Jejak Dibalik Kabut .. 01

 

Jilid : 1

PERJALANAN itu sudah menjadi semakin jauh. Malampun menjadi larut. Embun mulai terasa membasahi kulit.

Ketika Paksi Pamekas berpaling, yang nampak hanyalah kegelapan. Hitam pekat.

Paksi Pamekas tidak tahu, kemana ia harus pergi. Tetapi ia harus pergi meniggalkan rumahnya.

Meninggalkan ibunya dan dua orang adiknya. Seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Masih terngiang perintah ayahnya yang memandangnya dengan mata membara”Kau sudah menjadi seorang laki-laki dewasa. Kau tidak boleh hanya berpangku tangan saja dirumah, sementara keluarga ini terancam bencana.

Paksi Pamekas menarik nafas dalam-dalam. Kakinya terantuk batu padas sehingga langkahnya menjadi gontai.

Paksi berhenti sejenak. Pepohonan yang tegak membeku disekelilingnya seakan-akan merubunginya. Gem-risik angin di dedaunan bagaikan melontarkan pertanyaan lembut ”Kau akan pergi ke mana anak muda?”

Paksi kemudian bahkan duduk diatas batu padas dipinggir jalan yang menjadi kian sempit dan rumpil.

Terngiang suara ibunya ”Kakang Tumenggung. Paksi masih terlalu muda untuk melakukan tugas yang begitu berat.”

“Kau selalu memanjakannya ” bentak ayahnya ”umurnya sudah menginjak tujuhbelas tahun.

Apakah ia masih harus tidur dibawah lengan ibunya?”

“Kau sengaja mengusirnya” ibunya mulai menangis.

“Sudah waktunya ia menunjukkan baktinya kepada orang tuanya” ayahnya menjadi semakin keras.

Ibunya menjadi terisak. Tetapi ayahnya tidak menjadi semakin lembut. Bahkan kata-katanya menjadi semakin tajam ”Aku tidak ingin mempunyai anak yang hanya dapat merengek, merajuk dan bahkan menangis. Ia harus benar-benar menjadi seorang laki-laki. Adiknya pada saatnya juga harus menjadi laki-laki sejati. Se-bagaimanaanakmu yang bungsu juga harus menjadi perempuan panutan. Aku seorang Tumenggung. Seorang Pandhega dalam tatanan keprajuritan. Apakah anakku harus menjadi anak yang cengeng, sementara ayahnya berada dalam kesulitan?”

Paksi mengusap keningnya yang basah oleh keringat. Ia memang sudah menjadi semakin dewasa. Umurnya sudah menginjak tujuhbelas tahun Tetapi kawan-kawannya, yang sebaya dengan umurnya, masih sempat bermain bengkat. Binten atau bergulat di tepian.

Paksi terkejut ketika ia mendengar ranting yang berderak patah. Seekor burung malam mengepakkan sayapnya dan terbang menyusuri kegelapan. Yang tertinggal adalah suaranya yang melengking .menggores sepinya malam.

Terbayang kembali, ibunya menangis memeluknya ketika ia keluar dari pintu rumahnya, pergi tanpa diketahui kemana?

Paksi Pamekaspun tidak tahu, apakah yang sebenarnya harus dilakukan.

Yang ia ketahui adalah, bahwa ayahnya telah mengeluh karena kedudukannya yang terancam.

Diam-diam di istana Pajang telah tersebar desas-desus bahwa cincin kerajaan telah hilang. Sebuah cincin yang dianggap sebagai sipat kandel dari Kangjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang, disamping pusaka-pusakanya yang lain.

Cincin yang terbuat dari emas dan bermata tiga buah batu akik yang berbeda. Cincin yang dibuat tidak sebagaimana cincin yang lain. Cincin biasanya merupakan em-banan dari satu batu akik saja. Tetapi cincin yang hilang itu adalah cincin yang bermata tiga buah batu akik. Cincin yang disebut Kiai Tunggul.

“Siapa yang dapat menemukan cincin itu akan diangkat menjadi Tumenggung Wreda dan akan diangkat pula menjadi penanggung jawab pengamanan seluruh istana Pajang dan akan berada langsung dibawah perintah Ki Gede Pemanahan.”

Paksi belum pernah melihat cincin itu. Paksi juga tidak tahu apakah sebenarnya yang disebut bencana oleh ayahnya. Bencana yang mengancam keluarganya karena hilangnya cincin itu.

“Apakah ayah menjadi cemas bahwa kedudukannya terancam jika ia tidak dapat menemukan cincin itu?” bertanya Paksi didalam hatinya.

Menurut ayahnya, para Tumenggung juga sudah menyebarkan orang-orangnya untuk mencari cincin itu. Sementara itu ayahnya juga sudah memerintahkan tiga orang yang dianggap abdinya yang setia untuk mencarinya. Tetapi disamping ketiga orang abdinya, maka Paksi juga harus pergi mencari cincin yang belum pernah dilihatnya itu.

“Apakah ada juga diantara para Tumenggung yang memerintahkan anaknya pergi sebagaimana ayah?” pertanyaan itu selalu mengganggunya.

Tetapi Paksi sadar, bahwa ia memang tidak boleh cengeng. Ia tidak boleh mengeluh apalagi menangis. Tetapi ia harus berbuat sesuatu. Apapun juga.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Dalam kegelapan Paksi sampat menilai sikap ayahnya kepadanya. Ia memang bukan seorang anak yang disejukkan oleh kasih sayang ayahnya yang keras.

Diantara kawan-kawannya, Paksi termasuk anak muda yang kuat. Ketika ia bermain binten dengan anak-anak muda sebayanya, Paksi pernah membuat seorang kawannya tidak dapat berjalan sampai tiga hari. Bergulat di pasir tepian, Paksipun menjadi anak muda yang disegani.

Tetapi sayang, bahwa kesempatan bermain bagi Paksi sangat sempit dibanding dengan kawan kawannya.

Kini Pksi Pamekas harus meninggalkan semuanya itu. Rasa-rasanya segalanya begitu cepat berlalu. Ia merasa masih belum cukup puas berkumpul bersama keluarganya, bermain bersama kawan-kawannya dan sedikit bermanja-manja dirumah yangberhalaman luas dan terawat bersih oleh bekas tangan ibunya.

Burung hantu terdengar berlagu didalam kegelapan. Suaranya ngelangut membuai malam menjadi semakin terasa sendu.

Paksi tidak duduk terlalu lama. Iapun kemudian segera bangkit dan meneruskan perjalanan menuju ketem-pat yang tidak diketahinya.

Malampun menjadi semakin malam. Dinginnya terasa menggigit tulang.

Sambil berjalan Paksi menyelimuti tubuhnya dengan kain panjangnya. Ia sengaja tidak membawa apapun. Jika pakaiannya kotor, ia dapat mencucinya dan sekaligus menjemurnya diatas bebatuan disungai, sehingga akan cepat menjadi kering. Jika pakaian itu kemudian rusak dan koyak, maka ia dapat membelinya. Ibunya memberinya bekal uang cukup banyak, serta beberapa buah perhiasan simpanannya. Jika keadaan memaksa, maka ia dapat menjualnya dan mempergunakan uangnya.

Paksi melangkah saja menuruti langkah kakinya. Yang dilakukannya adalah sekedar menjauhi Pajang tanpa tujuan, tanpa rencana dan tanpa tahu apa yang akan dilakukan.

Namun akhirnya Paksi itupun menjadi letih. Ketika ia memasuki sebuah padukuhan, maka beberapa orang yang merondapun menghentikannya.

“Siapa kau?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Namaku Paksi Pamekas” jawabnya.

“Kau akan pergi kemana atau pergi darimana?”

Paksi menjadi bingung. Tetapi ia tidak ingin mengatakan apa yang sebenarnya harus dilakukannya. Karena itu, maka jawabnya ”Aku adalah seorang pengembara. Aku mengembara dari satu tempat ketempat yang lain untuk mendapatkan pengalaman.”

“Dimana kau tinggal?” bertanya yang lain. Paksi menjadi semakin bingung. Tetapi karena ia harus menjawab, maka iapun menjawab pula. Yang mula-mula diingatnya adalah rumah neneknya yang memang

"Kau akan pergi ke mana atau pergi darimana?” Paksi menjadi bingung. Tetapi ia tidak ingin menyatakan apa yang sebenarnya harus dilakukannya. Karena itu maka jawabnya:”Aku adalah seorang pengembara. Aku mengembara dan satu tempat ketempat..........” agak jauh dari Pajang.

Orang tua ibunya itu semasa hidup-nya tinggal di sebuah padukuhan yang tenang dan tenteram.

Paksi pernah tinggal beberapa lama dirumah. neneknya. Ketika kakeknya meninggal ia menunggui neneknya sampai beberapa bulan. Namun menjelang setahun, neneknya telah meninggal pula.

“Aku anak Banyuanyar” jawab Paksi.

Para peronda itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata ”Perjalananmu belum begitu jauh jika kau memang seorang pengembara.”

“Aku baru mulai Ki Sanak.” jawab Paksi ”orang tuaku telah tidak ada lagi. Aku tidak mempunyai pilihan lain. Sementara itu, aku berharap bahwa aku akan mendapat pengalaman dari pengembaraanku ini.”

“Apakah kau tahu, dimana kau berada sekarang?” bertanya salah seorang diantara para peronda itu.

“Tidak” jawab Paksi.

“Kau masih berada disekitar Pajang. Kau sekarang berada di padukuhan Dresanan.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah berjalan sepanjang hari. Tetapi orang itu mengatakan bahwa ia masih berada disekitar Pajang.

Tetapi Paksi tidak menjawab selain mengangguk-angguk kecil.

“Apakah kau ingin beristirahat?” bertanya salah seorang peronda itu.

Paksi mengangguk.

“Baiklah” berkata orang itu ”marilah, aku antar kau ke banjar, kau dapat tidur di banjar. Besok pagi kau dapat meneruskan pengembaraanmu.” “Terima kasih, paman” jawab Paksi. Orang itu meskipun masih nampak muda, tetapi ia tentu bukan anak muda lagi. Wajahnya nampak bersih dan setiap kali giginya nampak disela-sela bibirnya jika ia tertawa.

Paksi diantar oleh orang itu ke banjar. Diserahkan nya Paksi kepada penunggu banjar, yang tinggal di bagian belakang banjar yang nampak bersih dan terawat itu. Penunggu banjar itu ternyata orang yang sangat baik. Ia menerima Paksi dengan senang hati. Bahkan nasi yang masih terdapat digeledeg bambunya dengan sepotong pepes udang dan sambal terasi telah diberikannya pula kepada Paksi. “Aku tidak mempunyai seorang anakpun sampai isteriku meninggal” berkata penunggu banjar itu. Paksi mengangguk kecil. Sementara orang itu bertanya ”Siapa namamu?” Paksi memang tidak ingin menyembunyikan namanya.

Karena itu, maka iapun menjawab ”Namaku Paksi, paman.” Kepada penunggu banjar itu, Paksi menceriterakan bahwa dirinya adalah seorang pengembara sebagaimana dikatakannya kepada para peronda. “Kenapa hal itu kau lakukan, ngger. Apakah kau tidak mempunyai sanak kadang lainnya, sehingga kau harus pergi mengembara?” “Tidak paman. Aku sudah tidak mempunyai sanak kadang.” “Paksi” berkata penunggu banjar itu ”mumpung kau belum terlalu jauh pergi meninggalkan kampung halamanmu. Apakah kau mau tinggal disini saja bersamaku?”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Maaf, paman. Sudah bulat tekadku, bahwa aku akan pergi mengembara. Mungkin aku akan mendapatkan pengalaman yang dapat aku pergunakan sebagai bekal hidupku kelak.”

 “Tetapi apakah yang kau harapkan dari sebuah pengembaraan? Menempa diri atau kesempatan melihat dinding cakrawala yang tidak akan pernah dapat disentuh? Jika kau tinggal, Paksi, maka kau dapat memperdalam ilmu dan menimba pengetahuan. Bekal yang lebih nyata bagi masa depanmu dari sekedar pengalaman menempuh perjalanan panjang.”

Paksi tidak dapat mengatakan, apa sebenarnya yang sedang dilakukannya itu. Juga ketidaktahuannya tentang arah perjalanan yang tidak diketahuinya. Yang dapat dikatakannya adalah sebuah perjalanan kembara tanpa tujuan. Penunggu banjar itu tidak dapat berbuat lebih banyak daripada berharap. Tetapi Paksi Pamekas tidak dapat memenuhinya. Malam itu Paksi bermalam disebuah banjar padukuhan. Dihari pertama dari per jalannya yang tidak diketahuinya sampai kapan itu, telah ditemuinya orang-orang yang berbaik hati.

Tetapi ketika ia berangkat dari rumah, ibunya telah berpesan kepadanya, bahwa ada seribu sifat dan watak manusia di muka bumi ini. Ada yang baik, agak baik, ada yang dengki dan iri dan ada pula yang jahat. Terngiang kembali pesan ibunya ”Paksi. Ada orang yang sikap lahiriahnya sangat baik. Tetapi sebenarnya dihatinya tumbuh bulu serigala. Bahkan menjadi hunian iblis yang paling jahat.” Pesan ibunya itu telah membuat Paksi menjadi berhati-hati. Meskipun demikian, ia tidak mencurigai setiap orang dengan berlebihan. Ketika Paksi kemudian berbaring di pembaringan, di sebuah ruangan yang dibuat diserambi belakang banjar padukuhan Dresanan itu, ia kembali membayangkan masa lampaunya yang memang tidak begitu terang.

Kadang-kadang ia tidak mengerti maksud ayahnya yang tiba-tiba saja marah kepadanya. Bahkan kadang-kadang memukulnya. Jika ibunya mencoba menjelaskan persoalannya, maka ayahnya itupun segera marah pula kepada ibunya. Tetapi ibunya selalu berkata ”Ayahmu seorang prajurit Paksi. Ia terbiasa bersikap keras. Karena itu, diru-mahpun ia bersikap keras pula.”

 Meskipun demikian, ada juga segi yangbaikdari sifat keras ayahnya itu. Bersama beberapa orang anak Tumenggung, Rangga dan perwira lainnya, ia berguru kepada seorang bekas prajurit yang memiliki ilmu yang tinggi. Ternyata Paksi Pamekas merupakan seorang murid yang sangat baik. Ia terhitung satu diantara beberapa orang murid yang terbaik.

Anehnya, ayahnya tidak pernah mengakui kemampuannya itu. Setiap kali ayahnya menuntut agar ia berbuat lebih baik dan lebih baik. Namun ternyata Paksi dapat memenuhinya. Ia memang semakin lama menjadi semakin baik dan semakin menarik hati gurunya. Bahkan ketika gurunya mengetahui latar belakang kehidupannya serta hubungannya dengan ayahnya yang kurang manis, maka perhatian gurunya menjadi semakin melimpah. “Kau akan menjadi anak terbaik yang pernah aku kenal” berkata gurunya. Paksi memang tidak mengecewakan gurunya.

Tetapi kemampuannya itu telah menjeratnya, untuk menjalankan tugas yang sangat berat. “Kau sudah berumur tujuhbelas tahun.” terngiang kata-kata ayahnya. “Tujuh belas. Tujuh belas. Ya, aku memang sudah berumur tujuh belas tahun” berkata Paksi didalam hatinya ”Tetapi apakah kawan-kawanku yang seumur tujuh belas tahun juga harus menjalani tugas seperti ini?” Paksi menarik nafas dalam-dalam, iapun kemudian menghibur dirinya sendiri ”Ternyata aku dapat membanggakan diriku seandainya aku adalah satu-satunyaanak muda yang berumur tujuh belas tahun yang bertugas menjalani kuwajiban seperti ini.” Namun akhirnya Paksipun tertidur.

Tetapi tidak terlalu lama, karena sisa malam memang tidak cukup panjang lagi. Pagi-pagi sekali Paksi telah bangun sebagaimana kebiasaannya. Tetapi di banjar itu ia tidak dapat langsung melakukan latihan-latihan yang berat seperti yang dilakukan di rumahnya. Atau pergi kesungai dan bergulat dengan beberapa orang kawannya untuk melengkapi latihan-latihan ketahanan tubuhnya. Atau binten sehingga kakinya sering menjadi bengkak. Atau bengkat, meskipun permainan itu dilakukan dengan kakinya, tetapi permainan itu mampu meningkatkan kemampuan bidiknya.

Tetapi pagi itu Paksi sudah berada di sumur menimba air untuk mengisi paki wan, sebelum Paksi mandi. Tetapi demikian ia selesai mandi, maka pakiwan itu sudah diisinya kembali hingga penuh. “Anak itu rajin sekali” berkata penunggu banjar itu didalam hatinya. Tetapi seperti para peronda yang digardu, bahkan yang mengantarnya ke banjar, tidak seorangpun yang menduga, bahwa anak itu adalah anak seorang Tumenggung. Ketika kemudian Paksi minta diri untuk meneruskan perjalanannya, maka penunggu banjar itu telah menyediakan makan pagi baginya.

Paksi sempat menilai sikap penunggu banjar itu. Jika saja ia mempunyai anak, alangkah berbahagianya anak itu. Ia akan mempunyai seorang ayah yang baik. Tetapi ketika matahari mulai nampak dilangit, Paksi sudah meninggalkan banjar itu. Setelah mengucapkan terima kasih, maka Paksipun melangkah meninggalkan regol banjar yang memberikan kesan betapa bersahabatnya orang-orang asing yang memerlukan bantuan mereka.

Paksi yang melangkah dihangatnya sinar matahari pagi itu merasakan tubuhnya menjadi segar. Mandi air dingin, makan pagi serta minuman hangat, matahari dan langit cerah, mengantar perjalanan Paksi selanjutnya. Tetapi hari itu rasa-rasanya menjadi kosong tanpa arti selain satu perjalanan mengulur jarak. Ia memang menjadi semakin jauh dari Pajang.

Tetapi untuk apa? Paksi Pamekas menggelengkan kepalanya. Diluar sadarnya ia bergumam ”Aku tidak tahu.” Tetapi Paksi berjalan terus.

Menjelang sore hari, Paksi sempat singgah disebuah kedai kecil disudut sebuah padukuhan. Meskipun jenis makan dan minuman yang ada tidak sesuai dengan seleranya, tetapi Paksi tidak menghiraukannya lagi. Ia sadar, bahwa didalam pengembaraannya, ia tidak dapat memilih. Makan, minum, tempat untuk tidur dan masih banyak masalah-masalah lain yang tidak sesuai dngan keinginan dan pilihannya, tetapi harus diterima apa adanya. Beberapa saat lamanya, Paksi beristirahat sambil meneguk minumannya. Beberapa orang yang duduk di-kedai itu sudah berganti dengan orang-orang baru. Setelah membayar harga makanan dan minumannya, maka Paksipun kemudian telah melanjutkan perjalanannya.

Menjelang malam, Paksi memasuki sebuah padukuhan. Lampu-lampu minyak sudah mulai menyala. Di Beberapa regol halaman ada yang telah memasang oncor, menerangi jalan-jalan padukuhan. Tetapi padukuhan itu nampak sepi. Pintu-pintu telah tertutup rapat. Bahkan pintu-pintu regolpun telah tertutup. Ketika Paksi lewat didepan gardu disimpang ampat jalan padukuhan, ia tidak melihat seorangpun berada didalam gardu itu.

 “Suasananya berbeda dengan suasana di padukuhan Dresana.”berkata Paksi didalam hatinya. Justru karena itu, maka Paksi tidak ingin bermalam di banjar padukuhan itu. Apalagi ketika ia berjalan di jalan induk padukuhan itu dan lewat didepan banjar, banjar padukuhan itu nampak sepi. Balkan pintu regolnya-pun tertutup pula. Paksi berjalan terus. Ia tidak akan bermalam di padukuhan itu. Tetapi demikian ia keluar dari padukuhan itu, maka Paksipun bertanya ”Aku akan bermalam dimana?” Namun akhirnya Paksi tidak peduli lagi. Apapun yang akan terjadi, biarlah terjadi.

Dimana ia berhenti dan meletakkan tubuhnya, disitu ia akan berhenti. Malam sama sekali tidak menakutkan lagi baginya. Jika ketika ia berada dirumah, ia sering mendengar ceritera tentang hantu, yang sering berkeliaran dimalam hari, maka pada malam itu, ia sama sekali tidak menghiraukannya lagi. “Jika hantu-hantu itu akan datang, biarlah mereka datang” berkata Paksi didalam hatinya. Namun akhirnya Paksi ingin juga berhenti berjalan.

 Karena itu, maka ketika ia melihat sebuah gubug diteng.ih tengah bulak sawah, maka iapun tertarik untuk mendekatinya. Paksipun kemudian meniti pematang, mendekati gubug itu. Ternyata gubug itu kosong. Pemilik gubug itu tidak berada disawahnya di malam hari. Sambil menarik nafas panjang, Paksi naik tangga pendek masuk kedalam gubug itu. Paksi merasa beruntung bahwa ia menemukan sebuah gubug yang dapat dipergunakannya untuk bermalam. Karena itu, maka iapun langsung membaringkan dirinya di-gubug yang didasari dengan anyaman bambu itu. Meskipun Paksi merasa letih, tetapi Paksi tidak segera dapat tidur.

Nyamuk yang ganas telah merubunginya, menggigit sela-sela jari kakinya dan berterbangan di sekitar telinganya. Karena itu, maka Paksi terpaksa menggelar kain panjangnya untuk menyelimuti tubuhnya dan bahkan telinganya. Sambil sekali-sekali menggaruk kakinya, maka kembali Paksi mengenang saat-saat ia akan berangkat dari Pajang untuk melakukan pengembaraan. Ketika ia minta diri kepada gurunya, maka gurunya menjadi terkejut sekali. Hampir tidak percaya gurunya bertanya ”Jadi kau harus pergi untuk melakukan sesuatu yang kau tidak mengerti sama sekali?” “Ya, guru.

 Tetapi ayah mengatakan bahwa yang aku lakukan adalah tugas rahasia. Aku mohon guru melindungi rahasia ini. Jika ayah tahu aku mengatakannya kepada guru, mungkin ayah akan marah kepadaku. Tetapi aku tidak dapat merahasiakannya kepada guru” berkata Paksi Pamekas. Gurunya mengangguk-angguk. Katanya ”Terima kasih atas kepercayaanmu Paksi. Ada dua hal yang membuat aku menyesali kepergianmu. Kau masih sangat muda, sehingga tugas itu tfcntu akan sangat berat bagimu. Bahkan seakan-akan tidak masuk akal bahwa kau harus dilibatkan kedalamnya. Sedangkan yang kedua, kau adalah muridku yang terbaik. Aku berharap bahwa kau kelak akan dapat menggantikan kedudukanku. Bukankah aku menjadi semakin tua dan rapuh? Wadagku tidak akan dapat mendukung ilmuku untuk seterusnya. Karena itu, aku harus mempersiapkan seseorang yang akan dapat menggantikan aku.”

“Aku mohon guru berdoa agar aku dapat kembali dengan selamat serta dapat membantu guru di perguruan ini.” Gurunya mengangguk kecil. Dalam saat terakhir, gurunya telah memberikan petunjuk dan pematangan ilmu sejauh dapat dilakukan dalam waktu yang singkat.

 “Aku tidak dapat memberikan lebih dari itu, Paksi. Jika dipaksakan juga, maka justru wadagmu yang akan mengalami kesulitan. Tetapi aku berharap bahwa selama dalam perjalanan, kau dapat membuka dan mengembangkan ilmumu sampai tingkat yang tinggi.”berkata gurunya dengan nada yang dalam. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia telah terlempar kembali kedalam kenyataannya. Berbaring disebuah gubug kecil berselimut kain panjangnya.

Tetapi Paksi tidak dapat segera tidur. Ketika ia memiringkan tubuhnya menghadap ke jalan beberapa puluh langkah dari gubug itu, Paksi terkejut. Ia melihat didalam keremangan malam sebuah keranda yang seperti terbang diatas jalan itu. Dengan serta-merta iapun bangkit dan duduk sambil mengusap matanya. Keranda yang diselimuti kain putih itu masih meluncur diatas jalan yang telah dilewatinya sebelum Paksi turun dan meniti pematang mencapai gubug itu.

Bulu tengkuk Paksi memang menjadi tergetar. Ia pernah mendengar dongeng tentang keranda yang melayang di malam hari, sebagai pertanda bahwa akan datang wabah penyakit yang berbahaya. Tetapi tiba-tiba timbul pertanyaan dihati Paksi ”Jika keranda itu dapat terbang atau berjalan sendiri, kenapa harus lewat diatas jalan. Bukankah keranda itu dapat meluncur diatas pematang, parit atau bahkan sungai dan bukit-bukit kecil. Kepada siapa pula hantu keranda itu menampakkan diri di tempat yang jauh dari padukuhan itu? Kepada dirinya? Jika benar, kenapa keranda itu tidak mendekatinya?” Paksi Pamekas yang sudah terlempar kedalam satu keadaan yang tidak diinginkannya itu telah bangkit. Keinginannya untuk mengetahui hantu keranda yang terbang itu telah mendesaknya untuk berbuat sesuatu. Tiba-tiba saja Paksi itu turun.

Dipakainya kain panjangnya sekenanya. Kemudian iapun telah meloncat ke-atas pematang. Dengan hati-hati Paksi mendekati jalan tempat keranda itu lewat. Dengan hati-hati pula ia mengikutinya dan berusaha mendekat dari arah belakang. Namun jantung Paksi menjadi berdebar-debar ketika kemudian ia melihat bayang-bayang yang bergerak-gerak. Ternyata keranda itu tidak terbang atau meluncur sendiri. Paksipun kemudian melihat beberapa orang berpakaian serba hitam memanggul keranda itu. Sementara beberapa orang mengikutinya. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Paksi tidak melepaskannya. Ia masih saja mengikutinya beberapa lama.

Keranda itu justru meluncur mendekati sebuah padukuhan. Kemudian lewat jalan yang lebih sempit meluncur sejajar dengan dinding padukuhan itu. Paksi masih saja mengikutinya ketika keranda itu meluncur melewati sudut padukuhan dan kemudian kembali menjauh menuju kesebuah gumuk yang seakan-akan sebuah pulau kecil ditengah-tengah lautan tanaman padi di-sawah.

Ternyata bukit kecil itu adalah sebuah kuburan. Paksi menjadi berdebar-debar melihat keranda itu seakan-akan lenyap dari penglihatannya. Namun kemudian Paksi itu mengetahui bahwa orang-orang yang membawa keranda itu dengan cepat telah menyelimuti keranda itu dengan kain hitam. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Keinginannya untuk mengetahui tentang keranda itupun menjadi semakin mendesaknya sehingga dengan demikian, maka Paksipun telah mendekati dan masuk kedalam kuburan itu pula. Dengan landasan ilmu yang telah dimilikinya, maka Paksi berusaha untuk menjadi semakin dekat. Batu-batu nisan, gerumbul-gerumbul perdu dan pepohonan yang tumbuh diatas bukit kecil itu, memberi kesempatan kepada Paksi untuk menjadi lebih dekat lagi. Paksi terkejut ketika ia melihat apa yang terdapat didalam keranda itu. Ketika keranda itu dibuka, maka yang ada didalamnya adalah beberapa jenis barang-barang yang nampaknya berharga. Paksi sempat mendengar orang-orang itu tertawa.

 Mereka membongkar barang-barang yang terdapat didalam keranda itu sambil berbangga akan keberhasilan "Tujuh belas. Tujuh belas. Ya, aku memang sudah berumur tujuh belas tahun.” berkata Paksi dalam hatinya.”Tetapi apakah kawan-kawanku yang berumur tujuh belas tahun juga harus menjalani tugas seperti ini?” Paksi menarik nafas dalam-dalam. “Jangan terlalu sering mempergunakan cara ini untuk membawa barang-barang rampokan itu” berkata salah seorang diantara mereka. “Tidak ada cara lain yang lebih baik. Aku ragu-ragu untuk membawa barang-barang ini dengan pedati atau dengan mempergunakan kuda beban. Cara ini nampaknya lebih aman” sahut yang lain.

Tetapi orang yang pertama berkata pula ”Jika cara ini terlalu sering kita pergunakan, maka orang-orang akan menghubungkan setiap terjadi perampokan, tentu ada keranda yang terbang dimalam hari.” “Ya. Aku setuju” desis yang lain”tetapi sampai saat ini, orang-orang padukuhan itu telah menjadi ketakutan mendengar ceritera tentang keranda yang berjalan di malam hari.” “Ceritera itu telah kita lengkapi dengan ceritera tentang ting hijau yang juga terbang di malam hari.” berkata yang lain lagi ”sehingga untuk beberapa lama kita akan dapat mempergunakan cara ini dengan aman.” Yang terdengar adalah suara tertawa beberapa orang yang tertahan. Seorang diantara mereka berkata ”Sudahlah. Jangan terlalu berbangga atas keberhasilan ini.

Kita harus segera mengubur barang-barang ini untuk beberapa lama, sebelum kita kemudian menjualnya. Disaat orang sudah melupakan peristiwa perampokan ini, kita akan mengambilnya dan menjualnya.” “Sebenarnya kita tidak perlu bersusah payah. Bukankah ada orang-orang yang bersedia menerima barang-barang hasil rampokan ini?” “Tetapi harganya sangat murah” jawab yang lain. Tetapi dalam pada itu, orang yang agaknya memimpin sekelompok perampok itu berkata ”Marilah. Kita simpan barang-barang itu didekat barang-barang yang sudah terdahulu kita simpan. Kita akan memperlihatkan barang barang itu kepada kakang Kebo Lorog.” “Kakang Kebo Lorog?” bertanya salah seorang dari mereka. “Ya. Kakang Kebo Lorog akan datang ke daerah ini.” “Apakah ada kecurigaan kakang Kebo Lorog terhadap kita?”

”Tidak. Tetapi sudah agak lama kakang Kebo Lorog tidak melihat-lihat daerah ini. Besok bersamaan dengan saat padukuhan sebelah merti desa, kakang akan berada disini. Kita dapat membawanya ketempat ini dan memperlihatkan apa yang kita punyai kepadanya.” “Mudah-mudahan kakang Kebo Lorog puas dengan tugas-tugas kita disini.” “Sekarang, kita akan menyimpan barang-barang kita.”

Paksi memperhatikan semua yang terjadi serta mendengarkan pembicaraan itu dengan jantung yang berdebar-debar. Paksi sendiri heran, bahwa batu-batu nisan,gerumbul-gerumbul liar dan satu dua pohon raksasa yang tumbuh dibukit itu tidak membuat bulu-bulunya meremang. Sejenak kemudian, orang-orang yang berpakaian serba hitam itupun telah menggali sebuah lubang dipinggir kuburan itu,disebelah batu hitam yang besar, yang sulit untuk digeser. Agaknya mereka menjadikan batu itu sebagai pertanda, dimana mereka menyimpan barang-barang hasil kejahatan mereka. Beberapa saat lamanya, Paksi harus menunggu. Di kuburan itu nyamuknya ternyata lebih banyak lagi daripada di gubug tempat ia membaringkan tubuhnya.

Tetapi Paksi tidak dapat menyelimuti tubuhnya dengan kain panjangnya. Demikian orang-orang itu selesai menguburkan barang-barang hasil rampokannya yang dibungkus dengan kain, maka mereka telah berganti pakaian. Mereka tidak lagi mengenakan pakaian-pakaian hitam. Ditempatkannya keranda itu disebuah cungkup yang besar, yang agaknya memang tempat untuk menyimpan keranda. Paksi hampir tidak tahan menunggu orang-orang itu pergi. Tetapi ia tidak bergerak ditempatnya selagi orang-orang itu masih berkeliaran di kuburan itu.

 Baru kemudian, setelah kuburan itu menjadi sepi, Paksipun keluar dari persembunyiannya. “Ternyata mereka adalah orang-orang yang cerdas. Mereka memanfaatkan ceritera-ceritera tentang hantu dan jadi-jadian untuk melakukan kejahatan” berkata Paksi. Malam itu semalam suntuk Paksi tidak tidur. Dari kuburan Paksi telah menyusuri parit. Ketika ia mendengar suara air gemericik, maka Paksipun mengetahui, bahwa ia berada tidak jauh dari sebuah sungai. Menjelang fajar Paksi sudah berendam di air sungai untuk membersihkan tubuhnya yang terasa gatal-gatal.

Tetapi Paksi masih belum dapat mencuci pakaiannya, karena matahari masih agak lama terbit. Setelah mandi, maka Paksi untuk beberapa lama duduk ditepian. Justru setelah ia berendam, maka ia tidak merasakan dinginnya udara pagi. Langit yang cerah menjadi semakin terang. Cahaya matahari mulai menusuk lembaranlembaran awan tipis yang menggantung dilangit. Ketika perasaan mengantuk mulai menyentuhnya, Paksi Pamekaspun segera bangkit dan berjalan diatas pasir tepian. Sambil berjalan selangkah-selangkah, Paksi sempat merenungi peristiwa yang dilihatnya semalam. Agaknya karena hantu keranda itulah, maka padukuhan-padukuhan menjadi sepi setelah gelap. “Tetapi tentu ada orang yang pernah melihat keranda itu” berkata Paksi didalam hatinya ”jika tidak, mereka tentu tidak akan dicengkam ketakutan.” Paksi berniat untuk menjelaskan kepada orang-orang padukuhan, bahwa hantu keranda itu hanyalah akal orang-orang jahat agar mereka dapat leluasa bergerak di-malam hari. “Tetapi kepada siapa aku harus mengatakannya?” bertanya Paksi Pamekas kepada diri sendiri. Paksipun kemudian sudah memanjat tanggul dan melangkah menuju ke padukuhan terdekat. Tetapi hari masih terlalu pagi.

Karena itu, maka Paksipun tidak tergesa-gesa menemui seseorang. Bahkan Paksi sempat mengikuti beberapa orang perempuan yang berjalan beriringan sambil menggendong bakul. Beberapa orang membawa bakul berisi hasil kebun. Sedangkan yang lain membawa makanan dan bahkan seorang diantara mereka membawa nasi tumpang digendongannya. “Mereka tentu akan pergi ke pasar.” berkata Paksi didalam hatinya. Ternyata iring-iringan itu telah menarik perhatiannya. Ketika ia melihat sayuran rebus yang digelar diatas tambir ditutup dengan daun pisang, maka tiba-tiba saja ia merasa lapar. Apalagi semalaman Paksi hampir tidak tidur sama sekali.

Karena itu, maka Paksipun telah pergi ke pasar pula. Di pasar Paksi telah membeli nasi tumpang yang jarang sekali ditemuinya di rumahnya. Ia tidak memikirkan pula dimana ia duduk dan makan nasi tumpang yang masih hangat itu. Sekali-sekali Paksi berdesis karena bubuk kedelenya yang terlalu pedas serasa menyengat lidahnya. Namun dalam pada itu, sambil makan nasi tumpang dan duduk dibelakang penjualnya didekat pintu gerbang pasar, Paksi mendengar beberapa orang yang berceritera tentang keranda yang berjalan sendiri di malam hari.

“Suamiku melihat sendiri malam tadi” berkata seorang penjual kelapa dengan mantap ”bersama tiga orang, suamiku memang berusaha untuk dapat melihat langsung keranda yang berjalan sendiri itu. Malam tadi, malam Jumat Keliwon, bersama tiga orang, suamiku sengaja menunggu disudut padukuhan. Ternyata sedikit lewat tengah malam, dari kejauhan mereka benar-benar melihat keranda itu berjalan sendiri, seolah-olah terbang meluncur dengan cepat. Suamiku dan ketiga kawannya menjadi sangat ketakutan. Beberapa puluh langkah dari padukuhan itu, keranda itu berhenti sejenak. Seakan-akan berpaling memandangi keempat orang yang telah mengintip itu. Seorang kawan suamiku hampir menjadi pingsan. Untunglah keranda itu berjalan lagi menuju ke kuburan di bulak itu. Sebelum masuk pintu gerbang kuburan, keranda itu tiba-tiba telah lenyap.” “Apa yang dilakukan suamimu kemudian?” bertanya seorang penjual sirih.

“Tidak apa-apa. Sebelumnya keempat orang itu bertekad untuk melihat dari dekat jika benarbenar ada keranda yang terbang di malam hari. Tetapi ketika mereka benar-benar melihat langsung, maka jantung mereka menjadi kuncup sebesar biji mentimun.” “Siapa yang tidak menjadi ketakutan melihat keranda terbang itu?” desis penjual nasi tumpang itu.

“Pagi ini suamiku tidak pergi ke sawah. Badannya merasa tidak enak. Dahinya panas dan jantungnya serasa berdetak lebih cepat.” “O” penjual nasi tumpang itu menjadi cemas” apakah suamimu tidak pergi ke rumah seorang tua yang dapat menyingkirkan kutukan keranda terbang itu? Mungkin karanda itu mengetahui bahwa suamimu dan kawan-kawannya sengaja mengintipnya.” Penjual kelapa itu termangu-mangu sejenak. Katanya ”Belum. Tetapi siang nanti aku akan mengajaknya pergi kerumah Kiai Samid yang terkenal itu. Suamiku mengenalnya dengan baik, karena Kiai Samid minta suamiku menggarap sawahnya sampai lebih dari tiga tahun. Letak sawah Kiai Samid berdekatan dengan sawah suamiku, sehingga suamiku dapat menggarapnya dengan baik dan memuaskan bagi Kiai Samid.” “Tetapi jangan sampai terlambat” desis penjual sirih.

Penjual kelapa itu mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab. Dua orang datang untuk memilih beberapa buah kelapa yang sudah tua. Paksi mendengarkan pembicaraan itu. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Paksi tidak dapat berbicara tentang keranda terbang itu dengan perempuan-perempuan yang tidak melihat sendiri semalam.

Tetapi Paksi bertekad untuk mengikuti penjual kelapa itu sampai kerumahnya dan berbicara dengan suaminya tentang keranda terbang yang dilihatnya semalam. Ketika kemudian Paksi sudah menjadi kenyang, maka iapun segera membayar harga nasi yang dimakannya. Dari penjual nasi tumpang, Paksi bergeser duduk di dekat penjual wedang sere. Sambil menunggu penjual kelapa itu menghabiskan dagangannya, maka Paksipun minum wedang sere hangat dan masih juga makan beberapa potong makanan meskipun perutnya sudah terasa kenyang. Satu dua butir kelapapun telah laku. Berurutan orang-orang yang datang dan pergi.

Namun penjual kelapa itu nampak gelisah. Sekali-sekali ia melihat matahari dilangit yang memanjat semakin tinggi. “Aku meninggalkan suamiku yang sedang sakit” desis penjual kelapa itu. “Tetapi kelapamu sudah hampir habis” berkata penjual nasi tumpang itu. “Aku ingin segera pulang.” “Suamimu memang harus dibawa dengan cepat kerumah Kiai Samid agar segera mendapat obat penolak bala.” “Tetapi kelapaku ini?” “Jika kau mau menjualnya agak murah, aku akan membelinya semua yang tersisa. Untuk membuat bumbu gudanganku ini, aku memerlukan kelapa setiap hari. Sementara itu, kelapa dikebun sudah tidak. ada yang cukup tua.”

“Apakah kelapa itu tidak terlalu tua untuk membuat bumbu gudangan?” bertanya penjual sirih. “Cukupan” sahut penjual kelapa itu. Akhirnya, kelapa itu telah dibeli dengan harga yang lebih murah oleh penjual gudangan itu, karena penjual kelapa itu ingin segera pulang dan membawa suaminya kepada Kiai Samid. Paksi yang telah cukup lama menunggu, telah minta diri kepada penjual minuman itu setelah membayar harga makanan dan minumannya.

Pada jarak tertentu Paksi telah mengikuti perempuan yang berjalan dengan tergesa-gesa pulang itu. Seperti yang diduganya, maka perempuan itu tinggal df padukuhan yang semalam dilewati keranda terbang itu, meskipun pada jarak yang tidak terlalu dekat. Paksi yang mengikutinya itupun kemudian melihat, perempuan itu memasuki sebuah regol halaman rumah disebelah simpang ampat. Paksi memang menjadi ragu-ragu. Ia sama sekali tidak dikenal di padukuhan itu. Seandainya ia menceriterakan apa yang dilihatnya, apakah orang padukuhan itu akan mempercayainya? Tetapi Paksipun kemdian telah membulatkan tekadnya untuk mengatakan apa yang telah dilihatnya semalam. Karena itu, maka beberapa saat kemudian, Paksi telah berdiri didepan regol halaman rumah perempuan yang baru saja pulang dari pasar itu.

Dengan ragu-ragu Paksipun melangkah melintasi halaman yang terhitung luas. Beberapa batang pohon tumbuh di halaman itu. Disana-sini nampak pohon kelapa yang tumbuh mencuat mengatasi pepohonan yang lain. Agaknya sebagian dari dagangan kelapanya telah dipetik dari halaman dan kebun dirumahnya sendiri. Ketika Paksi berdiri ragu-ragu di halaman, maka seorang anak remaja datang mendekatinya sambil bertanya”Siapa yang kau cari, kakang?” Paksi tersenyum. Anak itu nampak ramah. Karena itu, maka iapun bertanya ”Apakah yang pulang dari pasar itu ibumu?” “Ya. Ibu memang berjualan kelapa di pasar.”

“Ayahmu ada?” bertanya Paksi. “Ada. Tetapi ayah sedang sakit. Kepala pening. Jantungnya berdebar-debar dan tidak dapat tidur.” “Apakah aku dapat bertemu dengan ayahmu?” “Ayah berbaring saja di pembaringan dengan gelisah. Kami bergantian menungguinya selama ibu berada di pasar.” “Kamu siapa?” bertanya Paksi. “Aku dan adikku.” “Bagus” desis Paksi ”kau anak yang pandai.

”Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya”Jika demikian, aku ingin bertemu dengan ibumu.” “Duduklah. Aku akan memanggil ibu.” Paksipun kemudian duduk disebuah lincak bambu yang panjang diserambi depan rumah yang sederhana, tetapi nampak bersih itu. Sejenak kemudian, maka perempuan yang berjualan kelapa di pasar itupun keluar dari pintu depan. Ia termangu-mangu sejenak, melihat Paksi yang belum pernah dikenalnya.

 “Kau mencari aku, nak?” bertanya perempuan itu. “Ya, bibi” jawab Paksi ”sebenarnya aku ingin berbicara dengan paman. Tetapi bukankah paman sedang sakit?” Perempuan itu mengangguk-angguk. Katanya ”Ya. Suamiku sedang sakit.” Perempuan itupun kemudian duduk di lincak bambu itu pula. “Aku belum pernah melihat kau sebelumnya, nak.” berkata perempuan itu. “Ya, bibi. Aku memang baru kali ini menginjakkan kakiku di padukuhan ini.”

“Jadi apakah maksudmu menemui suamiku?” “Bibi” berkata Paksi ”aku mendengar pembicaraan bibi dengan beberapa orang perempuan di pasar. Menurut bibi, paman menjadi sakit setelah semalam melihat keranda terbang itu?” “Ya”jawab perempuan itu dengan wajah berkerut. “Aku ingin memberikan sedikit keterangan tentang keranda terbang itu.”

“Jangan, nak. Jangan. Pamanmu sangat terpengaruh oleh penglihatannya semalam. Ia merasa seakan-akan selalu dibayangi oleh keranda yang berjalan sendiri itu. Bahkan rasa-rasanya keranda itu telah terbang mengitari rumah ini.” “Apakah ketiga orang kawan paman yang melihat keranda itu juga sakit?” “Adik pamanmu telah menghubungi mereka. Menurut keterangannya, mereka juga menjadi sakit, terutama seorang yang semalam hampir pingsan. Badannya panas dan sekali-sekali ia mengigau. Tetapi yang seorang lagi, hanya terasa pening-pening sedikit.”

“Tetapi orang itu tidak menjadi sakit seperti paman?” “Tidak. Ia memang seorang yang sangat berani, meskipun semalam ia mengurungkan niatnya untuk mendekati keranda yang terbang itu. “Jika demikian, apakah aku sebaiknya berbicara dengan orang itu?” “Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?” “Bibi. Aku minta bibi memberitahukan kepada paman, bahwa paman tidak perlu menjadi sakit. Keranda terbang itu hanyalah sekedar pokal orang jahat.” “Tetapi pamanmu melihat sendiri.” “Akupun melihatnya bibi. Aku sempat mengikutinya. Keranda itu sebenarnya juga dipikul oleh beberapa orang dan bahkan diiringi beberapa orang yang lain.

Tetapi mereka berpakaian hitam agar mereka tidak nampak dari jarak tertentu.” “Ah. Kau jangan mengada-ada anak muda.” “Benar bibi. Aku dapat membuktikan. Tetapi aku memerlukan orang-orang yang berani seperti yang bibi sebutkan itu.” jawab Paksi. Lalu katanya pula ”Jika saja paman tidak cepat percaya kepada keranda itu, maka aku ingin mengajak paman untuk melihat kenyataan tentang keranda itu.” Perempuan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya ”Sebaiknya aku hubungi kakang Sura saja.” “Dimanakah rumahnya, bibi?” bertanya Paksi. Perempuan itupun kemudian memberikan ancar-ancar rumah Sura didekat gardu peronda yang tidak pernah terisi sejak ada ceritera tentang keranda yang dapat berjalan sendiri di malam hari.

 Paksipun kemudian minta diri untuk menemui orang yang bernama Sura itu. Meskipun agak ragu, namun Paksipun kemudian telah memasuki halaman rumah didekat gardu parondan. Seorang anak laki-laki yang sedang berlari-lari di halaman tertegun.

Berlari-lari kecil anak itu menyongsong Paksi. “Kakang mencari siapa?” ternyata anak itu ramah sekali. “Apakah paman Sura ada dirumah?” “Ayah?” bertanya anak itu. “Ya. Tolong, katakan kepada ayah, bahwa seseorang mencarinya” berkata Paksi. “Siapa nama kakang?” Paksi tersenyum. Sambil menyentuh pipi anak itu ia menjawab ”Namaku Paksi.” “Nama kakang bagus. Tetapi namaku jelek. Ayah tidak pandai memilih nama.” “Siapa namamu?” "Namaku Salam.”

“Nama yang bagus. Aku senang mendengarnya. Salam.” “Ah, kakang hanya ingin membuatku senang.” Paksi tertawa. Anak itu ternyata anak yang sangat cerdas. Namun anak itupun kemudian berkata ”Aku akan memanggil ayah dibelakang.” Anak itupun segera berlari kebelakang memanggil ayahnya. Sura terkejut melihat kedatangan anak muda yang belum pernah dikenalnya. Dipersilahkan Paksi naik dan duduk di pendapa. “Apakah angger mempunyai keperluan dengan aku?”

”Ya, paman. Ada yang ingin aku bicarakan.” “Tentang?” “Bukankah paman tidak sakit sekarang?” “Rasa-rasanya kepalaku sedikit pening ngger. Tetapi tidak apa-apa. Aku dapat mendengarkan dengan baik persoalan yang akan angger katakan.” “Apakah paman sakit karena keranda yang berjalan sendiri semalam?” Orang itu mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi ia bertanya ”Apakah kau mengetahui bahwa aku telah melihat keranda yang berjalan sendiri?”

“Ya paman. Tetapi itu tidak penting. Aku hanya ingin tahu, bahwa paman tidak menjadi sakit karena keranda itu?” “Tidak. Tetapi kenapa?” “Kenapa semalam paman tidak berusaha untuk menangkap keranda itu?” “Apa sebenarnya yang ingin kau katakan ngger?” bertanya Sura.

Paksi menarik nafas panjang. Kemudian diceriterakannya apa yang dilihatnya semalam sehingga keranda itu hilang dikuburan dan orang-orang berpakaian hitam yang menyembunyikan barang-barang hasil rampokan itu. “Kau berkata sebenarnya?” bertanya Sura. “Aku dapat menunjukkan tempat mereka menyembunyikan barang-barang itu jika paman ingin membuktikannya.” Sura mengagguk-angguk. Katanya ”Jika kau berkata benar, aku kagum akan keberanianmu.”

 “Bukan soal keberanian paman. Tetapi aku sudah tersudut dalam satu keadaan yang tidak dapat aku hindari.” “Sebenarnya aku memang ingin melihat dari dekat keranda yang dikatakan orang dapat terbang sendiri itu. Tetapi kawan-kawanku semalam menjadi ketakutan, sehingga aku mengurungkan niatku. Bahkan ada seorang di-antara kami yang hampir pingsan.”

“Ada diantara mereka yang menjadi sakit sekarang.” “Ya. Aku dengar memang demikian. Mereka menjadi sangat terpengaruh. Tetapi sejak semula aku sudah meragukannya.” “Tetapi pamafr juga menjadi pening.” “Bukan karena keranda itu. Tetapi hampir semalam suntuk aku tidak dapat tidur. Aku harus mengantar orang-orang yang ketakutan itu. Memapah kawanku yang hampir pingsan. Baru aku pulang terakhir setelah langit menjadi merah. Aku hanya sempat berbaring. Ketika aku hampir tertidur, adik salah seorang yang ikut bersamaku semalam datang kemari.”

Paksi mengangguk-angguk. Dengan nada berat ia berkata ”Aku juga tidak tidur semalam.” “Kau dapat beristirahat disini” berkata Sura. “Terima kasih paman. Tetapi apakah paman melihat barang-barang itu?” Sura termangu-mangu sejenak. Dipandanginya anak muda yang sebelumnya belum pernah dikenalnya itu. Dari sorot matanya, memang tersirat keragu-raguannya. T

etapi Paksi tidak tersinggung. Ia tahu, bahwa hal itu adalah wajar sekali. Karena itu, maka katanya ”Paman. Sebenarnya aku ingin sekali melihat apa saja yang disembunyikan oleh para perampok itu. Tetapi aku tidak dapat melakukannya sendiri. Aku tidak mempunyai alat untuk menggali.” “Baiklah” berkata Sura” kita akan melihatnya. Tetapi aku akan mengajak seorang lagi yang memiliki keberanian untuk membongkar barang-barang yang disembunyikan itu.”

Paksi mengangguk sambil menjawab ”Silahkan paman. Tetapi orang itu harus dapat paman percaya, karena mungkin ada sesuatu yang untuk sementara masih harus disimpan.”

“Baik. Tetapi kapan sebaiknya kita melakukannya?” “Bukankah sebaiknya kita lakukan disiang hari? Di-malam hari orang-orang yang menyembunyikan barang-barang itu justru berkeliaran. Disiang hari mereka tidak akan menampakkan diri. Meskipun demikian, kita harus berhati-hati.” “Baiklah. Kita dapat berpura-pura membersihkan kuburan. Aku mempunyai leluhur yang dimakamkan di kuburan itu.” Surapun minta Paksi untuk menunggu. Minuman dan makananpun telah dihidangkan pula. “Salam akan menemanimu, ngger.” berkata Sura. Beberapa s&at kemudian Sura telah datang bersama seorang kawannya. Bertiga mereka pergi ke kuburan untuk membuktikan, apakah yang dilihat Paksi semalam bukan sekedar sebuah mimpi atau khayalannya saja.

 Dalam pada itu, Surapun berkata ”ngger, pamanmu Mertawira ini kebetulan adalah anak juru kunci kuburan itu.” “O” Paksi mengangguk-angguk ”kebetulan sekali paman.” “Tetapi aku segan untuk menggantikan jabatan orang tuaku. Aku lebih senang tidak mengurusi kuburan.” desis Mertawira. “Harus ada orang yangtbersediakmelakukannya. Jika tidak, orang-orang yang memerlukan akan menjadi sangat repot.” berkata Sura. Mertawira tertawa. Katanya

”Adikku telah menyatakan kesediaannya.” “Sokurlah. Dengan demikian, maka segala sesuatunya ada yang mengatur. Orang-orang padukuhan yang kematian keluarganya tidak asal saja mengubur di kuburan ini, sehingga berjejaljejal tanpa diatur.” Mertawira tertawa semakin keras.

Beberapa saat kemudian, mereka telah berada di kuburan. Tidak ada orang yang melihat mereka meskipun mereka memasuki kuburan itu disiang hari. Paksi memang agak sulit untuk menemukan batu yang besar itu. Bahkan Paksi sempat menjadi bimbang, bahwa apa yang dilihatnya tidak lebih dari sebuah khayalan. Mungkin hantu keranda itu sempat menyesatkan penglihatannya, sehingga seolah-olah ia melihat keranda itu memasuki kuburan Ini.” Namun setelah mengitarti kuburan itu beberapa kali, maka Paksipun telah menemukan batu yang besar itu.”Kami hampir kehabisan kesabaran” desis Sura. Mertawirapun tertawa pula.

Katanya ”Aku kira kau hanya bermimpi. Tetapi itupun masih harus dibuktikan, apakah barang-barang itu benar-benar ada.”" Paksi mengangguk-angguk. Ketika mereka bersiap-siap untuk mulai menggali, maka jantung Paksi menjadi berdebar-debar. Jika barang-barang yang dikatakan itu tidak ada, maka kedua orang itu akan dapat menjadi marah kepadanya.

Mereka akan mengira, bahwa Paksi telah mempermainkan kedua orang itu. Namun Sura dan Mertawira memang melihat tanah yang kemerahan disekitar batu yang besar itu. Nampaknya tanah itu memang tanah yang baru dari sebuah galian yang telah ditimbun kembali. Ketika mereka mulai menggali, maka tanah itupun agaknya masih juga lunak, sehingga dengan demikian, mereka tidak banyak menemui kesulitan. Mereka menjadi berdebar-debar ketika cangkul mereka mulai terasa menyentuh sesuatu. Dengan hati-hati mereka menggali lebih dalam lagi. Ternyata Paksi tidak sekedar berkhayal atau bermimpi atau penglihatannya dipengaruhi oleh hantu keranda itu.

 Didalam lubang galian itu memang terdapat barang-barang yang disembunyikan oleh para perampok yang telah mengelabuhi banyak orang itu. “Apa yang sebaiknya kita lakukan dengan barang-barang ini” berkata Sura kemudian. “Besok jika padukuhan ini merti desa, maka salah seorang pemimpin dari para perampok ini akan datang” berkata Paksi ”karena itu, maka barang-barang yang disembunyikan disini akan ditunjukkan kepada pemimpin mereka itu.”

“Jika demikian, biarlah barang-barang ini disini” berkata Mertawira ”kita akan mengawasinya. Besok, pada saatnya pemimpin perampok itu datang, kita akan menangkapnya.” “Kau kira kita akan mudah melakukannya” sahut Sura ”para perampok adalah orang-orang yang telah menyatukan hidup matinya dengan senjata. Mereka terbiasa berkelahi dan bahkan bunuh-membunuh, sehingga darah bagi mereka tidak lagi menggetarkan perasaan mereka.” “Tetapi kita mempunyai kawan yang tentu jauh lebih banyak dari para perampok itu. Mungkin jumlah mereka hanya sekitar sepuluh orang.” “Ya” sahut Paksi ”sekitar sepuluh orang. Mereka bergantian memanggul keranda itu.” “Nah, bukankah kita memiliki kesempatan?” Sura mengangguk-angguk.

Katanya ”Baiklah. Kita akan berbicara dengan Ki Jagabaya.” “Hanya dengan Ki Jagabaya ”desis Mertawira ”jika hal ini didengar oleh banyak orang, maka persoalannya akan menjadi lain. Tetapi bagaimana menurut pendapatmu ngger?” “Aku hanya ingin menunjukkan kepada paman, bahwa keranda itu sama sekali bukan hantu. Salah satu buktinya adalah barang-barang yang telah mereka sembunyikan disini. Selanjutnya, terserah kepada paman berdua. Kasihan jika orang-orang padukuhan itu menjadi terlalu lama dicengkam oleh ketakutan.”

“Padahal bukan hanya satu dua padukuhan saja yang dibayangi ketakutan kepada hantu keranda yang berjalan sendiri di malam hari, yang bahkan dapat lenyap dalam sekejap mata.” “Kita harus dapat menangkap hantu keranda itu. Tetapi kita memang memerlukan beberapa orang yang berani” berkata Sura kemudian. “Ya. Aku setuju, jika kita menemui Ki Jagabaya. Tetapi untuk sementara tidak ada orang lain yang mengetahuinya” berkata Mertawira. Bertiga mereka sependapat untuk menimbun barang-barang itu lagi. Namun dengan demikian mereka sudah menjadi yakin, bahwa keranda yang berjalan sendiri ditengahi malam itu sama sekali bukan hantu. Sementara itu, merekapun mengetahui dimana para perampok itu menyembunyikan barang-barang hasil rampokan mereka. “Tetapi kenapa pemimpin perampok itu akan datang tepat pada saat merti desa?” desis Sura. “Entahlah” berkata Mertawira ”mungkin pada hari itu perhatian orang-orang padukuhan tertuju kepada keramaian di padukuhan ini.”

“Baiklah. Sekarang, marilah kita pulang.” Namun dalam pada itu, Paksipun berkata ”Paman berdua. Sebaiknya aku meneruskan perjalananku. Aku merasa bahwa kewajibanku melaporkan tentang keranda yang berjalan sendiri di malam hari itu sudah aku lakukan dengan baik. Karena itu, segala sesuatunya terserah kepada paman berdua serta para bebahu padukuhan . Tindakan apa yang akan mereka ambil. Namun barangkali yang harus mendapat perhatian adalah, bahwa pemimpin perampok yang akan datang itu bernama Kebo Lorog.” “Kebo Lorog” kedua orang itu terkejut. Dengan nada tinggi Sura berdesis ”Jadi permainan ini dikendalikan oleh Kebo Lorog yang namanya menggetarkan bulu tengkuk itu?” “Apakah paman sudah pernah mendengar nama itu?”

“Ya. Kami sudah pernah mendengar. Banyak orang yang pernah mendengar nama itu. Orangorang padukuhan menjadi ketakutan mendengar nama itu sebegaimana mereka mendengar ceritera tentang hantu keranda. Tetapi hantu keranda itu ternyata hanya sebuah tipuan. Tetapi Kebo Lorog benar-benar mampu memilin leher kita sampai patah.” “Tetapi jumlah penghuni padukuhan ini cukup banyak.” berkata Paksi. “Itu tidak berarti apa-apa bagi Kebo Lorog” jawab Sura. “Jika demikian maka keranda yang berjalan sendiri itu tetap menakutkan bagi kita. Bukan karena kita menyangka keranda itu hantu, tetapi justru karena yang ada dibelakangnya adalah Kebo Lorog.” “Jika nama Kebo Lorog itu lebih menakutkan daripada hantu, kenapa mereka harus bermain hantu-hantuan? Kenapa tidak Kebo Lorog itu saja datang kemari dan melakukan kegiatan yang dilakukan oleh keranda itu? “Kebo Lorog mempunyai lingkungan yang luas, ngger.

Sehingga ia tidak dapat berada disatu tempat, Tetapi jika Kebo Lorog itu mengunjungi satu lingkungan, tentu ia mempunyai kepentingan tertentu.” Paksi mengangguk-angguk. Katanya ”Mungkin keberhasilan orang-orang yang mempunyai gagasan bermain hantu-hantuan itu telah menarik perhatiannya, sehingga permainan itu akan dapat dikembangkan di daerah lain.” Sura dan Mertawira mengangguk-angguk. Dengan nada datar Mertawira berkata ”Mungkin kau benar ngger. Kita akan melihat bersama-sama, apa yang akan terjadi kemudian.” “Paman berdua. Aku sudah berniat untuk mohon diri. Aku ingin melanjutkan pengembaraanku. Aku sudah merasa cukup berhasil dengan menunjukkan benda-benda yang disembunyikan itu.”

 “Aku minta kau tetap disini menunggu kedatangan Kebo Lorog” berkata Sura.

“Apakah artinya keberadaanku disini?” “Kita akan bersama-sama menyaksikan, untuk apa Kebo Lorog itu datang.” jawab Mertawira. Paksi termangu-mangu sejenak. Sementara Sura itupun berkata ”Kita akan pergi kerumah Ki Jagabaya ngger. Kau akan dapat menjelaskan apa yang telah terjadi itu. Mudah-mudahan kita akan dapat mencari jalan keluar dari bayangan gelap karena kehadiran Kebo Lorog itu.” Paksi termangu-mangu sejenak. Sura nampaknya mengerti getar perasaan anak muda itu. Karena itu, maka katanya ”Selama kau berada di padukuhan ini, kau dapat tinggal bersama kami, ngger. Salam tentu akan merasa senang jika kau berada disini.”

“Apakah aku tidak akan merepotkan paman dan keluarga?” bertanya Paksi dengan ragu. “Tentu tidak ngger. Kau tentu sudah dapat mengurus dirimu sendiri. Kau sudah dapat mandi sendiri, mencuci pakaian sendiri. Makan sendiri, sehingga kami tidak usah menyuapi.” Mertawira tertawa. Katanya ”Juga tidak harus menggendong dan menidurkan menjelang malam.” Paksi tertawa.

Kemudian iapun menjawab ”Baiklah paman. Jika paman tidak berkeberatan, aku akan tinggal disini sampai merti desa.” Ternyata bahwa keberadaan Paksi di rumah Sura justru memberikan kesegaran baru. Paksi adalah seorang anak yang rajin. Pagi-pagi ia sudah bangun. Menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan. Kamudian menyapu halaman samping, karena halaman depan tentu sudah disapu oleh Sura sendiri. Pengaruh keberadaan Paksi di rumah itu justru sangat baik bagi Salam, la dapat bangun lebih pagi dari kebiasaannya. Anak itu ingin bersma-sama dengan Paksi. Juga saat Paksi menimba air, menyapu halaman atau membelah kayu disiang hari.

Bahkan Paksipun telah mengajari Salam untuk menuliskan huruf-huruf, kemudian membacanya. Sementara itu, ceritera tentang keranda hantu itu masih saja membayangi kehidupan beberapa padukuhan. Sura dan Mertawira memang belum mengambil langkah-langkah tertentu untuk membuktikan kepada banyak orang, bahwa ceritera tentang hantu keranda itu hanya sebuah olokolok dari para penjahat yang kebingungan membawa hasil rampokannya. Namun yang kemudian ternyata berhasil. Seperti yang sudah direncanakan, maka ketika saatnya dianggap sudah tiba, maka Sura dan Mertawira telah pergi menemui Ki Jagabaya sambil mengajak Paksi Pa-mekas. Ki Jagabaya menerima mereka bertiga dipendapa rumahnya.

Karena keduanya tidak terbiasa berkunjung ke-rumah Ki Jagabaya, maka Ki Jagabaya menjadi heran atas kedatangan mereka bertiga. “Nampaknya ada sesuatu yang penting” desis Ki Jagabaya. “Ya, Ki Jagabaya. Kami ingin berbicara tentang keranda hantu itu.” Ki Jagabaya mengerutkan dahinya. Dengan nada berat Ki Jagabaya itupun bertanya ”Ada apa dengan dongeng itu? Kalian berdua terhitung orang-orang yang berani di padukuhan ini. Apakah kalian juga percaya tentang keranda yang berjalan sendiri itu?” “Kami percaya, Ki Jagabaya” jawab Sura.

“Sikapmu tentang keranda yang berjalan sendiri itu tentu akan menjadi panutan. Jika kau berkata bahwa kau percaya, maka padukuhan ini akan menjadi semakin kalut.” “Aku telah melihat sendiri, Ki Jagabaya.” Ki Jagabaya mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi ia berkata ”Apa maksudmu? Apakah kau memang menghendaki orang-orang padukuhan ini dicengkam oleh ketakutan? Dengan susah payah aku menjelaskan kepada mereka, bahwa tidak ada hantu keranda.

Omong kosong. Tidak ada hantu yang sedang menyebarkan wabah penyakit.” “Ki Jagabaya” berkata Sura kemudian ”aku benar-benar telah melihat keranda itu berjalan di malam hari. Aku yakin akan penglihatanku itu. Hal itulah yang akan aku katakan kepada Ki Jagabaya.” “Persetan dengan igauanmu. Kau tidak akan dapat mempengaruhi aku. Kau tidak akan dapat menyeret aku kedalam ketakutan seperti orang-orang bodoh itu.” Sura termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya”Aku mohon Ki Jagabaya mendengarkan ceri-teraku. Nanti Ki Jagabaya dapat percaya atau tidak percaya.” Wajah Ki Jagabaya menjadi tegang. Namun kemudian katanya ”Cepat katakan. Tetapi jangan mengharap aku terseret kedalam arus yang melanda padukuhan kita dan beberapa padukuhan yang lain.” Surapun kemudian menceriterakan apa yang pernah dilihatnya.

Keranda yang berjalan di malam hari. Seakan-akan keranda itu berjalan sendiri. Hampir saja Ki Jagabaya yang tidak mempercayainya itu menjadi marah. Namun kemudian Surapun menceriterakan apa yang telah dilihat oleh Paksi Pamekas. Wajah Ki Jagabaya nampak berkerut.

Dipandanginya Paksi dengan tajamnya. Kemudian Ki Jagabaya itupun bertanya ”Siapakah kau sebenarnya?” Paksipun telah menyebut namanya. Tetapi ia selalu mengatakan bahwa dirinya berasal dari Banyuanyar serta selalu mengatakan bahwa kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi. “Ceriteramu memang masuk akal.” berkata Ki Jagabaya. “Kami sudah membuktikannya, Ki Jagabaya.” “Bukti apa?” bertanya Ki Jagabaya. “Kami sudah menggali tempat para perampok itu menyembunyikan barang-barangnya?”

“Kau telah mengambil barang-barang itu?” “Tidak Ki Jagabaya” jawab Mertawira ”kami hanya membuktikan bahwa penglihatan angger Paksi itu bukan sekedar mimpi atau khayalan yang ditimbulkan oleh hantu keranda. Tetapi benarbenar ada. Sekarang barang-barang itu telah kami timbun kembali.” Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Sementara Sura minta Paksi menceriterakan tentang rencana Kebo Lorog datang ke lingkungan mereka.

Ki Jagabaya mendengarkan keterangan Paksi tentang Kebo Lorog sebagaimana didengarnya di kuburan dengan jantung yang berdebar-debar. Seakan-akan kepada diri sendiri Ki Jagabaya itu berkata”Kebo Lorog. Ternyata orang itu ada dibelakang ceritera tentang hantu itu.” “Mungkin sebaliknya, Ki Bekel. Kebo Lorog tertarik kepada gagasan para pengikutnya tentang hantu-hantu itu, sehingga ia ingin melihat hasil dari permainan itu.”

 “Kebo Lorog itu sendiri lebih dari hantu yang manapun juga.” berkata Ki Jagabaya. “Apakah kita sepadukuhan tidak dapat menghentikannya?” bertanya Mertawira. Ki Jagabaya menggelengkan kepalanya. Katanya ”Kita sepadukuhan tidak akan berdaya melawan para penjahat itu jika diantara mereka terdapat Kebo Lorog. Kecuali karena Kebo Lorog itu mempunyai ilmu yang tinggi, ia akan dapat menjadi penyulut api keberanian dan kekuatan para pengikutnya.

Bersama Kebo Lorog itu sendiri, maka sekelompok penjahat tidak akan dapat dihentikan oleh orang se padukuhan. Bahkan mungkin sekali kita akan dibantai habis oleh Kebo Lorog itu.” “Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan jika benar besok pada saat kita merti desa Kebo Lorog itu datang?” “Kita akanberbicara dengan Ki Bekel.” Ternyata Ki Jagabaya tidak membuang waktu. Diajaknya ketiga orang yang datang kerumahnya itu langsung menemui Ki Bekel.

 “Merti desa itu tinggal beberapa hari lagi. Kita harus dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Jika kita harus menyerang kepada keadaan, apaboleh buat. Kita tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi jika Ki Bekel maih melihat satu kesempatan untuk menggeliat meskipun Kebo Lorog ada disini, maka biarlah kita mempersiapkan diri selagi kita masih mempunyai waktu.” gumam Ki Jagabaya. Ternyata Ki Bekel juga merasa heran melihat kedatangan ki Jagabaya bersama tiga orang kerumahnya. Di wajah mereka nampak persoalan yang membebani mereka, sehingga mereka harus datang menemuinya. “Apakah Ki Jagabaa tidak dapat menyelesaikan persoalan mereka sehingga mereka harus datang kepadaku?“ bertanya Ki Bekel didalam hatinya.

Ketika mereka sudah duduk dipringgitan, maka Ki Jagabayalah yang telah menyampaikan persoalan yang mereka bawa menghadap Ki Bekel. Wajah Ki Bekelpun menjadi tegang. Kebo Lorog baginya juga merupakan hantu yang mendebarkan. Namun tiba-tiba dari ruang dalam rumah Ki Bekel, keluar seorang laki-laki muda yang bertubuh sedang. Wajahnya memancarkan kecerahan nalar budinya. Dengan sebuah senyum yang menghiasi bibirnya, laki-laki muda itu berkata ”Maaf, kakang. Aku tidak sengaja telah mendengar nama Kebo Lorog disebut-sebut. Jika kakang Bekel tidak berkeberatan, aku ingin ikut mendengar ceritera tentang Kebo Lorog itu.

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Kemarilah. Duduklah.” Sura dan Mertawira terkejut melihat laki-laki itu. Hampir berbareng mereka menyapa ”Adeg Panatas.” Laki-laki itu tersenyum. Sambil mendekat ia bertanya “Kakang berdua tidak lupa kepadaku.” “Tentu tidak” jawab Mertawira. Laki-laki muda itupun kemudian duduk bersama mereka.

Ki Bekelpun kemudian berkata ”Kemarin ia datang.” Adeg Panatas, adik Ki Bekel itu tersenyum sambil menyahut ”Aku sudah menjadi sangat rindu pada padukuhan ini.” “Kau datang pada saat padukuhan ini dibayangi oleh hantu keranda yang mencekam seluruh penghuninya. Bahkan bukan hanya padukuhan ini. Tetapi juga padu-kuhan-padukuhan yang lain.” “Aku sudah mendengar. Tetapi bukankah Ki Jagabaya tidak mempercayainya?” “Ki Bekel juga tidak mempercayainya” jawab Ki Jagabaya.

“Tetapi agaknya hantu-hantuan itu ada hubungannya dengan Kebo Lorog.” “Ya” jawab Ki Jagabaya ”anak inilah yang mendengar langsung pembicaraan para perampok itu.” Sekali lagi Paksi harus berceritera tentang pari perampok dan pembicaraan diantara mereka tentang rencana kedatangan Kebo Lorog. “Sebaiknya kita sambut kedatangan Kebo Lorog itu.” berkata Adeg Panatas.

 “Kau jangan main-main dengan nama itu” desis Ki Bekel. Adeg Panatas tersenyum. Katanya ”Aku tahu kelebihan Kebo Lorog. Tetapi jangan biarkan Kebo Lorog menguasai padukuhan ini. Sekali ia dapat bergerak leluasa disini, maka padukuhan ini akan menjadi ladang yang subur bagi Kebo Lorog. Ia akan memeras setiap orang yang memang sudah ketakutan karena ceritera tentang keranda yang dapat berjalan sendiri itu.” “Tetapi bagaimana kita dapat melawannya?” bertanya Ki Bekel.

“Kita harus melakukan bersama-sama. Biarlah aku mencoba untuk menahan Kebo Lorog. Jika aku tidak mampu mengimbanginya, maka kakang Bekel akan dapat membantuku. Berdua aku yakin, bahwa Kami akan dapat menahan Kebo Lorog.”

“Bagaimana dengan para pengikutnya?” “Mereka banyak tergantung kepada pemimpinnya. Jika kami benar-benar dapat menahan Kebo Lorog, maka aku yakin, bahwa para pengikutnya akan menjadi ragu-ragu, sehingga kita akan dapat mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk 'menghancurkan mereka. Bukankah jumlah mereka tidak terlalu banyak. Sepuluh, lima belas atau katakan duapuluh lima orang. Bukankah jumlah laki-laki di padukuhan ini jauh lebih banyak dari jumlah itu?”

“Tetapi hanya ada berapa orang laki-laki yang berada di paduhukan ini.” berkata Sura dengan dahi yang berkerut ”apalagi menghadapi Kebo Lorog dan pengikutnya, sedangkan ceritera tentang keranda terbang itu saja sudah membuat seisi padukuhan ini ketakutan. ”Tetapi bukankah ada orang-orang ya ng akan dapat menjadi sandaran kekuatan isi padukuhan ini? Disini ada kakang Bekel, Kakang Jagabaya, kakang Sura dan kakang Mertawira. Di padukuhan ini ada bebahu yang tentu akan dapat dikerahkan. Mereka tidak hanya dapat sekedar menikmati bengkok sawah yang mereka petik hasilnya setiap musim.

Tetapi mereka juga harus bersedia menjadi perisai di padukuhan ini. Kemudian menurut pengenalanku disini ada juga beberapa orang bekas prajurit dan anak-anak muda yang harus penjelasan bahwa keranda itu tidak lebih dari hantu-hantuan saja.” Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya ”Masih ada waktu berapa lama menjelang merti desa itu?” “Tidak lebih dari sepuluh hari, Ki Bekel.” “Cukup panjang” sahut Adeg Panatas ”kita siapkan perlawanan terhadap para perampok itu dalam waktu sepuluh hari. Aku kenal isi padukuhan ini. Karena itu, aku yakin bahwa kita akan dapat mempertahankan harga diri padukuhan ini. Tetapi sebelumbya kita harus juga menyadari, bahwa akan jatuh korban diantara kita. Tetapi itu tentu wajar bagi setiap perjuangan. Karena itu, maka kita harus mampu mengerahkan kekuatan yang sebesar-besarnya.

Semakin banyak dan semakin kuat kita, maka korban akan menjadi semakin sedikit. Didalam pertempuran, kita harus saling menolong sehingga setiap orang pengikut Kebo Lorog, akan menghadapi lawan yang dapat membuat jantungnya bergetar.” “Bagaimana pendapatmu, Ki Jagabaya?” bertanya Ki Bekel. “Aku setuju dengan adi Adeg Panatas. Aku akan menggerakkan setiap laki-laki di padukuhan ini.”

“Baiklah” berkata Sura ”jika kita sudah sependapat bahwa kita akan mengadakan perlawanan, maka kita harus melakukan-dengan sepenuh hati. Kita tidak boleh ragu-ragu. Jika kita menjadi ragu, maka kita justru akan terjebak dalam kesulitan.” “Tentu kakang Sura. Sekali kita turun ke gelang-gang, maka kita harus sudah bersiap untuk menghadapi maut.” sahut Adeg Panatas.

“Itulah yang harus dijelaskan kepada rakyat padukuhan ini. Jika mereka bersedia, kita harus benar-benar terjun dengan segala akibat yang.mungkin terjadi. Sebaliknya, jika rakyat padukuhan ini ragu, sebaiknya kita pasrah saja pada keadaan, meskipun leher kita akan dicekiknya” sahut Mertawira. Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya ”Aku akan memanggil para bebahu malam nanti.” Demikianlah, maka Ki Jagabaya, Sura, Mertawira dan Paksi telah minta diri.

Malam nanti mereka akan kembali ke rumah Ki Bekel itu kecuali Paksi Menjelang malam, maka para bebahu yang dipanggil Ki Bekel telah berkumpul. Sura dan Mertawirapun telah datang pula memenuhi panggilan Ki Bekel meskipun mereka bukan bebahu. Paksi yang merasa dirinya orang lain di padukuhan itu, tidak ikut hadir dirumah Ki Bekel. Namun beberapa orang telah mendengar ceriteranya tentang hantu keranda, para perampok dan hasil rampokan mereka yang mereka sembunyikan di kuburan. Sementara Sura tidak ada dirumah, maka Paksipun telah minta ijin kepada Nyi Sura untuk berjalan-jalan. “Malam-malam kau akan pergi kemana ngger?” bertanya Nyi Sura. “Hanya berjalan-jalan saja bibi, menghirup angin. Udara terasa panas malam ini.” “Jangan terlalu lama ngger. Nanti jika pamanmu datang, ia tentu akan mencarimu” pesan Nyi Sura. P

aksipun kemudian telah meninggalkan rumah Sura. Ia menyusuri jalan-jalan padukuhan yang sudah menjadi sepi. Ada beberapa oncor terpancang di regol-regol rumah yang besar dan di simpang simpang ampat terpenting di-padukuhan. Sejak terbetik berita tentang hantu keranda, maka jarang sekali ada orang yang berani keluar setelah gelap. Bahkan gardu-gardupun menjadi kosong. Satu dua orang yang mempunyai keberanian mencoba untuk mengintip dari belakang dinding padukuhan. Tetapi mereka tidak pernah dapat melihat keranda yang berjalan sendiri itu. Justru orang yang tidak sengaja untuk melihatnya, sekali-sekali pernah ada yang sempat melihatnya.

Tetapi akhirnya Sura, dan ketiga orang kawannya berhasil melihat keranda yang dikiranya dapat berjalan sendiri itu, sehingga justru ada diantara mereka yang menjadi sakit. Tetapi Paksi Pamekas sama sekali tidak takut bertemu dengan keranda yang dapat terbang. Meskipun demikian ia harus berhati-hati, karena disekitar keranda itu terdapat sekitar sepuluh orang yang berpakaian serba hitam. Jika orang-orang itu menyadari, bahwa rahasia mereka diketahui, maka mereka tidak akan segan-segan menyingkirkan orang yang mengetahui rahasia mereka itu. Beberapa lama Paksi berjalan di tengah-tengah bulak yang luas itu.

Tetapi Paksi sudah menduga bahwa keranda yang belum lama lewat, hari itu tidak akan lewat. Apalagi keranda itu hanya lewat di hari-hari tertentu saja. Semakin lama maka langkah Paksi menjadi semakin jauh dari padukuhan. Sementara malam menjadi semakin malam. Disimpang ampat ditengah bulak, Paksi berhenti. Dipandanginya padukuhan yang nampak kehitam-hitaman. Seleret sinar oncor memancar menyusup disela-sela dedaunan. Paksi harus menunda perjalanan panjangnya yang tidak diketahuinya kemana. la tidak merasa bersalah jika ia berhenti di padukuhan itu beberapa hari. Bahkan sampai sepuluh hari, karena ia memang tidak dibatasi oleh waktu. Bahkan tiba-tiba terngiang kembali suara ibunya melengkah ”Kau sengaja mengusirnya.”

 Tetapi ayahnya selalu menjawab” Ia sudah menginjak tujuhbelas tahun.” Paksi menarik nafas panjang. Namun tiba-tiba saja Paksi terkejut. Dibawah sebatang pohon randu yang tumbuh di pinggir simpang ampat itu ia melihat sesuatu yang bergerak. Bahkan kemudian menjadi semakin jelas baginya, bahwa yang bergerak itu adalah seseorang yang sedang duduk bersandar batang pohon randu itu. Paksi melangkah surut. Sementara orang yang duduk bersandar pohon randu itu seakan-akan tidak menghiraukannya. Paksi memang tidak ingin membuat persoalan. Karena itu, Maka Paksipun merasa lebih baik ia pergi tanpa mengganggu orang itu.

Namun ketika ia melangkah menjauh, terdengar orang itu berkata ”Kau kira begitu saja kau dapat pergi?” Paksi berhenti. Sambil menghadap kearah orang itu, Paksi bertanya ”Apakah maksud Ki Sanak?” “Kau telah mengetahui rahasiaku. Rahasia keranda terbang itu, serta kau telah melihat tempat kami menyimpan benda-benda rampokan itu.” Jantung Paksi berdentang semakin cepat. Ternyata orang itu mengerti bahwa ia telah mengetahui rahasia hantu keranda itu. ”Apakah kau salah seorang dari mereka ?” bertanya Paksi Orang itu masih tetap duduk. Dengan suara yang seakan-akan bergulung didalam mulutnya, ia menjawab ”Ya. Aku salah seorang dari mereka.”

 Paksi termangu-mangu sejenak. Namun dadanya mulai bergejolak. Jika benar orang itu salah seorang dari para perampok yang membuat hantu-hantuan serta yang telah menyembunyikan barang-barang hasil rampokan itu, maka ia harus benar-benar mempertahankan hidupnya. Tetapi Paksi masih tetap berdiri ditempatnya karena orang yang duduk dibawah pohon randu itupun masih saja duduk ditempatnya pula. Namun kemudian terdengar orang itu berkata ”Anak muda. Kau telah bermain dengan api. Adalah salahmu jika api itu menjilat dan membakar tubuhmu.”

Paksi menyadari, bahwa ia tidak akan dapat mengelak lagi. Tetapi apa boleh buat. Ia harus berani memikul tanggung jawab atas perbuatannya sendiri sebagaimana dikaitkan oleh orang itu. Tiba-tiba saja keberaniannya telah menghangatkan darahnya. Dengan suara yang mantap Paksi bertanya ”Apa yang kau kehendaki Ki Sanak.” “Nyawamu” jawab orang itu.

“Ambillah sendiri” jawab Paksi. Orang itu mulai bangkit. Ia berdiri dibawah pohon randu alas itu. Gelap malam telah mengaburkan wajah orang itu, sehingga Paksi tidak dapat melihat dengan jelas. Tetapi yang nampak dimatanya dalam keremangan malam adalah tubuhnya yang gagah, tinggi dan besar. “Menyerahlah” suaranya terdengar serak. “Untuk apa aku menyerah?” bertanya Paksi. “Aku akan membunuhmu.” “Kau kira aku apa?” Paksi justru bertanya dengan nada yang mantap. Pengalaman hidupnya membuat Paksi tidak mengenal takut lagi.

Bahwa ia seakan-akan telah terbuang dari rumahnya membuatnya tidak peduli lagi apa yang terjadi biarlah terjadi. Bahkan kematian tidak lagi menghantuinya. Orang itu mulai melangkah mendekat. Katanya ”Kau akan aku bunuh dengan caraku.” “Jika kau benar-benar akan membunuhku, maka akupun harus berusaha untuk mempertahankan hidupku. Jika karena aku mempertahankan diri terjadi sesuatu atasmu, aku tidak bertanggung jawab.”

 “Bersiaplah anak yang sombong. Kau tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mundur.” Paksipun segera mempersiapkan diri. Meskipun ia masih terhitung sangat muda diumurnya yang tujuhbelas itu, namun Paksi pernah menyadap ilmu dari seorang guru yang berilmu tinggi. Karena itu, ketika hidupnya terancam, maka ia akan mempertahankan dirinya dengan ilmunya sejauh yang dikuasainya. Demikianlah, maka pertempuranpun tidak dapat dihindarinya lagi. Dengan garangnya orang yang semula duduk dibawah pohon randu itupun mulai menyerangnya. Tetapi Paksipun telah bersiap sepenuhnya. Karena itu, ketika serangan itu datang,maka Paksipun dengan tangkasnya telah mengelak. Bahkan dengan cepat, Paksi telah membalas menyerangnya.

Tetapi orang itupun mampu bergerak cepat pula. Serangan Paksipun sama sekali tidak menyentuhnya. Ketika Paksi memburunya dengan serangan berikutnya, maka orang itu justru telah membenturnya. Serarigan kaki paksi yang terjulur mengarah ke dada, telah ditangkis lawannya dengan kedua tangannnya yang bersilang didadanya. Paksi yang belum mengetahui seberapa besar kekuatan dan tenaga lawannya telah terdorong selangkah surut.

Namun Paksi tidak berkecil hati. Lawannya ternyata juga tergetar dan surut selangkh pula. Demikianlah, keduanyapun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Keduanya saling menyerang, bertahan dan menghindar. Dalam pertempuran yang semakin cepat itu, Paksi berusaha untuk dapat mengenali lawannya. Dalam keremangan malam, Paksi melihat bahwa lawannya itu adalah seorang yang cacat. Meskipun dalam gelap, tetapi setiap kali Paksi sempat melihat wajah yang cacat itu. Ternyata orang itu merasa, bahwa Paksi memperhatikan cacat di wajahnya.

Karena itu, maka orang itupun telah meloncat mengambil jarak sambil bertanya ”Kau memperhatikan cacat diwajahku?” “Ya” jawab Paksi berterus-terang. Orang itu tertawa. Katanya ”Aku adalah seorang penjahat yang sudah berpuluh tahun melakukan kejahatan. Aku pernah menjadi pencopet kecil. Pencuri ayam dan jemuran. Aku pernah menjadi penyamun di tempat-tempat sunyi. Kemudian aku menjadi perampok dan bahkan perampok dilaut. Selama berpuluh tahun aku ditempa oleh kerasnya duniaku. Cacat di tubuhnya terjadi disepanjang pengalamanku yang luas itu. Aku pernah disangka mati karena dipukuli orang sepasar. Tubuhku dilemparkan begitu saja ke jurang tidak terlalu jauh dari pasar itu “Jangan membual” potong Paksi.

 “Kau menjadi ketakutan mendengar petualanganku?” bertanya orang itu. “Sama sekali tidak” jawab Paksi ”jika sampai hari ini kau masih sempat bertualang, maka malam ini petualanganmu akan berakhir disini.” Orang itu tertawa semakin keras. Katanya ”Kau benar-benar anak yang sombong. Tetapi kau akan segera menyesali kesombonganmu itu.” “Aku sudah siap apapun yang terjadi” jawab Paksi. Orang itu tidak segera menyerang lagi. Tetapi iapun berkata ”Lihat, betapa wajahku menjadi cacat. Kakiku sedikit timpang. Bekas luka yang terdapat dimana-mana. Tetapi ilmukupun meningkat di setiap goresan yang terdapat pada tubuhku.” “Aku tidak peduli. Tetapi aku akan mempertahankan hidupku.” Orang itupun mulai melangkah mendekat lagi. Dengan cepat orang itu telah menyerang pula. Pertempuranpun telah menyala kembali. Keduanya bergerak semakin cepat. Serangan demi serangan telah dilakukan oleh kedua belah pihak. Orang yang berwajah dan bertubuh cacat itu ternyata semakin lama menjadi semakin garang. Serangan-serangannya menjadi semakin cepat dan semakin keras. Tetapi Paksipun telah meningkatkan kemampuannya pula. Pada umurnya, Paksi memiliki tenaga yang mantap. Kebiasaannya bermain dengan permainan keras telah membantu meningkatkan kekuatan dan ketahanan tubuhnya. Kesenangannya bergulat ditepian membuat tubuhnya semakin liat dan tahannyapun menjadi semakin tinggi. Karena itu maka setelah bertempur beberapa lama, tenaga Paksipun masih belum menyusut. Tetapi pengalaman orang cacat itu memang jauh lebih luas dari Paksi. Karena itu, maka setiap kali serangan orang itu mengejutkan Paksi. Namun betapapun Paksi mengerahkan kemampuannya, orang itu ternyata mampu menembus pertahanannya. Serangan-serangannya sekali-sekali telah menyentuh tubuhnya. Tetapi setelah bertempur beberapa lama, Paksi mulai melihat celah-celah pertahanan lawannya. Paksi yang kemudian mengalami kesulitan itu, tidak lagi sekedar bertempur dengan unsur-unsur gerak yang dikuasainya. Tetapi ia harus mempergunakan penalarannya sebaik-baiknya. Ia harus membuat perhitungan-perhitungan dengan cepat, tetapi cermat agar tidak justru membuatnya semakin sulit. Ketika Paksi harus meloncat menjauhi lawannya untuk mengambil jarak, ia melihat bahwa lawannya tidak terlalu cepat menyusulnya. Terasa ada tenggang waktu sekejap sebelum lawannya melibatnya lagi dalam pertempuran yang sengit. Sekali dua kali Paksi mencoba, Sehingga iapun dapat mengambil kesimpulan bahwa lawannya kurang memiliki ketangkasan untuk bertempur dengan loncatan-loncatan panjang. Dengan demikian, maka Paksi telah memilih cara yang justru tidak disukai lawannya. Paksi bertempur pada jarak yang dipeliharanya dengan baik. Ternyata Paksi berhasil mempersulit kedudukan lawannya. Tetapi setiap kali pengalaman orang cacat yang luas itu, terasa sangat berpengaruh dalam pertempuran itu. Orang cacat itu tidak mau terpancing dalam pertempuran dengan jarak yang panjang. Setiap kali Paksi meloncat menjauh, lawannya tidak tergesa-gesa memburunya. Tetapi ia justru melangkah satu-satu mendekatinya. Paksilah yang kemudian menjadi tidak telaten. Ia menjadi tidak,sabar lagi,sehingga ia tidak berpegang teguh pada perhitungannya. Dengan demikian, maka serangan-serangan lawannya itu menjadi semakin sering menembus pertahanan anak muda itu. Ketika Paksi menjulurkan kakinya menyerang kearah lambung lawannya, maka orang cacat itu justru menjatuhkan dirinya. Kakinya dengan cepat menyapu kaki Paksi yang lain, sehingga Paksi telah menjadi kehilangan keseimbangan. Karena itu, maka Paksipun telah terjatuh. Tetapi iapun dengan cepat bergulir. Dengan tangkas pula Paksi segera meloncat bangkit. Tetapi diluar dugaan. Lawannya yang timpang, yang selalu menghindari pertempuran dengan jarak yang panjang, mampu meloncat dengan cepat. Ternyata Paksi terkejut. Tetapi ia terlambat menghindar. Tangan orang itu dengan cepat menghantam perutnya. Diluar sadarnya, Paksi terbungkuk. Namun dengan cepat pula lawannya memegang kepalanya. Dengan kerasnya kepala Paksi telah membentur lutut oranng yang timpang itu. Mata Paksi menjadi gelap. Tetapi ia tidak mau kehilangan kesadarannya. Bahan dengan cepat ia surukkan kepalanya keperut lawannya. Keduanya terjatuh berguling di Tanah, Namun Paksi tidak ingin menjadi sasaran seranganserangan lawannya. Meskipun perutnya masih terasa mual serta kepalanya maih angat pening, tetapi Paksi telah bersiap kembali untuk bertempur. Pada saat yang sama, lawannya telah bangkit pula. Bahkan dengan cepat ia telah menyerang Paksi. Sambil meloncat orang itu telah menjulurkan tangannya kearah dada. Tetapi Paksi dengan cepat bergeser kesamping. Justru pada saat tangan lawannya terjulur, Paksi telah menyerang lambung orang'itu dengan kakinya. Meskipun orang itu menggeliat, tetapi kaki Paksi masih dapat menggapainya, sehingga orang yang sedang meluncur itu telah terdorong kesamping dan jatuh berguling. Tetapi orang itu kurang beruntung, bahwa ia tidak memperhatikan parit yang membujur dipinggir jalan, sehingga ia justru terperosok kedalamnya. Dengan cepat orang itu bangkit. Pakaian dan tubuhnya menjadi basah kuyup. Karena hal itu tidak terduga, maka beberapa teguk air telah masuk kedalam kerongkongannya. Ketika orang itu sibuk mengusap wajahnya, serangan Paksi telah datang lagi. Kakinya dengan cepat sekali terjulur menyambar kening orang itu. Sekali lagi orang itu terlempar. Bahkan orang itu telah terlempar kedalam lumpur di kotak sawah yang basah. Paksi yang ingin mengambil kesempatan tidak menunggunya. Dengan cepat ia memburu lawannya. Demikian lawannya bangkit, maka tangannya telah menyambar dagu. Gigi orang itu terdengar gemeretak. Dengan kasarnya orang itu mengumpat. Tetapi ketika dengan satu putaran kaki Paksi menyambar dadanya, maka orang itu telah terlempar jatuh. Dengan cepat orang itu bangkit. Tetapi ia tidak berusaha menyerang Paksi. Dengan sertamerta, maka orang itupun telah melarikan dirinya kedalam kegelapan. Beberapa puluh langkah Paksi mengejarnya. Tetapi kemudian iapun telah menghentikan usahanya untuk menangkap orang itu. Karena itu, maka Paksipun kemudian berhenti. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia harus terlibat dalam pertempuran dengan salah seorang diantara para perampok yang telah membuat hantu-hantuan itu. Bahkan hampir saja ia terdesak. Jika ia gagal mempertahankan dirinya, maka nyawanya tentu benar-benar akan dihabisi oleh orang itu. Paksi berdiri termangu-mangu sejenak. Angin terasa semilir menghembus kulitnya. Ketika Paksi menengadahkan wajahnya, dilihatnya langit bersih. Bintang-bintang berkeredipan kebatas cakrawala. Namun tubuh Paksi semakin terasa nyeri. Tulang-tulangnya bagaikan menjadi retak. Sedangkan kepalanya masih saja terasa pening. Sejenak Paksi berdiri termangu-mangu. Namun kemudian iapun membenahi pakaiannya. Ketika ia melangkah kembali ke padukuhan, sendi-sendinya terasa sakit. Ketika Paksi memasuki regol halaman rumah Sura, ternyata Sura masih duduk disebuah lincak bambu yang panjang di serambi. Demikian ia melihat Paksi memasuki regol halaman dan keremangan malam, Surapun segera bangkit dan menyongsongnya. “Kau membuat aku cemas, ngger.” Paksi menarik nafas panjang. Namun iapun bertanya pula ”Pertemuan di rumah Ki Bekel itu begitu cepat selesai?” “Pertemuan itu cukup lama, ngger. Kaulah yang pergi terlalu lama. Kita sudah berada dibelahan malam terakhir.” Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tengah malam memang sudah lewat. Agaknya ia bertempur cukup lama pula. “Marilah ngger” ajak Sura ”sudah waktunya kita beristirahat.” Keduanyapun melangkah keserambi. Namun Paksipun berkata”Aku akan pergi ke pakiwan paman.” “Baiklah. Tetapi lewat pintu butulan saja.” “Aku akan masuk lewat pintu butulan.” Paksipun kemudian langsung pergi ke pakiwan lewat samping rumah meskipun Sura mengajaknya lewat ruang dalam rumahnya. Paksi memang harus membersihkan tubuhnya dari debu dan lumpur. Tetapi ia tidak dapat membersihkan pakaiannya malam itu. Ketika Paksi masuk keruang dalam lewat pintu butulan, Sura terkejut. Ia melihat wajah anak itu lembab kebiru-biruan dekat arah matanya, langkah Paksipun menjadi berat dan bahkan kaki kanannya menjadi sedikit timpang. “Apa yang terjadi, ngger?” Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sura kemudian menggandengnya dan mempersilahkannya duduk diatas tikar pandan. Paksi yang nampak sangat letih dan sekali-sekali memegang perutnya yang sakit dan mual, duduk sambil menundukkan wajahnya. Ketika ia mencuci mukanya, terasa wajahnya menjadi pedih.

“Apa yang terjadii?” Sura mendesaknya ”aku sudah gelisah menunggumu. Ternyata kau telah mengalami sesuatu.”

“Aku berjalan-jalan sampai keluar padukuhan ini paman. Tetapi malang, aku bertemu dengan ialah seorang dari para perampok itu. Ketika aku diserang, aku mencoba untuk bertahan. Tetapi inilah yang terjadi. Tetapi aku masih beruntung bahwa aku sempat lari” jawab Paksi merendahkan

diri agar orang-orang padukuhan itu tidak terlalu menaruh pengharapan kepadanya jika ternyata kelak mereka benar-benar harus menghadapi Kebo Lorog.

Sura mengerutkan dahinya. Diluar sadarnya iapun berdesis ”Sokurlah bahwa kau dapat melepaskan dirimu.

Paksi tidak menyahut. Tetapi ia melihat sesuatu yang terbersit di hati Sura.

Meskipun ragu-ragu, Sura itupun bertanya ”Tetapi bagaimana peristiwa itu terjadi? Apakah kau tahu pasti, bahwa orang itu salah seorang diantara para perampok itu?”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata ”Orang itu tiba-tiba saja menuduhku, bnhwa aku telah mengetahui rahasianya. Aku tidak tahu, apakah ia benar-benar mengetahui bahwa aku menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh para perampok itu atau sekedar mencari alasan untuk melakukan kekerasan. Tetapi agaknya orang itu benar-benar ingin membunuhku.”

Sura mengangguk-angguk. Katanya ”Jika demikian, kita memang harus berhati-hati.

Nampaknya mereka sudah membuat persiapan-persiapan menjelang kehadiran Kebo Lorog.”

“Mungkin sekali, paman.”

“Karena itu, besok jangan berjalan-jalan setelah lewat senja. Nampaknya keadaan menjadi gawat. Bukan saja ceritera tentang hantu keranda, tetapi orang-orang itu telah langsung melakukan kekerasan.”

Paksi mengangguk-angguk kecil sambil menjawab ”Baik, paman.”

“Bila Kebo Lorog itu benar-benar akan datang saat padukuhan ini merti desa, maka keadaan akan menjadi gawat.”

“Tetapi apakah paman dan para bebahu padukuhan ini pasti, bahwa Kebo Lorog akan melakukan tindakan kekerasan terhadap padukuhan ini. Aku sekedar melihat hasil kerja orangorangnya yang berkeliaran disekitar tempat ini dan menyembunyikan harta-bendanya di kuburan itu?”

“Kita memperhitungkan keadaan yang paling gawat yang mungkin terjadi, ngger.” jawab Sura

”kita semuanya memang berharap bahwa Kebo Lorog tidak akan mengganggu padukuhan ini.

Tetapi jika gangguan ini terjadi, maka kita tidak akan tinggal diam.” Paksi mengangguk-angguk. Sementara Sura itu berkata selanjutnya ”Karena itu, maka kita akan mempersiapkan diri sejauh dapat kita lakukan. Kita harus mempertahankan harga diri agar kita untuk selanjutnya tidak akan menjadi ampas kelapa yang diperah sampai kering.

Paksi memandang wajah Sura sejenak. Wajah itu nampak bersungguh-sungguh. Bahkan sekali dua kali Sura mengusap keringatnya yang mengembun di kening.

Paksi mengerti, bahwa persoalan yang telah dibicarakan oleh Ki Bekel dengan para bebahunya itu dianggap persoalan yang gawat sekali, karena akan menyangkut kehidupan di padukuhan itu. Dengan ragu-ragu Paksipun kemudian bertanya ”Paman jadi apakah yang akan dilakukan oleh Ki Bekel dan para bebahu menghadapi kemungkinan kedatangan Kebo Lorog?”

“Kita akan bersiap. Ki Jagabaya akan mengumpulkan anak-anak muda serta laki-laki yang berani serta masih mempunyai kemampuan untuk berkelahi. Ada tiga atau empat orang bekas prajurit di padukuhan ini yang akan diminta kesediaannya memimpin perlawanan. Selain mereka, Ki Jagabaya, Ki Bekel sendiri dan adik Ki Bekel yang bernama Adeg Panatas itu.”

Paksi menarik, nafas dalam-dalam. Agaknya para penghuni padukuhan ini akan mengerahkan segenap kekuatan yang ada untuk melindungi diri sendiri.

Namun Paksi itupun berkata ”Paman. Jika persiapan itu diketahui oleh para pengikut Kebo Lorog, apakah bukan berarti bahwa kita justru mengisyaratkan agar Kebo Lorog datang dengan kekuatan yang lebih besar.”

Sura mengerutkan dahinya. Sambil mengangguk kecil Sura berkata ”Memang mungkin sekali.

Persiapan-persiapan yang kita lakukan akan membuat Kebo Lorog dan para pengikutnya menjadi berhati-hati serta memuat perhitungan yang lebih bersungguh-sungguh.”

“Jika terjadi demikian, maka keadaan padukuhan ini akan dapat menjadi parah sekali.”

“Ya. Seharusnya hal ini juga diperhitungkan.” Sura mengangguk-agguh. Lalu katanya pula ”Biarlah besok aku bertemu dengan Ki Jagabaya.”

“Agaknya Ki Jagabaya juga perlu diberi tahu, bahwa orang-orang yang membuat hantuhantuan itu adalah orang-orang yang sangat garang. Mereka tidak ragu-ragu untuk bertindak kasar.”

Sura mengangguk-angguk. Paksi sendiri sudah mengalaminya. Untunglah bahwa Paksi dapat melarikan diri.

Karena malam menjadi semakin dalam, maka Sura itupun kemudian telah mempersilahkan Paksi untuk beristirahat. Tetapi ketika Sura sempat memperhatikan pakaian Paksi, maka iapun

telah menawarkan untuk meminjami Paksi sepengadeg pakaiannya.

“Terima kasih, paman” jawab Paksi yang mulai merasa gatal-gatal dengan pakaiannya yang kotor dan berlumpur.

Malam itu Paksi mendapat sepengadeg pakaian dari Sura, sehingga besok ia dapat mencuci pakaiannya yang dipakainya sejak ia meninggalkan rumahnya.

Disisa malam itu, Paksi berbaring di bilik yang diperuntukkan baginya. Meskipun agak sulit, tetapi akhirnya Paksipun tertidur pula. Namun jika sekali-sekali ia terbangun, maka badannya masih terasa nyeri dibeberapa bagian. Kepalanya masih penang dan perutnya masih mual.

Tetapi ketika ia terbangun menjelang matahari terbit, tubuhnya terasa semakin segar. Apalagi setelah ia menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan, kemudian mandi dengan air dingin.

Hari itu, pagi-pagi Sura mengajak Paksi untuk menemui Ki Jagabaya. Sura berusaha menjelaskan bahwa persiapan yang berlebihan justru akan memancing perhatian para pengikut Kebo Lorog. Dengan demikian, mereka akan memperkuat barisan mereka jika mereka memang inlgin menguasai padukuhan itu.

Ki Jagabayapun ternyata menganggap pendapat itu masuk akal. Karena itu, maka iapun berkata ”Kami akan menghimpun orang-orang yang sudah siap untuk terjun ke medan pertempuran untuk melawan para perampok. Selebihnya baru anak-anak muda di padukuhan untuk melawan para perampok. Selebihnya baru anak-anak muda di padukuan ini.”

“Bagaimana kita mempersiapkan mereka tanpa menarik perhatian?”

“Kita akan menentukan orang-orang tertentu untuk memimpin sekelompok kecil anak-anak muda dari tiga atau ampat orang. Mereka harus mempersiapkan kelompok mereka masing-masing bisa sampai saatnya mereka tidak mengecewakan. Tetapi persiapan yang tinggal sedikit itu tidak akan menarik perhatian.”

Sura mengangguk-angguk sambil berkata ”Juga untuk menghindari kecurigaan, merti desa akan” berlangsung seperti biasanya. Ki Bekel sudah berjanji untuk menyelenggarakan tari tayub di bulak sawah padukuhan kita sesudah padi dituai.”

“Besok kita sudah mulai menuai padi di bulak itu.”

“Ya. Kita akan menyelenggarakan merti desa menurut hari yarig sudah kita tentukan.”

Ternyata Ki Jagabaya kemudian telah menjalankan tugasnya dengan baik. Sementara Ki Jagabaya mempersiapkan perlawanan dengan diam-diam, maka Ki Bekel dan bebahu yang lain telah mempersiapkan sebuah keramaian untuk merti desa.

Dalam pada itu, maka para perampokpun telah brsiap-siap sebaik-baiknya pula untuk menyambut kedatangan salah seorang pemimpin mereka, Kebo Lorog.

Jika Kebo Lorog hadir dilingkungan itu, maka Kebo Lorog akan melihat hasil kerja mereka.

Barang-barang yang telah mereka simpan di kuburan, serta keramaian merti desa di padukuhan sebelah.

“Apakah orang-orang padukuhan itu bersedia menerima kita untuk ikut hadir dalam keramaian merti desa itu?” desis salah seorang perampok itu.

Kawannya tertawa. Katanya ”Sambil membawa keranda?”

Kawan-kawannya yang lainpun tertawa. Namun seorang dari mereka berkata ”Bersedia atau tidak, kita akan menentukan sikap kita sendiri.”

“Maksudmu?”

“Disaat mereka sedang menyelenggarakan keramaian, kita akan lewat. Jangan terlalu dekat.

Maka mereka akan menjadi sangat ketakutan. Keramaian itu akan bubar. Masing-masing akan melarikan diri dan pulang dengan tubuh gemetar.”

“Apa keuntungan kita?” bertanya seorang kawannya.

“Hari itu memang tidak ada. Tetapi pada kesempatan lain, jika kita memasuki padukuhan itu dan mengambil harta-benda yang tersimpan didalamnya, tidak akan ada seorangpun yang berani keluar rumahnya. Kita akan dapat dengan leluasa melakukannya.”

“Kita membawa barang-barang itu dengan keranda?

“Justru tidak. Keranda itu akan kita tutup agar tidak kelihatan.” jawab orang yang berbicara terdahulu” hanya jika terjadi ditempat lain yang agak jauh, keranda itu akan nampak memasuki kuburan itu dan hilang diluar regol.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka mengerti bahwa jika perampokan itu terjadi di tempat yang terlalu dekat dengan terlihatnya keranda yang berjalan, apalagi di padukuhan sebelah, orang-orang dari padukuhan itu akan mempertanyakan, apakah memang ada hubungannya antara perampokan itu dengan keranda yang lewat.

Demikianlah hari-haripun menjadi semakin dekat. Padi disawah sebagian besar sudah dibawa pulang dan disimpan dilumbung. Jerami di sawah sudah mulai dibabat, ditimbun dibeberapa tempat diantara kotak-kotak sawah dan kemudian dibakar. Abunya akan dapat menjadi pupuk selain beberapa pupuk yang lain, termasuk pupuk kandang. Di kotak sawah Ki Bekel yang juga sudah dituai, telah dibuat tratag anyaman bambu. Sebuah tratag bertiang baimbu yang akan dipergunakan oleh para penari tayub untuk menari serta bagi para pengiring gamelan. Alas dari tratag itupun dibentangkan anyaman bambu pula. Dari kejaunan satu dua orang perampok ikut menyaksikan orang-orang padukuhan yang sibuk itu. Setiap kali mereka tertawa membayangkan apa yang bakal terjadi pada saat keramaian itu diselenggarakan. Jika sebuah keranda berjalan sendiri dikejauhan, maka mereka yang ikut menyaksikan tari tayub itu berlari meninggalkan tempat itu pulang kerumah masing-masing. Mereka akan menjadi sangat ketakutan, sehingga dimalam malam berikutnya mereka tidak akan berani keluar setelah gelap turun. Keyakinan itulah yang kemudian akan mereka sampaikan kepada Kebo Lorog. Peristiwa itu akan dapat menjadi bahan tontonan yang sangat menarik bagi pemimpin mereka yang sangat mereka takuti itu. Sementara itu, orang-orang di padukuhan itupun sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Beberapa orang yang dianggap memiliki bekal untuk turun tangan jika benturan kekerasan itu benar-benar terjadi, telah menyiapkan masing-masing dua atau tiga orang anak muda. Seorang bekas prajurit yang meskipun rambutnya sudah beruban, tetapi masih tegar, telah mengajari tiga orang anak muda, bagaimana mereka harus mempergunakan senjata. Sementara itu, kepada mereka Sura dan Mertawira telah berusaha meyakinkan, bahwa tidak ada hantu keranda. Yang ada adalah sebuah tipuan untuk mengelabuhi orang-orang padukuhan. Bukan hanya padukuhan mereka, tetapi beberapa orang padukuhan yang lain. Sementara itu ceritera dari mulut kemulut yang merambat dari padukuhan ke padukuhan telah menyebar ketempat yang luas. Bahkan telah merambat keluar Kademangan. Karena itu, menjelang malam yang biasanya menggembirakan bagi seisi padukuhuan itu, bahwa ceritera tentang keranda itu tidak lebih dari sebuah mimpi buruk. “Tidak ada keranda yang dapat berjalan sendiri” berkata Ki Jagabaya tanpa menceriterakan bahwa dua orang penghuni padepokan itu sudah dapat memberi kesaksiannya. Ki Jagabaya memang harus memberikan keterangan yang berbeda kepada orang-orang padukuhan itu, agar kesiagaan seisi padukuhan itu sudah dapat memberikan kesaksiannya. Ki Jagabaya memang harus memberikan keterangan yang berbeda kepada orang-orang padukuhan itu, agar kesiagaan seisi padukuhan itu tidak didengar oleh para perampok yang akan menyambut kedatangan pemimpin mereka. Tidak sebagaimana Sura dan Mertawira meyakinkan anak-anak muda di padukuhan itu. Meskipun demikian, Ki Jagabaya, Ki Bekel dan para bebahu padukuhan itu mengerti, bahwa usaha untuk menjebak orang yang bernama Kebo Lorog itu adalah satu kerja yang mengandung kemungkinan yang sangat buruk bagi padukuhan mereka. Tetapi kehadiran adik Ki Bekel yang sudah lama meninggalkan padukuhan, yang agaknya telah menyadap ilmu kanuragan itu, telah memberikan harapan baru bagi Ki Bekel dan para bebahu. Hari-hari yang mendebarkan itupun akhirnya datang juga. Sebagian dari orang-orang padukuhan itu memang mulai percaya, bahwa memang tidak ada keranda yang berjalan sendiri. “Siapa yang pernah melihatnya?” bertanya Ki Jagabaya” semua orang mengatakan, kata orang. Jika ada orang yang merasa pernah melihat, keterangannya sangat meragukan. Karena itu, jangan takut. Kita akan merayakan keberhasilan panen kita seperti biasanya. Sebagian orang-orang padukuhan itu sependapat dengan Ki Jagabaya. Keranda yang berjalan sendiri itu tidak lebih dari cerita ngaya-wara. Dalam pada itu, para pengikut Kebo Lorog yang semula memang sedikit ragu, apakah merti desa di padu kuhan itu dapat berlangsung,seperti biasanya, menjadi semakin mantap. Jika orangorang padukuhan yang terlanjur menjadi ketakutan itu urung merayakan kegembiraan atas hasil panen mereka maka pertunjukan yang menarik itu tidak dapat mereka perlihatkan kepada Kebo Lorog. Mereka tidak akan dapat melihat bagaimana orang-orang yang sedang mengikuti keramaian merti desa itu lari tunggang langgang, saling bertubrukan serta berteriak-teriak ketakutan melihat keranda yang berjalan sendiri agak jauh dari tempat keramaian itu, menuju ke kuburan. Sementara itu, disebuah rumah yang terhitung besar, di sebuah padukuhan yang lain, beberapa orang tengah menunggu, Dirumah itu tinggal seorang yang termasuk disegani oleh tetangganya, karena orang itu terhitung orang yang kaya di padukuhannya. Bukan saja seorang yang kaya, tetapi ia juga dianggap seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Tidak seorangpun yang pernah berprasangka buruk terhadap Ki Putuhu, pemilik rumah itu meskipun kadang-kadang satu dua orang tetangganya merasa heran, dari manakah datangnya kekayaan Ki Putuhu itu. Menilik sawahnya yang tidak terlalu luas serta sehari-harian ia lebih banyak dirumah, maka menurut penalaran mereka, penghasilannya tentu tidak begitu banyak. Sedangkan menurut pengetahuan tetangga-tetangganya. Ki Pituhu juga tidak pernah mendapatkan warisan yang cukup, karena orang tuanya juga bukan orang berada. Namun bagi tetangga-tetangganya, Ki Putuhu adalah seorang yang sangat baik. Ia seorang yang sangat sering sekali memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Juga kepada padukuhannya, Ki Putuhu sering memberikan sumbangan yang berarti. Tidak seorangpun yang pernah mencurigai bahwa dirumah Ki Pituhu yang baik itu tinggal beberapa orang yang hari itu sedang menunggu kehadiran seseorang yang bernama Kebo Lorog. Ketika dua orang yang bertubuh tinggi tegap dan berwajah garang berjalan melalui jalan padukuhan, memang tidak banyak menarik perhatian. Seorang anak muda yang kebetulan memperhatikan kedua orang itu, sempat juga bertanya didalam hatinya, siapa sajakah kedua orang yang lewat itu. Tetapi karena keduanya berada di jalan yang banyak dilalui orang yang memang tidak dikenalinya, maka anak muda itu menganggap bahwa keduanya adalah orang yang lewat sebagaimana orang yang lain. Apalagi kedua orang itu sama sekali tidak menunjukkan sikap yang mencurigakan. Mereka berjalan sebagaimana orang lain berjalan. Sedikit berbincang dan kadang-kadang memperhatikan keadaan disekitainya. Karena itu maka anak muda itu tidak menghiraukannya lagi, Sehingga dengan demikian, maka anak muda itu tidak tahu, bahwa kedua orang itu telah memasuki regol halaman rumah Ki Putuhu. Kedatangan kedua orang itu telah disambut dengan hangat oleh orang-orang yang memang sudah nenunggu dirumah Ki Putuhu, terutama Ki Putuhu sendiri. “Marilah, kakang” Ki Putuhu itu mempersilahkan. Kedua orang itupun kemudian naik ke pendapa dan duduk diantara beberapa orang yang menunggunya. “Aku sudah menjadi cemas, bahwa kakang tidak jadi datang hari ini.” “Apakah aku sering ingkar janji?” jawab salah seorang dari kedua orang itu. “Tidak, Kakang Kebo Lorog memang tidak pernah ingkar janji” desis Ki Putuhu ”karena itu, kami sudah menunggu kakang disini bersama beberapa orang kawan kami,” “Aku ingin melihat apa yang telah kalian lakukan disini, Aku sudah mendengar permainan kalian dengan hantu-hantuan itu,” “Apakah cara itu menarik perhatian kakang Kebo Lorog?” bertanya Ki Putuhu. ”Aku sedang mempelajarinya.” Jawab Kebo Lorog, “Besok malam keramaian merti desa itu akan diselenggarakan, Besok malam kami akan mempertunjukkan tontonan yang tentu menarik bagi kakang Kebo Lorog.” “Tontonan apa?” “Keranda itu akan berjalan tidak jauh dari tempat keramaian itu diadakan.” Sebelum Ki Putuhu berceritera lebih lanjut, Kebo Lorog sudah tertawa lebih dahulu, Katanya ”Kau akan menunjukkan kepadaku, bagaimana orang-orang padukuhan itu berlarian kalang kabut.” “Ya” Ki Putuhupun tersenyum. Tetapi Kebo Lorog menggeleng sambil berkata ”Pertunjukan itu belum tentu dapat berlangsung.” “Kenapa?” bertanya Ki Putuhu, “Sejak sebelumnya orang-orang padukuhan itu sudah ketakutan. Karena itu, maka mereka tidak akan berani keluar dari rumah mereka setelah senja turun.” “Tetapi tratag sudah dibuat di sawah Ki Bekel. Nampaknya keramaian itu tetap akan diadakan.” jawab Ki Putuhu. “Mungkin saja. Tetapi apakah ada yang menonton atau tidak, kita masih belum dapat memastikannya” berkata Kebo Lorog. Namun iapun kemudian berkata ”Itu tidak penting. Yang penting bahwa kalian berhasil melakukan tugas kalian didaerah ini.” “Kami akan menunjukkan kepada Kakang Kebo Lorog. Kami simpan hasil kerja kami di kuburan.” “Kenapa tidak ditempat ini?” bertanya Kebo Lorog. “Nampaknya lebih aman disimpan di kuburan itu. Sebagian dari hasil kerja kami memang dibawa kerumah ini dan disimpan disini untuk satu dua pekan. Selanjutnya, semua kami bawa dan simpan di kuburan itu sekaligus sambil bermain hantu-hantuan.” “Apakah dirumah ini tidak dapat dijamin pengamanannya?” Ki Putuhu menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Rumah ini masih terhitung rumah warisan yang akan dimiliki oleh tiga orang, karena aku masih mempunyai dua orang bersaudara,” ”Dimana 'mereka sekarang?” “Keduanya perempuan. Mereka ikut suami mereka. Tetapi kadang mereka datang berkunjung kemari. Aku adalah yang tertua diantara kami bertiga, sehingga kedua adikku itu merasa wajib untuk setiap kali datang” jawab Ki Putuhu ”selebihnya aku harus mencurigai orang-orangku sendiri yang tidak terlibat dalam kerja ini.” “Maksudmu, siapakah mereka itu?” “Aku mempunyai beberapa orang yang membantu kesibukan keluarga kami. Ada yang mengurusi ternak dan kuda. Ada yang mengurusi sawah dan ladang dan ada pula yang membantu isteriku didapur, mencuci pakaian dan sebagainya. Aku mengkhawatirkan, bahwa tidak dengan sengaja mereka menemukan sesuatu yang dapat menarik perhatian mereka. Karena itu, barangbarang itu tidak boleh terlalu lama berada disini.” Kebo Lorog mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Kapan kita akan melihat hasil kerja kalian.” “Besok malam, setelah kita menonton pertunjukan yang kita harapkan dapat menarik itu.” jawab Ki Putuhu. Kebo Lorog mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bertanya ”Apakah pembantupembantumu itu tidak mencurigaimu jika dirumah ini terdapat beberapa orang seperti sekarang ini?” “Tidak. Menurut pengertian mereka, aku adalah seorang saudagar perhiasan, permata dan wesi aji, sehingga dengan demikian maka mereka tidak pernah menaruh perhatian terhadap tamutamuku yang mereka anggap kawan berdagang atau bahkan pembantu-pembantuku dalam perdagangan ini.” Kebo Lorog mengangguk-angguk. Sebenarnyalah orang-orang yang bekerja dirumah Ki Putuhu sama sekali tidak menghiraukan apa saja yang pernah dilakukan oleh Ki Putuhu. Meskipun ada diantara mereka yang sekali-sekali diganggu oleh pertanyaan dari-mana datangnya kekayaan Ki Putuhu, namun mereka berusaha untuk melupakannya. Mereka memang mencoba untuk meyakini bahwa Ki Putuhu adalah seorang saudagar perhiasan, permata dan wesi aji, meskipun Ki Putuhu nampaknya tidak benar-benar sibuk dengan kerja itu. Mereka juga tidak menghiraukan apakah banyak orang yang berdatangan di rumah Ki Putuhu. Yang penting mereka bekerja dirumah itu dengan upah yang memadai. Hari itu, Kebo Lorog dan seorang kawannya akan bermalam dirumah Ki Putuhu, Seorang yang mengendalikan para pengikut Kebo Lorog yang ada dilingkungannya. Namun yang oleh tetanggatetangganya dianggap seorang yang baik, dermawan dan rendah hati. Menjelang malam, Kebo Lorog dan kawannya bersama Ki Putuhu sempat melihat persiapan keramaian merti desa yang akan diselengarakan esok malam. “Nampaknya mereka bersungguh-sungguh” berkata Kebo Lorog. “Tayub” sahut Ki Putuhu ”dengan menyelenggarakan tari tayub sebagai pernyataan terima kasih atas keberhasilan panen mereka kepada Dewi Padi, mereka berharap bahwa pada kesempatan lain, panen mereka akan semakin baik” Kebo Lorog itu mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia merasa heran, kenapa orang-orang padukuhan itu masih juga berani menyelenggarakan keramaian jika untuk beberapa lama selalu dibayangi ketakutan karena hantu keranda itu. Hampir diluar sadarnya ia berkata ”Ternyata hantu-hatuan kalian tidak berhasil menakut-nakuti orang padukuhan itu.” “Selama ini padukuhan itu menjadi sepi, kakang. Bukan hanya padukuhan itu, tetapi beberapa padukuhan yang lain. Aku tidak tahu, apakah demikian kuatnya dorongang naluri mereka untuk menyelenggarakan keramaian itu sehingga mengatasi perasaan takut mereka. Tetapi besok kita akan membuktikan, bahwa mereka akan menjadi ketakutan.” Kebo Lorog mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa baginya tidak menjadi terlalu penting, apakah nereka menjadi ketakutan atau tidak. Yang menjadi perhatian utamanya adalah justru keberhasilan kerja para pengikutnya di lingkungan itu. Karena itu, maka Kebo Lorogpun tidak memperhatikan persiapan keramaian itu lebih lama lagi. Ia menjadi tertarik untuk melihat-lihat padukuhan-padukuhan yang lain disekitarnya. Lewat tengah malam, mereka telah berada di rumah Ki Putuhu kembali. Kebo Lorog dan kawannya yang sudah merasa letih itupun segera dipersilahkan beristirahat. Dihari berikutnya, mereka lebih banyak berada dirumah. Duduk-duduk sambil berbincang. Bersama beberapa orang pengikutnya yang hari itu ada dirumah Ki Putuhu, mereka tengah merencanakan niat Kebo Lorog untuk melihat harta benda yang disembunyikan di kuburan. “Aku tidak akan mengganggu milik kalian selain yang memang sudah kalian siapkan untuk kalian berikan kepadaku. Yang lain itu hak kalian.” berkata Kebo Lorog Ki Putuhu mengangguk-angguk. Katanya ”Kita sudah memisahkan yang terbaik yang akan kami serahkan kepadamu, Kakang.” “Aku juga tidak akan menyebutkan, apa yang aku inginkan dari barang-barang yang kalian simpan itu. Terserahlah kepada kalian berkata Kebo Lorog itu pula. “Setelah kita bermain-main dengan hantu-hantuan itu, kita akan ke kuburan.” “Persetan dengan keramaian itu,” desis Kebo Lorog. Ki Putuhu mengerutkan dahinya Tetapi ia tidak menjawab. Permainan yang akan menjadi salah satu tontonan yang menarik itu ternyata tidak dianggap penting oleh Kebo Lorog. “Tetapi ia akan senang melihatnya” berkata Ki Putuhu didalam hatinya. Dalam pada itu, dua orang pengikut Kebo Lorog telah memeritahukan, bahwa gamelan telah diletakkan dibawah tratag yang dibuat di tengah sawah itu. Mereka tidak lagi merasa ragu, bahwa keramaian itu akan berlangsung siang hari. “Keramaian itu tentu akan diselenggarakan seperti biasanya, dimalam hari” berkata salah seorang dari keduanya. Ki Putuhu tersenyum. Katanya ”Aku sedikit curiga, bahwa untuk mengatasi rasa takut mereka akan menyelenggarakan keramaian disiang hari.” “Tetapi tayub dan upacara terima kasih itu biasanya memang dilakukan di malam hari. Pada saat kegelapan menyelimuti bulak sawah yang luas itu, karena kegelapan merupakan bagian dari upacara itu sendiri.” berkata sajah seorang dari antara mereka. Kebo Lorog hanya mengangguk-angguk saja.Tetapi ia tidak menanggapinya. Demikianlah. semakin rendah matahari, maka disekitar tempat keramaian itu memang menjadi semakin banyak dikunjungi orang. Jilid 2 ANAK-ANAK berlari-larian disekitar tralag. Beberapa orang sudah mulai berjualan makanan dan minuman untuk anak-anak. Tetapi mereka tidak membawa dagangan sebanyak biasanya jika ada keramaian, karena bagaimanapun juga mereka masih selalu dibayangi oleh ketakutan. Ceritera Iceranda yang dapat berjalan sendiri itu tidak dapat mereka lupakan begitu saja. Ketika senja turun, maka beberapa buah oncor mulai dipasang. Tratag itupun menjadi terang benderang. Tetapi cahaya oncor itu hanya dapat menggapai sebatas pematang sekotak sawah. Selebihnya bulak itu tetap gelap. Meskipun Ki Jagabaya dan Ki Bekel sudah mengatakan kepada seisi padukuhan bahwa keranda hantu itu tidak lebih dari sebuah dongeng, namun pengaruhnya masih tetap terasa.Yang kemudian datang ketempat keramaian itu tidak sebanyak keramaian yang sebelumnya, pernah diadakan. Tayub bukan saja sekedar hiburan, tetapi merupakan bagian dari upacara merti desa. Merupakan bagian dari ucapan terima kasih atas keberhasilan panen dimusim tanam yang lewat, serta mohon keberhasilan yang lebih besar lagi dimusim tanam mendatang. Ketika kemudian malam menjadi semakin dalam, maka anak-anak pun mulai menjadi letih. Sebagian besar dari mereka telah diajak pulang setelah membeli gelali atau kacang rebus dan berondong. Tetapi sebagian yang lain tetap saja tidak mau pulang, karena mereka ingin melihat tari tayub. Remaja yang sudah mendekati masa dewasanya, ternyata ingin melihat para penari tayub itu menari bersama beberapa orang laki-laki. Jika malam bertambah malam, maka beberapa orang laki-laki mulai menjadi mabuk karena mereka terlalu banyak minum tuak. Dengan demikian tayubnya itupun menjadi semakin panas. Tetapi keramaian itu memang tidak seriuh biasanya. Laki-laki yang mengerumuni tratag dan berebut untuk dapat ikut menari tidak sebanyak keramaian tahun sebelumnya. Perempuan perempuanpun masih harus berpikir tentang keranda yang berjalan sendiri itu. Meskipun demikian, sekelompok perempuan, laki-laki dan remaja masih cukup banyak yang ikut meramaikan itu. Bahkan orang-orang dari padukuhan yang lain-pun telah berdatangan pula. Meskipun dihari-hari yang lain mereka dibyangi oleh ketakutan, tetapi mereka merasa lebih tenang, karena mereka berada diantra banyak orang. “ Hantu tidak akan datang ketempat keramaian “ berkata orang-orang yang datang dari padukuhan lain ke keramaian itu. Selama mereka bergembira, mereka tidak mau memikirkan kemungkinan yang dapat terjadi nanti jika mereka pulang. Bahkan beberapa orang anak muda telah siap untuk tidur ditempat keramaian itu diadakan. Namun sedikit lewat tengah malam, di kejauhan terdengar suara burung kedasih yang ngelangut. Orang-orang yang masih sibuk dengan tayub, tidak segera mendengar suara burung kedasih itu. Suara gamelan dengan gending-gending yang panas menggelitik telah menyumbat telinga mereka. Tetapi mereka yang kelelahan, yang duduk-duduk dipematang sawah sambil menghirup wedang jae yang hangat untuk mengatasi dinginnya malam, mendengar suara burung kedasih yang bersahut-sahutan di kejauhan. “ Suara burung itu “ desis seorang anak muda yang datang dari padukuhan sebelah sambil mengunyah serabi. “ Kau mulai ketakutan? “ bertanya kawannya. Tetapi anak muda itu tertawa. Katanya “ Aku hanya mengatakan tentang suara burung itu. Apakah begini banyak kawannya kita dapat menjadi ketakutan? “ Kawannya juga tertawa. Namun suara burung kedasih itu tidak segera berhenti. Masih saja terdengar berkepanjangan. Jika terdengar angin gemerisik menggoyang daun pohon turi yang tumbuh dipematang, maka suara itu bagaikan hanyut terbang mengambang diudara. Anak muda yang duduk dipematang itu mulai tergelitik oleh suara itu. Mereka yang mentertawakannya, mulai menjadi gelisah pula. Tetapi seorang anak muda yang bertubuh agak gemuk justru bangkit berdiri sambil tertawa “ Siapa mulai menjadi ketakutan? “ Tidak seorangpun yang menjawab. Namun anak muda yang agak gemuk itu berkata “ Aku akan menari lagi. Yang terdengar tentu hanya suara gamelan. Suara burung malam itu tidak akan terdengar lagi. “ Tetapi sebelum anak muda itu beranjak dari tempatnya, anak ini terhenti. Yang terdengar bukan saja suara burung kedasih. Tetapi di kejauhan juga terdengar suara burung bence. Anak muda yang agak gemuk itu cepat-cepat mendekati tratag. Suara gamelan memang mengatasi suara burung kedasih dan burung bence itu. Sejenak kemudian, seorang laki-laki berkumis lebat yang menari bersama seorang penari tayub yang tinggi semampai mulai goyah oleh tuak yang membuatnya agak mabuk. Tetapi ia mulai menjadi kasar. Tangannya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat mulai menarik-narik penari tayub itu. Tetapi ketika penari itu mendorongnya, maka iapun terhuyung-huyung. Sulit baginya untuk mempertahankan keseimbangannya. Ketika tertatih-tatih ia bangkit, ternyata anak muda yang agak gemuk itu telah menarik tangan penari itu kesisi yang lain. Suara gamelan yang panas, mendorong mereka untuk menarikan tarian yang panas pula. Orang berkumis tebal dalam setengah sadar, menjadi marah. Sambil mengumpat-umpat ia melangkah gontai mencari penari pasangannya yang telah hilang itu. Tetapi matanya sudah menjadi kabur. Ia tidak dapat lagi membedakan penari yang satu dengan yang lain. Namun dalam pada itu, orang-orang yang duduk agak jauh dari tratag itu semakin gelisah. Suara burung kedasih yang ngelangut itu masih terdengar berbaur dengan suara burung bence yang terdengar dari arah yang berpindah-pindah. Tiba-tiba saja bulu-bulu tengkuk mereka meremang ketika terdengar angin yang tertiup lebih kencang dari arah Selatan. Malam terasa menjadi semakin dingin. Titik-titik embun terasa membasahi tubuh. Ketika seekor kelelawar yang besar memburu mangsanya yang terbang merendah, seorang anak muda yang hampir saja tersambar, meloncat bediri. Beberapa orang kawannya terkejut. Seorang diantara mereka bertanya “ Ada apa? “ “ Kelelawar itu besar sekali. Apakah itu kelelawar sesungguhnya atau bukan. “ “ Ah, kau mulai mengigau. Lihat di wajah langit. Ada beberapa ratus kelelawar yang berterbangan. Nanti, jika fajar mulai menyingsing, kelelawar itu akan kembali ke sarangnya. Anak muda yang berdiri itu memandang ke langit. Dilihatnya kelelawar berterbangan. Angin basah yang bertiup membuat seluruh wajah kulitnya meremang. Namun tiba-tiba saja anak muda itu melihat sesuatu. Tidak begitu jelas. Di kejauhan ia melihat sesuatu yang bergerak. Tiba-tiba saja wajahnya menjadi pucat. Tubuhnya gemetar. Dengan gagap ia mencoba untuk menjelaskan sesuatu kepada kawan-kawannya. Tetapi ternyata apa yang meloncat dari mulutnya tidak begitu jelas terdengar. “ Apa. Ada apa? “ kawannya bertanya. Mata anak muda itu bagaikan akan meloncat dari pelupuknya. Namun akhirnya ia dapat menunjuk sambil berkata tanpa arti “ Uh, itu, uh, uh. “ Beberapa orang kawannya serentak berpaling. Darah mereka tersirap sampai kekepala. Merekapun melihat sesuatu yang bergerak. Putih. Anak-anak muda itu menjadi pucat. Mereka benui benar telah melihat keranda yang seperti terbang dikejauh-an. Tidak begitu cepat. Beberapa orang yang ketakutan itu mulai bergeser serentak mendekati tratag. Bahkan satu dua orang menunjuk kearah keranda yang berjalan sendiri itu dengan mengucapkan kata-kata yang tidak jelas. Sikap itu ternyata menarik perhatian. Beberapa orang yang ada disekitar tratag itupun mulai memperhatikan ke kejauhan, menembus keremangan malam. Sebenarnyalah, dalam kegelapan, nampak keranda yang terbang melintas. Tidak mengarah ke tempat keramaian. Namun ketakutan tiba-tiba telah mencengkam mereka yang berada disekitar tempat keramaian itu. Keadaanpun menjadi sulit dikendalikan. Orang-orang mulai berlari-lari menuju ke padukuhan. Bahkan para penari dan para penabuh gamelanpun berlari-larian pula meskipun mereka belum melihat keranda yang berjalan sendiri itu, karena cahaya lampu yang rerang benderang di sekitar tratag itu membuat mata mereka menjadi silau Ki Bekel sudah menduga, bahwa hal seperti itu akan terjadi. Tetapi Ki Bekel memang sudah bersiap. Karena itu, demikian tempat itu ditinggalkan oleh orang-orang yang sedang merayakan keramaian itu, maka beberapa orang anak muda yang memang sudah dipersiapan segera bersiap mengamankan segala macam barang yang tertinggal ditempat itu. Gamelan dan juga sisa dagangan dari orang-orang yang berjualan disekitar tempat keramaian itu. Ki Bekel yang ada diantara mereka memperhatikan keranda yang berjalan itu dari kegelapan. Sebagaimana beberapa orang anak muda, maka Ki Bekelpun telah memakai pakaian serba hitam sehingga tidak mudah terlihat dari tempat yang agak jauh. Tetapi keranda itu berjalan terus menuju ke kuburan. Dalam pada itu, Ki Pituhu dan Kebo Lorog bersama dua orang pengikutnya, menyaksikan pertunjukan itu dari kejauhan. Mereka melihat bagaimana orang-orang padukuhan itu berlari-larian sebagaimana mereka duga sebelumnya. Ki Pituhu dan kedua orang pengikutnya tertawa tertahan menyaksikan tontonan itu. Sementara Kebo Lorog-pun tersenyum pula. Bagi Kebo Lorog tontonan itu memang merupakan tontonan yang lucu. Sekian banyak orang disekitar tratag itu menjadi ketakutan melihat keranda yang mereka percaya dapat terbang sendiri. “ Pengecut “ desis Kebo Lorog. Lalu katanya “ Rasarasanya aku ingin membunuh pengecut-pengecut yang hanya memenuhi jagad tanpa arti seperti orang-orang padukuhan itu. Aku kira membantai mereka yang sedang ketakutan itu akan dapat mendapat kepuasan tersendiri. Wajah Ki Pituhu tiba-tiba menjadi tegang. Namun Kebo Lorog itu berkata “ Jangan cemas. Aku tidak ingin melakukannya sekarang. Yang ingin aku lakukan sekarang adalah melihat benda-benda yang telah kalian kumpulkan itu. “ “ Baiklah kakang sahut Ki Pituhu “ kita akan segera melihatnya. Yang terjadi di tempat keramaian itu hanyalah sekedar tontonan yang barangkali menarik bagi kakang Kebo Lorog. “ “ Aku senang melihat tontonan itu. “ jawab Kebo Lorog. Demikianlah, maka Ki Pituhu itu telah membawa Kebo Lorog ke kuburan. Mereka melintasi pematang yang tidak terlalu dekat dengan tempat keramaian yang masih nampak terang benderang. Tetapi sudah tidak ada seorangpun yang nampak dibawah cahaya lampu dan oncor. Ketika Ki Pituhu dan Kebo Lorog bersama dua orang pengikutnya pergi ke kuburan, maka keranda itu sudah berada di kuburan. Tetapi saat itu keranda itu memang kosong, karena para pengikut Kebo Lorog tidak sedang memindahkan barang-barang simpanan mereka ke kuburan itu. Dalam pada itu, beberapa orang yang sejak malam turun telah ditugaskan di kuburan untuk menggali beberapa lubang tempat menyimpan barang-barang yang berhasil mereka kumpulkan itu telah selesai. Didalam lubang itu terdapat beberapa peti barang-barang yang berharga, yang telah mereka rampok dari orang-orang kaya yang tinggal di beberapa Kademangan, justru bukan Kademangan mereka sendiri. Ketika Kebo Lorog sampai ketempat itu bersama Ki Pituhu, maka orang orang yang mengerumuni lubang tempat barang-barang itu disimpan telah menyibak. Malam dikuburan itu rasa-rasanya menjadi terlalu gelap. Tetapi ketajaman mata Kebo Lorog dapat melihat, apa yang terdapat didalam peti-peti di lubang-lubang penyimpanan itu. Apalagi ketika kemudian ia meloncat turun dan meraba barang-barang itu. Maka sambil menganggukangguk Kebo Lorog itu berkata “ Kalian memang pantas mendapat pujian. “ “ Terima kasih, kakang “ sahut Ki Pituhu. Lalu katanya pula “ Kami sudah menyisihkan sesuatu yang terbaik buat kakang. “ “ Yang mana? “ bertanya Kebo I orog. “ Di peti yang kecil itu “ jawab Ki Pituhu Kebo Lorog sudah membuka dan melihat isi peti itu. Tetapi ketika Ki Pituhu mengatakan bahwa peti itu diperuntukkan baginya, maka Kebo Lorog ingin melihatnya sekali lagi. Kebo Lorog mengangguk-angguk ketika ia melihat sebilah keris dengan pendok emas serta tretes berlian. Demikian pula pada ukiran keris itu, Meskipun malam gelap, tetapi malu Kebo Lorog melihat kilauan cahaya permata yang melekat pada keris itu. Kebo Loiogpnn kemudian telah menarik keris itu dari wrangkanya. Dalam kegelapan keris itu seakan-akan memancarkan cahaya kemerah-merahan. Kebo Lorog tidak melihat dengan jelas pamor keris yang dipegangnya. Namun secara samar ia menduga bahwa keris itu memiliki pamor yang banyak dicari orang. “ Sekar Manggar “ desis Kebo Lorog. “ Tepat “ jawab Ki Pituhu “ kakang dapat melihat pamor keris itu dalam kegelapan? “ “ Aku terbiasa bermain-main dengan keris “ jawab Kebo Lorog. Keris yang aku bawa ini adalah keris yang juga banyak dicari orang.” “ Bukankah keris itu memang milik kakang sejak semula? “ “ Ya. Keris yang aku bawa ini tidak dihiasi dengan permata sebagaimana keris yang kalian berikan ini. Tetapi keris yang aku bawa ini seakan-akan tidak pernah terpisah dari tubuhku. “ “ Apakah keris itu bertuah? “ bertanya Ki Pituhu. “ Kerisku ini memang bukan keris dengan pamor Teja Bungkus ini membuat ayahku berwibawa sebagai seorang pemimpin. Ia juga disayangi oleh para pengikutnya disamping ayahku adalah seorang yang berilmu tinggi.” Ki Pituhu mengangguk-angguk. Dengan nada rendah, Ki Pituhu berkata “ Keris yang baru itu akan melengkapi kumpulan keris dirumah kakang. Bukankah kakang mempunyai lebih dari dua belas buah keris? “ “ Aku memang senang mengumpulkan dan menyimpan keris. Karena itu, terima kasih atas keris yang kalian berikan kepadaku ini. “ “ Masih ada dua buah keris lagi yang dapat kami kumpulkan, tetapi bukan keris yang baik. Juga tidak dilengkapi dengan hiasan yang memadai “ berkata Ki Pituhu kemudian. “ Ambillah “ berkata Kebo Lorog. Tetapi kemudian Kebo Lorog itu berkata pula “ tetapi aku ingin berpesan kepada kalian, jika kalian menemukan sebuah cincin yang bermata tiga buah batu akik, maka aku memerlukannya. “ “ Cincin dengan mata tiga buah batu akik? “ bertanya Ki Pituhu. “ Bukankah hal itu tidak biasa? Biasanya sebuah cincin hanya mempunyai sebuah mata batu akik. Berbeda dengan cincin yang memakai hiasan intan, berlian, atau mutiara. “ “ Ya. Tetapi ini lain. Cincin emas yang mempunyai mata tiga buah batu akik. “ “ Apa saja jenis batu akik itu, kakang? “ bertanya Ki Pituhu “ atau barangkali warna batu akik itu? “ Kebo Lorog termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab “ Aku belum tahu. Tetapi dalam waktu dekat aku akan segera mengetahuinya. “ “ Baiklah kakang. Jika kami menjumpai cincin bermata tiga buah batu akik, maka cincin itu akan kami serahkan kepada kakang. “ “ Terima kasih “ Kebo Lorog mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja, Kebo Lorog itu menjadi tegang. Diangkatnya wajahnya sambil berdesis perlahan “ Ada sesuatu yang tidak wajar disini. “ “ Maksud kakang? “ “ Ada orang lain. “ jawab Kebo Lorog. “ Maksud kakang? “ “ Siapkan orang-orangmu. Timbun kembali barang-barang ini,” perintah Kebo Lorog sambil menyelipkan keris yang diperuntukkan baginya itu dipinggangnya. Ki Pituhu masih belum tanggap akan keadaan. Tetapi ia memang sudah memerintahkan kepada orang-orang yang bertugas menggalinya. “ Timbun kembali barang-barang itu. “ Orang-orang itupun dengan cepat menimbun kembali lubang-lubang yang telah digalinya setelah Kebo Lorog meloncat naik. Demikian ia berdiri disebelah Ki Pituhu, maka iapun berkata “Beberapa orang ada disekitar kita. Nah, ini juga akan menjadi tontonan yang menarik. “ “ Aku tidak mengerti. “ “ Aku sudah terlanjur memuji kalian. Tetapi keramaian itu tentu hanya sebuah jebakan. Bukan kita yang menjebak mereka, tetapi kitalah yang terjebak. “ “ Maksud kakang? “ “ Kau memang dungu. Kuburan ini sudah dikepung. Permainan kalian dengan keranda terbang yang kalian kira ditakuti orang itu ternyata telah ditertawakan banyak orang. “ “ Tetapi kakang melihat sendiri, bagaimana orang-orang itu berlari-larian, bahkan saling bertubrukan. Anak-anak menangis ketakutan dan bahkan dagangan yang masih belum terjual telah ditinggalkan. “ “ Tontonan yang telah dipersiapkan dengan baik oleh orang-orang padukuhan itu. Dan sekarang orang-orang padukuhan itu telah mempersiapkan tontonan yang lain di kuburan ini. “ Ki Pituhu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian telah memusatkan perhatiannya pada keadaan disekelilingnya. Meskipun panggraita Ki Pituhu tidak setajam Kebo Lorog, namun Ki Pituhupun akhirnya mengetahui juga, bahwa kuburan itu memang sudah dikepung. Beberapa orang mampu mendekat tanpa menimbulkan bunyi gemerisik. Tetapi anak-anak muda padukuhan yang tidak memiliki landasan ilmu yang cukup itu tidak dapat meredam sentuhan kakinya dengan dedaunan kering yang bertebaran disekitar kuburan. Daun pohon kamboja dan daun sebatang pohon preh yang besar yang tumbuh di pinggir kuburan itu. “ Setan orang-orang padukuhan “ geram Ki Pituhu “ mereka datang untuk menyerahkan nyawa mereka. “ “ Apapun yang akan terjadi, tetapi ternyata bahwa mereka sudah mengetahui permainanmu. Mereka tahu bahwa kerandamu tidak menakutkan mereka, bahkan justru telah menjadi olok-olok yang memalukan. “ “ Tidak “ sahut Ki Pituhu “ tentu ada yang berkhianat diantara orang-orang kita. Pada saatnya kita akan mengetahuinya. Tetapi sekarang, kita akan membabat mereka seperti membabat batang ilalang. “ suara Ki Pituhu itupun meninggi “ keinginan kakang Kebo Lorog akan terlaksana. Bukankah kakang ingin membantai mereka? “ Kebo Lorogpun menggeram. Sementara itu, orang-orang yang menimbun barang-barang hasil kejahatan yang disembunyikan itu sudah hampir selesai. Namun dalam pada itu, orang-orang padukuhan memang telah mengepung kuburan itu. Ki Bekel yang semula berada ditempat keramaian bersama beberapa orang anak muda yang berpakaian serba hitam, telah berada di tempat itu pula. Dalam ketegangan yang mencengkam, terdengar suara Adeg Panatas menggetarkan udara malam yang dingin “ Kebo Lorog. Kau tidak mempunyai kesempatan lagi. Menyerahlah. Kau dan orang-orangmu sudah dikepung. “ “ Siapa yang telah mencoba untuk membunuh diri disini? “ geram Kebo Lorog. “ Aku datang bersama banyak orang. Jauh lebih banyak dari orang-orangmu. “ “ Jika kau ingin membunuh diri, jangan kau bawa orang-orang yang tidak bersalah. Biarlah mereka pergi sebelum mereka terbujur mati di kuburan ini. “ “ Kami datang untuk menangkapmu. Menghentikan petualanganmu. Namamu yang menakutkan itu harus berakhir disini. “ “ Katakan, siapa kau. Kenapa kau datang dan memperalat orang-orang padukuhan yang dungu itu? Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan dan dengan siapa mereka berhadapan. “ “ Kami sadar sepenuhnya terhadap tugas kami kali ini. Selama ini kami dengan hati-hati mengamati permainan keranda terbangmu yang menarik itu. Orang-orang beberapa padukuhan yang lain telah benar-benar dicengkam ketakutan. Karena itu, sudah waktunya permainan kasarmu itu dihentikan. “ “ Siapa kau? “ teriak Kebo Lorog. Suaranya menggeletar mengguncang dedaunan. Gemanya terdengar susul-menyusul bersahut-sahutan. Jantung orang-orang padukuhan yang mengepung kuburan itu telah tergetar pula. Teriakan Kebo Lorog itu terdengar seperti panggilan maut dari lubang-lubang kubur yang bertebaran di kuburan itu. Tetapi terdengar Adcg Punalas tertawa pendek. Katanya “ Kebo Lorog. Kau ingin menakutnakuti kami? “ “ Kau belum menjawab. Siapakah kau? “ “ Namaku Adeg Panatas. Aku juga penghuni padukuhan itu. Memang sudah agak lama aku pergi. Tetapi sekarang aku sudah kembali. “ “ Kau memang berani. Kau sebut namamu yang tidak akan pernah aku lupakan. “ “ Kenanglah namaku. Jika kau sempat hidup untuk waktu yang lebih panjang, aku berharap bahwa kita akan bertemu lagi. “ Kebo Lorog menggeram. Sementara Adeg Panatas berkata selanjutnya “ Kebo Lorog. Kenapa kau tidak mempertimbangkan kemungkinan yang lebih baik? Menyerah, misalnya. “ “ Anak iblis kau” Ki Pituhulah yang berteriak “ kau harus mati. Tetapi kau akan menjadi orang terakhir yang kami bantai malam ini agar kau sempat melihat bagaimana tetangga-tetanggamu mati sia sia di kuburun Ini. “ Adeg Panatas tertegun sejenak ketika ia mendengar suara yang lain. Tetapi Adeg Panatas yakin, bahwa orang pertama itulah yang bernama Kebo Lorog. “ Siapa pula kau ini Ki Sanak? “ bertanya Adeg Panatas. “ Persetan dengan pertanyaan itu. Tetapi bersiaplah. Aku akan melumpuhkanmu dan memberi kesempatan kepadamu melihat korban kesombonganmu itu. “ “ Aku atau kau yang akan menyesali kejadian ini. “ “ Cukup “ bentak Kebo Lorog “ Bersiaplah. Kami akan mulai membantai orang-orang dungu itu.“ Adeg Panataspun segera memberi isyarat kepada Ki Jagabaya, agar para bebahu segera disiapkan. Mereka akan menebar dan mempimpin kelompok-kelompok laki-laki dan anak-anak muda dari padukuhan. Bahkan ada diantara mereka bekas prajurit yang sudah terbiasa bermain dengan senjata pula. Ki Jagabaya yang tanggap akan isyarat itupun segera menghubungi para pebahu untuk segera mempersiapkan diri. Diantara mereka yang mengepung kuburan itu adalah Paksi Pamekas. Ia telah pernah berada diantara anak-anak muda padukuhan yang telah dikenalnya dengan baik. Selama ia berada di padukuhan itu dan selama Adeg Panalas mempersiapkan perlawanan lerhadap Kebo Lorog, maka Paksi sudah berada diantara anak-anak mudanya. Tetapi Paksi sama sekali tidak menunjukkan kelebihannya. Ia berusaha untuk berada pada tataran yang sejajar dengan anak-anak muda padukhan itu. Malam itu Paksi menjadi gelisah. Seorang diantara para perampok itu sebelumnya telah menemuinya dan bahkan berusaha untuk membunuhnya. Orang itu mengatakan kepadanya, bahwa ia sudah mengetahui bahwa Paksi telah melihat rahasia yang tersembunyi di kuburan ini. Tetapi nampaknya para perampok itu masih juga melakukan kesalahan, sehingga mereka telah terkepung oleh orang-orang padukuhan. “ Atau yang mereka lakukan itu justru sebuah jebakan? “ pertanyaan itu telah mengganggu perasaan Paksi. Jika benar para perampok itu telah menjebak Ki Bekel dan Adeg Panatas serta orang-orang padukuhan, maka keadaannya akan menjadi sangat buruk, karena para perampok itu tidak lagi dapat mengendalikan diri. Paksi memang menyesal, kenapa ia tidak berterus-terang bahwa seorang diantara para perampok itu telah menyadari bahwa rahasia mereka telah diketahui. Tetapi menilik sikap dan pembicaraan antara Adeg Panatas dan Kebo Lorog, agaknya tidak tersirat, bahwa Kebo Lorog telah mengetahui bahwa kemungkinan seperti itu akan terjadi. Tetapi Paksi tidak dapat sekedar berangan-angan. Malam itu orang-orang padukuhan yang dipimpin langsung oleh Ki Bekel dan adiknya, Adeg Panatas telah berhadapan dengan para perampok yang seorang diantaranya adalah Kebo Lorog itu sendiri. Dalam pada itu maka Ki Jagabayapun telah memerintahkan para bebahu untuk bergerak. Anak-anak muda yang berada disisi lain telah mulai memasuki kuburan yang gelap. Mereka berjalan diantara batu-batu nisan yang terbujur membekuk Beberapa ekor burung malam yang terkejut berterbangan menggoyang dedaunan. Kebo Lorogpun kemudian telah berteriak “ Jika orang-orang dungu itu habis kita bantai, bukan salah kita. Merekalah yang datang menyerahkan leher mereka. Karena itu, jangan ragu-ragu. “ Perintah itu tidak perlu diulangi. Mereka sUdah merasa terlalu lama menunggu. Darah mereka telah mendidih didalam jantung. Apalagi mereka mengetahui bahwa orangorang yang mengepung kuburan itu sudah mulai bergerak masuk. Jumlah para perampok itu memang tidak terlalu banyak. Tetapi mereka adalah orangorang yang garang yang sudah terlalu akrab dengan senjata, darah dan kematian. Sambil berloncatan, para perampok itu telah berteriak-teriak dan mengumpat-umpat. Suaranya menggelepar menggetarkan batu-batu nisan. Jantung orang-orang padukuhan itu memang tergetar. Teriakan-teriakan itu membuat mereka menjadi ngeri. Untuk beberapa saat, beberapa orang anak muda justru bagaikan telah membeku. Tetapi beberapa orang bekas prajurit yang ada diantara mereka sama sekali tidak menjadi gentar. Meskipun mereka telah mengundurkan diri karena umur mereka telah melampaui batas umur seorang prajurit, namun bagi mereka pengabdian tidak terhenti sampai batas yang ditentukan itu. Menghentikan kejahatan adalah satu diantara tugas yang diembannya tanpa mengenal batas waktu. Seorang diantara bekas prajurit itu sempat berteriak “ Sayang bahwa selama ini aku tidak percaya terhadap keranda terbang itu, sehingga aku tidak pernah berminat untuk membuktikannya. “ “ Belum terlambat “ sahut kawannya, juga bekas seorang prajurit “ kita masih berkesempatan untuk menighentikan mereka. “ Sejenak kemudian, maka pertempuranpun tidak dapat dihindarkan. Seperti yang telah dipesankan kepada anak-anak muda padukuhan, maka mereka tidak bertempur seorang-seorang. Mereka harus berada didalam kelompok-kelompok kecil untuk melawan orang-orang yang memiliki pengalaman yang jauh lebih luas dalam olah senjata dan bahkan seolah-olah sudah tidak berjantung lagi. Adeg Panatas ternyata memenuhi janjinya. Dengan sigap ia meloncat langsung menghadapi Kebo Lorog. Dengan sadar, Adeg Panatas ingin menguji kemampuan orang yang namanya sangat ditakuti orang itu. „ Ki Pituhu yang sudah siap untuk bertempurpun telah menyerangnya. Sementara Ki Jagabaya tidak menunggu lagi. Iapun segera berhadapan dengan orang yang bertubuh tinggi tegap, pengiring Kebo Lorog ketika ia datang kerumah Ki Pituhu. Namun Ki Jagabaya itu dengan segera terdesak oleh lawannya. Tetapi seorang bebahu yang melihat kesulitan itu segera melibatkan dirinya membantu Ki Jagabaya, sehingga dengan demikian, orang itu harus bertempur melawan dua orang. Tetapi orang itu benar-benar orang yang tangguh. Meskipun Ki Jagabaya bertempur bersama seorang bebahu, ternyata bahwa keduanya masih mengalami kesulitan. Keduanyapun telah terdesak pula. Untunglah bahwa seorang bebahu yang lain melihatnya. Dengan sigap iapun menempatkan dirinya dalam lingkaran pertempuran itu. Dengan demikian, bertiga Ki Jagabaya mulai dapat menunjukkan perlawanan yang berarti. Sementara itu, Ki Bekelpun telah bertempur dengan sengitnya. Ki Bekel yang dimasa mudanya banyak menempuh pengembaraan serta menimba ilmu itu, telah mengejutkan Ki Pituhu. Ia tidak mengira bahwa seorang dari padukuhan itu ternyata memiliki ilmu yang mapan dan sanggup mengimbangi ilmunya. Dengan demikian, maka Ki Pituhu harus mengerahkan kemampuannya untuk menundukkan lawannya. Tetapi Ki Bekelpun telah meningkatkan kemampuannya pula, sehingga tidak mudah bagi Ki Pituhu untuk mengalahkannya. Sementara itu, hampir disegala sudut kuburan telah terjadi pertempuran. Orang-orang padukuhan yang hampir tidak mempunyai pengalaman bertempur memang agak canggung ketika mereka harus benar-benar mengayunkan senjata mereka. Sementara itu para perampok menjadi sangat marah karena mereka telah terjebak. Namun lawan terlalu banyak. Orang-orang padukuhan itu bermunculan dari balik nisan. Mereka mengacu-acukan senjata mereka. Seakan-akan disetiap langkah, para perampok itu menjumpai ujung senjata yang teracu kedadanya. Karena itu, meskipun mereka mempunyai pengalaman yang luas, namun menghadapi lawan yang berlipat ganda, rasa-rasanya mereka menjadi berdebar-debar pula. Dalam pada itu, Kebo Lorog yang marah telah berhadapan dengan Adeg Panatas, adik Ki Bekel yang belum lama kembali dari perantauan, berguru untuk mendapatkan ilmu yang tinggi. Kebo Lorog memang menjadi heran. Bahwa disebuah padukuhan ia akan menjumpai seorang yang berilmu tinggi. Bahkan dapat mengimbanginya. Karena itu, maka Kebo Lorog itupun telah menghentakkan ilmunya untuk memaksa lawannya dengan cepat dapat dikalahkannya. Kebo Lorog yang menyadari lawan demikian banyaknya, berusaha untuk tidak terikat dengan seorang lawan saja. Ia Ingin menghancurkan kalau tidak dalam arti kewadagan, keberanian orang-orang padukuhan itu. Dengan demikian, maka mereka akan menjadi ketakutan. Tetapi tidak sia-sia Adeg Panatas berguru bertahun-tahun. Ternyata Kebo Lorog yang sangat ditakuti itu masih dalam tataran yang mungkin dapat diimbanginya. Dalam pada itu, Paksi dengan sengaja tidak bertempur dalam kelompok-kelompok kecil bersama anak-anak muda itu. Sejak semula Paksi memang tidak bergabung kedalam kelompok yang manapun. Meskipun ia berada dilingkungan anak-anak yang pada waktu itu sedang mempersiapkan diri untuk melawan para perampok, namun karena Paksi bukan anak muda dari padukuhan itu, nampaknya Paksi mendapat keleluasaan untuk memilih, apakah ia akan bertempur bersama anak-anak muda itu atau tidak. Namun sebenarnyalah Paksi tidak berdiam diri. Meskipun ia berdiri ditempat yang terpisah, disela-sela beberapa batang pohon kamboja, ia telah bertempur melawan para parampok itu. Seorang perampok yang bertubuh pendek, tetapi tubuhnya nampak kekar dan kuat, harus dilawannya tanpa bantuan orang lain. Tetapi Paksi Pumekas itu telah membawa bekal dari rumahnya, la adalah salah seorang murid terbaik dalam perguruannya. Selebihnya, Paksi termasuk anak muda yang disegani diantara kawan-kawannya dalam setiap permainan yang keras. Kakinya yang sering dipergunakannya untuk binten, seakan-akan telah mengeras. Sementara kebiasaannya bermain gulat di pasir tepian membuat tubuhnya menjadi lentur. Karena itu, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka justru Paksi telah melumpuhkan lawannya. Ketika kakinya yang terayun deras sekali, tepat mengenai ulu hati lawannya, maka lawannya itupun segera jatuh tersungkur sambil mengerang kesakitan. Paksi sudah siap untuk membunuh orang itu. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Ketika terdengar orang itu merintih, Paksi justru telah meninggalkannya. Namun dalam pada itu, seorang yang lain telah meloncat menghadapinya. Paksi tidak begitu menghiraukan, siapakah yang berdiri dihadapannya. Yang penting baginya, ia harus melumpuhkannya. Sejenak kemudian,keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang sengit. Namun dalam pada itu, Paksipun tertegun-tegun menghadapi lawannya yang kedua itu. Beberapa kali serangannya telah gagal. Lawannya itu seakan-akan tahu benar, apa yang akan dilakukannya. Bahkan kemudian Paksi menjadi semakin heran, bahwa unsur-unsur gerak lawannya itu kadang-kadang memiliki ciri dan watak yang sama dengan unsur geraknya sendiri. “ Aneh “ berkata Paksi didalam hatinya. Tetapi ia tidak mau terpengaruh. Paksi menduga, bahwa secara kebetulan, orang itu menguasai unsur-unsur gerak yang sama dengan unsur gerak pada ilmunya. Namun semakin lama, maka Paksi semakin mengenali lawannya. Matanya yang sudah terbiasa didalam kegelapan disela-sela batang kamboja itu mulai mengenali wajah lawannya. Orang itu adalah orang yang cacat.yang pernah bertempur melawannya di bulak persawahan. Yang berkata kepadanya, bahwa ia sudah mengerti bahwa Paksi sudah melihat rahasia yang disembunyikan oleh para perampok itu. Agaknya orang itupun menyadari, bahwa Paksi mulai mengenalinya. Karena itu, maka orang itupun berkata “ Kita bertemu lagi anak muda. Kau termasuk orang yang sangat berbahaya, karena kau adalah orang yang pertama kali mengetahui rahasia kami. “ “ Tetapi kenapa Kebo Lorog tidak mengetahui, bahwa ia bersama para pengikutnya telah terjebak disini, termasuk kau? “ Orang itu tertawa perlahan-lahan. Kakinya berloncatan diantara batu-batu nisan. Dengan garangnya orang itu justru telah mendesak Paksi sambil berkata “ Kami sama sekali tidak merasa terjebak, karena kami sudah mengetahui, bahwa kalian berusaha menjebak kami malam ini. “ “ Tetapi kau lihat, kekuatan sekelompok kawan-kawanmu sangat kecil, sehingga dalam waktu dekat mereka akan digulung. Jangan menyesal, bahwa bagi siapa saja yang tidak mau menyerah akan dihukum. Mereka harus mati, “ berkata Paksi dengan geram. Kemudian katanya pula “ Kau tidak usah mengigau. Orang-orang padukuhan yang dipimpin oleh Ki Bekel itu sendiri berhasil menguasai seluruh medan. Jumlah mereka terlalu banyak untuk dilawan oleh sejumlah kecil para pengikut Kebo Lorog iiu. “ Tetapi orang itu tertawa. Kalanya “ Dengan jumlah yang kecil itu, kami akan dapat menghancurkan orang-orang padukuhanmu. Bahkan kami akan memasuki padu-kuhannm, merampas dan merampok apa saja yang dapat kami bawa. “ “ Tidak. Kau tentu dapat melihat, bahwa Kebo Lorog itu tidak dapat mengalahkan Adeg Panatas, adik Ki Bekel. “ Persetan dengan Adeg Panatas. “ Orang itu menjadi sangat marah. Tiba-tiba saja ilmunya telah meningkat dengan cepat, sehingga beberapa langkah Paksi harus bergerak mundur. Namun Paksipun kemudian telah menemukan kemampuannya sepenuhnya kembali, sehingga pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Tetapi beberapa kali Paksi dikejutkan, la kenali unsur gerak lawannya itu. la sadari bahwa sekali-sekali ia mengalami tekanan yang sangat berat, justru karena lawannya menguasai unsurunsur gerak yang nampaknya lebih matang. Bahkan Paksi mengalami kesulitan karena lawannya itu selalu berhasil memotong seranganserangannya, seakan-akan orang itu tahu, apa yang harus dilakukan. Tetapi dengan demikian, Paksi justru mendapat pengalaman baru. Ia melihat kemungkinankemungkinan yang terbuka bagi ilmunya sebagaimana dilakukan oleh orang berwajah cacat itu. Dituar sadarnya Paksi justru mulai mengetrapkannya. Kakinya, tangannya, sikunya, lututnya dan bahkan jari-jarinya. Tetapi serangan-serangan lawannya itu mulai mampu menembus pertahanannya. Ketika tangan lawannya terayun deras mengarah ke keningnya, Paksi sempat mengelak. Meskipun demikian, sisi telapak tangan orang itu masih menyentuh bahunya, sehingga Paksi harus meloncat mengambil jarak. Perasaan nyeri yang tajam telah menggigit bahunya yang tersentuh serangan lawannya itu. Paksi meloncat beberapa langkah surut. Ia sempat mengusap bahunya yang sakit. Namun lawannya tidak memberinya kesempatan terlalu lama. Dengan garangnya lawannya itu telah menyerangnya pula. Kedua tangannya terayun dengan derasnyn. Sisi telapak tangannya men. arah keleher anak muda itu. Tetapi dengan tangkas Paksi merendah, Ia justru menyerang kaki lawannya dengan sapuan Lawan Paksi itu terkejut. Ia tidak sempat mengelak, sehingga kedua kakinya yang ditebas oleh kaki Paksi terdorong selangkah. Tetapi orang itu tidak terbanting jatuh. Ia justru berputar dengan menapak pada tangannya, sementara kakinya terangkat tinggi-tinggi. Dengan satu putaran, maka lawannya telah berada beberapa langkah daripadanya, diantarai oleh tiga buah nisan batu hitam. Paksi mengerutkan keningnya. Ia tertarik melihat gerakan lawannya. Tetapi Paksi tidak sedang melakukan latihan. Ia sedang bertempur habis-habisan sebagaimana orang-orang padukuhan yang lain. Namun dituar sadarnya, ternyata Paksi telah terpancing semakin jauh dari arena pertempuran di kuburan itu Meskipun hal itu kemudian disadari oleh Paksi, tetapi Paksi sama sekali tidak menjadi gentar. Semakin lama Paksi semakin percaya kepada kemampuan dirinya. Dengan cepat Paksi justru telah menyadap unsur-unsur gerak lawannya yang menurut pendapat Paksi merupakan perkembangan dari ilmu yang mempunyai sumber yang sama dari ilmunya. Paksi tertegun ketika ia melihat lawannya meloncat bebeiapa langkah surut untuk mengambil jarak. Paksi memang tidak dengan tergesa-gesa memburunya. Ia harus lebih berhati-hati menghadapi lawan yang memiliki pengalaman dan memiliki ilmu yang lebih mantap. “ He, kau anak iblis. Darimana kau memiliki ilmu seperti itu, yang mempunyai tatanan gerak mirip dengan ilmuku? Apakah kau telah mencurinya dari salah satu perguruan yang bersumber dari ilmu itu? “ Paksi memandang orang itu dengan tajamnya. Namun dalam kegelapan ia tidak dapat melihat dengan lebih jelas lagi selain ia dapat mengenali cacat diwajah orang itu. “ Kenapa kau tidak menjawab? Sebagai salah seorang murid yang mewarisi ilmu dari sumber ilmu yang aku junjung tinggi, maka aku mempunyai kewajiban untuk menghancurkan orang yang telah mencuri ilmu atau sebagian dari ilmu itu. “ Dengan lantang Paksipun menjawab “ Tidak ada seorangpun murid dari jalur perguruanku menjadi seorang perampok. Jika kau menguasai ilmu dari jalur perguruanku, namun kau adalah seorang perampok, maka kau memang harus dimusnahkan, karena dengan demikian kau sudah mengotori nama perguruan kami. “ Orang itu tertawa. Katanya “ Kau jangan memutar balik persoalan. Tetapi nampaknya kau memang seorang yang licik. Diumurmu yang masih sangat muda itu, kau sudah berhasil mencuri ilmu dari perguruan kami. Selebihnya kau sudah pandai berbohong. “ Kemarahan Paksi tidak dapat dibendung lagi. Karena itu, ia tidak menunggu lawannya menyelesaikan kalimatnya. Dengan serta-merta Paksi telah meloncat menyerang dengan garangnya. Pertempuran telah menyala kembali. Paksi telah mengerahkan segala kemampuan yang ada pada dirinya. Tanpa disadarinya, ia justru terpengaruh oleh lawannya yang telah mengembangkan unsur-unsur gerak dari perguruannya. Ternyata serangan Paksi yang membadai itu telah membuat lawannya mengalami kesulitan. Apalagi ketika Paksi bertempur dengan memelihara jarak, karena nampaknya lawannya sering terhambat oleh jarak. Dalam kemarahan yang memuncak, maka kemampuan Paksi justru menjadi semakin tinggi. la mampu bergerak semakin cepat dan kekuatannya menjadi semakin meningkat. Dengan demikian, maka lawannyapun mulai terdesak. Sekali-sekali serangan Paksi telah mengenai sasarannya sehingga beberapa kali keseimbangan lawannya telah terguncang. Karena itu, maka dalam keadaan yang paling sulit, maka lawan Paksi itu justru telah melenting menjauhinya. Kemudian dengan tangkasnya bertumpu pada kedua tangannya yang menapak, orang itu berputar dengan beberapa kali. Ketika Paksi menyadari dan meloncat memburunya, maka orang itu sudah melenting berdiri dan berlari menembus kegelapan, justru meloncat masuk kembali kedalam kuburan. Paksi tertegun sejenak. Orang itu bagaikan hilang diantara gerumbul-gerumbul perdu diselasela batang pohon kamboja. Untuk beberapa saat Paksi berdiri termangu-mangu. Ternyata ia telah kehilangan lawannya. Namun Paksi tidak dapat terlalu lama merenung. Sejenak kemudian iapun menyadari, bahwa di kuburan itu telah terjadi perternpuran antara Kebo Lorog dan para pengikutnya melawan orangorang padukuhan yang dipimpin oleh Ki Bekel sendiri bersama adiknya, Adeg Panatas. Jika semula perhatian Paksi sepenuhnya tertuju kepada lawannya sehingga ia seakan-akan tidak mendengar hiruk pikuk pertempuran, maka demikian ia kehilangan lawannya itu, maka iapun segera bergerak mendekati arena. Dengan hati-hati Paksi merayap diaantara batang pohon kamboja serta nisan nisan yang membujurke utara. Dalam kegelapan, matanya yang tajam melihat pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Sekali sekali la mendengar teriakan-teriakan kasar. Umpatan-umpatan dan juga perintah-perintah disela-sela pekik kesakitan. Paksipun bergeser semain dekat. Ia berhenti dibelakang sebuah nisan yang besar. Beberapa langkah daripadanya, ditempat yang agak lapang, Adeg Panatas tengah bertempur melawan Kebo Lorog. Ternyata keduanya memang berilmu tinggi. Keduanya saling menyerang, tetapi juga saling menangkis dan menghindar. Ilmu mereka berdua agaknya telah meningkat semakin tinggi, sehingga benturan-benturan yang terjadi di antara mereka seolah-olah telah menggetarkan udara di kuburan itu. Ketika Paksi berpaling kearah yang lain, ia melihat Sura dan Mertawira juga sedang bertempur. Tetapi keduanya tidak bertempur seorang melawan seorang. Beberapa orang anak muda tengah membantu mereka menghadapi dua orang perampok yang semakin terdesak. “ Nampaknya kedua orang perampok itu sudah tidak banyak dapal memberikan perlawanan “ berkata Paksi didalam hatinya. Sejenak kemudian, maka Paksipun bergeser lagi. Ia melihat Ki Bekel yang sedang bertempur. Ternyata Ki Bekel juga mampu bergerak cepat mengimbangi lawannya. Ketika Paksi bergeser lagi, dilihatnya Ki Jagabaya juga bertempur bersama beberapa orang melawan seorang yang bertubuh tinggi tegap. Ia adalah pengiring Kebo Lorog ketika ia datang kerumah Ki Pituhu. Orang yang bertubuh tinggi tegap dan berwajah garang itu memiliki bekal kanuragan yang cukup pula. Tetapi ia harus bertempur menghadapi beberapa orang, dan bahkan diantaranya adalah Ki Jagabaya, maka orang itu harus memeras kemampuannya untuk bertahan. Dengan demikian, maka menurut pengamatan Paksi, orang-orang padukuhan yang dipimpin langsung oleh Ki Bekel dan adiknya, Adeg Panatas, akan segera dapat mengatasi lawan-lawanya. Karena itu, maka Paksipun tidak dengan tergesa-gesa melibatkan diri. Ia masih bergeser lagi, justru mendekati lagi pertempuran yang sengit antara Kebo Lorog dan Adeg Panatas. Nampaknya keduanya sengaja bergeser menepi, ditempat yang masih agak lapang, sehingga kaki mereka tidak setiap kali harus menghindari batu-batu nisan yang tersebar. Adeg Panatas sendiri merasa kurang mapan untuk berloncatan diatas onggokan tanah kuburan dan batu-batu nisan. Paksi mengamati pertempuran dengan jantung yang berdebaran. Ia melihat keduanya semakin meningkatkan kemampuan mereka. Bahkan nampaknya mereka sudah merambah ke tenaga dalam sehingga tenaga mereka seakan-akan menjadi semakin besar. Beberapa kali keduanya saling membenturkan kekuatan. Jika yang seorang menyerang dan yang seorang menangkis serangan itu, maka kedua-duanya tampak menjadi goyah. Paksi mengangguk-angguk dituar sadarnya. Iapun sudah menapak pada tataran sebagaimana disaksikannya itu meskipun sumber ilmunya berbeda. Meskipun baru pada tataran dasar, namun Paksi mampu mengungkapkan tenaga dalamnya sebagai tenaga yang besar. Paksi sempat merenungi pertempurannya sendiri melawan orang berwajah cacat. Sesuatu tibatiba membersit di kepalanya. Ia teringat bagaimana lawannya berusaha memancing tenaga dalam yang masih belum terungkapkan dari dalam dirinya dengan unsur-unsur gerak yang pada dasarnya pernah dipelajarinya. Paksi menjadi termangu-mangu sejenak, la merasa mampu untuk melakukannya. Tetapi tentu tidak dengan serta-merta, agar justru tidak menyakiti bagian dalam tubuhnya sendiri. Apalagi jika hal itu dilakukan tanpa tuntunan seorang guru atau orang yang memiliki ilmu yang sejalan, namun sudah berada pada tataran yang lebih tinggi. Paksi yang merenung itu seperti terbangun ketika ia melihat Adeg Panatas terpelanting jatuh. Untunglah bahwa tubuhnya yang lentur masih sempat mengatur diri. sehingga dengan demikian Adeg Panatas itu tidak mengalami kesulitan ketika ia meloncat bangkit. Bahkan ketika Kebo Lorog meloncat menyerangnya, Adeg Panatas dengan tangkasnya bergeser selangkah kesamptng, namun yang dengan serta merta telah berputar dengan ayunan kakinya yang tepat mengenai dada lawannya. Kebo Lorog terdorong beberapa langkah surut. Namun ketika Adeg Panatas memburunya, Kebo Lorog telah siap untuk menghadapinya. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia belum melihat,, siapakah diantara mereka yang akan dapat memenangkan pertempuran itu. Tetapi dengan demikian Adeg Panatas telah membuktikan, bahwa tidaklah sia-sia ia berguru untuk beberapa tahun lamanya. Nama Kebo Lorog sejajar dengan nama hantu yang menakutkan. Sementara itu, Adeg Panatas mengimbanginya. “ Untuk datang kembali ke padukuhan itu, Kebo. Lorog harus berpikir ulang “ berkata Paksi didalam hatinya. Namun dalam pada itu, keadaan para pengikut Kebo Lorog menjadi semakin sulit. Setiap orang harus berhadapan dengan tiga atau ampat orang lawan. Meskipun mereka sudah terbiasa bertempur, namun mereka adalah orang-orang yang hanya berbekal keberanian, kekasaran dan kebengisan. Jarang diantara mereka yang benar-benar memiliki dasar-dasar kemampuan dalam olah kanuragan. Karena itu, ketika mereka benar-benar berhadapan dengan beberapa orang dan bahkan ada diantaranya adalah bekas prajurit maka merekapun mengalami kesulitan. Kebo Lorog melihat kelemahan itu. Meskipun ia harus bertempur dengan mengerahkan tenaganya, tetapi Kebo Lorog sempat melihat sekilas apa yang terjadi disekitarnya. Bahkan satu dua orang telah terluka meskipun mereka juga sempat melukai orang-orang padukuhan. Karena itu, maka Kebo Lorog tidak mempunyai pilihan lain. Meskipun ia sendiri masih mampu bertahan dan bahkan masih belum merasa dikalahkan oleh lawan nya, tetapi ia sudah dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada akhir dari pertempuran itu jika masih lama tidak beranjak dari tempatnya. Karena itu, maka terdengar Kebo Lorog itu memberi isyarat, Terdengat sebuah suitan tidak terlalu keras. Para pengikutnya memang menjadi bingung. Mereka tidak tahu isyarat apa yang dimaksudkan oleh Kebo Lorog. Hanya seorang sajalah diantara orang-orangnya yang tahu pasti, apa yang harus dilakukannya. Orang yang tinggi tegap, yang bertempur melawan Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu itu. Adeg Panatas sendiri sudah mencurigai isyarat itu. Tetapi yang terjadi, Kebo Lorog justru telah menghentak kan ilmunya dengan sebuah serangan yang sangat mengejutkan, sehingga Adeg Panatas telah terdesak beberapa langkah surut. Demikian pula yang dilakukan oleh pengiringnya yang bertubuh tinggi tegap itu. Bahkan hampir saja senjatanya menyambar dada Ki Jagabaya. Untunglah Ki Jagabaya sempat mengelak. Meskipun demikian, senjata orang itu telah menyentuh lengannya, sehingga bukan saja bajunya yang koyak, tetapi juga kulitnya. Kesempatan yang sekejap itu telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh Kebo Lorog dan seorang pengiring nya. Mereka seakan-akan telah meloncat menghilang ke-dalam gelap malam. Adeg Panatas memang mencoba memburunya. Demikian pula Ki Jagabaya dan para bebahu yang bertempur bersamanya. Tetapi mereka telah kehilangan buruan mereka. Karena itu, maka Adeg Panatas tidak membuang waktu. Iapun segera kembali ke arena pertempuran. Ia mencoba untuk mencegah para pengikut Kebo Lorog, agar mereka tidak sempat melarikan diri. Pertempuran itu tiba tiba menjadi kusut. Beberapa orang berlari-larian tidak menentu. Beberapa orang padukuhan memang menjadi bingung. Ternyata cara yang dipergunakan oleh para pengikut Kebo Lorog yang sudah berpengalaman itu sebagian malnig berhasil. Orang-orang padukuhan itu justru berlarian saling menghalangi, sehingga mereka telah kehilangan lawan lawan mereka yang berlari-larian ber-putaran. Tetapi Adeg Panatas tidak menjadi bingung. Dengan cepat ia bergabung dengan Ki Bekel. Ki Pituhu yang akan ikut serta dalam arus yang berputaran dan membingungkan itu, telah kehilangan kesempatan. Adeg Panatas tidak membiarkannya lepas dari tangannya. Ketika kemudian pertempuran itu berakhir, maka hanya ampat orang pengikut Kebo Lorog yang tertangkap termasuk Ki Pituhu sendiri. Namun atas perintah Adeg Panatas, maka keempat orang itu telah dipisahkan yang satu dengan yang lain. “ Kita ingin mendengar jawaban mereka esok. Kita akan bertanya kepada mereka seorang demi seorang. “ Beberapa saat kemudian, maka pertempuran benar-benar telah berhenti. Beberapa orang yang ada di kuburan itu telah menyalakan obor untuk mencari korban yang jatuh dalam pertempuran itu. Beberapa orang memang telah terluka. Tiga diantara orang pedukuhan terluka berat. Sedangkan yang lain, luka-luka yang mereka derita tidak sampai membahayakan jiwa mereka. Sementara itu, seorang diantara para perampok itu terluka parah. Seorang lagi diketemukan dituar kuburan, Orang itu bahkan telah pingsan, karena luka-lukanya. Nampaknya ia juga telah mencoba untuk melarikan diri, namun wadagnya tidak lagi dapat mendukungnya, sehingga ia terjatuh dan pingsan. Ki Bekel yang juga telah terluka meskipun hanya beberapa goresan ditubuhnya, telah memerintahkan untuk membawa mereka yang terluka dan para tawanan ke padukuhan. “ Hati-hati dengan para tawanan. “ pesan Ki Bekel. Ki Jagabaya tidak mau membuat kesalahan sehingga tawanan itu dapat terlepas meskipun hanya seorang saja. Karena itu, maka merekapun telah diikat tangannya. Dua orang memegangi kedua ujung tali pengikat dari setiap orang. Malam itu, para tawanan telah dibawa ke banjar padukuhan. Demikian pula mereka yang terluka. KI Hckcl telah memanggil tabib yang ada di padukuhan itu untuk membantu merawat orang-orang yang terluka Sementara itu, seperti yang dipesankan oleh Adeg Panatas, maka keempat orang itu telah ditempatkan di bilik yang terpisah. Mereka telah diikat dengan tiang yang ada didalam bilik itu. Bukan hanya tangannya, telapi juga kakinya. Termasuk Ki Pituhu. Dari orang-orang yang tertawan, Ki Bekel mengetahui, bahwa pemimpin mereka adalah Ki Pituhu. “ Kita akan berbicara dengan orang itu besok” berkata Ki Bekel kepada adiknya. Adeg Panatas mengangguk. Namun ia memperingatkan “ Asal kita menjaganya dengan baik. Kawan kawannya dapat saja berusaha untuk membebaskan mereka. Tetapi ada kemungkinan yang lain. Mereka mengirim orang yang dengan diam-diam berusaha membunuhnya. “ Karena itu, maka Ki Bekel telah memberikan pesan kepada mereka yang beijaga-jaga dibanjar itu, untuk sangat berhati hati. “ Beri isyarat jika perlu “ berkata Ki Bekel “ Aku akan membicarakan dengun beberapa orang, apa yang sebaiknya kita lakukan dengan benda-benda berharga itu. Jika perlu sekali, pukul saja kentongan. “ Ki Bekelpun memberikan pesan yang sama kepada beberapa orang yang ditugaskannya untuk tetap berada di kuburan, mengawasi agar burang-barang berharga itu tidak diambil oleh siapapun juga, sampai Ki Bekel mengambil satu keputusan. Sepuluh orang yang bciada di kuburan masih juga merasa, bulu tengkuk mereka meremang. Apalagi jika mereka memandangi sebatang pohon raksasa yang tumbuh dipinggir kuburan itu. Namun diantara mereka terdapat dua orang yang berani. Sura dan Mertawira. Keduanya telah diserahi untuk memimpin kawan-kawannya yang berjaga-jaga di kuburan itu. Paksi kemudian telah memilih untuk berada di kuburan bersama-sama dengan Sura. Sambil duduk ber-. sandar sebatang pohon di pinggir kuburan, dekat tempat benda-benda berharga itu ditanam, Paksi sempat merenungi pertempuran yang baru saja terjadi. Ia memang merasa heran, bahwa ada diantara mereka yang memiliki jalur perguruan yang dianutnya. Sebagaimana Paksi mengenali unsur-unsur gerak pada orang itu, maka orang itupun dapat mengenali unsur-unsur gerak yang dikuasai oleh Paksi. Paksipun kemudian berkata didalam hatinya “ Tidak semua bunga ditanam berbau harum. “ Namun Paksi bertekad untuk menemukan orang itu pada kesempatan lain. “ Aku harus memberitahukan hal ini kepada guru “ berkata Paksi didalam hatinya. Tetapi Paksi tidak tahu, kapan ia dapat bertemu lagi dengan gurunya, karena Paksi tidak tahu kapan ia akan pulang. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Disekitarnya terdapat beberapa orang padukuhan yang berjaga-jaga. Seorang diantara mereka membawa sebuah kentongan kecil. Jika perlu kentongan itu akan dibunyikan untuk memanggil orang-orang dari padukuhan. Tetapi menurut perhitungan Paksi, para pengikut Kebo Lorog itu tidak akan kembali. Bagi Kebo Lorog, maka sawah dilingkungan ini adalah sawah yang tandus. Tentu tidak ada artinya jika ia harus menggarapnya lebih lama lagi. ”Apalagi orang yang bernama Ki Pituhu itu sudah tertangkap. Tidak ada lagi orang yang menyiapkan landas-an bagi kekuatannya di daerah ini “ berkata Paksi kepada diri sendiri. Namun beberapa saat kemudian, Paksi sempat merenungi dirinya sendiri. Setiap kali ia bertanya “ Kenapa aku harus pergi? Kenapa ibu menganggap bahwa ayah memang sengaja menyingkirkan aku dari rumah. Cincin itu hanya sekedar satu alasan. “ Sura yang berjalan hilir mudik untuk mengusir kantuk, justru telah mendekatinya. Sambil duduk disebelah-nya ia berkata “ Sebaiknya kau pulang saja ngger. Kau dapat beristirahat dan barangkali masih mempunyai waktu sedikit untuk tidur. “ Tetapi Paksi menjawab sambil tersenyum “ Aku tentu sudah tidak dapat tidur disisa malam yang tinggal sedikit ini. “ “ Kau tidak perlu tergesa-gesa bangun meskipun matahari sudah naik. “ “ Aku sudah terbiasa bangun pagi-pagi, paman “ jawab Paksi. Sura tertawa. Sambil menepuk bahu Paksi ia berkata “ Kau tentu letih. Barangkali kau dapat tidur sambil duduk bersandar seperti itu. “ Paksipun tertawa pula. Katanya “ Aku akan mencoba paman. “ Surapun kemudian bangkit sambil berkata “ Jika demikian, biarlah aku tidak mengganggumu. “ Paksi masih saja tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Paksi memang berusaha untuk dapat beristirahat. Tetapi yang beristirahat hanyalah wadagnya. Angan-angannyapun kembali mengembara menyusuri perjalanan hidupnya dari waktu ke waktu. “ Paksi Pamekas itupun mengambil kesimpulan, bahwa kehadirannya dirumah keluarganya memang tidak menyenangkan ayahnya. Ia tidak berada didalam hati ayahnya. Tidak sebagaimana kedua orang adiknya yang mendapat perhatian sepenuhnya. “ Apakah karena aku anak sulung, maka aku harus memikul beban terberat diantara saudarasaudaraku? “ bertanya Paksi didalam hatinya. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Kakinya mulai merasa gatal. Nyamuknya cukup banyak, sehingga desing ditelinganya membuatnya tidak tenang berangan-angan. Paksi akhirnya berdiri. Langit ternyata sudah mulai dibayangi cahaya kemerah-merahan. Menjelang fajar Paksi baru merasa dinginnya embun yang bergayut diujung dedaunan dan menitik satu-satu. Batu-batu nisanpun mulai menjadi basah. Paksi menggeliat. Beberapa orang justru telah tertidur sambil bersandar pepohonan. Paksi melangkah keluar dari lingkungan kuburan. Ketika ia berdiri di pematang, dilihatnya sebuah parit yang dialiri oleh air yang jernih. Dituar sadarnya Paksi turun kedalam parit untuk mencuci wajahnya, kakinya dan tangannya. Terasa badannya menjadi sedikit segar meskipun semalam suntuk Paksi tidak tidur sekejappun. Dalam pada itu, Ki Bekel, Ki Jagabaya dan Adeg Panatas masih berbincang tentang bendabenda berharga itu. Apa yang akan mereka lakukan, karena mereka tahu, bahwa benda-benda berharga itu adalah barang yang panas. ” Bagaimana kita dapat mengembalikan barang-barang itu kepada pemiliknya “ berkata Adeg Panatas. “ Kita akan berbicara dengan Ki Demang. “ berkata Ki Bekel. Ki Jagabaya menjadi agak ragu. Katanya “ Bukankah Ki Bekel tahu, bahwa Ki Demang sering memilih jalan pintas untuk memecahkan persoalan? Ki Demang kadang-kadang dengan tanpa berpikir panjang, mengambil keputusan dengan mudah. Ia tidak mau bersusah payah mencari jalan keluar terbaik. “ Ki Bekel mengangguk-angguk, sementara Ki Jagabaya berkata selanjutnya “ Menurut dugaanku, Ki Demang akan menanggapi persoalan ini dengan ringan. Bahkan dengan tanpa memikirkan akibatnya” sambil sedikit kantuk, ”Ki Demang akan mengatakan, bahwa sebaiknya barang-barang itu dimanfaatkan buat Kademangan. “ Ki Bekel mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti pendapat Ki Jagabaya. Tanpa berpikir panjang, Ki Demang akan berkata “ Barang-barang itu kita jual. Uangnya kita pergunakan buat keperluan Kademangan. “ Dengan nada dalam Ki Bekel bertanya “ Jadi bagaimana menurut Ki Jagabaya? “ “ Kita menghadap Ki Tumenggung Wirayuda. “ jawab Ki Jagabaya. “ Sejauh itu? “ bertanya Ki Bekel. “ Bukankah Ki Tumenggung Wirayuda yang telah mendapat tugas untuk mengambil pelaksanaan pemerintahan Pajang di daerah ini meliputi satu lingkungan yang luas sampai ke Kwarasan. “ Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun iapun bertanya “ Tetapi bagaimanapun juga kita harus berbicara lebih dahulu dengan Ki Demang. “ “ Aku setuju, Ki Bekel. Tetapi sebaiknya kita sudah membawa sikap sebelum kita bertemu dengan Ki Demang.” “ Besok kita temui Ki Demang. “ Tetapi yang mereka bicarakan bukan saja kepada siapa mereka harus melaporkan barangbarang berharga hasil rampokan itu. Tetapi perhatian Adeg Panatas lebih tertuju pada pengamanan barang-barang itu. Karena itu, maka Adeg Panatas itupun berkata “ Kita harus mengatur, siapakah yang secara bergilir akan menjaga barang-barang itu. “ “ Ya “ Ki Jagabaya mengangguk-angguk “ barang-barang itu tidak boleh jatuh kembali ketangan para perampok itu. “ “ Nanti, kita akan menyusun tugas bagi setiap laki-laki untuk bergantian berjaga-jaga di kuburan itu siang dan malam. Disiang hari kita akan menempai kan lima orang. Tetapi dimalam hari, lebih dari itu. tujuh atau delapan orang. “ berkata Ki Bekel “ mudah-mudahan Ki Tumenggung Wirayuda bergerak cepat atas nama Pajang sehingga tugas kita cepat selesaj. “ Demikianlah, dipagi hari itu Ki Bekel, Ki Jagabaya dan Adeg Panatas telah bersiap-siap pergi ke padukuhan induk untuk bertemu dengan Ki Demang. Namun mereka-pun sudah bersiap pula untuk pergi ke Kwarasan, menemui Ki Tumenggung Wirayuda. Sebelum mereka berangkat, maka Ki Jagabaya telah menugaskan dua orang bebahu untuk membawa tiga atau ampat orang menggantikan mereka yang bertugas menunggui benda-benda berharga di kuburan itu. “ Untuk selanjutnya kita akan mengaturnya sebagaimana kita mengatur para peronda “ berkata Ki Jagabaya. Sementara itu, Ki Bekel, Ki Jagabaya dan Ades Panatas telah menemui Ki Demang uniuk membirikan laporan tentang peristiwa yang telah terjadi. Sebenarnyalah serjerti dugaan Ki Jagabaya, maka Ki Demang tidak menanggapi persoalan itu dengan bersungguh-sungguh. Laporan itu didengarnya sambil mengangguk-angguk. Ia seakanakan tidak mendengar bahwa telah jatuh korban diantara orang padukuhan. Beberapa orang telah terluka dan diantaranya sangat parah. Yang mula-mula ditanyakan, bukan keadaan orang-orang yang terluka itu, tetapi justru barangbarang yang masih berada di kuburan “ Apa saja yang kalian temu kan? “ “ Kami belum melihatnya satu demi satu, Ki Demang “ Nanti kita bongkar. Aku ingin melihat apa saja yang telah disembunyikan itu. “ “ Kemudian?” bertanya Ki Bekel. “ Bukankah baiang-barang itu tidak kita ketahui siapa pemiliknya? “ “ Lalu? “ belianya Adeg Panatas. “ Ki Jagabaya menarik nafas panjang ketika ia mendengar Ki Demang menjawab “ Itu rejeki kita. Kademangan ini membutuhkan banyak beaya untuk membangun banjar yang lebih baik. Untuk membuat susukan di gumuk Pantong. Dan barangkali masih ada yang lain. “ “ Ki Demang “ berkata Ki Bekel “ barang-barang itu tentu ada pemiliknya meskipun kita tidak mengetahuinya. Seandainya pemiliknya tidak dapat kita ketemukan, maka kita tidak begitu saja dapat mempergunakannya untuk kepentingan kita sendiri. “ “ Lalu, bagaimana menurut pertimbangan Ki Bekel? “ Kami akan melaporkannya kepada Ki Tumenggung Wirayuda. “ “ Untuk apa? “ bertanya Ki Demang. “ Biarlah Ki Tumenggung Wirayuda memberikan keputusan atas nama Pajang. Seandainya, sekali lagi seandainya, Ki Demang. Ki Tumenggung menyerahkan barang-barang berharga itu atau sebagian daripadanya kepada kita, barang itu akan menjadi sah. “ “ Jadi kalian akan pergi ke Kwarasan? “ “ Barangkali Ki Demang juga ingin pergi? “ “ Kenapa kalian memilih penyelesaian yang rumit?” Adeg Panataspun kemudian berkata “ Ki Demang. Jika kita langsung memanfaatkan bendabenda berharga hasil rampokan itu, mungkin sekali kita akan terjebak kedalam kesulitan. Jika kita menjual benda-benda itu, mungkin pemiliknya dapat mengenalinya. Nah, jika ia sudah melaporkan bahwa ia kehilangan karena dirampok, maka kita akan dapat dituduh telah melakukan perampokan terhadap pemilik barang itu. Dengan demikian, kita akan mengalami kesulitan. “ . “ Tetapi mungkin Pajang akan mengambil barang ? barang itu seluruhnya “ berkata Ki Demang. “ Itu haknya “ jawab Adeg Panatas. “ Tetapi apakah kau yakin, bahwa benda-benda itu akan dikembalikan kepada pemiliknya? Atau justru hanya akan memperkaya Ki Tumenggung Wirayuda? “ “ Kemungkinan itu memang dapat terjadi, Ki Demang. Tetapi baiklah kita percaya kepada Ki Tumenggung. Jika kita sudah tidak mempercayai para petugas yang ditunjuk oleh Pajang, lalu apakah sebenarnya yang telah terjadi atas kita? “ sahut Adeg Panatas. Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Terserah kepada kalian jika kalian ingin menempuh julan penyelesaian yang rumit. Aku sendiri tidak sempat mengurusinya. Pekerjaan cukup banyak. “ “ Jika Ki Demang sibuk, biarlah kami yang menyelesaikannya. Tetapi yang penting, K i Demang mengetahui apa yang akan kami lakukan. “ Ketika ketiga orang itu kemudian kembali ke padukuhan, Ki Jagabayapun berkata “ Bukankah kita sudah menduga? “ “ Apakah benar bahwa Ki Demang sibuk sekali? “ bertanya Adeg Panatas. “ Ya. Sibuk mengadu ayam “ jawab Ki Jagabaya. Adeg Panatas menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata “ Apa yang terjadi jika KeBo Lorog itu kemudian memusuhi Kademangan ini? bukan hanya padukuhan kita?” “ Ki Demang tidak memberikan tanggapan dan kesan apapun tentang Kebo Lorog.” sahut Ki Jagabaya. “ Apakah ia belum mengenalnya?” tanya Adeg Panatas. “ Tentu sudah “ jawab Ki Bekel “ tetapi ia tidak tertarik untuk berbicara tentang Kebo Lorog. Mungkin Ki Demang juga mempunyai keyakinan diri. “ “ Ada beberapa orang yang dianggap memiliki ilmu yang tinggi yang tinggal di padukuhan induk. Lebih dari itu, ada dua orang pengawal Ki Demang yang tangguh. “ berkata Ki Jagabaya. Adeg Panatas mengangguk-angguk. Tetapi ia mendapat kesan yang kurang mapan bagi seorang Demang. Nampaknya ia melakukan apa saja yang disenanginya, tetapi ia tidak menaruh perhatian terhadap sesuatu yang tidak langsung menyangkut dirinya. Tetapi mereka bertiga tidak berbicara lebih panjang tentang Ki Demang. Mereka mulai membicarakan rencana kepergian mereka ke Kwarasan untuk menghadap Ki Tumenggung Wirayuda. Ki Bekel tidak ingin persoalan benda-benda berharga itu berkepanjangan. Karena itu, maka mereka bertigapun sepakat untuk segera pergi ke Kwarasan. “ Besok pagi-pagi Kita berangkat “ berkata Ki Bekel “ dengan demikian kita akan dapat kembali di sore hari. “ Sementara itu, dua orang bebahu dan beberapa orang lain telah pergi ke kuburan, menggantikan Sura dan kawan-kawannya. Paksipun telah ikut pulang pula bersama Sura kerumahnya. Bahkan Sura telah meminjaminya lagi pakaian, karena Paksi harus mencuci pakaiannya yang kotor. Semalaman ia berada di kuburan, bertempur dan kemudian duduk-duduk di rerumputan berdebu. Hari itu, Paksi sempat bermain-main dengan Salam. Anak itu memang anak yang cerdas. Disiang hari, ketika Paksi diminta untuk makan siang bersama Sura, ia menyatakan keinginannya untuk meneruskan perjalanan. “ Aku sudah cukup lama terhenti disini, paman. “ “ Aku masih minta kau menunggu, ngger. Setelah persoalan benda-benda berharga yang disembunyikan para perampok itu selesai, maka terserahlah kepadamu, meskipun aku ingin mencoba untuk menahanmu disini. “ “ Bukankah aku sudah lidak mempunyai kepentingan lagi? “ “ Tentu masih ada ngger bukankah Ki Bekel, Ki Jagabaya dan adi Adeg Panatas akan pergi ke Kwarasan untuk melaporkan penemuan ini kepada Ki Tumengung Wirayuda? “ “ Bukankah aku tidak diperlukan lagi? Segala nya sudah jelas. Persoalan kemudian adalah persoalan unimu Ki Bekel, Ki Demang dan Tumenggung Wirayuda. “ “ Tidak ngger “ sahut Sura “ kau adalah orang yang pertama kali melihat dan kemudian berhasil membuktikan bahwa keranda itu adalah sekedar tipuan yang sengaja dibuat untuk menimbulkan keresahan, Kau pula lah yang melihat dimana orang-orang Itu menyembunyikan barang-barang hasil rampokan itu. Kau harus Ikut menyaksikan Ki Tumenggung Wirayuda membongkar bendabenda berharga itu. Kau harus melihat apa saja yang telah disembunyikan oleh para peiampok itu.“ “ Bukankah itu tidak perlu, paman. “ jawab Paksi. Sura tersenyum. Katanya “ Aku tahu. Kau tidak ingin menonjolkan dirimu sendiri untuk mendapat pujian. Tetapi mungkin kau diperlukan untuk menjawab beberapa pertanyaan. “ Paksi terpaksa tinggal untuk beberapa hari lagi, Meskipun demikian, ia menjadi berdebar-debar, jika Ki Tumenggung Wirayuda itu mengenal ayahnya dan bahkan pernah datang kerumahnya, mungkin ia dapat mengenalinya. Tetapi menurut ingatannya, ia tidak pernah mendengar nama itu. Sementara itu, ternyata Salampun ikut menahannya pula. Kehadiran Paksi dirumahnya, membuat rumah itu tidak terlalu sepi baginya. Ia mempunyai kawan bermain tanpa harus keluar dari regol halaman rumahnya. Dalam pada itu, dihari berikutnya, Ki Bekel, Ki Jagabaya dan Adeg Panatas telah memacu kudanya menuju ke Kwarasan untuk menghadap Ki Tumenggung Wirayuda. Satu perjalanan yang agak panjang tapi berkuda, jarak itu terasa jauh lebih pendek Laporan itu sangat menarik perhatian Ki Tumenggung. Tidak sebagaimana Ki Demang yang sekedar mengangguk-angguk. Tetapi Ki tumenggung telah menanyakan beberapa hal tentang para perampok itu Apalagi ketika disebut nama Kebo Lorog. “ Kami gagal menangkapnya, Ki Tumenggung” berkata Adeg Panatas. Ternyata Ki Tumenggungpun bergerak cepat. Ketika Ki Bekel melaporkan bahwa orang-orang padukuhan terpaksa menunggui kuburan itu siang dan malam, maka Ki Tumenggung berkata “Aku akan pergi bersama kalian. Aku akan membawa sekelompok prajurit untuk mengurus para tawanan. “ “Terima kasih Ki Tumenggung.” jawab Ki Bekel. Ki Tumenggungpun kemudian telah memerintahkan sekelompok prajurit untuk menyertainya, Kecuali kuda yang mereka tumpangi maka merekapun telah membawa kuda-kuda tanpa penunggangnya. Kuda-kuda itu akan dipergunakan untuk membawa para tawanan. Namun atas permintaan Ki Bekel, maka Ki Tumenggung juga membawa kuda kuda yang akan menjadi kuda beban. “ Sebaiknya benda-benda berharga itu dibawa meninggalkan padukuhan kami, Ki Tumenggung. Kami tidak mempunyai kekuatan cukup untuk mempertahankannya, seandainya Kebo Lorog kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Tetapi jika ia tahu, bahwa benda-benda berharga itu serta orang-orangnya telah kami serahkan kepada Ki Tumenggung atas nama Pajang, maka mereka tentu tidak akan kembali lagi, karena tidak ada gunanya. Ternyata Ki Tumenggung dapat mengerti permintaan Ki Bekel itu. Sehingga dengan demikian, ia telah membawa kuda lebih banyak lagi. Hari itu juga Ki Tumenggung Wirayuda telah berada di padukuhan bersama Ki Bekel. Mereka memang tidak membuang waktu. Ki Tumenggung itupun segera pergi ke kuburan dan memerintahkan menggali benda-benda hasil rampokan itu. Seperti yang diduga oleh Sura, maka Paksi telah menjadi tempat bertanya bagi Ki Tumenggung. Ia harus menceriterakan kembali apa yang pernah dilihat dan didengarnya tentang hantu keranda dan benda-benda berharga yang di sembunyikan di kuburan itu. Ki Tumenggung mengangguk-angguk ketika Paksi selesai berceritera. Anak muda itu sudah mengatakan apa yang diketahuinya sejak ia melihat keranda yang diusung oleh orang-orang berpakaian hitam itu sampai saat ia mendengar rencana kedatangan Kebo Lorog. “ Kami akan mencoba mengetahui siapakah orang-orang yang pernah dirampok oleh gerombolan ini “ berkata Ki Tumenggung. Dengan bantuan para bebahu padukuhan, maka benda-benda berharga yang disembunyikan di kuburan itu telah dibawa ke banjar. Di banjar, Ki Tumenggung Wirayuda, Ki Bekel, Ki Jagabaya, Adeg Panatas, Paksi dan beberapa bebahu dapat melihat dengan jelas, apa yang tersimpan di kuburan itu. Beberapa orang hampir tidak percaya kepada penglihatannya sendiri ketika mereka melihat perhiasan emas dan permata. Berlian, intan, mutiara dan batu batu mulia yang lain. Selain perhiasan juga terdapat berbagai macam wesi aji, keris, tombak tanpa tangkainya dan benda benda lain yang dianggap bernilai tinggi. Namun Paksi menjadi berdebar debar ketika la mendengar Ki Tumenggung Wirayuda itu bertanya “ Apakah diantara perhiasan-perhiasan itu tidak terdapat sebuah cincin dengan mata tiga buah batu akik. “ Ki Bekel yang ikut mengeluarkan perhiasan-perhiasan dari petinya menggeleng sambil berkata “Tidak Ki Tumenggung. Tetapi apa yang Ki Tumenggung maksudkan, ada orang yang pernah melaporkan kehilangan cincin dengan mata tiga buah batu akik? “ Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak Namun kemudian katanya “ Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya pernah mendengar bahwa cincin yang demikian Itu adalah cincin yang baik. “ “ Bukankah biasanya cincin hanya mempunyai matu satu batu akik? “ bertanya Adeg Panatas. “ Ya. Cincin yang satu itu memang cincin yang, khusus. “ jawab Ki Tumenggung. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Bekel bertanya “Cincin siapakah yang Ki Tumenggung maksudkan? “ ”Seseorang mencari cincinnya yang hilang. Bukan dirampok. tetapi siapa tahu, cincin itu akhirnya jatuh ketangan para perampok. “ Adeg Panatas masih akan bertanya Tetapi Ki Tumenggung telah berkata “ Sudahlah. Cincin dengan mata tiga buah batu akik itu tidak penting. “ Dengan demikian, maka Ki Tumenggung itu mulai membicarakan, bagaimana ia akan membawa barang-barang berharga itu serta para tawanan. Bagi Ki Tumenggung, Ki Pituhu itu merupakan tawanan yang penting. Karena dari mulutnya akan dapat didengar, siapa saja yang pernah dirampoknya. Dengan demikian, maka Ki Tumenggung itu akan dapat menelusuri, siapakah pemilik benda-benda beiharga itu. Meskipun tidak seluruhnya, tetapi para pemiliknya akan berterima kasih jika barang-barang yang masih dapat diketemukan itu kembali kepada mereka. ”Dalam hal ini, aku tidak dapat mengambil keputusan sendiri “ berkata Ki Tumenggung Wirayuda “ aku harus memberikan laporan ke Pajang. Pajang tentu akan menugaskan seeorang yang menguasai kepastian paugeran dalam persoalan seperti ini untuk bersama-sama menyelesaikannya. “ Demikianlah, maka segala sesuatunya sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Ki Bekel dan para bebahu padukuhan itu, merasa bahwa kewajiban mereka telah mereka lakukan dengan baik, sehingga mereka tidak dibebani oleh kegelisahan. Namun Ki Tumenggung Wirayuda itu berkata “ Tetapi setiap saat, kami mungkin masih akan menghubungi Ki Bekel untuk mendapat keterangan yung diperlukan. “ “ Kami tidak berkeberatan, Ki tumenggung” jawab Ki Bekel. Meskipun demikian, ternyata Ki Tumenggung itu juga bertanya tentang sikap Ki Demang yang sealah olah tidak ikut campur dalam persoalan yang termasuk penting ini. “ Ki Demang sudah mengetahui persoalannya, Ki Tumenggung “ jawab Ki Bekel “ Ki Demang memigrta kan kami untuk menyelesaikan persoalan ini, Ka»cna itu, kami telah datang menghadap Ki l'uincitfguug. “ Baiklah Ki Bekel. Dengan demikian untuk selanjutnya kami akan selalu berhubungan dengan Ki Bekel saja. “ Demikianlah, malam itu, Ki Tumenggung dan pengiringnya telah bermalam di padukuhan itu. Ki Tumenggung sempat berbicara serba sedikit dengan Ki Pituhu. Namun nampaknya Ki Pituhu tidak mudah unluk memberikan jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang diberikan oleh Ki Tumenggung. Meskipun demikian, Kl Tumenggung masih belum menekun Ki Pituhu agar menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ketika Ki Tumenggung bertanya tentang Kebo Lorog, maka jawaban Ki Pituhupun masih juga melingkar-lingkar. Bahkan seperti orang mengigau Ki Pituhu berkata “ Ki Kebo Lorog bukan seorang perampok. Ia datang sama sekali tidak ada hubungannya dengan benda-benda hasil rampokan itu. Ia sama sekali tidak menginginkan apapun juga. “ “ Jika saja ia tidak harus melarikan diri, ia tentu akan membawa sebagian besar dari bendabenda ini “ berkata Ki Tumenggung. “ Tidak “ jawab Ki Pituhu “ kami tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Kebo Lorog kecuali bahwa kami telah mengenalnya dengan baik. Ia datang untuk menanyakan pesanannya kepadaku, karena ia mengenal aku sebagai seorang saudagar perhiasan, wesi aji dan berbagai jenis pusaka. “ “ Apa yang dipesankan kepadamu? “ bertanya Ki Tumenggung. Wajah Ki Tumenggung menegang ketika ia mendengar Ki Pituhu menjawab “ Sebuah cincin dengan mata tiga buah batu akik. “ Paksi yang juga mendengar pembicaraan itu menjadi tertarik pula untuk mendengarkan lebih jauh. Tetapi Ki Tumenggung justru menghentikan pertanyaan-pertanyaannya dan memerintahkan untuk membawa Ki Pituhu kembali ke bilik tahanannya. “ Meskipun Ki Bekel dan Adeg Panatas juga tertarik mendengar jawaban Ki Pituhu lenlang cincin bermata tiga buah batu akik Itu, tetapi mereka tidak terlalu lama memikirkannya. Mereka menganggap bahwa beberapa orang mempunyai kepercayaan bahwa cincin yang demikian itu adalah cincin yang dianggap bernilai tinggi. Tetapi mereka belum pernah mendengar bahwa cincin itu adalah cincin istana yang hilang. Malam itu Paksi yang untuk beberapa lama tinggal dirumah Sura kembali merenungi dirinya. Demikian ia kembali dari banjar, telinganya masih saja mendengar pertanyaan Ki Tumenggung Wirayuda tentang cincin bermata tiga serta keterangan Ki Pituhu bahwa Kebo Lorog sekedar memesan cincin serupa itu pula. Meskipun Ki Pituhu itu berbohong dan mengingkari hubungannya dengan Kebo Lorog, namun bahwa ia juga menyebut cincin bermata tiga buah batu akik itu telah mengganggu pikirannya. “ Ternyata ayah tidak sendiri “ berkata Paksi didalam hatinya “ Ki Tumenggung Wirayuda juga berusaha mencari cincin itu. Bahkan Kebo Lorog juga berbicara tentang cincin bermata tiga itu. “ Namun dengan demikian. Paksi makin menyadari bahwa tugas yang dihadapinya adalah juga yang semakin berat, terngiang kembali suara ibunya “ Kakang Tumenggung. Paksi masih terlalu muda untuk melakukan tugas yang begitu berat. “ Tetapi ayahnya membentak “ Kau selalu memanjakannya. “ Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak pernah merasa terlalu dimanjakan oleh ibunya. Perhatian ibunya kepadanya dan kepada adik-adiknya tidak berbeda. Tetapi justru karena sikap ayahnya yang berbeda terhadapnya dari sikapnya kepada adik-adiknya, maka ayahnya selalu menyangka bahwa ia terlalu dimanjakan oleh Ibunya Terasa sesuatu bergelar dihati Paksi, Justru setelah ia keluar dari rumahnya, maka ia sempat, menilai apa yang pernah terjadi atas dirinya. Wajah ayahnya yang tidak pernah manis kepadanya sebagaimana kepada kedua orang adiknya. Tetapi Paksi berusaha untuk menyingkirkan perasaannya itu. Ia tidak mau menuduh ayahnya bersikap emban cinde emban siladan. Ia tidak mau menganggap ayahnya tidak adil terhadap ketiga orang anaknya. Paksi mencoba untuk dapat memejamkan matanya. Dengan susah payah ia menyingkirkan angan-angannya tentang keluarganya. Tetapi ia justru terjebak kedalam persoalan yang lain. Ia tidak melihat orang yang wajahnya cacat itu berada diantara orang-orang yang tertangkap bersama Ki Pituhu. Juga tidak ada diantara mereka yang terluka parah. “ Orang itu agaknya berhasil melarikan diri sebagaimana Kebo Lorog “ berkala Paksi didalam hatinya. Namun dengan demikian, orang yang sudah dapat mengenalinya itu akan selalu membayanginya. Setiap saat orang itu akan dapal muncul dihadapannya. Mungkin orang itu berusaha membayanginya. Tetapi mungkin orang itu menjumpainya dengan tidak sengaja dimanapun. Sebagai pengikut Ki Pituhu, maka orang itu tentu juga pernah mendengar tentang cincin bermata tiga buah batu akik itu. Jika orang itu juga memburu cincin itu, memang ada kemungkinan mereka akan dapat bertemu lagi. Paksi tidak pernah merasa takut kepada orang itu. Beberapa kali ia sudah berhadapan langsung dan bertempur melawannya. Paksi selalu dapat mengusir orang itu. Tetapi ada sesuatu yang terasa aneh bagi Paksi. Menurut pendapat Paksi, orang itu memiliki sumber ilmu yang sama dengan ilmunya. Bahkan unsur-unsur dari ilmu itu telah berkembang dan terasa lebih matang. Tetapi orang itu tidak mampu mengalahkannya dan bahkan orang itu setiap kali harus menyingkir dari medan. Paksipun merasa aneh, bahwa justru dalam setiap pertempuran, rasa-rasanya ia telah menemukan sesuatu yang baru, yang dapat membuat ilmunya semakin berkembang pula. Tetapi persoalan itu tetap menjadi persoalan pribadinya. Ia tidak akan dapat minta pendapat apalagi pertimbangan kepada orang lain. Namun angan-angan Paksi itu semakin lama memang menjadi semakin kabur, sehingga akhirnya Paksi itupun telah tertidur disisa malam itu. Seperti hari-hari sebelumnya selama ia berada dirumah Sura, maka pagi-pagi Paksi sudah bangun. Salampun ternyata telah bangun pagi pagi pula dan bersama Paksi membersihkan halaman samping rumah Ketika Paksi menimba air di sumur, maka Salampun ikut-ikutan pula ke sumur. Tetapi Paksi mencegahnya “ Kau akan justru terangkat oleh senggot timba itu “ berkata Paksi. “ Aku sudah dapat menimba sendiri “ berkata Salam, “ Jangan. Jika ayahmu melihatnya, maka ayahmu tentu akan marah. Kau masih terlalu kecil untuk menahan berat senggot itu. “ Salam memang nampak menjadi kecewa. Tetapi Paksipun berkata “ Ambil bumbung itu. Kau isi gentong di dapur. “ Salampun segera berlari mengambil sebuah bumbung pering petung. Sepotong bumbung bumbu petung yang besar. Tetapi Paksi memilih yang tidak terlalu panjang. Sura memperhatikan anaknya yang berlari-lari itu sambil tersenyum. Agaknya Salam menjadi lebih gembira setelah Paksi ada dirumah itu. Tetapi Sura menyadari, bahwa Paksi tidak akan dapat terlalu lama dirumahnya. Jika nanti Ki Tumenggung Wirayuda meninggalkan padukuhan itu, maka Paksipun tentu akan segera pergi untuk melanjutkan pengembaraannya. Sebelum matahari terbit, Paksi memang telah berbenah diri. Ia sudah mengenakan pakaiannya sendiri Sudah mencuci pakaian yang dipinjamnya dari Sura. Paksi memang sudah berniat untuk melanjutkan perjalanannya melakukan perintah ayahnya. Pergi ketempat yang tidak diketahuinya. Tetapi dengan satu pengertian baru, bahwa banyak orang yang akan meramaikan perburuan itu. Bukan hanya para pemimpin prajurit dan lingkungan tertentu di istana. Tetapi orang-orang seperti Kebo Lorogpun telah ikut berburu pula. Pagi itu Sura telah dipanggil ke banjar bersama Paksi. Juga Mertawira, selain Ki Bekel, Ki Jagabaya dan para bebahu. Ki Tumenggung Wirayuda hari itu akan kembali ke Kwarasan. “ Atas persetujuan kalian, maka benda-benda berharga ini akan aku bawa ke Kwarasan. Kalian telah menyaksikan isi dari peti-peti itu, sehingga pada suatu saat mungkin para petugas dari Pajang ingin mendengar keterangan kalian. “ Baiklah. “ jawab Ki Bekel “ setiap saat kami bersedia melakukan perintah apapun juga. Kami akan menjadi saksi semua peristiwa yang telah terjadi. “ Namun Ki Wirayuda sempat juga bertanya “ Apakah kalian tidak akan mengulangi menyelenggarakan keramaian merti desa itu? “ “ Keramaian itu sudah kami lakukan, Ki Tumenggung. Kami telah menyatakan sukur atas keberhasilan kami pada musim tanam padi yang lalu, meskipun keramaian itu sempat bubar di dini hari. Tetapi kami rasa kami tidak perlu mengulanginya, Ki Tumenggung. “ “ Jika Ki Bekel ingin mengulanginya, serta Ki Bekel ingin mendapat perlindungan dari para prajurit, maka kami akan dapat melakukannya. “ “ Terima kasih Ki Tumenggung. Kami merasa bahwa yang kami lakukan sudah cukup. Selain itu kami memang harus berhemat sampai musim panen mendatang. “ “ Bagus “ berkata Ki Tumenggung “ sebaiknya kalian memang mempergunakan nalar untuk mencapai keseimbangan dalam tatanan kehidupan kalian, “ “ Ya, Ki Tumenggung. Kami sadari hal itu, justru karena pada umumnya orang-orang padukuhan kami bukan orang-orang yang kaya. “ Ki Tumenggung tersenyum. Kemudian katanya ”Baiklah. Kami akan minta diri. Kami hargai kejujuran kalian meskipun padukuhan ini bukan sebuah padukuhan yang kaya. Mungkin pada suatu saat aku masih akan datang lagi kemari. “ lalu katanya kepada Paksi “ kau akan menjadi kebanggaan padukuhan ini anak muda. Aku ingin kau sekali-sekali dalang ke Kwarasan sementara aku masih bertugas di sana.” “ Terima kasih Ki Tumenggung” jawab Paksi. Tetapi Paksi tidak menjawab lebih panjang lagi la ingin Ki Tumenggung Wirayuda itu tidak terlalu banyak memperhatikannya, karena Paksi memang sudah merencanakan untuk segera meninggalkan padukuhan itu Demikianlah, maka sejenak kemudian iring-iringan sekelompok prajurit yang dipimpin langsung oleh Ki Tumenggung Wirayuda itu telah meninggalkan padukuhan. Beberapa ekor kuda yang memang sudah dipersiapkan untuk para tawanan telah dipergunakan oleh para tawanan itu pula, termasuk Ki Pituhu. Selebihnya beberapa ekor kuda menjadi kuda beban untuk membawa barangbarang berharga yang dapat dirampas dari tangan sekelompok perampok yang dipimpin oleh Ki Pituhu dibawah bayangan kuasa Kebo Lorog. ”Kekuatan yang cukup untuk menguasai para tawanan dan melindungi benda-benda berharga itu “ desis Adeg Panatas. Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun katanya “Bukankah kau tidak akan segera meninggalkan padukuhan ini? “ Adeg Panatas tersenyum. Katanya “ Tidak kakang. Bukankah aku orang padukuhan ini? Aku memang sudah memutuskan untuk pulang dan tinggal di padukuhan ini.” “ Sokurlah “ berkata Ki Bekel “ aku memperhitungkan, bahwa padukuhan ini tidak akan pernah dilupakan oleh Kebo Lorog. Jika pada suatu saat ia tidak mempunyai kesibukan, maka ia akan teringat kepada kekalahannya di padukuhan ini. “ Adeg Panatas tersenyum. Katanya “ Aku mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan diri. Juga mempersiapkan anak-anak muda padukuhan ini untuk menerima kedatangan Kebo Lorog dan para pengikutnya. Bersama orang-orang yang memiliki keberanian dan dua tiga orang bekas prajurit, aku akan dapat berbuat banyak di padukuhan ini. “ “ Terima kasih “ Ki Jagabayalah yang menyahut “ kehadiran adi Adeg Panatas memang membuat hati kami menjadi tenang. “ Paksi mendengarkan pembicaraan itu sambil mengangguk-angguk kecil. Tetapi Paksi sendiri tidak mencampurinya sepatah katapun juga. Sementara itu, orang-orang padukuhan itu juga masih belum sempat melihat kemampuan Paksi yang sebenarnya. Baru kemudian ketika ada kesempatan, Paksi itupun telah menyatakan niatnya untuk minta diri. Ki Bekel dan orang-orang lain yang ada di banjar itu terkejut. Dengan dahi yang berkerut, Ki Bekel berkata “ Bukankah kau mendengar sendiri Paksi, bahwa kau diharapkan dapat datang ke Kwarasan?” Paksi sambil menunduk berkata “ Mungkin pada suatu saat aku akan menghadap Ki Tumenggung di Kwarasan. Tetapi sebelumnya aku ingin melanjutkan pengembaraanku. Aku sudah bertekad untuk melakukannya” Ternyata tidak seorangpun yang dapat menahan Paksi. Sura juga tidak. Namun Sura masih minta agar Paksi menyempatkan diri untuk memberitahukan kepergiannya kepada Salam. “ Katakan bahwa kau akan pergi. Tetapi katakan juga bahwa kau akan kembali. “ “ Apakah anak itu tidak akan selalu berharap? “ bertanya Paksi. “ Bukankah kau memang akan kembali pada suatu saat? “ bertanya Sura. Paksi tidak segera menjawab. Namun akhirnya iapun mengangguk. Katanya “ Ya, paman Puda suatu saat aku ingin kembali ke padukuhan ini” Ki Bekel masih juga berkata ”Kau adalah orang yang menjadi lantaran untuk memecahkan persoalan ini, Paksi. Jika kau bukan seorang anak muda yang berani, maka padukuhan ini dan beberapa padukuhan yang lain masih akan tetap dibayangi ketakutan karena hantu keranda yang dapat terbang sendiri itu. “ “ Hanya satu kebetulan saja, Ki Bekel. “ “ Mungkin memang satu kebetulan. Tetapi jika kebetulan itu terjadi pada orang lain, maka orang yang melihat keranda terbang itu tentu akan menjadi pingsan.” Tetapi Paksi masih juga memenuhi permintaan Sura. Ia singgah dirumah Sura untuk minta diri kepada keluarga yang menurut pendapat Paksi adalah keluarga yang baik Salam memang menjadi gelisah. Bahkan mulaii merengek. Tetapi Paksipun kemudian berkata ”Padu lain hari, aku akan datang lagi kemari, Salam” “ Kakang berkata sebenarnya? “ bertanya Salam. “ Ya. Aku berkata sebenarnya “ jawab Paksi. Salam menjadi sedikit tenang, meskipun nampak ragu-ragu. Ibunyalah yang kemudian berusaha untuk meyakinkan Salam, bahwa ia tidak dapat menahan Paksi lebih lama lagi. “ Kakang Paksi mempunyai tugas yang penting. Jika ia tinggal disini terlalu lama, tugasnya tidak akan selesai.” Meskipun Paksi tahu bahwa ibu Salam itu sekedar menenangkan anaknya, tetapi jantungnya menjadi berdebar-debar. Ia memang mempunyai tugas yang penting. Tugas yang tidak diketahui, bagaimana ia harus melakukannya. Demikianlah, maka hari itu, Paksi akan meninggalkan rumah Sura. Paksi menolak kelika Sura menawarkan agar Paksi membawa sepengadog pakaiannya. “ Kau memerlukan ganti pakaian diperjalanan “ berkata Sura. “ Aku dapat mencucinya “ jawab Paksi. Sura memang tidak memaksanya, Tetapi ia sempat berdesis “ Kau berhak untuk mendapatkan hadiah, karena kau telah menemukan benda-benda yang nilainya tidak terhitung itu. “ “ Barang-barang itu ada yang memilikinya, paman, Jika Ki Pituhu kelak memberi tahukan siapa saja yang telah dirampoknya, maka barang-barang itu akan dapat kembali kepada pemiliknya. Setidak-tidaknya sebagian” “ Hadiah itu tidak terdiri dari sebagian benda-benda berharga yang diketemukan itu. Tetapi hadiah itu seharusnya kau dapatkan dari Pajang. “ Paksi tersenyum. Katanya “ Aku belum memerlukan sekali, paman. Entahlah kelak. .” Sura melihat kejujuran memancar dimata Paksi. Karena itu, maka iapun berdesis” Mudah mudahan kejujuranmu akan dapat membawamu kepada kemujuran, meskipun dapat pula terjadi sebaliknya.” “ Maksud paman? “ bertanya Paksi. “ Kejujuran justru dapat menjerat seseorang kedalam kesulitan “ jawab Sura. “ Jadi maksud paman, sebaiknya orang tidak berlaku jujur? “ bertanya Paksi. “ Tidak. Tidak. Bukan itu maksudku. Orang yang jujur adalah orang-orang yang terpilih. Aku bermaksud ingin mengatakan suatu kenyataan, bahwa diantara orang orang yang jahat, dengki dan iri hati, maka orang-orang jujur akan dianggap sebagai racun, sehingga mungkin sekali mereka yang jujur itu akan mengalami kesulitan. Namun bagaimanapun juga kejujuran adalah suatu mahkota yang tidak ternilai harganya. '“ Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya “ Aku mohon doa paman, bibi dan seluruh keluarga. “ “ Semoga Yang Maha Agung akan selalu melindungimu disepanjang perjalananmu. Semoga kau akan dapat mencapai keinginanmu dengan pengembaraanmu” Paksi meninggalkan rumah Sura dengan han yang berat. Tetapi ia sudah memantapkan hatinya untuk berjalan terus. Jika ia tetap tinggal dirumuh Sura, maka akan sulit baginya untuk dapat menemukun cincin yang dicari nya itu. Ketika Paksi keluar dari regol padukuhan, matahari sudah tinggi dilangit. la membayangkan, debu yang dilemparkan oleh derap kaki kuda sekelompok prajurit yang mengiringi Ki Tumenggung Wirayuda ke Kwarasan. Tetapi arah perjalanan Paksi lain dengan arah perjalanan Ki Tumenggung Wirayuda. Mendekati tengah hari, maka jalan-jalan terasa sepi di tengah-tengah bulak. Orang yang bekerja disawahpun mulai menjadi letih. Keringat membasahi kulit mereka yang terbakar oleh sengatan sinar matahari: Sekali-sekali Paksi bertemu dengan perempuan yang membawa gendi berisi air, serta bakul berisi nasi dan kelengkapannya. Perempuan-perempuan itu membawa makanan bagi suami, ayah atau anak-anak mereka yang bekerja disawah dan tidak sempat pulang disiang hari untuk makan siang. Ketika Paksi sampai disimpang ampat, maka Paksi berhenti sejenak dibawah sebatang pohon randu yang daunnya tidak begitu banyak. Tetapi di cabang-cabang dan rantingnya bergayutan buah tandu yang sudah menjadi tua dan kering. Warnanya menjadi kecoklat-coklatan. Satu dua yang telah pecah, melontarkan kelentengnya dan menghamburkan kapuknya yang berwarna putih. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Di tengah hari itu, leher Paksi memang terasa kering. Tetapi ia berharap untuk menjumpai sebuah kedai di padukuhan yang agak besar di ujung bulak itu. Tetapi untuk berjalan ke kedai itu rasa-rasanya kakinya menjadi berat. Paksi lebih senang duduk dibawah pohon randu yang meskipun daunnya tidak begitu lebat, tetapi dapat melindunginya dari teriknya matahari. Paksi mengangkat wajahnya ketika ia melihat seorang gadis yang menggendong sebuah bakul kecil sambil menjinjing gendi lewat. Gadis itu sempat berpaling kepadanya. Tetapi gadis itu berjalan terus. Paksi mengerutkan dahinya, gadis itu berjalan dibawah matahari yang bertengger dipuncak langit, Paksipun kemudian bangku berdiri dan meneruskan langkahnya menuju ke padukuhan diujung bulak itu Keringatnya yang mengalir dengan derasnya lelah membasahi pakaiannya. Semakin dekat langkahnya dengan padukuhan didepan, maka Paksi melihat padukuhan itu bukan saja besar, tetapi tentu juga sebuah padukuhan yang terhitung mempunyai tataran kesejahteraan yang tinggi. Regol padukuhan itu tidak sekedar memenuhi kebutuhan. Tetapi dibuat dengan bahan yang baik. Buatannya-pun nampak baik dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Demikian Paksi memasuki regol padukuhan flu, udara rasa-rasanya menjadi sejuk. Angin membelai lembut menyentuh dedaunan yang hijau. Padukuhan itu memang sebuah padukuhun yang memiliki kesejahteraan yang tinggi bagi para penghuninya. Pada regol padukuhan itu terukir huruf-huruf yang berbunyi “ Muncar. “ Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia telah memasuki sebuah padukuhan yang bernama Muncar. Seperti yang diduga, padukuhan itu nampak lebih ramai dari padukuhan-padukuhan yang pernah dilewati nya. Sambil melihat-lihat halaman rumah yang bersih disebelah-menyebelah jalan, Paksi berjalan terus di jalan induk padukuhan itu. Halaman-halaman rumah yang pada umumnya terbentang luas disepular rumah yang besar dan terawat, ditanami dengan beberapa batang pohon buah-buahan, sehingga suasananya menjadi uejuk. Anak-anak kecil masih saja nampak bermain-main di halaman yang luas meskipun di tengah hari. Suaranya riuh memancarkan kegembiraan yang bebas. Namun demikian, leher Paksi masih juga terasa kering. Ia masih membutuhkan sebuah kedai untuk mendapatkan minuman. Beberapa saat kemudian maka Paksipun telah sampai kesebuah pasar. Pasar itu agaknya sebuah pasar yang agak besar. Tetapi di saat matahari telah sampai kepuncak langit itu, pasar itu sudah nampak sepi. Tetapi yang dicari oleh Paksi hanyalah sebuah kedai. Sedangkan didekat pasar yang sudah sepi itu terdapat beberapa buah kedai yang masih membuka pintunya. Beberapa orang masih berada di kedai itu. Mereka adalah orang-orang yang baru saja selesai berjualan di pasar itu. Setelah mengemasi sisa dagangan mereka, maka mcrekapun singgah barang scbentai untuk minum dan makan di kedai itu. Paksipun kemudian telah duduk disalah satu diantara kedai yang maih membuka pintunya itu, Dua orang masih berada didalam kedai yang terhitung cukufTbesar itu, yang mempunyai tempat duduk yang cukup banyak. “ Sehari-hari, disaat pasar ini masih ramai, kedai ini tentu ramai juga. “ berkata Paksi didalam hatinya. Demikian Paksi duduk, maka seorang pelaan telah mendekatinya dan bertanya, apa yang dipesannya. Paksipun kemudian telah memesan minuman untuk membasahi kerongkongannya. Sambil meneguk minuman dan mengunyah makanan yang dihidangkan, maka Paksi telah mendengarkan kedua orang yang berada di kedai itu memperbincangkan ceritera tentang keranda yang terbang di malam hari memasuki kuburan. Keduanya juga sudah mendengar bahwa keranda itu tidak lebih dari sebuah tipuan. Paksi sekali-sekali memandang kedua orang ini Tetapi tidak ada yang menarik perhatian selain cara mereka berceritera. Bahkan kemudian pemilik kedai yang duduk di antara geledeg-geledeg rendah ikut berbicara pula tentang hantu hantuan itu. Paksi memang belum jauh berjalan dari padukuhan yang pernah dicengkam oleh ketakutan Itu, “ Pada waktu itu “ berkata pemilik kedai Itu berita tentang keranda itu juga telah menakut kan kami di padukuhan Muncar ini. Aku sendiri memang bimbang antara percaya dan tidak percaya. Namun akhirnya terbukti bahwa hantu keranda itu adalah sekedar hantu-hantuan saja. “ Kedua orang itu tertawa. Disela-sela derai tertawanya, seorang diantara mereka berkata Apakah tidak ada seorang saja yang mempunyai sedikit keberanian untuk membuktikan bahwa keranda itu sama sekali bukan hantu? “ Namun pemilik kedai itu menjawab “ Tentu ada, karena akhirnya hantu-hantuan itu telah terbongkar. “ “ Tetapi sesudah berjalan untuk waktu yang lama “ sahut seorang yang lain. Tetapi pembicaraan itu terputus. Seorang yang bertubuh tinggi tegap dan berdada bidang memasuki kedai itu pula. Dilambungnya tergantung sebilah pedang didalam wrangkanya yang menarik. Wrangka kayu yang dihiasi dengan lilitan-lilitan tali yang beraneka warna. Juntai rambut yang hitam pada tangkai pedang yang berukir Itu. Paksi memandang orang itu sekilas. Tetapi iapun segera menunduk kembali memandangi nasi dengan lauk-pauknya yang telah dipesan pula. Meskipun Paksi sebenarnya masih belum lapar, tetapi selagi ia berada di kedai, maka sekaligus ia telah memesan nasi disamping sekedar makanan dan minuman. Orang itu memandangi kedua orang yang sudah lebih dahulu berada di kedai itu dengan tajamnya. Kemudian iapun berpaling pula kepada pemilik kedai itu. Sejenak kemudian, orang itupun kemudian telah duduk pula ditengah-tengah kedai itu menghadap kedua orang yang telah lebih dahulu duduk dan menikmati minuman dan makanan itu. “ Orang ini menyeramkan “ berkata Paksi kepada diri sendiri. Karena orang itu tidak menghadap kearahnya, maka Paksi sempat memandanginya pula. Dari samping, Paksi melihat wajah orang yang garang itu. Seleret kumis nampak diulas bibirnya yang tebal. Paksi terkejut ketika orang itu tiba-tiba bertanya dengan suaranya yang berat menekan “ Apa yang kalian tertawakan? “ Paksi yang sudah mulai makan itu diluar sadarnya telah mengangkat wajahnya. Ternyata orang itu memandang kedua orang yang telah lebih dahulu duduk itu. Kedua orang itu menjadi pucat. Karena mereka tidak segera menjawab, maka orang itu bertanya lebih keras “ He, apa kalian berdua tuli atau bisu? Apa yang kalian tertawakan? “ Kedua orang itu menjadi gagap. Seorang diantaranya menjawab dengan suara bergetar “ Tidak:” Kami tidak mentertawakan siapa-siapa. Kami sedang berkelakar. “ “ Apakah kalian mentertawakan aku? “ bertanya orang itu. “ Tidak. Sungguh tidak Ki Sanak. “ Orang itu mengangguk-angguk kecil. Kemudian iapun memberi isyarat kepada pemilik kedai itu untuk mendekat. Seorang pelayan dengan ragu-ragu melangkah mendekatinya sambil bertanya “ Apakah yang Ki Sanak pesan? “ “ Nasi dengan lauk seekor ayam utuh. “ Pelayan itu termangu-mangu sejenak. Dengan raguragu ia berkata “ Kami tidak mempunyai ayam yang utuh, Ki Sanak. Yang ada hanyalah sepotongsepotong. “ “ Jangan dungu. Bukankah yang sepotong-sepotong itu dapat dibentuk menjadi seekor yang utuh. Dua buah paha, gending, sayap, dada, ekornya, lehernya dan kepalanya. “ “ Baik, baik, Ki Sanak. “ jawab pelayan itu. Beberapa saat orang itu menunggu. Dengan tergesa-gesa pelayan dan pemilik kedai itu menyediakan pesanannya. Ketika pelayan itu menghidangkannya, nasi dan potongan-potongan ayam goreng yang digenapi menjadi seekor ayam utuh, sambal serta lalaban, maka orang bertubuh tinggi, tegap dan berdada bidang serta berwajah garang itu berkata sambil menunjuk kedua orang itu “ Mereka yang akan membayar. “ Kedua orang itu terkejut. Seorang diantara mereka bertanya “ Kenapa kami? “ Orang bertubuh tinggi itu bangkit berdiri sambil bertanya “ Kau berkeberatan? “ Orang itu menjadi ketakutan. Dengan tubuh gemetar orang itu menjawab “ Tidak. Kami sama sekali tidak berkeberatan. Aku hanya ingin menjelaskan saja. “ “ Terima kasih “ berkata orang bertubuh tinggi tegap itu “ jika kau berkeberatan, aku tidak akan menyentuh hidangan ini. “ “ Tidak. Kami tidak berkeberatan sama sekali” Orang itupun kemudian duduk kembali, Sejenak kemudian maka iapun telah sibuk dengan nasi, sambal, lalaban dan ayam goreng itu. Seekor utuh. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Hanya dalam waktu singkat, nasi dan ayam yung seekor itu telah habis dimakannya. Yang tinggal hanyalah sisa sambal dan lalaban serta tulang-tulang saja. “ Ketika Paksi sedang memandanginya dengan heran, diluar dugaan orang itu berpaling kepadanya. Dengan cepat Paksi menundukkan kepalanya. Tetapi terlambat. Orang itu sempat melihat Paksi memperhatikan orang itu. “ He, kenapa kau membelalakkan matamu?” bertanya orang itu. Paksi tidak mengangkat wajahnya, la masih saja menunduk. “ He, kenapa? “ bertanya orang itu pula. “ Tidak apa-apa, paman. Aku tidak sengaja. “ jawab Paksi. Orang itupun kemudian bangkit berdiri. Selangkah demi selangkah ia mendekati Paksi. Tangannya yang masih kotor dan berminyak itu tiba-tiba telah diusapkan pada ikat kepala Paksi sambil berkata “ Aku pinjam ikat kepalamu, anak muda. “ Paksi bergeser menjauh. Dengan sigapnya ia berdiri sambil menebas tangan orang itu. Orang bertubuh tinggi dan berwajah garung itu membelalakkan matanya. Ia tidak mengira bahwa Paksi telah menebas tangannya dan bergeser menjauh. “ Kau berani menghindar, anak muda “ geram orang itu. “ Aku tidak mempunyai ikat kepala lain.kecuali yang aku pakai ini. Karena itu, aku tidak rela bahwa ikat kepalaku ini kau kotori. “ “ Jadi kau berani melawan aku he? Kau lihat bahwa kedua orang itu dengan ikhlas telah bersedia membayar minuman dan makanan yang aku pesan. Kenapa kau berkeberatan hanya sekedar meminjamkan ikat kepalamu. Bukankah ikat kepalamu tidak akan menyusut atau menjadi koyak? “ “ Lebih baik aku membayar pesananmu itu daripada aku harus menerima penghinaan ini. “ Wajah orang itu menjadi merah. Dengan lantang ia berkata “ Tundukkan kepala. Aku akari membersihkan tanganku. “ “ Tidak “ teriak Faksi “ aku masih mempunyai harga diri “ Dengan marah orang itu meloncat maju. Tangannya terayun deras menampar wajah Paksi. Tetapi Paksi tidak membiarkan wajahnya disakiti. Karena itu, maka ia telah menepis tangan orang yang bertubuh tinggi kekar itu. Sekali lagi orang itu terkejut. Anak muda itu telah berani menepis tangannya. Bahkan tanpa ragu-ragu. Karena itu, maka orang itu menjadi semakin marah. Didorongnya lincak tempat duduk serta geledeg rendah tempat meletakkan minuman dan makanan sehingga terguling. Dengan geram orang itu berkata “ Aku ingin mengoyak mulutmu. Tidak seorangpun yang pernah berani membantah kata-kataku. “ Tetapi Paksipun telah mempersiapkan dirinya. Terngiang kata-kata ayahnya “ Umurnya sudah menginjak tujuhbelas tahun. “ Dan. Paksipun sadar, bahwa ia memang sudah dewasa. Ia tidak boleh membiarkan seseorang menghinanya. Yang terjadi justru sangat mengejutkan orang bertubuh tinggi kekar itu. Demikian lincak bambu dan geledeg itu terguling, belum lagi mulutnya terkatub rapat, Paksi sudah menyerangnya. Dengan cepat kakinya terjulur menyamping, mengarah ke dagunya. Orang itu tidak sempat mengelak. Tetapi ia mencoba menahan serangan itu dengan tangannya. Tetapi serangan Paksi demikian derasnya, sehingga tangan orang itu justru terdorong menimpa wajahnya, sehingga wajahnya itupun terangkat tinggi. Untunglah bahwa orang itu tidak jatuh terlentang la masih sempat menahan keseimbangannya. Namun dalam pada itu, Paksi masih juga sempat memikirkan kerusakan yang dapat terjadi jika ia berkelahi didalam kedai itu. Karena itu, pada saat keseimbangan lawannya berguncang, Paksi justru tidak menyerangnya, tetapi ia telah melangkah kepintu sambil berkata “ Aku tidak akan lari. Aku menunggumu di luar. “ Orang bertubuh tinggi, tegap dan berdada bidang itu dengan cepat telah menyusulnya kehalaman pula sambil menggeram “ Kau memang seorang anak muda yang berani. Tetapi kau jangan cepat menjadi besar kepala Kemenangan tidak ditentukan dengan kejutan kejutan kecil yang dapat mengguncang lawannya, tetapi dalam perkelahian, kemenangan ditentukan pada saat perkelahian itu berakhir. “ Paksi tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Sejenak kemudian, maka keduanya telah berhadapan di halaman kedai itu. Dua orang yang semula ada didalam kedai telah menghambur lari ketakutan selagi ada kesem patan. Sedangkan pemilik kedai itu dan para pelayannya menjadi gemetar. Mereka memang tidak mengira bahwa anak Itu dengan berani telah melawannya. Bahkan pada benturan benturan yang terjadi, anak itu menunjukkan bahwa pada dasarnya ia memiliki kemampuan. Di halaman keduanya telah mulai berkelahi lagi. Orang yang bertubuh tinggi itu menyerang dengan garangnya. Kemarahannya telah mendorongnya untuk berkelahi dengan sungguh-sungguh melawan seorang anak muda. Tetapi ternyata bahwa Paksi tidak mengecewakan. Ia menyadari, bahwa lawannya tentu seorang yang berilmu. Menilik sikapnya serta senjata yang tergantung dilambungnya, menunjukkan bahwa orang itu adalah orang yang memiliki kemampuan dalam olah kanuragan. Dalam pada itu, perkelahian itupun semakin lama menjadi semakin meningkat. Orang bertubuh tinggi tegap itu semakin meningkatkan ilmunya. Namun Paksipun telah mengerahkan tenaga dan kemampuannya pula. Ketika tangan Paksi menjadi basah oleh keringat, maka serang-serangannya menjadi semakin mapan. Sekali-sekali serangannya mampu menembus pertahanan lawannya itu. Orang-orang yang ada di sekitar kedai itu telah bergeser menjauh, tetapi ditempat yang agak jauh, mereka memperhatikan perkelahian itu dengan saksama. Ternyata Paksi yang masih sangat muda itu mampu mempertahankan dirinya. Seranganserangan lawannya semakin sulit untuk menyentuh Paksi yang berloncatan dengan tangkasnya. Orang yang bertubuh tinggi tegap dan berdada lebar itu menjadi semakin heran. Ia tidak mengira bahwa di tempat itu, tiba-tiba saja ia telah bertemu dengan seorang anak muda yang mampu mengimbangi ilmunya. Bahkan semakin lama, Paksi justru semakin mendesaknya. Orang yang berwajah garang itu mengumpat kasar. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya ia berusaha untuk mengakhiri pertempuran. Tetapi ternyata ia tidak dapat melakukannya. Anak muda yang menginjak umur tujuhbelas tahun itu, justru semakin mendesaknya, sehingga serangan-serangannya mulai menembus pertahanannya. Tubuhnya yang tinggi besar itu mulai goyah ketika serangan Paksi menyentuh dadanya. Ternyata orang yang bertubuh tinggi itu benar benar terdesak. Meskipun ia bertempur sambil berteriak-teriak kasar, namun usahanya untuk mengalahkan Paksi tidak berhasil. Untuk menarik pedangnya, orang itu merasa ragu Anak muda itu nampaknya tidak bersenjata. Jika ia menarik pedangnya, orang-orang yang menyaksikannya akan menganggapnya pengecut, karena lawannya tidak bersenjata. Namun dalam keadaan yang memaksa, maka orang itu tidak mempunyai pilihan lain. Setelah tubuhnya memar dibeberapa tempat, serta wajahnya mulai pengab oleh serangan-serangan Paksi, maka orang itu telah meloncat mengambil jarak. Pada saat Paksi berusaha memburunya, maka langkahnya terhenti. Ujung pedang lawannya tiba-tiba saja telah teracu kearah dadanya. “ Anak tidak tahu diri “ geram orang itu “ kau kira kau dapat memenangkan perkelahian ini. Pada saal aku tidak bersungguh-sungguh, kau justru memanfaatkan keadaan itu untuk menyakiti aku. Tetapi kau terlambai untuk minta ampun. Aku benar-benar sudah kehabisan kesabaran. “ Paksi bergeser surut, Ujung pedang itu nampak berkilat-kilat kehitam hilaman. Pedang Itu bukan pedang kebanyakan yang dibuat oleh pande besi betapapun baiknya. Tetapi pedang itu dibuat khusus oleh seorang empu keris yang baik. Ketika orang itu menggerakkan pedangnya, maka nampak pamornya yang berkeredip kemerahmerahan. Ketika orang Itu maju selangkah, maka Paksipun bergeser mundur. “ Jangan menyesali kesombonganmu “ geram orang itu. Paksi benar-benar harus mempersiapkan dirinya. la sadar, bahwa ia akan mengalami kesulitan melawan orang bersenjata pedang itu. Paksi harus bertumpu pada kemampuannya bergerak cepat untuk mengatasi senjata lawannya itu. Sejenak kemudian, maka orang bertubuh tinggi besai itu benar-benar telah menyerangnya. Pedangnya berputaran dengan cepat. Sekali-sekali terjulur kearah dadanya. Namun kemudian terayun mendatar menebas kearah leher. Paksi benar-benar harus bergerak cepat. Gerak pedang yang berputaran itu seakan-akan selalu memburunya kemana ia pergi. Meskipun demikian, Paksi masih mampu memberikan perlawanan yang berarti. Ketika pedang itu terayun deras, Paksi justru meloncat maju. Dengan cepat kakinya telah menghantam pergelangan tangan lawannya yang sedang terayun itu. Hampir saja pedang itu terlepas dari tangannya. Namun dengan genggaman tangan yang kuat, orang itu masih sempat menyelamatkannya. Tetapi ketika perhatian orang itu tertuju pada pedangnya, Paksi telah berputar sambil mengayunkan kakinya tepat mengenai dada orang itu. Orang itu terdorong selangkah surut. Keseimbangannyapun tiba-tiba telah terguncang, sehingga orang itu jatuh berguling. Namun ketika Paksi meloncat memburunya, sebuah sabetan pedang yang deras hampir saja memutuskan kakinya. Dengan sekuat tenaga Paksi meloncat surut menjauhi lawannya, sehingga pedang itu tidak dapat menggapainya. Tetapi untuk selanjutnya, Paksi telah terdesak. Orang yang marah itu benar-benar tidak lagi mengekang diri. Matanya yang membara memancarkan kemarahan yang tidak terkendali. Ternyata ilmu pedang orang yang bertubuh tinggi tegap itu sangat baik. Dengan berbagai macam gerak yang rumit, Paksi menjadi semakin kesulitan menghadapinya. Namun pada saat yang paling gawat, seorang tua berjanggut putih dengan wajah yang berkeriput melangkah mendekati arena perkelahian itu. Orang itu berjalan terbungkuk-bungkuk bertelekan pada sebalang tongkat kayu yang agak panjang. Kayu yang nampaknyu dipotong begitu saja dari dahannya dan dikeringkun. tetapi karena sepotong kayu itu sudah menjadi kehitam-hitaman. Orang tua itu mengenakan caping bambu yang lebar, sebagaimana dipakai oleh para petani yang bekerja disawah untuk mengurangi sengatan panas matahari. Wajah orang tua itu tidak saja berkeriput. Tetapi semacam penyakit kulit telah mengotori wajahnya. Daging-daging yang tumbuh dikeningnya hampir menutupi sebelah matanya. Juga dibawah telinga kirinya. Paksi dan orang bertubuh tinggi itu memang tertarik melihat kehadirannya, sehingga perkelahian itu telah terhenti sesaat. Adalah diluar sadar, bahwa kedua orang itu telah berloncatan mengambil jarak. Sekilas Paksi teringat kepada orang yang lelah menyerangnya di malam hari ketika ia berjalan jalan keluar padukuhan yang dibayangi ketakutan karena hantu-hantuan itu, dan yang telah menyerangnya pula di kuburan pada saat terjadi pertempuran antara orang-orang padukuhan dengan para pengikut Kebo Lorog. Orang itu juga cacad diwajahnya. Tetapi cacat diwajah orang itu tidak sama sebagaimana cacat diwajah orang tua yang berjalan terbungkuk-bungkuk dan mengenakan caping bambu itu. Orang tua itu terbatuk-batuk sehingga langkahnya berhenti. Tetapi setelah batuknya reda, maka orang itu tertawa tertahan-tahan. Dengan nada suara seorang yang telah lanjut umurnya orang itu berkata “ Perkelahian yang tidak adil. Kau, yang dipanggil orang Jaran Demung dan ditakuti banyak orang, harus berkelahi melawan anak-anak dengan mempergunakan senjatamu yang mengerikan itu, sementara lawanmu tidak bersenjata.” “ Setan. Kau tahu namaku? Siapa kau?” “ Aku pengemis yang setiap hari berkeliaran di pasar sebelah. Kau tidak pernah memperhatikan aku tetapi aku dapat mengenalimu sebagaimana banyak orang mengenalmu, meskipun kau lebih terkenal di daerah Utara. “ “ Bicaramu menunjukkan bahwa kau bukan sekedai seorang pengemis. Sebut gelarmu. “ Orang tua itu tertawa. Katanya “ Setiap hari aku ada disini. Kaulah yang jarang sekali datang ketempat ini. “ “ Seorang pengemis ditempat ini tidak akan mengenali gelarku dan apalagi kegiatanku di daerah Utara. “ “ Aku tahu, bahwa kau akan melacak kegagalan para pengikut Kebo Lorog. Kenapa kau tidak mencari Kebo Lorog saja dan memilih menantangnya atau bergabung dengan Kebo edan itu. “ “ Sebut namamu “ orang itu hampir berteriak. Tetapi orang tua itu berkata “ Aku tidak akan mengganggumu. Tetapi aku ingin perkelahian yang adil. Biarlah anak muda ini mempergunakan tongkatku..Mungkin akan ada sedikit keseimbangan. “ Setan. Berikan seribu macam senjata kepadanya.” “ Jaran Demung. Aku tahu bahwa kau seorang yang memiliki ilmu pedang yang sulit dicari tandingnya. Tetapi aku ingin melihat, apakah kau dapat mengalahkan anak muda itu atau tidak. Aku akan meminjamkan tongkatku. Hanya meminjamkan tongkatku. Jika ia terpaksa mati ditanganmu setelah ia meminjam tongkatku, itu adalah salah sendiri. Tetapi jika kau yang mati, itu juga salahmu sendiri. “ Jilid 3 ORANG yang disebut Jaran Demung itu memandang pengemis itu dengan tajamnya. Sementara itu, Paksi seakan-akan diluar sadar telah menggenggam tongkat kayu yang berwarna kehitamhitaman itu. Baru kemudian Paksi sadar ketika orang yang menyebut dirinya pengemis dengan mengenakan caping yang besar agak menutup wajahnya itu berkata “ Nah, anak-muda. Hidup matimu tergantung kepada kemampuanmu mempertahankan diri. Lawanmu benar-benar berniat membunuhmu, karena ia adalah Jaran Demung. Seorang yang terbiasa bertualang. Tidak ada orang yang berani menolak keinginannya. Jika ia ingin membunuh, maka ia, akan membunuh. “ Paksi memegang tongkat kayu itu dengan eratnya. Ia tahu bagaimana harus mempergunakannya, karena ia pernah ditempa oleh gurunya. Tetapi Paksi memang agak merasa heran. Tongkat kayu itu terasa agak lebih berat dari kayu kebanyakan dari jenis apapun yang pernah dikenalnya. Apalagi setelah menjadi kering. Namun Paksi tidak mempunyai banyak kesempatan untuk mengenali tongkatnya itu. Orang yang disebut Ja-ran Demung itu telah melangkah mendekatinya sambil berkata “ Aku akan membantainya, pengemis tua. Setelah anak ini, maka aku akan membuat perhitungan dengan kau sendiri, karena aku tidak percaya, bahwa kau benar-benar pengemis. Atau jika kau memang mengemis, maka itu adalah karena kau seorang pemalas atau pengecut, karena kau tentu memiliki kemampuan. “ Orang yang mengaku pengemis itu tidak menjawab. Yang terdengar adalah suara tertawanya yang panjang. Dalam pada itu, ketika Jaran Demung menjulurkan ujung pedangnya, maka Paksi mulai memutar tongkatnya. Ia memang memerlukan waktu sekejap untuk mengenali senjatanya itu. Paksi berharap bahwa tongkat itu tidak segera patah terkena sabetan pedang lawannya yang tajam itu. Tetapi lebih dari itu, pedang itu berada ditangan orang yang berilmu tinggi. Dengan tongkat kayunya, maka Paksi sadar, bahwa ia tidak dapat menangkis serangan lawannya dengan langsung membentur ayunan pedangnya. Tetapi ia harus berusaha untuk mengelak dan menepis senjata lawannya agar tongkatnya tidak segera patah. Jaran Demung yang marah itupun segera mulai menyerang. Dengan ujung pedangnya ia mulai menggapai tubuh Paksi. Tetapi dengan tangkasnya Paksi bergeser. Bahkan kemudian Paksipun mulai menyentuh pedang lawannya dengan tongkatnya. Paksi merasakan getar yang keras di telapak tangannya. Sentuhan tongkatnya rasa-rasanya bagaikan sentuhan logam yang keras. Bukan sekedar sentuhan kayu. Sentuhan itu juga mengejutkan Jaran Demung. Tangannya merasa seakan-akan pedangnya tidak sekedar menyentuh sepotong kayu kering. Tetapi pedangnya seakan-akan telah menyentuh sepotong besi. Karena itu, maka dugaannya bahwa orang yang menyebut dirinya pengemis itu sebenarnya adalah seorang yang berilmu. Jaran Demung memang berniat untuk menyelesaikan pengemis itu setelah anak muda yang telah berani menentang kemauannya itu. Meskipun jalan didepan kedi itu menjadi sepi, tetapi sebenarnya beberapa pasang mata tengah memandangi perkelahian antara seorang yang bertubuh tinggi, besar dan berwajah garang melawan seorang yang masih sangat muda. Sejenak kemudian, rnaka perkelahian itu menjadi se-main seru. Jaran Demung benar-benar telah mengerahkan kemampuannya untuk mengalahkan Paksi. Bagi Jaran Demung, membunuh orang bukan lagi satu masalah. Seandainya hal itu diketahui oleh para bebahu padukuhan, ia sama sekali tidak menghiraukannya. Ia yakin bahwa tidak seorangpun bebahu padukuhan yang akan berani menangkapnya. Bahkan sekelompok bebahu tidak akan berani mengerahkan orang-orang padukuhan. Seandainya mereka dapat mengalahnya karena ia hanya seorang diri, namun padukuhan itu dalam waktu kurang dari sepekan akan menjadi abu. Tetapi tongkat kayu yang berwarna kehitam-hitaman ditangan anak muda itu menjadi garang. Paksi bukan saja berusaha menangkis dengan menepis pedang lawannya, tetapi tongkat itu sudah mulai menyerangnya pula. Tongkat yang baru saja terayun mendatar menghalau serangan pedangnya, dengan cepat telah berputar dan mematuk ke-arah dadanya. “ Anak iblis “ geram Jaran Demung. Umpatan itu justru merupakan isyarat bagi Paksi, bahwa lawannya mulai mengalami kesulitan. Karena itu, maka Paksipun menjadi semakin mantap. Anak muda itu telah mengerahkan kemampuannya. Tongkatnya berputaran semakin cepat. Paksi justru terkejut, ketika serangan lawannya yang datang dengan cepat dan tiba-tiba tidak dapat dihindarinya. Ia tidak pula mendapat kesempatan untuk menepis serangan itu menyamping, sehingga memaksa Paksi untuk membentur ayunan pedang lawannya itu. Paksi memang menjadi berdebar-debar. Jika tongkat itu patah, maka pengemis itu akan marah kepadanya. Bahkan mungkin perlawanannya atas ilmu pedang lawannya menjadi kacau meskipun seandainya ia masih tetap dapat mempergunakan kedua potongan tongkat itu sebagai senjatanya. Tetapi ternyata dalam benturan yang terjadi, tongkat itu tidak patah. Bahkan dalam benturan itu, Jaran Demung telah terdorong selangkah surut, meskipun Paksi sendiri terdorong surut pula. Sejenak Paksi sempat memperhatikan tongkat kayunya yang nampaknya tidak lebih dari sebuah dahan yang dipotong langsung dari batangnya dan kemudian dikeringkannya. Tetapi ternyata tongkat itu memiliki kekuatan yang besar. Namun dalam kesempatan yang pendek itu, Paksi tidak sempat mengamati tongkatnya lebih lama. Ia tidak sempat mengetahui, apakah yang menyebabkan tongkat yang dipinjamnya itu demikian kokohnya. Dalam pada itu, Jaran Demung telah meloncat menyerangnya pula. Namun Paksipun telah siap untuk mempertahankan dirinya. Bahkan Paksi menjadi lebih mantap, karena ia tidak perlu raguragu membenturkan senjatanya dengan senjata lawannya. Pengemis yang mempunyai tongkat kayu itu tertawa. Dengan lantang ia berkata “ Bagus, anak muda. Kau memiliki ilmu yang bagus. Kau tidak berada dibawah tingkat kemampuan Jaran Demung. “ “ Setan kau pengemis buruk “ geram Jaran Demung. “ Kau akan kalah, Jaran Demung “ berkata pengemis itu “ jika anak itu hatinya buram, maka nasibmu akan menjadi sangat buruk. Dengan tongkatku itu, dadamu akan dilubangi. Tentu lebih baik dilubangi dengan ujung pedang yang runcing, daripada dengan ujung tongkat yang tumpul. Tetapi jika hati anak itu baik, maka kau akan diampuni. “ Jaran Demung menggeram. Tetapi ia memang tidak mempunyai banyak kesempatan. Ujung tongkat anak muda itu telah mulai menyentuh tubuhnya. Jaran Demung mengumpat kasar. Ia sungguh-sungguh tidak menduga, bahwa ia harus berkelahi dengan anak muda itu. Justru ia semakin lama menjadi semakin terdesak. Jaran Demung memang sedikit menyesal, bahwa ia telah berselisih dengan anak muda yang berilmu tinggi. Tetapi sikap anak muda itu seharusnya dapat dimengertinya. Tidak seorangpun hatinya rela memberikan ikat kepalanya untuk mengusap tangan yang kotor berminyak. Ternyata anak muda itu tidak sekedar tidak rela didalam hatinya. Tetapi ia benar-benar telah melawan. “ Pengemis itu tentu akan menyesal, karena ia telah berani membantu anak muda itu. “ geram Jaran Demung. Tetapi apakah yang akan dapat dilakukan terhadap pengemis itu jika anak muda itu kemudian berhasil membunuhnya? “ Tidak “ Jaran Demung itu menggeram didalam hatinya “ Tidak. Akulah yang akan membunuhnya. Tidak seorangpun yang akan dapat menghalangi aku dan tidak seorangpun yang akan berani menuntut aku. “ Tetapi ia tidak dapat menghindar dari kenyataan. Anak muda yang bersenjata tongkat itu mendesaknya terus. Tongkatnya semakin sering mengenai tubuhnya. Sementara itu, sangat sulit bagi Jaran Demung untuk dapat menyentuh lawannya dengan ujung pedangnya. Karena itu, maka Jaran Demung itu semakin lama menjadi semakin terdesak. Pengemis yang mengenakan caping lebar itupun mengikuti perkelahian dengan saksama. Sekali-sekali terdengar suara tertawanya menghentak, menghambur dan kemudian suara tertawa itu meledak berkepanjangan. “ Bagus anak muda. Kau ternyata mempunyai kelebihan dari Jaran Demung. Jaran Demung hanya mengandalkan kekuatan dan kedunguannya. Mungkin sedikit pengalaman yang berarti. Tetapi kau memiliki pengetahuan dasar yang mapan. Nah, sebentar lagi kau akan mengakhiri perkelahian. “ “ Diam kau pengemis gila “ teriak Jaran Demung “ jika kau tidak mau diam, aku akan mengoyak mulutmu.” Suara tertawa pengemis tua itu justru semakin meledak-ledak. Katanya “ Kau mengalami kesulitan menghadapi anak muda itu. Bagaimana mungkin kau akan mengoyak mulutku. “ Jaran Demung memang hanya dapat menggeraiti. Ia memang tidak dapat melakukannya, sementara Paksi mendesaknya terus. Ketika ujung tongkat Paksi mengenai lambung Jaran Demung, maka terdengar keluhan tertahan. Jaran Demung meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak. Tetapi Paksi tidak membiarkannya. Dengan cepat pula ia meloncat. Tongkatnya terayun dengan derasnya kearah kening. Jaran Demung masih sempat menangkis serangan itu. Dengan tergesa-gesa Jaran Demung memutar pedangnya melindungi keningnya dari sambaran tongkat Paksi. Tetapi dengan cepat, tongkat Paksi berputar. Pangkalnyalah yang dengan derasnya terayun ke arah pundaknya. Jaran Demung, harus meloncat semakin cepat menjauh untuk mengambil jarak. Tetapi Paksi tetap memburunya. Tongkatnya itu terjulur lurus mengarah ke dada Jaran Demung. Jaran Demung tidak mempunyai banyak kesempatan. Karena itu, maka iapun justru menjatuhkan dirinya, berguling dengan cepat dan kemudian meloncat bangkit berdiri. Paksi tertegun. Ternyata Jaran Demung masih sempat menghindar. Ketika Paksi berusaha memburunya, maka Jaran Demung telah siap menunggunya dengan ujung pedang terjulur. Paksi berhenti sejenak. Dipandanginya mata Jaran Demung itu dengan tajamnya, seakan-akan Paksi ingin melihat apa yang tersembunyi ditatapan matanya itu. Jaran Demung masih berdiri tegak. Namun Jaran Demung itu seakan-akan sudah menjadi yakin, bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan anak muda itu. Karena itu, Jaran Demung harus mengambil sikap sebelum tongkat anak muda itu menghancurkan kepalanya. Paksi tidak tahu apa yang bergejolak didalam dada lawannya itu. Iapun tidak ingin berteka-teki lebih jauh. Karena itu, maka Paksipun kemudian telah meloncat menyerangnya dengan garangnya. Jaran Demung masih memberikan perlawanan dengan hentakkan-hentakkan ilmu pedangnya. Namun justru tongkat Paksilah yang sering menyentuh tubuhnya. Karena itu, maka Jaran Demung yang ditakuti itu telah memilih untuk meninggalkan lawannya yang masih muda itu. Ketika ia mendapat kesempatan maka Jaran Demung itupun meloncat menjauh dan kemudian berlari meninggalkan arena. Paksi sama sekali tidak mengejarnya. Sementara pengemis yang meminjaminya tongkat itu tertawa berkepanjangan. “ Orang itu lari anak muda. Kau telah menang. “ pengemis itu hampir berteriak. Paksi berdiri termangu-mangu. “ Kenapa orang itu tidak kau kejar dan kau pukul punggungnya dengan tongkatku itu? Kemudian kau pukul ia sekali lagi di tengkuknya. Maka ia tentu akan mati. “ “ Aku tidak ingin membunuhnya. Bukan karena ingin kau memuji aku sebagai orang yang baik karena aku tidak membunuh lawanku. Tetapi aku memang tidak ingin membunuh. “ “ Bagus “ berkata pengemis itu “ sebaiknya orang memang tidak membunuh sesamanya dengan alasan apapun. “ Paksipun kemudian mengembalikan tongkat pengemis itu sambii berkata “ Aku mengembalikan tongkatmu, Ki Sanak. Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Dengan meminjamkan tongkat itu, Ki Sanak telah menyelamatkan nyawaku. “ “ Bukankah aku hanya meminjamkan tongkatku? Kaulah yang telah menolong nyawamu sendiri. “ “ Tanpa tongkat itu, aku tidak akan mampu melawan ilmu pedang orang itu. “ “ Nampaknya kau sesuai dengan jenis senjata seper t itu. Karena itu ambillah tongkatku. Senjata itu tidak begitu menarik perhatian. Berbeda dengan seandainya sebilah pedang tergantung dilambungmu. Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan nada dalam ia berkata “ Aku sangat berterima kasih dengan pemberianmu yang sangat berharga ini Ki Sanak. Tetapi bagaimana dengan kau sendiri? “ Pengemis itu tertawa. Katanya “ Bukankah aku dapat mencari lagi. Jika nanti aku sampai di pategalan, aku dapat memotong lagi sepotong dahan kayu. Bukankah tidak terlalu sulit bagiku. “ “ Tetapi tongkat ini bukan sekedar sepotong dahan kayu “ jawab Paksi. “ Lalu kau kira tongkat itu apa? “ “ Tongkat ini lebih berat dari sekedar sepotong kayu. “ “ Kebetulan tongkat itu adalah sepotong dahan kayu berlian. Itu saja. “ “ Aku tidak percaya, Ki Sanak. Kau tentu membuat tongkat ini secara khusus, meskipun aku tidak tahu, bagaimana caramu melakukannya. “ “ Sudahlah. Kau jangan aneh-aneh seperti itu. Aku relakan tongkat itu untuk kau miliki. “ “ Aku tidak hanya sekedar ingin memiliki sebuah tongkat seperti ini, tetapi aku ingin mengetahui, caramu membuatnya. Jika kau ajari aku membuat tongkat seperti ini, aku tidak akan mengambil milikmu. “ “ Kenapa tiba-tiba saja kau ingin berbuat aneh-aneh. Aku sudah memberikan tongkat itu kepadamu. Itu sudah cukup. “ “ Tongkat ini sudah berada ditanganku. Senjata yang sesuai bagiku. Nah, dengan senjata ini aku ingin memaksamu, agar kau mau memberitahukan kepadaku, bagaimana caramu membuat tongkat seperti ini. “ “ Anak muda “ berkata pengemis itu “ kau ternyata mempunyai watak yang aneh. Seharusnya kau ucapkan terima kasih, bahwa aku telah memberimu senjata yang sesuai bagimu. “ “ Bukankah aku sudah mengucapkannya. Bahkan sangat berterima kasih. “ “ Lalu kenapa kau ingin memaksamu melakukan sesuatu yang tidak aku mengerti. “ “ Jangan berpura-pura, Ki Sanak. “ sahut Paksi yang tiba-tiba saja telah memutar tongkatnya. “ He “ pengemis itu meloncat surut “ kau ini orang apa? Aku sudah menolongmu. Aku sudah memberikan senjataku kepadamu. “ “ Kau sendiri mengatakan bahwa aku telah menolong diriku sendiri. Sedangkan untuk tongkat ini aku sudah mengucapkan terima kasih. Sekarang, beritahu aku, dimana kau dapatkan dahan kayu ini dan bagaimana kau membuatnya menjadi senjata yang sangat baik ini. “ “ Aku tidak mau “ tiba-tiba orang itu menjawab dengan tegas. “ Aku akan memaksamu. “ geram Paksi. “ Kemenanganmu atas Jaran Demung, membuatmu mabuk dan merasa dirimu berilmu sangat tinggi. “ “ Sudahlah. Jangan banyak bicara. Sekarang, antarkan aku dan tunjukkan kepadaku, bagaimana kau membuat tongkat ini. “ Tetapi pengemis itu menggeleng. Katanya “ Tidak. Aku tidak mau. “ Tiba-tiba saja Paksi memutar tongkatnya. Ia benar-benar telah menyerang pengemis yang memakai caping yang lebar diatas kepalanya itu. Tetapi pengemis itu sudah bersiap. Dengan sigapnya ia meloncat menghindar. Paksi tidak melepaskannya. Dengan cepat ia memburunya, tongkatnya berputaran dan menyerang beruntun seperti arus banjir bandang. Orang-orang yang menyaksikan menjadi heran. Semua orang melihat, bagaimana pengemis tua itu memberikan tongkatnya. Mereka juga melihat, dengan tongkat itu Paksi mampu mengusir lawannya. Namun tiba-tiba saja mereka melihat, anak muda itu justru telah menyerang orang yang telah menolongnya itu. Perkelahianpun berlangsung semakin sengit. Ternyata pengemis itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Tongkat di tangan Paksi sama sekali tidak mampu menyentuhnya. Bahkan beberapa kali, tongkat itu membentur kaki dan tangan pengemis itu. Yang mengherankan Paksi, pengemis itu menangkis serangan tongkat ditangannya itu dengan benturan-benturan yang keras tanpa merasa sakit. Tetapi perkelahian itu tidak berlangsung terlalu lama, Selagi orang-orang yang menyaksikan masih terheran” heran, Paksi telah meloncat mundur untuk mengambil jarak. Tiba-tiba saja Paksi berlutut sambil berkata “ Aku mohon maaf, Kiai. “ Pengemis itu tidak memburunya. Sambil tersenyum iapun berkata “ Aku tahu, bahwa kau tentu hanya sekedar bermain-main. Tetapi apa alasanmu? “ “ Hanya sekedar ingin tahu, Kiai. “ “ Tidak. Tentu bukan sekedar ingin tahu. Apakah kau sedang berusaha untuk mengenali seseorang? “ Paksi tidak dapat ingkar. Katanya “ Ya, Kiai. “ “ Berdirilah. Aku hanya seorang pengemis. Nah, sekarang, yakinkah dirimu, apakah kau sudah dapat mengenalinya? “ “ Kiai. Aku mencurigai seseorang yang pernah menyerangku. Tidak hanya sekali. “ “ Apakah kau tidak dapat mengenali wajahnya? “ bertanya pengemis itu. “ Tidak Kiai. Wajahnya cacat. Aku tidak tahu, apakah itu wajah aslinya atau bukan, karena setiap kali ia menyerangku, tentu terjadi di malam hari. “ Pengemis itu tertawa. Katanya “ Ketika kau melihat wajahku, kau telah mencurigainya. Tetapi bukankah orang itu datang untuk menyerangmu? Apakah kau tidak mengetahui alasannya atau apa saja yang dipergunakannya sebagai alasan? “ “ Semuanya nampaknya telah dibuat-buat. Yang mengherankan, ilmunya dan ilmuku memiliki banyak persamaan. “ Pengemis itu tertawa semakin panjang. Katanya “ Kau cerdik. Kau mempunyai cara yang menarik untuk meyakinkan, apakah aku yang berwajah cacat ini juga orang yang pernah datang menyerangmu itu. Tetapi bukankah kau yakin, bahwa ilmuku dan ilmu orang itu berbeda? “ “ Ya. “ jawab Paksi. “ Nah, sekarang pergilah. Bawa tongkatku. i\au memerlukannya. “ berkata pengemis itu “ Jaran Demung tentu mendendammu. Tanpa tongkat itu, maka kau akan mengalami kesulitan. Mudahmudahan tongkat itu berarti bagimu. “ “ Terima kasih, Kiai. “ jawab Paksi. Nampak Paksi itu masih juga bertanya “ Tetapi apakah aku boleh mengetahui nama Kiai, atau sebutan yang Kiai pergunakan? “ “ Panggil aku Tenong. Namaku Tenong. “ Dahi Paksi berkerut. Pengemis itu tertawa sambil berkata “ Kau tidak percaya? Sudahlah. Namaku tidak penting. Jika kau akan melanjutkan perjalananmu, pergilah. Mudah-mudahan kau selalu mendapat perlindungan dari yang Maha Agung. “ “ Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih, Kiai. “ “ Namaku Tenong. “ orang itu tertawa sambil melangkah pergi. Paksi berdiri termangu-mangu. Ditangannya digenggamnya tongkat pemberian pengemis itu. tiba-tiba saja ia merasa sangat sesuai dengan tongkat itu. Ia sadar, bahwa tongkat itu tidak sekedar sebatang dahan kayu yang dipotong dari batangnya. Tetapi Paksi tidak segera pergi, la masih sempat menemui pemilik kedai untuk menghitung, berapa ia harus membayar. “ Aku akan mengganti ambenmu yang rusak. “ “ Tidak, anak muda. Lincak bambu itu tidak rusak. Hanya terguling saja. “ Semula pemilik kedai itu memang berkeberatan menerima uang Paksi. Tetapi akhirnya diterimanya juga karena Paksi agak memaksanya. “ Kau akan banyak kehilangan, jika aku tidak membayar. “ berkata Paksi “ bukankah Jaran Demung itu juga tidak membayar sementara kedua orang yang dipaksanya untuk membayar sudah melarikan diri. Tentu bukan karena ingkar. Tetapi karena ketakutan. “ Demikianlah, maka Paksipun kemudian meninggalkan kedai itu. Ia sudah tidak melihat lagi pengemis yang telah memberinya sebatang tongkat yang dapat menemaninya sepanjang perjalanannya yang tidak diketahuinya, kapan berakhir. Beberapa saat kemudian, maka Paksipun telah meninggalkan padukuhan yang cukup besar dan yang telah memberikan kesan tersendiri itu. Di padukuhan itu ia telah bertemu dengan Jaran Demung. Seorang yang akan dapat membayanginya sepanjang perjalanannya. Jaran Demung tentu mendendamnya. Apalagi, Jaran Demung mempunyai hubungan khusus dengan Kebo Lorog. Paksipun sempat membayangkan wajah laki-laki yang pernah menyerangnya dengan tiba-tiba dan menuduhnya telah mengetahui rahasia Kebo Lorog dan para pengikutnya. Orang itupun datang menyerangnya pula ketika terjadi pertempuran di kuburan. Tetapi dugaan Paksi menjadi semakin keras, bahwa orang itu justru bukan pengikut Kebo Lorog. Terik matahari serasa membakar tubuh, justru saat matahari mulai menurun. Angin terasa semilir mengusap tubuh Paksi yang basah oleh keringat. Perkelahiannya memang telah memeras keringatnya. Apalagi panasnya sinar matahari. Paksi berjalan diatas jalan berdebu. Tetapi air hening yang mengalir di parit disebelah jalan yang dilaluinya itu memberikan kesegaran tersendiri. Dilangit burung pipit terbang dalam kelompok-kelompok yang besar, perputar-putar diatas bulak persawahan. Namun kemudian menghilang terbang ke Utara. Paksi mengayun-ayunkan tongkat barunya. Sekali-sekali Paksi mengamati tongkatnya itu sambil berkata di-dalam dirinya “ Tongkat ini telah melengkapi perjalananku sebagai seorang pengembara. “ Paksi melangkah menepi ketika ia berpapasan dengan tiga orang berkuda. Nampaknya ketiganya juga sedang menempuh perjalanan yang panjang. Tetapi ketiganya tidak memperhatikan Paksi sama sekali. Anak muda yang berjalan diteriknya matahari menjelang sore hari dengan membawa tongkat sebatang kayu yang nampaknya sudah kering dan berwarna kehitam-hitaman itu sama sekali tidak menarik perhatian. Paksi mengusap debu yang menghambur di pakaiannya. Sekilas Paksi melihat wajah-wajah yang bersih dari para penunggang kuda itu. “ Pantasnya, mereka adalah saudagar-saudagar yang sudah berhasil “ berkata Paksi didalam hatinya. Namun paksipun kemudian telah melanjutkan perjalannya pula. Dilangit matahari bergerak semakin rendah. Sementara Paksi masih berjalan terus menyusuri jalan panjang. Sekali-sekali ia menyusup melalui jalan padukuhan. Tidak ada hambatan di perjalanannya. Beberapa padukuhan telah dilampaunya. Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka panasnyapun mulai menyusup pula. Tetapi haus dikerong-kongannya bagaikan mencekiknya. Ketika Paksi berjalan didepan sebuah rumah yang besar dan berhalaman luas disebuah padukuhan, dilihatnya sebuah gentong berisi air. Sebuah siwur tersangkut disebelahnya. Paksi tahu, bahwa gentong seperti itu memang diletakkan di sebelah regol halaman dipinggir jalan untuk menyediakan air bersih bagi yang membutuhkan. Bagi mereka yang kehausan di pejalanan. Ketika Paksi membuka tutup gentong itu, maka ia menjadi ragu. Air di gentong itu tinggal sedikit, sehingga endapan-endapannya akan dapat tersenduk jika ia mengambil air dengan siwur. Tetapi Paksi terkejut ketika ia melihat seorang gadis yang membawa kelenting dilambungnya berisi air keluar dari pintu regol halaman. Gadis itu tertegun. Namun kemudian katanya “ Maaf, Ki Sanak. Mungkin air digentong itu tinggal sedikit. Hari ini panasnya bukan main, sehingga banyak orang lewat yang kehausan. Biarlah aku mengisinya dahulu. “ Paksipun tergagap. Katanya “ Silahkan, silahkan. “ “ Atau lebih baik Ki Sanak mengambil langsung dari kelentingku ini sebelum aku tuang kedalam gentong. Jika Ki Sanak akan menyenduknya dari gentong, maka Ki Sanak masih harus menunggu airnya mengendap lebih dahulu. “ Sebelum Paksi menyahut, gadis itu telah meletakkan kelentingnya dan mengambil siwur dari tangan Paksi. Paksi justru menjadi seperti orang yang kebingungan. Demikian gadis itu menyerahkan siwur yang telah berisi air jernih, maka Paksipun menerimanya tanpa sesadarnya “ Minumlah “ gadis itu tersenyum. Paksi yang seakan-akan terbius itu telah meletakkan siwur itu dibibirnya serta menuang air kedalam mulutnya. Betapa sejuknya. Tetapi bukan saja air itu yang membuat bibir Paksi segar. Senyum gadis itupun rasa-rasanya telah menyejukkan jantung Paksi yang panas. Tetapi Paksi tidak dapat terlalu lama menatap wajah gadis itu. Sejenak kemudian, gadis itu telah membawa ke-lentingnya kembali memasuki pintu regol halaman setelah menuang isinya kedalam gentong. Paksi yakin bahwa gadis itu masih akan menuang air dari kelentingnya dua tiga kali lagi. Tetapi ia justru merasa sangat segan untuk tetap berada di tempat itu. Karena itu, maka Paksipun kemudian telah beringsut meninggalkan gentong yang sedang diisi oleh gadis yang manis itu. Paksipun kemudian melangkah kembali menyusuri jalan berdebu. Sejenak masih membayang wajah gadis yang mengisi gentong itu. Namun kemudian ia mulai melihat kedalam dirinya sendiri. Paksi itu berjalan tanpa tujuan. Ia mencari sesuatu yang belum pernah dilihatnya. “ Perjalanan ini akan sia-sia seandainya benda yang aku cari itu justru berada diarah yang lain. Jika cincin itu sudah dibawa orang ke Surabaya atau justru ke Blam-bangan atau bahkan menyeberang ke Bali. “ berkata Paksi didalam hatinya. “ Sama saja “ desisnya “ seandainya aku berjalan ke Timur sementara benda itu dilarikan ke Barat, maka perjalananku juga sia-sia. “ Tetapi Paksi tidak sekedar mengeluh bahwa perjalanannya sia-sia. Tetapi ia tidak dapat mengambil manfaat dari pengembaraannya itu. Pengalamannya telah membuat ilmunya semakin matang dan berkembang. Bahkan akhirnya Paksi itupun berkata “ Aku tidak peduli, apakah aku akan menemukan cincin itu atau tidak. Ayah tentu dapat memaklumi kesulitan yang aku hadapi jika aku tidak dapat menemukannya. Ayah sendiri sama sekali tidak dapat memberikan petunjuk tentang cincin yang harus aku cari itu. Namun dalam pengembaraan ini aku itiendapatkan pengalaman. Aku merasa menjadi semakin akrab dengan kehidupan. “ Dengan demikian, maka kegelisahan hati Paksi Pa-mekas itu menjadi semakin menyusut. Ia tidak lagi merasa memikul beban yang sangat berat. Sambil berjalan Paksi menimang-nimang tongkatnya. Tongkat pemberian pengemis itu. Ia yakin, bahwa pengemis itu bukan pengemis kebanyakan. Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka Paksi mulai memikirkan tentang perjalanannya. Paksi dapat saja berhenti dan bermalam digubug, sebagaimana pernah dilakukan. Bermalam disebuah gubug di tengah-tengah bulak. Paksi juga dapat mencoba minta ijin untuk bermalam di sebuah banjar. Atau bahkan di rumah seseorang. Tetapi rasa-rasanya Paksi lebih senang berada di tempat yang terbuka, luas menjangkau cakrawala, la merasa dirinya bebas dan dadanya akan terasa lapang. Paksi memang merasa sedikit lapar. Tetapi ia akan dapat menahannya sampai esok. “ Besok, pagi-pagi aku dapat pergi kesebuah pasar atau kedai tau apapun tempat orang menjual nasi. “ Karena itu, maka ketika ia melihat sebuah gubug ditengah-tengah bulak, iapun melangkah mendekatinya. Senja sudah mulai turun. Langit menjadi merah kehitam-hitaman. Angin senja yang lemah menggoyang batang padi yang digelar memenuhi bulak yang luas itu. Paksi memandang gelombang daun padi yang seakan-akan mengalir perlahan-lahan menerjang gubug ditengah bulak itu. Tetapi gubug itu tidak bergetar. Gubug itu kosong. Agaknya sudah dua tiga hari tidak dipergunakan. Agaknya padi yang tumbuh subur itu tidak perlu ditunggui di malam hari. Apalagi air di kotak-kotak sawah telah penuh berlimpah. Karena itu Paksi merasa akan dapat beristirahat dengan baik di gubug itu. Ketika malam turun, maka Paksipun segera membaringkan tubuhnya. Ia tidak begitu letih, tetapi ia merasa perlu untuk beristirahat karena ia masih harus menempuh pengembaraan yang panjang dihari-hari yang akan datang. Karena Paksi tidak memikirkan apa-apa lagi, iapun dengan cepat telah tertidur dengan nyenyaknya. Semilirnya angin telah membelainya sehingga Paksi menjadi semakin dalam terbenam dalam tidurnya. Tetapi di tengah malam Paksi terbangun. Kakinya terasa gatal oleh gigitan nyamuk yang ganas. Paksipun kemudian bangkit dan duduk dibibir gubug itu. Dari tempatnya, Paksi memandang langit yang hitam. Bintang-bintang bergayutan seperti ribuan permata yang ditaburkan diatas permadani yang berwarna pekat. Paksi menggeliat. Tetapi ia terkejut. Tiba-tiba malam menjadi terang seolah-olah tiba-tiba saja bulan tersembul dilangit. Dengan cepat Paksi meloncat turun dari gubug itu sambil menengadahkan wajahnya. Paksi menjadi berdebar-debar. Ia melihat seleret cahaya yang melintas dilangit. Meluncur dan seakan-akan jatuh tidak terlalu jauh dari gubug itu. Demikian benda langit itu tenggelam dibalik pepohonan, maka langitpun menjadi gelap kembali. Paksi menjadi berdebar-debar. Malam terasa justru menjadi semakin sepi. Suara cengkerik dan bilalang terdengar menggelitik ditelinganya. Paksi pernah melihat bintang beralih beberapa kali. Paksi juga pernah melihat bintang berekor yang memancar dilangit. Beberapa orang telah membicarakannya, seakan-akan bintang berekor itu membawa bencana bagi bumi. Penyakit atau peceklik yang panjang. Tetapi Paksi belum pernah melihat bintang yang seakan-akan telah jatuh dibumi. Ada dorongan yang kuat bagi Paksi untuk pergi ketempat bintang itu menghilang. Tetapi nalarnya telah mencegahnya. Seandainya benar bintang itu jatuh, maka bumi tentu akan bergetar. Atau, bintang itu jatuh ditem-pat yang sangat jauh. Karena itu, Paksi mengurungkan niatnya untuk melacak cahaya yang menerangi malam seperti terangnya bulan itu. Namun Paksi terkejut ketika ia mendengar seseorang menyapanya “ Kau lihat bintang yang terbang dilangit itu anak muda. “ Dengan cepat Paksi berpaling. Dilihatnya seorang laki-laki membawa cangkul dipundaknya berdiri beberapa langkah di belakangnya. Paksi bergeser selangkah surut. Ia mencoba untuk melihat wajah orang itu. Tetapi di keremangan malam, ia tidak dapat melihat dengan jelas. Meskipun demikian ia dapat melihat bahwa orang itu berjambang berkumis dan berjanggut. Meskipun tidak panjang, tetapi nampak lebat dan menutup hampir seluruh wajahnya. “ Siapakah kau anak muda? Dan kenapa kau berada disini? “ “ Aku seorang pengembara Ki Sanak. Aku menjelajahi padukuhan demi padukuhan. Malam ini aku berada disini dan bermalam digubug kecil ini. “ Orang itu mengangguk-angguk. Sebelum Paksi bertanya, orang itu berkata “ Aku pemilik gubug ini. Aku memang terbiasa melihat sawahku di malam hari. Bulan ini aku mendapat bagian air di malam hari. “ “ Maaf, Ki Sanak. Aku telah tidur di gubug ini sebelum aku mendapat ijin. “ Orang itu tertawa. lapun kemudian meletakkan cangkulnya dan duduk dibibir gubugnya. “ Duduklah. Nampaknya kau letih. “ “ Ya, Ki Sanak. “ “ Tetapi kau tidak tidur anak muda. Kau sempat melihat bintang yang jatuh itu. “ “ Aku tertidur sejak malam turun. Aku justru sedang terbangun ketika dilangit nampak cahaya terang. “ Kau termasuk seorang anak muda yang beruntung, bahwa kau sempat melihat ndaru yang jatuh dari langit? “ Ndaru? “ ulang Paksi. “ Ya. Bintang yang berwarna kehijau-hijauan itu disebut ndaru. Orang yang melihatnya akan mendapatkan sesuatu yang berharga bagi dirinya. Jika bintang yang jatuh itu berwarna kemerahmerahan, maka bintang yang demikian itu disebut teluh-braja. Orang yang melihat teluh-braja, sengaja atau tidak sengaja, akan mengalami kesulitan. “ “ Ki Sanak juga melihat ndaru itu. Ki Sanak tentu juga akan mendapatkan keberuntungan. “ Orang itu tertawa. Katanya “ Bagiku, tidak ada keberuntungan yang lebih besar daripada hasil panenanku ini nanti akan berlimpah.Jika lumbungku yang tidak besar itu penuh dengan padi. Anakku tidak akan kelaparan setidak-tidaknya untuk semusim. “ Bukankah sawah Ki Sanak cukup luas? Melihat kotak-kotak sawah disekitar gubug ini, rasarasanya padi yang akan Ki Sanak bawa pulang cukup banyak. “ “ Sawah ini bukan sawahku sendiri, anak muda. -Aku mengerjakannya bagi orang lain. Jika kemudian padi disawah ini dituai, aku mendapatkan separo dan pemilik sawah ini separo. “ Paksi mengerutkan keningnya. Ia melihat sawah yang terbentang sangat luas. Tetapi ada juga petani yang tidak memiliki sawah sendiri. Tetapi sebelum Paksi bertanya, orang itu berkata “ Aku sendiri juga mempunyai sebidang tanah. Tetapi tidak terlalu luas. Anakkulah yang mengerjakan sawah itu, sementara aku dan adikku mengerjakan sawah ini. Sawah milik seorang yang kaya raya. “ Paksi mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja orang itu bertanya “ Namamu siapa anak muda? “ Paksi termangu-mangu sejenak. Tetapi sejak semula ia tidak menyembunyikan namanya. Karena itu jawabnya “ Namaku Paksi. Apakah aku boleh mengetahui nama Ki Sanak? “ Orang itu tertawa. Katanya “ Namaku baik anak muda. Tetapi namaku tidak sebaik namamu. Tetangga-tetanggaku memanggilku, Marta Brewok. “ Paksi mengangguk-angguk. Sementara orang itu bertanya “ Sebenarnya kau akan pergi kemana, Paksi. “ “ Aku pengembara, Ki Marta. Aku tidak mempunyai tujuan. “ “ Kau masih terlalu muda untuk mengembara. Apa yang sebenarnya kau cari dalam pengembaraanmu. Bukankah lebih baik bagimu untuk tetap berada diantara keluargamu? “ “ Aku tidak mempunyai keluarga lagi “ desis Paksi. Tetapi orang yang mengaku bernama Marta Brewok itu tertawa pula. Katanya “ Hampir setiap pengembara berkata, bahwa ia tidak mempunyai keluarga lagi, meskipun ayah dan ibunya masih lengkap. Kekecewaan diling-kungan rumah tangganya, kegelisahan, sikap orang tua yang kurang wajar atau hal-hal lain yang terjadi di rumah, dapat mendorong seseorang untuk pergi mengembara. “ Paksi menundukkan kepalanya. Petani itu seakan-akan mengetahui bahwa ia telah berbohong. Seolah-olah petani itu tahu, bahwa dirumah masih ada ibu dan ayahnya. “ Tetapi ayah memerintahkan aku untuk pergi “ berkata Paksi didalam hatinya. Namun kemudian terngiang kata-kata ibunya “ Kau sengaja mengusirnya. “ Paksi menarik nafas dalam-dalam. “ Sudahlah “ berkata orang itu “ jika kau ingin tidur lagi. tidurlah. Aku akan melihat air di parit itu. “ Paksi tergagap. Dengan serta-merta ia menyahut “Kotak-kotak sawah ini telah penuh dengan air. “ “ Ya. Didaerah ini air termasuk tidak terlalu sulit. Tetapi kadang-kadang terjadi juga kelupaan. Jika satu kotak sawah tidak terbuka, maka kotak itu akan tetap kering, meskipun disekitarnya digenangi air setinggi pematang. “ “ Baik, Ki Marta “ jawab Paksi “ jika aku masih dapat tidur, aku akan tidur. “ Petani itu kemudian telah turun dari gubugnya, memanggul cangkulnya dan siap untuk melangkah pergi. Namun ia masih sempat berkata “ Anak muda. Jika kau sempat, tengoklah arah bintang yang jatuh itu. Memang mungkin bintang itu tidak jatuh. Tetapi melintasi cakrawala. Atau jatuh ditempat yang sangat jauh. Namun diarah bintang jatuh itu mungkin ada sesuatu yang dapat menarik perhatianmu. Arah bintang itu jatuh adalah arah keberuntunganmu. “ Paksi termangu-mangu sejenak. Sementara petani itu mulai melangkah meninggalkannya sambil berkata “ Tetapi jika kau sudah menentukan arah tujuanmu, lupakanlah. Yang kau lihat memang tidak lebih dari sebuah lintang-alian yang besar dan barangkali jaraknya lebih dekat dengan bumi. “ Paksi termangu-mangu. Tetapi petani itu telah melangkah menyusuri pematang sambil memanggul cangkul dipundaknya. Paksi memandanginya dengan kerut dikening. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Bahkan kemudian Paksipun memandang kearah benda langit itu seakan-akan jatuh dibelakang padukuhan. Paksi termangu-mangu sejenak. Sementara malam bertambah malam. Paksi memang masih belum ingin beranjak dari gubug itu. Ia masih ingin berbaring sampai menjelang fajar. Paksi masih juga ingin bertemu dan berbicara lagi dengan petani yang menggarap sawah diseputar gubug itu. Mungkin ia mau menjelaskan, kenapa arah bintang jatuh itu adalah arah keberuntungannya. “ Apakah karena aku melihat bintang yang disebut ndaru itu? “ bertanya Paksi didalam hatinya. Namun Paksi itu masih saja berbaring. Ia menunggu petani itu datang lagi ke gubugnya. Tetapi petani yang membawa cangkul itu tidak segera kembali. Bahkan Paksi yang merasa sudah terlalu lama menunggu itu, menjadi kehilangan kesabaran. Paksilah yang kemudian berjalan menyusuri pematang sambil menjinjing tongkatnya menyusul petani yang menyebut dirinya Marta Brewok itu. Tetapi sudah sekian jauh Paksi meniti pematang, ia tidak melihat seorangpun disawah itu. Ia tidak melihat orang yang berdiri atau berjongkok dibendungan menunggui aliran air dari parit. Ia juga tidak melihat seseorang yang berjalan diatas pematang sambil memanggul cangkul. Akhirnya Paksi melangkah kembali ke gubug kecil itu. Tetapi gubug itupun masih tetap kosong. Ketika langit menjadi merah, maka Paksipun telah mencuci wajahnya dengan air parit yang jernih. Kemudian membenahi dirinya sambil menunggu. Paksi masih ingin bertemu dan berbicara dengan pemilik gubug itu. Paksi justru menjadi penasaran ketika langit menjadi terang. Orang yang menyebut dirinya Marta Brewok itu tidak kembali ke gubugnya. Meskipun kesabaran Paksi sebenarnya telah habis, namun Paksi justru memaksa diri untuk menunggu. Ketika langit menjadi terang dan mataharipun terbit, Paksi masih tetap berada di gubug itu. Ia berharap seseorang datang ke gubug itu meskipun bukan Marta Brewok sendiri. Dipagi hari Paksi melihat titik-titik embun diujung daun padi. Berkilat-kilat disentuh sinar matahari yang condong. “ Merta Brewok itu tentu mengelilingi sawahnya dan melingkar lewat pematang yang menyilang itu langsung pulang kerumahnya. Bulak ini terlalu luas “ berkata Paksi didalam hatinya. Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka Paksi melihat beberapa orang telah turun kesawah untuk melihat tanamannya. Ada diantara mereka yang menganggap bahwa rumput yang tumbuh diantara batang-batang padi telah pantas untuk dibersihkan, sehingga ia telah mengajak dua orang yang diupahnya untuk membersihkan dan mencabuti rerumputan yang liar itu. Paksi menjadi berdebar-debar ketika ia melihat seorang laki-laki yang sudah separo baya berjalan menuju ke gubug ditengah bulak itu. Seorang laki-laki yang tinggi ke-kurus-kurusan, memanggul cangkul di pundaknya serta mengenakan caping yang lebar dikepalanya. Orang itu tertegun melihat Paksi yang masih duduk di bibir gubug itu. Namun yang kemudian telah meloncat turun. “ Kau siapa anak muda? “ bertanya laki-laki itu. “ Namaku Paksi. Aku bermalam digubug ini semalam. “ “ O. Kenapa kau tidak pergi saja ke padukuhan? “ Kau dapat bermalam di banjar yang tentu lebih hangat daripada bermalam digubug ini. “ “ Semalam aku berada disini bersama Ki Marta Brewok “ sahut Paksi. Orang itu mengerutkan dahinya. Kemudian iapun bertanya “ Siapakah yang kau maksud dengan Ki Marta Brewok? “ “ Pemilik gubug ini. Ia yang menggarap sawah ini meskipun bukan miliknya sendiri. “ Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu nampak semakin bingung. Katanya dengan nada ragu “ Akulah pemilik gubug ini. Sawah ini sawahku pula. Aku garap sendiri sawahku bersama dengan dua orang anakku laki-laki yang nanti juga akan turun kesawah. “ Paksi menjadi heran mendengar jawaban itu. Kemudian ia mencoba untuk menjelaskan, ujud dan wajah orang yang mengaku bernama Marta Brewok itu. “ Anak muda. Di padukuhanku tidak ada seorangpun yang bernama Marta Brewok. Juga tidak ada orang yang brewok, yang jambang, kumis dan janggutnya tumbuh menutupi wajahnya. “ “ Tetapi semalam kami duduk-duduk bersama di gubug ini. “ jawab Paksi. “ Anak muda “ berkata orang itu “ namaku Ponang. Orang se Kademangan dapat mengenali aku. Mereka dapat mengatakan bahwa sawah ini sawahku dan aku pulalah yang menggarapnya. Tidak ada orang bernama Marta Brewok itu. “ Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia memang menjadi agak bingung. “ Jangan-jangan kau bermimpi anak muda. “ “ Tidak Ki Ponang. Aku tidak bermimpi. Aku sadar sepenuhnya akan kehadiran orang yang mengaku bernama Marta Brewok itu. “ Tetapi orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu menggeleng. Katanya “ Aku tidak mengenal Marta Brewok. Jika kau bertanya, maka orang se Kademangan ini tentu juga tidak ada yang pernah mengenal Marta Brewok. Bahkan ceritera di dunia lelembutpun disekitar tempat ini tidak ada yang berujud sebagaimana kau katakan. Jika kau percaya, di randu alas yang besar itu tinggal sesosok peri. Tetapi sudah tentu ujudnya sebagai seorang perempuan. Sedangkan di sendang, di segerumbul pohon-pohon raksasa yang nampak itu, tinggal sesosok hantu dalam ujudnya sebagai seorang anak muda vang tampan berkumis tipis dengan ikatkepalalkuning menyala. Sedangkan di jembatan itu tinggal gendruwo yang ujudnya seperti seorang tua yang berjanggut dan berkumis putih. Janggutnya panjang sampai ke dadanya. Matanya bercahaya. Tetapi gendruwo itu tidak pernah mengganggu orang. “ Tidak ada lagi yang dapat membuat Paksi ketakutan. Ia sudah menjelajahi malam-malam yang gelap dan seram. Bahkan kuburan yang berhantu keranda. Namun Ki Ponang itu kemudian berkata “ Atau mungkin salah satu sosok itu telah memilih ujud yang berbeda untuk menemuimu. “ Paksi hanya mengangguk-angguk saja. Ia memang tidak membantah agar Ki Ponang itu tidak menjadi kecewa. Tetapi menurut pendapatnya, orang yang menyebut dirinya Marta Brewok itu tentu bukan hantu. “ Tetapi siapa dan apa maksudnya? “ pertanyaan itu terasa bergejolak didalam dadanya Namun karena itu, maka Paksi merasa tidak ada gunanya lagi untuk menunggu orang yang menyebut dirinya Marta Brewok. Karena itu, maka Paksipun kemudian telah minta diri. “ Anak muda “ berkata Ki Ponang “ aku ingin mempersilahkan kau singgah dirumahku. Aku lihat kau letih. Mungkin karena itu, maka mimpimu seakan-akan peristiwa yang sebenarnya terjadi. “ “ Terima kasih, Ki Ponang. Aku adalah pengembara yang menempuh jalan tanpa akhir. Itulah sebabnya, maka aku selalu nampak letih. Tetapi keletihan ituimemberikan kepuasan Ki Ponang. “ Ki Ponang mengangguk-angguk. Katanya “ Aku mengerti. Aku memang pernah mendengar orang yang sedang menjalani laku. Jika kau juga sedang menjalani laku, maka aku tidak akan mngganggumu. Orang berjambang, berkumis dan berjanggut lebat itu ada didalam dunia pengembaraanmu. Karena disaat wadagmu berhenti dan beristirahat, jiwamu menjadi lebih leluasa untuk melakukan pengembaraannya sendiri, sehingga apa yang tidak dapat ditemui olah wadagmu akan dapat ditemui oleh jiwamu. Paksi mengerutkan dahinya. Yang berdiri dihadap-annya itu menurut ujudnya tidak lebih dari seorang petani kebanyakan. Tetapi apa yang dikatakannya menunjukkan bahwa orang itu juga memiliki pengalaman jiwani yang luas. Paksipun kemudian mengangguk hormat. Katanya “ Ki Ponang, aku mohon diri. Mudahmudahan yang aku hadapi sekarang bukan sosok sebagaimana aku temui semalam disini. “ Ki Ponang tertawa. Katanya “ Lihat orang-orang yang sedang berada di sawah itu. Mereka melihat aku sebagai tetangga mereka dalam ujud dan jiwa. Aku kau temui didalam kenyataan kewadagan. “ Paksi memang memandang berkeliling. Orang-orang yang bekerja disawah telah mulai dengan kerja mereka. Seorang laki-laki yang berjalan tidak jauh dari gubug kecil itu menyapa Ki Ponang dengan ramahnya. “ Kau percaya bahwa aku ini mawujud? “ bertanya Ki Ponang. “ Ya, Ki Ponang. “ “ Nah, pergilah. Jika tadi aku berceritera tentang sosok-sosok yang hidup didunia yang lain, maka kau tidak usah menghiraukannya. “ “ Ya, Ki Ponang. “ “ Kau yakini dirimu dan sandaran hidupmu, Yang Maha Agung. “ Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun mengangguk hormat sambil berkata “ Aku mohon diri. “ “ Silahkan anak muda. Tetapi jika kau ingin singgah, mungkin lain kali, aku tinggal di padukuhan itu. Seisi padukuhan itu saling mengenal satu dengan yang lain. Jika kau tanyakan kepada siapapun rumah Ki Ponang, maka siapapun akan dapat menunjukkannya. “ “ Aku akan berusaha untuk dapat singgah lain kali, Ki Ponang. “ jawab Paksi. Demikianlah, Paksi telah meninggalkan gubug kecil ditengah bulak itu. Ketika ia meloncati parit dan berdiri di jalan yang membujur di bulak panjang itu, hatinya menjadi ragu. Apakah ia akan mengikuti petunjuk orang yang berkumis, berjambang dan berjanggut lebat dan menamakan dirinya Marta Brewok itu? Diluar sadarnya, Paksi berpaling. Ia melihat Ki Ponang telah turun ke sawah untuk membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh disela-sela tanaman padinya. Ketika seorang laki-laki yang terhitung masih muda lewat mendahuluinya, maka Paksipun mempercepat langkahnya. Dengan ragu-ragu iapun bertanya “ Maaf, Ki Sanak. Apakah aku boleh bertanya? “ “ Tentang apa Ki Sanak? “ “ Apakah sawah Ki Ponang itu digarap sendiri atau ada orang lain yang membantu mengerjakannya? Maksudku, ikut menggarap sawahnya? “ Laki-laki itu mengerutkan dahinya. Sambil berjalan orang itu bertanya “ Kenapa? “ “ Aku semalam bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Marta Brewok. Jambang, kumis dan janggutnya memang lebat. Ia mengaku ikut menggarap sawah Ki Ponang. “ Laki-laki itu memandang Paksi sekilas. Kemudian katanya “ Aku tidak mengenal orang yang bernama Marta Brewok. Sepengetahuanku, Ki Ponang itu mengerjakan sawahnya sendiri bersama dengan anak-anaknya. Tidak dengan orang lain. “ Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Ya. Ki Ponang juga mengatakan demikian. Tetapi siapakah laki-laki yang semalam duduk-duduk bersamaku di gubug itu?” “ Kau bermimpi “ berkata laki-laki itu. “ Tidak. Aku tidak bermimpi. “ “ Dimana kau tidur semalam? “ “ Di gubug Ki Ponang. “ “ Seharusnya kau tidak akan diganggu oleh apapun. Ki Ponang adalah orang yag sangat disegani. Bukan saja oleh tetangga-tetangga dan orang-orang se Kademangan. Bahkan yang tidak kasat matapun nampaknya segan kepadanya. Ki Ponang adalah seorang yang berilmu. Kasar maupun halus. Ia mempunyai banyak sekali pengalaman. Tetapi ia tidak sombong. Ia bekerja sebagaimana para petani yang lain. “ Paksi mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa Ki Ponang adalah seorang yang memiliki pengalaman yang banyak sekali serta pengetahuan yang luas. Paksi mengangguk-angguk. Kemudian katanya “ Terima kasih Ki Sanak. “ “ Kau siapa? Apa kepentinganmu dengan Ki Ponang? “ bertanya laki-laki itu. “ Tidak ada Ki Sanak. Selain semalam aku tidur di gubugnya. “ jawab Paksi “ tetapi aku tidak minta ijin sebelumnya. “ “ Tentu tidak apa-apa. Ki Ponang tidak akan marah? Bukankah begitu? “ “ Ya. Ki Ponang memang tidak marah kepadaku. “ “ Ia orang yang baik, Ki Sanak. “ Paksi mengangguk-angguk. Sementara laki-laki itu-pun bertanya “ Kau akan pergi kemana Ki Sanak? “ “ Aku pengembara. Aku berjalan tanpa tujuan. “ jawab Paksi. Laki-laki itu memandang Paksi sejenak. Ia melihat wajah Paksi yang nampak masih sangat muda. Katanya “ Apa sebabnya kau mengembara diumurmu yang masih sangat muda itu? Apakah ada sesuatu yang telah mendorongmu untuk melakukannya? “ “ Bukankah pengembaraan untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman hidup itu lebih baik dimulai seawal mungkin? Sementara itu tidak ada yang mendorongku untuk mengembara selain kemauan. “ “ Itu adalah ciri anak-anak muda. Sebenarnya kemauan saja tidak cukup. Harus ada tujuan. Bukan hanya sekedar untuk menambah pengetahuan dan pengalaman. Harus ada tujuan yang lebih pasti. Barulah pengembaraan itu mempunyai nilai yang wajar. Jika seseorang meninggalkan rumahnya karena dibelit hutang, maka pengembaraan yang demikian tidak lebih dari satu pelarian. Atau karena putus asa, malu atau persoalan-persoalan serupa. Paksi menundukkan wajahnya, seakan-akan sedang mengamati ujung-ujung jari kakinya yang sedang melangkah itu. “ Kau benar, Ki Sanak. “ jawab Paksi. “ Nah, jika kau tidak mempunyai tujuan pasti, karena kepergianmu hanyalah sekedar didorong oleh kemauan saja, maka pulanglah kepada ayah dan ibumu yang tentu selalu mengharapkan kau pulang. “ “ Ayah dan ibuku sudah tidak ada “ Paksi berbohong sebagaimana sudah beberapa kali dilakukannya. “ O “ orang itu mengangguk-angguk “ jadi kau benar-benar sedang melarikan diri dari kepahitan hidup keluargamu? Jangan lakukan itu. Kau seharusnya tinggal pada seseorang. Bekerja padanya sehingga kau benar-benar akan mendapatkan pengalaman hidup yang sebenarnya. Bukan sekedar melihat-lihat gunung, lembah, ngarai, hutan. Lalu kau berniat kembali ke kampung halaman yang bagimu menjadi sangat sepi. Atau bahkan kau terlibat dalam sikap dan tingkah laku yang buruk karena pengaruh orang-orang yang kau kenal disepanjang perjalananmu. “ Paksi menarik nafas dalam-dalam. Laki-laki itu masih muda. Tetapi Paksi setuju dengan katakatanya. Namun sebenarnyalah pengembaraan Paksi bukannya tidak mempunyai tujuan yang pasti. Ia pergi dari rumahnya karena ia harus menemukan sebuah cincin. Karena itu, jika ia pergi dari rumahnya, bukan karena ia melarikan diri. Tetapi Paksi tidak mengatakan kepada laki-laki itu. Namun beberapa langkah kemudian, laki-laki muda itu berkata “ Sudahlah anak muda. Sawah ini adalah sawahku. Aku harus turun hari ini untuk membersihkan rerumputan liar diantara batangbatang padi itu. “ Paksi menjadi gagap. Katanya “ Silahkan, Ki Sanak. Aku minta diri untuk meneruskan pengembaraanku. “ Orang itu berhenti. Tiba-tiba saja diluar sadarnya, Paksipun berhenti pula. Laki-laki yang masih terhitung muda itu menepuk bahu Paksi sambil berkata “ Kenapa kau tidak pergi ke Kotaraja. Kau dapat mengabdikan diri kepada para priyagung di Pajang. Kau akan mendapat tuntunan yang sangat bermanfaat bagi dirimu. Jauh lebih bermanfaat dari pengalaman yang kau dapat dengan mengembara seperti ini. “ “ Aku akan mempertimbangkannya, Ki Sanak. Aku berterimakasih atas petunjuk-petunjukmu. “ Laki-laki itu tersenyum. Namun kemudian orang itupun telah meloncati parit dan turun ke sawah. Meskipun demikian ia sempat berkata “ Aku murid Ki Ponang.” Paksi Pamekas kemudian melangkah meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanannya ia merenungi kata-kata laki-laki itu. Ia setuju, bahwa ia akan mendapat pengetahuan lebih banyak jika ia berada di rumah. Memperdalam ilmu. Bukan saja ilmu kanuragan. Tetapi juga pengetahuan yang luas tentang banyak hal sebagaimana pernah dipelajarinya. Tetapi ia tidak dapat melakukannya. Ia harus pergi meninggalkan rumahnya, karena menurut ayahnya, ia harus melakukan sesuatu karena ia sudah dewasa. Sudah berumur tujuhbelas tahun. Menurut ayahnya, ia sudah menjadi seorang laki-laki dewasa. Ia tidak boleh berpangku tangan saja dirumah, sementara keluarganya terancam bencana. “ Bencana apa? “ pertanyaan itu setiap kali bergetar didalam dadanya. Paksi memang tidak pernah menemukan jawaban lain kecuali bahwa kedudukan ayahnya terancam jika ayahnya tidak dapat menemukan cincin itu. Paksipun merasa bahwa kedudukan bagi ayahnya lebih bernilai daripada anaknya. Paksi mengangkat wajahnya. Dipandanginya jalan yang membujur panjang dihadapannya. Ia bertekad untuk pergi kearah bintang yang jatuh semalam, yang oleh orang yang menyebut dirinya Marta Brewok itu disebut ndaru. Paksi sendiri yakin, bahwa bintang itu memang tidak jatuh dibelakang padukuhan itu. Tetapi kehadiran Marta Brewok yang aneh itu, seakan-akan mendesaknya untuk memenuhi pesannya. Paksi sekali-sekali menimang tongkat yang dibawanya. Ujudnya memang tidak menarik perhatian. Namun ternyata tongkat itu adalah tongkat yang jarang ada duanya. Ada beberapa orang aneh yang dijumpai Paksi selama pengembaraannya. Orang yang mengaku pengikut Kebo Lorog yang memiliki ilmu dari sumber yang sama dengan ilmu Paksi sendiri. Pengemis yang memberinya tongkat itu dan terakhir orang yang mengaku bernama Marta Brewok. Seorang yang berjambang, berkumis dan berjanggut lebat, yang semalam duduk bersamanya di gubug Ki Ponang. Panas matahari mulai terasa menggatalkan kulit. Bahkan perasaan lapar mulai mengganggunya. Paksi memang berniat untuk singgah di kedai atau di pasar atau dimana saja ia dapat membeli minuman dan makanan. Kemarin ia hanya makan disiang hari. Itupun tidak dapat dinikmatinya seutuhnya, karena tingkah laku orang yang disebut Jaran Demung. “ Tetapi tanpa peristiwa itu, aku tidak akan mempunyai tongkat ini “ berkata Paksi didalam hatinya. Beberapa saat kemudian, ketika Paksi memasuki sebuah padukuhan, ditemuinya bukan saja kedai nasi, tetapi pasar yang cukup ramai. Meskipun pasar itu bukan pasar yang besar. Uang Paksi yang diberikan orang tuanya kepadanya masih cukup banyak, sehingga Paksi tidak merasa cemas untuk masuk kedalam kedai jika ia merasa lapar dan haus. Tetapi saat itu, Paksi tidak ingin masuk kesebuah kedai. Paksi ingin membeli nasi didalam pasar. Karena itu, maka Paksipun kemudian telah duduk di-sebuah dingklik rendah, dihadapan penjual wedang jae dan nasi bungkus disudut pasar itu. Paksi yang merasa dirinya orang yang tidak dikenal ditempat itu sama sekali tidak merasa segan untuk duduk sambil membuka bungkusanbungkusan nasi serta menghirup wedang jae yang hangat. , Paksi yang menghabiskan dua bungkus nasi dan semangkuk wedang jae itupun kemudian telah membayar harganya yang jauh lebih murah daripada jika ia makan disebuah kedai. Tetapi Paksi tidak segera berdiri. Tidak jauh dari tempatnya duduk, dua orang perempuan sedang bertengkar. Semakin lama semakin keras. Mereka mulai mengucapkan kata-kata kasar. Beberapa orang mulai merubungnya. Ada diantara mereka yang mencoba melerainya. Tetapi penjual wedang jae itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. “ Kenapa mereka itu? “ bertanya Paksi. “ Itulah yang mereka lakukan sehari-hari. “ jawab penjual wedang jae itu. Paksi mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak segera mengerti maksudnya. Penjual wedang jae itu seakan-akan mengerti perasaan Paksi. Karena itu, tanpa diminta iapun berceritera “ Penjual tampah itu memang galak. Ia selalu marah-marah jika dagangannya ditawar orang. Padahal ia selalu memberi harga yang tinggi. Jika calon pembeli itu tidak berani menawar, iapun marah-marah pula. “ Paksi mengangguk-angguk. Katanya “ I& telah mempersulit hidupnya sendiri. Dengan demikian ia tidak pernah merasa tenang. Apapun yang dilakukan oleh calon pembelinya, selalu membuatnya marah. “ “ Ada orang yang merasa lebih baik pergi jika ia mulai marah-marah. Tetapi ada yang menjadi marah pula seperti orang itu, sehingga akhirnya mereka bertengkar. “ “ Apakah pertengkaran itu sering terjadi? “ bertanya Paksi. “ Ya. Memang sering terjadi. “ jawab penjual wedang jae itu. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya beberapa orang itu masih belum berhasil melerainya. Paksipun kemudian telah bangkit berdiri dan minta diri kepada penjual wedang jae itu. Perasaan ingin tahunya telah membawanya mendekati kerumunan orang disekitar kedua orang perempuan yang sedang bertengkar itu. Tetapi penjual wedang jae itu masih sempat berdesis “ Anak muda, jangan terlalu mencampuri persoalannya. Suami penjual tampah itu juga garang. Jika isterinya bertengkar dan suaminya mengetahuinya, maka ia akan mencampurinya. “ “ Aku hanya akan melihat “ sahut Paksi. “ Anak muda selalu ingin tahu “ desis penjual wedang jahe itu. Paksi masih mendengarnya. Karena itu, maka iapun berpaling sambil tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Paksi sempat memperhatikan beberapa orang yang berjualan disekitar tempat itu. Mereka tidak banyak yang berteriak pada pertengkaran itu. Hanya beberapa orang sajalah yang mendekat dan berusaha melerainya. Sebagian dari mereka berusaha untuk menenangkan pembelinya. Tidak ada diantara mereka yang mencoba menahan kemarahan penjual tampah itu. Dua orang perempuan menarik tangan pembeli yang marah itu sambil berkata “ Sudahlah, mbokayu. Jangan dilayani. Tinggalkan saja tempat ini. “ “ Tetapi perempuan itulah yang mulai “ teriak perempuan yang marah itu. Sementara itu penjual tampah itupun berteriak “ Lepaskan perempuan itu. Aku ingin mencakar mulutnya, menyobek bibirnya yang tipis itu. “ “ Kau kira aku tidak berani “ pembeli yang gagal itupun berteriak pula. Tetapi beberapa orang masih berusaha menariknya dan membawanya menjauh. Tetapi perempuan itu masih meronta-ronta. “ Tinggalkan penjual tampah itu, mbokayu “ minta seorang perempuan yang masih muda “ jika suaminya mengetahui perselisihan ini, ia akan ikut campur. “ “ Aku tidak takut. “ teriak perempuan itu. “ Jangan begitu. Suaminya laki-laki yang garang. Suaminya memang ditakuti oleh orang sepasar ini. “ Belum lagi perempuan itu sempat diajak menjauh, tiba-tiba saja terdengar suara laki-laki menggeram “ Ada apa. Ada apa? “ Beberapa orang perempuan yang mengerumuninya-pun bergeser menjauh. Dua orang perempuan masih memegangi perempuan yang marah itu. “ Sudahlah. Tenanglah. “ “ Bukan aku yang memulai “ perempuan itu justru berteriak. Sementara penjual tampah itu masih mengumpat-umpat. “ Ada apa? “ bertanya laki-laki yang garang itu. “ Perempuan itu tidak tahu diri. Ia sama sekali tidak menghargai orang lain. Ia menawar daganganku semena-mena. Jika memang tidak punya uang, kenapa bertanya-tanya harga. “ Seperti biasanya suaminyapun menjadi marah. Dengan garang ia berteriak “ He, perempuan dungu. Diam kau. Jika kau tidak mau diam, aku sumbat mulutmu. “ Tetapi perempuan yang marah itu berteriak “ Perempuanmu itu yang tidak tahu diri. “ “ Diam “ laki-laki itu berteriak. Dua orang perempuan yang memegangi perempuan yang marah itu mencoba menariknya menjauh. Tetapi perempuan itu meronta dan justru karena itu ia terlepas. Perempuan yang marah itu justru berlari mendekati laki-laki yang membentaknya “ Kau mau apa he? Kau jangan ikut campur. Ini urusan perempuan. “ Tetapi yang dicemaskan itu telah terjadi. Laki-laki itu tiba-tiba saja telah menampar wajah perempuan itu sambil berteriak “ Diam kau perempuan bawel. Sayang kau perempuan. Jika tidak, aku patahkan lehermu. Panggil suamimu kemari. Aku lumatkan kepalanya. “ Wajah perempuan itu seakan-akan telah terputar. Terhuyung-huyung ia terdorong surut. Tubuhnya tidak lagi mampu mempertahankan keseimbangannya. Tidak seorangpun berani mencampurinya, karena mereka mengenal laki-laki yang garang itu. Namun seorang anak muda yang belum mengenal laki-laki itu telah meloncat menahan perempuan yang akan terjatuh itu. Kepala perempuan itu menjadi sangat pening. Matanya menjadi kabur, sementara mulutnya telah berdarah. Perlahan-lahan Paksi meletakkan perempuan itu di-sebuah amben bambu tempat seorang penjual jamu yang selalu banyak dikunjungi pembeli. “ Duduklah bibi. Tenanglah. “ Perempuan itu menjadi gemetar. Ia mengusap mulutnya yang berdarah dengan selendangnya. Perempuan itu mencoba menahan rasa sakit dan pening dikepalanya. Tetapi matanya mulai berair. “ Aku akan panggil suamiku “ perempuan itu masih berteriak. “ Cepat, panggil suamimu. Aku akan membunuhnya dihadapanmu “ teriak laki-laki yang garang itu. Tetapi anak muda yang menahan perempuan itu berkata “ Sudahlah bibi. Bibi tidak usah memanggil suami bibi. Nanti persoalannya akan berkepanjangan. “ “ Kau tidak usah ikut campur anak muda. “ teriak laki-laki itu. “ Aku justru mencegah agar persoalan ini tidak berlarut-larut dan berkepanjangan. “ “ Diam kau. Jika kau tidak mau diam, mulutmupun akan berdarah seperti perempuan itu. “ “ Aku sedang menenangkan perempuan ini “ jawab anak muda yang membawa tongkat itu. “ Sudahlah, anak muda “ seorang perempuan berbisik “ kaulah nanti yang akan mengalami kesulitan. “ Tetapi Paksi itu justru menjawab “ Aku ingin peristiwa seperti ini tidak terulang. “ “ Setan kau, apa hakmu mengatakan seperti itu? “ Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia sudah terlibat kedalam persoalan diluar kehendaknya. Tetapi Paksi memang tidak dapat membiarkan perbuatan sewenang-wenang itu terjadi. Karena itu, maka katanya “ Adalah hak setiap orang untuk menghentikan perbuatan yang kasar itu. “ “ Apa “ laki-laki yang bertubuh kekar dan berkumis lebat itu berteriak” Ayo, katakan sekali lagi.“ Seorang perempuan dengan cepat berdesis “ Sudahlah anak muda. Sudahlah. “ Tetapi Paksi justru berdiri tegak menghadap kearah laki-laki itu sambil berkata “ Baiklah. Aku katakan sekali lagi. Dengarlah baik-baik jika pendengaranmu memang tidak terganggu. Adalah hak setiap orang untuk menghentikan perbuatan yang kasar itu. “ Laki-laki itu tidak dapat menahan dirinya lagi. Dengan garang laki-laki itu meloncat sambil mengayunkan tangannya. Ia telah menampar mulut Paksi sebagaimana telah dilakukan terhadap perempuan yang bertengkar dengan isterinya itu. Tetapi laki-laki yang garang itu terkejut, ternyata tangannya yang terayun deras itu telah mengenai tongkat yang sengaja digeser oleh Paksi. Akibatnya memang tidak terduga. Laki-laki yang garang itu telah berteriak kesakitan. Tongkat kayu anak muda itu rasa-rasanya bagaikan meretakkan tulang-tulangnya. “ Setan kau anak muda “ laki-laki itu menjadi semakin marah, sehingga orang-orang yang berada disekitarnya bergeser menjauh. Lebih-lebih perempuan dan anak-anak. Bahkan orangorang yang berjualan disekitar tempat itupun telah bergeser pula. “ Ternyata kau benar-benar tidak tahu diri. Buka matamu. Dengan siapa kau berhadapan. “ Paksi tidak segera menjawab. Diamatinya laki-laki yang garang itu dengan tajamnya. “ Cepat berlutut dan mohon maaf kepadaku “ geram laki-laki yang marah itu “ kesempatan ini adalah kesempatan terakhir bagimu. Jika kesempatan ini tidak kau pergunakan, maka kau akan menyesal untuk selama-lamanya. “ Ternyata Paksi sama sekali tidak tergetar hatinya melihat laki-laki yang marah itu wajahnya menjadi merah membara. Bahkan dengan tenang Paksi berkata “ Ki Sanak. Hentikan tingkah lakumu yang kasar itu. Seharusnya kau melerai pertengkaran yang terjadi. Bertanyalah kepada orang-orang disekitarmu, siapakah yang bersalah. Adalah wajar jika kau membantu isterimu. Tetapi kaupun harus menempatkan dirimu sehingga tidak berkesan sewenang-wenang sebagaimana telah kau lakukan itu. “ “ Diam kau cucurut “ teriak laki-laki itu. Suaranya menggelegar memenuhi pasar. Seakan-akan semua orang yang ada di pasar itu telah terdiam, sehingga yang terdengar hanyalah suara laki-laki itu saja “ Berjongkok kau, kecoak. “ “ Jangan harapkan aku berjongkok dan minta maaf, karena aku tidak merasa bersalah. Justru kau yang harus berjongkok dan minta maaf kepada orang sepasar ini, karena tingkah lakumu itu. “ Laki-laki itu tidak dapat menahan diri lagi. Selangkah demi selangkah ia bergeser mendekati Paksi yang sudah siap menghadapinya. Orang-orangpun bergeser semakin jauh. Demikianlah, maka sejenak kemudian, orang yang garang itu sudah meloncat menyerangnya Tetapi Paksi sudah siap. Karena itu, maka serangan itu sama sekali tidak menyentuhnya. Bahkan tongkat Paksipun dengan cepat telah bergetar. Ujungnya sempat menyentuh lengan lakilaki yang garang itu. Laki-laki itu mengaduh kesakitan., Kemarahannya telah memuncak sampai keubun-ubunnya. Karena itu, maka dengan tidak ragu-ragu lagi, orang itu mencabut goloknya yang besar. Orang-orang yang ada disekitarnya menjadi semakin cemas. Penjual wedang jae yang semula tidak menghiraukan sikap perempuan penjual tampah itu menjadi sangat cemas. Anak muda yang baru saja membeli makan dan minum itu menurut pendapatnya adalah anak muda yang baik. Jika laki-laki itu benar-benar tidak dapat mengendalikan dirinya, maka goloknya itu akan dapat membunuh anak muda itu. Tetapi tidak seorangpun yang berani mencegahnya. Lurah pasar yang sudah diberitahu akan peristiwa itu berlari-lari mendekat. Namun melihat laki-laki yang garang itu, hatinya telah menciut. Meskipun demikian, Lurah pasar itu mencoba untuk melerainya. “ Berhenti, berhenti “ Lurah pasar itu berteriak. Tetapi laki-laki yang garang itu membentaknya “ Jangan ikut campur. “ “ Tetapi jangan berkelahi di dalam pasar. “ “ Diam “ teriak laki-laki yang garang itu. Ternyata Lurah pasar itu terdiam. Tetapi betapa tegangnya wajahnya menyaksikan perkelahian yang berlanjut itu. Sejenak kemudian laki-laki yang garang itu telah memutar goloknya sambil berjalan mendekati anak muda yang membawa tongkat sepotong dahan kayu yang berwarna kehitam-hitaman itu. Laki-laki itu memang tidak mengendalikan dirinya lagi. Sejenak kemudian, goloknya telah terayun-ayun mengerikan. “ Jangan melawan anak muda. Berjongkoklah untuk minta ampun. “ Lurah pasar itu berteriak. Tetapi Paksi justru menjawab “ Laki-laki seperti ini harus mendapat peringatan. “ Tetapi Paksi harus bergeser surut ketika golok yang terayun-ayun itu menebas kearah lehernya. Laki-laki garang itu menjadi semakin marah ketika goloknya terayun tanpa menyentuh sasaran. Tetapi tongkat anak muda itu justru telah terjulur lurus. Sambil mengelakkan serangan lawannya Paksi sempat menyentuh perut laki-laki itu dengan ujung tongkat. Laki-laki itu mengumpat kasar. Perutnya memang terasa sakit oleh sodokan tongkat anak muda itu. Karena itu, maka iapun telah bergeser surut. Tetapi Paksi benar-benar ingin membuatnya jera. Karena itu, maka ia segera memburunya. Sebelum orang itu sempat memperbaiki kedudukannya, Paksi telah menyerangnya pula. Sekali lagi tongkatnya mengenai laki-laki yang garang itu. Paksi telah mendorong laki-laki itu pada pundaknya. Lebih kuat dari sebelumnya. Ternyata bahwa bagi Paksi yang telah menempa dirinya, laki-laki yang ujudnya garang itu bukan apa-apa. Tanpa harus mengerahkan tenaganya, Paksi telah mendorong laki-laki itu sehingga kehilangan keseimbangan. Laki-laki yang garang itu jatuh terlentang. Hampir saja goloknya melukai tubuhnya sendiri. Ternyata laki-laki yang garang itu hanya mengandalkan kekuatannya saja. Ia tidak memiliki dasar-dasar olah kanuragan yang baik. Karena itulah, maka Paksi sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk mengalahkannya. Ketika laki-laki yang garang, yang jatuh terlentang itu berusaha untuk bangkit, maka ujung tongkat Paksi telah menekan lehernya, sehingga laki-laki itu harus mengurungkan niatnya. “ Aku dapat melubangi lehermu dengan tongkatku ini “ ancam Paksi. Wajah laki-laki itu menjadi tegang. Ketika ujung tongkat itu semakin menekan lehernya, maka orang itu menjadi tersengal-sengal. “ Aku tidak berniat membunuhmu “ berkata Paksi “ meskipun jika aku berniat, aku dapat melakukannya dengan mudah. “ Orang itu memandang Paksi dengan mata yang bagaikan membara. Tetapi ia benar-benar tidak dapat berbuat sesuatu. “ Kau harus minta ampun kepada orang-orang sepasar. Terutama kepada perempuan yang telah kau sakiti.” Laki-laki itu tidak segera menjawab. Matanya menjadi semakin menyala. Tetapi ujung tongkat Paksi menekan leher itu lebih keras lagi sehingga nafas orang itu rasa-rasanya hampir terputus karenanya. “ Katakan, kau bersedia atau tidak? “ Orang itu masih merasa ragu. Baru ketika nafasnya benar-benar tersumbat, ia berkata dengan gagap dan kata-katanya menjadi tidak jelas “ Baik. Baik. Aku akan minta maaf. “ Tongkat Paksipun kemudian mulai merenggang dari lehernya. Tetapi sekali lagi Paksi masih berkata “ berjanjilah. “ “ Ya. Aku berjanji “ sahut laki-laki itu. Paksipun kemudian mengangkat tongkatnya. Laki-laki yang garang itu seakan-akan menjadi tidak berdaya lagi di hadapan anak muda yang bersenjata tongkat itu. “ Cepat. Kau harus minta maaf. Perempuan yang kau sakiti itu masih duduk disana. “ Laki-laki itu termangu-mangu sejenak. Ketika ia memandang berkeliling, dilihatnya berpasangpasang mata sedang menatapnya. Laki-laki, perempuan dan bahkan anak-anak. Sementara itu isterinya sendiri berdiri sambil menggigil seperti orang kedinginan. Ia tidak pernah memikirkan bahwa pada suatu saat suaminya dikalahkan oleh seseorang. Apalagi seorang anak yang masih terlalu muda. Tetapi adalah satu kenyataan, bahwa suaminya sama sekali sudah tidak berdaya. Bahkan anak muda itu telah memaksa suaminya untuk minta maaf kepada perempuan yang tadi bertengkar dengannya, karena perempuan itu menawar dagangannya. Tetapi laki-laki yang garang itu tidak dapat berbuat lain. Ia sadar, bahwa anak muda yang dengan cepat dapat mengalahkannya itu adalah anak muda yang berilmu tinggi. Apapun yang dilakukannya, ia tidak akan dapat mengalahkannya. Betapapun berat perasaannya, tetapi laki-laki itu tidak mengelak ketika ia digiring oleh Paksi melangkah mendekati perempuan yang mulutnya berdarah itu. “ Aku minta maaf, mbokayu “ desis laki-laki itu. Ternyata perempuan itu bukan pendendam. Katanya “ Baiklah. Tetapi aku minta kau tanyakan kepada isterimu, apa yang telah terjadi. Jika isterimu masih bersikap seperti itu, maka pertengkaran-pertengkaran masih akan terjadi. “ Laki-laki itu mengangguk kecil. Sementara Paksi berkata “ Rumahku tidak terlalu jauh dari pasar ini. Aku akan dapat melihat setiap kali, apakah suami isteri ini sudah berubah atau tidak. “

“ Aku berjanji “ desis laki-iaki itu.

Isterinya sama sekali tidak berkata apapun selain menggigil. Tetapi kekalahan suaminya itu merupakan pengalaman batin yang sangat berarti baginya. Ia kemudian menyadari, bahwa suaminya bukannya orang yang tidak terkalahkan. Pada suatu saat ada orang lain yang ilmunya melampaui ilmu suaminya itu. Dalam pada itu, orang-orang yang berdiri dengan tegang disekitar arena perkelahian itu menarik nafas lega. Mereka melihat anak muda yang membawa tongkat itu tidak mengalami kesulitan apapun, sementara laki-laki yang garang itu nampaknya memang sudah jera. Dalam pada itu, Paksi masih belum beranjak dari tempatnya. Ketika ia melihat orang-orang yang ada disekitar arena itu satu-satu kembali ke tempatnya, maka Paksipun berkata kepada perempuan yang mulutnya berdarah itu “ Sudahlah. Tinggalkan tempat ini. Aku akan mengantar bibi pulang jika bibi menghendaki. “ Tetapi perempuan itu menggeleng. Katanya “ Terima kasih anak muda. Biarlah aku pulang sendiri. “ Paksi menarik nafas dalam-dalam. Perempuan itu nampaknya memang seorang yang berani. Tetapi iapun agaknya yakin, bahwa laki-laki yang garang itu benar-benar akan berubah. “ Jika demikian, baiklah. Aku minta diri “ berkata Paksi kemudian. Ketika Paksi meninggalkan tempat itu, maka anak muda itu telah menjadi pusat perhatian. Tetapi Paksi sendiri tidak begitu menghiraukannya. Ia berjalan saja sambil menjinjing tongkat kayunya menuju ke pintu gerbang. “ Anak siapakah ia? “ bertanya seseorang. “ Darimana aku tahu “ sahut kawannya yang berjualan didekatnya. “ Alangkah bangganya orang tuanya. Anak muda yang tampan, lembut tetapi juga dapat menjadi sekeras batu hitam. Penolong dan nampaknya juga rendah hati. “ Ya “ sahut penjual wedang jae “ baru saja ia minum dan makan nasi bungkus diwarungku. “ “ Mungkin ia tidak mempunyai cukup uang untuk membeli makan dan minuman di kedai-kedai yang lebih mahal. “ Penjual wedang jae itu mengangguk-angguk. Nasi bungkus yang dibeli oleh Paksi memang nasi bungkus dengan lauk yang sederhana saja. Oseng-oseng kangkung. Dalam pada itu, Paksi telah berjalan semakin jauh. Ia telah berada di bulak panjang. Ditatapnya sebuah padukuhan di hadapannya. Tidak ada yang menarik perhatian. Padukuhan itu ujudnya sama saja dengan padukuhan-padukuhan yang lain. Tetapi dibelakang padukuhan itu Paksi melihat gunung yang menjulang. Dari puncaknya mengepul asap yang membubung tinggi. Gunung Merapi. Paksi memang tidak memperkirakan bahwa bintang itu telah jatuh di lereng Gunung Merapi. Tetapi karena orang yang mengaku bernama Marta Brewok itu, maka ia telah terdorong untuk menyusuri jalan-jalan di kaki Gunung Merapi. Paksi memandang puncak Gunung Merapi yang biru. Meskipun gunung itu seakan-akan sudah berdiri didepan hidungnya, namun Paksi menyadari, bahwa gunung itu masih jauh. Kaki Paksi sudah merasakan bahwa jalan mulai condong. Sedikit demi sedikit Paksi berada ditempat yang semakin tinggi. Ketika ia melewati padukuhan di hadapannya, maka ia tidak melihat sesuatu yang lain pada padukuhan itu. Jalan induk. Dinding halaman dan rumah-rumah seperti rumah kebanyakan di padukuhan-padukuhan yang lain. Karena itu, maka Paksi tidak banyak menaruh perhatian terhadap padukuhan itu. Namun ketika ia merasa haus, maka ia telah berhenti didepan sebuah rumah yang kecil dan condong, berdinding bambu dan beratap ilalang. Namun disebelah regol halaman rumahnya tersedia sebuah gentong yang besar berisi air bersih, yang. disediakan bagi orang-orang yang kehausan di perjalanan. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Di Pajang, jarang sekali orang menyediakan gentong berisi air bersih didepan rumahnya, meskipun ada juga satu dua. Tetapi di pade-saan-padesaan yang jauh dan dihuni oleh orang-orang yang sederhana, maka ditemuinya lebih banyak persediaan air minum bagi orang-orang yang kehausan diperjalanan. Ketika Paksi meneguk air yang dingin .itu, terasa tubuhnya menjadi segar. Sekilas teringat seorang gadis yang membawa kelenting dilambungnya mengisi gentong yang isinya tinggal sedikit. Paksi sempat melihat kehalaman rumah itu lewat pintu regol dari bambu yang terbuka. Halaman itu nampak sepi meskipun pintu rumah bambu itu terbuka. Yang nampak di halaman hanyalah beberapa ekor ayam yang berkeliaran. Sejenak kemudian, maka Paksipun telah meneruskan perjalanannya. Ketika ia sampai dimulut jalan padukuhan, maka kembali ia berada diujung sebuah bulak yang panjang. Jalan di hadapannya menjadi semakin nampak menanjak naik. Namun disebelah menyebelah jalan terdapat parit yang mengalirkan air yang jernih. Sawah dibulak yang bertingkat-tingkat seperti sebuah tangga raksasa itu nampak hijau oleh tanaman batang padi yang subur. Dipematang ditanam batang kacang panjang yang tersangkut pada lanjaran carang bambu yang ditanam rapat. Langkah Paksipun terasa menjadi semakin berat. Tetapi ia berjalan terus. Padukuhan demi padukuhan telah dilaluinya. Jalan menjadi semakin memanjat naik, disana-sini mulai nampak gumuk-gumuk kecil yang ditumbuhi batang-batang perdu yangrimbun.Bahkan kemudian pohon-pohon yang lebih besar tumbuh rapat dihutan lereng pegunungan. Paksi akhirnya tertegun. Ia menjadi ragu. Jika ia berjalan terus, maka ia akan sampai ketebing pegunungan yang lebih curam. Jalan akan semakin menanjak, sehingga akhirnya ia harus memanjat tebing Gunung Merapi. “ Apa yang aku cari disana? “ pertanyaan itupun timbul dihati Paksi. Namun sebuah keinginan telah mendorongnya untuk sampai ke sebuah gumuk kecil yang berada tidak jauh dari jalan yang dilaluinya. Jalan yang semakin lama menjadi semakin sempit, sehingga akhirnya menjadi tidak lebih dari jalan setapak yang rumpil karena batu-batu padas. Paksipun akhirnya sampai ke sebuah gumuk yang tidak begitu besar. Diatas gumuk itu tumbuh pohon perdu yang rapat seakan-akan tidak dapat disibak. Beberapa batang pohon raksasa tumbuh pula diantara pohon perdu yang menghutan itu. Ditubuh gumuk itu merembes air dari sela-sela batu padas yang sebongkoh-sebongkoh mencuat keatas permukaan tanah, disela-sela hutan perdu yang rimbun itu. Air itupun mengalir masuk kedalam sebuah parit kecil yang mengantarnya masuk kedalam parit yang lebih besar. Paksipun kemudian berdiri termangu-mangu. Ditatapnya gumuk yang kecil itu. Namun betapapun kecilnya, gumuk itu bagaikan sebuah tempurung raksasa yang menelungkup. Tetapi pada gumuk itu tidak terdapat apapun yang menarik perhatian Paksi. Meskipun demikian, Paksi tidak segera pergi. Ia sudah berjalan jauh. Karena itu, maka Paksipun kemudian telah duduk didekat gumuk kecil itu untuk melepaskan lelahnya. Sambil memandangi gumuk kecil itu, Paksi duduk bersandar sebatang pohon. Tongkat kayunya terletak di pangkuannya. Sambil mengamati pepohonan yang ada di gumuk itu, Paksi mulai merenung. Bahkan kemudian ia mulai menyesal, kenapa ia telah menuruti dorongan perasaannya untuk melangkah kearah bintang yang semalam seakan-akan jatuh, meskipun ia sadar sepenuhnya bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Beberapa saat kemudian, maka Paksipun menyadari bahwa ia tidak akan dapat berada ditempat itu terlalu lama. Jika malam turun, hendaknya ia sudah berada di sebuah padukuhan. Jika diperkenankan, maka ia akan dapat bermalam disebuah banjar padukuhan itu. Ketika perasaan letihnya sudah berkurang, maka Paksipun segera bangkit berdiri. Niatnya sudah bulat untuk meninggalkan gumuk itu dan kembali ke padukuhan. ”Aku masih harus berusaha menyelesaikan tugasku “ berkata Paksi. Namun Paksi tidak lagi menganggap bebannya terlalu berat. Jika ia gagal, biarlah ia berkata gagal kepada ayahnya, karena segala sesuatunya tidak jelas baginya. Namun kemudian, pengembaraan itu sendiri mulai menarik baginya. Meskipun demikian ia tidak dapat melupakan pendapat beberapa orang, bahwa pengembaraan bukan pilihan terbaik baginya. Masih banyak kesempatan lain yang dapat membantu meningkatkan pengalaman dan pengetahuannya. Paksi berdiri tegak memandangi gumuk dikaki Gunung Merapi itu. Kemudian iapun mulai melangkah turun. Tetapi langkah Paksi tertegun. Tiba-tiba saja ia mendengar suara tertawa. Semakin lama semakin keras. Paksi termangu-mangu sejenak. Diedarkannya pandangan matanya kesekeiiiingnya untuk mencari sumber suara tertawa itu. Tetapi ia tidak segera menemukannya. Sementara itu suara tertawa itu bergulung-gulung berputaran. Gemanya yang mengumandang membuat Paksi semakin sulit untuk menemukan, siapakah yang telah tertawa demikian kerasnya. Bahkan semakin lama suara tertawa itu rasa-rasanya semakin menusuk telinganya, menyusup dan mengguncang isi dadanya. Paksi mencoba bertahan. Tetapi suara tertawa itu semakin menyakiti jantungnya. Bahkan akhirnya Paksi tidak tahan lagi, sehingga iapun telah berjongkok sambil menutup kedua belah telinganya. Paksi menyadari, bahwa tenaga dalam orang yang tertawa itu demikian besarnya, sehingga Paksi tidak dapat mengatasinya dengan tenaga dalamnya. Karena itu, maka suara tertawa itu telah menyakitinya. Gema yang memantul di lereng gunung itupun masih juga memuat getar tenaga dalam yang sangat kuat, sehingga karena itu, maka dada Paksi terasa menjadi semakin sakit dan sesak. Tetapi suara tertawa itupun mulai surut. Getaran tenaga dalam itu tidak lagi menggoncang isi dada Paksi. Karena itu, maka Paksipun mulai melepaskan telinganya. Dengan hati-hati ia mulai bangkit berdiri bertelekan pada tongkat kayunya. Demikian ia berdiri, maka didengarnya suara memanggil namanya “ Paksi, Paksi Pamekas. “ Paksi memandang berkeliling. Ketika ia mendengar lag| namanya dipanggil, maka Paksipun mulai mengetahui arah dari suara itu. Ketika Paksi memandang kearah gumuk kecil itu, maka iapun terkejut. Ia melihat seseorang berdiri diatas dahan sebatang pohon yang besar. Orang itu melambaikan tangannya sambil memanggilnya “ Paksi, aku disini. “ Wajah Paksi menjadi tegang. Ia tidak dapat memandang wajah orang itu dengan jelas. Kecuali orang itu berdiri di jarak yang agak jauh, apalagi diatas dahan sebatang pahon yang besar, orang itu juga mengenakan sebuah caping petani yang lebar diatas ikat kepalanya. Meskipun demikian, Paksi dapat mengenali bahwa orang itu berjambang, berkumis dan berjanggut lebat. “ Ki Marta Brewok “ desis Paksi “ kenapa tiba-tiba saja ia berada disini? “ Dalam pada itu, orang yang berdiri diatas dahan sebatang pohon yang besar itupun berteriak lantang “ Paksi. Jangan pergi. Kau sudah sampai ditempat tujuan, arah bintang yang bercahaya kebiruan itu jatuh. Paksi kau telah melihat ndaru. Karena itu, kau termasuk seorang anak muda yang beruntung. “ Paksi memandang orang itu dengan tajamnya. Sementara itu, langitpun mulai menjadi suram. Cahaya senja yang kemerah-merahan mewarnai uncak Gunung Merapi, seakan-akan puncak itu telah membara. Paksi tidak beranjak dari tempatnya. Orang yang berada diatas dahan itu menjadi semakin kabur. Paksi tidak dapat melihat dengan jelas, baaimana orang itu kemudian seakan-akan meluncur turun. Paksi berdiri termangu-mangu. Orang yang memanggil namanya itu seolah-olah telah hilang ditelan gerumbul-gerumbul perdu dibawah pohon raksasa itu. Namun kemudian orang itu telah muncul di sisi gumuk kecil itu sambil memanggilnya “ Paksi. Aku ingin mempersilahkan kau singgah. “ Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “ Apakah aku berbicara dengan Ki Marta Brewok? “ “ Ya. Kau benar “ sahut orang itu. “ Kenapa Ki Marta Brewok telah menipuku? “ Orang itu tertawa. Katanya “ Bukan maksudku. Tetapi ketika aku melihat ndaru dilangit dan kemudian melihatmu berdiri didepan gubug itu. Aku menjadi tertarik kepadamu. Seakan-akan kau memang dipersiapkan untuk datang kepadaku seperti sekarang ini. Karena itu, maka kau tidak akan dapat lari lagi dari tanganku. “ “ Untuk apa Ki Marta Brewok mengharapkan kehadiranku disini sekarang ini? “ Orang yang menyebut dirinya Marta Brewok itu tertawa. Katanya “ Aku memang memerlukan seorang anak muda. Aku adalah utusan dari seorang Resi yang mumpuni, yang sedang membangun sebuah padepokan yang paling besar di tanah ini. Tetapi di bawah bangunan utama dari padepokan itu harus ditanam korban. Seorang anak muda yang memiliki keberuntungan. Dan aku telah menemukan kau Paksi. Kau adalah anak muda yang mempunyai keberuntungan yang besar. Tetapi sekaligus kau adalah anak muda yang malang, karena kau harus menjadi korban. Tubuhmu akan ditanam dibawah bangunan utama padepokan yang terbesar itu sebagai tumbal. “ Paksi memandang orang yang wajahnya hampir tertutup oleh jambang, kumis dan janggutnya itu dengan tajamnya. Tiba-tiba saja Paksi telah menimang tongkatnya. Dengan nada dalam ia menjawab “ Ki Marta Brewok. Kau kira seseorang itu akan demikian saja menyerahkan nyawanya?“ Tetapi Marta Brewok itu tertawa. Katanya “ Apa yang akan kau lakukan? Melawan? Kau kira tongkat kayumu itu berarti bagimu. “ “ Ki Marta Brewok. Aku tidak merasa mempunyai persoalan denganmu. Tetapi sudah tentu bahwa aku akan mempertahankan diriku jika kau berniat buruk atasku. “ Marta Brewok itu melangkah mendekat. Langit menjadi semakin muram. Senjapun menjadi semakin gelap. “ Aku nasehatkan kepadamu, agar kau tidak berusaha melawan, karena yang akan kau lakukan itu tentu akan sia-sia. Bahkan aku akan menjadi semakin garang, sehingga sebelum kau menjadi tumbal dan tubuhmu ditanam dibawah bangunan utama padepokan itu, kau akan mengalami kesulitan. “ Paksi mencoba untuk mengamati wajah orang yang mengaku bernama Marta Brewok itu. Namun apa yang dapat dilihatnya adalah wajah yang hampir tertutup oleh jambang, kumis dan janggutnya. Capingnya yang lebar itu juga telah membayangi wajah yang gelap itu. “ Ki Marta Brewok “ berkata Paksi “ ketika Ki Marta Brewok menganjurkan aku menuju kearah bintang itu menghilang, aku tidak mengira bahwa niat Ki Marta Brewok itu jahat. Bahkan ketika aku berbicara dengan Ki Ponang, pemilik sawah itu, aku masih belum menduga apa yang akan Ki arta Brewok lakukan. Aku hanya merasa bahwa Ki Marta Brewok telah berbohong. Tetapi ternyata bahwa Ki Marta Brewok mempunyai niat yang jahat. “ “ Terserahlah, apa yang akan kau katakan tentang aku “ berkata orang itu “ yang penting aku dapat melaksanakan tugasku dengan baik. Tugas yang diberikan oleh Resi Jamur Akik. “ Wajah Paksi menjadi semakin tegang. Sementara itu Ki Marta Brewokpun berkata “ Sudahlah. Menyerahlah. Tidak ada gunanya kau melawan. Dengan Aji Gelap Ngamparku itu, kau sudah tidak berdaya. Apalagi jika aku mempergunakan beberapa jenis ilmuku yang lain. Dengan Aji Rog-rog Asem,jantungmu1a.kaniruntuhdidalam dadamu. Dengan Aji Lebur Seketi, tubuhmu akan menjadi debu. Tetapi tentu aku tidak akan mempergunakannya, karena aku memang memerlukan tubuhmu. “ “ Aku tidak peduli, Aji apapun yang akan kau pergunakan. Kematian seseorang tidak ditentukan oleh jenis-enis Aji apapun. Jika saat itu datang, apapun yang terjadi, akan terjadi. Kalau aku harus mati disini, biarlah itu terjadi. “ “ Kau sangat menjengkelkan “ berkata Ki Marta Brewok “ kau tidak nampak takut dan cemas. Sikap itu akan dapat berakibat buruk bagimu. “ Tetapi Paksi tidak menghiraukannya. Paksi justru mempersiapkan dirinya menghadapi segala kemungkinan. Orang yang menyebut dirinya Marta Brewok itupun melangkah semakin dekat. Dengan geram ia berdesis “ Baiklah Paksi. Jika kau memang ingin melawan, melawanlah. Aku memang ingin melihat, apa yang dapat kau lakukan untuk melindungi dirimu sendiri. “ Paksi tidak menjawab. Tetapi ketika orang berjambang, berkumis dan berjanggut lebat itu mendekatinya, maka Paksi mulai memutar tongkatnya. Marta Brewok itu bergeser setapak surut. Namun kemudian ia mulai menyerang dengan cepat, menyusup diantara putaran tongkat Paksi. Beberapa saat keduanya bertempur. Tongkat Paksi berputaran dengan cepatnya. Sekali-sekali terayun menebas. Namun kemudian mematuk dengan cepat kearah dada. Meskipun demikian, tongkat Paksi tidak segera dapat menyentuh lawannya. Marta Brewok mampu bergerak lebih cepat dari ayunan tongkat Paksi, sehingga serangan-serangan Paksi sama sekali tidak dapat menyentuhnya. Tetapi Paksi tidak cepat berputus-asa. Selapis demi selapis, Paksi meningkatkan ilmu yang pernah diterimanya selama ia berguru di Pajang. Namun lawannyapun telah meningkatkan ilmunya pula. Ketika tongkat Paksi bergerak semakin cepat, maka orang itu berloncatan semakin cepat pula. Bahkan tubuhnya seolah-olah menjadi semakin ringan. Loncatan-loncatan yang cepat dan kadang-kadang membingungkan kadangkadang membuat Paksi tertegun. Sementara itu, ujung malam telah menyelimuti kaki Gunung Merapi itu. Gumuk kecil itupun telah disaput oleh warna kelam. Marta Brewok semakin lama menjadi semakin garang. Tenaganya seakan-akan menjadi semakin bertambah-tambah. Dengan tidak ragu-ragu Marta Brewok itu telah menangkis dan bahkan kadang-kadang membentur tongkat Paksi dengan tangannya tanpa mengalami kesakitan. “ Apakah tangannya terbuat dari besi? “ pertanyaan itu tumbuh didalam hati Paksi. Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Paksi kadang-kadang menjadi kebingungan karena kehilangan lawannya. Loncatannya menjadi semakin tinggi dan cepat. Sekalisekali orang itu melenting tinggi, namun kemudian menjatuhkan diri dan berguling dengan cepat, berputar dan kemudian melenting bangkit ditempa t yang jauh. Pertempuran itu berlangsung terus. Ketika malam menjadi semakin malam, maka seranganserangan Marta Brewok rasa-rasanya justru menjadi semakin cepat dan semakin kuat. Tenaga Marta Brewok seolah-olah justru menjadi semakin besar saat keringat Paksi sudah membasahi seluruh tubuhnya. Ketika kemudian Paksi sampai pada puncak kemampuannya, maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. Tongkat Paksi berputaran dengan cepatnya, seakan-akan menjadi segumpal kabut hitam yang bergulung-gulung di-sekitar tubuhnya. Setiap kali kabut itu melibat kearah lawannya. Namun dengan tangkas pula, Marta Brewok selalu berhasil menghindar atau justru membentur serangan-serangan Paksi. Bahkan kemudian serangan-serangan Marta Brewok itulah yang mulai menembus pertahanan Paksi, justru saat Paksi berusaha menghentakkan kemampuannya sampai kepuncak. Paksi berdesah tertahan ketika kaki Marta Brewok mengenai lambungnya. Serangan itu demikian kuatnya, sehingga Paksi telah terdorong beberapa langkah surut. Dengan mengerahkan daya tahan tubuhnya, Paksi berusaha mengatasi rasa sakitnya. Bahkan tongkatnya telah berputar kembali dengan cepatnya. ? Tetapi serangan Marta Brewok itu datang susul menyusul. Ketika Paksi gagal menyerang kearah lambung lawannya, Paksi berusaha memutar tongkatnya mengayunkannya menebas kearah kening. Tetapi lawannya dengan cepat merendah. Bukan sekedar menghindari serangan Paksi, tetapi sambil menjatuhkan dirinya, Marta Brewok telah menggunting kaki Paksi. Demikian cepatnya, maka Paksi tidak sempat mengelakkannya. Tubuh Paksi bagaikan dilibat oleh kekuatan yang sangat besar sehingga Paksi itupun terpelanting oleh putaran kaki lawannya. Tetapi Paksi tetap menyadari apa yang telah terjadi. Paksi yang terbanting itu justru berguling beberapa kali. Namun tongkatnya masih tetap didalam genggamannya. Sekejap kemudian Paksi sudah bangkit dan melenting berdiri. Pada saat yang bersamaan Marta Brewok tengah meloncat menyerang dadanya dengan juluran kakinya. Tetapi Paksi dengan cepat meloncat kesamping. Demikian kakinya menyentuh tanah, maka tongkatnya-pun telah terayun dengan derasnya, mengarah ke lutut sebelah kaki lawannya yang dipergunakannya untuk bertumpu. Tetapi Paksi terkejut. Tongkatnya sama sekali tidak menyentuh kaki lawannya. Dengan tangkasnya Marta Brewok meloncat tinggi-tinggi, kemudian berputar diudara dan jatuh tegak pada kedua kakinya. Paksi menggeram marah. Tetapi lawannya justru berdiri tegak dengan tangan bertolak pinggang. Terdengar Marta Brewok itu tertawa. Katanya disela-sela suara tertawanya “ Aku belum mempergunakan jenis-jenis ilmuku yang akan dapat melumatkan jantungmu. Karena itu, hentikan saja perlawananmu yang sia-sia. Paksi tidak menghiraukannya. Ia justru meloncat menyerang sambil memutar tongkat kayunya. Dengan demikian, maka pertempuranpun telah berlangsung lagi. Semakin lama menjadi semakin sengit. Dalam pada itu, Paksi yang telah mengerahkan segenap tenaga, kekuatan dan kemampuannya itu, mulai merasa betapa tenaganya mulai menyusut. Putaran tongkatnya mulai mengendor. Kecepatan gerakannyapun mulai menurun. sementara itu, lawannya masih tetap segar sebagaimana pertempuran itu dimulai. Paksi mulai merasa bahwa ia sudah melewati puncak kemampuannya. Marta Brewok itu seakan-akan mengetahui kegelisahan yang mulai mencengkam jantung Paksi. Karena itu, maka Marta Brewok itu berkata “ Nah, anak muda. Apakah kau masih akan melawan? “ Tetapi jawaban Paksi tegas “ Aku tidak akan pernah menyerah apapun yang terjadi. Kematian adalah batas akhir dari sebuahlperjtianganuntuk mempertahankan diri. Dan itu sama sekali tidak menakutkan aku. “ “ Anak iblis kau. Kau terlalu sombong Paksi. Kau akan menyesali kesombonganmu itu. “ “ Aku tidak pernah berniat untuk menyombongkan diri. Tetapi itu adalah sikapku. “ “-Bagus, bersiaplah. Aku sudah memberikan kesempatan yang terakhir. Jika kesempatan itu kau sia-siakan, maka aku akan benar-benar menghancurkan kesombonganmu sebelum tubuhmu ditanam sebagai tumbal dibawah bangunan induk padepokan yang akan didirikan oleh Resi Jamur Akik. “ Paksi sama sekali tidak menjawab. Tetapi Paksi telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sesaat kemudian, maka perterripuranpun telah kembali menyala. Paksi telah mengerahkan kemampuannya yang tersisa. Namun bagaimanapun juga, serangan-serangannya tetap tidak dapat menembus pertahanan lawannya. Bahkan serangan-serangan Marta Brewok itu semakin sering menyentuh tubuhnya. Semakin lama tenaga Paksipun menjadi semakin menyusut, sementara lawannya menjadi semakin garang. Karena itu, maka perlawanan Paksipun semakin lama menjadi semakin tidak berarti. Beberapa kali serangan lawannya sempat melemparkan Paksi beberapa langkah surut. Bahkan ketika tangan Marta Brewok mengenai keningnya, Paksi telah terbanting jatuh. Meskipun demikian, Paksi yang berguling mengambil jarak itupundengancepat bangkit. Tongkatnya masih tetap didalam genggamannya. Tetapi demikian ia berdiri, maka lawannya telah meloncat menyerangnya. Tangannya terjulur lurus kearah dadanya. Dalam keadaan yang semakin lemah, Paksi masih mencoba untuk tetap bertahan. Demikian Marta Brewok meloncat menyerang, maka Paksipun berdiri tegak sambil mengacukan tongkatnya tepat kearah dada lawannya yang bergerak maju. Paksi berdiri diatas kedua kakinya yang sedikit merendah pada lututnya dengan sedikit menarik kaki kanannya kebelakang. Marta Brewok yang menyangka bahwa Paksi sudah menjadi semakin lemah justru terkejut. Tubuhnya yang meluncur deras itu menggeliat. Namun ujung tongkat Paksi masih juga mengenai lambungnya. Serangan Marta Brewok memang terhenti. Bagair manapun juga, patukan ujung tongkat Paksi di lambungnya itu terasa sakit. Tetapi dalam pada itu, Paksi telah terdorong beberapa langkah surut. Namun Paksi masih mampu mempertahankan keseimbangannya. Marta Brewok yang kesakitan itu menggeram. Dengan kemarahan- yang menyala ia berkata dengan suara bergetar “ Setan kecil. Kau menyakiti lambungku. Karena itu, aku akan segera mengakhiri pertempuran ini.” Paksipun segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Tetapi Paksi tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa tenaganya sudah semakin menyusut. “ Bangkitlah “ geram Marta Brewok “ jangan cengeng. Kau baru bertempur seujung malam. Belum sampai tengah malam. Ketika aku masih semuda kau, aku dapat bertempur sehari semalam tanpa berhenti. Sekarang, diumurku yang semakin tua, aku justru sanggup bertempur tiga hari tiga malam. “ Paksi menggeram. Tetapi tenaganya memang sudah benar-benar menyusut. Marta Brewok tidak menyambung kata-katanya, tetapi ia mulai menyerang kembali dengan garangnya. Ketika serangan Marta Brewok menembus pertahanan Paksi dan langsung mengenai pundaknya, maka tubuh Paksi itu seakan-akan telah diputar sekali. Paksi terhuyung-huyung. Ia mencoba untuk mempertahankan keseimbangannya. Tetapi Marta Brewok telah meloncat lagi. Ketika tubuhnya berputar dengan satu ayunan kaki yang keras tepat mengenai dada Paksi, maka Paksi benar-benar terlempar dan jatuh terbanting ditanah. Ketika Paksi mencoba untuk bangkit, maka tubuhnya yang lemah itu terhuyung-huyung. Paksi masih mencoba bertelekan pada tongkatnya. Namun serangan yang berikut, telah menghantam kening Paksi dengan kerasnya. Paksi benar-benar terpelanting jatuh. Hanya karena keliatan tubuhnya sajalah yang menghindarkan kepalanya membentur batu-batu padas. Tetapi ketika Paksi berusaha untuk bangkit, maka matanya menjadi berkunang-kunang. Kepalanya terasa sangat pening sementara perutnya menjadi mual. Tetapi Paksi masih juga memaksa dirinya untuk berdiri. Tongkatnya ikut pula menyangga tubuhnya yang mulai gontai. Marta Brewok berdiri beberapa langkah dihadapan-nya. Suara tertawanya meledak mengoyak sepinya malam. “ Nah, apa katamu sekarang? Kau menyerah? “ Tetapi jawaban Paksi tegas “ Tidak. Aku tidak akan pernah menyerah. “ “ Kenapa? Bukankah kau sudah tidak berdaya untuk melawan? Atau kau masih mempunyai Aji Pamungkas yang akan dapat menolong jiwamu? “ “ Aku tidak menyerah kepada tindak sewenang-wenang. Aku yakini kebenaran perjuanganku mempertahankan diriku. Karena itu, aku tidak akan pernah bergeser dari sikapku. Aku akan melawan kesewenang-wenangan-mu apapun yang akan terjadi. “ “ Apa yang akan kau pergunakan untuk melawan? Seandainya aku sentuh kau dengan jarijariku, kau tentu sudah roboh. “ “ Aku tidak peduli. “ ” Kau tidak akan dapat membebaskan dirimu. Kau akan mati. Tubuhmu akan ditimbun dengan tanah dibawah bangunan utama padepokan Resi Jamur Akik. “ “ Kau dapat membunuhku. Kau dapat mengubur tubuhku dimanapun kau mau. Tetapi kau tidak dapat membunuh keyakinanku, bahwa kesewenang-wenangan harus dilawan. “ “ Gila kau. Dalam keadaan seperti itu kau masih berani berbicara tentang keyakinan. Kau harus melihat kenyataan. Kau tidak dapat mempertahankan keya-kinanmu itu. “ “ Menurut gelar kewadagan, benar. Tetapi keyakinan adalah satu sikap jiwani. Kau tidak dapat membunuh jiwaku. “ Marta Brewok menggeram. Katanya “ Bersiaplah untuk menjadi korban. Tubuhmu akan menjadi tumbal. Tanpa tumbal tubuh seorang anak muda yang memiliki keberuntungan tetapi juga kemalangan seperti kau, maka bangunan itu tidak akan dapat terwujud .dan tidak pula akan dapat mempunyai arti. “ “ Aku tidak akan pernah melakukannya “ jawab Paksi. “ Diam “ bentak Marta Brewok “ jika kau masih menjawab lagi, aku koyakkan mulutmu. “ “ Lakukan. Tetapi kau tidak akan memakai tumbal yang cacat. “ Marta Brewok itu menggeram. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya “ Darimana kau tahu? “ “ Tidak ada korban yang cacat. “ “ Aku dapat mencari tumbal lain yang lebih baik. “ “ Terserah kepadamu “ geram Paksi. “ Kenapa kau tidak bertanya, tumbal apakah yang lebih baik itu? “ “ Aku sudah tahu. Maksudmu tentu korban yang tidak cacat. “ “ Kau salah anak muda. Untuk membuat padepokan itu ada tumbal yang jauh lebih baik. Tetapi mencarinya juga jauh lebih sulit. “ Paksi tidak menyahut. Ia tidak bertanya, apakah tumbal yang lebih baik itu. Tetapi Marta Brewok itulah yang memberitahukan kepadanya “ Anak muda. Tumbal yang lebih baik itu adalah sebuah cincin. “ “ Cincin? “ Paksi terkejut. Diluar sadarnya ia bertanya “ Cincin apa? “ “ Cincin bermata tiga butir batu akik. “ Jantung Paksi berdebar semakin cepat. Sementara Marta Brewok itu berkata “ Nilai cincin bermata tiga butir batu akik itu sama dengan tiga kali lipat korban yang lain. Tetapi sampai saat ini kami masih belum menemukan cincin itu. “ Dada Paksi masih berdebaran. Sementara itu, Marta Brewokpun bertanya “ Apakah kau mengetahui sebuah cincin yang bermata tiga butir batu akik. Memang tidak biasa, karena pada umumnya cincin hanya bermata sebutir batu akik saja. “ Paksi menggeleng. Dengan nada rendah ia menjawab “ Tidak. Aku tidak tahu. “ Marta Brewok mengangguk-angguk kecil. Tetapi iapun kemudian berkata “ Paksi. Aku akan memberikan satu pilihan kepadamu. Jika kau ingin membebaskan dirimu agar kau tidak menjadi tumbal pembuatan padepokan itu, maka kau harus dapat menemukan sebuah cincin yang bermata tiga butir batu akik itu. “ Sejenak Paksi tercenung. Ia menjadi bingung. Seandainya ia dapat menemukan cincin itu, maka ia harus menyerahkannya kepada ayahnya. Tidak kepada Marta Brewok yang akan memakai cincin itu sebagai tumbal. Tetapi jika ia tidak menyanggupinya, maka tubuhnyalah yang akan menjadi tumbal. “ Kenapa kau diam? Kau harus memilih. Tubuhmu yang akan menjadi tumbal atau kau berusaha menemukan sebuah cincin yang bermata tiga butir batu akik. “ Paksi termangu-mangu sejenak. Ia menjadi bingung. Ia dapat saja berbohong untuk sekedar menyelamatkan diri, setidak-tidaknya menghindar dari Marta Brewok. Tetapi harga diri Paksi telah mencegahnya. Itu perbuatan yang licik. Untuk menyelamatkan diri Paksi yang harus berbohong dan berpura-pura. Karena itu, maka Paksi itupun menjawab “ Ki Marta Brewok. Seandainya aku menemukan cincin yang bermata tiga butir batu akik, aku tidak akan memberikan kepadamu untuk tumbal pembuatan padepokan itu. “ “ Kenapa? “ bertanya Marta Brewok “ apakah kau akan mempergunakannya sendiri? “ “ Tidak “ jawab Paksi “ aku akan menyerahkan kepada orang yang lebih berhak dari Resi yang akan membuat padepokan itu. “ “ Siapa yang lebih berhak itu? “ bertanya Marta Brewok. “ Kau tidak perlu mengetahuinya. “ Marta Brewok menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Kau memang luar biasa Paksi. Hatimu keras seperti baja. Kenapa kau tidak mengiakannya sementara kau mempunyai kesempatan untuk menghindari kematian. Setidaktidaknya selama kau berusaha mencarinya. “ “ Aku bukan orang yang licik, yang berlindung dibalik kebohongan dan kepura-puraan untuk mencari keselamatan. “ “ Paksi “ berkata Marta Brewok “ aku tidak berkeberatan jika cincin itu nanti kau serahkan kepada yang lebih berhak, kerena aku tidak memerlukan cincin itu untuk seterusnya. “ “ Jadi bagaimana dengan tumbal itu? “ bertanya Paksi. “ Aku hanya memerlukan cincin itu selama tiga hari tiga malam. Aku akan merendamnya didalam air kembang setaman. Nah, airnya itulah yang kami butuhkan untuk menyiram alas dan bebatur pendapa bangunan utama padepokan itu. Selanjutnya kau dapat membawa cincin itu kepada yang kau anggap lebih berhak itu. “ Dahi Paksipun berkerut. Ia tidak mengerti, apa yang sebenarnya sedang dihadapinya. Ia juga tidak mengerti, kenapa tiba-tiba Marta Brewok memberinya kesempatan untuk menemukan sebuah cincin bermata tiga butir batu akik. Cincin yang harus dicarinyadalampengembaraannya itu. “ Paksi “ suara Marta Brewok merendah “ aku condong untuk memberi kesempatan kepadamu untuk mencari cincin itu, daripada harus menanam tubuhmu dibawah bangunan utama padepokan itu. “ Paksi termangu-mangu sejanak. Dengan ragu ia berkata “ Tetapi sudah aku katakan bahwa aku akan menyerahkan batu akik itu kepada yang berhak.” “ Aku juga sudah mengatakan bahwa aku hanya memerlukan tiga hari saja. Setelah itu, terserah kepadamu. “ Paksi masih bimbang. Ia masih merasa sakit diseluruh tubuhnya. Tiba-tiba saja ia mendapat tawaran yang rasa-rasanya tidak masuk akal. Karena Paksi tidak segera menjawab, maka Marta Brewok itupun berkata “ Pikirkan. Apakah kau ingin mati dan dikubur dibawah bangunan utama padepokan yang akan dibangun itu, atau kelak kau meminjamkan cincin itu selama tiga hari. “ “ Apakah kau dapat aku percaya? “ bertanya Paksi. Marta Brewok justru tertawa. Katanya “ Kau aneh anak muda. Seharusnya akulah yang bertanya seandainya kau memilih untuk mencari cincin itu dan kemudian meminjamkan kepadaku tiga hari tiga malam. “ Paksi berpikir sejenak. Tawaran yang tidak diduganya itu telah membuat jantungnya berdebar semakin cepat. Namun kemudian Paksi itu menjawab “ Baiklah. Aku akan mencari cincin dengan mata tiga butir batu akik itu. “ “ Bagus “ jawab Marta Brewok “ jika kau berhasil, maka padepokan itu benar-benar akan menjadi padepokan yang terbesar di tanah ini. “ “ Tetapi bukankah kau tidak memberikan batas waktu kepadaku? “ bertanya Paksi. “ Tidak. Tetapi sudah tentu secepatnya. Demikian kau mendapatkannya, maka kau harus menyerahkannya kepadaku untuk tiga hari tiga malam. “ “ Dimana aku hurus menemuimu? “ bertanya Paksi. Marta Brewoklah yang termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya “ Kau harus berada di alun-alun Pajang. Aku akan menemuimu. “ “ Kenapa alun-alun Pajang? “ bertanya Paksi. “ Tidak akan ada orang yang memperhatikan kita ditempat yang ramai. “ “ Tetapi bagaimana kau tahu bahwa aku sudah berhasil mendapatkan cincin itu sehingga kau mencariku ke alun-alun itu? “ “ Aku beri ancar-ancar waktu. Enam bulan lagi aku akan pergi ke alun-alun Pajang. Jika kau belum berhasil, maka aku akan datang ke alun-alun itu setiap setengah bulan sekali. Sekali di saat bulan purnama, dan sekali disaat bulan tanggal pertama. Demikian kau berhasil, maka kau harus berada di alun-alun itu pada malam-malam yang aku sebutkan itu. “ “ Aku sama sekali tidak dapat mengatakan, berapa lama aku akan berhasil. “ “ Jika dalam setahun kau belum berhasil, aku akan mencarimu. Mungkin kau memerlukan bantuan. “ Paksi menjadi semakin bingung menghadapi Marta Brewok. Sikapnya sama sekali tidak dimengertinya. Namun Paksi itupun menjawab “ Baiklah. Aku akan berusaha menemukan cincin itu. “ Tetapi yang dikatakan Marta Brewok kemudian semakin membingungkan Paksi. Katanya “Paksi. Jika kau akan mencari cincin itu, maka bekalmu tentu masih belum cukup. “ “ Maksud Ki Marta? “ bertanya Paksi. “ Kau harus mempersiapkan dirimu sebaik-baiknya. syarat untuk mendirikan padepokan terbaik harus terpenuhi. “ “ Jika demikian, aku bersedia, Ki Marta. “ “ Bagus. Kau harus menempa diri dengan menjalani laku. Kau harus tetap berada disini. Dimalam hari kau akan berlatih. Disiang hari terserah kepadamu, apa yang akan kau lakukan. Atau barangkali kau akan pergi kemana saja. Tetapi sebelum senja, kau harus sudah berada disini lagi.“ “ Berapa lama aku tinggal disini? “ “ Tergantung kepadamu. Kepada niatmu dan kepada kemampuanmu untuk menyadap ilmu itu.“ Paksi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya orang berjambang, berkumis dan berjanggut lebat itu dengan tajamnya. Namun Paksi mulai menyesali kebodohannya. Orang yang dihadapinya itu tentu merupakan salah satu dari orang-orang aneh yang pernah dan barangkali masih akan dijumpainya lagi sebagaimana pengemis yang telah memberikan tongkatnya itu, atau orang yang pernah menyerangnya namun orang itu telah membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi ilmunya. “ Nah, jika kau bersedia, maka mulai besok kau harus membuat sebuah gubug di sekitar tempat ini. Kau akan tinggal digubug itu selama kau menjalani laku. Aku tidak tahu, bagaimana kau akan makan dan minum. Aku tidak mau tahu bagaimana kau mendapatkan pakaian jika pakaianmu koyak, Yang penting bagiku, kau harus memiliki bekal ilmu yang cukup untuk memasuki satu dunia yang keras. Cincin itu diperebutkan oleh orang-orang yang mempunyai berbagai kepentingan. “ Kau harus menempa diri untuk mematangkan dan mengembangkan ilmumu. Lebih dari itu, kau harus mempunyai ilmu andalan yang dalam keadaan yang sulit, dapat kau pergunakan. “ “ Aku tidak mengerti. Jadi apa yang harus aku lakukan? “ bertanya Paksi. “ Sebelum kau berangkat mencari cincin itu, kau harus membuat dirimu layak untuk mencarinya. Barangkali kau juga sudah tahu, bahwa banyak orang yang menginginkan cincin itu. Diantara mereka adalah orang-orang berilmu tinggi. Karena itu, jika pada satu saat kau memasuki pusaran perebutan cincin itu, maka kau harus menambah bekalmu. Maksudku, ilmumu harus meningkat. Paksi mengerutkan dahinya. Hampir diluar sadarnya ia berkata “ Apakah Ki Marta dapat menunjukkan cara yang dapat aku tempuh, agar ilmuku meningkat? “ “ Aku dapat memberi jalan jika kau mau. “ “ Jika Ki Marta Brewok bersungguh-sungguh, tentu aku bersedia. “ jawab Paksi. Namun pada nada suaranya masih terasa betapa hatinya bimbang. “ Kau masih bimbang. “ desis Marta Brewok. “ Aku sama sekali tidak bimbang, seandainya aku harus menjalani laku apapun juga. Yang aku bimbangkan adalah kesungguhan Ki Marta Brewok. Mungkin Ki Marta Brewok sekedar main-main sebelum aku benar-benar dibenamkan dibawah bangunan utama padepokan itu. “ “ Aku bersungguh-sungguh, Paksi. Padepokan itu tidak tergesa-gesa. Tetapi harus benar-benar sebuah padepokan yang terbaik. Seandainya padepokan itu dimulai setahun lagi, tidak menjadi soal. Yang penting, Paksi mengangguk-angguk sambil menjawab “ Aku bersedia Ki Marta. “ “ Bagus. Besok malam kita akan mulai. Kita tidak akan berlatih disini setiap malam. Tetapi dibalik gumuk ini ada tempat yang lebih baik dan lebih tersembunyi dari tempat ini. Kau dapat menyesuaikan dirimu, dimana kau akan membuat gubug. Disini tersedia kayu.dan bambu menurut kebutuhan. Kau dapat membuat tali dari serat daun pandan atau serat kulit kayu yang lain. “ “ Baik Ki Marta. Besok aku akan mulai. “ “ Sekarang, ikut aku. Aku akan menunjukkan tempat itu. “ Paksi tidak menyahut. Tetapi iapun kemudian melangkah mengiringi Ki Marta Brewok yang melangkah menuju ke lekuk yang tidak terlalu dalam disebelah gumuk kecil itu. Meskipun malam gelap, tetapi mata Paksi yang tajam dapat melihat bayangan Ki Marta Brewok sehingga Paksi dapat mengikutinya sampai ke balik gumuk kecil itu. Dibalik gumuk kecil itu memang terdapat sebidang tanah yang agak lapang. Meskipun disanasini juga ditumbuhi pohon-pohon perdu, namun diatas tanah itu tidak terdapat sebatangpun pohon yang besar sebagaimana terdapat di atas gumuk kecil itu atau di hutan yang lebat dilereng Gunung Merapi. “ Inilah sanggar kita “ berkata Marta Brewok “ tanah ini datar dan agak lapang. Besok kita dapat membersihkan dan mempersiapkan segala-galanya. “ “ Baik, Ki Marta “ sahut Paksi. “ Sebelumnya aku ingin memberitahukan kepadamu, Paksi, bahwa disekitar tempat ini banyak terdapat ular dari berbagai macam jenis. Ada yang bisanya sangat tajam dari jenis bandotan, weling, welang, kendang dan beberapa jenis lain, tetapi juga ada yang bisanya tidak terlalu tajam, seperti ular sawa dan sejenisnya. Tetapi ada bahaya lain pada ular sawa yang sudah tumbuh menjadi besar. Jika mulutnya menganga, maka sosok tubuh seseorang dapat ditelannya. “ Paksi mengangguk-angguk kecil. Namun baginya, justru ular-ular kecil yang bisanya tajam itulah yang berbahaya baginya, karena tanpa disadari ular-ular yang terhitung lebih kecil itu dapat terinjak kakinya dan mematuk tumitnya. Adalah juga diluar dugaan, ketika Ki Marta Brewok itu kemudian berkata selanjutnya “ Karena itu Paksi, aku ingin memberimu obat penawar racun. Obat itu berujud butir-butir reramuan yang aku buat. Jika kau menelan sebutir, maka obat itu akan menawarkan racun yang masuk kedalam tubuhmu dengan cara apapun juga, termasuk gigitan ular, selama satu hari satu malam. Karena itu, selama kau berada ditempat ini, maka setiap hari kau harus menelan butir-butir reramuan obat itu. “ “ Baik, Ki Marta “ jawab Paksi “ aku akan melakukannya. “ “ Nah, karena malam ini kau sudah berada ditempat ini, maka sejak sekarang sebaiknya kau mulai menelannya. “ Paksi tidak menolak. Ia tidak lagi mencurigai Ki Marta Brewok. Jika orang itu berniat buruk, maka ia tidak perlu mempergunakan akal yang licik, karena dengan mudah orang itu dapat mengalahkannya. Ternyata Paksi merasakan tubuhnya menjadi agak panas ketika sebutir obat itu mulai bekerja didalam tubuhnya. Namun hanya beberapa saat. Kemudian ia tidak merasakan sesuatu lagi. Disisa malam itu Paksi tidur disebongkah batu yang besar. Sebelum anak muda itu tertidur, maka Marta Brewok telah memberikan beberapa pesan kepada Paksi. Iapun memberikan beberapa petunjuk pula bagaimana Paksi membuat gubug yang akan dihuni. “ Disini kau tidak akan kekurangan air. “ berkata Marta Brewok “ tetapi kaupun harus ingat, bahwa di hutan itu terdapat binatang buas. Kau harus bersiap untuk mempertahankan hidupmu jika pada suatu saat kau bertemu dengan seekor harimau atau sekelompok anjing liar. Pepohonan itu akan dapat memberikan perlindungan bagimu, karena harimau dan anjing-aning liar tidak akan mengejarmu memanjat batang-batang pepohonan itu. “ Paksi mendengarkannya dengan bersungguh-sungguh. Sambil mengangguk-angguk ia menyahut “ Ya, Ki Marta. “ “ Nah, sekarang tidurlah dimalam yang masih tersisa. “ Paksi tidak menyahut. Tetapi perasaan letihnya telah membuat matanya terpejam. Sesaat Paksi melupakan rasa sakit yang menggigit sampai ketulang. Tetapi Paksi tidak dapat tidur terlalu lama. Beberapa saat kemudian iapun telah terbangun oleh burung yang berkicau di pepohonan. Ketika Paksi menggeliat, maka terasa sakit diseluruh tubuhnya. Tulang-tulangnya serasa menjadi retak, sedangkan persendiannya bagaikan terlepas. Paksipun kemudian bangkit dan duduk sambil menyeringai. Langit nampak menjadi merah. Tetapi ia tidak melihat Marta Brewok ditempat itu. “ Mungkin Ki Marta Brewok baru pergi ke parit sebelah “ berkata Paksi didalam hatinya. Namun Paksi terkejut. Ketika turun dari atas batu, ia melihat beberapa jenis peralatan teronggok dibawah batu itu. Diantaranya adalah kapak besar dan kecil, parang, linggis dan beberapa jenis alat yang lain. Paksi menarik nafas dalam-dalam, la tahu, bahwa Marta Brewok minta kepadanya, agar ia membuat gubug sebagaimana dikatakannya itu segera. Jilid 4 PAKSI yang menyadari keadaannya, tidak akan mengelak. Mulai hari itu, ia akan membuat sebuah gubuk yang akan ditempatinya selama ia menjalani laku, meningkatkan ilmunya sebagai bekal untuk mencari cincin bermata tiga butir batu akik. Iapun sudah yakin bahwa orang yang menyebut dirinya Marta Brewok adalah salah satu dari orang-orang aneh yang sama sekali tidak berniat buruk terhadapnya. Paksi itupun kemudian mengucap sukur di dalam hatinya. Ia yang merasa terbuang dari keluarganya, telah menemukan keluarga baru meskipun kurang dapat dimengertinya, apakah yang sebenarnya mereka kehendaki. Mulai hari itu, Paksi sudah bertekad untuk membuat gubuk untuk berteduh dan untuk melindungi dirinya dari binatang buas di malam hari, jika ia sedang tidur. Tetapi pagi itu, setelah mandi dan berbenah diri, maka Paksi telah turun dari lereng Gunung Merapi untuk membeli alat-alat untuk dapur di pasar terdekat. Ia yakin bahwa di beberapa padukuhan itu tentu terdapat sebuah pasar yang menjual alat-alat dapur. Paksi berniat untuk tidak mondar-mandir membeli makan jika ia lapar. Ia ingin menyediakan makannya dengan membuatnya sendiri. Tetapi Paksipun tidak ingin menarik perhatian, sehingga ada satu dua orang yang ingin tahu, dimana ia tinggal. Ia ingin merahasiakan tempat tinggalnya selama ia menjalani laku. Menurut pendapatnya, gumuk kecil itu memang jarang sekali disentuh kaki, meskipun ada sebuah jalan setapak yang melintas di dekatnya. Karena itu, maka Paksi harus berhati-hati. Ia tidak dapat membeli semua keperluannya sekaligus meskipun ia mempunyai uang. Ia harus membeli sedikit demi sedikit. Bahkan jika mungkin di tempat yang berbeda. Di hari pertama, Paksi telah membeli kebutuhan-kebutuhan terpentingnya. Bahkan beras, gula kelapa dan garam telah dibelinya pula. Lewat tengah hari, Paksi mulai membabat batang ilalang. Batang ilalang itu akan dikeringkannya. Kemudian ilalang kering itu akan dibuatnya sebagai atap gubuknya kelak. "Mudah-mudahan hujan tidak segera turun," berkata Paksi di dalam hatinya. Tetapi apapun yang terjadi, Paksi sudah siap untuk menghadapinya. Bahkan seandainya ia harus kehujanan sehari semalam. Tetapi sebelum Paksi menyelesaikan gubuknya, ia telah menemukan sebuah lekuk yang agak dalam di dinding batu padas yang agak tinggi. Jika hujan turun, ia dapat berteduh di dalam lekuk yang agak dalam itu, meskipun mungkin tiris air akan menggapainya. Seperti yang dikatakan oleh Ki Marta Brewok, maka di tempat itu memang banyak terdapat ular. Ketika Paksi sedang menebas batang ilalang, maka kakinya telah menginjak seekor ular berleher merah seperti bara. Dengan marah ular itu mematuk tumit Paksi yang terkejut sambil meloncat. Tetapi untunglah bahwa Paksi telah menelan obat penawar racun, sehingga ular yang terhitung berbisa itu tidak membunuhnya. Di sore hari Paksi beristirahat. Ia sudah menyediakan berbagai macam alat dapur. Tetapi ketika ia akan menanak nasi, ia menjadi ragu-ragu. Asapnya akan dapat mengundang perhatian. Karena itu, Paksi telah menunda niatnya. Ia menunggu malam menjadi gelap. Asapnya akan tersamar di dalam gelapnya malam, sedang api yang dinyalakannya akan terlindung oleh gumuk kecil dan batu-batu padas yang terdapat di sekitarnya. Untunglah bahwa ketika ia turun ke pasar dan membeli barang-barang terpenting yang diperlukan, ia juga membeli beberapa potong makanan. Hari itu, Paksi telah menggelar tebasan batang ilalang cukup banyak. Paksi memperkirakan batang ilalang itu cukup untuk dibuat atap gubuknya. Ketika matahari kemudian turun menyusup di balik punggung gunung, Paksi telah berendam di aliran air yang tidak begitu deras. Sambil mandi Paksi telah mencuci pakaiannya yang penuh dengan gelugut alang-alang. Tetapi Paksi sudah membeli sepengadeg pakaian baru ketika ia turun ke pasar, sehingga Paksi sudah mempunyai ganti jika sepengadeg pakaian yang melekat di badannya itu dicuci dan dijemur. Ketika kemudian malam turun, Paksi mulai menyalakan api. Dengan batu titikan dan sejumput ampul gelugul aren, Paksi membuat api. Tetapi asap yang mengepul memang tidak lagi menarik perhatian. Selain untuk menanak nasi dan merebus air, api itu juga menghangatkan tubuh Paksi. Sambil duduk di depan perapian, Paksi menunggu Ki Marta Brewok yang belum juga nampak batang hidungnya. Orang itu ternyata tidak sekedar pergi ke parit di sebelah. Tetapi ia telah pergi sehari penuh. Namun ketika air mulai mendidih, Paksi terkejut. Ia mendengar langkah seseorang mendekat. Kemudian ia mendengar orang itu terbatuk-batuk kecil. "Ki Marta Brewok," berkata Paksi di dalam hatinya. Sebenarnyalah orang yang datang itu Ki Marta Brewok. Demikian ia berdiri beberapa langkah dari perapian itu, maka terdengar suaranya, "Apa yang sudah kau lakukan sehari ini?" "Turun ke pasar. Membeli beberapa peralatan terpenting. Persediaan bahan pangan dan lewat tengah hari membabat batang ilalang untuk dikeringkan." Ki Marta Brewok yang kemudian duduk di samping Paksi di depan perapian itu berkata, "Sesudah kau selesai, kita akan mulai berlatih." Paksi mengangguk kecil sambil menjawab, "Baik, Ki Marta." "Aku akan menunggu sampai nasimu masak. Setelah makan dan beristirahat sebentar, aku akan datang lagi." "Ki Marta akan pergi ke mana?" "Aku akan melihat, apakah buah pisang di rumpun pisang di pinggir sungai itu sudah masak." Ki Marta Brewok tidak menunggu jawaban Paksi. Sejenak kemudian Ki Marta Brewok itu sudah hilang di dalam gelap. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia masih harus menunggu beberapa saat. Ternyata Paksi juga dapat menanak nasi. Meskipun nasinya terlalu lemas karena Paksi memberi air terlalu banyak. Meskipun demikian, ketika nasi itu disenduk, asapnya membuat perut Paksi menjadi terasa lapar. Sambil menunggu Ki Marta Brewok, Paksipun kemudian makan nasi lemas dengan garam. Di dinginnya udara lereng gunung, nasi hangat dan garam itu terasa betapa nikmatnya. Apalagi perut Paksi yang memang sedang lapar. Sehingga karena itu, maka Paksipun makan agak terlalu banyak. Tetapi sebelum Paksi selesai makan, Ki Marta Brewokpun telah datang sambil memanggul setandan pisang koja yang sebagian telah masak. "Aku juga lapar," berkata Ki Marta Brewok. Namun kemudian iapun bertanya, "Kau makan dengan apa?" "Garam," jawab Paksi. "Nasi dan garam kurang memenuhi kebutuhan tubuhmu. Kau akan berlatih dan mengerahkan tenaga cukup banyak. Lain kali kau dapat mencari ikan di sungai itu atau berburu ayam hutan atau berburu kijang di hutan itu." Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera dapat membayangkan dengan apa ia berburu ayam hutan atau bahkan kijang. Ki Marta Brewok agaknya melihat kebimbangan di wajah Paksi. Karena itu, maka iapun berkata, "Paksi. Di sisi padang perdu ini terdapat serumpun besar pring cendani. Kau dapat memilih batang-batang bambu yang lurus untuk membuat lembing. Kau dapat berlatih melontarkan lembing dengan baik. Berlatih membidik sasaran dan berlatih merunduk dengan diam-diam di saat kijang minum di tepian." Paksi mengangguk-angguk. Ternyata ia mempunyai banyak kegiatan yang dapat dilakukannya di siang hari di samping menyiapkan gubuknya. Dalam pada itu, Ki Marta Brewokpun telah makan pula. Seperti Paksi iapun makan nasi hanya dengan garam. Namun kemudian ia berkata, "Makanlah pisang itu. Buah-buahan seperti juga sayuran, sangat baik bagi perkembangan tubuhmu yang sedang tumbuh. Apalagi jika kita sudah mulai berlatih. Di pinggir hutan itu terdapat pepohonan yang daunnya dapat kau petik. Aku melihat beberapa batang pohon kates gerandel dan kates jingga. Aku juga melihat pohon melinjo yang dapat kau petik buahnya dan daunnya. Di tepian terhampar tanaman kangkung tanpa ada yang menanam. Kau dapat memetik seberapa kau butuhkan." Paksi mengangguk-angguk. Ternyata di sekitarnya banyak bahan yang dapat dimakannya serta memenuhi kebutuhan tubuhnya. Demikianlah, setelah mereka beristirahat sesudah makan, maka Ki Marta Brewokpun berkata, "Marilah. Kita bersiap-siap untuk berlatih. Kita baru akan memanaskan tubuh kita dan mencoba untuk mencari jalan terbaik agar tidak terjadi pertentangan di dalam tubuhmu, karena pada dasarnya kau sudah mempunyai kemampuan olah kanuragan." Paksi mengangguk kecil. Katanya, "Aku sudah siap, Ki Marta." "Simpanlah nasimu yang tersisa. Mungkin besok pagi-pagi kau merasa lapar." "Besok di dini hari aku akan menanak lagi untuk makan di siang hari," jawab Paksi. Ki Marta Brewok tersenyum. Katanya, "Kau tidak mau membuat perapian di siang hari?" Paksipun mengangguk kecil. "Jangan pernah melupakan menelan obat yang aku berikan untuk menawarkan racun," berkata Ki Marta Brewok. "Ya, Ki Marta. Aku memang sudah dipatuk ular hari ini." "Nah, karena itu berhati-hatilah." Demikianlah, beberapa saat kemudian, Ki Marta Brewok telah mengajak Paksi untuk berlatih. Mereka berdiri di tempat terbuka. Di bawah silirnya angin pegunungan di malam hari, serta dinginnya udara yang basah. Beberapa saat lamanya, keduanya memanaskan tubuh mereka dengan gerakan-gerakan yang ringan. Semakin lama semakin cepat, sehingga terasa darah mereka menjadi hangat. Seperti yang dikatakan, maka Ki Marta Brewok tidak langsung menuntun Paksi mengikuti ajaran-ajaran baru menurut cara Ki Marta Brewok. Ki Marta Brewok masih ingin melihat landasan yang sudah terbentuk di dalam diri Paksi, sehingga tidak akan terjadi saling menarik atau saling mendesak di dalam tubuh anak muda itu, jika Ki Marta Brewok kemudian memberikan tuntunan olah kanuragan. Nampaknya Ki Marta Brewok cukup berhati-hati. Paksi yang akan mengemban tugas yang penting itu, agaknya benar-benar dipersiapkannya dengan sungguh-sungguh. Malam itu belum banyak yang dilakukan oleh Paksi. Ki Marta Brewok minta agar Paksi menunjukkan unsur-unsur gerak yang dikuasainya. Sejauh diingatnya, Paksi diminta untuk menunjukkan urut-urutan latihan-latihan yang pernah dilakukan, dari unsur gerak yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. "Baiklah," berkala Ki Marta Brewok. "Aku sudah melihat apa yang sudah kau kuasai. Aku juga sudah melihat bagaimana kau sendiri mengetrapkan dalam benturan kekuatan, kemampuan dan ilmu karena kita pernah bertempur. Perkembangan ilmumu nampaknya berlangsung dengan cepat. Ada semacam pengaruh yang tidak kau sadari nampak dalam kemampuan olah kanuragan yang kau kuasai." Paksi tidak menjawab. Tetapi sekilas terbayang kembali orang yang mengaku pengikut Kebo Lorog yang tiba-tiba saja telah menyerangnya dan bertempur beberapa lama, sehingga akhirnya orang itu melarikan diri. "Orang itu memberikan kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas bagi perkembangan ilmuku," berkata Paksi di dalam hatinya. Namun dalam pada itu, Ki Marta Brewokpun berkata, "Baiklah anak muda. Malam ini kita masih belum berbuat banyak. Aku kira apa yang kita lakukan malam ini sudah cukup. Beristirahatlah dengan baik. Kau tentu letih. Nampaknya pagi tadi kau harus hilir-mudik membeli kebutuhan terpenting. Kemudian membuat perapian dan menebas ilalang, menggelarnya di panas matahari. Kemudian kau mulai berlatih." Paksi mengangguk kecil. Ia memang merasa letih. Tetapi seandainya Ki Marta Brewok masih menghendakinya untuk berlatih terus, maka Paksipun tidak berkeberatan. Namun Paksipun kemudian menghentikan kegiatannya pada malam itu. Paksipun kemudian beristirahat beberapa lama untuk mengeringkan keringatnya. Namun dalam pada itu, sambil menunggu keringatnya kering, maka Ki Marta Brewok telah memberikan beberapa petunjuk bagi masa depan Paksi yang masih sangat muda itu. "Umurnya telah menginjak tujuh belas," terngiang suara ayahnya memerintahkannya keluar dari rumah untuk mencari cincin bermata tiga butir batu akik. Waktu itu ibunya berkata, "Kau sengaja mengusirnya." Paksi menarik nafas panjang. Waktu itu Paksi sendiri memang meragukan. Apakah yang dikatakan oleh ayahnya itu bukan sekedar cerita ngaya-wara sebagai alasan untuk mengusirnya sebagaimana dikatakan oleh ibunya. Ternyata yang sedang memburu cincin bermata tiga butir batu akik itu bukan hanya ayahnya saja. Beberapa orang telah menyebut-nyebutnya pula. Dalam pada itu, Ki Marta Brewokpun berkata, "Paksi. Ternyata bahwa berita tentang hilangnya cincin dari istana itu sudah didengar oleh banyak orang. Ketika kau mengatakan bahwa kau akan mengembalikan cincin itu kepada orang yang lebih berhak, maka aku menduga, bahwa kau termasuk salah seorang dari mereka yang memburu cincin itu. Mungkin bukan terdorong oleh kemauanmu sendiri, karena aku tidak yakin, bahwa kau sudah memerlukannya. Tetapi atas dasar alasan apapun, kau termasuk di antara orang-orang yang mencarinya." Paksi menundukkan kepalanya. Semilir angin malam di pegunungan membuat kulitnya meremang. Dinginnya malam bagaikan menusuk sampai ke tulang. Ki Marta Brewok itupun kemudian berkata selanjutnya, "Paksi. Sebenarnya kau masih terlalu muda untuk terjun dalam arena perburuan cincin itu. Tetapi bukan berarti bahwa kau harus mengundurkan diri. Lakukan jika kau memang sudah mantap untuk melakukan. Tetapi kerja itu bukan sekedar main-main." "Bukankah Ki Marta Brewok juga membutuhkan cincin itu meskipun hanya untuk tiga hari?" Paksi sengaja meyakinkan dirinya bahwa Ki Marta Brewok sebenarnya tidak bermaksud jahat terhadapnya. Justru sebaliknya. Ki Marta Brewok mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tertawa. Katanya, "Kau memang cerdik. Tetapi biarlah aku menjawab, bahwa aku membutuhkan cincin itu selama tiga hari agar aku tidak perlu menanam tubuhmu di bawah bangunan utama padepokan yang akan didirikan itu." Paksi menarik nafas panjang. "Sudahlah," berkata Ki Marta Brewok. "Tidurlah. Kau masih mempunyai banyak kerja besok. Siang dan malam. Karena besok malam kita akan benar-benar mulai agar waktumu tidak banyak terbuang. Mudah-mudahan cincin itu belum jatuh ke tangan orang-orang yang berniat buruk, sehingga akan dapat mempunyai nilai yang lain." Paksi mengangguk-angguk pula. Paksi mengerti, bahwa di tangan orang-orang yang berniat jahat, maka cincin itu akan dapat diperjual-belikan dengan harga yang sangat mahal. Tetapi juga akan dapat menjadi rebutan dan menimbulkan banyak korban. Sementara itu, dari istana Pajangpun telah menyebar beberapa orang yang mencari cincin itu termasuk dirinya. Namun Paksipun kemudian dapat mengambil kesan pula, bahwa perintah ayahnya kepadanya untuk mencari cincin itu memang mempunyai arti yang rangkap. Ayahnya memang sengaja mengusirnya sebagaimana dikatakan oleh ibunya, tetapi ayahnya juga masih dapat berharap, Paksi akan dapat menemukan, setidak-tidaknya memberikan keterangan tentang cincin itu. Tetapi seandainya tidak, maka maksudnya yang pertama sudah terlaksana. Paksi sendiri tidak mengetahui, kenapa bagi ayahnya, kehadirannya di rumah tidak sebagaimana kehadiran adik-adiknya. Tetapi Paksi tidak ingin merenunginya terlalu lama. Ki Marta Brewok telah berkata pula, "Tidurlah. Aku akan tidur pula. Tetapi aku tidak akan tidur disini." Ki Marta Brewok tidak menunggu jawaban Paksi. Sejenak kemudian orang itu telah hilang di dalam kegelapan. Paksi yang memang merasa letih itupun kemudian telah berbaring pula. Malam memang terasa dingin. Tetapi Paksi tidak ingin membuat perapian lagi. Diselimutinya tubuhnya dengan kain panjangnya sampai ke telinga. Pagi-pagi sekali Paksi sudah bangun. Ketika gelap malam masih tersisa, Paksi menyalakan api dan menanak nasi. Kemudian, dibenahinya dirinya menjelang matahari yang mulai membayangkan cahayanya di langit. Sejak Paksi bangun dari tidurnya, ia sudah tidak lagi melihat Ki Marta Brewok. Nampaknya Ki Marta Brewok tidak singgah lagi di tempat. Paksi akan membuat gubuknya. Paksi mulai mengerti bahwa Ki Marta Brewok tidak mau menemuinya di siang hari. "Tentu ada sebabnya," berkata Paksi di dalam hatinya. Pagi itu Paksi harus turun lagi untuk membeli kebutuhan-kebutuhannya, terutama untuk melengkapi alat dapurnya serta bahan pangan. Tetapi seperti hari sebelumnya, Paksi berusaha untuk tidak menarik perhatian orang lain. Karena itu, maka ia tidak membeli semua kebutuhannya sekaligus, dan bahkan di tempat yang berbeda-beda. Hari itu, Paksi mulai menebang beberapa batang pohon yang diperlukan. Paksi tidak menebang pohon-pohon besar. Tetapi ia memilih pohon-pohon kecil yang batangnya lurus untuk membuat tiang-tiang gubuknya. Sementara itu, dahan dan ranting-rantingnya dapat dikeringkan untuk dijadikan kayu bakar. Ternyata Paksi merasa lebih mantap membuat gubuk dengan tiang-tiang kayu daripada bambu. Meskipun demikian, Paksi kemudian juga telah memotong beberapa puluh batang bambu. Dibelahnya batang-batang bambu itu untuk membuat dinding gubuknya. Belahan-belahan bambu itu kelak akan ditatanya berjajar tegak pada tulang-tulang gubuknya. Paksi tidak tergesa-gesa mendirikan gubuknya. Ia menunggu kayu dan bambu-bambu itu agak kering. Sementara itu, Paksi menyiapkan tali-tali bambu untuk mengikat tulang-tulang gubuknya itu. Demikianlah, dari hari ke hari, Paksi telah bekerja keras. Sementara itu, di malam hari, Ki Merta Brewok tiba-tiba saja telah muncul. Ikut makan nasi hangat dan kemudian melakukan latihanlatihan yang semakin lama menjadi semakin berat. Tetapi Paksi sama sekali tidak merasa akan kekuatan yang saling mendesak dan mendorong di dalam dirinya. Yang dipelajarinya dari Ki Marta Brewok justru dapat mengangkat dan mengembangkan ilmu yang pernah diwarisinya dari gurunya. Bahkan beberapa landasan ilmunya menunjukkan sumber yang senafas dengan ilmu yang telah dikuasainya. Kecurigaan Paksipun menjadi semakin meningkat, bahwa sebenarnya Ki Marta Brewok itu juga orang yang pernah menyerangnya dan mengaku anak buah Kebo Lorog itu. Namun Paksi memang tidak ingin memaksakan pendapatnya itu untuk mendapatkan pengakuan Ki Marta Brewok. Baginya hal itu tidak akan ada gunanya. Bahkan jika Ki Marta Brewok menjadi kecewa, maka hal itu akan dapat merugikannya. Dari hari ke hari maka latihan-latihanpun menjadi semakin rumit. Sementara itu di siang hari, Paksi sudah mulai mendirikan gubuknya. Ia harus menanam tiang-tiang kayunya. Kemudian memasang belandar dan pengeretnya. Diikatnya itu dengan tali bambu. Tetapi ketika kemudian Paksi menemukan beberapa batang pohon kelapa yang tumbuh di pinggir sungai tanpa ada pemiliknya, maka Paksi mulai membuat tali-tali serabut kelapa. Sedangkan kelapanya telah dipergunakannya untuk memasak sayur-sayuran sejauh dapat dilakukan. Bahkan Paksipun telah membuat santan untuk membuat minuman sebagaimana dawet yang pernah dibelinya di pasar, meskipun tanpa cendol. Namun pada kesempatan lain, Paksi telah membeli cendol dan membuat dawet sendiri. Ketika Ki Marta Brewok yang berkeringat setelah latihan yang keras di malam hari disuguhi dawet cendol, maka Ki Marta Brewok itupun berteriak, "He, darimana kau dapatkan dawet cendol seperti ini?" "Aku membuat sendiri, Ki Marta." "Ah bohong. Bagaimana mungkin kau dapat membuat dawet cendol?" "Aku hanya membeli cendolnya dan gula kelapa. Kemudian aku buat sendiri juruh gula kelapa. Aku buat santan dan aku panasi sampai mendidih. Kemudian aku masukkan cendol ke dalamnya." "Dari siapa kau belajar?" desak Ki Marta Brewok. "Jika aku membeli kebutuhan sehari-hari di pasar, aku memperhatikan bagaimana orang membuat dawet cendol. Tetapi aku tidak tahu bagaimana membuat cendol itu." Ki Marta Brewok tertawa. Katanya, "Bagus. Dawet itu membuat tubuhku menjadi segar." Sebenarnyalah bahwa banyak hal yang membuat nalar Paksi berkembang. Iapun ingin membuat gula kelapa sendiri karena ia pernah mendengar serba sedikit tentang orang membuat gula kelapa, mulai dan nderes dengan bumbung bambu hingga memanasi legen yang disadapnya dari mayang pohon kelapa itu. Ternyata Ki Marta Brewok mendorongnya untuk melakukannya. Bahkan ia memberikan beberapa petunjuk kepada Paksi, bagaimana ia menyadap legen, dan bagaimana ia memanasinya hingga menjadi gula kelapa dan kemudian dicetak dengan tempurung kelapa pula. Sebenarnyalah bahwa Paksi menjadi seorang yang memiliki berbagai macam kepandaian selain peningkatan kemampuan olah kanuragan. Demikianlah maka kerja Paksipun menjadi semakin berat. Ketika gubuknya sudah berdiri, ia merasa bahwa kerja akan berkurang. Di siang hari ia dapat beristirahat untuk memusatkan tenaganya dalam latihan-latihan di malam hari. Namun ternyata tidak. Di siang hari ada saja kesibukannya. Ki Marta Brewok menuntut agar Paksi memiliki kemampuan mempergunakan senjata lontar, sehingga Paksipun harus berlatih sendiri mempergunakan anak panah dengan busurnya, serta lembing. Dengan sedikit pengetahuan dasar serta petunjuk-petunjuk Ki Marta Brewok, Paksi mempertajam kemampuan bidiknya. Ia membuat orang-orangan yang dipergunakan sebagai sasaran anak panahnya. Namun kemudian ia mulai membidik apa saja. Pangkal ranting-ranting pepohonan. Batang perdu dan lekuk-lekuk batu padas. Ketika kemampuan bidiknya menjadi semakin meningkat, maka Paksi mulai membidik sasaran yang bergerak. Bukan saja dengan anak panah, tetapi juga dengan lembing yang dibuatnya dari pring cendani. Busur, anak panah dan lembing Paksi sangat sederhana karena dibuatnya sendiri. Tetapi dengan alat-alat yang sederhana itu Paksi benar-benar telah meningkatkan kemampuannya. Dengan anak panah dan busurnya, Paksi telah mampu mengenai sasaran yang bergerak. Untuk membuat anak panah dan lembing, Paksi memang harus membeli bedor besi pada pande-pande besi. Tetapi untuk tidak menarik perhatian, maka Paksi tidak membelinya di satu tempat, sebagaimana ia membeli alat-alat dapur serta bahan-bahan pangannya. Setiap kali ia berpindah tempat meskipun pada suatu saat ia kembali lagi kepada orang yang pertama. Tetapi waktu putaran itu membuat para penjualnya tidak lagi mengingatnya. Dengan demikian, maka di lereng gunung itu Paksi benar-benar telah menempa diri. Ki Marta Brewok yang datang hanya setiap malam itu, tidak lagi menjadi persoalan baginya. Kapanpun ia datang, bagi Paksi tidak ada lagi bedanya. Dengan laku yang berat, Paksi memang telah meningkatkan ilmunya. Tidak hanya beberapa hari, tetapi ternyata ia memerlukan waktu beberapa bulan. Meskipun semula Ki Marta Brewok itu memberinya ancar-ancar waktu enam bulan untuk mencari cincin bermata tiga butir batu akik itu, ternyata waktu yang enam bulan itu telah dihabiskannya di lereng gunung itu. Paksi yang kemudian seakan-akan hidup sendiri itu, justru telah memiliki berbagai macam kemampuan sehingga ia benar-benar mampu untuk mandiri. Di hutan perdu, Paksi telah membuat semacam ladang yang tidak terlalu luas. Ia telah menanam ketela pohon dan jagung. Setiap pagi, Paksi memanjat beberapa batang pohon kelapa yang tumbuh di pinggir sungai untuk menyadap legennya dan membuatnya menjadi gula. Ternyata gula itu dapat mencukupi kebutuhannya sendiri. Kangkung yang semula tumbuh liar di pinggir sungai telah dirawatnya dengan baik. Sedangkan pada pagar kebun jagungnya, Paksi menanam kacang panjang yang batangnya merambat pada pagar itu sebagai lanjaran. Bulan keenampun akhirnya telah dilampauinya. Sementara itu, dengan laku yang berat, ilmu Paksipun telah meningkat dengan cepat. Selain mengembangkan ilmu yang pernah diwarisinya dari gurunya, ternyata Paksi juga mampu membuat wawasan yang lebih luas tentang olah kanuragan. Ia tidak lagi mengandalkan kekuatan wadag wantahnya. Tetapi Paksipun telah merambah ke tenaga dalamnya. Dengan latihan-latihan yang bersungguh-sungguh dan teratur, Paksi benar-benar menguasai bagian-bagian dari tubuhnya dengan baik, serta menguasai pula kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalamnya. Dengan mengatur pernafasan serta pemusatan nalar budi dan keweningan hati, maka Paksi dapat mencapai keseimbangan pengendalian lahir dan batinnya pada saat-saat yang dikehendaki meskipun Paksi sedang dalam keadaan apapun. Ki Marta Brewok telah memperkenalkan Paksi dengan getar kekuatan bumi, air, api dan angin yang ada di dalam dirinya, yang dapat diungkapkannya dengan laku yang khusus. Untuk itu diperlukan latihan-latihan yang berat dan pengenalan yang lebih mendalam. Dalam waktu yang terhitung singkat, menjelang bulan ke sepuluh, maka Paksi sudah menjadi seorang anak muda yang lain. Ia menjadi jauh lebih dewasa. Bukan saja dalam ilmu kanuragan, tetapi Paksi benar benar telah mampu hidup mandiri. Kegiatan Paksi sehari-hari semakin berkembang. Ia sudah memetik hasil tanamannya beberapa kali. Beberapa batang pohon kelapa di pinggir sungai dipeliharanya baik-baik. Setiap kali Paksi telah membersihkan batang-batang kelapa itu dari tapas dan pangkal daun yang sudah mengering. Dengan demikian, maka pohon kelapa yang berjajar di pinggir sungai itu buahnya menjadi semakin lebat. Sedangkan beberapa batang yang diambil legennya, memberikan legen yang lebih banyak pula. Tubuh Paksipun berkembang dengan baik. Kaki dan tangannya menjadi kokoh dan kuat. Latihan-latihan yang teratur siang dan malam, membuat Paksi menjadi seorang yang jarang ada bandingnya. Namun perkembangan itu tidak terlepas dari usaha yang sungguh-sungguh yang dilakukan oleh Ki Marta Brewok. Dengan keras Ki Marta Brewok berusaha menempa agar Paksi benar-benar menjadi seorang anak muda pilihan. Meskipun Ki Marta Brewok hanya hadir di malam hari, tetapi Paksi tidak pernah mempersoalkannya lagi. Ia tahu benar, bahwa Ki Marta Brewok telah berbuat yang terbaik baginya. "Jika sampai saatnya, rahasia itu tentu akan terungkap dengan sendirinya," berkata paksi di dalam hatinya. Paksi memang tidak ingin rahasia kehadiran Ki Marta Brewok yang hanya pada malam hari itu menjadi hambatan. Setiap kali petunjuk-petunjuk dan nasehat-nasehat Ki Marta Brewok tidak menyangsikannya, bahwa tersembunyi niat buruk di balik sikap Ki Marta Brewok. Dengan demikian, maka peningkatan ilmu Paksi itupun berjalan dengan cepat, teratur dan sesuai dengan rencana yang dibuat oleh Ki Marta Brewok, justru karena tidak terasa ada hambatan di kedua belah pihak. Paksi dan Ki Marta Brewok nampaknya telah mencurahkan kepercayaan masing-masing sesuai dengan kedudukan mereka, sehingga dengan kepercayaan yang penuh itu, maka segala pintupun telah terbuka. Masing-masing dapat melihat ke luar dan ke dalam tanpa tirai betapapun tipisnya. Meskipun demikian, sekali-sekali jantung Paksi masih juga digelitik oleh tugas yang dibebankan kepadanya oleh ayahnya untuk menemukan cincin bermata tiga butir batu akik itu. Bahkan Ki Marta Brewok juga pernah mengatakan kepadanya, agar ia mencari cincin itu. Apakah benarbenar Ki Marta Brewok memerlukan cincin itu atau sekedar sebagai cambuk terhadap usahanya, namun Ki Marta Brewok pernah mendorongnya untuk menemukan cincin itu. Tetapi Paksi tidak pernah mengatakannya kepada Ki Marta Brewok. Paksi yakin, bahwa Ki Marta Brewok tidak melupakan tugas yang dipikulnya. Karena itu, jika Ki Marta Brewok masih belum mengatakan kepadanya tentang cincin itu, Paksi berniat untuk tetap berdiam diri. "Seandainya Ki Marta Brewok sengaja menahan aku disini agar aku tidak terlibat dalam perburuan cincin itu, aku tidak akan menyesal," berkata Paksi di dalam hatinya. "Disini aku sudah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga." Namun seakan-akan Ki Marta Brewok mengetahui isi hati Paksi tentang cincin itu. Karena itu, ketika pedut yang tebal menyelimuti lereng gunung itu di malam hari, Ki Marta Brewok yang sedang beristirahat sambil meneguk wedang sere yang hangat berkata, "Kita hentikan latihan malam ini. Kita sudah cukup banyak memeras keringat. Sementara itu kabut menjadi semakin tebal. Sebenarnya saat-saat seperti ini merupakan saat yang baik untuk melatih ketajaman penglihatan dan panggraita, tetapi kau sudah sering melakukannya dan kesempatan untuk melakukannya masih banyak. Besok atau lusa, ampak-ampak akan turun lagi, sehingga dengan penglihatan mata kewadagan, kita tidak dapat melihat telapak tangan di depan hidung kita sendiri." Paksi mengangguk kecil. Segala sesuatunya memang terserah kepada Ki Marta Brewok. Sambil duduk dan menghirup minuman hangatnya, tiba-tiba saja Ki Marta Brewok itu berkata, "Menurut perhitunganmu, kau sudah tinggal berapa lama disini, Paksi?" Paksi mengerutkan dahinya. Kemudian jawabnya, "Sampai saat ini sudah memasuki bulan ke sebelas, Ki Marta." Ki Marta Brewok mengangguk-angguk. Katanya, "Kau sudah tertahan lebih dari sebelas bulan. Tetapi menurut pendapatku, tidak akan banyak mengganggu. Sampai saat ini, cincin itu masih belum diketemukan. Sementara itu, kau sudah menambah bekal bagi tugas beratmu itu. Bahkan aku minta kau bersabar untuk satu dua bulan lagi, sehingga kau genap setahun berada disini. Apakah kau berkeberatan?" "Sama sekali tidak," jawab Paksi. "Sampai kapan pun aku tidak berkeberatan. Apalagi jika cincin itu memang belum diketemukan oleh siapapun, sehingga aku masih berkesempatan untuk meneruskan tugas itu." "Baiklah. Jika demikian, kita akan berlatih terus di malam-malam mendatang. Di saat langit terang, di saat hujan lebat dan di saat lereng ini disaput oleh kabut yang tebal." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Aku siap melakukan apa saja, Ki Marta." "Bagus. Aku memang yakin, bahwa kau akan bersedia melakukannya." Paksi mengangguk-angguk kecil. Sementara itu, Ki Marta Brewok berkata, "Tetapi Paksi, sebaiknya kau tidak terlalu mengurung diri di gubukmu ini. Di siang hari kau dapat turun dan melihat-lihat padukuhan dan kademangan di kaki gunung ini, sehingga kau tidak sangat jauh terpisah dari kehidupan orang banyak, meskipun kau harus tetap menjaga rahasia tempat tinggalmu." "Aku juga sering turun ke padukuhan Ki Marta." "Tetapi kau tentu langsung pergi ke pasar, membeli kebutuhan-kebutuhanmu, lalu kembali naik." Paksi mengangguk. "Namun dengan landasan sikap jiwani yang telah mapan, kau tanggapi kehidupan yang lebih luas. Kau jangan menjadi kecewa bahwa ternyata di dalam kehidupan yang luas, tidak semuanya berjalan sebagaimana kau inginkan. Kaupun tidak usah kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri, jika pada satu saat kau temui perilaku dan sikap orang-orang yang tidak sejalan dengan pola pikiranmu, sementara kau tidak kuasa untuk merubahnya. Dalam keadaan apapun kau harus tetap berpegang pada landasan pola pikir yang dewasa, sehingga kau tidak terombang-ambing oleh pusaran kehidupan di sekelilingmu." Paksi mengangguk-angguk. "Kesempatan untuk mengabdi masih cukup panjang. Landasi pengabdianmu dengan penuh kesadaran atas Sumber Hidupmu." Paksi meresapkan pesan Ki Marta Brewok itu di dalam hatinya, ia bukan saja sekedar menganggukkan kepalanya. Tetapi kata-kata itu bagaikan terpahat di dalam hatinya. Itulah sebabnya, maka Paksi menjadi semakin dekat dengan Ki Marta Brewok. Bahkan Paksi seakan-akan telah melupakan bahwa di rumah ia mempunyai seorang ayah. "Nah, sekarang tidurlah. Besok pagi-pagi kau sempat bangun dan menanak nasi sebelum terang, agar asap perapianmu tidak menarik perhatian orang," berkata Ki Marta Brewok. Namun katanya kemudian, "Tetapi Paksi, sekarang kedudukanmu sudah lain dari kedudukanmu saat kau datang. Seandainya ada orang yang mengetahui bahwa kau tinggal disini, kau tidak usah terlalu cemas. Aku dapat mengatakan kepada mereka, bahwa kau sudah lama tinggal di tempat ini. Untuk itu kau dapat membuktikannya. Kau dapat menunjukkan ladang jagungmu, ladang ketela pohonmu, kebun pisangmu dan beberapa pohon kelapa yang berderet di pinggir sungai itu. Tidak seorangpun dapat mengatakan bahwa gubukmu ini baru kemarin kau buat. Sehingga dengan demikian, maka orang-orang yang pada suatu saat menemukan kau disini, akan mengakui bahwa kau memang berhak tinggal disini." Paksi mengangguk-angguk. Ia mengerti hubungan keterangan Ki Marta Brewok itu dengan anjurannya untuk memasuki kembali pergaulan yang luas. Meskipun demikian, sejauh mungkin Paksi masih akan merahasiakan tempat tinggalnya. Malam itu, Paksi tidak lagi turun ke sanggar terbukanya. Paksi tidak lagi melanjutkan latihanlatihannya. Nampaknya Ki Marta Brewok ingin menyempatkan diri berbicara dengan Paksi. Namun setelah menghabiskan minumannya semangkuk penuh, Ki Marta Brewok itupun berkata, "Sudahlah. Aku ada pekerjaan lain. Besok malam aku akan datang lagi. Besok, jika masih ada kabut, kau dapat mengasah ketajaman penglihatan dan panggraitamu meskipun menurut pendapatku, bekalmu sudah cukup memadai." Paksi mengangguk sambil menjawab, "Baik, Ki Marta. Besok aku menunggu kehadiran Ki Marta. Sementara itu, mulai besok aku akan mencoba untuk memasuki pergaulan yang lebih luas, meskipun rasa-rasanya tentu akan canggung." "Mula-mula tentu Paksi. Tetapi kemudian kau akan berada di dalam satu suasana yang wajar. Tetapi sekali lagi aku peringatkan bahwa yang terjadi di sebuah pergaulan yang luas, tidak semuanya berlangsung sebagaimana kau inginkan. Betapapun jantungmu bergejolak, namun kau harus menerima kenyataan itu. Meskipun demikian, kau bukan sampah yang akan hanyut dilanda arus yang keruh itu. Tetapi kau harus menjadi pilar yang dapat menjadi tempat bertaut dari yang hanyut itu." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Pesan Ki Marta Brewok itu akan menjadi beban baginya. Tetapi ia sudah berjanji di dalam dirinya untuk melakukannya sejauh kemampuannya. Sejenak kemudian, maka Ki Marta Brewokpun telah meninggalkan gubuk Paksi yang berada di tepi hutan di lereng gunung, dilingkungi batu-batu padas. Sepeninggal Ki Marta Brewok, Paksi masih duduk merenung di dalam gubuknya yang hangat karena perapiannya. Namun kemudian, Paksipun menyelarak pintu gubuknya dan membaringkan dirinya di atas ketepe, anyaman daun kelapa. Diselubunginya tubuhnya dengan kain panjangnya. Udara mulai terasa dingin ketika apinya kemudian padam. Dari gubuknya Paksi mendengar aum harimau di hutan yang lebat di lereng gunung itu. Tetapi harimau itu tidak pernah datang ke gubuknya. "Tetapi jika harimau itu kelaparan karena gagal memburu mangsanya, entahlah," berkata Paksi di dalam dirinya. Tetapi Paksi percaya bahwa gubuknya cukup kuat untuk menahan agar seekor harimau tidak dengan mudah dapat masuk ke dalamnya. Setidak-tidaknya jika seekor harimau berusaha untuk masuk ke dalamnya, Paksi tentu sudah terbangun karenanya. Di luar sadarnya, Paksi memandang lembingnya yang disandarkannya di dinding gubuknya itu. Kemudian busur dan anak panahnya. Semuanya sederhana karena dibuatnya sendiri dari bambu dan bedor besi yang dibelinya pada pande-pande besi. Tetapi baginya sudah cukup memadai. Beberapa saat kemudian, maka Paksipun telah tertidur nyenyak. Ia bermimpi bertemu dengan ibunya yang tersenyum kepadanya sambil berkata, "Kau harus menjadi anak yang baik, Paksi. Kau adalah anak sulung. Kau akan menjadi panutan adik-adikmu." Paksi tersenyum di dalam mimpinya. Ia mencium tangan ibunya sambil berkata, "Aku mohon restu, Ibu. Perjalananku masih jauh." "Berjalanlah anakku. Ibu selalu menunggumu." Ketika Paksi terbangun, maka iapun kemudian duduk memeluk lututnya, tetapi ia tidak menjadi cemas akan ibunya. Ia melihat wajah ibunya yang cerah. "Mudah-mudahan hati Ibu secerah wajahnya yang aku lihat di dalam mimpi," desis Paksi yang kembali membaringkan dirinya. Sebelum matahari terbit, Paksi sudah bangun. Seperti biasanya ia membenahi dirinya. Bukan hanya kewadagannya. Baru kemudian ia mulai menyalakan api selagi sisa-sisa malam masih gelap. Merebus air dan menanak nasi. Paksi masih mempunyai sisa lauk yang dimasaknya kemarin ketika ia berhasil mendapatkan seekor kijang dalam sebuah perburuan yang melelahkan. Demikian matahari terbit, maka dengan membawa beberapa buah bumbung, Paksi telah memanjat beberapa batang pohon kelapa. Bukan saja untuk mendapatkan legen, tetapi dengan memanjat beberapa batang pohon kelapa, ia sudah menggerakkan tangan dan kakinya. Sehingga peluhnya mengembun di punggungnya. Setelah selesai mengambil bumbung dan memasangnya yang baru pada mayang pohon kelapa, maka Paksipun segera membersihkan halaman gubuknya. Baru kemudian Paksi pergi untuk mandi di sungai sekaligus mencuci pakaiannya yang kotor. Paksi tidak lagi harus berendam di dalam air sambil menunggu pakaiannya kering. Tetapi ia sudah mempunyai pakaian rangkap, sehingga ia dapat membawa pakaiannya yang basah itu pulang dan menjemurnya di sebelah gubuknya. Seperti biasanya dilakukan, maka Paksipun kemudian telah melakukan latihan-latihan kecil penguasaan tubuhnya. Tidak terlalu lama. Ketika matahari naik semakin tinggi, maka Paksi tidak segera pergi ke sanggar terbukanya untuk melakukan latihan-latihan yang lebih berat. Tetapi Paksi berniat untuk turun dan memenuhi pesan Ki Marta Brewok. Ia harus mengenali kehidupan dari banyak sisi meskipun ia akan menemui dan melihat banyak hal yang akan dapat mengecewakannya. Karena itu, maka Paksipun justru telah merapikan pakaiannya. Sebelumnya Paksi juga sudah sering turun untuk pergi ke pasar. Tetapi yang dilakukan tidak lebih dari sekedar membeli kebutuhan-kebutuhannya. Ia tidak pernah memperhatikan sisi yang lain daripada sekedar membeli dari para penjualnya. Bahkan sedikit menyembunyikan wajahnya dengan setiap kali menunduk. Orang-orang di pasar itu memang tidak pernah tertarik untuk memperhatikannya sebagaimana ia juga tidak pernah memperhatikan secara khusus orang-orang yang ada di pasar itu. Tetapi hari itu, Paksi akan berbuat lain. Ia akan memperhatikan satu kehidupan yang terjadi di pasar dan sekitarnya. Mungkin hari itu ia tidak melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Tetapi itu tidak apa-apa. Ia memang tidak dipesan untuk mencari-cari sisi kehidupan yang dianggapnya tidak wajar, tetapi ia justru akan melihat kehidupan seutuhnya sebagaimana yang terjadi seharihari. Paksipun berjalan menuruni lereng pegunungan. Langkahnya ringan di bawah sinar matahari pagi yang cerah. Masih terdengar burung-burung berkicau di pepohonan sebagaimana selalu didengarnya setiap pagi. Jalan yang dilewati Paksi adalah jalan setapak yang menurun. Setelah beberapa lama ia berjalan, Paksi masih belum berpapasan dengan seorangpun. Namun ia sudah berada di bulak persawahan. Sawah yang ditata seperti sebuah tangga raksasa membentang di lereng gunung. Baru beberapa saat kemudian, Paksi melihat seseorang yang berada di sawahnya untuk membersihkan tanaman padinya dari rerumputan yang tumbuh dengan liar. Orang itu sama sekali tidak menghiraukan Paksi yang berjalan menurun sambil memandanginya. Namun di kotak sawah yang lain, Paksi juga melihat seorang yang rambutnya sudah putih, membuka pematang sawahnya untuk mengalirkan air yang mengalir di parit. Namun nampaknya di lereng gunung itu, para petani tidak pernah kekurangan air, bahkan di musim kemarau sekalipun. Beberapa saat kemudian, Paksi sudah memasuki sebuah padukuhan. Sudah beberapa kali ia berjalan melalui jalan yang membelah padukuhan itu. Tetapi sebelumnya ia tidak pernah menghiraukan apa yang terdapat di padukuhan itu. Meskipun padukuhan itu terletak di kaki gunung, tetapi nampaknya kesejahteraan penduduknya tidak terbelakang dibanding padukuhan-padukuhan yang pernah dilihatnya sebelumnya. Nampaknya sawah yang subur di sekitar padukuhan itu memberikan hasil yang cukup, sehingga sebagian dapat ditukar dengan kebutuhan-kebutuhan yang lain. Pakaian, ternak dan bahkan lembu atau kerbau yang kemudian dapat membantu para petani untuk meningkatkan penghasilan mereka. Putaran yang demikian itu membuat sisi kehidupan para penghuni padukuhan itu menjadi semakin baik. Dengan demikian, maka para pedagangpun mendapat lapangan yang semakin subur pula di lingkungan itu. Pasar menjadi semakin ramai. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Matahari memanjat langit semakin tinggi. Panasnya terasa mulai menggatalkan kulit. Anak-anak yang menggembala kambing telah berada di padang rumput yang hijau. Seorang gembala yang duduk di sebuah batu yang besar meniup serulingnya. Suaranya menggetarkan udara pagi yang cerah. Paksi jarang sekali menikmati suasana pagi seperti yang dilakukannya pada waktu itu. Biasanya ia sudah berada di sanggar terbukanya sibuk dengan latihan-latihan penguasaan tubuh dan pendalaman unsur-unsur gerak yang pernah dikuasainya. Ketika ia memasuki padukuhan berikutnya setelah melewati sebuah bulak pendek, maka disana-sini terdengar orang yang sedang menumbuk padi. Sekali-sekali terdengar lenguh lembu yang diikat di luar kandang. Tangis kanak-kanak yang minta susu ibunya terdengar di sela-sela tembang yang ngelangut. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Hampir di setiap rumah nampak asap mengepul. Sebentar lagi, perempuan dan gadis-gadis akan pergi ke sawah membawa kiriman makan bagi suami atau ayah mereka yang bekerja dalam panasnya sinar matahari sambil berendam air berlumpur di sawah. Ketika kemudian Paksi sampai di pasar, ternyata matahari telah terlalu tinggi. Meskipun demikian, pasar masih banyak orang yang berjual-beli. Suara pande besi menempa alat-alat pertanian yang dibuatnya, masih terdengar melengking-lengking. Hari itu Paksi tidak tergesa-gesa masuk ke dalam pasar, membeli keperluannya di beberapa tempat dan dengan segera meninggalkan pasar itu. Untuk beberapa lama Paksi justru berada di luar pasar. Sambil berjongkok di pinggir jalan, di antara beberapa orang lain yang membeli rujak pace, Paksi memperhatikan orang yang lalu-lalang dan hilir-mudik di pintu gerbang. Seperti yang dikatakan oleh Ki Marta Brewok, bahwa tidak semua tingkah laku orang yang berada di pasar itu sesuai dengan pola yang tergambar di dalam angan-angannya. Di regol pasar itu, Paksi melihat orang yang berjalan dengan kepala tunduk. Tetapi iapun melihat orang-orang yang berjalan dengan kepala yang tengadah. Ia melihat orang-orang yang bergeser memberi jalan kepada orang lain, tetapi ada yang dengan sengaja mendesak orang yang berpapasan dengan sikunya. Paksipun melihat orang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya yang terinjak kakinya oleh orang yang berdiri di sampingnya berkata sambil tersenyum, "Maaf, Ki Sanak. Kakiku terinjak." Orang yang menginjak kakinya itupun dengan tergesa-gesa bergeser sambil berkat, "Maaf, maaf Ki Sanak. Aku tidak tahu." Tetapi ketika seorang muda yang berwajah garang terinjak kakinya, maka dengan mata terbelalak ia membentak, "Dimana kau letakkan matamu, he?" Orang yang menginjak kaki orang muda itupun membelalakkan matanya pula, "Persetan kau. Aku kan tidak sengaja." Kedua orang itupun kemudian saling berpandangan dengan penuh kebencian. Untunglah bahwa seorang yang berambut putih datang melerai mereka. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Peristiwa semacam itu tidak pernah diperhatikannya sebelumnya. Ternyata bahwa banyak hal terjadi di sekitarnya di pasar itu, di tempat banyak orang bertemu. Sebelumnya Paksi juga pernah terlibat dalam sebuah keributan di pasar karena seorang laki-laki berbuat sewenang-wenang terhadap seorang perempuan untuk membela isterinya yang keras hati. Namun setelah Paksi tinggal di lereng gunung, maka Paksi justru selalu menghindari perhatian orang lain setiap ia pergi ke pasar. Akibatnya ia sendiri tidak sempat memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Baru kemudian setelah hampir setahun ia seakan-akan hidup terpisah, meskipun tidak mutlak, maka ia harus mulai kembali menempatkan dirinya di antara pergaulan sesama. Seperti yang dikatakannya kepada Ki Marta Brewok, bahwa Paksi akan merasa canggung untuk beberapa saat. Tetapi perlahan-lahan ia akan menjadi terbiasa kembali. Ia akan mengenal satu dua orang yang sering dijumpainya di pasar itu, sehingga dengan mereka Paksi akan dapat berbincang dan mendengar ceritera tentang beberapa hal yang terjadi di luar lingkungannya yang sempit. Perhatian Paksipun kemudian tertarik kepada seorang anak yang membawa sebuah keranjang mengikuti seorang perempuan yang sedang berbelanja. Nampaknya anak itu diupah untuk membawa barang-barang yang dibeli oleh perempuan itu. Karena itu dengan telaten anak itu mengikuti kemana perempuan itu pergi. Di luar sadarnya, Paksipun telah mengikutinya pula. Jika perempuan yang berbelanja itu berhenti, maka anak yang membawa keranjang itupun berhenti pula. Semakin lama keranjang yang dibawanya itu menjadi semakin penuh dan semakin berat. Karena itu, maka anak itupun kemudian telah meletakkan keranjang itu di atas kepalanya. Perempuan yang berbelanja itu tidak sempat menghiraukan, bahwa anak itu kemudian menjadi gemetar karena beban yang terlalu berat di kepalanya. Paksi menjadi gelisah. Jika ia berusaha membantu anak itu, apakah tidak akan dapat timbul salah paham? Perempuan itu dapat marah kepadanya, atau justru anak itu merasa terganggu sumber penghasilannya. Untunglah, bahwa beberapa saat kemudian, perempuan yang nampaknya cukup berada itu selesai berbelanja. Karena itu, maka perempuan itu telah mengajak anak yang membawa keranjang di atas kepalanya itu keluar. Ternyata perempuan itu berbelanja cukup banyak. Agaknya keluarganya akan mengadakan perhelatan. Karena itu, maka di luar pasar itu sudah menunggu sebuah pedati yang di dalamnya sudah terisi beberapa bakul yang berisi bermacam-macam bahan makan. Ada beras, telur, gula kelapa dan beberapa ekor ayam. Paksi berdiri agak jauh dari pedati itu. Ia melihat anak itu meletakkan keranjangnya di bibir belakang pedati yang berhenti di pinggir jalan. Nampak di wajah anak itu betapa beratnya beban yang diusung di atas kepalanya itu, sehingga mulutnya menyeringai. Di luar sadarnya, bibir Paksi ikut bergerak-gerak. Rasa-rasanya ia ingin meloncat membantu anak itu. Tetapi ia masih menahan diri agar tidak menimbulkan persoalan karena terjadi salah paham. Ternyata perempuan yang berbelanja itu tidak sendiri. Seorang perempuan lain kemudian datang pula bersama perempuan yang menggendong bakul yang juga sudah penuh, yang kemudian diletakkan ke dalam pedati itu pula. Paksi tersenyum ketika ia melihat perempuan yang menggendong bakul yang penuh itu serta anak yang mengusung keranjang di kepalanya, menerima upahnya. Anak itu nampak gembira, sementara perempuan itupun tersenyum pula. Mereka telah menerima hasil jerih payah mereka. Baru kemudian Paksi mengetahui, bahwa anak yang mengusung keranjang itu adalah anak lakilaki perempuan yang menggendong beban di punggungnya. Ketika keduanya lewat di depan Paksi, Paksi mendengar sekilas mereka bercakap-cakap. Perempuan yang menggendong beban itu kemudian telah mengusap kepala anak itu sambil berkata, "Jika kau lapar, makanlah. Kau dapat membeli nasi tumpang di sudut pasar itu, Le." "Simbok makan apa tidak?" bertanya anak itu. Perempuan itu tersenyum. Katanya, "Aku nanti gampang, Le." "Aku akan membeli nasi sekeping saja, Mbok. Ini yang dua keping." "Bawa saja, Ngger. Jika simbok yang membawa, nanti diminta ayahmu." Anak itu memandang ibunya dengan tatapan mata yang suram. Kecerahan wajahnya telah larut dalam keragu-raguan. Tetapi ibunya masih tersenyum. Katanya, "Sudahlah. Sekarang kau beli nasi tumpang. Jangan hanya sekeping. Belilah dua keping biar perutmu kenyang. Belum tentu siang nanti kau dapat makan lagi. Jika kau kenyang, maka kau dapat bekerja lebih baik seandainya masih ada orang yang minta kau membawa barang-barangnya." Anak itu mengangguk-angguk. Ketika ibunya kemudian melangkah kembali ke pintu gerbang pasar, maka anak itupun menghambur berlari. Di luar sadar pula Paksipun melangkah ke arah anak itu berlari. Ternyata kemudian anak itu berjongkok di depan penjual nasi tumpang yang berjualan sebelah luar pasar itu. Paksipun telah ikut berjongkok pula. Ketika anak itu membeli nasi tumpang, maka Paksipun membeli pula. Anak itupun kemudian menyuapi mulutnya yang kecil itu. Nasi tumpang itu terasa nikmat sekali, sehingga di mulut Paksipun nasi itupun rasa-rasanya menjadi jauh lebih enak daripada nasi tumpang yang pernah dimakannya sebelumnya. Anak itu nampak kecewa ketika nasi tumpangnya itu habis. Ia masih memegang pincuk tempat nasi itu. Nampak di wajahnya keragu-raguan untuk membuang pincuk nasi itu. Nampaknya anak itu ingin membeli nasi lagi. Tetapi ia mempertimbangkan sisa uangnya yang mungkin dapat dipergunakan untuk keperluan yang lain. Selagi anak itu termangu-mangu, maka Paksipun bertanya, "Kau masih lapar?" Anak itu memandang Paksi dengan kerut di keningnya. "Jika kau masih lapar, mintalah sepincuk lagi." Anak itu termangu-mangu sejenak. Namun dengan jujur ia berkata, "Aku akan memberikan sisa uangku kepada Simbok." Paksi tersenyum. Katanya, "Biarlah aku yang membayarnya. Semuanya." Anak itu nampak ragu-ragu. Namun Paksipun kemudian mengambil beberapa keping uang dari kantong ikat pinggangnya. Sambil menunjukkan uang itu ia berkata, "Benar. Aku akan membayar semuanya. Dua atau tiga pincuk nasi tumpang." Anak itu masih ragu-ragu. Namun Paksi telah mengambil pincuk dari tangan anak itu dan memberikannya kepada penjual nasi itu, "Berilah satu lagi. Aku yang akan membayar berapapun yang akan dihabiskannya." Penjual nasi tumpang itupun menjadi ragu-ragu pula. Namun Paksipun segera memberikan lima keping uang. Katanya, "Terimalah. Nanti kita perhitungkan, berapa yang harus aku bayar. Kurang atau lebih." Penjual nasi itu menerima uang itu dengan wajah yang masih saja nampak ragu. Namun kemudian disimpannya uang itu di bawah lambaran daun di atas tampahnya. Kemudian iapun mengisi pincuk anak itu dengan nasi tumpang lagi. Anak itu menjadi keheranan. Ia belum pernah bertemu dengan orang yang tiba-tiba saja membayar nasi yang dibelinya. Namun sambil tersenyum Paksi berkata, "Terimalah nasi itu. Makanlah. Jangan ragu-ragu." Anak itu menerima pincuk yang telah diisi dengan nasi tumpang. Kemudian sambil sekali-sekali memandang Paksi, ia mulai menyuapi mulutnya lagi. Ketika Paksi menawarinya lagi setelah nasi yang sepincuk itu habis, anak itu menggeleng. Katanya, "Aku sudah kenyang." Paksi tersenyum. Katanya, "Uang itu masih tersisa. Kau baru makan dua pincuk, aku satu. Jika harganya masing-masing sekeping, maka masih tersisa uang dua keping." Tetapi anak itu menggeleng lagi sambil berkata, "Aku sudah kenyang." "Nah, jika demikian, ambil kembalinya. Dua keping." Anak itu menjadi semakin heran. Bahkan penjual nasi itupun menjadi heran pula. Tetapi akhirnya anak itu mau menerima dua keping yang diberikan dengan ragu oleh penjual nasi tumpang itu. Beberapa saat kemudian, Paksi duduk di bawah sebatang pohon waru dengan anak yang masih saja membawa keranjangnya. "Siapa namamu?" bertanya Paksi. "Kinong," jawab anak itu. Paksi tersenyum. Katanya, "Tentu karena dahimu yang sedikit menonjol itu." Anak itu memandang Paksi sejenak. Namun kemudian sambil tersenyum iapun mengangguk. "Apakah setiap hari kau berada di pasar ini?" "Ya, Kakang," jawab Kinong. "Namaku Paksi," berkata Paksi kemudian. Anak itu mengerutkan dahinya. Tetapi anak itu mengangguk-angguk sambil berdesis, "Ya, Kakang Paksi." "Aku sering pergi ke pasar ini. Tetapi baru sekali ini aku melihat kau dengan keranjangmu." "Sudah beberapa bulan aku membantu simbok," jawab Kinong. "Dimana ayahmu?" bertanya Paksi. Anak itu memandang Paksi sejenak. Namun kemudian wajahnya menunduk sambil berdesis, "Ayah tidak mau mencari uang." "Ayah bekerja di sawah?" bertanya Paksi pula. "Ayah sudah tidak mempunyai sawah lagi." "Kenapa?" "Sawah ayah sudah digadai orang. Ayah kalah berjudi. Sekarang ayah hanya di rumah saja jika tidak sedang berjudi. Simboklah yang harus mencari makan di pasar ini." "Dan kau selama ini berusaha membantu ibumu?" Kinong mengangguk. "Berapa orang jumlah saudaramu?" "Seorang. Aku mempunyai kakak perempuan yang harus tinggal di rumah untuk menanak nasi jika kebetulan simbok mempunyai beras." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Keluarga Kinong memerlukan pertolongan. Tetapi Paksi tidak tahu, bagaimana caranya. Tentu ia tidak dapat ke rumah Kinong, kemudian memberi uang kepada keluarga itu. Jika demikian, maka uang itu tentu akan diambil oleh ayah Kinong dan dipergunakannya untuk berjudi. Paksipun tidak sebaiknya memberi uang Kinong setiap pagi. Dengan demikian, maka jika saatnya nanti ia harus meninggalkan tempat itu, maka Kinong akan menjadi sangat kecewa. Selain itu, pemberiannya itu akan dapat membuat Kinong menjadi malas. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, Paksi melihat ibu Kinong itu mengikuti seorang yang sedang berbelanja dengan menggendong sebuah bakul yang penuh dengan berbagai macam barang. Nampaknya ibu Kinong sudah diupah lagi untuk membawa barang-barang dari seorang perempuan yang sudah agak tua yang sedang berbelanja. "Kakang, aku akan membantu simbok," berkata Kinong sambil bangkit berdiri. Anak itu tidak menunggu jawab. Iapun segera berlari-lari mendapatkan ibunya untuk membantu sebagian dari bebannya di dalam keranjang kecilnya. Perempuan tua yang sedang berbelanja itu berpaling. Tetapi nampaknya ia tidak berkeberatan, seorang anak laki-laki membantu membawa barang-barang itu. Bahkan nampaknya perempuan itu sudah saling mengenal dengan ibu Kinong. Ketika mereka berhenti sejenak untuk memindahkan beberapa jenis bawaan ibunya ke dalam keranjang Kinong, Paksi melangkah mendekati. Dari pembicaraan mereka Paksi mengetahui bahwa ibu Kinong itu justru sudah menjadi langganan perempuan tua itu. Setiap kali perempuan tua itu berbelanja, ia tentu mencari ibu Kinong untuk membantu membawa barang-barangnya. Bukan hanya sampai di luar pasar, tetapi sampai ke rumahnya yang berantara dua bulak yang tidak terlalu panjang dari pasar itu. Paksi memperhatikan ketiga orang yang berjalan menjauhi pasar itu. Kinong justru berjalan di depan sambil membawa keranjang kecil itu di atas kepalanya. Ketika ketiga orang itu menjauh, maka Paksipun kembali duduk di bawah pohon waru yang rindang itu. Namun tidak ada lagi yang menarik perhatian Paksi. Orang yang lalu-lalang di depan pasar itu adalah hal yang setiap hari terjadi. Anak-anak yang ikut berbelanja dengan orang tuanya merengek minta dibelikan mainan yang dijual di sebelah pintu gerbang. Seorang gadis kecil menjadi gembira, ketika ibunya membeli sebuah golek kayu, bahkan dengan selendang kecilnya sekaligus. Golek kecil itupun kemudian diembannya dengan sayang. Diusapnya dahinya dengan jari-jarinya yang kecil sambil berdendang. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia ikut bergembira bersama gadis kecil yang menggendong anak-anakannya yang terbuat dari kayu itu. Paksi terkejut ketika seorang anak muda tiba-tiba saja duduk di sampingnya. Sambil berdesah ia berkata, "Udaranya panas sekali, Ki Sanak." "Ya," jawab Paksi. "Tetapi di bawah pohon ini terasa amat sejuk, sehingga aku menjadi mengantuk karenanya." Anak muda itu tersenyum. Katanya, "Ya. Beberapa saat aku duduk disini, aku tentu akan mengantuk pula." Paksi yang kemudian beringsut sempat memandang anak muda itu sejenak. Tetapi ia tidak melihat sesuatu yang menarik pada anak muda itu. Seperti anak-anak muda yang lain, maka wajahnya nampak terang. Dengan ramah anak muda itu bertanya, "Kau sering datang ke pasar ini, Ki Sanak?" "Hanya sekali-sekali," jawab Paksi. "O," anak muda itu mengangguk-angguk. "Bagaimana dengan kau?" bertanya Paksi. "Aku sering sekali pergi ke pasar ini. Ibuku berjualan disini. Pagi-pagi aku mengantar ibu ke pasar ini dan di siang hari begini aku menjemputnya." Paksi mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya Paksi bertanya, "Ibumu berjualan apa?" "Kain lurik," jawab anak muda itu. Paksi masih saja mengangguk-angguk. Ketika ia berniat menanyakan rumah anak muda itu, maka niatnya diurungkannya. Jika hal itu dilakukannya, anak muda itu tentu akan bertanya kepadanya pula, dimana ia tinggal. Ternyata anak muda itu juga tidak bertanya, dimana Paksi tinggal, sehingga Paksi tidak harus membuat ceritera tentang tempat tinggalnya. Karena itu, maka untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang belum siap dijawabnya, maka Paksipun kemudian justru bangkit dan berkata, "Aku sudah cukup lama beristirahat. Aku akan mencari bibiku di pasar itu." Anak muda itu berpaling. Dengan tanpa banyak ingin tahu tentang anak muda itu, iapun menjawab, "Silahkan." Paksipun kemudian telah melangkah pergi menuju ke pintu gerbang pasar. Tetapi ia tidak masuk ke dalamnya. Bahkan kemudian iapun telah melangkah menjauh. Paksipun kemudian telah menyusuri jalan kembali ke gubuknya di lereng gunung. Hari itu Paksi tidak melakukan latihan-latihan berat. Ketika ia berada di sanggar terbukanya, maka ia hanya melakukan latihan-latihan ringan, agar urat-uratnya tidak serasa membeku. Demikian tubuhnya basah oleh keringat, maka Paksipun menyudahi latihannya. Setelah mandi dan mencuci, maka Paksipun lebih banyak duduk merenungi apa yang telah dilihatnya di pasar. Paksi tidak dapat segera melupakan dua orang ibu dan anak yang harus bekerja keras untuk dapat mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari, karena laki-laki yang seharusnya bertanggung jawab atas kehidupan mereka, justru telah menjadi benalu. Tetapi Paksi tidak dapat berbuat banyak. Di keesokan harinya, Paksi tidak turun dari tempatnya. Ia lebih banyak tenggelam di sanggarnya. Paksi memang berniat untuk tiga atau ampat hari sekali saja turun untuk mengamati kehidupan agar kehadirannya tidak menarik perhatian orang. Sementara Paksi masih terikat pada latihan-latihan yang harus dilakukannya sendiri tanpa Ki Marta Brewok di siang hari. Dengan latihan yang tekun dan teratur, maka kemampuan bidik Paksipun telah berkembang dengan cepat. Bahkan Ki Marta Brewokpun merasa heran dengan kemampuan bidik Paksi. Bukan saja sasaran yang diam, tetapi sasaran yang bergerakpun mampu dikenainya dengan tepat. Demikian pula dengan kemampuannya melempar lembing. Sambil berlari kencang Paksi sanggup mengenai sebatang pisang yang ditanam beberapa langkah dari jalur larinya. Atau dengan lemparan dari jarak yang cukup jauh, dapat mengenai sebuah kelapa yang digantungkan dengan tali pada dahan pepohonan. Di samping panah dan lembing, Paksipun berlatih untuk mempergunakan senjata yang lebih kecil. Pisau, belati dan paser yang dapat dibuatnya sendiri. Bahkan Paksipun memiliki kemampuan melempar sasarannya dengan kapak-kapak kecil yang dibelinya di pasar yang sering dipergunakan untuk membuat perabot rumah. Bukan untuk membelah kayu-kayu gelondong. Dengan demikian, maka kemampuan Paksipun menjadi lengkap. Di malam hari, Paksi masih tetap berlatih bersama Ki Marta Brewok di sanggar terbukanya. Namun sekali-sekali Ki Marta Brewok juga ingin melihat kemampuan bidik Paksi yang dilatihnya di siang hari. "Nah, kau juga harus mengembangkan kemampuan bidikmu di malam hari, dimana kau berada di dalam lingkungan kegelapan," berkata Ki Marta Brewok. Ternyata Ki Marta Brewok tidak hanya sekedar memberikan perintah-perintah dan aba-aba saja. Mencela atau mengejek kegagalan-kegagalan Paksi. Tetapi Ki Marta Brewok telah memberikan petunjuk-petunjuk langsung serta contoh-contoh, apa yang harus dilakukan oleh Paksi. Ternyata Ki Marta Brewok sendiri mampu membidik sasaran yang berada di dalam gelap. Dengan ketajaman penglihatan serta kemampuan bidik yang sangat tinggi, Ki Marta Brewok dapat mengenai sebongkah batu padas yang dilemparkan oleh Paksi di udara. "Di siang hari kau mungkin dapat melakukannya, Paksi. Tetapi kau juga harus dapat melakukannya di malam hari, karena pada suatu saat kau memerlukan untuk melakukannya di malam hari." Paksi mengangguk kecil sambil menjawab, "Baik, Ki Marta. Aku akan berlatih juga di malam hari." Tetapi di malam hari Paksi tidak berlatih sendiri. Ia langsung berada di bawah bimbingan Ki Marta Brewok, sehingga penglihatan Paksi menjadi semakin tajam di malam hari. Bahkan kemudian Ki Marta Brewok telah membawa Paksi di dalam laku yang khusus untuk mempertajam penglihatannya. "Bukan hanya penglihatanmu, Paksi. Tetapi segenap inderamu akan dapat kau pertajam dengan laku itu." Paksi yang sudah menjalani laku apapun tidak menolak. Laku itu dimulai dari jenis makanan yang boleh dimakannya dalam jangka waktu tertentu. Selama ampat puluh hari, Paksi harus menyusut jenis makanan yang dimakannya setiap hari. "Kau hanya boleh makan tiga jenis makanan setiap hari, Paksi," berkata Ki Marta Brewok. "Maksud Ki Marta?" bertanya Paksi. "Jika kau makan nasi dan minum air, maka kau tinggal boleh makan satu jenis lagi. Jika yang satu jenis itu garam, maka kau tidak dapat makan jenis yang lain. Kau tidak boleh makan gula atau daging untuk lauk atau sayur atau apapun. Jika kau makan gula dan minum air, maka kau dapat makan nasi saja, atau ketela saja atau sayuran saja, itupun hanya satu jenis pula." Paksi mengangguk-angguk. Ia tahu maksud Ki Marta Brewok. Namun kemudian Ki Marta Brewok berkata, "Tetapi ada jenis lain yang dapat kau makan di luar ketiga jenis makanan itu. Yaitu kunyit dan kencur. Tentu saja tidak terlalu banyak." Paksi masih saja mengangguk-angguk. Tetapi ia berjanji di dalam hatinya, bahwa ia akan menjalani laku sejauh kemampuannya. Paksi sudah tidak memikirkan lagi, apakah ia tidak akan terlambat untuk mencari cincin bermata tiga butir batu akik itu. Karena apa yang dihadapinya itu akan dapat langsung memberikan arti bagi hidupnya. Dalam pada itu, maka sehari kemudian Paksi sudah mulai menjalani laku. Namun ternyata laku yang lainpun harus ditempuhnya pula. Menjelang saat-saat terakhir dari laku yang dijalani dengan hanya makan tiga jenis makanan itu nanti, ia harus menjalani laku pati-geni. "Laku itu tidak akan kau jalani disini, Paksi. Aku akan membawamu ke satu tempat yang sesuai bagimu untuk menjalani laku itu." Paksi mengangguk sambil menjawab, "Baik, Ki Marta. Aku akan menjalaninya." "Baiklah. Mulailah sejak besok hingga genap ampat puluh hari ampat puluh malam," berkata Ki Marta Brewok. Lalu katanya lebih lanjut, "Tetapi selama itu, kau harus tetap berlatih." Demikianlah, seperti yang dikatakan oleh Ki Marta Brewok, maka ketika matahari terbit Paksi sudah berada di dalam laku yang dimaksud Ki Marta Brewok. Namun bagi Paksi laku itu tidak terlalu banyak mempengaruhi ketegaran wadagnya. Ki Marta Brewok hanya menyebut jenis makanan yang boleh di makan. Tetapi tidak jumlahnya. Karena itu, maka Paksi tetap dapat melakukan kewajibannya dengan baik, karena Paksi makan cukup banyak. Ia dapat memberikan warna makanannya yang berbeda-beda setiap hari, meskipun tidak lebih dari tiga jenis. Di samping itu Paksipun sedikit-sedikit makan pula kunyit dan kencur yang membuat tubuhnya menjadi hangat. Dalam pada itu, seperti direncanakan, Paksi dalam waktu tiga atau ampat hari sekali memang turun untuk pergi ke pasar. Namun Paksi sudah mulai mengenali nama beberapa padukuhan. Kadang-kadang ia bertanya kepada anak-anak yang sedang menggembalakan kambing. Tetapi kadang-kadang Paksi juga berjalan bersama dengan orang lewat yang dapat memberikan jawaban atas beberapa pertanyaannya. Ketika sudah dua tiga kali Paksi berada di pasar dan dengan sengaja berusaha membuat hubungan dengan beberapa orang, maka Paksi mulai berkenalan dengan beberapa orang yang sering berada di pasar itu. Setiap kali Paksi tentu bertemu dengan Kinong yang masih saja menerima upah dari orang-orang yang berbelanja yang memerlukan tenaganya. Demikian pula ibunya. Jika Kinong sempat duduk beristirahat dan berbincang, maka Paksi mengetahui bahwa ayah Kinong masih saja gila berjudi dan tidak segan-segan merampas uang ibunya yang didapatkannya dengan bekerja keras bersama Kinong di pasar. "Setiap kali kakak perempuanku hanya dapat menangis. Sebenarnya ia ingin juga bekerja seperti kami di pasar. Tetapi ibu melarangnya." "Kakakmu seorang perempuan, Kinong. Ibumu agaknya tidak rela melihat anaknya perempuan bekerja keras di pasar sebagaimana dilakukan oleh ibunya dan anaknya laki-laki." Kinong mengangguk-angguk. Anak itu tiba-tiba saja bangkit berdiri ketika ia melihat ibunya datang kepadanya. Sambil tersenyum ibunya berkata, "Sudah cukup untuk hari ini Kinong. Kita dapat pulang agak awal. Aku sudah membeli beras seberuk. Cukup untuk hari ini. Jika kau besok akan beristirahat, aku kira tidak ada masalah. Aku masih ada uang." "Simbok dapat uang banyak?" bertanya Kinong. "Tidak banyak, Kinong, Tetapi cukup buat kita." "Aku juga masih mempunyai uang," berkata Kinong. "Kau bawa saja. Masukkan ke dalam bumbung tabunganmu." Kinong mengangguk-angguk. Sementara ibunya berkata hampir berbisik, "Bukankah kau ingin segera supit seperti kawankawanmu itu? Nah, kau sudah merasa terlambat. Jika uangmu nanti terkumpul dan ada sisa uang Simbok serba sedikit, kau dapat supit sebelum tahun depan." Wajah Kinong menjadi cerah. Katanya, "Baik, Mbok. Aku akan menabung." Ibunya tertawa. Diusapnya kepala anak itu sambil berdesis, "Nah, marilah kita pulang." Tetapi keduanya tertegun ketika mereka melihat seorang laki-laki berwajah kasar. Matanya kemerah-merahan, sementara pakaiannya nampak kusut. Kinong tiba-tiba menjadi ketakutan. Hampir di luar sadarnya, Kinong berdesis, "Mbok, itu Ayah." Ibu Kinongpun melangkah surut. Didekapnya anaknya yang ketakutan. Sementara itu, laki-laki yang matanya kemerah-merahan itu melangkah mendekati ibu Kinong sambil membelalakkan matanya. "Sampai siang begini kau masih belum pulang?" "Aku baru selesai, Pak," jawab perempuan itu. "Kau tentu dapat uang banyak. Berikan kepadaku." "Sudah aku belikan beras, Pak. Kita sudah kehabisan beras. Uangku hanya cukup untuk membeli beras seberuk." "Bohong. Berikan uangmu kepadaku." "Pak," ibu Kinong berusaha untuk menjawab dengan sareh, "marilah kita pulang. Mungkin aku masih mempunyai sisa uang sedikit. Tetapi jangan disini. Disini banyak orang." Tetapi laki-laki itu tidak peduli. "Cepat, berikan uang itu kepadaku, atau aku tampar wajahmu. Aku tidak peduli apakah disini banyak orang atau tidak. Aku perlu uang itu." "Baik, baik. Tetapi marilah, kita pergi ke tikungan itu." "Tidak," teriak laki-laki itu. Ibu Kinong menjadi sangat gelisah. Tetapi suaminya tidak menghiraukannya. Bahkan sekali lagi ia membentak, "Berikan uang itu sekarang. Apakah kau tuli?" Beberapa orang telah mengerumuninya. Seorang laki-laki mendekat sambil bertanya, "Apa yang terjadi?" "Jangan ikut campur," bentak laki-laki itu pula. "Ini adalah persoalan suami isteri." Paksipun sudah berdiri di antara orang-orang yang berkerumun. Tetapi ia benar-benar dicengkam oleh keraguan, persoalan itu adalah persoalan seorang suami dengan isterinya. Jika ia mencampurinya, apakah itu bukan berarti bahwa ia telah memperburuk hubungan itu. Jika suaminya mendendam, bukankah keadaan isterinya akan menjadi semakin sulit. Selagi Paksi merenung, iapun terkejut. Beberapa orang perempuan menjerit. Laki-laki itu telah menampar wajah isterinya. Kinongpun menangis sambil berpegangan baju ibunya. "Simbok, Simbok," suaranya melengking berkepanjangan. "Diam kau monyet," bentak ayahnya. Tetapi ibu Kinong itu tidak menangis. Iapun menarik ujung kain ikat pinggangnya. Dengan tangan gemetar ia melepas ikatan uang di ujung kain ikat pinggangnya itu. Namun tiba-tiba kerumunan orang itu menyibak. Dari antara mereka muncul seorang perempuan yang terasa asing bagi orang-orang yang ada di pasar itu. Seorang perempuan dengan pakaian yang khusus. Di bawah kainnya yang disingsingkannya, ia mengenakan celana hitam yang longgar. Sebilah pedang terselip di pinggangnya. Di kepalanya dikenakan ikat kepala hitam pula. Namun rambutnya dibiarkan terurai di punggungnya. "Apa yang terjadi?" suaranya melengking tinggi. Semua orang memandang kepadanya. Sementara itu, ayah Kinongpun nampak menjadi cemas. Dengan suara gemetar ia berkata, "Isteriku inilah. Ia telah mengambil uangku." "Apakah ia tidak kau beri belanja untuk keperluannya sehari-hari?" "Sudah. Aku memberinya belanja secukupnya. Ia memang pemboros. Ia suka membeli barangbarang yang tidak berguna. Ia suka pula makan di warung-warung di antara banyak laki-laki." Perempuan dalam pakaian asing itu memandang ibu Kinong dengan seksama. Ia melihat setitik darah di sudut bibir ibu Kinong itu. Namun Paksi terkejut sekali ketika ia mendengar perempuan asing itu berkata, "Seorang isteri yang suka mencuri uang suaminya memang harus dihajar habishabisan. He, kau curi uang suamimu untuk diboroskan?" Jawaban Ibu Kinong juga mengejutkan Paksi. Dengan suara yang hampir tidak terdengar ibu Kinong itu menjawab, "Aku mengambilnya ketika ia sedang tidur." "Huh. Kau berbakat menjadi pengkhianat. Kembalikan uang itu. Kau nodai nama perempuan. Aku juga perempuan. Aku tidak pernah mencuri uang suamiku. Aku justru memberikan apa saja yang ia minta dariku." Ibu Kinong membuka ikatan pada ujung kain ikat pinggangnya. Diserahkannya beberapa keping uang yang tersisa kepada suaminya. Sambil menerima uang itu, suaminya berkata, "Aku ampuni kau kali ini. Tetapi jika sekali lagi terjadi, aku mungkin tidak dapat mengekang diriku lagi." Laki-laki itupun kemudian melangkah pergi meninggalkan Kinong yang menangis. Tetapi ibunya tetap tidak menangis. Paksi memandang wajah perempuan itu dengan jantung yang berdegup semakin cepat. Rasarasanya ibu Kinong itu sudah tidak mempunyai air mata yang tersisa. Namun perempuan asing itu mencibirkan bibirnya sambil berkata, "Untunglah suamimu seorang penyabar. Jika tidak, maka rahangmu akan dihancurkannya." Ibu Kinong tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja Kinonglah yang berteriak, "Simbok tidak bersalah. Ayah yang penjudi. Ia selalu merampas uang Simbok." "Kinong," potong ibunya sambil mendekap anaknya. "Sudahlah. Jangan dipersoalkan lagi." Tetapi Kinong masih tetap menangis. Sementara itu perempuan dengan pakaian yang asing itu berkata, "Ini anakmu, he?" Ibu Kinong mengangguk. "Ternyata anakmu yang masih kecil itu sudah kau ajari berbohong. Kau ajari ia menghina ayahnya yang meneteskan benih di dalam perutmu." "Tidak. Bukan maksudku." Kinong masih akan berteriak lagi. Tetapi ibunya segera menutup mulutnya. Namun orang-orang yang berkerumun itu terkejut sekali lagi. Seorang laki-laki yang masih terhitung muda, tiba-tiba saja menyibak kerumunan orang itu. Dipandanginya perempuan dalam pakaian asing itu sambil berkata, "Apa sebenarnya maksudmu? Aku tahu, kau tentu murid dari Goa Lampin. Murid seorang iblis perempuan yang membenci sesama perempuan. Kau, muridnya, agaknya mempunyai tabiat yang sama." "Darimana kau tahu tentang aku?" perempuan itu menjadi tegang. "Kenapa kau bertanya? Kau pakai dengan bangga ciri perguruanmu. Kau pakai pada ikat kepalamu yang hitam itu, lambang lingkaran yang dibelah dengan garis tegak berwarna merah. Lambang dari sekelompok perempuan berilmu tinggi yang merendahkan derajat sesama perempuan." "Iblis kau. Kau murid dari padepokan Sad." "Aku tidak ingkar. Kau tentu mengenal ciri-ciri perguruan Sad. Aku memang salah seorang murid perguruan itu." "Kenapa kau campuri urusanku?" "Kenapa kau mencampuri urusan suami isteri itu? Kau kira dugaanmu benar, bahwa perempuan itu mencuri uang suaminya?" "Ia mengaku sendiri." "Perempuan itu adalah contoh perempuan yang ingin menjunjung tinggi martabat suaminya. Ia tidak mau membuat suaminya malu di hadapan orang banyak. Tetapi anak laki-laki itu berkata dengan jujur. Nah, aku cenderung percaya kepada anak itu daripada pengakuan ibunya." "Sudah. Sudahlah, Ki Sanak," berkata ibu Kinong itu kemudian. "Biarlah terjadi sebagaimana yang terjadi. Aku mohon diri. Aku akan pulang. Aku tidak mau menjadi tontonan terlalu lama disini. Aku berterima kasih kepada semuanya yang menaruh perhatian terhadap persoalan yang aku hadapi." "Pulanglah, Nyi. Mudah-mudahan kemarahan suamimu tidak berkepanjangan. Kau memang harus bersabar menghadapi sikapnya. Tetapi yakinkan dirimu, kau perempuan yang baik." "Huh," desah perempuan yang berpakaian asing itu. "Orang-orang dari perguruan Sad memang pemuja perempuan." "Tidak semua perempuan," jawab laki-laki yang masih terhitung muda itu. "Kami menghargai perempuan sewajarnya. Tetapi kami tidak dapat menghargai perempuan dari Goa Lampin." "Kau telah menghina kami," geram perempuan itu. Namun laki-laki yang masih terhitung muda itu tidak menghiraukannya. Sekali lagi ia berkata kepada ibu Kinong, "Pulanglah. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa denganmu setelah kau berikan uangmu kepada suamimu." Ibu Kinongpun kemudian telah menggandeng anaknya. Tetapi ketika mereka melangkah, Kinong sempat berlari mengambil keranjang kecilnya. Sekilas ia memandang Paksi yang berdiri termangu-mangu. Namun kemudian iapun berlari kepada ibunya. Sejenak kemudian ibu dan anak itupun meninggalkan tempat itu, menembus kerumunan orangorang yang masih terpancang di tempatnya. Namun perhatian mereka kemudian telah berpindah kepada dua orang perempuan dan laki-laki yang kemudian saling berhadapan. Ketika ketegangan terasa semakin mencengkam, maka orang-orang yang berkerumun itupun telah bergeser surut. Lingkaran itupun melebar. Beberapa orang justru telah membenahi barangbarang dagangan mereka. "Jika kawan mereka berdatangan, maka perkelahian akan meluas," berkata salah seorang pedagang nasi tumpang yang dagangannya tinggal tersisa sedikit. Lalu katanya, "Lebih baik aku pulang." Beberapa orang telah berbuat serupa. Seorang penjual dawet telah memanggul sisa dawetnya menjauh. Dalam pada itu, maka perempuan yang berpakaian asing itu agaknya benar-benar menjadi marah. Karena itu, maka katanya, "Aku tidak akan pergi sebelum aku membuat perhitungan dengan kau yang telah menghina perguruan kami." "Itu terserah kepadamu. Aku tidak peduli. Tetapi aku akan meninggalkan tempat ini." "Kau juga tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum kau berlutut di hadapanku dan mohon maaf atas kelancanganmu, mengucapkan kata-kata penghinaan atas perguruan kami." "Jangan aneh-aneh. Jangan bermimpi tentang sesuatu yang tidak akan pernah terjadi." "Kau tahu watak orang-orang Goa Lampin?" "Tahu. Mereka adalah perempuan-perempuan yang membenci perempuan. Di perguruan Goa Lampin memang terdapat beberapa orang laki-laki. Mereka hidup dalam dunia mimpi, karena lakilaki di perguruan Goa Lampin diperlakukan seperti anak-anak emas yang manja." "Apakah kau merasa iri, bahwa kau bukan salah seorang di antara mereka yang menjadi pilihan penghuni Goa Lampin?" Laki-laki yang terhitung muda itu tertawa berkepanjangan. Di sela-sela derai tertawanya ia berkata, "Kau kira aku merasa berbahagia hidup dalam sangkar seperti mereka yang kehilangan harga dirinya sebagai seorang laki-laki? Aku terbiasa hidup dalam pengembaraan yang kadangkadang penuh dengan bahaya. Tetapi dunia laki-laki memang keras." "Kami, perempuan-perempuan dari Goa Lampin tidak akan menghindari kekerasan." "Terutama untuk melindungi laki-laki betina yang kalian simpan di Goa Lampin itu." Perempuan itu benar-benar menjadi marah. Dengan garang ia berkata, "Bersiaplah. Aku akan menundukkanmu dan memaksamu tinggal di dalam sangkar di Goa Lampin. Guru akan dapat membuatmu menjadi jinak, karena kau akan kehilangan segala kebanggaan sebagai seorang yang terbiasa mengembara di dunia olah kanuragan. Tetapi guru akan dapat memberikan kebanggaan baru kepadamu sebagai seorang laki-laki sejati." "Gila," geram laki-laki yang masih terhitung muda itu. Katanya dengan wajah yang menjadi merah, "Penghinaan yang kau lontarkan tidak dapat dimaafkan lagi." Perempuan yang berpakaian asing itu tidak menjawab. Ketika laki-laki yang masih terhitung muda itu melangkah maju, maka perempuan itupun segera bersiap. Sejenak kemudian, maka keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang semakin lama menjadi semakin sengit. Orang-orang yang menyaksikannya telah menjadi semakin jauh. Paksi yang tidak ingin menarik perhatian, ikut pula bergeser menjauh. Namun dengan seksama ia memperhatikan kedua orang yang sedang bertempur itu. Bukan saja untuk melihat siapakah yang kalah dan siapakah yang menang, namun Paksipun ingin melihat dan mengenali mereka meskipun mereka tidak mempergunakan ciri-ciri perguruan mereka. Ternyata kedua orang itu memiliki landasan ilmu yang sudah mapan. Namun keduanya masih belum sampai pada tataran tertinggi dari ilmu kanuragan. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia berbangga terhadap dirinya sendiri. Ketika kedua orang yang bertempur itu nampaknya sudah sampai pada tataran tertinggi dari kemampuan yang telah mereka warisi, kemampuan mereka masih jauh berada di bawah kemampuan Paksi sendiri. Karena itu, hampir di luar sadarnya Paksipun berdesis, "Aku harus berterima kasih kepada guru, kepada orang yang mengaku pengikut Kebo Lorog dan terutama kepada Ki Marta Brewok. Karena dengan bimbingan mereka aku telah memiliki ilmu yang cukup mapan. Sementara itu, di bawah bimbingan Ki Marta Brewok ilmuku masih terus berkembang." Dalam pada itu, pertempuranpun menjadi semakin sengit. Beberapa kali kedua belah pihak telah berhasil menyusupkan serangan mereka di sela-sela pertahanan lawannya. Ketika laki-laki yang masih terhitung muda itu terlambat menangkis serangan lawannya, maka kaki lawannya itu telah menghantam dadanya, sehingga laki-laki itu terdorong beberapa langkah surut. Namun ketika perempuan yang berpakaian asing itu memburunya, maka dengan sigapnya laki-laki itu meloncat ke samping. Satu putaran yang cepat telah mengayunkan kakinya ke arah kening lawannya. Perempuan itu sempat melihat serangan lawannya. Dengan cepat kedua lengannya telah melindungi kepalanya. Tetapi ayunan kaki itu demikian kerasnya sehingga perempuan itu hampir saja kehilangan keseimbangannya. Untunglah bahwa dengan sigap ia menggeliat dan sesaat kemudian, perempuan itu sudah tegak berdiri dengan kokohnya. Namun lawannya justru bergerak cepat. Serangan-serangannya kemudian datang beruntun seperti banjir bandang. Perempuan yang berpakaian asing itu mulai terdesak. Betapapun ia mencoba mengimbangi kecepatan gerak lawannya, namun beberapa kali ia harus berloncatan menghindar serta mengambil jarak. Tetapi lawannya selalu saja mendesaknya. Serangan-serangannya seakan-akan menjadi semakin cepat memburunya. Dalam keadaan yang sulit, maka perempuan yang berpakaian asing itu telah menarik pedangnya dengan cepat. Satu ayunan yang deras hampir saja memenggal kepala laki-laki yang masih terhitung muda itu. Namun laki laki itu sempat meloncat jauh-jauh untuk mengambil jarak. Namun perempuan itupun memburunya. Ia tidak ingin kehilangan saat-saat berharga ketika laki-laki itu masih terkejut mendapat serangannya itu. Namun ketika perempuan itu mengayunkan pedangnya sekali lagi menyerang ke dahi lawannya, maka laki-laki itu menangkisnya dengan pedangnya pula. Benturan senjata itupun tidak dapat dielakkan. Bunga api memercik dari benturan dua bilah pedang yang terbuat dari baja pilihan. Perempuan itu menggeram. Sekali pedangnya berputar, kemudian dengan loncatan kecil pedang itu terjulur ke arah dada. Tetapi lawannya cukup tangkas. Pedang itu mengenainya. Laki-laki itu meloncat surut, sementara pedangnya menebas serangan lawannya. Yang terjadi kemudian adalah benturan antara dua jenis ilmu pedang yang mempunyai landasan dasar yang berbeda. Namun keduanya menunjukkan kemampuan mereka sehingga pertempuran itupun menjadi semakin menegangkan. Paksi menyaksikan pertempuran itu dengan dahi yang berkerut. Kedua orang yang bertempur itu masih harus lebih banyak berlatih agar ilmu mereka menjadi semakin berkembang. Bagi Paksi, keduanya masih terhitung pada tataran yang belum dapat dibanggakan. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia juga mempunyai sebuah senjata yang tidak kalah garangnya dari pedang di gubuknya. Ia mempunyai sebatang tongkat yang di tangannya akan dapat menjadi lebih berbahaya daripada pedang di tangan kedua orang itu. Namun Paksi masih saja tetap berada di pinggir arena, di antara beberapa orang yang menyaksikan pertempuran itu dari jarak yang semakin jauh. Namun Paksipun kemudian menjadi berdebar-debar. Nampaknya keduanya benar-benar telah dicengkam oleh kemarahan yang membuat darah mereka mendidih, sehingga mereka tidak lagi mengekang diri. Mereka benar-benar telah tenggelam dalam nafsu untuk membinasakan lawan masing-masing. Tetapi semakin lama perempuan dalam pakaian asing itu menjadi semakin terdesak. Betapapun ia berusaha untuk bertahan, namun senjata lawannya seakan-akan selalu memburunya. Paksi menjadi berdebar-debar ketika perempuan yang berpakaian asing itu menjadi semakin terdesak. Ujung pedang lawannya bahkan telah mulai menyentuh kulitnya, sehingga sebuah goresan kecil menyilang di lengannya, mengoyak bajunya. Perempuan itu mengumpat. Bajunya yang koyak dan kulitnya yang berdarah, membuatnya sangat marah. Tetapi lawannya, seorang laki-laki yang merasa terhina oleh sikap perempuan itu, nampaknya benar-benar telah tersinggung. Ia ingin benar-benar merendahkan lawannya di hadapan banyak orang yang menyaksikan pertempuran itu meskipun dari kejauhan. Karena itu, maka ketika lawannya menjadi semakin terdesak, laki-laki itu berkata, "Aku memberi kesempatan kepadamu untuk menyerah, berlutut dan mohon maaf. Aku akan memaafkanmu, karena perguruan Sad memang tidak ingin bermusuhan dengan perguruan Goa Lampin. Meskipun ada perbedaan-perbedaan yang mendasar, tetapi kita dapat berjalan sendirisendiri tanpa saling mengganggu." "Setan kau," geram perempuan itu. "Kau jangan mencoba menghina perguruan Goa Lampin." "Tetapi satu kenyataan harus kau hadapi. Kau sudah terluka. Bajumu sudah koyak. Jika kita bertempur terus, maka bajumu akan terkoyak dimana-mana, sedangkan luka di tubuhmu akan menganga semakin lebar." Wajah perempuan itu menjadi merah. Ia memang tidak dapat mengelakkan diri dari kenyataan, bahwa bajunya memang sudah terkoyak. Tetapi harga dirinya sebagai murid dari Goa Lampin tidak memungkinkannya untuk menyerah. Namun dalam keragu-raguan itu, terdengar suara seorang perempuan lain dengan lantangnya, "Kau anak dari perguruan Sad. Apakah kau memang sengaja memulai permusuhan dengan kami?" Laki-laki yang masih terhitung muda, yang datang dari perguruan Sad itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian wajahnya menjadi tegang. Ia melihat seorang perempuan lain yang melangkah mendekati perempuan yang hampir dikalahkannya itu. Perempuan yang muncul berjalan dari antara banyak orang yang menyaksikan pertempuran itu dari jarak yang agak jauh. Murid perguruan Sad itu tidak segera menjawab. Yang dilihatnya adalah seorang perempuan dalam pakaian yang wajar, seperti perempuan-perempuan lain yang pergi ke pasar. Ia mengenakan kain lurik berwarna coklat. Bajunyapun berwarna coklat pula. Selembar selendang lurik yang juga berwarna coklat, tetapi sedikit lebih tua dari bajunya, tergantung di pundaknya. Langkah perempuan itupun tidak menunjukkan langkah yang berbeda dengan kebanyakan perempuan. Langkah-langkah kecil meskipun cepat. Perempuan yang berpakaian asing, yang lengannya terluka itu memandang perempuan yang datang itu dengan penuh harap. Bahkan ketika perempuan dalam pakaian lurik coklat itu mendekat, perempuan yang terluka pundaknya itu mengangguk sambil merendahkan tubuhnya pada lututnya. "Aku sudah melihat apa yang terjadi," berkata perempuan berpakaian coklat itu. "Ya, Guru," jawab perempuan yang terluka lengannya. "Anak dari perguruan Sad itu mencampuri urusanku." Perempuan berpakaian coklat itu memandang laki-laki yang disebutnya dari perguruan Sad itu dengan tajamnya. Sekali lagi ia berkata, "Kau sengaja membuat persoalan dengan kami, perguruan Goa Lampin?" "Bukan maksudku," jawab laki-laki itu. "Jadi kenapa kau campuri urusan muridku?" "Ialah yang mula-mula mencampuri urusan orang dengan sikap yang tidak adil." "Apapun yang dilakukan, biarlah dilakukan." "Tetapi perempuan itu telah merendahkan harga diri, justru seorang perempuan seperti dirinya." "Sudah aku katakan, apapun yang dilakukan, jangan mencampurinya. Aku tidak senang melihat kelakuanmu seperti itu. Ingat." "Tetapi selama orang-orang dari perguruan Goa Lampin masih tetap mencampuri persoalan orang lain dengan sikap yang tidak adil, maka kami tidak akan tinggal diam." "Sejak kapan gurumu mengajarimu berlaku seperti itu? Kau tentu bukan orang baru di perguruan Sad, menilik kemampuanmu. Justru karena itu kau tentu tahu, apa saja yang dilakukan oleh gurumu. Iblis yang licik dan curang." "Aku menduga bahwa kau adalah guru dari perguruan Goa Lampin sesuai dengan sikap perempuan yang terluka itu. Tetapi itu bukan berarti bahwa kau dapat menghina guruku." "Lalu apa yang akan kau lakukan, he? Apa? Kau tidak perlu membunuh diri disini untuk sekedar membela nama baik gurumu. Aku sudah mengenal gurumu dengan baik. Kaupun tentu juga sudah mengenalnya. Apalagi?" Laki-laki yang masih terhitung muda dari perguruan Sad itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba orang dari Goa Lampin itu berkata, "Aku ulangi tawaran muridku. Kami mengundangmu untuk datang ke Goa Lampin. Kau pantas tinggal bersama kami." "Cukup," wajah laki-laki dari perguruan Sad itu menjadi merah. Tetapi perempuan yang berpakaian coklat itu tersenyum. Katanya, "Jangan marah. Hanya sebuah tawaran." "Aku masih mempunyai harga diri sebagai seorang laki-laki. Aku bukan sebangsa laki-laki yang kau kumpulkan di perguruanmu." Tetapi perempuan yang berpakaian coklat itu tersenyum. Orang-orang yang berkerumun dari jarak yang agak jauh itu menjadi berdebar-debar. Perempuan itu memang cantik. Apalagi ketika ia tersenyum sambil melangkah mendekati laki-laki dari perguruan Sad itu. Orang-orang yang menyaksikan sikap perempuan itu menjadi tegang. Paksipun mengerutkan dahinya. Laki-laki dari perguruan Sad itu masih menggenggam senjatanya. Tetapi perempuan cantik itu masih saja tersenyum sambil melangkah lebih dekat lagi. Laki-laki itu tiba-tiba saja telah mengacukan pedangnya. Dengan lantang ia berkata, "Jangan mendekat lagi. Aku dapat membunuhmu." Tetapi perempuan itu menjawab dengan tenang, "Kau tidak akan melakukannya, anak manis." Ketika perempuan cantik dengan pakaian coklat itu menjadi semakin dekat dengan senyumnya yang masih saja mengembang, tiba-tiba saja ujung pedang laki-laki itu menunduk. Semakin dekat perempuan itu daripadanya, maka pedang itupun menjadi semakin merunduk pula. "Nah," berkata perempuan berpakaian coklat itu, "bukankah lebih baik begitu? Kau memang bukan seorang laki-laki yang jahat. Kau adalah laki-laki yang lembut, yang pantas untuk tinggal bersama kami." Laki-laki itu menunduk. "Jangan malu, pandang wajahku," berkata perempuan cantik itu. Laki-laki itu memang mengangkat wajahnya, memandang wajah perempuan cantik itu. Sementara perempuan cantik itu juga memandang mata laki-laki itu seakan-akan tembus sampai ke pusat jantungnya. Paksi menjadi berdebar-debar. Laki-laki dari perguruan Sad itu adalah laki-laki yang tegar. Namun tiba-tiba saja kepalanya menunduk. Pedangnya terkulai di tangannya yang lemah. Laki-laki itu seakan-akan menjadi tidak berdaya sama sekali. Perempuan cantik berpakaian coklat itu tertawa. Ia benar-benar telah menguasai laki-laki yang masih terhitung muda itu. "Sarungkan senjatamu. Kau tidak akan pernah mempergunakannya lagi." Laki-laki itu seakan-akan telah kehilangan penalarannya. Disarungkannya senjatanya tanpa disadarinya. Paksilah yang benar-benar menjadi tegang. Ia tidak dapat membiarkan laki-laki itu begitu saja jatuh ke tangan perempuan berpakaian coklat itu. Paksipun tahu bahwa perempuan itu adalah perempuan yang cantik. Tetapi Paksipun menyadari bahwa kecantikan itu hanya nampak pada ujud lahiriahnya saja. Sikapnya terhadap laki-laki dari perguruan Sad itu telah menunjukkan wataknya yang sebenarnya. Apalagi sikap itu dilakukannya di hadapan banyak orang tanpa malu. Namun Paksi masih harus memperhitungkan banyak hal tentang perempuan itu. Paksi mulai membayangkan, apa jadinya jika dirinya yang kemudian berdiri dengan kepala tunduk tanpa dapat memberikan perlawanan sama sekali. "Tentu ada kekuatan yang tidak terlawan oleh laki-laki itu," berkata Paksi di dalam dirinya. Namun dalam pada itu, ketika laki-laki dari perguruan Sad itu benar-benar telah kehilangan kesadarannya, sehingga seakan-akan telah menjadi seekor lembu yang telah dicocok hidungnya, tiba-tiba saja terasa angin berhembus perlahan-lahan. Tidak terlalu kencang. Namun angin yang tidak terlalu kencang itupun kemudian telah berputar, seperti sebuah angin pusaran kecil. Hanya debu-debu kecil yang terangkat oleh angin pusaran yang lemah itu. Namun angin pusaran yang lemah itu telah bergerak dengan cepat. Tiba-tiba saja angin pusaran itu seakan-akan telah membelit laki-laki dari perguruan Sad yang telah kehilangan kesadarannya itu. Perempuan cantik dari Goa Lampin itu terkejut. Tiba-tiba ia menengadahkan wajahnya. Beberapa langkah ia bergerak surut menjauhi laki-laki dari perguruan Sad itu. "Setan tua. Kenapa kau selalu menggangguku? Marilah, kita selesaikan persoalan kita sampai tuntas." Tidak terdengar jawaban. Tetapi yang terjadi kemudian adalah, bahwa laki-laki yang kehilangan kesadaran itu tiba-tiba mengangkat wajahnya. Seperti orang terbangun dari tidurnya ia memandang berkeliling. Namun tiba-tiba saja laki-laki itu meloncat mundur sambil menarik senjatanya dari sarungnya. Dengan garang iapun berkata, "Apa yang sudah kau lakukan?" Perempuan yang semula nampak cantik dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya itu mengerutkan dahinya. Wajahnya tidak lagi nampak ramah seperti sebelumnya. "Baik," tiba-tiba perempuan itu melangkah mundur, "aku bebaskan muridmu yang satu ini sekarang. Tetapi jika sekali lagi ia mencampuri urusan muridku tentang apa saja, maka ia akan hanyut ke dalam dunia mimpinya yang indah. Sayang, kau sudah terlalu tua untuk itu." "Cukup," laki-laki yang memegang senjatanya itulah yang membentak. Tetapi perempuan itu tertawa berkepanjangan sambil berkata, "Jangan menyalak begitu garang serigala kecil. Kau dapat melakukannya jika gurumu ada di dekatmu." Laki-laki itu tidak menjawab. Sementara perempuan cantik yang berpakaian coklat itupun melangkah meninggalkan laki-laki itu sambil berkata kepada muridnya, perempuan yang lengannya tergores senjata itu, "Marilah. Biarlah anak itu kita lepaskan kali ini." Laki-laki dari perguruan Sad itu tidak memburunya. Tetapi ketika ia memandang berkeliling, maka wajahnya serasa menjadi panas. Laki-laki itu merasa sangat malu, setelah ia sadari apa yang terjadi atas dirinya. Karena itu, maka dengan serta-merta laki-laki itupun segera melangkah pergi, meninggalkan lingkungan pasar yang dicengkam oleh ketegangan itu. Demikian laki-laki itu pergi, sementara kedua orang perempuan yang aneh itu tidak nampak lagi, maka orang-orangpun menjadi sibuk. Merekapun segera membenahi barang dagangan mereka. Paksi sendiri masih berdiri termangu-mangu. Bahkan kemudian Paksi itu telah berdiri bersandar sebatang pohon di depan pasar yang menjadi semakin sepi. Ketika Paksi melihat seorang penjual makanan yang duduk dengan wajah sendu menunggui dagangannya, iapun melangkah mendekat. Sambil duduk di sebelahnya, Paksi bertanya, "Kau tidak pulang, Bibi?" Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Kau lihat, Ngger. Daganganku masih banyak. Jika tidak ada orang yang membeli lagi serba sedikit, aku tidak akan dapat berjualan lagi besok, karena aku tidak mempunyai uang cukup untuk membeli bahan-bahannya. Hari ini daganganku hampir masih utuh." "Apakah karena ketegangan tadi, maka makanan yang Bibi jajakan ini tidak laku?" "Siapa yang akan sempat berpaling pada makanan yang aku jajakan?" jawab perempuan itu. Paksi menarik nafas panjang. Sementara perempuan itu berkata, "Aku tidak tahu, apa yang dapat aku lakukan besok." Sejenak Paksi merenungi makanan itu. Ia sendiri sedang menjalani laku. Ia hanya dapat makan tiga jenis bahan pangan setiap hari. Satu jenis makanan itu tentu sudah mengandung tiga atau bahkan lebih jenis bahan pangan. Sepotong wajik terbuat dari ketan, gula, garam dan santan kelapa. Bahkan kadang-kadang dengan penyedap manis jangan.. Tetapi Paksi tidak sampai hati melihat kegelisahan perempuan tua itu. Karena itu, maka Paksipun kemudian berkata, "Bibi, di rumahku akan ada tamu, kebetulan bahwa Bibi masih mempunyai makanan yang cukup. Karena itu, aku akan membeli beberapa potong." "Kau akan membeli makananku?" wajah perempuan itu menjadi cerah. "Tetapi tidak terlalu banyak, Bibi." Ternyata Paksi membeli lebih dari separo sisa makanan yang dijajakan itu, sehingga perempuan itu mengucapkan terima kasih berkali-kali sambil tersenyum berulang kali. Sejenak kemudian, maka Paksipun telah membawa makanan yang dibungkus dengan daun pisang itu. Tetapi Paksi tidak tahu untuk apa makanan sebanyak itu, karena ia sendiri tidak dapat memakannya. Sementara itu, pasar memang menjadi semakin sepi. Perempuan yang menjual makanan itupun telah membenahi dagangannya pula. Nampaknya dengan uang yang didapatnya dari Paksi, ia akan dapat berjualan lagi esok pagi. Sementara itu Paksi masih kebingungan dengan makanannya. Namun akhirnya Paksi berkesimpulan untuk membawa makanan itu pulang. Ketika di jalan pulang ia melihat sekelompok gembala sedang beristirahat di bawah sebatang pohon yang rindang, sementara kambing-kambing merekapun berkeliaran di padang rumput yang hijau, maka Paksi tertegun. Beberapa orang anak di antaranya sudah dikenalnya, karena Paksi pernah berbincang-bincang dengan mereka. Karena itu, maka Paksipun telah mendatanginya. Sambil duduk bersama mereka, Paksi berkata, "He, aku membawa makanan buat kalian." "Makanan apa, Kang?" bertanya seorang anak yang kuncung di ubun-ubunnya memanjang sampai ke dahi. Paksi membuka bungkusan makanannya. Di antaranya beberapa potong wajik, jadah, beberapa bungkus hawug-hawug dan cemplon. Anak-anak gembala itu nampak ragu-ragu. Sementara Paksi berkata, "Jangan malu. Aku sengaja membelinya untuk orang yang sedang berkumpul seperti ini. Hari ini hari ulang tahun kelahiranku. Tumbuk." Tetapi dengan tidak terduga seorang dari anak-anak itu bertanya, "Tumbuk berapa? Dua atau tiga. Kalau dua, Kakang nampaknya terlalu tua. Kalau tumbuk tiga, Kakang nampaknya terlalu muda. Ayahku baru saja memperingati ulang tahunnya, pada tumbuk tiga." Paksi tersenyum. Katanya, "Umurku sudah duapuluh ampat, sama dengan umur ayahmu." "Tetapi ayah sudah nampak tua." "Sekarang berapa umurmu?" bertanya Paksi. "Tujuh tahun," jawab anak itu. "Hitung, berapa tahun umur ayahmu ketika ibumu melahirkan, jika sekarang umurnya baru duapuluh ampat." Anak itu termangu-mangu. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Paksi. Namun Paksipun bertanya pula, "Siapa yang mengatakan bahwa ayahmu baru saja ulang tahun pada tumbuk tiga? Tentu keliru. Mungkin tumbuk ampat." Anak itu masih saja termangu-mangu. Tetapi Paksipun kemudian berkata, "Nah, lupakan saja umur ayahmu dan umurku. Sekarang, marilah kita makan bersama-sama." Anak-anak itu tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka segera memungut makanan sesuai dengan selera masing-masing. "Ini masih ada," berkata Paksi. Anak-anak itu hanya saling berpandangan. Masih seonggok makanan yang tersisa. Tetapi anakanak itu nampaknya enggan untuk mengambil lagi. Paksi tersenyum. Namun iapun segera bangkit sambil berkata, "Aku akan pulang. Terserah kepada kalian, apakah kalian akan menghabiskan makanan itu atau tidak." Tidak ada yang menyahut. Karena itu, maka Paksipun kemudian berkata, "Sudahlah. Aku minta diri." Diusapnya kepala beberapa orang anak yang sedang menggembalakan kambing itu. Kemudian Paksi itupun segera melangkah pergi. Ketika Paksi sudah meloncati parit dan berdiri di jalan, maka iapun berpaling. Dilihatnya anakanak itu sedang sibuk berebut makanan yang ditinggalkan oleh Paksi. Paksi tersenyum. Seorang anak yang melihat Paksi berpaling, menggamit kawan-kawannya. Tetapi ketika mereka melihat Paksi mengangkat tangannya, maka merekapun bersorak sambil melambaikan tangan mereka yang masih menggenggam sepotong makanan. Paksipun menjadi gembira melihat anak-anak itu menjadi gembira. Sekilas memang terbayang kembali masa kanak-kanaknya. Ia juga sering berada di dalam satu lingkungan permainan dengan kawan-kawannya. Ia sempat bergembira. Tertawa lepas tanpa kekangan. Bahkan sampai umurnya menginjak tujuh belas. Namun jika ia sudah menginjak ambang pintu rumahnya, maka rasa-rasanya hidupnya menjadi sepi dalam kesendiriannya. Kedua adiknya dapat bergaul rapat dengan ayahnya. Tetapi Paksi sendiri merasa, hubungannya dengan ayahnya terasa renggang. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun masa-masa itu sudah lewat. Ia tidak lagi harus bertanya-tanya tentang dirinya. Di gubuk kecil di kaki gunung itu ia telah berjuang di bawah bimbingan Ki Marta Brewok untuk bukan saja menjadi dirinya, tetapi membentuk dirinya sendiri. Paksi berjalan terus. Panas matahari tidak dihiraukannya. Ia sudah terbiasa terpanggang sinar matahari saat-saat ia berlatih di sanggarnya yang terbuka. Ketika Paksi kemudian sampai di gubuknya, maka iapun segera berbenah diri, sehingga sejenak kemudian ia sudah siap untuk melakukan latihan-latihan ringan, menggerakkan urat-urat darahnya serta melemaskan otot-ototnya. Paksi tidak terlalu lama berlatih. Iapun kemudian pergi ke sungai untuk membersihkan badannya dan mencuci pakaiannya. Ketika matahari menjadi semakin rendah, Paksi sempat beristirahat, duduk di belakang gubuk kecilnya. Ia melihat seekor ular yang merayap dengan cepat melintas menuju ke semak-semak belukar. Seperti dikatakan oleh Ki Marta Brewok, di sekitar tempat itu memang terdapat banyak sekali ular dari berbagai macam jenis, sehingga karena itu, maka Paksi tidak pernah lupa setiap hari menelan obat yang diberikan oleh Ki Marta Brewok untuk menawarkan racun. Sambil beristirahat, Paksi sempat merenungi apa yang dilihatnya di pasar itu. Ia memang merasa pengalamannya, bahkan pengalaman jiwanya, menjadi semakin kaya. Ia melihat seorang ayah yang ingkar akan kewajibannya, dan bahkan telah menjadi benalu bagi isteri dan anakanaknya. Iapun melihat dua orang dari dua perguruan yang berbeda. Ia sempat mengenali gaya dan ciri ilmu dua perguruan. Namun iapun sempat mengenali watak dari dua perguruan itu. Terutama perguruan Goa Lampin. Ketika Paksi sempat mengenang apa yang terjadi atas laki-laki yang sempat dihisap ke dalam lingkungan perguruan Goa Lampin, maka rasa-rasanya bulu-bulu tengkuknya meremang. "Laki laki yang terkurung di dalam goa itu akan menjadi apa saja nantinya?" pertanyaan itu telah membuat Paksi merasa ngeri. Sementara itu, ia harus mengakui bahwa perempuan cantik yang berpakaian coklat itu tentu perempuan yang berilmu tinggi. Dalam keadaan yang demikian, rasa-rasanya ia ingin segera bertemu dan berbicara dengan Ki Marta Brewok. Ia ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan laki-laki dari perguruan Sad itu. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian bangkit berdiri. Diraihnya kapaknya yang terselip pada dinding rumahnya. Namun sambil melangkah ke halaman, Paksi teringat pada perempuan tua yang berjualan makanan. Nampaknya hidupnya dan barangkali juga dengan keluarganya, tergantung dari setampah makanan yang dijajakannya itu. Namun sejenak kemudian Paksipun telah tenggelam dalam kerjanya. Dengan kapaknya ia membelah gelondong-gelondong kayu bakar. Kemudian kayu yang sudah terbelah itu dijemurnya di sisa panasnya matahari. Tetapi kayu-kayu itu tidak perlu ditempatkan di tempat yang terlindung, karena nampaknya hujan masih belum segera turun. Paksipun kemudian telah mengisi waktunya dengan berlatih pula. Sambil duduk di atas sebongkah batu, Paksi mempertajam kemampuan bidiknya dengan sasaran yang lebih kecil yang pernah dilakukan. Seikat jerami yang digantung di tempat yang lebih jauh dari latihan-latihannya terdahulu. Paksi mengakhiri latihannya ketika senja turun. Tiba-tiba saja ia telah mengharapkan Ki Marta Brewok datang secepatnya. Ternyata Ki Marta Brewok seolah-olah mengetahui keinginan Paksi itu. Demikian gelap turun, Ki Marta Brewok telah berada di tempat itu. "Aku memang mengharap Ki Marta Brewok datang lebih awal," desis Paksi. "Aku juga tahu," jawab Ki Marta Brewok. "Kau tentu melihat peristiwa yang terjadi di pasar itu. Kau tentu melihat murid dari perguruan Goa Lampin dan murid dari perguruan Sad bertempur. Kau juga tahu kedatangan iblis betina, maha guru dari perguruan Goa Lampin itu." "Apakah Ki Marta Brewok juga melihatnya?" "Aku tidak sengaja melihatnya. Tetapi aku mengikuti perkembangan keadaan sejak semula. Aku melihat laki-laki yang memukul isterinya itu. Aku melihat bagaimana perempuan Goa Lampin itu mencampuri persoalan suami isteri itu dan bagaimana anak dari perguruan Sad itu ikut pula melibatkan diri." "Ki Marta," desis Paksi, "ada yang ingin aku tanyakan. Apa yang sebenarnya terjadi ketika lakilaki dari perguruan Sad itu tiba-tiba kehilangan pribadinya. Ia menjadi seakan-akan pasrah serta melakukan segala perintah perempuan berpakaian coklat itu." "Perempuan itu mempunyai kekuatan semacam kekuatan sihir. Siapa yang dipandangi matanya serta orang yang dipandangi matanya itu memandang matanya pula, maka ia akan terpengaruh oleh kuasa ilmu perempuan itu. Orang yang demikian, tidak lagi tahu apa yang dilakukan. Ia berbuat apa saja sesuai dengan kehendak perempuan yang menyihirnya itu. Bahkan untuk membunuh diri sekalipun." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Marta Brewok berkata, "Ada baiknya kau melihatnya, Paksi. Dengan demikian kau mendapat satu pengalaman baru. Sehingga kau harus belajar, bagaimana menghadapi pengaruh sihir seperti itu." Paksi mengangguk-angguk kecil. "Di samping itu," berkata Ki Marta Brewok, "kau harus mengenali kedua perguruan itu pula. Serba sedikit kau tentu sudah mendapat gambaran isi dari perguruan Goa Lampin. Goa Lampin sebenarnya adalah nama sebuah goa kecil. Namun padepokan yang dibangun di sekitar goa itu kemudian disebut Padepokan Goa Lampin. Padepokan itu dibangun sedemikian rupa, sehingga goa itu berada di dalam padepokan itu." Paksi masih mengangguk-angguk, sementara Ki Marta Brewokpun berkata, "Sedangkan perguruan Sad adalah perguruan yang samar-samar. Aku tidak dapat mengetahui dengan pasti garis kebijaksanaan pemimpinnya. Tetapi untuk sementara kau harus berhati-hati. Aku melihat sifat-sifat yang agak licik pada perguruan itu." "Ki Marta," berkata Paksi kemudian, "apakah ada cara-cara khusus untuk mengatasi kekuasaan sihir itu? Ilmu itu sangat mengerikan. Aku tidak pernah menjadi gelisah melihat berbagai macam ilmu. Tetapi aku benar-benar ngeri mengenang kekuatan ilmu sihir itu. Aku selalu dibayangi oleh angan-angan, apa yang terjadi dengan diriku jika aku jatuh ke tangan iblis betina itu. Lebih baik dadaku ditembus oleh ujung tombak daripada terpengaruh oleh ilmu itu." Ki Marta Brewok tersenyum. Katanya, "Baiklah. Aku akan berusaha membantumu. Kau harus melapisi kesadaranmu dengan ketahanan jiwani yang tinggi." "Aku akan menjalani laku apapun untuk menemukan kekuatan yang dapat melawan ilmu sihir itu." "Kau harus menyelesaikan laku yang sedang kau jalani sekarang lebih dahulu, Paksi. Sementara itu, kau dapat mempersiapkan dirimu untuk menjalani laku berikutnya. Kau tidak usah berpikir, kapan kau harus berangkat untuk meneruskan pencarianmu atas cincin itu. Aku yakin bahwa dalam waktu satu dua tahun, cincin itu masih belum diketemukan. Seandainya cincin itu sudah diketemukan, maka masih dapat dipertanyakan, siapakah yang menemukan cincin itu." Paksi mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya ia menjadi semakin mantap. Namun Ki Marta Brewok itu masih berkata pula, "Untuk sementara Paksi, kau dapat menghindarkan diri dari pengaruh sihir itu dengan lembaran ketabahan hati serta berusaha untuk tidak memandang orang yang kau curigai mempunyai ilmu sihir itu pada matanya. Namun menurut pengetahuanku, di perguruan Goa Lampin hanya perempuan iblis yang menjadi pemimpinnya itu sajalah yang memiliki kemampuan ilmu sihir. Sedangkan kau sudah pernah melihat orang itu, sehingga kau dapat berhati-hati seandainya kau karena sesuatu hal berhadapan dengan orang itu. Bukankah sebagaimana kau lihat, perempuan yang lengannya terluka itu sama sekali tidak mempunyai kemampuan ilmu semacam itu?" Paksi mengangguk-angguk. "Baiklah," berkata Ki Marta Brewok. "Kau harus mempersiapkan diri. Kita akan berlatih lagi. Meskipun sebenarnya kau sudah sampai ke puncak, tetapi kau masih harus berusaha membuka pintu-pintu inderamu lebih lebar lagi, agar ilmumu dapat menjadi semakin berkembang." Sejenak kemudian Paksipun telah tenggelam lagi dalam latihan-latihan yang berat. Ia harus mengasah penglihatan, pendengarannya dan bahkan panggraitanya. Sedikit lewat tengah malam, Ki Marta Brewok mengakhiri latihan itu. Setelah beristirahat sejenak, Ki Marta Brewok sempat makan bersama Paksi. Namun Paksi masih terikat dengan laku yang sedang dijalaninya. "Aku terpaksa harus ikut makan hanya dengan garam," desis Ki Marta Brewok. Paksi tersenyum. Meskipun hanya dengan garam, ternyata Ki Marta Brewok itu makan cukup banyak. Katanya, "Supaya tenaga di dalam tubuh ini tidak menyusut, maka kita harus makan banyak. Menurut pendapatku kau sudah memilih laku yang benar dengan cara yang benar. Setiap hari kau ganti jenis makanan yang tiga itu. Sekali-sekali kau makan bayam rebus saja di samping nasi. Lain kali, ikan air yang kau panggang dengan garam. Kemudian kau makan ketela yang kau rebus dengan gula kelapa." "Dengan demikian aku tidak merasa jenuh dengan satu dua jenis makanan, Ki Marta." "Otakmu cukup terang. Kau dapat melanjutkannya sampai pada suatu saat kau harus melakukan pati-geni." Demikianlah, seperti yang dikatakan oleh Ki Marta Brewok, Paksi melanjutkan laku yang dijalaninya. Di samping laku itu, Paksi sekali-sekali juga turun untuk pergi ke pasar. Beberapa orang telah dikenalnya. Anak muda yang hampir setiap hari pergi mengantar dan menjemput ibunya yang berjualan kain lurik, telah dikenalnya dengan akrab pula. Sementara itu, setiap kali Paksi berada di pasar, ia selalu mencari Kinong meskipun hanya untuk berbincang sebentar. Bahkan dengan diam-diam Paksi telah mengikuti dan melihat, dimana rumah Kinong itu. Rumah Kinong sebenarnya termasuk rumah yang sedang. Meskipun bukan joglo, tetapi di bagian depan rumahnya terdapat pendapa. Namun rumah itu menjadi tidak terpelihara. Sebuah kandang berdiri di sebelah rumah. Tetapi kandang itu juga sudah kosong. Tidak ada seekor lembupun yang berada di dalam kandang itu. Yang masih nampak berkeliaran di halaman adalah beberapa ekor ayam. Sementara itu, Paksi tidak lagi melihat murid-murid dari perguruan Goa Lampin berkeliaran di pasar. Kecuali jika mereka tidak mengenakan ciri-ciri perguruannya sehingga tidak dapat mengenalinya. Demikian pula para cantrik dari padepokan Sad. Namun dengan demikian Paksi sendiri harus berhati-hati agar tidak menarik perhatian orang lain. Terutama orang-orang dari perguruan Goa Lampin. Apalagi jika perempuan yang disebut sebagai mahagurunya itu. Dalam pada itu, laku yang dijalani Paksi sudah hampir sampai pada saatnya genap ampat puluh hari ampat puluh malam. Karena itu, maka Ki Marta Brewokpun kemudian berkata, "Paksi, bersiaplah. Kau akan segera sampai pada puncak laku yang harus kau jalani. Kau harus mengetahui apa yang harus kau lakukan saat kau menjalani pati-geni." "Apa yang harus aku lakukan, Ki Marta?" "Kau akan aku bawa ke satu tempat yang tersembunyi, agar selama kau menjalani laku terakhir, kau tidak terganggu. Kau jangan membawa makanan apapun kecuali pisang, kunyit dan kencur. Selama tiga hari tiga malam, sehingga selama kau menjalani laku itu, kau hanya boleh makan tiga buah pisang." Paksi menyadari, bahwa laku yang harus dijalaninya tentu sangat berat. Tetapi Paksi tidak akan ingkar. Apapun yang harus dilakukan, akan dilakukan menurut kemampuannya. Namun dalam pada itu Ki Marta Brewokpun berkata, "Tetapi apapun yang kau lakukan, kau tidak boleh melupakan kewajibanmu terhadap Sumber Hidup-mu." Paksi mengangguk-angguk. Sejak kecil ibunya telah memperkenalkannya dengan Sumber Hidup-nya, sehingga Paksi tumbuh di dalam ikatan yang semakin lama semakin erat. Sikap ayahnya yang mendorong Paksi semakin dekat dengan ibunya, membuat Paksi semakin dekat pula dengan Yang Maha Agung sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh ibunya. Ketika Paksi berada di gubuk kecil di kaki gunung itu, maka ia justru merasa hubungannya menjadi semakin erat dengan Sumber Hidup-nya itu. Demikianlah, maka Ki Marta Brewokpun nampak menjadi semakin berhati-hati membimbing Paksi. Laku yang dijalaninyapun menjadi semakin berat. Ia tidak lagi harus melakukan latihanlatihan yang berat di sanggar terbukanya. Tetapi di setiap tengah malam, Paksi duduk di atas sebuah batu yang besar bersama Ki Marta Brewok. Tuntunan yang diberikanpun mulai berkisar. Ki Marta Brewok mulai memperkenalkan kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalam diri Paksi. Ki Marta Brewok mulai mengajarkan, bagaimana Paksi dapat mengungkapkan kekuatan-kekuatan itu. Latihan-latihan mengatur pernafasan sebagai landasan untuk melakukan sikap dan perbuatan selanjutnya dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Ki Marta bahkan menilik setiap gerak yang terjadi di dalam tubuh Paksi. Menjelang hari ke empat puluh maka latihan-latihanpun menjadi semakin khusus, latihanlatihan kewadagan pun menjadi semakin sedikit. Ki Marta Brewok menganjurkan agar Paksi memanfaatkan waktu yang luang di siang hari untuk melakukan latihan-latihan kewadagan. Dengan demikian, maka Paksipun telah mengalami tempaan lahir dan batin. Dengan segenap kemampuan yang ada, Paksi melakukan segalanya dengan kesungguhan. Akhirnya Paksipun telah sampai pada hari ke empat puluh. Paksi menyadari, bahwa ia akan sampai pada puncak laku yang berat. Tetapi Ki Marta Brewok telah mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya. Lahir dan batin. Ketika senja turun, maka Paksipun menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan kemudian. Ia sudah menyediakan tiga buah pisang sebagaimana dipesankan oleh Ki Marta Brewok. Kemudian kunyit dan kencur serba sedikit. Ketika kemudian Ki Marta Brewok itu datang, Paksipun benar benar telah siap. "Nampaknya kau telah mempersiapkan diri dengan baik, Paksi. Sudah waktunya kau menjalani puncak laku yang akan membuka kemungkinan bagimu untuk mengendalikan semua unsur kekuatan di dalam dirimu sesuai dengan kehendakmu. Kekuatan yang bagi banyak orang tersimpan dan tidak dapat dipergunakan karena mereka tidak mengenali diri mereka sendiri seutuhnya, akan dapat kau pergunakan sebaik-baiknya. Tetapi ingat Paksi. Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang baik, yang hidup di dalam lingkungan sesamanya. Karena itu, jika Yang Maha Agung memperkenankan kau memiliki kemampuan yang lebih dari orang lain, kau dapat mempergunakannya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan martabat kita. Kita tidak boleh mempergunakannya dengan semena-mena. Bukan saja atas sesama, tetapi juga atas lingkungan kita. Karena kita dan lingkungan kita adalah satu keutuhan yang saling bergantung dan saling mempengaruhi." Paksi mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, "Ya, Ki Marta. Aku mengerti." "Nah, baiklah. Sekarang, ikut aku." Paksi termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Marta Brewok berkata selanjutnya, "Tutup pintu rumahmu. Simpanlah barang-barang terpentingmu. Benahi alat-alat dapurmu. Kita akan pergi selama tiga hari tiga malam." Demikianlah, maka Paksipun kemudian telah mengikuti Ki Marta Brewok meninggalkan gubuknya. Mereka berjalan di dalam kegelapan, melalui lereng dan tebing gunung yang rumit yang belum pernah dikenal oleh Paksi. Namun betapapun gelapnya, maka Paksi yang sudah terlatih dengan baik, masih mampu melihat keadaan di sekelilingnya. Ia masih dapat mengenali beberapa ciri yang akan dapat diingatnya jika ia harus berjalan melalui tempat itu lagi. Paksi menjadi berdebar-debar ketika ia harus menuruni sebuah tebing. Sebelum ia sampai ke tempat yang dituju, telinganya yang juga sudah menjadi semakin tajam telah mendengar gemuruhnya air terjun. Beberapa saat kemudian, Paksi telah sampai ke sebuah aliran sungai. Dalam keremangan malam ia melihat air terjun dari ketinggian. Meskipun tidak terlalu besar, tetapi suaranya yang bergelora berkepanjangan terdengar seirama dengan hembusan angin di lereng gunung. "Kita akan bersembunyi dalam goa di belakang air terjun itu. Dengan demikian, maka kau tidak akan terganggu selama tiga hari tiga malam penuh." Paksi mengangguk kecil. Demikianlah, maka merekapun kemudian menyusuri lereng berbatu-batu padas mendekati air terjun itu. Tetapi Paksi tidak melihat sebuah goa di sekitar air terjun itu. Namun Paksi mengira, bahwa ketajaman penglihatannya saja yang masih belum dapat menangkap mulut goa yang dimaksud oleh Ki Marta Brewok. Tetapi ternyata dugaan Paksi keliru. Ki Marta Brewok telah membawa Paksi menembus air terjun itu, karena mulut goa itu berada di belakangnya, tertutup oleh air yang meluncur dari ketinggian. Dengan demikian, maka keduanya menjadi basah kuyup ketika mereka kemudian berdiri di sebuah mulut goa. "Marilah," berkata Ki Marta Brewok. Namun iapun mengingatkan pula, "Juga di dalam goa ini terdapat banyak ular dari berbagai jenis. Tetapi jika kau sudah minum obat itu, maka kau tidak usah menjadi cemas." Paksi tidak menjawab. Ia melangkah dengan hati-hati di belakang Ki Marta Brewok. Di dalam goa itu gelap terasa menjadi semakin pekat. Tetapi perlahan-lahan penglihatan Paksi yang tajam mulai membiasakan diri dengan kegelapan itu. Meskipun sangat samar, namun Paksi mulai dapat melihat isi goa itu. Yang nampak tidak lebih dari bebatuan. Batu-batu yang tajam menggantung dan yang lain mencuat dari bawah. Keduanya melangkah semakin lama menjadi semakin dalam. Titik-titik air menetes dimanamana sehingga di bawah kaki mereka, air itu berkumpul dan mengalir keluar. Beberapa saat kemudian, Ki Marta Brewok telah membelok memasuki cabang goa yang lebih kecil, memanjang menusuk perut bumi. Di ujung cabang goa yang dalam itulah kemudian Ki Marta Brewok memerintahkan Paksi untuk mencari tempat duduk. "Di sebelah ini ada sebuah ruang yang agak luas," berkata Ki Marta Brewok. "Nanti kau dapat melihatnya sendiri. Tetapi itu tidak penting. Kau untuk sementara tidak memerlukan ruangan yang luas. Kau hanya memerlukan tempat duduk yang cukup memuat tubuhmu saja, karena selama tiga hari tiga malam, kau akan melakukan latihan-latihan dengan sifat halusmu serta pemahamanpemahaman terpenting dari laku yang kau jalani." Paksi mengangguk kecil. Jilid 05 DEMIKIANLAH, maka Paksi mulai menjalani puncak lakunya. Bersama Ki Marta Brewok ia berada di dalam goa yang gelap pekat. Namun Paksi sama sekali tidak merasa terganggu pernafasannya. Ia yakin bahwa ada lubang-lubang udara yang membuat ruangan-ruangan di dalam goa itu tetap mendapat udara yang segar meskipun ruangan itu tetap saja terasa pengap. Ternyata laku yang dijalani Paksi memang berat. Ia harus melakukan gerakan-gerakan khusus dan bahkan kemudian pemusatan nalar budi yang harus dilatihnya tataran demi tataran. Dengan tekun dan bersungguh-sungguh pula orang yang menyebut dirinya Ki Marta Brewok itu memberikan tuntunan setapak demi setapak. Sekali-sekali ia bersikap lembut seperti kepada kanak-kanak yang baru belajar berjalan, namun kadang-kadang ia bersikap keras. Bentakanbentakan kasar telah menyengat telinga Paksi yang sedang memusatkan nalar dan budinya itu. Namun dengan dengan perlahan-lahan Paksi telah memasuki sikap samadi. Laku yang dijalani tidak lagi bersifat semata-mata wadag. Paksi yang duduk di atas batu karang di hadapan Ki Marta Brewok itu mulai membayangkan gerakan-gerakan perlahan-lahan sebagaimana diungkapkan oleh Ki Marta Brewok. Sekali dua kali, namun kemudian Paksi harus dapat menuntun penglihatan batinnya sendiri. Diucapkannya apa yang telah diucapkan oleh Ki Marta Brewok tentang makna dari unsur-unsur gerak itu serta watak dan sifat-sifatnya. Kekuatan dan kelemahannya serta beberapa perbandingan unsur-unsur gerak yang sejajar. Dengan demikian, maka beberapa unsur gerak yang paling rumit telah dilakukan tanpa kesertaan wadagnya. Namun unsur-unsur itu bagaikan telah terpahat di dinding jantungnya, sehingga tidak akan pernah dilupakannya. Demikianlah terjadi untuk waktu yang terasa panjang. Panjang sekali. Begitu banyak unsurunsur yang harus dikuasainya. Bukan sekedar kemampuan untuk melakukannya, tetapi juga penguasaan sampai ke kedalamannya. Waktu yang tiga hari tiga malam itu terasa betapa panjang. Tetapi yang panjang itu rasarasanya masih belum cukup untuk menampung segala-galanya. Di hari pertama dan kedua, Paksi masih mendapat kesempatan untuk beristirahat di tengah malam untuk makan sebuah pisang dan minum beberapa teguk air yang menetes dari ujung-ujung batu karang yang mencuat. Namun kemudian pada hari yang ketiga, Paksi harus memasuki puncak dari segala laku yang telah dijalaninya. Demikian ia duduk di tempatnya, maka Ki Marta Brewok telah menuntunnya untuk memasuki alam halusnya. Paksi yang duduk di atas sebongkah batu padas dengan mata terpejam itu seakan-akan telah melihat dirinya sendiri bangkit berdiri. Kemudian dengan mendengarkan perintah-perintah Ki Marta Brewok, Paksi Pamekas melihat dirinya sendiri menjalani sikap dan gerak sebagaimana dikatakan oleh Ki Marta Brewok. Sekali dua kali dan satu unsur gerak ke unsur gerak yang lain. Sekali dua kali ia melihat dirinya sendiri mengulangi dan mengulangi. Kemudian melakukan tingkat selanjutnya dan selanjutnya. Tingkat demi tingkatpun telah dijalani. Menurut penglihatan batin Paksi yang wadagnya masih tetap duduk di atas batu karang itu, ia melihat dirinya melakukan latihan yang semakin berat. Setiap gerak mengandung tenaga yang semakin lama menjadi semakin besar dan semakin kuat, sehingga di ujung dari puncak laku yang dijalaninya itu, Paksi melihat dirinya sendiri mampu mengungkapkan inti kekuatan yang terangkum di dalam diri dan kemudian mengangkat ke permukaan. Demikian puncak laku itu dijalani, maka terasa betapa seluruh tubuh Paksi itu bergetar. Ia melihat dirinya sendiri bergetar, namun ia mulai merasakan wadagnyapun bergetar. Perlahan-lahan mata batin Paksi melihat dirinya sendiri itu bergerak perlahan-lahan seakanakan melayang tanpa batasan bobot dan ruang. Batu-batu yang tajam bergayutan serta yang mencuat dari permukaan, sama sekali tidak menyentuhnya. Perlahan-lahan ia masih sempat melihat dirinya itu semakin dekat pada wadagnya yang semula bagaikan terlupakan adanya. Namun tiba-tiba terjadi benturan yang sangat dahsyat. Dirinya sendiri yang nampak di mata hatinya itu seakan-akan lebur dan luluh di dalam ujud kewadagannya. Tubuh Paksi benar-benar telah bergetar. Keringatnya semakin banyak mengalir membasahi ujud wadagnya. Namun terasa betapa kesadaran dirinya menjadi baur. Paksi masih mendengar suara Ki Marta Brewok, "Paksi, jangan tenggelam ke dalam kesamaran dirimu. Kau harus segera bangun dari samadimu. Kau harus segera kembali kepada kesadaran unsur wadagmu sebelum wadagmu kehilangan arti sama sekali dan tenggelam ke dalam kebekuan." Paksi merasakan goncangan yang keras pada wadagnya, sehingga dengan serta-merta Paksipun telah terbangun dan serasa telah terhempas kembali dari dunia pemusatan nalar budinya yang terdalam. Tiba-tiba saja Paksi akan bangkit berdiri. Tetapi Ki Marta Brewok dengan cepat menahannya sambil berdesis, "Duduklah." Paksi merasakan tubuhnya yang gemetar. Paksi merasakan tubuhnya menjadi sangat lemah. Seandainya Ki Marta Brewok tidak mencegahnya, maka demikian ia berdiri, maka ia akan terjatuh terhempas pada batu-batu padas yang tajam di bawah kakinya. Kepala Paksi terasa pening. "Kau masih mempunyai sebuah pisang Paksi," berkata Ki Marta Brewok. Setelah minum beberapa teguk, maka Paksipun makan sisa pisang yang dibawanya. Tetapi pisang itu tidak cukup untuk membuat tubuhnya yang lemah itu pulih kembali. Namun Ki Marta Brewok kemudian berkata, "Kau telah berhasil mengatasi semua hambatan di dalam dirimu. Laku yang kau jalani sudah selesai. Kau sudah memiliki ilmu yang pada dasarnya sudah sampai ke puncak. Tetapi belum berarti bahwa dengan ilmumu ini kau adalah orang yang tidak terkalahkan. Banyak orang yang mampu mencapai puncak kemampuan sebagaimana kau capai sekarang. Tetapi sedikit orang yang mampu mengembangkannya dengan baik, sehingga kemampuan itu kemudian benar-benar mencapai tataran yang sulit dijangkau oleh orang lain. Dengan kata lain, orang itu akan memiliki kelebihan. Dengan demikian, maka untuk selanjutnya terserah kepadamu. Kau sudah mempunyai landasan dan bahan yang cukup. Namun pengalaman yang akan mematangkan ilmumu itu." Paksi mengangguk-angguk kecil. Tubuhnya masih lemah. Terasa urat-uratnya masih tegang. Namun terasa inderanya menjadi semakin jernih. Penglihatannya, pendengarannya, peraba dan panggraitanya serta penciumannya. "Nah, Paksi. Kau dapat beristirahat sampai esok pagi. Kau dapat melihat ruang yang luas di sebelah. Besok, jika langit jernih dan matahari bersinar, kau akan dapat melihat ruangan yang cukup luas itu. Ada lubang di atasnya, sehingga serba sedikit cahaya dapat masuk ke dalam ruang itu." Dalam pada itu, Paksi yang telah minum beberapa teguk air dan makan sebuah pisang, berusaha untuk bangkit. Ki Marta Brewok melangkah mendekat dan mengamatinya. Namun Paksi Pamekas itupun berjalan sendiri sambil berpegangan pada batu-batu karang yang mencuat. Di sebelahnya memang terdapat sebuah ruang. Beberapa saat Paksi sempat mengamati ruang itu. Namun karena malam masih kelam, maka tidak ada cahaya seleret pun yang masuk dan menerangi ruang itu. Namun menurut Ki Marta Brewok, di siang hari, ada sinar matahari yang sempat menyusup dari celah-celah batu padas di atasnya. Beberapa saat Paksi berdiri termangu-mangu. Namun kemudian terdengar Ki Marta Brewok berkata, "Marilah, kita keluar dari tempat ini. Besok kau dapat datang kemari lagi." Paksi tidak menjawab. Dengan tubuh yang lemah, maka iapun melangkah di atas batu-batu padas perlahan-lahan menuju ke pintu goa di bawah sebuah air terjun. Ki Marta Brewok masih harus membimbing Paksi yang lemah itu. Apalagi ketika kemudian mereka keluar dari mulut goa dan menyusup di bawah air terjun itu. Meskipun dengan agak sulit, namun akhirnya Paksi sampai di rumahnya. Demikian ia melangkah masuk, maka iapun segera menjatuhkan dirinya duduk di atas ketepe belarak yang dipakainya alas tidur. "Nah, sekarang tolong dirimu sendiri. Kau dapat berbuat sesuatu agar kau tidak menjadi kelaparan, bahkan aku sudah membayangkan untuk ikut makan bersamamu. Sebenarnyalah aku juga lapar. Meskipun aku tidak harus memeras tenaga, nalar, dan budi sebagaimana kau lakukan, tetapi aku ikut serta pati-geni bersamamu meskipun sebenarnya itu tidak harus aku akukan. Tetapi karena aku tidak memerlukan tenaga sebagaimana kau perlukan, maka aku tidak mengalami keletihan sebagaimana kau. Akupun dapat minum sebanyak aku inginkan selama berada di dalam goa itu. Apalagi sebelumnya aku memang menyembunyikan beberapa potong gula kelapa di dalam kantong bajuku." Paksi mengerutkan keningnya sambil memandangi Ki Marta Brewok. Tetapi Ki Marta Brewok itu tertawa. Katanya, "Kau tidak boleh iri. Kau sedang menjalani laku. Sedang aku tidak." Paksi menarik nafas dalam-dalam. "Nah," berkata Marta Brewok kemudian, "sekarang kau harus berganti pakaian, kemudian membuat perapian. Bukankah kau masih mempunyai persediaan beras?" Paksi mengangguk-angguk. Pakaiannya memang basah kuyup ketika ia menyusup di bawah air terjun. Namun iapun juga bertanya, "Bagaimana dengan Ki Marta? Bukankah pakaian Ki Marta juga basah?" "Nanti aku juga akan mengambil ganti pakaian. Sekarang, buat saja api. Aku akan beristirahat di luar." Paksi mengangguk-angguk. Ketika Ki Marta Brewok sudah berada di luar gubuknya, maka Paksipun segera berganti pakaian. Tubuhnya masih terasa sangat lemah, sehingga rasa-rasanya ia ingin segera membaringkan dirinya. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia memang merasa lapar. Dalam kegelapan Paksi mencari batu titikan dan emput gelugut aren. Untunglah bahwa batu titikan dan emput gelugut aren itu tidak dibawanya ke dalam goa sehingga tidak ikut menjadi basah. Beberapa saat kemudian, Paksi sudah membuat perapian. Ki Marta Brewok yang beristirahat di luar membiarkannya bekerja sendiri dalam keadaan letih. Ketika api sudah menyala, maka Paksi masih harus mencuci berasnya. Tertatih-tatih ia pergi ke sebuah belik kecil tempat ia terbiasa mengambil air. Malam itu Paksi tidak menanak nasi seperti biasanya. Ia tahu bahwa perutnya sudah cukup lama kosong, sehingga ia harus mulai mengisinya dengan makanan yang lunak. Karena itu, maka Paksi telah membuat bubur beras yang agak cair. Ki Marta tentu juga lebih baik makan makanan yang lunak seperti dirinya. Ketika Paksi kembali dari belik kecil, maka dilihatnya Ki Marta Brewok sudah duduk di depan api untuk memanaskan tubuh dan pakaiannya yang basah. Sambil menunggu bubur berasnya masak, Ki Marta Brewok sempat memberikan beberapa pesan kepada Paksi. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka Paksi justru bertanggung jawab sepenuhnya terhadap Sumbernya. "Paksi, arti dari ilmu yang kau kuasai kemudian tergantung kepadamu. Apakah ilmumu itu akan berarti bagi sesama atau justru menjadi racun, itu tergantung kepadamu. Jika kau selalu menyadari, bahwa kau terhitung satu di antara mereka yang mendapat kurnia kelebihan dari orang kebanyakan, maka sebagai ungkapan terima kasihmu, maka kau harus mempergunakan ilmu itu di jalan-Nya." Paksi mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti sepenuhnya pesan Ki Marta Brewok yang bukan untuk pertama kalinya dikatakannya. Tetapi seperti Ki Marta Brewok yang tidak jemu-jemunya menyampaikan pesan itu, maka Paksipun tidak jemu-jemunya pula mendengarkannya dan menekankan ke dalam jantungnya. Ketika kemudian bubur beras itu masak, maka keduanyapun telah makan bersama-sama. Meskipun mereka hanya makan bubur hangat yang diberi sedikit garam, namun mereka merasa betapa nikmatnya. Paksi dan Ki Marta Brewok tidak makan terlalu banyak. Tetapi yang sedikit itu telah membuat tubuh mereka menjadi segar. "Beristirahatlah," berkata Ki Marta Brewok. "Kau tentu letih sekali lahir dan batinmu." Paksi mengangguk. Namun ia masih bertanya, "Bagaimana dengan Ki Marta?" "Aku akan beristirahat di luar gubukmu." Paksi tidak menjawab. Setelah memadamkan api, maka Paksi memang berbaring di dalam gubuknya. Tetapi karena anak muda itu merasa sangat letih, di luar sadarnya, Paksi telah tertidur di ujung malam itu. Ternyata Paksi terlambat bangun. Tidak biasanya ia bangun setelah cahaya matahari nampak merah di langit. Tetapi saat itu Paksi yang merasa sangat letih itu ternyata terlambat bangun. Ketika ia keluar dari gubuknya, maka dilihatnya cahaya matahari telah menebar di langit meskipun mataharinya masih berada di balik bukit. Angin pagi telah mulai mengalir menyentuh dedaunan yang basah oleh embun. Suara burung-burung liar di hutan lereng gunung terdengar bersahutan menyanyikan kidung pagi menyambut matahari yang mulai memanjat naik. Di ujung rerumputan, embun yang menggantung seperti butir-butir mutiara yang berkilau memantulkan cahaya matahari pagi. Namun Paksi sudah tidak melihat Ki Marta Brewok lagi. Seperti biasanya, Ki Marta Brewok telah hilang bersamaan dengan datangnya dini hari. Paksi yang sudah merasa terlambat bangun itu duduk di atas sebuah batu di sebelah gubuknya. Sejenak ia sempat mengingat, apa yang telah dilakukannya selama ampat puluh hari ampat puluh malam dan kemudian tiga hari tiga malam menjalani puncak laku di dalam goa di balik air terjun itu. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun di dalam hatinya ia mengucap sukur, bahwa ia termasuk salah satu di antara mereka yang mendapatkan kurnia kelebihan dari yang Maha Agung sebagaimana dikatakan oleh Ki Marta Brewok. Baru beberapa saat kemudian, Paksi bangkit dan melangkah pergi ke sungai setelah menutup pintu gubuknya. Demikian Paksi selesai mandi dan mencuci pakaiannya yang semalam basah kuyup, terasa tubuhnya menjadi segar kembali. Apalagi ketika kemudian sesudah ia makan bubur berasnya yang masih tersisa, terasa tenaganya perlahan-lahan telah tumbuh kembali. Hari ini Paksi sengaja tidak melakukan latihan apapun. Ia benar-benar beristirahat. Meskipun demikian, jika Paksi duduk termenung, maka bayangan-bayangan yang lewat di dalam benaknya adalah bayangan-bayangan laku yang ditempuhnya di dalam goa. Setiap kali serasa ia masih saja melihat dirinya sendiri bergerak dengan cepat, memeragakan unsur-unsur yang rumit. Meskipun kemudian geraknya menjadi semakin lama semakin lamban, namun terasa pada setiap geraknya, memancar tenaga yang semakin besar, sehingga akhirnya Paksi itu mampu mengungkapkan inti kekuatan yang sebelumnya seakan-akan tersembunyi di dalam dirinya. Satu kurnia yang sangat besar baginya. Paksi Pamekas itu menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian bangkit dan melangkah turun ke jalan sempit yang jarang sekali dilalui orang. Bahkan orang mencari kayu sekalipun. Tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk menuruni kaki gunung itu. Sambil berjalan, Paksi membenahi pakaiannya. Kemudian melihat apakah ia sudah membawa uang beberapa keping. Ternyata Paksi kemudian hampir di luar sadarnya telah turun sampai ke pasar. Karena matahari sudah menjadi semakin tinggi, maka keramaian pasar itu mulai menyusut. Meskipun demikian, penjual dawet di dekat pintu gerbang pasar itu masih duduk di belakang dagangannya. Penjual dawet itu tersenyum melihat Paksi yang sudah dikenalnya dengan baik itu. Dengan ramah ia bertanya, "He, sudah beberapa hari kau tidak nampak, anak muda?" "Aku sedang sibuk, Paman," jawab Paksi sambil duduk di sebelahnya. "Sibuk apa? Bukankah sekarang tidak sedang musim tanam?" bertanya penjual dawet itu. "Aku sedang sibuk memagari pategalan pamanku yang sudah rusak sekaligus membuat lanjaran kacang panjang," jawab Paksi. "Dan karena itu, kau tidak membeli cendol dawetku?" "Aku sekarang akan membeli dawet saja, Paman. Bukan hanya cendolnya." "Nampaknya kau sudah jemu meramu dawet sendiri." Paksi tertawa pula. Sementara penjual dawet itu menuang santan ke dalam mangkuk. Kemudian cendol dan legen kelapa. Ketika Paksi meneguk dawet itu, terasa alangkah segarnya setelah beberapa hari ia menempa dirinya dengan mengekang jenis bahan makan yang masuk ke dalam mulutnya dan yang pada ujungnya, Paksi harus menjalani pati-geni. Sementara Paksi minum dawet, ia melihat Kinong lewat sambil menjinjing keranjangnya. Maka dipanggilnya anak itu dan ditawarinya untuk minum dawet pula. "Terima kasih, Kang," jawab Kinong sambil duduk di sebelah Paksi. "Kalau dua hari yang lalu Kakang datang ke pasar ini, maka Kakang akan melihat keributan lagi." "Keributan apa lagi?" bertanya Paksi. "Orang-orang yang itu juga?" "Bukan hanya orang-orang itu. Tetapi ada yang lain," penjual dawet itulah yang menjawab. "Apalagi yang mereka ributkan?" bertanya Paksi pula. "Aku tidak tahu. Tetapi mereka nampaknya sedang mencari sesuatu." "Mencari apa?" desak Paksi. "Mereka mengatakan bahwa semalam sebelumnya mereka telah melihat ndaru meluncur dari langit dan jatuh di sekitar tempat ini." "Tetapi kenapa mereka jadi bertengkar?" "Itulah yang terjadi. Perempuan aneh itu datang lagi. Kemudian datang pula dua orang yang garang. Tidak seorang pun yang tahu apa sebabnya mereka telah berselisih. Tetapi seorang perempuan yang dahulu berpakaian lurik coklat itu datang lagi dan membawa perempuan yang berpakaian asing itu pergi sebelum terjadi perselisihan yang semakin memburuk." "Mereka bertengkar memperebutkan ndaru itu," berkata Kinong. Paksi tertawa. Katanya, "Siapa yang dapat memperebutkan ndaru? Kenapa mereka tidak berebut dahulu menemukannya, seandainya ndaru itu berujud. Katakanlah sebuah bintang yang meluncur dan jatuh di bumi." Kinong menggeleng. Katanya, "Entahlah." Sementara penjual dawet itu berkata, "Kami orang-orang yang tinggal di sekitar tempat ini, tidak ada yang melihat sesuatu jatuh dari langit. Malam itu aku juga berada di sawah menunggui air yang mengalir ke kotak sawahku. Tetapi aku tidak melihat apa-apa. Sementara orang-orang asing itu ribut mempersoalkannya." Paksi mengangguk-angguk. Ia juga pernah melihat ndaru yang meluncur dan seakan-akan jatuh di sekitar tempat ini. Tetapi menurut Ki Marta Brewok ndaru itu bukan benda mawujud. Berbeda dengan gumpalan bintang yang meluncur jatuh dari langit yang memang pernah terjadi. Tetapi Paksi tidak mengatakan apa-apa. Namun yang kemudian diingat oleh Paksi bahwa dua hari yang lalu, ia sedang berada di dalam goa di belakang air terjun itu. Namun dalam pada itu, Kinongpun berkata, "Aku mendengar setelah perempuan asing itu pergi, orang-orang yang nampak garang seperti ayah itu menyebut-nyebut cincin bermata tiga butir batu akik." "O," Paksi menjadi tertarik mendengar ceritera Kinong. Tetapi ia menahan diri agar Kinong tidak justru segan untuk melanjutkan ceriteranya. "Orang-orang itu mengatakan bahwa yang meluncur dan disebut ndaru itu mungkin sebuah cincin yang bertuah." "Cincin meluncur dari langit?" Paksi tertawa. Tetapi wajah Kinong menjadi gelap. Katanya, "Aku hanya menirukan orang-orang itu." "O, ya," Paksi mengangguk angguk lagi. "Sudahlah," berkata Kinong, "aku akan mencari embokku." "Tunggu. Kau belum selesai dengan ceriteramu," berkata Paksi. "Aku mau membelikan kau dawet lagi." "Sudah. Ceriteraku sudah habis." Kinongpun segera bangkit dan berlari-lari meninggalkan Paksi. Anak itu melihat ibunya menggendong beban yang cukup berat dari seseorang yang sudah terbiasa mengupahnya. "Aku bantu, Mbok," berkata Kinong. Ibunya berpaling. Sambil tersenyum ia berkata, "Tidak usah Kinong. Tidak terlalu berat." Tetapi orang yang mengupahnya itu tersenyum pula kepada anak itu sambil berkata, "Nah, kau bawa saja kreneng ini." Kinong mengangguk. Dimasukkannya kreneng itu di dalam keranjangnya dan kemudian diusungnya di atas kepalanya. Paksi memandanginya dari kejauhan. Namun merekapun kemudian hilang di antara banyak orang. Penjual dawet itulah yang kemudian masih berceritera serba sedikit tentang orang-orang yang berselisih dan bahkan hampir saja terjadi perkelahian lagi. "Laki-laki itu memang berwajah garang," berkata penjual dawet itu. "Tetapi perempuanperempuan yang wajahnya nampak cantik dan mengenakan pakaian yang asing itu ternyata tidak kalah garangnya." "Menurut pendengaranku waktu itu, mereka datang dari sebuah perguruan yang disebut Perguruan Goa Lampin. Sedangkan laki-laki itu datang dari Perguruan Sad." "Ya. Perempuan asing itu memang datang dari Goa Lampin. Tetapi laki-laki yang berwajah garang itu bukan orang-orang dari Perguruan Sad sebagaimana yang terdahulu." "Mereka datang dari mana?" bertanya Paksi. Penjual dawet itu menggeleng. Katanya, "Aku tidak mendengar dengan jelas. Tetapi mereka memang menyebut sebuah perguruan." Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mendesak lagi. Jika ia tidak dapat mengekang diri maka penjual dawet itu dapat mencurigainya. Karena itu, maka Paksipun tidak bertanya lagi. Ketika hari menjadi semakin siang, maka Paksipun meninggalkan pasar itu setelah ia membeli beberapa beruk beras dan kebutuhan-kebutuhannya yang lain. Di rumah kecilnya, Paksi mulai melihat-lihat tanah yang terbentang di sekitarnya yang sudah digarapnya menjadi kebun yang menghasilkan jagung dan bahkan padi gaga. Pada pagar yang mengelilingi kebunnya, Paksi menanam kacang panjang yang batangnya merambat. Namun Paksi mulai menjadi khawatir, bahwa orang-orang yang berkeliaran di lingkungan itu untuk mencari ndaru, akan sampai ke rumah kecilnya. Tetapi Paksipun kemudian berkata kepada diri sendiri, "Biar saja mereka datang. Justru akulah yang akan pergi. Aku tidak akan dapat tinggal di sini untuk seterusnya." Meskipun demikian, Paksipun kemudian menyadari ketergantungannya kepada Ki Marta Brewok. Tetapi Paksi tidak menyesal. Ki Marta Brewok telah memberikan sesuatu yang sangat berharga baginya dan bagi masa depannya. Hari itu Paksi mulai lagi memanjat pohon-pohon kelapanya untuk mengambil legennya. Sudah beberapa hari ia tidak melakukannya, sehingga seakan-akan ia harus memulainya lagi. Di hari berikutnya Paksi sudah mulai dengan kehidupannya sehari-hari sebagaimana sebelum ia menjalani laku. Tetapi masih ada satu lagi kegiatan yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya. Seperti yang dikatakan oleh Ki Marta Brewok, bahwa di dalam goa di belakang air terjun itu terdapat sebuah ruangan yang agak luas, yang mendapat sinar dari lubang-lubang batu padas di atasnya. Ketika Ki Marta Brewok datang ke gubuknya di malam hari, maka Paksipun menyatakan keinginannya, bahwa esok ia akan memasuki goa itu lagi. "Lakukanlah," jawab Ki Marta Brewok. "Mungkin ada manfaatnya bagimu. Tetapi ingat, jangan ada orang lain yang sempat melihat kau memasuki goa itu." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Bukankah tempat ini jarang sekali atau bahkan tidak pernah dikunjungi orang?" "Tetapi akhir-akhir ini ada beberapa orang yang berkeliaran di sekitar tempat ini," berkata Ki Marta Brewok. "Mereka menyangka bahwa di daerah ini telah jatuh dari langit ujud yang mereka kenal dengan ndaru sebagaimana pernah kau lihat sebelumnya. Mereka menganggap bahwa ada hubungan antara ndaru itu dengan sebuah cincin bermata tiga butir batu akik sebagaimana pernah aku katakan kepadamu." "Apakah itu benar, Ki Marta Brewok?" Ki Marta Brewok itu tertawa. Katanya, "Cincin itu sebuah benda yang kecil. Sementara itu yang mereka lihat adalah benda langit yang meluncur." "Tetapi apakah ndaru itu termasuk benda langit yang jatuh? Bukankah Ki Marta juga membedakan antara benda langit yang jatuh dan sebuah ndaru yang bersinar kehijau-hijauan atau kebiru-biruan?" Ki Marta Brewok tertawa pula. Katanya, "Sudahlah. Yang penting berhati-hatilah. Aku kira kau juga tidak pernah menemukan cincin di sini. Padahal sebelum mereka datang, kau sudah ada di sini. Bahkan kau pernah melihat setahun yang lalu, ndaru yang meluncur dari langit dengan sinarnya yang menyilaukan itu, seakan-akan juga jatuh di sini." Paksi mengangguk-angguk. Sementara Ki Marta Brewok itu berkata, "Meskipun demikian, apakah kau merasa menemukan sesuatu yang lain kecuali sebuah cincin atau tidak?" Paksi termangu-mangu sejenak. Tetapi Ki Marta Brewok itu berkata, "Kau tidak usah sibuk memikirkannya sekarang. Yang penting, apakah nasimu sudah masak?" Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun telah bangkit dan melihat periuk yang masih berada di atas api yang sudah dikecilkannya. Malam itu, Ki Marta Brewok tidak membawa Paksi untuk melakukan latihan. Tetapi ia lebih banyak berceritera tentang sebuah perjalanan yang pernah ditempuhnya. Ki Marta Brewok menyebut beberapa tempat yang pernah dikunjungi. Ia berceritera tentang arah dan jalan yang dilaluinya serta kebiasaan serta adat orang-orang yang tinggal di daerah yang pernah dilewatinya itu. Paksi mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Ia sadar, bahwa Ki Marta Brewok sedang memberikan beberapa petunjuk kepadanya tentang sebuah pengembaraan. Karena itu, maka Paksi berusaha untuk mengingat-ingat semuanya itu dengan baik. Paksi memang memerlukan bekal bagi satu pengembaraan. Ketika ia meninggalkan rumahnya, sama sekali tidak terbayang apa yang harus dilakukannya dan apa yang bakal terjadi pada sebuah pengembaraan yang panjang dan bahkan seakan-akan tidak diketahui batas akhirnya. Namun tiba-tiba Ki Marta Brewok itu berkata, "Sudahlah. Aku harus pergi. Ada sesuatu yang memerlukan kehadiranku." Sebelum Paksi menjawab, Ki Marta Brewok itu sudah bangkit dan melangkah meninggalkan Paksi memasuki kegelapan. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian telah berbaring pula di dalam gubuk kecilnya di atas selembar ketepe yang dianyamnya dari lembaran-lembaran belarak kelapa. Di hari berikutnya, maka seperti yang sudah dikatakan kepada Ki Marta Brewok, Paksipun telah pergi ke goa di belakang air terjun itu. Mengingat pesan Ki Marta Brewok, maka Paksi memasuki goa itu sebelum matahari terbit, sehingga ia yakin, bahwa tidak seorang pun yang melihatnya. Tetapi Paksi harus menunggu sampai matahari memanjat tinggi di langit. Baru kemudian ia benar-benar melihat berkas-berkas cahaya matahari yang menyusup masuk ke dalam ruangan yang memang agak luas itu. Dengan demikian, maka ruangan itu menjadi lebih terang. Sehingga dengan demikian, maka Paksipun dapat melihat lekuk-lekuk dinding ruangan yang luas itu. Paksi menjadi berdebar-debar ketika ia melihat bagian dinding goa yang datar Paksi tidak mengerti, apakah dinding itu memang datar secara alami, atau dibuat oleh tangan seseorang. Tetapi pada dinding yang datar itu Paksi melihat lekuk-lekuk yang sangat menarik perhatiannya. Hampir di luar sadarnya Paksi menyentuh dinding itu. Namun debu yang tebalpun telah runtuh. Yang sangat menarik bagi Paksi kemudian bukannya debu yang runtuh itu. Tetapi di balik debu itu ia melihat goresan-goresan yang cukup dalam. Goresan-goresan yang nampaknya bukannya tanpa arti. Karena itu, maka Paksipun kemudian telah mencoba menghapus debu yang melekat pada dinding itu pada permukaan yang agak luas. Yang nampak kemudian ternyata sangat mengejutkannya. Ia melihat beberapa lukisan pada dinding goa itu. Lukisan yang menggambarkan sekelompok orang yang sedang berburu lembu liar. Namun ketika Paksi membersihkan permukaan yang lebih luas lagi, maka ia melihat lukisan beberapa orang yang sedang berkelahi. Paksi menjadi semakin berdebar-debar ketika kemudian ia melihat lukisan itu. Ia melihat unsurunsur gerak yang dikenalnya. Lukisan orang yang berkelahi itu meskipun nampaknya sekedar coretan-coretan, namun jelas bagi Paksi. Ia melihat bagaimana unsur-unsur gerak itu ditrapkan dalam benturan ilmu. Paksi menjadi semakin sibuk membersihkan debu itu. Bahkan kemudian ia telah melepas bajunya yang basah. Dengan bajunya itu Paksi membersihkan permukaan dinding itu semakin luas. Bahkan kemudian seluruh wajah dinding yang datar itu telah dibersihkannya, sehingga ia dapat melihat lukisan-lukisan yang terpahat di dinding itu semakin jelas. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Dengan melihat dan mengamati dengan sungguh-sungguh lukisan itu, maka seakan-akan Paksi melihat bagaimana unsur-unsur gerak yang telah dikuasainya itu ditrapkan dalam benturan ilmu yang sebenarnya. Sementara itu, matahari yang bergerak perlahan di langit telah mencapai puncaknya. Cahaya yang tegak meluncur langsung menggapai lantai ruangan yang agak luas itu. Untuk beberapa saat lamanya Paksi masih dapat melihat lukisan-lukisan di dinding itu dengan jelas. Dengan daya angannya yang sangat kuat, Paksi yang memperhatikan lukisan di dinding itu dengan seksama, seakan-akan telah melihat pertempuran yang sebenarnya terjadi. Seorang yang memiliki ilmu sebagaimana telah dikuasainya, bertempur melawan seorang yang juga berilmu tinggi. Paksi kemudian tidak lagi melihat lukisan yang patah-patah dari satu adegan ke adegan yang lain. Tetapi Paksi serasa melihat lukisan-lukisan itu menjadi hidup dan bergerak sebagaimana dirinya sendiri. Paksipun kemudian tenggelam ke dalam ketajaman daya angannya. Yang dilihatnya itu seakanakan telah terjadi pada dirinya. Paksi tidak tahu sudah berapa lama ia berada di ruang itu. Namun kemudian ia menyadari keadaannya ketika sinar matahari perlahan-lahan menjadi pudar. Namun Paksi memang sudah menjadi letih. Meskipun ia tidak bergerak dengan wadagnya, tetapi yang dilakukan oleh daya angannya itulah yang membuatnya letih. Karena itu, maka Paksipun kemudian telah menghentikan pengamatannya atas lukisan-lukisan itu. Namun ia sudah mendapat bekal yang akan dapat dipergunakan untuk melengkapi latihanlatihannya malam nanti. "Aku harus membicarakannya dengan Ki Marta Brewok," berkata Paksi kepada diri sendiri. Beberapa saat kemudian, maka Paksipun telah meninggalkan ruang yang sudah menjadi suram itu. Tetapi ketika ia berada di belakang air terjun, ia menjadi ragu. "Apakah tidak ada orang yang berada di sekitar tempat ini?" bertanya Paksi kepada diri sendiri. Namun Paksi memang yakin, bahwa ia tidak pernah melihat seseorang berada di sekitar tempat itu. Sebenarnyalah, ketika kemudian Paksi menembus air terjun itu, maka ia memang tidak melihat seorang pun berada di sekitar tempat itu. Juga panggraitanya tidak menyentuh getar seseorang. Di malam hari, ketika Ki Marta Brewok itu datang kepadanya, maka Paksipun segera menceriterakan apa yang dilihatnya di dalam goa itu. "Inilah salah satu ujud keberuntunganmu setelah kau melihat ndaru itu," berkata Ki Marta Brewok sambil tertawa. Paksi mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu apakah Ki Marta Brewok itu bersungguh-sungguh atau sekedar bergurau. Tetapi Paksi sendiri merasa bahwa ia memang menemukan keberuntungan di tempat itu. Justru karena ia bertemu dengan Ki Marta Brewok. Namun Ki Marta Brewokpun kemudian berkata, "Baiklah. Kita akan berlatih malam ini. Mudahmudahan kau dapat mencerna apa yang telah kau saksikan di dalam goa itu." Ketika kemudian Paksi melakukan latihan bersama Ki Marta Brewok, maka Paksi merasakan perkembangan dari ilmu yang telah dipelajarinya. Tenaga yang dapat diungkapkannya pun menjadi jauh lebih besar. Sementara ketahanan tubuhnya pun rasa-rasanya menjadi berlipat. Ketika keduanya kemudian selesai berlatih, maka Ki Marta Brewokpun berkata, "Aku bangga dengan kemajuan yang sudah kau capai, Paksi. Tetapi aku masih berharap kau berada di goa itu untuk beberapa hari lagi." "Baik, Ki Marta," jawab Paksi. "Bagus. Nah, sekarang, mana nasimu?" Demikianlah, maka hari-hari berikutnya Paksi selalu berada di dalam goa itu. Dengan demikian, maka untuk beberapa hari ia tidak turun ke padukuhan dan tidak pula pergi ke pasar. Namun kerjanya sehari-hari tidak dilewatkannya. Setiap pagi dan sore ia masih saja memanjat pohon kelapanya untuk mengambil legen, meskipun kadang-kadang ia hanya sempat melakukannya sekali dalam sehari. Namun jika Paksi tidak mengambil legennya dengan teratur pagi dan sore, maka hasilnya akan menyusut. Dari hari ke hari, penguasaan Paksi atas ilmunya benar-benar menjadi semakin matang. Di siang hari ia memperhatikan lukisan-lukisan yang ada di dinding, sementara di malam hari ia melakukan latihan yang lebih berat dengan Ki Marta Brewok. Di dalam goa Paksi melihat lukisan seorang yang harus bertempur melawan dua atau tiga orang. Bahkan lebih banyak lagi. Sedangkan di bagian lain, Paksi melihat lukisan dari orang-orang yang sedang berburu yang kadang-kadang ada yang terpaksa berkelahi melawan binatangbinatang buas buruannya. Namun semuanya itu ternyata mampu memperluas wawasan Paksi tentang olah kanuragan, khususnya tentang ilmu yang disadapnya. Ketika Paksi merasa bahwa ia sudah melihat dan mempelajari lukisan-lukisan yang ada di dinding goa itu seluruhnya, maka hal itu telah disampaikannya pula kepada Ki Marta Brewok. "Bagus, Paksi. Waktunya memang hampir tiba. Kau dapat melanjutkan usahamu untuk menemukan cincin itu. Tetapi sebaiknya kau tidak tergesa-gesa meninggalkan tempat ini. Justru orang lain berdatangan kemari." Paksi mengangguk-angguk sambil menjawab, "Baiklah, Ki Marta. Aku akan menunggu perkembangan keadaan di sini sebelum aku meninggalkan tempat ini." "Bagus," berkata Ki Marta Brewok. Namun katanya kemudian, "Tetapi selanjutnya aku tidak merasa perlu untuk datang setiap malam. Mungkin dua malam atau tiga malam sekali, jika aku ingin makan nasimu atau ketela pohonmu yang kau rebus dengan legen." Paksi mengangguk-angguk pula meskipun ia menjawab, "Tetapi bukankah Ki Marta Brewok tidak akan meninggalkan aku begitu saja?" Ki Marta Brewok tertawa. Katanya, "Kita masih terikat oleh sebuah perjanjian. Kau harus menemukan cincin itu dan kelak menyerahkan kepadaku di alun-alun Pajang. Bukankah dengan demikian aku tidak akan meninggalkanmu sebelum hutangmu itu lunas? Selama ini aku sudah memberimu bekal. Karena itu, kau tidak dapat begitu saja pergi tanpa imbalan apapun." Paksi tersenyum. Tetapi ia mengangguk sambil menjawab, "Baiklah, Ki Marta." Demikianlah, seperti yang dikatakan oleh Ki Marta Brewok, maka sejak malam itu, ia tidak lagi datang setiap malam. Tetapi dua atau tiga malam sekali. Sedangkan Paksi sudah mulai lagi turun ke padukuhan dan ke pasar. Meskipun demikian, dua hari atau tiga hari sekali, Paksi masih juga masuk ke dalam goa untuk lebih memahami lukisanlukisan yang terdapat di dalam dinding goa itu, sehingga tidak ada sebuah garispun yang luput dari pengamatannya. Dalam pada itu, ternyata sebagaimana dikatakan oleh Ki Marta Brewok, semakin banyak orang asing yang sering nampak berkeliaran di pasar itu. Paksi sendiri yang sudah sering berada di pasar itu, sudah tidak dianggap orang asing lagi. Ia mengenal semakin banyak orang yang terbiasa berada di pasar itu. Sedangkan Kinong menjadi semakin terbiasa pula berhubungan dengan Paksi. Bahkan dalam keadaan yang memaksa, Kinong pernah minta Paksi membelikan nasi tumpang, karena Kinong tidak dapat menahan lapar. "Aku tidak berani mengambil uang di dalam tabunganku," berkata Kinong. "Aku takut ayah melihatnya dan merampasnya, sehingga aku tidak akan dapat menyisakan sama sekali. Uang Embok benar-benar sudah habis." "Bagaimana dengan kakak perempuanmu?" bertanya Paksi. "Embok masih menyisakan sebuah ketela pohon yang akan dapat direbusnya setelah ayah pergi." Paksi mengangguk-angguk kecil. Katanya, "Makanlah. Bagaimana dengan embokmu?" "Embok sedang mengikat dan membawa barang-barang belanjaan. Mudah-mudahan embok mendapat uang yang dapat dibelikannya nasi atau apapun bagi embok sendiri." Paksi hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Meskipun Paksi mempunyai kepuasan tersendiri melihat Kinong makan, namun Paksi menyadari, bahwa masih banyak anak-anak yang mengalami kesulitan sebagaimana dialami Kinong, meskipun sebabnya tidak selalu sama. Kinong yang sedang makan nasi tumpang itu terkejut ketika ia mendengar suara ibunya memanggilnya. "Kau sedang apa, Kinong?" "Makan nasi tumpang, Mbok. Kakang Paksi membelikan nasi tumpang buatku." Ibu Kinong memandang Paksi dengan kerut di dahinya. Namun kemudian iapun berdesis, "Terima kasih, Ngger." "Apakah Bibi tidak makan sama sekali?" Paksi menawarkan. Perempuan itu tersenyum. Katanya, "Aku sedang mencari Kinong. Ia belum makan sama sekali sejak kemarin sore. Aku membawa uang jajan buatnya. Tetapi ternyata kau sudah berbaik hati, membelikan nasi buat Kinong." "Sudahlah," berkata Paksi. "Uang itu dapat Bibi belikan apa saja buat Bibi sendiri atau buat kakak perempuan Kinong." Mata perempuan itu berkaca-kaca. Tetapi ia tersenyum. Katanya, "Kau baik sekali, Ngger." "Ah sudahlah. Lupakan saja, Bibi," sahut Paksi. "Tetapi Angger tidak hanya sekali ini membelikan makanan dan jajan bagi Kinong." Paksi tersenyum. Katanya, "Kebetulan saja, Bibi." Kinong yang telah selesai makan itupun kemudian membuang pincuk daun kelapanya sambil berkata, "Terima kasih, Kakang. Aku sekarang sudah kenyang. Aku sudah dapat membantu Simbok." Paksi mengusap kepala anak itu sambil berdesis, "Bagus. Bantu embokmu." Kinongpun kemudian melangkah pergi bersama ibunya setelah berulang kali mengucapkan terima kasih. Namun di pasar itu, Paksi juga mendengar ceritera tentang orang-orang yang berkeliaran di pasar itu. Orang-orang asing yang sebelumnya tidak dikenal sama sekali. Penjual nasi tumpang itu menyatakan kecemasannya, bahwa kehadiran orang-orang itu akan dapat menimbulkan persoalan. "Mereka meributkan ndaru yang jatuh di sekitar tempat ini," berkata penjual nasi tumpang itu. Seperti penjual dawet, maka penjual nasi itupun mengatakan. "Sementara itu, tidak seorangpun di antara kita di sini yang melihat ndaru itu jatuh. Apalagi menemukannya." Paksi hanya mengangguk-angguk saja Sementara itu, selama Paksi duduk di sebelah penjual nasi tumpang itu, ia sudah melihat dua orang yang memang menarik perhatian lewat. Penjual nasi itu mengamatinya sambil berbisik, "Nah, kau lihat orang itu? Bukankah kita belum pernah melihat sebelumnya?" Paksi mengangguk-angguk. Kedua orang itu memang nampak garang dengan senjata di lambung. Namun Paksipun sempat bertanya, "Kenapa mereka berkeliaran di pasar ini? Apa mereka mengira bahwa ndaru itu jatuh di tengah-tengah pasar ini?" "Tentu tidak," jawab penjual nasi tumpang itu. "Tetapi itu pertanda bahwa mereka berkeliaran di sekitar tempat ini. Jika mereka pergi ke pasar itu karena mereka harus membeli makan atau makanan. Tetapi kami menjadi cemas, bahwa mereka akan berbuat sewenang-wenang. Sudah ada di antara mereka yang membayar tidak sewajarnya." "Maksudmu?" bertanya Paksi. "Ada di antara mereka yang hanya membayar separo dari harga yang seharusnya ketika mereka membeli minum dan makan di kedai itu." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Kehadiran orang-orang yang dianggap orang orang asing itu ternyata tidak memberikan penghasilan tambahan bagi orang-orang di sekitar tempat itu, tetapi justru merugikan mereka. Sementara itu mereka tidak berani berbuat apa-apa terhadap orangorang yang dianggap asing, tetapi yang pada umumnya orang-orang garang itu. Tetapi Paksi masih belum ingin melibatkan diri. Ia masih saja bersikap seperti biasanya. Meskipun demikian, di gubuk kecilnya Paksi masih saja merenungi orang-orang yang mencari ndaru di sekitar tempat itu. Bahkan mereka menghubungkannya dengan hilangnya cincin dari istana Pajang itu. Ketika kemudian malam turun, maka Paksipun telah membuat perapian seperti biasanya. Ia mulai menjerang air dan menanak nasi. Paksi masih mempunyai pepes ikan bader yang ditangkapnya kemarin di sungai. Nampaknya Paksi baru mujur, karena ia mendapat ikan lebih banyak dari biasanya. Namun ketika Paksi baru asik menunggui perapiannya, tiba-tiba saja ia terkejut. Telinganya yang tajam, yang sudah diasahnya dengan baik, telah mendengar desir langkah seseorang di belakang dinding gubuknya. Paksipun segera menduga bahwa seseorang telah datang mendekati gubuknya itu dan orang itu tentu bukan Ki Marta Brewok, karena Ki Marta Brewok tidak pernah berbuat demikian. Sebenarnyalah, sekali lagi Paksi terkejut. Tiba-tiba saja pintu rumahnya itu telah terbuka. Seseorang telah menghentakkannya dari luar. Ketika Paksi kemudian bangkit berdiri, maka dalam kegelapan di luar gubuknya yang tidak dapat digapai oleh sinar dlupaknya, seseorang berdiri bertolak pinggang. Ketajaman mata Paksi mampu melihat orang itu seutuhnya. Tetapi Paksi tidak dapat melihat wajah orang itu dengan jelas. "Siapa kau?" bertanya Paksi. Orang yang berdiri di luar pintu itu tertawa, "Jadi ada juga orang yang tinggal di sini. Agaknya bukan baru kemarin kau berada di sini, anak muda. Aku sudah melihat tanaman jagungmu, kacang panjangmu dan ketela pohon yang di pinggir hutan itu." "Ya," jawab Paksi. "Aku memang tinggal disini sejak lama." "Bagus. Jika demikian, kau tentu tahu, di mana ndaru itu jatuh." "Ndaru apa?" bertanya Paksi. "Aku sama sekali tidak melihat ndaru." "Jangan bohong. Ndaru itu meluncur dari langit dan jatuh di sekitar tempat ini." Paksi memandang orang itu dengan tajam. Dengan nada berat Paksi berkata, "Aku tidak melihat ndaru itu, Ki Sanak. Aku selalu berada di dalam gubukku ini. Seandainya ada ndaru turun di sekitar tempat ini, maka aku tentu tidak melihatnya." "Apakah kau sudah memungut ndaru itu? Aku tahu bahwa yang jatuh sebagai ndaru itu tentu cincin kerajaan yang hilang. Siapa yang memakai cincin itu akan dapat menurunkan seorang yang akan menguasai tanah ini. Apakah ia laki-laki atau perempuan." "Aku juga tidak tahu apa-apa tentang cincin kerajaan yang kau katakan itu. Selama aku tinggal di sini, aku hanya bergumul dengan lingkungan kecil ini." "Sudahlah. Jangan banyak bicara. Sekarang, serahkan cincin itu kepadaku." "Kenapa kau mengigau seperti itu?" "Ndaru itu adalah wahyu. Karena itu, dengan cara apapun juga ndaru itu harus aku miliki." "Ki Sanak. Aku tidak akan memperebutkan wahyu. Aku tidak percaya bahwa wahyu itu dapat diperebutkan seperti orang memperebutkan benda-benda mawujud." "Jadi, bagaimana menurut pendapatmu?" "Wahyu itu berhubungan erat dengan sikap, tingkah laku dan laku yang dijalaninya. Tetapi terakhir, kuasa Yang Maha Agung." "Tetapi itu tidak akan dapat datang dengan sendirinya. Seseorang harus berjuang untuk mendapatkannya." "Bukan dengan cara yang kau tempuh, Ki Sanak. Seolah-olah dalam sehari kau akan mendapatkannya. Bahkan mungkin merebut dari orang lain. Wahyu akan datang kepadamu bukan berdasarkan kerja sehari apapun yang kau kerjakan. Tetapi atas penilaian yang panjang dari sikap, tingkah laku dan laku yang dijalaninya." "Jadi aku harus bertapa di goa-goa atau bersamadi di lereng gunung seperti yang kau lakukan ini?" Paksi menggeleng. Katanya, "Tidak, Ki Sanak. Menurut guruku, bukan laku seperti itu. Tetapi laku yang kita jalani akan nampak pada sikap dan tingkah laku. Apa yang kita yakini dan apa yang kita lakukan sesuai dengan hubungan kita dengan Yang Maha Agung bagi sesama." "Jadi kenapa kau berada di sini? Kau tentu sedang bertapa pada saat-saat tertentu di goa goa yang ada di sekitar tempat ini. Kau tentu juga menjalani laku, menyiksa diri di sini. Dengan demikian kau mengharap bahwa ndaru itu akan jatuh kepadamu. Cincin itu akan kau ketemukan dan kau pakai sehingga kau akan dapat menurunkan penguasa di atas tanah ini." "Jika aku menjalani laku di sini, itu adalah laku yang sangat sempit dibanding dengan lingkup kehidupan. Menurut guruku, apa yang aku dapatkan dengan laku yang aku jalani ini tidak lebih dari sekedar bekal untuk menjalani laku yang lebih luas dalam garangnya arus kehidupan." "Jadi kau bermaksud mengatakan bahwa laku yang kau jalani di sini sekedar untuk mendapatkan ilmu yang kemudian harus kau amalkan?" "Ya," jawab Paksi. Orang itu tertawa berkepanjangan. Katanya, "Kau telah berbicara tentang hal-hal yang tidak kau ketahui sendiri. Sekarang, berikan cincin itu kepadaku. Kau akan selamat." "Jangan berpandangan picik tentang wahyu." "Tetapi aku tahu pasti apa yang aku lakukan. Sedangkan kau tidak. Apa yang kau katakan itu tidak lebih dari tangkapanmu yang dangkal terhadap ajaran-ajaran orang yang kau sebut gurumu itu. Kau masih harus mendalami maknanya, bukan sekedar permukaannya saja." Paksi mengerutkan dahinya. Orang itu tentu orang yang aneh. Jika ia menganggap bahwa tangkapannya atas ajaran gurunya terlalu dangkal, bagaimana mungkin ia sendiri berusaha untuk mencari wahyu dengan caranya. Mencari sebuah cincin yang dipercaya akan memberikan arti yang sangat tinggi kepada pemakainya. Bahkan orang yang memakainya akan dapat menurunkan penguasa di tanah ini. "Kenapa kau menjadi bingung?" orang itu tiba-tiba bertanya. "Sekarang berikan cincin itu. Seandainya cincin itu bukan ujud dari wahyu tertinggi, maka setidak-tidaknya aku akan mendapatkan sesuatu yang berarti bagi hidupku. Pada dasarnya ndaru itu akan memberikan keberuntungan padaku. Itu saja. Karena itu berikan cincin itu." "Sudahlah, Ki Sanak," berkata Paksi yang menjadi curiga terhadap sikap orang itu. "Apa maumu sebenarnya? Aku yakin bahwa kau tidak sedang sekedar mencari ndaru itu." "Jadi kau kira aku sedang mencari apa?" bertanya orang itu. "Justru itulah yang ingin aku tanyakan kepadamu." "Jangan banyak bicara lagi. Berikan cincin itu atau aku akan menghancurkan tatanan kehidupanmu di sini dan bahkan jika kau tetap berkeras kepala, aku akan membunuhmu. Nilai cincin itu jauh lebih berharga dari nyawamu." "Kau kira aku akan membiarkanmu melakukannya?" bertanya Paksi. "Setan kau," geram orang itu. "Jadi kau benar-benar tidak mau memberikannya?" "Tidak ada yang dapat aku berikan kepadamu." Tiba-tiba saja orang itu menggapai sepasang uger-uger pintu gubuk Paksi. Sambil mengguncang gubuk kecil itu ia berkata, "Kau tahu bahwa aku akan dapat merobohkan gubukmu ini dalam sekejap." Tetapi Paksi tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja ia lelah meloncat menyerang orang itu. Ia tidak ingin gubuknya roboh dan terbakar karena perapiannya. Orang itu terkejut. Dengan cepat ia meloncat surut, sementara Paksipun telah meloncat keluar gubuknya. Pertempuran tidak dapat dihindarkan lagi. Paksi yang marah itu telah menyerang dengan garangnya, sehingga orang itu berloncatan menghindar. Namun kemudian, orang itu menjadi mapan, sehingga dengan demikian, maka merekapun telah bertempur dengan sengitnya. Dengan keras orang itu membalas serangan Paksi dengan serangan pula. Beberapa kali orang itu sengaja tidak menghindar dari serangan-serangan Paksi. Tetapi dengan sengaja orang itu justru telah membentur serangan dengan serangan pula. Dengan demikian, baik orang itu maupun Paksi dapat menjajagi kekuatan lawan di samping menjajagi pula tingkat ilmu mereka. Demikianlah, maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Mereka berloncatan di atas lereng-lereng berbatu karang di kaki gunung itu. Semakin lama semakin cepat. Benturanbenturan pun menjadi semakin sering terjadi, sehingga jika benturan itu terjadi, maka keduanya beberapa kali terdorong surut. Paksi yang baru saja selesai menjalani laku, telah menunjukkan kemapanan ilmunya yang tinggi. Ternyata menghadapi orang yang mencari ndaru itu, Paksi mampu mengimbanginya. Meskipun orang itu meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Bahkan keduanyapun kemudian telah mengungkap tenaga dalam mereka masing-masing, sehingga dengan demikian, maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. "Demit kecil," geram orang itu. "Darimana kau mendapatkan ilmu itu he?" Paksi tidak menjawab. Tetapi anak muda itu justru bertempur semakin sengit.

Dalam pertempuran itu, Paksi justru seakan-akan mendapat kesempatan untuk mencoba kemampuannya. Apa yang telah diwarisinya dari gurunya yang terdahulu, kemudian yang dituangkan oleh Ki Marta Brewok, yang kemudian seakan-akan diuraikan dengan terperinci oleh lukisan-lukisan di dinding goa itu, telah dicoba untuk diuapkan dalam keadaan yang sesungguhnya.

Ternyata bahwa Paksi tidak mengecewakan. Ia mampu mengimbangi lawannya yang berilmu tinggi, yang kadang-kadang bergerak cepat seakan-akan tidak berjejak di atas tanah, namun kemudian sepasang kakinya seakan-akan menghunjam dan berakar di dalam bumi. Namun di setiap geraknya, telah menggetarkan udara di seputarnya. Orang itu seakan-akan tidak lagi bergerak berputar, meloncat atau melenting dengan cepat. Tetapi berdiri tegak dan hanya sekedar beringsut setapak-setapak. Namun apapun yang dilakukan oleh orang itu, Paksi masih mampu mengimbanginya. Bahkan ketika orang itu meningkatkan ilmunya, Paksi masih belum dapat dikuasainya. Dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin sengit. Berganti-ganti keduanya saling menyerang. Benturan-benturan kekuatan terjadi semakin sering, sehingga keduanya saling mendesak dan saling bertahan. Semakin lama mereka bertempur, Paksi menjadi semakin curiga terhadap lawannya. Meskipun kadang-kadang keduanya berdiri berhadapan, namun Paksi masih belum berhasil melihat wajah lawannya dengan jelas. Bahkan kemudian Paksi sempat menduga bahwa orang itu adalah Ki Marta Brewok sendiri yang ingin mengujinya. Tetapi Paksi tidak mau salah duga. Jika ia keliru dan mengira bahwa orang itu tidak bersungguh-sungguh, maka ia akan dapat terjerat dalam kesulitan. Karena itu, maka pertempuran itu menjadi semakin keras. Serangan-serangan mereka mulai menembus pertahanan lawan. Sehingga sekali-sekali seorang di antara mereka terdorong beberapa langkah surut. Bahkan ketika serangan Paksi tepat mengenai dada lawannya, maka orang itupun terhuyung-huyung sesaat. Namun paksi telah mengulangi serangannya dengan ayunan kaki mendatar sambil berputar. Kaki Paksi tepat mengenai lambung orang itu, sehingga orang itu benar kehilangan keseimbangannya dan jatuh berguling di tanah. Tetapi ketika paksi memburunya, maka dengan cepat orang itu meloncat bangkit. Demikian Paksi mengayunkan tangannya ke arah kening, maka orang itu sempat merendahkan diri. Kakinya justru terjulur menyamping menghantam bahu Paksi. Tubuh Paksi bagaikan diputar. Tetapi demikian lawannya mengulangi serangannya, Paksi justru menjatuhkan dirinya dan bergulir menjauh. Namun lawannya tidak melepaskannya. Dengan sigapnya ia meloncat memburu. Namun Paksi justru meluncur dengan cepat. Kakinya memutar tubuhnya, maka lawannya itupun jatuh terbanting di tanah. Tetapi sekejap kemudian, keduanya telah meloncat melenting berdiri. Keduanya telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun ternyata orang yang datang untuk mencari ndaru itu sudah kehilangan kesabaran. Dengan geram ia berkata, "Anak yang tidak tahu diri. Jika kau tetap keras kepala dan tidak mau menyerahkan ndaru itu kepadaku, maka kau akan menyesali nasibmu yang buruk. Kau akan mati dan terkubur di sini tanpa ditunggui oleh orang tuamu." Tetapi Paksi sama sekali tidak menjawab. Dipersiapkannya dirinya untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang lebih berat. Sebenarnyalah bahwa tidak terhenti sampai sekian. Mata Paksi yang menjadi setajam mata burung hantu di malam hari melihat lawannya itu mempersiapkan serangan dengan tataran ilmu yang semakin tinggi. Paksi telah mendapat tuntunan yang lengkap dari Ki Marta Brewok. Ia telah melihat dirinya sendiri pada puncak lakunya, mengetrapkan ilmu yang lebih tinggi dari sekedar kekuatan dan kemampuan kewadagan. Paksipun telah melihat, bagaimana ilmu seperti itu ditrapkan dalam pertempuran yang sebenarnya. Karena itu, ketika ia melihat lawannya mengatupkan telapak tangannya, maka Paksipun segera memusatkan nalar budinya, memasuki puncak kemampuannya sebagaimana pernah dilakukannya dalam samadinya. Paksi belum pernah mengetrapkan ilmunya dalam pertempuran yang sebenarnya. Tetapi ia tidak mau begitu saja dihancurkan oleh lawannya dalam benturan ilmu. Karena itu, apapun yang terjadi, Paksi berusaha untuk melindungi diri sebaik-baiknya. Paksipun kemudian melihat kedua telapak tangan lawannya itu bagaikan membara. Dalam gelap malam, nampak asap putih yang tipis mengepul dari antara kedua telapak tangan itu. Namun dalam pada itu, Paksipun segera menyilangkan kedua tangan di dadanya. Namun di saat terakhir, Paksi mengangkat kaki kirinya dan mengayunkannya sambil meloncat menyongsong serangan lawannya. Satu benturan ilmu dahsyat telah terjadi. Paksi terlempar beberapa langkah surut. Tubuhnya jatuh terbanting di tanah berbatu padas. Dadanya menjadi sesak seakan tertindih oleh batu hitam sebesar gubuknya itu. Sementara itu, kulitnya yang terluka oleh tajamnya batu-batu padas, terasa menjadi sangat pedih. Tetapi paksi masih memaksa dirinya untuk bangkit. Ia masih melihat lawannya yang juga terpental jatuh. Namun seperti Paksi orang itupun berusaha untuk bangkit dengan susah payah. Sejenak kemudian, maka kedua orang itu telah berdiri berhadapan pula. Tetapi keduanya seakan-akan sudah tidak mampu lagi berdiri tegak. Tenaga dan kekuatan mereka telah terkuras habis. Benturan yang terjadi seakan-akan membakar isi dada mereka, memusnahkan tenaga yang tersimpan di dalam diri mereka. "Kau anak iblis," geram orang itu. "Ternyata kali ini kau mampu mengimbangi ilmuku. Tetapi jangan tertawa lebih dahulu. Pada suatu saat aku akan datang untuk membunuhmu jika kau tidak mau memberikan ndaru itu kepadaku." Paksi tidak menjawab, nafasnya terengah-engah. Bahkan hampir saja ia tidak dapat bertahan untuk tetap berdiri. Tetapi Paksi tidak mau jatuh di hadapan lawannya. Ia harus tetap bersiap menghadapi segala kemungkinan dengan sisa-sisa tenaga yang ada padanya. Orang yang datang kepadanya, agar Paksi memberikan ndaru yang dianggapnya telah dimilikinya itu melangkah surut. Ternyata orang itupun nampaknya menjadi sangat lemah. Meskipun demikian, ia masih berkata lantang, "Tunggu. Dalam waktu dekat aku akan kembali." Namun kedua orang yang sudah hampir kehabisan tenaga itu terkejut. Tiba-tiba saja mereka mendengar suara orang tertawa. Tidak terlalu keras. Namun cukup menggetarkan udara malam di lereng gunung itu. Ketika keduanya berpaling, maka mereka melihat Ki Marta Brewok bergerak selangkah demi selangkah mendekati Paksi. Namun kemudian iapun berhenti sambil berkata kepada orang yang baru saja bertempur melawan Paksi, "Jadi kau ganggu anakku, he?" "Kau siapa?" bertanya orang itu. "Aku yang telah memelihara anak ini. Itulah agaknya hatiku selalu merasa berdebar-debar. Sebenarnya malam ini aku tidak berniat datang kemari. Tetapi ternyata kau di sini sekarang. Nah, jika kau memang seorang yang berilmu tinggi, kau jangan hanya berani mengganggu anak-anak. Sekarang, biarlah yang tua berhadapan dengan yang tua." Orang yang datang mencari ndaru itu mengumpat. Katanya, "Kau akan memanfaatkan saat aku kelelahan. Baiklah. Aku terima tantanganmu. Tetapi tidak sekarang." "Bagus. Tetapi jangan datang seperti seorang pencuri justru saat aku tidak ada di sini." "Bagaimana aku tahu bahwa kau ada di sini?" "Bertanyalah kepada anakku. Jika aku tidak ada, jangan mengganggu anak-anak. Biarlah ia bermain sesuai dengan caranya. Kita yang tua akan berhadapan dengan cara orang-orang tua." "Jangan menyesal jika aku datang pada kesempatan lain. Persoalan kita akan kita selesaikan dengan cara orang tua." "Sekarang pergilah sebelum aku menjadi semakin muak melihatmu. Jika tiba-tiba saja timbul keinginanku untuk membunuhmu, maka kau benar-benar akan mati." "Persetan kau," geram orang itu. Tetapi tertatih-tatih orang itu melangkah meninggalkan tempat itu. Demikian orang itu lenyap dalam kegelapan, maka Ki Marta Brewokpun telah mengajak Paksi masuk ke dalam biliknya. Paksi yang pernafasannya masih terasa sesak itu kemudian terduduk di atas ketepenya. Tenaganyapun bagaikan terkuras habis. "Atasi kesulitan di dalam dirimu, Paksi," berkata Ki Marta Brewok. Paksi tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian duduk tegak dengan menyilangkan kaki dan tangannya. Paksipun kemudian telah mengatur pernafasannya. Ki Marta Brewok membiarkan Paksi mengatasi kesulitan di dalam dirinya. Sementara itu Ki Marta Brewok justru menyurukkan kayu bakar pada perapian Paksi yang hampir padam untuk merebus air dan menanak nasi. Meskipun Paksi kemudian berhasil mengatasi kesulitan di dalam dirinya, namun ketahanan tubuhnya yang tinggi masih belum mampu mengatasi perasaan sakit dan nyeri di bagian-bagian tubuhnya. Bahkan di beberapa tempat nampak kulitnya memar kebiru-biruan. Keningnya terasa lebam dan tulang punggungnya terasa sakit. Selain nyeri-nyeri pada tulang dan dagingnya, maka luka-lukanyapun terasa pedih. Ketika ia terbanting jatuh, maka batu-batu padas telah menggores kulitnya yang tidak menjadi kebal. Menjelang fajar, Paksipun mengakhiri usahanya mengatasi kesulitan di dalam dirinya. Ketika ia kemudian bangkit, ia tidak melihat Ki Marta Brewok. Yang ada hanyalah sebuah mangkuk yang telah dipakainya untuk makan. Daun pembungkus pepesan ikan bader dan periuk nasi yang sudah diturunkan dari atas perapian. Apipun telah padam dan air yang sudah mendidih itu masih hangat. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia menggeliat, terasa tulang-tulangnya masih nyeri. Perlahan-lahan Paksi melangkah keluar gubuknya. Pintunya masih terbuka lebar sehingga angin malam yang berhembus di lereng gunung itu menyusup masuk Dlupak minyak kelapa di atas ajug-ajugnya masih menyala. Sinarnya seperti terayun dibuai angin. Paksi tertegun. Ternyata Ki Marta Brewok tidak pergi. Ia justru berbaring di atas batu di luar gubuknya. Ketika Ki Marta Brewok itu melihat Paksi melangkah keluar, maka iapun segera bangkit. Dengan nada dalam ia bertanya, "Bagaimana keadaanmu, Paksi?" Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Sudah menjadi semakin baik Ki Marta." "Bagus. Sebenarnya aku mempunyai keperluan lain malam ini. Tetapi aku harus menunggu, apakah kau berhasil mengatasi kesulitan di dalam dirimu." "Tetapi tulang-tulangku masih terasa nyeri, Ki Marta." Ki Marta Brewok itupun kemudian mengambil sebutir obat yang dibungkus dengan selembar kelaras daun pisang. "Setelah kau makan nasi, maka makanlah obat ini. Mudah-mudahan keadaanmu bertambah baik." "Terima kasih," desis Paksi sambil menerima obat itu. "Nah, sekarang aku akan pergi. Selanjutnya kau akan dapat mengatasi keadaanmu dengan baik. Orang itu tidak akan kembali dalam waktu dekat, karena ia juga mengalami kesulitan di dalam dirinya sebagaimana kau alami. Seandainya ia ingin datang lagi, maka ia akan datang setelah keadaanmu pulih kembali." Paksi mengangguk. Sementara itu Ki Marta Brewok berkata lebih lanjut, "Paksi, jika orang itu datang lagi, aku kira kau akan dapat mengatasinya. Jika kau mampu mengungkit lebih dalam tenaga yang tersimpan di dalam dirimu, maka kekuatan ilmumu akan menjadi semakin besar. Kau harus lebih memahami kekuatanmu yang berlandaskan pada pijakan bumi. Api yang mengalir dan menghangatkan darahmu. Udara yang berhembus di dalam dadamu dan air yang menggairahkan dan menyegarkan tubuh serta otakmu. Tetapi ingat, bahwa api, udara dan air bahkan bumi akan dapat melambungkan kemampuanmu, tetapi tanpa memahami wataknya dengan baik, maka dalam keseimbangan yang goyah, justru akan dapat menimbulkan malapetaka pada dirimu. Karena itu, setelah kau selesai menjalani laku, bukan berarti bahwa segala-galanya telah selesai. Masih banyak sekali yang harus kau kerjakan." Paksi mengangguk-angguk kecil. Dengan nada dalam iapun berkata, "Baiklah, Ki Marta. Aku akan mencobanya." Ki Marta Brewok itupun kemudian menengadahkan wajahnya. Cahaya merah menjadi semakin menyala di langit. Karena itu, maka katanya, "Sudahlah. Aku tidak ingin terlambat. Makanlah obat yang aku berikan itu setelah kau makan nasi. Tetapi aku masih ingin memperingatkanmu, kau tidak boleh lupa menelan obat penawar racun itu. Di sini ular berkeliaran tanpa mengenal waktu." Paksi tidak sempat menjawab. Ki Marta Brewok itupun kemudian bangkit dan melangkah meninggalkan Paksi yang berdiri termangu-mangu ditempatnya. Ia hanya dapat memandangi Ki Marta Brewok yang berjalan dengan cepat meninggalkannya. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia menduga, bahwa orang yang datang dan minta kepadanya agar ia memberikan ndaru yang disangkanya ada padanya itu adalah Ki Marta Brewok yang ingin menjajagi peningkatan ilmunya. Ternyata orang itu adalah orang lain. Meskipun demikian, Paksi masih saja dibayangi oleh perasaan aneh terhadap orang-orang yang tiba-tiba saja datang menyerangnya. Seakan-akan yang terjadi itu telah tersusun dalam satu perencanaan yang mapan. "Aku tidak boleh terjebak pada perasaan seperti itu," berkata Paksi kepada diri sendiri. "Jika aku kemudian terbuai dalam mimpi yang demikian, maka pada suatu saat aku akan benar-benar dihancurkan lawan sebelum aku sampai pada puncak perlawanan." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia kembali masuk ke dalam gubuknya. Dibenahinya mangkuk, periuk dan tenong kecilnya. Namun Paksi sendiri kemudian menyempatkan diri untuk makan serba sedikit, agar ia dapat menelan obat yang diberikan oleh Ki Marta Brewok. Baru kemudian, setelah ia minum obat, maka Paksi melakukan kewajibannya sehari-hari menjelang fajar. Ketika kemudian matahari terbit, Paksi sudah berada di sungai untuk mandi dan mencuci pakaiannya. Seonggok daun dilam telah disiapkannya untuk menyedapkan pakaiannya setelah dicuci bersih. Setelah minum obat yang diberikan oleh Ki Marta Brewok, tubuh Paksi terasa menjadi semakin segar. Perasaan nyeri pada tulang-tulangnya telah jauh menyusut. Tetapi Paksi masih harus mengobati luka-luka pada kulitnya yang tergores batu-batu padas. Setelah mandi, maka tubuh Paksi terasa menjadi segar. Sambil beristirahat, Paksi menunggui pakaiannya yang dijemurnya di belakang gubuk kecilnya. Namun Paksipun kemudian telah bangkit. Tiba-tiba saja ia telah teringat sesuatu. Diambilnya tongkat kayunya yang diberikan oleh pengemis ketika ia harus bertempur melawan orang-orang yang garang di sebuah kedai nasi. Sejenak Paksi merenungi tongkatnya itu. Namun kemudian, Paksipun mulai menimang-nimang tongkatnya. "Aku akan pergi ke goa itu," berkata Paksi tiba-tiba saja kepada diri sendiri. Sambil membawa tongkatnya Paksipun telah menuruni lereng, meloncati bebatuan dan batubatu padas, menuju ke mulut goa yang tersembunyi di balik air terjun. Ketika Paksi berada di dalam ruang yang cukup luas di dalam goa itu, maka matahari telah memanjat semakin tinggi. Sinarnya mulai menusuk lubang-lubang batu padas di atas goa itu, sehingga ruang yang cukup luas di dalam goa itu menjadi semakin terang. Seperti hari-hari yang telah lewat, paksi memperhatikan lukisan-lukisan yang terdapat di dinding itu dengan seksama, ia melihat beberapa macam senjata yang dipergunakan oleh orangorang yang nampak dalam lukisan itu, di antaranya adalah tongkat. Paksi semakin memperhatikan, bagaimana orang-orang itu memegang tongkat. Arah gerak tongkat dan bagaimana mereka menyerang dan menangkis dengan tongkat itu. Paksi memperhatikan lukisan itu dengan seksama. Di dalam lukisan itu, ia akan mendapat kesempatan untuk mempelajari penggunaan berbagai macam senjata. Meskipun yang paling menarik bagi Paksi di antara senjata-senjata itu adalah tongkat, namun Paksi juga tertarik untuk mempelajari penggunaan senjata yang lain. Dengan demikian, maka beberapa hari mendatang, Paksi masih akan datang lagi ke tempat itu. Sebagaimana dikatakan oleh Ki Marta Brewok, bahwa meskipun ia sudah selesai menjalani laku, tetapi masih banyak yang harus dikerjakannya. Tetapi di hari-hari mendatang, Paksi tidak berada di goa itu setiap hari. Paksi lebih banyak berlatih di sekitar gubuknya. Sehari ia mengamati lukisan-lukisan itu, dua tiga hari ia berlatih mempergunakannya. Meskipun Paksi tidak mempunyai lawan, namun ia mampu mewujudkannya di dalam ketajaman angan-angannya. Bahkan di malam hari, jika Ki Marta Brewok kebetulan datang ke gubuknya, ia tidak berkeberatan untuk membantu Paksi mematangkan latihan-latihan penggunaan senjata. "Kau harus mematangkan bersama-sama, Paksi," berkata Ki Marta Brewok. "Menggunakan senjata dan mengungkapkan ilmumu yang akan mempunyai kemampuan yang tidak kalah dahsyatnya dengan senjata di tanganmu. Tetapi pada suatu saat, kedua-duanya akan dapat luluh menyatu, sehingga senjata di tanganmu akan mampu memuat kekuatan ilmumu itu pula." Paksi mengangguk-angguk kecil. Ternyata memang masih sangat banyak yang harus dipelajarinya. Namun dalam pada itu, di sela-sela hari-hari latihan yang bahkan sekali-sekali dilakukan di dalam ruangan yang cukup luas di goa itu, Paksi masih sempat pergi ke pasar. Ia masih sempat berbincang dengan Kinong, dengan penjual dawet, penjual nasi tumpang dan beberapa orang yang kemudian dikenalnya dengan baik, Paksipun telah melihat pula beberapa orang yang dianggapnya asing selain orang-orang dari Perguruan Goa Lampin dan dari Perguruan Sad. Paksipun kadang-kadang juga melihat orang-orang itu berbuat sesuatu yang menyinggung perasaan dan bahkan merugikan beberapa orang yang berjualan di pasar itu. Tetapi Paksi masih menahan diri. Ia tidak mau segera terlibat karena hal itu akan menyibak keberadaannya di kaki gunung itu. Namun setiap kali ia berada di pasar itu, ia selalu teringat bagaimana perempuan berbaju coklat yang disebutnya sebagai pemimpin Perguruan Goa Lampin itu mampu mempengaruhi orang lain dengan pandangan matanya. Namun setiap kali ia juga teringat pesan Ki Marta Brewok, jangan pandangi matanya jika tidak ingin jatuh di bawah pengaruh sihirnya. Namun untuk beberapa lama, Paksi tidak melihat perempuan itu lagi. Tetapi ketika hal itu disampaikan kepada Ki Mana Brewok, maka Ki Marta Brewok telah berkata, "Kau sudah menjalani laku. Kau sudah menempa dirimu sendiri lahir dan batin. Karena itu, selama kau teguh akan sikap dan keyakinanmu, maka sihir itu tidak akan mempengaruhimu meskipun kau tatap mata perempuan itu. Tetapi kau tidak perlu memamerkannya dan bahkan dengan sengaja mencarinya untuk menunjukkan bahwa sihirnya tidak mampu menundukkan ketahanan kesadaranmu atas pribadimu." Paksi mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Marta Brewokpun berkata, "Duduklah. Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Paksipun kemudian duduk berhadapan dengan Ki Marta Brewok di dalam gubuk kecilnya. Ia melihat kesungguhan di wajah Ki Marta Brewok. Tetapi ia tidak pernah dapat memandang wajah itu dengan jelas. Sengaja atau tidak sengaja, wajah itu tentu terlindung di bawah bayang-bayang apapun. Bahkan Ki Marta Brewok lebih banyak duduk membelakangi lampu minyak yang cahayanya samar-samar. Tetapi satu hal yang dapat ditangkap oleh penglihatan Paksi, wajah orang yang wajahnya tertutup oleh brewok yang tebal itu adalah wajah yang cacat. Agaknya karena itulah, maka Ki Marta Brewok membiarkan jambang, kumis dan janggutnya tumbuh melingkari mulutnya serta menutup keningnya. Sementara itu, ikat kepalanyapun dipakainya terlalu rendah melekat di atas kupingnya. Dalam pada itu, maka Ki Marta Brewok itupun kemudian berkata, "Paksi. Kau sudah cukup lama berada di tempat ini. Menurut ingatanmu, apakah kau sudah genap setahun berada di sini?" Paksi mengangguk sambil menjawab, "Sudah Ki Marta. Bahkan sudah lebih dari setahun." "Jadi, berapakah umurmu sekarang?" bertanya Ki Marta Brewok itu pula. Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, "Ketika aku meninggalkan rumahku setahun yang lalu, umurku menginjak tujuh belas." "Jika demikian, umurmu sekarang sudah delapan belas." Paksi mengangguk. Katanya, "Ya. Umurku sudah delapan belas sekarang." "Kau sudah menjadi semakin dewasa, Paksi. Meskipun kau belum dewasa penuh, namun kau sudah harus dapat mendudukkan dirimu pada tiga landasan. Kau harus sudah benar-benar menyadari bahkan kau sudah waktunya untuk mandiri. Kemudian kau harus sudah dengan jernih dapat membedakan antara buruk dan baik. Selanjutnya, kau sudah harus mempertanggungjawabkan sikap dan tingkah lakumu. Baik kepada dirimu sendiri, kepada sesamamu dan kepada Yang Maha Agung." Paksi mengangguk-angguk. Sementara Ki Marta Brewok itupun berkata selanjutnya, "Paksi. Sudah tentu aku tidak akan selalu bersamamu, sebagaimana kau tidak akan dapat selamanya bergantung kepadaku. Aku merasa bahwa bekal yang aku berikan kepadamu sudah cukup. Selanjutnya segala sesuatunya tergantung kepada dirimu sendiri. Karena itu, untuk selanjutnya aku akan menjadi semakin jarang datang ke gubuk ini. Bahkan aku tidak dapat mengatakan, apakah aku masih sempat atau tidak. Karena itu, segala sesuatunya terserah kepadamu. Apakah kau masih merasa perlu untuk tinggal lebih lama lagi atau tidak. Mungkin sebulan dua bulan. Tetapi mungkin kau memandang perlu untuk tinggal lebih lama lagi. Segalanya terserah kepadamu. Kalau kau masih terikat oleh goa itu, lakukanlah. Mungkin masih ada yang dapat kau sadap pada dinding goa itu. Tetapi jika kau merasa perlu untuk meninggalkan tempat ini dan mencari cincin bermata tiga butir batu akik itu, lakukanlah." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih, Ki Marta. Namun perkenankan aku mohon. Sebenarnya sudah lama aku ingin menyampaikan permohonan ini." "Apa yang akan kau minta?" "Apakah aku diperkenankan menyebut Ki Marta sebagai guruku. Aku pernah berguru kepada seseorang. Tetapi karena aku harus pergi dari rumah dan meninggalkan keluargaku, maka hubunganku dengan guruku telah terputus. Tetapi aku masih tetap menganggapnya sebagai guruku. Jika Ki Marta berkenan, maka aku akan merasa mempunyai dua orang guru." Ki Marta Brewok tertawa. Katanya, "Itu terserah saja kepadamu. Tetapi rasa-rasanya jantungku seperti digelitik jika seseorang memanggilku guru. Karena itu, aku tidak berkeberatan jika kau menganggap aku sebagai gurumu. Tetapi panggil aku Ki Marta begitu saja." Paksi memandang Ki Marta Brewok sekilas. Katanya, "Aku mengucapkan terima kasih. Tetapi aku merasa lebih mantap jika aku diperkenankan memanggil guru." "Terserah saja kepadamu," berkata Ki Marta Brewok kemudian. "Tetapi jika kita tidak bertemu lagi, maka kau tidak akan mempunyai kesempatan menyebutku guru." "Bukankah aku harus datang ke alun-alun Pajang jika aku sudah menemukan cincin itu?" Ki Marta Brewok tertawa pula. Katanya, "Terserah saja kepadamu, aku tidak berkeberatan." "Terima kasih, Guru," berkata Paksi kemudian. "Tetapi jika aku boleh bertanya, ke mana guru akan pergi selanjutnya?" "Aku tidak dapat mengatakan kepadamu, Paksi. Tetapi aku masih mengemban berbagai tugas yang penting. Meskipun demikian, jika ada kesempatan aku masih akan berusaha menemuimu meskipun aku tidak tahu, kau pergi ke mana jika kau pada suatu saat meninggalkan tempat ini." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Aku memang masih akan mengembara. Mungkin untuk waktu yang masih panjang." "Hati-hatilah. Jangan sampai tersesat ke mulut Batara Kala yang selalu menganga menunggu mangsa. Padahal apapun akan ditelannya, terutama mereka yang memang sudah termasuk dalam kumpulan orang-orang yang mempunyai ciri tertentu." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Aku pernah mendengar dongeng itu." "Kau harus menerjemahkan dengan benar." Paksi mengangguk-angguk. "Nah, aku kira pekerjaan di sini sebagian besar sudah selesai. Karena itu, aku akan minta diri karena mungkin aku tidak akan kembali lagi kemari." "Kenapa sebagian besar, Guru." "Memang belum tuntas. Kau sendirilah yang akan menuntaskannya," jawab Ki Marta Brewok. "Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih. Semoga Yang Maha Agung selalu menyertai Guru." Ki Marta Brewok tersenyum. Katanya, "Kita akan selalu berdoa. Jika kita bersungguh-sungguh, maka doa kita akan didengar-Nya." Paksi mengangguk-angguk. Tetapi bagaimanapun juga, terasa jantungnya berdegup semakin cepat. Kepergian Ki Marta Brewok tentu akan membekas di dalam hatinya, meskipun di hari-hari terakhir Ki Marta Brewok sudah jarang-jarang mengunjunginya. Demikianlah Ki Marta Brewokpun telah minta diri sekali lagi. Ia benar-benar akan meninggalkan Paksi di gubuk kecilnya, jauh dari rumahnya, jauh dari sanak-kadangnya. Ketika Ki Marta Brewok menepuk bahu anak muda itu, terasa mata Paksi menjadi panas. Demikianlah, maka malam itu Ki Marta Brewok telah meninggalkan Paksi seorang diri. Paksi yang melepaskan kepergian Ki Marta Brewok itu di depan gubuknya, memandanginya sampai orang itu hilang dalam kegelapan. Sudah puluhan kali, bahkan ratusan kali ia memandangi punggung Ki Marta Brewok. Namun malam itu rasa-rasanya ia telah kehilangan orang yang dianggap sebagai gurunya. Dua kali Paksi terpisah dari guru yang membimbingnya. Tetapi sejenak kemudian, Paksi teringat pesan Ki Marta Brewok. Karena umurnya sudah delapan belas, maka ia harus sudah mendudukkan dirinya pada tiga alas. Di antaranya adalah kemandirian. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian Ki Marta Brewok hilang dari pandangan matanya menyusup ke dalam kegelapan, maka Paksipun masuk kembali ke dalam gubuk kecilnya. Paksi bahkan telah memadamkan lampu minyaknya. Kemudian berbaring di atas ketepenya di dalam gelap. Tetapi ternyata sampai dini hari Paksi tidak dapat tidur sama sekali. Ia sempat mengenang pertemuannya dengan orang yang mengaku bernama Marta Brewok itu. Waktu itu, lebih dari setahun yang lalu, seleret sinar seakan-akan jatuh dari langit. Dan Ki Marta Brewok itu menggiringnya untuk datang ke tempat terpencil itu. Di dini hari Paksi sudah bangun. Ia masih mempunyai sedikit waktu untuk menyalakan perapian. Sementara itu, Paksipun segera berbenah diri seperti kebiasaannya setiap hari. Ketika fajar menyingsing, Paksi telah memadamkan apinya. Air yang dijerangnya sudah mendidih. Sebelum pergi ke sungai, Paksi sempat meneguk minuman hangatnya. Nasinya masih utuh. Biasanya Ki Marta Brewok ikut makan bersamanya. Tetapi malam itu, Ki Marta Brewok datang hanya untuk minta diri. Hari yang kemudian terbentang di hadapannya terasa menjadi sepi. Meskipun sebelumnya, selama lebih dari setahun ia berada di tempat itu, Ki Marta Brewok belum pernah datang mengunjunginya di siang hari, namun Paksi masih berpengharapan, bahwa di malam hari, orang itu akan datang. Tetapi Paksipun kemudian menyadari, bahwa ia tidak dapat tenggelam dalam perasaan sepinya. Hari-hari yang bakal datang masih banyak yang harus dilakukannya. Karena itu, maka Paksi tidak ingin merenung terus-menerus. Ia harus menerima kepergian Ki Marta Brewok sebagai satu kenyataan yang tidak dapat diingkarinya. Karena itu, maka Paksipun segera mengambil bumbung legennya. Ia harus memanjat beberapa batang pohon kelapa. Ketika kemudian pekerjaannya di gubuk kecilnya sudah selesai, maka untuk mengisi waktunya Paksi telah turun ke dalam goa. Hari itu Paksi merasa malas untuk pergi ke pasar. Apalagi ia masih mempunyai garam cukup, sehingga ia masih belum memerlukannya. Ketika ia berada di dalam ruang yang cukup luas di dalam goa itu, maka ia telah merenungi lagi lukisan-lukisan yang ada di dinding goa yang datar itu. Tetapi semua garis telah dilihat dan dipelajarinya dengan saksama. Karena itu, maka Paksipun memiliki berbagai macam kemampuan mempergunakan beberapa jenis senjata dengan baik. Di rumahnya Paksi mempunyai sebilah parang yang dibelinya pada seorang pande besi. Parang yang biasanya dipergunakan untuk membelah kayu. Namun di tangan Paksi, parang itu telah dipergunakannya untuk mematangkan ilmu pedangnya. Dengan tongkat kayunya, Paksi juga berusaha untuk berlatih mempergunakan tombak pendek. Sementara itu, ia telah mempelajari pula mempergunakan berbagai macam senjata yang lain. Di antaranya Paksi juga memiliki ketrampilan mempergunakan cambuk dan cemeti. Untuk beberapa saat lamanya, Paksi berlatih seorang diri di dalam ruangan itu. Namun ketika keringatnya telah terperas dari tubuhnya, maka Paksipun menghentikan latihannya itu, sementara pakaiannya yang telah basah ketika ia menerobos air terjun, telah menjadi semakin basah pula oleh keringat. Di luar sadarnya, Paksipun telah duduk di tempat ia menjalani laku. Dicobanya mengingat lagi, apakah yang pernah terjadi pada dirinya. Ketika ketajaman angan-angannya membayangkan kembali apa yang dilakukannya, maka serasa ia mendapatkan sandaran baru pada inderanya. Ada kekuatan yang belum pernah diungkapkannya. Kekuatan yang khusus bekerja pada inderanya itu. Ketika Paksipun kemudian membuka matanya dan keluar dari dunia angan-angannya, maka dengan penuh kesadaran akan kemampuannya, maka Paksipun telah mengungkapkan kekuatan yang membuat inderanya menjadi semakin tajam. Dengan demikian, maka penglihatan Paksipun menjadi semakin tajam pula di dalam gelap di goa itu. Paksi seakan-akan melihat segalanya semakin jelas. Jauh lebih jelas dari sekedar ketajaman penglihatannya. Demikian pula Paksi mampu mendengar lebih jelas. Gemuruh air terjun. Namun juga siul burung-burung di luar goa itu. Gemerisik daun yang bergoyang disentuh angin pegunungan yang semilir lembut. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Anak muda itu sadar, bahwa ia telah mampu membangun Aji Sapta Pandulu dan Aji Sapta Pangrungu. Dengan demikian, maka Paksipun sadar pula, bahwa ia juga akan dapat membangunkan ilmunya untuk mempertajam inderanya yang lain jika diperlukannya. Setiap kali Paksi menyadari kelebihan yang ada di dalam dirinya, maka Paksi selalu merasa betapa ia berhutang budi kepada Ki Marta Brewok. Tetapi sejalan dengan itu, iapun selalu ingat akan pesan-pesannya, bahwa setiap yang dimiliki itu adalah kurnia. Apalagi kelebihan dari sesamanya. Karena itu maka iapun harus menempatkan dirinya di jalan yang dikehendakiNya. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Di dalam kegelapan ia menengadahkan wajahnya. di dalam hati Paksi memohon agar nalar budinya tidak terlepas dari kendali kesadaran diri akan keberadaannya, kelebihannya serta sangkan paraning dumadi, sehingga dapat tercermin pada sikap dan tingkah lakunya. Tiba-tiba saja terngiang di telinganya kata-kata orang yang datang untuk mencari ndaru itu, hubungan antara ilmu dan amal. Sejenak Paksi merenung. Namun kemudian Paksi itupun melangkah ke mulut goa. Sejenak kemudian Paksi sudah berada di gubuk kecilnya. Ia sudah berganti pakaian Pakaiannya yang basah sudah dicucinya. Ternyata hari-harinya kemudian terasa menjadi semakin sepi sejak Ki Marta Brewok menyatakan bahwa dirinya tidak akan datang lagi ke tempat itu. Bahkan Paksipun kemudian merasa, bahwa keberadaannya di tempat itu tidak lagi mengikatnya. Tetapi Paksi masih menunggu jagungnya menjadi tua. Rasa-rasanya ia akan mendapatkan kepuasan tersendiri untuk memetiknya, sementara padi gaga yang ditanamnya juga sudah mulai berbunga, sehingga ia merasa masih ada keterikatan dengan tempat itu. Di hari-hari mendatang, Paksi mengisi hari-harinya yang sepi dengan berkeliaran di pasar. Bercanda dengan Kinong, bergurau dengan penjual dawet dan sekali-sekali berbicara bersungguhsungguh dengan pande besi yang sedang membuat parang. Tetapi kegelisahan masih saja membayang di pasar itu. Ketika Paksi datang ke pasar agak siang, ia berpapasan dengan orang-orang yang dengan tergesa-gesa meninggalkan pasar. "Ada apa?" bertanya Paksi ketika ia bertemu dengan seorang yang sudah dikenalnya. "Keributan telah terjadi," jawab orang itu. "Pulang sajalah anak muda." Paksi termangu-mangu sejenak. Tetapi Paksi tidak segera berbalik arah. Ia masih saja melangkah ke arah pasar. Paksi itupun berhenti ketika ia bertemu Kinong dan ibunya berjalan tergesa-gesa pula. Bahkan Kinong yang digandeng ibunya itu berlari-lari kecil sambil menjinjing keranjang kecilnya. "Kinong, ada apa?" bertanya Paksi. Kinong memang berhenti. Ibunya juga berhenti. "Jangan pergi ke pasar, Ngger. Agaknya akan terjadi keributan lagi." Paksi mengerutkan dahinya, sementara Kinongpun berkata selanjutnya, "Ada dua orang berkuda yang datang ke pasar itu. Tetapi selain mereka telah ada pula dua orang yang sudah berada di sekitar tempat ini beberapa hari yang lalu. Orang yang sering makan tetapi tidak membayar penuh itu." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Biarlah aku ingin melihat apa yang akan terjadi." "Jangan, Ngger," cegah ibu Kinong. "Nanti kau akan terjerat dalam peristiwa yang tidak kau ketahui ujung pangkalnya. Bahkan mungkin kau akan cidera karenanya, sementara kau tidak mempunyai sangkut-paut dengan mereka." Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, "Aku akan melihat dari kejauhan. Aku tentu tidak akan berani mendekat." "Tetapi kau harus berhati-hati, Ngger. Sebenarnya kau tidak menuruti keinginantahumu itu. Yang terjadi nampaknya bukan sekedar main-main." "Terima kasih," desis Paksi. "Aku akan berhati-hati." Kinong dan ibunyapun kemudian meninggalkan Paksi yang termangu-mangu, mengikuti arus orang-orang yang menyingkir menjauhi pasar. Dengan hati-hati Paksi melangkah mendekati pasar yang sudah menjadi sepi. Bahkan para pande besipun telah meninggalkan perapian mereka. Meskipun beberapa orang laki-laki yang memiliki sedikit keberanian masih berada di pasar, tetapi mereka sudah membenahi dagangan mereka. Namun demikian, pada jarak yang agak jauh, beberapa orang juga masih menunggu. Mereka ingin melihat apa yang akan terjadi. Paksi mendekati seorang laki-laki yang berjongkok di belakang sebatang pohon, beberapa puluh langkah dari pintu gerbang pasar. Ketika Paksi kemudian berjongkok di sebelahnya, orang itu terkejut bukan buatan, sehingga terlonjak dan bergeser setapak. Orang itu menarik nafas dalam-dalam setelah ia melihat seorang anak muda berjongkok di sebelahnya. "Kau mengejutkan aku anak muda." "Maaf, Paman. Aku tidak berniat mengejutkan Paman. Tetapi aku ingin bertanya, apa yang terjadi?" "Lihat," desis orang itu. Paksi melihat bukan hanya dua orang berkuda, tetapi ampat orang berkuda mendekati regol pasar. Ampat orang yang berwajah garang. Menilik sikap dan pakaiannya, maka mereka adalah orang-orang yang mengembara di dunia olah kanuragan. "Siapakah mereka itu?" bertanya Paksi. "Aku tidak tahu. Tetapi seorang di pasar ini telah mendengar bahwa sekelompok orang akan datang mencari musuhnya yang berada di pasar ini." "Bagaimana ia dapat mendengarnya?" "Orang itu hanya mendengar seorang berkata kepada kawannya agar kawannya itu memanggil kawan-kawannya yang lain. Ketika hal ini tersebar, maka orang-orang seisi pasarpun telah meninggalkan pasar." "Paman tidak pergi?" bertanya Paksi. "Aku ingin membuktikan apa yang terjadi. Apakah ceritera itu benar atau orang yang sekedar ingin melihat kekisruhan terjadi di pasar ini." "Ternyata orang-orang itu benar-benar datang." "Ya. Orang-orang itu benar-benar datang. Tetapi yang dicarinya tentu sudah pergi." Baru saja mulut orang itu terdiam, tiba-tiba saja mereka mendengar suara seorang perempuan tertawa. Suaranya melengking tinggi. Sementara itu, dua orang perempuan yang berpakaian asing itu telah keluar dari sebuah kedai yang terletak tidak jauh dari pintu gerbang pasar itu. "Siapa yang kalian cari?" bertanya salah seorang dari kedua orang perempuan itu. Keempat orang berkuda itu termangu-mangu sejenak. Namun seorang di antara merekapun meloncat turun sambil menjawab, "Kalian perempuan-perempuan Goa Lampin?" "Ya," jawab salah seorang perempuan itu. "Siapakah di antara kalian yang telah melukai adikku?" "Bukan kami. Tetapi saudara kami. Bukankah kalian datang dari Alas Tegal Arang di pinggir Kali Praga?" "Ya." "Saudara kami telah melukainya karena adik seperguruanmu itu tidak mau mendengarkannya. Seharusnya adikmu tidak berkeliaran di tempat ini. Daerah ini tertutup bagi orang asing, karena daerah ini menjadi daerah perburuan kami. Meskipun demikian, kami tidak akan mengelakkan tanggung jawab. Meskipun yang melukai saudaramu itu bukan kami, tetapi kami akan mempertanggungjawabkannya." "Bagus," berkata orang yang telah turun dari kudanya. "Kami ingin orang yang melukai adik seperguruanku itu menyerahkan diri. Kami akan membawanya ke hutan Tegal Arang di pinggir Kali Praga." Kedua orang perempuan itu tertawa. Seorang di antara mereka berkata, "Kau kira kami gila? Kau kira kami tidak tahu apa yang akan terjadi jika salah seorang di antara kami berada di lingkunganmu?" "Bukankah kau katakan bahwa kalian akan bertanggung jawab?" "Maksudku, kami akan bertanggung jawab jika kalian menuntut. Seharusnya kalian berterima kasih karena saudaraku itu tidak membunuh adikmu. Seandainya wajah adikmu tidak terlalu kotor, mungkin adikmu akan mendapat kehormatan menjadi penghuni Goa Lampin bersama beberapa orang laki-laki tampan yang lain." Orang yang sudah turun dari kudanya itu tersinggung. Katanya, "Kami adalah laki-laki yang mempunyai harga diri. Kami sudah tahu apa yang dilakukan oleh perempuan-perempuan Goa Lampin. Sebenarnya kami lebih senang menjauhi kalian, bahkan lebih baik bahwa seumur hidup kami tidak bertemu dengan perempuan Goa Lampin. Namun kali ini kami ingin membalas sakit hati adikku itu." "Jangan sesali. Jika adikmu mau mendengar peringatan kami, maka tidak akan terjadi bencana itu." "Kalian tidak berhak mengusir adikku dari tempat ini. Apa hakmu menyebut daerah ini sebagai daerah perburuan. Aku tahu, yang kalian maksud tentu perburuan atas ndaru yang jatuh di tempat ini, yang mungkin sekali adalah cincin yang hilang itu, karena sinar ndaru itu memang agak berbeda dari ndaru yang lain. Ada tiga pancaran sinar yang nampak, sehingga orang menduga bahwa tiga sinar itu mengisyaratkan tiga butir mata batu akik." "Ya. Kami adalah orang yang pertama datang ke tempat ini." "Omong kosong. Kau kira daerah ini sama sekali tidak berpenghuni atau kau kira bahwa tidak ada orang lain yang sedang melakukan samadi di sekitar tempat ini termasuk adikku itu?" Tetapi perempuan itu tertawa. Katanya, "Jangan mengigau. Berterima kasihlah bahwa adikmu hanya menjadi cacat. Tidak mati. Itu sudah cukup." Sementara itu seorang lagi dari orang-orang berkuda itu meloncat turun. Dengan geram orang itu berkata, "Kita tidak perlu terlalu banyak bicara. Kita minta yang melukai saudara kita itu untuk menyerah. Jika tidak maka mereka berdua akan kita bawa." Kedua perempuan itu tertawa. Seorang di antara mereka berkata, "Kalian berempat. Karena itu, jangan hanya membawa dua orang. Aku masih mempunyai dua orang kawan lagi, sehingga kita masing-masing berempat." Laki-laki yang turun kemudian dari kudanya itu menggeram. Katanya, "Cukup. Panggil semua kawan-kawanmu. Semakin banyak semakin baik. Kalian akan berguna di perguruan kami." Salah seorang dari kedua orang perempuan itu meletakkan jari-jarinya di mulutnya. Kemudian terdengar suitan nyaring. Getarannya merambat sampai ke telinga dua orang kawannya yang berada di sebuah kedai yang lain. Beberapa saat kemudian, maka kedua orang perempuan dengan ciri-ciri pakaian yang serupa, ikat kepala hitam dengan pertanda merah, telah keluar dari kedai itu dan melangkah mendekati kedua kawannya yang telah lebih dahulu berhadapan dengan orang-orang berkuda itu. Demikian kedua orang perempuan itu mendekat, maka dua orang penunggang kuda yang lainpun telah meloncat turun pula. Mereka kemudian mengikat kuda-kuda mereka pada sebatang pohon waru yang tumbuh di seberang jalan. "Mereka juga berempat," desis salah seorang dari orang-orang berkuda itu. "Kita hanya membutuhkan orang yang melukai saudara kita," geram orang yang tertua di antara mereka. Tetapi perempuan-perempuan itu sama sekali tidak menjadi gentar. Bahkan seorang di antara mereka yang baru saja keluar dari kedai itu berkata, "Inikah mereka yang sedang mencari saudara kita?" "Ya," jawab kawannya. Perempuan itu meredupkan matanya. Kemudian katanya, "Urungkan saja niatmu. Jika kalian tidak meninggalkan tempat ini dengan segera, maka kalian pun akan menjadi cacat seumur hidup atau bahkan mati di sini." Paksi yang menyaksikan pembicaraan itu menarik nafas panjang. Ternyata perempuanperempuan dari Goa Lampin itu benar-benar perempuan yang garang. "Berapa orang kekuatan perempuan-perempuan dari Perguruan Goa Lampin itu?" bertanya Paksi di dalam dirinya. Laki-laki tertua di antara keempat orang berkuda itu berkata, "Sebenarnya kami tidak ingin bermusuhan dengan Perguruan Goa Lampin. Tetapi kamipun tidak dapat membiarkan saudara kami mengalami nasib buruk tanpa menuntut balas." Perempuan-perempuan itu tertawa. Suaranya melengking-lengking tinggi. Tiba-tiba saja tengkuk Paksi terasa meremang. Suara tertawa perempuan-perempuan dari Perguruan Goa Lampin itu terdengar seperti ringkik hantu perempuan yang bangkit dari balik kubur. Namun kedua belah pihakpun telah bersiap. Mereka mulai memencar. Seorang akan bertempur melawan seorang. Sejenak kemudian, maka kedua belah pihak telah mulai bergeser. Nampaknya kedua belah tidak ingin kehilangan kesempatan. Karena itu, maka orang-orang yang terlibat dalam pertempuran itu telah menggenggam senjata mereka masing-masing. Keempat orang perempuan dari Perguruan Goa Lampin itu telah memegang pedang mereka masing-masing. Sementara itu, dua di antara orang-orang berkuda itu bersenjata golok yang besar dan panjang, seorang bersenjata kapak dan seorang lagi bersenjata bindi yang bergerigi seperti buah blimbing lingir. Perempuan-perempuan dari Perguruan Goa Lampin itu sama sekali tidak bergetar melihat jenisjenis senjata yang khusus itu. Seorang perempuan yang bertubuh tinggi tegap sengaja menghadapi orang yang bersenjata kapak itu sambil berkata, "Senjatamu bagus, Ki Sanak. Mungkin kau memang seorang blandong kayu yang setiap hari bergaul dengan kapak." "Ya," jawab orang yang bersenjata kapak itu, "aku memang seorang blandong kayu. Tetapi aku sanggup untuk membelah bukan saja balok-balok kayu. Tetapi tubuh orang-orang yang telah menghina aku atau perguruanku." Perempuan yang bertubuh tinggi tegap itu tertawa. Katanya, "Sudahlah, jangan membual. Bersiaplah. Kalian akan mengalami nasib yang sama seperti saudaramu itu. Bahkan siapapun yang berani mengganggu tugas kami di sini mencari cincin pusaka yang hilang itu, akan kami singkirkan." "Tidak seorangpun yang pantas mendapat hak seperti itu. Jika kau sedang mencarinya, lakukanlah. Tetapi biarlah orang lain juga melakukan." "Tidak. Aku peringatkan sekali lagi. Tidak ada orang lain yang dapat melakukannya di sini." Laki-laki yang lain ternyata tidak sabar lagi. Dengan geram seorang berkata, "Kita akan menyelesaikan mereka secepatnya." Perempuan-perempuan itu tertawa. Namun suara tertawa merekapun segera terputus ketika seorang di antara laki-laki berkuda itu mulai memutar senjata dan bergeser maju. Bahkan seorang yang lain telah menjulurkan senjatanya pula menggapai tubuh perempuan yang sangat menjengkelkannya itu. Tetapi perempuan-perempuan dari Goa Lampin itupun dengan cepat mengelak. Bahkan merekapun segera bergeser saling menjauh. Dengan demikian, maka sejenak kemudian, pertempuranpun telah terjadi antara orang-orang dari Perguruan Goa Lampin dan orang-orang yang datang dari Alas Tegal Arang. Paksi yang menyaksikan pertempuran itu dari jarak yang agak jauh menjadi berdebar-debar. Ternyata orang-orang dari berbagai perguruan telah terlibat dalam usaha pencarian cincin yang bermata tiga butir batu akik itu. "Semakin lama tentu akan menjadi semakin banyak," berkata Paksi di dalam hatinya. Namun Paksi justru yakin, bahwa cincin itu tidak akan jatuh dari langit. Seandainya cincin itu ada di sekitar tempat itu, keberadaannya tentu bukan bersamaan dengan jatuhnya ndaru yang dilihat oleh beberapa orang itu. Bahkan ada yang mengatakan bahwa ndaru itu bercahaya dalam tiga warna. Namun benturan-benturan itu telah benar-benar terjadi. Orang yang berjongkok di samping Paksi menyaksikan pertempuran itu dengan tubuh gemetar. Bahkan kemudian iapun beringsut sambil berkata perlahan, "Aku akan pergi saja. Aku takut." Paksi tidak dapat menghalanginya jika orang itu memang takut melihat pertempuran yang menjadi semakin sengit. Senjatapun mulai beradu. Bunga apipun telah memercik di setiap benturan senjata yang terjadi. Namun ternyata masih juga ada beberapa orang yang bertahan untuk menyaksikan pertempuran itu. Paksipun kemudian memperhatikan orang-orang yang bertempur itu dengan saksama. Namun ternyata Paksi yang mampu menilai ilmu dari orang-orang yang bertempur itu masih dapat menengadahkan dadanya. Paksi masih meyakini, bahwa ilmu dan kemampuannya masih jauh lebih tinggi dari orang-orang Goa Lampin maupun dari Alas Tegal Arang. Namun Paksipun menyadari, bahwa ia tidak boleh menyombongkan dirinya. Karena betapapun tinggi ilmu seseorang, tetapi orang itu tentu masih mempunyai kelemahan. Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak telah meningkatkan kemampuan mereka sampai ke puncak. Namun beberapa saat kemudian, maka Paksipun melihat bahwa orang-orang dari Alas Tegal Arang itu memiliki kekuatan yang pada dasarnya lebih besar dari orang-orang Goa Lampin. Karena itu, maka perlahan-lahan orang-orang Goa Lampinpun mulai terdesak. Meskipun mereka mampu bergerak cepat, namun ternyata sulit bagi mereka untuk mengatasi kemampuan orang-orang dari Alas Tegal Arang. Orang dari Alas Tegal Arang di pinggir Kali Praga yang bersenjata kapak itupun telah mendesak lawannya pula. Sulit bagi lawannya untuk menahan ayunan kapak yang besar itu. Jika perempuan dari Goa Lampin itu mencoba membentur ayunan kapak lawannya, maka ia harus mengerahkan tenaganya untuk menahan agar senjatanya tidak terlepas. Kawan-kawannya yang lainpun harus mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan mereka untuk menahan arus serangan lawannya. Paksi yang menyaksikan pertempuran itu mengerutkan dahinya. Orang-orang dari Alas Tegal Arang itu semakin mendesak lawannya. Bahkan tiba-tiba saja seorang di antara perempuan dari Perguruan Goa Lampin itu menjerit. Namun kemudian perempuan itu berteriak marah, "Aku bunuh kau." Ternyata senjata lawannya mampu menggapai kulitnya, sehingga segores luka telah menganga di lengannya. Namun justru karena darah telah mulai menitik dari lukanya, maka lawannya berusaha untuk semakin menekannya. Ternyata orang-orang Goa Lampin itu semakin mengalami kesulitan. Sementara itu, Paksi yang menyaksikan pertempuran itu dari kejauhan menduga, bahwa dalam keadaan yang rumit, perempuan yang pernah dilihatnya dengan mengenakan baju coklat itu akan datang lagi menolong murid-muridnya. Tetapi Paksi salah duga. Dalam keadaan yang sulit, salah seorang perempuan dari Goa Lampin itu telah membunyikan isyarat. Suitan nyaring telah terdengar lagi dengan irama yang berbeda. Namun dalam pada itu, seorang lagi dari antara mereka telah berteriak kesakitan. Namun kemudian mengumpat kasar meskipun ia seorang perempuan. Ternyata ujung senjata lawannya telah menyentuh pundaknya. Tetapi lawannya tidak membiarkannya mengambil jarak. Ketika perempuan itu meloncat menjauh, lawannya telah memburunya. Sekali lagi senjatanya terjulur lurus menggapai lambung. Perempuan itu terdorong surut. Darah mengalir dengan derasnya dari luka di lambungnya. Sementara itu, lawannya menjadi semakin garang. Sambil menggeram ia siap untuk meloncat dengan senjata terayun. Namun orang itulah yang kemudian berteriak. Sebuah pisau belati tiba-tiba saja telah menancap di punggungnya. Orang itu masih sempat berpaling. Dilihatnya seorang perempuan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Orang yang di punggungnya tertancap pisau belati itu masih sempat mengumpat, "Pengecut kau. Kenapa kau serang aku dari belakang? Apakah kau tidak berani bertempur berhadapan?" Tetapi perempuan yang melempar pisau belati itu tertawa. Ia masih menggenggam sebilah pisau lagi di tangan kirinya. Namun pisau itu tidak dilemparkannya. Laki-laki dari Alas Tegal Arang yang sudah terluka itu tidak lagi dapat berbicara lagi. Lawannya, perempuan yang sudah dilukainya, justru dengan dendam yang membara telah mengayunkan senjatanya dengan sisa tenaganya menebas lambung. Laki-laki yang sudah terluka itu berteriak. Kemarahan dan dendam meledak di dadanya. Tetapi ia tidak dapat berbuat banyak. Tubuhnyapun kemudian terhuyung-huyung sejenak. Perempuan yang melemparkan pisau belati itu tertawa semakin keras. Ia menyaksikan orang Alas Tegal Arang itu jatuh tersungkur dan sama sekali tidak bergerak lagi. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Dengan menyaksikan pertempuran itu ia dapat mengenali watak perempuan-perempuan dari Goa Lampin lebih banyak lagi. Ternyata mereka sangat licik di medan. Dalam pada itu, beberapa orang perempuan dari Goa Lampin telah muncul. Ternyata mereka tidak hanya berempat. Tetapi agaknya mereka ingin menjajagi kemampuan orang-orang Alas Tegal Arang, sehingga mereka telah turun ke medan, seorang melawan seorang. Tetapi dalam keadaan yang terdesak, maka hadirlah cara-cara yang terbiasa mereka lakukan. Tiga orang dari Alas Tegal Arang harus melihat kenyataan itu. Karena itu, maka seorang di antaranya telah memberikan isyarat, sehingga ketiga orang itu berusaha untuk meninggalkan arena. Mereka tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa lawan mereka yang menjadi terlalu banyak itu tidak dapat mereka imbangi lagi. Sejenak kemudian, maka ketiga orang dari Alas Tegal Arang itu berusaha untuk melarikan diri dari pertempuran. Orang-orang dari Goa Lampin itu memang berusaha untuk mengejar mereka. Tetapi ketiga orang itu berlari demikian cepatnya meninggalkan arena. Dengan tangkasnya mereka meloncat ke punggung kuda mereka yang tertambat pada pohon waru. Namun dengan satu hentakkan, maka tambang yang memang tidak terlalu kuat itu telah terlepas. Sejenak kemudian maka tiga orang penunggang kuda itu memacu kudanya meninggalkan pasar itu. Tetapi seorang perempuan dari Goa Lampin yang sudah hampir berhasil memburu seorang di antara ketiga orang itu tidak melepaskannya begitu saja. Demikian kuda itu berlari, perempuan dari Goa Lampin itu telah melemparkan pisaunya. Pisau itu tidak menancap di punggung orang berkuda itu. Tetapi pisau itu sempat menggores pundaknya. Laki-laki di punggung kuda itu mengumpat. Namun ia tidak berhenti. Dipacunya kudanya semakin cepat. Sejenak kemudian, pertempuranpun sudah selesai. Perempuan-perempuan dari Goa Lampin yang jumlahnya ternyata tujuh orang itu telah berkumpul. Tiga orang di antara mereka terluka. Seorang mengalami luka yang agak parah. "Kita tidak akan tinggal diam," berkata salah seorang dari mereka. "Guru akan menentukan, apa yang harus kita lakukan kemudian menghadapi orang-orang dari Alas Tegal Arang." "Marilah kita kembali ke penginapan," desis yang lain. Beberapa di antara mereka sempat berpaling memandang tubuh orang Alas Tegal Arang yang terkapar di tanah. Namun seorang dari mereka berkata, "Jangan hiraukan tubuh itu. Biarlah orang-orang pasar itu mengurusnya." Sejenak kemudian, maka perempuan-perempuan itupun telah meninggalkan pasar itu. Beberapa saat kemudian, pasar itu benar-benar menjadi sepi. Beberapa orang yang melihat pertempuran itu dari kejauhan masih tetap bersembunyi di tempatnya. Belum seorangpun yang berani keluar dari persembunyiannya. Paksipun masih berada di belakang pohon. Sebenarnya Paksi ingin segera mendekati bekas arena pertempuran itu. Tetapi ia tidak ingin menarik perhatian banyak orang. Baru kemudian, ketika sudah ada satu dua orang yang keluar dari persembunyian mereka, Paksipun telah keluar pula dan melangkah mendekat. Beberapa orang mengerumuni tubuh yang terbujur diam. Darah mengalir membasah tanah di seputarnya. Ketika seorang akan menyentuhnya, seorang yang lain berkata, "Nanti kawan-kawannya menyangka, kita yang melakukannya." "Tentu tidak," jawab yang lain. "Kawan-kawannya mengetahui dengan pasti, siapakah yang telah membunuhnya. Kita akan menguburkannya meskipun kita tidak mengenal orang ini sebelumnya." "Ya," sahut yang lain lagi. "Kita tidak dapat membiarkannya terbujur di situ." Beberapa orangpun kemudian telah menghubungi orang-orang yang tinggal di sekitar pasar itu. Merekapun kemudian sepakat membawa tubuh itu akan dikubur di sebuah kuburan yang terletak di ujung padukuhan. "Kita akan menyelenggarakan dengan sewajarnya," berkata seorang bebahu padukuhan itu. Namun dalam pada itu, paksi sendiri diam-diam sibuk mencari sesuatu yang dapat memberikan arti padanya. Ketika ia menemukan sebuah pisau belati yang menggores salah seorang dari orangorang berkuda itu, maka dengan diam-diam pisau itu disembunyikannya di bawah bajunya. Beberapa saat kemudian, maka tubuh salah seorang korban dari pertempuran itupun telah diusung dibawa ke banjar sebelum dikuburkan secara wajar. Ketika Paksi kemudian beringsut meninggalkan pasar itu, maka ia masih melihat dua orang yang dikenalnya dari Perguruan Sad. Mereka mengenakan ciri-ciri mereka sebagaimana pernah dilihat oleh Paksi sebelumnya. Tetapi kedua orang itu tidak berbuat sesuatu. Bahkan ketika keduanya lewat di sebelah Paksi yang berdiri termangu-mangu, Paksi mendengar salah seorang dari mereka berdesis, "Perempuanperempuan dari Perguruan Goa Lampin itu memang keterlaluan. Mereka merasa terlalu kuat, sehingga mereka berbuat sesuka hati mereka tanpa menghormati perguruan-perguruan yang lain." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya orang-orang dari Perguruan Sad juga menganggap orang-orang dari Perguruan Goa Lampin itu berbuat tanpa menghiraukan dan apalagi menghormati kehadiran perguruan yang lain. Bahkan sejak semula sudah menunjukkan sikap bermusuhan. Tetapi Paksi tidak menunggui perkembangan keadaan di pasar itu lebih jauh. Menurut pendapatnya tidak ada lagi yang penting yang bakal terjadi. Sehingga karena itu, maka Paksi itupun segera meninggalkan pasar itu dan kembali ke gubuk kecilnya. Di gubuknya Paksi sempat merenungi pisau belati yang dibawanya itu. Pada daun pisau itu masih nampak membekas darah yang sudah mengering. Ternyata pada senjata orang-orang dari Goa Lampinpun tidak terdapat ciri-ciri perguruan itu. Tidak ada lingkaran yang dibelah dengan garis tegak berwarna merah. Tetapi Paksi memakluminya. Jika sesuatu terjadi sehingga senjata itu diketemukan oleh orang lain, maka mereka tidak segera menghubungkannya dengan Perguruan Goa Lampin. "Tetapi mereka berbangga dengan ciri-ciri perguruan mereka," berkata Paksi di dalam hatinya. "Sehingga karena itu, maka ciri-ciri perguruan mereka itu selalu melekat pada setiap orang dari Perguruan Goa Lampin itu." Selagi Paksi merenungi senjata itu, maka sebuah pertanyaan telah terbersit di dalam hatinya, "Untuk apa sebenarnya orang-orang Goa Lampin itu mencari cincin bermata tiga butir batu akik itu? Apakah salah seorang di antara mereka akan memakainya dan berharap untuk dapat menurunkan penguasa di atas bumi ini?" Namun Paksipun kemudian berdesis, "Semakin banyak orang yang mencarinya, maka harganyapun tentu menjadi semakin mahal. Mungkin seseorang, sekelompok orang atau sebuah perguruan mencari cincin itu untuk dapat dijualnya dengan harga mahal. Atau seseorang telah mengupah mereka untuk mendapatkan cincin itu." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ayahnya adalah salah seorang yang ingin mendapatkan cincin itu. Bahkan ayahnya juga telah memerintahkan beberapa orang mencarinya selain Paksi itu sendiri. Tetapi apa yang dapat dilakukan Paksi setahun yang lalu. Sementara orang-orang berilmu tinggi, bahkan sekelompok orang dan perguruan-perguruan menurunkan orang-orangnya untuk melakukannya pula. Seandainya Paksi tidak bertemu dengan Ki Marta Brewok, maka Paksi tidak akan lebih beruntung dari seekor serangga yang menyurukkan diri ke dalam api. "Kenapa ayah telah memerintahkan aku untuk mencarinya?" bertanya Paksi di dalam hatinya sebagaimana pertanyaan yang sudah muncul setahun yang lalu di kepalanya. Bahkan ibunyapun pernah berkata, mungkin di luar sadarnya, bahwa ayahnya sengaja mengusirnya dari rumah. "Kenapa ayah berbuat seperti itu?" Tetapi Paksi mencoba menenteramkan hatinya sendiri, "Mungkin waktu itu ayah benar-benar kebingungan. Ayah ingin segera mendapatkan cincin itu mendahului yang lain." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Diselipkannya pisau itu di dinding gubuk kecilnya. Kemudian Paksipun melangkah keluar untuk melihat tanaman jagungnya. Hari itu Paksi lebih banyak merenungi ciri-ciri dari beberapa perguruan yang telah dikenalnya. Bukan saja ciri-ciri ujudnya. Tetapi juga ciri-ciri sifat dan wataknya. Paksi juga mencoba untuk mengenali unsur-unsur gerak yang khusus nampak pada setiap perguruan itu. Perguruan Goa Lampin, Perguruan Sad dan perguruan di Alas Tegal Arang. Namun yang pernah dikenalnya hanyalah murid-murid dari perguruan itu. Ia belum pernah melihat kemampuan para pemimpin dari perguruan perguruan itu. Apalagi pemimpin tertinggi mereka. Jika perempuan berbaju lurik coklat itu adalah pemimpin tertinggi dari perguruan Goa Lampin, maka ia baru melihat orangnya. Belum kemampuannya. Namun dengan demikian, maka Paksipun telah terdorong untuk lebih mematangkan ilmunya. Ia harus meyakinkan dirinya, bahwa ia pantas untuk turun ke gelanggang perburuan cincin bermata tiga butir batu akik itu. Ketika malam turun, Paksi duduk di atas sebuah batu yang besar memandang ke arah yang jauh. Langit bersih dan bintang-bintangpun menghambur sampai ke ujung cakrawala. Di sejuknya semilirnya angin, maka Paksi telah mengambil satu keputusan untuk menempuh satu perjalanan pendek di kaki Gunung Merapi itu. Ia dapat menempuh perjalanan dua atau tiga hari untuk melihat-lihat keadaan yang lebih luas dari sekedar menyusuri jalan singkat dari gubuknya ke pasar dan sebaliknya. Namun Paksipun menyadari, bahwa di sekitar tempat itu sudah bertebaran orang-orang yang sedang mencari cincin bermata tiga butir batu akik. Mereka merasa dituntun oleh cahaya ndaru yang turun dari langit di sekitar tempat itu. Malam itu paksi telah mempersiapkan dirinya. Ia sudah membenahi gubuk kecilnya yang akan ditinggalkannya untuk beberapa hari. Paksi sudah mencuci alat-alat dapurnya dan menumpuknya di sudut. Selebihnya, rumah itu tidak berisi apa-apa lagi. Malam itu Paksi tidak membuat perapian. Ia tidak menyiapkan makannya buat esok, karena esok ia tidak akan berada di gubuknya. Ketika malam beredar sampai menjelang fajar, maka Paksipun telah bangun. Berbenah diri dan bersiap untuk menempuh perjalanan untuk dua atau tiga hari. Ketika Paksi sudah siap untuk berangkat, maka rasa-rasanya sesuatu telah bergayut di hatinya. Ia sudah lama tinggal di gubuk itu. Ketika ia akan meninggalkannya, meskipun hanya untuk dua tiga hari, hatinya menjadi berat. Gubuk itu tentu akan menjadi kesepian. Tidak akan terdengar derit pintu. Tidak ada asap mengepul di malam hari. Tidak akan ada lampu dlupak kecil menyala di dalamnya. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian kakinya telah melangkah meninggalkan gubuknya itu. Tangannya menjinjing tongkat yang diberikan oleh pengemis tua itu kepadanya. Paksi menyentuh kampil berisi bekal uang yang dibawanya dari rumahnya. Masih cukup banyak. Selama tinggal di gubuknya, Paksi seakan-akan telah mencukupi kebutuhannya. Hanya bahan-bahan pokoknya sajalah yang dibelinya di pasar. Ketika jagung, ketika pohon dan tanamantanamannya mulai berbuah, maka Paksi dapat lebih banyak menghemat. Apalagi Paksi dapat berburu binatang di hutan atau mencari ikan di kedung atau dengan kemampuan bidiknya mencari burung-burung liar yang berterbangan di antara pepohonan. Agar kampil itu tidak banyak dilihat orang, maka Paksi telah mengikat kampil di bawah bajunya. Ia hanya menyiapkan uang secukupnya di kantong ikat pinggangnya. Pagi-pagi sekali Paksi sudah berada di pasar. Penjual nasi tumpang yang juga sudah berada di pasar itupun bertanya, "Kau datang lebih awal dari kebiasaanmu, anak muda?" Paksi tertawa. Dengan berbisik ia berkata, "Aku lapar sekali semalam. Karena itu, pagi-pagi aku sudah berangkat ke pasar." Penjual nasi tumpang itu tertawa. Katanya, "Jadi kau akan membeli nasi tumpang sekarang?" Paksi mengangguk sambil tersenyum. Sambil duduk di sebelah penjual nasi tumpang itu Paksi makan sepincuk nasi tumpang yang masih hangat. Namun Paksi sempat juga bertanya, "Apakah Kinong belum nampak?" "Belum," jawab penjual nasi tumpang itu. "Sebentar lagi." Paksi mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ketika ia sudah selesai dan membayar harga nasi yang dimakannya, Paksi berkata, "Biarlah aku titip kembalinya. Jika Kinong datang, berikan saja kepadanya." "Semuanya?" bertanya penjual nasi itu. "Tidak sekaligus. Mungkin untuk dua atau tiga hari." Penjual nasi itu mengerutkan dahinya. Sementara Paksipun bangkit sambil berkata, "Sudahlah. Aku sudah kenyang." "Kau akan pergi ke mana?" "Aku akan pergi ke rumah paman." "O, jadi bukan sekedar kelaparan?" Paksi tertawa. Katanya, "Aku akan berada di rumah paman dua atau tiga hari." Paksipun kemudian meninggalkan penjual nasi tumpang itu. Ketika di depan regol pasar ia berpapasan dengan penjual dawet yang baru datang, maka penjual dawet itupun menyapanya, "He, masih sepagi ini kau sudah berada di sini. Bukankah biasanya kau datang setelah matahari sepenggalah?" Paksi tersenyum. Katanya, "Aku hanya singgah. Aku akan pergi ke rumah paman." "Kau tidak minum dawet?" "Masih terlalu pagi," jawab Paksi sambil tertawa. Beberapa orang yang sudah dikenalnya di pasar itu telah menyapanya pula. Dan Paksipun menjawab sebagaimana dikatakan sebelumnya, "Aku pergi ke rumah paman." Demikianlah, Paksi sudah mulai menempuh sebuah perjalanan untuk melihat keadaan di sekitar tempat tinggalnya. Sebelum ia benar-benar melanjutkan usahanya untuk mencari cincin yang hilang dalam sebuah pengembaraan yang panjang dan keras. Paksi memilih jalan ke arah selatan, melingkari kaki Gunung Merapi. Paksi tidak saja berjalan melalui jalan yang sudah banyak dilalui orang. Tetapi sesekali Paksi berjalan menyusuri jalan di pinggir hutan, menuruni lembah dan melintasi padang perdu yang berbatu-batu padas. Lewat tengah hari Paksi memasuki sebuah padukuhan yang tidak terlalu besar. Padukuhan yang agak terpencil di kaki gunung. Ketika Paksi lewat di jalan induk padukuhan itu, maka orang-orang yang kebetulan berpapasan atau sedang berada di halaman, memandanginya seperti memandang sesuatu yang sangat asing bagi mereka. Tetapi Paksi berjalan saja terus. Agaknya jarang sekali padukuhan itu dilewati oleh orang lain, sehingga jika seseorang yang tidak mereka kenal lewat, maka orang itu akan sangat menarik perhatian. Dari padukuhan yang terpencil itu Paksi berjalan terus. Jalan masih saja terasa menurun. Namun hamparan-hamparan sawah menjadi semakin luas. Meskipun demikian, di wajah cakrawala masih nampak hijaunya hutan yang menyelimuti kaki Gunung Merapi. Ketika matahari mulai turun, Paksi melewati sebuah padukuhan yang agak besar. Di ujung padukuhan terdapat sebuah pasar sudah sepi. Pasar itu memang tidak terlalu besar yang agaknya hanya menjadi ramai di setiap hari pasaran. Di sekitar pasar itu tidak terdapat sebuah kedaipun. Sedangkan pagarnya yang terbuat dari bambu sudah rusak di sana-sini. Paksi berhenti di dekat regol pasar. Agaknya memang sudah tidak ada orang lagi di pasar itu kecuali satu dua orang yang agaknya bertugas membersihkan sampah yang tertinggal. Namun Paksi masih melihat sebuah pedati berhenti di depan pasar itu. Dua orang masih sibuk memuat kelapa ke atas pedati. Nampaknya mereka adalah pedagang kelapa yang membeli kelapa di pasar itu dan membawanya ke pasar yang lain atau kepada orang-orang yang membuat minyak kelapa. Tetapi selain mereka, ternyata Paksi masih melihat seorang perempuan yang duduk di atas sebuah batu tidak jauh dari pedati itu. Seorang perempuan yang menundukkan kepalanya sambil sekali-sekali mengusap matanya. Perempuan itu ternyata telah menarik perhatian Paksi. Karena itu, seakan-akan di luar sadarnya, Paksi telah melangkah mendekati perempuan itu. Perempuan yang sudah separo baya itu menengadahkan wajahnya. Ketika ia melihat Paksi, tiba-tiba saja wajahnya memancarkan harapan. Dengan serta-merta perempuan itu bangkit mendekati Paksi sambil berkata, "Anak muda. Kau tentu memerlukan selembar kain lurik. Aku menjual sehelai kain lurik. Bukan kain yang baru. Tetapi jenisnya termasuk kain yang baik." Paksi mengerutkan dahinya. Sebelum ia menjawab, perempuan itu berkata pula dengan nada meminta, "Tolong aku, anak muda. Pedagang kelapa itu tidak mau membelinya. Orang-orang yang lain juga tidak mau. Sedangkan aku sangat membutuhkan uang." Paksi tidak dapat menolak ketika perempuan itu menyorongkan sehelai kain lurik kepadanya. "Belilah, Ngger." Paksi masih berdiri termangu-mangu. Sementara itu wajah perempuan yang semula memancarkan harapan itupun kembali menjadi suram. "Bagaimana, Ngger?" bertanya perempuan itu. Sementara itu, kedua orang yang menaikkan kelapa ke dalam pedatinya itupun sudah selesai. Terdengar cambuk meledak. Dan pedati itupun mulai bergerak. "Kenapa Bibi menjual kain ini?" bertanya Paksi. "Kami memerlukan uang, Ngger." "Untuk apa?" bertanya Paksi. Perempuan itu mengerutkan dahinya. Kemudian dengan nada berat iapun menjawab, "Bukankah kami memerlukan makan." "Selama ini, apakah yang Bibi makan bersama keluarga? Hasil sawah atau apa?" Perempuan itu memandang Paksi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Paksi menjadi heran melihat sikap perempuan itu. Tetapi dengan demikian, maka ia menjadi semakin tertarik. Karena itu, maka Paksipun kemudian berkata, "Duduklah, Bibi. Mungkin kita akan berbincang agak panjang." Perempuan itupun kemudian duduk kembali di atas batu, sementara Paksipun duduk pula di sebelahnya. "Keadaan Bibi menimbulkan beberapa pertanyaan di hatiku." Perempuan itu menunduk dalam-dalam. Namun kemudian iapun mulai terisak. "Apa yang terjadi, Bibi?" bertanya Paksi. Perempuan itu mencoba untuk menahan perasaannya. Sambil mengusap matanya ia berkata, "Kami telah terjerumus ke dalam kesulitan yang besar, Ngger." "Maksud Bibi?" bertanya Paksi. Perempuan itu memandang berkeliling, seakan-akan takut ada orang lain yang melihatnya. Sikap perempuan itu tidak luput dari pengamatan Paksi pula. "Ngger," berkata perempuan itu, "aku belum mengenal Angger sebelumnya. Tetapi entahlah, tiba-tiba saja timbul kepercayaanku kepadamu." Paksi menarik nafas panjang. Sambil mengusap matanya perempuan itu berkata, "Kami telah tersesat, Ngger. Sebenarnya kami akan pergi ke Kembang Arum. Tetapi kami tidak tahu, di mana kami sekarang berada." "O, jadi Bibi telah tersesat. Siapa sajakah yang Bibi maksud dengan kami? Bibi dan siapa lagi?" "Aku dan kemenakanku, Ngger. Seorang gadis. Setelah ayah dan ibunya hilang beberapa saat yang lalu, maka anak itu berniat mencari pamannya, kakak kandung ayahnya yang tinggal di Kembang Arum. Tetapi sampai di sini kami tidak tahu, ke mana kami harus pergi." Paksi mengangguk-angguk kecil. Katanya dengan suara lembut, "Bibi. Jika hanya karena itu, maka Bibi tidak terjerumus ke dalam kesulitan yang besar. Aku akan bersedia mengantar Bibi mencari padukuhan yang bernama Kembang Arum." "Menurut keterangan, Kembang Arum terletak di sisi selatan kaki Gunung Merapi, Ngger." "Jika demikian, kita sudah tidak terlalu jauh lagi dari tujuan." "Tetapi persoalannya tidak hanya sampai di situ, Ngger." "Maksud Bibi?" "Ketika kami berdua kebingungan dan kehilangan jalan, kami telah bertanya kepada seorang laki-laki yang kebetulan lewat. Laki-laki itu dengan manis menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Namun menurut laki-laki itu, Kembang Arum masih sangat jauh. Karena itu, dengan ramah lakilaki itu mempersilahkan kami singgah dan beristirahat di rumahnya. Laki-laki itu bahkan bersedia untuk mengantar kami di keesokan harinya ke Kembang Arum." "Ada soal apa lagi yang timbul, Bibi?" "Ternyata laki-laki itu bukan seorang yang berhati manis sebagaimana wajahnya. Ia telah menahan kami di rumahnya. Bahkan orang itu memaksa kemenakanku untuk bersedia menjadi isterinya meskipun kemenakanku itu masih terlalu muda untuk menikah." "Bukankah kemenakan Bibi itu dapat menolak?" "Ya. Kemenakanku memang menolak. Tetapi ia sudah berada di tangan laki-laki yang ternyata adalah laki-laki yang garang. Bahkan isterinya juga seorang perempuan yang keras dan kasar. Isterinya juga ikut memaksa agar kemenakanku itu bersedia menjadi isteri suaminya yang garang itu." "Bagaimana hal itu dapat terjadi?" bertanya paksi. "Kemenakanku tetap menolaknya. Tetapi laki-laki itu bersama isterinya tetap berkeras. Mereka memberi waktu sebulan. Sementara itu selama kami berada di rumahnya, kami harus menyediakan makan dan minum kami sendiri. Karena itu, maka aku harus menjual apa saja yang ada pada kami." "Kenapa kalian tidak pergi saja?" bertanya Paksi. "Kami tidak dapat meninggalkan rumah itu, Ngger. Kami disekap di dalam rumah itu dengan berbagai macam ancaman. Mereka berharap jika kami sudah tidak dapat makan dan minum, maka agar kami tidak menjadi kelaparan, kemenakanku itu akan bersedia menjadi isteri laki-laki yang garang itu. Bahkan mungkin menurut sifat dan wataknya, jika ia tidak lagi dapat menahan nafsunya, sesuatu yang sangat buruk akan dapat terjadi dengan kemenakanku itu." "Bibi pernah minta bantuan kepada seseorang?" bertanya Paksi. "Tidak seorangpun berani menolong kami. Bahkan seorang yang kami harap bersedia menolong kami telah memberitahukan kepada orang itu." "Siapakah laki-laki yang telah menyekap kemenakan Bibi di rumahnya itu?" "Ternyata ia seorang pemimpin sebuah gerombolan penjahat. Namanya Bahu Langlang. Seorang yang sangat ditakuti. Kami memang sudah tidak mempunyai harapan untuk terlepas dari tangannya," suara perempuan itu bergetar. Matanya menjadi semakin basah. Bahkan isaknya mengeras. Katanya pula, "Aku bertanggung jawab atas keselamatan gadis itu. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa." Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian tiba-tiba saja ia bangkit dan mendekati salah seorang yang sedang membersihkan pasar itu sambil bertanya, "Apakah Ki Sanak tahu, dimanakah letak Padukuhan Kembang Arum itu?" Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun menjawab, "Ambil jalan ke selatan ini, anak muda. Kau akan sampai pada sebuah gumuk kecil. Kemudian kau berbelok ke kanan. Jika kau berani menempuh jalan pinggir hutan, maka Kembang Arum tidak lagi terlalu jauh. Tetapi jika mengambil jalan melingkar, maka sekitar tengah malam kau baru akan sampai." "Jadi, Kembang Arum sudah tidak terlalu jauh, Ki Sanak?" bertanya Paksi lagi. "Tidak terlalu jauh. Tadi, pedagang kelapa yang membawa pedati itu adalah orang Kembang Arum." Perempuan separo baya yang mendengar keterangan itupun tiba-tiba bangkit pula. Namun ia menjadi lemas kembali. Bagaimanapun juga, kemenakannya telah terkurung dan tidak dapat meninggalkan rumah Bahu Langlang. Jilid 06 PAKSIPUN kemudian kembali duduk di sebelah perempuan yang sedang menahan tangisnya itu. Terdengar perempuan itu berdesis, "Apa yang dapat aku lakukan? Jika Angger bersedia membeli kain lurik itu, maka sehari dua hari akan dapat makan. Tetapi sesudah itu, apalagi yang harus kami jual? Jika saat kelaparan itu datang, maka kemenakanku akhirnya akan pasrah. Tetapi apakah anak itu harus menjadi salah seorang dari isteri-isteri Bahu Langlang?" Selain menjadi isteri Bahu Langlang, maka kemenakannya itu akan menjadi budak isteri utamanya yang garang dan sekasar Bahu Langlang sendiri. Ia akan melayaninya seperti seorang hamba. Mencuci pakaiannya, menyediakan makan dan minumnya, memijitnya jika perempuan itu merasa letih. Bayangan-bayangan yang buruk itu telah menghantuinya. Apalagi perempuan itu telah melihat sendiri apa yang harus dilakukan oleh salah seorang isteri Bahu Langlang yang juga tinggal di rumah itu. Ia bukan saja harus bekerja keras, tetapi ia juga sering disakiti oleh isteri utama Bahu Langlang itu. Sedangkan Bahu Langlang sendiri tidak memperdulikannya apa yang terjadi atas perempuan malang itu. Baginya, asal perempuan itu tidak lari dari rumahnya, itu sudah cukup. "Kemenakanku itu akan mengalami nasib seperti itu pula nantinya," desis perempuan itu. Seperti air yang mengalir, perempuan itu menumpahkan perasaannya kepada Paksi. Meskipun Paksi masih muda, tetapi seakan-akan mampu menampung kegalauan hatinya itu. Paksi memang mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Perasaannya tergelitik untuk berbuat sesuatu. Ia tidak dapat membiarkan gadis itu mendapat malapetaka dan mengalami penderitaan hidup yang sangat panjang. Namun Paksi sadar, untuk mengeluarkan gadis itu dari rumah Bahu Langlang memang harus ditempuh dengan jalan kekerasan. "Apa boleh buat," berkata Paksi di dalam hatinya. Bahkan kemudian iapun teringat kepada kata-kata orang yang datang kepadanya untuk mencari benda di langit yang sekiranya jatuh di sekitar gubuknya, bahwa harus ada hubungan antara ilmu dan amal. Karena itu, maka Paksipun kemudian berkata kepada perempuan itu, "Bibi, aku ingin ikut bersama Bibi menemui orang yang bernama Bahu Langlang itu." Perempuan itu terkejut. Dengan gagap iapun bertanya, "Untuk apa kau temui Bahu Langlang?" "Kemenakan Bibi itu harus dibebaskan dari tangan laki-laki itu." "Bagaimana kau akan membebaskannya?" bertanya perempuan itu. Dari wajahnya membayang keraguan dan bahkan ketidakyakinannya atas pendengarannya. "Bibi," berkata Paksi kemudian, "aku akan berusaha. Aku tidak tahu apakah usahaku akan berhasil atau tidak." "Apa yang akan kau lakukan, Ngger?" perempuan itu masih bertanya pula. "Aku akan menemui Bahu Langlang. Aku akan minta agar kemenakan Bibi itu diijinkan untuk pergi jika gadis itu tidak mau dijadikan isterinya." "Tidak akan ada artinya, Ngger. Bahkan mungkin kau akan membuatnya menjadi marah, sehingga ia akan dapat berbuat sesuatu yang dapat mencelakaimu." "Tetapi harus dilakukan sesuatu, Bibi," jawab Paksi. "Tanpa berbuat sesuatu, tidak akan ada perubahan yang terjadi." "Tetapi aku tidak bermaksud menyeretmu ke dalam kesulitan, Ngger. Jika segala sesuatunya aku katakan kepadamu, semata-mata sekedar untuk mengurangi beban yang menyesak di hatiku." "Aku mengerti, Bibi. Tetapi perasaanku sendirilah yang telah mendorongku untuk melakukannya." Tetapi perempuan itu menggeleng. Katanya, "Jika terjadi sesuatu atasmu, maka beban di hatiku akan semakin bertambah. Sementara itu, gadis itu masih akan tetap berada di tangan Bahu Langlang yang garang itu." "Kita akan memohon kepada Yang Maha Agung sambil berusaha, Bibi. Semoga usaha ini akan ada artinya." Tetapi perempuan itu menyahut, "Kau masih sangat muda, Ngger. Hari-harimu masih panjang. Jangan karena keluhanku, masa depanmu itu akan kau patahkan." Paksi tersenyum. Katanya, "Satu keyakinan terpahat di hatiku, bahwa permohonan kita untuk melakukan niat yang baik akan didengar-Nya." "Tetapi menurut perhitungan naluriahnya, maka sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari tangan Bahu Langlang. Apalagi orang itu tidak segan-segan untuk melakukan kekerasan. Selama beberapa hari aku di rumahnya, aku sudah melihat Bahu Langlang membunuh dua orangnya sendiri yang dianggapnya berkhianat." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, "Apakah setiap hari di rumah itu terdapat para pengikutnya?" "Tidak, Ngger. Bahkan jarang-jarang pengikutnya itu datang. Jika mereka datang tentu sesuatu yang penting. Bahkan kematian." Tiba-tiba Paksi itupun berkata, "Bibi, antarkan aku menemui Bahu Langlang." Perempuan itu menjadi tegang. Katanya, "Jangan, Ngger. Aku keberatan. Kau masih terlalu muda untuk mengalami perlakuan bengis Bahu Langlang. Tidak bermaksud mendahului kehendak Yang Maha Agung, kau masih terlalu muda untuk mati." Tetapi Paksi seakan-akan tidak mendengarnya. Katanya, "Mari, Bibi. Supaya aku tidak usah mencari rumah itu sendiri. Katakan, bahwa Bibi telah bertemu dengan anak Bibi yang akan mengantarkan Bibi ke padukuhan Kembang Arum." "Jangan bebani aku dengan penyesalan yang lebih dalam, Ngger. Jika kau mau membeli kain lurikku itu, aku sudah akan mengucapkan seribu kali terima kasih. Setidak-tidaknya kau akan menyelamatkan anakku untuk tiga hari." Tetapi Paksi yang telah berdiri itu berkata, "Jika Bibi tidak mau menunjukkan rumah Bahu Langlang, aku akan pergi sendiri. Tentu tidak sulit untuk mencari rumah itu." Perempuan itu tidak berdaya untuk menolak keinginan Paksi untuk menemui Bahu Langlang. Penyesalan telah menggores jantungnya. Seakan-akan dirinyalah yang telah menjerumuskan Paksi ke dalam neraka, justru karena perempuan itu sudah beberapa hari tinggal di rumah Bahu Langlang. Tanpa dapat mengelak lagi, maka perempuan itu telah berjalan bersama Paksi menuju ke rumah Bahu Langlang. Sambil berjalan Paksi bertanya, "Bibi, siapakah nama Bibi selengkapnya?" Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang hampir tidak terdengar ia menjawab, "Orang memanggilku Nyi Permati, Ngger." "Nama kemenakan Bibi?" "Namanya Kemuning, Ngger." "Kemuning," Paksi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, "Bukankah kemuning itu nama sejenis bunga?" "Ya, Ngger." Hampir di luar sadarnya Paksipun berdesis, "Bibi, di halaman rumahku juga terdapat sebatang pohon kemuning. Jika pohon kemuning itu berbunga, maka aku sering memandanginya berlamalama. Warna kuning yang anggun, bau semerbak, terasa menyentuh hati." "Tetapi kemuningku berwarna kusam. Baunya sama sekali tidak harum, apalagi semerbak." Paksipun tersenyum. Tetapi iapun kemudian terdiam. Ia mulai membayangkan orang yang bernama Bahu Langlang itu. Jika kesan yang pertama dapat menimbulkan kepercayaan Nyi Permati dan Kemuning, maka ujud itu tentu tidak menyeramkan sebagaimana namanya. Jika kemudian orang itu menjadi menyeramkan, tentu setelah Nyi Permati mengenali sifat, watak serta pamrihnya yang buruk. Beberapa saat kemudian, maka mereka telah berbelok mengikuti jalan yang lebih kecil. Dengan suara yang bergetar penuh dengan ketegangan jiwa, Nyi Permati berkata, "Rumah Bahu Langlang ada di ujung jalan ini, Ngger. Tetapi sekali lagi aku mohon, urungkan niatmu. Aku mengucapkan beribu terima kasih atas kesediaanmu menolong kami. Tetapi aku mohon, jangan kau lakukan." Paksi tersenyum. Katanya, "Aku sudah sampai di sini, Bibi." Nyi Permati memandang Paksi itu sekilas. Anak muda itu bertubuh tegap. Wajahnya yang tampan dan bersih, rasa-rasanya mencerminkan kepribadiannya, meskipun ia baru saja terkecoh oleh ujud dan sikap manis Bahu Langlang. Namun Nyi Permati melihat perbedaan pada keduanya. Sebenarnyalah bahwa bukan saja jiwa Paksi menjadi matang setelah ia menempa diri. Tetapi ujud Paksi berubah. Tubuhnya tidak lagi tinggi, pipih dan kekurus-kurusan. Tetapi tubuh Paksi berkembang dengan baik. Paksi menjadi anak muda yang tampan, tegap, dan kekar. Nyi Permati menjadi semakin tegang ketika kakinya melangkah semakin dekat dengan pintu regol halaman rumah Bahu Langlang. "Itulah rumahnya," suara Nyi Permati menjadi gemetar. Paksi mengangguk-angguk. Rumah itu terhitung rumah yang besar dan berhalaman luas. Beberapa langkah dari pintu, Nyi Permati masih berkata, "Tolong Ngger, jangan masuk halaman rumah itu." Tetapi Paksi seakan-akan tidak mendengarnya. Bahkan iapun berkata, "Katakan, bahwa Bibi telah bertemu dengan aku, anak Bibi. Jika Kemuning ternyata tidak mengenal aku, katakan bahwa aku sejak kecil ikut dengan paman di Kembang Arum." Nyi Permati memang tidak ingin berbuat apa-apa lagi. Justru Paksilah yang lebih dahulu melangkah memasuki halaman rumah itu. Namun langkah Paksi tertegun. Demikian ia memasuki halaman rumah itu, maka ia melihat peristiwa yang membakar jantungnya. Seorang laki-laki yang bertubuh tegap sedang mencambuk perempuan yang tidak berdaya. Perempuan itu menggeliat dan berguling-guling kesakitan. Meskipun ia berteriak dan minta ampun, tetapi laki-laki itu masih saja mencambuknya. "Siapakah perempuan itu, Bibi?" Nyi Permati sudah menjadi gemetar. Tetapi ia menjawab, "Salah seorang isterinya." Perempuan yang terguling kesakitan itu memang masih muda. Agaknya ia terhitung perempuan cantik jika rambutnya tidak terurai. Berkas-berkas darah di bibir dan baju yang sudah terkoyak. "Kenapa perempuan itu dicambuk, Bibi?" bertanya Paksi. "Entahlah, Ngger. Tetapi kekasaran seperti itu sering dilakukan oleh Bahu Langlang. Sudah aku katakan, bahwa selama beberapa hari aku di rumahnya, sudah dua orang pengikutnya yang dibunuhnya. Pembunuhan itu sendiri sama sekali tidak berkesan apapun pada Bahu Langlang. Seakan-akan tidak ada sesuatu yang pernah terjadi." "Perbuatan itu harus dihentikan," desis Paksi. "Tetapi bukan kau, Ngger. Biarlah orang lain yang melakukan," suara Nyi Permati bergetar. Namun segala sesuatunya sudah terlambat. Orang yang mencambuk perempuan yang tidak berdaya itu melihat Nyi Permati datang bersama seorang anak muda. Tiba-tiba wajah laki-laki itu berubah. Wajahnya yang nampak bengis itu larut dalam senyumnya yang menghiasi bibirnya. "Marilah, Bibi. Nampaknya Bibi baru saja datang dari berpergian. Kemana saja Bibi pergi?" Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tanpa melihat bagaimana ia mencambuk seorang perempuan yang tidak berdaya, maka Paksi tentu menyangka bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang ramah. Wajahnya pun tidak nampak segarang orang-orang yang dianggap sebagai orangorang jahat. "Marilah, Bibi," orang itu mempersilahkan tanpa menghiraukan perempuan yang masih saja merintih kesakitan sambil merangkak menggapai tangga. Nyi Permati tidak menjawab. Sementara laki-laki itu berkata, "Apakah Kemuning ikut dengan Bibi?" "Tidak, Ngger," jawab Nyi Permati dengan suara gemetar. "O, jadi di mana anak itu?" Bahu Langlang itu justru bertanya. Seorang perempuan lain yang kemudian berdiri di tangga menyahut, "Anak itu ada di dapur. Aku mengajarinya masak. Nampaknya anak itu akan menjadi juru masak yang pandai." "O, aku kira ia ikut bersama Bibi. Sejak pagi aku belum melihatnya." Namun Bahu Langlang itupun kemudian memandang Paksi dengan tajamnya. Namun laki-laki itu tersenyum pula sambil bertanya, "Siapakah anak ini, Bibi?" Paksi menjadi berdebar-debar. Ia berharap Nyi Permati menjawab sebagaimana dikehendakinya. Namun ternyata Nyi Permati itu menjawab, "Ia anakku, Ngger." "Anak Bibi?" Bahu Langlang terkejut. Sementara Nyi Permati berkata selanjutnya, "Ia anakku yang sejak kecil dipelihara pamannya di Kembang Arum. Bukankah Angger ingat, bahwa aku akan pergi ke Kembang Arum? Nah, adalah kebetulan bahwa anakku itu berada di pasar ikut dengan pamannya membawa dagangan kelapa." Wajah Bahu Langlang menjadi merah. Namun kemudian dengan cepat ia berusaha untuk menghapuskan kesan bahwa hatinya bergejolak mendengar pengakuan Nyi Permati itu. Bahkan kemudian iapun tersenyum pula sambil berkata, "Jika demikian, marilah, bawa anak itu naik ke pendapa, Bibi." Nyi Permatipun kemudian mengajak Paksi untuk naik ke pendapa dan duduk di atas tikar pandan yang putih di pringgitan. Sementara itu, Bahu Langlang berkata kepada perempuan yang berdiri di tangga, "Biarlah perempuan keparat itu diseret ke kandang. Suruhlah orang-orang yang menjemur padi itu membawanya pergi." Dalam pada itu, Paksi sempat berdesis, "Siapakah perempuan yang berdiri di tangga itu?" "Isterinya. Isteri utamanya. Ia adalah penguasa kedua di rumah ini. Sikap dan tabiatnya tidak berbeda dengan Bahu Langlang. Keras dan bengis," jawab Nyi Permati berbisik. Paksi mengangguk-angguk kecil. Katanya, "Doakan saja, Bibi. Perbuatan mereka tidak dapat dibiarkan terus." Tetapi Paksi tidak dapat bertanya lebih banyak. Laki-laki yang baru saja mencambuk isterinya itu telah naik pula dan duduk di pringgitan menemui Nyi Permati dan Paksi. "Siapa namamu, anak muda?" bertanya Bahu Langlang. "Orang memanggilku, Paksi." "Paksi," Bahu Langlang mengulangi, "nama yang bagus. Sejak kapan kau tinggal di Kembang Arum?" bertanya Bahu Langlang. "Sejak kecil. Sekitar enam atau tujuh tahun." "Sekarang berapa umurmu?" bertanya Bahu Langlang. "Delapan belas tahun." "Kalian telah berpisah sepuluh tahun lebih. Apakah demikian kalian bertemu, kalian langsung dapat saling mengenal?" "Nampaknya Ibu agak lupa kepadaku," jawab Paksi. "Tetapi aku tidak akan pernah dapat melupakannya." Bahu Langlang mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya, "Apakah kau akan membawa ibumu bersamamu?" "Ya. Aku akan membawa Ibu ke rumah paman. Bukankah Ibu memang sedang mencari rumah Paman?" Bahu Langlang itu mengangguk-angguk. Katanya, "Sayang sekali. Sebenarnya aku ingin mohon Bibi tinggal di sini. Aku sudah tidak mempunyai orang tua lagi. Bibi dapat menjadi pengganti orang tuaku. Menjadi pepunden di sini. Tetapi apaboleh buat. Jika Bibi ingin pergi, aku hanya ingin mohon agar Bibi sering datang untuk menengok Kemuning. Ia tentu sekali-sekali merasa rindu kepada bibinya. Meskipun ia merasa kerasan di sini dan tidak ingin meninggalkan rumah ini, tetapi Bibi akan tetap selalu dikenangnya, karena Bibilah yang telah membawanya kemari sehingga Kemuning menemukan satu ujud kehidupan yang didambakannya." Wajah Nyi Permati menjadi tegang. Ia tentu tidak akan dapat meninggalkan Kemuning di rumah itu meskipun seandainya ia akan menemukan kehidupan yang jauh lebih baik. Paksi melihat ketegangan itu membayang di wajah Nyi Permati. Karena itu, maka iapun kemudian berkata, "Ki Bahu Langlang, Ibu tentu tidak akan meninggalkan Kemuning di sini. Ibu tentu akan membawa Kemuning bersamanya." Wajah Bahu Langlang berkerut. Namun kemudian iapun tersenyum, "Jangan merusak masa depan kanak-kanak. Kemuning sudah kerasan di sini. Ia sudah seolah-olah menjadi anak kandung kami sendiri. Isteriku mengasihinya dengan sepenuh hati." "Baiklah, Ki Bahu Langlang," berkata Paksi. "Jika Kemuning memang sudah merasa kerasan di sini, biarlah kelak Ibu mengantarkannya kemari. Ibu hanya ingin membawa Kemuning kepada Paman agar Paman sempat melihatnya. Paman sudah terlalu tua. Ia akan sangat menyesal bahwa jika sampai hari akhirnya ia tidak sempat melihat Kemuning." "Tentu. Pamanmu tentu akan sempat melihatnya. Aku dapat membawa Kemuning ke Kembang Arum kapan saja." "Jika demikian, kenapa kami tidak membawa Kemuning sekarang saja, dan kemudian membawanya kembali sehari dua hari kemudian? Jika Ibu tidak sempat, akulah yang akan mengantarkannya kemari, karena setiap kali aku pergi ke pasar itu untuk membeli kelapa yang akan kami jual lagi di tempat lain. Terutama kepada mereka yang membuat minyak kelapa." "Sudahlah. Jangan pikirkan Kemuning. Aku dan isteriku akan mengurusnya. Tinggalkan Kemuning dengan tenang di sini. Bibi tidak perlu menjadi gelisah. Keadaannya akan baik-baik saja." "Maaf, Ki Bahu Langlang." berkata Paksi. "Kami mohon kemurahan hati keluarga Ki Bahu Langlang. Yakinlah, bahwa aku akan membawanya kembali kemari jika ia memang sudah kerasan tinggal di sini." Tetapi Bahu Langlang tersenyum sambil berkata, "Jangan menyakiti hati anak itu. Kasihan. Ketenangannya akan terganggu." "Ki Bahu Langlang," berkata Paksi kemudian, "biarlah ibuku berbicara sendiri dengan Kemuning. Jika Kemuning memang berkeberatan, apaboleh buat. Kami akan meninggalkannya di sini. Tetapi jika Kemuning ingin bertemu dan tinggal bersama pamannya barang satu dua hari, biarlah ia kami bawa serta." Wajah Bahu Langlangpun berkerut. Sambil menggeleng ia berkata, "Aku minta jangan ganggu Kemuning. Itu saja." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara Bahu Langlangpun berkata kepada Nyi Permati, "Bibi, sebaiknya Bibi memberitahukan kepada anak Bibi itu, agar ia tidak usah ikut mencampuri persoalan Kemuning. Aku tidak berkeberatan ia singgah di sini. Tetapi jangan membuat kegelisahan seisi rumahku termasuk Kemuning." Nyi Permati termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, "Sudahlah, Ngger. Biarlah besok atau lusa aku ajak Kemuning ke rumah pamanmu." "Tidak Ibu. Aku akan mengajak Kemuning sekarang. Alangkah senangnya hati Paman jika Kemuning tiba-tiba datang mengunjunginya. Rasa-rasanya aku tidak sabar lagi melihat, bagaimana Paman di saat-saat yang gawat itu tersenyum melihat kehadiran Kemuning." Agaknya Bahu Langlang telah kehabisan kesabaran. Pada dasarnya ia memang bukan orang yang sabar. Tetapi ia mencoba untuk memberikan kesan yang baik kepada anak Nyi Permati. Tetapi anak muda itu ternyata sangat menjengkelkannya. Karena itu, maka dengan suara yang mulai bergetar Bahu Langlang itu berkata, "Anak muda, untuk terakhir kalinya aku memperingatkanmu, jangan ganggu Kemuning." "Niatku sudah tetap, Ki Bahu Langlang," jawab Paksi mantap. Bahu Langlang benar-benar tidak dapat menahan diri. Karena itu, maka iapun membentak, "Cukup, anak muda. Aku minta kau meninggalkan rumahku ini. Bibi, aku mohon, sebelum aku bertindak menurut caraku." Nyi Permati menjadi semakin bingung. Dengan gelisah ia berkata, "Sudahlah. Tinggalkan rumah ini." Tetapi Paksi tetap bersikeras Katanya, "Tidak. Aku akan membawa Kemuning." Bahu Langlang benar-benar tidak lagi dapat mengekang diri. Sudah sejak semula ia berpurapura menjadi penyabar. Tetapi ia tidak dapat bertahan terlalu lama. Karena itu, maka Bahu Langlang itupun kemudian berkata, "Aku sudah cukup memberimu kesempatan berbicara di sini. Sekarang, kau harus pergi. Jangan berbicara apapun lagi." Tetapi hati Paksipun keras seperti baja. Karena itu, maka iapun menjawab, "Aku akan pergi bersama Kemuning." "Cukup," mata Bahu Langlang mulai menyala. Sementara Nyi Permati mulai menjadi ketakutan. "Apakah aku harus memperlakukanmu seperti perempuan itu?" "Seperti itulah yang pada suatu saat akan terjadi pada Kemuning. Pada saatnya kau menjadi jemu, maka kau akan menyakitinya setiap hari." Bahu Langlang itupun bangkit berdiri sambil menggeram, "Kau memang tidak tahu diri. Jika kau terlambat keluar dari halaman rumahku, maka untuk selamanya kau tidak akan pernah dapat keluar lagi, karena tubuhmu akan terkubur di bawah rumpun bambu di kebun belakang rumah ini." "Tentu banyak tubuh yang kau kuburkan di bawah rumpun bambu itu," jawab Paksi sambil bangkit berdiri pula. Wajah Bahu Langlang menjadi merah. Dengan garang ia berkata, "Sekarang aku tahu apa yang kau maui anak muda. Kau datang dengan sengaja untuk merebut Kemuning dari tanganku. Baik. Jika kau memang sudah bersiap melakukannya, lakukan. Halaman rumahku cukup luas." Bahu Langlang tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera turun ke halaman. Ketika Paksi melangkah, Nyi Permati menggamitnya sambil berdesis, "Sudahlah, anak muda. Aku mengucapkan terima kasih atas perhatianmu. Tetapi jangan korbankan dirimu." Paksi tidak menghiraukannya. Iapun segera melangkah menuruni tangga. Sejenak kemudian, Paksipun telah berdiri berhadapan dengan Bahu Langlang di halaman. Beberapa orang yang ada di halaman Bahu Langlang menjadi heran melihat anak muda yang dengan beraninya menantang Bahu Langlang. "Apakah anak muda itu belum pernah mendengar nama Bahu Langlang?" Dalam pada itu, Paksi yang sudah berdiri berhadapan dengan Bahu Langlang itupun berkata, "Bahu Langlang, aku yakin bahwa kau adalah seorang laki-laki yang kata-katamu adalah kehormatan dan harga dirimu. Marilah kita membuat janji. Kita akan berkelahi sekarang ini. Jika aku kalah, maka aku sadari, bahwa aku akan terkubur di bawah rumpun bambumu. Aku sudah pernah mendengar namamu dan akupun tahu tabiatmu. Ketika aku memasuki halaman rumah ini, kau sedang menghakimi salah seorang isterimu. Tetapi jika aku menang, maka kau harus melepaskan Kemuning dan ibuku. Aku akan membawa mereka dan menyelamatkan mereka dari keganasanmu." "Iblis kau. Aku hormati kau yang berani menantangku. Aku hormati kau yang mencintai ibu dan saudara sepupunya sehingga berani mempertaruhkan nyawamu. Tetapi kau akan segera ditelan oleh kesombonganmu sendiri." "Katakanlah bahwa kau berjanji." "Baik. Aku terima syaratmu. Aku janji." Demikianlah keduanyapun kemudian telah berhadapan. Paksi telah menyandarkan tongkatnya, karena ia melihat Bahu Langlang tidak bersenjata. Sejenak kemudian keduanya telah bersiap. Mata Bahu Langlang bagaikan memancarkan nyala api oleh kemarahan yang membakar dadanya. Bahwa seorang anak muda berani menantangnya itu sudah merupakan satu penghinaan atas dirinya. Sejenak kemudian, maka Bahu Langlang itupun mulai bergerak. Tangannya terayun menggapai tubuh Paksi. Tetapi Bahu Langlang belum benar-benar menyerangnya. Namun ketika Paksi bergeser menghindari, Bahu Langlang telah mempersiapkan serangan yang sebenarnya. Ia ingin menghancurkan dan benar-benar membunuh anak itu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya untuk menutup ketersinggungannya, bahwa seorang anak telah berani menantangnya. Dengan mengakhiri perlawanan anak itu secepatnya, maka penilaian orang-orangnya yang melihat peristiwa itu terhadap dirinya tidak akan terguncang oleh kesombongan anak itu. Karena itu, maka sejenak kemudian, serangan Bahu Langlang itupun datang bagaikan angin prahara. Paksi memang terkejut. Ia tidak menduga sebelumnya bahwa serangan Bahu Langlang akan datang demikian cepatnya langsung dalam tataran ilmu yang tinggi. Paksi memang terdesak surut. Tetapi kemudian Paksipun telah menemukan keseimbangannya, sehingga Paksipun segera menempatkan diri pada batas kemampuan lawannya. Dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi seimbang. Paksi yang muda, namun yang telah menempa dirinya itu, tidak banyak mengalami kesulitan menghadapi orang yang namanya ditakuti oleh lingkungannya, Bahu Langlang. Ketika dengan hentakannya Bahu Langlang mampu mendesak lawannya, maka ia sudah memastikan akan dapat dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu. Tetapi ternyata dugaannya keliru. Anak muda itu semakin lama justru menjadi semakin mapan. Bahu Langlang tidak lagi mendesaknya. Apa yang dilakukannya, lawannya itu mampu mengimbanginya. Karena itu, sambil menggeram marah Bahu Langlang mengerahkan kemampuannya sampai ke puncak. Sebagai seorang yang mempunyai pengalaman yang luas dalam petualangannya di dunia olah kanuragan, maka Bahu Langlang tidak segera tenggelam dalam kecemasan menghadapi lawannya. Dengan hentakan-hentakan yang kuat, Bahu Langlang ingin mengguncang pertahanan Paksi. Tetapi Paksi tidak segera dapat didesaknya. Semakin lama Paksi justru nampak menjadi semakin tegar. Serangan-serangannya menjadi semakin cepat sementara kakinya berloncatan semakin tangkas. Bahu Langlang mulai menyadari, bahwa lawannya bukannya anak-anak muda kebanyakan. Sejak semula ia memang sudah curiga, bahwa anak muda itu bukan anak Nyi Permati. Bukan pula sepupu Kemuning. Karena itu, maka Bahu Langlangpun tidak mau menanggung akibat yang paling buruk. Dengan tangkasnya ia meloncat surut sambil berteriak, "Berikan senjataku." Beberapa orang termangu-mangu. Namun isteri utamanyalah yang dengan cepat tanggap. Iapun segera meraih sebuah kapak yang tergantung di tiang di atas tangga pendapa. Dengan cepat kapak yang besar itupun telah dilemparkan kepada Bahu Langlang yang telah mengambil jarak dari lawannya. Bahu Langlang menangkup kapak besarnya itu. Kemudian terdengar orang itu tertawa. Keramah-tamahannya sama sekali tidak nampak lagi. Tidak ada lagi senyum di bibirnya. Yang nampak adalah pandangan matanya yang bengis. Demikian Bahu Langlang memegang kapaknya, maka Paksipun telah menggapai tongkatnya pula. Meskipun ternyata ilmu Bahu Langlang yang garang itu tidak setinggi sebagaimana dibayangkannya, namun kapaknya itu nampaknya sangat berbahaya. "Jika orang-orang dari Goa Lampin atau orang-orang dari Perguruan Sad itu datang kemari, maka Bahu Langlang akan sulit untuk dapat mengatasinya," berkata Paksi di dalam hatinya. Ternyata Bahu Langlang tidak lebih dari seorang pemimpin perampok yang garang. Tetapi kegarangannya tidak dilandasi dengan ilmu yang tinggi. Sejenak kemudian, maka Bahu Langlang telah menyerang dengan kapaknya yang besar. Menilik ayunan kapaknya itu, maka tenaga Bahu Langlang memang sangat besar. Agaknya dengan tenaganya yang besar serta kegarangan sikap dan keberaniannya, Bahu Langlang menjadi seorang yang ditakuti oleh lingkungannya. Tetapi nampaknya orang-orang dari perguruan-perguruan yang namanya banyak dikenal, Bahu Langlang sama sekali tidak menarik perhatian. Demikianlah, maka dengan tongkatnya Paksi telah melawan ayunan kapak Bahu Langlang yang garang itu. Getaran angin yang menampar tubuh Paksi karena ayunan kapak lawannya, memberikan peringatan kepada Paksi, bahwa tenaga lawannya memang sangat besar. Tetapi jantung Paksi sama sekali tidak tergetar oleh ayunan senjata lawannya itu. Sehingga dengan demikian, maka perlawanan Paksi sama sekali tidak menjadi goyah. Bahkan dengan tongkat kayunya, Paksi dapat menangkis serangan kapak lawannya dengan benturan langsung. Paksi memang yakin bahwa tongkatnya tidak akan patah. Meskipun ujud tongkatnya adalah tongkat kayu, tetapi tongkat itu sudah teruji kekuatannya, sehingga dalam benturan seperti apapun dengan jenis logam apapun, tongkatnya tidak akan patah. Bahu Langlang menjadi semakin heran. Anak itu benar-benar anak ajaib. Pada umurnya yang masih sangat muda, sebagaimana dikatakannya sendiri bahwa umurnya baru delapanbelas tahun, ia sudah memiliki ilmu yang tinggi, yang tidak terjangkau oleh ilmu Bahu Langlang yang namanya ditakuti oleh lingkungannya. Dalam pada itu, kapak Bahu Langlang hampir tidak berdaya sama sekali. Bahkan tongkat Paksi sekali-sekali sudah mulai menggapai tubuh lawannya. Ketika tongkat Paksi berhasil mendorong pundak Bahu Langlang, maka Bahu Langlang itu terdorong beberapa langkah surut. Hampir saja Bahu Langlang kehilangan keseimbangannya. Namun dengan susah payah Bahu Langlang dapat menguasai dirinya sehingga ia tidak jatuh terjerembab. Dalam pada itu, isteri utama Bahu Langlang yang melihat keadaan suaminya telah menjadi marah pula. Ternyata isterinya bukan saja seorang yang garang. Tetapi ia juga seorang yang mampu turun ke medan. Karena itu, ketika Bahu Langlang mengalami kesulitan, isterinya yang garang itu telah meloncat ke gelanggang. Di tangannya digenggamnya sebilah pedang. "Kita akan membunuhnya bersama-sama," geram perempuan itu. Paksi meloncat selangkah surut. Dengan nada tinggi ia berkata, "Kita sudah membuat janji, Bahu Langlang." Bahu Langlang memang menjadi bimbang. Tetapi isterinya telah memutar pedangnya sambil berkata, "Jangan ragu-ragu. Janji dengan anak-anak tidak perlu ditepati." Bahu Langlang masih saja bimbang ketika kemudian isterinya itu meloncat menyerang Paksi. Paksi meloncat menghindar sambil berkata, "Bahu Langlang. Apa katamu jika kau tidak menepati janji, maka aku tidak akan hiraukan pula." "Persetan dengan janji itu," teriak isterinya. Tetapi sebelum mulutnya terkatup rapat, tongkat Paksi telah terayun menyambar pedang perempuan itu. Tanpa dapat berbuat apa-apa, pedangnya telah terlempar beberapa langkah daripadanya. "Bahu Langlang," berkata Paksi kemudian, "jika kau ingkar janji, maka aku akan membunuh isterimu, membunuhmu dan membunuh siapa saja yang akan menghalangi aku." Bahu Langlang termangu-mangu sejenak. Tetapi ujung tongkat Paksi seakan-akan melekat di dada isterinya. Dengan satu gerakan sederhana, isterinya itu memang akan dapat diselesaikan oleh anak muda itu. Tongkat itu dapat mendorong isterinya, tetapi mengingat kemampuan anak itu, maka tongkat itu akan dapat menghunjam di dada isterinya itu. Isteri utama Bahu Langlang yang sudah kehilangan pedangnya itu baru yakin, bahwa anak muda itu memang tidak mungkin dilawannya meskipun ia bertempur bersama suaminya, seorang yang memiliki nama besar di lingkungannya dan ditakuti banyak orang. Dalam pada itu, Paksipun berkata, "Bahu Langlang, aku ingin memberimu peringatan. Jika kau mencoba berpijak pada nama besarmu, maka dalam waktu yang singkat kau akan binasa. Aku beritahukan kepadamu, bahwa di kaki Gunung Merapi ini sekarang berkumpul orang-orang dari perguruan besar yang berilmu tinggi. Bukan sekedar seorang pemimpin perampok yang merasa dirinya tidak terkalahkan karena dapat membunuh orang-orang tua dan anak-anak yang ketakutan. Atau mencegat penjual dawet atau blantik kuda yang pulang dari pasar. Di daerah ini berkeliaran orang-orang dari Perguruan Goa Lampin, orang-orang dari Perguruan Sad dan orangorang perguruan di Alas Tegal Arang. Itu yang sudah aku lihat. Aku tidak tahu, apakah masih ada orang lain yang belum aku ketahui. Nah, camkan itu. Lihat wajahmu di permukaan kolam ikanmu. Kau tidak lebih dari seekor tikus kecil di antara sekelompok serigala yang buas." Bahu Langlang termangu-mangu mendengar kata-kata Paksi itu. Sementara Paksi itupun berkata, "Ketika aku mendengar namamu, aku kira kau juga seorang yang berilmu tinggi. Tetapi ternyata kau bukan apa-apa. Nah, sekarang tempatkan dirimu di antara segerombolan serigala yang berkeliaran di kaki Gunung Merapi ini. Menurut pendapatku, dalam waktu yang dekat, tentu ada di antara mereka yang datang kepadamu untuk menguji kebesaran namamu." "Apakah kau tidak berbohong, anak muda?" bertanya Bahu Langlang. "Buat apa aku berbohong kepadamu? Apalagi setelah aku tahu, siapa sebenarnya kau. Meskipun kau dengan tanpa berkedip membunuh pengikut-pengikutmu sendiri, dan bahkan dengan jantung yang sama sekali tidak tergetar mencambuk seorang perempuan yang tidak berdaya, tetapi kau bukan orang yang pantas aku perhitungkan. Apalagi dalam putaran perburuan pusaka sekarang ini." Bahu Langlang menundukkan kepalanya. Ia harus melihat kenyataan itu. Betapa kecilnya dirinya di hadapan anak muda itu, atau di hadapan orang-orang dari perguruan yang telah disebutnya. Karena itu, maka Bahu Langlang itupun berkata, "Aku akan menepati janjiku, anak muda. Tetapi aku minta kau mengatakan apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang." "Bawa Kemuning keluar dan serahkan kepada bibinya." "Aku tahu. Aku akan menyerahkannya kepada bibinya. Tetapi setelah itu, apa yang sebaiknya aku lakukan? Apakah orang-orang dari perguruan besar itu benar-benar akan datang kemari?" "Menurut dugaanku, mereka akan datang." "Apa yang harus aku lakukan?" bertanya Bahu Langlang. "Jangan sebut lagi namamu. Kau harus mengatakan bahwa Bahu Langlang sudah pergi. Yang ada hanyalah orang-orang yang menunggui rumahnya. Beritahu pengikut-pengikutmu, jangan sebut lagi nama Bahu Langlang itu. Kecuali itu, hentikan tingkah lakumu. Kau belum terlambat untuk memperbaiki jalan hidupmu." Bahu Langlang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian diamatinya kedua telapak tangannya sambil berdesis, "Tangan ini telah bernoda darah. Berapa orang yang telah aku bunuh. Apakah aku masih pantas untuk mencari jalan baru dalam hidupku." "Selagi kau sempat, lakukan. Tetapi jika kau sudah mati, maka kesempatan itu tidak akan pernah kau dapatkan." Bahu Langlang itu mengangguk-angguk. "Baiklah, anak muda, tetapi wawasanmu telah membuka mataku." Demikianlah, maka sejenak kemudian, Paksi telah menarik tongkatnya. Sementara Bahu Langlangpun telah mempersilahkannya kembali naik ke pendapa. Sejenak kemudian, maka Bahu Langlang dan isteri utamanya telah membawa seorang gadis ke pendapa itu pula. Seorang gadis yang matanya menjadi pengab. Nampaknya gadis itu tidak berhenti-henti menangis sejak ia berada di rumah itu. Paksi hanya sempat memandang gadis itu sekilas. Tetapi yang sekilas itu telah memberi kesan kepadanya, bahwa gadis itu memang cantik. Kemuning masih saja selalu menunduk. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya. Namun dalam pada itu, dengan suara yang berat, Bahu Langlang itupun berkata, "Kemuning, aku minta maaf atas perlakuan yang sudah kau alami selama ini di rumahku. Sekarang aku akan menyerahkanmu kepada bibimu. Kau akan bebas. Kami tidak akan menghalangi lagi jika kalian akan pergi ke Kembang Arum." "Aku akan mengantarkannya," desis Paksi. "Kau akan aman di bawah perlindungannya, Kemuning." Kemuning menjadi bingung. Ia merasakan satu suasana yang jauh berbeda. Sikap Bahu Langlang terasa berbeda dengan sikapnya sehari-hari. Meskipun Bahu Langlang selalu bersikap manis kepadanya, tetapi setiap kali Kemuning mendengar desir langkah kakinya, jantungnya serasa akan runtuh dari tangkainya. Tetapi saat itu, sikap Bahu Langlang memang berbeda. Ia merasakan perbedaan sikap itu dan sentuhan yang paling dalam dari tekanan kata-kata Bahu Langlang itu. Sikap manis Bahu Langlang rasa-rasanya tidak dibuat-buat seperti biasanya Kemuning tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Ketika ia memandang bibinya, maka dilihatnya perempuan itu berusaha menahan tangisnya. Namun dalam pada itu, Paksipun berkata, "Marilah. Kita tinggalkan tempat ini. Aku antarkan kalian ke Kembang Arum." Kemuning termangu-mangu sejenak. Sementara Nyi Permatipun bertanya, "Apakah kami diperkenankan berbenah diri." "Tentu, Bibi," sahut Bahu Langlang dengan serta-merta. "Lakukan apa yang ingin Bibi lakukan. Bibi tahu, bahwa sekarang aku sudah tidak berdaya." Nyi Permati masih ragu-ragu. Namun Paksipun kemudian berkata, "Silahkan berbenah diri. Aku menunggu." Sejenak kemudian, maka Nyi Permati dan Kemuningpun telah selesai berbenah diri. Mereka membawa sebuah bungkusan kecil. Sebungkus barang-barang yang masih tersisa. Di antaranya adalah kain lurik yang telah ditawarkan kepada Paksi. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Paksipun telah meninggalkan rumah Bahu Langlang bersama Nyi Permati dan Kemuning. Bahu Langlang dan isterinya mengantar mereka sampai di regol halaman rumahnya. Demikian mereka meninggalkan halaman rumah itu, maka Kemuning merasa seakan-akan dirinya baru menapak ke dalam sebuah mimpi. Ia sudah tidak lagi berpengharapan untuk dapat keluar dari rumah itu. Kemuning yang masih terlalu muda itu rasa-rasanya sudah berada di antara kuku-kuku seekor harimau yang kelaparan. Namun tiba-tiba ia sudah bergerak meninggalkan rumah itu. Tetapi Kemuning yang tidak tahu apa yang terjadi masih belum percaya sepenuhnya bahwa ia akan benar-benar lepas dari tangan Bahu Langlang. Kemuning masih membayangkan, bahwa pada suatu saat nanti, Bahu Langlang akan memburunya dan membawanya kembali ke rumahnya. Tetapi ketika mereka keluar dari padukuhan itu, Nyi Permati itupun berkata, "Kita sudah lepas dari tangan hantu yang menakutkan itu, Kemuning. Yang Maha Agung telah bermurah hati mengirimkan anak muda itu untuk membebaskanmu." Di luar sadarnya Kemuning berpaling. Namun ketika ia menyadari bahwa Paksi juga sedang memandanginya, maka Kemuningpun segera melemparkan pandangan matanya ke kejauhan. Paksi sendiri juga menggeser pandangan matanya. Namun yang sekilas itu mempertajam kesannya, bahwa Kemuning memang gadis yang cantik. Itulah sebabnya, maka Bahu Langlang ingin menjadikan gadis yang masih belum dewasa penuh itu sebagai isterinya, meskipun landasan keinginan itu semata-mata karena nafsu. Demikianlah, maka ketiga orang itu berjalan semakin jauh. Paksi yang sudah mendapat ancarancar arah padukuhan Kembang Arum tidak terlalu sulit untuk menempuh perjalanan yang sudah tidak terlalu jauh itu. Paksi memang mengajak mereka untuk berjalan melewati jalan pinggir hutan. Paksi sama sekali tidak menjadi takut. Sudah setahun ia tinggal di tepi hutan. Bahkan setiap kali ia telah menyusup memasuki hutan itu untuk berburu tanpa merasa takut mendengar aum harimau sekalipun. Kemuning dan bibinya memang merasa ngeri untuk menempuh jalan sempit di pinggir hutan itu. Tetapi karena Paksi yang berjalan di depan itu sama sekali tidak nampak ragu, maka merekapun berjalan saja mengikutinya. Ketika mereka melalui jalan yang rumit, karena lereng yang menurun agak terjal dan berbatubatu padas yang tajam, maka Paksipun berkata, "Jika kita menempuh jalan melingkar, maka jaraknya akan menjadi jauh. Pedagang kelapa itu tentu membawa pedatinya melewati jalan melingkar itu. Tetapi jaraknya dapat berlipat." Kedua orang perempuan itu tidak menyahut. Dengan susah payah dibantu oleh Paksi, akhirnya keduanya berhasil melewati jalan yang terjal itu. Paksi yang mengetahui bahwa kedua orang perempuan itu menjadi letih, telah mengajak mereka untuk beristirahat sejenak. Namun kemudian merekapun melanjutkan perjalanan mereka kembali. Ketika mereka melewati sebuah sumber air kecil yang jernih, maka merekapun telah berhenti untuk minum beberapa teguk untuk melepaskan haus mereka. Demikianlah, maka Nyi Permati dan Kemuning telah menempuh sebuah perjalanan yang berat. Tetapi mereka memang sudah berniat melakukannya. Bahkan sebelumnya mereka juga sudah menempuh jalan yang panjang pula sebelum mereka jatuh ke tangan Bahu Langlang. Namun ketika senja turun, mereka masih belum memasuki Padukuhan Kembang Arum. Tetapi mereka masih sempat bertanya kepada seseorang yang pulang dari sawahnya, tentang letak padukuhan itu. "Sudah tidak jauh lagi, anak muda. Jika jalan ini nanti menyilang sebuah sungai kecil, maka berantara dua bulak lagi, kalian akan sampai." "Apakah kami akan sampai ke padukuhan itu wayah sepi bocah atau bahkan sebelumnya?" bertanya Paksi pula. "Tergantung sekali kepada kecepatan jalan kalian," petani itu tersenyum. Paksipun tersenyum pula. Katanya, "Ki Sanak benar." "Kau berjalan dengan dua orang perempuan yang tentu tidak akan dapat berjalan secepat jika kau sendiri," berkata petani itu. "Kau dapat bertanya kepada para peronda. Hampir di setiap padukuhan terdapat setidaktidaknya sebuah gardu ronda di dekat banjar. Mudah-mudahan di Kembang Arum gardu itu terisi setiap malam. Atau mungkin sekali para peronda itu berada di banjar itu sendiri." "Terima kasih, Ki Sanak," Paksi mengulang. Demikianlah, maka Paksipun telah melanjutkan perjalanannya bersama Nyi Permati dan Kemuning. Seperti yang dikatakan oleh petani yang pulang dari sawahnya itu, maka beberapa saat kemudian mereka bertiga telah melintasi sebuah sungai. Dengan demikian, maka mereka tinggal menempuh perjalanan dua bulak lagi untuk sampai ke Padukuhan Kembang Arum. "Sebenarnya aku pernah pergi ke Kembang Arum," berkata Nyi Permati, "tetapi sudah terlalu lama. Agaknya aku sudah sulit untuk mengingatnya. Bahkan jalan menuju ke padukuhan itupun aku sudah lupa, sehingga kami tersesat." "Jadi Bibi sudah pernah ke Kembang Arum?" bertanya Paksi. "Ya, Ngger. Tetapi aku memang sulit untuk mengingat sesuatu. Juga jalan ke Kembang Arum. Ketika aku berangkat mengantar Kemuning, aku kira aku dapat mengenali jalan-jalannya kembali. Tetapi ternyata tidak. Bahkan kami telah tersesat ke sarang serigala itu. Bersukurlah kami, bahwa Yang Maha Agung masih berbelas kasihan, sehingga aku telah bertemu dengan Angger di pasar itu." Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Bertiga mereka berjalan menyusuri bulak di gelapnya malam. Nyi Permati dan Kemuning memang tidak dapat berjalan secepat Paksi. Karena itu, maka Paksi harus menyesuaikan diri. Berjalan lamban sekali. Namun akhirnya dua bulak itupun telah mereka lampaui. Tetapi mereka juga sudah melampaui wayah sepi bocah. Pada wayah sepi uwong, mereka telah memasuki sebuah padukuhan yang mereka duga adalah Padukuhan Kembang Arum. Namun tiba-tiba Nyi Permati berkata, "Ya, kita telah sampai. Aku ingat tugu yang ada di dekat regol itu. Tugu itu pernah aku lihat ketika aku datang kemari waktu itu. Tugu yang dibuat dari batu itu memang sangat menarik perhatian, karena jarang sekali ada padukuhan yang mempunyai ciri seperti itu." Tiba-tiba saja Kemuningpun bertanya, "Jadi, kita benar-benar sampai ke Kembang Arum?" "Ya, Kemuning. Kita sudah sampai di Padukuhan Kembang Arum. Yang Maha Agung telah menuntun perjalanan kita." Kemuning itupun tiba-tiba saja telah memeluk bibinya. Ia tidak dapat menahan tangisnya. Sambil terisak ia berkata, "Aku hampir tidak percaya Bibi. Semua harapanku seakan akan telah pupus." "Sudahlah. Doa kita didengar-Nya. Kita wajib mengucap sukur bahwa akhirnya kita sampai juga di padukuhan ini." Paksilah yang kemudian berkata, "Baiklah. Marilah kita berjalan terus. Kita baru menemukan Padukuhan Kembang Arum. Kita masih harus menemukan rumah orang yang Bibi cari." "Setelah sampai di sini, mudah-mudahan aku dapat mengingat letak rumah itu, Ngger." "Marilah kita coba," ajak Paksi. Merekapun kemudian melangkah memasuki padukuhan. Gelap malam memang agak membingungkan Nyi Permati. Namun demikian, perempuan itu masih dapat mengenali beberapa ciri yang masih ada di padukuhan itu. Ketika mereka sampai di sebuah simpang empat di dalam padukuhan itu, Nyi Permatipun berkata, "Aku masih ingat, pohon beringin yang dipagari ini. Aku ingat benar. Kita harus berbelok ke kanan." Mereka bertigapun telah berbelok ke kanan. Jalan menjadi lebih kecil dari jalan yang mereka lalui semula. Namun Nyi Permati semakin mengenali lingkungan di sekitarnya meskipun gelap malam rasa-rasanya menjadi semakin pekat di dalam padukuhan. Tetapi beberapa oncor yang ada di regol-regol halaman membantu Nyi Permati mengamati jalan yang dilaluinya itu. Ketika mereka sampai di sebuah regol halaman rumah yang terhitung besar dan berhalaman cukup luas, Nyi Permati itu berhenti. Di sebelah regol terdapat sebuah gendi berisi air. Sebuah siwur tergantung pada sebuah patok di dekat gendi itu. Ketika ia mengunjungi rumah saudaranya beberapa tahun yang lalu, ia juga melihat sebuah gentong air di dekat regol halaman. Beberapa saat ia mengingat-ingat. Namun kemudian katanya, "Aku yakin, bahwa rumah inilah rumah pamanmu, Kemuning." "Bibi benar-benar yakin?" bertanya Kemuning. "Ya. Aku yakin. Rasa-rasanya aku memang mengenali lingkungan ini, karena aku berada di sini agak lama waktu itu." Ketika Kemuning nampak ragu-ragu, bibinya berkata, "Semuanya belum berubah, Kemuning. Aku masih mengenalinya, karena waktu itu aku berada beberapa pekan disini." "Jika Bibi yakin, marilah," berkata Paksi kemudian. Ketika Paksi kemudian menyentuh pintu regol, ternyata pintu itu tidak diselarak dari dalam. Demikian pintu itu terbuka, maka perlahanlahan mereka melangkah memasuki halaman itu. Demikian mereka berada di halaman, maka Nyi Permati itupun berdesis, "Ya. Aku semakin yakin. Rumah inilah rumah pamanmu, Kemuning. Rumah Kakang Pananggungan." Kemuning berdiri termangu-mangu di halaman. Dipandanginya rumah yang terhitung besar itu. Lampu minyak yang menyala di pendapa bergetar disentuh angin, seolah-olah menyampaikan selamat datang kepada Kemuning dan bibinya. Selangkah-selangkah mereka mendekati pendapa yang sepi. Namun kemudian Paksi telah melihat pintu seketeng. Ternyata pintu seketeng tertutup dan selarak dari dalam. Sementara itu gandok kanan dan kiri nampak sepi. "Jika demikian, Bibi harus mengetuk pintu pringgitan," berkata Paksi. Nyi Permati mengangguk kecil. Namun ketika kakinya menyentuh tangga pendapa, perempuan itu nampak menjadi ragu. Kemuning berdiri termangu-mangu. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Namun akhirnya Nyi Permati itu telah memaksa diri naik ke pendapa dan melangkah ke pringgitan. Perlahan-lahan Nyi Permati mengetuk pintu pringgitan itu. Sejenak Nyi Permati menunggu. Karena agaknya belum seorangpun yang mendengarnya, maka Nyi Permati telah mengulanginya kembali. Baru kemudian terdengar suara seseorang dari dalam, "Siapa di luar?" "Aku," jawab Nyi Permati. "Aku siapa?" "Permati." "Permati?" terdengar suara itu menghentak. Nampaknya orang di dalam rumah itu terkejut mendengar nama Permati. "Kau benar Permati?" bertanya orang yang di dalam. Nyi Permatipun mengenali suara itu. Dengan suara bergetar ia menjawab, "Ya, Kakang. Aku Permati." Terdengar langkah tergesa-gesa. Tidak hanya seorang. Tetapi dua orang. Sejenak kemudian, pintupun terbuka. Dua orang suami isteri berdiri di pintu pringgitan yang terbuka itu. "Permati. Permati, kenapa kau?" Nyi Permati hampir tidak dapat mengatakan sesuatu. Terasa matanya menjadi panas dan tenggorokannya bagaikan tersumbat. "Mbokayu," desis Nyi Permati. Nyi Pananggunganpun melangkah mendekatinya. Kedua orang perempuan yang mendekati usia tuanya itu berpelukan. Dengan suara sendat Nyi Permati itupun berkata, "Aku datang dengan kemenakanmu, Kemuning." "Kemuning? Kau bawa Kemuning kemari?" Nyi Permati yang melepaskan pelukan Nyi Pananggungan itupun kemudian berpaling. Sambil melambaikan tangannya ia berkata, "Kemarilah Kemuning. Ini pamanmu. Ia tidak akan lupa kepadamu, meskipun ketika paman dan bibimu mengunjungimu, kau masih kanak-kanak." "Kaukah itu Kemuning?" bertanya Nyi Pananggungan. Kemuningpun melangkah naik ke pendapa dan langsung pergi ke pringgitan. Bibinyapun menyongsongnya pula. Dalam pelukan bibinya, rasa-rasanya Kemuning menemukan ketenangan dan kedamaian hati. Karena itu, maka air matanya yang meleleh dari pelupuknya tidak terbendung lagi, bagaimanapun juga ia berusaha menahannya. "Marilah. Masuklah," Ki Pananggungan mempersilahkan. Namun kemudian iapun bertanya, "Siapakah anak muda itu?" "Anak itu telah menolong kami, Kakang. Tanpa anak muda itu, kami tidak akan sampai di sini." Ki Pananggungan memandang Paksi dengan tajamnya. Namun kemudian katanya, "Jika demikian, marilah. Naiklah anak muda." Paksipun naik pula ke pendapa. Demikianlah, sejenak kemudian mereka sudah duduk di ruang dalam rumah Ki Pananggungan. Tanpa tertahan-tahan lagi, Nyi Permati telah menceriterakan apa yang telah dialami oleh Kemuning di rumahnya dan di perjalanan menuju ke Kembang Arum. "Apa sebenarnya yang terjadi dengan ayah dan ibu Kemuning?" bertanya Ki Pananggungan. "Tidak ada yang tahu, Kakang. Tiba-tiba saja keduanya telah hilang." "Dan Kemuning jadi sendiri di rumah?" bertanya Nyi Pananggungan. "Ya. Itulah sebabnya, kenapa aku mempunyai gagasan untuk membawanya kemari. Namun hampir saja Kemuning terjerumus ke dalam kenistaan sepanjang umurnya. Jika itu terjadi, maka aku adalah orang yang paling bersalah." "Ayah dan ibu Kemuning memang suka bertualang. Tetapi jika mereka sudah mempunyai seorang anak gadis, maka mereka tidak boleh memikirkan diri mereka sendiri," "Yang aku cemaskan, jika terjadi sesuatu atas mereka. Mungkin mereka pergi bukan karena niat mereka akan pergi. Tetapi ada sesuatu yang memaksa mereka. Jika hal itu tidak membahayakan mereka, sukurlah. Tetapi jika kepergian mereka itu justru karena mereka tidak dapat mengelakkannya, maka itu akan sangat memprihatinkannya." Ki Pananggungan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Ki Pananggungan itupun kemudian telah berpaling kepada Paksi sambil berkata, "Jadi kau sudah mengalahkan Bahu Langlang?" "Mungkin satu kebetulan saja, Ki Pananggungan," jawab Paksi. Ki Pananggungan mengangguk-angguk. Katanya, "Aku sudah mendengar nama Bahu Langlang. Ia seorang pemimpin perampok yang ditakuti di lingkungan sekitarnya. Apakah kau yang masih semuda itu mampu mengalahkannya?" "Sudah aku katakan, Ki Pananggungan, mungkin satu kebetulan saja." "Anak muda, aku justru menjadi curiga kepadamu." Paksi terkejut. Nyi Permati dan Kemuningpun terkejut pula. Hampir di luar sadarnya, Nyi Permati berkata, "Anak muda itu sudah membebaskan kami dari tangan Bahu Langlang." "Kau memang melihat seakan-akan peristiwa seperti itu sudah terjadi. Tetapi ini adalah sebuah permainan. Anak muda ini adalah salah seorang dari orang-orang Bahu Langlang itu sendiri." Wajah Permati menjadi berkerut. Namun iapun bertanya, "Lalu, apakah keuntungannya dengan permainan itu? Apapun yang mereka lakukan, tetapi kami sudah bebas dari tangan Bahu Langlang." "Kita memang tidak tahu, apa maksud yang sebenarnya. Tetapi aku menjadi tidak percaya kepada anak ini, bahwa ia telah dapat mengalahkan Bahu Langlang." Paksi menjadi bingung. Demikian pula Nyi Permati dan Kemuning. "Anak muda," berkata Ki Pananggungan sambil berdiri dan melangkah ke pintu. Kemudian Ki Pananggungan itupun telah membuka pintu itu sambil berkata, "Pergilah. Katakan kepada Bahu Langlang, jika ia ingin mengambil Kemuning, maka ia harus melangkahi mayatku lebih dahulu." Paksi benar-benar tidak mengerti. Namun demikian iapun telah bangkit pula sambil berkata, "Ki Pananggungan, aku tidak berkeberatan sama sekali jika aku harus pergi. Tetapi aku masih ingin menjelaskan, bahwa aku tidak mempunyai niat buruk, apalagi merupakan sebuah permainan yang digerakkan oleh Bahu Langlang itu sendiri." "Pergilah. Gerak bibirmu membuat darahku menjadi panas. Bau nafasmu membuat aku mual." Telinga Paksi menjadi panas. Tetapi ketika ia berpaling kepada Nyi Permati dan Kemuning, maka iapun menarik nafas dalam-dalam. Paksi mencoba untuk menenangkan perasaannya yang bergejolak di dadanya. Dengan nada rendah, Paksipun kemudian berkata, "Baiklah. Aku mohon diri, Ki Pananggungan." Lalu katanya, "Aku mohon diri Bibi dan juga kau Kemuning. Aku mohon maaf, jika kalian juga menganggap aku bersalah." "Sudahlah, pergilah. Jangan terlalu banyak bicara." Paksipun kemudian melangkah keluar pintu. Ki Pananggungan bergeser mundur selangkah. Sementara itu Nyi Permati dan Kemuning menjadi kebingungan. Bahkan Nyi Pananggunganpun terheran-heran melihat sikap suaminya. Tetapi ternyata kemarahan Ki Pananggungan tidak terhenti sampai sekian. Ketika kemudian Paksi turun ke halaman, Ki Pananggungan justru telah menyusulnya sambil berkata, "Anak muda, kau kira kau dapat pergi begitu saja?" Paksi berhenti melangkah. Ia mundur setapak ketika Ki Pananggungan itu menyusulnya turun ke halaman. "Aku tidak tahu maksud ki Pananggungan." "Kau adalah anak buah Bahu Langlang yang ganas itu. Kau telah melakukan satu permainan yang tidak aku ketahui maksudnya. Nah, sekarang, untuk apa kau berpura-pura dapat mengalahkan Bahu Langlang dan kemudian membawa Kemuning kemari? Apakah dengan demikian kau mendapat tugas dari Bahu Langlang untuk mengetahui rumahku, sehingga pada suatu saat ia akan datang untuk merampok Kemuning dan seluruh harta bendaku, karena Bahu Langlang mengetahui bahwa aku adalah seorang yang kaya." "Ki Pananggungan," berkata Paksi kemudian, "kenapa Ki Pananggungan berprasangka demikian buruknya kepadaku? Seandainya saja aku menolong Kemuning, tetapi aku tidak menyesal. Aku sudah merasa puas bahwa aku telah berhasil membebaskan gadis itu dari penderitaan yang berkepanjangan." "Jangan mengigau," potong Ki Pananggungan. "Sekarang katakan, untuk apa sebenarnya kau antarkan Kemuning kemari?" "Ki Pananggungan," sahut Paksi, "aku tidak akan dapat menjawab pertanyaanmu." "Setan kau anak muda. Aku tahu bahwa tongkat itu adalah senjatamu. Tetapi itu sama sekali tidak menggetarkan aku. Sekarang kau boleh pilih. Kau jawab pertanyaanku, atau kau tidak akan pernah keluar dari halaman rumahku." "Aku tidak akan memilih, Ki Pananggungan," jawab Paksi. "Tetapi sudah tentu aku tidak akan melepaskan nyawaku begitu saja. Seandainya aku harus mati di sini, biarlah aku mati dalam mempertahankan hidupku ini." "Bagus," sahut Ki Pananggungan, "bersiaplah. Pakailah tongkatmu. Aku akan memakai senjataku." Paksi menjadi berdebar-debar. Ia tidak pasti, apakah yang telah terjadi. Tetapi sudah tentu ia tidak akan membiarkan dirinya diperlakukan tidak adil. Dalam pada itu, Ki Pananggunganpun telah mengurai senjatanya pula. Sebuah cambuk yang berjuntai panjang, yang nampaknya selalu dikenakannya sebagai ikat pinggangnya. Bahkan ketika ia tidur sekalipun. Nyi Pananggungan, Nyi Permati dan Kemuningpun telah berdiri di pendapa pula. Mereka menjadi sangat tegang. Lebih-lebih Nyi Permati. Ia tahu benar bahwa Paksi tidak bersalah. Tetapi ia harus menghadapi Ki Pananggungan, seorang yang diketahui memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Mereka hanya dapat menyaksikan apa yang bakal terjadi dengan jantung yang berdebar-debar. Demikianlah, maka sejenak kemudian, cambuk Ki Pananggunganpun mulai bergetar. Satu ledakan yang tidak terlalu keras telah terdengar. Sementara itu, Ki Pananggungan itupun berkata, "Aku tidak ingin membangunkan tetangga-tetanggaku karena ledakan cambukku ini." Namun telinga Paksi yang mendengar ledakan itu, serta jantung Paksi yang tersentuh getarannya, merasakan bahwa ledakan yang lunak itu justru mengandung tenaga yang sangat tinggi. Karena itu, maka iapun berkata, "Kau tidak usah mengelabuhi aku, Ki Pananggungan." "Mengelabuhi apa?" bertanya Ki Pananggungan. "Ledakan cambuk Ki Pananggungan bukan sekedar agar tidak membangunkan tetanggatetangga." Wajah Ki Pananggungan berkerut. Hampir di luar sadarnya ia berdesis, "Jadi kau dapat menangkap getar ilmu cambukku?" Paksi tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi Ki Pananggungan betapapun tinggi ilmu orang itu. Ki Pananggunganpun kemudian telah mulai menyerang dengan cambuk itu tetapi tidak menggapainya. Bahkan Paksipun sempat meloncat maju pula sambil menjulurkan tongkatnya. Ki Pananggungan seakan-akan memang menunggu. Dengan cepat, Ki Pananggungan telah menghentakkan cambuknya sehingga juntainya telah membelit tongkat Paksi. Dengan sertamerta Ki Pananggungan menarik cambuknya untuk merenggut tongkat anak muda itu. Tetapi Ki Pananggungan terkejut. Tongkat itu tidak terlepas dari tangan Paksi. Anak muda itupun seakan-akan tidak goyah oleh tarikannya. Untuk beberapa saat mereka mengadu tenaga. Keduanyapun telah mulai mengerahkan kekuatan mereka, bahkan mulai merambah ke tenaga dalam mereka masing-masing. Ki Pananggungan benar-benar menjadi heran. Anak muda itu mempunyai kekuatan dan tenaga dalam yang sangat besar. Ki Pananggungan tidak mampu merenggut tongkat di tangan Paksi, meskipun Paksi yang berusaha untuk menghentakkan cambuk Ki Pananggungan juga tidak berhasil. Namun Ki Pananggungan dengan kemampuan ilmu cambuknya terpaksa mengurai belitan ujung cambuknya pada tongkat Paksi, karena Ki Pananggungan tidak yakin bahwa ia akan dapat merampas tongkat itu. Selanjutnya, Ki Pananggunganpun telah menyerang Paksi dengan hentakan-hentakan cambuk sendal pancing. Namun kemudian juntai cambuk itu telah menebas mendatar dengan derasnya. Bahkan kemudian juntai cambuk itu mampu terjulur lurus menikam seperti ujung sebatang tombak. Paksipun menyadari, Ki Pananggungan adalah seorang yang berilmu tinggi. Tidak seperti Bahu Langlang yang garang tetapi tidak mempunyai landasan yang cukup meyakinkan. Karena itulah, maka perkelahian itu menjadi semakin seru. Tongkat Paksi berputaran dengan cepat. Namun sekali-sekali tongkat itu juga terjulur menyerang ke arah jantung. Ujung cambuk Ki Pananggungan rasa-rasanya bergerak semakin cepat pula. Tetapi tongkat Paksipun menjadi semakin berbahaya pula bagi lawannya. Dalam pada itu, Paksi dengan serta-merta telah meloncat mengambil jarak ketika terasa lengannya menjadi panas. Ternyata ujung cambuk Ki Pananggungan itu telah menyengat kulitnya. Meskipun tidak terlalu dalam, tetapi Paksi sudah terluka karenanya. Paksi memandang Ki Pananggungan dengan sorot mata yang membara. Di dalam hatinya iapun berkata, "Apa sebenarnya yang dikehendaki orang ini? Tetapi ia sudah benar-benar melukai lenganku. Aku tidak peduli lagi, apa yang sebenarnya dikehendaki." Dengan demikian, maka Paksipun telah menghentakkan kemampuannya pula. Sementara itu, terasa seakan-akan ujung cambuk Ki Pananggungan terdengar berdesing di telinganya. Namun tongkatnyapun sekali-sekali telah menyentuh pakaian Ki Pananggungan pula. Bahkan ketika ujung cambuk Ki Pananggungan menggapai lambungnya, Paksi sempat meloncat menyamping. Tetapi demikian ujung cambuk itu terayun lewat, maka Paksipun segera meloncat dengan cepatnya sambil menjulurkan tongkatnya. Ki Pananggungan berusaha untuk menghindar dengan memiringkan tubuhnya. Tetapi Ki Pananggungan ternyata telah terlambat. Meskipun ujung tongkat Paksi tidak mengenai dadanya, tetapi ujung tongkat itu telah mendorong bahunya. Ki Pananggungan berdesah tertahan. Selangkah ia terdorong surut. Namun Ki Pananggungan justru telah meloncat surut beberapa langkah untuk mengambil jarak. Tetapi Paksi tidak memberinya kesempatan. Dengan tangkasnya ia meloncat memburu. Tongkatnya sesekali berputar. Namun kemudian terjulur mengarah lambung. Pertempuran berikutnya menjadi semakin sengit. Keduanya telah menapak pada tataran ilmu tertinggi mereka. Cambuk Ki Pananggungan menggeliat dengan cepat, sementara tongkat Paksi berputar seperti baling-baling. Namun Ki Pananggungan tidak pernah berhasil merampas tongkat Paksi itu. Namun pengalaman dan kematangan sikap Ki Pananggungan ternyata ikut menentukan keseimbangan dari pertempuran itu. Ketika mereka benar-benar sudah sampai ke puncak, maka ternyata bahwa Paksi kadang-kadang masih terhambat oleh kelambatannya mengambil sikap. Dalam pertempuran yang keras dan cepat itu, setiap kejap dapat menentukan kelanjutannya. Kelambatan Paksi mengambil sikap dalam perkelahian itu, kadang-kadang sangat merugikannya. Lawannya memanfaatkan setiap keadaan sebaik-baiknya untuk mendesaknya. Bahkan kemudian sekali lagi ujung cambuk Ki Pananggungan telah menggores pundaknya. Paksi yang menjadi sangat marah itu masih sempat membuat pertimbangan. Ia yakin bahwa sulit baginya untuk dapat mengalahkan lawannya. Ternyata Ki Pananggungan memiliki ilmu lebih tinggi dari ilmu yang dimilikinya meskipun hanya selapis tipis. Tetapi Paksi tidak akan menyerah. Ia akan dapat mengalami nasib yang sangat buruk di tangan Ki Pananggungan yang mencurigainya bahwa ia adalah pengikut Bahu Langlang. Karena itu, maka Paksi tidak mempunyai pilihan lain. Dalam keadaan yang terdesak, maka Paksi telah meloncat mengambil jarak. Diangkatnya tongkat tinggi-tinggi. Sekali berputar, kemudian tongkat itu melekat di sisi tubuhnya, lurus mendatar menghadap ke arah lawannya. Tangan kirinya yang menyilang dadanya menggenggam tongkatnya pada sisi kanan tubuhnya, sementara tangan kanannya menggenggam tongkatnya lebih ke depan. Paksi memang belum pernah mengetrapkan ilmu puncak yang disalurkan lewat tongkatnya. Tetapi ia pernah mendapatkan petunjuk dari Ki Marta Brewok yang kemudian dikembangkannya menurut ketajaman penalarannya. Dalam keadaan yang rumit dan mendesak itu, unsur gerak yang siap mengungkapkan ilmunya itu seakan-akan telah hadir dengan sendirinya, seakan-akan tangan dan kakinya yang sedikit merendah pada lututnya itu, tiba-tiba saja telah bergerak sesuai dengan seharusnya yang dilakukan. Tetapi satu hal yang dalam keadaan gawat itu tidak sempat diingatnya, Paksi memang pernah melihat lukisan di dinding gua itu, unsur geraknya sebagaimana dilakukannya itu. Ki Pananggungan yang melihat sikap Paksi itu terkejut. Tiba-tiba iapun meloncat surut untuk mengambil jarak. Sebelum Paksi melepaskan serangan yang dilandasi dengan ilmu pamungkasnya, maka Ki Pananggungan itupun berkata, "Tahan anak muda. Berhentilah. Jangan kau lanjutkan ungkapan ilmumu itu." Paksi yang sudah siap untuk meloncat menyerang, memang menjadi tertegun karenanya. Tetapi ia tetap bersiap untuk meloncat menyerang dengan landasan ilmu puncaknya itu. "Kenapa Ki Pananggungan mencegah aku? Apakah Ki Pananggungan menganggap bahwa tidak sepantasnya aku mempergunakan ilmu puncak yang aku miliki meskipun aku sudah terdesak dan tidak mungkin lagi bertahan tanpa landasan ilmu puncak ini?" "Sabarlah, anak muda," suara Ki Pananggungan telah berubah. "Kau memang anak muda yang luar biasa. Aku sama sekali tidak mengira bahwa kau telah berdiri di atas tataran ilmu yang demikian dahsyatnya. Bahkan kau telah mampu melandasi ilmumu dengan puncak ilmu yang sangat berbahaya. Tetapi puncak ilmumu itu tidak hanya berbahaya bagi lawanmu. Landasan puncak ilmumu itu masih dapat membahayakan dirimu sendiri." "Kenapa?" "Kau telah mempelajarinya dengan tuntas. Bahkan hampir sempurna. Tetapi pada saat terakhir, kau masih berkesan sangat tergesa-gesa. Kemapanan bagian dalam tubuhmu, nampaknya masih lamban dari gejolak kemarahanmu, sehingga saatnya untuk melepaskan ilmumu masih belum tepat. Seranganmu akan menjadi sangat berbahaya bagi lawanmu. Tetapi dengan perlawanan yang mapan, maka jantungmu sendiri akan terluka. Apalagi jika lawanmu memiliki kekuatan yang seimbang dengan kekuatan ilmu puncakmu, tetapi karena pengalaman dan kematangan sikapnya lebih tinggi, maka kau mengalami kesulitan." "Kenapa Ki Pananggungan menghiraukan keadaanku. Jika Ki Pananggungan memiliki pengalaman dan kematangan ilmu lebih tinggi dari aku, kenapa Ki Pananggungan tidak mengetrapkannya dan tidak perlu mempedulikan aku, apakah aku akan menjadi debu atau adeg pengamun-amun." Ki Pananggungan tersenyum. Katanya, "Kau masih marah." Paksi mengerutkan dahinya. Tetapi ia menjawab, "Ki Pananggungan telah melukai aku." Ki Pananggungan tertawa. Katanya, "Bukankah luka itu tidak berbahaya. Kau juga sudah menyakiti aku. Pundakku rasa-rasanya telah pecah oleh ujung tongkatmu." "Aku tidak mengerti. Apa maksud Ki Pananggungan sebenarnya. Apakah Ki Pananggungan sekedar mempermainkan aku. Tetapi karena Ki Pananggungan melihat kemungkinan buruk, maka Ki Pananggungan lalu bersikap lain." "Aku mengerti bahwa kau akan marah. Tetapi jangan mulai menyombongkan diri. Itu sama berbahayanya dengan ketidakmapananmu untuk melepaskan ilmu pamungkasmu." Paksi tertegun sejenak. Peringatan Ki Pananggungan itu di telinganya terdengar seolah-olah gurunya, Ki Marta Brewoklah yang mengucapkannya. Jika ia terperosok ke dalam sikap sombong, maka jalannya menuju ke masa depannya akan menjadi suram. "Paksi," berkata Ki Pananggungan, "aku memang curiga, bahwa kau benar benar mampu mengalahkan Bahu Langlang. Bukan karena kau adalah salah seorang pengikutnya, tetapi aku menduga kau telah mengambil Kemuning dan bibinya dengan cara yang licik. Karena itu, aku mengujimu, apakah kau benar-benar memiliki ilmu yang pantas untuk mengalahkan Bahu Langlang. Namun ternyata ilmumu jauh lebih tinggi dari ilmu yang diperlukan untuk mengalahkan Bahu Langlang, karena aku tahu tataran kemampuannya meskipun aku belum pernah berhadapan dengan orang itu. Bahkan aku sempat menjadi jengkel, karena kau ternyata mampu mengimbangi ilmuku sendiri. Tetapi ketika kau akan melepaskan ilmu pamungkasmu, aku melihat kelemahanmu. Jika aku terpaksa bertahan akan terjadi benturan, maka aku mencemaskan bagian dalam tubuhmu. Nampaknya kau masih memerlukan pengalaman dan kemapanan. Meskipun demikian, aku sudah sangat mengagumimu. Aku belum pernah bertemu ataupun mendengar, bahwa anak muda seumurmu, sudah memiliki tataran ilmu sebagaimana kau miliki." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, ketiga orang perempuan yang menyaksikan pertempuran itu berhenti, menjadi sedikit lega. Tetapi mereka tidak mengerti, apa sebenarnya yang dikehendaki oleh Ki Pananggungan. Pembicaraan pendek itu memang sedikit membuka hati mereka, namun mereka masih memerlukan penjelasan. "Marilah, Paksi," berkata Ki Pananggungan. "Jika kau sudah tidak marah lagi, naiklah. Kita kembali duduk di ruang dalam. Barangkali ada yang perlu kita bicarakan." Paksi menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika ia memandang wajah Ki Pananggungan di bawah cahaya suram lampu minyak pendapa, rasa-rasanya Paksi dapat mempercayainya. Karena itu, maka Paksipun tidak menolak. Iapun kemudian naik ke pendapa dan berjalan lewat pintu pringgitan masuk ke ruang dalam. Seperti ketika Paksi bersama Nyi Permati dan Kemuning baru datang, maka merekapun duduk di ruang tengah itu. Suasana memang masih agak tegang. Paksi belum dapat melepaskan gejolak perasaannya. Apalagi lukanya masih terasa pedih. Namun Ki Pananggungan itupun berkata, "Biarkan Nyi Permati mengobati lukamu, Paksi. Barangkali kau belum mengetahui, bahwa Bibi Permati adalah seorang yang sangat menguasai ilmu obat-obatan." "Ah, tidak seperti itu. Tetapi barangkali aku dapat membantu membersihkan luka-lukamu itu," sahut Nyi Permati. Sementara Nyi Permati mengobati luka yang tidak terlalu dalam pada tubuh paksi, maka Nyi Pananggunganpun telah berada di dapur. Kemuning ikut pula membantunya. Nyi Pananggungan telah menghidangkan minuman hangat dan makanan seadanya. Sayur yang dingin telah dihangatkan. Sementara itu, beberapa butir telur di petarangan, telah digoreng pula. Setelah makan, Ki Pananggungan telah mempersilahkan tamu-tamunya untuk beristirahat. Kepada Paksi, Ki Pananggungan itupun berkata, "Besok sajalah kau bercerita tentang macammacam hal. Sekarang beristirahatlah. Kau dapat tidur di gandok." Paksi kemudian telah diantar sendiri oleh Ki Pananggungan ke gandok, setelah membersihkan dirinya di pakiwan. Tetapi malam tinggal sejengkal. Demikian Paksi berbaring, maka terdengar suara ayam jantan berkokok menyambut fajar. Paksi tidak sempat tidur malam itu. Beberapa saat kemudian, iapun harus bangkit dari pembaringannya pula. Ketika matahari terbit, Ki Pananggungan telah menyiapkan sepasang lembu dan bajaknya. Pagi itu ia akan pergi ke sawah untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tersisa sedikit kemarin. Seterusnya ia tinggal meratakan sawahnya dengan garu esok pagi sebelum lusa mulai ditanami padi. Paksi yang juga sudah berbenah diri mendekati Ki Pananggungan sambil bertanya, "Ki Pananggungan melakukan kerja di sawah itu sendiri?" "Aku mengerjakan sawah yang sekeping di luar padukuhan ini. Sementara sawahku yang ada di sebelah tanggul sungai itu dikerjakan oleh orang-orang kepercayaanku. Mereka adalah pekerjapekerja yang baik, teliti dan jujur." "Apakah aku diperkenankan ikut ke sawah?" bertanya Paksi. "Aku tidak lama berada di sawah. Aku tinggal menyelesaikan pekerjaanku kemarin yang tersisa, nanti aku segera kembali dan kita mempunyai banyak waktu untuk berbicara. Kecuali itu, apakah kau yakin bahwa Bahu Langlang benar-benar melepaskan Kemuning?" Wajah Paksi berkerut. Tetapi menurut perhitungannya Bahu Langlang tidak akan berani lagi mengejarnya, karena apapun yang dilakukan oleh Bahu Langlang, namun ia akan dapat mengalahkannya. Namun Ki Pananggungan itupun kemudian berkata, "Ingat Paksi, Bahu Langlang tidak sendiri. Ia mempunyai sebuah kelompok yang merasa terikat menjadi satu. Kecuali itu, Bahu Langlang juga mempunyai banyak kawan. Mungkin ia masih berniat untuk mengambil Kemuning. Karena itu, aku atau kau sebaiknya tinggal di rumah." Paksi mengerti maksud Ki Pananggungan. Karena itu, maka katanya, "Baiklah, Ki Pananggungan. Aku akan berada di rumah." Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Pananggunganpun telah meninggalkan halaman rumahnya sambil membawa bajak dan sepasang lembu. Sementara Paksipun telah naik ke serambi gandok. Paksipun kemudian duduk di atas sebuah amben yang panjang. Dalam kesendiriannya, Paksi sempat merenungi sikap Ki Pananggungan. Ternyata Ki Pananggungan adalah seorang yang berilmu tinggi. Tetapi dalam ujudnya sehari-hari sama sekali tidak ditampakkannya. Pada saat ia memanggul bajak dan menggiring sepasang lembu, Ki Pananggungan benar-benar nampak sebagai seorang petani kebanyakan. "Apakah orang di sekitar tempat ini tidak tahu bahwa Ki Pananggungan adalah seorang yang berilmu tinggi? Padahal Ki Pananggungan sudah tinggal di sini bertahun-tahun," bertanya Paksi dalam hatinya. Tetapi Paksi tidak ingin duduk merenung di serambi gandok itu. Iapun kemudian pergi ke pakiwan. Menimba air untuk mengisi jambangan. Seorang pembantu laki-laki di rumah Ki Pananggungan itu mendekatinya sambil berkata, "Sudahlah, anak muda. Biarlah nanti aku yang melakukannya." Tetapi Paksi tersenyum sambil berkata, "Tidak apa-apa, Ki Sanak. Aku sudah terbiasa melakukannya." Pembantu laki-laki itu tidak dapat mencegahnya. Bahkan ketika kemudian Paksi melihatnya membelah kayu, setelah Paksi selesai mengisi jambangan di pakiwan, telah mendekatinya pula. Katanya, "Apakah masih ada kapak sebuah lagi?" Orang itu termangu-mangu. Sementara itu sambil tersenyum Paksi mengambil kapak di tangan orang itu, "Kau cari kapak yang lain." Orang itu tidak sempat mencegahnya. Ketika kemudian Paksi mengayunkan kapak itu untuk membelah kayu, maka orang itu memang harus mencari kapak yang lain. Ia tidak sekedar menonton Paksi membelah kayu bakar itu sendiri. Paksi membelah kayu bakar itu sendiri, sementara kayu itu masih seonggok. Namun ketika mereka bersama-sama membelah balok-balok kayu sebatang pohon kayu yang tumbuh di sudut kebun belakang yang ditebang dua hari sebelumnya, orang itu menjadi heran. Orang itu tidak menyangka, bahwa Paksi dapat melakukan jauh lebih baik dan lebih cepat dari yang dilakukannya. "Kau nampak sudah terbiasa membelah kayu balok, anak muda," berkata orang itu. "Pamanku seorang belandong kayu, Ki Sanak. Meskipun tidak selalu, aku sering membantunya jika satu dua orang membantunya berhalangan." Orang itu mengangguk-angguk sambil berdesis, "Pantas hasil kerjamu dua kali lipat dari hasil kerjaku, anak muda." Paksi tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Tangannya sajalah yang bergerak mengangkat kapak itu tinggi-tinggi. Kemudian terayun deras. Tajam kapaknya itu menghunjam ke tengahtengah balok kayu dan kemudian membelahnya. Di tengah hari, keduanya berhenti. Pembantu di rumah Ki Pananggungan itu berkata, "Tidak baik bekerja saat matahari tepat di atas kepala kita. Kita harus beristirahat barang sebentar." Paksi memang beristirahat. Keduanya duduk di bawah rumpun bambu yang rimbun. Sambil menyodorkan sebuah gendi berisi air dingin yang sejuk orang itu bertanya, "Kau haus?" Paksi menerima gendi itu dan meneguk air dari dalamnya. Betapa segarnya. Sambil menarik nafas panjang Paksipun menyerahkan gendi itu sambil berdesis, "Aku memang haus sekali." Paksi kemudian duduk bersandar sebatang pohon. Angin yang semilir lembut membuatnya agak mengantuk, justru karena semalam Paksi hampir tidak memejamkan matanya sama sekali. Tetapi ketika matanya menjadi redup, ia mendengar suara memanggilnya, "Kakang Paksi." Paksi berpaling. Dilihatnya Kemuning berdiri termangu-mangu beberapa langkah daripadanya. "O," desah Paksi sambil bangkit dengan tergesa-gesa. "Paman sudah pulang dari sawah. Paman memanggil Kakang." Paksi mengangguk kecil. Katanya, "Baik Kemuning. Aku akan menemuinya." "Paman ada di pringgitan." Ketika Kemuning kemudian meninggalkannya, maka Paksipun membenahi baju dan kainnya, keringatnya sudah mulai kering. "Aku dipanggil Ki Pananggungan," berkata Paksi kepada pembantu rumah itu. Orang itu mengangguk. Katanya, "Biasanya Ki Pananggungan belum pulang pada saat seperti ini. Jika sudah terlanjur berada di sawah, meskipun kerja sudah selesai, Ki Pananggungan terbiasa menunggui sawahnya sampai matahari turun." "Panasnya hari ini," desis Paksi, "agaknya Ki Pananggungan sudah merencanakan sejak berangkat untuk pulang agak lebih cepat dari biasanya." "Ya," berkata orang itu. "Tidak ada orang yang membawa makan dan minum ke sawah." Paksi tidak berbicara lagi. Iapun kemudian melangkah menuju ke pakiwan. Setelah mencuci kaki dan tangannya, maka Paksipun langsung pergi ke pringgitan menemui Ki Pananggungan yang telah duduk lebih dahulu. Dua buah mangkuk minuman ternyata sudah terhidang. Bahkan beberapa potong makanan. "Aku sengaja pulang lebih awal," berkata Ki Pananggungan. "Sisa kerja kemarin itu sudah selesai. Bahkan aku sempat memandikan sepasang lembu itu di sungai." "Ki Pananggungan melakukan semuanya itu sendiri?" "Ya. Aku memang anak petani." "Tetapi bukan petani kebanyakan," sahut Paksi. Ki Pananggungan tertawa. Katanya, "Satu kebetulan bahwa aku tinggal bersama kakek. Juga bersama ayah Kemuning. Di samping mengajari kami bertani, kakek juga mempunyai kelebihan lain. Kami adalah murid-murid kakek." "Apakah sekedar kebetulan?" bertanya Paksi. Ki Pananggungan tertawa berkepanjangan. Katanya, "Tetapi ada unsur kebetulan. Namun kemudian kami menjadi bersungguh-sungguh. Kami bekerja keras bersama kakek bertahun-tahun, sehingga akhirnya kami masing-masing berumah tangga sendiri. Meskipun demikian, kami masih selalu datang ke rumah kakek untuk mematangkan ilmu yang kami warisi dari kakek itu, sehingga saatnya wadag kakek tidak mengijinkan lagi bermain-main di dalam sanggar. Tetapi dalam keadaan wadagnya yang semakin lemah, kakek masih tetap membimbing kami." Paksi mengangguk-angguk. Dengan kerja keras Ki Pananggungan akhirnya menjadi seorang yang berilmu tinggi, meskipun penampilannya sehari-hari masih tetap sederhana dan tidak lebih dari seorang petani biasa. Namun sekilas terngiang di telinganya kata-kata orang yang datang mencari ndaru yang dianggapnya jatuh di sekitar rumah kecilnya, hubungan antara ilmu dan amal. "Apakah ilmu Ki Pananggungan itu memberikan arti kepada sesamanya, jika ia tidak pernah mengamalkannya?" bertanya Paksi di dalam hatinya, namun yang kemudian dijawabnya sendiri, "Tetapi setidak-tidaknya ilmu Ki Pananggungan yang tinggi itu tidak mengganggu orang lain atau bahkan dipergunakannya untuk niat buruk." Demikianlah, maka Ki Pananggunganpun kemudian telah mempersilahkan Paksi menghirup minuman hangat dan mencicipi makanan yang dihidangkan. "Bibimu telah membuatnya sendiri," berkata Ki Pananggungan. Sambil makan makanan yang dihidangkan, maka Ki Pananggungan masih ingin mendengarkan ceritera Paksi tentang dirinya. Namun Paksi masih tetap menyembunyikan jatidirinya yang sebenarnya. Ia tidak menyebut siapakah ayah dan ibunya. Paksi tidak mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang penjabat tinggi istana. Tetapi di luar sadarnya Paksi telah memperbandingkan kemampuan ayahnya dengan Ki Pananggungan. Meskipun Ki Pananggungan tetap seorang petani yang setiap hari bekerja di sawah, namun orang itu tentu memiliki ilmu yang lebih tinggi dari ayahnya. Namun tiba-tiba saja Paksi bertanya kepada diri sendiri, "Tetapi apakah ilmuku sudah lebih tinggi dari ilmu ayah?" Paksi menarik nafas panjang. Tetapi ia tidak mau mencari jawab atas pertanyaannya itu. Dalam pada itu, maka dalam pembicaraan selanjutnya, Ki Pananggungan tahu, bahwa pengalaman Paksi masih terlalu sempit. Ia masih belum mengenal nama-nama orang yang disegani dalam dunia olah kanuragan. "Paksi," berkata Ki Pananggungan selanjutnya, "aku yakin, bahwa sengaja atau tidak, jika pada suatu saat kau memasuki dunia olah kanuragan, maka kau tentu berada di lapisan teratas. Dalam satu dua tahun, jika ilmumu benar-benar matang, maka aku tidak akan mampu mengatasimu. Aku sudah melihat, bahwa kau sudah menyimpan ilmu andalan yang berbahaya yang akan dapat melepaskanmu dari kesulitan dalam keadaan terpaksa. Aku tidak mengatakan bahwa kau tidak dapat dikalahkan. Semua orang tentu dapat dikalahkan pada suatu saat. Aku pun tidak mengatakan bahwa tidak ada orang yang memiliki ilmu pada tataran yang sama dengan ilmumu." Paksi mengangguk-angguk kecil. Katanya, "Apa yang aku miliki adalah jauh dari tataran yang pantas." Ki Pananggungan tersenyum. Katanya, "Semula aku mengira bahwa kau adalah seorang anak muda yang berilmu tinggi dan agak sombong. Tetapi ternyata aku keliru." "Aku tidak mempunyai maksud apa-apa dengan sikapku, Ki Pananggungan." "Aku mengerti. Karena itu, aku justru mempercayaimu," berkata Ki Pananggungan kemudian. Lalu katanya pula, "Karena itu, aku justru ingin memperkenalkan kau dengan beberapa orang yang namanya mencuat di atas rata-rata dalam dunia olah kanuragan, agar kau dapat berhati-hati jika kau bertemu dengan mereka. Seperti yang kau ceriterakan, kau pernah melihat orang-orang dari Perguruan Goa Lampin dengan ciri-cirinya dan kau pun pernah melihat pemimpinnya yang juga dianggap mahagurunya. Kau juga pernah bertemu dengan orang-orang dari Perguruan Sad dan orang-orang dari Perguruan Alas Tegal Arang di pinggir Kali Praga. Tetapi kau belum pernah bertemu atau melihat kedua orang pemimpin tertinggi dari kedua perguruan yang terakhir itu. Juga orang lain yang nama dan ciri-cirinya pantas kau kenal." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Aku akan sangat berterima kasih, Ki Pananggungan. Mungkin dalam perjalananku mendatang, aku bertemu dengan mereka, sehingga aku dapat menghindar." Ki Pananggungan tersenyum. Menilik ilmu yang dimilikinya, Paksi tidak perlu menghindari mereka. Tetapi Ki Pananggungan tidak mengatakannya. Bagi Ki Pananggungan sendiri, menghindar bila masih mungkin, memang lebih baik dari benturan yang harus terjadi. Demikianlah, maka Ki Pananggunganpun kemudian telah menyebut beberapa nama dan ciricirinya. Paksi mendengarkan dengan penuh perhatian. Tetapi sampai nama yang terakhir yang disebutnya beserta ciri-cirinya, Ki Pananggungan tidak menyebut Ki Marta Brewok serta ciri-cirinya. Seandainya ia dikenal dengan nama yang lain, namun ciri-ciri yang menonjol akan disebutkannya. Demikian pula orang yang telah datang kepadanya untuk mencari cincin yang dikatakannya jatuh dari langit itu. Ciri-ciri orang itu juga tidak disebut sama sekali. Ki Pananggungan yang mengenal orang berilmu tinggi yang tersebar luas di tanah ini juga tidak menyebut seorang pengemis yang telah memberikan tongkat itu kepadanya, meskipun Ki Pananggungan sempat menyebut nama Kebo Lorog. Dengan demikian, Paksi menganggap bahwa setidak-tidaknya Ki Marta Brewok bukan orang yang mengagungkan kemampuan serta namanya. Demikian pula pengemis yang berilmu tinggi yang telah memberinya tongkat itu. Bagi Paksi orang yang datang mencari cincin itu juga mengherankannya. Jika saja saat itu Ki Marta Brewok tidak datang pada saat yang bersamaan, maka Paksi akan dapat mengira bahwa orang itu adalah Ki Marta Brewok. Untuk beberapa saat lamanya mereka masih berbincang. Ki Pananggungan memberikan banyak petunjuk melengkapi petunjuk-petunjuk Ki Marta Brewok. Meskipun Paksi yakin bahwa ilmu Ki Marta Brewok tentu lebih tinggi dari Ki Pananggungan, namun Ki Marta Brewok nampaknya tidak sempat memberikan banyak petunjuk tentang dunia kanuragan serta orang-orang yang menghuninya. Ki Marta Brewok tidak pernah menyebut nama-nama serta ciri-ciri orang yang dapat membahayakan dirinya. Namun pembicaraan itu terhenti. Kemuning yang keluar dari pintu pringgitan memberitahukan kepada pamannya, bahwa makan siang telah tersedia. Sejenak kemudian, maka Ki Pananggungan itupun telah berada di ruang dalam bersama Paksi. Tetapi agaknya mereka akan makan siang berdua saja. Demikian mereka selesai makan siang, maka Paksipun telah menyatakan niatnya untuk melanjutkan perjalanannya. Dengan nada dalam Paksi itupun berkata, "Aku sudah cukup lama berada di rumah ini, Ki Pananggungan. Aku mengucapkan terima kasih atas segala petunjuk Ki Pananggungan." Tetapi Ki Pananggungan itu menggeleng. Katanya, "Kau tidak boleh segera pergi. Kau akan tinggal di sini. Sedikitnya sepekan. Baru kita yakin, bahwa Bahu Langlang tidak akan menyusul Kemuning. Bukankah kau sudah menolong dan menyelamatkan Kemuning dari tangan Bahu Langlang. Nah, jika demikian, maka lakukanlah sampai tuntas." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ternyata ia tidak dapat memaksa untuk meninggalkan tempat itu. Karena itulah, maka Paksi masih harus tetap tinggal sampai batas waktu yang diberikan oleh Ki Pananggungan sehingga kerjanya dapat disebutnya tuntas. Di hari berikutnya, Ki Pananggunganpun telah pergi ke sawah pula. Sementara Paksi telah melakukan pekerjaan sehari-hari bersama pembantu laki-laki di rumah itu. Dari pintu butulan Kemuning sering mengamati apa yang dilakukan oleh Paksi. Kepada bibinya Kemuning sudah memberitahukan, bahwa Paksi melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak dilakukannya karena ia seorang tamu di rumah itu. Tetapi baik Nyi Pananggungan maupun Nyi Permati telah memberikan jawaban yang sama, "Paksi memang menghendakinya, Kemuning. Ia tidak dapat tinggal diam." Ketika panas matahari menjadi terik, maka Kemuning yang melihat keringat Paksi bagaikan terperas dari tubuhnya di saat ia membelah balok-balok kayu dengan kapak, bahkan Paksi telah menanggalkan bajunya pula, seolah-olah merasakan betapa kering tenggorokannya. Meskipun Paksi itu dapat pergi ke sumur mengambil air jika ia tidak tahan lagi atau air gendi yang terletak tidak jauh dari onggokan kayu-kayu gelondong yang dibelahnya, jika gendi itu belum menjadi kosong, namun Kemuning telah terdorong untuk membawa bukan hanya semangkok, tetapi sebuah teko yang agak besar berisi wedang sere. "Minumlah, Kakang. Wedang sere dengan gula kelapa. Sudah dingin," Kemuning mempersilahkan sambil tersenyum. "Terima kasih, Kemuning," sahut Paksi sambil meletakkan kapaknya. Untuk memuaskan Kemuning, maka Paksipun kemudian telah menuang wedang sere itu ke dalam mangkuk dan kemudian menghirupnya sampai mangkuknya kering. "Segar sekali, Kemuning. Terima kasih." Kemuning masih tersenyum. Namun kemudian iapun beranjak pergi dan kembali ke dapur. Sepeninggal Kemuning Paksi justru memungut gendi yang berisi air yang dingin sambil berkata, "Wedang sere membuat keringatku semakin banyak mengalir." Pembantu rumah yang bersama Paksi membelah kayu itu tertawa. Katanya, "Tentu lebih segar air dingin di dalam gendi itu." Tetapi Paksi tidak ingin mengecewakan Kemuning. Karena itu, maka ia sudah menuang lagi wedang sere itu ke dalam mangkuknya. Namun ketika ia yakin Kemuning tidak melihatnya, maka dituangnyalah wedang sere itu di tanah. Seperti yang diminta oleh Ki Pananggungan, maka Paksi masih tetap tinggal di rumah itu di hari berikutnya. Namun Paksi sendiri tidak menyadari, bahwa ia telah menjadi kerasan tinggal di rumah itu. Apalagi ketika ia menyadari, bahwa Kemuning adalah gadis yang ramah. Yang menyapanya sambil tersenyum. Mempersilahkannya dengan kata-kata yang manis. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Kadang-kadang Paksi harus memperingatkan dirinya sendiri, "Umurmu baru delapan belas." Namun pada umur-umur itu, seorang anak muda memang sudah dapat mengenali kecantikan seorang gadis. Di hari berikutnya, maka Ki Pananggungan tidak pergi ke sawah seperti hari-hari berikutnya. Pekerjaannya sudah selesai. Sawahnya sudah diratakan dengan garu, sehingga sudah siap untuk ditanami. Karena itu, maka Nyi Pananggunganlah yang pergi ke sawah bersama beberapa orang perempuan yang akan menanam padi. Sementara pembantunya akan mempersiapkan bibit padi yang akan ditanam. Hari itu, Ki Pananggungan dapat lebih banyak berbincang dengan Paksi. Ketika Paksi akan melakukan pekerjaan sebagai dilakukannya di hari-hari sebelumnya, Ki Pananggungan telah mencegahnya. Katanya, "Duduk sajalah di serambi gandok, Paksi. Aku ingin menikmati hari istirahatku setelah membajak dan meratakan sawahku beberapa hari ini." Keduanyapun kemudian telah duduk di serambi. Mereka berbincang tentang berbagai macam hal. Dari cara menanam padi dan palawija di sawah sampai dengan dunia olah kanuragan. Namun tiba-tiba saja mereka terkejut. Mereka melihat dua orang laki-laki dan perempuan memasuki halaman. Mereka berjalan tertatih-tatih. Agaknya laki-laki itu tidak dapat berjalan dengan baik, sehingga isterinya harus menolongnya. Paksi yang kemudian bangkit berdiri berdesis, "Bahu Langlang." Ki Pananggunganpun bangkit pula. Di luar sadarnya iapun mengulang, "Bahu Langlang." Keduanyapun turun ke halaman dengan hati-hati. Namun mereka melihat Bahu Langlang tidak sebagai seorang laki-laki yang perkasa. Tetapi orang itu lebih mirip dengan laki-laki yang cacat, yang berjalan dengan bantuan orang lain. "Apa maksudmu datang kemari, Ki Bahu Langlang. Apakah kau akan mengambil Kemuning?" bertanya Paksi. "Tidak. Tidak, Ngger. Aku sama sekali tidak akan berani menyebut nama gadis kecil itu lagi." "Jadi, apa maksudmu?" bertanya Paksi. "Aku hanya ingin berceritera sedikit tentang keadaanku sepeninggalmu." "Dari mana kau tahu, bahwa kami berada di rumah ini?" "Bukankah kau mengatakan bahwa kau akan pergi ke Padukuhan Kembang Arum. Aku menyusulmu ke Kembang Arum dengan harapan bahwa kau masih berada di sini." "Tetapi dari siapa kau tahu bahwa kami berada di rumah ini dan bukan rumah yang lain di Padukuhan Kembang Arum yang cukup luas ini?" "Kami bertanya-tanya sepanjang jalan, tempat tinggal orang-orang yang baru saja datang di padukuhan ini." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang-orang Kembang Arum sudah mengetahui, bahwa di rumah Ki Pananggungan telah tinggal orang-orang baru yang datang dari jauh. Tetapi itu tidak aneh, karena Kemuning dan Nyi Permati memang sering ikut pergi ke pasar bersama Nyi Pananggungan. "Marilah, duduklah," Ki Pananggungan mempersilahkan mereka naik ke pendapa. Bahu Langlang memandang orang itu dengan kerut di dahi. Sementara Paksipun berkata, "Ki Pananggungan ini adalah pemilik rumah ini. Paman Kemuning yang dicarinya itu." "O," Bahu Langlang mengangguk hormat. "Kami mohon maaf, bahwa kami telah menyulitkan Kemuning dan Ny Permati. Tetapi kami sudah berjanji bahwa kami tidak akan mengganggunya lagi. Apalagi setelah kami mengalami malapetaka seperti sekarang ini." "Apa yang telah terjadi?" bertanya Paksi. Namun Ki Pananggunganpun berkata, "Marilah. Silahkan naik." Mereka berempatpun kemudian telah naik ke pendapa. Dengan nada penyesalan, Bahu Langlang masih mengulangi permohonan maafnya karena tingkah lakunya terhadap Kemuning. Namun kemudian Paksipun bertanya, "Tetapi apa yang terjadi kemudian atas diri Ki Bahu Langlang?" "Peringatan yang telah kau berikan itu benar-benar terjadi, anak muda. Dua orang perempuan telah datang. Mereka mengaku dari Perguruan Goa Lampin. Tetapi karena peringatanmu, maka ketika mereka mencari Bahu Langlang, maka aku katakan bahwa Bahu Langlang tidak ada. Bahu Langlang telah pergi. Kedua orang perempuan itu telah memasuki rumahku dan melihat-lihat keadaan di dalamnya. Namun kemudian merekapun pergi sambil berpesan, agar Bahu Langlang lain kali bersedia menemui mereka." Bahu Langlang itupun berhenti sejenak. Namun kemudian katanya selanjutnya, "Tetapi di hari berikutnya telah datang seorang laki-laki yang mengaku dari perguruan di hutan Tegal Arang, di pinggir Kali Praga. Aku juga mengatakan kepadanya, bahwa Bahu Langlang sedang pergi. Semula semua orang-orang di rumahku mengiakannya. Tetapi tibatiba di luar dugaan, perempuan yang aku sakiti di saat kau datang itulah yang mengatakan kepada laki-laki dari Tegal Arang itu, bahwa akulah sebenarnya Bahu Langlang. Aku memang tidak dapat menghindar lagi. Bagaimanapun juga aku merasa bahwa aku adalah seorang laki-laki. Karena itu, aku mencoba untuk melawannya. Tetapi perlawananku sama sekali tidak berarti. Aku justru berada dalam keadaan seperti ini." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Kau tentu tidak akan dapat melawan mereka. Nah, sekarang, apakah kau bermaksud mengungsi kemari?" "Tidak, Ngger. Aku hanya lewat. Aku justru ingin memperingatkanmu, bahwa orang-orang yang pernah kau sebut itu berkeliaran sampai kemana-mana. Bahkan mungkin akan ampai ke Kembang Arum ini." "Tidak, Ki Bahu Langlang," jawab Paksi. "Mereka tidak akan sampai ke Kembang Arum. Orangorang itu mengira bahwa ndaru yang mereka duga akan membawa keberuntungan itu jatuh di sekitar lingkunganmu dan bahkan sedikit ke utara." "Ya. Nampaknya mereka memang mencari sesuatu," sahut Bahu Langlang. "Kemudian apa yang terjadi alas dirimu?" bertanya Paksi kemudian. "Aku hampir mati, Ngger. Perempuan yang mengkhianati aku itupun kemudian ikut pergi dengan laki-laki itu." Bahu Langlang berhenti sejenak. Sementara itu isterinya berkata, "Perempuan itu mendendam Kakang Bahu Langlang." "Aku dapat mengerti," jawab Paksi. "Kau telah menyakitinya dengan sewenang-wenang, Ki Bahu Langlang." Ki Bahu Langlang mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Perempuan itu telah membalas dendam. Ia merasa gembira melihat aku terbaring di halaman hampir mati. Tetapi itu bukan salahnya." "Sudahlah," berkata Paksi. "Ki Bahu Langlang sudah selamat. Lalu apa yang akan kau lakukan?" "Aku hanya ingin singgah, Ngger. Aku ingin mengungsi ke rumah salah seorang kawan baikku. Mudah-mudahan ia bersedia menerima aku." "Ki Sanak tidak usah tergesa-gesa," berkata Ki Pananggungan. "Aku sudah banyak mendengar tentang Ki Sanak dari Paksi. Nampaknya Ki Sanak benar-benar sudah berubah. Jika Ki Sanak tidak berkeberatan, aku dapat menawarkan tempat bermalam bagi Ki Sanak sebelum Ki Sanak meneruskan perjalanan." "Terima kasih, Ki Pananggungan. Bahwa Ki Pananggungan sudah memaafkan aku, aku sudah berbesar hati. Dengan demikian aku akan pergi tanpa membawa beban." "Tetapi Ki Bahu Langlang masih nampak sulit untuk berjalan. Apalagi perjalanan jauh." "Tidak, Ki Pananggungan," jawab Bahu Langlang. "Aku sudah sering mengalami kesulitan yang lebih parah dalam petualanganku. Seandainya di hari pertama ketika dua orang perempuan dari Goa Lampin itu datang, perempuan yang aku sakiti itu membuka rahasiaku, mungkin akibatnya akan lebih parah. Kedua orang perempuan itu agaknya tidak kalah garangnya dengan orang dari Tegal Arang itu. Sementara itu orang Tegal Arang itu menjadi agak lunak justru karena perempuan yang aku sakiti itu bersedia ikut bersamanya. Dengan demikian, maka laki-laki dari Tegal Arang itupun segera pergi meninggalkan rumahku. Namun ternyata aku masih hidup. Tetapi aku sadar, bahwa aku harus melarikan diri. Namaku agaknya justru menjadi beban yang tidak terusung di atas pundakku. Karena itu maka aku akan mempergunakan nama lain seperti yang Angger Paksi katakan dan selanjutnya melupakan masa lampauku yang gelap. Aku harus mengakui, bahwa sebenarnya aku bukan apaapa dengan kehadiran orang-orang dari beberapa perguruan yang telah mempunyai nama itu." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Pananggunganpun berkata, "Sukurlah jika peristiwa yang terjadi pada Ki Sanak itu dapat membuka hati Ki Sanak." "Yang pertama memaksa aku mengakui bahwa aku tidak berarti apa-apa adalah Angger Paksi. Selanjutnya, peristiwa itu terjadi, sehingga rasa-rasanya aku memang tidak mempunyai pilihan lain," berkata Bahu Langlang. "Ki Sanak, aku masih ingin menawarkan, apakah Ki Sanak bersedia beristirahat di sini sebelum meneruskan perjalanan," berkata Ki Pananggungan kemudian. Tetapi Bahu Langlang itupun menyahut, "Terima kasih, Ki Pananggungan. Terima kasih. Aku akan melanjutkan perjalanan. Aku hanya sekedar singgah dan ingin mengucapkan terima kasih kepada Angger Paksi atas peringatan yang telah diberikan kepadaku sebelum ia meninggalkan rumahku. Jika aku terlalu lama di sini, maka aku akan menakut-nakuti Kemuning. Ketenangannya akan terganggu. Adalah kebetulan sekali jika Kemuning tidak tahu bahwa aku singgah kemari." "Baiklah," berkata Ki Pananggungan. "Jika Ki Sanak memang akan melanjutkan perjalanan, apa boleh buat, tetapi Kemuning tidak akan terganggu ketenangannya. Kami dapat memberitahukan kepadanya, bahwa semuanya sudah berubah." "Aku mohon diri, Ki Pananggungan. Aku akan melanjutkan perjalanan, tetapi aku masih ingin menyampaikan pesan kepada Paksi untuk berhati-hati. Nampaknya orang-orang yang berkeliaran itu memang mencari sesuatu yang mereka anggap sangat berharga. Jika mereka melihat ndaru itu jatuh di sekitar tempat itu, maka mereka tentu akan berusaha untuk menemukannya." "Sebenarnya tidak masuk akal jika mereka mencari ndaru yang jatuh dari langit. Tetapi mereka menganggap bahwa yang jatuh itu adalah sesuatu yang sangat berharga yang cahayanya memancar seterang ndaru. Kecemerlangan cahayanya itu menunjukkan betapa tingginya nilai benda yang jatuh itu." "Apapun yang terjadi sebenarnya, namun orang-orang yang berkeliaran itu sangat berbahaya," berkata Bahu Langlang. "Angger Paksi sendiri dapat melihat sendiri apa yang terjadi pada diriku sekarang, meskipun Anggerlah yang telah memperingatkan aku lebih dahulu sebelumnya." "Terima kasih, Ki Bahu Langlang. Mudah-mudahan mereka memang tidak akan sampai di sini." Demikianlah, maka Bahu Langlang telah minta diri untuk meneruskan perjalanannya untuk menemui sahabatnya. Ki Pananggungan tidak dapat mencegahnya lagi. Bersama Paksi, Ki Pananggungan mengantar kedua orang suami istri itu sampai di regol. Bahu Langlang memang agak mengalami kesulitan untuk berjalan. Tetapi seperti dikatakannya sendiri, ia sudah terbiasa mengalami keadaan seperti itu dalam petualangannya. Bahkan kadang lebih parah lagi. Ketika Bahu Langlang menjadi semakin jauh, maka keduanyapun telah duduk. Tidak di pendapa, tetapi di serambi sebagaimana saat Bahu Langlang belum datang. Namun baru saja mereka duduk, Nyi Permati telah datang menemui Ki Pananggungan sambil berdesis, "Kemuning menjadi ketakutan. Ia tahu bahwa Bahu Langlang telah datang kemari." "Dari mana ia tahu?" bertanya Paksi. "Bukankah ia berada di belakang?" "Ketika Bahu Langlang dan isteri utamanya itu datang, Kemuning sedang berada di pintu seketheng. Dengan demikian, ia melihat keduanya memasuki pintu regol halaman." "Anak itu seharusnya sudah tidak boleh ketakutan lagi." "Untunglah ia ikut mBokayu Pananggungan ke sawah," berkata Nyi Permati. "Kenapa?" bertanya Ki Pananggungan. "Jika di sawah ia melihat Bahu Langlang lewat, maka anak itu akan dapat lari tanpa dikendalikan lagi." Ki Pananggungan kemudian tersenyum sambil bangkit berdiri. Kepada Paksi iapun berkata, "Marilah kita temui anak itu." Paksi kemudian berdiri pula mengikut Ki Pananggungan masuk ke ruang belakang. Kemuning benar-benar menjadi ketakutan. Sambil duduk di atas amben panjang, tubuh gadis itu menjadi gemetar. Keringat dinginnya membasahi pakaiannya. "Kau tidak boleh menjadi ketakutan seperti itu, Kemuning," pamannya duduk di sebelahnya sambil tersenyum. "Kau sudah berada di rumah paman. Di sini masih ada Paksi. Apa yang kau takutkan? Sebenarnyalah Bahu Langlang memang tidak berniat buruk. Ia hanya ingin sekedar singgah menemui Paksi. Ia mengucapkan terima kasih, bahwa Paksi telah memberikan peringatan sebelumnya. Namun ia juga ingin memperingatkan Paksi apa yang dicemaskan itu benar-benar terjadi, sehingga Paksi harus berhati-hati. Hanya itu. Kemudian Bahu Langlang itu minta diri untuk meneruskan perjalanannya ke rumah sahabatnya. Aku bahkan menawarkan kepadanya untuk beristirahat di sini. Tetapi Bahu Langlang itu menolaknya, ia tahu bahwa kau akan menjadi ketakutan." Kemuning tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. "Nah, untuk selanjutnya jangan lagi dibayangi oleh tingkah laku dan sikap Bahu Langlang. Ia sudah berubah dan bahkan telah meninggalkan rumahnya. Ia tidak akan berani mengganggumu lagi." "Tetapi orang itu justru sudah mengetahui rumah ini, Paman." "Itu tidak apa-apa. Ia tidak akan berbuat apa-apa lagi." "Kau dengar, Kemuning?" bertanya Nyi Permati. "Ya, Bibi." "Percayalah kepada pamanmu," berkata Nyi Permati kemudian. Kemuning tidak menjawab, tetapi ia mengangguk kecil. "Sudahlah. Beristirahatlah. Hari ini aku tidak pergi ke sawah. Mungkin besok aku akan melihat seberapa banyak tanah yang sudah ditanami oleh bibimu. Kalau kau mau, kau boleh ikut pergi ke sawah. Aku akan mengajak Paksi. Agaknya Paksi juga tidak akan berkeberatan." Paksi tidak menjawab lain kecuali mengangguk sambil mengiakan. Kemuningpun kemudian menjadi tenang. Ia tahu bahwa pamannya dan Paksi benar-benar akan dapat melindunginya. Karena itu, maka tubuhnya tidak akan menjadi gemetar dan keringat dinginnya tidak mengalir lebih banyak lagi. Sedikit lewat tengah hari, Nyi Pananggunganpun telah pulang. Wajahnya menjadi kehitam-hitaman oleh teriknya matahari. Tetapi Nyi Pananggungan kelihatan tetap segar setelah mencuci kaki, tangannya dan wajahnya di sungai. Nyi Permatilah yang bercerita kepadanya, bahwa Bahu Langlang telah datang ke rumah itu. "Apa yang dilakukannya?" bertanya Nyi Pananggungan. "Ia tidak berbuat apa-apa. Tubuhnya nampaknya masih kesakitan karena Bahu Langlang hampir mati berkelahi dengan orang dari Perguruan Tegal Arang." Namun kemudian dari Ki Pananggungan, isterinya mendengar cerita tentang Bahu Langlang itu lebih jelas. Di hari berikutnya, seperti yang dikatakan, Ki Pananggungan yang pergi ke sawah bersama Nyi Pananggungan telah mengajak Kemuning . "Kelak kaupun harus dapat turun ke sawah," berkata Ki Pananggungan. "Aku sudah biasa melakukannya, Bibi," jawab Kemuning. "Aku juga sering pergi ke sawah bersama ibu, sebelum tiba-tiba ibu dan ayah menghilang." "Bagus," berkata Nyi Pananggungan, "kau akan menjadi gadis yang terampil." Kemuning tidak menjawab. Ia berjalan saja di depan, di sebelah Nyi Pananggungan Sementara itu, Ki Pananggunganpun telah mengajak Paksi pula pergi ke sawah. Karena Kemuning tidak ada di rumah, maka Paksipun tidak perlu menunggui rumahnya. Apalagi Nyi Permati tidak menyatakan keberatan untuk berada di rumah hanya dengan para pembantu yang tinggal di rumah itu. Udara terasa segar di bulak yang luas. Matahari yang mulai memanjat langit melontarkan sinarnya yang lembut. Titik-titik embun masih menyangkut di ujung daun-daun padi yang hijau subur. Di langit sekawanan burung terbang melintas ke selatan. Segarnya udara pagi, hijaunya daun padi yang menyelimuti bulak, telah menyentuh hati Paksi. Tiba-tiba saja ia teringat gubuknya yang ditinggalkannya. Jagung dan kacang panjangnya yang tentu mendekati masanya dipetik. Paksi juga teringat pada beberapa batang pohon kelapa yang diambil niranya untuk dibuatnya menjadi gula. Jika terlalu lama pohon kelapa itu tidak dideresnya, maka ia harus mulai dari permulaan. Niranya akan menjadi sendat untuk beberapa pekan. Hari itu, untuk beberapa lama Paksi berada di sawah. Bersama Ki Pananggungan ia duduk di halaman gubuk kecil yang dibuatnya di belakang tanggul parit yang selalu mengalir di segala musim. Hampir di luar sadarnya, maka Paksipun kemudian berkata, "Aku sudah terlalu lama pergi, Ki Pananggungan." Ki Pananggungan yang sedang memperhatikan Kemuning ikut menanam benih padi berpaling. Dengan nada dalam Ki Pananggungan itu berkata, "Maksudmu?" Paksi menarik nafas panjang. Namun kemudian katanya, "Ki Pananggungan, sudah saatnya aku mohon diri. Aku sudah sepekan berada di rumah Ki Pananggungan." Ki Pananggungan mengangguk-angguk kecil. Kemudian katanya, "Kau akan pergi ke mana Paksi?" Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, "Aku seorang pengembara. Karena itu, maka aku ingin melanjutkan pengembaraanku." "Kemana?" bertanya Ki Pananggungan. "Aku belum dapat mengatakan. Aku akan lebih banyak menganut langkah kakiku, karena ke manapun aku pergi, agaknya tidak akan ada bedanya." "Paksi," berkata Ki Pananggungan kemudian, "bahwa kau dapat memberikan beberapa peringatan kepada Bahu Langlang tentang kehadiran banyak orang di kaki Gunung Merapi itu tentu karena kau memperhatikan mereka. Jika mereka datang untuk mencari sesuatu, maka agaknya kau menaruh perhatian pula terhadap yang mereka cari." Paksi memandang Ki Pananggungan dengan tajamnya. Namun kemudian Paksi menggeleng. Katanya, "Tidak Ki Pananggungan. Jika banyak orang datang ke kaki Gunung Merapi untuk mencari sesuatu, maka aku justru akan pergi meninggalkan kaki gunung ini. Aku akan pergi ke barat, entah sampai kemana." Ki Pananggungan mengangguk-angguk kecil. Suaranya hampir tidak terdengar ketika ia bertanya, "Kau mencari cincin bermata tiga butir batu akik itu?" Wajah Paksi terasa menjadi panas. Tetapi ia tidak dapat menggelengkan kepalanya meskipun ia tidak ingin mengiakannya. Karena itu, maka akhirnya Paksi hanya menundukkan kepalanya saja. Terasa ada ketegangan di dalam dadanya. "Paksi," berkata Ki Pananggungan, "meskipun kau tidak mengiakannya, tetapi aku menangkap getar perasaanmu. Baiklah. Jika kau tidak berkeberatan, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Paksi memandang Ki Pananggungan dengan tajamnya. Namun kemudian iapun mengangguk sambil menjawab, "Aku akan mendengarkannya, Ki Pananggungan." Ki Pananggungan itu terdiam sejenak. Namun kemudian iapun mulai berceritera, "Paksi, justru karena aku percaya kepadamu, aku ingin mengatakan kepadamu bahwa sebelum pergi meninggalkan rumahnya, ayah Kemuning pernah datang kepadaku. Ia berceritera tentang cincin istana yang hilang. Iapun berceritera bahwa siapa yang memiliki cincin itu, keturunannya akan dapat memegang kendali kekuasaan di tanah ini apapun sebabnya. Mungkin karena perkawinan dengan para bangsawan, mungkin karena sebuah perjuangan yang gigih dan tidak mengenal menyerah, mungkin karena keajaiban dan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Karena itu, maka cincin itu seakan-akan telah menjadi rebutan. Banyak orang yang mencarinya, termasuk kau, Paksi." Paksi mengerutkan dahinya. Tetapi Ki Pananggungan itupun dengan serta-merta menyambung, "Tetapi aku tahu bahwa kau mencari cincin itu bukan karena ketamakanmu." Paksi menarik nafas panjang, hampir saja ia mengatakan, bahwa ia mendapat perintah untuk mencari cincin itu. Tetapi niatnya diurungkannya. Sementara itu, Ki Pananggungan berkata, "Aku yakin bahwa ayah dan ibu Kemuning tentu juga sedang mencari cincin itu." "Tetapi kenapa mereka sampai hati meninggalkan Kemuning sendiri." "Tidak sendiri. Tetapi bersama Nyi Permati." "Namun yang terjadi kemudian, hampir sebuah malapetaka," berkata Paksi. "Itu agaknya tidak terpikirkan oleh orang tua Kemuning. Namun akupun tidak ingin menyalahkan Nyi Permati. Ia sangat mencintai Kemuning. Karena itu, maka ia ingin membawa Kemuning kemari sepeninggal ayah dan ibunya." Paksi mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Pananggunganpun berkata, "Sebenarnyalah Kemuning bukan anak kedua orang yang dikenalnya sebagai ayah dan ibunya itu." Paksi mengerutkan dahinya. Dengan serta-merta iapun bertanya, "Jadi, anak siapa?" "Anak Nyi Permati itu sendiri." "O," Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia justru tidak dapat mengatakan sesuatu. "Anak itu tidak pernah melihat ayahnya yang sebenarnya, yang meninggal sebelum Kemuning dilahirkan." Paksi masih saja mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia bertanya, "Apakah Ki Pananggungan tahu, siapa ayah Kemuning yang sebenarnya?" "Ya, aku tahu. Ayahnya seorang perwira prajurit. Tetapi ia gugur dalam tugasnya bersamasama dengan orang yang harus diburunya. Seorang yang berilmu tinggi namun yang telah menyalahgunakan kemampuannya itu. Sedangkan ayah Kemuning juga seorang prajurit yang mumpuni, sehingga keduanya sampyuh, mati bersama-sama. Bedanya, tubuh ayah Kemuning mendapat perlakukan baik dan terhormat, sedangkan lawannya tidak." Jilid 07 PAKSI mendengarkan keterangan Ki Pananggungan dengan sungguh-sungguh. Sementara Ki Pananggungan berkata seterusnya, "Kau tentu tahu, kenapa aku menceriterakan hal ini kepadamu. Kau adalah seorang yang telah membebaskan Kemuning dari kemungkinan yang paling buruk yang hampir saja dialaminya. Selebihnya aku percaya kepadamu, bahwa kau tidak akan mengatakan hal ini kepada Kemuning itu sendiri. Ia tidak mengenal susunan keluarga yang lain kecuali sebagaimana diketahuinya sekarang." Paksipun menjawab dengan sungguh-sungguh, "Tentu Ki Pananggungan, aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Aku tahu bahwa hal itu akan dapat membuatnya menjadi gelisah. Tidak hanya untuk satu bulan, tetapi tentu untuk waktu yang sangat panjang, sepanjang umur Kemuning sendiri." "Nah, sebenarnyalah aku masih mempunyai maksud lain bahwa aku berceritera tentang Kemuning. Jika pada suatu saat kau bertemu dengan tidak sengaja dengan kedua orang tua Kemuning, sementara kedua orang itu melakukan tindakan yang tidak terpuji, Kemuning jangan kau kaitkan dengan tingkah laku kedua orang yang dianggapnya orang tuanya itu. Karena sebenarnyalah aku tahu bahwa kedua orang tua Kemuning itu, kadang-kadang memang terdorong untuk melakukan apa yang tidak dilakukan orang lain." "Tetapi aku belum pernah melihat orang tua itu, Ki Pananggungan." "Kau mungkin akan melihatnya." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia mengangguk-angguk pula sambil berkata, "Aku akan mengingatnya jika aku bertemu sengaja atau tidak sengaja. Tetapi aku belum mengenal ciri-ciri kedua orang tua Kemuning itu." Ki Pananggunganpun kemudian telah menceriterakan ciri-ciri dari kedua orang suami isteri itu, sehingga jika Paksi bertemu dengan mereka, maka setidak-tidaknya ia akan dapat menduga, bahwa keduanya adalah orang yang disebut sebagai orang tua Kemuning. Namun Paksi itupun bertanya pula, "Tetapi Ki Pananggungan, apakah Kemuning mengetahui bahwa kedua orang yang dianggap orang tuanya itu sering melakukan tindakan-tindakan yang menurut tatanan kehidupan dianggap tidak baik?" "Aku kira tidak, Paksi." "Bagaimana dengan Nyi Permati?" "Aku kira Nyi Permati sudah mengetahuinya. Tetapi sikap kedua orang yang dianggap orang tua Kemuning itu di rumah cukup pantas. Di rumah mereka tidak menunjukkan sifat-sifatnya yang kurang baik. Ia mengajari Kemuning untuk menjadi orang yang baik, melakukan pekerjaanpekerjaan yang baik. Sehingga sifat-sifatnya yang tercela itu tidak nampak sama sekali. Tetapi jika keduanya sudah keluar dari rumah mereka dan apalagi menempuh petualangan panjang seperti sekarang ini, maka sifat-sifat itu akan nampak dimana-mana." "Tetapi apakah orang tua Kemuning itu berilmu tinggi?" "Ya. Tetapi aku yakin, bahwa kemampuan mereka tidak akan dapat mengimbangi ilmumu, Ngger. Apalagi jika gejolak jiwamu sudah mapan dan dapat kau kendalikan, sehingga tidak akan terjadi bahwa ilmu itu sudah kau lontarkan pada saatnya kesiapan wadagmu belum sampai ke puncak." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Terima kasih atas peringatan ini, Ki Pananggungan." "Jika pada suatu saat kau bertemu dengan gurumu, cobalah kau perbincangkan hal itu. Namun agaknya tanpa orang lain kau akan mampu melakukannya, membuat keseimbangan itu." Sementara itu, mataharipun menjadi semakin tinggi. Paksi mengulangi menyampaikan niatnya untuk mohon diri. "Berhati-hatilah. Besok kau akan merambah jalan yang terjal, berbatu-batu runcing, dan beronak duri-duri dengan kaki telanjang. Mungkin kau akan menginjak tajamnya batu padas, atau menginjak ujung eri kemarung atau tunggak bambu yang patah." "Aku mohon doa restu, Ki Pananggungan." "Tetapi aku tidak akan mencemaskanmu. Ilmumu dapat dipercaya, apalagi bagi anak muda seumurmu. Dalam waktu singkat ilmumu akan berkembang semakin tinggi, sehingga orang-orang setua aku ini akan segera kau tinggalkan. Bahkan pada suatu saat kau akan menjadi orang yang sulit untuk dicari duanya." "Ki Pananggungan memuji aku. Tetapi jika aku tidak kuat menyangga pujian, maka aku justru akan runtuh." "Aku tidak memuji. Aku mengatakan apa yang sebenarnya. Tetapi kau tidak boleh memberi arti yang salah. Kau tidak boleh menjadi sombong dan besar kepala. Jika hal itu terjadi, maka kau benar-benar akan runtuh." Paksi mengangguk. Ia sama sekali tidak merasa tersinggung. Ki Pananggungan berkata dengan jujur kepadanya. Karena itu, Paksi itu justru menjawab, "Aku akan selalu mengingatnya, Ki Pananggungan." "Nah, aku tidak akan menahanmu lagi. Orang lain justru datang ke kaki Gunung Merapi, namun akupun yakin, bahwa yang mereka cari itu tidak berada di sini. Kaupun jangan berharap untuk dapat menemukan cincin itu. Bukankah kau dapat memperhitungkan kemungkinan seperti itu? Bagaimana seseorang dapat menemukan cincin yang kecil itu di luasnya tanah ini? Mungkin memang terjadi satu kebetulan. Tetapi kau tidak perlu terlalu berharap. Menurunkan penguasa tanah ini bukannya satu-satunya kebahagiaan yang dapat menyertai hidup kita." Paksi mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Ki Pananggungan, bahwa masih terdapat banyak kemungkinan untuk menemukan kebahagiaan lahir dan batin. Hari itu adalah hari terakhir Paksi berada di rumah Ki Pananggungan. Menjelang malam, Paksi duduk bersama seluruh keluarga Ki Pananggungan, termasuk Nyi Permati dan Kemuning. Kepada mereka Paksi minta diri, bahwa esok pagi ia akan meninggalkan rumah itu. Terasa sesuatu bergetar di jantung Kemuning. Serasa sesuatu akan terlepas dari ikatannya. Tetapi Kemuning masih terlalu muda untuk dapat mengatakannya. Dalam pada itu, dengan suara yang berat Nyi Permatipun berkata, "Aku tidak dapat membalas kebaikan hatimu, Ngger. Demikian pula Kemuning. ”Hanya Yang Maha Agunglah yang akan memberikan imbalan sepantasnya kepadamu." "Apa yang aku lakukan tidak lebih dari apa yang seharusnya aku lakukan, Bibi," jawab Paksi. "Karena itu, lupakan saja." "Kau juga akan melupakan kami?" bertanya Nyi Permati. "Tidak," jawab Paksi dengan serta-merta. "Aku akan selalu ingat kepada keluarga disini. Bukankah aku pernah tinggal disini meskipun hanya beberapa hari?" "Sukurlah jika demikian," berkata Ki Pananggungan. "Aku harap pada suatu saat kau akan menginjak halaman rumah ini lagi, Paksi." "Aku akan berusaha untuk datang lagi ke rumah ini, Ki Pananggungan." "Terima kasih. Kami akan selalu menunggu kehadiranmu." Rasa-rasanya Kemuningpun akan berpesan agar Paksi sering datang untuk menengok rumah itu. Tetapi ia tidak dapat mengucapkannya dengan bibirnya. Tetapi ketika Paksi sekilas memandang matanya, rasa-rasanya harapan Kemuning itu sudah terucapkan. Malam itu Paksi berbaring di dalam biliknya, di gandok rumah Ki Pananggungan dengan gelisah. Ada dua dorongan yang kuat yang saling bertentangan menggetar di hatinya. Ada kerinduan terhadap gubuk kecilnya serta lingkungannya. Tetapi rumah Ki Pananggungan rasa-rasanya mempunyai jari-jari yang mencengkamnya. "Mata Kemuning itu demikian jernihnya," berkata Paksi di dalam hatinya. Namun kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri, "Umurku baru delapan belas. Sedangkan gadis kecil itu umurnya tentu baru sekitar lima belas." Karena itu, maka Paksipun berusaha untuk menghapus perasaannya itu. Ia masih terlalu muda untuk menambatkan hatinya di pelabuhan cinta. Lewat tengah malam Paksi baru dapat tidur. Tetapi juga tidak terlalu lama. Ayam jantan yang berkokok di dini hari telah membangunkannya. Paksipun kemudian pergi ke pakiwan. Mandi dan berbenah diri. Ia benar-benar akan meninggalkan rumah itu di saat matahari terbit nanti. Sebelum Paksi berangkat, Nyi Pananggungan masih sempat menyediakan minuman hangat dan makan pagi seadanya. Sekali lagi seisi rumah itu berharap agar Paksi sering datang mengunjungi rumah itu. Menjelang matahari terbit, Paksi sudah siap untuk berangkat. Sambil menjinjing tongkat kayunya, Paksi berdiri di pintu regol. Ki Pananggungan, Nyi Pananggungan, Nyi Permati dan Kemuning berdiri berjajar untuk melepasnya. Adalah di luar dugaan, bahwa Kemuning tiba-tiba berdesis lirih, "Aku mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu." Paksi mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tersenyum, "Itu adalah kewajibanku bagi sesama, Kemuning." Kemuning sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun lagi. Kepalanya menunduk dan bibirnya terkatup rapat. Demikianlah, maka sejenak kemudian Paksipun telah meninggalkan rumah itu. Ia menempuh perjalanan yang sebaliknya dari yang pernah dilakukannya untuk mengantar Kemuning ke Padukuhan Kembang Arum. Sebagai seorang pengembara, maka Paksi dapat mengenali dengan baik jalan yang telah ditempuhnya, meskipun dilakukan di malam hari. Dengan langkah-langkah langkah panjang Paksi menyusuri bulak-bulak yang masih basah oleh embun. Di ujung daun padi, butir-butir air yang menggantung berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari pagi. Paksi mengayunkan tongkat kayunya. Di pepohonan burung-burung bernyanyi tumpang tindih berebut nada tinggi. Perjalanan Paksi memang menjadi jauh lebih cepat dari perjalanannya bersama Kemuning dan Nyi Permati. Kecuali kedua orang perempuan itu menjadi letih dan kakinya terasa pedih, gelapnya malam semakin menghambat langkah mereka. Namun, sendiri, Paksi rasa-rasanya dapat berlenggang tanpa beban apapun. Bulak demi bulak sudah dilaluinya. Sungai yang harus diseberangi dan jalan menyusur pinggir hutan. Tidak ada yang menghambat perjalanan Paksi. Di perjalanan kembali itupun Paksi telah memilih jalan melewati rumah Bahu Langlang. Tentu sudah berubah sepeninggal Bahu Langlang. Ia tidak tahu, siapakah yang kemudian menguasai atau yang diserahi untuk memelihara rumah yang terhitung besar itu. Mataharipun memanjat semakin tinggi. Panasnya mulai terasa menggatalkan kulit. Semakin lama semakin panas. Ketika matahari sampai di puncak langit, maka Paksi telah berada di depan regol halaman rumah Bahu Langlang. Halaman rumah itu nampak sepi. Lewat pintu regol yang terbuka, Paksi dapat melihat halaman dan pendapa rumah yang sepi. Ia tidak melihat seseorang. Tidak pula ada yang menjemur gabah. Tetapi Paksi masih mendengar lenguh seekor lembu di dalam lingkungan dinding rumah Bahu Langlang. Tetapi Paksi tidak ingin singgah. Jika ada orang yang mengawasi rumah itu dengan diam-diam dan tersembunyi, maka kehadirannya akan dapat menarik perhatian. Sementara itu Paksi masih belum ingin bersentuhan dengan orang-orang yang datang dari beberapa perguruan yang sudah mempunyai nama. Karena itu, maka Paksipun telah berjalan terus. Dari rumah Bahu Langlang, Paksi berjalan menuju ke pasar. Di pasar itulah ia bertemu dengan Nyi Permati yang ingin menjual kain luriknya untuk memberi makan Kemuning. Setidak-tidaknya untuk menunda derita yang akan dialami gadis itu. Tetapi ternyata Yang Maha Agung telah membebaskannya dari tangan Bahu Langlang dengan lantaran tangan Paksi. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bersukur, bahwa Yang Maha Agung telah mempergunakannya membebaskan gadis yang masih sangat muda itu dari tangan Bahu Langlang yang garang. Ketika Paksi sampai di pasar itu, maka pasar telah menjadi sepi. Tidak lagi ada orang yang berjual beli. Tidak ada pedati yang akan mengangkut kelapa. Yang ada di pasar itu hanya dua orang yang sedang membersihkan sampah dengan sapu lidi yang bertangkai panjang. Paksi memandang berkeliling. Sebuah kedai masih separo terbuka. Dua orang sedang sibuk membenahinya. Namun ketika Paksi mendekat, pemilik kedai itu bertanya, "Apakah kau akan singgah, anak muda?" "Bukankah kedai ini sudah akan ditutup?" bertanya Paksi. "Aku masih menunggumu. Silahkan. Masih ada nasi, pecel lele dan ayung-ayung." Paksi mengangguk. Katanya, "Baiklah. Aku akan singgah." Paksipun kemudian telah masuk ke dalam kedai itu. Pintunya kembali terbuka lebar. Tetapi beberapa jenis makanan yang tinggal sedikit memang sudah dibenahi, dimasukkan ke dalam tenong bambu dan siap untuk dibawa pulang. Namun ketika Paksi duduk di sebuah lincak panjang, tenong itu telah dibuka kembali dan diletakkan di sebuah geledeg rendah di depan Paksi duduk. "Pasar itu sudah sepi," desis Paksi. "Matahari sudah turun ke barat," jawab pemilik kedai. Paksi mengangguk-angguk. Pembantu di kedai itupun telah menghidangkan semangkuk minuman. "Wedang sere," desis pemilik kedai itu. Paksi mengangguk sambil berdesis, "Terima kasih." "Anak muda akan makan?" bertanya pemilik kedai itu pula. "Ya," Paksi mengangguk. Sambil menghidangkan nasi dan lauk-pauknya, pemilik kedai itu berkata, "Pasar memang agak sepi hari ini. Bahkan ketika matahari sampai ke puncak, para pedagang sudah menyimpan dagangannya. Para pedagang kelapa pun meninggalkan pasar ini lebih awal." "Kenapa?" bertanya Paksi. "Ada orang-orang yang kami anggap asing berkeliaran kemarin. Kija, yang oleh Ki Bekel mendapat tugas untuk menjaga ketertiban pasar ini hampir mati dianiaya." "Kenapa?" bertanya Paksi. "Tidak apa-apa. Kija hanya bertanya, siapakah mereka itu. Namun tiba-tiba seorang di antara mereka telah memukulnya. Sebagai seorang yang diserahi tanggung jawab oleh Ki Bekel, maka Kija berusaha menangkap orang itu. Tetapi ia justru menjadi korban." "Kija dikeroyok oleh beberapa orang?" "Tidak. Ia berkelahi melawan seorang di antara mereka. Tetapi ternyata Kija sama sekali tidak berdaya." "Kasihan," desis Paksi. "Lalu bagaimana keadaannya sekarang ini? Apakah ia menjadi berangsur baik atau sebaliknya?" "Seorang dukun yang pandai tengah mengobatinya. Dukun itu mengenal berbagai jenis dedaunan yang dapat dipergunakan untuk mengobati bagian luarnya, tetapi juga membuat obatobat yang diminumnya." Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih banyak lagi. Jika ia nampak memperhatikan persoalan itu, maka pemilik kedai itu justru akan merasakan sesuatu yang lain padanya, sehingga ia akan menjadi semakin ingin lebih banyak mengetahui tentang dirinya atau bahkan dirinya akan dihitungnya sebagai orang-orang asing itu pula. Tetapi di luar dugaan Paksi, pemilik kedai itulah yang kemudian berceritera atas kehendaknya sendiri, "Tetapi sebenarnya bukan hanya kemarin saja pasar ini didatangi oleh orang-orang yang tidak dikenal. Tidak seperti kau, anak muda Meskipun aku belum pernah melihatmu sebelumnya, tetapi kau nampak wajar seperti orang lain. Bedanya, kau yang masih muda itu membawa tongkat. Jarang anak-anak muda membawa tongkat kemana-mana. Hanya orang-orang tua yang susah berjalan yang membawa tongkat." "Tongkat ini tongkat wasiat, Ki Sanak," sahut Paksi sambil tersenyum. "Tongkat wasiat?" pemilik kedai itu mengerutkan dahinya. "Maksudku, tongkat ini tongkat kakekku yang karena sudah terlalu tua, sehingga susah berjalan. Ketika kakekku meninggal, maka tongkat ini selalu aku bawa kemana-mana. Kakek adalah orang yang sangat baik kepadaku." Pemilik kedai itu mengangguk-angguk. Katanya, "Aku kira tongkat wasiatmu adalah tongkat yang memiliki kekuatan yang luar biasa." "Ah, tidak Ki Sanak. Bagiku, dengan membawa tongkat ini, rasa-rasanya aku selalu dekat dengan kakekku yang sudah tidak ada lagi itu." Pemilik kedai itu mengangguk-angguk. Katanya, "Ya, benda-benda yang khusus memang dapat menjadi lantaran untuk merasa selalu dekat dengan pemiliknya." Paksi mengangguk-angguk pula. Namun kemudian mulutnya sibuk mengunyah sehingga ia tidak berkata apa-apa lagi. Pemilik kedai itu tidak mengganggunya pula. Dibiarkannya anak muda itu menikmati makan dan minum di kedainya. Namun dalam pada itu, apa yang terjadi di pasar itu merupakan pertanda bagi Paksi, bahwa orang-orang dari berbagai perguruan itu telah semakin tersebar. Bukan saja nama Bahu Langlang yang telah memancing mereka, tetapi mereka memang telah merayap kemana-mana untuk mencari cincin bermata tiga butir batu akik yang mereka perkirakan jatuh di sekitar tempat itu setelah terbang mengarungi langit dengan memancarkan cahayanya yang terang seperti cahaya ndaru. "Satu pertanda buruk bagi daerah ini," berkata Paksi di dalam hatinya. Tetapi Paksipun telah teringat pula kepada rumah gubuknya. Jika orang-orang yang mencari cincin itu berkeliaran semakin jauh, maka ada kemungkinan satu dua orang sampai ke gubuknya. Jika demikian, maka mungkin sekali mereka akan melakukan sesuatu yang dapat merugikannya. Mungkin gubuknya, perabot-perabot dapurnya atau mungkin tanamannya akan rusak. Karena itu, maka rasa-rasanya Paksi ingin segera sampai ke rumah gubuknya yang masih terhitung jauh. Demikianlah, maka Paksipun kemudian telah melanjutkan perjalanannya. Keinginannya untuk segera sampai di gubuknya, telah mendorongnya untuk berjalan terus, meskipun kemudian matahari tenggelam ditelan cakrawala. Paksi yang memiliki ketahanan tubuh yang tinggi itu melangkah di dalam kegelapan. Ia tidak berjalan terlalu cepat. Tetapi seakan-akan tidak berhenti sama sekali. Bulak demi bulak dilewatinya. Ia berusaha untuk menghindari padukuhan-padukuhan. Dalam keadaan yang menggelisahkan akan dapat timbul salah paham dengan para peronda. Karena itu, maka kadang-kadang Paksi berjalan di atas pematang, tanggul, parit atau menyelusuri sungai-sungai kecil. Tetapi suatu ketika Paksi memang ingin berjalan lewat sebuah padukuhan yang besar. Mungkin ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia sudah menyiapkan jawaban-jawaban jika para peronda menghentikannya dan bertanya banyak hal tentang dirinya. Tetapi ternyata di padukuhan itu tidak terdapat seorangpun yang meronda. Gardu-gardu nampak sepi. Bahkan oncorpun tidak dinyalakan. Paksi mencoba untuk mengerti, apa yang telah terjadi. Agaknya orang-orang asing itupun telah mulai berkeliaran di padukuhan itu, siang atau malam. Karena itu, maka orang-orang padukuhan itu, terutama di malam hari, tidak ada yang berani keluar dari rumahnya. Dengan demikian, maka laki-laki di padukuhan itu tidak pula berani pergi ke gardu. "Tentu pernah terjadi sesuatu yang membuat para penghuni padukuhan ini ketakutan," berkata Paksi di dalam hatinya. Di malam yang sepi itu Paksi melangkah lewat di depan regol yang satu ke regol yang lain. Semuanya tertutup rapat. Dari celah-celah dinding rumah Paksi melihat cahaya lampu minyak yang suram. Tetapi rumahrumah di pinggir jalan itu rasa-rasanya telah membeku. Mungkin satu dua penghuninya masih belum tidur. Namun padukuhan itu telah benar-benar dicengkam oleh kesepian. Paksi berjalan terus. Ia tidak mau mengusik kediaman padukuhan itu. Ketika ia melewati sebuah gardu, maka ia melihat kentongan yang tergantung pada emper gardu itu. Tetapi kentongan itu seakan akan sedang beristirahat panjang dari tugas-tugas yang harus dipikulnya. Ketika Paksi sempat meraba kentongan itu, maka jari-jari tangannya merasakan debu yang tebal melekat pada kentongan itu. "Sudah beberapa lama kentongan ini tidak dibunyikan?" bertanya Paksi kepada diri sendiri. Tetapi Paksi tidak dapat menyalahkan para penghuni padukuhan itu. Mereka memang tidak akan dapat melawan orang-orang dari beberapa perguruan yang berkeliaran di padukuhan itu. Sehingga karena itu, maka jalan yang dapat mereka tempuh adalah sekedar menghindar, menutup pintu rumah dan regol halaman. Paksi melangkah terus. Angin malam yang dingin mengusap wajahnya yang berkerut. Di sebelah menyebelah jalan, pepohonan berdiri tegak dengan kokohnya. Daun-daunnya bergerak lembut disentuh angin. Paksi berjalan terus menapak di atas jalan padukuhan yang gelap dan sepi. Paksi benar-benar berjalan terus malam itu. Hanya sekali-sekali ia berhenti sejenak, duduk sambil memandangi langit yang ditaburi bintang-bintang yang tidak terhitung jumlahnya. Tetapi Paksi tidak membiarkan angan-angannya menjadi ngelangut melihat luasnya langit. Sekali-sekali Paksi melihat bintang yang meluncur menembus lengkung langit. Kecil saja dan sinarnya tidak sampai menguak malam seperti ndaru. Seleret, lalu hilang lagi. "Apa sebenarnya yang ada di balik birunya langit itu?" bertanya Paksi kepada diri sendiri. Tetapi Paksi tidak pernah menemukan jawabnya. Yang ia tahu adalah sifat dari beberapa bintang. Ki Marta Brewok pernah memberitahukan kepadanya tentang beberapa macam bintang yang ada di langit. Ada di antara bintang-bintang itu yang dapat menunjukkan arah, musim dan bahkan petunjuk bagi petani untuk mengerjakan sawahnya. Alangkah besarnya ciptaan Yang Maha Agung. Namun Paksi tidak terlalu lama merenungi langit. Iapun kemudian bangkit dan melanjutkan perjalanan. Rasa-rasanya ia ingin segera sampai ke gubuk kecilnya. Ketahanan tubuh Paksi memang sangat tinggi. Ia berjalan terus memanjat kaki Gunung Merapi setelah melewati pasar yang sering dikunjungi. Tetapi pasar itu sepi. Bahkan tempat pemberhentian pedati dan penginapan dari para pedagang yang mencari dan menjual dagangannya di pasar itu nampak sepi pula, meskipun ada juga satu dua pedati di halaman yang becek berkubangan dan kotor. Para pemilik pedati itu mencuci pedatinya di halaman itu juga kemudian membersihkan sisa-sisa kotoran yang ada di dalamnya dan membuangnya di sembarang tempat. Sementara itu, halaman itu sendiri tidak terlalu sering dibersihkan. Meskipun angin malam yang dingin terasa berhembus semakin deras di kaki gunung, tetapi pakaian Paksi menjadi basah oleh keringat. Semakin dekat dengan gubuk kecilnya, Paksi justru berjalan semakin cepat, sementara malam menjadi semakin dalam. Bahkan telah melampaui pertengahannya. Dari padukuhan-padukuhan terdengar kokok ayam jantan bersahutan. Padukuhan-padukuhan yang telah dikenal dengan baik oleh Paksi. Semakin tinggi Paksi memanjat kaki gunung, maka udarapun terasa menjadi semakin dingin. Tetapi Paksi sudah terbiasa dengan dinginnya udara pegunungan. Apalagi malam itu ia telah berjalan panjang, sehingga keringatnya membuat tubuhnya menjadi hangat Paksi menjadi berdebar-debar ketika ia memasuki jalan setapak. Semakin jauh, jalan itu menjadi semakin sempit dan berbatu-batu padas yang sekali-sekali terasa menusuk telapak kaki. Jalan yang jarang sekali disentuh oleh kaki manusia. Setelah melewati gumuk-gumuk kecil, maka Paksipun menjadi semakin dekat dengan gubuk kecilnya. Rasa-rasanya malam menjadi sangat gelap. Tetapi pandangan mata Paksi yang sangat tajam dapat melihat benda-benda yang ada di sekitarnya meskipun berada di kegelapan. Paksi menjadi berdebar-debar ketika ia melangkah mendekati gubuknya. Namun tiba-tiba langkahnya tertegun. Ia melihat cahaya di dalam gubuk kecilnya. Cahaya lampu minyak sebagaimana ia sering menyalakannya. Paksi berhenti beberapa langkah dari gubuknya. Ia mulai menduga-duga, siapakah yang telah menyalakan lampu minyak itu. "Mungkin Guru," desis Paksi di dalam hatinya. Namun akhirnya Paksipun telah memaksa dirinya untuk mendekati gubuk itu. Paksi terkejut ketika ia mendengar suara seseorang dari dalam gubuk itu, "Marilah. Jangan berhenti di situ. Pintunya tidak aku selarak." Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian didorongnya pintu gubuknya sehingga terbuka. Paksi memang terkejut ketika ia melihat seorang yang masih terhitung muda duduk di dalam gubuknya. Di atas ajug-ajug, lampu minyaknya menyala menerangi ruangan yang tidak terlalu luas itu. "Siapakah kau?" bertanya Paksi kepada orang yang duduk di dalam gubuknya itu. Orang itu dengan pandangan mata yang tajam memandang Paksi yang berdiri di depan pintu. Dengan tenangnya iapun mempersilahkan Paksi, "Masuklah. Duduklah." "Siapakah kau?" Paksi mengulang. "Duduklah. Kita akan berbicara." Suara orang itu mengandung wibawa yang besar, sehingga Paksi seakan-akan telah dicengkamnya tanpa dapat menolak. Perlahan-lahan Paksi melangkah memasuki gubuk itu. Ia menjadi sangat berhati-hati. Ia belum mengenal orang itu. Karena itu, Paksipun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Tetapi menilik wajah dan pandangan matanya, orang yang masih terhitung muda itu bukan orang yang licik. Ketika Paksi duduk dua langkah di hadapannya orang itu beringsut setapak. "Siapakah kau, Ki Sanak?" bertanya orang itu. "Akulah yang berhak bertanya kepadamu. Rumah ini rumahku." "O," orang itu mengerutkan dahinya. "Jadi rumah ini rumahmu? Maaf, aku tidak tahu. Dalam pengembaraanku aku menemukan rumah ini kosong, sementara ada beberapa macam perkakas dapur yang tertata rapi. Rumah ini sangat menarik bagiku. Aku menunggu pemiliknya sampai sehari-semalam. Tetapi tidak ada seorangpun yang datang. Bahkan sampai dua hari, tiga hari. Karena itu, akulah yang kemudian merasa diriku menjadi tuan rumah di gubuk ini." "Jadi, siapakah kau?" Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat iapun berkata, "Namaku Wijang. Aku seorang pengembara yang menjelajahi satu tempat ke tempat yang lain." "Apakah yang kau cari dalam penjelajahanmu itu?" Orang yang menyebut dirinya Wijang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Tidak ada." Tetapi tiba-tiba saja Paksi menebak, "Kau juga mencari sebentuk cincin bermata tiga butir batu akik?" Orang itu nampak terkejut. Dipandanginya Paksi dengan kerut di dahinya. Tetapi yang meloncat dari mulutnya adalah sebuah pertanyaan, "Siapa namamu?" "Namaku Paksi." Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, "Jadi cincin itu ada padamu sekarang?" "Aku sama sekali tidak tertarik pada cincin itu," jawab Paksi. "Jangan ingkar," berkata orang yang mengaku bernama Wijang itu. "Cincin itu tentu ada padamu." Paksilah yang kemudian memandang wajah orang yang mengaku bernama Wijang itu. Seorang laki-laki yang bertubuh tegap. Wajahnya bersih dan bahkan seakan-akan memancarkan sinar. Kedua matanya yang tajam, tetapi jernih itu nampak berkilat-kilat di bawah cahaya lampu minyak di ajug-ajug. "Ada beberapa orang yang berkeliaran di sekitar tempat ini untuk mencari sebuah cincin," berkata Paksi, "tentu termasuk kau, Ki Sanak." "Namaku Wijang," desis orang itu. "Ya," Paksi mengangguk-angguk, "tetapi aku sendiri tidak merasa memerlukannya." "Kau bohong. Menilik lingkungan kecilmu, kau tentu sudah lama berada di sini. Kau tentu tidak hanya sekali ini saja siap memanen jagung dan bahkan padi gaga. Tanaman-tanaman yang lain memastikan keyakinanku itu." "Ya. Aku sudah setahun disini. Tetapi aku sama sekali tidak menginginkan cincin itu. Kehadiranku disini sama sekali tidak ada hubungannya dengan usaha untuk menemukan cincin itu. Aku baru mendengar bahwa ada sebuah cincin yang sedang diburu, justru dari orang-orang yang berdatangan disini." "Kau dapat berkata apa saja. Tetapi aku yakin, kaulah yang menyimpan cincin itu." "Terserah kepadamu. Tetapi aku melihat cincin itupun belum pernah. Apalagi memilikinya." "Kebetulan sekali kau datang, Paksi," berkata orang itu. "Kau tidak usah ingkar. Berikan cincin itu kepadaku. Kemudian aku tidak akan mengganggumu lagi." "Aku katakan sekali lagi Wijang, aku tidak membawa cincin itu." "Jika kau tidak mau menyerahkan cincin itu, maka aku akan mengambil sendiri." "Dimana akan kau ambil?" "Aku akan mencarinya. Tentu ada padamu. Mungkin di kantong ikat pinggangmu, mungkin di kampilmu atau justru kau sembunyikan di dalam tongkatmu itu. He, kenapa kau membawa tongkat?" Dahi Paksi itupun berkerut. Menilik ujudnya, orang itu tentu berbeda dengan orang-orang yang sering berkeliaran untuk mencari cincin bermata tiga butir batu akik itu. Seandainya orang ini juga mencarinya, tentu tidak dengan cara sebagaimana dilakukan oleh orang-orang dari berbagai perguruan itu. Dalam pada itu, maka orang itupun kemudian berkata, "Paksi. Sebaiknya kita berbaik hati, supaya kita tidak usah berselisih. Berikan saja cincin itu kepadaku. Mungkin kau memerlukan imbalan yang pantas. Aku akan berusaha memenuhinya." "Wijang," berkata Paksi, "aku tidak perlu mengatakan dua tiga kali lagi. Cincin itu tidak ada padaku." Tetapi orang yang menyebut dirinya Wijang itu berkata, "Jangan mempersulit dirimu sendiri." Paksipun kemudian bangkit berdiri. Ia melangkah mendekati lampu minyaknya untuk menarik sumbunya yang sudah hampir terbenam ke dalam minyak sehingga nyalanya terlalu kecil. Kemudian sambil berdiri di sebelah lampu minyak itu ia berkata, "Aku atau kau yang mempersulit diri." Wijang memandang Paksi dengan kerut di kening. Namun dengan demikian, maka Wijang itu telah menghadap ke arah lampu minyak. Jika semula wajahnya tidak nampak jelas karena ia tidak menghadap ke arah lampu, maka kemudian Paksi dapat melihat wajah itu. Apalagi nyala lampunya telah dibesarkannya. Sebenarnyalah Paksi terkejut. Ia merasa sudah pernah mengenal wajah itu meskipun ia belum pernah mengenalnya. Sebagai anak seorang tumenggung, maka sekali-sekali Paksi pernah berada di lingkungan istana. Ketika di istana diselenggarakan satu upacara, ia pernah mendapat kesempatan untuk ikut bersama ayahnya. Beberapa orang kawannya juga ikut bersama ayah mereka. Tetapi anak para tumenggung itu tidak diijinkan masuk ke paseban. Mereka berada di halaman dalam istana sambil menunggu ayah mereka yang berada di paseban. Anak-anak itu akan menyaksikan keramaian yang khusus diselenggarakan. Pada saat itu Paksi melihat seorang anak muda menunggang kuda lewat di halaman dalam istana tanpa harus turun dari kudanya. Menurut ingatan Paksi, anak muda yang naik kuda itulah orang yang berada di dalam gubuknya itu. Tetapi satu hal yang Paksi tahu, bahwa orang itu tentu tidak mengenalnya. Meskipun Paksi yakin bahwa ia tidak keliru, namun ia pura-pura tidak mengenalinya. Karena itu, maka iapun kembali duduk. Meskipun demikian ia berusaha untuk sedikit membelakangi lampu minyak, sehingga orang yang ada di dalam gubuknya itu lebih banyak menghadap ke arah lampu minyak. Semakin lama Paksi memandanginya, maka iapun menjadi semakin yakin. Bahwa orang yang berkuda di halaman istana itulah orang yang sekarang duduk di hadapannya itu. Untuk beberapa saat Paksi berdiam diri. Orang itulah yang kemudian berkata, "Paksi. Aku memberimu kesempatan untuk berpikir. Besok pagi-pagi aku ingin mendengar, apakah kau mau menyerahkan cincin itu atau tidak." "Jika tidak," jawab Paksi. "Sudah aku katakan, aku akan mengambilnya sendiri." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, orang itupun berkata, "Baiklah. Karena rumah ini rumahmu, maka aku akan keluar. Aku akan tidur di luar sambil menunggu matahari terbit. Aku akan mendengar jawabmu tentang cincin itu." "Sebenarnya kau tidak usah menunggu sampai esok. Sekarang aku sudah dapat memberi jawaban. Cincin itu tidak ada padaku." Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, "Kau masih didera oleh gejolak perasaanmu. Kau masih terlalu muda untuk dapat menimbang langkah-langkahmu dengan jernih. Karena itu, aku menunggu sampai esok." Tetapi ketika orang itu bangkit, Paksipun bertanya, "Kau akan pergi ke mana?" "Aku akan tidur di luar," jawab orang itu. "Udara dingin di sini. Tidur sajalah di dalam. Aku tidak akan membunuhmu selagi kau tidur." Orang itu tertawa. Katanya, "Aku percaya kepadamu, Paksi. Tetapi jika aku tidur di dalam, maka gubukmu ini akan terasa terlalu sempit." "Tidak," jawab Paksi. "Aku akan mengatur perkakas dapur itu, agar ruangan ini dapat kita pergunakan untuk tidur berdua." "Kau tidak takut bahwa akulah yang membunuhmu?" bertanya orang yang mengaku bernama Wijang itu. "Tidak. Kau tidak akan melakukannya." "Ternyata kau telah membuat satu kesalahan yang besar. Kau terlalu percaya kepada orang yang sebenarnya belum kau kenal. Dari mana kau mendapatkan satu keyakinan bahwa aku tidak akan membunuhmu?" "Aku mencoba untuk menilai ujud, sikap dan tingkah lakumu." "Ujud seseorang tidak selalu mencerminkan sikap, tingkah laku dan wataknya, karena sikap dan tingkah laku itu dapat dibuat-buat, justru sangat bertentangan dengan wataknya yang sebenarnya." "Tetapi kenapa kau juga mempercayai aku, sedangkan kau juga belum mengenal aku yang sebenarnya." "Menurut nalarku, aku percaya kepadamu. Tetapi aku sadar, bahwa aku harus berhati-hati. Mungkin kau termasuk orang yang berpura-pura dapat dipercaya. Karena itu, aku akan tidur di luar. Kau tidur di dalam. Pintu harus kau selarak, sehingga aku tidak akan dapat masuk dengan diam-diam." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mencegah orang itu lagi ketika ia melangkah keluar pintu gubuknya. Demikianlah, maka orang yang menyebut dirinya bernama Wijang itu benar-benar tidur di luar gubuk dalam cuaca yang dingin. Sedang Paksipun telah menyelarak pintu. Bagaimanapun juga, ia memang harus berhati-hati. Seperti yang dikatakan sendiri oleh orang yang datang ke gubuknya itu, ia memang belum mengenal orang itu seutuhnya. Meskipun orang itu benar yang dilihatnya berkuda di halaman istana, namun ia tidak tahu pasti tentang sifat dan wataknya. Malam itu Paksi tidur dalam gelap. Ia memadamkan lampu minyaknya, sehingga rasa-rasanya di dalam gubuk itu lebih gelap daripada di luarnya. Tetapi mata Paksi yang tajam, apalagi jika ia mempergunakan ilmu yang telah dipelajarinya, akan mampu melihat dalam kegelapan tidak terlalu jauh berbeda dengan penglihatannya di dalam terang. Malam itu Paksi dapat tidur nyenyak. Pendengarannya yang tajam akan membangunkannya jika orang itu membuka pintu gubuknya dengan paksa, atau bahkan merusak dindingnya. Sebenarnyalah malam itu tidak terjadi sesuatu. Orang yang menyebut dirinya bernama Wijang itu tidak berbuat curang sebagaimana Paksi juga tetap berada di gubuknya. Menjelang pagi, seperti biasanya Paksi telah bangun. Setelah menyalakan lampu minyaknya, maka iapun membuka pintu gubuknya dan melangkah keluar. Langit masih nampak hitam. Tetapi suara burung liar telah menggema di hutan-hutan lereng pegunungan. Seperti biasanya pula Paksipun menyalakan perapian, menjerang air sebelum langit menjadi terang. Ketika ia melihat simpanan berasnya, ternyata sisanya masih tetap utuh. Karena itu, maka iapun telah mencuci beras pula dan menanak nasi. Sementara itu, maka Paksipun telah pergi ke sungai untuk mandi dan kemudian berbenah diri. Ketika cahaya fajar nampak di langit, maka Paksipun telah memadamkan perapiannya. Nasi sudah masak dan airpun sudah mendidih. Paksi telah membuat wedang jahe yang dapat menghangatkan tubuhnya di dinginnya udara pegunungan. Ketika kemudian Paksi keluar lagi dari gubuknya, ia melihat orang yang menyebut dirinya Wijang itu sudah duduk di atas sebuah batu yang besar. Di batu itu pulalah, Ki Marta Brewok sering duduk jika ia mengunjungi Paksi. "Kau ternyata termasuk anak muda yang rajin. Kau bangun pagi-pagi sekali. Melakukan segala kewajibanmu dengan baik." "Dimana kau tidur semalam?" bertanya Paksi. "Aku tidur di ladang jagungmu. Nampaknya kau hampir panen. Ketela pohonmu juga sudah cukup umur untuk dicabut. Kau dapat membuat geplek yang tahan lama disimpan." Paksi mengangguk. Katanya, "Ya. Dua tiga pekan lagi aku akan mencabutnya dan menjemurnya setelah dikuliti." "Nah, sekarang waktu yang aku berikan sudah sampai pada batasnya. Kau harus menjawab, apakah kau bersedia memberikan cincin itu kepadaku atau tidak." "Jangan tergesa-gesa. Aku akan pergi ke sungai untuk menangkap ikan. Kita akan memanggang ikan itu untuk makan pagi. Kita akan membicarakan persoalan kita setelah kita makan pagi. Kau dapat duduk sambil minum wedang jahe hangat sambil menunggu aku kembali dari sungai." "Sampai kapan kau akan menangkap ikan?" bertanya Wijang. "Tidak terlalu lama. Di kedung kecil terdapat cukup banyak ikan yang mudah ditangkap." Wijang termangu-mangu sejenak. Sementara itu Paksipun mempersilahkannya, "Masuklah. Kau tahu dimana letaknya mangkuk. Kau dapat menuang wedang jahe itu sendiri." "Kau akan pergi ke sungai?" bertanya Wijang. "Ya," jawab Paksi. "Jika demikian, biarlah aku ikut." Paksi mengerutkan dahinya. Tetapi iapun kemudian mengangguk sambil menjawab, "Silahkan jika kau inginkan." Keduanyapun kemudian telah pergi ke sungai. Di tikungan sungai itu terdapat sebuah kedung kecil. Di kedung kecil itu memang terdapat cukup banyak ikan, sehingga Paksi tidak memerlukan waktu yang lama untuk menangkapnya. Di tebing kedung kecil itu Paksi menyimpan sebuah lembing kecil yang panjang. Dengan lembing itu Paksi menangkap beberapa ekor ikan. "Menyenangkan sekali," berkata Wijang. "Berikan lembing itu. Aku juga akan menangkap ikan seperti kau lakukan." Paksi memberikan lembing itu. Wijang yang berdiri di bibir kedung itupun kemudian telah menangkap ikan dengan lembing sebagaimana dilakukan oleh Paksi. Namun selagi Wijang sibuk menangkap ikan, maka di luar sadarnya, seekor ular yang merambat di tebing telah mematuk kakinya. Wijang terkejut. Paksipun terkejut pula. Ia melihat ular itu dengan cepat menjalar dan hilang di dalam lebatnya rerumputan dan ilalang. "Wijang," berkata Paksi dengan cemas, "aku mempunyai obat penawar racun. Kau dapat mengobatinya untuk menawarkan racun ular itu jika tidak terlambat." Tetapi Wijang sendiri tersenyum. Sambil membidik seekor ikan kakap yang besar Wijang berkata, "Jangan hiraukan. Ular itu tidak akan menyakiti aku." Paksi mengerutkan keningnya. Sementara itu, Wijang telah melemparkan lembingnya tepat mengenai sasarannya. Paksi masih berdiri termangu-mangu. Ternyata Wijang itu sama sekali tidak menghiraukan patukan ular belang yang racunnya sangat tajam itu. Namun setelah memungut ikan kakap yang besar itu, Wijang duduk di atas rerumputan. Dipijitnya luka di kakinya itu. Darah yang hitam kebiru-biruan mengembun dari lukanya itu. Namun kemudian disusul dengan titik-titik darah merah yang segar. Wijang tersenyum. Diusapkan darahnya yang merah itu. Katanya, "Racun itu tidak akan menggangguku." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian Wijang berdiri, Paksipun bertanya, "Kau juga mempunyai obat penawar racun?" Wijang mengangguk. Katanya, "Aku harus melengkapi bekal dalam pengembaraanku yang panjang ini." Paksi mengangguk-angguk pula. Namun tiba-tiba Wijang itupun berkata, "Bukankah kita sudah mendapat ikan cukup banyak untuk makan pagi?" Paksi memandang seonggok ikan di tepi kedung kecil itu. Jawabnya, "Ya. Marilah kita pulang." Keduanyapun kemudian kembali ke gubuk Paksi. Wijanglah yang kemudian membersihkan ikan itu, sementara Paksi membuat api. "Di siang hari jarang sekali aku membuat api. Jika aku membuat api untuk memanggang ikan, maka aku mempergunakan arang agar asapnya tidak terlalu banyak. Asap akan dapat mengundang perhatian orang atas tempat ini. Tempat yang selama ini tidak pernah dikunjungi orang lain kecuali kau," berkata Paksi kemudian. "Jika aku tidak tersesat, maka aku tidak akan sampai kemari," berkata Wijang kemudian. Demikianlah, maka keduanyapun kemudian telah asyik memanggang beberapa ekor ikan yang telah digarami. Kemudian, selagi ikan itu masih hangat, serta nasinyapun ternyata masih hangat pula, mereka telah makan pagi. "Aku belum pernah makan senikmat ini," berkata Wijang. "Meskipun dihidangkan berbagai macam lauk, namun semuanya selalu terasa hambar. Baru sekarang aku benar-benar mendapat lauk yang sesuai dengan seleraku." Paksi mengerutkan dahinya. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, "Apakah bagimu selalu dihidangkan berbagai macam lauk?" Wijang terkejut. Tetapi dengan serta-merta iapun menyahut, "Seandainya. Tetapi sekali-sekali aku memang pernah menghadapi beberapa macam lauk di saat aku bertamu." Paksi tersenyum. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Beberapa saat keduanya makan sambil berbincang tentang ikan gurami, kakap, bader dan bahkan wader bang dan wader pari. Rasa-rasanya mereka lupa, seberapa banyak nasi yang sudah mereka makan serta wedang jahe yang sudah mereka hirup. Tiba-tiba saja Wijang menarik nafas dalam-dalam. Diletakkannya mangkuknya yang telah kosong sambil berdesah, "Aku terlalu banyak makan pagi ini." Paksi tertawa. Katanya, "Aku makan lebih banyak. Tetapi aku tidak merasa terlalu kenyang." "Kau makan berapa ekor ikan? Aku makan lebih dari tiga ekor ikan kakap yang besar itu." "Aku sudah sering makan ikan panggang." "Kau juga berburu rusa atau kijang di hutan itu?" bertanya Wijang. "Kadang-kadang," jawab Paksi. "Menarik sekali. Aku menyenangi cara hidupmu," berkata Wijang kemudian. "Kau tidak akan dapat bertahan lama." "Apakah kau sama sekali tidak bergaul dengan orang lain?" bertanya Wijang. "Tentu. Aku sering pergi ke pasar. Aku mempunyai beberapa orang sahabat di pasar. Di antaranya seorang anak kecil. Namanya Kinong." "Bagaimana kau tetap merahasiakan tempat tinggalmu terhadap sahabat-sahabatmu itu?" "Ternyata aku dapat melakukannya. Tidak seorang pun di antara mereka yang tahu, bahwa aku tinggal disini." Wijang mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja ia berkata, "Aku akan tinggal disini. Aku akan mengusirmu setelah kau serahkan cincin itu. Aku akan memiliki rumah ini, kebun jagung dan padi gaga." "Masih ada yang lain," Paksi justru menambahkan, "kebun pisang, pohon kelapa yang tumbuh di sepanjang tepian sungai, rumpun pring cendani dan pring tutul." "Kau mempunyai rumpun pring tutul? Kenapa kau tidak membuat perabot gubukmu ini dengan pring tutul? Lincak panjang atau geledeg." "Aku lebih senang tidur dengan ketepe." "Bagus. Jika demikian, aku akan mengambil alih gubuk ini. Tetapi aku memberi kesempatan kepadamu sampai kau memetik jagung yang sudah hampir waktunya itu." "Kau akan berhenti bertualangan?" bertanya Paksi. "Aku akan bertualang dari tempat ini. Maksudku, setiap kali aku akan kembali kemari. Beristirahat untuk dua tiga hari, lalu pergi bertualang lagi." Tetapi jawab Paksi mengejutkan, "Ambillah." Dahi Wijang berkerut. Dengan ragu ia bertanya, "Kau tidak mempertahankan hakmu?" "Aku tahu kau tidak akan kerasan tinggal disini sampai setengah musim. Jika hujan turun, maka segala-galanya akan berubah." Wijang memandang Paksi dengan tajamnya. Katanya, "Aku tahu bahwa kau sekedar menakutnakuti aku, agar aku mengurungkan niatku." "Tidak. Aku tidak ingin mengurungkan niatmu. Sudah aku katakan, kau tidak akan bertahan setengah musim. Kau tentu merasa lebih senang tinggal di istana." Wijang terkejut. Dengan serta-merta iapun bertanya, "Istana yang mana?" Paksi termangu-mangu sejenak. Bahkan ia bertanya kepada diri sendiri, "Apakah aku terlalu cepat untuk berterus-terang?" Paksi memandang Wijang sejenak. Wajahnya nampak tegang. Sementara Paksi yang sudah terlanjur menyinggung kenyataan tentang Wijang itupun berkata selanjutnya, "Aku tidak tahu siapakah kau sebenarnya. Tetapi aku sudah mengenalmu sebelumnya." "Dimana?" bertanya Wijang. "Aku sudah beberapa kali harus berkelahi dengan orang-orang yang tidak benar-benar ingin berkelahi. Meskipun dengan perkelahian itu aku selalu mendapat pengalaman baru serta petunjukpetunjuk yang berharga. Namun sekarang aku tidak ingin berkelahi dengan kau. Sekali lagi, aku tidak tahu siapa sebenarnya kau ini. Tetapi jika aku salah menyebutmu dan aku keliru mengetrapkan unggah-ungguh, itu bukan karena aku bersikap deksura. Tetapi karena kebodohanku dan ketidak-tahuanku." "Kenapa kau tiba-tiba mengigau? Bangkit. Kita akan berkelahi. Sudah waktunya kau berikan cincin itu kepadaku." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Aku baru saja makan. Dan kau merasa terlalu kenyang. Tidak baik untuk banyak bergerak." "Kau memang iblis kecil," geram Wijang. Tetapi wajahnya tidak menunjukkan gejolak kemarahan di dadanya. Paksi menggeleng. Katanya, "Aku sedang malas untuk berkelahi sekarang." "Baik. Melawan atau tidak melawan, aku akan berkelahi." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia justru mengumpulkan mangkuk-mangkuknya yang kotor sambil berkata, "Aku sudah terlalu lama menahan diri untuk mengatakan, bahwa aku pernah melihat kau di istana. Hanya orang-orang berkedudukan tinggi atau bahkan hanya keluarga istana saja yang tetap duduk di punggung kudanya di halaman istana." Wajah Wijang menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia menjawab, "Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan. Aku belum pernah pergi ke istana. Bahkan aku belum pernah memasuki kotaraja. Aku pengembara yang menelusuri jalan-jalan pegunungan, lembah dan ngarai yang panjang. Berjalan seurut pantai berpasir, berendam di sungai, kedung dan rawa-rawa. Menyusup di antara semak-semak berduri di hutan-hutan yang lebat." "Aku percaya. Tetapi keluarga istana pun ada yang melakukannya pula. Sebelum naik tahta Pajang, Kangjeng Sultan juga seorang pengembara." "Siapa yang mengatakannya kepadamu? Apakah kau mengenal Kangjeng Sultan?" "Tidak. Tetapi banyak orang yang mengatakannya." Wijang menarik nafas dalam-dalam. Sementara Paksi berkata, "Aku tidak ingin berteka-teki. Aku harus bersikap benar. Karena itu, aku ingin tahu, dengan siapa aku berhadapan." Wijang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Ternyata aku juga terkelabuhi. Aku kira hanya aku sajalah yang telah mengetahui bahwa aku berhadapan dengan Paksi Pamekas, putera Ki Tumenggung yang hanya aku kenal dengan gelar Tumenggung Sarpa Biwada." Paksilah yang menjadi sangat terkejut. Dengan suara yang bergetar iapun berkata, "Dari mana kau tahu namaku dan bahkan keluargaku?" Wijang tersenyum. Katanya, "Seorang pengemis tua berceritera kepadaku tentang seorang anak muda yang sedang mengembara. Ia sempat memberikan tongkat pusakanya kepada anak muda itu. Sementara itu orang yang wajahnya dikotori oleh rambut, jambang, kumis dan janggut, juga berceritera tentang Paksi Pamekas, anak seorang tumenggung yang mengembara karena mendapat perintah dari ayahnya untuk mencari sebuah cincin bermata tiga butir batu akik." "Aku tidak pernah berceritera kepada mereka, bahwa aku adalah anak seorang tumenggung. Aku adalah anak dari Padukuhan Banyuanyar." Orang yang menyebut dirinya bernama Wijang itu tertawa. Katanya, "Mungkin mereka bermimpi bertemu dengan ayahmu yang berkedudukan tinggi itu." Paksi memang menjadi bingung. Namun kemudian, Paksi itupun bertanya, "Baiklah. Aku tidak ingkar. Nampaknya segala sesuatunya sudah nampak terang di pandanganmu. Sekarang, siapakah kau sebenarnya, yang tetap duduk di atas punggung kuda di halaman dalam istana Pajang." Orang yang masih terhitung muda itu tiba-tiba membuka kantong ikat pinggangnya. Paksi terkejut bukan kepalang ketika ia melihat orang yang menyebut dirinya bernama Wijang itu telah mengeluarkan sebentuk cincin. Cincin mas dengan tiga butir batu akik. "Cincin itu," Paksi hampir berteriak. Orang yang menyebut dirinya Wijang itu tersenyum. Katanya, "Bukankah kau mendapat perintah untuk mencari cincin ini?" "Ya," jawab Paksi. "Ambil cincin ini dari tanganku. Kau yang sudah ditempa oleh Ki Marta Brewok serta mendapat senjata yang tidak ada duanya itu tentu akan dapat mengalahkan aku." Wajah Paksi menjadi tegang. Ketika ia memandang wajah orang yang menyebut dirinya Wijang itu, ia melihat bibir yang tersenyum. Sama sekali bukan greget seorang yang sedang menantang untuk berkelahi. "Tolong," berkata Paksi, "sebutkan siapakah kau sebenarnya. Aku tidak ingin berteka-teki lebih lama lagi." Orang itu masih tersenyum. Dengan nada rendah iapun berkata, "Namaku Benawa." Paksi terkejut sekali. Rasa-rasanya ia mendengar suara petir yang meledak di telinganya. Ia pernah mendengar nama itu. Benawa adalah putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya sendiri. "Ampun, Pangeran," Paksi membungkukkan kepalanya dalam-dalam, "hamba tidak tahu, bahwa hamba berhadapan dengan Pangeran Benawa. Yang hamba ketahui, bahwa orang yang menyebut dirinya Wijang ini adalah tentu keluarga istana dan berkedudukan tinggi, sehingga dapat tetap duduk di punggung kudanya di halaman dalam istana. Tetapi hamba tidak mengira bahwa Wijang itu adalah Pangeran Benawa itu sendiri." Pangeran Benawa tertawa pendek. Katanya, "Jangan panggil aku pangeran. Panggil aku Wijang. Kau tidak usah merubah sikapmu. Anggap aku kakakmu sendiri." "Tetapi Pangeran adalah putera Kangjeng Sultan." Wijang mengangguk. Tetapi katanya, "Siapapun aku. Panggil aku Wijang." "Hamba, Pangeran," Paksi mengangguk hormat. Namun kemudian Wijang itupun bertanya, "Kau percaya bahwa akulah Pangeran Benawa? Setiap orang dapat menyebut dirinya Pangeran Benawa. Apakah hanya karena kau melihat aku berkuda di halaman dalam istana, dan aku menyebut namaku Benawa kau langsung mempercayainya?" "Pangeran membawa cincin yang sedang dicari itu. Selebihnya hamba mendengarkan kata nurani hamba." "Baiklah. Tetapi sekali lagi aku minta, panggil aku Wijang. Aku adalah kakakmu dalam pengembaraan ini. Atau jika kau tidak berkeberatan, aku akan ikut tinggal di gubuk ini untuk sementara sebelum aku memutuskan meneruskan pengembaraan ini." "Tetapi orang-orang yang mencari cincin itu berkeliaran disini, Pangeran." "Panggil aku Wijang." Paksi hanya menarik nafas panjang. Tetapi bibirnya tidak bergerak. Wijanglah yang kemudian berkata, "Aku justru ingin melihat, apa saja yang mereka lakukan disini." "Tetapi jika mereka mengetahui bahwa cincin itu ada di tangan Pangeran, maka mereka akan menempuh segala cara untuk merebutnya, karena mereka menganggap bahwa cincin itu memiliki tuah. Siapa yang memiliki dan mengenakan cincin itu di jarinya, maka ia akan menurunkan penguasa di tanah ini." "Kau masih belum dapat menyebut namaku Wijang. Cobalah. Kau akan terbiasa." "Baik," jawab Paksi. "Apakah cincin ini benar-benar merupakan pertanda, bahwa seseorang akan dapat melahirkan penguasa di tanah ini, aku tidak akan mengatakan apa-apa. Tetapi jika beberapa orang keluarga istana memerintahkan orang-orang terpercaya mencarinya, sebenarnya bukan hanya karena cincin ini. Tetapi keluarga istana itu juga mencari aku. Mereka tahu bahwa akulah yang membawa cincin ini. Tetapi di samping itu ternyata ada juga yang menganggap bahwa petugas-petugas khusus itu telah memburu cincin yang hilang." "Kenapa Pangeran meninggalkan istana." "Aku harus memperingatkan kau lagi. Panggil aku Wijang." "Ya. Kenapa kau meninggalkan istana?" "Udara di lingkungan istana menjadi sangat panas." "Maksudmu?" "Kau tahu maksudku." "Aku mengerti. Tetapi apa sebabnya?" bertanya Paksi. "Apakah kau menjadi kecewa karena pelayanan yang kurang baik, atau karena alasan-alasan lain sehingga udara di istana itu merasa panas?" "Orang-orang di dalam istana itu tidak lagi mengenal kehidupan yang sebenarnya yang terjadi di Pajang dan lingkungannya. Kakangmas Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar juga kecewa melihat tatanan kehidupan di istana." "Apa yang mengecewakan?" "Sama sekali bukan karena kami merasa kurang mendapat pelayanan. Tetapi justru sebaliknya. Apa yang ada di istana sama sekali bertentangan dengan kenyataan hidup di luar dinding istana. Orang-orang yang sehari-harinya hidup di dalam dinding istana tidak pernah melihat, bahwa ada juga orang yang hidup melarat. Kekurangan dan bahkan lapar. Para penjabat kahartakan di istana tidak tahu, bahwa para petugas pajak di daerah-daerah menjadi kehilangan kendali. Mereka berlomba untuk mendapatkan yang terbanyak agar mereka mendapat pujian atau naik pangkat. Tetapi mereka tidak menghiraukan, bahwa mereka yang dipungut pajak itu merasa mendapat beban yang sangat berat." "Tetapi bukankah pajak itu merupakan salah satu pilar yang mendukung tegaknya pemerintahan, karena pajak itu merupakan salah satu sumber dana untuk menjalankan roda pemerintahan?" "Ternyata kesadaranmu sangat tinggi, Paksi. Mungkin karena kau anak seorang tumenggung. Jika orang-orang di sekitar lingkungan ini tidak mengeluh karena beban pajak yang tidak terpikul, maka aku menyatakan hormatku kepada para petugas disini." Paksi mengangguk-angguk kecil. Ia memang tidak pernah berbicara tentang pajak dengan orang-orang yang dikenalnya. Tetapi seandainya ada keluhan-keluhan itu, mereka tidak akan mengatakannya kepada setiap orang, apalagi orang yang tidak terlalu dikenal sebagaimana Paksi. Namun dalam pada itu, Wijang itupun berkata, "Bukan saja karena orang-orang di istana Pajang itu tidak mengenal kehidupan rakyat yang sebenarnya, tetapi aku juga kecewa atas sikap ayahanda Sultan Hadiwijaya." "Kenapa?" bertanya Paksi. Wijang itu tersenyum. Katanya, "Sudahlah. Apakah seorang anak harus membuka rahasia dan kelemahan orang tuanya, betapapun ia menjadi kecewa?" Paksi menundukkan kepalanya. Katanya, "Memang tidak." "Bagus. Kau dapat mengerti jika aku tidak mengatakan alasannya, kenapa aku kecewa terhadap ayahanda." Paksi mengangguk kecil. "Nah, sekarang, aku minta sekali lagi untuk tinggal di gubuk ini. Setidak-tidaknya untuk sementara." "Dan aku harus meninggalkan gubuk ini?" Wijang tertawa. Katanya, "Aku takut tinggal disini sendiri." Paksipun tertawa pula. Sejak hari itu, Paksi tidak tinggal sendiri di gubuk itu. Wijang yang tinggal bersamanya, dengan cepat telah menyesuaikan dirinya. Ia telah melakukan apa yang dilakukan oleh Paksi. Bahkan Wijangpun telah memanjat pohon kelapa pagi dan sore untuk mengambil legen. Seperti Paksi, ternyata Wijangpun melakukannya dengan tangkasnya. Di hari-hari berikutnya, Paksi tidak sendiri pergi ke pasar. Ketika ia bertemu dengan Kinong, maka Paksipun telah memperkenalkan Wijang kepadanya. "Apakah ia saudaramu?" bertanya Kinong. "Ya. Kakakku," jawab Paksi. "Tetapi baru kali ini ia pergi ke pasar ini." Paksi tertawa. Katanya, "Kakakku tinggal di tempat yang jauh. Baru kemarin ia datang menengok aku." "Dimana ia tinggal?" Pertanyaan itu agak membingungkan Paksi. Namun kemudian iapun menjawab, "Ia tinggal di Kembang Arum." Kinong mengangguk-angguk. Tetapi ia belum pernah mendengar nama padukuhan Kembang Arum. Namun Kinong tidak sempat berbincang lebih lama. Iapun segera berlari-lari membawa keranjang kecilnya. Ibunya telah melambaikan tangan memanggilnya, karena ada orang yang ingin minta bantuannya. "Anak sekecil itu harus sudah mencari makan sendiri," desis Wijang. "Salah ayahnya," desis Paksi. Wijang berpaling kepadanya dengan dahi yang berkerut. Namun kemudian iapun bertanya, "Kenapa dengan ayahnya?" "Ia seorang penjudi." Wijang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Dalam pada itu, setelah beberapa kali Wijang pergi ke pasar, maka iapun mulai melihat, orangorang dari beberapa perguruan berkeliaran di pasar itu. Nampaknya orang-orang itu masih berusaha untuk saling mengekang diri, sehingga benturan di antara mereka dihindari. Benturanbenturan yang pernah terjadi, sama sekali tidak menguntungkan bagi mereka, karena kekuatan mereka hampir seimbang. Hanya pada saat-saat yang menentukan sajalah agaknya mereka akan mengambil sikap yang tegas. Namun, perhatian Wijang dan Paksi sangat tertarik kepada pembicaraan dua orang dari Perguruan Sad yang kebetulan mereka dengar, bahwa ada di antara mereka yang seakan-akan telah melihat pelangi yang berdiri tegak di kaki bukit. Pelangi itu hanya terdiri atas tiga warna. "Apakah ketajaman indera mereka mampu melihat keberadaan cincin yang aku bawa ini?" bertanya Wijang kemudian. "Entahlah. Tetapi sebelum kau datang, orang-orang itu sudah berada disini." "Aku sudah agak lama disini," berkata Wijang. "Bukankah kau baru datang beberapa hari di saat aku pergi?" Wijang menggeleng. Katanya, "Tidak. Jauh sebelum itu." "Jauh sebelum itu? Sebelum aku datang ke tempat ini?" "Tidak. Jika kau sudah setahun disini, berarti bahwa kau datang lebih dahulu. Tetapi aku bukan baru berada disini di saat kau pergi." "Jadi di mana kau selama ini?" Wijang tersenyum. Katanya, "Aku sudah berada disini kira-kira sebulan yang lalu. Aku tinggal bersama Paman Marta Brewok." "Ki Marta Brewok?" bertanya Paksi. "Ya. Bukankah Ki Marta Brewok telah mengajarimu bermain loncat-loncat?" Paksi menarik nafas dalam-dalam. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, "Siapa sebenarnya orang yang menamakan dirinya Marta Brewok? Aku menganggapnya sebagai guruku. Iapun mengakui aku sebagai muridnya. Tetapi aku tidak tahu, siapakah sebenarnya Ki Marta Brewok itu." "Bukankah kau sudah menyebutnya? Namanya Marta Brewok. Bukankah itu sudah cukup?" Paksi memandang Wijang dengan tajamnya, sehingga Wijang itupun bertanya, "Kenapa kau memandang aku seperti itu? Kau tidak percaya kepadaku atau justru kau menjadi curiga?" "Tidak," jawab Paksi, "aku sama sekali tidak menjadi curiga. Tetapi aku tahu bahwa ada sesuatu yang kau sembunyikan." Wijang tertawa. Katanya, "Sudahlah. Jangan mempersulit perasaanmu sendiri. Sekarang, marilah kita memperhatikan pendapat orang-orang dari Perguruan Sad itu." "Maksudmu?" "Ada dua kemungkinan. Apakah orang dari Perguruan Sad itu mampu melihat cincin yang tersembunyi di balik kantong ikat pinggangku, atau memang cincin itu benar-benar memancarkan cahaya sebagaimana yang mereka lihat." Paksi mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian iapun bergumam, "Cincin itu memang sangat menarik." "Setidak-tidaknya karena aku yang membawanya." Paksi mengerutkan dahinya. Namun Wijang itupun tertawa. Katanya, "Kau tidak usah iri." Paksipun akhirnya tertawa pula. Namun bagaimanapun juga, Wijang dan Paksi harus menjadi lebih berhati-hati. Jika ada orang yang melihat atau merasa melihat semacam pelangi yang mempunyai tiga warna berdiri tegak di kaki bukit, maka itu akan dapat berarti bahwa orang-orang yang mencari cincin itu akan menjelajahi kaki bukit. Mungkin mereka akan berkeliaran dan bersamadi di antara bebatuan, di pinggir sungai atau di goa-goa sambil menunggu isyarat. Mungkin cahaya seperti ndaru, atau seperti bintang yang jatuh dari langit, atau sinar yang memancar dari tempat-tempat yang tersembunyi atau semak-semak yang tiba-tiba terbakar. Namun satu dua hari kemudian, tidak seorangpun yang pernah memanjat kaki gunung itu lebih tinggi. Sementara itu, dalam waktu-waktu senggang, ternyata keduanya sempat pula melakukan latihan olah kanuragan bersama-sama. Mereka berdua memang tidak bersumber dari perguruan yang sama. Tetapi justru karena itu, maka latihan-latihan yang mereka lakukan dapat memperkaya ilmu mereka masing-masing. Namun dalam pada itu, Paksi harus mengakui, bahwa Pangeran Benawa yang menamakan dirinya Wijang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun bagi Wijang, Paksi adalah kawan berlatih yang cukup memadai. Bahkan keduanya kadang telah berlatih di dalam goa di belakang air terjun. Semula Paksi tidak mengatakan kepada Wijang, bahwa di belakang air terjun itu terdapat sebuah goa. Namun ternyata Wijang sudah mengetahuinya. "Ternyata apa yang diketahuinya jauh lebih banyak dan lebih luas dari yang aku ketahui," berkata Paksi. Bahkan Wijang itu pulalah yang telah mengajak Paksi berlatih sambil berendam di dalam air. "Pada suatu ketika, mungkin sekali kita dipaksa untuk bertempur di dalam air," berkata Wijang. Paksi memang mendapat pengalaman baru. Ia dapat mengenali perbedaannya, apa yang harus dilakukan di darat dan apa yang harus dilakukan di dalam air. Ketrampilannya berenang pun semakin bertambah. Ketahanan nafasnya pun menjadi semakin panjang. Namun ketenangan kedua orang itupun akhirnya terganggu juga. Ketika keduanya sedang berlatih meningkatkan ketahanan tubuh dengan berjalan dan berlari di celah-celah bebatuan, pepohonan hutan lereng pegunungan, lembah dan tebing-tebing terjal, maka tiba-tiba saja Wijang memberi isyarat agar Paksi yang berlari di belakangnya untuk berhenti. Paksipun tertegun. Iapun kemudian bergeser ke balik gerumbul perdu ketika Wijang memberikan isyarat kepadanya. Keduanyapun kemudian melihat tiga orang perempuan berjalan menyusuri jalan setapak. Untunglah mereka tidak berjalan ke arah gubuk Paksi. Tetapi justru ke arah yang lain. "Orang-orang dari Perguruan Goa Lampin," desis Paksi. Wijang mengangguk-angguk. Katanya, "Pemimpin perguruan itu adalah perempuan yang sangat berbahaya. Dengan pandangan matanya yang menembus mata seseorang, ia dapat mempengaruhi penalarannya sehingga orang itu dapat kehilangan pribadinya." Paksi mengangguk. Katanya, "Aku pernah melihatnya." "Bukankah Paman Marta Brewok pernah memberi petunjuk kepadamu, bagaimana kau harus mengatasinya?" Paksi mengangguk. "Bagus," Wijang mengangguk-angguk. "Murid-muridnyapun ada yang sudah mencoba-coba kekuatan sihir itu. Tetapi kau tidak usah menjadi cemas. Kekuatan pribadimu akan dapat mengatasinya, sehingga kekuatan sihir itu tidak mempengaruhimu." Paksi masih mengangguk-angguk. "Nah, satu peringatan buat kita. Mereka hari ini menyusuri lorong ke arah yang lain. Tetapi mungkin besok atau lusa, mereka akan pergi menyusuri jalan setapak menuju ke gubuk kita?" "Bagaimana sikap kita jika hal itu terjadi?" "Apa yang kau lakukan jika aku tidak bersamamu?" Wijang justru bertanya. "Aku akan membiarkannya." "Merusak gubukmu, mengambil isinya dan barangkali memetik jagungmu dan mencabut ketela pohonmu?" "Bukankah aku dapat menanamnya lagi?" "Apa yang akan kau makan kemudian?" "Bukankah aku selama ini menanak nasi beras, bukan nasi jagung?" Wijang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk. Katanya, "Bagus. Bukankah kau untuk sementara masih menghindari benturan dengan mereka?" "Ya," Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ketika keduanya hampir saja bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu, maka keduanya terkejut pula. Mereka melihat dua orang lain yang berjalan melalui lorong sempit berbatu batu ke arah yang sama sebagaimana ketiga orang perempuan dari Perguruan Goa Lampin itu. "Siapakah mereka?" desis Paksi. "Bukan orang-orang dari Perguruan Sad." "Jadi siapa? Apakah mereka orang-orang Tegal Arang?" Wijang menggeleng. "Apa yang terjadi? Apakah mereka ingin menjajagi kemampuan masing-masing? Tetapi hal itu sudah pernah mereka lakukan sebelumnya." Sebelum Wijang menjawab, maka di kejauhan mereka melihat tiga orang lainnya berjalan ke arah yang sama. Bahkan kemudian ada lagi yang menyusul. "Nampaknya memang ada sesuatu yang akan terjadi," desis Wijang. "Mereka berkumpul untuk berkelahi atau untuk berbicara di antara mereka?" gumam Paksi. "Lingkungan ini cukup terlindung oleh semak-semak belukar. Bahkan pepohonan. Kita akan dapat melihat, apa yang akan terjadi kemudian." "Bukankah kita tidak akan mencampuri persoalan mereka?" "Tidak," jawab Wijang. Keduanyapun kemudian mulai beringsut. Dengan hati-hati keduanya merunduk dari balik gerumbul ke balik gerumbul. Dari balik batu-batu besar ke balik batu yang lain. "Mereka agaknya akan pergi ke balik bukit itu," berkata Paksi. "Disana ada sebuah tempat yang agak lapang, di atas hamparan rumput yang hijau." Wijang mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Sebuah batu persegi yang agaknya dibuat oleh tangan seseorang, ada di tengah-tengahnya. Sebatang pohon preh tumbuh di sudut tempat yang lapang itu." "Kau pernah mengunjungi tempat itu?" "Seperti kau, aku mengenal lingkungan ini dengan baik." Paksi mengangguk-angguk. Sementara itu keduanya merayap ke tempat yang mereka sebutkan itu. Dengan sangat hati-hati Paksi dan Wijang kemudian menuruni tebing yang tidak terlalu tinggi yang ditumbuhi pepohonan dan semak-semak yang liar, sehingga karena itu, maka keduanya tidak mudah dapat dilihat dari tebaran tempat yang agak lapang yang ditumbuhi rerumputan dan seperti dikatakan oleh Wijang, di tengah-tengahnya terdapat sebuah batu besar persegi ampat. Batu yang nampaknya adalah bekas buatan tangan manusia. Keduanya memang tidak dapat berada terlalu dekat dengan lapangan rumput itu. Namun dari tempat mereka berlindung, mereka dapat melihat apa yang terjadi dan serba sedikit pendengaran mereka yang tajam, dapat mendengar pembicaraan dari orang-orang yang seperti mereka duga, berkumpul di lapangan rumput itu. Menurut penglihatan Wijang dan Paksi, maka di lapangan rumput itu telah berkumpul beberapa orang dari beberapa perguruan yang berbeda. Sedikitnya ada lima perguruan yang diwakili dalam pertemuan itu. Tetapi nampaknya tidak seorangpun dari para pemimpin tertinggi dari perguruan itu yang datang dalam pertemuan itu. Wijang dan Paksi mendengarkan pembicaraan orang-orang itu dengan saksama. Mula-mula masing-masing menyebut perguruan mereka serta nama mereka yang ditugaskan untuk mewakili. "Kau ikut mengingat nama mereka serta perguruan mereka," desis Wijang. "Aku akan mencoba," sahut Paksi perlahan-lahan. Baru kemudian, seorang di antara mereka, justru orang dari Perguruan Sad, berkata, "Aku mendapat perintah dari guru, menawarkan kerja sama di antara kita, permusuhan dan bahkan saling membunuh sama sekali tidak bermanfaat bagi kita semuanya dan bagi kita masing-masing." "Kerja sama yang bagaimana yang dimaksud oleh gurumu?" bertanya seorang perempuan dari Goa Lampin. "Itulah yang harus kita bicarakan," jawab orang dari Perguruan Sad itu. Namun seorang yang datang dari perguruan yang lain lagi berkata, "Katakan, apakah kau sudah mempunyai rancangan dari ujud kerja sama yang dapat kita lakukan?" Orang dari Perguruan Sad itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja orang itu menjadi gelisah. Bahkan beberapa orang yang lainpun nampak menjadi gelisah. Tiba-tiba seorang di antara mereka, seorang yang agaknya datang dari perguruan yang lain lagi berkata lantang, "Jangan bersembunyi. Marilah, datanglah jika kalian akan ikut berbicara bersama kami." Seorang yang lain, yang bertubuh raksasa yang agaknya datang dari Perguruan Tegal Arang di pinggir Kali Praga tertawa sambil berkata, "Ada dua orang yang nampaknya ingin bermain sembunyi-sembunyian." Wijang dan Paksi terkejut. Mereka merasa bahwa mereka berada di tempat yang tersembunyi. Kemampuan mereka yang seakan-akan dapat menyerap bunyi yang timbul dari setiap sentuhan tubuh mereka dengan lingkungannya, melindungi mereka dari ketajaman pendengaran orangorang yang sedang berbicara di lapangan rumput itu. Jika orang-orang itu mengetahui kehadiran mereka berdua, itu berarti bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi. "Tidak mungkin," desis Paksi. Wijang mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian iapun berbisik, "Jika karena sesuatu hal mereka mengetahui kehadiran kita, maka apa boleh buat." Namun keduanya terkejut ketika mereka melihat sesuatu yang bergerak di sisi yang lain dari padang rumput itu. Dua orang muncul dari sela-sela gerumbul-gerumbul perdu. "Kenapa kalian bersembunyi?" bertanya orang dari Perguruan Sad itu. Kedua orang itu berdiri tegak memandang berkeliling seakan-akan menembus ke setiap biji mata dari orang-orang yang berada di padang rumput itu. Sementara itu Wijang berdesis, "Kenapa panggraita kita begitu tumpul, sehingga kita tidak mengetahui kehadiran kedua orang itu?" "Keduanya masih terlalu jauh dari kita berdua, karena keduanya berada di seberang lapangan rumput itu," sahut Paksi. "Sementara itu, perhatian kita pusatkan kepada orang-orang yang ada di lapangan rumput itu sendiri. Aku sudah siap mengingat-ingat nama jika salah seorang dari mereka menyebutkannya lagi. Namun yang datang ada dua orang dari sisi seberang." Namun tiba-tiba wajah Paksi menjadi tegang. Hampir di luar sadarnya ia beringsut sehingga Wijang menggamitnya sambil berdesis, "Sst. Kau kenapa?" Tiba-tiba saja Paksi teringat sesuatu. Kata-katanya meluncur dengan nada datar, "Seorang lakilaki dan seorang perempuan." "Ya. Kenapa?" bertanya Wijang. "Tentu ayah dan ibu Kemuning." "Siapakah Kemuning itu?" bertanya Wijang. Paksi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Wijang sekilas. Namun kemudian Paksipun menjawab perlahan, "Nanti aku ceriterakan." Wijang mengangguk. Iapun ingin memperhatikan apa yang dikatakan oleh kedua orang laki-laki dan perempuan itu. Sementara itu Paksipun berdesis, "Ciri-ciri keduanya tepat seperti yang dikatakan Ki Pananggungan." Wijang tidak menyahut. Tetapi ia memperhatikan laki-laki itu dari ujung kakinya sampai ke kepalanya. Laki-laki itu bertubuh tinggi tegap. Wajahnya keras, berkumis lebat. Hidungnya seakanakan tenggelam dalam kelebatan kumis itu. Matanya sipit, tetapi alisnya hampir setebal kumisnya. Sedangkan perempuan yang bersamanya itu terhitung perempuan yang bertubuh tinggi semampai mengenakan pakaian yang khusus. Sepasang pedang tergantung di kedua lambungnya. Selempang kulit menyilang di dadanya menahan berat pedangnya yang menggantung pada ikat pinggang kulitnya. Dalam pada itu, laki-laki itupun kemudian berkata, "Kalian mengira bahwa kami mendekati tempat ini sambil bersembunyi? Buat apa aku bersembunyi jika yang datang kemari hanya tikustikus kecil seperti kalian. He, di manakah guru kalian? Kenapa mereka tidak datang?" "Sejak semula guru memang tidak akan datang ke tempat ini. Justru kami baru mempersiapkan kemungkinan, agar guru-guru kami dapat bertemu." Laki-laki berkumis tebal itu termangu-mangu sejenak. Dengan nada berat iapun kemudian berkata, "Aku ingin bertemu dan berbicara dengan guru-guru kalian." "Aku tidak tahu, apakah guru menganggap penting kalian berdua ikut berbicara tentang persoalan yang teramat penting. Mungkin guru bersedia menerima kalian untuk menghadap. Tetapi tidak untuk membicarakan sesuatu." "Jangan menghina aku. Mungkin kalian merasa kokoh karena kalian adalah bagian dari sebuah perguruan. Kalian menganggap guru kalian masing-masing adalah orang-orang terkuat di dunia kanuragan. Tetapi sebenarnyalah perguruan kalian tidak ada artinya apa-apa bagi kami." Tetapi seorang yang bertubuh raksasa dari perguruan Tegal Arang itupun berkata, "Kiai Repak Rembulung. Selama ini kami memang menganggap kau berilmu sangat tinggi. Tetapi bahwa kehadiranmu yang diam-diam itu justru menimbulkan suara seperti lampor, maka kemampuanmu kami ragukan. Demikian pula Nyi Pupus Rembulung yang menurut pendengaran kami memiliki kemampuan yang jarang ada duanya, ternyata juga sangat mengecewakan. Kalian berdua yang digelari sepasang Alap-alap Elar Perak, ternyata telah mengejutkan kami. Bukan karena ketinggian ilmu tetapi justru sebaliknya." "Menurut cirimu, kau adalah murid dari Perguruan Tegal Arang di tepi Kali Praga. Terima kasih atas pengenalanmu terhadap kami berdua serta gelar yang kami sandang. Tetapi jangan mencoba kemampuan kami. Kami memang tidak pernah berniat untuk mendekat dengan diam-diam. Itulah sebabnya kami datang seperti lampor. Tetapi jika ada yang meragukan kemampuan kami, silahkan untuk mengatakannya berterus-terang." "Aku meragukan tataran ilmumu, Ki Repak Rembulung." Namun tiba-tiba saja orang itu menjerit. Ia tidak melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh Ki Repak Rembulung. Namun tiba-tiba saja dari dahinya telah mengucur darah. Sebuah batu sebesar telur puyuh telah mengenai dahinya itu. "Jika kau anggap aku curang karena aku menyerang dengan tiba-tiba, maka marilah, siapa yang akan menjajagi ilmu dengan cara apapun yang ingin kalian lakukan. Atau barangkali ada yang meragukan kemampuan isteriku, Pupus Rembulung." Orang-orang yang ada di lapangan rumput itu berdiri dengan tegang. Sementara Repak Rembulung yang digelari Alap-alap Elar Perak itu melangkah dengan tenangnya mengelilingi batu persegi yang ada di tengah-tengah lapangan rumput itu. "Aku tidak sering menyombongkan diri. Tetapi jika perlu, aku memang melakukannya seperti apa yang aku lakukan sekarang," berkata Repak Rembulung. Tidak seorangpun yang menyahut. Karena itu, maka Repak Rembulung itupun kemudian berkata, "Katakan kepada gurumu, aku ingin berbicara dengan mereka." Orang-orang yang berkumpul di lapangan rumput itu diam membeku ketika Repak Rembulung itu menunjuk mereka seorang-seorang. Bahkan kepada orang yang dahinya berdarah itu, iapun berkata, "Kau dapat melaporkan apa yang terjadi atas dahimu itu kepada gurumu. Selebihnya, jika kau sekali lagi menghina aku, maka sebelah matamu akan menjadi buta, karena batu itu akan menghunjam masuk ke dalam matamu. Jika kau masih mengulanginya lagi, matamu yang lain akan menjadi buta pula." Orang yang dahinya terluka itu berdiri mematung di tempatnya. Ketika darahnya mengalir ke matanya, ia sama sekali tidak mengusapnya. Setiap gerak akan dapat menimbulkan kecurigaan pada Repak Rembulung atau Pupus Rembulung sehingga mereka dapat melakukan sesuatu yang dapat membahayakannya. "Atau kalian semuanya dari perguruan yang berbeda-beda ini ingin mencoba bersama-sama? Kami sama sekali tidak berkeberatan. Tetapi untuk melawan kalian bersama-sama, sulit bagi kami untuk mengendalikan diri, sehingga jika ada yang mati di antara kalian, kami tidak bertanggung jawab." Orang-orang yang ada di lapangan itu masih berdiri mematung. Tidak seorangpun yang bergerak atau bahkan menjawab ancaman Repak Rembulung itu. Dalam pada itu, tiba-tiba terdengar suara Pupus Rembulung, "Sudahlah, Kakang. Marilah kita pergi. Tidak ada gunanya kita berlama-lama disini." Repak Rembulung mengangguk. Katanya, "Kami akan segera pergi. Tetapi aku juga ingin semua orang yang ada di lapangan rumput ini pergi. Kalian tidak usah berbicara tentang pertemuan antara pemimpin dan barangkali guru kalian. Biarlah mereka membicarakannya langsung di antara mereka. Ingat, beritahu kami berdua, kami akan datang dalam pertemuan itu." Tiba-tiba saja dengan suara yang bergetar salah seorang dari Goa Lampin bertanya, "Bagaimana kami memberitahukannya kepada Ki Repak Rembulung?" "Pahatkan saat pertemuan itu pada beberapa batang pohon gayam yang ada di sepanjang jalan menuju ke Panjatan." "Ki Repak Rembulung tinggal di Panjatan?" "Aku tinggal dimana-mana. Tetapi ingat, jangan mencoba menipu dan membohongi aku. Jika pertemuan itu berlangsung tanpa aku ketahui, serta tidak ada pahatan waktu di beberapa pohon gayam di jalan menuju ke Panjatan, maka kalian akan menyesal." Tidak seorangpun yang bertanya lagi. Mereka mengharap agar Sepasang Alap-alap Elar Perak itu segera meninggalkan tempat itu. Namun ternyata Pupus Rembulung itu berkata lantang, "Cepat, tinggalkan tempat ini. Atau aku harus mengusir kalian." Orang-orang itupun kemudian telah beringsut meninggalkan tempat itu sebelum mereka sempat menemukan kesepakatan apa-apa tentang rencana pertemuan antara para pemimpin dan guru mereka. Sedangkan Repak dan Pupus Rembulunglah yang kemudian terakhir meninggalkan tempat itu. Sepeninggal mereka, maka Wijang dan Paksipun kemudian telah keluar dari persembunyiannya. Namun yang pertama-tama dikatakan oleh Wijang bukan tentang orang-orang yang berkumpul itu, tetapi justru tentang diri mereka berdua. "Nah, bukankah kita sudah berhasil meredam suara yang timbul dari gerak-gerik kita. Geseran tubuh dan pakaian kita dengan benda-benda sekeliling kita tidak mampu menyentuh ketajaman telinga kedua orang suami isteri itu." Paksi mengangguk-angguk. Iapun kemudian menyadari bahwa iapun mampu menyerap bunyi geseran itu. Namun Paksipun kemudian berkata, "Kedua orang suami isteri itu menarik perhatian." "Yang kau sebut sebagai ayah dan ibu Kemuning itu." "Ya," jawab Paksi. "Nah, bukankah kau akan berceritera tentang Kemuning?" "Nanti di rumah aku akan menceriterakannya." Sambil bergeser Wijang itupun kemudian berkata, "Kita sudah mendengar bahwa orang yang disebut Repak Rembulung itu minta agar ia mendapat isyarat jika diselenggarakan pertemuan antara para pemimpin perguruan yang telah menurunkan orang-orangnya di daerah ini." Paksi mengangguk-angguk pula. Katanya, "Isyarat itu akan dapat kita lihat di pohon-pohon gayam di jalan yang menuju ke Panjatan. Dengan demikian, maka kitapun akan dapat hadir pula untuk melihat apa yang akan mereka bicarakan." "Mereka tentu akan berbicara tentang cincin istana yang hilang," desis Wijang. "Yang menarik, bagaimana mereka mengatur kerja sama di antara mereka itu." "Yang lebih menarik lagi adalah kehadiran Repak Dan Pupus Rembulung itu." Paksi termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja Wijang menarik Paksi sambil berkata, "Kita akan pulang. Kita akan melihat apakah ada satu dua orang yang tersesat ke gubuk kita. Selebihnya, kau akan berceritera tentang Kemuning yang kau sebut anak Repak dan Pupus Rembulung itu." Paksi tidak menjawab. Apalagi Wijang masih saja menariknya berjalan di lereng yang ditumbuhi pohon-pohon perdu itu. Ketika mereka sampai di gubuk kecil yang tersembunyi itu, merekapun berlega hati. Tidak seorangpun di antara orang-orang dari berbagai perguruan itu yang tersesat sampai ke gubuk kecil mereka. Ketika mereka kemudian duduk di dalam gubuk itu sambil menghirup wedang sere yang sudah dingin, Paksipun telah berceritera tentang seorang gadis yang bernama Kemuning. Menurut pamannya, Ki Pananggungan, kedua orang tua angkat Kemuning adalah petualang pula. Menurut ciri-cirinya, orang tua angkat Kemuning itu tentu Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung itu. "Sayang," berkata Wijang, "jika saja keduanya tidak terjerumus ke dalam petualangan yang dapat mengotori namanya." "Apakah kita dapat mencoba menghubunginya?" bertanya Paksi. "Jangan tergesa-gesa. Yang terjadi mungkin justru sebaliknya dari yang kita inginkan," desis Wijang. Meskipun demikian ia melanjutkan, "Tetapi pada saat yang tepat kita akan dapat mencobanya." Paksi menarik nafas panjang. Katanya, "Rasa-rasanya masih ada kemungkinan." "Kita belum tahu sifat-sifatnya lebih jauh. Kita baru melihat ujudnya sekilas dan sedikit keterangan dari Ki Pananggungan itu," sahut Wijang. Paksi tidak menjawab. Tetapi kepalanya mengangguk kecil. "Nah, sebaiknya kita sekarang pergi ke goa itu. Bawa tongkatmu. Kita berlatih lebih bersungguh-sungguh." Paksi tidak membantah. Iapun kemudian bangkit. Diraihnya tongkatnya yang disembunyikannya di antara kerangka gubuk kecilnya. Sementara itu, Wijangpun telah melangkah keluar dan gubuk itu. Sejenak kemudian, keduanya telah berada di dalam goa. Dengan saksama keduanya memperhatikan pahatan yang ada di dalam goa itu. Beberapa kali mereka mencobanya sehingga dengan demikian, terutama bagi Paksi, ilmunya menjadi semakin matang. Tongkatnya menjadi semakin berbahaya di tangannya Sementara itu, jiwanyapun menjadi semakin mapan. Ia sudah berhasil menguasai keseimbangan antara perasaan dan penalarannya saat-saat ia mengetrapkan ilmu puncaknya. Ternyata apa yang dilakukan Wijang, justru melengkapi apa yang pernah diwariskan oleh Ki Marta Brewok kepada Paksi. Di hari berikutnya, maka keduanya telah pergi menyusuri jalan menuruni kaki Gunung Merapi. Mereka kemudian telah memasuki sebuah jalan yang agak lebih lebar dari jalan setapak. Jalan yang menuju ke Panjatan. Memang ada beberapa batang pohon gayam. Tetapi mereka belum melihat isyarat apapun yang terpahat pada pohon gayam itu. Namun keduanya sadar, bahwa mereka harus berhati-hati, karena mereka akan dapat bertemu dengan Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung. "Mungkin dua atau tiga hari lagi," berkata Wijang. "Bukankah mereka harus membicarakannya lebih dahulu?" "Atau para pemimpin perguruan yang tersinggung itu sengaja tidak mau memenuhi keinginan Repak dan Pupus Rembulung," sahut Paksi. "Kemungkinan itu memang dapat terjadi. Tetapi aku mengira bahwa para pemimpin perguruan itu akan memberitahukan rencana pertemuan itu justru untuk menjebaknya." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Setiap hari kita akan melihat, apakah mereka telah memahatkan pesan itu." "Dengan kemungkinan terburuk, kita akan bertemu dengan orang yang sedang memahatkan pesan itu atau suami isteri orang tua angkat Kemuning itu." Dengan serta-merta Paksi berpaling. Dipandanginya Wijang dengan dahi berkerut. Namun Wijanglah yang bertanya, "Kenapa? Bukankah Repak dan Pupus Rembulung itu orang tua angkat Kemuning sebagaimana kau katakan." Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia menjawab, "Ya. Mereka adalah orang tua angkat Kemuning." "Jadi bagaimana?" "Tidak apa-apa," jawab Paksi. Wijang tertawa. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Keduanyapun melanjutkan langkah mereka menyusuri jalan ke sebuah padukuhan. Padukuhan yang tidak terlalu besar. Bahkan letaknya agak jauh dari padukuhan-padukuhan yang lain. Tetapi padukuhan itu nampak subur. Di sekitarnya sawah nampak hijau ditumbuhi batang padi yang mulai berbunga. Di belakang dinding padukuhan, pohon nyiur berdiri berjajar dari ujung sampai ke ujung. Parit-parit yang mengaliri sawah bersusun seperti sebuah tangga raksasa mengalir sepanjang musim. "Apakah kita akan pergi ke padukuhan itu?" bertanya Paksi Wijang memang agak ragu. Namun kemudian katanya, "Kau yang sudah lama tinggal di sisi selatan kaki Gunung Merapi ini agaknya sudah mengetahui isi dari padukuhan itu." Paksi menggeleng. Katanya, "Aku tahu, bahwa padukuhan itu adalah Padukuhan Panjatan. Tetapi aku belum tahu isi padukuhan itu." "Apakah di pasar kau tidak pernah bertemu dengan orang Panjatan?" "Mungkin sekali dua kali pernah. Tetapi aku tidak menyadari bahwa mereka adalah orang Panjatan." "Baik. Jika demikian, kita pergi saja ke pasar. Tentu masih belum sepi. Kita akan mencoba mencari keterangan tentang padukuhan ini." Keduanyapun kemudian telah berbelok menyusuri jalan sempit. Mereka tidak langsung pergi ke padukuhan yang belum mereka ketahui apakah isinya. Meskipun sebelumnya mereka jarang sekali berusaha untuk mengetahui isi sebuah padukuhan apabila mereka akan memasukinya, namun justru karena padukuhan itu disebut oleh Ki Repak Rembulung, maka mereka merasa perlu untuk berhati-hati. Ketika keduanya yang berjalan cepat di sepanjang pematang dan lorong-lorong sempit sebelum mereka turun ke jalan yang lebih besar yang menuju ke pasar itu, membuat mereka menjadi haus. Karena itu, maka Paksipun mengajak Wijang untuk membeli dawet cendol sebagaimana sering dilakukannya. Ketika keduanya sedang menghirup dawet cendol yang segar itu, penjual dawet itupun bertanya, "Keringat kalian seperti terperas dari tubuh kalian. Dari mana saja kalian berdua?" Paksi tersenyum sambil menjawab, "Kami takut kalau kami kehabisan dawet cendol. Karena itu, kami berlari-lari sepanjang jalan." Penjual dawet itu tertawa. Sementara Paksi berkata selanjutnya, "Kami bangun kesiangan, sementara kami masih harus singgah di Panjatan." "Panjatan?" orang itu mengerutkan dahinya. "Ya," jawab Paksi. "Untuk apa kalian pergi ke Panjatan?" "Aku mempunyai seorang kawan di Panjatan." Orang itu termangu-mangu sejenak. Di wajahnya membayang kesan yang aneh. Bahkan penjual dawet itu kemudian bertanya, "Kau sering pergi ke Panjatan?" "Ya. Kenapa?" "Jika kau sering pergi ke Panjatan, kau tentu mengetahui keadaan padukuhan itu." "Aku tidak melihat sesuatu yang menarik perhatian di padukuhan itu." Penjual dawet itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata, "Aku juga mempunyai seorang kenalan, bahkan masih terhitung kadang meskipun sudah jauh." "Paman juga sering pergi ke Panjatan?" bertanya Wijang kemudian. "Tidak," jawab orang itu. "Baru dua atau tiga kali sepanjang umurku." "Kenapa?" bertanya Wijang kemudian. Penjual dawet itu menarik nafas panjang. Namun kemudian iapun bertanya, "Jadi kalian benarbenar tidak tahu, kenapa Panjatan itu seakan-akan menjadi terpencil. Bukan saja letaknya, tetapi juga hubungan antar sesama." "Tidak," Paksilah yang menjawab. Penjual dawet itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Paksi mengulurkan mangkuknya yang telah kosong sambil berkata, "Lagi, Paman. Aku haus sekali." Ternyata Wijangpun berbuat demikian pula. Sambil menyerahkan semangkuk dawet kepada keduanya, maka penjual dawet itupun berkata, "Sebenarnya orang-orang Panjatan adalah orang-orang yang ramah. Tetapi di padukuhan itu ada sebuah keluarga yang membuat nama padukuhan itu menjadi buram." "Hanya satu keluarga?" bertanya Paksi. "Mula-mula, tetapi kemudian anak dan cucunya juga mewarisi sikap dan tingkah lakunya, sehingga yang satu keluarga itu telah membuat Panjatan menjadi daerah hitam." "Orang-orang Panjatan yang lain tidak berbuat sesuatu?" "Tidak seorang pun yang berani menegur mereka. Sementara itu, keluarga itu memang tidak pernah mengganggu orang-orang Panjatan sendiri." Paksi dan Wijang mendengarkan ceritera penjual dawet itu sambil mengangguk-angguk. Sementara itu penjual dawet itupun berkata, "Terhadap orang yang mereka anggap asing, keluarga itu tidak menyukainya. Jika ada orang yang tidak mereka kenal, mereka segera menemuinya. Jika pertanyaan-pertanyaan mereka tidak dapat dijawab dengan baik dan meyakinkan, maka orang itu akan segera diusir dari padukuhan itu. Jika yang datang itu seorang tamu dari keluarga yang tinggal di padukuhan itu, mereka harus meyakinkan kebenarannya." "Apakah orang-orang Panjatan tidak pernah keluar dari padukuhannya, pergi ke pasar misalnya." "Ya. Mereka juga pergi ke pasar. Tidak ada masalah bagi mereka. Bahkan keluarga orang yang ditakuti itupun juga pergi ke pasar. Rasa-rasanya mereka sama sekali tidak mempunyai beban apapun. Namun orang-orang lainlah yang biasanya membuat jarak dengan mereka." "Apakah mereka tidak merasa tersinggung." "Itulah yang menarik. Mereka tidak merasa tersinggung. Mereka seakan-akan mengerti, kenapa orang lain bersikap demikian terhadap mereka." Ketika kemudian mangkuk Paksi dan Wijang telah menjadi kosong, maka penjual dawet itupun bertanya, "Lagi?" Paksi menggeliat sambil berkata, "Perutku sudah tidak dapat memuat lagi, Paman." Penjual dawet itupun tertawa. Katanya, "Kemarin seseorang membeli dawet ampat mangkuk sekaligus." "O, bukan main," sahut Wijang. Penjual dawet itu tertawa. Katanya, "Orang itu justru salah seorang di antara keluarga yang ditakuti di Panjatan. Seorang anak muda sebaya dengan Paksi." Paksi mengangguk-angguk. Sementara Wijangpun tertawa. Katanya, "Paksi juga dapat menelan dawet ampat mangkuk sekaligus jika kebetulan ia lapar." Paksipun kemudian tertawa pula. Demikianlah keduanyapun kemudian pergi ke pande besi di sudut pasar itu. Ketika mereka menyinggung Padukuhan Panjatan, maka seorang di antara pande besi itupun telah menceriterakan keadaan padukuhan itu sebagaimana ceritera penjual dawet itu. Bahkan kemudian iapun berkata, "Rumahku juga Panjatan. Tetapi aku jarang-jarang pulang. Siang malam aku berada disini. Hanya kadang-kadang saja aku pulang. Sebenarnya orang yang dianggap asingpun tidak usah takut. Jika keluarga Sangga Samodra itu tidak menyenangi kehadirannya, ia akan minta orang itu dengan baik-baik pergi. Jika orang itu melawan, baru akan terjadi kekerasan." "Kenapa keluarga Sangga Samodra itu tidak menyenangi kehadiran orang yang dianggap asing?" bertanya Paksi yang sudah terbiasa duduk-duduk di tempat pande besi itu bekerja. "Mereka memang merasa curiga, bahwa orang-orang yang dianggap asing itu akan mengganggu keluarga mereka." Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Beberapa saat Paksi dan Wijang duduk menunggui pande besi yang dengan kawan-kawannya membuat sebuah kapak kecil pembelah kayu. Namun kemudian keduanyapun minta diri. "Kau tidak memerlukan apa-apa hari ini, Paksi?" bertanya pande besi itu. "Lain kali saja," jawab Paksi sambil melangkah meninggalkan tempat itu bersama Wijang. Sambil berjalan di antara banyak orang di pasar itu, Wijangpun berdesis, "Tentu ada hubungan antara Sangga Samodra itu dengan Ki Repak Rembulung." Paksi mengangguk sambil menjawab, "Ya. Akupun berpendapat begitu. Dengan dukungan orang-orang Panjatan itulah agaknya Repak dan Pupus Rembulung berani bersikap menantang orang-orang dari perguruan yang sudah punya nama itu." "Kau kenal nama pande besi yang berasal dari Panjatan itu?" bertanya Wijang. "Kenal, kenapa?" "Kita pergi ke Panjatan. Kita akan mencari pande besi itu," berkata Wijang kemudian. Namun demikian Wijang itupun berkata selanjutnya, "Tetapi tidak sekarang. Besok atau lusa sambil melihat-lihat apakah sudah ada isyarat pada batang pohon gayam itu." Paksi mengangguk sambil menjawab, "Ya. Sementara itu, kita masih mempunyai waktu untuk meyakinkan keadaan padukuhan itu." Demikianlah, keduanyapun kemudian segera kembali ke gubuk mereka. Mereka merencanakan untuk pergi ke Panjatan dua hari lagi. Mereka berharap bahwa sudah ada isyarat tentang pertemuan yang akan diadakan oleh beberapa orang pemimpin perguruan. Namun di hari berikutnya keduanya masih mendapat beberapa keterangan lagi tentang Panjatan. Tidak bertentangan dengan keterangan yang terdahulu. Namun seorang pedagang gula kelapa mengatakan bahwa di hari-hari terakhir nampaknya ada kesibukan khusus dari keluarga yang menyebut Trah Sangga Samodra itu. "Trah Sangga Samodra. Jadi Sangga Samodra itu sendiri apa masih ada?" bertanya Paksi. Pedagang gula itu menggeleng. Katanya, "Sudah lama Sangga Samodra itu meninggal. Yang ada adalah anak, cucu dan cicitnya yang meneruskan kegiatannya." "Siapakah yang sekarang menjadi pemimpinnya?" bertanya Paksi pula. "Untuk apa kau bertanya tentang pemimpin Trah Sangga Samodra itu?" "O, tidak apa-apa," jawab Paksi dengan serta-merta. "Sekedar didorong oleh perasaan ingin tahu saja." Penjual gula kelapa itu tersenyum. Untunglah bahwa ia tidak menaruh perhatian lebih jauh karena pedagang gula itu segera sibuk dengan pekerjaannya. Paksi dan Wijang yang kemudian meninggalkan pedagang gula itupun telah duduk di depan penjual nasi tumpang bersama Kinong yang kebetulan sedang beristirahat. "Makanlah," berkata Paksi. Kinong memandang Paksi dengan sepasang matanya yang bening. Dengan jujur ia berkata, "Aku memang belum makan sejak pagi. Tetapi aku sudah mendapat uang beberapa keping." "Simpanlah. Bukankah kau sedang menabung. Biarlah aku yang membayar nasi tumpang itu." Kinong memandang Paksi dan Wijang berganti-ganti. Sementara Wijang berkata, "Jangan malu. Aku juga akan membeli nasi tumpang itu. Aku juga belum makan." Ketiganyapun kemudian telah makan nasi tumpang. Tanpa menghiraukan orang yang berlalulalang di sekitarnya. Bahkan kemudian dua orang ayah dan anaknya sebesar Kinong juga duduk di sebelah mereka membeli nasi tumpang pula. Kinong terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar suara ibunya yang sudah berdiri di belakangnya, "Kinong, sedang apa kau di situ, he?" Kinong berpaling. Anak itupun kemudian bangkit berdiri sambil memegangi pincuk nasi tumpangnya. Sambil mengunyah anak itu menjawab, "Kakang Paksi membelikan nasi tumpang." "Setiap kali kau dibelikan nasi tumpang, dawet, bahkan makanan." Paksilah yang menjawab sambil tersenyum, "Ketika Kinong lewat, kebetulan kami sedang makan, Bibi." "Terima kasih, Ngger," jawab ibu Kinong "Bibi tidak makan?" bertanya Paksi. "Terima kasih, Ngger. Terima kasih." Ibu Kinong itupun kemudian beranjak pergi. Dihampirinya seorang perempuan yang sedang berbelanja. Tetapi dengan muka cemberut perempuan itu berkata, "Aku sudah mengajak pembantuku." Ibu Kinong itupun bergeser surut. Ia sudah terbiasa mendapat jawaban seperti itu. Namun kemudian dengan berlari-lari kecil ibu Kinong itu mendekati seorang perempuan lain yang membawa dua kereneng di kedua tangannya. Berbeda dengan orang yang pertama, maka perempuan itu tersenyum sambil berkata, "Aku kira kau tidak ada di pasar hari ini, Yu. Tanganku sudah pedih membawa kereneng itu." "Aku kira Nyi Peni tidak berbelanja hari ini." "Aku sedang memperbaiki rumah, Yu. Di rumah yang datang untuk sambatan kira-kira lima belas orang atau bahkan lebih." Ibu Kinong itupun kemudian dengan cekatan memasukkan kedua kereneng itu ke dalam bakul yang diberinya serumbung. Kemudian iapun melangkah mengikuti perempuan yang sedang belanja itu. Kinong yang masih menghabiskan makanannya itu berkata, "Perempuan itu kalau berbelanja tentu banyak. Aku juga harus membantu ibu nanti." "Habiskan dahulu nasimu," berkata Paksi, "atau kau mau tambah lagi?" Kinong menggeleng. Katanya, "Aku sudah kenyang. Nanti aku tidak dapat bekerja membantu ibu jika aku terlalu banyak makan." "Justru kau akan menjadi kuat," berkata Wijang. Tetapi Kinong menjawab, "Aku akan mengantuk." Paksi dan Wijang tertawa. Sementara itu, Kinong telah membuang pincuknya dan berlari membawa keranjang kecilnya mendekati ibunya. "Anak yang rajin," berkata Wijang. "Aku senang kepada anak itu." "Pada suatu saat, kau dapat memanggilnya," berkata Paksi. Wijang menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya iapun bergumam, "Ada berapa orang Kinong yang tersebar di pasar Pajang. Aku juga pernah melihat perempuan dan kanak-kanak berkeliaran di pasar dengan bakul dan keranjang kecilnya. Bahkan mereka bukan anak seorang pemabuk. Tetapi mereka benar-benar tidak mempunyai cara lain untuk mencari makan. Sementara orang lain berbelanja berlebihan." Paksi mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab. Ia sadar, bahwa hal itu merupakan salah satu ungkapan ketidakpuasan Pangeran Benawa terhadap keadaan yang berkembang semasa pemerintahan Kangjeng Sultan Hadiwijaya. Ayahanda Pangeran Benawa itu sendiri. Setelah membayar harga nasi tumpang, maka mereka berduapun meninggalkan pasar itu. Dengan kerut di kening, Wijang sempat bertanya, "Kau mempunyai banyak uang?" "Ibuku memberi bekal saat aku berangkat." "Ayahmu?" bertanya Wijang "Ibu sudah memberi bekal. Tentu ayah tidak merasa perlu memberiku lagi." Wijang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Hari itupun kemudian telah dihabiskan oleh kedua orang itu untuk berlatih. Wijanglah yang memperingatkan Paksi, bahwa pada suatu saat mereka akan terpaksa membenturkan kemampuan mereka dengan orang-orang yang berkeliaran mencari cincin itu. Di keesokan harinya, seperti yang direncanakan, mereka berdua akan pergi ke Panjatan mencari seseorang yang bernama Lebak. Meskipun sebenarnya mereka mengetahui bahwa Lebak, seorang pande besi, jarang-jarang pulang. Pagi-pagi mereka telah bersiap-siap. Mereka menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum mereka berangkat, sebagaimana jika mereka pergi ke pasar. Legenpun telah mereka tuang ke dalam kuali. Kayu yang kering sudah disimpan di dalam gubuk. Tidak ada jemuran di luar dan pintu gubuknyapun ditutup rapat-rapat. Ketika matahari mulai memanjat langit, maka keduanyapun telah berangkat langsung menuju ke Panjatan. Ketika mereka memasuki jalan menuju ke padukuhan itu maka mereka harus mulai mengamati apakah sudah ada isyarat yang terpahat pada batang pohon gayam yang tumbuh di pinggir jalan. Tetapi keduanya harus berhati-hati. Keduanya harus menghindari kecurigaan orang sejauh dapat mereka lakukan. Karena itu, maka ketika mereka sudah berada di jalan menuju ke Panjatan, mereka tidak langsung menilik setiap pohon gayam. Tetapi mereka mencoba melihat sambil berjalan perlahanlahan. Baru setelah mereka melihat sesuatu yang menarik pada sebatang pohon gayam, maka merekapun melangkah menepi. "Tidak ada orang yang melihat kita disini," desis Wijang. Tetapi keduanya tidak semata-mata melihat goresan yang ada di batang pohon gayam itu. Keduanya sambil berpura-pura berteduh, mencoba untuk dapat memahami isyarat yang dipahatkan pada pohon gayam itu. Sebagaimana yang mereka duga, goresan-goresan pada batang pohon gayam itu benar-benar isyarat. Wijang dan Paksi sempat membaca tulisan itu. Mereka melihat pahatan sebuah lengkungan. Di bawahnya dipahatkan angka satu. Kemudian di bawah lagi terdapat tulisan 'lewat tengah malam'. Selain itu, mereka tidak menemukan isyarat lain. Paksi dan Wijang yang kemudian meneruskan langkah merekapun telah membicarakan isyarat itu. Mereka sepakat bahwa isyarat itu menyatakan, bahwa pertemuan akan diselenggarakan pada saat bulan tanggal satu lewat tengah malam. "Tetapi dimana?" bertanya Paksi. "Kita lihat, apakah ada isyarat lain pada batang pohon gayam berikutnya." Paksi mengangguk-angguk. Namun ternyata mereka tidak menemukan petunjuk yang lain. Pada sebatang pohon gayam yang lain justru hanya terpahat sebuah lengkungan dengan tulisan angka satu. Di pohon yang lain terdapat tulisan 'lewat tengah malam'. "Jika demikian, pertemuan itu akan diselenggarakan di tempat itu juga," desis Wijang. "Di lapangan rumput itu?" "Ya." Paksi mengangguk-angguk. Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri. Mereka masih berjalan menuju ke Panjatan yang semakin lama menjadi semakin dekat. Bagaimanapun juga kedua orang itu menjadi berdebar-debar ketika mereka memasuki padukuhan. Meskipun demikian, keduanya berusaha untuk menunjukkan sikap yang wajar. Sebenarnyalah bahwa Padukuhan Panjatan tidak ada bedanya dengan padukuhan-padukuhan yang lain. Kesibukan menjelang siang juga tidak ada bedanya dengan kesibukan di padukuhan lain. Dari kejauhan terdengar suara orang menumbuk padi. Sementara itu, seorang ibu muda sedang menyuapi anaknya tanpa menghiraukan anaknya itu menangis meronta-ronta. Nasi cair yang dicampur dengan gula kelapa disuapkannya di mulut yang kecil itu. Wijang dan Paksi tertegun sejenak melihat ibu muda yang duduk di tangga regol halaman rumahnya tanpa memperhatikan orang yang lewat sambil menyuapi anaknya itu. Bukan saja anaknya yang menangis meronta-ronta yang berkeringat. Tetapi ibu muda itupun berkeringat pula. Paksi dan Wijang membatalkan niatnya untuk bertanya, di manakah letak rumah Lebak. Ibu muda itu nampak demikian sibuknya, sehingga ia tidak lagi menghiraukan apapun juga. Beberapa langkah kemudian, Paksi dan Wijang berjalan melewati sebuah gardu. Terdengar lenguh lembu dari halaman sebelah. Sedangkan dari halaman yang lain terdengar kokok bekisar yang melengking tinggi. Paksi dan Wijang tertegun ketika mereka melihat seorang laki-laki yang berdiri di regol halaman rumahnya justru turun ke jalan. Ia memberi isyarat dengan tangannya, agar Paksi dan Wijang itu berhenti. "Siapakah kalian, anak-anak muda?" bertanya orang itu. "Namaku Wijang, Ki Sanak. Sedangkan adikku ini namanya Paksi." "Untuk apa kalian memasuki padukuhan ini?" bertanya laki-laki itu. "Kami mencari seorang sahabat kami, Ki Sanak." "Namanya siapa?" bertanya laki-laki itu. "Lebak," jawab Wijang. Laki-laki itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun menjawab, "Lebak jarang sekali pulang. Ia bekerja di Pasar Turi, pada seorang pande besi." "Apakah hari ini ia tidak ada di rumah?" bertanya Wijang pula. "Tidak. Aku tidak melihat. Pergi sajalah ke Pasar Turi. Kau akan bertemu dengan Lebak." "Aku akan menunggu di rumahnya, Ki Sanak," jawab Wijang. Laki-laki itu menggeleng. Katanya, "Pergilah ke Pasar Turi." "Baiklah. Tetapi aku akan menemui keluarganya lebih dahulu. Aku akan memberikan beberapa pesan kepada keluarganya." Laki-laki itu mengerutkan dahinya. Dengan nada berat ia berkata, "Sudahlah, ia tidak akan segera pulang. Mungkin dua tiga pekan lagi. Pergilah." Wijang dan Paksi menyadari bahwa mereka berhadapan dengan seorang dari Trah Sangga Samodra. Karena itu, jika mereka tidak ingin berselisih, maka mereka harus meninggalkan padukuhan itu. "Baik, Ki Sanak," jawab Wijang, "kami akan pergi." Namun tiba-tiba saja dari pintu regol itu keluar seorang perempuan. Wijang dan Paksi tidak segera mengenali perempuan itu. Seorang perempuan yang mengenakan kain lurik hijau dan baju lurik hijau pupus pula. Meskipun perempuan itu sudah tidak muda lagi, tetapi bekas-bekas kecantikannya masih melekat di wajahnya yang bersih. Namun Wijang dan Paksi terkejut ketika mereka menyadari, bahwa mereka berhadapan dengan Pupus Rembulung. Meskipun demikian, Paksi dan Wijang mampu menyembunyikan kesan itu. Bahkan keduanyapun sempat mengangguk hormat kepada perempuan yang sama sekali tidak menunjukkan kesan kegarangannya sebagaimana ketika ia mengenakan pakaian khususnya bersama Repak Rembulung di hadapan beberapa orang murid dari perguruan yang sudah mempunyai nama. Bahkan dengan ramah Pupus Rembulung itu bertanya, "Siapakah yang kalian cari, anak muda?" "Kami mencari sahabat kami yang bernama Lebak, Bibi," jawab Wijang. "O," lalu iapun bertanya kepada laki-laki yang sudah lebih dahulu turun ke jalan. "Apakah kau tahu rumah Lebak?" "Lebak tidak ada di rumah, Bibi." "Dari mana kau tahu?" bertanya Pupus Rembulung itu. "Lebak berada di Pasar Turi. Ia bekerja sebagai pande besi disana." "O. Jika demikian, sebaiknya kalian pergi saja ke Pasar Turi. Kalian akan dapat menemuinya disana, Ngger." "Baik, Bibi," jawab Wijang sambil mengangguk hormat. Demikianlah keduanyapun meninggalkan Padukuhan Panjatan dengan kesan yang aneh. Demikian keduanya keluar dari regol padukuhan, maka Wijang itupun berkata, "Ternyata Pupus Rembulung itu mempunyai kepribadian rangkap. Ia seorang perempuan yang garang jika sepasang pedang tergantung di pinggangnya. Tetapi ia seorang perempuan yang ramah jika ia mengenakan baju dan kain lurik berwarna hijau muda." "Ya. Seperti ceritera Paman Pananggungan. Di rumah, Repak Rembulung adalah seorang ayah yang bijak, sementara Pupus Rembulung adalah seorang ibu yang lembut." Wijang menarik nafas dalam-dalam. Namun Paksipun berkata, "Tetapi bukan hanya mereka berdua." "Siapa lagi?" bertanya Wijang. "Di istana ia seorang pangeran yang berwibawa, tetapi di pasar ia duduk sambil memegang pincuk nasi tumpang." Wijang tertawa. Namun iapun berkata, "Masih banyak contohnya. Kau ingin tahu?" Tetapi Paksi menggeleng. Katanya, "Tidak." Keduanyapun tertawa. Namun keduanyapun segera menghentikan tawa mereka ketika mereka melihat dua orang yang berjalan ke arah yang berlawanan. Meskipun kedua orang itu berpakaian seperti petani kebanyakan, namun Paksi dan Wijang harus berhati-hati, justru karena mereka berada di jalur keluarga Sangga Samodra. Seandainya keduanya bukan Trah Sangga Samodra, dapat saja terjadi, keduanya adalah murid dari perguruan yang terlibat dalam pertemuan yang bakal datang. Tetapi karena kedua orang itu nampaknya berjalan dengan mantap menuju ke Padukuhan Panjatan, maka Paksi dan Wijang menduga bahwa keduanya tentu orang Panjatan. Trah atau bukan Trah Sangga Samodra. Ketika mereka berpapasan, maka kedua orang itu memandang Wijang dan Paksi dengan tajamnya. Namun kedua orang itu tidak menegur mereka. Wijang dan Paksi menarik nafas panjang. Keduanya berjalan terus tanpa menoleh sama sekali. Ketika keduanya kemudian berjalan semakin jauh, maka Wijangpun berkata, "Nah, kita sudah tahu, kapan mereka akan bertemu. Kita pun harus benar-benar mempersiapkan diri untuk menonton pertemuan itu. Yang akan bertemu bukan sekedar para murid dari perguruanperguruan itu. Tetapi justru para pemimpinnya. Tentu termasuk Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung." "Pertemuan itu akan berlangsung beberapa hari lagi," desis Paksi. "Mereka justru memilih malam yang paling gelap." "Tentu bukannya tanpa maksud," sahut Wijang. "Apakah mereka akan bersikap jujur?" "Seandainya mereka tidak berniat jujur, namun mereka harus memperhitungkan banyak kemungkinan." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Kita akan melihat, apa yang akan terjadi." Dengan demikian, maka Paksi dan Wijang itu benar-benar telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi pertemuan yang mereka anggap penting itu. Mereka harus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang paling buruk. "Kita harus mengenal medan dengan sebaik-baiknya," berkata Wijang. "Maksudmu?" bertanya Paksi. "Mungkin kita harus menghindar dari kemungkinan yang paling buruk, jika mereka mengetahui kehadiran kita. Kita harus tahu, kemana kita akan pergi. Kita tahu bahwa mereka adalah orangorang berilmu tinggi." Paksi mengangguk-angguk. Tetapi kemudian iapun berkata, "Jika pertemuan itu dilakukan di tempat lain?" "Kita akan kehilangan jejak," jawab Wijang. "Tetapi tidak ada isyarat lain yang menunjukkan tempat pertemuan itu." Paksi mengangguk-angguk. Iapun kemudian bergumam, "Kita akan memanfaatkan waktu menjelang pertemuan itu untuk mengenali medan sebaik-baiknya sebagaimana kau katakan." Wijang mengangguk-angguk. Sementara itu langkah mereka tanpa persepakatan justru telah berbelok menuju ke pasar. Keduanya saling berpandangan sejenak. Kemudian keduanyapun tertawa. "Kita pergi ke pasar?" bertanya Paksi. "Kau yang berbelok lebih dahulu ke kanan," sahut Wijang. "Sebenarnya aku akan berbelok ke kiri." Keduanya masih tertawa, sementara langkah mereka menjadi semakin cepat. Tanpa berjanji pula keduanya telah pergi ke sudut pasar, tempat beberapa orang pande besi membuka tempat kerja mereka. Keduanyapun kemudian telah menemui Lebak yang sedang mengayunkan alat pemukulnya untuk menempa sebatang besi panjang. Agaknya Lebak dan seorang kawannya sedang membuat sebuah parang pemotong kayu. Ketika Lebak kemudian beristirahat, maka Paksipun berkata, "Aku baru saja pergi ke Panjatan." "Untuk apa?" bertanya Lebak. "Ceriteramu menarik," jawab Paksi. "Karena itu, aku ingin membuktikannya." "Apa yang kau temui disana?" "Aku memang diminta meninggalkan Panjatan. Alasanku untuk mencarimu tidak dapat diterima karena kau tidak ada di rumah. Aku tidak tahu siapa yang telah mengusirku. Tetapi di rumah orang itu tinggal pula seorang perempuan cantik meskipun umurnya sudah tidak dapat disebut muda lagi. Saat itu ia mengenakan kain dan baju lurik hijau muda." "Perempuan cantik itu?" desis Lebak. "Ya. Siapakah perempuan itu?" Lebak menggeleng. Katanya, "Aku tidak mengenalnya. Ia jarang berada di Panjatan. Hanya sekali-sekali saja. Apalagi aku sendiri jarang sekali ada di rumah." "Nah, aku hanya memberitahukan hal ini kepadamu agar jika pada suatu saat kau pulang, kau mengaku mengenal kami berdua." Lebak mengangguk kecil. Tetapi iapun bergeremang, "Untuk apa sebenarnya kau datang ke Panjatan? Jika kau manjakan sifat ingin tahumu, maka kau akan dapat mengalami kesulitan." Paksi tertawa. Sementara Wijang berkata, "Kami tidak akan mengulanginya." Namun dalam pada itu, Wijang itupun tiba-tiba saja memutar tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di sela-sela kedua lututnya. Semula Paksi tidak menghiraukannya. Ia mengira bahwa Wijang sekedar bergurau atau menyembunyikan tawanya. Namun ternyata Wijang itupun berkata, "Marilah, Paksi. Kita tinggalkan tempat ini." "Kenapa?" bertanya Paksi. "Lebak. Kami minta diri," berkata Wijang singkat. "Besok kami akan datang lagi." Lebak mengangguk kecil sambil menjawab, "Datanglah besok. Aku besok akan membuat sebuah pedang. Bukan sekedar parang pembelah kayu." Wijangpun kemudian telah menarik Paksi meninggalkan Lebak. "Ada apa?" bertanya Paksi kemudian. Wijang berjalan semakin cepat. Kemudian iapun berkata kepada Paksi, "Kau lihat laki-laki berbaju lurik hitam dengan berikat kepala wulung itu?" Paksi memperhatikan orang itu. Tetapi orang itu membelakanginya, sehingga Paksi tidak melihat wajahnya. "Kau tentu belum mengenal orang itu. Tetapi tolong, sejauh dapat kau kenali ujudnya atau kepentingannya datang ke pasar ini. Tetapi ingat, jangan sampai orang itu menyadari bahwa kau memperhatikannya." "Siapakah orang itu?" "Kau akan mengetahuinya, atau jika tidak, nanti aku akan memberitahukanmu. Aku akan berada di luar pasar. Nampaknya aku harus menempatkan diri sebaik-baiknya."

Jilid 08

PAKSI mengerutkan dahinya. Tentu ada sesuatu yang dianggap sangat penting oleh Wijang.

Karena itu, maka ia tidak bertanya lebih jauh. Diusahakannya mendekati orang yang berbaju lurik

hitam dan berikat kepala wulung.

Dengan kemampuannya, Paksi berusaha untuk dapat mengetahui tentang orang itu sebanyakbanyaknya.

Namun Paksipun juga memperhitungkan seandainya orang itu juga berilmu tinggi.

Namun Paksipun kemudian melihat orang itu berhenti di depan penjual dawet. Sambil duduk ia

telah memesan semangkuk dawet cendol. Namun sejenak kemudian orang lain pun telah mendekat dan duduk pula di sebelahnya.

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berjalan saja di depan penjual dawet itu.

"He, Ngger. Kau tidak haus?"

Paksi sudah mengira bahwa penjual dawet itu akan menyapanya. Karena itu, maka tanpa menghiraukan kedua orang itu, Paksi telah duduk justru di sebelah penjual dawet itu.

"Kau sendiri? Di mana kakakmu?" bertanya penjual dawet itu.

"Kakak sedang sibuk, Paman. Tolong dawetnya semangkuk saja," minta Paksi. Sekilas ia memandang kedua orang yang duduk di depan penjual dawet itu. Agaknya keduanya memang sudah saling mengenal. Bahkan kemudian keduanya terlibat dalam sebuah pembicaraan.

"Aku sudah menerima undangan itu," berkata seorang di antara mereka.

"Menarik sekali. Tamu-tamunya tentu orang-orang terhormat," jawab yang lain.

"Ya. Justru para demang. Mungkin ada satu dua orang bekel yang akan ikut bersama demangnya menghadiri perhelatan itu."

"Kita akan mengajak anak-anak kita."

"Tetapi mereka tentu orang-orang kaya. Kita tidak akan mampu menyaingi mereka."

Paksi sama sekali tidak menghiraukan itu. Bahkan penjual dawet itulah yang bertanya, "Dimana akan ada perhelatan yang nampaknya besar-besaran itu, Ki Sanak?"

Salah seorang di antara mereka tersenyum sambil menjawab,

"Ki Lurah Pancaniti. Seorang lurah prajurit yang kaya raya."

Tetapi agaknya penjual dawet itu belum mengenal Lurah Pancaniti. Meskipun dahinya nampak berkerut, tetapi ia tidak bertanya lagi.

Sementara itu seorang di antara keduanya bertanya, "Kau akan kemana sekarang?"

"Pulang. Anakku sudah menunggu. Kau?"

"Aku juga akan pulang."

"Aku harus mempersiapkan sumbangan yang pantas."

"Jangan memaksakan diri. Jika kau memang tidak punya uang, apaboleh buat."

Penjual dawet itu tertawa. Katanya, "Hal seperti itu memang banyak terjadi. Untuk menjaga harga diri seseorang kadang-kadang harus mencari pinjaman kemana-mana sekedar untuk memberikan sumbangan. Apalagi jika yang mengadakan perhelatan seorang yang berpengaruh."

Kedua orang yang sedang membeli dawet itu tersenyum. Seorang di antara mereka kemudian berkata, "Marilah. Aku akan pulang. Jika sempat suruh anakmu bermain ke rumahku."

"Baiklah. Aku juga akan segera pulang." Orang yang pertama itupun segera membayar harga dawet sambil berkata, "Kebetulan ada uang. Aku bayar dawetmu."

Kawannya tertawa. Katanya, "Terima kasih."

Namun tiba-tiba saja Paksi berkata, "Untukku sekalian, Paman."

Orang itu memandang Paksi sejenak. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, "Baiklah, anak muda. Tetapi sekali ini saja."

"Terima kasih, terima kasih," desis Paksi.

Orang itupun tertawa. Namun kemudian iapun melangkah pergi meninggalkan kawannya yang masih duduk di tempatnya. Namun iapun kemudian bangkit pula sambil berkata, "Kawanku itu tentu baru saja menjual hasil panennya yang melimpah di musim ini, sehingga ia mempunyai uang berlebihan."

Paksipun menyahut, "Paman itu nampaknya murah hati."

"Kadang-kadang," jawab kawannya itu. "Tetapi jika ia kehabisan uang, maka iapun tidak segan segan datang untuk meminjam uang, tetapi tidak akan dikembalikan."

Paksi tertawa. Penjual dawet itupun tertawa pula.

Demikianlah, maka orang itupun telah minta diri pula. Kepada Paksi, ia justru bertanya, "Kau sering datang kemari, anak muda?"

"Ya, Paman," jawab Paksi. "Hampir tiap hari."

Orang itu tersenyum. Katanya, "Sebaiknya kau pergunakan waktumu dengan baik. Mumpung kau masih muda. Jangan banyak kau buang tanpa arti. Atau kau mempunyai kegiatan dagang dipasar ini sehingga kau setiap hari harus datang kemari?"

"Tidak, Paman," jawab Paksi.

"Nah, jika demikian, manfaatkan masa mudamu sebaik-baiknya. Meskipun semua kebutuhanmu dicukupi oleh orang tuamu, tetapi pada suatu ketika kau harus berdiri sendiri."

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, "Baik, Paman."

"Ah. Hanya sekedar pesan, anak muda. Jika tidak sesuai dengan perasaanmu, lupakan saja.

Tetapi menurut pendapatku, anak-anak muda lebih baik mempergunakan waktunya bagi kegiatan yang berarti."

"Terima kasih atas peringatan ini, Paman."

Orang itu mengangguk kecil. Namun kemudian iapun melangkah meninggalkan penjual dawet dan Paksi yang termangu-mangu.

Sepeninggal orang itu, maka Paksipun telah berdiri pula sambil berkata, "Aku akan pulang."

Penjual dawet itu tertawa. Katanya, "Apakah benar kau sia-siakan hari-harimu, anak muda."

Paksi mengangguk sambil menjawab, "Sebagian memang. Tetapi sebagian tidak."

Penjual dawet itu tertawa berkepanjangan. Paksipun akhirnya tertawa pula. Namun kemudian iapun melangkah pergi meninggalkan penjual dawet itu.

Sejenak kemudian, maka Paksipun telah keluar dari pintu gerbang pasar. Ia harus segera memberitahukan kepada Wijang, karena Paksi mengetahui pembicaraan kedua orang itu tentu merupakan pembicaraan sandi. Mungkin Wijang akan dapat mengurai maksud dari pembicaraan itu, sehingga Wijang dapat mengambil kesimpulannya.

Tetapi Paksi tidak tahu, dimana Wijang menunggunya. Karena itu, maka Paksipun kemudian melangkah perlahan-lahan meninggalkan pasar itu. Ia berharap bahwa Wijang melihatnya dan

menemuinya sambil berjalan pulang.

Sebenarnya, setelah beberapa puluh patok dari pasar, ia melihat Wijang duduk di bawah sebatang pohon lamtara yang tumbuh di atas tanggul parit di pinggir jalan.

"Kenapa kau menunggu aku disini?"

"Jadi aku harus menunggu di mana?"

"Jika orang itu lewat jalan ini?"

"Dari kejauhan aku sudah melihatnya. Aku dapat menghindarinya dengan meniti pematang itu."

Paksi mengangguk-angguk. Sementara Wijangpun segera bangkit dan berjalan di sebelah Paksi.

Sambil berjalan Paksipun telah berceritera tentang kedua orang yang sedang membeli dawet

cendol. Seorang di antaranya adalah orang yang berbaju lurik hitam dan mengenakan ikat kepala wulung itu.

Wijang mengangguk-angguk. Katanya, "Jadi mereka juga sudah tahu bahwa para pemimpin perguruan itu akan mengadakan pertemuan di tempat itu."

"Apakah mereka sedang membicarakan hal itu?"

"Agaknya memang demikian."

Paksi mengangguk-angguk. Dengan sedikit merenung, maka Paksipun menemukan hubungan antara pembicaraan kedua orang itu dengan rencana pertemuan para pemimpin perguruan sebagaimana mereka ketahui pula dari isyarat yang terpahat pada batang gayam yang tumbuh dipinggir jalan menuju ke Panjatan.

"Tetapi siapakah mereka itu? Apakah kau mengenal mereka dan mereka mengenalmu?" Wijang mengangguk. Katanya, "Mereka adalah para petugas sandi dari Pajang. Yang berbaju hitam dengan ikat kepala wulung itu adalah seorang rangga. Namanya Rangga Suraniti. Ia adalah seorang rangga yang berilmu tinggi. Bahkan melampaui sesamanya. Ia termasuk salah seorang kepercayaan para pemimpin prajurit dari Pajang."

"Yang seorang lagi?" bertanya Paksi.

"Aku tidak melihat orang itu," jawab Wijang. "Bagaimana aku dapat mengenalinya. Jika saja kau mempunyai ilmu yang dapat memantulkan bayangan yang pernah kau tangkap lewat penglihatanmu, aku tentu akan dapat menyebutnya."

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, "Aku akan mempelajari ilmu itu. Pangeran Benawa tentu menguasainya. Aku akan mohon untuk diajarinya."

"Kau kira ia memiliki ilmu itu? Iapun tidak memilikinya. Aku pernah bertanya kepadanya."

Paksi mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tertawa. Katanya, "Seandainya Pangeran Benawa mempunyainya, ia tentu tidak akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu."

Wijangpun tertawa pula. Katanya, "Kau memang keras kepala."

Keduanyapun melangkah terus memanjat kaki Gunung Merapi. Di langit yang bersih nampak asap putih mengepul tinggi, menyatu dengan selembar awan tipis yang mengalir lambat.

"Nah," berkata Wijang selanjutnya, "kita akan melanjutkan rencana kita untuk mengenali medan sebaik-baiknya."

"Sekarang saja. Kita akan mengulanginya malam nanti. Mungkin besok siang dan besok malam lagi."

Paksi mengangguk kecil. Namun ia tidak membantah.

Keduanyapun kemudian telah pergi ke lapangan rumput yang agaknya akan dipergunakan sebagai tempat untuk sebuah pertemuan yang penting. Pertemuan dari para pemimpin perguruan yang bersama-sama ingin memiliki sebuah cincin yang mereka percaya dapat mempengaruhi perjalanan hidup mereka, atau keturunan mereka.

Namun mereka sadar, bahwa mereka harus berhati-hati. Apalagi di siang hari. Mereka harus memperhitungkan kemungkinan bahwa ada di antara orang-orang perguruan yang berkeliaran di tempat itu pula.

Keduanyapun kemudian telah menyusup di antara gerumbul-gerumbul perdu di lereng Gunung Merapi. Semakin lama semakin dekat dengan lapangan rumput itu.

Ketika keduanya sampai di tempat itu, ternyata tidak seorangpun berada di sekitar tempat itu.

Wijang dan Paksi telah mengelilingi tempat itu pula sehingga mereka yakin, bahwa memang tidak ada orang yang berada disana.

Dengan demikian, maka keduanyapun telah memasuki lapangan rumput itu. Mereka memperhatikan batu persegi yang ada di tengah-tengahnya. Batu besar persegi ampat itu agaknya memang telah dibuat oleh seseorang untuk kepentingan tertentu.

Wijang dan Paksi tidak dapat menduga untuk apa batu itu dibentuk menjadi seperti itu.

Beberapa saat kemudian, merekapun telah memperhatikan lingkungan di sekitar lapangan rumput itu. Mereka memperhatikan sebatang pohon preh yang besar tumbuh di salah satu sudutnya.

Di sekitar pohon itu, tumbuh semak-semak yang rimbun, sehingga akan dapat menjadi tempat bersembunyi yang baik.

"Tetapi tempat ini terlalu dekat, sehingga orang-orang berilmu tinggi itu akan dapat mendengar desir yang lembut sekalipun," berkata Paksi.

"Jika kita memiliki kemampuan menyerap bunyi karena sentuhan tubuh kita, maka mereka tidak akan mendengarnya betapapun tajam pendengaran mereka," jawab Wijang.

Paksi mengangguk. Iapun sudah terlatih dengan baik, serta telah menguasai kemampuan untuk menyerap bunyi sebagaimana dimaksud oleh Wijang. Tetapi bagaimanapun juga, mereka harus menjadi sangat berhati-hati jika mereka ingin berada di sekitar pohon preh itu saat mereka akan menyaksikan pertemuan orang-orang dari berbagai perguruan itu.

Tetapi Wijangpun kemudian berkata, "Kita akan melihat keadaan di sekitar tempat ini. Mungkin kita akan menemukan tempat yang lain. Tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh."

Paksi mengangguk-angguk, sementara Wijang berkata pula, "Ingat. Mereka memilih malam yang paling gelap. Tetapi bukankah kau telah memiliki ilmu Sapta Pandulu?"

"Ya. Aku menerima ilmu itu dari Ki Marta Brewok."

"Sapta Pangrungu?"

"Ya."

"Bagus. Dengan demikian, kita tidak perlu berada di tempat yang terlalu dekat. Kita akan dapat menyadap pembicaraan mereka dari jarak yang agak jauh."

Demikianlah, maka keduanyapun telah melihat semua sisi lapangan rumput itu serta sekitarnya.

Mereka telah melihat dan mempelajari lingkungan itu sebaik-baiknya. Mereka sudah mengetahui, sisi manakah yang paling baik mereka pilih. Bukan saja tempatnya yang mapan, tetapi jika terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan, mereka akan dapat segera menemukan jalan untuk menyingkir. Bahkan seandainya mereka dikejar oleh beberapa orang berilmu tinggi, memungkinkan mereka untuk melepaskan diri.

"Apakah kita masih akan kembali nanti malam atau besok atau kapan lagi," bertanya Paksi.

"Nanti malam kita akan melihat tempat ini dan meyakinkannya sekali lagi," jawab Wijang.

Paksi mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata, "Sekarang, kita akan pulang."

Keduanyapun kemudian meninggalkan tempat itu.

Tetapi seperti yang mereka katakan, maka ketika malam turun, keduanyapun sekali lagi telah datang ke tempat itu. Mereka ingin melihat keadaan tempat itu dan sekitarnya dalam suasana malam yang gelap, karena pertemuan itu sendiri akan dilangsungkan di malam yang paling gelap.

Beberapa saat lamanya mereka berkeliling tempat itu. Mereka berusaha untuk mengenali lingkungan itu sebaik-baiknya.

"Tidak seorangpun akan dapat menangkap kita," berkata Wijang. "Kita tahu medannya dengan sangat baik."

"Bagaimana jika mereka juga sudah mengenali medan ini justru lebih baik dari kita."

"Tetapi kita akan mempunyai kesempatan lebih dahulu," jawab Wijang.

Paksi tidak menyahut lagi. Tetapi iapun sependapat dengan Wijang.

Sejenak kemudian, maka keduanyapun telah kembali ke dalam gubuk kecil yang terlindung oleh gumuk-gumuk padas. Seperti biasanya, maka Paksi membuat perapian di malam hari untuk menanak nasi. Malam itu Paksi telah membuat sayur jantung pisang kepok kuning.

Sambil menunggui nasi dan sayur mereka masak, keduanyapun masih saja berbincang tentang pertemuan itu. Pertemuan yang tentu akan sangat menarik perhatian. Namun yang tidak kalah menariknya bagi Wijang adalah kehadiran para petugas sandi dari Pajang. Meskipun seorang diantara mereka mengisyaratkan, agar mereka tidak memaksa diri jika keadaannya memang sangat berbahaya karena kekuatan mereka sangat kecil.

"Tetapi aku kira mereka tentu akan datang. Aku percaya akan kemampuan Ki Rangga Suraniti.

Tetapi entahlah, apakah kawannya itu mampu mengimbanginya. Jika keadaan berkembang menjadi sangat buruk bagi mereka, Ki Rangga Suraniti tentu memerlukan kawan yang pantas untuk berhadapan dengan para pemimpin padepokan itu," berkata Wijang seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri.

Sedikit lewat tengah malam, semuanya sudah selesai. Paksi membiarkan nasinya tetap berada di atas api yang sudah disusut menjadi sangat kecil. Sementara itu, setelah mencuci kaki dan tangan mereka, maka Paksi dan Wijang itupun segera beristirahat di dalam gubuk mereka.

Keduanya tidak memerlukan waktu yang panjang. Beberapa saat saja mereka berbaring, maka merekapun segera tertidur dengan nyenyaknya.

Di hari berikutnya, maka keduanya tidak turun ke pasar. Keduanya benar-benar telah mempersiapkan diri untuk menyongsong pertemuan para pemimpin perguruan yang nampaknya akan menjadi sangat menarik. Justru karena mereka mempunyai kepentingan mereka masing-masing.

Waktupun telah meloncat dari hari ke hari. Paksi dan Wijang mengisi hari-harinya di dalam goa di belakang air terjun. Dalam waktu sempit yang tersisa mereka berusaha untuk semakin

mematangkan ilmu mereka. Paksi menjadi semakin mengenal tongkatnya, sedangkan Wijang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi itu membiasakan diri menguasai ruang yang rumpil. Wijang berlatih di antara batu-batu yang menjorok seakan-akan mencuat dari dalam tanah, namun juga yang menggantung di langit-langit goa. Dengan tangkasnya, Wijang bergerak-gerak di antara ujung-ujung batu yang runcing, seakan-akan ia sedang bertempur di antara beberapa orang lawannya.

Bahkan Wijangpun kemudian telah minta Paksi juga melakukannya. Bukan saja di siang hari saat matahari menembus masuk lewat lubang di atas goa itu, tetapi Wijangpun telah mengajak Paksi berlatih bersama di malam hari. Mereka berlatih bertempur di dalam kegelapan di sela-sela ujung-ujung batu yang runcing.

"Hati-hati," pesan Wijang. "Jika dahimu membentur ujung batu runcing yang bergayut di langitlangit goa ini, maka kau akan terluka. Kau juga tidak boleh terjatuh menimpa ujung-ujung batu yang mencuat dari lantai goa ini."

Paksi mengangguk. Ia menyadari bahaya yang dapat mencengkamnya. Tetapi berlatih di tempat yang berbahaya itu menjadi sangat menarik bagi Paksi. Ia rasa-rasanya memang sudah jenuh berlatih di ruang yang terhitung luas di dalam goa itu, yang pada dindingnya terdapat lukisan unsur-unsur gerak yang dapat menuntunnya untuk mencapai tataran tertinggi dari ilmunya.

Dengan demikian, maka ketrampilan Paksipun menjadi semakin meningkat. Berlandaskan ilmunya yang tinggi, maka

Paksi benar-benar menjadi anak muda yang mumpuni. Seperti yang dikatakan Wijang, maka latihan di tempat yang rumpil itu merupakan latihan yang baik baginya jika pada suatu saat ia harus bertempur menghadapi lawan yang tidak hanya seorang.

Ujung-ujung batu yang runcing, yang mencuat dari lantai goa serta yang bergayut di langitlangit seakan-akan merupakan ujung-ujung senjata dari beberapa orang lawannya yang bertempur bersama-sama.

Namun demikian Wijang masih juga memperingatkan, "Ujung bebatuan itu tetap di tempatnya Paksi, sedangkan senjata lawan dapat bergerak dengan cepat. Mungkin memburumu, tetapi mungkin menghadang gerakmu sendiri."

Paksi mengangguk-angguk. Ia juga menyadari akan hal itu.

Dalam pada itu, maka haripun telah merambat sampai ke akhir bulan. Paksi dan Wijang yang di malam itu tidak berlatih, duduk di depan gubuk kecil mereka. Sinar lampu minyak yang menyala di dalam gubuk, menembus melalui pintu yang terbuka, menusuk kegelapan malam. Angin lembut yang berhembus menggoyang lidah api lampu minyak itu sehingga kadang-kadang sinarnya menjadi redup.

Sambil makan jagung bakar, Paksi dan Wijang telah membicarakan rencana yang akan mereka lakukan esok malam.

"Besok hari pertama bulan mendatang," desis Wijang.

"Kita sudah mengenal semuanya dengan baik," desis Paksi.

"Kita akan melihat-lihat tempat itu pula malam ini. Mungkin ada sesuatu yang menarik."

"Mungkin sudah ada di antara orang-orang dari perguruan yang terlibat dalam pertemuan itu mengawasi tempat itu."

"Tentu sudah ada. Kita akan mencoba, apakah kita mampu menempatkan diri kita di luar tangkapan pengamatan mereka. Jika malam ini saja kita tidak mampu melakukannya, apalagi besok malam."

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Kita akan melihat-lihat keadaan."

"Kita akan mendekati tempat itu di tengah malam."

Sebenarnyalah kedua orang anak muda itu menjelang tengah malam telah meninggalkan gubuk kecil mereka. Paksi telah membawa tongkatnya pula, karena sesuatu akan mungkin terjadi.

Sementara itu, Wijang telah mengenakan lembaran kulit yang cukup lebar di atas pergelangan kedua tangannya di bawah lengan bajunya.

Di luar sadarnya, Paksi memandangi pelindung pergelangan tangan Wijang itu dengan kerut di dahi. Ia tidak pernah melihat benda itu sebelumnya.

"Kau ingin tahu, dimana aku menyembunyikan mainanku ini?" bertanya Wijang.

Paksi tidak menyahut. Tetapi ia mengangguk kecil.

Wijang tertawa. Katanya, "Lebarnya sama dengan lebar ikat pinggangku."

Paksi mengangguk-angguk. Agaknya pelindung pergelangan tangan Wijang itu melekat pada ikat pinggangnya. Karena lebarnya sama, maka ikat pinggang Wijang itulah yang nampak lebih tebal dari ikat pinggang kulit kebanyakan.

Namun Paksi tahu bahwa pelindung bagian atas pergelangan tangan Wijang itu tentu merupakan bagian dari kelengkapan Wijang menghadapi senjata jenis apapun juga. Sebuah perisai kecil, namun yang dapat dipercayainya.

Beberapa saat kemudian, maka keduanya telah mendekati sasaran. Karena itu keduanya menjadi sangat berhati-hati.

Seperti yang telah mereka duga, maka tempat itu benar-benar sudah diamankan. Beberapa orang berkeliaran di lapangan rumput itu. Agaknya mereka berdatangan dari beberapa perguruan yang bersama-sama mengawasi tempat yang esok malam akan dipergunakan untuk menyelenggarakan pertemuan dari beberapa orang pemimpin perguruan.

Wijang dan Paksipun kemudian telah berada di tempat yang mereka pilih untuk mengamati keadaan. Dari tempatnya, ia mampu mengamati lapangan rumput itu dengan jelas. Dengan ketajaman pendengaran mereka, apalagi dengan kemampuan Aji Sapta Pangrungu, mereka akan dapat mendengar pembicaraan orang-orang yang berada di lapangan rumput itu.

"Ternyata kita tidak salah hitung. Karena tidak ada isyarat apa-apa, maka pertemuan itu memang diselenggarakan disini," desis Wijang.

Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Sementara itu, beberapa orang yang berada di lapangan rumput itu telah melihat-lihat keadaan di sekitarnya. Mereka telah menguak gerumbul-gerumbul perdu. Mereka telah mengelilingi pohon preh yang besar itu. Mereka telah menyibak semak-semak sampai beberapa langkah di sekitar lapangan itu.

Agaknya mereka mengamati tempat-tempat yang mungkin untuk bersembunyi orang-orang yang tidak berhak mengikuti pembicaraan yang akan diselenggarakan itu.

Tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang menemukan Wijang dan Paksi. Selain mereka mampu menyerap bunyi yang timbul dari geseran tubuh mereka, merekapun berada di tempat yang tidak terlalu dekat.

Agaknya orang-orang yang mengamati tempat akan dilangsungkannya pertemuan itu mengira bahwa dari jarak yang tidak terlalu dekat itu, seseorang tidak akan dapat melihat dan mendengar dengan jelas pembicaraan yang akan berlangsung.

Namun tiba-tiba di sisi lain dari lapangan itu telah terjadi keributan. Wijang dan Paksi melihat beberapa orang berlari-larian. Mereka dengan cepat membuat sebuah lingkaran yang rapat di sela-sela gerumbul-gerumbul perdu.

"Apa yang terjadi disana?" desis Wijang.

Paksi tidak menyahut. Tetapi dengan wajah yang tegang ia memperhatikan apa yang terjadi di sisi lain dari lapangan rumput itu.

"Mereka mengepung semak-semak itu," gumam Wijang dengan nada cemas. "Tentu ada seseorang atau lebih disana."

"Nampaknya memang begitu," sahut Paksi. "Tentu bukan Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung."

Wijang mengangguk. Katanya, "Aku mencemaskan Ki Rangga Suraniti atau kawannya itu. Ki Rangga memang berilmu tinggi. Tetapi aku tidak tahu tataran yang sebenarnya dari kemampuannya."

Paksi mengangguk-angguk kecil. Wajahnya menjadi semakin tegang ketika ia mendengar seseorang berteriak, "Keluarlah. Kau sudah dikepung. Kau tidak akan dapat melepaskan diri dan tangan kami."

Tidak ada jawaban. Namun sementara itu, Wijangpun berkata lirih, "Samarkan wajahmu."

"Maksudmu?"

"Mungkin kita harus berbuat sesuatu jika orang yang berada dalam kepungan itu mengalami kesulitan."

"Maksudmu, mungkin kita akan melibatkan diri namun wajah kita tidak dikenal oleh orangorang dari beberapa perguruan yang berada di lapangan itu?"

"Yang terpenting bagiku adalah justru agar tidak dikenal oleh Ki Rangga Suraniti, seandainya ia ada disana. Aku tidak ingin keberadaanku disini diketahui oleh orang-orang istana," jawab Wijang "Tetapi bagaimana aku dapat menyamarkan wajahku?"

Wijang tidak menjawab. Tetapi tangannya segera memungut tanah yang basah oleh embun.

Tanah yang basah itupun kemudian telah diusapkan di wajahnya.

Paksi mengerutkan dahinya. Namun dengan demikian, maka wajah Wijang itupun menjadi sulit untuk dikenali.

"Cepat lakukan," berkata Wijang. "Apalagi Ki Rangga telah pernah bersamamu membeli dawet cendol."

Paksipun kemudian telah melakukan sebagaimana dilakukan oleh Wijang. Dengan tanah yang basah oleh embun, maka Paksipun telah menyamarkan wajahnya.

"Apakah kau sudah tidak mengenal aku?" bertanya Paksi.

Wijang tertawa, "Kau menjadi tampan sekarang."

Paksi tidak menjawab. Tetapi segores lagi ia mengusapkan tanah basah itu di dahi.

Dalam pada itu keadaan menjadi semakin gawat. Orang-orang dari beberapa perguruan yang sedang mempersiapkan tempat bagi para pemimpin mereka yang akan mengadakan pertemuan itu semakin rapat mengepung gerumbul perdu di sisi seberang lapangan rumput itu.

Sementara itu, terdengar lagi seseorang berteriak, "Cepat keluar, atau kami akan merajammu dengan senjata."

Namun orang-orang yang mengepung tempat itu terkejut. Di luar perhitungan mereka, tiba-tiba seseorang telah meloncat, justru dari sebuah gerumbul lain yang tidak mereka kepung.

Dengan pedang di tangan orang itu langsung menyerang orang-orang yang berdiri melingkari itu.

Pertempuranpun segera terjadi. Orang itu dengan tangkasnya berloncatan menyambarnyambar.

Seorang di antara mereka yang mengepung gerumbul itu telah terlempar dengan luka menyilang di dadanya.

"Setan kau," terdengar seseorang berteriak. "Tangkap hidup-hidup orang ini. Kita ingin tahu siapakah orang yang sombong ini."

Wijang tercenung sejenak. Ia telah memusatkan nalar budinya untuk mengetrapkan puncak Aji Sapta Pandulu.

"Ki Rangga Suraniti," desis Wijang. "Ternyata orang yang dikepung itu orang lain. Mungkin kawan Ki Rangga atau prajurit yang menyertainya atau siapapun juga. Tetapi orang-orang itu ternyata tidak mampu mengetahui kehadiran Ki Rangga itu sendiri."

Paksi mengangguk-angguk. Iapun mengamati pertempuran itu dengan saksama. Seperti Wijang, Paksipun telah mengetrapkan Aji Sapta Pandulu.

Ketika pertempuran itu menjadi semakin sengit, beberapa orang telah meloncat dari gerumbul

yang telah dikepung itu, justru pada saat perhatian orang-orang yang mengepungnya tertuju kepada Ki Rangga Suraniti.

Kedua orang itu telah mengejutkan beberapa orang yang telah bersiap-siap untuk bergeser dan mengepung Ki Rangga Suraniti.

Dengan demikian, maka pertempuranpun menjadi semakin sengit. Tetapi orang-orang yang datang dari beberapa perguruan itu jumlahnya jauh lebih banyak dari para petugas sandi itu.

Meskipun demikian, Ki Rangga Suraniti sempat membuat lawan-lawannya menjadi cemas.

Kakinya berloncatan bagaikan tidak menyentuh tanah. Sementara itu, pedangnya berputaran dengan cepat, sehingga yang nampak adalah segumpal awan putih di sekitar tubuhnya yang berloncatan.

Dalam pada itu, dua orang kawannya yang semula telah dikepung itupun bertempur dengan garangnya pula. Seorang di antara mereka bersenjata sebilah pedang. Namun yang lain membawa dua buah bindi kecil di kedua tangannya.

"Ki Nukilan," desis Wijang.

"Yang mana?" bertanya Paksi.

"Yang membawa sepasang bindi," sahut Wijang. "Ia juga seorang berilmu tinggi. Tetapi nampaknya ia tidak memiliki kemampuan untuk menyerap bunyi dari geseran tubuhnya, sehingga kehadirannya segera diketahui."

"Yang seorang lagi?" bertanya Paksi.

"Aku belum begitu mengenalnya. Tetapi nampaknya ia adalah orang yang paling lemah di antara ketiga petugas sandi itu."

Paksi tidak bertanya lagi. Ia memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Setiap kali jantungnya menjadi berdebar-debar. Ketiga orang itu harus bertempur melawan terlalu banyak orang.

Ki Rangga Suraniti segera menunjukkan betapa ia memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun demikian, karena jumlah lawannya terlalu banyak, maka ia harus bekerja sangat keras untuk melindungi dirinya sendiri.

Sementara itu Ki Nukilanpun telah bertempur melawan beberapa orang pula. Demikian pula kawannya yang seorang lagi.

Ternyata di antara orang-orang yang datang dari perguruan itupun terdapat orang-orang yang memiliki bekal yang cukup.

Orang-orang itulah yang membuat Ki Rangga Suraniti dan kawan-kawannya harus menjadi sangat berhati-hati. Bahkan merekapun kemudian mulai berloncatan mengambil jarak serta menghindari serangan-serangan yang datang dari segala arah.

Meskipun satu dua orang lawan Ki Rangga Suraniti dan Ki Nukilan sudah terlempar dari arena, tetapi yang lainpun segera menggantikannya.

Bahkan seorang yang bertubuh pendek dengan otot-otot yang mencuat dari permukaan kulitnya, berkumis kecil dan berkepala botak segera berteriak, "Beri aku kesempatan. Aku ingin tahu, seberapa tinggi ilmu orang ini."

Orang-orang yang bertempur melawan Ki Rangga Suraniti memang menyibak. Orang pendek berkepala botak itu segera melangkah mendekatinya. Tetapi ternyata ia tidak sendiri.

Bersama lima orang yang tubuhnya juga terhitung pendek telah mengepungnya.

Tiba-tiba saja Wijangpun berdesis, "Satu pasang lengkap dari anak-anak Perguruan Sad."

"Enam orang," sahut Paksi.

"Dalam pasangannya yang lengkap, mereka menjadi sangat berbahaya. Jika mereka sudah sampai tataran yang mapan, maka dengan saling mengisi, kemampuan mereka akan dapat hampir menyamai kemampuan pemimpin tertinggi mereka."

"Apakah Ki Rangga Suraniti akan dapat melawan mereka?" bertanya Paksi.

"Aku belum tahu. Tetapi aku tidak dapat membiarkan para petugas sandi itu mengalami malapetaka disini." "Maksudmu?"

"Jika perlu kita akan melibatkan diri."

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Terserah kepadamu. Aku sudah siap."

Wijangpun memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Ki Rangga Suraniti berusaha untuk melawan enam orang yang ternyata menjadi sangat berbahaya. Mereka mampu saling mengisi dengan baik, sehingga seakan-akan mereka digerakkan oleh satu kehendak.

Sementara itu, Ki Nukilan harus bertempur melawan beberapa orang dari perguruan yang lain.

Di antara mereka adalah orang-orang dari Tegal Arang. Sementara itu, tiga orang dari Perguruan

Goa Lampin tengah bertempur dengan kawan Ki Nukilan yang seorang lagi. Bersama ketiga orang dari Goa Lampin itu masih ada tiga orang dari perguruan yang lain.

Selain mereka yang sedang bertempur itu, masih ada beberapa orang yang belum melibatkan

diri. Di antaranya dua orang perempuan yang nampaknya dari Goa Lampin. Sedangkan dua orang

yang tidak diketahui oleh Wijang dan Paksi sedang menolong kawan mereka yang terluka. Kedua orang itu tentu akan menjadi sangat berbahaya jika kawannya yang terluka itu tidak tertolong jiwanya. Sementara itu seorang lagi juga sedang membantu kawannya yang terluka bergeser menjauh.

Dalam pada itu, seorang yang masih belum memasuki arena berteriak, "Kami memberikan kesempatan kepada kalian untuk menyerah. Kalian tidak akan dibunuh. Apalagi jika kalian bersedia bekerja bersama kami."

Tidak ada jawaban. Sementara Ki Rangga Suraniti bertempur semakin garang. Tetapi keenam lawannyapun menjadi semakin garang pula. Serangan-serangan mereka datang beruntun dari arah yang berbeda-beda. Bahkan kadang-kadang keenam orang dari Perguruan Sad itu bertempur sambil berputaran. Mereka melonjak-lonjak seperti anak-anak yang sedang kegirangan. Mereka mengacu-acukan senjata mereka. Namun tiba-tiba saja mereka menyuruk dengan pedang terjulur ke arah tubuh Ki Rangga Suraniti.

Yang kemudian menjadi semakin terdesak adalah kawan Ki Rangga Suraniti yang bersenjata pedang. Keadaannya menjadi sangat berbahaya. Sehingga ia benar-benar berada di ujung bencana.

Wijang tidak dapat tinggal diam. Sekali lagi ia menggoreskan tanah yang basah oleh embun menyilang di wajahnya sehingga wajah yang kotor itu memang sulit untuk dikenali. Sementara itu,

Wijang sama sekali tidak mempergunakan senjata yang dapat menjadi ciri tentang dirinya. Kulit yang melindungi bagian atas pergelangannya, yang juga akan dapat menjadi perisai yang kuat, berada di bawah lengan bajunya.

Sambil menggamit Paksi iapun berkata, "Marilah. Bawa tongkatmu. Mereka cukup berbahaya."

Sekejap kemudian keduanyapun telah merunduk mendekati lapangan rumput. Mereka melingkari lapangan itu dan dengan serta-merta muncul tidak terlalu jauh dari pohon preh yang besar itu.

Kehadiran mereka berdua telah membuat orang-orang yang berada di lapangan itu terkejut pula. Ketika Wijang dan Paksi berlari mendekati arena pertempuran, maka orang-orang yang masih belum terlibat, segera memburu mereka.

Namun Wijang berlari dengan cepat dan menempatkan diri di dekat petugas sandi yang bersenjata pedang, yang bertempur tidak terlalu jauh dari Ki Nukilan.

"Bertahanlah, aku berdiri di pihakmu."

"Kau siapa?" bertanya orang itu.

Pertanyaan itu membuat Wijang berlega hati. Orang itu ternyata tidak mengenalinya setelah wajahnya dikotorinya dengan tanah yang basah oleh embun.

Namun Wijang itupun kemudian menjawab, "Namaku Gendon. Itu adikku. Namanya Sempon."

"Kenapa kau melibatkan diri," Ki Nukilan yang bertempur dengan sepasang bindi di kedua tangannya, yang mendengar pengakuan Wijang itu, bertanya pula sambil berloncatan menghindari serangan-serangan lawannya.

"Aku senang," jawab Wijang seenaknya. "Sudah sepekan aku tidak berkelahi. Rasa-rasanya tubuhku menjadi pegal-pegal."

"Kenapa kau berpihak kami," bertanya Ki Nukilan pula.

"Jumlah mereka sudah terlalu banyak. Aku berpihak pada yang jumlahnya lebih sedikit."

"Jangan main-main," teriak Nukilan pula, "mereka adalah orang-orang yang berbahaya."

"Itulah yang menyenangkan," teriak Wijang yang sudah mulai terlibat dalam pertempuran.

Wijang yang semula tidak bersenjata itu telah menggenggam sepasang pisau. Bentuknya memang mirip sepasang pisau belati yang sederhana. Tetapi bilah dari sepasang pisau itulah yang tidak sederhana. Bilah yang berwarna kehitam-hitaman ini bagaikan memercikkan bunga api yang memancar di gelapnya malam.

Tetapi Wijang sudah memperhitungkan dengan baik. Sepasang senjatanya itu bukan ciri senjata Pangeran Benawa, sehingga para petugas sandi itu tidak menghubungkannya dengan seorang pangeran yang menghilang dari istana.

Sementara itu, Paksipun telah terlibat pula dalam pertempuran melawan beberapa orang.

Tongkatnya berputaran dengan cepat melindungi tubuhnya. Namun kemudian tiba-tiba terjulur mematuk perut seorang di antara lawan-lawannya.

Orang itupun terdorong beberapa langkah surut. Namun kemudian kedua tangannya memegangi perutnya yang berdarah.

Sejenak kemudian iapun jatuh pada lututnya sambil terbungkuk-bungkuk kesakitan.

Di putaran pertempuran yang lain, dua orang di antara lawan Wijangpun telah terlempar pula.

Seorang terluka di lambungnya, seorang terluka di pundaknya.

Dengan demikian, pertempuranpun menjadi sengit. Beberapa orang yang sebelumnya masih belum melibatkan diri telah bertempur dengan garangnya melawan kedua orang anak muda itu.

Namun karena wajah mereka disamarkan, maka orang-orang dari beberapa perguruan yang ada

di tempat itu, tidak segera mengenalinya.

Dalam pertempuran itu, Paksi mendapat kesempatan untuk menguji kemampuannya.

Dihadapinya beberapa orang lawan. Namun Paksi berhasil melindungi dirinya dengan sebaikbaiknya.

Serangan beberapa orang lawannya tidak sempat menyentuh tubuhnya. Sementara itu, seorang lagi telah tersingkir dari pertempuran ketika tongkat Paksi memukul bahunya dengan kerasnya, sehingga rasa-rasanya tulang-tulangnya menjadi pecah karenanya.

Sementara itu, Wijang dengan sengaja telah bertempur semakin dekat dengan petugas sandi yang bersenjata pedang itu. Wijang memang berusaha untuk membantunya. Satu dua orang yang semula bertempur bersama melawan petugas sandi itu, kemudian seakan-akan telah terhisap untuk bertempur bersama-sama melawan Wijang.

Keseimbangan pertempuranpun segera berubah. Orang-orang dari beberapa perguruan itu tidak lagi meyakini bahwa mereka akan dapat menangkap lawan-lawan mereka. Karena itu, tidak ada lagi di antara mereka yang tidak ikut melibatkan diri dalam pertempuran itu.

Ki Rangga Suraniti yang bertempur melawan enam orang lawan dari Perguruan Sad itu harus mengerahkan kemampuannya. Tetapi Ki Rangga memang seorang yang berilmu tinggi, yang memiliki kelebihan dari para prajurit dan para perwira yang lain. Karena itu, maka keenam orang murid Perguruan Sad itu tidak segera dapat menguasainya. Bahkan semakin lama merekapun menjadi semakin sulit menghadapinya.

Orang-orang yang bertubuh rata-rata agak pendek itu telah mengerahkan kemampuan mereka.

Berenam mereka memang menjadi sangat berbahaya. Tetapi lawan merekapun sangat berbahaya pula. Keenam orang dari Perguruan Sad yang juga bersenjata pedang itu berusaha untuk mengacaukan pemusatan perhatian Ki Suraniti. Tetapi Ki Rangga sama sekali tidak menjadi bingung. Meskipun keenam orang itu kadang-kadang berloncatan, berlari-lari mengelilinginya, kemudian menyerang bersama-sama atau beruntun seperti gelombang, namun pertahanan Ki Rangga Suraniti tidak dapat mereka tembus. Bahkan sekali-sekali Ki Rangga menghentakkan kemampuannya dan mengacaukan kepungan lawan-lawannya. Namun beberapa saat kemudian, maka orang-orang yang bertubuh agak pendek itu telah berputaran kembali di sekelilingnya.

Sementara itu, Ki Nukilanpun bertempur dengan garangnya pula. Seorang lagi jatuh terlentang dan tidak lagi mampu bangkit berdiri. Dengan susah payah orang itu merangkak menjauh, agar tidak terinjak kaki orang-orang yang sedang bertempur itu.

Lawan Wijang dan Paksipun telah berkurang seorang demi seorang. Kedua orang anak muda itu telah menunjukkan kemampuan mereka yang tinggi. Ki Nukilan dan Ki Rangga Suraniti yang sekali-sekali sempat melihat betapa keduanya berloncatan dengan garang, merasa heran, bahwa dua orang yang tidak mereka kenal tiba-tiba saja telah melibatkan diri.

Namun ketiga orang petugas sandi itu mengakui, tanpa kehadiran kedua orang itu, maka mereka tidak akan mampu keluar dari lingkungan itu. Betapapun tinggi kemampuan mereka, tetapi lawan terlalu banyak. Tetapi berlima mereka ternyata mampu mengatasi lawan-lawan mereka.

Orang-orang dari beberapa perguruan itu akhirnya menyadari, bahwa sulit bagi mereka untuk dapat mengatasi kemampuan kelima orang itu. Apalagi ketika Ki Rangga Suraniti berhasil melukai dua orang dari Perguruan Sad itu. Ketika keutuhan mereka mulai goyah, maka merekapun segera menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat mengalahkan orang yang berada di dalam kepungan itu.

Seorang di antara keenam orang dari Perguruan Sad itu tiba-tiba saja berteriak nyaring sambil mengumpat kasar. Menyusul seorang lagi terpelanting jatuh. Dari dada mereka mengalir darah yang hangat.

Dalam keadaan yang sulit itu, selagi mereka masih mempunyai kekuatan, maka tiba-tiba saja terdengar seseorang berteriak, "Kita akan menghindar. Tinggalkan mereka."

Beberapa orang menjadi ragu-ragu. Namun sekali lagi terdengar suara itu, "Kita akan bergabung dan meninggalkan tempat ini. Lemparkan isyarat panah sendaren."

Tiba-tiba saja orang-orang yang sedang bertempur itu telah berloncatan meninggalkan lawanlawan mereka. Mereka kemudian berada di dalam satu kelompok sambil bergerak mundur.

Seorang di antara mereka benar-benar telah melontarkan panah sendaren.

Ketiga petugas sandi itu menjadi ragu-ragu untuk mengejar mereka. Apalagi ketika salah seorang di antara mereka telah melemparkan panah sendaren.

Ki Rangga Suranitilah yang kemudian berkata, "Kita tinggalkan tempat ini."

"Baik," desis Wijang, "aku juga sudah lelah."

"Tetapi, katakan kau siapa, Ki Sanak?"

"Kita akan meninggalkan tempat ini."

"Jawab dulu pertanyaanku."

Wijang tertawa sambil menjawab, "Sudah aku katakan. Namaku Gendon dan itu adikku, Sempon."

"Jangan main-main, Ki Sanak."

Tetapi Wijang justru bertanya, "Siapakah kalian?"

Ki Rangga Suraniti menggeram. Katanya, "Aku bertanya, siapakah kalian."

Wijangpun kemudian menggamit Paksi sambil berkata, "Marilah, sebelum orang-orang yang menerima isyarat panah sendaren itu datang. Jika jumlah mereka terlalu banyak, maka kita tidak

akan mampu melawan."

Paksi tidak menjawab. Tanpa menghiraukan ketiga orang petugas sandi itu, maka Wijang dan Paksipun melangkah meninggalkan lapangan rumput itu.

Ki Rangga Suraniti tidak mau terjebak dalam pertempuran yang tidak seimbang. Jika kedua orang yang telah membantunya itu pergi, maka mereka bertiga akan mengalami kesulitan untuk bertempur melawan jumlah yang terlalu banyak, apalagi jika panah sendaren itu benar-benar telah memanggil beberapa orang lainnya.

Karena itu, maka Ki Rangga Suranitipun telah mengajak kedua orang petugas sandi yang lain untuk meninggalkan tempat itu.

Namun sebenarnyalah, bahwa Wijang dan Paksi tidak benar-benar meninggalkan tempat itu.

Mereka masih ingin melihat, apakah ada tanggapan terhadap panah sendaren yang telah dilemparkan ke udara itu.

Dengan sangat berhati-hati keduanya telah melingkar, menyusup di antara semak-semak perdu yang rimbun di sebelah lapangan rumput itu.

Untuk beberapa lama mereka tidak melihat sesuatu. Orang-orang yang semula berkumpul di tempat terbuka itupun sudah bergerak menjauh. Namun beberapa orang yang terluka dan bahkan mungkin ada yang sudah terbunuh, masih berada di tempat terbuka itu.

"Kawan-kawannya tentu masih akan kembali," desis Wijang.

Sebenarnyalah beberapa orang bersenjata telah muncul. Dua orang yang lain menyongsong mereka sambil berkata lantang, "Tidak ada yang berbuat curang."

"Jadi untuk apa isyarat panah sendaren itu?"

"Justru ada orang lain yang mencoba mengintip persiapan bagi pertemuan esok."

"Siapa?"

"Kami belum tahu." "Dimana mereka sekarang?" "Mereka berhasil melarikan diri." "Berapa orang?" "Kami tidak menghitung."

Wijang dan Paksi tersenyum. Nampaknya mereka merasa malu untuk menyebutkan, bahwa mereka bertempur melawan hanya lima orang.

Orang-orang yang baru datang itu termangu-mangu. Namun kemudian orang-orang yang semula menghindar dari tempat terbuka itupun telah berada di tempat itu lagi.

"Rawat orang-orang yang terluka dan kita singkirkan yang terbunuh. Besok tempat ini harus benar benar bersih."

"Tetapi tempat ini sudah diketahui oleh orang lain. Kami tidak tahu siapakah mereka itu."

"Kalian tidak mengenal sama sekali unsur-unsur gerak dari ilmu mereka?"

"Tidak. Tetapi seorang di antara mereka bersenjata tongkat.

Yang lain wajar saja. Pedang dan seorang di antara mereka, sepasang bindi. Tetapi agaknya mereka terdiri dari dua kelompok yang berbeda."

"Baiklah. Kita akan melaporkan kepada pemimpin kita masing-masing. Masih ada waktu sehari

untuk saling berhubungan."

"Terserah kepada mereka, apakah mereka besok masih akan berbicara di antara mereka disini."

"Jika besok pertemuan itu dibatalkan, maka Repak Rembulung dan Pupus Rembulung akan marah."

"Bukankah besok masih ada waktu untuk memberitahukan kepada mereka bahwa pertemuan dibatalkan?"

"Tidak seorang pun tahu dimana mereka tinggal sekarang."

Tetapi seorang yang berambut panjang terurai menjulur dari bawah ikat kepalanya berkata, "Lurahku tahu dimana Repak Rembulung tinggal. Setidak-tidaknya lingkungannya atau orangorang yang berhubungan dengan kedua orang suami isteri itu."

"Jadi?"

"Jika para pemimpin perguruan kita memutuskan untuk menunda atau memindahkan pertemuan ini, biarlah aku yang mencari hubungan dengan Ki Repak Rembulung."

"Baiklah. Besok kita akan saling berhubungan. Ada tiga tempat yang sudah kita tentukan untuk saling mendapatkan keterangan."

Demikianlah, maka orang-orang yang ada di tempat terbuka itupun segera meninggalkan tempat itu. Yang terluka telah dirawat oleh kawan-kawan mereka. Wijang dan Paksi tidak dapat mengetahui, apakah di antara mereka ada yang terbunuh.

Sejenak kemudian, tempat itupun menjadi sepi. Orang-orang yang semula berkumpul untuk mempersiapkan pertemuan para pemimpin mereka harus memberikan pertimbanganpertimbangan

baru bagi pemimpin-pemimpin mereka itu.

Wijang dan Paksipun kemudian keluar pula dari persembunyian mereka. Dengan hati-hati mereka melangkah mendekati lapangan rumput itu. Tidak seorang pun yang tinggal.

Tetapi merekapun kemudian tertegun. Ketajaman telinga mereka yang masih mengetrapkan Aji

Sapta Pangrungu itu mendengar desir lembut langkah kaki di antara semak-semak. Tidak hanya

seorang, tetapi dua orang. Agaknya kedua orang itu memang tidak berhati-hati, sehingga suara

semak-semak yang tersibak semakin lama menjadi semakin jelas terdengar.

Wijang dan Paksipun segera bersembunyi di antara semak-semak. Mereka berusaha untuk menahan nafas mereka ketika mereka melihat dua orang berjalan tidak terlalu jauh dari mereka.

Ternyata keduanya adalah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung. Keduanya langsung melangkah mengelilingi tempat terbuka itu.

"Besok pertemuan itu akan diselenggarakan disini," berkata Repak Rembulung.

"Terlalu sepi di malam menjelang sebuah pertemuan besar yang sudah sejak lima tahun terakhir tidak diselenggarakan."

"Tidak ada kelompok-kelompok yang melihat-lihat suasana tempat ini."

"Atau mungkin pertemuan itu tidak dilakukan disini?"

"Tidak ada isyarat tentang hal itu."

Pupus Rembulung mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia berkata, "Kakang, kemarilah. Kau lihat lingkungan ini."

Repak Rembulungpun melangkah mendekati isterinya. Keduanyapun kemudian mengamati semak semak yang tersibak. Ranting-ranting yang berpatahan dan bahkan ketajaman penglihatan mereka telah melihat darah yang berceceran.

Wijang dan Paksi melihat keduanya berjongkok. Meraba ujung rerumputan dan daun pohon perdu. Nampaknya mereka memperhatikan percikan darah dimana-mana.

Sambil bangkit berdiri Repak Rembulung berkata, "Darah itu masih baru. Nampaknya di tempat

ini baru saja terjadi pertempuran yang sengit."

"Apakah ada di antara mereka yang curang atau perselisihan yang timbul?"

"Kita terlambat datang," berkata Repak Rembulung.

"Aku tidak mengira bahwa terjadi pertempuran. Jika tidak terjadi sesuatu, aku kira disini masih banyak orang. Tentu setiap perguruan mengirimkan orang-orangnya untuk melihat suasana dan

menjajagi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi."

"Tentu orang-orang bodoh yang sombong itu yang telah menyalakan api perselisihan disini."

"Siapa?"

Repak Rembulung menggeleng. Katanya, "Aku tidak tahu yang mana, karena pada dasarnya mereka semuanya adalah orang-orang sombong dan besar kepala."

Pupus Rembulung termangu-mangu sambil memandang berkeliling. Tetapi penglihatannya membentur kesepian. Anginpun berhenti bertiup, sehingga dedaunanpun seakan-akan sedang

tertidur nyenyak.

Wijang dan Paksi harus bertahan untuk tidak bergerak. Bahkan bernafas pun mereka lakukan dengan sangat berhati-hati. Mereka sadari bahwa jika mereka bergerak dan menyentuh daundaun perdu sehingga bergetar, maka gerak daun-daun perdu itu akan dapat mengundang perhatian, justru karena angin berhenti bertiup.

Namun kedua orang anak muda itu mampu bertahan. Meskipun nyamuk dan semut merah menggigit kulit.

Untuk beberapa lama Repak Rembulung dan Pupus Rembulung mengamati tempat itu.

Merekapun kemudian telah berhenti di bawah pohon preh yang besar di sudut tempat yang terbuka itu. Pupus Rembulung bahkan kemudian telah duduk bersandar batangnya yang besar berlekuk-lekuk.

Tetapi Repak Rembulung kemudian berkata, "Marilah. Kita tinggalkan tempat ini. Kita masih harus mendapat keterangan, apakah pertemuan esok akan tetap berlangsung."

"Kepada siapa kita akan bertanya?"

"Kita akan mendapatkan keterangan itu esok."

Tetapi ketika Pupus Rembulung kemudian bangkit berdiri, merekapun telah tertegun pula. Dari

arah lain, seseorang tengah melangkah ke lapangan rumput yang terbuka itu. Di belakangnya, dua

orang berjalan mengiringinya.

Demikian orang itu melihat Repak dan Pupus Rembulung, mereka telah tertegun.

"Kalian telah berada disini?" bertanya orang itu.

"Gedhag Panunggul."

Orang yang datang itu tertawa. Katanya, "Kaukah yang mengirimkan orang untuk mengacaukan persiapan pertemuan esok?"

"Buat apa aku melakukannya?" jawab Repak Rembulung.

"Mungkin kau ingin terjadi sesuatu. Mungkin tanpa alasan. Asal saja terjadi keributan. Namun lebih dari itu, dengan keributan itu, kau dapat menjajagi kemampuan orang-orang dari beberapa perguruan."

"Untuk apa aku menjajagi kemampuan tikus-tikus itu. Aku sudah dapat mengetahui tataran kemampuan mereka. Mereka baru dapat berteriak-teriak dan mewarisi kesombongan gurugurunya.

Bahkan tataran kemampuan guru-guru merekapun tidak perlu kami jajagi lagi."

"Repak Rembulung," berkata Gedhag Panunggul, "kaulah orang yang paling sombong yang pernah aku kenal. Di antara orang-orang berilmu tinggi, maka kau akan dapat terjebak oleh sikap dan kata-katamu sendiri."

"Aku bertanggung jawab atas segala sikap dan kata-kataku," jawab Repak Rembulung.

"Lidahmu akan dapat dipotong di hadapan banyak orang."

Repak Rembulung itu tertawa. Namun Pupus Rembulungpun kemudian menyela, "Apa yang akan kau lakukan disini malam ini, Gedhag Panunggul?"

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Aku telah mendapat laporan bahwa disini telah terjadi pertempuran."

"Kami terlambat datang," sahut Pupus Rembulung. "Apakah orang-orangmu ada yang menyaksikan pertempuran itu?"

"Ya. Seorang di antara orang-orangku terluka."

"Lalu, apakah kau datang untuk mencari orang yang melukai salah seorang pengikutmu itu?"

"Ya. Mungkin mereka sudah pergi. Tetapi mungkin pula dengan sombong mereka masih tetap berada disini sambil menunggu orang yang mungkin akan dapat mereka ajak bermain dengan lebih baik."

Repak Rembulung mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya, "Bagaimana dengan

rencana pertemuan esok malam?"

"Menurut pendapatku, pertemuan itu harus berlangsung. Jika ada orang gila yang merunduk dan mencoba mengacaukan pertemuan kita esok, maka itu akan berarti orang itu akan menyurukkan kepalanya ke mulut seekor buaya."

"Bagus," berkata Repak Rembulung. "Orang itu harus ditangkap hidup-hidup. Kita harus tahu, siapakah mereka dan untuk apa mereka mengamati kita."

Gedhag Panunggul itupun kemudian mengamati semak-semak yang berserakan. Darah yang berceceran dan keterangan dari kedua orang pengikutnya yang menyaksikan pertempuran itu.

"Mereka hanya lima orang yang terdiri dari dua kelompok yang berbeda. Bahkan tidak saling mengenal," desis Gedhag Panunggul.

"Gila," geram Pupus Rembulung. "Apa kerja orang-orang kalian jika menghadapi lima orang saja mereka tidak mampu? Berapa banyak orang yang sedang berada disini ketika pertempuran itu terjadi? Lima orang, enam orang atau berapa?"

Gedhag Panunggul tertawa. Katanya, "Buat apa kita harus malu. Menurut laporan orangorangku, disini berkumpul lebih dari duapuluh lima orang saat pertempuran itu terjadi."

"Lebih dari duapuluh lima orang?" ulang Pupus Rembulung. "Tentu bukan karena kelima orang itu berilmu sangat tinggi.

Tetapi orang-orangmu dan orang-orang dari perguruan-perguruan kerdil itulah yang tidak mampu berbuat apa-apa meskipun di antara mereka terdapat murid-murid utama dan muridmurid tertua."

"Jangan berkata begitu. Bagaimana dengan murid-muridmu? Kenapa tidak seorang pun diantara mereka datang untuk bersama-sama mempersiapkan tempat ini?"

"Tidak perlu bagiku," jawab Repak Rembulung. "Lebih dari itu kau tentu tahu bahwa susunan perguruanku tidak sama dengan susunan perguruanmu dan perguruan-perguruan lain pada umumnya."

"Aku tahu. Tetapi apapun namanya, kenapa tidak seorang pun kau kirim untuk datang dalam persiapan pertemuan tadi?"

"Kami ingin datang sendiri. Tetapi sayang, kami datang terlambat."

Gedhag Panunggul tidak bertanya lagi. Tetapi ia masih saja mengamati keadaan di sekitar tempat itu.

Wijang dan Paksi menjadi berdebar-debar. Nampaknya orang yang disebut Gedhag Panunggul

itu cukup teliti. Ia mengamati semak-semak sampai jarak beberapa langkah dari lapangan rumput

yang terbuka itu.

Tetapi keduanya memang tidak berada di tempat yang terlalu dekat. Jarak yang terlalu jauh bagi kebanyakan orang. Hanya karena keduanya memiliki kemampuan untuk melihat dan mendengar dari jarak yang jauh dengan Aji Sapta Pandulu dan Sapta Pangrungu, maka keduanya dapat mengerti apa yang telah terjadi.

Sebenarnyalah Gedhag Panunggul tidak menyibak semak-semak di sekitar tempat terbuka itu sampai ke tempat Wijang dan Paksi bersembunyi. Seandainya orang itu sampai juga ke tempat Wijang dan Paksi bersembunyi, maka keduanya masih mempunyai kesempatan untuk menyingkir.

Namun kemudian Gedhag Panunggul itupun telah kembali ke tengah-tengah tempat terbuka itu.

"Aku besok akan datang kemari," berkata Gedhag Panunggul. "Aku ingin bertemu dengan orang-orang yang tadi sempat mencerai-beraikan beberapa kelompok orang-orang dari berbagai perguruan."

"Bagus," sahut Repak Rembulung, "kami besok juga akan datang."

"Kami berharap orang-orang yang tadi sempat mengacaukan orang-orang dari beberapa perguruan itu datang," sambung Pupus Rembulung.

Namun dalam pada itu, maka Repak Rembulung dan Pupus Rembulung itupun melangkah meninggalkan tempat itu.

"Kami akan pergi," berkata Repak Rembulung.

Gedhag Panunggul tidak menyahut. Dipandanginya saja kedua orang itu melangkah meninggalkan tempat terbuka itu memasuki semak-semak dan hilang di dalam kegelapan.

Yang tinggal adalah Gedhag Panunggul dan para pengikutnya. Namun merekapun kemudian telah bersiap untuk pergi.

Sementara Gedhag Panunggul masih berkata, "Hubungi yang lain-lain. Besok aku akan datang

ke tempat ini. Pertemuan itu harus berlangsung. Bahkan aku berharap orang-orang gila yang tadi

mengacau disini itu bersedia datang lagi."

Sejenak kemudian maka lapangan rumput itu menjadi sepi kembali. Malam yang gelap menukik

semakin dalam. Angin masih belum berhembus.

Paksi sempat menggaruk lehernya yang gatal. Sementara Wijang bangkit berdiri dan menggeliat.

"Besok akan ada tontonan yang menarik," berkata Wijang.

"Ya. Beberapa orang berilmu tinggi akan berkumpul. Mereka akan berbicara tentang cincin yang

kau bawa."

"Bukan hanya karena itu. Tetapi mereka tentu ingin menjadi orang terpenting di antara mereka.

Cincin itu dapat menjadi alat untuk melakukan pendadaran."

"Ya," Paksi mengangguk-angguk, "perguruan yang menemukan cincin itu adalah perguruan yang terbaik menurut penilaian mereka, sehingga pantas untuk menjadi pimpinan di antara mereka."

"Tetapi perburuan itu belum akan berakhir. Setiap orang ingin memilikinya sehingga akan terjadi perebutan di antara mereka. Mereka akan menempuh segala cara, bahkan yang paling kasar dan yang paling licik sekalipun, karena mereka percaya bahwa siapa yang mengenakan cincin di jari-jari tangannya, ia akan memiliki kekuasaan di masa depan. Anak atau cucunya akan memegang kekuasaan tertinggi di tanah ini."

"Perburuan itu tentu akan menimbulkan keresahan. Bagaimanapun juga benturan-benturan kekuatan di antara mereka tentu akan menepis kehidupan di sekitarnya."

Wijang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat iapun berkata, "Paksi. Besok sebaiknya

kau pergi ke pasar. Mungkin Ki Rangga Suraniti ada di pasar itu pula. Jika saja kau dapat menangkap apa yang dikatakannya."

"Baiklah," jawab Paksi. "Besok pagi-pagi aku akan pergi ke pasar."

Demikianlah, keduanyapun segera meninggalkan tempat itu. Ketika mereka sampai di gubuk kecil mereka, maka malampun telah mendekati ujungnya. Meskipun demikian, keduanya masih sempat berbaring sejenak. Tetapi mereka tidak dapat tidur sama sekali, karena sebelum fajar mereka harus sudah bangun untuk melakukan kewajiban mereka sehari-hari. Apalagi Paksi pagi itu akan pergi ke pasar.

Ketika matahari terbit, maka Paksipun telah meninggalkan gubuk kecilnya. Wijanglah yang mencuci tempayan dan kemudian melepas gula kelapa yang dicetak dengan tempurung kelapa menjelang pagi. Legen yang sudah ditampung sejak kemarin baru sempat dipanasi pagi itu.

Tetapi Paksi tidak akan kekurangan kayu bakar untuk membuat gula kelapa.

Paksi telah berada di pasar saat matahari mulai memanjat naik. Kecuali melihat apakah Ki Rangga Suraniti ada di pasar,

Paksi juga membeli beberapa kebutuhan sehari-hari. Terutama garam dan rempah-rempah.

Bawang merah, bawang putih dan seikat daun salam dan petai. Meskipun Paksi tidak begitu senang makan petai, tetapi seperti ibunya, Paksi memberi beberapa buah petai di masakannya.

Setelah keperluannya selesai, maka Paksi mulai mengelilingi pasar itu. Tetapi ia tidak melihat Ki

Rangga Suraniti. Bahkan ia melihat dua orang perempuan dari Perguruan Goa Lampin juga sedang

berbelanja. Namun seperti biasa, mereka membayar sekehendak hati mereka tanpa menghiraukan

keluhan para penjualnya.

Ketika matahari memanjat semakin tinggi, maka Paksipun menganggap bahwa Ki Rangga

Suraniti memang tidak pergi ke pasar hari itu. Karena itu, maka Paksipun segera berniat kembali

ke gubuknya dan memberitahukannya kepada Wijang.

Tetapi ketika ia berjalan di depan penjual dawet, maka Paksi tertegun. Ia melihat dua orang

yang pernah dijumpainya membeli dawet, baru itu juga sudah duduk di depan penjual dawet itu.

Paksi berharap bahwa penjual dawet itu akan menyapanya, sehingga kedua orang itu tidak mencurigainya bahwa ia sengaja duduk bersama mereka.

Sebenarnyalah seperti yang diharapkan, maka penjual dawet itu memang menyapanya seperti biasanya, "He, singgah dahulu, anak muda."

 

Paksi berhenti melangkah. Dipandanginya kedua orang yang sudah duduk lebih dahulu itu sambil tersenyum-senyum. Katanya, "Tetapi aku jadi malu kepada kedua paman ini. Bukankah Paman yang pernah membayar ketika aku minum disini?"

"Kenapa malu?" sahut orang yang dikenal Paksi bernama Ki Rangga Suraniti.

"Paman, kali ini Paman tidak usah membayar. Aku datang untuk berbelanja. Ibu sedang berhalangan. Karena itu, aku mendapat uang jajan dari Ibu."

"Kau berbelanja apa saja?" bertanya Ki Rangga Suraniti.

Paksipun kemudian duduk di dekat mereka sambil menunjukkan beberapa bungkus kebutuhan

dapur yang dibelinya.

"Ternyata kau pintar juga," berkata yang seorang lagi, yang menurut pengenalan Paksi adalah

Ki Nukilan.

Paksi tertawa. Namun kemudian iapun berkata, "Dawetnya, Paman."

Ketika Paksi kemudian menghirup dawetnya, maka ia mendengar Ki Rangga itu berkata,

"Baiklah. Jika kau panggil kemenakan-kemenakanmu, silahkan datang."

"Tetapi apakah tontonan itu jadi dipergelarkan?" bertanya Ki Nukilan.

"Mudah-mudahan. Tetapi undangan itu telah aku terima belum sepenginang ini."

"Sudah pasti?"

"Ya."

Keduanya terdiam. Hampir bergumam Ki Nukilan berkata, "Begitu cepat kau menerima

undangan."

"Aku adalah sahabat terdekat."

Penjual dawet itu memandangi keduanya dengan terheran-heran. Di luar sadarnya ia bertanya,

"Ternyata kalian mempunyai banyak sahabat. Ketika kalian singgah kalian juga berbicara tentang

undangan. Sekarang juga membicarakan undangan dan tontonan."

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun Ki Rangga menyahut, "Jangan mengatakan

kepada isteriku. Aku adalah jagoan. Dimana ada perhelatan, kami selalu ada."

"Jagoan apa?" bertanya penjual dawet itu.

Ki Rangga tertawa semakin panjang. Dengan nada tinggi ia bertanya, "Kau pernah melihat orang bermain dadu?"

Penjual dawet itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Pantas kau selalu berbicara tentang undangan dan perhelatan."

"Ah, kau telah membuka rahasia," desis Ki Nukilan.

"Tetapi ia tidak akan mengatakan kepada isteri kita."

"Aku tidak mengenal isteri kalian," sahut penjual dawet itu.

Ki Rangga Suraniti dan Ki Nukilan itupun tertawa.

Namun beberapa saat kemudian, Ki Rangga Suraniti itupun berkata, "Marilah. Aku akan pulang.

Kau akan pergi kemana?"

"Pulang," jawab Ki Nukilan.

"Marilah kita bersama-sama."

Ki Nukilan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sambil bangkit iapun berkata, "Sekarang aku yang membayar."

Ki Rangga Suraniti tertawa. Katanya, "Terima kasih."

Namun kemudian Ki Nukilan itupun berpaling kepada Paksi sambil berkata pula, "Aku bayar dawetmu."

"Ah, aku sudah mendapat uang jajan hari ini."

"Kau dapat membelikannya makanan."

"Terima kasih," jawab Paksi sambil bangkit berdiri ketika kedua orang itu meninggalkan penjual

dawet itu.

"Kau beruntung," berkata penjual dawet itu sambil tertawa.

"Kapan lagi mereka akan datang?" bertanya Paksi.

"Bagaimana aku tahu," jawab penjual dawet itu. Tertawanya telah mengguncang-guncang perutnya.

Namun Paksipun kemudian telah minta diri pula. Ia ingin segera bertemu dengan Wijang untuk memberitahukan pembicaraan yang baru saja didengar. Tetapi karena Paksi sudah mengerti persoalan yang sedang dihadapi oleh Ki Rangga Suraniti dan Ki Nukilan, maka Paksi dapat menduga, apa yang sedang mereka bicarakan itu.

Demikian keluar dari pasar, maka Paksipun berjalan dengan cepat pulang ke gubuk kecilnya.

Berita yang dibawanya itu tentu akan menarik bagi Wijang.

Ketika Paksi sampai di gubuk kecilnya, Wijang sedang mengambil air, mengisi gentong kecil persediaan air bersih yang diletakkan di teritisan gubuk kecil itu.

"Apakah kau melihat Ki Rangga Suraniti?" bertanya Wijang.

"Ya," jawab Paksi.

"Sendiri atau bersama satu dua orang?"

"Aku menjumpai Ki Rangga Suraniti sedang membeli dawet bersama Ki Nukilan."

"Kau dengar sepatah dua patah kata pembicaraan mereka?"

Paksi mengangguk. Iapun kemudian mengatakan apa yang dibicarakan oleh Ki Rangga Suraniti

dan Ki Nukilan itu.

Wajah Wijang menjadi tegang. Katanya, "Jadi mereka akan mengerahkan prajurit untuk menangkap atau menghancurkan beberapa perguruan yang akan bertemu di tempat terbuka itu?"

"Apakah mereka akan melakukannya?"

"Menurut pembicaraan itu demikian, jika tidak ada perubahan. Tetapi Ki Rangga Suraniti tentu sudah memperhitungkan sebaik-baiknya."

"Ki Nukilan yang agaknya mengambil keputusan."

"Tetapi bukankah Ki Rangga sudah menyetujuinya?"

Paksi mengangguk-angguk. Sementara Wijang berkata, "Satu tugas yang sangat berat dan berbahaya. Di lapangan rumput itu akan berkumpul beberapa orang berilmu tinggi. Para pengikut

mereka tentu akan mengawasi dan melindungi para pemimpin mereka, apalagi setelah terjadi

peristiwa semalam."

"Tetapi begitu cepat, Ki Rangga mengetahui bahwa pertemuan itu tidak tertunda dan tidak berpindah tempat."

"Petugas sandi Pajang termasuk petugas sandi yang baik. Tentu ada satu atau dua orang diantara mereka yang berhasil menyusup di antara perguruan-perguruan itu."

"Tetapi apakah Pajang menganggap perguruan-perguruan itu berbahaya?"

"Tentu," jawab Wijang. "Mereka sudah mengikuti perkembangan setiap perguruan itu untuk waktu yang cukup."

Paksi menarik nafas panjang. Ia dapat membayangkan, jika Pajang mengambil sikap keras, tentu akan terjadi pertempuran yang sengit. Namun Paksipun kemudian bertanya, "Apakah ada waktu bagi Ki Nukilan untuk mengirimkan penghubung ke Pajang kemudian membawa sepasukan prajurit Pajang sampai kemari di hari ini?"

"Ki Nukilan tentu tidak menunggu prajurit yang langsung datang dari Pajang. Tetapi Ki Nukilan tentu mempersiapkan prajurit Pajang yang berada di Jati Anom dan sudah dipersiapkan di sebelah timur Prambanan, di pinggir Kali Dengkeng."

"Jadi sudah ada prajurit Pajang yang dipersiapkan di sekitar tempat ini?"

"Tidak terlalu dekat. Tetapi dengan penghubung berkuda yang berangkat malam tadi, maka malam nanti prajurit Pajang yang dipersiapkan di Jati Anom sudah akan mencapai tempat ini.

Tetapi aku tidak tahu, apakah jumlah prajurit Pajang itu cukup memadai. Apakah para pemimpin mereka memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuan para pemimpin perguruanperguruan yang bakal berbicara di antara mereka itu."

"Tetapi para petugas sandi Pajang itu tentu sudah membuat laporan terperinci."

"Para pemimpin prajurit kadang-kadang kehilangan kecermatan mereka jika mereka mulai dikuasai oleh hasrat mereka menghancurkan kelompok-kelompok yang dianggap melawan kekuasaan Pajang. Meskipun demikian, aku masih berharap bahwa para prajurit itu akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik."

Paksi termangu-mangu sejenak. Ia mulai membayangkan pertempuran yang sengit antara para

prajurit Pajang dengan beberapa perguruan yang sedang berkumpul di lereng Gunung Merapi ini.

Namun Wijangpun kemudian berdesis, "Tetapi jika orang-orang dari beberapa perguruan itu menyadari, bahwa yang mengintai persiapan semalam adalah prajurit Pajang, maka mereka tentu

akan berpikir dua kali untuk melangsungkan pertemuan sebagaimana mereka rencanakan."

"Agaknya mereka tidak menghubungkan kehadiran orang-orang yang mengintainya semalam dengan prajurit Pajang."

"Nampaknya Ki Nukilan dengan sengaja mempergunakan sepasang bindi sebagai senjatanya.

Kehadiranmu dengan tongkat juga menyesatkan orang-orang dari beberapa perguruan itu, karena menurut perhitungan mereka, para prajurit tidak akan mempergunakan senjata seperti itu. Para

prajurit tentu akan mempergunakan senjata yang umum dipergunakan. Misalnya pedang atau tombak pendek."

Paksi mengangguk sambil berdesis, "Mudah-mudahan para prajurit tidak justru terjebak."

Wijang menarik nafas panjang. Sambil duduk di atas sebongkah batu padas ia memandang ke

kejauhan. Hutan lereng pegunungan yang lebat memagari satu lingkungan yang terbuka di antara

gumuk-gumuk kecil di kaki gunung, nampak hijau kegelapan. Cahaya matahari yang semakin terik

terpantul di wajah daun-daun yang berdesakan.

Tiba-tiba saja Paksi bertanya, "Apakah Ki Nukilan benar-benar sudah siap?"

"Mudah-mudahan, "desis Wijang. "Aku juga sedang memikirkannya."

"Jumlah orang yang akan berkumpul tentu akan cukup banyak. Setiap pemimpin perguruan akan mempersiapkan para pengikutnya di sekitar tempat itu. Seandainya mereka tidak merasa terganggu, agaknya mereka juga akan menyiapkan orang-orangnya. Apalagi setelah mereka mempunyai alasan yang kuat."

"Ya. Mereka sebenarnya juga saling mencurigai," Wijang bergumam seakan ditujukan kepada diri sendiri.

"Tetapi apakah Ki Nukilan dan Ki Rangga Suraniti tidak tinggal bersama-sama di satu tempat sehingga mereka perlu bertemu dan berbicara di pasar?"

"Tentu tidak. Untuk tidak menarik perhatian. Banyak orang-orang dari berbagai perguruan yang

berkeliaran. Tetapi juga pantas diperhatikan orang-orang padukuhan yang sudah dipengaruhi oleh

orang-orang dari berbagai perguruan yang dibayangi oleh keinginan untuk menatap masa depan

itu. Menurut dugaanku, selain beberapa perguruan, tentu masih ada orang yang berusaha untuk

memiliki cincin itu yang datang tidak dalam kelompok-kelompok yang besar. Tetapi seorangseorang

atau dua orang yang juga merasa melihat cahaya langit yang jatuh di sekitar tempat ini atau melihat semacam teja yang bercahaya mencuat menusuk langit atau melihat isyarat apapun."

Paksi mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, "Apa sebenarnya yang telah mereka lihat?"

"Aku tidak tahu. Tetapi aku percaya bahwa memang ada benda langit yang pernah jatuh di bumi. Mungkin semacam batu bintang atau apapun namanya."

"Jadi bukan cincin itu?"

"Bukankah cincin itu masih tetap ada padaku?"

Paksi mengangguk-angguk. Cincin itu memang masih tetap berada di tangan Wijang.

Demikianlah, keduanyapun kemudian duduk merenung. Bagaimanapun juga mereka merasa cemas. Jika sekelompok prajurit Pajang itu jumlahnya tidak memadai, maka mereka justru akan mengalami kesulitan. Apalagi di tempat itu akan berkumpul orang-orang berilmu tinggi. Para pemimpin dari beberapa perguruan itu merupakan lawan yang sangat berat bagi para pemimpin kelompok-kelompok prajurit yang akan berusaha menguasai mereka.

Wijang yang kemudian bangkit sambil menggeliat berdesis, "Aku percaya kepada para petugas

sandi Pajang, sehingga para prajurit itu tidak akan terjebak dalam kesulitan."

"Tetapi kita akan berada dimana? Jika para prajurit itu akan datang dan mengepung tempat itu,

maka pertempuran akan terjadi di luar tempat terbuka itu. Di semak-semak atau di pinggir hutan

atau di lembah di sebelah bukit kecil itu."

"Ya, pertempuran akan dapat terjadi dimana-mana. Tetapi kita sebaiknya tetap berada di tempat yang sudah kita pilih. Para prajurit itu tentu baru akan datang dan mengepung tempat itu setelah pertemuan itu berlangsung. Lewat tengah malam."

Paksi mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Wijang. Mereka berdua harus sudah berada di tempat persembunyian mereka sebelum segalanya itu terjadi.

Meskipun demikian, Paksi itupun berkata, "Aku menduga bahwa tempat itu tentu sudah diawasi

oleh para murid dari berbagai perguruan itu sejak malam turun."

"Ya. Aku juga memperkirakan demikian. Karena itu, kita harus sudah berada disana. Kita tidak

boleh terlalu dekat dengan tempat terbuka itu. Kita akan berada di tempat pilihan kedua. Menurut

perhitungan, tempat itu cukup jauh. Tetapi para prajurit yang mengepung tempat itu, akan berada

pada jarak yang lebih jauh lagi dari sasaran."

Paksi termangu-mangu sejenak. Ia membayangkan satu lingkungan yang rumit, yang setiap jengkal mendapat pengawasan yang teliti. Namun yang kemudian akan berada di dalam lingkaran kepungan para prajurit Pajang.

Wijang seakan-akan dapat membaca perasaan Paksi. Karena itu, maka iapun berkata, "Kita akan melakukan satu pekerjaan yang berat dan rumit. Tetapi bukankah tantangan seperti itu yang membuat kita menjadi semakin dewasa?"

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Dan kita ingin menjadi dewasa."

Namun Wijang tersenyum sambil berkata, "Kita akan bertambah dewasa, atau kita tidak akan

pernah menjadi dewasa."

Paksipun tertawa. Katanya, "Pajang tidak akan kehilangan seorang pangeran."

"Ah, kau," sahut Wijang. "Sejak beberapa waktu yang lalu, Pajang telah kehilangan seorang pangeran. Tetapi pangeran yang tidak berarti apa-apa bagi Pajang."

"Kenapa tidak? Tentu sekarang istana Pajang menjadi muram karena Pangeran Benawa tidak berada di istana dan tidak diketahui kemana perginya."

"Bukan hanya seorang pangeran. Orang yang kehilangan anaknya tentu akan mencarinya."

"Tetapi aku justru dihalau untuk meninggalkan rumahku."

"Sudahlah," potong Wijang. "Seandainya kau tidak pergi meninggalkan rumahmu apapun alasannya, maka kau tidak akan menjadi seorang yang berilmu seperti sekarang ini."

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Ternyata aku telah menemukan sesuatu di dalam pengembaraan ini."

Wijang tidak mengatakan sesuatu lagi. Sementara itu, Paksipun berkata, "Apakah kita akan makan sekarang?"

"Aku juga sudah lapar."

Demikianlah, maka keduanyapun telah duduk menghadapi mangkuk mereka masing-masing.

Nasi yang dingin dan sayur serta lauk yang sudah dingin pula.

Hari itu keduanya telah memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Berbaring di bawah pepohonan yang rindang di luar gubuk mereka. Menikmati silirnya angin lereng gunung yang lembut, yang mengusap tubuh mereka. Baik Paksi maupun Wijang membiarkan dada mereka terbuka.

Ketika matahari turun di sisi barat, maka keduanyapun telah mempersiapkan diri. Mereka pergi

ke gerojogan untuk mandi. Mengenakan pakaian yang berwarna gelap dan mempersiapkan nalar

dan budi untuk melakukan satu kerja yang penuh dengan bahaya. Bahkan kemungkinan yang terburuk akan dapat terjadi atas mereka. Mereka akan dapat berhadapan dengan orang-orang dari

beberapa perguruan itu, tetapi jika terjadi salah paham, maka merekapun akan dapat berhadapan

dengan para prajurit Pajang.

Demikian langit menjadi merah, maka kedua orang anak muda itu sudah siap. Paksi telah mempersiapkan tongkatnya, sementara Wijang telah mengamati pelindung pergelangan tangannya serta sepasang pisaunya yang ujudnya sederhana. Tetapi besi bajanya bukan besi yang sederhana. Pamornya bagaikan berkeredipan di bawah cahaya senja.

Demikianlah, maka keduanyapun meninggalkan gubuk kecil mereka untuk melakukan beban tugas yang mereka letakkan di pundak mereka sendiri.

Ketika keduanya sampai di tempat yang akan menjadi tempat pertemuan para pemimpin perguruan itu, langit sudah menjadi hitam. Tempat itu masih sepi. Belum nampak seorangpun yang berada di tempat itu.

Wijang dan Paksipun segera menempatkan diri. Seperti seorang yang akan menonton wayang topeng yang datang lebih awal untuk mendapatkan tempat terbaik sebelum penonton yang lain berdatangan di tempat pertunjukan.

Namun seperti yang sudah mereka duga, beberapa saat kemudian, maka kelompok-kelompok kecil orang-orang dari berbagai perguruan telah berdatangan. Mereka mengamati tempat itu sebaik-baiknya. Mereka menyibak gerumbul-gerumbul perdu di sekitar tempat terbuka itu. Mereka mengamati setiap tempat yang mereka curigai dapat dipergunakan untuk bersembunyi.

Tetapi mereka menyibak semak-semak pada jarak tertentu. Di luar jarak itu, mereka anggap sudah terlalu jauh untuk mengintai pembicaraan orang-orang yang akan hadir di tempat yang terbuka itu.

Karena itu, maka tidak seorang pun di antara mereka yang mengamati gerumbul perdu sampai ke tempat Wijang dan Paksi bersembunyi. Jarak itu terlalu panjang. Namun dengan Aji Sapta Pangrungu dan Aji Sapta Pandulu, Wijang dan Paksi akan dapat menyaksikan dan mendengarkan dengan jelas apa yang akan mereka bicarakan di lapangan rumput itu.

Namun Wijang dan Paksipun yakin, bahwa tempat itu tentu sudah dilingkari kekuatan yang besar dari perguruan-perguruan yang terlibat dalam pertemuan itu. Kecuali mereka berusaha untuk mengamankan lingkungan, sebenarnyalah bahwa mereka saling curiga, sehingga mereka tidak ingin pemimpin mereka mengalami kesulitan dalam pertemuan itu.

Sedangkan di luar lingkaran pengamanan orang-orang dari berbagai macam perguruan itu, prajurit Pajang akan datang mengepung mereka dan berusaha menangkap para pemimpinnya.

Suasana di tempat itupun menjadi sangat mencengkam. Orang-orang yang berkeliaran itu nampak tegang. Yang satu mengawasi yang lain dengan penuh kecurigaan.

Wijang dan Paksipun menjadi tegang pula di tempat persembunyiannya. Mereka menyadari bahwa sebentar lagi akan terjadi pertempuran yang sengit jika Ki Rangga Suraniti tidak merubah rencananya.

Tetapi keduanya tidak dapat berbuat apa-apa selain berdiam diri di tempat mereka bersembunyi sambil menunggu.

Menjelang tengah malam, maka suasanapun telah berubah. Orang-orang dari berbagai perguruan yang berkeliaran itupun mulai menyibak. Tidak ada pertanda bunyi apapun. Namun begitu saja Gedhag Panunggul telah berada di lapangan rumput itu.

Seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan telah mendekatinya sambil membungkuk hormat.

"Kau memang dungu," bentak Gedhag Panunggul. "Sudah aku katakan, jangan ada yang berkeliaran disini. Biarlah orang-orang yang masih ingin mengintip pertemuan itu datang dan bersembunyi di sekitar tempat ini. Aku memerlukan mereka."

Orang yang mengangguk hormat itu menjawab dengan ragu,

"Tetapi kawan-kawan dari perguruan lain menghendaki tempat ini diamankan. Meskipun kami tidak berbuat apa-apa disini, namun mereka telah menyibak gerumbul-gerumbul liar serta semaksemak

perdu."

"Mereka memang bodoh dan tidak berotak," geram Gedhag Panunggul.

"Kami tidak dapat mencegah mereka."

Gedhag Panunggul menggeram, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Semuanya sudah terlanjur. Katanya, "Jika orang-orang itu datang lagi, mereka tidak akan berani mendekat. Mereka akan bersembunyi di tempat yang jauh sehingga kita tidak akan dapat menangkapnya."

Namun dalam pada itu, terdengar seseorang tertawa. Sambil melangkah mendekat, orang itu berkata, "Sudahlah, Gedhag Panunggul. Jangan disesali. Kita tidak memerlukan orang-orang gila

itu. Bahkan aku yakin mereka tidak akan berani datang lagi. Jika mereka memang ingin datang,

serta mereka berilmu tinggi, maka mereka akan dapat menghindar dari pengamatan murid-murid

kita."

"Sima Pracima," geram Gedhag Panunggul, "ternyata kau juga sebodoh murid-muridmu."

"Jangan berkata begitu di hadapan murid-muridku. Aku adalah orang yang mereka hormati.

Akupun tidak akan merendahkanmu di hadapan murid-muridmu meskipun aku tahu, bahwa otakmu adalah otak yang tumpul."

"Setan kau," sahut Gedhag Panunggul.

Namun sebelum ia berkata lebih lanjut, terdengar orang lain berkata, "Sima Pracima memang gila. Ia tidak ingin merendahkan Gedhag Panunggul di hadapan murid-muridnya. Tetapi ia sudah menyebut bahwa otak Gedhag Panunggul adalah otak yang tumpul."

"Kau juga iblis," geram Gedhag Panunggul.

Sementara itu Sima Pracimapun bergumam, "Wira Bangga."

"Sebenarnya aku ingin pertemuan ini diselenggarakan di tempat lain. Aku curiga, bahwa orangorang yang semalam datang kemari adalah orang-orang Pajang. Orang-orangku pernah melihat kesiagaan prajurit Pajang di Prambanan."

"Mereka terdiri dari dua kelompok yang berbeda dan tidak saling mengenal," berkata Sima Pracima. "Orang-orangku mendengar mereka saling mempertanyakan diri masing-masing. Tetapi mereka tidak mau menyebutkannya. Senjata merekapun tidak menunjukkan jenis senjata yang dipakai oleh para prajurit. Ada di antara mereka yang mempergunakan sepasang bindi ada yang mempergunakan tongkat dan pisau-pisau belati."

Gedhag Panunggul tertawa. Katanya, "Wira Bangga, kenapa tiba-tiba kau menjadi penakut?

Seandainya mereka orang-orang Pajang, apa keberatanmu? Jika mereka datang dengan sekelompok prajurit sekalipun, kita akan melumatkan mereka. Permusuhan dengan Pajang memang sudah lama dicanangkan. Perang terbuka tidak akan menggetarkan kita. Kitapun tidak akan lama berada disini, sehingga jika datang pasukan yang lebih besar, lingkungan ini sudah sepi. Cahaya yang kita lihat turun dari langit memang belum tentu mengisyaratkan, bahwa benda itulah yang kita cari."

"Tetapi apakah kita akan meyakinkannya lebih dahulu?" bertanya Wira Bangga.

"Setiap malam aku berada di tempat terbuka. Aku masih belum melihat isyarat apapun yang dapat menunjukkan tempat cincin bermata tiga itu."

"Jika demikian, malam ini kita akan bertahan," berkata Sima Pracima. "Tetapi untuk selanjutnya, terserah kepada kita masing-masing. Apakah kita masih akan tetap berada di sekitar tempat yang semula kita yakini menjadi tempat persemayaman cincin itu, atau ada di antara kita yang akan mencari di tempat lain. Tetapi persetujuan yang nanti akan kita capai akan tetap mengikat."

Tetapi seorang perempuan yang kemudian datang menyahut dengan suara melengking,

"Apakah pembicaraan sudah dimulai sebelum aku datang?"

"Nyi Melaya Werdi," ketiga orang itu hampir berbareng berdesis.

"Kenapa kalian tidak menunggu kita semua hadir?"

"Kau kira, kau dapat melarang kami berbicara? Apa hakmu Nyi Melaya Werdi?"

"Bukankah kita sepakat untuk berbicara dalam satu pertemuan yang akan mengikat kita semuanya?"

"Apakah kami telah menghambat pertemuan itu?" bertanya Sima Pracima.

"Tetapi pembicaraan yang sudah memasuki persoalan pokok dari permasalahan yang akan kita

bicarakan, akan membuat pembicaraan kita tidak wajar lagi. Tidak menarik dan keputusan terakhir

seakan-akan telah dipersiapkan lebih dahulu oleh beberapa orang di antara mereka."

"Kau terlalu curiga," berkata Wira Bangga. "Jangan berprasangka seperti itu. Marilah, kemarilah."

Perempuan yang disebut Nyi Melaya Werdi itupun melangkah mendekat.

Ki Wira Bangga tersenyum sambil berdesis, "Kau masih tetap cantik, Nyi. Sudah berapa lama kita tidak bertemu. Mungkin aku sudah menjadi bertambah tua, tetapi kau tidak."

"Kau masih tetap buaya," geram Nyi Melaya Werdi.

"Kau masih tetap seekor burung gelatik liar."

"Sudah, sudah," potong Nyi Melaya Werdi. "Aku datang untuk berbicara tentang kedudukan dan hubungan kita agar kita tidak saling membunuh."

Ki Sima Pracima tertawa. Katanya, "Kedatanganmu membuat malam ini terasa segar, Nyi. Kegilaan Wira Bangga akan menyurukkan dirinya ke dalam kerangkeng-kerangkeng yang kau siapkan di padepokanmu."

"Cukup," teriak Nyi Melaya Werdi. "Kau tidak usah iri, Ki Sima Pracima. Aku tidak menyiapkan kerangkeng untuk mengurung seekor harimau yang buas seperti kau."

Sima Pracima tertawa semakin keras. Katanya, "Kau tidak usah menyiapkan kerangkeng itu.

Aku akan membawa kerangkengku sendiri. Yang aku perlukan hanya tempat yang khusus di dalam goamu itu."

"Apakah aku harus membungkam mulut kalian?" geram Nyi Melaya Werdi.

"Nyi," berkata Gedhag Panunggul, "mungkin aku akan berbicara lebih sopan. Di mana adikmu, Megar Permati?"

"Ia tidak mau aku ajak kemari. Ia tahu benar sifat kalian. Tetapi malam ini ia ada disini."

Gedhag Panunggul tersenyum. Katanya, "Ia mengira bahwa kami tidak tahu bahwa ia mempunyai kerangkeng khusus di padepokanmu."

"Justru karena itu, ia tidak memerlukan kalian."

Suara tertawapun meledak. Namun tiba-tiba terdengar seorang perempuan membentak,

"Cukup. Jangan sebut lagi namaku."

"Ternyata kau mendekat juga, Megar."

"Tidak. Aku lebih senang berada di luar lingkaran pembicaraan ini."

Megar Permati tidak menunggu jawaban. Iapun segera melangkah pergi meninggalkan beberapa orang yang memandanginya dengan kagum. Dua orang perempuan yang lain dengan pedang di lambung menunggunya dan kemudian bersama-sama menghilang di dalam gelap.

Namun tiba-tiba Melaya Werdipun bertanya, "Siapa yang kita tunggu?"

"Kerbau tua itu," jawab Wira Bangga.

"Masih ada lagi. Repak Rembulung dan Pupus Rembulung."

"Apa yang akan dilakukan kedua orang yang sudah mulai rapuh itu? Mereka menyangka bahwa mereka masih tetap orang yang disegani di antara kita."

"Mungkin pikirannya masih berarti bagi kita," desis Gedhag Panunggul. "Tetapi jika keduanya menuntut yang bukan-bukan, kita akan melemparkannya keluar dari pembicaraan ini."

Sima Pracimapun menyahut, "Keduanya masih mampu memamerkan ilmu mereka dengan menakut-nakuti anak-anak beberapa hari yang lalu."

"Aku juga mendengarnya," desis Nyi Melaya Werdi. "Sepasang iblis itu tentu merasa berhasil karena kita segera menyelenggarakan pertemuan ini."

"Biar saja apapun yang mereka rasakan. Mungkin mereka merasa memiliki kelebihan dari kita semuanya," desis Wira Bangga.

Mereka berhenti sejenak ketika mereka melihat seorang yang kumis dan janggutnya sudah memutih. Beberapa helai rambutnya yang tergerai mencuat dari bawah ikat kepalanya juga sudah nampak memutih.

"Ki Kebo Serut sudah datang," desis Gedhag Panunggul.

Ternyata bahwa para pemimpin perguruan yang menyelenggarakan pertemuan itu masih juga menaruh hormat kepada orang tua. Karena itu, merekapun serentak menyambut kedatangannya.

Nyi Melaya Werdilah yang kemudian mempersilahkan, "Marilah, Paman. Kita menunggu kedatangan Paman."

"Terima kasih, terima kasih Melaya Werdi. Eh, kau masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Bibirmu yang tipis itu menjadi ciri keramahanmu."

"Giginya miji timun, Paman," desis Wira Bangga.

"Setan kau," geram Nyi Melaya Werdi.

Ki Kebo Serut itu tertawa. Meskipun rambutnya sudah putih yang menjadi ciri ketuaannya, tetapi Kebo Serut tetap seorang yang bertubuh kekar dan tegar.

"Aku dengar Repak Rembulung dan Pupus Rembulung akan datang dalam pertemuan ini."

"Ya, Paman," jawab Nyi Melaya Werdi.

"Apakah mereka sudah datang?"

"Belum, Paman."

"Keduanya adalah orang-orang yang terlalu sombong dan berbangga diri atas kelebihan mereka. Tetapi keduanya adalah orang yang baik. Mereka pernah menghadiahkan lima ekor lembu kepadaku."

"Hanya lima ekor lembu? Bukankah kita masing-masing akan dapat mengambil lebih dari sepuluh ekor lembu semalam jika kita kehendaki."

"Yang penting bukan lima ekor atau sepuluh ekor. Bahwa mereka memberikan hadiah kepadaku itulah yang aku hargai. Nampaknya mereka benar-benar ingin menghormati orang tua."

Kebo Serut itu berhenti sejenak, lalu katanya, "Siapa di antara kalian yang pernah memberikan

hadiah kepadaku, dalam ujud apapun?"

Orang-orang yang ada di sekitarnya saling berpandangan sejenak. Namun Nyi Melaya Werdilah yang menjawab, "Sebenarnya ada juga niat mengirimkan sejodang nasi gurih dengan sepuluh ingkung ayam jantan yang masih muda. Tetapi aku tidak tahu dimana Paman berada. Paman jarang sekali berada di perguruan Paman."

Ki Kebo Serut tertawa. Katanya, "Lain kali aku menunggu kau mengirimkan sejodang makanan, Melaya Werdi. Kau tentu masih tangkas memasak. Aku tidak akan takut bahwa kau akan memberi guna-guna di dalam makananmu. Bahkan aku tentu akan merasa beruntung." "Ah, Paman mengada-ada."

Kebo Serut tertawa. Tetapi sekali lagi ia bertanya, "Apakah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung belum datang?"

Sebelum ada yang menjawab, maka mereka telah melihat dua orang laki-laki dan perempuan memasuki lingkungan yang terbuka itu. Gedhag Panunggulpun berdesis, "Itulah mereka."

Sebenarnyalah yang datang itu adalah Repak Rembulung dan Pupus Rembulung. Demikian mereka mendekat, maka Repak Rembulungpun bertanya dengan nada berat, "Apakah semua sudah berkumpul?"

Tidak seorang pun yang menjawab. Karena itu, maka Repak Rembulungpun berkata, "Sudah tengah malam. Kita akan mulai pertemuan ini. Kita harus segera mengambil beberapa keputusan yang menguntungkan kita semua."

Kebo Serutlah yang kemudian melangkah maju mendekati Repak Rembulung dan Pupus Rembulung. "Kau ini mabuk tuak atau mabuk kecubung. Kau datang terakhir. Tiba-tiba saja kau seakan-akan berhak memerintah kami."

Repak Rembulung mengerutkan dahinya. Kemudian sambil mengangguk hormat ia berkata, "Maaf, Paman Kebo Serut. Aku tidak memerintah. Aku hanya ingin menepati perjanjian.

Pertemuan ini akan diselenggarakan di tempat ini pada tengah malam."

"Lewat tengah malam," sahut Gedhag Panunggul.

"Bukankah itu tidak penting," berkata Kebo Serut. "Kenapa kita harus mulai dengan ketegangan hanya karena soal-soal kecil saja?"

Repak Rembulungpun tidak menyahut. Sementara yang lainpun masih berdiam diri.

"Nah," berkata Kebo Serut, "jika semuanya sudah hadir, marilah kita mulai pertemuan kita ini.

Tanpa ketegangan, tanpa kebanggaan diri dan kesombongan yang tidak berguna sama sekali. Kita tidak perlu mengangkat harga diri kita dengan tingkah laku yang aneh-aneh. Bukankah kita sudah

saling mengenal? Sudah saling mengerti dan mengetahui pribadi kita masing-masing. Karena itu,

marilah kita bersikap wajar saja."

Para pemimpin perguruan yang berkumpul itu tidak ada yang menjawab. Repak Rembulung dan Pupus Rembulungpun hanya berdiam diri saja. Sementara Kebo serut itu berkata selanjutnya, "Marilah, kita duduk di sebelah batu besar itu. Tetapi aku harus mendapat tempat sehingga aku dapat bersandar. Punggungku sudah mulai terasa pegal-pegal. Aku memang sudah tua."

Tiba-tiba saja Nyi Melaya Werdi menyela, "Sejak kapan Paman merasa menjadi tua?"

Kebo Serut itu tertawa. Katanya, "Hanya kadang-kadang saja aku merasa menjadi tua."

Nyi Melaya Werdipun tertawa pula. Namun Pupus Rembulung tiba-tiba saja berdesis, "Kau tidak

pantas hadir dalam pertemuan seperti ini, Melaya Werdi. Pikiranmu yang kotor itu selalu saja kau

bawa tanpa menghiraukan suasana."

Wajah Nyi Melaya Werdi menjadi merah. Dengan nada tinggi iapun menjawab, "Apa pedulimu?

Kau kira hatimu bersih seputih kapas? Atau kau merasa iri karena tingkah lakumu selalu dibatasi

oleh kehadiran suamimu?"

"Kenapa kau tidak mempunyai seorang suami?" sahut Pupus Rembulung.

Sebelum Nyi Melaya Werdi menjawab, terdengar Ki Kebo Serut tertawa pula. Katanya, "Dalam segala keadaan, dalam segala suasana, dimanapun mereka berada, perempuan tentu merasa saling bersaing. Sudahlah. Bukankah kita bertemu sekarang untuk berbicara justru menghindari benturan-benturan yang tidak berarti?"

Nyi Melaya Werdipun berusaha menahan diri. Demikian pula Nyi Pupus Rembulung.

"Marilah. Sudah lewat tengah malam."

Para pemimpin perguruan itupun kemudian telah melangkah mendekati batu yang besar itu.

Merekapun segera duduk di atas rerumputan kering, membentuk sebuah lingkaran.

"Jangan terlalu tegang," berkata Kebo Serut. "Nah, sekarang siapakah yang akan memimpin pertemuan ini. Bukan berarti bahwa untuk melanjutkan kita harus mengakuinya sebagai pemimpin kita semuanya."

Semuanya terdiam. Nampaknya pengaruh ketuaan Ki Kebo Serut masih mengikat mereka semuanya.

Wira Banggalah yang kemudian berkata, "Biarlah yang tertua di antara kita untuk sementara kita akui sebagai pemimpin kita, sehingga ia akan memimpin pertemuan ini."

"Agaknya itulah yang terbaik," sahut Gedhag Panunggul.

"Aku setuju. Siapa yang tidak?" berkata Repak Rembulung.

Ternyata tidak ada yang merasa berkeberatan. Merekapun kemudian telah menetapkan, Ki Kebo Serut akan memimpin pertemuan itu.

Wijang dan Paksi mengikuti semua yang terjadi itu dengan jantung yang berdebaran.

Justru karena mereka memperhitungkan bahwa sebentar lagi, pasukan prajurit dari Pajang akan datang mengepung dan menyerang pertemuan itu.

Dalam pada itu, tempat yang terbuka itupun telah menjadi hening. Para cantrik dari beberapa perguruan yang semula berkeliaran di sekitar tempat itu sudah bergeser menjauh. Mereka kemudian berada di luar lingkungan lapangan rumput itu. Mereka tahu, bahwa mereka tidak boleh mengganggu atau mendengarkan pembicaraan para pemimpin dan guru mereka.

Tetapi baru saja Ki Kebo Serut membuka pertemuan itu, maka mereka telah dikejutkan sebuah anak panah sendaren yang meluncur ke udara. Anak panah yang meluncur dari semak-semak yang agak jauh dari tempat terbuka itu.

Wijang dan Paksipun terkejut pula. Begitu cepatnya isyarat itu diberikan.

"Siapakah yang telah melontarkan isyarat itu?" bertanya Paksi berbisik.

"Itulah kelebihan para petugas sandi Pajang. Tentu ada diantara mereka yang sempat menyusup di antara perguruan-perguruan yang sedang mengadakan pertemuan itu."

"Apakah panah sendaren itu memberikan isyarat agar para prajurit itu menyerang?"

"Nampaknya begitu. Tetapi petugas sandi yang dengan kelebihannya mampu menyusup di antara perguruan yang terlibat dalam pertemuan ini, agaknya terlalu tergesa-gesa. Kita belum mendengar persoalan apakah yang akan mereka bicarakan."

"Tentang cincin itu?"

"Mereka akan mencari jalan agar tidak terjadi benturan-benturan di antara mereka. Justru dalam pencarian. Mungkin juga setelah cincin itu mereka ketemukan," desis Wijang. Namun kemudian katanya, "Tetapi menilik sifat dan watak para pemimpin mereka itu, mereka tidak akan pernah menemukan kesepakatan yang berumur panjang. Meskipun demikian, sebenarnya aku ingin mendengar langkah apa yang dalam waktu dekat akan mereka ambil."

Wijang berhenti berbicara. Mereka melihat para pemimpin perguruan itu telah bangkit berdiri.

Dua orang yang nampaknya dari perguruan yang berbeda telah berlari-lari menghampiri para pemimpin yang sedang termangu-mangu itu.

"Tempat ini telah dikepung oleh sekelompok prajurit dan orang-orang yang tidak kita kenal."

"Setan," geram Wira Bangga. "Aku sudah menduga."

"Lalu kenapa?" bertanya Gedhag Panunggul. Katanya kemudian, "Kita akan menghancurkan mereka."

"Aku sudah lama tidak berkelahi," berkata Sima Pracima. "Biarlah mereka datang. Aku ingin tahu, apakah ada di antara mereka yang berilmu tinggi."

Kebo Serut tertawa. Katanya, "Prajurit-prajurit Pajang itu memang dungu. Ia telah meloncat ke dalam api yang akan dapat membakar diri mereka sendiri. Apa yang pernah dilihat oleh para cantrik Wira Bangga itu juga pernah dilihat oleh orang-orangku pula. Tetapi prajurit Pajang di Prambanan itu terlalu lemah untuk dapat menguasai kita malam ini."

"Aku akan berburu malam ini," desis Nyi Melaya Werdi.

"Kau memang perempuan gila yang tidak pantas berada di lingkungan kami," geram Pupus Rembulung.

Nyi Melaya Werdi tertawa. Katanya, "Jangan menyesali nasibmu karena kau telah mengikat diri dengan seorang suami."

"Iblis betina."

Yang terdengar kemudian adalah suara Nyi Melaya Werdi yang melangkah ke dalam kegelapan,

"Apakah kalian akan menunggu disitu? Aku akan mencari Megar Permati."

Tidak seorang pun yang menyahut. Tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang beranjak pergi. Agaknya mereka lebih senang menunggu laporan-laporan berikutnya.

Namun tiba-tiba saja Repak Rembulungpun berkata, "Marilah kita lihat, apa yang terjadi?"

Tetapi jawaban Pupus Rembulung mengurungkannya, "Kau akan ikut perempuan gila itu?"

"Bukan maksudku," jawab Repak Rembulung dengan serta-merta.

Kebo Serut tertawa pula. Sambil menepuk bahu Pupus Rembulung, orang tua itu berkata, "Jangan cepat menjadi cemburu. Nyi Melaya Werdi memang cantik. Tetapi kau tidak kalah cantiknya. Hanya bedanya, Melaya Werdi selalu berhias diri seperti seorang pengantin. Kau tidak.

Tetapi bukan berarti kewajaran ujud akan tenggelam dibandingkan dengan pulasan yang berlebihan."

"Ah, Paman," desis Pupus Rembulung, "aku tidak cemburu."

Orang-orang yang mendengarnya tertawa. Wira Banggapun berkata, "Tidak seorang pun di antara kami yang berani memuji kecantikan Nyi Pupus Rembulung, kecuali Paman Kebo Serut.

Kami tidak ingin Ki Repak Rembulung menjadi salah paham."

"Sudah. Kami bukan sekedar bahan kelakar disini," sahut Repak Rembulung.

"Marilah, kita sudah menghadapi bahaya. Tetapi kita ingin menunggu disini, apa yang akan terjadi."

Ternyata yang lain pun tetap berada di tempatnya. Dua orang yang telah memberikan laporan itupun masih menunggu pula.

Wijang dan Paksi masih berada di tempatnya. Mereka belum tahu apa yang akan terjadi. Tetapi ketajaman pendengaran mereka yang dilandasi Aji Sapta Pangrungu telah mendengar suara riuh.

Bahkan kemudian terdengar sorak gemuruh di beberapa tempat di sekitar lingkungan pertemuan antara para pemimpin perguruan itu.

Para pemimpin perguruan yang berdiri tidak jauh dari batu hitam yang ada di tengah-tengah tempat terbuka itupun agaknya telah mendengar pula. Kepada dua orang yang masih berdiri di tempatnya, Kebo Serutpun berkata, "Cari keterangan yang lebih terperinci."

Kedua orang itu mengangguk hormat. Sejenak kemudian, maka kedua orang itupun telah meninggalkan para pemimpin perguruan yang berdiri termangu-mangu itu.

Suara sorak dan teriakan-teriakan menjadi semakin jelas. Pertempuran agaknya benar-benar telah pecah.

Sebenarnyalah panah sendaren yang dilepaskan oleh salah seorang petugas sandi itu merupakan isyarat, bahwa saat yang paling tepat sudah tiba bagi para prajurit Pajang untuk menyerang orang-orang yang sedang berkumpul di kaki Gunung Merapi itu.

Beberapa saat kemudian, maka beberapa orang telah berlari-lari pula mendapatkan para pemimpin perguruan yang sedang mengadakan pembicaraan itu.

"Pertempuran terjadi di segala arah, Ki Wira Bangga," salah seorang murid Wira Bangga itupun memberikan laporan dengan nafas yang terengah-engah.

"Jumlah mereka cukup banyak," berkata yang lain.

"Bukankah jumlah para prajurit Pajang di Prambanan tidak begitu banyak?"

"Yang sebagian bukan prajurit Pajang," sahut yang lain lagi. "Siapakah mereka itu?" bertanya Ki Gedhag Panunggul.

"Kami belum tahu, Ki Lurah," jawab salah seorang pengikut Gedhag Panunggul.

"Bagus," geram Ki Kebo Serut, "kita akan segera mengetahui, siapakah lawan kita yang sebenarnya."

"Kerahkan semua orang," berkata Sima Pracima. Lalu iapun bertanya kepada Repak Rembulung, "He, apakah kau bawa para pengikutmu."

"Mereka ada disini," jawab Repak Rembulung.

"Bagus. Kita akan melumatkan mereka. Aku tidak yakin, bahwa para prajurit itu bertempur atas

perintah Panglima Prajurit Pajang."

"Jadi untuk siapa mereka bertempur menurut pendapatmu?" bertanya Pupus Rembulung.

"Mereka bertempur untuk kepentingan sekelompok orang yang sebenarnya tidak beritikad lebih

baik dari kita bagi Pajang," jawab Ki Kebo Serut.

Dalam pada itu, Paksipun berdesis, "Bagaimana menurut pendapatmu, Wijang?"

"Kita akan melihat, apa yang akan terjadi," jawab Wijang.

Paksi tidak bertanya lagi. Pertempuran itu agaknya telah menjadi semakin sengit. Dimana-mana terdengar sorak gemuruh serta teriakan-teriakan yang bagaikan mengguncang Gunung Merapi.

Sebenarnyalah bahwa pertempuran telah berlangsung di sekitar tempat yang terbuka itu.

Demikian anak panah sendaren itu dilepaskan, maka Ki Rangga Suraniti dan Ki Nukilan telah memerintahkan para prajurit untuk menyerang dari segala arah.

Untuk beberapa saat Wijang dan Paksi menunggu. Jika pertempuran itu merambat sampai ke tempat mereka bersembunyi, maka mereka harus dengan cepat menyingkir.

Tetapi yang mereka lihat kemudian, beberapa orang justru telah menembus sampai ke lapangan rumput yang terbuka itu.

Para pemimpin dari beberapa perguruan yang sedang berkumpul itupun segera mempersiapkan diri. Mereka mulai berpencar. Para cantrik serta pengikut merekapun telah mengikuti para pemimpin perguruan mereka. Sementara yang lain berusaha untuk menahan orang-orang yang datang menyerang itu memasuki lapangan rumput.

Dengan demikian, maka pertempuranpun menjadi semakin sengit. Dengan ketajaman penglihatannya yang dilandasi Aji Sapta Pandulu, maka Wijangpun melihat bahwa sebagian dari mereka yang menyerang tempat itu bukanlah prajurit. Wijang dapat mengenali mereka dari senjata mereka, cara mereka bertempur dan sikap mereka dalam kebersamaan. Para prajurit yang sudah terlatih dalam perang gelar, akan dapat saling mengaitkan diri yang satu dengan yang lain dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak saja mengandalkan kemampuan pribadi, tetapi mereka mampu saling mengisi dan saling mendukung dalam kesulitan yang timbul di medan.

Tetapi sekelompok orang di antara mereka bertempur benar-benar atas dasar keyakinan kemampuan pribadi mereka masing-masing. Meskipun bukan berarti tidak ada kerja sama sama sekali, tetapi kadarnya hanya kecil sekali dibandingkan dengan mengandalkan kemampuan pribadi mereka masing-masing.

"Sebagian dari mereka memang bukan prajurit," desis Wijang. Ia termangu-mangu sejenak.

Namun kemudian katanya, "Kita akan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya."

Paksipun terdiam. Diperhatikannya pertempuran yang terjadi di lapangan rumput itu, sementara di beberapa tempat yang lain, pertempuranpun berlangsung dengan serunya pula.

Dentang senjata beradu berbaur dengan teriakan-teriakan mereka yang bertempur. Hentakan kemarahan, aduh kesakitan dan sorak kemenangan-kemenangan kecil di berbagai sudut medan yang luas itu.

Gerumbul dan semak-semakpun tersibak. Ranting-ranting berpatahan dan daun-daunpun berguguran runtuh di tanah. Darah mulai mengalir membasahi lereng Gunung Merapi.

Ujung-ujung senjata mulai merah dan jantungpun menjadi seakan-akan membara.

Wira Bangga tidak lagi dapat menahan diri. Tiba-tiba saja iapun telah meloncat memasuki arena pertempuran. Goloknya yang besar dengan cepat telah mematuk korbannya.

Tetapi seorang yang bertubuh tinggi tegap telah menyongsongnya, sehingga keduanyapun telah terlibat dalam pertempuran yang sengit.

"Siapakah orang yang bertubuh raksasa itu, Wijang?" bertanya Paksi.

Wijang menggeleng. Katanya, "Aku belum mengenalnya. Tetapi nampaknya ia juga berilmu tinggi, sehingga mampu mengimbangi ilmu Wira Bangga."

Paksi menjadi tegang. Ia melihat Ki Rangga Suraniti sudah terlibat dalam pertempuran melawan Ki Kebo Serut. Sementara Ki Nukilan bertempur melawan Sima Pracima.

Dua orang yang tidak dikenal oleh Wijang segera terlibat dalam pertempuran melawan Repak Rembulung dan Pupus Rembulung.

Wijang dan Paksi memang menjadi tegang. Pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang sengit, keras dan bahkan kemudian menjadi kasar. Orang-orang berilmu tinggi itu telah meningkatkan ilmu mereka dengan cepat. Namun kedua belah pihak memiliki orangorang yang dapat mereka andalkan.

Dalam pada itu, di luar lapangan rumput itu pertempuran menjadi semakin meluas. Namun Wijang dan Paksi tidak beranjak dari tempat mereka bersembunyi. Nampaknya pertempuran itu tidak akan merangkak sampai ke tempat mereka. Meskipun pertempuran itu seakan-akan melingkar di seputar lapangan rumput yang terbuka itu, namun tempat persembunyian kedua orang itu tidak tersentuh.

Kebo Serut yang tua itu ternyata masih memiliki tenaga yang sangat besar. Ki Rangga Suraniti yang berilmu tinggi itupun beberapa kali harus berloncatan surut. Setiap kali pedangnya membentur tongkat besi yang bercabang di ujungnya, seperti tanduk seekor kerbau jantan, meskipun jauh lebih kecil dari tanduk yang sebenarnya.

Pertempuran yang semakin sengit telah membakar lapangan rumput yang terbuka itu. Bahkan

di gerumbul-gerumbul di sekitarnyapun terjadi pula pertempuran yang berkobar dengan serunya.

Benturan senjata telah melontarkan bunga api yang memercik seperti ribuan kunang-kunang yang

berterbangan, namun kemudian runtuh, jatuh di tanah.

Wijang dan Paksi menjadi tegang. Beberapa orang berilmu tinggi telah mendapat musuhnya masing-masing. Namun Wijang dan Paksi tidak melihat lagi Nyi Melaya Werdi dan Nyi Megar Permati. Tetapi keduanya yakin, bahwa kedua orang perempuan itupun telah terlibat dalam pertempuran pula.

Ketika pertempuran menjadi semakin sengit, maka para cantrik dari setiap perguruan seakanakan

telah berkumpul di sekitar guru mereka masing-masing sambil bertempur melawan para prajurit dan orang-orang yang menyerang tempat pertemuan itu. Para pemimpin dari beberapa perguruan itupun kemudian telah memencar. Mereka tidak lagi terikat untuk tetap berada ditempat yang terbuka itu.

Dalam pada itu, maka ternyata para prajurit Pajang yang bertempur bersama kelompokkelompok

orang yang tidak dikenal, mulai berhasil mendesak para cantrik dari

perguruanperguruan yang tengah menyelenggarakan pertemuan itu. Jumlah prajurit Pajang yang

berada di Prambanan itu sendiri memang tidak mencukupi untuk menguasai para cantrik dari beberapa perguruan itu. Namun di samping para prajurit masih ada kelompok-kelompok yang ikut

bersama mereka.

Sejenak kemudian, maka pertempuranpun telah menebar di arena yang semakin luas. Seolaholah

akan memenuhi lereng Gunung Merapi di sisi selatan.

Di arena yang luas itu, korban telah jatuh berserakan. Ada yang terluka, tetapi ada pula yang terbunuh. Ki Kebo Serut ternyata masih cukup perkasa menghadapi Ki Rangga Suraniti. Betapapun

Ki Rangga Suraniti mengerahkan ilmunya, namun Ki Rangga tidak dapat menguasai dan apalagi menangkap lawannya hidup atau mati. Bahkan sekali-sekali Ki Rangga harus berloncatan mengambil jarak, memperbaiki kedudukannya dan mencoba melawan lagi.

Dalam pertempuran itu kadang-kadang masih juga terdengar teriakan Pupus Rembulung, melengking mengatasi riuhnya pertempuran. Perempuan itu benar-benar memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan, sehingga lawannya kadang-kadang terkejut karenanya.

Kemampuan Pupus Rembulung ternyata tidak kalah dengan ketangkasan para pemimpin perguruan yang lain.

Meskipun para prajurit dan kelompok-kelompok orang yang tidak dikenal itu berusaha mengepung tempat pertemuan itu, namun mereka tidak berhasil menguasai mereka sepenuhnya.

Ternyata para cantrik dari beberapa perguruan itu berhasil menembus kepungan yang merapat.

Bahkan yang terjadi kemudian adalah perang brubuh yang tidak lagi dibatasi garis pertempuran.

Semakin lama, maka Wijangpun menjadi semakin jelas melihat pertempuran yang memang menjadi semakin dekat dari tempat mereka bersembunyi. Wijang melihat para prajurit yang bertempur beberapa langkah di hadapannya memang mengenakan ciri-ciri keprajuritan mereka dengan lengkap. Pakaian yang mereka kenakan adalah pakaian keprajuritan pula.

Namun semakin lama Wijang dan Paksi tidak lagi mampu melihat pertempuran itu dalam keseluruhan. Mereka tidak tahu lagi dimana Kebo Serut bergeser. Kemana Repak dan Pupus Rembulung bersama para pengikutnya menyingkir dan kemana pula Sima Pracima dan Wira Bangga. Gedhag Panunggul masih nampak sekilas. Tetapi kemudian segala-galanya telah menjadi kacau.

"Satu usaha yang berhasil," desis Wijang.

"Maksudmu?"

"Para pemimpin perguruan yang terlibat dalam pertemuan ini dengan sengaja membuat medan menjadi kacau seperti itu. Mereka akan mempunyai kesempatan yang baik untuk menyingkir dari

tempat ini."

Paksi mengangguk-angguk. Dalam pertempuran yang kacau di daerah yang bersemak-semak dan dilingkungi oleh pepohonan perdu, agaknya memang sulit untuk dapat menguasai medan dengan baik.

Sebenarnyalah kepungan prajurit Pajang dan sekelompok orang yang menyertai mereka tidak berhasil mengurung orang-orang dari beberapa perguruan yang sedang menyelenggarakan pertemuan itu. Para cantrik dari beberapa perguruan yang mempunyai pengalaman dalam benturan-benturan ilmu yang keras dan kasar, memang tidak mudah untuk dijinakkan.

Meskipun pertempuran itu menjadi semakin dekat dengan persembunyian Wijang dan Paksi, namun mereka sama sekali tidak beranjak dari tempat mereka.

"Sebaiknya kita tidak ikut campur," desis Wijang.

Paksi mengangguk. Tetapi iapun bertanya, "Nampaknya kau melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya."

"Ya. Tetapi aku sendiri tidak tahu, apa sebenarnya yang tidak wajar itu. Mungkin kehadiran orang-orang yang tidak aku kenal di antara para prajurit itu."

Paksi tidak menyahut. Tetapi ia mulai bersiap-siap. Pertempuran di lereng Gunung Merapi itu telah meluas sampai kemana-mana.

Tetapi ternyata yang terjadi kemudian telah menyelamatkan persembunyian Paksi dan Wijang.

Gelombang yang bergejolak di lereng sebelah selatan Gunung Merapi itu seakan-akan menjadi

semakin mereda. Pertempuran yang bagaikan air yang mendidih di tempat terbuka itu seakanakan

menjadi semakin dingin.

Dimana-mana terdengar isyarat-isyarat yang tidak dimengerti. Berbagai bunyi yang berbedabeda menandai susutnya pertempuran yang kacau itu. Agaknya setiap perguruan dengan isyaratnya masing-masing telah memerintahkan orang-orangnya untuk menarik diri dari medan.

Demikianlah, maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin surut. Tidak lagi terdengar

teriakan-teriakan kemarahan dan keluhan kesakitan. Tidak pula terdengar sorak-sorak kemenangan dan bentakan-bentakan serta umpatan-umpatan kasar. Lengking teriakan Pupus Rembulungpun sudah tidak terdengar lagi.

Yang kemudian dilihat oleh Wijang dan Paksi adalah beberapa orang prajurit di tempat yang terbuka itu. Namun seperti disengat lebah Wijang terkejut. Bahkan iapun telah bergeser setapak maju.

"Paman Harya Wisaka."

Paksi berpaling. Ia sempat melihat ketegangan mencengkam perasaan Wijang. Di luar sadarnya

Paksi bertanya, "Siapakah yang kau maksud?"

"Yang berbicara dengan Ki Rangga Suraniti itu adalah Paman Harya Wisaka."

"Siapakah Harya Wisaka itu?"

"Salah seorang bangsawan dari Demak."

"Dari Demak?"

"Ya."

"Jadi, apa salahnya? Bukankah mungkin saja seorang dari Demak kini berada di Pajang dan menjadi salah seorang pemimpin di Pajang? Bukankah ayahanda Pangeran juga menantu Kangjeng Sultan Demak?"

"Tetapi yang satu ini agak lain. Ia mempunyai jalurnya sendiri. Bahkan aku masih menghormati

Paman Harya Penangsang daripada Paman Harya Wisaka. Paman Harya Penangsang masih mempunyai alasan yang masuk akal jika ia ingin mewarisi Kerajaan Demak. Tetapi agaknya Paman

Harya Wisaka ingin menangkap masa depan dengan caranya."

"Cincin itu?" bertanya Paksi.

"Ya. Agaknya ia sudah bekerja bersama dengan beberapa orang senapati Pajang. Antara lain adalah Ki Rangga Suraniti."

Paksi mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, "Jadi mereka juga menganggap bahwa cincin itu ada disini?"

"Aku tidak tahu. Tetapi agaknya mereka ingin menghancurkan saingannya yang dirasanya semakin lama akan menjadi semakin kuat. Sehingga akan menjadi sangat berbahaya baginya."

Paksi masih saja mengangguk-angguk. Namun keduanya menjadi tegang ketika mereka melihat

seseorang telah diseret menghadap orang yang disebut Harya Wisaka itu.

Wijang dan Paksipun kemudian mengikuti perkembangan keadaan dengan jantung yang berdebaran.

"Seorang perempuan," desis Paksi.

"Agaknya dari Perguruan Goa Lampin," sahut Wijang.

Paksi tidak menyahut. Perhatiannya sepenuhnya tertumpah kepada seorang perempuan yang telah tertangkap oleh para prajurit Pajang itu.

"Dimana Melaya Werdi, he?" bertanya Harya Wisaka.

"Ia mengenal pemimpin Perguruan Goa Lampin itu," desis Paksi.

"Paman Harya Wisaka mengenali semua perguruan dan kelompok-kelompok yang ada di Pajang dan bahkan Demak, Jipang, Pati, dan daerah-daerah lain. Bahkan sampai ke daerah sebelah timur."

Paksi terdiam. Yang kemudian tertangkap oleh pendengarannya yang dialasi dengan Aji Sapta Pangrungu adalah pertanyaan Harya Wisaka sekali lagi, "Dimana Melaya Werdi?"

"Aku tidak tahu," jawab perempuan itu.

"Megar Permati?" bentak Harya Wisaka.

"Aku juga tidak tahu. Kami melarikan diri untuk mencari keselamatan kami masing-masing tanpa sempat menghiraukan yang lain."

"Kau harus menunjukkan, dimana Melaya Werdi dan Megar Permati, kau harus menunjukkan persembunyian mereka."

"Pekerjaan yang sia-sia. Guru tidak akan berada di tempatnya. Mungkin guru akan langsung kembali ke perguruan."

Perempuan itu mengaduh tertahan. Tangan Harya Wisaka telah menyambar dagu perempuan itu sehingga wajahnya berpaling.

"Kau jangan mempermainkan kami," teriak Harya Wisaka

"Jika kau memaksa aku menunjukkan perguruan kami, aku akan menunjukkannya."

"Diam. Aku sudah tahu dimana letak perguruanmu. Yang aku tanyakan dimana Melaya Werdi dan Megar Permati bersembunyi di lingkungan ini."

"Keduanya selalu berpindah-pindah. Kau tidak akan menemukannya."

"Jaga mulutmu. Kau tahu dengan siapa kau berbicara?"

Perempuan itu menggeleng. Sementara itu dengan lantang Harya Wisaka itu berkata,

"Perempuan iblis. Kau sekarang berhadapan dengan Harya Wisaka."

"Harya Wisaka," desis perempuan itu.

"Kau sudah dengar nama itu?"

Perempuan itu menggeleng sambil menjawab, "Belum. Aku belum pernah mendengar nama Harya Wisaka."

Sekali lagi tangan Harya Wisaka menyambar mulut perempuan itu. Sekali lagi perempuan itu mengaduh.

"Kau tentu sudah mendengar namaku. Orang di seluruh tanah ini sudah mendengar namaku.

Harya Wisaka." Perempuan itu terdiam.

"Katakan, bahwa kau pernah mendengar nama Harya Wisaka. Seorang prajurit yang tidak ada duanya di seluruh Demak, Kudus, Pati, Jipang dan bahkan Pajang."

Ketika perempuan itu diam saja, maka tiba-tiba saja Harya Wisaka telah menggenggam rambut perempuan itu sambil berteriak, "Kau harus sudah mengenal namaku."

Ketika kepala perempuan itu diguncang, maka perempuan itupun segera berteriak pula, "Ya, ya. Sekarang aku ingat. Harya Wisaka. Prajurit terbaik dari Pajang."

"Setan betina," geram Harya Wisaka sambil melepaskan rambut perempuan itu. "Jika kau belum mengenal namaku, maka kau tidak pantas hidup di bumi Pajang."

Perempuan itu menundukkan kepalanya.

"Nah, sekarang katakan bahwa Melaya Werdi atau Megar Permati telah menyembunyikan Pangeran Benawa. Mereka menangkap Pangeran Benawa dan menyimpan di dalam sarang mereka di dalam kerangkeng-kerangkeng besi itu."

Perempuan itu mengangkat wajahnya. Dengan serta-merta ia menjawab, "Tidak. Kami tidak menangkap Pangeran Benawa."

"Jangan bohong. Aku dapat memenggal lehermu."

Perempuan itu termangu-mangu. Sementara Wijangpun berdesis, "Sangat menarik."

"Ternyata Harya Wisaka itu berusaha membebaskan Pangeran Benawa," gumam Paksi.

"Omong kosong. Paman Harya Wisaka tentu mengetahui, setidak-tidaknya menduga bahwa cincin itu memang dibawa oleh Pangeran Benawa. Yang penting bagi Paman Harya, bukannya kebebasan Pangeran Benawa, tetapi cincin itulah yang diburunya."

Paksi terdiam. Sementara itu perempuan yang tertangkap itupun berkata, "Apapun yang akan terjadi padaku, tidak akan merubah keteranganku. Kami tidak menangkap Pangeran Benawa.

Bahkan kami menganggap bahwa Pangeran Benawa itu berada di istana Pajang."

"Tetapi orang dari perguruan lain mengatakan, bahwa orang-orang Goa Lampin telah menangkap Pangeran Benawa dan menyembunyikannya di dalam sarangnya atau di tempat lain."

"Meskipun kau penggal leherku, jawabku akan sama, karena hal itu memang tidak terjadi,"

jawab perempuan itu, yang nampaknya tidak menjadi ketakutan.

Harya Wisaka itupun menjadi semakin marah. Tiba-tiba saja ia berteriak, "Bawa orang itu kemari."

Sejenak kemudian, maka seorang prajurit telah mendorong seorang yang bertubuh tinggi besar ke hadapan Harya Wisaka. Dengan geramnya Harya Wisaka itu bertanya, "He, bukankah kau mengatakan bahwa Pangeran Benawa sekarang ada di tangan Melaya Werdi dan Megar Permati?"

Laki-laki itu memandang perempuan dari Goa Lampin itu dengan ragu-ragu. Namun tiba-tiba iapun bertanya, "Bukankah Pangeran Benawa ada di tangan gurumu?"

"Kau tidak perlu memfitnah."

"Tidak ada perguruan lain yang akan melakukannya. Ketika Harya Wisaka mempertanyakan, dimana Pangeran Benawa disembunyikan, maka aku memang mengatakan bahwa satu-satunya kemungkinan Pangeran Benawa disimpan dalam kerangkeng-kerangkeng besi oleh orang-orang Goa Lampin."

Tiba-tiba saja Harya Wisaka menangkap baju orang itu dan mengguncangnya, "Kau hanya sekedar menduga-duga atau sudah pasti bahwa Pangeran Benawa berada di tangan orang-orang Goa Lampin?"

"Aku tidak tahu pasti. Aku hanya menduga-duga, karena sepengetahuanku, hanya orang-orang Goa Lampin sajalah yang sering menangkap dan menyimpan orang-orang tampan. Menurut pengertianku, Pangeran Benawa itu tentu seorang yang tampan."

"Kau permainkan aku, he?"

"Bukan maksudku."

Tetapi orang itu seakan-akan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena tiba-tiba saja Harya Wisaka itu telah menarik pedangnya dan menghunjamkan langsung ke dada orang itu. Orang itu tidak sempat mengaduh. Demikian Harya Wisaka menarik pedangnya, maka orang itupun segera jatuh terjerembab.

 

 

 [ bersambung 02 ]