemudian, maka Ki Demangpun telah menemui

kedua orang pengembara itu di pringgitan. Dengan ramah Ki

Demang itupun bertanya, “Apakah kalian jadi pergi esok pagi?”

“Kami akan melanjutkan perjalanan lusa, Ki Demang. Besok

kami masih harus menyelesaikan contoh talang yang harus

dibuat oleh anak-anak muda padukuhan yang gersang itu.”

Ki Demang mengerutkan dahinya. Katanya, “Jadi kalian

belum akan pergi esok pagi?”

“Belum, Ki Demang.”

Ki Demang mengerutkan dahinya. Ada sesuatu yang melintas

di kepalanya. Tetapi terbendung ketika akan meluncur lewat

bibirnya.

Wijang dengan latar belakang kehidupannya di istana

menanggapi sikap Ki Demang itu dengan matang. Justru karena

itu, maka iapun bertanya, “Apakah Ki Demang berkeberatan?”

“Tidak. Tidak,” jawab Ki Demang dengan serta-merta.

“Sebaiknya Ki Demang berterus-terang, apakah Ki Demang

menghendaki kami pergi esok?”

Wajah Ki Demang menjadi tegang. Sementara Wijang berkata

selanjutnya, “Mungkin Ki Cakrajaya telah mengusulkan kepada

Ki Demang. Bahkan mungkin dengan agak memaksa.”

“Tidak. Tidak,” suara Ki Demang justru mulai menurun.

“Ki Demang,” berkata Wijang, “besok lusa kami benar-benar

akan meninggalkan padukuhan itu. Aku tidak ingin menjadi

sumber keributan di sini. Tetapi aku mohon Ki Demang jangan

membatalkan rencana pembuatan talang air itu.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Ketika ia memandang

wajah Wijang sekilas, ia melihat betapa tajam sorot mata

pengembara itu. Bahkan dari mata itu seakan-akan telah

memancar sinar bagaikan sinar kilat yang menyambar

jantungnya.

“Orang ini bukan orang kebanyakan,” berkata Ki Demang di

dalam hatinya.

“Ki Demang,” berkata Wijang, “padukuhan itu sudah terlalu

lama menderita. Miskin, kering dan tandus. Karena itu, sudah

waktunya untuk bangkit dari derita yang berkepanjangan.

Mungkin kebangkitan rakyat padukuhan itu tidak menyenangkan

Ki Cakrajaya, karena Ki Cakrajaya merasa berkepentingan

dengan kemiskinan tetangga-tetangganya. Adalah kebetulan

bahwa para bebahu dan rakyat padukuhan itu seakan-akan telah

dijangkiti penyakit aneh. Semuanya orang-orang yang malas.

Tidak seorang pun di antara mereka yang sempat melihat jalan

keluar dari kemiskinan itu.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera

dapat menyahut. Bahkan Wijang masih saja berkata, “Seandainya

kami tidak mempunyai kepentingan yang lain, maka kami tidak

akan segera pergi, meskipun Ki Demang menghendaki. Aku akan

tinggal lebih lama lagi untuk mengajak orang-orang padukuhan

itu bangun dari tidur yang panjang meskipun selalu dibayangi

oleh mimpi buruk.”

Ki Demang menjadi gelisah. Sekilas ia memandang wajah

Wijang dan Paksi berganti-ganti.

Bahkan hampir di luar sadarnya, Ki Demang itupun bertanya,

“Siapakah kalian berdua sebenarnya?”

“Kami adalah dua orang bersaudara yang mengembara.

Bukankah kami sudah mengatakannya?”

“Aku percaya, bahwa kalian adalah pengembara. Tetapi yang

aku tanyakan, siapakah kedua orang yang mengembara itu?

Alasan pengembaraannya dan apakah tujuannya?”

“Sudahlah, Ki Demang. Tidak ada gunanya Ki Demang

mengetahui siapa kami. Yang penting, kami akan pergi dari

kademangan ini. Tetapi sekali lagi aku minta, jangan hentikan

kerja anak-anak muda itu. Semakin lama mereka menjadi

semakin tertarik dengan kerja mereka. Jumlah mereka pun

menjadi semakin banyak. Mudah-mudahan besok menjadi lebih

banyak lagi.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja

suaranya menjadi parau, “Aku merasa sangat bersalah, anakanak

muda.”

“Kenapa?”

“Aku tidak berbuat apa-apa terhadap padukuhan yang miskin

itu. Bahkan aku telah ikut serta menghimpit padukuhan itu agar

tetap menjadi miskin, meskipun setiap kali muncul juga

keinginanku untuk berbuat sesuatu yang berarti. Sebagai

seorang demang aku bermimpi agar padukuhan itu menjadi hijau

subur. Bahkan kadang-kadang terbersit pula niatku untuk

melakukan sesuatu. Tetapi setiap kali rencanaku terbentur oleh

kerakusanku sendiri. Setiap kali Ki Cakrajaya datang dengan

membawa sesuatu bagiku. Kemudian memperbaiki rumahku.

Membuat rumahku ini menjadi sebagus sekarang ini. Ki

Cakrajaya pula yang membawa seseorang untuk mewarnai ukiran

pada gebyok, tiang dan uleng di pendapa pringgitan itu. Bahkan

lama-lama aku menerima pemberian uangnya. Dengan demikian

aku telah terbelenggu.” Ki Demang itu berhenti sejenak.

Wajahnya nampak murung. Dengan suaranya yang parau iapun

berkata selanjutnya, “Namun semakin lama hal ini menjadi beban

perasaan yang semakin berat. Bahkan kemudian telah

menghimpitku. Aku tidak dapat mengatakannya kepada

rakyatku, terutama dari padukuhan miskin itu.”

Wijang dan Paksi saling berpandangan sejenak. Dengan nada

dalam Wijangpun berkata, “Ki Demang, masih ada waktu untuk

membetulkan kesalahan itu.”

Ki Demang tidak segera menjawab. Pandangan matanya

menerawang ke tempat yang jauh, menembus keremangan

malam.

“Apakah aku masih akan dapat memperbaiki kesalahanku?”

“Kenapa? Jika Ki Demang membantu kerja anak-anak muda

itu, maka Ki Demang sudah memperbaiki sebagian besar dari

kesalahan yang pernah Ki Demang lakukan.”

“Tetapi Ki Cakrajaya telah mengancamku. Ia akan membuka

rahasia itu.”

“Sebaiknya Ki Demang mengakuinya. Bahkan sebaiknya Ki

Demang mengatakan lebih dahulu kepada rakyat di daerah yang

miskin dan malas itu, bahwa Ki Demang memang telah

mengumpulkan uang dari mereka.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Sementara Wijangpun

berkata selanjutnya, “Ki Demang dapat berterus terang, bahwa Ki

Demang telah mendapat uang dan pemberian berbagai macam

barang dari Ki Cakrajaya yang asalnya justru dari kemiskinan di

padukuhan itu. Sekarang Ki Demang datang untuk

mengembalikannya kepada padukuhan yang miskin itu lewat

pembuatan parit untuk mengalirkan air dari gumuk kecil itu.”

“Ki Demang,” berkata Wijang kemudian, “biarlah besok lusa

aku pergi. Bukankah itu tuntutan sementara Ki Cakrajaya?

Sementara itu, biarlah Ki Bekel dan anak-anak mudanya

menyelesaikan talang air itu. Jika mereka sudah melihat bukti,

bahwa air dapat mengaliri sawah yang kering milik Mbah Rejeb,

maka mata rakyat padukuhan itu akan terbuka. Apalagi jika Ki

Demang sendiri turun ke padukuhan itu. Untuk itu Ki Demang

tidak perlu tergesa-gesa. Ki Demang perlu membuat perhitungan

yang tepat. Ki Demang dapat berbicara dengan Ki Bekel. Aku

yakin bahwa Ki Bekel itu dapat diajak berbicara. Satu-satunya

kelemahan Ki Bekel adalah kemalasannya itu.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. Yang

sekarang diinginkan oleh Ki Cakrajaya adalah kepergian kalian

berdua.”

“Ki Cakrajaya mengira, jika kami berdua pergi, maka kerja di

gumuk kecil itu akan berhenti dengan sendirinya. Tetapi setelah

Ki Bekel ikut campur, maka keadaannya akan berbeda.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Anak-anak muda

pengembara itu telah memberikan jalan baginya. Meskipun tidak

tepat benar, namun pendapat anak-anak itu dapat dipergunakan

untuk mempertimbangkan langkah-langkah yang akan

diambilnya.

Yang penting bagi Ki Demang, ia ingin terlepas dari belitan

suap yang pernah diberikan oleh Ki Cakrajaya.

Dengan nada berat Ki Demangpun kemudian berkata, “Aku

mengucapkan terima kasih, anak muda. Mudah-mudahan aku

menemukan jalan terbaik bersama Ki Bekel. Tetapi aku sudah

bertekad untuk membebaskan diri dari jeratan Ki Cakrajaya apa

pun akibatnya. Mungkin aku akan dipermalukan di depan orang

banyak. Bahkan mungkin akan berakibat buruk bagi jabatanku.

Tetapi aku sudah memutuskan.”

“Seandainya demikian, Ki Demang, bantuan Ki Demang bagi

saluran air itu akan mengembalikan nama baik Ki Demang.

Meskipun seandainya, jabatan Ki Demang sudah terlanjur

terlepas, namun nama Ki Demang tidak lagi tercemar.”

“Aku mengerti, anak muda. Tetapi tolong, jangan buka rahasia

ini. Biarlah pada saatnya aku sendiri yang mengatakannya

kepada rakyatku. Mudah-mudahan sepeninggal kalian berdua,

aku masih mempunyai waktu, karena tuntutan sementara Ki

Cakrajaya sudah terpenuhi.”

“Tentu, Ki Demang. Kami tidak akan mengatakannya kepada

siapapun. Juga tidak kepada Ki Bekel. Biarlah pada saat yang

tepat, Ki Demang sendiri yang menyampaikannya.”

“Terima kasih, anak muda. Kedatanganmu memberikan terang

di kademangan ini, khususnya di padukuhan miskin itu. “Ki

Demang itu berhenti sejenak, namun kemudian ia bertanya pula,

“Jika kalian tidak berkeberatan, apakah aku boleh tahu,

siapakah kalian berdua?”

“Itu tidak penting, Ki Demang. Barangkali ada sedikit dari niat

kami melakukan pengembaraan ini yang Ki Demang boleh

mengetahuinya. Kami melacak segerombolan orang yang lari dari

padepokannya. Kami mempunyai kepentingan dengan mereka.

Aku dengar, bahwa seorang perampok di sebuah padukuhan

mirip dengan ciri-ciri orang yang sedang kami lacak.”

“O. Kalian prajurit Pajang?”

Wijang menggeleng. Katanya, “Bukan, Ki Demang. Kami

mempunyai kepentingan khusus. Tetapi yang kami lakukan ini

sepengetahuan para pejabat di Pajang. Jika perlu, kami memang

dapat memanggil sepasukan prajurit untuk membantu tugas

kami.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Nampaknya ada sesuatu

yang tergerak di hatinya. Tetapi Ki Demang itu nampak ragu-ragu

untuk mengatakannya.

Wijang yang panggraitanya cukup tajam itupun berkata, “Ki

Demang, jika ada sesuatu yang ingin Ki Demang katakan,

katakanlah. Tidak apa-apa.”

Ternyata wibawa Wijang telah mencengkam jantung Ki

Demang. Tiba-tiba saja Ki Demang merasa bahwa ia harus

menghormati kedua orang pengembara itu. Bahkan Ki Demang

itu merasa seolah-olah ia berhadapan dengan pemimpinnya.

“Anak muda,” berkata Ki Demang kemudian, “jika aku

mengalami kesulitan, apakah kalian dapat membantu?

Maksudku, jika terjadi kekerasan yang dilakukan oleh Ki

Cakrajaya. Ia mempunyai beberapa orang upahan yang akan

dapat menakut-nakuti orang sekademangan.”

“Tentu, Ki Demang. Tetapi jika aku tidak berada di

kademangan ini, tentu aku tidak mengetahui kapan Ki Demang

itu mengalami kesulitan. Namun aku akan berusaha pada

kesempatan lain datang lagi ke kademangan ini.”

Ki Demang itupun mengangguk-angguk.

Sementara itu Wijangpun berkata selanjutnya, “Untuk

mengatasi orang-orang upahan Ki Cakrajaya, Ki Demang dapat

berbicara dengan para bebahu. Jika tiba saatnya Ki Demang

berterus-terang, hadapi mereka dengan Ki Bekel di padukuhan

yang terpencil itu.”

“Ya, anak muda. Aku akan melakukannya di saat yang tepat,”

berkata Ki Demang sambil menundukkan wajahnya. Agaknya

penyesalan yang dalam telah menekan perasaannya.

Beberapa saat mereka saling berdiam diri. Wijanglah yang

kemudian berkata, “Ki Demang, kami datang memenuhi

kesanggupan kami untuk datang hari ini. Kami juga ingin

memberitahukan bahwa kami akan meninggalkan kademangan

ini besok lusa. Agaknya kami tidak sempat datang lagi untuk

minta diri kepada Ki Demang. Karena itu, maka kedatangan kami

sekarang sekaligus untuk minta diri.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Aku berjanji

untuk sekedar memberikan kenang-kenangan kepada kalian

berdua. Sebenarnyalah jika hal itu aku katakan kemarin, karena

aku ingin kalian segera pergi dari kademangan ini. Ki Cakrajaya

mendesaknya dan mengancam akan membuka rahasiaku jika

aku tidak melakukannya.”

“Keinginan Ki Cakrajaya itu akan terpenuhi. Aku hanya

menunda sehari saja. Ia tidak akan berkeberatan.”

“Kenang-kenangan ini juga disediakan oleh Ki Cakrajaya.

Tetapi sebenarnya aku merasa segan untuk mengatakannya

setelah aku mengenal kalian lebih banyak.”

“Apakah ujud kenang-kenangan itu, Ki Demang?”

“Uang. Dan tidak seberapa. Ki Cakrajaya selalu menilai segala

sesuatunya dengan uang. Ia telah meninggalkan beberapa keping

uang yang menurutnya sangat kalian perlukan di perjalanan.”

Wijang tersenyum. Katanya, “Aku mengucapkan terima kasih,

Ki Demang. Tetapi biarlah aku titipkan uang itu kepada Ki

Demang. Barangkali uang itu akan dapat membantu kerja anakanak

muda di padukuhan yang miskin itu. Mungkin untuk

membeli beras atau sayuran dan lauknya. Mungkin hanya cukup

untuk satu hari. Tetapi yang satu hari itu akan sangat berarti

untuk menebalkan tekad kerja mereka. Meskipun selama ini Ki

Bekel menyatakan kesanggupannya untuk menyediakan makan

bagi mereka yang bekerja. Tetapi jika yang bekerja menjadi

semakin banyak serta untuk waktu yang panjang, maka Ki Bekel

akan mengalami kesulitan. Apalagi nampaknya Ki Bekel sendiri

bukan seorang yang berkecukupan.”

“Baik, anak muda. Sekali lagi aku berterima kasih. Aku yakin

bahwa di dalam pengembaraan kalian, kalian tidak akan

kekurangan bekal. Bukan saja uang yang disediakan oleh Ki

Cakrajaya itu saja. Aku pun akan dapat membantu Ki Bekel.

Mungkin aku mempunyai beras lebih banyak dari Ki Bekel. Aku

pun mempunyai uang lebih banyak. Di antaranya adalah uang

pemberian Ki Cakrajaya itu.”

“Dengan demikian kami menjadi semakin berpengharapan,

bahwa air itu pada saatnya akan mengalir. Padukuhan itu akan

menjadi lebih hijau dan sebagian besar dari sawah yang ada di

padukuhan itu akan dapat ditanami di sepanjang musim.

Sedikitnya panen dua kali setahun dan satu selingan palawija.

Sementara itu, mereka yang sawahnya tidak sempat dialiri

karena keadaan alam yang belum teratasi, setidak-tidaknya akan

dapat bekerja dan membantu tetangganya yang karena nasibnya

yang lebih baik, sawahnya menjadi basah. Di musim panen

mereka dapat ikut menuai padi dengan bawon yang pantas untuk

menyambung hidup mereka dari musim paceklik ke musim yang

lebih baik.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan

bukan sekedar harapan, anak muda.”

“Baiklah,” berkata Wijang kemudian, “aku dan adikku minta

diri. Besok lusa kami akan meninggalkan padukuhan kering itu.

Namun aku minta ijin untuk bertemu dengan Ki Bekel dari

padukuhan yang telah mengalami perampokan itu.”

“Apakah Ki Bekel itu harus aku panggil sekarang?”

“Bukankah ia tinggal di padukuhan lain?”

“Tidak apa-apa. Jika perlu, aku akan memanggilnya. Biarlah

pembantuku pergi ke rumah Ki Bekel.”

“Terima kasih, Ki Demang. Biarlah besok lusa, dalam

perjalananku meninggalkan kademangan ini, aku akan singgah.

Jika Ki Demang memanggil Ki Bekel untuk kepentingan kami

para pengembara, mungkin Ki Bekel akan merasa tersinggung

meskipun yang memanggil Ki Demang. Bahkan mungkin dapat

menimbulkan pertanyaan yang tidak Ki Demang inginkan

sehubungan dengan rencana Ki Demang untuk membuka diri

pada waktu yang Ki Demang anggap tepat.”

Ki Demang mengangguk pula. Katanya, “Baiklah, anak muda.

Silahkan besok menemui Ki Bekel. Tetapi karena Ki Bekel

agaknya tidak tahu siapakah sebenarnya kalian, ia akan

menganggap bahwa kalian adalah pengembara sebagaimana

kebanyakan pengembara. Mungkin sikapnya akan mengecewakan

kalian.”

“Bukankah kami juga pengembara sebagaimana pengembara

yang lain? Mungkin pertanyaan kami tentang sekelompok orang

yang merampok di padukuhan Ki Bekel itu akan dapat membuka

pengenalan Ki Bekel terhadap kami, sehingga kami adalah dua

orang pengembara yang mempunyai kepentingan yang khusus.”

“Ya, anak muda. Mudah-mudahan usaha kalian dapat

berhasil. Meskipun aku tidak tahu pasti, persoalan apa yang

sebenarnya telah terjadi, tetapi aku justru yakin, bahwa kalian

adalah bagian dari pimpinan pemerintahan di Pajang.”

Wijang tersenyum. Sementara Ki Demangpun berkata

selanjutnya, “Jika kalian adalah dua orang kakak beradik yang

mengembara sebagaimana para pengembara yang lain, kalian

tidak akan tertarik kepada kemiskinan di padukuhan kering itu.

Kalian tidak akan menurunkan gagasan yang sangat berani bagi

padukuhan itu.”

Wijang tersenyum. Katanya, “Sudahlah. Kita akan saling

berdoa, semoga yang kita lakukan itu akan mendapat bimbingan

dari Yang Maha Agung.”

“Ya, anak muda. Kita akan saling berdoa.”

Demikianlah, beberapa saat kemudian, Wijang dan Paksipun

minta diri untuk kembali ke rumah Ki Bekel sekaligus minta diri

bahwa esok lusa mereka akan melanjutkan pengembaraan

mereka.

Ketika mereka sampai di rumah Ki Bekel di padukuhan yang

miskin itu, Ki Bekel sudah berada di biliknya. Ki Bekel memang

ingin segera tidur agar besok dapat bangun pagi-pagi.

Wijang dan Paksi tidak berusaha menemuinya. Ketika mereka

melihat di ruang dalam lampu sudah menjadi redup, maka

merekapun langsung pergi ke bilik mereka di gandok.

“Apakah Ki Bekel tidur tanpa mandi lebih dahulu?” desis

Paksi.

“Ah, tentu tidak. Bukankah kita agak lama berbincang di

rumah Ki Demang,” sahut Wijang.

Ketika keduanya membuka pintu bilik mereka di gandok,

mereka tertegun. Mereka melihat di dalam bilik mereka telah

tersedia makan malam mereka. Agaknya Ki Bekel sudah terlalu

lama menunggui, sehingga akhirnya Ki Bekel itu makan lebih

dahulu sebelum pergi ke bilik tidurnya.

“Kita memang belum makan malam,” desis Wijang.

Paksi mengangguk-angguk. Iapun kemudian duduk di amben

panjang sambil meraih mangkuk untuk menyendok nasi

sebagaimana Wijang.

“Kita cuci mangkuknya di sumur saja sambil mencuci kaki

dan tangan,” berkata Paksi.

“Yang lain? Mangkuk yang masih berisi sayur serta ceting

nasinya yang masih tersisa?”

“Biarlah di situ saja.”

Keduanyapun kemudian pergi ke sumur untuk mencuci

mangkuk, sekaligus mencuci kaki dan tangan mereka.

Seperti biasanya keduanya bangun pagi-pagi sekali. Tetapi

hari itu, Ki Bekelpun bangun lebih pagi. Meskipun demikian

ketika Ki Bekel pergi ke pakiwan, Paksi yang sedang menimba air

itu ternyata sudah mandi lebih dahulu.

“Jadi hari ini aku masih kalah lagi,” berkata Ki Bekel.

Paksi tertawa. Katanya, “Ki Bekel harus berpacu lebih cepat

untuk dapat mengalahkan kami.”

“Dengan demikian, maka aku sudah tidak mempunyai

kesempatan lagi untuk memenangkannya. Aku tidak yakin bahwa

besok pagi, aku dapat bangun lebih pagi. Kecuali jika kalian

sengaja bangun lebih siang dan tidak segera berangkat.”

Paksi masih saja tertawa. Katanya, “Apakah kami harus

memberi satu kesempatan pada hari kami yang terakhir?”

Ki Bekelpun tertawa pula.

Setelah selesai berbenah diri serta makan pagi, maka

ketiganyapun telah berangkat ke gumuk kecil. Kepada Nyi Bekel,

Ki Bekelpun berpesan, “Jika ada orang mencari aku, biarlah Ki

Kamituwa menyelesaikan masalahnya, kecuali masalah pribadi.

Hanya jika persoalannya tidak terpecahkan, biarlah Ki Kamituwa

menyusul aku ke gumuk kecil.”

“Baik, Ki Bekel,” jawab Nyi Bekel.

Ternyata ketiganya sampai ke gumuk kecil lebih pagi sedikit

dari sehari sebelumnya. Mereka datang hampir bersamaan

dengan kedatangan Trima dan dua orang anak muda yang lain.

Baru kemudian yang lain menyusul.

Sebagaimana harapan Wijang dan Paksi, ternyata yang datang

menjadi lebih banyak lagi. Dua orang anak muda yang

sebelumnya tidak nampak, pagi itu datang bersama kawankawannya

ke gumuk kecil itu.

“Selamat datang,” berkata Ki Bekel. “Di sini kita sedang

membangunkan sebuah harapan. Berhasil atau tidak, itu

persoalan nanti. Yang penting kita sudah berbuat sesuatu dengan

pertimbangan dan perhitungan yang mapan. Bukan asal saja

melakukan sesuatu yang mungkin sia-sia. Jika yang kita

kerjakan ini juga sia-sia dan harapan kita terlepas, apaboleh

buat. Itu berarti bahwa otak kita masih belum cukup tajam

untuk merencanakan kerja yang dapat menjanjikan hari depan

yang lebih baik. Meskipun demikian, kita sudah mendapatkan

satu pengalaman yang akan dapat kita kembangkan di kemudian

hari.”

Kedua orang anak muda yang baru datang itu mengangguk.

Seorang di antaranya berkata, “Aku mohon maaf, Ki Bekel.

Bahwa aku telah terlambat mengambil bagian dalam kerja ini.

Meskipun mungkin tenaga dan kemampuan kami tidak berarti

apa-apa, tetapi kesediaan kami untuk ikut, merupakan

kepedulian kami terhadap kampung halaman kita.”

“Tidak ada yang terlambat. Yang datang kemudian pun tidak

terlambat. Kerja masih panjang. Mungkin masih satu dua musim

lagi sebelum kita benar-benar menikmati hasilnya. Tetapi jika

kerja tidak dimulai, maka yang dua musim itupun tidak akan

pernah datang sampai anak cucu kita sekalipun.”

“Ya, Ki Bekel. Kami mengerti.”

“Nah, sekarang setelah beristirahat sebentar, maka kita akan

mulai dengan kerja kita hari ini.”

Anak-anak muda itupun segera bangkit. Seperti hari-hari

sebelumnya, merekapun segera mulai dengan kerja mereka. Yang

akan mereka lakukan pada hari itu adalah menyelesaikan satu

jalur talang air lebih dahulu.

Seperti di hari sebelumnya, maka rasa-rasanya kerja itu

menjadi semakin menarik. Tidak lagi terasa ada ketegangan dan

keterpaksaan. Bahkan ada di antara anak-anak muda itu yang

bekerja sambil berdendang. Suaranya memanjat naik gumukgumuk

kecil di kaki gunung itu.

Ketika panas matahari terasa mengusik kulit mereka, maka

merekapun mulai bermain-main dengan air yang menyusup

keluar dari celah-celah batu padas yang lumutan dan licin.

Betapa segarnya.

Ketika matahari naik sepenggalah, maka Wijang dan Paksipun

segera mengajak kawan-kawannya untuk memasang talang

bambu yang sudah mereka persiapkan untuk satu jalur lebih

dahulu.

Demikianlah, maka anak-anak muda itupun telah mengusung

bambu-bambu yang sekat ruasnya sudah dihilangkan, diletakkan

membujur panjang dari gumuk itu sampai ke bulak padukuhan

mereka. Di ujung bulak, pada jarak yang terdekat, terdapat

sekotak sawah Mbah Rejeb yang kering. Tanahnya nampak

pecah-pecah karena kepanasan oleh terik matahari di musim

panas.

Ternyata kerja itu benar-benar kerja yang berat. Keringat

anak-anak muda itu telah membasahi pakaian mereka. Beberapa

orang di antara mereka bahkan telah membuka baju mereka.

Untuk melindungi panas matahari, mereka mengenakan caping

bambu yang lebar.

Demikian bambu itu sudah ditempatkan di sepanjang jarak

yang diperlukan, maka merekapun bersama-sama telah

menyambung bambu-bambu itu. Sementara yang lain telah

memasang tiang-tiang bambu pendek untuk mengatur ketinggian

talang itu.

Kerja yang berat itu justru menjadi sangat menarik. Tidak

seorang pun di antara mereka yang mengeluh.

Kerja itu dihentikan pada saat matahari tepat mencapai

puncaknya. Dengan lantang Wijangpun berkata, “Beristirahatlah.

Matahari berada tepat di puncak langit. Nanti, kita akan

melanjutkannya lagi.”

Sementara itu, dua orang perempuan telah datang sambil

membawa gendi berisi wedang sere yang sudah dingin, bakul

berisi nasi serta sayur dan sekedar lauknya, bothok mlandingan

yang bahannya dapat dicari di kebun sendiri, dan kelapa dan

buah mlandingan.

Seperti sebelumnya, maka Ki Bekelpun ikut makan pula

bersama anak-anak muda itu. Sebagaimana anak-anak muda itu

pula, maka Ki Bekelpun makan dengan lahapnya. Oleh kerja yang

berat, terik matahari yang menyengat serta memang sudah

waktunya, maka perut mereka memang terasa lapar. Apalagi

mereka yang tidak sempat makan pagi di rumah. Mungkin karena

waktu yang terlalu pagi sehingga orang tuanya belum sempat

menanak nasi, apalagi membuat sayur, tetapi ada pula yang

memang tidak tersedia bahan untuk menyiapkan makan pagi.

Setelah makan siang, maka merekapun mendapat kesempatan

untuk beristirahat sejenak. Ada di antara mereka yang dudukduduk

di atas batu di pinggir kolam yang mereka buat untuk

menampung air. Ada yang duduk bersandar pepohonan sambil

terkantuk-kantuk oleh silirnya angin. Bahkan ada di antara

mereka yang benar-benar tertidur nyenyak di bawah sebatang

pohon yang rindang. Demikian saja mereka berbaring di atas

rerumputan.

Ki Bekel, Wijang dan Paksi duduk di atas setumpuk bambu

yang masih sedang digarap untuk dihilangkan sekat ruasnya.

Sedangkan Ki Bekel sempat juga berbaring di bawah bayangan

dedaunan yang lebat. Bajunya dibukanya di bagian dadanya

sambil dikipasi dengan caping bambunya.

Seperti hari sebelumnya, mereka beristirahat beberapa lama.

Wijang dan Paksi dengan sengaja tidak mendekati Ki Bekel agar

mereka tidak mempunyai kesempatan untuk berbicara tentang

sikap Ki Demang yang masih harus menyembunyikan cacatnya

sampai waktu yang dianggapnya tepat.

Ketika matahari sudah sedikit melewati puncak, maka Wijang

dan Paksipun telah bangkit berdiri. Didekatinya Ki Bekel yang

masih berbaring sambil mengipasi dadanya dengan caping

bambunya.

“Kita mulai lagi, Ki Bekel.”

Ki Bekel tidak ingin bermalas-malasan lagi. Iapun segera

bangkit sambil berkata, “Baik. Baik. Kita akan mulai lagi.”

Demikianlah, maka derap kerja yang semakin menarik bagi

anak-anak muda itu telah dimulai lagi. Wijang dan Paksi bersama

beberapa orang telah menyambung bambu yang satu dengan

bambu berikutnya.

Kerja itu memang membutuhkan ketelatenan. Sementara itu,

matahari bergerak terus di putaran langit yang cerah. Tidak

selembar awan pun yang nampak bergerak di udara. Di sebelah

utara nampak segumpal kecil awan berlabuh di cakrawala.

Keringat telah membasahi seluruh tubuh anak-anak muda

yang bekerja di bawah teriknya matahari. Yang tidak berbaju,

kulitnya menjadi semakin kelam, berkilat-kilat seakan-akan

berminyak.

Wijang, Paksi dan beberapa anak muda masih sibuk

menyambung bambu yang satu dengan yang lainnya dengan hatihati

agar air tidak terlalu banyak terbuang.

Adalah wajar jika talang air itu di beberapa tempat merembes

dan bahkan menitik. Tetapi jangan terlalu banyak, sehingga air

yang mengalir di talang itu tetap sampai di sasaran.

Sementara itu, Wijang dan Paksi masih harus mengatur

ketinggian talang bambu itu agar air dapat mengalir dengan

lancar, tetapi tidak tumpah ruah lewat lubang-lubang pada setiap

ruasnya. Lubang-lubang yang dibuat untuk menghilangkan

sekat-sekat pada ruas bambu itu.

Ternyata kerja itu tidak dapat dipaksakan untuk segera

selesai. Meskipun anak-anak muda yang ada di gumuk kecil itu

semuanya ikut menanganinya. Ketinggian talang itu harus benarbenar

diperhitungkan, sehingga tiang-tiang bambu yang pendek

itupun harus diukur satu demi satu.

Sekali-sekali Wijang minta mulut talang dibuka agar dapat

dipastikan air tidak tumpah atau bahkan mengalir ke arah yang

berlawanan.

Namun mulut talang itupun kemudian ditutup kembali.

Meskipun kemudian matahari menjadi semakin rendah,

namun tidak seorang pun di antara anak-anak muda itu yang

berniat menghentikan pekerjaan sebelum selesai. Bahkan

bayangan senjapun mulai membayang. Cahaya matahari menjadi

semakin redup.

Sementara itu, Wijang dan Paksipun telah memasang bambu

terakhir pada ujung talang yang sampai di kotak sawah Mbah

Rejeb yang kering itu.

Sambil meletakkan ujung bambu itu pada patok terakhir,

maka Wijangpun berkata, “Trima, buka mulut talang itu.”

Trimapun segera berlari. Seorang kawannya mengikutinya

untuk membantu meletakkan mulut talang di tempat yang sudah

disiapkan.

Dengan nafas terengah-engah, Trima bersama seorang

kawannyapun segera memasang mulut talang itu. Demikian air

mulai masuk ke dalam talang, maka Trima dan kawannyapun

berlari kembali ke sawah Mbah Rejeb.

Nafas mereka hampir terputus. Mereka harus berlari lebih

cepat dari ujung aliran air di sepanjang talang itu.

Sebelum mereka sampai di kotak sawah Mbah Rejeb, Trima

sudah berteriak, “Air sudah mengalir.”

Wijang, Paksi, Ki Bekel dan anak-anak muda itu menjadi

tegang. Mereka menunggu dengan penuh harapan agar air lewat

talang itu dapat mengalir ke kotak sawah Mbah Rejeb.

Demikian Trima dan kawannya sampai, maka airpun telah

tertumpah dari ujung talang bambu itu. Air yang jernih dari

semacam kolam penampungan air yang dibuat oleh anak-anak

muda itu pula.

Orang-orang yang menyaksikan titik air yang pertama

tertumpah itupun bersorak dengan gembiranya. Beberapa orang

anak muda saling berpelukan. Ki Bekelpun segera menepuk bahu

Wijang dan Paksi sambil berkata, “Kami berhutang budi kepada

kalian berdua.”

“Kita sudah melakukan bersama-sama, Ki Bekel.”

“Tetapi kalianlah yang menurunkan gagasan tentang

penyaluran air itu. Kalian berdualah yang telah memaksa kami

untuk meninggalkan kemalasan kami. Tanpa harapan yang

kalian tiupkan, kami tidak akan mampu bangkit. Bahkan

mungkin sampai anak cucu. Apalagi ketamakan Ki Cakrajaya dan

anaknya Wandawa itu selalu membayangi kami. Ki Demang pun

sama sekali tidak membantu kami dengan cara apapun juga

selain sesekali memberikan peringatan tentang musim kering

yang terasa terlalu panjang di padukuhan kami.”

“Tetapi sekarang Ki Bekel dan anak-anak muda padukuhan

ini sudah bangun.”

“Ya,” berkata Ki Bekel sambil mengangguk-angguk.

Beberapa saat lamanya mereka mengamati air yang mengalir

dari talang bambu itu. Meskipun hanya satu lajur, namun

arusnya cukup deras, sehingga anak-anak muda itu bersamasama

telah mandi di pancuran talang air yang hanya selajur itu.

Namun Wijang dan Paksi telah memperingatkan, bahwa

bambu itu masih baru. Mungkin di dalam aliran air itu masih

terbawa gelugut yang dapat membuat kulit mereka menjadi gatal.

Tetapi oleh kegembiraan yang meluap, anak-anak muda itu

tidak menghiraukannya.

Karena itu, maka Paksipun berkata kepada mereka, “Nanti, di

rumah kalian harus mandi sekali lagi dengan air sumur agar

kalian tidak menjadi gatal-gatal sehingga semalam kalian tidak

dapat tidur. Jika kalian tidak dapat tidur, maka besok kalian

akan terlambat datang.”

“Baik,” jawab salah seorang di antara mereka, “nanti kami

akan mandi lagi di rumah.”

Wijang dan Paksi memandang kegembiraan itu sambil

tersenyum. Wijangpun kemudian berbisik kepada Ki Bekel, “Tiang

penyangga talang itu tidak perlu setinggi orang, Ki Bekel. Tetapi

dapat lebih rendah lagi. Jika kali ini kita pasang agak tinggi, agar

langsung dapat dilihat aliran air yang tumpah lewat talang

bambu itu. Kami pun sudah mengira, bahwa anak-anak itu akan

dengan gembira mandi dari aliran air yang melewati talang itu.”

Ki Bekelpun tersenyum. Katanya, “Biarlah mereka

menumpahkan kegembiraan itu.”

Beberapa saat lamanya Ki Bekel, Wijang dan Paksi menunggu.

Baru setelah anak-anak itu puas saling berdesakan mandi dari

air pancuran yang tertuang lewat talang bambu itu, merekapun

bersiap-siap untuk pulang.

Hari itu mereka terlambat pulang. Langit sudah menjadi

muram. Senja telah turun.

Ki Bekel, Wijang dan Paksi berjalan menyusuri pematang

menuju ke padukuhan. Sementara itu, anak-anak muda yang

masih basah, bukan saja tubuhnya, tetapi sebagian juga

pakaiannya, sudah berlari-lari mendahului pulang. Mereka ingin

segera memberitahukan kepada Mbah Rejeb, bahwa air sudah

mengalir sampai ke kotak sawahnya di ujung bulak yang selama

musim kemarau menjadi kering dan bahkan seakan-akan telah

pecah-pecah sampai ke lapisan di bawahnya.

Mbah Rejeb yang baru duduk-duduk di serambi depan

rumahnya terkejut melihat anak-anak muda yang datang berlarilari

memasuki halaman rumahnya yang tidak terlalu luas.

“Ada apa?” bertanya Mbah Rejeb.

Trimalah yang menjawab, “Air sudah mengalir, Mbah. Air dari

gumuk kecil itu.”

“He?” Mbah Rejeb dengan serta-merta bangkit berdiri.

“Air sudah mengalir, meskipun baru satu talang air yang siap.

Besok kami akan membuat beberapa talang air. Kami akan

membuktikan bahwa air dari gumuk itu dapat mengairi sawah

kita yang hanya basah di musim hujan. Jika hujan terlambat,

maka paceklik akan berkepanjangan. Bahkan kadang-kadang

kita hanya sempat makan dedaunan yang menjadi semakin

menyusut.”

Mbah Rejeb itupun dengan serta-merta berkata, “Marilah. Aku

akan melihatnya.”

Ternyata Trima dan kawan-kawannya tidak berkeberatan

untuk mengantar Mbah Rejeb pergi ke ujung bulak.

Ketika Mbah Rejeb dan anak-anak muda itu keluar dari regol

halaman rumahnya yang sederhana, mereka berpapasan dengan

Ki Bekel, Wijang dan Paksi.

“Kalian akan pergi kemana?” bertanya Ki Bekel.

“Mbah Rejeb ingin melihat air yang sudah mengalir itu.”

Ki Bekel tersenyum. Katanya, “Baiklah. Antar Mbah Rejeb.

Hati-hati, gelap sudah turun.”

“Apakah anak-anak ini tidak membual, Ki Bekel?”

“Tidak, Uwa. Mereka berkata sebenarnya. Air memang sudah

mengalir.”

Mbah Rejeb itupun kemudian di antar oleh anak-anak muda

pergi ke sawahnya. Orang tua itu berjalan dengan cepat di paling

depan. Sementara itu anak-anak mudapun mengikutinya di

belakang.

Ki Bekel, Wijang dan Paksi tersenyum melihat Mbah Rejeb

yang tua itu masih mampu berjalan begitu cepat, sehingga ada di

antara anak-anak muda yang harus berlari-lari kecil.

“Apakah Ki Bekel tidak pergi ke sawah?” bertanya salah

seorang di antara anak-anak muda itu.

Ki Bekel menggeleng. Katanya, “Kalian sajalah yang pergi. Aku

akan beristirahat.”

Meskipun malam sudah turun, tetapi Mbah Rejeb yang sudah

terbiasa menyusuri pematang sawah, masih saja berjalan dengan

cepat. Apalagi kotak-kotak sawah itu tidak ditumbuhi tanaman

apapun. Tanahnya yang kering tidak memungkinkan tanaman

dapat tumbuh dengan baik dan menjanjikan panenan yang

memadai. Sehingga karena itu, maka bulak itupun nampaknya

seperti sebuah padang yang kerontang.

Beberapa saat kemudian, merekapun telah sampai di kotak

sawah Mbah Rejeb yang menjadi berdebar-debar. Ia mendengar

gemericik air seperti air yang mengalir dari sebuah pancuran.

“Air. Itu suara air,” desis Mbah Rejeb.

“Ya, Mbah. Itu suara air.”

Mbah Rejeb yang tua itupun kemudian berlari-lari kecil. Ia

tidak lagi menyusuri pematang. Tetapi Mbah Rejeb itu berlari

melintasi kotak-kotak sawah yang kering.

Ketika ia sampai di sawahnya, tiba-tiba saja terasa kakinya

menginjak tanah yang basah. Di hadapannya, talang air mengalir

seperti sebuah pancuran menumpahkan air tanpa henti.

“Ini baru satu lajur, Mbah. Besok kami akan membuat lima

lajur atau lebih. Meskipun air itu belum mencukupi untuk

mengairi beberapa kota sawah, tetapi kami sudah membuktikan,

bahwa jika kita mau, kita akan dapat mendapatkan air itu di

segala musim. Tidak hanya di musim basah menunggu hujan

turun.”

Mbah Rejeb itu menjadi begitu gembira sehingga seperti anakanak

muda yang melihat air mulai mengalir di talang bambu itu,

maka dengan pakaian yang dipakainya Mbah Rejeb itu

berjongkok di bawah air yang mengalir seperti pancuran itu.

“Alangkah segarnya,” desis Mbah Rejeb. Seteguk air masuk ke

dalam mulutnya dan bahkan tertelan pula.

Anak-anak muda itu membiarkan Mbah Rejeb berjongkok

beberapa saat di bawah pancuran. Sementara itu, ada juga di

antara anak-anak muda itu yang pakaiannya masih juga basah.

“Kalian luar biasa,” berkata Mbah Rejeb setelah berdiri. “Air

ini akan membasahi kotak sawahku ini. Tetapi jika kita berhasil

membuat parit, maka seluruh bulak ini akan basah.”

“Itulah yang kami inginkan, Mbah.”

“Nah. Biarlah orang banyak mengetahui apa yang terjadi ini.

Aku akan menemui tetangga-tetangga kita dan berceritera

tentang air ini.”

“Jangan sekarang, Mbah. Kita buat mereka terkejut. Biarlah

air menggenang lebih dahulu. Sementara itu, kami akan

membuat jalur-jalur berikutnya. Empat atau lima jalur lagi.

Biarlah mereka melihat air agak banyak, sehingga mereka

mempunyai gambaran yang lebih baik tentang perlunya sebuah

parit.”

“Sebenarnya kita sudah mempunyai parit,” berkata anak

muda yang lain. “Kita tinggal mengalirkan air dari gumuk kecil

itu.”

“Parit itu harus diperbaiki lebih dahulu.”

“Ya. Di sana-sini tanggulnya sudah koyak. Bahkan beberapa

puluh langkah di sebelah simpang tiga itu sudah tertimbun

tanah.”

“Jika parit itu sudah diperbaiki, maka kita tinggal membuat

parit dari gumuk kecil itu dan kita tumpahkan ke dalam parit

kita. Air itu sudah akan mengalir ke seluruh bulak ini,” berkata

Trima.

“Kita akan mengerjakannya.”

“Kita, seluruh padukuhan. Laki-laki dan perempuan,” berkata

Mbah Rejeb.

Namun akhirnya Mbah Rejeb itupun menjadi kedinginan.

Tubuhnya bergetar dan giginyapun gemeretak. Bukan karena

marah, tetapi karena pakaiannya yang basah.

Tetapi Mbah Rejeb itu masih tertawa. Katanya, “Nah, marilah

kita pulang. Aku sudah kedinginan.”

Anak-anak muda itupun kemudian mengikuti Mbah Rejeb

yang pulang ke rumahnya. Ketika Mbah Rejeb itu memasuki regol

halaman, Trimapun berkata, “Jangan disebarluaskan dahulu,

Mbah. Kita akan mengejutkan tetangga-tetangga kita.”

“Kau kira kawan-kawanmu dapat menyembunyikan rahasia

ini?”

“Kita berusaha.”

“Jika tidak dapat?”

“Apaboleh buat. Tetapi setidak-tidaknya kita sudah mulai

mengerjakan jalur-jalur yang lain.”

“Nanti malam kawan-kawanmu sudah menceriterakan kepada

ayah dan ibunya. Kepada kakek dan neneknya. Ayah, ibu, kakek

dan nenek itu esok pagi-pagi sudah menceriterakannya kepada

tetangga-tetangganya. Mungkin di simpang-simpang jalan.

Mungkin di pasar, mungkin di mana saja mereka saling bertemu

dengan tetangga-tetangganya itu.”

Trima tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan kita dapat

menahan diri.”

“Baiklah. Aku akan mencobanya juga,” berkata Mbah Rejeb.

Sejenak kemudian, maka anak-anak itupun segera minta diri.

Sementara Mbah Rejeb itupun langsung pergi ke pakiwan sambil

membawa ganti pakaian.

“Kau kenapa, Ki?” bertanya isterinya yang juga sudah tua.

“Tidak apa-apa,” jawab Mbah Rejeb.

“Pakaianmu basah kuyup.”

“Aku tergelincir di sungai. Untung kepalaku tidak membentur

batu.”

Nyi Rejeb itupun menyahut, “Lain kali hati-hatilah, Ki. Orang

yang sudah setua Ki Rejeb sebaiknya jangan pergi ke sungai

setelah gelap.”

“Perutku sakit, Nyi. Aku tidak dapat menunggu sampai esok.”

Nyi Rejeb tidak menyahut lagi. Sementara itu Ki Rejeb telah

hilang di pintu belakang.

Dalam pada itu, selagi anak-anak muda padukuhannya

berbesar hati oleh keberhasilan mereka, Ki Cakrajaya telah pergi

menemui Ki Demang.

“Ternyata kedua orang pengembara itu belum juga pergi, Ki

Demang. Orangku masih melihat keduanya bekerja bersamasama

anak-anak muda di dekat gumuk kecil itu.”

“Aku sudah menemui mereka, Ki Cakrajaya. Aku sudah minta

agar mereka pergi. Mereka hanya boleh tinggal di sini sampai hari

ini.”

“Hari ini mereka harus sudah pergi.”

“Bukan hari ini mereka sudah harus pergi. Menurut

pendengaranku, Ki Cakrajaya menetapkan bahwa mereka berdua

tidak boleh lebih dari hari ini berada di kademangan ini.”

“Tidak. Maksudku, selambat-lambatnya hari ini mereka harus

sudah meninggalkan kademangan ini.”

“Bukankah hanya berselisih satu hari? Besok mereka akan

pergi. Akulah yang menentukan hari kepergian mereka. Aku juga

sudah memberikan apa yang Ki Cakrajaya maksudkan dengan

kenang-kenangan yang berupa uang. Mereka mengucapkan

terima kasih atas pemberian Ki Cakrajaya itu. Merekapun akan

menepati perintahku untuk pergi esok pagi.”

Ki Cakrajaya mengerutkan dahinya. Dengan nada berat iapun

berkata, “Baiklah, Ki Demang. Aku akan menunggu. Jika esok

mereka belum pergi, maka aku tidak akan dapat bersabar lagi.

Aku akan membuka rahasia Ki Demang. Ki Demang akan dapat

kehilangan kedudukan.”

“Tetapi aku tidak merugikan padukuhan-padukuhan lain, Ki

Cakrajaya. Aku hanya merugikan satu padukuhan.”

“Tidak, Ki Demang. Ki Demang juga menyalurkan hasil bumi

dari beberapa padukuhan hanya kepadaku. Ki Demang juga telah

menempatkan aku dalam jajaran tertinggi orang-orang yang

berpengaruh di kademangan ini. Semuanya itu Ki Demang

lakukan, karena aku telah menyuap Ki Demang.”

Ki Demang tidak menjawab. Tetapi ia sudah berjanji di dalam

dirinya, bahwa pada saat yang tepat, ia akan membuka cacat

yang melekat pada dirinya itu, terutama di hadapan para

penghuni padukuhan yang miskin itu. Perasaan bersalah bahwa

ia tidak berbuat sesuatu, bahkan justru menghambat

pembaharuan di padukuhan itu, akhirnya telah menjadi beban

baginya. Hampir setiap hari terjadi gejolak di dalam dirinya.

Kadang-kadang keinginannya untuk berbuat sesuatu itu begitu

kuat. Namun kemudian pupus karena ia tidak akan dapat

melakukannya. Pemberian Ki Demang itu telah membelenggunya,

sehingga pada suatu saat terasa, bahwa ia tidak akan kuat lagi

mengusung beban yang diletakannya sendiri di pundaknya.

“Ki Demang,” berkata Ki Cakrajaya kemudian, “aku minta diri.

Aku akan melihat, apakah esok siang orang-orangku masih dapat

melihat kedua orang itu.”

“Jangan besok siang, Ki Cakrajaya. Besok sore.”

Ki Cakrajaya mengerutkan dahinya. Katanya, “Ya. Besok sore.”

Sepeninggal Ki Cakrajaya, Ki Demang duduk sendiri di

pringgitan. Jantungnya masih saja terasa bergejolak. Ia tidak

dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atas dirinya, jika ia

berterus-terang kepada orang-orang yang tinggal di padukuhan

yang miskin itu, dan yang bahkan dijaga agar tetap miskin untuk

seterusnya. Jika Ki Demang berhasil mempertahankan

kemiskinan itu sampai keturunan berikutnya, maka padukuhan

itu tidak akan pernah dapat bangkit. Sehingga dengan demikian,

keturunan Ki Cakrajaya akan tetap dapat memanfaatkan

kemiskinan itu untuk keinginannya.

Dalam pada itu, betapapun gembiranya anak-anak muda yang

telah berhasil mengalirkan air meskipun baru pada satu lajur

talang bambu itu, namun mereka berusaha untuk tidak

menceriterakannya kepada orang lain. Trima minta agar mereka

tetap diam sampai saatnya beberapa jalur talang bambu itu dapat

menyalurkan air sebagaimana yang satu lajur itu.

Ketika malam menjadi semakin dalam, maka anak-anak muda

itupun segera berbaring di pembaringan. Mereka ingin cepat tidur

agar besok mereka dapat bangun pagi-pagi sekali.

Dalam pada itu, Wijang dan Paksi masih juga bermalam di

rumah Ki Bekel. Malam itu keduanya sudah menyatakan minta

diri. Esok pagi mereka akan meninggalkan padukuhan itu untuk

melanjutkan pengembaraan mereka.

“Kalau saja aku seorang perempuan, maka kepergian kalian

akan aku tangisi,” berkata Ki Bekel.

“Contoh itu sudah siap, Ki Bekel. Anak-anak akan dapat

menyelesaikan. Ketinggian tiang penyangga tidak lagi harus

mengukur satu demi satu. Tinggi talang itu sudah menjadi jelas.

Yang harus mereka buat adalah tinggal menyesuaikan dengan

talang yang sudah ada.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun iapun berkata,

“Meskipun demikian, dibutuhkan api yang menyalakan minyak

seberapa pun banyaknya.”

“Bukankah, niat itu sudah menyala. Tinggal memeliharanya.

Jangan sampai kehabisan minyak agar api itu tetap dapat

berkobar dari hari ke hari.”

Ki Bekel itu mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun

bertanya, “Apakah kalian akan pergi esok pagi-pagi sekali?”

“Kami masih akan pergi ke gumuk kecil itu, Ki Bekel. Namun

sekedar untuk minta diri. Kami akan langsung meninggalkan

padukuhan bahkan kademangan ini.”

“Sukurlah jika kalian berdua masih sempat minta diri kepada

anak-anak muda yang justru semakin tertarik kepada kerja

mereka di gumuk kecil itu. Bukankah kalian juga sudah minta

diri kepada Ki Demang?”

“Ya, Ki Bekel.”

“Apa katanya?”

“Ki Demang mengucapkan selamat jalan. Kami diberinya

tambahan uang sebagai bekal di perjalanan.”

Ki Bekel mengangguk-angguk sambil berdesis, “Jadi kalian

diberi bekal uang oleh Ki Demang?”

“Ya, Ki Bekel. Dengan pemberian itu Ki Demang memang

menginginkan agar kami segera pergi.”

“Apakah kalian memang membutuhkan uang untuk

menambah bekal kalian?”

“Tidak, Ki Bekel. Kami sudah mempunyai bekal cukup.”

Ki Bekel mengerutkan dahinya. Ada sesuatu bergejolak di

jantungnya. Namun Wijang dan Paksi dapat meraba, apa yang

sedang dipikirkan oleh Ki Bekel itu. Karena itu, maka Wijangpun

berkata, “Ki Bekel, kami sudah mempunyai bekal. Ki Bekel tidak

usah memikirkannya. Bahkan uang yang diberikan oleh Ki

Demang itu pun tidak dapat kami terima.”

Ki Bekel menarik nafas panjang. Katanya, “Maaf, anak-anak

muda. Ada terbersit niat kami untuk memberikan tambahan

bekal itu. Tetapi kami terlalu miskin, sehingga jika kami mencoba

memberikannya juga, tentu jumlahnya sangat sedikit.”

Wijang itupun menyahut sambil tersenyum, “Sudahlah, Ki

Bekel. Sudah aku katakan, bahwa kami sudah membawa bekal

yang cukup. Aku tidak sekedar membual. Jika Ki Bekel berniat

memberikan tambahan bekal itu, tolong, pergunakan untuk

kepentingan air yang sedang Ki Bekel perjuangkan bersama

anak-anak muda padukuhan ini.”

“Kami hanya dapat mengucapkan terima kasih, anak muda.

Kami berharap bahwa pada suatu saat kami dapat bertemu lagi

tidak dalam keadaan seperti ini. Kalian tidak lagi mengenakan

pakaian serta sebutan pengembara. Kami ingin bertemu kalian

yang sebenarnya.”

Wijang tertawa. Paksipun tertawa pula. Dengan nada dalam

Paksipun berkata, “Inilah kami yang sebenarnya, Ki Bekel.”

Tetapi Ki Bekel menjawab dengan tegas, “Tidak. Kalian

bukannya anak-anak muda sebagaimana aku kenal sekarang.

Mungkin nama kalian pun berbeda. Bukan Wijang dan Paksi.

Kenyataan kalian itulah yang pada suatu saat ingin aku ketahui.”

Wijang dan Paksi hanya dapat tertawa.

Sejenak kemudian, ketika di luar sudah terdengar suara-suara

malam di sela-sela desah angin yang lembut, maka Ki Bekelpun

mempersilahkan Wijang dan Paksi untuk beristirahat.

“Aku sudah mengantuk, anak-anak muda. Aku tidak ingin

besok pagi datang kemudian dari anak-anak muda itu.”

“Tetapi apakah kerja Ki Bekel tidak terbengkalai karena Ki

Bekel selalu berada di gumuk kecil itu?”

“Tidak, anak muda. Ada bebahu yang lain yang dapat

mengerjakannya. Aku juga sudah berpesan, jika ada yang tidak

terselesaikan, biarlah aku disusul di gumuk kecil itu.”

Wijang dan Paksipun mengangguk-angguk.

Demikianlah, sejenak kemudian maka Wijang dan Paksipun

telah berada di gandok. Sementara itu, Ki Bekelpun langsung

pergi ke biliknya. Ia ingin cepat tidur agar esok pagi Ki Bekel

tidak terlambat datang di gumuk kecil itu.

Ketika ayam jantan berkokok untuk yang terakhir menjelang

fajar, maka Ki Bekelpun sudah siap untuk berangkat. Namun ia

masih juga belum dapat bangun lebih pagi dari Wijang dan Paksi.

Nyi Bekellah yang menjadi terlalu sibuk di dapur untuk segera

mempersiapkan makan pagi bagi Ki Bekel dan kedua orang anak

muda yang berada di rumahnya itu.

“Ki Bekel akan berangkat ke gumuk pagi-pagi sekali?”

bertanya Nyi Bekel.

“Anak-anak juga akan datang lebih pagi. Biarlah aku datang

mendahului mereka.”

“Tetapi semakin lama semakin dini. Dalam sepekan

mendatang, Ki Bekel akan berangkat tengah malam.”

“Bukan begitu, Nyi. Bukankah semakin pagi udaranya terasa

semakin sejuk? Udara belum begitu panas dan debu pun belum

terlalu banyak bertebaran.”

Nyi Bekel tidak menjawab. Ia masih saja sibuk

mempersiapkan makan pagi bagi Ki Bekel yang nampaknya tidak

begitu sabar menunggu.

Setelah mereka selesai makan pagi dan siap untuk berangkat,

Wijangpun berkata, “Ki Bekel, aku juga ingin mohon diri kepada

Nyi Bekel. Nanti dari gumuk itu kami akan langsung

meninggalkan padukuhan ini. Karena kami tidak akan singgah

lagi di rumah ini, maka kami akan mohon diri sekarang juga.”

Ki Bekelpun kemudian telan memanggil Nyi Bekel yang berada

di belakang.

“Ada apa?” bertanya Nyi Bekel.

“Kedua anak muda itu akan minta diri.”

“Apakah mereka jadi akan meninggalkan padukuhan ini pada

hari ini?”

“Ya. Mereka akan meninggalkan kita dan padukuhan ini.

Tetapi mereka sudah meninggalkan gagasan yang sangat berarti

bagi kita di padukuhan ini.”

Nyi Bekelpun kemudian telah pergi menemui Wijang dan

Paksi. Dengan sikap keibuan Nyi Bekel itupun berpesan, “Hatihati

di perjalanan, Ngger. Banyak batu-batu padas yang runcing

serta duri-duri yang tajam.”

“Ya, Nyi. Kami akan berhati-hati,” jawab Wijang.

“Jangan lupa, mohon tuntunan-Nya di sepanjang jalan.

Meskipun kalian pengembara yang berpengalaman sekalipun,

tanpa tuntunan-Nya, kalian akan dapat tersesat. Bukan hanya

arah perjalanan kalian saja yang dapat tersesat, tetapi juga sikap

dan tingkah laku. Cermatlah menjatuhkan pilihan atas masalahmasalah

yang kalian hadapi.”

“Ya, Nyi.”

“Nah, selamat jalan anak-anak.”

“Doa Nyi Bekel hendaknya menyertai kami.”

“Aku akan berdoa bagi kalian.”

Demikianlah, maka Wijang dan Paksipun meninggalkan

rumah Ki Bekel bersama-sama dengan Ki Bekel sendiri pergi ke

gumuk kecil.

Udara pagi menjelang matahari terbit memang terasa segar.

Burung-burung liar terdengar berkicau di pepohonan. Satu dua

tetes embun masih menitik dari dedaunan yang basah.

Ki Bekel, Wijang dan Paksi berjalan menyusuri jalan setapak,

menuju ke gumuk kecil di kaki Gunung Merapi. Untuk mengatasi

dinginnya udara pagi, merekapun berjalan dengan cepat. Sekalisekali

mereka meloncati lekuk-lekuk batu padas. Aliran air yang

sama sekali tidak terarah serta bebatuan yang tersebar.

Ketika mereka sampai di gumuk kecil, ternyata anak-anak

muda yang mengerjakan talang bambu itu masih belum datang.

Tetapi mereka tidak perlu menunggu terlalu lama. Hanya selang

beberapa saat anak-anak muda itu sudah mulai berdatangan.

Bahkan ada dua orang anak muda yang baru sekali itu ikut

datang ke gumuk kecil di kaki Gunung Merapi itu.

“Kami singgah sebentar di kotak sawah Mbah Rejeb,” berkata

Trima.

“Air sudah mulai tergenang setelah semalam suntuk talang

bambu itu mengalir,” berkata anak muda yang lain.

“Sukurlah,” desis Ki Bekel. “Apakah Mbah Rejeb sudah

mengetahui bahwa air mulai menggenang di kotak sawahnya?”

“Mbah Rejeb ada di sawahnya. Ketika kami datang ke kotak

sawahnya yang dialiri air itu, Mbah Rejeb sudah berada di sana.”

“Mbah Rejeb tentu gembira sekali melihat sawahnya menjadi

basah,” desis Ki Bekel.

“Mbah Rejeb tadi minta maaf kepada kami,” berkata Trima

kemudian.

“Kenapa?” bertanya Ki Bekel.

“Ketika kami minta ijin untuk mengalirkan air ke sawahnya,

Mbah Rejeb menanggapinya dengan acuh tak acuh. Bahkan

Mbah Rejeb menganggap bahwa kami sedang bermimpi,

meskipun Mbah Rejeb tidak berkeberatan.”

Ki Bekel tersenyum. Katanya, “Nanti, bukan hanya Mbah

Rejeb yang menyesali sikapnya. Tetapi seisi padukuhan ini akan

mengakui, bahwa gagasan ini bukan sekedar mimpi. Tetapi

bahwa kita benar-benar telah memperjuangkan sebuah harapan

untuk digapai.”

“Kita akan mulai dengan membuat lajur-lajur berikutnya,”

berkata Trima kemudian.

“Ya,” sahut Ki Bekel. “Tetapi sebelumnya, Wijang dan Paksi

akan minta diri kepada kalian.”

Anak-anak muda itu sudah mengetahui meskipun belum

pasti, bahwa Wijang dan Paksi akan melanjutkan

pengembaraannya. Meskipun demikian, ketika Ki Bekel

mengatakannya, terasa jantung merekapun tergetar.

Trima yang melangkah mendekat berkata, “Kenapa kalian

tidak menunda keberangkatan kalian? Bukankah kita sedang

asyik dengan talang air yang sudah menunjukkan awal dari

keberhasilan itu?”

Wijanglah yang menjawab dengan nada berat, “Sebenarnya

kami ingin menunggui perjuangan kalian merebut masa depan

lebih lama lagi. Tetapi kami tidak dapat berada di satu tempat

terlalu lama. Karena itu, kami minta diri. Ada panggilan lain yang

harus kami jalani sesuai dengan niat kami sejak kami berangkat

mengembara.”

“Bagaimana jika kalian hanya sekedar menunda beberapa hari

saja?”

“Kami sudah terlalu lama berhenti di sini,” jawab Wijang.

Anak-anak muda yang lainpun berusaha untuk menahan agar

Wijang dan Paksi tidak segera meninggalkan padukuhan itu.

Tetapi Wijang dan Paksi sudah mengambil keputusan untuk

melanjutkan pengembaraannya.

Kepergian Wijang dan Paksi memang menimbulkan

kekecewaan di hati anak-anak muda itu. Apalagi mereka yang

baru sehari mulai atau bahkan baru akan mulai. Namun sebelum

meninggalkan mereka, Wijangpun berkata, “Aku yakin, bahkan

kalian akan dapat menyelesaikan pekerjaan ini. Bukan hanya

sampai pada lima atau enam jalur talang air. Tetapi kalian akan

bekerja tanpa jemu sampai mengalirkan sebuah parit yang cukup

besar dari gumuk kecil ini untuk menuangkan air ke parit yang

sudah ada setelah parit itu diperbaiki. Di bawah bimbingan Ki

Bekel, maka masa depan padukuhan ini akan dapat kalian bina

sehingga padukuhan ini tidak akan menjadi padukuhan yang

miskin. Kalian akan menjadi pilar-pilar penyangga dari masa

depan itu.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk kecil.

“Atas nama seisi padukuhan, aku mengucapkan selamat jalan

bagi kalian, Angger Wijang dan Paksi,” berkata Ki Bekel

kemudian.

“Kami akan berusaha untuk dapat sampai ke padukuhan ini

kembali di kemudian hari.”

Demikianlah, maka Wijang dan Paksipun meninggalkan Ki

Bekel dan anak-anak muda yang sedang bekerja di gumuk kecil

itu. Kekecewaan mereka atas kepergian kedua orang pengembara

itu akan mereka tebus dengan kerja keras sebagaimana

diteladani oleh Wijang dan Paksi.

Ketika Wijang dan Paksi sudah tidak nampak lagi, terlindung

oleh tikungan dan gerumbul-gerumbul perdu serta gundukangundukan

batu padas, maka Ki Bekel telah mengajak anak-anak

muda itu untuk mulai dengan kerja mereka.

“Kita akan menyiapkan bambu untuk membuat jalur-jalur

talang yang baru,” berkata Ki Bekel.

Serentak anak-anak muda itupun mulai bergerak. Mereka

segera menggenggam alat-alat yang mereka perlukan. Mereka

akan menyiapkan bambu yang akan mereka pergunakan untuk

talang air. Mereka akan membuat lubang-lubang pada ruasnya,

kemudian menghilangkan sekat-sekat pada ruas itu.

Dalam pada itu, Wijang dan Paksipun telah mulai lagi dengan

perjalanan mereka. Namun seperti yang mereka katakan, mereka

akan singgah untuk menemui Ki Bekel yang padukuhannya telah

mengalami perampokan yang dilakukan oleh beberapa orang.

Ketika Wijang dan Paksi memasuki padukuhan itu, maka

orang-orang padukuhan itu memandanginya dengan curiga.

Bahkan ketika ia bertanya di manakah rumah Ki Bekel, ternyata

seorang remaja yang berdiri di pinggir jalan itu menggelengkan

kepalanya.

“Aku ingin bertemu dengan Ki Bekel,” berkata Wijang.

Remaja itupun menggeleng lagi.

“Ada berita penting yang harus segera didengar oleh Ki Bekel,”

berkata Wijang. “Jika terlambat, maka seluruh padukuhan ini

akan mengalami kesulitan.”

Remaja itu mengerutkan dahinya.

“Tolong, tunjukkan rumah Ki Bekel. Kami akan menemuinya

dan memberikan laporan kepadanya.”

Remaja itu ternyata terpengaruh juga oleh ceritera Paksi.

Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “Berjalanlah terus.

Kalian akan sampai di sebuah simpang empat. Beberapa langkah

lagi kalian akan melihat sebuah regol yang baru diperbaiki. Di

sebelah regol itu terdapat gentong berisi air minum. Nah, regol

yang diperbaiki itu adalah regol halaman rumah Ki Bekel. Kau

dapat bertanya kepada orang yang sedang memperbaiki regol itu.”

“Terima kasih,” jawab Paksi, “kami akan pergi ke rumah Ki

Bekel.”

Wijang dan Paksipun kemudian melangkah menyusuri jalan

utama padukuhan itu. Seperti yang dikatakan oleh remaja yang

mereda temui, keduanya sampai ke sebuah simpang empat. Tidak

jauh dari simpang empat itu, mereka melihat dua orang sedang

memperbaiki sebuah regol halaman.

“Tentu rumah itu rumah Ki Bekel,” desis Paksi.

“Ya. Regolnya sedang diperbaiki.”

Ketika mereka sampai di regol yang sedang diperbaiki itu,

Wijangpun bertanya kepada kedua orang itu, “Apakah Ki Bekel

ada di rumah?”

Keduanya nampak ragu-ragu. Ada semacam kecurigaan di

sorot mata mereka.

“Apakah keperluan kalian?” bertanya salah seorang dari kedua

orang yang sedang memperbaiki regol itu.

“Ada sedikit persoalan yang ingin kami bicarakan, Ki Sanak.

Mungkin tidak penting bagi Ki Bekel. Tetapi agaknya penting bagi

kami berdua.”

Kedua orang itu masih saja termangu-mangu. Namun dalam

pada itu, seorang yang bertubuh tinggi tegap berkumis tebal,

nampak turun dari tangga pendapa rumahnya.

“Itukah Ki Bekel?” bertanya Wijang dengan serta-merta.

Hampir di luar sadarnya, kedua orang itu menjawab hampir

bersamaan, “Ya.”

“Terima kasih, Ki Sanak,” jawab Wijang yang kemudian

menggamit Paksi.

Keduanyapun kemudian melangkah memasuki halaman

rumah yang cukup luas itu. Bedanya nampak jelas dengan

rumah Ki Bekel di padukuhan miskin itu. Ki Bekel padukuhan ini

agaknya jauh lebih berkecukupan dari Ki Bekel dari padukuhan

miskin itu.

Ki Bekel memang agak terkejut melihat kedua orang yang

masih muda, memasuki halaman rumahnya. Keduanya sama

sekali masih belum dikenalnya.

“Maaf, Ki Bekel,” berkata Wijang, “kami datang untuk

menemui Ki Bekel.”

Ki Bekel memandang mereka berdua dengan tajamnya.

Dengan nada berat Ki Bekel itupun kemudian bertanya,

“Siapakah kalian berdua?”

“Kami adalah dua orang kakak beradik yang sedang

mengembara, Ki Bekel.”

“O. Apakah kalian kehabisan bekal dan datang menemui aku

untuk minta uang?”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Namun Wijang dan Paksi

sadar, bahwa mereka harus menahan diri. Ki Demang sudah

mengatakan kepada mereka bahwa mungkin sambutan Ki Bekel

akan mengecewakan mereka.

“Kami sudah terbiasa menempuh perjalanan tanpa bekal, Ki

Bekel. Sehingga kami tidak memerlukan bekal apapun di

pengembaraan kami.”

“Jadi, untuk apa kau mencari aku?”

“Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan.”

“Kalian, dua orang pengembara mempunyai persoalan yang

akan kalian bicarakan dengan aku?”

“Ya, Ki Bekel.”

“He, kalian pikir, kalian ini siapa? Kau kira aku tidak

mempunyai pekerjaan sehingga aku harus secara khusus

berbicara dengan pengembara?”

“Mungkin ada manfaatnya, Ki Bekel. Mungkin tidak bagi Ki

Bekel. Tetapi akan bermanfaat bagi aku dan bagi Pajang.”

“Bagi Pajang? Kau sebut-sebut Pajang? Kalian adalah debu

bagi Pajang. Pergilah, aku tidak mau kau ganggu. Ada kerja yang

lebih penting yang harus aku kerjakan.”

“Maaf, Ki Bekel. Kami hanya minta waktu beberapa saat saja.

Selanjutnya kami akan segera pergi.”

“Pergi. Sebelum aku menjadi marah.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Paksilah yang kemudian

berkata, “Kami mempunyai satu pertanyaan yang penting, Ki

Bekel. Jika Ki Bekel bersedia menjawab, kami akan sangat

berterima kasih.”

“Aku tidak mempunyai urusan dengan para pengembara.

Kalau aku melayani para pengembara, maka aku tidak akan

sempat berbuat apa-apa.”

Wijang dan Paksi harus tetap menahan diri menanggapi sikap

Ki Bekel itu. Mereka tidak akan dapat memaksakan kehendak

mereka. Jika mereka melakukannya juga, maka akan dapat

timbul keributan di padukuhan itu.

Karena keduanya tidak segera beranjak pergi, maka Ki

Bekelpun kemudian membentak mereka, “Pergi. Cepat pergi. Aku

tidak dapat melayani kalian.”

Namun dalam pada itu, selagi Wijang dan Paksi masih

termangu-mangu, seekor kuda yang berderap di jalan utama itu

berhenti di depan regol. Penunggangnyapun segera meloncat

turun dan menuntun kuda itu memasuki halaman.

Dengan tergopoh-gopoh Ki Bekelpun menyongsongnya sambil

mempersilahkan tamu itu. “Ki Demang. Marilah, Ki Demang.

Silahkan.”

Ki Demangpun kemudian menuntun kudanya melintasi

halaman. Sementara itu, Ki Bekelpun menghampiri Wijang dan

Paksi sambil menggeram tertahan, “Pergi. Yang datang itu adalah

Ki Demang. Bukankah aku sudah mengatakan, bahwa aku sibuk

sekali. Aku tidak dapat melayani kalian, para pengembara.”

Wijang dan Paksi termangu-mangu sejenak. Namun Ki Bekel

itu terkejut ketika Ki Demang mendekati keduanya sambil

berkata, “Jadi kalian sudah sampai di sini?”

“Ya, Ki Demang. Kami sedang berusaha meyakinkan Ki Bekel,

bahwa kami datang tidak untuk minta uang. Kami sudah terbiasa

mengembara tanpa bekal sama sekali.”

Ki Demang tersenyum. Katanya, “Ki Bekel, berikan

kesempatan kepada mereka untuk menemui Ki Bekel.”

Ki Bekel justru menjadi heran. Dengan tidak sadar iapun

bertanya, “Siapakah mereka, Ki Demang? Apakah Ki Demang

sudah mengenal mereka?”

“Keduanya adalah pengembara. Keduanya sudah datang

menemui aku. Kedatanganku justru untuk memberitahukan

kepada Ki Bekel, bahwa dua orang pengembara akan datang

menemui Ki Bekel. Tetapi aku kira mereka akan datang nanti

agak siang atau di sore hari.”

Ki Bekel masih saja termangu-mangu. Rasa-rasanya Ki Bekel

sulit untuk mengerti, bahwa Ki Demang memerlukan datang

kepadanya karena kedua orang pengembara.

“Ada beberapa pertanyaan yang akan diajukan kepada Ki

Bekel.”

Ki Bekel itu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat

mengelak lagi. Karena itu, maka dipersilahkannya Ki Demang

naik ke pendapa. Ia ingin menemui kedua pengembara itu di

serambi gandok.

Namun justru Ki Demanglah yang mengajak keduanya,

“Marilah. Kita berbicara di pringgitan.”

Wijang dan Paksi memang menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika Ki

Demang naik, sekali lagi iapun mengajak keduanya, “Marilah.

Naiklah.”

Ki Bekel tidak dapat berbuat lain. Iapun kemudian mengikuti

Ki Demang naik ke pendapa langsung pergi ke pringgitan.

Sementara itu Wijang dan Paksipun telah ikut pula menuju ke

pringgitan.

Sejenak kemudian, maka mereka berempatpun telah duduk di

atas tikar pandan rangkap yang putih, yang sebenarnya Ki Bekel

sama sekali tidak menyediakannya bagi para pengembara.

Ki Demanglah yang kemudian berkata, “Ki Bekel, seperti yang

aku katakan tadi, sebenarnya aku datang untuk

memberitahukan, bahwa kedua pengembara ini berniat ingin

bertemu dengan Ki Bekel.”

“Demikian pentingkah sehingga Ki Demang memerlukan

datang sendiri ke rumahku?”

“Tidak. Tetapi aku tidak ingin terjadi salah paham.

Padukuhan ini baru saja didatangi oleh segerombolan orang yang

melakukan kejahatan. Di antaranya terdapat orang yang berilmu

tinggi, yang dengan sombongnya dengan sengaja

memamerkannya. Mungkin ia bermaksud menakut-nakuti orang

yang ingin menangkapnya. Aku khawatir bahwa masih saja ada

kecurigaan terhadap orang-orang yang belum dikenal di

padukuhan ini, termasuk kedua orang pengembara ini.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Dipandanginya kedua orang

pengembara itu sejenak. Kemudian iapun bertanya, “Untuk

apakah sebenarnya mereka menemui aku, Ki Demang?”

“Bertanyalah sendiri kepada mereka,” jawab Ki Demang.

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia tidak

ingin mengorbankan waktunya hanya untuk berbincang dengan

dua orang pengembara. Bagi Ki Bekel, waktunya akan lebih

berarti jika ia menangani beberapa masalah yang masih belum

terselesaikan di padukuhannya.

Tetapi kehadiran Ki Demang telah memaksanya untuk

melayani dua orang pengembara yang masih muda itu.

“Ki Bekel,” Wijanglah yang kemudian berbicara, “kami datang

untuk menanyakan beberapa hal tentang orang-orang yang telah

merampok di padukuhan ini.”

Ki Bekel mengerutkan dahinya. Ia ingin membentak

pengembara itu. Apa wewenangnya menanyakan tentang

perampokan yang telah terjadi di padukuhannya?

Sekilas dipandanginya Ki Demang.

“Jika saja tidak ada Ki Demang,” berkata Ki Bekel itu di dalam

hatinya.

Dalam pada itu, Ki Demangpun berkata, “Ki Bekel, keduanya

telah datang kepadaku. Mereka bertanya tentang para perampok

itu. Tetapi aku tidak dapat menyebutkannya dengan jelas. Karena

itu, aku minta keduanya datang menemui Ki Bekel.”

Ki Bekel menarik nafas panjang. Ia tidak dapat mengelak lagi.

Betapapun ia merasa telah kehilangan waktu sia-sia, namun

iapun akhirnya menjawab juga.

Disebutnya ciri-ciri beberapa orang perampok yang telah

datang ke padukuhannya sesuai dengan keterangan orang yang

telah mengalami perampokan itu.

Wijang dan Paksi mendengarkannya dengan seksama.

Keduanyapun kemudian telah mengambil kesimpulan, bahwa

mereka adalah sekelompok orang yang dipimpin langsung oleh Ki

Gede Lenglengan.

“Terima kasih, Ki Bekel,” berkata Wijang. “Keterangan Ki Bekel

sangat penting artinya bagi kami.”

“Untuk apa kau tanyakan ciri-ciri para perampok itu?”

bertanya Ki Bekel.

“Aku mempunyai kepentingan dengan mereka,” jawab Wijang.

“Apa kepentingan kalian? Bukankah kalian pengembara yang

tidak punya tujuan? Apakah kalian termasuk kelompok mereka

sehingga kalian akan menuntut bagian kalian?” bertanya Ki

Bekel.

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Sementara Paksipun

berkata, “Apakah seorang perampok harus menyatakan dirinya?

Seandainya kami bagian dari mereka, apakah kami akan begitu

mudahnya mengaku di hadapan Ki Bekel? Ki Bekel, pertanyaan

Ki Bekel adalah pertanyaan yang seharusnya tidak usah

diucapkan, karena pertanyaan itu tidak akan mendapatkan

jawabnya.”

Wajah Ki Bekel terasa menjadi panas. Namun Ki Demanglah

yang kemudian menengahi, “Nah, anak-anak muda, kalian sudah

mendapatkan jawabannya.”

“Ya, Ki Demang. Kami sudah mendapat gambaran tentang

mereka. Gambaran tentang mereka serta ciri-ciri mereka itulah

yang sangat kami perlukan.”

“Mudah-mudahan berarti bagi kalian.”

“Kami mengucapkan sekali lagi terima kasih, Ki Demang.

Kami juga mengucapkan sekali lagi terima kasih kepada Ki Bekel.

Mungkin waktu Ki Bekel sangat terbatas karena kesibukan Ki

Bekel. Karena itu, kami akan segera minta diri,” berkata Wijang

kemudian.

Dengan singkat Ki Bekel menjawab, “Pergilah.”

Namun Ki Demang justru berpesan, “Hati-hatilah di

perjalanan, anak-anak muda.”

“Baik, Ki Demang. Kami akan berhati-hati. Mudah-mudahan

kami dapat menyelesaikan panggilan yang sedang kami emban.”

Ki Bekel hanya dapat mengerutkan dahinya. Ada beberapa

macam pertanyaan yang bergejolak di dalam dadanya. Tetapi jika

ia mendengar jawaban yang menyakitkan itu sekali lagi, mungkin

ia tidak dapat menahan diri lagi meskipun agaknya Ki Demang

bersikap baik kepada kedua orang pengembara itu.

“Agaknya karena sikap Ki Demang itulah, maka keduanya

menjadi besar kepala. Mereka menganggap aku tidak berharga,”

katanya di dalam hatinya.

Ki Demang tidak bertanya apa-apa lagi sampai kedua

pengembara itu keluar dari regol halaman rumahnya.

Sepeninggal keduanya, maka Ki Bekel itupun bertanya kepada

Ki Demang, “Menurut Ki Demang, apakah keduanya pantas

mendapat perlakuan terlalu baik?”

“Aku menghargai keduanya, Ki Bekel. Keduanya sedang

melacak para perampok yang telah mengganggu ketenteraman

padukuhan ini. Menurut dugaanku, mereka mengikuti arah

perjalanan para perampok itu sehingga mereka akan berhasil

menyusulnya.”

“Tentu mereka adalah kawan-kawan para perampok itu.”

“Aku yakin bukan. Ada tugas lain yang harus mereka lakukan

berhubungan dengan para perampok itu.”

“Jika demikian, kenapa mereka tidak berterus-terang? Jika

mereka berdua adalah prajurit, misalnya. Kenapa mereka tidak

mengatakan kepada Ki Demang atau kepadaku, bahwa keduanya

prajurit?”

“Aku mengenal mereka. Mereka bukan orang-orang jahat. Aku

percaya kepada panggraitaku meskipun aku tidak dapat

menjawab pertanyaan Ki Bekel kenapa mereka tidak berterusterang

tentang diri mereka berdua.”

Ki Bekel menarik nafas panjang. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Dalam pada itu, maka sejenak kemudian, Ki Demangpun telah

minta diri. Katanya, “Aku datang khusus untuk memberitahukan

kepada Ki Bekel tentang kedua orang anak muda itu.”

Sepeninggal Ki Demang, rasa-rasanya Ki Bekel ingin

menangkap kembali kedua orang yang menjadi sangat manja di

hadapan Ki Demang. Mereka sadar, bahwa Ki Demang akan

melindungi mereka, sehingga pengembara itu berani

merendahkannya.

“Aku tidak seyakin Ki Demang bahwa panggraitanya itu benar.

Kedua pengembara itu tentu pandai berbicara dan

memutarbalikkan kenyataan tentang diri mereka, sehingga Ki

Demang telah terpengaruh.”

Ki Bekelpun kemudian telah memerintahkan pembantunya

untuk menyiapkan kudanya. Ia ingin menyusul dan memberikan

sedikit pelajaran bagi kedua pengembara itu, agar mereka dapat

menghormati seseorang yang memiliki jabatan sebagaimana Ki

Bekel itu. Apalagi di hadapan atasnya langsung.

Namun sebelum Ki Bekel berangkat dengan menunggang

kudanya yang sudah siap, beberapa orang berdatangan sambil

menggiring Wijang dan Paksi memasuki kembali halaman rumah

Ki Bekel.

Ki Bekel yang melihat kedua orang yang mengaku pengembara

itu dibawa masuk ke halaman rumahnya, memandang mereka

berdua berganti-ganti dengan tajamnya.

“Ada apa?” bertanya Ki Bekel.

“Kami menangkap kedua orang yang mencurigakan ini, Ki

Bekel,” jawab Ki Jagabaya dari padukuhan itu.

“Kenapa Ki Jagabaya menangkapnya?”

“Seorang remaja datang ke rumahku untuk melaporkan,

bahwa ada dua orang yang mencurigakan, mencari rumah Ki

Bekel. Kata mereka, ada hal yang sangat penting yang akan

dibicarakannya dengan Ki Bekel.”

“Di mana kau temukan keduanya?”

“Agaknya remaja itu sempat ragu-ragu. Ia pulang lebih

dahulu. Ketika ia menceriterakan kepada ayahnya, maka ayahnya

menyuruhnya datang ke rumahku. Agaknya aku telah banyak

kehilangan waktu. Ketika aku kemudian pergi ke rumah Ki Bekel,

aku singgah di rumah Ki Kamituwa. Kami berdua mengajak

beberapa orang tetangga untuk datang kemari. Jika perlu, maka

kami akan dapat bertindak bersama-sama.”

“Tetapi kau sudah membawa kedua orang pengembara itu.”

“Aku bertemu dengan mereka ketika mereka akan

meninggalkan padukuhan ini. Kami telah menangkap mereka dan

membawanya kemari. Segala sesuatunya terserah kepada Ki

Bekel.”

Ki Bekel memandang kedua orang anak muda itu dengan

sorot mata yang membayangkan kebencian. Dengan nada berat

Ki Bekelpun berkata, “Di hadapan Ki Demang kau telah berani

merendahkan aku. Kau telah menganggap aku terlalu bodoh

sehingga telah melontarkan pertanyaan yang sia-sia. Sekarang Ki

Demang tidak ada di sini. Kalian tidak akan dapat bermanjamanja.”

“Meskipun Ki Demang tidak ada di sini, tetapi Ki Demang

akan tahu juga apa yang akan terjadi di sini.”

“Persetan dengan ancamanmu. Kami dapat mengatakan

alasan apa saja kepada Ki Demang, sehingga kami harus

menghukummu.”

“Bukankah aku juga dapat berkata apa saja kepada Ki

Demang, bahwa aku telah diperlakukan tidak sewajarnya di sini?”

“Ki Demang tentu akan mempercayai aku dan rakyatku. Kau

tidak akan mempunyai kesempatan apapun juga untuk membela

dirimu. Sesali sikapmu. Tetapi sudah terlambat. Kalian akan

menerima hukuman akibat dari sikap kalian.”

“Apa yang telah dilakukannya, Ki Bekel?” bertanya Ki

Jagabaya.

“Anak ini telah merendahkan namaku di hadapan Ki

Demang.”

“Ki Demang tidak menghukum anak ini?”

“Mereka berdua berhasil mengambil hati Ki Demang, sehingga

Ki Demang tidak marah kepada mereka. Tetapi aku bersikap lain.

Aku pun mencurigai, bahwa keduanya mempunyai sangkut paut

dengan para perampok beberapa saat yang lalu. Karena mereka

telah menanyakan ciri-ciri dan arah kepergian para perampok

itu.”

“Jika demikian, apakah kita akan menghukum mereka?”

bertanya Ki Kamituwa.

“Ya,” jawab Ki Bekel. “Kita akan menghukum mereka.”

“Hukuman apa yang pantas kita trapkan kepada mereka? Lalu

bagaimana kira-kira sikap Ki Demang jika keduanya melaporkan

kepadanya.”

“Biarlah aku yang bertanggung jawab kepada Ki Demang. Aku

akan menjelaskan, apa yang telah mereka lakukan di padukuhan

ini sehingga menimbulkan kemarahan seluruh rakyat padukuhan

ini.”

“Apa yang kami lakukan?” bertanya Paksi.

“Kalian sudah menyinggung harga diriku. Kalian juga

memata-matai padukuhan ini. Jika kalian tidak kami tangkap

dan kami hukum, maka nanti malam kawan-kawanmu tentu

akan datang merampok di padukuhan ini lagi.”

Namun tiba-tiba saja Paksipun berkata, “Baik. Seandainya

kami adalah sebagian dari sekelompok perampok yang ditangkap

di padukuhan ini, maka kawan-kawan kami akan datang untuk

mengambil kami berdua.”

Kata-kata Paksi itu ternyata telah menimbulkan keraguraguan

di antara mereka. Beberapa orang mulai merenunginya.

Jika benar keduanya bagian dari gerombolan perampok itu, maka

persoalannya justru akan menjadi gawat. Perampok yang pernah

datang ke padukuhan itu adalah orang-orang berilmu tinggi.

Mereka mampu melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.

Namun tiba-tiba saja seorang di antara mereka yang

menggiring Wijang dan Paksi itupun berkata, “Kita tidak akan

pernah melepaskan mereka lagi. Kawan-kawannya tentu tidak

tahu, bahwa mereka berada di sini.”

Paksi justru tertawa. Katanya, “Jangan terlalu bodoh. Jika

kami bagian dari sekelompok perampok, maka kelompok kami itu

tentu tahu, bahwa kami berada di sini. Apalagi jika kami memang

ditugaskan untuk memata-matai padukuhan ini. Jika sampai

nanti sore kami tidak kembali kepada mereka, maka mereka

tentu akan datang untuk mengambil kami ke padukuhan ini.

Nah, kalian dapat membayangkan, apa yang akan terjadi.”

Orang-orang yang menggiring Wijang dan Paksi itupun

menjadi termangu-mangu. Namun seorang yang bertubuh tinggi

besar dan berkumis lebat menyibak orang-orang yang berada di

halaman rumah Ki Bekel itu sambil berkata, “Ki Bekel, ketika

para perampok itu datang, kami semuanya belum siap

menghadapinya. Mereka datang tiba-tiba saja. Sebelumnya

padukuhan kita adalah padukuhan yang tenang dan tenteram.

Tetapi sekarang, keadaannya sudah lain. Kita akan

mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Jika kawan-kawan kedua

orang ini datang untuk mengambilnya, kita akan menyambut

mereka dengan hangat. Akibatnya tentu akan jauh berbeda. Pada

saat kita belum siap, kita memang menjadi terkejut dan cemas

menghadapi orang-orang yang datang dengan senjata telanjang.

Tetapi sekarang kitapun akan menggenggam senjata telanjang

pula. Bahkan dengan demikian kita akan dapat membuktikan

kepada Ki Demang, bahwa keduanya benar-benar bagian dari

gerombolan perampok yang ganas yang pantas untuk dihukum.”

Ki Bekel masih juga ragu-ragu. Namun kedua orang

pengembara itu telah menyakiti hatinya.

Sementara itu, seorang yang bertubuh agak gemuk berkata

lantang, “Aku setuju. Selanjutnya kita akan bersiap untuk

menghadapi para perampok. Seandainya kita tidak menangkap

kedua orang ini, maka kita pun harus bersiap menghadapi para

perampok itu. Kita tidak mau menjadi lahan yang subur dari para

perampok dengan membiarkan mereka mengambil apa saja yang

mereka maui di padukuhan kita ini.”

Tiba-tiba saja seperti meledak orang-orang itupun berteriak,

“Kita hukum mereka. Kita hukum mereka.”

Seorang yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan berteriak

melengking di antara suara yang gaduh itu, “Aku tahu bahwa Ki

Bekel adalah orang yang berilmu tinggi. Karena itu, para

perampok itu tidak akan berarti apa-apa bagi Ki Bekel. Pada

beberapa waktu yang lalu, Ki Bekel tidak sempat menghadapi

para perampok itu karena yang terjadi adalah demikian tiba-tiba.”

Ki Bekel itupun menggeretakkan giginya. Dengan lantang

iapun kemudian berkata, “Tangkap mereka. Jika keduanya

melawan, biarlah aku yang menyelesaikannya.”

Orang-orang yang berada di halaman itupun serentak telah

bergerak. Mereka membuat lingkaran mengepung Wijang dan

Paksi yang berdiri termangu-mangu.

“Orang-orang ini sulit diajak berbicara,” berkata Wijang.

“Kita sudah mencoba untuk menghindari kekerasan. Namun

nampaknya dendam orang-orang padukuhan ini sangat

mendalam, sehingga nalar mereka menjadi kabur di bawah

bayang-bayang dendam mereka,” sahut Paksi.

“Pernyataan Ki Demang tidak mampu melunakkan hati Ki

Bekel yang selain juga mendendam, ia juga seorang yang mudah

tersinggung, agak tinggi hati dan kurang menghargai orang lain,

terutama dari tataran terendah.”

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Meloloskan diri. Bukankah kita tidak akan membiarkan

korban jatuh di padukuhan ini?”

“Ya. Aku sependapat.”

Wijang dan Paksi tidak mempunyai banyak waktu untuk

membicarakan sikap yang akan mereka ambil. Namun mereka

sama sekali tidak berniat untuk menciderai seseorang. Jika itu

terjadi, tentu tidak disengaja atau karena mereka tidak

mempunyai pilihan lain.

“Ki Sanak,” berkata Wijang kemudian kepada orang-orang

yang mengepungnya, “dengarlah baik-baik, Ki Sanak. Kami sama

sekali tidak berniat untuk bermusuhan dengan kalian. Tetapi jika

kalian tetap berniat menangkap kami, maka tentu saja kami

berkeberatan. Jika dalam gesekan kewadagan ini ada di antara

kalian yang terpaksa kami sakiti, kami minta maaf sebelumnya.”

Tetapi Ki Bekel yang marah itu masih saja menjadi salah

paham. Dengan garang iapun berkata, “Ternyata kalian adalah

orang-orang yang sangat sombong. Siapapun kalian, maka kami

akan menangkap kalian hidup atau mati.”

“Jangan berkata begitu, Ki Bekel. Jangan gege pati. Akibatnya

akan dapat tidak baik.”

“Persetan kalian. Jika demikian, menyerahlah. Kami akan

mengikat kalian pada pohon jambu air itu.”

“Itulah yang tidak aku senangi,” jawab Wijang.

“Senang atau tidak senang, aku tidak peduli.”

“Akibatnya akan berbeda. Jika aku tidak senang terhadap

perlakuanmu, maka aku pun dapat membuat kalian tidak

senang.”

“Cukup. Tangkap mereka dan ikat pada pohon jambu itu.”

Orang-orang yang mengepung Wijang dan Paksi itupun segera

bergerak maju. Tetapi Wijang dan Paksi tidak membiarkan orangorang

itu menyentuh tubuh mereka. Paksipun segera memutar

tongkatnya di atas kepalanya, sementara Wijang yang bergeser

menjauhpun telah bersiap pula.

Tiga orang yang pertama mendekati dan menggapai

lengannya, telah terlempar jatuh.

Seorang yang bertubuh agak gemuk itulah yang kemudian

meloncat menyergap Wijang dari belakang. Dengan tangannya

yang kokoh orang itu menyekap kedua lengan Wijang.

“Pukul perutnya,” teriak orang yang agak gemuk itu.

Orang yang tinggi besar itulah yang datang mendekat bersama

dua orang kawannya.

Tetapi sebelum orang itu sempat memukulnya, Wijang telah

mengibaskan orang itu. Demikian kerasnya, sehingga sekapan

orang itu terlepas. Bahkan orang itu telah terpelanting dan jatuh

menimpa kawan-kawannya.

Orang yang bertubuh tinggi besar itu tertegun melihat

kawannya yang dianggapnya mempunyai tenaga yang sangat

besar itu terlepas.

Tetapi sejenak kemudian orang itupun menyergap Wijang

dengan garangnya.

Namun yang terjadi kemudian sama sekali tidak dapat

dimengerti oleh orang-orang yang sedang berusaha menangkap

Wijang dan Paksi itu. Tiba-tiba saja mereka melihat orang yang

bertubuh tinggi besar itu terangkat tinggi-tinggi di atas kepala

pengembara itu. Kemudian tubuhnya diputar semakin lama

semakin cepat. Ketika tubuh itu dilepaskan, maka tubuh itu telah

terlempar ke dalam kerumunan orang-orang yang sedang

bergerak maju mendekati Wijang.

Terdengar beberapa orang berteriak. Namun suara teriakan

itupun telah diatasi oleh teriakan yang lain. Dua orang

terhuyung-huyung dan jatuh terbanting di tanah. Seorang

memegangi dadanya, seorang lagi memegangi lambungnya.

Ternyata tongkat Paksi telah menyentuh dada dan lambung

kedua orang itu. Hanya sentuhan kecil. Tetapi sentuhan itu

terasa bagaikan petir yang menyambar.

Orang-orang yang mengepung Wijang dan Paksi itupun tibatiba

telah bergeser surut. Beberapa orang tengah menolong

orang-orang yang terjatuh karena tertimpa oleh kawankawannya.

Oleh orang yang bertubuh tinggi besar serta orang

yang agak gemuk itu. Sementara itu orang yang menimpa mereka

itupun masih menyeringai menahan sakit di punggungnya. Baru

kemudian merekapun berusaha untuk bangkit berdiri.

Sementara itu, dua orang yang tersentuh tongkat Paksi,

merangkak keluar dari arena. Rasa-rasanya mereka tidak lagi

dapat bangkit berdiri. Bahkan ketika kawan-kawannya

membantunya, rasa-rasanya keduanya tidak lagi memiliki tenaga.

“Sudahlah,” berkata Wijang kemudian, “jangan memaksa kami

berbuat lebih kasar lagi. Sampai saat ini kami masih tetap

menahan diri. Tetapi jika kalian masih saja mendesak dan

memaksa kami, mungkin sekali kesabaran kami akan sampai ke

batas.”

Orang-orang padukuhan itu termangu-mangu. Tidak seorang

pun yang menyahut. Tetapi sebagian besar dari mereka

memandang Ki Bekel dengan tajamnya.

“Hanya Ki Bekel yang dapat melakukannya,” berkata orangorang

itu di dalam hatinya.

Sebenarnyalah bahwa jantung Ki Bekel itupun bagaikan

terbakar. Sebagai seorang yang berkedudukan tertinggi di

padukuhan itu, ia merasa bertanggung jawab. Ki Bekel itupun

merasa bahwa dirinya telah berbekal ilmu ketika ia menjabat

kedudukan yang diwarisinya dari ayahnya. Sejak ia masih

remaja, ayahnya telah mempersiapkannya dengan baik. Ia telah

dikirim pada seorang guru yang mempersiapkannya bukan saja

sebagai seorang pemimpin, tetapi juga dalam olah kanuragan.

Karena dengan kepercayaan diri yang tinggi, Ki Bekel itupun

melangkah maju sambil berkata lantang, “Minggirlah. Aku akan

menangkap mereka berdua. Tetapi jangan urai kepungan ini agar

mereka tidak dapat melarikan diri.”

“Ki Bekel,” berkata Wijang, “kami tidak pernah menduga

bahwa akan terjadi akibat yang sangat buruk ini. Aku minta Ki

Bekel mempertimbangkan sikap Ki Bekel. Biarkan kami pergi.

Seperti yang kami katakan sejak awal, kami tidak bermaksud

buruk. Kami pun sudah mencoba dengan berbagai cara dan

alasan agar tidak terjadi kekerasan seperti ini.”

“Persetan dengan celotehmu itu. Menyerah atau kalian akan

menyesali kesombongan kalian.”

“Ki Bekel, seharusnya Ki Bekel dapat menilai sikap Ki

Demang. Kenapa Ki Demang tidak berniat menangkap kami.”

“Kalian dapat mengelabuhinya. Tetapi kalian tidak dapat

mengelabui aku.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sekali lagi aku

mohon, Ki Bekel. Biarkan kami pergi.”

“Cukup. Menyerah atau bersiaplah. Aku akan menangkap

kalian berdua.”

Wijang melangkah selangkah maju sambil berkata kepada

Paksi, “Biarlah aku melakukannya, Paksi. Awasi saja orang-orang

yang mengepung kita.”

Paksi mengangguk sambil berdesis, “Baiklah. Hati-hatilah.”

Wijang mengangguk. Iapun menyadari, bahwa menilik

sikapnya Ki Bekel tentu bukan orang kebanyakan.

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Ki Bekel.

“Melawan. Aku tidak mau ditangkap.”

“Bagaimana dengan yang seorang lagi?”

“Biarlah adikku menjadi saksi. Aku akan menghadapimu Ki

Bekel. Kau telah memaksaku untuk melakukannya.”

“Persetan. Ternyata kau lebih sombong dari dugaanku.”

“Aku ingin menjelaskan dengan cara ini kepadamu, bahwa

seorang pemimpin tidak boleh menuduh seseorang melakukan

kejahatan dengan semena-mena. Seorang pemimpin juga tidak

boleh meremehkan orang-orang yang dianggapnya termasuk pada

tataran pergaulan yang terendah. Yang kau lakukan Ki Bekel,

merupakan kesalahan yang sangat besar yang akan kau sesali

kemudian.”

“Cukup. Kau kira sesorahmu itu dapat melunakkan hatiku?”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian

telah bersiap menghadapi Ki Bekel yang marah itu.

Dalam pada itu Paksi telah bergeser ke samping. Seperti pesan

Wijang, maka iapun mengawasi orang-orang yang sedang

mengepung mereka berdua.

Ki Bekel yang juga sudah berada di dalam kepungan itupun

melangkah mendekati Wijang sambil menggeram, “Bersiaplah.

Aku akan menghancurkan kebanggaan dan kesombonganmu

serta gerombolanmu.”

Wijang tidak menjawab. Tetapi iapun melangkah mendekat

pula.

Namun tiba-tiba saja Ki Bekelpun telah meloncat menyerang.

Tangannya dengan cepat terjulur lurus ke arah dada Wijang.

Namun Wijangpun dengan cepat mengelak. Ia belum menjajagi

kekuatan dan kemampuan Ki Bekel sehingga ia masih harus

berhati-hati menghadapinya.

Serangan-serangan Ki Bekelpun kemudian datang beruntun.

Cepat dan berbahaya. Sekali-sekali Wijang dengan sengaja

menyentuh serangan-serangan itu. Menangkis sambil mengelak.

Dengan demikian, maka beberapa saat kemudian Wijangpun

berhasil menjajagi kekuatan dan kemampuan Ki Bekel. Iapun

kemudian dengan cepat pula dapat mengukur, seberapa jauh

kemampuan Ki Bekel di dalam olah kanuragan.

Namun Wijangpun menyadari, bahwa, Ki Bekel itu tentu

masih belum mengerahkan segenap kemampuannya. Karena itu,

maka Wijangpun telah berusaha memancing, seberapa tinggi

puncak kemampuan Ki Bekel itu.

Karena itulah maka Wijang tidak hanya sekedar menangkis

dan menghindar. Tetapi Wijangpun kemudian telah menghentak

pula menyerang.

Serangan-serangan Wijang yang datang membadai itu telah

mengejutkan Ki Bekel. Ia tidak mengira bahwa anak muda

pengembara itu mampu berbuat sebagaimana dilakukan itu.

Karena itu, maka Ki Bekelpun segera berloncatan surut untuk

mengambil jarak.

Wijang tidak memburunya. Ia melihat betapa wajah Ki Bekel

menjadi tegang. Nafasnya mengalir semakin cepat. Rasa-rasanya

sulit untuk mempercayai tataran kemampuan pengembara itu.

“Ki Bekel,” berkata Wijang kemudian, “sekali lagi aku minta Ki

Bekel berpikir jernih. Aku akan pergi. Jangan halangi jalanku

atau aku akan membuka jalanku sendiri. Jika aku harus

membuka jalanku sendiri, maka aku tidak bertanggung jawab

atas segala akibat yang dapat timbul.”

Ki Bekel itu menggeram. Ia tidak mau melihat kenyataan itu.

Karena itu, maka iapun berkata, “Aku akan membungkam

mulutmu.”

Wijang tidak sempat menjawab. Orang itu tiba-tiba saja telah

meloncat menyerang dengan garangnya. Kakinya terjulur

mengarah ke lambung.

Tetapi Wijang dengan sigapnya menghindar. Bahkan sambil

berputar kaki Wijang telah menyambar dada Ki Bekel.

Ki Bekel itupun terhuyung-huyung. Namun akhirnya ia tidak

dapat mempertahankan keseimbangannya, sehingga Ki Bekel

itupun jatuh terlentang.

Ki Bekel berusaha untuk segera melenting berdiri. Namun

demikian ia bangkit, tangan Wijang telah menyambar

tengkuknya, sehingga sekali lagi Ki Bekel itu jatuh. Tertelungkup.

Ki Bekel itu mengerang kesakitan. Wajahnya menjadi kotor

oleh debu. Bahkan terasa pahit di mulutnya yang menjadi sangat

kotor.

Betapa kemarahan membara di jantungnya. Namun Ki Bekel

itu tidak segera dapat bangkit berdiri. Sekali terdengar ia

mengerang kesakitan.

Sementara itu, Wijangpun bergeser mundur. Iapun segera

memberi isyarat kepada Paksi. Sebagaimana mereka putuskan,

bahwa mereka akan berusaha meloloskan diri dari orang-orang

padukuhan itu. Dengan demikian, maka Wijang dan Paksi akan

menghindari kemungkinan yang lebih buruk lagi.

Paksilah yang kemudian berjalan di depan sambil memutar

tongkatnya.

Orang-orang yang mengepung Wijang dan Paksi itu terkejut

melihat keadaan Ki Bekel. Menurut anggapan para penghuni

padukuhan itu, Ki Bekel adalah orang yang tidak terkalahkan.

Namun melawan anak muda pengembara itu, Ki Bekel seakanakan

menjadi tidak berdaya.

Karena itu, maka orang-orang yang mengepung Wijang dan

Paksi itupun menjadi gelisah. Bahkan kemudian perasaan takut

pun mulai menyelinap di hati mereka. Sehingga ketika Paksi

memutar tongkatnya sambil melangkah ke arah regol yang

sedang diperbaiki itu, orang-orang yang mengepungnya telah

menyibak.

Sebelum Ki Bekel dapat bangkit dan memberikan aba-aba,

maka Wijang dan Paksipun telah menghambur keluar regol

halaman. Keduanyapun kemudian berlari menjauhi regol

halaman rumah Ki Bekel itu. Bukan karena ketakutan, tetapi

justru perasaan khawatir, bahwa karena tingkah laku mereka, di

padukuhan itu akan jatuh korban.

Rasa-rasanya memang aneh bagi Wijang dan Paksi yang harus

berlari kencang seperti dua ekor tupai yang diburu oleh anakanak

sepadukuhan.

Ketika Ki Bekel kemudian bangkit berdiri sambil mengusap

wajahnya yang kotor oleh debu dan tanah berpasir, serta darah

yang meleleh di sela-sela bibirnya, karena dua buah giginya patah

ketika ia jatuh terjerembab, maka iapun segera bertanya, “Di

mana pengembara edan itu?”

Orang-orang yang berada di halaman itu saling berpandangan.

Tetapi tidak seorang pun yang menjawab.

“Di mana kedua iblis itu, he?”

Orang yang bertubuh tinggi besar yang punggungnya masih

terasa sakit itupun menjawab, “Mereka melarikan diri, Ki Bekel.”

“Lari? Dan kalian tidak berusaha menangkap mereka?”

“Bagaimana mungkin kami dapat melakukannya, Ki Bekel?”

“Jadi kalian yang jumlahnya sekian banyak itu tidak berani

menangkap hanya dua orang pengembara?”

Seorang yang bertubuh agak gemuk itupun berdesis, “Mereka

mempunyai ilmu iblis, Ki Bekel.”

Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun Ki Bekel itupun

sempat mengingat-ingat, apa yang telah terjadi atas dirinya

hampir di luar sadarnya. Dengan kain panjangnya ia mengusap

wajahnya beberapa kali. Beberapa goresan nampak di dahi dan

hidungnya.

Namun Ki Bekel tidak dapat menyalahkan orang-orang yang

berada di halaman rumahnya. Ki Bekel tahu, bahwa kedua orang

pengembara itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan

dirinya tidak mampu berbuat apa-apa menghadapi seorang saja

di antara mereka.

“Biarlah iblis itu lari,” desis Ki Bekel kemudian. “Jika saja

mereka tidak lari, aku akan membunuh mereka.”

Orang-orang yang berada di halaman itu tidak ada yang

menyahut. Tetapi mereka melihat kenyataan di hadapan mereka,

bahwa Ki Bekel itu tentu akan dikalahkan seandainya

perkelahian itu akan berlanjut.

Untuk beberapa saat lamanya orang-orang yang berada di

halaman rumah itu saling berdiam diri. Baru kemudian Ki Bekel

itupun berkata, “Pulanglah. Tetapi jangan kehilangan

kewaspadaan. Mungkin kedua pengembara itu akan kembali

bersama dengan kawan-kawannya.”

Orang-orang padukuhan itupun kemudian telah

meninggalkan halaman rumah Ki Bekel itu pula ke rumah

masing-masing kecuali para bebahu padukuhan. Tetapi beberapa

orang di antara mereka justru berhenti di mulut jalan. Mereka

masih membicarakan kedua orang pengembara yang gagal

mereka tangkap.

“Nampaknya keduanya memang bukan orang jahat,” berkata

seorang yang bertubuh kecil dan pendek.

Orang yang bertubuh tinggi dan besar itupun berkata, “Ya.

Agaknya mereka bukan orang jahat Meskipun punggungku rasarasanya

patah ketika aku dilemparkannya, tetapi nampaknya

mereka tidak ingin menyakiti siapa pun.”

“Tetapi lambungku rasa-rasanya telah dilubangi dengan

tongkat itu.”

“Tetapi bukankah tidak apa-apa? Hanya sedikit biru?”

Orang yang lambungnya tersentuh tongkat Paksi itupun

berkata, “Kelihatannya memang hanya sedikit biru. Tetapi

sakitnya sampai ke jantung.”

“Kau memang cengeng,” berkata tetangganya yang lain.

“Kemarin kau merintih kesakitan di belakang regol halaman

rumahmu. Aku kira ada yang terjadi. Ternyata kau hanya

diseruduk oleh kambing peliharaanmu sendiri.”

“Sakitnya bukan main. Coba kau pergi ke rumahku. Aku lepas

kambing jantanku itu. Jika kau diseruduk pantatmu, maka tiga

hari kau tidak akan dapat berjalan.”

Tetangga-tetangganya yang ikut berbincang di mulut jalan

padukuhan itu tertawa.

Namun seorang di antara merekapun berkata, “Agaknya Ki

Demang benar. Panggraita Ki Demang cukup tajam, sehingga Ki

Demang menanggapi kehadiran kedua orang itu dengan baik

sebagaimana dikatakan oleh Ki Bekel.”

“Ki Bekel memang agak tinggi hati.”

“Keduanya adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Menilik

wajah mereka, mereka masih terlalu muda. Namun agaknya

pengembaraan mereka telah membuat mereka menjadi matang.”

“Jika orang itu ingin membunuhku, maka agaknya dengan

mudah dapat dilakukan. Tetapi aku tidak mati,” berkata orang

yang bertubuh tinggi besar.

“Meskipun ujudnya sedang-sedang saja, tetapi bagaimana

mungkin ia dapat mengangkatmu seperti mengangkat seonggok

kapuk saja.”

“Aku juga keheranan atas tenaganya yang sangat besar. Aku

diangkatnya begitu saja tanpa ancang-ancang.”

“Ke mana mereka sekarang?”

“Entahlah. Bukankah kita tidak mau cari perkara?”

Orang-orang itupun terdiam. Sementara itu, orang yang

perutnya tersentuh tongkat Paksi itupun berkata, “Aku akan

pulang. Keluargaku harus bersukur, bahwa aku masih sempat

pulang. Jika perutku benar-benar berlubang, maka yang pulang

hanyalah namaku. Anakku tidak akan ada yang mencarikan

makan. Padahal mereka masih terlalu kecil untuk mencari makan

sendiri. Aku tidak mau mereka menjadi anak tiri dari laki-laki

manapun.”

Orang itu masih akan berbicara lagi. Tetapi seorang

tetangganyapun berkata, “Sudahlah. Pulanglah. Suaramu tentu

lebih menggelisahkan daripada kemungkinan kembalinya kedua

orang itu tadi.”

“He?”

“Anak dan istrimu menunggumu di rumah.”

Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun

melangkah dengan kepala tunduk pulang ke rumahnya. Tetapi

beberapa langkah kemudian orang itu berhenti. Ia masih saja

berkata, “Aku akan pergi ke sawah. Tetapi aku harus pulang

dahulu mengambil cangkul dan menunjukkan kepada keluargaku

bahwa aku tidak apa-apa. Aku dapat mengatasi kesulitan akibat

pukulan tongkat anak muda yang berilmu tinggi itu.”

“Ya,” kawannya memotongnya, “baru sekarang kami, tetanggatetanggamu

sejak kita masih kanak-kanak, mengetahui bahwa

kau kebal.”

“Kau mulai menghina.”

Tetangganya itu tertawa. Bahkan yang lainpun tertawa pula.

Seorang di antara mereka berkata, “Jangan marah. Orang yang

cepat marah, akan lekas menjadi tua. Sementara istrimu masih

tetap muda.”

Orang itu bersungut-sungut. Namun iapun meneruskan

langkahnya, pulang ke rumahnya.

“Apa yang dilakukannya di rumah?” desis salah seorang

tetangganya.

“Ia harus bersukur bahwa anak dan istrinya betah

mendengarkan celotehnya yang agaknya berlangsung siang dan

malam.”

“Mereka tentu sudah terbiasa, sehingga tidak akan

menimbulkan masalah lagi.”

Namun sejenak kemudian, orang-orang yang masih berada di

ujung jalan itupun telah beranjak pulang ke rumah masingmasing.

Dalam pada itu, Wijang dan Paksipun sudah menjadi semakin

jauh dari padukuhan itu. Sambil melangkah di atas jalan sempit,

Wijangpun bertanya, “Menurut pendapatmu, bagaimana sikap

orang-orang padukuhan itu?”

“Mereka tidak marah kepada kita,” jawab Paksi. “Ternyata

bahwa mereka tidak mengejar kita.”

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Bekel padukuhan itu

terlalu tinggi hati dan sombong. Mudah-mudahan yang terjadi

dapat menjadi pelajaran baginya. Keterangan Ki Demang tidak

didengarkannya. Ia lebih senang mendengarkan kata hatinya

yang sombong itu.”

“Orang itu akan berpikir dua tiga kali tentang sikapnya

terhadap kita.”

“Bukankah Ki Bekel sudah telanjur bersikap? Jika saja kita

tidak mempunyai kemampuan untuk meloloskan diri, apakah

kita tidak menjadi bubur. Kita akan jatuh di tangan orang-orang

padukuhan ini, sementara Ki Bekel justru menginginkan kita

dilumatkan. Tidak ada orang yang akan dapat melindungi kita.”

Paksi mengangguk-angguk. Iapun membayangkan orangorang

yang tidak bersalah, yang harus mengalami nasib buruk

karena sikap orang-orang yang berpikiran pendek.

Untuk beberapa saat keduanya tidak berbicara. Mereka

seakan-akan tenggelam ke dalam angan-angan mereka masingmasing.

Dalam pada itu, mereka berdua masih menyusuri jalan

sempit. Mereka merasa bahwa mereka telah menempuh arah

yang benar. Ki Gede Lenglengan juga berjalan melalui

kademangan itu. Mungkin mereka akan dapat keterangan dari

padukuhan-padukuhan yang mereka lewati tentang sekelompok

orang yang langsung dipimpin oleh Ki Gede Lenglengan beberapa

hari yang telah lewat.

Namun kedua orang pengembara itu merasa bahwa mereka

tidak akan menuju ke daerah yang asing. Bahkan rasa-rasanya

mereka akan pulang ke rumah mereka yang sudah lama mereka

tinggalkan.

Ketika Paksi menengadahkan wajahnya, maka dilihatnya

selembar awan bergayut di langit. Sekelompok burung pipit

terbang melintas dengan cepatnya, seperti selembar kain hitam

yang tembus pandang melayang membayangi awan yang putih.

Namun sekejap kemudian telah hilang ke arah tenggara.

“Kita akan melingkari gunung ini,” berkata Wijang.

“Ya. Kita akan menjelajahi kembali sisi selatan kaki Gunung

Merapi.”

“Daerah yang sudah banyak kita kenal.”

Keduanyapun berjalan semakin cepat, seakan-akan mereka

ingin segera sampai ke sisi selatan.

Namun jalan yang mereka lalui bukan jalan yang lebar dan

rata. Jalan yang mereka lalui adalah sebuah lorong sempit yang

berbatu-batu.

Namun keduanyapun kemudian telah turun ke sebuah jalan

yang lebih besar. Jalan yang nampaknya lebih ramai. Ada bekas

jalan pedati yang menjelujur sepanjang jalan itu.

Mereka berduapun menepi ketika mereka berpapasan dengan

dua orang berkuda. Nampaknya dua orang saudagar dalam

perjalanan.

“Marilah, kita ikuti jalan ini,” berkata Wijang.

Paksi mengangguk. Menurut dugaannya, jalan itu akan

menuju di arah lain.

Tetapi menurut penglihatan mereka, di depan mereka terdapat

sebuah padukuhan yang lebih besar dari padukuhan-padukuhan

yang lain.

Demikianlah beberapa saat mereka berjalan menuju ke

padukuhan di hadapan mereka. Sebuah padukuhan yang

memang di ujung bulak persawahan yang nampaknya subur. Air

yang jernih mengalir di parit yang membujur di pinggir jalan.

“Mudah-mudahan di padukuhan itu ada pasar meskipun kecil

atau sudah sepi. Asal masih ada kedai yang buka,” desis Paksi.

“Kau sudah lapar?”

“Aku haus. Tetapi aku tidak ingin minum air parit. Bukankah

kau akan mengatakan bahwa di parit itu mengalir air yang

jernih?”

Wijang tertawa.

Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah sampai di

regol padukuhan. Keduanyapun semakin yakin, bahwa

padukuhan itu termasuk padukuhan yang alami dibandingkan

dengan padukuhan-padukuhan di sekitarnya. Di pintu regol

padukuhan mereka berpapasan dengan sebuah pedati yang

agaknya mengangkut hasil bumi.

Di belakang pedati itu, dua orang perempuan berjalan sambil

menggendong bakul berisi berbagai macam kebutuhan dapur.

Wijang dan Paksi melangkah terus menyusuri jalan

padukuhan. Semakin lama semakin dalam. Namun mereka masih

belum sampai ke pasar.

Ternyata pasar itu justru terletak di sisi lain dari padukuhan

itu.

Pasar itu memang bukan satu pasar yang besar. Tetapi

nampaknya hari itu adalah hari pasaran. Menilik bekasnya, maka

hari itu di pasar itu penuh dengan para penjual dan pembeli

sehingga meluap sampai di pinggir jalan.

Meskipun saat itu pasar sudah nampak agak lengang, namun

masih ada juga satu dua kedai yang pintunya terbuka.

Sedangkan di sudut pasar itu masih terdengar suara pandai besi

yang sedang menempa.

“Marilah, kita lihat. Apa yang dikerjakan oleh pandai besi itu,”

ajak Wijang.

“Bukankah kau mencari kedai?”

“Kedai itu masih belum akan tutup.”

Paksi tidak menyahut lagi. Tetapi bersama-sama dengan

Wijang keduanya memasuki pasar yang sudah menjadi agak sepi

itu.

Di sudut pasar itu, beberapa orang pandai besi masih sibuk

menempa besi yang merah membara. Sementara yang lain masih

juga membakar besi di dalam bara api yang merah dihembus oleh

ububan di sebelah perapian.

Wijang dan Paksipun kemudian berdiri sambil mengamati

benda yang sedang ditempa itu.

“Sebuah pedang,” desis Wijang.

“Ya,” Paksi mengangguk-angguk.

Beberapa lama mereka menunggui pandai besi yang sedang

menempa sebilah pedang itu. Hasilnya memang tidak terlalu

baik. Tetapi nampaknya pedang yang tidak terlalu panjang itu

mencukupi kebutuhan bagi orang-orang pedesaan.

Ketika Wijang dan Paksi kemudian berjongkok di sebelah

gubuk tempat pande besi itu bekerja, Wijang menggamit Paksi

sambil berdesis, “Tidak hanya sebuah. Lihat, ada beberapa bilah

pedang yang sudah siap di sebelah ububan itu.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin sebuah

pesanan.”

“Mungkin sekali.”

Agaknya seorang di antara pandai besi itu melihat dua orang

anak muda memperhatikan beberapa bilah pedang yang

teronggok di sebelah ububan itu. Sambil mengusap keringatnya

orang itu berdesis, “Kau tertarik pada pedang-pedang itu, anak

muda?”

“Ki Sanak membuat beberapa buah pedang Pesanan?”

“Ya. Tetapi jika kau ingin membeli, kami tidak berkeberatan.

Kami masih juga membuat pedang yang lain.”

Wijang dan Paksipun kemudian melihat-lihat pedang yang

sudah siap itu. Tinggal memberi hulu dan membuat sarungnya.

“Kau tertarik, anak muda?” bertanya pandai besi itu.

Wijang tersenyum. Katanya, “Pedang yang baik. Siapakah

yang memesannya?”

“Orang sepadukuhan telah memesan pedang. Bahkan orangorang

dari padukuhan sebelah menyebelah.”

“Kenapa tiba-tiba mereka memesan pedang sekian

banyaknya?”

Pandai besi itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya

Wijang dan Paksi berganti-ganti. Pandai besi itu tidak melihat

kesan buruk pada wajah-wajah mereka. Karena itu, maka iapun

menjawab, “Beberapa hari yang lalu, sebuah padukuhan telah

dirampok. Orang-orang padukuhan itu tidak dapat berbuat apaapa.

Mereka tidak berani melawan karena orang-orang

padukuhan itu tidak mempunyai senjata yang memadai. Hanya

ada satu dua orang yang mempunyai keris. Tetapi agaknya keris

terlalu kecil dan pendek untuk berkelahi melawan perampok yang

bersenjata pedang dan golok. Karena itu, maka orang-orang

padukuhan itupun telah memesan pedang. Jika para perampok

itu datang kembali, maka mereka sudah siap untuk

melawannya.”

Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Namun ingatan

merekapun segera lari kepada Ki Gede Lenglengan.

“Apakah perampok itu jumlahnya banyak?” bertanya Wijang.

“Tidak terlalu banyak. Tetapi pemimpinnya, seseorang yang

sudah cukup tua tetapi masih nampak garang, mempunyai ilmu

yang tinggi.”

Wijang dan Paksi masih mengangguk-angguk.

“Nah, apakah kalian juga akan membeli pedang?”

“Kami belum pernah mempergunakan pedang, Ki Sanak. Ada

keinginan untuk memilikinya. Tetapi kami tidak tahu untuk apa.

Aku membayangkan, alangkah gagahnya jika aku membawa

pedang di lambung.”

“Jika demikian, cobalah memiliki pedang.”

Tetapi pande besi yang lain, yang rambutnya sudah putih

tergerai di bawah ikat kepalanya, menyahut, “Jangan, anak

muda. Jika kalian tidak pernah membawa pedang, sebaiknya

kalian tetap tidak membawa pedang. Pedang adalah ciri

kekerasan. Alangkah damainya kalian yang tidak terbiasa

membawa pedang, karena kalian akan dijauhkan dari

kekerasan.”

Namun pandai besi yang muda menyahut, “Tetapi jika bahaya

itu datang mengancam kita?”

“Tanpa pedang di lambung, kalian akan merasa lebih tenang.

Hidup kalian akan terasa damai.”

Pandai besi yang muda tidak menyahut. Namun iapun

kembali ke pekerjaannya, menempa besi dan baja untuk

membuat pedang.

Orang yang rambutnya sudah mulai putih itu sambil bekerja

berkata, “Kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini ternyata

memberikan kesempatan kerja yang lebih luas kepada kami.

Tetapi setiap kali kami harus merenung, adakah kerja kami ini

tidak bertentangan dengan tatanan kehidupan antara sesama

yang seharusnya saling mengasihi?”

Wijang dan Paksi tidak menjawab. Tetapi pandai besi yang

muda itu berkata, “Senjata ini semata-mata untuk

mempertahankan diri, Kek. Bukankah di dalam kenyataan hidup

ini masih ada orang yang ingin berbuat jahat, yang ingin

memaksakan kehendaknya atas kita? Seandainya orang-orang

padukuhan itu tidak membuat pedang, apa yang dapat mereka

lakukan jika para perampok itu datang kembali dengan

membawa pedang di lambung mereka?”

“Aku tidak ingkar dari kenyataan itu. Nyatanya aku pun ikut

membuat pedang. Tetapi sebaiknya kedua anak muda itu tidak

membeli pedang. Jangan membayangkan bahwa kalian akan

nampak gagah jika di lambung kalian tergantung pedang.”

Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kami

tidak akan membawa pedang di lambung. Kami hanya ingin

sekedar melihat, bagaimana pedang itu dibuat.”

Orang yang berambut putih itupun terdiam. Namun

tangannya masih saja sibuk untuk menyelesaikan pedang yang

sedang digarapnya.

Beberapa saat kemudian, maka Wijang dan Paksipun minta

diri. Perasaan haus itu terasa mengganggu mereka lagi. Apalagi

mereka berada di panasnya perapian dari pandai besi itu.

“Kita singgah di kedai itu sebentar,” berkata Wijang.

Namun ketika mereka baru beranjak beberapa langkah dari

tempat pandai besi itu bekerja, mereka tertarik kepada

sekelompok orang yang berjalan menuju ke tempat pandai besi

itu bekerja di sudut pasar.

“Apa yang akan mereka lakukan? Apakah mereka itu orangorang

padukuhan yang memesan pedang?” desis Paksi.

“Tidak. Tentu bukan. Mereka tentu bukan orang-orang

padukuhan yang memesan pedang. Tampang mereka bukan

tampang orang-orang lugu yang mencoba untuk melindungi diri

mereka sendiri dengan pedang. Tetapi orang-orang itu justru

orang-orang yang telah matang bermain pedang.”

Paksi mengangguk-angguk. Namun Wijangpun kemudian

menariknya minggir. Agaknya lincak bambu itu dipergunakan

oleh seorang penjual makanan dan minuman untuk

mempersilahkan tamu-tamunya duduk. Tetapi karena hari sudah

terlalu siang, maka penjual makanan dan minuman itu sudah

pulang.

Sebenarnyalah bahwa sekelompok orang itu telah melangkah

menuju ke tempat pandai besi itu bekerja. Seorang di antara

mereka tubuhnya tinggi besar dan dengan perut yang buncit,

berkumis tebal, sedangkan rambutnya terurai lepas di bawah ikal

kepalanya yang dililitkan begitu saja di kepalanya.

“Apa yang kalian kerjakan, kakek tua?” bertanya orang yang

tinggi besar dan perutnya buncit itu.

“Kami membuat parang, Ki Sanak.”

“Parang apa?”

“Parang pembelah kayu. Untuk mereka yang bekerja di dapur

atau pencari kayu bakar di hutan.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Jangan menganggap mataku

buta atau otakku tumpul. Menurut penglihatanku, kau sedang

membuat pedang.”

“Pedang?” suara orang berambut putih itu meninggi. “Apakah

aku membuat pedang? Ki Sanak, ini namanya parang pembelah

kayu bakar.”

Orang yang bertubuh tinggi besar dengan perut buncit itu

tertawa semakin keras. Katanya, “Untuk apa kau membuat

pedang, Ki Sanak? Bahkan tidak hanya sebuah. Sejak dua tiga

hari yang lalu, orang-orangku melihat kau membuat pedang.”

“Ya,” orang tua itu menarik nafas dalam-dalam, “kami

memang mendapat pesanan pedang dari orang-orang

Karangwaru.”

“Kenapa mereka beramai-ramai membuat pedang?”

“Sekelompok perampok telah datang ke padukuhan itu, Ki

Sanak. Untuk menjaga kemungkinan buruk itu terulang, maka

merekapun telah memesan pedang kepada kami.”

Yang kemudian tertawa bukan hanya orang bertubuh tinggi

besar dan perutnya buncit itu. Tetapi kawan-kawannya pun

tertawa pula.

“Orang-orang Karangwaru akan melawan jika di padukuhan

mereka didatangi sekelompok perampok?”

“Ya, Ki Sanak. Ketika perampok itu datang beberapa hari yang

lalu, mereka sama sekali tidak siap menghadapinya.”

“Kemudian merekapun mempersiapkan diri dengan memesan

sejumlah pedang kepadamu?”

“Ya.”

Namun tiba-tiba saja suara tertawa orang yang bertubuh

tinggi besar itu terdiam, seakan-akan ikut tertelan ke dalam

perutnya yang buncit itu. Dengan lantang iapun bertanya, “Jadi

di Padukuhan Karangwaru beberapa hari yang lalu telah

didatangi sekelompok perampok?”

“Ya, Ki Sanak. Pemimpinnya sudah tua, tetapi ia memiliki

ilmu yang sangat tinggi.”

“Persetan dengan tikus itu. Kau tahu, siapakah pemimpin

gerombolan perampok itu?”

“Orang-orang Karangwaru tidak mengatakannya. Mereka

agaknya belum mengenal orang yang memimpin perampokan

itu.”

“Gila. Jadi ada sekelompok perampok yang berani merampok

di daerah ini? Ini wilayahku. Ini wewenangku. Daerah ini ada di

dalam kuasaku.”

“He, apa maksudmu? Apakah kalian wakil dari Pajang yang

bertugas untuk melindungi kami?”

“Orang tua yang dungu. Kami bukan petugas dari Pajang.

Tetapi aku adalah Sura Tunda. Kau tentu sudah pernah

mendengar namaku.”

“O,” orang tua itu mengangguk-angguk. “Ya. Aku sudah

pernah mendengar nama itu. Nama yang dapat membuat setiap

bulu di tubuh orang yang mendengarnya, meremang. Sura

Tunda.”

“Jika demikian, kau tentu tahu, bahwa tidak ada gerombolan

lain yang boleh mengusik daerah ini.”

“Entahlah, Ki Sanak. Aku tidak tahu apa-apa kecuali bekerja

di perapian ini.”

“Jika kau tidak tahu, sekarang aku akan memberitahu

kepadamu, bahwa kuasaku sekarang sudah merembes sampai

lingkungan ini. Sejak sepekan ini aku sudah memperluas daerah

kuasaku. Siapa yang mencoba menentang, akan aku hancurkan.

Kuasaku itu meliputi Padukuhan Karangwaru pula.”

Pandai besi yang berambut putih itu mengangguk-angguk.

Katanya, “Baiklah, Ki Sanak. Nanti aku beritahukan pula kepada

orang-orang Karangwaru yang memesan pedang-pedang ini.”

 

Jilid 37

“YA. Katakan kepada orang-orang Karangwaru, bahwa aku, Sura

Tunda, telah memperluas daerah pengaruhnya sampai ke

Karangwaru. Karena itu, maka mereka tidak perlu takut terhadap

gerombolan-gerombolan yang akan mengganggu padukuhan itu.

Akulah yang akan menanganinya.”

“Baik, Ki Sanak. Baik. Aku akan mengatakan kepada mereka.”

“Karena itu pula, maka mereka tidak perlu memesan pedang

kepadamu. Pedang itu tidak akan ada gunanya.”

“Tentu ada gunanya, Ki Sanak. Jika gerombolan itu tiba-tiba

kembali? Bukankah kau tidak setiap hari berada di Karangwaru?”

“Orang-orang Karangwaru tidak boleh bersenjata.”

“Tentu sebagian besar pedang itu sudah siap. Apa salahnya

jika mereka menyimpan senjata di rumahnya?”

“Mereka akan dapat melawan gerombolanku.”

“Apakah mereka berani melakukannya? Berbeda dengan

gerombolan yang sekedar lewat. Mereka memang harus dilawan.”

“Kau tidak usah membantah, kakek tua. Serahkan pedangpedang

itu kepadaku. Orang-orangku juga membutuhkannya.”

“Kalau kau membutuhkan pedang, kau dapat memesan

kepadaku dengan harga yang sama dengan orang-orang

Karangwaru.”

Orang berambut putih itu tertawa. Katanya, “Jangan

bergurau, Kek. Waktuku tidak banyak. Serahkan pedang-pedang

yang sudah siap itu kepadaku.”

“Ki Sura Tunda, orang-orang Karangwaru sudah memberikan

uang panjar kepadaku. Jika pedang-pedang ini tidak aku

serahkan kepada mereka, maka mereka akan menuntut uang itu

kembali.”

“Katakan saja bahwa pedang-pedang mereka telah aku ambil.”

“Tentu mereka tidak mau tahu. Mereka tentu menuntut

kepadaku untuk mengembalikan uang yang telah aku terima.

Padahal uang itu telah habis aku belanjakan bahan-bahan

pembuatan pedang ini.”

Ki Sura Tunda itu tertawa semakin keras. Di sela-sela suara

tertawanya iapun berkata, “Orang tua yang malang. Agaknya

nasibmu memang buruk.”

“Karena itu, jangan ambil pedang-pedang itu, Ki Sura Tunda.

Jika pedang-pedang itu kau ambil aku harus menjual tanah

pekaranganku untuk mengembalikan uang panjar itu. Lalu aku

dan keluargaku akan berkeliaran tanpa tempat tinggal.”

“Uruslah dirimu sendiri, kakek yang malang. Yang penting

bagiku, pedang-pedang itu harus berada di tanganku.”

Paksi telah menggamit sambil berdesis, “Orang itu akan

memaksa mengambil pedang-pedang itu.”

“Kasihan pande besi tua itu,” sahut Wijang.

“Apakah kita akan ikut campur?”

“Tunggu. Kita akan melihat, apa yang akan terjadi. Kau lihat

pande besi yang tua itu tidak nampak ketakutan?”

“Aku lihat. Tentu ada sesuatu di balik sikapnya itu.”

Wijang dan Paksi tidak beranjak dari tempatnya. Sementara

itu, orang yang menyebut dirinya Sura Tunda itupun berkata

lantang, “Kek, jangan halangi orang-orangku mengambil pedangpedang

yang telah kau buat. Kami memerlukannya. Ada beberapa

orang yang menyatakan diri untuk ikut bersama kami. Karena

itu, maka aku ambil pedang-pedangmu untuk aku bagikan

kepada mereka. Dengan demikian, maka kau sudah membantu

menegakkan kuasaku di daerah ini, sehingga untuk seterusnya

kau tidak akan terganggu lagi.”

“Jangan, Ki Sanak. Sudah aku katakan, bahwa aku sudah

menerima uang panjar dari orang-orang Karangwaru.”

“Diam,” akhirnya kesabaran Sura Tunda itupun sampai ke

batas. Kepada orang-orangnya Sura Tunda itupun berkata

lantang, “Ambil pedang-pedang yang sudah siap itu.”

Tetapi pande besi yang tua itu tiba-tiba saja bangkit berdiri

sambil berkata, “Sura Tunda, aku katakan sekali lagi jangan

ganggu kami. Kami juga sedang mencari uang untuk menghidupi

keluarga kami. Jika kau ingin mencari kekayaan, harta benda

dan apa saja dengan caramu, lakukanlah. Aku tidak akan

mengganggumu. Tetapi kau jangan menggangguku.”

Wajah Sura Tunda menjadi merah. Kemarahannya bagaikan

meledakkan jantungnya. Namun justru untuk sesaat Sura Tunda

berdiri saja dengan mulut yang bergetar.

Baru kemudian ia dapat berbicara, “Jadi kau akan melawan?”

“Ya,” jawab pande besi yang tua itu.

“Kau sadari, apa yang kau lakukan, kakek tua?”

“Aku sadari sepenuhnya. Daripada aku harus berhadapan

dengan orang-orang Karangwaru, maka aku lebih senang

berhadapan kau dan orang-orangmu.”

“Gila. Apakah kau memang sudah gila, Kek?”

“Tidak. Aku dan kawan-kawanku yang bekerja di sini tidak

gila. Jika aku menyerahkan pedang-pedang itu, maka aku benarbenar

sudah gila, karena aku harus menjual tanah pekaranganku

dan rumahku.”

“Kau tahu, bahwa kau akan dapat mati karena pokalmu itu?”

“Kalau aku mati, maka aku tidak perlu lagi berpikir untuk

mengembalikan uang panjar yang sudah aku terima dari orangorang

Karangwaru.”

“Setan kau, kakek tua,” Sura Tunda itupun menjadi semakin

marah. Lalu katanya kepada orang-orangnya, “Tangkap orang tua

itu. Aku ingin ia tetap hidup. Biarlah ia mati dibunuh orangorang

Karangwaru jika ia tidak dapat mengembalikan uang

panjar yang sudah diterimanya.”

Dua orang pengikut Sura Tunda itupun segera bergerak.

Namun orang tua itupun berkata, “Biarlah aku datang kepada

kalian. Jika kalian datang kemari, agaknya akan sangat

berbahaya bagi kalian. Jika kalian terperosok ke dalam perapian

itu, maka kalian akan menjadi cacat. Bahkan mungkin mati.”

Wijanglah yang kemudian menggamit Paksi sambil berbisik,

“Kita tidak perlu ikut campur.”

“Ya, orang tua itu nampaknya cukup meyakinkan.”

Sebenarnyalah, pande besi yang tua itupun kemudian keluar

dari gubuk tempatnya bekerja. Demikian ia berada di depan

gubuknya, maka dua orang telah menangkap lengannya.

Namun tiba-tiba saja kedua orang itu telah terlempar. Seorang

di antaranya menimpa Sura Tunda itu, sehingga hampir saja

Sura Tunda itu jatuh terlentang.

Untunglah tangan Sura Tunda dengan cepat mampu

menggapai sebatang pohon pelindung di depan gubuk pande besi

itu, sehingga sejenak kemudian, Sura Tunda itupun telah berdiri

tegak.

Darah Sura Tunda itu bagaikan mendidih di seluruh

tubuhnya. Hampir berteriak Sura Tunda itupun berkata kepada

orang-orangnya, “Lakukan, apa yang harus kalian lakukan. Ambil

pedang-pedang itu. Siapa yang menghalangi, singkirkan. Yang

melawan, dapat kalian habisi saja.”

Namun orang-orang yang bekerja di gubuk itupun segera

berloncatan. Ternyata merekapun dengan sigap melawan para

perampok yang ingin mengambil pedang-pedang yang sedang

mereka buat.

Sejenak Sura Tunda berdiri termangu-mangu. Namun

akhirnya ia melihat, bahwa para pande besi itu bukan orang

kebanyakan. Mereka dengan tangkasnya berloncatan melawan

para pengikut Sura Tunda yang akan merampas pedang-pedang

yang telah mereka buat dengan susah payah.

Karena itu, terbakar oleh kemarahan yang memuncak, Sura

Tunda pun segera turun ke arena perkelahian. Sura Tunda

itupun langsung menghadapi pande besi tua, yang agaknya

menjadi pemimpin dari kawan-kawannya yang masih mudamuda

itu.

“Kakek tua yang tidak tahu diri. Jika kau keras kepala, aku

akan membunuhmu.”

Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun

kemudian menjawab, “Bukankah sudah aku katakan, jika aku

mati, maka aku tidak perlu lagi memikirkan, bagaimana aku

harus mencari uang untuk mengembalikan uang panjar dari

orang-orang Karangwaru.”

“Kau sudah gila, kakek tua. Tetapi baiklah, aku akan

membunuhmu dengan caraku. Cara yang tentu lebih buruk dari

cara yang dapat diambil oleh orang-orang Karangwaru.”

Orang tua itu tidak menjawab. Tetapi iapun segera bersiap

menghadapi Sura Tunda.

Sejenak kemudian, pertempuran itu berlangsung semakin

sengit. Untunglah pasar itu sudah berangsur sepi, sehingga tidak

terlalu banyak orang yang harus berlari-lari meninggalkan pasar

itu.

Sementara itu, Wijang dan Paksi masih saja berada di

tempatnya untuk menyaksikan pertempuran yang semakin seru

itu.

Namun akhirnya Sura Tunda harus mengakui kenyataan.

Pande besi tua itu ternyata memiliki ilmu yang lebih tinggi dari

Sura Tunda sendiri. Sementara itu, kawan-kawannya yang

bekerja bersamanya, telah melawan para pengikut Sura Tunda

dengan segenap kemampuan mereka. Ternyata bahwa mereka

bukannya orang-orang yang tidak berdaya. Sebagian dari mereka

memiliki bekal olah kanuragan yang dapat mereka pergunakan

untuk melindungi diri mereka.

Dalam pada itu, kemarahan Sura Tunda rasa-rasanya tidak

dapat diendapkannya lagi. Dengan garangnya, Sura Tunda

itupun berteriak kepada para pengikutnya, “Panggil semua orang

kemari. Kita bakar gubuk dan perapian ini. Kita akan

menghancurkan semua peralatannya. Kita bawa semua pedang

yang sudah jadi.”

Dua orang berlari meninggalkan arena. Di luar gerbang pasar

terdengar mereka bersuit nyaring.

Sejenak kemudian, sekelompok pengikut Sura Tunda yang

tidak ikut masuk ke dalam pasar, telah berada di dalam pasar itu

pula. Dengan geram Sura Tunda itu berteriak, “Hancurkan

tempat kerja pande besi itu dan bakar gubuknya.”

Wijang dan Paksi menjadi berdebar-debar, meskipun pande

besi yang tua itu mampu mengalahkan Sura Tunda, tetapi jumlah

pengikut Sura Tunda itu terlalu banyak. Mereka akan dapat

benar-benar menghancurkan tempat kerja pande besi itu.

Karena itu, maka Wijangpun berkata, “Bukankah kita tidak

akan tinggal diam dan membiarkan Sura Tunda menghancurkan

peralatan pande besi itu?”

“Ya. Marilah kita berbuat sesuatu.”

Sebelum para pengikut sura Tunda yang berdatangan semakin

banyak itu benar-benar merusak peralatan pande besi serta

membakar gubuk itu, maka Wijang dan Paksi telah mendekati

lingkaran pertempuran itu. Dengan lantang Wijangpun berteriak,

“Apa yang telah terjadi? Berhentilah, kenapa kalian berkelahi.”

Wijang memang tidak mempergunakan suara wajarnya. Pada

getar suaranya terasa hentakan-hentakan pada dinding jantung

orang-orang yang mendengarnya, sehingga dengan demikian,

maka orang-orang yang bertempur itu berloncatan surut.

Dengan demikian, maka pertempuran itupun telah terhenti.

“Apa yang terjadi?” bertanya Wijang pula.

“Kau siapa?” bertanya Sura Tunda.

“Kami orang-orang Karangwaru. Kami datang untuk

mengambil sebagian pedang yang kami pesan. Bukankah sudah

ada sebagian yang telah jadi?”

“Setan kau, orang-orang Karangwaru,” geram Sura Tunda.

“Aku datang untuk mengambil pedang-pedang yang sudah siap.”

“Itu pedang pesanan kami,” jawab Wijang. “Kami sudah

memberikan uang panjar. Tidak ada orang lain yang dapat

membeli pedang-pedang itu.”

Pande besi yang rambutnya sudah ubanan itu menarik nafas

dalam-dalam. Sikap Wijang itu telah mengisyaratkan kepadanya,

bahwa kedua orang anak muda itu bukan orang kebanyakan.

“Kenapa aku tidak dapat mengenalinya ketika ia berbicara

tentang pedang?” bertanya pande besi tua itu di dalam hatinya.

Namun Sura Tunda itupun berteriak, “Jangan menghalangi

kami. Aku tidak peduli, apakah kalian sudah memberikan uang

panjar atau belum. Tetapi aku memerlukan pedang-pedang itu.”

“Gila kau, Sura Tunda. Kami, orang-orang Karangwaru

memerlukan pedang-pedang itu untuk melawan para perampok.”

“Kami akan menghancurkan setiap gerombolan perampok

yang mengganggu daerah kuasa kami.”

“Persetan dengan daerah kuasamu. Kami, orang-orang

Karangwaru akan melawan kau dan para pengikutmu pula.

Pedang-pedang itu akan sangat berarti bagi kami.”

“Setan, kau. Sekarang kau hanya berdua di sini. Kau mau

apa, he?”

“Para pande besi itu nampaknya berusaha mempertahankan

pedang-pedang yang sudah kami pesan. Tentu kami akan

berpihak kepada mereka.”

“Selagi masih ada kesempatan, pergilah. Jangan

mengharapkan pedang itu lagi. Pedang itu kami perlukan untuk

melindungi daerah kuasa kami, termasuk Karangwaru. Karena

itu, orang-orang Karangwaru tidak memerlukan pedang lagi.”

“Kami memerlukan pedang itu. Justru untuk melawanmu dan

para pengikutmu.”

Kemarahan Sura Tunda tidak dapat dibendung lagi. Karena

itu, maka iapun berteriak nyaring, “Kalian tahu apa yang harus

kalian lakukan. Jangan ragu-ragu. Yang keras kepala, akan

dibinasakan.”

Wijang dan Paksipun segera bergeser saling menjauh.

Sementara itu, pande besi yang tua serta kawan-kawannya telah

bersiap pula untuk bertempur lagi. Meskipun mereka belum tahu

tingkat kemampuan kedua orang anak muda yang mengaku

orang-orang Karangwaru itu, serta mereka menyadari bahwa

lawan terlalu banyak, namun pande besi itu tidak mau

menyerahkan hasil kerja mereka kepada Sura Tunda dan para

pengikutnya.

Sejenak kemudian, pertempuranpun telah menyala kembali.

Jumlah pengikut Sura Tunda sudah menjadi lebih banyak. Tetapi

dua orang anak muda yang asing, telah berpihak kepada pande

besi itu.

Pande besi yang tua itu masih bertempur melawan Sura

Tunda. Namun Sura Tunda tidak lagi sendiri. Seorang

pengikutnya yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan telah

bergabung bersamanya, sehingga pande besi tua itu harus

bertempur melawan dua orang lawan.

Dalam pada itu, Wijang dan Paksi telah melibatkan diri pula.

Ternyata keduanya telah mengacaukan para pengikut Sura

Tunda. Orang-orang yang bertempur melawan keduanya, segera

terpelanting dan terlempar dari arena. Sebagian dari mereka

masih mampu melenting bangkit berdiri untuk meneruskan

pertempuran. Tetapi ada di antara mereka yang menyeringai

menahan sakit.

Paksi yang membawa tongkat, seakan-akan telah berubah

menjadi hantu yang menakutkan. Tongkatnya berputaran

semakin cepat. Sentuhan-sentuhan tongkatnya, rasa-rasanya

telah meretakkan tulang.

Para pengikut Sura Tunda itupun telah mempergunakan

senjata mereka pula. Ada yang mempergunakan pedang, ada

yang membawa bindi dan ada yang membawa kapak.

Sementara itu Wijangpun telah menarik sepasang pisau

belatinya pula untuk melawan senjata-senjata para pengikut

Sura Tunda.

Namun Wijang dan Paksi memang sengaja tidak ingin

membunuh. Tetapi dalam pertempuran yang semakin sengit,

keduanya sulit untuk menjaga agar senjata mereka tidak melukai

lawannya.

Sekali-sekali ujung pisau belati Wijang juga menyentuh dan

menggores tubuh lawannya, sehingga darahnya telah menitik.

Sementara itu, tongkat Paksi telah membuat beberapa orang

kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pertempuran.

Bahkan ada di antara mereka yang tulang lengannya benar-benar

menjadi retak. Seorang yang lain, pergelangan tangannya tidak

lagi dapat digerakkan. Sedangkan seorang yang bertubuh tinggi

kekurus-kurusan jatuh tersungkur karena tongkat Paksi

menyambar pahanya sehingga tulang pahanya menjadi retak.

Beberapa orang pande besi itu sempat melihat sekilas kedua

orang anak muda yang sedang bertempur dengan garangnya itu.

Mereka menyadari, bahwa keduanya adalah orang-orang yang

berilmu tinggi.

Bahkan pande besi yang tua itupun berkata kepada dirinya

sendiri, “Alangkah bodohnya aku memperlakukan kedua anak

muda itu sebagai anak-anak muda yang dungu. Ternyata mereka

adalah anak-anak yang berilmu tinggi sekali.”

Pande besi yang tua itu masih bertempur melawan Sura

Tunda. Ternyata Sura Tunda masih saja mengalami kesulitan

meskipun seorang pengikutnya membantunya.

Semakin lama, kawan-kawan Sura Tunda pun menjadi

semakin menyusut. Beberapa orang yang berusaha untuk

menghentikan perlawanan Wijang dan Paksi yang mengaku

orang-orang Karangwaru itu sudah tidak berdaya. Yang masih

mampu bertempur sudah menjadi putus asa. Mereka seakanakan

hanya tinggal mengepung Wijang dan Paksi dalam sebuah

lingkaran yang semakin longgar.

Para pande besi yang mempertahankan pedang yang telah

mereka buat dengan susah payah itupun semakin mendesak

lawan-lawan mereka pula, karena sebagian dari para pengikut

Sura Tunda sudah tidak berdaya dan yang lain dalam kelompok

menghadapi Wijang dan Paksi.

Dalam pada itu, Sura Tunda sendiri menjadi semakin sulit.

Ketika orang-orangnya menjadi semakin menyusut, maka seorang

pande besi yang masih muda telah mengambil lagi pasangan Sura

Tunda, sehingga dengan demikian Sura Tunda harus bertempur

lagi seorang melawan seorang dengan pande besi yang tua itu.

Dalam pada itu, Sura Tunda sudah tidak mempunyai harapan

lagi. Para pengikutnya pun tidak mungkin lagi dapat

mengalahkan para pande besi yang bertempur bersama-sama

dengan kedua orang Karangwaru itu.

Karena itu, maka Sura Tunda itu tidak mempunyai pilihan

lain. Ketika keadaannya menjadi semakin rumit, maka ia pun

segera bersuit nyaring.

Dalam waktu yang singkat, maka pertempuran itupun segera

menjadi kacau. Orang-orang Sura Tunda yang masih mungkin

melarikan diri telah dengan sengaja membuat pertempuran itu

menjadi tidak menentu. Mereka berlarian silang-menyilang untuk

memberikan peluang kepada Sura Tunda untuk menghilang.

Baru kemudian mereka berusaha untuk melarikan diri,

meninggalkan arena pertempuran, sambil membantu kawankawan

mereka yang kesakitan dan luka.

Pande besi yang tua itupun memberi isyarat kepada orangorangnya

untuk tidak mengejar mereka. Iapun telah melepaskan

Sura Tunda pula.

“Orang-orang itu akan menjadi sangat berbahaya, Kek,”

berkata salah seorang pande besi yang masih muda.

“Kita akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Kita akan

berbicara dengan orang-orang Karangwaru, para bebahu

padukuhan ini serta orang-orang yang ditugaskan di pasar ini.”

“Tetapi kedua orang anak muda itu bukan benar-benar orang

Karangwaru. Mereka telah membantu kita serta menyesuaikan

diri dengan keadaan yang sedang kita hadapi.”

Pande besi yang tua itu menarik nafas dalam-dalam.

Selangkah demi selangkah orang itu mendekati Wijang dan Paksi

yang berdiri termangu-mangu. “Terima kasih, anak muda. Kalian

telah membantu menyelamatkan kami.”

“Bukan apa-apa, Kek. Bukankah sudah menjadi kewajiban

kita untuk saling membantu?”

“Aku minta maaf atas kebodohanku, anak muda.”

“Maksud Kakek?”

“Aku tidak dapat melihat kemampuan kalian berdua sejak

awal. Kalian tentu menertawakan aku ketika aku mencoba

menggurui Angger.”

“Tidak, Kek. Tidak. Nasehat Kakek itu sangat berarti. Adalah

kebetulan bahwa kami berdua yang mendengarkan kali ini. Tetapi

nasehat Kakek itu akan sangat berarti pula bagi orang lain.”

Orang itu menarik nafas panjang. Ketika ia mengedarkan

pandangan matanya, maka dilihatnya pasar itu sudah sepi. Satu

dua orang yang berdatangan kembali setelah suasana menjadi

tenang, masih berdiri termangu-mangu. Namun merekapun

kemudian segera mengemasi barang-barang mereka yang tersisa.

“Jangan takut untuk datang lagi ke pasar ini,” berkata pande

besi yang tua itu kepada mereka. “Pasar ini tidak boleh mati.”

Lalu suaranya menurun seolah-olah ditujukan kepada diri

sendiri, “Di sini aku mencari nafkah. Jika pasar ini mati, maka

lapangan kerja kami juga akan mati.”

“Tidak, Kek,” sahut Paksi. “Kakek sudah mempunyai beberapa

orang langganan. Seandainya, hanya seandainya pasar ini mati,

namun jika Kakek masih bekerja di sini, akan berdatangan

orang-orang yang sudah terbiasa berhubungan dengan Kakek.

Bahkan orang-orang baru pun akan berdatangan karena mereka

membutuhkan alat-alat pertanian serta alat-alat kerja yang lain.

Parang, kapak, dan ternyata Kakek juga membuat senjata.

Sepanjang senjata itu berada di tangan yang benar untuk

kepentingan yang benar seperti orang-orang Karangwaru, maka

Kakek tidak perlu merasa bersalah.”

“Ya, Ngger,” kakek itu mengangguk-angguk.

“Nah, silahkan Kakek melanjutkan kerja kakek. Aku kira Sura

Tunda akan berpikir ulang, jika ia ingin datang kemari.”

“Kami akan menyelesaikan kerja kami untuk hari ini, anakanak

muda. Kami akan pergi ke Karangwaru untuk menyerahkan

pesanan mereka yang sudah siap. Jika pedang-pedang itu jatuh

ke tangan orang lain, maka aku harus mengganti uang panjar

itu.”

“Jadi, Kakek akan pergi ke Karangwaru?”

“Ya, Ngger.”

Paksi itupun kemudian berpaling kepada Wijang sambil

berdesis, “Apakah kita juga akan pergi ke Karangwaru? Kita akan

dapat mendengar sedikit keterangan tentang perampok itu.”

Wijang mengangguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan pergi

bersama mereka ke Karangwaru.”

“Kalian berdua juga akan pergi ke Karangwaru?” bertanya

kakek tua itu.

“Ya, Kek,” jawab Wijang. “Kami ingin mendapat sedikit

keterangan tentang para perampok yang telah mengganggu

ketenangan orang-orang Karangwaru.”

“Baik, anak-anak muda. Tetapi silahkan menunggu sebentar.

Kami akan membenahi peralatan kami.”

Wijang dan Paksipun kemudian duduk di atas amben panjang

di depan gubuk itu. Sementara itu, beberapa orang yang telah

mengemasi barang-barang dagangan mereka, maka mereka pun

telah meninggalkan pasar itu pula.

Sambil membenahi alat-alatnya pande besi yang tua itupun

berkata, “Aku juga harus berbicara dengan Ki Bekel di

padukuhan ini, anak muda. Pasar ini merupakan penghasilan

yang baik bagi padukuhan ini, sehingga jika pasar ini mati, maka

padukuhan ini akan kehilangan sumber yang terhitung deras.

Karena itu, Ki Bekel harus mengambil langkah-langkah untuk

mengatasi gerombolan-gerombolan seperti gerombolan Sura

Tunda yang merasa dirinya berkuasa di daerah ini.”

“Bukankah Kakek dan Ki Bekel dapat bekerja sama dengan

orang-orang Karangwaru yang telah terlanjur mempersiapkan

diri?”

“Ya. Itu adalah rencana yang sangat menarik. Orang-orang

Karangwaru bukan sekelompok orang penakut. Tetapi perampok

yang pernah datang ke Karangwaru itu dipimpin oleh seorang

yang berilmu sangat tinggi. Orang-orang Karangwaru yakin,

bahwa sebenarnya mereka bukan sekelompok perampok. Hanya

karena keadaan yang memaksa, maka mereka telah merampok

rumah seorang saudagar kaya di Karangwaru. Pemimpinnya telah

memperlihatkan kelebihannya, dan bahkan tidak masuk akal

bagi orang-orang Karangwaru.”

Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Bagi keduanya,

keterangan itu sudah mengarah. Sekelompok orang yang

merampok di Karangwaru itu tentu Ki Gede Lenglengan dan

beberapa orang yang mengikutinya.

Dengan demikian, maka mereka menjadi semakin yakin,

bahwa arah yang mereka tempuh adalah arah yang benar.

Demikianlah, setelah para pande besi itu selesai mengemasi

alat-alatnya, maka merekapun meninggalkan gubuk mereka

sambil membawa pedang yang telah siap untuk mereka serahkan

kepada orang-orang Karangwaru.

Karangwaru terletak tidak terlalu jauh dari pasar. Bahkan

Karangwaru adalah sebuah padukuhan yang terletak di

kademangan yang sama.

Ternyata Ki Bekel di Karangwaru adalah seorang yang ramah.

Beberapa orang pande besi yang membawa pedang itu

diterimanya dengan baik. Demikian pula Wijang dan Paksi yang

datang bersama dengan mereka.

“Baru sebagian, Ki Bekel,” berkata pande besi tua itu.

“Terima kasih,” jawab Ki Bekel. “Aku baru merencanakan

untuk melihat seberapa jauh pesanan kami sudah dikerjakan

bersama Ki Jagabaya. Sebenarnya pagi tadi kami akan pergi ke

pasar. Tetapi kami harus menunggui perbaikan bendungan,

sehingga kami menunda rencana kami itu.”

“Adalah kebetulan bahwa Ki Bekel tidak pergi ke pasar pagi

tadi,” desis pande besi itu.

“Kenapa?”

Pande besi itupun kemudian menceriterakan apa yang telah

terjadi di pasar. Sekelompok orang yang dipimpin oleh seorang

yang menyebut dirinya Sura Tunda telah datang ke tempat kerja

pande besi itu.

“Untunglah ada kedua anak muda ini, sehingga kami dapat

mengatasi gerombolan yang jumlahnya cukup banyak itu.”

Ki Bekel mendengarkannya dengan sungguh-sungguh,

kemudian dengan nada ragu iapun bertanya, “Apakah ciri-ciri

pimpinan segerombolan perampok itu seperti yang pernah aku

katakan datang merampok di padukuhan ini?”

“Tidak, Ki Bekel. Sama sekali berbeda. Bahkan Sura Tunda

telah menyatakan diri untuk menjadi pelindung di daerah ini,

termasuk Padukuhan Karangwaru.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Dengan demikian

Sura Tunda itu akan dapat dengan leluasa memeras daerah yang

disebutnya dilindunginya itu.”

“Ya. Karena itu, maka Karangwaru tidak memerlukan lagi

pedang-pedang ini, sehingga pedang-pedang ini akan diambil oleh

Sura Tunda.”

“Jadi Sura Tunda itu bukan orang yang ilmunya tidak dapat

dimengerti itu?”

“Tidak, Ki Bekel. Ternyata bahwa kami mampu melawannya.

Meskipun agaknya tanpa kedua orang anak muda itu kami

mengalami kesulitan, karena jumlah mereka terlalu banyak.”

“Baiklah. Terima kasih atas kesediaan kami mempertahankan

pedang-pedang kami dan bahkan mengantarkannya kemari.”

“Mungkin kalian memerlukannya. Jika Sura Tunda itu datang

kemari, maka sebagian dari laki-laki di Karangwaru sudah

memiliki senjata yang memadai. Sedangkan sebagian yang lain

akan segera kami selesaikan.”

“Terima kasih.”

“Namun aku ingin minta kepada Ki Bekel, agar kita dapat

bekerja bersama menghadapi Sura Tunda dan para pengikutnya.”

“Tentu. Kita saling membutuhkan. Apalagi kedua orang anak

muda itu. Mudah-mudahan kita akan dapat melawan Sura Tunda

dan para pengikutnya. Namun kami, orang-orang Karangwaru

harus berhati-hati menghadapi sekelompok orang yang dipimpin

oleh orang yang berilmu sangat tinggi itu. Jumlah mereka tidak

banyak. Tetapi nampaknya mereka tidak akan terlawan.”

“Aku kira mereka tidak akan datang lagi ke padukuhan ini, Ki

Bekel,” berkata Wijang menyela.

Ki Bekel itu mengerutkan dahinya. Pande besi yang tua itu,

serta kawan-kawannya pun merasa tertarik kepada keterangan

Wijang itu.

“Kenapa orang-orang itu tidak akan datang lagi?” bertanya Ki

Bekel.

“Mereka hanya lewat. Pada dasarnya mereka memang bukan

perampok,” jawab Wijang.

“Dari mana kau tahu?” bertanya Ki Bekel.

Wijang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun

berkata, “Aku juga berkepentingan dengan mereka.”

Ki Bekel memandang Wijang dan Paksi berganti-ganti.

Sementara itu pande besi yang tua itupun berkata, “Jadi

kehadiran kalian di sini ada hubungannya dengan perampok

yang berilmu tinggi itu?”

“Aku hanya sekedar mengikuti arah perjalanannya.”

“Tentu bukannya tanpa maksud”

Wijang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya,

“Sudahlah. Kami akan segera meneruskan perjalanan kami

mengikuti arah perjalanan orang-orang yang kalian sebut

perampok itu.”

Tetapi Ki Bekel masih bertanya, “Jika mereka sebenarnya

bukan perampok, siapakah mereka itu?”

“Mereka pada dasarnya memang bukan perampok. Mereka

justru lebih berbahaya dari sekelompok perampok. Orang itu jauh

lebih berbahaya dari Sura Tunda.”

Ki Bekel dan pande besi yang tua itu mengangguk-angguk.

Sementara Wijangpun berkata, “Sebaiknya kami minta diri. Kami

akan melanjutkan perjalanan kami.”

“Kenapa kalian tidak bermalam barang semalam di sini?

Besok pagi-pagi kalian dapat melanjutkan perjalanan.

Seandainya kalian berangkat juga sekarang, maka beberapa saat

lagi langit pun akan menjadi suram. Senja akan segera turun.”

“Terima kasih, Ki Bekel. Mudah-mudahan di perjalanan

pulang kelak kami dapat singgah. Jika sebentar lagi malam

turun, kami tidak harus segera berhenti. Sebagai pengembara

kami dapat saja berjalan siang atau malam.”

Pande besi yang tua itu juga tidak dapat mencegah kedua

anak muda itu untuk bermalam. Wijang dan Paksi berniat untuk

melanjutkan perjalanan mereka.

Setelah minum minuman hangat serta makan beberapa

potong makanannya, maka keduanyapun telah minta diri.

“Sura Tunda bukan orang yang menakutkan,” berkata Wijang.

“Jika Ki Bekel berhasil menggerakkan semua laki-laki di

padukuhan ini maka Sura Tunda tidak akan berani berbuat apaapa

di sini. Apalagi jika Ki Bekel berhubungan dengan para bekel

di padukuhan yang lain serta berbicara dengan Ki Demang.

Kakek pande besi itu tentu bersedia bekerja sama dengan

padukuhan-padukuhan di kademangan ini.”

“Tentu, Ngger,” sahut pande besi itu. “Dengan bekerja sama

kami akan menjadi semakin kuat.”

“Ki Bekel,” berkata Wijang kemudian, “kami mohon diri.

Mudah-mudahan padukuhan ini untuk selanjutnya tidak akan

diganggu oleh siapapun. Kek, dan saudara-saudaraku pande besi

yang lain, kami minta diri.”

Demikianlah Wijang dan Paksipun meninggalkan padukuhan

itu. Namun dengan demikian mereka yakin, bahwa mereka telah

menempuh jalan yang benar. Mereka berada di jalan yang telah

dilalui oleh Ki Gede Lenglengan, menuju ke sisi selatan kaki

Gunung Merapi.

Ketika kemudian malam turun, maka keduanya berada di

sebuah padukuhan kecil. Meskipun padukuhan itu kecil, tetapi

lingkungannya nampak sangat subur. Air melimpah di manamana.

Parit-parit nampaknya tetap mengalir di segala musim.

Meskipun demikian, nampaknya kehidupan di padukuhan itu

tetap saja sederhana. Orang-orang padukuhan itu memanfaatkan

kesuburan tanahnya secukupnya saja.

Tetapi seperti kebanyakan orang-orang di padukuhan yang

pernah dilewatinya, maka penghuni padukuhan itu agaknya juga

orang-orang yang ramah. Wijang dan Paksi telah mendapat

kesempatan untuk bermalam di banjar. Bahkan penunggu banjar

itu telah menyuguhi mereka ketela rebus yang masih hangat

menjelang tengah malam.

“Kami telah merepotkan Paman dan Bibi,” berkata Wijang.

“Tidak apa-apa. Ketela itu adalah ketela yang kami tanam di

kebun belakang banjar ini. Ternyata ketela itu berarti juga

sebagaimana dapat kami suguhkan bagi kalian malam ini.”

“Kami hanya dapat mengucapkan terima kasih.”

Penunggu banjar itu tersenyum. Ditinggalkannya Wijang dan

Paksi yang duduk di serambi banjar.

“Silahkan tidur di amben bambu itu, Ki Sanak. Maaf, hanya

seperti inilah yang dapat kami sediakan bagi kalian.”

“Sudah lebih dari cukup, Paman. Terima kasih atas semuanya

ini.”

“Besok pagi, jika kalian ingin pergi pagi-pagi sekali, tinggalkan

saja mangkuk itu di situ. Kalian dapat mandi di pakiwan. Jika

aku belum bangun esok pagi, kami mengucapkan selamat jalan.

Tetapi jika kalian tidak tergesa-gesa, kalian dapat menunggu aku

bangun. Maaf, kadang-kadang aku memang terlambat bangun.

Apalagi jika sampai tengah malam aku belum tidur. Mungkin

karena aku tidak mempunyai banyak kerja di pagi hari.”

“Baik, Paman. Kami tidak ingin terlalu banyak mengganggu.

Jika Paman esok belum bangun, kami mohon diri.”

Penunggu banjar itupun kemudian meninggalkan Wijang dan

Paksi di serambi gandok itu. Tetapi rumah penunggu banjar itu

hanya beradu dinding halaman saja dengan halaman banjar itu.

Pada dinding itu terdapat sebuah pintu butulan.

“Meskipun hidupnya sederhana saja, tetapi orang itu agaknya

terbiasa membantu orang lain yang memerlukannya,” berkata

Wijang sambil berbaring.

“Ya. Ia orang baik,” desis Paksi yang masih duduk di bibir

amben.

“Aku hanya akan tidur sebentar. Nanti, jika kau mengantuk,

bangunkan aku. Ganti kau yang tidur,” berkata Wijang sambil

memejamkan matanya.

Paksi tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian bersandar

dinding sambil menyilangkan kakinya di amben bambu, di

sebelah Wijang.

Sejenak kemudian, Wijangpun telah tertidur nyenyak.

Di dini hari, Wijang itupun terbangun dengan sendirinya

sebelum Paksi membangunkannya. Wijanglah yang kemudian

duduk bersandar dinding. Sementara Paksi berbaring untuk

dapat tidur barang sekejap.

Pagi-pagi sekali keduanya sudah berbenah diri. Kemudian

bersiap untuk berangkat.

“Bukankah kita tidak perlu membangunkan penunggu banjar

ini untuk minta diri?” bertanya Paksi.

Wijang menggeleng.

Sebelum matahari terbit, maka kedua orang anak muda itu

telah meninggalkan banjar. Mereka berjalan menyusuri jalan

padukuhan yang masih sepi. Namun satu dua sudah ada orang

yang terbangun dan menyapu halaman rumah mereka dengan

sapu lidi.

Ketika kemudian matahari terbit, Wijang dan Paksi sudah

berada di tengah-tengah bulak panjang. Di hadapan mereka, di

seberang tanah persawahan yang subur, terdapat sebuah padang

perdu. Di seberang padang perdu terdapat hutan di lereng

gunung yang lebat.

Sementara itu, penunggu banjar itupun telah terbangun.

Ketika ia menggeliat, iapun teringat bahwa ada dua orang yang

bermalam di banjar.

“Nyi,” penunggu banjar itu dengan serta-merta bangkit dan

mencari istrinya.

“Ada apa, Kang?”

“Kau sudah merebut air?”

“Sudah, Kang. Ada apa?”

“Kau sudah memberi minum kedua orang yang bermalam di

banjar?”

“O, belum. Aku lupa bahwa ada orang yang bermalam di

banjar.”

“Tolong. Buatkan mereka minuman. Apa saja. Aku akan

menengoknya.”

Penunggu banjar itupun dengan tergesa-gesa lewat pintu

butulan melihat dua orang anak muda yang bermalam di banjar.

Tetapi keduanya sudah tidak ditemuinya. Yang masih terdapat di

serambi gandok itu tinggal sebuah mangkuk yang masih berisi

ketela rebus yang tinggal sepotong.

“Anak-anak itu sudah pergi,” desis penunggu banjar itu.

“Kasihan. Mereka belum sempat minum minuman hangat.

Apalagi makan apa saja. Ketela atau pisang rebus.”

Sambil mengambil mangkuk dengan sepotong ketela rebus

yang tersisa, orang itu masih saja bergumam, “Padahal mereka

akan menempuh perjalanan di daerah yang jauh dari padukuhan.

Mereka akan menempuh perjalanan melewati padang perdu yang

panjang. Kemudian menyusuri jalan di pinggir hutan yang lebat.

Mereka tidak akan bertemu dengan makanan sampai mereka

melintasi hutan itu. Mungkin baru sore nanti mereka sampai ke

lingkungan yang berpenghuni.”

Namun tiba-tiba saja mata orang itu terbelalak. Ketika ia

memungut mangkuknya, dilihatnya di bawah sepotong ketela

rebus itu beberapa keping uang.

“Uang. Ini benar-benar uang,” katanya kepada diri sendiri.

Dengan gemetar ia meraba uang itu. Katanya, “Bagaimana

mungkin di mangkuk ini ada uang. Apakah kedua orang

pengembara itu yang meletakkannya? Jika demikian, mereka

tentu orang yang mempunyai banyak sekali uang. Dengan uang

ini aku akan dapat membeli dua ekor kambing. Jika mataku

tidak rabun, uang yang ada di mangkuk itu adalah keping-keping

uang perak.”

Ketika ia mengatakan kepada istrinya, maka istrinya pun

menjadi gemetar. Katanya, “Apakah itu benar-benar uang,

Kakang. Aku belum pernah melihat keping-keping uang perak.”

“Uang. Ini uang. Kita pernah mempunyai sekeping uang perak

di antara beberapa keping uang tembaga ketika kita menjual

kambing kita untuk membiayai pengobatan anak kita. Waktu itu

kita memerlukan uang untuk membayar tabib yang baik dan

membeli reramuan obat-obatan, sehingga kita harus menjual

kambing kita meskipun ditangisi oleh anak kita. Tetapi kita ingin

anak itu sembuh.”

“Sekarang kita dapat membeli kambing lagi, Kakang.”

“Ya. Besok hari pasaran aku akan pergi ke pasar.”

“Yang Maha Pencipta itu agaknya selalu memelihara

ciptaanNya. Anak kita akan menjadi sangat bergembira jika ia

dapat menggembalakan kambing lagi bersama teman-temannya.”

“Aku akan membeli dua ekor kambing muda. Jantan dan

betina. Sisanya dapat untuk membeli kain panjang buatmu, Nyi.”

“Aku dapat memakai kain panjang apa saja. Kau yang

membutuhkannya, Kakang. Jika ada tamu di banjar, kau

memerlukan pakaian yang lebih pantas.”

“Kita akan membeli kain panjang dua lembar, ya Nyi.”

“Terserah kepada Kakang. Tetapi apakah uang itu memang

untuk kita?”

“Jika tidak untuk kita, uang itu tentu tidak akan diletakkan di

dalam mangkuk itu.”

“Jika mereka hanya sekedar meletakkan selama mereka tidur,

tetapi mereka lupa untuk memungutnya kembali?”

“Kita akan menunggu sampai hari pasaran. Jika benar mereka

sekedar lupa, maka mereka akan segera kembali. Tetapi jika

sampai pada hari pasaran mereka tidak kembali, berarti mereka

tidak sekedar lupa.”

“Jika mereka kembali?”

“Kita harus mengembalikannya, Nyi. Utuh seperti saat kita

temukan.”

Perempuan itu mengangguk-angguk.

“Sekarang, biarlah aku simpan uang itu bersama mangkuk

dan ketela yang sepotong itu. Jika mereka memang kelupaan dan

kembali lagi, kita berikan mangkuk itu sebagaimana saat aku

mengambilnya.”

Penunggu banjar itupun kemudian menyimpan uang di dalam

mangkuk bersama sepotong ketela rebus itu di dalam geledeg di

ruang dalam rumahnya yang tidak begitu besar. Anaknya tidak

pernah membuka geledeg itu, sehingga ia tidak akan melihat

bahwa di geledeg itu ada uangnya.

Dalam pada itu, Wijang dan Paksi yang sudah berada di bulak

panjang berjalan semakin jauh dari padukuhan kecil itu. Sambil

menengadahkan wajahnya Wijangpun berdesis, “Penunggu banjar

itu agaknya sudah bangun sekarang.”

“Ia akan terkejut melihat uang di mangkuk itu.”

“Mudah-mudahan uang itu tidak diketemukan oleh orang

lain.”

“Kelak jika ada kesempatan kita singgah lagi. Mungkin orang

itu masih ingat kepada kita.”

“Tetapi nampaknya kita memerlukan waktu yang panjang bagi

pengembaraan itu.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Agaknya kita

memerlukan waktu yang panjang.”

Untuk sesaat keduanyapun saling berdiam diri. Mereka

melangkah di jalan yang semakin lama semakin sempit dan

agaknya semakin jarang dilewati orang.

Jalan itupun kemudian berbelok memasuki padang perdu

yang miring. Di seberang padang perdu itu, nampak hutan di

kaki gunung yang lebat.

“Kita sudah memasuki sisi selatan kaki Gunung Merapi,

Paksi,” berkata Wijang kemudian. “Sekarang kita akan pergi ke

mana?”

“Marilah kita cari gubuk yang pernah kita tinggalkan itu.”

Wijang mengerutkan dahinya. Katanya, “Mungkin kita masih

menemukan bekasnya.”

Perjalanan merekapun menjadi semakin sulit. Mereka mulai

berjalan di tanah yang berlekuk. Kadang-kadang mereka harus

mendaki. Namun kadang-kadang mereka harus menuruni tebing,

menyusuri sungai-sungai kecil yang berbatu-batu besar.

Hutan di sebelah adalah hutan yang lebat, yang tentu dihuni

oleh beberapa jenis binatang buas.

“Kita akan pergi ke sebelah gumuk itu,” berkata Paksi sambil

menunjuk puncak sebuah gumuk yang tidak begitu besar di kaki

Gunung Merapi itu.

Wijang mengangguk-angguk. Sementara itu, mataharipun

mulai turun di sisi barat.

“Kita tidak akan menemui padukuhan lagi di jalur perjalanan

kita,” berkata Wijang.

“Ya.”

“Kita harus menemukan sesuatu.”

“Kau mulai lapar?” Wijang tersenyum.

“Tentu ada sesuatu yang kita dapatkan di gumuk kecil itu,”

berkata Paksi.

Keduanyapun kemudian berjalan melingkari gumuk kecil.

Seperti yang dikatakan oleh Paksi, maka merekapun menjumpai

bukan sekedar beberapa batang pohon pisang, tetapi beberapa

rumpun. Beberapa batang di antaranya berbuah. Dan beberapa

tandan di antaranya sudah masak. Bahkan nampaknya tidak

seorang pun yang pernah mengambil buahnya, sehingga

nampaknya beberapa tandan telah membusuk dan jatuh di

tanah.

“Kau salah jika kau menganggap bahwa buah pisang itu

utuh,” berkata Wijang.

Paksi mengangguk-angguk. Sebagian dari buah pisang itu

nampaknya sudah dimakan burung. Tetapi agaknya di sekitar

gumuk itu terdapat banyak sekali pohon pisang, sehingga masih

banyak juga pisang yang tidak tersentuh oleh paruh burung.

Wijang dan Paksi kemudian duduk beristirahat di atas sebuah

batu yang besar. Mereka tidak menghadapi minuman hangat dan

nasi yang masih mengepul seperti di kedai-kedai. Tetapi di depan

mereka terdapat setandan pisang.

Tetapi keduanya hanya memerlukan beberapa buah pisang

saja. Keduanya sudah terbiasa menjalani laku mengurangi

makan dan minum. Bahkan mereka pun pernah menjalani laku

selama tiga hari tiga malam yang pada setiap hari mereka hanya

minum semangkuk air putih dan tiga buah pisang raja.

Setelah makan pisang dan menghirup air di sebuah mata air

kecil di pinggir sungai kecil, mereka masih duduk beristirahat

sambil memperhatikan lingkungan di sekitarnya. Mereka

memperhatikan puncak Gunung Merapi yang bersih. Jalur-jalur

yang agaknya lekuk-lekuk yang dalam, menjulur dari puncaknya.

Wijangpun kemudian berdesis, “Kita tinggal melingkari gumuk

ini. Kita akan segera berada di sekitar gubuk yang pernah kita

tinggalkan itu.”

Paksi mengangguk-angguk. Dipandanginya puncak Gunung

Merapi. Hutan lereng gunung, jalur-jalur jurang yang dalam di

lambung serta beberapa bukit yang ada di kaki Gunung Merapi

itu.

“Ya. Kita sudah tidak jauh lagi.”

Wijang itupun kemudian bangkit berdiri sambil berkata, “Kita

akan meneruskan perjalanan. Mudah-mudahan kita akan sampai

sebelum gelap.”

Keduanyapun kemudian melanjutkan perjalanan mereka.

Masing-masing membawa beberapa buah pisang untuk bekal di

perjalanan mereka yang sudah tidak terlalu panjang lagi.

Sebenarnyalah, setelah mereka melingkari gumuk kecil itu,

mereka sampai di tempat yang sudah mereka kenal. Mereka

berada di pinggir sebuah sungai. Sebuah gerojogan berada tidak

jauh agak di arah udik.

“Air terjun itu,” desis Paksi.

“Ya,” Wijang mengangguk-angguk, “gubuk itu ada di

seberang.”

Wajah keduanya menjadi cerah. Rasa-rasanya mereka

menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang.

“Ingat, Paksi,” berkata Wijang, “di sini banyak ular. Kau harus

bersiap-siap sebelum kakimu dipatuk ular yang paling tajam

bisanya.”

Paksi tersenyum. Iapun mengangguk sambil berkata, “Aku

akan menelan reramuan itu.”

Demikianlah maka keduanyapun kemudian menuruni jurang

yang agak dalam. Demikian kaki mereka menyentuh air, maka

rasa-rasanya seluruh tubuh mereka menjadi segar kembali

setelah mereka berjalan di teriknya sinar matahari. Lelah dan

panas yang serasa membakar kulit tiba-tiba telah hilang.

“Kita lihat air terjun itu,” desis Paksi.

“Apakah kita tidak melihat gubukmu lebih dahulu? Nanti atau

besok kita masih mempunyai banyak waktu untuk pergi melihat

air terjun itu.”

Paksi mengangguk kecil sambil berkata, “Ya. Kita akan

melihat gubuk itu dahulu.”

Demikian merekapun telah naik tebing di seberang. Demikian

mereka sampai di atas, rasa-rasanya mereka ingin segera

meloncat ke gubuk yang pernah mereka tinggalkan.

Untuk sesaat mereka mengamati keadaan di sekitar mereka.

Semuanya memang telah berubah. Pohon perdu tumbuh di

mana-mana di sela-sela batang ilalang. Namun agaknya

lingkungan itu tidak lagi pernah dijamah oleh seseorang.

“Kita akan menemukan kembali rumah kita,” desis Paksi.

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Keduanyapun kemudian

menyibak batang ilalang dan berjalan ke arah gubuk yang telah

mereka tinggalkan.

Gubuk mereka memang tidak begitu jauh lagi. Beberapa saat

kemudian, ketika matahari sudah menjadi semakin rendah, Paksi

dan Wijang itu telah menemukan sisa-sisa gubuk yang pernah

mereka huni.

Tetapi gubuk yang sederhana itu telah rusak. Atapnya sudah

diterbangkan angin. Beberapa tiang sudah roboh. Sedangkan

dindingnya sudah lapuk.

Paksi dan Wijang berdiri termangu-mangu. Mereka

memandangi sisa-sisa gubuk mereka dengan jantung yang

bergetar.

“Kita harus mulai dari permulaan,” berkata Paksi.

“Apa salahnya?” desis Wijang. “Kau masih mempunyai

beberapa alat dapur yang masih utuh.”

“Apakah kita masih dapat memakainya? Mangkuk-mangkuk

dari tanah itu sudah menjadi kehijau-hijauan oleh lumut yang

tebal.”

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Kita haru membeli lagi

yang baru.”

“Kita dapat membeli di pasar itu. Aku kira pasar itu masih

ada. Atau bahkan menjadi semakin besar.”

“Kita tidak tergesa-gesa. Kita dapat membuat perapian dan

mengasapi buruan kita.”

“Jika kita akan menanak nasi?” Wijang menarik nafas dalamdalam.

Namun Paksipun kemudian berkata, “Tetapi hari ini kita

belum memerlukannya. Bahkan mungkin kita tidak

memerlukannya untuk selanjutnya, karena kita akan segera

bergerak.”

“Ya. Kita memang akan segera bergerak. Tetapi bukankah ada

baiknya jika kita mempunyai sarang tempat untuk hinggap?”

“Aku tidak berkeberatan. Tetapi kita jangan terlena dengan

sarang kita saja.”

“Paksi, bukankah ketika kita mendekati tempat ini, kita

seakan-akan tidak sabar lagi untuk segera sampai? Untuk segera

melihat apakah gubuk itu masih ada?”

“Aku memang ingin segera melihat gubuk yang pernah kita

huni ini. Tetapi setelah itu, aku merasa terlalu lamban bergerak

untuk menemukan adikku. Jika kita tertambat pada gubuk ini,

maka kesempatan kita untuk menemukan adikku itu menjadi

semakin tipis.”

“Aku setuju untuk bergerak lebih cepat, Paksi. Tetapi

bukankah kita harus merenungkan, ke mana kita akan pergi.

Siapa yang pertama-tama akan kita hubungi dan mencari jawab

dari berbagai macam pertanyaan yang lain?”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara Wijangpun

berkata, “Besok kita khususkan waktu kita sehari untuk

memperbaiki gubuk ini. Ada sebagian bahannya yang masih

dapat dipergunakan.”

Paksi tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk kecil.

Sementara itu, langitpun menjadi semakin muram. Senja

mulai turun. Sementara itu, Paksi dan Wijang masih mempunyai

beberapa buah pisang yang dapat mereka makan.

Malam itu keduanya tidur di atas ketepe yang masih mereka

temukan di gubuk itu. Bergantian. Mereka tidak tahu, apakah

lingkungan itu masih saja seperti pada saat-saat mereka tinggal

di gubuk itu, atau menjadi lebih garang. Karena itu, maka

mereka harus lebih berhati-hati.

Wijanglah yang tidur lebih dahulu. Baru kemudian di tengah

malam tanpa dibangunkan, Wijang itupun bangun sendiri.

“Tidurlah,” berkata Wijang. “Aku sudah terlalu lama tidur.

Kepalaku akan dapat menjadi pening jika aku tidur lebih lama

lagi.”

Paksilah yang kemudian berbaring berselimut kain

panjangnya. Dinginnya malam serasa menggigit tulang. Kaki

Gunung Merapi itu rasa-rasanya telah membeku. Dedaunan,

pepohonan dan rerumputan berdiri diam mematung. Tidak ada

angin seberapa lembutnya pun.

Sejenak kemudian, Paksipun terlelap. Ia memang sudah mulai

mengantuk pada saat Wijang itu terbangun.

Menjelang fajar Paksipun telah bangun. Keduanyapun telah

pergi ke sungai untuk membersihkan diri.

Ketika langit terang, keduanya telah duduk di depan gubuk

mereka yang berserakkan. Dengan nada berat Wijangpun

bertanya, “Apakah kau sudah siap untuk memperbaiki gubuk

kita?”

Paksi mengangguk sambil berdesis, “Marilah. Aku kira kita

tidak memerlukan waktu terlalu lama.”

“Ya. Besok kita dapat turun untuk melihat suasana. Kita

harus mengenali kembali lingkungan ini sebelum kita bergerak.

Menurut jejak pelacakan kita, Ki Gede Lenglengan memang

berada di sisi selatan Gunung Merapi. Sedang sepasang suamiistri

itu untuk sementara kita anggap saja Repak Rembulung dan

Pupus Rembulung, sebelum kita menemukan kemungkinan lain.”

Paksi mengangguk-angguk. Sementara itu Wijang yang benarbenar

bersikap sebagai seorang kakak yang sangat

memperhatikan adiknya berkata, “Nah, apakah kita akan mencari

makanan lebih dahulu sebelum mulai dengan kerja?”

“Ke mana kita mencari makanan?”

“Di sebelah ada hutan yang memberikan kesempatan kita

berburu. Di sungai banyak terdapat ikan. Nah, kita akan dapat

mengasapinya. Kita buat api di pinggir sungai itu. Mungkin

asapnya akan membubung. Mudah-mudahan tidak ada orang

yang memperhatikannya dan apalagi datang untuk

menengoknya.”

“Nanti saja, Wijang. Sekarang kita mulai dengan kerja. Kita

berharap bahwa di rumpun pisang itu kita mendapatkan pisang

yang sudah masak.”

Wijang mengangguk-angguk. Iapun kemudian bangkit berdiri

sambil menarik sepasang pisau belatinya. Katanya, “Nah, kau

pakai yang satu. Kau siapkan tiangnya. Aku akan mengambil

pelepah kelapa itu untuk membuat ketepe. Dinding gubuk ini

harus diperbaharui.”

Paksi tidak menjawab. Diterimanya pisau belati itu.

Namun ketika Wijang melangkah pergi, Paksipun berkata,

“Kau akan memanjat pohon kelapa itu?”

“Ya. Bukankah di pinggir kali kecil itu berderet pohon kelapa

yang berdaun lebat? Bukan hanya daunnya, tetapi juga buahnya.

Tidak ada yang memetiknya, sehingga berjatuhan dan hanyut ke

hilir. Yang tersangkut di tepian akan tumbuh dan berbuah pula.”

Paksi tidak bertanya lagi. Tetapi ia mulai memilih potonganpotongan

bambu yang masih mungkin dipakai. Yang sudah lapuk

telah disingkirkan.

Untuk menggantikan bambu yang sudah tidak dapat

dipergunakan lagi, maka Paksipun harus memotong bambu dari

rumpun bambu atau batang kayu yang tegak dan lurus, di

pinggir hutan.

Sehari itu, keduanya telah bekerja keras untuk membangun

kembali gubuk itu. Wijangpun kemudian menyeret beberapa

pelepah kelapa untuk membuat ketepe yang dapat dipergunakan

untuk dindingnya.

Sementara itu, mereka masih menemukan bekas atap ilalang

yang dihanyutkan angin. Merekapun harus memperbaharuinya

pula. Dicarinya ilalang kering untuk melengkapi atap gubuknya.

Seperti yang mereka perhitungkan, maka hari itu juga mereka

telah menyelesaikan sebagian besar dari gubuk mereka. Atap pun

telah terpasang. Demikian pula dinding ketepe meskipun lembarlembar

daun kelapanya masih basah. Jika daun itu kering dan

menyusut, maka mereka harus merangkapinya dengan yang baru

agar menjadi rapat.

Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka Paksipun

berkata, “Kita sudahi kerja kita hari ini. Kita sempat mencari ikan

dan mandi di sungai. Malam nanti kita akan mengasapi beberapa

ekor ikan yang dapat kita tangkap. Sementara itu, kita dapat

memetik buah pisang di rumpun-rumpun pisang di dekat tebing

sungai itu.”

Wijang mengangguk. Katanya, “Baiklah. Malam nanti kita

sudah dapat tidur di dalam sebuah gubuk yang tertutup serta

beratap.”

Demikianlah, maka keduanyapun pergi ke sungai untuk

membersihkan diri. Mereka sempat lewat di rumpun batang

pisang yang lebat. Beberapa tandan pisang yang masak masih

bergayut di batangnya. Ada di antaranya yang telah roboh. Tetapi

ada pula yang telah dimakan burung.

Ketika malam turun, maka Wijang dan Paksi yang letih telah

berbaring di dalam gubuknya. Beberapa ekor ikan yang telah

diasapi diletakkan di atas selembar daun pisang. Di sebelahnya,

terkumpul duri beberapa ekor ikan yang telah dimakan

dagingnya serta kulit pisang kapok kuning.

Sambil berbaring keduanya masih sempat berbincang tentang

rencana apa yang segera akan mereka lakukan.

“Paksi,” berkata Wijang kemudian, “kita tidak boleh tergesagesa.

Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di lingkungan

ini setelah kita beberapa lama meninggalkannya. Mungkin

adikmu berada di tangan Repak Rembulung dan Pupus

Rembulung. Namun kita ketahui, bahwa sebelumnya ada

permusuhan antara Repak Rembulung dan Pupus Rembulung

serta beberapa perguruan yang lain dengan Harya Wisaka. Jika

adikmu merupakan bagian dari anak-anak muda yang

dipersiapkan bagi masa datang oleh Harya Wisaka, seharusnya

mereka tidak berada di lingkungan Repak Rembulung dan Pupus

Rembulung.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Menurut perhitungan

nalar memang demikian. Tetapi mungkin ada perubahan sikap

justru setelah Harya Wisaka tertangkap. Kita pun tidak tahu

hubungan antara Ki Gede Lenglengan dengan Repak Rembulung

dan Pupus Rembulung.”

“Ya. Banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Karena itu,

apakah yang sebaiknya kita lakukan? Apakah berusaha mencari

hubungan dengan Repak Rembulung dan Pupus Rembulung?

Mungkin kita dapat pergi ke Panjatan. Atau mungkin ke tempat

yang lain. Tetapi kita harus tetap menyadari, bahwa

sebenarnyalah di antara perguruan-perguruan itupun terdapat

persaingan. Mereka dahulu terikat dalam satu kerjasama untuk

menentang Paman Harya Wisaka. Tetapi sekarang setelah Paman

Harya Wisata tertangkap, persoalannya tentu berbeda. Aku tidak

yakin, bahwa mereka sudah melupakan cincin kerajaan yang

mereka anggap berada di daerah ini. Sepanjang cincin itu masih

belum mereka ketemukan, maka mereka tentu masih berusaha

mencarinya.”

“Tetapi berita bahwa cincin itu sudah berada di istana tentu

sudah mereka dengar pula. Pangeran Benawa telah berada di

istana pula.”

“Tetapi Pangeran Benawa itu sekarang sedang meninggalkan

istana, sementara cincin itu masih ada padanya.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian

bergumam seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “Tidak

seorang pun tahu, ke mana perginya Pangeran Benawa sekarang.

Tidak pula ada ceritera tentang daru yang jatuh di daerah ini,

sehingga agaknya mereka tidak berkumpul saling bermusuhan di

sisi selatan kaki Gunung Merapi.”

“Kau benar, Paksi. Meskipun demikian, daerah ini merupakan

daerah yang asing bagi kita sekarang.”

Paksi mengangguk-angguk.

“Sudahlah,” berkata Wijang, “kita beristirahat. Aku akan tidur

sampai tengah malam. Kemudian bergantian kau yang tidur.”

Paksi mengangguk pula.

Ketika Wijang memejamkan matanya, maka Paksi justru

bangkit berdiri dan melangkah ke pintu. Didorongnya pintu

gubuknya yang juga terbuat dari ketepe yang dirangkap.

Demikian Paksi berada di luar pintu, maka terasa dingin

malam menjadi semakin mencengkam. Langit nampak bersih

ditaburi bintang yang jumlahnya tidak terhitung. Hutan lereng

gunung nampak hitam pekat. Gumuk-gumuk kecil yang

berserakan bagaikan batu-batu raksasa yang tergolek membeku.

Paksipun duduk di atas sebuah batu yang besar. Batu itu

sudah berada di tempat itu sejak ia membual gubuknya pertama

kali.

Paksi sempat merenung beberapa lama. Wajah-wajah dari

orang-orang terdekat mulai membayang di angan-angannya.

Ibunya, adik perempuannya dan yang paling jelas nampak adalah

adik laki-lakinya. Wajah itu nampak muram dengan beberapa

bercak noda yang melekat.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan itu semakin

lama semakin menghunjam di dadanya. Apakah ia akan dapat

menemukan adiknya? Tetapi seandainya ia dapat

menemukannya, apakah adiknya mau mendengar kata-katanya,

bahkan seandainya ia mengatasnamakan ibunya?

Jantung Paksi terasa berdentang semakin cepat. Ia merasa

betapa beratnya hari-hari yang akan dijalaninya dalam

hubungannya dengan usahanya mencari dan membawa adiknya

pulang dan menyerahkannya kepada ibunya.

Paksipun menyadari, bahwa di hati adiknya telah tertabur

racun. Adiknya tidak lagi menganggapnya sebagai saudaranya.

Tetapi justru sebagai musuhnya.

Ketika Paksi kemudian menengadahkan wajahnya, dilihatnya

sebuah bintang meluncur dengan cepat. Ia sudah sering melihat

lintang alian yang meluncur di langit. Bahkan apa yang disebut

ndaru dan teluh braja, yang berwarna kehijau-hijauan dan

kemerah-merahan.

Paksi itupun kemudian bangkit berdiri. Beberapa langkah ia

berjalan ke samping gubuk kecilnya.

Langkahnya terhenti ketika Paksi mendengar aum seekor

harimau di pinggir hutan lereng gunung. Suaranya bergaung oleh

gema yang seakan-akan sahut-menyahut.

Namun ketika dingin malam terasa semakin menusuk-nusuk

kulit, Paksipun masuk kembali ke dalam gubuknya. Kemudian

ditutupnya kembali pintunya rapat-rapat.

Seperti malam sebelumnya, menjelang tengah malam, Wijang

telah terbangun. Sambil duduk dan mengusap matanya,

Wijangpun berdesis, “Sekarang giliranmu tidur.”

Paksi tidak menjawab. Dibaringkannya tubuhnya di atas

anyaman ketepe berselimut kain panjangnya.

Wijanglah yang kemudian duduk sambil menyilangkan

kakinya. Namun beberapa saat kemudian, setelah Paksi tertidur,

Wijangpun bangkit dan melangkah keluar pula dari gubuknya.

Tetapi Wijangpun tidak lama berada di luar. Ia merasa lebih

hangat berada di dalam gubuknya daripada di luar. Sementara

itu kabut pun mulai turun dari lambung bukit, menyelimuti

Gunung Merapi yang seakan-akan kedinginan itu.

Menjelang fajar, Paksipun telah terbangun. Berdua mereka

pergi ke sungai yang tidak terlalu jauh dari gubuk itu. Sementara

itu kabut masih tersangkut di kaki bukit, sehingga Wijang dan

Paksi harus sangat berhati-hati. Kecuali jalan yang licin,

pandangan mata mereka pun terhalang oleh lapisan kabut yang

keputih-putihan itu.

Setelah mereka berbenah diri, maka Wijangpun berkata,

“Paksi, sebaiknya kita mengamati keadaan di sekitar tempat ini

untuk menentukan sikap kita lebih jauh.”

Paksi mengangguk. Katanya, “Ya. Kita akan melihat-lihat.

Apakah telah terjadi perubahan di lingkungan ini.”

Menjelang matahari terbit, maka keduanyapun telah

meninggalkan gubuk mereka. Keduanya belum merencanakan

untuk membersihkan lingkungan di sekitar gubuk itu. Mereka

masih belum tahu, apakah mereka akan tinggal untuk waktu

yang panjang di gubuk itu.

Beberapa saat kemudian, keduanya mulai menuruni kaki

Gunung Merapi. Mereka berjalan di padang perdu yang bagaikan

bergelombang. Gerumbul perdu berserakkan di sana-sini. Tidak

jauh dari padang perdu itu nampak hutan lereng gunung yang

garang. Pohon-pohon raksasa tumbuh saling berdesakan. Namun

pohon-pohon perdu pun tumbuh pula di antaranya, sehingga

agaknya sulit untuk menyibak memasuki hutan yang lebat dan

liar itu.

Beberapa saat kemudian, Wijang dan Paksi sampai pada

sebuah jalan setapak yang sempit di sela-sela lekuk-lekuk tanah

di padang perdu itu. Tetapi agaknya jalan itu tidak pernah

tersentuh kaki. Mungkin sekali dua kali ada orang yang sedang

mencari kayu lewat di jalan setapak itu. Itupun tentu jarang

sekali, karena di hutan itu masih berkeliaran berbagai jenis

binatang buas.

Menurut penglihatan Wijang dan Paksi, masih belum terdapat

banyak perubahan di sekitar tempat itu. Yang mereka lihat masih

yang dahulu juga. Ada sebatang pohon raksasa di dekat sebuah

gumuk kecil yang roboh. Agaknya angin pusaran yang kuat telah

memutar dan mencabut pohon itu sehingga roboh. Daundaunnya

sudah rontok. Namun beberapa tunas baru justru telah

tumbuh di pangkal batang yang roboh itu. Agaknya sebagian

akarnya yang masih menghunjam ke bumi, masih juga mampu

menghisap makanan dari dalam tanah untuk menghidupi tunastunas

yang baru itu.

“Nampaknya kita akan sampai ke jalan yang menuju ke pasar,

Paksi,” berkata Wijang kemudian.

“Ya. Tetapi apakah sebaiknya kita benar-benar pergi ke

pasar?”

“Baiklah. Mungkin ada yang dapat kita dengar apa yang

terjadi di pasar itu.”

Dengan kesepakatan itu maka merekapun berjalan lebih cepat

menuju ke pasar.

Ketika mereka semakin mendekati pasar yang sering mereka

kunjungi, jantung mereka menjadi berdebar-debar. Dari kejauhan

mereka sudah melihat, bahwa masih ada kesibukan di pasar itu.

Namun rasa-rasanya pasar itu menjadi lebih sepi dari beberapa

saat yang lewat, ketika mereka masih sering datang ke pasar itu.

Beberapa puluh langkah dari pintu gerbang pasar mereka

berhenti. Dengan nada dalam Paksipun berdesis, “Apakah karena

hari ini bukan hari pasaran, maka pasar itu nampak agak sepi?”

“Bukan karena itu, Paksi. Ketika kita sering datang ke pasar

ini, merupakan bukan hari pasaran, pasar ini nampak lebih

ramai dari hari ini.”

Paksi mengangguk-angguk. Sudah cukup lama ia tidak pergi

ke pasar itu. Agaknya memang sudah terjadi banyak perubahan.

“Marilah. Kita masuk. Kita sudah berada di pasar. Jika nanti

kita kembali ke gubuk, kita dapat membawa beberapa alat yang

barangkali kita perlukan. Di pasar itu tentu masih ada orang

yang berjualan gerabah. Kita dapat membeli mangkuk, periuk

dan barangkali kuali, di samping bumbu dapur, terutama garam,”

ajak Wijang.

Paksi mengangguk sambil menjawab, “Marilah, kita akan

melihat, apakah isi pasar itu masih seperti dahulu.”

Keduanyapun kemudian melangkah mendekati pintu gerbang

pasar. Beberapa buah kedai masih nampak berdiri di depan

pasar. Tetapi pada hari itu hanya ada dua buah kedai yang

dibuka.

Sesaat kemudian, maka mereka pun telah berada di dalam

pasar. Masih banyak orang berjualan. Masih banyak pula orang

yang berbelanja. Tetapi memang tidak seramai beberapa waktu

yang lalu.

Ketika keduanya berjalan untuk melihat-lihat, merekapun

terkejut. Demikian mereka berpaling, mereka melihat penjual

dawet itu masih berjualan, meskipun tempatnya agak bergeser.

“Bukankah kalian berdua yang dahulu sering membeli

dawetku?” bertanya penjual dawet itu.

Wijang dan Paksipun melangkah mendekat. Sambil tersenyum

Paksipun menjawab, “Ya, Paman. Kami dahulu sering membeli

dawet di sini. Tetapi bukankah dahulu Paman tidak berjualan di

sini?”

“Hanya sedikit beringsut, anak muda. Agak lebih jauh dari

pintu gerbang. Duduklah. Apakah sekarang kalian juga akan

membeli dawet lagi?”

“Ya, Paman,” jawab Wijang dengan serta-merta.

Paksipun tersenyum pula. Iapun ingin juga minum dawet

cendol yang manis itu setelah sebelumnya ia hanya minum air

dari belik saja.

Sambil menyendok cendol ke dalam mangkuk, penjual dawet

itupun bertanya, “Ke mana saja kalian selama ini? Sudah lama

sekali kalian tidak nampak di pasar.”

“Menengok pamanku, Paman.”

“Ya. Saat itu kau memang mengatakan akan menengok

pamanmu. Tetapi begitu lama?”

“Kami tidak boleh pulang. Paman dan bibi sendirian di

rumah.”

“Apakah mereka tidak mempunyai anak?”

“Ada, Paman. Tetapi tidak seorang pun dari anak-anaknya

yang tinggal bersamanya. Setelah mereka menikah, maka satusatu

mereka meninggalkan paman dan bibi, ikut suami mereka

masing-masing.”

“Apakah anaknya semuanya perempuan?”

“Ya. Enam orang. Semuanya perempuan. Sementara itu

paman dan bibi tidak mau meninggalkan rumah warisan dari

kakek dan nenek. Jika saja paman dan bibi mau tinggal bersama

salah seorang anaknya, maka tidak akan ada masalah lagi.

Semua anak perempuannya minta agar paman dan bibi tinggal

bersama mereka. Tetapi mereka tidak mau. Mereka memilih

kesepian tinggal di rumah warisan. Nah, ketika aku dan Kakang

menengok mereka, maka kami berdualah yang jadi pengganti

anak-anak mereka. Kami mau tidak mau harus tinggal bersama

mereka.”

“Sekarang, kenapa mereka kalian tinggalkan?”

Paksi termangu-mangu sejenak. Yang menyahut adalah

Wijang, “Anak paman yang bungsu baru saja melahirkan. Ada

alasan baginya untuk minta bibi menungguinya. Bahkan

bersama paman.”

“Lalu rumah paman dan bibimu kalian tinggal begitu saja?”

“Tidak. Rumah itu kami titipkan tetangga. Tetapi tetangga ini

masih ada juga hubungan darah meskipun sudah agak jauh.”

Penjual dawet itu terdiam. Sementara itu mangkuk Wijang dan

Paksipun telah kosong pula.

“Tambah lagi, Ngger?” bertanya penjual dawet itu.

Meskipun masih terhitung pagi, tetapi rasa-rasanya Wijang

dan Paksi itu sudah kehausan. Karena itu, maka merekapun

telah minta tambah lagi semangkuk dawet cendol.

“Lagi, Ngger?” bertanya penjual dawet itu ketika melihat

mangkuk dawet cendol Wijang dan Paksi telah habis kembali.

Wijang tertawa. Katanya, “Perutku sudah penuh dawet,

Paman. Meskipun kami belum makan pagi, rasa-rasanya perut

kami sudah kenyang.”

“Tetapi ada seorang yang minum dawet empat mangkuk

sekaligus, Ngger.”

Paksi mengerutkan dahinya. Rasa-rasanya ia memang pernah

mendengar penjual dawet itu berkata demikian.

Namun Wijangpun menjawab, “Perutku tidak cukup untuk

menampung empat mangkuk dawet itu, Paman.”

Penjual dawet itu tertawa

Dalam pada itu, selagi mereka masih duduk di lincak di depan

penjual dawet itu, Paksipun bertanya, “Paman, kenapa pasar ini

terasa sepi? Mungkin hari ini memang bukan hari pasaran, tetapi

bukankah biasanya tidak di hari pasaran pun pasar ini terasa

lebih ramai?”

“Hari ini pasar ini sudah bertambah ramai. Tiga hari yang

lalu, pasar ini menjadi sangat sepi. Hampir tidak ada seorang pun

yang berjualan dan berbelanja di pasar ini.”

“Kenapa?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ada seorang

perempuan yang membimbing anaknya membeli dawet, maka

Paksi dan Wijangpun bergeser menepi, sehingga perempuan dan

anaknya itu duduk pula di lincak panjang itu.

“Pasarnya sudah mulai agak ramai lagi, ya Kang?” berkata

perempuan itu.

“Ya. Dua hari dawetku tidak laku.”

“Jadi kemarin dan kemarin lusa, Kakang juga berjualan?”

“Ya. Menurut pendapatku, aku tidak akan diganggu.”

“Bukan itu, Kang. Tetapi seharusnya Kakang juga

memperhitungkan, bahwa pasar ini akan menjadi sepi dan tidak

ada orang yang membeli.”

“Aku sudah memperhitungkan. Aku pun hanya membuat

dawet dan cendolnya seperempat dari hari-hari biasanya. Namun

ternyata yang seperempat itu pun tidak habis.”

“Seharusnya Kakang tahu, bahwa pasar ini akan menjadi

kosong barang dua tiga hari. Baru hari ini Kakang keluar dengan

dagangan Kakang.”

“Aku salah hitung. Barangkali aku hanya ingin

menyombongkan diri bahwa aku tidak takut meskipun terjadi

kerusuhan.”

“Kakang tidak usah berbuat seperti itu. Kecuali dagangan

Kakang tidak laku, jika terjadi sesuatu dengan Kakang, itu

karena salah Kakang sendiri.”

Penjual dawet itu mengangguk-angguk.

Sementara itu, perempuan dan anaknya itu telah selesai

menghirup dawet semangkuk. Perempuan itupun kemudian

membayar harga dawet itu sambil berkata, “Sudahlah, Kang.

Tetapi lain kali, Kakang harus lebih berhati-hati. Uang memang

dapat dicari, Kang. Tetapi di mana Kakang akan membeli nyawa,

jika nyawa Kakang hilang?”

Penjual dawet itu tertawa. Katanya, “Baiklah. Lain kali aku

akan berhati-hati.”

Ketika perempuan dan anaknya itu sudah pergi, maka

Wijangpun bertanya, “Ada apa sebenarnya beberapa hari yang

lalu itu?”

Penjual dawet itu termangu-mangu. Diedarkannya

pandangannya ke sekelilingnya, seakan-akan ada yang sedang

dicarinya, namun kemudian penjual dawet itupun berkata, “Ada

orang ngamuk, Ngger.”

“Orang ngamuk?”

“Semula orang itu memang tidak mengamuk. Tetapi agaknya

ia memerlukan uang. Karena itu maka orang itu pun memaksa

beberapa orang yang berjualan di pasar untuk memberi uang

kepadanya, yang jumlahnya terhitung besar.”

Wijang dan Paksi mendengarkan ceritera penjual dawet itu

dengan seksama. Sementara itu penjual dawet itupun berkata,

“Tentu saja ada yang merasa berkeberatan. Apalagi mereka yang

dagangannya belum laku.”

“Orang itu tidak mau mengerti?”

“Ya. Orang itu tidak mau mengerti. Karena itu, maka segera

terjadi perselisihan. Ketika beberapa orang laki-laki termasuk

orang yang bertugas di pasar ini berusaha mengusirnya, maka

orang itupun telah mengamuk.”

“Ia seorang diri?”

“Sebenarnya ia tidak seorang diri. Tetapi agaknya kawankawannya

tidak ikut campur.”

“Orang itu telah membunuh?”

“Tidak ada yang terbunuh. Tetapi beberapa orang terluka

cukup parah. Ia berhenti ketika beberapa orang menyatakan

kesediaan mereka untuk mengumpulkan uang sebagaimana ia

minta.”

“Paman dapat menyebut ciri-ciri orang itu?”

“Untuk apa kau mengetahui ciri-cirinya?”

“Tidak apa-apa, Paman. Sekedar ingin tahu saja.”

Penjual dawet itupun kemudian telah menyebut ciri-ciri orang

itu dan satu dua orang yang datang bersamanya.

Wijang dan Paksi mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Ciri-ciri orang itu menunjukkan bahwa orang itu ialah Ki Gede

Lenglengan.

“Jadi orang itu telah pernah berada di pasar ini?” berkata

Paksi di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka Paksipun menjadi berdebar-debar. Ia

merasa bahwa ia sudah berada tidak terlalu jauh lagi dari

adiknya. Tetapi ke mana ia harus mencarinya?

Menurut dugaannya, maka Ki Gede Lenglengan tidak akan

kembali lagi ke pasar itu. Ia tentu akan melanjutkan perjalanan.

Tetapi jika tempat tinggal suami isteri yang menerima anak-anak

muda dari padepokan Ki Gede Lenglengan itu tidak jauh dari

pasar ini, maka Ki Gede Lenglengan itu tentu akan pernah

kembali lagi.

Hampir di luar sadarnya Wijangpun bertanya, “Bagaimana

dengan perempuan-perempuan cantik yang dahulu sering

berbelanja di pasar ini tetapi mereka membayar menurut

kehendak mereka sendiri itu? Mereka yang tidak mau tahu

tentang harga yang sebenarnya dari bahan-bahan makan atau

alat-alat yang mereka beli?”

“Sudah jarang sekali terjadi, Ngger. Dahulu memang

berkeliaran orang-orang aneh di pasar ini. Tetapi mereka tidak

mengamuk seperti beberapa hari yang lalu itu.”

“Tetapi bukankah perkelahian sering terjadi?”

“Ya. Di antara orang-orang asing itu.”

“Tetapi apakah sepasar ini tidak mampu menangkap satu

orang yang mengamuk itu?”

“Tidak, Ngger. Bahkan orang itu telah menunjukkan

pangewan-ewan. Ia dapat menunjukkan hal-hal yang tidak

masuk akal. Kau lihat cabang pohon yang patah itu? Kami tidak

tahu apa yang sudah terjadi. Tiba-tiba saja yang kami lihat,

cabang itu berderak dan patah.”

Wijang dan Paksi hanya mengangguk-angguk saja. Mereka

pun hampir pasti, bahwa orang itu adalah Ki Gede Lenglengan.

Dalam pada itu, beberapa saat lamanya Wijang dan Paksi

duduk di lincak panjang di depan penjual dawet itu. Sejenak

kemudian, dua orang perempuan telah berhenti di lincak itu

pula.

“Paman,” berkata Paksi kemudian, “kami minta diri. Besok

kami akan singgah lagi jika kami pergi ke pasar.”

“Kalian tidak kembali ke rumah paman kalian?”

“Ya. Tetapi kami masih mempunyai waktu selama paman dan

bibi masih menunggui cucunya yang baru lahir itu.”

Demikianlah, Wijang dan Paksi telah melangkah lagi

berkeliling di dalam pasar. Mereka tidak melihat penjual nasi

megana itu. Mungkin orang itu masih takut kepada orang yang

mengamuk. Tetapi mungkin juga karena orang itu memang

sudah tidak berjualan lagi.

Namun beberapa saat kemudian, Wijangpun berkata, “kita

berhenti di kedai itu, Paksi.”

Paksi mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun

mengangguk. Katanya, “Marilah.”

Keduanyapun kemudian telah singgah di salah satu kedai

yang buka di depan pasar itu. Dari pemilik kedai itu, Wijang dan

Paksi mendengar ceritera tentang orang yang mengamuk

beberapa hari yang lalu seperti ceritera penjual dawet cendol itu.

Bahkan orang-orang yang sudah lebih dahulu duduk di kedai itu,

juga masih memperbincangkannya.

“Tidak ada seorang pun yang dapat mencegahnya,” berkata

salah seorang yang duduk di kedai itu. “Berapa pun banyaknya

uang yang dimintanya, harus disediakan. Jika tidak, maka

akibatnya akan menjadi sangat buruk.”

“Mudah-mudahan ia tidak kembali lagi.”

“Ya. Agaknya orang itu hanya sekedar lewat. Sebelumnya

belum pernah ada yang melihat orang itu berkeliaran di sini atau

di sekitar padukuhan ini.”

Wijang dan Paksi ikut mendengarkan pembicaraan itu. Tetapi

tidak ada petunjuk-petunjuk lebih jauh.

Sambil menyuapi mulutnya Paksipun bertanya, “Apakah kita

akan pergi ke Panjatan?”

Wijang mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi iapun

bertanya, “Kenapa tiba-tiba saja kau akan pergi ke Panjatan?

Apakah kau mengira bahwa Ki Gede Lenglengan menemui Repak

Rembulung dan Pupus Rembulung di Panjatan?”

“Bukankah itu satu kemungkinan?”

Wijang mengangguk-angguk. Panjatan memang salah satu

tempat yang harus dilihat. Mungkin adik Paksi itu memang

dibawa ke Panjatan, karena Repak Rembulung dan Pupus

Rembulung seakan-akan memiliki lingkungan tersendiri di

padukuhan itu.

“Baiklah,” berkata Wijang, “kita sudah tahu, setidak-tidaknya

dugaan kita kuat, bahwa Ki Gede Lenglengan itu sudah pernah

singgah di pasar ini, sehingga menurut dugaan kita, Ki Gede

Lenglengan itu berada di sekitar tempat ini. Dengan demikian,

maka kita akan mencoba mencarinya di tempat-tempat yang ada

hubungannya dengan Repak Rembulung dan Pupus Rembulung,

karena kita juga menduga, bahwa adikmu yang diasuh oleh dua

orang suami-istri itu berada di tangan Repak Rembulung dan

Pupus Rembulung.”

Paksipun mengangguk-angguk. Sementara itu Wijangpun

berkata perlahan-lahan, “Tetapi kita harus sangat berhati-hati.

Jika Ki Gede Lenglengan berada bersama-sama dengan Repak

Rembulung dan Pupus Rembulung, maka kumpulan itu akan

menjadi kumpulan yang sangat berbahaya.”

Paksi masih mengangguk-angguk. Dihirupnya wedang sere

yang hangat setelah ia menghabiskan nasinya.

“Aku mengerti,” berkata Paksi kemudian. “Kita memang harus

sangat berhati-hati.”

“Jika kita ingin pergi ke Panjatan, menurut pendapatku

sebaiknya kita pergi di malam hari. Banyak perlindungan yang

kita dapatkan dari kegelapan malam. Apalagi Repak Rembulung

dan Pupus Rembulung sudah mengenal kita berdua, meskipun

mereka hanya mengenal ujud saja. Tetapi jika adikmu melihat

kita, maka keadaan akan menjadi sangat gawat.”

“Jika aku ingin bertemu dengan adikku, maka ia tentu akan

melihat aku.”

“Tetapi bukankah tidak dengan serta-merta? Jika kita tahu di

mana adikmu itu berada, maka kita dapat membuat rencana

khusus untuk dapat menemuinya.”

Paksi mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Wijang,

bahwa mereka berdua tidak dapat begitu saja datang ke Panjatan

untuk mencari adik laki-lakinya.

Karena itu, maka keduanyapun kemudian sepakat untuk

pulang ke gubuk mereka lebih dahulu, agar mereka dapat

merenungi langkah-langkah yang akan mereka lakukan.

Sebelum keduanya pulang, maka keduanya masih

memerlukan singgah di pasar. Paksipun kemudian setuju untuk

membeli kelengkapan sehari-hari serta bahan makan yang

mereka butuhkan sehari-hari pula, terutama garam.

Ketika mereka keluar dari pintu gerbang pasar, merekapun

terkejut. Tiba-tiba saja di hadapan mereka berdiri Kinong.

“Kinong? Kau Kinong, kan?”

“Ya, Kakang.”

“Kau cepat menjadi besar, Kinong. Kau sudah begitu tinggi

sekarang.”

“Ya, Kakang.”

“Kau masih bekerja di pasar ini?”

“Masih, Kakang. Setiap hari aku berada di pasar. Ibu juga

setiap hari masih berada di pasar. Aku pernah berhenti dan

membantu tetangga bekerja di sawah. Tetapi di musim seperti

sekarang ini, untuk sementara tidak ada kerja di sawah. Karena

itu, aku kembali ke pasar.”

“Tetapi kau datang terlalu siang.”

“Aku ragu-ragu untuk datang hari ini, Kakang. Beberapa hari

ini pasar kosong, setelah orang yang berilmu sangat tinggi itu

mengacaukannya.”

“Tetapi bukankah sekarang sudah menjadi ramai lagi?”

“Aku tadi sekedar ingin melihat. Besok aku akan datang pagipagi.”

“Mungkin besok kita akan ketemu lagi. Sementara pasar akan

menjadi lebih ramai.”

“Kakang sudah tahu apa yang terjadi beberapa hari yang

lalu?”

“Sudah, Kinong. Aku sudah mendengar dari paman penjual

dawet cendol dan dari pemilik kedai itu.”

“Kakang sekarang sudah kembali kemari?”

“Tetapi pada saatnya aku harus pergi lagi.”

“Seharusnya Kakang tidak pergi lagi.”

Paksi dan Wijang tertawa. Kinong memang tidak lagi kanakkanak

seperti saat mereka tinggalkan. Sekarang Kinong sudah

menjadi remaja. Tubuhnya cepat tinggi. Tetapi nampak kurus.

Wijang dan Paksipun kemudian minta diri.

Sambil mengangguk hormat Kinong berkata, “Silahkan,

Kakang. Besok aku mengharap Kakang datang pula ke pasar.”

Paksi tertawa. Diambilnya keping uang dari kampilnya sambil

berkata, “Belilah nasi megana. He, di mana penjual nasi megana

itu sekarang? Apakah ia masih berjualan atau tidak?”

“Masih, Kakang. Tetapi agaknya ia menjadi ketakutan

sehingga sampai hari ini ia masih belum nampak.”

“Kalau begitu, belilah yang lain. Nasi tumpang, atau ketan ragi

di ujung sana.”

Kinong nampak ragu-ragu untuk menerima uang itu. Namun

Paksi mendesaknya, “Jangan segan, Kinong. Bukankah kita tetap

berkawan seperti dahulu?”

Kinong akhirnya menerima uang itu sambil berdesis,

“Seharusnya aku melakukan sesuatu untuk menerima imbalan.”

“Ini bukan upah, Kinong. Tetapi sebagai seorang kawan, kita

wajib saling membantu. Pada satu saat, akulah yang akan

membutuhkan bantuanmu. Apa pun ujudnya.”

Kinong mengangguk. Katanya, “Terima kasih, Kakang. Jika

Kakang memerlukan tenaga untuk mengerjakan apa saja di

rumah Kakang, panggil aku. Hampir setiap hari aku berada di

pasar.”

Paksi menepuk bahu Kinong sambil berkata, “Sudahlah. Aku

akan pulang.”

“Jika saja aku tahu, Kakang berdua datang pagi ini.”

Wijanglah yang menyahut, “Besok kami datang pagi-pagi.”

“Aku juga akan datang pagi-pagi sekali.”

Ketika Wijang dan Paksi kemudian meninggalkan pasar itu,

maka Kinong pun telah tenggelam di antara orang banyak. Tetapi

Kinong masih belum membawa keranjangnya. Seperti yang

dikatakan, ia baru melihat-lihat, apakah pasar itu sudah menjadi

ramai lagi.

Hari itu, Wijang dan Paksi telah mempunyai seperangkat alat

dapur lagi, meskipun baru yang paling penting. Disingkirkannya

alat-alat dapurnya yang lama yang sudah menjadi hijau karena

lumutan. Namun di antaranya masih ada yang dapat

dipergunakannya.

Tetapi Wijang dan Paksi baru akan membuat api setelah hari

menjadi gelap, agar asap yang naik, tidak mudah dilihat orang

dari kejauhan.

Namun Wijang dan Paksi sudah merencanakan, malam nanti,

mereka akan pergi ke Panjatan.

Di sisa hari itu, keduanya telah sibuk membersihkan ilalang.

Mula-mula di sekitar gubuk mereka, sehingga halaman gubuk

mereka menjadi nampak bersih seperti saat mereka masih tinggal

di situ. Beberapa bagian dari gubuk mereka yang masih belum

mapan, telah mereka perbaiki lagi. Wijang masih saja memanjat

pohon kelapa untuk mengambil pelepahnya. Ia masih

memerlukan beberapa lembar ketepe untuk merangkapi dinding

gubuknya yang kurang rapat, sehingga angin masih mengalir

masuk ke dalam.

Namun keduanya belum merencanakan untuk menanam

jagung atau tanaman lain seperti sebelumnya.

Hari itu, keduanya sempat melihat goa yang ada di belakang

air terjun. Goa yang pernah menjadi tempat Paksi menempa diri,

melengkapkan dasar-dasar ilmunya.

Semuanya masih sama seperti saat ditinggalkannya. Namun

lumut yang tebal telah menutup guratan yang ada di dinding

ruangan yang agak luas di dalam goa itu.

Namun Paksi tidak memerlukannya lagi. Apalagi Wijang.

Mereka sudah menguasai dengan baik, apa yang terpahat di

dinding padas yang keras itu.

Ketika kemudian malam turun, maka merekapun telah

menyalakan api. Merebus air dan menanak nasi. Mengasapi ikan

yang mereka tangkap. Menyiapkan sambal terasi dan membuat

wedang jahe dengan gula kelapa. Karena mereka belum sempat

membuat gula sendiri, maka mereka membeli gula kelapa ketika

mereka pergi ke pasar.

Sedikit lewat wayah sepi bocah, Wijang dan Paksi telah siap

untuk berangkat ke Panjatan.

Perjalanan yang mereka tempuh memang agak panjang. Tetapi

sebagai pengembara mereka memiliki ingatan yang tajam

terhadap lingkungan yang pernah mereka jelajahi. Karena itu,

maka mereka tidak mengalami kesulitan untuk menemukan jalan

ke Panjatan.

Jalan yang menuju padukuhan itu masih seperti dahulu.

Masih banyak pohon gayam yang tumbuh di pinggir jalan.

Namun tiba-tiba saja Wijang memberi isyarat kepada Paksi

untuk berhenti.

“Ada yang mengawasi kita,” desis Wijang.

Paksi mengangguk. Katanya, “Ya. Aku juga merasakannya.”

Karena itu, maka keduanyapun berhenti. Keduanya duduk di

bawah sebatang pohon gayam yang terhitung besar. Lebih besar

dari pohon gayam yang tumbuh di sebelah-menyebelah.

“Mereka masih berada di sekitar tempat ini,” desis Wijang.

“Ya. Mereka justru mendekat.”

Wijang dan Paksipun segera mempersiapkan diri. Paksi

meletakkan tongkatnya dekat di sisinya, sementara di

pergelangan tangan Wijang telah dikenakan pula perisai

khususnya.

Sebenarnyalah empat orang telah merayap mendekati Wijang

dan Paksi yang duduk di bawah pohon gayam itu. Namun Wijang

dan Paksi masih saja tetap berdiam diri. Bahkan Wijang sempat

bersandar pohon gayam yang besar itu, meskipun sebenarnya ia

sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi agaknya keempat orang yang merayap mendekat itu

juga masih menunggu, apa yang akan dilakukan oleh kedua

orang yang berjalan malam-malam menuju ke Panjatan.

Untuk beberapa saat mereka beradu kesabaran. Paksi

sebenarnya sudah tidak sabar lagi. Tetapi setiap kali Wijang

memberinya isyarat untuk tetap berdiam diri.

Akhirnya, keempat orang yang merayap mendekat itulah yang

tidak sabar lagi. Merekapun kemudian berloncatan ke tanggul

parit di pinggir jalan.

Tetapi Wijang masih tetap bersandar pohon gayam, sementara

Paksipun masih saja duduk di tempatnya.

“Setan alas,” geram seorang yang bertubuh tinggi besar dan

berkumis lebat, “apa yang kalian lakukan di sini?”

Wijang yang masih bersandar pohon gayam itu berkata,

“Kalian mengejutkan kami.”

Tetapi keempat orang itu tidak yakin. Mereka sama sekali

tidak melihat kedua orang itu terkejut.

“Apa yang kalian lakukan di sini malam-malam, he?”

“Bukankah kalian melihat bahwa kami tidak berbuat apa-apa?

Kami duduk saja di sini sambil mengantuk.”

“Jangan mencoba berpura-pura. Katakan, siapakah kalian

berdua?”

Wijang termangu-mangu. Namun setelah merenung sejenak,

iapun berkata, “Sebenarnya apakah yang kalian cari, sehingga

malam-malam kalian mengawasi jalan menuju ke Panjatan?”

“Kalian belum menjawab pertanyaanku, siapakah kalian?”

“Kami orang baru di Panjatan,” jawab Wijang.

Paksi mengerutkan dahinya. Karena ia tidak tahu maksud

Wijang, maka Paksi lebih baik berdiam diri daripada ia salah

ucap jika ia mencoba menyambung kata-kata Wijang.

Sementara itu, orang yang bertubuh tinggi besar dan

berkumis tebal itupun bertanya untuk meyakinkan

pendengarannya, “Jadi kalian orang baru di Panjatan?”

“Ya.”

“Kalian berasal dari mana?”

“Kami datang dari Pajang.”

Orang yang bertubuh tinggi besar itu menggeram. Katanya,

“Jadi benar berita bahwa Repak Rembulung dan Pupus

Rembulung sudah berkhianat.”

“Berkhianat? Maksudmu?”

“Bukankah kalian berada di Panjatan tinggal bersama-sama

Repak Rembulung dan Pupus Rembulung?”

“Ya,” jawab Wijang.

“Kau pengikut Harya Wisaka?”

Wijang menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun

menjawab, “Ya. Tetapi sayang sekali, Harya Wisaka sudah

tertangkap. Apakah kau tidak mendengar?”

“Tentu aku mendengar. Orang di seluruh Pajang

mendengarnya. Tetapi aku tidak peduli. Aku mendendam kepada

Harya Wisaka dan sisa-sisa pengikutnya. Beberapa orang

saudara-saudaraku seperguruan telah dibunuh oleh Harya

Wisaka dan para pengikutnya. Bahkan Harya Wisaka sendiri

telah membunuh beberapa orang di antara mereka dengan

tangannya.”

“Para pengikut Harya Wisaka tidak bersalah. Kami juga tidak

bersalah. Kami sama sekali tidak tahu-menahu tentang

perbuatan Harya Wisaka, karena kami berada di sebuah

padepokan terpencil.”

“Tetapi justru kalian adalah anak-anak muda yang

dipersiapkan oleh Harya Wisaka untuk meneruskan apa yang

disebutnya perjuangan itu. Pada saat yang gawat, kalian telah

dititipkan kepada Repak Rembulung dan Pupus Rembulung yang

sebelumnya bersama-sama kami menentang gerombolan yang

dipimpin oleh Harya Wisaka itu.”

“Tetapi Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung telah

menerima kami dengan baik.”

“Itulah yang kami maksudkan dengan pengkhianatan.

Seharusnya Repak Rembulung dan Pupus Rembulung

membunuh kalian, anak-anak muda yang dipersiapkan bagi

masa mendatang itu. Karena kalian adalah bagian dari

gerombolan Harya Wisaka.”

“Ada beberapa alasan kenapa Ki Repak Rembulung dan Nyi

Pupus Rembulung menerima kami,” berkata Wijang. “Yang

terpenting adalah, bahwa Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus

Rembulung mulai meyakini kebenaran perjuangan Harya Wisaka.

Penyebab yang lain adalah, menurut kepercayaannya yang tidak

tertangkap, Harya Wisaka, memberikan uang kepada Ki Repak

Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung untuk membiayai hidup

kami serta balas jasa kepada mereka. Selebihnya, Harya Wisaka

menjanjikan masa depan yang terbaik bagi Repak Rembulung

dan Pupus Rembulung.”

“Omong kosong. Yang terpenting bagi Repak Rembulung dan

Pupus Rembulung adalah uangnya. Bukan pengertian tentang

kebenaran perjuangan Harya Wisaka.”

“Apa pun alasannya, tetapi kami sekarang adalah keluarga Ki

Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung.”

“Nah, dengan demikian, maka kami mempunyai alasan ganda

untuk menangkap kalian dan membawanya ke perguruan kami.”

“Alasan ganda apa?”

“Pertama, kau merupakan bagian dari Harya Wisaka. Kalian

akan dapat menjadi sasaran dendam perguruan kami. Kedua,

kalian adalah keluarga Repak Rembulung dan Pupus Rembulung

yang telah berkhianat terhadap kebersamaan kami menentang

Harya Wisaka.”

“Sebenarnya itu bukan kesalahan kami. Karena itu, kalian

tidak dapat menuntut balas kepada kami. Baik kami sebagai

bagian dari gerombolan Harya Wisaka, maupun kami sebagai

keluarga baru Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung.”

“Persetan dengan alasanmu. Yang penting bagi kami, kami

harus membalas dendam atas kejahatan yang pernah dilakukan

oleh Harya Wisaka sendiri serta para pengikutnya atas perguruan

kami.”

“Jadi untuk itukah kalian malam-malam begini merayaprayap

di pematang sawah yang basah? Sekedar untuk menunggu

apakah ada orang yang kau anggap ikut bersalah itu lewat atau

tidak?”

“Bukan itu,” sahut orang yang bertubuh tinggi besar itu.

“Sebenarnya kami hanya ingin tahu, apakah benar Repak

Rembulung dan Pupus Rembulung berada di Panjatan bersama

beberapa orang anak muda pengikut Harya Wisaka yang disebut

angkatan mendatang itu. Sekarang, setelah kami kebetulan

menemui kalian di sini, maka kami yakin, bahwa Repak

Rembulung dan Pupus Rembulung berada di Panjatan bersama

para pengikut Harya Wisaka itu.”

“Kalian keliru. Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus

Rembulung tidak berada di Panjatan sekarang. Tadi siang mereka

sedang pergi ke tempat yang tidak kami ketahui.”

“Kami tidak tergesa-gesa. Jika mereka pergi, maka pada suatu

saat mereka akan kembali. Yang sekarang ada adalah kalian.

Nasib kalianlah yang buruk. Kenapa kalian malam-malam

berkeliaran sehingga kalian telah berjumpa dengan kami, yang

mendendam para pengikut Harya Wisaka sampai ke ujung

rambut, serta yang merasa perlu untuk menghukum Ki Repak

Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung yang sudah berkhianat.”

“Jika Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung tahu

bahwa kalian telah bertindak licik maka perguruan kalian akan

diratakan dengan tanah.”

“Tidak ada yang tahu, siapa yang melakukannya. Keluarga

Repak Rembulung dan Pupus Rembulung hanya akan

menemukan mayat kalian di bawah pohon gayam ini. Repak

Rembulung dan Pupus Rembulung akan meratapi kematian

kalian, karena kalian dapat mendatangkan uang baginya.

Selanjutnya, kami akan dapat memanfaatkan kemarahan Repak

Rembulung dan Pupus Rembulung untuk menghimpun diri dan

menghancurkan mereka sama sekali, karena bagi kami, kedua

orang itu selain pengkhianat, juga orang yang sombongnya

sampai menggapai langit.”

“Kalian telah membuat kami marah,” geram Wijang.

“Jika kalian marah, apa yang akan kalian lakukan?”

“Membunuh kalian dan meninggalkan mayat kalian di bawah

pohon gayam ini. Perguruan kalianlah yang akan meratapi

kematian kalian. Setelah saudara-saudara seperguruan kalian

mati dibunuh oleh Harya Wisaka dan para pengikutnya, sekarang

adalah giliran kalian.”

“Bersiaplah,” geram orang yang bertubuh raksasa itu. “Kami

bukan orang-orang licik yang menyerang kalian sebelum kalian

bersiap.”

“Jika benar kalian bukan orang-orang licik, maka kita akan

bertempur seorang melawan seorang.”

“Nasib kalianlah yang memang teramat buruk. Kami akan

melakukan bersama-sama, membunuh kalian berdua.”

Wijangpun kemudian bangkit berdiri sambil menggeliat.

Bahkan sambil menguap iapun berkata kepada Paksi, “Adikku,

berdirilah. Ada empat ekor cecurut yang sedang menjelang

kematiannya.”

Paksi berusaha menyesuaikan diri dengan gaya Wijang.

Karena itu, maka katanya, “Apakah kau tidak dapat

menyelesaikan mereka seorang diri? Aku letih sekali. Aku ingin

tidur barang sejenak. Nanti, menjelang fajar kita harus sudah

berada di sanggar untuk berlatih.”

Wijang termangu-mangu sejenak. Kemudian jawabnya,

“Mungkin aku akan dapat membunuh mereka. Tetapi aku sedang

malas bekerja sendiri. Marilah, kita selesaikan mereka sebentar,

baru kemudian kita beristirahat.”

Kesombongan kedua orang yang dianggap sebagai pengikut

Harya Wisaka itu membuat keempat orang itu menjadi sangat

marah. Seorang yang bertubuh pendek berkata lantang, “Kita

gantung tubuh mereka pada cabang pohon gayam ini.”

Tetapi Paksi menyahut, “Apakah kalian membawa tali?”

“Diam, kau,” bentak yang lain, yang bertubuh sedang agak

kekurus-kurusan. “Kainmu dapat dipergunakan untuk

menggantungmu setelah kalian berdua kami cincang sampai

mati.”

Wijang dan Paksipun kemudian bergeser ke tengah jalan,

sementara keempat orang itupun berloncatan mengepung mereka

dari segala arah.

Wijang dan Paksi tidak berkata apa-apa lagi. Tetapi

merekapun telah mempersiapkan diri untuk menghadapi

keempat orang itu.

Ketika keempat orang itu mulai bergerak, maka Wijang dan

Paksi telah mengambil jarak.

Sejenak kemudian, maka orang-orang itupun mulai

menyerang. Mereka telah menggenggam senjata di tangan

mereka. Dua orang di antara mereka bersenjata golok. Seorang

bersenjata bindi dan seorang yang lain bersenjata kapak.

Sementara itu Wijangpun telah memegang sepasang pisau

belatinya di kedua belah tangannya. Wijang dan Paksi masih

belum tahu tataran kemampuan lawan-lawan mereka. Karena

itu, maka mereka harus berhati-hati. Mereka tidak boleh

mengalami kesulitan karena kelengahan mereka sendiri.

Sejenak kemudian, Wijang dan Paksi itupun sudah terlibat

dalam pertempuran. Masing-masing harus menghadapi dua

orang lawan.

Orang yang bertubuh tinggi dan besar itu bersama orang yang

bertubuh pendek bersama-sama menghadapi Wijang. Sedang dua

orang yang lain, seorang yang bertubuh sedang agak kekuruskurusan

dan yang seorang lagi berwajah garang, bertempur

melawan Paksi.

Orang yang bertubuh raksasa itu sambil menggeram telah

mengayun-ayunkan kapaknya. Sedangkan orang yang bertubuh

pendek, memutar bindinya seperti baling-baling.

Ternyata bahwa keempat orang itu cukup tangkas

mempermainkan senjata mereka. Agaknya mereka benar-benar

menguasai senjata mereka dengan baik. Sehingga dengan

demikian, maka serangan-serangan merekapun menjadi sangat

berbahaya.

Namun Wijangpun menguasai senjatanya dengan matang

pula. Meskipun di tangan Wijang hanya tergenggam pisau belati,

namun pisau belati itu menjadi sangat berbahaya bagi lawanlawannya.

Sementara itu, dua orang yang bertempur melawan Paksi,

masing-masing menggenggam golok yang besar dan panjang di

tangan mereka. Mereka menempatkan diri di arah yang

berlawanan, sehingga mereka dapat menyerang Paksi dari arah

yang berlawanan pula.

Tetapi Paksi cukup tangkas menghadapi mereka. Meskipun

kedua orang lawannya berada di arah yang berlawanan, namun

Paksi sama sekali tidak menjadi bingung menghadapi mereka.

Dalam pertempuran yang terjadi kemudian, maka Wijang dan

Paksipun telah mampu menjajagi ilmu lawannya. Mereka

memang harus berhati-hati, karena lawan-lawan mereka memang

memiliki bekal yang kuat.

Dengan senjatanya yang pendek, Wijang harus bergerak

dengan cepat. Setiap kali ia menyerang, maka Wijangpun harus

segera keluar dari jarak jangkau senjata lawannya yang terayunayun

mengerikan itu. Suara kapak dan bindi itu berdesing susulmenyusul

seperti suara beberapa ekor kumbang yang

berterbangan mengitari tubuh Wijang.

Tetapi dengan kecepatan gerak yang melampaui kecepatan

ayunan senjata lawannya, maka Wijang selalu berhasil

menghindar dari serangan kapak dari orang yang bertubuh

raksasa itu, serta bindi orang yang bertubuh pendek.

Karena serangan-serangannya tidak juga kunjung menyentuh

sasaran, maka orang yang bertubuh tinggi besar itu semakin

menjadi marah. Dendamnya yang menyala di dadanya, dibumbui

oleh kegagalan-kegagalan serangannya, membuat orang bertubuh

raksasa itu mengerahkan kemampuannya. Ia Ingin segera

berhasil menghancurkan orang yang dianggapnya pengikut Harya

Wisaka yang sangat dibencinya itu.

Tetapi Wijang itu masih saja mampu menghindar. Dan bahkan

menangkis dengan senjatanya yang pendek itu.

Umpatan-umpatan kasar telah meluncur dari mulut orang

yang bertubuh raksasa itu. Kapaknya semakin cepat berayun

mengarah ke tubuh Wijang. Namun setiap kali, kapak itu tidak

menyentuh apapun juga.

Sementara itu orang yang bertubuh pendek telah memilih

sasaran yang rendah. Ia ingin mematahkan tulang kaki

lawannya. Dengan derasnya bindinya terayun menyapu kaki

Wijang. Tetapi dengan ringannya Wijang itu melenting tinggi,

sehingga ayunan bindi itu tidak menyentuh sasaran.

Namun ketika keduanya bersama-sama mengerahkan segenap

kemampuan mereka, maka Wijang tidak selalu sempat

menghindari serangan lawannya. Beberapa kali ia harus

menangkis dengan pisau belatinya. Kadang-kadang Wijang

menepis serangan lawan. Namun kadang-kadang Wijang terpaksa

menangkis ayunan kapak lawannya dengan menyilangkan pisau

belatinya.

Tetapi kedua lawannya berusaha mendesaknya. Seranganserangan

mereka menjadi semakin cepat. Namun justru karena

itu, jantung orang yang bertubuh tinggi besar itu terguncang

ketika ia melihat lawannya menangkis kapaknya dengan

pergelangan tangannya. Demikian kerasnya ia mengayunkan

kapaknya pada saat lawannya dalam kedudukan yang lemah.

Baru saja Wijang meloncat menghindari serangan bindi orang

bertubuh pendek itu, namun demikian kakinya menyentuh

tanah, maka kapak lawannya yang bertubuh raksasa itu terayun

ke arah kepalanya. Wijang tidak sempat menghindar. Iapun tidak

dapat penangkis dengan pisau belatinya, karena ayunan itu

cukup keras. Karena itu, maka Wijangpun telah mempergunakan

perisai yang melindungi pergelangan tangannya untuk menangkis

tajamnya kapak lawannya.

Dengan cepat Wijang tidak menyilangkan pisau belatinya,

tetapi kedua pergelangan tangan Wijanglah yang bersilang di

depan kepalanya.

Kapak orang bertubuh raksasa yang terayun deras itu

membentur perisai di pergelangan tangan Wijang dengan

kerasnya.

Akibatnya justru sangat mengejutkan bagi orang bertubuh

raksasa itu. Kapaknya bagaikan telah membentur dinding baja

yang tebal, sehingga justru karena itu, maka getar dan benturan

itu telah menjalar sampai ke ujung tangkai kapaknya.

Tangan raksasa itupun terasa menjadi sangat pedih. Hanya

dengan susah payah saja ia berhasil mempertahankan

kedudukannya, sehingga orang bertubuh raksasa itu telah

meloncat surut

Wijang telah siap meloncat memburunya. Namun lawannya

yang seorang lagi telah mengayunkan bindinya ke arah

punggung.

Namun Wijang sempat berbalik. Sambil merendah dengan

berlutut pada sebelah kakinya, Wijang menangkis bindi itu

dengan menyilangkan pisau belatinya. Namun tiba-tiba saja bindi

itu bagaikan berputar dan terhisap lepas dari tangan orang yang

bertubuh pendek itu, jatuh setapak di depan kaki Wijang.

Ketika orang itu siap untuk meloncat dan meraih bindinya,

maka ujung pisau belati Wijang telah terangkat siap mematuk

orang bertubuh pendek itu.

Orang itu meloncat surut. Sementara itu, orang yang

bertubuh raksasa itupun belum siap sepenuhnya untuk kembali

bertempur.

“Masih ada kesempatan untuk menyerah,” berkata Wijang

kemudian.

Namun orang yang bersenjata kapak itu justru menggeram.

Tangannya yang sudah menggenggam tangkai kapaknya dengan

baik, telah siap untuk mengayunkan kapaknya lagi.

“Apakah kita akan bertempur terus?” bertanya Wijang.

“Persetan, kau,” geram orang berkapak itu.

“Kawanmu telah kehilangan senjatanya.”

“Kau akan kehilangan nyawamu.”

Wijang tertawa. Katanya, “Apakah kau merasa akan menang

dalam pertempuran ini? Jika para pengikut Harya Wisaka telah

membunuh saudara-saudara seperguruanmu, itu peringatan

bahwa kemampuan para pengikut Harya Wisaka lebih tinggi dari

kemampuan saudara-saudara seperguruanmu. Nah, sekarang

aku akan membuktikannya.”

“Kau akan menyesali kesombonganmu.”

“Bukan aku yang akan menyesal. Tetapi kau.”

Orang bersenjata kapak itu tiba-tiba telah berlari sambil

mengangkat kapaknya siap untuk diayunkannya ke kepala

Wijang.

Sementara itu, kawannya yang kehilangan bindinya

menunggu kesempatan. Jika perhatian lawannya itu sepenuhnya

tertuju kepada kawannya yang bersenjata kapak, maka ia berniat

untuk menggapai senjatanya.

Ternyata Wijang tidak beranjak dari tempatnya. Ia berdiri

sambil menyilangkan tangannya sebagaimana dilakukan

sebelumnya. Ia telah siap menangkis serangan itu dengan perisai

di pergelangan tangannya.

Tetapi lawannya benar-benar telah mengerahkan segenap

tenaga dan kekuatannya. Dengan ancang-ancang yang cukup,

maka serangannya itu akan merupakan serangan yang

menentukan.

Dengan gelora yang bagaikan hendak meledakkan dadanya,

orang itupun berteriak keras-keras. Kapaknya terangkat semakin

tinggi. Kemudian pada saat kapak itu mulai bergerak berayun

mengarah ke kepala Wijang, sementara orang itu masih berlari.

Namun yang terjadi sangat mengejutkannya. Ternyata Wijang

tidak menangkis serangan itu. Bahkan iapun telah bergeser,

menghindar sambil merendahkan tubuhnya. Tangannya yang

bersilang itupun telah ditariknya pula di sisi tubuhnya.

Kapak itu terayun mengerikan. Tetapi kapak itu tidak

menyentuh apa-apa sama sekali. Dengan demikian, maka tubuh

orang itu justru telah terseret oleh ayunan kapaknya, sehingga

orang itu justru terhuyung-huyung.

Ketika kaki Wijang menyentuh punggungnya, maka orang

itupun tidak mampu lagi mempertahankan keseimbangannya,

sehingga iapun jatuh tertelungkup.

Terdengar orang itu menyeringai menahan sakit. Dadanya

telah menimpa kapaknya sendiri. Untunglah, bahwa tulangtulang

iganya itu hanya membentur punggung dari kapaknya.

Jika saja tulang-tulangnya itu terkena tajam kapaknya, maka

tulang-tulang iganya itu tentu menjadi rantas.

Meskipun demikian, meskipun tulang-tulang iganya itu hanya

menimpa punggung kapaknya, namun rasa-rasanya tulangtulang

iganya itu telah menjadi retak.

Meskipun demikian, orang bersenjata kapak itu masih

berusaha untuk bangkit berdiri. Meskipun ia harus menyeringai

menahan sakit, namun ia masih saja menggeram, “Aku bunuh

kau.”

Wijang tersenyum sambil berkata, “Jadi kau masih belum

mengakui kenyataan ini?”

“Kenyataan yang mana? Kenyataan bahwa aku akan

mengambil nyawamu?”

“Kau memang gila,” berkata Wijang. “Tetapi jangan menunggu

aku kehilangan kesabaran.”

“Aku akan mengoyak mulutmu.”

Wijang memandang orang itu dengan tajamnya. Kemudian

katanya, “Aku akan mengembalikan bindi kawanmu. Kita akan

mulai lagi. Tetapi aku tidak akan mengendalikan diri lagi. Kalian

akan mengalami kenyataan yang amat pahit.”

Orang yang bertubuh pendek dan bersenjata bindi itu

termangu-mangu. Ia ragu-ragu mengambil bindinya. Ia

menyangka bahwa lawannya itu sekedar menjebaknya.

Namun Wijang itu bergeser beberapa langkah sambil berkata,

“Cepat. Ambil senjatamu sebelum aku mulai.”

Dengan tergesa-gesa orang itupun menggapai bindinya.

Kemudian berdiri tegak menghadapi kemungkinan untuk

bertempur lagi.

Tetapi orang bertubuh agak pendek dan bersenjata bindi itu

telah dicengkam oleh perasaan aneh. Kenapa lawannya itu

membiarkannya mengambil bindinya? Sementara itu, dalam

pertempuran yang akan terjadi lagi, bindinya itu akan dapat

mencelakainya.

Tetapi ia tidak sempat berpikir terlalu panjang. Kawannya

yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata kapak itu sudah mulai

mengayunkan kapaknya lagi, meskipun dadanya masih terasa

sakit.

Wijangpun segera memutar pisau belatinya seperti balingbaling

di kedua belah tangannya. Ketika orang yang bersenjata

kapak itu menyerangnya, maka Wijangpun dengan cepat

mengelak.

Sementara itu, Paksipun bertempur dengan sengit pula.

Kedua lawannya yang bersenjata golok menyerangnya beruntun

dari arah yang berbeda. Dengan tenaga yang besar, kedua lawan

Paksi itu mengayunkan golok mereka tanpa terkendali lagi.

Mereka benar-benar ingin menebas leher Paksi hingga terpisah

dari tubuhnya, atau mengoyak lambungnya sehingga isi perutnya

terburai keluar.

Namun sepasang golok itu tidak mampu menembus

pertahanan Paksi. Tongkatnya berputar dengan cepatnya,

sehingga seakan-akan tubuhnya dikelilingi kabut yang rapat.

Setiap serangan dari mana pun arahnya, tentu membentur

perisai putaran tongkat anak muda itu.

Namun kedua orang lawan Paksi itu tidak segera berputus

asa. mereka masih saja menyerang dengan garangnya. Kadangkadang

serangan mereka datang beruntun. Namun kadangkadang

serangan mereka pun datang bersamaan.

Tetapi tidak segores pun serangan mereka berhasil mengenai

kulit lawannya.

Bahkan ketika Paksi sudah mulai berkeringat, maka Paksipun

telah mulai menyerang pula.

Tongkat Paksi yang berputar seperti baling-baling, sehingga

tubuhnya bagaikan diselimuti oleh kabut itu, sekali-sekali justru

telah mematuk dengan cepat seperti kepala seekor ular. Namun

kemudian tongkat itu menebas mendatar.

Semakin lama serangan-serangan Paksipun menjadi semakin

cepat. Tongkatnya mulai menyentuh tubuh lawannya. Seorang di

antara kedua orang lawannya yang bertubuh sedang agak

kekurus-kurusan itu meloncat surut sambil mengaduh tertahan

ketika tongkat Paksi mematuk pundaknya.

“Anak iblis,” justru orang yang berwajah garang itulah yang

mengumpat. “Kau akan menyesal karena kau sudah menyakiti

seorang di antara kami.”

Namun baru saja mulutnya terkatup, orang itu justru

berteriak sambil mengumpat semakin kasar. Ternyata tongkat

Paksi yang terayun mendatar telah menyambar lengannya. Terasa

tulang di lengannya itu menjadi nyeri seakan-akan telah menjadi

retak.

Tongkat Paksi tidak berhenti berputar. Rasa-rasanya semakin

lama justru menjadi semakin cepat. Ujungnya bagaikan lalat yang

berterbangan di seputar tubuh kedua lawannya yang setiap kali

akan dapat hinggap di tubuh mereka.

Sebenarnyalah beberapa kali Paksi berhasil mengenai

lawannya. Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu

terpelanting jatuh ketika tongkat Paksi mendorong dadanya,

justru pada saat orang itu meloncat surut mengambil jarak.

Dengan sigapnya ia berdiri. Tetapi sebelum ia tegak benar,

maka kawannya telah terlempar pula. Kaki Paksilah yang telah

mengenai dadanya, sehingga orang itu terjatuh dan menimpa

kawannya yang sedang berusaha untuk berdiri tegak.

Dengan demikian, maka keduanya telah berguling-guling lagi

di tanah. Namun Paksipun tidak melepaskan mereka. Dengan

cepat ia meloncat memburu.

Ketika orang yang berwajah garang itu dengan cepat melenting

berdiri, tongkat Paksipun telah terayun dengan derasnya,

menghantam punggung.

Orang itu berteriak kesakitan. Dengan derasnya ia jatuh

tertelungkup. Wajahnya telah tersuruk ke dalam tanah yang

kotor berdebu.

Sementara itu, ketika lawannya yang lain telah berdiri tegak,

maka sambil membelakanginya, tongkat Paksi terjulur mematuk

perut orang itu, sehingga orang itu terbungkuk kesakitan.

Dalam keadaan yang demikian, maka Paksipun meloncat

sambil memutar rubuhnya. Satu kakinya terayun mendatar

menyambar kening lawannya.

Tidak ada kesempatan untuk mempertahankan keseimbangan

tubuhnya. Dengan kerasnya orang itu terpelanting jatuh

menimpa pohon yang tumbuh di pinggir jalan itu.

Dengan serta-merta orang itupun mengaduh kesakitan. Ketika

ia mencoba untuk bangkit, maka iapun terhuyung-huyung dan

jatuh pula di tanah sambil menahan sakit. Tulang-tulang di

punggungnya rasa-rasanya telah berpatahan.

Lawan Paksi yang seorang menjadi bimbang. Ia sadar, bahwa

ia tidak akan menang melawan anak muda itu.

“Pengikut Harya Wisaka ini memang berilmu tinggi,” berkata

lawannya itu di dalam hatinya

Paksi melihat kebimbangan di sorot mata lawannya. Karena

itu, maka iapun berkata, “Nah, apakah kalian masih akan

berusaha menangkap kami? Sebaiknya kalian melihat kenyataan

bahwa kalian tidak akan mungkin dapat melakukannya.”

Kedua lawannya tidak menjawab. Yang seorang masih

kesakitan, sedangkan yang seorang lagi semakin dicengkam oleh

kebimbangan.

Selain lawan Paksi itu masih dicengkam oleh keragu-raguan,

maka tiba-tiba saja mereka melihat orang yang bersenjata kapak

itu terlempar dan jatuh ke dalam kotak-kotak sawah yang

tanahnya basah berlumpur. Kapaknya terlepas dari tangannya

dan jatuh ke dalam parit yang airnya nampak bening, gemericik

mengalir tidak berkeputusan.

Sementara itu, orang yang bersenjata bindi itupun telah

meletakkan senjatanya di tanah sambil berkata, “Aku menyerah.”

Wijang menggeram. Katanya, “Aku akan membunuhmu.”

Orang bersenjata bindi itu memandang Wijang dengan sorot

mata yang memelas. Tetapi ia tidak berkata apapun juga.

Wijang masih berdiri sambil bertolak pinggang. Sementara itu

Paksipun datang mendekatinya sambil berdesis, “Apa yang akan

kita lakukan atas mereka?”

Sebelum Wijang menjawab, ia melihat orang yang bertubuh

tinggi besar dan bersenjata kapak yang tercebur ke dalam lumpur

itu berusaha untuk bangkit

Namun kemudian Wijang itupun bertanya kepada orang yang

bersenjata bindi itu, “Kalian datang dari perguruan mana?”

Orang itu bersenjata bindi itu termangu-mangu. Di luar

sadarnya ia berpaling kepada kawannya yang masih berusaha

naik ke tanggul parit.

“Jawab pertanyaanku,” Wijang membentak, “kalian murid dari

perguruan mana?”

Orang itu masih belum menjawab.

“Baik, baik. Jika kalian tidak mau menjawab, maka kalian

akan mati tanpa kami kenali, siapakah yang telah kami bunuh.

Tetapi jika kalian datang dari sebuah perguruan yang sudah

pernah kami dengar namanya, maka kami akan mengabari

saudara-saudara seperguruan kalian, bahwa kalian mati di sini.

Atau bahkan kami akan membiarkan kalian pergi.”

Orang-orang itu masih tetap berdiam diri. Sementara itu orang

yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata kapak itu sudah

berdiri di atas tanggul parit.

Wijanglah yang berkata kepadanya, “Kapakmu terjatuh ke

dalam parit. Jika kau ingin mengambilnya, ambil. Kau akan lebih

berbangga mati dengan senjata di tangan daripada dengan

merundukkan kepalamu di hadapanku sebelum pisauku

menghunjam menusuk punggungmu menembus sampai ke

jantung.”

Orang bertubuh raksasa itu berdiri dengan ragu. Namun

akhirnya iapun berkata, “Aku menyerah. Apa pun yang kami

lakukan, tidak akan berarti apa-apa.”

“Apakah kau juga berkeberatan menyebut perguruanmu?

Apakah kalian datang dari Perguruan Sad, Umbul Telu, Tegal

Arang atau dari mana?”

“Kau kenali nama-nama perguruan itu?”

“Ya. Aku kenal juga dengan orang-orang dari Goa Lampin.”

Orang bertubuh raksasa itupun kemudian menjawab, “Kami

datang dari perguruan yang belum kau sebut.”

“Perguruan apa?”

“Perguruan Kayu Legi.”

Wijang dan Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian

Wijangpun menggeram, “Kau akan menipu kami?”

“Tidak. Aku berkata sebenarnya. Kami mendengar bahwa ada

beberapa orang anak muda yang memang dikirim oleh para

pengikut Harya Wisaka ke daerah ini dan diserahkan kepada Ki

Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung yang mempunyai

beberapa tempat tinggal. Satu di antaranya adalah Panjatan.

Karena itu, kami mendapat tugas untuk mengawasi padukuhan

ini.”

Wijang mengangguk-angguk kecil. Iapun kemudian berpaling

kepada Paksi sambil berkata, “Biarlah mereka pergi. Biarlah

berita itu tersebar di daerah ini, bahwa anak-anak muda yang

dikirim oleh Harya Wisaka, bukan anak yang masih ingusan.

Biarlah mereka memberitahukan kepada guru mereka, bahwa

tidak ada gunanya memusuhi kami, karena kami tidak berniat

memusuhi mereka.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada

orang yang bertubuh tinggi besar itu, “Pergilah. Katakan bahwa

kami memang tidak berniat memusuhi siapa pun di sini. Kami

dipersiapkan untuk pada satu saat berada di istana Pajang.

Dengan atau tanpa cincin kerajaan itu. Jika hal itu terjadi, maka

kami akan melihat, perguruan yang manakah yang dapat kami

ajak bekerja sama dengan kami serta perguruan manakah yang

harus kami hancurkan untuk selama-lamanya. Jika setelah

beberapa perguruan bergabung kalian tidak dapat mengalahkan

kekuatan Harya Wisaka, maka perguruan-perguruan yang

terpisah itu tidak akan mampu berbuat apa-apa.”

“Tetapi sekarang Harya Wisaka sudah tertangkap.”

“Kekuatan kami tidak terletak hanya pada satu orang.

Meskipun Harya Wisaka sudah tertangkap, tetapi pancaran

perjuangannya tidak meredup. Jika sekarang kami tidak

bergerak, karena kami bukan orang-orang bodoh yang tidak

mempunyai perhitungan.”

Orang-orang itupun terdiam. Sementara Wijangpun berkata,

“Sampai sekarang, yang sudah menyatakan kesediaannya

berjuang bersama kami adalah Ki Repak Rembulung dan Nyi

Pupus Rembulung. Keduanya memiliki beberapa orang pengikut

dari beberapa tempat. Tetapi dalam waktu dekat, tidak akan ada

gerakan apa-apa, karena kami tidak mau terperosok lagi ke

dalam satu kegagalan yang pahit. Baru setelah kami benar-benar

bersiap, kami akan mulai dengan gerakan kami. Nah, terserah

kepada kalian, kepada orang-orang Kayu Legi, di mana kalian

akan berdiri.”

Orang-orang yang mengaku dari Perguruan Kayu Legi itu

mengangguk-angguk kecil. Sementara Wijangpun berkata,

“Pergilah. Sampaikan salam kami kepada guru kalian. Dendam

yang membakar jantungnya tidak perlu dikipasi terus. Yang

pernah terjadi biarlah terjadi. Kita memandang masa-masa

mendatang. Namun seandainya gurumu tidak setuju, tidak apaapa.

Tetapi jangan ganggu kami. Jangan ganggu Ki Repak

Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung agar kalian tidak

memaksa kami bergerak lebih cepat di daerah ini. Sekali lagi aku

beritahukan, bahwa anak-anak dari angkatan mendatang itu

bukan anak-anak ingusan. Sekarang kalian berhadapan dengan

dua orang di antara mereka. Sementara itu beberapa kelompok di

antara kami telah berada di daerah ini. Siapa yang membuka

permusuhan dengan kami, nasibnya sudah dapat diramalkan.”

Keempat orang itu masih tetap berdiam diri. Sementara itu,

Paksipun berkata, “Sekarang pergilah. Ambil senjata kalian yang

terjatuh. Kami beritahu sekali lagi, bahwa Ki Repak Rembulung

dan Nyi Pupus Rembulung hari ini tidak berada di Panjatan.”

Keempat orang itu masih saja merasa ragu. Namun kemudian

orang yang bertubuh raksasa itupun berkata, “Baiklah. Kami

minta diri.”

Demikianlah, maka keempat orang itupun segera

meninggalkan tempat itu. Mereka yang senjatanya terlepas dari

tangan masih sempat memungutnya dan membawa pergi.

Seorang di antara mereka harus dibantu oleh kawannya, karena

punggungnya yang kesakitan. Rasa-rasanya tulangnya menjadi

retak.

Demikian keempat orang itu berjalan menjauh, maka

Paksipun berdesis, “Ternyata bahaya bagi anak-anak itu dapat

datang dari segala arah.”

“Ya. Banyak orang yang mendendam terhadap Harya Wisaka.”

“Jika kita tidak segera berhasil, mungkin sekali para petugas

sandi dari Pajanglah yang akan berhasil lebih dahulu menangkap

mereka. Tetapi tentu dengan pilihan, hidup atau mati.”

Wijang mengangguk-angguk. Ia menangkap penyesalan yang

tersirat dari kata-kata Paksi, bahwa mereka telah terlalu lama

berhenti di perjalanan.

Namun Wijang dapat mengerti, sehingga karena itu, ia sama

sekali tidak menanggapinya agar tidak timbul salah paham.

Namun Paksi itu kemudian bertanya, “Sekarang, apakah kita

akan langsung pergi ke Panjatan?”

Wijang mengangguk. Katanya, “Ya. Kita akan langsung pergi

ke Panjatan.”

“Marilah. Kita masih mempunyai waktu.”

Demikianlah, maka Wijang dan Paksipun segera meneruskan

perjalanan mereka ke Padukuhan Panjatan.

Wijang dan Paksi masih ingat betul, di mana mereka pernah

berdiri di depan regol rumah yang dihuni oleh Ki Repak

Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung. Pada waktu mereka

datang ke Panjatan, maka tiba-tiba saja mereka sudah

berhadapan dengan seorang perempuan yang mengenakan

pakaian berwarna hijau pupus. Nyi Pupus Rembulung.

Ketika mereka kemudian berdiri beberapa puluh langkah dari

regol Padukuhan Panjatan, merekapun berhenti. Dengan nada

dalam Wijang berdesis, “Jika dugaan orang-orang yang mengaku

dari perguruan Kayu Legi itu benar, bahwa anak-anak muda yang

dikirim kepada Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung

berada di Panjatan, maka padukuhan itu tentu dapat

perlindungan lebih dari biasanya oleh para pengikut Ki Repak

Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung. Apalagi jika Ki Repak

Rembulung Nyi Pupus Rembulung sendiri ada di padukuhan itu.

Bahkan jika demikian, maka Ki Gede Lenglengan tentu juga

berada di Panjatan.”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kita akan

mendekati regol padukuhan itu tidak melewati jalan ini.”

“Baik,” sahut Wijang, “kita akan turun ke sawah.”

Demikianlah, Wijang dan Paksipun segera turun ke sawah.

Mereka merayap mendekati regol padukuhan dari arah samping.

Mula-mula mereka bergeser ke arah dinding padukuhan. Sambil

berlindung di antara batang-batang perdu mereka semakin

mendekati regol.

Dengan mengetrapkan ilmu mereka, Sapta Pandulu dan Sapta

Pangrungu, mereka mencoba untuk mengetahui apakah ada

penjagaan khusus di regol padukuhan.

Namun menurut penilikan mereka berdua, tidak seorang pun

berada di regol padukuhan itu. Tidak terdengar suara dan

bahkan tidak terdengar desah nafas. Apalagi nampak sosok

tubuh seseorang.

Meskipun demikian, keduanya tidak ingin memasuki

padukuhan itu lewat regol. Merekapun kemudian telah meloncati

dinding padukuhan setelah mereka yakin, bahwa tidak ada

pengawasan atas dinding padukuhan itu.

Sesaat kemudian, maka mereka berdua telah berada di dalam

lingkungan Padukuhan Panjatan. Padukuhan yang mempunyai

ciri yang khusus, karena di padukuhan itu tinggal Ki Repak

Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung, meskipun mereka tidak

selalu berada di padukuhan itu, karena Ki Repak Rembulung dan

Nyi Pupus Rembulung mempunyai tempat tinggal yang lain.

Bahkan mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa sepasang

suami-istri yang seakan-akan dibayangi oleh kabut rahasia itulah

yang disebut Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.

Namun Wijang dan Paksi tidak melihat sesuatu yang menarik

di dalam padukuhan itu. Di malam hari, padukuhan ini nampak

lengang seperti padukuhan-padukuhan yang lain. Sepi. Tidak ada

seorang pun yang berada di jalan.

“Kita lihat gardu itu. Bukankah tidak jauh dari regol rumah

Repak Rembulung itu terdapat sebuah gardu?”

Paksi mengangguk-angguk.

Dengan sangat berhati-hati mereka berusaha mendekati gardu

yang pernah mereka lihat. Tetapi keduanya tidak menyusuri jalan

utama padukuhan itu. Mereka telah memilih melintasi halaman

dan kebun, sehingga setiap kali mereka harus meloncati dinding

halaman.

Baru beberapa saat kemudian mereka sampai ke halaman

yang terletak berseberangan dengan gardu yang pernah mereka

lihat.

Ternyata gardu itu kosong. Tidak seorang pun berada di gardu

itu. Bahkan lampu di gardu itu pun tidak menyala sama sekali.

Wijang dan Paksi itupun kemudian bergeser pula. Merekapun

kemudian berhenti di halaman rumah yang berseberangan

dengan regol rumah seorang perempuan yang dikenalnya sebagai

Pupus Rembulung itu.

Ternyata regol itupun sepi-sepi saja. Tetapi ada satu atau dua

orang yang berjaga-jaga.

Wijangpun kemudian telah menggamit Paksi sambil berbisik,

“Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka berada di sini.”

Paksi mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bertanya,

“Apakah mungkin Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus

Rembulung sengaja menyamarkan keberadaan mereka?”

“Memang mungkin. Tetapi seandainya demikian, permainan Ki

Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung itu sangat

berbahaya,” jawab Wijang.

“Mungkin mereka terlalu yakin akan kekuatan yang tersimpan

di dalam rumah itu. Kehadiran Ki Gede Lenglengan bersama

beberapa orangnya, menambah keyakinan Ki Repak Rembulung

dan Nyi Pupus Rembulung akan kekuatan yang tersimpan di

rumah mereka, sehingga mereka tidak memerlukan pengawasan

di luar rumah.”

Keduanya akhirnya mengambil keputusan untuk

meninggalkan Padukuhan Panjatan. Mereka berkesimpulan

bahwa Repak Rembulung dan Pupus Rembulung serta anak-anak

muda yang diserahkan oleh Ki Gede Lenglengan kepada mereka,

tidak berada di Panjatan.

Meskipun demikian, Paksi itupun berkata, “Kita dapat

menghubungi pande besi di pasar itu.”

Wijangpun mengangguk-angguk. Salah seorang di antara

mereka adalah orang Panjatan.

“Ya. Besok kita dapat berhubungan dengan Lebak. Mudahmudahan

ia masih bekerja di pasar. Agaknya besok pasar itu

sudah menjadi lebih ramai lagi.”

Dengan demikian, maka kedua orang itupun kemudian telah

meninggalkan Padukuhan Panjatan. Mereka berharap bahwa

Lebak, yang rumahnya di Padukuhan Panjatan itu, akan dapat

memberikan sedikit keterangan tentang tempat tinggal Ki Repak

Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung, meskipun seandainya

Lebak tidak tahu pasti, apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin

Lebak dapat menyebut orang-orang baru yang tinggal di Panjatan,

terutama anak-anak muda.

 

Jilid 38

DI PERJALANAN kembali ke gubuk mereka, Wijang dan Paksi

tidak menemui hambatan apapun. Tetapi agaknya mereka tidak

akan tidur semalam suntuk, karena ketika mereka sampai di

gubuk mereka, langit telah nampak menjadi semburat merah.

“Sebentar lagi fajar akan menyingsing,” berkata Wijang. Lalu

iapun bertanya, “Apakah kau masih akan tidur meskipun

sebentar?”

Paksi menggeleng. Katanya, “Tidak. Bukankah sudah saatnya

kita bangun sekarang seandainya kita tidur semalam?”

Wijang mengangguk-angguk.

“Namun lebih baik kita pergi ke sungai.”

Merekapun kemudian membersihkan diri di sebuah belik kecil

dengan mata air yang bening, yang terdapat di pinggir sungai.

Ketika kemudian matahari terbit, maka Wijang dan Paksi

sempat duduk di dalam gubuknya. Sebelum cahaya matahari

menembus cahaya fajar, Paksi masih sempat memanasi

minuman. Namun demikian langit menjadi cerah, Paksipun telah

memadamkan apinya agar asapnya tidak menarik perhatian.

Sambil menghirup minuman hangat, Wijang dan Paksi masih

berbincang tentang keberadaan Repak Rembulung dan Pupus

Rembulung.

“Kita nanti akan menemui Lebak di pasar,” desis Paksi.

“Ya. Kita kemarin juga berjanji untuk datang pagi-pagi.”

“Berjanji?”

“Ya. Kepada Kinong.”

Paksi tersenyum. Katanya, “Jika demikian, apakah kita akan

berangkat sekarang?”

“Ya. Kita tentu sudah terlambat menurut perhitungan waktu

Kinong.”

Keduanyapun kemudian telah berkemas serta membenahi

pakaian mereka. Sesaat kemudian, merekapun sudah menuruni

kaki Gunung Merapi untuk pergi ke pasar.

Ternyata pasar itu sudah menjadi semakin ramai. Mereka

yang berjualan di pasar itu sudah menjadi semakin banyak.

Demikian pula para pembelinya.

Demikian mereka berdiri di depan pintu gerbang pasar,

mereka melihat Kinong membawa bakul di atas kepalanya.

Agaknya Kinong tergesa-gesa.

Namun ternyata Kinong sempat melihat mereka pula. Seperti

yang dikatakan Wijang, maka Kinong itu berkata, “Kalian datang

terlalu siang.”

Wijang dan Paksi tersenyum. Tetapi mereka tidak sempat

menjawab, karena Kinong tidak berhenti. Dengan berlari-lari kecil

Kinong membawa bakul itu ke sebuah pedati yang berhenti di

ujung deretan kedai yang juga sudah semakin banyak yang

membuka pintunya. Sudah ada empat buah kedai yang sudah

menjajakan dagangannya. Nasi hangat, sayur dengan berbagai

lauknya serta bermacam-macam makanan.

Namun nampaknya tidak hanya sebakul saja barang yang

dibawa Kinong ke pedati yang berhenti di ujung deretan kedai itu.

Ternyata anak itu masih berlari-lari kecil masuk kembali ke

pasar.

Wijang dan Paksi yang tidak terburu-buru itu menunggu

sampai Kinong selesai. Mereka justru ingin tahu, apa yang

dibawa Kinong dan dimuat di pedati itu.

Setelah berlari-lari kecil hilir-mudik, maka Kinongpun telah

selesai. Sambil tersenyum-senyum ia melangkah mendekati

Wijang dan Paksi yang masih berada di luar pagar.

“Kau sibuk hari ini, Konong?” bertanya Paksi.

Kinong yang masih tersenyum-senyum itupun berkata, “Ya.

Rejeki.”

“Apa saja yang kau bawa ke pedati itu?”

“Bahan makan. Ada beras, ada jagung, dan kebutuhan dapur.

Garam, gula kelapa, terasi, ikan yang sudah diasinkan dan

beberapa kebutuhan yang lain.”

“Apakah ada orang yang akan mengadakan perhelatan atau

upacara?”

Kinong menggeleng sambil menjawab, “Entahlah. Aku tidak

tahu.”

“Siapa yang berbelanja itu?”

Kinong termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun

menjawab, “Kau lihat dua orang perempuan yang menuju ke

pedati itu? Nah, merekalah yang berbelanja.”

“Kau pernah lihat mereka sebelumnya?”

Kinong mengerutkan dahinya. “Mungkin. Mungkin aku pernah

melihatnya, tetapi kapan, aku lupa.”

“Di pasar ini? Sudah lama?” desak Paksi.

“Agaknya belum terlalu lama. Juga di pasar ini. Entah kapan.”

Paksi tersenyum. Katanya, “Sukurlah. Mudah-mudahan kau

mendapat banyak rejeki seperti hari ini.”

Tiba-tiba saja Kinong itu bertanya, “Kakang sudah makan

pagi?”

“Sudah. Kenapa?”

“Kalau Kakang berdua belum makan pagi, marilah, kita

makan pagi. Nasi tumpang atau ketan ragi atau ketela rebus

legen? Nah, apa saja. Aku yang bayar.”

Wijang dan Paksi tertawa serentak, sehingga beberapa orang

di sekitarnya berpaling.

“Terima kasih, Kinong,” jawab Wijang. “Sayang, kami sudah

makan pagi meskipun hanya nasi wadang. Nasi yang semalam

tersisa. Tetapi kami sudah kenyang. Nah, kau dapat menabung

uangmu itu. Bukankah kau masih senang menabung?”

Kinong itu mengangguk.

“Nah, lihat, pedati itu sudah mulai bergerak.”

Kinong pun memandang pedati yang memang sudah mulai

bergerak itu. Iapun berdesis, “Jarang orang memberikan upah

sebanyak kedua orang perempuan itu.”

“Tetapi barang yang kau bawa cukup banyak, Kinong. Nah,

sebaiknya sekarang kau beristirahat di depan penjual nasi

tumpang itu. Minum dawet cendol, makan nasi tumpang,

lempeng gendar dan besengek tempe.”

Kinong tersenyum. Namun ia masih berkata, “Marilah. Makan

apa saja. Aku ingin makan bersama Kakang berdua.”

Paksi menepuk bahu Kinong sambil berkata, “Makanlah. Aku

ingin melihat pande besi itu. Nampaknya pande besi itu sudah

mulai bekerja lagi.”

“Ya. Sudah sejak pagi-pagi tadi. Tanpa pande besi itu, rasarasanya

pasar ini memang sepi,” jawab Kinong. Namun iapun

kemudian bertanya, “Tetapi apa yang Kakang cari pada pande

besi itu?”

“Kami ingin membeli kapak kecil untuk membelah kayu

bakar. Atau parang atau sebangsanya.”

“Nanti aku cari Kakang di tempat pande besi itu.”

“Baik. Sekarang pergilah ke penjual nasi itu.”

Tetapi sebelum Kinong pergi ke penjual nasi, terdengar

seseorang memanggilnya.

Kinong berpaling. Seorang perempuan memberi isyarat

kepadanya untuk mendekat.

“Sebentar ya, Kang,” berkata Kinong sambil berlari membawa

keranjangnya.

Perempuan yang memanggil Kinong itu adalah seorang

penjual sayuran. Seorang perempuan yang sedang berbelanja

cukup banyak memerlukan bantuan Kinong untuk membawanya.

“Kau bersedia membawa sayuran itu sampai ke rumah?”

bertanya perempuan itu.

“Di mana Bibi tinggal?” bertanya Kinong.

“Tidak jauh. Padukuhan di seberang bulak sebelah.”

“Banyuurip?”

“Bukan. Masih menyusur parit di sebelah gumuk.”

“Padukuhan mana?”

“Tegalsari.”

Kinong termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun

mengangguk sambil menjawab, “Baik, Bi. Aku akan mengantar

Bibi ke Tegalsari.”

Wijang dan Paksi saling berpandangan. Kinong adalah seorang

anak yang sangat rajin bekerja. Nampaknya ia tidak mempunyai

kesempatan untuk bermain sebagaimana para remaja sebayanya.

“Sukurlah bahwa Kinong mengerjakan pekerjaannya dengan

gembira,” desis Wijang.

Paksi mengangguk-angguk. Dipandanginya Kinong yang

bekerja dengan tangkasnya, mengisi keranjangnya dengan

berbagai macam sayuran yang telah dibeli oleh perempuan itu.

Sementara itu perempuan itu sendiri masih membawa sebakul

sayuran pula, yang kemudian digendongnya di punggungnya.

Sejenak kemudian, maka Kinongpun telah mengusung

keranjangnya di atas kepalanya, mengikuti perempuan yang

mengupahnya.

“Sekarang kita ke mana?” desis Paksi.

“Bukankah kita berniat menemui Lebak? Kita pergi ke pande

besi itu.”

Keduanyapun kemudian melangkah menyusup di antara

orang-orang yang sedang berbelanja di pasar. Mereka menuju ke

tempat para pande besi bekerja membuat berbagai macam alat

dari besi dan baja.

“Lebak ada di sana,” desis Paksi.

“Apakah kita dapat mengganggunya? Nampaknya ia sedang

sibuk.”

“Kita bertanya saja kepadanya, apakah ada sedikit waktu

untuk berbicara.”

Di depan tempat para pande besi itu bekerja, keduanya

berhenti. Dengan agak ragu Paksipun berkata, “Lebak? Apakah

ada waktu sedikit? Aku ingin bertanya serba sedikit. Jika

sekarang kau sedang sibuk, maka aku akan datang nanti di saatsaat

kau beristirahat.”

Lebak memandang kedua orang anak muda itu. Ia mengenal

mereka berdua. Tetapi sudah agak lama keduanya tidak nampak

di pasar itu.

Sejenak Lebak termangu-mangu. Namun kemudian iapun

berkata, “Baiklah. Jika tidak terlalu lama, kita berbicara sekarang

saja.”

Lebakpun kemudian minta ijin kepada seorang yang sudah

separo baya. Namun tubuhnya masih nampak kokoh.

Lebakpun kemudian mendekati Wijang dan Paksi yang berdiri

tidak jauh dari tempat kerja para pande besi itu. Namun

demikian Lebak menghampirinya, maka merekapun segera

berjongkok di dekat alat-alat yang terbuat dari besi dan baja yang

sudah siap, yang dapat dibeli oleh mereka yang

membutuhkannya.

“Lebak,” desis Paksi, “bukankah kau baru saja pulang ke

Panjatan?”

“Sudah beberapa hari yang lalu,” jawab Lebak.

“Maaf, Lebak. Kami ingin tahu, apakah di Panjatan ada

penghuni baru? Maksudku beberapa orang anak muda?”

Lebak mengerutkan dahinya. Sementara Paksipun berkata,

“Lebak, aku mencari seorang sahabatku. Ia bersama dua atau

tiga orang sepupunya berada di rumah bibinya di Panjatan. Nah,

jika benar mereka berada di sana, kau tentu pernah melihatnya

atau mendengar dari kawan-kawanmu, bahwa ada orang baru di

padukuhanmu.”

Lebak mengerutkan dahinya. Katanya sambil menggeleng,

“Aku tidak melihat orang lain di padukuhanku. Ketika aku

pulang beberapa hari yang lalu, yang aku temui adalah orangorang

yang sudah aku kenal dengan baik. Kawan-kawanku pun

tidak ada yang mengatakan bahwa di padukuhan kami ada

orang-orang baru. Sebenarnyalah tidak mudah orang baru berada

di padukuhan kami.”

Wijang dan Paksipun mengangguk-angguk. Mereka memang

menjadi semakin yakin, bahwa Repak Rembulung dan Pupus

Rembulung tidak berada di Panjatan, meskipun mereka

mempunyai landasan yang kuat di padukuhan itu.

“Baiklah, Lebak. Kami mengucapkan terima kasih.”

“Maaf. Hanya itulah yang dapat aku beritahukan kepadamu.”

“Itu sudah cukup.”

“Mungkin lebih baik kalian pergi saja ke Panjatan. Tetapi

kalian harus berhati-hati.”

“Mungkin pada kesempatan lain, kami akan pergi ke Panjatan.

Jika saja aku tahu kapan kau pulang.”

Lebak mengerutkan dahinya. Dengan suara yang dalam iapun

berkata, “Bukan maksudku menolak kunjunganmu. Tetapi jika

kalian pergi ke Panjatan bersama saat-saat aku pulang, mungkin

akibatnya akan panjang. Bukan saja bagi kalian. Tetapi juga bagi

keluargaku.”

Wijang dan Paksi mengangguk-angguk.

“Aku mengerti, Lebak. Sekali lagi kami mengucapkan terima

kasih,” desis Paksi.

Keduanyapun kemudian telah minta diri. Sambil bangkit

berdiri Wijangpun berkata, “Kau ditunggu oleh tugasmu, Lebak.”

Lebakpun berdiri pula sambil tersenyum. Katanya, “Sejak

matahari terbit, aku sudah ditunggu oleh pekerjaan itu.”

Wijang dan Paksipun kemudian telah meninggalkan Lebak

yang segera kembali ke pekerjaannya. Sementara itu, Wijang dan

Paksi masih menyusuri pasar yang menjadi lebih ramai dari

sehari sebelumnya.

Ketika keduanya berhenti sejenak di dekat seorang penjual

kerajinan bambu, seorang perempuan yang lewat tiba-tiba

berhenti. Seorang perempuan yang pernah berharap untuk

mengambil Paksi menjadi menantunya.

“Kau, Ngger,” perempuan itu menepuk punggung Paksi.

Paksi terkejut. Ketika ia berpaling, dilihatnya perempuan yang

berniat mengambilnya sebagai menantu itu tertawa lebar.

“Bibi. Apakah Bibi tidak berjualan hari ini?”

“Ya. Anak perempuanku yang menungguinya. Aku baru saja

menemui seorang saudaraku di pintu gerbang pasar.”

“O.”

“He, apakah kau sudah menikah?”

Pertanyaan itu membuat jantung Paksi berdebaran. Namun

Paksipun menggeleng sambil menjawab, “Belum, Bibi.”

“Sayang sekali. Tetapi sekarang kau tidak dapat lagi melamar

anak perempuanku itu. Anakku memang terlalu cantik, sehingga

banyak anak-anak muda yang datang melamarnya. Seperti bunga

yang dikerumuni kumbang.”

“O. Apakah anak Bibi itu sekarang sudah menikah?”

“Sudah. Belum lama. Ia dapat melakukan sayembara pilih.

Beberapa orang anak muda yang melamarnya harus menunggu,

siapakah di antara mereka yang tertimpa rembulan di dalam

mimpinya, maka anak muda itulah yang akan dipilih oleh

anakku.”

Paksi mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling kepada Wijang,

maka dilihatnya Wijang sedang menahan tertawanya.

“Ternyata seorang di antara anak-anak muda itu adalah

seorang anak bebahu padukuhan yang kaya. Seorang yang

pandai dan rajin. Seorang yang cerdas dan lebih-lebih lagi,

berwajah tampan.”

“O, sukurlah. Anak muda itu tentu akan menggantikan

ayahnya menjadi bebahu padukuhan itu kelak.”

“Ia mempunyai beberapa orang saudara laki-laki. Di antaranya

ada yang lebih tua, yang kelak akan mewarisi kedudukan

ayahnya.”

“O,” Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Meskipun

demikian, bebahu itu tentu mempunyai sawah yang luas.

Mungkin juga pategalan dan kebun kelapa.”

“Ya.”

“Anak perempuan Bibi itu seharusnya tidak perlu lagi ikut

berjualan di pasar. Ia dapat membantu suaminya di rumah.

Mungkin menunggu perempuan yang bekerja di sawah. Mungkin

menunggui mereka yang sedang menumbuk padi. Atau tugastugas

yang lain.”

Perempuan itu menggeleng. Katanya, “Sejak kecil ia sudah

terbiasa berada di pasar. Ikut berjualan. Kebiasaan itu tidak

dapat begitu saja ditinggalkannya.”

“Jika saja suaminya tidak berkeberatan.”

Perempuan itu termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya,

“Ya. Suaminya tidak berkeberatan. Bahkan suaminya dengan

rajin ikut membantunya.”

“Maksud Bibi?”

“Suaminya ikut berjualan di pasar. Ternyata pekerjaan itu

cocok baginya. Meskipun ia anak orang kaya, tetapi ia tidak

segan-segan bekerja berat bersama isterinya.”

“O.”

“Dengan begitu keduanya nampak sangat berbahagia.”

“Sukurlah. Bibi tentu kecewa bila Bibi mengambil aku sebagai

menantu. Aku adalah orang yang tidak betah untuk tinggal. Aku

selalu berkeliaran ke mana-mana.”

“Tetapi jika kau mempunyai isteri cantik seperti anakku, maka

kau tentu akan betah tinggal di rumah. Kau tidak akan beranjak

sejenak pun.”

“Ah.”

“Jangan menyesal, anak muda. Mudah-mudahan kelak kau

mendapat seorang isteri yang cantik dan baik hati.”

“Mudah-mudahan, Bibi. Doakan saja.”

Perempuan itupun kemudian meninggalkan Paksi.

Wijang masih menekan perutnya karena menahan tertawanya.

Demikian perempuan itu pergi, maka iapun bertanya, “Apakah

anaknya cantik sekali?”

“Kau akan pingsan melihatnya.”

“He?”

Paksi tertawa. Katanya, “Ketika mudanya, penjual nasi

tumpang itu tentu lebih cantik, dari anak perempuan itu.”

“Jadi?”

“Sudahlah. Kita pergi ke arah pintu gerbang saja.”

“Kau tidak membeli kebutuhan sehari-hari?”

“Bukankah masih ada di rumah?”

Wijang mengangguk-angguk. Keduanyapun melangkah

menuju ke pintu gerbang.

Setelah sempat singgah di sebuah kedai, maka keduanyapun

meninggalkan pasar itu kembali ke gubuk mereka yang

tersembunyi.

Sambil berbaring di atas selembar ketepe di dalam gubuknya,

Wijang itupun berkata, “Kita tidak menemukan mereka di

Panjatan. Menurut pendapatmu, apa yang akan kita lakukan

kemudian, Paksi?”

“Aku masih mempunyai jalur yang lain yang mungkin akan

sampai kepada Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.”

“Jalur yang mana?”

“Kau ingat Ki Pananggungan?”

“He? Ki Pananggungan?”

“Ya.”

Wijang mengangguk-angguk.

“Kau ingat Kemuning?”

“Gadis cantik kemenakan Ki Pananggungan itu?”

“Ya.”

“Aku ingat.”

“Kemuning adalah anak angkat Repak Rembulung dan Pupus

Rembulung.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam

iapun berkata, “Mungkin kita akan dapat menempuh jalur ini.”

“Kita akan mencoba. Kita pergi ke Padukuhan Kembang Arum

untuk menemui Ki Pananggungan.”

“Tetapi kita tidak boleh terlalu berharap, Paksi. Setelah sekian

lama kita tidak bertemu, mungkin saja telah terjadi perubahan

pada diri Ki Pananggungan.”

“Tetapi Ki Pananggungan bukan orang yang mudah berubah

haluan.”

“Nampaknya memang begitu. Tetapi bahwa Repak Rembulung

dan Pupus Rembulung telah bersedia bekerja sama dengan Ki

Gede Lenglengan untuk mengasuh anak-anak muda yang

disebutnya angkatan masa datang itu juga merupakan sesuatu

yang tidak kita perhitungkan sebelumnya.”

“Repak Rembulung dan Pupus Rembulung sangat berbeda

dengan Ki Pananggungan, Wijang.”

“Sementara itu, Ki Pananggungan telah mengenal aku sebagai

Pangeran Benawa.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia berdiam diri.

Pengenalan Ki Pananggungan atas Pangeran Benawa itu memang

akan dapat segera mengganggu jika Ki Pananggungan berubah

haluan.

“Tetapi aku yakin bahwa Ki Pananggungan tidak akan

berubah. Apalagi setelah Harya Wisaka tertangkap.”

“Justru setelah Harya Wisaka tertangkap.”

Paksi terdiam. Memang banyak hal yang tidak terduga akan

dapat terjadi.

Namun justru Wijanglah yang berkata, “Baiklah, Paksi, kita

akan menemui Ki Pananggungan. Agaknya perubahan sikap pada

Ki Pananggungan adalah kemungkinan yang sangat kecil.”

“Besok kita pergi ke Kembang Arum.”

Wijang mengangguk-angguk. Namun iapun justru bangkit

sambil berkata, “Marilah, kita mencari kelapa muda. Aku haus.”

Paksi yang duduk di sebelahnya sambil bersandar tiang

bambu itupun segera bangkit berdiri pula.

Sejenak kemudian, keduanya telah pergi ke pinggir sungai.

Dengan tangannya Wijang memanjat naik untuk memetik dua

buah kelapa muda serta keduanya masih sempat mencari ikan

dan udang dengan kelapa yang masih belum terlalu tua.

Demikian langit menjadi gelap, maka Paksipun telah

menyalakan api, sementara Wijang membawa seonggok kayu

bakar yang telah kering ke dalam gubuknya.

Menjelang wayah sepi bocah, keduanyapun makan nasi

hangat dengan pepes ikan dan udang yang gurih.

Seperti biasanya mereka telah menanak nasi sekaligus untuk

esok pagi. Demikian pula lauk dan sayurnya.

Namun malam itu keduanya telah sepakat, esok pagi, mereka

akan pergi ke Padukuhan Kembang Arum untuk menemui Ki

Pananggungan.

Malam itu, seperti biasanya, keduanya bergantian tidur di

dalam gubuk mereka. Biasanya Wijang yang tidur lebih dahulu.

Baru kemudian lewat tengah malam, Paksilah yang tidur

sementara Wijanglah yang berjaga-jaga.

Tetapi malam itu ternyata Paksi merasa sulit untuk tidur. Ia

mulai membayangkan pertemuannya dengan Kemuning. Seorang

gadis yang cantik, yang pernah diselamatkannya dari tangan

Bahu Langlang, yang hampir saja menjadikan gadis itu seorang

budak, seorang pelayan, tetapi juga seorang isteri yang ke sekian.

Baru di dini hari, Paksi sempat tidur sekilas. Namun

kemudian iapun harus segera bangun lagi ketika langit mulai

dibayangi oleh cahaya fajar.

Keduanyapun segera berbenah diri. Mereka masih sempat

makan pagi dan mencuci mangkuk-mangkuk yang kotor.

Menempatkannya di sudut gubuk mereka.

Paksi dan Wijang menyadari, bahwa mereka akan

meninggalkan gubuk mereka untuk waktu yang agak lama.

Sehingga karena itu, maka mereka telah menyimpan sisa bahanbahan

pangan dan kebutuhan dapur dengan baik.

Ketika matahari kemudian terbit, maka merekapun

meninggalkan gubuk mereka. Mereka masih berniat untuk pada

satu hari kembali lagi ke gubuk kecil mereka yang terlindung itu.

Ketika mereka turun ke jalan setapak, maka terasa hangatnya

sinar matahari pagi. Di kejauhan, di pepohonan hutan masih

terdengar kicau burung-burung liar menyambut hari baru yang

segar. Sementara titik-titik embun masih nampak bergayutan di

ujung dedaunan.

“Kita akan singgah di pasar sebentar,” berkata Paksi.

“Apakah kita akan membeli bekal di perjalanan?”

“Tidak. Aku ingin berbicara dengan Kinong sebentar. Jika kita

pergi begitu saja, Kinong akan kehilangan.”

Wijang tersenyum. Katanya, “Baik. Kita menemui Kinong

sebentar.”

Demikianlah, keduanyapun langsung menuju ke pasar.

Agaknya pasar menjadi semakin ramai. Bahkan hari itu adalah

hari pasaran, sehingga pasar itu nampak penuh berdesakan.

Bahkan beberapa orang yang berjualan tidak tertampung ke

dalam pasar, sehingga mereka menjajakan dagangannya di luar

dinding pasar.

Sementara itu, di sudut pasar itu terdapat pula beberapa ekor

kambing, lembu bahkan kerbau yang terikat untuk dijual.

Di pintu gerbang pasar, Wijang dan Paksi telah bertemu

dengan Kinong yang berjalan dengan sebelah tangan melenggang,

sedang tangannya yang lain menjinjing keranjang kecilnya.

“Kinong,” Paksipun memanggilnya.

Kinong berpaling. Ketika dilihatnya Paksi dan Wijang, iapun

segera mendekatinya sambil berkata, “Hari ini Kakang berdua

datang lebih pagi.”

Paksi dan Wijang tertawa.

“Kau yang terlambat datang,” berkata Wijang.

Tetapi Kinong menggeleng sambil mencibir, “Kau salah,

Kakang. Aku sudah membantu membawa beras dan sayuran

ketika seorang perempuan dan seorang laki-laki berbelanja.”

“Laki-laki itu tidak mau membawa beras dan sayuran itu?”

“Tangannya hanya dua. Laki-laki itu tidak dapat membawa

semuanya. Meskipun tidak terlalu berat, tetapi ada beberapa

kereneng dan bakul. Perempuan itu sudah menggendong bakul

dan kedua tangannya menjinjing kereneng. Sedangkan laki-laki

itu sudah mengusung di atas kepalanya sebuah bakul yang lain.

Tetapi masih ada yang belum terbawa.”

“Mereka memanggilmu?”

“Perempuan itu sudah mengenal ibu. Ia mencari ibu. Tetapi

sudah beberapa hari ini ibu tidak pergi ke pasar. Jadi akulah

yang datang membantunya.”

“Lalu, di mana mereka sekarang? Apakah mereka dapat

membawa semuanya itu pulang?”

“Ternyata mereka membawa seekor kuda beban.”

Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Sementara Kinongpun

berkata, “Nah, aku sudah mendapat rejeki sepagi ini. Apakah

Kakang berdua sudah makan pagi.”

Paksi dan Wijang tersenyum. Sambil menepuk bahunya

Paksipun menjawab, “Sudah, Kinong. Kami sudah makan. Jika

kau akan makan pagi, makanlah.”

“Kakang berdua mau minum wedang srebat?”

“Terima kasih, Kinong,” Paksi termangu-mangu sejenak.

Namun kemudian iapun bertanya, “Kenapa ibumu sudah

beberapa hari tidak pergi ke pasar? Bukankah ibumu tidak

sakit?”

“Tidak, Kakang. Ibu baru sibuk ikut menuai padi di sawah.”

“Kinong,” berkata Paksi kemudian, “kami berdua ingin minta

diri. Kami akan pergi untuk beberapa hari.”

Kinong mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi iapun

bertanya, “Apakah Kakang berdua akan kembali?”

“Kami belum dapat memastikannya, Kinong,” jawab Wijang.

“Tetapi kami merencanakan untuk kembali.”

“Kalian akan pergi ke rumah paman kalian?”

“Ya.”

“Tentu untuk waktu yang lama,” desis Kinong.

“Salam buat keluargamu, Kinong.”

“Terima kasih, Kakang.”

“Tetapi aku ingin bertanya sedikit, Kinong,” berkata Paksi

kemudian.

“Tentang apa, Kakang?”

“Tentang dua orang yang berbelanja dengan membawa pedati

kemarin?”

“Kedua orang perempuan itu?”

“Ya.”

“Apa yang akan Kakang tanyakan?”

“Apakah kau mendengar serba sedikit, apa yang mereka

bicarakan tentang bahan-bahan makan yang mereka beli?

Apakah mereka akan mengadakan perhelatan atau mengadakan

upacara atau apa?”

Kinong termangu-mangu sejenak. Ia mencoba mengingat-ingat

apa yang pernah didengarnya dari mulut kedua orang perempuan

itu.

Namun Kinong itupun menggelengkan kepalanya sambil

berkata, “Aku tidak pernah memperhatikannya, Kakang.”

Paksi menarik nafas panjang. Sementara itu, Kinongpun

berkata, “Yang aku dengar ketika mereka membeli ikan yang

sudah diasinkan itu, seorang di antara mereka mengatakan,

bahwa anak-anak itu tidak begitu suka ikan yang sudah

diasinkan. Mereka lebih suka ikan yang masih segar, yang

langsung ditangkap di belumbang.”

Paksi mengangguk-angguk.

“Atau ikan ayam, daging lebu atau daging kambing.”

“Siapakah yang mereka maksud anak-anak? Tentu bukan

anak-anak kecil.”

“Mungkin. Tetapi kenapa?”

Paksi tersenyum. Katanya, “Tidak apa-apa, Kinong. Aku hanya

ingin tahu.”

“Apa yang ingin Kakang ketahui?”

Paksi tertawa. Katanya, “Sudahlah, Kinong. Kami minta diri.”

Kinong memandang Paksi dengan kerut di dahi. Namun

Wijang telah menepuk bahunya sambil berkata, “Sampai ketemu

lagi, Kinong.”

Kinong mengangguk. Tetapi ia tidak berbicara apa-apa lagi.

Paksi dan Wijangpun kemudian telah meninggalkan pasar itu.

Kinong yang masih berdiri di pintu gerbang memandangi mereka

dengan jantung yang berdebaran. Meskipun keduanya hanyalah

orang-orang yang dikenalnya di pasar itu, namun rasa-rasanya

ada ikatan yang tersangkut pada keduanya.

Namun Kinongpun seakan-akan terbangun dari mimpinya

ketika seseorang memanggilnya, “Kinong.”

Kinong berpaling. Penjual sayuran itulah yang memanggilnya.

“Kau mau membawa sayuran ini ke rumah Bi Merta?”

bertanya penjual sayur itu.

Kinong sudah terbiasa membantu Bi Merta yang rumahnya

hanya beberapa puluh langkah saja dari pasar.

“Tentu,” jawab Kinong.

“Bi Merta akan membuat bancakan. Cucunya genap berumur

selapan esok pagi.”

Sejenak kemudian, Kinong dengan keranjang di atas

kepalanya berjalan mengikuti Bi Merta keluar dari pintu gerbang

pasar.

Dalam pada itu, Wijang dan Paksipun berjalan semakin lama

semakin jauh dari pasar. Sambil melangkah menyusuri jalan

yang digurati oleh jalur-jalur bekas roda pedati, Paksi itupun

berkata, “Apakah mungkin, orang yang berbelanja sepedati itu

bekerja untuk Repak Rembulung dan Pupus Rembulung?”

“Aku juga berpikir demikian,” berkata Wijang.

“Mungkin kita dapat mengikuti jejak pedati itu.”

“Ada banyak jejak pedati. Bahkan kita pun akan dapat

terjebak ke dalam sarang mereka yang belum kita ketahui.”

“Mungkin kita dapat menunggu beberapa hari lagi. Pedati

dengan dua orang perempuan itu tentu akan berada di pasar itu

lagi.”

“Apakah pasar ini pasar terdekat? Kau pernah berceritera

tentang pasar ketika kau bertemu dengan ibu Kemuning.”

“Ya. Tetapi pasar itu lebih kecil dari pasar ini.”

“Tentu mencukupi kebutuhan jika yang mereka perlukan

hanyalah bahan pangan saja.”

“Itu terjadi jika rumah mereka lebih dekat dengan pasar itu

daripada pasar yang lebih besar ini.”

“Ya. Kita belum tahu, di manakah anak-anak muda itu

ditempa. Mungkin di sebuah padepokan. Mungkin di sebuah

rumah di sebuah padukuhan, namun mampu meredam getar

kesibukan di dalam rumah itu. Atau kemungkinan-kemungkinan

yang lain.”

Keduanya terdiam sejenak. Namun keduanya justru sedang

mencari jalan terbaik untuk sampai kepada Repak Rembulung

dan Pupus Rembulung.

Namun mereka tidak menemukan jalan yang lebih baik

daripada pergi ke Padukuhan Kembang Arum untuk menemui Ki

Pananggungan.

Perjalanan mereka berdua jauh lebih cepat dari perjalanan

Paksi pada saat mengantar Kemuning dan ibunya yang telah

dibebaskannya dari tangan Bahu Lalang.

Sebagai seorang yang berpengalaman dalam pengembaraan,

Paksi dan Wijang tidak lupa jalan menuju ke Padukuhan

Kembang Arum. Mereka menuruni kaki Gunung Merapi. Melewati

jalan-jalan kecil dan bahkan jalan setapak. Bahkan menuruni

tebing-tebing rendah dan sekali-sekali memanjat naik, menyusuri

sungai-sungai kecil dan kembali turun ke jalan.

Keduanyapun kemudian sampai ke sebuah pasar yang lebih

kecil, yang hanya ramai di hari-hari pasaran.

Karena itu, ketika keduanya sampai di pasar itu, pasar itupun

sudah hampir kosong.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Di pasar itu ia bertemu

dengan ibu Kemuning yang sedang menjual sehelai kain lurik

pada saat ia bersama Kemuning disekap oleh Bahu Langlang.

Ketika Paksi termenung sejenak, maka Wijangpun berkata,

“Kau kenang gadis dan ibunya itu?”

Paksi tergagap. Namun kemudian iapun tersenyum.

“Marilah. Kita langsung pergi ke Kembang Arum. Bukankah

Kembang Arum sudah tidak terlalu jauh lagi?”

Keduanyapun kemudian melanjutkan perjalanan mereka.

Paksi sengaja mengajak Wijang untuk berjalan melewati rumah

Bahu Langlang.

Namun keduanya terkejut ketika mereka melihat rumah Bahu

Langlang itu sudah rata dengan tanah. Nampaknya rumah itu

telah terbakar sampai lumat. Yang tersisa hanyalah sepotongsepotong

kayu dan bambu yang sudah menjadi arang.

“Apakah rumah ini dibakar atau terbakar?” desis Paksi.

“Melihat bekasnya, maka api tidak sempat dipadamkan.”

“Kita tidak tahu, siapakah yang terakhir tinggal di rumah ini

sepeninggal Bahu Langlang.”

Wijang mengangguk-angguk.

“Marilah,” berkata Paksi kemudian, “nampaknya kebakaran

itu terjadi beberapa bulan yang lalu.”

“Apakah tetangga-tetangganya tidak ada yang tahu?”

“Pada masa Bahu Langlang masih tinggal di sini, rumah ini

agaknya telah terpisah dari lingkungannya. Mungkin tetanggatetangganya

merasa ketakutan untuk berhubungan dengan

penghuni rumah ini.”

Ketika keduanya akan beranjak pergi, mereka melihat seorang

yang membawa cangkul di pundaknya berjalan melewati jalan itu

pula. Demikian orang itu sampai di depan bekas rumah Bahu

Langlang, maka Paksipun bertanya, “Ki Sanak, bukankah rumah

ini dahulu rumah orang yang bernama Bahu Langlang?”

Orang yang membawa cangkul itu memandang Paksi dengan

tajamnya. Meskipun agak ragu, orang itupun menjawab, “Ya.

Tetapi Bahu Langlang sendiri sudah lama pergi.”

“Lalu, siapakah yang tinggal di rumah ini?”

Orang itu menggeleng. Katanya, “Berangsur-angsur

penghuninya pergi meninggalkan rumah ini.”

“Yang terakhir?”

“Rumah ini sudah kosong untuk beberapa lama.”

“Kenapa tiba-tiba rumah ini terbakar atau dibakar?”

“Tidak seorang pun tahu. Yang kita tahu, di tengah malam itu,

rumah ini sudah menyala. Semula tidak seorang pun berani

datang untuk memadamkannya. Apalagi semua orang tahu,

bahwa rumah ini memang sudah kosong. Karena itu, maka

penghuni padukuhan ini membiarkan saja rumah yang memang

agak terpisah itu terbakar. Apinya tidak akan menjalar ke rumahrumah

yang lain. Kami sempat menjadi berdebar-debar ketika

beberapa batang pohon di kebun belakang rumah itu terbakar.

Karena itu, maka yang kami lakukan adalah menebang

pepohonan di kebun belakang dan samping, dekat dinding

halaman untuk mencegah agar api tidak menjalar ke manamana.

Ternyata usaha kami berhasil. Api dapat dikendalikan dan

tidak menjalar ke mana-mana.”

Paksi dan Wijang mengangguk-angguk. Sementara itu, orang

itupun berkata selanjutnya, “Kemudian, karena itu sudah agak

lama kosong dan tidak lagi ada yang menghiraukannya setelah

terbakar, maka beberapa orang telah memberanikan diri

mengambil sisa-sisa kayu dan pepohonan yang terbakar.”

“Untuk apa?”

“Hanya untuk kayu bakar. Selain untuk kayu bakar, sisa-sisa

kayu itu tidak dapat lagi dipergunakan untuk apa pun.”

“Baiklah,” berkata Paksi kemudian, “kami minta diri. Terima

kasih atas keterangan Ki Sanak.”

“Siapakah kalian berdua dan apakah kalian mencari Ki Bahu

Langlang?”

“Tidak. Kami tidak mencari Bahu Langlang. Kami hanya

pernah mendengar bahwa di sini tinggal seorang gegedug yang

namanya Bahu Langlang.”

“Tetapi telah datang gegedug lain yang lebih tinggi

kemampuannya, sehingga Bahu Langlang terusir.”

“Kami minta diri, Ki Sanak.”

Orang yang membawa cangkul itu memandangi saja Paksi dan

Wijang yang berjalan menjauhi sisa-sisa rumah Bahu Langlang

yang terbakar itu.

Orang yang membawa cangkul itu terkejut ketika seorang

kawannya muncul dari tikungan sambil bertanya, “Ada apa,

Kakang?”

Orang yang membawa cangkul itupun menyahut, “Kedua

orang itu bertanya apakah rumah yang terbakar ini rumah Ki

Bahu Langlang.”

“Siapakah mereka berdua?”

“Ketika aku tanyakan tentang diri mereka, mereka tidak

menjawab. Merekapun mengaku tidak mencari Ki Bahu

Langlang.”

“Lalu apa yang mereka cari?”

Orang yang membawa cangkul itu menggeleng. Katanya, “Aku

katakan kepada mereka, bahwa Ki Bahu Langlang telah terusir

oleh orang-orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi.”

“Apa kata mereka?”

“Merekapun segera pergi.”

“Mungkin mereka anak buah Ki Bahu Langlang yang sudah

lama meninggalkannya, sekarang mereka kembali. Tetapi yang

mereka temukan hanyalah sisa-sisa rumahnya saja.”

“Mungkin. Mereka memang bertanya apakah rumah ini

terbakar atau dibakar.”

“Jika rumah ini dibakar, maka kedua orang itu tentu akan

mencari, siapakah yang telah berani membakar rumah Ki Bahu

Langlang.”

“Tetapi nampaknya mereka bukan orang-orang yang garang

seperti Ki Bahu Langlang.”

“Jangan menilai sifat dan watak seseorang hanya dari ujud

lahiriahnya saja.”

“Katanya ujud lahiriah adalah pengejawantahan batin

seseorang.”

“Tentu tidak. Seseorang yang licik dan penipu, biasanya apa

yang nampak justru bertentangan dengan sikap batinnya.”

Orang yang membawa cangkul itu mengangguk-angguk.

Katanya, “Ya. kau benar.”

Kedua orang itupun kemudian beranjak pergi menjauhi

halaman bekas rumah Ki Bahu Langlang yang sudah menjadi

abu.

Dalam pada itu, Wijang dan Paksipun berjalan semakin jauh

pula. Mereka langsung menuju ke Padukuhan Kembang Arum.

Namun ketika langit menjadi buram, Wijangpun berkata,

“Apakah kita akan berjalan terus?”

“Bukankah kita belum letih?”

“Bukan karena kita letih. Tetapi jika kita sampai di Kembang

Arum setelah jauh malam, kita tentu akan mengejutkan Ki

Pananggungan. Akan lebih baik jika kita mengetuk pintunya di

pagi hari.”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun

mengangguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan memasuki regol

halaman rumah Ki Pananggungan esok pagi.”

Dengan demikian, maka Paksi dan Wijang itu tidak

meneruskan perjalanannya sampai ke Kambang Arum. Mereka

berhenti di sebuah padukuhan yang masih berjarak berapa bulak

lagi. Sementara itu malampun menjadi semakin dalam, ketika

keduanya memasuki regol banjar padukuhan.

Beberapa orang yang sedang meronda di banjar padukuhan

itu terkejut melihat dua orang yang tidak mereka kenal berjalan

menyeberang halaman banjar. Serentak mereka berdiri. Dua

orang di antara mereka telah turun dari pendapa menyongsong

Wijang dan Paksi yang kemudian berhenti di halaman.

“Siapakah kalian, Ki Sanak?” bertanya salah seorang dari dua

orang peronda yang menyongsong mereka itu.

“Namaku Wijang, Ki Sanak. Ini adikku, Paksi. Kami sedang

dalam perjalanan ke Kembang Arum. Tetapi kami ternyata

kemalaman di sini.”

“Kembang Arum?”

“Ya, Ki Sanak. Bukankah Kembang Arum masih berjarak

berapa bulak lagi? Selain kami sudah merasa sangat letih, kami

pun tidak ingin mengejutkan paman kami yang tinggal di

Kembang Arum. Karena itu, kami ingin mohon apabila diijinkan

untuk bermalam di banjar ini.”

Kedua orang peronda itu memperhatikan Wijang dan Paksi

dengan seksama. Seorang di antara mereka berpaling kepada

kawan-kawannya yang berdiri di tangga pendapa.

“Kedua orang ini minta ijin untuk bermalam.”

“Biarlah mereka naik,” berkata seorang yang agaknya paling

tua di antara mereka yang sedang meronda.

Wijang dan Paksipun kemudian telah dipersilahkan naik ke

pendapa

Orang yang agaknya tertua di antara para peronda itupun

kemudian bertanya, “Aku sudah mendengar nama kalian. Tetapi

kami belum mendengar, dari manakah asal kalian.”

Wijang dan Paksi termangu-mangu sejenak. Namun

Wijangpun kemudian telah menjawab, “Kami tinggal di Turi, Ki

Sanak.”

“Turi? Jadi kalian sudah menempuh perjalanan yang

panjang.”

“Ki Sanak pernah pergi ke Turi?”

“Ya. Aku pernah ke Turi. Jaraknya cukup jauh, sedang jalan

ke Turi masih harus melingkar-lingkar sehingga menjadi semakin

jauh.”

“Kami mengambil jalan pintas, Ki Sanak.”

“Jalan yang rumit. Kecuali harus melalui jalan setapak yang

turun naik, juga harus melewati padang perdu di pinggir hutan.”

“Ya. Kami memilih jalan yang rumit tetapi lebih dekat daripada

harus menempuh jalan yang melingkar-lingkar sehingga jaraknya

menjadi sangat jauh.”

“Siapa yang akan kau temui di Kembang Arum?” bertanya

seorang yang lebih muda.

“Ki Pananggungan. Pamanku bernama Ki Pananggungan.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun

berdesis, “Aku belum pernah mendengarnya.”

“Ki Sanak sering pergi ke Kembang Arum?” bertanya Paksi

kemudian.

“Ya. Aku juga mempunyai paman di Padukuhan Kembang

Arum. Tetapi aku memang tidak banyak mengenal orang-orang

Kembang Arum selain tetangga-tetangga terdekat pamanku itu.”

Wijang dan Paksi hanya mengangguk-angguk saja.

Dalam pada itu, orang yang tertua di antara para peronda

itupun berkata, “Jika saja kalian datang beberapa waktu yang

lalu, mungkin kami tidak dapat menerima kalian bermalam di

banjar ini.”

“Kenapa?” bertanya Wijang.

“Sebelumnya, selagi perburuan cincin kerajaan yang hilang itu

masih terasa hangat, maka padukuhan inipun telah ditambah

pula oleh satu dua orang yang sedang berburu pusaka keraton

yang dikabarkan hilang dan turun ke daerah ini. Tetapi ternyata

ada di antara mereka yang tidak sekedar memburu pusaka itu.

Ada di antara mereka yang sempat pulang merampas milik orangorang

padukuhan ini. Karena itu, pada saat itu, kami mencurigai

orang-orang yang belum kami kenal sebelumnya.”

“Apakah sekarang perampokan seperti itu sudah tidak terjadi

lagi?”

“Tidak. Padukuhan kami terasa aman sekarang. Meskipun

demikian, kami masih tetap berhati-hati, sehingga kami masih

tetap meronda secara bergilir. Di tengah malam tiga orang di

antara kami akan berkeliling padukuhan sambil membawa

kentongan-kentongan kecil untuk kotekan, agar mereka yang

tidur terlalu lelap dapat terbangun. Mungkin saja justru dalam

keadaan aman ini kami menjadi lengah, sehingga dimanfaatkan

oleh pencuri-pencuri yang licik.”

Wijang dan Paksi masih saja mengangguk-angguk. Dengan

nada berat Paksi berkata, “Sukurlah jika keadaan sudah aman

sekarang. Dengan demikian maka kehadiran kami di sini tidak

lagi dicurigai.”

“Ya. Sudah kami katakan, bahwa kami dapat menerima kalian

untuk bermalam.”

“Kami hanya dapat mengucapkan terima kasih, Ki Sanak,”

berkata Wijang kemudian.

“Nah, kalian dapat tidur di serambi. Pakiwan banjar ini

terletak di sisi kiri agak ke belakang. Di sebelah sumur. Kalian

dapat mencuci kaki dan tangan dan barangkali mencuci muka di

pakiwan itu sebelum kalian tidur.”

Wijang dan Paksipun kemudian telah pergi ke pakiwan.

Kemudian seorang di antara mereka yang meronda telah

menunjukkan sebuah amben yang agak besar yang terletak di

serambi banjar.

Tetapi sebelum keduanya berbaring, mereka telah dipanggil

lagi ke pendapa.

“Ada apa?” bisik Paksi.

“Entahlah,” sahut Wijang.

Ternyata keduanya hanya diajak makan ketela rebus oleh para

peronda yang agaknya telah merebus ketela di belakang.

Wijang dan Paksi memang sudah merasa agak lapar. Karena

itu, ketela yang direbus dengan santan dan garam itu terasa enak

sekali.

Baru setelah makan ketela rebus yang masih hangat itu,

keduanya kembali ke serambi.

“Biarlah kau tidur dahulu,” desis Paksi.

“Bangunkan aku di dini hari. Waktunya pendek. Kaupun

harus tidur meskipun hanya sebentar.”

Wijangpun kemudian telah membaringkan dirinya, sementara

Paksi masih duduk bersandar dinding, menghadap ke pintu bilik

di serambi itu. Tetapi pintu itu tidak dapat diselarak. Daunnya

ditutup hanya untuk mencegah angin malam yang dingin.

Beberapa saat kemudian, Wijangpun telah tertidur. Paksi yang

masih duduk itu mendengar suara kotekan yang semakin lama

menjadi semakin jauh. Agaknya tiga orang di antara peronda itu

sedang berkeliling sambil membunyikan kentongan-kentongan

kecil mereka dengan irama kotekan.

Suara kentongan-kentongan kecil itu semakin lama menjadi

semakin jauh, sehingga akhirnya tidak terdengar lagi.

Paksi yang duduk bersandar dinding itu menggeliat.

Sementara Wijang tertidur nyenyak. Nafasnya terdengar mengalir

dengan teratur dari lubang hidungnya.

Beberapa lama Paksi duduk bersandar dinding. Di sebelahmenyebelah,

di kebun rumah para penghuni padukuhan itu,

telah terdengar ayam jantan berkokok bersahut-sahutan untuk

yang kedua kalinya setelah ayam jantan itu berkokok untuk

pertama kalinya di tengah malam.

Paksi memandangi Wijang yang masih tidur. Rasa-rasanya ia

tidak ingin membangunkannya meskipun sisa malam tinggal

sedikit.

Tetapi Wijang itupun bangun sendiri tanpa dibangunkannya.

Sambil mengusap matanya iapun berkata, “Aku sudah terlalu

lama tidur. Kenapa kau tidak membangunkan aku?”

“Aku belum mengantuk,” desis Paksi.

“Tidurlah. Kau harus beristirahat barang sejenak.”

“Apakah aku akan dapat tidur?” Paksi justru bertanya.

“Singkirkan angan-anganmu tentang Kemuning barang

sejenak. Besok kau akan dapat bertemu dengan gadis itu.

Sekarang tidurlah. Jangan kau manjakan angan-anganmu.”

“Ah, kau,” desis Paksi.

Wijang menggosok matanya. Tetapi ia tersenyum sambil

bangkit dan duduk di bibir amben bambu itu.

Paksilah yang kemudian telah berbaring menelentang.

Dikatupkannya matanya. Paksi memang mencoba untuk dapat

tidur.

Namun telinga mereka yang tajam itu mendengar para

peronda yang berada di pendapa itu berbicara dengan seseorang

yang nampaknya baru datang.

“Para peronda keliling itu melaporkan kepadaku bahwa ada

dua orang menginap di banjar ini.”

“Ya, Ki Jagabaya.”

“Apakah mereka masih ada di dalam bilik di serambi itu?”

“Nampaknya mereka masih ada di sana.”

“Kita sekarang harus berhati-hati lagi. Meskipun padukuhan

kita aman, tetapi aku mendengar di Padukuhan Karang Anyar

telah terjadi lagi perampokan.”

“Karang Anyar?”

“Ya. Karang Anyar di Kademangan Jelabar.”

“O. Padukuhan itu letaknya jauh dari padukuhan kita, Ki

Jagabaya.”

“Meskipun jauh, siapa tahu, bahwa perampok-perampok itu

berkeliaran tanpa batas jarak.”

“Tetapi kedua orang itu nampaknya orang baik-baik, Ki

Jagabaya. Mereka masih muda. Sama sekali di matanya tidak

membayangkan keliaran watak mereka.”

“Kau tidak akan dapat melihat seseorang langsung menembus

sampai ke jantung. Di mana mereka sekarang? Aku hanya ingin

melihat. Jika mereka masih ada, agaknya mereka memang tidak

akan mengganggu.”

“Mereka berada di bilik di serambi.”

Wijang yang duduk di bibir pembaringan segera

membaringkan dirinya di samping Paksi sambil berbisik, “Mereka

agaknya akan kemari.”

Sebenarnyalah, sejenak kemudian, Wijang dan Paksi

mendengar langkah beberapa orang mendekati pintu bilik di

serambi itu. Wijang dan Paksipun segera memejamkan mata

mereka. Mereka mengatur pernafasan mereka, sehingga mereka

benar-benar seperti orang yang sedang tidur.

Ki Jagabaya dan tiga orang peronda yang mengikutinya berdiri

termangu-mangu sejenak di luar pintu. Namun seorang di antara

peronda itu menggamit Ki Jagabaya sambil berbisik perlahan

sekali, “Ki Jagabaya mendengar mereka mendengkur?”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun

kembali melangkah surut. Perlahan-lahan pula Ki Jagabaya

menutup pintu bilik itu. Iapun berbisik, “Mereka tidur nyenyak

sekali.”

“Nampaknya mereka letih sekali, Ki Jagabaya. Menurut

pengakuan mereka, mereka berasal dari Turi.”

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam

iapun bertanya, “Mereka akan pergi ke mana?”

“Mereka akan pergi ke Kembang Arum, Ki Jagabaya.”

Ki Jagabaya tidak bertanya lagi. Iapun kemudian

meninggalkan bilik itu diikuti oleh para peronda.

“Keduanya agaknya letih dan lapar. Ketika kami persilahkan

mereka ikut makan ketela rebus yang disediakan bagi para

peronda, mereka makan dengan lahapnya.”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk pula. Katanya kemudian,

“Menurut ujudnya, mereka bukan orang jahat. Ternyata

merekapun tidak beranjak dari banjar dan bahkan tidur

mendengkur.”

“Ya, Ki Jagabaya,” sahut salah seorang dari mereka.

Sementara itu di dalam bilik di serambi itu Wijang menggamit

Paksi. “Nah, dengar. Kau makan ketela terlalu banyak. Kau

habiskan hampir separo, sehingga para peronda itu masih

merasa lapar.”

“Ketela itu masih tersisa. Mereka tidak akan dapat

menghabiskannya.”

“Kau dengar apa yang dikatakan peronda itu?”

“Orang itu hanya ingin mengatakan, bahwa kita lapar.”

“Sst. Jangan keras-keras. Jika Ki Jagabaya mempunyai Aji

Sapta Pangrungu, maka ia akan mendengarnya.”

Paksi terdiam. Namun agaknya Ki Jagabaya itu tidak

mendengarnya. Bahkan Ki Jagabaya itu masih bertanya, “Apakah

anak-anak itu mengatakan, siapakah yang akan dikunjunginya di

Kembang Arum?”

“Kalau tidak salah dengar, nama orang yang akan dikunjungi

di Kembang Arum adalah Ki Pananggungan.”

“Ki Pananggungan,” ulang Ki Jagabaya. Sambil menganggukangguk

Ki Jagabayapun berkata, “Aku memang pernah

mendengar nama itu di Kembang Arum. Ia termasuk orang yang

dituakan di sana. Tetapi secara pribadi aku belum pernah

mengenalnya. Kadangku yang tinggal di Kembang Arumlah yang

pernah menyebut namanya.”

“Jika demikian, bukankah keduanya tidak berbahaya,

sehingga kita akan membiarkannya tidur?”

“Ya. Biarkan kedua orang itu tidur. Nanti, setelah dini hari,

jika kalian akan pulang, serahkan saja keduanya kepada

penunggu banjar ini.”

“Ya, Ki Jagabaya.”

“Sekarang, aku akan pulang.”

Ki Jagabaya itu tidak menunggu lagi. Nampaknya ia sudah

mulai mengantuk, sehingga karena itu, maka iapun segera

bangkit dan berkata, “Aku akan pulang.”

Ki Jagabaya itupun kemudian minta diri kepada para peronda

yang bertugas di banjar.

Demikian Ki Jagabaya pergi, maka sejenak kemudian telah

terdengar suara kentongan dengan irama kotekan. Nampaknya

para peronda keliling itu telah berjalan kembali ke banjar.

Suaranya semakin lama menjadi semakin dekat.

Sejenak kemudian, maka tiga orang peronda yang berkeliling

itupun telah kembali bergabung dengan kawan-kawannya.

Setelah meletakkan kentongan kecilnya mereka pun berbaring di

atas tikar yang dibentangkan di pendapa banjar.

“Jangan tidur,” berkata seorang kawannya.

“Tidak. Tetapi kami lelah setelah berkeliling padukuhan.”

“Kau tadi singgah di rumah Ki Jagabaya?” bertanya kawannya

yang tidak ikut berkeliling.

“Ya.”

“Ki Jagabaya baru saja dari sini.”

“Ki Jagabaya sudah datang kemari?”

“Ya.”

“Begitu cepat.”

“Bukankah kalian kenal Ki Jagabaya? Ia seorang yang tidak

pernah menunda persoalan. Begitu ia mendengar laporanmu,

iapun langsung datang kemari.”

Para peronda yang berbaring setelah berkeliling itu tidak

bertanya lebih lanjut. Bagi mereka, jika Ki Jagabaya sudah

datang ke banjar, maka tidak ada persoalan lagi bagi mereka

yang menginap di banjar itu.

Dalam pada itu, ketika pendapa banjar itu menjadi sepi, maka

Wijangpun berbisik, “Tidurlah. Masih ada waktu sedikit.”

Paksi tidak menjawab. Tetapi iapun segera memejamkan

matanya. Ia memang ingin tidur meskipun hanya sebentar.

Beberapa saat kemudian, maka Paksi itupun terlelap.

Wijanglah yang kemudian duduk bersandar dinding menghadap

ke pintu. Namun tidak lagi terdengar langkah kaki atau

pembicaraan lagi di pendapa.

“Apakah para peronda itu tidur?” bertanya Wijang di dalam

hatinya.

Tetapi Wijang tidak beranjak dari tempat duduknya.

Sebenarnyalah para peronda di pendapa itu tertidur. Bahkan

mereka yang tidak berkeliling pun tertidur pula sambil bersandar

tiang.

Tetapi agaknya padukuhan itu memang aman. Tidak ada

peristiwa apa-apa yang terjadi malam itu.

Menjelang fajar, Paksipun telah terbangun dengan sendirinya.

Ketika ia duduk di amben bambu itu, maka Wijangpun berdesis,

“Aku ingin melihat, apakah para peronda itu tertidur.”

“Kenapa?”

“Aku tidak mendengar suara apa-apa.”

Wijang tidak menunggu jawaban Paksi. Iapun membuka pintu

biliknya dengan hati-hati. Kemudian melangkah ke pendapa.

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat para peronda

itu tidur di atas tikar yang digelar di pendapa. Seorang tidur

bersandar tiang dan seorang lagi tidur sambil duduk di sudut.

“Padukuhan ini adalah padukuhan yang aman, sehingga para

peronda itu merasa tidak perlu berjaga-jaga sampai dini,” berkata

Wijang di dalam hatinya.

Rasa-rasanya Wijang ingin membangunkan salah seorang dari

mereka. Tetapi Wijang justru cemas, bahwa hal itu akan dapat

membuat peronda itu salah paham.

Karena itu, maka Wijangpun kembali ke dalam biliknya.

Tetapi tidak lama kemudian, penjaga banjar itulah yang

terbangun. Ketika ia melihat para peronda masih tertidur, maka

sambil bergeramang penunggu banjar itu membangunkan

mereka.

“Setiap kali kalian yang mendapat giliran meronda, kalian

selalu tertidur. Tidak hanya satu dua di antara kalian. Tetapi

semuanya.”

Para peronda yang terkejut itupun segera bangkit berdiri.

Seorang yang tertua di antara mereka mengusap matanya yang

masih kabur. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata,

“Maaf, Kang. Aku mengantuk sekali.”

“Nah, sebentar lagi fajar akan datang. Apakah kalian akan

pulang atau tidak.”

“Tentu. Kami akan pulang. Kami akan melanjutkan tidur di

rumah.”

Para peronda itupun segera membenahi pakaian mereka.

Mumpung masih gelap, mereka akan segera pulang sebelum

orang-orang terbangun.

Namun ketika mereka turun ke halaman, seorang di antara

merekapun teringat dua orang yang bermalam di banjar itu.

Karena itu, maka orang itupun berkata, “Kakang, ada dua orang

kemalaman yang tidur di serambi.”

“Siapa?”

“Orang lewat. Bertanyalah kepada mereka.”

“Jadi mereka juga belum bangun?”

“Kami belum melihatnya.”

“Kapan mereka datang?”

“Sudah malam. Kau sudah tidur.”

“Jadi orang-orang malas itu masih belum bangun juga?

Apakah mereka tidak akan meneruskan perjalanan mereka?”

“Entahlah. Mungkin mereka sudah pergi ketika kami tidur.”

Namun Wijang dan Paksi sudah berdiri di sudut pendapa.

Dengan suara yang dalam Wijang berkata, “Kami sudah bangun,

Ki Sanak. Kami juga sudah siap untuk melanjutkan perjalanan.”

“O,” penunggu banjar itu berpaling. Dengan nada tinggi

penunggu banjar itupun bertanya, “Kenapa kalian tidak minta ijin

kepadaku?”

“Kami sudah minta ijin para peronda, Ki Sanak.”

“Para peronda hanya berada di banjar setiap malam sesuai

dengan gilirannya. Tetapi akulah yang bertanggung jawab atas

banjar ini.”

“Kami tidak tahu, Ki Sanak.”

“Sudahlah,” berkata orang tertua di antara para peronda, “tadi

malam Ki Jagabaya juga sudah datang kemari. Ki Jagabaya tidak

berkeberatan keduanya bermalam di sini.”

“Tetapi jika terjadi sesuatu, siapa yang bertanggung jawab

kepada Ki Bekel? Tentu aku.”

“Tidak. Kami, para peronda akan bertanggung jawab, karena

kami yang telah mengijinkan mereka bermalam di sini. Ki

Jagabaya tentu juga bersedia bertanggung jawab. Tetapi

bukankah tidak terjadi apa-apa?”

Penunggu banjar itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun

kemudian mengangguk-angguk.

“Ki Sanak,” berkata orang yang tertua di antara para peronda

itu, “kalian tidak perlu tergesa-gesa. Kalian dapat mandi lebih

dahulu. Berbenah diri dan baru kemudian melanjutkan

perjalanan. Berbeda dengan kami. Kami tidak mau kesiangan dan

ditonton oleh tetangga-tetangga kami jika mereka sudah bangun.”

“Terima kasih, Ki Sanak,” jawab Wijang.

Para peronda itupun kemudian meninggalkan halaman

banjar. Mereka berjalan agak tergesa-gesa, karena bayangan fajar

telah nampak di langit.

Sementara itu, penunggu banjar itu memandang Wijang dan

Paksi dengan tajamnya. Dengan nada tinggi orang itupun

berkata, “Jika kalian mandi, kalian harus mengisi jambangan itu

lagi. Aku bukan pelayanmu yang mengisi jambangan setelah

kalian pergunakan.”

Wijang dan Paksi saling berpandangan. Namun Wijangpun

kemudian menjawab, “Baik, Ki Sanak.”

“Kalian juga harus membersihkan bilik tempat kalian tidur

semalam.”

“Sudah, Ki Sanak,” jawab Paksi.

“Seharusnya kalian minta ijin kepadaku. Bukan kepada para

peronda. Mereka tidak tahu tatanan yang seharusnya berlaku di

banjar ini.”

“Kami minta maaf, Ki Sanak.”

“Nah, kalau mau mandi, cepat mandi. Kalau mau pergi, cepat

pergi.”

Namun agaknya Wijang dan Paksi tidak ingin mandi di

pakiwan banjar itu. Karena itu, maka Wijangpun berkata, “Kami

akan minta diri, Ki Sanak.”

“Jadi kalian lebih baik tidak mandi daripada harus mengisi

kembali jambangan di pakiwan itu?”

“Tidak. Bukan itu alasannya, Ki Sanak. Tetapi kami memang

orang-orang malas yang tidak berani mandi pagi-pagi seperti ini.

Sementara itu, kami sudah harus melanjutkan perjalanan, agar

kami tidak kesiangan sampai di tujuan.”

“Tepat. Kalian memang orang-orang malas. Pergilah jika kalian

ingin pergi.”

“Kami minta diri, Ki Sanak.”

Orang itu tidak menjawab. Sementara Wijangpun berkata,

“Kami mengucapkan terima kasih bahwa semalam kami telah

mendapat tempat yang hangat untuk bermalam.”

“Jangan berterima kasih kepadaku. Berterimakasihlah kepada

orang-orang yang memberimu tempat bermalam meskipun

mereka telah melanggar hak dan wewenangku.”

Wijang dan Paksi saling berpandangan. Namun keduanyapun

kemudian mengangguk hormat sementara itu Wijang

mengulanginya, “Kami minta diri, Ki Sanak.”

Orang itu tidak menjawab. Bahkan orang itu telah melangkah

pergi meninggalkan mereka berdua.

Wijang dan Paksipun kemudian meninggalkan banjar itu.

Demikian mereka turun ke jalan, maka Paksipun berkata, “Kita

telah bertemu banyak orang dengan sifat dan wataknya yang

bermacam-macam. Penunggu banjar ini termasuk orang yang

keras dan mempunyai harga diri yang terlalu berlebihan.”

Wijang tertawa. Katanya, “Seseorang kadang-kadang memang

ingin menunjukkan bahwa ia berkuasa. Ia mempunyai wewenang

untuk menentukan tatanan di lingkungan kekuasaannya.

Penjaga banjar itupun ingin menunjukkan bahwa ialah yang

berkuasa di banjar itu.”

“Sementara itu ada penunggu banjar yang lain yang bukan

saja membuka pintu banjarnya bagi orang-orang yang

kemalaman, tetapi juga membuka hatinya.”

Wijang menarik nafas dalam-dalam.

Demikianlah, maka keduanyapun telah meninggalkan

padukuhan tempat mereka bermalam. Ketika mereka menjumpai

sebuah sungai kecil yang airnya bening, maka keduanyapun

menyempatkan diri untuk mandi.

“Kita masih mempunyai waktu. Hari masih pagi,” berkata

Wijang.

Keduanyapun kemudian telah menuruni tebing yang tidak

terlalu dalam. Di sebuah lekuk yang agak dalam keduanya mandi

sambil mencuci kain panjang serta baju mereka. Sementara itu,

matahari pagipun telah bertengger di langit.

Sejuknya mandi di pagi hari. Di sungai, mereka tidak perlu

menimba air mengisi jambangan di pakiwan banjar yang

penunggunya berwajah gelap.

Namun Wijangpun kemudian mengangkat wajahnya sambil

berdesis, “Kau dengar langkah orang berlari?”

“Ya. Ke arah ini.”

Tanpa bersepakat mereka telah menyambar kain dan baju

yang mereka jemur sesudah dicuci.

Wijang dan Paksi itupun segera melekat pada tebing yang

tidak terlalu tinggi, di balik rimbunnya dedaunan segerumbul

pohon perdu.

Sejenak kemudian, maka merekapun melihat tiga orang anak

muda yang berlari-lari di atas tanggul. Namun nampaknya

mereka tidak saling berkejaran. Tetapi mereka sekedar berlari

untuk memanaskan tubuh mereka, sebelum memasuki laku yang

lebih berat. Mungkin latihan-latihan olah kanuragan. Tetapi

mungkin juga sekedar untuk kesegaran tubuh mereka.

“Siapakah mereka, Paksi?” desis Wijang.

“Apakah anak-anak padukuhan di sekitar tempat ini

mempunyai kebiasaan berlari-lari di pagi hari?”

Wijang menggeleng. Katanya, “Tidak. Anak-anak muda

padukuhan-padukuhan di sekitar tempat ini tentu tidak terbiasa

berlari-lari pagi untuk memanasi membuka pematang untuk

mengalirkan air ke dalam kotak-kotak sawah mereka atau

melakukan kerja yang lain di kebun.”

“Jika demikian, siapakah mereka itu?”

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Padukuhan

Kembang Arum tidak terlalu jauh lagi. Agaknya kau benar, Paksi.

Ki Pananggungan akan dapat menjadi pancatan untuk sampai

kepada Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.”

“Apakah menurut pendapatmu, mereka adalah bagian dari

anak-anak muda dari angkatan mendatang?”

“Ya.”

Paksi mengerutkan keningnya. Ada beberapa hal yang tidak

sesuai. Rumah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung tentu

tidak terlalu dekat dengan Kembang Arum. Ia pernah

menemukan ibu Kemuning di pasar kecil itu. Ketika itu

Kemuning dan ibunya yang mencari Padukuhan Kembang Arum

telah tersesat dan jatuh ke tangan Bahu Langlang. Dengan

demikian, maka rumah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung

agaknya tidak terlalu dekat, sehingga seandainya anak-anak

muda yang oleh Ki Gede Lenglengan diserahkan kepada Repak

Rembulung dan Pupus Rembulung itu berlari-lari sekedar untuk

memanaskan tubuh mereka, mereka tentu tidak akan sampai di

tempat itu.

Ketika hal itu dikemukakannya kepada Wijang, maka

Wijangpun berdesis, “Ya. Kau benar, Paksi. Tetapi bagaimanapun

juga, agaknya ada hubungan antara anak-anak yang berlari-lari

itu dengan anak-anak muda yang semula berada di padepokan Ki

Gede Lenglengan.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun bergumam

dengan nada dalam, “Tetapi adikku tidak bersama mereka.”

“Baiklah. Rasa-rasanya aku menjadi semakin ingin segera

sampai di rumah Ki Pananggungan. Mungkin kita mendapat

beberapa jawaban dari pertanyaan yang bertimbun di dalam diri

kita.”

“Kita akan segera berangkat.”

“Tetapi kain dan baju kita ini belum kering.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun keduanya telah

menggelar lagi pakaian mereka yang basah di atas bebatuan agar

menjadi lebih cepat kering.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka mereka berdua

telah siap untuk meneruskan perjalanan.

Sejenak kemudian, mereka telah memanjat naik ke atas tebing

untuk seterusnya berjalan menyusuri tanggul turun ke jalan.

“Bukankah kita tinggal mengikuti jalan ini?” desis Paksi.

“Ya. Jalan ini akan langsung sampai ke Kembang Arum,”

sahut Wijang.

Demikianlah, keduanya telah berjalan semakin cepat menuju

ke Padukuhan Kembang Arum.

Beberapa bulak telah mereka lampaui. Sementara

mataharipun menjadi semakin tinggi. Ketika mereka melewati

kotak-kotak sawah yang siap ditanami padi, maka nampak

matahari seakan bercermin di wajah air yang tergenang.

“Kita sudah hampir sampai,” berkata Paksi.

“Ya. Bukankah Padukuhan Kembang Arum sudah berada di

hadapan kita?”

Paksi mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah terasa

debar jantungnya menjadi semakin cepat. Di rumah Ki

Pananggungan itu tinggal seorang gadis yang cantik dan luruh.

Kemuning.

Beberapa saat kemudian, maka Wijang dan Paksi itu sudah

berdiri di pintu gerbang padukuhan.

Paksi menarik nafas dalam-dalam ketika mereka memasuki

pintu gerbang padukuhan itu. Sejenak mereka berdiri termangumangu.

Namun keduanyapun kemudian telah melanjutkan

langkah mereka menyusuri jalan padukuhan itu. Mereka akan

langsung sampai ke depan regol halaman rumah Ki

Pananggungan.

Di jalan padukuhan itu, mereka berpapasan dua orang anak

yang akan menggembalakan kambing mereka. Kedua orang anak

yang agaknya kakak beradik itu menggiring kambing mereka

keluar dari padukuhan menuju ke bulak.

Sejenak kemudian keduanya telah berdiri termangu-mangu di

depan regol rumah Ki Pananggungan. Ketika Paksi

menengadahkan wajahnya ke langit, maka dilihatnya matahari

sudah hampir mencapai puncaknya.

“Sudah tengah hari,” desis Paksi.

Wijang tidak menyahut. Ia tahu bahwa Paksi sekedar ingin

melepaskan ketegangannya.

Namun keduanya terkejut ketika mereka melihat seorang

perempuan keluar dari regol halaman dengan menggendong

bakul kecil.

Perempuan itu tertegun. Dipandanginya Wijang dan Paksi

yang berdiri termangu-mangu di depan regol.

“Siapakah kalian berdua, Ki Sanak? Apakah kalian mencari

seseorang?”

Wijanglah yang menyahut, “Kami ingin bertemu dengan Ki

Pananggungan, Bibi.”

“O. Silahkan. Agaknya Ki Pananggungan sudah siap pergi ke

sawah.”

“Bibi juga akan pergi ke sawah?”

“Ya. Ada dua orang yang membantu Ki Pananggungan

mengerjakan sawahnya. Aku akan mengirim mereka makan dan

minum.”

“Ki Pananggungan sendiri tidak pergi ke sawah?”

“Hampir semalam suntuk Ki Pananggungan menunggui air di

sawah. Baru tadi pagi, sedikit lewat fajar, Ki Pananggungan

pulang. Karena itu, Ki Pananggungan agak terlambat pergi ke

sawah. Tetapi dua orang telah membantu menggarap sawahnya

yang besok akan mulai ditanami.”

“Terima kasih, Bibi.”

“Nah, silahkan, sebentar lagi Ki Pananggungan akan

berangkat.”

“Apakah Nyi Pananggungan ada?”

“Ada. Baru saja Nyi Pananggungan selesai masak.

Masakannya yang sekarang aku bawa ke sawah.”

“Terima kasih, Bibi.”

Perempuan itupun kemudian meninggalkan Wijang dan Paksi

yang masih saja termangu-mangu.

Namun sejenak kemudian, keduanyapun telah melangkah

masuk melewati regol halaman. Demikian mereka berada di

halaman, maka merekapun melihat seorang laki-laki yang masih

terhitung muda, berdiri termangu-mangu di pintu longkangan

sambil memegangi tangkai cangkulnya. Agaknya orang itu juga

akan pergi ke sawah bersama Ki Pananggungan.

Orang itu memandang Wijang dan Paksi berganti-ganti.

Kemudian diletakannya cangkulnya. Selangkah-selangkah ia

maju mendekati Wijang dan Paksi.

“Bukankah kalian anak-anak muda yang pernah tinggal di

rumah ini?”

Wijang dan Paksi mengangguk hormat. Merekapun segera

dapat mengenali laki-laki yang pernah mereka kenal ketika

mereka berada di rumah Ki Pananggungan beberapa waktu

sebelumnya.

“Ya, Kang. Kakang masih ingat kepada kami?”

“Tentu,” jawab orang itu. Lalu iapun bertanya, “Kalian baru

datang?”

“Ya, Kakang.”

“Baiklah. Silahkan duduk. Aku beritahukan kepada Ki

Pananggungan, bahwa kalian datang kemari.”

Tetapi sebelum orang itu melangkah masuk lewat pintu

seketeng, Ki Pananggungan justru telah keluar.

Orang itupun terkejut melihat Wijang dan Paksi. Hampir saja

ia menyebut gelar Wijang yang sebenarnya. Namun ia masih

sempat menyadari keadaan Pangeran Benawa dalam pakaian

orang kebanyakan. Pangeran Benawa tentu tidak senang

mendengar gelarnya disebut di hadapan orang lain.

Karena itu, maka dengan ramah Ki Pananggunganpun

bertanya, “Bukankah aku berhadapan dengan Angger Wijang dan

Angger Paksi?”

“Ya, Ki Pananggungan. Sesudah cukup lama kami pergi, maka

rasa-rasanya kami ingin kembali melihat keadaan keluarga dan

padukuhan ini.”

“Marilah, Ngger. Silahkan naik.”

“Tetapi Ki Pananggungan akan pergi ke sawah.”

“Biarlah Mijan pergi sendiri.” Lalu katanya kepada laki-laki

yang menunggunya, “Pergilah sendiri, Mijan. Aku akan menemui

tamu-tamuku yang sudah lama tidak berkunjung kemari.”

“Baik, Ki Pananggungan.”

“Jika Ki Pananggungan akan pergi ke sawah, biarlah kami ikut

ke sawah,” sahut Paksi.

“Tidak. Tidak terlalu penting. Sudah ada dua orang di sawah.

Kemudian Mijan akan menyusul mereka.”

Mijanpun kemudian berkata, “Aku minta diri, Ki. Silahkan

kalian berdua duduk. Aku akan pergi ke sawah.”

“Baik. Silahkan, Kakang,” sahut Paksi.

Sepeninggal Mijan, maka Ki Pananggungan telah

mempersilahkan Wijang dan Paksi naik ke pendapa.

“Selamat datang di rumahku, Pangeran dan kau Angger

Paksi.”

“Maaf, Ki Pananggungan. Seperti ketika aku datang kemari

sebelumnya, panggil aku Wijang.”

“Baik, Pangeran. Meskipun rasa-rasanya aku telah melakukan

kesalahan yang besar.”

“Ki Pananggungan tidak bersalah. Ki Pananggungan justru

akan aku anggap bersalah, jika Ki Pananggungan memanggilku

pangeran. Jika aku tidak mempunyai maksud tertentu, aku tentu

tidak akan berada di sini dalam keadaan seperti ini.”

“Hamba, Pangeran.”

“Nah. Panggil aku Wijang.”

“Baik, Wijang.”

“Nah, terima kasih. Aku minta Ki Pananggungan untuk

selanjutnya tidak lupa.”

Ki Pananggungan tersenyum sambil menyahut, “Aku akan

berusaha, Ngger.”

Wijang mengangguk-angguk. Sementara Paksipun bertanya,

“Kelihatannya rumah ini sepi, Ki Pananggungan. Apakah Nyi

Pananggungan ada?”

“Ada, ada Ngger. Nyi Pananggungan ada di belakang. Tetapi

Nyi Pananggungan sekarang sendiri berada di dapur.”

“Nyi Permati?”

Ki Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Nyi

Permati sudah meninggalkan rumah ini bersama dengan

Kemuning yang dijemput oleh ayah dan ibunya.”

“Maksud Ki Pananggungan, Repak Rembulung dan Pupus

Rembulung yang mengangkat Kemuning menjadi anaknya itu?”

“Ya, Ngger.”

Paksi dan bahkan juga Wijang menjadi tegang. Sementara itu

Ki Pananggunganpun berkata, “Aku tidak dapat menahan

mereka. Apalagi Repak Rembulung dan Pupus Rembulung

memerlukan kawan untuk melayani beberapa orang yang tinggal

di rumahnya.”

Jantung Paksi dan Wijang berdesis. Dengan serta-merta

Paksipun bertanya, “Siapa saja yang tinggal di rumah Repak

Rembulung dan Pupus Rembulung?”

“Aku tidak begitu jelas, Ngger. Tetapi yang sepintas aku

dengar, ada beberapa orang yang tinggal bersamanya. Orangorang

yang berdatangan dari sebuah padukuhan di pinggir Kali

Praga. Mereka adalah sanak kadang Pupus Rembulung.”

“Dari padukuhan di pinggir Kali Praga?” ulang Paksi.

“Ya. Mereka sudah sangat lama tidak bertemu dengan Pupus

Rembulung, sehingga mereka menjadi sangat rindu sehingga

mereka memerlukan datang dan untuk beberapa hari akan

berada di rumah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.

Mereka terdiri dari beberapa orang yang di antaranya adalah

anak-anak muda.”

Keterangan Ki Pananggungan itu memang sangat menarik.

Namun jika mereka datang dari sebuah padukuhan di pinggir

Kali Praga, maka tentu tidak ada sangkut-pautnya dengan anakanak

muda yang semula berada di padepokan Ki Gede

Lenglengan.

Meskipun demikian Paksi masih belum percaya begitu saja

jika orang-orang yang berada di rumah Repak Rembulung dan

Pupus Rembulung itu berasal dari pinggir Kali Praga.

Mungkin saja Repak Rembulung dan Pupus Rembulung

sengaja mengaburkan keberadaan anak-anak muda itu di

rumahnya.

“Ki Pananggungan,” bertanya Paksi, “apakah mereka benarbenar

orang dari pinggir Kali Praga atau Kali Opak?”

“Kali Praga, Ngger. Itu jelas sekali bagiku. Pupus Rembulung

sendiri yang mengatakannya kepadaku.”

“Sudah berapa lama Nyi Permati dan Kemuning pergi

meninggalkan rumah ini?”

Ki Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa

ada hubungan khusus antara Paksi dan Kemuning. Meskipun

masih sangat terbatas, tetapi Ki Pananggungan mengerti

perasaan anak muda itu terhadap kemenakannya.

“Belum terlalu lama, Ngger. Baru sekitar dua bulan yang lalu.

Jika saja Angger datang lebih cepat, maka Angger akan dapat

bertemu dengan Kemuning, bahkan dengan ayah dan ibunya itu.”

Jantung Paksi bergejolak menghentak-hentak di dadanya. Ada

beberapa hal yang membuatnya menjadi sangat gelisah. Berita

tentang kehadiran beberapa orang di rumah Repak Rembulung

dan Pupus Rembulung meskipun disebutnya datang dari pinggir

Kali Praga, tetapi Paksi langsung menghubungkannya dengan

kehadiran beberapa orang anak muda asuhan Ki Gede

Lenglengan. Justru anak-anak muda itu telah dikirim lebih

dahulu. Baru kemudian Ki Gede Lenglengan dan beberapa orang

pergi menyusulnya.

Selebihnya, Paksi seakan-akan telah merasa kehilangan. Ia

tidak lagi dapat menjumpai Kemuning di rumah Ki

Pananggungan itu.

“Ki Pananggungan,” berkata Paksi kemudian, “apakah Ki

Pananggungan dapat menunjukkan kepada kami, di mana rumah

Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung itu?”

“Terus terang, Ngger, aku belum pernah melihat rumahnya

yang baru itu. Bahkan rumahnya yang lama pun aku belum

pernah mengunjunginya. Aku tidak tahu, kenapa Repak

Rembulung dan Pupus Rembulung sering berpindah-pindah

tempat tinggal.”

“Jadi Kemuning telah dibawa oleh Ki Repak Rembulung dan

Nyi Pupus Rembulung ke tempat tinggalnya yang baru?”

“Ya, Ngger. Tetapi Angger Paksi tidak perlu merasa terlalu

cemas sebagaimana saat Kemuning berada di tangan Bahu

Langlang. Repak Rembulung dan Pupus Rembulung adalah

seorang ayah dan ibu yang baik bagi Kemuning. Bagaimanapun

sifat keduanya di luar rumah, tetapi di rumah mereka adalah

seorang ayah dan ibu.”

“Tetapi di rumahnya sekarang tinggal beberapa orang lain.

Jika itu terjadi sejak dua bulan yang lalu, apakah mereka

sekarang masih tetap tinggal di rumah Ki Repak Rembulung dan

Nyi Pupus Rembulung? Sehingga Kemuning masih belum dapat

pulang sampai sekarang?”

Wijang memang ikut merasa gelisah. Tetapi kesempatannya

merenungi persoalan itu masih lebih banyak dari Paksi. Karena

itu, maka Wijangpun berdesis, “Tenanglah, Paksi.”

Namun Ki Pananggungan justru tersenyum. Katanya, “Ngger,

Kemuning justru telah pulang ke rumah ayah dan ibunya.

Seandainya tamu-tamu itu sudah pulang, aku tidak dapat

mengharap Kemuning itu pulang ke rumah ini karena ia sudah

berada di rumah kedua orang tuanya.”

“Tetapi Kemuning pernah ditinggalkan begitu saja, sehingga

gadis itu harus pergi bersama ibunya mencari rumah Ki

Pananggungan di Kembang Arum ini.”

“Sudah aku katakan kepadanya, Ngger. Kepada ayah dan

ibunya. Untunglah bahwa Bahu Langlang sudah lama tidak ada

lagi di rumahnya. Jika orang itu dapat diketemukan, maka orang

itu tentu akan dilumatkan.”

“Apakah ayah dan ibu Kemuning yang membakar rumah

Bahu Langlang?”

“Apakah rumah Bahu Langlang itu dibakar?”

“Tidak ada yang tahu, Ki Pananggungan. Apakah terbakar

atau dibakar. Tetapi rumah itu sudah menjadi abu.”

“Jika rumah itu sengaja dibakar, adalah pekerjaan yang siasia.

Tidak ada gunanya, karena Bahu Langlang sudah pergi.

Orang itu sudah mengaku bersalah dan ingin memperbaiki

kesalahannya. Itu pun sudah lama terjadi.”

“Ki Pananggungan,” berkata Paksi kemudian, “jika demikian,

maka kami minta diri. Kami akan mencari rumah Ki Repak

Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung.”

Ki Pananggungan terkejut. Dengan serta-merta iapun

mencegahnya, “Jangan tergesa-gesa pergi, Ngger. Jika Angger

akan mencari rumah mereka itu terserah saja kepada Angger

Paksi. Tetapi tentu tidak sekarang. Angger baru saja datang dari

perjalanan yang jauh.”

“Aku sudah banyak kehilangan waktu di perjalanan, Ki

Pananggungan.”

Namun Wijanglah yang kemudian berkata, “Jangan tergesagesa,

Paksi. Tenanglah. Kita harus merencanakan langkahlangkah

yang akan kita ambil.”

“Beberapa kali kita berhenti di perjalanan, sehingga aku

datang terlambat.”

“Tidak, Ngger. Kau tidak terlambat,” berkata Ki Pananggungan

yang menduga bahwa Paksi menjadi sangat kecewa karena tidak

dapat bertemu dengan Kemuning.

Tetapi Wijang dapat mengerti sepenuhnya. Paksi bukan saja

gelisah karena Kemuning tidak ada lagi di rumah Ki

Pananggungan. Tetapi Paksipun menjadi gelisah karena ia

menduga bahwa yang berada di rumah Ki Repak Rembulung dan

Nyi Pupus Rembulung di antaranya adalah adik laki-laki yang

dicarinya itu.

“Paksi, kita tidak boleh kehilangan nalar sehingga bertindak

dengan tergesa-gesa. Lebih baik kita mohon kepada Ki

Pananggungan agar kita diijinkan untuk bermalam di sini.

Setidak-tidaknya malam nanti.”

“Tentu, Ngger. Tentu. Kami tidak akan berkeberatan. Bahkan

aku mohon kalian tidak hanya bermalam semalam. Tetapi untuk

sementara kalian dapat tinggal di sini. Aku berjanji untuk

membantu Angger berdua menemukan Kemuning.”

Paksi justru terkejut mendengar pernyataan Ki

Pananggungan. Barulah ia sadar, bahwa Ki Pananggungan tidak

tahu-menahu tentang adiknya yang oleh Ki Gede Lenglengan

telah diserahkan kepada sepasang suami-istri di sisi selatan kaki

Gunung Merapi.

Karena itu, maka Paksipun menarik nafas dalam-dalam.

Dipandanginya Wijang dengan kerut di dahi. Nampaknya Wijang

dapat mengerti, bahwa Paksi baru menyadari keadaannya

menurut tanggapan Ki Pananggungan.

Sambil tersenyum Wijang itupun berkata, “Nah, bukankah

lebih baik kita sambil mengucapkan terima kasih atas

kesempatan yang diberikan oleh Ki Pananggungan, beristirahat

barang semalam?”

Paksi mengangguk sambil berdesis, “Ya. Kita akan mohon

untuk diperkenankan berada di rumah ini setidak-tidaknya

semalam.”

“Tidak. Jangan hanya semalam. Aku mohon kalian tinggal di

sini. Bahkan setelah kalian menemukan rumah kedua orang tua

Kemuning itu.”

Paksi menundukkan kepalanya. Sementara Wijangpun

berkata, “Terima kasih atas kesempatan ini, Ki Pananggungan.”

“Nah, sekarang aku persilahkan kalian duduk dahulu. Aku

akan memberitahu Nyi Pananggungan. Nampaknya ia belum tahu

bahwa Angger berdua datang menengok keluarga kami. Demikian

kita bertemu, kita langsung tersuruk ke dalam pembicaraannya

yang agaknya bersungguh-sungguh.”

“Silahkan, Ki Pananggungan. Silahkan.”

Ki Pananggungan itupun kemudian masuk ke ruang dalam

untuk menemui isterinya.

Demikian Nyi Pananggungan mengetahui, bahwa yang ada di

pringgitan adalah Paksi dan Wijang, maka dengan tergesa-gesa

Nyi Pananggungan itupun pergi ke pringgitan untuk

menemuinya.

“Selamat datang, Angger berdua. Sudah agak lama kami

mengharap Angger berdua datang mengunjungi keluarga kami.”

“Maaf, Nyi,” Wijanglah yang menyahut, “ada-ada saja masalah

yang menghambat. Masalah yang sebenarnya kami buat sendiri.”

“Terus terang, Ngger, Kemuning juga sangat mengharap

kedatangan Angger Paksi. Tetapi rasa-rasanya seperti

mengharapkan embun menitik di tengah hari.”

“Kami mohon maaf, Nyi. Seperti yang dikatakan Kakang

Wijang, kami tidak segera dapat mengunjungi keluarga ini.”

“Sekarang Kemuning sudah kembali kepada ayah dan

ibunya.”

“Ya, Nyi. Tadi Ki Pananggungan juga sudah mengatakannya.”

Ki Pananggunganlah yang kemudian menyahut, “Aku sudah

berjanji untuk membantunya mencari rumah orang tua

Kemuning yang baru.”

“Ya, Ngger. Orang tua Kemuning memang sering berpindahpindah.

Tetapi sebenarnyalah orang memang mempunyai

beberapa buah rumah. Mungkin rumah yang dipergunakannya

sekarang adalah rumah yang lebih besar dari rumahnya yang

dahulu, yang ditinggalinya bersama Nyi Permati dan Kemuning,

yang menurut Kemuning memang tidak begitu besar. Pada saat

kedua orang tuanya menerima banyak tamu yang bermalam,

maka mereka menerima tamu mereka di rumahnya yang lebih

besar.”

“Ya, Nyi.”

“Nyi,” berkata Ki Pananggungan kemudian, “mereka berdua

akan bermalam di rumah ini. Besok atau besok lusa aku akan

membantu mereka mencari rumah orang tua Kemuning itu.”

“Ke mana Ki Pananggungan akan mencarinya?”

“Aku harus mengingat-ingat apa yang pernah dikatakan oleh

Rembulung. Mungkin ada petunjuk yang dapat membawa kedua

anak muda itu sampai kepadanya.”

“Angger berdua tidak usah tergesa-gesa. Waktunya masih

panjang. Jika Angger berdua akan memburu puncak bukit kecil

di kaki Gunung Merapi itu, maka puncak bukit itu tidak akan

beranjak dari tempatnya.”

Paksi menundukkan wajahnya. Sementara Wijang tersenyumsenyum

saja sebagaimana Ki Pananggungan dan Nyi

Pananggungan.

“Nah, duduklah. Aku akan menyiapkan minuman.”

Dalam pada itu, ketika Nyi Pananggungan berada di dapur,

maka Ki Pananggunganpun bertanya, “Menurut pendengaranku,

Harya Wisaka sudah tertangkap, Ngger. Apakah memang

demikian?”

“Benar, Ki Pananggungan,” Wijanglah yang menjawab.

“Bagaimana dengan para pengikutnya?”

Wijang menarik nafas panjang. Namun kemudian iapun

berkata, “Itulah yang masih kami cemaskan.”

“Di lingkungan ini, Ngger, sejak semula memang tidak terlalu

terasa benturan antara kekuatan-kekuatan yang semula ingin

menguasai cincin kerajaan itu, meskipun getarnya sampai di sini

pula. Bahkan kemudian seakan-akan larut dihanyutkan oleh

waktu. Sementara itu, berita tentang pemberontakan Harya

Wisaka terdengar semakin keras. Sedangkan kelompok-kelompok

kekuatan yang lain, yang pernah memusuhi Harya Wisaka itupun

tidak banyak lagi terdengar.”

Wijang dan Paksi mengangguk-angguk. Namun Paksi nampak

menjadi gelisah. Agaknya ada persoalan yang ingin dikatakannya.

Tetapi Paksi masih saja merasa ragu.

Wijang yang dapat mengerti perasaan Paksi itulah yang

kemudian berkata, “Ki Pananggungan, sebenarnyalah bahwa ada

dua hal yang membuat Paksi menjadi gelisah. Yang pertama, ia

merasa sangat kecewa bahwa ia tidak dapat bertemu dengan

Kemuning. Di sepanjang jalan menuju ke Kembang Arum, sekalisekali

terucapkan nama Kemuning meskipun ia berusaha untuk

tetap mengendapkannya.”

Ki Pananggungan itupun tersenyum. Ia sudah dapat meraba

gejolak perasaan anak muda itu. Sementara Wijangpun berkata

selanjutnya, “Sedangkan persoalan yang kedua yang membuat

Paksi gelisah adalah tamu-tamu di rumah Ki Repak Rembulung

dan Nyi Pupus Rembulung.”

“Kenapa dengan tamu-tamu itu?”

“Ki Pananggungan,” berkata Wijang yang suaranya menjadi

berat, “ketika Paman Harya Wisaka tertangkap, maka terloncat

dari mulutnya, bahwa beberapa orang anak muda telah

diserahkan kepada seorang yang bernama Ki Gede Lenglengan

untuk ditempa agar menjadi pemimpin di masa datang, sesuai

dengan jalur perjuangan Paman Harya Wisaka. Mereka adalah

anak-anak muda yang disebut angkatan mendatang. Ketika kami

berhasil memasuki Padepokan Watukambang yang dipimpin oleh

Ki Gede Lenglengan itu, ternyata bahwa anak-anak muda yang

disebut angkatan mendatang itu sudah tidak ada di padepokan.

Menurut seorang di antara mereka yang berhasil kami bujuk

untuk memberikan keterangan, anak-anak muda itu telah

dititipkan kepada sepasang suami-istri yang tinggal di sisi selatan

kaki Gunung Merapi. Orang itu tidak tahu siapakah nama

sepasang suami-istri itu. Tetapi pada waktu itu, arah perkiraan

kami langsung hinggap pada Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus

Rembulung. Sementara itu, Ki Gede Lenglengan yang luput dari

tangan para prajurit Pajang telah pergi ke selatan pula. Kami

berhasil menelusuri jejaknya sehingga sampai ke sisi selatan kaki

Gunung Merapi ini. Yang paling menggelisahkan Paksi adalah,

bahwa salah seorang dari anak-anak muda dari angkatan

mendatang itu adalah adik laki-laki Paksi yang bernama Lajer

Laksita.”

Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Seakan-akan

ditujukan kepada diri sendiri iapun bergumam, “Jadi itulah

masalahnya. Dua persoalan yang meskipun terpisah, akan saling

berkait. Menurut Rembulung, tamu-tamu itu datang dari sebuah

padukuhan di pinggir Kali Praga. Tetapi memang mungkin saja

Rembulung tidak berterus-terang kepadaku.”

“Ki Pananggungan,” berkata Wijang kemudian, “sebaiknya

kami berdua dengan berterus-terang minta bantuan Ki

Pananggungan untuk mengetahui, siapakah sebenarnya yang

berada di rumah Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus

Rembulung.”

“Baiklah. Seperti sudah aku janjikan, aku akan membantu

kalian. Kita akan mencari rumah Repak Rembulung dan Pupus

Rembulung.”

“Tetapi Ki Pananggungan, Repak Rembulung dan Pupus

Rembulung akan dapat mengenali kami.”

“Apakah kalian pernah berhubungan dengan keduanya.”

“Pernah, Ki Pananggungan. Kami pernah melibatkan diri pada

saat Repak Rembulung dan Pupus Rembulung dikeroyok oleh

beberapa orang sehingga rasa-rasanya pertemuan itu tidak adil.”

“Kau membantu mereka?”

Wijang mengangguk.

Ki Pananggunganpun menjadi termangu-mangu. Sementara

itu Paksi masih saja menundukkan wajahnya.

“Yang aneh bagi kami, Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus

Rembulung telah menasehati kami agar kami mencari jalan yang

baik dan benar untuk menyongsong masa depan kami yang

panjang. Nasehat yang tidak pernah kami duga akan keluar dari

mulut seorang Repak Rembulung dan seorang Pupus

Rembulung.”

“Bukankah sudah aku katakan, bahwa keduanya memang

aneh? Di rumah mereka adalah ayah dan ibu yang baik. Yang

dengan penuh kasih sayang mengasuh Kemuning. Memberinya

nasehat agar kelak Kemuning menjadi seorang yang baik, yang

berjalan di jalan lurus sesuai dengan petunjuk dari Yang Maha

Agung.”

“Nasehat itu pulalah yang diberikan kepada kami,” desis

Wijang.

“Repak Rembulung dan Pupus Rembulung berdiri dengan

kedua kaki pada alas yang berbeda.”

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, “Pertentangan yang

tumbuh di dalam diri Repak Rembulung dan Pupus Rembulung

itu akan dapat meledak di hari-hari tua mereka.”

“Kau benar, Wijang,” sahut Ki Pananggungan.

“Nah, bagaimana menurut pertimbangan Ki Pananggungan?

Apa yang sebaiknya kami lakukan?”

“Begini, Ngger, jika Angger berdua setuju, biarlah aku saja

yang mencari Rumah Rembulung. Aku akan dapat memberikan

alasan apa saja. Mungkin karena aku rindu kepada Kemuning.”

“Lalu, apakah yang harus kami kerjakan?”

“Kalian tinggal di rumah ini.”

“Tetapi bukankah sangat berbahaya bagi Ki Pananggungan?”

Ki Pananggungan itu tersenyum. Katanya, “Ingat, aku adalah

kakak ayah Kemuning itu. Aku akan datang sebagai seorang

paman yang ingin menengok kemenakannya. Apalagi

kemenakannya itu pernah tinggal bersamanya.”

Wijang mengangguk-angguk sementara Paksi menarik nafas

dalam-dalam.

“Tetapi tentu tidak hari ini. Besok aku akan pergi. Mungkin

dalam pembicaraan kami pernah disebut-sebut kata-kata yang

dapat menjadi petunjuk, ke mana aku harus mencarinya. Nanti

aku akan berbicara dengan Nyi Pananggungan.”

“Tetapi sebelumnya, kami mohon maaf, Ki Pananggungan,

bahwa kami datang untuk membuat Ki Pananggungan menjadi

sibuk. Bahkan harus melakukan sesuatu yang berbahaya,” sahut

Paksi.

“Apa yang berbahaya? Menengok seorang adik bukan

pekerjaan yang berbahaya.”

“Tetapi seandainya dugaan kami benar, maka di rumah itu

ada seorang yang bernama Ki Gede Lenglengan. Orang itu baru

datang kemudian. Belum terlalu lama.”

“Aku akan berhati-hati, Ngger. Mudah-mudahan Ki Gede

Lenglengan bukan orang yang gila, sehingga mengganggu saudara

dari orang yang memberinya tempat berlindung.”

“Ki Gede Lenglengan memang gila, Ki Pananggungan,” desis

Wijang. “Kangjeng Sultan di Pajang di masa mudanya pernah

mengenal orang yang bernama Lenglengan. Agaknya orang itu

pulalah yang kemudian bernama Ki Gede Lenglengan.”

Ki Pananggungan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian

iapun berkata, “Aku akan berhati-hati, Ngger.”

Sementara itu, maka Nyi Pananggunganpun telah minta

mereka untuk masuk ke ruang dalam. Katanya, “Mumpung nasi

masih hangat, silahkan, Ngger.”

“Begitu cepatnya,” berkata Wijang di luar sadarnya.

Nyi Pananggunganpun menyahut, “Sudah ada, Ngger. Tetapi

seadanya saja. Yang lain tadi dibawa ke sawah untuk mereka

yang sedang mengerjakan sawah. Marilah, Ngger.”

Merekapun kemudian masuk ke ruang dalam. Ternyata nasi,

lauk dan sayurnya memang masih hangat. Agaknya Nyi

Pananggungan telah memanasinya lagi.

Sejenak kemudian mereka telah duduk di amben bambu di

ruang dalam. Nasi, sayur lodeh keluwih, serundeng kelapa dan

sambal terasi. Ikan kakap goreng yang nampaknya baru saja

turun dari perapian.

“Ikan itu diambil dari belumbang di belakang, Ngger,” berkata

Nyi Pananggungan.

“Siapa yang menangkapnya?” berkata Wijang.

“Anak tetangga sebelah, Ngger. Ia tinggal bersama kami di

sini.”

Wijang mengangguk-angguk. Namun bau sambal terasi itu

membuat Wijang dan Paksi merasa lapar.

Setelah mereka selesai makan, maka Ki Pananggungan telah

membawa Wijang dan Paksi ke bilik di gandok sebelah kanan.

Katanya, “Kalian dapat beristirahat di bilik ini, Ngger.”

“Terima kasih, Ki Pananggungan.” Wijang dan Paksi menjawab

hampir bersamaan.

Keduanya memang beristirahat sejenak. Perut mereka terasa

kenyang. Sambil duduk di lincak bambu yang panjang, keduanya

kembali berbicara tentang Repak Rembulung dan Pupus

Rembulung.

“Dugaanku kuat, bahwa yang ada di rumah Repak Rembulung

dan Pupus Rembulung itu adalah anak-anak muda yang disebut

angkatan mendatang itu, Wijang.”

“Ya. Kemungkinannya memang besar sekali. Agaknya kepada

Ki Pananggungan, Repak Rembulung dan Pupus Rembulung

tidak mau berterus-terang.”

“Jika benar Ki Gede Lenglengan itu ada di rumah Repak

Rembulung, maka Ki Pananggungan benar-benar harus berhatihati

sekali. Ki Gede Lenglengan itu memang gila.”

Paksi mengangguk-angguk. Meskipun agak ragu iapun

berkata, “Sebaiknya kita minta agar kita diperbolehkan

mengikutinya.”

“Ki Pananggungan tentu tidak akan menyetujuinya.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam.

Sejenak keduanya saling berdiam diri tenggelam di dalam

angan-angan mereka masing-masing.

Namun Paksilah yang kemudian bangkit berdiri sambil

berkata, “Aku akan mengisi jambangan di pakiwan.”

“He,” Wijangpun bangkit pula, “biar aku saja yang mengisi

jambangan.”

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”

“Kau kerjakan pekerjaan yang lain. Menyapu halaman atau

membelah kayu bakar.”

Wijang tidak menunggu jawaban Paksi. Iapun segera pergi ke

sumur untuk mengisi jambangan. Sementara Paksi masih hilirmudik

mencari sapu lidi. Ketika ia berada di rumah itu, maka

iapun mengerjakan apa saja untuk membantu meringankan

pekerjaan di rumah itu. Waktu itu di rumah itu masih ada

Kemuning dan Nyi Permati.

Ketika Paksi mendapatkan sapu lidi, maka kenangannya

kepada Kemuning terasa menjadi semakin tajam.

Namun ketika Paksi baru mulai menyapu halaman, maka

seorang remaja datang menghampirinya. Dengan agak ragu

remaja itupun berkata, “Biarlah aku saja yang menyapu

halaman.”

Paksi memandang anak itu sejenak. Ia mencoba mengingatingat,

apakah ia pernah mengenal anak itu sebelumnya.

Ternyata bahwa Paksi dapat mengenalinya. Sambil tersenyum

iapun berkata, “Bukankah kau Dukut anak yang tinggal di rumah

sebelah?”

Remaja itu mengangguk.

“Kau ingat kepadaku?”

“Ya.”

“Nah, jika kau ingat kepadaku, siapa namaku?”

“Paksi.”

“Tepat. Kakakku itu?”

“Wijang.”

“Bagus. Kaukah yang tadi menangkap kakap di belumbang di

kebun belakang?”

Anak itu mengangguk.

“Bagus. Kenapa kau tidak menegurku?”

Anak itu diam saja

Karena anak itu diam saja, maka Paksipun berkata,

“Sudahlah. Kau lakukan kerja yang lain. Selama aku di sini

beberapa waktu yang lalu, aku juga sering menyapu halaman.

Waktu itu kau tidak berada di rumah ini. Tetapi kau sering

bermain-main di sini.”

Anak itu masih berdiri termangu-mangu, sehingga Paksipun

berkata sekali lagi, “Dukut, kau ambil sapu yang lain, kemudian

menyapu halaman samping.”

Dukut itu mengangguk. Kemudian iapun pergi meninggalkan

Paksi.

Sementara itu, Ki Pananggungan yang melihat Wijang mengisi

jambangan pakiwan, dengan tergesa-gesa mendapatkannya.

Katanya gagap, “Sudahlah, Pangeran. Biarlah nanti hamba yang

mengisi pakiwan atau pembantu-pembantu hamba, sebentar lagi

mereka akan pulang dari sawah.”

“Ki Pananggungan agaknya lupa, siapa namaku.”

“Baik, baik. Tetapi jangan menimba air untuk mengisi

pakiwan.”

“Bukankah aku pernah melakukannya?”

“Tetapi sekarang tidak perlu lagi, Pangeran. Eh, Wijang.”

Wijang tersenyum. Katanya, “Sudahlah. Aku juga perlu

bergerak agar urat-urat darahku tidak membeku.”

“Tetapi tidak dengan menimba air untuk mengisi jambangan

seperti ini.”

Wijang bahkan tertawa. Tetapi ia masih saja menarik senggot

timba untuk menaikkan air dari sumur.

Ki Pananggunganpun akhirnya harus mengalah. Wijang tidak

mau berhenti menimba air.

“Silahkan Ki Pananggungan meninggalkan aku di sini. Nanti

jika jambangan itu sudah penuh, serta aku sudah mandi, aku

akan kembali ke gandok.”

Ki Pananggungan terpaksa meninggalkan Wijang yang masih

sibuk mengisi jambangan di pakiwan.

Ketika Ki Pananggungan masuk ke dapur lewat pintu butulan,

Nyi Pananggungan yang berada di dapur pun bertanya, “Ada apa,

Kakang? Nampaknya kau gelisah.”

“Aku tidak sedang gelisah, Nyi. Tetapi rasanya tidak mapan

jika tamu-tamu kita harus menimba air sendiri.”

Nyi Pananggungan tersenyum. Katanya, “Biar saja, Kakang.

Bukankah ia selalu melakukannya beberapa waktu yang lalu

ketika mereka berada di sini. Paksi sekarang juga sedang

menyapu halaman. Apa salahnya?”

Ki Pananggungan hanya dapat menarik nafas. Tetapi ia tidak

berkata apa-apa lagi.

Ketika Ki Pananggungan membuka pintu pringgitan, maka ia

memang melihat Paksi yang sedang sibuk menyapu halaman

depan.

Demikianlah Wijang dan Paksi berada di rumah itu seperti

mereka berada di rumah mereka sendiri. Sebagaimana

dilakukannya beberapa waktu sebelumnya. Mereka mengerjakan

apa yang dapat mereka kerjakan di rumah itu.

Ketika malam turun, maka keduanyapun dipersilahkan untuk

duduk di ruang dalam. Nyi Pananggungan sudah menyiapkan

makan malam bagi mereka.

“Marilah, Ngger,” Ki Pananggungan mempersilahkan, “makan

seadanya.”

Yang kemudian terhidang adalah nasi hangat, pepesan udang

dan sayur seperti yang dihidangkan siang tadi.

Setelah mereka selesai makan, maka Wijang dan Paksi tidak

segera pergi ke bilik yang telah disediakan bagi mereka. Tetapi

mereka masih berbincang dengan Ki Pananggungan dan Nyi

Pananggungan.

“Besok aku akan pergi ke rumah Rembulung,” berkata Ki

Pananggungan.

“Sebenarnya kami tidak ingin membuat Ki Pananggungan

menjadi sibuk. Bahkan jika Ki Pananggungan berkenan, biarlah

Ki Pananggungan memberikan sedikit petunjuk ke mana kami

harus pergi.”

“Tidak, Ngger. Tidak apa-apa. Aku juga ingin melihat

Kemuning. Rasa-rasanya aku sudah rindu kepadanya.”

“Kami hanya dapat mengucapkan terima kasih, Ki

Pananggungan. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu atas Ki

Pananggungan. Di jalan maupun di rumah orang tua Kemuning.”

“Orang tua Kemuning adalah adik Ki Pananggungan,” sahut

Nyi Pananggungan. “Tetapi tidak akan terjadi sesuatu di rumah

itu.”

Namun Paksipun kemudian berdesis, “Bagaimana menurut

pertimbangan Ki Pananggungan jika kami ikut bersama Ki

Pananggungan?”

Ki Pananggungan tersenyum sambil menggeleng, “Tidak

usaha, Ngger. Nanti akan dapat timbul salah paham.”

Paksi menarik nafas panjang. Namun ia tidak berkata apa-apa

lagi.

Ki Pananggunganlah yang kemudian berpesan, “Selama aku

pergi, aku titip rumah ini, Ngger. Jangan pergi ke mana-mana.”

“Kalau kami ikut pergi ke sawah?” bertanya Wijang.

“Tentu saja tidak apa-apa. Maksudku jangan pergi jauh atau

bahkan pergi dan tidak kembali lagi,” jawab Ki Pananggungan

sambil tertawa.

Demikianlah, beberapa saat mereka masih berbincang.

Namun kemudian Ki Pananggunganpun telah mempersilahkan

tamu-tamunya untuk beristirahat di bilik yang telah disediakan

kepada mereka di gandok.

Seperti yang direncanakan, pagi-pagi sekali Ki Pananggungan

sudah siap. Nyi Pananggungan telah menyediakan makan pagi,

sementara pembantunya yang tua telah menyiapkan kudanya.

Wijang dan Paksi juga sudah berada di halaman pula ketika Ki

Pananggungan siap untuk berangkat.

“Menurut Pupus Rembulung, rumahnya berada di dekat

sebuah belumbang yang tidak jauh dari sebatang pohon yang

besar, seperti pohon beringin tetapi mempunyai beberapa macam

bunga yang berbeda-beda. Ada yang menyebut lima macam, ada

yang mengatakan tujuh macam. Entahlah siapakah yang benar.

Tetapi aku juga belum pernah melihat pohon itu,” berkata Nyi

Pananggungan.

“Pohon Manca Warna. Mudah-mudahan dengan ancar-ancar

itu aku dapat menemukan rumah Rembulung.”

“Rembulung juga sering mandi di belumbang itu.”

Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan

berusaha menemukan mereka. Mungkin aku baru kembali dalam

dua atau tiga hari mendatang.”

“Hati-hati di jalan, Kakang.”

“Aku akan selalu berhati-hati.” Lalu katanya kepada Wijang

dan Paksi, “Titip rumahku, Ngger.”

Demikianlah, sejenak kemudian, maka Ki Pananggunganpun

telah melarikan kudanya menempuh perjalanan.

“Jika benar rumah Rembulung ada di dekat pohon Manca

Warna itu, maka sedikit lewat wayah pasar temawon, Kakang

Pananggungan sudah akan sampai, Ngger.”

Wijang menengadahkan wajahnya. Langit masih nampak

muram. Sementara itu, ayam-ayampun mulai turun dari

kandangnya.

Terdengar seekor induk ayam berkotek memanggil anakanaknya.

Sedang di sisi lain, seekor ayam jantan berkokok

dengan nada menantang. Kemudian mengepakkan sayapnya

beberapa kali.

Hari masih pagi. Namun bayangan fajar telah nampak di

langit yang bersih.

Ki Pananggunganpun melarikan kudanya semakin cepat.

Jalan-jalan masih nampak sepi. Tetapi di bulak panjang, Ki

Pananggungan telah mendahului sebuah pedati yang merayap

dengan malas ke pasar yang terletak tidak jauh di depan.

Meskipun pasar itu kecil saja, tetapi di hari pasaran, pasar itu

menjadi ramai sehingga para pedagang tidak tertampung

seluruhnya di dalam pasar. Beberapa penjual terpaksa berjualan

di luar dinding pasar.

Ketika Ki Pananggungan sampai di pasar itu, ia terpaksa

memperlambat jalan kudanya. Namun kemudian, kudanyapun

telah berlari lagi.

Ki Pananggungan melarikan kudanya ke arah timur di

sepanjang jalan di kaki Gunung Merapi. Kadang-kadang jalannya

menjadi sulit, sehingga perjalanan kuda itu terganggu. Bagaikan

siput yang merayap di bebatuan. Namun demikian ruas itu sudah

terlewatkan, maka kuda Ki Pananggungan itupun berlari lagi

dengan kencangnya.

Sekali-sekali jalan menanjak naik. Namun kemudian menukik

turun. Jika jalan menjadi datar, maka di sebelahnya terdapat

jurang yang cukup dalam.

Sementara itu, mataharipun memanjat langit semakin tinggi.

Panasnya mulai terasa menyengat kulit.

Ki Pananggungan sudah pernah pergi ke Jati Anom di sisi

sebelah timur kaki Gunung Merapi, melewati sendang di dekat

pohon Manca Warna itu.

Karena itu, maka tujuan pertama adalah sendang yang pernah

disebut-sebut oleh Nyi Pupus Rembulung.

Seperti yang diperhitungkan, maka sedikit lewat wayah pasar

temawon, Ki Pananggungan telah mendekati sendang di dekat

pohon Manca Warna itu.

Ki Pananggungan itupun menengadahkan wajahnya. Langit

masih saja nampak cerah. Matahari yang sudah menjadi semakin

tinggi, terasa sinarnya menjadi semakin menusuk.

Beberapa saat kemudian, Ki Pananggunganpun telah sampai

di sendang yang airnya nampak bening kehijau-hijauan.

Beberapa kelompok ikan wader pari berenang dengan riangnya.

Agaknya wader pari itu jarang sekali merasa terganggu hidupnya

di sendang yang airnya bening itu.

Di pinggir sendang terdapat beberapa buah batu besar yang

agaknya sering dipergunakan untuk mencuci pakaian.

Sedangkan luapan air sendang itu mengalir lewat sebuah

genangan yang agak dalam, turun ke dalam parit yang mengalir

ke bulak di sebelah belumbang itu. Genangan air itu setiap hari

dipergunakan untuk memandikan ternak sehabis bekerja keras di

sawah.

Ki Pananggungan membiarkan kudanya minum air yang

mengalir di parit yang menuju ke bulak. Airnya nampak jernih,

sehingga kerikil-kerikil kecil di dasar parit itupun nampak jelas.

Ki Pananggungan termangu-mangu sejenak. Sendang itu

nampak sepi. Mungkin orang-orang yang pergi ke sendang itu

sudah pulang. Mereka yang mencuci pakaiannya dan mereka

yang memandikan ternak di genangan air yang melimpah dari

sendang itu. Ki Pananggungan melangkah mondar-mandir di

dekat sendang itu. Setelah kudanya cukup banyak minum,

diikatnya kudanya itu pada sebatang pohon perdu yang tumbuh

di dekat sendang itu.

Di sekitar sendang itu, Ki Pananggungan melihat beberapa

batang pohon raksasa. Sebangsa pohon preh dan beringin. Tidak

terlalu jauh dari sendang itu terdapat sepasang pohon benda

yang sudah tua. Pohonnya yang menunjukkan ketuaannya itu

masih tetap berdiri kokoh menghunjam ke dalam bumi.

Agak jauh dari sendang itu, lamat-lamat dilihat sebatang

pohon yang disebut pohon Manca Warna itu.

Ki Pananggungan menarik nafas panjang.

Namun beberapa saat kemudian, Ki Pananggungan melihat

seseorang berjalan sambil memanggul bajaknya dan menggiring

sepasang lembu yang besar-besar.

Dibiarkannya orang itu meletakkan bajaknya, kemudian

melepas lembunya dan menggiringnya turun ke dalam air di

genangan air yang melimpah dari sendang itu.

Ki Pananggungan memandang orang itu dengan kerut di

keningnya. Sementara itu, orang yang kemudian memandikan

lembunya itu juga memandang Ki Pananggungan sekilas.

“Aku belum pernah melihat orang ini,” berkata orang yang

memandikan lembunya itu di dalam hatinya.

Sementara itu Ki Pananggungan justru telah mendekati orang

itu sambil bertanya, “Ki Sanak, bukankah pohon yang lamatlamat

nampak itu pohon Manca Warna?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian orang

itupun mengangguk, “Ya, Ki Sanak. Pohon itu disebut pohon

Manca Warna. Apakah Ki Sanak akan pergi ke pohon itu untuk

melihat nasib?”

“Nasib?”

“Ya. Siapa yang nasibnya baik di waktu mendatang, akan

dapat melihat bunga melati pada pohon Manca Warna itu. Tetapi

siapa yang melihat kembang bangah, maka nasibnya akan

menjadi buruk.”

“Tidak, Ki Sanak. Aku tidak akan pergi untuk melihat nasib

pada pohon Manca Warna itu.”

“O. Tentu setidak-tidaknya Ki Sanak akan dapat melihat

keajaiban alam.”

“Keajaiban apa?” bertanya Ki Pananggungan.

“Bukankah sangat ajaib jika sebatang pohon dapat

mempunyai berbagai macam bunga?”

“Bunga apa saja, Ki Sanak?”

“Tidak semua orang dapat melihat jenis-jenis bunga apa

pohon Manca Warna itu. Ada bunga randu, bunga belimbang

lingkir, bunga gayam dan banyak lagi.”

“Bunga melati itu?”

“Ya. Bunga melati.”

“Tetapi itu bukan satu keajaiban, Ki Sanak.”

“Bagaimana kau dapat mengatakan bahwa itu bukan satu

keajaiban?”

“Dahulu, Ki Sanak. Ketika pohon beringin itu mulai tumbuh,

maka bersamaan dengan itu tumbuh pula berbagai macam pohon

yang saling berdekatan. Akhirnya pohon-pohon itu saling

menyatu dibalut oleh sulur-sulur dan akar-akar beringin, maka

cabangnya pun mencuat dari batang yang nampaknya menjadi

satu itu.”

“Kau akan kualat, Ki Sanak.”

Ki Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Ia menyesal

bahwa ia telah menyinggung perasaan orang itu, sementara itu ia

membutuhkan pertolongannya untuk menunjukkan rumah

Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.

Namun akhirnya Ki Pananggungan itupun berkata, “Aku

minta maaf, Ki Sanak. Sebenarnyalah bahwa aku belum pernah

memperhatikan dengan sungguh-sungguh pohon Manca Warna

itu. Mungkin Ki Sanak benar, bahwa itu memang satu keajaiban.”

Orang itu mengerutkan dahinya. Namun ia tidak menjawab.

Perhatiannya segera beralih kepada lembunya yang akan

dimandikannya.

Tetapi sekali lagi orang itu berpaling kepada Ki Pananggungan

ketika Ki Pananggungan kemudian berkata, “Ki Sanak,

sebenarnya aku datang kemari untuk mencari adikku. Ia tinggal

tidak jauh dari sendang yang terletak di dekat pohon Manca

Warna. Kalau yang nampak itu pohon Manca Warna, maka tentu

sendang inilah yang dimaksud. Atau barangkali ada sendang lain

di dekat tempat ini?”

“Tidak, Ki Sanak. Ini adalah satu-satunya sendang di

lingkungan ini. Di belakang pohon benda yang besar itu juga ada

mata air yang terhitung deras. Tetapi di belakang pohon benda

itu tidak ada sendang. Airnya menggenang tidak seberapa banyak

karena airnya itu kemudian mengalir di dua batang parit yang

mengairi sawah di sisi yang lain dari padukuhan itu.”

“Kalau begitu, tentu sendang inilah yang dimaksud.”

Orang yang sedang memandikan lembunya itu menganggukangguk.

Namun kemudian iapun bertanya, “Siapakah yang Ki

Sanak cari?”

“Namanya Rembulung. Repak Rembulung. Sedangkan istrinya

dipanggil Pupus Rembulung.”

Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun

menggeleng. “Aku belum pernah mendengar namanya, Ki Sanak.

Aku lahir, besar dan tua di padukuhan ini. Aku mengenal banyak

orang. Penghuni padukuhan ini semuanya aku kenal. Penghuni

padukuhan tetangga pun banyak pula yang aku kenal. Tetapi

nama itu aku belum pernah mendengarnya.”

“Ki Sanak, Repak Rembulung dan Pupus Rembulung belum

terlalu lama tinggal di sini. Ia orang baru. Sementara itu, akhirakhir

ini di rumahnya telah berdatangan beberapa orang tamu.”

Orang itu masih mengingat-ingat. Sementara Ki

Pananggunganpun berkata, “Mungkin Ki Sanak melihat rumah

yang nampak terlalu banyak penghuninya atau kadang-kadang

jika sedang memandikan lembunya melihat satu dua orang gadis

yang mencuci pakaian terlalu banyak.”

Orang itu tiba-tiba saja mengangguk-angguk. Katanya, “Ki

Sanak, mungkin yang kau maksud itu adalah sepasang suamiistri

yang tinggal di tempat terpencil itu. Di bekas sebuah

pategalan yang dibelinya dari penghuni padukuhan ini. Sepasang

suami-istri itu membangun sebuah rumah yang terhitung besar.

Karena rumah itu terletak di bekas pategalan, maka rumah itu

seakan-akan menjadi terpencil, sehingga pergaulan penghuninya

menjadi tersisih pula. Tetapi bukan maksud kami untuk

menyisihkan penghuni rumah itu. Jika berpapasan dengan kami,

merekapun mengangguk hormat pula sebagaimana kami lakukan

terhadap mereka.”

“Mungkin, Ki Sanak. Memang mungkin sekali. Di manakah

letaknya pategalan itu?”

“Di sebelah padukuhan ini, di antara sebuah sungai kecil yang

agak curam.”

“Apakah aku dapat pergi ke sana dengan naik seekor kuda?”

“Dapat saja, Ki Sanak. Tetapi dengan sedikit melingkar. Ki

Sanak harus melalui ujung padukuhan ini. Di sebelahnya

terdapat sebuah jembatan bambu. Ki Sanak dapat meniti

jembatan itu. Jembatan itu cukup kuat.”

“Terima kasih, Ki Sanak. Aku akan melihat penghuni rumah

yang terpencil itu. Mudah-mudahan penghuni rumah itu yang

aku cari. Jika tidak pun tidak mengapa.”

“Silahkan, Ki Sanak. Mudah-mudahan merekalah yang kau

cari.”

Ki Pananggunganpun kemudian minta diri. Sekali lagi ia

mengucapkan terima kasih.

Sejenak kemudian, maka Ki Pananggunganpun telah

menyusuri jalan padukuhan. Seperti petunjuk orang yang sedang

memandikan lembunya itu, maka di ujung padukuhan Ki

Pananggungan pun telah menyeberang sungai lewat sebuah

jembatan bambu.

Ketika Ki Pananggungan menengadahkan wajahnya, maka

dilihatnya matahari telah sampai ke puncaknya.

Dengan jantung yang berdebaran, Ki Pananggungan

membelokkan kudanya mengikuti jalan yang tidak terlalu lebar

menuju ke sebuah rumah yang terletak di bekas sebuah

pategalan.

Namun ketika Ki Pananggungan itu mendekati regol, maka

dilihatnya seseorang berdiri di pinggir jalan sambil

memandanginya dengan tajamnya.

“Ki Sanak,” sapa orang itu ketika Ki Pananggungan melintas di

depannya.

Ki Pananggunganpun menghentikan kudanya. Bahkan Ki

Pananggungan itu meloncat turun.

“Kau akan pergi ke mana Ki Sanak?” bertanya orang itu.

“Aku akan pergi ke rumah itu, Ki Sanak,” jawab Ki

Pananggungan.

“Siapakah yang kau cari?”

“Aku mencari Repak Rembulung atau Pupus Rembulung.”

“Kau siapa?”

“Aku kakak Repak Rembulung.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja dari

kejauhan terdengar seseorang menyebut nama Ki Pananggungan.

“Kakang Pananggungan?”

Ki Pananggungan berpaling. Dilihatnya Repak Rembulung

berdiri di pintu regol halaman rumah di bekas pategalan itu.

“Kau, Repak Rembulung?”

“Marilah, Kakang.”

Ki Pananggungan itupun kemudian menuntun kudanya

memasuki regol halaman rumah, yang ternyata benar, rumah

Repak Rembulung.

Sambil melangkah menyeberangi halaman, Repak Rembulung

itupun bertanya, “Dari mana Kakang tahu, bahwa aku tinggal di

sini?”

“Bukankah kau meskipun tidak langsung pernah mengatakan

kepadaku?”

“Kapan?” bertanya Repak Rembulung sambil mengerutkan

dahinya. Bahkan langkahnya pun terhenti di tengah-tengah

halaman.

“Apakah kau sudah lupa? Kau tinggal di sebuah padukuhan

dekat sebuah sendang yang airnya bening dan tidak kering di

segala musim. Sendang itu berada dekat dengan pohon seperti

pohon beringin, tetapi mempunyai berbagai jenis bunga.”

“Aku pernah mengatakan begitu?”

“Ya. Dan kau juga mengatakan bahwa kau sering mandi di

sendang itu pula.”

“Kakang, aku tidak pernah mandi di sendang itu.”

“Kau sendiri yang mengatakannya. Apakah kau benar-benar

mandi, atau sekedar membual, aku tidak tahu.”

Repak Rembulung masih mengingat-ingat. Iapun kemudian

bergumam, “Aku tidak ingat lagi, bahwa aku pernah

mengatakannya kepada Kakang.”

“Jika kau tidak mengatakan kepadaku, dari siapa aku tahu

bahwa kau tinggal di sini?”

Repak Rembulung tidak menjawab.

“Repak Rembulung, umurku lebih tua dari umurmu. Tetapi

kau sudah hampir menjadi pikun. Sementara itu ingatanku

masih tetap jernih.”

“Mungkin, Kakang. Mungkin aku sudah hampir menjadi

pikun.” Repak Rembulung itupun mengangguk-angguk. Namun

kemudian iapun berkata, “Mari. Marilah, Kakang. Aku

persilahkan Kakang naik.”

Keduanyapun melangkah lagi ke pendapa rumah Repak

Rembulung yang terhitung besar. Di belakang pendapa yang

berbentuk joglo, terdapat dua wuwung bangunan limasan. Di

belakangnya terdapat sebuah longkangan yang berhubungan

dengan longkangan samping, di belakang seketeng. Kemudian

masih ada lagi bangunan limasan satu wuwung lagi. Di sebelah

menyebelah terdapat gandok yang memanjang sampai ke

belakang.

Ketika Ki Pananggungan itu sudah duduk di pendapa, maka

Repak Rembulungpun berkata, “Silahkan duduk, Kakang. Aku

beritahu Pupus Rembulung.”

Ki Pananggungan mengangguk. Katanya, “Juga beritahu

anakmu. Sebenarnyalah aku rindu pada Kemuning setelah

beberapa bulan aku tidak melihatnya.”

Repak Rembulung tersenyum. Katanya, “Baik, Kakang. Aku

beritahu Kemuning dan Nyi Permati juga.”

Sejenak kemudian, Ki Repak Rembulungpun hilang di balik

pintu masuk ke ruang dalam.

Ki Pananggunganpun kemudian duduk sendiri di pendapa. Ia

sempat mengamati keadaan di sekitarnya. Keningnya berkerut

ketika ia melihat dua orang anak muda melintas, kemudian

masuk ke sebuah pintu bilik di gandok sebelah kanan.

“Agaknya mereka yang disebut sanak kadang Pupus

Rembulung dari padukuhan di pinggir Kali Praga,” berkata Ki

Pananggungan di dalam hati. Kemudian iapun bertanya kepada

diri sendiri, “Tetapi apakah yang dikatakan Pangeran Benawa dan

Angger Paksi itu benar, bahwa anak-anak muda itu adalah jalur

Harya Wisaka bagi masa mendatang? Jika demikian, maka

mereka tentu bukan orang-orang dari padukuhan di dekat Kali

Praga.”

Jantung Ki Pananggungan berdesir ketika ia melihat

Kemuning di halaman rumah itu berjalan bersama seorang anak

muda yang berwajah tampan. Nampaknya hubungan mereka

begitu dekat. Ki Pananggungan melihat Kemuning itu tertawa

sambi mencubit lengan anak muda itu. Namun kemudian

Kemuningpun berlari masuk ke pintu seketeng.

Hampir saja Ki Pananggungan berteriak memanggil. Tetapi Ki

Pananggungan masih menahan diri, sehingga suaranya kembali

tertelan di kerongkongan.

Namun tiba-tiba saja terasa punggungnya menjadi basah oleh

keringat.

“Siapakah anak muda itu?” bertanya Ki Pananggungan di

dalam hatinya.

Di luar sadarnya, Ki Pananggungan itupun mulai

membayangkan hubungan antara Kemuning dengan anak muda

yang tampan itu. Mereka telah berkenalan dan tinggal serumah.

Setiap hari mereka bertemu, berbincang dan barangkali juga

bergurau.

Ki Pananggungan itupun telah teringat pula kepada Paksi.

Agaknya anak muda itu sifatnya berbeda dengan Paksi yang lebih

banyak mengekang diri. Tetapi agaknya anak muda itu tidak.

Dengan demikian tanggapan Kemuningpun berbeda. Agaknya

Kemuning merasa lebih bebas berhubungan dengan anak muda

itu daripada dengan Paksi yang nampak selalu bersungguhsungguh.

Ki Pananggungan melihat anak muda itu selangkah mengejar

Kemuning. Namun demikian Kemuning hilang di balik pintu

seketeng, anak muda yang masih tertawa itu berhenti. Bahkan

iapun berbalik melangkah ke gandok.

Ki Pananggungan itupun menarik nafas dalam-dalam. Namun

kemudian iapun berkata di dalam hatinya, “Di rumah ini ada

Repak Rembulung, ada Pupus Rembulung yang menurut

pengamatanku dapat menjadi ayah dan ibu yang baik di rumah.

Mudah-mudahan mereka sempat menilik pergaulan anak

gadisnya yang sudah meningkat dewasa itu. Bahkan di rumah ini

juga ada Nyi Permati. Justru ibu kandung Kemuning. Nyi Permati

yang menjadi pemomong Kemuning itu tentu akan dapat memberi

petunjuk jalan kehidupan bagi seorang yang meningkat menjadi

seorang gadis dewasa.”

Tetapi angan-angan Ki Pananggungan itu terputus. Dengan

tergopoh-gopoh seorang perempuan keluar dari ruang dalam.

Dengan ramah perempuan itu menyapa, “Kakang, selamat datang

di rumah kami yang sederhana ini, Kakang.”

Ki Pananggunganpun bangkit berdiri. Pupus Rembulung dan

Repak Rembulung kemudian diikuti oleh Nyi Permati yang

menyambutnya dengan mata yang basah.

“Silahkan duduk, Kakang,” Pupus Rembulung

mempersilahkan.

Ki Pananggunganpun kemudian duduk kembali bersama

Repak Rembulung, Pupus Rembulung dan Nyi Permati.

Berganti-ganti mereka bertanya tentang keselamatan

perjalanan Ki Pananggungan serta keluarga yang ditinggalkan.

“Mbokayu tinggal sendiri di rumah, Kakang?”

“Ada beberapa orang yang menemaninya di rumah, Nyi.

Seorang yang meskipun sudah agak tua, tetapi masih kuat untuk

menimba air mengisi pakiwan. Seorang remaja anak tetangga.

Dan seorang perempuan yang sudah lama tinggal bersama kami.”

“Kenapa Mbokayu tidak datang kemari bersama Kakang?”

“Bukankah baru kali ini aku menemukan rumahmu? Jika aku

mengajak mbokayumu, tetapi kami tidak menemukan rumahmu,

maka perjalanan mbokayumu akan sia-sia.”

Pupus Rembulung tertawa. Sementara Ki Repak Rembulung

bertanya, “Maaf, Kakang, bukankah Kakang tidak membawa

persoalan yang penting yang akan Kakang sampaikan kepada

kami?”

“Ah,” potong Pupus Rembulung, “kenapa kau tergesa-gesa

bertanya tentang kepentingan kedatangan Kakang

Pananggungan. Kakang tentu letih. Biarlah Kakang beristirahat.

Kakang Pananggungan tentu tidak akan tergesa-gesa pulang.

Kakang tentu akan bermalam, bahkan mungkin dua atau tiga

malam.”

--􀂔􀁄􀂔--

[ jilid 39 - 40 menyusul , tamat ]