Jilid : 1
PERJALANAN itu sudah
menjadi semakin jauh. Malampun menjadi larut. Embun mulai terasa membasahi
kulit.
Ketika Paksi Pamekas
berpaling, yang nampak hanyalah kegelapan. Hitam pekat.
Paksi Pamekas tidak tahu,
kemana ia harus pergi. Tetapi ia harus pergi meniggalkan rumahnya.
Meninggalkan ibunya dan
dua orang adiknya. Seorang laki-laki dan seorang perempuan.
Masih terngiang perintah
ayahnya yang memandangnya dengan mata membara”Kau sudah menjadi seorang
laki-laki dewasa. Kau tidak boleh hanya berpangku tangan saja dirumah, sementara
keluarga ini terancam bencana.
Paksi Pamekas menarik
nafas dalam-dalam. Kakinya terantuk batu padas sehingga langkahnya menjadi
gontai.
Paksi berhenti sejenak.
Pepohonan yang tegak membeku disekelilingnya seakan-akan merubunginya. Gem-risik
angin di dedaunan bagaikan melontarkan pertanyaan lembut ”Kau akan pergi ke mana
anak muda?”
Paksi kemudian bahkan
duduk diatas batu padas dipinggir jalan yang menjadi kian sempit dan rumpil.
Terngiang suara ibunya
”Kakang Tumenggung. Paksi masih terlalu muda untuk melakukan tugas yang begitu
berat.”
“Kau selalu memanjakannya
” bentak ayahnya ”umurnya sudah menginjak tujuhbelas tahun.
Apakah ia masih harus
tidur dibawah lengan ibunya?”
“Kau sengaja mengusirnya”
ibunya mulai menangis.
“Sudah waktunya ia
menunjukkan baktinya kepada orang tuanya” ayahnya menjadi semakin keras.
Ibunya menjadi terisak.
Tetapi ayahnya tidak menjadi semakin lembut. Bahkan kata-katanya menjadi semakin
tajam ”Aku tidak ingin mempunyai anak yang hanya dapat merengek, merajuk dan
bahkan menangis. Ia harus benar-benar menjadi seorang laki-laki. Adiknya pada
saatnya juga harus menjadi laki-laki sejati. Se-bagaimanaanakmu yang bungsu juga
harus menjadi perempuan panutan. Aku seorang Tumenggung. Seorang Pandhega dalam
tatanan keprajuritan. Apakah anakku harus menjadi anak yang cengeng, sementara
ayahnya berada dalam kesulitan?”
Paksi mengusap keningnya
yang basah oleh keringat. Ia memang sudah menjadi semakin dewasa. Umurnya sudah
menginjak tujuhbelas tahun Tetapi kawan-kawannya, yang sebaya dengan umurnya,
masih sempat bermain bengkat. Binten atau bergulat di tepian.
Paksi terkejut ketika ia
mendengar ranting yang berderak patah. Seekor burung malam mengepakkan sayapnya
dan terbang menyusuri kegelapan. Yang tertinggal adalah suaranya yang melengking
.menggores sepinya malam.
Terbayang kembali, ibunya
menangis memeluknya ketika ia keluar dari pintu rumahnya, pergi tanpa diketahui
kemana?
Paksi Pamekaspun tidak
tahu, apakah yang sebenarnya harus dilakukan.
Yang ia ketahui adalah,
bahwa ayahnya telah mengeluh karena kedudukannya yang terancam.
Diam-diam di istana
Pajang telah tersebar desas-desus bahwa cincin kerajaan telah hilang. Sebuah
cincin yang dianggap sebagai sipat kandel dari Kangjeng Sultan Hadiwijaya di
Pajang, disamping pusaka-pusakanya yang lain.
Cincin yang terbuat dari
emas dan bermata tiga buah batu akik yang berbeda. Cincin yang dibuat tidak
sebagaimana cincin yang lain. Cincin biasanya merupakan em-banan dari satu batu
akik saja. Tetapi cincin yang hilang itu adalah cincin yang bermata tiga buah
batu akik. Cincin yang disebut Kiai Tunggul.
“Siapa yang dapat
menemukan cincin itu akan diangkat menjadi Tumenggung Wreda dan akan diangkat
pula menjadi penanggung jawab pengamanan seluruh istana Pajang dan akan berada
langsung dibawah perintah Ki Gede Pemanahan.”
Paksi belum pernah
melihat cincin itu. Paksi juga tidak tahu apakah sebenarnya yang disebut bencana
oleh ayahnya. Bencana yang mengancam keluarganya karena hilangnya cincin itu.
“Apakah ayah menjadi
cemas bahwa kedudukannya terancam jika ia tidak dapat menemukan cincin itu?”
bertanya Paksi didalam hatinya.
Menurut ayahnya, para
Tumenggung juga sudah menyebarkan orang-orangnya untuk mencari cincin itu.
Sementara itu ayahnya juga sudah memerintahkan tiga orang yang dianggap abdinya
yang setia untuk mencarinya. Tetapi disamping ketiga orang abdinya, maka Paksi
juga harus pergi mencari cincin yang belum pernah dilihatnya itu.
“Apakah ada juga diantara
para Tumenggung yang memerintahkan anaknya pergi sebagaimana ayah?” pertanyaan
itu selalu mengganggunya.
Tetapi Paksi sadar, bahwa
ia memang tidak boleh cengeng. Ia tidak boleh mengeluh apalagi menangis. Tetapi
ia harus berbuat sesuatu. Apapun juga.
Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Dalam kegelapan Paksi sampat menilai sikap ayahnya kepadanya. Ia
memang bukan seorang anak yang disejukkan oleh kasih sayang ayahnya yang keras.
Diantara kawan-kawannya,
Paksi termasuk anak muda yang kuat. Ketika ia bermain binten dengan anak-anak
muda sebayanya, Paksi pernah membuat seorang kawannya tidak dapat berjalan
sampai tiga hari. Bergulat di pasir tepian, Paksipun menjadi anak muda yang
disegani.
Tetapi sayang, bahwa
kesempatan bermain bagi Paksi sangat sempit dibanding dengan kawan kawannya.
Kini Pksi Pamekas harus
meninggalkan semuanya itu. Rasa-rasanya segalanya begitu cepat berlalu. Ia
merasa masih belum cukup puas berkumpul bersama keluarganya, bermain bersama
kawan-kawannya dan sedikit bermanja-manja dirumah yangberhalaman luas dan
terawat bersih oleh bekas tangan ibunya.
Burung hantu terdengar
berlagu didalam kegelapan. Suaranya ngelangut membuai malam menjadi semakin
terasa sendu.
Paksi tidak duduk terlalu
lama. Iapun kemudian segera bangkit dan meneruskan perjalanan menuju ketem-pat
yang tidak diketahinya.
Malampun menjadi semakin
malam. Dinginnya terasa menggigit tulang.
Sambil berjalan Paksi
menyelimuti tubuhnya dengan kain panjangnya. Ia sengaja tidak membawa apapun.
Jika pakaiannya kotor, ia dapat mencucinya dan sekaligus menjemurnya diatas
bebatuan disungai, sehingga akan cepat menjadi kering. Jika pakaian itu kemudian
rusak dan koyak, maka ia dapat membelinya. Ibunya memberinya bekal uang cukup
banyak, serta beberapa buah perhiasan simpanannya. Jika keadaan memaksa, maka ia
dapat menjualnya dan mempergunakan uangnya.
Paksi melangkah saja
menuruti langkah kakinya. Yang dilakukannya adalah sekedar menjauhi Pajang tanpa
tujuan, tanpa rencana dan tanpa tahu apa yang akan dilakukan.
Namun akhirnya Paksi
itupun menjadi letih. Ketika ia memasuki sebuah padukuhan, maka beberapa orang
yang merondapun menghentikannya.
“Siapa kau?” bertanya
salah seorang dari mereka.
“Namaku Paksi Pamekas”
jawabnya.
“Kau akan pergi kemana
atau pergi darimana?”
Paksi menjadi bingung.
Tetapi ia tidak ingin mengatakan apa yang sebenarnya harus dilakukannya. Karena
itu, maka jawabnya ”Aku adalah seorang pengembara. Aku mengembara dari satu
tempat ketempat yang lain untuk mendapatkan pengalaman.”
“Dimana kau tinggal?”
bertanya yang lain. Paksi menjadi semakin bingung. Tetapi karena ia harus
menjawab, maka iapun menjawab pula. Yang mula-mula diingatnya adalah rumah
neneknya yang memang
"Kau akan pergi ke mana
atau pergi darimana?” Paksi menjadi bingung. Tetapi ia tidak ingin menyatakan
apa yang sebenarnya harus dilakukannya. Karena itu maka jawabnya:”Aku adalah
seorang pengembara. Aku mengembara dan satu tempat ketempat..........” agak jauh
dari Pajang.
Orang tua ibunya itu
semasa hidup-nya tinggal di sebuah padukuhan yang tenang dan tenteram.
Paksi pernah tinggal
beberapa lama dirumah. neneknya. Ketika kakeknya meninggal ia menunggui neneknya
sampai beberapa bulan. Namun menjelang setahun, neneknya telah meninggal pula.
“Aku anak Banyuanyar”
jawab Paksi.
Para peronda itu
mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata ”Perjalananmu belum begitu
jauh jika kau memang seorang pengembara.”
“Aku baru mulai Ki
Sanak.” jawab Paksi ”orang tuaku telah tidak ada lagi. Aku tidak mempunyai
pilihan lain. Sementara itu, aku berharap bahwa aku akan mendapat pengalaman
dari pengembaraanku ini.”
“Apakah kau tahu, dimana
kau berada sekarang?” bertanya salah seorang diantara para peronda itu.
“Tidak” jawab Paksi.
“Kau masih berada
disekitar Pajang. Kau sekarang berada di padukuhan Dresanan.”
Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Ia sudah berjalan sepanjang hari. Tetapi orang itu mengatakan bahwa
ia masih berada disekitar Pajang.
Tetapi Paksi tidak
menjawab selain mengangguk-angguk kecil.
“Apakah kau ingin
beristirahat?” bertanya salah seorang peronda itu.
Paksi mengangguk.
“Baiklah” berkata orang
itu ”marilah, aku antar kau ke banjar, kau dapat tidur di banjar. Besok pagi kau
dapat meneruskan pengembaraanmu.” “Terima kasih, paman” jawab Paksi. Orang itu
meskipun masih nampak muda, tetapi ia tentu bukan anak muda lagi. Wajahnya
nampak bersih dan setiap kali giginya nampak disela-sela bibirnya jika ia
tertawa.
Paksi diantar oleh orang
itu ke banjar. Diserahkan nya Paksi kepada penunggu banjar, yang tinggal di
bagian belakang banjar yang nampak bersih dan terawat itu. Penunggu banjar itu
ternyata orang yang sangat baik. Ia menerima Paksi dengan senang hati. Bahkan
nasi yang masih terdapat digeledeg bambunya dengan sepotong pepes udang dan
sambal terasi telah diberikannya pula kepada Paksi. “Aku tidak mempunyai seorang
anakpun sampai isteriku meninggal” berkata penunggu banjar itu. Paksi mengangguk
kecil. Sementara orang itu bertanya ”Siapa namamu?” Paksi memang tidak ingin
menyembunyikan namanya.
Karena itu, maka iapun
menjawab ”Namaku Paksi, paman.” Kepada penunggu banjar itu, Paksi menceriterakan
bahwa dirinya adalah seorang pengembara sebagaimana dikatakannya kepada para
peronda. “Kenapa hal itu kau lakukan, ngger. Apakah kau tidak mempunyai sanak
kadang lainnya, sehingga kau harus pergi mengembara?” “Tidak paman. Aku sudah
tidak mempunyai sanak kadang.” “Paksi” berkata penunggu banjar itu ”mumpung kau
belum terlalu jauh pergi meninggalkan kampung halamanmu. Apakah kau mau tinggal
disini saja bersamaku?”
Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya ”Maaf, paman. Sudah bulat tekadku, bahwa aku akan pergi
mengembara. Mungkin aku akan mendapatkan pengalaman yang dapat aku pergunakan
sebagai bekal hidupku kelak.”
“Tetapi apakah yang kau harapkan dari
sebuah pengembaraan? Menempa diri atau kesempatan melihat dinding cakrawala yang
tidak akan pernah dapat disentuh? Jika kau tinggal, Paksi, maka kau dapat
memperdalam ilmu dan menimba pengetahuan. Bekal yang lebih nyata bagi masa
depanmu dari sekedar pengalaman menempuh perjalanan panjang.”
Paksi tidak dapat
mengatakan, apa sebenarnya yang sedang dilakukannya itu. Juga ketidaktahuannya
tentang arah perjalanan yang tidak diketahuinya. Yang dapat dikatakannya adalah
sebuah perjalanan kembara tanpa tujuan. Penunggu banjar itu tidak dapat berbuat
lebih banyak daripada berharap. Tetapi Paksi Pamekas tidak dapat memenuhinya.
Malam itu Paksi bermalam disebuah banjar padukuhan. Dihari pertama dari per
jalannya yang tidak diketahuinya sampai kapan itu, telah ditemuinya orang-orang
yang berbaik hati.
Tetapi ketika ia
berangkat dari rumah, ibunya telah berpesan kepadanya, bahwa ada seribu sifat
dan watak manusia di muka bumi ini. Ada yang baik, agak baik, ada yang dengki
dan iri dan ada pula yang jahat. Terngiang kembali pesan ibunya ”Paksi. Ada
orang yang sikap lahiriahnya sangat baik. Tetapi sebenarnya dihatinya tumbuh
bulu serigala. Bahkan menjadi hunian iblis yang paling jahat.” Pesan ibunya itu
telah membuat Paksi menjadi berhati-hati. Meskipun demikian, ia tidak mencurigai
setiap orang dengan berlebihan. Ketika Paksi kemudian berbaring di pembaringan,
di sebuah ruangan yang dibuat diserambi belakang banjar padukuhan Dresanan itu,
ia kembali membayangkan masa lampaunya yang memang tidak begitu terang.
Kadang-kadang ia tidak
mengerti maksud ayahnya yang tiba-tiba saja marah kepadanya. Bahkan
kadang-kadang memukulnya. Jika ibunya mencoba menjelaskan persoalannya, maka
ayahnya itupun segera marah pula kepada ibunya. Tetapi ibunya selalu berkata
”Ayahmu seorang prajurit Paksi. Ia terbiasa bersikap keras. Karena itu,
diru-mahpun ia bersikap keras pula.”
Meskipun demikian, ada juga segi
yangbaikdari sifat keras ayahnya itu. Bersama beberapa orang anak Tumenggung,
Rangga dan perwira lainnya, ia berguru kepada seorang bekas prajurit yang
memiliki ilmu yang tinggi. Ternyata Paksi Pamekas merupakan seorang murid yang
sangat baik. Ia terhitung satu diantara beberapa orang murid yang terbaik.
Anehnya, ayahnya tidak
pernah mengakui kemampuannya itu. Setiap kali ayahnya menuntut agar ia berbuat
lebih baik dan lebih baik. Namun ternyata Paksi dapat memenuhinya. Ia memang
semakin lama menjadi semakin baik dan semakin menarik hati gurunya. Bahkan
ketika gurunya mengetahui latar belakang kehidupannya serta hubungannya dengan
ayahnya yang kurang manis, maka perhatian gurunya menjadi semakin melimpah. “Kau
akan menjadi anak terbaik yang pernah aku kenal” berkata gurunya. Paksi memang
tidak mengecewakan gurunya.
Tetapi kemampuannya itu
telah menjeratnya, untuk menjalankan tugas yang sangat berat. “Kau sudah berumur
tujuhbelas tahun.” terngiang kata-kata ayahnya. “Tujuh belas. Tujuh belas. Ya,
aku memang sudah berumur tujuh belas tahun” berkata Paksi didalam hatinya
”Tetapi apakah kawan-kawanku yang seumur tujuh belas tahun juga harus menjalani
tugas seperti ini?” Paksi menarik nafas dalam-dalam, iapun kemudian menghibur
dirinya sendiri ”Ternyata aku dapat membanggakan diriku seandainya aku adalah
satu-satunyaanak muda yang berumur tujuh belas tahun yang bertugas menjalani
kuwajiban seperti ini.” Namun akhirnya Paksipun tertidur.
Tetapi tidak terlalu
lama, karena sisa malam memang tidak cukup panjang lagi. Pagi-pagi sekali Paksi
telah bangun sebagaimana kebiasaannya. Tetapi di banjar itu ia tidak dapat
langsung melakukan latihan-latihan yang berat seperti yang dilakukan di
rumahnya. Atau pergi kesungai dan bergulat dengan beberapa orang kawannya untuk
melengkapi latihan-latihan ketahanan tubuhnya. Atau binten sehingga kakinya
sering menjadi bengkak. Atau bengkat, meskipun permainan itu dilakukan dengan
kakinya, tetapi permainan itu mampu meningkatkan kemampuan bidiknya.
Tetapi pagi itu Paksi
sudah berada di sumur menimba air untuk mengisi paki wan, sebelum Paksi mandi.
Tetapi demikian ia selesai mandi, maka pakiwan itu sudah diisinya kembali hingga
penuh. “Anak itu rajin sekali” berkata penunggu banjar itu didalam hatinya.
Tetapi seperti para peronda yang digardu, bahkan yang mengantarnya ke banjar,
tidak seorangpun yang menduga, bahwa anak itu adalah anak seorang Tumenggung.
Ketika kemudian Paksi minta diri untuk meneruskan perjalanannya, maka penunggu
banjar itu telah menyediakan makan pagi baginya.
Paksi sempat menilai
sikap penunggu banjar itu. Jika saja ia mempunyai anak, alangkah berbahagianya
anak itu. Ia akan mempunyai seorang ayah yang baik. Tetapi ketika matahari mulai
nampak dilangit, Paksi sudah meninggalkan banjar itu. Setelah mengucapkan terima
kasih, maka Paksipun melangkah meninggalkan regol banjar yang memberikan kesan
betapa bersahabatnya orang-orang asing yang memerlukan bantuan mereka.
Paksi yang melangkah
dihangatnya sinar matahari pagi itu merasakan tubuhnya menjadi segar. Mandi air
dingin, makan pagi serta minuman hangat, matahari dan langit cerah, mengantar
perjalanan Paksi selanjutnya. Tetapi hari itu rasa-rasanya menjadi kosong tanpa
arti selain satu perjalanan mengulur jarak. Ia memang menjadi semakin jauh dari
Pajang.
Tetapi untuk apa? Paksi
Pamekas menggelengkan kepalanya. Diluar sadarnya ia bergumam ”Aku tidak tahu.”
Tetapi Paksi berjalan terus.
Menjelang sore hari,
Paksi sempat singgah disebuah kedai kecil disudut sebuah padukuhan. Meskipun
jenis makan dan minuman yang ada tidak sesuai dengan seleranya, tetapi Paksi
tidak menghiraukannya lagi. Ia sadar, bahwa didalam pengembaraannya, ia tidak
dapat memilih. Makan, minum, tempat untuk tidur dan masih banyak masalah-masalah
lain yang tidak sesuai dngan keinginan dan pilihannya, tetapi harus diterima apa
adanya. Beberapa saat lamanya, Paksi beristirahat sambil meneguk minumannya.
Beberapa orang yang duduk di-kedai itu sudah berganti dengan orang-orang baru.
Setelah membayar harga makanan dan minumannya, maka Paksipun kemudian telah
melanjutkan perjalanannya.
Menjelang malam, Paksi
memasuki sebuah padukuhan. Lampu-lampu minyak sudah mulai menyala. Di Beberapa
regol halaman ada yang telah memasang oncor, menerangi jalan-jalan padukuhan.
Tetapi padukuhan itu nampak sepi. Pintu-pintu telah tertutup rapat. Bahkan
pintu-pintu regolpun telah tertutup. Ketika Paksi lewat didepan gardu disimpang
ampat jalan padukuhan, ia tidak melihat seorangpun berada didalam gardu itu.
“Suasananya berbeda dengan suasana di
padukuhan Dresana.”berkata Paksi didalam hatinya. Justru karena itu, maka Paksi
tidak ingin bermalam di banjar padukuhan itu. Apalagi ketika ia berjalan di
jalan induk padukuhan itu dan lewat didepan banjar, banjar padukuhan itu nampak
sepi. Balkan pintu regolnya-pun tertutup pula. Paksi berjalan terus. Ia tidak
akan bermalam di padukuhan itu. Tetapi demikian ia keluar dari padukuhan itu,
maka Paksipun bertanya ”Aku akan bermalam dimana?” Namun akhirnya Paksi tidak
peduli lagi. Apapun yang akan terjadi, biarlah terjadi.
Dimana ia berhenti dan
meletakkan tubuhnya, disitu ia akan berhenti. Malam sama sekali tidak menakutkan
lagi baginya. Jika ketika ia berada dirumah, ia sering mendengar ceritera
tentang hantu, yang sering berkeliaran dimalam hari, maka pada malam itu, ia
sama sekali tidak menghiraukannya lagi. “Jika hantu-hantu itu akan datang,
biarlah mereka datang” berkata Paksi didalam hatinya. Namun akhirnya Paksi ingin
juga berhenti berjalan.
Karena itu, maka ketika ia melihat sebuah
gubug diteng.ih tengah bulak sawah, maka iapun tertarik untuk mendekatinya.
Paksipun kemudian meniti pematang, mendekati gubug itu. Ternyata gubug itu
kosong. Pemilik gubug itu tidak berada disawahnya di malam hari. Sambil menarik
nafas panjang, Paksi naik tangga pendek masuk kedalam gubug itu. Paksi merasa
beruntung bahwa ia menemukan sebuah gubug yang dapat dipergunakannya untuk
bermalam. Karena itu, maka iapun langsung membaringkan dirinya di-gubug yang
didasari dengan anyaman bambu itu. Meskipun Paksi merasa letih, tetapi Paksi
tidak segera dapat tidur.
Nyamuk yang ganas telah
merubunginya, menggigit sela-sela jari kakinya dan berterbangan di sekitar
telinganya. Karena itu, maka Paksi terpaksa menggelar kain panjangnya untuk
menyelimuti tubuhnya dan bahkan telinganya. Sambil sekali-sekali menggaruk
kakinya, maka kembali Paksi mengenang saat-saat ia akan berangkat dari Pajang
untuk melakukan pengembaraan. Ketika ia minta diri kepada gurunya, maka gurunya
menjadi terkejut sekali. Hampir tidak percaya gurunya bertanya ”Jadi kau harus
pergi untuk melakukan sesuatu yang kau tidak mengerti sama sekali?” “Ya, guru.
Tetapi ayah mengatakan bahwa yang aku
lakukan adalah tugas rahasia. Aku mohon guru melindungi rahasia ini. Jika ayah
tahu aku mengatakannya kepada guru, mungkin ayah akan marah kepadaku. Tetapi aku
tidak dapat merahasiakannya kepada guru” berkata Paksi Pamekas. Gurunya
mengangguk-angguk. Katanya ”Terima kasih atas kepercayaanmu Paksi. Ada dua hal
yang membuat aku menyesali kepergianmu. Kau masih sangat muda, sehingga tugas
itu tfcntu akan sangat berat bagimu. Bahkan seakan-akan tidak masuk akal bahwa
kau harus dilibatkan kedalamnya. Sedangkan yang kedua, kau adalah muridku yang
terbaik. Aku berharap bahwa kau kelak akan dapat menggantikan kedudukanku.
Bukankah aku menjadi semakin tua dan rapuh? Wadagku tidak akan dapat mendukung
ilmuku untuk seterusnya. Karena itu, aku harus mempersiapkan seseorang yang akan
dapat menggantikan aku.”
“Aku mohon guru berdoa
agar aku dapat kembali dengan selamat serta dapat membantu guru di perguruan
ini.” Gurunya mengangguk kecil. Dalam saat terakhir, gurunya telah memberikan
petunjuk dan pematangan ilmu sejauh dapat dilakukan dalam waktu yang singkat.
“Aku tidak dapat memberikan lebih dari
itu, Paksi. Jika dipaksakan juga, maka justru wadagmu yang akan mengalami
kesulitan. Tetapi aku berharap bahwa selama dalam perjalanan, kau dapat membuka
dan mengembangkan ilmumu sampai tingkat yang tinggi.”berkata gurunya dengan nada
yang dalam. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia telah terlempar kembali kedalam
kenyataannya. Berbaring disebuah gubug kecil berselimut kain panjangnya.
Tetapi Paksi tidak dapat
segera tidur. Ketika ia memiringkan tubuhnya menghadap ke jalan beberapa puluh
langkah dari gubug itu, Paksi terkejut. Ia melihat didalam keremangan malam
sebuah keranda yang seperti terbang diatas jalan itu. Dengan serta-merta iapun
bangkit dan duduk sambil mengusap matanya. Keranda yang diselimuti kain putih
itu masih meluncur diatas jalan yang telah dilewatinya sebelum Paksi turun dan
meniti pematang mencapai gubug itu.
Bulu tengkuk Paksi memang
menjadi tergetar. Ia pernah mendengar dongeng tentang keranda yang melayang di
malam hari, sebagai pertanda bahwa akan datang wabah penyakit yang berbahaya.
Tetapi tiba-tiba timbul pertanyaan dihati Paksi ”Jika keranda itu dapat terbang
atau berjalan sendiri, kenapa harus lewat diatas jalan. Bukankah keranda itu
dapat meluncur diatas pematang, parit atau bahkan sungai dan bukit-bukit kecil.
Kepada siapa pula hantu keranda itu menampakkan diri di tempat yang jauh dari
padukuhan itu? Kepada dirinya? Jika benar, kenapa keranda itu tidak
mendekatinya?” Paksi Pamekas yang sudah terlempar kedalam satu keadaan yang
tidak diinginkannya itu telah bangkit. Keinginannya untuk mengetahui hantu
keranda yang terbang itu telah mendesaknya untuk berbuat sesuatu. Tiba-tiba saja
Paksi itu turun.
Dipakainya kain
panjangnya sekenanya. Kemudian iapun telah meloncat ke-atas pematang. Dengan
hati-hati Paksi mendekati jalan tempat keranda itu lewat. Dengan hati-hati pula
ia mengikutinya dan berusaha mendekat dari arah belakang. Namun jantung Paksi
menjadi berdebar-debar ketika kemudian ia melihat bayang-bayang yang
bergerak-gerak. Ternyata keranda itu tidak terbang atau meluncur sendiri.
Paksipun kemudian melihat beberapa orang berpakaian serba hitam memanggul
keranda itu. Sementara beberapa orang mengikutinya. Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi Paksi tidak melepaskannya. Ia masih saja mengikutinya
beberapa lama.
Keranda itu justru
meluncur mendekati sebuah padukuhan. Kemudian lewat jalan yang lebih sempit
meluncur sejajar dengan dinding padukuhan itu. Paksi masih saja mengikutinya
ketika keranda itu meluncur melewati sudut padukuhan dan kemudian kembali
menjauh menuju kesebuah gumuk yang seakan-akan sebuah pulau kecil
ditengah-tengah lautan tanaman padi di-sawah.
Ternyata bukit kecil itu
adalah sebuah kuburan. Paksi menjadi berdebar-debar melihat keranda itu
seakan-akan lenyap dari penglihatannya. Namun kemudian Paksi itu mengetahui
bahwa orang-orang yang membawa keranda itu dengan cepat telah menyelimuti
keranda itu dengan kain hitam. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Keinginannya
untuk mengetahui tentang keranda itupun menjadi semakin mendesaknya sehingga
dengan demikian, maka Paksipun telah mendekati dan masuk kedalam kuburan itu
pula. Dengan landasan ilmu yang telah dimilikinya, maka Paksi berusaha untuk
menjadi semakin dekat. Batu-batu nisan, gerumbul-gerumbul perdu dan pepohonan
yang tumbuh diatas bukit kecil itu, memberi kesempatan kepada Paksi untuk
menjadi lebih dekat lagi. Paksi terkejut ketika ia melihat apa yang terdapat
didalam keranda itu. Ketika keranda itu dibuka, maka yang ada didalamnya adalah
beberapa jenis barang-barang yang nampaknya berharga. Paksi sempat mendengar
orang-orang itu tertawa.
Mereka membongkar barang-barang yang
terdapat didalam keranda itu sambil berbangga akan keberhasilan "Tujuh belas.
Tujuh belas. Ya, aku memang sudah berumur tujuh belas tahun.” berkata Paksi
dalam hatinya.”Tetapi apakah kawan-kawanku yang berumur tujuh belas tahun juga
harus menjalani tugas seperti ini?” Paksi menarik nafas dalam-dalam. “Jangan
terlalu sering mempergunakan cara ini untuk membawa barang-barang rampokan itu”
berkata salah seorang diantara mereka. “Tidak ada cara lain yang lebih baik. Aku
ragu-ragu untuk membawa barang-barang ini dengan pedati atau dengan
mempergunakan kuda beban. Cara ini nampaknya lebih aman” sahut yang lain.
Tetapi orang yang pertama
berkata pula ”Jika cara ini terlalu sering kita pergunakan, maka orang-orang
akan menghubungkan setiap terjadi perampokan, tentu ada keranda yang terbang
dimalam hari.” “Ya. Aku setuju” desis yang lain”tetapi sampai saat ini,
orang-orang padukuhan itu telah menjadi ketakutan mendengar ceritera tentang
keranda yang berjalan di malam hari.” “Ceritera itu telah kita lengkapi dengan
ceritera tentang ting hijau yang juga terbang di malam hari.” berkata yang lain
lagi ”sehingga untuk beberapa lama kita akan dapat mempergunakan cara ini dengan
aman.” Yang terdengar adalah suara tertawa beberapa orang yang tertahan. Seorang
diantara mereka berkata ”Sudahlah. Jangan terlalu berbangga atas keberhasilan
ini.
Kita harus segera
mengubur barang-barang ini untuk beberapa lama, sebelum kita kemudian
menjualnya. Disaat orang sudah melupakan peristiwa perampokan ini, kita akan
mengambilnya dan menjualnya.” “Sebenarnya kita tidak perlu bersusah payah.
Bukankah ada orang-orang yang bersedia menerima barang-barang hasil rampokan
ini?” “Tetapi harganya sangat murah” jawab yang lain. Tetapi dalam pada itu,
orang yang agaknya memimpin sekelompok perampok itu berkata ”Marilah. Kita
simpan barang-barang itu didekat barang-barang yang sudah terdahulu kita simpan.
Kita akan memperlihatkan barang barang itu kepada kakang Kebo Lorog.” “Kakang
Kebo Lorog?” bertanya salah seorang dari mereka. “Ya. Kakang Kebo Lorog akan
datang ke daerah ini.” “Apakah ada kecurigaan kakang Kebo Lorog terhadap kita?”
”Tidak. Tetapi sudah agak
lama kakang Kebo Lorog tidak melihat-lihat daerah ini. Besok bersamaan dengan
saat padukuhan sebelah merti desa, kakang akan berada disini. Kita dapat
membawanya ketempat ini dan memperlihatkan apa yang kita punyai kepadanya.”
“Mudah-mudahan kakang Kebo Lorog puas dengan tugas-tugas kita disini.”
“Sekarang, kita akan menyimpan barang-barang kita.”
Paksi memperhatikan semua
yang terjadi serta mendengarkan pembicaraan itu dengan jantung yang
berdebar-debar. Paksi sendiri heran, bahwa batu-batu nisan,gerumbul-gerumbul
liar dan satu dua pohon raksasa yang tumbuh dibukit itu tidak membuat
bulu-bulunya meremang. Sejenak kemudian, orang-orang yang berpakaian serba hitam
itupun telah menggali sebuah lubang dipinggir kuburan itu,disebelah batu hitam
yang besar, yang sulit untuk digeser. Agaknya mereka menjadikan batu itu sebagai
pertanda, dimana mereka menyimpan barang-barang hasil kejahatan mereka. Beberapa
saat lamanya, Paksi harus menunggu. Di kuburan itu nyamuknya ternyata lebih
banyak lagi daripada di gubug tempat ia membaringkan tubuhnya.
Tetapi Paksi tidak dapat
menyelimuti tubuhnya dengan kain panjangnya. Demikian orang-orang itu selesai
menguburkan barang-barang hasil rampokannya yang dibungkus dengan kain, maka
mereka telah berganti pakaian. Mereka tidak lagi mengenakan pakaian-pakaian
hitam. Ditempatkannya keranda itu disebuah cungkup yang besar, yang agaknya
memang tempat untuk menyimpan keranda. Paksi hampir tidak tahan menunggu
orang-orang itu pergi. Tetapi ia tidak bergerak ditempatnya selagi orang-orang
itu masih berkeliaran di kuburan itu.
Baru kemudian, setelah kuburan itu
menjadi sepi, Paksipun keluar dari persembunyiannya. “Ternyata mereka adalah
orang-orang yang cerdas. Mereka memanfaatkan ceritera-ceritera tentang hantu dan
jadi-jadian untuk melakukan kejahatan” berkata Paksi. Malam itu semalam suntuk
Paksi tidak tidur. Dari kuburan Paksi telah menyusuri parit. Ketika ia mendengar
suara air gemericik, maka Paksipun mengetahui, bahwa ia berada tidak jauh dari
sebuah sungai. Menjelang fajar Paksi sudah berendam di air sungai untuk
membersihkan tubuhnya yang terasa gatal-gatal.
Tetapi Paksi masih belum
dapat mencuci pakaiannya, karena matahari masih agak lama terbit. Setelah mandi,
maka Paksi untuk beberapa lama duduk ditepian. Justru setelah ia berendam, maka
ia tidak merasakan dinginnya udara pagi. Langit yang cerah menjadi semakin
terang. Cahaya matahari mulai menusuk lembaranlembaran awan tipis yang
menggantung dilangit. Ketika perasaan mengantuk mulai menyentuhnya, Paksi
Pamekaspun segera bangkit dan berjalan diatas pasir tepian. Sambil berjalan
selangkah-selangkah, Paksi sempat merenungi peristiwa yang dilihatnya semalam.
Agaknya karena hantu keranda itulah, maka padukuhan-padukuhan menjadi sepi
setelah gelap. “Tetapi tentu ada orang yang pernah melihat keranda itu” berkata
Paksi didalam hatinya ”jika tidak, mereka tentu tidak akan dicengkam ketakutan.”
Paksi berniat untuk menjelaskan kepada orang-orang padukuhan, bahwa hantu
keranda itu hanyalah akal orang-orang jahat agar mereka dapat leluasa bergerak
di-malam hari. “Tetapi kepada siapa aku harus mengatakannya?” bertanya Paksi
Pamekas kepada diri sendiri. Paksipun kemudian sudah memanjat tanggul dan
melangkah menuju ke padukuhan terdekat. Tetapi hari masih terlalu pagi.
Karena itu, maka Paksipun
tidak tergesa-gesa menemui seseorang. Bahkan Paksi sempat mengikuti beberapa
orang perempuan yang berjalan beriringan sambil menggendong bakul. Beberapa
orang membawa bakul berisi hasil kebun. Sedangkan yang lain membawa makanan dan
bahkan seorang diantara mereka membawa nasi tumpang digendongannya. “Mereka
tentu akan pergi ke pasar.” berkata Paksi didalam hatinya. Ternyata
iring-iringan itu telah menarik perhatiannya. Ketika ia melihat sayuran rebus
yang digelar diatas tambir ditutup dengan daun pisang, maka tiba-tiba saja ia
merasa lapar. Apalagi semalaman Paksi hampir tidak tidur sama sekali.
Karena itu, maka Paksipun
telah pergi ke pasar pula. Di pasar Paksi telah membeli nasi tumpang yang jarang
sekali ditemuinya di rumahnya. Ia tidak memikirkan pula dimana ia duduk dan
makan nasi tumpang yang masih hangat itu. Sekali-sekali Paksi berdesis karena
bubuk kedelenya yang terlalu pedas serasa menyengat lidahnya. Namun dalam pada
itu, sambil makan nasi tumpang dan duduk dibelakang penjualnya didekat pintu
gerbang pasar, Paksi mendengar beberapa orang yang berceritera tentang keranda
yang berjalan sendiri di malam hari.
“Suamiku melihat sendiri
malam tadi” berkata seorang penjual kelapa dengan mantap ”bersama tiga orang,
suamiku memang berusaha untuk dapat melihat langsung keranda yang berjalan
sendiri itu. Malam tadi, malam Jumat Keliwon, bersama tiga orang, suamiku
sengaja menunggu disudut padukuhan. Ternyata sedikit lewat tengah malam, dari
kejauhan mereka benar-benar melihat keranda itu berjalan sendiri, seolah-olah
terbang meluncur dengan cepat. Suamiku dan ketiga kawannya menjadi sangat
ketakutan. Beberapa puluh langkah dari padukuhan itu, keranda itu berhenti
sejenak. Seakan-akan berpaling memandangi keempat orang yang telah mengintip
itu. Seorang kawan suamiku hampir menjadi pingsan. Untunglah keranda itu
berjalan lagi menuju ke kuburan di bulak itu. Sebelum masuk pintu gerbang
kuburan, keranda itu tiba-tiba telah lenyap.” “Apa yang dilakukan suamimu
kemudian?” bertanya seorang penjual sirih.
“Tidak apa-apa.
Sebelumnya keempat orang itu bertekad untuk melihat dari dekat jika benarbenar
ada keranda yang terbang di malam hari. Tetapi ketika mereka benar-benar melihat
langsung, maka jantung mereka menjadi kuncup sebesar biji mentimun.” “Siapa yang
tidak menjadi ketakutan melihat keranda terbang itu?” desis penjual nasi tumpang
itu.
“Pagi ini suamiku tidak
pergi ke sawah. Badannya merasa tidak enak. Dahinya panas dan jantungnya serasa
berdetak lebih cepat.” “O” penjual nasi tumpang itu menjadi cemas” apakah
suamimu tidak pergi ke rumah seorang tua yang dapat menyingkirkan kutukan
keranda terbang itu? Mungkin karanda itu mengetahui bahwa suamimu dan
kawan-kawannya sengaja mengintipnya.” Penjual kelapa itu termangu-mangu sejenak.
Katanya ”Belum. Tetapi siang nanti aku akan mengajaknya pergi kerumah Kiai Samid
yang terkenal itu. Suamiku mengenalnya dengan baik, karena Kiai Samid minta
suamiku menggarap sawahnya sampai lebih dari tiga tahun. Letak sawah Kiai Samid
berdekatan dengan sawah suamiku, sehingga suamiku dapat menggarapnya dengan baik
dan memuaskan bagi Kiai Samid.” “Tetapi jangan sampai terlambat” desis penjual
sirih.
Penjual kelapa itu
mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab. Dua orang datang untuk memilih beberapa
buah kelapa yang sudah tua. Paksi mendengarkan pembicaraan itu. Tetapi ia tidak
berkata sepatah katapun. Paksi tidak dapat berbicara tentang keranda terbang itu
dengan perempuan-perempuan yang tidak melihat sendiri semalam.
Tetapi Paksi bertekad
untuk mengikuti penjual kelapa itu sampai kerumahnya dan berbicara dengan
suaminya tentang keranda terbang yang dilihatnya semalam. Ketika kemudian Paksi
sudah menjadi kenyang, maka iapun segera membayar harga nasi yang dimakannya.
Dari penjual nasi tumpang, Paksi bergeser duduk di dekat penjual wedang sere.
Sambil menunggu penjual kelapa itu menghabiskan dagangannya, maka Paksipun minum
wedang sere hangat dan masih juga makan beberapa potong makanan meskipun
perutnya sudah terasa kenyang. Satu dua butir kelapapun telah laku. Berurutan
orang-orang yang datang dan pergi.
Namun penjual kelapa itu
nampak gelisah. Sekali-sekali ia melihat matahari dilangit yang memanjat semakin
tinggi. “Aku meninggalkan suamiku yang sedang sakit” desis penjual kelapa itu.
“Tetapi kelapamu sudah hampir habis” berkata penjual nasi tumpang itu. “Aku
ingin segera pulang.” “Suamimu memang harus dibawa dengan cepat kerumah Kiai
Samid agar segera mendapat obat penolak bala.” “Tetapi kelapaku ini?” “Jika kau
mau menjualnya agak murah, aku akan membelinya semua yang tersisa. Untuk membuat
bumbu gudanganku ini, aku memerlukan kelapa setiap hari. Sementara itu, kelapa
dikebun sudah tidak. ada yang cukup tua.”
“Apakah kelapa itu tidak
terlalu tua untuk membuat bumbu gudangan?” bertanya penjual sirih. “Cukupan”
sahut penjual kelapa itu. Akhirnya, kelapa itu telah dibeli dengan harga yang
lebih murah oleh penjual gudangan itu, karena penjual kelapa itu ingin segera
pulang dan membawa suaminya kepada Kiai Samid. Paksi yang telah cukup lama
menunggu, telah minta diri kepada penjual minuman itu setelah membayar harga
makanan dan minumannya.
Pada jarak tertentu Paksi
telah mengikuti perempuan yang berjalan dengan tergesa-gesa pulang itu. Seperti
yang diduganya, maka perempuan itu tinggal df padukuhan yang semalam dilewati
keranda terbang itu, meskipun pada jarak yang tidak terlalu dekat. Paksi yang
mengikutinya itupun kemudian melihat, perempuan itu memasuki sebuah regol
halaman rumah disebelah simpang ampat. Paksi memang menjadi ragu-ragu. Ia sama
sekali tidak dikenal di padukuhan itu. Seandainya ia menceriterakan apa yang
dilihatnya, apakah orang padukuhan itu akan mempercayainya? Tetapi Paksipun
kemdian telah membulatkan tekadnya untuk mengatakan apa yang telah dilihatnya
semalam. Karena itu, maka beberapa saat kemudian, Paksi telah berdiri didepan
regol halaman rumah perempuan yang baru saja pulang dari pasar itu.
Dengan ragu-ragu Paksipun
melangkah melintasi halaman yang terhitung luas. Beberapa batang pohon tumbuh di
halaman itu. Disana-sini nampak pohon kelapa yang tumbuh mencuat mengatasi
pepohonan yang lain. Agaknya sebagian dari dagangan kelapanya telah dipetik dari
halaman dan kebun dirumahnya sendiri. Ketika Paksi berdiri ragu-ragu di halaman,
maka seorang anak remaja datang mendekatinya sambil bertanya”Siapa yang kau
cari, kakang?” Paksi tersenyum. Anak itu nampak ramah. Karena itu, maka iapun
bertanya ”Apakah yang pulang dari pasar itu ibumu?” “Ya. Ibu memang berjualan
kelapa di pasar.”
“Ayahmu ada?” bertanya
Paksi. “Ada. Tetapi ayah sedang sakit. Kepala pening. Jantungnya berdebar-debar
dan tidak dapat tidur.” “Apakah aku dapat bertemu dengan ayahmu?” “Ayah
berbaring saja di pembaringan dengan gelisah. Kami bergantian menungguinya
selama ibu berada di pasar.” “Kamu siapa?” bertanya Paksi. “Aku dan adikku.”
“Bagus” desis Paksi ”kau anak yang pandai.
”Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Namun kemudian katanya”Jika demikian, aku ingin bertemu dengan
ibumu.” “Duduklah. Aku akan memanggil ibu.” Paksipun kemudian duduk disebuah
lincak bambu yang panjang diserambi depan rumah yang sederhana, tetapi nampak
bersih itu. Sejenak kemudian, maka perempuan yang berjualan kelapa di pasar
itupun keluar dari pintu depan. Ia termangu-mangu sejenak, melihat Paksi yang
belum pernah dikenalnya.
“Kau mencari aku, nak?” bertanya
perempuan itu. “Ya, bibi” jawab Paksi ”sebenarnya aku ingin berbicara dengan
paman. Tetapi bukankah paman sedang sakit?” Perempuan itu mengangguk-angguk.
Katanya ”Ya. Suamiku sedang sakit.” Perempuan itupun kemudian duduk di lincak
bambu itu pula. “Aku belum pernah melihat kau sebelumnya, nak.” berkata
perempuan itu. “Ya, bibi. Aku memang baru kali ini menginjakkan kakiku di
padukuhan ini.”
“Jadi apakah maksudmu
menemui suamiku?” “Bibi” berkata Paksi ”aku mendengar pembicaraan bibi dengan
beberapa orang perempuan di pasar. Menurut bibi, paman menjadi sakit setelah
semalam melihat keranda terbang itu?” “Ya”jawab perempuan itu dengan wajah
berkerut. “Aku ingin memberikan sedikit keterangan tentang keranda terbang itu.”
“Jangan, nak. Jangan.
Pamanmu sangat terpengaruh oleh penglihatannya semalam. Ia merasa seakan-akan
selalu dibayangi oleh keranda yang berjalan sendiri itu. Bahkan rasa-rasanya
keranda itu telah terbang mengitari rumah ini.” “Apakah ketiga orang kawan paman
yang melihat keranda itu juga sakit?” “Adik pamanmu telah menghubungi mereka.
Menurut keterangannya, mereka juga menjadi sakit, terutama seorang yang semalam
hampir pingsan. Badannya panas dan sekali-sekali ia mengigau. Tetapi yang
seorang lagi, hanya terasa pening-pening sedikit.”
“Tetapi orang itu tidak
menjadi sakit seperti paman?” “Tidak. Ia memang seorang yang sangat berani,
meskipun semalam ia mengurungkan niatnya untuk mendekati keranda yang terbang
itu. “Jika demikian, apakah aku sebaiknya berbicara dengan orang itu?” “Apa
sebenarnya yang ingin kau katakan?” “Bibi. Aku minta bibi memberitahukan kepada
paman, bahwa paman tidak perlu menjadi sakit. Keranda terbang itu hanyalah
sekedar pokal orang jahat.” “Tetapi pamanmu melihat sendiri.” “Akupun melihatnya
bibi. Aku sempat mengikutinya. Keranda itu sebenarnya juga dipikul oleh beberapa
orang dan bahkan diiringi beberapa orang yang lain.
Tetapi mereka berpakaian
hitam agar mereka tidak nampak dari jarak tertentu.” “Ah. Kau jangan mengada-ada
anak muda.” “Benar bibi. Aku dapat membuktikan. Tetapi aku memerlukan
orang-orang yang berani seperti yang bibi sebutkan itu.” jawab Paksi. Lalu
katanya pula ”Jika saja paman tidak cepat percaya kepada keranda itu, maka aku
ingin mengajak paman untuk melihat kenyataan tentang keranda itu.” Perempuan itu
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya ”Sebaiknya aku hubungi kakang
Sura saja.” “Dimanakah rumahnya, bibi?” bertanya Paksi. Perempuan itupun
kemudian memberikan ancar-ancar rumah Sura didekat gardu peronda yang tidak
pernah terisi sejak ada ceritera tentang keranda yang dapat berjalan sendiri di
malam hari.
Paksipun kemudian minta diri untuk
menemui orang yang bernama Sura itu. Meskipun agak ragu, namun Paksipun kemudian
telah memasuki halaman rumah didekat gardu parondan. Seorang anak laki-laki yang
sedang berlari-lari di halaman tertegun.
Berlari-lari kecil anak
itu menyongsong Paksi. “Kakang mencari siapa?” ternyata anak itu ramah sekali.
“Apakah paman Sura ada dirumah?” “Ayah?” bertanya anak itu. “Ya. Tolong, katakan
kepada ayah, bahwa seseorang mencarinya” berkata Paksi. “Siapa nama kakang?”
Paksi tersenyum. Sambil menyentuh pipi anak itu ia menjawab ”Namaku Paksi.”
“Nama kakang bagus. Tetapi namaku jelek. Ayah tidak pandai memilih nama.” “Siapa
namamu?” "Namaku Salam.”
“Nama yang bagus. Aku
senang mendengarnya. Salam.” “Ah, kakang hanya ingin membuatku senang.” Paksi
tertawa. Anak itu ternyata anak yang sangat cerdas. Namun anak itupun kemudian
berkata ”Aku akan memanggil ayah dibelakang.” Anak itupun segera berlari
kebelakang memanggil ayahnya. Sura terkejut melihat kedatangan anak muda yang
belum pernah dikenalnya. Dipersilahkan Paksi naik dan duduk di pendapa. “Apakah
angger mempunyai keperluan dengan aku?”
”Ya, paman. Ada yang
ingin aku bicarakan.” “Tentang?” “Bukankah paman tidak sakit sekarang?”
“Rasa-rasanya kepalaku sedikit pening ngger. Tetapi tidak apa-apa. Aku dapat
mendengarkan dengan baik persoalan yang akan angger katakan.” “Apakah paman
sakit karena keranda yang berjalan sendiri semalam?” Orang itu mengerutkan
dahinya. Dengan nada tinggi ia bertanya ”Apakah kau mengetahui bahwa aku telah
melihat keranda yang berjalan sendiri?”
“Ya paman. Tetapi itu
tidak penting. Aku hanya ingin tahu, bahwa paman tidak menjadi sakit karena
keranda itu?” “Tidak. Tetapi kenapa?” “Kenapa semalam paman tidak berusaha untuk
menangkap keranda itu?” “Apa sebenarnya yang ingin kau katakan ngger?” bertanya
Sura.
Paksi menarik nafas
panjang. Kemudian diceriterakannya apa yang dilihatnya semalam sehingga keranda
itu hilang dikuburan dan orang-orang berpakaian hitam yang menyembunyikan
barang-barang hasil rampokan itu. “Kau berkata sebenarnya?” bertanya Sura. “Aku
dapat menunjukkan tempat mereka menyembunyikan barang-barang itu jika paman
ingin membuktikannya.” Sura mengagguk-angguk. Katanya ”Jika kau berkata benar,
aku kagum akan keberanianmu.”
“Bukan soal keberanian paman. Tetapi aku
sudah tersudut dalam satu keadaan yang tidak dapat aku hindari.” “Sebenarnya aku
memang ingin melihat dari dekat keranda yang dikatakan orang dapat terbang
sendiri itu. Tetapi kawan-kawanku semalam menjadi ketakutan, sehingga aku
mengurungkan niatku. Bahkan ada seorang di-antara kami yang hampir pingsan.”
“Ada diantara mereka yang
menjadi sakit sekarang.” “Ya. Aku dengar memang demikian. Mereka menjadi sangat
terpengaruh. Tetapi sejak semula aku sudah meragukannya.” “Tetapi pamafr juga
menjadi pening.” “Bukan karena keranda itu. Tetapi hampir semalam suntuk aku
tidak dapat tidur. Aku harus mengantar orang-orang yang ketakutan itu. Memapah
kawanku yang hampir pingsan. Baru aku pulang terakhir setelah langit menjadi
merah. Aku hanya sempat berbaring. Ketika aku hampir tertidur, adik salah
seorang yang ikut bersamaku semalam datang kemari.”
Paksi mengangguk-angguk.
Dengan nada berat ia berkata ”Aku juga tidak tidur semalam.” “Kau dapat
beristirahat disini” berkata Sura. “Terima kasih paman. Tetapi apakah paman
melihat barang-barang itu?” Sura termangu-mangu sejenak. Dipandanginya anak muda
yang sebelumnya belum pernah dikenalnya itu. Dari sorot matanya, memang tersirat
keragu-raguannya. T
etapi Paksi tidak
tersinggung. Ia tahu, bahwa hal itu adalah wajar sekali. Karena itu, maka
katanya ”Paman. Sebenarnya aku ingin sekali melihat apa saja yang disembunyikan
oleh para perampok itu. Tetapi aku tidak dapat melakukannya sendiri. Aku tidak
mempunyai alat untuk menggali.” “Baiklah” berkata Sura” kita akan melihatnya.
Tetapi aku akan mengajak seorang lagi yang memiliki keberanian untuk membongkar
barang-barang yang disembunyikan itu.”
Paksi mengangguk sambil
menjawab ”Silahkan paman. Tetapi orang itu harus dapat paman percaya, karena
mungkin ada sesuatu yang untuk sementara masih harus disimpan.”
“Baik. Tetapi kapan
sebaiknya kita melakukannya?” “Bukankah sebaiknya kita lakukan disiang hari?
Di-malam hari orang-orang yang menyembunyikan barang-barang itu justru
berkeliaran. Disiang hari mereka tidak akan menampakkan diri. Meskipun demikian,
kita harus berhati-hati.” “Baiklah. Kita dapat berpura-pura membersihkan
kuburan. Aku mempunyai leluhur yang dimakamkan di kuburan itu.” Surapun minta
Paksi untuk menunggu. Minuman dan makananpun telah dihidangkan pula. “Salam akan
menemanimu, ngger.” berkata Sura. Beberapa s&at kemudian Sura telah datang
bersama seorang kawannya. Bertiga mereka pergi ke kuburan untuk membuktikan,
apakah yang dilihat Paksi semalam bukan sekedar sebuah mimpi atau khayalannya
saja.
Dalam pada itu, Surapun berkata ”ngger,
pamanmu Mertawira ini kebetulan adalah anak juru kunci kuburan itu.” “O” Paksi
mengangguk-angguk ”kebetulan sekali paman.” “Tetapi aku segan untuk menggantikan
jabatan orang tuaku. Aku lebih senang tidak mengurusi kuburan.” desis Mertawira.
“Harus ada orang yangtbersediakmelakukannya. Jika tidak, orang-orang yang
memerlukan akan menjadi sangat repot.” berkata Sura. Mertawira tertawa. Katanya
”Adikku telah menyatakan
kesediaannya.” “Sokurlah. Dengan demikian, maka segala sesuatunya ada yang
mengatur. Orang-orang padukuhan yang kematian keluarganya tidak asal saja
mengubur di kuburan ini, sehingga berjejaljejal tanpa diatur.” Mertawira tertawa
semakin keras.
Beberapa saat kemudian,
mereka telah berada di kuburan. Tidak ada orang yang melihat mereka meskipun
mereka memasuki kuburan itu disiang hari. Paksi memang agak sulit untuk
menemukan batu yang besar itu. Bahkan Paksi sempat menjadi bimbang, bahwa apa
yang dilihatnya tidak lebih dari sebuah khayalan. Mungkin hantu keranda itu
sempat menyesatkan penglihatannya, sehingga seolah-olah ia melihat keranda itu
memasuki kuburan Ini.” Namun setelah mengitarti kuburan itu beberapa kali, maka
Paksipun telah menemukan batu yang besar itu.”Kami hampir kehabisan kesabaran”
desis Sura. Mertawirapun tertawa pula.
Katanya ”Aku kira kau
hanya bermimpi. Tetapi itupun masih harus dibuktikan, apakah barang-barang itu
benar-benar ada.”" Paksi mengangguk-angguk. Ketika mereka bersiap-siap untuk
mulai menggali, maka jantung Paksi menjadi berdebar-debar. Jika barang-barang
yang dikatakan itu tidak ada, maka kedua orang itu akan dapat menjadi marah
kepadanya.
Mereka akan mengira,
bahwa Paksi telah mempermainkan kedua orang itu. Namun Sura dan Mertawira memang
melihat tanah yang kemerahan disekitar batu yang besar itu. Nampaknya tanah itu
memang tanah yang baru dari sebuah galian yang telah ditimbun kembali. Ketika
mereka mulai menggali, maka tanah itupun agaknya masih juga lunak, sehingga
dengan demikian, mereka tidak banyak menemui kesulitan. Mereka menjadi
berdebar-debar ketika cangkul mereka mulai terasa menyentuh sesuatu. Dengan
hati-hati mereka menggali lebih dalam lagi. Ternyata Paksi tidak sekedar
berkhayal atau bermimpi atau penglihatannya dipengaruhi oleh hantu keranda itu.
Didalam lubang galian itu memang terdapat
barang-barang yang disembunyikan oleh para perampok yang telah mengelabuhi
banyak orang itu. “Apa yang sebaiknya kita lakukan dengan barang-barang ini”
berkata Sura kemudian. “Besok jika padukuhan ini merti desa, maka salah seorang
pemimpin dari para perampok ini akan datang” berkata Paksi ”karena itu, maka
barang-barang yang disembunyikan disini akan ditunjukkan kepada pemimpin mereka
itu.”
“Jika demikian, biarlah
barang-barang ini disini” berkata Mertawira ”kita akan mengawasinya. Besok, pada
saatnya pemimpin perampok itu datang, kita akan menangkapnya.” “Kau kira kita
akan mudah melakukannya” sahut Sura ”para perampok adalah orang-orang yang telah
menyatukan hidup matinya dengan senjata. Mereka terbiasa berkelahi dan bahkan
bunuh-membunuh, sehingga darah bagi mereka tidak lagi menggetarkan perasaan
mereka.” “Tetapi kita mempunyai kawan yang tentu jauh lebih banyak dari para
perampok itu. Mungkin jumlah mereka hanya sekitar sepuluh orang.” “Ya” sahut
Paksi ”sekitar sepuluh orang. Mereka bergantian memanggul keranda itu.” “Nah,
bukankah kita memiliki kesempatan?” Sura mengangguk-angguk.
Katanya ”Baiklah. Kita
akan berbicara dengan Ki Jagabaya.” “Hanya dengan Ki Jagabaya ”desis Mertawira
”jika hal ini didengar oleh banyak orang, maka persoalannya akan menjadi lain.
Tetapi bagaimana menurut pendapatmu ngger?” “Aku hanya ingin menunjukkan kepada
paman, bahwa keranda itu sama sekali bukan hantu. Salah satu buktinya adalah
barang-barang yang telah mereka sembunyikan disini. Selanjutnya, terserah kepada
paman berdua. Kasihan jika orang-orang padukuhan itu menjadi terlalu lama
dicengkam oleh ketakutan.”
“Padahal bukan hanya satu
dua padukuhan saja yang dibayangi ketakutan kepada hantu keranda yang berjalan
sendiri di malam hari, yang bahkan dapat lenyap dalam sekejap mata.” “Kita harus
dapat menangkap hantu keranda itu. Tetapi kita memang memerlukan beberapa orang
yang berani” berkata Sura kemudian. “Ya. Aku setuju, jika kita menemui Ki
Jagabaya. Tetapi untuk sementara tidak ada orang lain yang mengetahuinya”
berkata Mertawira. Bertiga mereka sependapat untuk menimbun barang-barang itu
lagi. Namun dengan demikian mereka sudah menjadi yakin, bahwa keranda yang
berjalan sendiri ditengahi malam itu sama sekali bukan hantu. Sementara itu,
merekapun mengetahui dimana para perampok itu menyembunyikan barang-barang hasil
rampokan mereka. “Tetapi kenapa pemimpin perampok itu akan datang tepat pada
saat merti desa?” desis Sura. “Entahlah” berkata Mertawira ”mungkin pada hari
itu perhatian orang-orang padukuhan tertuju kepada keramaian di padukuhan ini.”
“Baiklah. Sekarang,
marilah kita pulang.” Namun dalam pada itu, Paksipun berkata ”Paman berdua.
Sebaiknya aku meneruskan perjalananku. Aku merasa bahwa kewajibanku melaporkan
tentang keranda yang berjalan sendiri di malam hari itu sudah aku lakukan dengan
baik. Karena itu, segala sesuatunya terserah kepada paman berdua serta para
bebahu padukuhan . Tindakan apa yang akan mereka ambil. Namun barangkali yang
harus mendapat perhatian adalah, bahwa pemimpin perampok yang akan datang itu
bernama Kebo Lorog.” “Kebo Lorog” kedua orang itu terkejut. Dengan nada tinggi
Sura berdesis ”Jadi permainan ini dikendalikan oleh Kebo Lorog yang namanya
menggetarkan bulu tengkuk itu?” “Apakah paman sudah pernah mendengar nama itu?”
“Ya. Kami sudah pernah
mendengar. Banyak orang yang pernah mendengar nama itu. Orangorang padukuhan
menjadi ketakutan mendengar nama itu sebegaimana mereka mendengar ceritera
tentang hantu keranda. Tetapi hantu keranda itu ternyata hanya sebuah tipuan.
Tetapi Kebo Lorog benar-benar mampu memilin leher kita sampai patah.” “Tetapi
jumlah penghuni padukuhan ini cukup banyak.” berkata Paksi. “Itu tidak berarti
apa-apa bagi Kebo Lorog” jawab Sura. “Jika demikian maka keranda yang berjalan
sendiri itu tetap menakutkan bagi kita. Bukan karena kita menyangka keranda itu
hantu, tetapi justru karena yang ada dibelakangnya adalah Kebo Lorog.” “Jika
nama Kebo Lorog itu lebih menakutkan daripada hantu, kenapa mereka harus bermain
hantu-hantuan? Kenapa tidak Kebo Lorog itu saja datang kemari dan melakukan
kegiatan yang dilakukan oleh keranda itu? “Kebo Lorog mempunyai lingkungan yang
luas, ngger.
Sehingga ia tidak dapat
berada disatu tempat, Tetapi jika Kebo Lorog itu mengunjungi satu lingkungan,
tentu ia mempunyai kepentingan tertentu.” Paksi mengangguk-angguk. Katanya
”Mungkin keberhasilan orang-orang yang mempunyai gagasan bermain hantu-hantuan
itu telah menarik perhatiannya, sehingga permainan itu akan dapat dikembangkan
di daerah lain.” Sura dan Mertawira mengangguk-angguk. Dengan nada datar
Mertawira berkata ”Mungkin kau benar ngger. Kita akan melihat bersama-sama, apa
yang akan terjadi kemudian.” “Paman berdua. Aku sudah berniat untuk mohon diri.
Aku ingin melanjutkan pengembaraanku. Aku sudah merasa cukup berhasil dengan
menunjukkan benda-benda yang disembunyikan itu.”
“Aku minta kau tetap disini menunggu
kedatangan Kebo Lorog” berkata Sura.
“Apakah artinya
keberadaanku disini?” “Kita akan bersama-sama menyaksikan, untuk apa Kebo Lorog
itu datang.” jawab Mertawira. Paksi termangu-mangu sejenak. Sementara Sura
itupun berkata ”Kita akan pergi kerumah Ki Jagabaya ngger. Kau akan dapat
menjelaskan apa yang telah terjadi itu. Mudah-mudahan kita akan dapat mencari
jalan keluar dari bayangan gelap karena kehadiran Kebo Lorog itu.” Paksi
termangu-mangu sejenak. Sura nampaknya mengerti getar perasaan anak muda itu.
Karena itu, maka katanya ”Selama kau berada di padukuhan ini, kau dapat tinggal
bersama kami, ngger. Salam tentu akan merasa senang jika kau berada disini.”
“Apakah aku tidak akan
merepotkan paman dan keluarga?” bertanya Paksi dengan ragu. “Tentu tidak ngger.
Kau tentu sudah dapat mengurus dirimu sendiri. Kau sudah dapat mandi sendiri,
mencuci pakaian sendiri. Makan sendiri, sehingga kami tidak usah menyuapi.”
Mertawira tertawa. Katanya ”Juga tidak harus menggendong dan menidurkan
menjelang malam.” Paksi tertawa.
Kemudian iapun menjawab
”Baiklah paman. Jika paman tidak berkeberatan, aku akan tinggal disini sampai
merti desa.” Ternyata bahwa keberadaan Paksi di rumah Sura justru memberikan
kesegaran baru. Paksi adalah seorang anak yang rajin. Pagi-pagi ia sudah bangun.
Menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan. Kamudian menyapu halaman
samping, karena halaman depan tentu sudah disapu oleh Sura sendiri. Pengaruh
keberadaan Paksi di rumah itu justru sangat baik bagi Salam, la dapat bangun
lebih pagi dari kebiasaannya. Anak itu ingin bersma-sama dengan Paksi. Juga saat
Paksi menimba air, menyapu halaman atau membelah kayu disiang hari.
Bahkan Paksipun telah
mengajari Salam untuk menuliskan huruf-huruf, kemudian membacanya. Sementara
itu, ceritera tentang keranda hantu itu masih saja membayangi kehidupan beberapa
padukuhan. Sura dan Mertawira memang belum mengambil langkah-langkah tertentu
untuk membuktikan kepada banyak orang, bahwa ceritera tentang hantu keranda itu
hanya sebuah olokolok dari para penjahat yang kebingungan membawa hasil
rampokannya. Namun yang kemudian ternyata berhasil. Seperti yang sudah
direncanakan, maka ketika saatnya dianggap sudah tiba, maka Sura dan Mertawira
telah pergi menemui Ki Jagabaya sambil mengajak Paksi Pa-mekas. Ki Jagabaya
menerima mereka bertiga dipendapa rumahnya.
Karena keduanya tidak
terbiasa berkunjung ke-rumah Ki Jagabaya, maka Ki Jagabaya menjadi heran atas
kedatangan mereka bertiga. “Nampaknya ada sesuatu yang penting” desis Ki
Jagabaya. “Ya, Ki Jagabaya. Kami ingin berbicara tentang keranda hantu itu.” Ki
Jagabaya mengerutkan dahinya. Dengan nada berat Ki Jagabaya itupun bertanya ”Ada
apa dengan dongeng itu? Kalian berdua terhitung orang-orang yang berani di
padukuhan ini. Apakah kalian juga percaya tentang keranda yang berjalan sendiri
itu?” “Kami percaya, Ki Jagabaya” jawab Sura.
“Sikapmu tentang keranda
yang berjalan sendiri itu tentu akan menjadi panutan. Jika kau berkata bahwa kau
percaya, maka padukuhan ini akan menjadi semakin kalut.” “Aku telah melihat
sendiri, Ki Jagabaya.” Ki Jagabaya mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi ia
berkata ”Apa maksudmu? Apakah kau memang menghendaki orang-orang padukuhan ini
dicengkam oleh ketakutan? Dengan susah payah aku menjelaskan kepada mereka,
bahwa tidak ada hantu keranda.
Omong kosong. Tidak ada
hantu yang sedang menyebarkan wabah penyakit.” “Ki Jagabaya” berkata Sura
kemudian ”aku benar-benar telah melihat keranda itu berjalan di malam hari. Aku
yakin akan penglihatanku itu. Hal itulah yang akan aku katakan kepada Ki
Jagabaya.” “Persetan dengan igauanmu. Kau tidak akan dapat mempengaruhi aku. Kau
tidak akan dapat menyeret aku kedalam ketakutan seperti orang-orang bodoh itu.”
Sura termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya”Aku mohon Ki Jagabaya
mendengarkan ceri-teraku. Nanti Ki Jagabaya dapat percaya atau tidak percaya.”
Wajah Ki Jagabaya menjadi tegang. Namun kemudian katanya ”Cepat katakan. Tetapi
jangan mengharap aku terseret kedalam arus yang melanda padukuhan kita dan
beberapa padukuhan yang lain.” Surapun kemudian menceriterakan apa yang pernah
dilihatnya.
Keranda yang berjalan di
malam hari. Seakan-akan keranda itu berjalan sendiri. Hampir saja Ki Jagabaya
yang tidak mempercayainya itu menjadi marah. Namun kemudian Surapun
menceriterakan apa yang telah dilihat oleh Paksi Pamekas. Wajah Ki Jagabaya
nampak berkerut.
Dipandanginya Paksi
dengan tajamnya. Kemudian Ki Jagabaya itupun bertanya ”Siapakah kau sebenarnya?”
Paksipun telah menyebut namanya. Tetapi ia selalu mengatakan bahwa dirinya
berasal dari Banyuanyar serta selalu mengatakan bahwa kedua orang tuanya sudah
tidak ada lagi. “Ceriteramu memang masuk akal.” berkata Ki Jagabaya. “Kami sudah
membuktikannya, Ki Jagabaya.” “Bukti apa?” bertanya Ki Jagabaya. “Kami sudah
menggali tempat para perampok itu menyembunyikan barang-barangnya?”
“Kau telah mengambil
barang-barang itu?” “Tidak Ki Jagabaya” jawab Mertawira ”kami hanya membuktikan
bahwa penglihatan angger Paksi itu bukan sekedar mimpi atau khayalan yang
ditimbulkan oleh hantu keranda. Tetapi benarbenar ada. Sekarang barang-barang
itu telah kami timbun kembali.” Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Sementara
Sura minta Paksi menceriterakan tentang rencana Kebo Lorog datang ke lingkungan
mereka.
Ki Jagabaya mendengarkan
keterangan Paksi tentang Kebo Lorog sebagaimana didengarnya di kuburan dengan
jantung yang berdebar-debar. Seakan-akan kepada diri sendiri Ki Jagabaya itu
berkata”Kebo Lorog. Ternyata orang itu ada dibelakang ceritera tentang hantu
itu.” “Mungkin sebaliknya, Ki Bekel. Kebo Lorog tertarik kepada gagasan para
pengikutnya tentang hantu-hantu itu, sehingga ia ingin melihat hasil dari
permainan itu.”
“Kebo Lorog itu sendiri lebih dari hantu
yang manapun juga.” berkata Ki Jagabaya. “Apakah kita sepadukuhan tidak dapat
menghentikannya?” bertanya Mertawira. Ki Jagabaya menggelengkan kepalanya.
Katanya ”Kita sepadukuhan tidak akan berdaya melawan para penjahat itu jika
diantara mereka terdapat Kebo Lorog. Kecuali karena Kebo Lorog itu mempunyai
ilmu yang tinggi, ia akan dapat menjadi penyulut api keberanian dan kekuatan
para pengikutnya.
Bersama Kebo Lorog itu
sendiri, maka sekelompok penjahat tidak akan dapat dihentikan oleh orang se
padukuhan. Bahkan mungkin sekali kita akan dibantai habis oleh Kebo Lorog itu.”
“Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan jika benar besok pada saat kita merti
desa Kebo Lorog itu datang?” “Kita akanberbicara dengan Ki Bekel.” Ternyata Ki
Jagabaya tidak membuang waktu. Diajaknya ketiga orang yang datang kerumahnya itu
langsung menemui Ki Bekel.
“Merti desa itu tinggal beberapa hari
lagi. Kita harus dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Jika kita harus
menyerang kepada keadaan, apaboleh buat. Kita tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi
jika Ki Bekel maih melihat satu kesempatan untuk menggeliat meskipun Kebo Lorog
ada disini, maka biarlah kita mempersiapkan diri selagi kita masih mempunyai
waktu.” gumam Ki Jagabaya. Ternyata Ki Bekel juga merasa heran melihat
kedatangan ki Jagabaya bersama tiga orang kerumahnya. Di wajah mereka nampak
persoalan yang membebani mereka, sehingga mereka harus datang menemuinya.
“Apakah Ki Jagabaa tidak dapat menyelesaikan persoalan mereka sehingga mereka
harus datang kepadaku?“ bertanya Ki Bekel didalam hatinya.
Ketika mereka sudah duduk
dipringgitan, maka Ki Jagabayalah yang telah menyampaikan persoalan yang mereka
bawa menghadap Ki Bekel. Wajah Ki Bekelpun menjadi tegang. Kebo Lorog baginya
juga merupakan hantu yang mendebarkan. Namun tiba-tiba dari ruang dalam rumah Ki
Bekel, keluar seorang laki-laki muda yang bertubuh sedang. Wajahnya memancarkan
kecerahan nalar budinya. Dengan sebuah senyum yang menghiasi bibirnya, laki-laki
muda itu berkata ”Maaf, kakang. Aku tidak sengaja telah mendengar nama Kebo
Lorog disebut-sebut. Jika kakang Bekel tidak berkeberatan, aku ingin ikut
mendengar ceritera tentang Kebo Lorog itu.
Ki Bekel menarik nafas
dalam-dalam. Katanya ”Kemarilah. Duduklah.” Sura dan Mertawira terkejut melihat
laki-laki itu. Hampir berbareng mereka menyapa ”Adeg Panatas.” Laki-laki itu
tersenyum. Sambil mendekat ia bertanya “Kakang berdua tidak lupa kepadaku.”
“Tentu tidak” jawab Mertawira. Laki-laki muda itupun kemudian duduk bersama
mereka.
Ki Bekelpun kemudian
berkata ”Kemarin ia datang.” Adeg Panatas, adik Ki Bekel itu tersenyum sambil
menyahut ”Aku sudah menjadi sangat rindu pada padukuhan ini.” “Kau datang pada
saat padukuhan ini dibayangi oleh hantu keranda yang mencekam seluruh
penghuninya. Bahkan bukan hanya padukuhan ini. Tetapi juga padu-kuhan-padukuhan
yang lain.” “Aku sudah mendengar. Tetapi bukankah Ki Jagabaya tidak
mempercayainya?” “Ki Bekel juga tidak mempercayainya” jawab Ki Jagabaya.
“Tetapi agaknya
hantu-hantuan itu ada hubungannya dengan Kebo Lorog.” “Ya” jawab Ki Jagabaya
”anak inilah yang mendengar langsung pembicaraan para perampok itu.” Sekali lagi
Paksi harus berceritera tentang pari perampok dan pembicaraan diantara mereka
tentang rencana kedatangan Kebo Lorog. “Sebaiknya kita sambut kedatangan Kebo
Lorog itu.” berkata Adeg Panatas.
“Kau jangan main-main dengan nama itu”
desis Ki Bekel. Adeg Panatas tersenyum. Katanya ”Aku tahu kelebihan Kebo Lorog.
Tetapi jangan biarkan Kebo Lorog menguasai padukuhan ini. Sekali ia dapat
bergerak leluasa disini, maka padukuhan ini akan menjadi ladang yang subur bagi
Kebo Lorog. Ia akan memeras setiap orang yang memang sudah ketakutan karena
ceritera tentang keranda yang dapat berjalan sendiri itu.” “Tetapi bagaimana
kita dapat melawannya?” bertanya Ki Bekel.
“Kita harus melakukan
bersama-sama. Biarlah aku mencoba untuk menahan Kebo Lorog. Jika aku tidak mampu
mengimbanginya, maka kakang Bekel akan dapat membantuku. Berdua aku yakin, bahwa
Kami akan dapat menahan Kebo Lorog.”
“Bagaimana dengan para
pengikutnya?” “Mereka banyak tergantung kepada pemimpinnya. Jika kami
benar-benar dapat menahan Kebo Lorog, maka aku yakin, bahwa para pengikutnya
akan menjadi ragu-ragu, sehingga kita akan dapat mempergunakan kesempatan
sebaik-baiknya untuk 'menghancurkan mereka. Bukankah jumlah mereka tidak terlalu
banyak. Sepuluh, lima belas atau katakan duapuluh lima orang. Bukankah jumlah
laki-laki di padukuhan ini jauh lebih banyak dari jumlah itu?”
“Tetapi hanya ada berapa
orang laki-laki yang berada di paduhukan ini.” berkata Sura dengan dahi yang
berkerut ”apalagi menghadapi Kebo Lorog dan pengikutnya, sedangkan ceritera
tentang keranda terbang itu saja sudah membuat seisi padukuhan ini ketakutan.
”Tetapi bukankah ada orang-orang ya ng akan dapat menjadi sandaran kekuatan isi
padukuhan ini? Disini ada kakang Bekel, Kakang Jagabaya, kakang Sura dan kakang
Mertawira. Di padukuhan ini ada bebahu yang tentu akan dapat dikerahkan. Mereka
tidak hanya dapat sekedar menikmati bengkok sawah yang mereka petik hasilnya
setiap musim.
Tetapi mereka juga harus
bersedia menjadi perisai di padukuhan ini. Kemudian menurut pengenalanku disini
ada juga beberapa orang bekas prajurit dan anak-anak muda yang harus penjelasan
bahwa keranda itu tidak lebih dari hantu-hantuan saja.” Ki Bekel
mengangguk-angguk. Katanya ”Masih ada waktu berapa lama menjelang merti desa
itu?” “Tidak lebih dari sepuluh hari, Ki Bekel.” “Cukup panjang” sahut Adeg
Panatas ”kita siapkan perlawanan terhadap para perampok itu dalam waktu sepuluh
hari. Aku kenal isi padukuhan ini. Karena itu, aku yakin bahwa kita akan dapat
mempertahankan harga diri padukuhan ini. Tetapi sebelumbya kita harus juga
menyadari, bahwa akan jatuh korban diantara kita. Tetapi itu tentu wajar bagi
setiap perjuangan. Karena itu, maka kita harus mampu mengerahkan kekuatan yang
sebesar-besarnya.
Semakin banyak dan
semakin kuat kita, maka korban akan menjadi semakin sedikit. Didalam
pertempuran, kita harus saling menolong sehingga setiap orang pengikut Kebo
Lorog, akan menghadapi lawan yang dapat membuat jantungnya bergetar.” “Bagaimana
pendapatmu, Ki Jagabaya?” bertanya Ki Bekel. “Aku setuju dengan adi Adeg
Panatas. Aku akan menggerakkan setiap laki-laki di padukuhan ini.”
“Baiklah” berkata Sura
”jika kita sudah sependapat bahwa kita akan mengadakan perlawanan, maka kita
harus melakukan-dengan sepenuh hati. Kita tidak boleh ragu-ragu. Jika kita
menjadi ragu, maka kita justru akan terjebak dalam kesulitan.” “Tentu kakang
Sura. Sekali kita turun ke gelang-gang, maka kita harus sudah bersiap untuk
menghadapi maut.” sahut Adeg Panatas.
“Itulah yang harus
dijelaskan kepada rakyat padukuhan ini. Jika mereka bersedia, kita harus
benar-benar terjun dengan segala akibat yang.mungkin terjadi. Sebaliknya, jika
rakyat padukuhan ini ragu, sebaiknya kita pasrah saja pada keadaan, meskipun
leher kita akan dicekiknya” sahut Mertawira. Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya
”Aku akan memanggil para bebahu malam nanti.” Demikianlah, maka Ki Jagabaya,
Sura, Mertawira dan Paksi telah minta diri.
Malam nanti mereka akan
kembali ke rumah Ki Bekel itu kecuali Paksi Menjelang malam, maka para bebahu
yang dipanggil Ki Bekel telah berkumpul. Sura dan Mertawirapun telah datang pula
memenuhi panggilan Ki Bekel meskipun mereka bukan bebahu. Paksi yang merasa
dirinya orang lain di padukuhan itu, tidak ikut hadir dirumah Ki Bekel. Namun
beberapa orang telah mendengar ceriteranya tentang hantu keranda, para perampok
dan hasil rampokan mereka yang mereka sembunyikan di kuburan. Sementara Sura
tidak ada dirumah, maka Paksipun telah minta ijin kepada Nyi Sura untuk
berjalan-jalan. “Malam-malam kau akan pergi kemana ngger?” bertanya Nyi Sura.
“Hanya berjalan-jalan saja bibi, menghirup angin. Udara terasa panas malam ini.”
“Jangan terlalu lama ngger. Nanti jika pamanmu datang, ia tentu akan mencarimu”
pesan Nyi Sura. P
aksipun kemudian telah
meninggalkan rumah Sura. Ia menyusuri jalan-jalan padukuhan yang sudah menjadi
sepi. Ada beberapa oncor terpancang di regol-regol rumah yang besar dan di
simpang simpang ampat terpenting di-padukuhan. Sejak terbetik berita tentang
hantu keranda, maka jarang sekali ada orang yang berani keluar setelah gelap.
Bahkan gardu-gardupun menjadi kosong. Satu dua orang yang mempunyai keberanian
mencoba untuk mengintip dari belakang dinding padukuhan. Tetapi mereka tidak
pernah dapat melihat keranda yang berjalan sendiri itu. Justru orang yang tidak
sengaja untuk melihatnya, sekali-sekali pernah ada yang sempat melihatnya.
Tetapi akhirnya Sura, dan
ketiga orang kawannya berhasil melihat keranda yang dikiranya dapat berjalan
sendiri itu, sehingga justru ada diantara mereka yang menjadi sakit. Tetapi
Paksi Pamekas sama sekali tidak takut bertemu dengan keranda yang dapat terbang.
Meskipun demikian ia harus berhati-hati, karena disekitar keranda itu terdapat
sekitar sepuluh orang yang berpakaian serba hitam. Jika orang-orang itu
menyadari, bahwa rahasia mereka diketahui, maka mereka tidak akan segan-segan
menyingkirkan orang yang mengetahui rahasia mereka itu. Beberapa lama Paksi
berjalan di tengah-tengah bulak yang luas itu.
Tetapi Paksi sudah
menduga bahwa keranda yang belum lama lewat, hari itu tidak akan lewat. Apalagi
keranda itu hanya lewat di hari-hari tertentu saja. Semakin lama maka langkah
Paksi menjadi semakin jauh dari padukuhan. Sementara malam menjadi semakin
malam. Disimpang ampat ditengah bulak, Paksi berhenti. Dipandanginya padukuhan
yang nampak kehitam-hitaman. Seleret sinar oncor memancar menyusup disela-sela
dedaunan. Paksi harus menunda perjalanan panjangnya yang tidak diketahuinya
kemana. la tidak merasa bersalah jika ia berhenti di padukuhan itu beberapa
hari. Bahkan sampai sepuluh hari, karena ia memang tidak dibatasi oleh waktu.
Bahkan tiba-tiba terngiang kembali suara ibunya melengkah ”Kau sengaja
mengusirnya.”
Tetapi ayahnya selalu menjawab” Ia sudah
menginjak tujuhbelas tahun.” Paksi menarik nafas panjang. Namun tiba-tiba saja
Paksi terkejut. Dibawah sebatang pohon randu yang tumbuh di pinggir simpang
ampat itu ia melihat sesuatu yang bergerak. Bahkan kemudian menjadi semakin
jelas baginya, bahwa yang bergerak itu adalah seseorang yang sedang duduk
bersandar batang pohon randu itu. Paksi melangkah surut. Sementara orang yang
duduk bersandar pohon randu itu seakan-akan tidak menghiraukannya. Paksi memang
tidak ingin membuat persoalan. Karena itu, Maka Paksipun merasa lebih baik ia
pergi tanpa mengganggu orang itu.
Namun ketika ia melangkah
menjauh, terdengar orang itu berkata ”Kau kira begitu saja kau dapat pergi?”
Paksi berhenti. Sambil menghadap kearah orang itu, Paksi bertanya ”Apakah maksud
Ki Sanak?” “Kau telah mengetahui rahasiaku. Rahasia keranda terbang itu, serta
kau telah melihat tempat kami menyimpan benda-benda rampokan itu.” Jantung Paksi
berdentang semakin cepat. Ternyata orang itu mengerti bahwa ia telah mengetahui
rahasia hantu keranda itu. ”Apakah kau salah seorang dari mereka ?” bertanya
Paksi Orang itu masih tetap duduk. Dengan suara yang seakan-akan bergulung
didalam mulutnya, ia menjawab ”Ya. Aku salah seorang dari mereka.”
Paksi termangu-mangu sejenak. Namun
dadanya mulai bergejolak. Jika benar orang itu salah seorang dari para perampok
yang membuat hantu-hantuan serta yang telah menyembunyikan barang-barang hasil
rampokan itu, maka ia harus benar-benar mempertahankan hidupnya. Tetapi Paksi
masih tetap berdiri ditempatnya karena orang yang duduk dibawah pohon randu
itupun masih saja duduk ditempatnya pula. Namun kemudian terdengar orang itu
berkata ”Anak muda. Kau telah bermain dengan api. Adalah salahmu jika api itu
menjilat dan membakar tubuhmu.”
Paksi menyadari, bahwa ia
tidak akan dapat mengelak lagi. Tetapi apa boleh buat. Ia harus berani memikul
tanggung jawab atas perbuatannya sendiri sebagaimana dikaitkan oleh orang itu.
Tiba-tiba saja keberaniannya telah menghangatkan darahnya. Dengan suara yang
mantap Paksi bertanya ”Apa yang kau kehendaki Ki Sanak.” “Nyawamu” jawab orang
itu.
“Ambillah sendiri” jawab
Paksi. Orang itu mulai bangkit. Ia berdiri dibawah pohon randu alas itu. Gelap
malam telah mengaburkan wajah orang itu, sehingga Paksi tidak dapat melihat
dengan jelas. Tetapi yang nampak dimatanya dalam keremangan malam adalah
tubuhnya yang gagah, tinggi dan besar. “Menyerahlah” suaranya terdengar serak.
“Untuk apa aku menyerah?” bertanya Paksi. “Aku akan membunuhmu.” “Kau kira aku
apa?” Paksi justru bertanya dengan nada yang mantap. Pengalaman hidupnya membuat
Paksi tidak mengenal takut lagi.
Bahwa ia seakan-akan
telah terbuang dari rumahnya membuatnya tidak peduli lagi apa yang terjadi
biarlah terjadi. Bahkan kematian tidak lagi menghantuinya. Orang itu mulai
melangkah mendekat. Katanya ”Kau akan aku bunuh dengan caraku.” “Jika kau
benar-benar akan membunuhku, maka akupun harus berusaha untuk mempertahankan
hidupku. Jika karena aku mempertahankan diri terjadi sesuatu atasmu, aku tidak
bertanggung jawab.”
“Bersiaplah anak yang sombong. Kau tidak
mempunyai kesempatan lagi untuk mundur.” Paksipun segera mempersiapkan diri.
Meskipun ia masih terhitung sangat muda diumurnya yang tujuhbelas itu, namun
Paksi pernah menyadap ilmu dari seorang guru yang berilmu tinggi. Karena itu,
ketika hidupnya terancam, maka ia akan mempertahankan dirinya dengan ilmunya
sejauh yang dikuasainya. Demikianlah, maka pertempuranpun tidak dapat
dihindarinya lagi. Dengan garangnya orang yang semula duduk dibawah pohon randu
itupun mulai menyerangnya. Tetapi Paksipun telah bersiap sepenuhnya. Karena itu,
ketika serangan itu datang,maka Paksipun dengan tangkasnya telah mengelak.
Bahkan dengan cepat, Paksi telah membalas menyerangnya.
Tetapi orang itupun mampu
bergerak cepat pula. Serangan Paksipun sama sekali tidak menyentuhnya. Ketika
Paksi memburunya dengan serangan berikutnya, maka orang itu justru telah
membenturnya. Serarigan kaki paksi yang terjulur mengarah ke dada, telah
ditangkis lawannya dengan kedua tangannnya yang bersilang didadanya. Paksi yang
belum mengetahui seberapa besar kekuatan dan tenaga lawannya telah terdorong
selangkah surut.
Namun Paksi tidak
berkecil hati. Lawannya ternyata juga tergetar dan surut selangkh pula.
Demikianlah, keduanyapun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Keduanya
saling menyerang, bertahan dan menghindar. Dalam pertempuran yang semakin cepat
itu, Paksi berusaha untuk dapat mengenali lawannya. Dalam keremangan malam,
Paksi melihat bahwa lawannya itu adalah seorang yang cacat. Meskipun dalam
gelap, tetapi setiap kali Paksi sempat melihat wajah yang cacat itu. Ternyata
orang itu merasa, bahwa Paksi memperhatikan cacat di wajahnya.
Karena itu, maka orang
itupun telah meloncat mengambil jarak sambil bertanya ”Kau memperhatikan cacat
diwajahku?” “Ya” jawab Paksi berterus-terang. Orang itu tertawa. Katanya ”Aku
adalah seorang penjahat yang sudah berpuluh tahun melakukan kejahatan. Aku
pernah menjadi pencopet kecil. Pencuri ayam dan jemuran. Aku pernah menjadi
penyamun di tempat-tempat sunyi. Kemudian aku menjadi perampok dan bahkan
perampok dilaut. Selama berpuluh tahun aku ditempa oleh kerasnya duniaku. Cacat
di tubuhnya terjadi disepanjang pengalamanku yang luas itu. Aku pernah disangka
mati karena dipukuli orang sepasar. Tubuhku dilemparkan begitu saja ke jurang
tidak terlalu jauh dari pasar itu “Jangan membual” potong Paksi.
“Kau menjadi ketakutan mendengar
petualanganku?” bertanya orang itu. “Sama sekali tidak” jawab Paksi ”jika sampai
hari ini kau masih sempat bertualang, maka malam ini petualanganmu akan berakhir
disini.” Orang itu tertawa semakin keras. Katanya ”Kau benar-benar anak yang
sombong. Tetapi kau akan segera menyesali kesombonganmu itu.” “Aku sudah siap
apapun yang terjadi” jawab Paksi. Orang itu tidak segera menyerang lagi. Tetapi
iapun berkata ”Lihat, betapa wajahku menjadi cacat. Kakiku sedikit timpang.
Bekas luka yang terdapat dimana-mana. Tetapi ilmukupun meningkat di setiap
goresan yang terdapat pada tubuhku.” “Aku tidak peduli. Tetapi aku akan
mempertahankan hidupku.” Orang itupun mulai melangkah mendekat lagi. Dengan
cepat orang itu telah menyerang pula. Pertempuranpun telah menyala kembali.
Keduanya bergerak semakin cepat. Serangan demi serangan telah dilakukan oleh
kedua belah pihak. Orang yang berwajah dan bertubuh cacat itu ternyata semakin
lama menjadi semakin garang. Serangan-serangannya menjadi semakin cepat dan
semakin keras. Tetapi Paksipun telah meningkatkan kemampuannya pula. Pada
umurnya, Paksi memiliki tenaga yang mantap. Kebiasaannya bermain dengan
permainan keras telah membantu meningkatkan kekuatan dan ketahanan tubuhnya.
Kesenangannya bergulat ditepian membuat tubuhnya semakin liat dan tahannyapun
menjadi semakin tinggi. Karena itu maka setelah bertempur beberapa lama, tenaga
Paksipun masih belum menyusut. Tetapi pengalaman orang cacat itu memang jauh
lebih luas dari Paksi. Karena itu, maka setiap kali serangan orang itu
mengejutkan Paksi. Namun betapapun Paksi mengerahkan kemampuannya, orang itu
ternyata mampu menembus pertahanannya. Serangan-serangannya sekali-sekali telah
menyentuh tubuhnya. Tetapi setelah bertempur beberapa lama, Paksi mulai melihat
celah-celah pertahanan lawannya. Paksi yang kemudian mengalami kesulitan itu,
tidak lagi sekedar bertempur dengan unsur-unsur gerak yang dikuasainya. Tetapi
ia harus mempergunakan penalarannya sebaik-baiknya. Ia harus membuat
perhitungan-perhitungan dengan cepat, tetapi cermat agar tidak justru membuatnya
semakin sulit. Ketika Paksi harus meloncat menjauhi lawannya untuk mengambil
jarak, ia melihat bahwa lawannya tidak terlalu cepat menyusulnya. Terasa ada
tenggang waktu sekejap sebelum lawannya melibatnya lagi dalam pertempuran yang
sengit. Sekali dua kali Paksi mencoba, Sehingga iapun dapat mengambil kesimpulan
bahwa lawannya kurang memiliki ketangkasan untuk bertempur dengan
loncatan-loncatan panjang. Dengan demikian, maka Paksi telah memilih cara yang
justru tidak disukai lawannya. Paksi bertempur pada jarak yang dipeliharanya
dengan baik. Ternyata Paksi berhasil mempersulit kedudukan lawannya. Tetapi
setiap kali pengalaman orang cacat yang luas itu, terasa sangat berpengaruh
dalam pertempuran itu. Orang cacat itu tidak mau terpancing dalam pertempuran
dengan jarak yang panjang. Setiap kali Paksi meloncat menjauh, lawannya tidak
tergesa-gesa memburunya. Tetapi ia justru melangkah satu-satu mendekatinya.
Paksilah yang kemudian menjadi tidak telaten. Ia menjadi tidak,sabar
lagi,sehingga ia tidak berpegang teguh pada perhitungannya. Dengan demikian,
maka serangan-serangan lawannya itu menjadi semakin sering menembus pertahanan
anak muda itu. Ketika Paksi menjulurkan kakinya menyerang kearah lambung
lawannya, maka orang cacat itu justru menjatuhkan dirinya. Kakinya dengan cepat
menyapu kaki Paksi yang lain, sehingga Paksi telah menjadi kehilangan
keseimbangan. Karena itu, maka Paksipun telah terjatuh. Tetapi iapun dengan
cepat bergulir. Dengan tangkas pula Paksi segera meloncat bangkit. Tetapi diluar
dugaan. Lawannya yang timpang, yang selalu menghindari pertempuran dengan jarak
yang panjang, mampu meloncat dengan cepat. Ternyata Paksi terkejut. Tetapi ia
terlambat menghindar. Tangan orang itu dengan cepat menghantam perutnya. Diluar
sadarnya, Paksi terbungkuk. Namun dengan cepat pula lawannya memegang kepalanya.
Dengan kerasnya kepala Paksi telah membentur lutut oranng yang timpang itu. Mata
Paksi menjadi gelap. Tetapi ia tidak mau kehilangan kesadarannya. Bahan dengan
cepat ia surukkan kepalanya keperut lawannya. Keduanya terjatuh berguling di
Tanah, Namun Paksi tidak ingin menjadi sasaran seranganserangan lawannya.
Meskipun perutnya masih terasa mual serta kepalanya maih angat pening, tetapi
Paksi telah bersiap kembali untuk bertempur. Pada saat yang sama, lawannya telah
bangkit pula. Bahkan dengan cepat ia telah menyerang Paksi. Sambil meloncat
orang itu telah menjulurkan tangannya kearah dada. Tetapi Paksi dengan cepat
bergeser kesamping. Justru pada saat tangan lawannya terjulur, Paksi telah
menyerang lambung orang'itu dengan kakinya. Meskipun orang itu menggeliat,
tetapi kaki Paksi masih dapat menggapainya, sehingga orang yang sedang meluncur
itu telah terdorong kesamping dan jatuh berguling. Tetapi orang itu kurang
beruntung, bahwa ia tidak memperhatikan parit yang membujur dipinggir jalan,
sehingga ia justru terperosok kedalamnya. Dengan cepat orang itu bangkit.
Pakaian dan tubuhnya menjadi basah kuyup. Karena hal itu tidak terduga, maka
beberapa teguk air telah masuk kedalam kerongkongannya. Ketika orang itu sibuk
mengusap wajahnya, serangan Paksi telah datang lagi. Kakinya dengan cepat sekali
terjulur menyambar kening orang itu. Sekali lagi orang itu terlempar. Bahkan
orang itu telah terlempar kedalam lumpur di kotak sawah yang basah. Paksi yang
ingin mengambil kesempatan tidak menunggunya. Dengan cepat ia memburu lawannya.
Demikian lawannya bangkit, maka tangannya telah menyambar dagu. Gigi orang itu
terdengar gemeretak. Dengan kasarnya orang itu mengumpat. Tetapi ketika dengan
satu putaran kaki Paksi menyambar dadanya, maka orang itu telah terlempar jatuh.
Dengan cepat orang itu bangkit. Tetapi ia tidak berusaha menyerang Paksi. Dengan
sertamerta, maka orang itupun telah melarikan dirinya kedalam kegelapan.
Beberapa puluh langkah Paksi mengejarnya. Tetapi kemudian iapun telah
menghentikan usahanya untuk menangkap orang itu. Karena itu, maka Paksipun
kemudian berhenti. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia harus terlibat
dalam pertempuran dengan salah seorang diantara para perampok yang telah membuat
hantu-hantuan itu. Bahkan hampir saja ia terdesak. Jika ia gagal mempertahankan
dirinya, maka nyawanya tentu benar-benar akan dihabisi oleh orang itu. Paksi
berdiri termangu-mangu sejenak. Angin terasa semilir menghembus kulitnya. Ketika
Paksi menengadahkan wajahnya, dilihatnya langit bersih. Bintang-bintang
berkeredipan kebatas cakrawala. Namun tubuh Paksi semakin terasa nyeri.
Tulang-tulangnya bagaikan menjadi retak. Sedangkan kepalanya masih saja terasa
pening. Sejenak Paksi berdiri termangu-mangu. Namun kemudian iapun membenahi
pakaiannya. Ketika ia melangkah kembali ke padukuhan, sendi-sendinya terasa
sakit. Ketika Paksi memasuki regol halaman rumah Sura, ternyata Sura masih duduk
disebuah lincak bambu yang panjang di serambi. Demikian ia melihat Paksi
memasuki regol halaman dan keremangan malam, Surapun segera bangkit dan
menyongsongnya. “Kau membuat aku cemas, ngger.” Paksi menarik nafas panjang.
Namun iapun bertanya pula ”Pertemuan di rumah Ki Bekel itu begitu cepat
selesai?” “Pertemuan itu cukup lama, ngger. Kaulah yang pergi terlalu lama. Kita
sudah berada dibelahan malam terakhir.” Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tengah
malam memang sudah lewat. Agaknya ia bertempur cukup lama pula. “Marilah ngger”
ajak Sura ”sudah waktunya kita beristirahat.” Keduanyapun melangkah keserambi.
Namun Paksipun berkata”Aku akan pergi ke pakiwan paman.” “Baiklah. Tetapi lewat
pintu butulan saja.” “Aku akan masuk lewat pintu butulan.” Paksipun kemudian
langsung pergi ke pakiwan lewat samping rumah meskipun Sura mengajaknya lewat
ruang dalam rumahnya. Paksi memang harus membersihkan tubuhnya dari debu dan
lumpur. Tetapi ia tidak dapat membersihkan pakaiannya malam itu. Ketika Paksi
masuk keruang dalam lewat pintu butulan, Sura terkejut. Ia melihat wajah anak
itu lembab kebiru-biruan dekat arah matanya, langkah Paksipun menjadi berat dan
bahkan kaki kanannya menjadi sedikit timpang. “Apa yang terjadi, ngger?” Paksi
menarik nafas dalam-dalam. Sura kemudian menggandengnya dan mempersilahkannya
duduk diatas tikar pandan. Paksi yang nampak sangat letih dan sekali-sekali
memegang perutnya yang sakit dan mual, duduk sambil menundukkan wajahnya. Ketika
ia mencuci mukanya, terasa wajahnya menjadi pedih.
“Apa yang terjadii?” Sura
mendesaknya ”aku sudah gelisah menunggumu. Ternyata kau telah mengalami
sesuatu.”
“Aku berjalan-jalan
sampai keluar padukuhan ini paman. Tetapi malang, aku bertemu dengan ialah
seorang dari para perampok itu. Ketika aku diserang, aku mencoba untuk bertahan.
Tetapi inilah yang terjadi. Tetapi aku masih beruntung bahwa aku sempat lari”
jawab Paksi merendahkan
diri agar orang-orang
padukuhan itu tidak terlalu menaruh pengharapan kepadanya jika ternyata kelak
mereka benar-benar harus menghadapi Kebo Lorog.
Sura mengerutkan dahinya.
Diluar sadarnya iapun berdesis ”Sokurlah bahwa kau dapat melepaskan dirimu.
Paksi tidak menyahut.
Tetapi ia melihat sesuatu yang terbersit di hati Sura.
Meskipun ragu-ragu, Sura
itupun bertanya ”Tetapi bagaimana peristiwa itu terjadi? Apakah kau tahu pasti,
bahwa orang itu salah seorang diantara para perampok itu?”
Paksi termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian iapun berkata ”Orang itu tiba-tiba saja menuduhku, bnhwa
aku telah mengetahui rahasianya. Aku tidak tahu, apakah ia benar-benar
mengetahui bahwa aku menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh para perampok itu
atau sekedar mencari alasan untuk melakukan kekerasan. Tetapi agaknya orang itu
benar-benar ingin membunuhku.”
Sura mengangguk-angguk.
Katanya ”Jika demikian, kita memang harus berhati-hati.
Nampaknya mereka sudah
membuat persiapan-persiapan menjelang kehadiran Kebo Lorog.”
“Mungkin sekali, paman.”
“Karena itu, besok jangan
berjalan-jalan setelah lewat senja. Nampaknya keadaan menjadi gawat. Bukan saja
ceritera tentang hantu keranda, tetapi orang-orang itu telah langsung melakukan
kekerasan.”
Paksi mengangguk-angguk
kecil sambil menjawab ”Baik, paman.”
“Bila Kebo Lorog itu
benar-benar akan datang saat padukuhan ini merti desa, maka keadaan akan menjadi
gawat.”
“Tetapi apakah paman dan
para bebahu padukuhan ini pasti, bahwa Kebo Lorog akan melakukan tindakan
kekerasan terhadap padukuhan ini. Aku sekedar melihat hasil kerja orangorangnya
yang berkeliaran disekitar tempat ini dan menyembunyikan harta-bendanya di
kuburan itu?”
“Kita memperhitungkan
keadaan yang paling gawat yang mungkin terjadi, ngger.” jawab Sura
”kita semuanya memang
berharap bahwa Kebo Lorog tidak akan mengganggu padukuhan ini.
Tetapi jika gangguan ini
terjadi, maka kita tidak akan tinggal diam.” Paksi mengangguk-angguk. Sementara
Sura itu berkata selanjutnya ”Karena itu, maka kita akan mempersiapkan diri
sejauh dapat kita lakukan. Kita harus mempertahankan harga diri agar kita untuk
selanjutnya tidak akan menjadi ampas kelapa yang diperah sampai kering.
Paksi memandang wajah
Sura sejenak. Wajah itu nampak bersungguh-sungguh. Bahkan sekali dua kali Sura
mengusap keringatnya yang mengembun di kening.
Paksi mengerti, bahwa
persoalan yang telah dibicarakan oleh Ki Bekel dengan para bebahunya itu
dianggap persoalan yang gawat sekali, karena akan menyangkut kehidupan di
padukuhan itu. Dengan ragu-ragu Paksipun kemudian bertanya ”Paman jadi apakah
yang akan dilakukan oleh Ki Bekel dan para bebahu menghadapi kemungkinan
kedatangan Kebo Lorog?”
“Kita akan bersiap. Ki
Jagabaya akan mengumpulkan anak-anak muda serta laki-laki yang berani serta
masih mempunyai kemampuan untuk berkelahi. Ada tiga atau empat orang bekas
prajurit di padukuhan ini yang akan diminta kesediaannya memimpin perlawanan.
Selain mereka, Ki Jagabaya, Ki Bekel sendiri dan adik Ki Bekel yang bernama Adeg
Panatas itu.”
Paksi menarik, nafas
dalam-dalam. Agaknya para penghuni padukuhan ini akan mengerahkan segenap
kekuatan yang ada untuk melindungi diri sendiri.
Namun Paksi itupun
berkata ”Paman. Jika persiapan itu diketahui oleh para pengikut Kebo Lorog,
apakah bukan berarti bahwa kita justru mengisyaratkan agar Kebo Lorog datang
dengan kekuatan yang lebih besar.”
Sura mengerutkan dahinya.
Sambil mengangguk kecil Sura berkata ”Memang mungkin sekali.
Persiapan-persiapan yang
kita lakukan akan membuat Kebo Lorog dan para pengikutnya menjadi berhati-hati
serta memuat perhitungan yang lebih bersungguh-sungguh.”
“Jika terjadi demikian,
maka keadaan padukuhan ini akan dapat menjadi parah sekali.”
“Ya. Seharusnya hal ini
juga diperhitungkan.” Sura mengangguk-agguh. Lalu katanya pula ”Biarlah besok
aku bertemu dengan Ki Jagabaya.”
“Agaknya Ki Jagabaya juga
perlu diberi tahu, bahwa orang-orang yang membuat hantuhantuan itu adalah
orang-orang yang sangat garang. Mereka tidak ragu-ragu untuk bertindak kasar.”
Sura mengangguk-angguk.
Paksi sendiri sudah mengalaminya. Untunglah bahwa Paksi dapat melarikan diri.
Karena malam menjadi
semakin dalam, maka Sura itupun kemudian telah mempersilahkan Paksi untuk
beristirahat. Tetapi ketika Sura sempat memperhatikan pakaian Paksi, maka iapun
telah menawarkan untuk
meminjami Paksi sepengadeg pakaiannya.
“Terima kasih, paman”
jawab Paksi yang mulai merasa gatal-gatal dengan pakaiannya yang kotor dan
berlumpur.
Malam itu Paksi mendapat
sepengadeg pakaian dari Sura, sehingga besok ia dapat mencuci pakaiannya yang
dipakainya sejak ia meninggalkan rumahnya.
Disisa malam itu, Paksi
berbaring di bilik yang diperuntukkan baginya. Meskipun agak sulit, tetapi
akhirnya Paksipun tertidur pula. Namun jika sekali-sekali ia terbangun, maka
badannya masih terasa nyeri dibeberapa bagian. Kepalanya masih penang dan
perutnya masih mual.
Tetapi ketika ia
terbangun menjelang matahari terbit, tubuhnya terasa semakin segar. Apalagi
setelah ia menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan, kemudian mandi dengan
air dingin.
Hari itu, pagi-pagi Sura
mengajak Paksi untuk menemui Ki Jagabaya. Sura berusaha menjelaskan bahwa
persiapan yang berlebihan justru akan memancing perhatian para pengikut Kebo
Lorog. Dengan demikian, mereka akan memperkuat barisan mereka jika mereka memang
inlgin menguasai padukuhan itu.
Ki Jagabayapun ternyata
menganggap pendapat itu masuk akal. Karena itu, maka iapun berkata ”Kami akan
menghimpun orang-orang yang sudah siap untuk terjun ke medan pertempuran untuk
melawan para perampok. Selebihnya baru anak-anak muda di padukuhan untuk melawan
para perampok. Selebihnya baru anak-anak muda di padukuan ini.”
“Bagaimana kita
mempersiapkan mereka tanpa menarik perhatian?”
“Kita akan menentukan
orang-orang tertentu untuk memimpin sekelompok kecil anak-anak muda dari tiga
atau ampat orang. Mereka harus mempersiapkan kelompok mereka masing-masing bisa
sampai saatnya mereka tidak mengecewakan. Tetapi persiapan yang tinggal sedikit
itu tidak akan menarik perhatian.”
Sura mengangguk-angguk
sambil berkata ”Juga untuk menghindari kecurigaan, merti desa akan” berlangsung
seperti biasanya. Ki Bekel sudah berjanji untuk menyelenggarakan tari tayub di
bulak sawah padukuhan kita sesudah padi dituai.”
“Besok kita sudah mulai
menuai padi di bulak itu.”
“Ya. Kita akan
menyelenggarakan merti desa menurut hari yarig sudah kita tentukan.”
Ternyata Ki Jagabaya
kemudian telah menjalankan tugasnya dengan baik. Sementara Ki Jagabaya
mempersiapkan perlawanan dengan diam-diam, maka Ki Bekel dan bebahu yang lain
telah mempersiapkan sebuah keramaian untuk merti desa.
Dalam pada itu, maka para
perampokpun telah brsiap-siap sebaik-baiknya pula untuk menyambut kedatangan
salah seorang pemimpin mereka, Kebo Lorog.
Jika Kebo Lorog hadir
dilingkungan itu, maka Kebo Lorog akan melihat hasil kerja mereka.
Barang-barang yang telah
mereka simpan di kuburan, serta keramaian merti desa di padukuhan sebelah.
“Apakah orang-orang
padukuhan itu bersedia menerima kita untuk ikut hadir dalam keramaian merti desa
itu?” desis salah seorang perampok itu.
Kawannya tertawa. Katanya
”Sambil membawa keranda?”
Kawan-kawannya yang
lainpun tertawa. Namun seorang dari mereka berkata ”Bersedia atau tidak, kita
akan menentukan sikap kita sendiri.”
“Maksudmu?”
“Disaat mereka sedang
menyelenggarakan keramaian, kita akan lewat. Jangan terlalu dekat.
Maka mereka akan menjadi
sangat ketakutan. Keramaian itu akan bubar. Masing-masing akan melarikan diri
dan pulang dengan tubuh gemetar.”
“Apa keuntungan kita?”
bertanya seorang kawannya.
“Hari itu memang tidak
ada. Tetapi pada kesempatan lain, jika kita memasuki padukuhan itu dan mengambil
harta-benda yang tersimpan didalamnya, tidak akan ada seorangpun yang berani
keluar rumahnya. Kita akan dapat dengan leluasa melakukannya.”
“Kita membawa
barang-barang itu dengan keranda?
“Justru tidak. Keranda
itu akan kita tutup agar tidak kelihatan.” jawab orang yang berbicara terdahulu”
hanya jika terjadi ditempat lain yang agak jauh, keranda itu akan nampak
memasuki kuburan itu dan hilang diluar regol.”
Kawan-kawannya
mengangguk-angguk. Mereka mengerti bahwa jika perampokan itu terjadi di tempat
yang terlalu dekat dengan terlihatnya keranda yang berjalan, apalagi di
padukuhan sebelah, orang-orang dari padukuhan itu akan mempertanyakan, apakah
memang ada hubungannya antara perampokan itu dengan keranda yang lewat.
Demikianlah hari-haripun
menjadi semakin dekat. Padi disawah sebagian besar sudah dibawa pulang dan
disimpan dilumbung. Jerami di sawah sudah mulai dibabat, ditimbun dibeberapa
tempat diantara kotak-kotak sawah dan kemudian dibakar. Abunya akan dapat
menjadi pupuk selain beberapa pupuk yang lain, termasuk pupuk kandang. Di kotak
sawah Ki Bekel yang juga sudah dituai, telah dibuat tratag anyaman bambu. Sebuah
tratag bertiang baimbu yang akan dipergunakan oleh para penari tayub untuk
menari serta bagi para pengiring gamelan. Alas dari tratag itupun dibentangkan
anyaman bambu pula. Dari kejaunan satu dua orang perampok ikut menyaksikan
orang-orang padukuhan yang sibuk itu. Setiap kali mereka tertawa membayangkan
apa yang bakal terjadi pada saat keramaian itu diselenggarakan. Jika sebuah
keranda berjalan sendiri dikejauhan, maka mereka yang ikut menyaksikan tari
tayub itu berlari meninggalkan tempat itu pulang kerumah masing-masing. Mereka
akan menjadi sangat ketakutan, sehingga dimalam malam berikutnya mereka tidak
akan berani keluar setelah gelap turun. Keyakinan itulah yang kemudian akan
mereka sampaikan kepada Kebo Lorog. Peristiwa itu akan dapat menjadi bahan
tontonan yang sangat menarik bagi pemimpin mereka yang sangat mereka takuti itu.
Sementara itu, orang-orang di padukuhan itupun sudah mempersiapkan diri
sebaik-baiknya. Beberapa orang yang dianggap memiliki bekal untuk turun tangan
jika benturan kekerasan itu benar-benar terjadi, telah menyiapkan masing-masing
dua atau tiga orang anak muda. Seorang bekas prajurit yang meskipun rambutnya
sudah beruban, tetapi masih tegar, telah mengajari tiga orang anak muda,
bagaimana mereka harus mempergunakan senjata. Sementara itu, kepada mereka Sura
dan Mertawira telah berusaha meyakinkan, bahwa tidak ada hantu keranda. Yang ada
adalah sebuah tipuan untuk mengelabuhi orang-orang padukuhan. Bukan hanya
padukuhan mereka, tetapi beberapa orang padukuhan yang lain. Sementara itu
ceritera dari mulut kemulut yang merambat dari padukuhan ke padukuhan telah
menyebar ketempat yang luas. Bahkan telah merambat keluar Kademangan. Karena
itu, menjelang malam yang biasanya menggembirakan bagi seisi padukuhuan itu,
bahwa ceritera tentang keranda itu tidak lebih dari sebuah mimpi buruk. “Tidak
ada keranda yang dapat berjalan sendiri” berkata Ki Jagabaya tanpa
menceriterakan bahwa dua orang penghuni padepokan itu sudah dapat memberi
kesaksiannya. Ki Jagabaya memang harus memberikan keterangan yang berbeda kepada
orang-orang padukuhan itu, agar kesiagaan seisi padukuhan itu sudah dapat
memberikan kesaksiannya. Ki Jagabaya memang harus memberikan keterangan yang
berbeda kepada orang-orang padukuhan itu, agar kesiagaan seisi padukuhan itu
tidak didengar oleh para perampok yang akan menyambut kedatangan pemimpin
mereka. Tidak sebagaimana Sura dan Mertawira meyakinkan anak-anak muda di
padukuhan itu. Meskipun demikian, Ki Jagabaya, Ki Bekel dan para bebahu
padukuhan itu mengerti, bahwa usaha untuk menjebak orang yang bernama Kebo Lorog
itu adalah satu kerja yang mengandung kemungkinan yang sangat buruk bagi
padukuhan mereka. Tetapi kehadiran adik Ki Bekel yang sudah lama meninggalkan
padukuhan, yang agaknya telah menyadap ilmu kanuragan itu, telah memberikan
harapan baru bagi Ki Bekel dan para bebahu. Hari-hari yang mendebarkan itupun
akhirnya datang juga. Sebagian dari orang-orang padukuhan itu memang mulai
percaya, bahwa memang tidak ada keranda yang berjalan sendiri. “Siapa yang
pernah melihatnya?” bertanya Ki Jagabaya” semua orang mengatakan, kata orang.
Jika ada orang yang merasa pernah melihat, keterangannya sangat meragukan.
Karena itu, jangan takut. Kita akan merayakan keberhasilan panen kita seperti
biasanya. Sebagian orang-orang padukuhan itu sependapat dengan Ki Jagabaya.
Keranda yang berjalan sendiri itu tidak lebih dari cerita ngaya-wara. Dalam pada
itu, para pengikut Kebo Lorog yang semula memang sedikit ragu, apakah merti desa
di padu kuhan itu dapat berlangsung,seperti biasanya, menjadi semakin mantap.
Jika orangorang padukuhan yang terlanjur menjadi ketakutan itu urung merayakan
kegembiraan atas hasil panen mereka maka pertunjukan yang menarik itu tidak
dapat mereka perlihatkan kepada Kebo Lorog. Mereka tidak akan dapat melihat
bagaimana orang-orang yang sedang mengikuti keramaian merti desa itu lari
tunggang langgang, saling bertubrukan serta berteriak-teriak ketakutan melihat
keranda yang berjalan sendiri agak jauh dari tempat keramaian itu, menuju ke
kuburan. Sementara itu, disebuah rumah yang terhitung besar, di sebuah padukuhan
yang lain, beberapa orang tengah menunggu, Dirumah itu tinggal seorang yang
termasuk disegani oleh tetangganya, karena orang itu terhitung orang yang kaya
di padukuhannya. Bukan saja seorang yang kaya, tetapi ia juga dianggap seorang
yang memiliki kemampuan yang tinggi. Tidak seorangpun yang pernah berprasangka
buruk terhadap Ki Putuhu, pemilik rumah itu meskipun kadang-kadang satu dua
orang tetangganya merasa heran, dari manakah datangnya kekayaan Ki Putuhu itu.
Menilik sawahnya yang tidak terlalu luas serta sehari-harian ia lebih banyak
dirumah, maka menurut penalaran mereka, penghasilannya tentu tidak begitu
banyak. Sedangkan menurut pengetahuan tetangga-tetangganya. Ki Pituhu juga tidak
pernah mendapatkan warisan yang cukup, karena orang tuanya juga bukan orang
berada. Namun bagi tetangga-tetangganya, Ki Putuhu adalah seorang yang sangat
baik. Ia seorang yang sangat sering sekali memberikan bantuan kepada orang-orang
yang membutuhkan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Juga kepada
padukuhannya, Ki Putuhu sering memberikan sumbangan yang berarti. Tidak
seorangpun yang pernah mencurigai bahwa dirumah Ki Pituhu yang baik itu tinggal
beberapa orang yang hari itu sedang menunggu kehadiran seseorang yang bernama
Kebo Lorog. Ketika dua orang yang bertubuh tinggi tegap dan berwajah garang
berjalan melalui jalan padukuhan, memang tidak banyak menarik perhatian. Seorang
anak muda yang kebetulan memperhatikan kedua orang itu, sempat juga bertanya
didalam hatinya, siapa sajakah kedua orang yang lewat itu. Tetapi karena
keduanya berada di jalan yang banyak dilalui orang yang memang tidak
dikenalinya, maka anak muda itu menganggap bahwa keduanya adalah orang yang
lewat sebagaimana orang yang lain. Apalagi kedua orang itu sama sekali tidak
menunjukkan sikap yang mencurigakan. Mereka berjalan sebagaimana orang lain
berjalan. Sedikit berbincang dan kadang-kadang memperhatikan keadaan
disekitainya. Karena itu maka anak muda itu tidak menghiraukannya lagi, Sehingga
dengan demikian, maka anak muda itu tidak tahu, bahwa kedua orang itu telah
memasuki regol halaman rumah Ki Putuhu. Kedatangan kedua orang itu telah
disambut dengan hangat oleh orang-orang yang memang sudah nenunggu dirumah Ki
Putuhu, terutama Ki Putuhu sendiri. “Marilah, kakang” Ki Putuhu itu
mempersilahkan. Kedua orang itupun kemudian naik ke pendapa dan duduk diantara
beberapa orang yang menunggunya. “Aku sudah menjadi cemas, bahwa kakang tidak
jadi datang hari ini.” “Apakah aku sering ingkar janji?” jawab salah seorang
dari kedua orang itu. “Tidak, Kakang Kebo Lorog memang tidak pernah ingkar
janji” desis Ki Putuhu ”karena itu, kami sudah menunggu kakang disini bersama
beberapa orang kawan kami,” “Aku ingin melihat apa yang telah kalian lakukan
disini, Aku sudah mendengar permainan kalian dengan hantu-hantuan itu,” “Apakah
cara itu menarik perhatian kakang Kebo Lorog?” bertanya Ki Putuhu. ”Aku sedang
mempelajarinya.” Jawab Kebo Lorog, “Besok malam keramaian merti desa itu akan
diselenggarakan, Besok malam kami akan mempertunjukkan tontonan yang tentu
menarik bagi kakang Kebo Lorog.” “Tontonan apa?” “Keranda itu akan berjalan
tidak jauh dari tempat keramaian itu diadakan.” Sebelum Ki Putuhu berceritera
lebih lanjut, Kebo Lorog sudah tertawa lebih dahulu, Katanya ”Kau akan
menunjukkan kepadaku, bagaimana orang-orang padukuhan itu berlarian kalang
kabut.” “Ya” Ki Putuhupun tersenyum. Tetapi Kebo Lorog menggeleng sambil berkata
”Pertunjukan itu belum tentu dapat berlangsung.” “Kenapa?” bertanya Ki Putuhu,
“Sejak sebelumnya orang-orang padukuhan itu sudah ketakutan. Karena itu, maka
mereka tidak akan berani keluar dari rumah mereka setelah senja turun.” “Tetapi
tratag sudah dibuat di sawah Ki Bekel. Nampaknya keramaian itu tetap akan
diadakan.” jawab Ki Putuhu. “Mungkin saja. Tetapi apakah ada yang menonton atau
tidak, kita masih belum dapat memastikannya” berkata Kebo Lorog. Namun iapun
kemudian berkata ”Itu tidak penting. Yang penting bahwa kalian berhasil
melakukan tugas kalian didaerah ini.” “Kami akan menunjukkan kepada Kakang Kebo
Lorog. Kami simpan hasil kerja kami di kuburan.” “Kenapa tidak ditempat ini?”
bertanya Kebo Lorog. “Nampaknya lebih aman disimpan di kuburan itu. Sebagian
dari hasil kerja kami memang dibawa kerumah ini dan disimpan disini untuk satu
dua pekan. Selanjutnya, semua kami bawa dan simpan di kuburan itu sekaligus
sambil bermain hantu-hantuan.” “Apakah dirumah ini tidak dapat dijamin
pengamanannya?” Ki Putuhu menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Rumah ini masih
terhitung rumah warisan yang akan dimiliki oleh tiga orang, karena aku masih
mempunyai dua orang bersaudara,” ”Dimana 'mereka sekarang?” “Keduanya perempuan.
Mereka ikut suami mereka. Tetapi kadang mereka datang berkunjung kemari. Aku
adalah yang tertua diantara kami bertiga, sehingga kedua adikku itu merasa wajib
untuk setiap kali datang” jawab Ki Putuhu ”selebihnya aku harus mencurigai
orang-orangku sendiri yang tidak terlibat dalam kerja ini.” “Maksudmu, siapakah
mereka itu?” “Aku mempunyai beberapa orang yang membantu kesibukan keluarga
kami. Ada yang mengurusi ternak dan kuda. Ada yang mengurusi sawah dan ladang
dan ada pula yang membantu isteriku didapur, mencuci pakaian dan sebagainya. Aku
mengkhawatirkan, bahwa tidak dengan sengaja mereka menemukan sesuatu yang dapat
menarik perhatian mereka. Karena itu, barangbarang itu tidak boleh terlalu lama
berada disini.” Kebo Lorog mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Kapan kita akan
melihat hasil kerja kalian.” “Besok malam, setelah kita menonton pertunjukan
yang kita harapkan dapat menarik itu.” jawab Ki Putuhu. Kebo Lorog
mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bertanya ”Apakah pembantupembantumu itu
tidak mencurigaimu jika dirumah ini terdapat beberapa orang seperti sekarang
ini?” “Tidak. Menurut pengertian mereka, aku adalah seorang saudagar perhiasan,
permata dan wesi aji, sehingga dengan demikian maka mereka tidak pernah menaruh
perhatian terhadap tamutamuku yang mereka anggap kawan berdagang atau bahkan
pembantu-pembantuku dalam perdagangan ini.” Kebo Lorog mengangguk-angguk.
Sebenarnyalah orang-orang yang bekerja dirumah Ki Putuhu sama sekali tidak
menghiraukan apa saja yang pernah dilakukan oleh Ki Putuhu. Meskipun ada
diantara mereka yang sekali-sekali diganggu oleh pertanyaan dari-mana datangnya
kekayaan Ki Putuhu, namun mereka berusaha untuk melupakannya. Mereka memang
mencoba untuk meyakini bahwa Ki Putuhu adalah seorang saudagar perhiasan,
permata dan wesi aji, meskipun Ki Putuhu nampaknya tidak benar-benar sibuk
dengan kerja itu. Mereka juga tidak menghiraukan apakah banyak orang yang
berdatangan di rumah Ki Putuhu. Yang penting mereka bekerja dirumah itu dengan
upah yang memadai. Hari itu, Kebo Lorog dan seorang kawannya akan bermalam
dirumah Ki Putuhu, Seorang yang mengendalikan para pengikut Kebo Lorog yang ada
dilingkungannya. Namun yang oleh tetanggatetangganya dianggap seorang yang baik,
dermawan dan rendah hati. Menjelang malam, Kebo Lorog dan kawannya bersama Ki
Putuhu sempat melihat persiapan keramaian merti desa yang akan diselengarakan
esok malam. “Nampaknya mereka bersungguh-sungguh” berkata Kebo Lorog. “Tayub”
sahut Ki Putuhu ”dengan menyelenggarakan tari tayub sebagai pernyataan terima
kasih atas keberhasilan panen mereka kepada Dewi Padi, mereka berharap bahwa
pada kesempatan lain, panen mereka akan semakin baik” Kebo Lorog itu
mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia merasa heran, kenapa
orang-orang padukuhan itu masih juga berani menyelenggarakan keramaian jika
untuk beberapa lama selalu dibayangi ketakutan karena hantu keranda itu. Hampir
diluar sadarnya ia berkata ”Ternyata hantu-hatuan kalian tidak berhasil
menakut-nakuti orang padukuhan itu.” “Selama ini padukuhan itu menjadi sepi,
kakang. Bukan hanya padukuhan itu, tetapi beberapa padukuhan yang lain. Aku
tidak tahu, apakah demikian kuatnya dorongang naluri mereka untuk
menyelenggarakan keramaian itu sehingga mengatasi perasaan takut mereka. Tetapi
besok kita akan membuktikan, bahwa mereka akan menjadi ketakutan.” Kebo Lorog
mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa baginya tidak menjadi terlalu penting,
apakah nereka menjadi ketakutan atau tidak. Yang menjadi perhatian utamanya
adalah justru keberhasilan kerja para pengikutnya di lingkungan itu. Karena itu,
maka Kebo Lorogpun tidak memperhatikan persiapan keramaian itu lebih lama lagi.
Ia menjadi tertarik untuk melihat-lihat padukuhan-padukuhan yang lain
disekitarnya. Lewat tengah malam, mereka telah berada di rumah Ki Putuhu
kembali. Kebo Lorog dan kawannya yang sudah merasa letih itupun segera
dipersilahkan beristirahat. Dihari berikutnya, mereka lebih banyak berada
dirumah. Duduk-duduk sambil berbincang. Bersama beberapa orang pengikutnya yang
hari itu ada dirumah Ki Putuhu, mereka tengah merencanakan niat Kebo Lorog untuk
melihat harta benda yang disembunyikan di kuburan. “Aku tidak akan mengganggu
milik kalian selain yang memang sudah kalian siapkan untuk kalian berikan
kepadaku. Yang lain itu hak kalian.” berkata Kebo Lorog Ki Putuhu
mengangguk-angguk. Katanya ”Kita sudah memisahkan yang terbaik yang akan kami
serahkan kepadamu, Kakang.” “Aku juga tidak akan menyebutkan, apa yang aku
inginkan dari barang-barang yang kalian simpan itu. Terserahlah kepada kalian
berkata Kebo Lorog itu pula. “Setelah kita bermain-main dengan hantu-hantuan
itu, kita akan ke kuburan.” “Persetan dengan keramaian itu,” desis Kebo Lorog.
Ki Putuhu mengerutkan dahinya Tetapi ia tidak menjawab. Permainan yang akan
menjadi salah satu tontonan yang menarik itu ternyata tidak dianggap penting
oleh Kebo Lorog. “Tetapi ia akan senang melihatnya” berkata Ki Putuhu didalam
hatinya. Dalam pada itu, dua orang pengikut Kebo Lorog telah memeritahukan,
bahwa gamelan telah diletakkan dibawah tratag yang dibuat di tengah sawah itu.
Mereka tidak lagi merasa ragu, bahwa keramaian itu akan berlangsung siang hari.
“Keramaian itu tentu akan diselenggarakan seperti biasanya, dimalam hari”
berkata salah seorang dari keduanya. Ki Putuhu tersenyum. Katanya ”Aku sedikit
curiga, bahwa untuk mengatasi rasa takut mereka akan menyelenggarakan keramaian
disiang hari.” “Tetapi tayub dan upacara terima kasih itu biasanya memang
dilakukan di malam hari. Pada saat kegelapan menyelimuti bulak sawah yang luas
itu, karena kegelapan merupakan bagian dari upacara itu sendiri.” berkata sajah
seorang dari antara mereka. Kebo Lorog hanya mengangguk-angguk saja.Tetapi ia
tidak menanggapinya. Demikianlah. semakin rendah matahari, maka disekitar tempat
keramaian itu memang menjadi semakin banyak dikunjungi orang. Jilid 2 ANAK-ANAK
berlari-larian disekitar tralag. Beberapa orang sudah mulai berjualan makanan
dan minuman untuk anak-anak. Tetapi mereka tidak membawa dagangan sebanyak
biasanya jika ada keramaian, karena bagaimanapun juga mereka masih selalu
dibayangi oleh ketakutan. Ceritera Iceranda yang dapat berjalan sendiri itu
tidak dapat mereka lupakan begitu saja. Ketika senja turun, maka beberapa buah
oncor mulai dipasang. Tratag itupun menjadi terang benderang. Tetapi cahaya
oncor itu hanya dapat menggapai sebatas pematang sekotak sawah. Selebihnya bulak
itu tetap gelap. Meskipun Ki Jagabaya dan Ki Bekel sudah mengatakan kepada seisi
padukuhan bahwa keranda hantu itu tidak lebih dari sebuah dongeng, namun
pengaruhnya masih tetap terasa.Yang kemudian datang ketempat keramaian itu tidak
sebanyak keramaian yang sebelumnya, pernah diadakan. Tayub bukan saja sekedar
hiburan, tetapi merupakan bagian dari upacara merti desa. Merupakan bagian dari
ucapan terima kasih atas keberhasilan panen dimusim tanam yang lewat, serta
mohon keberhasilan yang lebih besar lagi dimusim tanam mendatang. Ketika
kemudian malam menjadi semakin dalam, maka anak-anak pun mulai menjadi letih.
Sebagian besar dari mereka telah diajak pulang setelah membeli gelali atau
kacang rebus dan berondong. Tetapi sebagian yang lain tetap saja tidak mau
pulang, karena mereka ingin melihat tari tayub. Remaja yang sudah mendekati masa
dewasanya, ternyata ingin melihat para penari tayub itu menari bersama beberapa
orang laki-laki. Jika malam bertambah malam, maka beberapa orang laki-laki mulai
menjadi mabuk karena mereka terlalu banyak minum tuak. Dengan demikian tayubnya
itupun menjadi semakin panas. Tetapi keramaian itu memang tidak seriuh biasanya.
Laki-laki yang mengerumuni tratag dan berebut untuk dapat ikut menari tidak
sebanyak keramaian tahun sebelumnya. Perempuan perempuanpun masih harus berpikir
tentang keranda yang berjalan sendiri itu. Meskipun demikian, sekelompok
perempuan, laki-laki dan remaja masih cukup banyak yang ikut meramaikan itu.
Bahkan orang-orang dari padukuhan yang lain-pun telah berdatangan pula. Meskipun
dihari-hari yang lain mereka dibyangi oleh ketakutan, tetapi mereka merasa lebih
tenang, karena mereka berada diantra banyak orang. “ Hantu tidak akan datang
ketempat keramaian “ berkata orang-orang yang datang dari padukuhan lain ke
keramaian itu. Selama mereka bergembira, mereka tidak mau memikirkan kemungkinan
yang dapat terjadi nanti jika mereka pulang. Bahkan beberapa orang anak muda
telah siap untuk tidur ditempat keramaian itu diadakan. Namun sedikit lewat
tengah malam, di kejauhan terdengar suara burung kedasih yang ngelangut.
Orang-orang yang masih sibuk dengan tayub, tidak segera mendengar suara burung
kedasih itu. Suara gamelan dengan gending-gending yang panas menggelitik telah
menyumbat telinga mereka. Tetapi mereka yang kelelahan, yang duduk-duduk
dipematang sawah sambil menghirup wedang jae yang hangat untuk mengatasi
dinginnya malam, mendengar suara burung kedasih yang bersahut-sahutan di
kejauhan. “ Suara burung itu “ desis seorang anak muda yang datang dari
padukuhan sebelah sambil mengunyah serabi. “ Kau mulai ketakutan? “ bertanya
kawannya. Tetapi anak muda itu tertawa. Katanya “ Aku hanya mengatakan tentang
suara burung itu. Apakah begini banyak kawannya kita dapat menjadi ketakutan? “
Kawannya juga tertawa. Namun suara burung kedasih itu tidak segera berhenti.
Masih saja terdengar berkepanjangan. Jika terdengar angin gemerisik menggoyang
daun pohon turi yang tumbuh dipematang, maka suara itu bagaikan hanyut terbang
mengambang diudara. Anak muda yang duduk dipematang itu mulai tergelitik oleh
suara itu. Mereka yang mentertawakannya, mulai menjadi gelisah pula. Tetapi
seorang anak muda yang bertubuh agak gemuk justru bangkit berdiri sambil tertawa
“ Siapa mulai menjadi ketakutan? “ Tidak seorangpun yang menjawab. Namun anak
muda yang agak gemuk itu berkata “ Aku akan menari lagi. Yang terdengar tentu
hanya suara gamelan. Suara burung malam itu tidak akan terdengar lagi. “ Tetapi
sebelum anak muda itu beranjak dari tempatnya, anak ini terhenti. Yang terdengar
bukan saja suara burung kedasih. Tetapi di kejauhan juga terdengar suara burung
bence. Anak muda yang agak gemuk itu cepat-cepat mendekati tratag. Suara gamelan
memang mengatasi suara burung kedasih dan burung bence itu. Sejenak kemudian,
seorang laki-laki berkumis lebat yang menari bersama seorang penari tayub yang
tinggi semampai mulai goyah oleh tuak yang membuatnya agak mabuk. Tetapi ia
mulai menjadi kasar. Tangannya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat mulai
menarik-narik penari tayub itu. Tetapi ketika penari itu mendorongnya, maka
iapun terhuyung-huyung. Sulit baginya untuk mempertahankan keseimbangannya.
Ketika tertatih-tatih ia bangkit, ternyata anak muda yang agak gemuk itu telah
menarik tangan penari itu kesisi yang lain. Suara gamelan yang panas, mendorong
mereka untuk menarikan tarian yang panas pula. Orang berkumis tebal dalam
setengah sadar, menjadi marah. Sambil mengumpat-umpat ia melangkah gontai
mencari penari pasangannya yang telah hilang itu. Tetapi matanya sudah menjadi
kabur. Ia tidak dapat lagi membedakan penari yang satu dengan yang lain. Namun
dalam pada itu, orang-orang yang duduk agak jauh dari tratag itu semakin
gelisah. Suara burung kedasih yang ngelangut itu masih terdengar berbaur dengan
suara burung bence yang terdengar dari arah yang berpindah-pindah. Tiba-tiba
saja bulu-bulu tengkuk mereka meremang ketika terdengar angin yang tertiup lebih
kencang dari arah Selatan. Malam terasa menjadi semakin dingin. Titik-titik
embun terasa membasahi tubuh. Ketika seekor kelelawar yang besar memburu
mangsanya yang terbang merendah, seorang anak muda yang hampir saja tersambar,
meloncat bediri. Beberapa orang kawannya terkejut. Seorang diantara mereka
bertanya “ Ada apa? “ “ Kelelawar itu besar sekali. Apakah itu kelelawar
sesungguhnya atau bukan. “ “ Ah, kau mulai mengigau. Lihat di wajah langit. Ada
beberapa ratus kelelawar yang berterbangan. Nanti, jika fajar mulai menyingsing,
kelelawar itu akan kembali ke sarangnya. Anak muda yang berdiri itu memandang ke
langit. Dilihatnya kelelawar berterbangan. Angin basah yang bertiup membuat
seluruh wajah kulitnya meremang. Namun tiba-tiba saja anak muda itu melihat
sesuatu. Tidak begitu jelas. Di kejauhan ia melihat sesuatu yang bergerak.
Tiba-tiba saja wajahnya menjadi pucat. Tubuhnya gemetar. Dengan gagap ia mencoba
untuk menjelaskan sesuatu kepada kawan-kawannya. Tetapi ternyata apa yang
meloncat dari mulutnya tidak begitu jelas terdengar. “ Apa. Ada apa? “ kawannya
bertanya. Mata anak muda itu bagaikan akan meloncat dari pelupuknya. Namun
akhirnya ia dapat menunjuk sambil berkata tanpa arti “ Uh, itu, uh, uh. “
Beberapa orang kawannya serentak berpaling. Darah mereka tersirap sampai
kekepala. Merekapun melihat sesuatu yang bergerak. Putih. Anak-anak muda itu
menjadi pucat. Mereka benui benar telah melihat keranda yang seperti terbang
dikejauh-an. Tidak begitu cepat. Beberapa orang yang ketakutan itu mulai
bergeser serentak mendekati tratag. Bahkan satu dua orang menunjuk kearah
keranda yang berjalan sendiri itu dengan mengucapkan kata-kata yang tidak jelas.
Sikap itu ternyata menarik perhatian. Beberapa orang yang ada disekitar tratag
itupun mulai memperhatikan ke kejauhan, menembus keremangan malam.
Sebenarnyalah, dalam kegelapan, nampak keranda yang terbang melintas. Tidak
mengarah ke tempat keramaian. Namun ketakutan tiba-tiba telah mencengkam mereka
yang berada disekitar tempat keramaian itu. Keadaanpun menjadi sulit
dikendalikan. Orang-orang mulai berlari-lari menuju ke padukuhan. Bahkan para
penari dan para penabuh gamelanpun berlari-larian pula meskipun mereka belum
melihat keranda yang berjalan sendiri itu, karena cahaya lampu yang rerang
benderang di sekitar tratag itu membuat mata mereka menjadi silau Ki Bekel sudah
menduga, bahwa hal seperti itu akan terjadi. Tetapi Ki Bekel memang sudah
bersiap. Karena itu, demikian tempat itu ditinggalkan oleh orang-orang yang
sedang merayakan keramaian itu, maka beberapa orang anak muda yang memang sudah
dipersiapan segera bersiap mengamankan segala macam barang yang tertinggal
ditempat itu. Gamelan dan juga sisa dagangan dari orang-orang yang berjualan
disekitar tempat keramaian itu. Ki Bekel yang ada diantara mereka memperhatikan
keranda yang berjalan itu dari kegelapan. Sebagaimana beberapa orang anak muda,
maka Ki Bekelpun telah memakai pakaian serba hitam sehingga tidak mudah terlihat
dari tempat yang agak jauh. Tetapi keranda itu berjalan terus menuju ke kuburan.
Dalam pada itu, Ki Pituhu dan Kebo Lorog bersama dua orang pengikutnya,
menyaksikan pertunjukan itu dari kejauhan. Mereka melihat bagaimana orang-orang
padukuhan itu berlari-larian sebagaimana mereka duga sebelumnya. Ki Pituhu dan
kedua orang pengikutnya tertawa tertahan menyaksikan tontonan itu. Sementara
Kebo Lorog-pun tersenyum pula. Bagi Kebo Lorog tontonan itu memang merupakan
tontonan yang lucu. Sekian banyak orang disekitar tratag itu menjadi ketakutan
melihat keranda yang mereka percaya dapat terbang sendiri. “ Pengecut “ desis
Kebo Lorog. Lalu katanya “ Rasarasanya aku ingin membunuh pengecut-pengecut yang
hanya memenuhi jagad tanpa arti seperti orang-orang padukuhan itu. Aku kira
membantai mereka yang sedang ketakutan itu akan dapat mendapat kepuasan
tersendiri. Wajah Ki Pituhu tiba-tiba menjadi tegang. Namun Kebo Lorog itu
berkata “ Jangan cemas. Aku tidak ingin melakukannya sekarang. Yang ingin aku
lakukan sekarang adalah melihat benda-benda yang telah kalian kumpulkan itu. “ “
Baiklah kakang sahut Ki Pituhu “ kita akan segera melihatnya. Yang terjadi di
tempat keramaian itu hanyalah sekedar tontonan yang barangkali menarik bagi
kakang Kebo Lorog. “ “ Aku senang melihat tontonan itu. “ jawab Kebo Lorog.
Demikianlah, maka Ki Pituhu itu telah membawa Kebo Lorog ke kuburan. Mereka
melintasi pematang yang tidak terlalu dekat dengan tempat keramaian yang masih
nampak terang benderang. Tetapi sudah tidak ada seorangpun yang nampak dibawah
cahaya lampu dan oncor. Ketika Ki Pituhu dan Kebo Lorog bersama dua orang
pengikutnya pergi ke kuburan, maka keranda itu sudah berada di kuburan. Tetapi
saat itu keranda itu memang kosong, karena para pengikut Kebo Lorog tidak sedang
memindahkan barang-barang simpanan mereka ke kuburan itu. Dalam pada itu,
beberapa orang yang sejak malam turun telah ditugaskan di kuburan untuk menggali
beberapa lubang tempat menyimpan barang-barang yang berhasil mereka kumpulkan
itu telah selesai. Didalam lubang itu terdapat beberapa peti barang-barang yang
berharga, yang telah mereka rampok dari orang-orang kaya yang tinggal di
beberapa Kademangan, justru bukan Kademangan mereka sendiri. Ketika Kebo Lorog
sampai ketempat itu bersama Ki Pituhu, maka orang orang yang mengerumuni lubang
tempat barang-barang itu disimpan telah menyibak. Malam dikuburan itu
rasa-rasanya menjadi terlalu gelap. Tetapi ketajaman mata Kebo Lorog dapat
melihat, apa yang terdapat didalam peti-peti di lubang-lubang penyimpanan itu.
Apalagi ketika kemudian ia meloncat turun dan meraba barang-barang itu. Maka
sambil menganggukangguk Kebo Lorog itu berkata “ Kalian memang pantas mendapat
pujian. “ “ Terima kasih, kakang “ sahut Ki Pituhu. Lalu katanya pula “ Kami
sudah menyisihkan sesuatu yang terbaik buat kakang. “ “ Yang mana? “ bertanya
Kebo I orog. “ Di peti yang kecil itu “ jawab Ki Pituhu Kebo Lorog sudah membuka
dan melihat isi peti itu. Tetapi ketika Ki Pituhu mengatakan bahwa peti itu
diperuntukkan baginya, maka Kebo Lorog ingin melihatnya sekali lagi. Kebo Lorog
mengangguk-angguk ketika ia melihat sebilah keris dengan pendok emas serta
tretes berlian. Demikian pula pada ukiran keris itu, Meskipun malam gelap,
tetapi malu Kebo Lorog melihat kilauan cahaya permata yang melekat pada keris
itu. Kebo Loiogpnn kemudian telah menarik keris itu dari wrangkanya. Dalam
kegelapan keris itu seakan-akan memancarkan cahaya kemerah-merahan. Kebo Lorog
tidak melihat dengan jelas pamor keris yang dipegangnya. Namun secara samar ia
menduga bahwa keris itu memiliki pamor yang banyak dicari orang. “ Sekar Manggar
“ desis Kebo Lorog. “ Tepat “ jawab Ki Pituhu “ kakang dapat melihat pamor keris
itu dalam kegelapan? “ “ Aku terbiasa bermain-main dengan keris “ jawab Kebo
Lorog. Keris yang aku bawa ini adalah keris yang juga banyak dicari orang.” “
Bukankah keris itu memang milik kakang sejak semula? “ “ Ya. Keris yang aku bawa
ini tidak dihiasi dengan permata sebagaimana keris yang kalian berikan ini.
Tetapi keris yang aku bawa ini seakan-akan tidak pernah terpisah dari tubuhku. “
“ Apakah keris itu bertuah? “ bertanya Ki Pituhu. “ Kerisku ini memang bukan
keris dengan pamor Teja Bungkus ini membuat ayahku berwibawa sebagai seorang
pemimpin. Ia juga disayangi oleh para pengikutnya disamping ayahku adalah
seorang yang berilmu tinggi.” Ki Pituhu mengangguk-angguk. Dengan nada rendah,
Ki Pituhu berkata “ Keris yang baru itu akan melengkapi kumpulan keris dirumah
kakang. Bukankah kakang mempunyai lebih dari dua belas buah keris? “ “ Aku
memang senang mengumpulkan dan menyimpan keris. Karena itu, terima kasih atas
keris yang kalian berikan kepadaku ini. “ “ Masih ada dua buah keris lagi yang
dapat kami kumpulkan, tetapi bukan keris yang baik. Juga tidak dilengkapi dengan
hiasan yang memadai “ berkata Ki Pituhu kemudian. “ Ambillah “ berkata Kebo
Lorog. Tetapi kemudian Kebo Lorog itu berkata pula “ tetapi aku ingin berpesan
kepada kalian, jika kalian menemukan sebuah cincin yang bermata tiga buah batu
akik, maka aku memerlukannya. “ “ Cincin dengan mata tiga buah batu akik? “
bertanya Ki Pituhu. “ Bukankah hal itu tidak biasa? Biasanya sebuah cincin hanya
mempunyai sebuah mata batu akik. Berbeda dengan cincin yang memakai hiasan
intan, berlian, atau mutiara. “ “ Ya. Tetapi ini lain. Cincin emas yang
mempunyai mata tiga buah batu akik. “ “ Apa saja jenis batu akik itu, kakang? “
bertanya Ki Pituhu “ atau barangkali warna batu akik itu? “ Kebo Lorog
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil
menjawab “ Aku belum tahu. Tetapi dalam waktu dekat aku akan segera
mengetahuinya. “ “ Baiklah kakang. Jika kami menjumpai cincin bermata tiga buah
batu akik, maka cincin itu akan kami serahkan kepada kakang. “ “ Terima kasih “
Kebo Lorog mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja, Kebo Lorog itu menjadi
tegang. Diangkatnya wajahnya sambil berdesis perlahan “ Ada sesuatu yang tidak
wajar disini. “ “ Maksud kakang? “ “ Ada orang lain. “ jawab Kebo Lorog. “
Maksud kakang? “ “ Siapkan orang-orangmu. Timbun kembali barang-barang ini,”
perintah Kebo Lorog sambil menyelipkan keris yang diperuntukkan baginya itu
dipinggangnya. Ki Pituhu masih belum tanggap akan keadaan. Tetapi ia memang
sudah memerintahkan kepada orang-orang yang bertugas menggalinya. “ Timbun
kembali barang-barang itu. “ Orang-orang itupun dengan cepat menimbun kembali
lubang-lubang yang telah digalinya setelah Kebo Lorog meloncat naik. Demikian ia
berdiri disebelah Ki Pituhu, maka iapun berkata “Beberapa orang ada disekitar
kita. Nah, ini juga akan menjadi tontonan yang menarik. “ “ Aku tidak mengerti.
“ “ Aku sudah terlanjur memuji kalian. Tetapi keramaian itu tentu hanya sebuah
jebakan. Bukan kita yang menjebak mereka, tetapi kitalah yang terjebak. “ “
Maksud kakang? “ “ Kau memang dungu. Kuburan ini sudah dikepung. Permainan
kalian dengan keranda terbang yang kalian kira ditakuti orang itu ternyata telah
ditertawakan banyak orang. “ “ Tetapi kakang melihat sendiri, bagaimana
orang-orang itu berlari-larian, bahkan saling bertubrukan. Anak-anak menangis
ketakutan dan bahkan dagangan yang masih belum terjual telah ditinggalkan. “ “
Tontonan yang telah dipersiapkan dengan baik oleh orang-orang padukuhan itu. Dan
sekarang orang-orang padukuhan itu telah mempersiapkan tontonan yang lain di
kuburan ini. “ Ki Pituhu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian telah
memusatkan perhatiannya pada keadaan disekelilingnya. Meskipun panggraita Ki
Pituhu tidak setajam Kebo Lorog, namun Ki Pituhupun akhirnya mengetahui juga,
bahwa kuburan itu memang sudah dikepung. Beberapa orang mampu mendekat tanpa
menimbulkan bunyi gemerisik. Tetapi anak-anak muda padukuhan yang tidak memiliki
landasan ilmu yang cukup itu tidak dapat meredam sentuhan kakinya dengan
dedaunan kering yang bertebaran disekitar kuburan. Daun pohon kamboja dan daun
sebatang pohon preh yang besar yang tumbuh di pinggir kuburan itu. “ Setan
orang-orang padukuhan “ geram Ki Pituhu “ mereka datang untuk menyerahkan nyawa
mereka. “ “ Apapun yang akan terjadi, tetapi ternyata bahwa mereka sudah
mengetahui permainanmu. Mereka tahu bahwa kerandamu tidak menakutkan mereka,
bahkan justru telah menjadi olok-olok yang memalukan. “ “ Tidak “ sahut Ki
Pituhu “ tentu ada yang berkhianat diantara orang-orang kita. Pada saatnya kita
akan mengetahuinya. Tetapi sekarang, kita akan membabat mereka seperti membabat
batang ilalang. “ suara Ki Pituhu itupun meninggi “ keinginan kakang Kebo Lorog
akan terlaksana. Bukankah kakang ingin membantai mereka? “ Kebo Lorogpun
menggeram. Sementara itu, orang-orang yang menimbun barang-barang hasil
kejahatan yang disembunyikan itu sudah hampir selesai. Namun dalam pada itu,
orang-orang padukuhan memang telah mengepung kuburan itu. Ki Bekel yang semula
berada ditempat keramaian bersama beberapa orang anak muda yang berpakaian serba
hitam, telah berada di tempat itu pula. Dalam ketegangan yang mencengkam,
terdengar suara Adeg Panatas menggetarkan udara malam yang dingin “ Kebo Lorog.
Kau tidak mempunyai kesempatan lagi. Menyerahlah. Kau dan orang-orangmu sudah
dikepung. “ “ Siapa yang telah mencoba untuk membunuh diri disini? “ geram Kebo
Lorog. “ Aku datang bersama banyak orang. Jauh lebih banyak dari orang-orangmu.
“ “ Jika kau ingin membunuh diri, jangan kau bawa orang-orang yang tidak
bersalah. Biarlah mereka pergi sebelum mereka terbujur mati di kuburan ini. “ “
Kami datang untuk menangkapmu. Menghentikan petualanganmu. Namamu yang
menakutkan itu harus berakhir disini. “ “ Katakan, siapa kau. Kenapa kau datang
dan memperalat orang-orang padukuhan yang dungu itu? Mereka tidak tahu apa yang
mereka lakukan dan dengan siapa mereka berhadapan. “ “ Kami sadar sepenuhnya
terhadap tugas kami kali ini. Selama ini kami dengan hati-hati mengamati
permainan keranda terbangmu yang menarik itu. Orang-orang beberapa padukuhan
yang lain telah benar-benar dicengkam ketakutan. Karena itu, sudah waktunya
permainan kasarmu itu dihentikan. “ “ Siapa kau? “ teriak Kebo Lorog. Suaranya
menggeletar mengguncang dedaunan. Gemanya terdengar susul-menyusul
bersahut-sahutan. Jantung orang-orang padukuhan yang mengepung kuburan itu telah
tergetar pula. Teriakan Kebo Lorog itu terdengar seperti panggilan maut dari
lubang-lubang kubur yang bertebaran di kuburan itu. Tetapi terdengar Adcg
Punalas tertawa pendek. Katanya “ Kebo Lorog. Kau ingin menakutnakuti kami? “ “
Kau belum menjawab. Siapakah kau? “ “ Namaku Adeg Panatas. Aku juga penghuni
padukuhan itu. Memang sudah agak lama aku pergi. Tetapi sekarang aku sudah
kembali. “ “ Kau memang berani. Kau sebut namamu yang tidak akan pernah aku
lupakan. “ “ Kenanglah namaku. Jika kau sempat hidup untuk waktu yang lebih
panjang, aku berharap bahwa kita akan bertemu lagi. “ Kebo Lorog menggeram.
Sementara Adeg Panatas berkata selanjutnya “ Kebo Lorog. Kenapa kau tidak
mempertimbangkan kemungkinan yang lebih baik? Menyerah, misalnya. “ “ Anak iblis
kau” Ki Pituhulah yang berteriak “ kau harus mati. Tetapi kau akan menjadi orang
terakhir yang kami bantai malam ini agar kau sempat melihat bagaimana
tetangga-tetanggamu mati sia sia di kuburun Ini. “ Adeg Panatas tertegun sejenak
ketika ia mendengar suara yang lain. Tetapi Adeg Panatas yakin, bahwa orang
pertama itulah yang bernama Kebo Lorog. “ Siapa pula kau ini Ki Sanak? “
bertanya Adeg Panatas. “ Persetan dengan pertanyaan itu. Tetapi bersiaplah. Aku
akan melumpuhkanmu dan memberi kesempatan kepadamu melihat korban kesombonganmu
itu. “ “ Aku atau kau yang akan menyesali kejadian ini. “ “ Cukup “ bentak Kebo
Lorog “ Bersiaplah. Kami akan mulai membantai orang-orang dungu itu.“ Adeg
Panataspun segera memberi isyarat kepada Ki Jagabaya, agar para bebahu segera
disiapkan. Mereka akan menebar dan mempimpin kelompok-kelompok laki-laki dan
anak-anak muda dari padukuhan. Bahkan ada diantara mereka bekas prajurit yang
sudah terbiasa bermain dengan senjata pula. Ki Jagabaya yang tanggap akan
isyarat itupun segera menghubungi para pebahu untuk segera mempersiapkan diri.
Diantara mereka yang mengepung kuburan itu adalah Paksi Pamekas. Ia telah pernah
berada diantara anak-anak muda padukuhan yang telah dikenalnya dengan baik.
Selama ia berada di padukuhan itu dan selama Adeg Panalas mempersiapkan
perlawanan lerhadap Kebo Lorog, maka Paksi sudah berada diantara anak-anak
mudanya. Tetapi Paksi sama sekali tidak menunjukkan kelebihannya. Ia berusaha
untuk berada pada tataran yang sejajar dengan anak-anak muda padukhan itu. Malam
itu Paksi menjadi gelisah. Seorang diantara para perampok itu sebelumnya telah
menemuinya dan bahkan berusaha untuk membunuhnya. Orang itu mengatakan
kepadanya, bahwa ia sudah mengetahui bahwa Paksi telah melihat rahasia yang
tersembunyi di kuburan ini. Tetapi nampaknya para perampok itu masih juga
melakukan kesalahan, sehingga mereka telah terkepung oleh orang-orang padukuhan.
“ Atau yang mereka lakukan itu justru sebuah jebakan? “ pertanyaan itu telah
mengganggu perasaan Paksi. Jika benar para perampok itu telah menjebak Ki Bekel
dan Adeg Panatas serta orang-orang padukuhan, maka keadaannya akan menjadi
sangat buruk, karena para perampok itu tidak lagi dapat mengendalikan diri.
Paksi memang menyesal, kenapa ia tidak berterus-terang bahwa seorang diantara
para perampok itu telah menyadari bahwa rahasia mereka telah diketahui. Tetapi
menilik sikap dan pembicaraan antara Adeg Panatas dan Kebo Lorog, agaknya tidak
tersirat, bahwa Kebo Lorog telah mengetahui bahwa kemungkinan seperti itu akan
terjadi. Tetapi Paksi tidak dapat sekedar berangan-angan. Malam itu orang-orang
padukuhan yang dipimpin langsung oleh Ki Bekel dan adiknya, Adeg Panatas telah
berhadapan dengan para perampok yang seorang diantaranya adalah Kebo Lorog itu
sendiri. Dalam pada itu maka Ki Jagabayapun telah memerintahkan para bebahu
untuk bergerak. Anak-anak muda yang berada disisi lain telah mulai memasuki
kuburan yang gelap. Mereka berjalan diantara batu-batu nisan yang terbujur
membekuk Beberapa ekor burung malam yang terkejut berterbangan menggoyang
dedaunan. Kebo Lorogpun kemudian telah berteriak “ Jika orang-orang dungu itu
habis kita bantai, bukan salah kita. Merekalah yang datang menyerahkan leher
mereka. Karena itu, jangan ragu-ragu. “ Perintah itu tidak perlu diulangi.
Mereka sUdah merasa terlalu lama menunggu. Darah mereka telah mendidih didalam
jantung. Apalagi mereka mengetahui bahwa orangorang yang mengepung kuburan itu
sudah mulai bergerak masuk. Jumlah para perampok itu memang tidak terlalu
banyak. Tetapi mereka adalah orangorang yang garang yang sudah terlalu akrab
dengan senjata, darah dan kematian. Sambil berloncatan, para perampok itu telah
berteriak-teriak dan mengumpat-umpat. Suaranya menggelepar menggetarkan
batu-batu nisan. Jantung orang-orang padukuhan itu memang tergetar.
Teriakan-teriakan itu membuat mereka menjadi ngeri. Untuk beberapa saat,
beberapa orang anak muda justru bagaikan telah membeku. Tetapi beberapa orang
bekas prajurit yang ada diantara mereka sama sekali tidak menjadi gentar.
Meskipun mereka telah mengundurkan diri karena umur mereka telah melampaui batas
umur seorang prajurit, namun bagi mereka pengabdian tidak terhenti sampai batas
yang ditentukan itu. Menghentikan kejahatan adalah satu diantara tugas yang
diembannya tanpa mengenal batas waktu. Seorang diantara bekas prajurit itu
sempat berteriak “ Sayang bahwa selama ini aku tidak percaya terhadap keranda
terbang itu, sehingga aku tidak pernah berminat untuk membuktikannya. “ “ Belum
terlambat “ sahut kawannya, juga bekas seorang prajurit “ kita masih
berkesempatan untuk menighentikan mereka. “ Sejenak kemudian, maka
pertempuranpun tidak dapat dihindarkan. Seperti yang telah dipesankan kepada
anak-anak muda padukuhan, maka mereka tidak bertempur seorang-seorang. Mereka
harus berada didalam kelompok-kelompok kecil untuk melawan orang-orang yang
memiliki pengalaman yang jauh lebih luas dalam olah senjata dan bahkan
seolah-olah sudah tidak berjantung lagi. Adeg Panatas ternyata memenuhi
janjinya. Dengan sigap ia meloncat langsung menghadapi Kebo Lorog. Dengan sadar,
Adeg Panatas ingin menguji kemampuan orang yang namanya sangat ditakuti orang
itu. „ Ki Pituhu yang sudah siap untuk bertempurpun telah menyerangnya.
Sementara Ki Jagabaya tidak menunggu lagi. Iapun segera berhadapan dengan orang
yang bertubuh tinggi tegap, pengiring Kebo Lorog ketika ia datang kerumah Ki
Pituhu. Namun Ki Jagabaya itu dengan segera terdesak oleh lawannya. Tetapi
seorang bebahu yang melihat kesulitan itu segera melibatkan dirinya membantu Ki
Jagabaya, sehingga dengan demikian, orang itu harus bertempur melawan dua orang.
Tetapi orang itu benar-benar orang yang tangguh. Meskipun Ki Jagabaya bertempur
bersama seorang bebahu, ternyata bahwa keduanya masih mengalami kesulitan.
Keduanyapun telah terdesak pula. Untunglah bahwa seorang bebahu yang lain
melihatnya. Dengan sigap iapun menempatkan dirinya dalam lingkaran pertempuran
itu. Dengan demikian, bertiga Ki Jagabaya mulai dapat menunjukkan perlawanan
yang berarti. Sementara itu, Ki Bekelpun telah bertempur dengan sengitnya. Ki
Bekel yang dimasa mudanya banyak menempuh pengembaraan serta menimba ilmu itu,
telah mengejutkan Ki Pituhu. Ia tidak mengira bahwa seorang dari padukuhan itu
ternyata memiliki ilmu yang mapan dan sanggup mengimbangi ilmunya. Dengan
demikian, maka Ki Pituhu harus mengerahkan kemampuannya untuk menundukkan
lawannya. Tetapi Ki Bekelpun telah meningkatkan kemampuannya pula, sehingga
tidak mudah bagi Ki Pituhu untuk mengalahkannya. Sementara itu, hampir disegala
sudut kuburan telah terjadi pertempuran. Orang-orang padukuhan yang hampir tidak
mempunyai pengalaman bertempur memang agak canggung ketika mereka harus
benar-benar mengayunkan senjata mereka. Sementara itu para perampok menjadi
sangat marah karena mereka telah terjebak. Namun lawan terlalu banyak.
Orang-orang padukuhan itu bermunculan dari balik nisan. Mereka mengacu-acukan
senjata mereka. Seakan-akan disetiap langkah, para perampok itu menjumpai ujung
senjata yang teracu kedadanya. Karena itu, meskipun mereka mempunyai pengalaman
yang luas, namun menghadapi lawan yang berlipat ganda, rasa-rasanya mereka
menjadi berdebar-debar pula. Dalam pada itu, Kebo Lorog yang marah telah
berhadapan dengan Adeg Panatas, adik Ki Bekel yang belum lama kembali dari
perantauan, berguru untuk mendapatkan ilmu yang tinggi. Kebo Lorog memang
menjadi heran. Bahwa disebuah padukuhan ia akan menjumpai seorang yang berilmu
tinggi. Bahkan dapat mengimbanginya. Karena itu, maka Kebo Lorog itupun telah
menghentakkan ilmunya untuk memaksa lawannya dengan cepat dapat dikalahkannya.
Kebo Lorog yang menyadari lawan demikian banyaknya, berusaha untuk tidak terikat
dengan seorang lawan saja. Ia Ingin menghancurkan kalau tidak dalam arti
kewadagan, keberanian orang-orang padukuhan itu. Dengan demikian, maka mereka
akan menjadi ketakutan. Tetapi tidak sia-sia Adeg Panatas berguru
bertahun-tahun. Ternyata Kebo Lorog yang sangat ditakuti itu masih dalam tataran
yang mungkin dapat diimbanginya. Dalam pada itu, Paksi dengan sengaja tidak
bertempur dalam kelompok-kelompok kecil bersama anak-anak muda itu. Sejak semula
Paksi memang tidak bergabung kedalam kelompok yang manapun. Meskipun ia berada
dilingkungan anak-anak yang pada waktu itu sedang mempersiapkan diri untuk
melawan para perampok, namun karena Paksi bukan anak muda dari padukuhan itu,
nampaknya Paksi mendapat keleluasaan untuk memilih, apakah ia akan bertempur
bersama anak-anak muda itu atau tidak. Namun sebenarnyalah Paksi tidak berdiam
diri. Meskipun ia berdiri ditempat yang terpisah, disela-sela beberapa batang
pohon kamboja, ia telah bertempur melawan para parampok itu. Seorang perampok
yang bertubuh pendek, tetapi tubuhnya nampak kekar dan kuat, harus dilawannya
tanpa bantuan orang lain. Tetapi Paksi Pumekas itu telah membawa bekal dari
rumahnya, la adalah salah seorang murid terbaik dalam perguruannya. Selebihnya,
Paksi termasuk anak muda yang disegani diantara kawan-kawannya dalam setiap
permainan yang keras. Kakinya yang sering dipergunakannya untuk binten,
seakan-akan telah mengeras. Sementara kebiasaannya bermain gulat di pasir tepian
membuat tubuhnya menjadi lentur. Karena itu, maka dalam waktu yang tidak terlalu
lama, maka justru Paksi telah melumpuhkan lawannya. Ketika kakinya yang terayun
deras sekali, tepat mengenai ulu hati lawannya, maka lawannya itupun segera
jatuh tersungkur sambil mengerang kesakitan. Paksi sudah siap untuk membunuh
orang itu. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Ketika terdengar orang itu merintih,
Paksi justru telah meninggalkannya. Namun dalam pada itu, seorang yang lain
telah meloncat menghadapinya. Paksi tidak begitu menghiraukan, siapakah yang
berdiri dihadapannya. Yang penting baginya, ia harus melumpuhkannya. Sejenak
kemudian,keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang sengit. Namun dalam pada
itu, Paksipun tertegun-tegun menghadapi lawannya yang kedua itu. Beberapa kali
serangannya telah gagal. Lawannya itu seakan-akan tahu benar, apa yang akan
dilakukannya. Bahkan kemudian Paksi menjadi semakin heran, bahwa unsur-unsur
gerak lawannya itu kadang-kadang memiliki ciri dan watak yang sama dengan unsur
geraknya sendiri. “ Aneh “ berkata Paksi didalam hatinya. Tetapi ia tidak mau
terpengaruh. Paksi menduga, bahwa secara kebetulan, orang itu menguasai
unsur-unsur gerak yang sama dengan unsur gerak pada ilmunya. Namun semakin lama,
maka Paksi semakin mengenali lawannya. Matanya yang sudah terbiasa didalam
kegelapan disela-sela batang kamboja itu mulai mengenali wajah lawannya. Orang
itu adalah orang yang cacat.yang pernah bertempur melawannya di bulak
persawahan. Yang berkata kepadanya, bahwa ia sudah mengerti bahwa Paksi sudah
melihat rahasia yang disembunyikan oleh para perampok itu. Agaknya orang itupun
menyadari, bahwa Paksi mulai mengenalinya. Karena itu, maka orang itupun berkata
“ Kita bertemu lagi anak muda. Kau termasuk orang yang sangat berbahaya, karena
kau adalah orang yang pertama kali mengetahui rahasia kami. “ “ Tetapi kenapa
Kebo Lorog tidak mengetahui, bahwa ia bersama para pengikutnya telah terjebak
disini, termasuk kau? “ Orang itu tertawa perlahan-lahan. Kakinya berloncatan
diantara batu-batu nisan. Dengan garangnya orang itu justru telah mendesak Paksi
sambil berkata “ Kami sama sekali tidak merasa terjebak, karena kami sudah
mengetahui, bahwa kalian berusaha menjebak kami malam ini. “ “ Tetapi kau lihat,
kekuatan sekelompok kawan-kawanmu sangat kecil, sehingga dalam waktu dekat
mereka akan digulung. Jangan menyesal, bahwa bagi siapa saja yang tidak mau
menyerah akan dihukum. Mereka harus mati, “ berkata Paksi dengan geram. Kemudian
katanya pula “ Kau tidak usah mengigau. Orang-orang padukuhan yang dipimpin oleh
Ki Bekel itu sendiri berhasil menguasai seluruh medan. Jumlah mereka terlalu
banyak untuk dilawan oleh sejumlah kecil para pengikut Kebo Lorog iiu. “ Tetapi
orang itu tertawa. Kalanya “ Dengan jumlah yang kecil itu, kami akan dapat
menghancurkan orang-orang padukuhanmu. Bahkan kami akan memasuki padu-kuhannm,
merampas dan merampok apa saja yang dapat kami bawa. “ “ Tidak. Kau tentu dapat
melihat, bahwa Kebo Lorog itu tidak dapat mengalahkan Adeg Panatas, adik Ki
Bekel. “ Persetan dengan Adeg Panatas. “ Orang itu menjadi sangat marah.
Tiba-tiba saja ilmunya telah meningkat dengan cepat, sehingga beberapa langkah
Paksi harus bergerak mundur. Namun Paksipun kemudian telah menemukan
kemampuannya sepenuhnya kembali, sehingga pertempuran itupun menjadi semakin
sengit. Tetapi beberapa kali Paksi dikejutkan, la kenali unsur gerak lawannya
itu. la sadari bahwa sekali-sekali ia mengalami tekanan yang sangat berat,
justru karena lawannya menguasai unsurunsur gerak yang nampaknya lebih matang.
Bahkan Paksi mengalami kesulitan karena lawannya itu selalu berhasil memotong
seranganserangannya, seakan-akan orang itu tahu, apa yang harus dilakukan.
Tetapi dengan demikian, Paksi justru mendapat pengalaman baru. Ia melihat
kemungkinankemungkinan yang terbuka bagi ilmunya sebagaimana dilakukan oleh
orang berwajah cacat itu. Dituar sadarnya Paksi justru mulai mengetrapkannya.
Kakinya, tangannya, sikunya, lututnya dan bahkan jari-jarinya. Tetapi
serangan-serangan lawannya itu mulai mampu menembus pertahanannya. Ketika tangan
lawannya terayun deras mengarah ke keningnya, Paksi sempat mengelak. Meskipun
demikian, sisi telapak tangan orang itu masih menyentuh bahunya, sehingga Paksi
harus meloncat mengambil jarak. Perasaan nyeri yang tajam telah menggigit
bahunya yang tersentuh serangan lawannya itu. Paksi meloncat beberapa langkah
surut. Ia sempat mengusap bahunya yang sakit. Namun lawannya tidak memberinya
kesempatan terlalu lama. Dengan garangnya lawannya itu telah menyerangnya pula.
Kedua tangannya terayun dengan derasnyn. Sisi telapak tangannya men. arah
keleher anak muda itu. Tetapi dengan tangkas Paksi merendah, Ia justru menyerang
kaki lawannya dengan sapuan Lawan Paksi itu terkejut. Ia tidak sempat mengelak,
sehingga kedua kakinya yang ditebas oleh kaki Paksi terdorong selangkah. Tetapi
orang itu tidak terbanting jatuh. Ia justru berputar dengan menapak pada
tangannya, sementara kakinya terangkat tinggi-tinggi. Dengan satu putaran, maka
lawannya telah berada beberapa langkah daripadanya, diantarai oleh tiga buah
nisan batu hitam. Paksi mengerutkan keningnya. Ia tertarik melihat gerakan
lawannya. Tetapi Paksi tidak sedang melakukan latihan. Ia sedang bertempur
habis-habisan sebagaimana orang-orang padukuhan yang lain. Namun dituar
sadarnya, ternyata Paksi telah terpancing semakin jauh dari arena pertempuran di
kuburan itu Meskipun hal itu kemudian disadari oleh Paksi, tetapi Paksi sama
sekali tidak menjadi gentar. Semakin lama Paksi semakin percaya kepada kemampuan
dirinya. Dengan cepat Paksi justru telah menyadap unsur-unsur gerak lawannya
yang menurut pendapat Paksi merupakan perkembangan dari ilmu yang mempunyai
sumber yang sama dari ilmunya. Paksi tertegun ketika ia melihat lawannya
meloncat bebeiapa langkah surut untuk mengambil jarak. Paksi memang tidak dengan
tergesa-gesa memburunya. Ia harus lebih berhati-hati menghadapi lawan yang
memiliki pengalaman dan memiliki ilmu yang lebih mantap. “ He, kau anak iblis.
Darimana kau memiliki ilmu seperti itu, yang mempunyai tatanan gerak mirip
dengan ilmuku? Apakah kau telah mencurinya dari salah satu perguruan yang
bersumber dari ilmu itu? “ Paksi memandang orang itu dengan tajamnya. Namun
dalam kegelapan ia tidak dapat melihat dengan lebih jelas lagi selain ia dapat
mengenali cacat diwajah orang itu. “ Kenapa kau tidak menjawab? Sebagai salah
seorang murid yang mewarisi ilmu dari sumber ilmu yang aku junjung tinggi, maka
aku mempunyai kewajiban untuk menghancurkan orang yang telah mencuri ilmu atau
sebagian dari ilmu itu. “ Dengan lantang Paksipun menjawab “ Tidak ada
seorangpun murid dari jalur perguruanku menjadi seorang perampok. Jika kau
menguasai ilmu dari jalur perguruanku, namun kau adalah seorang perampok, maka
kau memang harus dimusnahkan, karena dengan demikian kau sudah mengotori nama
perguruan kami. “ Orang itu tertawa. Katanya “ Kau jangan memutar balik
persoalan. Tetapi nampaknya kau memang seorang yang licik. Diumurmu yang masih
sangat muda itu, kau sudah berhasil mencuri ilmu dari perguruan kami. Selebihnya
kau sudah pandai berbohong. “ Kemarahan Paksi tidak dapat dibendung lagi. Karena
itu, ia tidak menunggu lawannya menyelesaikan kalimatnya. Dengan serta-merta
Paksi telah meloncat menyerang dengan garangnya. Pertempuran telah menyala
kembali. Paksi telah mengerahkan segala kemampuan yang ada pada dirinya. Tanpa
disadarinya, ia justru terpengaruh oleh lawannya yang telah mengembangkan
unsur-unsur gerak dari perguruannya. Ternyata serangan Paksi yang membadai itu
telah membuat lawannya mengalami kesulitan. Apalagi ketika Paksi bertempur
dengan memelihara jarak, karena nampaknya lawannya sering terhambat oleh jarak.
Dalam kemarahan yang memuncak, maka kemampuan Paksi justru menjadi semakin
tinggi. la mampu bergerak semakin cepat dan kekuatannya menjadi semakin
meningkat. Dengan demikian, maka lawannyapun mulai terdesak. Sekali-sekali
serangan Paksi telah mengenai sasarannya sehingga beberapa kali keseimbangan
lawannya telah terguncang. Karena itu, maka dalam keadaan yang paling sulit,
maka lawan Paksi itu justru telah melenting menjauhinya. Kemudian dengan
tangkasnya bertumpu pada kedua tangannya yang menapak, orang itu berputar dengan
beberapa kali. Ketika Paksi menyadari dan meloncat memburunya, maka orang itu
sudah melenting berdiri dan berlari menembus kegelapan, justru meloncat masuk
kembali kedalam kuburan. Paksi tertegun sejenak. Orang itu bagaikan hilang
diantara gerumbul-gerumbul perdu diselasela batang pohon kamboja. Untuk beberapa
saat Paksi berdiri termangu-mangu. Ternyata ia telah kehilangan lawannya. Namun
Paksi tidak dapat terlalu lama merenung. Sejenak kemudian iapun menyadari, bahwa
di kuburan itu telah terjadi perternpuran antara Kebo Lorog dan para pengikutnya
melawan orangorang padukuhan yang dipimpin oleh Ki Bekel sendiri bersama
adiknya, Adeg Panatas. Jika semula perhatian Paksi sepenuhnya tertuju kepada
lawannya sehingga ia seakan-akan tidak mendengar hiruk pikuk pertempuran, maka
demikian ia kehilangan lawannya itu, maka iapun segera bergerak mendekati arena.
Dengan hati-hati Paksi merayap diaantara batang pohon kamboja serta nisan nisan
yang membujurke utara. Dalam kegelapan, matanya yang tajam melihat pertempuran
itu berlangsung dengan sengitnya. Sekali sekali la mendengar teriakan-teriakan
kasar. Umpatan-umpatan dan juga perintah-perintah disela-sela pekik kesakitan.
Paksipun bergeser semain dekat. Ia berhenti dibelakang sebuah nisan yang besar.
Beberapa langkah daripadanya, ditempat yang agak lapang, Adeg Panatas tengah
bertempur melawan Kebo Lorog. Ternyata keduanya memang berilmu tinggi. Keduanya
saling menyerang, tetapi juga saling menangkis dan menghindar. Ilmu mereka
berdua agaknya telah meningkat semakin tinggi, sehingga benturan-benturan yang
terjadi di antara mereka seolah-olah telah menggetarkan udara di kuburan itu.
Ketika Paksi berpaling kearah yang lain, ia melihat Sura dan Mertawira juga
sedang bertempur. Tetapi keduanya tidak bertempur seorang melawan seorang.
Beberapa orang anak muda tengah membantu mereka menghadapi dua orang perampok
yang semakin terdesak. “ Nampaknya kedua orang perampok itu sudah tidak banyak
dapal memberikan perlawanan “ berkata Paksi didalam hatinya. Sejenak kemudian,
maka Paksipun bergeser lagi. Ia melihat Ki Bekel yang sedang bertempur. Ternyata
Ki Bekel juga mampu bergerak cepat mengimbangi lawannya. Ketika Paksi bergeser
lagi, dilihatnya Ki Jagabaya juga bertempur bersama beberapa orang melawan
seorang yang bertubuh tinggi tegap. Ia adalah pengiring Kebo Lorog ketika ia
datang kerumah Ki Pituhu. Orang yang bertubuh tinggi tegap dan berwajah garang
itu memiliki bekal kanuragan yang cukup pula. Tetapi ia harus bertempur
menghadapi beberapa orang, dan bahkan diantaranya adalah Ki Jagabaya, maka orang
itu harus memeras kemampuannya untuk bertahan. Dengan demikian, maka menurut
pengamatan Paksi, orang-orang padukuhan yang dipimpin langsung oleh Ki Bekel dan
adiknya, Adeg Panatas, akan segera dapat mengatasi lawan-lawanya. Karena itu,
maka Paksipun tidak dengan tergesa-gesa melibatkan diri. Ia masih bergeser lagi,
justru mendekati lagi pertempuran yang sengit antara Kebo Lorog dan Adeg
Panatas. Nampaknya keduanya sengaja bergeser menepi, ditempat yang masih agak
lapang, sehingga kaki mereka tidak setiap kali harus menghindari batu-batu nisan
yang tersebar. Adeg Panatas sendiri merasa kurang mapan untuk berloncatan diatas
onggokan tanah kuburan dan batu-batu nisan. Paksi mengamati pertempuran dengan
jantung yang berdebaran. Ia melihat keduanya semakin meningkatkan kemampuan
mereka. Bahkan nampaknya mereka sudah merambah ke tenaga dalam sehingga tenaga
mereka seakan-akan menjadi semakin besar. Beberapa kali keduanya saling
membenturkan kekuatan. Jika yang seorang menyerang dan yang seorang menangkis
serangan itu, maka kedua-duanya tampak menjadi goyah. Paksi mengangguk-angguk
dituar sadarnya. Iapun sudah menapak pada tataran sebagaimana disaksikannya itu
meskipun sumber ilmunya berbeda. Meskipun baru pada tataran dasar, namun Paksi
mampu mengungkapkan tenaga dalamnya sebagai tenaga yang besar. Paksi sempat
merenungi pertempurannya sendiri melawan orang berwajah cacat. Sesuatu tibatiba
membersit di kepalanya. Ia teringat bagaimana lawannya berusaha memancing tenaga
dalam yang masih belum terungkapkan dari dalam dirinya dengan unsur-unsur gerak
yang pada dasarnya pernah dipelajarinya. Paksi menjadi termangu-mangu sejenak,
la merasa mampu untuk melakukannya. Tetapi tentu tidak dengan serta-merta, agar
justru tidak menyakiti bagian dalam tubuhnya sendiri. Apalagi jika hal itu
dilakukan tanpa tuntunan seorang guru atau orang yang memiliki ilmu yang
sejalan, namun sudah berada pada tataran yang lebih tinggi. Paksi yang merenung
itu seperti terbangun ketika ia melihat Adeg Panatas terpelanting jatuh.
Untunglah bahwa tubuhnya yang lentur masih sempat mengatur diri. sehingga dengan
demikian Adeg Panatas itu tidak mengalami kesulitan ketika ia meloncat bangkit.
Bahkan ketika Kebo Lorog meloncat menyerangnya, Adeg Panatas dengan tangkasnya
bergeser selangkah kesamptng, namun yang dengan serta merta telah berputar
dengan ayunan kakinya yang tepat mengenai dada lawannya. Kebo Lorog terdorong
beberapa langkah surut. Namun ketika Adeg Panatas memburunya, Kebo Lorog telah
siap untuk menghadapinya. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia belum melihat,,
siapakah diantara mereka yang akan dapat memenangkan pertempuran itu. Tetapi
dengan demikian Adeg Panatas telah membuktikan, bahwa tidaklah sia-sia ia
berguru untuk beberapa tahun lamanya. Nama Kebo Lorog sejajar dengan nama hantu
yang menakutkan. Sementara itu, Adeg Panatas mengimbanginya. “ Untuk datang
kembali ke padukuhan itu, Kebo. Lorog harus berpikir ulang “ berkata Paksi
didalam hatinya. Namun dalam pada itu, keadaan para pengikut Kebo Lorog menjadi
semakin sulit. Setiap orang harus berhadapan dengan tiga atau ampat orang lawan.
Meskipun mereka sudah terbiasa bertempur, namun mereka adalah orang-orang yang
hanya berbekal keberanian, kekasaran dan kebengisan. Jarang diantara mereka yang
benar-benar memiliki dasar-dasar kemampuan dalam olah kanuragan. Karena itu,
ketika mereka benar-benar berhadapan dengan beberapa orang dan bahkan ada
diantaranya adalah bekas prajurit maka merekapun mengalami kesulitan. Kebo Lorog
melihat kelemahan itu. Meskipun ia harus bertempur dengan mengerahkan tenaganya,
tetapi Kebo Lorog sempat melihat sekilas apa yang terjadi disekitarnya. Bahkan
satu dua orang telah terluka meskipun mereka juga sempat melukai orang-orang
padukuhan. Karena itu, maka Kebo Lorog tidak mempunyai pilihan lain. Meskipun ia
sendiri masih mampu bertahan dan bahkan masih belum merasa dikalahkan oleh lawan
nya, tetapi ia sudah dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada akhir dari
pertempuran itu jika masih lama tidak beranjak dari tempatnya. Karena itu, maka
terdengar Kebo Lorog itu memberi isyarat, Terdengat sebuah suitan tidak terlalu
keras. Para pengikutnya memang menjadi bingung. Mereka tidak tahu isyarat apa
yang dimaksudkan oleh Kebo Lorog. Hanya seorang sajalah diantara orang-orangnya
yang tahu pasti, apa yang harus dilakukannya. Orang yang tinggi tegap, yang
bertempur melawan Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu itu. Adeg Panatas
sendiri sudah mencurigai isyarat itu. Tetapi yang terjadi, Kebo Lorog justru
telah menghentak kan ilmunya dengan sebuah serangan yang sangat mengejutkan,
sehingga Adeg Panatas telah terdesak beberapa langkah surut. Demikian pula yang
dilakukan oleh pengiringnya yang bertubuh tinggi tegap itu. Bahkan hampir saja
senjatanya menyambar dada Ki Jagabaya. Untunglah Ki Jagabaya sempat mengelak.
Meskipun demikian, senjata orang itu telah menyentuh lengannya, sehingga bukan
saja bajunya yang koyak, tetapi juga kulitnya. Kesempatan yang sekejap itu telah
dipergunakan sebaik-baiknya oleh Kebo Lorog dan seorang pengiring nya. Mereka
seakan-akan telah meloncat menghilang ke-dalam gelap malam. Adeg Panatas memang
mencoba memburunya. Demikian pula Ki Jagabaya dan para bebahu yang bertempur
bersamanya. Tetapi mereka telah kehilangan buruan mereka. Karena itu, maka Adeg
Panatas tidak membuang waktu. Iapun segera kembali ke arena pertempuran. Ia
mencoba untuk mencegah para pengikut Kebo Lorog, agar mereka tidak sempat
melarikan diri. Pertempuran itu tiba tiba menjadi kusut. Beberapa orang
berlari-larian tidak menentu. Beberapa orang padukuhan memang menjadi bingung.
Ternyata cara yang dipergunakan oleh para pengikut Kebo Lorog yang sudah
berpengalaman itu sebagian malnig berhasil. Orang-orang padukuhan itu justru
berlarian saling menghalangi, sehingga mereka telah kehilangan lawan lawan
mereka yang berlari-larian ber-putaran. Tetapi Adeg Panatas tidak menjadi
bingung. Dengan cepat ia bergabung dengan Ki Bekel. Ki Pituhu yang akan ikut
serta dalam arus yang berputaran dan membingungkan itu, telah kehilangan
kesempatan. Adeg Panatas tidak membiarkannya lepas dari tangannya. Ketika
kemudian pertempuran itu berakhir, maka hanya ampat orang pengikut Kebo Lorog
yang tertangkap termasuk Ki Pituhu sendiri. Namun atas perintah Adeg Panatas,
maka keempat orang itu telah dipisahkan yang satu dengan yang lain. “ Kita ingin
mendengar jawaban mereka esok. Kita akan bertanya kepada mereka seorang demi
seorang. “ Beberapa saat kemudian, maka pertempuran benar-benar telah berhenti.
Beberapa orang yang ada di kuburan itu telah menyalakan obor untuk mencari
korban yang jatuh dalam pertempuran itu. Beberapa orang memang telah terluka.
Tiga diantara orang pedukuhan terluka berat. Sedangkan yang lain, luka-luka yang
mereka derita tidak sampai membahayakan jiwa mereka. Sementara itu, seorang
diantara para perampok itu terluka parah. Seorang lagi diketemukan dituar
kuburan, Orang itu bahkan telah pingsan, karena luka-lukanya. Nampaknya ia juga
telah mencoba untuk melarikan diri, namun wadagnya tidak lagi dapat
mendukungnya, sehingga ia terjatuh dan pingsan. Ki Bekel yang juga telah terluka
meskipun hanya beberapa goresan ditubuhnya, telah memerintahkan untuk membawa
mereka yang terluka dan para tawanan ke padukuhan. “ Hati-hati dengan para
tawanan. “ pesan Ki Bekel. Ki Jagabaya tidak mau membuat kesalahan sehingga
tawanan itu dapat terlepas meskipun hanya seorang saja. Karena itu, maka
merekapun telah diikat tangannya. Dua orang memegangi kedua ujung tali pengikat
dari setiap orang. Malam itu, para tawanan telah dibawa ke banjar padukuhan.
Demikian pula mereka yang terluka. KI Hckcl telah memanggil tabib yang ada di
padukuhan itu untuk membantu merawat orang-orang yang terluka Sementara itu,
seperti yang dipesankan oleh Adeg Panatas, maka keempat orang itu telah
ditempatkan di bilik yang terpisah. Mereka telah diikat dengan tiang yang ada
didalam bilik itu. Bukan hanya tangannya, telapi juga kakinya. Termasuk Ki
Pituhu. Dari orang-orang yang tertawan, Ki Bekel mengetahui, bahwa pemimpin
mereka adalah Ki Pituhu. “ Kita akan berbicara dengan orang itu besok” berkata
Ki Bekel kepada adiknya. Adeg Panatas mengangguk. Namun ia memperingatkan “ Asal
kita menjaganya dengan baik. Kawan kawannya dapat saja berusaha untuk
membebaskan mereka. Tetapi ada kemungkinan yang lain. Mereka mengirim orang yang
dengan diam-diam berusaha membunuhnya. “ Karena itu, maka Ki Bekel telah
memberikan pesan kepada mereka yang beijaga-jaga dibanjar itu, untuk sangat
berhati hati. “ Beri isyarat jika perlu “ berkata Ki Bekel “ Aku akan
membicarakan dengun beberapa orang, apa yang sebaiknya kita lakukan dengan
benda-benda berharga itu. Jika perlu sekali, pukul saja kentongan. “ Ki Bekelpun
memberikan pesan yang sama kepada beberapa orang yang ditugaskannya untuk tetap
berada di kuburan, mengawasi agar burang-barang berharga itu tidak diambil oleh
siapapun juga, sampai Ki Bekel mengambil satu keputusan. Sepuluh orang yang
bciada di kuburan masih juga merasa, bulu tengkuk mereka meremang. Apalagi jika
mereka memandangi sebatang pohon raksasa yang tumbuh dipinggir kuburan itu.
Namun diantara mereka terdapat dua orang yang berani. Sura dan Mertawira.
Keduanya telah diserahi untuk memimpin kawan-kawannya yang berjaga-jaga di
kuburan itu. Paksi kemudian telah memilih untuk berada di kuburan bersama-sama
dengan Sura. Sambil duduk ber-. sandar sebatang pohon di pinggir kuburan, dekat
tempat benda-benda berharga itu ditanam, Paksi sempat merenungi pertempuran yang
baru saja terjadi. Ia memang merasa heran, bahwa ada diantara mereka yang
memiliki jalur perguruan yang dianutnya. Sebagaimana Paksi mengenali unsur-unsur
gerak pada orang itu, maka orang itupun dapat mengenali unsur-unsur gerak yang
dikuasai oleh Paksi. Paksipun kemudian berkata didalam hatinya “ Tidak semua
bunga ditanam berbau harum. “ Namun Paksi bertekad untuk menemukan orang itu
pada kesempatan lain. “ Aku harus memberitahukan hal ini kepada guru “ berkata
Paksi didalam hatinya. Tetapi Paksi tidak tahu, kapan ia dapat bertemu lagi
dengan gurunya, karena Paksi tidak tahu kapan ia akan pulang. Paksi menarik
nafas dalam-dalam. Disekitarnya terdapat beberapa orang padukuhan yang
berjaga-jaga. Seorang diantara mereka membawa sebuah kentongan kecil. Jika perlu
kentongan itu akan dibunyikan untuk memanggil orang-orang dari padukuhan. Tetapi
menurut perhitungan Paksi, para pengikut Kebo Lorog itu tidak akan kembali. Bagi
Kebo Lorog, maka sawah dilingkungan ini adalah sawah yang tandus. Tentu tidak
ada artinya jika ia harus menggarapnya lebih lama lagi. ”Apalagi orang yang
bernama Ki Pituhu itu sudah tertangkap. Tidak ada lagi orang yang menyiapkan
landas-an bagi kekuatannya di daerah ini “ berkata Paksi kepada diri sendiri.
Namun beberapa saat kemudian, Paksi sempat merenungi dirinya sendiri. Setiap
kali ia bertanya “ Kenapa aku harus pergi? Kenapa ibu menganggap bahwa ayah
memang sengaja menyingkirkan aku dari rumah. Cincin itu hanya sekedar satu
alasan. “ Sura yang berjalan hilir mudik untuk mengusir kantuk, justru telah
mendekatinya. Sambil duduk disebelah-nya ia berkata “ Sebaiknya kau pulang saja
ngger. Kau dapat beristirahat dan barangkali masih mempunyai waktu sedikit untuk
tidur. “ Tetapi Paksi menjawab sambil tersenyum “ Aku tentu sudah tidak dapat
tidur disisa malam yang tinggal sedikit ini. “ “ Kau tidak perlu tergesa-gesa
bangun meskipun matahari sudah naik. “ “ Aku sudah terbiasa bangun pagi-pagi,
paman “ jawab Paksi. Sura tertawa. Sambil menepuk bahu Paksi ia berkata “ Kau
tentu letih. Barangkali kau dapat tidur sambil duduk bersandar seperti itu. “
Paksipun tertawa pula. Katanya “ Aku akan mencoba paman. “ Surapun kemudian
bangkit sambil berkata “ Jika demikian, biarlah aku tidak mengganggumu. “ Paksi
masih saja tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Paksi memang berusaha untuk dapat
beristirahat. Tetapi yang beristirahat hanyalah wadagnya. Angan-angannyapun
kembali mengembara menyusuri perjalanan hidupnya dari waktu ke waktu. “ Paksi
Pamekas itupun mengambil kesimpulan, bahwa kehadirannya dirumah keluarganya
memang tidak menyenangkan ayahnya. Ia tidak berada didalam hati ayahnya. Tidak
sebagaimana kedua orang adiknya yang mendapat perhatian sepenuhnya. “ Apakah
karena aku anak sulung, maka aku harus memikul beban terberat diantara
saudarasaudaraku? “ bertanya Paksi didalam hatinya. Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Kakinya mulai merasa gatal. Nyamuknya cukup banyak, sehingga desing
ditelinganya membuatnya tidak tenang berangan-angan. Paksi akhirnya berdiri.
Langit ternyata sudah mulai dibayangi cahaya kemerah-merahan. Menjelang fajar
Paksi baru merasa dinginnya embun yang bergayut diujung dedaunan dan menitik
satu-satu. Batu-batu nisanpun mulai menjadi basah. Paksi menggeliat. Beberapa
orang justru telah tertidur sambil bersandar pepohonan. Paksi melangkah keluar
dari lingkungan kuburan. Ketika ia berdiri di pematang, dilihatnya sebuah parit
yang dialiri oleh air yang jernih. Dituar sadarnya Paksi turun kedalam parit
untuk mencuci wajahnya, kakinya dan tangannya. Terasa badannya menjadi sedikit
segar meskipun semalam suntuk Paksi tidak tidur sekejappun. Dalam pada itu, Ki
Bekel, Ki Jagabaya dan Adeg Panatas masih berbincang tentang bendabenda berharga
itu. Apa yang akan mereka lakukan, karena mereka tahu, bahwa benda-benda
berharga itu adalah barang yang panas. ” Bagaimana kita dapat mengembalikan
barang-barang itu kepada pemiliknya “ berkata Adeg Panatas. “ Kita akan
berbicara dengan Ki Demang. “ berkata Ki Bekel. Ki Jagabaya menjadi agak ragu.
Katanya “ Bukankah Ki Bekel tahu, bahwa Ki Demang sering memilih jalan pintas
untuk memecahkan persoalan? Ki Demang kadang-kadang dengan tanpa berpikir
panjang, mengambil keputusan dengan mudah. Ia tidak mau bersusah payah mencari
jalan keluar terbaik. “ Ki Bekel mengangguk-angguk, sementara Ki Jagabaya
berkata selanjutnya “ Menurut dugaanku, Ki Demang akan menanggapi persoalan ini
dengan ringan. Bahkan dengan tanpa memikirkan akibatnya” sambil sedikit kantuk,
”Ki Demang akan mengatakan, bahwa sebaiknya barang-barang itu dimanfaatkan buat
Kademangan. “ Ki Bekel mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti pendapat Ki
Jagabaya. Tanpa berpikir panjang, Ki Demang akan berkata “ Barang-barang itu
kita jual. Uangnya kita pergunakan buat keperluan Kademangan. “ Dengan nada
dalam Ki Bekel bertanya “ Jadi bagaimana menurut Ki Jagabaya? “ “ Kita menghadap
Ki Tumenggung Wirayuda. “ jawab Ki Jagabaya. “ Sejauh itu? “ bertanya Ki Bekel.
“ Bukankah Ki Tumenggung Wirayuda yang telah mendapat tugas untuk mengambil
pelaksanaan pemerintahan Pajang di daerah ini meliputi satu lingkungan yang luas
sampai ke Kwarasan. “ Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun iapun bertanya “ Tetapi
bagaimanapun juga kita harus berbicara lebih dahulu dengan Ki Demang. “ “ Aku
setuju, Ki Bekel. Tetapi sebaiknya kita sudah membawa sikap sebelum kita bertemu
dengan Ki Demang.” “ Besok kita temui Ki Demang. “ Tetapi yang mereka bicarakan
bukan saja kepada siapa mereka harus melaporkan barangbarang berharga hasil
rampokan itu. Tetapi perhatian Adeg Panatas lebih tertuju pada pengamanan
barang-barang itu. Karena itu, maka Adeg Panatas itupun berkata “ Kita harus
mengatur, siapakah yang secara bergilir akan menjaga barang-barang itu. “ “ Ya “
Ki Jagabaya mengangguk-angguk “ barang-barang itu tidak boleh jatuh kembali
ketangan para perampok itu. “ “ Nanti, kita akan menyusun tugas bagi setiap
laki-laki untuk bergantian berjaga-jaga di kuburan itu siang dan malam. Disiang
hari kita akan menempai kan lima orang. Tetapi dimalam hari, lebih dari itu.
tujuh atau delapan orang. “ berkata Ki Bekel “ mudah-mudahan Ki Tumenggung
Wirayuda bergerak cepat atas nama Pajang sehingga tugas kita cepat selesaj. “
Demikianlah, dipagi hari itu Ki Bekel, Ki Jagabaya dan Adeg Panatas telah
bersiap-siap pergi ke padukuhan induk untuk bertemu dengan Ki Demang. Namun
mereka-pun sudah bersiap pula untuk pergi ke Kwarasan, menemui Ki Tumenggung
Wirayuda. Sebelum mereka berangkat, maka Ki Jagabaya telah menugaskan dua orang
bebahu untuk membawa tiga atau ampat orang menggantikan mereka yang bertugas
menunggui benda-benda berharga di kuburan itu. “ Untuk selanjutnya kita akan
mengaturnya sebagaimana kita mengatur para peronda “ berkata Ki Jagabaya.
Sementara itu, Ki Bekel, Ki Jagabaya dan Ades Panatas telah menemui Ki Demang
uniuk membirikan laporan tentang peristiwa yang telah terjadi. Sebenarnyalah
serjerti dugaan Ki Jagabaya, maka Ki Demang tidak menanggapi persoalan itu
dengan bersungguh-sungguh. Laporan itu didengarnya sambil mengangguk-angguk. Ia
seakanakan tidak mendengar bahwa telah jatuh korban diantara orang padukuhan.
Beberapa orang telah terluka dan diantaranya sangat parah. Yang mula-mula
ditanyakan, bukan keadaan orang-orang yang terluka itu, tetapi justru
barangbarang yang masih berada di kuburan “ Apa saja yang kalian temu kan? “ “
Kami belum melihatnya satu demi satu, Ki Demang “ Nanti kita bongkar. Aku ingin
melihat apa saja yang telah disembunyikan itu. “ “ Kemudian?” bertanya Ki Bekel.
“ Bukankah baiang-barang itu tidak kita ketahui siapa pemiliknya? “ “ Lalu? “
belianya Adeg Panatas. “ Ki Jagabaya menarik nafas panjang ketika ia mendengar
Ki Demang menjawab “ Itu rejeki kita. Kademangan ini membutuhkan banyak beaya
untuk membangun banjar yang lebih baik. Untuk membuat susukan di gumuk Pantong.
Dan barangkali masih ada yang lain. “ “ Ki Demang “ berkata Ki Bekel “
barang-barang itu tentu ada pemiliknya meskipun kita tidak mengetahuinya.
Seandainya pemiliknya tidak dapat kita ketemukan, maka kita tidak begitu saja
dapat mempergunakannya untuk kepentingan kita sendiri. “ “ Lalu, bagaimana
menurut pertimbangan Ki Bekel? “ Kami akan melaporkannya kepada Ki Tumenggung
Wirayuda. “ “ Untuk apa? “ bertanya Ki Demang. “ Biarlah Ki Tumenggung Wirayuda
memberikan keputusan atas nama Pajang. Seandainya, sekali lagi seandainya, Ki
Demang. Ki Tumenggung menyerahkan barang-barang berharga itu atau sebagian
daripadanya kepada kita, barang itu akan menjadi sah. “ “ Jadi kalian akan pergi
ke Kwarasan? “ “ Barangkali Ki Demang juga ingin pergi? “ “ Kenapa kalian
memilih penyelesaian yang rumit?” Adeg Panataspun kemudian berkata “ Ki Demang.
Jika kita langsung memanfaatkan bendabenda berharga hasil rampokan itu, mungkin
sekali kita akan terjebak kedalam kesulitan. Jika kita menjual benda-benda itu,
mungkin pemiliknya dapat mengenalinya. Nah, jika ia sudah melaporkan bahwa ia
kehilangan karena dirampok, maka kita akan dapat dituduh telah melakukan
perampokan terhadap pemilik barang itu. Dengan demikian, kita akan mengalami
kesulitan. “ . “ Tetapi mungkin Pajang akan mengambil barang ? barang itu
seluruhnya “ berkata Ki Demang. “ Itu haknya “ jawab Adeg Panatas. “ Tetapi
apakah kau yakin, bahwa benda-benda itu akan dikembalikan kepada pemiliknya?
Atau justru hanya akan memperkaya Ki Tumenggung Wirayuda? “ “ Kemungkinan itu
memang dapat terjadi, Ki Demang. Tetapi baiklah kita percaya kepada Ki
Tumenggung. Jika kita sudah tidak mempercayai para petugas yang ditunjuk oleh
Pajang, lalu apakah sebenarnya yang telah terjadi atas kita? “ sahut Adeg
Panatas. Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Terserah kepada kalian
jika kalian ingin menempuh julan penyelesaian yang rumit. Aku sendiri tidak
sempat mengurusinya. Pekerjaan cukup banyak. “ “ Jika Ki Demang sibuk, biarlah
kami yang menyelesaikannya. Tetapi yang penting, K i Demang mengetahui apa yang
akan kami lakukan. “ Ketika ketiga orang itu kemudian kembali ke padukuhan, Ki
Jagabayapun berkata “ Bukankah kita sudah menduga? “ “ Apakah benar bahwa Ki
Demang sibuk sekali? “ bertanya Adeg Panatas. “ Ya. Sibuk mengadu ayam “ jawab
Ki Jagabaya. Adeg Panatas menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia
berkata “ Apa yang terjadi jika KeBo Lorog itu kemudian memusuhi Kademangan ini?
bukan hanya padukuhan kita?” “ Ki Demang tidak memberikan tanggapan dan kesan
apapun tentang Kebo Lorog.” sahut Ki Jagabaya. “ Apakah ia belum mengenalnya?”
tanya Adeg Panatas. “ Tentu sudah “ jawab Ki Bekel “ tetapi ia tidak tertarik
untuk berbicara tentang Kebo Lorog. Mungkin Ki Demang juga mempunyai keyakinan
diri. “ “ Ada beberapa orang yang dianggap memiliki ilmu yang tinggi yang
tinggal di padukuhan induk. Lebih dari itu, ada dua orang pengawal Ki Demang
yang tangguh. “ berkata Ki Jagabaya. Adeg Panatas mengangguk-angguk. Tetapi ia
mendapat kesan yang kurang mapan bagi seorang Demang. Nampaknya ia melakukan apa
saja yang disenanginya, tetapi ia tidak menaruh perhatian terhadap sesuatu yang
tidak langsung menyangkut dirinya. Tetapi mereka bertiga tidak berbicara lebih
panjang tentang Ki Demang. Mereka mulai membicarakan rencana kepergian mereka ke
Kwarasan untuk menghadap Ki Tumenggung Wirayuda. Ki Bekel tidak ingin persoalan
benda-benda berharga itu berkepanjangan. Karena itu, maka mereka bertigapun
sepakat untuk segera pergi ke Kwarasan. “ Besok pagi-pagi Kita berangkat “
berkata Ki Bekel “ dengan demikian kita akan dapat kembali di sore hari. “
Sementara itu, dua orang bebahu dan beberapa orang lain telah pergi ke kuburan,
menggantikan Sura dan kawan-kawannya. Paksipun telah ikut pulang pula bersama
Sura kerumahnya. Bahkan Sura telah meminjaminya lagi pakaian, karena Paksi harus
mencuci pakaiannya yang kotor. Semalaman ia berada di kuburan, bertempur dan
kemudian duduk-duduk di rerumputan berdebu. Hari itu, Paksi sempat bermain-main
dengan Salam. Anak itu memang anak yang cerdas. Disiang hari, ketika Paksi
diminta untuk makan siang bersama Sura, ia menyatakan keinginannya untuk
meneruskan perjalanan. “ Aku sudah cukup lama terhenti disini, paman. “ “ Aku
masih minta kau menunggu, ngger. Setelah persoalan benda-benda berharga yang
disembunyikan para perampok itu selesai, maka terserahlah kepadamu, meskipun aku
ingin mencoba untuk menahanmu disini. “ “ Bukankah aku sudah lidak mempunyai
kepentingan lagi? “ “ Tentu masih ada ngger bukankah Ki Bekel, Ki Jagabaya dan
adi Adeg Panatas akan pergi ke Kwarasan untuk melaporkan penemuan ini kepada Ki
Tumengung Wirayuda? “ “ Bukankah aku tidak diperlukan lagi? Segala nya sudah
jelas. Persoalan kemudian adalah persoalan unimu Ki Bekel, Ki Demang dan
Tumenggung Wirayuda. “ “ Tidak ngger “ sahut Sura “ kau adalah orang yang
pertama kali melihat dan kemudian berhasil membuktikan bahwa keranda itu adalah
sekedar tipuan yang sengaja dibuat untuk menimbulkan keresahan, Kau pula lah
yang melihat dimana orang-orang Itu menyembunyikan barang-barang hasil rampokan
itu. Kau harus Ikut menyaksikan Ki Tumenggung Wirayuda membongkar bendabenda
berharga itu. Kau harus melihat apa saja yang telah disembunyikan oleh para
peiampok itu.“ “ Bukankah itu tidak perlu, paman. “ jawab Paksi. Sura tersenyum.
Katanya “ Aku tahu. Kau tidak ingin menonjolkan dirimu sendiri untuk mendapat
pujian. Tetapi mungkin kau diperlukan untuk menjawab beberapa pertanyaan. “
Paksi terpaksa tinggal untuk beberapa hari lagi, Meskipun demikian, ia menjadi
berdebar-debar, jika Ki Tumenggung Wirayuda itu mengenal ayahnya dan bahkan
pernah datang kerumahnya, mungkin ia dapat mengenalinya. Tetapi menurut
ingatannya, ia tidak pernah mendengar nama itu. Sementara itu, ternyata Salampun
ikut menahannya pula. Kehadiran Paksi dirumahnya, membuat rumah itu tidak
terlalu sepi baginya. Ia mempunyai kawan bermain tanpa harus keluar dari regol
halaman rumahnya. Dalam pada itu, dihari berikutnya, Ki Bekel, Ki Jagabaya dan
Adeg Panatas telah memacu kudanya menuju ke Kwarasan untuk menghadap Ki
Tumenggung Wirayuda. Satu perjalanan yang agak panjang tapi berkuda, jarak itu
terasa jauh lebih pendek Laporan itu sangat menarik perhatian Ki Tumenggung.
Tidak sebagaimana Ki Demang yang sekedar mengangguk-angguk. Tetapi Ki tumenggung
telah menanyakan beberapa hal tentang para perampok itu Apalagi ketika disebut
nama Kebo Lorog. “ Kami gagal menangkapnya, Ki Tumenggung” berkata Adeg Panatas.
Ternyata Ki Tumenggungpun bergerak cepat. Ketika Ki Bekel melaporkan bahwa
orang-orang padukuhan terpaksa menunggui kuburan itu siang dan malam, maka Ki
Tumenggung berkata “Aku akan pergi bersama kalian. Aku akan membawa sekelompok
prajurit untuk mengurus para tawanan. “ “Terima kasih Ki Tumenggung.” jawab Ki
Bekel. Ki Tumenggungpun kemudian telah memerintahkan sekelompok prajurit untuk
menyertainya, Kecuali kuda yang mereka tumpangi maka merekapun telah membawa
kuda-kuda tanpa penunggangnya. Kuda-kuda itu akan dipergunakan untuk membawa
para tawanan. Namun atas permintaan Ki Bekel, maka Ki Tumenggung juga membawa
kuda kuda yang akan menjadi kuda beban. “ Sebaiknya benda-benda berharga itu
dibawa meninggalkan padukuhan kami, Ki Tumenggung. Kami tidak mempunyai kekuatan
cukup untuk mempertahankannya, seandainya Kebo Lorog kembali dengan kekuatan
yang lebih besar. Tetapi jika ia tahu, bahwa benda-benda berharga itu serta
orang-orangnya telah kami serahkan kepada Ki Tumenggung atas nama Pajang, maka
mereka tentu tidak akan kembali lagi, karena tidak ada gunanya. Ternyata Ki
Tumenggung dapat mengerti permintaan Ki Bekel itu. Sehingga dengan demikian, ia
telah membawa kuda lebih banyak lagi. Hari itu juga Ki Tumenggung Wirayuda telah
berada di padukuhan bersama Ki Bekel. Mereka memang tidak membuang waktu. Ki
Tumenggung itupun segera pergi ke kuburan dan memerintahkan menggali benda-benda
hasil rampokan itu. Seperti yang diduga oleh Sura, maka Paksi telah menjadi
tempat bertanya bagi Ki Tumenggung. Ia harus menceriterakan kembali apa yang
pernah dilihat dan didengarnya tentang hantu keranda dan benda-benda berharga
yang di sembunyikan di kuburan itu. Ki Tumenggung mengangguk-angguk ketika Paksi
selesai berceritera. Anak muda itu sudah mengatakan apa yang diketahuinya sejak
ia melihat keranda yang diusung oleh orang-orang berpakaian hitam itu sampai
saat ia mendengar rencana kedatangan Kebo Lorog. “ Kami akan mencoba mengetahui
siapakah orang-orang yang pernah dirampok oleh gerombolan ini “ berkata Ki
Tumenggung. Dengan bantuan para bebahu padukuhan, maka benda-benda berharga yang
disembunyikan di kuburan itu telah dibawa ke banjar. Di banjar, Ki Tumenggung
Wirayuda, Ki Bekel, Ki Jagabaya, Adeg Panatas, Paksi dan beberapa bebahu dapat
melihat dengan jelas, apa yang tersimpan di kuburan itu. Beberapa orang hampir
tidak percaya kepada penglihatannya sendiri ketika mereka melihat perhiasan emas
dan permata. Berlian, intan, mutiara dan batu batu mulia yang lain. Selain
perhiasan juga terdapat berbagai macam wesi aji, keris, tombak tanpa tangkainya
dan benda benda lain yang dianggap bernilai tinggi. Namun Paksi menjadi berdebar
debar ketika la mendengar Ki Tumenggung Wirayuda itu bertanya “ Apakah diantara
perhiasan-perhiasan itu tidak terdapat sebuah cincin dengan mata tiga buah batu
akik. “ Ki Bekel yang ikut mengeluarkan perhiasan-perhiasan dari petinya
menggeleng sambil berkata “Tidak Ki Tumenggung. Tetapi apa yang Ki Tumenggung
maksudkan, ada orang yang pernah melaporkan kehilangan cincin dengan mata tiga
buah batu akik? “ Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak Namun kemudian katanya “
Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya pernah mendengar bahwa cincin yang demikian Itu
adalah cincin yang baik. “ “ Bukankah biasanya cincin hanya mempunyai matu satu
batu akik? “ bertanya Adeg Panatas. “ Ya. Cincin yang satu itu memang cincin
yang, khusus. “ jawab Ki Tumenggung. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara
Ki Bekel bertanya “Cincin siapakah yang Ki Tumenggung maksudkan? “ ”Seseorang
mencari cincinnya yang hilang. Bukan dirampok. tetapi siapa tahu, cincin itu
akhirnya jatuh ketangan para perampok. “ Adeg Panatas masih akan bertanya Tetapi
Ki Tumenggung telah berkata “ Sudahlah. Cincin dengan mata tiga buah batu akik
itu tidak penting. “ Dengan demikian, maka Ki Tumenggung itu mulai membicarakan,
bagaimana ia akan membawa barang-barang berharga itu serta para tawanan. Bagi Ki
Tumenggung, Ki Pituhu itu merupakan tawanan yang penting. Karena dari mulutnya
akan dapat didengar, siapa saja yang pernah dirampoknya. Dengan demikian, maka
Ki Tumenggung itu akan dapat menelusuri, siapakah pemilik benda-benda beiharga
itu. Meskipun tidak seluruhnya, tetapi para pemiliknya akan berterima kasih jika
barang-barang yang masih dapat diketemukan itu kembali kepada mereka. ”Dalam hal
ini, aku tidak dapat mengambil keputusan sendiri “ berkata Ki Tumenggung
Wirayuda “ aku harus memberikan laporan ke Pajang. Pajang tentu akan menugaskan
seeorang yang menguasai kepastian paugeran dalam persoalan seperti ini untuk
bersama-sama menyelesaikannya. “ Demikianlah, maka segala sesuatunya sudah
disepakati oleh kedua belah pihak. Ki Bekel dan para bebahu padukuhan itu,
merasa bahwa kewajiban mereka telah mereka lakukan dengan baik, sehingga mereka
tidak dibebani oleh kegelisahan. Namun Ki Tumenggung Wirayuda itu berkata “
Tetapi setiap saat, kami mungkin masih akan menghubungi Ki Bekel untuk mendapat
keterangan yung diperlukan. “ “ Kami tidak berkeberatan, Ki tumenggung” jawab Ki
Bekel. Meskipun demikian, ternyata Ki Tumenggung itu juga bertanya tentang sikap
Ki Demang yang sealah olah tidak ikut campur dalam persoalan yang termasuk
penting ini. “ Ki Demang sudah mengetahui persoalannya, Ki Tumenggung “ jawab Ki
Bekel “ Ki Demang memigrta kan kami untuk menyelesaikan persoalan ini, Ka»cna
itu, kami telah datang menghadap Ki l'uincitfguug. “ Baiklah Ki Bekel. Dengan
demikian untuk selanjutnya kami akan selalu berhubungan dengan Ki Bekel saja. “
Demikianlah, malam itu, Ki Tumenggung dan pengiringnya telah bermalam di
padukuhan itu. Ki Tumenggung sempat berbicara serba sedikit dengan Ki Pituhu.
Namun nampaknya Ki Pituhu tidak mudah unluk memberikan jawaban atas pertanyaan
pertanyaan yang diberikan oleh Ki Tumenggung. Meskipun demikian, Kl Tumenggung
masih belum menekun Ki Pituhu agar menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ketika Ki
Tumenggung bertanya tentang Kebo Lorog, maka jawaban Ki Pituhupun masih juga
melingkar-lingkar. Bahkan seperti orang mengigau Ki Pituhu berkata “ Ki Kebo
Lorog bukan seorang perampok. Ia datang sama sekali tidak ada hubungannya dengan
benda-benda hasil rampokan itu. Ia sama sekali tidak menginginkan apapun juga. “
“ Jika saja ia tidak harus melarikan diri, ia tentu akan membawa sebagian besar
dari bendabenda ini “ berkata Ki Tumenggung. “ Tidak “ jawab Ki Pituhu “ kami
tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Kebo Lorog kecuali bahwa kami telah
mengenalnya dengan baik. Ia datang untuk menanyakan pesanannya kepadaku, karena
ia mengenal aku sebagai seorang saudagar perhiasan, wesi aji dan berbagai jenis
pusaka. “ “ Apa yang dipesankan kepadamu? “ bertanya Ki Tumenggung. Wajah Ki
Tumenggung menegang ketika ia mendengar Ki Pituhu menjawab “ Sebuah cincin
dengan mata tiga buah batu akik. “ Paksi yang juga mendengar pembicaraan itu
menjadi tertarik pula untuk mendengarkan lebih jauh. Tetapi Ki Tumenggung justru
menghentikan pertanyaan-pertanyaannya dan memerintahkan untuk membawa Ki Pituhu
kembali ke bilik tahanannya. “ Meskipun Ki Bekel dan Adeg Panatas juga tertarik
mendengar jawaban Ki Pituhu lenlang cincin bermata tiga buah batu akik Itu,
tetapi mereka tidak terlalu lama memikirkannya. Mereka menganggap bahwa beberapa
orang mempunyai kepercayaan bahwa cincin yang demikian itu adalah cincin yang
dianggap bernilai tinggi. Tetapi mereka belum pernah mendengar bahwa cincin itu
adalah cincin istana yang hilang. Malam itu Paksi yang untuk beberapa lama
tinggal dirumah Sura kembali merenungi dirinya. Demikian ia kembali dari banjar,
telinganya masih saja mendengar pertanyaan Ki Tumenggung Wirayuda tentang cincin
bermata tiga serta keterangan Ki Pituhu bahwa Kebo Lorog sekedar memesan cincin
serupa itu pula. Meskipun Ki Pituhu itu berbohong dan mengingkari hubungannya
dengan Kebo Lorog, namun bahwa ia juga menyebut cincin bermata tiga buah batu
akik itu telah mengganggu pikirannya. “ Ternyata ayah tidak sendiri “ berkata
Paksi didalam hatinya “ Ki Tumenggung Wirayuda juga berusaha mencari cincin itu.
Bahkan Kebo Lorog juga berbicara tentang cincin bermata tiga itu. “ Namun dengan
demikian. Paksi makin menyadari bahwa tugas yang dihadapinya adalah juga yang
semakin berat, terngiang kembali suara ibunya “ Kakang Tumenggung. Paksi masih
terlalu muda untuk melakukan tugas yang begitu berat. “ Tetapi ayahnya membentak
“ Kau selalu memanjakannya. “ Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak pernah
merasa terlalu dimanjakan oleh ibunya. Perhatian ibunya kepadanya dan kepada
adik-adiknya tidak berbeda. Tetapi justru karena sikap ayahnya yang berbeda
terhadapnya dari sikapnya kepada adik-adiknya, maka ayahnya selalu menyangka
bahwa ia terlalu dimanjakan oleh Ibunya Terasa sesuatu bergelar dihati Paksi,
Justru setelah ia keluar dari rumahnya, maka ia sempat, menilai apa yang pernah
terjadi atas dirinya. Wajah ayahnya yang tidak pernah manis kepadanya
sebagaimana kepada kedua orang adiknya. Tetapi Paksi berusaha untuk
menyingkirkan perasaannya itu. Ia tidak mau menuduh ayahnya bersikap emban cinde
emban siladan. Ia tidak mau menganggap ayahnya tidak adil terhadap ketiga orang
anaknya. Paksi mencoba untuk dapat memejamkan matanya. Dengan susah payah ia
menyingkirkan angan-angannya tentang keluarganya. Tetapi ia justru terjebak
kedalam persoalan yang lain. Ia tidak melihat orang yang wajahnya cacat itu
berada diantara orang-orang yang tertangkap bersama Ki Pituhu. Juga tidak ada
diantara mereka yang terluka parah. “ Orang itu agaknya berhasil melarikan diri
sebagaimana Kebo Lorog “ berkala Paksi didalam hatinya. Namun dengan demikian,
orang yang sudah dapat mengenalinya itu akan selalu membayanginya. Setiap saat
orang itu akan dapal muncul dihadapannya. Mungkin orang itu berusaha
membayanginya. Tetapi mungkin orang itu menjumpainya dengan tidak sengaja
dimanapun. Sebagai pengikut Ki Pituhu, maka orang itu tentu juga pernah
mendengar tentang cincin bermata tiga buah batu akik itu. Jika orang itu juga
memburu cincin itu, memang ada kemungkinan mereka akan dapat bertemu lagi. Paksi
tidak pernah merasa takut kepada orang itu. Beberapa kali ia sudah berhadapan
langsung dan bertempur melawannya. Paksi selalu dapat mengusir orang itu. Tetapi
ada sesuatu yang terasa aneh bagi Paksi. Menurut pendapat Paksi, orang itu
memiliki sumber ilmu yang sama dengan ilmunya. Bahkan unsur-unsur dari ilmu itu
telah berkembang dan terasa lebih matang. Tetapi orang itu tidak mampu
mengalahkannya dan bahkan orang itu setiap kali harus menyingkir dari medan.
Paksipun merasa aneh, bahwa justru dalam setiap pertempuran, rasa-rasanya ia
telah menemukan sesuatu yang baru, yang dapat membuat ilmunya semakin berkembang
pula. Tetapi persoalan itu tetap menjadi persoalan pribadinya. Ia tidak akan
dapat minta pendapat apalagi pertimbangan kepada orang lain. Namun angan-angan
Paksi itu semakin lama memang menjadi semakin kabur, sehingga akhirnya Paksi
itupun telah tertidur disisa malam itu. Seperti hari-hari sebelumnya selama ia
berada dirumah Sura, maka pagi-pagi Paksi sudah bangun. Salampun ternyata telah
bangun pagi pagi pula dan bersama Paksi membersihkan halaman samping rumah
Ketika Paksi menimba air di sumur, maka Salampun ikut-ikutan pula ke sumur.
Tetapi Paksi mencegahnya “ Kau akan justru terangkat oleh senggot timba itu “
berkata Paksi. “ Aku sudah dapat menimba sendiri “ berkata Salam, “ Jangan. Jika
ayahmu melihatnya, maka ayahmu tentu akan marah. Kau masih terlalu kecil untuk
menahan berat senggot itu. “ Salam memang nampak menjadi kecewa. Tetapi Paksipun
berkata “ Ambil bumbung itu. Kau isi gentong di dapur. “ Salampun segera berlari
mengambil sebuah bumbung pering petung. Sepotong bumbung bumbu petung yang
besar. Tetapi Paksi memilih yang tidak terlalu panjang. Sura memperhatikan
anaknya yang berlari-lari itu sambil tersenyum. Agaknya Salam menjadi lebih
gembira setelah Paksi ada dirumah itu. Tetapi Sura menyadari, bahwa Paksi tidak
akan dapat terlalu lama dirumahnya. Jika nanti Ki Tumenggung Wirayuda
meninggalkan padukuhan itu, maka Paksipun tentu akan segera pergi untuk
melanjutkan pengembaraannya. Sebelum matahari terbit, Paksi memang telah
berbenah diri. Ia sudah mengenakan pakaiannya sendiri Sudah mencuci pakaian yang
dipinjamnya dari Sura. Paksi memang sudah berniat untuk melanjutkan
perjalanannya melakukan perintah ayahnya. Pergi ketempat yang tidak
diketahuinya. Tetapi dengan satu pengertian baru, bahwa banyak orang yang akan
meramaikan perburuan itu. Bukan hanya para pemimpin prajurit dan lingkungan
tertentu di istana. Tetapi orang-orang seperti Kebo Lorogpun telah ikut berburu
pula. Pagi itu Sura telah dipanggil ke banjar bersama Paksi. Juga Mertawira,
selain Ki Bekel, Ki Jagabaya dan para bebahu. Ki Tumenggung Wirayuda hari itu
akan kembali ke Kwarasan. “ Atas persetujuan kalian, maka benda-benda berharga
ini akan aku bawa ke Kwarasan. Kalian telah menyaksikan isi dari peti-peti itu,
sehingga pada suatu saat mungkin para petugas dari Pajang ingin mendengar
keterangan kalian. “ Baiklah. “ jawab Ki Bekel “ setiap saat kami bersedia
melakukan perintah apapun juga. Kami akan menjadi saksi semua peristiwa yang
telah terjadi. “ Namun Ki Wirayuda sempat juga bertanya “ Apakah kalian tidak
akan mengulangi menyelenggarakan keramaian merti desa itu? “ “ Keramaian itu
sudah kami lakukan, Ki Tumenggung. Kami telah menyatakan sukur atas keberhasilan
kami pada musim tanam padi yang lalu, meskipun keramaian itu sempat bubar di
dini hari. Tetapi kami rasa kami tidak perlu mengulanginya, Ki Tumenggung. “ “
Jika Ki Bekel ingin mengulanginya, serta Ki Bekel ingin mendapat perlindungan
dari para prajurit, maka kami akan dapat melakukannya. “ “ Terima kasih Ki
Tumenggung. Kami merasa bahwa yang kami lakukan sudah cukup. Selain itu kami
memang harus berhemat sampai musim panen mendatang. “ “ Bagus “ berkata Ki
Tumenggung “ sebaiknya kalian memang mempergunakan nalar untuk mencapai
keseimbangan dalam tatanan kehidupan kalian, “ “ Ya, Ki Tumenggung. Kami sadari
hal itu, justru karena pada umumnya orang-orang padukuhan kami bukan orang-orang
yang kaya. “ Ki Tumenggung tersenyum. Kemudian katanya ”Baiklah. Kami akan minta
diri. Kami hargai kejujuran kalian meskipun padukuhan ini bukan sebuah padukuhan
yang kaya. Mungkin pada suatu saat aku masih akan datang lagi kemari. “ lalu
katanya kepada Paksi “ kau akan menjadi kebanggaan padukuhan ini anak muda. Aku
ingin kau sekali-sekali dalang ke Kwarasan sementara aku masih bertugas di
sana.” “ Terima kasih Ki Tumenggung” jawab Paksi. Tetapi Paksi tidak menjawab
lebih panjang lagi la ingin Ki Tumenggung Wirayuda itu tidak terlalu banyak
memperhatikannya, karena Paksi memang sudah merencanakan untuk segera
meninggalkan padukuhan itu Demikianlah, maka sejenak kemudian iring-iringan
sekelompok prajurit yang dipimpin langsung oleh Ki Tumenggung Wirayuda itu telah
meninggalkan padukuhan. Beberapa ekor kuda yang memang sudah dipersiapkan untuk
para tawanan telah dipergunakan oleh para tawanan itu pula, termasuk Ki Pituhu.
Selebihnya beberapa ekor kuda menjadi kuda beban untuk membawa barangbarang
berharga yang dapat dirampas dari tangan sekelompok perampok yang dipimpin oleh
Ki Pituhu dibawah bayangan kuasa Kebo Lorog. ”Kekuatan yang cukup untuk
menguasai para tawanan dan melindungi benda-benda berharga itu “ desis Adeg
Panatas. Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun katanya “Bukankah kau tidak akan
segera meninggalkan padukuhan ini? “ Adeg Panatas tersenyum. Katanya “ Tidak
kakang. Bukankah aku orang padukuhan ini? Aku memang sudah memutuskan untuk
pulang dan tinggal di padukuhan ini.” “ Sokurlah “ berkata Ki Bekel “ aku
memperhitungkan, bahwa padukuhan ini tidak akan pernah dilupakan oleh Kebo
Lorog. Jika pada suatu saat ia tidak mempunyai kesibukan, maka ia akan teringat
kepada kekalahannya di padukuhan ini. “ Adeg Panatas tersenyum. Katanya “ Aku
mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan diri. Juga mempersiapkan anak-anak muda
padukuhan ini untuk menerima kedatangan Kebo Lorog dan para pengikutnya. Bersama
orang-orang yang memiliki keberanian dan dua tiga orang bekas prajurit, aku akan
dapat berbuat banyak di padukuhan ini. “ “ Terima kasih “ Ki Jagabayalah yang
menyahut “ kehadiran adi Adeg Panatas memang membuat hati kami menjadi tenang. “
Paksi mendengarkan pembicaraan itu sambil mengangguk-angguk kecil. Tetapi Paksi
sendiri tidak mencampurinya sepatah katapun juga. Sementara itu, orang-orang
padukuhan itu juga masih belum sempat melihat kemampuan Paksi yang sebenarnya.
Baru kemudian ketika ada kesempatan, Paksi itupun telah menyatakan niatnya untuk
minta diri. Ki Bekel dan orang-orang lain yang ada di banjar itu terkejut.
Dengan dahi yang berkerut, Ki Bekel berkata “ Bukankah kau mendengar sendiri
Paksi, bahwa kau diharapkan dapat datang ke Kwarasan?” Paksi sambil menunduk
berkata “ Mungkin pada suatu saat aku akan menghadap Ki Tumenggung di Kwarasan.
Tetapi sebelumnya aku ingin melanjutkan pengembaraanku. Aku sudah bertekad untuk
melakukannya” Ternyata tidak seorangpun yang dapat menahan Paksi. Sura juga
tidak. Namun Sura masih minta agar Paksi menyempatkan diri untuk memberitahukan
kepergiannya kepada Salam. “ Katakan bahwa kau akan pergi. Tetapi katakan juga
bahwa kau akan kembali. “ “ Apakah anak itu tidak akan selalu berharap? “
bertanya Paksi. “ Bukankah kau memang akan kembali pada suatu saat? “ bertanya
Sura. Paksi tidak segera menjawab. Namun akhirnya iapun mengangguk. Katanya “
Ya, paman Puda suatu saat aku ingin kembali ke padukuhan ini” Ki Bekel masih
juga berkata ”Kau adalah orang yang menjadi lantaran untuk memecahkan persoalan
ini, Paksi. Jika kau bukan seorang anak muda yang berani, maka padukuhan ini dan
beberapa padukuhan yang lain masih akan tetap dibayangi ketakutan karena hantu
keranda yang dapat terbang sendiri itu. “ “ Hanya satu kebetulan saja, Ki Bekel.
“ “ Mungkin memang satu kebetulan. Tetapi jika kebetulan itu terjadi pada orang
lain, maka orang yang melihat keranda terbang itu tentu akan menjadi pingsan.”
Tetapi Paksi masih juga memenuhi permintaan Sura. Ia singgah dirumah Sura untuk
minta diri kepada keluarga yang menurut pendapat Paksi adalah keluarga yang baik
Salam memang menjadi gelisah. Bahkan mulaii merengek. Tetapi Paksipun kemudian
berkata ”Padu lain hari, aku akan datang lagi kemari, Salam” “ Kakang berkata
sebenarnya? “ bertanya Salam. “ Ya. Aku berkata sebenarnya “ jawab Paksi. Salam
menjadi sedikit tenang, meskipun nampak ragu-ragu. Ibunyalah yang kemudian
berusaha untuk meyakinkan Salam, bahwa ia tidak dapat menahan Paksi lebih lama
lagi. “ Kakang Paksi mempunyai tugas yang penting. Jika ia tinggal disini
terlalu lama, tugasnya tidak akan selesai.” Meskipun Paksi tahu bahwa ibu Salam
itu sekedar menenangkan anaknya, tetapi jantungnya menjadi berdebar-debar. Ia
memang mempunyai tugas yang penting. Tugas yang tidak diketahui, bagaimana ia
harus melakukannya. Demikianlah, maka hari itu, Paksi akan meninggalkan rumah
Sura. Paksi menolak kelika Sura menawarkan agar Paksi membawa sepengadog
pakaiannya. “ Kau memerlukan ganti pakaian diperjalanan “ berkata Sura. “ Aku
dapat mencucinya “ jawab Paksi. Sura memang tidak memaksanya, Tetapi ia sempat
berdesis “ Kau berhak untuk mendapatkan hadiah, karena kau telah menemukan
benda-benda yang nilainya tidak terhitung itu. “ “ Barang-barang itu ada yang
memilikinya, paman, Jika Ki Pituhu kelak memberi tahukan siapa saja yang telah
dirampoknya, maka barang-barang itu akan dapat kembali kepada pemiliknya.
Setidak-tidaknya sebagian” “ Hadiah itu tidak terdiri dari sebagian benda-benda
berharga yang diketemukan itu. Tetapi hadiah itu seharusnya kau dapatkan dari
Pajang. “ Paksi tersenyum. Katanya “ Aku belum memerlukan sekali, paman.
Entahlah kelak. .” Sura melihat kejujuran memancar dimata Paksi. Karena itu,
maka iapun berdesis” Mudah mudahan kejujuranmu akan dapat membawamu kepada
kemujuran, meskipun dapat pula terjadi sebaliknya.” “ Maksud paman? “ bertanya
Paksi. “ Kejujuran justru dapat menjerat seseorang kedalam kesulitan “ jawab
Sura. “ Jadi maksud paman, sebaiknya orang tidak berlaku jujur? “ bertanya
Paksi. “ Tidak. Tidak. Bukan itu maksudku. Orang yang jujur adalah orang-orang
yang terpilih. Aku bermaksud ingin mengatakan suatu kenyataan, bahwa diantara
orang orang yang jahat, dengki dan iri hati, maka orang-orang jujur akan
dianggap sebagai racun, sehingga mungkin sekali mereka yang jujur itu akan
mengalami kesulitan. Namun bagaimanapun juga kejujuran adalah suatu mahkota yang
tidak ternilai harganya. '“ Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
katanya “ Aku mohon doa paman, bibi dan seluruh keluarga. “ “ Semoga Yang Maha
Agung akan selalu melindungimu disepanjang perjalananmu. Semoga kau akan dapat
mencapai keinginanmu dengan pengembaraanmu” Paksi meninggalkan rumah Sura dengan
han yang berat. Tetapi ia sudah memantapkan hatinya untuk berjalan terus. Jika
ia tetap tinggal dirumuh Sura, maka akan sulit baginya untuk dapat menemukun
cincin yang dicari nya itu. Ketika Paksi keluar dari regol padukuhan, matahari
sudah tinggi dilangit. la membayangkan, debu yang dilemparkan oleh derap kaki
kuda sekelompok prajurit yang mengiringi Ki Tumenggung Wirayuda ke Kwarasan.
Tetapi arah perjalanan Paksi lain dengan arah perjalanan Ki Tumenggung Wirayuda.
Mendekati tengah hari, maka jalan-jalan terasa sepi di tengah-tengah bulak.
Orang yang bekerja disawahpun mulai menjadi letih. Keringat membasahi kulit
mereka yang terbakar oleh sengatan sinar matahari: Sekali-sekali Paksi bertemu
dengan perempuan yang membawa gendi berisi air, serta bakul berisi nasi dan
kelengkapannya. Perempuan-perempuan itu membawa makanan bagi suami, ayah atau
anak-anak mereka yang bekerja disawah dan tidak sempat pulang disiang hari untuk
makan siang. Ketika Paksi sampai disimpang ampat, maka Paksi berhenti sejenak
dibawah sebatang pohon randu yang daunnya tidak begitu banyak. Tetapi di
cabang-cabang dan rantingnya bergayutan buah tandu yang sudah menjadi tua dan
kering. Warnanya menjadi kecoklat-coklatan. Satu dua yang telah pecah,
melontarkan kelentengnya dan menghamburkan kapuknya yang berwarna putih. Paksi
menarik nafas dalam-dalam. Di tengah hari itu, leher Paksi memang terasa kering.
Tetapi ia berharap untuk menjumpai sebuah kedai di padukuhan yang agak besar di
ujung bulak itu. Tetapi untuk berjalan ke kedai itu rasa-rasanya kakinya menjadi
berat. Paksi lebih senang duduk dibawah pohon randu yang meskipun daunnya tidak
begitu lebat, tetapi dapat melindunginya dari teriknya matahari. Paksi
mengangkat wajahnya ketika ia melihat seorang gadis yang menggendong sebuah
bakul kecil sambil menjinjing gendi lewat. Gadis itu sempat berpaling kepadanya.
Tetapi gadis itu berjalan terus. Paksi mengerutkan dahinya, gadis itu berjalan
dibawah matahari yang bertengger dipuncak langit, Paksipun kemudian bangku
berdiri dan meneruskan langkahnya menuju ke padukuhan diujung bulak itu
Keringatnya yang mengalir dengan derasnya lelah membasahi pakaiannya. Semakin
dekat langkahnya dengan padukuhan didepan, maka Paksi melihat padukuhan itu
bukan saja besar, tetapi tentu juga sebuah padukuhan yang terhitung mempunyai
tataran kesejahteraan yang tinggi. Regol padukuhan itu tidak sekedar memenuhi
kebutuhan. Tetapi dibuat dengan bahan yang baik. Buatannya-pun nampak baik dan
dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Demikian Paksi memasuki regol padukuhan flu,
udara rasa-rasanya menjadi sejuk. Angin membelai lembut menyentuh dedaunan yang
hijau. Padukuhan itu memang sebuah padukuhun yang memiliki kesejahteraan yang
tinggi bagi para penghuninya. Pada regol padukuhan itu terukir huruf-huruf yang
berbunyi “ Muncar. “ Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia telah memasuki sebuah
padukuhan yang bernama Muncar. Seperti yang diduga, padukuhan itu nampak lebih
ramai dari padukuhan-padukuhan yang pernah dilewati nya. Sambil melihat-lihat
halaman rumah yang bersih disebelah-menyebelah jalan, Paksi berjalan terus di
jalan induk padukuhan itu. Halaman-halaman rumah yang pada umumnya terbentang
luas disepular rumah yang besar dan terawat, ditanami dengan beberapa batang
pohon buah-buahan, sehingga suasananya menjadi uejuk. Anak-anak kecil masih saja
nampak bermain-main di halaman yang luas meskipun di tengah hari. Suaranya riuh
memancarkan kegembiraan yang bebas. Namun demikian, leher Paksi masih juga
terasa kering. Ia masih membutuhkan sebuah kedai untuk mendapatkan minuman.
Beberapa saat kemudian maka Paksipun telah sampai kesebuah pasar. Pasar itu
agaknya sebuah pasar yang agak besar. Tetapi di saat matahari telah sampai
kepuncak langit itu, pasar itu sudah nampak sepi. Tetapi yang dicari oleh Paksi
hanyalah sebuah kedai. Sedangkan didekat pasar yang sudah sepi itu terdapat
beberapa buah kedai yang masih membuka pintunya. Beberapa orang masih berada di
kedai itu. Mereka adalah orang-orang yang baru saja selesai berjualan di pasar
itu. Setelah mengemasi sisa dagangan mereka, maka mcrekapun singgah barang
scbentai untuk minum dan makan di kedai itu. Paksipun kemudian telah duduk
disalah satu diantara kedai yang maih membuka pintunya itu, Dua orang masih
berada didalam kedai yang terhitung cukufTbesar itu, yang mempunyai tempat duduk
yang cukup banyak. “ Sehari-hari, disaat pasar ini masih ramai, kedai ini tentu
ramai juga. “ berkata Paksi didalam hatinya. Demikian Paksi duduk, maka seorang
pelaan telah mendekatinya dan bertanya, apa yang dipesannya. Paksipun kemudian
telah memesan minuman untuk membasahi kerongkongannya. Sambil meneguk minuman
dan mengunyah makanan yang dihidangkan, maka Paksi telah mendengarkan kedua
orang yang berada di kedai itu memperbincangkan ceritera tentang keranda yang
terbang di malam hari memasuki kuburan. Keduanya juga sudah mendengar bahwa
keranda itu tidak lebih dari sebuah tipuan. Paksi sekali-sekali memandang kedua
orang ini Tetapi tidak ada yang menarik perhatian selain cara mereka
berceritera. Bahkan kemudian pemilik kedai yang duduk di antara geledeg-geledeg
rendah ikut berbicara pula tentang hantu hantuan itu. Paksi memang belum jauh
berjalan dari padukuhan yang pernah dicengkam oleh ketakutan Itu, “ Pada waktu
itu “ berkata pemilik kedai Itu berita tentang keranda itu juga telah menakut
kan kami di padukuhan Muncar ini. Aku sendiri memang bimbang antara percaya dan
tidak percaya. Namun akhirnya terbukti bahwa hantu keranda itu adalah sekedar
hantu-hantuan saja. “ Kedua orang itu tertawa. Disela-sela derai tertawanya,
seorang diantara mereka berkata Apakah tidak ada seorang saja yang mempunyai
sedikit keberanian untuk membuktikan bahwa keranda itu sama sekali bukan hantu?
“ Namun pemilik kedai itu menjawab “ Tentu ada, karena akhirnya hantu-hantuan
itu telah terbongkar. “ “ Tetapi sesudah berjalan untuk waktu yang lama “ sahut
seorang yang lain. Tetapi pembicaraan itu terputus. Seorang yang bertubuh tinggi
tegap dan berdada bidang memasuki kedai itu pula. Dilambungnya tergantung
sebilah pedang didalam wrangkanya yang menarik. Wrangka kayu yang dihiasi dengan
lilitan-lilitan tali yang beraneka warna. Juntai rambut yang hitam pada tangkai
pedang yang berukir Itu. Paksi memandang orang itu sekilas. Tetapi iapun segera
menunduk kembali memandangi nasi dengan lauk-pauknya yang telah dipesan pula.
Meskipun Paksi sebenarnya masih belum lapar, tetapi selagi ia berada di kedai,
maka sekaligus ia telah memesan nasi disamping sekedar makanan dan minuman.
Orang itu memandangi kedua orang yang sudah lebih dahulu berada di kedai itu
dengan tajamnya. Kemudian iapun berpaling pula kepada pemilik kedai itu. Sejenak
kemudian, orang itupun kemudian telah duduk pula ditengah-tengah kedai itu
menghadap kedua orang yang telah lebih dahulu duduk dan menikmati minuman dan
makanan itu. “ Orang ini menyeramkan “ berkata Paksi kepada diri sendiri. Karena
orang itu tidak menghadap kearahnya, maka Paksi sempat memandanginya pula. Dari
samping, Paksi melihat wajah orang yang garang itu. Seleret kumis nampak diulas
bibirnya yang tebal. Paksi terkejut ketika orang itu tiba-tiba bertanya dengan
suaranya yang berat menekan “ Apa yang kalian tertawakan? “ Paksi yang sudah
mulai makan itu diluar sadarnya telah mengangkat wajahnya. Ternyata orang itu
memandang kedua orang yang telah lebih dahulu duduk itu. Kedua orang itu menjadi
pucat. Karena mereka tidak segera menjawab, maka orang itu bertanya lebih keras
“ He, apa kalian berdua tuli atau bisu? Apa yang kalian tertawakan? “ Kedua
orang itu menjadi gagap. Seorang diantaranya menjawab dengan suara bergetar “
Tidak:” Kami tidak mentertawakan siapa-siapa. Kami sedang berkelakar. “ “ Apakah
kalian mentertawakan aku? “ bertanya orang itu. “ Tidak. Sungguh tidak Ki Sanak.
“ Orang itu mengangguk-angguk kecil. Kemudian iapun memberi isyarat kepada
pemilik kedai itu untuk mendekat. Seorang pelayan dengan ragu-ragu melangkah
mendekatinya sambil bertanya “ Apakah yang Ki Sanak pesan? “ “ Nasi dengan lauk
seekor ayam utuh. “ Pelayan itu termangu-mangu sejenak. Dengan raguragu ia
berkata “ Kami tidak mempunyai ayam yang utuh, Ki Sanak. Yang ada hanyalah
sepotongsepotong. “ “ Jangan dungu. Bukankah yang sepotong-sepotong itu dapat
dibentuk menjadi seekor yang utuh. Dua buah paha, gending, sayap, dada, ekornya,
lehernya dan kepalanya. “ “ Baik, baik, Ki Sanak. “ jawab pelayan itu. Beberapa
saat orang itu menunggu. Dengan tergesa-gesa pelayan dan pemilik kedai itu
menyediakan pesanannya. Ketika pelayan itu menghidangkannya, nasi dan
potongan-potongan ayam goreng yang digenapi menjadi seekor ayam utuh, sambal
serta lalaban, maka orang bertubuh tinggi, tegap dan berdada bidang serta
berwajah garang itu berkata sambil menunjuk kedua orang itu “ Mereka yang akan
membayar. “ Kedua orang itu terkejut. Seorang diantara mereka bertanya “ Kenapa
kami? “ Orang bertubuh tinggi itu bangkit berdiri sambil bertanya “ Kau
berkeberatan? “ Orang itu menjadi ketakutan. Dengan tubuh gemetar orang itu
menjawab “ Tidak. Kami sama sekali tidak berkeberatan. Aku hanya ingin
menjelaskan saja. “ “ Terima kasih “ berkata orang bertubuh tinggi tegap itu “
jika kau berkeberatan, aku tidak akan menyentuh hidangan ini. “ “ Tidak. Kami
tidak berkeberatan sama sekali” Orang itupun kemudian duduk kembali, Sejenak
kemudian maka iapun telah sibuk dengan nasi, sambal, lalaban dan ayam goreng
itu. Seekor utuh. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Hanya dalam waktu singkat,
nasi dan ayam yung seekor itu telah habis dimakannya. Yang tinggal hanyalah sisa
sambal dan lalaban serta tulang-tulang saja. “ Ketika Paksi sedang memandanginya
dengan heran, diluar dugaan orang itu berpaling kepadanya. Dengan cepat Paksi
menundukkan kepalanya. Tetapi terlambat. Orang itu sempat melihat Paksi
memperhatikan orang itu. “ He, kenapa kau membelalakkan matamu?” bertanya orang
itu. Paksi tidak mengangkat wajahnya, la masih saja menunduk. “ He, kenapa? “
bertanya orang itu pula. “ Tidak apa-apa, paman. Aku tidak sengaja. “ jawab
Paksi. Orang itupun kemudian bangkit berdiri. Selangkah demi selangkah ia
mendekati Paksi. Tangannya yang masih kotor dan berminyak itu tiba-tiba telah
diusapkan pada ikat kepala Paksi sambil berkata “ Aku pinjam ikat kepalamu, anak
muda. “ Paksi bergeser menjauh. Dengan sigapnya ia berdiri sambil menebas tangan
orang itu. Orang bertubuh tinggi dan berwajah garung itu membelalakkan matanya.
Ia tidak mengira bahwa Paksi telah menebas tangannya dan bergeser menjauh. “ Kau
berani menghindar, anak muda “ geram orang itu. “ Aku tidak mempunyai ikat
kepala lain.kecuali yang aku pakai ini. Karena itu, aku tidak rela bahwa ikat
kepalaku ini kau kotori. “ “ Jadi kau berani melawan aku he? Kau lihat bahwa
kedua orang itu dengan ikhlas telah bersedia membayar minuman dan makanan yang
aku pesan. Kenapa kau berkeberatan hanya sekedar meminjamkan ikat kepalamu.
Bukankah ikat kepalamu tidak akan menyusut atau menjadi koyak? “ “ Lebih baik
aku membayar pesananmu itu daripada aku harus menerima penghinaan ini. “ Wajah
orang itu menjadi merah. Dengan lantang ia berkata “ Tundukkan kepala. Aku akari
membersihkan tanganku. “ “ Tidak “ teriak Faksi “ aku masih mempunyai harga diri
“ Dengan marah orang itu meloncat maju. Tangannya terayun deras menampar wajah
Paksi. Tetapi Paksi tidak membiarkan wajahnya disakiti. Karena itu, maka ia
telah menepis tangan orang yang bertubuh tinggi kekar itu. Sekali lagi orang itu
terkejut. Anak muda itu telah berani menepis tangannya. Bahkan tanpa ragu-ragu.
Karena itu, maka orang itu menjadi semakin marah. Didorongnya lincak tempat
duduk serta geledeg rendah tempat meletakkan minuman dan makanan sehingga
terguling. Dengan geram orang itu berkata “ Aku ingin mengoyak mulutmu. Tidak
seorangpun yang pernah berani membantah kata-kataku. “ Tetapi Paksipun telah
mempersiapkan dirinya. Terngiang kata-kata ayahnya “ Umurnya sudah menginjak
tujuhbelas tahun. “ Dan. Paksipun sadar, bahwa ia memang sudah dewasa. Ia tidak
boleh membiarkan seseorang menghinanya. Yang terjadi justru sangat mengejutkan
orang bertubuh tinggi kekar itu. Demikian lincak bambu dan geledeg itu
terguling, belum lagi mulutnya terkatub rapat, Paksi sudah menyerangnya. Dengan
cepat kakinya terjulur menyamping, mengarah ke dagunya. Orang itu tidak sempat
mengelak. Tetapi ia mencoba menahan serangan itu dengan tangannya. Tetapi
serangan Paksi demikian derasnya, sehingga tangan orang itu justru terdorong
menimpa wajahnya, sehingga wajahnya itupun terangkat tinggi. Untunglah bahwa
orang itu tidak jatuh terlentang la masih sempat menahan keseimbangannya. Namun
dalam pada itu, Paksi masih juga sempat memikirkan kerusakan yang dapat terjadi
jika ia berkelahi didalam kedai itu. Karena itu, pada saat keseimbangan lawannya
berguncang, Paksi justru tidak menyerangnya, tetapi ia telah melangkah kepintu
sambil berkata “ Aku tidak akan lari. Aku menunggumu di luar. “ Orang bertubuh
tinggi, tegap dan berdada bidang itu dengan cepat telah menyusulnya kehalaman
pula sambil menggeram “ Kau memang seorang anak muda yang berani. Tetapi kau
jangan cepat menjadi besar kepala Kemenangan tidak ditentukan dengan kejutan
kejutan kecil yang dapat mengguncang lawannya, tetapi dalam perkelahian,
kemenangan ditentukan pada saat perkelahian itu berakhir. “ Paksi tidak
menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Sejenak kemudian,
maka keduanya telah berhadapan di halaman kedai itu. Dua orang yang semula ada
didalam kedai telah menghambur lari ketakutan selagi ada kesem patan. Sedangkan
pemilik kedai itu dan para pelayannya menjadi gemetar. Mereka memang tidak
mengira bahwa anak Itu dengan berani telah melawannya. Bahkan pada benturan
benturan yang terjadi, anak itu menunjukkan bahwa pada dasarnya ia memiliki
kemampuan. Di halaman keduanya telah mulai berkelahi lagi. Orang yang bertubuh
tinggi itu menyerang dengan garangnya. Kemarahannya telah mendorongnya untuk
berkelahi dengan sungguh-sungguh melawan seorang anak muda. Tetapi ternyata
bahwa Paksi tidak mengecewakan. Ia menyadari, bahwa lawannya tentu seorang yang
berilmu. Menilik sikapnya serta senjata yang tergantung dilambungnya,
menunjukkan bahwa orang itu adalah orang yang memiliki kemampuan dalam olah
kanuragan. Dalam pada itu, perkelahian itupun semakin lama menjadi semakin
meningkat. Orang bertubuh tinggi tegap itu semakin meningkatkan ilmunya. Namun
Paksipun telah mengerahkan tenaga dan kemampuannya pula. Ketika tangan Paksi
menjadi basah oleh keringat, maka serang-serangannya menjadi semakin mapan.
Sekali-sekali serangannya mampu menembus pertahanan lawannya itu. Orang-orang
yang ada di sekitar kedai itu telah bergeser menjauh, tetapi ditempat yang agak
jauh, mereka memperhatikan perkelahian itu dengan saksama. Ternyata Paksi yang
masih sangat muda itu mampu mempertahankan dirinya. Seranganserangan lawannya
semakin sulit untuk menyentuh Paksi yang berloncatan dengan tangkasnya. Orang
yang bertubuh tinggi tegap dan berdada lebar itu menjadi semakin heran. Ia tidak
mengira bahwa di tempat itu, tiba-tiba saja ia telah bertemu dengan seorang anak
muda yang mampu mengimbangi ilmunya. Bahkan semakin lama, Paksi justru semakin
mendesaknya. Orang yang berwajah garang itu mengumpat kasar. Dengan mengerahkan
segenap kemampuannya ia berusaha untuk mengakhiri pertempuran. Tetapi ternyata
ia tidak dapat melakukannya. Anak muda yang menginjak umur tujuhbelas tahun itu,
justru semakin mendesaknya, sehingga serangan-serangannya mulai menembus
pertahanannya. Tubuhnya yang tinggi besar itu mulai goyah ketika serangan Paksi
menyentuh dadanya. Ternyata orang yang bertubuh tinggi itu benar benar terdesak.
Meskipun ia bertempur sambil berteriak-teriak kasar, namun usahanya untuk
mengalahkan Paksi tidak berhasil. Untuk menarik pedangnya, orang itu merasa ragu
Anak muda itu nampaknya tidak bersenjata. Jika ia menarik pedangnya, orang-orang
yang menyaksikannya akan menganggapnya pengecut, karena lawannya tidak
bersenjata. Namun dalam keadaan yang memaksa, maka orang itu tidak mempunyai
pilihan lain. Setelah tubuhnya memar dibeberapa tempat, serta wajahnya mulai
pengab oleh serangan-serangan Paksi, maka orang itu telah meloncat mengambil
jarak. Pada saat Paksi berusaha memburunya, maka langkahnya terhenti. Ujung
pedang lawannya tiba-tiba saja telah teracu kearah dadanya. “ Anak tidak tahu
diri “ geram orang itu “ kau kira kau dapat memenangkan perkelahian ini. Pada
saal aku tidak bersungguh-sungguh, kau justru memanfaatkan keadaan itu untuk
menyakiti aku. Tetapi kau terlambai untuk minta ampun. Aku benar-benar sudah
kehabisan kesabaran. “ Paksi bergeser surut, Ujung pedang itu nampak
berkilat-kilat kehitam hilaman. Pedang Itu bukan pedang kebanyakan yang dibuat
oleh pande besi betapapun baiknya. Tetapi pedang itu dibuat khusus oleh seorang
empu keris yang baik. Ketika orang itu menggerakkan pedangnya, maka nampak
pamornya yang berkeredip kemerahmerahan. Ketika orang Itu maju selangkah, maka
Paksipun bergeser mundur. “ Jangan menyesali kesombonganmu “ geram orang itu.
Paksi benar-benar harus mempersiapkan dirinya. la sadar, bahwa ia akan mengalami
kesulitan melawan orang bersenjata pedang itu. Paksi harus bertumpu pada
kemampuannya bergerak cepat untuk mengatasi senjata lawannya itu. Sejenak
kemudian, maka orang bertubuh tinggi besai itu benar-benar telah menyerangnya.
Pedangnya berputaran dengan cepat. Sekali-sekali terjulur kearah dadanya. Namun
kemudian terayun mendatar menebas kearah leher. Paksi benar-benar harus bergerak
cepat. Gerak pedang yang berputaran itu seakan-akan selalu memburunya kemana ia
pergi. Meskipun demikian, Paksi masih mampu memberikan perlawanan yang berarti.
Ketika pedang itu terayun deras, Paksi justru meloncat maju. Dengan cepat
kakinya telah menghantam pergelangan tangan lawannya yang sedang terayun itu.
Hampir saja pedang itu terlepas dari tangannya. Namun dengan genggaman tangan
yang kuat, orang itu masih sempat menyelamatkannya. Tetapi ketika perhatian
orang itu tertuju pada pedangnya, Paksi telah berputar sambil mengayunkan
kakinya tepat mengenai dada orang itu. Orang itu terdorong selangkah surut.
Keseimbangannyapun tiba-tiba telah terguncang, sehingga orang itu jatuh
berguling. Namun ketika Paksi meloncat memburunya, sebuah sabetan pedang yang
deras hampir saja memutuskan kakinya. Dengan sekuat tenaga Paksi meloncat surut
menjauhi lawannya, sehingga pedang itu tidak dapat menggapainya. Tetapi untuk
selanjutnya, Paksi telah terdesak. Orang yang marah itu benar-benar tidak lagi
mengekang diri. Matanya yang membara memancarkan kemarahan yang tidak
terkendali. Ternyata ilmu pedang orang yang bertubuh tinggi tegap itu sangat
baik. Dengan berbagai macam gerak yang rumit, Paksi menjadi semakin kesulitan
menghadapinya. Namun pada saat yang paling gawat, seorang tua berjanggut putih
dengan wajah yang berkeriput melangkah mendekati arena perkelahian itu. Orang
itu berjalan terbungkuk-bungkuk bertelekan pada sebalang tongkat kayu yang agak
panjang. Kayu yang nampaknyu dipotong begitu saja dari dahannya dan dikeringkun.
tetapi karena sepotong kayu itu sudah menjadi kehitam-hitaman. Orang tua itu
mengenakan caping bambu yang lebar, sebagaimana dipakai oleh para petani yang
bekerja disawah untuk mengurangi sengatan panas matahari. Wajah orang tua itu
tidak saja berkeriput. Tetapi semacam penyakit kulit telah mengotori wajahnya.
Daging-daging yang tumbuh dikeningnya hampir menutupi sebelah matanya. Juga
dibawah telinga kirinya. Paksi dan orang bertubuh tinggi itu memang tertarik
melihat kehadirannya, sehingga perkelahian itu telah terhenti sesaat. Adalah
diluar sadar, bahwa kedua orang itu telah berloncatan mengambil jarak. Sekilas
Paksi teringat kepada orang yang lelah menyerangnya di malam hari ketika ia
berjalan jalan keluar padukuhan yang dibayangi ketakutan karena hantu-hantuan
itu, dan yang telah menyerangnya pula di kuburan pada saat terjadi pertempuran
antara orang-orang padukuhan dengan para pengikut Kebo Lorog. Orang itu juga
cacad diwajahnya. Tetapi cacat diwajah orang itu tidak sama sebagaimana cacat
diwajah orang tua yang berjalan terbungkuk-bungkuk dan mengenakan caping bambu
itu. Orang tua itu terbatuk-batuk sehingga langkahnya berhenti. Tetapi setelah
batuknya reda, maka orang itu tertawa tertahan-tahan. Dengan nada suara seorang
yang telah lanjut umurnya orang itu berkata “ Perkelahian yang tidak adil. Kau,
yang dipanggil orang Jaran Demung dan ditakuti banyak orang, harus berkelahi
melawan anak-anak dengan mempergunakan senjatamu yang mengerikan itu, sementara
lawanmu tidak bersenjata.” “ Setan. Kau tahu namaku? Siapa kau?” “ Aku pengemis
yang setiap hari berkeliaran di pasar sebelah. Kau tidak pernah memperhatikan
aku tetapi aku dapat mengenalimu sebagaimana banyak orang mengenalmu, meskipun
kau lebih terkenal di daerah Utara. “ “ Bicaramu menunjukkan bahwa kau bukan
sekedai seorang pengemis. Sebut gelarmu. “ Orang tua itu tertawa. Katanya “
Setiap hari aku ada disini. Kaulah yang jarang sekali datang ketempat ini. “ “
Seorang pengemis ditempat ini tidak akan mengenali gelarku dan apalagi
kegiatanku di daerah Utara. “ “ Aku tahu, bahwa kau akan melacak kegagalan para
pengikut Kebo Lorog. Kenapa kau tidak mencari Kebo Lorog saja dan memilih
menantangnya atau bergabung dengan Kebo edan itu. “ “ Sebut namamu “ orang itu
hampir berteriak. Tetapi orang tua itu berkata “ Aku tidak akan mengganggumu.
Tetapi aku ingin perkelahian yang adil. Biarlah anak muda ini mempergunakan
tongkatku..Mungkin akan ada sedikit keseimbangan. “ Setan. Berikan seribu macam
senjata kepadanya.” “ Jaran Demung. Aku tahu bahwa kau seorang yang memiliki
ilmu pedang yang sulit dicari tandingnya. Tetapi aku ingin melihat, apakah kau
dapat mengalahkan anak muda itu atau tidak. Aku akan meminjamkan tongkatku.
Hanya meminjamkan tongkatku. Jika ia terpaksa mati ditanganmu setelah ia
meminjam tongkatku, itu adalah salah sendiri. Tetapi jika kau yang mati, itu
juga salahmu sendiri. “ Jilid 3 ORANG yang disebut Jaran Demung itu memandang
pengemis itu dengan tajamnya. Sementara itu, Paksi seakan-akan diluar sadar
telah menggenggam tongkat kayu yang berwarna kehitamhitaman itu. Baru kemudian
Paksi sadar ketika orang yang menyebut dirinya pengemis dengan mengenakan caping
yang besar agak menutup wajahnya itu berkata “ Nah, anak-muda. Hidup matimu
tergantung kepada kemampuanmu mempertahankan diri. Lawanmu benar-benar berniat
membunuhmu, karena ia adalah Jaran Demung. Seorang yang terbiasa bertualang.
Tidak ada orang yang berani menolak keinginannya. Jika ia ingin membunuh, maka
ia, akan membunuh. “ Paksi memegang tongkat kayu itu dengan eratnya. Ia tahu
bagaimana harus mempergunakannya, karena ia pernah ditempa oleh gurunya. Tetapi
Paksi memang agak merasa heran. Tongkat kayu itu terasa agak lebih berat dari
kayu kebanyakan dari jenis apapun yang pernah dikenalnya. Apalagi setelah
menjadi kering. Namun Paksi tidak mempunyai banyak kesempatan untuk mengenali
tongkatnya itu. Orang yang disebut Ja-ran Demung itu telah melangkah
mendekatinya sambil berkata “ Aku akan membantainya, pengemis tua. Setelah anak
ini, maka aku akan membuat perhitungan dengan kau sendiri, karena aku tidak
percaya, bahwa kau benar-benar pengemis. Atau jika kau memang mengemis, maka itu
adalah karena kau seorang pemalas atau pengecut, karena kau tentu memiliki
kemampuan. “ Orang yang mengaku pengemis itu tidak menjawab. Yang terdengar
adalah suara tertawanya yang panjang. Dalam pada itu, ketika Jaran Demung
menjulurkan ujung pedangnya, maka Paksi mulai memutar tongkatnya. Ia memang
memerlukan waktu sekejap untuk mengenali senjatanya itu. Paksi berharap bahwa
tongkat itu tidak segera patah terkena sabetan pedang lawannya yang tajam itu.
Tetapi lebih dari itu, pedang itu berada ditangan orang yang berilmu tinggi.
Dengan tongkat kayunya, maka Paksi sadar, bahwa ia tidak dapat menangkis
serangan lawannya dengan langsung membentur ayunan pedangnya. Tetapi ia harus
berusaha untuk mengelak dan menepis senjata lawannya agar tongkatnya tidak
segera patah. Jaran Demung yang marah itupun segera mulai menyerang. Dengan
ujung pedangnya ia mulai menggapai tubuh Paksi. Tetapi dengan tangkasnya Paksi
bergeser. Bahkan kemudian Paksipun mulai menyentuh pedang lawannya dengan
tongkatnya. Paksi merasakan getar yang keras di telapak tangannya. Sentuhan
tongkatnya rasa-rasanya bagaikan sentuhan logam yang keras. Bukan sekedar
sentuhan kayu. Sentuhan itu juga mengejutkan Jaran Demung. Tangannya merasa
seakan-akan pedangnya tidak sekedar menyentuh sepotong kayu kering. Tetapi
pedangnya seakan-akan telah menyentuh sepotong besi. Karena itu, maka dugaannya
bahwa orang yang menyebut dirinya pengemis itu sebenarnya adalah seorang yang
berilmu. Jaran Demung memang berniat untuk menyelesaikan pengemis itu setelah
anak muda yang telah berani menentang kemauannya itu. Meskipun jalan didepan
kedi itu menjadi sepi, tetapi sebenarnya beberapa pasang mata tengah memandangi
perkelahian antara seorang yang bertubuh tinggi, besar dan berwajah garang
melawan seorang yang masih sangat muda. Sejenak kemudian, rnaka perkelahian itu
menjadi se-main seru. Jaran Demung benar-benar telah mengerahkan kemampuannya
untuk mengalahkan Paksi. Bagi Jaran Demung, membunuh orang bukan lagi satu
masalah. Seandainya hal itu diketahui oleh para bebahu padukuhan, ia sama sekali
tidak menghiraukannya. Ia yakin bahwa tidak seorangpun bebahu padukuhan yang
akan berani menangkapnya. Bahkan sekelompok bebahu tidak akan berani mengerahkan
orang-orang padukuhan. Seandainya mereka dapat mengalahnya karena ia hanya
seorang diri, namun padukuhan itu dalam waktu kurang dari sepekan akan menjadi
abu. Tetapi tongkat kayu yang berwarna kehitam-hitaman ditangan anak muda itu
menjadi garang. Paksi bukan saja berusaha menangkis dengan menepis pedang
lawannya, tetapi tongkat itu sudah mulai menyerangnya pula. Tongkat yang baru
saja terayun mendatar menghalau serangan pedangnya, dengan cepat telah berputar
dan mematuk ke-arah dadanya. “ Anak iblis “ geram Jaran Demung. Umpatan itu
justru merupakan isyarat bagi Paksi, bahwa lawannya mulai mengalami kesulitan.
Karena itu, maka Paksipun menjadi semakin mantap. Anak muda itu telah
mengerahkan kemampuannya. Tongkatnya berputaran semakin cepat. Paksi justru
terkejut, ketika serangan lawannya yang datang dengan cepat dan tiba-tiba tidak
dapat dihindarinya. Ia tidak pula mendapat kesempatan untuk menepis serangan itu
menyamping, sehingga memaksa Paksi untuk membentur ayunan pedang lawannya itu.
Paksi memang menjadi berdebar-debar. Jika tongkat itu patah, maka pengemis itu
akan marah kepadanya. Bahkan mungkin perlawanannya atas ilmu pedang lawannya
menjadi kacau meskipun seandainya ia masih tetap dapat mempergunakan kedua
potongan tongkat itu sebagai senjatanya. Tetapi ternyata dalam benturan yang
terjadi, tongkat itu tidak patah. Bahkan dalam benturan itu, Jaran Demung telah
terdorong selangkah surut, meskipun Paksi sendiri terdorong surut pula. Sejenak
Paksi sempat memperhatikan tongkat kayunya yang nampaknya tidak lebih dari
sebuah dahan yang dipotong langsung dari batangnya dan kemudian dikeringkannya.
Tetapi ternyata tongkat itu memiliki kekuatan yang besar. Namun dalam kesempatan
yang pendek itu, Paksi tidak sempat mengamati tongkatnya lebih lama. Ia tidak
sempat mengetahui, apakah yang menyebabkan tongkat yang dipinjamnya itu demikian
kokohnya. Dalam pada itu, Jaran Demung telah meloncat menyerangnya pula. Namun
Paksipun telah siap untuk mempertahankan dirinya. Bahkan Paksi menjadi lebih
mantap, karena ia tidak perlu raguragu membenturkan senjatanya dengan senjata
lawannya. Pengemis yang mempunyai tongkat kayu itu tertawa. Dengan lantang ia
berkata “ Bagus, anak muda. Kau memiliki ilmu yang bagus. Kau tidak berada
dibawah tingkat kemampuan Jaran Demung. “ “ Setan kau pengemis buruk “ geram
Jaran Demung. “ Kau akan kalah, Jaran Demung “ berkata pengemis itu “ jika anak
itu hatinya buram, maka nasibmu akan menjadi sangat buruk. Dengan tongkatku itu,
dadamu akan dilubangi. Tentu lebih baik dilubangi dengan ujung pedang yang
runcing, daripada dengan ujung tongkat yang tumpul. Tetapi jika hati anak itu
baik, maka kau akan diampuni. “ Jaran Demung menggeram. Tetapi ia memang tidak
mempunyai banyak kesempatan. Ujung tongkat anak muda itu telah mulai menyentuh
tubuhnya. Jaran Demung mengumpat kasar. Ia sungguh-sungguh tidak menduga, bahwa
ia harus berkelahi dengan anak muda itu. Justru ia semakin lama menjadi semakin
terdesak. Jaran Demung memang sedikit menyesal, bahwa ia telah berselisih dengan
anak muda yang berilmu tinggi. Tetapi sikap anak muda itu seharusnya dapat
dimengertinya. Tidak seorangpun hatinya rela memberikan ikat kepalanya untuk
mengusap tangan yang kotor berminyak. Ternyata anak muda itu tidak sekedar tidak
rela didalam hatinya. Tetapi ia benar-benar telah melawan. “ Pengemis itu tentu
akan menyesal, karena ia telah berani membantu anak muda itu. “ geram Jaran
Demung. Tetapi apakah yang akan dapat dilakukan terhadap pengemis itu jika anak
muda itu kemudian berhasil membunuhnya? “ Tidak “ Jaran Demung itu menggeram
didalam hatinya “ Tidak. Akulah yang akan membunuhnya. Tidak seorangpun yang
akan dapat menghalangi aku dan tidak seorangpun yang akan berani menuntut aku. “
Tetapi ia tidak dapat menghindar dari kenyataan. Anak muda yang bersenjata
tongkat itu mendesaknya terus. Tongkatnya semakin sering mengenai tubuhnya.
Sementara itu, sangat sulit bagi Jaran Demung untuk dapat menyentuh lawannya
dengan ujung pedangnya. Karena itu, maka Jaran Demung itu semakin lama menjadi
semakin terdesak. Pengemis yang mengenakan caping lebar itupun mengikuti
perkelahian dengan saksama. Sekali-sekali terdengar suara tertawanya menghentak,
menghambur dan kemudian suara tertawa itu meledak berkepanjangan. “ Bagus anak
muda. Kau ternyata mempunyai kelebihan dari Jaran Demung. Jaran Demung hanya
mengandalkan kekuatan dan kedunguannya. Mungkin sedikit pengalaman yang berarti.
Tetapi kau memiliki pengetahuan dasar yang mapan. Nah, sebentar lagi kau akan
mengakhiri perkelahian. “ “ Diam kau pengemis gila “ teriak Jaran Demung “ jika
kau tidak mau diam, aku akan mengoyak mulutmu.” Suara tertawa pengemis tua itu
justru semakin meledak-ledak. Katanya “ Kau mengalami kesulitan menghadapi anak
muda itu. Bagaimana mungkin kau akan mengoyak mulutku. “ Jaran Demung memang
hanya dapat menggeraiti. Ia memang tidak dapat melakukannya, sementara Paksi
mendesaknya terus. Ketika ujung tongkat Paksi mengenai lambung Jaran Demung,
maka terdengar keluhan tertahan. Jaran Demung meloncat beberapa langkah surut
untuk mengambil jarak. Tetapi Paksi tidak membiarkannya. Dengan cepat pula ia
meloncat. Tongkatnya terayun dengan derasnya kearah kening. Jaran Demung masih
sempat menangkis serangan itu. Dengan tergesa-gesa Jaran Demung memutar
pedangnya melindungi keningnya dari sambaran tongkat Paksi. Tetapi dengan cepat,
tongkat Paksi berputar. Pangkalnyalah yang dengan derasnya terayun ke arah
pundaknya. Jaran Demung, harus meloncat semakin cepat menjauh untuk mengambil
jarak. Tetapi Paksi tetap memburunya. Tongkatnya itu terjulur lurus mengarah ke
dada Jaran Demung. Jaran Demung tidak mempunyai banyak kesempatan. Karena itu,
maka iapun justru menjatuhkan dirinya, berguling dengan cepat dan kemudian
meloncat bangkit berdiri. Paksi tertegun. Ternyata Jaran Demung masih sempat
menghindar. Ketika Paksi berusaha memburunya, maka Jaran Demung telah siap
menunggunya dengan ujung pedang terjulur. Paksi berhenti sejenak. Dipandanginya
mata Jaran Demung itu dengan tajamnya, seakan-akan Paksi ingin melihat apa yang
tersembunyi ditatapan matanya itu. Jaran Demung masih berdiri tegak. Namun Jaran
Demung itu seakan-akan sudah menjadi yakin, bahwa ia tidak akan dapat
mengalahkan anak muda itu. Karena itu, Jaran Demung harus mengambil sikap
sebelum tongkat anak muda itu menghancurkan kepalanya. Paksi tidak tahu apa yang
bergejolak didalam dada lawannya itu. Iapun tidak ingin berteka-teki lebih jauh.
Karena itu, maka Paksipun kemudian telah meloncat menyerangnya dengan garangnya.
Jaran Demung masih memberikan perlawanan dengan hentakkan-hentakkan ilmu
pedangnya. Namun justru tongkat Paksilah yang sering menyentuh tubuhnya. Karena
itu, maka Jaran Demung yang ditakuti itu telah memilih untuk meninggalkan
lawannya yang masih muda itu. Ketika ia mendapat kesempatan maka Jaran Demung
itupun meloncat menjauh dan kemudian berlari meninggalkan arena. Paksi sama
sekali tidak mengejarnya. Sementara pengemis yang meminjaminya tongkat itu
tertawa berkepanjangan. “ Orang itu lari anak muda. Kau telah menang. “ pengemis
itu hampir berteriak. Paksi berdiri termangu-mangu. “ Kenapa orang itu tidak kau
kejar dan kau pukul punggungnya dengan tongkatku itu? Kemudian kau pukul ia
sekali lagi di tengkuknya. Maka ia tentu akan mati. “ “ Aku tidak ingin
membunuhnya. Bukan karena ingin kau memuji aku sebagai orang yang baik karena
aku tidak membunuh lawanku. Tetapi aku memang tidak ingin membunuh. “ “ Bagus “
berkata pengemis itu “ sebaiknya orang memang tidak membunuh sesamanya dengan
alasan apapun. “ Paksipun kemudian mengembalikan tongkat pengemis itu sambii
berkata “ Aku mengembalikan tongkatmu, Ki Sanak. Aku mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya. Dengan meminjamkan tongkat itu, Ki Sanak telah
menyelamatkan nyawaku. “ “ Bukankah aku hanya meminjamkan tongkatku? Kaulah yang
telah menolong nyawamu sendiri. “ “ Tanpa tongkat itu, aku tidak akan mampu
melawan ilmu pedang orang itu. “ “ Nampaknya kau sesuai dengan jenis senjata
seper t itu. Karena itu ambillah tongkatku. Senjata itu tidak begitu menarik
perhatian. Berbeda dengan seandainya sebilah pedang tergantung dilambungmu.
Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan nada dalam ia berkata “ Aku
sangat berterima kasih dengan pemberianmu yang sangat berharga ini Ki Sanak.
Tetapi bagaimana dengan kau sendiri? “ Pengemis itu tertawa. Katanya “ Bukankah
aku dapat mencari lagi. Jika nanti aku sampai di pategalan, aku dapat memotong
lagi sepotong dahan kayu. Bukankah tidak terlalu sulit bagiku. “ “ Tetapi
tongkat ini bukan sekedar sepotong dahan kayu “ jawab Paksi. “ Lalu kau kira
tongkat itu apa? “ “ Tongkat ini lebih berat dari sekedar sepotong kayu. “ “
Kebetulan tongkat itu adalah sepotong dahan kayu berlian. Itu saja. “ “ Aku
tidak percaya, Ki Sanak. Kau tentu membuat tongkat ini secara khusus, meskipun
aku tidak tahu, bagaimana caramu melakukannya. “ “ Sudahlah. Kau jangan
aneh-aneh seperti itu. Aku relakan tongkat itu untuk kau miliki. “ “ Aku tidak
hanya sekedar ingin memiliki sebuah tongkat seperti ini, tetapi aku ingin
mengetahui, caramu membuatnya. Jika kau ajari aku membuat tongkat seperti ini,
aku tidak akan mengambil milikmu. “ “ Kenapa tiba-tiba saja kau ingin berbuat
aneh-aneh. Aku sudah memberikan tongkat itu kepadamu. Itu sudah cukup. “ “
Tongkat ini sudah berada ditanganku. Senjata yang sesuai bagiku. Nah, dengan
senjata ini aku ingin memaksamu, agar kau mau memberitahukan kepadaku, bagaimana
caramu membuat tongkat seperti ini. “ “ Anak muda “ berkata pengemis itu “ kau
ternyata mempunyai watak yang aneh. Seharusnya kau ucapkan terima kasih, bahwa
aku telah memberimu senjata yang sesuai bagimu. “ “ Bukankah aku sudah
mengucapkannya. Bahkan sangat berterima kasih. “ “ Lalu kenapa kau ingin
memaksamu melakukan sesuatu yang tidak aku mengerti. “ “ Jangan berpura-pura, Ki
Sanak. “ sahut Paksi yang tiba-tiba saja telah memutar tongkatnya. “ He “
pengemis itu meloncat surut “ kau ini orang apa? Aku sudah menolongmu. Aku sudah
memberikan senjataku kepadamu. “ “ Kau sendiri mengatakan bahwa aku telah
menolong diriku sendiri. Sedangkan untuk tongkat ini aku sudah mengucapkan
terima kasih. Sekarang, beritahu aku, dimana kau dapatkan dahan kayu ini dan
bagaimana kau membuatnya menjadi senjata yang sangat baik ini. “ “ Aku tidak mau
“ tiba-tiba orang itu menjawab dengan tegas. “ Aku akan memaksamu. “ geram
Paksi. “ Kemenanganmu atas Jaran Demung, membuatmu mabuk dan merasa dirimu
berilmu sangat tinggi. “ “ Sudahlah. Jangan banyak bicara. Sekarang, antarkan
aku dan tunjukkan kepadaku, bagaimana kau membuat tongkat ini. “ Tetapi pengemis
itu menggeleng. Katanya “ Tidak. Aku tidak mau. “ Tiba-tiba saja Paksi memutar
tongkatnya. Ia benar-benar telah menyerang pengemis yang memakai caping yang
lebar diatas kepalanya itu. Tetapi pengemis itu sudah bersiap. Dengan sigapnya
ia meloncat menghindar. Paksi tidak melepaskannya. Dengan cepat ia memburunya,
tongkatnya berputaran dan menyerang beruntun seperti arus banjir bandang.
Orang-orang yang menyaksikan menjadi heran. Semua orang melihat, bagaimana
pengemis tua itu memberikan tongkatnya. Mereka juga melihat, dengan tongkat itu
Paksi mampu mengusir lawannya. Namun tiba-tiba saja mereka melihat, anak muda
itu justru telah menyerang orang yang telah menolongnya itu. Perkelahianpun
berlangsung semakin sengit. Ternyata pengemis itu memiliki ilmu yang sangat
tinggi. Tongkat di tangan Paksi sama sekali tidak mampu menyentuhnya. Bahkan
beberapa kali, tongkat itu membentur kaki dan tangan pengemis itu. Yang
mengherankan Paksi, pengemis itu menangkis serangan tongkat ditangannya itu
dengan benturan-benturan yang keras tanpa merasa sakit. Tetapi perkelahian itu
tidak berlangsung terlalu lama, Selagi orang-orang yang menyaksikan masih
terheran” heran, Paksi telah meloncat mundur untuk mengambil jarak. Tiba-tiba
saja Paksi berlutut sambil berkata “ Aku mohon maaf, Kiai. “ Pengemis itu tidak
memburunya. Sambil tersenyum iapun berkata “ Aku tahu, bahwa kau tentu hanya
sekedar bermain-main. Tetapi apa alasanmu? “ “ Hanya sekedar ingin tahu, Kiai. “
“ Tidak. Tentu bukan sekedar ingin tahu. Apakah kau sedang berusaha untuk
mengenali seseorang? “ Paksi tidak dapat ingkar. Katanya “ Ya, Kiai. “ “
Berdirilah. Aku hanya seorang pengemis. Nah, sekarang, yakinkah dirimu, apakah
kau sudah dapat mengenalinya? “ “ Kiai. Aku mencurigai seseorang yang pernah
menyerangku. Tidak hanya sekali. “ “ Apakah kau tidak dapat mengenali wajahnya?
“ bertanya pengemis itu. “ Tidak Kiai. Wajahnya cacat. Aku tidak tahu, apakah
itu wajah aslinya atau bukan, karena setiap kali ia menyerangku, tentu terjadi
di malam hari. “ Pengemis itu tertawa. Katanya “ Ketika kau melihat wajahku, kau
telah mencurigainya. Tetapi bukankah orang itu datang untuk menyerangmu? Apakah
kau tidak mengetahui alasannya atau apa saja yang dipergunakannya sebagai
alasan? “ “ Semuanya nampaknya telah dibuat-buat. Yang mengherankan, ilmunya dan
ilmuku memiliki banyak persamaan. “ Pengemis itu tertawa semakin panjang.
Katanya “ Kau cerdik. Kau mempunyai cara yang menarik untuk meyakinkan, apakah
aku yang berwajah cacat ini juga orang yang pernah datang menyerangmu itu.
Tetapi bukankah kau yakin, bahwa ilmuku dan ilmu orang itu berbeda? “ “ Ya. “
jawab Paksi. “ Nah, sekarang pergilah. Bawa tongkatku. i\au memerlukannya. “
berkata pengemis itu “ Jaran Demung tentu mendendammu. Tanpa tongkat itu, maka
kau akan mengalami kesulitan. Mudahmudahan tongkat itu berarti bagimu. “ “
Terima kasih, Kiai. “ jawab Paksi. Nampak Paksi itu masih juga bertanya “ Tetapi
apakah aku boleh mengetahui nama Kiai, atau sebutan yang Kiai pergunakan? “ “
Panggil aku Tenong. Namaku Tenong. “ Dahi Paksi berkerut. Pengemis itu tertawa
sambil berkata “ Kau tidak percaya? Sudahlah. Namaku tidak penting. Jika kau
akan melanjutkan perjalananmu, pergilah. Mudah-mudahan kau selalu mendapat
perlindungan dari yang Maha Agung. “ “ Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih,
Kiai. “ “ Namaku Tenong. “ orang itu tertawa sambil melangkah pergi. Paksi
berdiri termangu-mangu. Ditangannya digenggamnya tongkat pemberian pengemis itu.
tiba-tiba saja ia merasa sangat sesuai dengan tongkat itu. Ia sadar, bahwa
tongkat itu tidak sekedar sebatang dahan kayu yang dipotong dari batangnya.
Tetapi Paksi tidak segera pergi, la masih sempat menemui pemilik kedai untuk
menghitung, berapa ia harus membayar. “ Aku akan mengganti ambenmu yang rusak. “
“ Tidak, anak muda. Lincak bambu itu tidak rusak. Hanya terguling saja. “ Semula
pemilik kedai itu memang berkeberatan menerima uang Paksi. Tetapi akhirnya
diterimanya juga karena Paksi agak memaksanya. “ Kau akan banyak kehilangan,
jika aku tidak membayar. “ berkata Paksi “ bukankah Jaran Demung itu juga tidak
membayar sementara kedua orang yang dipaksanya untuk membayar sudah melarikan
diri. Tentu bukan karena ingkar. Tetapi karena ketakutan. “ Demikianlah, maka
Paksipun kemudian meninggalkan kedai itu. Ia sudah tidak melihat lagi pengemis
yang telah memberinya sebatang tongkat yang dapat menemaninya sepanjang
perjalanannya yang tidak diketahuinya, kapan berakhir. Beberapa saat kemudian,
maka Paksipun telah meninggalkan padukuhan yang cukup besar dan yang telah
memberikan kesan tersendiri itu. Di padukuhan itu ia telah bertemu dengan Jaran
Demung. Seorang yang akan dapat membayanginya sepanjang perjalanannya. Jaran
Demung tentu mendendamnya. Apalagi, Jaran Demung mempunyai hubungan khusus
dengan Kebo Lorog. Paksipun sempat membayangkan wajah laki-laki yang pernah
menyerangnya dengan tiba-tiba dan menuduhnya telah mengetahui rahasia Kebo Lorog
dan para pengikutnya. Orang itupun datang menyerangnya pula ketika terjadi
pertempuran di kuburan. Tetapi dugaan Paksi menjadi semakin keras, bahwa orang
itu justru bukan pengikut Kebo Lorog. Terik matahari serasa membakar tubuh,
justru saat matahari mulai menurun. Angin terasa semilir mengusap tubuh Paksi
yang basah oleh keringat. Perkelahiannya memang telah memeras keringatnya.
Apalagi panasnya sinar matahari. Paksi berjalan diatas jalan berdebu. Tetapi air
hening yang mengalir di parit disebelah jalan yang dilaluinya itu memberikan
kesegaran tersendiri. Dilangit burung pipit terbang dalam kelompok-kelompok yang
besar, perputar-putar diatas bulak persawahan. Namun kemudian menghilang terbang
ke Utara. Paksi mengayun-ayunkan tongkat barunya. Sekali-sekali Paksi mengamati
tongkatnya itu sambil berkata di-dalam dirinya “ Tongkat ini telah melengkapi
perjalananku sebagai seorang pengembara. “ Paksi melangkah menepi ketika ia
berpapasan dengan tiga orang berkuda. Nampaknya ketiganya juga sedang menempuh
perjalanan yang panjang. Tetapi ketiganya tidak memperhatikan Paksi sama sekali.
Anak muda yang berjalan diteriknya matahari menjelang sore hari dengan membawa
tongkat sebatang kayu yang nampaknya sudah kering dan berwarna kehitam-hitaman
itu sama sekali tidak menarik perhatian. Paksi mengusap debu yang menghambur di
pakaiannya. Sekilas Paksi melihat wajah-wajah yang bersih dari para penunggang
kuda itu. “ Pantasnya, mereka adalah saudagar-saudagar yang sudah berhasil “
berkata Paksi didalam hatinya. Namun paksipun kemudian telah melanjutkan
perjalannya pula. Dilangit matahari bergerak semakin rendah. Sementara Paksi
masih berjalan terus menyusuri jalan panjang. Sekali-sekali ia menyusup melalui
jalan padukuhan. Tidak ada hambatan di perjalanannya. Beberapa padukuhan telah
dilampaunya. Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka panasnyapun mulai
menyusup pula. Tetapi haus dikerong-kongannya bagaikan mencekiknya. Ketika Paksi
berjalan didepan sebuah rumah yang besar dan berhalaman luas disebuah padukuhan,
dilihatnya sebuah gentong berisi air. Sebuah siwur tersangkut disebelahnya.
Paksi tahu, bahwa gentong seperti itu memang diletakkan di sebelah regol halaman
dipinggir jalan untuk menyediakan air bersih bagi yang membutuhkan. Bagi mereka
yang kehausan di pejalanan. Ketika Paksi membuka tutup gentong itu, maka ia
menjadi ragu. Air di gentong itu tinggal sedikit, sehingga endapan-endapannya
akan dapat tersenduk jika ia mengambil air dengan siwur. Tetapi Paksi terkejut
ketika ia melihat seorang gadis yang membawa kelenting dilambungnya berisi air
keluar dari pintu regol halaman. Gadis itu tertegun. Namun kemudian katanya “
Maaf, Ki Sanak. Mungkin air digentong itu tinggal sedikit. Hari ini panasnya
bukan main, sehingga banyak orang lewat yang kehausan. Biarlah aku mengisinya
dahulu. “ Paksipun tergagap. Katanya “ Silahkan, silahkan. “ “ Atau lebih baik
Ki Sanak mengambil langsung dari kelentingku ini sebelum aku tuang kedalam
gentong. Jika Ki Sanak akan menyenduknya dari gentong, maka Ki Sanak masih harus
menunggu airnya mengendap lebih dahulu. “ Sebelum Paksi menyahut, gadis itu
telah meletakkan kelentingnya dan mengambil siwur dari tangan Paksi. Paksi
justru menjadi seperti orang yang kebingungan. Demikian gadis itu menyerahkan
siwur yang telah berisi air jernih, maka Paksipun menerimanya tanpa sesadarnya “
Minumlah “ gadis itu tersenyum. Paksi yang seakan-akan terbius itu telah
meletakkan siwur itu dibibirnya serta menuang air kedalam mulutnya. Betapa
sejuknya. Tetapi bukan saja air itu yang membuat bibir Paksi segar. Senyum gadis
itupun rasa-rasanya telah menyejukkan jantung Paksi yang panas. Tetapi Paksi
tidak dapat terlalu lama menatap wajah gadis itu. Sejenak kemudian, gadis itu
telah membawa ke-lentingnya kembali memasuki pintu regol halaman setelah menuang
isinya kedalam gentong. Paksi yakin bahwa gadis itu masih akan menuang air dari
kelentingnya dua tiga kali lagi. Tetapi ia justru merasa sangat segan untuk
tetap berada di tempat itu. Karena itu, maka Paksipun kemudian telah beringsut
meninggalkan gentong yang sedang diisi oleh gadis yang manis itu. Paksipun
kemudian melangkah kembali menyusuri jalan berdebu. Sejenak masih membayang
wajah gadis yang mengisi gentong itu. Namun kemudian ia mulai melihat kedalam
dirinya sendiri. Paksi itu berjalan tanpa tujuan. Ia mencari sesuatu yang belum
pernah dilihatnya. “ Perjalanan ini akan sia-sia seandainya benda yang aku cari
itu justru berada diarah yang lain. Jika cincin itu sudah dibawa orang ke
Surabaya atau justru ke Blam-bangan atau bahkan menyeberang ke Bali. “ berkata
Paksi didalam hatinya. “ Sama saja “ desisnya “ seandainya aku berjalan ke Timur
sementara benda itu dilarikan ke Barat, maka perjalananku juga sia-sia. “ Tetapi
Paksi tidak sekedar mengeluh bahwa perjalanannya sia-sia. Tetapi ia tidak dapat
mengambil manfaat dari pengembaraannya itu. Pengalamannya telah membuat ilmunya
semakin matang dan berkembang. Bahkan akhirnya Paksi itupun berkata “ Aku tidak
peduli, apakah aku akan menemukan cincin itu atau tidak. Ayah tentu dapat
memaklumi kesulitan yang aku hadapi jika aku tidak dapat menemukannya. Ayah
sendiri sama sekali tidak dapat memberikan petunjuk tentang cincin yang harus
aku cari itu. Namun dalam pengembaraan ini aku itiendapatkan pengalaman. Aku
merasa menjadi semakin akrab dengan kehidupan. “ Dengan demikian, maka
kegelisahan hati Paksi Pa-mekas itu menjadi semakin menyusut. Ia tidak lagi
merasa memikul beban yang sangat berat. Sambil berjalan Paksi menimang-nimang
tongkatnya. Tongkat pemberian pengemis itu. Ia yakin, bahwa pengemis itu bukan
pengemis kebanyakan. Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka Paksi mulai
memikirkan tentang perjalanannya. Paksi dapat saja berhenti dan bermalam
digubug, sebagaimana pernah dilakukan. Bermalam disebuah gubug di tengah-tengah
bulak. Paksi juga dapat mencoba minta ijin untuk bermalam di sebuah banjar. Atau
bahkan di rumah seseorang. Tetapi rasa-rasanya Paksi lebih senang berada di
tempat yang terbuka, luas menjangkau cakrawala, la merasa dirinya bebas dan
dadanya akan terasa lapang. Paksi memang merasa sedikit lapar. Tetapi ia akan
dapat menahannya sampai esok. “ Besok, pagi-pagi aku dapat pergi kesebuah pasar
atau kedai tau apapun tempat orang menjual nasi. “ Karena itu, maka ketika ia
melihat sebuah gubug ditengah-tengah bulak, iapun melangkah mendekatinya. Senja
sudah mulai turun. Langit menjadi merah kehitam-hitaman. Angin senja yang lemah
menggoyang batang padi yang digelar memenuhi bulak yang luas itu. Paksi
memandang gelombang daun padi yang seakan-akan mengalir perlahan-lahan menerjang
gubug ditengah bulak itu. Tetapi gubug itu tidak bergetar. Gubug itu kosong.
Agaknya sudah dua tiga hari tidak dipergunakan. Agaknya padi yang tumbuh subur
itu tidak perlu ditunggui di malam hari. Apalagi air di kotak-kotak sawah telah
penuh berlimpah. Karena itu Paksi merasa akan dapat beristirahat dengan baik di
gubug itu. Ketika malam turun, maka Paksipun segera membaringkan tubuhnya. Ia
tidak begitu letih, tetapi ia merasa perlu untuk beristirahat karena ia masih
harus menempuh pengembaraan yang panjang dihari-hari yang akan datang. Karena
Paksi tidak memikirkan apa-apa lagi, iapun dengan cepat telah tertidur dengan
nyenyaknya. Semilirnya angin telah membelainya sehingga Paksi menjadi semakin
dalam terbenam dalam tidurnya. Tetapi di tengah malam Paksi terbangun. Kakinya
terasa gatal oleh gigitan nyamuk yang ganas. Paksipun kemudian bangkit dan duduk
dibibir gubug itu. Dari tempatnya, Paksi memandang langit yang hitam.
Bintang-bintang bergayutan seperti ribuan permata yang ditaburkan diatas
permadani yang berwarna pekat. Paksi menggeliat. Tetapi ia terkejut. Tiba-tiba
malam menjadi terang seolah-olah tiba-tiba saja bulan tersembul dilangit. Dengan
cepat Paksi meloncat turun dari gubug itu sambil menengadahkan wajahnya. Paksi
menjadi berdebar-debar. Ia melihat seleret cahaya yang melintas dilangit.
Meluncur dan seakan-akan jatuh tidak terlalu jauh dari gubug itu. Demikian benda
langit itu tenggelam dibalik pepohonan, maka langitpun menjadi gelap kembali.
Paksi menjadi berdebar-debar. Malam terasa justru menjadi semakin sepi. Suara
cengkerik dan bilalang terdengar menggelitik ditelinganya. Paksi pernah melihat
bintang beralih beberapa kali. Paksi juga pernah melihat bintang berekor yang
memancar dilangit. Beberapa orang telah membicarakannya, seakan-akan bintang
berekor itu membawa bencana bagi bumi. Penyakit atau peceklik yang panjang.
Tetapi Paksi belum pernah melihat bintang yang seakan-akan telah jatuh dibumi.
Ada dorongan yang kuat bagi Paksi untuk pergi ketempat bintang itu menghilang.
Tetapi nalarnya telah mencegahnya. Seandainya benar bintang itu jatuh, maka bumi
tentu akan bergetar. Atau, bintang itu jatuh ditem-pat yang sangat jauh. Karena
itu, Paksi mengurungkan niatnya untuk melacak cahaya yang menerangi malam
seperti terangnya bulan itu. Namun Paksi terkejut ketika ia mendengar seseorang
menyapanya “ Kau lihat bintang yang terbang dilangit itu anak muda. “ Dengan
cepat Paksi berpaling. Dilihatnya seorang laki-laki membawa cangkul dipundaknya
berdiri beberapa langkah di belakangnya. Paksi bergeser selangkah surut. Ia
mencoba untuk melihat wajah orang itu. Tetapi di keremangan malam, ia tidak
dapat melihat dengan jelas. Meskipun demikian ia dapat melihat bahwa orang itu
berjambang berkumis dan berjanggut. Meskipun tidak panjang, tetapi nampak lebat
dan menutup hampir seluruh wajahnya. “ Siapakah kau anak muda? Dan kenapa kau
berada disini? “ “ Aku seorang pengembara Ki Sanak. Aku menjelajahi padukuhan
demi padukuhan. Malam ini aku berada disini dan bermalam digubug kecil ini. “
Orang itu mengangguk-angguk. Sebelum Paksi bertanya, orang itu berkata “ Aku
pemilik gubug ini. Aku memang terbiasa melihat sawahku di malam hari. Bulan ini
aku mendapat bagian air di malam hari. “ “ Maaf, Ki Sanak. Aku telah tidur di
gubug ini sebelum aku mendapat ijin. “ Orang itu tertawa. lapun kemudian
meletakkan cangkulnya dan duduk dibibir gubugnya. “ Duduklah. Nampaknya kau
letih. “ “ Ya, Ki Sanak. “ “ Tetapi kau tidak tidur anak muda. Kau sempat
melihat bintang yang jatuh itu. “ “ Aku tertidur sejak malam turun. Aku justru
sedang terbangun ketika dilangit nampak cahaya terang. “ Kau termasuk seorang
anak muda yang beruntung, bahwa kau sempat melihat ndaru yang jatuh dari langit?
“ Ndaru? “ ulang Paksi. “ Ya. Bintang yang berwarna kehijau-hijauan itu disebut
ndaru. Orang yang melihatnya akan mendapatkan sesuatu yang berharga bagi
dirinya. Jika bintang yang jatuh itu berwarna kemerahmerahan, maka bintang yang
demikian itu disebut teluh-braja. Orang yang melihat teluh-braja, sengaja atau
tidak sengaja, akan mengalami kesulitan. “ “ Ki Sanak juga melihat ndaru itu. Ki
Sanak tentu juga akan mendapatkan keberuntungan. “ Orang itu tertawa. Katanya “
Bagiku, tidak ada keberuntungan yang lebih besar daripada hasil panenanku ini
nanti akan berlimpah.Jika lumbungku yang tidak besar itu penuh dengan padi.
Anakku tidak akan kelaparan setidak-tidaknya untuk semusim. “ Bukankah sawah Ki
Sanak cukup luas? Melihat kotak-kotak sawah disekitar gubug ini, rasarasanya
padi yang akan Ki Sanak bawa pulang cukup banyak. “ “ Sawah ini bukan sawahku
sendiri, anak muda. -Aku mengerjakannya bagi orang lain. Jika kemudian padi
disawah ini dituai, aku mendapatkan separo dan pemilik sawah ini separo. “ Paksi
mengerutkan keningnya. Ia melihat sawah yang terbentang sangat luas. Tetapi ada
juga petani yang tidak memiliki sawah sendiri. Tetapi sebelum Paksi bertanya,
orang itu berkata “ Aku sendiri juga mempunyai sebidang tanah. Tetapi tidak
terlalu luas. Anakkulah yang mengerjakan sawah itu, sementara aku dan adikku
mengerjakan sawah ini. Sawah milik seorang yang kaya raya. “ Paksi
mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja orang itu bertanya “ Namamu siapa anak
muda? “ Paksi termangu-mangu sejenak. Tetapi sejak semula ia tidak
menyembunyikan namanya. Karena itu jawabnya “ Namaku Paksi. Apakah aku boleh
mengetahui nama Ki Sanak? “ Orang itu tertawa. Katanya “ Namaku baik anak muda.
Tetapi namaku tidak sebaik namamu. Tetangga-tetanggaku memanggilku, Marta
Brewok. “ Paksi mengangguk-angguk. Sementara orang itu bertanya “ Sebenarnya kau
akan pergi kemana, Paksi. “ “ Aku pengembara, Ki Marta. Aku tidak mempunyai
tujuan. “ “ Kau masih terlalu muda untuk mengembara. Apa yang sebenarnya kau
cari dalam pengembaraanmu. Bukankah lebih baik bagimu untuk tetap berada
diantara keluargamu? “ “ Aku tidak mempunyai keluarga lagi “ desis Paksi. Tetapi
orang yang mengaku bernama Marta Brewok itu tertawa pula. Katanya “ Hampir
setiap pengembara berkata, bahwa ia tidak mempunyai keluarga lagi, meskipun ayah
dan ibunya masih lengkap. Kekecewaan diling-kungan rumah tangganya, kegelisahan,
sikap orang tua yang kurang wajar atau hal-hal lain yang terjadi di rumah, dapat
mendorong seseorang untuk pergi mengembara. “ Paksi menundukkan kepalanya.
Petani itu seakan-akan mengetahui bahwa ia telah berbohong. Seolah-olah petani
itu tahu, bahwa dirumah masih ada ibu dan ayahnya. “ Tetapi ayah memerintahkan
aku untuk pergi “ berkata Paksi didalam hatinya. Namun kemudian terngiang
kata-kata ibunya “ Kau sengaja mengusirnya. “ Paksi menarik nafas dalam-dalam. “
Sudahlah “ berkata orang itu “ jika kau ingin tidur lagi. tidurlah. Aku akan
melihat air di parit itu. “ Paksi tergagap. Dengan serta-merta ia menyahut
“Kotak-kotak sawah ini telah penuh dengan air. “ “ Ya. Didaerah ini air termasuk
tidak terlalu sulit. Tetapi kadang-kadang terjadi juga kelupaan. Jika satu kotak
sawah tidak terbuka, maka kotak itu akan tetap kering, meskipun disekitarnya
digenangi air setinggi pematang. “ “ Baik, Ki Marta “ jawab Paksi “ jika aku
masih dapat tidur, aku akan tidur. “ Petani itu kemudian telah turun dari
gubugnya, memanggul cangkulnya dan siap untuk melangkah pergi. Namun ia masih
sempat berkata “ Anak muda. Jika kau sempat, tengoklah arah bintang yang jatuh
itu. Memang mungkin bintang itu tidak jatuh. Tetapi melintasi cakrawala. Atau
jatuh ditempat yang sangat jauh. Namun diarah bintang jatuh itu mungkin ada
sesuatu yang dapat menarik perhatianmu. Arah bintang itu jatuh adalah arah
keberuntunganmu. “ Paksi termangu-mangu sejenak. Sementara petani itu mulai
melangkah meninggalkannya sambil berkata “ Tetapi jika kau sudah menentukan arah
tujuanmu, lupakanlah. Yang kau lihat memang tidak lebih dari sebuah
lintang-alian yang besar dan barangkali jaraknya lebih dekat dengan bumi. “
Paksi termangu-mangu. Tetapi petani itu telah melangkah menyusuri pematang
sambil memanggul cangkul dipundaknya. Paksi memandanginya dengan kerut dikening.
Tetapi ia tidak bertanya lagi. Bahkan kemudian Paksipun memandang kearah benda
langit itu seakan-akan jatuh dibelakang padukuhan. Paksi termangu-mangu sejenak.
Sementara malam bertambah malam. Paksi memang masih belum ingin beranjak dari
gubug itu. Ia masih ingin berbaring sampai menjelang fajar. Paksi masih juga
ingin bertemu dan berbicara lagi dengan petani yang menggarap sawah diseputar
gubug itu. Mungkin ia mau menjelaskan, kenapa arah bintang jatuh itu adalah arah
keberuntungannya. “ Apakah karena aku melihat bintang yang disebut ndaru itu? “
bertanya Paksi didalam hatinya. Namun Paksi itu masih saja berbaring. Ia
menunggu petani itu datang lagi ke gubugnya. Tetapi petani yang membawa cangkul
itu tidak segera kembali. Bahkan Paksi yang merasa sudah terlalu lama menunggu
itu, menjadi kehilangan kesabaran. Paksilah yang kemudian berjalan menyusuri
pematang sambil menjinjing tongkatnya menyusul petani yang menyebut dirinya
Marta Brewok itu. Tetapi sudah sekian jauh Paksi meniti pematang, ia tidak
melihat seorangpun disawah itu. Ia tidak melihat orang yang berdiri atau
berjongkok dibendungan menunggui aliran air dari parit. Ia juga tidak melihat
seseorang yang berjalan diatas pematang sambil memanggul cangkul. Akhirnya Paksi
melangkah kembali ke gubug kecil itu. Tetapi gubug itupun masih tetap kosong.
Ketika langit menjadi merah, maka Paksipun telah mencuci wajahnya dengan air
parit yang jernih. Kemudian membenahi dirinya sambil menunggu. Paksi masih ingin
bertemu dan berbicara dengan pemilik gubug itu. Paksi justru menjadi penasaran
ketika langit menjadi terang. Orang yang menyebut dirinya Marta Brewok itu tidak
kembali ke gubugnya. Meskipun kesabaran Paksi sebenarnya telah habis, namun
Paksi justru memaksa diri untuk menunggu. Ketika langit menjadi terang dan
mataharipun terbit, Paksi masih tetap berada di gubug itu. Ia berharap seseorang
datang ke gubug itu meskipun bukan Marta Brewok sendiri. Dipagi hari Paksi
melihat titik-titik embun diujung daun padi. Berkilat-kilat disentuh sinar
matahari yang condong. “ Merta Brewok itu tentu mengelilingi sawahnya dan
melingkar lewat pematang yang menyilang itu langsung pulang kerumahnya. Bulak
ini terlalu luas “ berkata Paksi didalam hatinya. Ketika matahari menjadi
semakin tinggi, maka Paksi melihat beberapa orang telah turun kesawah untuk
melihat tanamannya. Ada diantara mereka yang menganggap bahwa rumput yang tumbuh
diantara batang-batang padi telah pantas untuk dibersihkan, sehingga ia telah
mengajak dua orang yang diupahnya untuk membersihkan dan mencabuti rerumputan
yang liar itu. Paksi menjadi berdebar-debar ketika ia melihat seorang laki-laki
yang sudah separo baya berjalan menuju ke gubug ditengah bulak itu. Seorang
laki-laki yang tinggi ke-kurus-kurusan, memanggul cangkul di pundaknya serta
mengenakan caping yang lebar dikepalanya. Orang itu tertegun melihat Paksi yang
masih duduk di bibir gubug itu. Namun yang kemudian telah meloncat turun. “ Kau
siapa anak muda? “ bertanya laki-laki itu. “ Namaku Paksi. Aku bermalam digubug
ini semalam. “ “ O. Kenapa kau tidak pergi saja ke padukuhan? “ Kau dapat
bermalam di banjar yang tentu lebih hangat daripada bermalam digubug ini. “ “
Semalam aku berada disini bersama Ki Marta Brewok “ sahut Paksi. Orang itu
mengerutkan dahinya. Kemudian iapun bertanya “ Siapakah yang kau maksud dengan
Ki Marta Brewok? “ “ Pemilik gubug ini. Ia yang menggarap sawah ini meskipun
bukan miliknya sendiri. “ Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu nampak
semakin bingung. Katanya dengan nada ragu “ Akulah pemilik gubug ini. Sawah ini
sawahku pula. Aku garap sendiri sawahku bersama dengan dua orang anakku
laki-laki yang nanti juga akan turun kesawah. “ Paksi menjadi heran mendengar
jawaban itu. Kemudian ia mencoba untuk menjelaskan, ujud dan wajah orang yang
mengaku bernama Marta Brewok itu. “ Anak muda. Di padukuhanku tidak ada
seorangpun yang bernama Marta Brewok. Juga tidak ada orang yang brewok, yang
jambang, kumis dan janggutnya tumbuh menutupi wajahnya. “ “ Tetapi semalam kami
duduk-duduk bersama di gubug ini. “ jawab Paksi. “ Anak muda “ berkata orang itu
“ namaku Ponang. Orang se Kademangan dapat mengenali aku. Mereka dapat
mengatakan bahwa sawah ini sawahku dan aku pulalah yang menggarapnya. Tidak ada
orang bernama Marta Brewok itu. “ Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia memang
menjadi agak bingung. “ Jangan-jangan kau bermimpi anak muda. “ “ Tidak Ki
Ponang. Aku tidak bermimpi. Aku sadar sepenuhnya akan kehadiran orang yang
mengaku bernama Marta Brewok itu. “ Tetapi orang yang bertubuh kekurus-kurusan
itu menggeleng. Katanya “ Aku tidak mengenal Marta Brewok. Jika kau bertanya,
maka orang se Kademangan ini tentu juga tidak ada yang pernah mengenal Marta
Brewok. Bahkan ceritera di dunia lelembutpun disekitar tempat ini tidak ada yang
berujud sebagaimana kau katakan. Jika kau percaya, di randu alas yang besar itu
tinggal sesosok peri. Tetapi sudah tentu ujudnya sebagai seorang perempuan.
Sedangkan di sendang, di segerumbul pohon-pohon raksasa yang nampak itu, tinggal
sesosok hantu dalam ujudnya sebagai seorang anak muda vang tampan berkumis tipis
dengan ikatkepalalkuning menyala. Sedangkan di jembatan itu tinggal gendruwo
yang ujudnya seperti seorang tua yang berjanggut dan berkumis putih. Janggutnya
panjang sampai ke dadanya. Matanya bercahaya. Tetapi gendruwo itu tidak pernah
mengganggu orang. “ Tidak ada lagi yang dapat membuat Paksi ketakutan. Ia sudah
menjelajahi malam-malam yang gelap dan seram. Bahkan kuburan yang berhantu
keranda. Namun Ki Ponang itu kemudian berkata “ Atau mungkin salah satu sosok
itu telah memilih ujud yang berbeda untuk menemuimu. “ Paksi hanya
mengangguk-angguk saja. Ia memang tidak membantah agar Ki Ponang itu tidak
menjadi kecewa. Tetapi menurut pendapatnya, orang yang menyebut dirinya Marta
Brewok itu tentu bukan hantu. “ Tetapi siapa dan apa maksudnya? “ pertanyaan itu
terasa bergejolak didalam dadanya Namun karena itu, maka Paksi merasa tidak ada
gunanya lagi untuk menunggu orang yang menyebut dirinya Marta Brewok. Karena
itu, maka Paksipun kemudian telah minta diri. “ Anak muda “ berkata Ki Ponang “
aku ingin mempersilahkan kau singgah dirumahku. Aku lihat kau letih. Mungkin
karena itu, maka mimpimu seakan-akan peristiwa yang sebenarnya terjadi. “ “
Terima kasih, Ki Ponang. Aku adalah pengembara yang menempuh jalan tanpa akhir.
Itulah sebabnya, maka aku selalu nampak letih. Tetapi keletihan ituimemberikan
kepuasan Ki Ponang. “ Ki Ponang mengangguk-angguk. Katanya “ Aku mengerti. Aku
memang pernah mendengar orang yang sedang menjalani laku. Jika kau juga sedang
menjalani laku, maka aku tidak akan mngganggumu. Orang berjambang, berkumis dan
berjanggut lebat itu ada didalam dunia pengembaraanmu. Karena disaat wadagmu
berhenti dan beristirahat, jiwamu menjadi lebih leluasa untuk melakukan
pengembaraannya sendiri, sehingga apa yang tidak dapat ditemui olah wadagmu akan
dapat ditemui oleh jiwamu. Paksi mengerutkan dahinya. Yang berdiri dihadap-annya
itu menurut ujudnya tidak lebih dari seorang petani kebanyakan. Tetapi apa yang
dikatakannya menunjukkan bahwa orang itu juga memiliki pengalaman jiwani yang
luas. Paksipun kemudian mengangguk hormat. Katanya “ Ki Ponang, aku mohon diri.
Mudahmudahan yang aku hadapi sekarang bukan sosok sebagaimana aku temui semalam
disini. “ Ki Ponang tertawa. Katanya “ Lihat orang-orang yang sedang berada di
sawah itu. Mereka melihat aku sebagai tetangga mereka dalam ujud dan jiwa. Aku
kau temui didalam kenyataan kewadagan. “ Paksi memang memandang berkeliling.
Orang-orang yang bekerja disawah telah mulai dengan kerja mereka. Seorang
laki-laki yang berjalan tidak jauh dari gubug kecil itu menyapa Ki Ponang dengan
ramahnya. “ Kau percaya bahwa aku ini mawujud? “ bertanya Ki Ponang. “ Ya, Ki
Ponang. “ “ Nah, pergilah. Jika tadi aku berceritera tentang sosok-sosok yang
hidup didunia yang lain, maka kau tidak usah menghiraukannya. “ “ Ya, Ki Ponang.
“ “ Kau yakini dirimu dan sandaran hidupmu, Yang Maha Agung. “ Paksi menarik
nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun mengangguk hormat sambil berkata “ Aku
mohon diri. “ “ Silahkan anak muda. Tetapi jika kau ingin singgah, mungkin lain
kali, aku tinggal di padukuhan itu. Seisi padukuhan itu saling mengenal satu
dengan yang lain. Jika kau tanyakan kepada siapapun rumah Ki Ponang, maka
siapapun akan dapat menunjukkannya. “ “ Aku akan berusaha untuk dapat singgah
lain kali, Ki Ponang. “ jawab Paksi. Demikianlah, Paksi telah meninggalkan gubug
kecil ditengah bulak itu. Ketika ia meloncati parit dan berdiri di jalan yang
membujur di bulak panjang itu, hatinya menjadi ragu. Apakah ia akan mengikuti
petunjuk orang yang berkumis, berjambang dan berjanggut lebat dan menamakan
dirinya Marta Brewok itu? Diluar sadarnya, Paksi berpaling. Ia melihat Ki Ponang
telah turun ke sawah untuk membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh
disela-sela tanaman padinya. Ketika seorang laki-laki yang terhitung masih muda
lewat mendahuluinya, maka Paksipun mempercepat langkahnya. Dengan ragu-ragu
iapun bertanya “ Maaf, Ki Sanak. Apakah aku boleh bertanya? “ “ Tentang apa Ki
Sanak? “ “ Apakah sawah Ki Ponang itu digarap sendiri atau ada orang lain yang
membantu mengerjakannya? Maksudku, ikut menggarap sawahnya? “ Laki-laki itu
mengerutkan dahinya. Sambil berjalan orang itu bertanya “ Kenapa? “ “ Aku
semalam bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Marta Brewok. Jambang, kumis
dan janggutnya memang lebat. Ia mengaku ikut menggarap sawah Ki Ponang. “
Laki-laki itu memandang Paksi sekilas. Kemudian katanya “ Aku tidak mengenal
orang yang bernama Marta Brewok. Sepengetahuanku, Ki Ponang itu mengerjakan
sawahnya sendiri bersama dengan anak-anaknya. Tidak dengan orang lain. “ Paksi
menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Ya. Ki Ponang juga mengatakan demikian.
Tetapi siapakah laki-laki yang semalam duduk-duduk bersamaku di gubug itu?” “
Kau bermimpi “ berkata laki-laki itu. “ Tidak. Aku tidak bermimpi. “ “ Dimana
kau tidur semalam? “ “ Di gubug Ki Ponang. “ “ Seharusnya kau tidak akan
diganggu oleh apapun. Ki Ponang adalah orang yag sangat disegani. Bukan saja
oleh tetangga-tetangga dan orang-orang se Kademangan. Bahkan yang tidak kasat
matapun nampaknya segan kepadanya. Ki Ponang adalah seorang yang berilmu. Kasar
maupun halus. Ia mempunyai banyak sekali pengalaman. Tetapi ia tidak sombong. Ia
bekerja sebagaimana para petani yang lain. “ Paksi mengangguk-angguk. Ia percaya
bahwa Ki Ponang adalah seorang yang memiliki pengalaman yang banyak sekali serta
pengetahuan yang luas. Paksi mengangguk-angguk. Kemudian katanya “ Terima kasih
Ki Sanak. “ “ Kau siapa? Apa kepentinganmu dengan Ki Ponang? “ bertanya
laki-laki itu. “ Tidak ada Ki Sanak. Selain semalam aku tidur di gubugnya. “
jawab Paksi “ tetapi aku tidak minta ijin sebelumnya. “ “ Tentu tidak apa-apa.
Ki Ponang tidak akan marah? Bukankah begitu? “ “ Ya. Ki Ponang memang tidak
marah kepadaku. “ “ Ia orang yang baik, Ki Sanak. “ Paksi mengangguk-angguk.
Sementara laki-laki itu-pun bertanya “ Kau akan pergi kemana Ki Sanak? “ “ Aku
pengembara. Aku berjalan tanpa tujuan. “ jawab Paksi. Laki-laki itu memandang
Paksi sejenak. Ia melihat wajah Paksi yang nampak masih sangat muda. Katanya “
Apa sebabnya kau mengembara diumurmu yang masih sangat muda itu? Apakah ada
sesuatu yang telah mendorongmu untuk melakukannya? “ “ Bukankah pengembaraan
untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman hidup itu lebih baik dimulai seawal
mungkin? Sementara itu tidak ada yang mendorongku untuk mengembara selain
kemauan. “ “ Itu adalah ciri anak-anak muda. Sebenarnya kemauan saja tidak
cukup. Harus ada tujuan. Bukan hanya sekedar untuk menambah pengetahuan dan
pengalaman. Harus ada tujuan yang lebih pasti. Barulah pengembaraan itu
mempunyai nilai yang wajar. Jika seseorang meninggalkan rumahnya karena dibelit
hutang, maka pengembaraan yang demikian tidak lebih dari satu pelarian. Atau
karena putus asa, malu atau persoalan-persoalan serupa. Paksi menundukkan
wajahnya, seakan-akan sedang mengamati ujung-ujung jari kakinya yang sedang
melangkah itu. “ Kau benar, Ki Sanak. “ jawab Paksi. “ Nah, jika kau tidak
mempunyai tujuan pasti, karena kepergianmu hanyalah sekedar didorong oleh
kemauan saja, maka pulanglah kepada ayah dan ibumu yang tentu selalu
mengharapkan kau pulang. “ “ Ayah dan ibuku sudah tidak ada “ Paksi berbohong
sebagaimana sudah beberapa kali dilakukannya. “ O “ orang itu mengangguk-angguk
“ jadi kau benar-benar sedang melarikan diri dari kepahitan hidup keluargamu?
Jangan lakukan itu. Kau seharusnya tinggal pada seseorang. Bekerja padanya
sehingga kau benar-benar akan mendapatkan pengalaman hidup yang sebenarnya.
Bukan sekedar melihat-lihat gunung, lembah, ngarai, hutan. Lalu kau berniat
kembali ke kampung halaman yang bagimu menjadi sangat sepi. Atau bahkan kau
terlibat dalam sikap dan tingkah laku yang buruk karena pengaruh orang-orang
yang kau kenal disepanjang perjalananmu. “ Paksi menarik nafas dalam-dalam.
Laki-laki itu masih muda. Tetapi Paksi setuju dengan katakatanya. Namun
sebenarnyalah pengembaraan Paksi bukannya tidak mempunyai tujuan yang pasti. Ia
pergi dari rumahnya karena ia harus menemukan sebuah cincin. Karena itu, jika ia
pergi dari rumahnya, bukan karena ia melarikan diri. Tetapi Paksi tidak
mengatakan kepada laki-laki itu. Namun beberapa langkah kemudian, laki-laki muda
itu berkata “ Sudahlah anak muda. Sawah ini adalah sawahku. Aku harus turun hari
ini untuk membersihkan rerumputan liar diantara batangbatang padi itu. “ Paksi
menjadi gagap. Katanya “ Silahkan, Ki Sanak. Aku minta diri untuk meneruskan
pengembaraanku. “ Orang itu berhenti. Tiba-tiba saja diluar sadarnya, Paksipun
berhenti pula. Laki-laki yang masih terhitung muda itu menepuk bahu Paksi sambil
berkata “ Kenapa kau tidak pergi ke Kotaraja. Kau dapat mengabdikan diri kepada
para priyagung di Pajang. Kau akan mendapat tuntunan yang sangat bermanfaat bagi
dirimu. Jauh lebih bermanfaat dari pengalaman yang kau dapat dengan mengembara
seperti ini. “ “ Aku akan mempertimbangkannya, Ki Sanak. Aku berterimakasih atas
petunjuk-petunjukmu. “ Laki-laki itu tersenyum. Namun kemudian orang itupun
telah meloncati parit dan turun ke sawah. Meskipun demikian ia sempat berkata “
Aku murid Ki Ponang.” Paksi Pamekas kemudian melangkah meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanannya ia merenungi kata-kata laki-laki itu. Ia setuju, bahwa
ia akan mendapat pengetahuan lebih banyak jika ia berada di rumah. Memperdalam
ilmu. Bukan saja ilmu kanuragan. Tetapi juga pengetahuan yang luas tentang
banyak hal sebagaimana pernah dipelajarinya. Tetapi ia tidak dapat melakukannya.
Ia harus pergi meninggalkan rumahnya, karena menurut ayahnya, ia harus melakukan
sesuatu karena ia sudah dewasa. Sudah berumur tujuhbelas tahun. Menurut ayahnya,
ia sudah menjadi seorang laki-laki dewasa. Ia tidak boleh berpangku tangan saja
dirumah, sementara keluarganya terancam bencana. “ Bencana apa? “ pertanyaan itu
setiap kali bergetar didalam dadanya. Paksi memang tidak pernah menemukan
jawaban lain kecuali bahwa kedudukan ayahnya terancam jika ayahnya tidak dapat
menemukan cincin itu. Paksipun merasa bahwa kedudukan bagi ayahnya lebih
bernilai daripada anaknya. Paksi mengangkat wajahnya. Dipandanginya jalan yang
membujur panjang dihadapannya. Ia bertekad untuk pergi kearah bintang yang jatuh
semalam, yang oleh orang yang menyebut dirinya Marta Brewok itu disebut ndaru.
Paksi sendiri yakin, bahwa bintang itu memang tidak jatuh dibelakang padukuhan
itu. Tetapi kehadiran Marta Brewok yang aneh itu, seakan-akan mendesaknya untuk
memenuhi pesannya. Paksi sekali-sekali menimang tongkat yang dibawanya. Ujudnya
memang tidak menarik perhatian. Namun ternyata tongkat itu adalah tongkat yang
jarang ada duanya. Ada beberapa orang aneh yang dijumpai Paksi selama
pengembaraannya. Orang yang mengaku pengikut Kebo Lorog yang memiliki ilmu dari
sumber yang sama dengan ilmu Paksi sendiri. Pengemis yang memberinya tongkat itu
dan terakhir orang yang mengaku bernama Marta Brewok. Seorang yang berjambang,
berkumis dan berjanggut lebat, yang semalam duduk bersamanya di gubug Ki Ponang.
Panas matahari mulai terasa menggatalkan kulit. Bahkan perasaan lapar mulai
mengganggunya. Paksi memang berniat untuk singgah di kedai atau di pasar atau
dimana saja ia dapat membeli minuman dan makanan. Kemarin ia hanya makan disiang
hari. Itupun tidak dapat dinikmatinya seutuhnya, karena tingkah laku orang yang
disebut Jaran Demung. “ Tetapi tanpa peristiwa itu, aku tidak akan mempunyai
tongkat ini “ berkata Paksi didalam hatinya. Beberapa saat kemudian, ketika
Paksi memasuki sebuah padukuhan, ditemuinya bukan saja kedai nasi, tetapi pasar
yang cukup ramai. Meskipun pasar itu bukan pasar yang besar. Uang Paksi yang
diberikan orang tuanya kepadanya masih cukup banyak, sehingga Paksi tidak merasa
cemas untuk masuk kedalam kedai jika ia merasa lapar dan haus. Tetapi saat itu,
Paksi tidak ingin masuk kesebuah kedai. Paksi ingin membeli nasi didalam pasar.
Karena itu, maka Paksipun kemudian telah duduk di-sebuah dingklik rendah,
dihadapan penjual wedang jae dan nasi bungkus disudut pasar itu. Paksi yang
merasa dirinya orang yang tidak dikenal ditempat itu sama sekali tidak merasa
segan untuk duduk sambil membuka bungkusanbungkusan nasi serta menghirup wedang
jae yang hangat. , Paksi yang menghabiskan dua bungkus nasi dan semangkuk wedang
jae itupun kemudian telah membayar harganya yang jauh lebih murah daripada jika
ia makan disebuah kedai. Tetapi Paksi tidak segera berdiri. Tidak jauh dari
tempatnya duduk, dua orang perempuan sedang bertengkar. Semakin lama semakin
keras. Mereka mulai mengucapkan kata-kata kasar. Beberapa orang mulai
merubungnya. Ada diantara mereka yang mencoba melerainya. Tetapi penjual wedang
jae itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. “ Kenapa mereka itu? “
bertanya Paksi. “ Itulah yang mereka lakukan sehari-hari. “ jawab penjual wedang
jae itu. Paksi mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak segera mengerti maksudnya.
Penjual wedang jae itu seakan-akan mengerti perasaan Paksi. Karena itu, tanpa
diminta iapun berceritera “ Penjual tampah itu memang galak. Ia selalu
marah-marah jika dagangannya ditawar orang. Padahal ia selalu memberi harga yang
tinggi. Jika calon pembeli itu tidak berani menawar, iapun marah-marah pula. “
Paksi mengangguk-angguk. Katanya “ I& telah mempersulit hidupnya sendiri. Dengan
demikian ia tidak pernah merasa tenang. Apapun yang dilakukan oleh calon
pembelinya, selalu membuatnya marah. “ “ Ada orang yang merasa lebih baik pergi
jika ia mulai marah-marah. Tetapi ada yang menjadi marah pula seperti orang itu,
sehingga akhirnya mereka bertengkar. “ “ Apakah pertengkaran itu sering terjadi?
“ bertanya Paksi. “ Ya. Memang sering terjadi. “ jawab penjual wedang jae itu.
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya beberapa orang itu masih belum
berhasil melerainya. Paksipun kemudian telah bangkit berdiri dan minta diri
kepada penjual wedang jae itu. Perasaan ingin tahunya telah membawanya mendekati
kerumunan orang disekitar kedua orang perempuan yang sedang bertengkar itu.
Tetapi penjual wedang jae itu masih sempat berdesis “ Anak muda, jangan terlalu
mencampuri persoalannya. Suami penjual tampah itu juga garang. Jika isterinya
bertengkar dan suaminya mengetahuinya, maka ia akan mencampurinya. “ “ Aku hanya
akan melihat “ sahut Paksi. “ Anak muda selalu ingin tahu “ desis penjual wedang
jahe itu. Paksi masih mendengarnya. Karena itu, maka iapun berpaling sambil
tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Paksi sempat memperhatikan beberapa orang
yang berjualan disekitar tempat itu. Mereka tidak banyak yang berteriak pada
pertengkaran itu. Hanya beberapa orang sajalah yang mendekat dan berusaha
melerainya. Sebagian dari mereka berusaha untuk menenangkan pembelinya. Tidak
ada diantara mereka yang mencoba menahan kemarahan penjual tampah itu. Dua orang
perempuan menarik tangan pembeli yang marah itu sambil berkata “ Sudahlah,
mbokayu. Jangan dilayani. Tinggalkan saja tempat ini. “ “ Tetapi perempuan
itulah yang mulai “ teriak perempuan yang marah itu. Sementara itu penjual
tampah itupun berteriak “ Lepaskan perempuan itu. Aku ingin mencakar mulutnya,
menyobek bibirnya yang tipis itu. “ “ Kau kira aku tidak berani “ pembeli yang
gagal itupun berteriak pula. Tetapi beberapa orang masih berusaha menariknya dan
membawanya menjauh. Tetapi perempuan itu masih meronta-ronta. “ Tinggalkan
penjual tampah itu, mbokayu “ minta seorang perempuan yang masih muda “ jika
suaminya mengetahui perselisihan ini, ia akan ikut campur. “ “ Aku tidak takut.
“ teriak perempuan itu. “ Jangan begitu. Suaminya laki-laki yang garang.
Suaminya memang ditakuti oleh orang sepasar ini. “ Belum lagi perempuan itu
sempat diajak menjauh, tiba-tiba saja terdengar suara laki-laki menggeram “ Ada
apa. Ada apa? “ Beberapa orang perempuan yang mengerumuninya-pun bergeser
menjauh. Dua orang perempuan masih memegangi perempuan yang marah itu. “
Sudahlah. Tenanglah. “ “ Bukan aku yang memulai “ perempuan itu justru
berteriak. Sementara penjual tampah itu masih mengumpat-umpat. “ Ada apa? “
bertanya laki-laki yang garang itu. “ Perempuan itu tidak tahu diri. Ia sama
sekali tidak menghargai orang lain. Ia menawar daganganku semena-mena. Jika
memang tidak punya uang, kenapa bertanya-tanya harga. “ Seperti biasanya
suaminyapun menjadi marah. Dengan garang ia berteriak “ He, perempuan dungu.
Diam kau. Jika kau tidak mau diam, aku sumbat mulutmu. “ Tetapi perempuan yang
marah itu berteriak “ Perempuanmu itu yang tidak tahu diri. “ “ Diam “ laki-laki
itu berteriak. Dua orang perempuan yang memegangi perempuan yang marah itu
mencoba menariknya menjauh. Tetapi perempuan itu meronta dan justru karena itu
ia terlepas. Perempuan yang marah itu justru berlari mendekati laki-laki yang
membentaknya “ Kau mau apa he? Kau jangan ikut campur. Ini urusan perempuan. “
Tetapi yang dicemaskan itu telah terjadi. Laki-laki itu tiba-tiba saja telah
menampar wajah perempuan itu sambil berteriak “ Diam kau perempuan bawel. Sayang
kau perempuan. Jika tidak, aku patahkan lehermu. Panggil suamimu kemari. Aku
lumatkan kepalanya. “ Wajah perempuan itu seakan-akan telah terputar.
Terhuyung-huyung ia terdorong surut. Tubuhnya tidak lagi mampu mempertahankan
keseimbangannya. Tidak seorangpun berani mencampurinya, karena mereka mengenal
laki-laki yang garang itu. Namun seorang anak muda yang belum mengenal laki-laki
itu telah meloncat menahan perempuan yang akan terjatuh itu. Kepala perempuan
itu menjadi sangat pening. Matanya menjadi kabur, sementara mulutnya telah
berdarah. Perlahan-lahan Paksi meletakkan perempuan itu di-sebuah amben bambu
tempat seorang penjual jamu yang selalu banyak dikunjungi pembeli. “ Duduklah
bibi. Tenanglah. “ Perempuan itu menjadi gemetar. Ia mengusap mulutnya yang
berdarah dengan selendangnya. Perempuan itu mencoba menahan rasa sakit dan
pening dikepalanya. Tetapi matanya mulai berair. “ Aku akan panggil suamiku “
perempuan itu masih berteriak. “ Cepat, panggil suamimu. Aku akan membunuhnya
dihadapanmu “ teriak laki-laki yang garang itu. Tetapi anak muda yang menahan
perempuan itu berkata “ Sudahlah bibi. Bibi tidak usah memanggil suami bibi.
Nanti persoalannya akan berkepanjangan. “ “ Kau tidak usah ikut campur anak
muda. “ teriak laki-laki itu. “ Aku justru mencegah agar persoalan ini tidak
berlarut-larut dan berkepanjangan. “ “ Diam kau. Jika kau tidak mau diam,
mulutmupun akan berdarah seperti perempuan itu. “ “ Aku sedang menenangkan
perempuan ini “ jawab anak muda yang membawa tongkat itu. “ Sudahlah, anak muda
“ seorang perempuan berbisik “ kaulah nanti yang akan mengalami kesulitan. “
Tetapi Paksi itu justru menjawab “ Aku ingin peristiwa seperti ini tidak
terulang. “ “ Setan kau, apa hakmu mengatakan seperti itu? “ Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia sudah terlibat kedalam persoalan diluar
kehendaknya. Tetapi Paksi memang tidak dapat membiarkan perbuatan
sewenang-wenang itu terjadi. Karena itu, maka katanya “ Adalah hak setiap orang
untuk menghentikan perbuatan yang kasar itu. “ “ Apa “ laki-laki yang bertubuh
kekar dan berkumis lebat itu berteriak” Ayo, katakan sekali lagi.“ Seorang
perempuan dengan cepat berdesis “ Sudahlah anak muda. Sudahlah. “ Tetapi Paksi
justru berdiri tegak menghadap kearah laki-laki itu sambil berkata “ Baiklah.
Aku katakan sekali lagi. Dengarlah baik-baik jika pendengaranmu memang tidak
terganggu. Adalah hak setiap orang untuk menghentikan perbuatan yang kasar itu.
“ Laki-laki itu tidak dapat menahan dirinya lagi. Dengan garang laki-laki itu
meloncat sambil mengayunkan tangannya. Ia telah menampar mulut Paksi sebagaimana
telah dilakukan terhadap perempuan yang bertengkar dengan isterinya itu. Tetapi
laki-laki yang garang itu terkejut, ternyata tangannya yang terayun deras itu
telah mengenai tongkat yang sengaja digeser oleh Paksi. Akibatnya memang tidak
terduga. Laki-laki yang garang itu telah berteriak kesakitan. Tongkat kayu anak
muda itu rasa-rasanya bagaikan meretakkan tulang-tulangnya. “ Setan kau anak
muda “ laki-laki itu menjadi semakin marah, sehingga orang-orang yang berada
disekitarnya bergeser menjauh. Lebih-lebih perempuan dan anak-anak. Bahkan
orangorang yang berjualan disekitar tempat itupun telah bergeser pula. “
Ternyata kau benar-benar tidak tahu diri. Buka matamu. Dengan siapa kau
berhadapan. “ Paksi tidak segera menjawab. Diamatinya laki-laki yang garang itu
dengan tajamnya. “ Cepat berlutut dan mohon maaf kepadaku “ geram laki-laki yang
marah itu “ kesempatan ini adalah kesempatan terakhir bagimu. Jika kesempatan
ini tidak kau pergunakan, maka kau akan menyesal untuk selama-lamanya. “
Ternyata Paksi sama sekali tidak tergetar hatinya melihat laki-laki yang marah
itu wajahnya menjadi merah membara. Bahkan dengan tenang Paksi berkata “ Ki
Sanak. Hentikan tingkah lakumu yang kasar itu. Seharusnya kau melerai
pertengkaran yang terjadi. Bertanyalah kepada orang-orang disekitarmu, siapakah
yang bersalah. Adalah wajar jika kau membantu isterimu. Tetapi kaupun harus
menempatkan dirimu sehingga tidak berkesan sewenang-wenang sebagaimana telah kau
lakukan itu. “ “ Diam kau cucurut “ teriak laki-laki itu. Suaranya menggelegar
memenuhi pasar. Seakan-akan semua orang yang ada di pasar itu telah terdiam,
sehingga yang terdengar hanyalah suara laki-laki itu saja “ Berjongkok kau,
kecoak. “ “ Jangan harapkan aku berjongkok dan minta maaf, karena aku tidak
merasa bersalah. Justru kau yang harus berjongkok dan minta maaf kepada orang
sepasar ini, karena tingkah lakumu itu. “ Laki-laki itu tidak dapat menahan diri
lagi. Selangkah demi selangkah ia bergeser mendekati Paksi yang sudah siap
menghadapinya. Orang-orangpun bergeser semakin jauh. Demikianlah, maka sejenak
kemudian, orang yang garang itu sudah meloncat menyerangnya Tetapi Paksi sudah
siap. Karena itu, maka serangan itu sama sekali tidak menyentuhnya. Bahkan
tongkat Paksipun dengan cepat telah bergetar. Ujungnya sempat menyentuh lengan
lakilaki yang garang itu. Laki-laki itu mengaduh kesakitan., Kemarahannya telah
memuncak sampai keubun-ubunnya. Karena itu, maka dengan tidak ragu-ragu lagi,
orang itu mencabut goloknya yang besar. Orang-orang yang ada disekitarnya
menjadi semakin cemas. Penjual wedang jae yang semula tidak menghiraukan sikap
perempuan penjual tampah itu menjadi sangat cemas. Anak muda yang baru saja
membeli makan dan minum itu menurut pendapatnya adalah anak muda yang baik. Jika
laki-laki itu benar-benar tidak dapat mengendalikan dirinya, maka goloknya itu
akan dapat membunuh anak muda itu. Tetapi tidak seorangpun yang berani
mencegahnya. Lurah pasar yang sudah diberitahu akan peristiwa itu berlari-lari
mendekat. Namun melihat laki-laki yang garang itu, hatinya telah menciut.
Meskipun demikian, Lurah pasar itu mencoba untuk melerainya. “ Berhenti,
berhenti “ Lurah pasar itu berteriak. Tetapi laki-laki yang garang itu
membentaknya “ Jangan ikut campur. “ “ Tetapi jangan berkelahi di dalam pasar. “
“ Diam “ teriak laki-laki yang garang itu. Ternyata Lurah pasar itu terdiam.
Tetapi betapa tegangnya wajahnya menyaksikan perkelahian yang berlanjut itu.
Sejenak kemudian laki-laki yang garang itu telah memutar goloknya sambil
berjalan mendekati anak muda yang membawa tongkat sepotong dahan kayu yang
berwarna kehitam-hitaman itu. Laki-laki itu memang tidak mengendalikan dirinya
lagi. Sejenak kemudian, goloknya telah terayun-ayun mengerikan. “ Jangan melawan
anak muda. Berjongkoklah untuk minta ampun. “ Lurah pasar itu berteriak. Tetapi
Paksi justru menjawab “ Laki-laki seperti ini harus mendapat peringatan. “
Tetapi Paksi harus bergeser surut ketika golok yang terayun-ayun itu menebas
kearah lehernya. Laki-laki garang itu menjadi semakin marah ketika goloknya
terayun tanpa menyentuh sasaran. Tetapi tongkat anak muda itu justru telah
terjulur lurus. Sambil mengelakkan serangan lawannya Paksi sempat menyentuh
perut laki-laki itu dengan ujung tongkat. Laki-laki itu mengumpat kasar.
Perutnya memang terasa sakit oleh sodokan tongkat anak muda itu. Karena itu,
maka iapun telah bergeser surut. Tetapi Paksi benar-benar ingin membuatnya jera.
Karena itu, maka ia segera memburunya. Sebelum orang itu sempat memperbaiki
kedudukannya, Paksi telah menyerangnya pula. Sekali lagi tongkatnya mengenai
laki-laki yang garang itu. Paksi telah mendorong laki-laki itu pada pundaknya.
Lebih kuat dari sebelumnya. Ternyata bahwa bagi Paksi yang telah menempa
dirinya, laki-laki yang ujudnya garang itu bukan apa-apa. Tanpa harus
mengerahkan tenaganya, Paksi telah mendorong laki-laki itu sehingga kehilangan
keseimbangan. Laki-laki yang garang itu jatuh terlentang. Hampir saja goloknya
melukai tubuhnya sendiri. Ternyata laki-laki yang garang itu hanya mengandalkan
kekuatannya saja. Ia tidak memiliki dasar-dasar olah kanuragan yang baik. Karena
itulah, maka Paksi sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk mengalahkannya.
Ketika laki-laki yang garang, yang jatuh terlentang itu berusaha untuk bangkit,
maka ujung tongkat Paksi telah menekan lehernya, sehingga laki-laki itu harus
mengurungkan niatnya. “ Aku dapat melubangi lehermu dengan tongkatku ini “ ancam
Paksi. Wajah laki-laki itu menjadi tegang. Ketika ujung tongkat itu semakin
menekan lehernya, maka orang itu menjadi tersengal-sengal. “ Aku tidak berniat
membunuhmu “ berkata Paksi “ meskipun jika aku berniat, aku dapat melakukannya
dengan mudah. “ Orang itu memandang Paksi dengan mata yang bagaikan membara.
Tetapi ia benar-benar tidak dapat berbuat sesuatu. “ Kau harus minta ampun
kepada orang-orang sepasar. Terutama kepada perempuan yang telah kau sakiti.”
Laki-laki itu tidak segera menjawab. Matanya menjadi semakin menyala. Tetapi
ujung tongkat Paksi menekan leher itu lebih keras lagi sehingga nafas orang itu
rasa-rasanya hampir terputus karenanya. “ Katakan, kau bersedia atau tidak? “
Orang itu masih merasa ragu. Baru ketika nafasnya benar-benar tersumbat, ia
berkata dengan gagap dan kata-katanya menjadi tidak jelas “ Baik. Baik. Aku akan
minta maaf. “ Tongkat Paksipun kemudian mulai merenggang dari lehernya. Tetapi
sekali lagi Paksi masih berkata “ berjanjilah. “ “ Ya. Aku berjanji “ sahut
laki-laki itu. Paksipun kemudian mengangkat tongkatnya. Laki-laki yang garang
itu seakan-akan menjadi tidak berdaya lagi di hadapan anak muda yang bersenjata
tongkat itu. “ Cepat. Kau harus minta maaf. Perempuan yang kau sakiti itu masih
duduk disana. “ Laki-laki itu termangu-mangu sejenak. Ketika ia memandang
berkeliling, dilihatnya berpasangpasang mata sedang menatapnya. Laki-laki,
perempuan dan bahkan anak-anak. Sementara itu isterinya sendiri berdiri sambil
menggigil seperti orang kedinginan. Ia tidak pernah memikirkan bahwa pada suatu
saat suaminya dikalahkan oleh seseorang. Apalagi seorang anak yang masih terlalu
muda. Tetapi adalah satu kenyataan, bahwa suaminya sama sekali sudah tidak
berdaya. Bahkan anak muda itu telah memaksa suaminya untuk minta maaf kepada
perempuan yang tadi bertengkar dengannya, karena perempuan itu menawar
dagangannya. Tetapi laki-laki yang garang itu tidak dapat berbuat lain. Ia
sadar, bahwa anak muda yang dengan cepat dapat mengalahkannya itu adalah anak
muda yang berilmu tinggi. Apapun yang dilakukannya, ia tidak akan dapat
mengalahkannya. Betapapun berat perasaannya, tetapi laki-laki itu tidak mengelak
ketika ia digiring oleh Paksi melangkah mendekati perempuan yang mulutnya
berdarah itu. “ Aku minta maaf, mbokayu “ desis laki-laki itu. Ternyata
perempuan itu bukan pendendam. Katanya “ Baiklah. Tetapi aku minta kau tanyakan
kepada isterimu, apa yang telah terjadi. Jika isterimu masih bersikap seperti
itu, maka pertengkaran-pertengkaran masih akan terjadi. “ Laki-laki itu
mengangguk kecil. Sementara Paksi berkata “ Rumahku tidak terlalu jauh dari
pasar ini. Aku akan dapat melihat setiap kali, apakah suami isteri ini sudah
berubah atau tidak. “
“ Aku berjanji “ desis
laki-iaki itu.
Isterinya sama sekali
tidak berkata apapun selain menggigil. Tetapi kekalahan suaminya itu merupakan
pengalaman batin yang sangat berarti baginya. Ia kemudian menyadari, bahwa
suaminya bukannya orang yang tidak terkalahkan. Pada suatu saat ada orang lain
yang ilmunya melampaui ilmu suaminya itu. Dalam pada itu, orang-orang yang
berdiri dengan tegang disekitar arena perkelahian itu menarik nafas lega. Mereka
melihat anak muda yang membawa tongkat itu tidak mengalami kesulitan apapun,
sementara laki-laki yang garang itu nampaknya memang sudah jera. Dalam pada itu,
Paksi masih belum beranjak dari tempatnya. Ketika ia melihat orang-orang yang
ada disekitar arena itu satu-satu kembali ke tempatnya, maka Paksipun berkata
kepada perempuan yang mulutnya berdarah itu “ Sudahlah. Tinggalkan tempat ini.
Aku akan mengantar bibi pulang jika bibi menghendaki. “ Tetapi perempuan itu
menggeleng. Katanya “ Terima kasih anak muda. Biarlah aku pulang sendiri. “
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Perempuan itu nampaknya memang seorang yang
berani. Tetapi iapun agaknya yakin, bahwa laki-laki yang garang itu benar-benar
akan berubah. “ Jika demikian, baiklah. Aku minta diri “ berkata Paksi kemudian.
Ketika Paksi meninggalkan tempat itu, maka anak muda itu telah menjadi pusat
perhatian. Tetapi Paksi sendiri tidak begitu menghiraukannya. Ia berjalan saja
sambil menjinjing tongkat kayunya menuju ke pintu gerbang. “ Anak siapakah ia? “
bertanya seseorang. “ Darimana aku tahu “ sahut kawannya yang berjualan
didekatnya. “ Alangkah bangganya orang tuanya. Anak muda yang tampan, lembut
tetapi juga dapat menjadi sekeras batu hitam. Penolong dan nampaknya juga rendah
hati. “ Ya “ sahut penjual wedang jae “ baru saja ia minum dan makan nasi
bungkus diwarungku. “ “ Mungkin ia tidak mempunyai cukup uang untuk membeli
makan dan minuman di kedai-kedai yang lebih mahal. “ Penjual wedang jae itu
mengangguk-angguk. Nasi bungkus yang dibeli oleh Paksi memang nasi bungkus
dengan lauk yang sederhana saja. Oseng-oseng kangkung. Dalam pada itu, Paksi
telah berjalan semakin jauh. Ia telah berada di bulak panjang. Ditatapnya sebuah
padukuhan di hadapannya. Tidak ada yang menarik perhatian. Padukuhan itu ujudnya
sama saja dengan padukuhan-padukuhan yang lain. Tetapi dibelakang padukuhan itu
Paksi melihat gunung yang menjulang. Dari puncaknya mengepul asap yang membubung
tinggi. Gunung Merapi. Paksi memang tidak memperkirakan bahwa bintang itu telah
jatuh di lereng Gunung Merapi. Tetapi karena orang yang mengaku bernama Marta
Brewok itu, maka ia telah terdorong untuk menyusuri jalan-jalan di kaki Gunung
Merapi. Paksi memandang puncak Gunung Merapi yang biru. Meskipun gunung itu
seakan-akan sudah berdiri didepan hidungnya, namun Paksi menyadari, bahwa gunung
itu masih jauh. Kaki Paksi sudah merasakan bahwa jalan mulai condong. Sedikit
demi sedikit Paksi berada ditempat yang semakin tinggi. Ketika ia melewati
padukuhan di hadapannya, maka ia tidak melihat sesuatu yang lain pada padukuhan
itu. Jalan induk. Dinding halaman dan rumah-rumah seperti rumah kebanyakan di
padukuhan-padukuhan yang lain. Karena itu, maka Paksi tidak banyak menaruh
perhatian terhadap padukuhan itu. Namun ketika ia merasa haus, maka ia telah
berhenti didepan sebuah rumah yang kecil dan condong, berdinding bambu dan
beratap ilalang. Namun disebelah regol halaman rumahnya tersedia sebuah gentong
yang besar berisi air bersih, yang. disediakan bagi orang-orang yang kehausan di
perjalanan. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Di Pajang, jarang sekali orang
menyediakan gentong berisi air bersih didepan rumahnya, meskipun ada juga satu
dua. Tetapi di pade-saan-padesaan yang jauh dan dihuni oleh orang-orang yang
sederhana, maka ditemuinya lebih banyak persediaan air minum bagi orang-orang
yang kehausan diperjalanan. Ketika Paksi meneguk air yang dingin .itu, terasa
tubuhnya menjadi segar. Sekilas teringat seorang gadis yang membawa kelenting
dilambungnya mengisi gentong yang isinya tinggal sedikit. Paksi sempat melihat
kehalaman rumah itu lewat pintu regol dari bambu yang terbuka. Halaman itu
nampak sepi meskipun pintu rumah bambu itu terbuka. Yang nampak di halaman
hanyalah beberapa ekor ayam yang berkeliaran. Sejenak kemudian, maka Paksipun
telah meneruskan perjalanannya. Ketika ia sampai dimulut jalan padukuhan, maka
kembali ia berada diujung sebuah bulak yang panjang. Jalan di hadapannya menjadi
semakin nampak menanjak naik. Namun disebelah menyebelah jalan terdapat parit
yang mengalirkan air yang jernih. Sawah dibulak yang bertingkat-tingkat seperti
sebuah tangga raksasa itu nampak hijau oleh tanaman batang padi yang subur.
Dipematang ditanam batang kacang panjang yang tersangkut pada lanjaran carang
bambu yang ditanam rapat. Langkah Paksipun terasa menjadi semakin berat. Tetapi
ia berjalan terus. Padukuhan demi padukuhan telah dilaluinya. Jalan menjadi
semakin memanjat naik, disana-sini mulai nampak gumuk-gumuk kecil yang ditumbuhi
batang-batang perdu yangrimbun.Bahkan kemudian pohon-pohon yang lebih besar
tumbuh rapat dihutan lereng pegunungan. Paksi akhirnya tertegun. Ia menjadi
ragu. Jika ia berjalan terus, maka ia akan sampai ketebing pegunungan yang lebih
curam. Jalan akan semakin menanjak, sehingga akhirnya ia harus memanjat tebing
Gunung Merapi. “ Apa yang aku cari disana? “ pertanyaan itupun timbul dihati
Paksi. Namun sebuah keinginan telah mendorongnya untuk sampai ke sebuah gumuk
kecil yang berada tidak jauh dari jalan yang dilaluinya. Jalan yang semakin lama
menjadi semakin sempit, sehingga akhirnya menjadi tidak lebih dari jalan setapak
yang rumpil karena batu-batu padas. Paksipun akhirnya sampai ke sebuah gumuk
yang tidak begitu besar. Diatas gumuk itu tumbuh pohon perdu yang rapat
seakan-akan tidak dapat disibak. Beberapa batang pohon raksasa tumbuh pula
diantara pohon perdu yang menghutan itu. Ditubuh gumuk itu merembes air dari
sela-sela batu padas yang sebongkoh-sebongkoh mencuat keatas permukaan tanah,
disela-sela hutan perdu yang rimbun itu. Air itupun mengalir masuk kedalam
sebuah parit kecil yang mengantarnya masuk kedalam parit yang lebih besar.
Paksipun kemudian berdiri termangu-mangu. Ditatapnya gumuk yang kecil itu. Namun
betapapun kecilnya, gumuk itu bagaikan sebuah tempurung raksasa yang
menelungkup. Tetapi pada gumuk itu tidak terdapat apapun yang menarik perhatian
Paksi. Meskipun demikian, Paksi tidak segera pergi. Ia sudah berjalan jauh.
Karena itu, maka Paksipun kemudian telah duduk didekat gumuk kecil itu untuk
melepaskan lelahnya. Sambil memandangi gumuk kecil itu, Paksi duduk bersandar
sebatang pohon. Tongkat kayunya terletak di pangkuannya. Sambil mengamati
pepohonan yang ada di gumuk itu, Paksi mulai merenung. Bahkan kemudian ia mulai
menyesal, kenapa ia telah menuruti dorongan perasaannya untuk melangkah kearah
bintang yang semalam seakan-akan jatuh, meskipun ia sadar sepenuhnya bahwa hal
itu tidak mungkin terjadi. Beberapa saat kemudian, maka Paksipun menyadari bahwa
ia tidak akan dapat berada ditempat itu terlalu lama. Jika malam turun,
hendaknya ia sudah berada di sebuah padukuhan. Jika diperkenankan, maka ia akan
dapat bermalam disebuah banjar padukuhan itu. Ketika perasaan letihnya sudah
berkurang, maka Paksipun segera bangkit berdiri. Niatnya sudah bulat untuk
meninggalkan gumuk itu dan kembali ke padukuhan. ”Aku masih harus berusaha
menyelesaikan tugasku “ berkata Paksi. Namun Paksi tidak lagi menganggap
bebannya terlalu berat. Jika ia gagal, biarlah ia berkata gagal kepada ayahnya,
karena segala sesuatunya tidak jelas baginya. Namun kemudian, pengembaraan itu
sendiri mulai menarik baginya. Meskipun demikian ia tidak dapat melupakan
pendapat beberapa orang, bahwa pengembaraan bukan pilihan terbaik baginya. Masih
banyak kesempatan lain yang dapat membantu meningkatkan pengalaman dan
pengetahuannya. Paksi berdiri tegak memandangi gumuk dikaki Gunung Merapi itu.
Kemudian iapun mulai melangkah turun. Tetapi langkah Paksi tertegun. Tiba-tiba
saja ia mendengar suara tertawa. Semakin lama semakin keras. Paksi
termangu-mangu sejenak. Diedarkannya pandangan matanya kesekeiiiingnya untuk
mencari sumber suara tertawa itu. Tetapi ia tidak segera menemukannya. Sementara
itu suara tertawa itu bergulung-gulung berputaran. Gemanya yang mengumandang
membuat Paksi semakin sulit untuk menemukan, siapakah yang telah tertawa
demikian kerasnya. Bahkan semakin lama suara tertawa itu rasa-rasanya semakin
menusuk telinganya, menyusup dan mengguncang isi dadanya. Paksi mencoba
bertahan. Tetapi suara tertawa itu semakin menyakiti jantungnya. Bahkan akhirnya
Paksi tidak tahan lagi, sehingga iapun telah berjongkok sambil menutup kedua
belah telinganya. Paksi menyadari, bahwa tenaga dalam orang yang tertawa itu
demikian besarnya, sehingga Paksi tidak dapat mengatasinya dengan tenaga
dalamnya. Karena itu, maka suara tertawa itu telah menyakitinya. Gema yang
memantul di lereng gunung itupun masih juga memuat getar tenaga dalam yang
sangat kuat, sehingga karena itu, maka dada Paksi terasa menjadi semakin sakit
dan sesak. Tetapi suara tertawa itupun mulai surut. Getaran tenaga dalam itu
tidak lagi menggoncang isi dada Paksi. Karena itu, maka Paksipun mulai
melepaskan telinganya. Dengan hati-hati ia mulai bangkit berdiri bertelekan pada
tongkat kayunya. Demikian ia berdiri, maka didengarnya suara memanggil namanya “
Paksi, Paksi Pamekas. “ Paksi memandang berkeliling. Ketika ia mendengar lag|
namanya dipanggil, maka Paksipun mulai mengetahui arah dari suara itu. Ketika
Paksi memandang kearah gumuk kecil itu, maka iapun terkejut. Ia melihat
seseorang berdiri diatas dahan sebatang pohon yang besar. Orang itu melambaikan
tangannya sambil memanggilnya “ Paksi, aku disini. “ Wajah Paksi menjadi tegang.
Ia tidak dapat memandang wajah orang itu dengan jelas. Kecuali orang itu berdiri
di jarak yang agak jauh, apalagi diatas dahan sebatang pahon yang besar, orang
itu juga mengenakan sebuah caping petani yang lebar diatas ikat kepalanya.
Meskipun demikian, Paksi dapat mengenali bahwa orang itu berjambang, berkumis
dan berjanggut lebat. “ Ki Marta Brewok “ desis Paksi “ kenapa tiba-tiba saja ia
berada disini? “ Dalam pada itu, orang yang berdiri diatas dahan sebatang pohon
yang besar itupun berteriak lantang “ Paksi. Jangan pergi. Kau sudah sampai
ditempat tujuan, arah bintang yang bercahaya kebiruan itu jatuh. Paksi kau telah
melihat ndaru. Karena itu, kau termasuk seorang anak muda yang beruntung. “
Paksi memandang orang itu dengan tajamnya. Sementara itu, langitpun mulai
menjadi suram. Cahaya senja yang kemerah-merahan mewarnai uncak Gunung Merapi,
seakan-akan puncak itu telah membara. Paksi tidak beranjak dari tempatnya. Orang
yang berada diatas dahan itu menjadi semakin kabur. Paksi tidak dapat melihat
dengan jelas, baaimana orang itu kemudian seakan-akan meluncur turun. Paksi
berdiri termangu-mangu. Orang yang memanggil namanya itu seolah-olah telah
hilang ditelan gerumbul-gerumbul perdu dibawah pohon raksasa itu. Namun kemudian
orang itu telah muncul di sisi gumuk kecil itu sambil memanggilnya “ Paksi. Aku
ingin mempersilahkan kau singgah. “ Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya “ Apakah aku berbicara dengan Ki Marta Brewok? “ “ Ya. Kau benar “ sahut
orang itu. “ Kenapa Ki Marta Brewok telah menipuku? “ Orang itu tertawa. Katanya
“ Bukan maksudku. Tetapi ketika aku melihat ndaru dilangit dan kemudian
melihatmu berdiri didepan gubug itu. Aku menjadi tertarik kepadamu. Seakan-akan
kau memang dipersiapkan untuk datang kepadaku seperti sekarang ini. Karena itu,
maka kau tidak akan dapat lari lagi dari tanganku. “ “ Untuk apa Ki Marta Brewok
mengharapkan kehadiranku disini sekarang ini? “ Orang yang menyebut dirinya
Marta Brewok itu tertawa. Katanya “ Aku memang memerlukan seorang anak muda. Aku
adalah utusan dari seorang Resi yang mumpuni, yang sedang membangun sebuah
padepokan yang paling besar di tanah ini. Tetapi di bawah bangunan utama dari
padepokan itu harus ditanam korban. Seorang anak muda yang memiliki
keberuntungan. Dan aku telah menemukan kau Paksi. Kau adalah anak muda yang
mempunyai keberuntungan yang besar. Tetapi sekaligus kau adalah anak muda yang
malang, karena kau harus menjadi korban. Tubuhmu akan ditanam dibawah bangunan
utama padepokan yang terbesar itu sebagai tumbal. “ Paksi memandang orang yang
wajahnya hampir tertutup oleh jambang, kumis dan janggutnya itu dengan tajamnya.
Tiba-tiba saja Paksi telah menimang tongkatnya. Dengan nada dalam ia menjawab “
Ki Marta Brewok. Kau kira seseorang itu akan demikian saja menyerahkan
nyawanya?“ Tetapi Marta Brewok itu tertawa. Katanya “ Apa yang akan kau lakukan?
Melawan? Kau kira tongkat kayumu itu berarti bagimu. “ “ Ki Marta Brewok. Aku
tidak merasa mempunyai persoalan denganmu. Tetapi sudah tentu bahwa aku akan
mempertahankan diriku jika kau berniat buruk atasku. “ Marta Brewok itu
melangkah mendekat. Langit menjadi semakin muram. Senjapun menjadi semakin
gelap. “ Aku nasehatkan kepadamu, agar kau tidak berusaha melawan, karena yang
akan kau lakukan itu tentu akan sia-sia. Bahkan aku akan menjadi semakin garang,
sehingga sebelum kau menjadi tumbal dan tubuhmu ditanam dibawah bangunan utama
padepokan itu, kau akan mengalami kesulitan. “ Paksi mencoba untuk mengamati
wajah orang yang mengaku bernama Marta Brewok itu. Namun apa yang dapat
dilihatnya adalah wajah yang hampir tertutup oleh jambang, kumis dan janggutnya.
Capingnya yang lebar itu juga telah membayangi wajah yang gelap itu. “ Ki Marta
Brewok “ berkata Paksi “ ketika Ki Marta Brewok menganjurkan aku menuju kearah
bintang itu menghilang, aku tidak mengira bahwa niat Ki Marta Brewok itu jahat.
Bahkan ketika aku berbicara dengan Ki Ponang, pemilik sawah itu, aku masih belum
menduga apa yang akan Ki arta Brewok lakukan. Aku hanya merasa bahwa Ki Marta
Brewok telah berbohong. Tetapi ternyata bahwa Ki Marta Brewok mempunyai niat
yang jahat. “ “ Terserahlah, apa yang akan kau katakan tentang aku “ berkata
orang itu “ yang penting aku dapat melaksanakan tugasku dengan baik. Tugas yang
diberikan oleh Resi Jamur Akik. “ Wajah Paksi menjadi semakin tegang. Sementara
itu Ki Marta Brewokpun berkata “ Sudahlah. Menyerahlah. Tidak ada gunanya kau
melawan. Dengan Aji Gelap Ngamparku itu, kau sudah tidak berdaya. Apalagi jika
aku mempergunakan beberapa jenis ilmuku yang lain. Dengan Aji Rog-rog
Asem,jantungmu1a.kaniruntuhdidalam dadamu. Dengan Aji Lebur Seketi, tubuhmu akan
menjadi debu. Tetapi tentu aku tidak akan mempergunakannya, karena aku memang
memerlukan tubuhmu. “ “ Aku tidak peduli, Aji apapun yang akan kau pergunakan.
Kematian seseorang tidak ditentukan oleh jenis-enis Aji apapun. Jika saat itu
datang, apapun yang terjadi, akan terjadi. Kalau aku harus mati disini, biarlah
itu terjadi. “ “ Kau sangat menjengkelkan “ berkata Ki Marta Brewok “ kau tidak
nampak takut dan cemas. Sikap itu akan dapat berakibat buruk bagimu. “ Tetapi
Paksi tidak menghiraukannya. Paksi justru mempersiapkan dirinya menghadapi
segala kemungkinan. Orang yang menyebut dirinya Marta Brewok itupun melangkah
semakin dekat. Dengan geram ia berdesis “ Baiklah Paksi. Jika kau memang ingin
melawan, melawanlah. Aku memang ingin melihat, apa yang dapat kau lakukan untuk
melindungi dirimu sendiri. “ Paksi tidak menjawab. Tetapi ketika orang
berjambang, berkumis dan berjanggut lebat itu mendekatinya, maka Paksi mulai
memutar tongkatnya. Marta Brewok itu bergeser setapak surut. Namun kemudian ia
mulai menyerang dengan cepat, menyusup diantara putaran tongkat Paksi. Beberapa
saat keduanya bertempur. Tongkat Paksi berputaran dengan cepatnya. Sekali-sekali
terayun menebas. Namun kemudian mematuk dengan cepat kearah dada. Meskipun
demikian, tongkat Paksi tidak segera dapat menyentuh lawannya. Marta Brewok
mampu bergerak lebih cepat dari ayunan tongkat Paksi, sehingga serangan-serangan
Paksi sama sekali tidak dapat menyentuhnya. Tetapi Paksi tidak cepat
berputus-asa. Selapis demi selapis, Paksi meningkatkan ilmu yang pernah
diterimanya selama ia berguru di Pajang. Namun lawannyapun telah meningkatkan
ilmunya pula. Ketika tongkat Paksi bergerak semakin cepat, maka orang itu
berloncatan semakin cepat pula. Bahkan tubuhnya seolah-olah menjadi semakin
ringan. Loncatan-loncatan yang cepat dan kadang-kadang membingungkan
kadangkadang membuat Paksi tertegun. Sementara itu, ujung malam telah
menyelimuti kaki Gunung Merapi itu. Gumuk kecil itupun telah disaput oleh warna
kelam. Marta Brewok semakin lama menjadi semakin garang. Tenaganya seakan-akan
menjadi semakin bertambah-tambah. Dengan tidak ragu-ragu Marta Brewok itu telah
menangkis dan bahkan kadang-kadang membentur tongkat Paksi dengan tangannya
tanpa mengalami kesakitan. “ Apakah tangannya terbuat dari besi? “ pertanyaan
itu tumbuh didalam hati Paksi. Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin
sengit. Paksi kadang-kadang menjadi kebingungan karena kehilangan lawannya.
Loncatannya menjadi semakin tinggi dan cepat. Sekalisekali orang itu melenting
tinggi, namun kemudian menjatuhkan diri dan berguling dengan cepat, berputar dan
kemudian melenting bangkit ditempa t yang jauh. Pertempuran itu berlangsung
terus. Ketika malam menjadi semakin malam, maka seranganserangan Marta Brewok
rasa-rasanya justru menjadi semakin cepat dan semakin kuat. Tenaga Marta Brewok
seolah-olah justru menjadi semakin besar saat keringat Paksi sudah membasahi
seluruh tubuhnya. Ketika kemudian Paksi sampai pada puncak kemampuannya, maka
pertempuran itu menjadi semakin sengit. Tongkat Paksi berputaran dengan
cepatnya, seakan-akan menjadi segumpal kabut hitam yang bergulung-gulung
di-sekitar tubuhnya. Setiap kali kabut itu melibat kearah lawannya. Namun dengan
tangkas pula, Marta Brewok selalu berhasil menghindar atau justru membentur
serangan-serangan Paksi. Bahkan kemudian serangan-serangan Marta Brewok itulah
yang mulai menembus pertahanan Paksi, justru saat Paksi berusaha menghentakkan
kemampuannya sampai kepuncak. Paksi berdesah tertahan ketika kaki Marta Brewok
mengenai lambungnya. Serangan itu demikian kuatnya, sehingga Paksi telah
terdorong beberapa langkah surut. Dengan mengerahkan daya tahan tubuhnya, Paksi
berusaha mengatasi rasa sakitnya. Bahkan tongkatnya telah berputar kembali
dengan cepatnya. ? Tetapi serangan Marta Brewok itu datang susul menyusul.
Ketika Paksi gagal menyerang kearah lambung lawannya, Paksi berusaha memutar
tongkatnya mengayunkannya menebas kearah kening. Tetapi lawannya dengan cepat
merendah. Bukan sekedar menghindari serangan Paksi, tetapi sambil menjatuhkan
dirinya, Marta Brewok telah menggunting kaki Paksi. Demikian cepatnya, maka
Paksi tidak sempat mengelakkannya. Tubuh Paksi bagaikan dilibat oleh kekuatan
yang sangat besar sehingga Paksi itupun terpelanting oleh putaran kaki lawannya.
Tetapi Paksi tetap menyadari apa yang telah terjadi. Paksi yang terbanting itu
justru berguling beberapa kali. Namun tongkatnya masih tetap didalam
genggamannya. Sekejap kemudian Paksi sudah bangkit dan melenting berdiri. Pada
saat yang bersamaan Marta Brewok tengah meloncat menyerang dadanya dengan
juluran kakinya. Tetapi Paksi dengan cepat meloncat kesamping. Demikian kakinya
menyentuh tanah, maka tongkatnya-pun telah terayun dengan derasnya, mengarah ke
lutut sebelah kaki lawannya yang dipergunakannya untuk bertumpu. Tetapi Paksi
terkejut. Tongkatnya sama sekali tidak menyentuh kaki lawannya. Dengan
tangkasnya Marta Brewok meloncat tinggi-tinggi, kemudian berputar diudara dan
jatuh tegak pada kedua kakinya. Paksi menggeram marah. Tetapi lawannya justru
berdiri tegak dengan tangan bertolak pinggang. Terdengar Marta Brewok itu
tertawa. Katanya disela-sela suara tertawanya “ Aku belum mempergunakan
jenis-jenis ilmuku yang akan dapat melumatkan jantungmu. Karena itu, hentikan
saja perlawananmu yang sia-sia. Paksi tidak menghiraukannya. Ia justru meloncat
menyerang sambil memutar tongkat kayunya. Dengan demikian, maka pertempuranpun
telah berlangsung lagi. Semakin lama menjadi semakin sengit. Dalam pada itu,
Paksi yang telah mengerahkan segenap tenaga, kekuatan dan kemampuannya itu,
mulai merasa betapa tenaganya mulai menyusut. Putaran tongkatnya mulai
mengendor. Kecepatan gerakannyapun mulai menurun. sementara itu, lawannya masih
tetap segar sebagaimana pertempuran itu dimulai. Paksi mulai merasa bahwa ia
sudah melewati puncak kemampuannya. Marta Brewok itu seakan-akan mengetahui
kegelisahan yang mulai mencengkam jantung Paksi. Karena itu, maka Marta Brewok
itu berkata “ Nah, anak muda. Apakah kau masih akan melawan? “ Tetapi jawaban
Paksi tegas “ Aku tidak akan pernah menyerah apapun yang terjadi. Kematian
adalah batas akhir dari sebuahlperjtianganuntuk mempertahankan diri. Dan itu
sama sekali tidak menakutkan aku. “ “ Anak iblis kau. Kau terlalu sombong Paksi.
Kau akan menyesali kesombonganmu itu. “ “ Aku tidak pernah berniat untuk
menyombongkan diri. Tetapi itu adalah sikapku. “ “-Bagus, bersiaplah. Aku sudah
memberikan kesempatan yang terakhir. Jika kesempatan itu kau sia-siakan, maka
aku akan benar-benar menghancurkan kesombonganmu sebelum tubuhmu ditanam sebagai
tumbal dibawah bangunan induk padepokan yang akan didirikan oleh Resi Jamur
Akik. “ Paksi sama sekali tidak menjawab. Tetapi Paksi telah mempersiapkan diri
sebaik-baiknya. Sesaat kemudian, maka perterripuranpun telah kembali menyala.
Paksi telah mengerahkan kemampuannya yang tersisa. Namun bagaimanapun juga,
serangan-serangannya tetap tidak dapat menembus pertahanan lawannya. Bahkan
serangan-serangan Marta Brewok itu semakin sering menyentuh tubuhnya. Semakin
lama tenaga Paksipun menjadi semakin menyusut, sementara lawannya menjadi
semakin garang. Karena itu, maka perlawanan Paksipun semakin lama menjadi
semakin tidak berarti. Beberapa kali serangan lawannya sempat melemparkan Paksi
beberapa langkah surut. Bahkan ketika tangan Marta Brewok mengenai keningnya,
Paksi telah terbanting jatuh. Meskipun demikian, Paksi yang berguling mengambil
jarak itupundengancepat bangkit. Tongkatnya masih tetap didalam genggamannya.
Tetapi demikian ia berdiri, maka lawannya telah meloncat menyerangnya. Tangannya
terjulur lurus kearah dadanya. Dalam keadaan yang semakin lemah, Paksi masih
mencoba untuk tetap bertahan. Demikian Marta Brewok meloncat menyerang, maka
Paksipun berdiri tegak sambil mengacukan tongkatnya tepat kearah dada lawannya
yang bergerak maju. Paksi berdiri diatas kedua kakinya yang sedikit merendah
pada lututnya dengan sedikit menarik kaki kanannya kebelakang. Marta Brewok yang
menyangka bahwa Paksi sudah menjadi semakin lemah justru terkejut. Tubuhnya yang
meluncur deras itu menggeliat. Namun ujung tongkat Paksi masih juga mengenai
lambungnya. Serangan Marta Brewok memang terhenti. Bagair manapun juga, patukan
ujung tongkat Paksi di lambungnya itu terasa sakit. Tetapi dalam pada itu, Paksi
telah terdorong beberapa langkah surut. Namun Paksi masih mampu mempertahankan
keseimbangannya. Marta Brewok yang kesakitan itu menggeram. Dengan kemarahan-
yang menyala ia berkata dengan suara bergetar “ Setan kecil. Kau menyakiti
lambungku. Karena itu, aku akan segera mengakhiri pertempuran ini.” Paksipun
segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Tetapi Paksi tidak dapat mengingkari
kenyataan, bahwa tenaganya sudah semakin menyusut. “ Bangkitlah “ geram Marta
Brewok “ jangan cengeng. Kau baru bertempur seujung malam. Belum sampai tengah
malam. Ketika aku masih semuda kau, aku dapat bertempur sehari semalam tanpa
berhenti. Sekarang, diumurku yang semakin tua, aku justru sanggup bertempur tiga
hari tiga malam. “ Paksi menggeram. Tetapi tenaganya memang sudah benar-benar
menyusut. Marta Brewok tidak menyambung kata-katanya, tetapi ia mulai menyerang
kembali dengan garangnya. Ketika serangan Marta Brewok menembus pertahanan Paksi
dan langsung mengenai pundaknya, maka tubuh Paksi itu seakan-akan telah diputar
sekali. Paksi terhuyung-huyung. Ia mencoba untuk mempertahankan keseimbangannya.
Tetapi Marta Brewok telah meloncat lagi. Ketika tubuhnya berputar dengan satu
ayunan kaki yang keras tepat mengenai dada Paksi, maka Paksi benar-benar
terlempar dan jatuh terbanting ditanah. Ketika Paksi mencoba untuk bangkit, maka
tubuhnya yang lemah itu terhuyung-huyung. Paksi masih mencoba bertelekan pada
tongkatnya. Namun serangan yang berikut, telah menghantam kening Paksi dengan
kerasnya. Paksi benar-benar terpelanting jatuh. Hanya karena keliatan tubuhnya
sajalah yang menghindarkan kepalanya membentur batu-batu padas. Tetapi ketika
Paksi berusaha untuk bangkit, maka matanya menjadi berkunang-kunang. Kepalanya
terasa sangat pening sementara perutnya menjadi mual. Tetapi Paksi masih juga
memaksa dirinya untuk berdiri. Tongkatnya ikut pula menyangga tubuhnya yang
mulai gontai. Marta Brewok berdiri beberapa langkah dihadapan-nya. Suara
tertawanya meledak mengoyak sepinya malam. “ Nah, apa katamu sekarang? Kau
menyerah? “ Tetapi jawaban Paksi tegas “ Tidak. Aku tidak akan pernah menyerah.
“ “ Kenapa? Bukankah kau sudah tidak berdaya untuk melawan? Atau kau masih
mempunyai Aji Pamungkas yang akan dapat menolong jiwamu? “ “ Aku tidak menyerah
kepada tindak sewenang-wenang. Aku yakini kebenaran perjuanganku mempertahankan
diriku. Karena itu, aku tidak akan pernah bergeser dari sikapku. Aku akan
melawan kesewenang-wenangan-mu apapun yang akan terjadi. “ “ Apa yang akan kau
pergunakan untuk melawan? Seandainya aku sentuh kau dengan jarijariku, kau tentu
sudah roboh. “ “ Aku tidak peduli. “ ” Kau tidak akan dapat membebaskan dirimu.
Kau akan mati. Tubuhmu akan ditimbun dengan tanah dibawah bangunan utama
padepokan Resi Jamur Akik. “ “ Kau dapat membunuhku. Kau dapat mengubur tubuhku
dimanapun kau mau. Tetapi kau tidak dapat membunuh keyakinanku, bahwa
kesewenang-wenangan harus dilawan. “ “ Gila kau. Dalam keadaan seperti itu kau
masih berani berbicara tentang keyakinan. Kau harus melihat kenyataan. Kau tidak
dapat mempertahankan keya-kinanmu itu. “ “ Menurut gelar kewadagan, benar.
Tetapi keyakinan adalah satu sikap jiwani. Kau tidak dapat membunuh jiwaku. “
Marta Brewok menggeram. Katanya “ Bersiaplah untuk menjadi korban. Tubuhmu akan
menjadi tumbal. Tanpa tumbal tubuh seorang anak muda yang memiliki keberuntungan
tetapi juga kemalangan seperti kau, maka bangunan itu tidak akan dapat terwujud
.dan tidak pula akan dapat mempunyai arti. “ “ Aku tidak akan pernah
melakukannya “ jawab Paksi. “ Diam “ bentak Marta Brewok “ jika kau masih
menjawab lagi, aku koyakkan mulutmu. “ “ Lakukan. Tetapi kau tidak akan memakai
tumbal yang cacat. “ Marta Brewok itu menggeram. Tetapi tiba-tiba saja ia
bertanya “ Darimana kau tahu? “ “ Tidak ada korban yang cacat. “ “ Aku dapat
mencari tumbal lain yang lebih baik. “ “ Terserah kepadamu “ geram Paksi. “
Kenapa kau tidak bertanya, tumbal apakah yang lebih baik itu? “ “ Aku sudah
tahu. Maksudmu tentu korban yang tidak cacat. “ “ Kau salah anak muda. Untuk
membuat padepokan itu ada tumbal yang jauh lebih baik. Tetapi mencarinya juga
jauh lebih sulit. “ Paksi tidak menyahut. Ia tidak bertanya, apakah tumbal yang
lebih baik itu. Tetapi Marta Brewok itulah yang memberitahukan kepadanya “ Anak
muda. Tumbal yang lebih baik itu adalah sebuah cincin. “ “ Cincin? “ Paksi
terkejut. Diluar sadarnya ia bertanya “ Cincin apa? “ “ Cincin bermata tiga
butir batu akik. “ Jantung Paksi berdebar semakin cepat. Sementara Marta Brewok
itu berkata “ Nilai cincin bermata tiga butir batu akik itu sama dengan tiga
kali lipat korban yang lain. Tetapi sampai saat ini kami masih belum menemukan
cincin itu. “ Dada Paksi masih berdebaran. Sementara itu, Marta Brewokpun
bertanya “ Apakah kau mengetahui sebuah cincin yang bermata tiga butir batu
akik. Memang tidak biasa, karena pada umumnya cincin hanya bermata sebutir batu
akik saja. “ Paksi menggeleng. Dengan nada rendah ia menjawab “ Tidak. Aku tidak
tahu. “ Marta Brewok mengangguk-angguk kecil. Tetapi iapun kemudian berkata “
Paksi. Aku akan memberikan satu pilihan kepadamu. Jika kau ingin membebaskan
dirimu agar kau tidak menjadi tumbal pembuatan padepokan itu, maka kau harus
dapat menemukan sebuah cincin yang bermata tiga butir batu akik itu. “ Sejenak
Paksi tercenung. Ia menjadi bingung. Seandainya ia dapat menemukan cincin itu,
maka ia harus menyerahkannya kepada ayahnya. Tidak kepada Marta Brewok yang akan
memakai cincin itu sebagai tumbal. Tetapi jika ia tidak menyanggupinya, maka
tubuhnyalah yang akan menjadi tumbal. “ Kenapa kau diam? Kau harus memilih.
Tubuhmu yang akan menjadi tumbal atau kau berusaha menemukan sebuah cincin yang
bermata tiga butir batu akik. “ Paksi termangu-mangu sejenak. Ia menjadi
bingung. Ia dapat saja berbohong untuk sekedar menyelamatkan diri,
setidak-tidaknya menghindar dari Marta Brewok. Tetapi harga diri Paksi telah
mencegahnya. Itu perbuatan yang licik. Untuk menyelamatkan diri Paksi yang harus
berbohong dan berpura-pura. Karena itu, maka Paksi itupun menjawab “ Ki Marta
Brewok. Seandainya aku menemukan cincin yang bermata tiga butir batu akik, aku
tidak akan memberikan kepadamu untuk tumbal pembuatan padepokan itu. “ “ Kenapa?
“ bertanya Marta Brewok “ apakah kau akan mempergunakannya sendiri? “ “ Tidak “
jawab Paksi “ aku akan menyerahkan kepada orang yang lebih berhak dari Resi yang
akan membuat padepokan itu. “ “ Siapa yang lebih berhak itu? “ bertanya Marta
Brewok. “ Kau tidak perlu mengetahuinya. “ Marta Brewok menarik nafas
dalam-dalam. Katanya “ Kau memang luar biasa Paksi. Hatimu keras seperti baja.
Kenapa kau tidak mengiakannya sementara kau mempunyai kesempatan untuk
menghindari kematian. Setidaktidaknya selama kau berusaha mencarinya. “ “ Aku
bukan orang yang licik, yang berlindung dibalik kebohongan dan kepura-puraan
untuk mencari keselamatan. “ “ Paksi “ berkata Marta Brewok “ aku tidak
berkeberatan jika cincin itu nanti kau serahkan kepada yang lebih berhak, kerena
aku tidak memerlukan cincin itu untuk seterusnya. “ “ Jadi bagaimana dengan
tumbal itu? “ bertanya Paksi. “ Aku hanya memerlukan cincin itu selama tiga hari
tiga malam. Aku akan merendamnya didalam air kembang setaman. Nah, airnya itulah
yang kami butuhkan untuk menyiram alas dan bebatur pendapa bangunan utama
padepokan itu. Selanjutnya kau dapat membawa cincin itu kepada yang kau anggap
lebih berhak itu. “ Dahi Paksipun berkerut. Ia tidak mengerti, apa yang
sebenarnya sedang dihadapinya. Ia juga tidak mengerti, kenapa tiba-tiba Marta
Brewok memberinya kesempatan untuk menemukan sebuah cincin bermata tiga butir
batu akik. Cincin yang harus dicarinyadalampengembaraannya itu. “ Paksi “ suara
Marta Brewok merendah “ aku condong untuk memberi kesempatan kepadamu untuk
mencari cincin itu, daripada harus menanam tubuhmu dibawah bangunan utama
padepokan itu. “ Paksi termangu-mangu sejanak. Dengan ragu ia berkata “ Tetapi
sudah aku katakan bahwa aku akan menyerahkan batu akik itu kepada yang berhak.”
“ Aku juga sudah mengatakan bahwa aku hanya memerlukan tiga hari saja. Setelah
itu, terserah kepadamu. “ Paksi masih bimbang. Ia masih merasa sakit diseluruh
tubuhnya. Tiba-tiba saja ia mendapat tawaran yang rasa-rasanya tidak masuk akal.
Karena Paksi tidak segera menjawab, maka Marta Brewok itupun berkata “ Pikirkan.
Apakah kau ingin mati dan dikubur dibawah bangunan utama padepokan yang akan
dibangun itu, atau kelak kau meminjamkan cincin itu selama tiga hari. “ “ Apakah
kau dapat aku percaya? “ bertanya Paksi. Marta Brewok justru tertawa. Katanya “
Kau aneh anak muda. Seharusnya akulah yang bertanya seandainya kau memilih untuk
mencari cincin itu dan kemudian meminjamkan kepadaku tiga hari tiga malam. “
Paksi berpikir sejenak. Tawaran yang tidak diduganya itu telah membuat
jantungnya berdebar semakin cepat. Namun kemudian Paksi itu menjawab “ Baiklah.
Aku akan mencari cincin dengan mata tiga butir batu akik itu. “ “ Bagus “ jawab
Marta Brewok “ jika kau berhasil, maka padepokan itu benar-benar akan menjadi
padepokan yang terbesar di tanah ini. “ “ Tetapi bukankah kau tidak memberikan
batas waktu kepadaku? “ bertanya Paksi. “ Tidak. Tetapi sudah tentu secepatnya.
Demikian kau mendapatkannya, maka kau harus menyerahkannya kepadaku untuk tiga
hari tiga malam. “ “ Dimana aku hurus menemuimu? “ bertanya Paksi. Marta
Brewoklah yang termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya “ Kau harus berada di
alun-alun Pajang. Aku akan menemuimu. “ “ Kenapa alun-alun Pajang? “ bertanya
Paksi. “ Tidak akan ada orang yang memperhatikan kita ditempat yang ramai. “ “
Tetapi bagaimana kau tahu bahwa aku sudah berhasil mendapatkan cincin itu
sehingga kau mencariku ke alun-alun itu? “ “ Aku beri ancar-ancar waktu. Enam
bulan lagi aku akan pergi ke alun-alun Pajang. Jika kau belum berhasil, maka aku
akan datang ke alun-alun itu setiap setengah bulan sekali. Sekali di saat bulan
purnama, dan sekali disaat bulan tanggal pertama. Demikian kau berhasil, maka
kau harus berada di alun-alun itu pada malam-malam yang aku sebutkan itu. “ “
Aku sama sekali tidak dapat mengatakan, berapa lama aku akan berhasil. “ “ Jika
dalam setahun kau belum berhasil, aku akan mencarimu. Mungkin kau memerlukan
bantuan. “ Paksi menjadi semakin bingung menghadapi Marta Brewok. Sikapnya sama
sekali tidak dimengertinya. Namun Paksi itupun menjawab “ Baiklah. Aku akan
berusaha menemukan cincin itu. “ Tetapi yang dikatakan Marta Brewok kemudian
semakin membingungkan Paksi. Katanya “Paksi. Jika kau akan mencari cincin itu,
maka bekalmu tentu masih belum cukup. “ “ Maksud Ki Marta? “ bertanya Paksi. “
Kau harus mempersiapkan dirimu sebaik-baiknya. syarat untuk mendirikan padepokan
terbaik harus terpenuhi. “ “ Jika demikian, aku bersedia, Ki Marta. “ “ Bagus.
Kau harus menempa diri dengan menjalani laku. Kau harus tetap berada disini.
Dimalam hari kau akan berlatih. Disiang hari terserah kepadamu, apa yang akan
kau lakukan. Atau barangkali kau akan pergi kemana saja. Tetapi sebelum senja,
kau harus sudah berada disini lagi.“ “ Berapa lama aku tinggal disini? “ “
Tergantung kepadamu. Kepada niatmu dan kepada kemampuanmu untuk menyadap ilmu
itu.“ Paksi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya orang berjambang, berkumis
dan berjanggut lebat itu dengan tajamnya. Namun Paksi mulai menyesali
kebodohannya. Orang yang dihadapinya itu tentu merupakan salah satu dari
orang-orang aneh yang pernah dan barangkali masih akan dijumpainya lagi
sebagaimana pengemis yang telah memberikan tongkatnya itu, atau orang yang
pernah menyerangnya namun orang itu telah membuka kemungkinan-kemungkinan baru
bagi ilmunya. “ Nah, jika kau bersedia, maka mulai besok kau harus membuat
sebuah gubug di sekitar tempat ini. Kau akan tinggal digubug itu selama kau
menjalani laku. Aku tidak tahu, bagaimana kau akan makan dan minum. Aku tidak
mau tahu bagaimana kau mendapatkan pakaian jika pakaianmu koyak, Yang penting
bagiku, kau harus memiliki bekal ilmu yang cukup untuk memasuki satu dunia yang
keras. Cincin itu diperebutkan oleh orang-orang yang mempunyai berbagai
kepentingan. “ Kau harus menempa diri untuk mematangkan dan mengembangkan
ilmumu. Lebih dari itu, kau harus mempunyai ilmu andalan yang dalam keadaan yang
sulit, dapat kau pergunakan. “ “ Aku tidak mengerti. Jadi apa yang harus aku
lakukan? “ bertanya Paksi. “ Sebelum kau berangkat mencari cincin itu, kau harus
membuat dirimu layak untuk mencarinya. Barangkali kau juga sudah tahu, bahwa
banyak orang yang menginginkan cincin itu. Diantara mereka adalah orang-orang
berilmu tinggi. Karena itu, jika pada satu saat kau memasuki pusaran perebutan
cincin itu, maka kau harus menambah bekalmu. Maksudku, ilmumu harus meningkat.
Paksi mengerutkan dahinya. Hampir diluar sadarnya ia berkata “ Apakah Ki Marta
dapat menunjukkan cara yang dapat aku tempuh, agar ilmuku meningkat? “ “ Aku
dapat memberi jalan jika kau mau. “ “ Jika Ki Marta Brewok bersungguh-sungguh,
tentu aku bersedia. “ jawab Paksi. Namun pada nada suaranya masih terasa betapa
hatinya bimbang. “ Kau masih bimbang. “ desis Marta Brewok. “ Aku sama sekali
tidak bimbang, seandainya aku harus menjalani laku apapun juga. Yang aku
bimbangkan adalah kesungguhan Ki Marta Brewok. Mungkin Ki Marta Brewok sekedar
main-main sebelum aku benar-benar dibenamkan dibawah bangunan utama padepokan
itu. “ “ Aku bersungguh-sungguh, Paksi. Padepokan itu tidak tergesa-gesa. Tetapi
harus benar-benar sebuah padepokan yang terbaik. Seandainya padepokan itu
dimulai setahun lagi, tidak menjadi soal. Yang penting, Paksi mengangguk-angguk
sambil menjawab “ Aku bersedia Ki Marta. “ “ Bagus. Besok malam kita akan mulai.
Kita tidak akan berlatih disini setiap malam. Tetapi dibalik gumuk ini ada
tempat yang lebih baik dan lebih tersembunyi dari tempat ini. Kau dapat
menyesuaikan dirimu, dimana kau akan membuat gubug. Disini tersedia kayu.dan
bambu menurut kebutuhan. Kau dapat membuat tali dari serat daun pandan atau
serat kulit kayu yang lain. “ “ Baik Ki Marta. Besok aku akan mulai. “ “
Sekarang, ikut aku. Aku akan menunjukkan tempat itu. “ Paksi tidak menyahut.
Tetapi iapun kemudian melangkah mengiringi Ki Marta Brewok yang melangkah menuju
ke lekuk yang tidak terlalu dalam disebelah gumuk kecil itu. Meskipun malam
gelap, tetapi mata Paksi yang tajam dapat melihat bayangan Ki Marta Brewok
sehingga Paksi dapat mengikutinya sampai ke balik gumuk kecil itu. Dibalik gumuk
kecil itu memang terdapat sebidang tanah yang agak lapang. Meskipun disanasini
juga ditumbuhi pohon-pohon perdu, namun diatas tanah itu tidak terdapat
sebatangpun pohon yang besar sebagaimana terdapat di atas gumuk kecil itu atau
di hutan yang lebat dilereng Gunung Merapi. “ Inilah sanggar kita “ berkata
Marta Brewok “ tanah ini datar dan agak lapang. Besok kita dapat membersihkan
dan mempersiapkan segala-galanya. “ “ Baik, Ki Marta “ sahut Paksi. “ Sebelumnya
aku ingin memberitahukan kepadamu, Paksi, bahwa disekitar tempat ini banyak
terdapat ular dari berbagai macam jenis. Ada yang bisanya sangat tajam dari
jenis bandotan, weling, welang, kendang dan beberapa jenis lain, tetapi juga ada
yang bisanya tidak terlalu tajam, seperti ular sawa dan sejenisnya. Tetapi ada
bahaya lain pada ular sawa yang sudah tumbuh menjadi besar. Jika mulutnya
menganga, maka sosok tubuh seseorang dapat ditelannya. “ Paksi mengangguk-angguk
kecil. Namun baginya, justru ular-ular kecil yang bisanya tajam itulah yang
berbahaya baginya, karena tanpa disadari ular-ular yang terhitung lebih kecil
itu dapat terinjak kakinya dan mematuk tumitnya. Adalah juga diluar dugaan,
ketika Ki Marta Brewok itu kemudian berkata selanjutnya “ Karena itu Paksi, aku
ingin memberimu obat penawar racun. Obat itu berujud butir-butir reramuan yang
aku buat. Jika kau menelan sebutir, maka obat itu akan menawarkan racun yang
masuk kedalam tubuhmu dengan cara apapun juga, termasuk gigitan ular, selama
satu hari satu malam. Karena itu, selama kau berada ditempat ini, maka setiap
hari kau harus menelan butir-butir reramuan obat itu. “ “ Baik, Ki Marta “ jawab
Paksi “ aku akan melakukannya. “ “ Nah, karena malam ini kau sudah berada
ditempat ini, maka sejak sekarang sebaiknya kau mulai menelannya. “ Paksi tidak
menolak. Ia tidak lagi mencurigai Ki Marta Brewok. Jika orang itu berniat buruk,
maka ia tidak perlu mempergunakan akal yang licik, karena dengan mudah orang itu
dapat mengalahkannya. Ternyata Paksi merasakan tubuhnya menjadi agak panas
ketika sebutir obat itu mulai bekerja didalam tubuhnya. Namun hanya beberapa
saat. Kemudian ia tidak merasakan sesuatu lagi. Disisa malam itu Paksi tidur
disebongkah batu yang besar. Sebelum anak muda itu tertidur, maka Marta Brewok
telah memberikan beberapa pesan kepada Paksi. Iapun memberikan beberapa petunjuk
pula bagaimana Paksi membuat gubug yang akan dihuni. “ Disini kau tidak akan
kekurangan air. “ berkata Marta Brewok “ tetapi kaupun harus ingat, bahwa di
hutan itu terdapat binatang buas. Kau harus bersiap untuk mempertahankan hidupmu
jika pada suatu saat kau bertemu dengan seekor harimau atau sekelompok anjing
liar. Pepohonan itu akan dapat memberikan perlindungan bagimu, karena harimau
dan anjing-aning liar tidak akan mengejarmu memanjat batang-batang pepohonan
itu. “ Paksi mendengarkannya dengan bersungguh-sungguh. Sambil mengangguk-angguk
ia menyahut “ Ya, Ki Marta. “ “ Nah, sekarang tidurlah dimalam yang masih
tersisa. “ Paksi tidak menyahut. Tetapi perasaan letihnya telah membuat matanya
terpejam. Sesaat Paksi melupakan rasa sakit yang menggigit sampai ketulang.
Tetapi Paksi tidak dapat tidur terlalu lama. Beberapa saat kemudian iapun telah
terbangun oleh burung yang berkicau di pepohonan. Ketika Paksi menggeliat, maka
terasa sakit diseluruh tubuhnya. Tulang-tulangnya serasa menjadi retak,
sedangkan persendiannya bagaikan terlepas. Paksipun kemudian bangkit dan duduk
sambil menyeringai. Langit nampak menjadi merah. Tetapi ia tidak melihat Marta
Brewok ditempat itu. “ Mungkin Ki Marta Brewok baru pergi ke parit sebelah “
berkata Paksi didalam hatinya. Namun Paksi terkejut. Ketika turun dari atas
batu, ia melihat beberapa jenis peralatan teronggok dibawah batu itu.
Diantaranya adalah kapak besar dan kecil, parang, linggis dan beberapa jenis
alat yang lain. Paksi menarik nafas dalam-dalam, la tahu, bahwa Marta Brewok
minta kepadanya, agar ia membuat gubug sebagaimana dikatakannya itu segera.
Jilid 4 PAKSI yang menyadari keadaannya, tidak akan mengelak. Mulai hari itu, ia
akan membuat sebuah gubuk yang akan ditempatinya selama ia menjalani laku,
meningkatkan ilmunya sebagai bekal untuk mencari cincin bermata tiga butir batu
akik. Iapun sudah yakin bahwa orang yang menyebut dirinya Marta Brewok adalah
salah satu dari orang-orang aneh yang sama sekali tidak berniat buruk
terhadapnya. Paksi itupun kemudian mengucap sukur di dalam hatinya. Ia yang
merasa terbuang dari keluarganya, telah menemukan keluarga baru meskipun kurang
dapat dimengertinya, apakah yang sebenarnya mereka kehendaki. Mulai hari itu,
Paksi sudah bertekad untuk membuat gubuk untuk berteduh dan untuk melindungi
dirinya dari binatang buas di malam hari, jika ia sedang tidur. Tetapi pagi itu,
setelah mandi dan berbenah diri, maka Paksi telah turun dari lereng Gunung
Merapi untuk membeli alat-alat untuk dapur di pasar terdekat. Ia yakin bahwa di
beberapa padukuhan itu tentu terdapat sebuah pasar yang menjual alat-alat dapur.
Paksi berniat untuk tidak mondar-mandir membeli makan jika ia lapar. Ia ingin
menyediakan makannya dengan membuatnya sendiri. Tetapi Paksipun tidak ingin
menarik perhatian, sehingga ada satu dua orang yang ingin tahu, dimana ia
tinggal. Ia ingin merahasiakan tempat tinggalnya selama ia menjalani laku.
Menurut pendapatnya, gumuk kecil itu memang jarang sekali disentuh kaki,
meskipun ada sebuah jalan setapak yang melintas di dekatnya. Karena itu, maka
Paksi harus berhati-hati. Ia tidak dapat membeli semua keperluannya sekaligus
meskipun ia mempunyai uang. Ia harus membeli sedikit demi sedikit. Bahkan jika
mungkin di tempat yang berbeda. Di hari pertama, Paksi telah membeli
kebutuhan-kebutuhan terpentingnya. Bahkan beras, gula kelapa dan garam telah
dibelinya pula. Lewat tengah hari, Paksi mulai membabat batang ilalang. Batang
ilalang itu akan dikeringkannya. Kemudian ilalang kering itu akan dibuatnya
sebagai atap gubuknya kelak. "Mudah-mudahan hujan tidak segera turun," berkata
Paksi di dalam hatinya. Tetapi apapun yang terjadi, Paksi sudah siap untuk
menghadapinya. Bahkan seandainya ia harus kehujanan sehari semalam. Tetapi
sebelum Paksi menyelesaikan gubuknya, ia telah menemukan sebuah lekuk yang agak
dalam di dinding batu padas yang agak tinggi. Jika hujan turun, ia dapat
berteduh di dalam lekuk yang agak dalam itu, meskipun mungkin tiris air akan
menggapainya. Seperti yang dikatakan oleh Ki Marta Brewok, maka di tempat itu
memang banyak terdapat ular. Ketika Paksi sedang menebas batang ilalang, maka
kakinya telah menginjak seekor ular berleher merah seperti bara. Dengan marah
ular itu mematuk tumit Paksi yang terkejut sambil meloncat. Tetapi untunglah
bahwa Paksi telah menelan obat penawar racun, sehingga ular yang terhitung
berbisa itu tidak membunuhnya. Di sore hari Paksi beristirahat. Ia sudah
menyediakan berbagai macam alat dapur. Tetapi ketika ia akan menanak nasi, ia
menjadi ragu-ragu. Asapnya akan dapat mengundang perhatian. Karena itu, Paksi
telah menunda niatnya. Ia menunggu malam menjadi gelap. Asapnya akan tersamar di
dalam gelapnya malam, sedang api yang dinyalakannya akan terlindung oleh gumuk
kecil dan batu-batu padas yang terdapat di sekitarnya. Untunglah bahwa ketika ia
turun ke pasar dan membeli barang-barang terpenting yang diperlukan, ia juga
membeli beberapa potong makanan. Hari itu, Paksi telah menggelar tebasan batang
ilalang cukup banyak. Paksi memperkirakan batang ilalang itu cukup untuk dibuat
atap gubuknya. Ketika matahari kemudian turun menyusup di balik punggung gunung,
Paksi telah berendam di aliran air yang tidak begitu deras. Sambil mandi Paksi
telah mencuci pakaiannya yang penuh dengan gelugut alang-alang. Tetapi Paksi
sudah membeli sepengadeg pakaian baru ketika ia turun ke pasar, sehingga Paksi
sudah mempunyai ganti jika sepengadeg pakaian yang melekat di badannya itu
dicuci dan dijemur. Ketika kemudian malam turun, Paksi mulai menyalakan api.
Dengan batu titikan dan sejumput ampul gelugul aren, Paksi membuat api. Tetapi
asap yang mengepul memang tidak lagi menarik perhatian. Selain untuk menanak
nasi dan merebus air, api itu juga menghangatkan tubuh Paksi. Sambil duduk di
depan perapian, Paksi menunggu Ki Marta Brewok yang belum juga nampak batang
hidungnya. Orang itu ternyata tidak sekedar pergi ke parit di sebelah. Tetapi ia
telah pergi sehari penuh. Namun ketika air mulai mendidih, Paksi terkejut. Ia
mendengar langkah seseorang mendekat. Kemudian ia mendengar orang itu
terbatuk-batuk kecil. "Ki Marta Brewok," berkata Paksi di dalam hatinya.
Sebenarnyalah orang yang datang itu Ki Marta Brewok. Demikian ia berdiri
beberapa langkah dari perapian itu, maka terdengar suaranya, "Apa yang sudah kau
lakukan sehari ini?" "Turun ke pasar. Membeli beberapa peralatan terpenting.
Persediaan bahan pangan dan lewat tengah hari membabat batang ilalang untuk
dikeringkan." Ki Marta Brewok yang kemudian duduk di samping Paksi di depan
perapian itu berkata, "Sesudah kau selesai, kita akan mulai berlatih." Paksi
mengangguk kecil sambil menjawab, "Baik, Ki Marta." "Aku akan menunggu sampai
nasimu masak. Setelah makan dan beristirahat sebentar, aku akan datang lagi."
"Ki Marta akan pergi ke mana?" "Aku akan melihat, apakah buah pisang di rumpun
pisang di pinggir sungai itu sudah masak." Ki Marta Brewok tidak menunggu
jawaban Paksi. Sejenak kemudian Ki Marta Brewok itu sudah hilang di dalam gelap.
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia masih harus menunggu beberapa saat. Ternyata
Paksi juga dapat menanak nasi. Meskipun nasinya terlalu lemas karena Paksi
memberi air terlalu banyak. Meskipun demikian, ketika nasi itu disenduk, asapnya
membuat perut Paksi menjadi terasa lapar. Sambil menunggu Ki Marta Brewok,
Paksipun kemudian makan nasi lemas dengan garam. Di dinginnya udara lereng
gunung, nasi hangat dan garam itu terasa betapa nikmatnya. Apalagi perut Paksi
yang memang sedang lapar. Sehingga karena itu, maka Paksipun makan agak terlalu
banyak. Tetapi sebelum Paksi selesai makan, Ki Marta Brewokpun telah datang
sambil memanggul setandan pisang koja yang sebagian telah masak. "Aku juga
lapar," berkata Ki Marta Brewok. Namun kemudian iapun bertanya, "Kau makan
dengan apa?" "Garam," jawab Paksi. "Nasi dan garam kurang memenuhi kebutuhan
tubuhmu. Kau akan berlatih dan mengerahkan tenaga cukup banyak. Lain kali kau
dapat mencari ikan di sungai itu atau berburu ayam hutan atau berburu kijang di
hutan itu." Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera dapat membayangkan
dengan apa ia berburu ayam hutan atau bahkan kijang. Ki Marta Brewok agaknya
melihat kebimbangan di wajah Paksi. Karena itu, maka iapun berkata, "Paksi. Di
sisi padang perdu ini terdapat serumpun besar pring cendani. Kau dapat memilih
batang-batang bambu yang lurus untuk membuat lembing. Kau dapat berlatih
melontarkan lembing dengan baik. Berlatih membidik sasaran dan berlatih merunduk
dengan diam-diam di saat kijang minum di tepian." Paksi mengangguk-angguk.
Ternyata ia mempunyai banyak kegiatan yang dapat dilakukannya di siang hari di
samping menyiapkan gubuknya. Dalam pada itu, Ki Marta Brewokpun telah makan
pula. Seperti Paksi iapun makan nasi hanya dengan garam. Namun kemudian ia
berkata, "Makanlah pisang itu. Buah-buahan seperti juga sayuran, sangat baik
bagi perkembangan tubuhmu yang sedang tumbuh. Apalagi jika kita sudah mulai
berlatih. Di pinggir hutan itu terdapat pepohonan yang daunnya dapat kau petik.
Aku melihat beberapa batang pohon kates gerandel dan kates jingga. Aku juga
melihat pohon melinjo yang dapat kau petik buahnya dan daunnya. Di tepian
terhampar tanaman kangkung tanpa ada yang menanam. Kau dapat memetik seberapa
kau butuhkan." Paksi mengangguk-angguk. Ternyata di sekitarnya banyak bahan yang
dapat dimakannya serta memenuhi kebutuhan tubuhnya. Demikianlah, setelah mereka
beristirahat sesudah makan, maka Ki Marta Brewokpun berkata, "Marilah. Kita
bersiap-siap untuk berlatih. Kita baru akan memanaskan tubuh kita dan mencoba
untuk mencari jalan terbaik agar tidak terjadi pertentangan di dalam tubuhmu,
karena pada dasarnya kau sudah mempunyai kemampuan olah kanuragan." Paksi
mengangguk kecil. Katanya, "Aku sudah siap, Ki Marta." "Simpanlah nasimu yang
tersisa. Mungkin besok pagi-pagi kau merasa lapar." "Besok di dini hari aku akan
menanak lagi untuk makan di siang hari," jawab Paksi. Ki Marta Brewok tersenyum.
Katanya, "Kau tidak mau membuat perapian di siang hari?" Paksipun mengangguk
kecil. "Jangan pernah melupakan menelan obat yang aku berikan untuk menawarkan
racun," berkata Ki Marta Brewok. "Ya, Ki Marta. Aku memang sudah dipatuk ular
hari ini." "Nah, karena itu berhati-hatilah." Demikianlah, beberapa saat
kemudian, Ki Marta Brewok telah mengajak Paksi untuk berlatih. Mereka berdiri di
tempat terbuka. Di bawah silirnya angin pegunungan di malam hari, serta
dinginnya udara yang basah. Beberapa saat lamanya, keduanya memanaskan tubuh
mereka dengan gerakan-gerakan yang ringan. Semakin lama semakin cepat, sehingga
terasa darah mereka menjadi hangat. Seperti yang dikatakan, maka Ki Marta Brewok
tidak langsung menuntun Paksi mengikuti ajaran-ajaran baru menurut cara Ki Marta
Brewok. Ki Marta Brewok masih ingin melihat landasan yang sudah terbentuk di
dalam diri Paksi, sehingga tidak akan terjadi saling menarik atau saling
mendesak di dalam tubuh anak muda itu, jika Ki Marta Brewok kemudian memberikan
tuntunan olah kanuragan. Nampaknya Ki Marta Brewok cukup berhati-hati. Paksi
yang akan mengemban tugas yang penting itu, agaknya benar-benar dipersiapkannya
dengan sungguh-sungguh. Malam itu belum banyak yang dilakukan oleh Paksi. Ki
Marta Brewok minta agar Paksi menunjukkan unsur-unsur gerak yang dikuasainya.
Sejauh diingatnya, Paksi diminta untuk menunjukkan urut-urutan latihan-latihan
yang pernah dilakukan, dari unsur gerak yang pertama, kedua, ketiga dan
seterusnya. "Baiklah," berkala Ki Marta Brewok. "Aku sudah melihat apa yang
sudah kau kuasai. Aku juga sudah melihat bagaimana kau sendiri mengetrapkan
dalam benturan kekuatan, kemampuan dan ilmu karena kita pernah bertempur.
Perkembangan ilmumu nampaknya berlangsung dengan cepat. Ada semacam pengaruh
yang tidak kau sadari nampak dalam kemampuan olah kanuragan yang kau kuasai."
Paksi tidak menjawab. Tetapi sekilas terbayang kembali orang yang mengaku
pengikut Kebo Lorog yang tiba-tiba saja telah menyerangnya dan bertempur
beberapa lama, sehingga akhirnya orang itu melarikan diri. "Orang itu memberikan
kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas bagi perkembangan ilmuku," berkata Paksi
di dalam hatinya. Namun dalam pada itu, Ki Marta Brewokpun berkata, "Baiklah
anak muda. Malam ini kita masih belum berbuat banyak. Aku kira apa yang kita
lakukan malam ini sudah cukup. Beristirahatlah dengan baik. Kau tentu letih.
Nampaknya pagi tadi kau harus hilir-mudik membeli kebutuhan terpenting. Kemudian
membuat perapian dan menebas ilalang, menggelarnya di panas matahari. Kemudian
kau mulai berlatih." Paksi mengangguk kecil. Ia memang merasa letih. Tetapi
seandainya Ki Marta Brewok masih menghendakinya untuk berlatih terus, maka
Paksipun tidak berkeberatan. Namun Paksipun kemudian menghentikan kegiatannya
pada malam itu. Paksipun kemudian beristirahat beberapa lama untuk mengeringkan
keringatnya. Namun dalam pada itu, sambil menunggu keringatnya kering, maka Ki
Marta Brewok telah memberikan beberapa petunjuk bagi masa depan Paksi yang masih
sangat muda itu. "Umurnya telah menginjak tujuh belas," terngiang suara ayahnya
memerintahkannya keluar dari rumah untuk mencari cincin bermata tiga butir batu
akik. Waktu itu ibunya berkata, "Kau sengaja mengusirnya." Paksi menarik nafas
panjang. Waktu itu Paksi sendiri memang meragukan. Apakah yang dikatakan oleh
ayahnya itu bukan sekedar cerita ngaya-wara sebagai alasan untuk mengusirnya
sebagaimana dikatakan oleh ibunya. Ternyata yang sedang memburu cincin bermata
tiga butir batu akik itu bukan hanya ayahnya saja. Beberapa orang telah
menyebut-nyebutnya pula. Dalam pada itu, Ki Marta Brewokpun berkata, "Paksi.
Ternyata bahwa berita tentang hilangnya cincin dari istana itu sudah didengar
oleh banyak orang. Ketika kau mengatakan bahwa kau akan mengembalikan cincin itu
kepada orang yang lebih berhak, maka aku menduga, bahwa kau termasuk salah
seorang dari mereka yang memburu cincin itu. Mungkin bukan terdorong oleh
kemauanmu sendiri, karena aku tidak yakin, bahwa kau sudah memerlukannya. Tetapi
atas dasar alasan apapun, kau termasuk di antara orang-orang yang mencarinya."
Paksi menundukkan kepalanya. Semilir angin malam di pegunungan membuat kulitnya
meremang. Dinginnya malam bagaikan menusuk sampai ke tulang. Ki Marta Brewok
itupun kemudian berkata selanjutnya, "Paksi. Sebenarnya kau masih terlalu muda
untuk terjun dalam arena perburuan cincin itu. Tetapi bukan berarti bahwa kau
harus mengundurkan diri. Lakukan jika kau memang sudah mantap untuk melakukan.
Tetapi kerja itu bukan sekedar main-main." "Bukankah Ki Marta Brewok juga
membutuhkan cincin itu meskipun hanya untuk tiga hari?" Paksi sengaja meyakinkan
dirinya bahwa Ki Marta Brewok sebenarnya tidak bermaksud jahat terhadapnya.
Justru sebaliknya. Ki Marta Brewok mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun
tertawa. Katanya, "Kau memang cerdik. Tetapi biarlah aku menjawab, bahwa aku
membutuhkan cincin itu selama tiga hari agar aku tidak perlu menanam tubuhmu di
bawah bangunan utama padepokan yang akan didirikan itu." Paksi menarik nafas
panjang. "Sudahlah," berkata Ki Marta Brewok. "Tidurlah. Kau masih mempunyai
banyak kerja besok. Siang dan malam. Karena besok malam kita akan benar-benar
mulai agar waktumu tidak banyak terbuang. Mudah-mudahan cincin itu belum jatuh
ke tangan orang-orang yang berniat buruk, sehingga akan dapat mempunyai nilai
yang lain." Paksi mengangguk-angguk pula. Paksi mengerti, bahwa di tangan
orang-orang yang berniat jahat, maka cincin itu akan dapat diperjual-belikan
dengan harga yang sangat mahal. Tetapi juga akan dapat menjadi rebutan dan
menimbulkan banyak korban. Sementara itu, dari istana Pajangpun telah menyebar
beberapa orang yang mencari cincin itu termasuk dirinya. Namun Paksipun kemudian
dapat mengambil kesan pula, bahwa perintah ayahnya kepadanya untuk mencari
cincin itu memang mempunyai arti yang rangkap. Ayahnya memang sengaja
mengusirnya sebagaimana dikatakan oleh ibunya, tetapi ayahnya juga masih dapat
berharap, Paksi akan dapat menemukan, setidak-tidaknya memberikan keterangan
tentang cincin itu. Tetapi seandainya tidak, maka maksudnya yang pertama sudah
terlaksana. Paksi sendiri tidak mengetahui, kenapa bagi ayahnya, kehadirannya di
rumah tidak sebagaimana kehadiran adik-adiknya. Tetapi Paksi tidak ingin
merenunginya terlalu lama. Ki Marta Brewok telah berkata pula, "Tidurlah. Aku
akan tidur pula. Tetapi aku tidak akan tidur disini." Ki Marta Brewok tidak
menunggu jawaban Paksi. Sejenak kemudian orang itu telah hilang di dalam
kegelapan. Paksi yang memang merasa letih itupun kemudian telah berbaring pula.
Malam memang terasa dingin. Tetapi Paksi tidak ingin membuat perapian lagi.
Diselimutinya tubuhnya dengan kain panjangnya sampai ke telinga. Pagi-pagi
sekali Paksi sudah bangun. Ketika gelap malam masih tersisa, Paksi menyalakan
api dan menanak nasi. Kemudian, dibenahinya dirinya menjelang matahari yang
mulai membayangkan cahayanya di langit. Sejak Paksi bangun dari tidurnya, ia
sudah tidak lagi melihat Ki Marta Brewok. Nampaknya Ki Marta Brewok tidak
singgah lagi di tempat. Paksi akan membuat gubuknya. Paksi mulai mengerti bahwa
Ki Marta Brewok tidak mau menemuinya di siang hari. "Tentu ada sebabnya,"
berkata Paksi di dalam hatinya. Pagi itu Paksi harus turun lagi untuk membeli
kebutuhan-kebutuhannya, terutama untuk melengkapi alat dapurnya serta bahan
pangan. Tetapi seperti hari sebelumnya, Paksi berusaha untuk tidak menarik
perhatian orang lain. Karena itu, maka ia tidak membeli semua kebutuhannya
sekaligus, dan bahkan di tempat yang berbeda-beda. Hari itu, Paksi mulai
menebang beberapa batang pohon yang diperlukan. Paksi tidak menebang pohon-pohon
besar. Tetapi ia memilih pohon-pohon kecil yang batangnya lurus untuk membuat
tiang-tiang gubuknya. Sementara itu, dahan dan ranting-rantingnya dapat
dikeringkan untuk dijadikan kayu bakar. Ternyata Paksi merasa lebih mantap
membuat gubuk dengan tiang-tiang kayu daripada bambu. Meskipun demikian, Paksi
kemudian juga telah memotong beberapa puluh batang bambu. Dibelahnya
batang-batang bambu itu untuk membuat dinding gubuknya. Belahan-belahan bambu
itu kelak akan ditatanya berjajar tegak pada tulang-tulang gubuknya. Paksi tidak
tergesa-gesa mendirikan gubuknya. Ia menunggu kayu dan bambu-bambu itu agak
kering. Sementara itu, Paksi menyiapkan tali-tali bambu untuk mengikat
tulang-tulang gubuknya itu. Demikianlah, dari hari ke hari, Paksi telah bekerja
keras. Sementara itu, di malam hari, Ki Merta Brewok tiba-tiba saja telah
muncul. Ikut makan nasi hangat dan kemudian melakukan latihanlatihan yang
semakin lama menjadi semakin berat. Tetapi Paksi sama sekali tidak merasa akan
kekuatan yang saling mendesak dan mendorong di dalam dirinya. Yang dipelajarinya
dari Ki Marta Brewok justru dapat mengangkat dan mengembangkan ilmu yang pernah
diwarisinya dari gurunya. Bahkan beberapa landasan ilmunya menunjukkan sumber
yang senafas dengan ilmu yang telah dikuasainya. Kecurigaan Paksipun menjadi
semakin meningkat, bahwa sebenarnya Ki Marta Brewok itu juga orang yang pernah
menyerangnya dan mengaku anak buah Kebo Lorog itu. Namun Paksi memang tidak
ingin memaksakan pendapatnya itu untuk mendapatkan pengakuan Ki Marta Brewok.
Baginya hal itu tidak akan ada gunanya. Bahkan jika Ki Marta Brewok menjadi
kecewa, maka hal itu akan dapat merugikannya. Dari hari ke hari maka
latihan-latihanpun menjadi semakin rumit. Sementara itu di siang hari, Paksi
sudah mulai mendirikan gubuknya. Ia harus menanam tiang-tiang kayunya. Kemudian
memasang belandar dan pengeretnya. Diikatnya itu dengan tali bambu. Tetapi
ketika kemudian Paksi menemukan beberapa batang pohon kelapa yang tumbuh di
pinggir sungai tanpa ada pemiliknya, maka Paksi mulai membuat tali-tali serabut
kelapa. Sedangkan kelapanya telah dipergunakannya untuk memasak sayur-sayuran
sejauh dapat dilakukan. Bahkan Paksipun telah membuat santan untuk membuat
minuman sebagaimana dawet yang pernah dibelinya di pasar, meskipun tanpa cendol.
Namun pada kesempatan lain, Paksi telah membeli cendol dan membuat dawet
sendiri. Ketika Ki Marta Brewok yang berkeringat setelah latihan yang keras di
malam hari disuguhi dawet cendol, maka Ki Marta Brewok itupun berteriak, "He,
darimana kau dapatkan dawet cendol seperti ini?" "Aku membuat sendiri, Ki
Marta." "Ah bohong. Bagaimana mungkin kau dapat membuat dawet cendol?" "Aku
hanya membeli cendolnya dan gula kelapa. Kemudian aku buat sendiri juruh gula
kelapa. Aku buat santan dan aku panasi sampai mendidih. Kemudian aku masukkan
cendol ke dalamnya." "Dari siapa kau belajar?" desak Ki Marta Brewok. "Jika aku
membeli kebutuhan sehari-hari di pasar, aku memperhatikan bagaimana orang
membuat dawet cendol. Tetapi aku tidak tahu bagaimana membuat cendol itu." Ki
Marta Brewok tertawa. Katanya, "Bagus. Dawet itu membuat tubuhku menjadi segar."
Sebenarnyalah bahwa banyak hal yang membuat nalar Paksi berkembang. Iapun ingin
membuat gula kelapa sendiri karena ia pernah mendengar serba sedikit tentang
orang membuat gula kelapa, mulai dan nderes dengan bumbung bambu hingga memanasi
legen yang disadapnya dari mayang pohon kelapa itu. Ternyata Ki Marta Brewok
mendorongnya untuk melakukannya. Bahkan ia memberikan beberapa petunjuk kepada
Paksi, bagaimana ia menyadap legen, dan bagaimana ia memanasinya hingga menjadi
gula kelapa dan kemudian dicetak dengan tempurung kelapa pula. Sebenarnyalah
bahwa Paksi menjadi seorang yang memiliki berbagai macam kepandaian selain
peningkatan kemampuan olah kanuragan. Demikianlah maka kerja Paksipun menjadi
semakin berat. Ketika gubuknya sudah berdiri, ia merasa bahwa kerja akan
berkurang. Di siang hari ia dapat beristirahat untuk memusatkan tenaganya dalam
latihan-latihan di malam hari. Namun ternyata tidak. Di siang hari ada saja
kesibukannya. Ki Marta Brewok menuntut agar Paksi memiliki kemampuan
mempergunakan senjata lontar, sehingga Paksipun harus berlatih sendiri
mempergunakan anak panah dengan busurnya, serta lembing. Dengan sedikit
pengetahuan dasar serta petunjuk-petunjuk Ki Marta Brewok, Paksi mempertajam
kemampuan bidiknya. Ia membuat orang-orangan yang dipergunakan sebagai sasaran
anak panahnya. Namun kemudian ia mulai membidik apa saja. Pangkal
ranting-ranting pepohonan. Batang perdu dan lekuk-lekuk batu padas. Ketika
kemampuan bidiknya menjadi semakin meningkat, maka Paksi mulai membidik sasaran
yang bergerak. Bukan saja dengan anak panah, tetapi juga dengan lembing yang
dibuatnya dari pring cendani. Busur, anak panah dan lembing Paksi sangat
sederhana karena dibuatnya sendiri. Tetapi dengan alat-alat yang sederhana itu
Paksi benar-benar telah meningkatkan kemampuannya. Dengan anak panah dan
busurnya, Paksi telah mampu mengenai sasaran yang bergerak. Untuk membuat anak
panah dan lembing, Paksi memang harus membeli bedor besi pada pande-pande besi.
Tetapi untuk tidak menarik perhatian, maka Paksi tidak membelinya di satu
tempat, sebagaimana ia membeli alat-alat dapur serta bahan-bahan pangannya.
Setiap kali ia berpindah tempat meskipun pada suatu saat ia kembali lagi kepada
orang yang pertama. Tetapi waktu putaran itu membuat para penjualnya tidak lagi
mengingatnya. Dengan demikian, maka di lereng gunung itu Paksi benar-benar telah
menempa diri. Ki Marta Brewok yang datang hanya setiap malam itu, tidak lagi
menjadi persoalan baginya. Kapanpun ia datang, bagi Paksi tidak ada lagi
bedanya. Dengan laku yang berat, Paksi memang telah meningkatkan ilmunya. Tidak
hanya beberapa hari, tetapi ternyata ia memerlukan waktu beberapa bulan.
Meskipun semula Ki Marta Brewok itu memberinya ancar-ancar waktu enam bulan
untuk mencari cincin bermata tiga butir batu akik itu, ternyata waktu yang enam
bulan itu telah dihabiskannya di lereng gunung itu. Paksi yang kemudian
seakan-akan hidup sendiri itu, justru telah memiliki berbagai macam kemampuan
sehingga ia benar-benar mampu untuk mandiri. Di hutan perdu, Paksi telah membuat
semacam ladang yang tidak terlalu luas. Ia telah menanam ketela pohon dan
jagung. Setiap pagi, Paksi memanjat beberapa batang pohon kelapa yang tumbuh di
pinggir sungai untuk menyadap legennya dan membuatnya menjadi gula. Ternyata
gula itu dapat mencukupi kebutuhannya sendiri. Kangkung yang semula tumbuh liar
di pinggir sungai telah dirawatnya dengan baik. Sedangkan pada pagar kebun
jagungnya, Paksi menanam kacang panjang yang batangnya merambat pada pagar itu
sebagai lanjaran. Bulan keenampun akhirnya telah dilampauinya. Sementara itu,
dengan laku yang berat, ilmu Paksipun telah meningkat dengan cepat. Selain
mengembangkan ilmu yang pernah diwarisinya dari gurunya, ternyata Paksi juga
mampu membuat wawasan yang lebih luas tentang olah kanuragan. Ia tidak lagi
mengandalkan kekuatan wadag wantahnya. Tetapi Paksipun telah merambah ke tenaga
dalamnya. Dengan latihan-latihan yang bersungguh-sungguh dan teratur, Paksi
benar-benar menguasai bagian-bagian dari tubuhnya dengan baik, serta menguasai
pula kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalamnya. Dengan mengatur pernafasan
serta pemusatan nalar budi dan keweningan hati, maka Paksi dapat mencapai
keseimbangan pengendalian lahir dan batinnya pada saat-saat yang dikehendaki
meskipun Paksi sedang dalam keadaan apapun. Ki Marta Brewok telah memperkenalkan
Paksi dengan getar kekuatan bumi, air, api dan angin yang ada di dalam dirinya,
yang dapat diungkapkannya dengan laku yang khusus. Untuk itu diperlukan
latihan-latihan yang berat dan pengenalan yang lebih mendalam. Dalam waktu yang
terhitung singkat, menjelang bulan ke sepuluh, maka Paksi sudah menjadi seorang
anak muda yang lain. Ia menjadi jauh lebih dewasa. Bukan saja dalam ilmu
kanuragan, tetapi Paksi benar benar telah mampu hidup mandiri. Kegiatan Paksi
sehari-hari semakin berkembang. Ia sudah memetik hasil tanamannya beberapa kali.
Beberapa batang pohon kelapa di pinggir sungai dipeliharanya baik-baik. Setiap
kali Paksi telah membersihkan batang-batang kelapa itu dari tapas dan pangkal
daun yang sudah mengering. Dengan demikian, maka pohon kelapa yang berjajar di
pinggir sungai itu buahnya menjadi semakin lebat. Sedangkan beberapa batang yang
diambil legennya, memberikan legen yang lebih banyak pula. Tubuh Paksipun
berkembang dengan baik. Kaki dan tangannya menjadi kokoh dan kuat.
Latihan-latihan yang teratur siang dan malam, membuat Paksi menjadi seorang yang
jarang ada bandingnya. Namun perkembangan itu tidak terlepas dari usaha yang
sungguh-sungguh yang dilakukan oleh Ki Marta Brewok. Dengan keras Ki Marta
Brewok berusaha menempa agar Paksi benar-benar menjadi seorang anak muda
pilihan. Meskipun Ki Marta Brewok hanya hadir di malam hari, tetapi Paksi tidak
pernah mempersoalkannya lagi. Ia tahu benar, bahwa Ki Marta Brewok telah berbuat
yang terbaik baginya. "Jika sampai saatnya, rahasia itu tentu akan terungkap
dengan sendirinya," berkata paksi di dalam hatinya. Paksi memang tidak ingin
rahasia kehadiran Ki Marta Brewok yang hanya pada malam hari itu menjadi
hambatan. Setiap kali petunjuk-petunjuk dan nasehat-nasehat Ki Marta Brewok
tidak menyangsikannya, bahwa tersembunyi niat buruk di balik sikap Ki Marta
Brewok. Dengan demikian, maka peningkatan ilmu Paksi itupun berjalan dengan
cepat, teratur dan sesuai dengan rencana yang dibuat oleh Ki Marta Brewok,
justru karena tidak terasa ada hambatan di kedua belah pihak. Paksi dan Ki Marta
Brewok nampaknya telah mencurahkan kepercayaan masing-masing sesuai dengan
kedudukan mereka, sehingga dengan kepercayaan yang penuh itu, maka segala
pintupun telah terbuka. Masing-masing dapat melihat ke luar dan ke dalam tanpa
tirai betapapun tipisnya. Meskipun demikian, sekali-sekali jantung Paksi masih
juga digelitik oleh tugas yang dibebankan kepadanya oleh ayahnya untuk menemukan
cincin bermata tiga butir batu akik itu. Bahkan Ki Marta Brewok juga pernah
mengatakan kepadanya, agar ia mencari cincin itu. Apakah benarbenar Ki Marta
Brewok memerlukan cincin itu atau sekedar sebagai cambuk terhadap usahanya,
namun Ki Marta Brewok pernah mendorongnya untuk menemukan cincin itu. Tetapi
Paksi tidak pernah mengatakannya kepada Ki Marta Brewok. Paksi yakin, bahwa Ki
Marta Brewok tidak melupakan tugas yang dipikulnya. Karena itu, jika Ki Marta
Brewok masih belum mengatakan kepadanya tentang cincin itu, Paksi berniat untuk
tetap berdiam diri. "Seandainya Ki Marta Brewok sengaja menahan aku disini agar
aku tidak terlibat dalam perburuan cincin itu, aku tidak akan menyesal," berkata
Paksi di dalam hatinya. "Disini aku sudah mendapatkan sesuatu yang sangat
berharga." Namun seakan-akan Ki Marta Brewok mengetahui isi hati Paksi tentang
cincin itu. Karena itu, ketika pedut yang tebal menyelimuti lereng gunung itu di
malam hari, Ki Marta Brewok yang sedang beristirahat sambil meneguk wedang sere
yang hangat berkata, "Kita hentikan latihan malam ini. Kita sudah cukup banyak
memeras keringat. Sementara itu kabut menjadi semakin tebal. Sebenarnya
saat-saat seperti ini merupakan saat yang baik untuk melatih ketajaman
penglihatan dan panggraita, tetapi kau sudah sering melakukannya dan kesempatan
untuk melakukannya masih banyak. Besok atau lusa, ampak-ampak akan turun lagi,
sehingga dengan penglihatan mata kewadagan, kita tidak dapat melihat telapak
tangan di depan hidung kita sendiri." Paksi mengangguk kecil. Segala sesuatunya
memang terserah kepada Ki Marta Brewok. Sambil duduk dan menghirup minuman
hangatnya, tiba-tiba saja Ki Marta Brewok itu berkata, "Menurut perhitunganmu,
kau sudah tinggal berapa lama disini, Paksi?" Paksi mengerutkan dahinya.
Kemudian jawabnya, "Sampai saat ini sudah memasuki bulan ke sebelas, Ki Marta."
Ki Marta Brewok mengangguk-angguk. Katanya, "Kau sudah tertahan lebih dari
sebelas bulan. Tetapi menurut pendapatku, tidak akan banyak mengganggu. Sampai
saat ini, cincin itu masih belum diketemukan. Sementara itu, kau sudah menambah
bekal bagi tugas beratmu itu. Bahkan aku minta kau bersabar untuk satu dua bulan
lagi, sehingga kau genap setahun berada disini. Apakah kau berkeberatan?" "Sama
sekali tidak," jawab Paksi. "Sampai kapan pun aku tidak berkeberatan. Apalagi
jika cincin itu memang belum diketemukan oleh siapapun, sehingga aku masih
berkesempatan untuk meneruskan tugas itu." "Baiklah. Jika demikian, kita akan
berlatih terus di malam-malam mendatang. Di saat langit terang, di saat hujan
lebat dan di saat lereng ini disaput oleh kabut yang tebal." Paksi
mengangguk-angguk. Katanya, "Aku siap melakukan apa saja, Ki Marta." "Bagus. Aku
memang yakin, bahwa kau akan bersedia melakukannya." Paksi mengangguk-angguk
kecil. Sementara itu, Ki Marta Brewok berkata, "Tetapi Paksi, sebaiknya kau
tidak terlalu mengurung diri di gubukmu ini. Di siang hari kau dapat turun dan
melihat-lihat padukuhan dan kademangan di kaki gunung ini, sehingga kau tidak
sangat jauh terpisah dari kehidupan orang banyak, meskipun kau harus tetap
menjaga rahasia tempat tinggalmu." "Aku juga sering turun ke padukuhan Ki
Marta." "Tetapi kau tentu langsung pergi ke pasar, membeli
kebutuhan-kebutuhanmu, lalu kembali naik." Paksi mengangguk. "Namun dengan
landasan sikap jiwani yang telah mapan, kau tanggapi kehidupan yang lebih luas.
Kau jangan menjadi kecewa bahwa ternyata di dalam kehidupan yang luas, tidak
semuanya berjalan sebagaimana kau inginkan. Kaupun tidak usah kehilangan
kepercayaan kepada diri sendiri, jika pada satu saat kau temui perilaku dan
sikap orang-orang yang tidak sejalan dengan pola pikiranmu, sementara kau tidak
kuasa untuk merubahnya. Dalam keadaan apapun kau harus tetap berpegang pada
landasan pola pikir yang dewasa, sehingga kau tidak terombang-ambing oleh
pusaran kehidupan di sekelilingmu." Paksi mengangguk-angguk. "Kesempatan untuk
mengabdi masih cukup panjang. Landasi pengabdianmu dengan penuh kesadaran atas
Sumber Hidupmu." Paksi meresapkan pesan Ki Marta Brewok itu di dalam hatinya, ia
bukan saja sekedar menganggukkan kepalanya. Tetapi kata-kata itu bagaikan
terpahat di dalam hatinya. Itulah sebabnya, maka Paksi menjadi semakin dekat
dengan Ki Marta Brewok. Bahkan Paksi seakan-akan telah melupakan bahwa di rumah
ia mempunyai seorang ayah. "Nah, sekarang tidurlah. Besok pagi-pagi kau sempat
bangun dan menanak nasi sebelum terang, agar asap perapianmu tidak menarik
perhatian orang," berkata Ki Marta Brewok. Namun katanya kemudian, "Tetapi
Paksi, sekarang kedudukanmu sudah lain dari kedudukanmu saat kau datang.
Seandainya ada orang yang mengetahui bahwa kau tinggal disini, kau tidak usah
terlalu cemas. Aku dapat mengatakan kepada mereka, bahwa kau sudah lama tinggal
di tempat ini. Untuk itu kau dapat membuktikannya. Kau dapat menunjukkan ladang
jagungmu, ladang ketela pohonmu, kebun pisangmu dan beberapa pohon kelapa yang
berderet di pinggir sungai itu. Tidak seorangpun dapat mengatakan bahwa gubukmu
ini baru kemarin kau buat. Sehingga dengan demikian, maka orang-orang yang pada
suatu saat menemukan kau disini, akan mengakui bahwa kau memang berhak tinggal
disini." Paksi mengangguk-angguk. Ia mengerti hubungan keterangan Ki Marta
Brewok itu dengan anjurannya untuk memasuki kembali pergaulan yang luas.
Meskipun demikian, sejauh mungkin Paksi masih akan merahasiakan tempat
tinggalnya. Malam itu, Paksi tidak lagi turun ke sanggar terbukanya. Paksi tidak
lagi melanjutkan latihanlatihannya. Nampaknya Ki Marta Brewok ingin menyempatkan
diri berbicara dengan Paksi. Namun setelah menghabiskan minumannya semangkuk
penuh, Ki Marta Brewok itupun berkata, "Sudahlah. Aku ada pekerjaan lain. Besok
malam aku akan datang lagi. Besok, jika masih ada kabut, kau dapat mengasah
ketajaman penglihatan dan panggraitamu meskipun menurut pendapatku, bekalmu
sudah cukup memadai." Paksi mengangguk sambil menjawab, "Baik, Ki Marta. Besok
aku menunggu kehadiran Ki Marta. Sementara itu, mulai besok aku akan mencoba
untuk memasuki pergaulan yang lebih luas, meskipun rasa-rasanya tentu akan
canggung." "Mula-mula tentu Paksi. Tetapi kemudian kau akan berada di dalam satu
suasana yang wajar. Tetapi sekali lagi aku peringatkan bahwa yang terjadi di
sebuah pergaulan yang luas, tidak semuanya berlangsung sebagaimana kau inginkan.
Betapapun jantungmu bergejolak, namun kau harus menerima kenyataan itu. Meskipun
demikian, kau bukan sampah yang akan hanyut dilanda arus yang keruh itu. Tetapi
kau harus menjadi pilar yang dapat menjadi tempat bertaut dari yang hanyut itu."
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Pesan Ki Marta Brewok itu akan menjadi beban
baginya. Tetapi ia sudah berjanji di dalam dirinya untuk melakukannya sejauh
kemampuannya. Sejenak kemudian, maka Ki Marta Brewokpun telah meninggalkan gubuk
Paksi yang berada di tepi hutan di lereng gunung, dilingkungi batu-batu padas.
Sepeninggal Ki Marta Brewok, Paksi masih duduk merenung di dalam gubuknya yang
hangat karena perapiannya. Namun kemudian, Paksipun menyelarak pintu gubuknya
dan membaringkan dirinya di atas ketepe, anyaman daun kelapa. Diselubunginya
tubuhnya dengan kain panjangnya. Udara mulai terasa dingin ketika apinya
kemudian padam. Dari gubuknya Paksi mendengar aum harimau di hutan yang lebat di
lereng gunung itu. Tetapi harimau itu tidak pernah datang ke gubuknya. "Tetapi
jika harimau itu kelaparan karena gagal memburu mangsanya, entahlah," berkata
Paksi di dalam dirinya. Tetapi Paksi percaya bahwa gubuknya cukup kuat untuk
menahan agar seekor harimau tidak dengan mudah dapat masuk ke dalamnya.
Setidak-tidaknya jika seekor harimau berusaha untuk masuk ke dalamnya, Paksi
tentu sudah terbangun karenanya. Di luar sadarnya, Paksi memandang lembingnya
yang disandarkannya di dinding gubuknya itu. Kemudian busur dan anak panahnya.
Semuanya sederhana karena dibuatnya sendiri dari bambu dan bedor besi yang
dibelinya pada pande-pande besi. Tetapi baginya sudah cukup memadai. Beberapa
saat kemudian, maka Paksipun telah tertidur nyenyak. Ia bermimpi bertemu dengan
ibunya yang tersenyum kepadanya sambil berkata, "Kau harus menjadi anak yang
baik, Paksi. Kau adalah anak sulung. Kau akan menjadi panutan adik-adikmu."
Paksi tersenyum di dalam mimpinya. Ia mencium tangan ibunya sambil berkata, "Aku
mohon restu, Ibu. Perjalananku masih jauh." "Berjalanlah anakku. Ibu selalu
menunggumu." Ketika Paksi terbangun, maka iapun kemudian duduk memeluk lututnya,
tetapi ia tidak menjadi cemas akan ibunya. Ia melihat wajah ibunya yang cerah.
"Mudah-mudahan hati Ibu secerah wajahnya yang aku lihat di dalam mimpi," desis
Paksi yang kembali membaringkan dirinya. Sebelum matahari terbit, Paksi sudah
bangun. Seperti biasanya ia membenahi dirinya. Bukan hanya kewadagannya. Baru
kemudian ia mulai menyalakan api selagi sisa-sisa malam masih gelap. Merebus air
dan menanak nasi. Paksi masih mempunyai sisa lauk yang dimasaknya kemarin ketika
ia berhasil mendapatkan seekor kijang dalam sebuah perburuan yang melelahkan.
Demikian matahari terbit, maka dengan membawa beberapa buah bumbung, Paksi telah
memanjat beberapa batang pohon kelapa. Bukan saja untuk mendapatkan legen,
tetapi dengan memanjat beberapa batang pohon kelapa, ia sudah menggerakkan
tangan dan kakinya. Sehingga peluhnya mengembun di punggungnya. Setelah selesai
mengambil bumbung dan memasangnya yang baru pada mayang pohon kelapa, maka
Paksipun segera membersihkan halaman gubuknya. Baru kemudian Paksi pergi untuk
mandi di sungai sekaligus mencuci pakaiannya yang kotor. Paksi tidak lagi harus
berendam di dalam air sambil menunggu pakaiannya kering. Tetapi ia sudah
mempunyai pakaian rangkap, sehingga ia dapat membawa pakaiannya yang basah itu
pulang dan menjemurnya di sebelah gubuknya. Seperti biasanya dilakukan, maka
Paksipun kemudian telah melakukan latihan-latihan kecil penguasaan tubuhnya.
Tidak terlalu lama. Ketika matahari naik semakin tinggi, maka Paksi tidak segera
pergi ke sanggar terbukanya untuk melakukan latihan-latihan yang lebih berat.
Tetapi Paksi berniat untuk turun dan memenuhi pesan Ki Marta Brewok. Ia harus
mengenali kehidupan dari banyak sisi meskipun ia akan menemui dan melihat banyak
hal yang akan dapat mengecewakannya. Karena itu, maka Paksipun justru telah
merapikan pakaiannya. Sebelumnya Paksi juga sudah sering turun untuk pergi ke
pasar. Tetapi yang dilakukan tidak lebih dari sekedar membeli
kebutuhan-kebutuhannya. Ia tidak pernah memperhatikan sisi yang lain daripada
sekedar membeli dari para penjualnya. Bahkan sedikit menyembunyikan wajahnya
dengan setiap kali menunduk. Orang-orang di pasar itu memang tidak pernah
tertarik untuk memperhatikannya sebagaimana ia juga tidak pernah memperhatikan
secara khusus orang-orang yang ada di pasar itu. Tetapi hari itu, Paksi akan
berbuat lain. Ia akan memperhatikan satu kehidupan yang terjadi di pasar dan
sekitarnya. Mungkin hari itu ia tidak melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
Tetapi itu tidak apa-apa. Ia memang tidak dipesan untuk mencari-cari sisi
kehidupan yang dianggapnya tidak wajar, tetapi ia justru akan melihat kehidupan
seutuhnya sebagaimana yang terjadi seharihari. Paksipun berjalan menuruni lereng
pegunungan. Langkahnya ringan di bawah sinar matahari pagi yang cerah. Masih
terdengar burung-burung berkicau di pepohonan sebagaimana selalu didengarnya
setiap pagi. Jalan yang dilewati Paksi adalah jalan setapak yang menurun.
Setelah beberapa lama ia berjalan, Paksi masih belum berpapasan dengan
seorangpun. Namun ia sudah berada di bulak persawahan. Sawah yang ditata seperti
sebuah tangga raksasa membentang di lereng gunung. Baru beberapa saat kemudian,
Paksi melihat seseorang yang berada di sawahnya untuk membersihkan tanaman
padinya dari rerumputan yang tumbuh dengan liar. Orang itu sama sekali tidak
menghiraukan Paksi yang berjalan menurun sambil memandanginya. Namun di kotak
sawah yang lain, Paksi juga melihat seorang yang rambutnya sudah putih, membuka
pematang sawahnya untuk mengalirkan air yang mengalir di parit. Namun nampaknya
di lereng gunung itu, para petani tidak pernah kekurangan air, bahkan di musim
kemarau sekalipun. Beberapa saat kemudian, Paksi sudah memasuki sebuah
padukuhan. Sudah beberapa kali ia berjalan melalui jalan yang membelah padukuhan
itu. Tetapi sebelumnya ia tidak pernah menghiraukan apa yang terdapat di
padukuhan itu. Meskipun padukuhan itu terletak di kaki gunung, tetapi nampaknya
kesejahteraan penduduknya tidak terbelakang dibanding padukuhan-padukuhan yang
pernah dilihatnya sebelumnya. Nampaknya sawah yang subur di sekitar padukuhan
itu memberikan hasil yang cukup, sehingga sebagian dapat ditukar dengan
kebutuhan-kebutuhan yang lain. Pakaian, ternak dan bahkan lembu atau kerbau yang
kemudian dapat membantu para petani untuk meningkatkan penghasilan mereka.
Putaran yang demikian itu membuat sisi kehidupan para penghuni padukuhan itu
menjadi semakin baik. Dengan demikian, maka para pedagangpun mendapat lapangan
yang semakin subur pula di lingkungan itu. Pasar menjadi semakin ramai. Paksi
menarik nafas dalam-dalam. Matahari memanjat langit semakin tinggi. Panasnya
terasa mulai menggatalkan kulit. Anak-anak yang menggembala kambing telah berada
di padang rumput yang hijau. Seorang gembala yang duduk di sebuah batu yang
besar meniup serulingnya. Suaranya menggetarkan udara pagi yang cerah. Paksi
jarang sekali menikmati suasana pagi seperti yang dilakukannya pada waktu itu.
Biasanya ia sudah berada di sanggar terbukanya sibuk dengan latihan-latihan
penguasaan tubuh dan pendalaman unsur-unsur gerak yang pernah dikuasainya.
Ketika ia memasuki padukuhan berikutnya setelah melewati sebuah bulak pendek,
maka disana-sini terdengar orang yang sedang menumbuk padi. Sekali-sekali
terdengar lenguh lembu yang diikat di luar kandang. Tangis kanak-kanak yang
minta susu ibunya terdengar di sela-sela tembang yang ngelangut. Paksi menarik
nafas dalam-dalam. Hampir di setiap rumah nampak asap mengepul. Sebentar lagi,
perempuan dan gadis-gadis akan pergi ke sawah membawa kiriman makan bagi suami
atau ayah mereka yang bekerja dalam panasnya sinar matahari sambil berendam air
berlumpur di sawah. Ketika kemudian Paksi sampai di pasar, ternyata matahari
telah terlalu tinggi. Meskipun demikian, pasar masih banyak orang yang
berjual-beli. Suara pande besi menempa alat-alat pertanian yang dibuatnya, masih
terdengar melengking-lengking. Hari itu Paksi tidak tergesa-gesa masuk ke dalam
pasar, membeli keperluannya di beberapa tempat dan dengan segera meninggalkan
pasar itu. Untuk beberapa lama Paksi justru berada di luar pasar. Sambil
berjongkok di pinggir jalan, di antara beberapa orang lain yang membeli rujak
pace, Paksi memperhatikan orang yang lalu-lalang dan hilir-mudik di pintu
gerbang. Seperti yang dikatakan oleh Ki Marta Brewok, bahwa tidak semua tingkah
laku orang yang berada di pasar itu sesuai dengan pola yang tergambar di dalam
angan-angannya. Di regol pasar itu, Paksi melihat orang yang berjalan dengan
kepala tunduk. Tetapi iapun melihat orang-orang yang berjalan dengan kepala yang
tengadah. Ia melihat orang-orang yang bergeser memberi jalan kepada orang lain,
tetapi ada yang dengan sengaja mendesak orang yang berpapasan dengan sikunya.
Paksipun melihat orang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya yang terinjak
kakinya oleh orang yang berdiri di sampingnya berkata sambil tersenyum, "Maaf,
Ki Sanak. Kakiku terinjak." Orang yang menginjak kakinya itupun dengan
tergesa-gesa bergeser sambil berkat, "Maaf, maaf Ki Sanak. Aku tidak tahu."
Tetapi ketika seorang muda yang berwajah garang terinjak kakinya, maka dengan
mata terbelalak ia membentak, "Dimana kau letakkan matamu, he?" Orang yang
menginjak kaki orang muda itupun membelalakkan matanya pula, "Persetan kau. Aku
kan tidak sengaja." Kedua orang itupun kemudian saling berpandangan dengan penuh
kebencian. Untunglah bahwa seorang yang berambut putih datang melerai mereka.
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Peristiwa semacam itu tidak pernah
diperhatikannya sebelumnya. Ternyata bahwa banyak hal terjadi di sekitarnya di
pasar itu, di tempat banyak orang bertemu. Sebelumnya Paksi juga pernah terlibat
dalam sebuah keributan di pasar karena seorang laki-laki berbuat sewenang-wenang
terhadap seorang perempuan untuk membela isterinya yang keras hati. Namun
setelah Paksi tinggal di lereng gunung, maka Paksi justru selalu menghindari
perhatian orang lain setiap ia pergi ke pasar. Akibatnya ia sendiri tidak sempat
memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Baru kemudian setelah hampir setahun ia
seakan-akan hidup terpisah, meskipun tidak mutlak, maka ia harus mulai kembali
menempatkan dirinya di antara pergaulan sesama. Seperti yang dikatakannya kepada
Ki Marta Brewok, bahwa Paksi akan merasa canggung untuk beberapa saat. Tetapi
perlahan-lahan ia akan menjadi terbiasa kembali. Ia akan mengenal satu dua orang
yang sering dijumpainya di pasar itu, sehingga dengan mereka Paksi akan dapat
berbincang dan mendengar ceritera tentang beberapa hal yang terjadi di luar
lingkungannya yang sempit. Perhatian Paksipun kemudian tertarik kepada seorang
anak yang membawa sebuah keranjang mengikuti seorang perempuan yang sedang
berbelanja. Nampaknya anak itu diupah untuk membawa barang-barang yang dibeli
oleh perempuan itu. Karena itu dengan telaten anak itu mengikuti kemana
perempuan itu pergi. Di luar sadarnya, Paksipun telah mengikutinya pula. Jika
perempuan yang berbelanja itu berhenti, maka anak yang membawa keranjang itupun
berhenti pula. Semakin lama keranjang yang dibawanya itu menjadi semakin penuh
dan semakin berat. Karena itu, maka anak itupun kemudian telah meletakkan
keranjang itu di atas kepalanya. Perempuan yang berbelanja itu tidak sempat
menghiraukan, bahwa anak itu kemudian menjadi gemetar karena beban yang terlalu
berat di kepalanya. Paksi menjadi gelisah. Jika ia berusaha membantu anak itu,
apakah tidak akan dapat timbul salah paham? Perempuan itu dapat marah kepadanya,
atau justru anak itu merasa terganggu sumber penghasilannya. Untunglah, bahwa
beberapa saat kemudian, perempuan yang nampaknya cukup berada itu selesai
berbelanja. Karena itu, maka perempuan itu telah mengajak anak yang membawa
keranjang di atas kepalanya itu keluar. Ternyata perempuan itu berbelanja cukup
banyak. Agaknya keluarganya akan mengadakan perhelatan. Karena itu, maka di luar
pasar itu sudah menunggu sebuah pedati yang di dalamnya sudah terisi beberapa
bakul yang berisi bermacam-macam bahan makan. Ada beras, telur, gula kelapa dan
beberapa ekor ayam. Paksi berdiri agak jauh dari pedati itu. Ia melihat anak itu
meletakkan keranjangnya di bibir belakang pedati yang berhenti di pinggir jalan.
Nampak di wajah anak itu betapa beratnya beban yang diusung di atas kepalanya
itu, sehingga mulutnya menyeringai. Di luar sadarnya, bibir Paksi ikut
bergerak-gerak. Rasa-rasanya ia ingin meloncat membantu anak itu. Tetapi ia
masih menahan diri agar tidak menimbulkan persoalan karena terjadi salah paham.
Ternyata perempuan yang berbelanja itu tidak sendiri. Seorang perempuan lain
kemudian datang pula bersama perempuan yang menggendong bakul yang juga sudah
penuh, yang kemudian diletakkan ke dalam pedati itu pula. Paksi tersenyum ketika
ia melihat perempuan yang menggendong bakul yang penuh itu serta anak yang
mengusung keranjang di kepalanya, menerima upahnya. Anak itu nampak gembira,
sementara perempuan itupun tersenyum pula. Mereka telah menerima hasil jerih
payah mereka. Baru kemudian Paksi mengetahui, bahwa anak yang mengusung
keranjang itu adalah anak lakilaki perempuan yang menggendong beban di
punggungnya. Ketika keduanya lewat di depan Paksi, Paksi mendengar sekilas
mereka bercakap-cakap. Perempuan yang menggendong beban itu kemudian telah
mengusap kepala anak itu sambil berkata, "Jika kau lapar, makanlah. Kau dapat
membeli nasi tumpang di sudut pasar itu, Le." "Simbok makan apa tidak?" bertanya
anak itu. Perempuan itu tersenyum. Katanya, "Aku nanti gampang, Le." "Aku akan
membeli nasi sekeping saja, Mbok. Ini yang dua keping." "Bawa saja, Ngger. Jika
simbok yang membawa, nanti diminta ayahmu." Anak itu memandang ibunya dengan
tatapan mata yang suram. Kecerahan wajahnya telah larut dalam keragu-raguan.
Tetapi ibunya masih tersenyum. Katanya, "Sudahlah. Sekarang kau beli nasi
tumpang. Jangan hanya sekeping. Belilah dua keping biar perutmu kenyang. Belum
tentu siang nanti kau dapat makan lagi. Jika kau kenyang, maka kau dapat bekerja
lebih baik seandainya masih ada orang yang minta kau membawa barang-barangnya."
Anak itu mengangguk-angguk. Ketika ibunya kemudian melangkah kembali ke pintu
gerbang pasar, maka anak itupun menghambur berlari. Di luar sadar pula Paksipun
melangkah ke arah anak itu berlari. Ternyata kemudian anak itu berjongkok di
depan penjual nasi tumpang yang berjualan sebelah luar pasar itu. Paksipun telah
ikut berjongkok pula. Ketika anak itu membeli nasi tumpang, maka Paksipun
membeli pula. Anak itupun kemudian menyuapi mulutnya yang kecil itu. Nasi
tumpang itu terasa nikmat sekali, sehingga di mulut Paksipun nasi itupun
rasa-rasanya menjadi jauh lebih enak daripada nasi tumpang yang pernah
dimakannya sebelumnya. Anak itu nampak kecewa ketika nasi tumpangnya itu habis.
Ia masih memegang pincuk tempat nasi itu. Nampak di wajahnya keragu-raguan untuk
membuang pincuk nasi itu. Nampaknya anak itu ingin membeli nasi lagi. Tetapi ia
mempertimbangkan sisa uangnya yang mungkin dapat dipergunakan untuk keperluan
yang lain. Selagi anak itu termangu-mangu, maka Paksipun bertanya, "Kau masih
lapar?" Anak itu memandang Paksi dengan kerut di keningnya. "Jika kau masih
lapar, mintalah sepincuk lagi." Anak itu termangu-mangu sejenak. Namun dengan
jujur ia berkata, "Aku akan memberikan sisa uangku kepada Simbok." Paksi
tersenyum. Katanya, "Biarlah aku yang membayarnya. Semuanya." Anak itu nampak
ragu-ragu. Namun Paksipun kemudian mengambil beberapa keping uang dari kantong
ikat pinggangnya. Sambil menunjukkan uang itu ia berkata, "Benar. Aku akan
membayar semuanya. Dua atau tiga pincuk nasi tumpang." Anak itu masih ragu-ragu.
Namun Paksi telah mengambil pincuk dari tangan anak itu dan memberikannya kepada
penjual nasi itu, "Berilah satu lagi. Aku yang akan membayar berapapun yang akan
dihabiskannya." Penjual nasi tumpang itupun menjadi ragu-ragu pula. Namun
Paksipun segera memberikan lima keping uang. Katanya, "Terimalah. Nanti kita
perhitungkan, berapa yang harus aku bayar. Kurang atau lebih." Penjual nasi itu
menerima uang itu dengan wajah yang masih saja nampak ragu. Namun kemudian
disimpannya uang itu di bawah lambaran daun di atas tampahnya. Kemudian iapun
mengisi pincuk anak itu dengan nasi tumpang lagi. Anak itu menjadi keheranan. Ia
belum pernah bertemu dengan orang yang tiba-tiba saja membayar nasi yang
dibelinya. Namun sambil tersenyum Paksi berkata, "Terimalah nasi itu. Makanlah.
Jangan ragu-ragu." Anak itu menerima pincuk yang telah diisi dengan nasi
tumpang. Kemudian sambil sekali-sekali memandang Paksi, ia mulai menyuapi
mulutnya lagi. Ketika Paksi menawarinya lagi setelah nasi yang sepincuk itu
habis, anak itu menggeleng. Katanya, "Aku sudah kenyang." Paksi tersenyum.
Katanya, "Uang itu masih tersisa. Kau baru makan dua pincuk, aku satu. Jika
harganya masing-masing sekeping, maka masih tersisa uang dua keping." Tetapi
anak itu menggeleng lagi sambil berkata, "Aku sudah kenyang." "Nah, jika
demikian, ambil kembalinya. Dua keping." Anak itu menjadi semakin heran. Bahkan
penjual nasi itupun menjadi heran pula. Tetapi akhirnya anak itu mau menerima
dua keping yang diberikan dengan ragu oleh penjual nasi tumpang itu. Beberapa
saat kemudian, Paksi duduk di bawah sebatang pohon waru dengan anak yang masih
saja membawa keranjangnya. "Siapa namamu?" bertanya Paksi. "Kinong," jawab anak
itu. Paksi tersenyum. Katanya, "Tentu karena dahimu yang sedikit menonjol itu."
Anak itu memandang Paksi sejenak. Namun kemudian sambil tersenyum iapun
mengangguk. "Apakah setiap hari kau berada di pasar ini?" "Ya, Kakang," jawab
Kinong. "Namaku Paksi," berkata Paksi kemudian. Anak itu mengerutkan dahinya.
Tetapi anak itu mengangguk-angguk sambil berdesis, "Ya, Kakang Paksi." "Aku
sering pergi ke pasar ini. Tetapi baru sekali ini aku melihat kau dengan
keranjangmu." "Sudah beberapa bulan aku membantu simbok," jawab Kinong. "Dimana
ayahmu?" bertanya Paksi. Anak itu memandang Paksi sejenak. Namun kemudian
wajahnya menunduk sambil berdesis, "Ayah tidak mau mencari uang." "Ayah bekerja
di sawah?" bertanya Paksi pula. "Ayah sudah tidak mempunyai sawah lagi."
"Kenapa?" "Sawah ayah sudah digadai orang. Ayah kalah berjudi. Sekarang ayah
hanya di rumah saja jika tidak sedang berjudi. Simboklah yang harus mencari
makan di pasar ini." "Dan kau selama ini berusaha membantu ibumu?" Kinong
mengangguk. "Berapa orang jumlah saudaramu?" "Seorang. Aku mempunyai kakak
perempuan yang harus tinggal di rumah untuk menanak nasi jika kebetulan simbok
mempunyai beras." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Keluarga Kinong memerlukan
pertolongan. Tetapi Paksi tidak tahu, bagaimana caranya. Tentu ia tidak dapat ke
rumah Kinong, kemudian memberi uang kepada keluarga itu. Jika demikian, maka
uang itu tentu akan diambil oleh ayah Kinong dan dipergunakannya untuk berjudi.
Paksipun tidak sebaiknya memberi uang Kinong setiap pagi. Dengan demikian, maka
jika saatnya nanti ia harus meninggalkan tempat itu, maka Kinong akan menjadi
sangat kecewa. Selain itu, pemberiannya itu akan dapat membuat Kinong menjadi
malas. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, Paksi melihat ibu Kinong
itu mengikuti seorang yang sedang berbelanja dengan menggendong sebuah bakul
yang penuh dengan berbagai macam barang. Nampaknya ibu Kinong sudah diupah lagi
untuk membawa barang-barang dari seorang perempuan yang sudah agak tua yang
sedang berbelanja. "Kakang, aku akan membantu simbok," berkata Kinong sambil
bangkit berdiri. Anak itu tidak menunggu jawab. Iapun segera berlari-lari
mendapatkan ibunya untuk membantu sebagian dari bebannya di dalam keranjang
kecilnya. Perempuan tua yang sedang berbelanja itu berpaling. Tetapi nampaknya
ia tidak berkeberatan, seorang anak laki-laki membantu membawa barang-barang
itu. Bahkan nampaknya perempuan itu sudah saling mengenal dengan ibu Kinong.
Ketika mereka berhenti sejenak untuk memindahkan beberapa jenis bawaan ibunya ke
dalam keranjang Kinong, Paksi melangkah mendekati. Dari pembicaraan mereka Paksi
mengetahui bahwa ibu Kinong itu justru sudah menjadi langganan perempuan tua
itu. Setiap kali perempuan tua itu berbelanja, ia tentu mencari ibu Kinong untuk
membantu membawa barang-barangnya. Bukan hanya sampai di luar pasar, tetapi
sampai ke rumahnya yang berantara dua bulak yang tidak terlalu panjang dari
pasar itu. Paksi memperhatikan ketiga orang yang berjalan menjauhi pasar itu.
Kinong justru berjalan di depan sambil membawa keranjang kecil itu di atas
kepalanya. Ketika ketiga orang itu menjauh, maka Paksipun kembali duduk di bawah
pohon waru yang rindang itu. Namun tidak ada lagi yang menarik perhatian Paksi.
Orang yang lalu-lalang di depan pasar itu adalah hal yang setiap hari terjadi.
Anak-anak yang ikut berbelanja dengan orang tuanya merengek minta dibelikan
mainan yang dijual di sebelah pintu gerbang. Seorang gadis kecil menjadi
gembira, ketika ibunya membeli sebuah golek kayu, bahkan dengan selendang
kecilnya sekaligus. Golek kecil itupun kemudian diembannya dengan sayang.
Diusapnya dahinya dengan jari-jarinya yang kecil sambil berdendang. Paksi
menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia ikut bergembira bersama gadis kecil
yang menggendong anak-anakannya yang terbuat dari kayu itu. Paksi terkejut
ketika seorang anak muda tiba-tiba saja duduk di sampingnya. Sambil berdesah ia
berkata, "Udaranya panas sekali, Ki Sanak." "Ya," jawab Paksi. "Tetapi di bawah
pohon ini terasa amat sejuk, sehingga aku menjadi mengantuk karenanya." Anak
muda itu tersenyum. Katanya, "Ya. Beberapa saat aku duduk disini, aku tentu akan
mengantuk pula." Paksi yang kemudian beringsut sempat memandang anak muda itu
sejenak. Tetapi ia tidak melihat sesuatu yang menarik pada anak muda itu.
Seperti anak-anak muda yang lain, maka wajahnya nampak terang. Dengan ramah anak
muda itu bertanya, "Kau sering datang ke pasar ini, Ki Sanak?" "Hanya
sekali-sekali," jawab Paksi. "O," anak muda itu mengangguk-angguk. "Bagaimana
dengan kau?" bertanya Paksi. "Aku sering sekali pergi ke pasar ini. Ibuku
berjualan disini. Pagi-pagi aku mengantar ibu ke pasar ini dan di siang hari
begini aku menjemputnya." Paksi mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya Paksi
bertanya, "Ibumu berjualan apa?" "Kain lurik," jawab anak muda itu. Paksi masih
saja mengangguk-angguk. Ketika ia berniat menanyakan rumah anak muda itu, maka
niatnya diurungkannya. Jika hal itu dilakukannya, anak muda itu tentu akan
bertanya kepadanya pula, dimana ia tinggal. Ternyata anak muda itu juga tidak
bertanya, dimana Paksi tinggal, sehingga Paksi tidak harus membuat ceritera
tentang tempat tinggalnya. Karena itu, maka untuk menghindari
pertanyaan-pertanyaan yang belum siap dijawabnya, maka Paksipun kemudian justru
bangkit dan berkata, "Aku sudah cukup lama beristirahat. Aku akan mencari bibiku
di pasar itu." Anak muda itu berpaling. Dengan tanpa banyak ingin tahu tentang
anak muda itu, iapun menjawab, "Silahkan." Paksipun kemudian telah melangkah
pergi menuju ke pintu gerbang pasar. Tetapi ia tidak masuk ke dalamnya. Bahkan
kemudian iapun telah melangkah menjauh. Paksipun kemudian telah menyusuri jalan
kembali ke gubuknya di lereng gunung. Hari itu Paksi tidak melakukan
latihan-latihan berat. Ketika ia berada di sanggar terbukanya, maka ia hanya
melakukan latihan-latihan ringan, agar urat-uratnya tidak serasa membeku.
Demikian tubuhnya basah oleh keringat, maka Paksipun menyudahi latihannya.
Setelah mandi dan mencuci, maka Paksipun lebih banyak duduk merenungi apa yang
telah dilihatnya di pasar. Paksi tidak dapat segera melupakan dua orang ibu dan
anak yang harus bekerja keras untuk dapat mencukupi kebutuhan mereka
sehari-hari, karena laki-laki yang seharusnya bertanggung jawab atas kehidupan
mereka, justru telah menjadi benalu. Tetapi Paksi tidak dapat berbuat banyak. Di
keesokan harinya, Paksi tidak turun dari tempatnya. Ia lebih banyak tenggelam di
sanggarnya. Paksi memang berniat untuk tiga atau ampat hari sekali saja turun
untuk mengamati kehidupan agar kehadirannya tidak menarik perhatian orang.
Sementara Paksi masih terikat pada latihan-latihan yang harus dilakukannya
sendiri tanpa Ki Marta Brewok di siang hari. Dengan latihan yang tekun dan
teratur, maka kemampuan bidik Paksipun telah berkembang dengan cepat. Bahkan Ki
Marta Brewokpun merasa heran dengan kemampuan bidik Paksi. Bukan saja sasaran
yang diam, tetapi sasaran yang bergerakpun mampu dikenainya dengan tepat.
Demikian pula dengan kemampuannya melempar lembing. Sambil berlari kencang Paksi
sanggup mengenai sebatang pisang yang ditanam beberapa langkah dari jalur
larinya. Atau dengan lemparan dari jarak yang cukup jauh, dapat mengenai sebuah
kelapa yang digantungkan dengan tali pada dahan pepohonan. Di samping panah dan
lembing, Paksipun berlatih untuk mempergunakan senjata yang lebih kecil. Pisau,
belati dan paser yang dapat dibuatnya sendiri. Bahkan Paksipun memiliki
kemampuan melempar sasarannya dengan kapak-kapak kecil yang dibelinya di pasar
yang sering dipergunakan untuk membuat perabot rumah. Bukan untuk membelah
kayu-kayu gelondong. Dengan demikian, maka kemampuan Paksipun menjadi lengkap.
Di malam hari, Paksi masih tetap berlatih bersama Ki Marta Brewok di sanggar
terbukanya. Namun sekali-sekali Ki Marta Brewok juga ingin melihat kemampuan
bidik Paksi yang dilatihnya di siang hari. "Nah, kau juga harus mengembangkan
kemampuan bidikmu di malam hari, dimana kau berada di dalam lingkungan
kegelapan," berkata Ki Marta Brewok. Ternyata Ki Marta Brewok tidak hanya
sekedar memberikan perintah-perintah dan aba-aba saja. Mencela atau mengejek
kegagalan-kegagalan Paksi. Tetapi Ki Marta Brewok telah memberikan
petunjuk-petunjuk langsung serta contoh-contoh, apa yang harus dilakukan oleh
Paksi. Ternyata Ki Marta Brewok sendiri mampu membidik sasaran yang berada di
dalam gelap. Dengan ketajaman penglihatan serta kemampuan bidik yang sangat
tinggi, Ki Marta Brewok dapat mengenai sebongkah batu padas yang dilemparkan
oleh Paksi di udara. "Di siang hari kau mungkin dapat melakukannya, Paksi.
Tetapi kau juga harus dapat melakukannya di malam hari, karena pada suatu saat
kau memerlukan untuk melakukannya di malam hari." Paksi mengangguk kecil sambil
menjawab, "Baik, Ki Marta. Aku akan berlatih juga di malam hari." Tetapi di
malam hari Paksi tidak berlatih sendiri. Ia langsung berada di bawah bimbingan
Ki Marta Brewok, sehingga penglihatan Paksi menjadi semakin tajam di malam hari.
Bahkan kemudian Ki Marta Brewok telah membawa Paksi di dalam laku yang khusus
untuk mempertajam penglihatannya. "Bukan hanya penglihatanmu, Paksi. Tetapi
segenap inderamu akan dapat kau pertajam dengan laku itu." Paksi yang sudah
menjalani laku apapun tidak menolak. Laku itu dimulai dari jenis makanan yang
boleh dimakannya dalam jangka waktu tertentu. Selama ampat puluh hari, Paksi
harus menyusut jenis makanan yang dimakannya setiap hari. "Kau hanya boleh makan
tiga jenis makanan setiap hari, Paksi," berkata Ki Marta Brewok. "Maksud Ki
Marta?" bertanya Paksi. "Jika kau makan nasi dan minum air, maka kau tinggal
boleh makan satu jenis lagi. Jika yang satu jenis itu garam, maka kau tidak
dapat makan jenis yang lain. Kau tidak boleh makan gula atau daging untuk lauk
atau sayur atau apapun. Jika kau makan gula dan minum air, maka kau dapat makan
nasi saja, atau ketela saja atau sayuran saja, itupun hanya satu jenis pula."
Paksi mengangguk-angguk. Ia tahu maksud Ki Marta Brewok. Namun kemudian Ki Marta
Brewok berkata, "Tetapi ada jenis lain yang dapat kau makan di luar ketiga jenis
makanan itu. Yaitu kunyit dan kencur. Tentu saja tidak terlalu banyak." Paksi
masih saja mengangguk-angguk. Tetapi ia berjanji di dalam hatinya, bahwa ia akan
menjalani laku sejauh kemampuannya. Paksi sudah tidak memikirkan lagi, apakah ia
tidak akan terlambat untuk mencari cincin bermata tiga butir batu akik itu.
Karena apa yang dihadapinya itu akan dapat langsung memberikan arti bagi
hidupnya. Dalam pada itu, maka sehari kemudian Paksi sudah mulai menjalani laku.
Namun ternyata laku yang lainpun harus ditempuhnya pula. Menjelang saat-saat
terakhir dari laku yang dijalani dengan hanya makan tiga jenis makanan itu
nanti, ia harus menjalani laku pati-geni. "Laku itu tidak akan kau jalani
disini, Paksi. Aku akan membawamu ke satu tempat yang sesuai bagimu untuk
menjalani laku itu." Paksi mengangguk sambil menjawab, "Baik, Ki Marta. Aku akan
menjalaninya." "Baiklah. Mulailah sejak besok hingga genap ampat puluh hari
ampat puluh malam," berkata Ki Marta Brewok. Lalu katanya lebih lanjut, "Tetapi
selama itu, kau harus tetap berlatih." Demikianlah, seperti yang dikatakan oleh
Ki Marta Brewok, maka ketika matahari terbit Paksi sudah berada di dalam laku
yang dimaksud Ki Marta Brewok. Namun bagi Paksi laku itu tidak terlalu banyak
mempengaruhi ketegaran wadagnya. Ki Marta Brewok hanya menyebut jenis makanan
yang boleh di makan. Tetapi tidak jumlahnya. Karena itu, maka Paksi tetap dapat
melakukan kewajibannya dengan baik, karena Paksi makan cukup banyak. Ia dapat
memberikan warna makanannya yang berbeda-beda setiap hari, meskipun tidak lebih
dari tiga jenis. Di samping itu Paksipun sedikit-sedikit makan pula kunyit dan
kencur yang membuat tubuhnya menjadi hangat. Dalam pada itu, seperti
direncanakan, Paksi dalam waktu tiga atau ampat hari sekali memang turun untuk
pergi ke pasar. Namun Paksi sudah mulai mengenali nama beberapa padukuhan.
Kadang-kadang ia bertanya kepada anak-anak yang sedang menggembalakan kambing.
Tetapi kadang-kadang Paksi juga berjalan bersama dengan orang lewat yang dapat
memberikan jawaban atas beberapa pertanyaannya. Ketika sudah dua tiga kali Paksi
berada di pasar dan dengan sengaja berusaha membuat hubungan dengan beberapa
orang, maka Paksi mulai berkenalan dengan beberapa orang yang sering berada di
pasar itu. Setiap kali Paksi tentu bertemu dengan Kinong yang masih saja
menerima upah dari orang-orang yang berbelanja yang memerlukan tenaganya.
Demikian pula ibunya. Jika Kinong sempat duduk beristirahat dan berbincang, maka
Paksi mengetahui bahwa ayah Kinong masih saja gila berjudi dan tidak segan-segan
merampas uang ibunya yang didapatkannya dengan bekerja keras bersama Kinong di
pasar. "Setiap kali kakak perempuanku hanya dapat menangis. Sebenarnya ia ingin
juga bekerja seperti kami di pasar. Tetapi ibu melarangnya." "Kakakmu seorang
perempuan, Kinong. Ibumu agaknya tidak rela melihat anaknya perempuan bekerja
keras di pasar sebagaimana dilakukan oleh ibunya dan anaknya laki-laki." Kinong
mengangguk-angguk. Anak itu tiba-tiba saja bangkit berdiri ketika ia melihat
ibunya datang kepadanya. Sambil tersenyum ibunya berkata, "Sudah cukup untuk
hari ini Kinong. Kita dapat pulang agak awal. Aku sudah membeli beras seberuk.
Cukup untuk hari ini. Jika kau besok akan beristirahat, aku kira tidak ada
masalah. Aku masih ada uang." "Simbok dapat uang banyak?" bertanya Kinong.
"Tidak banyak, Kinong, Tetapi cukup buat kita." "Aku juga masih mempunyai uang,"
berkata Kinong. "Kau bawa saja. Masukkan ke dalam bumbung tabunganmu." Kinong
mengangguk-angguk. Sementara ibunya berkata hampir berbisik, "Bukankah kau ingin
segera supit seperti kawankawanmu itu? Nah, kau sudah merasa terlambat. Jika
uangmu nanti terkumpul dan ada sisa uang Simbok serba sedikit, kau dapat supit
sebelum tahun depan." Wajah Kinong menjadi cerah. Katanya, "Baik, Mbok. Aku akan
menabung." Ibunya tertawa. Diusapnya kepala anak itu sambil berdesis, "Nah,
marilah kita pulang." Tetapi keduanya tertegun ketika mereka melihat seorang
laki-laki berwajah kasar. Matanya kemerah-merahan, sementara pakaiannya nampak
kusut. Kinong tiba-tiba menjadi ketakutan. Hampir di luar sadarnya, Kinong
berdesis, "Mbok, itu Ayah." Ibu Kinongpun melangkah surut. Didekapnya anaknya
yang ketakutan. Sementara itu, laki-laki yang matanya kemerah-merahan itu
melangkah mendekati ibu Kinong sambil membelalakkan matanya. "Sampai siang
begini kau masih belum pulang?" "Aku baru selesai, Pak," jawab perempuan itu.
"Kau tentu dapat uang banyak. Berikan kepadaku." "Sudah aku belikan beras, Pak.
Kita sudah kehabisan beras. Uangku hanya cukup untuk membeli beras seberuk."
"Bohong. Berikan uangmu kepadaku." "Pak," ibu Kinong berusaha untuk menjawab
dengan sareh, "marilah kita pulang. Mungkin aku masih mempunyai sisa uang
sedikit. Tetapi jangan disini. Disini banyak orang." Tetapi laki-laki itu tidak
peduli. "Cepat, berikan uang itu kepadaku, atau aku tampar wajahmu. Aku tidak
peduli apakah disini banyak orang atau tidak. Aku perlu uang itu." "Baik, baik.
Tetapi marilah, kita pergi ke tikungan itu." "Tidak," teriak laki-laki itu. Ibu
Kinong menjadi sangat gelisah. Tetapi suaminya tidak menghiraukannya. Bahkan
sekali lagi ia membentak, "Berikan uang itu sekarang. Apakah kau tuli?" Beberapa
orang telah mengerumuninya. Seorang laki-laki mendekat sambil bertanya, "Apa
yang terjadi?" "Jangan ikut campur," bentak laki-laki itu pula. "Ini adalah
persoalan suami isteri." Paksipun sudah berdiri di antara orang-orang yang
berkerumun. Tetapi ia benar-benar dicengkam oleh keraguan, persoalan itu adalah
persoalan seorang suami dengan isterinya. Jika ia mencampurinya, apakah itu
bukan berarti bahwa ia telah memperburuk hubungan itu. Jika suaminya mendendam,
bukankah keadaan isterinya akan menjadi semakin sulit. Selagi Paksi merenung,
iapun terkejut. Beberapa orang perempuan menjerit. Laki-laki itu telah menampar
wajah isterinya. Kinongpun menangis sambil berpegangan baju ibunya. "Simbok,
Simbok," suaranya melengking berkepanjangan. "Diam kau monyet," bentak ayahnya.
Tetapi ibu Kinong itu tidak menangis. Iapun menarik ujung kain ikat pinggangnya.
Dengan tangan gemetar ia melepas ikatan uang di ujung kain ikat pinggangnya itu.
Namun tiba-tiba kerumunan orang itu menyibak. Dari antara mereka muncul seorang
perempuan yang terasa asing bagi orang-orang yang ada di pasar itu. Seorang
perempuan dengan pakaian yang khusus. Di bawah kainnya yang disingsingkannya, ia
mengenakan celana hitam yang longgar. Sebilah pedang terselip di pinggangnya. Di
kepalanya dikenakan ikat kepala hitam pula. Namun rambutnya dibiarkan terurai di
punggungnya. "Apa yang terjadi?" suaranya melengking tinggi. Semua orang
memandang kepadanya. Sementara itu, ayah Kinongpun nampak menjadi cemas. Dengan
suara gemetar ia berkata, "Isteriku inilah. Ia telah mengambil uangku." "Apakah
ia tidak kau beri belanja untuk keperluannya sehari-hari?" "Sudah. Aku
memberinya belanja secukupnya. Ia memang pemboros. Ia suka membeli barangbarang
yang tidak berguna. Ia suka pula makan di warung-warung di antara banyak
laki-laki." Perempuan dalam pakaian asing itu memandang ibu Kinong dengan
seksama. Ia melihat setitik darah di sudut bibir ibu Kinong itu. Namun Paksi
terkejut sekali ketika ia mendengar perempuan asing itu berkata, "Seorang isteri
yang suka mencuri uang suaminya memang harus dihajar habishabisan. He, kau curi
uang suamimu untuk diboroskan?" Jawaban Ibu Kinong juga mengejutkan Paksi.
Dengan suara yang hampir tidak terdengar ibu Kinong itu menjawab, "Aku
mengambilnya ketika ia sedang tidur." "Huh. Kau berbakat menjadi pengkhianat.
Kembalikan uang itu. Kau nodai nama perempuan. Aku juga perempuan. Aku tidak
pernah mencuri uang suamiku. Aku justru memberikan apa saja yang ia minta
dariku." Ibu Kinong membuka ikatan pada ujung kain ikat pinggangnya.
Diserahkannya beberapa keping uang yang tersisa kepada suaminya. Sambil menerima
uang itu, suaminya berkata, "Aku ampuni kau kali ini. Tetapi jika sekali lagi
terjadi, aku mungkin tidak dapat mengekang diriku lagi." Laki-laki itupun
kemudian melangkah pergi meninggalkan Kinong yang menangis. Tetapi ibunya tetap
tidak menangis. Paksi memandang wajah perempuan itu dengan jantung yang berdegup
semakin cepat. Rasarasanya ibu Kinong itu sudah tidak mempunyai air mata yang
tersisa. Namun perempuan asing itu mencibirkan bibirnya sambil berkata,
"Untunglah suamimu seorang penyabar. Jika tidak, maka rahangmu akan
dihancurkannya." Ibu Kinong tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja Kinonglah yang
berteriak, "Simbok tidak bersalah. Ayah yang penjudi. Ia selalu merampas uang
Simbok." "Kinong," potong ibunya sambil mendekap anaknya. "Sudahlah. Jangan
dipersoalkan lagi." Tetapi Kinong masih tetap menangis. Sementara itu perempuan
dengan pakaian yang asing itu berkata, "Ini anakmu, he?" Ibu Kinong mengangguk.
"Ternyata anakmu yang masih kecil itu sudah kau ajari berbohong. Kau ajari ia
menghina ayahnya yang meneteskan benih di dalam perutmu." "Tidak. Bukan
maksudku." Kinong masih akan berteriak lagi. Tetapi ibunya segera menutup
mulutnya. Namun orang-orang yang berkerumun itu terkejut sekali lagi. Seorang
laki-laki yang masih terhitung muda, tiba-tiba saja menyibak kerumunan orang
itu. Dipandanginya perempuan dalam pakaian asing itu sambil berkata, "Apa
sebenarnya maksudmu? Aku tahu, kau tentu murid dari Goa Lampin. Murid seorang
iblis perempuan yang membenci sesama perempuan. Kau, muridnya, agaknya mempunyai
tabiat yang sama." "Darimana kau tahu tentang aku?" perempuan itu menjadi
tegang. "Kenapa kau bertanya? Kau pakai dengan bangga ciri perguruanmu. Kau
pakai pada ikat kepalamu yang hitam itu, lambang lingkaran yang dibelah dengan
garis tegak berwarna merah. Lambang dari sekelompok perempuan berilmu tinggi
yang merendahkan derajat sesama perempuan." "Iblis kau. Kau murid dari padepokan
Sad." "Aku tidak ingkar. Kau tentu mengenal ciri-ciri perguruan Sad. Aku memang
salah seorang murid perguruan itu." "Kenapa kau campuri urusanku?" "Kenapa kau
mencampuri urusan suami isteri itu? Kau kira dugaanmu benar, bahwa perempuan itu
mencuri uang suaminya?" "Ia mengaku sendiri." "Perempuan itu adalah contoh
perempuan yang ingin menjunjung tinggi martabat suaminya. Ia tidak mau membuat
suaminya malu di hadapan orang banyak. Tetapi anak laki-laki itu berkata dengan
jujur. Nah, aku cenderung percaya kepada anak itu daripada pengakuan ibunya."
"Sudah. Sudahlah, Ki Sanak," berkata ibu Kinong itu kemudian. "Biarlah terjadi
sebagaimana yang terjadi. Aku mohon diri. Aku akan pulang. Aku tidak mau menjadi
tontonan terlalu lama disini. Aku berterima kasih kepada semuanya yang menaruh
perhatian terhadap persoalan yang aku hadapi." "Pulanglah, Nyi. Mudah-mudahan
kemarahan suamimu tidak berkepanjangan. Kau memang harus bersabar menghadapi
sikapnya. Tetapi yakinkan dirimu, kau perempuan yang baik." "Huh," desah
perempuan yang berpakaian asing itu. "Orang-orang dari perguruan Sad memang
pemuja perempuan." "Tidak semua perempuan," jawab laki-laki yang masih terhitung
muda itu. "Kami menghargai perempuan sewajarnya. Tetapi kami tidak dapat
menghargai perempuan dari Goa Lampin." "Kau telah menghina kami," geram
perempuan itu. Namun laki-laki yang masih terhitung muda itu tidak
menghiraukannya. Sekali lagi ia berkata kepada ibu Kinong, "Pulanglah.
Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa denganmu setelah kau berikan uangmu kepada
suamimu." Ibu Kinongpun kemudian telah menggandeng anaknya. Tetapi ketika mereka
melangkah, Kinong sempat berlari mengambil keranjang kecilnya. Sekilas ia
memandang Paksi yang berdiri termangu-mangu. Namun kemudian iapun berlari kepada
ibunya. Sejenak kemudian ibu dan anak itupun meninggalkan tempat itu, menembus
kerumunan orangorang yang masih terpancang di tempatnya. Namun perhatian mereka
kemudian telah berpindah kepada dua orang perempuan dan laki-laki yang kemudian
saling berhadapan. Ketika ketegangan terasa semakin mencengkam, maka orang-orang
yang berkerumun itupun telah bergeser surut. Lingkaran itupun melebar. Beberapa
orang justru telah membenahi barangbarang dagangan mereka. "Jika kawan mereka
berdatangan, maka perkelahian akan meluas," berkata salah seorang pedagang nasi
tumpang yang dagangannya tinggal tersisa sedikit. Lalu katanya, "Lebih baik aku
pulang." Beberapa orang telah berbuat serupa. Seorang penjual dawet telah
memanggul sisa dawetnya menjauh. Dalam pada itu, maka perempuan yang berpakaian
asing itu agaknya benar-benar menjadi marah. Karena itu, maka katanya, "Aku
tidak akan pergi sebelum aku membuat perhitungan dengan kau yang telah menghina
perguruan kami." "Itu terserah kepadamu. Aku tidak peduli. Tetapi aku akan
meninggalkan tempat ini." "Kau juga tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum
kau berlutut di hadapanku dan mohon maaf atas kelancanganmu, mengucapkan
kata-kata penghinaan atas perguruan kami." "Jangan aneh-aneh. Jangan bermimpi
tentang sesuatu yang tidak akan pernah terjadi." "Kau tahu watak orang-orang Goa
Lampin?" "Tahu. Mereka adalah perempuan-perempuan yang membenci perempuan. Di
perguruan Goa Lampin memang terdapat beberapa orang laki-laki. Mereka hidup
dalam dunia mimpi, karena lakilaki di perguruan Goa Lampin diperlakukan seperti
anak-anak emas yang manja." "Apakah kau merasa iri, bahwa kau bukan salah
seorang di antara mereka yang menjadi pilihan penghuni Goa Lampin?" Laki-laki
yang terhitung muda itu tertawa berkepanjangan. Di sela-sela derai tertawanya ia
berkata, "Kau kira aku merasa berbahagia hidup dalam sangkar seperti mereka yang
kehilangan harga dirinya sebagai seorang laki-laki? Aku terbiasa hidup dalam
pengembaraan yang kadangkadang penuh dengan bahaya. Tetapi dunia laki-laki
memang keras." "Kami, perempuan-perempuan dari Goa Lampin tidak akan menghindari
kekerasan." "Terutama untuk melindungi laki-laki betina yang kalian simpan di
Goa Lampin itu." Perempuan itu benar-benar menjadi marah. Dengan garang ia
berkata, "Bersiaplah. Aku akan menundukkanmu dan memaksamu tinggal di dalam
sangkar di Goa Lampin. Guru akan dapat membuatmu menjadi jinak, karena kau akan
kehilangan segala kebanggaan sebagai seorang yang terbiasa mengembara di dunia
olah kanuragan. Tetapi guru akan dapat memberikan kebanggaan baru kepadamu
sebagai seorang laki-laki sejati." "Gila," geram laki-laki yang masih terhitung
muda itu. Katanya dengan wajah yang menjadi merah, "Penghinaan yang kau
lontarkan tidak dapat dimaafkan lagi." Perempuan yang berpakaian asing itu tidak
menjawab. Ketika laki-laki yang masih terhitung muda itu melangkah maju, maka
perempuan itupun segera bersiap. Sejenak kemudian, maka keduanya telah terlibat
dalam perkelahian yang semakin lama menjadi semakin sengit. Orang-orang yang
menyaksikannya telah menjadi semakin jauh. Paksi yang tidak ingin menarik
perhatian, ikut pula bergeser menjauh. Namun dengan seksama ia memperhatikan
kedua orang yang sedang bertempur itu. Bukan saja untuk melihat siapakah yang
kalah dan siapakah yang menang, namun Paksipun ingin melihat dan mengenali
mereka meskipun mereka tidak mempergunakan ciri-ciri perguruan mereka. Ternyata
kedua orang itu memiliki landasan ilmu yang sudah mapan. Namun keduanya masih
belum sampai pada tataran tertinggi dari ilmu kanuragan. Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Ia berbangga terhadap dirinya sendiri. Ketika kedua orang yang
bertempur itu nampaknya sudah sampai pada tataran tertinggi dari kemampuan yang
telah mereka warisi, kemampuan mereka masih jauh berada di bawah kemampuan Paksi
sendiri. Karena itu, hampir di luar sadarnya Paksipun berdesis, "Aku harus
berterima kasih kepada guru, kepada orang yang mengaku pengikut Kebo Lorog dan
terutama kepada Ki Marta Brewok. Karena dengan bimbingan mereka aku telah
memiliki ilmu yang cukup mapan. Sementara itu, di bawah bimbingan Ki Marta
Brewok ilmuku masih terus berkembang." Dalam pada itu, pertempuranpun menjadi
semakin sengit. Beberapa kali kedua belah pihak telah berhasil menyusupkan
serangan mereka di sela-sela pertahanan lawannya. Ketika laki-laki yang masih
terhitung muda itu terlambat menangkis serangan lawannya, maka kaki lawannya itu
telah menghantam dadanya, sehingga laki-laki itu terdorong beberapa langkah
surut. Namun ketika perempuan yang berpakaian asing itu memburunya, maka dengan
sigapnya laki-laki itu meloncat ke samping. Satu putaran yang cepat telah
mengayunkan kakinya ke arah kening lawannya. Perempuan itu sempat melihat
serangan lawannya. Dengan cepat kedua lengannya telah melindungi kepalanya.
Tetapi ayunan kaki itu demikian kerasnya sehingga perempuan itu hampir saja
kehilangan keseimbangannya. Untunglah bahwa dengan sigap ia menggeliat dan
sesaat kemudian, perempuan itu sudah tegak berdiri dengan kokohnya. Namun
lawannya justru bergerak cepat. Serangan-serangannya kemudian datang beruntun
seperti banjir bandang. Perempuan yang berpakaian asing itu mulai terdesak.
Betapapun ia mencoba mengimbangi kecepatan gerak lawannya, namun beberapa kali
ia harus berloncatan menghindar serta mengambil jarak. Tetapi lawannya selalu
saja mendesaknya. Serangan-serangannya seakan-akan menjadi semakin cepat
memburunya. Dalam keadaan yang sulit, maka perempuan yang berpakaian asing itu
telah menarik pedangnya dengan cepat. Satu ayunan yang deras hampir saja
memenggal kepala laki-laki yang masih terhitung muda itu. Namun laki laki itu
sempat meloncat jauh-jauh untuk mengambil jarak. Namun perempuan itupun
memburunya. Ia tidak ingin kehilangan saat-saat berharga ketika laki-laki itu
masih terkejut mendapat serangannya itu. Namun ketika perempuan itu mengayunkan
pedangnya sekali lagi menyerang ke dahi lawannya, maka laki-laki itu
menangkisnya dengan pedangnya pula. Benturan senjata itupun tidak dapat
dielakkan. Bunga api memercik dari benturan dua bilah pedang yang terbuat dari
baja pilihan. Perempuan itu menggeram. Sekali pedangnya berputar, kemudian
dengan loncatan kecil pedang itu terjulur ke arah dada. Tetapi lawannya cukup
tangkas. Pedang itu mengenainya. Laki-laki itu meloncat surut, sementara
pedangnya menebas serangan lawannya. Yang terjadi kemudian adalah benturan
antara dua jenis ilmu pedang yang mempunyai landasan dasar yang berbeda. Namun
keduanya menunjukkan kemampuan mereka sehingga pertempuran itupun menjadi
semakin menegangkan. Paksi menyaksikan pertempuran itu dengan dahi yang
berkerut. Kedua orang yang bertempur itu masih harus lebih banyak berlatih agar
ilmu mereka menjadi semakin berkembang. Bagi Paksi, keduanya masih terhitung
pada tataran yang belum dapat dibanggakan. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia
juga mempunyai sebuah senjata yang tidak kalah garangnya dari pedang di
gubuknya. Ia mempunyai sebatang tongkat yang di tangannya akan dapat menjadi
lebih berbahaya daripada pedang di tangan kedua orang itu. Namun Paksi masih
saja tetap berada di pinggir arena, di antara beberapa orang yang menyaksikan
pertempuran itu dari jarak yang semakin jauh. Namun Paksipun kemudian menjadi
berdebar-debar. Nampaknya keduanya benar-benar telah dicengkam oleh kemarahan
yang membuat darah mereka mendidih, sehingga mereka tidak lagi mengekang diri.
Mereka benar-benar telah tenggelam dalam nafsu untuk membinasakan lawan
masing-masing. Tetapi semakin lama perempuan dalam pakaian asing itu menjadi
semakin terdesak. Betapapun ia berusaha untuk bertahan, namun senjata lawannya
seakan-akan selalu memburunya. Paksi menjadi berdebar-debar ketika perempuan
yang berpakaian asing itu menjadi semakin terdesak. Ujung pedang lawannya bahkan
telah mulai menyentuh kulitnya, sehingga sebuah goresan kecil menyilang di
lengannya, mengoyak bajunya. Perempuan itu mengumpat. Bajunya yang koyak dan
kulitnya yang berdarah, membuatnya sangat marah. Tetapi lawannya, seorang
laki-laki yang merasa terhina oleh sikap perempuan itu, nampaknya benar-benar
telah tersinggung. Ia ingin benar-benar merendahkan lawannya di hadapan banyak
orang yang menyaksikan pertempuran itu meskipun dari kejauhan. Karena itu, maka
ketika lawannya menjadi semakin terdesak, laki-laki itu berkata, "Aku memberi
kesempatan kepadamu untuk menyerah, berlutut dan mohon maaf. Aku akan
memaafkanmu, karena perguruan Sad memang tidak ingin bermusuhan dengan perguruan
Goa Lampin. Meskipun ada perbedaan-perbedaan yang mendasar, tetapi kita dapat
berjalan sendirisendiri tanpa saling mengganggu." "Setan kau," geram perempuan
itu. "Kau jangan mencoba menghina perguruan Goa Lampin." "Tetapi satu kenyataan
harus kau hadapi. Kau sudah terluka. Bajumu sudah koyak. Jika kita bertempur
terus, maka bajumu akan terkoyak dimana-mana, sedangkan luka di tubuhmu akan
menganga semakin lebar." Wajah perempuan itu menjadi merah. Ia memang tidak
dapat mengelakkan diri dari kenyataan, bahwa bajunya memang sudah terkoyak.
Tetapi harga dirinya sebagai murid dari Goa Lampin tidak memungkinkannya untuk
menyerah. Namun dalam keragu-raguan itu, terdengar suara seorang perempuan lain
dengan lantangnya, "Kau anak dari perguruan Sad. Apakah kau memang sengaja
memulai permusuhan dengan kami?" Laki-laki yang masih terhitung muda, yang
datang dari perguruan Sad itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian wajahnya
menjadi tegang. Ia melihat seorang perempuan lain yang melangkah mendekati
perempuan yang hampir dikalahkannya itu. Perempuan yang muncul berjalan dari
antara banyak orang yang menyaksikan pertempuran itu dari jarak yang agak jauh.
Murid perguruan Sad itu tidak segera menjawab. Yang dilihatnya adalah seorang
perempuan dalam pakaian yang wajar, seperti perempuan-perempuan lain yang pergi
ke pasar. Ia mengenakan kain lurik berwarna coklat. Bajunyapun berwarna coklat
pula. Selembar selendang lurik yang juga berwarna coklat, tetapi sedikit lebih
tua dari bajunya, tergantung di pundaknya. Langkah perempuan itupun tidak
menunjukkan langkah yang berbeda dengan kebanyakan perempuan. Langkah-langkah
kecil meskipun cepat. Perempuan yang berpakaian asing, yang lengannya terluka
itu memandang perempuan yang datang itu dengan penuh harap. Bahkan ketika
perempuan dalam pakaian lurik coklat itu mendekat, perempuan yang terluka
pundaknya itu mengangguk sambil merendahkan tubuhnya pada lututnya. "Aku sudah
melihat apa yang terjadi," berkata perempuan berpakaian coklat itu. "Ya, Guru,"
jawab perempuan yang terluka lengannya. "Anak dari perguruan Sad itu mencampuri
urusanku." Perempuan berpakaian coklat itu memandang laki-laki yang disebutnya
dari perguruan Sad itu dengan tajamnya. Sekali lagi ia berkata, "Kau sengaja
membuat persoalan dengan kami, perguruan Goa Lampin?" "Bukan maksudku," jawab
laki-laki itu. "Jadi kenapa kau campuri urusan muridku?" "Ialah yang mula-mula
mencampuri urusan orang dengan sikap yang tidak adil." "Apapun yang dilakukan,
biarlah dilakukan." "Tetapi perempuan itu telah merendahkan harga diri, justru
seorang perempuan seperti dirinya." "Sudah aku katakan, apapun yang dilakukan,
jangan mencampurinya. Aku tidak senang melihat kelakuanmu seperti itu. Ingat."
"Tetapi selama orang-orang dari perguruan Goa Lampin masih tetap mencampuri
persoalan orang lain dengan sikap yang tidak adil, maka kami tidak akan tinggal
diam." "Sejak kapan gurumu mengajarimu berlaku seperti itu? Kau tentu bukan
orang baru di perguruan Sad, menilik kemampuanmu. Justru karena itu kau tentu
tahu, apa saja yang dilakukan oleh gurumu. Iblis yang licik dan curang." "Aku
menduga bahwa kau adalah guru dari perguruan Goa Lampin sesuai dengan sikap
perempuan yang terluka itu. Tetapi itu bukan berarti bahwa kau dapat menghina
guruku." "Lalu apa yang akan kau lakukan, he? Apa? Kau tidak perlu membunuh diri
disini untuk sekedar membela nama baik gurumu. Aku sudah mengenal gurumu dengan
baik. Kaupun tentu juga sudah mengenalnya. Apalagi?" Laki-laki yang masih
terhitung muda dari perguruan Sad itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba orang dari
Goa Lampin itu berkata, "Aku ulangi tawaran muridku. Kami mengundangmu untuk
datang ke Goa Lampin. Kau pantas tinggal bersama kami." "Cukup," wajah laki-laki
dari perguruan Sad itu menjadi merah. Tetapi perempuan yang berpakaian coklat
itu tersenyum. Katanya, "Jangan marah. Hanya sebuah tawaran." "Aku masih
mempunyai harga diri sebagai seorang laki-laki. Aku bukan sebangsa laki-laki
yang kau kumpulkan di perguruanmu." Tetapi perempuan yang berpakaian coklat itu
tersenyum. Orang-orang yang berkerumun dari jarak yang agak jauh itu menjadi
berdebar-debar. Perempuan itu memang cantik. Apalagi ketika ia tersenyum sambil
melangkah mendekati laki-laki dari perguruan Sad itu. Orang-orang yang
menyaksikan sikap perempuan itu menjadi tegang. Paksipun mengerutkan dahinya.
Laki-laki dari perguruan Sad itu masih menggenggam senjatanya. Tetapi perempuan
cantik itu masih saja tersenyum sambil melangkah lebih dekat lagi. Laki-laki itu
tiba-tiba saja telah mengacukan pedangnya. Dengan lantang ia berkata, "Jangan
mendekat lagi. Aku dapat membunuhmu." Tetapi perempuan itu menjawab dengan
tenang, "Kau tidak akan melakukannya, anak manis." Ketika perempuan cantik
dengan pakaian coklat itu menjadi semakin dekat dengan senyumnya yang masih saja
mengembang, tiba-tiba saja ujung pedang laki-laki itu menunduk. Semakin dekat
perempuan itu daripadanya, maka pedang itupun menjadi semakin merunduk pula.
"Nah," berkata perempuan berpakaian coklat itu, "bukankah lebih baik begitu? Kau
memang bukan seorang laki-laki yang jahat. Kau adalah laki-laki yang lembut,
yang pantas untuk tinggal bersama kami." Laki-laki itu menunduk. "Jangan malu,
pandang wajahku," berkata perempuan cantik itu. Laki-laki itu memang mengangkat
wajahnya, memandang wajah perempuan cantik itu. Sementara perempuan cantik itu
juga memandang mata laki-laki itu seakan-akan tembus sampai ke pusat jantungnya.
Paksi menjadi berdebar-debar. Laki-laki dari perguruan Sad itu adalah laki-laki
yang tegar. Namun tiba-tiba saja kepalanya menunduk. Pedangnya terkulai di
tangannya yang lemah. Laki-laki itu seakan-akan menjadi tidak berdaya sama
sekali. Perempuan cantik berpakaian coklat itu tertawa. Ia benar-benar telah
menguasai laki-laki yang masih terhitung muda itu. "Sarungkan senjatamu. Kau
tidak akan pernah mempergunakannya lagi." Laki-laki itu seakan-akan telah
kehilangan penalarannya. Disarungkannya senjatanya tanpa disadarinya. Paksilah
yang benar-benar menjadi tegang. Ia tidak dapat membiarkan laki-laki itu begitu
saja jatuh ke tangan perempuan berpakaian coklat itu. Paksipun tahu bahwa
perempuan itu adalah perempuan yang cantik. Tetapi Paksipun menyadari bahwa
kecantikan itu hanya nampak pada ujud lahiriahnya saja. Sikapnya terhadap
laki-laki dari perguruan Sad itu telah menunjukkan wataknya yang sebenarnya.
Apalagi sikap itu dilakukannya di hadapan banyak orang tanpa malu. Namun Paksi
masih harus memperhitungkan banyak hal tentang perempuan itu. Paksi mulai
membayangkan, apa jadinya jika dirinya yang kemudian berdiri dengan kepala
tunduk tanpa dapat memberikan perlawanan sama sekali. "Tentu ada kekuatan yang
tidak terlawan oleh laki-laki itu," berkata Paksi di dalam dirinya. Namun dalam
pada itu, ketika laki-laki dari perguruan Sad itu benar-benar telah kehilangan
kesadarannya, sehingga seakan-akan telah menjadi seekor lembu yang telah dicocok
hidungnya, tiba-tiba saja terasa angin berhembus perlahan-lahan. Tidak terlalu
kencang. Namun angin yang tidak terlalu kencang itupun kemudian telah berputar,
seperti sebuah angin pusaran kecil. Hanya debu-debu kecil yang terangkat oleh
angin pusaran yang lemah itu. Namun angin pusaran yang lemah itu telah bergerak
dengan cepat. Tiba-tiba saja angin pusaran itu seakan-akan telah membelit
laki-laki dari perguruan Sad yang telah kehilangan kesadarannya itu. Perempuan
cantik dari Goa Lampin itu terkejut. Tiba-tiba ia menengadahkan wajahnya.
Beberapa langkah ia bergerak surut menjauhi laki-laki dari perguruan Sad itu.
"Setan tua. Kenapa kau selalu menggangguku? Marilah, kita selesaikan persoalan
kita sampai tuntas." Tidak terdengar jawaban. Tetapi yang terjadi kemudian
adalah, bahwa laki-laki yang kehilangan kesadaran itu tiba-tiba mengangkat
wajahnya. Seperti orang terbangun dari tidurnya ia memandang berkeliling. Namun
tiba-tiba saja laki-laki itu meloncat mundur sambil menarik senjatanya dari
sarungnya. Dengan garang iapun berkata, "Apa yang sudah kau lakukan?" Perempuan
yang semula nampak cantik dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya itu
mengerutkan dahinya. Wajahnya tidak lagi nampak ramah seperti sebelumnya.
"Baik," tiba-tiba perempuan itu melangkah mundur, "aku bebaskan muridmu yang
satu ini sekarang. Tetapi jika sekali lagi ia mencampuri urusan muridku tentang
apa saja, maka ia akan hanyut ke dalam dunia mimpinya yang indah. Sayang, kau
sudah terlalu tua untuk itu." "Cukup," laki-laki yang memegang senjatanya itulah
yang membentak. Tetapi perempuan itu tertawa berkepanjangan sambil berkata,
"Jangan menyalak begitu garang serigala kecil. Kau dapat melakukannya jika
gurumu ada di dekatmu." Laki-laki itu tidak menjawab. Sementara perempuan cantik
yang berpakaian coklat itupun melangkah meninggalkan laki-laki itu sambil
berkata kepada muridnya, perempuan yang lengannya tergores senjata itu,
"Marilah. Biarlah anak itu kita lepaskan kali ini." Laki-laki dari perguruan Sad
itu tidak memburunya. Tetapi ketika ia memandang berkeliling, maka wajahnya
serasa menjadi panas. Laki-laki itu merasa sangat malu, setelah ia sadari apa
yang terjadi atas dirinya. Karena itu, maka dengan serta-merta laki-laki itupun
segera melangkah pergi, meninggalkan lingkungan pasar yang dicengkam oleh
ketegangan itu. Demikian laki-laki itu pergi, sementara kedua orang perempuan
yang aneh itu tidak nampak lagi, maka orang-orangpun menjadi sibuk. Merekapun
segera membenahi barang dagangan mereka. Paksi sendiri masih berdiri
termangu-mangu. Bahkan kemudian Paksi itu telah berdiri bersandar sebatang pohon
di depan pasar yang menjadi semakin sepi. Ketika Paksi melihat seorang penjual
makanan yang duduk dengan wajah sendu menunggui dagangannya, iapun melangkah
mendekat. Sambil duduk di sebelahnya, Paksi bertanya, "Kau tidak pulang, Bibi?"
Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Kau lihat, Ngger. Daganganku
masih banyak. Jika tidak ada orang yang membeli lagi serba sedikit, aku tidak
akan dapat berjualan lagi besok, karena aku tidak mempunyai uang cukup untuk
membeli bahan-bahannya. Hari ini daganganku hampir masih utuh." "Apakah karena
ketegangan tadi, maka makanan yang Bibi jajakan ini tidak laku?" "Siapa yang
akan sempat berpaling pada makanan yang aku jajakan?" jawab perempuan itu. Paksi
menarik nafas panjang. Sementara perempuan itu berkata, "Aku tidak tahu, apa
yang dapat aku lakukan besok." Sejenak Paksi merenungi makanan itu. Ia sendiri
sedang menjalani laku. Ia hanya dapat makan tiga jenis bahan pangan setiap hari.
Satu jenis makanan itu tentu sudah mengandung tiga atau bahkan lebih jenis bahan
pangan. Sepotong wajik terbuat dari ketan, gula, garam dan santan kelapa. Bahkan
kadang-kadang dengan penyedap manis jangan.. Tetapi Paksi tidak sampai hati
melihat kegelisahan perempuan tua itu. Karena itu, maka Paksipun kemudian
berkata, "Bibi, di rumahku akan ada tamu, kebetulan bahwa Bibi masih mempunyai
makanan yang cukup. Karena itu, aku akan membeli beberapa potong." "Kau akan
membeli makananku?" wajah perempuan itu menjadi cerah. "Tetapi tidak terlalu
banyak, Bibi." Ternyata Paksi membeli lebih dari separo sisa makanan yang
dijajakan itu, sehingga perempuan itu mengucapkan terima kasih berkali-kali
sambil tersenyum berulang kali. Sejenak kemudian, maka Paksipun telah membawa
makanan yang dibungkus dengan daun pisang itu. Tetapi Paksi tidak tahu untuk apa
makanan sebanyak itu, karena ia sendiri tidak dapat memakannya. Sementara itu,
pasar memang menjadi semakin sepi. Perempuan yang menjual makanan itupun telah
membenahi dagangannya pula. Nampaknya dengan uang yang didapatnya dari Paksi, ia
akan dapat berjualan lagi esok pagi. Sementara itu Paksi masih kebingungan
dengan makanannya. Namun akhirnya Paksi berkesimpulan untuk membawa makanan itu
pulang. Ketika di jalan pulang ia melihat sekelompok gembala sedang beristirahat
di bawah sebatang pohon yang rindang, sementara kambing-kambing merekapun
berkeliaran di padang rumput yang hijau, maka Paksi tertegun. Beberapa orang
anak di antaranya sudah dikenalnya, karena Paksi pernah berbincang-bincang
dengan mereka. Karena itu, maka Paksipun telah mendatanginya. Sambil duduk
bersama mereka, Paksi berkata, "He, aku membawa makanan buat kalian." "Makanan
apa, Kang?" bertanya seorang anak yang kuncung di ubun-ubunnya memanjang sampai
ke dahi. Paksi membuka bungkusan makanannya. Di antaranya beberapa potong wajik,
jadah, beberapa bungkus hawug-hawug dan cemplon. Anak-anak gembala itu nampak
ragu-ragu. Sementara Paksi berkata, "Jangan malu. Aku sengaja membelinya untuk
orang yang sedang berkumpul seperti ini. Hari ini hari ulang tahun kelahiranku.
Tumbuk." Tetapi dengan tidak terduga seorang dari anak-anak itu bertanya,
"Tumbuk berapa? Dua atau tiga. Kalau dua, Kakang nampaknya terlalu tua. Kalau
tumbuk tiga, Kakang nampaknya terlalu muda. Ayahku baru saja memperingati ulang
tahunnya, pada tumbuk tiga." Paksi tersenyum. Katanya, "Umurku sudah duapuluh
ampat, sama dengan umur ayahmu." "Tetapi ayah sudah nampak tua." "Sekarang
berapa umurmu?" bertanya Paksi. "Tujuh tahun," jawab anak itu. "Hitung, berapa
tahun umur ayahmu ketika ibumu melahirkan, jika sekarang umurnya baru duapuluh
ampat." Anak itu termangu-mangu. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Paksi. Namun
Paksipun bertanya pula, "Siapa yang mengatakan bahwa ayahmu baru saja ulang
tahun pada tumbuk tiga? Tentu keliru. Mungkin tumbuk ampat." Anak itu masih saja
termangu-mangu. Tetapi Paksipun kemudian berkata, "Nah, lupakan saja umur ayahmu
dan umurku. Sekarang, marilah kita makan bersama-sama." Anak-anak itu tidak
menunggu lebih lama lagi. Mereka segera memungut makanan sesuai dengan selera
masing-masing. "Ini masih ada," berkata Paksi. Anak-anak itu hanya saling
berpandangan. Masih seonggok makanan yang tersisa. Tetapi anakanak itu nampaknya
enggan untuk mengambil lagi. Paksi tersenyum. Namun iapun segera bangkit sambil
berkata, "Aku akan pulang. Terserah kepada kalian, apakah kalian akan
menghabiskan makanan itu atau tidak." Tidak ada yang menyahut. Karena itu, maka
Paksipun kemudian berkata, "Sudahlah. Aku minta diri." Diusapnya kepala beberapa
orang anak yang sedang menggembalakan kambing itu. Kemudian Paksi itupun segera
melangkah pergi. Ketika Paksi sudah meloncati parit dan berdiri di jalan, maka
iapun berpaling. Dilihatnya anakanak itu sedang sibuk berebut makanan yang
ditinggalkan oleh Paksi. Paksi tersenyum. Seorang anak yang melihat Paksi
berpaling, menggamit kawan-kawannya. Tetapi ketika mereka melihat Paksi
mengangkat tangannya, maka merekapun bersorak sambil melambaikan tangan mereka
yang masih menggenggam sepotong makanan. Paksipun menjadi gembira melihat
anak-anak itu menjadi gembira. Sekilas memang terbayang kembali masa
kanak-kanaknya. Ia juga sering berada di dalam satu lingkungan permainan dengan
kawan-kawannya. Ia sempat bergembira. Tertawa lepas tanpa kekangan. Bahkan
sampai umurnya menginjak tujuh belas. Namun jika ia sudah menginjak ambang pintu
rumahnya, maka rasa-rasanya hidupnya menjadi sepi dalam kesendiriannya. Kedua
adiknya dapat bergaul rapat dengan ayahnya. Tetapi Paksi sendiri merasa,
hubungannya dengan ayahnya terasa renggang. Paksi menarik nafas dalam-dalam.
Namun masa-masa itu sudah lewat. Ia tidak lagi harus bertanya-tanya tentang
dirinya. Di gubuk kecil di kaki gunung itu ia telah berjuang di bawah bimbingan
Ki Marta Brewok untuk bukan saja menjadi dirinya, tetapi membentuk dirinya
sendiri. Paksi berjalan terus. Panas matahari tidak dihiraukannya. Ia sudah
terbiasa terpanggang sinar matahari saat-saat ia berlatih di sanggarnya yang
terbuka. Ketika Paksi kemudian sampai di gubuknya, maka iapun segera berbenah
diri, sehingga sejenak kemudian ia sudah siap untuk melakukan latihan-latihan
ringan, menggerakkan urat-urat darahnya serta melemaskan otot-ototnya. Paksi
tidak terlalu lama berlatih. Iapun kemudian pergi ke sungai untuk membersihkan
badannya dan mencuci pakaiannya. Ketika matahari menjadi semakin rendah, Paksi
sempat beristirahat, duduk di belakang gubuk kecilnya. Ia melihat seekor ular
yang merayap dengan cepat melintas menuju ke semak-semak belukar. Seperti
dikatakan oleh Ki Marta Brewok, di sekitar tempat itu memang terdapat banyak
sekali ular dari berbagai macam jenis, sehingga karena itu, maka Paksi tidak
pernah lupa setiap hari menelan obat yang diberikan oleh Ki Marta Brewok untuk
menawarkan racun. Sambil beristirahat, Paksi sempat merenungi apa yang
dilihatnya di pasar itu. Ia memang merasa pengalamannya, bahkan pengalaman
jiwanya, menjadi semakin kaya. Ia melihat seorang ayah yang ingkar akan
kewajibannya, dan bahkan telah menjadi benalu bagi isteri dan anakanaknya. Iapun
melihat dua orang dari dua perguruan yang berbeda. Ia sempat mengenali gaya dan
ciri ilmu dua perguruan. Namun iapun sempat mengenali watak dari dua perguruan
itu. Terutama perguruan Goa Lampin. Ketika Paksi sempat mengenang apa yang
terjadi atas laki-laki yang sempat dihisap ke dalam lingkungan perguruan Goa
Lampin, maka rasa-rasanya bulu-bulu tengkuknya meremang. "Laki laki yang
terkurung di dalam goa itu akan menjadi apa saja nantinya?" pertanyaan itu telah
membuat Paksi merasa ngeri. Sementara itu, ia harus mengakui bahwa perempuan
cantik yang berpakaian coklat itu tentu perempuan yang berilmu tinggi. Dalam
keadaan yang demikian, rasa-rasanya ia ingin segera bertemu dan berbicara dengan
Ki Marta Brewok. Ia ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan
laki-laki dari perguruan Sad itu. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Iapun
kemudian bangkit berdiri. Diraihnya kapaknya yang terselip pada dinding
rumahnya. Namun sambil melangkah ke halaman, Paksi teringat pada perempuan tua
yang berjualan makanan. Nampaknya hidupnya dan barangkali juga dengan
keluarganya, tergantung dari setampah makanan yang dijajakannya itu. Namun
sejenak kemudian Paksipun telah tenggelam dalam kerjanya. Dengan kapaknya ia
membelah gelondong-gelondong kayu bakar. Kemudian kayu yang sudah terbelah itu
dijemurnya di sisa panasnya matahari. Tetapi kayu-kayu itu tidak perlu
ditempatkan di tempat yang terlindung, karena nampaknya hujan masih belum segera
turun. Paksipun kemudian telah mengisi waktunya dengan berlatih pula. Sambil
duduk di atas sebongkah batu, Paksi mempertajam kemampuan bidiknya dengan
sasaran yang lebih kecil yang pernah dilakukan. Seikat jerami yang digantung di
tempat yang lebih jauh dari latihan-latihannya terdahulu. Paksi mengakhiri
latihannya ketika senja turun. Tiba-tiba saja ia telah mengharapkan Ki Marta
Brewok datang secepatnya. Ternyata Ki Marta Brewok seolah-olah mengetahui
keinginan Paksi itu. Demikian gelap turun, Ki Marta Brewok telah berada di
tempat itu. "Aku memang mengharap Ki Marta Brewok datang lebih awal," desis
Paksi. "Aku juga tahu," jawab Ki Marta Brewok. "Kau tentu melihat peristiwa yang
terjadi di pasar itu. Kau tentu melihat murid dari perguruan Goa Lampin dan
murid dari perguruan Sad bertempur. Kau juga tahu kedatangan iblis betina, maha
guru dari perguruan Goa Lampin itu." "Apakah Ki Marta Brewok juga melihatnya?"
"Aku tidak sengaja melihatnya. Tetapi aku mengikuti perkembangan keadaan sejak
semula. Aku melihat laki-laki yang memukul isterinya itu. Aku melihat bagaimana
perempuan Goa Lampin itu mencampuri persoalan suami isteri itu dan bagaimana
anak dari perguruan Sad itu ikut pula melibatkan diri." "Ki Marta," desis Paksi,
"ada yang ingin aku tanyakan. Apa yang sebenarnya terjadi ketika lakilaki dari
perguruan Sad itu tiba-tiba kehilangan pribadinya. Ia menjadi seakan-akan pasrah
serta melakukan segala perintah perempuan berpakaian coklat itu." "Perempuan itu
mempunyai kekuatan semacam kekuatan sihir. Siapa yang dipandangi matanya serta
orang yang dipandangi matanya itu memandang matanya pula, maka ia akan
terpengaruh oleh kuasa ilmu perempuan itu. Orang yang demikian, tidak lagi tahu
apa yang dilakukan. Ia berbuat apa saja sesuai dengan kehendak perempuan yang
menyihirnya itu. Bahkan untuk membunuh diri sekalipun." Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Sementara itu Ki Marta Brewok berkata, "Ada baiknya kau melihatnya,
Paksi. Dengan demikian kau mendapat satu pengalaman baru. Sehingga kau harus
belajar, bagaimana menghadapi pengaruh sihir seperti itu." Paksi
mengangguk-angguk kecil. "Di samping itu," berkata Ki Marta Brewok, "kau harus
mengenali kedua perguruan itu pula. Serba sedikit kau tentu sudah mendapat
gambaran isi dari perguruan Goa Lampin. Goa Lampin sebenarnya adalah nama sebuah
goa kecil. Namun padepokan yang dibangun di sekitar goa itu kemudian disebut
Padepokan Goa Lampin. Padepokan itu dibangun sedemikian rupa, sehingga goa itu
berada di dalam padepokan itu." Paksi masih mengangguk-angguk, sementara Ki
Marta Brewokpun berkata, "Sedangkan perguruan Sad adalah perguruan yang
samar-samar. Aku tidak dapat mengetahui dengan pasti garis kebijaksanaan
pemimpinnya. Tetapi untuk sementara kau harus berhati-hati. Aku melihat
sifat-sifat yang agak licik pada perguruan itu." "Ki Marta," berkata Paksi
kemudian, "apakah ada cara-cara khusus untuk mengatasi kekuasaan sihir itu? Ilmu
itu sangat mengerikan. Aku tidak pernah menjadi gelisah melihat berbagai macam
ilmu. Tetapi aku benar-benar ngeri mengenang kekuatan ilmu sihir itu. Aku selalu
dibayangi oleh angan-angan, apa yang terjadi dengan diriku jika aku jatuh ke
tangan iblis betina itu. Lebih baik dadaku ditembus oleh ujung tombak daripada
terpengaruh oleh ilmu itu." Ki Marta Brewok tersenyum. Katanya, "Baiklah. Aku
akan berusaha membantumu. Kau harus melapisi kesadaranmu dengan ketahanan jiwani
yang tinggi." "Aku akan menjalani laku apapun untuk menemukan kekuatan yang
dapat melawan ilmu sihir itu." "Kau harus menyelesaikan laku yang sedang kau
jalani sekarang lebih dahulu, Paksi. Sementara itu, kau dapat mempersiapkan
dirimu untuk menjalani laku berikutnya. Kau tidak usah berpikir, kapan kau harus
berangkat untuk meneruskan pencarianmu atas cincin itu. Aku yakin bahwa dalam
waktu satu dua tahun, cincin itu masih belum diketemukan. Seandainya cincin itu
sudah diketemukan, maka masih dapat dipertanyakan, siapakah yang menemukan
cincin itu." Paksi mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya ia menjadi semakin
mantap. Namun Ki Marta Brewok itu masih berkata pula, "Untuk sementara Paksi,
kau dapat menghindarkan diri dari pengaruh sihir itu dengan lembaran ketabahan
hati serta berusaha untuk tidak memandang orang yang kau curigai mempunyai ilmu
sihir itu pada matanya. Namun menurut pengetahuanku, di perguruan Goa Lampin
hanya perempuan iblis yang menjadi pemimpinnya itu sajalah yang memiliki
kemampuan ilmu sihir. Sedangkan kau sudah pernah melihat orang itu, sehingga kau
dapat berhati-hati seandainya kau karena sesuatu hal berhadapan dengan orang
itu. Bukankah sebagaimana kau lihat, perempuan yang lengannya terluka itu sama
sekali tidak mempunyai kemampuan ilmu semacam itu?" Paksi mengangguk-angguk.
"Baiklah," berkata Ki Marta Brewok. "Kau harus mempersiapkan diri. Kita akan
berlatih lagi. Meskipun sebenarnya kau sudah sampai ke puncak, tetapi kau masih
harus berusaha membuka pintu-pintu inderamu lebih lebar lagi, agar ilmumu dapat
menjadi semakin berkembang." Sejenak kemudian Paksipun telah tenggelam lagi
dalam latihan-latihan yang berat. Ia harus mengasah penglihatan, pendengarannya
dan bahkan panggraitanya. Sedikit lewat tengah malam, Ki Marta Brewok mengakhiri
latihan itu. Setelah beristirahat sejenak, Ki Marta Brewok sempat makan bersama
Paksi. Namun Paksi masih terikat dengan laku yang sedang dijalaninya. "Aku
terpaksa harus ikut makan hanya dengan garam," desis Ki Marta Brewok. Paksi
tersenyum. Meskipun hanya dengan garam, ternyata Ki Marta Brewok itu makan cukup
banyak. Katanya, "Supaya tenaga di dalam tubuh ini tidak menyusut, maka kita
harus makan banyak. Menurut pendapatku kau sudah memilih laku yang benar dengan
cara yang benar. Setiap hari kau ganti jenis makanan yang tiga itu.
Sekali-sekali kau makan bayam rebus saja di samping nasi. Lain kali, ikan air
yang kau panggang dengan garam. Kemudian kau makan ketela yang kau rebus dengan
gula kelapa." "Dengan demikian aku tidak merasa jenuh dengan satu dua jenis
makanan, Ki Marta." "Otakmu cukup terang. Kau dapat melanjutkannya sampai pada
suatu saat kau harus melakukan pati-geni." Demikianlah, seperti yang dikatakan
oleh Ki Marta Brewok, Paksi melanjutkan laku yang dijalaninya. Di samping laku
itu, Paksi sekali-sekali juga turun untuk pergi ke pasar. Beberapa orang telah
dikenalnya. Anak muda yang hampir setiap hari pergi mengantar dan menjemput
ibunya yang berjualan kain lurik, telah dikenalnya dengan akrab pula. Sementara
itu, setiap kali Paksi berada di pasar, ia selalu mencari Kinong meskipun hanya
untuk berbincang sebentar. Bahkan dengan diam-diam Paksi telah mengikuti dan
melihat, dimana rumah Kinong itu. Rumah Kinong sebenarnya termasuk rumah yang
sedang. Meskipun bukan joglo, tetapi di bagian depan rumahnya terdapat pendapa.
Namun rumah itu menjadi tidak terpelihara. Sebuah kandang berdiri di sebelah
rumah. Tetapi kandang itu juga sudah kosong. Tidak ada seekor lembupun yang
berada di dalam kandang itu. Yang masih nampak berkeliaran di halaman adalah
beberapa ekor ayam. Sementara itu, Paksi tidak lagi melihat murid-murid dari
perguruan Goa Lampin berkeliaran di pasar. Kecuali jika mereka tidak mengenakan
ciri-ciri perguruannya sehingga tidak dapat mengenalinya. Demikian pula para
cantrik dari padepokan Sad. Namun dengan demikian Paksi sendiri harus
berhati-hati agar tidak menarik perhatian orang lain. Terutama orang-orang dari
perguruan Goa Lampin. Apalagi jika perempuan yang disebut sebagai mahagurunya
itu. Dalam pada itu, laku yang dijalani Paksi sudah hampir sampai pada saatnya
genap ampat puluh hari ampat puluh malam. Karena itu, maka Ki Marta Brewokpun
kemudian berkata, "Paksi, bersiaplah. Kau akan segera sampai pada puncak laku
yang harus kau jalani. Kau harus mengetahui apa yang harus kau lakukan saat kau
menjalani pati-geni." "Apa yang harus aku lakukan, Ki Marta?" "Kau akan aku bawa
ke satu tempat yang tersembunyi, agar selama kau menjalani laku terakhir, kau
tidak terganggu. Kau jangan membawa makanan apapun kecuali pisang, kunyit dan
kencur. Selama tiga hari tiga malam, sehingga selama kau menjalani laku itu, kau
hanya boleh makan tiga buah pisang." Paksi menyadari, bahwa laku yang harus
dijalaninya tentu sangat berat. Tetapi Paksi tidak akan ingkar. Apapun yang
harus dilakukan, akan dilakukan menurut kemampuannya. Namun dalam pada itu Ki
Marta Brewokpun berkata, "Tetapi apapun yang kau lakukan, kau tidak boleh
melupakan kewajibanmu terhadap Sumber Hidup-mu." Paksi mengangguk-angguk. Sejak
kecil ibunya telah memperkenalkannya dengan Sumber Hidup-nya, sehingga Paksi
tumbuh di dalam ikatan yang semakin lama semakin erat. Sikap ayahnya yang
mendorong Paksi semakin dekat dengan ibunya, membuat Paksi semakin dekat pula
dengan Yang Maha Agung sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh ibunya. Ketika
Paksi berada di gubuk kecil di kaki gunung itu, maka ia justru merasa
hubungannya menjadi semakin erat dengan Sumber Hidup-nya itu. Demikianlah, maka
Ki Marta Brewokpun nampak menjadi semakin berhati-hati membimbing Paksi. Laku
yang dijalaninyapun menjadi semakin berat. Ia tidak lagi harus melakukan
latihanlatihan yang berat di sanggar terbukanya. Tetapi di setiap tengah malam,
Paksi duduk di atas sebuah batu yang besar bersama Ki Marta Brewok. Tuntunan
yang diberikanpun mulai berkisar. Ki Marta Brewok mulai memperkenalkan
kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalam diri Paksi. Ki Marta Brewok mulai
mengajarkan, bagaimana Paksi dapat mengungkapkan kekuatan-kekuatan itu.
Latihan-latihan mengatur pernafasan sebagai landasan untuk melakukan sikap dan
perbuatan selanjutnya dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Ki Marta bahkan
menilik setiap gerak yang terjadi di dalam tubuh Paksi. Menjelang hari ke empat
puluh maka latihan-latihanpun menjadi semakin khusus, latihanlatihan kewadagan
pun menjadi semakin sedikit. Ki Marta Brewok menganjurkan agar Paksi
memanfaatkan waktu yang luang di siang hari untuk melakukan latihan-latihan
kewadagan. Dengan demikian, maka Paksipun telah mengalami tempaan lahir dan
batin. Dengan segenap kemampuan yang ada, Paksi melakukan segalanya dengan
kesungguhan. Akhirnya Paksipun telah sampai pada hari ke empat puluh. Paksi
menyadari, bahwa ia akan sampai pada puncak laku yang berat. Tetapi Ki Marta
Brewok telah mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya. Lahir dan batin. Ketika
senja turun, maka Paksipun menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu apa yang harus
dilakukan kemudian. Ia sudah menyediakan tiga buah pisang sebagaimana dipesankan
oleh Ki Marta Brewok. Kemudian kunyit dan kencur serba sedikit. Ketika kemudian
Ki Marta Brewok itu datang, Paksipun benar benar telah siap. "Nampaknya kau
telah mempersiapkan diri dengan baik, Paksi. Sudah waktunya kau menjalani puncak
laku yang akan membuka kemungkinan bagimu untuk mengendalikan semua unsur
kekuatan di dalam dirimu sesuai dengan kehendakmu. Kekuatan yang bagi banyak
orang tersimpan dan tidak dapat dipergunakan karena mereka tidak mengenali diri
mereka sendiri seutuhnya, akan dapat kau pergunakan sebaik-baiknya. Tetapi ingat
Paksi. Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang baik, yang hidup di dalam
lingkungan sesamanya. Karena itu, jika Yang Maha Agung memperkenankan kau
memiliki kemampuan yang lebih dari orang lain, kau dapat mempergunakannya dengan
sebaik-baiknya sesuai dengan martabat kita. Kita tidak boleh mempergunakannya
dengan semena-mena. Bukan saja atas sesama, tetapi juga atas lingkungan kita.
Karena kita dan lingkungan kita adalah satu keutuhan yang saling bergantung dan
saling mempengaruhi." Paksi mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, "Ya, Ki
Marta. Aku mengerti." "Nah, baiklah. Sekarang, ikut aku." Paksi termangu-mangu
sejenak. Sementara Ki Marta Brewok berkata selanjutnya, "Tutup pintu rumahmu.
Simpanlah barang-barang terpentingmu. Benahi alat-alat dapurmu. Kita akan pergi
selama tiga hari tiga malam." Demikianlah, maka Paksipun kemudian telah
mengikuti Ki Marta Brewok meninggalkan gubuknya. Mereka berjalan di dalam
kegelapan, melalui lereng dan tebing gunung yang rumit yang belum pernah dikenal
oleh Paksi. Namun betapapun gelapnya, maka Paksi yang sudah terlatih dengan
baik, masih mampu melihat keadaan di sekelilingnya. Ia masih dapat mengenali
beberapa ciri yang akan dapat diingatnya jika ia harus berjalan melalui tempat
itu lagi. Paksi menjadi berdebar-debar ketika ia harus menuruni sebuah tebing.
Sebelum ia sampai ke tempat yang dituju, telinganya yang juga sudah menjadi
semakin tajam telah mendengar gemuruhnya air terjun. Beberapa saat kemudian,
Paksi telah sampai ke sebuah aliran sungai. Dalam keremangan malam ia melihat
air terjun dari ketinggian. Meskipun tidak terlalu besar, tetapi suaranya yang
bergelora berkepanjangan terdengar seirama dengan hembusan angin di lereng
gunung. "Kita akan bersembunyi dalam goa di belakang air terjun itu. Dengan
demikian, maka kau tidak akan terganggu selama tiga hari tiga malam penuh."
Paksi mengangguk kecil. Demikianlah, maka merekapun kemudian menyusuri lereng
berbatu-batu padas mendekati air terjun itu. Tetapi Paksi tidak melihat sebuah
goa di sekitar air terjun itu. Namun Paksi mengira, bahwa ketajaman
penglihatannya saja yang masih belum dapat menangkap mulut goa yang dimaksud
oleh Ki Marta Brewok. Tetapi ternyata dugaan Paksi keliru. Ki Marta Brewok telah
membawa Paksi menembus air terjun itu, karena mulut goa itu berada di
belakangnya, tertutup oleh air yang meluncur dari ketinggian. Dengan demikian,
maka keduanya menjadi basah kuyup ketika mereka kemudian berdiri di sebuah mulut
goa. "Marilah," berkata Ki Marta Brewok. Namun iapun mengingatkan pula, "Juga di
dalam goa ini terdapat banyak ular dari berbagai jenis. Tetapi jika kau sudah
minum obat itu, maka kau tidak usah menjadi cemas." Paksi tidak menjawab. Ia
melangkah dengan hati-hati di belakang Ki Marta Brewok. Di dalam goa itu gelap
terasa menjadi semakin pekat. Tetapi perlahan-lahan penglihatan Paksi yang tajam
mulai membiasakan diri dengan kegelapan itu. Meskipun sangat samar, namun Paksi
mulai dapat melihat isi goa itu. Yang nampak tidak lebih dari bebatuan.
Batu-batu yang tajam menggantung dan yang lain mencuat dari bawah. Keduanya
melangkah semakin lama menjadi semakin dalam. Titik-titik air menetes dimanamana
sehingga di bawah kaki mereka, air itu berkumpul dan mengalir keluar. Beberapa
saat kemudian, Ki Marta Brewok telah membelok memasuki cabang goa yang lebih
kecil, memanjang menusuk perut bumi. Di ujung cabang goa yang dalam itulah
kemudian Ki Marta Brewok memerintahkan Paksi untuk mencari tempat duduk. "Di
sebelah ini ada sebuah ruang yang agak luas," berkata Ki Marta Brewok. "Nanti
kau dapat melihatnya sendiri. Tetapi itu tidak penting. Kau untuk sementara
tidak memerlukan ruangan yang luas. Kau hanya memerlukan tempat duduk yang cukup
memuat tubuhmu saja, karena selama tiga hari tiga malam, kau akan melakukan
latihan-latihan dengan sifat halusmu serta pemahamanpemahaman terpenting dari
laku yang kau jalani." Paksi mengangguk kecil. Jilid 05 DEMIKIANLAH, maka Paksi
mulai menjalani puncak lakunya. Bersama Ki Marta Brewok ia berada di dalam goa
yang gelap pekat. Namun Paksi sama sekali tidak merasa terganggu pernafasannya.
Ia yakin bahwa ada lubang-lubang udara yang membuat ruangan-ruangan di dalam goa
itu tetap mendapat udara yang segar meskipun ruangan itu tetap saja terasa
pengap. Ternyata laku yang dijalani Paksi memang berat. Ia harus melakukan
gerakan-gerakan khusus dan bahkan kemudian pemusatan nalar budi yang harus
dilatihnya tataran demi tataran. Dengan tekun dan bersungguh-sungguh pula orang
yang menyebut dirinya Ki Marta Brewok itu memberikan tuntunan setapak demi
setapak. Sekali-sekali ia bersikap lembut seperti kepada kanak-kanak yang baru
belajar berjalan, namun kadang-kadang ia bersikap keras. Bentakanbentakan kasar
telah menyengat telinga Paksi yang sedang memusatkan nalar dan budinya itu.
Namun dengan dengan perlahan-lahan Paksi telah memasuki sikap samadi. Laku yang
dijalani tidak lagi bersifat semata-mata wadag. Paksi yang duduk di atas batu
karang di hadapan Ki Marta Brewok itu mulai membayangkan gerakan-gerakan
perlahan-lahan sebagaimana diungkapkan oleh Ki Marta Brewok. Sekali dua kali,
namun kemudian Paksi harus dapat menuntun penglihatan batinnya sendiri.
Diucapkannya apa yang telah diucapkan oleh Ki Marta Brewok tentang makna dari
unsur-unsur gerak itu serta watak dan sifat-sifatnya. Kekuatan dan kelemahannya
serta beberapa perbandingan unsur-unsur gerak yang sejajar. Dengan demikian,
maka beberapa unsur gerak yang paling rumit telah dilakukan tanpa kesertaan
wadagnya. Namun unsur-unsur itu bagaikan telah terpahat di dinding jantungnya,
sehingga tidak akan pernah dilupakannya. Demikianlah terjadi untuk waktu yang
terasa panjang. Panjang sekali. Begitu banyak unsurunsur yang harus dikuasainya.
Bukan sekedar kemampuan untuk melakukannya, tetapi juga penguasaan sampai ke
kedalamannya. Waktu yang tiga hari tiga malam itu terasa betapa panjang. Tetapi
yang panjang itu rasarasanya masih belum cukup untuk menampung segala-galanya.
Di hari pertama dan kedua, Paksi masih mendapat kesempatan untuk beristirahat di
tengah malam untuk makan sebuah pisang dan minum beberapa teguk air yang menetes
dari ujung-ujung batu karang yang mencuat. Namun kemudian pada hari yang ketiga,
Paksi harus memasuki puncak dari segala laku yang telah dijalaninya. Demikian ia
duduk di tempatnya, maka Ki Marta Brewok telah menuntunnya untuk memasuki alam
halusnya. Paksi yang duduk di atas sebongkah batu padas dengan mata terpejam itu
seakan-akan telah melihat dirinya sendiri bangkit berdiri. Kemudian dengan
mendengarkan perintah-perintah Ki Marta Brewok, Paksi Pamekas melihat dirinya
sendiri menjalani sikap dan gerak sebagaimana dikatakan oleh Ki Marta Brewok.
Sekali dua kali dan satu unsur gerak ke unsur gerak yang lain. Sekali dua kali
ia melihat dirinya sendiri mengulangi dan mengulangi. Kemudian melakukan tingkat
selanjutnya dan selanjutnya. Tingkat demi tingkatpun telah dijalani. Menurut
penglihatan batin Paksi yang wadagnya masih tetap duduk di atas batu karang itu,
ia melihat dirinya melakukan latihan yang semakin berat. Setiap gerak mengandung
tenaga yang semakin lama menjadi semakin besar dan semakin kuat, sehingga di
ujung dari puncak laku yang dijalaninya itu, Paksi melihat dirinya sendiri mampu
mengungkapkan inti kekuatan yang terangkum di dalam diri dan kemudian mengangkat
ke permukaan. Demikian puncak laku itu dijalani, maka terasa betapa seluruh
tubuh Paksi itu bergetar. Ia melihat dirinya sendiri bergetar, namun ia mulai
merasakan wadagnyapun bergetar. Perlahan-lahan mata batin Paksi melihat dirinya
sendiri itu bergerak perlahan-lahan seakanakan melayang tanpa batasan bobot dan
ruang. Batu-batu yang tajam bergayutan serta yang mencuat dari permukaan, sama
sekali tidak menyentuhnya. Perlahan-lahan ia masih sempat melihat dirinya itu
semakin dekat pada wadagnya yang semula bagaikan terlupakan adanya. Namun
tiba-tiba terjadi benturan yang sangat dahsyat. Dirinya sendiri yang nampak di
mata hatinya itu seakan-akan lebur dan luluh di dalam ujud kewadagannya. Tubuh
Paksi benar-benar telah bergetar. Keringatnya semakin banyak mengalir membasahi
ujud wadagnya. Namun terasa betapa kesadaran dirinya menjadi baur. Paksi masih
mendengar suara Ki Marta Brewok, "Paksi, jangan tenggelam ke dalam kesamaran
dirimu. Kau harus segera bangun dari samadimu. Kau harus segera kembali kepada
kesadaran unsur wadagmu sebelum wadagmu kehilangan arti sama sekali dan
tenggelam ke dalam kebekuan." Paksi merasakan goncangan yang keras pada
wadagnya, sehingga dengan serta-merta Paksipun telah terbangun dan serasa telah
terhempas kembali dari dunia pemusatan nalar budinya yang terdalam. Tiba-tiba
saja Paksi akan bangkit berdiri. Tetapi Ki Marta Brewok dengan cepat menahannya
sambil berdesis, "Duduklah." Paksi merasakan tubuhnya yang gemetar. Paksi
merasakan tubuhnya menjadi sangat lemah. Seandainya Ki Marta Brewok tidak
mencegahnya, maka demikian ia berdiri, maka ia akan terjatuh terhempas pada
batu-batu padas yang tajam di bawah kakinya. Kepala Paksi terasa pening. "Kau
masih mempunyai sebuah pisang Paksi," berkata Ki Marta Brewok. Setelah minum
beberapa teguk, maka Paksipun makan sisa pisang yang dibawanya. Tetapi pisang
itu tidak cukup untuk membuat tubuhnya yang lemah itu pulih kembali. Namun Ki
Marta Brewok kemudian berkata, "Kau telah berhasil mengatasi semua hambatan di
dalam dirimu. Laku yang kau jalani sudah selesai. Kau sudah memiliki ilmu yang
pada dasarnya sudah sampai ke puncak. Tetapi belum berarti bahwa dengan ilmumu
ini kau adalah orang yang tidak terkalahkan. Banyak orang yang mampu mencapai
puncak kemampuan sebagaimana kau capai sekarang. Tetapi sedikit orang yang mampu
mengembangkannya dengan baik, sehingga kemampuan itu kemudian benar-benar
mencapai tataran yang sulit dijangkau oleh orang lain. Dengan kata lain, orang
itu akan memiliki kelebihan. Dengan demikian, maka untuk selanjutnya terserah
kepadamu. Kau sudah mempunyai landasan dan bahan yang cukup. Namun pengalaman
yang akan mematangkan ilmumu itu." Paksi mengangguk-angguk kecil. Tubuhnya masih
lemah. Terasa urat-uratnya masih tegang. Namun terasa inderanya menjadi semakin
jernih. Penglihatannya, pendengarannya, peraba dan panggraitanya serta
penciumannya. "Nah, Paksi. Kau dapat beristirahat sampai esok pagi. Kau dapat
melihat ruang yang luas di sebelah. Besok, jika langit jernih dan matahari
bersinar, kau akan dapat melihat ruangan yang cukup luas itu. Ada lubang di
atasnya, sehingga serba sedikit cahaya dapat masuk ke dalam ruang itu." Dalam
pada itu, Paksi yang telah minum beberapa teguk air dan makan sebuah pisang,
berusaha untuk bangkit. Ki Marta Brewok melangkah mendekat dan mengamatinya.
Namun Paksi Pamekas itupun berjalan sendiri sambil berpegangan pada batu-batu
karang yang mencuat. Di sebelahnya memang terdapat sebuah ruang. Beberapa saat
Paksi sempat mengamati ruang itu. Namun karena malam masih kelam, maka tidak ada
cahaya seleret pun yang masuk dan menerangi ruang itu. Namun menurut Ki Marta
Brewok, di siang hari, ada sinar matahari yang sempat menyusup dari celah-celah
batu padas di atasnya. Beberapa saat Paksi berdiri termangu-mangu. Namun
kemudian terdengar Ki Marta Brewok berkata, "Marilah, kita keluar dari tempat
ini. Besok kau dapat datang kemari lagi." Paksi tidak menjawab. Dengan tubuh
yang lemah, maka iapun melangkah di atas batu-batu padas perlahan-lahan menuju
ke pintu goa di bawah sebuah air terjun. Ki Marta Brewok masih harus membimbing
Paksi yang lemah itu. Apalagi ketika kemudian mereka keluar dari mulut goa dan
menyusup di bawah air terjun itu. Meskipun dengan agak sulit, namun akhirnya
Paksi sampai di rumahnya. Demikian ia melangkah masuk, maka iapun segera
menjatuhkan dirinya duduk di atas ketepe belarak yang dipakainya alas tidur.
"Nah, sekarang tolong dirimu sendiri. Kau dapat berbuat sesuatu agar kau tidak
menjadi kelaparan, bahkan aku sudah membayangkan untuk ikut makan bersamamu.
Sebenarnyalah aku juga lapar. Meskipun aku tidak harus memeras tenaga, nalar,
dan budi sebagaimana kau lakukan, tetapi aku ikut serta pati-geni bersamamu
meskipun sebenarnya itu tidak harus aku akukan. Tetapi karena aku tidak
memerlukan tenaga sebagaimana kau perlukan, maka aku tidak mengalami keletihan
sebagaimana kau. Akupun dapat minum sebanyak aku inginkan selama berada di dalam
goa itu. Apalagi sebelumnya aku memang menyembunyikan beberapa potong gula
kelapa di dalam kantong bajuku." Paksi mengerutkan keningnya sambil memandangi
Ki Marta Brewok. Tetapi Ki Marta Brewok itu tertawa. Katanya, "Kau tidak boleh
iri. Kau sedang menjalani laku. Sedang aku tidak." Paksi menarik nafas
dalam-dalam. "Nah," berkata Marta Brewok kemudian, "sekarang kau harus berganti
pakaian, kemudian membuat perapian. Bukankah kau masih mempunyai persediaan
beras?" Paksi mengangguk-angguk. Pakaiannya memang basah kuyup ketika ia
menyusup di bawah air terjun. Namun iapun juga bertanya, "Bagaimana dengan Ki
Marta? Bukankah pakaian Ki Marta juga basah?" "Nanti aku juga akan mengambil
ganti pakaian. Sekarang, buat saja api. Aku akan beristirahat di luar." Paksi
mengangguk-angguk. Ketika Ki Marta Brewok sudah berada di luar gubuknya, maka
Paksipun segera berganti pakaian. Tubuhnya masih terasa sangat lemah, sehingga
rasa-rasanya ia ingin segera membaringkan dirinya. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia
memang merasa lapar. Dalam kegelapan Paksi mencari batu titikan dan emput
gelugut aren. Untunglah bahwa batu titikan dan emput gelugut aren itu tidak
dibawanya ke dalam goa sehingga tidak ikut menjadi basah. Beberapa saat
kemudian, Paksi sudah membuat perapian. Ki Marta Brewok yang beristirahat di
luar membiarkannya bekerja sendiri dalam keadaan letih. Ketika api sudah
menyala, maka Paksi masih harus mencuci berasnya. Tertatih-tatih ia pergi ke
sebuah belik kecil tempat ia terbiasa mengambil air. Malam itu Paksi tidak
menanak nasi seperti biasanya. Ia tahu bahwa perutnya sudah cukup lama kosong,
sehingga ia harus mulai mengisinya dengan makanan yang lunak. Karena itu, maka
Paksi telah membuat bubur beras yang agak cair. Ki Marta tentu juga lebih baik
makan makanan yang lunak seperti dirinya. Ketika Paksi kembali dari belik kecil,
maka dilihatnya Ki Marta Brewok sudah duduk di depan api untuk memanaskan tubuh
dan pakaiannya yang basah. Sambil menunggu bubur berasnya masak, Ki Marta Brewok
sempat memberikan beberapa pesan kepada Paksi. Sebagai seorang yang berilmu
tinggi, maka Paksi justru bertanggung jawab sepenuhnya terhadap Sumbernya.
"Paksi, arti dari ilmu yang kau kuasai kemudian tergantung kepadamu. Apakah
ilmumu itu akan berarti bagi sesama atau justru menjadi racun, itu tergantung
kepadamu. Jika kau selalu menyadari, bahwa kau terhitung satu di antara mereka
yang mendapat kurnia kelebihan dari orang kebanyakan, maka sebagai ungkapan
terima kasihmu, maka kau harus mempergunakan ilmu itu di jalan-Nya." Paksi
mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti sepenuhnya pesan Ki Marta Brewok yang bukan
untuk pertama kalinya dikatakannya. Tetapi seperti Ki Marta Brewok yang tidak
jemu-jemunya menyampaikan pesan itu, maka Paksipun tidak jemu-jemunya pula
mendengarkannya dan menekankan ke dalam jantungnya. Ketika kemudian bubur beras
itu masak, maka keduanyapun telah makan bersama-sama. Meskipun mereka hanya
makan bubur hangat yang diberi sedikit garam, namun mereka merasa betapa
nikmatnya. Paksi dan Ki Marta Brewok tidak makan terlalu banyak. Tetapi yang
sedikit itu telah membuat tubuh mereka menjadi segar. "Beristirahatlah," berkata
Ki Marta Brewok. "Kau tentu letih sekali lahir dan batinmu." Paksi mengangguk.
Namun ia masih bertanya, "Bagaimana dengan Ki Marta?" "Aku akan beristirahat di
luar gubukmu." Paksi tidak menjawab. Setelah memadamkan api, maka Paksi memang
berbaring di dalam gubuknya. Tetapi karena anak muda itu merasa sangat letih, di
luar sadarnya, Paksi telah tertidur di ujung malam itu. Ternyata Paksi terlambat
bangun. Tidak biasanya ia bangun setelah cahaya matahari nampak merah di langit.
Tetapi saat itu Paksi yang merasa sangat letih itu ternyata terlambat bangun.
Ketika ia keluar dari gubuknya, maka dilihatnya cahaya matahari telah menebar di
langit meskipun mataharinya masih berada di balik bukit. Angin pagi telah mulai
mengalir menyentuh dedaunan yang basah oleh embun. Suara burung-burung liar di
hutan lereng gunung terdengar bersahutan menyanyikan kidung pagi menyambut
matahari yang mulai memanjat naik. Di ujung rerumputan, embun yang menggantung
seperti butir-butir mutiara yang berkilau memantulkan cahaya matahari pagi.
Namun Paksi sudah tidak melihat Ki Marta Brewok lagi. Seperti biasanya, Ki Marta
Brewok telah hilang bersamaan dengan datangnya dini hari. Paksi yang sudah
merasa terlambat bangun itu duduk di atas sebuah batu di sebelah gubuknya.
Sejenak ia sempat mengingat, apa yang telah dilakukannya selama ampat puluh hari
ampat puluh malam dan kemudian tiga hari tiga malam menjalani puncak laku di
dalam goa di balik air terjun itu. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun di
dalam hatinya ia mengucap sukur, bahwa ia termasuk salah satu di antara mereka
yang mendapatkan kurnia kelebihan dari yang Maha Agung sebagaimana dikatakan
oleh Ki Marta Brewok. Baru beberapa saat kemudian, Paksi bangkit dan melangkah
pergi ke sungai setelah menutup pintu gubuknya. Demikian Paksi selesai mandi dan
mencuci pakaiannya yang semalam basah kuyup, terasa tubuhnya menjadi segar
kembali. Apalagi ketika kemudian sesudah ia makan bubur berasnya yang masih
tersisa, terasa tenaganya perlahan-lahan telah tumbuh kembali. Hari ini Paksi
sengaja tidak melakukan latihan apapun. Ia benar-benar beristirahat. Meskipun
demikian, jika Paksi duduk termenung, maka bayangan-bayangan yang lewat di dalam
benaknya adalah bayangan-bayangan laku yang ditempuhnya di dalam goa. Setiap
kali serasa ia masih saja melihat dirinya sendiri bergerak dengan cepat,
memeragakan unsur-unsur yang rumit. Meskipun kemudian geraknya menjadi semakin
lama semakin lamban, namun terasa pada setiap geraknya, memancar tenaga yang
semakin besar, sehingga akhirnya Paksi itu mampu mengungkapkan inti kekuatan
yang sebelumnya seakan-akan tersembunyi di dalam dirinya. Satu kurnia yang
sangat besar baginya. Paksi Pamekas itu menarik nafas dalam-dalam. Iapun
kemudian bangkit dan melangkah turun ke jalan sempit yang jarang sekali dilalui
orang. Bahkan orang mencari kayu sekalipun. Tiba-tiba saja timbul keinginannya
untuk menuruni kaki gunung itu. Sambil berjalan, Paksi membenahi pakaiannya.
Kemudian melihat apakah ia sudah membawa uang beberapa keping. Ternyata Paksi
kemudian hampir di luar sadarnya telah turun sampai ke pasar. Karena matahari
sudah menjadi semakin tinggi, maka keramaian pasar itu mulai menyusut. Meskipun
demikian, penjual dawet di dekat pintu gerbang pasar itu masih duduk di belakang
dagangannya. Penjual dawet itu tersenyum melihat Paksi yang sudah dikenalnya
dengan baik itu. Dengan ramah ia bertanya, "He, sudah beberapa hari kau tidak
nampak, anak muda?" "Aku sedang sibuk, Paman," jawab Paksi sambil duduk di
sebelahnya. "Sibuk apa? Bukankah sekarang tidak sedang musim tanam?" bertanya
penjual dawet itu. "Aku sedang sibuk memagari pategalan pamanku yang sudah rusak
sekaligus membuat lanjaran kacang panjang," jawab Paksi. "Dan karena itu, kau
tidak membeli cendol dawetku?" "Aku sekarang akan membeli dawet saja, Paman.
Bukan hanya cendolnya." "Nampaknya kau sudah jemu meramu dawet sendiri." Paksi
tertawa pula. Sementara penjual dawet itu menuang santan ke dalam mangkuk.
Kemudian cendol dan legen kelapa. Ketika Paksi meneguk dawet itu, terasa
alangkah segarnya setelah beberapa hari ia menempa dirinya dengan mengekang
jenis bahan makan yang masuk ke dalam mulutnya dan yang pada ujungnya, Paksi
harus menjalani pati-geni. Sementara Paksi minum dawet, ia melihat Kinong lewat
sambil menjinjing keranjangnya. Maka dipanggilnya anak itu dan ditawarinya untuk
minum dawet pula. "Terima kasih, Kang," jawab Kinong sambil duduk di sebelah
Paksi. "Kalau dua hari yang lalu Kakang datang ke pasar ini, maka Kakang akan
melihat keributan lagi." "Keributan apa lagi?" bertanya Paksi. "Orang-orang yang
itu juga?" "Bukan hanya orang-orang itu. Tetapi ada yang lain," penjual dawet
itulah yang menjawab. "Apalagi yang mereka ributkan?" bertanya Paksi pula. "Aku
tidak tahu. Tetapi mereka nampaknya sedang mencari sesuatu." "Mencari apa?"
desak Paksi. "Mereka mengatakan bahwa semalam sebelumnya mereka telah melihat
ndaru meluncur dari langit dan jatuh di sekitar tempat ini." "Tetapi kenapa
mereka jadi bertengkar?" "Itulah yang terjadi. Perempuan aneh itu datang lagi.
Kemudian datang pula dua orang yang garang. Tidak seorang pun yang tahu apa
sebabnya mereka telah berselisih. Tetapi seorang perempuan yang dahulu
berpakaian lurik coklat itu datang lagi dan membawa perempuan yang berpakaian
asing itu pergi sebelum terjadi perselisihan yang semakin memburuk." "Mereka
bertengkar memperebutkan ndaru itu," berkata Kinong. Paksi tertawa. Katanya,
"Siapa yang dapat memperebutkan ndaru? Kenapa mereka tidak berebut dahulu
menemukannya, seandainya ndaru itu berujud. Katakanlah sebuah bintang yang
meluncur dan jatuh di bumi." Kinong menggeleng. Katanya, "Entahlah." Sementara
penjual dawet itu berkata, "Kami orang-orang yang tinggal di sekitar tempat ini,
tidak ada yang melihat sesuatu jatuh dari langit. Malam itu aku juga berada di
sawah menunggui air yang mengalir ke kotak sawahku. Tetapi aku tidak melihat
apa-apa. Sementara orang-orang asing itu ribut mempersoalkannya." Paksi
mengangguk-angguk. Ia juga pernah melihat ndaru yang meluncur dan seakan-akan
jatuh di sekitar tempat ini. Tetapi menurut Ki Marta Brewok ndaru itu bukan
benda mawujud. Berbeda dengan gumpalan bintang yang meluncur jatuh dari langit
yang memang pernah terjadi. Tetapi Paksi tidak mengatakan apa-apa. Namun yang
kemudian diingat oleh Paksi bahwa dua hari yang lalu, ia sedang berada di dalam
goa di belakang air terjun itu. Namun dalam pada itu, Kinongpun berkata, "Aku
mendengar setelah perempuan asing itu pergi, orang-orang yang nampak garang
seperti ayah itu menyebut-nyebut cincin bermata tiga butir batu akik." "O,"
Paksi menjadi tertarik mendengar ceritera Kinong. Tetapi ia menahan diri agar
Kinong tidak justru segan untuk melanjutkan ceriteranya. "Orang-orang itu
mengatakan bahwa yang meluncur dan disebut ndaru itu mungkin sebuah cincin yang
bertuah." "Cincin meluncur dari langit?" Paksi tertawa. Tetapi wajah Kinong
menjadi gelap. Katanya, "Aku hanya menirukan orang-orang itu." "O, ya," Paksi
mengangguk angguk lagi. "Sudahlah," berkata Kinong, "aku akan mencari embokku."
"Tunggu. Kau belum selesai dengan ceriteramu," berkata Paksi. "Aku mau
membelikan kau dawet lagi." "Sudah. Ceriteraku sudah habis." Kinongpun segera
bangkit dan berlari-lari meninggalkan Paksi. Anak itu melihat ibunya menggendong
beban yang cukup berat dari seseorang yang sudah terbiasa mengupahnya. "Aku
bantu, Mbok," berkata Kinong. Ibunya berpaling. Sambil tersenyum ia berkata,
"Tidak usah Kinong. Tidak terlalu berat." Tetapi orang yang mengupahnya itu
tersenyum pula kepada anak itu sambil berkata, "Nah, kau bawa saja kreneng ini."
Kinong mengangguk. Dimasukkannya kreneng itu di dalam keranjangnya dan kemudian
diusungnya di atas kepalanya. Paksi memandanginya dari kejauhan. Namun merekapun
kemudian hilang di antara banyak orang. Penjual dawet itulah yang kemudian masih
berceritera serba sedikit tentang orang-orang yang berselisih dan bahkan hampir
saja terjadi perkelahian lagi. "Laki-laki itu memang berwajah garang," berkata
penjual dawet itu. "Tetapi perempuanperempuan yang wajahnya nampak cantik dan
mengenakan pakaian yang asing itu ternyata tidak kalah garangnya." "Menurut
pendengaranku waktu itu, mereka datang dari sebuah perguruan yang disebut
Perguruan Goa Lampin. Sedangkan laki-laki itu datang dari Perguruan Sad." "Ya.
Perempuan asing itu memang datang dari Goa Lampin. Tetapi laki-laki yang
berwajah garang itu bukan orang-orang dari Perguruan Sad sebagaimana yang
terdahulu." "Mereka datang dari mana?" bertanya Paksi. Penjual dawet itu
menggeleng. Katanya, "Aku tidak mendengar dengan jelas. Tetapi mereka memang
menyebut sebuah perguruan." Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mendesak
lagi. Jika ia tidak dapat mengekang diri maka penjual dawet itu dapat
mencurigainya. Karena itu, maka Paksipun tidak bertanya lagi. Ketika hari
menjadi semakin siang, maka Paksipun meninggalkan pasar itu setelah ia membeli
beberapa beruk beras dan kebutuhan-kebutuhannya yang lain. Di rumah kecilnya,
Paksi mulai melihat-lihat tanah yang terbentang di sekitarnya yang sudah
digarapnya menjadi kebun yang menghasilkan jagung dan bahkan padi gaga. Pada
pagar yang mengelilingi kebunnya, Paksi menanam kacang panjang yang batangnya
merambat. Namun Paksi mulai menjadi khawatir, bahwa orang-orang yang berkeliaran
di lingkungan itu untuk mencari ndaru, akan sampai ke rumah kecilnya. Tetapi
Paksipun kemudian berkata kepada diri sendiri, "Biar saja mereka datang. Justru
akulah yang akan pergi. Aku tidak akan dapat tinggal di sini untuk seterusnya."
Meskipun demikian, Paksipun kemudian menyadari ketergantungannya kepada Ki Marta
Brewok. Tetapi Paksi tidak menyesal. Ki Marta Brewok telah memberikan sesuatu
yang sangat berharga baginya dan bagi masa depannya. Hari itu Paksi mulai lagi
memanjat pohon-pohon kelapanya untuk mengambil legennya. Sudah beberapa hari ia
tidak melakukannya, sehingga seakan-akan ia harus memulainya lagi. Di hari
berikutnya Paksi sudah mulai dengan kehidupannya sehari-hari sebagaimana sebelum
ia menjalani laku. Tetapi masih ada satu lagi kegiatan yang sebelumnya tidak
pernah dilakukannya. Seperti yang dikatakan oleh Ki Marta Brewok, bahwa di dalam
goa di belakang air terjun itu terdapat sebuah ruangan yang agak luas, yang
mendapat sinar dari lubang-lubang batu padas di atasnya. Ketika Ki Marta Brewok
datang ke gubuknya di malam hari, maka Paksipun menyatakan keinginannya, bahwa
esok ia akan memasuki goa itu lagi. "Lakukanlah," jawab Ki Marta Brewok.
"Mungkin ada manfaatnya bagimu. Tetapi ingat, jangan ada orang lain yang sempat
melihat kau memasuki goa itu." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Bukankah
tempat ini jarang sekali atau bahkan tidak pernah dikunjungi orang?" "Tetapi
akhir-akhir ini ada beberapa orang yang berkeliaran di sekitar tempat ini,"
berkata Ki Marta Brewok. "Mereka menyangka bahwa di daerah ini telah jatuh dari
langit ujud yang mereka kenal dengan ndaru sebagaimana pernah kau lihat
sebelumnya. Mereka menganggap bahwa ada hubungan antara ndaru itu dengan sebuah
cincin bermata tiga butir batu akik sebagaimana pernah aku katakan kepadamu."
"Apakah itu benar, Ki Marta Brewok?" Ki Marta Brewok itu tertawa. Katanya,
"Cincin itu sebuah benda yang kecil. Sementara itu yang mereka lihat adalah
benda langit yang meluncur." "Tetapi apakah ndaru itu termasuk benda langit yang
jatuh? Bukankah Ki Marta juga membedakan antara benda langit yang jatuh dan
sebuah ndaru yang bersinar kehijau-hijauan atau kebiru-biruan?" Ki Marta Brewok
tertawa pula. Katanya, "Sudahlah. Yang penting berhati-hatilah. Aku kira kau
juga tidak pernah menemukan cincin di sini. Padahal sebelum mereka datang, kau
sudah ada di sini. Bahkan kau pernah melihat setahun yang lalu, ndaru yang
meluncur dari langit dengan sinarnya yang menyilaukan itu, seakan-akan juga
jatuh di sini." Paksi mengangguk-angguk. Sementara Ki Marta Brewok itu berkata,
"Meskipun demikian, apakah kau merasa menemukan sesuatu yang lain kecuali sebuah
cincin atau tidak?" Paksi termangu-mangu sejenak. Tetapi Ki Marta Brewok itu
berkata, "Kau tidak usah sibuk memikirkannya sekarang. Yang penting, apakah
nasimu sudah masak?" Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun telah
bangkit dan melihat periuk yang masih berada di atas api yang sudah
dikecilkannya. Malam itu, Ki Marta Brewok tidak membawa Paksi untuk melakukan
latihan. Tetapi ia lebih banyak berceritera tentang sebuah perjalanan yang
pernah ditempuhnya. Ki Marta Brewok menyebut beberapa tempat yang pernah
dikunjungi. Ia berceritera tentang arah dan jalan yang dilaluinya serta
kebiasaan serta adat orang-orang yang tinggal di daerah yang pernah dilewatinya
itu. Paksi mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Ia sadar, bahwa Ki Marta Brewok
sedang memberikan beberapa petunjuk kepadanya tentang sebuah pengembaraan.
Karena itu, maka Paksi berusaha untuk mengingat-ingat semuanya itu dengan baik.
Paksi memang memerlukan bekal bagi satu pengembaraan. Ketika ia meninggalkan
rumahnya, sama sekali tidak terbayang apa yang harus dilakukannya dan apa yang
bakal terjadi pada sebuah pengembaraan yang panjang dan bahkan seakan-akan tidak
diketahui batas akhirnya. Namun tiba-tiba Ki Marta Brewok itu berkata,
"Sudahlah. Aku harus pergi. Ada sesuatu yang memerlukan kehadiranku." Sebelum
Paksi menjawab, Ki Marta Brewok itu sudah bangkit dan melangkah meninggalkan
Paksi memasuki kegelapan. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian
telah berbaring pula di dalam gubuk kecilnya di atas selembar ketepe yang
dianyamnya dari lembaran-lembaran belarak kelapa. Di hari berikutnya, maka
seperti yang sudah dikatakan kepada Ki Marta Brewok, Paksipun telah pergi ke goa
di belakang air terjun itu. Mengingat pesan Ki Marta Brewok, maka Paksi memasuki
goa itu sebelum matahari terbit, sehingga ia yakin, bahwa tidak seorang pun yang
melihatnya. Tetapi Paksi harus menunggu sampai matahari memanjat tinggi di
langit. Baru kemudian ia benar-benar melihat berkas-berkas cahaya matahari yang
menyusup masuk ke dalam ruangan yang memang agak luas itu. Dengan demikian, maka
ruangan itu menjadi lebih terang. Sehingga dengan demikian, maka Paksipun dapat
melihat lekuk-lekuk dinding ruangan yang luas itu. Paksi menjadi berdebar-debar
ketika ia melihat bagian dinding goa yang datar Paksi tidak mengerti, apakah
dinding itu memang datar secara alami, atau dibuat oleh tangan seseorang. Tetapi
pada dinding yang datar itu Paksi melihat lekuk-lekuk yang sangat menarik
perhatiannya. Hampir di luar sadarnya Paksi menyentuh dinding itu. Namun debu
yang tebalpun telah runtuh. Yang sangat menarik bagi Paksi kemudian bukannya
debu yang runtuh itu. Tetapi di balik debu itu ia melihat goresan-goresan yang
cukup dalam. Goresan-goresan yang nampaknya bukannya tanpa arti. Karena itu,
maka Paksipun kemudian telah mencoba menghapus debu yang melekat pada dinding
itu pada permukaan yang agak luas. Yang nampak kemudian ternyata sangat
mengejutkannya. Ia melihat beberapa lukisan pada dinding goa itu. Lukisan yang
menggambarkan sekelompok orang yang sedang berburu lembu liar. Namun ketika
Paksi membersihkan permukaan yang lebih luas lagi, maka ia melihat lukisan
beberapa orang yang sedang berkelahi. Paksi menjadi semakin berdebar-debar
ketika kemudian ia melihat lukisan itu. Ia melihat unsurunsur gerak yang
dikenalnya. Lukisan orang yang berkelahi itu meskipun nampaknya sekedar
coretan-coretan, namun jelas bagi Paksi. Ia melihat bagaimana unsur-unsur gerak
itu ditrapkan dalam benturan ilmu. Paksi menjadi semakin sibuk membersihkan debu
itu. Bahkan kemudian ia telah melepas bajunya yang basah. Dengan bajunya itu
Paksi membersihkan permukaan dinding itu semakin luas. Bahkan kemudian seluruh
wajah dinding yang datar itu telah dibersihkannya, sehingga ia dapat melihat
lukisan-lukisan yang terpahat di dinding itu semakin jelas. Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Dengan melihat dan mengamati dengan sungguh-sungguh lukisan itu,
maka seakan-akan Paksi melihat bagaimana unsur-unsur gerak yang telah
dikuasainya itu ditrapkan dalam benturan ilmu yang sebenarnya. Sementara itu,
matahari yang bergerak perlahan di langit telah mencapai puncaknya. Cahaya yang
tegak meluncur langsung menggapai lantai ruangan yang agak luas itu. Untuk
beberapa saat lamanya Paksi masih dapat melihat lukisan-lukisan di dinding itu
dengan jelas. Dengan daya angannya yang sangat kuat, Paksi yang memperhatikan
lukisan di dinding itu dengan seksama, seakan-akan telah melihat pertempuran
yang sebenarnya terjadi. Seorang yang memiliki ilmu sebagaimana telah
dikuasainya, bertempur melawan seorang yang juga berilmu tinggi. Paksi kemudian
tidak lagi melihat lukisan yang patah-patah dari satu adegan ke adegan yang
lain. Tetapi Paksi serasa melihat lukisan-lukisan itu menjadi hidup dan bergerak
sebagaimana dirinya sendiri. Paksipun kemudian tenggelam ke dalam ketajaman daya
angannya. Yang dilihatnya itu seakanakan telah terjadi pada dirinya. Paksi tidak
tahu sudah berapa lama ia berada di ruang itu. Namun kemudian ia menyadari
keadaannya ketika sinar matahari perlahan-lahan menjadi pudar. Namun Paksi
memang sudah menjadi letih. Meskipun ia tidak bergerak dengan wadagnya, tetapi
yang dilakukan oleh daya angannya itulah yang membuatnya letih. Karena itu, maka
Paksipun kemudian telah menghentikan pengamatannya atas lukisan-lukisan itu.
Namun ia sudah mendapat bekal yang akan dapat dipergunakan untuk melengkapi
latihanlatihannya malam nanti. "Aku harus membicarakannya dengan Ki Marta
Brewok," berkata Paksi kepada diri sendiri. Beberapa saat kemudian, maka
Paksipun telah meninggalkan ruang yang sudah menjadi suram itu. Tetapi ketika ia
berada di belakang air terjun, ia menjadi ragu. "Apakah tidak ada orang yang
berada di sekitar tempat ini?" bertanya Paksi kepada diri sendiri. Namun Paksi
memang yakin, bahwa ia tidak pernah melihat seseorang berada di sekitar tempat
itu. Sebenarnyalah, ketika kemudian Paksi menembus air terjun itu, maka ia
memang tidak melihat seorang pun berada di sekitar tempat itu. Juga
panggraitanya tidak menyentuh getar seseorang. Di malam hari, ketika Ki Marta
Brewok itu datang kepadanya, maka Paksipun segera menceriterakan apa yang
dilihatnya di dalam goa itu. "Inilah salah satu ujud keberuntunganmu setelah kau
melihat ndaru itu," berkata Ki Marta Brewok sambil tertawa. Paksi mengerutkan
keningnya. Ia tidak tahu apakah Ki Marta Brewok itu bersungguh-sungguh atau
sekedar bergurau. Tetapi Paksi sendiri merasa bahwa ia memang menemukan
keberuntungan di tempat itu. Justru karena ia bertemu dengan Ki Marta Brewok.
Namun Ki Marta Brewokpun kemudian berkata, "Baiklah. Kita akan berlatih malam
ini. Mudahmudahan kau dapat mencerna apa yang telah kau saksikan di dalam goa
itu." Ketika kemudian Paksi melakukan latihan bersama Ki Marta Brewok, maka
Paksi merasakan perkembangan dari ilmu yang telah dipelajarinya. Tenaga yang
dapat diungkapkannya pun menjadi jauh lebih besar. Sementara ketahanan tubuhnya
pun rasa-rasanya menjadi berlipat. Ketika keduanya kemudian selesai berlatih,
maka Ki Marta Brewokpun berkata, "Aku bangga dengan kemajuan yang sudah kau
capai, Paksi. Tetapi aku masih berharap kau berada di goa itu untuk beberapa
hari lagi." "Baik, Ki Marta," jawab Paksi. "Bagus. Nah, sekarang, mana nasimu?"
Demikianlah, maka hari-hari berikutnya Paksi selalu berada di dalam goa itu.
Dengan demikian, maka untuk beberapa hari ia tidak turun ke padukuhan dan tidak
pula pergi ke pasar. Namun kerjanya sehari-hari tidak dilewatkannya. Setiap pagi
dan sore ia masih saja memanjat pohon kelapanya untuk mengambil legen, meskipun
kadang-kadang ia hanya sempat melakukannya sekali dalam sehari. Namun jika Paksi
tidak mengambil legennya dengan teratur pagi dan sore, maka hasilnya akan
menyusut. Dari hari ke hari, penguasaan Paksi atas ilmunya benar-benar menjadi
semakin matang. Di siang hari ia memperhatikan lukisan-lukisan yang ada di
dinding, sementara di malam hari ia melakukan latihan yang lebih berat dengan Ki
Marta Brewok. Di dalam goa Paksi melihat lukisan seorang yang harus bertempur
melawan dua atau tiga orang. Bahkan lebih banyak lagi. Sedangkan di bagian lain,
Paksi melihat lukisan dari orang-orang yang sedang berburu yang kadang-kadang
ada yang terpaksa berkelahi melawan binatangbinatang buas buruannya. Namun
semuanya itu ternyata mampu memperluas wawasan Paksi tentang olah kanuragan,
khususnya tentang ilmu yang disadapnya. Ketika Paksi merasa bahwa ia sudah
melihat dan mempelajari lukisan-lukisan yang ada di dinding goa itu seluruhnya,
maka hal itu telah disampaikannya pula kepada Ki Marta Brewok. "Bagus, Paksi.
Waktunya memang hampir tiba. Kau dapat melanjutkan usahamu untuk menemukan
cincin itu. Tetapi sebaiknya kau tidak tergesa-gesa meninggalkan tempat ini.
Justru orang lain berdatangan kemari." Paksi mengangguk-angguk sambil menjawab,
"Baiklah, Ki Marta. Aku akan menunggu perkembangan keadaan di sini sebelum aku
meninggalkan tempat ini." "Bagus," berkata Ki Marta Brewok. Namun katanya
kemudian, "Tetapi selanjutnya aku tidak merasa perlu untuk datang setiap malam.
Mungkin dua malam atau tiga malam sekali, jika aku ingin makan nasimu atau
ketela pohonmu yang kau rebus dengan legen." Paksi mengangguk-angguk pula
meskipun ia menjawab, "Tetapi bukankah Ki Marta Brewok tidak akan meninggalkan
aku begitu saja?" Ki Marta Brewok tertawa. Katanya, "Kita masih terikat oleh
sebuah perjanjian. Kau harus menemukan cincin itu dan kelak menyerahkan kepadaku
di alun-alun Pajang. Bukankah dengan demikian aku tidak akan meninggalkanmu
sebelum hutangmu itu lunas? Selama ini aku sudah memberimu bekal. Karena itu,
kau tidak dapat begitu saja pergi tanpa imbalan apapun." Paksi tersenyum. Tetapi
ia mengangguk sambil menjawab, "Baiklah, Ki Marta." Demikianlah, seperti yang
dikatakan oleh Ki Marta Brewok, maka sejak malam itu, ia tidak lagi datang
setiap malam. Tetapi dua atau tiga malam sekali. Sedangkan Paksi sudah mulai
lagi turun ke padukuhan dan ke pasar. Meskipun demikian, dua hari atau tiga hari
sekali, Paksi masih juga masuk ke dalam goa untuk lebih memahami lukisanlukisan
yang terdapat di dalam dinding goa itu, sehingga tidak ada sebuah garispun yang
luput dari pengamatannya. Dalam pada itu, ternyata sebagaimana dikatakan oleh Ki
Marta Brewok, semakin banyak orang asing yang sering nampak berkeliaran di pasar
itu. Paksi sendiri yang sudah sering berada di pasar itu, sudah tidak dianggap
orang asing lagi. Ia mengenal semakin banyak orang yang terbiasa berada di pasar
itu. Sedangkan Kinong menjadi semakin terbiasa pula berhubungan dengan Paksi.
Bahkan dalam keadaan yang memaksa, Kinong pernah minta Paksi membelikan nasi
tumpang, karena Kinong tidak dapat menahan lapar. "Aku tidak berani mengambil
uang di dalam tabunganku," berkata Kinong. "Aku takut ayah melihatnya dan
merampasnya, sehingga aku tidak akan dapat menyisakan sama sekali. Uang Embok
benar-benar sudah habis." "Bagaimana dengan kakak perempuanmu?" bertanya Paksi.
"Embok masih menyisakan sebuah ketela pohon yang akan dapat direbusnya setelah
ayah pergi." Paksi mengangguk-angguk kecil. Katanya, "Makanlah. Bagaimana dengan
embokmu?" "Embok sedang mengikat dan membawa barang-barang belanjaan.
Mudah-mudahan embok mendapat uang yang dapat dibelikannya nasi atau apapun bagi
embok sendiri." Paksi hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Meskipun Paksi
mempunyai kepuasan tersendiri melihat Kinong makan, namun Paksi menyadari, bahwa
masih banyak anak-anak yang mengalami kesulitan sebagaimana dialami Kinong,
meskipun sebabnya tidak selalu sama. Kinong yang sedang makan nasi tumpang itu
terkejut ketika ia mendengar suara ibunya memanggilnya. "Kau sedang apa,
Kinong?" "Makan nasi tumpang, Mbok. Kakang Paksi membelikan nasi tumpang
buatku." Ibu Kinong memandang Paksi dengan kerut di dahinya. Namun kemudian
iapun berdesis, "Terima kasih, Ngger." "Apakah Bibi tidak makan sama sekali?"
Paksi menawarkan. Perempuan itu tersenyum. Katanya, "Aku sedang mencari Kinong.
Ia belum makan sama sekali sejak kemarin sore. Aku membawa uang jajan buatnya.
Tetapi ternyata kau sudah berbaik hati, membelikan nasi buat Kinong."
"Sudahlah," berkata Paksi. "Uang itu dapat Bibi belikan apa saja buat Bibi
sendiri atau buat kakak perempuan Kinong." Mata perempuan itu berkaca-kaca.
Tetapi ia tersenyum. Katanya, "Kau baik sekali, Ngger." "Ah sudahlah. Lupakan
saja, Bibi," sahut Paksi. "Tetapi Angger tidak hanya sekali ini membelikan
makanan dan jajan bagi Kinong." Paksi tersenyum. Katanya, "Kebetulan saja,
Bibi." Kinong yang telah selesai makan itupun kemudian membuang pincuk daun
kelapanya sambil berkata, "Terima kasih, Kakang. Aku sekarang sudah kenyang. Aku
sudah dapat membantu Simbok." Paksi mengusap kepala anak itu sambil berdesis,
"Bagus. Bantu embokmu." Kinongpun kemudian melangkah pergi bersama ibunya
setelah berulang kali mengucapkan terima kasih. Namun di pasar itu, Paksi juga
mendengar ceritera tentang orang-orang yang berkeliaran di pasar itu.
Orang-orang asing yang sebelumnya tidak dikenal sama sekali. Penjual nasi
tumpang itu menyatakan kecemasannya, bahwa kehadiran orang-orang itu akan dapat
menimbulkan persoalan. "Mereka meributkan ndaru yang jatuh di sekitar tempat
ini," berkata penjual nasi tumpang itu. Seperti penjual dawet, maka penjual nasi
itupun mengatakan. "Sementara itu, tidak seorangpun di antara kita di sini yang
melihat ndaru itu jatuh. Apalagi menemukannya." Paksi hanya mengangguk-angguk
saja Sementara itu, selama Paksi duduk di sebelah penjual nasi tumpang itu, ia
sudah melihat dua orang yang memang menarik perhatian lewat. Penjual nasi itu
mengamatinya sambil berbisik, "Nah, kau lihat orang itu? Bukankah kita belum
pernah melihat sebelumnya?" Paksi mengangguk-angguk. Kedua orang itu memang
nampak garang dengan senjata di lambung. Namun Paksipun sempat bertanya, "Kenapa
mereka berkeliaran di pasar ini? Apa mereka mengira bahwa ndaru itu jatuh di
tengah-tengah pasar ini?" "Tentu tidak," jawab penjual nasi tumpang itu. "Tetapi
itu pertanda bahwa mereka berkeliaran di sekitar tempat ini. Jika mereka pergi
ke pasar itu karena mereka harus membeli makan atau makanan. Tetapi kami menjadi
cemas, bahwa mereka akan berbuat sewenang-wenang. Sudah ada di antara mereka
yang membayar tidak sewajarnya." "Maksudmu?" bertanya Paksi. "Ada di antara
mereka yang hanya membayar separo dari harga yang seharusnya ketika mereka
membeli minum dan makan di kedai itu." Paksi menarik nafas dalam-dalam.
Kehadiran orang-orang yang dianggap orang orang asing itu ternyata tidak
memberikan penghasilan tambahan bagi orang-orang di sekitar tempat itu, tetapi
justru merugikan mereka. Sementara itu mereka tidak berani berbuat apa-apa
terhadap orangorang yang dianggap asing, tetapi yang pada umumnya orang-orang
garang itu. Tetapi Paksi masih belum ingin melibatkan diri. Ia masih saja
bersikap seperti biasanya. Meskipun demikian, di gubuk kecilnya Paksi masih saja
merenungi orang-orang yang mencari ndaru di sekitar tempat itu. Bahkan mereka
menghubungkannya dengan hilangnya cincin dari istana Pajang itu. Ketika kemudian
malam turun, maka Paksipun telah membuat perapian seperti biasanya. Ia mulai
menjerang air dan menanak nasi. Paksi masih mempunyai pepes ikan bader yang
ditangkapnya kemarin di sungai. Nampaknya Paksi baru mujur, karena ia mendapat
ikan lebih banyak dari biasanya. Namun ketika Paksi baru asik menunggui
perapiannya, tiba-tiba saja ia terkejut. Telinganya yang tajam, yang sudah
diasahnya dengan baik, telah mendengar desir langkah seseorang di belakang
dinding gubuknya. Paksipun segera menduga bahwa seseorang telah datang mendekati
gubuknya itu dan orang itu tentu bukan Ki Marta Brewok, karena Ki Marta Brewok
tidak pernah berbuat demikian. Sebenarnyalah, sekali lagi Paksi terkejut.
Tiba-tiba saja pintu rumahnya itu telah terbuka. Seseorang telah
menghentakkannya dari luar. Ketika Paksi kemudian bangkit berdiri, maka dalam
kegelapan di luar gubuknya yang tidak dapat digapai oleh sinar dlupaknya,
seseorang berdiri bertolak pinggang. Ketajaman mata Paksi mampu melihat orang
itu seutuhnya. Tetapi Paksi tidak dapat melihat wajah orang itu dengan jelas.
"Siapa kau?" bertanya Paksi. Orang yang berdiri di luar pintu itu tertawa, "Jadi
ada juga orang yang tinggal di sini. Agaknya bukan baru kemarin kau berada di
sini, anak muda. Aku sudah melihat tanaman jagungmu, kacang panjangmu dan ketela
pohon yang di pinggir hutan itu." "Ya," jawab Paksi. "Aku memang tinggal disini
sejak lama." "Bagus. Jika demikian, kau tentu tahu, di mana ndaru itu jatuh."
"Ndaru apa?" bertanya Paksi. "Aku sama sekali tidak melihat ndaru." "Jangan
bohong. Ndaru itu meluncur dari langit dan jatuh di sekitar tempat ini." Paksi
memandang orang itu dengan tajam. Dengan nada berat Paksi berkata, "Aku tidak
melihat ndaru itu, Ki Sanak. Aku selalu berada di dalam gubukku ini. Seandainya
ada ndaru turun di sekitar tempat ini, maka aku tentu tidak melihatnya." "Apakah
kau sudah memungut ndaru itu? Aku tahu bahwa yang jatuh sebagai ndaru itu tentu
cincin kerajaan yang hilang. Siapa yang memakai cincin itu akan dapat menurunkan
seorang yang akan menguasai tanah ini. Apakah ia laki-laki atau perempuan." "Aku
juga tidak tahu apa-apa tentang cincin kerajaan yang kau katakan itu. Selama aku
tinggal di sini, aku hanya bergumul dengan lingkungan kecil ini." "Sudahlah.
Jangan banyak bicara. Sekarang, serahkan cincin itu kepadaku." "Kenapa kau
mengigau seperti itu?" "Ndaru itu adalah wahyu. Karena itu, dengan cara apapun
juga ndaru itu harus aku miliki." "Ki Sanak. Aku tidak akan memperebutkan wahyu.
Aku tidak percaya bahwa wahyu itu dapat diperebutkan seperti orang memperebutkan
benda-benda mawujud." "Jadi, bagaimana menurut pendapatmu?" "Wahyu itu
berhubungan erat dengan sikap, tingkah laku dan laku yang dijalaninya. Tetapi
terakhir, kuasa Yang Maha Agung." "Tetapi itu tidak akan dapat datang dengan
sendirinya. Seseorang harus berjuang untuk mendapatkannya." "Bukan dengan cara
yang kau tempuh, Ki Sanak. Seolah-olah dalam sehari kau akan mendapatkannya.
Bahkan mungkin merebut dari orang lain. Wahyu akan datang kepadamu bukan
berdasarkan kerja sehari apapun yang kau kerjakan. Tetapi atas penilaian yang
panjang dari sikap, tingkah laku dan laku yang dijalaninya." "Jadi aku harus
bertapa di goa-goa atau bersamadi di lereng gunung seperti yang kau lakukan
ini?" Paksi menggeleng. Katanya, "Tidak, Ki Sanak. Menurut guruku, bukan laku
seperti itu. Tetapi laku yang kita jalani akan nampak pada sikap dan tingkah
laku. Apa yang kita yakini dan apa yang kita lakukan sesuai dengan hubungan kita
dengan Yang Maha Agung bagi sesama." "Jadi kenapa kau berada di sini? Kau tentu
sedang bertapa pada saat-saat tertentu di goa goa yang ada di sekitar tempat
ini. Kau tentu juga menjalani laku, menyiksa diri di sini. Dengan demikian kau
mengharap bahwa ndaru itu akan jatuh kepadamu. Cincin itu akan kau ketemukan dan
kau pakai sehingga kau akan dapat menurunkan penguasa di atas tanah ini." "Jika
aku menjalani laku di sini, itu adalah laku yang sangat sempit dibanding dengan
lingkup kehidupan. Menurut guruku, apa yang aku dapatkan dengan laku yang aku
jalani ini tidak lebih dari sekedar bekal untuk menjalani laku yang lebih luas
dalam garangnya arus kehidupan." "Jadi kau bermaksud mengatakan bahwa laku yang
kau jalani di sini sekedar untuk mendapatkan ilmu yang kemudian harus kau
amalkan?" "Ya," jawab Paksi. Orang itu tertawa berkepanjangan. Katanya, "Kau
telah berbicara tentang hal-hal yang tidak kau ketahui sendiri. Sekarang,
berikan cincin itu kepadaku. Kau akan selamat." "Jangan berpandangan picik
tentang wahyu." "Tetapi aku tahu pasti apa yang aku lakukan. Sedangkan kau
tidak. Apa yang kau katakan itu tidak lebih dari tangkapanmu yang dangkal
terhadap ajaran-ajaran orang yang kau sebut gurumu itu. Kau masih harus
mendalami maknanya, bukan sekedar permukaannya saja." Paksi mengerutkan dahinya.
Orang itu tentu orang yang aneh. Jika ia menganggap bahwa tangkapannya atas
ajaran gurunya terlalu dangkal, bagaimana mungkin ia sendiri berusaha untuk
mencari wahyu dengan caranya. Mencari sebuah cincin yang dipercaya akan
memberikan arti yang sangat tinggi kepada pemakainya. Bahkan orang yang
memakainya akan dapat menurunkan penguasa di tanah ini. "Kenapa kau menjadi
bingung?" orang itu tiba-tiba bertanya. "Sekarang berikan cincin itu. Seandainya
cincin itu bukan ujud dari wahyu tertinggi, maka setidak-tidaknya aku akan
mendapatkan sesuatu yang berarti bagi hidupku. Pada dasarnya ndaru itu akan
memberikan keberuntungan padaku. Itu saja. Karena itu berikan cincin itu."
"Sudahlah, Ki Sanak," berkata Paksi yang menjadi curiga terhadap sikap orang
itu. "Apa maumu sebenarnya? Aku yakin bahwa kau tidak sedang sekedar mencari
ndaru itu." "Jadi kau kira aku sedang mencari apa?" bertanya orang itu. "Justru
itulah yang ingin aku tanyakan kepadamu." "Jangan banyak bicara lagi. Berikan
cincin itu atau aku akan menghancurkan tatanan kehidupanmu di sini dan bahkan
jika kau tetap berkeras kepala, aku akan membunuhmu. Nilai cincin itu jauh lebih
berharga dari nyawamu." "Kau kira aku akan membiarkanmu melakukannya?" bertanya
Paksi. "Setan kau," geram orang itu. "Jadi kau benar-benar tidak mau
memberikannya?" "Tidak ada yang dapat aku berikan kepadamu." Tiba-tiba saja
orang itu menggapai sepasang uger-uger pintu gubuk Paksi. Sambil mengguncang
gubuk kecil itu ia berkata, "Kau tahu bahwa aku akan dapat merobohkan gubukmu
ini dalam sekejap." Tetapi Paksi tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja
ia lelah meloncat menyerang orang itu. Ia tidak ingin gubuknya roboh dan
terbakar karena perapiannya. Orang itu terkejut. Dengan cepat ia meloncat surut,
sementara Paksipun telah meloncat keluar gubuknya. Pertempuran tidak dapat
dihindarkan lagi. Paksi yang marah itu telah menyerang dengan garangnya,
sehingga orang itu berloncatan menghindar. Namun kemudian, orang itu menjadi
mapan, sehingga dengan demikian, maka merekapun telah bertempur dengan
sengitnya. Dengan keras orang itu membalas serangan Paksi dengan serangan pula.
Beberapa kali orang itu sengaja tidak menghindar dari serangan-serangan Paksi.
Tetapi dengan sengaja orang itu justru telah membentur serangan dengan serangan
pula. Dengan demikian, baik orang itu maupun Paksi dapat menjajagi kekuatan
lawan di samping menjajagi pula tingkat ilmu mereka. Demikianlah, maka
pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Mereka berloncatan di atas
lereng-lereng berbatu karang di kaki gunung itu. Semakin lama semakin cepat.
Benturanbenturan pun menjadi semakin sering terjadi, sehingga jika benturan itu
terjadi, maka keduanya beberapa kali terdorong surut. Paksi yang baru saja
selesai menjalani laku, telah menunjukkan kemapanan ilmunya yang tinggi.
Ternyata menghadapi orang yang mencari ndaru itu, Paksi mampu mengimbanginya.
Meskipun orang itu meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Bahkan keduanyapun
kemudian telah mengungkap tenaga dalam mereka masing-masing, sehingga dengan
demikian, maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. "Demit kecil," geram
orang itu. "Darimana kau mendapatkan ilmu itu he?" Paksi tidak menjawab. Tetapi
anak muda itu justru bertempur semakin sengit.
Dalam pertempuran itu,
Paksi justru seakan-akan mendapat kesempatan untuk mencoba kemampuannya. Apa
yang telah diwarisinya dari gurunya yang terdahulu, kemudian yang dituangkan
oleh Ki Marta Brewok, yang kemudian seakan-akan diuraikan dengan terperinci oleh
lukisan-lukisan di dinding goa itu, telah dicoba untuk diuapkan dalam keadaan
yang sesungguhnya.
Ternyata bahwa Paksi
tidak mengecewakan. Ia mampu mengimbangi lawannya yang berilmu tinggi, yang
kadang-kadang bergerak cepat seakan-akan tidak berjejak di atas tanah, namun
kemudian sepasang kakinya seakan-akan menghunjam dan berakar di dalam bumi.
Namun di setiap geraknya, telah menggetarkan udara di seputarnya. Orang itu
seakan-akan tidak lagi bergerak berputar, meloncat atau melenting dengan cepat.
Tetapi berdiri tegak dan hanya sekedar beringsut setapak-setapak. Namun apapun
yang dilakukan oleh orang itu, Paksi masih mampu mengimbanginya. Bahkan ketika
orang itu meningkatkan ilmunya, Paksi masih belum dapat dikuasainya. Dengan
demikian maka pertempuranpun menjadi semakin sengit. Berganti-ganti keduanya
saling menyerang. Benturan-benturan kekuatan terjadi semakin sering, sehingga
keduanya saling mendesak dan saling bertahan. Semakin lama mereka bertempur,
Paksi menjadi semakin curiga terhadap lawannya. Meskipun kadang-kadang keduanya
berdiri berhadapan, namun Paksi masih belum berhasil melihat wajah lawannya
dengan jelas. Bahkan kemudian Paksi sempat menduga bahwa orang itu adalah Ki
Marta Brewok sendiri yang ingin mengujinya. Tetapi Paksi tidak mau salah duga.
Jika ia keliru dan mengira bahwa orang itu tidak bersungguh-sungguh, maka ia
akan dapat terjerat dalam kesulitan. Karena itu, maka pertempuran itu menjadi
semakin keras. Serangan-serangan mereka mulai menembus pertahanan lawan.
Sehingga sekali-sekali seorang di antara mereka terdorong beberapa langkah
surut. Bahkan ketika serangan Paksi tepat mengenai dada lawannya, maka orang
itupun terhuyung-huyung sesaat. Namun paksi telah mengulangi serangannya dengan
ayunan kaki mendatar sambil berputar. Kaki Paksi tepat mengenai lambung orang
itu, sehingga orang itu benar kehilangan keseimbangannya dan jatuh berguling di
tanah. Tetapi ketika paksi memburunya, maka dengan cepat orang itu meloncat
bangkit. Demikian Paksi mengayunkan tangannya ke arah kening, maka orang itu
sempat merendahkan diri. Kakinya justru terjulur menyamping menghantam bahu
Paksi. Tubuh Paksi bagaikan diputar. Tetapi demikian lawannya mengulangi
serangannya, Paksi justru menjatuhkan dirinya dan bergulir menjauh. Namun
lawannya tidak melepaskannya. Dengan sigapnya ia meloncat memburu. Namun Paksi
justru meluncur dengan cepat. Kakinya memutar tubuhnya, maka lawannya itupun
jatuh terbanting di tanah. Tetapi sekejap kemudian, keduanya telah meloncat
melenting berdiri. Keduanya telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun
ternyata orang yang datang untuk mencari ndaru itu sudah kehilangan kesabaran.
Dengan geram ia berkata, "Anak yang tidak tahu diri. Jika kau tetap keras kepala
dan tidak mau menyerahkan ndaru itu kepadaku, maka kau akan menyesali nasibmu
yang buruk. Kau akan mati dan terkubur di sini tanpa ditunggui oleh orang
tuamu." Tetapi Paksi sama sekali tidak menjawab. Dipersiapkannya dirinya untuk
menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang lebih berat. Sebenarnyalah bahwa tidak
terhenti sampai sekian. Mata Paksi yang menjadi setajam mata burung hantu di
malam hari melihat lawannya itu mempersiapkan serangan dengan tataran ilmu yang
semakin tinggi. Paksi telah mendapat tuntunan yang lengkap dari Ki Marta Brewok.
Ia telah melihat dirinya sendiri pada puncak lakunya, mengetrapkan ilmu yang
lebih tinggi dari sekedar kekuatan dan kemampuan kewadagan. Paksipun telah
melihat, bagaimana ilmu seperti itu ditrapkan dalam pertempuran yang sebenarnya.
Karena itu, ketika ia melihat lawannya mengatupkan telapak tangannya, maka
Paksipun segera memusatkan nalar budinya, memasuki puncak kemampuannya
sebagaimana pernah dilakukannya dalam samadinya. Paksi belum pernah mengetrapkan
ilmunya dalam pertempuran yang sebenarnya. Tetapi ia tidak mau begitu saja
dihancurkan oleh lawannya dalam benturan ilmu. Karena itu, apapun yang terjadi,
Paksi berusaha untuk melindungi diri sebaik-baiknya. Paksipun kemudian melihat
kedua telapak tangan lawannya itu bagaikan membara. Dalam gelap malam, nampak
asap putih yang tipis mengepul dari antara kedua telapak tangan itu. Namun dalam
pada itu, Paksipun segera menyilangkan kedua tangan di dadanya. Namun di saat
terakhir, Paksi mengangkat kaki kirinya dan mengayunkannya sambil meloncat
menyongsong serangan lawannya. Satu benturan ilmu dahsyat telah terjadi. Paksi
terlempar beberapa langkah surut. Tubuhnya jatuh terbanting di tanah berbatu
padas. Dadanya menjadi sesak seakan tertindih oleh batu hitam sebesar gubuknya
itu. Sementara itu, kulitnya yang terluka oleh tajamnya batu-batu padas, terasa
menjadi sangat pedih. Tetapi paksi masih memaksa dirinya untuk bangkit. Ia masih
melihat lawannya yang juga terpental jatuh. Namun seperti Paksi orang itupun
berusaha untuk bangkit dengan susah payah. Sejenak kemudian, maka kedua orang
itu telah berdiri berhadapan pula. Tetapi keduanya seakan-akan sudah tidak mampu
lagi berdiri tegak. Tenaga dan kekuatan mereka telah terkuras habis. Benturan
yang terjadi seakan-akan membakar isi dada mereka, memusnahkan tenaga yang
tersimpan di dalam diri mereka. "Kau anak iblis," geram orang itu. "Ternyata
kali ini kau mampu mengimbangi ilmuku. Tetapi jangan tertawa lebih dahulu. Pada
suatu saat aku akan datang untuk membunuhmu jika kau tidak mau memberikan ndaru
itu kepadaku." Paksi tidak menjawab, nafasnya terengah-engah. Bahkan hampir saja
ia tidak dapat bertahan untuk tetap berdiri. Tetapi Paksi tidak mau jatuh di
hadapan lawannya. Ia harus tetap bersiap menghadapi segala kemungkinan dengan
sisa-sisa tenaga yang ada padanya. Orang yang datang kepadanya, agar Paksi
memberikan ndaru yang dianggapnya telah dimilikinya itu melangkah surut.
Ternyata orang itupun nampaknya menjadi sangat lemah. Meskipun demikian, ia
masih berkata lantang, "Tunggu. Dalam waktu dekat aku akan kembali." Namun kedua
orang yang sudah hampir kehabisan tenaga itu terkejut. Tiba-tiba saja mereka
mendengar suara orang tertawa. Tidak terlalu keras. Namun cukup menggetarkan
udara malam di lereng gunung itu. Ketika keduanya berpaling, maka mereka melihat
Ki Marta Brewok bergerak selangkah demi selangkah mendekati Paksi. Namun
kemudian iapun berhenti sambil berkata kepada orang yang baru saja bertempur
melawan Paksi, "Jadi kau ganggu anakku, he?" "Kau siapa?" bertanya orang itu.
"Aku yang telah memelihara anak ini. Itulah agaknya hatiku selalu merasa
berdebar-debar. Sebenarnya malam ini aku tidak berniat datang kemari. Tetapi
ternyata kau di sini sekarang. Nah, jika kau memang seorang yang berilmu tinggi,
kau jangan hanya berani mengganggu anak-anak. Sekarang, biarlah yang tua
berhadapan dengan yang tua." Orang yang datang mencari ndaru itu mengumpat.
Katanya, "Kau akan memanfaatkan saat aku kelelahan. Baiklah. Aku terima
tantanganmu. Tetapi tidak sekarang." "Bagus. Tetapi jangan datang seperti
seorang pencuri justru saat aku tidak ada di sini." "Bagaimana aku tahu bahwa
kau ada di sini?" "Bertanyalah kepada anakku. Jika aku tidak ada, jangan
mengganggu anak-anak. Biarlah ia bermain sesuai dengan caranya. Kita yang tua
akan berhadapan dengan cara orang-orang tua." "Jangan menyesal jika aku datang
pada kesempatan lain. Persoalan kita akan kita selesaikan dengan cara orang
tua." "Sekarang pergilah sebelum aku menjadi semakin muak melihatmu. Jika
tiba-tiba saja timbul keinginanku untuk membunuhmu, maka kau benar-benar akan
mati." "Persetan kau," geram orang itu. Tetapi tertatih-tatih orang itu
melangkah meninggalkan tempat itu. Demikian orang itu lenyap dalam kegelapan,
maka Ki Marta Brewokpun telah mengajak Paksi masuk ke dalam biliknya. Paksi yang
pernafasannya masih terasa sesak itu kemudian terduduk di atas ketepenya.
Tenaganyapun bagaikan terkuras habis. "Atasi kesulitan di dalam dirimu, Paksi,"
berkata Ki Marta Brewok. Paksi tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian duduk tegak
dengan menyilangkan kaki dan tangannya. Paksipun kemudian telah mengatur
pernafasannya. Ki Marta Brewok membiarkan Paksi mengatasi kesulitan di dalam
dirinya. Sementara itu Ki Marta Brewok justru menyurukkan kayu bakar pada
perapian Paksi yang hampir padam untuk merebus air dan menanak nasi. Meskipun
Paksi kemudian berhasil mengatasi kesulitan di dalam dirinya, namun ketahanan
tubuhnya yang tinggi masih belum mampu mengatasi perasaan sakit dan nyeri di
bagian-bagian tubuhnya. Bahkan di beberapa tempat nampak kulitnya memar
kebiru-biruan. Keningnya terasa lebam dan tulang punggungnya terasa sakit.
Selain nyeri-nyeri pada tulang dan dagingnya, maka luka-lukanyapun terasa pedih.
Ketika ia terbanting jatuh, maka batu-batu padas telah menggores kulitnya yang
tidak menjadi kebal. Menjelang fajar, Paksipun mengakhiri usahanya mengatasi
kesulitan di dalam dirinya. Ketika ia kemudian bangkit, ia tidak melihat Ki
Marta Brewok. Yang ada hanyalah sebuah mangkuk yang telah dipakainya untuk
makan. Daun pembungkus pepesan ikan bader dan periuk nasi yang sudah diturunkan
dari atas perapian. Apipun telah padam dan air yang sudah mendidih itu masih
hangat. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia menggeliat, terasa
tulang-tulangnya masih nyeri. Perlahan-lahan Paksi melangkah keluar gubuknya.
Pintunya masih terbuka lebar sehingga angin malam yang berhembus di lereng
gunung itu menyusup masuk Dlupak minyak kelapa di atas ajug-ajugnya masih
menyala. Sinarnya seperti terayun dibuai angin. Paksi tertegun. Ternyata Ki
Marta Brewok tidak pergi. Ia justru berbaring di atas batu di luar gubuknya.
Ketika Ki Marta Brewok itu melihat Paksi melangkah keluar, maka iapun segera
bangkit. Dengan nada dalam ia bertanya, "Bagaimana keadaanmu, Paksi?" Paksi
menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Sudah menjadi semakin baik Ki Marta."
"Bagus. Sebenarnya aku mempunyai keperluan lain malam ini. Tetapi aku harus
menunggu, apakah kau berhasil mengatasi kesulitan di dalam dirimu." "Tetapi
tulang-tulangku masih terasa nyeri, Ki Marta." Ki Marta Brewok itupun kemudian
mengambil sebutir obat yang dibungkus dengan selembar kelaras daun pisang.
"Setelah kau makan nasi, maka makanlah obat ini. Mudah-mudahan keadaanmu
bertambah baik." "Terima kasih," desis Paksi sambil menerima obat itu. "Nah,
sekarang aku akan pergi. Selanjutnya kau akan dapat mengatasi keadaanmu dengan
baik. Orang itu tidak akan kembali dalam waktu dekat, karena ia juga mengalami
kesulitan di dalam dirinya sebagaimana kau alami. Seandainya ia ingin datang
lagi, maka ia akan datang setelah keadaanmu pulih kembali." Paksi mengangguk.
Sementara itu Ki Marta Brewok berkata lebih lanjut, "Paksi, jika orang itu
datang lagi, aku kira kau akan dapat mengatasinya. Jika kau mampu mengungkit
lebih dalam tenaga yang tersimpan di dalam dirimu, maka kekuatan ilmumu akan
menjadi semakin besar. Kau harus lebih memahami kekuatanmu yang berlandaskan
pada pijakan bumi. Api yang mengalir dan menghangatkan darahmu. Udara yang
berhembus di dalam dadamu dan air yang menggairahkan dan menyegarkan tubuh serta
otakmu. Tetapi ingat, bahwa api, udara dan air bahkan bumi akan dapat
melambungkan kemampuanmu, tetapi tanpa memahami wataknya dengan baik, maka dalam
keseimbangan yang goyah, justru akan dapat menimbulkan malapetaka pada dirimu.
Karena itu, setelah kau selesai menjalani laku, bukan berarti bahwa
segala-galanya telah selesai. Masih banyak sekali yang harus kau kerjakan."
Paksi mengangguk-angguk kecil. Dengan nada dalam iapun berkata, "Baiklah, Ki
Marta. Aku akan mencobanya." Ki Marta Brewok itupun kemudian menengadahkan
wajahnya. Cahaya merah menjadi semakin menyala di langit. Karena itu, maka
katanya, "Sudahlah. Aku tidak ingin terlambat. Makanlah obat yang aku berikan
itu setelah kau makan nasi. Tetapi aku masih ingin memperingatkanmu, kau tidak
boleh lupa menelan obat penawar racun itu. Di sini ular berkeliaran tanpa
mengenal waktu." Paksi tidak sempat menjawab. Ki Marta Brewok itupun kemudian
bangkit dan melangkah meninggalkan Paksi yang berdiri termangu-mangu
ditempatnya. Ia hanya dapat memandangi Ki Marta Brewok yang berjalan dengan
cepat meninggalkannya. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia menduga,
bahwa orang yang datang dan minta kepadanya agar ia memberikan ndaru yang
disangkanya ada padanya itu adalah Ki Marta Brewok yang ingin menjajagi
peningkatan ilmunya. Ternyata orang itu adalah orang lain. Meskipun demikian,
Paksi masih saja dibayangi oleh perasaan aneh terhadap orang-orang yang
tiba-tiba saja datang menyerangnya. Seakan-akan yang terjadi itu telah tersusun
dalam satu perencanaan yang mapan. "Aku tidak boleh terjebak pada perasaan
seperti itu," berkata Paksi kepada diri sendiri. "Jika aku kemudian terbuai
dalam mimpi yang demikian, maka pada suatu saat aku akan benar-benar dihancurkan
lawan sebelum aku sampai pada puncak perlawanan." Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Namun kemudian ia kembali masuk ke dalam gubuknya. Dibenahinya
mangkuk, periuk dan tenong kecilnya. Namun Paksi sendiri kemudian menyempatkan
diri untuk makan serba sedikit, agar ia dapat menelan obat yang diberikan oleh
Ki Marta Brewok. Baru kemudian, setelah ia minum obat, maka Paksi melakukan
kewajibannya sehari-hari menjelang fajar. Ketika kemudian matahari terbit, Paksi
sudah berada di sungai untuk mandi dan mencuci pakaiannya. Seonggok daun dilam
telah disiapkannya untuk menyedapkan pakaiannya setelah dicuci bersih. Setelah
minum obat yang diberikan oleh Ki Marta Brewok, tubuh Paksi terasa menjadi
semakin segar. Perasaan nyeri pada tulang-tulangnya telah jauh menyusut. Tetapi
Paksi masih harus mengobati luka-luka pada kulitnya yang tergores batu-batu
padas. Setelah mandi, maka tubuh Paksi terasa menjadi segar. Sambil
beristirahat, Paksi menunggui pakaiannya yang dijemurnya di belakang gubuk
kecilnya. Namun Paksipun kemudian telah bangkit. Tiba-tiba saja ia telah
teringat sesuatu. Diambilnya tongkat kayunya yang diberikan oleh pengemis ketika
ia harus bertempur melawan orang-orang yang garang di sebuah kedai nasi. Sejenak
Paksi merenungi tongkatnya itu. Namun kemudian, Paksipun mulai menimang-nimang
tongkatnya. "Aku akan pergi ke goa itu," berkata Paksi tiba-tiba saja kepada
diri sendiri. Sambil membawa tongkatnya Paksipun telah menuruni lereng,
meloncati bebatuan dan batubatu padas, menuju ke mulut goa yang tersembunyi di
balik air terjun. Ketika Paksi berada di dalam ruang yang cukup luas di dalam
goa itu, maka matahari telah memanjat semakin tinggi. Sinarnya mulai menusuk
lubang-lubang batu padas di atas goa itu, sehingga ruang yang cukup luas di
dalam goa itu menjadi semakin terang. Seperti hari-hari yang telah lewat, paksi
memperhatikan lukisan-lukisan yang terdapat di dinding itu dengan seksama, ia
melihat beberapa macam senjata yang dipergunakan oleh orangorang yang nampak
dalam lukisan itu, di antaranya adalah tongkat. Paksi semakin memperhatikan,
bagaimana orang-orang itu memegang tongkat. Arah gerak tongkat dan bagaimana
mereka menyerang dan menangkis dengan tongkat itu. Paksi memperhatikan lukisan
itu dengan seksama. Di dalam lukisan itu, ia akan mendapat kesempatan untuk
mempelajari penggunaan berbagai macam senjata. Meskipun yang paling menarik bagi
Paksi di antara senjata-senjata itu adalah tongkat, namun Paksi juga tertarik
untuk mempelajari penggunaan senjata yang lain. Dengan demikian, maka beberapa
hari mendatang, Paksi masih akan datang lagi ke tempat itu. Sebagaimana
dikatakan oleh Ki Marta Brewok, bahwa meskipun ia sudah selesai menjalani laku,
tetapi masih banyak yang harus dikerjakannya. Tetapi di hari-hari mendatang,
Paksi tidak berada di goa itu setiap hari. Paksi lebih banyak berlatih di
sekitar gubuknya. Sehari ia mengamati lukisan-lukisan itu, dua tiga hari ia
berlatih mempergunakannya. Meskipun Paksi tidak mempunyai lawan, namun ia mampu
mewujudkannya di dalam ketajaman angan-angannya. Bahkan di malam hari, jika Ki
Marta Brewok kebetulan datang ke gubuknya, ia tidak berkeberatan untuk membantu
Paksi mematangkan latihan-latihan penggunaan senjata. "Kau harus mematangkan
bersama-sama, Paksi," berkata Ki Marta Brewok. "Menggunakan senjata dan
mengungkapkan ilmumu yang akan mempunyai kemampuan yang tidak kalah dahsyatnya
dengan senjata di tanganmu. Tetapi pada suatu saat, kedua-duanya akan dapat
luluh menyatu, sehingga senjata di tanganmu akan mampu memuat kekuatan ilmumu
itu pula." Paksi mengangguk-angguk kecil. Ternyata memang masih sangat banyak
yang harus dipelajarinya. Namun dalam pada itu, di sela-sela hari-hari latihan
yang bahkan sekali-sekali dilakukan di dalam ruangan yang cukup luas di goa itu,
Paksi masih sempat pergi ke pasar. Ia masih sempat berbincang dengan Kinong,
dengan penjual dawet, penjual nasi tumpang dan beberapa orang yang kemudian
dikenalnya dengan baik, Paksipun telah melihat pula beberapa orang yang
dianggapnya asing selain orang-orang dari Perguruan Goa Lampin dan dari
Perguruan Sad. Paksipun kadang-kadang juga melihat orang-orang itu berbuat
sesuatu yang menyinggung perasaan dan bahkan merugikan beberapa orang yang
berjualan di pasar itu. Tetapi Paksi masih menahan diri. Ia tidak mau segera
terlibat karena hal itu akan menyibak keberadaannya di kaki gunung itu. Namun
setiap kali ia berada di pasar itu, ia selalu teringat bagaimana perempuan
berbaju coklat yang disebutnya sebagai pemimpin Perguruan Goa Lampin itu mampu
mempengaruhi orang lain dengan pandangan matanya. Namun setiap kali ia juga
teringat pesan Ki Marta Brewok, jangan pandangi matanya jika tidak ingin jatuh
di bawah pengaruh sihirnya. Namun untuk beberapa lama, Paksi tidak melihat
perempuan itu lagi. Tetapi ketika hal itu disampaikan kepada Ki Mana Brewok,
maka Ki Marta Brewok telah berkata, "Kau sudah menjalani laku. Kau sudah menempa
dirimu sendiri lahir dan batin. Karena itu, selama kau teguh akan sikap dan
keyakinanmu, maka sihir itu tidak akan mempengaruhimu meskipun kau tatap mata
perempuan itu. Tetapi kau tidak perlu memamerkannya dan bahkan dengan sengaja
mencarinya untuk menunjukkan bahwa sihirnya tidak mampu menundukkan ketahanan
kesadaranmu atas pribadimu." Paksi mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Marta
Brewokpun berkata, "Duduklah. Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Paksipun
kemudian duduk berhadapan dengan Ki Marta Brewok di dalam gubuk kecilnya. Ia
melihat kesungguhan di wajah Ki Marta Brewok. Tetapi ia tidak pernah dapat
memandang wajah itu dengan jelas. Sengaja atau tidak sengaja, wajah itu tentu
terlindung di bawah bayang-bayang apapun. Bahkan Ki Marta Brewok lebih banyak
duduk membelakangi lampu minyak yang cahayanya samar-samar. Tetapi satu hal yang
dapat ditangkap oleh penglihatan Paksi, wajah orang yang wajahnya tertutup oleh
brewok yang tebal itu adalah wajah yang cacat. Agaknya karena itulah, maka Ki
Marta Brewok membiarkan jambang, kumis dan janggutnya tumbuh melingkari mulutnya
serta menutup keningnya. Sementara itu, ikat kepalanyapun dipakainya terlalu
rendah melekat di atas kupingnya. Dalam pada itu, maka Ki Marta Brewok itupun
kemudian berkata, "Paksi. Kau sudah cukup lama berada di tempat ini. Menurut
ingatanmu, apakah kau sudah genap setahun berada di sini?" Paksi mengangguk
sambil menjawab, "Sudah Ki Marta. Bahkan sudah lebih dari setahun." "Jadi,
berapakah umurmu sekarang?" bertanya Ki Marta Brewok itu pula. Paksi
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, "Ketika aku meninggalkan
rumahku setahun yang lalu, umurku menginjak tujuh belas." "Jika demikian, umurmu
sekarang sudah delapan belas." Paksi mengangguk. Katanya, "Ya. Umurku sudah
delapan belas sekarang." "Kau sudah menjadi semakin dewasa, Paksi. Meskipun kau
belum dewasa penuh, namun kau sudah harus dapat mendudukkan dirimu pada tiga
landasan. Kau harus sudah benar-benar menyadari bahkan kau sudah waktunya untuk
mandiri. Kemudian kau harus sudah dengan jernih dapat membedakan antara buruk
dan baik. Selanjutnya, kau sudah harus mempertanggungjawabkan sikap dan tingkah
lakumu. Baik kepada dirimu sendiri, kepada sesamamu dan kepada Yang Maha Agung."
Paksi mengangguk-angguk. Sementara Ki Marta Brewok itupun berkata selanjutnya,
"Paksi. Sudah tentu aku tidak akan selalu bersamamu, sebagaimana kau tidak akan
dapat selamanya bergantung kepadaku. Aku merasa bahwa bekal yang aku berikan
kepadamu sudah cukup. Selanjutnya segala sesuatunya tergantung kepada dirimu
sendiri. Karena itu, untuk selanjutnya aku akan menjadi semakin jarang datang ke
gubuk ini. Bahkan aku tidak dapat mengatakan, apakah aku masih sempat atau
tidak. Karena itu, segala sesuatunya terserah kepadamu. Apakah kau masih merasa
perlu untuk tinggal lebih lama lagi atau tidak. Mungkin sebulan dua bulan.
Tetapi mungkin kau memandang perlu untuk tinggal lebih lama lagi. Segalanya
terserah kepadamu. Kalau kau masih terikat oleh goa itu, lakukanlah. Mungkin
masih ada yang dapat kau sadap pada dinding goa itu. Tetapi jika kau merasa
perlu untuk meninggalkan tempat ini dan mencari cincin bermata tiga butir batu
akik itu, lakukanlah." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Aku hanya dapat
mengucapkan terima kasih, Ki Marta. Namun perkenankan aku mohon. Sebenarnya
sudah lama aku ingin menyampaikan permohonan ini." "Apa yang akan kau minta?"
"Apakah aku diperkenankan menyebut Ki Marta sebagai guruku. Aku pernah berguru
kepada seseorang. Tetapi karena aku harus pergi dari rumah dan meninggalkan
keluargaku, maka hubunganku dengan guruku telah terputus. Tetapi aku masih tetap
menganggapnya sebagai guruku. Jika Ki Marta berkenan, maka aku akan merasa
mempunyai dua orang guru." Ki Marta Brewok tertawa. Katanya, "Itu terserah saja
kepadamu. Tetapi rasa-rasanya jantungku seperti digelitik jika seseorang
memanggilku guru. Karena itu, aku tidak berkeberatan jika kau menganggap aku
sebagai gurumu. Tetapi panggil aku Ki Marta begitu saja." Paksi memandang Ki
Marta Brewok sekilas. Katanya, "Aku mengucapkan terima kasih. Tetapi aku merasa
lebih mantap jika aku diperkenankan memanggil guru." "Terserah saja kepadamu,"
berkata Ki Marta Brewok kemudian. "Tetapi jika kita tidak bertemu lagi, maka kau
tidak akan mempunyai kesempatan menyebutku guru." "Bukankah aku harus datang ke
alun-alun Pajang jika aku sudah menemukan cincin itu?" Ki Marta Brewok tertawa
pula. Katanya, "Terserah saja kepadamu, aku tidak berkeberatan." "Terima kasih,
Guru," berkata Paksi kemudian. "Tetapi jika aku boleh bertanya, ke mana guru
akan pergi selanjutnya?" "Aku tidak dapat mengatakan kepadamu, Paksi. Tetapi aku
masih mengemban berbagai tugas yang penting. Meskipun demikian, jika ada
kesempatan aku masih akan berusaha menemuimu meskipun aku tidak tahu, kau pergi
ke mana jika kau pada suatu saat meninggalkan tempat ini." Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, "Aku memang masih akan mengembara. Mungkin untuk waktu
yang masih panjang." "Hati-hatilah. Jangan sampai tersesat ke mulut Batara Kala
yang selalu menganga menunggu mangsa. Padahal apapun akan ditelannya, terutama
mereka yang memang sudah termasuk dalam kumpulan orang-orang yang mempunyai ciri
tertentu." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Aku pernah mendengar dongeng itu."
"Kau harus menerjemahkan dengan benar." Paksi mengangguk-angguk. "Nah, aku kira
pekerjaan di sini sebagian besar sudah selesai. Karena itu, aku akan minta diri
karena mungkin aku tidak akan kembali lagi kemari." "Kenapa sebagian besar,
Guru." "Memang belum tuntas. Kau sendirilah yang akan menuntaskannya," jawab Ki
Marta Brewok. "Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih. Semoga Yang Maha Agung
selalu menyertai Guru." Ki Marta Brewok tersenyum. Katanya, "Kita akan selalu
berdoa. Jika kita bersungguh-sungguh, maka doa kita akan didengar-Nya." Paksi
mengangguk-angguk. Tetapi bagaimanapun juga, terasa jantungnya berdegup semakin
cepat. Kepergian Ki Marta Brewok tentu akan membekas di dalam hatinya, meskipun
di hari-hari terakhir Ki Marta Brewok sudah jarang-jarang mengunjunginya.
Demikianlah Ki Marta Brewokpun telah minta diri sekali lagi. Ia benar-benar akan
meninggalkan Paksi di gubuk kecilnya, jauh dari rumahnya, jauh dari
sanak-kadangnya. Ketika Ki Marta Brewok menepuk bahu anak muda itu, terasa mata
Paksi menjadi panas. Demikianlah, maka malam itu Ki Marta Brewok telah
meninggalkan Paksi seorang diri. Paksi yang melepaskan kepergian Ki Marta Brewok
itu di depan gubuknya, memandanginya sampai orang itu hilang dalam kegelapan.
Sudah puluhan kali, bahkan ratusan kali ia memandangi punggung Ki Marta Brewok.
Namun malam itu rasa-rasanya ia telah kehilangan orang yang dianggap sebagai
gurunya. Dua kali Paksi terpisah dari guru yang membimbingnya. Tetapi sejenak
kemudian, Paksi teringat pesan Ki Marta Brewok. Karena umurnya sudah delapan
belas, maka ia harus sudah mendudukkan dirinya pada tiga alas. Di antaranya
adalah kemandirian. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian Ki Marta
Brewok hilang dari pandangan matanya menyusup ke dalam kegelapan, maka Paksipun
masuk kembali ke dalam gubuk kecilnya. Paksi bahkan telah memadamkan lampu
minyaknya. Kemudian berbaring di atas ketepenya di dalam gelap. Tetapi ternyata
sampai dini hari Paksi tidak dapat tidur sama sekali. Ia sempat mengenang
pertemuannya dengan orang yang mengaku bernama Marta Brewok itu. Waktu itu,
lebih dari setahun yang lalu, seleret sinar seakan-akan jatuh dari langit. Dan
Ki Marta Brewok itu menggiringnya untuk datang ke tempat terpencil itu. Di dini
hari Paksi sudah bangun. Ia masih mempunyai sedikit waktu untuk menyalakan
perapian. Sementara itu, Paksipun segera berbenah diri seperti kebiasaannya
setiap hari. Ketika fajar menyingsing, Paksi telah memadamkan apinya. Air yang
dijerangnya sudah mendidih. Sebelum pergi ke sungai, Paksi sempat meneguk
minuman hangatnya. Nasinya masih utuh. Biasanya Ki Marta Brewok ikut makan
bersamanya. Tetapi malam itu, Ki Marta Brewok datang hanya untuk minta diri.
Hari yang kemudian terbentang di hadapannya terasa menjadi sepi. Meskipun
sebelumnya, selama lebih dari setahun ia berada di tempat itu, Ki Marta Brewok
belum pernah datang mengunjunginya di siang hari, namun Paksi masih
berpengharapan, bahwa di malam hari, orang itu akan datang. Tetapi Paksipun
kemudian menyadari, bahwa ia tidak dapat tenggelam dalam perasaan sepinya.
Hari-hari yang bakal datang masih banyak yang harus dilakukannya. Karena itu,
maka Paksi tidak ingin merenung terus-menerus. Ia harus menerima kepergian Ki
Marta Brewok sebagai satu kenyataan yang tidak dapat diingkarinya. Karena itu,
maka Paksipun segera mengambil bumbung legennya. Ia harus memanjat beberapa
batang pohon kelapa. Ketika kemudian pekerjaannya di gubuk kecilnya sudah
selesai, maka untuk mengisi waktunya Paksi telah turun ke dalam goa. Hari itu
Paksi merasa malas untuk pergi ke pasar. Apalagi ia masih mempunyai garam cukup,
sehingga ia masih belum memerlukannya. Ketika ia berada di dalam ruang yang
cukup luas di dalam goa itu, maka ia telah merenungi lagi lukisan-lukisan yang
ada di dinding goa yang datar itu. Tetapi semua garis telah dilihat dan
dipelajarinya dengan saksama. Karena itu, maka Paksipun memiliki berbagai macam
kemampuan mempergunakan beberapa jenis senjata dengan baik. Di rumahnya Paksi
mempunyai sebilah parang yang dibelinya pada seorang pande besi. Parang yang
biasanya dipergunakan untuk membelah kayu. Namun di tangan Paksi, parang itu
telah dipergunakannya untuk mematangkan ilmu pedangnya. Dengan tongkat kayunya,
Paksi juga berusaha untuk berlatih mempergunakan tombak pendek. Sementara itu,
ia telah mempelajari pula mempergunakan berbagai macam senjata yang lain. Di
antaranya Paksi juga memiliki ketrampilan mempergunakan cambuk dan cemeti. Untuk
beberapa saat lamanya, Paksi berlatih seorang diri di dalam ruangan itu. Namun
ketika keringatnya telah terperas dari tubuhnya, maka Paksipun menghentikan
latihannya itu, sementara pakaiannya yang telah basah ketika ia menerobos air
terjun, telah menjadi semakin basah pula oleh keringat. Di luar sadarnya,
Paksipun telah duduk di tempat ia menjalani laku. Dicobanya mengingat lagi,
apakah yang pernah terjadi pada dirinya. Ketika ketajaman angan-angannya
membayangkan kembali apa yang dilakukannya, maka serasa ia mendapatkan sandaran
baru pada inderanya. Ada kekuatan yang belum pernah diungkapkannya. Kekuatan
yang khusus bekerja pada inderanya itu. Ketika Paksipun kemudian membuka matanya
dan keluar dari dunia angan-angannya, maka dengan penuh kesadaran akan
kemampuannya, maka Paksipun telah mengungkapkan kekuatan yang membuat inderanya
menjadi semakin tajam. Dengan demikian, maka penglihatan Paksipun menjadi
semakin tajam pula di dalam gelap di goa itu. Paksi seakan-akan melihat
segalanya semakin jelas. Jauh lebih jelas dari sekedar ketajaman penglihatannya.
Demikian pula Paksi mampu mendengar lebih jelas. Gemuruh air terjun. Namun juga
siul burung-burung di luar goa itu. Gemerisik daun yang bergoyang disentuh angin
pegunungan yang semilir lembut. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Anak muda itu
sadar, bahwa ia telah mampu membangun Aji Sapta Pandulu dan Aji Sapta Pangrungu.
Dengan demikian, maka Paksipun sadar pula, bahwa ia juga akan dapat membangunkan
ilmunya untuk mempertajam inderanya yang lain jika diperlukannya. Setiap kali
Paksi menyadari kelebihan yang ada di dalam dirinya, maka Paksi selalu merasa
betapa ia berhutang budi kepada Ki Marta Brewok. Tetapi sejalan dengan itu,
iapun selalu ingat akan pesan-pesannya, bahwa setiap yang dimiliki itu adalah
kurnia. Apalagi kelebihan dari sesamanya. Karena itu maka iapun harus
menempatkan dirinya di jalan yang dikehendakiNya. Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Di dalam kegelapan ia menengadahkan wajahnya. di dalam hati Paksi
memohon agar nalar budinya tidak terlepas dari kendali kesadaran diri akan
keberadaannya, kelebihannya serta sangkan paraning dumadi, sehingga dapat
tercermin pada sikap dan tingkah lakunya. Tiba-tiba saja terngiang di telinganya
kata-kata orang yang datang untuk mencari ndaru itu, hubungan antara ilmu dan
amal. Sejenak Paksi merenung. Namun kemudian Paksi itupun melangkah ke mulut
goa. Sejenak kemudian Paksi sudah berada di gubuk kecilnya. Ia sudah berganti
pakaian Pakaiannya yang basah sudah dicucinya. Ternyata hari-harinya kemudian
terasa menjadi semakin sepi sejak Ki Marta Brewok menyatakan bahwa dirinya tidak
akan datang lagi ke tempat itu. Bahkan Paksipun kemudian merasa, bahwa
keberadaannya di tempat itu tidak lagi mengikatnya. Tetapi Paksi masih menunggu
jagungnya menjadi tua. Rasa-rasanya ia akan mendapatkan kepuasan tersendiri
untuk memetiknya, sementara padi gaga yang ditanamnya juga sudah mulai berbunga,
sehingga ia merasa masih ada keterikatan dengan tempat itu. Di hari-hari
mendatang, Paksi mengisi hari-harinya yang sepi dengan berkeliaran di pasar.
Bercanda dengan Kinong, bergurau dengan penjual dawet dan sekali-sekali
berbicara bersungguhsungguh dengan pande besi yang sedang membuat parang. Tetapi
kegelisahan masih saja membayang di pasar itu. Ketika Paksi datang ke pasar agak
siang, ia berpapasan dengan orang-orang yang dengan tergesa-gesa meninggalkan
pasar. "Ada apa?" bertanya Paksi ketika ia bertemu dengan seorang yang sudah
dikenalnya. "Keributan telah terjadi," jawab orang itu. "Pulang sajalah anak
muda." Paksi termangu-mangu sejenak. Tetapi Paksi tidak segera berbalik arah. Ia
masih saja melangkah ke arah pasar. Paksi itupun berhenti ketika ia bertemu
Kinong dan ibunya berjalan tergesa-gesa pula. Bahkan Kinong yang digandeng
ibunya itu berlari-lari kecil sambil menjinjing keranjang kecilnya. "Kinong, ada
apa?" bertanya Paksi. Kinong memang berhenti. Ibunya juga berhenti. "Jangan
pergi ke pasar, Ngger. Agaknya akan terjadi keributan lagi." Paksi mengerutkan
dahinya, sementara Kinongpun berkata selanjutnya, "Ada dua orang berkuda yang
datang ke pasar itu. Tetapi selain mereka telah ada pula dua orang yang sudah
berada di sekitar tempat ini beberapa hari yang lalu. Orang yang sering makan
tetapi tidak membayar penuh itu." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Biarlah aku
ingin melihat apa yang akan terjadi." "Jangan, Ngger," cegah ibu Kinong. "Nanti
kau akan terjerat dalam peristiwa yang tidak kau ketahui ujung pangkalnya.
Bahkan mungkin kau akan cidera karenanya, sementara kau tidak mempunyai
sangkut-paut dengan mereka." Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
menjawab, "Aku akan melihat dari kejauhan. Aku tentu tidak akan berani
mendekat." "Tetapi kau harus berhati-hati, Ngger. Sebenarnya kau tidak menuruti
keinginantahumu itu. Yang terjadi nampaknya bukan sekedar main-main." "Terima
kasih," desis Paksi. "Aku akan berhati-hati." Kinong dan ibunyapun kemudian
meninggalkan Paksi yang termangu-mangu, mengikuti arus orang-orang yang
menyingkir menjauhi pasar. Dengan hati-hati Paksi melangkah mendekati pasar yang
sudah menjadi sepi. Bahkan para pande besipun telah meninggalkan perapian
mereka. Meskipun beberapa orang laki-laki yang memiliki sedikit keberanian masih
berada di pasar, tetapi mereka sudah membenahi dagangan mereka. Namun demikian,
pada jarak yang agak jauh, beberapa orang juga masih menunggu. Mereka ingin
melihat apa yang akan terjadi. Paksi mendekati seorang laki-laki yang berjongkok
di belakang sebatang pohon, beberapa puluh langkah dari pintu gerbang pasar.
Ketika Paksi kemudian berjongkok di sebelahnya, orang itu terkejut bukan buatan,
sehingga terlonjak dan bergeser setapak. Orang itu menarik nafas dalam-dalam
setelah ia melihat seorang anak muda berjongkok di sebelahnya. "Kau mengejutkan
aku anak muda." "Maaf, Paman. Aku tidak berniat mengejutkan Paman. Tetapi aku
ingin bertanya, apa yang terjadi?" "Lihat," desis orang itu. Paksi melihat bukan
hanya dua orang berkuda, tetapi ampat orang berkuda mendekati regol pasar. Ampat
orang yang berwajah garang. Menilik sikap dan pakaiannya, maka mereka adalah
orang-orang yang mengembara di dunia olah kanuragan. "Siapakah mereka itu?"
bertanya Paksi. "Aku tidak tahu. Tetapi seorang di pasar ini telah mendengar
bahwa sekelompok orang akan datang mencari musuhnya yang berada di pasar ini."
"Bagaimana ia dapat mendengarnya?" "Orang itu hanya mendengar seorang berkata
kepada kawannya agar kawannya itu memanggil kawan-kawannya yang lain. Ketika hal
ini tersebar, maka orang-orang seisi pasarpun telah meninggalkan pasar." "Paman
tidak pergi?" bertanya Paksi. "Aku ingin membuktikan apa yang terjadi. Apakah
ceritera itu benar atau orang yang sekedar ingin melihat kekisruhan terjadi di
pasar ini." "Ternyata orang-orang itu benar-benar datang." "Ya. Orang-orang itu
benar-benar datang. Tetapi yang dicarinya tentu sudah pergi." Baru saja mulut
orang itu terdiam, tiba-tiba saja mereka mendengar suara seorang perempuan
tertawa. Suaranya melengking tinggi. Sementara itu, dua orang perempuan yang
berpakaian asing itu telah keluar dari sebuah kedai yang terletak tidak jauh
dari pintu gerbang pasar itu. "Siapa yang kalian cari?" bertanya salah seorang
dari kedua orang perempuan itu. Keempat orang berkuda itu termangu-mangu
sejenak. Namun seorang di antara merekapun meloncat turun sambil menjawab,
"Kalian perempuan-perempuan Goa Lampin?" "Ya," jawab salah seorang perempuan
itu. "Siapakah di antara kalian yang telah melukai adikku?" "Bukan kami. Tetapi
saudara kami. Bukankah kalian datang dari Alas Tegal Arang di pinggir Kali
Praga?" "Ya." "Saudara kami telah melukainya karena adik seperguruanmu itu tidak
mau mendengarkannya. Seharusnya adikmu tidak berkeliaran di tempat ini. Daerah
ini tertutup bagi orang asing, karena daerah ini menjadi daerah perburuan kami.
Meskipun demikian, kami tidak akan mengelakkan tanggung jawab. Meskipun yang
melukai saudaramu itu bukan kami, tetapi kami akan mempertanggungjawabkannya."
"Bagus," berkata orang yang telah turun dari kudanya. "Kami ingin orang yang
melukai adik seperguruanku itu menyerahkan diri. Kami akan membawanya ke hutan
Tegal Arang di pinggir Kali Praga." Kedua orang perempuan itu tertawa. Seorang
di antara mereka berkata, "Kau kira kami gila? Kau kira kami tidak tahu apa yang
akan terjadi jika salah seorang di antara kami berada di lingkunganmu?"
"Bukankah kau katakan bahwa kalian akan bertanggung jawab?" "Maksudku, kami akan
bertanggung jawab jika kalian menuntut. Seharusnya kalian berterima kasih karena
saudaraku itu tidak membunuh adikmu. Seandainya wajah adikmu tidak terlalu
kotor, mungkin adikmu akan mendapat kehormatan menjadi penghuni Goa Lampin
bersama beberapa orang laki-laki tampan yang lain." Orang yang sudah turun dari
kudanya itu tersinggung. Katanya, "Kami adalah laki-laki yang mempunyai harga
diri. Kami sudah tahu apa yang dilakukan oleh perempuan-perempuan Goa Lampin.
Sebenarnya kami lebih senang menjauhi kalian, bahkan lebih baik bahwa seumur
hidup kami tidak bertemu dengan perempuan Goa Lampin. Namun kali ini kami ingin
membalas sakit hati adikku itu." "Jangan sesali. Jika adikmu mau mendengar
peringatan kami, maka tidak akan terjadi bencana itu." "Kalian tidak berhak
mengusir adikku dari tempat ini. Apa hakmu menyebut daerah ini sebagai daerah
perburuan. Aku tahu, yang kalian maksud tentu perburuan atas ndaru yang jatuh di
tempat ini, yang mungkin sekali adalah cincin yang hilang itu, karena sinar
ndaru itu memang agak berbeda dari ndaru yang lain. Ada tiga pancaran sinar yang
nampak, sehingga orang menduga bahwa tiga sinar itu mengisyaratkan tiga butir
mata batu akik." "Ya. Kami adalah orang yang pertama datang ke tempat ini."
"Omong kosong. Kau kira daerah ini sama sekali tidak berpenghuni atau kau kira
bahwa tidak ada orang lain yang sedang melakukan samadi di sekitar tempat ini
termasuk adikku itu?" Tetapi perempuan itu tertawa. Katanya, "Jangan mengigau.
Berterima kasihlah bahwa adikmu hanya menjadi cacat. Tidak mati. Itu sudah
cukup." Sementara itu seorang lagi dari orang-orang berkuda itu meloncat turun.
Dengan geram orang itu berkata, "Kita tidak perlu terlalu banyak bicara. Kita
minta yang melukai saudara kita itu untuk menyerah. Jika tidak maka mereka
berdua akan kita bawa." Kedua perempuan itu tertawa. Seorang di antara mereka
berkata, "Kalian berempat. Karena itu, jangan hanya membawa dua orang. Aku masih
mempunyai dua orang kawan lagi, sehingga kita masing-masing berempat." Laki-laki
yang turun kemudian dari kudanya itu menggeram. Katanya, "Cukup. Panggil semua
kawan-kawanmu. Semakin banyak semakin baik. Kalian akan berguna di perguruan
kami." Salah seorang dari kedua orang perempuan itu meletakkan jari-jarinya di
mulutnya. Kemudian terdengar suitan nyaring. Getarannya merambat sampai ke
telinga dua orang kawannya yang berada di sebuah kedai yang lain. Beberapa saat
kemudian, maka kedua orang perempuan dengan ciri-ciri pakaian yang serupa, ikat
kepala hitam dengan pertanda merah, telah keluar dari kedai itu dan melangkah
mendekati kedua kawannya yang telah lebih dahulu berhadapan dengan orang-orang
berkuda itu. Demikian kedua orang perempuan itu mendekat, maka dua orang
penunggang kuda yang lainpun telah meloncat turun pula. Mereka kemudian mengikat
kuda-kuda mereka pada sebatang pohon waru yang tumbuh di seberang jalan. "Mereka
juga berempat," desis salah seorang dari orang-orang berkuda itu. "Kita hanya
membutuhkan orang yang melukai saudara kita," geram orang yang tertua di antara
mereka. Tetapi perempuan-perempuan itu sama sekali tidak menjadi gentar. Bahkan
seorang di antara mereka yang baru saja keluar dari kedai itu berkata, "Inikah
mereka yang sedang mencari saudara kita?" "Ya," jawab kawannya. Perempuan itu
meredupkan matanya. Kemudian katanya, "Urungkan saja niatmu. Jika kalian tidak
meninggalkan tempat ini dengan segera, maka kalian pun akan menjadi cacat seumur
hidup atau bahkan mati di sini." Paksi yang menyaksikan pembicaraan itu menarik
nafas panjang. Ternyata perempuanperempuan dari Goa Lampin itu benar-benar
perempuan yang garang. "Berapa orang kekuatan perempuan-perempuan dari Perguruan
Goa Lampin itu?" bertanya Paksi di dalam dirinya. Laki-laki tertua di antara
keempat orang berkuda itu berkata, "Sebenarnya kami tidak ingin bermusuhan
dengan Perguruan Goa Lampin. Tetapi kamipun tidak dapat membiarkan saudara kami
mengalami nasib buruk tanpa menuntut balas." Perempuan-perempuan itu tertawa.
Suaranya melengking-lengking tinggi. Tiba-tiba saja tengkuk Paksi terasa
meremang. Suara tertawa perempuan-perempuan dari Perguruan Goa Lampin itu
terdengar seperti ringkik hantu perempuan yang bangkit dari balik kubur. Namun
kedua belah pihakpun telah bersiap. Mereka mulai memencar. Seorang akan
bertempur melawan seorang. Sejenak kemudian, maka kedua belah pihak telah mulai
bergeser. Nampaknya kedua belah tidak ingin kehilangan kesempatan. Karena itu,
maka orang-orang yang terlibat dalam pertempuran itu telah menggenggam senjata
mereka masing-masing. Keempat orang perempuan dari Perguruan Goa Lampin itu
telah memegang pedang mereka masing-masing. Sementara itu, dua di antara
orang-orang berkuda itu bersenjata golok yang besar dan panjang, seorang
bersenjata kapak dan seorang lagi bersenjata bindi yang bergerigi seperti buah
blimbing lingir. Perempuan-perempuan dari Perguruan Goa Lampin itu sama sekali
tidak bergetar melihat jenisjenis senjata yang khusus itu. Seorang perempuan
yang bertubuh tinggi tegap sengaja menghadapi orang yang bersenjata kapak itu
sambil berkata, "Senjatamu bagus, Ki Sanak. Mungkin kau memang seorang blandong
kayu yang setiap hari bergaul dengan kapak." "Ya," jawab orang yang bersenjata
kapak itu, "aku memang seorang blandong kayu. Tetapi aku sanggup untuk membelah
bukan saja balok-balok kayu. Tetapi tubuh orang-orang yang telah menghina aku
atau perguruanku." Perempuan yang bertubuh tinggi tegap itu tertawa. Katanya,
"Sudahlah, jangan membual. Bersiaplah. Kalian akan mengalami nasib yang sama
seperti saudaramu itu. Bahkan siapapun yang berani mengganggu tugas kami di sini
mencari cincin pusaka yang hilang itu, akan kami singkirkan." "Tidak seorangpun
yang pantas mendapat hak seperti itu. Jika kau sedang mencarinya, lakukanlah.
Tetapi biarlah orang lain juga melakukan." "Tidak. Aku peringatkan sekali lagi.
Tidak ada orang lain yang dapat melakukannya di sini." Laki-laki yang lain
ternyata tidak sabar lagi. Dengan geram seorang berkata, "Kita akan
menyelesaikan mereka secepatnya." Perempuan-perempuan itu tertawa. Namun suara
tertawa merekapun segera terputus ketika seorang di antara laki-laki berkuda itu
mulai memutar senjata dan bergeser maju. Bahkan seorang yang lain telah
menjulurkan senjatanya pula menggapai tubuh perempuan yang sangat
menjengkelkannya itu. Tetapi perempuan-perempuan dari Goa Lampin itupun dengan
cepat mengelak. Bahkan merekapun segera bergeser saling menjauh. Dengan
demikian, maka sejenak kemudian, pertempuranpun telah terjadi antara orang-orang
dari Perguruan Goa Lampin dan orang-orang yang datang dari Alas Tegal Arang.
Paksi yang menyaksikan pertempuran itu dari jarak yang agak jauh menjadi
berdebar-debar. Ternyata orang-orang dari berbagai perguruan telah terlibat
dalam usaha pencarian cincin yang bermata tiga butir batu akik itu. "Semakin
lama tentu akan menjadi semakin banyak," berkata Paksi di dalam hatinya. Namun
Paksi justru yakin, bahwa cincin itu tidak akan jatuh dari langit. Seandainya
cincin itu ada di sekitar tempat itu, keberadaannya tentu bukan bersamaan dengan
jatuhnya ndaru yang dilihat oleh beberapa orang itu. Bahkan ada yang mengatakan
bahwa ndaru itu bercahaya dalam tiga warna. Namun benturan-benturan itu telah
benar-benar terjadi. Orang yang berjongkok di samping Paksi menyaksikan
pertempuran itu dengan tubuh gemetar. Bahkan kemudian iapun beringsut sambil
berkata perlahan, "Aku akan pergi saja. Aku takut." Paksi tidak dapat
menghalanginya jika orang itu memang takut melihat pertempuran yang menjadi
semakin sengit. Senjatapun mulai beradu. Bunga apipun telah memercik di setiap
benturan senjata yang terjadi. Namun ternyata masih juga ada beberapa orang yang
bertahan untuk menyaksikan pertempuran itu. Paksipun kemudian memperhatikan
orang-orang yang bertempur itu dengan saksama. Namun ternyata Paksi yang mampu
menilai ilmu dari orang-orang yang bertempur itu masih dapat menengadahkan
dadanya. Paksi masih meyakini, bahwa ilmu dan kemampuannya masih jauh lebih
tinggi dari orang-orang Goa Lampin maupun dari Alas Tegal Arang. Namun Paksipun
menyadari, bahwa ia tidak boleh menyombongkan dirinya. Karena betapapun tinggi
ilmu seseorang, tetapi orang itu tentu masih mempunyai kelemahan. Pertempuran
itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak telah meningkatkan
kemampuan mereka sampai ke puncak. Namun beberapa saat kemudian, maka Paksipun
melihat bahwa orang-orang dari Alas Tegal Arang itu memiliki kekuatan yang pada
dasarnya lebih besar dari orang-orang Goa Lampin. Karena itu, maka
perlahan-lahan orang-orang Goa Lampinpun mulai terdesak. Meskipun mereka mampu
bergerak cepat, namun ternyata sulit bagi mereka untuk mengatasi kemampuan
orang-orang dari Alas Tegal Arang. Orang dari Alas Tegal Arang di pinggir Kali
Praga yang bersenjata kapak itupun telah mendesak lawannya pula. Sulit bagi
lawannya untuk menahan ayunan kapak yang besar itu. Jika perempuan dari Goa
Lampin itu mencoba membentur ayunan kapak lawannya, maka ia harus mengerahkan
tenaganya untuk menahan agar senjatanya tidak terlepas. Kawan-kawannya yang
lainpun harus mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan mereka untuk menahan
arus serangan lawannya. Paksi yang menyaksikan pertempuran itu mengerutkan
dahinya. Orang-orang dari Alas Tegal Arang itu semakin mendesak lawannya. Bahkan
tiba-tiba saja seorang di antara perempuan dari Perguruan Goa Lampin itu
menjerit. Namun kemudian perempuan itu berteriak marah, "Aku bunuh kau."
Ternyata senjata lawannya mampu menggapai kulitnya, sehingga segores luka telah
menganga di lengannya. Namun justru karena darah telah mulai menitik dari
lukanya, maka lawannya berusaha untuk semakin menekannya. Ternyata orang-orang
Goa Lampin itu semakin mengalami kesulitan. Sementara itu, Paksi yang
menyaksikan pertempuran itu dari kejauhan menduga, bahwa dalam keadaan yang
rumit, perempuan yang pernah dilihatnya dengan mengenakan baju coklat itu akan
datang lagi menolong murid-muridnya. Tetapi Paksi salah duga. Dalam keadaan yang
sulit, salah seorang perempuan dari Goa Lampin itu telah membunyikan isyarat.
Suitan nyaring telah terdengar lagi dengan irama yang berbeda. Namun dalam pada
itu, seorang lagi dari antara mereka telah berteriak kesakitan. Namun kemudian
mengumpat kasar meskipun ia seorang perempuan. Ternyata ujung senjata lawannya
telah menyentuh pundaknya. Tetapi lawannya tidak membiarkannya mengambil jarak.
Ketika perempuan itu meloncat menjauh, lawannya telah memburunya. Sekali lagi
senjatanya terjulur lurus menggapai lambung. Perempuan itu terdorong surut.
Darah mengalir dengan derasnya dari luka di lambungnya. Sementara itu, lawannya
menjadi semakin garang. Sambil menggeram ia siap untuk meloncat dengan senjata
terayun. Namun orang itulah yang kemudian berteriak. Sebuah pisau belati
tiba-tiba saja telah menancap di punggungnya. Orang itu masih sempat berpaling.
Dilihatnya seorang perempuan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Orang yang
di punggungnya tertancap pisau belati itu masih sempat mengumpat, "Pengecut kau.
Kenapa kau serang aku dari belakang? Apakah kau tidak berani bertempur
berhadapan?" Tetapi perempuan yang melempar pisau belati itu tertawa. Ia masih
menggenggam sebilah pisau lagi di tangan kirinya. Namun pisau itu tidak
dilemparkannya. Laki-laki dari Alas Tegal Arang yang sudah terluka itu tidak
lagi dapat berbicara lagi. Lawannya, perempuan yang sudah dilukainya, justru
dengan dendam yang membara telah mengayunkan senjatanya dengan sisa tenaganya
menebas lambung. Laki-laki yang sudah terluka itu berteriak. Kemarahan dan
dendam meledak di dadanya. Tetapi ia tidak dapat berbuat banyak. Tubuhnyapun
kemudian terhuyung-huyung sejenak. Perempuan yang melemparkan pisau belati itu
tertawa semakin keras. Ia menyaksikan orang Alas Tegal Arang itu jatuh
tersungkur dan sama sekali tidak bergerak lagi. Paksi menarik nafas dalam-dalam.
Dengan menyaksikan pertempuran itu ia dapat mengenali watak perempuan-perempuan
dari Goa Lampin lebih banyak lagi. Ternyata mereka sangat licik di medan. Dalam
pada itu, beberapa orang perempuan dari Goa Lampin telah muncul. Ternyata mereka
tidak hanya berempat. Tetapi agaknya mereka ingin menjajagi kemampuan
orang-orang Alas Tegal Arang, sehingga mereka telah turun ke medan, seorang
melawan seorang. Tetapi dalam keadaan yang terdesak, maka hadirlah cara-cara
yang terbiasa mereka lakukan. Tiga orang dari Alas Tegal Arang harus melihat
kenyataan itu. Karena itu, maka seorang di antaranya telah memberikan isyarat,
sehingga ketiga orang itu berusaha untuk meninggalkan arena. Mereka tidak dapat
mengingkari kenyataan, bahwa lawan mereka yang menjadi terlalu banyak itu tidak
dapat mereka imbangi lagi. Sejenak kemudian, maka ketiga orang dari Alas Tegal
Arang itu berusaha untuk melarikan diri dari pertempuran. Orang-orang dari Goa
Lampin itu memang berusaha untuk mengejar mereka. Tetapi ketiga orang itu
berlari demikian cepatnya meninggalkan arena. Dengan tangkasnya mereka meloncat
ke punggung kuda mereka yang tertambat pada pohon waru. Namun dengan satu
hentakkan, maka tambang yang memang tidak terlalu kuat itu telah terlepas.
Sejenak kemudian maka tiga orang penunggang kuda itu memacu kudanya meninggalkan
pasar itu. Tetapi seorang perempuan dari Goa Lampin yang sudah hampir berhasil
memburu seorang di antara ketiga orang itu tidak melepaskannya begitu saja.
Demikian kuda itu berlari, perempuan dari Goa Lampin itu telah melemparkan
pisaunya. Pisau itu tidak menancap di punggung orang berkuda itu. Tetapi pisau
itu sempat menggores pundaknya. Laki-laki di punggung kuda itu mengumpat. Namun
ia tidak berhenti. Dipacunya kudanya semakin cepat. Sejenak kemudian,
pertempuranpun sudah selesai. Perempuan-perempuan dari Goa Lampin yang jumlahnya
ternyata tujuh orang itu telah berkumpul. Tiga orang di antara mereka terluka.
Seorang mengalami luka yang agak parah. "Kita tidak akan tinggal diam," berkata
salah seorang dari mereka. "Guru akan menentukan, apa yang harus kita lakukan
kemudian menghadapi orang-orang dari Alas Tegal Arang." "Marilah kita kembali ke
penginapan," desis yang lain. Beberapa di antara mereka sempat berpaling
memandang tubuh orang Alas Tegal Arang yang terkapar di tanah. Namun seorang
dari mereka berkata, "Jangan hiraukan tubuh itu. Biarlah orang-orang pasar itu
mengurusnya." Sejenak kemudian, maka perempuan-perempuan itupun telah
meninggalkan pasar itu. Beberapa saat kemudian, pasar itu benar-benar menjadi
sepi. Beberapa orang yang melihat pertempuran itu dari kejauhan masih tetap
bersembunyi di tempatnya. Belum seorangpun yang berani keluar dari
persembunyiannya. Paksipun masih berada di belakang pohon. Sebenarnya Paksi
ingin segera mendekati bekas arena pertempuran itu. Tetapi ia tidak ingin
menarik perhatian banyak orang. Baru kemudian, ketika sudah ada satu dua orang
yang keluar dari persembunyian mereka, Paksipun telah keluar pula dan melangkah
mendekat. Beberapa orang mengerumuni tubuh yang terbujur diam. Darah mengalir
membasah tanah di seputarnya. Ketika seorang akan menyentuhnya, seorang yang
lain berkata, "Nanti kawan-kawannya menyangka, kita yang melakukannya." "Tentu
tidak," jawab yang lain. "Kawan-kawannya mengetahui dengan pasti, siapakah yang
telah membunuhnya. Kita akan menguburkannya meskipun kita tidak mengenal orang
ini sebelumnya." "Ya," sahut yang lain lagi. "Kita tidak dapat membiarkannya
terbujur di situ." Beberapa orangpun kemudian telah menghubungi orang-orang yang
tinggal di sekitar pasar itu. Merekapun kemudian sepakat membawa tubuh itu akan
dikubur di sebuah kuburan yang terletak di ujung padukuhan. "Kita akan
menyelenggarakan dengan sewajarnya," berkata seorang bebahu padukuhan itu. Namun
dalam pada itu, paksi sendiri diam-diam sibuk mencari sesuatu yang dapat
memberikan arti padanya. Ketika ia menemukan sebuah pisau belati yang menggores
salah seorang dari orangorang berkuda itu, maka dengan diam-diam pisau itu
disembunyikannya di bawah bajunya. Beberapa saat kemudian, maka tubuh salah
seorang korban dari pertempuran itupun telah diusung dibawa ke banjar sebelum
dikuburkan secara wajar. Ketika Paksi kemudian beringsut meninggalkan pasar itu,
maka ia masih melihat dua orang yang dikenalnya dari Perguruan Sad. Mereka
mengenakan ciri-ciri mereka sebagaimana pernah dilihat oleh Paksi sebelumnya.
Tetapi kedua orang itu tidak berbuat sesuatu. Bahkan ketika keduanya lewat di
sebelah Paksi yang berdiri termangu-mangu, Paksi mendengar salah seorang dari
mereka berdesis, "Perempuanperempuan dari Perguruan Goa Lampin itu memang
keterlaluan. Mereka merasa terlalu kuat, sehingga mereka berbuat sesuka hati
mereka tanpa menghormati perguruan-perguruan yang lain." Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Nampaknya orang-orang dari Perguruan Sad juga menganggap
orang-orang dari Perguruan Goa Lampin itu berbuat tanpa menghiraukan dan apalagi
menghormati kehadiran perguruan yang lain. Bahkan sejak semula sudah menunjukkan
sikap bermusuhan. Tetapi Paksi tidak menunggui perkembangan keadaan di pasar itu
lebih jauh. Menurut pendapatnya tidak ada lagi yang penting yang bakal terjadi.
Sehingga karena itu, maka Paksi itupun segera meninggalkan pasar itu dan kembali
ke gubuk kecilnya. Di gubuknya Paksi sempat merenungi pisau belati yang
dibawanya itu. Pada daun pisau itu masih nampak membekas darah yang sudah
mengering. Ternyata pada senjata orang-orang dari Goa Lampinpun tidak terdapat
ciri-ciri perguruan itu. Tidak ada lingkaran yang dibelah dengan garis tegak
berwarna merah. Tetapi Paksi memakluminya. Jika sesuatu terjadi sehingga senjata
itu diketemukan oleh orang lain, maka mereka tidak segera menghubungkannya
dengan Perguruan Goa Lampin. "Tetapi mereka berbangga dengan ciri-ciri perguruan
mereka," berkata Paksi di dalam hatinya. "Sehingga karena itu, maka ciri-ciri
perguruan mereka itu selalu melekat pada setiap orang dari Perguruan Goa Lampin
itu." Selagi Paksi merenungi senjata itu, maka sebuah pertanyaan telah terbersit
di dalam hatinya, "Untuk apa sebenarnya orang-orang Goa Lampin itu mencari
cincin bermata tiga butir batu akik itu? Apakah salah seorang di antara mereka
akan memakainya dan berharap untuk dapat menurunkan penguasa di atas bumi ini?"
Namun Paksipun kemudian berdesis, "Semakin banyak orang yang mencarinya, maka
harganyapun tentu menjadi semakin mahal. Mungkin seseorang, sekelompok orang
atau sebuah perguruan mencari cincin itu untuk dapat dijualnya dengan harga
mahal. Atau seseorang telah mengupah mereka untuk mendapatkan cincin itu." Paksi
menarik nafas dalam-dalam. Ayahnya adalah salah seorang yang ingin mendapatkan
cincin itu. Bahkan ayahnya juga telah memerintahkan beberapa orang mencarinya
selain Paksi itu sendiri. Tetapi apa yang dapat dilakukan Paksi setahun yang
lalu. Sementara orang-orang berilmu tinggi, bahkan sekelompok orang dan
perguruan-perguruan menurunkan orang-orangnya untuk melakukannya pula.
Seandainya Paksi tidak bertemu dengan Ki Marta Brewok, maka Paksi tidak akan
lebih beruntung dari seekor serangga yang menyurukkan diri ke dalam api. "Kenapa
ayah telah memerintahkan aku untuk mencarinya?" bertanya Paksi di dalam hatinya
sebagaimana pertanyaan yang sudah muncul setahun yang lalu di kepalanya. Bahkan
ibunyapun pernah berkata, mungkin di luar sadarnya, bahwa ayahnya sengaja
mengusirnya dari rumah. "Kenapa ayah berbuat seperti itu?" Tetapi Paksi mencoba
menenteramkan hatinya sendiri, "Mungkin waktu itu ayah benar-benar kebingungan.
Ayah ingin segera mendapatkan cincin itu mendahului yang lain." Paksi menarik
nafas dalam-dalam. Diselipkannya pisau itu di dinding gubuk kecilnya. Kemudian
Paksipun melangkah keluar untuk melihat tanaman jagungnya. Hari itu Paksi lebih
banyak merenungi ciri-ciri dari beberapa perguruan yang telah dikenalnya. Bukan
saja ciri-ciri ujudnya. Tetapi juga ciri-ciri sifat dan wataknya. Paksi juga
mencoba untuk mengenali unsur-unsur gerak yang khusus nampak pada setiap
perguruan itu. Perguruan Goa Lampin, Perguruan Sad dan perguruan di Alas Tegal
Arang. Namun yang pernah dikenalnya hanyalah murid-murid dari perguruan itu. Ia
belum pernah melihat kemampuan para pemimpin dari perguruan perguruan itu.
Apalagi pemimpin tertinggi mereka. Jika perempuan berbaju lurik coklat itu
adalah pemimpin tertinggi dari perguruan Goa Lampin, maka ia baru melihat
orangnya. Belum kemampuannya. Namun dengan demikian, maka Paksipun telah
terdorong untuk lebih mematangkan ilmunya. Ia harus meyakinkan dirinya, bahwa ia
pantas untuk turun ke gelanggang perburuan cincin bermata tiga butir batu akik
itu. Ketika malam turun, Paksi duduk di atas sebuah batu yang besar memandang ke
arah yang jauh. Langit bersih dan bintang-bintangpun menghambur sampai ke ujung
cakrawala. Di sejuknya semilirnya angin, maka Paksi telah mengambil satu
keputusan untuk menempuh satu perjalanan pendek di kaki Gunung Merapi itu. Ia
dapat menempuh perjalanan dua atau tiga hari untuk melihat-lihat keadaan yang
lebih luas dari sekedar menyusuri jalan singkat dari gubuknya ke pasar dan
sebaliknya. Namun Paksipun menyadari, bahwa di sekitar tempat itu sudah
bertebaran orang-orang yang sedang mencari cincin bermata tiga butir batu akik.
Mereka merasa dituntun oleh cahaya ndaru yang turun dari langit di sekitar
tempat itu. Malam itu paksi telah mempersiapkan dirinya. Ia sudah membenahi
gubuk kecilnya yang akan ditinggalkannya untuk beberapa hari. Paksi sudah
mencuci alat-alat dapurnya dan menumpuknya di sudut. Selebihnya, rumah itu tidak
berisi apa-apa lagi. Malam itu Paksi tidak membuat perapian. Ia tidak menyiapkan
makannya buat esok, karena esok ia tidak akan berada di gubuknya. Ketika malam
beredar sampai menjelang fajar, maka Paksipun telah bangun. Berbenah diri dan
bersiap untuk menempuh perjalanan untuk dua atau tiga hari. Ketika Paksi sudah
siap untuk berangkat, maka rasa-rasanya sesuatu telah bergayut di hatinya. Ia
sudah lama tinggal di gubuk itu. Ketika ia akan meninggalkannya, meskipun hanya
untuk dua tiga hari, hatinya menjadi berat. Gubuk itu tentu akan menjadi
kesepian. Tidak akan terdengar derit pintu. Tidak ada asap mengepul di malam
hari. Tidak akan ada lampu dlupak kecil menyala di dalamnya. Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Namun kemudian kakinya telah melangkah meninggalkan gubuknya itu.
Tangannya menjinjing tongkat yang diberikan oleh pengemis tua itu kepadanya.
Paksi menyentuh kampil berisi bekal uang yang dibawanya dari rumahnya. Masih
cukup banyak. Selama tinggal di gubuknya, Paksi seakan-akan telah mencukupi
kebutuhannya. Hanya bahan-bahan pokoknya sajalah yang dibelinya di pasar. Ketika
jagung, ketika pohon dan tanamantanamannya mulai berbuah, maka Paksi dapat lebih
banyak menghemat. Apalagi Paksi dapat berburu binatang di hutan atau mencari
ikan di kedung atau dengan kemampuan bidiknya mencari burung-burung liar yang
berterbangan di antara pepohonan. Agar kampil itu tidak banyak dilihat orang,
maka Paksi telah mengikat kampil di bawah bajunya. Ia hanya menyiapkan uang
secukupnya di kantong ikat pinggangnya. Pagi-pagi sekali Paksi sudah berada di
pasar. Penjual nasi tumpang yang juga sudah berada di pasar itupun bertanya,
"Kau datang lebih awal dari kebiasaanmu, anak muda?" Paksi tertawa. Dengan
berbisik ia berkata, "Aku lapar sekali semalam. Karena itu, pagi-pagi aku sudah
berangkat ke pasar." Penjual nasi tumpang itu tertawa. Katanya, "Jadi kau akan
membeli nasi tumpang sekarang?" Paksi mengangguk sambil tersenyum. Sambil duduk
di sebelah penjual nasi tumpang itu Paksi makan sepincuk nasi tumpang yang masih
hangat. Namun Paksi sempat juga bertanya, "Apakah Kinong belum nampak?" "Belum,"
jawab penjual nasi tumpang itu. "Sebentar lagi." Paksi mengangguk-angguk. Tetapi
kemudian ketika ia sudah selesai dan membayar harga nasi yang dimakannya, Paksi
berkata, "Biarlah aku titip kembalinya. Jika Kinong datang, berikan saja
kepadanya." "Semuanya?" bertanya penjual nasi itu. "Tidak sekaligus. Mungkin
untuk dua atau tiga hari." Penjual nasi itu mengerutkan dahinya. Sementara
Paksipun bangkit sambil berkata, "Sudahlah. Aku sudah kenyang." "Kau akan pergi
ke mana?" "Aku akan pergi ke rumah paman." "O, jadi bukan sekedar kelaparan?"
Paksi tertawa. Katanya, "Aku akan berada di rumah paman dua atau tiga hari."
Paksipun kemudian meninggalkan penjual nasi tumpang itu. Ketika di depan regol
pasar ia berpapasan dengan penjual dawet yang baru datang, maka penjual dawet
itupun menyapanya, "He, masih sepagi ini kau sudah berada di sini. Bukankah
biasanya kau datang setelah matahari sepenggalah?" Paksi tersenyum. Katanya,
"Aku hanya singgah. Aku akan pergi ke rumah paman." "Kau tidak minum dawet?"
"Masih terlalu pagi," jawab Paksi sambil tertawa. Beberapa orang yang sudah
dikenalnya di pasar itu telah menyapanya pula. Dan Paksipun menjawab sebagaimana
dikatakan sebelumnya, "Aku pergi ke rumah paman." Demikianlah, Paksi sudah mulai
menempuh sebuah perjalanan untuk melihat keadaan di sekitar tempat tinggalnya.
Sebelum ia benar-benar melanjutkan usahanya untuk mencari cincin yang hilang
dalam sebuah pengembaraan yang panjang dan keras. Paksi memilih jalan ke arah
selatan, melingkari kaki Gunung Merapi. Paksi tidak saja berjalan melalui jalan
yang sudah banyak dilalui orang. Tetapi sesekali Paksi berjalan menyusuri jalan
di pinggir hutan, menuruni lembah dan melintasi padang perdu yang berbatu-batu
padas. Lewat tengah hari Paksi memasuki sebuah padukuhan yang tidak terlalu
besar. Padukuhan yang agak terpencil di kaki gunung. Ketika Paksi lewat di jalan
induk padukuhan itu, maka orang-orang yang kebetulan berpapasan atau sedang
berada di halaman, memandanginya seperti memandang sesuatu yang sangat asing
bagi mereka. Tetapi Paksi berjalan saja terus. Agaknya jarang sekali padukuhan
itu dilewati oleh orang lain, sehingga jika seseorang yang tidak mereka kenal
lewat, maka orang itu akan sangat menarik perhatian. Dari padukuhan yang
terpencil itu Paksi berjalan terus. Jalan masih saja terasa menurun. Namun
hamparan-hamparan sawah menjadi semakin luas. Meskipun demikian, di wajah
cakrawala masih nampak hijaunya hutan yang menyelimuti kaki Gunung Merapi.
Ketika matahari mulai turun, Paksi melewati sebuah padukuhan yang agak besar. Di
ujung padukuhan terdapat sebuah pasar sudah sepi. Pasar itu memang tidak terlalu
besar yang agaknya hanya menjadi ramai di setiap hari pasaran. Di sekitar pasar
itu tidak terdapat sebuah kedaipun. Sedangkan pagarnya yang terbuat dari bambu
sudah rusak di sana-sini. Paksi berhenti di dekat regol pasar. Agaknya memang
sudah tidak ada orang lagi di pasar itu kecuali satu dua orang yang agaknya
bertugas membersihkan sampah yang tertinggal. Namun Paksi masih melihat sebuah
pedati berhenti di depan pasar itu. Dua orang masih sibuk memuat kelapa ke atas
pedati. Nampaknya mereka adalah pedagang kelapa yang membeli kelapa di pasar itu
dan membawanya ke pasar yang lain atau kepada orang-orang yang membuat minyak
kelapa. Tetapi selain mereka, ternyata Paksi masih melihat seorang perempuan
yang duduk di atas sebuah batu tidak jauh dari pedati itu. Seorang perempuan
yang menundukkan kepalanya sambil sekali-sekali mengusap matanya. Perempuan itu
ternyata telah menarik perhatian Paksi. Karena itu, seakan-akan di luar
sadarnya, Paksi telah melangkah mendekati perempuan itu. Perempuan yang sudah
separo baya itu menengadahkan wajahnya. Ketika ia melihat Paksi, tiba-tiba saja
wajahnya memancarkan harapan. Dengan serta-merta perempuan itu bangkit mendekati
Paksi sambil berkata, "Anak muda. Kau tentu memerlukan selembar kain lurik. Aku
menjual sehelai kain lurik. Bukan kain yang baru. Tetapi jenisnya termasuk kain
yang baik." Paksi mengerutkan dahinya. Sebelum ia menjawab, perempuan itu
berkata pula dengan nada meminta, "Tolong aku, anak muda. Pedagang kelapa itu
tidak mau membelinya. Orang-orang yang lain juga tidak mau. Sedangkan aku sangat
membutuhkan uang." Paksi tidak dapat menolak ketika perempuan itu menyorongkan
sehelai kain lurik kepadanya. "Belilah, Ngger." Paksi masih berdiri
termangu-mangu. Sementara itu wajah perempuan yang semula memancarkan harapan
itupun kembali menjadi suram. "Bagaimana, Ngger?" bertanya perempuan itu.
Sementara itu, kedua orang yang menaikkan kelapa ke dalam pedatinya itupun sudah
selesai. Terdengar cambuk meledak. Dan pedati itupun mulai bergerak. "Kenapa
Bibi menjual kain ini?" bertanya Paksi. "Kami memerlukan uang, Ngger." "Untuk
apa?" bertanya Paksi. Perempuan itu mengerutkan dahinya. Kemudian dengan nada
berat iapun menjawab, "Bukankah kami memerlukan makan." "Selama ini, apakah yang
Bibi makan bersama keluarga? Hasil sawah atau apa?" Perempuan itu memandang
Paksi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Paksi menjadi heran melihat sikap
perempuan itu. Tetapi dengan demikian, maka ia menjadi semakin tertarik. Karena
itu, maka Paksipun kemudian berkata, "Duduklah, Bibi. Mungkin kita akan
berbincang agak panjang." Perempuan itupun kemudian duduk kembali di atas batu,
sementara Paksipun duduk pula di sebelahnya. "Keadaan Bibi menimbulkan beberapa
pertanyaan di hatiku." Perempuan itu menunduk dalam-dalam. Namun kemudian iapun
mulai terisak. "Apa yang terjadi, Bibi?" bertanya Paksi. Perempuan itu mencoba
untuk menahan perasaannya. Sambil mengusap matanya ia berkata, "Kami telah
terjerumus ke dalam kesulitan yang besar, Ngger." "Maksud Bibi?" bertanya Paksi.
Perempuan itu memandang berkeliling, seakan-akan takut ada orang lain yang
melihatnya. Sikap perempuan itu tidak luput dari pengamatan Paksi pula. "Ngger,"
berkata perempuan itu, "aku belum mengenal Angger sebelumnya. Tetapi entahlah,
tiba-tiba saja timbul kepercayaanku kepadamu." Paksi menarik nafas panjang.
Sambil mengusap matanya perempuan itu berkata, "Kami telah tersesat, Ngger.
Sebenarnya kami akan pergi ke Kembang Arum. Tetapi kami tidak tahu, di mana kami
sekarang berada." "O, jadi Bibi telah tersesat. Siapa sajakah yang Bibi maksud
dengan kami? Bibi dan siapa lagi?" "Aku dan kemenakanku, Ngger. Seorang gadis.
Setelah ayah dan ibunya hilang beberapa saat yang lalu, maka anak itu berniat
mencari pamannya, kakak kandung ayahnya yang tinggal di Kembang Arum. Tetapi
sampai di sini kami tidak tahu, ke mana kami harus pergi." Paksi
mengangguk-angguk kecil. Katanya dengan suara lembut, "Bibi. Jika hanya karena
itu, maka Bibi tidak terjerumus ke dalam kesulitan yang besar. Aku akan bersedia
mengantar Bibi mencari padukuhan yang bernama Kembang Arum." "Menurut
keterangan, Kembang Arum terletak di sisi selatan kaki Gunung Merapi, Ngger."
"Jika demikian, kita sudah tidak terlalu jauh lagi dari tujuan." "Tetapi
persoalannya tidak hanya sampai di situ, Ngger." "Maksud Bibi?" "Ketika kami
berdua kebingungan dan kehilangan jalan, kami telah bertanya kepada seorang
laki-laki yang kebetulan lewat. Laki-laki itu dengan manis menjawab
pertanyaan-pertanyaan kami. Namun menurut laki-laki itu, Kembang Arum masih
sangat jauh. Karena itu, dengan ramah lakilaki itu mempersilahkan kami singgah
dan beristirahat di rumahnya. Laki-laki itu bahkan bersedia untuk mengantar kami
di keesokan harinya ke Kembang Arum." "Ada soal apa lagi yang timbul, Bibi?"
"Ternyata laki-laki itu bukan seorang yang berhati manis sebagaimana wajahnya.
Ia telah menahan kami di rumahnya. Bahkan orang itu memaksa kemenakanku untuk
bersedia menjadi isterinya meskipun kemenakanku itu masih terlalu muda untuk
menikah." "Bukankah kemenakan Bibi itu dapat menolak?" "Ya. Kemenakanku memang
menolak. Tetapi ia sudah berada di tangan laki-laki yang ternyata adalah
laki-laki yang garang. Bahkan isterinya juga seorang perempuan yang keras dan
kasar. Isterinya juga ikut memaksa agar kemenakanku itu bersedia menjadi isteri
suaminya yang garang itu." "Bagaimana hal itu dapat terjadi?" bertanya paksi.
"Kemenakanku tetap menolaknya. Tetapi laki-laki itu bersama isterinya tetap
berkeras. Mereka memberi waktu sebulan. Sementara itu selama kami berada di
rumahnya, kami harus menyediakan makan dan minum kami sendiri. Karena itu, maka
aku harus menjual apa saja yang ada pada kami." "Kenapa kalian tidak pergi
saja?" bertanya Paksi. "Kami tidak dapat meninggalkan rumah itu, Ngger. Kami
disekap di dalam rumah itu dengan berbagai macam ancaman. Mereka berharap jika
kami sudah tidak dapat makan dan minum, maka agar kami tidak menjadi kelaparan,
kemenakanku itu akan bersedia menjadi isteri laki-laki yang garang itu. Bahkan
mungkin menurut sifat dan wataknya, jika ia tidak lagi dapat menahan nafsunya,
sesuatu yang sangat buruk akan dapat terjadi dengan kemenakanku itu." "Bibi
pernah minta bantuan kepada seseorang?" bertanya Paksi. "Tidak seorangpun berani
menolong kami. Bahkan seorang yang kami harap bersedia menolong kami telah
memberitahukan kepada orang itu." "Siapakah laki-laki yang telah menyekap
kemenakan Bibi di rumahnya itu?" "Ternyata ia seorang pemimpin sebuah gerombolan
penjahat. Namanya Bahu Langlang. Seorang yang sangat ditakuti. Kami memang sudah
tidak mempunyai harapan untuk terlepas dari tangannya," suara perempuan itu
bergetar. Matanya menjadi semakin basah. Bahkan isaknya mengeras. Katanya pula,
"Aku bertanggung jawab atas keselamatan gadis itu. Tetapi aku tidak dapat
berbuat apa-apa." Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian tiba-tiba saja ia
bangkit dan mendekati salah seorang yang sedang membersihkan pasar itu sambil
bertanya, "Apakah Ki Sanak tahu, dimanakah letak Padukuhan Kembang Arum itu?"
Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun menjawab, "Ambil jalan ke
selatan ini, anak muda. Kau akan sampai pada sebuah gumuk kecil. Kemudian kau
berbelok ke kanan. Jika kau berani menempuh jalan pinggir hutan, maka Kembang
Arum tidak lagi terlalu jauh. Tetapi jika mengambil jalan melingkar, maka
sekitar tengah malam kau baru akan sampai." "Jadi, Kembang Arum sudah tidak
terlalu jauh, Ki Sanak?" bertanya Paksi lagi. "Tidak terlalu jauh. Tadi,
pedagang kelapa yang membawa pedati itu adalah orang Kembang Arum." Perempuan
separo baya yang mendengar keterangan itupun tiba-tiba bangkit pula. Namun ia
menjadi lemas kembali. Bagaimanapun juga, kemenakannya telah terkurung dan tidak
dapat meninggalkan rumah Bahu Langlang. Jilid 06 PAKSIPUN kemudian kembali duduk
di sebelah perempuan yang sedang menahan tangisnya itu. Terdengar perempuan itu
berdesis, "Apa yang dapat aku lakukan? Jika Angger bersedia membeli kain lurik
itu, maka sehari dua hari akan dapat makan. Tetapi sesudah itu, apalagi yang
harus kami jual? Jika saat kelaparan itu datang, maka kemenakanku akhirnya akan
pasrah. Tetapi apakah anak itu harus menjadi salah seorang dari isteri-isteri
Bahu Langlang?" Selain menjadi isteri Bahu Langlang, maka kemenakannya itu akan
menjadi budak isteri utamanya yang garang dan sekasar Bahu Langlang sendiri. Ia
akan melayaninya seperti seorang hamba. Mencuci pakaiannya, menyediakan makan
dan minumnya, memijitnya jika perempuan itu merasa letih. Bayangan-bayangan yang
buruk itu telah menghantuinya. Apalagi perempuan itu telah melihat sendiri apa
yang harus dilakukan oleh salah seorang isteri Bahu Langlang yang juga tinggal
di rumah itu. Ia bukan saja harus bekerja keras, tetapi ia juga sering disakiti
oleh isteri utama Bahu Langlang itu. Sedangkan Bahu Langlang sendiri tidak
memperdulikannya apa yang terjadi atas perempuan malang itu. Baginya, asal
perempuan itu tidak lari dari rumahnya, itu sudah cukup. "Kemenakanku itu akan
mengalami nasib seperti itu pula nantinya," desis perempuan itu. Seperti air
yang mengalir, perempuan itu menumpahkan perasaannya kepada Paksi. Meskipun
Paksi masih muda, tetapi seakan-akan mampu menampung kegalauan hatinya itu.
Paksi memang mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Perasaannya tergelitik
untuk berbuat sesuatu. Ia tidak dapat membiarkan gadis itu mendapat malapetaka
dan mengalami penderitaan hidup yang sangat panjang. Namun Paksi sadar, untuk
mengeluarkan gadis itu dari rumah Bahu Langlang memang harus ditempuh dengan
jalan kekerasan. "Apa boleh buat," berkata Paksi di dalam hatinya. Bahkan
kemudian iapun teringat kepada kata-kata orang yang datang kepadanya untuk
mencari benda di langit yang sekiranya jatuh di sekitar gubuknya, bahwa harus
ada hubungan antara ilmu dan amal. Karena itu, maka Paksipun kemudian berkata
kepada perempuan itu, "Bibi, aku ingin ikut bersama Bibi menemui orang yang
bernama Bahu Langlang itu." Perempuan itu terkejut. Dengan gagap iapun bertanya,
"Untuk apa kau temui Bahu Langlang?" "Kemenakan Bibi itu harus dibebaskan dari
tangan laki-laki itu." "Bagaimana kau akan membebaskannya?" bertanya perempuan
itu. Dari wajahnya membayang keraguan dan bahkan ketidakyakinannya atas
pendengarannya. "Bibi," berkata Paksi kemudian, "aku akan berusaha. Aku tidak
tahu apakah usahaku akan berhasil atau tidak." "Apa yang akan kau lakukan,
Ngger?" perempuan itu masih bertanya pula. "Aku akan menemui Bahu Langlang. Aku
akan minta agar kemenakan Bibi itu diijinkan untuk pergi jika gadis itu tidak
mau dijadikan isterinya." "Tidak akan ada artinya, Ngger. Bahkan mungkin kau
akan membuatnya menjadi marah, sehingga ia akan dapat berbuat sesuatu yang dapat
mencelakaimu." "Tetapi harus dilakukan sesuatu, Bibi," jawab Paksi. "Tanpa
berbuat sesuatu, tidak akan ada perubahan yang terjadi." "Tetapi aku tidak
bermaksud menyeretmu ke dalam kesulitan, Ngger. Jika segala sesuatunya aku
katakan kepadamu, semata-mata sekedar untuk mengurangi beban yang menyesak di
hatiku." "Aku mengerti, Bibi. Tetapi perasaanku sendirilah yang telah
mendorongku untuk melakukannya." Tetapi perempuan itu menggeleng. Katanya, "Jika
terjadi sesuatu atasmu, maka beban di hatiku akan semakin bertambah. Sementara
itu, gadis itu masih akan tetap berada di tangan Bahu Langlang yang garang itu."
"Kita akan memohon kepada Yang Maha Agung sambil berusaha, Bibi. Semoga usaha
ini akan ada artinya." Tetapi perempuan itu menyahut, "Kau masih sangat muda,
Ngger. Hari-harimu masih panjang. Jangan karena keluhanku, masa depanmu itu akan
kau patahkan." Paksi tersenyum. Katanya, "Satu keyakinan terpahat di hatiku,
bahwa permohonan kita untuk melakukan niat yang baik akan didengar-Nya." "Tetapi
menurut perhitungan naluriahnya, maka sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari
tangan Bahu Langlang. Apalagi orang itu tidak segan-segan untuk melakukan
kekerasan. Selama beberapa hari aku di rumahnya, aku sudah melihat Bahu Langlang
membunuh dua orangnya sendiri yang dianggapnya berkhianat." Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, "Apakah setiap hari di rumah itu
terdapat para pengikutnya?" "Tidak, Ngger. Bahkan jarang-jarang pengikutnya itu
datang. Jika mereka datang tentu sesuatu yang penting. Bahkan kematian."
Tiba-tiba Paksi itupun berkata, "Bibi, antarkan aku menemui Bahu Langlang."
Perempuan itu menjadi tegang. Katanya, "Jangan, Ngger. Aku keberatan. Kau masih
terlalu muda untuk mengalami perlakuan bengis Bahu Langlang. Tidak bermaksud
mendahului kehendak Yang Maha Agung, kau masih terlalu muda untuk mati." Tetapi
Paksi seakan-akan tidak mendengarnya. Katanya, "Mari, Bibi. Supaya aku tidak
usah mencari rumah itu sendiri. Katakan, bahwa Bibi telah bertemu dengan anak
Bibi yang akan mengantarkan Bibi ke padukuhan Kembang Arum." "Jangan bebani aku
dengan penyesalan yang lebih dalam, Ngger. Jika kau mau membeli kain lurikku
itu, aku sudah akan mengucapkan seribu kali terima kasih. Setidak-tidaknya kau
akan menyelamatkan anakku untuk tiga hari." Tetapi Paksi yang telah berdiri itu
berkata, "Jika Bibi tidak mau menunjukkan rumah Bahu Langlang, aku akan pergi
sendiri. Tentu tidak sulit untuk mencari rumah itu." Perempuan itu tidak berdaya
untuk menolak keinginan Paksi untuk menemui Bahu Langlang. Penyesalan telah
menggores jantungnya. Seakan-akan dirinyalah yang telah menjerumuskan Paksi ke
dalam neraka, justru karena perempuan itu sudah beberapa hari tinggal di rumah
Bahu Langlang. Tanpa dapat mengelak lagi, maka perempuan itu telah berjalan
bersama Paksi menuju ke rumah Bahu Langlang. Sambil berjalan Paksi bertanya,
"Bibi, siapakah nama Bibi selengkapnya?" Perempuan itu menarik nafas
dalam-dalam. Dengan suara yang hampir tidak terdengar ia menjawab, "Orang
memanggilku Nyi Permati, Ngger." "Nama kemenakan Bibi?" "Namanya Kemuning,
Ngger." "Kemuning," Paksi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, "Bukankah
kemuning itu nama sejenis bunga?" "Ya, Ngger." Hampir di luar sadarnya Paksipun
berdesis, "Bibi, di halaman rumahku juga terdapat sebatang pohon kemuning. Jika
pohon kemuning itu berbunga, maka aku sering memandanginya berlamalama. Warna
kuning yang anggun, bau semerbak, terasa menyentuh hati." "Tetapi kemuningku
berwarna kusam. Baunya sama sekali tidak harum, apalagi semerbak." Paksipun
tersenyum. Tetapi iapun kemudian terdiam. Ia mulai membayangkan orang yang
bernama Bahu Langlang itu. Jika kesan yang pertama dapat menimbulkan kepercayaan
Nyi Permati dan Kemuning, maka ujud itu tentu tidak menyeramkan sebagaimana
namanya. Jika kemudian orang itu menjadi menyeramkan, tentu setelah Nyi Permati
mengenali sifat, watak serta pamrihnya yang buruk. Beberapa saat kemudian, maka
mereka telah berbelok mengikuti jalan yang lebih kecil. Dengan suara yang
bergetar penuh dengan ketegangan jiwa, Nyi Permati berkata, "Rumah Bahu Langlang
ada di ujung jalan ini, Ngger. Tetapi sekali lagi aku mohon, urungkan niatmu.
Aku mengucapkan beribu terima kasih atas kesediaanmu menolong kami. Tetapi aku
mohon, jangan kau lakukan." Paksi tersenyum. Katanya, "Aku sudah sampai di sini,
Bibi." Nyi Permati memandang Paksi itu sekilas. Anak muda itu bertubuh tegap.
Wajahnya yang tampan dan bersih, rasa-rasanya mencerminkan kepribadiannya,
meskipun ia baru saja terkecoh oleh ujud dan sikap manis Bahu Langlang. Namun
Nyi Permati melihat perbedaan pada keduanya. Sebenarnyalah bahwa bukan saja jiwa
Paksi menjadi matang setelah ia menempa diri. Tetapi ujud Paksi berubah.
Tubuhnya tidak lagi tinggi, pipih dan kekurus-kurusan. Tetapi tubuh Paksi
berkembang dengan baik. Paksi menjadi anak muda yang tampan, tegap, dan kekar.
Nyi Permati menjadi semakin tegang ketika kakinya melangkah semakin dekat dengan
pintu regol halaman rumah Bahu Langlang. "Itulah rumahnya," suara Nyi Permati
menjadi gemetar. Paksi mengangguk-angguk. Rumah itu terhitung rumah yang besar
dan berhalaman luas. Beberapa langkah dari pintu, Nyi Permati masih berkata,
"Tolong Ngger, jangan masuk halaman rumah itu." Tetapi Paksi seakan-akan tidak
mendengarnya. Bahkan iapun berkata, "Katakan, bahwa Bibi telah bertemu dengan
aku, anak Bibi. Jika Kemuning ternyata tidak mengenal aku, katakan bahwa aku
sejak kecil ikut dengan paman di Kembang Arum." Nyi Permati memang tidak ingin
berbuat apa-apa lagi. Justru Paksilah yang lebih dahulu melangkah memasuki
halaman rumah itu. Namun langkah Paksi tertegun. Demikian ia memasuki halaman
rumah itu, maka ia melihat peristiwa yang membakar jantungnya. Seorang laki-laki
yang bertubuh tegap sedang mencambuk perempuan yang tidak berdaya. Perempuan itu
menggeliat dan berguling-guling kesakitan. Meskipun ia berteriak dan minta
ampun, tetapi laki-laki itu masih saja mencambuknya. "Siapakah perempuan itu,
Bibi?" Nyi Permati sudah menjadi gemetar. Tetapi ia menjawab, "Salah seorang
isterinya." Perempuan yang terguling kesakitan itu memang masih muda. Agaknya ia
terhitung perempuan cantik jika rambutnya tidak terurai. Berkas-berkas darah di
bibir dan baju yang sudah terkoyak. "Kenapa perempuan itu dicambuk, Bibi?"
bertanya Paksi. "Entahlah, Ngger. Tetapi kekasaran seperti itu sering dilakukan
oleh Bahu Langlang. Sudah aku katakan, bahwa selama beberapa hari aku di
rumahnya, sudah dua orang pengikutnya yang dibunuhnya. Pembunuhan itu sendiri
sama sekali tidak berkesan apapun pada Bahu Langlang. Seakan-akan tidak ada
sesuatu yang pernah terjadi." "Perbuatan itu harus dihentikan," desis Paksi.
"Tetapi bukan kau, Ngger. Biarlah orang lain yang melakukan," suara Nyi Permati
bergetar. Namun segala sesuatunya sudah terlambat. Orang yang mencambuk
perempuan yang tidak berdaya itu melihat Nyi Permati datang bersama seorang anak
muda. Tiba-tiba wajah laki-laki itu berubah. Wajahnya yang nampak bengis itu
larut dalam senyumnya yang menghiasi bibirnya. "Marilah, Bibi. Nampaknya Bibi
baru saja datang dari berpergian. Kemana saja Bibi pergi?" Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Tanpa melihat bagaimana ia mencambuk seorang perempuan yang tidak
berdaya, maka Paksi tentu menyangka bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang
ramah. Wajahnya pun tidak nampak segarang orang-orang yang dianggap sebagai
orangorang jahat. "Marilah, Bibi," orang itu mempersilahkan tanpa menghiraukan
perempuan yang masih saja merintih kesakitan sambil merangkak menggapai tangga.
Nyi Permati tidak menjawab. Sementara laki-laki itu berkata, "Apakah Kemuning
ikut dengan Bibi?" "Tidak, Ngger," jawab Nyi Permati dengan suara gemetar. "O,
jadi di mana anak itu?" Bahu Langlang itu justru bertanya. Seorang perempuan
lain yang kemudian berdiri di tangga menyahut, "Anak itu ada di dapur. Aku
mengajarinya masak. Nampaknya anak itu akan menjadi juru masak yang pandai." "O,
aku kira ia ikut bersama Bibi. Sejak pagi aku belum melihatnya." Namun Bahu
Langlang itupun kemudian memandang Paksi dengan tajamnya. Namun laki-laki itu
tersenyum pula sambil bertanya, "Siapakah anak ini, Bibi?" Paksi menjadi
berdebar-debar. Ia berharap Nyi Permati menjawab sebagaimana dikehendakinya.
Namun ternyata Nyi Permati itu menjawab, "Ia anakku, Ngger." "Anak Bibi?" Bahu
Langlang terkejut. Sementara Nyi Permati berkata selanjutnya, "Ia anakku yang
sejak kecil dipelihara pamannya di Kembang Arum. Bukankah Angger ingat, bahwa
aku akan pergi ke Kembang Arum? Nah, adalah kebetulan bahwa anakku itu berada di
pasar ikut dengan pamannya membawa dagangan kelapa." Wajah Bahu Langlang menjadi
merah. Namun kemudian dengan cepat ia berusaha untuk menghapuskan kesan bahwa
hatinya bergejolak mendengar pengakuan Nyi Permati itu. Bahkan kemudian iapun
tersenyum pula sambil berkata, "Jika demikian, marilah, bawa anak itu naik ke
pendapa, Bibi." Nyi Permatipun kemudian mengajak Paksi untuk naik ke pendapa dan
duduk di atas tikar pandan yang putih di pringgitan. Sementara itu, Bahu
Langlang berkata kepada perempuan yang berdiri di tangga, "Biarlah perempuan
keparat itu diseret ke kandang. Suruhlah orang-orang yang menjemur padi itu
membawanya pergi." Dalam pada itu, Paksi sempat berdesis, "Siapakah perempuan
yang berdiri di tangga itu?" "Isterinya. Isteri utamanya. Ia adalah penguasa
kedua di rumah ini. Sikap dan tabiatnya tidak berbeda dengan Bahu Langlang.
Keras dan bengis," jawab Nyi Permati berbisik. Paksi mengangguk-angguk kecil.
Katanya, "Doakan saja, Bibi. Perbuatan mereka tidak dapat dibiarkan terus."
Tetapi Paksi tidak dapat bertanya lebih banyak. Laki-laki yang baru saja
mencambuk isterinya itu telah naik pula dan duduk di pringgitan menemui Nyi
Permati dan Paksi. "Siapa namamu, anak muda?" bertanya Bahu Langlang. "Orang
memanggilku, Paksi." "Paksi," Bahu Langlang mengulangi, "nama yang bagus. Sejak
kapan kau tinggal di Kembang Arum?" bertanya Bahu Langlang. "Sejak kecil.
Sekitar enam atau tujuh tahun." "Sekarang berapa umurmu?" bertanya Bahu
Langlang. "Delapan belas tahun." "Kalian telah berpisah sepuluh tahun lebih.
Apakah demikian kalian bertemu, kalian langsung dapat saling mengenal?"
"Nampaknya Ibu agak lupa kepadaku," jawab Paksi. "Tetapi aku tidak akan pernah
dapat melupakannya." Bahu Langlang mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun
bertanya, "Apakah kau akan membawa ibumu bersamamu?" "Ya. Aku akan membawa Ibu
ke rumah paman. Bukankah Ibu memang sedang mencari rumah Paman?" Bahu Langlang
itu mengangguk-angguk. Katanya, "Sayang sekali. Sebenarnya aku ingin mohon Bibi
tinggal di sini. Aku sudah tidak mempunyai orang tua lagi. Bibi dapat menjadi
pengganti orang tuaku. Menjadi pepunden di sini. Tetapi apaboleh buat. Jika Bibi
ingin pergi, aku hanya ingin mohon agar Bibi sering datang untuk menengok
Kemuning. Ia tentu sekali-sekali merasa rindu kepada bibinya. Meskipun ia merasa
kerasan di sini dan tidak ingin meninggalkan rumah ini, tetapi Bibi akan tetap
selalu dikenangnya, karena Bibilah yang telah membawanya kemari sehingga
Kemuning menemukan satu ujud kehidupan yang didambakannya." Wajah Nyi Permati
menjadi tegang. Ia tentu tidak akan dapat meninggalkan Kemuning di rumah itu
meskipun seandainya ia akan menemukan kehidupan yang jauh lebih baik. Paksi
melihat ketegangan itu membayang di wajah Nyi Permati. Karena itu, maka iapun
kemudian berkata, "Ki Bahu Langlang, Ibu tentu tidak akan meninggalkan Kemuning
di sini. Ibu tentu akan membawa Kemuning bersamanya." Wajah Bahu Langlang
berkerut. Namun kemudian iapun tersenyum, "Jangan merusak masa depan
kanak-kanak. Kemuning sudah kerasan di sini. Ia sudah seolah-olah menjadi anak
kandung kami sendiri. Isteriku mengasihinya dengan sepenuh hati." "Baiklah, Ki
Bahu Langlang," berkata Paksi. "Jika Kemuning memang sudah merasa kerasan di
sini, biarlah kelak Ibu mengantarkannya kemari. Ibu hanya ingin membawa Kemuning
kepada Paman agar Paman sempat melihatnya. Paman sudah terlalu tua. Ia akan
sangat menyesal bahwa jika sampai hari akhirnya ia tidak sempat melihat
Kemuning." "Tentu. Pamanmu tentu akan sempat melihatnya. Aku dapat membawa
Kemuning ke Kembang Arum kapan saja." "Jika demikian, kenapa kami tidak membawa
Kemuning sekarang saja, dan kemudian membawanya kembali sehari dua hari
kemudian? Jika Ibu tidak sempat, akulah yang akan mengantarkannya kemari, karena
setiap kali aku pergi ke pasar itu untuk membeli kelapa yang akan kami jual lagi
di tempat lain. Terutama kepada mereka yang membuat minyak kelapa." "Sudahlah.
Jangan pikirkan Kemuning. Aku dan isteriku akan mengurusnya. Tinggalkan Kemuning
dengan tenang di sini. Bibi tidak perlu menjadi gelisah. Keadaannya akan
baik-baik saja." "Maaf, Ki Bahu Langlang." berkata Paksi. "Kami mohon kemurahan
hati keluarga Ki Bahu Langlang. Yakinlah, bahwa aku akan membawanya kembali
kemari jika ia memang sudah kerasan tinggal di sini." Tetapi Bahu Langlang
tersenyum sambil berkata, "Jangan menyakiti hati anak itu. Kasihan.
Ketenangannya akan terganggu." "Ki Bahu Langlang," berkata Paksi kemudian,
"biarlah ibuku berbicara sendiri dengan Kemuning. Jika Kemuning memang
berkeberatan, apaboleh buat. Kami akan meninggalkannya di sini. Tetapi jika
Kemuning ingin bertemu dan tinggal bersama pamannya barang satu dua hari,
biarlah ia kami bawa serta." Wajah Bahu Langlangpun berkerut. Sambil menggeleng
ia berkata, "Aku minta jangan ganggu Kemuning. Itu saja." Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Sementara Bahu Langlangpun berkata kepada Nyi Permati, "Bibi,
sebaiknya Bibi memberitahukan kepada anak Bibi itu, agar ia tidak usah ikut
mencampuri persoalan Kemuning. Aku tidak berkeberatan ia singgah di sini. Tetapi
jangan membuat kegelisahan seisi rumahku termasuk Kemuning." Nyi Permati
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, "Sudahlah, Ngger. Biarlah
besok atau lusa aku ajak Kemuning ke rumah pamanmu." "Tidak Ibu. Aku akan
mengajak Kemuning sekarang. Alangkah senangnya hati Paman jika Kemuning
tiba-tiba datang mengunjunginya. Rasa-rasanya aku tidak sabar lagi melihat,
bagaimana Paman di saat-saat yang gawat itu tersenyum melihat kehadiran
Kemuning." Agaknya Bahu Langlang telah kehabisan kesabaran. Pada dasarnya ia
memang bukan orang yang sabar. Tetapi ia mencoba untuk memberikan kesan yang
baik kepada anak Nyi Permati. Tetapi anak muda itu ternyata sangat
menjengkelkannya. Karena itu, maka dengan suara yang mulai bergetar Bahu
Langlang itu berkata, "Anak muda, untuk terakhir kalinya aku memperingatkanmu,
jangan ganggu Kemuning." "Niatku sudah tetap, Ki Bahu Langlang," jawab Paksi
mantap. Bahu Langlang benar-benar tidak dapat menahan diri. Karena itu, maka
iapun membentak, "Cukup, anak muda. Aku minta kau meninggalkan rumahku ini.
Bibi, aku mohon, sebelum aku bertindak menurut caraku." Nyi Permati menjadi
semakin bingung. Dengan gelisah ia berkata, "Sudahlah. Tinggalkan rumah ini."
Tetapi Paksi tetap bersikeras Katanya, "Tidak. Aku akan membawa Kemuning." Bahu
Langlang benar-benar tidak lagi dapat mengekang diri. Sudah sejak semula ia
berpurapura menjadi penyabar. Tetapi ia tidak dapat bertahan terlalu lama.
Karena itu, maka Bahu Langlang itupun kemudian berkata, "Aku sudah cukup
memberimu kesempatan berbicara di sini. Sekarang, kau harus pergi. Jangan
berbicara apapun lagi." Tetapi hati Paksipun keras seperti baja. Karena itu,
maka iapun menjawab, "Aku akan pergi bersama Kemuning." "Cukup," mata Bahu
Langlang mulai menyala. Sementara Nyi Permati mulai menjadi ketakutan. "Apakah
aku harus memperlakukanmu seperti perempuan itu?" "Seperti itulah yang pada
suatu saat akan terjadi pada Kemuning. Pada saatnya kau menjadi jemu, maka kau
akan menyakitinya setiap hari." Bahu Langlang itupun bangkit berdiri sambil
menggeram, "Kau memang tidak tahu diri. Jika kau terlambat keluar dari halaman
rumahku, maka untuk selamanya kau tidak akan pernah dapat keluar lagi, karena
tubuhmu akan terkubur di bawah rumpun bambu di kebun belakang rumah ini." "Tentu
banyak tubuh yang kau kuburkan di bawah rumpun bambu itu," jawab Paksi sambil
bangkit berdiri pula. Wajah Bahu Langlang menjadi merah. Dengan garang ia
berkata, "Sekarang aku tahu apa yang kau maui anak muda. Kau datang dengan
sengaja untuk merebut Kemuning dari tanganku. Baik. Jika kau memang sudah
bersiap melakukannya, lakukan. Halaman rumahku cukup luas." Bahu Langlang tidak
menunggu lebih lama lagi. Iapun segera turun ke halaman. Ketika Paksi melangkah,
Nyi Permati menggamitnya sambil berdesis, "Sudahlah, anak muda. Aku mengucapkan
terima kasih atas perhatianmu. Tetapi jangan korbankan dirimu." Paksi tidak
menghiraukannya. Iapun segera melangkah menuruni tangga. Sejenak kemudian,
Paksipun telah berdiri berhadapan dengan Bahu Langlang di halaman. Beberapa
orang yang ada di halaman Bahu Langlang menjadi heran melihat anak muda yang
dengan beraninya menantang Bahu Langlang. "Apakah anak muda itu belum pernah
mendengar nama Bahu Langlang?" Dalam pada itu, Paksi yang sudah berdiri
berhadapan dengan Bahu Langlang itupun berkata, "Bahu Langlang, aku yakin bahwa
kau adalah seorang laki-laki yang kata-katamu adalah kehormatan dan harga
dirimu. Marilah kita membuat janji. Kita akan berkelahi sekarang ini. Jika aku
kalah, maka aku sadari, bahwa aku akan terkubur di bawah rumpun bambumu. Aku
sudah pernah mendengar namamu dan akupun tahu tabiatmu. Ketika aku memasuki
halaman rumah ini, kau sedang menghakimi salah seorang isterimu. Tetapi jika aku
menang, maka kau harus melepaskan Kemuning dan ibuku. Aku akan membawa mereka
dan menyelamatkan mereka dari keganasanmu." "Iblis kau. Aku hormati kau yang
berani menantangku. Aku hormati kau yang mencintai ibu dan saudara sepupunya
sehingga berani mempertaruhkan nyawamu. Tetapi kau akan segera ditelan oleh
kesombonganmu sendiri." "Katakanlah bahwa kau berjanji." "Baik. Aku terima
syaratmu. Aku janji." Demikianlah keduanyapun kemudian telah berhadapan. Paksi
telah menyandarkan tongkatnya, karena ia melihat Bahu Langlang tidak bersenjata.
Sejenak kemudian keduanya telah bersiap. Mata Bahu Langlang bagaikan memancarkan
nyala api oleh kemarahan yang membakar dadanya. Bahwa seorang anak muda berani
menantangnya itu sudah merupakan satu penghinaan atas dirinya. Sejenak kemudian,
maka Bahu Langlang itupun mulai bergerak. Tangannya terayun menggapai tubuh
Paksi. Tetapi Bahu Langlang belum benar-benar menyerangnya. Namun ketika Paksi
bergeser menghindari, Bahu Langlang telah mempersiapkan serangan yang
sebenarnya. Ia ingin menghancurkan dan benar-benar membunuh anak itu dalam waktu
yang sesingkat-singkatnya untuk menutup ketersinggungannya, bahwa seorang anak
telah berani menantangnya. Dengan mengakhiri perlawanan anak itu secepatnya,
maka penilaian orang-orangnya yang melihat peristiwa itu terhadap dirinya tidak
akan terguncang oleh kesombongan anak itu. Karena itu, maka sejenak kemudian,
serangan Bahu Langlang itupun datang bagaikan angin prahara. Paksi memang
terkejut. Ia tidak menduga sebelumnya bahwa serangan Bahu Langlang akan datang
demikian cepatnya langsung dalam tataran ilmu yang tinggi. Paksi memang terdesak
surut. Tetapi kemudian Paksipun telah menemukan keseimbangannya, sehingga
Paksipun segera menempatkan diri pada batas kemampuan lawannya. Dengan demikian
maka pertempuran itupun menjadi seimbang. Paksi yang muda, namun yang telah
menempa dirinya itu, tidak banyak mengalami kesulitan menghadapi orang yang
namanya ditakuti oleh lingkungannya, Bahu Langlang. Ketika dengan hentakannya
Bahu Langlang mampu mendesak lawannya, maka ia sudah memastikan akan dapat
dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu. Tetapi ternyata dugaannya keliru.
Anak muda itu semakin lama justru menjadi semakin mapan. Bahu Langlang tidak
lagi mendesaknya. Apa yang dilakukannya, lawannya itu mampu mengimbanginya.
Karena itu, sambil menggeram marah Bahu Langlang mengerahkan kemampuannya sampai
ke puncak. Sebagai seorang yang mempunyai pengalaman yang luas dalam
petualangannya di dunia olah kanuragan, maka Bahu Langlang tidak segera
tenggelam dalam kecemasan menghadapi lawannya. Dengan hentakan-hentakan yang
kuat, Bahu Langlang ingin mengguncang pertahanan Paksi. Tetapi Paksi tidak
segera dapat didesaknya. Semakin lama Paksi justru nampak menjadi semakin tegar.
Serangan-serangannya menjadi semakin cepat sementara kakinya berloncatan semakin
tangkas. Bahu Langlang mulai menyadari, bahwa lawannya bukannya anak-anak muda
kebanyakan. Sejak semula ia memang sudah curiga, bahwa anak muda itu bukan anak
Nyi Permati. Bukan pula sepupu Kemuning. Karena itu, maka Bahu Langlangpun tidak
mau menanggung akibat yang paling buruk. Dengan tangkasnya ia meloncat surut
sambil berteriak, "Berikan senjataku." Beberapa orang termangu-mangu. Namun
isteri utamanyalah yang dengan cepat tanggap. Iapun segera meraih sebuah kapak
yang tergantung di tiang di atas tangga pendapa. Dengan cepat kapak yang besar
itupun telah dilemparkan kepada Bahu Langlang yang telah mengambil jarak dari
lawannya. Bahu Langlang menangkup kapak besarnya itu. Kemudian terdengar orang
itu tertawa. Keramah-tamahannya sama sekali tidak nampak lagi. Tidak ada lagi
senyum di bibirnya. Yang nampak adalah pandangan matanya yang bengis. Demikian
Bahu Langlang memegang kapaknya, maka Paksipun telah menggapai tongkatnya pula.
Meskipun ternyata ilmu Bahu Langlang yang garang itu tidak setinggi sebagaimana
dibayangkannya, namun kapaknya itu nampaknya sangat berbahaya. "Jika orang-orang
dari Goa Lampin atau orang-orang dari Perguruan Sad itu datang kemari, maka Bahu
Langlang akan sulit untuk dapat mengatasinya," berkata Paksi di dalam hatinya.
Ternyata Bahu Langlang tidak lebih dari seorang pemimpin perampok yang garang.
Tetapi kegarangannya tidak dilandasi dengan ilmu yang tinggi. Sejenak kemudian,
maka Bahu Langlang telah menyerang dengan kapaknya yang besar. Menilik ayunan
kapaknya itu, maka tenaga Bahu Langlang memang sangat besar. Agaknya dengan
tenaganya yang besar serta kegarangan sikap dan keberaniannya, Bahu Langlang
menjadi seorang yang ditakuti oleh lingkungannya. Tetapi nampaknya orang-orang
dari perguruan-perguruan yang namanya banyak dikenal, Bahu Langlang sama sekali
tidak menarik perhatian. Demikianlah, maka dengan tongkatnya Paksi telah melawan
ayunan kapak Bahu Langlang yang garang itu. Getaran angin yang menampar tubuh
Paksi karena ayunan kapak lawannya, memberikan peringatan kepada Paksi, bahwa
tenaga lawannya memang sangat besar. Tetapi jantung Paksi sama sekali tidak
tergetar oleh ayunan senjata lawannya itu. Sehingga dengan demikian, maka
perlawanan Paksi sama sekali tidak menjadi goyah. Bahkan dengan tongkat kayunya,
Paksi dapat menangkis serangan kapak lawannya dengan benturan langsung. Paksi
memang yakin bahwa tongkatnya tidak akan patah. Meskipun ujud tongkatnya adalah
tongkat kayu, tetapi tongkat itu sudah teruji kekuatannya, sehingga dalam
benturan seperti apapun dengan jenis logam apapun, tongkatnya tidak akan patah.
Bahu Langlang menjadi semakin heran. Anak itu benar-benar anak ajaib. Pada
umurnya yang masih sangat muda, sebagaimana dikatakannya sendiri bahwa umurnya
baru delapanbelas tahun, ia sudah memiliki ilmu yang tinggi, yang tidak
terjangkau oleh ilmu Bahu Langlang yang namanya ditakuti oleh lingkungannya.
Dalam pada itu, kapak Bahu Langlang hampir tidak berdaya sama sekali. Bahkan
tongkat Paksi sekali-sekali sudah mulai menggapai tubuh lawannya. Ketika tongkat
Paksi berhasil mendorong pundak Bahu Langlang, maka Bahu Langlang itu terdorong
beberapa langkah surut. Hampir saja Bahu Langlang kehilangan keseimbangannya.
Namun dengan susah payah Bahu Langlang dapat menguasai dirinya sehingga ia tidak
jatuh terjerembab. Dalam pada itu, isteri utama Bahu Langlang yang melihat
keadaan suaminya telah menjadi marah pula. Ternyata isterinya bukan saja seorang
yang garang. Tetapi ia juga seorang yang mampu turun ke medan. Karena itu,
ketika Bahu Langlang mengalami kesulitan, isterinya yang garang itu telah
meloncat ke gelanggang. Di tangannya digenggamnya sebilah pedang. "Kita akan
membunuhnya bersama-sama," geram perempuan itu. Paksi meloncat selangkah surut.
Dengan nada tinggi ia berkata, "Kita sudah membuat janji, Bahu Langlang." Bahu
Langlang memang menjadi bimbang. Tetapi isterinya telah memutar pedangnya sambil
berkata, "Jangan ragu-ragu. Janji dengan anak-anak tidak perlu ditepati." Bahu
Langlang masih saja bimbang ketika kemudian isterinya itu meloncat menyerang
Paksi. Paksi meloncat menghindar sambil berkata, "Bahu Langlang. Apa katamu jika
kau tidak menepati janji, maka aku tidak akan hiraukan pula." "Persetan dengan
janji itu," teriak isterinya. Tetapi sebelum mulutnya terkatup rapat, tongkat
Paksi telah terayun menyambar pedang perempuan itu. Tanpa dapat berbuat apa-apa,
pedangnya telah terlempar beberapa langkah daripadanya. "Bahu Langlang," berkata
Paksi kemudian, "jika kau ingkar janji, maka aku akan membunuh isterimu,
membunuhmu dan membunuh siapa saja yang akan menghalangi aku." Bahu Langlang
termangu-mangu sejenak. Tetapi ujung tongkat Paksi seakan-akan melekat di dada
isterinya. Dengan satu gerakan sederhana, isterinya itu memang akan dapat
diselesaikan oleh anak muda itu. Tongkat itu dapat mendorong isterinya, tetapi
mengingat kemampuan anak itu, maka tongkat itu akan dapat menghunjam di dada
isterinya itu. Isteri utama Bahu Langlang yang sudah kehilangan pedangnya itu
baru yakin, bahwa anak muda itu memang tidak mungkin dilawannya meskipun ia
bertempur bersama suaminya, seorang yang memiliki nama besar di lingkungannya
dan ditakuti banyak orang. Dalam pada itu, Paksipun berkata, "Bahu Langlang, aku
ingin memberimu peringatan. Jika kau mencoba berpijak pada nama besarmu, maka
dalam waktu yang singkat kau akan binasa. Aku beritahukan kepadamu, bahwa di
kaki Gunung Merapi ini sekarang berkumpul orang-orang dari perguruan besar yang
berilmu tinggi. Bukan sekedar seorang pemimpin perampok yang merasa dirinya
tidak terkalahkan karena dapat membunuh orang-orang tua dan anak-anak yang
ketakutan. Atau mencegat penjual dawet atau blantik kuda yang pulang dari pasar.
Di daerah ini berkeliaran orang-orang dari Perguruan Goa Lampin, orang-orang
dari Perguruan Sad dan orangorang perguruan di Alas Tegal Arang. Itu yang sudah
aku lihat. Aku tidak tahu, apakah masih ada orang lain yang belum aku ketahui.
Nah, camkan itu. Lihat wajahmu di permukaan kolam ikanmu. Kau tidak lebih dari
seekor tikus kecil di antara sekelompok serigala yang buas." Bahu Langlang
termangu-mangu mendengar kata-kata Paksi itu. Sementara Paksi itupun berkata,
"Ketika aku mendengar namamu, aku kira kau juga seorang yang berilmu tinggi.
Tetapi ternyata kau bukan apa-apa. Nah, sekarang tempatkan dirimu di antara
segerombolan serigala yang berkeliaran di kaki Gunung Merapi ini. Menurut
pendapatku, dalam waktu yang dekat, tentu ada di antara mereka yang datang
kepadamu untuk menguji kebesaran namamu." "Apakah kau tidak berbohong, anak
muda?" bertanya Bahu Langlang. "Buat apa aku berbohong kepadamu? Apalagi setelah
aku tahu, siapa sebenarnya kau. Meskipun kau dengan tanpa berkedip membunuh
pengikut-pengikutmu sendiri, dan bahkan dengan jantung yang sama sekali tidak
tergetar mencambuk seorang perempuan yang tidak berdaya, tetapi kau bukan orang
yang pantas aku perhitungkan. Apalagi dalam putaran perburuan pusaka sekarang
ini." Bahu Langlang menundukkan kepalanya. Ia harus melihat kenyataan itu.
Betapa kecilnya dirinya di hadapan anak muda itu, atau di hadapan orang-orang
dari perguruan yang telah disebutnya. Karena itu, maka Bahu Langlang itupun
berkata, "Aku akan menepati janjiku, anak muda. Tetapi aku minta kau mengatakan
apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang." "Bawa Kemuning keluar dan serahkan
kepada bibinya." "Aku tahu. Aku akan menyerahkannya kepada bibinya. Tetapi
setelah itu, apa yang sebaiknya aku lakukan? Apakah orang-orang dari perguruan
besar itu benar-benar akan datang kemari?" "Menurut dugaanku, mereka akan
datang." "Apa yang harus aku lakukan?" bertanya Bahu Langlang. "Jangan sebut
lagi namamu. Kau harus mengatakan bahwa Bahu Langlang sudah pergi. Yang ada
hanyalah orang-orang yang menunggui rumahnya. Beritahu pengikut-pengikutmu,
jangan sebut lagi nama Bahu Langlang itu. Kecuali itu, hentikan tingkah lakumu.
Kau belum terlambat untuk memperbaiki jalan hidupmu." Bahu Langlang
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian diamatinya kedua telapak tangannya sambil
berdesis, "Tangan ini telah bernoda darah. Berapa orang yang telah aku bunuh.
Apakah aku masih pantas untuk mencari jalan baru dalam hidupku." "Selagi kau
sempat, lakukan. Tetapi jika kau sudah mati, maka kesempatan itu tidak akan
pernah kau dapatkan." Bahu Langlang itu mengangguk-angguk. "Baiklah, anak muda,
tetapi wawasanmu telah membuka mataku." Demikianlah, maka sejenak kemudian,
Paksi telah menarik tongkatnya. Sementara Bahu Langlangpun telah
mempersilahkannya kembali naik ke pendapa. Sejenak kemudian, maka Bahu Langlang
dan isteri utamanya telah membawa seorang gadis ke pendapa itu pula. Seorang
gadis yang matanya menjadi pengab. Nampaknya gadis itu tidak berhenti-henti
menangis sejak ia berada di rumah itu. Paksi hanya sempat memandang gadis itu
sekilas. Tetapi yang sekilas itu telah memberi kesan kepadanya, bahwa gadis itu
memang cantik. Kemuning masih saja selalu menunduk. Ia tidak tahu apa yang akan
terjadi dengan dirinya. Namun dalam pada itu, dengan suara yang berat, Bahu
Langlang itupun berkata, "Kemuning, aku minta maaf atas perlakuan yang sudah kau
alami selama ini di rumahku. Sekarang aku akan menyerahkanmu kepada bibimu. Kau
akan bebas. Kami tidak akan menghalangi lagi jika kalian akan pergi ke Kembang
Arum." "Aku akan mengantarkannya," desis Paksi. "Kau akan aman di bawah
perlindungannya, Kemuning." Kemuning menjadi bingung. Ia merasakan satu suasana
yang jauh berbeda. Sikap Bahu Langlang terasa berbeda dengan sikapnya
sehari-hari. Meskipun Bahu Langlang selalu bersikap manis kepadanya, tetapi
setiap kali Kemuning mendengar desir langkah kakinya, jantungnya serasa akan
runtuh dari tangkainya. Tetapi saat itu, sikap Bahu Langlang memang berbeda. Ia
merasakan perbedaan sikap itu dan sentuhan yang paling dalam dari tekanan
kata-kata Bahu Langlang itu. Sikap manis Bahu Langlang rasa-rasanya tidak
dibuat-buat seperti biasanya Kemuning tidak tahu apa yang sebenarnya telah
terjadi. Ketika ia memandang bibinya, maka dilihatnya perempuan itu berusaha
menahan tangisnya. Namun dalam pada itu, Paksipun berkata, "Marilah. Kita
tinggalkan tempat ini. Aku antarkan kalian ke Kembang Arum." Kemuning
termangu-mangu sejenak. Sementara Nyi Permatipun bertanya, "Apakah kami
diperkenankan berbenah diri." "Tentu, Bibi," sahut Bahu Langlang dengan
serta-merta. "Lakukan apa yang ingin Bibi lakukan. Bibi tahu, bahwa sekarang aku
sudah tidak berdaya." Nyi Permati masih ragu-ragu. Namun Paksipun kemudian
berkata, "Silahkan berbenah diri. Aku menunggu." Sejenak kemudian, maka Nyi
Permati dan Kemuningpun telah selesai berbenah diri. Mereka membawa sebuah
bungkusan kecil. Sebungkus barang-barang yang masih tersisa. Di antaranya adalah
kain lurik yang telah ditawarkan kepada Paksi. Demikianlah, maka sejenak
kemudian, Paksipun telah meninggalkan rumah Bahu Langlang bersama Nyi Permati
dan Kemuning. Bahu Langlang dan isterinya mengantar mereka sampai di regol
halaman rumahnya. Demikian mereka meninggalkan halaman rumah itu, maka Kemuning
merasa seakan-akan dirinya baru menapak ke dalam sebuah mimpi. Ia sudah tidak
lagi berpengharapan untuk dapat keluar dari rumah itu. Kemuning yang masih
terlalu muda itu rasa-rasanya sudah berada di antara kuku-kuku seekor harimau
yang kelaparan. Namun tiba-tiba ia sudah bergerak meninggalkan rumah itu. Tetapi
Kemuning yang tidak tahu apa yang terjadi masih belum percaya sepenuhnya bahwa
ia akan benar-benar lepas dari tangan Bahu Langlang. Kemuning masih
membayangkan, bahwa pada suatu saat nanti, Bahu Langlang akan memburunya dan
membawanya kembali ke rumahnya. Tetapi ketika mereka keluar dari padukuhan itu,
Nyi Permati itupun berkata, "Kita sudah lepas dari tangan hantu yang menakutkan
itu, Kemuning. Yang Maha Agung telah bermurah hati mengirimkan anak muda itu
untuk membebaskanmu." Di luar sadarnya Kemuning berpaling. Namun ketika ia
menyadari bahwa Paksi juga sedang memandanginya, maka Kemuningpun segera
melemparkan pandangan matanya ke kejauhan. Paksi sendiri juga menggeser
pandangan matanya. Namun yang sekilas itu mempertajam kesannya, bahwa Kemuning
memang gadis yang cantik. Itulah sebabnya, maka Bahu Langlang ingin menjadikan
gadis yang masih belum dewasa penuh itu sebagai isterinya, meskipun landasan
keinginan itu semata-mata karena nafsu. Demikianlah, maka ketiga orang itu
berjalan semakin jauh. Paksi yang sudah mendapat ancarancar arah padukuhan
Kembang Arum tidak terlalu sulit untuk menempuh perjalanan yang sudah tidak
terlalu jauh itu. Paksi memang mengajak mereka untuk berjalan melewati jalan
pinggir hutan. Paksi sama sekali tidak menjadi takut. Sudah setahun ia tinggal
di tepi hutan. Bahkan setiap kali ia telah menyusup memasuki hutan itu untuk
berburu tanpa merasa takut mendengar aum harimau sekalipun. Kemuning dan bibinya
memang merasa ngeri untuk menempuh jalan sempit di pinggir hutan itu. Tetapi
karena Paksi yang berjalan di depan itu sama sekali tidak nampak ragu, maka
merekapun berjalan saja mengikutinya. Ketika mereka melalui jalan yang rumit,
karena lereng yang menurun agak terjal dan berbatubatu padas yang tajam, maka
Paksipun berkata, "Jika kita menempuh jalan melingkar, maka jaraknya akan
menjadi jauh. Pedagang kelapa itu tentu membawa pedatinya melewati jalan
melingkar itu. Tetapi jaraknya dapat berlipat." Kedua orang perempuan itu tidak
menyahut. Dengan susah payah dibantu oleh Paksi, akhirnya keduanya berhasil
melewati jalan yang terjal itu. Paksi yang mengetahui bahwa kedua orang
perempuan itu menjadi letih, telah mengajak mereka untuk beristirahat sejenak.
Namun kemudian merekapun melanjutkan perjalanan mereka kembali. Ketika mereka
melewati sebuah sumber air kecil yang jernih, maka merekapun telah berhenti
untuk minum beberapa teguk untuk melepaskan haus mereka. Demikianlah, maka Nyi
Permati dan Kemuning telah menempuh sebuah perjalanan yang berat. Tetapi mereka
memang sudah berniat melakukannya. Bahkan sebelumnya mereka juga sudah menempuh
jalan yang panjang pula sebelum mereka jatuh ke tangan Bahu Langlang. Namun
ketika senja turun, mereka masih belum memasuki Padukuhan Kembang Arum. Tetapi
mereka masih sempat bertanya kepada seseorang yang pulang dari sawahnya, tentang
letak padukuhan itu. "Sudah tidak jauh lagi, anak muda. Jika jalan ini nanti
menyilang sebuah sungai kecil, maka berantara dua bulak lagi, kalian akan
sampai." "Apakah kami akan sampai ke padukuhan itu wayah sepi bocah atau bahkan
sebelumnya?" bertanya Paksi pula. "Tergantung sekali kepada kecepatan jalan
kalian," petani itu tersenyum. Paksipun tersenyum pula. Katanya, "Ki Sanak
benar." "Kau berjalan dengan dua orang perempuan yang tentu tidak akan dapat
berjalan secepat jika kau sendiri," berkata petani itu. "Kau dapat bertanya
kepada para peronda. Hampir di setiap padukuhan terdapat setidaktidaknya sebuah
gardu ronda di dekat banjar. Mudah-mudahan di Kembang Arum gardu itu terisi
setiap malam. Atau mungkin sekali para peronda itu berada di banjar itu
sendiri." "Terima kasih, Ki Sanak," Paksi mengulang. Demikianlah, maka Paksipun
telah melanjutkan perjalanannya bersama Nyi Permati dan Kemuning. Seperti yang
dikatakan oleh petani yang pulang dari sawahnya itu, maka beberapa saat kemudian
mereka bertiga telah melintasi sebuah sungai. Dengan demikian, maka mereka
tinggal menempuh perjalanan dua bulak lagi untuk sampai ke Padukuhan Kembang
Arum. "Sebenarnya aku pernah pergi ke Kembang Arum," berkata Nyi Permati,
"tetapi sudah terlalu lama. Agaknya aku sudah sulit untuk mengingatnya. Bahkan
jalan menuju ke padukuhan itupun aku sudah lupa, sehingga kami tersesat." "Jadi
Bibi sudah pernah ke Kembang Arum?" bertanya Paksi. "Ya, Ngger. Tetapi aku
memang sulit untuk mengingat sesuatu. Juga jalan ke Kembang Arum. Ketika aku
berangkat mengantar Kemuning, aku kira aku dapat mengenali jalan-jalannya
kembali. Tetapi ternyata tidak. Bahkan kami telah tersesat ke sarang serigala
itu. Bersukurlah kami, bahwa Yang Maha Agung masih berbelas kasihan, sehingga
aku telah bertemu dengan Angger di pasar itu." Paksi mengangguk-angguk. Tetapi
ia tidak bertanya lagi. Bertiga mereka berjalan menyusuri bulak di gelapnya
malam. Nyi Permati dan Kemuning memang tidak dapat berjalan secepat Paksi.
Karena itu, maka Paksi harus menyesuaikan diri. Berjalan lamban sekali. Namun
akhirnya dua bulak itupun telah mereka lampaui. Tetapi mereka juga sudah
melampaui wayah sepi bocah. Pada wayah sepi uwong, mereka telah memasuki sebuah
padukuhan yang mereka duga adalah Padukuhan Kembang Arum. Namun tiba-tiba Nyi
Permati berkata, "Ya, kita telah sampai. Aku ingat tugu yang ada di dekat regol
itu. Tugu itu pernah aku lihat ketika aku datang kemari waktu itu. Tugu yang
dibuat dari batu itu memang sangat menarik perhatian, karena jarang sekali ada
padukuhan yang mempunyai ciri seperti itu." Tiba-tiba saja Kemuningpun bertanya,
"Jadi, kita benar-benar sampai ke Kembang Arum?" "Ya, Kemuning. Kita sudah
sampai di Padukuhan Kembang Arum. Yang Maha Agung telah menuntun perjalanan
kita." Kemuning itupun tiba-tiba saja telah memeluk bibinya. Ia tidak dapat
menahan tangisnya. Sambil terisak ia berkata, "Aku hampir tidak percaya Bibi.
Semua harapanku seakan akan telah pupus." "Sudahlah. Doa kita didengar-Nya. Kita
wajib mengucap sukur bahwa akhirnya kita sampai juga di padukuhan ini." Paksilah
yang kemudian berkata, "Baiklah. Marilah kita berjalan terus. Kita baru
menemukan Padukuhan Kembang Arum. Kita masih harus menemukan rumah orang yang
Bibi cari." "Setelah sampai di sini, mudah-mudahan aku dapat mengingat letak
rumah itu, Ngger." "Marilah kita coba," ajak Paksi. Merekapun kemudian melangkah
memasuki padukuhan. Gelap malam memang agak membingungkan Nyi Permati. Namun
demikian, perempuan itu masih dapat mengenali beberapa ciri yang masih ada di
padukuhan itu. Ketika mereka sampai di sebuah simpang empat di dalam padukuhan
itu, Nyi Permatipun berkata, "Aku masih ingat, pohon beringin yang dipagari ini.
Aku ingat benar. Kita harus berbelok ke kanan." Mereka bertigapun telah berbelok
ke kanan. Jalan menjadi lebih kecil dari jalan yang mereka lalui semula. Namun
Nyi Permati semakin mengenali lingkungan di sekitarnya meskipun gelap malam
rasa-rasanya menjadi semakin pekat di dalam padukuhan. Tetapi beberapa oncor
yang ada di regol-regol halaman membantu Nyi Permati mengamati jalan yang
dilaluinya itu. Ketika mereka sampai di sebuah regol halaman rumah yang
terhitung besar dan berhalaman cukup luas, Nyi Permati itu berhenti. Di sebelah
regol terdapat sebuah gendi berisi air. Sebuah siwur tergantung pada sebuah
patok di dekat gendi itu. Ketika ia mengunjungi rumah saudaranya beberapa tahun
yang lalu, ia juga melihat sebuah gentong air di dekat regol halaman. Beberapa
saat ia mengingat-ingat. Namun kemudian katanya, "Aku yakin, bahwa rumah inilah
rumah pamanmu, Kemuning." "Bibi benar-benar yakin?" bertanya Kemuning. "Ya. Aku
yakin. Rasa-rasanya aku memang mengenali lingkungan ini, karena aku berada di
sini agak lama waktu itu." Ketika Kemuning nampak ragu-ragu, bibinya berkata,
"Semuanya belum berubah, Kemuning. Aku masih mengenalinya, karena waktu itu aku
berada beberapa pekan disini." "Jika Bibi yakin, marilah," berkata Paksi
kemudian. Ketika Paksi kemudian menyentuh pintu regol, ternyata pintu itu tidak
diselarak dari dalam. Demikian pintu itu terbuka, maka perlahanlahan mereka
melangkah memasuki halaman itu. Demikian mereka berada di halaman, maka Nyi
Permati itupun berdesis, "Ya. Aku semakin yakin. Rumah inilah rumah pamanmu,
Kemuning. Rumah Kakang Pananggungan." Kemuning berdiri termangu-mangu di
halaman. Dipandanginya rumah yang terhitung besar itu. Lampu minyak yang menyala
di pendapa bergetar disentuh angin, seolah-olah menyampaikan selamat datang
kepada Kemuning dan bibinya. Selangkah-selangkah mereka mendekati pendapa yang
sepi. Namun kemudian Paksi telah melihat pintu seketeng. Ternyata pintu seketeng
tertutup dan selarak dari dalam. Sementara itu gandok kanan dan kiri nampak
sepi. "Jika demikian, Bibi harus mengetuk pintu pringgitan," berkata Paksi. Nyi
Permati mengangguk kecil. Namun ketika kakinya menyentuh tangga pendapa,
perempuan itu nampak menjadi ragu. Kemuning berdiri termangu-mangu. Tetapi ia
tidak mengatakan sesuatu. Namun akhirnya Nyi Permati itu telah memaksa diri naik
ke pendapa dan melangkah ke pringgitan. Perlahan-lahan Nyi Permati mengetuk
pintu pringgitan itu. Sejenak Nyi Permati menunggu. Karena agaknya belum
seorangpun yang mendengarnya, maka Nyi Permati telah mengulanginya kembali. Baru
kemudian terdengar suara seseorang dari dalam, "Siapa di luar?" "Aku," jawab Nyi
Permati. "Aku siapa?" "Permati." "Permati?" terdengar suara itu menghentak.
Nampaknya orang di dalam rumah itu terkejut mendengar nama Permati. "Kau benar
Permati?" bertanya orang yang di dalam. Nyi Permatipun mengenali suara itu.
Dengan suara bergetar ia menjawab, "Ya, Kakang. Aku Permati." Terdengar langkah
tergesa-gesa. Tidak hanya seorang. Tetapi dua orang. Sejenak kemudian, pintupun
terbuka. Dua orang suami isteri berdiri di pintu pringgitan yang terbuka itu.
"Permati. Permati, kenapa kau?" Nyi Permati hampir tidak dapat mengatakan
sesuatu. Terasa matanya menjadi panas dan tenggorokannya bagaikan tersumbat.
"Mbokayu," desis Nyi Permati. Nyi Pananggunganpun melangkah mendekatinya. Kedua
orang perempuan yang mendekati usia tuanya itu berpelukan. Dengan suara sendat
Nyi Permati itupun berkata, "Aku datang dengan kemenakanmu, Kemuning."
"Kemuning? Kau bawa Kemuning kemari?" Nyi Permati yang melepaskan pelukan Nyi
Pananggungan itupun kemudian berpaling. Sambil melambaikan tangannya ia berkata,
"Kemarilah Kemuning. Ini pamanmu. Ia tidak akan lupa kepadamu, meskipun ketika
paman dan bibimu mengunjungimu, kau masih kanak-kanak." "Kaukah itu Kemuning?"
bertanya Nyi Pananggungan. Kemuningpun melangkah naik ke pendapa dan langsung
pergi ke pringgitan. Bibinyapun menyongsongnya pula. Dalam pelukan bibinya,
rasa-rasanya Kemuning menemukan ketenangan dan kedamaian hati. Karena itu, maka
air matanya yang meleleh dari pelupuknya tidak terbendung lagi, bagaimanapun
juga ia berusaha menahannya. "Marilah. Masuklah," Ki Pananggungan
mempersilahkan. Namun kemudian iapun bertanya, "Siapakah anak muda itu?" "Anak
itu telah menolong kami, Kakang. Tanpa anak muda itu, kami tidak akan sampai di
sini." Ki Pananggungan memandang Paksi dengan tajamnya. Namun kemudian katanya,
"Jika demikian, marilah. Naiklah anak muda." Paksipun naik pula ke pendapa.
Demikianlah, sejenak kemudian mereka sudah duduk di ruang dalam rumah Ki
Pananggungan. Tanpa tertahan-tahan lagi, Nyi Permati telah menceriterakan apa
yang telah dialami oleh Kemuning di rumahnya dan di perjalanan menuju ke Kembang
Arum. "Apa sebenarnya yang terjadi dengan ayah dan ibu Kemuning?" bertanya Ki
Pananggungan. "Tidak ada yang tahu, Kakang. Tiba-tiba saja keduanya telah
hilang." "Dan Kemuning jadi sendiri di rumah?" bertanya Nyi Pananggungan. "Ya.
Itulah sebabnya, kenapa aku mempunyai gagasan untuk membawanya kemari. Namun
hampir saja Kemuning terjerumus ke dalam kenistaan sepanjang umurnya. Jika itu
terjadi, maka aku adalah orang yang paling bersalah." "Ayah dan ibu Kemuning
memang suka bertualang. Tetapi jika mereka sudah mempunyai seorang anak gadis,
maka mereka tidak boleh memikirkan diri mereka sendiri," "Yang aku cemaskan,
jika terjadi sesuatu atas mereka. Mungkin mereka pergi bukan karena niat mereka
akan pergi. Tetapi ada sesuatu yang memaksa mereka. Jika hal itu tidak
membahayakan mereka, sukurlah. Tetapi jika kepergian mereka itu justru karena
mereka tidak dapat mengelakkannya, maka itu akan sangat memprihatinkannya." Ki
Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Ki Pananggungan itupun
kemudian telah berpaling kepada Paksi sambil berkata, "Jadi kau sudah
mengalahkan Bahu Langlang?" "Mungkin satu kebetulan saja, Ki Pananggungan,"
jawab Paksi. Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Katanya, "Aku sudah mendengar
nama Bahu Langlang. Ia seorang pemimpin perampok yang ditakuti di lingkungan
sekitarnya. Apakah kau yang masih semuda itu mampu mengalahkannya?" "Sudah aku
katakan, Ki Pananggungan, mungkin satu kebetulan saja." "Anak muda, aku justru
menjadi curiga kepadamu." Paksi terkejut. Nyi Permati dan Kemuningpun terkejut
pula. Hampir di luar sadarnya, Nyi Permati berkata, "Anak muda itu sudah
membebaskan kami dari tangan Bahu Langlang." "Kau memang melihat seakan-akan
peristiwa seperti itu sudah terjadi. Tetapi ini adalah sebuah permainan. Anak
muda ini adalah salah seorang dari orang-orang Bahu Langlang itu sendiri." Wajah
Permati menjadi berkerut. Namun iapun bertanya, "Lalu, apakah keuntungannya
dengan permainan itu? Apapun yang mereka lakukan, tetapi kami sudah bebas dari
tangan Bahu Langlang." "Kita memang tidak tahu, apa maksud yang sebenarnya.
Tetapi aku menjadi tidak percaya kepada anak ini, bahwa ia telah dapat
mengalahkan Bahu Langlang." Paksi menjadi bingung. Demikian pula Nyi Permati dan
Kemuning. "Anak muda," berkata Ki Pananggungan sambil berdiri dan melangkah ke
pintu. Kemudian Ki Pananggungan itupun telah membuka pintu itu sambil berkata,
"Pergilah. Katakan kepada Bahu Langlang, jika ia ingin mengambil Kemuning, maka
ia harus melangkahi mayatku lebih dahulu." Paksi benar-benar tidak mengerti.
Namun demikian iapun telah bangkit pula sambil berkata, "Ki Pananggungan, aku
tidak berkeberatan sama sekali jika aku harus pergi. Tetapi aku masih ingin
menjelaskan, bahwa aku tidak mempunyai niat buruk, apalagi merupakan sebuah
permainan yang digerakkan oleh Bahu Langlang itu sendiri." "Pergilah. Gerak
bibirmu membuat darahku menjadi panas. Bau nafasmu membuat aku mual." Telinga
Paksi menjadi panas. Tetapi ketika ia berpaling kepada Nyi Permati dan Kemuning,
maka iapun menarik nafas dalam-dalam. Paksi mencoba untuk menenangkan
perasaannya yang bergejolak di dadanya. Dengan nada rendah, Paksipun kemudian
berkata, "Baiklah. Aku mohon diri, Ki Pananggungan." Lalu katanya, "Aku mohon
diri Bibi dan juga kau Kemuning. Aku mohon maaf, jika kalian juga menganggap aku
bersalah." "Sudahlah, pergilah. Jangan terlalu banyak bicara." Paksipun kemudian
melangkah keluar pintu. Ki Pananggungan bergeser mundur selangkah. Sementara itu
Nyi Permati dan Kemuning menjadi kebingungan. Bahkan Nyi Pananggunganpun
terheran-heran melihat sikap suaminya. Tetapi ternyata kemarahan Ki Pananggungan
tidak terhenti sampai sekian. Ketika kemudian Paksi turun ke halaman, Ki
Pananggungan justru telah menyusulnya sambil berkata, "Anak muda, kau kira kau
dapat pergi begitu saja?" Paksi berhenti melangkah. Ia mundur setapak ketika Ki
Pananggungan itu menyusulnya turun ke halaman. "Aku tidak tahu maksud ki
Pananggungan." "Kau adalah anak buah Bahu Langlang yang ganas itu. Kau telah
melakukan satu permainan yang tidak aku ketahui maksudnya. Nah, sekarang, untuk
apa kau berpura-pura dapat mengalahkan Bahu Langlang dan kemudian membawa
Kemuning kemari? Apakah dengan demikian kau mendapat tugas dari Bahu Langlang
untuk mengetahui rumahku, sehingga pada suatu saat ia akan datang untuk merampok
Kemuning dan seluruh harta bendaku, karena Bahu Langlang mengetahui bahwa aku
adalah seorang yang kaya." "Ki Pananggungan," berkata Paksi kemudian, "kenapa Ki
Pananggungan berprasangka demikian buruknya kepadaku? Seandainya saja aku
menolong Kemuning, tetapi aku tidak menyesal. Aku sudah merasa puas bahwa aku
telah berhasil membebaskan gadis itu dari penderitaan yang berkepanjangan."
"Jangan mengigau," potong Ki Pananggungan. "Sekarang katakan, untuk apa
sebenarnya kau antarkan Kemuning kemari?" "Ki Pananggungan," sahut Paksi, "aku
tidak akan dapat menjawab pertanyaanmu." "Setan kau anak muda. Aku tahu bahwa
tongkat itu adalah senjatamu. Tetapi itu sama sekali tidak menggetarkan aku.
Sekarang kau boleh pilih. Kau jawab pertanyaanku, atau kau tidak akan pernah
keluar dari halaman rumahku." "Aku tidak akan memilih, Ki Pananggungan," jawab
Paksi. "Tetapi sudah tentu aku tidak akan melepaskan nyawaku begitu saja.
Seandainya aku harus mati di sini, biarlah aku mati dalam mempertahankan hidupku
ini." "Bagus," sahut Ki Pananggungan, "bersiaplah. Pakailah tongkatmu. Aku akan
memakai senjataku." Paksi menjadi berdebar-debar. Ia tidak pasti, apakah yang
telah terjadi. Tetapi sudah tentu ia tidak akan membiarkan dirinya diperlakukan
tidak adil. Dalam pada itu, Ki Pananggunganpun telah mengurai senjatanya pula.
Sebuah cambuk yang berjuntai panjang, yang nampaknya selalu dikenakannya sebagai
ikat pinggangnya. Bahkan ketika ia tidur sekalipun. Nyi Pananggungan, Nyi
Permati dan Kemuningpun telah berdiri di pendapa pula. Mereka menjadi sangat
tegang. Lebih-lebih Nyi Permati. Ia tahu benar bahwa Paksi tidak bersalah.
Tetapi ia harus menghadapi Ki Pananggungan, seorang yang diketahui memiliki ilmu
yang tinggi. Tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Mereka hanya dapat
menyaksikan apa yang bakal terjadi dengan jantung yang berdebar-debar.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, cambuk Ki Pananggunganpun mulai bergetar.
Satu ledakan yang tidak terlalu keras telah terdengar. Sementara itu, Ki
Pananggungan itupun berkata, "Aku tidak ingin membangunkan tetangga-tetanggaku
karena ledakan cambukku ini." Namun telinga Paksi yang mendengar ledakan itu,
serta jantung Paksi yang tersentuh getarannya, merasakan bahwa ledakan yang
lunak itu justru mengandung tenaga yang sangat tinggi. Karena itu, maka iapun
berkata, "Kau tidak usah mengelabuhi aku, Ki Pananggungan." "Mengelabuhi apa?"
bertanya Ki Pananggungan. "Ledakan cambuk Ki Pananggungan bukan sekedar agar
tidak membangunkan tetanggatetangga." Wajah Ki Pananggungan berkerut. Hampir di
luar sadarnya ia berdesis, "Jadi kau dapat menangkap getar ilmu cambukku?" Paksi
tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi Ki Pananggungan betapapun tinggi
ilmu orang itu. Ki Pananggunganpun kemudian telah mulai menyerang dengan cambuk
itu tetapi tidak menggapainya. Bahkan Paksipun sempat meloncat maju pula sambil
menjulurkan tongkatnya. Ki Pananggungan seakan-akan memang menunggu. Dengan
cepat, Ki Pananggungan telah menghentakkan cambuknya sehingga juntainya telah
membelit tongkat Paksi. Dengan sertamerta Ki Pananggungan menarik cambuknya
untuk merenggut tongkat anak muda itu. Tetapi Ki Pananggungan terkejut. Tongkat
itu tidak terlepas dari tangan Paksi. Anak muda itupun seakan-akan tidak goyah
oleh tarikannya. Untuk beberapa saat mereka mengadu tenaga. Keduanyapun telah
mulai mengerahkan kekuatan mereka, bahkan mulai merambah ke tenaga dalam mereka
masing-masing. Ki Pananggungan benar-benar menjadi heran. Anak muda itu
mempunyai kekuatan dan tenaga dalam yang sangat besar. Ki Pananggungan tidak
mampu merenggut tongkat di tangan Paksi, meskipun Paksi yang berusaha untuk
menghentakkan cambuk Ki Pananggungan juga tidak berhasil. Namun Ki Pananggungan
dengan kemampuan ilmu cambuknya terpaksa mengurai belitan ujung cambuknya pada
tongkat Paksi, karena Ki Pananggungan tidak yakin bahwa ia akan dapat merampas
tongkat itu. Selanjutnya, Ki Pananggunganpun telah menyerang Paksi dengan
hentakan-hentakan cambuk sendal pancing. Namun kemudian juntai cambuk itu telah
menebas mendatar dengan derasnya. Bahkan kemudian juntai cambuk itu mampu
terjulur lurus menikam seperti ujung sebatang tombak. Paksipun menyadari, Ki
Pananggungan adalah seorang yang berilmu tinggi. Tidak seperti Bahu Langlang
yang garang tetapi tidak mempunyai landasan yang cukup meyakinkan. Karena
itulah, maka perkelahian itu menjadi semakin seru. Tongkat Paksi berputaran
dengan cepat. Namun sekali-sekali tongkat itu juga terjulur menyerang ke arah
jantung. Ujung cambuk Ki Pananggungan rasa-rasanya bergerak semakin cepat pula.
Tetapi tongkat Paksipun menjadi semakin berbahaya pula bagi lawannya. Dalam pada
itu, Paksi dengan serta-merta telah meloncat mengambil jarak ketika terasa
lengannya menjadi panas. Ternyata ujung cambuk Ki Pananggungan itu telah
menyengat kulitnya. Meskipun tidak terlalu dalam, tetapi Paksi sudah terluka
karenanya. Paksi memandang Ki Pananggungan dengan sorot mata yang membara. Di
dalam hatinya iapun berkata, "Apa sebenarnya yang dikehendaki orang ini? Tetapi
ia sudah benar-benar melukai lenganku. Aku tidak peduli lagi, apa yang
sebenarnya dikehendaki." Dengan demikian, maka Paksipun telah menghentakkan
kemampuannya pula. Sementara itu, terasa seakan-akan ujung cambuk Ki
Pananggungan terdengar berdesing di telinganya. Namun tongkatnyapun
sekali-sekali telah menyentuh pakaian Ki Pananggungan pula. Bahkan ketika ujung
cambuk Ki Pananggungan menggapai lambungnya, Paksi sempat meloncat menyamping.
Tetapi demikian ujung cambuk itu terayun lewat, maka Paksipun segera meloncat
dengan cepatnya sambil menjulurkan tongkatnya. Ki Pananggungan berusaha untuk
menghindar dengan memiringkan tubuhnya. Tetapi Ki Pananggungan ternyata telah
terlambat. Meskipun ujung tongkat Paksi tidak mengenai dadanya, tetapi ujung
tongkat itu telah mendorong bahunya. Ki Pananggungan berdesah tertahan.
Selangkah ia terdorong surut. Namun Ki Pananggungan justru telah meloncat surut
beberapa langkah untuk mengambil jarak. Tetapi Paksi tidak memberinya
kesempatan. Dengan tangkasnya ia meloncat memburu. Tongkatnya sesekali berputar.
Namun kemudian terjulur mengarah lambung. Pertempuran berikutnya menjadi semakin
sengit. Keduanya telah menapak pada tataran ilmu tertinggi mereka. Cambuk Ki
Pananggungan menggeliat dengan cepat, sementara tongkat Paksi berputar seperti
baling-baling. Namun Ki Pananggungan tidak pernah berhasil merampas tongkat
Paksi itu. Namun pengalaman dan kematangan sikap Ki Pananggungan ternyata ikut
menentukan keseimbangan dari pertempuran itu. Ketika mereka benar-benar sudah
sampai ke puncak, maka ternyata bahwa Paksi kadang-kadang masih terhambat oleh
kelambatannya mengambil sikap. Dalam pertempuran yang keras dan cepat itu,
setiap kejap dapat menentukan kelanjutannya. Kelambatan Paksi mengambil sikap
dalam perkelahian itu, kadang-kadang sangat merugikannya. Lawannya memanfaatkan
setiap keadaan sebaik-baiknya untuk mendesaknya. Bahkan kemudian sekali lagi
ujung cambuk Ki Pananggungan telah menggores pundaknya. Paksi yang menjadi
sangat marah itu masih sempat membuat pertimbangan. Ia yakin bahwa sulit baginya
untuk dapat mengalahkan lawannya. Ternyata Ki Pananggungan memiliki ilmu lebih
tinggi dari ilmu yang dimilikinya meskipun hanya selapis tipis. Tetapi Paksi
tidak akan menyerah. Ia akan dapat mengalami nasib yang sangat buruk di tangan
Ki Pananggungan yang mencurigainya bahwa ia adalah pengikut Bahu Langlang.
Karena itu, maka Paksi tidak mempunyai pilihan lain. Dalam keadaan yang
terdesak, maka Paksi telah meloncat mengambil jarak. Diangkatnya tongkat
tinggi-tinggi. Sekali berputar, kemudian tongkat itu melekat di sisi tubuhnya,
lurus mendatar menghadap ke arah lawannya. Tangan kirinya yang menyilang dadanya
menggenggam tongkatnya pada sisi kanan tubuhnya, sementara tangan kanannya
menggenggam tongkatnya lebih ke depan. Paksi memang belum pernah mengetrapkan
ilmu puncak yang disalurkan lewat tongkatnya. Tetapi ia pernah mendapatkan
petunjuk dari Ki Marta Brewok yang kemudian dikembangkannya menurut ketajaman
penalarannya. Dalam keadaan yang rumit dan mendesak itu, unsur gerak yang siap
mengungkapkan ilmunya itu seakan-akan telah hadir dengan sendirinya, seakan-akan
tangan dan kakinya yang sedikit merendah pada lututnya itu, tiba-tiba saja telah
bergerak sesuai dengan seharusnya yang dilakukan. Tetapi satu hal yang dalam
keadaan gawat itu tidak sempat diingatnya, Paksi memang pernah melihat lukisan
di dinding gua itu, unsur geraknya sebagaimana dilakukannya itu. Ki Pananggungan
yang melihat sikap Paksi itu terkejut. Tiba-tiba iapun meloncat surut untuk
mengambil jarak. Sebelum Paksi melepaskan serangan yang dilandasi dengan ilmu
pamungkasnya, maka Ki Pananggungan itupun berkata, "Tahan anak muda.
Berhentilah. Jangan kau lanjutkan ungkapan ilmumu itu." Paksi yang sudah siap
untuk meloncat menyerang, memang menjadi tertegun karenanya. Tetapi ia tetap
bersiap untuk meloncat menyerang dengan landasan ilmu puncaknya itu. "Kenapa Ki
Pananggungan mencegah aku? Apakah Ki Pananggungan menganggap bahwa tidak
sepantasnya aku mempergunakan ilmu puncak yang aku miliki meskipun aku sudah
terdesak dan tidak mungkin lagi bertahan tanpa landasan ilmu puncak ini?"
"Sabarlah, anak muda," suara Ki Pananggungan telah berubah. "Kau memang anak
muda yang luar biasa. Aku sama sekali tidak mengira bahwa kau telah berdiri di
atas tataran ilmu yang demikian dahsyatnya. Bahkan kau telah mampu melandasi
ilmumu dengan puncak ilmu yang sangat berbahaya. Tetapi puncak ilmumu itu tidak
hanya berbahaya bagi lawanmu. Landasan puncak ilmumu itu masih dapat
membahayakan dirimu sendiri." "Kenapa?" "Kau telah mempelajarinya dengan tuntas.
Bahkan hampir sempurna. Tetapi pada saat terakhir, kau masih berkesan sangat
tergesa-gesa. Kemapanan bagian dalam tubuhmu, nampaknya masih lamban dari
gejolak kemarahanmu, sehingga saatnya untuk melepaskan ilmumu masih belum tepat.
Seranganmu akan menjadi sangat berbahaya bagi lawanmu. Tetapi dengan perlawanan
yang mapan, maka jantungmu sendiri akan terluka. Apalagi jika lawanmu memiliki
kekuatan yang seimbang dengan kekuatan ilmu puncakmu, tetapi karena pengalaman
dan kematangan sikapnya lebih tinggi, maka kau mengalami kesulitan." "Kenapa Ki
Pananggungan menghiraukan keadaanku. Jika Ki Pananggungan memiliki pengalaman
dan kematangan ilmu lebih tinggi dari aku, kenapa Ki Pananggungan tidak
mengetrapkannya dan tidak perlu mempedulikan aku, apakah aku akan menjadi debu
atau adeg pengamun-amun." Ki Pananggungan tersenyum. Katanya, "Kau masih marah."
Paksi mengerutkan dahinya. Tetapi ia menjawab, "Ki Pananggungan telah melukai
aku." Ki Pananggungan tertawa. Katanya, "Bukankah luka itu tidak berbahaya. Kau
juga sudah menyakiti aku. Pundakku rasa-rasanya telah pecah oleh ujung
tongkatmu." "Aku tidak mengerti. Apa maksud Ki Pananggungan sebenarnya. Apakah
Ki Pananggungan sekedar mempermainkan aku. Tetapi karena Ki Pananggungan melihat
kemungkinan buruk, maka Ki Pananggungan lalu bersikap lain." "Aku mengerti bahwa
kau akan marah. Tetapi jangan mulai menyombongkan diri. Itu sama berbahayanya
dengan ketidakmapananmu untuk melepaskan ilmu pamungkasmu." Paksi tertegun
sejenak. Peringatan Ki Pananggungan itu di telinganya terdengar seolah-olah
gurunya, Ki Marta Brewoklah yang mengucapkannya. Jika ia terperosok ke dalam
sikap sombong, maka jalannya menuju ke masa depannya akan menjadi suram.
"Paksi," berkata Ki Pananggungan, "aku memang curiga, bahwa kau benar benar
mampu mengalahkan Bahu Langlang. Bukan karena kau adalah salah seorang
pengikutnya, tetapi aku menduga kau telah mengambil Kemuning dan bibinya dengan
cara yang licik. Karena itu, aku mengujimu, apakah kau benar-benar memiliki ilmu
yang pantas untuk mengalahkan Bahu Langlang. Namun ternyata ilmumu jauh lebih
tinggi dari ilmu yang diperlukan untuk mengalahkan Bahu Langlang, karena aku
tahu tataran kemampuannya meskipun aku belum pernah berhadapan dengan orang itu.
Bahkan aku sempat menjadi jengkel, karena kau ternyata mampu mengimbangi ilmuku
sendiri. Tetapi ketika kau akan melepaskan ilmu pamungkasmu, aku melihat
kelemahanmu. Jika aku terpaksa bertahan akan terjadi benturan, maka aku
mencemaskan bagian dalam tubuhmu. Nampaknya kau masih memerlukan pengalaman dan
kemapanan. Meskipun demikian, aku sudah sangat mengagumimu. Aku belum pernah
bertemu ataupun mendengar, bahwa anak muda seumurmu, sudah memiliki tataran ilmu
sebagaimana kau miliki." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, ketiga
orang perempuan yang menyaksikan pertempuran itu berhenti, menjadi sedikit lega.
Tetapi mereka tidak mengerti, apa sebenarnya yang dikehendaki oleh Ki
Pananggungan. Pembicaraan pendek itu memang sedikit membuka hati mereka, namun
mereka masih memerlukan penjelasan. "Marilah, Paksi," berkata Ki Pananggungan.
"Jika kau sudah tidak marah lagi, naiklah. Kita kembali duduk di ruang dalam.
Barangkali ada yang perlu kita bicarakan." Paksi menjadi ragu-ragu. Tetapi
ketika ia memandang wajah Ki Pananggungan di bawah cahaya suram lampu minyak
pendapa, rasa-rasanya Paksi dapat mempercayainya. Karena itu, maka Paksipun
tidak menolak. Iapun kemudian naik ke pendapa dan berjalan lewat pintu
pringgitan masuk ke ruang dalam. Seperti ketika Paksi bersama Nyi Permati dan
Kemuning baru datang, maka merekapun duduk di ruang tengah itu. Suasana memang
masih agak tegang. Paksi belum dapat melepaskan gejolak perasaannya. Apalagi
lukanya masih terasa pedih. Namun Ki Pananggungan itupun berkata, "Biarkan Nyi
Permati mengobati lukamu, Paksi. Barangkali kau belum mengetahui, bahwa Bibi
Permati adalah seorang yang sangat menguasai ilmu obat-obatan." "Ah, tidak
seperti itu. Tetapi barangkali aku dapat membantu membersihkan luka-lukamu itu,"
sahut Nyi Permati. Sementara Nyi Permati mengobati luka yang tidak terlalu dalam
pada tubuh paksi, maka Nyi Pananggunganpun telah berada di dapur. Kemuning ikut
pula membantunya. Nyi Pananggungan telah menghidangkan minuman hangat dan
makanan seadanya. Sayur yang dingin telah dihangatkan. Sementara itu, beberapa
butir telur di petarangan, telah digoreng pula. Setelah makan, Ki Pananggungan
telah mempersilahkan tamu-tamunya untuk beristirahat. Kepada Paksi, Ki
Pananggungan itupun berkata, "Besok sajalah kau bercerita tentang macammacam
hal. Sekarang beristirahatlah. Kau dapat tidur di gandok." Paksi kemudian telah
diantar sendiri oleh Ki Pananggungan ke gandok, setelah membersihkan dirinya di
pakiwan. Tetapi malam tinggal sejengkal. Demikian Paksi berbaring, maka
terdengar suara ayam jantan berkokok menyambut fajar. Paksi tidak sempat tidur
malam itu. Beberapa saat kemudian, iapun harus bangkit dari pembaringannya pula.
Ketika matahari terbit, Ki Pananggungan telah menyiapkan sepasang lembu dan
bajaknya. Pagi itu ia akan pergi ke sawah untuk menyelesaikan pekerjaannya yang
tersisa sedikit kemarin. Seterusnya ia tinggal meratakan sawahnya dengan garu
esok pagi sebelum lusa mulai ditanami padi. Paksi yang juga sudah berbenah diri
mendekati Ki Pananggungan sambil bertanya, "Ki Pananggungan melakukan kerja di
sawah itu sendiri?" "Aku mengerjakan sawah yang sekeping di luar padukuhan ini.
Sementara sawahku yang ada di sebelah tanggul sungai itu dikerjakan oleh
orang-orang kepercayaanku. Mereka adalah pekerjapekerja yang baik, teliti dan
jujur." "Apakah aku diperkenankan ikut ke sawah?" bertanya Paksi. "Aku tidak
lama berada di sawah. Aku tinggal menyelesaikan pekerjaanku kemarin yang
tersisa, nanti aku segera kembali dan kita mempunyai banyak waktu untuk
berbicara. Kecuali itu, apakah kau yakin bahwa Bahu Langlang benar-benar
melepaskan Kemuning?" Wajah Paksi berkerut. Tetapi menurut perhitungannya Bahu
Langlang tidak akan berani lagi mengejarnya, karena apapun yang dilakukan oleh
Bahu Langlang, namun ia akan dapat mengalahkannya. Namun Ki Pananggungan itupun
kemudian berkata, "Ingat Paksi, Bahu Langlang tidak sendiri. Ia mempunyai sebuah
kelompok yang merasa terikat menjadi satu. Kecuali itu, Bahu Langlang juga
mempunyai banyak kawan. Mungkin ia masih berniat untuk mengambil Kemuning.
Karena itu, aku atau kau sebaiknya tinggal di rumah." Paksi mengerti maksud Ki
Pananggungan. Karena itu, maka katanya, "Baiklah, Ki Pananggungan. Aku akan
berada di rumah." Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Pananggunganpun telah
meninggalkan halaman rumahnya sambil membawa bajak dan sepasang lembu. Sementara
Paksipun telah naik ke serambi gandok. Paksipun kemudian duduk di atas sebuah
amben yang panjang. Dalam kesendiriannya, Paksi sempat merenungi sikap Ki
Pananggungan. Ternyata Ki Pananggungan adalah seorang yang berilmu tinggi.
Tetapi dalam ujudnya sehari-hari sama sekali tidak ditampakkannya. Pada saat ia
memanggul bajak dan menggiring sepasang lembu, Ki Pananggungan benar-benar
nampak sebagai seorang petani kebanyakan. "Apakah orang di sekitar tempat ini
tidak tahu bahwa Ki Pananggungan adalah seorang yang berilmu tinggi? Padahal Ki
Pananggungan sudah tinggal di sini bertahun-tahun," bertanya Paksi dalam
hatinya. Tetapi Paksi tidak ingin duduk merenung di serambi gandok itu. Iapun
kemudian pergi ke pakiwan. Menimba air untuk mengisi jambangan. Seorang pembantu
laki-laki di rumah Ki Pananggungan itu mendekatinya sambil berkata, "Sudahlah,
anak muda. Biarlah nanti aku yang melakukannya." Tetapi Paksi tersenyum sambil
berkata, "Tidak apa-apa, Ki Sanak. Aku sudah terbiasa melakukannya." Pembantu
laki-laki itu tidak dapat mencegahnya. Bahkan ketika kemudian Paksi melihatnya
membelah kayu, setelah Paksi selesai mengisi jambangan di pakiwan, telah
mendekatinya pula. Katanya, "Apakah masih ada kapak sebuah lagi?" Orang itu
termangu-mangu. Sementara itu sambil tersenyum Paksi mengambil kapak di tangan
orang itu, "Kau cari kapak yang lain." Orang itu tidak sempat mencegahnya.
Ketika kemudian Paksi mengayunkan kapak itu untuk membelah kayu, maka orang itu
memang harus mencari kapak yang lain. Ia tidak sekedar menonton Paksi membelah
kayu bakar itu sendiri. Paksi membelah kayu bakar itu sendiri, sementara kayu
itu masih seonggok. Namun ketika mereka bersama-sama membelah balok-balok kayu
sebatang pohon kayu yang tumbuh di sudut kebun belakang yang ditebang dua hari
sebelumnya, orang itu menjadi heran. Orang itu tidak menyangka, bahwa Paksi
dapat melakukan jauh lebih baik dan lebih cepat dari yang dilakukannya. "Kau
nampak sudah terbiasa membelah kayu balok, anak muda," berkata orang itu.
"Pamanku seorang belandong kayu, Ki Sanak. Meskipun tidak selalu, aku sering
membantunya jika satu dua orang membantunya berhalangan." Orang itu
mengangguk-angguk sambil berdesis, "Pantas hasil kerjamu dua kali lipat dari
hasil kerjaku, anak muda." Paksi tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab lagi.
Tangannya sajalah yang bergerak mengangkat kapak itu tinggi-tinggi. Kemudian
terayun deras. Tajam kapaknya itu menghunjam ke tengahtengah balok kayu dan
kemudian membelahnya. Di tengah hari, keduanya berhenti. Pembantu di rumah Ki
Pananggungan itu berkata, "Tidak baik bekerja saat matahari tepat di atas kepala
kita. Kita harus beristirahat barang sebentar." Paksi memang beristirahat.
Keduanya duduk di bawah rumpun bambu yang rimbun. Sambil menyodorkan sebuah
gendi berisi air dingin yang sejuk orang itu bertanya, "Kau haus?" Paksi
menerima gendi itu dan meneguk air dari dalamnya. Betapa segarnya. Sambil
menarik nafas panjang Paksipun menyerahkan gendi itu sambil berdesis, "Aku
memang haus sekali." Paksi kemudian duduk bersandar sebatang pohon. Angin yang
semilir lembut membuatnya agak mengantuk, justru karena semalam Paksi hampir
tidak memejamkan matanya sama sekali. Tetapi ketika matanya menjadi redup, ia
mendengar suara memanggilnya, "Kakang Paksi." Paksi berpaling. Dilihatnya
Kemuning berdiri termangu-mangu beberapa langkah daripadanya. "O," desah Paksi
sambil bangkit dengan tergesa-gesa. "Paman sudah pulang dari sawah. Paman
memanggil Kakang." Paksi mengangguk kecil. Katanya, "Baik Kemuning. Aku akan
menemuinya." "Paman ada di pringgitan." Ketika Kemuning kemudian
meninggalkannya, maka Paksipun membenahi baju dan kainnya, keringatnya sudah
mulai kering. "Aku dipanggil Ki Pananggungan," berkata Paksi kepada pembantu
rumah itu. Orang itu mengangguk. Katanya, "Biasanya Ki Pananggungan belum pulang
pada saat seperti ini. Jika sudah terlanjur berada di sawah, meskipun kerja
sudah selesai, Ki Pananggungan terbiasa menunggui sawahnya sampai matahari
turun." "Panasnya hari ini," desis Paksi, "agaknya Ki Pananggungan sudah
merencanakan sejak berangkat untuk pulang agak lebih cepat dari biasanya." "Ya,"
berkata orang itu. "Tidak ada orang yang membawa makan dan minum ke sawah."
Paksi tidak berbicara lagi. Iapun kemudian melangkah menuju ke pakiwan. Setelah
mencuci kaki dan tangannya, maka Paksipun langsung pergi ke pringgitan menemui
Ki Pananggungan yang telah duduk lebih dahulu. Dua buah mangkuk minuman ternyata
sudah terhidang. Bahkan beberapa potong makanan. "Aku sengaja pulang lebih
awal," berkata Ki Pananggungan. "Sisa kerja kemarin itu sudah selesai. Bahkan
aku sempat memandikan sepasang lembu itu di sungai." "Ki Pananggungan melakukan
semuanya itu sendiri?" "Ya. Aku memang anak petani." "Tetapi bukan petani
kebanyakan," sahut Paksi. Ki Pananggungan tertawa. Katanya, "Satu kebetulan
bahwa aku tinggal bersama kakek. Juga bersama ayah Kemuning. Di samping
mengajari kami bertani, kakek juga mempunyai kelebihan lain. Kami adalah
murid-murid kakek." "Apakah sekedar kebetulan?" bertanya Paksi. Ki Pananggungan
tertawa berkepanjangan. Katanya, "Tetapi ada unsur kebetulan. Namun kemudian
kami menjadi bersungguh-sungguh. Kami bekerja keras bersama kakek
bertahun-tahun, sehingga akhirnya kami masing-masing berumah tangga sendiri.
Meskipun demikian, kami masih selalu datang ke rumah kakek untuk mematangkan
ilmu yang kami warisi dari kakek itu, sehingga saatnya wadag kakek tidak
mengijinkan lagi bermain-main di dalam sanggar. Tetapi dalam keadaan wadagnya
yang semakin lemah, kakek masih tetap membimbing kami." Paksi mengangguk-angguk.
Dengan kerja keras Ki Pananggungan akhirnya menjadi seorang yang berilmu tinggi,
meskipun penampilannya sehari-hari masih tetap sederhana dan tidak lebih dari
seorang petani biasa. Namun sekilas terngiang di telinganya kata-kata orang yang
datang mencari ndaru yang dianggapnya jatuh di sekitar rumah kecilnya, hubungan
antara ilmu dan amal. "Apakah ilmu Ki Pananggungan itu memberikan arti kepada
sesamanya, jika ia tidak pernah mengamalkannya?" bertanya Paksi di dalam
hatinya, namun yang kemudian dijawabnya sendiri, "Tetapi setidak-tidaknya ilmu
Ki Pananggungan yang tinggi itu tidak mengganggu orang lain atau bahkan
dipergunakannya untuk niat buruk." Demikianlah, maka Ki Pananggunganpun kemudian
telah mempersilahkan Paksi menghirup minuman hangat dan mencicipi makanan yang
dihidangkan. "Bibimu telah membuatnya sendiri," berkata Ki Pananggungan. Sambil
makan makanan yang dihidangkan, maka Ki Pananggungan masih ingin mendengarkan
ceritera Paksi tentang dirinya. Namun Paksi masih tetap menyembunyikan
jatidirinya yang sebenarnya. Ia tidak menyebut siapakah ayah dan ibunya. Paksi
tidak mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang penjabat tinggi istana. Tetapi di
luar sadarnya Paksi telah memperbandingkan kemampuan ayahnya dengan Ki
Pananggungan. Meskipun Ki Pananggungan tetap seorang petani yang setiap hari
bekerja di sawah, namun orang itu tentu memiliki ilmu yang lebih tinggi dari
ayahnya. Namun tiba-tiba saja Paksi bertanya kepada diri sendiri, "Tetapi apakah
ilmuku sudah lebih tinggi dari ilmu ayah?" Paksi menarik nafas panjang. Tetapi
ia tidak mau mencari jawab atas pertanyaannya itu. Dalam pada itu, maka dalam
pembicaraan selanjutnya, Ki Pananggungan tahu, bahwa pengalaman Paksi masih
terlalu sempit. Ia masih belum mengenal nama-nama orang yang disegani dalam
dunia olah kanuragan. "Paksi," berkata Ki Pananggungan selanjutnya, "aku yakin,
bahwa sengaja atau tidak, jika pada suatu saat kau memasuki dunia olah
kanuragan, maka kau tentu berada di lapisan teratas. Dalam satu dua tahun, jika
ilmumu benar-benar matang, maka aku tidak akan mampu mengatasimu. Aku sudah
melihat, bahwa kau sudah menyimpan ilmu andalan yang berbahaya yang akan dapat
melepaskanmu dari kesulitan dalam keadaan terpaksa. Aku tidak mengatakan bahwa
kau tidak dapat dikalahkan. Semua orang tentu dapat dikalahkan pada suatu saat.
Aku pun tidak mengatakan bahwa tidak ada orang yang memiliki ilmu pada tataran
yang sama dengan ilmumu." Paksi mengangguk-angguk kecil. Katanya, "Apa yang aku
miliki adalah jauh dari tataran yang pantas." Ki Pananggungan tersenyum.
Katanya, "Semula aku mengira bahwa kau adalah seorang anak muda yang berilmu
tinggi dan agak sombong. Tetapi ternyata aku keliru." "Aku tidak mempunyai
maksud apa-apa dengan sikapku, Ki Pananggungan." "Aku mengerti. Karena itu, aku
justru mempercayaimu," berkata Ki Pananggungan kemudian. Lalu katanya pula,
"Karena itu, aku justru ingin memperkenalkan kau dengan beberapa orang yang
namanya mencuat di atas rata-rata dalam dunia olah kanuragan, agar kau dapat
berhati-hati jika kau bertemu dengan mereka. Seperti yang kau ceriterakan, kau
pernah melihat orang-orang dari Perguruan Goa Lampin dengan ciri-cirinya dan kau
pun pernah melihat pemimpinnya yang juga dianggap mahagurunya. Kau juga pernah
bertemu dengan orang-orang dari Perguruan Sad dan orang-orang dari Perguruan
Alas Tegal Arang di pinggir Kali Praga. Tetapi kau belum pernah bertemu atau
melihat kedua orang pemimpin tertinggi dari kedua perguruan yang terakhir itu.
Juga orang lain yang nama dan ciri-cirinya pantas kau kenal." Paksi
mengangguk-angguk. Katanya, "Aku akan sangat berterima kasih, Ki Pananggungan.
Mungkin dalam perjalananku mendatang, aku bertemu dengan mereka, sehingga aku
dapat menghindar." Ki Pananggungan tersenyum. Menilik ilmu yang dimilikinya,
Paksi tidak perlu menghindari mereka. Tetapi Ki Pananggungan tidak
mengatakannya. Bagi Ki Pananggungan sendiri, menghindar bila masih mungkin,
memang lebih baik dari benturan yang harus terjadi. Demikianlah, maka Ki
Pananggunganpun kemudian telah menyebut beberapa nama dan ciricirinya. Paksi
mendengarkan dengan penuh perhatian. Tetapi sampai nama yang terakhir yang
disebutnya beserta ciri-cirinya, Ki Pananggungan tidak menyebut Ki Marta Brewok
serta ciri-cirinya. Seandainya ia dikenal dengan nama yang lain, namun ciri-ciri
yang menonjol akan disebutkannya. Demikian pula orang yang telah datang
kepadanya untuk mencari cincin yang dikatakannya jatuh dari langit itu.
Ciri-ciri orang itu juga tidak disebut sama sekali. Ki Pananggungan yang
mengenal orang berilmu tinggi yang tersebar luas di tanah ini juga tidak
menyebut seorang pengemis yang telah memberikan tongkat itu kepadanya, meskipun
Ki Pananggungan sempat menyebut nama Kebo Lorog. Dengan demikian, Paksi
menganggap bahwa setidak-tidaknya Ki Marta Brewok bukan orang yang mengagungkan
kemampuan serta namanya. Demikian pula pengemis yang berilmu tinggi yang telah
memberinya tongkat itu. Bagi Paksi orang yang datang mencari cincin itu juga
mengherankannya. Jika saja saat itu Ki Marta Brewok tidak datang pada saat yang
bersamaan, maka Paksi akan dapat mengira bahwa orang itu adalah Ki Marta Brewok.
Untuk beberapa saat lamanya mereka masih berbincang. Ki Pananggungan memberikan
banyak petunjuk melengkapi petunjuk-petunjuk Ki Marta Brewok. Meskipun Paksi
yakin bahwa ilmu Ki Marta Brewok tentu lebih tinggi dari Ki Pananggungan, namun
Ki Marta Brewok nampaknya tidak sempat memberikan banyak petunjuk tentang dunia
kanuragan serta orang-orang yang menghuninya. Ki Marta Brewok tidak pernah
menyebut nama-nama serta ciri-ciri orang yang dapat membahayakan dirinya. Namun
pembicaraan itu terhenti. Kemuning yang keluar dari pintu pringgitan
memberitahukan kepada pamannya, bahwa makan siang telah tersedia. Sejenak
kemudian, maka Ki Pananggungan itupun telah berada di ruang dalam bersama Paksi.
Tetapi agaknya mereka akan makan siang berdua saja. Demikian mereka selesai
makan siang, maka Paksipun telah menyatakan niatnya untuk melanjutkan
perjalanannya. Dengan nada dalam Paksi itupun berkata, "Aku sudah cukup lama
berada di rumah ini, Ki Pananggungan. Aku mengucapkan terima kasih atas segala
petunjuk Ki Pananggungan." Tetapi Ki Pananggungan itu menggeleng. Katanya, "Kau
tidak boleh segera pergi. Kau akan tinggal di sini. Sedikitnya sepekan. Baru
kita yakin, bahwa Bahu Langlang tidak akan menyusul Kemuning. Bukankah kau sudah
menolong dan menyelamatkan Kemuning dari tangan Bahu Langlang. Nah, jika
demikian, maka lakukanlah sampai tuntas." Paksi menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ternyata ia tidak dapat memaksa untuk meninggalkan tempat itu. Karena
itulah, maka Paksi masih harus tetap tinggal sampai batas waktu yang diberikan
oleh Ki Pananggungan sehingga kerjanya dapat disebutnya tuntas. Di hari
berikutnya, Ki Pananggunganpun telah pergi ke sawah pula. Sementara Paksi telah
melakukan pekerjaan sehari-hari bersama pembantu laki-laki di rumah itu. Dari
pintu butulan Kemuning sering mengamati apa yang dilakukan oleh Paksi. Kepada
bibinya Kemuning sudah memberitahukan, bahwa Paksi melakukan pekerjaan yang
seharusnya tidak dilakukannya karena ia seorang tamu di rumah itu. Tetapi baik
Nyi Pananggungan maupun Nyi Permati telah memberikan jawaban yang sama, "Paksi
memang menghendakinya, Kemuning. Ia tidak dapat tinggal diam." Ketika panas
matahari menjadi terik, maka Kemuning yang melihat keringat Paksi bagaikan
terperas dari tubuhnya di saat ia membelah balok-balok kayu dengan kapak, bahkan
Paksi telah menanggalkan bajunya pula, seolah-olah merasakan betapa kering
tenggorokannya. Meskipun Paksi itu dapat pergi ke sumur mengambil air jika ia
tidak tahan lagi atau air gendi yang terletak tidak jauh dari onggokan kayu-kayu
gelondong yang dibelahnya, jika gendi itu belum menjadi kosong, namun Kemuning
telah terdorong untuk membawa bukan hanya semangkok, tetapi sebuah teko yang
agak besar berisi wedang sere. "Minumlah, Kakang. Wedang sere dengan gula
kelapa. Sudah dingin," Kemuning mempersilahkan sambil tersenyum. "Terima kasih,
Kemuning," sahut Paksi sambil meletakkan kapaknya. Untuk memuaskan Kemuning,
maka Paksipun kemudian telah menuang wedang sere itu ke dalam mangkuk dan
kemudian menghirupnya sampai mangkuknya kering. "Segar sekali, Kemuning. Terima
kasih." Kemuning masih tersenyum. Namun kemudian iapun beranjak pergi dan
kembali ke dapur. Sepeninggal Kemuning Paksi justru memungut gendi yang berisi
air yang dingin sambil berkata, "Wedang sere membuat keringatku semakin banyak
mengalir." Pembantu rumah yang bersama Paksi membelah kayu itu tertawa. Katanya,
"Tentu lebih segar air dingin di dalam gendi itu." Tetapi Paksi tidak ingin
mengecewakan Kemuning. Karena itu, maka ia sudah menuang lagi wedang sere itu ke
dalam mangkuknya. Namun ketika ia yakin Kemuning tidak melihatnya, maka
dituangnyalah wedang sere itu di tanah. Seperti yang diminta oleh Ki
Pananggungan, maka Paksi masih tetap tinggal di rumah itu di hari berikutnya.
Namun Paksi sendiri tidak menyadari, bahwa ia telah menjadi kerasan tinggal di
rumah itu. Apalagi ketika ia menyadari, bahwa Kemuning adalah gadis yang ramah.
Yang menyapanya sambil tersenyum. Mempersilahkannya dengan kata-kata yang manis.
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Kadang-kadang Paksi harus memperingatkan
dirinya sendiri, "Umurmu baru delapan belas." Namun pada umur-umur itu, seorang
anak muda memang sudah dapat mengenali kecantikan seorang gadis. Di hari
berikutnya, maka Ki Pananggungan tidak pergi ke sawah seperti hari-hari
berikutnya. Pekerjaannya sudah selesai. Sawahnya sudah diratakan dengan garu,
sehingga sudah siap untuk ditanami. Karena itu, maka Nyi Pananggunganlah yang
pergi ke sawah bersama beberapa orang perempuan yang akan menanam padi.
Sementara pembantunya akan mempersiapkan bibit padi yang akan ditanam. Hari itu,
Ki Pananggungan dapat lebih banyak berbincang dengan Paksi. Ketika Paksi akan
melakukan pekerjaan sebagai dilakukannya di hari-hari sebelumnya, Ki
Pananggungan telah mencegahnya. Katanya, "Duduk sajalah di serambi gandok,
Paksi. Aku ingin menikmati hari istirahatku setelah membajak dan meratakan
sawahku beberapa hari ini." Keduanyapun kemudian telah duduk di serambi. Mereka
berbincang tentang berbagai macam hal. Dari cara menanam padi dan palawija di
sawah sampai dengan dunia olah kanuragan. Namun tiba-tiba saja mereka terkejut.
Mereka melihat dua orang laki-laki dan perempuan memasuki halaman. Mereka
berjalan tertatih-tatih. Agaknya laki-laki itu tidak dapat berjalan dengan baik,
sehingga isterinya harus menolongnya. Paksi yang kemudian bangkit berdiri
berdesis, "Bahu Langlang." Ki Pananggunganpun bangkit pula. Di luar sadarnya
iapun mengulang, "Bahu Langlang." Keduanyapun turun ke halaman dengan hati-hati.
Namun mereka melihat Bahu Langlang tidak sebagai seorang laki-laki yang perkasa.
Tetapi orang itu lebih mirip dengan laki-laki yang cacat, yang berjalan dengan
bantuan orang lain. "Apa maksudmu datang kemari, Ki Bahu Langlang. Apakah kau
akan mengambil Kemuning?" bertanya Paksi. "Tidak. Tidak, Ngger. Aku sama sekali
tidak akan berani menyebut nama gadis kecil itu lagi." "Jadi, apa maksudmu?"
bertanya Paksi. "Aku hanya ingin berceritera sedikit tentang keadaanku
sepeninggalmu." "Dari mana kau tahu, bahwa kami berada di rumah ini?" "Bukankah
kau mengatakan bahwa kau akan pergi ke Padukuhan Kembang Arum. Aku menyusulmu ke
Kembang Arum dengan harapan bahwa kau masih berada di sini." "Tetapi dari siapa
kau tahu bahwa kami berada di rumah ini dan bukan rumah yang lain di Padukuhan
Kembang Arum yang cukup luas ini?" "Kami bertanya-tanya sepanjang jalan, tempat
tinggal orang-orang yang baru saja datang di padukuhan ini." Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Agaknya orang-orang Kembang Arum sudah mengetahui, bahwa di rumah
Ki Pananggungan telah tinggal orang-orang baru yang datang dari jauh. Tetapi itu
tidak aneh, karena Kemuning dan Nyi Permati memang sering ikut pergi ke pasar
bersama Nyi Pananggungan. "Marilah, duduklah," Ki Pananggungan mempersilahkan
mereka naik ke pendapa. Bahu Langlang memandang orang itu dengan kerut di dahi.
Sementara Paksipun berkata, "Ki Pananggungan ini adalah pemilik rumah ini. Paman
Kemuning yang dicarinya itu." "O," Bahu Langlang mengangguk hormat. "Kami mohon
maaf, bahwa kami telah menyulitkan Kemuning dan Ny Permati. Tetapi kami sudah
berjanji bahwa kami tidak akan mengganggunya lagi. Apalagi setelah kami
mengalami malapetaka seperti sekarang ini." "Apa yang telah terjadi?" bertanya
Paksi. Namun Ki Pananggunganpun berkata, "Marilah. Silahkan naik." Mereka
berempatpun kemudian telah naik ke pendapa. Dengan nada penyesalan, Bahu
Langlang masih mengulangi permohonan maafnya karena tingkah lakunya terhadap
Kemuning. Namun kemudian Paksipun bertanya, "Tetapi apa yang terjadi kemudian
atas diri Ki Bahu Langlang?" "Peringatan yang telah kau berikan itu benar-benar
terjadi, anak muda. Dua orang perempuan telah datang. Mereka mengaku dari
Perguruan Goa Lampin. Tetapi karena peringatanmu, maka ketika mereka mencari
Bahu Langlang, maka aku katakan bahwa Bahu Langlang tidak ada. Bahu Langlang
telah pergi. Kedua orang perempuan itu telah memasuki rumahku dan melihat-lihat
keadaan di dalamnya. Namun kemudian merekapun pergi sambil berpesan, agar Bahu
Langlang lain kali bersedia menemui mereka." Bahu Langlang itupun berhenti
sejenak. Namun kemudian katanya selanjutnya, "Tetapi di hari berikutnya telah
datang seorang laki-laki yang mengaku dari perguruan di hutan Tegal Arang, di
pinggir Kali Praga. Aku juga mengatakan kepadanya, bahwa Bahu Langlang sedang
pergi. Semula semua orang-orang di rumahku mengiakannya. Tetapi tibatiba di luar
dugaan, perempuan yang aku sakiti di saat kau datang itulah yang mengatakan
kepada laki-laki dari Tegal Arang itu, bahwa akulah sebenarnya Bahu Langlang.
Aku memang tidak dapat menghindar lagi. Bagaimanapun juga aku merasa bahwa aku
adalah seorang laki-laki. Karena itu, aku mencoba untuk melawannya. Tetapi
perlawananku sama sekali tidak berarti. Aku justru berada dalam keadaan seperti
ini." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Kau tentu tidak akan dapat melawan
mereka. Nah, sekarang, apakah kau bermaksud mengungsi kemari?" "Tidak, Ngger.
Aku hanya lewat. Aku justru ingin memperingatkanmu, bahwa orang-orang yang
pernah kau sebut itu berkeliaran sampai kemana-mana. Bahkan mungkin akan ampai
ke Kembang Arum ini." "Tidak, Ki Bahu Langlang," jawab Paksi. "Mereka tidak akan
sampai ke Kembang Arum. Orangorang itu mengira bahwa ndaru yang mereka duga akan
membawa keberuntungan itu jatuh di sekitar lingkunganmu dan bahkan sedikit ke
utara." "Ya. Nampaknya mereka memang mencari sesuatu," sahut Bahu Langlang.
"Kemudian apa yang terjadi alas dirimu?" bertanya Paksi kemudian. "Aku hampir
mati, Ngger. Perempuan yang mengkhianati aku itupun kemudian ikut pergi dengan
laki-laki itu." Bahu Langlang berhenti sejenak. Sementara itu isterinya berkata,
"Perempuan itu mendendam Kakang Bahu Langlang." "Aku dapat mengerti," jawab
Paksi. "Kau telah menyakitinya dengan sewenang-wenang, Ki Bahu Langlang." Ki
Bahu Langlang mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Perempuan itu telah membalas
dendam. Ia merasa gembira melihat aku terbaring di halaman hampir mati. Tetapi
itu bukan salahnya." "Sudahlah," berkata Paksi. "Ki Bahu Langlang sudah selamat.
Lalu apa yang akan kau lakukan?" "Aku hanya ingin singgah, Ngger. Aku ingin
mengungsi ke rumah salah seorang kawan baikku. Mudah-mudahan ia bersedia
menerima aku." "Ki Sanak tidak usah tergesa-gesa," berkata Ki Pananggungan. "Aku
sudah banyak mendengar tentang Ki Sanak dari Paksi. Nampaknya Ki Sanak
benar-benar sudah berubah. Jika Ki Sanak tidak berkeberatan, aku dapat
menawarkan tempat bermalam bagi Ki Sanak sebelum Ki Sanak meneruskan
perjalanan." "Terima kasih, Ki Pananggungan. Bahwa Ki Pananggungan sudah
memaafkan aku, aku sudah berbesar hati. Dengan demikian aku akan pergi tanpa
membawa beban." "Tetapi Ki Bahu Langlang masih nampak sulit untuk berjalan.
Apalagi perjalanan jauh." "Tidak, Ki Pananggungan," jawab Bahu Langlang. "Aku
sudah sering mengalami kesulitan yang lebih parah dalam petualanganku.
Seandainya di hari pertama ketika dua orang perempuan dari Goa Lampin itu
datang, perempuan yang aku sakiti itu membuka rahasiaku, mungkin akibatnya akan
lebih parah. Kedua orang perempuan itu agaknya tidak kalah garangnya dengan
orang dari Tegal Arang itu. Sementara itu orang Tegal Arang itu menjadi agak
lunak justru karena perempuan yang aku sakiti itu bersedia ikut bersamanya.
Dengan demikian, maka laki-laki dari Tegal Arang itupun segera pergi
meninggalkan rumahku. Namun ternyata aku masih hidup. Tetapi aku sadar, bahwa
aku harus melarikan diri. Namaku agaknya justru menjadi beban yang tidak
terusung di atas pundakku. Karena itu maka aku akan mempergunakan nama lain
seperti yang Angger Paksi katakan dan selanjutnya melupakan masa lampauku yang
gelap. Aku harus mengakui, bahwa sebenarnya aku bukan apaapa dengan kehadiran
orang-orang dari beberapa perguruan yang telah mempunyai nama itu." Paksi
menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Pananggunganpun berkata, "Sukurlah jika
peristiwa yang terjadi pada Ki Sanak itu dapat membuka hati Ki Sanak." "Yang
pertama memaksa aku mengakui bahwa aku tidak berarti apa-apa adalah Angger
Paksi. Selanjutnya, peristiwa itu terjadi, sehingga rasa-rasanya aku memang
tidak mempunyai pilihan lain," berkata Bahu Langlang. "Ki Sanak, aku masih ingin
menawarkan, apakah Ki Sanak bersedia beristirahat di sini sebelum meneruskan
perjalanan," berkata Ki Pananggungan kemudian. Tetapi Bahu Langlang itupun
menyahut, "Terima kasih, Ki Pananggungan. Terima kasih. Aku akan melanjutkan
perjalanan. Aku hanya sekedar singgah dan ingin mengucapkan terima kasih kepada
Angger Paksi atas peringatan yang telah diberikan kepadaku sebelum ia
meninggalkan rumahku. Jika aku terlalu lama di sini, maka aku akan
menakut-nakuti Kemuning. Ketenangannya akan terganggu. Adalah kebetulan sekali
jika Kemuning tidak tahu bahwa aku singgah kemari." "Baiklah," berkata Ki
Pananggungan. "Jika Ki Sanak memang akan melanjutkan perjalanan, apa boleh buat,
tetapi Kemuning tidak akan terganggu ketenangannya. Kami dapat memberitahukan
kepadanya, bahwa semuanya sudah berubah." "Aku mohon diri, Ki Pananggungan. Aku
akan melanjutkan perjalanan, tetapi aku masih ingin menyampaikan pesan kepada
Paksi untuk berhati-hati. Nampaknya orang-orang yang berkeliaran itu memang
mencari sesuatu yang mereka anggap sangat berharga. Jika mereka melihat ndaru
itu jatuh di sekitar tempat itu, maka mereka tentu akan berusaha untuk
menemukannya." "Sebenarnya tidak masuk akal jika mereka mencari ndaru yang jatuh
dari langit. Tetapi mereka menganggap bahwa yang jatuh itu adalah sesuatu yang
sangat berharga yang cahayanya memancar seterang ndaru. Kecemerlangan cahayanya
itu menunjukkan betapa tingginya nilai benda yang jatuh itu." "Apapun yang
terjadi sebenarnya, namun orang-orang yang berkeliaran itu sangat berbahaya,"
berkata Bahu Langlang. "Angger Paksi sendiri dapat melihat sendiri apa yang
terjadi pada diriku sekarang, meskipun Anggerlah yang telah memperingatkan aku
lebih dahulu sebelumnya." "Terima kasih, Ki Bahu Langlang. Mudah-mudahan mereka
memang tidak akan sampai di sini." Demikianlah, maka Bahu Langlang telah minta
diri untuk meneruskan perjalanannya untuk menemui sahabatnya. Ki Pananggungan
tidak dapat mencegahnya lagi. Bersama Paksi, Ki Pananggungan mengantar kedua
orang suami istri itu sampai di regol. Bahu Langlang memang agak mengalami
kesulitan untuk berjalan. Tetapi seperti dikatakannya sendiri, ia sudah terbiasa
mengalami keadaan seperti itu dalam petualangannya. Bahkan kadang lebih parah
lagi. Ketika Bahu Langlang menjadi semakin jauh, maka keduanyapun telah duduk.
Tidak di pendapa, tetapi di serambi sebagaimana saat Bahu Langlang belum datang.
Namun baru saja mereka duduk, Nyi Permati telah datang menemui Ki Pananggungan
sambil berdesis, "Kemuning menjadi ketakutan. Ia tahu bahwa Bahu Langlang telah
datang kemari." "Dari mana ia tahu?" bertanya Paksi. "Bukankah ia berada di
belakang?" "Ketika Bahu Langlang dan isteri utamanya itu datang, Kemuning sedang
berada di pintu seketheng. Dengan demikian, ia melihat keduanya memasuki pintu
regol halaman." "Anak itu seharusnya sudah tidak boleh ketakutan lagi."
"Untunglah ia ikut mBokayu Pananggungan ke sawah," berkata Nyi Permati.
"Kenapa?" bertanya Ki Pananggungan. "Jika di sawah ia melihat Bahu Langlang
lewat, maka anak itu akan dapat lari tanpa dikendalikan lagi." Ki Pananggungan
kemudian tersenyum sambil bangkit berdiri. Kepada Paksi iapun berkata, "Marilah
kita temui anak itu." Paksi kemudian berdiri pula mengikut Ki Pananggungan masuk
ke ruang belakang. Kemuning benar-benar menjadi ketakutan. Sambil duduk di atas
amben panjang, tubuh gadis itu menjadi gemetar. Keringat dinginnya membasahi
pakaiannya. "Kau tidak boleh menjadi ketakutan seperti itu, Kemuning," pamannya
duduk di sebelahnya sambil tersenyum. "Kau sudah berada di rumah paman. Di sini
masih ada Paksi. Apa yang kau takutkan? Sebenarnyalah Bahu Langlang memang tidak
berniat buruk. Ia hanya ingin sekedar singgah menemui Paksi. Ia mengucapkan
terima kasih, bahwa Paksi telah memberikan peringatan sebelumnya. Namun ia juga
ingin memperingatkan Paksi apa yang dicemaskan itu benar-benar terjadi, sehingga
Paksi harus berhati-hati. Hanya itu. Kemudian Bahu Langlang itu minta diri untuk
meneruskan perjalanannya ke rumah sahabatnya. Aku bahkan menawarkan kepadanya
untuk beristirahat di sini. Tetapi Bahu Langlang itu menolaknya, ia tahu bahwa
kau akan menjadi ketakutan." Kemuning tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk
dalam-dalam. "Nah, untuk selanjutnya jangan lagi dibayangi oleh tingkah laku dan
sikap Bahu Langlang. Ia sudah berubah dan bahkan telah meninggalkan rumahnya. Ia
tidak akan berani mengganggumu lagi." "Tetapi orang itu justru sudah mengetahui
rumah ini, Paman." "Itu tidak apa-apa. Ia tidak akan berbuat apa-apa lagi." "Kau
dengar, Kemuning?" bertanya Nyi Permati. "Ya, Bibi." "Percayalah kepada
pamanmu," berkata Nyi Permati kemudian. Kemuning tidak menjawab, tetapi ia
mengangguk kecil. "Sudahlah. Beristirahatlah. Hari ini aku tidak pergi ke sawah.
Mungkin besok aku akan melihat seberapa banyak tanah yang sudah ditanami oleh
bibimu. Kalau kau mau, kau boleh ikut pergi ke sawah. Aku akan mengajak Paksi.
Agaknya Paksi juga tidak akan berkeberatan." Paksi tidak menjawab lain kecuali
mengangguk sambil mengiakan. Kemuningpun kemudian menjadi tenang. Ia tahu bahwa
pamannya dan Paksi benar-benar akan dapat melindunginya. Karena itu, maka
tubuhnya tidak akan menjadi gemetar dan keringat dinginnya tidak mengalir lebih
banyak lagi. Sedikit lewat tengah hari, Nyi Pananggunganpun telah pulang.
Wajahnya menjadi kehitam-hitaman oleh teriknya matahari. Tetapi Nyi Pananggungan
kelihatan tetap segar setelah mencuci kaki, tangannya dan wajahnya di sungai.
Nyi Permatilah yang bercerita kepadanya, bahwa Bahu Langlang telah datang ke
rumah itu. "Apa yang dilakukannya?" bertanya Nyi Pananggungan. "Ia tidak berbuat
apa-apa. Tubuhnya nampaknya masih kesakitan karena Bahu Langlang hampir mati
berkelahi dengan orang dari Perguruan Tegal Arang." Namun kemudian dari Ki
Pananggungan, isterinya mendengar cerita tentang Bahu Langlang itu lebih jelas.
Di hari berikutnya, seperti yang dikatakan, Ki Pananggungan yang pergi ke sawah
bersama Nyi Pananggungan telah mengajak Kemuning . "Kelak kaupun harus dapat
turun ke sawah," berkata Ki Pananggungan. "Aku sudah biasa melakukannya, Bibi,"
jawab Kemuning. "Aku juga sering pergi ke sawah bersama ibu, sebelum tiba-tiba
ibu dan ayah menghilang." "Bagus," berkata Nyi Pananggungan, "kau akan menjadi
gadis yang terampil." Kemuning tidak menjawab. Ia berjalan saja di depan, di
sebelah Nyi Pananggungan Sementara itu, Ki Pananggunganpun telah mengajak Paksi
pula pergi ke sawah. Karena Kemuning tidak ada di rumah, maka Paksipun tidak
perlu menunggui rumahnya. Apalagi Nyi Permati tidak menyatakan keberatan untuk
berada di rumah hanya dengan para pembantu yang tinggal di rumah itu. Udara
terasa segar di bulak yang luas. Matahari yang mulai memanjat langit melontarkan
sinarnya yang lembut. Titik-titik embun masih menyangkut di ujung daun-daun padi
yang hijau subur. Di langit sekawanan burung terbang melintas ke selatan.
Segarnya udara pagi, hijaunya daun padi yang menyelimuti bulak, telah menyentuh
hati Paksi. Tiba-tiba saja ia teringat gubuknya yang ditinggalkannya. Jagung dan
kacang panjangnya yang tentu mendekati masanya dipetik. Paksi juga teringat pada
beberapa batang pohon kelapa yang diambil niranya untuk dibuatnya menjadi gula.
Jika terlalu lama pohon kelapa itu tidak dideresnya, maka ia harus mulai dari
permulaan. Niranya akan menjadi sendat untuk beberapa pekan. Hari itu, untuk
beberapa lama Paksi berada di sawah. Bersama Ki Pananggungan ia duduk di halaman
gubuk kecil yang dibuatnya di belakang tanggul parit yang selalu mengalir di
segala musim. Hampir di luar sadarnya, maka Paksipun kemudian berkata, "Aku
sudah terlalu lama pergi, Ki Pananggungan." Ki Pananggungan yang sedang
memperhatikan Kemuning ikut menanam benih padi berpaling. Dengan nada dalam Ki
Pananggungan itu berkata, "Maksudmu?" Paksi menarik nafas panjang. Namun
kemudian katanya, "Ki Pananggungan, sudah saatnya aku mohon diri. Aku sudah
sepekan berada di rumah Ki Pananggungan." Ki Pananggungan mengangguk-angguk
kecil. Kemudian katanya, "Kau akan pergi ke mana Paksi?" Paksi termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian katanya, "Aku seorang pengembara. Karena itu, maka aku
ingin melanjutkan pengembaraanku." "Kemana?" bertanya Ki Pananggungan. "Aku
belum dapat mengatakan. Aku akan lebih banyak menganut langkah kakiku, karena ke
manapun aku pergi, agaknya tidak akan ada bedanya." "Paksi," berkata Ki
Pananggungan kemudian, "bahwa kau dapat memberikan beberapa peringatan kepada
Bahu Langlang tentang kehadiran banyak orang di kaki Gunung Merapi itu tentu
karena kau memperhatikan mereka. Jika mereka datang untuk mencari sesuatu, maka
agaknya kau menaruh perhatian pula terhadap yang mereka cari." Paksi memandang
Ki Pananggungan dengan tajamnya. Namun kemudian Paksi menggeleng. Katanya,
"Tidak Ki Pananggungan. Jika banyak orang datang ke kaki Gunung Merapi untuk
mencari sesuatu, maka aku justru akan pergi meninggalkan kaki gunung ini. Aku
akan pergi ke barat, entah sampai kemana." Ki Pananggungan mengangguk-angguk
kecil. Suaranya hampir tidak terdengar ketika ia bertanya, "Kau mencari cincin
bermata tiga butir batu akik itu?" Wajah Paksi terasa menjadi panas. Tetapi ia
tidak dapat menggelengkan kepalanya meskipun ia tidak ingin mengiakannya. Karena
itu, maka akhirnya Paksi hanya menundukkan kepalanya saja. Terasa ada ketegangan
di dalam dadanya. "Paksi," berkata Ki Pananggungan, "meskipun kau tidak
mengiakannya, tetapi aku menangkap getar perasaanmu. Baiklah. Jika kau tidak
berkeberatan, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Paksi memandang Ki
Pananggungan dengan tajamnya. Namun kemudian iapun mengangguk sambil menjawab,
"Aku akan mendengarkannya, Ki Pananggungan." Ki Pananggungan itu terdiam
sejenak. Namun kemudian iapun mulai berceritera, "Paksi, justru karena aku
percaya kepadamu, aku ingin mengatakan kepadamu bahwa sebelum pergi meninggalkan
rumahnya, ayah Kemuning pernah datang kepadaku. Ia berceritera tentang cincin
istana yang hilang. Iapun berceritera bahwa siapa yang memiliki cincin itu,
keturunannya akan dapat memegang kendali kekuasaan di tanah ini apapun sebabnya.
Mungkin karena perkawinan dengan para bangsawan, mungkin karena sebuah
perjuangan yang gigih dan tidak mengenal menyerah, mungkin karena keajaiban dan
kemungkinan-kemungkinan yang lain. Karena itu, maka cincin itu seakan-akan telah
menjadi rebutan. Banyak orang yang mencarinya, termasuk kau, Paksi." Paksi
mengerutkan dahinya. Tetapi Ki Pananggungan itupun dengan serta-merta
menyambung, "Tetapi aku tahu bahwa kau mencari cincin itu bukan karena
ketamakanmu." Paksi menarik nafas panjang, hampir saja ia mengatakan, bahwa ia
mendapat perintah untuk mencari cincin itu. Tetapi niatnya diurungkannya.
Sementara itu, Ki Pananggungan berkata, "Aku yakin bahwa ayah dan ibu Kemuning
tentu juga sedang mencari cincin itu." "Tetapi kenapa mereka sampai hati
meninggalkan Kemuning sendiri." "Tidak sendiri. Tetapi bersama Nyi Permati."
"Namun yang terjadi kemudian, hampir sebuah malapetaka," berkata Paksi. "Itu
agaknya tidak terpikirkan oleh orang tua Kemuning. Namun akupun tidak ingin
menyalahkan Nyi Permati. Ia sangat mencintai Kemuning. Karena itu, maka ia ingin
membawa Kemuning kemari sepeninggal ayah dan ibunya." Paksi mengangguk-angguk.
Sementara itu, Ki Pananggunganpun berkata, "Sebenarnyalah Kemuning bukan anak
kedua orang yang dikenalnya sebagai ayah dan ibunya itu." Paksi mengerutkan
dahinya. Dengan serta-merta iapun bertanya, "Jadi, anak siapa?" "Anak Nyi
Permati itu sendiri." "O," Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia justru
tidak dapat mengatakan sesuatu. "Anak itu tidak pernah melihat ayahnya yang
sebenarnya, yang meninggal sebelum Kemuning dilahirkan." Paksi masih saja
mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia bertanya, "Apakah Ki Pananggungan tahu,
siapa ayah Kemuning yang sebenarnya?" "Ya, aku tahu. Ayahnya seorang perwira
prajurit. Tetapi ia gugur dalam tugasnya bersamasama dengan orang yang harus
diburunya. Seorang yang berilmu tinggi namun yang telah menyalahgunakan
kemampuannya itu. Sedangkan ayah Kemuning juga seorang prajurit yang mumpuni,
sehingga keduanya sampyuh, mati bersama-sama. Bedanya, tubuh ayah Kemuning
mendapat perlakukan baik dan terhormat, sedangkan lawannya tidak." Jilid 07
PAKSI mendengarkan keterangan Ki Pananggungan dengan sungguh-sungguh. Sementara
Ki Pananggungan berkata seterusnya, "Kau tentu tahu, kenapa aku menceriterakan
hal ini kepadamu. Kau adalah seorang yang telah membebaskan Kemuning dari
kemungkinan yang paling buruk yang hampir saja dialaminya. Selebihnya aku
percaya kepadamu, bahwa kau tidak akan mengatakan hal ini kepada Kemuning itu
sendiri. Ia tidak mengenal susunan keluarga yang lain kecuali sebagaimana
diketahuinya sekarang." Paksipun menjawab dengan sungguh-sungguh, "Tentu Ki
Pananggungan, aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Aku tahu bahwa hal itu
akan dapat membuatnya menjadi gelisah. Tidak hanya untuk satu bulan, tetapi
tentu untuk waktu yang sangat panjang, sepanjang umur Kemuning sendiri." "Nah,
sebenarnyalah aku masih mempunyai maksud lain bahwa aku berceritera tentang
Kemuning. Jika pada suatu saat kau bertemu dengan tidak sengaja dengan kedua
orang tua Kemuning, sementara kedua orang itu melakukan tindakan yang tidak
terpuji, Kemuning jangan kau kaitkan dengan tingkah laku kedua orang yang
dianggapnya orang tuanya itu. Karena sebenarnyalah aku tahu bahwa kedua orang
tua Kemuning itu, kadang-kadang memang terdorong untuk melakukan apa yang tidak
dilakukan orang lain." "Tetapi aku belum pernah melihat orang tua itu, Ki
Pananggungan." "Kau mungkin akan melihatnya." Paksi menarik nafas dalam-dalam.
Namun kemudian ia mengangguk-angguk pula sambil berkata, "Aku akan mengingatnya
jika aku bertemu sengaja atau tidak sengaja. Tetapi aku belum mengenal ciri-ciri
kedua orang tua Kemuning itu." Ki Pananggunganpun kemudian telah menceriterakan
ciri-ciri dari kedua orang suami isteri itu, sehingga jika Paksi bertemu dengan
mereka, maka setidak-tidaknya ia akan dapat menduga, bahwa keduanya adalah orang
yang disebut sebagai orang tua Kemuning. Namun Paksi itupun bertanya pula,
"Tetapi Ki Pananggungan, apakah Kemuning mengetahui bahwa kedua orang yang
dianggap orang tuanya itu sering melakukan tindakan-tindakan yang menurut
tatanan kehidupan dianggap tidak baik?" "Aku kira tidak, Paksi." "Bagaimana
dengan Nyi Permati?" "Aku kira Nyi Permati sudah mengetahuinya. Tetapi sikap
kedua orang yang dianggap orang tua Kemuning itu di rumah cukup pantas. Di rumah
mereka tidak menunjukkan sifat-sifatnya yang kurang baik. Ia mengajari Kemuning
untuk menjadi orang yang baik, melakukan pekerjaanpekerjaan yang baik. Sehingga
sifat-sifatnya yang tercela itu tidak nampak sama sekali. Tetapi jika keduanya
sudah keluar dari rumah mereka dan apalagi menempuh petualangan panjang seperti
sekarang ini, maka sifat-sifat itu akan nampak dimana-mana." "Tetapi apakah
orang tua Kemuning itu berilmu tinggi?" "Ya. Tetapi aku yakin, bahwa kemampuan
mereka tidak akan dapat mengimbangi ilmumu, Ngger. Apalagi jika gejolak jiwamu
sudah mapan dan dapat kau kendalikan, sehingga tidak akan terjadi bahwa ilmu itu
sudah kau lontarkan pada saatnya kesiapan wadagmu belum sampai ke puncak." Paksi
menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Terima kasih atas peringatan ini, Ki
Pananggungan." "Jika pada suatu saat kau bertemu dengan gurumu, cobalah kau
perbincangkan hal itu. Namun agaknya tanpa orang lain kau akan mampu
melakukannya, membuat keseimbangan itu." Sementara itu, mataharipun menjadi
semakin tinggi. Paksi mengulangi menyampaikan niatnya untuk mohon diri.
"Berhati-hatilah. Besok kau akan merambah jalan yang terjal, berbatu-batu
runcing, dan beronak duri-duri dengan kaki telanjang. Mungkin kau akan menginjak
tajamnya batu padas, atau menginjak ujung eri kemarung atau tunggak bambu yang
patah." "Aku mohon doa restu, Ki Pananggungan." "Tetapi aku tidak akan
mencemaskanmu. Ilmumu dapat dipercaya, apalagi bagi anak muda seumurmu. Dalam
waktu singkat ilmumu akan berkembang semakin tinggi, sehingga orang-orang setua
aku ini akan segera kau tinggalkan. Bahkan pada suatu saat kau akan menjadi
orang yang sulit untuk dicari duanya." "Ki Pananggungan memuji aku. Tetapi jika
aku tidak kuat menyangga pujian, maka aku justru akan runtuh." "Aku tidak
memuji. Aku mengatakan apa yang sebenarnya. Tetapi kau tidak boleh memberi arti
yang salah. Kau tidak boleh menjadi sombong dan besar kepala. Jika hal itu
terjadi, maka kau benar-benar akan runtuh." Paksi mengangguk. Ia sama sekali
tidak merasa tersinggung. Ki Pananggungan berkata dengan jujur kepadanya. Karena
itu, Paksi itu justru menjawab, "Aku akan selalu mengingatnya, Ki Pananggungan."
"Nah, aku tidak akan menahanmu lagi. Orang lain justru datang ke kaki Gunung
Merapi, namun akupun yakin, bahwa yang mereka cari itu tidak berada di sini.
Kaupun jangan berharap untuk dapat menemukan cincin itu. Bukankah kau dapat
memperhitungkan kemungkinan seperti itu? Bagaimana seseorang dapat menemukan
cincin yang kecil itu di luasnya tanah ini? Mungkin memang terjadi satu
kebetulan. Tetapi kau tidak perlu terlalu berharap. Menurunkan penguasa tanah
ini bukannya satu-satunya kebahagiaan yang dapat menyertai hidup kita." Paksi
mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Ki Pananggungan, bahwa masih terdapat
banyak kemungkinan untuk menemukan kebahagiaan lahir dan batin. Hari itu adalah
hari terakhir Paksi berada di rumah Ki Pananggungan. Menjelang malam, Paksi
duduk bersama seluruh keluarga Ki Pananggungan, termasuk Nyi Permati dan
Kemuning. Kepada mereka Paksi minta diri, bahwa esok pagi ia akan meninggalkan
rumah itu. Terasa sesuatu bergetar di jantung Kemuning. Serasa sesuatu akan
terlepas dari ikatannya. Tetapi Kemuning masih terlalu muda untuk dapat
mengatakannya. Dalam pada itu, dengan suara yang berat Nyi Permatipun berkata,
"Aku tidak dapat membalas kebaikan hatimu, Ngger. Demikian pula Kemuning. ”Hanya
Yang Maha Agunglah yang akan memberikan imbalan sepantasnya kepadamu." "Apa yang
aku lakukan tidak lebih dari apa yang seharusnya aku lakukan, Bibi," jawab
Paksi. "Karena itu, lupakan saja." "Kau juga akan melupakan kami?" bertanya Nyi
Permati. "Tidak," jawab Paksi dengan serta-merta. "Aku akan selalu ingat kepada
keluarga disini. Bukankah aku pernah tinggal disini meskipun hanya beberapa
hari?" "Sukurlah jika demikian," berkata Ki Pananggungan. "Aku harap pada suatu
saat kau akan menginjak halaman rumah ini lagi, Paksi." "Aku akan berusaha untuk
datang lagi ke rumah ini, Ki Pananggungan." "Terima kasih. Kami akan selalu
menunggu kehadiranmu." Rasa-rasanya Kemuningpun akan berpesan agar Paksi sering
datang untuk menengok rumah itu. Tetapi ia tidak dapat mengucapkannya dengan
bibirnya. Tetapi ketika Paksi sekilas memandang matanya, rasa-rasanya harapan
Kemuning itu sudah terucapkan. Malam itu Paksi berbaring di dalam biliknya, di
gandok rumah Ki Pananggungan dengan gelisah. Ada dua dorongan yang kuat yang
saling bertentangan menggetar di hatinya. Ada kerinduan terhadap gubuk kecilnya
serta lingkungannya. Tetapi rumah Ki Pananggungan rasa-rasanya mempunyai
jari-jari yang mencengkamnya. "Mata Kemuning itu demikian jernihnya," berkata
Paksi di dalam hatinya. Namun kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri,
"Umurku baru delapan belas. Sedangkan gadis kecil itu umurnya tentu baru sekitar
lima belas." Karena itu, maka Paksipun berusaha untuk menghapus perasaannya itu.
Ia masih terlalu muda untuk menambatkan hatinya di pelabuhan cinta. Lewat tengah
malam Paksi baru dapat tidur. Tetapi juga tidak terlalu lama. Ayam jantan yang
berkokok di dini hari telah membangunkannya. Paksipun kemudian pergi ke pakiwan.
Mandi dan berbenah diri. Ia benar-benar akan meninggalkan rumah itu di saat
matahari terbit nanti. Sebelum Paksi berangkat, Nyi Pananggungan masih sempat
menyediakan minuman hangat dan makan pagi seadanya. Sekali lagi seisi rumah itu
berharap agar Paksi sering datang mengunjungi rumah itu. Menjelang matahari
terbit, Paksi sudah siap untuk berangkat. Sambil menjinjing tongkat kayunya,
Paksi berdiri di pintu regol. Ki Pananggungan, Nyi Pananggungan, Nyi Permati dan
Kemuning berdiri berjajar untuk melepasnya. Adalah di luar dugaan, bahwa
Kemuning tiba-tiba berdesis lirih, "Aku mengucapkan terima kasih atas
pertolonganmu." Paksi mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tersenyum, "Itu
adalah kewajibanku bagi sesama, Kemuning." Kemuning sama sekali tidak
mengucapkan sepatah katapun lagi. Kepalanya menunduk dan bibirnya terkatup
rapat. Demikianlah, maka sejenak kemudian Paksipun telah meninggalkan rumah itu.
Ia menempuh perjalanan yang sebaliknya dari yang pernah dilakukannya untuk
mengantar Kemuning ke Padukuhan Kembang Arum. Sebagai seorang pengembara, maka
Paksi dapat mengenali dengan baik jalan yang telah ditempuhnya, meskipun
dilakukan di malam hari. Dengan langkah-langkah langkah panjang Paksi menyusuri
bulak-bulak yang masih basah oleh embun. Di ujung daun padi, butir-butir air
yang menggantung berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari pagi. Paksi
mengayunkan tongkat kayunya. Di pepohonan burung-burung bernyanyi tumpang tindih
berebut nada tinggi. Perjalanan Paksi memang menjadi jauh lebih cepat dari
perjalanannya bersama Kemuning dan Nyi Permati. Kecuali kedua orang perempuan
itu menjadi letih dan kakinya terasa pedih, gelapnya malam semakin menghambat
langkah mereka. Namun, sendiri, Paksi rasa-rasanya dapat berlenggang tanpa beban
apapun. Bulak demi bulak sudah dilaluinya. Sungai yang harus diseberangi dan
jalan menyusur pinggir hutan. Tidak ada yang menghambat perjalanan Paksi. Di
perjalanan kembali itupun Paksi telah memilih jalan melewati rumah Bahu
Langlang. Tentu sudah berubah sepeninggal Bahu Langlang. Ia tidak tahu, siapakah
yang kemudian menguasai atau yang diserahi untuk memelihara rumah yang terhitung
besar itu. Mataharipun memanjat semakin tinggi. Panasnya mulai terasa
menggatalkan kulit. Semakin lama semakin panas. Ketika matahari sampai di puncak
langit, maka Paksi telah berada di depan regol halaman rumah Bahu Langlang.
Halaman rumah itu nampak sepi. Lewat pintu regol yang terbuka, Paksi dapat
melihat halaman dan pendapa rumah yang sepi. Ia tidak melihat seseorang. Tidak
pula ada yang menjemur gabah. Tetapi Paksi masih mendengar lenguh seekor lembu
di dalam lingkungan dinding rumah Bahu Langlang. Tetapi Paksi tidak ingin
singgah. Jika ada orang yang mengawasi rumah itu dengan diam-diam dan
tersembunyi, maka kehadirannya akan dapat menarik perhatian. Sementara itu Paksi
masih belum ingin bersentuhan dengan orang-orang yang datang dari beberapa
perguruan yang sudah mempunyai nama. Karena itu, maka Paksipun telah berjalan
terus. Dari rumah Bahu Langlang, Paksi berjalan menuju ke pasar. Di pasar itulah
ia bertemu dengan Nyi Permati yang ingin menjual kain luriknya untuk memberi
makan Kemuning. Setidak-tidaknya untuk menunda derita yang akan dialami gadis
itu. Tetapi ternyata Yang Maha Agung telah membebaskannya dari tangan Bahu
Langlang dengan lantaran tangan Paksi. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia
merasa bersukur, bahwa Yang Maha Agung telah mempergunakannya membebaskan gadis
yang masih sangat muda itu dari tangan Bahu Langlang yang garang. Ketika Paksi
sampai di pasar itu, maka pasar telah menjadi sepi. Tidak lagi ada orang yang
berjual beli. Tidak ada pedati yang akan mengangkut kelapa. Yang ada di pasar
itu hanya dua orang yang sedang membersihkan sampah dengan sapu lidi yang
bertangkai panjang. Paksi memandang berkeliling. Sebuah kedai masih separo
terbuka. Dua orang sedang sibuk membenahinya. Namun ketika Paksi mendekat,
pemilik kedai itu bertanya, "Apakah kau akan singgah, anak muda?" "Bukankah
kedai ini sudah akan ditutup?" bertanya Paksi. "Aku masih menunggumu. Silahkan.
Masih ada nasi, pecel lele dan ayung-ayung." Paksi mengangguk. Katanya,
"Baiklah. Aku akan singgah." Paksipun kemudian telah masuk ke dalam kedai itu.
Pintunya kembali terbuka lebar. Tetapi beberapa jenis makanan yang tinggal
sedikit memang sudah dibenahi, dimasukkan ke dalam tenong bambu dan siap untuk
dibawa pulang. Namun ketika Paksi duduk di sebuah lincak panjang, tenong itu
telah dibuka kembali dan diletakkan di sebuah geledeg rendah di depan Paksi
duduk. "Pasar itu sudah sepi," desis Paksi. "Matahari sudah turun ke barat,"
jawab pemilik kedai. Paksi mengangguk-angguk. Pembantu di kedai itupun telah
menghidangkan semangkuk minuman. "Wedang sere," desis pemilik kedai itu. Paksi
mengangguk sambil berdesis, "Terima kasih." "Anak muda akan makan?" bertanya
pemilik kedai itu pula. "Ya," Paksi mengangguk. Sambil menghidangkan nasi dan
lauk-pauknya, pemilik kedai itu berkata, "Pasar memang agak sepi hari ini.
Bahkan ketika matahari sampai ke puncak, para pedagang sudah menyimpan
dagangannya. Para pedagang kelapa pun meninggalkan pasar ini lebih awal."
"Kenapa?" bertanya Paksi. "Ada orang-orang yang kami anggap asing berkeliaran
kemarin. Kija, yang oleh Ki Bekel mendapat tugas untuk menjaga ketertiban pasar
ini hampir mati dianiaya." "Kenapa?" bertanya Paksi. "Tidak apa-apa. Kija hanya
bertanya, siapakah mereka itu. Namun tiba-tiba seorang di antara mereka telah
memukulnya. Sebagai seorang yang diserahi tanggung jawab oleh Ki Bekel, maka
Kija berusaha menangkap orang itu. Tetapi ia justru menjadi korban." "Kija
dikeroyok oleh beberapa orang?" "Tidak. Ia berkelahi melawan seorang di antara
mereka. Tetapi ternyata Kija sama sekali tidak berdaya." "Kasihan," desis Paksi.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang ini? Apakah ia menjadi berangsur baik atau
sebaliknya?" "Seorang dukun yang pandai tengah mengobatinya. Dukun itu mengenal
berbagai jenis dedaunan yang dapat dipergunakan untuk mengobati bagian luarnya,
tetapi juga membuat obatobat yang diminumnya." Paksi mengangguk-angguk. Tetapi
ia tidak bertanya lebih banyak lagi. Jika ia nampak memperhatikan persoalan itu,
maka pemilik kedai itu justru akan merasakan sesuatu yang lain padanya, sehingga
ia akan menjadi semakin ingin lebih banyak mengetahui tentang dirinya atau
bahkan dirinya akan dihitungnya sebagai orang-orang asing itu pula. Tetapi di
luar dugaan Paksi, pemilik kedai itulah yang kemudian berceritera atas
kehendaknya sendiri, "Tetapi sebenarnya bukan hanya kemarin saja pasar ini
didatangi oleh orang-orang yang tidak dikenal. Tidak seperti kau, anak muda
Meskipun aku belum pernah melihatmu sebelumnya, tetapi kau nampak wajar seperti
orang lain. Bedanya, kau yang masih muda itu membawa tongkat. Jarang anak-anak
muda membawa tongkat kemana-mana. Hanya orang-orang tua yang susah berjalan yang
membawa tongkat." "Tongkat ini tongkat wasiat, Ki Sanak," sahut Paksi sambil
tersenyum. "Tongkat wasiat?" pemilik kedai itu mengerutkan dahinya. "Maksudku,
tongkat ini tongkat kakekku yang karena sudah terlalu tua, sehingga susah
berjalan. Ketika kakekku meninggal, maka tongkat ini selalu aku bawa
kemana-mana. Kakek adalah orang yang sangat baik kepadaku." Pemilik kedai itu
mengangguk-angguk. Katanya, "Aku kira tongkat wasiatmu adalah tongkat yang
memiliki kekuatan yang luar biasa." "Ah, tidak Ki Sanak. Bagiku, dengan membawa
tongkat ini, rasa-rasanya aku selalu dekat dengan kakekku yang sudah tidak ada
lagi itu." Pemilik kedai itu mengangguk-angguk. Katanya, "Ya, benda-benda yang
khusus memang dapat menjadi lantaran untuk merasa selalu dekat dengan
pemiliknya." Paksi mengangguk-angguk pula. Namun kemudian mulutnya sibuk
mengunyah sehingga ia tidak berkata apa-apa lagi. Pemilik kedai itu tidak
mengganggunya pula. Dibiarkannya anak muda itu menikmati makan dan minum di
kedainya. Namun dalam pada itu, apa yang terjadi di pasar itu merupakan pertanda
bagi Paksi, bahwa orang-orang dari berbagai perguruan itu telah semakin
tersebar. Bukan saja nama Bahu Langlang yang telah memancing mereka, tetapi
mereka memang telah merayap kemana-mana untuk mencari cincin bermata tiga butir
batu akik yang mereka perkirakan jatuh di sekitar tempat itu setelah terbang
mengarungi langit dengan memancarkan cahayanya yang terang seperti cahaya ndaru.
"Satu pertanda buruk bagi daerah ini," berkata Paksi di dalam hatinya. Tetapi
Paksipun telah teringat pula kepada rumah gubuknya. Jika orang-orang yang
mencari cincin itu berkeliaran semakin jauh, maka ada kemungkinan satu dua orang
sampai ke gubuknya. Jika demikian, maka mungkin sekali mereka akan melakukan
sesuatu yang dapat merugikannya. Mungkin gubuknya, perabot-perabot dapurnya atau
mungkin tanamannya akan rusak. Karena itu, maka rasa-rasanya Paksi ingin segera
sampai ke rumah gubuknya yang masih terhitung jauh. Demikianlah, maka Paksipun
kemudian telah melanjutkan perjalanannya. Keinginannya untuk segera sampai di
gubuknya, telah mendorongnya untuk berjalan terus, meskipun kemudian matahari
tenggelam ditelan cakrawala. Paksi yang memiliki ketahanan tubuh yang tinggi itu
melangkah di dalam kegelapan. Ia tidak berjalan terlalu cepat. Tetapi
seakan-akan tidak berhenti sama sekali. Bulak demi bulak dilewatinya. Ia
berusaha untuk menghindari padukuhan-padukuhan. Dalam keadaan yang
menggelisahkan akan dapat timbul salah paham dengan para peronda. Karena itu,
maka kadang-kadang Paksi berjalan di atas pematang, tanggul, parit atau
menyelusuri sungai-sungai kecil. Tetapi suatu ketika Paksi memang ingin berjalan
lewat sebuah padukuhan yang besar. Mungkin ada sesuatu yang menarik
perhatiannya. Ia sudah menyiapkan jawaban-jawaban jika para peronda
menghentikannya dan bertanya banyak hal tentang dirinya. Tetapi ternyata di
padukuhan itu tidak terdapat seorangpun yang meronda. Gardu-gardu nampak sepi.
Bahkan oncorpun tidak dinyalakan. Paksi mencoba untuk mengerti, apa yang telah
terjadi. Agaknya orang-orang asing itupun telah mulai berkeliaran di padukuhan
itu, siang atau malam. Karena itu, maka orang-orang padukuhan itu, terutama di
malam hari, tidak ada yang berani keluar dari rumahnya. Dengan demikian, maka
laki-laki di padukuhan itu tidak pula berani pergi ke gardu. "Tentu pernah
terjadi sesuatu yang membuat para penghuni padukuhan ini ketakutan," berkata
Paksi di dalam hatinya. Di malam yang sepi itu Paksi melangkah lewat di depan
regol yang satu ke regol yang lain. Semuanya tertutup rapat. Dari celah-celah
dinding rumah Paksi melihat cahaya lampu minyak yang suram. Tetapi rumahrumah di
pinggir jalan itu rasa-rasanya telah membeku. Mungkin satu dua penghuninya masih
belum tidur. Namun padukuhan itu telah benar-benar dicengkam oleh kesepian.
Paksi berjalan terus. Ia tidak mau mengusik kediaman padukuhan itu. Ketika ia
melewati sebuah gardu, maka ia melihat kentongan yang tergantung pada emper
gardu itu. Tetapi kentongan itu seakan akan sedang beristirahat panjang dari
tugas-tugas yang harus dipikulnya. Ketika Paksi sempat meraba kentongan itu,
maka jari-jari tangannya merasakan debu yang tebal melekat pada kentongan itu.
"Sudah beberapa lama kentongan ini tidak dibunyikan?" bertanya Paksi kepada diri
sendiri. Tetapi Paksi tidak dapat menyalahkan para penghuni padukuhan itu.
Mereka memang tidak akan dapat melawan orang-orang dari beberapa perguruan yang
berkeliaran di padukuhan itu. Sehingga karena itu, maka jalan yang dapat mereka
tempuh adalah sekedar menghindar, menutup pintu rumah dan regol halaman. Paksi
melangkah terus. Angin malam yang dingin mengusap wajahnya yang berkerut. Di
sebelah menyebelah jalan, pepohonan berdiri tegak dengan kokohnya. Daun-daunnya
bergerak lembut disentuh angin. Paksi berjalan terus menapak di atas jalan
padukuhan yang gelap dan sepi. Paksi benar-benar berjalan terus malam itu. Hanya
sekali-sekali ia berhenti sejenak, duduk sambil memandangi langit yang ditaburi
bintang-bintang yang tidak terhitung jumlahnya. Tetapi Paksi tidak membiarkan
angan-angannya menjadi ngelangut melihat luasnya langit. Sekali-sekali Paksi
melihat bintang yang meluncur menembus lengkung langit. Kecil saja dan sinarnya
tidak sampai menguak malam seperti ndaru. Seleret, lalu hilang lagi. "Apa
sebenarnya yang ada di balik birunya langit itu?" bertanya Paksi kepada diri
sendiri. Tetapi Paksi tidak pernah menemukan jawabnya. Yang ia tahu adalah sifat
dari beberapa bintang. Ki Marta Brewok pernah memberitahukan kepadanya tentang
beberapa macam bintang yang ada di langit. Ada di antara bintang-bintang itu
yang dapat menunjukkan arah, musim dan bahkan petunjuk bagi petani untuk
mengerjakan sawahnya. Alangkah besarnya ciptaan Yang Maha Agung. Namun Paksi
tidak terlalu lama merenungi langit. Iapun kemudian bangkit dan melanjutkan
perjalanan. Rasa-rasanya ia ingin segera sampai ke gubuk kecilnya. Ketahanan
tubuh Paksi memang sangat tinggi. Ia berjalan terus memanjat kaki Gunung Merapi
setelah melewati pasar yang sering dikunjungi. Tetapi pasar itu sepi. Bahkan
tempat pemberhentian pedati dan penginapan dari para pedagang yang mencari dan
menjual dagangannya di pasar itu nampak sepi pula, meskipun ada juga satu dua
pedati di halaman yang becek berkubangan dan kotor. Para pemilik pedati itu
mencuci pedatinya di halaman itu juga kemudian membersihkan sisa-sisa kotoran
yang ada di dalamnya dan membuangnya di sembarang tempat. Sementara itu, halaman
itu sendiri tidak terlalu sering dibersihkan. Meskipun angin malam yang dingin
terasa berhembus semakin deras di kaki gunung, tetapi pakaian Paksi menjadi
basah oleh keringat. Semakin dekat dengan gubuk kecilnya, Paksi justru berjalan
semakin cepat, sementara malam menjadi semakin dalam. Bahkan telah melampaui
pertengahannya. Dari padukuhan-padukuhan terdengar kokok ayam jantan bersahutan.
Padukuhan-padukuhan yang telah dikenal dengan baik oleh Paksi. Semakin tinggi
Paksi memanjat kaki gunung, maka udarapun terasa menjadi semakin dingin. Tetapi
Paksi sudah terbiasa dengan dinginnya udara pegunungan. Apalagi malam itu ia
telah berjalan panjang, sehingga keringatnya membuat tubuhnya menjadi hangat
Paksi menjadi berdebar-debar ketika ia memasuki jalan setapak. Semakin jauh,
jalan itu menjadi semakin sempit dan berbatu-batu padas yang sekali-sekali
terasa menusuk telapak kaki. Jalan yang jarang sekali disentuh oleh kaki
manusia. Setelah melewati gumuk-gumuk kecil, maka Paksipun menjadi semakin dekat
dengan gubuk kecilnya. Rasa-rasanya malam menjadi sangat gelap. Tetapi pandangan
mata Paksi yang sangat tajam dapat melihat benda-benda yang ada di sekitarnya
meskipun berada di kegelapan. Paksi menjadi berdebar-debar ketika ia melangkah
mendekati gubuknya. Namun tiba-tiba langkahnya tertegun. Ia melihat cahaya di
dalam gubuk kecilnya. Cahaya lampu minyak sebagaimana ia sering menyalakannya.
Paksi berhenti beberapa langkah dari gubuknya. Ia mulai menduga-duga, siapakah
yang telah menyalakan lampu minyak itu. "Mungkin Guru," desis Paksi di dalam
hatinya. Namun akhirnya Paksipun telah memaksa dirinya untuk mendekati gubuk
itu. Paksi terkejut ketika ia mendengar suara seseorang dari dalam gubuk itu,
"Marilah. Jangan berhenti di situ. Pintunya tidak aku selarak." Paksi
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian didorongnya pintu gubuknya sehingga
terbuka. Paksi memang terkejut ketika ia melihat seorang yang masih terhitung
muda duduk di dalam gubuknya. Di atas ajug-ajug, lampu minyaknya menyala
menerangi ruangan yang tidak terlalu luas itu. "Siapakah kau?" bertanya Paksi
kepada orang yang duduk di dalam gubuknya itu. Orang itu dengan pandangan mata
yang tajam memandang Paksi yang berdiri di depan pintu. Dengan tenangnya iapun
mempersilahkan Paksi, "Masuklah. Duduklah." "Siapakah kau?" Paksi mengulang.
"Duduklah. Kita akan berbicara." Suara orang itu mengandung wibawa yang besar,
sehingga Paksi seakan-akan telah dicengkamnya tanpa dapat menolak.
Perlahan-lahan Paksi melangkah memasuki gubuk itu. Ia menjadi sangat
berhati-hati. Ia belum mengenal orang itu. Karena itu, Paksipun telah bersiap
menghadapi segala kemungkinan. Tetapi menilik wajah dan pandangan matanya, orang
yang masih terhitung muda itu bukan orang yang licik. Ketika Paksi duduk dua
langkah di hadapannya orang itu beringsut setapak. "Siapakah kau, Ki Sanak?"
bertanya orang itu. "Akulah yang berhak bertanya kepadamu. Rumah ini rumahku."
"O," orang itu mengerutkan dahinya. "Jadi rumah ini rumahmu? Maaf, aku tidak
tahu. Dalam pengembaraanku aku menemukan rumah ini kosong, sementara ada
beberapa macam perkakas dapur yang tertata rapi. Rumah ini sangat menarik
bagiku. Aku menunggu pemiliknya sampai sehari-semalam. Tetapi tidak ada
seorangpun yang datang. Bahkan sampai dua hari, tiga hari. Karena itu, akulah
yang kemudian merasa diriku menjadi tuan rumah di gubuk ini." "Jadi, siapakah
kau?" Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat iapun berkata,
"Namaku Wijang. Aku seorang pengembara yang menjelajahi satu tempat ke tempat
yang lain." "Apakah yang kau cari dalam penjelajahanmu itu?" Orang yang menyebut
dirinya Wijang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun menggelengkan
kepalanya sambil berkata, "Tidak ada." Tetapi tiba-tiba saja Paksi menebak, "Kau
juga mencari sebentuk cincin bermata tiga butir batu akik?" Orang itu nampak
terkejut. Dipandanginya Paksi dengan kerut di dahinya. Tetapi yang meloncat dari
mulutnya adalah sebuah pertanyaan, "Siapa namamu?" "Namaku Paksi." Orang itu
mengangguk-angguk. Katanya, "Jadi cincin itu ada padamu sekarang?" "Aku sama
sekali tidak tertarik pada cincin itu," jawab Paksi. "Jangan ingkar," berkata
orang yang mengaku bernama Wijang itu. "Cincin itu tentu ada padamu." Paksilah
yang kemudian memandang wajah orang yang mengaku bernama Wijang itu. Seorang
laki-laki yang bertubuh tegap. Wajahnya bersih dan bahkan seakan-akan
memancarkan sinar. Kedua matanya yang tajam, tetapi jernih itu nampak
berkilat-kilat di bawah cahaya lampu minyak di ajug-ajug. "Ada beberapa orang
yang berkeliaran di sekitar tempat ini untuk mencari sebuah cincin," berkata
Paksi, "tentu termasuk kau, Ki Sanak." "Namaku Wijang," desis orang itu. "Ya,"
Paksi mengangguk-angguk, "tetapi aku sendiri tidak merasa memerlukannya." "Kau
bohong. Menilik lingkungan kecilmu, kau tentu sudah lama berada di sini. Kau
tentu tidak hanya sekali ini saja siap memanen jagung dan bahkan padi gaga.
Tanaman-tanaman yang lain memastikan keyakinanku itu." "Ya. Aku sudah setahun
disini. Tetapi aku sama sekali tidak menginginkan cincin itu. Kehadiranku disini
sama sekali tidak ada hubungannya dengan usaha untuk menemukan cincin itu. Aku
baru mendengar bahwa ada sebuah cincin yang sedang diburu, justru dari
orang-orang yang berdatangan disini." "Kau dapat berkata apa saja. Tetapi aku
yakin, kaulah yang menyimpan cincin itu." "Terserah kepadamu. Tetapi aku melihat
cincin itupun belum pernah. Apalagi memilikinya." "Kebetulan sekali kau datang,
Paksi," berkata orang itu. "Kau tidak usah ingkar. Berikan cincin itu kepadaku.
Kemudian aku tidak akan mengganggumu lagi." "Aku katakan sekali lagi Wijang, aku
tidak membawa cincin itu." "Jika kau tidak mau menyerahkan cincin itu, maka aku
akan mengambil sendiri." "Dimana akan kau ambil?" "Aku akan mencarinya. Tentu
ada padamu. Mungkin di kantong ikat pinggangmu, mungkin di kampilmu atau justru
kau sembunyikan di dalam tongkatmu itu. He, kenapa kau membawa tongkat?" Dahi
Paksi itupun berkerut. Menilik ujudnya, orang itu tentu berbeda dengan
orang-orang yang sering berkeliaran untuk mencari cincin bermata tiga butir batu
akik itu. Seandainya orang ini juga mencarinya, tentu tidak dengan cara
sebagaimana dilakukan oleh orang-orang dari berbagai perguruan itu. Dalam pada
itu, maka orang itupun kemudian berkata, "Paksi. Sebaiknya kita berbaik hati,
supaya kita tidak usah berselisih. Berikan saja cincin itu kepadaku. Mungkin kau
memerlukan imbalan yang pantas. Aku akan berusaha memenuhinya." "Wijang,"
berkata Paksi, "aku tidak perlu mengatakan dua tiga kali lagi. Cincin itu tidak
ada padaku." Tetapi orang yang menyebut dirinya Wijang itu berkata, "Jangan
mempersulit dirimu sendiri." Paksipun kemudian bangkit berdiri. Ia melangkah
mendekati lampu minyaknya untuk menarik sumbunya yang sudah hampir terbenam ke
dalam minyak sehingga nyalanya terlalu kecil. Kemudian sambil berdiri di sebelah
lampu minyak itu ia berkata, "Aku atau kau yang mempersulit diri." Wijang
memandang Paksi dengan kerut di kening. Namun dengan demikian, maka Wijang itu
telah menghadap ke arah lampu minyak. Jika semula wajahnya tidak nampak jelas
karena ia tidak menghadap ke arah lampu, maka kemudian Paksi dapat melihat wajah
itu. Apalagi nyala lampunya telah dibesarkannya. Sebenarnyalah Paksi terkejut.
Ia merasa sudah pernah mengenal wajah itu meskipun ia belum pernah mengenalnya.
Sebagai anak seorang tumenggung, maka sekali-sekali Paksi pernah berada di
lingkungan istana. Ketika di istana diselenggarakan satu upacara, ia pernah
mendapat kesempatan untuk ikut bersama ayahnya. Beberapa orang kawannya juga
ikut bersama ayah mereka. Tetapi anak para tumenggung itu tidak diijinkan masuk
ke paseban. Mereka berada di halaman dalam istana sambil menunggu ayah mereka
yang berada di paseban. Anak-anak itu akan menyaksikan keramaian yang khusus
diselenggarakan. Pada saat itu Paksi melihat seorang anak muda menunggang kuda
lewat di halaman dalam istana tanpa harus turun dari kudanya. Menurut ingatan
Paksi, anak muda yang naik kuda itulah orang yang berada di dalam gubuknya itu.
Tetapi satu hal yang Paksi tahu, bahwa orang itu tentu tidak mengenalnya.
Meskipun Paksi yakin bahwa ia tidak keliru, namun ia pura-pura tidak
mengenalinya. Karena itu, maka iapun kembali duduk. Meskipun demikian ia
berusaha untuk sedikit membelakangi lampu minyak, sehingga orang yang ada di
dalam gubuknya itu lebih banyak menghadap ke arah lampu minyak. Semakin lama
Paksi memandanginya, maka iapun menjadi semakin yakin. Bahwa orang yang berkuda
di halaman istana itulah orang yang sekarang duduk di hadapannya itu. Untuk
beberapa saat Paksi berdiam diri. Orang itulah yang kemudian berkata, "Paksi.
Aku memberimu kesempatan untuk berpikir. Besok pagi-pagi aku ingin mendengar,
apakah kau mau menyerahkan cincin itu atau tidak." "Jika tidak," jawab Paksi.
"Sudah aku katakan, aku akan mengambilnya sendiri." Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Sementara itu, orang itupun berkata, "Baiklah. Karena rumah ini
rumahmu, maka aku akan keluar. Aku akan tidur di luar sambil menunggu matahari
terbit. Aku akan mendengar jawabmu tentang cincin itu." "Sebenarnya kau tidak
usah menunggu sampai esok. Sekarang aku sudah dapat memberi jawaban. Cincin itu
tidak ada padaku." Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, "Kau masih didera oleh
gejolak perasaanmu. Kau masih terlalu muda untuk dapat menimbang
langkah-langkahmu dengan jernih. Karena itu, aku menunggu sampai esok." Tetapi
ketika orang itu bangkit, Paksipun bertanya, "Kau akan pergi ke mana?" "Aku akan
tidur di luar," jawab orang itu. "Udara dingin di sini. Tidur sajalah di dalam.
Aku tidak akan membunuhmu selagi kau tidur." Orang itu tertawa. Katanya, "Aku
percaya kepadamu, Paksi. Tetapi jika aku tidur di dalam, maka gubukmu ini akan
terasa terlalu sempit." "Tidak," jawab Paksi. "Aku akan mengatur perkakas dapur
itu, agar ruangan ini dapat kita pergunakan untuk tidur berdua." "Kau tidak
takut bahwa akulah yang membunuhmu?" bertanya orang yang mengaku bernama Wijang
itu. "Tidak. Kau tidak akan melakukannya." "Ternyata kau telah membuat satu
kesalahan yang besar. Kau terlalu percaya kepada orang yang sebenarnya belum kau
kenal. Dari mana kau mendapatkan satu keyakinan bahwa aku tidak akan
membunuhmu?" "Aku mencoba untuk menilai ujud, sikap dan tingkah lakumu." "Ujud
seseorang tidak selalu mencerminkan sikap, tingkah laku dan wataknya, karena
sikap dan tingkah laku itu dapat dibuat-buat, justru sangat bertentangan dengan
wataknya yang sebenarnya." "Tetapi kenapa kau juga mempercayai aku, sedangkan
kau juga belum mengenal aku yang sebenarnya." "Menurut nalarku, aku percaya
kepadamu. Tetapi aku sadar, bahwa aku harus berhati-hati. Mungkin kau termasuk
orang yang berpura-pura dapat dipercaya. Karena itu, aku akan tidur di luar. Kau
tidur di dalam. Pintu harus kau selarak, sehingga aku tidak akan dapat masuk
dengan diam-diam." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mencegah
orang itu lagi ketika ia melangkah keluar pintu gubuknya. Demikianlah, maka
orang yang menyebut dirinya bernama Wijang itu benar-benar tidur di luar gubuk
dalam cuaca yang dingin. Sedang Paksipun telah menyelarak pintu. Bagaimanapun
juga, ia memang harus berhati-hati. Seperti yang dikatakan sendiri oleh orang
yang datang ke gubuknya itu, ia memang belum mengenal orang itu seutuhnya.
Meskipun orang itu benar yang dilihatnya berkuda di halaman istana, namun ia
tidak tahu pasti tentang sifat dan wataknya. Malam itu Paksi tidur dalam gelap.
Ia memadamkan lampu minyaknya, sehingga rasa-rasanya di dalam gubuk itu lebih
gelap daripada di luarnya. Tetapi mata Paksi yang tajam, apalagi jika ia
mempergunakan ilmu yang telah dipelajarinya, akan mampu melihat dalam kegelapan
tidak terlalu jauh berbeda dengan penglihatannya di dalam terang. Malam itu
Paksi dapat tidur nyenyak. Pendengarannya yang tajam akan membangunkannya jika
orang itu membuka pintu gubuknya dengan paksa, atau bahkan merusak dindingnya.
Sebenarnyalah malam itu tidak terjadi sesuatu. Orang yang menyebut dirinya
bernama Wijang itu tidak berbuat curang sebagaimana Paksi juga tetap berada di
gubuknya. Menjelang pagi, seperti biasanya Paksi telah bangun. Setelah
menyalakan lampu minyaknya, maka iapun membuka pintu gubuknya dan melangkah
keluar. Langit masih nampak hitam. Tetapi suara burung liar telah menggema di
hutan-hutan lereng pegunungan. Seperti biasanya pula Paksipun menyalakan
perapian, menjerang air sebelum langit menjadi terang. Ketika ia melihat
simpanan berasnya, ternyata sisanya masih tetap utuh. Karena itu, maka iapun
telah mencuci beras pula dan menanak nasi. Sementara itu, maka Paksipun telah
pergi ke sungai untuk mandi dan kemudian berbenah diri. Ketika cahaya fajar
nampak di langit, maka Paksipun telah memadamkan perapiannya. Nasi sudah masak
dan airpun sudah mendidih. Paksi telah membuat wedang jahe yang dapat
menghangatkan tubuhnya di dinginnya udara pegunungan. Ketika kemudian Paksi
keluar lagi dari gubuknya, ia melihat orang yang menyebut dirinya Wijang itu
sudah duduk di atas sebuah batu yang besar. Di batu itu pulalah, Ki Marta Brewok
sering duduk jika ia mengunjungi Paksi. "Kau ternyata termasuk anak muda yang
rajin. Kau bangun pagi-pagi sekali. Melakukan segala kewajibanmu dengan baik."
"Dimana kau tidur semalam?" bertanya Paksi. "Aku tidur di ladang jagungmu.
Nampaknya kau hampir panen. Ketela pohonmu juga sudah cukup umur untuk dicabut.
Kau dapat membuat geplek yang tahan lama disimpan." Paksi mengangguk. Katanya,
"Ya. Dua tiga pekan lagi aku akan mencabutnya dan menjemurnya setelah dikuliti."
"Nah, sekarang waktu yang aku berikan sudah sampai pada batasnya. Kau harus
menjawab, apakah kau bersedia memberikan cincin itu kepadaku atau tidak."
"Jangan tergesa-gesa. Aku akan pergi ke sungai untuk menangkap ikan. Kita akan
memanggang ikan itu untuk makan pagi. Kita akan membicarakan persoalan kita
setelah kita makan pagi. Kau dapat duduk sambil minum wedang jahe hangat sambil
menunggu aku kembali dari sungai." "Sampai kapan kau akan menangkap ikan?"
bertanya Wijang. "Tidak terlalu lama. Di kedung kecil terdapat cukup banyak ikan
yang mudah ditangkap." Wijang termangu-mangu sejenak. Sementara itu Paksipun
mempersilahkannya, "Masuklah. Kau tahu dimana letaknya mangkuk. Kau dapat
menuang wedang jahe itu sendiri." "Kau akan pergi ke sungai?" bertanya Wijang.
"Ya," jawab Paksi. "Jika demikian, biarlah aku ikut." Paksi mengerutkan dahinya.
Tetapi iapun kemudian mengangguk sambil menjawab, "Silahkan jika kau inginkan."
Keduanyapun kemudian telah pergi ke sungai. Di tikungan sungai itu terdapat
sebuah kedung kecil. Di kedung kecil itu memang terdapat cukup banyak ikan,
sehingga Paksi tidak memerlukan waktu yang lama untuk menangkapnya. Di tebing
kedung kecil itu Paksi menyimpan sebuah lembing kecil yang panjang. Dengan
lembing itu Paksi menangkap beberapa ekor ikan. "Menyenangkan sekali," berkata
Wijang. "Berikan lembing itu. Aku juga akan menangkap ikan seperti kau lakukan."
Paksi memberikan lembing itu. Wijang yang berdiri di bibir kedung itupun
kemudian telah menangkap ikan dengan lembing sebagaimana dilakukan oleh Paksi.
Namun selagi Wijang sibuk menangkap ikan, maka di luar sadarnya, seekor ular
yang merambat di tebing telah mematuk kakinya. Wijang terkejut. Paksipun
terkejut pula. Ia melihat ular itu dengan cepat menjalar dan hilang di dalam
lebatnya rerumputan dan ilalang. "Wijang," berkata Paksi dengan cemas, "aku
mempunyai obat penawar racun. Kau dapat mengobatinya untuk menawarkan racun ular
itu jika tidak terlambat." Tetapi Wijang sendiri tersenyum. Sambil membidik
seekor ikan kakap yang besar Wijang berkata, "Jangan hiraukan. Ular itu tidak
akan menyakiti aku." Paksi mengerutkan keningnya. Sementara itu, Wijang telah
melemparkan lembingnya tepat mengenai sasarannya. Paksi masih berdiri
termangu-mangu. Ternyata Wijang itu sama sekali tidak menghiraukan patukan ular
belang yang racunnya sangat tajam itu. Namun setelah memungut ikan kakap yang
besar itu, Wijang duduk di atas rerumputan. Dipijitnya luka di kakinya itu.
Darah yang hitam kebiru-biruan mengembun dari lukanya itu. Namun kemudian
disusul dengan titik-titik darah merah yang segar. Wijang tersenyum. Diusapkan
darahnya yang merah itu. Katanya, "Racun itu tidak akan menggangguku." Paksi
menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian Wijang berdiri, Paksipun bertanya,
"Kau juga mempunyai obat penawar racun?" Wijang mengangguk. Katanya, "Aku harus
melengkapi bekal dalam pengembaraanku yang panjang ini." Paksi mengangguk-angguk
pula. Namun tiba-tiba Wijang itupun berkata, "Bukankah kita sudah mendapat ikan
cukup banyak untuk makan pagi?" Paksi memandang seonggok ikan di tepi kedung
kecil itu. Jawabnya, "Ya. Marilah kita pulang." Keduanyapun kemudian kembali ke
gubuk Paksi. Wijanglah yang kemudian membersihkan ikan itu, sementara Paksi
membuat api. "Di siang hari jarang sekali aku membuat api. Jika aku membuat api
untuk memanggang ikan, maka aku mempergunakan arang agar asapnya tidak terlalu
banyak. Asap akan dapat mengundang perhatian orang atas tempat ini. Tempat yang
selama ini tidak pernah dikunjungi orang lain kecuali kau," berkata Paksi
kemudian. "Jika aku tidak tersesat, maka aku tidak akan sampai kemari," berkata
Wijang kemudian. Demikianlah, maka keduanyapun kemudian telah asyik memanggang
beberapa ekor ikan yang telah digarami. Kemudian, selagi ikan itu masih hangat,
serta nasinyapun ternyata masih hangat pula, mereka telah makan pagi. "Aku belum
pernah makan senikmat ini," berkata Wijang. "Meskipun dihidangkan berbagai macam
lauk, namun semuanya selalu terasa hambar. Baru sekarang aku benar-benar
mendapat lauk yang sesuai dengan seleraku." Paksi mengerutkan dahinya. Namun
tiba-tiba saja ia bertanya, "Apakah bagimu selalu dihidangkan berbagai macam
lauk?" Wijang terkejut. Tetapi dengan serta-merta iapun menyahut, "Seandainya.
Tetapi sekali-sekali aku memang pernah menghadapi beberapa macam lauk di saat
aku bertamu." Paksi tersenyum. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Beberapa
saat keduanya makan sambil berbincang tentang ikan gurami, kakap, bader dan
bahkan wader bang dan wader pari. Rasa-rasanya mereka lupa, seberapa banyak nasi
yang sudah mereka makan serta wedang jahe yang sudah mereka hirup. Tiba-tiba
saja Wijang menarik nafas dalam-dalam. Diletakkannya mangkuknya yang telah
kosong sambil berdesah, "Aku terlalu banyak makan pagi ini." Paksi tertawa.
Katanya, "Aku makan lebih banyak. Tetapi aku tidak merasa terlalu kenyang." "Kau
makan berapa ekor ikan? Aku makan lebih dari tiga ekor ikan kakap yang besar
itu." "Aku sudah sering makan ikan panggang." "Kau juga berburu rusa atau kijang
di hutan itu?" bertanya Wijang. "Kadang-kadang," jawab Paksi. "Menarik sekali.
Aku menyenangi cara hidupmu," berkata Wijang kemudian. "Kau tidak akan dapat
bertahan lama." "Apakah kau sama sekali tidak bergaul dengan orang lain?"
bertanya Wijang. "Tentu. Aku sering pergi ke pasar. Aku mempunyai beberapa orang
sahabat di pasar. Di antaranya seorang anak kecil. Namanya Kinong." "Bagaimana
kau tetap merahasiakan tempat tinggalmu terhadap sahabat-sahabatmu itu?"
"Ternyata aku dapat melakukannya. Tidak seorang pun di antara mereka yang tahu,
bahwa aku tinggal disini." Wijang mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja ia berkata,
"Aku akan tinggal disini. Aku akan mengusirmu setelah kau serahkan cincin itu.
Aku akan memiliki rumah ini, kebun jagung dan padi gaga." "Masih ada yang lain,"
Paksi justru menambahkan, "kebun pisang, pohon kelapa yang tumbuh di sepanjang
tepian sungai, rumpun pring cendani dan pring tutul." "Kau mempunyai rumpun
pring tutul? Kenapa kau tidak membuat perabot gubukmu ini dengan pring tutul?
Lincak panjang atau geledeg." "Aku lebih senang tidur dengan ketepe." "Bagus.
Jika demikian, aku akan mengambil alih gubuk ini. Tetapi aku memberi kesempatan
kepadamu sampai kau memetik jagung yang sudah hampir waktunya itu." "Kau akan
berhenti bertualangan?" bertanya Paksi. "Aku akan bertualang dari tempat ini.
Maksudku, setiap kali aku akan kembali kemari. Beristirahat untuk dua tiga hari,
lalu pergi bertualang lagi." Tetapi jawab Paksi mengejutkan, "Ambillah." Dahi
Wijang berkerut. Dengan ragu ia bertanya, "Kau tidak mempertahankan hakmu?" "Aku
tahu kau tidak akan kerasan tinggal disini sampai setengah musim. Jika hujan
turun, maka segala-galanya akan berubah." Wijang memandang Paksi dengan
tajamnya. Katanya, "Aku tahu bahwa kau sekedar menakutnakuti aku, agar aku
mengurungkan niatku." "Tidak. Aku tidak ingin mengurungkan niatmu. Sudah aku
katakan, kau tidak akan bertahan setengah musim. Kau tentu merasa lebih senang
tinggal di istana." Wijang terkejut. Dengan serta-merta iapun bertanya, "Istana
yang mana?" Paksi termangu-mangu sejenak. Bahkan ia bertanya kepada diri
sendiri, "Apakah aku terlalu cepat untuk berterus-terang?" Paksi memandang
Wijang sejenak. Wajahnya nampak tegang. Sementara Paksi yang sudah terlanjur
menyinggung kenyataan tentang Wijang itupun berkata selanjutnya, "Aku tidak tahu
siapakah kau sebenarnya. Tetapi aku sudah mengenalmu sebelumnya." "Dimana?"
bertanya Wijang. "Aku sudah beberapa kali harus berkelahi dengan orang-orang
yang tidak benar-benar ingin berkelahi. Meskipun dengan perkelahian itu aku
selalu mendapat pengalaman baru serta petunjukpetunjuk yang berharga. Namun
sekarang aku tidak ingin berkelahi dengan kau. Sekali lagi, aku tidak tahu siapa
sebenarnya kau ini. Tetapi jika aku salah menyebutmu dan aku keliru mengetrapkan
unggah-ungguh, itu bukan karena aku bersikap deksura. Tetapi karena kebodohanku
dan ketidak-tahuanku." "Kenapa kau tiba-tiba mengigau? Bangkit. Kita akan
berkelahi. Sudah waktunya kau berikan cincin itu kepadaku." Paksi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, "Aku baru saja makan. Dan kau merasa terlalu kenyang.
Tidak baik untuk banyak bergerak." "Kau memang iblis kecil," geram Wijang.
Tetapi wajahnya tidak menunjukkan gejolak kemarahan di dadanya. Paksi
menggeleng. Katanya, "Aku sedang malas untuk berkelahi sekarang." "Baik. Melawan
atau tidak melawan, aku akan berkelahi." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun
ia justru mengumpulkan mangkuk-mangkuknya yang kotor sambil berkata, "Aku sudah
terlalu lama menahan diri untuk mengatakan, bahwa aku pernah melihat kau di
istana. Hanya orang-orang berkedudukan tinggi atau bahkan hanya keluarga istana
saja yang tetap duduk di punggung kudanya di halaman istana." Wajah Wijang
menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia menjawab, "Aku tidak mengerti apa yang kau
maksudkan. Aku belum pernah pergi ke istana. Bahkan aku belum pernah memasuki
kotaraja. Aku pengembara yang menelusuri jalan-jalan pegunungan, lembah dan
ngarai yang panjang. Berjalan seurut pantai berpasir, berendam di sungai, kedung
dan rawa-rawa. Menyusup di antara semak-semak berduri di hutan-hutan yang
lebat." "Aku percaya. Tetapi keluarga istana pun ada yang melakukannya pula.
Sebelum naik tahta Pajang, Kangjeng Sultan juga seorang pengembara." "Siapa yang
mengatakannya kepadamu? Apakah kau mengenal Kangjeng Sultan?" "Tidak. Tetapi
banyak orang yang mengatakannya." Wijang menarik nafas dalam-dalam. Sementara
Paksi berkata, "Aku tidak ingin berteka-teki. Aku harus bersikap benar. Karena
itu, aku ingin tahu, dengan siapa aku berhadapan." Wijang menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, "Ternyata aku juga terkelabuhi. Aku kira hanya aku sajalah
yang telah mengetahui bahwa aku berhadapan dengan Paksi Pamekas, putera Ki
Tumenggung yang hanya aku kenal dengan gelar Tumenggung Sarpa Biwada." Paksilah
yang menjadi sangat terkejut. Dengan suara yang bergetar iapun berkata, "Dari
mana kau tahu namaku dan bahkan keluargaku?" Wijang tersenyum. Katanya, "Seorang
pengemis tua berceritera kepadaku tentang seorang anak muda yang sedang
mengembara. Ia sempat memberikan tongkat pusakanya kepada anak muda itu.
Sementara itu orang yang wajahnya dikotori oleh rambut, jambang, kumis dan
janggut, juga berceritera tentang Paksi Pamekas, anak seorang tumenggung yang
mengembara karena mendapat perintah dari ayahnya untuk mencari sebuah cincin
bermata tiga butir batu akik." "Aku tidak pernah berceritera kepada mereka,
bahwa aku adalah anak seorang tumenggung. Aku adalah anak dari Padukuhan
Banyuanyar." Orang yang menyebut dirinya bernama Wijang itu tertawa. Katanya,
"Mungkin mereka bermimpi bertemu dengan ayahmu yang berkedudukan tinggi itu."
Paksi memang menjadi bingung. Namun kemudian, Paksi itupun bertanya, "Baiklah.
Aku tidak ingkar. Nampaknya segala sesuatunya sudah nampak terang di
pandanganmu. Sekarang, siapakah kau sebenarnya, yang tetap duduk di atas
punggung kuda di halaman dalam istana Pajang." Orang yang masih terhitung muda
itu tiba-tiba membuka kantong ikat pinggangnya. Paksi terkejut bukan kepalang
ketika ia melihat orang yang menyebut dirinya bernama Wijang itu telah
mengeluarkan sebentuk cincin. Cincin mas dengan tiga butir batu akik. "Cincin
itu," Paksi hampir berteriak. Orang yang menyebut dirinya Wijang itu tersenyum.
Katanya, "Bukankah kau mendapat perintah untuk mencari cincin ini?" "Ya," jawab
Paksi. "Ambil cincin ini dari tanganku. Kau yang sudah ditempa oleh Ki Marta
Brewok serta mendapat senjata yang tidak ada duanya itu tentu akan dapat
mengalahkan aku." Wajah Paksi menjadi tegang. Ketika ia memandang wajah orang
yang menyebut dirinya Wijang itu, ia melihat bibir yang tersenyum. Sama sekali
bukan greget seorang yang sedang menantang untuk berkelahi. "Tolong," berkata
Paksi, "sebutkan siapakah kau sebenarnya. Aku tidak ingin berteka-teki lebih
lama lagi." Orang itu masih tersenyum. Dengan nada rendah iapun berkata, "Namaku
Benawa." Paksi terkejut sekali. Rasa-rasanya ia mendengar suara petir yang
meledak di telinganya. Ia pernah mendengar nama itu. Benawa adalah putera
Kangjeng Sultan Hadiwijaya sendiri. "Ampun, Pangeran," Paksi membungkukkan
kepalanya dalam-dalam, "hamba tidak tahu, bahwa hamba berhadapan dengan Pangeran
Benawa. Yang hamba ketahui, bahwa orang yang menyebut dirinya Wijang ini adalah
tentu keluarga istana dan berkedudukan tinggi, sehingga dapat tetap duduk di
punggung kudanya di halaman dalam istana. Tetapi hamba tidak mengira bahwa
Wijang itu adalah Pangeran Benawa itu sendiri." Pangeran Benawa tertawa pendek.
Katanya, "Jangan panggil aku pangeran. Panggil aku Wijang. Kau tidak usah
merubah sikapmu. Anggap aku kakakmu sendiri." "Tetapi Pangeran adalah putera
Kangjeng Sultan." Wijang mengangguk. Tetapi katanya, "Siapapun aku. Panggil aku
Wijang." "Hamba, Pangeran," Paksi mengangguk hormat. Namun kemudian Wijang
itupun bertanya, "Kau percaya bahwa akulah Pangeran Benawa? Setiap orang dapat
menyebut dirinya Pangeran Benawa. Apakah hanya karena kau melihat aku berkuda di
halaman dalam istana, dan aku menyebut namaku Benawa kau langsung
mempercayainya?" "Pangeran membawa cincin yang sedang dicari itu. Selebihnya
hamba mendengarkan kata nurani hamba." "Baiklah. Tetapi sekali lagi aku minta,
panggil aku Wijang. Aku adalah kakakmu dalam pengembaraan ini. Atau jika kau
tidak berkeberatan, aku akan ikut tinggal di gubuk ini untuk sementara sebelum
aku memutuskan meneruskan pengembaraan ini." "Tetapi orang-orang yang mencari
cincin itu berkeliaran disini, Pangeran." "Panggil aku Wijang." Paksi hanya
menarik nafas panjang. Tetapi bibirnya tidak bergerak. Wijanglah yang kemudian
berkata, "Aku justru ingin melihat, apa saja yang mereka lakukan disini."
"Tetapi jika mereka mengetahui bahwa cincin itu ada di tangan Pangeran, maka
mereka akan menempuh segala cara untuk merebutnya, karena mereka menganggap
bahwa cincin itu memiliki tuah. Siapa yang memiliki dan mengenakan cincin itu di
jarinya, maka ia akan menurunkan penguasa di tanah ini." "Kau masih belum dapat
menyebut namaku Wijang. Cobalah. Kau akan terbiasa." "Baik," jawab Paksi.
"Apakah cincin ini benar-benar merupakan pertanda, bahwa seseorang akan dapat
melahirkan penguasa di tanah ini, aku tidak akan mengatakan apa-apa. Tetapi jika
beberapa orang keluarga istana memerintahkan orang-orang terpercaya mencarinya,
sebenarnya bukan hanya karena cincin ini. Tetapi keluarga istana itu juga
mencari aku. Mereka tahu bahwa akulah yang membawa cincin ini. Tetapi di samping
itu ternyata ada juga yang menganggap bahwa petugas-petugas khusus itu telah
memburu cincin yang hilang." "Kenapa Pangeran meninggalkan istana." "Aku harus
memperingatkan kau lagi. Panggil aku Wijang." "Ya. Kenapa kau meninggalkan
istana?" "Udara di lingkungan istana menjadi sangat panas." "Maksudmu?" "Kau
tahu maksudku." "Aku mengerti. Tetapi apa sebabnya?" bertanya Paksi. "Apakah kau
menjadi kecewa karena pelayanan yang kurang baik, atau karena alasan-alasan lain
sehingga udara di istana itu merasa panas?" "Orang-orang di dalam istana itu
tidak lagi mengenal kehidupan yang sebenarnya yang terjadi di Pajang dan
lingkungannya. Kakangmas Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar juga
kecewa melihat tatanan kehidupan di istana." "Apa yang mengecewakan?" "Sama
sekali bukan karena kami merasa kurang mendapat pelayanan. Tetapi justru
sebaliknya. Apa yang ada di istana sama sekali bertentangan dengan kenyataan
hidup di luar dinding istana. Orang-orang yang sehari-harinya hidup di dalam
dinding istana tidak pernah melihat, bahwa ada juga orang yang hidup melarat.
Kekurangan dan bahkan lapar. Para penjabat kahartakan di istana tidak tahu,
bahwa para petugas pajak di daerah-daerah menjadi kehilangan kendali. Mereka
berlomba untuk mendapatkan yang terbanyak agar mereka mendapat pujian atau naik
pangkat. Tetapi mereka tidak menghiraukan, bahwa mereka yang dipungut pajak itu
merasa mendapat beban yang sangat berat." "Tetapi bukankah pajak itu merupakan
salah satu pilar yang mendukung tegaknya pemerintahan, karena pajak itu
merupakan salah satu sumber dana untuk menjalankan roda pemerintahan?" "Ternyata
kesadaranmu sangat tinggi, Paksi. Mungkin karena kau anak seorang tumenggung.
Jika orang-orang di sekitar lingkungan ini tidak mengeluh karena beban pajak
yang tidak terpikul, maka aku menyatakan hormatku kepada para petugas disini."
Paksi mengangguk-angguk kecil. Ia memang tidak pernah berbicara tentang pajak
dengan orang-orang yang dikenalnya. Tetapi seandainya ada keluhan-keluhan itu,
mereka tidak akan mengatakannya kepada setiap orang, apalagi orang yang tidak
terlalu dikenal sebagaimana Paksi. Namun dalam pada itu, Wijang itupun berkata,
"Bukan saja karena orang-orang di istana Pajang itu tidak mengenal kehidupan
rakyat yang sebenarnya, tetapi aku juga kecewa atas sikap ayahanda Sultan
Hadiwijaya." "Kenapa?" bertanya Paksi. Wijang itu tersenyum. Katanya, "Sudahlah.
Apakah seorang anak harus membuka rahasia dan kelemahan orang tuanya, betapapun
ia menjadi kecewa?" Paksi menundukkan kepalanya. Katanya, "Memang tidak."
"Bagus. Kau dapat mengerti jika aku tidak mengatakan alasannya, kenapa aku
kecewa terhadap ayahanda." Paksi mengangguk kecil. "Nah, sekarang, aku minta
sekali lagi untuk tinggal di gubuk ini. Setidak-tidaknya untuk sementara." "Dan
aku harus meninggalkan gubuk ini?" Wijang tertawa. Katanya, "Aku takut tinggal
disini sendiri." Paksipun tertawa pula. Sejak hari itu, Paksi tidak tinggal
sendiri di gubuk itu. Wijang yang tinggal bersamanya, dengan cepat telah
menyesuaikan dirinya. Ia telah melakukan apa yang dilakukan oleh Paksi. Bahkan
Wijangpun telah memanjat pohon kelapa pagi dan sore untuk mengambil legen.
Seperti Paksi, ternyata Wijangpun melakukannya dengan tangkasnya. Di hari-hari
berikutnya, Paksi tidak sendiri pergi ke pasar. Ketika ia bertemu dengan Kinong,
maka Paksipun telah memperkenalkan Wijang kepadanya. "Apakah ia saudaramu?"
bertanya Kinong. "Ya. Kakakku," jawab Paksi. "Tetapi baru kali ini ia pergi ke
pasar ini." Paksi tertawa. Katanya, "Kakakku tinggal di tempat yang jauh. Baru
kemarin ia datang menengok aku." "Dimana ia tinggal?" Pertanyaan itu agak
membingungkan Paksi. Namun kemudian iapun menjawab, "Ia tinggal di Kembang
Arum." Kinong mengangguk-angguk. Tetapi ia belum pernah mendengar nama padukuhan
Kembang Arum. Namun Kinong tidak sempat berbincang lebih lama. Iapun segera
berlari-lari membawa keranjang kecilnya. Ibunya telah melambaikan tangan
memanggilnya, karena ada orang yang ingin minta bantuannya. "Anak sekecil itu
harus sudah mencari makan sendiri," desis Wijang. "Salah ayahnya," desis Paksi.
Wijang berpaling kepadanya dengan dahi yang berkerut. Namun kemudian iapun
bertanya, "Kenapa dengan ayahnya?" "Ia seorang penjudi." Wijang
mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Dalam pada itu, setelah
beberapa kali Wijang pergi ke pasar, maka iapun mulai melihat, orangorang dari
beberapa perguruan berkeliaran di pasar itu. Nampaknya orang-orang itu masih
berusaha untuk saling mengekang diri, sehingga benturan di antara mereka
dihindari. Benturanbenturan yang pernah terjadi, sama sekali tidak menguntungkan
bagi mereka, karena kekuatan mereka hampir seimbang. Hanya pada saat-saat yang
menentukan sajalah agaknya mereka akan mengambil sikap yang tegas. Namun,
perhatian Wijang dan Paksi sangat tertarik kepada pembicaraan dua orang dari
Perguruan Sad yang kebetulan mereka dengar, bahwa ada di antara mereka yang
seakan-akan telah melihat pelangi yang berdiri tegak di kaki bukit. Pelangi itu
hanya terdiri atas tiga warna. "Apakah ketajaman indera mereka mampu melihat
keberadaan cincin yang aku bawa ini?" bertanya Wijang kemudian. "Entahlah.
Tetapi sebelum kau datang, orang-orang itu sudah berada disini." "Aku sudah agak
lama disini," berkata Wijang. "Bukankah kau baru datang beberapa hari di saat
aku pergi?" Wijang menggeleng. Katanya, "Tidak. Jauh sebelum itu." "Jauh sebelum
itu? Sebelum aku datang ke tempat ini?" "Tidak. Jika kau sudah setahun disini,
berarti bahwa kau datang lebih dahulu. Tetapi aku bukan baru berada disini di
saat kau pergi." "Jadi di mana kau selama ini?" Wijang tersenyum. Katanya, "Aku
sudah berada disini kira-kira sebulan yang lalu. Aku tinggal bersama Paman Marta
Brewok." "Ki Marta Brewok?" bertanya Paksi. "Ya. Bukankah Ki Marta Brewok telah
mengajarimu bermain loncat-loncat?" Paksi menarik nafas dalam-dalam. Hampir di
luar sadarnya ia bertanya, "Siapa sebenarnya orang yang menamakan dirinya Marta
Brewok? Aku menganggapnya sebagai guruku. Iapun mengakui aku sebagai muridnya.
Tetapi aku tidak tahu, siapakah sebenarnya Ki Marta Brewok itu." "Bukankah kau
sudah menyebutnya? Namanya Marta Brewok. Bukankah itu sudah cukup?" Paksi
memandang Wijang dengan tajamnya, sehingga Wijang itupun bertanya, "Kenapa kau
memandang aku seperti itu? Kau tidak percaya kepadaku atau justru kau menjadi
curiga?" "Tidak," jawab Paksi, "aku sama sekali tidak menjadi curiga. Tetapi aku
tahu bahwa ada sesuatu yang kau sembunyikan." Wijang tertawa. Katanya,
"Sudahlah. Jangan mempersulit perasaanmu sendiri. Sekarang, marilah kita
memperhatikan pendapat orang-orang dari Perguruan Sad itu." "Maksudmu?" "Ada dua
kemungkinan. Apakah orang dari Perguruan Sad itu mampu melihat cincin yang
tersembunyi di balik kantong ikat pinggangku, atau memang cincin itu benar-benar
memancarkan cahaya sebagaimana yang mereka lihat." Paksi mengangguk-angguk
kecil. Namun kemudian iapun bergumam, "Cincin itu memang sangat menarik."
"Setidak-tidaknya karena aku yang membawanya." Paksi mengerutkan dahinya. Namun
Wijang itupun tertawa. Katanya, "Kau tidak usah iri." Paksipun akhirnya tertawa
pula. Namun bagaimanapun juga, Wijang dan Paksi harus menjadi lebih
berhati-hati. Jika ada orang yang melihat atau merasa melihat semacam pelangi
yang mempunyai tiga warna berdiri tegak di kaki bukit, maka itu akan dapat
berarti bahwa orang-orang yang mencari cincin itu akan menjelajahi kaki bukit.
Mungkin mereka akan berkeliaran dan bersamadi di antara bebatuan, di pinggir
sungai atau di goa-goa sambil menunggu isyarat. Mungkin cahaya seperti ndaru,
atau seperti bintang yang jatuh dari langit, atau sinar yang memancar dari
tempat-tempat yang tersembunyi atau semak-semak yang tiba-tiba terbakar. Namun
satu dua hari kemudian, tidak seorangpun yang pernah memanjat kaki gunung itu
lebih tinggi. Sementara itu, dalam waktu-waktu senggang, ternyata keduanya
sempat pula melakukan latihan olah kanuragan bersama-sama. Mereka berdua memang
tidak bersumber dari perguruan yang sama. Tetapi justru karena itu, maka
latihan-latihan yang mereka lakukan dapat memperkaya ilmu mereka masing-masing.
Namun dalam pada itu, Paksi harus mengakui, bahwa Pangeran Benawa yang menamakan
dirinya Wijang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun bagi Wijang, Paksi
adalah kawan berlatih yang cukup memadai. Bahkan keduanya kadang telah berlatih
di dalam goa di belakang air terjun. Semula Paksi tidak mengatakan kepada
Wijang, bahwa di belakang air terjun itu terdapat sebuah goa. Namun ternyata
Wijang sudah mengetahuinya. "Ternyata apa yang diketahuinya jauh lebih banyak
dan lebih luas dari yang aku ketahui," berkata Paksi. Bahkan Wijang itu pulalah
yang telah mengajak Paksi berlatih sambil berendam di dalam air. "Pada suatu
ketika, mungkin sekali kita dipaksa untuk bertempur di dalam air," berkata
Wijang. Paksi memang mendapat pengalaman baru. Ia dapat mengenali perbedaannya,
apa yang harus dilakukan di darat dan apa yang harus dilakukan di dalam air.
Ketrampilannya berenang pun semakin bertambah. Ketahanan nafasnya pun menjadi
semakin panjang. Namun ketenangan kedua orang itupun akhirnya terganggu juga.
Ketika keduanya sedang berlatih meningkatkan ketahanan tubuh dengan berjalan dan
berlari di celah-celah bebatuan, pepohonan hutan lereng pegunungan, lembah dan
tebing-tebing terjal, maka tiba-tiba saja Wijang memberi isyarat agar Paksi yang
berlari di belakangnya untuk berhenti. Paksipun tertegun. Iapun kemudian
bergeser ke balik gerumbul perdu ketika Wijang memberikan isyarat kepadanya.
Keduanyapun kemudian melihat tiga orang perempuan berjalan menyusuri jalan
setapak. Untunglah mereka tidak berjalan ke arah gubuk Paksi. Tetapi justru ke
arah yang lain. "Orang-orang dari Perguruan Goa Lampin," desis Paksi. Wijang
mengangguk-angguk. Katanya, "Pemimpin perguruan itu adalah perempuan yang sangat
berbahaya. Dengan pandangan matanya yang menembus mata seseorang, ia dapat
mempengaruhi penalarannya sehingga orang itu dapat kehilangan pribadinya." Paksi
mengangguk. Katanya, "Aku pernah melihatnya." "Bukankah Paman Marta Brewok
pernah memberi petunjuk kepadamu, bagaimana kau harus mengatasinya?" Paksi
mengangguk. "Bagus," Wijang mengangguk-angguk. "Murid-muridnyapun ada yang sudah
mencoba-coba kekuatan sihir itu. Tetapi kau tidak usah menjadi cemas. Kekuatan
pribadimu akan dapat mengatasinya, sehingga kekuatan sihir itu tidak
mempengaruhimu." Paksi masih mengangguk-angguk. "Nah, satu peringatan buat kita.
Mereka hari ini menyusuri lorong ke arah yang lain. Tetapi mungkin besok atau
lusa, mereka akan pergi menyusuri jalan setapak menuju ke gubuk kita?"
"Bagaimana sikap kita jika hal itu terjadi?" "Apa yang kau lakukan jika aku
tidak bersamamu?" Wijang justru bertanya. "Aku akan membiarkannya." "Merusak
gubukmu, mengambil isinya dan barangkali memetik jagungmu dan mencabut ketela
pohonmu?" "Bukankah aku dapat menanamnya lagi?" "Apa yang akan kau makan
kemudian?" "Bukankah aku selama ini menanak nasi beras, bukan nasi jagung?"
Wijang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk. Katanya,
"Bagus. Bukankah kau untuk sementara masih menghindari benturan dengan mereka?"
"Ya," Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ketika keduanya hampir saja bangkit
berdiri dan meninggalkan tempat itu, maka keduanya terkejut pula. Mereka melihat
dua orang lain yang berjalan melalui lorong sempit berbatu batu ke arah yang
sama sebagaimana ketiga orang perempuan dari Perguruan Goa Lampin itu. "Siapakah
mereka?" desis Paksi. "Bukan orang-orang dari Perguruan Sad." "Jadi siapa?
Apakah mereka orang-orang Tegal Arang?" Wijang menggeleng. "Apa yang terjadi?
Apakah mereka ingin menjajagi kemampuan masing-masing? Tetapi hal itu sudah
pernah mereka lakukan sebelumnya." Sebelum Wijang menjawab, maka di kejauhan
mereka melihat tiga orang lainnya berjalan ke arah yang sama. Bahkan kemudian
ada lagi yang menyusul. "Nampaknya memang ada sesuatu yang akan terjadi," desis
Wijang. "Mereka berkumpul untuk berkelahi atau untuk berbicara di antara
mereka?" gumam Paksi. "Lingkungan ini cukup terlindung oleh semak-semak belukar.
Bahkan pepohonan. Kita akan dapat melihat, apa yang akan terjadi kemudian."
"Bukankah kita tidak akan mencampuri persoalan mereka?" "Tidak," jawab Wijang.
Keduanyapun kemudian mulai beringsut. Dengan hati-hati keduanya merunduk dari
balik gerumbul ke balik gerumbul. Dari balik batu-batu besar ke balik batu yang
lain. "Mereka agaknya akan pergi ke balik bukit itu," berkata Paksi. "Disana ada
sebuah tempat yang agak lapang, di atas hamparan rumput yang hijau." Wijang
mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Sebuah batu persegi yang agaknya dibuat oleh
tangan seseorang, ada di tengah-tengahnya. Sebatang pohon preh tumbuh di sudut
tempat yang lapang itu." "Kau pernah mengunjungi tempat itu?" "Seperti kau, aku
mengenal lingkungan ini dengan baik." Paksi mengangguk-angguk. Sementara itu
keduanya merayap ke tempat yang mereka sebutkan itu. Dengan sangat hati-hati
Paksi dan Wijang kemudian menuruni tebing yang tidak terlalu tinggi yang
ditumbuhi pepohonan dan semak-semak yang liar, sehingga karena itu, maka
keduanya tidak mudah dapat dilihat dari tebaran tempat yang agak lapang yang
ditumbuhi rerumputan dan seperti dikatakan oleh Wijang, di tengah-tengahnya
terdapat sebuah batu besar persegi ampat. Batu yang nampaknya adalah bekas
buatan tangan manusia. Keduanya memang tidak dapat berada terlalu dekat dengan
lapangan rumput itu. Namun dari tempat mereka berlindung, mereka dapat melihat
apa yang terjadi dan serba sedikit pendengaran mereka yang tajam, dapat
mendengar pembicaraan dari orang-orang yang seperti mereka duga, berkumpul di
lapangan rumput itu. Menurut penglihatan Wijang dan Paksi, maka di lapangan
rumput itu telah berkumpul beberapa orang dari beberapa perguruan yang berbeda.
Sedikitnya ada lima perguruan yang diwakili dalam pertemuan itu. Tetapi
nampaknya tidak seorangpun dari para pemimpin tertinggi dari perguruan itu yang
datang dalam pertemuan itu. Wijang dan Paksi mendengarkan pembicaraan
orang-orang itu dengan saksama. Mula-mula masing-masing menyebut perguruan
mereka serta nama mereka yang ditugaskan untuk mewakili. "Kau ikut mengingat
nama mereka serta perguruan mereka," desis Wijang. "Aku akan mencoba," sahut
Paksi perlahan-lahan. Baru kemudian, seorang di antara mereka, justru orang dari
Perguruan Sad, berkata, "Aku mendapat perintah dari guru, menawarkan kerja sama
di antara kita, permusuhan dan bahkan saling membunuh sama sekali tidak
bermanfaat bagi kita semuanya dan bagi kita masing-masing." "Kerja sama yang
bagaimana yang dimaksud oleh gurumu?" bertanya seorang perempuan dari Goa
Lampin. "Itulah yang harus kita bicarakan," jawab orang dari Perguruan Sad itu.
Namun seorang yang datang dari perguruan yang lain lagi berkata, "Katakan,
apakah kau sudah mempunyai rancangan dari ujud kerja sama yang dapat kita
lakukan?" Orang dari Perguruan Sad itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba
saja orang itu menjadi gelisah. Bahkan beberapa orang yang lainpun nampak
menjadi gelisah. Tiba-tiba seorang di antara mereka, seorang yang agaknya datang
dari perguruan yang lain lagi berkata lantang, "Jangan bersembunyi. Marilah,
datanglah jika kalian akan ikut berbicara bersama kami." Seorang yang lain, yang
bertubuh raksasa yang agaknya datang dari Perguruan Tegal Arang di pinggir Kali
Praga tertawa sambil berkata, "Ada dua orang yang nampaknya ingin bermain
sembunyi-sembunyian." Wijang dan Paksi terkejut. Mereka merasa bahwa mereka
berada di tempat yang tersembunyi. Kemampuan mereka yang seakan-akan dapat
menyerap bunyi yang timbul dari setiap sentuhan tubuh mereka dengan
lingkungannya, melindungi mereka dari ketajaman pendengaran orangorang yang
sedang berbicara di lapangan rumput itu. Jika orang-orang itu mengetahui
kehadiran mereka berdua, itu berarti bahwa mereka adalah orang-orang yang
berilmu sangat tinggi. "Tidak mungkin," desis Paksi. Wijang mengangguk-angguk
kecil. Namun kemudian iapun berbisik, "Jika karena sesuatu hal mereka mengetahui
kehadiran kita, maka apa boleh buat." Namun keduanya terkejut ketika mereka
melihat sesuatu yang bergerak di sisi yang lain dari padang rumput itu. Dua
orang muncul dari sela-sela gerumbul-gerumbul perdu. "Kenapa kalian
bersembunyi?" bertanya orang dari Perguruan Sad itu. Kedua orang itu berdiri
tegak memandang berkeliling seakan-akan menembus ke setiap biji mata dari
orang-orang yang berada di padang rumput itu. Sementara itu Wijang berdesis,
"Kenapa panggraita kita begitu tumpul, sehingga kita tidak mengetahui kehadiran
kedua orang itu?" "Keduanya masih terlalu jauh dari kita berdua, karena keduanya
berada di seberang lapangan rumput itu," sahut Paksi. "Sementara itu, perhatian
kita pusatkan kepada orang-orang yang ada di lapangan rumput itu sendiri. Aku
sudah siap mengingat-ingat nama jika salah seorang dari mereka menyebutkannya
lagi. Namun yang datang ada dua orang dari sisi seberang." Namun tiba-tiba wajah
Paksi menjadi tegang. Hampir di luar sadarnya ia beringsut sehingga Wijang
menggamitnya sambil berdesis, "Sst. Kau kenapa?" Tiba-tiba saja Paksi teringat
sesuatu. Kata-katanya meluncur dengan nada datar, "Seorang lakilaki dan seorang
perempuan." "Ya. Kenapa?" bertanya Wijang. "Tentu ayah dan ibu Kemuning."
"Siapakah Kemuning itu?" bertanya Wijang. Paksi menarik nafas dalam-dalam.
Dipandanginya Wijang sekilas. Namun kemudian Paksipun menjawab perlahan, "Nanti
aku ceriterakan." Wijang mengangguk. Iapun ingin memperhatikan apa yang
dikatakan oleh kedua orang laki-laki dan perempuan itu. Sementara itu Paksipun
berdesis, "Ciri-ciri keduanya tepat seperti yang dikatakan Ki Pananggungan."
Wijang tidak menyahut. Tetapi ia memperhatikan laki-laki itu dari ujung kakinya
sampai ke kepalanya. Laki-laki itu bertubuh tinggi tegap. Wajahnya keras,
berkumis lebat. Hidungnya seakanakan tenggelam dalam kelebatan kumis itu.
Matanya sipit, tetapi alisnya hampir setebal kumisnya. Sedangkan perempuan yang
bersamanya itu terhitung perempuan yang bertubuh tinggi semampai mengenakan
pakaian yang khusus. Sepasang pedang tergantung di kedua lambungnya. Selempang
kulit menyilang di dadanya menahan berat pedangnya yang menggantung pada ikat
pinggang kulitnya. Dalam pada itu, laki-laki itupun kemudian berkata, "Kalian
mengira bahwa kami mendekati tempat ini sambil bersembunyi? Buat apa aku
bersembunyi jika yang datang kemari hanya tikustikus kecil seperti kalian. He,
di manakah guru kalian? Kenapa mereka tidak datang?" "Sejak semula guru memang
tidak akan datang ke tempat ini. Justru kami baru mempersiapkan kemungkinan,
agar guru-guru kami dapat bertemu." Laki-laki berkumis tebal itu termangu-mangu
sejenak. Dengan nada berat iapun kemudian berkata, "Aku ingin bertemu dan
berbicara dengan guru-guru kalian." "Aku tidak tahu, apakah guru menganggap
penting kalian berdua ikut berbicara tentang persoalan yang teramat penting.
Mungkin guru bersedia menerima kalian untuk menghadap. Tetapi tidak untuk
membicarakan sesuatu." "Jangan menghina aku. Mungkin kalian merasa kokoh karena
kalian adalah bagian dari sebuah perguruan. Kalian menganggap guru kalian
masing-masing adalah orang-orang terkuat di dunia kanuragan. Tetapi
sebenarnyalah perguruan kalian tidak ada artinya apa-apa bagi kami." Tetapi
seorang yang bertubuh raksasa dari perguruan Tegal Arang itupun berkata, "Kiai
Repak Rembulung. Selama ini kami memang menganggap kau berilmu sangat tinggi.
Tetapi bahwa kehadiranmu yang diam-diam itu justru menimbulkan suara seperti
lampor, maka kemampuanmu kami ragukan. Demikian pula Nyi Pupus Rembulung yang
menurut pendengaran kami memiliki kemampuan yang jarang ada duanya, ternyata
juga sangat mengecewakan. Kalian berdua yang digelari sepasang Alap-alap Elar
Perak, ternyata telah mengejutkan kami. Bukan karena ketinggian ilmu tetapi
justru sebaliknya." "Menurut cirimu, kau adalah murid dari Perguruan Tegal Arang
di tepi Kali Praga. Terima kasih atas pengenalanmu terhadap kami berdua serta
gelar yang kami sandang. Tetapi jangan mencoba kemampuan kami. Kami memang tidak
pernah berniat untuk mendekat dengan diam-diam. Itulah sebabnya kami datang
seperti lampor. Tetapi jika ada yang meragukan kemampuan kami, silahkan untuk
mengatakannya berterus-terang." "Aku meragukan tataran ilmumu, Ki Repak
Rembulung." Namun tiba-tiba saja orang itu menjerit. Ia tidak melihat dengan
jelas apa yang dilakukan oleh Ki Repak Rembulung. Namun tiba-tiba saja dari
dahinya telah mengucur darah. Sebuah batu sebesar telur puyuh telah mengenai
dahinya itu. "Jika kau anggap aku curang karena aku menyerang dengan tiba-tiba,
maka marilah, siapa yang akan menjajagi ilmu dengan cara apapun yang ingin
kalian lakukan. Atau barangkali ada yang meragukan kemampuan isteriku, Pupus
Rembulung." Orang-orang yang ada di lapangan rumput itu berdiri dengan tegang.
Sementara Repak Rembulung yang digelari Alap-alap Elar Perak itu melangkah
dengan tenangnya mengelilingi batu persegi yang ada di tengah-tengah lapangan
rumput itu. "Aku tidak sering menyombongkan diri. Tetapi jika perlu, aku memang
melakukannya seperti apa yang aku lakukan sekarang," berkata Repak Rembulung.
Tidak seorangpun yang menyahut. Karena itu, maka Repak Rembulung itupun kemudian
berkata, "Katakan kepada gurumu, aku ingin berbicara dengan mereka." Orang-orang
yang berkumpul di lapangan rumput itu diam membeku ketika Repak Rembulung itu
menunjuk mereka seorang-seorang. Bahkan kepada orang yang dahinya berdarah itu,
iapun berkata, "Kau dapat melaporkan apa yang terjadi atas dahimu itu kepada
gurumu. Selebihnya, jika kau sekali lagi menghina aku, maka sebelah matamu akan
menjadi buta, karena batu itu akan menghunjam masuk ke dalam matamu. Jika kau
masih mengulanginya lagi, matamu yang lain akan menjadi buta pula." Orang yang
dahinya terluka itu berdiri mematung di tempatnya. Ketika darahnya mengalir ke
matanya, ia sama sekali tidak mengusapnya. Setiap gerak akan dapat menimbulkan
kecurigaan pada Repak Rembulung atau Pupus Rembulung sehingga mereka dapat
melakukan sesuatu yang dapat membahayakannya. "Atau kalian semuanya dari
perguruan yang berbeda-beda ini ingin mencoba bersama-sama? Kami sama sekali
tidak berkeberatan. Tetapi untuk melawan kalian bersama-sama, sulit bagi kami
untuk mengendalikan diri, sehingga jika ada yang mati di antara kalian, kami
tidak bertanggung jawab." Orang-orang yang ada di lapangan itu masih berdiri
mematung. Tidak seorangpun yang bergerak atau bahkan menjawab ancaman Repak
Rembulung itu. Dalam pada itu, tiba-tiba terdengar suara Pupus Rembulung,
"Sudahlah, Kakang. Marilah kita pergi. Tidak ada gunanya kita berlama-lama
disini." Repak Rembulung mengangguk. Katanya, "Kami akan segera pergi. Tetapi
aku juga ingin semua orang yang ada di lapangan rumput ini pergi. Kalian tidak
usah berbicara tentang pertemuan antara pemimpin dan barangkali guru kalian.
Biarlah mereka membicarakannya langsung di antara mereka. Ingat, beritahu kami
berdua, kami akan datang dalam pertemuan itu." Tiba-tiba saja dengan suara yang
bergetar salah seorang dari Goa Lampin bertanya, "Bagaimana kami
memberitahukannya kepada Ki Repak Rembulung?" "Pahatkan saat pertemuan itu pada
beberapa batang pohon gayam yang ada di sepanjang jalan menuju ke Panjatan." "Ki
Repak Rembulung tinggal di Panjatan?" "Aku tinggal dimana-mana. Tetapi ingat,
jangan mencoba menipu dan membohongi aku. Jika pertemuan itu berlangsung tanpa
aku ketahui, serta tidak ada pahatan waktu di beberapa pohon gayam di jalan
menuju ke Panjatan, maka kalian akan menyesal." Tidak seorangpun yang bertanya
lagi. Mereka mengharap agar Sepasang Alap-alap Elar Perak itu segera
meninggalkan tempat itu. Namun ternyata Pupus Rembulung itu berkata lantang,
"Cepat, tinggalkan tempat ini. Atau aku harus mengusir kalian." Orang-orang
itupun kemudian telah beringsut meninggalkan tempat itu sebelum mereka sempat
menemukan kesepakatan apa-apa tentang rencana pertemuan antara para pemimpin dan
guru mereka. Sedangkan Repak dan Pupus Rembulunglah yang kemudian terakhir
meninggalkan tempat itu. Sepeninggal mereka, maka Wijang dan Paksipun kemudian
telah keluar dari persembunyiannya. Namun yang pertama-tama dikatakan oleh
Wijang bukan tentang orang-orang yang berkumpul itu, tetapi justru tentang diri
mereka berdua. "Nah, bukankah kita sudah berhasil meredam suara yang timbul dari
gerak-gerik kita. Geseran tubuh dan pakaian kita dengan benda-benda sekeliling
kita tidak mampu menyentuh ketajaman telinga kedua orang suami isteri itu."
Paksi mengangguk-angguk. Iapun kemudian menyadari bahwa iapun mampu menyerap
bunyi geseran itu. Namun Paksipun kemudian berkata, "Kedua orang suami isteri
itu menarik perhatian." "Yang kau sebut sebagai ayah dan ibu Kemuning itu."
"Ya," jawab Paksi. "Nah, bukankah kau akan berceritera tentang Kemuning?" "Nanti
di rumah aku akan menceriterakannya." Sambil bergeser Wijang itupun kemudian
berkata, "Kita sudah mendengar bahwa orang yang disebut Repak Rembulung itu
minta agar ia mendapat isyarat jika diselenggarakan pertemuan antara para
pemimpin perguruan yang telah menurunkan orang-orangnya di daerah ini." Paksi
mengangguk-angguk pula. Katanya, "Isyarat itu akan dapat kita lihat di
pohon-pohon gayam di jalan yang menuju ke Panjatan. Dengan demikian, maka
kitapun akan dapat hadir pula untuk melihat apa yang akan mereka bicarakan."
"Mereka tentu akan berbicara tentang cincin istana yang hilang," desis Wijang.
"Yang menarik, bagaimana mereka mengatur kerja sama di antara mereka itu." "Yang
lebih menarik lagi adalah kehadiran Repak Dan Pupus Rembulung itu." Paksi
termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja Wijang menarik Paksi sambil
berkata, "Kita akan pulang. Kita akan melihat apakah ada satu dua orang yang
tersesat ke gubuk kita. Selebihnya, kau akan berceritera tentang Kemuning yang
kau sebut anak Repak dan Pupus Rembulung itu." Paksi tidak menjawab. Apalagi
Wijang masih saja menariknya berjalan di lereng yang ditumbuhi pohon-pohon perdu
itu. Ketika mereka sampai di gubuk kecil yang tersembunyi itu, merekapun berlega
hati. Tidak seorangpun di antara orang-orang dari berbagai perguruan itu yang
tersesat sampai ke gubuk kecil mereka. Ketika mereka kemudian duduk di dalam
gubuk itu sambil menghirup wedang sere yang sudah dingin, Paksipun telah
berceritera tentang seorang gadis yang bernama Kemuning. Menurut pamannya, Ki
Pananggungan, kedua orang tua angkat Kemuning adalah petualang pula. Menurut
ciri-cirinya, orang tua angkat Kemuning itu tentu Ki Repak Rembulung dan Nyi
Pupus Rembulung itu. "Sayang," berkata Wijang, "jika saja keduanya tidak
terjerumus ke dalam petualangan yang dapat mengotori namanya." "Apakah kita
dapat mencoba menghubunginya?" bertanya Paksi. "Jangan tergesa-gesa. Yang
terjadi mungkin justru sebaliknya dari yang kita inginkan," desis Wijang.
Meskipun demikian ia melanjutkan, "Tetapi pada saat yang tepat kita akan dapat
mencobanya." Paksi menarik nafas panjang. Katanya, "Rasa-rasanya masih ada
kemungkinan." "Kita belum tahu sifat-sifatnya lebih jauh. Kita baru melihat
ujudnya sekilas dan sedikit keterangan dari Ki Pananggungan itu," sahut Wijang.
Paksi tidak menjawab. Tetapi kepalanya mengangguk kecil. "Nah, sebaiknya kita
sekarang pergi ke goa itu. Bawa tongkatmu. Kita berlatih lebih
bersungguh-sungguh." Paksi tidak membantah. Iapun kemudian bangkit. Diraihnya
tongkatnya yang disembunyikannya di antara kerangka gubuk kecilnya. Sementara
itu, Wijangpun telah melangkah keluar dan gubuk itu. Sejenak kemudian, keduanya
telah berada di dalam goa. Dengan saksama keduanya memperhatikan pahatan yang
ada di dalam goa itu. Beberapa kali mereka mencobanya sehingga dengan demikian,
terutama bagi Paksi, ilmunya menjadi semakin matang. Tongkatnya menjadi semakin
berbahaya di tangannya Sementara itu, jiwanyapun menjadi semakin mapan. Ia sudah
berhasil menguasai keseimbangan antara perasaan dan penalarannya saat-saat ia
mengetrapkan ilmu puncaknya. Ternyata apa yang dilakukan Wijang, justru
melengkapi apa yang pernah diwariskan oleh Ki Marta Brewok kepada Paksi. Di hari
berikutnya, maka keduanya telah pergi menyusuri jalan menuruni kaki Gunung
Merapi. Mereka kemudian telah memasuki sebuah jalan yang agak lebih lebar dari
jalan setapak. Jalan yang menuju ke Panjatan. Memang ada beberapa batang pohon
gayam. Tetapi mereka belum melihat isyarat apapun yang terpahat pada pohon gayam
itu. Namun keduanya sadar, bahwa mereka harus berhati-hati, karena mereka akan
dapat bertemu dengan Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung. "Mungkin dua
atau tiga hari lagi," berkata Wijang. "Bukankah mereka harus membicarakannya
lebih dahulu?" "Atau para pemimpin perguruan yang tersinggung itu sengaja tidak
mau memenuhi keinginan Repak dan Pupus Rembulung," sahut Paksi. "Kemungkinan itu
memang dapat terjadi. Tetapi aku mengira bahwa para pemimpin perguruan itu akan
memberitahukan rencana pertemuan itu justru untuk menjebaknya." Paksi
mengangguk-angguk. Katanya, "Setiap hari kita akan melihat, apakah mereka telah
memahatkan pesan itu." "Dengan kemungkinan terburuk, kita akan bertemu dengan
orang yang sedang memahatkan pesan itu atau suami isteri orang tua angkat
Kemuning itu." Dengan serta-merta Paksi berpaling. Dipandanginya Wijang dengan
dahi berkerut. Namun Wijanglah yang bertanya, "Kenapa? Bukankah Repak dan Pupus
Rembulung itu orang tua angkat Kemuning sebagaimana kau katakan." Paksi menarik
nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia menjawab, "Ya. Mereka adalah orang tua
angkat Kemuning." "Jadi bagaimana?" "Tidak apa-apa," jawab Paksi. Wijang
tertawa. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Keduanyapun melanjutkan
langkah mereka menyusuri jalan ke sebuah padukuhan. Padukuhan yang tidak terlalu
besar. Bahkan letaknya agak jauh dari padukuhan-padukuhan yang lain. Tetapi
padukuhan itu nampak subur. Di sekitarnya sawah nampak hijau ditumbuhi batang
padi yang mulai berbunga. Di belakang dinding padukuhan, pohon nyiur berdiri
berjajar dari ujung sampai ke ujung. Parit-parit yang mengaliri sawah bersusun
seperti sebuah tangga raksasa mengalir sepanjang musim. "Apakah kita akan pergi
ke padukuhan itu?" bertanya Paksi Wijang memang agak ragu. Namun kemudian
katanya, "Kau yang sudah lama tinggal di sisi selatan kaki Gunung Merapi ini
agaknya sudah mengetahui isi dari padukuhan itu." Paksi menggeleng. Katanya,
"Aku tahu, bahwa padukuhan itu adalah Padukuhan Panjatan. Tetapi aku belum tahu
isi padukuhan itu." "Apakah di pasar kau tidak pernah bertemu dengan orang
Panjatan?" "Mungkin sekali dua kali pernah. Tetapi aku tidak menyadari bahwa
mereka adalah orang Panjatan." "Baik. Jika demikian, kita pergi saja ke pasar.
Tentu masih belum sepi. Kita akan mencoba mencari keterangan tentang padukuhan
ini." Keduanyapun kemudian telah berbelok menyusuri jalan sempit. Mereka tidak
langsung pergi ke padukuhan yang belum mereka ketahui apakah isinya. Meskipun
sebelumnya mereka jarang sekali berusaha untuk mengetahui isi sebuah padukuhan
apabila mereka akan memasukinya, namun justru karena padukuhan itu disebut oleh
Ki Repak Rembulung, maka mereka merasa perlu untuk berhati-hati. Ketika keduanya
yang berjalan cepat di sepanjang pematang dan lorong-lorong sempit sebelum
mereka turun ke jalan yang lebih besar yang menuju ke pasar itu, membuat mereka
menjadi haus. Karena itu, maka Paksipun mengajak Wijang untuk membeli dawet
cendol sebagaimana sering dilakukannya. Ketika keduanya sedang menghirup dawet
cendol yang segar itu, penjual dawet itupun bertanya, "Keringat kalian seperti
terperas dari tubuh kalian. Dari mana saja kalian berdua?" Paksi tersenyum
sambil menjawab, "Kami takut kalau kami kehabisan dawet cendol. Karena itu, kami
berlari-lari sepanjang jalan." Penjual dawet itu tertawa. Sementara Paksi
berkata selanjutnya, "Kami bangun kesiangan, sementara kami masih harus singgah
di Panjatan." "Panjatan?" orang itu mengerutkan dahinya. "Ya," jawab Paksi.
"Untuk apa kalian pergi ke Panjatan?" "Aku mempunyai seorang kawan di Panjatan."
Orang itu termangu-mangu sejenak. Di wajahnya membayang kesan yang aneh. Bahkan
penjual dawet itu kemudian bertanya, "Kau sering pergi ke Panjatan?" "Ya.
Kenapa?" "Jika kau sering pergi ke Panjatan, kau tentu mengetahui keadaan
padukuhan itu." "Aku tidak melihat sesuatu yang menarik perhatian di padukuhan
itu." Penjual dawet itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata,
"Aku juga mempunyai seorang kenalan, bahkan masih terhitung kadang meskipun
sudah jauh." "Paman juga sering pergi ke Panjatan?" bertanya Wijang kemudian.
"Tidak," jawab orang itu. "Baru dua atau tiga kali sepanjang umurku." "Kenapa?"
bertanya Wijang kemudian. Penjual dawet itu menarik nafas panjang. Namun
kemudian iapun bertanya, "Jadi kalian benarbenar tidak tahu, kenapa Panjatan itu
seakan-akan menjadi terpencil. Bukan saja letaknya, tetapi juga hubungan antar
sesama." "Tidak," Paksilah yang menjawab. Penjual dawet itu menarik nafas
dalam-dalam. Sementara itu Paksi mengulurkan mangkuknya yang telah kosong sambil
berkata, "Lagi, Paman. Aku haus sekali." Ternyata Wijangpun berbuat demikian
pula. Sambil menyerahkan semangkuk dawet kepada keduanya, maka penjual dawet
itupun berkata, "Sebenarnya orang-orang Panjatan adalah orang-orang yang ramah.
Tetapi di padukuhan itu ada sebuah keluarga yang membuat nama padukuhan itu
menjadi buram." "Hanya satu keluarga?" bertanya Paksi. "Mula-mula, tetapi
kemudian anak dan cucunya juga mewarisi sikap dan tingkah lakunya, sehingga yang
satu keluarga itu telah membuat Panjatan menjadi daerah hitam." "Orang-orang
Panjatan yang lain tidak berbuat sesuatu?" "Tidak seorang pun yang berani
menegur mereka. Sementara itu, keluarga itu memang tidak pernah mengganggu
orang-orang Panjatan sendiri." Paksi dan Wijang mendengarkan ceritera penjual
dawet itu sambil mengangguk-angguk. Sementara itu penjual dawet itupun berkata,
"Terhadap orang yang mereka anggap asing, keluarga itu tidak menyukainya. Jika
ada orang yang tidak mereka kenal, mereka segera menemuinya. Jika
pertanyaan-pertanyaan mereka tidak dapat dijawab dengan baik dan meyakinkan,
maka orang itu akan segera diusir dari padukuhan itu. Jika yang datang itu
seorang tamu dari keluarga yang tinggal di padukuhan itu, mereka harus
meyakinkan kebenarannya." "Apakah orang-orang Panjatan tidak pernah keluar dari
padukuhannya, pergi ke pasar misalnya." "Ya. Mereka juga pergi ke pasar. Tidak
ada masalah bagi mereka. Bahkan keluarga orang yang ditakuti itupun juga pergi
ke pasar. Rasa-rasanya mereka sama sekali tidak mempunyai beban apapun. Namun
orang-orang lainlah yang biasanya membuat jarak dengan mereka." "Apakah mereka
tidak merasa tersinggung." "Itulah yang menarik. Mereka tidak merasa
tersinggung. Mereka seakan-akan mengerti, kenapa orang lain bersikap demikian
terhadap mereka." Ketika kemudian mangkuk Paksi dan Wijang telah menjadi kosong,
maka penjual dawet itupun bertanya, "Lagi?" Paksi menggeliat sambil berkata,
"Perutku sudah tidak dapat memuat lagi, Paman." Penjual dawet itupun tertawa.
Katanya, "Kemarin seseorang membeli dawet ampat mangkuk sekaligus." "O, bukan
main," sahut Wijang. Penjual dawet itu tertawa. Katanya, "Orang itu justru salah
seorang di antara keluarga yang ditakuti di Panjatan. Seorang anak muda sebaya
dengan Paksi." Paksi mengangguk-angguk. Sementara Wijangpun tertawa. Katanya,
"Paksi juga dapat menelan dawet ampat mangkuk sekaligus jika kebetulan ia
lapar." Paksipun kemudian tertawa pula. Demikianlah keduanyapun kemudian pergi
ke pande besi di sudut pasar itu. Ketika mereka menyinggung Padukuhan Panjatan,
maka seorang di antara pande besi itupun telah menceriterakan keadaan padukuhan
itu sebagaimana ceritera penjual dawet itu. Bahkan kemudian iapun berkata,
"Rumahku juga Panjatan. Tetapi aku jarang-jarang pulang. Siang malam aku berada
disini. Hanya kadang-kadang saja aku pulang. Sebenarnya orang yang dianggap
asingpun tidak usah takut. Jika keluarga Sangga Samodra itu tidak menyenangi
kehadirannya, ia akan minta orang itu dengan baik-baik pergi. Jika orang itu
melawan, baru akan terjadi kekerasan." "Kenapa keluarga Sangga Samodra itu tidak
menyenangi kehadiran orang yang dianggap asing?" bertanya Paksi yang sudah
terbiasa duduk-duduk di tempat pande besi itu bekerja. "Mereka memang merasa
curiga, bahwa orang-orang yang dianggap asing itu akan mengganggu keluarga
mereka." Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Beberapa saat
Paksi dan Wijang duduk menunggui pande besi yang dengan kawan-kawannya membuat
sebuah kapak kecil pembelah kayu. Namun kemudian keduanyapun minta diri. "Kau
tidak memerlukan apa-apa hari ini, Paksi?" bertanya pande besi itu. "Lain kali
saja," jawab Paksi sambil melangkah meninggalkan tempat itu bersama Wijang.
Sambil berjalan di antara banyak orang di pasar itu, Wijangpun berdesis, "Tentu
ada hubungan antara Sangga Samodra itu dengan Ki Repak Rembulung." Paksi
mengangguk sambil menjawab, "Ya. Akupun berpendapat begitu. Dengan dukungan
orang-orang Panjatan itulah agaknya Repak dan Pupus Rembulung berani bersikap
menantang orang-orang dari perguruan yang sudah punya nama itu." "Kau kenal nama
pande besi yang berasal dari Panjatan itu?" bertanya Wijang. "Kenal, kenapa?"
"Kita pergi ke Panjatan. Kita akan mencari pande besi itu," berkata Wijang
kemudian. Namun demikian Wijang itupun berkata selanjutnya, "Tetapi tidak
sekarang. Besok atau lusa sambil melihat-lihat apakah sudah ada isyarat pada
batang pohon gayam itu." Paksi mengangguk sambil menjawab, "Ya. Sementara itu,
kita masih mempunyai waktu untuk meyakinkan keadaan padukuhan itu." Demikianlah,
keduanyapun kemudian segera kembali ke gubuk mereka. Mereka merencanakan untuk
pergi ke Panjatan dua hari lagi. Mereka berharap bahwa sudah ada isyarat tentang
pertemuan yang akan diadakan oleh beberapa orang pemimpin perguruan. Namun di
hari berikutnya keduanya masih mendapat beberapa keterangan lagi tentang
Panjatan. Tidak bertentangan dengan keterangan yang terdahulu. Namun seorang
pedagang gula kelapa mengatakan bahwa di hari-hari terakhir nampaknya ada
kesibukan khusus dari keluarga yang menyebut Trah Sangga Samodra itu. "Trah
Sangga Samodra. Jadi Sangga Samodra itu sendiri apa masih ada?" bertanya Paksi.
Pedagang gula itu menggeleng. Katanya, "Sudah lama Sangga Samodra itu meninggal.
Yang ada adalah anak, cucu dan cicitnya yang meneruskan kegiatannya." "Siapakah
yang sekarang menjadi pemimpinnya?" bertanya Paksi pula. "Untuk apa kau bertanya
tentang pemimpin Trah Sangga Samodra itu?" "O, tidak apa-apa," jawab Paksi
dengan serta-merta. "Sekedar didorong oleh perasaan ingin tahu saja." Penjual
gula kelapa itu tersenyum. Untunglah bahwa ia tidak menaruh perhatian lebih jauh
karena pedagang gula itu segera sibuk dengan pekerjaannya. Paksi dan Wijang yang
kemudian meninggalkan pedagang gula itupun telah duduk di depan penjual nasi
tumpang bersama Kinong yang kebetulan sedang beristirahat. "Makanlah," berkata
Paksi. Kinong memandang Paksi dengan sepasang matanya yang bening. Dengan jujur
ia berkata, "Aku memang belum makan sejak pagi. Tetapi aku sudah mendapat uang
beberapa keping." "Simpanlah. Bukankah kau sedang menabung. Biarlah aku yang
membayar nasi tumpang itu." Kinong memandang Paksi dan Wijang berganti-ganti.
Sementara Wijang berkata, "Jangan malu. Aku juga akan membeli nasi tumpang itu.
Aku juga belum makan." Ketiganyapun kemudian telah makan nasi tumpang. Tanpa
menghiraukan orang yang berlalulalang di sekitarnya. Bahkan kemudian dua orang
ayah dan anaknya sebesar Kinong juga duduk di sebelah mereka membeli nasi
tumpang pula. Kinong terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar suara ibunya yang
sudah berdiri di belakangnya, "Kinong, sedang apa kau di situ, he?" Kinong
berpaling. Anak itupun kemudian bangkit berdiri sambil memegangi pincuk nasi
tumpangnya. Sambil mengunyah anak itu menjawab, "Kakang Paksi membelikan nasi
tumpang." "Setiap kali kau dibelikan nasi tumpang, dawet, bahkan makanan."
Paksilah yang menjawab sambil tersenyum, "Ketika Kinong lewat, kebetulan kami
sedang makan, Bibi." "Terima kasih, Ngger," jawab ibu Kinong "Bibi tidak makan?"
bertanya Paksi. "Terima kasih, Ngger. Terima kasih." Ibu Kinong itupun kemudian
beranjak pergi. Dihampirinya seorang perempuan yang sedang berbelanja. Tetapi
dengan muka cemberut perempuan itu berkata, "Aku sudah mengajak pembantuku." Ibu
Kinong itupun bergeser surut. Ia sudah terbiasa mendapat jawaban seperti itu.
Namun kemudian dengan berlari-lari kecil ibu Kinong itu mendekati seorang
perempuan lain yang membawa dua kereneng di kedua tangannya. Berbeda dengan
orang yang pertama, maka perempuan itu tersenyum sambil berkata, "Aku kira kau
tidak ada di pasar hari ini, Yu. Tanganku sudah pedih membawa kereneng itu."
"Aku kira Nyi Peni tidak berbelanja hari ini." "Aku sedang memperbaiki rumah,
Yu. Di rumah yang datang untuk sambatan kira-kira lima belas orang atau bahkan
lebih." Ibu Kinong itupun kemudian dengan cekatan memasukkan kedua kereneng itu
ke dalam bakul yang diberinya serumbung. Kemudian iapun melangkah mengikuti
perempuan yang sedang belanja itu. Kinong yang masih menghabiskan makanannya itu
berkata, "Perempuan itu kalau berbelanja tentu banyak. Aku juga harus membantu
ibu nanti." "Habiskan dahulu nasimu," berkata Paksi, "atau kau mau tambah lagi?"
Kinong menggeleng. Katanya, "Aku sudah kenyang. Nanti aku tidak dapat bekerja
membantu ibu jika aku terlalu banyak makan." "Justru kau akan menjadi kuat,"
berkata Wijang. Tetapi Kinong menjawab, "Aku akan mengantuk." Paksi dan Wijang
tertawa. Sementara itu, Kinong telah membuang pincuknya dan berlari membawa
keranjang kecilnya mendekati ibunya. "Anak yang rajin," berkata Wijang. "Aku
senang kepada anak itu." "Pada suatu saat, kau dapat memanggilnya," berkata
Paksi. Wijang menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya iapun bergumam, "Ada
berapa orang Kinong yang tersebar di pasar Pajang. Aku juga pernah melihat
perempuan dan kanak-kanak berkeliaran di pasar dengan bakul dan keranjang
kecilnya. Bahkan mereka bukan anak seorang pemabuk. Tetapi mereka benar-benar
tidak mempunyai cara lain untuk mencari makan. Sementara orang lain berbelanja
berlebihan." Paksi mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab. Ia sadar,
bahwa hal itu merupakan salah satu ungkapan ketidakpuasan Pangeran Benawa
terhadap keadaan yang berkembang semasa pemerintahan Kangjeng Sultan Hadiwijaya.
Ayahanda Pangeran Benawa itu sendiri. Setelah membayar harga nasi tumpang, maka
mereka berduapun meninggalkan pasar itu. Dengan kerut di kening, Wijang sempat
bertanya, "Kau mempunyai banyak uang?" "Ibuku memberi bekal saat aku berangkat."
"Ayahmu?" bertanya Wijang "Ibu sudah memberi bekal. Tentu ayah tidak merasa
perlu memberiku lagi." Wijang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.
Hari itupun kemudian telah dihabiskan oleh kedua orang itu untuk berlatih.
Wijanglah yang memperingatkan Paksi, bahwa pada suatu saat mereka akan terpaksa
membenturkan kemampuan mereka dengan orang-orang yang berkeliaran mencari cincin
itu. Di keesokan harinya, seperti yang direncanakan, mereka berdua akan pergi ke
Panjatan mencari seseorang yang bernama Lebak. Meskipun sebenarnya mereka
mengetahui bahwa Lebak, seorang pande besi, jarang-jarang pulang. Pagi-pagi
mereka telah bersiap-siap. Mereka menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum mereka
berangkat, sebagaimana jika mereka pergi ke pasar. Legenpun telah mereka tuang
ke dalam kuali. Kayu yang kering sudah disimpan di dalam gubuk. Tidak ada
jemuran di luar dan pintu gubuknyapun ditutup rapat-rapat. Ketika matahari mulai
memanjat langit, maka keduanyapun telah berangkat langsung menuju ke Panjatan.
Ketika mereka memasuki jalan menuju ke padukuhan itu maka mereka harus mulai
mengamati apakah sudah ada isyarat yang terpahat pada batang pohon gayam yang
tumbuh di pinggir jalan. Tetapi keduanya harus berhati-hati. Keduanya harus
menghindari kecurigaan orang sejauh dapat mereka lakukan. Karena itu, maka
ketika mereka sudah berada di jalan menuju ke Panjatan, mereka tidak langsung
menilik setiap pohon gayam. Tetapi mereka mencoba melihat sambil berjalan
perlahanlahan. Baru setelah mereka melihat sesuatu yang menarik pada sebatang
pohon gayam, maka merekapun melangkah menepi. "Tidak ada orang yang melihat kita
disini," desis Wijang. Tetapi keduanya tidak semata-mata melihat goresan yang
ada di batang pohon gayam itu. Keduanya sambil berpura-pura berteduh, mencoba
untuk dapat memahami isyarat yang dipahatkan pada pohon gayam itu. Sebagaimana
yang mereka duga, goresan-goresan pada batang pohon gayam itu benar-benar
isyarat. Wijang dan Paksi sempat membaca tulisan itu. Mereka melihat pahatan
sebuah lengkungan. Di bawahnya dipahatkan angka satu. Kemudian di bawah lagi
terdapat tulisan 'lewat tengah malam'. Selain itu, mereka tidak menemukan
isyarat lain. Paksi dan Wijang yang kemudian meneruskan langkah merekapun telah
membicarakan isyarat itu. Mereka sepakat bahwa isyarat itu menyatakan, bahwa
pertemuan akan diselenggarakan pada saat bulan tanggal satu lewat tengah malam.
"Tetapi dimana?" bertanya Paksi. "Kita lihat, apakah ada isyarat lain pada
batang pohon gayam berikutnya." Paksi mengangguk-angguk. Namun ternyata mereka
tidak menemukan petunjuk yang lain. Pada sebatang pohon gayam yang lain justru
hanya terpahat sebuah lengkungan dengan tulisan angka satu. Di pohon yang lain
terdapat tulisan 'lewat tengah malam'. "Jika demikian, pertemuan itu akan
diselenggarakan di tempat itu juga," desis Wijang. "Di lapangan rumput itu?"
"Ya." Paksi mengangguk-angguk. Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri.
Mereka masih berjalan menuju ke Panjatan yang semakin lama menjadi semakin
dekat. Bagaimanapun juga kedua orang itu menjadi berdebar-debar ketika mereka
memasuki padukuhan. Meskipun demikian, keduanya berusaha untuk menunjukkan sikap
yang wajar. Sebenarnyalah bahwa Padukuhan Panjatan tidak ada bedanya dengan
padukuhan-padukuhan yang lain. Kesibukan menjelang siang juga tidak ada bedanya
dengan kesibukan di padukuhan lain. Dari kejauhan terdengar suara orang menumbuk
padi. Sementara itu, seorang ibu muda sedang menyuapi anaknya tanpa menghiraukan
anaknya itu menangis meronta-ronta. Nasi cair yang dicampur dengan gula kelapa
disuapkannya di mulut yang kecil itu. Wijang dan Paksi tertegun sejenak melihat
ibu muda yang duduk di tangga regol halaman rumahnya tanpa memperhatikan orang
yang lewat sambil menyuapi anaknya itu. Bukan saja anaknya yang menangis
meronta-ronta yang berkeringat. Tetapi ibu muda itupun berkeringat pula. Paksi
dan Wijang membatalkan niatnya untuk bertanya, di manakah letak rumah Lebak. Ibu
muda itu nampak demikian sibuknya, sehingga ia tidak lagi menghiraukan apapun
juga. Beberapa langkah kemudian, Paksi dan Wijang berjalan melewati sebuah
gardu. Terdengar lenguh lembu dari halaman sebelah. Sedangkan dari halaman yang
lain terdengar kokok bekisar yang melengking tinggi. Paksi dan Wijang tertegun
ketika mereka melihat seorang laki-laki yang berdiri di regol halaman rumahnya
justru turun ke jalan. Ia memberi isyarat dengan tangannya, agar Paksi dan
Wijang itu berhenti. "Siapakah kalian, anak-anak muda?" bertanya orang itu.
"Namaku Wijang, Ki Sanak. Sedangkan adikku ini namanya Paksi." "Untuk apa kalian
memasuki padukuhan ini?" bertanya laki-laki itu. "Kami mencari seorang sahabat
kami, Ki Sanak." "Namanya siapa?" bertanya laki-laki itu. "Lebak," jawab Wijang.
Laki-laki itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun menjawab, "Lebak jarang
sekali pulang. Ia bekerja di Pasar Turi, pada seorang pande besi." "Apakah hari
ini ia tidak ada di rumah?" bertanya Wijang pula. "Tidak. Aku tidak melihat.
Pergi sajalah ke Pasar Turi. Kau akan bertemu dengan Lebak." "Aku akan menunggu
di rumahnya, Ki Sanak," jawab Wijang. Laki-laki itu menggeleng. Katanya,
"Pergilah ke Pasar Turi." "Baiklah. Tetapi aku akan menemui keluarganya lebih
dahulu. Aku akan memberikan beberapa pesan kepada keluarganya." Laki-laki itu
mengerutkan dahinya. Dengan nada berat ia berkata, "Sudahlah, ia tidak akan
segera pulang. Mungkin dua tiga pekan lagi. Pergilah." Wijang dan Paksi
menyadari bahwa mereka berhadapan dengan seorang dari Trah Sangga Samodra.
Karena itu, jika mereka tidak ingin berselisih, maka mereka harus meninggalkan
padukuhan itu. "Baik, Ki Sanak," jawab Wijang, "kami akan pergi." Namun
tiba-tiba saja dari pintu regol itu keluar seorang perempuan. Wijang dan Paksi
tidak segera mengenali perempuan itu. Seorang perempuan yang mengenakan kain
lurik hijau dan baju lurik hijau pupus pula. Meskipun perempuan itu sudah tidak
muda lagi, tetapi bekas-bekas kecantikannya masih melekat di wajahnya yang
bersih. Namun Wijang dan Paksi terkejut ketika mereka menyadari, bahwa mereka
berhadapan dengan Pupus Rembulung. Meskipun demikian, Paksi dan Wijang mampu
menyembunyikan kesan itu. Bahkan keduanyapun sempat mengangguk hormat kepada
perempuan yang sama sekali tidak menunjukkan kesan kegarangannya sebagaimana
ketika ia mengenakan pakaian khususnya bersama Repak Rembulung di hadapan
beberapa orang murid dari perguruan yang sudah mempunyai nama. Bahkan dengan
ramah Pupus Rembulung itu bertanya, "Siapakah yang kalian cari, anak muda?"
"Kami mencari sahabat kami yang bernama Lebak, Bibi," jawab Wijang. "O," lalu
iapun bertanya kepada laki-laki yang sudah lebih dahulu turun ke jalan. "Apakah
kau tahu rumah Lebak?" "Lebak tidak ada di rumah, Bibi." "Dari mana kau tahu?"
bertanya Pupus Rembulung itu. "Lebak berada di Pasar Turi. Ia bekerja sebagai
pande besi disana." "O. Jika demikian, sebaiknya kalian pergi saja ke Pasar
Turi. Kalian akan dapat menemuinya disana, Ngger." "Baik, Bibi," jawab Wijang
sambil mengangguk hormat. Demikianlah keduanyapun meninggalkan Padukuhan
Panjatan dengan kesan yang aneh. Demikian keduanya keluar dari regol padukuhan,
maka Wijang itupun berkata, "Ternyata Pupus Rembulung itu mempunyai kepribadian
rangkap. Ia seorang perempuan yang garang jika sepasang pedang tergantung di
pinggangnya. Tetapi ia seorang perempuan yang ramah jika ia mengenakan baju dan
kain lurik berwarna hijau muda." "Ya. Seperti ceritera Paman Pananggungan. Di
rumah, Repak Rembulung adalah seorang ayah yang bijak, sementara Pupus Rembulung
adalah seorang ibu yang lembut." Wijang menarik nafas dalam-dalam. Namun
Paksipun berkata, "Tetapi bukan hanya mereka berdua." "Siapa lagi?" bertanya
Wijang. "Di istana ia seorang pangeran yang berwibawa, tetapi di pasar ia duduk
sambil memegang pincuk nasi tumpang." Wijang tertawa. Namun iapun berkata,
"Masih banyak contohnya. Kau ingin tahu?" Tetapi Paksi menggeleng. Katanya,
"Tidak." Keduanyapun tertawa. Namun keduanyapun segera menghentikan tawa mereka
ketika mereka melihat dua orang yang berjalan ke arah yang berlawanan. Meskipun
kedua orang itu berpakaian seperti petani kebanyakan, namun Paksi dan Wijang
harus berhati-hati, justru karena mereka berada di jalur keluarga Sangga
Samodra. Seandainya keduanya bukan Trah Sangga Samodra, dapat saja terjadi,
keduanya adalah murid dari perguruan yang terlibat dalam pertemuan yang bakal
datang. Tetapi karena kedua orang itu nampaknya berjalan dengan mantap menuju ke
Padukuhan Panjatan, maka Paksi dan Wijang menduga bahwa keduanya tentu orang
Panjatan. Trah atau bukan Trah Sangga Samodra. Ketika mereka berpapasan, maka
kedua orang itu memandang Wijang dan Paksi dengan tajamnya. Namun kedua orang
itu tidak menegur mereka. Wijang dan Paksi menarik nafas panjang. Keduanya
berjalan terus tanpa menoleh sama sekali. Ketika keduanya kemudian berjalan
semakin jauh, maka Wijangpun berkata, "Nah, kita sudah tahu, kapan mereka akan
bertemu. Kita pun harus benar-benar mempersiapkan diri untuk menonton pertemuan
itu. Yang akan bertemu bukan sekedar para murid dari perguruanperguruan itu.
Tetapi justru para pemimpinnya. Tentu termasuk Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus
Rembulung." "Pertemuan itu akan berlangsung beberapa hari lagi," desis Paksi.
"Mereka justru memilih malam yang paling gelap." "Tentu bukannya tanpa maksud,"
sahut Wijang. "Apakah mereka akan bersikap jujur?" "Seandainya mereka tidak
berniat jujur, namun mereka harus memperhitungkan banyak kemungkinan." Paksi
mengangguk-angguk. Katanya, "Kita akan melihat, apa yang akan terjadi." Dengan
demikian, maka Paksi dan Wijang itu benar-benar telah mempersiapkan dirinya
untuk menghadapi pertemuan yang mereka anggap penting itu. Mereka harus
mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang paling buruk. "Kita harus
mengenal medan dengan sebaik-baiknya," berkata Wijang. "Maksudmu?" bertanya
Paksi. "Mungkin kita harus menghindar dari kemungkinan yang paling buruk, jika
mereka mengetahui kehadiran kita. Kita harus tahu, kemana kita akan pergi. Kita
tahu bahwa mereka adalah orangorang berilmu tinggi." Paksi mengangguk-angguk.
Tetapi kemudian iapun berkata, "Jika pertemuan itu dilakukan di tempat lain?"
"Kita akan kehilangan jejak," jawab Wijang. "Tetapi tidak ada isyarat lain yang
menunjukkan tempat pertemuan itu." Paksi mengangguk-angguk. Iapun kemudian
bergumam, "Kita akan memanfaatkan waktu menjelang pertemuan itu untuk mengenali
medan sebaik-baiknya sebagaimana kau katakan." Wijang mengangguk-angguk.
Sementara itu langkah mereka tanpa persepakatan justru telah berbelok menuju ke
pasar. Keduanya saling berpandangan sejenak. Kemudian keduanyapun tertawa. "Kita
pergi ke pasar?" bertanya Paksi. "Kau yang berbelok lebih dahulu ke kanan,"
sahut Wijang. "Sebenarnya aku akan berbelok ke kiri." Keduanya masih tertawa,
sementara langkah mereka menjadi semakin cepat. Tanpa berjanji pula keduanya
telah pergi ke sudut pasar, tempat beberapa orang pande besi membuka tempat
kerja mereka. Keduanyapun kemudian telah menemui Lebak yang sedang mengayunkan
alat pemukulnya untuk menempa sebatang besi panjang. Agaknya Lebak dan seorang
kawannya sedang membuat sebuah parang pemotong kayu. Ketika Lebak kemudian
beristirahat, maka Paksipun berkata, "Aku baru saja pergi ke Panjatan." "Untuk
apa?" bertanya Lebak. "Ceriteramu menarik," jawab Paksi. "Karena itu, aku ingin
membuktikannya." "Apa yang kau temui disana?" "Aku memang diminta meninggalkan
Panjatan. Alasanku untuk mencarimu tidak dapat diterima karena kau tidak ada di
rumah. Aku tidak tahu siapa yang telah mengusirku. Tetapi di rumah orang itu
tinggal pula seorang perempuan cantik meskipun umurnya sudah tidak dapat disebut
muda lagi. Saat itu ia mengenakan kain dan baju lurik hijau muda." "Perempuan
cantik itu?" desis Lebak. "Ya. Siapakah perempuan itu?" Lebak menggeleng.
Katanya, "Aku tidak mengenalnya. Ia jarang berada di Panjatan. Hanya
sekali-sekali saja. Apalagi aku sendiri jarang sekali ada di rumah." "Nah, aku
hanya memberitahukan hal ini kepadamu agar jika pada suatu saat kau pulang, kau
mengaku mengenal kami berdua." Lebak mengangguk kecil. Tetapi iapun bergeremang,
"Untuk apa sebenarnya kau datang ke Panjatan? Jika kau manjakan sifat ingin
tahumu, maka kau akan dapat mengalami kesulitan." Paksi tertawa. Sementara
Wijang berkata, "Kami tidak akan mengulanginya." Namun dalam pada itu, Wijang
itupun tiba-tiba saja memutar tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di sela-sela
kedua lututnya. Semula Paksi tidak menghiraukannya. Ia mengira bahwa Wijang
sekedar bergurau atau menyembunyikan tawanya. Namun ternyata Wijang itupun
berkata, "Marilah, Paksi. Kita tinggalkan tempat ini." "Kenapa?" bertanya Paksi.
"Lebak. Kami minta diri," berkata Wijang singkat. "Besok kami akan datang lagi."
Lebak mengangguk kecil sambil menjawab, "Datanglah besok. Aku besok akan membuat
sebuah pedang. Bukan sekedar parang pembelah kayu." Wijangpun kemudian telah
menarik Paksi meninggalkan Lebak. "Ada apa?" bertanya Paksi kemudian. Wijang
berjalan semakin cepat. Kemudian iapun berkata kepada Paksi, "Kau lihat
laki-laki berbaju lurik hitam dengan berikat kepala wulung itu?" Paksi
memperhatikan orang itu. Tetapi orang itu membelakanginya, sehingga Paksi tidak
melihat wajahnya. "Kau tentu belum mengenal orang itu. Tetapi tolong, sejauh
dapat kau kenali ujudnya atau kepentingannya datang ke pasar ini. Tetapi ingat,
jangan sampai orang itu menyadari bahwa kau memperhatikannya." "Siapakah orang
itu?" "Kau akan mengetahuinya, atau jika tidak, nanti aku akan memberitahukanmu.
Aku akan berada di luar pasar. Nampaknya aku harus menempatkan diri
sebaik-baiknya."
Jilid 08
PAKSI mengerutkan
dahinya. Tentu ada sesuatu yang dianggap sangat penting oleh Wijang.
Karena itu, maka ia tidak
bertanya lebih jauh. Diusahakannya mendekati orang yang berbaju lurik
hitam dan berikat kepala
wulung.
Dengan kemampuannya,
Paksi berusaha untuk dapat mengetahui tentang orang itu sebanyakbanyaknya.
Namun Paksipun juga
memperhitungkan seandainya orang itu juga berilmu tinggi.
Namun Paksipun kemudian
melihat orang itu berhenti di depan penjual dawet. Sambil duduk ia
telah memesan semangkuk
dawet cendol. Namun sejenak kemudian orang lain pun telah mendekat dan duduk
pula di sebelahnya.
Paksi termangu-mangu
sejenak. Namun iapun kemudian berjalan saja di depan penjual dawet itu.
"He, Ngger. Kau tidak
haus?"
Paksi sudah mengira bahwa
penjual dawet itu akan menyapanya. Karena itu, maka tanpa menghiraukan kedua
orang itu, Paksi telah duduk justru di sebelah penjual dawet itu.
"Kau sendiri? Di mana
kakakmu?" bertanya penjual dawet itu.
"Kakak sedang sibuk,
Paman. Tolong dawetnya semangkuk saja," minta Paksi. Sekilas ia memandang kedua
orang yang duduk di depan penjual dawet itu. Agaknya keduanya memang sudah
saling mengenal. Bahkan kemudian keduanya terlibat dalam sebuah pembicaraan.
"Aku sudah menerima
undangan itu," berkata seorang di antara mereka.
"Menarik sekali.
Tamu-tamunya tentu orang-orang terhormat," jawab yang lain.
"Ya. Justru para demang.
Mungkin ada satu dua orang bekel yang akan ikut bersama demangnya menghadiri
perhelatan itu."
"Kita akan mengajak
anak-anak kita."
"Tetapi mereka tentu
orang-orang kaya. Kita tidak akan mampu menyaingi mereka."
Paksi sama sekali tidak
menghiraukan itu. Bahkan penjual dawet itulah yang bertanya, "Dimana akan ada
perhelatan yang nampaknya besar-besaran itu, Ki Sanak?"
Salah seorang di antara
mereka tersenyum sambil menjawab,
"Ki Lurah Pancaniti.
Seorang lurah prajurit yang kaya raya."
Tetapi agaknya penjual
dawet itu belum mengenal Lurah Pancaniti. Meskipun dahinya nampak berkerut,
tetapi ia tidak bertanya lagi.
Sementara itu seorang di
antara keduanya bertanya, "Kau akan kemana sekarang?"
"Pulang. Anakku sudah
menunggu. Kau?"
"Aku juga akan pulang."
"Aku harus mempersiapkan
sumbangan yang pantas."
"Jangan memaksakan diri.
Jika kau memang tidak punya uang, apaboleh buat."
Penjual dawet itu
tertawa. Katanya, "Hal seperti itu memang banyak terjadi. Untuk menjaga harga
diri seseorang kadang-kadang harus mencari pinjaman kemana-mana sekedar untuk
memberikan sumbangan. Apalagi jika yang mengadakan perhelatan seorang yang
berpengaruh."
Kedua orang yang sedang
membeli dawet itu tersenyum. Seorang di antara mereka kemudian berkata,
"Marilah. Aku akan pulang. Jika sempat suruh anakmu bermain ke rumahku."
"Baiklah. Aku juga akan
segera pulang." Orang yang pertama itupun segera membayar harga dawet sambil
berkata, "Kebetulan ada uang. Aku bayar dawetmu."
Kawannya tertawa.
Katanya, "Terima kasih."
Namun tiba-tiba saja
Paksi berkata, "Untukku sekalian, Paman."
Orang itu memandang Paksi
sejenak. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, "Baiklah, anak muda. Tetapi
sekali ini saja."
"Terima kasih, terima
kasih," desis Paksi.
Orang itupun tertawa.
Namun kemudian iapun melangkah pergi meninggalkan kawannya yang masih duduk di
tempatnya. Namun iapun kemudian bangkit pula sambil berkata, "Kawanku itu tentu
baru saja menjual hasil panennya yang melimpah di musim ini, sehingga ia
mempunyai uang berlebihan."
Paksipun menyahut, "Paman
itu nampaknya murah hati."
"Kadang-kadang," jawab
kawannya itu. "Tetapi jika ia kehabisan uang, maka iapun tidak segan segan
datang untuk meminjam uang, tetapi tidak akan dikembalikan."
Paksi tertawa. Penjual
dawet itupun tertawa pula.
Demikianlah, maka orang
itupun telah minta diri pula. Kepada Paksi, ia justru bertanya, "Kau sering
datang kemari, anak muda?"
"Ya, Paman," jawab Paksi.
"Hampir tiap hari."
Orang itu tersenyum.
Katanya, "Sebaiknya kau pergunakan waktumu dengan baik. Mumpung kau masih muda.
Jangan banyak kau buang tanpa arti. Atau kau mempunyai kegiatan dagang dipasar
ini sehingga kau setiap hari harus datang kemari?"
"Tidak, Paman," jawab
Paksi.
"Nah, jika demikian,
manfaatkan masa mudamu sebaik-baiknya. Meskipun semua kebutuhanmu dicukupi oleh
orang tuamu, tetapi pada suatu ketika kau harus berdiri sendiri."
Paksi termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, "Baik, Paman."
"Ah. Hanya sekedar pesan,
anak muda. Jika tidak sesuai dengan perasaanmu, lupakan saja.
Tetapi menurut
pendapatku, anak-anak muda lebih baik mempergunakan waktunya bagi kegiatan yang
berarti."
"Terima kasih atas
peringatan ini, Paman."
Orang itu mengangguk
kecil. Namun kemudian iapun melangkah meninggalkan penjual dawet dan Paksi yang
termangu-mangu.
Sepeninggal orang itu,
maka Paksipun telah berdiri pula sambil berkata, "Aku akan pulang."
Penjual dawet itu
tertawa. Katanya, "Apakah benar kau sia-siakan hari-harimu, anak muda."
Paksi mengangguk sambil
menjawab, "Sebagian memang. Tetapi sebagian tidak."
Penjual dawet itu tertawa
berkepanjangan. Paksipun akhirnya tertawa pula. Namun kemudian iapun melangkah
pergi meninggalkan penjual dawet itu.
Sejenak kemudian, maka
Paksipun telah keluar dari pintu gerbang pasar. Ia harus segera memberitahukan
kepada Wijang, karena Paksi mengetahui pembicaraan kedua orang itu tentu
merupakan pembicaraan sandi. Mungkin Wijang akan dapat mengurai maksud dari
pembicaraan itu, sehingga Wijang dapat mengambil kesimpulannya.
Tetapi Paksi tidak tahu,
dimana Wijang menunggunya. Karena itu, maka Paksipun kemudian melangkah
perlahan-lahan meninggalkan pasar itu. Ia berharap bahwa Wijang melihatnya dan
menemuinya sambil
berjalan pulang.
Sebenarnya, setelah
beberapa puluh patok dari pasar, ia melihat Wijang duduk di bawah sebatang pohon
lamtara yang tumbuh di atas tanggul parit di pinggir jalan.
"Kenapa kau menunggu aku
disini?"
"Jadi aku harus menunggu
di mana?"
"Jika orang itu lewat
jalan ini?"
"Dari kejauhan aku sudah
melihatnya. Aku dapat menghindarinya dengan meniti pematang itu."
Paksi mengangguk-angguk.
Sementara Wijangpun segera bangkit dan berjalan di sebelah Paksi.
Sambil berjalan Paksipun
telah berceritera tentang kedua orang yang sedang membeli dawet
cendol. Seorang di
antaranya adalah orang yang berbaju lurik hitam dan mengenakan ikat kepala
wulung itu.
Wijang mengangguk-angguk.
Katanya, "Jadi mereka juga sudah tahu bahwa para pemimpin perguruan itu akan
mengadakan pertemuan di tempat itu."
"Apakah mereka sedang
membicarakan hal itu?"
"Agaknya memang
demikian."
Paksi mengangguk-angguk.
Dengan sedikit merenung, maka Paksipun menemukan hubungan antara pembicaraan
kedua orang itu dengan rencana pertemuan para pemimpin perguruan sebagaimana
mereka ketahui pula dari isyarat yang terpahat pada batang gayam yang tumbuh
dipinggir jalan menuju ke Panjatan.
"Tetapi siapakah mereka
itu? Apakah kau mengenal mereka dan mereka mengenalmu?" Wijang mengangguk.
Katanya, "Mereka adalah para petugas sandi dari Pajang. Yang berbaju hitam
dengan ikat kepala wulung itu adalah seorang rangga. Namanya Rangga Suraniti. Ia
adalah seorang rangga yang berilmu tinggi. Bahkan melampaui sesamanya. Ia
termasuk salah seorang kepercayaan para pemimpin prajurit dari Pajang."
"Yang seorang lagi?"
bertanya Paksi.
"Aku tidak melihat orang
itu," jawab Wijang. "Bagaimana aku dapat mengenalinya. Jika saja kau mempunyai
ilmu yang dapat memantulkan bayangan yang pernah kau tangkap lewat
penglihatanmu, aku tentu akan dapat menyebutnya."
Paksi termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, "Aku akan mempelajari ilmu itu. Pangeran
Benawa tentu menguasainya. Aku akan mohon untuk diajarinya."
"Kau kira ia memiliki
ilmu itu? Iapun tidak memilikinya. Aku pernah bertanya kepadanya."
Paksi mengerutkan
dahinya. Namun kemudian iapun tertawa. Katanya, "Seandainya Pangeran Benawa
mempunyainya, ia tentu tidak akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu."
Wijangpun tertawa pula.
Katanya, "Kau memang keras kepala."
Keduanyapun melangkah
terus memanjat kaki Gunung Merapi. Di langit yang bersih nampak asap putih
mengepul tinggi, menyatu dengan selembar awan tipis yang mengalir lambat.
"Nah," berkata Wijang
selanjutnya, "kita akan melanjutkan rencana kita untuk mengenali medan
sebaik-baiknya."
"Sekarang saja. Kita akan
mengulanginya malam nanti. Mungkin besok siang dan besok malam lagi."
Paksi mengangguk kecil.
Namun ia tidak membantah.
Keduanyapun kemudian
telah pergi ke lapangan rumput yang agaknya akan dipergunakan sebagai tempat
untuk sebuah pertemuan yang penting. Pertemuan dari para pemimpin perguruan yang
bersama-sama ingin memiliki sebuah cincin yang mereka percaya dapat mempengaruhi
perjalanan hidup mereka, atau keturunan mereka.
Namun mereka sadar, bahwa
mereka harus berhati-hati. Apalagi di siang hari. Mereka harus memperhitungkan
kemungkinan bahwa ada di antara orang-orang perguruan yang berkeliaran di tempat
itu pula.
Keduanyapun kemudian
telah menyusup di antara gerumbul-gerumbul perdu di lereng Gunung Merapi.
Semakin lama semakin dekat dengan lapangan rumput itu.
Ketika keduanya sampai di
tempat itu, ternyata tidak seorangpun berada di sekitar tempat itu.
Wijang dan Paksi telah
mengelilingi tempat itu pula sehingga mereka yakin, bahwa memang tidak ada orang
yang berada disana.
Dengan demikian, maka
keduanyapun telah memasuki lapangan rumput itu. Mereka memperhatikan batu
persegi yang ada di tengah-tengahnya. Batu besar persegi ampat itu agaknya
memang telah dibuat oleh seseorang untuk kepentingan tertentu.
Wijang dan Paksi tidak
dapat menduga untuk apa batu itu dibentuk menjadi seperti itu.
Beberapa saat kemudian,
merekapun telah memperhatikan lingkungan di sekitar lapangan rumput itu. Mereka
memperhatikan sebatang pohon preh yang besar tumbuh di salah satu sudutnya.
Di sekitar pohon itu,
tumbuh semak-semak yang rimbun, sehingga akan dapat menjadi tempat bersembunyi
yang baik.
"Tetapi tempat ini
terlalu dekat, sehingga orang-orang berilmu tinggi itu akan dapat mendengar
desir yang lembut sekalipun," berkata Paksi.
"Jika kita memiliki
kemampuan menyerap bunyi karena sentuhan tubuh kita, maka mereka tidak akan
mendengarnya betapapun tajam pendengaran mereka," jawab Wijang.
Paksi mengangguk. Iapun
sudah terlatih dengan baik, serta telah menguasai kemampuan untuk menyerap bunyi
sebagaimana dimaksud oleh Wijang. Tetapi bagaimanapun juga, mereka harus menjadi
sangat berhati-hati jika mereka ingin berada di sekitar pohon preh itu saat
mereka akan menyaksikan pertemuan orang-orang dari berbagai perguruan itu.
Tetapi Wijangpun kemudian
berkata, "Kita akan melihat keadaan di sekitar tempat ini. Mungkin kita akan
menemukan tempat yang lain. Tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh."
Paksi mengangguk-angguk,
sementara Wijang berkata pula, "Ingat. Mereka memilih malam yang paling gelap.
Tetapi bukankah kau telah memiliki ilmu Sapta Pandulu?"
"Ya. Aku menerima ilmu
itu dari Ki Marta Brewok."
"Sapta Pangrungu?"
"Ya."
"Bagus. Dengan demikian,
kita tidak perlu berada di tempat yang terlalu dekat. Kita akan dapat menyadap
pembicaraan mereka dari jarak yang agak jauh."
Demikianlah, maka
keduanyapun telah melihat semua sisi lapangan rumput itu serta sekitarnya.
Mereka telah melihat dan
mempelajari lingkungan itu sebaik-baiknya. Mereka sudah mengetahui, sisi manakah
yang paling baik mereka pilih. Bukan saja tempatnya yang mapan, tetapi jika
terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan, mereka akan dapat segera menemukan
jalan untuk menyingkir. Bahkan seandainya mereka dikejar oleh beberapa orang
berilmu tinggi, memungkinkan mereka untuk melepaskan diri.
"Apakah kita masih akan
kembali nanti malam atau besok atau kapan lagi," bertanya Paksi.
"Nanti malam kita akan
melihat tempat ini dan meyakinkannya sekali lagi," jawab Wijang.
Paksi mengangguk-angguk.
Namun kemudian iapun berkata, "Sekarang, kita akan pulang."
Keduanyapun kemudian
meninggalkan tempat itu.
Tetapi seperti yang
mereka katakan, maka ketika malam turun, keduanyapun sekali lagi telah datang ke
tempat itu. Mereka ingin melihat keadaan tempat itu dan sekitarnya dalam suasana
malam yang gelap, karena pertemuan itu sendiri akan dilangsungkan di malam yang
paling gelap.
Beberapa saat lamanya
mereka berkeliling tempat itu. Mereka berusaha untuk mengenali lingkungan itu
sebaik-baiknya.
"Tidak seorangpun akan
dapat menangkap kita," berkata Wijang. "Kita tahu medannya dengan sangat baik."
"Bagaimana jika mereka
juga sudah mengenali medan ini justru lebih baik dari kita."
"Tetapi kita akan
mempunyai kesempatan lebih dahulu," jawab Wijang.
Paksi tidak menyahut
lagi. Tetapi iapun sependapat dengan Wijang.
Sejenak kemudian, maka
keduanyapun telah kembali ke dalam gubuk kecil yang terlindung oleh gumuk-gumuk
padas. Seperti biasanya, maka Paksi membuat perapian di malam hari untuk menanak
nasi. Malam itu Paksi telah membuat sayur jantung pisang kepok kuning.
Sambil menunggui nasi dan
sayur mereka masak, keduanyapun masih saja berbincang tentang pertemuan itu.
Pertemuan yang tentu akan sangat menarik perhatian. Namun yang tidak kalah
menariknya bagi Wijang adalah kehadiran para petugas sandi dari Pajang. Meskipun
seorang diantara mereka mengisyaratkan, agar mereka tidak memaksa diri jika
keadaannya memang sangat berbahaya karena kekuatan mereka sangat kecil.
"Tetapi aku kira mereka
tentu akan datang. Aku percaya akan kemampuan Ki Rangga Suraniti.
Tetapi entahlah, apakah
kawannya itu mampu mengimbanginya. Jika keadaan berkembang menjadi sangat buruk
bagi mereka, Ki Rangga Suraniti tentu memerlukan kawan yang pantas untuk
berhadapan dengan para pemimpin padepokan itu," berkata Wijang seakan-akan
ditujukan kepada diri sendiri.
Sedikit lewat tengah
malam, semuanya sudah selesai. Paksi membiarkan nasinya tetap berada di atas api
yang sudah disusut menjadi sangat kecil. Sementara itu, setelah mencuci kaki dan
tangan mereka, maka Paksi dan Wijang itupun segera beristirahat di dalam gubuk
mereka.
Keduanya tidak memerlukan
waktu yang panjang. Beberapa saat saja mereka berbaring, maka merekapun segera
tertidur dengan nyenyaknya.
Di hari berikutnya, maka
keduanya tidak turun ke pasar. Keduanya benar-benar telah mempersiapkan diri
untuk menyongsong pertemuan para pemimpin perguruan yang nampaknya akan menjadi
sangat menarik. Justru karena mereka mempunyai kepentingan mereka masing-masing.
Waktupun telah meloncat
dari hari ke hari. Paksi dan Wijang mengisi hari-harinya di dalam goa di
belakang air terjun. Dalam waktu sempit yang tersisa mereka berusaha untuk
semakin
mematangkan ilmu mereka.
Paksi menjadi semakin mengenal tongkatnya, sedangkan Wijang yang memiliki ilmu
yang sangat tinggi itu membiasakan diri menguasai ruang yang rumpil. Wijang
berlatih di antara batu-batu yang menjorok seakan-akan mencuat dari dalam tanah,
namun juga yang menggantung di langit-langit goa. Dengan tangkasnya, Wijang
bergerak-gerak di antara ujung-ujung batu yang runcing, seakan-akan ia sedang
bertempur di antara beberapa orang lawannya.
Bahkan Wijangpun kemudian
telah minta Paksi juga melakukannya. Bukan saja di siang hari saat matahari
menembus masuk lewat lubang di atas goa itu, tetapi Wijangpun telah mengajak
Paksi berlatih bersama di malam hari. Mereka berlatih bertempur di dalam
kegelapan di sela-sela ujung-ujung batu yang runcing.
"Hati-hati," pesan
Wijang. "Jika dahimu membentur ujung batu runcing yang bergayut di langitlangit
goa ini, maka kau akan terluka. Kau juga tidak boleh terjatuh menimpa
ujung-ujung batu yang mencuat dari lantai goa ini."
Paksi mengangguk. Ia
menyadari bahaya yang dapat mencengkamnya. Tetapi berlatih di tempat yang
berbahaya itu menjadi sangat menarik bagi Paksi. Ia rasa-rasanya memang sudah
jenuh berlatih di ruang yang terhitung luas di dalam goa itu, yang pada
dindingnya terdapat lukisan unsur-unsur gerak yang dapat menuntunnya untuk
mencapai tataran tertinggi dari ilmunya.
Dengan demikian, maka
ketrampilan Paksipun menjadi semakin meningkat. Berlandaskan ilmunya yang
tinggi, maka
Paksi benar-benar menjadi
anak muda yang mumpuni. Seperti yang dikatakan Wijang, maka latihan di tempat
yang rumpil itu merupakan latihan yang baik baginya jika pada suatu saat ia
harus bertempur menghadapi lawan yang tidak hanya seorang.
Ujung-ujung batu yang
runcing, yang mencuat dari lantai goa serta yang bergayut di langitlangit
seakan-akan merupakan ujung-ujung senjata dari beberapa orang lawannya yang
bertempur bersama-sama.
Namun demikian Wijang
masih juga memperingatkan, "Ujung bebatuan itu tetap di tempatnya Paksi,
sedangkan senjata lawan dapat bergerak dengan cepat. Mungkin memburumu, tetapi
mungkin menghadang gerakmu sendiri."
Paksi mengangguk-angguk.
Ia juga menyadari akan hal itu.
Dalam pada itu, maka
haripun telah merambat sampai ke akhir bulan. Paksi dan Wijang yang di malam itu
tidak berlatih, duduk di depan gubuk kecil mereka. Sinar lampu minyak yang
menyala di dalam gubuk, menembus melalui pintu yang terbuka, menusuk kegelapan
malam. Angin lembut yang berhembus menggoyang lidah api lampu minyak itu
sehingga kadang-kadang sinarnya menjadi redup.
Sambil makan jagung
bakar, Paksi dan Wijang telah membicarakan rencana yang akan mereka lakukan esok
malam.
"Besok hari pertama bulan
mendatang," desis Wijang.
"Kita sudah mengenal
semuanya dengan baik," desis Paksi.
"Kita akan melihat-lihat
tempat itu pula malam ini. Mungkin ada sesuatu yang menarik."
"Mungkin sudah ada di
antara orang-orang dari perguruan yang terlibat dalam pertemuan itu mengawasi
tempat itu."
"Tentu sudah ada. Kita
akan mencoba, apakah kita mampu menempatkan diri kita di luar tangkapan
pengamatan mereka. Jika malam ini saja kita tidak mampu melakukannya, apalagi
besok malam."
Paksi mengangguk-angguk.
Katanya, "Baiklah. Kita akan melihat-lihat keadaan."
"Kita akan mendekati
tempat itu di tengah malam."
Sebenarnyalah kedua orang
anak muda itu menjelang tengah malam telah meninggalkan gubuk kecil mereka.
Paksi telah membawa tongkatnya pula, karena sesuatu akan mungkin terjadi.
Sementara itu, Wijang
telah mengenakan lembaran kulit yang cukup lebar di atas pergelangan kedua
tangannya di bawah lengan bajunya.
Di luar sadarnya, Paksi
memandangi pelindung pergelangan tangan Wijang itu dengan kerut di dahi. Ia
tidak pernah melihat benda itu sebelumnya.
"Kau ingin tahu, dimana
aku menyembunyikan mainanku ini?" bertanya Wijang.
Paksi tidak menyahut.
Tetapi ia mengangguk kecil.
Wijang tertawa. Katanya,
"Lebarnya sama dengan lebar ikat pinggangku."
Paksi mengangguk-angguk.
Agaknya pelindung pergelangan tangan Wijang itu melekat pada ikat pinggangnya.
Karena lebarnya sama, maka ikat pinggang Wijang itulah yang nampak lebih tebal
dari ikat pinggang kulit kebanyakan.
Namun Paksi tahu bahwa
pelindung bagian atas pergelangan tangan Wijang itu tentu merupakan bagian dari
kelengkapan Wijang menghadapi senjata jenis apapun juga. Sebuah perisai kecil,
namun yang dapat dipercayainya.
Beberapa saat kemudian,
maka keduanya telah mendekati sasaran. Karena itu keduanya menjadi sangat
berhati-hati.
Seperti yang telah mereka
duga, maka tempat itu benar-benar sudah diamankan. Beberapa orang berkeliaran di
lapangan rumput itu. Agaknya mereka berdatangan dari beberapa perguruan yang
bersama-sama mengawasi tempat yang esok malam akan dipergunakan untuk
menyelenggarakan pertemuan dari beberapa orang pemimpin perguruan.
Wijang dan Paksipun
kemudian telah berada di tempat yang mereka pilih untuk mengamati keadaan. Dari
tempatnya, ia mampu mengamati lapangan rumput itu dengan jelas. Dengan ketajaman
pendengaran mereka, apalagi dengan kemampuan Aji Sapta Pangrungu, mereka akan
dapat mendengar pembicaraan orang-orang yang berada di lapangan rumput itu.
"Ternyata kita tidak
salah hitung. Karena tidak ada isyarat apa-apa, maka pertemuan itu memang
diselenggarakan disini," desis Wijang.
Paksi mengangguk-angguk.
Tetapi ia tidak menjawab.
Sementara itu, beberapa
orang yang berada di lapangan rumput itu telah melihat-lihat keadaan di
sekitarnya. Mereka telah menguak gerumbul-gerumbul perdu. Mereka telah
mengelilingi pohon preh yang besar itu. Mereka telah menyibak semak-semak sampai
beberapa langkah di sekitar lapangan itu.
Agaknya mereka mengamati
tempat-tempat yang mungkin untuk bersembunyi orang-orang yang tidak berhak
mengikuti pembicaraan yang akan diselenggarakan itu.
Tetapi tidak seorang pun
di antara mereka yang menemukan Wijang dan Paksi. Selain mereka mampu menyerap
bunyi yang timbul dari geseran tubuh mereka, merekapun berada di tempat yang
tidak terlalu dekat.
Agaknya orang-orang yang
mengamati tempat akan dilangsungkannya pertemuan itu mengira bahwa dari jarak
yang tidak terlalu dekat itu, seseorang tidak akan dapat melihat dan mendengar
dengan jelas pembicaraan yang akan berlangsung.
Namun tiba-tiba di sisi
lain dari lapangan itu telah terjadi keributan. Wijang dan Paksi melihat
beberapa orang berlari-larian. Mereka dengan cepat membuat sebuah lingkaran yang
rapat di sela-sela gerumbul-gerumbul perdu.
"Apa yang terjadi
disana?" desis Wijang.
Paksi tidak menyahut.
Tetapi dengan wajah yang tegang ia memperhatikan apa yang terjadi di sisi lain
dari lapangan rumput itu.
"Mereka mengepung
semak-semak itu," gumam Wijang dengan nada cemas. "Tentu ada seseorang atau
lebih disana."
"Nampaknya memang
begitu," sahut Paksi. "Tentu bukan Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung."
Wijang mengangguk.
Katanya, "Aku mencemaskan Ki Rangga Suraniti atau kawannya itu. Ki Rangga memang
berilmu tinggi. Tetapi aku tidak tahu tataran yang sebenarnya dari
kemampuannya."
Paksi mengangguk-angguk
kecil. Wajahnya menjadi semakin tegang ketika ia mendengar seseorang berteriak,
"Keluarlah. Kau sudah dikepung. Kau tidak akan dapat melepaskan diri dan tangan
kami."
Tidak ada jawaban. Namun
sementara itu, Wijangpun berkata lirih, "Samarkan wajahmu."
"Maksudmu?"
"Mungkin kita harus
berbuat sesuatu jika orang yang berada dalam kepungan itu mengalami kesulitan."
"Maksudmu, mungkin kita
akan melibatkan diri namun wajah kita tidak dikenal oleh orangorang dari
beberapa perguruan yang berada di lapangan itu?"
"Yang terpenting bagiku
adalah justru agar tidak dikenal oleh Ki Rangga Suraniti, seandainya ia ada
disana. Aku tidak ingin keberadaanku disini diketahui oleh orang-orang istana,"
jawab Wijang "Tetapi bagaimana aku dapat menyamarkan wajahku?"
Wijang tidak menjawab.
Tetapi tangannya segera memungut tanah yang basah oleh embun.
Tanah yang basah itupun
kemudian telah diusapkan di wajahnya.
Paksi mengerutkan
dahinya. Namun dengan demikian, maka wajah Wijang itupun menjadi sulit untuk
dikenali.
"Cepat lakukan," berkata
Wijang. "Apalagi Ki Rangga telah pernah bersamamu membeli dawet cendol."
Paksipun kemudian telah
melakukan sebagaimana dilakukan oleh Wijang. Dengan tanah yang basah oleh embun,
maka Paksipun telah menyamarkan wajahnya.
"Apakah kau sudah tidak
mengenal aku?" bertanya Paksi.
Wijang tertawa, "Kau
menjadi tampan sekarang."
Paksi tidak menjawab.
Tetapi segores lagi ia mengusapkan tanah basah itu di dahi.
Dalam pada itu keadaan
menjadi semakin gawat. Orang-orang dari beberapa perguruan yang sedang
mempersiapkan tempat bagi para pemimpin mereka yang akan mengadakan pertemuan
itu semakin rapat mengepung gerumbul perdu di sisi seberang lapangan rumput itu.
Sementara itu, terdengar
lagi seseorang berteriak, "Cepat keluar, atau kami akan merajammu dengan
senjata."
Namun orang-orang yang
mengepung tempat itu terkejut. Di luar perhitungan mereka, tiba-tiba seseorang
telah meloncat, justru dari sebuah gerumbul lain yang tidak mereka kepung.
Dengan pedang di tangan
orang itu langsung menyerang orang-orang yang berdiri melingkari itu.
Pertempuranpun segera
terjadi. Orang itu dengan tangkasnya berloncatan menyambarnyambar.
Seorang di antara mereka
yang mengepung gerumbul itu telah terlempar dengan luka menyilang di dadanya.
"Setan kau," terdengar
seseorang berteriak. "Tangkap hidup-hidup orang ini. Kita ingin tahu siapakah
orang yang sombong ini."
Wijang tercenung sejenak.
Ia telah memusatkan nalar budinya untuk mengetrapkan puncak Aji Sapta Pandulu.
"Ki Rangga Suraniti,"
desis Wijang. "Ternyata orang yang dikepung itu orang lain. Mungkin kawan Ki
Rangga atau prajurit yang menyertainya atau siapapun juga. Tetapi orang-orang
itu ternyata tidak mampu mengetahui kehadiran Ki Rangga itu sendiri."
Paksi mengangguk-angguk.
Iapun mengamati pertempuran itu dengan saksama. Seperti Wijang, Paksipun telah
mengetrapkan Aji Sapta Pandulu.
Ketika pertempuran itu
menjadi semakin sengit, beberapa orang telah meloncat dari gerumbul
yang telah dikepung itu,
justru pada saat perhatian orang-orang yang mengepungnya tertuju kepada Ki
Rangga Suraniti.
Kedua orang itu telah
mengejutkan beberapa orang yang telah bersiap-siap untuk bergeser dan mengepung
Ki Rangga Suraniti.
Dengan demikian, maka
pertempuranpun menjadi semakin sengit. Tetapi orang-orang yang datang dari
beberapa perguruan itu jumlahnya jauh lebih banyak dari para petugas sandi itu.
Meskipun demikian, Ki
Rangga Suraniti sempat membuat lawan-lawannya menjadi cemas.
Kakinya berloncatan
bagaikan tidak menyentuh tanah. Sementara itu, pedangnya berputaran dengan
cepat, sehingga yang nampak adalah segumpal awan putih di sekitar tubuhnya yang
berloncatan.
Dalam pada itu, dua orang
kawannya yang semula telah dikepung itupun bertempur dengan garangnya pula.
Seorang di antara mereka bersenjata sebilah pedang. Namun yang lain membawa dua
buah bindi kecil di kedua tangannya.
"Ki Nukilan," desis
Wijang.
"Yang mana?" bertanya
Paksi.
"Yang membawa sepasang
bindi," sahut Wijang. "Ia juga seorang berilmu tinggi. Tetapi nampaknya ia tidak
memiliki kemampuan untuk menyerap bunyi dari geseran tubuhnya, sehingga
kehadirannya segera diketahui."
"Yang seorang lagi?"
bertanya Paksi.
"Aku belum begitu
mengenalnya. Tetapi nampaknya ia adalah orang yang paling lemah di antara ketiga
petugas sandi itu."
Paksi tidak bertanya
lagi. Ia memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Setiap kali jantungnya
menjadi berdebar-debar. Ketiga orang itu harus bertempur melawan terlalu banyak
orang.
Ki Rangga Suraniti segera
menunjukkan betapa ia memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun demikian, karena
jumlah lawannya terlalu banyak, maka ia harus bekerja sangat keras untuk
melindungi dirinya sendiri.
Sementara itu Ki
Nukilanpun telah bertempur melawan beberapa orang pula. Demikian pula kawannya
yang seorang lagi.
Ternyata di antara
orang-orang yang datang dari perguruan itupun terdapat orang-orang yang memiliki
bekal yang cukup.
Orang-orang itulah yang
membuat Ki Rangga Suraniti dan kawan-kawannya harus menjadi sangat berhati-hati.
Bahkan merekapun kemudian mulai berloncatan mengambil jarak serta menghindari
serangan-serangan yang datang dari segala arah.
Meskipun satu dua orang
lawan Ki Rangga Suraniti dan Ki Nukilan sudah terlempar dari arena, tetapi yang
lainpun segera menggantikannya.
Bahkan seorang yang
bertubuh pendek dengan otot-otot yang mencuat dari permukaan kulitnya, berkumis
kecil dan berkepala botak segera berteriak, "Beri aku kesempatan. Aku ingin
tahu, seberapa tinggi ilmu orang ini."
Orang-orang yang
bertempur melawan Ki Rangga Suraniti memang menyibak. Orang pendek berkepala
botak itu segera melangkah mendekatinya. Tetapi ternyata ia tidak sendiri.
Bersama lima orang yang
tubuhnya juga terhitung pendek telah mengepungnya.
Tiba-tiba saja Wijangpun
berdesis, "Satu pasang lengkap dari anak-anak Perguruan Sad."
"Enam orang," sahut
Paksi.
"Dalam pasangannya yang
lengkap, mereka menjadi sangat berbahaya. Jika mereka sudah sampai tataran yang
mapan, maka dengan saling mengisi, kemampuan mereka akan dapat hampir menyamai
kemampuan pemimpin tertinggi mereka."
"Apakah Ki Rangga
Suraniti akan dapat melawan mereka?" bertanya Paksi.
"Aku belum tahu. Tetapi
aku tidak dapat membiarkan para petugas sandi itu mengalami malapetaka disini."
"Maksudmu?"
"Jika perlu kita akan
melibatkan diri."
Paksi mengangguk-angguk.
Katanya, "Terserah kepadamu. Aku sudah siap."
Wijangpun memperhatikan
pertempuran itu dengan saksama. Ki Rangga Suraniti berusaha untuk melawan enam
orang yang ternyata menjadi sangat berbahaya. Mereka mampu saling mengisi dengan
baik, sehingga seakan-akan mereka digerakkan oleh satu kehendak.
Sementara itu, Ki Nukilan
harus bertempur melawan beberapa orang dari perguruan yang lain.
Di antara mereka adalah
orang-orang dari Tegal Arang. Sementara itu, tiga orang dari Perguruan
Goa Lampin tengah
bertempur dengan kawan Ki Nukilan yang seorang lagi. Bersama ketiga orang dari
Goa Lampin itu masih ada tiga orang dari perguruan yang lain.
Selain mereka yang sedang
bertempur itu, masih ada beberapa orang yang belum melibatkan
diri. Di antaranya dua
orang perempuan yang nampaknya dari Goa Lampin. Sedangkan dua orang
yang tidak diketahui oleh
Wijang dan Paksi sedang menolong kawan mereka yang terluka. Kedua orang itu
tentu akan menjadi sangat berbahaya jika kawannya yang terluka itu tidak
tertolong jiwanya. Sementara itu seorang lagi juga sedang membantu kawannya yang
terluka bergeser menjauh.
Dalam pada itu, seorang
yang masih belum memasuki arena berteriak, "Kami memberikan kesempatan kepada
kalian untuk menyerah. Kalian tidak akan dibunuh. Apalagi jika kalian bersedia
bekerja bersama kami."
Tidak ada jawaban.
Sementara Ki Rangga Suraniti bertempur semakin garang. Tetapi keenam lawannyapun
menjadi semakin garang pula. Serangan-serangan mereka datang beruntun dari arah
yang berbeda-beda. Bahkan kadang-kadang keenam orang dari Perguruan Sad itu
bertempur sambil berputaran. Mereka melonjak-lonjak seperti anak-anak yang
sedang kegirangan. Mereka mengacu-acukan senjata mereka. Namun tiba-tiba saja
mereka menyuruk dengan pedang terjulur ke arah tubuh Ki Rangga Suraniti.
Yang kemudian menjadi
semakin terdesak adalah kawan Ki Rangga Suraniti yang bersenjata pedang.
Keadaannya menjadi sangat berbahaya. Sehingga ia benar-benar berada di ujung
bencana.
Wijang tidak dapat
tinggal diam. Sekali lagi ia menggoreskan tanah yang basah oleh embun menyilang
di wajahnya sehingga wajah yang kotor itu memang sulit untuk dikenali. Sementara
itu,
Wijang sama sekali tidak
mempergunakan senjata yang dapat menjadi ciri tentang dirinya. Kulit yang
melindungi bagian atas pergelangannya, yang juga akan dapat menjadi perisai yang
kuat, berada di bawah lengan bajunya.
Sambil menggamit Paksi
iapun berkata, "Marilah. Bawa tongkatmu. Mereka cukup berbahaya."
Sekejap kemudian
keduanyapun telah merunduk mendekati lapangan rumput. Mereka melingkari lapangan
itu dan dengan serta-merta muncul tidak terlalu jauh dari pohon preh yang besar
itu.
Kehadiran mereka berdua
telah membuat orang-orang yang berada di lapangan itu terkejut pula. Ketika
Wijang dan Paksi berlari mendekati arena pertempuran, maka orang-orang yang
masih belum terlibat, segera memburu mereka.
Namun Wijang berlari
dengan cepat dan menempatkan diri di dekat petugas sandi yang bersenjata pedang,
yang bertempur tidak terlalu jauh dari Ki Nukilan.
"Bertahanlah, aku berdiri
di pihakmu."
"Kau siapa?" bertanya
orang itu.
Pertanyaan itu membuat
Wijang berlega hati. Orang itu ternyata tidak mengenalinya setelah wajahnya
dikotorinya dengan tanah yang basah oleh embun.
Namun Wijang itupun
kemudian menjawab, "Namaku Gendon. Itu adikku. Namanya Sempon."
"Kenapa kau melibatkan
diri," Ki Nukilan yang bertempur dengan sepasang bindi di kedua tangannya, yang
mendengar pengakuan Wijang itu, bertanya pula sambil berloncatan menghindari
serangan-serangan lawannya.
"Aku senang," jawab
Wijang seenaknya. "Sudah sepekan aku tidak berkelahi. Rasa-rasanya tubuhku
menjadi pegal-pegal."
"Kenapa kau berpihak
kami," bertanya Ki Nukilan pula.
"Jumlah mereka sudah
terlalu banyak. Aku berpihak pada yang jumlahnya lebih sedikit."
"Jangan main-main,"
teriak Nukilan pula, "mereka adalah orang-orang yang berbahaya."
"Itulah yang
menyenangkan," teriak Wijang yang sudah mulai terlibat dalam pertempuran.
Wijang yang semula tidak
bersenjata itu telah menggenggam sepasang pisau. Bentuknya memang mirip sepasang
pisau belati yang sederhana. Tetapi bilah dari sepasang pisau itulah yang tidak
sederhana. Bilah yang berwarna kehitam-hitaman ini bagaikan memercikkan bunga
api yang memancar di gelapnya malam.
Tetapi Wijang sudah
memperhitungkan dengan baik. Sepasang senjatanya itu bukan ciri senjata Pangeran
Benawa, sehingga para petugas sandi itu tidak menghubungkannya dengan seorang
pangeran yang menghilang dari istana.
Sementara itu, Paksipun
telah terlibat pula dalam pertempuran melawan beberapa orang.
Tongkatnya berputaran
dengan cepat melindungi tubuhnya. Namun kemudian tiba-tiba terjulur mematuk
perut seorang di antara lawan-lawannya.
Orang itupun terdorong
beberapa langkah surut. Namun kemudian kedua tangannya memegangi perutnya yang
berdarah.
Sejenak kemudian iapun
jatuh pada lututnya sambil terbungkuk-bungkuk kesakitan.
Di putaran pertempuran
yang lain, dua orang di antara lawan Wijangpun telah terlempar pula.
Seorang terluka di
lambungnya, seorang terluka di pundaknya.
Dengan demikian,
pertempuranpun menjadi sengit. Beberapa orang yang sebelumnya masih belum
melibatkan diri telah bertempur dengan garangnya melawan kedua orang anak muda
itu.
Namun karena wajah mereka
disamarkan, maka orang-orang dari beberapa perguruan yang ada
di tempat itu, tidak
segera mengenalinya.
Dalam pertempuran itu,
Paksi mendapat kesempatan untuk menguji kemampuannya.
Dihadapinya beberapa
orang lawan. Namun Paksi berhasil melindungi dirinya dengan sebaikbaiknya.
Serangan beberapa orang
lawannya tidak sempat menyentuh tubuhnya. Sementara itu, seorang lagi telah
tersingkir dari pertempuran ketika tongkat Paksi memukul bahunya dengan
kerasnya, sehingga rasa-rasanya tulang-tulangnya menjadi pecah karenanya.
Sementara itu, Wijang
dengan sengaja telah bertempur semakin dekat dengan petugas sandi yang
bersenjata pedang itu. Wijang memang berusaha untuk membantunya. Satu dua orang
yang semula bertempur bersama melawan petugas sandi itu, kemudian seakan-akan
telah terhisap untuk bertempur bersama-sama melawan Wijang.
Keseimbangan
pertempuranpun segera berubah. Orang-orang dari beberapa perguruan itu tidak
lagi meyakini bahwa mereka akan dapat menangkap lawan-lawan mereka. Karena itu,
tidak ada lagi di antara mereka yang tidak ikut melibatkan diri dalam
pertempuran itu.
Ki Rangga Suraniti yang
bertempur melawan enam orang lawan dari Perguruan Sad itu harus mengerahkan
kemampuannya. Tetapi Ki Rangga memang seorang yang berilmu tinggi, yang memiliki
kelebihan dari para prajurit dan para perwira yang lain. Karena itu, maka keenam
orang murid Perguruan Sad itu tidak segera dapat menguasainya. Bahkan semakin
lama merekapun menjadi semakin sulit menghadapinya.
Orang-orang yang bertubuh
rata-rata agak pendek itu telah mengerahkan kemampuan mereka.
Berenam mereka memang
menjadi sangat berbahaya. Tetapi lawan merekapun sangat berbahaya pula. Keenam
orang dari Perguruan Sad yang juga bersenjata pedang itu berusaha untuk
mengacaukan pemusatan perhatian Ki Suraniti. Tetapi Ki Rangga sama sekali tidak
menjadi bingung. Meskipun keenam orang itu kadang-kadang berloncatan,
berlari-lari mengelilinginya, kemudian menyerang bersama-sama atau beruntun
seperti gelombang, namun pertahanan Ki Rangga Suraniti tidak dapat mereka
tembus. Bahkan sekali-sekali Ki Rangga menghentakkan kemampuannya dan
mengacaukan kepungan lawan-lawannya. Namun beberapa saat kemudian, maka
orang-orang yang bertubuh agak pendek itu telah berputaran kembali di
sekelilingnya.
Sementara itu, Ki
Nukilanpun bertempur dengan garangnya pula. Seorang lagi jatuh terlentang dan
tidak lagi mampu bangkit berdiri. Dengan susah payah orang itu merangkak
menjauh, agar tidak terinjak kaki orang-orang yang sedang bertempur itu.
Lawan Wijang dan Paksipun
telah berkurang seorang demi seorang. Kedua orang anak muda itu telah
menunjukkan kemampuan mereka yang tinggi. Ki Nukilan dan Ki Rangga Suraniti yang
sekali-sekali sempat melihat betapa keduanya berloncatan dengan garang, merasa
heran, bahwa dua orang yang tidak mereka kenal tiba-tiba saja telah melibatkan
diri.
Namun ketiga orang
petugas sandi itu mengakui, tanpa kehadiran kedua orang itu, maka mereka tidak
akan mampu keluar dari lingkungan itu. Betapapun tinggi kemampuan mereka, tetapi
lawan terlalu banyak. Tetapi berlima mereka ternyata mampu mengatasi lawan-lawan
mereka.
Orang-orang dari beberapa
perguruan itu akhirnya menyadari, bahwa sulit bagi mereka untuk dapat mengatasi
kemampuan kelima orang itu. Apalagi ketika Ki Rangga Suraniti berhasil melukai
dua orang dari Perguruan Sad itu. Ketika keutuhan mereka mulai goyah, maka
merekapun segera menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat mengalahkan orang yang
berada di dalam kepungan itu.
Seorang di antara keenam
orang dari Perguruan Sad itu tiba-tiba saja berteriak nyaring sambil mengumpat
kasar. Menyusul seorang lagi terpelanting jatuh. Dari dada mereka mengalir darah
yang hangat.
Dalam keadaan yang sulit
itu, selagi mereka masih mempunyai kekuatan, maka tiba-tiba saja terdengar
seseorang berteriak, "Kita akan menghindar. Tinggalkan mereka."
Beberapa orang menjadi
ragu-ragu. Namun sekali lagi terdengar suara itu, "Kita akan bergabung dan
meninggalkan tempat ini. Lemparkan isyarat panah sendaren."
Tiba-tiba saja
orang-orang yang sedang bertempur itu telah berloncatan meninggalkan lawanlawan
mereka. Mereka kemudian berada di dalam satu kelompok sambil bergerak mundur.
Seorang di antara mereka
benar-benar telah melontarkan panah sendaren.
Ketiga petugas sandi itu
menjadi ragu-ragu untuk mengejar mereka. Apalagi ketika salah seorang di antara
mereka telah melemparkan panah sendaren.
Ki Rangga Suranitilah
yang kemudian berkata, "Kita tinggalkan tempat ini."
"Baik," desis Wijang,
"aku juga sudah lelah."
"Tetapi, katakan kau
siapa, Ki Sanak?"
"Kita akan meninggalkan
tempat ini."
"Jawab dulu
pertanyaanku."
Wijang tertawa sambil
menjawab, "Sudah aku katakan. Namaku Gendon dan itu adikku, Sempon."
"Jangan main-main, Ki
Sanak."
Tetapi Wijang justru
bertanya, "Siapakah kalian?"
Ki Rangga Suraniti
menggeram. Katanya, "Aku bertanya, siapakah kalian."
Wijangpun kemudian
menggamit Paksi sambil berkata, "Marilah, sebelum orang-orang yang menerima
isyarat panah sendaren itu datang. Jika jumlah mereka terlalu banyak, maka kita
tidak
akan mampu melawan."
Paksi tidak menjawab.
Tanpa menghiraukan ketiga orang petugas sandi itu, maka Wijang dan Paksipun
melangkah meninggalkan lapangan rumput itu.
Ki Rangga Suraniti tidak
mau terjebak dalam pertempuran yang tidak seimbang. Jika kedua orang yang telah
membantunya itu pergi, maka mereka bertiga akan mengalami kesulitan untuk
bertempur melawan jumlah yang terlalu banyak, apalagi jika panah sendaren itu
benar-benar telah memanggil beberapa orang lainnya.
Karena itu, maka Ki
Rangga Suranitipun telah mengajak kedua orang petugas sandi yang lain untuk
meninggalkan tempat itu.
Namun sebenarnyalah,
bahwa Wijang dan Paksi tidak benar-benar meninggalkan tempat itu.
Mereka masih ingin
melihat, apakah ada tanggapan terhadap panah sendaren yang telah dilemparkan ke
udara itu.
Dengan sangat
berhati-hati keduanya telah melingkar, menyusup di antara semak-semak perdu yang
rimbun di sebelah lapangan rumput itu.
Untuk beberapa lama
mereka tidak melihat sesuatu. Orang-orang yang semula berkumpul di tempat
terbuka itupun sudah bergerak menjauh. Namun beberapa orang yang terluka dan
bahkan mungkin ada yang sudah terbunuh, masih berada di tempat terbuka itu.
"Kawan-kawannya tentu
masih akan kembali," desis Wijang.
Sebenarnyalah beberapa
orang bersenjata telah muncul. Dua orang yang lain menyongsong mereka sambil
berkata lantang, "Tidak ada yang berbuat curang."
"Jadi untuk apa isyarat
panah sendaren itu?"
"Justru ada orang lain
yang mencoba mengintip persiapan bagi pertemuan esok."
"Siapa?"
"Kami belum tahu."
"Dimana mereka sekarang?" "Mereka berhasil melarikan diri." "Berapa orang?"
"Kami tidak menghitung."
Wijang dan Paksi
tersenyum. Nampaknya mereka merasa malu untuk menyebutkan, bahwa mereka
bertempur melawan hanya lima orang.
Orang-orang yang baru
datang itu termangu-mangu. Namun kemudian orang-orang yang semula menghindar
dari tempat terbuka itupun telah berada di tempat itu lagi.
"Rawat orang-orang yang
terluka dan kita singkirkan yang terbunuh. Besok tempat ini harus benar benar
bersih."
"Tetapi tempat ini sudah
diketahui oleh orang lain. Kami tidak tahu siapakah mereka itu."
"Kalian tidak mengenal
sama sekali unsur-unsur gerak dari ilmu mereka?"
"Tidak. Tetapi seorang di
antara mereka bersenjata tongkat.
Yang lain wajar saja.
Pedang dan seorang di antara mereka, sepasang bindi. Tetapi agaknya mereka
terdiri dari dua kelompok yang berbeda."
"Baiklah. Kita akan
melaporkan kepada pemimpin kita masing-masing. Masih ada waktu sehari
untuk saling
berhubungan."
"Terserah kepada mereka,
apakah mereka besok masih akan berbicara di antara mereka disini."
"Jika besok pertemuan itu
dibatalkan, maka Repak Rembulung dan Pupus Rembulung akan marah."
"Bukankah besok masih ada
waktu untuk memberitahukan kepada mereka bahwa pertemuan dibatalkan?"
"Tidak seorang pun tahu
dimana mereka tinggal sekarang."
Tetapi seorang yang
berambut panjang terurai menjulur dari bawah ikat kepalanya berkata, "Lurahku
tahu dimana Repak Rembulung tinggal. Setidak-tidaknya lingkungannya atau
orangorang yang berhubungan dengan kedua orang suami isteri itu."
"Jadi?"
"Jika para pemimpin
perguruan kita memutuskan untuk menunda atau memindahkan pertemuan ini, biarlah
aku yang mencari hubungan dengan Ki Repak Rembulung."
"Baiklah. Besok kita akan
saling berhubungan. Ada tiga tempat yang sudah kita tentukan untuk saling
mendapatkan keterangan."
Demikianlah, maka
orang-orang yang ada di tempat terbuka itupun segera meninggalkan tempat itu.
Yang terluka telah dirawat oleh kawan-kawan mereka. Wijang dan Paksi tidak dapat
mengetahui, apakah di antara mereka ada yang terbunuh.
Sejenak kemudian, tempat
itupun menjadi sepi. Orang-orang yang semula berkumpul untuk mempersiapkan
pertemuan para pemimpin mereka harus memberikan pertimbanganpertimbangan
baru bagi
pemimpin-pemimpin mereka itu.
Wijang dan Paksipun
kemudian keluar pula dari persembunyian mereka. Dengan hati-hati mereka
melangkah mendekati lapangan rumput itu. Tidak seorang pun yang tinggal.
Tetapi merekapun kemudian
tertegun. Ketajaman telinga mereka yang masih mengetrapkan Aji
Sapta Pangrungu itu
mendengar desir lembut langkah kaki di antara semak-semak. Tidak hanya
seorang, tetapi dua
orang. Agaknya kedua orang itu memang tidak berhati-hati, sehingga suara
semak-semak yang tersibak
semakin lama menjadi semakin jelas terdengar.
Wijang dan Paksipun
segera bersembunyi di antara semak-semak. Mereka berusaha untuk menahan nafas
mereka ketika mereka melihat dua orang berjalan tidak terlalu jauh dari mereka.
Ternyata keduanya adalah
Repak Rembulung dan Pupus Rembulung. Keduanya langsung melangkah mengelilingi
tempat terbuka itu.
"Besok pertemuan itu akan
diselenggarakan disini," berkata Repak Rembulung.
"Terlalu sepi di malam
menjelang sebuah pertemuan besar yang sudah sejak lima tahun terakhir tidak
diselenggarakan."
"Tidak ada
kelompok-kelompok yang melihat-lihat suasana tempat ini."
"Atau mungkin pertemuan
itu tidak dilakukan disini?"
"Tidak ada isyarat
tentang hal itu."
Pupus Rembulung
mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia berkata, "Kakang, kemarilah. Kau lihat
lingkungan ini."
Repak Rembulungpun
melangkah mendekati isterinya. Keduanyapun kemudian mengamati semak semak yang
tersibak. Ranting-ranting yang berpatahan dan bahkan ketajaman penglihatan
mereka telah melihat darah yang berceceran.
Wijang dan Paksi melihat
keduanya berjongkok. Meraba ujung rerumputan dan daun pohon perdu. Nampaknya
mereka memperhatikan percikan darah dimana-mana.
Sambil bangkit berdiri
Repak Rembulung berkata, "Darah itu masih baru. Nampaknya di tempat
ini baru saja terjadi
pertempuran yang sengit."
"Apakah ada di antara
mereka yang curang atau perselisihan yang timbul?"
"Kita terlambat datang,"
berkata Repak Rembulung.
"Aku tidak mengira bahwa
terjadi pertempuran. Jika tidak terjadi sesuatu, aku kira disini masih banyak
orang. Tentu setiap perguruan mengirimkan orang-orangnya untuk melihat suasana
dan
menjajagi
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi."
"Tentu orang-orang bodoh
yang sombong itu yang telah menyalakan api perselisihan disini."
"Siapa?"
Repak Rembulung
menggeleng. Katanya, "Aku tidak tahu yang mana, karena pada dasarnya mereka
semuanya adalah orang-orang sombong dan besar kepala."
Pupus Rembulung
termangu-mangu sambil memandang berkeliling. Tetapi penglihatannya membentur
kesepian. Anginpun berhenti bertiup, sehingga dedaunanpun seakan-akan sedang
tertidur nyenyak.
Wijang dan Paksi harus
bertahan untuk tidak bergerak. Bahkan bernafas pun mereka lakukan dengan sangat
berhati-hati. Mereka sadari bahwa jika mereka bergerak dan menyentuh daundaun
perdu sehingga bergetar, maka gerak daun-daun perdu itu akan dapat mengundang
perhatian, justru karena angin berhenti bertiup.
Namun kedua orang anak
muda itu mampu bertahan. Meskipun nyamuk dan semut merah menggigit kulit.
Untuk beberapa lama Repak
Rembulung dan Pupus Rembulung mengamati tempat itu.
Merekapun kemudian telah
berhenti di bawah pohon preh yang besar di sudut tempat yang terbuka itu. Pupus
Rembulung bahkan kemudian telah duduk bersandar batangnya yang besar
berlekuk-lekuk.
Tetapi Repak Rembulung
kemudian berkata, "Marilah. Kita tinggalkan tempat ini. Kita masih harus
mendapat keterangan, apakah pertemuan esok akan tetap berlangsung."
"Kepada siapa kita akan
bertanya?"
"Kita akan mendapatkan
keterangan itu esok."
Tetapi ketika Pupus
Rembulung kemudian bangkit berdiri, merekapun telah tertegun pula. Dari
arah lain, seseorang
tengah melangkah ke lapangan rumput yang terbuka itu. Di belakangnya, dua
orang berjalan
mengiringinya.
Demikian orang itu
melihat Repak dan Pupus Rembulung, mereka telah tertegun.
"Kalian telah berada
disini?" bertanya orang itu.
"Gedhag Panunggul."
Orang yang datang itu
tertawa. Katanya, "Kaukah yang mengirimkan orang untuk mengacaukan persiapan
pertemuan esok?"
"Buat apa aku
melakukannya?" jawab Repak Rembulung.
"Mungkin kau ingin
terjadi sesuatu. Mungkin tanpa alasan. Asal saja terjadi keributan. Namun lebih
dari itu, dengan keributan itu, kau dapat menjajagi kemampuan orang-orang dari
beberapa perguruan."
"Untuk apa aku menjajagi
kemampuan tikus-tikus itu. Aku sudah dapat mengetahui tataran kemampuan mereka.
Mereka baru dapat berteriak-teriak dan mewarisi kesombongan gurugurunya.
Bahkan tataran kemampuan
guru-guru merekapun tidak perlu kami jajagi lagi."
"Repak Rembulung,"
berkata Gedhag Panunggul, "kaulah orang yang paling sombong yang pernah aku
kenal. Di antara orang-orang berilmu tinggi, maka kau akan dapat terjebak oleh
sikap dan kata-katamu sendiri."
"Aku bertanggung jawab
atas segala sikap dan kata-kataku," jawab Repak Rembulung.
"Lidahmu akan dapat
dipotong di hadapan banyak orang."
Repak Rembulung itu
tertawa. Namun Pupus Rembulungpun kemudian menyela, "Apa yang akan kau lakukan
disini malam ini, Gedhag Panunggul?"
Orang itu menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, "Aku telah mendapat laporan bahwa disini telah terjadi
pertempuran."
"Kami terlambat datang,"
sahut Pupus Rembulung. "Apakah orang-orangmu ada yang menyaksikan pertempuran
itu?"
"Ya. Seorang di antara
orang-orangku terluka."
"Lalu, apakah kau datang
untuk mencari orang yang melukai salah seorang pengikutmu itu?"
"Ya. Mungkin mereka sudah
pergi. Tetapi mungkin pula dengan sombong mereka masih tetap berada disini
sambil menunggu orang yang mungkin akan dapat mereka ajak bermain dengan lebih
baik."
Repak Rembulung
mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya, "Bagaimana dengan
rencana pertemuan esok
malam?"
"Menurut pendapatku,
pertemuan itu harus berlangsung. Jika ada orang gila yang merunduk dan mencoba
mengacaukan pertemuan kita esok, maka itu akan berarti orang itu akan
menyurukkan kepalanya ke mulut seekor buaya."
"Bagus," berkata Repak
Rembulung. "Orang itu harus ditangkap hidup-hidup. Kita harus tahu, siapakah
mereka dan untuk apa mereka mengamati kita."
Gedhag Panunggul itupun
kemudian mengamati semak-semak yang berserakan. Darah yang berceceran dan
keterangan dari kedua orang pengikutnya yang menyaksikan pertempuran itu.
"Mereka hanya lima orang
yang terdiri dari dua kelompok yang berbeda. Bahkan tidak saling mengenal,"
desis Gedhag Panunggul.
"Gila," geram Pupus
Rembulung. "Apa kerja orang-orang kalian jika menghadapi lima orang saja mereka
tidak mampu? Berapa banyak orang yang sedang berada disini ketika pertempuran
itu terjadi? Lima orang, enam orang atau berapa?"
Gedhag Panunggul tertawa.
Katanya, "Buat apa kita harus malu. Menurut laporan orangorangku, disini
berkumpul lebih dari duapuluh lima orang saat pertempuran itu terjadi."
"Lebih dari duapuluh lima
orang?" ulang Pupus Rembulung. "Tentu bukan karena kelima orang itu berilmu
sangat tinggi.
Tetapi orang-orangmu dan
orang-orang dari perguruan-perguruan kerdil itulah yang tidak mampu berbuat
apa-apa meskipun di antara mereka terdapat murid-murid utama dan muridmurid
tertua."
"Jangan berkata begitu.
Bagaimana dengan murid-muridmu? Kenapa tidak seorang pun diantara mereka datang
untuk bersama-sama mempersiapkan tempat ini?"
"Tidak perlu bagiku,"
jawab Repak Rembulung. "Lebih dari itu kau tentu tahu bahwa susunan perguruanku
tidak sama dengan susunan perguruanmu dan perguruan-perguruan lain pada
umumnya."
"Aku tahu. Tetapi apapun
namanya, kenapa tidak seorang pun kau kirim untuk datang dalam persiapan
pertemuan tadi?"
"Kami ingin datang
sendiri. Tetapi sayang, kami datang terlambat."
Gedhag Panunggul tidak
bertanya lagi. Tetapi ia masih saja mengamati keadaan di sekitar tempat itu.
Wijang dan Paksi menjadi
berdebar-debar. Nampaknya orang yang disebut Gedhag Panunggul
itu cukup teliti. Ia
mengamati semak-semak sampai jarak beberapa langkah dari lapangan rumput
yang terbuka itu.
Tetapi keduanya memang
tidak berada di tempat yang terlalu dekat. Jarak yang terlalu jauh bagi
kebanyakan orang. Hanya karena keduanya memiliki kemampuan untuk melihat dan
mendengar dari jarak yang jauh dengan Aji Sapta Pandulu dan Sapta Pangrungu,
maka keduanya dapat mengerti apa yang telah terjadi.
Sebenarnyalah Gedhag
Panunggul tidak menyibak semak-semak di sekitar tempat terbuka itu sampai ke
tempat Wijang dan Paksi bersembunyi. Seandainya orang itu sampai juga ke tempat
Wijang dan Paksi bersembunyi, maka keduanya masih mempunyai kesempatan untuk
menyingkir.
Namun kemudian Gedhag
Panunggul itupun telah kembali ke tengah-tengah tempat terbuka itu.
"Aku besok akan datang
kemari," berkata Gedhag Panunggul. "Aku ingin bertemu dengan orang-orang yang
tadi sempat mencerai-beraikan beberapa kelompok orang-orang dari berbagai
perguruan."
"Bagus," sahut Repak
Rembulung, "kami besok juga akan datang."
"Kami berharap
orang-orang yang tadi sempat mengacaukan orang-orang dari beberapa perguruan itu
datang," sambung Pupus Rembulung.
Namun dalam pada itu,
maka Repak Rembulung dan Pupus Rembulung itupun melangkah meninggalkan tempat
itu.
"Kami akan pergi,"
berkata Repak Rembulung.
Gedhag Panunggul tidak
menyahut. Dipandanginya saja kedua orang itu melangkah meninggalkan tempat
terbuka itu memasuki semak-semak dan hilang di dalam kegelapan.
Yang tinggal adalah
Gedhag Panunggul dan para pengikutnya. Namun merekapun kemudian telah bersiap
untuk pergi.
Sementara Gedhag
Panunggul masih berkata, "Hubungi yang lain-lain. Besok aku akan datang
ke tempat ini. Pertemuan
itu harus berlangsung. Bahkan aku berharap orang-orang gila yang tadi
mengacau disini itu
bersedia datang lagi."
Sejenak kemudian maka
lapangan rumput itu menjadi sepi kembali. Malam yang gelap menukik
semakin dalam. Angin
masih belum berhembus.
Paksi sempat menggaruk
lehernya yang gatal. Sementara Wijang bangkit berdiri dan menggeliat.
"Besok akan ada tontonan
yang menarik," berkata Wijang.
"Ya. Beberapa orang
berilmu tinggi akan berkumpul. Mereka akan berbicara tentang cincin yang
kau bawa."
"Bukan hanya karena itu.
Tetapi mereka tentu ingin menjadi orang terpenting di antara mereka.
Cincin itu dapat menjadi
alat untuk melakukan pendadaran."
"Ya," Paksi
mengangguk-angguk, "perguruan yang menemukan cincin itu adalah perguruan yang
terbaik menurut penilaian mereka, sehingga pantas untuk menjadi pimpinan di
antara mereka."
"Tetapi perburuan itu
belum akan berakhir. Setiap orang ingin memilikinya sehingga akan terjadi
perebutan di antara mereka. Mereka akan menempuh segala cara, bahkan yang paling
kasar dan yang paling licik sekalipun, karena mereka percaya bahwa siapa yang
mengenakan cincin di jari-jari tangannya, ia akan memiliki kekuasaan di masa
depan. Anak atau cucunya akan memegang kekuasaan tertinggi di tanah ini."
"Perburuan itu tentu akan
menimbulkan keresahan. Bagaimanapun juga benturan-benturan kekuatan di antara
mereka tentu akan menepis kehidupan di sekitarnya."
Wijang menarik nafas
dalam-dalam. Dengan nada berat iapun berkata, "Paksi. Besok sebaiknya
kau pergi ke pasar.
Mungkin Ki Rangga Suraniti ada di pasar itu pula. Jika saja kau dapat menangkap
apa yang dikatakannya."
"Baiklah," jawab Paksi.
"Besok pagi-pagi aku akan pergi ke pasar."
Demikianlah, keduanyapun
segera meninggalkan tempat itu. Ketika mereka sampai di gubuk kecil mereka, maka
malampun telah mendekati ujungnya. Meskipun demikian, keduanya masih sempat
berbaring sejenak. Tetapi mereka tidak dapat tidur sama sekali, karena sebelum
fajar mereka harus sudah bangun untuk melakukan kewajiban mereka sehari-hari.
Apalagi Paksi pagi itu akan pergi ke pasar.
Ketika matahari terbit,
maka Paksipun telah meninggalkan gubuk kecilnya. Wijanglah yang mencuci tempayan
dan kemudian melepas gula kelapa yang dicetak dengan tempurung kelapa menjelang
pagi. Legen yang sudah ditampung sejak kemarin baru sempat dipanasi pagi itu.
Tetapi Paksi tidak akan
kekurangan kayu bakar untuk membuat gula kelapa.
Paksi telah berada di
pasar saat matahari mulai memanjat naik. Kecuali melihat apakah Ki Rangga
Suraniti ada di pasar,
Paksi juga membeli
beberapa kebutuhan sehari-hari. Terutama garam dan rempah-rempah.
Bawang merah, bawang
putih dan seikat daun salam dan petai. Meskipun Paksi tidak begitu senang makan
petai, tetapi seperti ibunya, Paksi memberi beberapa buah petai di masakannya.
Setelah keperluannya
selesai, maka Paksi mulai mengelilingi pasar itu. Tetapi ia tidak melihat Ki
Rangga Suraniti. Bahkan
ia melihat dua orang perempuan dari Perguruan Goa Lampin juga sedang
berbelanja. Namun seperti
biasa, mereka membayar sekehendak hati mereka tanpa menghiraukan
keluhan para penjualnya.
Ketika matahari memanjat
semakin tinggi, maka Paksipun menganggap bahwa Ki Rangga
Suraniti memang tidak
pergi ke pasar hari itu. Karena itu, maka Paksipun segera berniat kembali
ke gubuknya dan
memberitahukannya kepada Wijang.
Tetapi ketika ia berjalan
di depan penjual dawet, maka Paksi tertegun. Ia melihat dua orang
yang pernah dijumpainya
membeli dawet, baru itu juga sudah duduk di depan penjual dawet itu.
Paksi berharap bahwa
penjual dawet itu akan menyapanya, sehingga kedua orang itu tidak mencurigainya
bahwa ia sengaja duduk bersama mereka.
Sebenarnyalah seperti
yang diharapkan, maka penjual dawet itu memang menyapanya seperti biasanya, "He,
singgah dahulu, anak muda."
Paksi berhenti melangkah.
Dipandanginya kedua orang yang sudah duduk lebih dahulu itu sambil
tersenyum-senyum. Katanya, "Tetapi aku jadi malu kepada kedua paman ini.
Bukankah Paman yang pernah membayar ketika aku minum disini?"
"Kenapa malu?" sahut
orang yang dikenal Paksi bernama Ki Rangga Suraniti.
"Paman, kali ini Paman
tidak usah membayar. Aku datang untuk berbelanja. Ibu sedang berhalangan. Karena
itu, aku mendapat uang jajan dari Ibu."
"Kau berbelanja apa
saja?" bertanya Ki Rangga Suraniti.
Paksipun kemudian duduk
di dekat mereka sambil menunjukkan beberapa bungkus kebutuhan
dapur yang dibelinya.
"Ternyata kau pintar
juga," berkata yang seorang lagi, yang menurut pengenalan Paksi adalah
Ki Nukilan.
Paksi tertawa. Namun
kemudian iapun berkata, "Dawetnya, Paman."
Ketika Paksi kemudian
menghirup dawetnya, maka ia mendengar Ki Rangga itu berkata,
"Baiklah. Jika kau
panggil kemenakan-kemenakanmu, silahkan datang."
"Tetapi apakah tontonan
itu jadi dipergelarkan?" bertanya Ki Nukilan.
"Mudah-mudahan. Tetapi
undangan itu telah aku terima belum sepenginang ini."
"Sudah pasti?"
"Ya."
Keduanya terdiam. Hampir
bergumam Ki Nukilan berkata, "Begitu cepat kau menerima
undangan."
"Aku adalah sahabat
terdekat."
Penjual dawet itu
memandangi keduanya dengan terheran-heran. Di luar sadarnya ia bertanya,
"Ternyata kalian
mempunyai banyak sahabat. Ketika kalian singgah kalian juga berbicara tentang
undangan. Sekarang juga
membicarakan undangan dan tontonan."
Kedua orang itu
termangu-mangu sejenak. Namun Ki Rangga menyahut, "Jangan mengatakan
kepada isteriku. Aku
adalah jagoan. Dimana ada perhelatan, kami selalu ada."
"Jagoan apa?" bertanya
penjual dawet itu.
Ki Rangga tertawa semakin
panjang. Dengan nada tinggi ia bertanya, "Kau pernah melihat orang bermain
dadu?"
Penjual dawet itu menarik
nafas dalam-dalam. Katanya, "Pantas kau selalu berbicara tentang undangan dan
perhelatan."
"Ah, kau telah membuka
rahasia," desis Ki Nukilan.
"Tetapi ia tidak akan
mengatakan kepada isteri kita."
"Aku tidak mengenal
isteri kalian," sahut penjual dawet itu.
Ki Rangga Suraniti dan Ki
Nukilan itupun tertawa.
Namun beberapa saat
kemudian, Ki Rangga Suraniti itupun berkata, "Marilah. Aku akan pulang.
Kau akan pergi kemana?"
"Pulang," jawab Ki
Nukilan.
"Marilah kita
bersama-sama."
Ki Nukilan termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian sambil bangkit iapun berkata, "Sekarang aku yang
membayar."
Ki Rangga Suraniti
tertawa. Katanya, "Terima kasih."
Namun kemudian Ki Nukilan
itupun berpaling kepada Paksi sambil berkata pula, "Aku bayar dawetmu."
"Ah, aku sudah mendapat
uang jajan hari ini."
"Kau dapat membelikannya
makanan."
"Terima kasih," jawab
Paksi sambil bangkit berdiri ketika kedua orang itu meninggalkan penjual
dawet itu.
"Kau beruntung," berkata
penjual dawet itu sambil tertawa.
"Kapan lagi mereka akan
datang?" bertanya Paksi.
"Bagaimana aku tahu,"
jawab penjual dawet itu. Tertawanya telah mengguncang-guncang perutnya.
Namun Paksipun kemudian
telah minta diri pula. Ia ingin segera bertemu dengan Wijang untuk
memberitahukan pembicaraan yang baru saja didengar. Tetapi karena Paksi sudah
mengerti persoalan yang sedang dihadapi oleh Ki Rangga Suraniti dan Ki Nukilan,
maka Paksi dapat menduga, apa yang sedang mereka bicarakan itu.
Demikian keluar dari
pasar, maka Paksipun berjalan dengan cepat pulang ke gubuk kecilnya.
Berita yang dibawanya itu
tentu akan menarik bagi Wijang.
Ketika Paksi sampai di
gubuk kecilnya, Wijang sedang mengambil air, mengisi gentong kecil persediaan
air bersih yang diletakkan di teritisan gubuk kecil itu.
"Apakah kau melihat Ki
Rangga Suraniti?" bertanya Wijang.
"Ya," jawab Paksi.
"Sendiri atau bersama
satu dua orang?"
"Aku menjumpai Ki Rangga
Suraniti sedang membeli dawet bersama Ki Nukilan."
"Kau dengar sepatah dua
patah kata pembicaraan mereka?"
Paksi mengangguk. Iapun
kemudian mengatakan apa yang dibicarakan oleh Ki Rangga Suraniti
dan Ki Nukilan itu.
Wajah Wijang menjadi
tegang. Katanya, "Jadi mereka akan mengerahkan prajurit untuk menangkap atau
menghancurkan beberapa perguruan yang akan bertemu di tempat terbuka itu?"
"Apakah mereka akan
melakukannya?"
"Menurut pembicaraan itu
demikian, jika tidak ada perubahan. Tetapi Ki Rangga Suraniti tentu sudah
memperhitungkan sebaik-baiknya."
"Ki Nukilan yang agaknya
mengambil keputusan."
"Tetapi bukankah Ki
Rangga sudah menyetujuinya?"
Paksi mengangguk-angguk.
Sementara Wijang berkata, "Satu tugas yang sangat berat dan berbahaya. Di
lapangan rumput itu akan berkumpul beberapa orang berilmu tinggi. Para pengikut
mereka tentu akan
mengawasi dan melindungi para pemimpin mereka, apalagi setelah terjadi
peristiwa semalam."
"Tetapi begitu cepat, Ki
Rangga mengetahui bahwa pertemuan itu tidak tertunda dan tidak berpindah
tempat."
"Petugas sandi Pajang
termasuk petugas sandi yang baik. Tentu ada satu atau dua orang diantara mereka
yang berhasil menyusup di antara perguruan-perguruan itu."
"Tetapi apakah Pajang
menganggap perguruan-perguruan itu berbahaya?"
"Tentu," jawab Wijang.
"Mereka sudah mengikuti perkembangan setiap perguruan itu untuk waktu yang
cukup."
Paksi menarik nafas
panjang. Ia dapat membayangkan, jika Pajang mengambil sikap keras, tentu akan
terjadi pertempuran yang sengit. Namun Paksipun kemudian bertanya, "Apakah ada
waktu bagi Ki Nukilan untuk mengirimkan penghubung ke Pajang kemudian membawa
sepasukan prajurit Pajang sampai kemari di hari ini?"
"Ki Nukilan tentu tidak
menunggu prajurit yang langsung datang dari Pajang. Tetapi Ki Nukilan tentu
mempersiapkan prajurit Pajang yang berada di Jati Anom dan sudah dipersiapkan di
sebelah timur Prambanan, di pinggir Kali Dengkeng."
"Jadi sudah ada prajurit
Pajang yang dipersiapkan di sekitar tempat ini?"
"Tidak terlalu dekat.
Tetapi dengan penghubung berkuda yang berangkat malam tadi, maka malam nanti
prajurit Pajang yang dipersiapkan di Jati Anom sudah akan mencapai tempat ini.
Tetapi aku tidak tahu,
apakah jumlah prajurit Pajang itu cukup memadai. Apakah para pemimpin mereka
memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuan para pemimpin
perguruanperguruan yang bakal berbicara di antara mereka itu."
"Tetapi para petugas
sandi Pajang itu tentu sudah membuat laporan terperinci."
"Para pemimpin prajurit
kadang-kadang kehilangan kecermatan mereka jika mereka mulai dikuasai oleh
hasrat mereka menghancurkan kelompok-kelompok yang dianggap melawan kekuasaan
Pajang. Meskipun demikian, aku masih berharap bahwa para prajurit itu akan dapat
menyelesaikan tugas mereka dengan baik."
Paksi termangu-mangu
sejenak. Ia mulai membayangkan pertempuran yang sengit antara para
prajurit Pajang dengan
beberapa perguruan yang sedang berkumpul di lereng Gunung Merapi ini.
Namun Wijangpun kemudian
berdesis, "Tetapi jika orang-orang dari beberapa perguruan itu menyadari, bahwa
yang mengintai persiapan semalam adalah prajurit Pajang, maka mereka tentu
akan berpikir dua kali
untuk melangsungkan pertemuan sebagaimana mereka rencanakan."
"Agaknya mereka tidak
menghubungkan kehadiran orang-orang yang mengintainya semalam dengan prajurit
Pajang."
"Nampaknya Ki Nukilan
dengan sengaja mempergunakan sepasang bindi sebagai senjatanya.
Kehadiranmu dengan
tongkat juga menyesatkan orang-orang dari beberapa perguruan itu, karena menurut
perhitungan mereka, para prajurit tidak akan mempergunakan senjata seperti itu.
Para
prajurit tentu akan
mempergunakan senjata yang umum dipergunakan. Misalnya pedang atau tombak
pendek."
Paksi mengangguk sambil
berdesis, "Mudah-mudahan para prajurit tidak justru terjebak."
Wijang menarik nafas
panjang. Sambil duduk di atas sebongkah batu padas ia memandang ke
kejauhan. Hutan lereng
pegunungan yang lebat memagari satu lingkungan yang terbuka di antara
gumuk-gumuk kecil di kaki
gunung, nampak hijau kegelapan. Cahaya matahari yang semakin terik
terpantul di wajah
daun-daun yang berdesakan.
Tiba-tiba saja Paksi
bertanya, "Apakah Ki Nukilan benar-benar sudah siap?"
"Mudah-mudahan, "desis
Wijang. "Aku juga sedang memikirkannya."
"Jumlah orang yang akan
berkumpul tentu akan cukup banyak. Setiap pemimpin perguruan akan mempersiapkan
para pengikutnya di sekitar tempat itu. Seandainya mereka tidak merasa
terganggu, agaknya mereka juga akan menyiapkan orang-orangnya. Apalagi setelah
mereka mempunyai alasan yang kuat."
"Ya. Mereka sebenarnya
juga saling mencurigai," Wijang bergumam seakan ditujukan kepada diri sendiri.
"Tetapi apakah Ki Nukilan
dan Ki Rangga Suraniti tidak tinggal bersama-sama di satu tempat sehingga mereka
perlu bertemu dan berbicara di pasar?"
"Tentu tidak. Untuk tidak
menarik perhatian. Banyak orang-orang dari berbagai perguruan yang
berkeliaran. Tetapi juga
pantas diperhatikan orang-orang padukuhan yang sudah dipengaruhi oleh
orang-orang dari berbagai
perguruan yang dibayangi oleh keinginan untuk menatap masa depan
itu. Menurut dugaanku,
selain beberapa perguruan, tentu masih ada orang yang berusaha untuk
memiliki cincin itu yang
datang tidak dalam kelompok-kelompok yang besar. Tetapi seorangseorang
atau dua orang yang juga
merasa melihat cahaya langit yang jatuh di sekitar tempat ini atau melihat
semacam teja yang bercahaya mencuat menusuk langit atau melihat isyarat apapun."
Paksi mengangguk-angguk.
Namun tiba-tiba saja ia bertanya, "Apa sebenarnya yang telah mereka lihat?"
"Aku tidak tahu. Tetapi
aku percaya bahwa memang ada benda langit yang pernah jatuh di bumi. Mungkin
semacam batu bintang atau apapun namanya."
"Jadi bukan cincin itu?"
"Bukankah cincin itu
masih tetap ada padaku?"
Paksi mengangguk-angguk.
Cincin itu memang masih tetap berada di tangan Wijang.
Demikianlah, keduanyapun
kemudian duduk merenung. Bagaimanapun juga mereka merasa cemas. Jika sekelompok
prajurit Pajang itu jumlahnya tidak memadai, maka mereka justru akan mengalami
kesulitan. Apalagi di tempat itu akan berkumpul orang-orang berilmu tinggi. Para
pemimpin dari beberapa perguruan itu merupakan lawan yang sangat berat bagi para
pemimpin kelompok-kelompok prajurit yang akan berusaha menguasai mereka.
Wijang yang kemudian
bangkit sambil menggeliat berdesis, "Aku percaya kepada para petugas
sandi Pajang, sehingga
para prajurit itu tidak akan terjebak dalam kesulitan."
"Tetapi kita akan berada
dimana? Jika para prajurit itu akan datang dan mengepung tempat itu,
maka pertempuran akan
terjadi di luar tempat terbuka itu. Di semak-semak atau di pinggir hutan
atau di lembah di sebelah
bukit kecil itu."
"Ya, pertempuran akan
dapat terjadi dimana-mana. Tetapi kita sebaiknya tetap berada di tempat yang
sudah kita pilih. Para prajurit itu tentu baru akan datang dan mengepung tempat
itu setelah pertemuan itu berlangsung. Lewat tengah malam."
Paksi mengangguk-angguk.
Ia mengerti maksud Wijang. Mereka berdua harus sudah berada di tempat
persembunyian mereka sebelum segalanya itu terjadi.
Meskipun demikian, Paksi
itupun berkata, "Aku menduga bahwa tempat itu tentu sudah diawasi
oleh para murid dari
berbagai perguruan itu sejak malam turun."
"Ya. Aku juga
memperkirakan demikian. Karena itu, kita harus sudah berada disana. Kita tidak
boleh terlalu dekat
dengan tempat terbuka itu. Kita akan berada di tempat pilihan kedua. Menurut
perhitungan, tempat itu
cukup jauh. Tetapi para prajurit yang mengepung tempat itu, akan berada
pada jarak yang lebih
jauh lagi dari sasaran."
Paksi termangu-mangu
sejenak. Ia membayangkan satu lingkungan yang rumit, yang setiap jengkal
mendapat pengawasan yang teliti. Namun yang kemudian akan berada di dalam
lingkaran kepungan para prajurit Pajang.
Wijang seakan-akan dapat
membaca perasaan Paksi. Karena itu, maka iapun berkata, "Kita akan melakukan
satu pekerjaan yang berat dan rumit. Tetapi bukankah tantangan seperti itu yang
membuat kita menjadi semakin dewasa?"
Paksi mengangguk-angguk.
Katanya, "Ya. Dan kita ingin menjadi dewasa."
Namun Wijang tersenyum
sambil berkata, "Kita akan bertambah dewasa, atau kita tidak akan
pernah menjadi dewasa."
Paksipun tertawa.
Katanya, "Pajang tidak akan kehilangan seorang pangeran."
"Ah, kau," sahut Wijang.
"Sejak beberapa waktu yang lalu, Pajang telah kehilangan seorang pangeran.
Tetapi pangeran yang tidak berarti apa-apa bagi Pajang."
"Kenapa tidak? Tentu
sekarang istana Pajang menjadi muram karena Pangeran Benawa tidak berada di
istana dan tidak diketahui kemana perginya."
"Bukan hanya seorang
pangeran. Orang yang kehilangan anaknya tentu akan mencarinya."
"Tetapi aku justru
dihalau untuk meninggalkan rumahku."
"Sudahlah," potong
Wijang. "Seandainya kau tidak pergi meninggalkan rumahmu apapun alasannya, maka
kau tidak akan menjadi seorang yang berilmu seperti sekarang ini."
Paksi mengangguk-angguk.
Katanya, "Ya. Ternyata aku telah menemukan sesuatu di dalam pengembaraan ini."
Wijang tidak mengatakan
sesuatu lagi. Sementara itu, Paksipun berkata, "Apakah kita akan makan
sekarang?"
"Aku juga sudah lapar."
Demikianlah, maka
keduanyapun telah duduk menghadapi mangkuk mereka masing-masing.
Nasi yang dingin dan
sayur serta lauk yang sudah dingin pula.
Hari itu keduanya telah
memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Berbaring di bawah pepohonan yang rindang
di luar gubuk mereka. Menikmati silirnya angin lereng gunung yang lembut, yang
mengusap tubuh mereka. Baik Paksi maupun Wijang membiarkan dada mereka terbuka.
Ketika matahari turun di
sisi barat, maka keduanyapun telah mempersiapkan diri. Mereka pergi
ke gerojogan untuk mandi.
Mengenakan pakaian yang berwarna gelap dan mempersiapkan nalar
dan budi untuk melakukan
satu kerja yang penuh dengan bahaya. Bahkan kemungkinan yang terburuk akan dapat
terjadi atas mereka. Mereka akan dapat berhadapan dengan orang-orang dari
beberapa perguruan itu,
tetapi jika terjadi salah paham, maka merekapun akan dapat berhadapan
dengan para prajurit
Pajang.
Demikian langit menjadi
merah, maka kedua orang anak muda itu sudah siap. Paksi telah mempersiapkan
tongkatnya, sementara Wijang telah mengamati pelindung pergelangan tangannya
serta sepasang pisaunya yang ujudnya sederhana. Tetapi besi bajanya bukan besi
yang sederhana. Pamornya bagaikan berkeredipan di bawah cahaya senja.
Demikianlah, maka
keduanyapun meninggalkan gubuk kecil mereka untuk melakukan beban tugas yang
mereka letakkan di pundak mereka sendiri.
Ketika keduanya sampai di
tempat yang akan menjadi tempat pertemuan para pemimpin perguruan itu, langit
sudah menjadi hitam. Tempat itu masih sepi. Belum nampak seorangpun yang berada
di tempat itu.
Wijang dan Paksipun
segera menempatkan diri. Seperti seorang yang akan menonton wayang topeng yang
datang lebih awal untuk mendapatkan tempat terbaik sebelum penonton yang lain
berdatangan di tempat pertunjukan.
Namun seperti yang sudah
mereka duga, beberapa saat kemudian, maka kelompok-kelompok kecil orang-orang
dari berbagai perguruan telah berdatangan. Mereka mengamati tempat itu
sebaik-baiknya. Mereka menyibak gerumbul-gerumbul perdu di sekitar tempat
terbuka itu. Mereka mengamati setiap tempat yang mereka curigai dapat
dipergunakan untuk bersembunyi.
Tetapi mereka menyibak
semak-semak pada jarak tertentu. Di luar jarak itu, mereka anggap sudah terlalu
jauh untuk mengintai pembicaraan orang-orang yang akan hadir di tempat yang
terbuka itu.
Karena itu, maka tidak
seorang pun di antara mereka yang mengamati gerumbul perdu sampai ke tempat
Wijang dan Paksi bersembunyi. Jarak itu terlalu panjang. Namun dengan Aji Sapta
Pangrungu dan Aji Sapta Pandulu, Wijang dan Paksi akan dapat menyaksikan dan
mendengarkan dengan jelas apa yang akan mereka bicarakan di lapangan rumput itu.
Namun Wijang dan Paksipun
yakin, bahwa tempat itu tentu sudah dilingkari kekuatan yang besar dari
perguruan-perguruan yang terlibat dalam pertemuan itu. Kecuali mereka berusaha
untuk mengamankan lingkungan, sebenarnyalah bahwa mereka saling curiga, sehingga
mereka tidak ingin pemimpin mereka mengalami kesulitan dalam pertemuan itu.
Sedangkan di luar
lingkaran pengamanan orang-orang dari berbagai macam perguruan itu, prajurit
Pajang akan datang mengepung mereka dan berusaha menangkap para pemimpinnya.
Suasana di tempat itupun
menjadi sangat mencengkam. Orang-orang yang berkeliaran itu nampak tegang. Yang
satu mengawasi yang lain dengan penuh kecurigaan.
Wijang dan Paksipun
menjadi tegang pula di tempat persembunyiannya. Mereka menyadari bahwa sebentar
lagi akan terjadi pertempuran yang sengit jika Ki Rangga Suraniti tidak merubah
rencananya.
Tetapi keduanya tidak
dapat berbuat apa-apa selain berdiam diri di tempat mereka bersembunyi sambil
menunggu.
Menjelang tengah malam,
maka suasanapun telah berubah. Orang-orang dari berbagai perguruan yang
berkeliaran itupun mulai menyibak. Tidak ada pertanda bunyi apapun. Namun begitu
saja Gedhag Panunggul telah berada di lapangan rumput itu.
Seorang yang bertubuh
tinggi kekurus-kurusan telah mendekatinya sambil membungkuk hormat.
"Kau memang dungu,"
bentak Gedhag Panunggul. "Sudah aku katakan, jangan ada yang berkeliaran disini.
Biarlah orang-orang yang masih ingin mengintip pertemuan itu datang dan
bersembunyi di sekitar tempat ini. Aku memerlukan mereka."
Orang yang mengangguk
hormat itu menjawab dengan ragu,
"Tetapi kawan-kawan dari
perguruan lain menghendaki tempat ini diamankan. Meskipun kami tidak berbuat
apa-apa disini, namun mereka telah menyibak gerumbul-gerumbul liar serta
semaksemak
perdu."
"Mereka memang bodoh dan
tidak berotak," geram Gedhag Panunggul.
"Kami tidak dapat
mencegah mereka."
Gedhag Panunggul
menggeram, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Semuanya sudah terlanjur.
Katanya, "Jika orang-orang itu datang lagi, mereka tidak akan berani mendekat.
Mereka akan bersembunyi di tempat yang jauh sehingga kita tidak akan dapat
menangkapnya."
Namun dalam pada itu,
terdengar seseorang tertawa. Sambil melangkah mendekat, orang itu berkata,
"Sudahlah, Gedhag Panunggul. Jangan disesali. Kita tidak memerlukan orang-orang
gila
itu. Bahkan aku yakin
mereka tidak akan berani datang lagi. Jika mereka memang ingin datang,
serta mereka berilmu
tinggi, maka mereka akan dapat menghindar dari pengamatan murid-murid
kita."
"Sima Pracima," geram
Gedhag Panunggul, "ternyata kau juga sebodoh murid-muridmu."
"Jangan berkata begitu di
hadapan murid-muridku. Aku adalah orang yang mereka hormati.
Akupun tidak akan
merendahkanmu di hadapan murid-muridmu meskipun aku tahu, bahwa otakmu adalah
otak yang tumpul."
"Setan kau," sahut Gedhag
Panunggul.
Namun sebelum ia berkata
lebih lanjut, terdengar orang lain berkata, "Sima Pracima memang gila. Ia tidak
ingin merendahkan Gedhag Panunggul di hadapan murid-muridnya. Tetapi ia sudah
menyebut bahwa otak Gedhag Panunggul adalah otak yang tumpul."
"Kau juga iblis," geram
Gedhag Panunggul.
Sementara itu Sima
Pracimapun bergumam, "Wira Bangga."
"Sebenarnya aku ingin
pertemuan ini diselenggarakan di tempat lain. Aku curiga, bahwa orangorang yang
semalam datang kemari adalah orang-orang Pajang. Orang-orangku pernah melihat
kesiagaan prajurit Pajang di Prambanan."
"Mereka terdiri dari dua
kelompok yang berbeda dan tidak saling mengenal," berkata Sima Pracima.
"Orang-orangku mendengar mereka saling mempertanyakan diri masing-masing. Tetapi
mereka tidak mau menyebutkannya. Senjata merekapun tidak menunjukkan jenis
senjata yang dipakai oleh para prajurit. Ada di antara mereka yang mempergunakan
sepasang bindi ada yang mempergunakan tongkat dan pisau-pisau belati."
Gedhag Panunggul tertawa.
Katanya, "Wira Bangga, kenapa tiba-tiba kau menjadi penakut?
Seandainya mereka
orang-orang Pajang, apa keberatanmu? Jika mereka datang dengan sekelompok
prajurit sekalipun, kita akan melumatkan mereka. Permusuhan dengan Pajang memang
sudah lama dicanangkan. Perang terbuka tidak akan menggetarkan kita. Kitapun
tidak akan lama berada disini, sehingga jika datang pasukan yang lebih besar,
lingkungan ini sudah sepi. Cahaya yang kita lihat turun dari langit memang belum
tentu mengisyaratkan, bahwa benda itulah yang kita cari."
"Tetapi apakah kita akan
meyakinkannya lebih dahulu?" bertanya Wira Bangga.
"Setiap malam aku berada
di tempat terbuka. Aku masih belum melihat isyarat apapun yang dapat menunjukkan
tempat cincin bermata tiga itu."
"Jika demikian, malam ini
kita akan bertahan," berkata Sima Pracima. "Tetapi untuk selanjutnya, terserah
kepada kita masing-masing. Apakah kita masih akan tetap berada di sekitar tempat
yang semula kita yakini menjadi tempat persemayaman cincin itu, atau ada di
antara kita yang akan mencari di tempat lain. Tetapi persetujuan yang nanti akan
kita capai akan tetap mengikat."
Tetapi seorang perempuan
yang kemudian datang menyahut dengan suara melengking,
"Apakah pembicaraan sudah
dimulai sebelum aku datang?"
"Nyi Melaya Werdi,"
ketiga orang itu hampir berbareng berdesis.
"Kenapa kalian tidak
menunggu kita semua hadir?"
"Kau kira, kau dapat
melarang kami berbicara? Apa hakmu Nyi Melaya Werdi?"
"Bukankah kita sepakat
untuk berbicara dalam satu pertemuan yang akan mengikat kita semuanya?"
"Apakah kami telah
menghambat pertemuan itu?" bertanya Sima Pracima.
"Tetapi pembicaraan yang
sudah memasuki persoalan pokok dari permasalahan yang akan kita
bicarakan, akan membuat
pembicaraan kita tidak wajar lagi. Tidak menarik dan keputusan terakhir
seakan-akan telah
dipersiapkan lebih dahulu oleh beberapa orang di antara mereka."
"Kau terlalu curiga,"
berkata Wira Bangga. "Jangan berprasangka seperti itu. Marilah, kemarilah."
Perempuan yang disebut
Nyi Melaya Werdi itupun melangkah mendekat.
Ki Wira Bangga tersenyum
sambil berdesis, "Kau masih tetap cantik, Nyi. Sudah berapa lama kita tidak
bertemu. Mungkin aku sudah menjadi bertambah tua, tetapi kau tidak."
"Kau masih tetap buaya,"
geram Nyi Melaya Werdi.
"Kau masih tetap seekor
burung gelatik liar."
"Sudah, sudah," potong
Nyi Melaya Werdi. "Aku datang untuk berbicara tentang kedudukan dan hubungan
kita agar kita tidak saling membunuh."
Ki Sima Pracima tertawa.
Katanya, "Kedatanganmu membuat malam ini terasa segar, Nyi. Kegilaan Wira Bangga
akan menyurukkan dirinya ke dalam kerangkeng-kerangkeng yang kau siapkan di
padepokanmu."
"Cukup," teriak Nyi
Melaya Werdi. "Kau tidak usah iri, Ki Sima Pracima. Aku tidak menyiapkan
kerangkeng untuk mengurung seekor harimau yang buas seperti kau."
Sima Pracima tertawa
semakin keras. Katanya, "Kau tidak usah menyiapkan kerangkeng itu.
Aku akan membawa
kerangkengku sendiri. Yang aku perlukan hanya tempat yang khusus di dalam goamu
itu."
"Apakah aku harus
membungkam mulut kalian?" geram Nyi Melaya Werdi.
"Nyi," berkata Gedhag
Panunggul, "mungkin aku akan berbicara lebih sopan. Di mana adikmu, Megar
Permati?"
"Ia tidak mau aku ajak
kemari. Ia tahu benar sifat kalian. Tetapi malam ini ia ada disini."
Gedhag Panunggul
tersenyum. Katanya, "Ia mengira bahwa kami tidak tahu bahwa ia mempunyai
kerangkeng khusus di padepokanmu."
"Justru karena itu, ia
tidak memerlukan kalian."
Suara tertawapun meledak.
Namun tiba-tiba terdengar seorang perempuan membentak,
"Cukup. Jangan sebut lagi
namaku."
"Ternyata kau mendekat
juga, Megar."
"Tidak. Aku lebih senang
berada di luar lingkaran pembicaraan ini."
Megar Permati tidak
menunggu jawaban. Iapun segera melangkah pergi meninggalkan beberapa orang yang
memandanginya dengan kagum. Dua orang perempuan yang lain dengan pedang di
lambung menunggunya dan kemudian bersama-sama menghilang di dalam gelap.
Namun tiba-tiba Melaya
Werdipun bertanya, "Siapa yang kita tunggu?"
"Kerbau tua itu," jawab
Wira Bangga.
"Masih ada lagi. Repak
Rembulung dan Pupus Rembulung."
"Apa yang akan dilakukan
kedua orang yang sudah mulai rapuh itu? Mereka menyangka bahwa mereka masih
tetap orang yang disegani di antara kita."
"Mungkin pikirannya masih
berarti bagi kita," desis Gedhag Panunggul. "Tetapi jika keduanya menuntut yang
bukan-bukan, kita akan melemparkannya keluar dari pembicaraan ini."
Sima Pracimapun menyahut,
"Keduanya masih mampu memamerkan ilmu mereka dengan menakut-nakuti anak-anak
beberapa hari yang lalu."
"Aku juga mendengarnya,"
desis Nyi Melaya Werdi. "Sepasang iblis itu tentu merasa berhasil karena kita
segera menyelenggarakan pertemuan ini."
"Biar saja apapun yang
mereka rasakan. Mungkin mereka merasa memiliki kelebihan dari kita semuanya,"
desis Wira Bangga.
Mereka berhenti sejenak
ketika mereka melihat seorang yang kumis dan janggutnya sudah memutih. Beberapa
helai rambutnya yang tergerai mencuat dari bawah ikat kepalanya juga sudah
nampak memutih.
"Ki Kebo Serut sudah
datang," desis Gedhag Panunggul.
Ternyata bahwa para
pemimpin perguruan yang menyelenggarakan pertemuan itu masih juga menaruh hormat
kepada orang tua. Karena itu, merekapun serentak menyambut kedatangannya.
Nyi Melaya Werdilah yang
kemudian mempersilahkan, "Marilah, Paman. Kita menunggu kedatangan Paman."
"Terima kasih, terima
kasih Melaya Werdi. Eh, kau masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Bibirmu
yang tipis itu menjadi ciri keramahanmu."
"Giginya miji timun,
Paman," desis Wira Bangga.
"Setan kau," geram Nyi
Melaya Werdi.
Ki Kebo Serut itu
tertawa. Meskipun rambutnya sudah putih yang menjadi ciri ketuaannya, tetapi
Kebo Serut tetap seorang yang bertubuh kekar dan tegar.
"Aku dengar Repak
Rembulung dan Pupus Rembulung akan datang dalam pertemuan ini."
"Ya, Paman," jawab Nyi
Melaya Werdi.
"Apakah mereka sudah
datang?"
"Belum, Paman."
"Keduanya adalah
orang-orang yang terlalu sombong dan berbangga diri atas kelebihan mereka.
Tetapi keduanya adalah orang yang baik. Mereka pernah menghadiahkan lima ekor
lembu kepadaku."
"Hanya lima ekor lembu?
Bukankah kita masing-masing akan dapat mengambil lebih dari sepuluh ekor lembu
semalam jika kita kehendaki."
"Yang penting bukan lima
ekor atau sepuluh ekor. Bahwa mereka memberikan hadiah kepadaku itulah yang aku
hargai. Nampaknya mereka benar-benar ingin menghormati orang tua."
Kebo Serut itu berhenti
sejenak, lalu katanya, "Siapa di antara kalian yang pernah memberikan
hadiah kepadaku, dalam
ujud apapun?"
Orang-orang yang ada di
sekitarnya saling berpandangan sejenak. Namun Nyi Melaya Werdilah yang menjawab,
"Sebenarnya ada juga niat mengirimkan sejodang nasi gurih dengan sepuluh ingkung
ayam jantan yang masih muda. Tetapi aku tidak tahu dimana Paman berada. Paman
jarang sekali berada di perguruan Paman."
Ki Kebo Serut tertawa.
Katanya, "Lain kali aku menunggu kau mengirimkan sejodang makanan, Melaya Werdi.
Kau tentu masih tangkas memasak. Aku tidak akan takut bahwa kau akan memberi
guna-guna di dalam makananmu. Bahkan aku tentu akan merasa beruntung." "Ah,
Paman mengada-ada."
Kebo Serut tertawa.
Tetapi sekali lagi ia bertanya, "Apakah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung
belum datang?"
Sebelum ada yang
menjawab, maka mereka telah melihat dua orang laki-laki dan perempuan memasuki
lingkungan yang terbuka itu. Gedhag Panunggulpun berdesis, "Itulah mereka."
Sebenarnyalah yang datang
itu adalah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung. Demikian mereka mendekat, maka
Repak Rembulungpun bertanya dengan nada berat, "Apakah semua sudah berkumpul?"
Tidak seorang pun yang
menjawab. Karena itu, maka Repak Rembulungpun berkata, "Sudah tengah malam. Kita
akan mulai pertemuan ini. Kita harus segera mengambil beberapa keputusan yang
menguntungkan kita semua."
Kebo Serutlah yang
kemudian melangkah maju mendekati Repak Rembulung dan Pupus Rembulung. "Kau ini
mabuk tuak atau mabuk kecubung. Kau datang terakhir. Tiba-tiba saja kau
seakan-akan berhak memerintah kami."
Repak Rembulung
mengerutkan dahinya. Kemudian sambil mengangguk hormat ia berkata, "Maaf, Paman
Kebo Serut. Aku tidak memerintah. Aku hanya ingin menepati perjanjian.
Pertemuan ini akan
diselenggarakan di tempat ini pada tengah malam."
"Lewat tengah malam,"
sahut Gedhag Panunggul.
"Bukankah itu tidak
penting," berkata Kebo Serut. "Kenapa kita harus mulai dengan ketegangan hanya
karena soal-soal kecil saja?"
Repak Rembulungpun tidak
menyahut. Sementara yang lainpun masih berdiam diri.
"Nah," berkata Kebo
Serut, "jika semuanya sudah hadir, marilah kita mulai pertemuan kita ini.
Tanpa ketegangan, tanpa
kebanggaan diri dan kesombongan yang tidak berguna sama sekali. Kita tidak perlu
mengangkat harga diri kita dengan tingkah laku yang aneh-aneh. Bukankah kita
sudah
saling mengenal? Sudah
saling mengerti dan mengetahui pribadi kita masing-masing. Karena itu,
marilah kita bersikap
wajar saja."
Para pemimpin perguruan
yang berkumpul itu tidak ada yang menjawab. Repak Rembulung dan Pupus
Rembulungpun hanya berdiam diri saja. Sementara Kebo serut itu berkata
selanjutnya, "Marilah, kita duduk di sebelah batu besar itu. Tetapi aku harus
mendapat tempat sehingga aku dapat bersandar. Punggungku sudah mulai terasa
pegal-pegal. Aku memang sudah tua."
Tiba-tiba saja Nyi Melaya
Werdi menyela, "Sejak kapan Paman merasa menjadi tua?"
Kebo Serut itu tertawa.
Katanya, "Hanya kadang-kadang saja aku merasa menjadi tua."
Nyi Melaya Werdipun
tertawa pula. Namun Pupus Rembulung tiba-tiba saja berdesis, "Kau tidak
pantas hadir dalam
pertemuan seperti ini, Melaya Werdi. Pikiranmu yang kotor itu selalu saja kau
bawa tanpa menghiraukan
suasana."
Wajah Nyi Melaya Werdi
menjadi merah. Dengan nada tinggi iapun menjawab, "Apa pedulimu?
Kau kira hatimu bersih
seputih kapas? Atau kau merasa iri karena tingkah lakumu selalu dibatasi
oleh kehadiran suamimu?"
"Kenapa kau tidak
mempunyai seorang suami?" sahut Pupus Rembulung.
Sebelum Nyi Melaya Werdi
menjawab, terdengar Ki Kebo Serut tertawa pula. Katanya, "Dalam segala keadaan,
dalam segala suasana, dimanapun mereka berada, perempuan tentu merasa saling
bersaing. Sudahlah. Bukankah kita bertemu sekarang untuk berbicara justru
menghindari benturan-benturan yang tidak berarti?"
Nyi Melaya Werdipun
berusaha menahan diri. Demikian pula Nyi Pupus Rembulung.
"Marilah. Sudah lewat
tengah malam."
Para pemimpin perguruan
itupun kemudian telah melangkah mendekati batu yang besar itu.
Merekapun segera duduk di
atas rerumputan kering, membentuk sebuah lingkaran.
"Jangan terlalu tegang,"
berkata Kebo Serut. "Nah, sekarang siapakah yang akan memimpin pertemuan ini.
Bukan berarti bahwa untuk melanjutkan kita harus mengakuinya sebagai pemimpin
kita semuanya."
Semuanya terdiam.
Nampaknya pengaruh ketuaan Ki Kebo Serut masih mengikat mereka semuanya.
Wira Banggalah yang
kemudian berkata, "Biarlah yang tertua di antara kita untuk sementara kita akui
sebagai pemimpin kita, sehingga ia akan memimpin pertemuan ini."
"Agaknya itulah yang
terbaik," sahut Gedhag Panunggul.
"Aku setuju. Siapa yang
tidak?" berkata Repak Rembulung.
Ternyata tidak ada yang
merasa berkeberatan. Merekapun kemudian telah menetapkan, Ki Kebo Serut akan
memimpin pertemuan itu.
Wijang dan Paksi
mengikuti semua yang terjadi itu dengan jantung yang berdebaran.
Justru karena mereka
memperhitungkan bahwa sebentar lagi, pasukan prajurit dari Pajang akan datang
mengepung dan menyerang pertemuan itu.
Dalam pada itu, tempat
yang terbuka itupun telah menjadi hening. Para cantrik dari beberapa perguruan
yang semula berkeliaran di sekitar tempat itu sudah bergeser menjauh. Mereka
kemudian berada di luar lingkungan lapangan rumput itu. Mereka tahu, bahwa
mereka tidak boleh mengganggu atau mendengarkan pembicaraan para pemimpin dan
guru mereka.
Tetapi baru saja Ki Kebo
Serut membuka pertemuan itu, maka mereka telah dikejutkan sebuah anak panah
sendaren yang meluncur ke udara. Anak panah yang meluncur dari semak-semak yang
agak jauh dari tempat terbuka itu.
Wijang dan Paksipun
terkejut pula. Begitu cepatnya isyarat itu diberikan.
"Siapakah yang telah
melontarkan isyarat itu?" bertanya Paksi berbisik.
"Itulah kelebihan para
petugas sandi Pajang. Tentu ada diantara mereka yang sempat menyusup di antara
perguruan-perguruan yang sedang mengadakan pertemuan itu."
"Apakah panah sendaren
itu memberikan isyarat agar para prajurit itu menyerang?"
"Nampaknya begitu. Tetapi
petugas sandi yang dengan kelebihannya mampu menyusup di antara perguruan yang
terlibat dalam pertemuan ini, agaknya terlalu tergesa-gesa. Kita belum mendengar
persoalan apakah yang akan mereka bicarakan."
"Tentang cincin itu?"
"Mereka akan mencari
jalan agar tidak terjadi benturan-benturan di antara mereka. Justru dalam
pencarian. Mungkin juga setelah cincin itu mereka ketemukan," desis Wijang.
Namun kemudian katanya, "Tetapi menilik sifat dan watak para pemimpin mereka
itu, mereka tidak akan pernah menemukan kesepakatan yang berumur panjang.
Meskipun demikian, sebenarnya aku ingin mendengar langkah apa yang dalam waktu
dekat akan mereka ambil."
Wijang berhenti
berbicara. Mereka melihat para pemimpin perguruan itu telah bangkit berdiri.
Dua orang yang nampaknya
dari perguruan yang berbeda telah berlari-lari menghampiri para pemimpin yang
sedang termangu-mangu itu.
"Tempat ini telah
dikepung oleh sekelompok prajurit dan orang-orang yang tidak kita kenal."
"Setan," geram Wira
Bangga. "Aku sudah menduga."
"Lalu kenapa?" bertanya
Gedhag Panunggul. Katanya kemudian, "Kita akan menghancurkan mereka."
"Aku sudah lama tidak
berkelahi," berkata Sima Pracima. "Biarlah mereka datang. Aku ingin tahu, apakah
ada di antara mereka yang berilmu tinggi."
Kebo Serut tertawa.
Katanya, "Prajurit-prajurit Pajang itu memang dungu. Ia telah meloncat ke dalam
api yang akan dapat membakar diri mereka sendiri. Apa yang pernah dilihat oleh
para cantrik Wira Bangga itu juga pernah dilihat oleh orang-orangku pula. Tetapi
prajurit Pajang di Prambanan itu terlalu lemah untuk dapat menguasai kita malam
ini."
"Aku akan berburu malam
ini," desis Nyi Melaya Werdi.
"Kau memang perempuan
gila yang tidak pantas berada di lingkungan kami," geram Pupus Rembulung.
Nyi Melaya Werdi tertawa.
Katanya, "Jangan menyesali nasibmu karena kau telah mengikat diri dengan seorang
suami."
"Iblis betina."
Yang terdengar kemudian
adalah suara Nyi Melaya Werdi yang melangkah ke dalam kegelapan,
"Apakah kalian akan
menunggu disitu? Aku akan mencari Megar Permati."
Tidak seorang pun yang
menyahut. Tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang beranjak pergi. Agaknya
mereka lebih senang menunggu laporan-laporan berikutnya.
Namun tiba-tiba saja
Repak Rembulungpun berkata, "Marilah kita lihat, apa yang terjadi?"
Tetapi jawaban Pupus
Rembulung mengurungkannya, "Kau akan ikut perempuan gila itu?"
"Bukan maksudku," jawab
Repak Rembulung dengan serta-merta.
Kebo Serut tertawa pula.
Sambil menepuk bahu Pupus Rembulung, orang tua itu berkata, "Jangan cepat
menjadi cemburu. Nyi Melaya Werdi memang cantik. Tetapi kau tidak kalah
cantiknya. Hanya bedanya, Melaya Werdi selalu berhias diri seperti seorang
pengantin. Kau tidak.
Tetapi bukan berarti
kewajaran ujud akan tenggelam dibandingkan dengan pulasan yang berlebihan."
"Ah, Paman," desis Pupus
Rembulung, "aku tidak cemburu."
Orang-orang yang
mendengarnya tertawa. Wira Banggapun berkata, "Tidak seorang pun di antara kami
yang berani memuji kecantikan Nyi Pupus Rembulung, kecuali Paman Kebo Serut.
Kami tidak ingin Ki Repak
Rembulung menjadi salah paham."
"Sudah. Kami bukan
sekedar bahan kelakar disini," sahut Repak Rembulung.
"Marilah, kita sudah
menghadapi bahaya. Tetapi kita ingin menunggu disini, apa yang akan terjadi."
Ternyata yang lain pun
tetap berada di tempatnya. Dua orang yang telah memberikan laporan itupun masih
menunggu pula.
Wijang dan Paksi masih
berada di tempatnya. Mereka belum tahu apa yang akan terjadi. Tetapi ketajaman
pendengaran mereka yang dilandasi Aji Sapta Pangrungu telah mendengar suara
riuh.
Bahkan kemudian terdengar
sorak gemuruh di beberapa tempat di sekitar lingkungan pertemuan antara para
pemimpin perguruan itu.
Para pemimpin perguruan
yang berdiri tidak jauh dari batu hitam yang ada di tengah-tengah tempat terbuka
itupun agaknya telah mendengar pula. Kepada dua orang yang masih berdiri di
tempatnya, Kebo Serutpun berkata, "Cari keterangan yang lebih terperinci."
Kedua orang itu
mengangguk hormat. Sejenak kemudian, maka kedua orang itupun telah meninggalkan
para pemimpin perguruan yang berdiri termangu-mangu itu.
Suara sorak dan
teriakan-teriakan menjadi semakin jelas. Pertempuran agaknya benar-benar telah
pecah.
Sebenarnyalah panah
sendaren yang dilepaskan oleh salah seorang petugas sandi itu merupakan isyarat,
bahwa saat yang paling tepat sudah tiba bagi para prajurit Pajang untuk
menyerang orang-orang yang sedang berkumpul di kaki Gunung Merapi itu.
Beberapa saat kemudian,
maka beberapa orang telah berlari-lari pula mendapatkan para pemimpin perguruan
yang sedang mengadakan pembicaraan itu.
"Pertempuran terjadi di
segala arah, Ki Wira Bangga," salah seorang murid Wira Bangga itupun memberikan
laporan dengan nafas yang terengah-engah.
"Jumlah mereka cukup
banyak," berkata yang lain.
"Bukankah jumlah para
prajurit Pajang di Prambanan tidak begitu banyak?"
"Yang sebagian bukan
prajurit Pajang," sahut yang lain lagi. "Siapakah mereka itu?" bertanya Ki
Gedhag Panunggul.
"Kami belum tahu, Ki
Lurah," jawab salah seorang pengikut Gedhag Panunggul.
"Bagus," geram Ki Kebo
Serut, "kita akan segera mengetahui, siapakah lawan kita yang sebenarnya."
"Kerahkan semua orang,"
berkata Sima Pracima. Lalu iapun bertanya kepada Repak Rembulung, "He, apakah
kau bawa para pengikutmu."
"Mereka ada disini,"
jawab Repak Rembulung.
"Bagus. Kita akan
melumatkan mereka. Aku tidak yakin, bahwa para prajurit itu bertempur atas
perintah Panglima
Prajurit Pajang."
"Jadi untuk siapa mereka
bertempur menurut pendapatmu?" bertanya Pupus Rembulung.
"Mereka bertempur untuk
kepentingan sekelompok orang yang sebenarnya tidak beritikad lebih
baik dari kita bagi
Pajang," jawab Ki Kebo Serut.
Dalam pada itu, Paksipun
berdesis, "Bagaimana menurut pendapatmu, Wijang?"
"Kita akan melihat, apa
yang akan terjadi," jawab Wijang.
Paksi tidak bertanya
lagi. Pertempuran itu agaknya telah menjadi semakin sengit. Dimana-mana
terdengar sorak gemuruh serta teriakan-teriakan yang bagaikan mengguncang Gunung
Merapi.
Sebenarnyalah bahwa
pertempuran telah berlangsung di sekitar tempat yang terbuka itu.
Demikian anak panah
sendaren itu dilepaskan, maka Ki Rangga Suraniti dan Ki Nukilan telah
memerintahkan para prajurit untuk menyerang dari segala arah.
Untuk beberapa saat
Wijang dan Paksi menunggu. Jika pertempuran itu merambat sampai ke tempat mereka
bersembunyi, maka mereka harus dengan cepat menyingkir.
Tetapi yang mereka lihat
kemudian, beberapa orang justru telah menembus sampai ke lapangan rumput yang
terbuka itu.
Para pemimpin dari
beberapa perguruan yang sedang berkumpul itupun segera mempersiapkan diri.
Mereka mulai berpencar. Para cantrik serta pengikut merekapun telah mengikuti
para pemimpin perguruan mereka. Sementara yang lain berusaha untuk menahan
orang-orang yang datang menyerang itu memasuki lapangan rumput.
Dengan demikian, maka
pertempuranpun menjadi semakin sengit. Dengan ketajaman penglihatannya yang
dilandasi Aji Sapta Pandulu, maka Wijangpun melihat bahwa sebagian dari mereka
yang menyerang tempat itu bukanlah prajurit. Wijang dapat mengenali mereka dari
senjata mereka, cara mereka bertempur dan sikap mereka dalam kebersamaan. Para
prajurit yang sudah terlatih dalam perang gelar, akan dapat saling mengaitkan
diri yang satu dengan yang lain dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak saja
mengandalkan kemampuan pribadi, tetapi mereka mampu saling mengisi dan saling
mendukung dalam kesulitan yang timbul di medan.
Tetapi sekelompok orang
di antara mereka bertempur benar-benar atas dasar keyakinan kemampuan pribadi
mereka masing-masing. Meskipun bukan berarti tidak ada kerja sama sama sekali,
tetapi kadarnya hanya kecil sekali dibandingkan dengan mengandalkan kemampuan
pribadi mereka masing-masing.
"Sebagian dari mereka
memang bukan prajurit," desis Wijang. Ia termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian katanya,
"Kita akan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya."
Paksipun terdiam.
Diperhatikannya pertempuran yang terjadi di lapangan rumput itu, sementara di
beberapa tempat yang lain, pertempuranpun berlangsung dengan serunya pula.
Dentang senjata beradu
berbaur dengan teriakan-teriakan mereka yang bertempur. Hentakan kemarahan, aduh
kesakitan dan sorak kemenangan-kemenangan kecil di berbagai sudut medan yang
luas itu.
Gerumbul dan
semak-semakpun tersibak. Ranting-ranting berpatahan dan daun-daunpun berguguran
runtuh di tanah. Darah mulai mengalir membasahi lereng Gunung Merapi.
Ujung-ujung senjata mulai
merah dan jantungpun menjadi seakan-akan membara.
Wira Bangga tidak lagi
dapat menahan diri. Tiba-tiba saja iapun telah meloncat memasuki arena
pertempuran. Goloknya yang besar dengan cepat telah mematuk korbannya.
Tetapi seorang yang
bertubuh tinggi tegap telah menyongsongnya, sehingga keduanyapun telah terlibat
dalam pertempuran yang sengit.
"Siapakah orang yang
bertubuh raksasa itu, Wijang?" bertanya Paksi.
Wijang menggeleng.
Katanya, "Aku belum mengenalnya. Tetapi nampaknya ia juga berilmu tinggi,
sehingga mampu mengimbangi ilmu Wira Bangga."
Paksi menjadi tegang. Ia
melihat Ki Rangga Suraniti sudah terlibat dalam pertempuran melawan Ki Kebo
Serut. Sementara Ki Nukilan bertempur melawan Sima Pracima.
Dua orang yang tidak
dikenal oleh Wijang segera terlibat dalam pertempuran melawan Repak Rembulung
dan Pupus Rembulung.
Wijang dan Paksi memang
menjadi tegang. Pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang sengit,
keras dan bahkan kemudian menjadi kasar. Orang-orang berilmu tinggi itu telah
meningkatkan ilmu mereka dengan cepat. Namun kedua belah pihak memiliki
orangorang yang dapat mereka andalkan.
Dalam pada itu, di luar
lapangan rumput itu pertempuran menjadi semakin meluas. Namun Wijang dan Paksi
tidak beranjak dari tempat mereka bersembunyi. Nampaknya pertempuran itu tidak
akan merangkak sampai ke tempat mereka. Meskipun pertempuran itu seakan-akan
melingkar di seputar lapangan rumput yang terbuka itu, namun tempat
persembunyian kedua orang itu tidak tersentuh.
Kebo Serut yang tua itu
ternyata masih memiliki tenaga yang sangat besar. Ki Rangga Suraniti yang
berilmu tinggi itupun beberapa kali harus berloncatan surut. Setiap kali
pedangnya membentur tongkat besi yang bercabang di ujungnya, seperti tanduk
seekor kerbau jantan, meskipun jauh lebih kecil dari tanduk yang sebenarnya.
Pertempuran yang semakin
sengit telah membakar lapangan rumput yang terbuka itu. Bahkan
di gerumbul-gerumbul di
sekitarnyapun terjadi pula pertempuran yang berkobar dengan serunya.
Benturan senjata telah
melontarkan bunga api yang memercik seperti ribuan kunang-kunang yang
berterbangan, namun
kemudian runtuh, jatuh di tanah.
Wijang dan Paksi menjadi
tegang. Beberapa orang berilmu tinggi telah mendapat musuhnya masing-masing.
Namun Wijang dan Paksi tidak melihat lagi Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar
Permati. Tetapi keduanya yakin, bahwa kedua orang perempuan itupun telah
terlibat dalam pertempuran pula.
Ketika pertempuran
menjadi semakin sengit, maka para cantrik dari setiap perguruan seakanakan
telah berkumpul di
sekitar guru mereka masing-masing sambil bertempur melawan para prajurit dan
orang-orang yang menyerang tempat pertemuan itu. Para pemimpin dari beberapa
perguruan itupun kemudian telah memencar. Mereka tidak lagi terikat untuk tetap
berada ditempat yang terbuka itu.
Dalam pada itu, maka
ternyata para prajurit Pajang yang bertempur bersama kelompokkelompok
orang yang tidak dikenal,
mulai berhasil mendesak para cantrik dari
perguruanperguruan yang
tengah menyelenggarakan pertemuan itu. Jumlah prajurit Pajang yang
berada di Prambanan itu
sendiri memang tidak mencukupi untuk menguasai para cantrik dari beberapa
perguruan itu. Namun di samping para prajurit masih ada kelompok-kelompok yang
ikut
bersama mereka.
Sejenak kemudian, maka
pertempuranpun telah menebar di arena yang semakin luas. Seolaholah
akan memenuhi lereng
Gunung Merapi di sisi selatan.
Di arena yang luas itu,
korban telah jatuh berserakan. Ada yang terluka, tetapi ada pula yang terbunuh.
Ki Kebo Serut ternyata masih cukup perkasa menghadapi Ki Rangga Suraniti.
Betapapun
Ki Rangga Suraniti
mengerahkan ilmunya, namun Ki Rangga tidak dapat menguasai dan apalagi menangkap
lawannya hidup atau mati. Bahkan sekali-sekali Ki Rangga harus berloncatan
mengambil jarak, memperbaiki kedudukannya dan mencoba melawan lagi.
Dalam pertempuran itu
kadang-kadang masih juga terdengar teriakan Pupus Rembulung, melengking
mengatasi riuhnya pertempuran. Perempuan itu benar-benar memiliki kecepatan
bergerak yang mengagumkan, sehingga lawannya kadang-kadang terkejut karenanya.
Kemampuan Pupus Rembulung
ternyata tidak kalah dengan ketangkasan para pemimpin perguruan yang lain.
Meskipun para prajurit
dan kelompok-kelompok orang yang tidak dikenal itu berusaha mengepung tempat
pertemuan itu, namun mereka tidak berhasil menguasai mereka sepenuhnya.
Ternyata para cantrik
dari beberapa perguruan itu berhasil menembus kepungan yang merapat.
Bahkan yang terjadi
kemudian adalah perang brubuh yang tidak lagi dibatasi garis pertempuran.
Semakin lama, maka
Wijangpun menjadi semakin jelas melihat pertempuran yang memang menjadi semakin
dekat dari tempat mereka bersembunyi. Wijang melihat para prajurit yang
bertempur beberapa langkah di hadapannya memang mengenakan ciri-ciri
keprajuritan mereka dengan lengkap. Pakaian yang mereka kenakan adalah pakaian
keprajuritan pula.
Namun semakin lama Wijang
dan Paksi tidak lagi mampu melihat pertempuran itu dalam keseluruhan. Mereka
tidak tahu lagi dimana Kebo Serut bergeser. Kemana Repak dan Pupus Rembulung
bersama para pengikutnya menyingkir dan kemana pula Sima Pracima dan Wira
Bangga. Gedhag Panunggul masih nampak sekilas. Tetapi kemudian segala-galanya
telah menjadi kacau.
"Satu usaha yang
berhasil," desis Wijang.
"Maksudmu?"
"Para pemimpin perguruan
yang terlibat dalam pertemuan ini dengan sengaja membuat medan menjadi kacau
seperti itu. Mereka akan mempunyai kesempatan yang baik untuk menyingkir dari
tempat ini."
Paksi mengangguk-angguk.
Dalam pertempuran yang kacau di daerah yang bersemak-semak dan dilingkungi oleh
pepohonan perdu, agaknya memang sulit untuk dapat menguasai medan dengan baik.
Sebenarnyalah kepungan
prajurit Pajang dan sekelompok orang yang menyertai mereka tidak berhasil
mengurung orang-orang dari beberapa perguruan yang sedang menyelenggarakan
pertemuan itu. Para cantrik dari beberapa perguruan yang mempunyai pengalaman
dalam benturan-benturan ilmu yang keras dan kasar, memang tidak mudah untuk
dijinakkan.
Meskipun pertempuran itu
menjadi semakin dekat dengan persembunyian Wijang dan Paksi, namun mereka sama
sekali tidak beranjak dari tempat mereka.
"Sebaiknya kita tidak
ikut campur," desis Wijang.
Paksi mengangguk. Tetapi
iapun bertanya, "Nampaknya kau melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya."
"Ya. Tetapi aku sendiri
tidak tahu, apa sebenarnya yang tidak wajar itu. Mungkin kehadiran orang-orang
yang tidak aku kenal di antara para prajurit itu."
Paksi tidak menyahut.
Tetapi ia mulai bersiap-siap. Pertempuran di lereng Gunung Merapi itu telah
meluas sampai kemana-mana.
Tetapi ternyata yang
terjadi kemudian telah menyelamatkan persembunyian Paksi dan Wijang.
Gelombang yang bergejolak
di lereng sebelah selatan Gunung Merapi itu seakan-akan menjadi
semakin mereda.
Pertempuran yang bagaikan air yang mendidih di tempat terbuka itu seakanakan
menjadi semakin dingin.
Dimana-mana terdengar
isyarat-isyarat yang tidak dimengerti. Berbagai bunyi yang berbedabeda menandai
susutnya pertempuran yang kacau itu. Agaknya setiap perguruan dengan isyaratnya
masing-masing telah memerintahkan orang-orangnya untuk menarik diri dari medan.
Demikianlah, maka
pertempuran itu semakin lama menjadi semakin surut. Tidak lagi terdengar
teriakan-teriakan
kemarahan dan keluhan kesakitan. Tidak pula terdengar sorak-sorak kemenangan dan
bentakan-bentakan serta umpatan-umpatan kasar. Lengking teriakan Pupus
Rembulungpun sudah tidak terdengar lagi.
Yang kemudian dilihat
oleh Wijang dan Paksi adalah beberapa orang prajurit di tempat yang terbuka itu.
Namun seperti disengat lebah Wijang terkejut. Bahkan iapun telah bergeser
setapak maju.
"Paman Harya Wisaka."
Paksi berpaling. Ia
sempat melihat ketegangan mencengkam perasaan Wijang. Di luar sadarnya
Paksi bertanya, "Siapakah
yang kau maksud?"
"Yang berbicara dengan Ki
Rangga Suraniti itu adalah Paman Harya Wisaka."
"Siapakah Harya Wisaka
itu?"
"Salah seorang bangsawan
dari Demak."
"Dari Demak?"
"Ya."
"Jadi, apa salahnya?
Bukankah mungkin saja seorang dari Demak kini berada di Pajang dan menjadi salah
seorang pemimpin di Pajang? Bukankah ayahanda Pangeran juga menantu Kangjeng
Sultan Demak?"
"Tetapi yang satu ini
agak lain. Ia mempunyai jalurnya sendiri. Bahkan aku masih menghormati
Paman Harya Penangsang
daripada Paman Harya Wisaka. Paman Harya Penangsang masih mempunyai alasan yang
masuk akal jika ia ingin mewarisi Kerajaan Demak. Tetapi agaknya Paman
Harya Wisaka ingin
menangkap masa depan dengan caranya."
"Cincin itu?" bertanya
Paksi.
"Ya. Agaknya ia sudah
bekerja bersama dengan beberapa orang senapati Pajang. Antara lain adalah Ki
Rangga Suraniti."
Paksi mengangguk-angguk.
Namun ia masih bertanya, "Jadi mereka juga menganggap bahwa cincin itu ada
disini?"
"Aku tidak tahu. Tetapi
agaknya mereka ingin menghancurkan saingannya yang dirasanya semakin lama akan
menjadi semakin kuat. Sehingga akan menjadi sangat berbahaya baginya."
Paksi masih saja
mengangguk-angguk. Namun keduanya menjadi tegang ketika mereka melihat
seseorang telah diseret
menghadap orang yang disebut Harya Wisaka itu.
Wijang dan Paksipun
kemudian mengikuti perkembangan keadaan dengan jantung yang berdebaran.
"Seorang perempuan,"
desis Paksi.
"Agaknya dari Perguruan
Goa Lampin," sahut Wijang.
Paksi tidak menyahut.
Perhatiannya sepenuhnya tertumpah kepada seorang perempuan yang telah tertangkap
oleh para prajurit Pajang itu.
"Dimana Melaya Werdi,
he?" bertanya Harya Wisaka.
"Ia mengenal pemimpin
Perguruan Goa Lampin itu," desis Paksi.
"Paman Harya Wisaka
mengenali semua perguruan dan kelompok-kelompok yang ada di Pajang dan bahkan
Demak, Jipang, Pati, dan daerah-daerah lain. Bahkan sampai ke daerah sebelah
timur."
Paksi terdiam. Yang
kemudian tertangkap oleh pendengarannya yang dialasi dengan Aji Sapta Pangrungu
adalah pertanyaan Harya Wisaka sekali lagi, "Dimana Melaya Werdi?"
"Aku tidak tahu," jawab
perempuan itu.
"Megar Permati?" bentak
Harya Wisaka.
"Aku juga tidak tahu.
Kami melarikan diri untuk mencari keselamatan kami masing-masing tanpa sempat
menghiraukan yang lain."
"Kau harus menunjukkan,
dimana Melaya Werdi dan Megar Permati, kau harus menunjukkan persembunyian
mereka."
"Pekerjaan yang sia-sia.
Guru tidak akan berada di tempatnya. Mungkin guru akan langsung kembali ke
perguruan."
Perempuan itu mengaduh
tertahan. Tangan Harya Wisaka telah menyambar dagu perempuan itu sehingga
wajahnya berpaling.
"Kau jangan mempermainkan
kami," teriak Harya Wisaka
"Jika kau memaksa aku
menunjukkan perguruan kami, aku akan menunjukkannya."
"Diam. Aku sudah tahu
dimana letak perguruanmu. Yang aku tanyakan dimana Melaya Werdi dan Megar
Permati bersembunyi di lingkungan ini."
"Keduanya selalu
berpindah-pindah. Kau tidak akan menemukannya."
"Jaga mulutmu. Kau tahu
dengan siapa kau berbicara?"
Perempuan itu menggeleng.
Sementara itu dengan lantang Harya Wisaka itu berkata,
"Perempuan iblis. Kau
sekarang berhadapan dengan Harya Wisaka."
"Harya Wisaka," desis
perempuan itu.
"Kau sudah dengar nama
itu?"
Perempuan itu menggeleng
sambil menjawab, "Belum. Aku belum pernah mendengar nama Harya Wisaka."
Sekali lagi tangan Harya
Wisaka menyambar mulut perempuan itu. Sekali lagi perempuan itu mengaduh.
"Kau tentu sudah
mendengar namaku. Orang di seluruh tanah ini sudah mendengar namaku.
Harya Wisaka." Perempuan
itu terdiam.
"Katakan, bahwa kau
pernah mendengar nama Harya Wisaka. Seorang prajurit yang tidak ada duanya di
seluruh Demak, Kudus, Pati, Jipang dan bahkan Pajang."
Ketika perempuan itu diam
saja, maka tiba-tiba saja Harya Wisaka telah menggenggam rambut perempuan itu
sambil berteriak, "Kau harus sudah mengenal namaku."
Ketika kepala perempuan
itu diguncang, maka perempuan itupun segera berteriak pula, "Ya, ya. Sekarang
aku ingat. Harya Wisaka. Prajurit terbaik dari Pajang."
"Setan betina," geram
Harya Wisaka sambil melepaskan rambut perempuan itu. "Jika kau belum mengenal
namaku, maka kau tidak pantas hidup di bumi Pajang."
Perempuan itu menundukkan
kepalanya.
"Nah, sekarang katakan
bahwa Melaya Werdi atau Megar Permati telah menyembunyikan Pangeran Benawa.
Mereka menangkap Pangeran Benawa dan menyimpan di dalam sarang mereka di dalam
kerangkeng-kerangkeng besi itu."
Perempuan itu mengangkat
wajahnya. Dengan serta-merta ia menjawab, "Tidak. Kami tidak menangkap Pangeran
Benawa."
"Jangan bohong. Aku dapat
memenggal lehermu."
Perempuan itu
termangu-mangu. Sementara Wijangpun berdesis, "Sangat menarik."
"Ternyata Harya Wisaka
itu berusaha membebaskan Pangeran Benawa," gumam Paksi.
"Omong kosong. Paman
Harya Wisaka tentu mengetahui, setidak-tidaknya menduga bahwa cincin itu memang
dibawa oleh Pangeran Benawa. Yang penting bagi Paman Harya, bukannya kebebasan
Pangeran Benawa, tetapi cincin itulah yang diburunya."
Paksi terdiam. Sementara
itu perempuan yang tertangkap itupun berkata, "Apapun yang akan terjadi padaku,
tidak akan merubah keteranganku. Kami tidak menangkap Pangeran Benawa.
Bahkan kami menganggap
bahwa Pangeran Benawa itu berada di istana Pajang."
"Tetapi orang dari
perguruan lain mengatakan, bahwa orang-orang Goa Lampin telah menangkap Pangeran
Benawa dan menyembunyikannya di dalam sarangnya atau di tempat lain."
"Meskipun kau penggal
leherku, jawabku akan sama, karena hal itu memang tidak terjadi,"
jawab perempuan itu, yang
nampaknya tidak menjadi ketakutan.
Harya Wisaka itupun
menjadi semakin marah. Tiba-tiba saja ia berteriak, "Bawa orang itu kemari."
Sejenak kemudian, maka
seorang prajurit telah mendorong seorang yang bertubuh tinggi besar ke hadapan
Harya Wisaka. Dengan geramnya Harya Wisaka itu bertanya, "He, bukankah kau
mengatakan bahwa Pangeran Benawa sekarang ada di tangan Melaya Werdi dan Megar
Permati?"
Laki-laki itu memandang
perempuan dari Goa Lampin itu dengan ragu-ragu. Namun tiba-tiba iapun bertanya,
"Bukankah Pangeran Benawa ada di tangan gurumu?"
"Kau tidak perlu
memfitnah."
"Tidak ada perguruan lain
yang akan melakukannya. Ketika Harya Wisaka mempertanyakan, dimana Pangeran
Benawa disembunyikan, maka aku memang mengatakan bahwa satu-satunya kemungkinan
Pangeran Benawa disimpan dalam kerangkeng-kerangkeng besi oleh orang-orang Goa
Lampin."
Tiba-tiba saja Harya
Wisaka menangkap baju orang itu dan mengguncangnya, "Kau hanya sekedar
menduga-duga atau sudah pasti bahwa Pangeran Benawa berada di tangan orang-orang
Goa Lampin?"
"Aku tidak tahu pasti.
Aku hanya menduga-duga, karena sepengetahuanku, hanya orang-orang Goa Lampin
sajalah yang sering menangkap dan menyimpan orang-orang tampan. Menurut
pengertianku, Pangeran Benawa itu tentu seorang yang tampan."
"Kau permainkan aku, he?"
"Bukan maksudku."
Tetapi orang itu
seakan-akan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena tiba-tiba saja Harya
Wisaka itu telah menarik pedangnya dan menghunjamkan langsung ke dada orang itu.
Orang itu tidak sempat mengaduh. Demikian Harya Wisaka menarik pedangnya, maka
orang itupun segera jatuh terjerembab.