Bab 1
Ketika matahari terbenam dibalik ujung bukit disebelah barat, beberapa ekor
kelelawar bangkit dari persembunyiannya diatap sebuah istana kecil yang sudah
tua, beterbangan menyusuri gelapnya malam.
Sebuah lampu yang suram menyala dipendapa yang terbuka, terguncang oleh angin
yang lemah.
Istana itu kian hari kian bertambah sepi. Halamannya masih tetap bersih seperti
saat-saat lampau, tetapi tidak seorangpun yang pernah menjamah kerusakan yang
terjadi pada bagian atap rumah itu. Didalam istana itu sama sekali tidak
terdapat seorang laki-lakipun yang tinggal.
Mula-mula angin kencang telah menggeser bagian atap istana itu. Hanya sedikit
sekali, tetapi ketika hujan turun, maka beberapa titik air menyusup lewat lubang
atap yang tergeser itu, telah mengotori langit-langit. Semakin lama semakin
banyak, bahkan kemudian lubang-lubang pada atap itupun bertambah-tambah.
Meskipun demikian, titik air hujan yang jatuh dilantai selalu ditampung dengan
jambangan kecil, sehingga tidak merusakkan lantai dan mengalir kemana-mana,
tidak membasahi perabot istana yang masih lengkap dan terpelihara.
Jika senja lewat, maka penghuni istana kecil itupun
segera pergi kebilik masing-masing, seorang perempuan menjelang hari-hari
tuanya, seorang gadis remaja yang menginjak masa dewasa. Sedang dibagian
belakang istana itu tinggal seorang pelayan perempuan setua perempuan yang
tinggal di istana kecil itu.
Demikianlah hari-hari yang lewat, tidak menumbuhkan banyak perubahan dalam tata
kehidupan istana kecil yang terpencil dikaki bukit yang gersang. Meskipun
dihalaman istana kecil itu nampak tumbuh-tumbuhan yang berwarna hijau.
Beberapa orang peronda dari pedukuhan kecil yang terletak beberapa puluh tonggak
saja dari istana itu, selalu meronda berkeliling istana kecil itu. Seolah-olah
mereka merasa wajib untuk ikut menjaga ketenangannya, meskipun hubungan antara
padukuhan kecil itu sudah hampir terputus sama sekali dengan istana terpencil
itu.
…..Namun setiap kali, perempuan tua penghuni itupun pergi juga ke padukuhan
kecil itu, untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari.
Kehadiran perempuan penghuni istana kecil itu selalu disambut dengan ramah dan
dan dengan hati terbuka oleh penghuni padukuhan kecil itu. Mereka memberikan apa
saja yang diperlukan oleh perempuan tua itu. Jika perempuan tua itu bertanya
tentang harga barang-barang yang diperlukan, maka penghuni padukuhan kecil itu
selalu menyebut kurang dari separuh harga yang sebenarnya.
Perempuan tua itupun mengerti, bahwa yang dibelinya itu harganya terlampau
murah, tetapi ia tidak mempersoalkannya, apalagi uang yang ada padanyapun
semakin lama semakin tipis. Bahkan sekali-kali ia terpaksa menjual
barang-barangnya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka seisi istana kecil itu.
Setiap orang yang tinggal di padukuhan kecil itupun mengetahui, apa yang pernah
terjadi di istana itu. Sejak istana itu didirikan, sehingga istana itu menjadi
sangat sepi seperti saat-saat terakhir.
Beberapa orang pernah memberanikan diri datang menghadap perempuan tua penghuni
istana dan menawarkan diri untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi
pada atap istana itu. Tetapi sambil tersenyum perempuan tua itu menjawab “Terima
kasih Ki Sanak, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan hati kalian, tetapi
biarlah, apabila aku memerlukan, aku akan katakana kepada kalian, agaknya
sekarang aku belum berniat untuk memperbaiki atap rumahku yang rusak”
“Kami tidak memerlukan imbalan apapun” berkata salah seorang dari mereka yang
datang menghadap perempuan tua itu, “kami akan melakukan semata-mata karena kami
merasa berhutang budi kepada pangeran Kuda Narpada”
Perempuan tua itu tersenyum, senyum yang amat pahit, katanya “Terima kasih Ki
Sanak, terima kasih, jika ada kebaikan hati Pangeran Kuda Narpada, lupakan
sajalah. Itu sudah menjadi kewajibannya”
Dan orang-orang itupun kemudian meninggalkan istana itu dengan hati yang penuh
dengan berbagai macam pertanyaan.
“Apakah artinya pengasingan diri itu?” kata salah satu orang dari mereka.
Yang lain menggelangkan kepalanya, tetapi seorang yang sudah ubanan menyahut,
“Hati Raden Ayu Kuda Narpada tidak melihat lagi hari depan yang sebenarnya masih
panjang, setidak-tidaknya bagi puterinya. Bukankan dengan sikapnya itu, ia telah
mematahkan kuntum bunga yang hampir mekar?”
Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, seorang anak muda berkata “Gadis
itu cantik sekali…”
“Jika gadis itu cantik sekali, apa maumu?”
“Tentu tidak apa-apa, aku hanya sekedar memuji, Raden Ajeng Inten Prawesti
adalah gadis tidak ada duanya dimuka bumi”
“Bumi yang mana?” bertanya seorang kawannya, “Yang kau lihat tidak lebh jauh
dari daerah pegunungan yang sempit ini”
“Jadi apakah masih ada daerah yang lebih luas dari daerah pegunungan ini?”
“Kau memang anak muda yang terkungkung oleh lingkunganmu, yang kau ketahui tidak
lebih dari dinding-dinding pedukuhanmu”
Anak muda itu tersenyum, katanya “Baiklah, jika demikian, maka gadis itu adalah
gadis yang paling cantik di didaerah ini”
Kawan-kawannyapun tersenyum pula, meskipun ada diantara mereka tersenyum masam,
bahkan seoerang yang bertubuh gemuk berkata “Sudahlah, kehidupan yang suram di
istana itu bukan sekedar bahan untuk berkelakar, kita sebenarnya merasa kasihan
melihat cara hidup mereka yang tidak sewajarnya itu”
Yang lainpun terdiam, mereka tidak lagi membicarakan hal istana itu, tetapi
angan-angan mereka berkecamuk mengulang masa-masa lampau.
Istana itu pernah menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya,
terlebih-lebih penghuni padukuhan kecil pegunungan itu.
Terbayang kembali saat-saat istana itu bagaikan pelita yang menerangi daerah
disekitarnya. Sesaat istana itu didirikan, maka mulailah nampak bahwa penghuni
istana itu adalah orang-orang yang baik dan rendah diri, meskipun sebenarnya ia
adalah soerang pangeran, Pangeran Kuda Narpada.
Pangeran Kuda Narpadalah yang yang memberikan beberapa petunjuk yang sangat
berarti bagi padukuhan itu, bagaimana mereka bercocok tanam, Pangeran Kuda
Narpadalah yang mengajak para penghuni padukuhan kecil itu membuat parit-parit
yang akan dapat mengairi daerah mereka yang gersang. Bukan saja memberikan
petunjuk dan perintah, tetapi Pangeran Kuda Narpada sendiri menyisingkan kain
panjangnya, melepas bajunya dan turun ketanah berlumpur.
Orang bertubuh gemuk yang berjalan diantara beberapa orang kawannya itu menarik
nafas dalam-dalam sehingga orang-orang yang berjalan disisinya berpaling
kepadanya meskipun mereka tidak bertanya sesuatu.
Dalam pada itu, peristiwa itu seolah-olah membayang kembali dirongga mata orang
bertubuh gemuk itu. Saat-saat penghuni istana itu dating untuk yang pertama
kalinya dipadukuhannya, sebelum istana itu didirikan.
Kedatangan seorang Pangeran dan keluarganya di padukuhan terpencil itu sangat
megejutkan penghuninya. Bahkan beberapa orang lari bersembunyi didalam rumahnya.
Tetapi yang lain berkumpul di rumah Ki Buyut dengan senjata ditangan
masing-masing.
“Jangan bingung” berkata Ki Buyut Karangmaja, “Aku akan menjumpainya dan
bertanya apakah keperluannya datang ke padukuhan ini”
Ketika Ki Buyut menghadap Pangeran yang baru datang itu, nampaklah olehnya bahwa
Pangeran dan keluarganya itu sedang dicengkam oleh kegelisahan, tetapi agaknya
Pangeran itu menyadari bahwa ia berada didalam lingkungan yang berbeda dengan
lingkungan yang ditinggalkannya.
Karena itu, kepada Ki Buyut Karangmaja yang nampak dengan jujur menyonsongnya,
tanpa niat yang mencurigakan, Pangeran Kuda Narpada tidak menyembunyikan lagi
maksud kedatangannya itu.
“Aku menghindarkan diri dari perang yang sedang berkecamuk di Majapahit” berkata
Pangeran Kuda Narpada.
“Tetapi siapakah tuan?” bertanya Ki Buyut.
“Aku adalah Pangeran Kuda Narpada, adinda dari Maharaja di Majapahit”
“Apakah yang terjadi di Majapahit?”
“Perang, pasukan Harya Udara sudah menduduki pusat kerajaan beberapa saat yang
lalu, Kakanda telah meninggalkan istana dengan beberapa pengiringnya. Pasukan
bantuan yang diminta oleh kakanda dari ananda Raden Patah masih belum sampai ke
pusat kerajaan ketika pasukan musuh sudah tidak tertahan lagi memasuki pusat
pemerintahan”.
“Jadi pusat kerajaan Majapahit sudah direbut?”
“Ya, aku meninggalkan pusat pemerintahan yang terakhir, ketika pasukanku perah
dan hampir tumpas. Aku tidak dapat mengingkari kenyataan dan mengorbankan jiwa
tanpa arti lebih banyak lagi. Kerena itu, maka aku terpaksa menarik pasukanku
yang tersisa, kemudian aku menyusul kakanda Prabu setelah mengambil keluargaku
di pengungsian, menurut pendengaranku, kakanda Prabu pergi ke barat, kemudian
menyusuri daerah pegunungan Seribu, tetapi aku tidak berhasil menemukannya”.
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam.
“Aku mendengar berita terakhir, bahwa kakanda telah turun dari daerah pegunungan
dan dan mendekati kedudukan ananda Raden Patah”
“Dan Pangeran akan menyusulnya juga?”
Pangeran Kuda Narpada menggeleng, katanya “Aku tidak akan menyusulnya, disini
aku merasa seolah-olah aku berada ditempat yang paling damai, karena itu,
apabila kedatanganku, dirasa tidak menggangu ketenangan padukuhan ini, aku akan
tinggal di daerah ini”
Ki Buyut tidak dapat menolak meskipun ia sebenarnnya ia sebenarnya masih
ragu-ragu, ia tidak sampai hati untuk mempersilahkan pangeran itu meninggalkan
padukuhannya, setelah ia melihat seorang perempuan Raden Ayu Kuda Narpada yang
pucat dan lemah, seorang gadis yang kurus dan bermata cekung, meskipun gadis itu
adalah seorang yang cantik sekali.
“Tetapi apakah Pangeran akan dapat tinggal bersama kami orang-orang kasar yang
tidak mengenal adat dan dungu”.
“Apakah bedanya?, kalian adalah orang-orang yang masih lebih beruntung
daripadaku, aku sekarang lebih tidak berarti lagi daripada kalian, aku tidak
mempunyai tempat tinggal, tidak mempunyai apapun juga selain yang dapat kami
bawa”.
Ki Buyut memandang tubuh-tubuh yang lemah dan pucat. Memang tidak ada yang
mereka bawa selain sebungkus pakaian kusut, sedikit perhiasan yang nampak pada
jari-jari Raden Ayu Kuda Narpada dan puterinya. Sekilas permata yang nampak
dibalik kain Pangeran Kuda Narpada yang disingsingkan dibalik lambung, yang
melekat pada timang ikat pinggang, kemudian sebilah keris dengan pendok mas
dipinggang, selebihnya tidak ada apa-apa lagi.
Tetapi yang nampak itu seolah-olah telah meyakinkan kepada Ki Buyut Karangmaja
bahwa yang dihadapannya itu benar-benar seorang pangeran. Dan ia mengaku bernama
Kuda Narpada.
“Pangeran” berkata Ki Buyut kemudian, “Tentu kami tidak akan dapat menolak jika
pangeran ingin tinggal bersama kami, tetapi kenapa pangeran tidak berusaha
menyusul Prabu Majapahit?”.
Pangeran Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, katanaya “Jika aku hendak
menyusul Kakanda Prabu, maka yang terkilas didalam angan-anganku hanyalah
keselamatannya, bukan kepentinganku sendiri. Dan kini, menurut pendengaranku,
kakanda telah mendekati tempat kedudukan ananda Adipati di Demak, maka aku tidak
mencemaskannya lagi”.
“Tetapi pangeran sendiri?, apakah pangeran tidak ingin berada di Demak pula?”,
Pangeran Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, katanya “Aku tidak mengharapkan
apa-apa lagi selain kedamaian hati. Aku tidak akan melibatkan diri lagi kedalam
lingkungan yang riuh seperti Demak”.
Ki Buyut mengangguk-angguk, katanya “Pangeran, memang tidak ada yang lebih
nikmat dari pada kedamaian hati, akhirnya setiap orang akan merindukan damai
didalam dirinya sendiri. Apalagi apabila umur kita menjadi semakin tua, meskipun
ada saja pengecualiannya pada satu dua orang” Ki Buyut itu berhenti sejenak
“Tetapi pangeran. Dalam usia pangeran sekarang ini, apakah pangeran akan
terhenti di padukuhan kecil dan terpencil diatas pegunungan seribu ini? Pangeran
adalah kesatria, tugas pangeran adalah luas sekali dalam kehidupan yang
terbentang didepan tatapan mata kita. Bukankah seorang ksatria menurut
pendengaranku dituntut untuk memberikan dermanya bagi sesama? Melindungi yang
lemah, menegakkan yang layu dan menuntun yang buta?”
“Apakah aku tidak dapat melakukannya disini?” jawab Pangeran itu “Jika ternyata
bahwa disini akulah yang lemah, yang layu dan yang buta, maka adalah kewajiban
kalian untuk memberikan derma ksatria”
“Kami adalah sudra”
Pangeran tersenyum, senyum yang sangat pahit. Kemudian katanya “Aku pernah
mendengar diantara desir angin yang lembut, yang mengalir dari istana Kadipaten
Demak. Apakah ada bedanya antara Sudra dan Ksatria?, yang Paria dan yang
Brahmana? Tidak. Dihadapan Allah SWT, kami dan kalian, kita semua adalah
hambanya yang terkasih, yang berbeda adalah tugas kita masing-masing, tugas
ksatria berbeda dengan tugas Brahmana, berbeda dengan tugas orang-orang yang
disebut sudra dan Waisa. Tetapi tidak ada bedanya bagi kita semuanya untuk
menempuh jalan mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta, karena perbedaan yang
ada semata-mata perbedaan duniawi, bukan perbedaan hakiki dari hamba-hamba Yang
Maha Agung itu”.
Ki Buyut Karangmaja masih saja mengangguk-angguk, tetapi ia masih belum mengerti
seluruhnya makna dari kata-kata Pangeran Kuda Narpada.
“Meskipun demikian Ki Buyut” berkata Pangeran Kuda Narpada “Semuanya terserah
kepada Ki Buyut, jika Ki Buyut mempunyai pertimbangan lain, maka aku akan
meneruskan perjalanan”.
“Tidak, tidak pangeran” Ki Buyut menyahut dengan serta merta “Kami memang dapat
mencurigai setiap orang baru didaerah kami, tetapi terhadap pangeran yang datang
bersama dengan keluarga, kami akan mencoba memberikan tempat yang ada pada kami”
Pangeran Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian iapun berkata
“Aku memang merasa bahwa kedatangan kami dapat menumbuhkan salah paham,
keragu-raguan dan ketidak-pastian sikap, aku melihat Ki Buyut dengan ikhlas
menemui kami. Tetapi kami juga mengetahui, bahwa ada diantara kalian yang
menjadi curiga”
“Maafkan pangeran, kami memang sedang dipengaruhi oleh kecurigaan sejak
saat-saat terakhir. Kami memang mendengar bahwa disebelah timur dari padukuhan
ini, serombongan bangsawan sedang melintas. Agaknya merekalah yang pangeran
maksudkan dengan Prabu Brawijaya dengan pengiringnya” Ki Buyut berhenti sejenak,
kemudian “Namun setelah itu, kerusuhan sering terjadi. Beberapa orang yang
mendapat hadiah pada saat iring-iringan itu lewat dam memberikan pelayanan
seperlunya, telah didatangi oleh penjahat-penjahat yang merampok barang-barang
itu. Tetapi agaknya yang mereka cari bukanlah semata-mata harta benda”
“Apakah yang mereka cari?”
“Kami juga tidak tahu pasti, merekapun tidak tahu pasti, Tetapi agaknya sejenis
pusaka atau semacamnya….”
Wajah Pangeran Kuda Narpada menegang sejenak, namun kemudian wajahnya itu
menjadi tenang kembali, seolah-olah tidak ada kesan apapun dari ceritera Ki
Buyut itu.
“Mungkin karena kerusuhan-kerusuhan yang terjadi itulah maka kalian mencurigai
setiap orang baru didaerah ini”
“Ya, Pangeran, tetapi justru karena pangeran datang bersama dengan Raden Ayu dan
seorang puteri yang nampaknya sudah terlampau letih oleh perjalanan yang lama,
maka kami seharusnya tidak mencurigai pangeran lagi”.
Demikianlah sejak saat itu, Pangeran Kuda Narpada berada di padukuhan
Karangmaja. Sesuai dengan keinginannya sendiri, maka dengan bantuan penduduk
Karangmaja, Pangeran Kuda Narpada membuat istana kecil di luar padukuhan
Karangmaja, meskipun hanya berjarak beberapa tonggak saja. Sebuah jalur jalan
sempit menghubungkan istana kecil itu dengan sebuah lorong padukuhan.
Istana kecil itu adalah Istana Pangeran Kuda Narpada, istana yang kemudian
menjadi semakin sepi. Istana yang seakan-akan telah kehilangan rambatannya.
Pada masa-masa yang lewat, istana itu seolah-olah menjadi pusat perhatian setiap
orang di Karangmaja. Ki Buyut sendiri sering berkunjung ke istana itu.
Pendapanya yang mungil hampir setiap hari menjadi tempat berkumpul. Orang-orang
tua maupun anak-anak muda. Meskipun istana itu adalah istana seorang Pangeran,
tetapi rasa-rasanya tidak ada bedanya dengan rumah-rumah yang bertebaran
dipadukuhan kecil. Pangeran Kuda Narpada dengan senang hati menerima mereka
setiap saat dan berbicara dengan mereka tentang berbagai bermacam persoalan.
Dari lingkungan permainan anak-anak kecil, anak-anak meningkat dewasa, sampai
dengan kepada menggali parit dan membangun bendungan.
Hubungan antara orang-orang Karangmaja dan Pangeran Kuda Narpada menjadi semakin
rapat. Ketika Pangeran Kuda Narpada menyatakan dirinya, tidak lagi mempergunakan
sebutan kebangsawanannya.
“Panggil aku Ki Narpada” berkata Pangeran yang rendah hati itu.
Untuk beberapa lamanya orang-orang Karangmaja masih saja merasa segan, namun
akhirnnya, lambat laun, sebagian kecil dari mereka berhasil juga membiasakan
diri memanggil Ki Narpada.
Seperti juga orang-orang Karangmaja, Ki Narpada bekerja di sawah dan di ladang.
Turut serta menggali parit seperti yang dianjurkannya sendiri. Membuat
belumbang-belumbang untuk berternak ikan dan rumpon-rumpon di sungai. Menanam
pohon buah-buahan dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ternayata kehadiran Pangeran Kuda Narpada telah merubah tata kehidupan di
Karangmaja. Mereka mulai mengenal cara menanam yang jauh lebih baik dari cara
yang selama ini mereka pergunakan. Ki Narpada mulai menganjurkan agar
orang-orang Karangmaja mempergunakan pupuk bagi tanah yang tandus.
“Apakah gunanya kotoran kandang ternak bagi tanaman?” bertanya Ki Buyut.
“Tanah yang setiap kali dihisap sari makanannya oleh pepohonan memerlukan sari
makanan baru” jawab Ki Narpada. Dengan cara yang sederhana. Yang ternyata pada
panen yang berikutnya memberikan pengaruh yang baik bagi hasil sawah mereka.
Dengan demikian maka Karangmaja rasa-rasanya menjadi semakin cerah, sawah-sawah
yang kekuning-kuningan menjadi hijau dan pategalan yang kering dapat dibasahi
oleh air yang mengalir lewat parit-parit dan bendungan yang mereka buat.
Tetapi mereka bulum berhasil mengatasi kegersangan tanah dilereng pebukitan.
“Kita akan menghijaukannya” berkata Ki Narpada.
“Bagaimana Mungkin?” bertanya orang-orang Karangmaja.
“Kita sebarkan biji metir. Jika pohon metir dapat tumbuh dengan baik, meskipun
tidak terlampau subur, maka keadaan tanah yang membatu itu akan berubah. Kita
dapat berharap beberapa tahun kemudian, sebagian dari tanah yang gersang itu
akan dapat kita tanami dengan pepohonan yang sesuai”
Orang-orang Karangmaja tidak segera mengerti, apakah pengaruhnya batang-batang
metir atas tanah yang membatu. Meskipun Ki Narpada memberikan sedikit penjelasan
tentang sifat akar pohon metir, namun mereka masih juga ragu-ragu.
Tetapi kini sudah ternyata bagi mereka, bahwa lereng bukit-bukit yang tandus itu
dapat juga ditumbuhi beberapa jenis pepohonan. Sementara itu pohon metir menjadi
semakin rimbun, tumbuh dimana-mana, yang seakan-akan akarnya dapat meremas
batu-batu karang manjadi tanah yang dapat ditanami. Pohon-pohon yang lain sudah
mulai dicoba diantara batu-batu pada pegunungan.
Namun dalam pada itu batang-batang kayu metir sendiri telah memberikan
penghasilan dan khusus bagi orang-orang di padukuhan Karangmaja. Selain daunnya
yang dapat dipergunakan untuk membantu memberi makanan ternak, biji-bijinya
dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tetapi Pangeran Kuda Narpada tidak dapat melihat gunung yang semula kering itu
sedikit demi sedikit manjadi manjadi hijau, meskipun dibeberapa bagian masih
belum berhasil. Hujan yang jatuh dimusim basah memberikan banyak pengaruh atas
pohon-pohon metir yang tersebar diatas pebukitan yang keras.
Dan setiap kali orang-orang Karangmaja memandang bukit yang mulai hidup itu,
mereka selalu teringat kepada Pangeran Kuda Narpada. Seorang pangeran yang
pernah hidup didalam lingkungan mereka dan yang pernah memberikan banyak sekali
petunjuk bagi penduduk yang semula terlampau sedikit pengalamannya itu.
Tetapi kini Pangeran Kuda Narpada tidak ada lagi didalam istananya. Tidak
seorangpun dapat mengatakan, kemana ia pergi. Yang mereka ketahui, pada suatu
musim beberapa ekor kuda memasuki halaman istana itu. Tidak terlampau lama,
sejenak kemudian penunggang-penunggang kuda itupun pergi bersama dengan Pangeran
Kuda Narpada.
“Mereka adalah saudara-saudara seayah Kamas Kuda Narpada”
Ki Buyut Karangmaja telah berusaha untuk menanyakan hal itu kepada isteri Ki
Narpada. Tetapi isterinya itupun hanya dapat menggelengkan kepala kepalanya
dengan mata yang basah.
“Aku tidak mengerti, kemana Kamas Kuda Narpada itu pergi”
“Tetapi siapakah mereka yang datang itu?”
“Adimas Cemara Kuning dan Adimas Sendang Prapat bersama pengiringnya”
“Siapakah mereka itu?”.
Beberapa orang peronda hanya dapat memandang darin kejauhan. Semula mereka
menyangka yang datang itu adalah beberapa orang tamu. Kemudian Pangeran Kuda
Narpada ikut mengantarkan tamu itu ketempat tertentu. Tetapi ternyata, sejak
saat itu Pangeran Kuda Narpada tidak pernah kembali lagi.
“Apakah Pangeran tidak mengatakan, kemana ia akan pergi?”
Raden Ayu Kuda Narpada tidak dapat menjawab. Ia hanya dapat menggelengkan
kepalanya dengan lemah.
Sejak kepergian Pangeran Kuda Narpada ketempat yang tidak diketahui itulah,
istana itu menjadi semakin sepi. Orang-orang Karangmaja yang semula sering
datang dan duduk-duduk mendengarkan cerita Pangeran Kuda Narpada di pendapa
kecil itupun makin lama menjadi semakin jarang berkunjung.
Raden Ayu Kuda Narpada sendiri tidak pernah menolak setiap kunjungann, tetapi
orang-orang itu sendirilah yang menjadi semakin segan. Apalagi mereka tahu,
bahwa tidak ada seorang laki-lakipun yang tinggal didalam istana itu.
Dihari-hari berikutnya, jika Raden Ayu Kuda Narpada keluar dari batas
halamannya, maka berdatanganlah perempuan Karangmaja menyambutnya dan menawarkan
apa saja yang ada pada mereka. Pada umumnya perempuan-perempuan itu pernah
mendengar dari sumai mereka, bahwa Karangmaja menjadi hijau karena jasa Pangeran
Kuda Narpada.
Di istana itu sendiri, suasananyapun terasa semakin sepi. Puteri Pangeran Kuda
Narpada yang meningkat dewasa, rasa-rasanya telah kehilangan satu masa didalam
garis hidupnya, justru masa yang paling cerah.
Tetapi ia tidak pernah mengeluh. Apalagi apabila ia melihat ibunya duduk
termenung ditangga pendapa. Maka hatinyapun bagai tersayat.
Namun sebaliknya, demikian juga perasaan yang selalu membebani Raden Ayu Kuda
Narpada, kadang-kadang ia menangis seorang diri didalam biliknya apabila ia
membayangkan masa depan puterinya yang semakin dewasa.
“Apakah yang akan ditemukan didalam hidupnya kelak di tempat yang terpencil ini”
katanya dalam hati.
Betapa rendah hati Pangeran Kuda Narpada sekeluarga, namun Raden Ayu Kuda
Narpada tidak pernah membayangkan, dari mana anaknya akan mendapatkan jodohnya.
Sama sekali tidak terkilas didalam angan-angannya, bahwa ada anak muda dari
Karangmaja yang pantas untuk menjadi sisihan gadisnya.
Jika malam mulai menyentuh ujung pendapa istana kecil itu, dan kelapak kelelawar
mulai mendengar diatas atap rumah yang tiris. Maka Raden Ayu Kuda Narpada
mengantarkan gadisnya masuk kedalam biliknya. Kemudian ia sendiri duduk dibilik
itu pula dengan hati yang resah.
Kadang-kadang masih juga tumbuh harapannya, pada suatu saat Pangeran Kuda
Narpada akan datang kembali. Tetapi harapan itupun semakin lama menjadi semakin
susut. Sehingga akhirnya hanyalah sebuah gambaran yang samar-samar. Yang tidak
nampak jelas, tetapi yang tidak dapat dihapuskannya.
“Adimas Cemara Kuning dan adimas Sendang Prapat mengatakan bahwa mereka hanya
memerlukan kamas Kuda Narpada beberapa saat saja. Secepatnya kamas Kuda Narpada
akan dikembalikan. Tetapi beberapa bulan telah lampau, dan kamas Kuda Narpada
tidak pernah datang kembali” keluh Raden Ayu Kuda Narpada setiap kali dalam
hatinya.
Demikian pula terjadi pada putrinya Inten Prawesti. Rasa-rasanya ia ingin
terbang menyusul ayahandanya yang pergi bersama pamannya.
“Tetapi kemana ayah dibawa oleh pamanda Cemara Kuning dan pamada Sendang
Prapat?”
Menurut pengakuan kedua pangeran yang mengambil Pangeran Kuda Narpada itu,
mereka mendapat perintah dari Raden Patah untuk memanggil Pangeran Kuda Narpada,
tetapi ternyata Pangeran Kuda Narpada tidak pernah pulang kembali ke istananya
yang terpencil.
“Apakah ayahanda mendapat tugas baru diistana Demak?”
Pertanyaan itu timbul pula didalam hati anak gadis itu, “Tetapi jika demikian,
ayahanda tentu akan menjemput ibunda dan aku” ia melanjutkannya.
Namun seribu macam teka-teki itupun tidak dapat diketemukan jawabannya. Yang
diketahui dengan pasti adalah, ayahandanya pergi tidak pernah kembali.
Sementara kedua penghuni istana itu tenggelam didalam angan sendiri, maka
dibelakang, Nyi Upih, seorang abdi yang setia satu-satunya orang masih mengikuti
Pangeran Kuda Narpada sampai ke Karangmaja, tidak henti-hentinya berdoa didalam
hati agar Pangeran yang diikutinya itupun segera kembali.
Kadang-kadang masih juga terbayang didalam angan-angannya Nyi Upih, betapa
beratnya perjalanan yang pernah ditempuh Pangeran Kuda Narpada memberikan
kebebasan kepada para pengiringnya untuk memilih jalan masing-masing. Bahkan
sebagian mendapat perintahnya untuk berpencar mencari Prabu Brawijaya
disepanjang Gunung Sewu, sehingga akhirnya Pangeran Kuda Narpada tidak lagi
diikuti oleh seorang pengiringpun.
“Agaknya Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat telah menemukan
Prabu Brawijaya. Mungkin sudah berada di Demak, mungkin ditempat lain. Kemudian
mereka mendapat perintah untuk mencari Pangeran Kuda Narpada” berkata Nyi Upih
didalam hati. “Tetapi jika demikian, kenapa Pangeran Kuda Narpada tidak
mengambil anak isterinya. Padahal anak isterinya adalah anak isteri yang
dibawanya sejak dari Majapahit. Bukan selir yang diketemukan ditengah jalan yang
dapat ditinggalkan ditengah jalan pula.”
Namun seperti Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti maka
pertanyaan-pertanyan itu akan tetap menjadi pertanyaan yang tidak terjawab.
Pangeran Kuda Narpada yang melambaikan tangannya saat meninggalkan tangga
pendapa itu ternyata hilang seperti kapas ditiup anging kencang, melambung
tinggi dan tidak tahu dimana akan hinggap.
Tetapi diantara pertanyaan yang terselip dihatinya, Nyi Upih menjadi
berdebar-debar apabila ia mengenangkan tanggapan beberapa orang atas Pangeran
Cemara Kuning. Ia tidak tahu sama sekali tentang Pangeran Cemara Kuning, ia
tidak tahu sama sekali tentang Pangeran Sendang Prapat, karena ia baru melihat
beberapa kali selama ia menghambakan diri kepada Pangeran Kuda Narpada. Tetapi
tentang Pangeran Cemara Kuning, ia sering mendengar ceritera beberapa orang
pelayan kawan-kawannya. :
“Si Sampir sudah diusirnya” berkata seorang kawannya. “Justru ketika Pangeran
Cemara Kuning mengetahui perempuan itu mulai mengandung”
“Diusir?” bertanya Nyi Upih.
“Maksudku, pekatik-nyalah yang harus mengawininya”
“Alangkah senangnya pekatik itu mendapat triman” Nyi Upih berhenti sejenak
“He…Bukankah Werdi juga diberikan kepada juru tamannya ketika ia mulai
mengandung?”
“Mungkin, dan itu menjadi watak Pangeran Cemara Kuning”.
“Kau juga akan menjadi triman?” Nyi Upih bergurau. Dan kawannya mencubitnya
sambil berkata “Aku tidak sudi, tetapi jika terpaksa apa boleh buat”
Nyi Upih tertawa, namun ia menjadi sedih juga. Memang ada satu dua orang dengan
senang hati menerima nasib seperti itu. Mengandung dalam hubungannya dengan
seorang bangsawan kemudian menjadi triman dengan pesangon yang banyak bagi
dirinya sendiri dan bagi bakal suami yang harus dengan ikhlas menerimanya dalam
keadaan apapun.
Tetapi Nyi Upih tidak terlampau dalam menyesali tingkah laku seorang bangsawan
yang demikian. Yang paling sakit baginya justru Pangeran Cemara Kuning yang
memang berwajah tampan itu tidak saja mengorbankan pelayan-pelayan perempuannya
yang masih gadis saja, tetapi kadang-kadang mereka yang sudah bersuamipun
diambilnya dengan segala pengaruh yang ada padanya. Pengaruh derajat dan
pangkat, tetapi juga pengaruh kekayaan yang dimilikinya.
“Untuk berapa lama, ia dapat memenuhi segala keinginannya” berkata Nyi Upih
didalam hatinya.
Peristiwa-peristiwa itu, ternyata telah mempengaruhi perasaannya. Pada saat
terakhir. Pangeran Kuda Narpada pergi bersama Pangeran Cemara Kuning dan
Pangeran Sendang Prapat yang tidak begitu dikenalnya, membuatnya semakin lama
semakin gelisah. Tetapi ia tidak mengatakan semuanya itu kepada Raden Ayu Kuda
Narpada dan puterinya, Inten Prawesti. Ia tidak sampai hati menambah parah luka
dihati keduanya.
Tetapi justru karena itu, maka beban perasaan itu harus dipikul diatas pundaknya
sendiri, tidak ada orang lain yang dapat membantu mambawa beban itu. Dan ia
memang tidak ingin membaginya dengan orang lain.
Namun ternyata bahwa beban itu semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin berat,
sehingga hampir tidak tertahankan lagi olehnya.
Sealan dengan itu, maka istana kecil itupun menjadi semakin suram pula. Raden
Ayu Kuda Narpada semakin jarang keluar dari istananya. Apalagi puterinya Inten
Prawesti. Yang kemudian harus pergi kepadukuhan Karangmaja untuk mendapatkan
keperluan sehari-hari adalah Nyi Upih. Dan agaknya orang-orang Karangmajapun
menganggap pelayan yang setia itu seperti saudara mereka sendiri.
Justru apabila Nyi Upih pergi kepadukuhan Karangmaja, rasa-rasanya ia sempat
bernafas. Sehari-hari ia merasa terkurung didalam halaman istana kecil itu.
Jarang sekali ia bercakap-cakap dengan Raden Ayu yang menjadi semakin pendam dan
momongannya Inten Prawestipun nampaknya semakin murung. Sehingga dengan
demikian, jika ia mendapat kesempatan untuk keluar dari istana itu, rasa-rasanya
dadanya agak menjadi lapang, meskipun tidak ada tempat untuk mengadukan semua
beban didalam hati.
Dalam kemurungan itu, kadang-kadang Inten Prawesti masih juga sempat mengajak
Nyi Upih berjalan-jalan dibelakang istana kecilnya. Naik kelereng bukit yang
sepi. Memandang lereng yang mulai hijau dan celah-celah bukit yang memberikan
kesan tersendiri.
“Apakah ayahanda pergi lewat jalan itu?” bertanya Inten Prawesti kepada
momongannya.
Nyi Upih memandang jalur jalan dibawah bukit kecil itu, sambil mengangguk kecil
ia menjawab “Demikianlah agaknya, jalur jalan itu menuju ketempat yang sangat
jauh”.
“Dan ayahandapun pergi ketempat yang sangat jauh. Sudah lebih dari setahun
ayahanda tidak pulang kembali”.
Nyi Upih tidak menyahut, kepergian Pangeran Kuda Narpada memang sudah lebih dari
bukan saja setahun, tetapi sudah lebih dari dua tahun.
Setiap kali Inten Prawesti mengajak Nyi Upih memanjat bukit kecil dan memandang
jalur yang panjang berliku-liku dan yang ujungnya seolah-olah hilang menyusup
kebawah bukit, gadis itupun menjadi semakin nampak suram, ada kerinduan yang
menekan didalam dadanya. Kerinduan kepada ayahandanya yang diikutinya sejak dari
pusat kerajaan agung Majapahit.
Kadang-kadang Nyi Upih mencoba untuk mengajak Inten Prawesti berjalan-jalan
ketempat lain, tetapi gadis itu selalu menolak, dan mengajak pemomongnya naik
kelereng bukit kecil dan mamandang jalan yang berliku-liku itu.
“Kenapa tidak pergi ke padukuhan itu saja puteri” bertanya Nyi Upih
Inten Prawesti menggelengkan kepalanya.
“Disini terlampau sepi. Kita tidak bertemu dengan seorangpun, tetapi di
padukuhan kita dapat berbicara dengan orang-orang Karangmaja. Kadang-kadang yang
mereka katakan memberikan pengalaman baru bagi kita. Kadang-kadang aneh,
kadang-kadang tidak masuk akal dan kadang-kadang menggelikan sekali. Meskipun
demikian bukan berarti bahwa mereka tidak mempunyai sikap hidup. Dan sikap hidup
mereka, yang bertahun-tahun hidup didalam perjuangan melawan alam yang keras
ini, dapat memberikan banyak petunjuk bagi kita”.
Tetapi Inten Prawesti menggelengkan kepalanya, jawabnya “Aku lebih suka senang
berada ditempat yang sepi”
“Puteri” berkata Nyi Upih “Bukankah dengan demikian kita akan menjadi samakin
terasing dari pergaulan. Padahal pergaulan yang betapapun sederhananya, akan
memberikan pengaruh bagi kita, manusia adalah makhluk yang hidup dalam
lingkungannya, bukan seharusnya hidup menyendiri”.
Tetapi Inten Prawesti mengerutkan keningnya, namun kemudian ia berkata “Aku
mengerti Nyai, tetapi rasa-rasanya kini aku lebih senang hidup dalam ketenangan.
Rasa-rasanya tidak ada lagi gairah untuk hidup dalam lingkungan yang luas,
meskipun hanya seluas padukuhan Karangmaja. Disini aku mendapatkan kedamamaian
hati. Tidak ada persoalan-persoalan yang menambah hidupku menjadi semakin
suram”.
“Tetapi yang puteri dapatkan bukanlah kedamaian yang sejati, tetapi sekedar
kesunyian, karena hati yang damai seharusnya memancar seperti pelita yang
menerangi keadaan sekitarnya, bukan seperti pelita yang berada dibawah kerudung
yang rapat, sehingga sinarnya tidak memberikan arti apapun bagi kehidupan si
lingkungannya”.
Inten Prawesti menarik nafas dalam-dalam, katanya “Nyai, bagaimana hati ini
dapat menjadi pelita yang menerangi lingkungannya, jika hati ini rasa-rasanya
menjadi semakin suram dan bahkan padam. Itulah yang mungkin benar, kesuraman
yang sepi, bukan kedamaian, karena didalam hati ini tersimpan kegelisahan yang
menggelora”.
“Ah…” Nyi Upih menjadi semakin menyesal akan kata-katanya sendiri. Sehingga
karena itu iapun segera menyahut “Sudahlah Puteri, bukankah puteri ingin
mendapatkan kesegaran dengan berjalan-jalan diatas bukit ini?. Nah puteri dapat
melihat lereng-lereng bukit yang menjadi hijau meskipun baru ditumbuhi batang
metir. Tetapi kelak lereng itu akan dapat ditanami pepohonan yang mempunyai arti
yang lebih besar lagi. Pohon aren, jambu kelutuk, bahkan mungkin sebuah ladang
jagung”.
Inten Prawesti mengangguk-angguk, tetapi hatinya seolah-olah tidak melekat pada
pemomongnya yang sedang mencoba untuk menggeser perhatian gadis itu.
Nyi Upih hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, sedang momongannya masih saja
memandang jalur jalan yang berliku-liku seperti tubuh seekor ular raksasa yang
membelit pebukitan.
Namun selagi mereka termenung diatas bukit kecil itu, tiba-tiba pendengaran
mereka tertarik oleh suara seruling dikejauhan, suara seruling yang melengking
menyusup celah-celah pebukitan.
Inten Prawesti yang selama itu rasa-rasanya tidak mempunyai perhatian terhadap
apapun juga, agaknya sentuhan suara seruling itu dapat menggetarkan dinding
hatinya pula.
“Nyai…” berkata Inten Prawesti “Kau mendengar suara seruling itu?”
“Ya..Puteri” jawab Nyi Upih, lalu “Suara seruling itu mengingatkan kita kepada
kidung tentang cinta”
“Ah…” desah Inten Prawesti.
“Ooo…” Nyi Upih menutup mulutnya, ia sudah terlanjur lagi menyebutkan sesuatu
yang hampir tidak dikenal oleh momongannya. Karena itu maka cepat-cepat ia
menyambung “Seperti cinta Maha Pencipta atas kita yang telah memberikan banyak
sekali kenikmatan. Meskipun kadang-kadang kita merasa sesuatu yang agak
mengganggu, tetapi kurnia yang paling berharga bagi kita adalaj kemampuan untuk
mengatasi setiap kesulitan dan gangguan didalam hidup kita.”
Inten Prawesti tidak menjawab.
“Puteri, cobalah dengar, lagu itu seperti mengalun dari langit”.
Untuk sejenak Intern Prawesti masih berdiam diri, agaknya suara seruling itu
benar-benar dapat menyentuh hatinya.
Ternyata bahwa dihari berikutnya, Inten Prawesti mengajak Nyi Upih untuk pergi
lagi ke bukit itu, rasa-rasanya ia ingin mendengar suara seruling yang pernah
didengarnya itu.
“Seruling seorang gembala puteri, jika puteri ingin mendengar, maka puteri dapat
memanggil gembala itu dan menyuruhnya bersenandung dihalaman istana.”
“Ah, tentu tidak akan merdu suara seruling yang diiringi oleh gemanya
dilereng-lereng bukit seperti itu Nyai”
Nyai Upih tidak menjawab, iapun mengerti bahwa apabila gembala itu dibawa masuk
halaman, kemudian duduk dipendapa dan meniup sulingnya, kesan getarannya akan
jauh berbeda. Karena itu maka iapaun tidak lagi mengganggu Inten Prawesti yang
sedang asyik mendengar lagu yang melontar dari seruling dikejauhan tanpa
mengetahui siapakah yang membunyikannya. Lagu yang rasa-rasanya sengaja
disesuaikan dengan gejolak yang sedang melanda dinding-dinding jantung Inten
Prawesti, gejolak kerinduan kepada ayahandanya yang pergi bertahun-tahun yang
lalu.
Tetapi sebenarnyalah ada perasaan rindu yang lain yang terselip didalam didalam
hati gadis yang meningkat dewasa itu. Inten Prawesti sendiri tidak
mengetahuinya. Apalagi orang lain. Sebagai seorang gadis yang sudah dewasa, maka
hatinyapun menjadi peka sekali terhadap sentuhan yang sendu. Suara seruling itu
agaknya telah membelainya, bukan saja sebagai curahan perasaan rindu kepada
ayahandanya, tetapi sentuhan-sentuhan yang lain didalam kalbunya, karena seperti
yang dikatakan oleh Nyi Upih, lagu itu adalah kidung cinta, Asmaradan, tembang
yangn melontarkan gairah cinta yang menyala didalam kalbu.
Karena itu, maka rasa-rasanya suara seruling itu terdengar manis ditelinganya
dan mendapat tempat dihatinya, seolah-olah suara seruling itu sengaja disiulkan
untuknya.
“Nyai…, siapakah yang meniup seruling itu?” tiba-tiba Inten Prawesti bertanya.
“Seorang gembala, puteri. Seperti yang sudah aku katakan
“Apakah ia anak Karangmaja….?”
“Tentu, padukuhan yang lain terletak ditempat yang agak jauh, agaknya hanya
anak-anak Karangmaja sajalah yang menggembalakan ternak-ternaknya sampai
kelereng bukit itu”
Inten Prawesti merenung sejenak, tetapi ia menjadi kecewa jika suara itupun
kemudian terhenti.
“Disaat-saat begini, gembala-gembala biasanya mulai mengumpulkan ternaknya,
sebentar lagi mereka akan menggiringnya kembali ke kandang”.
Inten Prawesti hanya mengangguk-angguk saja.
“Matahari menjadi semakin rendah, sebentar lagi senja akan turun, sehingga
ternak harus sudah berada di kandangnya, bukankah dilembah yang curam itu,
kadang-kadang masih terdapat harimau yang berkeliarian?, karena itu menjelang
senja para gembala harus sudah pulang”.
“Apakah disiang hari harimau itu tidak mau mencuri ternak?”
“Kadang-kadang puteri, tetapi disiang hari gembala-gembala itu mempunyai banyak
kawan, juga orang-orang yang diladang. Jika ada seekor atau dua ekor harimau
yang berani mengganggu ternak, maka beramai-ramai gembala itu melawannya, karena
itu, mereka membawa senjata ke ladang”
Inten Prawesti menganguk-angguk pula.
“Sekarang, kitapun pulang puteri”
“Sebentar Nyai, Aku ingin melihat matahari menjadi semakin rendah dan turun ke
punggun bukit”
“Ah…” wajah Nyai Upih menegang “Sudah aku katakan, disela-sela berbukitan itu
masih berkeliaran harimau kumbang, mungkin macan tutul”
“Tetapi harimau-harimau itu tidak akan datang kemari, disini tidak ada ternak.”
Inten Prawesti tersenyum, senyum yang sudah jarang sekali nampak dibibirnya.
“Apakah suara seruling itu tidak akan terdengar lagi?”
“Besok lagi kita datang kemari untuk mendengarkan, mereka sekarang sudah pulang”
Inten Prawesti menarik nafas dalam-dalam, iapun tiba-tiba menjadi ngeri jika ada
seekor harimau yang tersesat sampai keatas bukit kecil itu. Karena itu, maka
katanya “Baiklah, kita akan pulang, besok kita akan mendengarkan seruling itu
lagi” ia berhenti sejenak, lalu “Bagaimana jika kita pergi mendekat?”
“Ah, tidak mungkin, puteri. Jalan terlampau sulit, anak-anak gembala dapat
berlari-lari di lereng yang terjal sambil menggiring ternak, tetapi kita tidak
akan dapat merangkak sekalipun.”
Inten Prawesti mengangguk-angguk, ia mengerti, bahwa jalan dilereng bukit itu
terlampau sulit dilalui sampai ke ladang tempat anak-anak menggembalakan
ternaknya.
“Puteri” berkata Nyi Upih pula. “Matahari menjadi semakin terlampau rendah,
apakah kita tidak sebaiknya pulang sekarang”
Inten Prawesti mengangguk, sekali ia masih memandang kelereng bukit, kearah
seruling itu melontarkan tembang, namun kemudian iapun bergeser dan melangkah
meninggalkan tempatnya.
Tetapi tiba-tiba saja ia langkahnya terhenti, ketika dengan tiba-tiba pula ia
mendengar suara seruling itu pula, tidak sejauh yang didengarnya sebelumnya.
“Nyai…” desis Inten Prawesti.
Nyi Upihpun tertegun, suara seruling itu terdengar dekat sekali. Hanya dibalik
gerumbul dibawah ujung bukit kecil itu
“Kau dengar suara seruling itu?” bertanya Inten Prawesti
“Tentu, puteri”
“Dekat sekali”
“Ya…dekat sekali”
Inten Prawesti memandang Nyi Upih yang menadi pucat.
“He…! Kenapa Kau”
“Suara seruling itu…?
“Kenapa…”
“Lain puteri, agak lain. Apakah puteri tidak merasakan perbedaannya.
Inten Prawesti bukan seorang yang mengerti tentang kidung dan tembang, tetapi ia
merasakan ia memang merasakan sesuatu yang lain. Suara seruling yang didengarnya
itu justru lebih menyentuh perasaannya, halus dan menggelayut.
“Nyai…, apakah hanya pendengaranku dan ketidak tahuanku tentang suara seruling?,
lagunya bertambah indah”.
“Ya..ya.. puteri, lebih syahdu, tetapi…..” Ia berhenti sejenak.
“Tetapi apa Nyai…”
Nyi Upih memandang kesekelilingnya, ia tidak melihat seorangpun, sehingga
kemudian ia berkata “Apakah aku hanya mendengar suaranya saja?”
“Oooh…” Inten Prawesti menepuk bahu pemomongannya, “Aku mengerti Nyai, Kau
takut? Kau anggap suara seruling itu suara hantu yang sedang bermain seruling?”
“Puteri, tempat ini jarang sekali disentuh kaki manusia”
“Jika sekiranya ada hantu yang pandai bermain seruling apa salahnya?”
Nyi Upih mengerutkan lehernya, katanya “Marilah kita pulang”.
“Sebelum Inten Prawesti menjawab, maka suara seruling itupun tiba-tiba telah
lenyap, seperti tiba-tiba saja suara itu melengking, sehingga Nyi Upih menjadi
semakin gemetar. Bulu-bulu tubuhnya serasa berdiri. Sambil mendekati momongannya
ia berkata “Puteri… marila kita cepat-cepat pulang”
Inten Prawesti mengangguk, tetapi ia sama sekali tidak menjadi ketakutan, ia
yakin bahwa seorang gembala dengan sengaja telah mengganggunya, mungkin seorang
ingin bergurau, seperti orang-orang Karangmaja sering bergurau dengan
ayahandanya sebelum ayahandanya pergi.
Keduanya kemudian melangkah meninggalkan bukit itu dan kembali ke istana kecil
yang terpencil itu.
“Puteri telah mengganggu pekerjaanku” berkata Nyi Upih sambil mencubit Inten
Prawesti.
“Kenapa Nyai…?”
“Aku belum merebus air, ibunda biasanya mandi dengan air hangat. Karena aku ikut
mendengarkan suara seruling itu, maka aku terlambat.
“Belum terlambat Nyai, dan biarlah aku yang mengatakannya kepada ibunda”
Tetapi ternyata Inten Prawesti tidak mengatakan tentang suara seruling itu, ia
hanya mengatakan bahwa Nyi Upih telah dibawanya berjalan-jalan.
“Jangan terlalu jauh Inten” berkata ibundanya “Kita masih belum mengenal seluruh
keadaan padukuhan itu, meskipun kita sudah beberapa tahun berada disini. Berbeda
dengan ayahandamu, mengenal Karangmaja lebih baik dari orang-orang Karangmaja
itu sendiri, tetapi kau belum”.
“Ya…ibunda”
“Apalagi menurut ceritera orang, didaerah pebukitan itu masih ada berkeliaran
beberapa ekor harimau. Karena itu, sebaiknya jika kau ingin berjalan-jalan,
pergi sajalah ke padukuhan. Orang-orang Karangmaja masih tetap baik kepada kita”
Inten Prawesti mengangguk saja, tetapi ia rasa-rasanya sudah sangat dipengaruhi
oleh suara seruling, dan berlebih-lebih lagi suara yang tiba-tiba ada dibalik
gerumbul yang tidak terlampau jauh daripadanya.
“Gembala-gembala itu pandai memandang meniup suling” katanya kepada Nyi Upih.
“Hanya seruling sajalah permainan mereka, mereka tidak dapat bermain-main dengan
cara yang lain, apalagi bermain sembunyi-sembunyi atau semacamnya. Dengan
demikian mereka akan meninggalkan ternak mereka, jika ternak mereka itu hilang,
maka mereka akan menyesal.”
“Jadi mereka duduk-duduk saja sambil meniup seruling?”
“Ya… satu dua, yang lain bermain dengan kayu, membuat ukiran dan patung-patung
kecil seperti yang terdapat diruang depan, anak-anaklah yang memberikan
patung-patung kecil itu kepada pangeran waktu itu”.
Inten Prawesti mengangguk-angguk, ia memang melihat ukirang dan patung-patung
kecil itu di ruang depan. Agaknya ayah dari anak-anak yang membuatnya telah
memberikannya kepada ayahandanya sebelum ayahandanya pergi. Dan ternyata bahwa
patung-patung kecil itu sampai saat itu masih disimpannya baik-baik.
Tetapi dihari berikutnya terjadilah sesuatu yang agak lain dan tidak
disangka-sangka sama sekali. Sebelum Inten Prawesti pergi ke bukit kecil, tempat
ia biasa mendengarkan suara seruling dan mamandang jalan kecil yang berliku-liku
disela-sela bukit, tiba-tiba saja terdengar suara seruling dari pendapa
rumahnya. Suara itu memang agak jauh, tetapi jelas terdengar.
“Nyi Upih” ia memanggil pemomongnya yang masih ada didapur, “Kau mendengar suara
seruling itu?”
Nyi Upih mencoba mendengarkannya, tetapi ia menggeleng “Aku tidak mendengar ,
puteri”.
“Aku telah mendengarkannya”.
“Tetapi aku tidak”
Inten Prawestipun kemudian mencoba mendengarkan suara itu, tetapi agaknya suara
seruling itu memang tidak terdengar dari dapur, karena suara air yang mendidih
didalam belanga.
Inten Prawestipun menarik tangan Nyi Upih dan mengajaknya ke pendapa.
“Ada apa Inten?” bertanya ibunya yang melihat anaknya menarik tangan
pemomongnya.
Inten Prawesti tidak menjawab, tetapi Nyi Upihlah yang menyahut. Suara seruling
Gusti, suara itu terdengar jelas dari pendapa”.
“Ah hanya suara seruling”
Inten Prawesti sama sekali tidak menjawab, tetapi ia menarik Nyi Upih melintasi
ruang dalam, langsung ke pendapa.
Ketika mereka berdiri di pendapa, maka Nyi Upihpun mencoba mempertajam
pendengarannya, tetapi ia tidak mendengar apa-apa.
“Apa puteri masih mendengarnya?”
“Inten mengerutkan keningnya, dengan kecewa, ia menggeleng lemah “Suara itu
sudah tidak terdengar lagi Nyai;
“Aku kira puteri terlampau memikirkan suara seruling itu, sehingga ketika angin
berhembus dan mengguncang dedaunan, suaranya seperti suara seruling yang merdu”
“Ah…, tentu lain” jawab Inten “Apakah kau kira aku sudah tidak dapat membedakan
lagi suara seruling dan suara gemerisik dedaunan?”
Bab 2
“Bukan maksudku puteri. Tetapi karena perasaan puteri terlampau dicengkam oleh
suara seruling cinta itu, maka rasa-rasanya semua suara seperti suara seruling.
Demikian juga dengan tingkahku sewaktu tigapuluh tahun yang lampau, pada saat
aku masih remaja seperti puteri”.
“Ah… aku yakin aku mendengar suara itu”
“Baiklah puteri, nanti aku akan ikut mendengarkan. Tetapi airku sudah mendidih,
aku akan menanak nasi sebelum airnya kering”
“Kau akan menanak nasi?”
“Ya, puteri, bukankah sehari-hari aku juga menanak nasi?”
“Bukankah kita akan berjalan-jalan?”
“Ya, biasanya aku menjerang nasi sebelum berangkat, kemudian aku akan
menyenduknya setelah kita kembali”
“Jika nasi itu sangit?”
“Biasanya, jika ibunda mengetahui aku mengantar puteri berjalan-jalan, maka
ibunda tidak berkerberatan turun kedapur? Bukankah hal itu sering dilakukannya
pula?”
Inten Prawesti mengangguk-angguk. Ibundanya bukan lagi Gusti Raden Ayu yang
hanya duduk diatas tempat duduk yang dialasi dengan beludru atau bercengkerama
ditaman yang ditumbuhi oleh seribu macam pohon bunga, ibunya adalah seorang yang
harus menyesuaikan diri dari keadaan. Meskipun selagi ibundanya berada di
Majapahit, bukan pula seorang yang tinggi hati, namun jarang sekali ibundanya
menjenguk kebagian belakang istananya.
‘Jika demikian’ berkata Inten kemudian ‘Cepatlah kita akan berangkat’.
Nyi Upihpun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke belakang, menurunkan belanga
berisi air yang sudah mendidih, kemudian menjerang nasi, baru ia membuat minuman
panas bagi Raden Ayu Kuda Narpada. Sebelum ia pergi mengantarkan Inten Prawesti
berjalan-jalan.
Setelah semuanya selesai, maka Inten dan Nyi Upihpun mohon diri kepada Raden Ayu
Kuda Narpada untuk berjalan-jalan sebentar keatas bukit seperti hari-hari yang
lewat.
Tetapi mereka tertegun ketia beberapa langkah mereka mulai menyusuri jalan
setapak, mereka melihat seorang anak muda yang berjalan perlahan-lahan dilereng
bukit kecil. Ditangannya tergenggam sebuah seruling bambu yang panjang berwarna
gading.
‘Nyai…’ desis Inten Prawesti ‘Apakah anak muda itu juga seorang gembala?’
Nyi Upih termangu-mangu sejenak, dipandangnya seorang anak muda yang mempunyai
ciri agak lain dari anak-anak muda dari Karangmaja. Meskipun ia mengenakan
pakaian yang sederhana, tetapi kesederhanaannya adalah berbeda sekali dengan
pakaian anak-anak muda di Karangmaja. Anak muda yang berjalan dilereng bukit itu
memakai pakaian lengkap dan dengan cara yang baik pula, rambutnya disanggul
tinggi keatas kepalanya dan sebuah anyaman rotan yang tipis membelit di dahinya.
‘Agaknya bukan anak Karangmaja, puteri’ berkata Nyi Upih.
Inten Prawesti tiba-tiba saja menjadi berdebar-debar, anak muda itu berjalan
langsung menuju kearahnya.
‘Nyai…, kenapa ia berjalan kemari?’
Nyi Upihpun menjadi berdebar-debar, tetapi ia justru menjadi ketakutan seperti
ketika ia membayangkan hantu yang berterbangan disekitar bukit kecil itu.
Karena itu, maka iapun kemudian berdiri disisi Inten Prawesti yang justru
termangu-mangu ditempatnya.
Beberapa langkah dihadapan Inten Prawesti, anak muda itupun berhenti, dengan
hormatnya ia membungkukkan kepalanya sambil berkata ‘Hormat bagi tuan puteri
Inten Prawesti’
Inten terkejut, dengan suara bergetar ia bertanya, ‘Kau sudah mengenal namaku?’
‘Setiap orang di Karangmaja telah mengenal tuan puteri’
‘Kau juga anak muda Karangmaja…? Bertanya Nyi Upih.
‘Bukan Nyai, aku adalah seorang perantau’ jawab anak muda itu.
‘Ooo…’ Nyi Upih mengangguk-angguk ‘Aku sudah menduga, kau tentu bukan anak muda
dari Karangmaja. Tatapan matamu membayangkan tingkat kecerdasan yang lain dari
anak-anak muda Karangmaja yang berpikir dengan sederhana’.
‘Ah, akupun hanya anak padukuhan, tetapi aku mempunyai kegemaran mengembara.
Menjelajahi padukuhan, mendaki perbukitan dan menuruni lembah’.
Nyi Upih mengangguk-angguk, wajah anak muda itu memang menunjukkan hatinya yang
keras, tatapan matanya bagaikan ujung tombak yang langsung menusuk kepusat
jantung.
‘Aku sekarang untuk sementara tinggal di Karangmaja puteri’ berkata anak muda
itu.
‘Kaukah yang bermain seruling?’ tiba-tiba Inten Prawesti bertanya.
‘Ya…, tetapi bukan yang tuan puteri dengar di lembah, disela-sela bukit. Suara
seruling itu adalah suara seruling gembala dari Karangmaja’
‘Jadi yang mana..?’
‘Aku sering melihat tuan puteri pergi ke bukit kecil itu dan tertarik kepada
suara seruling yang berlagu tanpa irama, seperti gemuruhnya suara pasar sedang
temawon’
‘Dan kau…?’
‘Aku mencoba untuk memperkenalkan puteri dengan suara seruling yang baik dan
irama yang benar dari tembang asmaradana, aku membunyikan seruling dibalik
gerumbul dibawah bukit itu.’
‘Oo..Kaukah itu?’ Inten Prawesti tersenyum, tetapi ketika kakinya akan melangkah
mendekat, Nyi Upih telah menggamitnya.
‘Tetapi sebenarnya, akupun bukan peniup seruling yang baik, meskipun demikian,
aku tentu dapat melakukannya lebih baik dari gembala-gembala Karangmaja’
‘Tentu, suara serulingmu lebih bak, lebih halus dan berirama’
‘Aku mempunyai pengalaman yang jauh lebih luas dari anak-anak Karangmaja, dan
karena itulah, aku mencoba untuk memberikan yang lebih baik dari yang dapat
mereka berikan’
Inten Prawesti mengangguk-angguk, dan kemudian iapun bertanya ‘Aku belum
bertanya, siapakah namamu dan dari manakah asalmu?’
Anak muda itu tersenyum, jawabnya ‘Namaku Kidang Alit puteri, asalku? …entahlah,
aku sendiri tidak mengetahuinya dengan pasti, aku adalah anak kabar kanginan,
berselimut langit dan beralaskan bumi, aku tidak tahu, siapakah yang menurunkan
aku sebenarnya’
‘Ah…, apakah begitu…?’
‘Benar Puteri, dan sekarang aku mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain,
kali ini aku tersangkut di padukuhan Karangmaja’
Inten Prawesti tidak segera bertanya lagi, nampak keragu-raguan membayang
wajahnya yang bening, tetapi ia tidak mempersoalkannya.
‘Aku akan mencoba bermain lebih baik lagi puteri’ berkata anak muda yang mengaku
Kidang Alit itu.
‘Aku senang sekali mendengarnya’ jawab Inten Prawesti.
‘Aku akan dengan senang hati menghadap puteri di istana, dan bermain seruling
siang dan malam’
‘Ah…, Inten berdesah, ‘Tetapi apa salahnya jika kau datang mengunjungi istanaku,
eh…maksudku rumahku’.
‘Puteri…’ Nyi Upih memotong, ‘Tentu puteri harus mengatakannya lebih dulu kepada
ibunda, bahwa akan ada seorang datang menghadap’.
‘Ah, bukankah sejak ayahanda masih ada, siapapun boleh masuk dan naik keatas
pendapa?’
‘Justru kini ayahanda puteri sudah tidak ada di istana’
Inten Prawesti mengerutkan keningnya, dipandangnya wajah anak muda itu sejenak
lalu, ‘Ya, aku akan mengatakannya kepada ibunda. Tetapi jika tidak berkenan
dihati ibunda, kau dapat meniup serulingmu dimana saja kau suka. Aku akan
mendengarkannya dari pintu butulan, atau dari pendapa’.
Kidang Alit tertawa, katanya ‘Itu bukan persoalan lagi puteri, setiap saat aku
akan meniup seruling, didengarkan atau tidak.
Inten mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, Nyi Upih
menggamitnya dan berkata ‘Aku meninggalkan nasi diatas api puteri’
‘Ah. Bukankah ibunda ada..?’
‘Tentu ibunda tidak akan turun kedapur’
‘Bukankah kau juga mengatakan, biarlah ibunda nanti yang mengangkat belanga itu,
sebelum kita pulang’
‘Tetapi, bagaimana kalau ibunda tertidur…?!’
Inten masih akan menjawab, tetapi Kidang Alit segera memotong. ‘Silahkan puteri,
agaknya pemomong puteri masih mempunyai tugas di istana’.
Inten menjadi kecewa, tetapi ia mengikutinya ketika Nyi Upih melangkah pulang.
Tetapi Inten masih berpaling dan berkata kepada Kidang Alit ‘Aku akan
mendengarkan suara serulingmu’
Kidang Alit tersenyum, tetapi ia tidak menjawab. Nyi Upihpun kemudian menyanding
Inten Prawesti mereka berjalan semakin cepat, seolah-olah mereka begitu
tergesa-gesa.
‘Nyai, kenapa kau berlari-lari?.’
‘Nasi itu’
‘Tetapi kakiku sakit, dan ibunda tentu akan turun kedapur, bukankah biasanya
ibunda berbuat demikian jika kita pergi’
Nyi Upih berpaling sejenak, ia masih melihat Kidang Alit berdiri tegak ditengah
lorong sempit itu, sekilas Nyi Upih melihat tubuh tegap dengan dada yang bidang,
meskipun wajahnya tidak begitu tampan, namun kecerdikan memancar dari sepasang
mata anak muda itu.
Ketika Nyi Upih dan Inten memasuki regol halaman istananya, barulah Nyi Upih
berhenti dengan nafas terengah-engah, dan keringat dikeningnya.
‘Nyai berlari-lari seperti dikejar hantu, cepatlah jika kau ingin pergi ke
dapur’ berkata Inten dengan jengkel.
‘Ampun puteri, sebenarnya aku tidak tergesa-gesa karena nasi itu’
‘Jadi kenapa?’
‘Bukankah kita belum mengenal anak muda itu…?’
‘Ya.. anak muda itu nampaknya agak lain dengan anak-anak Karangmaja, Ia baik dan
ramah’
‘Ya...puteri, Anak muda itu baik dan ramah, justru karena ia terlalu baik dan
ramah, aku menjadi curiga’
‘Kau terlampau cepat berprasangka Nyai’
‘Puteri masih terlampau hijau, puteri tidak pernah bergaul dengan anak-anak
muda, aku tidak senang melihat tatapan matanya yang gelisah memandang puteri,
dan aku tidak senang mendengar kesombongannya’.
‘Ah, apakah anak muda itu sombong..?’
‘Ia adalah anak muda yang sombong, keramahan yang dibuat-buat itulah yang
menyembunyikan kesombongannya’ Nyi Upih berhenti sejenak. Lalu ‘Puteri, Nyai ini
sudah tua, sudah banyak bergaul dengan anak-anak muda dimasa Nyai masih muda
dahulu, sehingga Nyai dapat membedakan sifat-sifat yang jujur dan dibuat-buat’
Inten mengerutkan keningnya, namun katanya ‘Tetapi anak itu baik Nyai,
setidak-tidaknya ia tidak mempunyai maksud buruk’.
‘Mungkin, mungkin tidak ada niat buruk padanya, tetapi puteri harus hati-hati.
‘Kenapa Nyai…?’
‘Salah satu sebab bahwa puteri harus berhati-hati adalah karena puteri sudah
meningkat dewasa, dan berlebih-lebih lagi adalah karena puteri tumbuh menjadi
seorang gadis yang sangat cantik’.
‘Ah…’ Inten mencubit Nyi di lengannya, sehingga pemomongnya itu mengaduh
kesakitan.
‘Sudahlah Puteri’ berkata Nyi Upih kemudian ‘Sebaiknya puteri masuk kedalam,
anak muda itu tentu akan lewat didepan istana ini, dan puteri tidak boleh berada
diluar, apalagi seakan-akan puteri sedang menunggunya’
‘Kenapa?, aku ingin mendengar ia bermain dengan serulingnya’
‘Mungkin puteri hanya ingin sekedar mendengarkan ia bermain dengan serulingnya
dalam kidung cinta. Tetapi hal itu akan menimbulkan salah paham bagi anak muda,
apalagi menilik tatapan matanya. Kidang Alit adalah seorang anak muda yang cepat
mengagumi kecantikan seorang gadis’
Inten memandang sejenak wajah Nyi Upih dengan tajamnnya, sepercik keragu-raguan
memancar pada sorot matanya. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu.
Nyi Upih mengerti bahwa Inten Prawesti masih belum mengenal sifat anak-anak
muda, sehingga ia tidak akan muda mengerti keterangannya.
Karena itu Nyi Upihpun kemudian mengajak Inten untuk pergi saja kedapur. Ia
dapat melupakan serulingya itu sejenak dengan beberapa kesibukan. Inten Prawesti
bukannya seorang gadis yang malas. Meskipun ia seorang puteri Pangeran. Tetapi
seperti ibundanya, iapun sudah berusaha menyesuaikan diri dengan keadaannya.
Hidup terpencil di padukuhan kecil, segala seseuatu harus dilakukannya sendiri,
karena Nyi Upih sudah terlampau banyak pekerjaan. Inten sudah biasa mencuci
pakaiannya sendiri, membantu memasak dan membersihkan perabot rumahnya.
Dalam pada itu, ternyata dugaan Nyi Upih tidak meleset, Kidang Alit tidak puas
menatap langkah Inten yang hilang ditikungan. Iapun berjalan mengikutinya
meskipun dengan jarak yang jauh, anak muda itu tidak dapat menahan keinginannya
untuk lewat didepan istana kecil yang lengang itu.
Namun ternyata bahwa halaman istana itu benar-benar telah sepi.
Gadis itu tidak ada di pendapa’ desisnya Tentu pemomongnya itulah yang
mengajaknya masuk kedalam’
Tetapi Kidang Alit tidak memasuki halaman rumah itu, iapun kemudian duduk
dibawah sebatang pohon wuni diseberang jalan yang melintasi didepan istana itu.
Sejenak kemudian terdengar suara seruling memecah sepi, mengalun bersama angin
yang berhembus perlahan-lahan mengumandang diseluruh halaman istana kecil itu
Inten yang sedang berada didapur terkejut mendengar suara seruling itu. tanpa
sadarnya iapun segera bangkit berdiri. Hampir saja ia meloncat berlari, jika Nyi
Upih tidak menangkap lengannya dan berkata ‘Tinggalah disini saja puteri’
Inten termangu-mangu sejenak
‘Sebaiknya puteri tidak menjenguknya’
‘Kenapa Nyai…?’
‘Tidak apa, tetapi duduk sajalah disini membantu Nyai menyiapkan makan. Aku juga
harus menjerang air bagi ibunda jika ibunda akan mandi’.
Inten Prawesti menjadi ragu-ragu, ada keinginannya untuk ke pendapa, bukan saja
untuk mendengarkan suara seruling itu. tetapi ada sesuatu yang seolah-olah telah
mendorongnya untuk melihat anak muda yang bernama Kidang Alit itu.
Tetapi agaknya Nyi Upih mengerti perasaan Inten sepenuhnya, karena iapun pernah
menjadi muda. Sudah lama Inten Prawesti terpisah dari pergaulan justru menjelang
usia dewasanya. Adalah wajar sekali, jika ada sebuah sentuhan dihatinya pada
saat ia memandang meskipun baru untuk pertama kali, seorang anak muda yang
memilki beberapa kelebihan dari anak-anak muda yang kadang-kadang dilihatnya di
Karangmaja.
Namun Nyi Upih berkata pula ‘Duduklah puteri, nanti Nyai akan bercerita’
Inten menjadi sangat kecewa, tetapi seperti biasanya, ia mendengarkan kata-kata
pemomongnya, karena itulah maka iapun kemudian duduk disamping Nyi Upih yang
sedang menyenduk sayur kepinggan.
Demikianklah setiap kali Nyi Upih berusaha menahan Inten agar tidak keluar
rumahnya, bukan saja sehari itu, tetapi dihari-hari berikutnya.
‘Kenapa kau menahan aku keluar rumah?, beberapa hari yang lalu kau selalu
menemani aku pergi ke bukit kecil itu, sekarang kau sama sekali memperlakukan
aku sebagai tawanan’
Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam, katanya ‘Ampun puteri, sebenarnyalah aku
cemas bahwa puteri akan tersentuh oleh pergaulan yang kurang sewajarnya’
‘Maksudmu, aku harus menjadi seekor burung yang kau simpan didalam sangkar?,
betapapun banyaknya kau memberi aku makan, tetapi aku akan menjadi semakin kurus
dan sakit-sakitan.
‘Tidak puteri’ jawab Nyi Upih ‘Bukan maksudku, tetapi bukankah selama ini puteri
memang jarang sekali keluar halaman, baru beberapa lama puteri sering pergi
melihat bukit kecil itu?, Ketika kemudian puteri tertarik kepada suara seruling,
puteri memang sering pergi keluar halaman, aku tidak keberatan putri pergi
keatas bukit mendengarkan suara seruling anak-anak gembala dari Karangmaja
meskipun iramanya kurang baik. Tetapi suara seruling yang sengaja diperdengarkan
bagi puteri oleh seorang anak muda yang belum kita kenal dan dengan sengaja
menyembunyikan asal-usulnya, masih harus kita nilai lebih jauh puteri.’
‘Tetapi sikapnya baik padaku’
‘Sikap yang baik belum tentu menjadi bayangan yang utuh dari sikap batinnya’
jawab Nyi Upih ‘Puteri, biarlah Nyai mencoba mengerti serba sedikit tentang anak
muda itu. besok jika Nyai pergi ke padukuhan, Nyai akan bertanya kepada
orang-orang Karangmaja, apakah mereka mengenal seorang anak muda yang bernama
Kidang Alit. Baru jika yakin anak muda itu tidak berbahaya, tentu bagi puteri,
bukan bagiku, kita dapat bebas menerimanya atau menjumpainya dimana saja’.
Inten Prawesti mengerutkan keningya.
‘Jika aku menyampaikan kepada ibunda, aku kira pendapat ibunda puteripun akan
sama dengan pendapat Nyai’
Inten tidak menyahut, betapa perasaan kecewa mencekamnya, namun ia memaksa
didirnya untuk sama sekali tidak keluar dari rumahnya.
Untuk mengatasi keinginannya mendengarkan suara seruling dan melihat jalan yang
membelit pebukitan, seolah-olah sambil menunggu ayahandanya kembali dari
perantauannya yang panjang. Inten mengisi waktu dengan berbagai macam kesibukan
yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya. Namun diluar sadarnya, kadang-kadang
Inten mulai meraba wajahnya. Menjelang saat-saat mendi di jambangan, Inten
sering menatap wajahnya itu dipermukaan air yang bening, perlahan-lahan namun
pasti, ia mulai percaya, bahwa ia memang seorang gadis yang cantik, secantik
ibundanya.
Ketika pada suatu saat, Nyi Upih harus pergi ke padukuhan Karangmaja untuk
membeli kebutuhan mereka sehari-hari, maka iapun mempergunakan kesempatan itu
pula untuk bertanya kepada orang-orang Karangmaja, apakah mereka mengenal anak
muda bernama Kidang Alit.
‘Ooo….’ Seorang perempuan gemuk mengangguk-angguk ‘Ya seorang anak muda yang
tampan, bertubuh tegap kekar dan berwajah seperti bangsawan?’
‘Ya…’
‘Tidak seorangpun yang tahu tentang dirinya. Tiba-tiba saja ia berada
dipadukuhan ini dan menumpang dirumah seorang janda yang sudah tua disudut desa’
‘Siapakah janda itu?’
‘Nyai Windu’
‘Oo.. jadi anak muda itu tinggal dirumah Nyai Windu’
‘Ya…, anak muda itu ternyata seorang yang kaya, ia memberi banyak uang kepada
Nyai Windu’
‘Anak yang baik..’
Tetapi Nyi Upih terkejut ketika ia melihat wanita gemuk itu menggelengkan
kepalanya, katanya ‘Tidak terlalu baik, banyak sekali imbalan yang harus
diberikan kepadanya’
‘Ooo…apa saja’
‘Makan yang enak, yang kadang-kadang tidak dapat disiapkan oleh janda itu,
karena ia tidak biasa menyediakan makan sepeti yang dimintanya, dan setiap saat
anak muda itu memerlukan sesuatu, Nyai Windu yang harus pergi mencarinya’
‘Tetapi Nyai Windu membiarkan anak muda itu tinggak dirumahnya?’
‘Nyai Windu tidak mempunyai anak, dan anak muda itu kadang-kadang bersikap baik
juga kepadanya, selebihnya, semua kebutuhan Nyai Windu dipenuhi oleh anak muda
itu. Bahkan Nyai Windu mulai mengenakan pakaian yang selamanya belum pernah
disentuhnya, bahkan dilihatnya.’
Nyai Upih mengangguk-angguk, dan wanita gemuk itu meneruskan ‘Anak itu memang
sulit dimengerti, tetapi jika aku menjadi Nyai Windu, aku biarkan anak itu
tinggal, karena keuntungan yang didapat oleh janda itu, agaknya masih lebih
banyak dari kesulitan yang dihadapinya’.
‘Apakah kau tahu, darimana asal-usul anak itu?’
‘Tidak seorangpun yang mengetahuinya, Nyai Windu juga tidak, karena anak itu
tidak pernah mengatakannya, setiap kali ia menyebut dirinya seperti selembar
daun yang diterbangkan angin, tanpa sangkan tanpa paran’
Nyi Upih tidak dapat memaksa wanita yang gemuk itu untuk bercerita lebih banyak,
namun dari orang-orang lainpun Nyi Upih tidak mendapat keterangan lebih banyak
dari yang didengarnya dari wanita yang gemuk itu.
Dengan demikian, maka Nyi Upihpun mengambil kesimpulan bahwa Inten Prawesti
untuk sementara tidak boleh berhubungan lagi dengan anak muda itu.
‘Jika perlu, aku mendapat mengatakannya kepada gusti, sehingga Gusti Raden Ayu
akan langsung memberikan nasehat kepada puterinya yang sedang meningkat dewasa
itu.’
Tetapi ternyata Nyi Upih tidak perlu mengatakannya kepada ibunda Inten Prawesti,
karena Inten masih mendengarkan nasehat pemomongnya, betapapun ia menjadi
kecewa.
Sebenarnyalah, sejak saat itu, Inten Prawesti tidak pernah keluar dari rumahnya,
jika suara seruling itu terdengar dekat sekali dari istananya, ia
mendengarkannya dengan penuh minat, tetapi jika suara itu menjauh, Inten dapat
menarik nafas dalam-dalam.
Setiap kali terbayang ketakutan-ketakutan yang dilukiskan oleh Nyi Upih
menghadapi peristiwa yang dapat terjadi atas seorang yang miningkat dewasa
seperti Inten Prawesti. Apalagi seorang gadis yang sangat cantik.
Dalam pada itu, bukan saja Inten Prawesti yang menjadi gelisah, tetapi anak muda
yang menyebut dirinya Kidang Alit itupun hatinya menjadi tidak tenang. Setiap
kali ia mencoba memancing gadis cantik yang sedang meningkat dewasa itu, tetapi
Inten Prawesti tidak pernah keluar lagi dari rumahnya. Apalagi pergi ke bukit
kecil itu, sedangkan turun ke halamanpun seakan-akan tidak pernah dilakukannya
lagi.
Tetapi diluar pengetahuan Kidang Alit, setiap kali sepasang mata selalu
mengintip dari balik dinding istana, jika ia berada didepan regol, atau
diseberang jalan dibawah pohon wuni sambil meniup seruling. Namun tatapan mata
itu selalu memancarkan kecurigaan dan prasangka.
Demikianlah Nyi Upih selalu berusaha mengetahui tingkah laku anak muda itu, jika
ia berkeliaran di sekitar istana, tetapi ia tidak pernah mengatakannya kepada
siapapun juga. Semuanya seolah-olah hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri.
Bahkan ternyata kemudian Nyi Upih tidak hanya sekedar mengawasi tingkah laku
yang dapat diintipnya dari celah-celah dinding, tetapi iapun selalu bertanya
kepada orang-orang Karangmaja tentang anak muda yang bernama Kidang Alit itu.
Tetapi Nyi Upih kemudian menjadi kecewa, bahwa sebenarnya tingkah laku Kidang
Alit tidak mencerminkan tingkah laku anak muda yang memiliki sifat-sifat seperti
yang dikehendaki. Kidang Alit kadang-kadang bersikap aneh dan dapat menumbuhkan
kecurigaan.
‘Aku tidak dapat membiarkan momonganku tergelincir’ berkata Nyi Upih.
Sebenarnya bahwa Nyi Upih semua mempunyai harapan, bahwa pada suatu saat
momongannya akan bertemu dengan anak muda yang pantas baginya. Bukan sekedar
anak-anak muda Karangmaja yang sangat sederhana. Bukan karena baginya anak-anak
Karangmaja berderajat rendah, tetapi sebagai seorang menganggap Inten seperti
anaknya sendiri, ia menghendaki seorang laki-laki yang mempunyai beberapa
kelebihan, sesuai dengan kedudukan Inten Prawesti.
‘Tidak berlebih-lebihan’ katanya didalam hati ‘Tetapi Kidang Alit agaknya
terlalu banyak menyimpan teka-teki sehingga justru akan dapat menumbuhkan
kekaburan bagi masa depan puteri itu sendiri’
Itulah sebabnya, Nyi Upih kemudian selalu berusaha menghalangi setiap
kemungkinan hubungan Inten Prawesti dengan Kidang Alit.
Akhirnya Kidang Alitpun merasa bahwa sulitlah baginya untuk dapat menembus
dinding istana kecil itu. suara serulingnya tidak mampu lagi memancing puteri
canti itu untuk keluar dari halaman, bahkan kehalamanpun tidak.
‘Pemomongnya itulah yang mendengkinya’ geram Kidang Alit.
Dan ternyata kemudian Nyi Upih merasa, bahwa sikapnya itu adalah sikap yang
benar, ketika pada suatu saat ia pergi ke padukuhan Karangmaja dan mendengar
orang-orang Karangmaja membicarakan anak muda yang bertubuh tegap dan mempunyai
kelebihan dari anak muda yang lain itu.
‘Sunti kehilangan kegadisannya’ berkata seorang perempuan yang sudah separuh
baya.
‘Ah… darimana kau tahu?’ bertanya Nyi Upih.
‘Beberapa anak muda menemukannya’
‘Atas tingkah laku Kidang Alit…?’
‘Tetapi salah Sunti sendiri, ia merasa bangga berkawan dengan seorang anak muda
yang memiliki kelebihan dari kawan-kawannya yang lain’
‘Dan akhirnya ia mengalami perlakuan kasar?’
Perempuan separuh baya itu menggelengkan kepalanya, jawabnya ‘Tidak, Sunti
sendiri menyerahkan kehormatannya kepada anak muda yang tampan itu’
‘Dan mereka akan kawin?’
‘Itulah yang menjadi persoalan, agaknya anak muda itu menyesal bahwa ia sudah
tenggelam dalam hubungan yang terlampu dalam, ia tidak pernah berfikir untuk
kawin dengan gadis desa seperti Sunti’
‘Jadi…?’
‘Akhirnya diketemukan penyesalan itu. anak muda yang bernama Kidang Alit itu
memberikan biaya perkawinan Sunti dengan anak muda Karangmaja’
‘Gila…!’
‘Itu sudah saling disetujui. Selain biaya perkawinan, Kidang Alit memberikan
sepasang kerbau kepada anak muda yang manjadi suami Sunti itu, sebagai bekal
untuk menempuh hidup kekeluargaan. Dengan sepasang kerbau, maka suami Sunti akan
dapat bekerja sebaik-baiknya disawah’
Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam, tetapi hal itu sudah terjadi.
Diluar sadarnya, kenangan Nyi Upih meloncat kemasa lampau, saat ia masih
mengikuti Pangeran Kuda Narpada dipusat kerajaan Majapahit. Terbayang sekilas
tingkah laku beberapa orang bangsawan tertinggi. Yang diketahuinya dengan pasti,
adalah Pangeran Cemara Kuning.
‘Diluar lingkungan kebangsawanan ada juga orang-orang yang berlaku demikian,
orang-orang yang memiliki kekayaan yang dapat dipergunakannya untuk menjadi apa
saja. Bahkan kehormatan orang lain sekalipun’ berkata Nyi Upih didalam hati.
Namun tiba-tiba ia berdesah ‘Apakah dapat disebut dengan pasti bahwa Kidang Alit
tidak mempunyai darah kebangsawanan. Ia seorang anak muda yang menyimpan rahasia
tentang pribadinya. Apalagi kebangsawanan ini bukan hanya bersumber dari
Majapahit, mungkin dari Kediri, mungkin dari Demak’ ia berhenti sejenak. Lalu
‘Tetapi apakah maksud kunjungannya kemari…?’
Pertanyaan-pertanyaan itu telah membuat Nyi Upih menjadi semakin berrhati-hati
menghadapi anak muda yang bernama Kidang Alit itu. meskipun anak muda itu tidak
berkesempatan bertemu dengan Inten Prawesti secara terbuka, mungkin ia akan
dapat menempuh jalan lain’
‘Jika ia seorang perantau yang sebenarnya, ia tidak dapat tinggal terlampau lama
disuatu tempat’ berkata Nyi Upih kepada dirinya sendiri pula ‘Apalagi membawa
bekal uang sebanyak-banyaknya’
Tetapi Kidang Alit tidak berbuat lebih jauh lagi, bahkan semakin lama, Kidang
Alit menjadi seolah-olah putus asa. Suara serulingnya tidak terdengar lagi,
disekitar istana kecil itu. dan anak-anak muda itupun jarang sekali nampak
berlalu di jalan yang terjulur di depan istana itu.
Dengan demikian, maka lambat laun Intenpun telah melupakannya, ia tidak pernah
lagi bertanya-tanya tentang seruling Kidang Alit dan akhirnya ia sama sekali
tidak pernah menyebut namanya lagi.
Untuk beberapa lamanya Kidang Alit itupun menjadi bahan pembicaraan lagi bagi
rakyat Karangmaja. Kehadirannya sudah merupakan kebiasaan yang tidak menimbulkan
persoalan lagi. Persoalan Suntipun seolah-olah telah dilupakan orang, Jika
seseorang bertemu dengan Kidang Alit, maka mereka sekedar menundukkan kepala
sambil tersenyum, seperti yang dilakukan Kidang Alit. Selebihnya, mereka tidak
memperdulikan lagi.
Namun ketenangan padukuhan Karangmaja tiba-tiba saja terganggu pula. Selagi
orang-orang Karangmaja telah menjadi terbiasa dengan keadaannya setelah
diguncang untuk beberapa saat oleh Kidang Alit, maka datanglah
persoalan-persoalan baru di padukuhan kecil itu.
Dengan tidak terduga-duga, tiga orang yang berkuda telah memasuki padukuhan itu
dari arah yang tidak diketahui. Wajah menunjukkan sikap mereka yang keras dan
bahkan agak kasar.
Demikian mereka sampai di regol padukuhan kecil itu, maka salah soerang dari
mereka segera meloncat turun dan mendatangi seorang laki-laki tua yang berdiri
di regol halaman rumahnya dan bertanya ‘Kau kenal Buyut Karangmaja…?!’
‘Tetapi siapakah Ki Sanak ini?’ bertanya orang tua itu.
‘Aku bertanya rumah Ki Buyut Karangmaja!!’ tiba-tiba saja orang itu membentak
sehingga orang tua yang bertanya itupun terkejut bukan buatan’
‘Kau tunjukkan saja, kemana aku harus pergi, kesana…atau kesana!!, desak orang
itu dengan kasarnya.
Orang tua yang ketakutan itupun menjadi gemetar, ia tidak dapat berpikir apapun
lagi. Denga suara tergagap ia menunjuk kesatu arah sambil berkata ‘Kesana…
pergilah kesana…’
Ketiga orang itu tidak berbicara lebih banyak, merekapun segera meneruskan
perjalanan mereka kearah yang ditunjuk oleh orang tua itu.
Disepanjang jalan orang-orang itu masih bertanya dengan kasarnya,
membentak-bentak dan menakut-nakuti, sehingga akhirnya iapun mendekati rumah Ki
Buyut di Karangmaja.
Dalam waktu sekejap, berita kedatangan orang-orang yang kasar itu segera
tersebar, jauh lebih cepat dari saat-saat kedatangan Kidang Alit, karena Kidang
Alit datang tanpa memberikan kejutan apapun bagi padukuhan Karangmaja, meskipun
tingkah lakunya kemudian menjadi perhatian, tetapi saat kedatangannya sendiri
tidak banyak diketahui orang.
Orang-orang Karangmaja adalah orang-orang yang sederhana dan tidak segera mudah
dicengkam prasangka. Tetapi merekapun adalah orang-orang yang menyadari haknya.
Karena itu, ketika anak-anak muda Karangmaja mendengar kehadiran ketiga orang
asing yang mencurigakan, dan bersikap kasar, merekapun segera saling mendekatkan
diri dengan kawan-kawannya, sehingga tanpa mereka sadari merekapun telah
berkumpul di depan regol padukuhan mereka.
Seorang anak muda yang memiliki pengaruh atas kawan-kawannya mulai bertanya
‘Apakah yang dapat kita lakukan sekarang?’ orang-orang itu agaknya telah sampai
di rumah Ki Buyut’
‘Marilah kit pergi ke rumah Ki Buyut, kita melihat apa yang mereka lakukan’
‘Beberapa tahun yang lalu, kita pernah juga dicengkam oleh kecurigaan kerena
terjadi peristiwa-peristiwa yang terjadi di padukuhan-padukuhan yang kebetulan
menjadi tempat persinggahan para bangsawan dari Majapahit. Banyak
penjahat-penjahat yang kemudian mencari sisa-sisa kekayaan para bangsawan itu.
karena mereka tidak berani melawan para bangsawan yang pada umumnya adalah
perajurit-perajurit pilihan, maka merekapun mulai merampok penduduk yang mereka
sangka mendapat imbalan atau pemberian berupa apapun juga’
‘Dan sekarang mereka memasuki padukuhan kita, karena di padukuhan kita ada
sebuah istana kecil’ berkata seorang yang bertubuh gemuk.
‘Tidak…,’ tiba-tiba seorang anak muda yang lain membantah ‘Jika istana kecil
itulah yang menyebabkannya, maka hal ini tentu sudah terjadi beberapa waktu yang
lalu’.
‘Bagaimana jika penjahat-penjahat itu baru saja mendengar bahwa di tempat ini
ada istana kecil itu?, jika demikian, maka istana kecil itu akan menjadi
penyebab kesulitan di padukuhan ini’
‘Tidak’ hampir berbareng empat orang anak muda menyahut sekaligus, salah seorang
dari mereka meneruskan ‘Istana itu sudah membuat padukuhan ini menjadi hidup,
lereng-lereng yang tandus manjadi semakin hijau dan dapat ditanami meskipun
hanya pepohonan yang khusus. Sebelumnya kita hamir tidak mengenal jalur-jalur
air untuk membasahi sawah di musim kering, sehingga seolah-olah sawah kami hanya
dapat ditanami dimusim basah. Sekarang parit-parit yang selalu dialiri air yang
naik dari bendungan seolah-olah telah menjalar keseluruh tanah persawahan’ ia
berhenti sejenak, lalu ‘Bahkan jika terjadi sesuatu atas istana itu, adalah
menjadi tanggung jawab kita untuk menjaganya, kita tahu, bahwa di dalam istana
itu tidak ada seorang laki-lakipun yang akan dapat melindunginya’.
‘Ya…, kita harus membalas kebaikan yang sampai saat ini dan bahkan untuk
seterusnya selalu akan kita hayati. Sawah yang subur, lereng yang hijau dan
pemeliharaan ternak yang baik, kita tidak akan dapat berbuat demikian tanpa
kehadiran Pangeran Kuda Narpada, yang tinggal di istana kecil itu’.
Anak muda yang cemas dengan kehadiran istana kecil itu tidak menjawab lagi, ia
sadar, bahwa tidak ada seorangpun yang akan berada di pihaknya, karena itu, maka
lebih baginya untuk berdiam diri.
Jadi sekarang kita pergi kerumah Ki Buyut’ tiba-tiba salah seorang dari mereka
berkata.
‘Ya, sekarang kita lihat, apa yang telah terjadi’
‘Tetapi bagaimana dengan Kidang Alit?, apakah orang-orang itu kawan-kawan Kidang
Alit?’.
‘Mereka tidak bertanya tentang Kidang Alit’
‘Tetapi siapa tahu…’
Namun anak-anak muda itupun tiba-tiba terkejut, ketika mereka mendengar suara
dari balik dinding batu. ‘Aku tidak mengenal mereka’.
Ketika anak-anak itu berpaling, mereka melihat Kidang Alit meloncat dinding itun
dan berdiri tegak dengan wajah tengadah.
‘Aku akan ikut bersama kalian ke rumah Ki Buyut, aku juga ingin melihat apa yang
akan dilakukan oleh ketiga orang itu. dengan demikian, maka tidak akan ada
prasangka lagi terhadapku bahwa akulah yang menyebabkan padukuhan ini menjadi
terganggu. Aku menyesal bahwa aku telah berbuat sesuatu yang terlampau jauh dan
menyinggung ketenangan padukuhan ini. Untunglah bahwa persoalan Sunti itu cepat
mendapat jalan keluar, akrena itu, maka aku tidak mau lagi dilibatkan dalam
peristiwa yang dapat merusak nama baikku’.
Anak-anak muda Karangmaja itupun berdiri termangu-mangu sejenak, baru sesaat
kemudian soerang yang paling berpengaruh diantara mereka berkata ‘Baiklah Kidang
Alit, kau pergi bersama kami dan melihat apa yang telah terjadi’
‘Aku akan menyesuaikan diriku seperti kalian, agar aku tidak menarik perhatian
orang itu’
‘Anak-anak muda Karangmaja tidak menghiraukannya lagi. Merekapun kemudian pergi
bersama-sama ke rumah Ki Buyut untuk melihat apa yang sudah terjadi di rumah
tetua padukuhan mereka.
Ketika anak-anak muda itu sampai ke regol halaman, mereka melihat ketiga orang
itu masih beridiri di tangga pendapa, mereka mengikat kuda mereka pada
batang-batang perdu di halaman.
‘Kau harus menyediakan sebuah rumah buat kami disini’ seorang diantara mereka
berkata lantang.
Ki Buyut nampak sangat gelisah, beberapa orang bebahu dan pembantunyapun berdiri
termangu-mangu, tidak seorangpun dapat berbuat sesuatu.
‘Tidak ada alasan apapun yang dapat kau pergunakan untuk menolak kehadiran kami
disini.’ Yang lain berkata lantang.
Ki Buyut tidak segera dapat menjawab, rasa-rasanya ia tidak lagi dapat berbuat
sesuatu dan memutuskan apapun juga, karena kegelisahan didalam dadanya.
Ketika Ki Buyut melihat anak-anak muda berdatangan, maka wajahnya menjadi agak
cerah. Meskipun suaranya masih bergetar namun ia berhasil menguasai perasaannya.
‘Silahkan duduk Ki Sanak, kita akan berbicara sebaik-baiknya.’
‘Kau harus menyanggupi permintaanku lebih dahulu’ berkata salah seorang dari
mereka, seorang laki-laki berkumis tebal, setebal ibu jari.
Ki Buyut bukan seorang penakut, ia memiliki sedikit kelebihan dari orang lain,
namun justru karena itu, maka ia melihat bahwa ketiga orang itu adalah
orang-orang yang sangat berbahaya.
Dalam pada itu, anak-anak muda yang sudah memasuki regol halaman rumah Ki Buyut
di Karangmaja menjadi ragu-ragu sejenak, mereka menjadi ngeri melihat
wajah-wajah yang keras seperti batu-batu padas di tebing pegunungan, bahkan
rasa-rasanya orang-orang itu sama sekali tidak mengacuhkan kedatangan anak-anak
muda itu.
Ki Buyut yang melihat mereka mendekat itupun kemudian berkata kepada anak-anak
muda yang memiliki pengaruh atas kawan-kawannya itu ‘Kasdu, kemarilah’
Anak muda yang bernama Kasdu itupun melangkah mendekat, tetapi nampak ia
ragu-ragu.
‘Mereka memerlukan tempat tinggal’ berkata Ki Buyut.
Kasdu memandang ketiga orang itu yang sama sekali tidak mengacuhkannya, namun
betapapun juga ia bertanya ‘Apakah kalian akan tinggal di padukuhan ini?’
Tetapi ketiga orang itus sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Bahkan malah
seorang membentak kepada Ki Buyut ‘Ki Buyut..!!!, jawab pertanyaanku…!!!, jangan
membawa anak-anak ingusan ini dalam pembicaraan…!’
‘Ki Sanak, mereka adalah anak-anak muda Karangmaja, setiap kali aku mengajak
mereka berbincang, apalagi dalam keadaan seperti ini’.
‘Kau tidak usah berbincang dengan siapapun, yang perlu kau kerjakan adalah
menyediakan tempat tinggal bagi kami, kami tidak akan selamanya tinggal di
padukuhan ini’
‘Ya… itulah yang akan aku katakan kepada Kasdu’
‘Aku tidak memerlukan anak-anak itu…!!’ salah seorang dari ketiga orang itu
hampir berteriak.
Kasdu, betapa ia menjadi ngeri melihat sikap dari tingkah laku ketiga orang itu,
namun ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan padukuhannya. Karena itu,
maka iapun segera melangkah maju sambil berkata ‘Jangan teriak-teriak disini Ki
Sanak, kau orang asing bagi kami, jika kau menginginkan sesuatu, kau harus
bersikap baik, karena keputusan terakhir akan berada ditangan kami’
Tetapi Kasdu tidak dapat meneruskan kata-katanya, tiba-tiba saja tangan salah
seorang dari ketiga orang itu terayun menampar wajah Kasdu.
Akibatnya benar-benar tidak terduga, Kasdu terlempar dari tempatnya, dan jatuh
berguling ditanah, …pingsan.
Beberapa anak muda dengan gerak naluriah memburu dan berjongkok disisinya.
Mereka terkejut ketika mereka melihat wajah Kasdu bernoda biru.
Tubuh Ki Buyut menjadi gemetar, gemetar oleh kemarahan yang tertahan, tetapi
iapun sadar, bahwa ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Orang-orang itu bukan
orang-orang kebanyakan.
Karena itu, ia tidak memberikan aba-aba apapun kepada anak muda yang berada di
halaman. Jika terjadi benturan kekerasan maka Karangmaja akan menyesali
anak-anaknya yang akan menjadi korban keganasan orang-orang asing yang tidak
mereka kenal itu.
Dalam pada itu, maka anak-anak muda Karangmaja yang berada di halamanpun menjadi
ngeri, sentuhan tangan orang-orang itu bagaikan sentuhan bara api yang membakar
wajah Kasdu.
‘Siapa yang akan mencoba sekali lagi berdiri di hadapanku!’ teriak orang yang
memukul Kasdu itu ‘Aku masih berbaik hati untuk memberi peringatan kepada
kalian. Apalagi jika kalian mencoba menyesuaikan persoalan ini dengan senjata,
maka sudah tentu kalian semuanya akan tumpas, karena kamipun akan mempergunakan
senjata pula’.
Tidak seorangpun yang berani bergerak.
‘Bawa anak itu pergi..!!’ teriak orang yang memukul Kasdu ‘Ia akan menyesali
kelancangannya sepanjang hidupnya, ia tidak akan mati karena pukulan itu, tetapi
ia akan cacat seumur hidup’.
Beberapa anak muda itu menjadi gemetar, tetapi beberapa orang yang lain dengan
ragu-ragu saling berpandangan di sekitar Kasdu.
Kidang Alit turut berjongkok di sebelah Kasdu, dengan matanya ia memberi isyarat
kepada anak-anak muda yang lain, untuk membawa Kasdu pergi.
Dengan ragu-ragu pula beberapa orang mengangkatnya dan membawanya menepi.
Tetapi Kidang Alit berbisik ‘Kita bawa masuk ke rumah Ki Buyut, lewat pintu
butulan’
Merekapun kemudian membawa Kasdu melalui longkangan bagian belakang rumah Ki
Buyut Karangmaja, sementara itu perempuan dan kanak-kanak di belakang,
seakan-akan sama sekali tidak berani lagi bergerak dari tempatnya, mereka
berkumpul di dapur dengan tubuh gemetar dan ketakutan.
Dengan hati-hati tubuh Kasdu itupun segera dibaringkan diatas amben bambu di
bilik dalam. Sejenak anak-anak muda yang membawanya masuk itu menjadi tegang
melihat noda-noda yang seolah-olah tumbuh di bagian wajah Kasdu yang lain.
‘Darahnya telah di kotori oleh semacam racun yang dengan ganas dapat membuatnya
lumpuh’ berkata Kidang Alit.
‘Darimana kau tahu..?’ bertanya salah seorang anak muda.
‘Bukankah orang itu mengatakan, bahwa Kasdu akan menjadi cacat’
‘Lumpuh…?’
‘Lumpuh dan mungkin buta’
‘Mengerikan sekali’
‘Tentu cincin itu mengandung racun, mungkin pula akik pada cincinnya itu, atau
alat-alat lain di jarinya’ desis Kidang Alit.
‘Dan Kasdu akan cacat sepanjang hidupnya…?, kasihan ia masih terlampau muda
untuk mengakhiri hidup sewajarnya’
Kidang alit termenung sejenak, kemudian iapun berkata dengan hati-hati,
seolah-olah tidak ingin didengar oleh orang lain ‘Aku akan berbuat sesuatu,
tetapi berjanjilah, bahwa kalian yang melihat, tidak mengatakan kepada siapapun
juga’
Anak-anak muda yang ada disekitar tubuh Kasdi itupun termangu-mangu sejenak.
‘Berjanjilah, cepat sebelum racun itu mencapai pusat sarap Kasdu.’
‘Apa yang akan kau lakukan’
‘Berjanjilah…!!’ desis Kidang Alit.
Anak-anak muda itupun termenung sejenak, namun kemudian salah seorang dari
mereka mengangguk sambil berkata lirih ‘Aku berjanji’
Dan yang lainpun berkata pula ‘Ya… aku berjanji’
‘Baiklah’ berkata Kidang Alit ‘Aku mempunyai obat penawar racun, mudah-mudahan
akan dapat aku pergunakan, jika penawar racunku sesuai dengan diderita oleh
Kasdu, maka ia akan sembuh, tetapi jika aku gagal, maka ia bukan saja akan
cacat, tetapi mungkin mati’
Anak-anak muda itu saling berpandangan.
‘Nah, apakah kita akan bersama-sama bertanggung-jawab jika Kasdu mati?… Kita
tidak akan mengatakan apa yang sudah terjadi disini, jika ia mati, biarlah
kesalahannya kita timpakan saja kepada orang-orang itu, artinya, bahwa pukulan
itulah yang menyebabkan kematiannya’.
Sejenak, ruangan itu menjadi hening, baru kemudian salah sorang berkata
‘Berdosakah kita, jika kita mencobanya?, jika kita berhasil, maka Kasdu akan
tertolong, tetapi jika kita gagal, apakah kita dapat dipersalahkan karena kita
berusaha?, apalagi Kasdu pasti akan cacat sepanjang hidupnya jika kita tidak
berbuat sesuatu’
‘Maksudmu, daripada cacat, jika gagal, lebih baik jika ia tidak tersiksa
sepanjang hidupnya’ bertanya seorang kawannya.
‘Bukan, bukan begitu, tetapi hampir seperti itu, bagiku, lebih baik kita berbuat
sesuatu, jika perbuatan itu dapat menumbuhkan harapan’.
‘Ya… aku setuju’ desis yang lain berurutan.
Kidang Alit menarik nafas, wajahnya menjadi tegang, di keningnya mengembun
keringat dingin, dan bahkan menitik keatas tubuh Kasdu yang tergolek diam.
Perlahan-lahan Kidang Alit mengambil sebuah bumbung kecil dari kantong ikat
pinggangnya, kemudian seorang anak muda yang lain disuruhnya mengambil semangkuk
air.
Sepercik serbuk yang berwarna kekuning-kuningan dimasukkannya ke dalam air itu
dan dimasukkan ke dalam mulut Kasdu yang seolah-olah membeku.
‘Mudah-mudahan aku tidak terlambat, dan mudah-mudahan racun itu dapat
bersentuhan dengan racun yang telah masuk ke dalam darahnya’ berkata Kidang Alit
sambil menitikkan air yang sudah berisi serbuk itu lalu katanya ‘Tetapi itu
belum cukup’
Tidak ada yang menjawab, semua telah dicengkam oleh ketegangan yang memuncak.
‘Air itu akan menghentikan cengkaman racun itu lebih jauh’ berkata Kidang Alit
sambil meletakkan mangkuknya, kemudian sambil membuka sebuah bungkusan kecil ia
berkata, ‘Obat ini harus diusapkan pada lukanya’
‘Ia tidak terluka’ desis seorang anak muda.
Kidang Alit tidak menjawab, tetapi dengan seksama ia mengamati wajah Kasdu yang
menjadi semakin biru.
Beberapa orang memandanginya sambil menahan nafas, mereka tidak mengerti, apa
yang dilakukan olah Kidang Alit, mereka sama sekali tidak melihat luka pada
wajah Kasdu yang kebiru-biruan itu.
Namun kemudian Kidang Alit berkata ‘Inilah lukanya, kecil sekali, tidak lebih
dari gigitan serangga’
‘Kau dapat melihatnya…?’
Kidang Alit tidak menjawab, iapun kemudian mengusapkan obat penawar yang
berwarna kehitam-hitaman, obat yang kental seperti bubur pati ketela pohong,
hanya seusap kecil.
Dengan hati-hati Kidang Alit alit membngkusnya kembali dan menyimpannya bersama
bumbung kecilnya pada kantong kuning ikat pinggangnya yang besar.
Sejenak anak-anak muda yang menunggui Kasdu itu menjadi semakin tegang, mereka
tidak segera melihat perubahan yang terjadi pada anak muda yang terluka itu.
Sementara itu, dipendapa, Ki Buyut tidak dapat berbuat lain kecuali memenuhi
permintaan ketiga orang yang tidak dikenalnya itu. untuk menjaga agar tidak ada
seorangpun yang merasa dikorbankan, maka Ki Buyut berkata ‘Ki Sanak, berkeras
untuk tinggal di padukuhan ini, maka baiklah Ki Sanak bisa tinggal di Banjar
desa padukuhan ini, meskipun Banjar itu tidak begitu besar, tetapi bagian
belakang terdapat dua buah bilik yang cukup untuk tinggal sementara’
Bab 3
‘Kau tempatkan aku di Banjar?, bagaimana aku makan sehari-hari?’ bertanya salah
satu dari ketiga orang itu.
‘Jadi bagaimana maksud Ki Sanak?’
‘Aku memerlukan makan dan minum….’
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam katanya ‘Baiklah, aku akan menyuruh
pembantuku setiap hari mengirimkan makan dan minum, pagi, siang dan sore hari,
cukup…?’
‘Persetan…!,’ orang itu menggeram, lalu ‘Baiklah kami berbaik hati. Tetapi jika
makananmu terlambat datang, aku akan mengambil apa saja yang dapat aku ambil
dari siapapun juga!…’
Ki Buyut mengangguk kecil, jawabnya ‘akulah yang akan tanggung jawab, karena aku
adalah Buyut di Karangmaja’
Orang berwajah sekeras batu padas tu tertawa’ katanya ‘He…., kau mengenal
tanggung jawab juga Ki Buyut. Terima kasih. Sayang, bahwa aku telah membuat
seorang anak muda Karangmaja menjadi cacat. Tetapi itu adalah salahnya sendiri,
tidak ada seorangpun yang akan dapat mengobatinya. Ia akan lumpuh, buta dan tuli
sepanjang umurnya’
Wajah Ki Buyut menegang sejenak. Tetapi sebelum ia bertanya sesuatu, salah
seorang dari ketiga orang asing itu berkata ‘Jumlahnya tentu akan bertambah,
jika orang-orang Karangmaja tidak bersikap baik kepadaku, aku adalah orang-orang
yang harus kalian penuhi segala kebutuhanku, bukan sekedar makan dan minum’.
Jantung Ki Buyut berdentangan memukul dinding dadanya, ia telah dicengkam
bayangan-bayangan yang mengerikan, bahkan kemudian ia berkata kepada diri
sendiri ‘Apakah jadinya jika orang-orang itu melihat seorang gadis cantik yang
sedang tumbuh di istana kecil itu..?’
Tetapi Ki Buyut menahan perasaan itu dalam dadanya, ia tidak mengatakannya
kepada siapapun juga sebelum ia menemukan jalan sebaik-baiknya.
Dalam pada itu, Ki Buyutpun kemudian memerintahkan dua orang anak muda untuk
mengantarkan ketiga orang itu, dengan dada bergetar, kedua anak muda itu tidak
dapat menolak, betapapun ketakutan melanda perasaannya, tetapi keduanyapun
kemudian berangkat juga mengantarkan ketiga orang yang berwajah sekasar batu
padas.
Tetapi diluar dugaannya, ketika mereka sampai di banjar padukuhan, ketiganya
tersenyum kepada kedua anak muda itu. Dengan ramah salah seorang berkata,
‘Terima kasih Ki Sanak, kalian adalah anak muda yang baik. Nah, ingat-ingatlah.
Aku belum memperkenalkan nama kami. Sampaikan kepada Ki Buyut, bahwa namaku
adalah Kumbara, dan kedua kawanku yang lain adalah Gagak Wereng dan Naga Pasa’.
Orang yang disebut bernama Naga Pasa itu tertawa, katanya ‘Ya… namaku Naga Pasa,
seperti nama sebuah ilmu yang mempunyai kekuatan seperti racun ular. Setiap
sentuhan akan berakibat mengerikan sekali, seperti kawanmu yang lancang itu’
Kedua anak muda Karangmaja itu sama sekali tidak berani berbuat apapun juga,
bahkan bergerakpun hampir tidak dapat dilakukan.
‘Pergilah, pesanku kepada Ki Buyut, makananku jangan terlambat, dan semua
kebutuhanku harus dipenuhi. Aku dapat berbuat banyak di padukuhan ini, jika
mereka menentang setiap kehendakku’
Kedua anak-anak muda itupun kemudian dengan kaki gemetar pergi meninggalkan
Banjar, kembali ke rumah Ki Buyut dan menyampaikan semua pesan ketiga orang itu.
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, hatinya bagaikan pepat. Bahkan ia langsung
menghubungkan kehadiran ketiga orang itu dengan istana kecil yang sepi itu.
Ki Buyut sepeprti terbangun dari mimpinya, ketika ia teringat kepada Kasdu,
demikian hatinya dicengkam oleh kegelisahan sehingga ia hampir lupa, bahwa
didalam rumahnya terdapat seorang yang sedang terluka parah.
Karena itu, maka iapun kemudian berdiri dan mengajak dua orang bebahu yang masih
berada dihalaman rumahnya untuk menengok anak muda yang terluka parah itu.
‘Tunggulah disini’ berkata Ki Buyut kepada anak-anak muda yang masih berada
dihalaman rumahnya pula.
Anak-anak muda itu tidak menjawab, tetapi tatapan mereka membayangkan kecemasan
yang luar biasa. Orang-orang yang menyebut dirinya bernama Kumbara, Gagak Wereng
dan Naga Pasa itu, akan dapat berbuat apa saja seperti yang dikatakannya.
Seperti Ki Buyut, anak-anak itupun menjadi cemas akan isi istana kecil. Gadis
itu terlampau cantik dan apalagi tanpa pelindung sama sekali. Jika ketiga orang
itu melihatnya, maka tidak seorangpun akan dapat mencegah jika mereka
menghendakinya dengan cara yang paling buas.
‘Pangeran Kuda Narpada sudah memberikan petunjuk dan bimbingan terlampau banyak
kepada kami’ berkata salah seorang anak muda itu kepada diri sendiri. ‘Apakah
kami dapat membiarkan keluarganya menjadi korban…?’
Bahkan anak-anak muda itu menduga bahwa ketiga orang itu tentu menganggap bahwa
didalam istana kecil itu terdapat benda yantg tiada ternilai harganya.
‘Istana itu sama sekali tidak menyimpan harta bernilai uang’ berkata anak muda
itu didalam hatinya. ‘Tetapi bernilai kebajikan, jika orang-orang itu mencari
harta kekayaan bernilai uang, maka, mereka tidak akan mendapatkannya. Adalah
mengerikan sekali jika orang-orang itu itu tidak percaya dan memaksa dengan
kekerasan untuk memberikan apapun juga yang mereka anggap ada’
Tetapi semuanya itu hanya bergetar didalam angan-angan saja. Meskipun isi hati
anak-anak muda itu hampir bersamaan, bahkan seperti yang tergetar didalam hati
Ki Buyut di Karangmaja, namun tidak seorangpun yang berani mempersoalkannya,
seakan-akan mereka cemas, bahwa kata-kata mereka akan dapat mendorong itu
terjadi.
Dalam pada itu, dengan ragu-ragu, Ki Buyut masuk keruang dalam, hampir saja ia
mengurungkan niatnya. Hatinya tentu akan menjadi sangat pedih melihat keadaan
Kasdu yang akan menjadi cacat seumur hidupnya. Lumpuh, buta dan tuli. Ia kan
menjadi beban keluarganya seperti bayi yang aneh, karena besar tubuhnya dan
umurnya yang dewasa, tatapi tidak akan dapat berbuat apa-apa.
‘Sesuatu siksaan yang mengerikan’ berkata Ki Buyut didalam hati ’tetapi tidak
seorangpun akan dapat menolongnya. Ia akan tergolek dipembaringan seperti orang
yang sudah mati didalam hidupnya.’
Langkah Ki Buyut tertegun ketika ia melihat beberapa orang muda yang berjongkok
disisi sebuah pembaringan. Namun kemudian ia memaksa kakinya untuk melangkah
terus. Ia adalah orang yang mempunyai tanggung-jawab tertinggi di padukuhan
Karangmaja. Apapun yang akan dilihatnya, ia tidak akan dapat ingkar.
Anak-anak muda yang ada didalam ruangan itupun kemudian menyibak ketika mereka
melihat Ki Buyut dan dua orang bebahu padukuhan mendekati Kasdu yang berbaring
diam. Kidang Alit yang tegang mengikuti setiap perkembangan anak muda yang luka
parah itupun bergeser pula, sambil berkata ‘Silahkan Ki Buyut’
Ki Buyut melangkah semakin mendekat, dengan dada yang berdebaran ia melihat
Kasdu dengan perasaan yang penuh iba. Bahkan kedua bebahu yang lain,
rasa-rasanya tidak dapat lagi bernafas didalam ruangan itu.
Tetapi betapa Ki Buyut dan kedua bebahu itu terkejut ketika mereka mendengar
sebuah desah perlahan ‘Apakah yang datang Ki Buyut?’
Ki Buyut seolah-olah tidak percaya kepada pendengarannya. Sehingga dengan
ragu-ragu ia bertanya ‘Apakah aku mendengan seseorang bertanya..?’
Kidang Alit mengangguk ‘Ya, Ki Buyut’
‘Apakah aku mendengar dan melihat bibir Kasdu bergerak dan menyebut aku?’
‘Ya…, Ki Buyut. Kasdu sudah mampu melihat dan berbicara’
Ki Buyut menjadi bingung, beberapa kali ia berpaling kepada kedua pembantunya
dan memandang anak-anak muda yang ada diruangan itu berganti bergant-ganti.
‘Jadi Kadu tidak menjadi buta, tuli dan lumpuh…?’
‘Ia akan dapat menjadi demikian jika tidak segera mendapat pengobatan’ jawab
Kidang Alit.
‘Siapa yang mengobatinya…?’
‘Aku Ki Buyut…’
‘Kau…., kau…’
Kidang Alit berdiri disisi pembaringan sambil tersenyum, katanya ‘Aku sudah
berhasil mengobati Kasdu, tidak seorangpun akan dapat melakukannya selain aku
sekarang ini. Tetapi mungkin didaerah dan padepokan lain ada juga orang yang
mampu menahan bisa seperti bisa yang telah menyentuh Kasdu’
Ki Buyut menjadi termangu-mangu, ia benar-benar menjadi bingung dan seolah-olah
tidak yakin akan penglihatanya.
‘Memang luka Kasdu sangat parah’ berkata Kidang Alit ‘Untunglah bahwa aku sedang
berada di padukuhan ini pada saat ia mengalaminya, sehingga aku dapat
menolongnya. Perlahan-lahan ia akan sembuh dan akan menjadi pulih kembali
meskipun diperlukan waktu kira-kira tiga atau empat bulan, tetapi bukankah itu
jauh lebih baik daripada ia harus menjadi lumpuh buta, tuli dan bisu..?’
‘Ya, jauh, jauh lebih baik’, Ki Buyut menelan ludahnya’ Aku sangat berterima
kasih kepadamu Kidang Alit’
Kidang Alit masih saja tersenyum, katanya kemudian ‘Aku berharap tidak akan ada
orang lain yang mengalami peristiwa seperti ini lagi Ki Buyut’
‘Mudah-mudahan, tetapi kehadiran ketiga orang itu tentu akan membuat banyak
kesulitan bagi padukuhan ini’
‘Apa yang kira-kira akan mereka lakukan? Bertanya Kidang Alit.
‘Akut tidak tahu, tetapi mereka sudah mengancam bahwa ita harus dapat
menyediakan semua kebutuhan yang mereka kehendaki selama mereka berada di
padukuhan ini’
Kidang Alit mengerutkan keningnya, kemudian katanya kepada Ki Buyut ‘Ki Buyut,
aku berharap bahwa apa yang sudah aku lakukan sekarang ini, dan tidak akan dapat
dilakukan oleh orang lain, untuk sementara dirahasiakan, aku sudah minta kepada
anak-anak muda yang melihat usaha penyembuhan ini, agar mereka tidak mengatakan
bahwa Kasdu menjadi lumpuh, buta dan tuli. Racun itu benar-benar telah
melumpuhkan bukan saja kekuatan jasmaniah, tetapi juga pusat syarafnya. Dengan
demikian, ketiga orang itu tidak akan berusaha untuk mencari, siapakah yang
telah berhasil mengobati luka yang sebenarnya tidak terobati itu’ Kidang Alit
berhenti sejenak, lalu ‘Ki Buyut, ketahuilah, menilik ciri-cirinya ketiga orang
itu adalah murid-murid dari perguruan yang dipimpin oleh Kiai Sekar Pucang’
‘Kiai Sekar Pucang?’ wajah Ki Buyut tiba-tiba menjadi semakin tegang.
‘Apakah Ki Buyut pernah mendengarnya?’ bertanya Kidang Alit.
‘Aku pernah mendengar nama itu, tetapi sudah lama sekali. Pada waktu itu aku
masih remaja, jika orang yang menjadi semamcam dongeng itu memang ada, ia
sekarang sudah tua sekali’
‘Mungking Ki Buyut, tetapi mungkin pula murid yang sangat dipercayainya, akan
dapat menggantikan kedudukannya’
Ki Buyut nengangguk-angguk, iapun kemudian bergumam seperti kepada dirinnya
sendiri ‘Menurut dongeng yang aku dengar, Kiai Sekar Pucang adalah orang yang
tidak dapat mati, kebal dari segala macam senjata dan mampu melenyapkan diri
dari tangkapan mata wadag, namun dibalik kemampuannya yang tidak terlawan itu,
ia adalah orang yang paling bengis dimuka bumi.’
Tetapi Kidang Alit justru tertawa, katanya ‘Hanya sebagian kecil saja dari
ceritera itu yang benar Ki Buyut, Kiai Sekar Pucang mamang seorang yang pilih
tanding. Ia memang meiliki ilmu yang luar biasa, Lembu Sekilan, sehingga
seolah-olah ia manjadi kebal.
Tetapi tidak ada orang yang tidak dapat mati. Ia pada suatu saat tentu
kehilangan kekuatannya dan mati seperti kebanyakan orang. Selebihnya, ia sama
sekali tidak dapat melenyapkan diri seperti yang memang pernah aku dengar’
‘Jadi kau mendengar dongeng itu pula…?’
‘Dongeng itu tersebar keseluruh tlatah Majapahit. Tatapi aku sama sekali tidak
percaya bahwa seluruhnya itu benar. Apa lagi kemudian setelah Demak berhasil
merebut kembali pusat pemerintahan Majapahit yang telah direbut oleh Kediri dari
prabu Brawijaya Pamungkas.’
‘Apa hubungannya dengan Demak..?’
‘Kiai Sekar Pucang adalah selah seorang yang ikut serta merebut Majapahit dari
Prabu Brawijaya. Tetapi ternyata ia tidak mampu mempertahankan pusat
pemerintahan yang sudah direbutnya bersama pasukan Kediri itu dari serangan
balasan yang dilakukan oleh Demak, dibawah pimpinan langsung Raden Patah,
pasukan yang telah berhasil menduduki pusat pemerintahan Majapahit itupun segera
terusir, dan Raden Patah berhasil menyelamatkan tanda-tanda kebesaran Majapahit
dan dibawanya ke Demak’.
‘Jadi siapakah Sekar Pucang yang sebenarnya?’
‘Sekar Pucang, ia adalah Sekar Pucang’
‘Ki Buyut termangu-mangu sejenak, namun tiba-tiba ia bertanya ‘Dan siapah kau
sebenarnya?’
Kidang Alit mengerutkan keningnya. Kemudian sambil tersenyum ia menjawab ‘Aku
adalah Kidang Alit, seorang anak yang bertualang, tanpa asal usul dan tujuan’.
‘Aku sudah mendengar seribu kali jawaban yang demikian’
‘Ki Buyut meragukan…?’
‘Ya….’
Kidang Alit tertawa, katanya kemudian ‘Sudahlah Ki Buyut, jangan hiraukan aku.
Aku adalah orang yang merantau dan kini telah berhasil menyelamtkan Kasdu
disini. Tetapi ingat, hal ini adalah rahasia. Jika ternyata ketiga orang kelak
mengetahui bahwa Kasdu tidak menjadi lumpuh, buta dan tuli, maka tentu ada salah
seorang dari kita yang berada diruangan ini yang berkhianat. Akibatnya dapat
dibayangkan. Orang-orang beracun itu akan marah dan akan bertebaranlah anak-anak
muda yang mengalami nasib serupa Kasdu sebelum aku sebelum aku sembuhkan. Dan
aku akan segera lari dari padukuhan ini, karena aku tidak mau mengalami nasib
yang lebih buruk lagi dari kalian, tanpa berusaha untuk mengobati siapapun juga
diantara kalian yang mengalami bencana itu.’
Ki Buyut mengangguk-angguk, katanya ‘Kami semuanya sudah mendengar keteranganmu
Kidang Alit, kami akan berbuat seperti yang kau kehendaki, karena kami tidak mau
melihat korban semakin banyak lagi’
‘Terima kasih Ki Buyut, selama ini biarlah Kasdu berada disini, Ia harus dirawat
seperti seorang yang lumpuh, buta tuli dan bisu.’
‘Bagaimana dengan orang tuanya?’
‘Orang tuanya tidak boleh mengetahui keadaan yang sebenarnya. Biarlah untuk
sementara orang tuanya menganggap bahwa Kasdu memang lumpuh, buta, tuli dan
bisu’
‘Mereka akan menderita, dan apakah jawabku jika Kasdu diminta orang tuanya?’
“Biarlah ia disini, dan biarlah orang tuanya menderita untuk sementara waktu’
Ki Buyut termenung sejenak, namun kemudian ia mengangguk-angguk sambil berkata
‘Baiklah Kidang Alit, Kasdu akan kami rawat disini, ia akan kami anggap sebagai
seorang yang lumpuh, buta, tuli dan bisu. Aku berharap bahwa Kasdu sendiri akan
dapat membantu, sehingga pelayan dan keluargaku yang lain tidak mengetahui
keadaannya yang sebenarnya.’
Kemudian katanya ‘Kau mendengar sendiri Kasdu, He…! Bukankah kau sudah dapat
mendengar??’
Kidang Alit berpaling kepada Kasdu yang terbaringdiam, Kasdu mengangguk kecil,
katanya ‘Aku mendengar pembicaraan kalian’
‘Bagus, terhadap orang lain kau harus berpura-pura buta, bisu, tuli dan lumpuh,
kau mengerti?’
‘Apakah aku harus memejamkan mataku?’
‘Tidak perlu, mata itu dapat saja terbuka, tetapi kau tidak melihat apapun juga.
Hati-hatilah, semuanya itu untuk kepentinganmu sendiri. Jika kau lengah, maka
ketiga orang itu akan datang, dan barangkali mereka akan membunuhmu saat itu
juga’
‘Baiklah,’ berkata Kasdu, lalu ‘Aku mengucapkan terima kasih kepadamu Kidang
Alit’
‘Lupakan, tetapi kau harus menjaga dirimu baik-baik. Kau akan baik kembali dalam
waktu yang agak lama. Tiga atau empat bulan. Dan aku berharap bahwa kau akan
dapat pulih kembali’
Kasdu menarik nafas dalam-dalam, hingga masih saja dicengkam berbagai macam
perasaan, cemas, ngeri, gelisah dan campur-baurnya perasaan takut. Namun bahwa
ia mempunyai kemungkinan yang jauh lebih baik karena pertolongan Kidang Alit,
telah membuatnya terhibur, meskipun ia masih harus berbaring tiga sampai empat
bulan’.
Sejenak kemudian, maka anak-anak muda itupun minta diri. Atas persetujuan Ki
Buyut, maka anak-anak muda dianjurkan untuk tidak berbuat sesuatu, ketiga orang
itu amat berbahaya.
‘Jadi apakah kita harus membiarkan kesulitan itu terjadi untuk selanjutnya?’
bertanya seorang bebahu padukuhan itu.
‘Tentu saja hati kita tidak akan rela. Tetapi apa yang dapat kita lakukan
ditempat yang terpencil ini?’
Bebahu itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Memang tidak ada yang dapat
mereka lakukan kecuali pasrah diri kepada Yang Maha Agung agar rakyat padukuhan
terpencil itu dibebaskan dari bencana yang lebih dahsyat lagi.
Sepeninggal kawan-kawannya, Kasdu dengan sadar, menjadikan dirinya seorang yang
buta, tuli dan lumpuh. Hanya dengan Ki Buyut dan orang-orang tertentu saja ia
kadang-kadang melepaskan kepepatan dan ketegangan perasaan selama ia memerankan
dirinya dalam keadaan yang parah.
Namun smentara itu, orang-orang Karangmaja mulai merasa diri mereka sangat
terganggu oleh kehadiran tiga orang yang sama sekali tidak mereka kehendaki.
Tetapi tidak seorangpun yang dapat mencegah mereka melakukan apa saja yang
mereka kehendaki. Bahkan dihari-hari terakhir mereka mulai menyebut beberapa
ekor kambing yang gemuk, yang sering digembalakan oleh anak-anak Karangmaja
dipinggir padukuhan.
‘Sekali-sekali aku memerlukan kambing itu’ berkata Kumbara kepada salah seorang
anak yang sedang mengembalakan kambingnya.
Mula-mula anak tidak mengerti maksudnya, tetapi sehari kemudian, ia mengangis
sepanjang malam, karena ternyata yang dimaksud oleh Kumbara adalah, bahwa
kambing itu harus disembelih.
Ki Buyut menjadi sangat berprihatin atas kehadiran ketiga orang itu. Yang mereka
minta semakin hari menjadi semakin banyak, dan kadang-kadang gawat, karena
itulah sudah mulai terbayang diangan-angan Ki Buyut, bahwa pada suatu saat
mereka minta lebih dari seekor kambing, bahkan seekor lembu, karena di
Karangmaja banyak terdapat gadis-gadis yang memang sedang tumbuh. Dan diantara
gadis-gadis itu terdapat seorang gadis yang sangat mereka hormati, Inten
Prawesti.
Berita kehadiran orang-orang itu, pada akhirnya sampai juga ke telinga penghuni
istana kecil itu, Nyi Upih yang mendengar pertama kali, segera menjadi cemas.
Seperti bisik-bisik orang-orang di Karangmaja, bahwa hampir setiap oang
mencemaskan anak-anak gadisnya, dan terutama Inten Prawesti.
‘Jadi apa pendapatmu Nyai…?’ bertanya Raden Ayu Narpada kektika Nyi Upih
menyampaikan berita itu kepadanya.
‘Untuk sementara, puteri sama sekali tidak boleh menampakkan diri Gusti.
Ternyata bahwa di Karangmaja kini sedang mengintai dua ujung bahaya yang hampir
sama, di Karangmajaada seorang anak muda bernama Kidang Alit. Nyai sudah
mencemaskan kehadirannya, karena rasa-rasanya ia sangat tertarik kepada puteri’
‘Dimana mereka dapat bertemu?’
‘Kadang-kadang puteri keluar istana melihat-lihat bukit yang semakin hijau’ Nyi
Upih berhenti sejenak, lalu ‘Tetapi kemudian menyusul bahaya yang kedua, yang
tidak kalah tajamnya dengan sikap anak muda yang bernama Kidang Alit itu.
Keduanya dapat berbuat kasar jika niat mereka tidak dapat mereka penuhi dengan
halus. Namun agaknya orang-orang kasar yang baru datang itu memang belum pernah
melihat puteri’.
Raden Ayu Kuda Narpada menundukkan kepalanya. Dalam keadaan yang demikian,
perasaanya bagaikan terbang menyusuri masa-masa lampaunya, selagi suaminya masih
ada disampingnya. Suaminya adalah seorang senopati yang mumpuni, karena itu,
jika suaminya ada, jangankan anak muda yang seoang, tiga atau empat orang
sekaligus datang keistana itu, mereka akan kehilangan kesempatan untuk keluar
lagi dalam keadaan hidup.
Tetapi suaminya kini sudah tidak dapat diharapkannya lagi. Pangeran Kuda Narpada
pergi untuk saat yang tidak dapat diperkirakan. Bahkan mungkin tidak akan dapat
kembali lagi kepadanya dan kepada anak gadisnya.
Setitik air menggenang dipelupuk mata puteri bangsawan itu. Kepada siapa ia
minta perlindungan agar anaknya tidak terlibat dalam kesulitan.
‘Gusti’ desis Nyi Upihyang melihat luka dihati Raden Ayu itu menjadi semakin
pedih’ ‘Kita masih mempunyai pelindung yang paling bekuasa atas siapapun juga’
Raden ayu mengangkat wajahnya dengan ragu-ragu ia bertanya ‘Siapa Nyai?’
‘Nyai tidak begitu jelas, menurut tuntunan orang-orang yang pernah berhubungan
dengan kekuasaan Demak sekarang. Mereka menyebutnya Yang Maha Kuasa’
Raden Ayu Kuda Narpada menarik nafas, katanya “Dewa-Dewa yang agung’
‘Ya… Yang Tunggal, Yang Esa, tidak lebih’
Raden Ayu itu menundukkan kepalanya lagi, tetapi iapun mencoba untuk pasrah diri
kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa itu.
Namun dalam pada itu, kecemasan, orang-orang Karangmaja menjadi semakin
memuncak. Seorang anak gembala melihat ketiga orang itu berkuda dilereng
pebukitan. Tetapi kemudian mereka berhenti dan memandang istana yang kecil itu
dari arah belakang untuk waktu yang lama.
‘Apakah yang mereka lakukan?’ bertanya seorang anak muda kepada gembala itu.
‘Waktu itu mereka tidak berbuat apa-apa selain memandanginya sambil berbicara
satu sama lain’.
‘Apa yang mereka bicarakan?’
‘Tentu aku tidak mendengarnya. Aku berada ditempat yang agak jauh. Aku tidak
berani memandang mereka terlampau lama, jika tangannya itu menyentuh pipiku, aku
akan menjadi lumpuh sepeti Kasdu, lumpuh, buta, tuli dan bisu. Mengerikan
sekali’
Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia merasa wajib menyampaikan
kepada Ki Buyut.
Berita kecil itu cukup membuat Ki Buyut menjadi semakin bingung, karena itu,
maka iapun segera memanggil Kidang Alit, seorang anak muda, yang dianggapnya
memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda Karangmaja sendiri.
‘Mengerika sekali’ desis Ki Buyut ‘Aku tidak tahu apakah kehadiran ketiga orang
itu justru karena mereka tertarik kepada istana kecil itu. Mula-mula mereka
tentu menyangka bahwa di istana kecil itu ada harta, kekayaan yang tidak
ternilai. Tetapi pada suatu saat mereka tentu akan melihat daya tarik yang lain’
‘Puteri itu’ desis Kidang Alit.
‘Ya… dan banyak kemungkinan dapat terjadi atas gadis itu’ Kidang Alit
mengerutkan keningnya. Terbayang wajah puteri yang cantik dihalaman istana kecil
itu. Gadis yang sudah agak lama tidak dilihatnya.
‘Pemomongnya itulah yang gila’ desis Kidang Alit, namun kemudian ‘Tetapi ada
juga baiknya untuk sementara gadis itu bersembunyi.’
‘Kenapa dengan pemomongnya?’ bertanya Ki Buyut.
‘Tidak apa-apa, maksudku, pemomongnya harus lebih berhati-hati’
‘Tetapi apakah daya mereka, Istana itu dihuni hanya oleh tiga orang dan semuanya
perempuan’
‘Apakah kalau ada seorang laki-laki dirmuah itu, maka gadis itu akan dapat
diselamatkan dari ketiga iblis yang gila itu?’
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, katanya ‘Kidang Alit, agaknya kau bukan
sekedar perantau, tetapi kau tentu seorang petualang yang senang mengalami
peristiwa-peristiwa yang dahsyat dan keras. Ternyata dengan persiapan yang kau
bawa. Kau mempunyai obat yang dapat menghentikan kerja racun yang ganas itu. Dan
tidak mustahil kau menyembunyikan senjata dirumah janda itu’
‘Akut memang mempunyai senjata Ki Buyut. Tetapi dalam keadaan serupa ini, maka
senjataku itu harus aku sembunyikan. Jika ketiga orang itu melihat aku mempunyai
senjata, maka umurku akan menjadi sangat pendek’.
Ki Buyut mengangguk-angguk, Ia menyadari, bahwa Kidang Alit seorang diri tidak
akan dapat berbuat apa-apa. Sedangkan anak-anak muda Karangmaja sama sekali
tidak dapat diharapkan untuk membantunya menghadapi ketiga orang yang ganas itu.
‘Jadi apa yang dapat kita lakukan?’
Kidang Alit mengangkat bahunya, namun kecemasan nampak membayangi wajahnya.
‘Untuk sementara kita hanya dapat mengamatinya saja’ desis Kidang Alit.
‘Apakah pada saat lain kau melihat pemecahan?’
‘Sekarang belum Ki Buyut, tetapi kita tidak boleh diam sampai disini, kita akan
berusaha meskipun kita tidak tahu apakah yang harus kita lakukan’
Ki Buyut menggigit bibirnya, kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berucap
‘Jika kita tidak berhutang budi kepada Raden Kuda Narpada dan seluruh
keluarganya, beban kita tidak akan seberat sekarang. Maksudku, beban perasaan.
Kita memang wajib menolong siapapun juga jika kita mampu. Tetapi terlebih-lebih
karena seluruh penduduk Karangmaja pernah merasakan uluran tangan penghuni
istana kecil itu’.
Kidang Alit mengangguk-angguk, katanya ‘Aku belum pernah merasa berhutang budi,
tetapi akupun merasa wajib menolongnya. Ki Buyut, biarlah untuk sementara
anak-anak mengawasinya’
‘Kenapa anak-anak?’
‘Mereka tidak akan mencurigai anak-anak kecil yang sedang menggembalakan ternak
dipinggir padukuhan, atau dilereng-lereng bukit-bukit.’
‘Tetapi apakah yang dapat dilakukan oleh anak-anak itu?’
‘Mereka hanya melihat-lihat, apa yang dilakukan oleh ketiganya’
‘Dan kita menyuruh anak-anak itu menggembalakan di lereng bukit di belakang
istana kecil itu?’
‘Jangan ada perubahan apapun yang dilakukan oleh anak-anak itu sehari-hari.
Setiap perubahan keadaan tentu tidak akan lepas dari pengamatan ketiga iblis
itu. biarlah anak-anak menggembalakan seperti biasanya. Yang bermain-main dengan
seruling, meskipun iramanya tidak tepat, biarlah mereka bermain-main seperi
biasanya. Kita tidak usah berpesan apa-apa kepada mereka’
‘Lalu…’
‘Setiap kali saja kita bertanya, apakah mereka melihat ketiga orang itu?
bukankah tanpa kita pesan, anak-anak itu merasa bahwa wajib ikut mengawasi
ketiga orang itu? Ternyata salah seorang dari mereka telah memberitahukan kepada
kita bahwa tiga orang itu sedang mengamati istana kecil itu dari kejauhan’
Ki Buyut mengangguk-angguk, ia sadar, bahwa anak-anak masih belum mampu membuat
pertimbangan-pertimbangan sebaik-baiknya, sehingga jika mereka menyadari bahwa
mereka harus mengawasi orang-orang itu. maka mereka akan melakukan perbuatan
yang aneh-aneh yang justru akan dapat menimbulkan kecurigaan, atau sebaliknya,
justru anak-anak itu akan menjadi ketakutan.
‘Agaknya memang baru itulah yang dapat kita lakukan’ berkata Ki Buyut kemudian.’
‘Dan pesan kepada Nyi Upih, bahwa mereka yang tinggal di istana itu harus
semakin berhati-hati’ sambung Kidang Alit.
Namun ternyata bahwa pesan yang kemudian sampai ketelinga Nyi Upih saat-saat ia
pergi ke padukuhan, membuat perempuan itu menjadi cemas, tetapi seperti
biasanya, ia tidak mau membuat Gusti dan momongannya menjadi bertambah gelisah.
Sehingga karena itu kecemasannya ditahankannya didalam hatinya sendiri.
Tetapi seperti peristiwa beruntun yang tidak dapat dimengerti, selagi istana
kecil itu dicengkam oleh ketakutan, sekali lagi padukuhan Karangmaja dikejutkan
oleh kehadiran dua orang berkuda yang tidak mereka kenal.
Selagi orang-orang Karangmaja sibuk bekerja disawah, tiba-tiba saja seorang anak
muda berlari-lari mendapatkan kawannya sambil bertanya.
‘Kau melihat debu yang mengepul itu?’
‘Dua orang berkuda’ desis kawannya.
Anak muda yang berlari-lari itu menganggukkan kepalanya. ‘Apalagi yang akan
terjadi dipadukuhan yang kecil ini?’
‘Kita harus memberitahukan Ki Buyut’
‘Terlambat, kuda-kuda itu akan segera mamasuki padukuhan’.
Keduanya termangu-mangu, namun mereka sempat melihat dua orang penumpang kuda
itu.
Ketika kuda itu mendekati padukuhan Karangmaja, maka keduanya mengurangi
kecepatan. Bahkan kemudian mereka berhenti sejenak sambil mengamati gerbang
padukuhan.
Ternyata bukan hanya kedua anak muda itu saja yang terpaku melihat kedua
penumpang kuda itu. beberapa orang yang lain, yang sedang bekerja di sawahpun
telah terpaku pula. Dengan dada yang berdebar-debar mereka melihat dua orang
berkuda diatas dua ekor kuda yang tegar. Yang seekor berwarna kelabu
kehitam-hitaman, yang lain berwarna merah sawo.
Kedua nak muda yang memperhatikan kedua penunggang kuda berdesis ‘He, lihat,
pakaian mereka seperti pakaian Pakaian Kuda Narpada, pada saat Pangeran datang’
‘Ya…, jika demikian, agaknya keduanya adalah bangsawan-bangsawan yang lain’.
‘Jauh berbeda dengan orang-orang kasar yang telah berada di padukuhan itu’.
Namun tiba-tiba yang seorang menyahut ‘Tetapi apakah keduanya tidak akan masuk
kedalam sarang tiga ekor serigala yang paling ganas”, ketiga orang itu tidak
menghendaki kehadiran kedua bangsawan itu, maka tentu akan terjadi
benturan-benturan diantara mereka’.
Yang lain tidak menyahut, ia memandang dengan tajamnya kepada kedua penunggang
kuda yang sejenak kemudian telah memasuki padukuhan.
Seperti saat-saat kedatangan ketiga orang-orang kasar itu, maka kedua orang
bangsawan itupun berhenti diujung padukuhan dan bertanya kepada orang tua ‘Ki
sanak, maaf, apakah Ki Sanak dapat menunjukkan rumah Ki Buyut?, maksudku Ki
Buyut Karangmaja, bukankah ini padukuhan Karangmaja?’
‘Ooo…, tentu Tuan-tuan, tetapi siapakah tuan-tuan ini?’
Kedua orang yang masih berada diatas punggung kudanya itu tersenyum. Yang
seorang yang masih muda menyahut ‘Kami adalah petualang-petualang yang tersesat
sampai ketempat ini’.
Tetapi orang tua itu menjawab ‘Tuan tidak tersesat, ini memang padukuhan
Karangmaja’
‘Terima kasih Ki Sanak’ penunggang kuda yang separuh baya itu menyahut.
Orang tua itupun menunjukkan arah untuk sampai kerumah Ki Buyut Karangmaja.
‘Jalanlah terus tuan, jalan ini menuju ke rumah Ki Buyut’ orang tua itu tertegun
sejenak, lalu ‘Tetapi, tetapi……..’ ia menjadi ragu-ragu untuk meneruskan.
‘Ada apa Ki Sanak?’ bertanya penunggang kuda yang sudah separuh baya.
‘Maaf tuan-tuan, aku tidak dapat mengatakannya’.
Kedua penunggang kuda itu termangu-mangu, nampak sesuatu bergejolak dihatinya.
‘Sebaiknya katakana saja Ki Sanak’ desis yang muda ‘Kami akan sangat berterima
kasih kepadamu’
Orang itu termangu-mangu sejenak, ada maksudnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi
nampaknya ia menjadi ketakutan untuk menyebutnya.
Kedua orang berkuda itu saling berpandangan sejenak. Kemudian orang yang tua itu
berkata sambil tersenyum ‘Apakah ada suatu yang menakut-nakutimu Ki Sanak?’
‘Tuan sebaiknya tuan-tuan pergi saja ke rumah Ki Buyut. Nanti tuan akan
mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi di padukuhan ini’.
Kedua orang berkuda tersenyum. Mereka tidak dapat memaksa orang tua itu untuk
berkata sesuatu, karena itu maka yang mudapun menyahut ‘Baiklah Ki Sanak, Kami
akan pergi ke rumah Ki Buyut’
‘Berhati-hatilah tuan’
Penunggang kuda yang muda tertawa, katanya ‘Aku sudah menempuh perjalanan
beratus-ratus bahkan beribu tonggak, tetapi baiklah, aku akan sangat
berhati-hati disisa perjalanan ini hanya tinggal beberapa puluh langkah ini’
Orang tua itu tidak berkata apapun lagi, ia memandang saja kedua penunggang kuda
yang meninggalkannya sambil melambaikan tangannya.
Namun sejenak kemudian penunggang kuda yang muda itupun berkata, ‘Paman, agaknya
memang ada sesuatu yang terjadi di padukuhan ini, mungkin kita memang harus
berhati-hati’
‘Ya, ngger, orang tua itu tentu berkata sebenarnya, mudah-mudahan kita akan
dapat mengatasi semua kesulitan yang akan terjadi’.
Yang muda tersenyum, katanya ‘Kita tidak boleh bimbang. Kita sudah mulai
melangkahkan kaki, kita mendapat kepercayaan yang besar dari tugas ini’
Yang tua tersenyum, katanya ‘Aku yakin akan kemampuan anakmas. Mudah-mudahan
pula, aku dapat membantu sebaik-baiknya seperti yang diharapkan’.
Keduanya terdiam, diahapan mereka nampak regol halaman yang agak lebih besar
dari regol-regol yang lain.
‘Itulah rumah Ki Buyut, regolnya nampak lebih besar dan halamannya cukup luas
seperti yang dikatakan oleh orang tua itu’ berkata yang tua.
‘Agaknya memang regol itu regol halaman rumah Ki buyut paman. Kita sudah sampai
dengan selamat. Tetapi bukan berarti kita tidak harus tetap waspada. Mungkin
bahaya yang dimaksud berada didalam halaman itu, atau mungkin setiap saat
setelah kita berada disini’.
Yang tua tidak menjawab, namun nampak wajahnya menjadi agak tegang, alisnya
berkerut dan dengan sungguh-sungguh ia berkata ‘Semuanya mungkin terjadi,
anakmas’
Keduanyapun terdiam ketika mereka berada di regol halaman. Untuk sesaat keduanya
termangu-mangu. Mereka melihat beberapa anak-anak muda di halaman yang terkejut
melihat kehadirannya.
‘Apakah kita akan langsung masuk?’ bertanya yang muda.
‘Agaknya demikian anakmas, anak-anak muda itu tentu tidak berbahaya bagi kita
asal kita bersikap baik kepada mereka’.
Keduanya kemudian memasuki halaman rumah Ki Buyut. Meskipun nampaknya keduanya
tenang-tenang saja, namun keduanya tidak lepas dari kewaspadaan.
Ki Buyut yang sudah diberi tahu bahwa ada dua orang tamu memasuki regol halaman,
dengan tergopoh-gopoh menyongsongnya. Menurut ujud lahiriahnya, tamu-tamunya
kali ini jauh berbeda dengan tiga orang yang berkuda yang telah masuk ke
padukuhan itu dan bahkan telah menyakiti Kasdu.
Kedua penunggang kuda itupun kemudian meloncat turun ketika mereka melihat
beberapa orang menyongsong.
Ki Buyut yang berjalan paling depan, mendekati kedua orang itu sambil berkata
‘Aku adalah buyut di Karangmaja. Maaf tuan-tuan, kami di padukuhan ini belum
pernah melihat tuan berdua. Perkenankanlah sebelum kami mempersilahkan tuan-tuan
naik ke pendopo, kami ingin bertanya, siapakah tuan berdua?’
Kedua penunggang kuda itu saling berpandangan sejenak, terasa adanya kecurigaan
pada Ki buyut itu, sehingga dengan demikian keduanya menjadi semakin yakin bahwa
pernah terjadi sesuatu di padukuhan ini.
Yang muda dari kedua orang berkuda itupun kemudian mengangguk hormat sambil
menjawab. ‘Maaf Ki buyut, mungkin kedatangan kami agak mengejutkan Ki buyut,
jika Ki Buyut ingin mengetahui siapakah kami berdua maka kami akan
memperkenalkan diri. Kami berdua datang dari jauh, kami adalah keluarga istana
Demak.’
‘Ooo…’ Ki Buyut mengangguk hormat, menilik pakaiannya ia memang sudah menduga.
‘Namaku Kuda Rupaka’.
‘Kuda Rupaka’ Ulang Ki Buyut, namun orang yang berkuda yang tua itu menyahut
‘Raden Kuda Rupaka’
‘Oh maaf Raden, jadi nama lengkap Raden adalah Raden Kuda Rupaka’
‘Demikianlah’ anak muda itu tersenyum, lalu ‘Dan kawanku ini adalah paman Sura
Wilaga’
“Raden Sura Wilaga’ ulang Ki Buyut.
‘Sebutlah Panji Sura Wilaga’ sebut anak muda yang bernama Raden Kuda Rupaka itu.
‘Panji Sura Wilaga…. Ki Buyut mengucapkannya lagi diluar sadarnya. Lalu seperti
orang terbangun ia bertanya serta merta ‘Jadi Raden keduanya adalah bangsawan
dari Demak?’
‘Raden Kuda Rupaka tersenyum pula, jawabnya ‘Begitulah, aku adalah saudara
sepupu Sultan di Demak sekarang’.
‘Ooo maafkan kami Raden, kami sama sekali tidak mengetahui meskipun seharusnya
menilik pakaian dan kelengkapan Raden kami harus sudah menduga bahwa Raden
berdua datang dari pusat kerajaan.’
Raden Kuda Rupaka masih tersenyum saja, katanya ‘Kau tidak bersalah sama sekali,
meskipun kami dari istana Demak, tetapi bukan untuk menakut-nakuti orang-orang
pedesaan, kami datang sebagai orang biasa. Disini, Ki Buyut adalah orang yang
paling berkuasa. Kami adalah tamu-tamu Ki Buyut sehingga kamipun harus
menyesuaikan diri, karena kami sadar bahwa padukuhan Karangmaja, kami berada
dibawah keuasaan Ki Buyut’.
‘Ah…, Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam sejenak, ia memandang wajah kedua orang
bangsawan itu. katanya didalam hati ‘Agaknya bangsawan-bangsawan ini rendah hati
seperti Raden Kuda Narpada’
Selagi Ki Buyut tarmangu-mangu, maka Raden Kuda Rupaka bertanya ‘Ki Buyut,
apakah Ki Buyut dapat menerima kedatanganku setelah Ki Buyut tahu serba sedikit
tentang aku dan paman Sura Wilaga?’
Sekali lagi Ki Buyut seperti tersentak dari tidurnya ‘Tentu…tentu Raden.
Marilah, aku persilahkan Raden berdua naik ke pendapa’
Tetapi Raden Kuda Rupaka menggelengkan kepalanya, katanya ‘Terima kasih Ki
Buyut, sebaiknya aku tidak usah naik, jika Ki Buyut tidak berkeberatan aku
berada di padukuhan ini, maka akupun tidak akan segera melanjutkan
perjalananku’.
‘Aku tidak mengerti Raden’ Ki Buyut menjadi bingung.
‘Maksudku, akhir dari perjalananku, berdua aku akan menghadap bibi Kuda Narpada’
‘He…, jadi Raden masih keluarga Pangeran Kuda Narpada?’
‘Aku masih saudara sepupunya’.
‘Oooo…..’ Ki Buyut mengusap dadanya, ‘ Raden… kedatangan Raden seperti titiknya
embun dipanas yang terik. Adalah kebetulan sekali sekali jika Raden berdua ingin
mengunjungi Raden Ayu Kuda Narpada, agaknya sekarang waktunya memang tepat
sekali’
‘Kenapa…?’ Kuda Rupaka mengerutkan keningnya. Lalu ‘Apakah ada hubungannya
dengan pesan orang tua di ujung padukuhan ini?’
‘Apa pesannya…?’
‘Aku tidak mengenal orang tua itu, orang tua itupun belum mengetahui siapa aku.
Tetapi ia sudah berpesan agar aku sangat berhati-hati’
‘Mungkin Raden, mungkin sekali…’ Ki Buyut mengangguk-angguk. ‘Karena itu,
silahkan Raden duduk sejenak, mungkin kami dapat menceritakan apa yang sudah
terjadi’.
Kuda Rupaka memandang Panji Sura Wilaga sejenak, lalu desisnya ‘Apakah kita akan
singgah..?’
‘Sebentar saja ngger, kita harus segera sampai kepada bibi anakmas’
‘Kuda Rupaka mengangguk-angguk, lalu, ‘Baiklah KI Buyut, tetapi tidak terlalu
lama, aku sudah sangat rindu kepada keluarga pamanda Kuda Narpada’
Kedua tamu Ki Buyut itupun kemudian dipersilahkan naik kependapa, dan duduk
diatas sebuah tikar pandan yang putih kekuning-kuningan.
Beberapa orang anak muda yang mendengar percakapan Ki Buyut denga kedua
bangsawan itupun kemudian menyampaikan kepada kawan-kawannya yang saling
memperbincangkannya.
Dipendapa Ki Buyut menceritakan apa yang sudah terjadi di padukuhan kecilnya.
Kedatangan orang-orang yang membuat seluruh penduduk padukuhan itu menjadi
cemas, apabila agaknya mereka menaruh perhatian kepada istana kecil yang sejak
kepergian Pangeran Kuda Narpada, istana itu seperti kehilangan gairah hidupnya.
‘Jadi, orang-orang itu agaknya mulai tertarik kepada istana pamanda Kuda Narpada
yang kosong itu?’
‘Begitulah Raden’ jawab Ki Buyut yang tidak lupa menceritakan Kasdu yang
berbaring di ruang dalam.
‘Jadi anak muda itu menjadi lumpuh, tuli, buta dan bisu?’
Ki Buyut ragu-ragu sejenak, Apakah ia akan mengatakan bahwa seorang anak muda
bernama Kidang Alit telah dapat menyembuhkannya.
Namun akhirnya Ki Buyut memutuskan untuk tetap memegang rahasia itu, namun
agaknya kedua bangsawan itu dapat dipercayai. Tetapi jika pengakuan itu didengar
dan diketahui oleh orang lain, maka, hal itu akan membahayakan jiwa Kasdu’
Karena itu Ki Buyut yang termangu-mangu itu tidak segera menjawab, maka, Kuda
Raden Rupakapun berkata ‘Apakah aku boleh melihat anak yang sakit itu Ki Buyut?’
Ki Buyut masih ragu-ragu.
‘Ah… baiklah Ki Buyut’ berkata Raden Kuda Rupaka ‘Aku mengerti bahwa Ki Buyut
tidak akan dapat langsung mempercayai sesorang yang baru saja dikenalnya. Tetapi
menilik cerita Ki Buyut, aku dapat menduga. Bawha ketiga orang itu tentu bukan
orang-orang kebanyakan. Dan karenanya aku memang harus berhati-hati. Tetapi
karena aku memang tidak mempunyai maksud apa-apa, selain menengok kesehatan
bibi, maka aku kira, mereka tidak akan marah kepadaku. Tetapi apabila mereka
akan marah juga, maka sudah barang tentu, kami akan memberikan banyak penjelasan
tentang maksud kedatangan kami dengan segala macam cara. Mungkin cara-cara yang
tidak biasa dipergunakan orang lain’.
Ki Buyut masih termangu-mangu sejenak, namun kemudian ‘Baiklah Raden, tetapi
sebaiknya Raden harus berhati-hati’.
‘Terima kasih Ki Buyut, tetaoi baiklah besok aku akan kembali kemari, jika sudah
ada kepercayaan dari Ki Buyut tentang dan paman Panji Sura Wilaga, karena Ki
Buyut benar-benar mengetahui bahwa aku berada di istana bibi Kuda Narpada. Maka,
aku tidak berkeberatan jika aku diperkenankan melihat anak muda yang bernama
Kasdu itu. mungkin aku mempunyai cara untuk mengobatinya, jika aku belum
terlampau lambat’.
‘Mengobati..?’
‘Yaa… kenapa…?’
Ki Buyut termangu-mangu sejenak, semula ia mendengar dari orang yang memukul
Kasdu, bahwa kemungkinan yang paling buruk itu tidak akan ada orang yang dapat
mengobatinya. Kemudian datang Kidang Alit, dengan obat-obatan yang ada. Ia
berhasil menawarkan racun yang mencengkam tubuh Kasdu, dan yang akan membuatunya
lumpuh, bisu, tuli dan buta itu. tetapi Kidang Alit mengatakan bahwa jarang
sekali, bahkan hampir tidak ada orang yang dapat mengobatinya kecuali Kidang
Alit Sendiri. Tetapi ternyata anak muda yang bernama Kuda Rupaka itu sanggup
pula untuk mengobatinya.
Dalam kebimbangan itu, tiba-tiba telah timbul pikiran lain pada Ki Buyut,
menurut pengamatannya, bangsawan-bangsawan itu tentu bukan orang yang bermaksud
jahat. Sehingga apa salahnya jika mereka dapat juga melihat dan mengenal dan
mengetahui keadaan Kasdu yang sebenarnya.
‘Ki Buyut…’ berkata Raden Rupaka kemudian, ‘kenapa Ki Buyut nampak ragu-ragu,
ketika aku mengatakan bahwa aku akan berusaha mengobati luka-luka anak itu..?’
Ki Buyut termangu-mangu sejenak, saat itu Kidang Alit tidak nampak berada di
halaman, sehingga ia tidak dapat meminta pertimbangannya.
Namun akhirnya Ki Buyut berniat untuk memperlihatkan Kasdu kepada kepada kedua
bangsawan itu. kemudian, ia akan berbuat sesuatu dengan tanggapan kedua orang
itu atas Kasdu.
‘Raden…’ berkata Ki Buyut kemudian, ‘Sebenarnyalah bahwa anak yang terluka itu
ada disini. Terus terang aku memang ragu-ragu karena aku belum pernah mengenal
Raden sebaik-baiknya. Tetapi agaknya Raden dapat dipercayai, sehingga aku akan
memperlihatkan anak yang terluka itu kepada Raden’.
Kuda Rupaka tertawa pendek, katanya ‘Terserahlah kepada Ki Buyut, jika Ki Buyut
percaya kepada kami, baiklah kami akan melihatnya. Seperti aku katakan, jika aku
masih belum terlambat, maka aku mencoba mengobatinya, karena menilik
keteranganmu, luka-luka itu disebabkan oleh sabangsa racun yang kuat’.
‘Baklah Raden, marlah, aku persilahkan Raden pergi ke ruang belakang.’
Demikianlah maka Ki Buyut itupun membawa Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga
keruang belakang, ketempat Kasdu masih terbaring diam.
‘Inilah anak muda itu’.
Kuda Rupaka mendekatinya, dipandanginya Kasdu dengan sekasama. Beberapa kali ia
menyentuh tubuh Kasdu dengan jari-jarinya, bahkan kemudian pada noda-noda di
wajahnya.
‘Apakah ia benar-benar lumpuh, bisu, tuli dan buta?’ bertanya Kuda Rupaka.
‘Benar Raden’
Sejenak Kuda Rupaka terdiam, lalu ‘Apakah ia melihat atau mendengar
kedatanganku?’
‘Tentu tidak Raden…’
Kuda Rupaka mengangguk-angguk, perlahan-lahan ia meraba dahi Kasdu kemudian
dadanya dan terakhir disusupkannya tangannya dibawah tengkuknya.
Tiba-tiba Kuda Rupaka tersenyum, katanya ‘Kenapa Ki Buyut menipu aku?’
‘Menipu ?, Maksud Raden.?’
‘Ki Buyut benar, bahwa anak ini telah terkena racun yang dapat membuatnya
lumpuh, karena syarafnya langsung dilumpuhkan oleh racun tiu’
‘Ya… jadi kenapa Raden mengatakan aku telah menipu ?’
‘Tetapi anak ini tidak lumpuh, buta dan tuli… meskipun ia tidak bergerak dan
tidak menunjukkan tanggapan apapun atas kedatanganku, seolah-olah ia memang
tidak melihat dan tidak mendengar, namun aku mengetahui dengan pasti, bahwa
sudah ada obat yang dapat menyembuhkannya’.
Dada Ki Buyut menjadi berdebar-debar, dalam beberapa hari ia harus menyaksikan
beberapa macam peristiwa yang seolah-olah berada diluar jangkauan nalarnya.
Mula-mula sentuhan tangan kasar, yang membuat Kasdu menjadi kehilangan kesadaran
dan kelumpuhan syarat mutlak. Kemudian ia melihat Kidang Alit berhasil
mengobatinya meskipun Kasdu baru akan dapat pulih dengan perlahan-lahan dalam
waktu yang cukup lama, yang dapat mengerti apa yang sebenarnya dihadapi. Kasdu
sudah tidak lagi lumpuh, buta, tuli dan bisu.
Dalam kebingungannya itu Ki Buyut bertanya diluar sadarnya ‘Dari mana Raden
mengetahui bahwa anak itu sudah diobati ?’
‘Ujung jari-jariku tidak dapat dikelabui meskipun mungkin mata dan telingaku
dapat, aku yakin bahwa anak ini akan sembuh dalam jangka yang pendek. Antara
tiga atau empat bulan, bukanjah begitu..?’
‘Maaf Raden, bukan maksudku untuk menipu, tetapi aku hanya ingin berhati-hati’.
‘Aku tahu, sebab jika orang yang melukai anak ini mengetahui bahwa kelumpuhan
syaraf itu dapat disembuhkan, ia akan datang dan membunuhnya dengan cara lain.
Mungkin anak ini akan decikik atau langsung ditusuk jantungnya dengan belati
atau keris yang mengandung warangan yang kuat, dan ditungguinya sampai ia yakin
bahwa anak ini mati’
‘Ya… ya Raden’ Ki Buyut tergagap.
‘Baiklah, aku justru bersyukur bahwa sudah ada seorang yang mengobatinya.
Siapakah yang mengobati itu?’
Bab 4
‘Baiklah, aku justru bersyukur bahwa sudah ada seorang yang mengobatinya.
Siapakah yang mengobati itu?’
‘Seorang petualang yang singgah di padukuhan ini, Raden’
Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, kemudian bertanya ‘Ki Buyut, apakah Ki Buyut
mengetahui, siapakah yang sudah melukai anak ini dan yang menyembuhkannya?’
‘Yang aku ketahui adalah mereka yang ada di padukuhan ini’
Kuda Rupaka menarik nafas. Katanya ‘Mungkin orang yang kau ceritakan itu adalah
orang yang tertentu dengan ciri-ciri tertentu, sehingga orang-orang yang ada di
padukuhan ini, jelasnya tiga orang yang kasar itu itu adalah sebagian dari
kesatuan yang jauh lebih besar lagi’
‘Kami yang di padukuhan ini tidak mengetahuinya Raden’
Kuda Rupaka mengangguk-anggukan kepalanya, lalu katanya ‘KI Buyut, baiklah aku
memberitahukan kepada Ki Buyut. Bukan maksudku membuat Ki Buyut bertambah kecil.
Yang melukai anak muda ini tentu seorang yang datang dari perguruan yang namanya
sangat dikagumi, Guntur Geni’
‘Guntur Geni’ Ki Buyut mengulang. Namun ia menjadi heran. Kidang Alit pernah
juga menyebut sebuah perguruan, tetapi perguruan itu dipimpin oleh Kiai Sekar
Pucang, yang masa mudanya tersebar semacam dongeng bahwa orang yang bernama Kiai
Sekar Pucang itu tidak dapat mati, kebal dari segala macam senjata dan dapat
melenyapkan diri dari tangkapan mata wadag. Tetapi kini anak muda yang bernama
Raden Kuda Rupaka itu menyebut sebuah perguruan lain. Perguruan Guntur Geni.
‘Apakah Ki Buyut pernah mendengarnya?’ bertanya Kuda Rupaka kemudian.
Ki Buyut menggeleng dengan ragu-ragu. Jawabnya ‘Belum Raden, aku belum pernah
mendengar nama perguruan itu’.
Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian ‘Perguruan Guntur
Geni adalah perguruan yang dipimpin oleh seorang yang menyebut dirinya seperti
nama seorang sakti pada masa beberapa puluh tahun yang lalu. Mungkin ia adalah
muridnya yang paling dikasihi sehingga ia berhak memasuki namanya pula’.
‘Siapakah nama itu?’ tiba-tiba Ki buyut menjadi ingin tahu.
‘Kiai Sekar Pucang”
‘Ooo….’ Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia baru saja menemukan
sesuatu yang baru saja hilang’.
‘Apakah Ki Buyut pernah mendengar nama itu?’
‘Dahulu Raden. Pada masa aku masih muda, Kiai Sekar Pucang adalah orang yang
sangat sakti, ia tidak dapat mati dan kebal, bahkan dapat menghilang’.
Kuda Rupaka tertawa, mirip sekali dengan saat-saat Kidang Alit tertawa, ketika
ia mendengar kesaktian Kiai Sekar Pucang yang diucapkannya. Dan yang dikatakan
oleh Rupakan ternyata mirip sekali pula. ‘Tidak seluruhnya benar Ki Buyut, Kiai
Sekar Pucang memang memiliki aji Lembu Sekilan. Tidak lebih. Memang jarang yang
ada orang yang memiliki ilmu itu. Tetapi ada pula ilmu yang akan dapat menembus
kekuatan daya tahan aji Lembu Sekilan, sehingga aji itu hampir tidak berarti
sama sekali.’
Ki Buyut mengangguk-angguk, rasa-rasanya ia berhadapan sekali lagi dengan Kidang
Alit. Apalagi ketika Kuda Rupaka berkata ‘Tetapi sudah barang tentu bahwa Kiai
Sekar Pucangpun akan mati, tidak ada orang yang tidak dapat mati’
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Dalam saat-saat terakhir ia menghadapi
banyak sekali teka-teki yang harus dipecahkannya, disamping kegelisahan yang
memuncak karena tingkah tiga orang kasar yang sudah beberapa saat berada
dipadukuhannya yang kecil.
Beberapa tahun yang lalu. Ki Buyut menjadi cemas ketika Pangeran Kuda Narpada
menyatakan keinginannya tinggal di padukuhan ini. Karena dengan demikian akan
dapat mengundang banyak persoalan. Tetapi ternyata yang terjadi kemudian adalah
kemajuan dan harapan bagi penduduk padukuhan kecil yang terpencil itu. namun
justru setelah Pangerang Kuda Narpada pergi, bahkan untuk waktu yang sudah cukup
lama. Yang dahulu pernah dicemaskan itu baru datang, diikuti dengan kehadiran
orang-orang yang dianggap aneh.
Karena Raden Kuda Rupaka menyebut beberapa hal yan mirip sekali dengan yang
dikatakan oleh Kidang Alit, maka Ki Buyut mulai dibebani lagi oleh pertanyaan
yang semakin menekan hatinya ‘Siapakah sebenarnya Kidang Alit itu?’
‘Ki Buyut…, berkata Raden Kuda Rupaka kemudian, ‘Baiklah untuk sementara aku
minta diri, aku akan menghadap bibi Kuda Narpada. Mungkin kedatanganku dapat
memberikan suasana yang agak baik bagi keluarganya meskipun aku tidak akan
tinggal terlampau lama di istana itu’.
‘Jadi Raden hanya akan tinggal sebentar di padukuhan ini?’
Kuda Rupaka tersenyum, katanya ‘Aku hanya menengok keselamatan bibi, aku
mempunyai tugas tertentu yang tidak dapat terlampau lama aku tinggalkan’
Ki Buyut mengangguk-angguk sejenak. Tetapi sebagai orang tua ia tidak dapat
menahan hati dan berkata ‘Raden…, agaknya istana kecil itu kini terancam.
Kehadiran Raden adalah suatu kebetulan. Jika Raden dapat membantu Raden Ayu Kuda
Narpada, maka alangkah gembiranya hati kami, penduduk padukuhan terpencil yang
merasa pernah berhutang budi kepada penghuni istana itu. Pangeran Kuda Narpada
telah memberikan banyak sekali kepada kami, dan kami tidak mampu untuk berbuat
apapun juga.’
Kuda Rupaka tersenyum, katanya ‘Baiklah, Ki Buyut, kami berdua akan berbuat
sebaik-baiknya untuk kepentingan bibi’.
Namun tiba-tiba Ki Buyut bertanya ‘Raden, apakah Raden tidak mengetahui,
kemanakah Pangeran Kuda Narpada itu pergi?’
Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, dipandanginya Panji Sura Wilaga, namun orang
itu tidak memberikan tanggapan apapun.
Karena itu, maka Kuda Rupaka berkata ‘Pamanda Kuda Narpada pergi ke tempat yang
tidak diketahui, tetapi sebaiknya kita tidak usah berbicara tentang sesuatu yang
tidak aku mengerti dengan pasti. Jika aku membuat kesalahan, akibatnya mungkin
akan sangat merugikan. Baik bagiku sendiri maupun bagi pamanda Kuda Narpada’.
‘Tetapi Pangeran Kuda Narpada masih hidup?’
Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, sekilas ia berpaling memandang Panji Sura
Wilaga. Namun kemudian ia berhasil menguasai perasaan dan menjawab sambil
tersenyum. ‘Tentang pamanda Kuda Narpada, itupun aku tidak mengetahui dengan
pasti, karena itu, jangan berbicara lagi tentang pamanda Kuda Narpada’
Ki Buyut hanya dapat mengangguk-angguk, tetapi beberapa patah kata itu agaknya
telah menumbuhkan harapan di dalam dadanya, bahwa Pangeran Kuda Narpada masih
diliputi oleh rahasia yang tidak terpecahkan. Kemanakannya sendiripun tidak
mengetahui dengan pasti. Tetapi dengan dengan demikian berarti bahwa belum dapat
dipastikan bahwa Pangeran Kuda Narpada telah tidak ada lagi.
Meskipun demikian, Ki Buyut sama sama sekali tidak mendesak lagi. Ia tidak mau
membuat kedua orang itu membuat kesan yang kurang baik padanya, sehingga dapat
menyulitkan hubungan buat selanjutnya.
Karena itu, maka, Ki Buyutpun berkata ‘Maaf Raden, aku tidak berniat memberikan
pertanyaan yang kurang Raden senangi, tetapi baiklah, jika Raden ingin pergi ke
istana yang menjadi semakin suram itu, aku persilahkan Raden menyelusuri jalan
ini, satu-satunya jalan yang melalui depan regol istana kecil itu.’ Ki Buyut
berhenti sejenak, lalu. ‘Tetapi apakah Raden memerlukan seorang pengantar yang
akan menunjukkan jalan ke istana itu?’.
‘Aku sudah menempuh perjalanan yang jauh sekali, dan aku dapat menemukan
padukuhan ini, karena itu, aku tidak memerlukan penunjuk jalan untuk
menghabiskan sisa perjalanan yang tinggal beberapa langkah saja ini’
Ki Buyut mengangguk-angguk, lalu katanya ‘Sebenarnya kami ingin menjamu Raden
berdua….’ ia berhentu senenak, lalu dengan ragu-ragu ia berkata ‘Mungkin dengan
demikian kami dapat mengurangi kesibukan Raden Ayu di Istana kecil itu’.
Raden Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, lalu ‘Jadi apakah keadaan bibi sudah
terlampau sulit sekarang ini..?’
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, katanya ‘Selama ini tidak ada penghasilan
apapun juga bagi Raden Ayu, sedangkan mereka harus membiayai hidup mereka
sehari-hari’.
‘Dan tidak ada seorangpun yang membantunya…?’
‘Kami sudah berusaha, tetapi Raden Ayu Kuda Narpada tidak terlampau mudah
menerima bantuan orang lain, bahkan untuk memperbaiki atap istananyapun Raden
Ayu belum dapat menerimanya’.
Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, lalu ‘Keteranganmu mendorong aku
untuk lebih cepat lagi mengunjungi bibi’ ia berhenti sejenak, lalu berpaling
kepada Panji Sura Wilaga ‘Marilah Paman, kita segera pergi ke rumah bibi’
Demikianlah Raden Kuda Rupaka segera meninggalkan rumah Ki Buyut dan langsung
menuju ke istana kecil yang terpisah beberapa tonggak dari padukuhan induk.
Disepanjang jalan padukuhan beberapa orang dengan termangu-mangu memandang kedua
orang penunggang kuda itu, sebagian dari mereka telah mengetahui bahwa keduanya
telah singgah beberapa saat di rumah Ki Buyut di Karangmaja.
Sebagian dari mereka telah ditumbuhi oleh harapan, bahwa keduanya akan membuat
perubahan-perubahan didalam padukuhan itu. kehadiran tiga orang kasar yang
memiliki kemampuan mengerikan itu telah membuat Karangmaja serasa diselubungi
oleh kecemasan dan ketakutan.
‘Apakah kehadiran keduanya itu dapat merubah suasana?’ bertanya seorang kepada
kawannya.
Kawannya menggelengkan kepalanya, katanya ‘Tidak seorangpun yang mengerti,
tetapi mungkin justru sebaliknya, kedua orang itu akan mengalami nasib yang
serupa dengan Kasdu.’
‘Kasihan sekali, apakah dengan demikian berarti Raden Ayu Kuda Narpada yang
sudah dalam kesulitan itu harus menanggung dua orang lumpuh, bisu, tuli dan
buta…?’
Kawannya mengangkat bahunya, tetapi ia tidak menjawab. Dalam pada itu, kedua
ekor kuda berderap terus menuju ke istana kecil itu. tidak terlampau cepat,
karena keduanya tenggelam dalam pembicaraan yang bersungguh-sungguh.
‘Paman’ berkata Kuda Rupaka, ‘Ternyata dipadukuhan ini tinggal beberapa orang
dari perguruan Guntur Geni, itu merupakan tanda bahaya bagi kehadiran kita,
meskipun kita tidak harus melarikan diri.’
‘Bukan hanya dari perguruan Guntur Geni Raden, tetapi masih ada yang harus kita
pertimbangkan’
Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, lalu ‘Ya… ternyata ada orang yang mampu
melawan kekuatan racun dari perguruan Guntur Geni itu, siapakah kira-kira orang
itu?’
Sura Wilaga menggelengkan kepalanya, katanya ‘Sulit untuk menebak, tetapi pasti
orang yang memiliki kemampuan seimbang dengan perguruan Guntur Geni, dan
perguruan yang demikian itu tidak banyak jumlahnya. Hanya satu atau dua saja di
daerah yang luas, yang berada di kekuasaan Demak sekarang’
Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya ‘Kita memang harus berhati-hati,
rasa-rasanya padukuhan kecil ini kini telah berubah menjadi daerah jelajah
orang-orang yang memilki ilmu yang tinggi, jusru karena istana kecil itu’.
Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, namun ketika ia akan berbicara, tiba-tiba
wajahnya menegang, ia memandang beberapa puouh langkah di hadapannya ketika ia
telah berada dimulut lorong padukuhan.
Tetapi Kuda Rupaka justru tersenyum sembil berkata, ‘Kau juga melihatnya..?’
‘Ya Raden, tiga orang yang barangkali telah disebut oleh Ki Buyut’.
Kuda Rupaka mengangguk, katanya ‘Sekerang kita sudah langsung dapat bertemu,
jika mereka ingin berbuat sesuatu sekarang ini, agaknya memang menyenangkan
sekali, kita baru saja menempuh perjalanan yang berat, sehingga hati kita masih
tegang, mungkin dengan demikian kita akan dapat melayani mereka dengan kasar
seperti apa yang dapat mereka lakukan. Tetapi jika sempat beristirahat dan
merenungi martabat kita, maka kita akan terlampau berhati-hati dan berbuat
seperti seorang kesatria’
Panji Sura Wilaga tersenyum, katanya ‘Baiklah Raden, Tiga orang dari perguruan
Guntur Geni’.
Kuda Rupaka tersenyum pula, katanya ‘Kau mulai menilai kemampuan kita
masing-masing?’
‘Ah bukankah itu wajar?’
Keduanya berjalan terus, seolah-olah mereka tidak melihat sesuatu, mereka sama
sekali tidak memperhatikan tiga orang yang berkuda yang berada dilereng gumuk
kecil disebelah istana kecil yang terpencil itu.
Ternyata kehadiran kedua orang itu telah mengejutkan pula ketiga orang yang
sedang mengawasi istana kecil dari lereng bukit, rencana yang telah mereka susun
di padukuhan terpencil itu.
‘He…!, siapakah mereka’ bertanya Kumbara kepada kedua kawannya.
Gagak Wereng dan Naga Pasa mengerutkan keningnya, kedatangan kedua orang itu
benar-benar telah menggoncangkan setiap rencana yang telah setiap susun.
‘Dua orang bangsawan’ desis Naga Pasa.
‘Gila… apakah mereka keluarga Pangeran Kuda Narpada?’
‘Kita belum tahu pasti’
Namun tiba-tiba Gagak Wereng berkata, ‘Kita tidak perlu mempertimbangkan banyak
persoalan, marilah kita potong perjalanan mereka yang tinggal beberapa langkah
itu. kita bunuh mereka di muka gerbang istana yang sudah pudar itu’.
Kumbara mengerutkan keningngya, untuk beberapa lamanya ia merenung. Sedang Gagak
Wereng mendesaknya ‘Ya....kakang Kumbara, apakah kita menunggu mereka memasuki
regol?’
‘Membunuh keduanya tidak sulit, tetapi dengan demikian kita sudah menumbuhkan
persoalan lain di padukuhan ini. Kau sangka keduanya itu berdiri sendiri?, jika
pada waktunya mereka belum kembali ke istananya, maka ayahnya, pamannya,
kakeknya dan prajurit-prajuritnya akan mencarinya. Tentu mereka tahu pasti bahwa
anak itu pergi mengunjungi Raden Ayu Kuda Narpada’.
“Tetapi itu akan terjadi satu atau dua pekan mendatang, sementara itu, kita
sudah menghilang dari padukuhan ini.’
‘Kita sudah meninggalkan bekas disini, mereka akan menemukan ciri-ciri tentang
kita semuanya dan segera menyusul ke padepokan dengan kekuatan yang tidak
terlawan. Mungkin pasukan segelar sepapan denan senapati-senapati pilihan dari
Demak’.
‘Tunggu…!’ tiba-tiba yang lain memotong, ‘Apakah kau sudah yakin bahwa keduanya
termasuk keluarga Pangeran Kuda Narpada?’
‘Memang masih harus kita yakinkan, tetapi demikianlah dugaanku’.
Sejenak ketiga orang itu terdiam. Mereka memandangi saja kedua orang bangsawan
yang berkuda menyusuri jalan menuju ke istana kecil itu.
‘Kita yakin sekarang, mereka pasti keluarga Pangeran Kuda Narpada’.
‘Dan kita yakin sekarang, bahwa kita tidak akan dapat begitu saja membunuhnya’.
Kumbara menggeram, katanya ‘Jadi, apakah semua rencana kita harus batal?’
‘Tidak, tidak harus batal, kita akan mencari jalan yang paling baik untuk dapat
untuk dapat melaksanakan semua rencana itu’
‘Tidak ada jalan lain kecuali dengan membunuh kedua orang itu’.
‘Mungkin, tetapi sudah barang tentu dalam waktu yang tepat. Atau barangkali
mereka tidak akan terlalu lama tinggal di istana itu.’
‘Baiklah, kita menunggu dua hari lagi, Jika dalam waktu dua hari ini keduanya
tidak meninggalkan istana itu, kita harus segera bertindak. Tidak ada kesempatan
yang akan terbuka kelak, jika tidak sekarang.’
Kedua orang yang lain mengangguk-angguk. Sambil memandang kedua orang yang
berkuda. Dengan acuh tidak acuh terhadap mereka bertiga itu. Naga Pasa berdesis
‘Mereka amat sombong, aku sebenarnya ingin membunuhnya sekarang’
‘Mungkin mereka belum tahu, siapakah kita. Jika mereka besok atau lusa mendengar
tentang anak karangmaja yang lumpuh, buta dan tuli itu, tentu keduanya akam
memperhitungkan kehadiran kita disini’ Jawab Kumbara.
Kawan-kawannya tidak menjawab lagi. Mereka memandang saja kedua orang yang
semakin lama semakin dekat dengan pintu gerbang istana kecil itu.
Dalam pada itu, Raden Kuda Rupakapun sekali-kali memandang ketiga orang itu
dengan matanya, tetapi ia memang dengan sengaja memberikan kesan bahwa ia tidak
mengacuhkan kehadiran ketiga orang dilereng bukit kecil itu.
‘Kita langsung masuk kehalaman istana itu paman?’ bertanya Raden Kuda Rupaka.
Sura Wilaga termangu-mangu sejenak, namun kemudian ‘Memang sebaiknya demikian
Raden, mungkin kedatangan Raden akan sangat mengejutkan. Tetapi Raden akan
segera dapat memberikan penjelasan dan tentu Raden Ayu Kuda Narpada akan senang
sekali menerima Raden di Istananya yang sudah menjadi suram itu.’
Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya ‘Aku sependapat paman, mungkin aku akan
mengejutkan bibi, tetapi kemudian bibi tentu akan sangat senang menerima
kedatanganku’ ia berhenti sejenak, lalu ‘Tetapi bagaimana jika bibi nanti
bertanya tentang pamanda Pangeran Kuda Narpada?’
Panji Sura Wilaga termangu-mangu sejenak, ‘Namun kemudian katanya ‘Raden jangan
membuat Raden Ayu menjadi semakin muram, sebaiknya Raden mengatakan saja, bahwa
Raden tidak mengetahui sama sekali masalah pamanda Raden itu’.
‘Bibi tentu tidak akan percaya…’
‘Raden katakana saja bahwa Raden memang mendengar bahwa pamanda telah pergi
bersama kedua orang pangeran yang lain’
‘Ya…, Pamanda Pangeran Cemara Kuning dan Pamanda Pangeran Sendang Prapat’
‘Seterusnya Raden tidak mengetahui apa yang terjadi dengan kedua Pamanda Raden
itu’.
Kuda Rupaka mengangguk-angguk, ketika ketika ia memandang tiga orang yang berada
dilereng bukit itu, dilihatnya ketiganya sedang meninggalkan tempatnya.
‘Kita memang harus berhati-hati Raden’ berkata Panji Sura Wilaga.
‘Aku mengerti Paman, mereka bukan orang-orang yang dapat diabaikan, namun
percayalah, mereka tidak akan dapat berbuat banyak atas kita, kita bukan
sebangsa anak Karangmaja yang menjadi lumpuh, bisu, buta dan tuli, untunglah ada
seseorang yang dapat mengobatinya. Seseorang yang harus masuk dalam hitungan
kita.’
Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, tetapi ia tidak menyahut. Sementara itu
mereka berdua semakin dekat dengan regol halaman yang mulai nampak gersang
meskipun masih tetap bersih.
‘Kita berhenti di depan regol’ berkata Kuda Rupaka.
‘Kenapa..??’
‘Kita menunggu sesorang yang akan keluardari regol itu’
‘Tidak akan ada orang yang keluar dari regol. Kitalah yang harus masuk dengan
hati-hati, agar jangan membuat penghuninya ketakutan’.
Raden Kuda Rupaka setuu, Karena itu, maka ketika mereka berada di depan regol,
keduanya segera meloncat turun. Dengan hati-hati Panji Sura Wilaga membuka pintu
regol itu dari luar perlahan-lahan.
‘Diselarak Raden’ desisnya
‘Kau dapat membukanya?’
‘Akan aku coba…’
Raden Kuda Rupaka menunggu sejenak, Panji Sura Wilaga dengan susah payah
berhasil juga membuka selarak regol dari luar dengan menyusupkan tangannya
disela-sela daun pintu yang sudah renggang.
‘Marilah Paman’ ajak Kuda Rupaka.
Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, tetapi iapun kemudian menutup pintu
regol kembali, sebelum mereka kemudian melangkah menuju tangga pendapa.
‘Sepi sekali…’ desis Kuda Rpaka.
‘Ya… sepi sekali’ sahut Panji Sura Wilaga
Untuk beberapa saat mereka berdiri termangu-mangu dipendapa, pintu pringgitanpun
ternyata tertutup pula, sedangkan pintu samping sebelah menyebalahpun masih juga
tertutup.
Dengan ragu-ragu Raden Kuda Rupaka mengucapkan salam perlahan-lahan. Namun
semakin lama semakin keras. Tetapi tidak seorangpun yang membuka pintu
pringgitan di belakang pendapa itu.
‘Apakah kita akan masuk ke halaman samping atau kelongkongan gandok?’
‘Apakah kiranya tidak akan mengejutkan sekali?’ bertanya Panji Sura Wilaga.
‘Itulah, jangan-jangan bibi menjadi pingsan.’
‘Tetapi bagaimanakah jika kedatangan kita tidak diketahui oleh Raden Ayu..?,
mungkin sehari penuh kita harus berdiri disini sampai seseorang keluar dengan
membawa sapu lidi untuk membersihkan halaman’.
‘Baiklah’ berkata Raden Kuda Rupaka ‘Pegang kendali kudaku, aku akan masuk lewat
kelongkongan, mudah-mudahan pintu samping itu tidak diselarak pula’.
Panji Sura Wilagapun kemudian menerima kendali kuda Raden Kuda Rupaka yang
dengan ragu-ragu pergi ke pintu disisi kanan halaman istana itu. Perlahan-lahan
ia mendorong pintu yang tertutup itu, ternyata pintu itu tidak diselarak,
sehingga perlahan-lahan pula pintu itu terbuka.
Agar kedatangannya tidak mengejutkan sekali, maka Kuda Rupaka sekali lagi
mengucapkan salam, namun tidak seorangpun yang menyahutnya. Beberapa titik
keringat telah membasahi punggungnya, tetapi Kuda Rupaka terpaksa tersenyum
sendiri, rasa-rasanya ia memasuki suatu tempat yang sangat mendebarkan
jantungnya.
Beberapa langkah iapun kemudian memasuki longkongan, dilihatnya longkongan dan
gandok sebelah kananpun sepinya bukan main, seolah-olah ia berada di dalam
istana yang sudah bertahun-tahun kosong sama sekali.
Namun telinganya yang tajam itupun kemudian mendengar suara sesorang di
belakang, bahkan kemudian ia mendengar isak tangis. Wajahnya tiba-tiba menjadi
tegang, untunglah bahwa ia masih dapat menahan diri, ketika kakinya hampir saja
meloncat berlari kebelakang.
Sambil menahan hati, Kuda Rupakan berjalan dengan hati-hati menuju ke tempat
suara tangis itu. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar langkah didalam
istana, dekat sekali dari tempatnya berdiri.
Karena itu, agar ia tidak mengejutkan orang-orang yang ada debelakang, sekali
lagi ia mengucapkan salam. Ternyata suaranya kali ini dapat didengar oleh
penghuni istana itu, dari dalam ia mendengar suara seorang perempuan.
‘Siapa diluar….?.
‘Aku…… Kuda Rupaka’
‘Kuda Rupaka…?, Aku belum pernah mendengar nama itu…’
‘Aku ingin menghadap bibi Kuda Narpada….’
Sejenak tidam mendengar suara apapun. Agaknya perempuan yang menyahut tadi masih
ragu-ragu, namun kemudian terdengar pintu berderit, perlahan-lahan daun pintu
buntulan itupun terbuka.
Ketika sebuah wajah nampak dari balik daun pintu, dada Kuda Rupaka terguncang,
wajah itu adalah wajah seorang gadis yang sangat cantik, Inten Prawesti.
Sejenak kemudian bagaikan membeku, Inten Prawestipun terkejut melihat anak muda
dalam pakaian kebangsawanannya berdiri dilongkangan.
Ternyata Kuda Rupaka segera berhasil menguasainya, karena itu, maka iapun segera
bertanya. ‘Apakah aku berhadapan dengan diajeng Inten Prawesti..?’
‘Ya,,, aku Inten Prawesti’ jawab gadis itu terbata-bata.
‘Aku adalah Kuda Rupaka, aku ingin menghadap bibi, apakah bibi ada di istana
ini..?’
Ternyata hati Inten yang tergoncang, masih belum dapat ditenangkan, karena itu,
naka dengan gelisah ia menerima tamunya yang rasa-rasanya belum pernah
dilihatnya. Ia tidak sempat mempersilahkannya masuk ke dalam tetapi dengan
tergesa-gesa ia berlari kebelakang mendapatkan ibundanya.
‘Ibunda’ desisnya, ‘Ada tamu dilongkangan’
‘Tamu…?’ Ibunya menjadi heran, sudahn lama ia tidak pernah mendengar sebutan
itu...TAMU.
‘Apakah benar kita menerima tamu…?’ bertanya ibundanya pula.
’Ya..., tamu yang agak lain’
Ibundanya menjadi ragu-ragu, sejenak dipandangnya Nyi Upih yang sedang menangis,
tiba-tiba tangisnya terhenti.
’Nyi...’ berkata Raden Ayu Kuda Narpada ’Jangan menangis lagi, kita akan
menerima tamu, biarlah anak-anakmu ini berbaring tenang lebih dahulu. Agaknya
mereka tidak apa-apa, hanya karena lelah amat sangat, mungkin lapar dan haus,
biarlah mereka beristirahat’
’Ya gusti, aku mengucapkan terima kasih tiada terhingga jika Gusti mengijinkan
kedua anak-anakku yang menyusul aku ini tinggal disini bersamaku.’
’Ah, kenapa aku keberatan...? Aku senang sekali mendapat kawan diistanaku yang
sepi dan terpencil ini’
Nyi Upih mengusap matanya.
”Kita mengucap sukur kepada Yang Maha Agung karena kedua anak-anakmu telah
selamat sempai kepadamu meskipun wwajahnya menjadi merah biru dan kakinya
luka-luka’
Setitik air mata telah mengembun lagi dimata Nyi Upih, katanya ’bertahun-tahun
mereka mencari aku, rasa-rasanya mereka sudah menjadi orang yang paling hina.
Tidak lebih baik dari pengemis disepanjang jalan kota raja, pakaian
compang-camping, tubuh yang rusak.’
’Tetapi mereka selamat’
Nyi Upih mengangguk-angguk, sementara Inten Prawesti menggamit ibundanya sambil
berbisik ’Tamu itu masih berdiri dilongkongan’
Sebenarnyalah Kuda Rupaka masih berdiri dilongkangan, Ia justru menjadi gelisah,
kenapa Inten itu juga belum juga mempersilahkan masuk atau naik ke pendapa.
Namun sejenak kemudian muncullah seorang perempuan yang lain, seorang yang sudah
melampui pertengahan umurnya.
Demikian prempuan itu muncul dimuka pintu, maka Kuda Rupakapun segera meloncat
maju, dengan serta merta ia berjongkok sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
’Bibi, baktiku bagi bibi Kuda Narpada’
’Anak muda’ berkata Raden Ayu, ’Siapakah sebenarnya kau ini?, aku belum pernah
melihatmu dan aku belum pernah mengenalmu’
’Ampun bibi, mungkin bibi belum pernah mengenal aku, atau barangkali bibi sudah
melupakan aku, aku adalah Kuda Rupaka, Putera Ayahanda Pangeran Lingga Watang’
’Putera Pangeran Linggar Watang?, jadi kau putera Kamas Linggar Watang?’
’Ya, bibi’
Raden Ayu Kuda Narpada mengusap kepala anak muda itu, setitik air mata nampak
dipelupuknya, namun Raden Ayu Kuda Narpada tidak menangis.
’Inten’ panggil Raden Ayu Kuda Narpada ’Kemarilah, ini adalah saudara sepupumu
Kuda Rupaka, putera pamanmu Pangeran Lingga Watang’ lalu ’Marilah Kuda Rupaka,
masuklah, apakah kau datang seorang diri?’
’Tidak bibi, aku datang bersama paman Panji Sura Wilaga’
’Ooo...’ tetapi keningnya berkerut ’Aku belum pernah mendengar nama itu!’
’Mungkin belum bibi, paman Panji Sura Wilaga adalah salah seorang perwira dari
Demak’
’Ooo...’ Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk-angguk, ’Dimana Panji Sura Wilaga
sekarang?’
’Di depan bibi, ditangga pendapa’
’Marilah, kalian harus kami terima dengan penuh kehormatan, sudah terlalu lama
kami hidup terpencil dari sanak kadang’.
Demikianlah maka Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga itupun kemudian
diterima dengan segala senang hati, Nyi Upihpun kemudian sibuk mempersiapkan
hidangan bagi kedua tamu tuannya itu. sementara Inten Prawesti mondar-mandir
menghidangkan hidangan kependapa.
’Apakah tamunya masih muda puteri?’ bertanya Nyi Upih.
’Yang seorang Nyai, yang seorang sudah separuh baya, yang seorang adalah putera
pamanda Pangeran Linggar Watang, sedangkan yang seorang adalah pengiringnya,
seorang senopati dari Demak. Apakah kau belum pernah mengenalnya?’
’Yang sudah aku kenal adalah Pangeran Linggar Watang itu sendiri dahulu, tetapi
aku belum pernah melihat orang yang bernama Pangeran Sura Wilaga’
’Bukan Pangeran Nyai’
’Ooo...’ Nyi Upih mengangguk-angguk, tentu seorang anak muda yang tampan’
’Ah, darimana kau tahu?’
’Pangeran Linggar Watang adalah seorang Pangeran yang tampan, gagah tinggi dan
tegap, sedang Raden Ayu adalah seorang perempuan yang sangat cantik, juga
bertubuh tinggi semampai. nah, apakah puteranya tidak akan menjadi seorang yang
gagah, bertubuh tinggi dan berdada bidang, sedang wajahnya adalah wajah yang
cerah dan tampan?’
’Tetapi Kuda Rupaka tidak begitu tinggi”
’Namun anak-anak muda masih akan berkembang, tentu Raden Kuda Rupaka akan
bertambah tinggi dan tegap’
Inten Prawesti tersenyum, tetapi ia tidak menyahut, bahkan tiba-tiba saja ia
bertanya ’Bagaimana dengan anak-anakmu Nyai?’
’Mereka sedang berbaring didalam bilik puteri’
‘Apakah mereka sudah tenang?’
‘Ya puteri, tetapi anak perempuan itu agaknya masih selalu gelisah’
’Nyai’ tiba-tiba Inten bertanya sambil meletakkan nampan, ’Kenapa aku belum
pernah melihat anak-anakmu dahulu?, apakah anak-anakmu tidak pernah menengokmu
saat kau bersama kami di Majapahit?’
’Nyi Upih tersenyum, katanya ’Sebuah ceritera yamg memalukan sekali puteri’
’Cerita yang mana yang kau maksud?’
’Ah sudahlah’
’Ceritakan, bukankah sudah lama kita meninggalkan Majapahit, dan agaknya kita
tidak akan kembali lagi?’
’Ah...’ Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam sambil menyiapkan makan bagi
tamu-tamunya, ‘Puteri, sebaiknya aku menyelesaikan tugasku ini dahulu, bukankah
tamu itu akan segera dipersilahkan makan’
’Kau dapat menanak nasi sambil berceritera’
’Sebaiknya puteri ikut menemui tami itu’
Inten menggeleng sambil tersenyum, katanya ’Aku malu Nyai’
’Ah, bukankah tamunya adalah saudara sendiri?’
’Tetapi aku malu’ wajah Inten menjadi kemerah-merahan, ’Sekarang ceritakan saja
tentang anak-anak Nyai itu’
’Apakah menarik?’
’Tentu, mereka akan menjadi kawan-kawanku bermain’
’Puteri, dahulu aku ditinggalkan oleh suamiku, aku dicerai olehnya, anak-anakku
itu dibawanya, dan diserahkannya kepada seorang ibu tiri. Demikianlah
berlangsung lama, sehingga akhirnya suamiku itu meninggal. Anak-anakku tidak
kerasan tinggal bersama ibu tirinya, mereka mencari aku ke kota, tetapi
Majapahit sudah menjadi karang abang, dari beberapa orang mereka mendengar
perjalanan Pangeran Kuda Narpada, karena itulah maka mereka menyusul perjalanan
kita’
’Tetapi mereka terlambat bertahun-tahun’
’Tetapi Yang Maha Agung masih ingin mempertemukan anak dengan orang tuanya.
Barangkali mereka menganggap lebih baik tinggal dengan ibu sendiri, betapapun
sulitnya untuk mencari, dari pada dengan ibu tiri’
’Tentu, tentu Nyai, Eee.. Siapakah nama mereka? Aku belum sepat bertanya karena
nampaknya mereka manjadi sangat letih dan anak perempuanmu itu hampir pingsan’
’Aku menemukan mereka dipinggir jalan ketika aku mencari sayuran ke padukuhan,
aku hampir tidak mengenal mereka lagi’ tiba-tiba mata Nyai Upih menjadi basah.
Inten tidak mendesaknya lagi, Ia tidak mau mengganggu perasaan Nyi Upih yang
sudah hampir menjadi tenang kembali, apalagi ia harus menyiapkan makan bagi
tamu-tamunya yang tentu juga lelah dan lapar’
Karena itu, Intenpun kemudian meninggalkan Nyi Upih yang mengisi waktunya dengan
kesibukan di dapur, agar hatinya tidak selalu dipengaruhi oleh perasaan pedih
melihat keadaan anak-anaknya.
Tetapi Intenpun menjadi gelisa, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan, dari
celah-celah pintu pringgitan yang terbuka, ia melihat kedua tamunya duduk
bersama ibumya, sekali-kali ia melihat kedua tamu itu mangangguk-angguk, agaknya
ibunya menceritakan berbagai kesulitan hidup yang dalaminya.
Namun demikian Inten tidak mau ikut menemui karena perasaan malu soerang gadis.
Meskipun tamu itu adalah saudara sepupunya, tetapi sudah terlampau lama Inten
Prawesti tidak bergaul dengan seseorang diluar lingkungannya. Apalagi anak-anak
muda’
Tiba-tiba saha Inten Prawesti yang termangu-mangu itu teringat kepada suara
seruling dikejauhan, sudah agak lama ia tidak mendengar suara seruling yang
sering didengarnya dekat dengan istananya. Tetapi sejak ia seolah-olah
mengasingkan diri didalam istananya, suara seruling itupun tidak pernah
didengarnya lagi.
’Aku memang tidak ingin melihat anak itu lagi’ desisnya. ’Ternyata anak muda itu
bertabiat buruk, Ia mengambil seorang gadis, yang kemudian diberikannya kepada
orang lain’.
Dalam kegelisahan, dan ketidak tentuan apa yang harus dilakukannya, Inten
Prawestipun kemudian memasuki bilik Nyai Upih. Hampir diluar sadarnya ia
mendekati kedua anak Nyi Upih yang berbaring dengan letihnya.
Melihat kedatangan Inten Prawesti anak laki-laki Nyi Upih itupun segera bangkit,
meskipun kemudian ia harus menyeringai. Tetapi adiknya ternyata tidak beranjak
dari tempatnya. Punggungnya rasa-rasanya hampir patah setelah berjalan untuk
waktu yang sangat lama menyusuri daerah selatan sampai ke daerah Gunung Sewu.
’Berbaring sajalah’ berkata Inten Prawesti ’Kau tentu sangat letih’
’Maaf puteri, adikku memang sangat letih’
’Biarlah ia berbaring ’ berkata Inten kektika melihat gadis itu akan bangkit
’Jangan bangkit’
’Ampun puteri’
’Jangan segan, tetap berbaringlah’
Gadis itupun kemudian meletakkan kepalanya kambali diatas tikar.
’Oo.. Kakimu berdarah’ berkata Inten Prawesti.
’Sedikit puteri’ jawab gadis itu.
Inten Prawestipun kemudian duduk diatas pembaringan Nyi Upih, sedang kedua
anak-anak itu berbaring diatas tikar dilantai.
’Siapa namamu?’ bertanya Inten Prawesti.
’Sangkan puteri, sedangkan adikku bernama Pinten’
’Oo.., nama yang baik, Sangkan dan Pinten, ’Inten mengangguk-angguk ’Jadi selama
ini kau berjalan dari kota raja sampai kelereng pegunungan ini?’
’Ya puteri, perjalanan kami berdua rasa-rasanya tidak akan berakhir, Tetapi kami
bertekad menyelusuri jalan yang pernah dilalui oleh para bangsawan yang
menyingkir dari kota raja, akhirnya Yang Maha Agung mempertemukan aku dengan
biyung’
’Kau berjalan setiap hari?’
’Tidak puteri. Kami berdua pernah berhenti disuatu tempata untuk waktu yang agak
lama. Kami menghambakan diri pada seorang pedagang yang baik. Tetapi ternyata
keinginan kami untuk bertemu dengan biyung sangat mendesak’
’Dan kalian berjalan lagi menempuh jarak yang sangat panjang?’
’Sepanjang yang pernah ditempuh oleh puteri. Tetapi agaknya keadaan adikku jauh
lebih buruk, dari keadaan puteri pada saat puteri sampai ketempat ini’
’Tentu, dibeberapa kesempatan aku masih sempat naik tandu, sampai pada suatu
saat ayah terpisah dari seluruh pengikutnya atas kehendak ayah sendiri’
Sangkan mengangguk-angguk, wajahnya yang kemerah-merahan dibakar oleh terik
matahari nampak keras dan kasar.
Untuk beberapa lamanya Inten Prawesti berada didalam bilik itu. Dengan perasaan
iba ia melihat anak-anak Nyi Upih yang sangat letih, apalagi Pinten.
Namun Inten merasa senang atas kehadiran gadis itu, karena dengan demikian ia
akan mendapat kawan yang sebaya, meskipun agaknya Pinten mamsih agak lebih muda
sedikit daripadanya.
Tetapi selagi Inten prawesti sedang mengamat-amati kaki Pinten yang luka dan
berdarah, tiba-tiba Nyi Upih memasuki biliknya sambil berkata ’Puteri..., Ibunda
memanggil’
’Ada apa Nyai..?’
’Aku tidak tahu, tetapi agaknya ibunda minta puteri ikut menemuui tamu itu,
bukankah kedua tamu itu masih ada hubungan keluarga dengan puteri?’
’Yang seorang, Kakangmas Kuda Rupaka, yang lain itu tentu bukan’.
Nyi Upih mengangguk-angguk, katanya kemudian ’Silahkanlah, ibunda menunggu, aku
baru saja menghidangkan sirih’
Inten Prawesti termangu-mangu, namun ia berkata ’Tidak Nyai, aku disini aja,
bersama anak-anakmu, aku malu’
’Ah, tentu tidak baik, marilah’ Nyi Upihpun kemudian menarik tangan Inten
Prawesti ’Marilah puteri sebentar lagi puteri juga harus menghidangkan makan
dengan lauk seadanya, aku sudah menangkap seekor ayam, Sangkan tadi yang
menyembelihnya. Meskipun ia masih lelah, tetapi ia masih mampu menyembelih ayam’
Inten Prawesti masih tetap bertahan, tetapi akhirnya ia berdiri juga dan
melangkah keluar digandeng oleh Nyi Upih.
Sepeninggal Inten Prawesti, Sangkan menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian
membaringkan dirinya lagi diatas tikar disisi adiknya yang terbaring memandang
langit-langit yang bernoda disana-sini oleh titik air hujan yang menyusup
disela-sela atap rumah.
Dalam pada itu, akhirnya Nyi Upih berhasil memaksa Inten untuk pergi ke pendapa,
demikian ia muncul dipintu maka ibundanya segera memanggil ’Kemarilah Inten, ini
adalah kakamu sendiri’
Dengan kepala tunduk, Intenpun kemudian duduk disisi ibunya agak kebelakang.
Seolah-olah ia berhadapan dengan jejaka yang hendak melamarnya.
’Diajeng tentu belum mengenal aku’ berkata Raden Kuda Rupaka.
Inten tidak menyahut, justru kepalanya menjadi semakin tunduk.
’Ia seorang pemalu’ berkata ibundanya.
’Wajar bagi seoarang gadis’ sahut Panji Sura Wilaga.
’Kau harus mengucapkan selamat datang Inten’ berkata Ibundanya, ’Kakakmu akan
berada di istana ini barang dua tiga hari, memang menyenangkan sekali. Aku
berharap mereka berdua akan lebih lama lagi berada disini’.
Inten Prawesti tidak menyahut, tetapi dadanya menjadi semakin bergejolak. Ada
perasaan aneh didalam dirinya karena ia mendengar keterangan ibunya, bahwa kedua
orang itu akan berada di istananya untuk dua tiga hari. Dalam dua tiga hari itu
ia akan berhubungan dengan anak muda yang sebelumnya belum pernah dikenalnya
meskipun ia masih saudara sepupunya. Ada semacam perasaan malu, tetapi juga
kegembiraan yang tersembunyi.
Namun tiba-tiba saja ia berkata kepada diri sendiri ’Aku lebih senang bermain
bersama Pinten daripada Kakangmas Kuda Rupaka, aku tentu akan menjadi canggung
dan bingung. Kakangmas Kuda Rupaka tentu sering berkawan dengan gadis-gadis
cantik di kota. Mungkin juga saudara-saudara sepupu yang lain yang selama ini
berada di Demak.
Ada semacam kekecewaan yang merambat dihatinya, bahwa ayahandanya dahulu tidak
membawanya ke kota, dan untuk waktu yang lama tinggal di padukuhan terpencil.
Dengan demikian, maka ia seolah-olah telah terpisah dari pergaulan keluarga dan
sanak kadangnya.
’Kini aku tidak lebih seorang gadis pedesaan ’Berkata Inten Prawesti didalam
hatinya ’Aku tidak pantas bermain bersama orang-orang yang datang dari pusat
pemerintahan, aku tentu tidak secantik gadis-gadis dikota, mungkin mereka tentu
lebih pandai menghias diri dan menyesuaikan dengan kehidupan kota raja’.
Inten Prawesti terkejut ketika tiba-tiba saja ibundanya berkata ’Inten,
bersihkanlah bilik ayahandamu, biarlah anakmas Kuda Rupaka mempergunakan bilik
itu’
Inten Prawesti termangu-mangu sejenak, selama ini bilik itu tidak dipergunakan
oleh ibundanya, sehingga ia tidak segera memahami kata-kata ibundanya.
Ibundanya seolah-olah dapat mengerti keragu-raguan dihati puterinya, sehingga
iapun berkata ’Kosongkan bilik itu, aku akan berada didalam bilikmu’
’Aku...??’ diluar sadarnya Inten Prawesit bertanya.
’Kita berdua’
Inten tidak menjawab lagi, iapun segera berdiri meninggalkan tempat yang
rasa-rasanya menjadi semakin panas itu.
Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, ia tidak mengerti maksud yang sebenarnya
dari bibinya. Apakah itu suatu perhormatan baginya atau karena bibinya terlampau
berhati-hati. Kehadiran seorang anak muda dirumah itu, tentu akan dapat
menumbuhkan persoalan meskipun ia adalah sepupu Inten Prawesti, sehingga dengan
demikian, maka bibinya harus tidur bersana anak gadisnya itu. Anak gadisnya yang
sangat cantik dalam kesederhanaan.
’Apalagi jika ia berhias seperti gadis-gadis kota raja ’ tiba-tiba saja Kuda
Rupaka berdesis didalam hatinya.
Sementara Inten Prawesti membersihkan bilik ayahandanya, maka dibelakang, Nyi
Upih telah mempersiapkan jamuan makan, meskipun hanya apa adanya, tetapi Nyi
Upih memang pandai memasak sehingga jamuannya merupakan jamuan yang pantas bagi
kedua tamunya.
Dalam pada itu, selagi istana kecil itu sedang sibuk menjamu dua orang tamu,
maka dengan tergesa-gesa Kidang Alit pergi ke rumah Ki Buyut.
Ki Buyut melihat kedatangan Kidang Alit, segera menyongsongnya sambil berkata
’Kidang Alit, apakah kau sudah mendengar kehadiran dua orang bangsawan
dipadukuhan kita?’
’Ya, aku mendengar Ki Buyut, karena itu, aku tergesa-gesa datang kemari’ jawab
Kidang Alit, lalu ’Apakah keduanya singgah disini?’
’Ya...’
’Dan mereka melihat Kasdu?’
’Ya, mereka ingin melihat anak itu’
’Apakah kasdu tetap diam, seolah-olah ia lumpuh, bisu buta dan tuli?’
’Ya, tetapi ternyata ia tidak berhasil’
’Maksud Ki Buyut?’
’Kasdu tidak berhasil mengelabui kedua orang itu’
’Kenapa Ki Buyut?’
Ki Buyutpun menceritakan bahwa seorang dari keduanya, justru yang muda, telah
meraba tubuh Kasdu. Dengan jari-jarinya ia berhasil mengetahui keadaan Kasdu
yang sebenarnya, bahwa ia telah tidak lagi lumpuh, buta dan tuli.
Kidang Alit menjadi tegang, sejenak ia memandang wajah Ki Buyut Karangmaja,
namun ia menarik nafas dalam-dalam sambil berkata ’Kita mendapat tamu
orang-orang yang luar biasa Ki Buyut’
Ki Buyut tidak segera menyahut.
’Hanya orang-orang yang luar biasa sajalah yanga dapat berbuat demikian, dengan
demikian maka padukuhan ini telah didatangi lima orang yang luar biasa, pertama
adalah tiga orang yang memilki tangan beracun itu. kemudian dua orang bangsawan
saudara Pangeran Kuda Narpada’.
’Aku dapat mengerti, bahwa tiga orang-orang kasar itu berbahaya bagi padukuhan
kita, tetapi apa salahnya dua orang bangsawan itu?, bukankah dengan demikian
keluarga yang tinggal di istana kecil itu akan mendapat perlindungan’
’Kidang Alit mengangguk-angguk, katanya ’Ya mudah-mudahan demikianlah hendaknya’
’Kau curiga?’
’Ki Buyut’ berkata Kidang Alit ’Dalam keadaan tidak menentu ini kita memang
dapat saling mencurigai, untunglah bahwa ketiga orang-orang kasar itu belum
tahu, bahwa sebenarnya, Kasdu sudah dapat diselamatkan dari racun yang berbahaya
itu’
’Mereka tidak akan mengetahuinya’
’Mudah-mudahan kedua orang bangsawan itu tidak menceritakan kepada siapapun
keadaan Kasdu yang sebenarnya’
Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil bergumam ’Ya, mudah-mudahan. Aku
tidak tahu bahwa ia memilki ketajaman penglihatan sehingga ia dapat mengetahui
bahwa Kasdu sudah dibebaskan dari cengkeraman recun itu’
Kidang Alitpun mangangguk-angguk, lalu ’Apakah aku dapat melihat Kasdu?’
’Lihatlah’ jawab Ki Buyut sambil melangkah diiringi oleh Kidang Alit.
Ketika mereka berada disisi pembaringan Kasdu, nampaknya Kasdu memang sudah
menjadi semakin bak.
’Sayang sekali Kasdu’ berkata Kidang Alit ’Ada orang yang mengetahui bahwa kau
sudah bebas dari racun itu, aku berharap bahwa hal itu tidak didengar oleh
orang-orang yang telah meracunimu dengan jari-jari itu’.
Wajah Kasdu yang sudah menjadi semakin merah itu, nampak manjadi pucat, dengan
terbata-bata ia berkata ’Aku menjadi takut sekali’
’Maaf Kidang Alit ’ berkata Ki Buyut ’Aku tidak sengaja telah membuat suatu
keputusan yang besar’.
’Sdahlah Ki Buyut, semuanya masih tergantung kepada sifat dan watak kedua
bangsawan itu. Jika mereka menyadari bahwa yang dapat mengancam Kasdu, sudah
tentu mereka aka tetap diam’
’Aku kira demikian Kidang Alit, yang muda diantara merekapun, bahwa anak muda
yang sakit itu memang sangat gawat. bukan saja karena sakitnya, tetapi jika
orang-orang yang telah melukainya itu mengerti bahwa anak itu sudah tawar, maka
ia akan dibunuhnya secara langsung oleh ketiga orang itu’
Ki Buyut mengangguk-angguk, tetapi ia tidak dapat mengusir kegelisahannya.
Kidang Alitpun kemudian dengan tergesa-gesa minta diri, ia tidak mengatakan
kepada Ki Buyut, kemanakah ia akan pergi.
Tetapi ternyata bahwa Kidang Alit telah pergi kelereng bukit yang menghadap ke
istana kecil itu. Ia masih sempat melihat ketiga orang berkuda yang kembali ke
padukuhan dari lereng bukit itu pula. Tetapi Kidang Alit sempat bersembunyi
dibalik batu-batu padas, apalagi jarak diantara mereka masih agak jauh, sedang
Kidang Alit tidak berkuda, berada ditempat yang agak lebih tinggi dari
orang-orang berkuda itu.
Bab 5
Setelah ketiga orang itu hilang dibalik tikungan. Maka Kidang Alitpun
melanjutkan langkahnya. Dengan hati-hati ia mendekati istana itu dari arah bukit
kecil.
Untuk Beberapa saat lamanya Kidang Alit menunggu, tetapi ia tidak melihat
seorangpun di halaman. Ketika kemudian seseorang muncul dibelakang, ternyata ia
adalah Nyi Upih.
Tetapi Kidang Alit tidak segera pergi. Dengan telaten ia duduk dibalik sebuah
gerumbul agar orang-orang yang berada di halaman atau di dalam istana itu tidak
dapat melihatnya.
Ternyata bahwa kemudian Kidang Alit tidak sia-sia, setelah menunggu beberapa
lamanya, dengan seksama ia memperhatikan dua orang laki-laki yang kemudian turun
ke halaman dan berdiri dibawah bayangan sebatang pohon yang rindang.
“Agaknya mereka kepanasan di dalam” berkata Kidang Alit, lalu “Tetapi sayang,
bahwa aku tidak dapat melihat keduanya dengan jelas”
Agaknya jarak yang memisahkan lereng bukit kecil itu dengan istana agak
terlampau jauh bagi Kidang Alit untuk dapat melihat wajah orang-orang itu dengan
teliti. Hanya secara umum sajalah Kidang Alit dapat menyebut bahwa kedua orang
itu adalah orang-orang yang gagah dan tampan. Selebihnya Kidang Alitpun dapat
menduga, bahwa keduanya memiliki ilmu yang dapat dipergunakan sebagai bekal
petualangannya.
Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada diri sendiri
“Ternyata bahwa pedukuhan kecil ini telah mengundang beberapa orang untuk
berkumpul disini”
Sejenak kemudian, setelah Kidang Alit dapat melihat kedua laki-laki itu,
meskipun tidak sempat pada bagian-bagiannya yang terkecil, iapun kemudian
meninggalkan tempatnya, kembali kepadukuhan. Disepanjang jalan, ia mencoba untuk
menilai, apakah yang kira-kira dapat terjadi antara kedua orang itu dengan tiga
orang yang sudah datang lebih dahulu.
“Aku yakin, bahwa tiga orang itu mempunyai kepentingan dengan istana kecil itu”
berkata Kidang Alit kepada diri sendiri.
“Dan kini di istana kecil itu telah hadir dua orang bangsawan yang menyebut
dirinya saudara-saudara Pangeran Kuda Narpada.
Tetapi Kidang Alit bersikap hati-hati. Banyak kemungkinan akan dapat terjadi
atas istana kecil itu.
Sementara itu Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga memang sedang berada di halaman,
rasa-rasanya badan mereka menjadi sejuk disentuh angin yang semilir, dibawah
dedaunan yang rimbun.
“Untung dilereng pegunungan ini terasa segar sekali” desis Raden Kuda Rupaka.
“Tetapi baru saja Raden mengatakan, bahwa udara di daerah ini terasa panas
sekali”
Kuda Rupaka tersenyum, katanya “Didalam istana pamanda Kuda Narpada udara memang
terasa panas sekali, paman”
“Apakah hanya sekedar karena udara didalam istana itu?”
“Ah…” Kuda Rupaka berdesis “Apapun sebabnya, tetapi diluar memang terasa sejuk.
Disini sentuhan angin terasa mengusap kening yang basah okeh keringat. Tetapi di
dalam istana itu tidak terasa udara
yang bergerak seperti ini”
Panji Wiralaga hanya tersenyum saja.
Sejenak keduanya kemudian berjalan-jalan di halaman depan mereka melihat pintu
gerbang yang telah rusak, regol yang miring dan bagian istana itu sendiri yang
telah rusak.
“Paman…” berkata Kuda Rupaka “Sepengetahuanku, istana ini masih belum terlampau
lama, tetapi beberapa bagian telah mulai rusak dan lapuk”
“Raden…” jawab Panji Sura Wilaga “Istana ini dibuat oleh orang padukuhan ini
dengan kayu yang tidak terpilih. Karena itu, maka kekuatannyapun tidak seimbang.
Apalagi pekerjaan mereka adalah pekerjaan yang sangat kasar”.
“Ya…” sahut Kuda Rupaka “Mereka mengerjakan kayu seperti orang-orang tua mereka
mengerjakannya”.
Keduanya tidak berbicara lagi, mereka berjalan saja menyusuri halaman sehingga
mereka sampai kebagian belakang dari istana itu.
“Kita telah melihat semuanya” berkata Kuda Rupaka “Halaman istana bibi tetap
bersih dan terawat, meskipun sebagian dari bangunannya telah rusak, terutama
bagian atap”
Panji Sura Wilaga menganggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menyahut.
“Paman…” berkata Kuda Rupaka kemudian “Ada satu yang masih tetap menggetarkan
jantungku”
“Apa Raden…?”
“Bibi dan Inten Prawesti masih belum bertanya tentang pamanda Kuda Narpada
dengan sungguh-sungguh, pada suatu saat mereka tentu akan mendesak, agar aku
menceritakannya, apakah yang sebaiknya aku katakana…?, aku benar-benar menjadi
bingung”.
“Raden harus berterus terang bahwa Raden memang tidak tahu”
“Mustahil…”
“Kenapa mustahil ?, bukankah Raden selama ini tidak pernah bertemu dengan
pamanda Pangeran Cemara Kuning, pamanda Pangeran Sendang Prapat? Bagaimana Raden
dapat mengatakan tentang Raden Kuda Narpada…?”
Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, sambil mengangguk-angguk ia melangkah
kembali kehalaman depan diikuti oleh Panji Sura Wilaga.
Sementara itu dibelakang, Nyi Upih sedang sibuk membersihkan alat-alat dapurnya.
Inten Prawesti yang telah menyingkirkan jamuan makan bagi tamu-tamunya berkata
kepada Nyi Upih “Anak-anakmu sebaiknya kau suruh makan dahulu Nyai…”
“Bukankah mereka sudah makan puteri, demikian mereka datang pagi tadi, demikian
mereka aku beri makan seadanya.”
“Ah…, tetapi biarlah kita menjamunya sekarang”
Nyi Upih tersenyum “Biarlah puteri, nanti sajalah”
Inten Prawesti tidak memaksa lagi, tetapi ia menengok kedalam bilik pembantu
setia itu. Dilihatnya Pinten sudah mulai duduk sambil memijit-mijit kakinya.
“Kau usap dengan apa kakimu itu..?” bertanya Inten.
“Dengan nasi dan dan air asem, puteri. Rasa-rasanya kaki ini menjadi dingin.
Darah yang rasa-rasanya membeku telah mengalir kembali”
Inten Prawesti mengangguk-angguk, iapun teringat saat-saat ia sampai ke
padukuhan ini dan bermalam untuk sementara di rumah Ki Buyut sebelum istana
kecilnya itu disiapkan.
Meskipun kadang-kadang ia masih sempat naik tandu, namun untuk mengurangi
perasaan lelahnya, kakinya juga diparami dengan nasi yang diremas dengan air
asam.
Ketika kemudian mereka bercakap-cakap lebih banyak tentang perjalanan, maka
ternyata Pintenpun dapat mengatakan tempat-tempat yang dilaluinya meskipun waktu
sudah terpaut jauh.
“Kau benar-benar dapat mengikuti jejak perjalananku” berkata Inten
“Kami tidak henti-hentinya bertanya kepada setiap orang yang kami temui di
perjalanan, puteri” Jawab Pinten.
“Tetapi waktu kita terpaut panjang”.
“Ternyata orang-orang di sepanjang jalan yang pernah dilalui oleh Pangeran Kuda
Narpada, mash tetap dapat menyebut kemana Pangeran itu pergi, bahkan beberapa
orang masih dapat menunjukukkan beberapa macam barang yang pernah dihadiahkan
oleh Pangeran Kuda Narpada kepada orang-orang yang membantunya di perjalana”.
“Ooo…” Inten Prawesti menarik nafas dalam-dalam. Ayahnya memang banyak
memberikan sekedar kenang-kenangan kepada orang-orang yang sudah membantunya di
sepanjang jalan, bahkan beberapa macam barang berharga.
“Kini hampir tidak ada sebuah barangpun yang masih dapat disebut berharga di
dalam rumah ini” Berkata Inten Prawesti di dalam hatinya.
Demikianlah maka meskipun keduanya baru saja bertemu, tetapi karena keduanya
hampir sebaya, dan sudah terlampau lama Inten Prawesti hidup sendiri,
seolah-olah di pengasingan, maka Pinten baginya merupakan seorang yang dapat
mengisi kekosongan itu. Ketika Inten kemudian sudah dapat berdiri dan berjalan
keluar, maka Inten Prawesti menjadi sangat gembira pula karenanya.
Dengan serta merta ia minta kepada ibunya, agar kepada Pinten diberikan beberapa
lembar pakaiannya yang sudah tidak dipakainya lagi, agar Pinten nampak lebih
bersih dan pantas.
Namun sementara itu, di rumah itu Inten Prawesti ternyata mendapat kawan yang
lain pula. Atas desakan ibunya maka Inten Prawesti mulai berkenalan dan
sekali-kali berbicara dengan saudara sepupunya.
Dihari berikutnya, suasana istana kecil itu benar-benar sudah berbeda. Inten
tidak kelihatan murung seperti biasanya. Jika ia berada di belakang, ia selalu
bersama dengan Pinten, jika Pinten sibuk membantu ibunya, maka Intenpun ikut
membantunya pula.
Tetapi jika Inten Prawesti berada didepan, ia duduk bersama Raden Kuda Rupaka
dan Panji Sura Wilaga. Jarak yang mula-mula memisahkan antara Inten Prawesti dan
Kuda Rupaka, semakin lama menjadi semakin dangkal, bahkan pada suatu saat
rasa-rasanya akan lenyap sama sekali.
“Jasa pamanda Kuda Narpada terhadap padukuhan ini ternyata cukup besar” berkata
Raden Kuda Rupaka kepada Inten Prawesti ketika mereka berdua berdiri di halaman
memandang kelereng bukit yang hijau.
“Ayah berusaha untuk membantu kesulitan orang-orang Karangmaja” sahut Inten.
“Menurut pendengaranku, bukit-bukit itu menjadi hijau karena usaha pamanda
pangeran.”
“Sebagian memang demikian” jawab Inten.
“Aku ingin sekali-sakali melihat lereng-lereng bukit itu” gumam Raden Kuda
Narpada, seolah-olah kepada diri sendiri.
Inten Prawesti hanya memgerutkan keningnya saja. Ia tidak berani menawarkan diri
untuk menunjukan jalan-jalan setapak di lereng bukit itu, meskipun ia sendiri
sudah agak lama ingin menyusuri jalan yang beberapa saat lampau selalu di
lewatinya jalur jalan yang pernah di lalui oleh ayahandanya ketika ia menimang
Nyi Upih sampai ke atas bukit. Dari bukit itu dia dapat melihat Ayahandanya
meninggalkan padukuhan Karamaja dan sampai saat terakhir, tidak nampak kembali
lagi.
Tetapi ternyata bukan Intenlah yang mengajak untuk mendaki lereng bukit kecil
itu. Agaknya Kuda Rupakapun ingin sekali untuk mendekati lereng yang nampak
hijau di tumbuhi oleh pohon perdu yang rimbun.
“Apakah bibi tidak berkeberatan jika kita pergi ke lereng bukit itu?”
Inten termangu-mangu.
“Cobalah memohon izin kepada bibi.”
Intenpun segera berlari menemui ibundanya yang sedang berada di belakang. Dengan
ragu-ragu ia mohon izin untuk pergi ke lereng bukit itu.
Ibunya menjadi ragu-ragu sejenak. Apalagi keteka Nyi Upih berkata “Puteri,
sebaiknya puteri tidak mengajak tamu-tamu itu pergi ke lereng bukit. Mungkin ada
sesuatu yang dapat membahayakan puteri dan tamu-tamu itu.”
“Apakah yang dapat membahayakan itu Nyai?” bertanya Inten.
Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mengatakan sesuatu. Tetapi kedua
tangannya bermain di muka mulutnya seperti seseorang yang sedang meniup
seruling.
Sekilas terbayang seorang anak muda yang pernah dijumpainya di lereng bukit itu
pula. Bahkan yang kemudian sering hilir mudik di muka istananya. Tetapi kali
ini, ia tidak akan pergi sendiri atau hanya berdua saja dengan Nyi Upih.
“Aku tidak akan pergi terlalu jauh ibu.” mohon Inten kemudian.
“Hati-hatilah” akhirnya ibundanya tidak dapat menolak. Setelah berkemas sejenak,
maka Intenpun kemudian pergi bersama Raden Kuda Rupaka dan Panji Surawilaga,
berjalan-jalan ke bukit kecil di sebelah istananya itu.
Terasa udara yang cerah menyegarkan tubuh. Angin pegunungan yang silir mengalir
dengan lembut. Di udara yang jernih nampak beberapa ekor burung berterbangan di
antara warna-warna putih awan yang berarak selembar-selembar di dorong angin ke
utara.
“Menyenangkan sekali” desis Raden Kuda Rupaka “Sebelum pamanda Pangeran Kuda
Narpada menghijaukan lereng bukit itu, tentu yang nampak jauh berbeda dari
sekarang”
“Pegunungan yang gundul” sahut Panji Sura Wilaga.
“Ya..” berkata Inten Prawesti. “Saat kami datang ditempat ini, maka yang nampak
hanyalah tanah gersang, kuning kemerah-merahan”
“Tentu pamanda pangeranlah yang mengajari orang-orang Karangmaja membuat
parit-parit di daerah kering. Menanami
lereng bukit dengan pepohonan yang khusus. Pohon metir dan sebangsanya.
Dan sudah barang tentu kemudian dengan pohon buah-buahan”
“Ya…” jawab Inten Prawesti.
Mereka bertigapun kemudian berjalan perlahan-lahan melalui jalan kecil menuju ke
lereng bukit kecil itu. Raden Kuda Rupaka dan Inten Prawesti de depan. Sedangkan
Panji Sura Wilaga de belakang.
Untuk beberapa saat lamanya mereka berjalan perlahan-lahan sambil berbicara
tentang padukuhan kecil itu. Istana kecil yang dibangun di dekat padukuhan itu,
dan bukit-bukit yang kemudian menjadi hijau.
Namun tiba-tiba saja langkah Inten Prawesti terhenti, Inten Prawesti tertegun,
wajahnya nampak menjadi pucat. Meskipun kemudian ia berusaha melenyapkan
kesan-kesan ini, dan melangkahkan kakinya pula. Namun Kuda Rupaka segera dapat
menangkap kegelisahannya itu.
Ternyata ketika Raden Kuda Rupaka memandang agak jauh ke depan, dilihatnya
seorang anak muda yang nampaknya memang agak berbeda dengan anak-anak
Karangmaja.
“Siapakah anak itu..?” bertanya Kuda Rupaka.
“Kidang Alit” jawab Inten Prawesti.
“Apakah orang itu menggelisahkan kau…?”
Inten menjadi ragu-ragu, tetapi iapun kemudian menggeleng, jawabnya “Tidak”.
Tetapi Kuda Rupaka tidak dapat dikelabuinya. Dan iapun bertanya pula “Apakah
anak itu anak Karangmaja pula..?”
“Bukan Kamas, anak muda itu bukan anak Karangmaja, belum lama ia berada di
padukuhan kecil ini”.
Terasa jantung Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga berdebaran. Tetapi keduanyapun
berusaha menghapuskan semua kesan dari wajah mereka.
“Apakah kau mengetahui namanya…?”
“Namanya Kidang Alit, bukankah aku sudah menyebutnya”.
Kuda Rupaka mengangguk-angguk, bahkan sekilas ia berpaling, tepat pada saat Sura
Wilaga memandangnya. Seolah-olah mereka sedang menyesuaikan pendapat mereka,
bahwa anak muda yang bernama Kidang Alit itulah yang agaknya telah menyembuhkan
Kasdu.
Karena itu, maka keduanyapun segera mempersiapkan diri. Meskipun tidak
semata-mata, tetapi semakin dekat langkah mereka dengan anak muda yang duduk di
atas sebuah batu itu, merekapun menjadi semakin berhati-hati. Bahkan Sura Wilaga
mencoba memandang berkeliling, apakah benar anak muda itu hanya seorang diri.
Tetapi ia tidak melihat orang lain di tempat itu.
Beberapa dari Kidang Alit, kaki Inten Prawesti terasa semakin berat. Tetapi ia
tidak berjalan sendiri. Ia berjalan dengan saudara sepupunya dan seorang
pengawalnya. Apalagi jika teringat oleh Inten, bahwa Kidang Alit ternyata bukan
seorang yang dapat menahan diri terhadap seorang gadis yang menarik
perhatiannya, ternyata seorang gadis Karangmaja telah menjadi korbannya.
Untunglah bahwa bagi gadis itu telah diketemukan jalan yang paling baik,
meskipun sekedar sepeperti menimbuni sebuah lobang yang terlanjur tergali.
Kuda Rupaka menegang ketika ia melihat Kidang Alit berdiri, tetapi ia
seolah-olah sama sekali tidak menghiraukannya, karena sebelumnya ia memang belum
mengenalnya.
Dengan tajamnya Kidang Alit memandang ketiga orang yang menjadi semakin dekat.
Namun Inten Prawesti dan Kuda Rupaka lewat tepat di hadapannya. Kidang Alit
menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil bertanya “Apakah puteri akan naik ke
atas bukit kecil itu..?”
Inten Prawesti menjadi bingung, tetapi seakan-akan di luar sadarnya terloncat
jawabnya “Ya… aku akan berjalan-jalan ke atas bukit kecil itu”
“Sudah lama puteri tidak pergi ke sana, melihat-lihat jalur jalan kecil itu dari
atas bukit yang kini berwarna hijau. Dan sudah lama puteri tidak lagi
menghiraukan suara seruling yang menghimbau dari lembah, tempat anak-anak
gembala bermain-main dengan ternaknya.
Inten semakin bingung, tetapi ia menjawab juga “Aku tidak mempunyai waktu
lagi..”
Kidang Alit tertawa, katanya “Apakah yang puteri sibukkan…?, tamu-tamu puteri
baru kemarin berada disini, sebelumnya puteri tentu masih sempat jika puteri
ingin.
Inten bertambah bingung, nampak wajahnya bahwa ia tidak dapat segera menemukan
jawabnya. Ia tidak mengerti kenapa anak muda itu seakan-akan menuntunnya, karena
agak lama tidak keluar dari istananya, justru pada saat ia berjalan bersama
dengan saudara sepupunya.
Karena Inten Prawesti menjadi bingung, maka tiba-tiba saja Kuda Rupaka bertanya
kepada Inten Prawesti, “Diajeng, apakah diajeng sering juga pergi ke atas bukit
itu..?”
Pertanyaan itupun membingungkan, tetapi Inten mengangguk sambil menjawab lirih.
“Ya…aku memang sering pergi ke atas bukit itu…”
“Dan pada suatu saat diajeng tidak pergi ke atas bukit ?”
“Ya…”
“Itu adalah hakmu, kau dapat pergi kapan saja kau ingin pergi. Dan kau dapat
tinggal di dalam istana sampai kapanpun, bahkan jika tiba-tiba timbul
keinginanmu untuk pergi ke Demak bersama aku besok atau lusa…”
Inten Prawesti termangu-mangu sejenak, dan sebelum ia menyahut, terdengar Kidang
Alit tertawa, katanya “Lembah ini mempunyai kenangan yang manis bagi puteri.
Suara seruling yang tidak berirama itu justru merupakan daya tarik yang tidak
mudah dipisahkan antara puteri dan lereng-lereng pegunungan yang hijau”
“Sebuah mimpi yang mengasyikkan” Kuda Rupaka yang menyahut. “Tetapi pada suatu
saat seorang harus bangun dari tidurnya, jika tidak, maka ia akan tetap pada
keadaanya yang paling buruk tanpa mengalami perubahan apapun juga”
Kidang Alit agaknya masih akan menjawab lagi, tetapi tiba-tiba Inten berkata
“Kenapa tiba-tiba saja kita harus melayaninya ?”
Kuda Rupaka memandangi Inten sejenak. Sambil tersenyum ia berkata “Agaknya
diajeng baru menyadari bahwa tidak sepantasnya melayani pembicaraan seorang anak
muda yang bukan kadang di pinggir jalan seperti ini”
“Marilah kita berjalan terus” ajak Pinten
Kuda Rupaka mengangguk, senyumnya masih nampak di bibirnya, ia berkata
“Sebaiknya kita lebih memperhatikan bukit yang hijau itu daripada orang-orang
yang mengganggu perjalanan ini”
Inten Prawesti yang menjadi semakin berdebar-debar itu tidak membicarakan lagi.
Ia melihat keadaan yang rasa-rasanya menjadi semakin tegang, karena itu, maka
iapun segera meninggalkan tempat itu.
Kuda Rupaka masih sempat memandang wajah Kidang Alit sejenak, ketika iapun
kemudian melangkah mengikuti adik sepupnya. Nampak sesuatu yang aneh memancar di
mata Kidang Alit.
Tetapi Kuda Rupakapun kemudian tidak menghiraukan lagi. Dengan tergesa-gesa ia
menyusul Inten Prawesti yang sudah mendahuluinya. Dibelakangnya Panji Sura
Wilaga berjalan dengan tengangnya, seolah-olah ia sedang tidak melihat
ketegangan yang baru saja terjadi.
Kidang Alit yang masih tetap berdiri di pinggir jalan kecil itu memandang ketiga
orang yang berjalan menjauhinya. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia
tersenyum sendiri, katanya “Anak muda yang meyakinkan, agaknya memang ia
memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan. Dengan jari-jarinya ia
mengetahui bahwa Kasdu telah aku bebaskan dari racun yang sangat parah itu”
Namun kemudian, ia berkata pula kepada dirinya sendiri “Tetapi kehadirannya di
padukuhan kecil ini perlu mendapat perhatian. Ketiga orang kasar dan memilki
tenaga racun itu sudah terasa mengganggu, apalagi kedatangan kedua orang
bangsawan ini”
Tetapi Kidang Alit tidak mengambil sikap apapun pada saat itu. Dengan
tergesa-gesa, iapun berjalan meninggalkan tempatnya dan kembali ke padukuhan.
“Mudah-mudahan ketiga orang yang berada di banjar padukuhan tidak pergi ke
lereng itu pula, jika mereka bertemu muka dengan bangsawan-bangsawan itu, maka
akan dapat timbul benturan diantara mereka” gumamnya sambil berjalan menyusuri
jalan sempit.
Apa yang terjadi itu, agaknya telah menggelisahkan Inten Prawesti, itulah
agaknya ia menjadi gelisah, bukit-bukit yang hijau dan lembah-lembah yang
ditumbuhi rerumputan, tidak menarik lagi baginya, jalan-jalan yang nampak
menjauh seperti tubuh seekor ular yang menjalar meninggalkan liangnya dibawah
gunung, tidak dapat memikatnya lagi.
“Kau nampak gelisah diajeng” bertanya Kuda Rupaka
“Ya… aku gelisah sekali”
Kuda Rupaka tertawa, katanya “Jangan hiraukan anak itu, mungkin sebelum aku
berada di istana bibi, ia sudah sering mengganggumu pula”
Inten ragu-ragu sejenak, tetapi kemudian jawabnya
dengan jujur “Aku mula-mula senang mendengarkan ia bermain dengan
seruling. Tetapi aku menjadi takut kepadanya setelah peristiwa gadis padukuhan
itu terjadi”
Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, mendengar Inten yang kemudian bercerita
dengan singkat tentang Kidang Alit itu.
Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya “Sudahlah, jangan dicemaskan lagi, kau
memang tidak usah lagi berhubungan dengan anak muda itu”
Inten Prawesti mengangguk-angguk, tetapi ia sudah tidak dapat menenangkan
dirinya lagi, setiap kali nampak kegelisahan memercik pada sikapnya.
Ternyata Raden Rupakapun dapat mengerti, sehingga sejenak kemudian iapaun
berkata sambil tersenyum “Paman Sura Wilaga, agaknya diajeng Inten Prawesti
terpengaruh oleh peristiwa itu, karena itu, marilah kita kembali saja ke
istananya, lain kali kita akan mendapat kesempatan untuk berada di bukit ini
lagi”
Panji Sura Wilaga tersenyum, jawabnya “Tentu puteri menjadi gelisah, baiklah
kita kembali saja, tetapi lain kali, aku akan menyingkirkan anak muda itu jika
ia berani mangganggu puteri”
Inten Prawesti sama sekali tidak menyahut, ia memang ingin segera pulang, tetapi
ia tidak dapat mengatakannya.
Demikianlah, mereka bertiga tidak lama berada di lereng bukit itu.
Perlahan-lahan mereka berjalan turun menyelusuri jalan di lereng yang rendah
itu.
Namun di sepanjang perjalanan itu, Raden Kuda Rupaka tidak henti-hentinya
mengagumi peninggalan Pangeran Kuda Narpada. Bukan berujud harta benda atau
bangunan-bangunan yang besar dan kuat, tetapi peninggalan itu berupa warna-warna
hijau di lereng pegunungan yang luas, parit yang mengalirkan air yang jernih dan
jalan-jalan yang semakin teratur.
Inten sempat menceritakan keadaan padukuhan itu sebelum ia bersama keluarganya
menetap di istana itu.
“Rakyat Karangmaja tentu tidak akan melupakan jasa paman Pangeran Kuda Narpada”
berkata Kuda Rupaka.
“Ya…, agaknya mereka bersikap sangat baik kepada kami sampai saat ini”
Kuda Rupaka mengangguk-angguk, tentu rakyat padukuhan kecil itu tidak akan dapat
mengingkari kenyataan yang masih dapat dihayatinya saat itu.
Ketika kemudian mereka menjadi semakin rendah di kaki bukit kecil itu, sekali
ini Inten tertegun, ia melihat dua orang yang sedang berjalan menyusuri kaki
bukit itu pula.
“Siapakah mereka ?” bertanya Raden Kuda Rupaka “Apakah mereka juga termasuk anak
muda yang bertingkah laku seperti Kidang Alit itu ?”
“Ooo…, Tentu bukan” sahut Inten Prawesti “Apakah kamu tidak mengenal mengenal
mereka ?”
Kuda Rupaka mengerutkan keningnya.
“Apakah keduanya anak-anak yang ada di istana itu diajeng ?”
“Ya.. keduanya adalah anak-anak pembantuku yang mengikuti perjalanan kami dari
Majapahit”
“Ooo...” Kuda Rupaka mengangguk-angguk, tetapi ia tidak menghiraukan kedua anak
muda kakak beradik itu.
Namun ketika mereka menjadi semakin dekat, Inten Prawestilah yang memanggil
keduanya untuk mendekat.
Sambil berjalan terbungkuk-bungkuk kedua orang kakak beradik itu mendekati Inten
Prawesti, wajah mereka nampak tegang dan membayangkan kegelisahan.
“He… kenapa kalian berada disini ?”
“Ampun puteri, maksud kami, kami hanya sekedar ingin melihat-lihat daerah baru
ini”
Inten mengerutkan keningnya, tetapi iapun kemudian tersenyum, “Kenapa kalian
menjadi gelisah ?, Aku tidak apa-apa, jika kalian ingin melihat-lihat tanah yang
mulai menjadi hijau ini, pergilah, mungkin ada gunanya bagi kalian berdua”
“Ya… puteri, bahkan biyung tadi menyuruh kami berdua mencoba memperkenalkan diri
kepada anak-anak muda di Karangmaja, biyung mengatakan agar aku menyebur diri
sebagai anak Nyi Upih. Agaknya biyung kami sudah banyak dikenal oleh orang-orang
Karangmaja”
Inten Prawesti tersenyum, katanya “Itu memang ada baiknya, kalian dapat
berhubungan dengan anak-anak muda Karangmaja, agar jika kalian memerlukan
sesuatu, kalian dapat minta bantuan mereka”
“Terima kasih puteri”
“Pergilah ke Padukuhan itu, atau kelereng bukit, tempat anak-anak muda
Karangmaja menggembalakan ternak mereka”
“Baik puteri…”
Namun dalam pada itu, Raden Kuda Rupaka menyambung “Tetapi berhati-hatilah,
bersikaplah sebaik-baiknya agar kalian tidak mendapat gangguan dari mereka”
“Terima kasih Raden, kami akan mencoba berbuat sebaik-baiknya, sesuai dengan
derajat kami”
Inten dan Raden Kuda Rupakapun kemudian meneruskan perjalanan mereka diikuti
olah Panji Sura Wilaga, kembali ke istana kecil yang terpencil itu.
Seperti yang diminta oleh ibunya, Sangkan dan Pinten berusaha untuk berkenalan
dengan anak-anak muda dari Karangmaja, kehadiran mereka di padang rumput di
lereng bukit, memang sama sekali belum pernah mengenal kedua kakak beradik itu.
Tetapi seperti pesan ibunya, maka Sangkanpun segera mengatakan bahwa mereka
adalah anak Nyi Upih, pelayan pada istana kecil dan terpencil itu.
“Ooo….” Seorang gembala yang bertubuh tinggi besar mendekati Sangkan sambil
tersenyum “Jadi kau anak Nyi Upih itu ?”
“Ya…” jawab Sangkan
“Kami mengenal ibumu dengan baik, ia serng ke rumahku dan kadang-kadang membeli
sesuatu dari ibuku”
Sangkan mengangguk-angguk, sambil tersenyum pula ia berkata “Kami ingin
memperkenalkan diri kami”
“Marilah, ikut kami, kakak-kakak kami yang lebih besar berada dibawah, tetapi
sebagian ada yang tinggal di rumah Ki Buyut disaat-saat seperti ini”
“Dirimah Ki Buyut ?, Apakah mereka bekerja disana ?”
“Jika ada waktu senggang, kakak-kakak kami memang sering berkumpul disana, Ki
Buyut sering memerlukan anak-anak muda untuk membantunya mengatur padukuhan ini
sebaik-baiknya seperti yang dianjurkan oleh Pangeran Kuda Narpada, bukankan
kalian berada di istana Pangeran itu ?“
“Ya… tapi sayang, kami datang jauh terlambat Pangeran Kuda Narpada sudah tidak
ada di istana kecil itu lagi”
“Kami semua menyesal kerpergian itu” berkata gembala itu “Apalagi ayahku, ia
benar-benar merasa kehilangan pelindung yang paling baik, bahkan telah berhutang
budi kepada Pangeran Kuda Narpada?
Sangkan hanya mengangguk-agukkan kepalanya
“Marilah..” ajak anak muda itu “Aku antarkan kalian ke rumah Ki Buyut.
Sangkan memandang adiknya sejenak, namun agaknya Pinten berkeberatan, katanya
“Lain kali saja, pergilah sendiri ke rumah Ki Buyut itu kakang”
Sangkan tersenyum, katanya “Lain kali saja Ki Sanak, tetapi kali ini,
setidak-tidaknya aku sudah mengenal beberapa anak-anak muda Karangmaja”
Karena Pinten berkeberatan untuk pergi ke rumah Ki Buyut, maka merekapun
mengurungkan niatnya untuk pergi ke padukuhan.
“Maaf Ki Sanak” berkata Sangkan kemudian “Sampaikan saja salamku kepada
anak-anak muda di Karangmaja, pada suatu saat kami makan menemui mereka dan
berkenalan dengan mereka, selanjutnya kami adalah bagian dari anak-anak di
Karangmaja, kami sudah berniat, untuk tetap tinggal disini, sehingga karena itu,
kami harus merpersatukan diri dengan kalian”
“Kami akan menerima kalian dengan senang hati” jawab anak yang bertubuh tinggi
itu “Seperti kami menerima Kidang Alit disini, Ia telah memberikan banyak
pertolongan dan petunjuk bagi anak-anak muda di Karangmaja”
“Siapakah Kidang Alit itu ?” bertanya Sangkan. “Jika yang kalian maksud dua
orang bangsawan yang ada di istana Pangeran Kuda Narpada itu, mereka adalah
Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga”
“Bukan…. Bukan kedua bangsawan itu, Kidang Alit adalah seorang petualang. Ia
masih muda seperti engkau, ia mempunyai banyak kelebihan dari kami anak-anak
muda Karangmaja dalan segala hal”
Sangkan mengangguk-angguk, lalu katanya “Sayang kami tidak memiliki kelebihan
apa-apa”
“Tetapi barangkali kalian dapat memberikan pengalaman-pengalaman yang pernah
kalian alami di daerah kalian yang lama, bukankah kalian pernaj tinggal di
daerah peradaban yang lebih tinggi dari padukuhan kami yang terpencil ini ?”
Sangkan mengangguk-angguk, tetapi jawabnya “Di daerah yang lama itupun kami
berdua tidak lebih dari seorang anak pelayan”
“Tentu, justru oleh karena itu akan dapat berguna bagi kami disini yang masih
ketinggalan”
Sangkan tersenyum, katanya “Kami akan memberikan apa yang dapat kami lakukan
seperti saat-saat kami berada di daerah kami yang lama. Tetapi agaknya Pangeran
Kuda Narpada dan anak muda yang bernama Kidang Alit itu telah memberikan
banyak sekali bagi kalian, sehingga tidak ada lagi yang dilampaui”
Gembala yang bertubuh tinggi itupun tersenyum, katanya kemudian “Baiklah, kami
akan menyampaikan kepada kawan-kawan kami tentang kehadiran kalian di istana
kecil itu, mudah-mudahan istana itu tidak lagi terlampau suram seperti saat-saat
yang lalu”
“Kini istana itu akan menjadi semakin hidup dengan kehadiran Raden Kuda Rupaka”
jawab Sangkan, lalu “Baiklah kami minta diri, kami akan pergi ke ujung bukit
kecil itu, kami ingin melihat daerah yang luas dengan lekuk-lekuk alam yang
sangat menarik. Dalam perjalanan
dari kota roja, kamipun melalui daerah-daerah pegunungan, tetapi pada umumnya
lereng-lereng pegunungan itu nampak gersang dan kering, tetapi pegunungan di
daerah ini nampak hijau dan segar”
Demikianlah Sangkan dan Pinten meninggalkan gembala-gembala yang masih sangat
muda itu. Tetapi hubungan itu adalah permulaan dari pergaulannya dengan
anak-anak muda di Karangmaja yang lebih tua lagi dari gembala-gembala itu.
Ketika mereka sampai diatas bukit kecil itu, merekapun menebarkan pandangan mata
mereka kesekelilingnya, daerah yang luas dan hijau, meskipun disana-sini masih
ada juga daerah yang masih perlu mendapat pemeliharaan.
Keduanya tidak terlalu lama berada diujung bukit kecil itu, Pintenpun kemudian
mengajak kakaknya segera kembali ke istana kecil yang terpencil itu.
“Kau masih akan tidur lagi sepanjang hari ?” bertanya kakanya.
Pinten mengerutkan keningnya, kaktanya “Tetapi aku sekarang tidak pincang lagi”
Kakaknya memandang wajah adiknya yang mulai cerah, tetapi ia tidak mengatakan
sesuatu.
“Apakah kita akan berlomba lari ?” Pintenlah yang bertanya.
“Lereng ini miring sekali, jika kau terdorong dan tidak dapat menahan diri, kau
akan jatuh terlungkup, mungkin wajahmu akan tergores batu padas”
Pinten mangn-mangu sejenak, namun kemudian iapun mengangguk-angguk sambil
bertanya “Apakah kira-kira akan terjadi demikian jika kita berlomba lari ?”
Sangkan sama sekali tidak menjawab, tetapi iapun menunjuk kelembah, dibawah
bukit disini yang lain dari istana kecil itu “Kau lihat, ternak itu semakin lama
semakin tumangkar, padukuhan ini akan mengalami hari-hari yang semakin baik jika
mereka tidak meninggalkan petunjuk-petunjuk yang pernah diberikan oleh Pangeran
Kuda Narpada”
Pinten mengedarkan tatapan matanya, sambil mengangguk-angguk ia berkata
“Nampaknya orang-orang Karangmaja bukan orang-orang yang cepat menjadi jemu,
sesuatu yang dianggapnya baik dilakukannya terus”
“Tetapi mungkin anak muda yang disebut namanya bernama Kidang Alit itupun banyak
memberikan pengaruh kepada padukuhan ini.
Pinten tidak menyahut, rasa-rasanya ia sedang menikmati hijaunya bukit
disekitarnya.
Namun tiba-tina ia menggamit kakaknya sambil berkata “Kakang, kau lihat tiga
orang yang berkuda itu ?”
Sangkan mengangguk
“Bagaimana jika mereka datang kemari ?”
“Kenapa ?, biar sajalah mereka datang kemari ?”
“Apakah mereka tidak akan berbuat apa-apa atas kita ? Ketiga orang itu tentu
orang-orang yang pernah dikatakan ibu, bahwa mereka adalah orang-orang yang
kasar dan bahkan buas”
“Tetapi mereka tentu tidak akan berbuat apa-apa atas kita…, kita sama sekali
bukan orang-orang penting, kita hanyalah anak seorang pelayan, apakah yang akan
dilakukan oleh ketiga orang itu atas kita ?”
“Tetapi aku cemas, aku seorang perempuan, mungkin mereka akan berbuat sesuatu
atasku”
“Ah…, kau terlampau perasa, apa kau sangka kau itu seorang gadis yang cantik ?
yang dapat membuat setiap laki-laki tergila-gila kepadamu, sehingga dengan
demikian kau cemaskan dirimu sendiri”
“Ah..!” Pinten mencubit kakaknya sehingga kakaknya mengaduh “Katakan sekali
lagi”
“Kukumu seperti kuku macan Pinten”
“Kau nakal sekali”
Sangkan masih akan menyahut, tetapi ternyata ketiga orang berkuda itu
benar-benar menjadi semakin dekat.
“Sebaiknya kita pergi saja” ajak Pinten
“Kembali ke istana ?”
“Tetapi Pinten mengerutkan keningnya sambil megeluh “Kita tidak punya waktu. Itu
mereka sudah datang, mereka sudah melihat disini”
Sangkan memandang ketiga orang berkuda yang menjadi semalin dekat, namun
tampaknya ia tidak menjadi cemas.
“Aku bukan orang penting, mereka tentu tidak akan menghiraukan kita” desisnya.
Namun ternyata ketiga orang itu memperhatikan kedua anak-anak muda itu, bahkan
seorang dari merekapun kemudian mendekatinya sambil bertanya “He ! sapakah
kalian ?”
“Aku sangkan tuan, dan ini adalah adikku Pinten”
Orang itu memandang Pinten dengan mata yang hampir tidak berkedip, namun
tiba-tiba ia bertanya “Itu adikmu ?”
“Ya, ya tuan”
Orang itu masih saja memandang Pinten dengan tajamnya sehingga wajah Pinten
menjadi kemerah-merahan, Ia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya,
bahkan kemudian iapun bergeser mendekati kakaknya,
“Dimana rumahmu ? bukankah kau juga anak-anak Karangmaja ?”
Sangkan menggelengkan kepalanya, jawabnya “Bukan tuan, kami bukan anak-anak
Karangmaja”
“He…! “
“Kami tinggal di istana kecil itu, kami adalah pelayan dim istana itu”
“Orang yang masih duduk dipunggung kudanya itu mengangguk-angguk, tetapi iapun
kemudian berpaling kepada kedua kawannya, katanya “Mereka tinggal di istana itu”
“Kami mendengar” jawab salah soerang kawannya “Biarlah mereka pergi, kami tidak
memerlukannya”
“Tunggu !” jawab orang yang pertama “Apakah gadis itu memang sebenarnya adikmu
?”
“Ya tuan”
Orang itu masih akan bertanya lagi, tetapi kawannya telah memotongnya “Ah… kau
menjadi mabuk, jika kau melihat perempuan, biarlah mereka kembali ke istana itu,
jika pada suatu saat kau benar-benar memerlukannya, kau dapat mengambilnya”
“Aku memang akan membawanya sekarang”
Kawannya mengerutkan keningnya, katanya “Kemarilah”
Orang yang pertama-tama bertanya kepada kedua anak muda itupun bergeser
mendekati kawannya, sambil berkata kepada Pinten “Jangan pergi !”
Pinten benar-benar menjadi bingung, sekali ia melihat orang berkuda itu
mendekati kawan-kawannya.
“Kau jangan gila” berkata kawannya “Di istana itu ada dua orang bangsawan,
jangan membuka persoalan, yang penting bagi kita, masih belum kita ketemukan,
jangan mementingkan persoalan-persoalan kecil yang tidak berarti, jika yang
pokok itu sudah kita selesaikan, terserahlah kepadamu, di istana itupun ada
seorang gadis yang lebih cantik”
Kawannya menarik nafas dalam-dalam.
“Biarkan mereka pergi”
Orang yang pertama-tama bertanya kepada Sangkan itupun ragu-ragu sejenak, namun
kemudian katanya dengan lantang “Pergilah ! kami tidak memerlukan kalian”
Demikian kata-kata itu diucapkan, maka Pintenpun segera menarik tangan kakaknya
dan dengan tergesa-gesa sekali meninggalkan tempat itu.
Ketiga orang berkuda itu tertawa melihatnya, namun dalam pada itu, sepasang mata
yang memperlihatkan peristiwa itu dari balik gerumbul agak dikejauhanpun menarik
nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa Kidang Alit memperhatikan peristiwa itu dari
agak jauh dibalik gerumbul perdu, meskipun ia tidak mendengar percakapan
diantara mereka, tetapi ia dapat menduganya.
Sejenak Kidang Alit tetap berada ditempatnya, didalam hati ia berkata “Untunglah
bukan kedua bangsawan bersama Inten Prawesti yang mereka jumpai, jika mereka
bertiga masih belum kembali ke istana, mungkin akan dapat terjadi benturan
diantara mereka, karena mereka masing-masing memiliki kelebihan”
Akhirnya Kidang Alit harus bergeser ketika ketiga orang berkuda itupun kemudian
meninggalkan bukit kecil itu. Tetapi agaknya mereka tidak akan segera kembali ke
padukuhan, karena ternyata mereka menempuh perjalanan kearah lain.
Kidang Alit kemudian muncul dari balik gerumbul itu menarik nafas dalam-dalam,
sejenak ia mengamati ketiga orang yang semakin lama semakin kecil dan akhirnya
menghilang sama sekali.
“Jika bangsawan-bangsawan itu terlambat sedikit, mereka akan bertemu dengan
ketiga iblis itu” Desisnya
Perlahan-lahan Kidang Alitpun kemudian meninggalkan tempatnya, tetapi ia tidak
lagi tergesa-gesa kembali ke padukuhan, ia berdiri beberapa saat lamanya,
memandangi istana kecil yang ternyata telah bertambah penghuni.
Sejak saat itu, perhatian Kidang Alit kepada istana kecil itu menjadi semakin
bertambah, terutama kepada kedua bangsawan yang untuk beberapa saat lamanya
tinggal di istana itu pula.
Ki Buyut Karangmaja merasa, bahwa kehadiran orang-orang baru di padukuhannya
agaknya membawa mengaruh yang kurang baik, ia merasa adanya pertentangan
meskipun tidak terbuka diantara mereka. Namum Ki Buyut tidak merasa kuasa
berbuat apa-apa, ia sadar bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang memiliki
ilmu yang dapat dibanggakan, bahkan seakan-akan masing-masing justru ingin
mencoba, apakah ada orang lain yang melampaui kemampuan ilmu masing-masing.
Dalam pada itu, tingkah laku ketiga orang-orang kasar yang menyebut dirinya
bernama Kumbara, Gagak Wereng dan naga Pasa menjadi semakin menggetarkan hati
setiap orang di padukuhan Karangmaja, bahkan beberapa orang tidak lagi berani
lewat di muka banjar padukuhan, apalagi perempuan dan mereka yang sedang mambawa
barang-barang berhargam bahkan makanan.
“Apakah ada seseorang yang pernah diganggunya ?” bertanya Ki Buyut kepada
anak-anak muda “Terutama perempuan ?”
Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak, namun merekapun kemudian
menggeleng “Yang dapat disebut dengan pasti memang belum ada Ki Buyut”
“Baiklah, jagalah agar perempuan-perempuan di Karangmaja berbuat dengan
hati-hati, jangan mendorong orang-orang kasar itu berbuat sesuatu atas diri
mereka, karena itu, jauhi sajalah mereka sedapat mungkin”
Pesan itu ternyata semakin menggetarkan hati perempuan dan gadis-gadis
Karangmaja, ketiga orang kasar itu, seolah-olah bagaikan iblis yang merenungi
liang-liang kubur yang masih baru. Dalam setiap saat, tangan-tangannya yang
besar dan kasar, akan mencengkam tanah yang masih basah dan mengungkat kembali
mayat yang terbujur di dalamnya.
Namun beruntunglah, bahwa tidak pernah terdengar berita tentang perempuan yang
menjadi korban mereka,
Dalam kecemasan tentang perempuan dan gadis-gadis di Karangmaja karena kehadiran
orang-orang kasar itu, maka justru yang terjadi adalah diluar dugaan.
Sekali lagi Karangmaja diributkan oleh seorang gadis yang tidak dapat menahan
diri dan melepaskan kegadisannya yang diserahkan kepada Kidang Alit. Dan sekali
lagi dengan nada penyesalan yang dalam, Kidang Alit menghadap Ki Buyut
Karangmaja dengan pengakuan yang jujur.
“Seperti yang pernah terjadi, Ki Buyut” berkata Kidang Alit “Aku seolah-olah
telah kehilangan kepribadianku ketika gadis itu memaksaku melakukan perbuatan
terkutuk itu”
“Aku tidak memaksa” bantah gadis itu.
“Tidak dengan kata-kata, tetapi dengan sikap dan perbuatan” sahut Kidang Alit
Gadis tidak menjawab, ia memang melakukan seperti yang dikatakan oleh Kidang
Alit, Kidang Alit Memang seorang anak muda yang lain dari anak muda Karangmaja.
“Kenapa terjadi hal itu ?” bertanya Ki Buyut kepada gadis itu.
“Aku tidak tahu, tetapi sentuhan jari-jarinya bagaikan telah membiusku”
“Aku tidak sengaja berbuat apa-apa, aku menolongnya naik tebing yang curam itu”
sahut Kidang Alit.
“Memang aneh sekali” berkata Ki Buyut “Peristiwa yang pernah terjadi memang
hampir serupa. Seolah-olah sentuhan jari-jari Kidang Alit telah meracuni
gadis-gadis itu”
“Sama sekali tidak aku sengaja Ki Buyut, bahkan akupun merasa seolah-olah aku
telah ditenungnya dan melakukannya diluar sadar”
Penyelesaian yang ditempuhnya serupa pula dengan penyelesaian yang pernah
dilakukan. Seorang anak muda Karangmaja bersedia mengawininya, tetapi Kidang
Alit harus membeli sepasang kerbau bagi sepasang pengantin baru itu.
Kidang Alit tidak dapat ingkar, ia harus menerima keputusan itu.
Namun ternyata bahwa Kidang Alit mempunyai bekal yang cukup, ia masih sanggup
bukan saja membeli sepasang lembu atau kerbau, tetapi berpasang-pasang. Dan Ki
Buyutpun bertanya didalam hatinya “Apakah dengan demikian peristiwa yang serupa
masih akan terjadi”
Tetapi untuk sementara waktu Ki Buyut masih berusaha menahan perasaannya. Kidang
Alit telah pernah memberikan sessuatu yang tidak pernah
dapat diberikan orang lain atau salah seorang anak-anak muda Karangmaja,
ia telah menyelamatkan Kasdu dari bencana yang sangat mengerikan.
“Tetapi apakah dengan demikian berarti Kidang Alit akan dibiarkan berbuat apa
saja di padukuhan ini ?” pertanyaan itu telah memukul dinding jantung Ki Buyut
di Karangmaja.
Dalam waktu yang singkat, berita itupun telah menjalar di seluruh padukuhan,
bahkan Nyi Upih yang sedang mencari keperluan sehari-hari di padukuhan itupun
segera mendengar pula peristiwa itu.
Karena itulah, maka ketika ia kembali ke istana, iapun segera menyapaikan hal
itu kepada momongannya, Inten Prawesti.
“Puteri, ternyata puteri telah mengambil keputusan yang palung bijaksana, memang
bukan mustahil, bahwa Kidang Alit menyimpan maksud yang kurang baik terhadap
gadis-gadis, apalagi apabila puteri sempat dibujuknya”
“Ah… mengerika sekali” desis Inten Prawesti “Terasa seluruh kulit tubuhnya telah
meremang.
“Yang manakah anak muda yang bernama Kidang Alit itu ibu ?” bertanya Pinten
“Akupun akan menjauhinya pula”
“Oo macam kau Pinten, kau jangan merasa dirimu cantik, gadis-gadis Karangmaja
masih lebih cantik dari pada kau, karena itu Kidang Alit akan menghiraukan kau
sama sekali”
“Tentu tidak Nyai” potong Inten Prawesti “Pinten adalah seorang gadis yang
cantik sekali, ketika ia baru datang, wajahnya memang nampak kasar, kotor dan
terbakar oleh sinar matahari, tetapi kini ia nampak cantik sekali”
“Oo…. Puteri jangan memuji, ia akan kehilangan akal dan merasa dirinya orang
yang paling cantik di seluruh Majapahit, itu akan berbahaya baginya”
Inten Prawesti tertawa, sedang Pinten yang memberengut nampak justru benar-benar
cantik sekali.
Namum mereka terkejut ketika mendengar suara tertahan dari dari balik dinding,
ternyata Sangkan yang mendengar pembicaraan itu tidak dapat menahan tertawanya,
sambil menjengukkan kepalanya ia berkata “Pinten, aku jadi kasian sekali
kepadamu, kenapa kau merasa dirimu menjadi perhatian orang”
“Siapa..! siapa he…?’ Pinten menjawab lantang
Tetapi Sangkan sudah hilang dan berlari ke halaman belakang istana itu sambil
menyambar sapu lidi, karena ia memang akan membersihkan halaman itu.
Di Karangmaja, Ki Buyut rasa-rasanya hamir kehilangan akal pula, ia tidak tahu,
apakah yang sebaiknya dikerjakan. Ia memerlukan Kidang Alit, karena menurut
perhitungannya, Kidang Alit akan dapat membantu mengatasi kesulitannya yang
dapat terjadi setiap saat. Jika ketiga orang yang berada di banjar itu menjadi
semakin liar. Tetapi agaknya Kidang Alit sendiri telah melakukan
perbuatan-perbuatan yang tidak dapat dianggapnya baik bagi para penghuni
padukuhan Karangmaja yang kecil itu
Bab 6
Kadang-kadang Ki Buyut pun dihinggapi oleh pertanyaan tentang anak muda itu,
siapakah sebenarnya anak muda yang menyebut dirinya Kidang Alit, seorang
petualang itu ?
Dalam kebingungan Ki Buyut kadang-kadang berjalan tanpa tujuan mengelilingi
padukuhannya, maka iapun selalu menghindari banjar padukuhannya, ia lebih
memilih jalan melingkari padukuhan kecilnya dari pada melalui jalan induk yang
menjulur di depan banjar, jalan yang justru semakin lama menjadi semakin sepi.
Hanya orang-orang yang bertugas untuk menyampaikan makan dan minum bagi ketiga
orang yang tinggal di banjar itu sajalah agaknya yang masih berjalan melalui
jalan induk padukuhan itu.
Ternyata Kumbara, Gagak Wereng dan Naga Pasapun merasakan suasana yang semakin
memburuk di padukuhan itu. Padukuhan kecil itu terasa menjadi semakin sepi dan
asing.
Karena itu, maka Kumbara merasa perlu untuk segera mengambil sikap, ia sudah
merasa terlalu lama berada di padukuhan kecil yang menjemukan itu.
“Kedua bangsawan itu ternyata tidak segera pergi dari istana kecil itu” berkata
Kumbara.
“Ya.., kita sudah terlalu lama menunggu” Sahut Naga Pasa “Aku sudah tidak sabar
lagi”
“Mula-mula kita menunggu dua hari, kemudian tiga, empat dan berkepanjangan”
potong Gagak Wereng “Sudah waktunya untuk segera bertindak”
“Jadi, apakah ayahnya, kakeknya, pamannya dan siapa saja yang akan mengambil
tindakan balasan, sekarang yang penting, tugas kita dapat kita selesaikan dengan
sebaik-baiknya”
Ketiga orang itu mengangguk-angguk, seolah-olah mereka sudah mendapatkan
kesepakatan untuk bertindak.
Ternyata merekapun kemudian segera membicarakan apa yang sebaiknya mereka
lakukan. Dengan mempertimbangkan semua keadaan dan kemungkinan yang ada di
Karangmaja.
“Orang-orang Karangmaja tidak akan ada yang berani berbuat apapun juga, meskipun
mereka mengetahui apa yang kita lakukan di istana kecil itu” berkata Kumbara
“Kita sudah memberikan contoh akibat yang dapat timbul jika seseorang berani
mengganggu kehadiran kita disini”
“Ya…” sahut Gagak Wereng “Jika perlu kita akan memberikan contoh lebih banyak
lagi”
“Itu tidak perlu, orang-orang Karangmaja dapat kita abaikan didalam hubungan
dengan tugas kita” berkata Naga Pasa “Yang harus kita perhatikan adalah justru
kedua orang bangsawan yang ada di istana itu”
“Sudah tentu” sahut Kumbara “Bukankah kita sudah mengambil sikap terhadap
keduanya ?, Keduanya harus kita
singkirkan tanpa menghiraukan siapapun yang dapat menuntut balas atas kematian
mereka”
“Jika demikian maka tidak ada persoalan lalgi bagi kita” berkata Naga Pasa “Kita
dapat berangkat sekarang juga ke istana kecil itu dan langsung bertindak sesuai
dengan tugas kita”
“Memang tidak akan ada kesulitan apapun juga, tetapi tindakan yang demikian
adalah tergesa-gesa dan dapat menimbulkan keonaran”
“Jadi…?” desis Naga pasa “Apakah yang harus
kita lakukan ?”
“Kita menunggu hari gelap, apapun yang kita lakukan, tidak dilihat oleh orang
banyak, sehingga apabila kelak benar-benar datang beberapa orang yang mencari
kedua bangsawan yang malang itu, tidak banyak orang yang dapat memberikan
keterangan yang akan dapat menjadi petunjuk bagi mereka, untuk melacak jejak
kita, meskipun seandainya mereka mengetahui juga siapakah kita, namun hal itu
akan memerlukan waktu”
“Kau memang terlampau berhati-hati, aku tidak melihat perbedaan sama sekali,
tetapi baiklah, jika kau menganggap bahwa bertindak di malam hari agaknya lebih
baik dari siang hari. Kau orang tertua diantara kita”
“Baiklah” berkata Kumbara kemudian “Kita akan memasuki istana itu dari pintu
gerbang, kita tidak akan besembunyi-sembunyi seperti tikus mencuri daging”
“Sudah barang tentu, kita akan memasuki dengan dada terngadah, kita tahu, bahwa
kedua orang bangsawan itu tentu akan mencoba melawan. Tetapi mereka akan kita
bunuh dan mayatnya kita tinggalkan
di luar pintu gerbang”
“Semuanya yang menantang rencana dan tugas kita akan kita bunuh, Raden Ayu
itupun jika tidak mau membantu tugas kita, akan kita bunuh juga”
Tetapi jangan gadis itu” desis Naga Pasa
“Persetan” geram Kumbara “Itu diluar pembicaraan kita, tetapi jika gadis itu
menyulitkan kita, apa boleh buat”
“Aku tidak akan membawanya, aku hanya memerlukannya sementara waktu, jika
kemudian harus dibunuh, aku tidak berkeberatan” Naga Pasa berhenti sejenak, lalu
“Sudah barang tentu kedua-duanya”
“Kenapa kedua-duanya ?” geran Gagak Wereng
“Bukankah ada dua orang gadis di
dalam istana itu”
“Gila, itu urusanmu, tetapi jangan mengganggu tugas kita”
“Tidak…, aku berjanji, tugas kita akan kita selesaikan lebih dahulu, aku baru
akan memerlukannya, setelah semuanya yang bersifat hidup di dalam istana itu,
mati terbunuh, kecuali dua orang gadis itu”
Kumbara mengerutkan dahinya, namun kemudian iapun menggeram “Jangan kau
membicarakan dengan kami, selesaikan persoalanmu sendiri, tetapi setiap
persoalan yang dibeliti oleh nafsu seperti itu, akan mendatangkan sial. Karena
itu, jika benar-benar demikian, biar kau sajalah yang akan dimakan oleh nasibmu
yang buruk”
Naga Pasa tertawa katanya “Kau jangan mengutuk begitu, baiklah, jika kalian
tidak mau, akupun tidak akan memaksa, nanti akan timbul pertimbangan tersendiri
setelah semuanya selesai. Nah, karena itu, maka jika terjadi sesuatu, bukanlah
aku penyebabnya”
Kedua kawannya tidak begitu menghiraukannya lagi. Merekapun kemudian sibuk
mempersiapkan senjata masing-masing, senjata yang jarang sekali mereka
pergunakan, karena dalam keadaan sehari-hari mereka sudah cukup percaya kepada
tangan-tangan mereka yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Apalagi mereka
berada di dalam masyarakat pedesaan yang dianggapnya tidak akan mampu berbuat
apapun juga atas mereka. Yang mereka pertimbagkan kemudian adalah dua orang
bangsawan yang ada di dalam istana itu. Keduanya tentu bukan orang kebanyakan di
dalam ilmu kanuragan. Karena itu, maka mereka bertiga harus mempersiapkan diri
mereka sebaik-baiknya.
“Anak muda itu memang berani” berkata Kumbara “Apalagi agaknya ia diiringi oleh
seorang pengawal yang tangguh, tetapi mereka tentu belum mengenal siapakah kita”
“Tentu mereka sudah mendengar tentang anak Karangmaja yang kita lumpuhkan itu”
sahut Naga Pasa.
“Tetapi berbuat demikian terhadap tikus dari Karangmaja adalah mudah sekali.
Dengan ilmu yang paling permulaan dan sekedar racun yang dapat dicuri dari
orang-orang yang mengerti tentang ilmu obat-obatan, maka hal itu akan dapat
dilakukan”
“Tetapi sudah barang tentu tidak dengan cara seperti yang kita lakukan atas anak
itu. Mungkin dengan menggoreskan senjata ditubuhnya atau menusuk dengan jarum.
Tetapi kita tidak berbuat demikian. Dan Ki Buyut di Karangmaja dapat bercerita
bahwa dengan sentuhan tangan, kita dapat membuat anak itu lumpuh, buta, tuli dan
bisu”
Kumbara mengangguk-angguk, katanya “Memang mungkin. Dan memang mungkin pula pula
kedua bangsawan itu merasa memiliki sedikit ilmu untuk dapat melawan kita.
Karena itu, bersiaplah sebail-baiknya”
Ketiga orang itu tidak berbicara berkepanjangan lagi, Mereka benar-benar
mempersiapkan diri. Kumbara telah menyiapkan sebilah pedang yang berwarna
kehitam-hitaman oleh racun yang kuat. Jika pedang itu berhasil menyentuh
lawannya, maka jika lawannya tidak mempunyai penawar yang baik, maka ia akan
segera mati membeku”
Gagak Wereng ternyata memiliki senjata yang lain. Selain kekuatan tangannya yang
luar biasa dan sebuah cincin yang beracun, iapun memiliki senjata yang berujung
runcing di kedua sisinya. Senjata yang tangkainya tidak lebh panjang dari dua
jengkal, tetapi di sebelah menyebelah terdapat ujung seperti ujung tombak yang
masing-masing panjangnya lebih dari sejengkal.
Seperti pedang Kumbara, maka ujung senjata Gagak Wereng itupun beracun pula.
Racun yang sama kuatnya dengan racun pedang Kumbara.
Naga Pasa mempunyai senjata yang lain pula, ia mempergunakan dua buah pisau
belati panjang, selain kedua pisau belati panjang itu, juga memiliki memiliki
beberapa buah pisau yang lebih kecil. Tangannya sudah terbiasa melontarkan
senjata-senjata kecil yang seperti kedua kawan-kawannya, senjatanya itupun
beracun pula.
Ketiga orang itu hampir tidak sabar menunggu matahari yang merambat lambat
sekali di langit, apalagi ketika warna merah mulai membayang, seolah-olah
matahari itu telah berhenti di tempatnya.
“Kita berangkat setelah makan malam” berkata Kumbara “Sebentar lagi, orang-orang
Karangmaja akan mengirimkan makan malam kita yang terakhir, aku sudah berpesan
kepada mereka, agar mereka memotong seekor kambing muda yang paling gemuk”
“Apakah kau juga mengatakan bahwa pengiriman ini adalah yang terakhir bagi kita
?” bertanya Naga Pasa.
“Tentu tidak”
Naga Pasa menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.
Sebenarnya orang-orang Karangmaja terpaksa menyembelih seekor kambing seperti
yang diminta oleh orang-orang yang mereka anggap sedang menghantui Karangmaja
dan tinggal di banjar padukuhan itu. Mereka tidak dapat berbuat lain daripada
memenuhinya, apalagi hanya seekor kambing muda yang gemuk, bahkan seekor
lembupun akan diberikannya.
Dalam keprihatinan Ki Buyut di Karangmaja selalu merasa dikejar-kejar oleh
kewajiban yang tidak dapat dipenuhinya, ia sama sekali tidak dapat berbuat
apa-apa atas ketiga orang itu, sedangkan dipihak lain, seeorang anak muda yang
akan dapat diharap membantunya, ternyata telah mengambil korban bukan satu atau
dua ekor kambing muda yang paling gemuk, tetapi korban itu adalah dua orang
gadis muda yang terhitung cantik di Karangmaja. Pada suatu saat memang timbul
niatnya untuk mengadukan kesulitannya kepad kedua bangsawan yang ada di istana
itu.
“Mungkin mereka akan dapat membantu” katanya di dalam hati. Namun niat itupun
diurungkannya, dengan demikian, jika terjadi sesuatu atas bangsawan-bangsawan
itu, maka ia adalah penyebabnya, yang mungkin akan dapat dibebani kesalahan
seperti yang telah menciderainya pula, karena Ki Buyut menduga, keluarganya
tidak akan dapat menerima hal itu terjadi atas keduanya.
Dengan demikian, yang dapat dilakukannya adalah sekedar merenungi dirinya
sendiri dan padukuhan kecilnya yang telah dibayangi oleh kesulitan yang semakin
lama akan menjadi semakin besar.
Sementara itu, langit merah menjadi semakin buram, beberapa orang Karangmaja
dengan tergesa-gesa pergi ke banjar sambil membawa makanan dan minuman bagi tiga
orang penghuninya.
Setiap kali mereka memasuki halaman banjar, terasa tubuh mereka tergetar,
meskipun sejak orang-orang itu berada di banjar, belum seorangpun yang pernah
diganggunya sejak ia memukul Kasdu. Tetapi bagaimanapun juga, hati mereka tetap
tergetar untuk setiap kali bertemu.
“Apakah pesanku sudah terpenuhi ?” bertanya Kumbara kepada orang-orang yang
membawa makanan dan minuman itu.
“Daging kambing maksud Tuan ?”
“Ya…, daging kambing muda dan gemuk, aku sudah jemu makan daging ayam dan telur”
“Sudah, sudah, kami membawa hampir seluruh tubuh kambing muda itu, hanya
beberapa bagian kami tinggalkan buat makan Tuan-tuan besok pagi-pagi”
“Bagus” desis Gagak Wereng “Orang-orang Karangmaja memang orang yang ramah dan
baik hati. Kami mengucapkan terima kasih”
Orang-orang yang membawa makanan itu tidak menjawab, mereka meletakkan saja
beberapa bakul diatas amben di dalam banjar sambil mengambil sisa-sisa makanan
siang yang berserakan.
Ketika Kumbara membuka tutup bakul-bakul itupun, ia tertawa katanya “Lihatlah,
bukankah itu merupakan bekal yang baik bagi kita yang malam ini akan melakukan
tugas yang besar, yang akan menentukan kedudukan kita kelak ?”
Gagak Wereng tidak menjawab, tetapi tangannya langsung menjamah
gumpalan-gumpalan daging di dalam bakul itu, tanpa mengatakan sepatah katapun,
ia segera menyumbatkan segumpal daging ke dalam mulutnya.
Kumbara tertawa melihat tingkah laku Gagak Wereng, disela-sela suara tertawanya
ia berkata “Dua orang kawanku mempunyai kebiasaan yang menjengkelkan dalam
bentuknya masing-masing, yang seorang adalah seorang yang memanjakan nafsu
makannya tanpa kendali, sedang yang lain sangat dipengaruhi oleh wajah-wajah
cantik tanpa memikirkan akibat-akibat yang dapat timbul karenanya. Dua cacat
yang apabila tidak disadari akan sangat membahayakan kedudukan kita semuanya.
Namun sambil mengunyah Gagak Wereng berkata “Betapapun rakusnya aku, tetapi aku
dapat membedakan, yang manakah yang boleh aku lakukan dan yang manakah yang
tidak”
“Kau sangka aku tidak ?” bertanya Naga Pasa “Jika aku tidak dapat membedakannya,
maka aku sudah lebih dari sepuluh gadis-gadis Karangmaja, terutama di istana
itu, yang sudah aku seret ke dalam banjar”
Gagak Wereng tertawa, tetapi ia masih saja menyuapi mulutnya dengan
gumpalan-gumpalan daging.
“Kita akan makan dahulu” berkata Kumbara “Lalu kita akan melakukan tugas kita
sebaik-baiknya, mungkin kita harus membunuh semua yang hidup di dalam istana
itu”
Naga Pasa berpaling sekejap, namun ia tidak menghiraukannya lagi, ia tahu,
Kumbara sengaja menggelitik hatinya agar ia menyatakan sikapnya, tetapi ia lebih
baik diam saja.
Sesaat kemudian mereka bertigapun telah memegang mangkuk masing-masing. Ternyata
bukan hanya Gagak Wereng yang rakus terhadap gumpalan-gumpalan daging kambing,
tetapi adalah mereka ketiga-tiganya bagaikan berlomba menghabiskan daging yang
terbanyak.
Setelah mereka selesai makan dan melemparkan sisanya kesudut ruangan, maka
merekapun segera membenahi diri, Kumbara yang dianggap tertua diantara mereka
berkata “Kita beristirahat sejenak sambil menyiapkan senjata kita masing-masing,
jangan ada yang mengecewakan, selebihnya semua yang akan kita bawa harus sudah
tersangkut di pelana kuda kita masing-masing. Karena kita tidak akan kembali
lagi ke banjar ini, kita tidak akan bertemu lagi dengan orang-orang Karangmaja
yang dungu untuk seterusnya. Memang mungkin beberapa tahun lagi kita akan datang
lagi ke daerah ini, tetapi sudah barang tentu dengan kedudukan yang jauh
berbeda”
Kedua kawannya tidak menyahut, mereka duduk di muka biliknya, sambil mengipasi
dada mereka yang berkeringat.
Terasa angin mulai menjadi sejuk, langit yang buram menjadi semakin buram,
satu-satu bintang mulai bergayutan di langit yang biru pekat. Beberapa helai
awan yang putih mengambang dihembus oleh angin ke utara.
“Padukuhan ini segera menjadi sepi” gumam Gagak Wereng “Jika matahari terbenam,
maka hampir semua pintu telah tertutup, hanya satu dua orang saja yang masih
berada diluar rumah”
“Pada umumnya mereka pergi ke rumah Ki Buyut” sahut Naga Pasa.
Gagak Wereng mengangguk-angguk, matanya yang tajam seolah-olah sedang menusuk ke
dalam kegelapan.
Satu-satu nampak cahaya pelita yang menembus dinding rumah yang berlubang, jatuh
keatas dedaunan di halaman, sentuhan angin yang menggerakkan dedaunan itu,
bagaikan mengguncang sinar pelita yang menggeliat seperti sedang dibayangi oleh
kegelisahan yang sangat.
Gagak Wereng menarik nafas dalam-dalam, meskipun hampir setiap pintu rumah sudah
tertutup rapat, tetapi seolah-olah Gagak Wereng dapat melihat, sekeluarga yang
sedang dilanda oleh kecemasan tentang hari depannya, duduk diatas amben bambu
yang besar, betapapun juga seorang ayah mencoba menghibur anak-anaknya,
tetapi anak-anak yang kecil itu tidak dapat menghindarkan diri dari ketakutan
yang luar biasa, begitu juga ibunya.
“Kenapa aku justru menjadi hantu bagi sesama manusia ?” pertanyaan itu tiba-tiba
saja telah menghinggapi jantung gagak Wereng.
“Kali ini agaknya yang terakhir” katanya di dalam hati pula.
Gagak Wereng mulai membayangkan, bahwa jika usahanya kali berhasil, dan ia
mendapat upah uang atau kedudukan yang cukup memadai, maka ia akan hidup wajar
untuk seterusnya, dan iapun akan menukar namanya lagi dengan namanya yang
sebenarnya. Margajati.
Namun demikian ia berkata kepada diri sendiri “Tetapi tugas ini harus
diselesaikan dahulu”
Gagak Wereng menggeliat ketika ia mendengar Kumbara berkata “Ujung malam ini
sudah mulai gelap, marilah kita kita berangkat, kita tidak akan berjalan
tergesa-gesa. Kita akan menikmati malam terakhir di Karangmaja ini
sebaik-baiknya”
Ketiga orang itupun kemudian mempersiapkan diri, semua milik mereka telah mereka
siapkan dan mereka sangkutkan pada pelana kuda mereka masing-masing, senjata
mereka telah siap pula untuk
dipergunakan sewaktu-waktu.
“Mungkin kedua orang itu perlu dibantai dengan senjata” berkata Kumbara “Karena
itu jangan meremehkan keduanya, keduanya bukanlah anak-anak kecil lagi”
Sejenak kemudian, maka ketiga orang itupun segera berangkat meninggalkan banjar
desa, tidak ada orang Karangmaja yang mengetahuinya, pada umumnya mereka sudah
berada di dalam bilik masing-masing.
Hanya satu dua anak muda sajalah yang masih berada di rumah Ki Buyut Karangmaja,
mereka berjaga-jaga sambil berbincang, sekali-kali mereka menengok Kasdu
nampaknya keadaannya memang berangsur baik.
Tetapi anak-anak muda yang masih tinggal di rumah Ki Buyut itu. Tidak berani
pulang ke rumah masing-masing, hingga menjelang pagi hari. Ketakutan itu selalu
mencengkam hati setiap anak-anak
muda sejak di banjar tinggal ketiga orang yang sama sekali tidak dikehendaki
oleh orang-orang Karangmaja, namun yang sama sekali tidak dapat diusiknya itu.
Meskipun demikian, seperti juga perempuan dan gadis-gadis, anak-anak muda
Karangmaja belum pernah mengalami perlakuan yang dapat menghentikan denyut
jantung mereka dari ketiga orang yang tinggal di banjar itu.
Dalam pada itu, ketika angin malam menjadi semakin dingin, Kumbara, Gagak Wereng
dan Naga Pasa telah menjadi semakin dekat dengan istana kecil yang terpencil,
dimalam hari istana itu memang nampak suram dan sepi sekali.
“Seperti sebuah rumah hantu” desis Naga Pasa.
“Ya… sebuah rumah di lereng bukit kecil, lihat, jika bulan kebetulan purnama,
maka istana itu justru akan menjadi semakin mengerikan nampaknya. Seolah-olah
dari balik pintunya akan dapat bermunculan sebangsa hantu, jin dan bekasakan”
“Kita akan memasukinya, kita akan segera menemukan penghuni istana itu yang
sebenarnya”
Kawan-kawannya tidak menyahut lagi, mereka memusatkan perhatian mereka kepada
istana yang sepi dan suram itu. Sebuah lampu minyak yang berkeredipan menerangi
sebagian kecil pendapa yang terbuka.
Namun, bagaimanapun juga, hati ketiga orang itupun terasa menjadi
berdebar-debar, mereka sudah terbiasa membunuh, tetapi rasa-rasanya membunuh
perempuan yang tidak berbahaya justru sangat mendebarkan hati.
Ketiga orang itu tidak akan tergetar hatinya jika senjata mereka pada saatnya
terhujam di dada kedua orang bangsawan yang sedang berada di istana itu pula,
tetapi jika mereka harus membunuh perempuan yang ada di dalamnya, maka tangan
mereka akan manjadi gemetar.
Bahkan tiba-tiba saja tumbuh penyakit dihati Gagak Wereng ”Apakah untungnya
dengan membunuh perempuan-perempuan itu ?, mereka tidak dapat berbuat apa-apa,
seandainya mereka melawan, apakah yang dapat mereka lakukan ?, dengan sekali
dorong, mereka akan jatuh pingsan”
Gagak Wereng menarik nafas dalam-dalam, tanpa sadarnya ia berpaling memandang
wajah Kumbara yang tegang, didalam keremangan malam, Gagak Wereng tidak dapat
melihat dengan jelas bentuk dan kerut merut di wajah kawannya itu.
Namun Naga Pasa agaknya mempunyai pikiran yang lain, setiap kali ia mengadahkan
wajahnya, dan seolah-olah tersenyum seorang diri.
“Gila..!” desis Gagak Wereng di dalam hatinya “ Naga Pasa tentu akan akan
mengambil kedua gadis yang ada di istana itu. Ia tidak akan segan membawanya dan
melemparkan ke tepi jalan selagi gadis itu tidak sadarkan diri.
Gagak Wereng adalah seorang laki-laki yang hampir tidak pernah bertanya kepada
kawan-kawan dan kepada diri sendiri. Apakah korbannya perlu dikasihani atau
tidak, ia adalah laki-laki yang bengis dan tidak berkeprimanusiaan. Namun
tiba-tiba saja, sebuah kejemuan telah merayapi hatinya, justru selagi ia
bergerak mendekati istana yang kecil dan terpencil untuk melakukan tugasnya yang
cukup berat.
“Gila,,! “ Ia menggeram didalam hatinya “Kenapa aku ragu ?, Apakah sebenarnya
aku ketakutan melihat kedua orang bangsawan yang ada di istana itu ?”
Gagak Wereng tidak sempat merenung dirinya lebih jauh. Kumbara memberi isyarat
dengan tangannya, sehingga mereka bertigapaun kemudian berhenti beberapa langkah
di depan regol halaman istana yang suram itu.
“Kita akan memasuki halaman istana, kita akan menambatkan kuda kita diluar
regol” berkata Kumbara
“Kenapa diluar regol ?” bertanya Naga Pasa.
“Kuda kita tidak boleh menjadi sasaran kebingungan kedua orang yang ada di
istana itu. Jika mereka kehilangan akal menghadapi kematian, mereka akan dapat
dengan gila menyerang kuda yang tidak tahu menahu tentang perkelahian itu”
“Selebihnya, kita akan dapat dengan cepat meninggalkan halaman jika keadaan
memaksa” desis Gagak Wereng
Naga Pasa memandanginya dengan heran, katanya “He..!, sejak kapan kau
memperhitungkan cara untuk melarikan diri ?”
“Bukan untuk melarikan diri” sahut Gagak Wereng, tetapi ia tidak menemukan
kata-kata untuk melanjutkan kalimatnaya.
Naga Pasa tertawa, katanya “Kedua orang yang tinggal di istana itu adalah
bangsawan-bangsawan yang hanya pandai berhias dan merayu perempuan, karena itu
mereka harus dibunuh, jika tidak, maka perempuan-perempuan akan menjadi korban
mereka dan hidup tersia-sia dihari tuanya”
“Cukup.., desis Kumbara “Marilah kita bersiap-siap, semuanya akan segera
dimulai”
Ketiga orang itupun meloncat turun dari kuda mereka dan menambatkan kuda-kuda
itu di batang perdu di depan istana itu. Untuk sesaat mereka mcncoba mengamati
keadaan, tetapi istana itu benar-benar telah menjadi sepi.
“Kita akan masuk sekarang” berkata Kumbara.
Gagak Wereng dan Naga Pati mengangguk kecil, hampir diluar sadar, merekapun
telah meraba senjata masing-masing, Seolah-olah
mereka ingin meyakinkan, bahwa senjata-senjata mereka akan dapat
menyelesaikan persoalan yang sedang mereka hadapi. Sejenak kemudian Kumbarapun
telah telah berdiri dimuka pintu regol, beberapa kali ia mencoba mendorongnya,
tetapi agaknya pintu itu telah diselarak,
“Kita dorong saja” desis Naga Pasa.
“Itu akan membuat keributan, kita dapat mengangkat selarak dengan memasukkan
tangan kita pada bagian yang rusak itu”
“Aku tidak telaten” desis Gagak Wereng “Aku akan loncat dinding batu dan aku
akan membukanya dari dalam”
Kumbara mengangguk, katanya “Baik, lakukanlah”
Gagak Werengpun segera meloncat keatas dinding batu yang mengelilingi halaman,
sejenak ia memandang ke bagian dalam dari dinding batu itu. Ternyata halaman itu
benar-benar sepi. Tidak ada sesuatu nampak bergerak meskipun sekedar oleh seekor
kadal. Gagak Wereng segera meloncat masuk, dengan hati-hati ia melangkah
mendekati pintu gerbang dan kemudian membuka selaraknya.
Kumbara dan Naga Pasa yang berada di luar, menarik nafas dalam-dalam, seolah
pintu pintu telah terbuka
lebar-lebar bagi tugas yang yang
akan dilakukannya, meskipun yang
sudah terjadi baru ujung dari keseluruhan tugas yang sangat berat.
Terlebih-lebih dengan kehadiran kedua orang bangsawan yang berada di dalam
istana itu pula.
“Apakah kita akan langsung memasuki istana?” bertanya Gagak Wereng
“Sudah barang tentu” Jawan Kumbara “Kita tidak akan membuang waktu lebih lama
lagi”
“Marilah” geram Naga Pasa “Pekerjaan kita sudah selesai”
“Kau bermimpi, kita baru mulai”
“Ya…, kita baru mulai, tetapi selanjutnya adalah mudah sekali”
Kumbara memandang Naga Pasa dengan tatapan mata yang ragu, namun iapun kemudian
tidak menghiraukannya lagi. Perlahan-lahan ia mulai melangkah mendekati pendapa
yang remang-remang diterangi oleh lampu minyak yang redup.
“Kita akan naik ke pendapa dan langsung mengetuk pintu” berkata Kumbara.
“Ya, kita akan mengetuk pintu” sahut Naga Pasa yang mulai melangkahkan kakinya
naik ke pendapa.
Tetapi langkahnya terhenti, dengan wajah yang tegang ia memandang Kumbara dan
Gagak Wereng yang juga termangu-mangu.
“Aku mendengar sesuatu” desis Naga Pasa
“Ya, aku juga mendengar sesuatu’ sahut Kumbara.
Ketiganyapun kemudian berdiri mematung, namun untuk beberapa saat lamanya, tidak
ada sesuatu yang yang mereka dengar, desah anginpun tidak.
“Aku akan naik” berkata Naga Pasa “Ternyata kita telah diganggu oleh kecemasan
kita sendiri”
Kumbara mengangguk, katanya “Ketuklah pintu itu keras-keras”
Namun Naga Pasa tidak sempat menjawanb, tiba-tiba saja terdengar suara tertawa
disisi pendapa itu, dari dalam kegelapan terdengar suara “Kau tidak usah
mengetuk pintu itu keras-keras, aku berada disini”
Naga Pasa segera meloncat turun, dengan wajah yang tegang ia memandang kedalam
kegelapan sambil berkata “Nah, ternyata yang kami dengar bukan sekedar nafas
kami sendiri” ia berhenti sejenak, lalu “He..! Siapakah kau, apakah kau
bangsawan yang ada di istana ini ?”
Ketegangan memuncak ketika mereka melihat dedaunan yang bergerak, dari dalam
kegelapan muncul seseorang yang seperti telah diduga, ia adalah seorang dari
kedua bangsawan yang ada diistana itu.
“Oo… Kau” desis Kumbara “Terima kasih atas sambutanmu”
“Namaku Panji Sura Wilaga”
“Panji Sura Wilaga” Kumbara mengulang “Baiklah, kemarilah, aku akan berbicara
denganmu sedikit”
Panji Sura Wilaga melangkah mendekati ketiga orang itu dengan tanpa ragu-ragu,
tidak ada sepercik kecemasanpun yang membayang diwajahnya.
“Dimanakah kawanmu itu ?” bertanya Kumbara kepada Panji Sura Wilaga.
“Ia berada di dalam, tetapi ia akan dengan senang hati menyambut kedatangan
kalian pula”
“Baiklah, apakah kau sedang menunggunya Panji Sura Wilaga ?”
“Aku memang tinggal di istana ini bersamanya, ia sedang menengok bibinya yang
agaknya hidup seolah-olah dalam pengasingan”
“Maksudku, sekarang ini, apakah kau sedang menunggu kawanmu itu ?”
“Ia akan keluar nanti, ia tidak sedang tidur, ia tentu mendengar kedatangan
kalian, tetapi ia masih berada didalam”
“Jika demikian, maka aku akan menemuinya dan menemui isteri Pangeran Kuda
Narpada”
“Buat apa kau ingin menemuinya ?”
“Ada sesuatu keperluan yang akan aku sampaikan kepada isteri Pangeran yang telah
hilang itu”
“Ki Sanak “ berkata panji Sura Wilaga “Agaknya tidak pantas jika Ki Sanak pada
malam hari yang gelap, datang sebagai tamu di istana ini, bukankan besok masih
ada hari ?, aku ingin menasehatkan kepada Ki Sanak, besok sajalah datang kembali
disiang hari, jangan sekarang”
Kumbara menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin mengedepankan
perasaannya yang mulai menjadi panas.
“Aku datang untuk menemui isteri
Pangeran Kuda Narpada, aku ingin bertemu barang sekejap, dan aku ingin lakukan
sekarang, tidak besok”
“Ki Sanak “ berkata Sura Wilaga “Sebaiknya Ki Sanak jangan memaksa, itu kurang
baik, yang Ki Sanak lakukan sekarang ini benar-benar bertentangan dengan
kesopanan yang lazim berlaku”
“Maaf Panji Sura Wilaga “ sahut Kumbara “Barangkali aku memang tidak
menghiraukan sopan santun, tetapi demikianlah keinginanku, jangan
menghalang-halangi aku, supaya hidupmu tidak menjadi pendek.”
“Ah, kau sedang menakuti-nakuti” jawab Sura Wilaga “Jangan seperti
menakut-nakuti anak-anak, karena itu, sebaiknya kalian kembali saja, dan
datanglah besok jika matahari sudah naik tinggi.”
“Persetan !!” geram Kumbara yang hampir kehabisan kesabaran “Kau jangan
mempersulit dirimu sendiri.”
“Tentu tidak, aku sama sekali tidak mempersulit diriku, tetapi adalah menjadi
kewajibanku untuk memperingatkanmu. Ketahuilah, bahwa Raden Ayu Kuda Narpada
sekarang sudah tidur, agaknya ia lelah sekali, karena sehari-harian ia bekerja
di dapur, adalah bukan menjadi kebiasaan isteri seorang bangsawan tinggi
melakukan pekerjaan itu.”
“Aku tidak perduli.” Bentak Kumbara yang telah kehilangan kesabaran “Aku akan
masuk dan menemuinya”
“Sebaiknya jangan Ki Sanak, nanti kita akan dapat berselisih, bukan saja dengan
kata-kata, tetapi mungkin dengan kekerasan”
Kumbara menggeram mendapat tantangan itu, maka katanya
kemudian tidak kalah garangnya “Baiklah, jika itu yang kau kehendaki,
bukan kamilah yang menentang kalian, tetapi kaulah yang sudah memulainya”
“Tentu saja bukan aku, aku hanya sekedar mempersilahkan kalian untuk kembali
besok, selebihnya adalah pengotak-atikmu saja”
“Panji Sura Wilaga !!!” berkata Naga Pasa yang sudah kehilangan kesabaran “Kau
tinggal memilih, membawa kami masuk dan mempertemukan kami dengan isteri Kuda
Narpada, atau kau akan mati dengan penderitaan yang tidak dapat diperkirakan?.
Dengarlah Panji Sura Wilaga, jika tangan kami menyentuh tubuhmu, maka kau akan
menjadi lumpuh, bisu, tuli dan buta seperti seorang anak muda dari padukuhan
Karangmaja”.
Tetapi diluar dugaan, Panji Sura Wilaga tertawa, katanya “Memang kemampuan
anak-anak dari Karangmaja, perguruan Guntur Geni dapat dibanggakan, apabila
pemimpinnya yang menyebut dirinya bernama Kiai Sekar Pucang, tetapi bagiku,
perguruan itu tidak ubahnya seperti berpuluh-puluh perguruan kecil lainnya yang
tesebar dari ujung kulon sampai ke ujung timur pulau ini”
“Gila !!” Kumbara tiba-tiba menggeram “Dari mana kau dapat menyebut nama
perguruan dan pimpinanku ?”
“Dari bekas tanganmu yang berbisa itu, aku pernah melihat seorang anak muda yang
kau perlakukan seperti itu, adalah diluar peri-kemanusiaan jika kau
memperlakukan seorang anak muda pedesaan yang tidak tahu menahu tentang ilmu
kanuragan dengan cara seperti itu”
“Ia menentang aku”
“Apapun yang dilakukannya, kau tentu dengan mudah akan dapat mencederainya,
karena anak pedesaan itu adalah anak yang bodoh dan dungu”
Tiba-tiba Gagak Wereng yang sejak semula hanya berdiam diri saja berkata “Kita
akan berbantah terus sepanjang semalam suntuk, atau akan menyelesaikan tugas
kita yang penting ini ?”
“Sudah tentu, kita akan segera bertindak”
“Marilah, aku akan memasuki pringgitan, Siapa yang sudah jemu berbicara, ikuti
aku”
“Panji Sura Wilaga tertawa, katanya “Masuklah, tetapi kalian tidak akan pernah
keluar lagi”
“Jangan hiraukan” berkata Gagak Wereng sambil melangkah naik ke pendapa “Kita
akan berjalan terus, jika orang ini berani bertindak, ia akan bertindak, ia tahu
pasti, bahwa ia akan berhadapan dengan perguruan Guntur Geni”
“Jangan panik” desis Panji Sura Wilaga.
“Persetan !!!” Gagak Wereng tidak menghiraukannya.
Panji Sura Wilaga maju beberapa langkah, ketika iapun kemudian meloncat naik ke
pendapa, terdengar pintu pringgitan terbuka. Nampak dalam cahaya lampu minyak
seorang anak muda berdiri bersilang tangan didada.
“Nah itulah yang seorang” berkakta Gagak wereng.
“Ya…” jawab anak muda yang berada di pintu itu “Aku kira kalian dapat diajak
berbicara dan meninggalkan halaman istana ini, tetapi ternyata dugaanku keliru,
kau memaksa naik dan masuk kedalam istana bibiku ini”
Gagak Wereng manjadi ragu-ragu sejenak, ada sesuatu yang bergetar didala,
hatinya, tetapi sambil menggerakkan giginya ia berkata “Kau jangan mencoba
mengganggu tugas tugas kami, aku akan bertemu dengan bibimu”
“Jangan kasar” berkata Raden Kuda Rupaka “Sebaiknya aku masih memperingatkan
kalian sekali lagi, pergilah dan kembalilah besok siang jika memang kalian
mempunyai kepentingan dengan bibi”
“Tidak aku akan bertemu dengan bibimu sekarang”
Raden Kuda Rupaka yang lebih muda dari Panji Sura Wilaga ternyata lebih cepat
menjadi panas. Sambil menggeram ia melangkah lebih maju dan bekata “Jangan
menyombongkan diri karena kalian adalah anak-anak dari perguruan Guntur Geni,
itu sama sekali tidak dapat menggetarkan hatiku. Namun aku masih dapat berbicara
dan bersikap sebagai manusia, bukankah kita manusia yang mempunyai akal dan budi
?, bukankah kita punya mulut untuk berbicara ?, dan bukankah kita mengakui,
bahwa setiap orang mempunyai hak atas miliknya, seperti bibi mempunyai hak atas
istananya ini ?, jangan melanggar hak itu, pergilah”
“Jangan berbicara lagi” Kumbara menjadi semakin marah “Menepilah, aku akan
lewat”
Wajah Kuda Rupaka menjadi merah, dengan garangnya ia berkata “Jika demikian, kau
akan memaksakan kehendakmu, baiklah itu berarti maut”
Kumbara mengerti bahwa tidak ada jalan lain kecuali bertempur, karena itu, maka
iapun berkata kepada Naga Pasa dan gagak Wereng “Kalian bersama-sama dapat
membunuh yang seorang itu dengan cepat, aku akan melayani anak gila ini,
kemudian kita bertiga akan mencincangnya sampai lumat”
Kuda Rupaka tidak bergerser dari tempatnya, ia berdiri dengan kaki renggang
seperti sebatang tonggak besi baja yang menghujam jauh kedalam pusat bumi.
Namun dalam pada itu, Raden Ayu Narpada dan Inten Prawesti yang ketakutan
didalam ruang tengah istananya yang suram itu. Tiba-tiba seolah-olah mendapat
sebuah kekuatan yang lain, ia tidak ingin mengorbankan kemanakannya yang hanya
secara kebetulan saja berada di istananya itu. Karena itu maka didorongnya Inten
perlahan-lahan sambil berkata “Inten, pergilah kepada Nyi Upih dan anak-anaknya,
aku akan menemui orang-orang itu, mungkin yang dicarinya bukan sesuatu yang
sulit untuk dipenuhi”
“Apakah mereka akan mengambil aku ibunda ?” bertanya Inten Prawesti.
“Tentu tidak Inten, pergilah kepada Nyi Upih, ia akan dapat berbuat sesuatu
untukmu”
Inten menjadi semakin gematar, tetapi ia tidak dapat menahan ibundanya lagi.
Ketika ibunya bangkit dan melangkah ke pendapa, Inten siap-siap untuk berlari ke
belakang, tetapi sebelum ia melangkah ternyata Nyi Upihlah yang berjalan
tergesa-gesa memasuki ruangan itu.
“Gusti” ia berdesis
Raden Ayu Kuda Narpada terhenti “Apakah Gusti akan menemui orang-orang itu ?”
“Aku akan menemuinya Nyai, mungkin persoalannya dapat mudah aku selesaikan tanpa
menimbulkan onar, aku tidak sampai hati melepaskan angger Kuda Rupaka bertempur
dengan mereka, jika terjadi sesuatu atas anak itu, maka aku akan merasa sangat
menyesal”
“Tetapi berhati-hatilah Gusti”
Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk, sementara Inten Prawesti telah memeluk
pemomongnya dengan tubuh yang gemetar
“Marilah, duduklah puteri” Nyi Upih mencoba untuk menenangkannya.
“Nyai” desis Inten “Dimana anak-anakmu?”
“Mereka membeku di pembaringan puteri, aku sudah mengajak mereka kemari, tetapi
Pinten tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali, sedang Sangkan bersembunyi
di bawah kolong amben bambunya”
“Aku juga takut sekali Nyai”
“Sudahlah, aku berharap bahwa segala sesuatunya dapat segera diselesaikan”
berkata Raden Ayu Raden Kuda Narpada sambil melanjutkan langkahnya ke pendapa.
Sementara itu, Kuda Rupaka sudah siap untuk memaksa ketiga orang yang datang
dengan kasarnya dimalam hari itu untuk pergi, Panji Sura Wilagapun telah meraba
hulu pedangnya pula.
Namun dalam pada itu, Kumbara, Naga Pasa dan Gagak Werengpun telah siap
menghadapi lawan masing-masing dengan garangnya.
Kehadiran Raden Ayu Narpada telah mengejutkan mereka yang sudah siap bertempur
di pendapa, apalagi Kuda Narpada yang dengan sigapnya meloncat mendekati bibinya
“Bibi, silahkan bibi masuk, biarlah aku selesaikan persoalan kecil ini, mereka
adalah anak-anak dari perguruan Guntur Geni yang tidak mempercayai kemampuan
prajurit-prajurit Demak, tetapi sebentar lagi mereka akan menyesal dan akan
menyebut nama Sultan Demak sambil berjongkok dihadapanku”
“Anakmas Kuda Rupaka” berkata Raden Ayu Kuda Narpada “Kau adalah tamuku,
kehadiranmu, membuat aku sekeluarga yang kecil ini menjadi gembira, karena itu,
aku tidak mau sesuatu terjadi atasmu anakmas, jika pakaianmu sobek, apalagi
kulitmu tergores ujung senjata meskipun hanya setebal rambut, aku akan sangat
menyesal, semua kegembiraan akan lenyap dan persoalannya tentu akan menjadi
berkepanjangan”
Kuda Rupaka tertawa, katanya “Bibi, aku tidak biasa menyombongkan diri, tetapi
bersama-sama dengan paman Panji Sura Wilaga, aku akan berusaha untuk melindungi
istana peninggalan pamanda Kuda Narpada ini”
“Terima kasih anakmas, tetapi biarlah orang ini menyebutkan persoalannya,
biarlah ia mengatakan, apakah yang akan dibicarakannya dengan aku”
“Nah…!” tiba-tiba saja Kumbara memotong “Itu adalah suatu kebijaksanaan yang
terpuji”
“Angger Kuda Rupaka” berkata Raden Ayu Kuda Narpada “Biarlah ia berbicara”
Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, iapun kemudian berjongkok dihadapan
bibinya sambil berkata “Bibi. Adalah
kewajiban seorang ksatria untuk berbuat derma, melindungi yang lemah dan
memerangi kejahatan, apalagi terhadap keluarga sendiri, sedangkan bagi orang
lainpun harus dilakukannya tanpa pamrih. Bibi, terjadi sesuatu atas diri kami
berdua, maka tidak akan ada seorangpun yang menyalahlkan bibi. Bahkan ayahanda
akan berbangga, bahwa anaknya telah melakukan tugas seorang ksatria, karena itu
bibi, jangan layani orang-orang gila ini, serahkanlah mereka kepadaku”
“Bagus” teriak Naga Pasa “Kau akan kami bunuh lebih dahulu, baru kami akan
berbicara dan memaksa bibimu untuk memenuhi tuntuan kami”
“Apakah sebenarnya yang kalian kehendaki ?” bertanya Raden Ayu Kuda Narpada
Namun sebelum mereka menjawab Kuda Rupaka telah meloncat berdiri sambil berkata
lantang “Selama aku masih berdiri di halaman ini, kalian tidak akan dapat
memaksa bibi untuk berbuat apapun. Karena itu, jika kalian mampu membunuh aku,
lakukanlah”
“Aku akan membunuhmu” geram Kumbara sambil melangkah maju.
“Bibi masuklah” Kuda Rupaka perlahan-lahan mendorong bibinya masuk kembali,
sehingga Raden Ayu Kuda Narpada sama sekali tidak sempat menolak”
Demikian Raden Ayu itu hilang dibalik pintu, maka pintu itupun segera ditarik
oleh Raden Kuda Rupaka, sehingga tertutup rapat-rapat.
“Kau jangan menakuti-nakuti perempuan itu he..!!” geram Raden Kuda Rupaka
“Sekarang lakuka apa yang akan kau lakukan”
“Kumbara menggeram, namun sebelum ia berkata sesuatu, Kuda Rupaka dengan acuh
tidak acuh berjalan turun ke halaman sambil berkata “Di sini kita mendapat
tempat yang lapang untuk saling berbunuhan”
Kumbara tidak menjawab, iapun segera meloncat dari pendapa langsung menyerang
anak muda yang memang sudh siap menunggunya itu.
Radn Kuda Rupaka sama sekali tidak terkejut mendapat serangan yang dahsyat itu,
dengan sigapnya ia meloncat. Bakan ia masih sempat berkata “Racun di tanganmu
dan senjatamu tidak akan dapat bekerja dihadapanku. Aku sudah menggosok seluruh
tubuhku dengan obat panawar racun, Sementara di jariku terdapat sebuah cincin
dengan batu akikJumerut Sisik Waja, betapa tinggi ketajaman racunmu, kau sama
sekali tidak akan berdaya”
“Gila…!!!, jadi kau mempunyai batu akik Jumerut Sisik Waja ?” bertanya Kumbara.
“Ya…, dan paman Panji Sura Wilaga mempunyai batu akik Naga Keling. Kecuali obat
penawar seperti yang aku pergunakan pula”
“Persetan…!!! Kalian tentu anak-anak dari perguruan Cengkir Pitu”
“Kau sudah mengenalnya?, nah, jika demikian, jangan bermain-main dengan racun,
tentu tidak ada gunanya.ntu tidak ada gunanya. Perguruan Guntur Geni dan Cengkir
Pitu mempunyai pengetahuan tentang racun dari sumber yang sama”
Kumbara menggeram, iapun segera menyerang pula sambil berteriak “Tetapi baik
akik Jumerut Sisik Waja, maupun Naga Keling tidak mampu membuat kulitmu menjadi
kebal. Meskipun kalian tawar dari racun, namun tubuh kalian tidak menjadi kebal
oleh senjata tajam”
“Juga anak-anak dari Guntur Geni tidak akan dapat mengelakkan luka ditubuhnya”
Kumbara menjadi semakin marah karena serangannya sama sekali tidak menyentuh
lawannya, karena itu, maka iapun segera menyerang lawannya beruntun dengan
senjatanya sambil bertanya “Jika kalian anak-anak Cengkir Pitu, kenapa kalian
berada disini?”
Kuda Rupaka tidak menyahut, tetapi suara tertawanya terdengar tinggi. Dalam pada
itu Naga Pasa dan Gagak Wereng menjadi termangu-mangu melihat perkelahian yang
terjadi. Dalam sekilas nampak bahwa Kuda Rupaka memang memiliki kemampuan yang
dapat dibanggakannya.
Namun sementara itu, Panji Sura Wilaga telah siap pula menghadapi keduanya di
halaman istana yang suram itu.
“Kau akan segera mati” desis Naga Pasa kemudian.
“Kau atau aku, atau kita bersama-sama”
“Persetan, Kau harus melawan kami berdua”
“Aku sudah terlalu biasa bertempur melawan kelinci-kelinci penakut yang
berkelahi bersama seluruh keluarganya”
“Persetan…!!!” Kemarahan Naga Pasa telah memuncak, karena itu serangannyapun
segera datang membadai, disusul dengan serangan-serangan Gagak Wereng yang
dahsyat.
Panji Sura Wilagapun kemudian mengerahkan segenap kemampuan bertempur yang cukup
tinggi. Ia sadar, bahwa kedua orang itu akan memaksanya untuk menyerah dan mati.
Kemudian mereka bertiga akan dengan sangat mudah dapat membunuh Kuda Rupaka
pula.
Karena itu, maka Panji Sura Wilaga harus mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya
sesuai dengan pekembangan pertempuran antara Kuda Rupaka dan lawannya.
“Aku harus bertahan sampai saatnya Raden Kuda Rupaka dapat membunuh iblis itu”
berkata Panji Sura Wilaga kepada dirinya sendiri, sehingga dengan demikian,
sejauh-jauh dapat dilakukan, Panji Sura Wilaga tidak menghambur-hamburkan
tenaganya dalam perkelahian itu.
Tetapi hal itu sangat sulit dilakukannya, kedua lawannya memiliki kemampuan yang
dapat memaksanya untuk memeras segenap tenaga yang ada padanya. Jika tidak, maka
ia justru akan segera mengakhiri perlawanannya. Kumbara dan kawan-kawannya
ternyata adalah orang-orang yang memang sepantasnya dipercaya oleh perguruannya
untuk menjalankan tugas yang berat itu.
Karena itulah, maka pertempuran di halaman istana itu semakin lama menjadi
semakin seru. Jika Panji Sura Wilaga harus bertempur mati-matian untuk
mempertahankan diri dari serangan kedua orang lawannya. Maka Raden Kuda Rupaka
mengerahkan segenap kemampuannya untuk segera mengalahkan Kumbara agar ia segera
dapat membantu Panji Sura Wilaga, karena Raden Kuda Rupakapun menyadari bahwa
kawannya itu akan segera mengalami kesulitan.
Sebenarnyalah memang demikian yang terjadi, melawan kedua orang lawannya itu,
Panji Sura Wilaga harus mengerahkan segenap kemampuan yang dapat dilakukan.
Dengan demikian maka ia harus mengerahkan segenap tenaganya seakan-akan tanpa
mendapat kesempatan untuk menarik nafas panjang sama sekali.
“Gila” geram Sura Wilaga di dalam hatinya “Ternyata orang ini benar-benar ingin
memaksaku menyerahkan leherku kepada mereka”
Sementara itu, didalam istana kecil itu, Raden Ayu Kuda Narpada duduk dengan
gemetar, betapa ia berusaha menenangkan hatinya, namun terasa degup jantungnya
menjadi semakin kencang. Sedang di belakangnya, Inten Prawesti duduk di dalam
pelukan pemomongnya yang seolah-olah bagaikan membeku.
Sekali-kali mereka tergetar oleh dentang senjata di halaman. Kemudian
teriakan-teriakan nyaring dari orang-orang yang sedang berkelahi itu.
“Apakah Kamas Kuda Rupaka akan menang Nyai?” bertanya Inten Prawesti dengan
suara gemetar. Ia tidak dapat menahan ketegangan yang semakin memuncak di
dadanya. Nyai Upih bergeser sedikit, dengan suara lirih ia menjawab “Kita berdoa
puteri. Yang Maha Kuasa akan memberi kekuatan kepada setiap orang yang memuji
namanya”
Inten Prawesti mengerutkan keningnya, katanya “Ya, semoga Allah Yang Maha Besar
akan memberikan pertolongannya”
Inten Prawesti termangu-mangu, meskipun hatinya sedang dicengkam oleh
kebingungan, namun ia masih sempat menimbang-nimbang kata pemomongnya. Tetapi ia
tidak bertanya lagi kepadanya, diluar agaknya perkkelahian manjadi semakin seru.
Sebenarnyalah bahwa pertempuran di halaman menjadi semakin seru, namun ternyata
bahwa Panji Sura Wilaga semakin mengalami kesulitan untuk mempertahankan dirinya
melawan dua orang yang memilki kekuatan hampir seimbang, yang dapat dilakukannya
kemudian adalah sekedar membela diri dengan harapan bahwa Raden Kuda Rupaka akan
segera dapat mengakhiri perkelahian.
Tetapi lawan Raden Kuda Rupakapun adalah orang yang sangat tangguh. Ia adalah
orang yang paling kuat diantara tiga orang murid perguruan Guntur Geni yang
ditugaskan ke padukuhan Karangmaja itu. Sehingga dengan demikian maka Raden Kuda
Rupakapun tidak segera dapat menguasainya. Apalagi Panji Sura Wilaga yang harus
bertempur melawan dua orang berpasangan, dua orang yang garang dan ganas dengan
senjata mereka masing-masing. Senjata yang mengerikan.
Pada setiap ayunan senjata Naga Pasa yang sepasang itu, bagaikan lambaian maut,
sedang Gagak Wereng yang membawa sebuah limpung berujung rangkap, merupakan
ancaman yang mendebarkan jantung, kearah manapun senjata itu bergerak,
rasa-rasanya dada Panji Sura Wilaga akan tergores karenanya.
Namun ternyata bahwa semakin lama Panji Sura Wilaga menjadi semakin lemah,
kekuatannya berangsur menjadi surut,
sedang serangan kedua lawannya masih tetap saja membadai.
“Kau tidak akan dapat luput dari pelukan maut kali ini Panji” desis Naga Pasa.
Panji Sura Wilaga mengeram, bagaimanapun juga ia masih manjawab “Jangan
berbangga, pertempuran ini belum selesai”.
“Tetapi akhir dari pertempuran ini sudah membayang, nah apa yang akan kau
katakana sebelum ajalmu sampai ?”
Panji Sura Wilaga menggeram, tetapi ia tidak menjawab lagi, Ia mencoba
mengerahkan kekuatan yang ada padanya untuk memperlonggar serangan-serangan
kedua lawannya.
Tetapi usaha itu tidak memberikan kesempatan kepadanya, sehingga ia mengumpat di
dalam hati “Setan alas, aku tidak mengira bahwa pertumbuhan perguruan Guntur
Geni menjadi demikian pesatnya, sehingga aku mendapat kesulitan melawan kedua
orang ini, bahkan Raden Kuda Rupaka tidak segera dapat menyelesaikan yang
seorang itu”
Ternyata Raden Kuda Rupaka dapat melihat kesulitan yang dialami oleh Panji Sura
Wilaga. Karena itu, ia mencoba mengerahkan segenap kemampuannya untuk
menyelesaikan lawannya. Tetapi lawannya berbuat serupa pula, mengerahkan segenap
kemampuan yang ada padanya, sehingga dengan demikian, perkelahian itu justru
menjadi semakin seru. Keduanya ternyata adalah orang-orang yang memiliki
kemampuan melampaui kemampuan sesamanya, senjata keduanya berputaran saling
melibat dan berbenturan. Percikan bunga api berloncatan di udara.
Melihat kemampuan antara Kuda Rupaka dam Kumbara, Panji Sura Wilaga tidak dapat
lagi mengharap bantuannya. Ia harus dapat berusaha menolong dirinya sendiri,
apapaun caranya. Jika tidak, maka ia akan segera tergolek di tanah tanpa
nyawanya lagi.
“Tetapi tidak ada jalan yang dapat aku tempuh” desis Panji Sura Wilaga didalam
hatinya, namun demikian, ia masih bertempur terus, apapun yang akan terjadi.
Dalam pada itu. Panji Sura Wilaga selalu terdesak itupun semakin lama menjadi
semakin terpisah dari Kuda Rupaka, tanpa sadarnya, Panji Sura Wilaga terdesak ke
dinding halaman, sehingga pada suatu saat, terasa punggungnya menyentuh dinding
batu itu.
“Ha ha ha….!!” Tiba-tiba Naga Pasa tertawa “Sekarang, kau tidak akan dapat
menghindar lagi, sebentar lagi, nyawamu akan terpisah dari tubuhmu, sekali lagi,
aku bertanya kepadamu, pesan apakah yang akan kau sampaikan sebelum kau mati?”
Panji Sura Wilaga mengeram, tetapi ia tidak menjawab sama sekali, ia harus
berpikir bagaimana dapat melepaskan diri dari bencana yang sudah membayang di
pelupuk matanya itu. Jika serangan dari kedua orang itu dating bersama-sama,
maka ia tidak akan dapat berbuat banyak, karena punggungnya sudah terasa
menyentuh dinding batu.
“Kenapa kau diam saja” bertanya Naga Pasa “Ini adalah kesempatanmu yang
terakhir”
Panji Sura Wilaga masih tetap membisu, tetapi ia benar-benar tidak melihat lagi
jalan untuk keluar dari kesulitan itu. Namun demikian, Panji Sura Wilaga bukan
seorang pengecut, ia tidak akan merengek minta belas kasihan kepada
lawan-lawannya. Apapun yang akan terjadi atas dirinya, ia akan menggenggam
senjatanya, mati dengan senjata ditangan baginya adalah kematian yang paling
terhormat bagi seorang laki-laki.
Naga Pasa dan Gagak Wereng telah mempersiapkan dirinya untuk meneyerang bersama.
Serangan yang terakhir kalinya dan yang akan menentukan kematian lawannya.
Sepasang senjata dan sebuah senjata berujung rangkap, telah siap terayun dan
mematuk pada tubuh yang sudah melekat pada dinding batu itu.
Tetapi pada saat yang paling tegang bagi Panji Sura Wilaga itu, tiba-tiba
halaman istana kecil itu telah digetarkan oleh suara tertawa yang
berkepanjangan. Suara tertawa yang terlontar dari atas dinding batu tepat diatas
Panji Sura Wilaga berdiri.
Semua orang berpaling kearah suara itu. Dalam kegelapan, yang nampak hanyalah
sebuah bayangan hitam. Bayangan seseorang yang berdiri tegak diatas dinding batu
dengan kepala tengadah dan tangan bertolak pinggang.
Dengan demikian maka perkelahian yang terjadi di halaman itu seakan-akan telah
terhenti. Masing-masing dengan heran bertanya-tanya di dalam hati, siapakah
orang yang berdiri diatas dinding batu itu.
Kumbara yang sedang bertempur dengan Kuda Rupaka dengan marah menggeram “He,
siapakah kau ?, dan apakah maksudmu mengganggu permainan kami ?”
Orang itu tidak segera menjawab, tetapi suara tertawanya masih saja menggema.
Panji Sura Wilagapun telah dicengkam oleh keragu-raguan. Ia tidak tahu pasti,
siapakah orang yang berdiri diatas dinding batu itu, dan apakah maksudnya. Jika
orang itu kawan kedua lawannya, maka ia akan dengan mudah sekali meloncat dam
menikam tengkuknya, sementara ia berusaha menangkis dan menghindari serangan
kedua lawannya.
Karena itu, maka dengan ragu-ragu uapun bertanya “Siapakah Kau ?”
Bab 7
“Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, aku bukan sanak dan kadangmu, tetapi
aku tidak ingin melihat kalian mati di halaman rumah ini” Jawab orang itu.
“He…!!, siapakah kau” teriak Naga Pasa.
“Mungkin niatku untuk menyelamatkan Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga
bukannya niat yang jujur pula, tetapi bagiku, lebih baik aku membantu kalian
saat ini dan membinasakan ketiga iblis itu, baru kemudian, mungkin akan timbul
persoalan antara kita masing-masing”
“Gila..!!” geram Kumbara “Siapa kau he..!!”
“Mungkin aku mempunyai maksud yang sama dengan iblis-iblis ini, mungkin pula
dengan Raden, tetapi itu tidak penting, yang penting ketiga iblis ini harus
dibinasakan”
“Persetan..!!” geram Naga Pasa “Turunlah, jika kau ingin dicincang pula disini”
“Tentu tidak, aku melihat perkelahian ini dari sela-sela pintu regol, aku
melihat Raden Kuda Rupaka memiliki kemungkinan lebih baik dari iblis itu, sedang
Panji Sura Wilaga tentu akan dapat menyelamatkan dirinya, jika ia berkelahi
seorang lawan seorang, dengan demikian, maka aku akan mengambil salah seorang
dari kedua lawan Panji Sura Wilaga
agar Panji Sura Wilaga tidak terbunuh di halaman rumah ini”
“Gila..!!” Panji Sura Wilagapun menggeram “Siapa kau He..!!”
Orang itu tertawa lagi, katanya disela-sela suara tertawanya “Maaf Raden Kuda
Rupaka, mungkin aku telah menyinggung sifat kesatriamu, tetapi aku tidak dapat
mengingkari kenyataan ini. Panji Sura Wilaga tidak akan mampu melawan dua orang
sekaligus, bukan karena Panji Sura Wilaga ilmu kanuragannya lemah, tetapi ia
sedang melawan dua orang yang dengan licik mengeroyoknya, itu tidak adil. Aku
akan mencoba membuat perkelahian menjadi adil, jika Raden Kuda Rupaka atau Panji
Sura Wilaga sudah berhasil membunuh lawannya, maka aku akan menininggalkan
gelanggang dan menyerahkan lawanku kepada salah seorang dari kalian yang bebas
dari lawan”
“Bagaimana jika kau terbunuh?” geram Raden Kuda Rupaka.
“Itu adalah nasibku, aku akan mati disini, tetapi namaku akan tetap kau kenang
sepanjang umurmu”
“Siapa namami ?” tiba-tiba Kuda Rupaka bertanya.
Orang itu tertegun sejenak, namun iapun tertawa, katanya “Aku tidak punya nama”
“Persetan” desis Naga Pasa “Marilah, kau akan paling cepat mati,
setidak-tidaknya, kau akan menjadi cacat”
Orang itu tertawa, jawabnya
“Maksudmu seperti Kasdu anak Karangmaja itu ? Aku bukan anak Karangmaja, aku
memiliki penawar racun yang bagaimanapun juga tajamnya, kau tidak percaya ?”
“Jadi kau yang mengobati anak Karangmaja itu ?” dengan serta merta Raden Kuda
Rupaka berteriak.
“Bukan, bukan aku” jawab orang itu sambil tertawa.
“Gila..!!” geram Kumbara “Jadi anak Karangmaja itu sudah diobati…”
“Ya…., tetapi bukan aku, meskipun aku mempunyai cula kumbang kuning bermata
berlian”
“Gila… !!” hampir bersamaan orang-orang yang ada di halaman itu menggeram “Kau
datang dari kaki gunung Semeru ?”.
Orang yang berdiri diatas dinding itu tertawa lagi, katanya “Apakah hanya di
kaki gunung Semeru saja yang terdapat kumbang kuning bermata berlian”
“Ya…” sahut Kumbara “Kami tahu, bahwa yang kau maksud bukan sebenarnya kumbang.
Tetapi kuning bermata berlian adalah lambang perguruan Kumbang Kuning pimpinan
Ajar Sokanti”
“Ooo… kau mengenal nama Ajar Sokanti yang hidup seratus lima puluh tahun yang
lalu seperti nama pemimpin perguruan Guntur Geni yang diabadikan sampai
sekarang?, bukankah yang disebut Kiai Sekar Pucang sekarang ini sama sekali
bukan Kiai Sekar Pucang pendiri perguruan Guntur Geni? Ternyata dari arah
perkembangan perguruan Guntur Geni itu sendiri. Nah, aku ingin bertanya, apakah
kira-kira Kiai Sekar Pucang akan dapat tertawa melihat kalian pada malam hari
seperti ini dengan bengis menakut-nakuti seorang perempuan di istana kecil ini?.
Tentu tidak, Kiai Sekar Pucang yang sebenarnya tentu akan sangat berprihatin,
bahkan mungkin akan membunuh diri”
“Tutup mulutmu” teriak Kumbara “Kau sama sekali tidak mengenal kami, kau tidak
mengenal tugas kemanusian yang sedang kami lakukan sekarang ini”
Orang diatas dinding itu tertawa semakin keras, katanya “Tugas kemanusiaan yang
mana yang akan kau lakukan disini, sudahlah anak-anak Guntur geni, marilah kita
bermain-main, jika kalian menyangka aku datang dari perguruan Kumbang Kuning di
kaki gunung Semeru, nah, kita disini telah berkumpul bersama-sama Perguruan
Guntur Geni, Perguruan Cengkir Pitu yang mengalir dari sumber yang sama.
Kemudian perguruan yang kau sebut Kumbang Kuning, tetapi ketahuilah, bahwa
sebenarnaya aku tidak datang dari perguruan Kumbang Kuning yang dipimpin oleh
Ajar Sokanti, meskipun aku berhubungan erat dengan perguruan itu”
“Persetan, aku tidak peduli dari mana kau datang, yang penting, kaupun harus
dibinasakan sekarang ini” teriak Naga Pasa.
“Baiklah” bekata orang yang berada diatas dinding batu itu “Akupun sudah jemu
berbicara” Ia berhenti sejenak lalu “Panji Sura Wilaga, jangan tersinggung jika
aku akan berada di sebelahmu”
Panji Sura Wilaga tidak menyahut, iapun kemudian bergeser setapak. Tetapi
geraknya itu seolah-olah telah merupakan aba-aba bagi kedua lawannya yang
tiba-tiba saja telah mempersiapkan ujung senjata untuk menerkam.
Agaknya Naga Pasa dan Gagak Wereng tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan,
dengan sebuah teriakan nyaring, Naga Pasa meloncat menyerang Panji Sura Wilaga
yang berdiri termangu-mangu, sementara bayangan orang yang tidak dikenal itu
masih berada diatas dinding.
Panji Sura Wilaga berdesir melihat serangan itu, namun ia tidak dapat tinggal
diam, dengan sigapnya ia bergeser sambil menangkis serangan Naga Pasa yang
dahsyat itu.
Tetapi dengan demikian ia kehilangan pengamatannya atas Gagak Wereng, jika pada
saat yang bersamaan Gagak Wereng meloncat menyerang pula, ia akan kehilangan
semua kesempatan untuk bertempur lebih lama lagi.
Dalam pada itu, sekilas ia melihat Gagak Wereng sudah mulai bergerak, tetapi ia
tidak melihatnya apa yang dilakukan kemudian. Karena ia harus memusatkan
perhatiannya kepada serangan Naga Pasa.
Barulah kemudian Panji Sura Wilaga menyadari, bahwa serangan Gagak Wereng, yang
seharusnya telah mengakhiri perlawanannya itupun telah dipotong oleh orang yang
berdiri diatas dinding batu itu. Sambil meloncat ia menangkis serangan senjata
yang berujung rangkap di tangan Gagak Wereng, sehingga Gagak Wereng tidak
berhasil menyentuh tubuh Panji Sura Wilaga, dan bahkan kemudian meloncat surut.
“Gila…” geram Gagak Wereng “Jadi kau benar-benar ikut mencampuri persoalan ini”
Orang itu tidak menjawab, tetapi dialah yang kemudian yang menyerang dengan
sengitnya. Gagak Wereng terpaksa meloncat surut, baru kemudian ia dapat
menempatkan dirinya dalam perlawanan yang mapan.
Sementara itu, Naga Pasa masih bertempur dengan serunya melawan Panji Sura
Wilaga, namun karena kemudian ia harus bertempur sendiri, maka
keseimbangannyapun segera berubah. Panji Sura Wilaga mendapat kesempatan untuk
menarik nafas. Ia tidak lagi merasa terus menerus didesak kesudut halaman,
sehingga disaat terakhir ia harus melekat dinding batu dan hampir saja
kehilangan kesempatan untuk tetap hidup.
Dalam pada itu, Kumbarapun menjadi semakin marah, dengan demikian berarti
tugasnya akan menjadi semakin panjang, Naga Pasa dan Gagak Wereng tidak lagi
dapat bertempur bersama-sama untuk dalam waktu yang lebih singkat, membunuh
Panji Sura Wilaga. Karena itu, maka iapun kemudian memusatkan perkelahian itu
pada diri sendiri, ia harus dapat membunuh lawannya dengan cepat. Sehingga ia
akan dapat membantu salah seorang kawannya membunuh lawannya.
Sambil berteriak nyaring, Kumbarapun segera mengulangi perkelahiannya melawan
Kuda Rupaka, namun Kuda Rupaka telah menjadi semakin tenang. Meskipun kehadiran
orang yang tidak dikenal itu dapat menimbulkan persoalan-persoalan baru, tetapi
persoalan itu akan dapat diselesaikannya kemudian.
“Jika perlu, seteleh ketiga iblis itu mati, maka orang itupun harus disingkirkan
pula” desis Kuda Rupaka “Jika tidak, maka ia akan menjadi pengganggu istana ini,
untuk selanjutnya. Mungkin ia akan memeras atau seolah-olah ia adalah pahlawan
yang menuntut imbalan” Tiba-tiba saja Kuda Rupaka telah mengenang meskipun hanya
hanya sekilas, Inten Prawesti.
“Apakah orang itu mempunyai
maksud-maksud tertentu terhadap diajeng Intan Prawesti ?” tetapi ia tidak sempat
bertanya-tanya lebih jauh, ia harus memusatkan diri pada perkelahian yang
menjadi semakin seru itu.
Dalam pada itu, setelah bertempur beberapa saat, Gagak Werengpun merasa, bahwa
lawannya ternyata memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari padanya, dalam waktu
yang pendek iapun segera terdesak. Senjatanya yang garang itu todak banyak dapat
menyerang apalagi menembus pertahan senjata lawannya. Senjata yang tidak lebih
dari sepotong rantai yang tidak begitu panjang.
“Gila..” desis Gagak Wereng didalam hati “Rantai yang berputar itu seolah-olah
menjadi perisai baja yang tidak dapat disusupi oleh ujung duri yang paling
runcing sekalipun”
Baik Kumbara maupun Naga Pasa melihat, bahwa Gagak Wereng segera terdesak surut.
Bahkan sekali-kali ternyata senjata lawannya telah hampir berhasil menyentuh
tubuhnya.
“Aku tidak biasa membunuh orang” berkata orang yang telah ikut dalam pertempuran
itu “Tetapi dalam keadaan seperti ini, aku kira membunuh bukannya suatu
kesalahan”
“Persetan…!!” geram Gagak Wereng yang mencoba mengerahkan segenap kemampuan yang
ada pada dirinya.
“Ki Sanak” berkata orang itu, “Apa boleh buat, jika aku tidak membunuhmu, maka
akibatnya tentu akan berkepanjangan. Jika kemudian ada kawanmu yang dapat lolos
dalam keadaan hidup, biarlah ia mengatakan bahwa salah seorang kawannya telah
mati terbunuh di Karangmaja oleh orang yang memiliki ciri perguruan Kumbang
Kuning. Tetapi aku bukan murid perguruan Sokantil itu”
Gagak Wereng tidak menjawab, serangannya bertambah dahsyat. Tetapi perlawanan
orang yang tidak dikenal itupun menjadi semakin sengit. Bahkan rasa-rasanya,
bagaikan banjir yang sudah mulai menggoyahkan tanggul. Dan kemudian ternyata,
kemampuan orang itu tidak terlawan lagi oleh Gagak Wereng, ujung rantainya
rasa-rasanya semakin lama semakin dekat dengan tubuhnya, bahkan pada suatu saat,
terasa ujung rantai itu bagaikan lalat yang mulai hinggap ditubuhnya.
“Gila” geram Gagak Wereng “Orang ini benar-benar memilki kemampuan perguruan
Kumbang Kuning”
Namun Gagak Wereng tidak sempat memujinya lebih banyaklagi, karena terasa ujung
rantai itu menyengatnya lagi, maka bukanlah sekedar suatu sentuhan saja,
kulitnya mulai terasa pedih karena tergores luka yang mulai menganga.
Terdengar orang itu tertawa “Kau tidak akan mampu berbuat banyak. Sebaiknya kau
menghentikan perlawananmu. Aku tidak akan membunuhmu”
“Persetan..!!” geram Gagak Wereng, kemarahannya bagaiakan membakar jantungnya,
namun sejalan dengan itu, iapun merasa bahwa umurnya sudah berada diujung
rambutnya.
Sementara itu, pertempuran antara kedua kawannya manjadi semakin sengit. Agaknya
semakin lama menjadi nyata, bahwa murid perguruan Cengkir Pitu masih memiliki
kelebihan dari anak Guntur Geni, ternyata bahwa Panji Sura Wilaga dan Raden Kuda
Rupaka sudah berhasil menguasai lawannya sebaik-baiknya. Naga Pasa yang garang
itupun sudah hampir kehilangan akal melawan Panji Sura Wilaga yang cepapt dan
cekatan. Apalagi setelah ia kehilangan seorang lawannya yang kemudian bertempur
dengan orang yang tidak dikenalnya.
Yang paling mengalami kesulitan sebenarnya adalah Gagak Wereng, ia sadar
lawannya mempunyai banyak kelebihan dari padanya. Tetapi ia sendiri merasa
heran, bahwa ia tidak segera kehilangan nyawanya. Namun tubuhnya semakin lama
semakin lemah. Bahkan kemudian ia sama sekali tidak mampu lagi untuk melakukan
perlawanan apapun juga. Darahnya semakin banyak mengalir dari luka-lukanya dan
nafasnya serasa telah menyumbat kerongkongan.
Meskipun demikian, ia merasa bahwa ia masih tetap hidup. Orang yang tidak
dikenalnya itu justru tidak lagi memusatkan serangannya pada bagian tubuhnya
yang berbahaya. Bahkan ketika ia sudah tidak mempu berbuat sesuatu, maka
lawannya berhenti pula sambil menggeram “Apakah kau menyerah”
“Gila..!!, aku tidak akan menyerah kepada siapapun juga” sahut Gagak Wereng.
Yang terdengar adalah suara tertawa orang yang tidak dikenal itu mendekati
lawannya sambil berkata “Mengangkat senjatamu yang mengerikan itupun kau sudah
tidak mampu lagi, bagaimana kau akan melawanku”
Gagak Wereng menggeretakkan giginya, ia masih menghentakkan kekuatannya untuk
mengangkakt senjatanya. Namun ketika ia mengayunkannya dan tidak mengenai
sasarannya, justru ia terdorong selangkah maju dan jatuh terlungkup.
“Beristirahatlah, aku merasa bahwa tugasku sudah selesai. Kau akan tetap hidup
dan akan ditangkap oleh kedua bangsawan itu. Mungkin kau akan dibawa ke Demak
atau ke tempat lain atau keputusan apapun yang akan mereka ambil”
Gagak Wereng masih akan menjawab, namun tiba-tiba saja lawannya telah meloncat
mundur. Beberapa saat ia mengamati pertempuran itu, kemudian dengan lincahnya ia
meloncat naik keatas dinding batu itu sambil berkata “Aku minta diri. He..!!
Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga. Silahkan menyelesaikan tugas kalian,
aku sudah mencoba membantu kalian”
“Kau akan kemana ?”. bertanya Raden Kuda Rupaka.
“Aku akan kembali ke sarangku, aku adalah hantu malam yang berkeliaran didalam
gelap. Jika ayam mulai berkokok, aku harus sudah berada kembali ke sarangku yang
tersembunyi, diatas pepohonan yang rimbun”
“Gila…” geram Kumbara yang tidak memburu Kuda Rupaka “Kau licik, jika kau
jantan, tunggulah setelah aku membunuh bangsawan kerdil ini”
Tetapi orang orang berdiri diatas dinding itu tertawa “Jangan berharap kau dapat
memenangkan pertempuran itu. Semuanya sudah nampak padaku, bahwa kau hanya akan
dapat menyebut nama orang tuamu sebelum ajalmu sampai. Kecuali jika Raden
berhati putih, dan memberi kesempatan hidup kepadamu, meskipun kau harus
diserahkan kepada para prajurit”
“Tidak ada bedanya” geram Kuda Rupaka “Ditangan prajurit ia akan dibunuh”
“Itu bukan persoalanku. Sekarang aku akan pergi. Hantu-hantu sudah memiliki
jalan pintu gerbang. Aku lebh senang meloncati pagar. Dan selamat menyabung
nyawa”
Bayangan itu tidak menunggu lagi, iapun segera meloncat dan hilang dibalik
dinding batu. Kumbara menggeretakkan giginya, namun ketika ia sadar akan
keadaannya, maka tiba-tiba iapun segera meloncat menyerang dengan garangnya.
Tetapi Raden Kuda Rupaka telah siap menghadapinya, iapun segera bergeser dan
bahkan serangannyapun kemudian menyapu lawannya seperti angin prahara menyapu
pepohonan perdu dipadang yang luas.
Naga Pasapun mengalami tekanan yang dahsyat sekali. Panji Sura Wilaga ternyata
memiliki tenaga raksasa yang tidak terlawan olehnya, sehingga dengan demikian,
Naga Pasa mencoba melawan dengan kecepatannya bergerak. Tetapi rasa-rasanya
darimanapun ia menyerang, Panji Sura Wilaga yang tidak banyak bergerak itu sudah
siap menghadapinya.
Dalam pada itu, Gagak Wereng yang terluka masih sempat memperhatikan pertempuran
disekitarnya, meskipun dalam keremangan malam, namun ia dapat melihat, bahwa
kedua kawannya agaknya telah terdesak oleh anak-anak perguruan Cengkir Pitu,
sedangkan ia sendiri sudah tidak mampu sama sekali untuk ikut dalam pertempuran
itu.
Meskipun demikian Gagak Wereng tidak
menyerah, dalam ketegangan yang memuncak, ia masih dapat mengerahkan segenap
tenaganya yang tersisa untuk merangkak menepi. Bahkan kemudian ia berhasil
bergeser sampai ke pintu gerbang.
“Aku akan melarikan diri, jika aku dapat hidup, maka aku akan dapat melaporkan
apa yang telah terjadi disini kepada perguruanku” katanya kepada diri sendiri.
Agaknya Panji Sura Wilaga dan Raden Kuda Rupaka tidak sempat berbuat sesuatu
atas Gagak Wereng, keduanya terikat dalam satu perkelahian yang akan menentukan
hidup dan mati.
Karena itulah, akhirnya dengan susah payah, Gagak Wereng ternyata masih sempat
mencapai kudanya yang masih tetap terikat ditempatnya.
Sejenak kemudian terdengar derap kaki kuda itu. Seorang yang terluka duduk
diatas punggungnya, namun kemudian oleh perasaan sakit dan letih, Gagak Wereng
telah menelungkup sambil memeluk leher kudanya. Hanya sekali-kali ia mencoba
melihat arah dan kemudian ia meletakkan tubuhnya kembali dengan lemahnya.
Derap kaki kuda itu ternyata telah mengejutkan mereka yang sedang bertempur di
halaman. Terlebih-lebih adalah Raden Kuda Rupaka, tetapi ia tidak dapat berbuat
apapun, ketika tatapan matanya tidak lagi dapat menemukan Gagak Wereng, maka
iapun segera melompat sembil bertempur “Licik…!!!, inilah ciri dari perguruan
Guntur Geni yang terkenal itu..??”
Kumbara tidak segera menjawab, mula-mula ia merasa tersinggung atas sikap Gagak
Wereng yang sama sekali tidak menunjukkan kesetia-kawanan, tetapi akhirnya ia
memahami keadaan, Gagak Wereng tentu sudah terluka parah dan tidak dapat berbuat
apapun juga. Karena itu, usahanya untuk menyelamatkan diri adalah usaha yang
akan dapat berguna. Meskipun tidak berguna bagi Kumbara sendiri dan Naga Pasa,
tetapi tentu akan berguna sekali bagi perguruannya. Saudara-saudara perguruannya
akan mengetahui, bahwa Kumbara dan Naga Pasa telah terlibat dalam satu
pertempuran yang tidak teratasi di istana kecil yang terpencil diluar padukuhan
Karangmaja.
Dengan demikian akhirnya perasaan Kumbara menjadi semakin mapan. Ia melihat
akibat yang dapat terjadi atasnya dengan dada tengadah. Sejak ia berangkat,
iapun sudah mempersiapkan dirinya menghadapi segala kesulitan. Dan salah satu
kemungkinan adalah kesulitan yang tidak teratasi, meskipun semula ia menganggap
bahwa tugas pokoknya kali ini adalah tugas yang tidak berbahaya karena itu tidak
berpenghuni selain tiga orang perempuan, namun akibat-akibat yang dapat timbul
telah dipertimbangkan pula. Diantaranya adalah akibat seperti yang sedang
dihadapinya itu.
Demikianlah maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin nyata. Serangan
demi serangan yang dilancarkan okeh kedua murid dari perguruan Cengkir Pitu
itupun telah menggiring perempuran itu untuk segera mencapai akhirnya. Kumbara
dan Naga Pasa tidak dapat ingkar lagi, kali ini tugas perguruannya harus
ditunaikan dengan mempertaruhkan nyawanya.
Namun agaknya keduanya benar-banar telah ditempa dalam perguruannya. Mereka sama
sekali tidak mengeluh, jika memang harus mati dalam pelukan kewajiban, maka mati
itupun bukan apa-apa bagi Kumbara dan Naga Pasa.
Sebenarnyalah bahwa akhirnya Kumbara tidak dapat bertahan lagi. Lawannya adalah
seorang anak muda yang umurnya jauh dibawah umurnya sendiri. Tetapi ternyata
anak muda dari perguruan Cengkir Pitu itu memiliki kemampuan yang tidak
terlawan, dan yang bahkan telah menyeretnya kedalam maut.
Segores demi segores luka, telah menyengat tubuh Kumbara. Demikian juga agaknya
Naga Pasa, betapapun ia bertempur dengan gigihnya, tetapi akhirnya, sebuah
tusukan langsung menghujam ke jantungnya, telah melemparkannya dan membantingnya
ke tanah. Untuk seterusnya Naga Pasapun tidak akan pernah bangkit lagi.
Kumbara yang sudah terluka parah masih sempat melihat betapapun buramnya,
kawannya terlempar dan terbanting untuk tidak bangkit lagi. Ia tidak sempat
berbuat apa-apa karena matanyapun manjadi berkunang-kunang. Darahnya sudah
terlampau banyak mengalir, sehingga akhirnya ia harus mengakhiri pertempuran itu
dengan menyerahkan nyawanya.
Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, sekali-kali ia mengusap tangannya
yang ternyata juga terluka. Tetapi seperti yang dikatakannya, ia memang
mempunyai obat penawar racun, selain
batu akik yang dianggapnya dapat berpengaruh pula atas racun yang mengenai
tubuhnya.
Sambil tersenyum Raden Kuda Rupaka berjalan mendekati Panji Sura Wilaga yang
berdiri bersandar dinding batu, nafasnya terengah-engah dan tubuhnya serasa
telah kehilangnan tenaga.
“Kau kenapa paman..??” bertanya Raden Kuda Rupaka
“Aku hampir kehabisan nafas Raden, orang ini benar-benar memiliki kemampuan jauh
diatas dugaan kita semula”
“Ya…, Aku juga tidak mengira, bahwa orang itu mempu melukai tanganku, untunglah
aku benar-benar telah menyiapkan obat penawar racun itu. Aku yakin, senjata
orang Guntur Geni tentu mengandung racun”
“Jika Raden hanya terluka di tangan, maka aku terluka di beberapa tempat
meskipun tidak dalam, senjatanya yang sepasang itu benar-benar mampu bergerak
cepat sekali”
Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, namun ternyata bahwa iapun masih harus
mengatur pernafasannya.
“Marilah kita singkirkan mayat-mayat ini, kita akan menghadap bibi dan
melaporkan apa yang terjadi. Besok kita minta bantuan orang-orang Karangmaja
untuk menguburkan mayat-mayat ini”
“Tetapi hal ini tentu akan sangant mengejutkannya” berkata Panji Sura Wilaga.
“Apaboleh buat, bukankah kita harus mengatakannya juga?”
“Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Tetapi sebaliknya
kita memang harus segera saja menghadap. Agar hati Raden Ayu segera menjadi
tenang”
Keduanya kemudian membenahi pakaiannya, mereka mengelap darah yang menetes dari
luka mereka. Setelah mereka menyingirkan kedua mayat itu, maka merekapun segera
naik ke pendepa dan dengan perlahan-lahan mendorong pintu.
“Oh…” Inten Prawesti hampir menjerit. Ia menjadi sangat cemas, bahwa yang akan
masuk ke rumahnya adalah orang-orang yang mendatangi istananya itu.
Tetapi ternyata kemudian terdengar suara Raden Kuda Rupaka “Aku bibi”
“Anakmas Kuda Rupaka ?” bibinya hapir terpekik.
“Ya, bibi”
Raden Ayu Kuda Narpada tiba-tiba saja meloncat berdiri diikuti oleh Inten
Prawesti. Demikian Raden Kuda Rupaka muncul dari balik pintu, maka bibinyapun
segera berlari kearahnya. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia melihat darah
yang menodai pakaian Raden Kuda Rupaka itu.
“Darah bibi” desis Raden Kuda Rupaka yang seolah-olah mengerti apa yang tersirat
dihati bibinya.
“Kau terluka ?”
“Sedikit, tetapi tidak berbahaya”
“Dimana pamanmu Panji Sura Wilaga ?”
Raden Kuda Rupaka berpaling, kemudian masuklah Panji Sura Wilaga yang
terengah-engah.
“Oh, Kau juga terluka ?”
“Sedikit Raden Ayu, tidak parah”
“Tetapi bagaimanakah dengan jika luka ini akan menjadi semakin besar kelak ?”
Raden Kuda Rupaka tersenyum, katanya “Aku sudah membawa bekal obat yang dapat
dipercaya, sudahlah bibi, aku akan membersihkan diriku dan mengobati lukaku dan
luka paman Panji Sura Wilaga”
Raden Ayu Kuda Narpada, memandang keduanya dengan tatapan mata yang penuh
perasaan terima kasih. Sementara Inten Prawesti yang berdiri di belakang
ibundanyapun bertanya “Bukankan kau tidak apa-apa kamas ?”
“Tidak, tidak diajeng, jangan khawatirkan aku, aku tidak apa-apa”
“Tetapi apakah kamas memerlukan apa-apa untuk membersihkan luka itu ?, air panas
misalnya ?”
Raden Kuda Rupaka termenung sejenak, sementara itu Nyi Upih telah berdiri dan
berkata “Biarlah aku merebus air. He… anak-anakku harus aku beritahu dulu bahwa
pertempuran sudah selesai”
“Dimana anak-anakmu ?” bertanya Raden Kuda Rupaka.
“Sangkan sembunyi di kolong pembaringan adiknya. Pinten menjadi kaku di
pembaringan itu” Nyi Upih berhenti sejenak, lalu “Tetapi bagaimana dengan
orang-orang itu ?”
Raden Kuda Rupaka menjaid ragu-ragu, namun kemudian ia berkata “Keduanya
terpaksa kami bunuh”
“Oh..!!” Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti hampri bersamaan berdesah.
“Beberapa orangkah yang telah datang ke istana ini Raden ?” bertanya Nyi Upih
pula.
“Tiga, hanya tiga orang, tetapi yang seorang berehasil meloloskan diri”
Nyi Upih menjadi tegang, katanya “Kenapa tidak semuanya saja dibunuh Raden, yang
seorang itu tentu akan sangat berbahaya bagi kita”
Raden Kuda Rupaka tersenyum, katanya “Memang ada beberapa kemungkinan yang dapat
terjadi Nyai. Mungkin ia akan datang lagi dengan beberapa orang kawan. Mungkin
ia justru menjadi jera, tetapi mungkin juga perguruannya akan langsung berurusan
dengan perguruan Cengkir Pitu”
“Oo…” Nyi Upih mengangguk-angguk, dan seperti bukan atas kehendaknya ia berkata
“Tentu perguruan orang-orang jahat itu tidak akan berani berurusan dengan
perguruan Raden, mudah-mudahan dengan demikian mereka akan benar-benar menjadi
jera”
“Sudahlah” berkata Raden Kuda Rupaka “Setidak-tidaknya malam ini seluruh isi
istana dapat tidur nyenyak, tidak akan ada lagi yang berani menganggunya, mayat
itu sudah aku singkirkan. Biarlah besok aku minta bantuan orang-orang Karangmaja
untuk menguburnya”
Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk-angguk
“Silahkan bibi beristirahat”
Raden Ayu Kuda Narpadapun kemudian mengajak Inten Prawesti masuk kedalam
biliknya, setelah mereka berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Raden Kuda
Rupaka.
Ketika Raden Ayu Kuda Narpada telah hilang dibalik pintu biliknya maka Raden
Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga yang masih sangat letih itupun pergi
kebelakang diikuti oleh Nyi Upih, mereka akan membersihkan diri dari luka-luka
mereka.
“Aku akan merebus air, Raden” berkata Nyi Upih
“Terima kasih Nyai” sahut Raden Kuda Rupaka “Dimanakah anak-anakmu Nyai”
“”Mereka didalam biliknya Raden”
Raden Kuda Rupaka sempat menjengukkan kepalanya ke dalam bilik Pinten,
dilihatnya Pinten tidur menelungkup sambil menyembunyikan wajahnya diantara
kedua tangannya, sementara di kolong pembaringan, nampak kaki Sangkan yang
ketakutan dan bersembunyi.
Raden Kuda Rupaka tersenyum, perlahan-lahan ia mendekati kedua anak itu, sambil
berjingkat. Kemudian tiba-tiba saja ia menepuk kaki Sangkan sambil memebentak
“Ayo tertangkap kau..!!”
Sangkan terkejut bukan buatan, sehingga iapun terlonjak, karena ia berada ia
berada dikolong pembaringan adiknya, maka amben itupun tersentak pula oleh
hentakan tubuh Sangkan. Pinten yang ada dipembaringan itu tidak kalah
terkejutnya. Iapun kemudian meloncat dan berlari kesudut ruangan, sedemikian
kecil hatinya, sehingga meskipun mulutnya terbuka tetapi suaranya sama sekali
tidak terdengar.
Sangkan yang gemetar akhirnya berhasil keluar dari kolong pembaringan, dengan
wajah yang pucat dan mata yang terbelalak ia memandang kepada Raden Kuda Rupaka.
Terdengar suara tertawa Raden Kuda Rupaka. Panji Sura Wilaga yang menyaksikannya
dari pintu bilik itupun tertawa pula.
“Raden…., oh, jadi Raden Kuda Rupaka” Suara Sangkan terputus-putus.
“Kau memang pengecut” Raden Kuda Rupaka masih saja tertawa “Belum lagi kau
disentuh oleh tangan penjahat itu, kau sudah mati membeku di sini”
“Tetapi, tetapi……” Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
Sementara itu Nyi Upih telah berada di belakang Panji Sura Wilaga, katanya “Jika
Raden menakuti-nakuti anak-anakku, aku tidak mau merebus air”
Raden Kuda Rupaka tertawa berkepanjangan, meskipun ia mencoba menahannya agar
tidak mengejutkan bibinya di dalam.
“Anakmu memang keterlaluan Nyai, aku mengerti bahwa Pinten menjadi ketakutan,
tetapi Sangkan tidak boleh menjadi pengecut begitu”
“Jika aku dapat berkelahi seperti prajurit, aku tidak akan ketakutan” sahut
Sangkan.
“Kalau begitu, kau harus belajar, Kau sanggup?”
“Siapakah yang akan mengajari?”
“Biarlah paman Panji, jika kelak aku dan paman Panji pergi, kau dapat menjaga
diri, atau kau dapat menjaga bibi, atau setidak-tidaknya menjaga biyungmu”
“Aku tidak perlu dijaga lagi Raden, jika ada orang yang mau mengambil aku,
biarlah, aku memang menunggu orang yang mau berbuat demikian”
“O…, kau ini” desis Raden Kuda Rupaka “Agaknya kau dan anak-anakmu memang
mempunyai sifat yang turun temurun, bodoh dan agak malas”
“Aku tidak mau merebus air”
“Baiklah, baiklah Nyai, aku tidak akan mengganggu anak-anakmu lagi” namun
kemudian ia berpaling “Sangkan, jika kau mau, paman kan benar-benar memberimu
serba sedikit tuntunan oleh kanuragan, kau mau?”
“Tentu Raden, aku akan senang hati sekali”
Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk. Katanya “Nah, dengan demikian kau akan
benar-benar menjadi seorang laki-laki, sampai sekarang kau sama sekali tidak ada
harganya, jika kau memiliki sedikit
pengetahuan dan ilmu oleh kanuragan, maka kau akan mulai merasakan tanggung
jawab bahwa kau adalah seorang laki-laki”
“Terima kasih Raden” jawab Sangkan “Tetapi, tetapi berapa tahun aku harus
belajar?”
“Aku hanya akan tinggal disini beberapa hari lagi, jika tidak ada ketiga
penjahat itu, sebebarnya aku sudah akan mohon diri, tetapi karena itulah maka
aku harus tinggal disini beberapa lama lagi”
Sangkan mengangguk-angguk, tetapi nampaknya wajahnya membayang keragu-raguan
hatinya.
“Kenapa kau nampak ragu-ragu ?” bertanya Raden Kuda Rupaka.
“Dahulu, aku pernah mendengar seorang prajurit Majapahit mengatakan bahwa,
mempelajari ilmu kanuragan diperlukan waktu bertahun-tahun”
“Tidak hanya bertahun-tahun, tetapi tidak akan berkeputusan, maksudku tidak akan
ada henti-hentinya sampai akhir hayat. Karena ilmu adalah semisal lautan yang
tidak akan pernah kering, meskipun setiap hari disengat oleh panasnya matahari”
“Lalu, apakah artinya ilmu yang akan aku pelajari dalam beberapa hari saja ?”
“He.. otakmu cerdas juga, tetapi kau harus ingat, lebih baik yang sedikit dari
pada tidak sama sekali”
“Baik Raden, terima kasih”
“Tidur sajalah, aku akan membersihkan luka-lukaku”
Raden Kuda Rupakapun kemudian meninggalkan bilik itu setelah untuk beberapa saat
ia berdiri di muka Pinten yang bagaikan membeku, sambil menepuk bahu gadis yang
ketakutan itu ia berkata “Minumlah, agar kau menjadi tenang”
Pinten menarik nafas dalam-dalam, ketika Raden Kuda Rupaka sudah melintasi
pintu, gadis itu tertatih-tatih berdiri.
“Aku hampir pingsan” desisnya
“Tidur sajalah, tidak akan ada apa-apa lagi malam ini”
“Uh, macam kau”
“Minumlah, agar hatimu menjadi tenang”
“”Lagakmu, tidur sajalah di kolong amben itu lagi”
Sangkan tersenyum. Dilihatnya adiknya pergi keluar bilik untuk mengambil minum
di dapur, agaknya ia benar-benar ingin minum agar hatinya menjadi tenang.
Sementara itu, selagi Raden Kuda Rupaka sibuk membersihkan lukanya, seseorang
berjalan dengan tergesa-gesa ke istana kecil yang terpencil itu. jauh diluar
padukuhan ia melihat seekor kuda yang berlari didalam kegelapan dan hilang
dikejauhan.
Sesaat orang itu termangu-mangu, namun iapun kemudian ia meloncat keatas dinding
didalam kegelapan bayangan dedaunan.
Beberapa saat lamanya, orang itu memperhatikan keadaan di sekitarnya, halaman
itu telah sepi, tidak seorangpun yang berada di halaman itu. Dengan telinganya
yang tajam ia mencoba untuk memperhatikan, dengan setiap desir yang didengarnya,
namun akhirnya ia yakin bahwa tidak ada suara nafas seseorang. Dengan hati-hati
sosok tubuh itupun meloncat turun, dengan seksama ia memperhatikan bekas-bekas
pertempuran dihalaman itu. Sambil menarik nafas ia berkata “Pertempuran yang
dahsyat”
Akhirnya ia menemukan dua sosok tubuh yang terbaring diam. Dua sosok tubuh yang
telah menjadi mayat. Perlahan-lahan ia mendekatinya, ketika ia menyentuh mayat
itu, terasa betapa dinginnya. Sejenak ia berada ditempatnya sambil memandangi
istana yang nampak semakin suram itu, tetapi istana itupun sepi, namun
telinganya yang tajam, masih menangkap suara seseorang dibagian belakang. Suara
percakapan Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga dengan Sangkan dan Nyi Upih.
Namun percakapan itupun tidak berlangsung lama, sejenak kemudian istana itu
telah benar-benar menjadi sepi. Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilagapun
segera masuk kedalam biliknya pula. Apalagi terasa badan mereka yang letih oleh
perkelahian yang dahsyat di halaman, sehingga dengan demikian merekapun segera
tertidur nyenyak. Namun demikian mereka sama sekali tidak lengah, di pembaringan
mereka, tergolek senejata-senjata mereka.
Betapapun nyenyaknya mereka tidur, tetapi ketika matahari siap untuk menjenguk
dipagi harinya dari balik perbukitan, keduanya telah terbangun. Merekapun
kemudian membenahi diri masing-masing. Dengan tergesa-gesa merekapun kemudian
keluar dari bilik mereka dan menghadap Raden Ayu Kuda Narpada yang juga sudah
bangun dan duduk dengan wajah tegang diruang dalam.
“Maaf bibi” berkata Raden Kuda Rupaka “Aku tidur terlampau nyenyak, sehingga aku
agak terlambat bangun”
“Hari masih sangat pagi anakmas”
“Bibi, kami berdua akan menemui Ki Buyut dan melaporkan apa yang telah terjadi.
Kami akan minta bantuan, tiga atau empat orang untuk mengubur dua sosok mayat
yang masih ada di halaman, meskipun sudah aku singkirkan”
“Silahkan anakmas” Jawab Raden Ayu Kuda Narpada, namun kemudian “Atau untuk itu,
apakah tidak lebih baik Sangkan sajalah yang pergi ke padukuhan ?”
“Biarlah kami berdua sja bibi, kami akan dapat menjelaskan apakah yang
sebenarnya sudah terjadi”
Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk-angguk,lalu “Jika demikian terserahlah kepada
anakmas berdua”
Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilagapun kemudian mempersiapkan dirinya
setelah mandi di pakiwan. Tetapi ketika mereka siap untuk berangkat,
rasa-rasanya ada sesuatu yang membuat mereka ragu-ragu. Karena itu, maka Raden
Kuda Rupaka berkata “Aku akan menengok kedua sosok mayat itu dahulu paman”
Panji Sura Wilaga tidak mencegahnya, bahkan iapun kemudian berjalan di belakang
Raden Kuda Rupaka. Betapa terkejutnya kedua orang itu, ketika ternyata bahwa
kedua mayat itu sudah tidak ada di
tempatnya, keduanya bagaikan lenyap saja tanpa meninggalkan bekas.
“Gila” geram Raden Kuda Rupaka “Siapakah yang bermain-main lagi dengan Kuda
Rupaka” Ia berhenti sejenak, lalu “Paman apakah kau melihat sesuatu?”
Panji Sura Wilaga kemudian melangkah ketepi dinding batu. Ia melihat beberapa
gores warna merah, ternyata warna-warna merah dalam goresan itu adalah susunan
huruf-huruf.
“Raden” katanya “Cobalah baca tulisan pada dinding batu ini”
Dengan dada yang berdebar-debar keduanyapun mendekat, dengan suara yang berat
Raden Kuda Rupaka berkata “Darah”
Tetapi Panji Sura Wilaga menggeleng “Bukan Raden, tetapi soga”
Keduanyapun kemudian membaca tulisan yang tidak begitu jelas tergores didinding
itu.
= SUNGGUH MENGAGUMKAN, TETAPI TUGAS KALIAN BELUM SELESAI =
“Gila” Raden Kuda Rupaka menjadi marah. Dihentakkannya kakinya sambil
mengepalkan tangannya “Siapakah yang akan mencoba kemampuan Raden Kuda Rupaka
lagi ?”
Sejenak mereka teringat orang yang semalam telah membantunya, tentu orang itu
tidak hanya sekedar membantunya tanpa pamrih, tentu ada perhitungan tertentu
yang memaksanya untuk berniat demikian.
“Apakah benar ia dari perguruan Kumbang Kuning” bertanya Raden Kuda Rupaka
“Aku tidak dapat memastikannya, tetapi ia adalah sesorang yang memiliki
kemampuan yang tinggi, ternyata bahwa salah seorang dari ketiga murid Guntur
Geni ini dengan cepat dapat dikuasainya”
Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, dilontarkannya tatapan matanya ke
sekelilingnya, seolah-olah ia sedang mencari sesuatu, bahkan kemudian iapun
melangkah perlahan-lahan menyusuri dinding batu itu. Namun tiba-tiba saja
langkahnya terhenti, ia tertegun ketika ia melihat sesuatu dibalik semak-semak.
“Gila” desis Raden Kuda Rupaka “Paman…, mayat itu disembunyikan disini,
kedua-duanya”
“Hem, agaknya ini sekedar sebuah tantangan Raden”
Raden Kuda Rupaka menggeretakkan giginya, dipandangnya keadaan di sekeliling
halaman itu, tetapi halaman itu sepi, dibelakang terdengar suara sapu lidi,
sedang di perigi terdengar derit senggot timba.
“Tentu anak muda yang telah mengobati anak Karangmaja yang terluka itu paman”
“Ya, yang duduk dipinggir jalan saat Raden berjalan-jalan dengan puteri Inten”
“Ya, namanya Kidang Alit”
“Apakah benar ia dari perguruan Kumbang Kuning?, jika benar, maka adalah tidak
mustahil bahwa ia dapat menyembuhkan anak yang dilukai oleh orang-orang terbunuh
itu”
“Jika benar ia datang dari perguruan Kumbang Kuning, kita memang harus
berhati-hati, mungkin ia tidak seorang diri dipadukuhan ini”
“Aku kira ia mempunyai kawan, mungkin kawannya masih tersembunyi”
“Dan mungkin lebih dari seorang, tetapi sekelompok”
Kedua-duanya mengangguk-angguk, seolah-olah keduanya bersepakat bahwa Kidang
Alit dating ke padukuhan Karangmaja tidak hanya seorang diri, tetapi dalam
sekelompok kecil.
“Sudahlah paman, kita akan memikirkannya kemudian, sekarang kita pergi ke rumah
Ki Buyut di Karangmaja”
Keduanyapun kemudian meninggalkan kedua mayat yang masih tersembunyi dibalik
gerumbul. Mereka kemudian menganggap bahwa justru tempat itu agaknya lebih baik
agar tidak menakut-nakuti penghuni istana kecil itu. Dalam pada itu Nyi Upih dan
anak-anaknya yang sudah mengetahui bahwa di halaman depan ada dua sosok mayat,
sama sekali tidak berani membersihkannya. Mereka menunggu saja sampai ada orang
yang mengambil untuk menguburkan mayat-mayat itu.
“Apakah kau juga takut Sangkan?” bertanya Inten Prawesti.
“Ampun puteri, lebih baik aku menyapu jalan-jalan diseluruh padukuhan dari pada
harus membersihkan halaman depan pagi ini. Nanti jika orang-orang Karangmaja
sudah datang, aku akan menyapunya sampai bersih, tanpa bekas telapak kaki
satupun yang tersisa”
“Telapak kakimu sendiri?”
“Tentu tidak puteri, aku menyapu melangkah mundur, sehingga telapak kakiku
sendiri akan terhapus oleh goresan lidi”
“Inten mengerutkan keningnya, namun kemudian iapun tersenyum “Kau memang pintar”
Sementara itu, Pangeran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga telah berada di regol
rumah Ki Buyut Karangmaja, perlahan-lahan Pangeran kuda Rupaka mereka melangkah
maju memasuki halaman yang luas itu. Namun wajah Pangeran Kuda Rupaka tiba-tiba
menjadi tegang, dilihatnya Kidang Alit telah berada di halaman itu dan dengan
acuh tak acuh melihat kehadiran kedua bangsawan itu sambil duduk saja ditangga.
“Setan itu ada disini” desis Pangeran Kuda Rupaka
“Biar saja Raden, jika ia acuh tidak acuh terhadap kedatangan kita, maka biarlah
kita juga tidak menghiraukan kehadirannya disini”
Pangeran Kuda Rupaka mengangguk, dan seperti yang dikatakan oleh Panji Sura
Wilaga, ia sama sekali tidak menghiraukan kehadiran Kidang Alit. Ternyata Ki
Buyut telah melihat kedatangan keduanya, sehingga kemudian dengan tergesa-gesa
ia pergi menyambut kedatangannya.
“Silahkan Raden, marilah”
Pangeran Kuda Rupaka mengangguk sambil menjawab “Terima kasih Ki Buyut”
“Silahkan Raden berdua naik ke pendapa”
Pangeran Kuda Rupaka menyerahkan kudanya kepada seorang anak muda yang dengan
tergesa-gesa mendekatinya, sedang seorang yang lain telah menghampiri Panji Sura
Wilaga pula. Ketika Pangeran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga naik ke pendapa,
mereka masih sempat melihat Kidang Alit berdiri dan masih dalam sikapnya acuh
tidak acuh, ia melangkah meninggalkan halaman itu.
Wajah Pangeran Kuda Rupaka menegang, namun kemudian Panji Sura Wilaga berbisik
“Sudahlah, jangan hiraukan lagi”
“Apakah ia akan ke istana kecil itu?”
“Tentu tidak, ia tahu, bahwa kita akan beada disini untuk waktu yang pendek”
Pangeran Kuda Rupaka manarik nafas, tetapi ia tidak menyahut lagi. Sejenak
kemudian maka merekapun telah duduk di pendapa, dihadapan Ki Buyut beserta
beberapa orang bebahu padukuhan itu.
“Apakah ada sesuatu yang terjadi Raden?” bertanya Ki Buyut.
Kedua tamunya mengerutkan keningnya, dan Pangeran Kuda Rupakapun kemudian
bertanya “Apakah Ki Buyut mendengar sesuatu tentang istana itu?”
“Tidak, tetapi Kidang Alit mengatakan, bahwa kemungkinan sekali Raden berdua
akan datang pagi ini”
“Apakah ada hal lain yang dikatakan?”
“Tidak” Ki Buyut terhenti sejenak, lalu “Tetapi ia mengatakan pula bahwa
orang-orang yang berada di banjar itu tidak akan dapat mengganggu kita lagi,
apakah ada hubungannya kedatangan Raden berdua dengan orang-orang yang tinggal
di banjar itu?”
“Apakah Kidang Alit tidak mengatakannya?”
“Ki Buyut menggeleng sambil menyahut “Tidak Raden, hanya itulah yang
dikatakannya”
Pangeran Kuda Rupaka memandang wajah Panji Sura Wilaga yang menegang, namun
iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil sambil berkata “Kidang Alit
benar, orang-orang yang barangkali dimaksud tinggal di banjar itu tidak akan
mengganggu kalian lagi, bukankah orang-orang itu pula yang telah melukai seorang
anak muda Karangmaja ?, dan agaknya Kidang Alit pula yang telah
menyembuhkannya?”
“Kasdu maksud Raden ?”
Pangeran Kuda Rupaka mengerutkan keningnya.
“Ya Raden, Orangorang itulah yang telah meracuni tubuh Kasdu dan yang kemudian
diobati oleh kidang Alit. Kasdu kini sudah mampu berdiri dan berjalan
setapak-setapak, nampaknya ia akan segera pulih kembali, mungkin lebih singkat
dari dugaan Kidang Alit sendiri”
“Sukurlah”
Pangeran Kuda Rupaka mengangguk-angguk. Lalu “Ki Buyut, sebenarnyalah
kedatanganku memang ada hubungannya dengan orang-orang kasar itu”
“Apakah orang-orang itu sudah mengganggu istana itu?”
“Bukan saja mengganggu, mereka telah mencoba untuk memasuki istana itu dengan
menakut-nakuti bibi Kuda Narpada”
“Oo…”
“Untunglah bahwa kami berdua masih berada di istana itu Ki Buyut, sehingga aku
masih sempat mencoba melindungi bibi menurut kemampuanku”
“Jadi…?”
“Dua diantara ketiga orang itu terbunuh” berkata Pangeran Kuda Rupaka “Tetapi
yang seorang berhasil melarikan diri”
“Oo…”
Pangeran Kuda Rupaka kemudian menceritakan serba singkat apa yang telah terjadi
di halaman itu, bahkan ia menceritakannya juga kehadiran seorang yang tidak
dikenal, menyamar wajahnya didalam malam yang kelam.
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam kemudian iapun berdesis “Apakah mungkin orang
ketiga itu Kidang Alit?”
“Aku tidak dapat memastikannya Ki Buyut, tetapi memang mungkin, apalagi ketika
pagi ini aku menjumpai sebuah tantangan setelah kedua mayat itu disingkirkan
dari tempatnya”
Ki Buyut mengerutkan keningnya, meskipun orang-orang yang ada di banjar itu
sudah tidak ada lagi, tetapi ternyata bahwa Karangmaja belum akan menjadi
tenang. Pesoalannya masih akan berkembang terus, berkisar dari pihak yang satu
kepihak yang lain, agaknya persoalan akan timbul antara Pangeran Kuda Rupaka
dengan Kidang Alit.
“Aku tidak mengerti siapakah sebenarnya Kidang Alit itu” berkata Ki Buyut di
dalam hatinya “Ia menolong Kasdu, tetapi ia telah menodai dua orang gadis,
orang-orang kasar itu telah melukai Kasdu dengan kejamnya, tetapi setelah itu
mereka tidak pernah berbuat apa-apa, kini agaknya Kidang Alit telah mulai dengan
persoalan barunya dengan bangsawan-bangsawan itu, apakah salahnya jika hubungan
antara mereka itu dilakukan dengan baik?.
Tetapi gambaran didalam angan-angan Ki Buyut segera merayap kepada gadis cantik
yang ada di istana itu.
“Tentu Kidang Alit telah menjadi gila karena puteri Inten Prawesti itu” berkata
Ki Buyut selanjutnya kepada diri sendiri.
Dalam pada itu, Ki Buyut bagaikan terbangun dari mimpinya ketika Pangeran Kuda
Rupaka berkata “Ki Buyut, kedatangan sebenarnya ada hubungan juga dengan
kematian kedua orang itu, mayat itu sampai sekarang masih ada di halaman, aku
ingin minta bantuan tiga atau empat orang untuk menguburkan mayat-mayat
itu.”
“O..” Ki Buyut mengangguk-angguk “Tentu Raden, kami tentu akan membantu”
“Terima kasih Ki Buyut, aku harap bahwa mereka akan dapat mengambil mayat itu
sekarang”
“Tentu, tentu Raden, aku persilahkan Raden menunggu sebentar”
“Ki Buyut, sebaiknya kami mendahului saja, kami menunggu mereka di regol
halaman”
“Baiklah Raden, silahkan, aku akan segera mengirim beberapa orang untuk
menguburkan mayat itu”
Demikianlah Pangeran Kuda Rupaka dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah Ki
Buyut, sikap Kidang Alit menimbulkan kecurigaannya, sehingga rasa-rasanya ia
tidak sampai hati meninggalkan istana kecil itu terlampau lama. Dalam pada itu,
selagi Pangeran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga tidak berada di istana,
penghuni istana itu sama sekali tidak ada yang berani turun ke halaman itu,
mereka tahu bahwa di halaman itu ada dua sosok mayat, karena itu, maka mereka
seolah-olah berkumpul di belakang, di dapur dan di bilik Nyi Upih.
“Silahkan Gusti duduk saja di serambi” minta Nyi Upih kepada Raden Ayu Kuda
Narpada yang membantunya di dapur.
“Tidak Nyai, aku senang berada disini, sebenarnyalah aku agak takut tinggal
diluar sendiri, meskipun di serambi belakang rasa-rasanya ada sesuatu yang lain”
“Tentu tidak akan ada apa-apa gusti”
“Nyai, aku adalah orang tua, rasa-rasanya ada
ada firasat padaku bahwa persoalan ini masih akan ada kelanjutannya”
“Tetapi Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga akan selalu melindungi Gusti”
“Nyai, aku tidak akan dapat menahan mereka untuk waktu yang tidak tertentu, pada
suatu saat mereka akan kembali ke Demak atau kemanapun, mungkin ke perguruannya
atau berkelana lebih jauh”
Nyi Upih mengangguk-angguk, iapun mengerti bahwa tidak untuk selamanya kedua
orang itu akan tetap berada di istana terpencil itu. Tetapi ia tidak dapat
mengatakan apapun juga selain menundukkan kepalanya.
“Tetapi baiklah kita tidak perlu memikirkannya sekarang Nyai,“ Berkata Raden Ayu
Kuda Narpada “Kita pasrahkan saja
kepada Allah Subhanallahi Wata’ala”
Sementara itu di dalam biliknya, Sangkan dan Pinten duduk di lantai sambil
menghadap Inten Prawesti yang duduk di pembaringan Pinten, dengan wajah yang
tegang Inten masih mempercakapkan perkembangan yang terjadi dimalam yang baru
lampau.
“Untunglah kamas Raden Kuda Rupaka ada disini” berkata Inten Prawesti.
“Ya, Puteri, jika tidak, aku akan mengalami nasib yang sangat buruk” sahut
Pinten.
“Kenapa kau?” bertanya Sangkan
“Mereka tentu akan membawa aku, tetapi aku tidak mau”
“Ooo… Sebutlah nama Biyung Pinten, jika sekali-sekali kau bermain ditepi kolam,
lihatlah wajahmu kedalamnya, kau akan tahu bahwa tidak akan ada seorang
laki-lakipun yang menaruh perhatian kepadamu”
“Ah..” wajah Pinten seolah-olah menjadi pudar.
“Jangan berkata begitu Sangkan“ potong Inten Prawesti “Jangan berkata begitu
kepada seorang gadis, Pinten adalah gadis yang manis, ia memiliki kelebihan dari
seorang gadis kebanyakan”
Pinten menundukkan kepalanya, wajahnya nampak sedih, katanya “Kakang Sangkan
selalu berkata begitu puteri, apakah aku memang terlampau jelek?”
“Tidak, tidak Pinten, kau tidak jelek, kau cantik, muda dan lincah, apalagi yang
kurang?”
“Tetapi kakang selalu mengatakan, bahwa tidak akan ada laki-laki yang tertarik
kepadaku”
“Ia hanya bergurau, bukankah begitu Sangkan?”
“Maksudku tidak puteri, tetapi jika itu menyakiti hatinya, baiklah, aku memang
hanya sekedar bergurau”
“Coba dengar puteri, maksudnya sama sekali tidak bergurau, Jika puteri tidak
ada, ia tidak akan mencabut kata-katanya seperti itu”
“Sudahlah jangan bertengkar” Inten berhenti sejenak, lalu “Sangkan, bagaimanapun
juga, ia adalah adikmu, bukankah kau sudah membawanya jauh dari Majapahit sampai
ketempat ini tidak sekedar untuk kau perolok-olokan?”
“Tidak puteri, tentu tidak, aku benar-benar hanya bergurau saja, seperti yang
puteri katakan”
“Nah, bukankah kau sudah mendengarnya Pinten?”
Wajah Pinten masih nampal gelap, sambil bersungut-sungut ia berkata “Ia berkata
begitu karena puteri ada disini”
“Tentu tidak, sudahlah, jangan kau hiraukan kakakmu, percayalah kepadaku, bahwa
kau memang cantik”
Pinten masih menunduk, sedang Sangkan memandanginya dengan bibir yang
bergerak-gerak, untunglah Pinten tidak sedang memandangnya. Namun dalam pada
itu, selagi mereka sedang berbicara dengan asyik, tiba-tiba saja mereka terkejut
oleh suara seruling yang terdengar melengking, seperti sesambat prajurit yang
terluka di peperangan.
Bab 8
Inten Prawesti terkejut mendengar suara seruling itu, sudah lama ia tidak
mendengarnya, dan tiba-tiba saja suara seruling itu bagaikan menyentuh
jantungnya. Sangkan dan Pinten menjadi terheran-heran melihat sikap Inten
Prawesti. Suara seruling itu agaknya sangat menarik hatinya, sehingga hatinya
rasa-rasanya semua perhatiannya terampas oleh suara seruling itu.
Inten Prawesti benar-benar telah dicengkam oleh pesona yang seolah-olah tidak
terlawan. Suara seruling yang didengarnya itu adalah suara seruling yang memang
pernah didengarnya. Tetapi rasa-rasanya kali ini suara itu benar-benar menjadi
menghiba-hiba seperti tangis bayi yang merindukan ibunya.
“Suara itu” desis Inten Prawesti.
“Suara seruling” sahut Sangkan
“Ya…suara seruling itu….”
“Kenapa dengan suara seruling itu puteri?”
Inten Prawesti tidak menyahut, tetapi seperti tidak atas kehendaknya sendiri,
maka iapun berdiri sambil mengadahkan kepalanya “Alangkah syahdunya, tetapi
alangkah pilunya suara itu, anak muda itu, merintih oleh penderitaan yang tiada
akhirnya”
“Siapa puteri ?”
“Tidak ada seorangpun yang sudi menolongnya, dan gadis yang dicintainya telah
pergi meninggalkannya tanpa mengatakan sesuatu kepadanya”
“Siapa ?, Siapa puteri ?” Sangkan menjadi heran.
Suara seruling itu rasa-rasanya mencengkam hati Inten Prawesti semakin dalam.
Didapur Nyi Upihpun mendengar suara itu, dahinya nampak berkerut merut, ketika
mmandang Raden Ayu Kuda Narpada, ia termangu-mangu, agaknya Raden Ayu Kuda
Narpada itupun tertarik pula oleh suara seruling itu.
“Aku mendengar suara seruling Nyai” berkata Raden Ayu Kuda Narpada “Tetapi tidak
seperti suara yang kita dengar sekarang, alangkah dalamnya, suara itu tentu
benar-benar meloncat dari dasar hati”
“Gembala-gembala dari Karangmaja memang pandai meniuo seruling Gusti, mungkin
itu suara hati seorang gembala yang memang hidup berprihatin sejak
kanak-kanaknya”
Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk-angguk, tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.
Berbeda dengan ibunya, maka Inten Prawesti benar-benar telah dicengkam oleh
suara itu, bahkan kemudian ia bekata kepada kedua anak Nyi Upih itu “Aku ingin
sekali melihat, kenapa suara serulingnya kini sangat ngelangut”
“Kemana puteri akan bertanya?”
“Aku tahu, ia tentu duduk dibawah pohon kemuning diluar regol halaman rumah ini”
Sangkan menjadi semakin bingung, namun kemudian ia berkata “Puteri, suara
seruling itu datang dari tempat yang agak jauh, mungkin seorang gembala di
padang rumput di belakang istana ini, tetapi tentu tidak di bawah pohon kemuning
di muka regol istana”
Inten Prawesti mencoba memperhatikan suara itu lebih seksama lagi, katanya
kemudian “Tidak Sangkan, suara itu tidak datang dari belakang istana, memang
tidak dari bawah pohon kemuning tetapi juga tidak dari belakang”
Sangkan memandang adiknya dengan termangu-mangu, sedang Pintenpun nampak menjadi
gelisah “Puteri, biar sajalah suara seruling itu, tentu seorang gembala telah
meniupnya”
“Bukan Pinten, bukan seorang gembala, tetapi anak muda yang nakal itu”
“Siapa ?”
“Kidang Alit, apakah kau mengenalnya ?”
Sangkan menarik nafas dalam-dalam, dengan ragu-ragu ia berbisik di telinga
adiknya “Pesona apakah yang membuat puteri menjadi bingung”
“Gendam” bisik adiknya
“Apakah kau percaya, bahwa ada ilmu yang disebut gendam dan dapat mempengaruhi
hati seorang gadis untuk mencintai orang yang melepaskan ilmi itu ?”
“Kenapa tidak ?!, tetapi sebenarnya gadis itu bukan mencintainya, ia hanya
sekedar terbius oleh ilmu itu”
“Siapakah yang terbius, Pinten ?” tiba-tiba saja Inten Prawesti bertanya,
agaknya ia mendengar percakapan kedua anak Nyi Upih itu.
“Puteri, maksud kami, apakah puteri sudah kena ilmu gendam itu ?”
Inten Prawesti termangu-mangu, kemudian iapun bertanya “Apakah artinya ?”
“Ilmu yang dapat membius sesorang sehingga ia melupakan segala-galanya karena
hatinya dirampas oleh kekuatan ilmu itu, yang kemudian besarang di hati hanyalah
bayangan-bayangan orang yang melepaskan ilmu itu”
“Apakah kau menganggap suara seruling itu adalah ilmu semacam itu ?”
“Mungkin puteri” sahut Pinten.
“Kenapa ia harus melepaskan ilmu itu ?”
“Mungkin akulah yang dituju oleh anak muda itu, sekali ia melihat aku, maka
iapun segera tertarik, tetapi ia tidak berani mengatakannya kepadaku secara
langsung”
“Uh !!“ potong Sangkan “Kau memang tidak dapat menyadari keadaan dirimu sendiri
Pinten, jika aku mengatakan bahwa tidak ada laki-laki yang tertarik kepadamu,
kau menjadi sakit hati, tetapi kau selalu bermimpi seolah-olah kau seorang
bidadari yang sangat cantik”
Inten Prawesti tersenyum katanya “Setiap gadis akan merasa dirinya cantik, dan
setiap gadis akan merasa tersinggung bahwa orang lain menganggap sebaliknya,
tetapi seorang gadis juga tidak senang melihat gadis lain lebih cantik dari pada
dirinya”
“Apakah begitu puteri ?”
Inten Prawesti mengangguk, lalu katanaya “Jangan percaya kepada gendam, jika
suara seruling itu sangat menarik hati, karena suara itu memang menyentuh
hatiku, aku pernah mengenal anak muda yang menyuarakan seruling itu, kau jangan
menuduhnya dengan tuduhan yang menyakitkan hati, seolah-olah ia mempergunakan
ilmu gendam, anak muda dan suara serulingnya itu memang memikat”
Sangkan menjadi semakin bingung, apalagi ketika Inten Prawesti berkata “Aku alan
mencari suara itu”
“Puteri, itu tidak baik” cegah Sangkan.
“Kenapa ?”
“Puteri, mungkin sebentar lagi orang-orang Karangmaja akan datang , mereka alan
membantu Raden kuda Rupaka untuk mengubur mayat-mayat itu, Apakah kata Raden
Kuda Rupaka nanti, jika puteri tidak ada, justru dalam keadaan yang gawat
seperti sekarang ini ?”
“Biarlah mereka menguburkan mayat itu, aku tidak berkepentingan sama sekali”
“Puteri…”Pinten mulai memegangi ujung kain Inten Prawesti, lalu “Jangan puteri,
Ibunda tentu akan marah”
“Ibunda akan mengijinkannya, aku akan mohon diri”
“Tetapi sikap puteri akan membuat ibunda menjadi sedih”
Inten Prawesti tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya ia berkata “Tidak
Pinten, tidak ada yang bersedih”
“Aku puteri” potong Sangkan tiba-tiba, namun kemudian dengan tergesa-gesa ia
melanjutkan “Maksudku, aku menjadi sedih karena puteri akan pergi justru selagi
kakanda puteri Raden Kuda Rupaka tidak ada”
“Katakan kepada kamas Kuda Rupaka, bahwa aku hanya akan pergi sebentar, bukankah
tidak akan terjadi sesuatu jika aku hanya melihat dimana anak itu meniup
seruling ?”
Sangkan dan Pinten menjadi semakin bingung, Pinten yang sudah memegangi ujung
kain Inten Prawesti, memohonnya dengan sangat “Ampun Puteri, aku mohon,
janganlah puteri pergi sebelum Raden Kuda Rupaka datang puteri, puteri harus
selalu ingat, apa yang pernah dilakukan oleh anak muda yang bernama Kidang Alit
yang memang memiliki kepandaian meniup seruling, menurut keterangan yang aku
dapat, dia telah mencemarkan dua orang gadis dari Karangmaja”
Inten mengerutkan keningnya, nampak sesuatu menyentuh hatinya, namun ketika
suara seruling itu memanjat semakin tinggi, Inten Prawesti tersenyum “Adalah
salah gadis-gadis itu sendiri, mereka menyerahkan diri tanpa kepastian, aku
tidak akan melakukankannya Pinten, aku adalah puteri Pangeran Kuda Narpada,
sehingga kedududkanku harus jelas dalam setiap hubungan dengan siapapun dan
dalam hal apapun”
“Puteri” Sangkan tersentak mendengar jawaban itu, bahkan kemudian ia bergumam
“Pinten, agaknya jau benar, puteri telah disentuh ilmu gendam”
Inten Prawesti menggelengkan kepalanya, bahkan dengan wajah yang berkerut merut
ia berkata “Sangkan, aku peringatkan kau sekali lagi, jangan menuduh demikian
buruknya kepada Kidang Alit !!”
Sangkan menarik nafas dalam-dalam, bahkan kemudian ia berkata kepada Pinten
“Jagalah puteri sejenak, aku akan menghadap Gusti”
“Tidak perlu Sangkan” berkata Inten Prawesti “Seharusnya kau tidak mencampuri
urusanku, jika kau dan adikmu selalu menghalang-halangi kesenanganku, aku akan
mohon kepada ibunda, agar kau berdua dijauhkan saja dari istana ini”
“Puteri” Pinten memeluk kaki Inten, tetapi gadis dikibaskannya, bahkan betapapun
juga, Pinten mencoba menahannya, namun Inten Prawesti tetap pada pendiriannya
untuk pergi ke sumber suara seruling itu.
Namun dalam pada itu, dalam ketegangan yang hampir tidak teratasi, Sangkan
berkata sambil meloncat kedepan pintu biliknya pada saat Inten Prawesti akan
berlari keluar “Puteri, aku sudah barang tentu tidak dapat menahan puteri,
karena aku adalah seseorang yang hanya menumpang hidup disini, seperti selembar
daun kering yang terbang dihanyutkan angin dan jatuh diatas pangkguan seorang
gadis, ia dapat menibaskan daun kering itu dan membuangnya di tempat sampah,
tetapi ia dapat membiarkannya atau memberikan tempat yang agak lebih baik dari
tempat sampah itu. Namun ia tetap daun kering yang tidak berharga sama sekali,
yang sampai saatnya akan dibuang, tetapi puteri, aku juga pernah menjadi seorang
gembala, dan karena itu, akupun pernah bermain-main dengan seruling, bahkan saat
inipun aku memiliki sebuah seruling seperti yang dibunyikan oleh Kidang Alit
itu, jika puteri hanya sekedar ingin mendengarkan suara seruling, puteri tidak
usah pergi kemanapun juga, aku juga dapat membunyikan seruling”
“Ah !!, jangan ganggu aku Sangkan, aku dapat mengusirmu dari tempat ini”
“Ampun puteri, tetapi jangan pergi, hamba mohon, seandainya karena itu, aku
harus diusir pergi, aku rela, tetapi jangan pergi dalam keadaan seperti ini”
Inten Prawesti menjadi sangat marah, tetapi sebelum ia berteriak mengusir
Sangkan, ibundanya dan Nyi Upih yang mendengar suara ribut itupun dengan
tergesa-gesa dating ke ruangan itu.
Ketika Raden Ayu Kuda Narpada melihat Sangkan berdiri di tengah-tengah pintu
menghalang-halangi Inten, terbesirlah perasaan aneh dalam dirinya, sehingga
dengan serta merta ia berkata lantang “Nyai, apakah anakmu sudah gila ?”
Sangkan mendengar suara Raden Ayu Narpada, sehingga iapun kemudian bergeser
sambil berlutut di hadapan Raden Ayu Kuda Narpada itu.
“Ampun Gusti, biarlah aku dikutuk oleh hantu-hantu jika aku berniat buruk,
biarlah Pinten mengatakannya kepada Gusti apakah yang telah terjadi”
Dalam pada itu, Inten Prawestipun segera berlari kepada ibunya sambil menangis,
katanya bertahan-tahan “Usir saja anak-anak itu ibunda, mereka berniat buruk
terhadapku”
“Apakah yang sudah terjadi anakku” bertanya Raden Ayu Kuda Narpada.
“Mereka mengurungku di dalam bilik ini”
“O Gusti” desis Nyi Upih “He..!! anak-anak tidak tahu malu, apakah kalian
berbuat demikian ?”
“Gusti” berkata Pinten kemudian “Kami hanya mencoba menghalangi puteri, karena
puteri akan pergi ke suara seruling itu”
“He..??” Raden Ayu Kuda Narpada terkejut “Apakah begitu?”
Inten menjadi ragu-ragu, tetapi ketika suara seruling itu melengking lagi,
bagaikan jerit suara gadis yang ditinggalkan kekasih, maka Intenpun berkata “Ya
ibunda, aku ingin pergi ke tempat anak muda itu meniup seruling, tetapi kedua
anak itu menahan aku”
“Ooo…” Raden Ayu Kuda Narpada mengelus rambut anaknya yang berada di dalam
pelukannya “Kenapa kau akan pergi Inten ?, dan siapakah yang meniup seruling itu
?”
“Kidang Alit ibunda, tentu Kidang Alit”
“Ooo…” Raden Ayu Kuda Narpada menjadi semakin terkejut “Kidang Alit, bukankah
Kidang Alit itu anak muda yang sering dipercakapkan oleh orang-orang Karangmaja
?”
“Aku tidak perduli, apa yang mereka katakana, aku hanya ingin mendengar suara
seruling itu”
“Inten, Inten” ibundanya memeluknya semakin erat, lalu “Bagaimana mungkin kau
dapat berbuat demikian ?”
“Ibunda” Inten mulai menangis “Apakah ibunda akan melarangku ?”
“Tentu tidak Inten, tetapi kau harus mencegah dirimu sendiri”
“Aku hanya ingin melihat ibunda”
“Ooo…” Nyi Upih mendesah “Kenapa puteri seolah-olah dicengkam oleh
ketidak-sadaran ? bukankah puteri mengetahui apa yang sudah diperbuat oleh anak
muda yang bermain seruling itu, jika benar ia Kidang Alit?”
Inten masih tetap menangis, bahkan ia berusaha untuk memaksa melepaskan pelukan
ibundanya.
“Gendam biyung, ini adalah pengaruh Gendam” berkata Pinten.
“Tidak, tidak” Inten tiba-tiba saja berteriak seperti bukan atas kehendaknya
sendiri.
Namun dalam pada itu, selagi mereka sedang diributkan oleh sikap aneh dari Inten
Prawesti, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda memasuki halaman, ketika kuda di
halaman depan meringkik, maka Sangkanpun berkata “Raden Kuda Rupaka sudah
dating”
Anak itu tidak menunggu apapun lagi, tiba-tiba saha ia berlari kedepan
menyongsong Raden Kuda Rupaka. Dengan terbata-bata ia menceritakan keadaan Inten
Prawesti yang hampir tidak dapat dicegah lagi.
“Paman” desis Kuda Rupaka “Agaknya memang anak muda itulah yang telah
menantangku. Kini dengan sengaja ia menjajagi ilmuku. Ia mempergunakan pengaruh
kekuatan bunyi untuk mengganggu keseimbangan perasaan diajeng Inten Prawesti”
“Gendam Raden” desis Sangkan
“Ya, semacam itu”
“Jadi, bagaimanakah maksud Raden ?” bertanya Panji Sura Wilaga.
“Aku harus membebaskannya dari pengaruh bunyi itu”
“Silahkan Raden, mungkin Raden dapat melakukannya”
Kuda Rupakapun kemudian berkata kepada Sangkan “Kembalilah kepada diajeng Inten
Prawesti, aku akan masuk ke dalam istana dan mencoba memecahkan pengaruh bunyi
seruling yang mengandung pesona bagi diajeng Inten Prawesti itu”
Ketika Sangkan mulai bergerak, Kuda Rupaka berkata kepada Panji Sura Wilaga
“Tinggalah disini, jika orang-orang Karangmaja itu datang ajaklah mereka
mengubur kedua sosok mayat itu, kini, agaknya perang melawan Kidang Alit harus
sudah dimulai”
Panji Sura Wilaga mengangguk sambil menjawab “Baik Raden, silahkan mencoba untuk
memerangi bunyi seruling itu”
Kuda Rupakapun kemudian masuk ke dalam istana, sejenak ia termangu-mangu, nsmun
kemudian ia masuk ke dalam biliknya dan menutup pintu itu rapat-rapat.
Dalam pada itu, Inten Prawesti masih sibuk berusaha melepaskan diri dari pelukan
ibundanya dan bahkan Nyi Upih pula, seakan-akan ia sudah menyadari lagi, apa
yang sedang dilakukannya.
Sementara itu, suara seruling dikejauhan menjadi semakin ngelangut, nadanya
kadang-kadang meninggi, kadang-kadang cepat menukik merendah, lepas dari ikatan
gending yang ada, namun langsung menusuk hati Inten Prawesti, gadis cantik
puteri Pangeran Kuda Narpada.
Ibundanya dan Nyi Upih yang memeluknya manjadi semakin bingung, bahkan kemudian
sambil menangis Nyi Upih kepada Pinten yang berdiri kebingungan
“Kenapa kakakmu begitu lama ?, cepat, mohon Raden Kuda Rupaka datang
kemari”
Pinten termangu-mangu sejenak, namun sebelum ia meloncat berlari sambil
menyingsingkan kain panjangnya, langkahnyapun tertegun. Dari dalam istana ia
mendengar suara tembang yang mengalun tinggi, bagaikan angin yang silir bertiup
dipanasnya udara yang kering.
Suara itu hanya terdengar lamat-lamat, tidak sekeras suara seruling yang masih
melengking.
Namun ternyata suara tembang yang lamat-lamat, yang mengalunkan kidung kasmaran
seorang jejaka itu, berhasil menyentuh perasaan Inten Prawesti, perlahan-lahan
Inten bagaikan menyadari dirinya, bahkan kemudian dengan wajah yang
terheran-heran ia berdesis “Apakah aku mendengar suara tembang ?”
“Ya, puteri” sahut Nyi Upih tiba-tba
“Siapakah yang disaat begini sampai sempat berdendang ?”
“Kakanda puteri, Raden Kuda Rupaka” jawab Nyi Upih yang kemudian berbisik kepada
Raden Ayu Kuda Narpada “Suara tembang itu agaknya telah berhasil memecahkan ilmu
gendam itu”
“Apa yang Nyai maksud ?” bertanya Inten Prawesti.
“Tidak apa-apa puteri”
Inten Prawesti mengerutkan keningnya, agaknya suara seruling dikejauhan masih
sedikit mempengaruhinya, sehingga dengan demikian di dalam dirinya telah terjadi
benturan pengaruh bunyi yang mengandung kekuatan ilmu yang langsung menusuk
perasaannya.
Namun akhirnya ia berkata “Apakah kakangmas Kuda Rupaka sudah datang ?”
“Ya puteri” jawab Sangkan yang sudah ada di dekatnya pula “Agaknya untuk
melepaskan lelahnya, Raden Kuda Rupaka berbaring di dalam biliknya sambil
menyanyikan sebuah kidung yang syahdu, aku benar-benar terpesona mendengar
suaranya, tidak terlampau keras, tetapi sangat dalam dan betapa lembutnya”
Inten Prawesti mengangguk-angguk, tetapi suara tembang itu tidak memukaunya
seperti suara seruling Kidang Alit, karena tujuan Kuda Rupaka
hanyalah sekedar memecahkan pengaruh kekuatan bunyi yang dilontarkan oleh
suara seruling Kidang Alit, sehingga apabila dengan demikian Inten Prawesti
menjadi sadar akan dirinya, maka usahanya itupun sudah berhasil.
Dan ternyata Inten Prawesti telah benar-benar menjadi sadar atas apa yang sedang
dihadapinya. Meskipun ia masih mendengar suara seruling itu, tetapi ia tidak
lagi dipukau oleh suatu keinginan untuk datang ke padang rumput atau kemana saja
untuk mendengarkan suara seruling itu lebih dekat dan menemukan peniupnya.
Bahkan ia menjadi malu sekali, jika antara ingat dan tidak, seolah-olah ia tanpa
dapat dikendalikan lagi berusaha untuk mencari Kidang Alit.
Bulu-bulu tengkuknya merinding, jika ia menyadari, siapakah anak muda yang
bernama Kidang Alit itu, dua orang gadis Karangmaja telah menjadi korbannya.
“Ternyata bahwa dugaan kami salah” berkata Inten Prawesti dalam hatinya “Bukan
gadis-gadis itulah yang lengah dan menyerahkan dirinya kepada nafsu yang tidak
terkendali, tetapi tentu ada semacam ilmu yang dapat membuat mereka kehilangan
diri masing-masing, alangkah ngerinya”
Sementara itu, Kidang Alit yang memang dengan sengaja melepaskan suara
serulingnya dengan kekuatan ilmu pengaruh bunyi, merasakan sesuatu yang lain
pada suara serulingnya, jika semula rasa-rasanya suaranya menyentuh sasarannya,
tiba-tiba ia menyadari, bahwa ada sesuatu yang telah mengganggunya.
Kidang Alit masih mencoba memperdalam pengaruh ilmunya atas sasaranya, tetapi
perlawanan yang dirasakannya menjadi semakin berat, sehingga pada suatu saat, ia
telah kehilangan sentuhan sama sekali.
“Memang berat untuk melawannya” berkata Kidang Alit kepada diri sendiri, ia tahu
benar, bahwa Kuda Rupaka tentu sudah kembali ke istana itu, dan melawan ilmunya
sehingga usahanya untuk menunjukan kelebihannya atas Kuda Rupaka telah gagal.
Sesungguhnya Kidang alit sedang mencoba untuk menjajagi ilmu Kuda Rupaka, jika
ia berhasil menarik Inten Prawesti keluar dengan kemampuan ilmu pengaruh
kekuatan bunyi, ia ingin melihat, apa yang akan dilakukan oleh Kuda Rupaka.
Namun ternyata, sebelum Inten Prawesti keluar dari istananya Kuda Rupaka telah
datang dan behasil memecahkan ilmunya.
Kidang Alitpun akhirnya menghentikan pelawanannya, jarak antara sumber ilmu dan
sasaran memang ikut menentukan, karena kekuatan pengaruh bunyi itu seolah-olah
telah susut sejalan dengan susutnya getaran suaranya.
Sejenak Kidang Alit termangu-mangu, dipandangnya Istana kecil itu dari kejauhan,
seolah-olah ia sedang memandang sesuatu yang menyimpan
seribu macam untuk dipecahkannya.
“Iblis-iblis itu telah mati dihalaman istana itu, sedang yang seorang berhasil
melarikan diri, mungkin sekali yang seorang itu akan kembali dengan kekuatan
yang lebih besar, sedang aku masih saja duduk tepekur tanpa berbuat sesuatu”
Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam, sekali lagi ia memandang istana terpencil
itu, ternyata kehadiran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga telah menimbulkan
persoalan baru padanya, persoalan yang tidak diperhitungkan senelumnya.
Dengan langkah yang lamban Kidang Alit meninggalkan tempatnya, kepalanya yang
menunduk membayangkan betapa ia sedang merenungkan persoalan yang sedang
dihadapinya”
“Tetapi Inten Prawesti itu sangat cantik dan ternyata gadis pelayan itupun
cantik sekali” katanya di dalam hati, lalu “Jika aku tidak sedang mengemban
tugas yang penting, aku kira aku hanya memerlukan kedua gadis itu saja”
Tetapi Kidang Alit menggelengkan kepalanya, katanya kemudian “Aku tidak boleh
terganggu oleh kecantikan keduanya sebelum tugasku selesai, untuk sementara aku
dapat mengambil gadis Karangmaja yang manapun yang aku sukai”
Langkah Kidang Alit tiba-tiba semakin cepat, tetapi ia tidak kembali ke
Karangmaja, ia dengan tergesa-gesa menuruni lereng bukit kecil, kemudian
menyelinap di lembah yang jarang sekali dikunjungi oleh seseorang.
Sejenak Kidang Alit termangu-mangu, dipandangnya sebuah puncak bukit kecil
diantara beberapa puncak yang lain.
“Nanti sore sajalah” katanya kepada diri sendiri.
Dengan demikian maka iapun duduk di bawah sebatang pohon yang rindang,
dipandanginya alam sekitarnya uang sudah menjadi hijau, meskipun masih belum
merata sama sekali, sekali-sekali ia mengadahkan wajahnya memandang
burung-burung kecil yang berlompatan diatas diatas daun, dan sekali-sekali
burung-burung itu berhenti untuk bersiul. Ketika ia melihat dua ekor gelatik
hinggap diranting kecil, Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam.
Beberapa saat lamanya Kidang Alit duduk ditempatnya, ia mengertukan keningnya,
ketika ia melihat sesuatu bergerak-gerak disemak-semak beberapa langkah agak
kebawah tempatnya berteduh.
Ternyata seekor harimau yang haus telah melintasi lembah untuk mencari air di
mata air kecil di ujung lembah, di bawah titik-titik air yang menetes pada
gumpalan-gumpalan batu padas.
Tetapi harimau itu sama sekali tidak menggetarkan hatinya, bahkan ia sama sekali
tidak menghiraukan lagi, Kidang Alit sama sekali tidak menjadi gemetar,
seandainya harimau itu dengan perlahan-lahan merunduknya.
Namun demikian Kidang Alit meraba lambungnya, ketika tersentuh olehnya hulu
sebuah pisau belati, maka iapun kembali duduk menikmati silirnya angin yang
bertiup dari lembah yang basah.
Dalam pada itu, di istana kecil di luar padukuhan Karangmaja, Inten Prawesti
bersembunyi saja di dalam pembaringannya. Tiba-tiba saja perasaan malu telah
semakin dalam mencengkam jantungnya.
Ia tidak mengerti, kenapa ia telah terpukau oleh suara seruling itu, beberapa
kali ia pernah mendengar suara seruling, tetapi ia tidak pernah dicengkam oleh
dorongan yang seolah-olah tidak terlawan untuk datang mendekat, bahkan ia telah
berhasil untuk tidak menghiraukan lagi suara seruling yang sebelumnya memang
telah menarik hatinya.
Tetepi agaknya orang-orang diluar bilik ini sama sekali tidak menghiraukan
peristiwa itu lagi, mereka berbuat seperti kebiasaan mereka, sehingga lambat
laun, Intenpun berhasil mengatur perasaannya. Ketika ia keluar dari biliknya,
ternyata orang-orang itu telah melupakan apa yang sudah terjadi dam tidak
menyinggungnya lagi, Intenpun tidak lagi menjadi canggung karenanya, Sangkan
yang biasa bergurau dengan adiknya sama sekali tidak menyebut lagi suara
seruling yang bagaikan bius yang sangat kuat nagi Inten Prawesti.
Namunn dalam pada itu, diluar pengetahuan Inten, Raden Kuda Rupaka dan Panji
Sura Wilaga duduk di bawah pohon yanag rindang di halaman depan istana kecil
itu, dengan sungguh-sungguh mereka membicarakan suara seruling yang ternyata
telah mempengaruhi bukan saja perasaan tetapi nalar Inten Prawesti.
“Untunglah Raden behasil memecahkan ilmu gendam itu” berkata Panji Sura Wilaga.
“Ya… untunglah, bahwa aku sudah dibekali ilmu untuk melawan ilmu semacam itu,
paman, ilmu semacam itu bukan saja dapat mempengaruhi perasaan seorang gadis
terhadap seorang anak muda, tetapi ada juga ilmu semacam itu yang dapat
mempengaruhi siapa saja untuk tujuan apapun”
“Maksud Raden ?”
“Orang dapat kehilangan perasaan dan nalarnya, apakah ia sedang berjaga-jaga,
apakah ia sedang berperang”
“Ooo… “ Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, katanya kemudian “Ya… semacam ilmu
sirep yang dapat membius seseorang sehingga ia tertidur nyenyak”
“Benar”
“Tetapi jika kita berhasil memusatkan kekuatan yang ada di dalam diri kita, maka
kita akan terbebas dari kekuatan semacam itu, yang sulit adalah seperti yang
baru saja Raden lakukan, membebaskan orang lain dari pengaruh semacam itu”
Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, lalu katanya “Tetapi dalam hal ini, Kidang
Alit adalah orang yang sangat berbahaya, aku tidak tahu, apakah tujuannya yang
sebenarnya, mungkin ia menghendaki diajeng Inten Prawesti, menilik kelakuannya
di padukuhan Karangmaja, dua orang gadis telah mejadi korbannya, bahkan mungkin
masih akan bertambah” ia berhenti sejenak lalu “Tetapi dapat juga pamrih yang
lebih jauh dari pada itu”
Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk pula, katanya “Kita memang harus siap
menghadapi setiap kemungkinan Raden”
“Paman” berkata Raden Kuda Rupaka kemudian “Apakah menurut pikiran paman kita
akan menunggu saja disini sampai Kidang Alit berbuat sesuatu, atau kawan-kawan
kedua iblis yang terbunuh itu datang ?”
“Tidak Raden, tentu tidak, kita harus bertindak setelah kita mendapatkan
kepastian”
Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, tetapi untuk sesaat ia tidak mengatakan
sesuatu, ketika ia mengadahkan wajahnya, nampak langit telah menjadi suram,
warna-warna merah ditepi gumpalan awanpun menjadi semakin gelap.
Tetapi tiba-tiba saja Raden Kuda Rupaka terkejut, tanpa disadarinya terpandang
olehnya segumpal asap kehitam-hitaman yang membubung tinggi ke langit yang sudah
mulai diwarnai oleh kegelapan.
“Paman” desisnya “Kau lihat asp itu?”
Panji Sura Wilaga mengerutkan keningnya, sambil mengangguk kecil ia menjawab “Ya
Raden, asap yang mencurigakan”
Panji Sura Wilaga kemudian berdiri tegak, setelah memperlihatkan keadaan
sekelilingnya, tiba-tiba saja ia melompat naik memanjat pohon itu dengan
tangkasnya, seperti seekor tupai yang berkejaran, dalam waktu sekejap ia sudah
berada diatas dahan yang tinggi.
Hanya beberapa saat ia berada diatas dahan itu, karena iapun segera meluncur
turun, lebih cepat dari dari saat ia memanjat naik.
“Apa yang kau lihat paman ?” bertanya Raden Kuda Rupaka.
“Asap itu mengepul dari atas bukit, Raden”
“Apakah telah terjadi kebakaran ?, mungkin semak-semak atau padang ilalang ?,
jika demikian, maka orang-orang Karangmaja harus mencegah menjalarnya api, sebab
hutan yang baru mulai hijau itu akan lenyap, akibatnya, tanah itu akan menjadi
kering lagi, orang-orang Karangmaja memerlukan waktu yang lama untuk memulai
lagi dari permulaan sekali”
Panji Sura Wilaga mengerutkan keningnya, namun kemudian katanya “Aku kira bukan
kebakaran, tetapi ada kesengajaan untuk menyalakan api di puncak bukit kecil
itu, justru di puncak yang gundul”
Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, katanya “Kidang Alit, tentu Kidang
Alit sedang memberikan isyarat kepada seseorang”
“Ternyata yang kita jumpai di daerah ini berbeda sekali dengan dengan dugaan
kita semula, Raden. Disini bukannya suatu tempat yang aman, tenteram dan damai,
yang dapat dipergunakan untuk beristirahat sepekan dua pekan, tetapi daerah ini
justru akan menjadi pusat pertarungan yang dahsyat” ia berhenti sejenak, lalu
“Apakah kita akan terlibat didalamnya ?”
“Jadi maksud paman, kia akan pergi begitu saja dari istana ini ?”
“Tentu tidak Raden”
Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, setelah merenung sejenak, maka
katanya “Aku mengerti, dan kita sudah terlanjur terlibat terlampau jauh dalam
persoalan-persoalan yang semula tidak pernah kita bayangkan”
Panji Sura Wilaga tidak menjawab, tetapi ia menatap asap yang masih saja
mengepul tinggi itu sambil berkata “Jika orang yang mendapat isyarat itu dapat
menangkapnya, mungkin besok atau lusa daerah ini akan dikepung oleh beberapa
orang yang mungkin datang dari perguruan Kumbang Kuning”
“Apakah perguruan Cengkir Pitu akan tetap diam menghadapi perguruan Kumbang
Kuning yang mulai dengan geramnya ?”
Panji Sura Wilaga tersenyum, katanya “Tentu tidak Raden, dan kita tidak perlu
memberikan isyarat apapun juga, jika benar-benar ada gerakan dalam jumlah yang
cukup kuat dari perguruan Kumbang Kuning atau Guntur Geni, maka Cengkir Pitu
akan segera dapat mengetahuinya, sehingga persoalannya akan berganti menjadi
besar, pertentangan antar perguruan yang berpengaruh di daerah Majapahit lama”
“Sebenarnya pertentangan itu memang sudah dimulai paman, tetaoi masing-masing
masih mencoba mengatasinya dan mencegah pergulatan yang tidak perlu diantara
mereka, tetapi agaknya kini keadaannya sudah lain”
“Ya, aku memperhitungkan bahwa lima atau enam orang murid dari perguruan Kumbang
Kuning memang sudah ada di sekitar daerah ini, tetapi hanya Kidang Alit sajalah
yang masuk ke padukuhan Karangmaja, isyarat itu agaknya sudah pasti, bahwa ia
memanggil saudara-saudaranya untuk mendekat”
“Jika benar lima atau enam orang yang datang maka separuh dari mereka adalah
anak-anak ingusan”
“Mungkin malahan gurunya”
Raden Kuda Rupaka menarik dalam-dalam, dan Panji Sura Wilaga berkata seterusnya
“Bukankah kita sudah mengadakan pengamatan yang ketat pula?”
Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, lalu “Baiklah paman, meskipun kita tetap
percaya kepada saudara-saudara seperguruan kita, namun kita disini harus tetap
berhati-hati, mungkin ada sesuatu yang tiba-tiba saja terjadi diluar dugaan
kita”
“Yang penting Raden, bibi dan adik sepupu Raden itu harus tetap tenang, mereka
tidak boleh digelisahkan oleh kegelisahan kita, jika ada tindakan kasar di
istana, ini adalah tangung jawab kita, mereka sama seskali tidak boleh
tersentuh, meskipun hanya ujung kain bibi dan adik sepupu Raden”
Raden Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, namun iapun kemudian tersenyum, senyum
yang membayangkan seribu macam arti, namun juga membayangkan seribu macam
rahasia yang tersimpan di dalam hati anak muda yang perkasa itu.
Sementara di puncak sebuah bukit yang gundul, Kidang Alit memang sedang membakar
seonggok sampah dan ranting-ranting, mula-mula ia membakar ranting-ranting
kering, ketika api sudah mulai menyala, maka ditaburkannya dedaunan yang basah
kedalam api itu, sehingga asappun kemudian mengepul tinggi kehitam-hitaman.
Seperti yanga diduga oleh Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, Kidang Alit
memang sedang memberikan isyarat kepada seseorang yang berada agak jauh dari
padukuhan Karangmaja.
Ternyata bahwa isyaratnya itu dapat ditangkap oleh orang-orang yang dimaksudkan,
seorang yang bertubuh sedang dan berwajah tenang meyakinkan.
Isyarat yang memang sudah disepakati bersama itu, telah mendorong orang yang
bertubuh sedang dan berwajah tenang itu, untuk pegi menemuui seorang saudara
seperguruannya yang lain.
“Kadang Sambi Timur, aku sudah melihat isyarat yang diberikan oleh anak muda
yang menyebut dirinya Kidang Alit”
Saudara seperguruannya yang disebut Kadang Sambi Timur itu, mengerutkan
keningnya, namun kemudian ia bertanya “Raden Waruju maksudmu?”
“Ya, ia menyebut dirinya Kidang Alit”
Sambi Timur menarik nafas dalam-dalam, katanya “Akupun sudah melihatnya, apa
katamu Bramadara”
Orang yang berwajah tenang itu menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian
“Isyarat itu telah jelas bagi kita, Waruju mengharap kita mendekat”
“Tentu kau yang dimaksudkan, karena ia tidak tahu bahwa akupun sudah berada
disini”
“Ya, aku, apalagi setelah aku mendengar berita yang kau bawa, bahwa Raden Kuda
Rupaka tidak ada di istananya”
“Sudah beberapa lamanya ia menghilang, mungkin ia berada di istana bibinya di
Karangmaja”
“Ya, dan itu berarti kesulitan bagi Kidang Alit”
“Sudah tentu, Raden Kuda Rupaka adalah seorang anak muda yang memiliki banyak
kelebihan” desis Sambi Timur.
Bramadara menarik nafas dalam-dalam, hampir kepada dirinya sendiri ia berkata
“Kidang Alit belum pernah mengenal anak muda yang bernama Raden Kuda Rupaka,
akupun belum”
“Aku pernah berpapasan, tetapi akupun belum jelas apakah aku masih dapat
mengenalnya, ketika aku mendengar pemberitahuan itu, aku menjadi bimbang, tetapi
perintah itu menyebut bahwa aku
harus mendekati Kidang Alit, bukankah ia menyebut dirinya Kidang Alit ?”
“Ya..”
“Aku harus berusaha membantunya, dan membantumu jika ia menemui kesulitan karena
Raden Kuda Rupaka”
Bramadara mengangguk-angguk, namun kemudian katanya “Tetapi Raden Waruju masih
saja tidak dapat membebaskan diri dari kelemahannya”
“Kelemahan yang mana ?”
“Setiap orang Karangmaja mengetahui, dan demikianlah semilirnya angin yang aku
dengar, bahwa Raden Waruju sudah berhubungan dengan gadis-gadis Karangmaja, dua
orang diantara mereka sudah kawin dengan anak muda Karangmaja, setelah Raden
Waruju memberikan bekal sepasang lembu bagi mereka”
Sambi Timur tersenyum, katanya “Aku kira sampai mati Raden Waruju tidak akan
dapat meninggalkan kebiasaan itu”
“Namun dengan demikian, kedudukannya di Karangmaja menjadi lemah, ia tidak lagi
menjadi seorang yang berwibawa dan mempunyai pengaruhi uang besar. Apalagi jika
Raden Kuda Rupaka yang tidak ada di istananya itu benar-benar berada di istana
kecil itu”
“Aku kurang mengerti, kenapa ia harus menyebut dirinya Kidang Alit, kenapa ia
tidak datang dengan mengadahkan
dadanya, dan menyebut dirinya - INILAH RADEN WARUJU”
“Dengan ujud seorang pengembara, ia akan dapat bergerak lebih leluasa, dan yang
penting, ia akan dapat bergaul lebih dekat dengan anak-anak muda dan terutama
dengan gadis-gadis Karangmaja”
Sambi Timur menarik nafas dalam-dalam, lalu katanya “Sekarang ia memberikan
isyarat, kita memang harus datang, agaknya Raden Kuda Rupaka memang berada di
istana kecil itu”
“Jika benar demikian ?”
“Jika perlu, kita akan mempergunakan kekerasan”
“Apakah kita cukup kuat ?”
“Kita tidak tahu, apakah Raden Kuda Rupaka hanya seorang diri atau membawa
sekelompok pengawal”
“Kita akan melihatnya nanti”
Keduanyapun kemudian mempersiapkan diri, mereka membawa senjata masing-masing
dan menyediakan diri sepenuhnya jika mereka akan terlibat dalam kekerasan
sejnata dengan seseorang yang memiliki banyak kelebihan dari sesuatunya, Raden
Kuda Rupaka.
Ketika kemudian gelap malam turun perlahan-lahan, Kidang Alit telah melontarkan
sebongkok kayu kering kedalam apinya, sehingga ketika api itu menyala, nampaklah
warna merah yang membayang di ujung bukit kecil itu”
“Bramadara harus melihat isyarat ini, ia harus segera
datang dan meyelesaikan persoalanku dengan Raden Kuda Rupaka, semakin
lama, tugasku akan menjadi semakin berat dan berlarut-larut” desisnya sambil di
sebelah api yang menjadi semakin besar.
Tiba-Tiba saja Kidang Alit meloncat berdiri dan bersiap menghadapi setiap
kemungkinan, ketika ia mendengar gerisik langkah kaki mendekatinya.
“Aku Raden” terdengar suara dari kegelapan.
“Kau kakang Bramadara ?” bertanya Kidang Alit.
“Ya, aku datang tidak seorang diri”
Dalam cahaya api yang kemerah-merahan, Kidang Alit melihat dua orang dating
mendekatinya, yang seorang adalah Bramadara sedang yang lain adalah orang yang
tidak di sanka datang bersamanya.
“Kakang Sambi Timur?” desis Kidang
Alit.
“Ya Raden”
Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian “Tentu ada persoalan
yanga penting yang kau bawa kemari”
Sambi Timur dan Bramadarapun kemudian melangkah semakin dekat, dan ketiganyapun
duduk ditepi perapian yang masih menyala meskipun apinya menjadi semakin redup.
“Berita apakah yang kau bawa, kakang Sambi Timur?” bertanya Kidang Alit
“Yang penting, aku mendapat perintah untuk mendekati Raden, jika pada suatu saat
Raden memerlukannya”
“Ya, dan kau sekarang sduah berada disini”
“Yang kedua, aku membawa berita bagi Raden”
“Aku memang sudah menduga, katakana”
“Raden Kuda Rupaka telah meninggalkan istananya”
Kidang Alit tertawa kecil, katanya “Baru sekarang kau memberitahukan hal itu
kepadaku, Ia sudah berada disini sekarang, bahkan aku sudah menjajagi
kemampuannya”
“Jadi Raden sudah bertempur melawan Kuda Rupaka?”
“Tidak, aku mempergunakan pengaruh bunyi, aku mencoba membius diajeng, eh
maksudku puteri Pangeran Kuda Narpada, Inten Prawesti dengan suara seruling,
namun ternyata bahwa Raden Kuda Narpada berhasil memecahkan pengaruh kekuatan
bunyi itu”
Sambi Timur mengangguk-angguk, katanya “Aku memang mendapat pesan agar Raden
menjadi semakin berhati-hati karenanya, menurut perhitangan kami, Raden Kuda
Rupaka memang akan pergi ke istana kecil itu, ternyata perhitungan itu benar”
“Ia tidak seorang diri, ia datang bersama seseorang yang bernama Panji Sura
Wilaga”
“Sura Wilaga” desis Panji Timur “Aku belum pernah mendengarnya, mungkin seorang
murid baru, atau pengawal ayahdanya yang paling dapat dipercaya”
“Mungkin, ternyata keduanya merupakan orang yang harus diperhitungkan”
“Tentu Raden, dan kita tidak akan dapat bertindak dengan tergesa-gesa”
“Agaknya bukan saja Raden Kuda Rupaka yang harus kita perhitungkan disini”
“Siapa lagi Raden ?”
“Anak-anak ingusan dari perguruan Sekar Pucang”
“Guntur Geni maksud Raden”
“Murid-murid Kiai Sekar Pucang”
“Ya, Kiai Sekar Pucang dari perguruan Guntur Geni”
Kidang Alit mengangguk-angguk dan Sambi Timur berkata seterusnya “Mereka tentu
orang-orang yang sangat berbahaya Raden, apakah mereka masih juga berada di
padukuhan ini ?”
“Mereka sudah mati dibunuh”
“Raden membunuhnya ?”
“Tidak, Kuda Rupaka, dua diantara mereka sudah terbunuh, yang seorang lagi
melarikan diri”
Sambi Timur menarik nafas dalam-dalam, sambil memandang kepada Bramadara ia
bergumam “Bahaya yang setiap saat dapat meledak”
“Ya, kita harus benar-benar berhati-hati”
“Karena itu kakang Samba Timur dan kakang Bramadara, persoalannya semakin
mendesak” Kidang Alit berhenti sejenak, lalu katanya “Karena itu, kalian jangan
menjauh lagi, biarlah kalian berada disini”
“Di Karangmaja ?”
“Ya, datanglah dengan sikap yang kasar, seperti sikap orang Guntur Geni”
“Maksud Raden ?”
“Kalian akan ditempatkan di banjar padukuhan, tetapi kalian harus menunjukkan
bahwa kalian memiliki sesuatu yang mirip atau serupa dengan ilmu orang-orang
Guntur Geni” Kidang Alit berhenti sejenak lalu “Salah seorang dari kalian berdua
harus memukul salah seorang anak muda di hadapan Ki Buyut, sehingga anak itu
pingsan”
“Dengan racun yang melumpuhkan ?”
“Tidak perlu, asal saja ia pingsan, aku akan mengobatinya, aku akan mengatakan
bahwa ilmumu lebih dari anak-anak Guntur Geni, dan aku akan mengobatinya dengan
obat yang lebih baik dari yang pernah aku pergunakan untuk mengobati Kasdu,
akulah yang membuatnya tetap lemah selama kira-kira sebulan”
Kidang Alit kemudian memberitahukan apa yang harus mereka lakukan seperti yang
pernah dilakukan oleh orang-orang dari Guntur Geni.
“Kalian akan menjadi pusat perhatian Raden Kuda Rupaka, seperti saat Raden Kuda
Rupaka memperhatikan orang-orang dari Guntur Geni, jika datang saatnya, Raden
Kuda Rupaka memang harus dibunuh, kita harus menyelesaikan tugas kita”
“Semakin cepat semakin baik Raden”
“Ya, tetapi hadirnya Raden Kuda Rupaka merusak semua rencana kita, juga karena
aku menginginkan kedua gadis itu”
“Dua orang gadis ?”
“Inten Prawesti dan Pinten, anak pelayan istana kecil itu”
Bramadara dan Sambi Timur, menarik nafas dalam-dalam, tetapi mereka tidak
mencoba mencegahnya, karena itu sudah menjadi sifat dan wataknya Raden Waruji.
Untuk beberapa saat lamanya, mereka masih berbicara tenang rencana, jika rencana
mereka itu berhasil, maka mereka akan berada dalam jarak yang pendek tanpa tanpa
diketahui oleh Raden Kuda Rupaka. Mungkin Raden Kuda Rupaka akan menjadi lengah,
atau tidak memperhitungkan, bahwa ketiga orang yang berada di Karangmaja itu
pada suatu saat bekerja bersama untuk, membunuhnya.
Namun dalam pada itu, Kidang Alit kemudian bertanya “Kakang Sambi Timur, apakah
pentingnya Raden Kuda Rupaka, maka kau harus datang khusus untuk memberitahukan
bahwa ia sudah tidak di istanya lagi ?”
“Selama ini bagi beberapa orang di Demak, Raden Kuda Rupaka merupakan seorang
anak muda yang menjadi buah bibir, ia memiliki ilmu yang tinggi, namun ia juga
seorang yang baik dan rendah hati, ia menolong hampir setiap orang yang
diketahuinya mendapat kesulitan”
“Tetapi apakah ia memerlukan datang ketempat yang jauh ?”
“Raden harus ingat, bahwa Raden Kuda Rupaka
adalah seorang bangsawan yang masih sangat dekat hubungannya dengan
Pangeran Kuda Narpada, keduannya datang dari Majapahit saat Majapahit mengalami
kemunduran”
“Bagi Demak, mereka adalah orang-orang baru”
“Ya, apalagi bagi Raden yang jarang sekali hadir ke kota Raja itu, meskipun
dengan Raden Waruju masih ada gegayutan, tetapi tentu sudah agak jauh”
“Aku lebih suka bernama Kidang Alit, di sini aku dapat hidup diantara anak-anak
muda Karangmaja tanpa jarak, jika aku menyebut diriku dengan nama dan kedudukan
yang sebenarnya, aku akan menjadi jauh dari mereka”
“Terserahlah kepada Raden, namun dengan demikian Raden sudah mendapat gambaran
serba sedikit tentang Raden Kuda Rupaka dan kedudukannya diantara para
bangsawan, meskipun ia orang baru, namun pengaruhnya dikalangan anak-anak muda
bangsawan, nampaknya sudah semakin berakar”
“Aku mengerti, tetapi pada suatu saat mereka akan kehilangan Raden Kuda Rupaka,
yang datang kemudian adalah Raden Waruju dengan kekuatan dan wibawa yang baru
setelah aku menyelesaikan tugasku disini” namun dahinya tiba-tiba saja berkerut
“Tetapi apakah dengan demikian berarti Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti
itu masih kadangku juga ?”
“Ya, tetapi seperti Raden Kuda Rupaka, hubungan itu sudah amat jauh, hampir
setiap keluarga Adipati di seluruh negeri masih mempunyai gegayutan, meskipun
sekedar bersangkut paut karena perkawinan”
Kidang Alit mengangguk-angguk, namun kemudian katanya “Persetan, aku harus
mendapatkan semua yang aku inginkan di sini, Nah, sekarang pergilah, dan
datanglah besok berkuda ke Karangmaja, seperti yang aku pesankan, datanglah ke
rumah Ki Buyut dan hati-hatilah, semua harus berjalan seperti yang aku
kehendaki”
“Baiklah Raden”
“Panggil aku Kidang Alit”
“Baiklah, tetapi kemana kami harus pergi sekarang ? apakah aku harus kembali
lagi ke persembunyianku ?”
“Tidak perlu, tinggal sajalah di sini, dan datanglah besok ke Karangmaja”
Bab 9
Kidang Alitpun kemudian berdiri dan melangkah meninggalkan kedua orang orang
kawan-kawannya dengan pesan “Aku akan kembali kepondokku, ingat semua yang harus
kau lakukan”
Kedua kawannya tidak menjawab, mereka memandang langkah Kidang Alit yang semakin
lama menjadi semakin jauh, dan hilang didalam kegelapan malam.
Sambi Timur dan Bramadra masih termangu-mangu disamping perapian yang sudah
hampir padam. Sejenak mereka merenungi bara api yang tertinggal diantara abu
yang hitam. Namun kemudian terdengar Bramadara berkata “Semalam suntuk kita
harus menunggu perapian ini”
“Kita dapat tidur saja disini, apa bedanya tidur ditempat lalu?”
“Dan kita akan diterkam harimau tanpa melawan?, sebaiknya kita tidur bergantian”
“Tidak ada harimau disini, yang ada hanyalah kucing-kucing hutan yang agak
besar”
“Aku sudah berada ditempat ini lebih lama dari kau, disini ada harimau,
sebenarnya harmau bukan sekedar seekor
blacan, bahkan disini ada harimau kumbang”
“Kau takut harimau kumbang?”
“Bukan takut, tetapi jika kita tidur, maka kita tidak akan sempat bangun”
“Baiklah, kita akan tidur bergantian”
Keduanyapun kemudian membagi saat pergantian lewat tengah malam, kapan yang
seorang akan dibangunkan oleh yang berjaga-jaga terlebih dahulu.
Menjelang pagi hari, maka keduanyapun mempersiapkan diri, mereka bersepakat
untuk tidak untuk tidak berbenah, bahkan mereka membuat pakaian mereka menjadi
lusuh dan membuat diri mereka nampak sebagai orang-orang kasar, ikat kepala
merekapun tidak lagi mereka atur sebaik sebaik-baiknya, nampaknya asal saja
membelit kepala, beberapa lembar rambut mereka yang panjang, mereka biarkan
mencuat keluar.
“Jika kau berbicara, kau harus membelalakkan matamau” berkata Sambi Timur sambil
tersenyum.
“Sebenarnya aku segan berbuat seperti ini, Tetapi apaboleh buat, Raden Waruju
memang senang berbuat aneh-aneh. Seperti dirinya sendiri yang menyamar seperti
anak padesan kebanyakan dan bernama Kidang Alit”
“Tetapi penyamaran itu sangat bermanfaat baginya” desis Sambi Timur.
Bramadara tertawa, tetapi ia tidak menjawab lagi. Demikianlah keduanya dengan
cara yang aneh, mendekati padukuhan Karangmaja seperti petunjuk Kidang Alit,
dengan wajah yang garang dan sikap yang kasar dibuat-buat, mereka memasuki
padukuhan itu.
Beberapa orang yang melihat kehadiran mereka menjadi ketakutan, mereka belum
melupakan hilangnya tiga orang dari banjar, yang menurut pendengaran mereka,
telah dibunuh oleh Raden Kuda Rupaka, tetapi seorang dari mereka sempat
melarikan diri dan sudah barang tentu ia akan kembali dengan dendam yang membara
di hati.
Kini, tiba-tiba saja hadir dua orang kasar di padukuhan mereka, yang tidak
mustahil ada sangkut pautnya dengan orang-orang yang telah dibunuh itu.
Kedua orang berkuda itu sama sekali tidak menghiraukan orang-orang yang dengan
tergesa-gesa masuk kedalam rumah masing-masing dan menutup pintu, yang tidak
sempat, segera berlindung dibalik dinding atau pepohonan atau pepohonan yang
rimbun.
Namun keduanya tidak menghirakan mereka, keduanya langsung menuju ke rumah Ki
Buyut di Karangmaja.
Kedatangan kedua orang itu benar-benar telah mengejutkan Ki Buyut, belum lagi
orang-orang yang mengubur kedau mayat orang-orang asing yang berada di banjar
itu melupakan kengeriannya atas mayat-mayat yang penuh noda-noda darah itu,
telah datangnya dua yang tidak mereka kenal dengan sikap yang kasar pula.
“He, siapakah Buyut di Karangmaja” Sambi Timur menggeram.
Ki Buyut melangkah mendekatinya sambil menjawab “ Aku Ki Sanak, aku adalah Buyut
di Karangmaja”
Ki Sambi Timur membelalakkan matanya, dan berkata lantang “Aku akan berada di
Padukuhan ini untuk waktu yang tidak tertentu”
“Ki Sanak” berkata Ki Buyut “marilah, silahkan duduk, barangkali kita dapat
berbicara sebaik-baiknya”
“Aku tidak mempunyai waktu, beri aku tempat, beri aku makan dan beri aku semua
kebutuhan yang aku inginkan”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, beberapa orang anak muda ragu-ragu untuk
mendekatinya, mereka masih belum melupakan, apa yang pernah terjadi atas Kasdu.
Namun dengan demikian Sambi Timur dan Bramadara menjadi agak kebingungan,
menurut pesan Kidang Alit, salah seorang dari mereka harus memukul salah seorang
anak muda itu sehingga pingsan, tetapi tidak ada seorang anak mudapun yang
mendekat.
“Cepat Ki Buyut” Bramadara berteriak, justru karena ia ingin membuat dirinya
menjadi kasar, maka ia telah bertingkah laku dengan sikap yang berlebih-lebihan.
Berteriak dan sekali-sekali mengumpat dengan kata-kata yang tidak dimengerti.
Ki Buyut menjadi bingung, namun ia tidak dapat berbuat lain, dari pada memenuhi
tuntutan orang-orang itu.
“He !!, kenapa kau justru mematung..!!” bentak Sambi Timur.
“Ya…ya… Ki Sanak, kami dapat menempatkan Ki Sanak di Banjar padukuhan ini”
“Baik, aku akan berada di banjar padukuhan, aku ingin disediakan makan dan minum
secukupnya, dan kebutuhan-kebutuhan yang aku minta, jika kalian tidak sanggup
menyediakan, maka padukuhan ini akan aku jadikan karang abang, He…!!!
kalian mendengar…?”
“Ya.. ya.. Ki Sanak”
“Kalian mendengar…!!?”
teriak Sambi Timur kepada anak-anak muda yang kebetulan berada di
halaman. Ia mencari alas an, untuk dapat memenuhi pesan Kidang Alit, memukul
salah soerang dari mereka.
Tetapi anak-anak muda itu menjadi ketakutan dan bergeser mundur.
“Gila..!” geram Bramadara, tiba-tiba saja ia meloncat turun dari kudanya dan
memanggil seorang anak muda, yang bertubuh tinggi besar dan berdada bidang.
“Kemari, kau kemari”
Anak muda itu termangu-mangu sejenak “Siapa namamu He..!”
“Sambi, tuan”
“He..!!” tiba-tiba Bramadara terbelalak lebar sekali “Kau jangan menghina kami”
Anak muda itu menjadi bingung
“Sebut namamu sekali lagi”
“Sambi, Sambi Tuan” anak muda itu menjadi gemetar.
“He, kakang Sambi Timur, anak muda ini berani menyebut namamu, ia menyebut
namanya dengan namamu”
“Mata Sambi Timur menjadi memerah, dicobanya untuk menunjukkan kemarahan yang
meluap-luap, katanya “Anak gila..!, kau telah menghina aku”
Sambi Timurpun kemudian meloncat turun, ia tidak membuat alasan lain yang dapat
dipergunakan memenuhi pesan Kidang Alit, adalah kebetulan sekali bahwa nama anak
itu sama dengan namanya.
“Satu-satunya alasan” berkata Sambi Timur didalam hatinya, dan agaknya
Bramadarapun memperhitungkan demikian pula.
Maka tiba-tiba saja Sambi Timur menyambar ikat kepala anak muda itu dan
membantingnya ketanah “Kau berani menyebut namaku He..!, Kau harus tahu, siapa
yang menyebut namaku, maka ia harus berurusan denganku”
“Tetapi namaku, namaku memang dengan demikian Tuan” anak itu menjadi semakin
gemetar.
“Persetan..!!, jika demikian, maka kau berani menyebut namaku, karena itu, kita
harus berperang tanding, di dunia ini, hanya ada satu nama Sambi, Sambi Timur”
Anak muda itu menjadi semakin ketakutan, katanya dengan suara terputus-putus
“Tetapi namaku tidak memakai Timur”
“Itu tidak penting, cepat, bersiaplah, kita akan berperang tanding”
“Tidak, tidak” anak muda itu menjadi semakin ketakutan”
“Pengecut” tiba-tiba Sambi Timur membentak, tangannya terayun deras sekali
mengenai wajah anak muda yang bernama Sambi itu, sehingga anak muda itupun
terpelanting jatuh.
Semua mata terbelalak melihat peristiwa yang terjadi itu, tidak seorangpun dapat
mencegahnya, apalagi ketika Sambi Timur kemudian berkata “Anak itu harus
mengerti bahwa tidak ada orang lain bernama Sambi di dunia ini, sekarang ia
tidak akan dapat menyebut namanya lagi”
“Tuan sudah membunuhnya?” bertanya Ki Buyut.
Sambil tertawa, dicobanya tertawa keras-keras, namun kadang-kadang tertawanya
justru menjadi sumbang.
Katanya “Ia tidak mati, tetapi akan menjadi lumpuh, buta, bisu dan tuli”
“Ooo” Ki Buyut menebah dadanya, katanaya “Kasihan anak itu, ia anak baik tuan,
apakah tuan tidak dapat menyuruhnya saja berganti nama?”
“Aku tidak perduli, tidak ada orang yang akan dapat mengobatinya, ia akan
mengalaminya sampati tua”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, sekilas teringat olehnya dengan seorang anak
muda yang bernama Kidang Alit, anak muda yang telah berhasil mengobati Kasdu
sehingga kini anak muda itu sudah dapat dikatakan sembuh, meskipun belum pulih,
apalagi di istana kecil itu ada seorang bangsawan muda bernama Kuda Rupaka yang
juga sanggup pula mengobati seseorang yang mengalami peristiwa seperti itu.
Tetapi Ki Buyut sama sekali tidak menyebutkannya, bahkan kemudian ia berkata “Ki
Sanak, aku minta maaf jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan bagi Ki Sanak,
sekarang aku persilahkan Ki Sanak pergi ke banjar, di banjar Ki Sanak akan dapat
tinggal dengan tenang tanpa gabgguan apapun juga”
Sambi Timur memandang Ki Buyut dengan tajamnya, lalu katanya “Baiklah, aku akan
pergi ke banjar”
“Biarlah seseorang mengantarkan Ki Sanak”
“Aku sudah tahu dimana letak banjar itu, aku akan pergi ke banjar”
Sambi Timur dan Bramadara tidak menunggu lebih lama lagi, merekapun kemudian
meloncat ke punggung kudanya dan segera meninggalkan halaman rumah Ki Buyut.
Demikian kedua orang itu hilang, maka regol halaman itu telah berdiri
termangu-mangu seorang anak muda yang lain, Kidang Alit.
Semua matapun kemudian terpancang kepada Kidang Alit, perlahan-lahan anak muda
itu melangkah maju, ketika matanya menyentuh tubuh Sambi yang berbaring diam,
maka iapun dengan tergesa-gesa berlari mendekatinya, sambil berjongkok disisinya
ia bertanya “Kenapa dengan Sambi?”
Ki Buyut mendekatinya dengan pandangan sedih, sambil menarik nafas dalam-dalam
ia berkata “Agaknya padukuhan ini memang sedang ditimpa oleh malapetaka, aku
tidak tahu, apakah kesalahan yang pernah kami perbuat disini, sehingga
rasa-rasanya sebuah kutukan yang mengerikan kini sedang berlaku”
Kidang Alit meraba tubuh Sambi, dengan wajah tegang ia berkata “Luar biasa,
suatu ilmu yang hampir tidak ada duanya dimuka bumi.”
“Ia mengalami nasib seperti Kasdu” desis Ki Buyut yang kemudian menceritakan apa
yang telah terjadi atas Sambi”
“Gila” desis Kidang Alit “Apakah peprsamaan nama saja sudah cukup alas an
baginya untuk menyiksa anak ini seumur hidupnya, Kasdu kini nampaknya sudah
mulai dapat menggerakkan segenap tubuhnya, bahkan beberapa langkah ia sudah
dapat berjalan, tiba-tiba kini malapetaka yang lebih besar telah menimpa Sambi”
“Lebih besar?” bertanya Ki Buyut.
“Ya, Sambi nampaknya lebih parah dari Kasdu”
“Jadi..?”
Kidang Alit menarok nafas dalam sekali, katanya “Bawalah kedalam, aku mencoba
mengobatinya”
Anak-anak muda yang ada di halaman itupun
kemudian mengangkat tubuh yang seolah-olah menjadi kejang itu masuk
kedalam dan dibaringkannya disebelah Kasdu yang sudah dapat bangkit berdiri
meskipun masih tertatih-tatih dan harus mencari pegangan,
Bahkan dengan dilayani oleh seseorang, ia sudah dapat berjalan beberapa langkah,
sedangkan penglihatan dan pendengarannya seolah-olah telah pulih sama sekali.
Untuk beberapa saat lamanya, Kidang Alit meraba segenap tubuh Sambi, setiap kali
ia seolah-olah menemukan sesuatu dibawah kulit anak muda yang pingsan itu.
Baru beberapa saat kemudian, Kidang Alit mengambil semacam serbuk dari dalam
bumbung kecil yang disimpan dikantong ikat pinggangnya, dengan beberapa tetes
air, serbuk itu dicairkan, dan dituangkannya kedalam mulut Sambi”
Setelah ditunggu beberapa lama kemudian, maka Sambipun mulai sadar, matanya
terbuka dan bibirnyapun mulai bergerak-gerak.
“Air” Desisnya
Kidang Alit tersenyum, demikian juga Ki Buyut yang menungguinya dengan tegang.
“Aku berhasil Ki Buyut, ia dapat membuka matanya dan melihat kita yang berada di
sekitarnya, mulutnya dapat bergerak dan menyebut sesuatu yang di kehendakinya,
mudah-mudahan ia dapat segera pulih seperti Kasdu meskipun akan membutuhkan
waktu yang agak lama.
“Lebih lama..?” bertanya Ki Buyut.
“Ya…, orang-orang yang dating kemudian ini memiliki kemampuan yang lebih tinggi
dari orang-orang yang yang telah dating lebih dahulu, orang-orang yang telah
dibunuh di istana kecil itu.”
Ki Buyut termangu-mangu sejenak, lalu tiba-tiba saja ia bertanya “Kidang Alit,
apakah kau tahu serba sedikit tentang peristiwa di halaman istana kecil itu?”
“Maksud Ki Buyut?:
“Apakah kau ikut campur didalam pertempuran yang telah terjadi?”
Kidang Alit mengerutkan keningnya, namun kemudian ia tertawa “Janganlah
dirisaukan, aku tidak ikut campur sama sekali, aku tidak tahu menahu”
Ki Buyut tidak mendesaknya lagi, meskipun demikian, ia masih bertanya “Kidang
Alit, apakah kau berhubungan dengan
Raden Kuda Rupaka?”
“Ooo…” Kidang Alit mengangkat keningnya “Aku tidak ada hubungan dengan
bangsawan-bangsawan yang hanya dapat menyombongkan dirinya, yang menganggap kita
orang-orang kecil, ini hanyalah sekedar sasaran pelepasan kekuasaannya, Ki Buyut
aku memang tidak ingin berhubungan dengan bangsawan-bangsawan itu”
“Tetapi mereka bukan orang-orang yang sombong”
“Ki Buyut, sejak aku kanak-kanak, aku tidak dibiasakan untuk mengangguk hormat
dalam sekali, menundukkan kepala jika berbicara, atau dengan tata cara yang
menjemukan sekali”
“Tidak, tidak Kidang Alit, aku tidak pernah tidak pernah mempergunakan tata cara
yang demikian terhadap Raden Rupaka, bahkan terhadap Pangeran Kuda Narpadapun
tidak, atas kehendak Pangeran Kuda Narpada sendiri”
“Tetapi kita masih harus memanggilnya Raden, dan dalam terhadap perempuan yang
ada di istana itu, kita harus harus
menyebutnya Gusti dan puteri. Ah, sudahlah Ki Buyut, biarlah aku hidup dengan
caraku dan Raden Kuda Rupaka hidup dengan caranya”
“Baiklah Kidang Alit, tetapi sebagai orang tua, aku lebih senang melihat
anak-anak muda dapat hidup rukun, apalagi anak-anak muda seperti kau dan Raden
Kuda Rupaka, yang memiliki kelebihan dari sesama” Ki Buyut berhenti sejenak,
lalu “Jika kalian dapat hidup rukun, maka kami sepadukuhan ini, akan dapat
menggantungkan nasih kami kepada kalian, apalagi jika setiap kali padukuhan ini
didatangi oleh orang-orang yang mengerikan seperti yang berada di banjar itu”
“Mereka tidak akan berbuat apa-apa, seperti tiga orang yang terdahulu Ki Buyut,
persoalan mereka tentu ada hubungannya dengan kematian kedua orang yang baru
saja dikuburkan itu, meskipun agaknya mereka bukan saudara seperguruan”
Ki Buyut termangu-mangu sejenak, namun kemudian “Darimana kau tahu bahwa mereka
bukannya seperguruan dengan orang-orang yang telah terbunuh itu?”
“Aku dapat melihat akibat dari tangan mereka, memang ada persamaan, tetapi ada
juga bedanya”
Ki Buyut tidak mendesaknya lagi, karena ia merasa behwa ia tidak akan dapat
mengerti, apapun yang dikatakan Kidang Alit, namun yang ditanyakan justru
“Kidang Alit, jika orang itu tidak dapat berbuat apa-apa, kenapa keduanya
terbunuh justru di halaman istana itu”
“Maksudku, mereka tidak berbuat apa-apa atas kita disini, persoalan mereka
dengan istana itu, sama sekali bukan persoalan kita Ki Buyut”
“Ki Buyut mengangguk-angguk, ia mengerutkan keningnya, ketika ia melihat seorang
yang melayani Sambi yang merasa sangat haus, setitik demi setitik air diteteskan
dimulutnya, dengan susah payah ia mencoba menelan air itu.
Sambi menarik nafas dalam-dalam, iapun kemudian menggeleng lemah, “Cukup”
desisnya lambat sekali.
“Ki Buyut” berkata Kidang Alit
kemudian “Aku minta diri, biarlah anak-anak menjaga Sambi sebak-baiknya, jika
ada orang lain yang dating, biarlah keduanya mash tetap berpura-pura lumpuh,
bisu dan tuli”
“Tetapi orang-orang yang menyakiti Kasdu sudah tidak ada lagi?”
“Siapa tahu, bahwa aku keliru, jika kedua orang itu adalah kawan-kawan mereka
yang sudah terbunuh, maka merekapun tentu akan membunuhnya pula”
Ki Buyut mengangguk-angguk, Iapun kemudian berpesan seperti yang dikatakan olej
Kidang Alit itu untuk keselamatan mereka sendiri”
“Kecuali terhadap Raden Kuda Rupaka” berkata Ki Buyut” Ia tidak dapat dibohongi,
ia mengerti semuanya tentang Kasdu yang barangkali juga Sambi”
Kidang Alit tersenyum, katanya “Biar sajalah, aku kira mereka tidak akan
membahayakan Kasdu, bagaimana juga aku kira bangsawan-bangsawan itu masih juga
mengenal peri-kemanusiaan”
Ki Buyut mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menjawab “Sudahlah Ki Buyut, aku
akan pergi ke sungai, sudah dua hari
aku tidak mencuci pakaian”
Kidang Alitpun kemudian meninggalkan rumah Ki Buyut, dimuka regol langkahnya
terhenti sejenak, namun kemudian iapun berkata kepada diri sendiri “Persetan
jika Kuda Rupaka mengetahui permainan ini, aku tidak akan memberi kesempatann
kepadanya lebih lama lagi, tetapi semuanya memang tidak dapat dilakukan dengan
tergesa-gesa agar justru tidak gagal karenanya”
Iapun kemudian melanjutkan langkahnya, kembali ke pondoknya, mengambil beberapa
helai pakaiannya, dan langsung pergi ke sungai.
Kidang Alit mempunyai kesenangan mencuci pakaiannya di sungai disaat-saat
gadis-gadis Karangmaja mencuci pakaian pula.
Namun gadis-gadis itu sama sekali tidak merasa terganggu oleh kehadirannya,
meskipun tidak biasa laki-laki mencuci pakaian bersama dengan mereka. Biasanya
laki-laki lebih suka mandi dan mencuci di gerojogan di bawah bendungan, di siang
atau di sore hari setelah mereka pulang ke sawah.
Bahkan kehadiran Kidang Alit dapat memberikan kesegaran dan kegairahan pada
gadis-gadis itu. Mereka tidak segan-segannya bergurau bahkan kadang-kadang
berkejar-kejaran bersama Kidang Alit, sehingga dengan demikian, mereka sering
terlambat pulang.
Tidak banyak yang mengetahui perbuatan Kidang Alit itu, gadis-gadis Karangmaja
tidak pernah memperbincangkan dengan orang tua mereka tentang tinglah laku anak
muda itu, tetapi mereka setiap saat memperbincangkannya dengan kawan-kawan
mereka. Bahkan siapa yang paling dekat dengan anak muda itu, merasa sangat
bangga, seolaj-olah ia adalah gadis yang paling terkemuka di Karangmaja.
Meskipun dua orang dari mereka telah kehilangan pengakangan diri, namun
seolah-olah hal itu tidak pernah diingatnya lagi oleh kawan-kawannya, apalagi
keduanya kemudian telah kawin seperti kebanyakan gadis-gadis dewasa dengan
laki-laki yang menganggap mereka sebagai isteri yang baik tanpa cela.
Tetapi bagaimanapun juga, tingkah laku Kidang Alit itu telah membuat Ki Buyut
menjadi sangat berprihatin. Tidak kurang dari kehadiran dua orang yang tinggal
di banjar, seolah-olah menggantikan
tiga orang yang sebelumnya berada di banjar itu pula, dan yang dua diantaranya
mereka telah terbunuh sedang yang seorang berhasil melarikan diri.
Namun keprihatinan itu harus ditekannya didalam dadanya, yang semakin lama
menjadi semakin penuh dengan persoalan-persoalan yang dating berurutan.
“Kapan ada cahaya terang pada padukuhan kecil ini” Setiap kali Ki Buyut
berdesah, jika ia mulai berbaring di malam hari, terasa betapa kecut hatinya
menghadapi masa depan padukuhannya.
Memang sekali lagi timbul dugannya, bahwa istana kecil itulah yang agaknya telah
mengundang kesulitan bagi padukuhan
Karangmaja, tetapi ia mengenang kebaikan hati Pangeran Kuda Narpada dan segala
macam jasa yang telah diberikan maka, ia selalu mencoba mengusir dugaan-dugaan
semacam itu.
Tetapi sebenarnyalah bahwa persoalan memang berkisar pada istana kecil yang
terpencil itu, kegagalan-kegagalan orang dari perguruan Guntur Geni, bukan
mengurangi kekalutan bagi Karangmaja. Karena salah seorang dari mereka yang
tidak terbunuh mati, berhasil menghubungi kawan-kawannya dari perguruan Guntur
Geni dan menceritakan apa yang telah terjadi di istana kecil itu.
“Gila” desis salah seorang yang bertubuh jangkung, berambut putih dan berjanggut
panjang dan berwarna putih pula “Jadi di Karangmaja telah hadir murid-murid dari
perguruan Cengkir Pitu dan Kumbang Kuning?”
Gagak Wereng yang hampir kehabisan darah selama di perjalanan, hampir tidak
mampu lagi bergerak, hanya karena ketahanan tubuhnya yang luar biasa sajalah,
maka ia masih dapat berbicara beberapa kalimat, untuk menceritakan segala
peristiwa pahit yang dialaminya. Ketika ia merasa bahwa semuanya sudah
diucapkannya, betapapun sulitnya untuk menggerakkan bibir, tidak dapat lagi
mengucapkan kata-kata.
Gagak Wereng masih sadar, bahwa oleh dua orang saudara seperguruannya, ia
diangkat mendaki sebuah bukit kecil di ujung Pegunungan Sewu, beberapa tonggak
lagi, terhampar ngarai yang luas, yang sebagian masih diselimuti oleh hutan
yanga sangat lebat.
Orang berjanggut dan berambut putih tidak memaksanya lagi untuk berbicara,
tetapi ia memberikan beberapa tetes cairan, ramuan dari air dan serbuk obat
untuk menenangkan dan memberi kekuatan kepada Gagak Wereng, tanpa obat ini maka
Gagak Wereng tentu sudah jatuh pingsan, dan bahkan mungkin
ia akan kehilangan kemungkinan untuk
dapat hidup lebih lama lagi.
Namun agaknya Gagak Wereng memang belum saatnya mati, perlahan-lahan tubuhnya
merasa menjadi segar, sehingga ia mulai dapat menggerakkan seluruh tubuhnya dan
bibirnya mulai dapat menyebut beberapa kata.
Ketika ia merasa sudah menjadi semakin kuat, maka iapun mulai mencoba untuk
duduk bersandar pada sebongkah batu besar di pinggir jalan setapak.
“Wereng” salah seorang temannya mulai bertanya lagi ketika ia melihat keadaan
Gagak Wereng samakin baik “Jadi jelasnya, kau dan kedua saudara seperguruanmu
itu telah gagal”
“Ya, ya Kiai, kami sudah gagal, gagal sama sekali, aku tidk melihat akhir dari
pertempuran di halaman itu, namun menurut perhitunganku saudara-saudaraku tidak
ada harapan lagi untuk melepaskan diri dari tangan Raden Kuda Rupaka dan Panji
Sura Wilaga”
“Raden Kuda Rupaka” desis orang berjanggut dan berambut putih itu. “Aku
mendengar namanya belum lama berselang, ia adalah seorang kesatria dari
Majapahit yang memiliki beberapa kelebihan, namanya cepat dikenal di Demak oleh
segala golongan, karena ia mempunyai jiwa pengabdian yang tinggi, ia banyak
menolong orang-orang yang memang memerlukan pertolongannya, ia tidak segan-segan
berbuat apa saja untuk kepentingan orang banyak yang lemah dan tersinggung oleh
rasa keadilannya”
“Agaknya benar orang itu” desis Gagak Wereng dengan suara yang lemah “Ia adalah
seorang bangsawan yang memang pilih tanding”
“Tetapi disamping Kuda Rupaka, kau harus memperhatikan pula orang yang mneyebut
dirinya dari perguruan Kumbang Kuning” sahut orang yang berjanggut dan berambut
putih itu. “Perguruan Kuning adalah perguruan yang pernah menggetarkan tanah
ini”
Gagak Wereng mengangguk-angguk, namun kemudian ia berdesis “Tetapi kenapa mereka
itu kini berkumpul di Karangmaja?’ bukankah itu berarti bahwa rahasia yang
tersimpan di dalamnya telah banyak diketahui oleh beberapa pihak?”
“Mungkin demikian, tetapi yang menggelisahkan kita adalah Kuda Rupaka, ia adalah
keluarga Raden Kuda Narpada, sehingga ia merupakan pelindung yang paling baik”
orang yang berjanggut putih itu menggeram “Kenapa Kuda Rupaka itu hadir juga di
tempat yang demikian jauhnya?”
“Kita juga dating dari jauh, kini kiai berada disini beberapa lamanya, dan
meninggalkan padepokan juga karena rahasia yang tersimpan di istana itu” Sahut
Gagak Wereng, “Tentu Kuda Rupaka mengetahui juga rahasia itu, dan merasa wajib
untuk melindunginya”
“apakah bukan karena Kuda Rupaka sendiri mempunyai pamrih seperti kita dan
murid-murid dari perguruan Kumbang Kuning itu?”
“Kita tidak tahu dengan pasti, tetapi yang jelas, bahwa Kuda Rupaka merupakan
penghalang yang paling berat, kita dapat mengesampingkan yang lain dengan
kekerasan atau dengan diam-diam mendahului memasuki istana itu, tetapi Raden
Kuda Rupaka ada di istana itu”
Orang berjanggut itu menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian “Baiklah
Wereng, sementara kita akan mengawasi saja jalan menuju ke istana kecil itu,
bukan hanya kita yang mengalami kesulitan memasuki istana itu, tetapi juga
murid-murid dari Kumbang Kuning akan menghadapi kekuatan yang mungkin tidak
tertembus “ Orang itu berhenti sejenak, lalu “Tetapi Cengkir Pitu adalah
perguruan yang tidak banyak berhubungan dengan para bangsawan di Majapahit,
adalah agak aneh jika kau mengatakan bahwa Kuda Rupaka mempunyai ilmu dari
perguruan Cengkit Pitu”
“Bukan saja ilmu dari perguruan Cengkir Pitu, tetapi menurut pengakuan mereka,
Raden Kuda Rupaka mempunyai batu akik Jumerut Sisik Waja, dan kawannya yang
bernama Panji Sura Wilaga mempunya akik Naga Keling”
Orang berjanggut dan berambut putih itu berkata “Kedua akik itu memang
menunjukkan cirri dari perguruan Cengkir Pitu, hanya orang-orang terpercaya saja
dari perguruan itu yang dapat benda-benda yang mendapat benda-benda yang
memiliki pengaruh atas orang yang memakainya”
“Dan selebihnya Kiai, orang yang mengaku memiliki cula Kumbang Kuning bermata
berlian itu mengetahui dengan pasti bahwa Kiai Sekar Pucang yang sekarang ini
sama sekali bukan Kiai Sekar Pucang pendiri perguruan Guntur Geni”
“Gila, tetapi itu dapat dimengerti, menurut gelar lahirian sebagai seorang
manusia tidak akan dapat hidup sampai ratusan tahun”
“Gagak Wereng termangu-mangu sejenak, Namun iapun bertanya denga ragu-ragu,
“Kiai, sebenarnyalah bagiku murid dari perguruan Guntur Geni sendiri, merasa
selalu dihadapkan pada sebuah teka-teki, kami tidak pernah dapat mengatakan
dengan pasti apakah Kiai Sekar Pucang itu masih ada atau Guntur Gen mempunyai
guru yang nunggak semi bernama Sekar Pucang pula”
“Gila” desis orang yang dipanggil kiai itu “seharusnya kau tidak bertanya
demikian, kiai Sekar Pucang adalah orang yang tidak berhubungan dengan waktu, ia
telah berhasil melepaskan dari peredaran masa, sehingga ia tidak terikat lagi
geseran hari, bulan dan tahun.
“Maksud Kiai”
“Kau memang dungu, Kiai Sekar Pucang tidak akan pernah mengalami masa akhir dari
hidupnya karena umur, berapa ribu tahun sekalipun
tidak akan merenggut nyawanya, ia akan hidup sepanjanga jaman, seandainya
ia hanya berhadapan dengan tahun-tahun dan bahkan abad”
“Aku tidak mengerti Kiai”
“Wereng, aku adalah murid yang terdekat saat ini, aku tidak dapat mengatakan
siapakah muridnya yang terdekat seratus tahun yang lalu, karena umurku belum
seratus, karena itulah maka, aku adalah orang yang paling banyak mengetahui
mengenai dirinya, bukankah aku sudah pernah, dan berkali-kali memberitahukan
kepadamu bahwa Kiai Sekar Pucang harus mengurung diri dalam tempat terasing dan
di rahasiakan”
“Ya, ya Kiai, namun karena itulah, maka timbullah pertanyaan di hati ketika aku
mendengar kata-kata orang yang menyebut dirinya murid dari perguruan Kumbang
Kuning itu”
“Kau sudah terpengaruh olehnya, memang ajar Sokaniti tidak mampu melepaskan
dirinya daro sentuhan waktu, sehingga pada umur delapan puluh tahun lebih
sedikit, ia sudah meninggal kerena sakit, He… Gagak Wereng, ternyata betapa
tinggi ilmu Ajar Sokaniti, namun ia harus mengalah melawan umurnya, dan hal ini
tidak akan terjadi atas Kiai Sekar Pucang.”
“Tetapi kenapa justru Kiai Sekar Pucang harus berada di tempat yang tertutup dan
rahasia?”
Istana Yang Suram
Bab 10
“Gagak Wereng, setiap orang memiliki kelemahannya masing-masing, karena kau
murid Guntur Geni yang sedang dicengkam oleh keragu-raguan, maka kau boleh
mengerti serba sedikit, juga sebagai imbalan kesetiaanmu, meskipun hampir saja
orang dari Kumbang Kuning itu merenggut nyawamu” Orang tua itu berhenti sejenak,
lalu “Dengarlah, Kiai Sekar Pucang
bukannya orang yang tidak dapat mati, ia hanya dapat membebaskan diri dari
perjalanan waktu, karena itu agar ia tidak terbunuh karena suatu yang terjadi
pada tubuhnya, maka ia selalu mengasingkan diri, jelasnya Kiai Sekar Pucang
belum berhasil memecahkan ilmu kekebalan yang sempurna, karena itu, maka
bagaimanapun juga, masih ada kemungkinan untuk membunuhnya. Itulah sebabnya ia
harus mengasingkan dirinya, waktunya sepenuhnya dipergunakannya antuk memecahkan
ilmu kebal dengan sempurna.
“Sudah berapa tahun Kiai Sekar Pucang itu mengasingkan diri Kiai?”
“Aku tidak ingat lagi waktu itu aku berguru pertama kali, aku masih sempat
mendapat tuntunan langsung dari beliau, kemudian, perlahan-lahan ia membiarkan
aku menyempurnakan ilmuku sampai pada satu tingkatan, bahwa aku berhak untuk
menggantikannya, memberikan ilmu kepada adik-adik seperguruanku, kepadamu,
kepada yang lain-lain, murid-murid Kiai Sekar Pucang yang belum pernah melihat
wajah gurunya” Orang itu termenung sejenak, lalu “Namun pada suatu saat, jika
ilmu itu sudah dipecahkannya, kita semua akan menjadi orang-orang yang kebal,
perguruan kita tentu akan menguasai seluruh tanah Majapahit yang telah jatuh
itu, bahkan dengan kekuatan yang tidak terkalahkan kita akan bergerak terus
keujung bumi”
Gagak Wereng mengangguk-angguk, meskipun masih ada berbagai keragu-raguan
didalam hatinya, namun ia tidak bertanya lagi, Ia menganggap bahwa untuk
sementara keterangan itulah yang paling naik baginya, dengan demikian ia masih
mempunyai kiblat arah berguru, jika ia sudah kehilangan kepercayaan tentang Kiai
Sekar Pucang yang belum pernah dilihatnya itu, maka ia akan kehilangan ikatan
dan merasa dirinya terlepas dari sarangnya Perguruan Guntur Geni.
“Nah, kau beristirahatlah baik-baik, kita harus segera kembali ke Karangmaja,
Rahasia Istana itu memang sudah diketahui oleh perguruan Kumbang Kuning, dan
mungkin juga Cengkir Pitu, sehingga kedatangan Kuda Rupaka memang harus
dicurigai”
“Apakah aku harus ikut kembali?”
“Kau sudah banyak mengetahui tentang Karangmaja, meskipun tubuhmu belum pulih
kembali, kau harus ikut, jika kita menemui kesulitan diperjalanan, kau tidak
usah ikut campur, kau akan dilindungi oleh saudara seperguruanmu”
“Baiklah Kiai, tetapi kapan kita akan berangkat ke Karangmaja?”
“Segera, yang penting adalah pengawasan itu terlebih dahulu, kita tidak langsung
berada di padukuhan itu sendiri, kita akan berada beberapa ratus tonggak dari
istana itu, diatas bukit kecil yang banyak terdapat di sekitar Karangmaja, tentu
tanpa diketahui baik oleh Kuda Rupaka ataupun oleh orang-orang dari Kunmbang
Kuning”
“Kita akan tinggal di bukit itu?”
“Kita melihat perkembangan keadaan”
Gagak Wereng tidak bertanya lagi, rasa-rasanya malas sekali untuk kembali lagi
ke Karangmaja, di padukuhan itu ternyata terdapat beberapa pihak yang akan
saling berbenturan”
Namun Gagak Wereng tidak akan dapat ingkar, orang Orang berjanggut dan berambut
putih yang bernama Kiai Paran Sanggit itu adalah wakil
dari gurunya yang belum pernah dilihatnya.
Karena itu, maka iapun mempersiapkan dirinya pula, untuk kembali ke daerah yang
nampaknya sedang menjadi pusat perhatian beberapa pihak dengan maksud dan tujuan
yang sama.
“Gagak Wereng, jika orang dari perguruan Kumbang Kuning berbenturan lebih dahulu
dengan orang-orang dari Cengkir Pitu, maka keduanya akan menjadi lemah, kita
akan datang kemudian membinasakan keduanya sama sekali, agaknya yang telah
terjadi adalah suatu keasalahan, bahwa kitalah yang telah berbenturan lebih
dahulu, sehingga orang Kumbang Kuning itu ingin memanfaatkan keadaan, meskipun
pada mulanya, ia membantu orang-orang Cengkir Pitu”
“Agaknya memang demikian Kiai, tetapi saat itu, kami tidak mengetahui bahwa ada
orang-orang dari Kumbang Kuning yang hadir di padukuhan Karangmaja dan kamipun
tidak tahu bahwa kedua bangsawan itu adalah murid-murid dari Cengkir Pitu”
“Baiklah, kita harus memanfaatkan pengalaman itu, dan kita akan datang tidak
hanya dengan tiga orang, tetapi enam orang seluruhnya yang berada disini harus
mendekati Karangmaja, kita akan bergerak di malam
hari dan memilih tempat yang jarang sekali didatangi oleh gembala-gembala
dari Karangmaja dan sekitarnya. Semua bekal makanan akan kita bawa”
“Baiklah Kiai, mudah-mudahan
tubuhkupun segera pulih, sehingga aku tidak hanya sekedar beban saja, tetapi
setidak-tidaknya aku akan dapat melindungi diriku sendiri”
Ternyata orang-orang dari Perguruan Guntur Geni yang dipimpin langsung oleh Kiai
Parang Sanggit itu tidak menyia-nyiakan waktu, yang mereka lakukan adalah tugas
yang berat dan besar, karena itu, maka semua harus dilakukan dengan taruhan yang
paling besar, yaitu kehadiran Kiai Paran Sanggit, yang merupakan murid
terpercaya dari perguruan Guntur Geni, sedang pimpinan tertinggi yang mereka
sebut dengan Kiai Sekar Pucang, sama sekali tidak pernah menampakkan diri,
bahkan juga kepada murid-murid yang terpercaya.
Selagi orang-orang dari Guntur Geni mulai dengan persiapan perjalanannya menuju
kesebelah bukit di dekat istana kecil di luar padukuhan Karangmaja itu, maka
jauh dari daerah pegunungan seribu, seorang pertapa sedang duduk menghadapi
satu-satunya muridnya, seorang pertapa yang cacat kaki dan tangannya, sehingga
secara badaniah, ia mengalami banyak kesulitan, untuk bergerak ia harus berjalan
dengan tongkat, setapak demi setapak, tangan kirinya mengalami cidera, dan
hampir tidak mempunyai kekuatan lagi untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
Namun demikian, dari wajahnya masih tetap memancar cahaya kebesaran jiwa dan
kepribadiannya, sepasang matanya yang tajam menyimpan pertanda, bahwa banyak
ilmu yang dikuasinya, ilmu kanuragan, kejiwaan bahkan ilmu kesusteraan.
Namun karena cacat badannya, ia tidak lagi mampu berbuat banyak dalam hal
kanuragan, itulah sebabnya di tempat terpencil, di ujung jurang di lereng gunung
lereng gunung Merbabu.
Dihadapannya, seorang anak muda duduk bersila sambil menundukkan kepalanya,
menunggu perintah apa yang harus dilakukan.
Namun agaknya sikap gurunya kali agak berbeda dari hari-hari sebelumnya, namun
kesempatan bagi muridnya untuk mengenal lebih dekat, behkan sekali-kali pertapa
yang cacat itu masih juga sempat bergurau, tidak saja dengan muridnya, tetapi
juga dengan orang tua muridnya itu.
Tetapi kali ini gurunya nampak bersungguh-sungguh, sehingga karena itu,
timbullah perasaan aneh dihatinya, sehingga dadanya menjadi berdebar-debar.
“Panos Suka” panggil pertapa itu.
Anak muda yang duduk di hadapannya mengangkat wajahnya perlahan-lahan terdengar
suaranya ragu “Ya guru”
“Dimanakah ayahmu?, beberapa hari ini ia tidak berkunjung kemari?”
“Agaknya ayah berada di sawah guru, hujan di lereng gunung membuat arus air
menjadi deras, ayah harus menjaga agar air itu tidak merusak batang padi yang
baru ditanam”
Gurunya mengangguk-angguk, lalu katanya “Panon, jika ayahmu tidak berkeberatan,
aku akan menyerahkan satu tugas yang berat bagimu, karena itu aku ingin
berbicara dengan ayahmu”
Panon menjadi semakin heran, dengan bimbang ia bertanya “Guru, bukankah selama
ini ayah menyerahkan segala-galanya kepada guru?, akupun merasa berbahagia jika
guru telah mempercayakan satu tugas bagiku, aku rasa ayahpun demikian juga”
Tetapi gurunya menggeleng, katanya “Tetapi tugasmu kali ini akan sangat berat,
karena itu aku harus berbicara dahulu dengan ayahmu, kau adalah anak laki
satu-satunya, tentu kau merupakan harapan bagi masa depannya”
Panon bertambah heran, tetapi karena gurunya yang bersungguh-sungguh, ia tidak
berani bertanya lagi.
“Baiklah guru, aku akan pergi sejenak memanggil ayah”
“Tidak terlampau tergesa-gesa, jika pekerjaan di sawah belum selesai, biarlah ia
menyelesaikannya, nanti jika ayahmu sudah selesai dan beristirahat barang
sejenak, biarlah ia datang kemari”
Panon mengangguk dalam-dalam, lalu iapun bergeser sambil berkata “Baiklah guru,
aku akan menyampaikannya”
Perlahan-lahan Panon meninggalkan gubug terpencil di luar padukuhan, gubug yang
dibuat oleh ayah Panon di pinggir lereng yang curam, tetapi tempat itulah yang
telah dibangun oleh pertapa itu untuk tinggal, ia dapat hidup menyepi, tetapi
tidak terputus hubungannya sama sekali dengan kehidupan yang wajar, meskipun ia
tidak dapat hadir dalam kehidupan yang demikian karena cacatnya”
Sepeninggal Panon, pertapa itu merenung sejenak, dipandangnya pepohonan perdu di
luar gubugnya, warna hijau yang segar mengkilap disentuh okeh sinar matahari,
dikejauhan terdengar suara burung berkicau bersahut-sahutan, sambil berloncatan
didahan pepohonan.
Pertapa itu menarik nafas dalam-dalam, sekilas terkenang masa lampaunya yang
panjang dan penuh dengan gejolak kehidupan, sehingga pada suatu saat ia telah
terlempar ketempatnya yang sekarang, benar-benar terlempar seperti arti katanya,
ia terlempar dari atas tebing dan berguling jatuh ke dalam jurang.
Pertapa itu mengerutkan keningnya ketika kenangannya membentur pada masa-masa ia
tidak sadarkan diri, bahkan serasa bahwa ia memang sudah mati.
Tetapi tiba-tiba pertapa itu terkejut ketika ia mendengar langkah kecil
mendekati gubugnya, sejenak kemudian muncullah seorang gadis kecil di depan
pintu, gadis kecil yang sudah di kenalnya dengan baik.
Pertapa itu berdesah, katanya “Kau memang nakal, kau tentu kemari seoroang diri”
Gadis kecil itu tersenyum, selangkah ia maju mendekati pertapa itu sambil
bertanya “Apakah Kakang Panon ada disini?”
“Kemarilah” desis pertapa itu.
Gadis itu memang sudah biasa datang ke gubug itu, karena itu maka iapun tidak
segan lagi terhadap pertapa tua dan cacat itu, dengan lincahnya ia berlari dan
duduk diatas pangkuan pertapa tua itu yang menyeringai sejenak, menahan sakit
kakinya, tetapi iapun kemudian tersenyum,
“Kau nakal sekali, kenapa kau datang lagi kemari seorang diri?”
“Aku mencari kakang Panon, bukankah ia selalu berada disini?”
“Kakangmu baru saja pulang, kau akan dicari oleh ibumu”
“Ibu ke pasar”
“Ayahmu?”
“Ayah ke sawah”
“Mbakyumu?
“Ia ikut ibu ke pasar, aku sendiri di rumah, karena itu aku aku mencari kakang
Panon disini”
“Kau nakal sekali, kalau begitu, kau tentu sedang menjaga rumah, kenapa rumahmu
kau tinggalkan?”
“Aku tidak mau di rumah sendiri kek”
“Nuri” desis pertapa itu.
“Kek, namaku bukan Nuri, namaku Wuyung”
Pertapa itu tertawa, katanya “Namamu memang Wuyung, tetapi mulutmu ini selalu
berkicau seperti burung Nuri, aku lebih senang memanggilmu Nuri”
Gadis kecil itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab.
“Nuri” pertapa itu mengulang “Atau lengkapnya Nuri Wuyung atau Wuyung Nuri,
kenapa rumahmu kau tinggalkan?, nanti rumahmu itu dibawa oleh seekor siput, kau
pernah melihat siput?”
“Ah, bohong, siput hanya sekecil ibu jari”
“Dipuncak Gunung Merbabu itu ada seekor siput raksasa, siput yang sering
mengambil rumah yang ditinggalkan penghuninya”
Gadis kecil itu mengerutkan keningnya, sejenak ia berpikir, namun tiba-tiba ia
berkata ragu-ragu “Tetapi, tetapi seekor siput sudah membawa rumahnya sendiri
kemana-mana, ia tidak memerlukan rumah lagi”
Pertapa itu tertawa, sambil mengusap rambut gadis kecil itu ia berkata “Kau
memang pandai, siput memang sudah membawa rumahnya sendiri”
“Karena itu rumahku tidak akan hilang”
“Tetapi jalan menuju kemari dari rumahmu adalah berbahaya sekali, bukankah kau
berjalan di sepanjang pematang, kemudian menuruni tunggul dan tebing yang
curam?”
“Aku dapat meluncur sambil duduk”
“Nah, bagaimana jika kainmu tersangkut duri, Ooo, bukan kainmu saja, tetapi
kulit kakimu?”
“Ternyata tidak apa-apa”
“Kalau tiba-tiba muncul seekor ular bandotan yang berwarna hitam kelam dari
dalam semak-semak bagaimana?”
“Kakang Panon juga sering menakut-nakuti aku dengan ular bandotan, tetapi aku
tidak pernah diganggu, sekali aku pernah melihatnya meyelusur kedalam semak, dan
aku juga pernah melihat weling”
Pertapa itu menarik nafas, katanya “Kau memang nakal, kau harus tinggal disini
sampai kakakmu atau ayahmu datang kemari”
“Aku berani pulang sendiri kok”
“Kau tinggal disini saja anak nakal, He Nuri, apakah kau dapat berdendang?”
“Ah, Aku pulang aja ah”
“Tunggulah dulu, kawani aku disini sebentar”
“Aku mau tinggal disini, tetapi tangkaplah burung podang buatku, aku mencari
kakang Panon, karena kakang Panon sanggup untuk menangkap podang yang sedang
bersiul di ujung batang jambe di pinggir padukuhan”
“Ah, kau ini aneh-aneh saja”
“Jika kakek tidak mau, aku akan pulang”
“Bagaimana jika tidak ada burung podang disini?”
“Burung jalak atau kutilang atau menco juga jadi”
“Baiklah Nuri, tetapi janji, jangan dibunuh dan jangan diikat, setelah kau puas
bermain-main, maka burung itu harus kau lepaskan lagi”
“Aku akan memeliharanya kek”
“Tidak perlu, biarlah burung itu terbang bebas di udara, kau dapat mendengarkan
mereka besiul di setiap pagi dengan riang”
“Di dalam sangkar burung juga dapat bersiul”
“Dengarlah Nuri, tetapi lagunya berbeda, jika ia bebas di udara, maka lagunya
tentu lagu riang, tetapi jika ia bersiul di dalam sangkar, maka lagunya adalah
lagu duka”
Gadis kecil itu merenung sejenak, namun iapun kemudian meloncat berdiri
sambil,berkata “Baiklah kakek, aku akan bermain-main dengan burung itu disini
saja, nanti, burung itu akan aku lepaskan kembali”
Pertapa itu mengangguk-angguk katanya “Bagus, tetapi kau janji bukan?”
“Aku janji, sekarang kakek menangkap seekor burung buatku”
Pertapa itupun kemudian berdiri tertatih-tatih, ia berjalan dengan tongkatnya
dari gubugnya yang terpencil.
Gadis itu memandangnya dengan sorot mata yang keheran-heranan, agaknya pertapa
itu memakluminya kerena itu sambil tersenyum ia berkata “Mudah-mudahan kakek
dapat menangkap seekor burung yang dapat terbang seperti angin”
“Bagaimana kakek dapat menangkapnya?” bertanya gadis itu kemudian.
Pertapa itu tidak menyahutnya, tetapi selangkah demi selangkah iapun akhirnya
sampai keluar gubugnya.
“Jika ada burung yang hinggap dihalanan gubugku Nuri, aku akan menangkap
untukmu”
Gadis kecil itu masih
terheran-heran, tetapi ia tidak bertanya lagi.
Beberapa saat lamanya menunggu, namun akhirnya seekor burung jalak urea terbang
rendah dan hinggap diatas sebatang pohon dadap yang tumbuh dengan rimbunnya.
“Kau lihat burung itu?”
Gadis itu mencari sejenak, kemudian iapun berkata “Ya, kakek burung itu”
“Jangan lupa janjimu, Kau akan melepaskannya kembali, bukankah begitu?”
“Ya…”
Pertapa itupun kemudian memungut sebutir kerikil yang kecil sekali, tidak lebih
dari sebutir buah wuni, kemudian kerikil itu dimasukkan kedalam mulutnya.
Namun ia masih berkata “Nuri sudah berjanji”
Tiba-tiba saja pertapa itu menyemburkan kerikil dimulutnya itu, hampir tidak
masuk akal, bahwa tiba-tiba burung yang bertengger didahan pohon dadap itupun
terjatuh ke tanah.
“Nah, burung itu sudah jatuh Nuri”
“Apakah burung itu mati kek?”
“Tidak, burung itu tidak mati, tetapi sekedar pingsan, sebentar lagi burung itu
akan segera sadar lagi, nah ambillah, dan bermainlah dengan burung itu sambil
menunggu kakakmu datang”
Gadis kecil yang bernama Wuyung itupun kemudian berlari-lari mengambil burung
yang pingsan itu, kemudian iapun berlari ke pakiwan dan menitikkan beberapa
tetes air ke paruh burung itu, sehingga sejenak kemudian burung itupun menjadi
sadar.
Tetapi dalam pada itu, gadis itu
sudah melupakan, bagaimanakah caranya pertapa itu mendapatkannya bahwa dengan
sebuah tiupan, burung itupun jatuh dari dahan pohon dadap.
Pertapa itu tersenyum melihat Wuyung dengan asyiknya bermain-main dengan seekor
burung jalak urea, namun setiap kali Wuyung mengerutkan dahinya, karena burung
itu selalu meronta-ronta.
“Kek, burung ini nakal sekali”
katanya
Pertapa itu tersenyum, katanya “itu adalah nalurinya, Nuri, Ia ingin bebas
terbang di udara, bermain bersama angin yang lembut, kau lihat burung yang
terbang itu, betapa senangnya dia”
Wuyung mengadahkan kepalanyaa. Lalu “Alap-alap, burung itu Alap-alap kek”
“Ya…”
“Ooo, kalau begitu jalak ini harus bersembunyi, jika tidak maka burung ini akan
disambarnya”
Pertapa itu mengangguk-angguk “Seperti di hutan, Nuri, maka di udarapun berlaku
hukum kekuatan itu, siapa yang lemah
akan menjadi mangsa yang lebih kuat”
“Apakah dimana-mana juga begitu kek?”
“Tidak Nuri, kita manusia tidak berbuat demikian, kita mempunyai
pertimbangan-pertimbangan lain dari kekuatan jasmaniah, kita mempunyai perasaan
yang mengandung berbagai macam sentuhan, kita dapat menjadi kasihan terhadap
sesama jika kita melihat penderitaan lahir maupun batin, kita dapat menimbang
manakah yang baik dan yang manakah yang buruk, dan kita memiliki rasa keadilan
dan keseimbangan”
Wuyung mamandang pertapa itu dengan tatapan yang aneh, sehingga akhirnya pertapa
itu tertawa.
“Kenapa kakek tertawa?”
“Aku sedang menggigau, kau tentu tidak tahu apa yang aku katakana, tetapi tidak
apa, kelak kau akan menjadi besar, dan kau kan mulai mengetahui dengan
sendirinya” kakek itupun kemudian tertatih-tatih berjalan mendekati gadis itu,
“Marilah, masuklah, barangkali aku masih mempunyai kelapa muda dan segumpal gula
kelapa, kau senang kelapa muda bukan?, jika kebetulan aku tidak mempunyai, kau
selalu bertanya”
“He, apakah kakek dapat memanjat pohon kelapa?”
“Kenapa?”
“Berjalanpun agaknya kakek harus memakai tongkat”
Pertapa itu tertawa, jawabnya “Kakakmu, Panon yang memanjat pohon kelapa itu”
Wuyungpun kemudian mengikut pertapa itu ke gubugnya, bahkan ia berusaha untuk
menggandeng kakek yang berjalan tertatih-tatih itu sambil berkata “Hati-hati
kek, nanti kakek jatuh tersandung tlundak pintu, seharusnya kakang Panon
memperbaiki pintu rumah kakek” ia berhenti sejenak, lalu “Kenapa kakek tinggal
sendiri disini? Kadang-kadang ibu bertanya kepada ayah, kenapa kakek tidak
tinggal bersama kami saja?, kakek tidak perlu menanak nasi dan mencuci pakaian
sendiri”
Petapa itu tersenyum, katanya “Aku tidak pernah menanak nasi, Nuri”
Wuyung mengerutkan keningnya, ia menjadi heran mendengar jawaban kakek pertapa
itu, sehingga kemudian iapun bertanya “Jika kakek tidak menanak nasi, apa yang
kakek makan? Atau barangkali kakang Panon yang menanak nasi untuk kakek?”
Orang tua itu tertawa, katanya “Kakek tidak makan nasi, kakek makan jenis
makanan yang lain”
“Ketela pohon? Jagung ?”
Kakek itu tidak menjawab, tetapi ia masih saja tersenyum.
“Jika kakek merebus jagung atau ketela pohon, bukankah hampir saja sibuknya
dengan menanak nasi?”
Pertapa itu menggeleng, tetapi katanya kemudian “Sudahlah Nuri, jangan risaukan
kakek, sekarang bermainlah di dalam gubug ini saja, jangan pergi sebelum kakamu
datang”
“Kakek akan kemana?”
“Aku tidak kemana-mana, aku akan duduk dipintu menunggu kakakmu dan ayahmu”
Wuyung yang dipanggil Nuri oleh pertapa tua itu tidak menjawab, iapun kemudian
duduk diatas amben bambu sambil bermain-main dengan burung di tangannya, namun
kemudian iapun menjadi jemu dan bangkit “Kakek, aku akan melepaskan burung ini”
Kakek pertapa yang duduk di muka pintu itupun berpaling sambil berkata “Bagus,
jika terlalu lama kau pegang, maka, burung itu akan menjadi sangat bersedih”
Wuyungpun kemudian berlari ke pintu, disisi pertapa itu iapun kemudian duduk
sambil berkata “Aku akan melepaskannya ke udara, kek apakah burung itu akan
menjadi gembira?”
“Tentu Nuri, setiap kebebasan akan disambut dengan gembira”
“Tetapi kek, sebenarnya burung yang dipelihara di dalam sangkar itu, tentu
merasa lebih senang, ia tidak usah mencari makan dan terlindung dari bahaya,
dari alap-alap misalnya, atau dari anak-anak nakal yang bermain dengan tulup”
“Nampaknya memang begitu Nuri, tetapi kebebasan harganya lebih mahal dari
makanan sehari-hari, atau bahkan kebebasan kadang-kadang harus dituntut dengan
mempertaruhkan nyawa, meskipun kebebasan itu sendiri bukannya berarti berbuat
sekehendak hati, karena justru setelah kebebasan itu dapat dicapai, maka yang
dihadapi kemudian adalah sebuah tertanggungan jawab, misalnya burung itu harus
mencari makan dan melindungi dirinya dari bahaya”
Wuyung mengerutkan keningnya, nampaknya ia tidak dapat mengerti kata-kata kakek
pertapa itu, meskipun kemudian mengangguk-angguk, tetapi sambil tersenyum kakek
itu berkata “Nah, cobalah, lepaskan burung itu, ia akan segera terbang ke langit
biru dan terbang di sinarnya matahari yang nyaman, ia akan segera berdendang
melagukan pujian karena kebebasannya”
Wuyung memandang pertapa itu sejenak, namun kemudian iapun berdiri di halaman,
sesaat ia termangu-mangu, dipandanginya burung di tangannya dan langit yang biru
yang terbentang diatas tanah pegunungan.
“Aku lepaskan sekarang ya kek?” Wuyung bertanya
Kakek itu mengangguk.
Wuyungpun kemudian melepaskan burung itu ke udara, sesaat kemudian burung itupun
mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi dengan tanpa berpaling.
Wuyung termangu-mangu sejenak, namun kemudian iapun tertawa sambil berlari
mendapatkan kakek pertapa yang duduk di muka pintu.
“Kek, burung itu terbang tinggi ke langit biru”
Pertapa itu tersenyum, katanya “Nah, bukankah burung itu dengan riang kini
berputaran di udara”
Wuyung mengangguk-angguk, nampaknya ia masih akan bicara lagi, tetapi mulutnya
yang sudah menganga itupun terkatup kembali ketika ia mendengar suara ayahnya
“Aku sudah menduga kau disini Wuyung?”
Wuyung berpaling, dilihatnya ayahnya berjalan diantara tanaman di kebun di
samping gubug itu.
Wuyung meloncat dan berlari mendapatkan ayahnya sambil berkata lantang “Baru
saja kakek menangkap burung buatku”
Ayahnya tersenyum, lalu dibimbingnya anak gadisnya kembali ke gubug itu sambil
berkata “Tetapi lain kali, jangan pergi sendiri Wuyung”
“Aku di rumah sendiri”
“Justru kau sendiri, kau harus menjaga rumah”
“Wuyung memberengut, tetapi ia tidak menyahut lagi.
Ternyata ayah Wuyung tidak datang seorang diri, di belakangnya Panon Suka
mengikutinya dengan ragu, agaknya ia masih dicengkam oleh berbagai pertanyaan
tentang sikap gurunya
dan apalagi gurunya telah minta kepadanya untuk memanggil ayahnya.
“Tanpa dipanggilpun ayahnya selalu datang” katanya di dalam hati”
Tetapi Panon tidak sampai ikut masuk ke dalam gubug itu, karena gurunyapun
kemudian berkata “Panon, antarkan adikmu pulang, nanti ibu dan kakaknya gelisah
karena anak itu pergi”
Panon mengangguk sambil menjawab “Baik guiru”
Tetapi nampaknya Wuyung masih segan untuk pulang, meskipun ia tidak mengelak
kakaknya membimbing tangannya dan membawanya meninggalkan gubug itu.
Namun agaknya masih ada beberapa persoalan yang mengganggu pikiran kecilnya,
sehingga ia tidak dapat menahannya lagi, dan menanyakannya kepada Panon,
“Kakang, apakah yang dimakan oleh kakek pertapa itu?, katanya ia tidak pernah
menanak nasi”
Panon memandang adiknya sejenak, lalu berkata “Kenapa kau tanyakan hal itu?”
“Kakek mengatakan, bahwa ia tidak pernah menanak nasi dan memang ia tidak pernah
makan nasi?”
“Panon mengangguk, jawabnya “Kakek pertapa itu memang tidak pernah makan nasi
Wuyung, yang dimakannya adalah empon-empon disamping sebangsa garut dan lembong”
“Hanya itu?”
“Dan cabe, cabe rawit”
“Ya, aneh sekali”
“Sudahlah, kau tidak usah memikirkannya, kakek pertapa itu tentu sudah mempunyai
maksud tertentu dengan caranya itu”
“Aneh sekali” Gadis itu termangu-mangu sejenak, namun tiba-tiba ia teringat cara
pertapa itu menangkap burung, karena itu, maka katanya “Kakang, kakek itu
menangkap burung dengan cara yang aneh, Ia memasukkan kerikil kecil sekali ke
dalam mulutnya, kemudian, dengan sebuah hembusan, kerikil itu dapat membuat
seekor burung menjadi pingsan, aku pernah melihat cara yang hampir serupa,
tetapi orang lain mempergunakan tulup dan lempung”
Bab 11
Panon Suka tertawa, sambil menarik tangan adiknya agar gadis kecil itu berjalan
lebih cepat ia berkata “Marilah, ibu tentu sudah pulang dari pasar, apakah kau
tidak pesan oleh-oleh?”
“Tentu ibu akan membeli tiga bungkus hawug-hawug”
Panon tidak bertanya lagi, Ia mengajak adiknya mendaki tebing yang curam,
kemudian meloncati parit dan berjalan di sepanjang tanggul.
“Aneh” katanya dalam hati. Adikya yang masih kecil itu nampaknya tidak merasa
lelah, ada sesuatu yang lain padanya.
Tetapi Panon tidak mengatakannya, ia berjalan saja semakin lama semakin cepat.
Dan Wuyungpun berlari-lari kecil di sampingnya.
Dalam pada itu, sepeninggal Panon Suka dam Wuyung, pertapa tua itupun
mempersilahkan ayah Panon masuk ke dalam gubugnya, setelah mereka duduk berdua,
maka pertapa tua itupun segera mulai dengan kepentingannya, kenapa ia memanggil
ayah Panon datang kepadanya.
“Adi” berkata pertapa itu “Sebenarnya Panon Suka masih terlampau muda untuk
melakukan tugas ini, tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain, dari segi olah
kanuragan dan kajiwan, aku menanggap bahwa ia sudah cukup mampu untuk melindungi
dirinya meskipun baru dalam waktu yang singkat aku membimbingnya, ia memiliki
banyak kelebihan secara alamiah yang dibawanya sejak ia lahir, sehingga ilmu
yang aku berikan dengan keadaan jasmaniku yang cacat ini, segera dapat dipahami
dan dihayatinya, meskipun dengan hanya petunjuk-petunjuk lisan dan sedikit
contoh-contoh yang tidak berarti, kini Panon Suka telah menjadi seorang yang
memiliki ilmuku hampir seluruhnya”
“Tuan, eh, kakang Wirit semuanya aku serahkan kepadamu, aku percayakan anak itu
seluruhnya lahir dan batinnya”
Petapa itu tertawa, katanya “Sudah sekian lamanya kita bergaul, Adi masih saja
sering keliru, menyebut namaku” Ayah Panon tersenyum dan menunduk.
“Adi, Panon adalah anak laki-lakimu satu-satunya, karena itu aku akan minta
ijin, apakah Panon Suka diperkenankan untuk menggantikan aku yang sudah cacat
ini?”
Ayah Panon menjadi heran, ia tidak segera mengerti maksud pertapa yang
disebutnya kakang Wirit itu, karena itu, maka dengan ragu-ragu ia bertanya “Aku
tidak mengerti maksudmu kakang, apakah Panon harus menggantikan kedudukanmu
sebagai pertapa di lereng gunung ini?, atau kedudukan yang lain?”
“Adi, ada sesuatu yang penting yang harus aku lakukan, dan yang seharusnya aku
lakukan itu, terhalang oleh keadaan jasmaniahku yang cacat sekarang ini”
Ayah Panon menarik nafas dalam-dalam, kemudian dengan nada datar ia berkata
“Maksud kakang, apakah Panon harus menuntut balas atas peristiwa yang pernah
terjadi atas kakang Wirit beberapa tahun yang lalu itu?”
“Tidak sama sekali, tidak” Sahut Wirit dengan tergesa-gesa, “Aku sama sekali
tidak bermimpi untuk membalas dendam”
“Jadi tugas apakah yang harus dilakukan oleh Panon?”
“Adi, aku minta ijin untuk memberikan suatu tugas yang berat, ia harus
meninggalkan lereng gunung yang hijau ini dan pergi ketempat yang jauh?
“Kemana?”
“Ke Pegunungan Sewu”
“Pegunungan Sewu? Jadi ke dinding selatan dari pulau ini?” Wirit
mengangguk-angguk.
Ayah Panon menarik nafas dalam-dalam, bagaimana juga terasa sesuatu bergetar
didadanya, karena Panon adalah anak laki satu-satunya, kedua saudaranya yang
lain adalah perempuan semuanya.
“Meskipun demikian Adi, aku menunggu keputusanmu” berkata pertapa itu
selanjutnya “Aku adalah guru Panon Suka, tetapi kau adalah ayahnya, adalah salah
bahwa seorang guru merasa lebih berhak atas muridnya dari pada ayah anak itu
sendiri, keduanya seharusnya memiliki tanggung jawab bersama didalam bidangnya
masing-masing serta mendasarinya dengan budi pekerti yang baik, sesuai dengan
darma seseorang terhadap sesama dan baktinya terhadap Yang Maha Pencipta” Ia
berhenti sejenak, lalu “karena itulah, dalam penyerahan tugas dan tanggung jawab
kali ini, akupun minta pertimbanganmu, katakanlah dengan jujur menurut kata
hatimu, apakah kau dapat melepaskan anak lakimu satu-satunya itu”
Ayah Panon termenung sejenak, angan-angannya mulai merayap kedalam bayangan yang
harus dilakukan oleh anaknya di Pegunungan Sewu.
“Kakang Wirit” Iapun berkata kemudian “Kau belum mengatakan tugas yang kau
bebankan kepada anakku itu”
“Ya, aku belum mengatakannya “ Wirit termenung sejenak, lalu “Adi, di daerah
Pegunungan Sewu, tepatnya di daerah yang bernama Karangmaja, terdapat sebuah
istana kecil yang dibuat oleh Pangeran Kuda Narpada”
“Jadi…..” desis ayah Panon.
“Aku belum selesai” berkata Wirit, “Aku ingin minta Panon Suka untuk pergi ke
istana kecil itu, ada sesuatu yang penting harus dilakukan Panon di dalam istana
kecil itu”
Ayah Panon mengangguk-angguk, sementara Wirit berkata lebih lanjut “Adi, tugas
itu memang berat, aku tidak tahu apakah yang akan dihadapinya, dan aku tidak
tahu keadaan istana itu sekarang, mungkin istana itu sudah musnah, mungkin masih
ada, dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas
istana yan dibuat oleh Pangeran Kuda Narpada itu”
“Ya…” berkata Ayah Panon “Istana itu tentu sudah beberapa tahun ditinggalkannya”
Wirit menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian “Perjalanan Panon ke
Pegunungan Sewu itu mungkin hanya merupakan sebuah tamasya saja tanpa berbuat
sesuatu, ia akan kembali dan berkata kepadaku bahwa Istana itu sudah musnah
dengan segala isinya” Ia berhentu sejenak, lalu “Tetapi ada kemungkinan yang
lain, ia akan bertemu dengan beberapa orang yang tidak dikenalnya dan ia harus
mempertahankan nyawanya, itulah yang menyebabkan aku harus minta pendapatmu”
Ayah Panon memandang wajah pertapa itu sejenak, ia melihat tatapan mata yang
buram, namun ia melihat sesuatu keyakinan yang memancar pada mata yang buram
itu, karena itu, maka, ayah Panon itupun kemudian berkata “Kakang Wirit, kaulah
yang mengetahui, apakah bekal Panon Suka sudah cukup untuk melakukan tugas itu,
jika sekiranya bekal itu memang sudah cukup, baiklah, aku tidak berkeberatan,
karena aku percaya, bahwa ia akan dapat melindungi dirinya sendiri, meskipun
kemungkinan yang pahit masih dapat terjadi”
Wirit mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya “Waktu yang dipergunakan oleh
Panon untuk menuntut ilmu memang terlampau singkat, hanya beberapa tahun saja,
sebenarnya masih belum cukup, tetapi ketekunan dan bakat alamiah yang ada
padanya, membuat aku menjadi heran, bahwa dalam waktu yang singkat itu, ia sudah
memiliki hampir semua kemampuanku, sebelum aku menjadi cacat, bahkan ia memliki
beberapa kelebihan justru karena cara hidup dan daerah yang cukup berat baginya
hampir setiap saat, jika Panon Suka pergi ke sawah, sehari dua tiga kali,
mengambil air dengan lodong bamboo dan memanggulnya nail lereng, dan kerja yang
lain, telah menempa tubuhnya dan menjadikannya seorang yang kuat kewadagannya,
kemudian diramu dengan ilmu dan latihan-latihan yang teratur dan khusus,
ternyata telah membuatnya menjadi seorang anak muda yang luar biasa”
Ayah Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya “Aku hanya dapat mengucapkan
terima kasih kepadamu kakang, karena itulah, maka aku serahkan Panon sepenuhnya
untuk melakukan tugasnya yang penting itu”
“Terima kasih adi, Nanti malam aku akan memberikan pesan dan petunjuk atas tugas
yang harus dijalankannya itu”
“Aku hanya dapat berdoa, aku tidak dapat memberikan bekal apapun”
“Mudah-mudahan semua tugas dapat dilakukannya dengan baik tanpa kesulitan apapun
adi, jika ia datang ke istana itu, dan tidak ada pihak-pihak lain yang terkait,
maka tugasnya akan cepat selesai, bahkan seandainya istana itu sudah musnah
sekalipun, asal ia masih dapat menemukan bekasnya, maka ia dapat
menyelesaikannya pula” Ia terhenti sejenak lalu “Tetapi jika hadir pihak-pihak
lain, maka, persoalannya akan menjadi bertambah panjang, tetapi Panon tidak
harus harus dapat melakkan tugasnya tanpa pertimbangan-pertimbangan yang wajar,
aku akan berpesan kepadanya, bahwa apabila menurut perhitungannya tugas itu
tidak dapat dilakukannya, maka ia dapat mengurungkannya, ia tidak perlu dengan
membabi buta mengorbankan nyawanya, jika hal itu sudah diketahuinya, karena
bagiku nyawa seseorang adalah sesuatu yang sangat berharga, lebih berharga dari
apapun juga, tetapi jika taruhan nyawa itu tidak dapat dihindarinya, dengan
kemungkinan-kemungkinan yang nyata, maka barulah ia akan berjuang dengan segenap
kemampuan yang ada padanya”
Ayah Panon mengangguk-angguk, debar jantungnya masih belum dapat ditenangkannya
karena terbayang di angan-angannya anak laki satu-satunya itu menempuh bahaya
yang melandanya bagaikan gelora ombak di lautan yang sedang diaduk oleh angin
lautan.
Tetapi akhirnya ayah Panon itupun harus pasrah, di dalam hatinya ia mencoba
untuk menghibur dirinya sendiri, “Gurunya tentu mengetahui, bahwa tugas yang
diberikan kepada Panon akan dapat dilakukannya dengan baik, tanpa
menjerumuskannya ke dalam pengorbanan yang sia-sia.
Karena itulah, maka ayah Panon mencoba untuk mengedapankan perasaannya, sambil
mengangguk-angguk, ia berkata “Yang Maha Agung akan melindunginya jika ia
berjalan di jalan yang lurus”
“Ya adi, sandaran yang paling utama, dan aku mencoba untuk mendorongnya melalui
jalan yang lurus itu”
Keduanya tidak meneruskan pembicaraannya, ketika Panonpun kemudian datang
kembali setelah mengantarkan adiknya pulang, gurunya ingin memberikan pesan dan
nasehat-nasehat tersendiri.
Sejenak kemudian ayah Panon minta diri, ia sama sekali tidak ingin
memberitahukan hal itu kepada isterinya, agar isterinya tidak menjadi cemas dan
selalu memikirkannya.
Ketika kemudian malam turun menyelubungi lereng pegunungan, maka Panonpun duduk
menghadap gurunya, dengan dada yang berdebar-debar. Ia tahu, bahwa gurunya akan
memberikan tugas yang penting kepadanya, tugas yang harus dilakukannya dengan
segenap kemampuan yang telah diterimanya dari gurunya.
“Panon” berkata gurunya, “Kau akan menemuh sebuah perjalanan yang cukup jauh,
meskipun perjalanan itu masih belum sejauh perjalanan para petualang yang
sebenarnya”
Panon hanya menundukkan kepalanya, dengan seksama iapun mendengarnya, perjalanan
yang harus ditempuhnya ke pegunungan seribu yang membujur bagaikan dinding yang
panjang disisi selatan tanah ini.
Dengan lengkap pertapa itu memberikan beberapa penjelasan, pesan dan
petunjuk-petunjuk apakah yanag harus dikerjakannya di halaman sebuah istana
kecil di padukuhan Karangmaja.
“Panon” berkata gurunya, “Aku tidak mengetahui perkembangan terakhir dari istana
kecil itu, mungkin perjalanan akan menjadi singkat, tetapi mungkin juga panjang
dengan segala macam akibat yang akan dapat terjadi”
Panon masih menundukkan kepalanya.
“Setiap kali, kau akan dapat menghubungi aku Panon, jika kau menemukan
persoalan-persoalan diluar pengetahuanmu”
“Jadi setiap kali aku harus kembali kemari guru?” bertanya Panon kemudian.
Gurunya menggeleng, katanya “Bukan begitu maksudku, bukan kau harus mondar
mandir pada jarak yang jauh itu, tetapi akulah yang harus mendekat”
“Guru” desis Pnon
“Gurunya tersenyum, katanya “Sebagaimana kau lihat, tubuhku memang cacat, aku
akan mengalami kesulitan jika aku menempuh jarak yang begitu jauh, tetapi jika
jarak itu aku lalui dengan tidak tergesa-gesa, maka aku akan sampai ke tujuan,
itulah sebabnya maka aku akan mempercayakan kau untuk melakukan tugas ini.
Tetapi mungkin perkembangan terakhir yang tidak aku ketahui sudah menjadikan
keadaan jauh berubah, karena itu Panon, aku akan mendekati pegunungan Sewu,
mungkin lima atau enam hari aku baru sampai, sementara itu, kau sudah memanjat
naik dan melihat perkembangan terakhir pada pahukuhan itu”
Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian “Guru, sebenarnya aku dapat
mondar mandir pada jarak yang meskipun agak panjang, tetapi dapat dicapai dalam
waktu sehari, jika aku mengenderai seekor kuda”
Gurunya menggeeleng, katanya “Tidak Panon, jika jalannya rata seperti
jalan-jalan padukuhan, memang jarak itu dapat ditempuh dalam sehari semalam,,
bahkan mungkin kurang, meskipun sudah memperhitungkan saat-saat untuk
beristirahat, tetapi jalan pegunungan Sewu tidak serata jalan-jalan padukuhan”
Panon mengangguk-angguk.
“Karena itu Panon, biarlah aku mendekat, aku akan berada di ujung pegunungan
yang berbatasan dengan ngarai di lembah Payung, kau sebaiknya menempuh jalan
sebelah timur Hutan Mentaok yang lebat dan sampai ke ujung pegunungan di lembah
Payung, Kau tidak dapat menembus Alas Mentaok, karena perjalanan yang demikian
justru akan menjadi lambat, meskipun memotong arah”
Panon mengangguk-angguk, sahutnya perlahan-lahan “Ya, guru”
Gurunya kemudian memberikan beberapa pertanda tentang lembah Payung di kaki
Gunung Sewu di ujung hutan, ia memberikan beberapa pertanda tentang sebuah
padukuhan kecil di lembah itu.
“Guru akan berada di padukuhan kecil itu?” bertanya Panon.
“Tidak Panon, Kau sajalah yang pergi ke padukuhan kecil itu, kau dapat
menitipkan kudamu disana, kau dapat memberikan upah kepada seseorang yang akan
merawat kudamu selama kau berada di pegunungan Sewu, karena kau akan datang ke
Karangmaja dengan berjalan kaki saja”
“Lalu bagaimana dengan guru?”
“Aku akan menyusul, aku akan meminjam kudamu untuk memanjat pegunungan Sewu itu,
karena itu, kau harus berpesan kepada orang yang kau serahi, bahwa seseorang
yang cacat akan datang mengambil kuda itu”
Panon mengangguk-angguk, ia mengikuti semua pesan dan petunjuk gurunya, ia harus
datang ke Karangmaja sebagai seorang perantau yang kekurangan dan miskin. Selain
itu, gurunya memang memerlukan seekor kuda untuk naik ke lereng yang agak
terlalu condong seperti yang dikatakan oleh gurunya itu.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Panon bertanya “Tetapi kenapa guru tidak
berkuda saja sejak dari sini?”
Gurunya tersenyum, katanya “Tidak Panon, aku ingin berjalan, aku masih ingin
menguji kakiku, apakah masih mampu aku pergunakan untuk menempuh jarak yang
sebenarnya tidak terlampau jauh itu” gurunya berhenti sejenak, lalu “Kecuali
itu, aku ingin melihat-lihat daerah yang pernah aku jelajahi dimasa mudaku
dahulu”
Panon hanya dapat menggigit bibirnya, menilik ujud jasmaniahnya, gurunya tentu
akan mengalami kesulitan untuk menempuh jarak yang demikian panjang, tetapi
sudah barang tentu Panon tidak akan dapat mengukur kemampuan gurunya dengan
pasti, sehingga karena itu, maka iapun hanya dapat menyerahkan semua persoalan
kepada gurunya.
Demikianlah maka semua pesan dan petunjuk tentang tempat tugas dan nama-nama
yang mungkin harus dihubungi telah diberikan semuanya oleh pertapa itu kepada
Panon. Padukuhan-padukuhan yang harus menjadi perhatian dan tempat pertapa itu
menunggu setiap saat ia diperlukan oleh Panon.
“Goa itu bukanlah goa yang dalam” berkata gurunya itu tentang tempat
persembuniyannya “Tetapi cukup untuk berteduh”
“Bagaimana guru mendapatkan air?”
Gurunya tersenyum, katanya “Aku akan mendapatkannya, jika di daerah itu masih
tumbuh sebangsa rerumputan yang merambat, aku akan mendapatkan air, pada pangkal
rumput itu jika aku potong”
Panon mengangguk-angguk, ia sudah tau semua yang harus dilakukan, jika ia
menemui kesulitan, maka ia harus mencari gurunya di tempat yang sudah
ditentukan, tidak jauh dari padukuhan Karangmaja.
Maka malam itu Panonpun segera menyiapkan dirinya, lahir dan batin, kecuali
menyiapkan seeokar kuda, bekal pakaian di dalam bungkusan kecil, sekedar uang
yang ditabungnya, maka iapun menyiapkan senjatanya.
Panon seorang anak muda dari padesan, tidak mempunyai senjata yang berarti,
gurunyapun tidak memberikan senjata apapun juga, karena Kiai Wirit itupun tidak
mempunyainya. Yang dimiliki oleh Panon adalah senjata-senjata buatan pandai besi
di padukuhannya, bukan buatan empu yang memiliki kelebihan dalam pembuatan
jenis-jenis pusaka.
Tetapi menurut gurunya senjata-senjata itupun sudah memadai. Senjata-senjata itu
tidak lebih dari pisau-pisau kecil yang diselipkan diantara ikat pinggang
kulitnya, tidak hanya satu atau dua pisau, tetapim pisau-pisau kecil itu
berjajar sepanjang ikat pinggangnya yang melingkarin perutnya.
“Panon” selalu terngiang pesan gurunya “Senjata adalah alat yang paling buruk
untuk menjaga diri, karena itu, jika tidak terpaksa sekali, maka senjata pantang
diperrgunakan”
“Panon menarik nafas dalam-dalam, ia selalu mencoba mengingat pesan itu.
Namun demikian, Panon adalah anak muda yang memiliki tangan yang dapat bergerak
secepat kejapan mata, tidak seorangpun yang dapat menghitung, berapa buah pisau
yang sudah terlontar dari tangannya dalam satu tarikan nafas.
Tetapi kepercayaan yang sebenarnya dari Panon tidak saja pada kecepatannya
bergerak, tetapi juga kekuatan tangannya yang luar biasa, ia memanfaatkan
kerjanya sehari-hari untuk menyusun tata gerak ilmunya yang dahsyat, hampir
segenap bagian tubuhnya adalah senjata yang tiada taranya”
Selain kemampuan ilmunya, Panon juga dibekali dengan bermacam-macam obat yang
dapat menghindarkan dirinya dari bencana yang disebabkan oleh luka-luka yang
memancarkan darah terlampau banyak, juga obat-obatan yang dapat yang
menawarkannya dari berbagai macam bisa dan racun.
“Di Pegunungan Sewu terdapat banyak sekali jenis ular berbisa” berkata gurunya
“Ular Bandotan, ular yang ditakuti oleh setiap orang, ular weling, ular welang,
ular pudak grama, dan yang tidak kalah berbahayanya adalah ular ular gadung,
meskipun bisanya tidak sekuat ular bandotan dan ular weling, tetapi ular gadung
biasanya menyerang dari dahan-dahan kayu pepohonan, sedang warnanya hijau
seperti dahan dan ranting-ranting pohon basah”
Semuanya itu tidak ada yang terlupakan oleh Panon, baginya, tugas itu merupakan
batu ujian, apakah ia merupakan murid yang baik atau murid yang buruk. Murid
yang baik tentu akan dapat melakukan tugas yang diberikan oleh gurunya dengan
baik pula.
Menjelang fajar, Panon telah siap seluruhnya untuk berangkat, Ia berpamitan dan
mohon doa kepada ayah dan ibunya, meskipun ia tidak menunjukkan kemungkinan
sebenarnya yang dapat terjadi atasnya, terutama kepada ibunya. Sedang kepada
adik-adiknya, Panon tidak memberitahukannya, mereka, masih tetap tidur nyenyak
ketika Panon meninggalkan rumahnya, ia dibekali dengan beberapa petunjuk dan
ancar-ancar yang mungkin sudah berubah karena waktu.
Tetapi Panon Suka bertekad untuk sampai ke tujuannya, ia harus menemukan sebuah
padukuhan di punggung Gunung Sewu yang bernama Karangmaja.
Ternyata perjalanan yang ditempuhnya tidak semudah yang diduganya, apalagi
ketika ia sampai ke daerah hutan yang masih lebat, Hutan Kedu Pengarang yang
wingit.
Tetapi agaknya petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh gurunya membuat
perjalanannya agak lancar, belum banyak perubahan yang terjadi. Yang dikatakan
gurunya sebagian besar masih dapat dikenalinya, perubahan kecil yang terjadi,
tidak mempengaruhi arah yang dipilihnya.
Seperti pesan gurunya maka Panonpun kemudian melingkari Gunung Merapi sebelah
timur Alas Mentaok yang sulit untuk ditembus, sehingga karena itu seperti yang
dikatakan gurunya, perjalanan ke Gunung Sewu tidak akan dapat ditempuh dalam
sehari semalam.
Di beberapa tempat di sepanjang perjalanan, Panon Suka terpaksa berhenti
beberapa kali, kudanya yang letih diberinya kesempatan untuk meneguk air di
parit atau di sungai, kemudian dibiarkannya kuda itu makan rerumputan hijau
sejenak, sebelum ia meneruskan perjalanannya.
Panon Suka yang belum pernah menempuh perjalanan yang agak jauh seperti yang
dilakukannya ini, merasa betapa panjang perjalanannya, tetapi ketahanan tubuhnya
dan latihan-latihan yang dilakukannya dengan baik, dapat mempertahankan gairah
perjalanannya, dengan mengesampingkan perasaan lelah dan jemu.
Perjalanan Panon Suka yang mula-mula tidak menemui gangguan apapun selain
kekerasan alam dan lebatnya hutan-hutan, tiba-tiba ia telah membentur sesuatu
yang sebelumnya belum pernah dihadapinya. Selama ia mempelajari ilmu kanuragan
dari gurunya, sebenarnyalah ia sama sekali belum pernah mempergunakannya untuk
benar-benar bertempur dengan alasan apapun juga, setiap kali ia hanya harus
melawan musuh buatan yang dibuat oleh gurunya, lemparan-lemparan batu, tongkat
dan hembusan-hembusan kerikil dari mulutnya. Yang terakhir ia harus melawan
percikan-percikan air yang dilontarkan oleh gurunya agar ia menjadi basah
karenanya dan menyerang dengan pisau-pisaunya, batu-batu yang dilemparkan ke
udara, selebihnya ia harus menempa tubuhnya agar menjadi kuat dan bukan saja
kekuatan wajarnya, tetapi juga pemusatan pikiran dan kehendak dan pemanfaatan
tenaga cadangan yang memang sudah ada di dalam dirinya, sehingga seolah-olah
Panon memiliki kekuatan jasmaniah yang berlipat-lipat.
Dan kini tanpa diduganya, Panon Suka telah berhadapan dengan tiga orang yang
mencurigakan.
“Berhentilah anak muda” berkata salah seorang dari mereka.
Panon Suka berhenti dengan ragu, ketika ia memberikan pandangan matanya yang
nampak adalah pepohonan hutan yang lebat, diluar sadarnya maka Panonpun
mengadahkan wajahnya ke langit, ternyata di langit bertaburan bintang-bintang
yang gemerlapan.
“Siapakah kau anak muda?, kau menempuh perjalanan bukan pada waktunya, kau lihat
bintang Gunug Penceng itu?, nah, kau akan mengetahui waktu dengan memperhatikan
kelompok bintang itu”
Panon Suka memandang kelompok bintang yang sedang menyilang, dari gurunya ia
mengetahui, bahwa dengan menarik garis lewat bintang di puncak dan di ujung
bawah, maka akan diketemukannya arah selatan, tetapi bintang itu kini telah
condong jauh ke barat.
“Ternyata hari hampir fajar” berkata Panon Suka
“Ya, menjelang pagi, kenapa kau tempuh perjalanan pada waktu ini?”
“Aku berangkat pagi hari kemarin” kata Panon.
“Dan kau paksa kudamu denga menempuh perjalanan yang agaknya cukup jauh itu?”
“Sudah tentu aku berhenti di beberapa tempat, beristirahat sejenak, kemudian
melanjutkan perjalanan”.
“Sekali lagi aku bertanya, siapakah kau, sudah tentu aku ingin juga mengetahui,
kau datang dari mana dan hendak pergi kemana?”
“Namaku Panon” jawab anak muda itu “Aku datang dari lereng Gunung Merbabu, dan….
Aku menempuh perjalanan tanpa tujuan, sekedar mencari pengalaman”
Oang itu mengerutkan keningnya, sampai tiba-tiba ia bertanya “He, anak muda,
apakah kau pernah melihat pertunjukkan wayang beber?”
“Kenapa?”
“Seorang ksatria akan menjawab seperti jawabanmu itu, jika ia bertemu lawannya
di perjalanan, perjalanan tanpa tujuan menurut kehendak ujung kaki dan keredipan
mata”
Panon menarik nafas dalam-dalam, ia tidak dapat menjawabnya, karena itu
dibiarkannya saja orang itu berbicara “Baiklah anak muda, jika kau tidak mau
menyebut tujuan perjalananmu, maka, katakanlah, apakah kau membawa bekal cukup
banyak?”
Panon terkejut mendengar pertanyaan itu, segera ia dapat meraba, siapakah yang
kini dihadapinya.
Meskipun Panon sudah berbekal ilmu yang cukup, tetapi hatinya masih juga
berdebaran, ia sama sekali belum pernah mengalami hal serupa itu.
“He, kenapa kau diam saja..?!!”
“Ki sanak” berkata Panon Suka setelah ia mencoba mengurangi getar jantungnya
“Aku bukan orang kaya yang dapat membawa bekal pada sebuah perjalanan tanpa
tujuan seperti ini”
Teteapi orang itu tertawa “Kudamu adalah kuda yang bagus sekali, nah apa
katamu?”
Panon termangu-mangu sejenak, pertanyaan orang yang tidak dikenalnya itu semakin
membingungkannya.
“Ki Sanak” berkata Panon kemudian “Apakah sebenarnya yang kalian kehendakki?”
Orang itu tertawa, katanya “Bagus, kau ingin langsung pada persoalannya,
baiklah, aku ingin merampok semua milikmu termasuk kudamu”
Panon menjadi tegang meskipun ia memang sudah menduganya, sejenak ia berdiam
diri, naum tiba-tiba saja ia bertanya “Siapakah sebenarnya kalian ini?”
Orang itu tertawa semakin keras, katanya “Kenapa kau bertanya tentang kami, yang
kau jumpai di lorong sempit di pinggir hutan dan akan merampok barang-barang dan
semua yang kau miliki?”
“Aku hanya ingin tahu” jawab Panon serta merta.
“Baiklah, jika kau ingin mengenal kami, Akulah yang bernama Bandung Limpat, Nah,
apakah kau pernah mendengar nama itu. Setiap orang akan mengerutkan lehernya
jika mendengar nama itu disebutkan, yang seorang dari kedua kawanku adalah Sisik
Sana, sedang yang satunya adalah Watu Sampar” Ia berhenti sejenak, lalu “Nah,
sekarang sudah lengkap, lalu, apakah kau masih akan ingkar bahwa kau membawa
bekal cukup”
“Ki Sanak” jawab Panon “Aku sama sekali tidak ingkar, aku memang tidak membawa
apapun juga selain seekor kuda dan beberapa lembar pakaian”
“Persetan” geram Bandung Limpat yang sudah mulai kehilangan kesabaran “Cepat
turun dari kudamu “Serahkan semuanya yang kau miliki, kemudian tinggalkan kudamu
di sini”
“Kenapa kau tidak percaya?, aku benar-benar bukan seorang kaya, sedangkan kudaku
itupun tidak dapat aku tinggalkan karena pada suatu saat, kuda itu akan
dipergunakan oleh guruku”
“Guru?, jadi kau pernah berguru?” suara Bandung Limpat semakin keras “Itulah
yang membuatmu besar kepala, sehingga kau berani menolak permintaan kami yang
kami ucapkan secara baik-baik”
“Sebenarnyalah Ki Sanak, tidak ada yang dapat aku berikan kepadamu, aku harus
membawa kudaku sampai ke tujuan”
“Persetan” Bentak Sisik Sana “Aku dapat membunuhmu, Kau harus sadari itu”
“Jangan berbuat kasar, sebaiknya kita tidak usah saling memaksa, kuda itu adalah
kudaku, dan sudah barang tentu akulah yang paling berhak atasnya”
“Kubunuh kau jika kau mengucapkan satu kalimat lagi”
Panon semakin berdebar-debar, ia sadar, bahwa jika ketiganya memaksakan
kehendaknya, maka ia harus menghadapinya dengan kekerasan pula.
Namun karena Panon masih belum memiliki pengalaman sama sekali, maka iapun masih
tetap ragu-ragu.
“Jika aku gagal sampai di sini, maka aku adalah murid yang tidak berguna”
katanya di dalam hati.
Tetapi ia belum mempunyai gambaran sama sekali, apakah yang mungkin akan
terjadi, namun ia sudah bertekad bahwa ia harus dapat mengatasi semua rintangan
agar ia dapat melakukan tugas sebaik-baiknya.
Karena itulah, maka iapun segera mempersiapkan diri, dipandanginya di dalam
keremangan malam, tiga orang yang berdiri menghadangnya.
“Anak muda” Berkata Bandung Limpat “Jangan memancing kemarahan kami, cepat,
sebelum kemi berubah pikiran, pada suatu saat mungkin akan timbul keinginan kami
untuk membunuhmu”
Panon tidak dapat berbuat lain. Karena itu, maka iapun segera melompat turun,
tetapi sama sekali bukan untuk menyerahkan kudanya, karena ia sama sekali tidak
berhasrat untuk berbuat demikian.
Dengan mengendapkan gejolak perasaanya, Panon mencoba bersikap tenang,
ditambatkannya kudanya pada sebatang pohon yang berdiri tegak tidak jauh dari
tempatnya.
“Anak setan!!” geram Watu Sampar “Jadi kau akan melawan”
“Tidak Ki Sanak, aku sama sekali tidak akan melakukan kekerasan, seandainya
kalian tidak memaksaku untuk mempertahankan kudaku”
“Tutup mulutmu” Bentak Sisik Sana “Sekali lagi kau membuka mulut, aku bunuh kau”
“Kalimat serupa itu sudah kau ucapkan dua kali” jawab Panon yang semakin lama
semakin menguasai dirinya “Dan aku tidak akan merubah pendirianku”
Sisik Sana tidak sabar lagi, iapun segera melangkah maju mendekati Panon Suka,
dengan wajah yang tegang ia berkata “Aku benar-benar akan membunuhmu”
Panon melihat Sisik Sana sudah bersiap untuk menyerangnya, latihan-latihan yang
berat yang dilakukannya selama ia berguru membuatnya bersiaga hampir diluar
sadarnya.
Seperti yang diperhitungkannya, maka tiba-tiba sebuah loncatan yang cepat telah
menerkamnya, kedua tangan Sisik Sana itu terjulur lurus dengan jari-jari yang
terentang merapat, seolah-olah siap untuk menusuk dada Panon.
Tetapi Panon adalah seorang anak muda yang telah mendapat latihan kecepatan yang
matang, karena itu, maka dengan gerakan yang sederhana ia berhasil menghindari
serangan itu. Bahkan karkena ia masih ragu-ragu menghadapi kemungkinan yang
dapat terjadi, maka iapun langsung menyerang Sisik Sana yang masih belum
menemukan keseimbanganya kembali.
Serangan Panon benar-benar tidak terduga, dengan sisi telapak tangannya ia
menghantam punggung Sisik Sana dengan kerasnya, sehingga orang itupun terdorong
beberapa langkah maju dan kemudian jatuh terlungkup.
Peristiwa yang telah terjadi dalam waktu.yang cepat itu, membuat kedua kawan
Sisik Sana termangu-mangu. Mereka hanya memandang saja apa yang telah dilakukan
dan kemudian dialami oleh kawannya. Mereka melihat Sisik Sana terdorong oleh
pukulan sisi telapak tangan anak muda yang menyebut dirinya bernama Panon itu.
Namun tiba-tiba mata merekapun terbelalak, Panon sendiri menjadi berdebar-debar
dan sejenak justru menjadi bingung, orang yang jatuh terlungkup itu sama sekali
tidak dapat bergerak lagi, bahkan bernafaspun tidak.
Dengan ragu-ragu Watu Sampar mendekatinya, perlahan-lahan tubuh yang terlungkup
itu segera ditelentangkannya, alangkah terkejutnya Watu Sampar melihat Sisik
Sana sudah tidak bernafas lagi, dari mulutnya mengalir darah yang membasahi
rerumputan.
Ternyata pukulan Panon Suka telah meremukkan tulang belakang Sisik Sana, pukulan
yang dilambari oleh ilmu yang luar biasa, tetapi karena belum dilengkapi dengan
pengalaman, maka, Panon masih belum dapat mengira-ngira, betapa kuatnya ilmu
yang dimilikinya.
“Kau bunuh kawanku” geram Watu Sampar dengan wajah tegang penuh kemarahan.
“Apakah ia benar-benar mati?” bertanya Bandung Limpat.
“Ya, Ia sudah mati, tentu tulang-tulang di punggungnya telah diremukkan oleh
pukulan anak gila ini, ia lengah karena ia menganggap lawannya adalah anak-anak
yang belum dapat berbuat apa-apa atasnya” Watu Sampar berhenti sejenak, lalu
sambil berdiri ia menggeram “Anak muda, kau benar-benar anak gila, agaknya kau
memang baru saja keluar dari padepokan, He…!!, kau berguru kepada siapa?”
Panon termangu-mangu sejenak, tiba-tiba saja dari bibirnya terloncat perkataan
dengan suara gemetar “Aku tidak sengaja membunuhnya, aku hanya memukul
punggungnya, tidak pada tengkuknya, mungkin ia mempunyai penyakit yang dapat
membuatnya mati dengan tiba-tiba”
“Gila…!!” teriak Bandung Limpat “Jadi kau masih sempat menghinanya..!! jangan
berbangga hati bahwa kau dapat membunuh kawanku dengan sekali pukulan, tentu kau
sudah mematahkan tulang belakangnya dan merontokkan jantungnya, tetapi itu bukan
karena kelebihanmu, itu semata-mata karena ia lengah dan tidak bersiaga”
“Aku benar-benar tidak sengaja” Panon masih kebingungan, ia baru pertama kalinya
mengalami perkelahian dan ternyata ia sudah membunuh.
Tetapi kedua kawan orang yang terbunuh itu tidak menghiraukannya lagi, merekapun
segera mempersiapkan diri sambil berkata. “Kau harus mendapat hukuman yang
setimpal, kau tidak hanya sekedar mati, tetapi kau akan kami cincang menjadi
sayatan kulit dan daging dan akan kami lemparkan kemulut anjing”
Tiba-tiba saja kulit Panon terasa meremang, mengerikan sekali dan sudah barang
tentu ia tidak ingin menglaminya.
“Anak Muda” berkata Bandung Limpat “Kau harus berlutut dan minta ampun sebelum
aku membunuhmu, caramu minta ampun itupun akan mempengaruhi jalan kematian yang
manakah yang kami pilih bagimu”
“Ki Sanak” berkata Panon “Aku benar-benar tidak sengaja membunuh kawanmu,
sepanjang umurku sampai saat ini, baru pertama kali inilah aku membunuh orang”
“Cukup, cepat berlutut dan minta ampun”
“Ki Sanak, aku bersedia minta ampun kepadamu, tetapi sudah barang tentu bahwa
aku tidak dapat menyerahkan diri untuk dibunuh dengan cara apapun juga,
sebaiknya kita akhiri saja salah paham ini, biarkan aku pergi dengan penyesalan,
bahwa aku telah membunuh kawanmu tanpa aku sengaja”
“Gila…!, itu adalah suatu sikap akal licik yang paling gila, setelah kau
membunuh seorang kawanku, maka kau berusaha untuk menghindakan diri dari
tanggung jawab, dengar kelinci dungu, jika kau memang seorang laki-laki, maka
kau harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu, kau dengar…!!”
Panon menjadi termangu-mangu, ia bimbang akan dirinya sendiri, apakah benar kata
orang-orang yang akan merampoknya, bawha jika ia seorang laki-laki, maka ia
harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya.
“Apakah artinya tanggung-jawab?” pertanyaan itu tumbuh di hati Panon, “Apakah
aku harus menerima hukuman karena pembunuhan itu, atau aku harus bertempur
secara jantan?”
Panon terkejut ketika tiba-tiba saja Watu Sampar membentak “Cepat lakukan
perintah kami”
Namun tiba-tiba terlompat jawaban dari Panon “Maaf Ki Sanak, aku tidak dapat
menyerahkan diriku untuk dibantai”
“Cukup, jika demikian kau harus mengalami kematian yang paling mengerikan”
Dalam pada itu, tiba-tiba saja timbul pemikiran di hati Panon, bahwa ia sedang
mengemban tugas dari gurunya, ia harus sampai ke padukuhan Karangmaja, ia harus
sampai ke istana kecil itu. Masih ada atau tidak, sehingga karena itu, maka
dikesampingkannya segenap keragu-raguannya, ia berkata di dalam hati “Aku memang
harus bertanggung jawab kepada guru bahwa tugasku harus dapat aku lakukan
sebaik-baiknya”
Karena itu, katanya kemudian “Ki Sanak, jika kalian memaksakan kehendak kalian
untuk membunuhku, maka betapapun penyesalan melonjak hatiku, namun aku tetap
akan mempertahankan hidupku, karena itu adalah hakku
“Persetan…!!” Bandung Limpatpun menggeram, ia benar-benar telah kehilangan
kesabaran, selangkah ia maju mendesak, tetapi agaknya, tetapi agaknya ia tidak
lagi menjadi korban yang tidak berarti seperti Sisik Sana, karena itu, iapun
telah mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya, bahkan iapun kemudian telah
menggenggam senjata di tangannya.
Demikian pula Watu Sampar yang berdiri disisi lain, di dekat mayat Sisik Sana,
dengan gigi yang bergemeretak oleh kemarahan yang meluap ia menggeser mendekat,
seperti Bandung Limpat, maka iapun menggenggam senjata pula di tangannya.
Panon jadi sedikit bimbang, ia harus menghadapi dua orang yang barangkali tidak
sebodoh Sisik Sana, apalagi keduanya telah menggenggam senjata ditangan
masing-masing, sehingga dengan demikian, maka ia harus melakukan perlawanan yang
lebih berat.
Sejenak kemudian Bandung Limpat yang telah dibakar oleh kemarahan itupun segera
melangkah mendekat, senjatanya yang menunduk kemudian teracu lurus kepada Panon,
sedang senjata Watu Ampar mengarah ke lambung kanannya.
Panon bergeser setapak surut, ia memperhatikan settap gerak dari dua lawannya
yang berdiri pada tempat yang berbeda, tetapi kemudian Panon yang kemudian
benar-benar yang telah menyadari tugasnya, dengan penuh tanggung jawab
menghadapi keduanya dengan hati yang tenang.
Sejenak kemudian terdengar Bandung Limpat menggeram, dan agaknya sekaligus
merupakan aba-aba bagi kawannya untuk menyerang bersama-sama.
Demikianlah, serentak dalam kejap mata yang sama, kedua senjata itupun meluncur
dari arah berbeda dengan perhitungan yang masak, keduanya telah memperhitungkan
arah yang mungkin ditempuh oleh Panon untuk menghindarkan dirinya dari serangan
itu.
Ternyata seperti yang mereka duga, bahwa Panon telah meloncat, karena itulah
maka serangan berikutnya segera menyusul, senjata Watu Sampar menyerang mendatar
sedang Bandung Limpat menusuk sekali lagi mengarah dada.
Gerakan mereka demikian cepatnya, sehingga keduanya yakin bahwa Panon akan dapat
dibunuhnya dengan segera, kemudian dicincangnya dan dilemparkannya kepada anjing
lapar.
Tetapi mereka terkejut melihat cara Panon menghindari serangan itu, Panon yang
pernah berlatih dengan tekun tanpa mengenal lelah, yang pernah berlatih
mengindari lontaran batu-batu kerikil dan bahkan percikan air, tidak menjadi
bingung, dengan cekatan ia melanting seperti seekor belalang, dengan demikian ia
terhindar dari serangan yang mendatar setinggi lambung, namun ia harus
menggeliat dan sekaligus meloncat surut menghindar dari serangan yang lain.
Kegagalan mereka untuk kedua kalinya, membuat Watu Sampar dan Bandung Limpat
justru menjadi bingung, seolah-olah ia tidak sedang berhadapan dengan seorang
anak muda sewajarnya, bahkan tba-tiba terbesit di hati mereka “Apakah yang
nampak itu sekedar bayangan dari penunggu hutan ini? Dari seorang jin atau
genderuwo yang menjelma, sehingga dengan demikian, maka tubuhnya itu sama sekali
tidak dapat disentuh oleh senjata atau segala bentuk kewadagan”
Namun dalam pada itu, Panon telah berdiri tegak beberapa langkah dari keduanya,
setelah ia menghindari serangan lawannya yang kemudian justru menjadi
termangu-mangu, maka Panonpun mendapat sedikit penilaian atas ilmunya dan ilmu
kedua lawannya. Dengan demikiian, Panon menjadi semakin percaya, bahwa jika
gurunya memerintahkannya melakukan sesuatu, tentu bukannya tidak beralasan.
“Tetapi guru selalu berpesan, bahkana aku tidak boleh merasa diriku mumpuni,
adalah kebetulan sekali bahwa dua orang itu sama sekali tidak mempunyai bekal
cukup. Tetapi menurut guru di tlatah Demak, tersebar orang-orang sakti yang
pilih tanding, perguruan yang tersebar dari ujung barat sampai ke ujung timur
ini telah menghasilkan berpuluh-puluh kesatria, tetapi juga menghasilkan
berpuluh-puluh orang yang dibayangi oleh ilmu hitam” Panon bergumam kepada diri
sendiri.
Sementara itu kedua lawannya masih tetap ragu-ragu, tetapi merekapun segera
mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan, anak muda itu tentu tidak akan
tinggal diam, pada saatnya ia tentu akan menyerang.
Seperti mereka duga, Panon telah siap untuk menyerang tetapi ternyata dihati
Panon tumbuh sesuatu yang tidak disangka-sangka oleh kedua lawannya, tiba-tiba
saja Panon benar-benar ingin menjajagi kemampuannya sendiri, sebelum pada suatu
saat ia berhadapan dengan lawan yang sebenarnya seperti yang pernah dibayangkan
oleh gurunya.
Dengan demikian maka Panonlah yang kemudian mengambil sikap terlebih dahulu,
dengan hati-hati ia bergeser mendekat.
Tetapi kedua lawannya sama sekali tidak mengetahui, apakah yang sedang dilakukan
oleh anak anak muda itu, yang mereka ketahui adalah bahwa anak muda itu tentu
akan segera melakukan serangan balasan.
Sebenarnyalah bahwa Panonpun kemudian telah menyerang kedua orang itu dengan
gerak yang membingungkan, dalam saat yang bersamaan ia menyerang dua orang
sekaligus, padahal kedua lawannya berdiri terpisah, hampir tidak ada selisih
waktu sama sekali.
Keduanya terkejut, ternyata anak muda itu memang memiliki kecepatan bergerak
yang tidaik dapat mereka bayangkan, karena itulah, maka dengan serta merta
mereka mengayunkan senjata mereka untuk mencegah serangan anak muda itu.
Panon melihat gerakan itu, kerena itu, maka iapun dengan cepat pula mengalihkan
serangannya, ia sempat menyentuh tanah dengan kakinya, sehingga ia bergeser
selangkah, tetapi ketika senjata-senjata itu sudah terayun, akan hampir tidak
berjarak waktu, ia sudah meloncat pula, menyerang keduanya yang nampaknya hanya
satu gerakan saja.
Kedua lawannya yang menyebut dirinya Bandung Limpat dan Watu Sampar, orang-orang
yang menganggap bahwa nama mereka cukup menggetarkan daerah jajahannya, merasa
bahwa tubuh mereka yang telah disentuh oleh tangan Panon, hanya disentuh tetapi
sentuhan pada punggung dan tengkuk itu rasa-rasanya telah menggetarkan jantung
mereka, apalagi ketika mereka mendengar Panon berkata “Nah, aku sudah menyentuh
kalian, meskipun aku tidak bersenjata”
“Gila: geram Bandung Limpat. “Apakah kau anak setan?”
Panon berkata sambil meloncat surut “Ki Sanak, apakah kita akan bertempur terus?
Aku sudah menyentuh tubuh kalian, tetapi kalian tidak berhasil melukaiku
meskipun aku tidak bersenjata, jika kalian tidak menghentikan perkelahian ini,
maka aku akan melukai kalian, aku yakin aku dapat menusuk lambung kalian dengan
jariku, atau melobangi leher kalian dengan ibu jariku, sekarang apakah keputusan
kalian?”
Keduanya lawannya termangu-mangu sejenak, hampir diluar sadarnya mereka
berpaling memandang kawannya yang terbujur mati, nampaknya anak muda ini
benar-benar tidak sengaja membunuhnya.
“Anak muda ini tentu saja baru keluar dari sebuah perguruan, sehingga ia masih
menjajagi ilmunya untuk mendapatkan perbandingan dengan kemampuan orang lain”
berkata Bandung Limpat di dalam hatinya “Agaknya ia masih belum yakin, bahwa
kemampuannya ternyata melampaui kemampuan kebanyakan orang yang merasa dirinya
berilmu sekalipun.
Karena nampakya Bandung Limpat ragu-ragu, maka Watu Sampar menjadi ragu-ragu
pula.
“Bagaimana Ki Sanak?” bertanya Panon “Apakah kalian masih akan mencoba
kemampuanku lagi?”
Bandung Limpat dan Watu Sampar berpendangan sejenak, tetapi mereka tidak segera
menjawab.
“Sudahlah Ki Sanak” Berkata Panon kemudian “Aku tidak melihat gunanya lagi untuk
berkelahi, mungkin aku dapat membunuh kalian untuk mengurangi kejahatan di
daerah ini, karena dengan kematian kalian, maka tidak ada lagi kejadian
perampokan, tetapi aku melihat kemungkinan lain, bahwa kalian berdua akan
berhenti sampai disini”
Kedua orang itu masih belum menjawab.
“Ki Sanak” desak Panon “Aku ingin mendengar jawaban kalian, aku adalah manusia
biasa, kadang-kadang aku dapat mengendalikan diri dari perasaan ini berhasil
diendapkan, tetapi mungkin ada gejolak yang lain di dalam diriku, sehingga aku
akan bertindak lebih jauh dari yang aku lakukan sekarang”
Bandung Limpat menelan ludahnya, baru kemudian ia berkata dengan parau “Apa
maksudmu sebenarnya anak muda?”
“Aku akan membiarkan kalian berdua tetap hidup, tetapi aku menuntut bahwa
hidupmu yang tersisa itu tidak lagi kau pergunakan untuk melakukan lagi
kejahatan, jika kau setuju, maka akupun akan segera pergi, karena aku masih akan
menempuh perjalanan yang panjang, tetapi jika kalian tidak bersedia menghentikan
kegiatan kalian, maka yang paling baik bagiku dan bagi masyarakat adalah
membunuhmu”
“Apakau kau dapat mempercayaiku?, tidak ada seorangpun lagi yang dapat percaya
kepadaku, bagaimana seandainya aku sekarang menyatakan kesediaanku untuk merubah
cara hidupku, tetapi setelah kau pergi, aku telah melupakan janji itu dan tidak
menghiraukannya lagi”
“Ternyata kau mempunyai kejujuran juga” sahut Panon “Baiklah jika demikian, maka
kau akan kehilangan segala-galanya, harga diri dan kepercayaan mutlak, tetapi
lebih dari pada itu, maka kau benar-benar orang yang tidak berarti lagi, karena
kalian tidak mampu melihat baik dan buruk secara wajar, kerena sebenarnya kalian
tahu yang mana yang baik dan buruk, tetapi kalian tidak mampu memilih”
Kedua orang itu termangu-mangu di tempatnya, yang berdiri di haadapannya adalah
anak muda, tetapi nampaknya ia memiliki kajiwan serba sedikit, yang dikatakan
itu benar telah menyentuh hati kedua orang yang selama ini seolah-olah tidak
lagi mempunyai pegangan hidup.
Sejenak mereka dicengkam oleh kebisuan, kedua orang itu seakan-akan sedang
memahami kata-kata yang diucapkan oleh anak muda yang mereka jumpai menjelang
dini hari di pinggir hutan yang lebat itu.
Baru sejenak kemudian dengan suara lirih Bandung Limpat berkata “Kau memberi
pertimbangan lain didalam hatiku anak muda”
“Terima kasih” Jawab Panon “Aku benar-benar mempercayaimu, justru pertimbangan
lain itu adalah permulaan dari jalan lurus yang akan kau pilih”
“Mudah-mudahan aku dapat sampai kesana” desis Bandung Limpat.
“Kau harus yakin kepada dirimu” sahut Panon kemudian “Aku justru yakin kalian
akan berhasil”
Watu Sampar yang selama ini berdiam diri sambil menundukkan kepalanya berkata
“Memang sudah cukup kematian seorang dari kami bertiga, seharusnya sudah cukup
memberikan peringatan kepada kami”
Kata-kata Watu Sampar itu memang sangat menarik perhatian Panon Suka, sehingga
iapun kemudian berkata “Aku bangga bahwa kau mempunyai jiwa yang besar, yang
melihat kenyataan di depan matamu”
Bandung Limpatpun menyahut “Sudahlah anak muda, peristiwa ini akan selalu kami
ingat, kami akan berusaha untuk mengerti, apakah sebenarnya yang telah terjadi
pada diri kami, kami berterima kasih, bahwa kami telah bertemu dengan seorang
anak muda yang bagi kami adalah suatu peristiwa yang ajaib, aku tidak tahu
apakah kau memang memiliki sifat yang aneh, atau kamilah pokok dari peristiwa
ini, sehingga kau hanya sekedar merupakan alat untuk memperingatkan kesesatan
kami, namun bagaimanapun juga, ternyata aku menemukan sesuatu dari peristiwa
yang baru saja terjadi, meskipun seorang dari kawanku harus menjadi tumbal”
“Aku minta maaf” sahut Panon “Aku tidak sengaja”
“Yang mati itu sebenarnya adalah seorang yang seharusnya berjalan di jalan yang
lurus, ia adalah putera Ajar Respati, seorang ajar yang tekun, yang mempelajari
masalah-masalah jasmaniah dan rohaniah, tetapi anak itu telah sesat jalan”
“Ooo” Panon menarik nafas dalam-dalam, lalu “Jika demikian aku sepantasnya mohon
maaf kepada Ki Ajar jika ia masih hidup” Panon berhenti sejenak, lalu “Tetapi
aku tidak sempat melakukan sekarang ini, aku harus melakukan suatu perjalanan
yang cukup panjang”
“Jika demikian, silahkan kau anak muda melanjutkan perjalanan, sekali lagi aku
mengucapkan terima kasih, dan sudah barang tentu kami mohon maaf yang
sebesar-besarnya karena kami telah mengganggu perjalananmu”
“Kita sudah melakukan kesalahan, kita akan saling memaafkan pula” berkata Panon
“Sebenarnyalah aku bahwa aku harus melanjutkan perjalanan”
“Kemanakah sebenarnya kau akan pergi?”
“Aku akan menyelusuri pegunungan Sewu”
“Pegunungan Sewu?”
“Ya, aku akan pergi ke sebuah padukuhan di sela-sela bukit diatas dataran Gunung
Sewu itu, apakah kau pernah menjelejahi Gunung Sewu?”
Kedua orang itu mengerutkan keningnya, ada sesuatu yang nampaknya ingin mereka
katakan, tetapi mereka ragu-ragu untuk mengatakan.
“Apakah ada sesuatu yang menarik?”
“Tidak anak muda, tetapi jika kau mau melingkar sedikit, maka kau akan sampai ke
sebuah padepokan kecil di kaki Gunung Baka ditepi Kali Opak, di padepokan itu
tinggal Ki Rancangbandang, ia adalah adik kandung Ki Ajar Respati.”
Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya “Sayang, aku tidak sempat melakukannya,
kelak jika aku berhasil melakukan tugasku, maka aku akan singgah ke padepokan
kecil tempat tinggal Ki Rancangbandang”
“Anak Muda” berkata Bandung Limpat “Soalnya bukan agar kau memperbincangkan
persoalan Sisik Sana, tetapi Ki Rancangbandang agaknya mengetahui, siapa sajakah
yang pada saat-saat terakhir telah memanjat naik keatas Gunung Sewu, dan
barangkali iapun mengetahui, apakah maksud mereka sebenarnya, atau, barangkali
kau juga sudah tahu anak muda, karena perjalananmu juga mempunyai tugas tertentu
seperti yang dilakukan oleh orang-orang itu”
Panon termangu-mangu mendengar keterangan itu, tiba-tiba saja ia tertarik pada
keterangan Bandung Limpat, jika orang yang bernama Ki Rancangbandang itu dapat
memberkan beberapa keterangan, maka ia akan dapat menyesuaikan dirinya, karena
menurut keterangan Bandung Limpat, ada beberapa orang yang pada saat terakhir
juga menuju ke atas Gunung Sewu.
“Apakah mereka juga sedang berusaha untuk menemukan istana kecil seperti yang
dikatakan guru itu?” ia bertanya kepada diri sendiri.
Dalam keragu-raguan itu Watu Sampar menyambung “Tetapi terserahlah kepadamu anak
muda, meskipun barangkali jika, kau dapat singgah akan ada baiknya juga”
“Aku telah melakukan kesalahan, aku telah membunuh Sisik Sana, apakah hal itu
tidak akan menjadi perkara, jika pamannya mengetahuinya”
“Agaknya memang mungkin, tetapi jika ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, aku
kira ia tidak akan marah, demikian juga ayahnya, Ki Ajar Respati” berkata Watu
Sampar lebih lanjut. Tetapi jika terjadi kesalah-pahaman, maka kau akan
mengalami kesulitan, apalagi jika Ki Ajar ada di tempat itu”
“Kenapa?”
“Ki Ajar Respati adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi, tidak banyak orang
yang mengetahuinya, karena ia memang lebih senang hidup menyendiri, bercocok
tanam dan hidup tenang tanpa banyak sentuhan dengan persoalan-persoalan di luar
dunianya yang damai, tetapi jika ia menjadi marah, maka batu sebesar bukitpun
akan dapat dihancurkannya dengan tangannya”
“Apakah ia seorang yang sakti?”
“Ya, tanpa diketahui orang lain, ia mempelajari ilmu tanpa guru, dan ia
berhasil. Tetapi ternyata ia gagal menjadi seorang ayah yang baik, salah seorang
anak laki-lakinya adalah Sisik Sana, ia meninggalkan padepokan ayahnya dan ikut
bersama kami”
“Kau murid Ki Ajar Respati?” tiba-tiba Panon bertanya.
Keduanya ragu-ragu, namun kemudian hampir bersamaan keduanya mengangguk “Ya,
kami berdua adalah murid Ki Ajar Respati, ternyata kami lebih senang mengikuti
jejak sesat dari anaknya dari pada mendengarkan nasehat-nasehatnya”
Panon mengangguk-angguk sejenak, keterangan itu sangat menarik baginya, namun
jika ia teringat yang sudah diperhitungkan oleh gurunya, ia menjadi ragu-ragu.
Tetapi masih juga terbersit dihatinya “Jika Kiai Rancangbandang dapat memberikan
sedikit keterangan, maka tentu ada juga baiknya” namun kemudian “Asal tidak
terjadi salah paham saja atas kematian Sisik Sana”
Dalam kebimbangan itu, Bandung Limpat dan Watu Sampar masih membeku di
tempatnya, mereka melihat keragu-raguan di hati Panon Suka, tetapi merekapun
tidak dapat memberikan pertimbangan lebih banyak lagi kepadanya.
Tetapi tiba-tiba saja Panon mengambil keputusan untuk singgah sejenak, ia akan
mempercepat perjalanannya, menurut arah yang diberitahukan oleh kedua orang itu,
kareena menurut mereka Bukit Baka sudah tidak jauh lagi, dari sana ia dapat
menyusur ke selatan sampai ke lembah Payung seperti yang telah dibicarakannya
dengan gurunya.
“Jika kedatanganku tertunda, maka tidak akan lebih dari setengah hari” katanya
di dalam hati.
Demikianlah, maka Panon mengambil keputusan untuk pergi ke Padepokan kecill yang
dihuni oleh Kiai Rancangbandang, adik dari Kiai Ajar Respati.
“Tetapi kau harus memberikan penjelesan sebaik-baiknya tentang Sisik Sana:”
berkata Bandung Limpat.”Mudah-mudah tidak terjadi salah paham”
“Baiklah, aku memang harus minta maaf kepada orang tuanya atau yang dapat
mewakilinya”
Seperti yang ditunjukkan oleh kedua orang itu, maka Panonpun kemudian pergi ke
bukit di sebelah timur Kali Opak, ia berpesan kepada Bandung Limpat dan Watu
Sampar, agar Sisik Sana dimakamkan sebaik-baiknya, mungkin pada suatu saat
keluarganya akan mencarinya.
“Berilah tanda yang jelas” berkata Panon.
“Apakah aku juga akan dapat memberi petunjuk kelak jika diperlukan?” bertanya
Bandung Limpat.
“Maksudmu?”
“Meskipun aku memberikan tanda yang jelas, tetapi tanpa aku maka tidak
seorangpun yang dapat menemukannya”
“Kaupun harus kembali kepada gurumu, pikirkanlah kemungkinan itu, itu adalah
jalan satu-satunya yang dapat kau tempuh untuk menebus jalan sesat yang pernah
kau tempuh, justu bersama anak Kiai Ajar Respati itu sendiri”
Keduanya termenung sejenak, lalu Bandung Limpat berkata “Aku akan memikirkannya”
Demikianlah, maka Panonpun telah meninggalkan kedua orang itu dalam
keragu-raguan mereka, akhirnya Bandung Limpat berkata “Memang tidak ada pilihan
lain, jika dengan demikian kepalaku akan dipenggal oleh guru, aku tidak akan
menolak lagi”
Dalam pada itu, Panon telah berada dalam perjalanannya menuju ke padepokan kecil
di kaki Gunung Baka, padepokan yang hanya menyimpan beribu-ribu kemungkinan,
mungkin Kiai Rancangbandang akan mengucapkan terima kasih kepadanya, bahwa ia
telah datang memberikan keterangan tentang kemanakannya yang sesat, tetapi
mungkin Kiai Rancangbandang akan membunuhnya, apalagi jika Kiai Ajar Respati
benar-benar ada di tempat itu, tetapi kemungkinan yang lain adalah, ia akan
mendapatkan banyak keterangan tentang Gunung Sewu dan keadaanya.
Ketika matahari kemudian bertengger diatas cakrawala, maka Panon sudah menjadi
dekat dengan bukit kecil itu, sekali ia berhenti memberikan kesempatan kepada
kudanya untuk beristirahat, minum dan makan rerumputan, namun sesaat kemudian ia
sudah berpacu kembali meneruskan perjalanannya.
Sementara perjalanan semakin mendekati bukit kecil itu, iapun menjadi semakin
ragu-ragu, ia mencoba membayangkan, apakah yang akan dijimpainya di padepokan
kecil itu.
Tetapi kemudian ia berketepatan hati untuk meneruskan langkahnya, menjumpai
orang yang bernama Kiai Rancangbandang.
Panon Suka tidak mengalami kesulitan apapun untuk mencari padepokan kecil itu,
ditandai dengan sebuah pintu gerbang kecil yang disisinya tumbuh sebatang pohon
kemuning.
Panon Suka memperlambat derap kudanya ketika ia menyusur jalan yang sempit yang
langsung menuju ke pintu gerbang itu, memang debar jantungnya terasa semakin
menjadi cepat.
Di muka pintu gerbang ia berhenti, perlahan-lahan ia turun melangkah menuntun
kudanya mendekati pintu rogol yang terbuka.
“Sepi sekali” katanya dalam hati.
Sebenarnyalah bahwa tidak ada orang yang kebetulan berada di halaman yang cukup
luas itu, halaman yang bersih oleh goresan-gorean sapu lidi dari ujung sampai ke
ujung, seakan-akan di halaman yang luas itu, tidak selembar daun keringpun yang
tertinggal.
Panon menarik nafas, ia ragu-ragu pula untuk masuk, karena di halaman itu sama
sekali tidak ada bekas kaki seorangpun, bekas kaki orang yang menyapu halaman
itupun tidan nampak, karena agaknya ia melangkah surut ketika ia menggoreskan
sapu lidinya.
Tetapi kemudian ia membulatkan tekadnya untuk masuk, ia sama sekali tidak
mempunyai niat yang buruk, kedatangannya adalah karena dorongan oleh
pengakuannya bahwa ia telah membunuh tanpa sengaja, dan keterangan tentang
Gunung Sewu yang barangkali dapat diperolehnya dari Kiai Rancangbandang itu.
Tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika ia melihat dua orang yang tiba-tiba
saja muncul dari pintu samping yang menyekat halaman itu dengan halaman samping,
yang seorang lebih muda sehingga yang lain adalah seorang yang sudah melampaui
pertengahan abad.
Sejenak keduanya termangu-mangu, namun kemudian dengan tergesa-gesa mereka
melangkah mendekatinya.
“Marilah anak muda” berkata orang yang sudah tua itu “Silahkan, siapakah yang
kau cari?”
Panon mengangguk dalam-dalam, nampaknya orang itu memiliki sesuatu yang
membuatnya terasa berwibawa.
“Apakah aku berhadapan dengan Kiai Rancangbandang?”
Orang itupun mengerutkan keningnya, lalu menjawab “Oo bukan anak muda, aku
hanyalah seorang tamu saja disini, tetapi Kiai Rancangbandang ada di rumah,
marilah, silahkan naik ke pendapa” lalu katanya kepada anak muda di sampingnya
“Bawalah ia naik, aku akan memanggil pamanmu”
Anak muda itu mengangguk, ketika orang tua itu kembali masuk ke halaman dalam,
maka anak muda itu berkata “Silahkan Ki Sanak, biarlah aku tambatkan kudamu di
tiang batang soka itu”
“Terima kasih” jawab Panon “Biarlah aku menambatkannya sendiri”
Setelah menambatkan kudanya, Panon diiringi oleh anak muda iapun naik ke
pendapa, dan duduk diatas sebuah tikar pandan putih.
Sejenak kemudian, pintu pringgitan di sisi pendapa itpun terbuka, orang tua yang
dijumpainya di regol penyekat halaman itu nampak muncul dari dalam, diiringi
oleh seorang yang nampaknya masih lebih muda sedikit dari padanya.
Ketika mereka telah duduk, maka orang yang lebih muda segera bertanya “Apakah
benar Ki Sanak mencari aku?, akulah Kiai Rancangbandang penghuni padepokan ini”
Panon menundukkan kepalanya dalam-dalam, menjawab “Benar Kiai, aku memang
mencari Kiai”
“Sekarang kita sudah bertemu “kata Kiai Rancangbandang, lalu “Tetapi sebelumnya,
siapakah kau anak muda?”
“Aku adalah Panon Suka, aku datang dari jauh, meyelusuri lereng Gunung Merbabu
dan Merapi”
“Kau datang dari Gunung Merbabu?”
“Ya Kiai, dan aku sedang dalam perjalanan menuju ke Gunung Sewu”
“Gunung Sewu?” hampir bersamaan kedua orang tua itu mengulang.
Rasa-rasanya ada sesuatu yang mengganjal hati Panon, tetapi ia tidak jadi
mengatakannya.
“Angger Panon Suka” berkata Kiai Rancangbandang “Tentu kau mempunyai kepentingan
yang besar, bahwa kau akan datang keatas Gunung Sewu, tetapi baiklah, sebelumnya
aku ingin memperkenalkan kau dengan tamuku, ia adalah kakakku, namanya Kiai Ajar
Respati”
Dada Panon bergetar mendengar nama itu, meskipun sebelumnya ada juga dugaannya,
bahwa orang tua itu adalah Ki Ajar Respati.
Untuk sesaat Panon Suka termangu-mangu, dicobanya untuk melihat gambaran sifat
dan watak Ki Ajar Respati pada wajahnya, namun yang nampak adalah tatapan mata
yang lembut dan bening.
Karena itulah timbul keberaniannya untuk mengatakan hal yang sebenarnya yang
telah terjadi dengan anaknya yang bernama Sisik Sana.
“Sebelum aku mengatakan kepada ayahnya, maka hal itu tentu akan selalu menjadi
beban perasaanku, sebaliknya aku berterus terang, agar perjalananku kemudian
tidak terganggu oleh persoalan yang lain, berkata Panon di dalam hatinya.
Dalam pada itu karena Panon tidak segera menjawab, Kiai Rancangbandang bertanya
lebih lanjut “Anakmas, sebenarnya perjalanan keatas Gunung Sewu itu memang
sangat menarik, tetapi juga berbahaya” ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi
baiklah, aku belum mendengar keperluanmu menemui aku”
“Kiai” berkata Panon “Kedatanganku ke Padepokan ini sebenarnyalah bahwa aku
ingin mendapatkan beberapa petunjuk agar aku dapat sampai ke tujuan dengan
selamat, aku belum pernah naik ke atas Gunung Sewu yang ditebari dengan beberapa
ratus puncak bukit, dataran tinggi dan lembah-lembah yang curam, seseorang telah
memberitahukan kepadaku agar aku datang kepada Kiai Rancangbandang untuk
mendapatkan beberapa petunjuk yang mungkin berguna bagiku, apalagi pada
saat-saat terakhir yang menurut pendengaranku, ada beberapa persoalan yang perlu
aku ketahui”
Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, lalu katanya “Pemberitahuan yang keliru
angger, aku tidak banyak mengetahui tentang Gunung Sewu, apalagi aku tidak tahu,
apakah maksud perjalanan angger yang sebenarnya”
Panon menjadi termangu-mangu, sudah tentu ia tidak dapat mengatakan maksudnya
yang sebenarnya, karena beban yang diletakkan dipundaknya adalah persoalan yang
khusus, yang tidak boleh diketahui orang lain.
Tetapi sebelum ia mengatakan sesuatu, Kiai Rancangbandang telah bertanya “Anak
Muda, siapakah yang menunjukkan kepadamu, agar kau datang kemari untuk
mendapatkan beberapa petunjuk tentang Gunung Sewu?”
“Diperjalananku, aku bertemu dengan tiga orang tidak aku kenal, dua diantaranya
bernama Wati Sampar dan Bandung Limpat”
“Ha” tiba-tiba Kiai Ajar Respati bergeser setapak, katanya “Anakmas, apakah aku
tidak salah dengar?, Watu Sampar dan Bandung Limpat?”
Dada Panon mulai bergejolak, tetapi ia sudah bertekad untuk mengatakan apa yang
sebenarnya sudah teradi, maka iapun meneruskannya “Ya, Ki Ajar, Bandung Limpat
dan Watu Sampar”
Nampak perubahan pada tatapan mata Ki Ajar Respati, dengan suara yang gelisah
iapun bertanya “Angger Panon. Angger tadi mengatakan bahwa angger bertemu dengan
tiga orang, yang dua anger sudah menyebutkan namanya, tetapi angger belum
mengatakan siapakah yang seorang dari ketiga orang itu?”
Panon menjadi ragu-ragu, tetapi ia tidak berdian diri saja, apalagi ia sudah
bertekad untuk mengatakan apa yang pernah terjadi di perjalanannya.
Sejenak ia mengatur pernafasannya yang tiba-tiba saja menjadi semakin cepat
mengalir.
“Kiai Ajar” katanya kemudian dengan tersendat-sendat “Sebelumnya aku mohon maaf,
juga kepada Kiai Rancangbandang, diluar kemauanku, maka telah terjadi sesuatu
yang membuat aku menjadi semakin gelisah”
Ki Ajar Respati, Kiai Rancangbandang dan anak muda yang duduk disamping Ki Ajar
itupun menjadi semakin gelisah pula.
Dengan hati-hati Panon menceritakan apa yang sudah dialaminya, pertemuannya
dengan tiga orang yang akan merampoknya, kematian salah seorang diantara mereka,
yang kebetulan adalah Sisik Sana.
Wajah Ki Ajar dan Kiai Rancangbandang menjadi merah menyala, sejenak mereka
membeku ditempat duduknya, namun agaknya Ki Ajar Respati masih mengedepankan
perasaannya, ketika anak muda yang duduk di sebelahnya tiba-tiba saja berjongkok
sambil menggeram, maka iapun menangkap lenannya sambil berkata “Duduklah Sambi
Raga”
“Ia telah membunuh kakakku ayah” berkata anak muda itu “Aku harus membunuhnya,
tidak ada hutang yang tidak terbayar”
“Siapakah yang berhutang anakku?”
“Anak muda yang sombong ini, Ia telah membunuh kakakku, dan kini dengan dada
tengadah ia sengaja datang menemui ayah dan paman, apakah itu bukan suatu
penghinaan?”
“Duduklah, biarlah ia mengatakan, apakah alasannya maka ia datang kemari”
“Tentu ia ingin mengatakan, bahwa ia adalah anak muda yang paling perkasa, ia
ingin bertanya kepada kita, apakah kita berani berbuat sesuatu kepadanya”
Ki Ajar Respati memandang Panon dengan tatapan mata yang sayu, perlahan-lahan ia
bertanya “Apakah benar begitu anak muda?”
“Tidak Ki Ajar, sungguh tidak”
“Bohong” teriak anak muda itu pula.
“Tenanglah Sambi” berkata Kiai Rancangbandang meskipun suaranya sendiri terasa
gemetar.
Sambi Raga memandang Panon dengan tatapan mata yang membara dibakar oleh
kemarahan dihatinya, tetapi ia tidak berani melanggar perintah ayah dan
pamannya, karena itu maka iapun duduk kembali, betapapun hatinya serasa menjadi
hangus.
“Sambi Raga” berkata Ki Ajar Respati “Bukan hanya kau sajalah yang disengat oleh
kejutan yang tiada taranya bahwa pada suatu saat, ketika kita sudah
berhati-hati, bahkan berpekan-pekan mencari kakakmu yang meninggalkan padepokan,
tiba-tiba saja kita mendengar bahwa seseorang telah membunuh kakakkmu itu”
“Lalu, apalagi yang harus kita tunggu?”
“Sambi Raga” berkata Ki Ajar Respati selanjutnya “Sebaiknya kau mendengar dengan
baik, tentu anak ini tidak begitu saja membunuh kakakmu”
“Ia dapat mengarang seribu satu cerita, tentang kematian kaka Sisik Sana”
“Jika ia datang dengan kesombongan yang mewarnai dadanya, ia tidak perlu
mengarang seribu macam alasan, ia akan datang dan mengatakan bahwa Sisik Sana
telah dibunuhnya” Ki Ajar Respati terdiam sejenak, lalu “Tetapi kita tidak dapat
berpura-pura menghadapi persoalan ini, kita mengenal tabiat Sisik Sana itu
sebaik-baiknya, bukankah kau juga watak dan sifat kakakmu?”
Sambi Raga menunddukkan kepalanya, ia tidak dapat menjawab lagi, sebenarnyalah
bahwa ia mengetahui dengan pasti, apakah yang sudah terjadi, anak muda yang
bernama Panon itu tentu tidak berbohong.
Meskipun demikian, kematian kakaknya benar-benar telah mengguncang dadanya,
betapapun buruk watak dan sifatnya, tetapi Sisik Sana adalah kakaknya.
Tetapi agaknya ayahnya bersikap lain.
“Angger Panon” berkata Ki Ajar Respati “Aku tidak dapat menyebut dengan
kata-kata yang manapun juga, betapa sedihnya aku mendengar kabar tentang
kematian anakku itu, tetapi pengakuan anakmas yang jujur, membuat hatiku luluh,
aku tidak dapat marah dan meyalahkanmu, agaknya semuanya itu adalah lantaran
belaka, hukuman bagi anakku sudah masanya datang, dan Yang Maha Adil
mempergunakan tangan anakmas untuk menjatuhkan hukuman mati baginya”
Panonpun kemudian menundukkan kepalanya, sesuatu terasa menyumbat
kerongkongannya, sehingga ia tidak dapat menyahut.
“Sudahlah berkata Ki Ajar Respati “Kita tidak mau terlibat dalam salah paham
lagi, besok aku ingin segera menemukan mayat anakku dan menguburkannya di
padukuhan ini”
“Watu Sampar dan Bandung Limpat memberikan tanda pada kuburannya”
“Bukankah kau tidak berkeberatan untuk menemukan kuburan itu anakmas?”
Panon menjadi ragu-ragu, jika demikian, maka ia akan terlambat lebih dari
setengah hari, mungkin sehari atau bahkan lebih.
Ki Ajar Respati melihat keraguan itu, karena maka iapun bertanya “Apakah ada
sesuatu yang meragukan?”
:Tidak Ki Ajar, sebenarnya menjadi kewajibanku untuk mengantar Ki Ajar menemukan
kuburan itu, tetapi bukan akulah yang menguburkannya, dan bukan akulah yang
memberi tanda pada kuburan itu, sehingga akupun tidak mengetahui dengan pasti
dimanakah letaknya”
“Jadi siapa?”
“Watu Sampar dan Bandung Limpat yang agaknya mulai ditumbuhi oleh penyesalan,
pada suatu saat mereka tentu akan kembali kepada Ki Ajar”
Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, lalu “Tetapi apakah kau dapat
menunjukkan kepadaku, dimanakah kau bertempur melawan ketiga orang itu Anak
muda?”
Panon termangu-mangu sejenak, lalu “Ya, ya Kiai, tentu aku dapat menunjukkan
tempat itu kepada Kiai, tetapi…………”
“Tetapi apa?”
“Kiai, aku sebenarnya ingin mendapat beberapa petunjuk mengenai jalan ke Gunung
Sewu, apakah yang harus aku hindari dan apakah yang harus aku tempuh”
Kiai Rancangbandang yang menjawab “Tidak banyak yang kami ketahui tentang
pegunungan itu anakmas, yang aku ketahui hanyalah bukit-bukit yang membujur dari
barat ke timur, seperti cerita orang tua bahwa dewa-dewa yang melihat pulau ini
tidak seimbang dan miring ke barat, telah membawa berjuta-juta pikul tanah
menuju timur, tetapi tanah itu berguguran di sepanjang pinggir selatan dari
pulau ini, sehingga terjadilah pegunungan ini”
Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya “Bukan itulah yang aku maksud Kiai,
tetapi keadaan pegunungan itu sekarang, tentang orang-orang yang menurut
pendengaranku telah berdatangan”
“Seperti juga anakmas akan naik ke pegunungan ini?”
Panon terdiam, kepalanya tertunduk, memang sulit baginya untuk mendapat
penjelasan dari Kiai Rancangbandang, karena ia sendiri tidak dapat mengatakan
kepentingannya naik ke pegunungan itu.
Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam, katanya di dalam hati “Baiklah
jika aku tidak mendapat keterangan apapun tentang gunung itu, tetapi aku sudah
mengurangi beban di hatiku akibat terbunuhnya Sisik Sana, untunglah bahwa
ayahnya dapat mengerti”
Dalam pada itu, Kiai Rancangbandang kemudian berkata “Anakmas, Gunung Sewu
adalah pegunungan yang diselimuti oleh kabut rahasia, tidak banyak orang yang
mengetahui dengan pasti, karena itu, jika tidak penting benar, sebaiknya kau
tidak usah pergi naik keatas Gunung Sewu itu, meskipun seandainya kau memiliki
ilmu rangkap tujuh, dan berperisai baja di dadamu, namun tidak akan banyak
manfaatnya, kareena itu adalah daerah yang berbatu-batu saja tanpa memberikan
apapun kepada anakmas, jika anakmas sudah sampai keseribu puncak diatas
pegunungan itu.
Panon menarik keningnya, tetapi Ia tidak menjawab.
Namun dalam pada itu, Ki Ajar Respati berkata “Adi Rancangbandang, jika anakmas
Panon memang sudah bertekad untuk memanjat tebing Gunung Sewu, maka kita tidak
dapat mencegahnya kita hanya dapat memberikan beberapa petunjuk tentang
kekerasan alam yang kita ketahui saja kepadanya, biarlah ia bermalam semalam
sebelum besok ia akan mengantarkan kita ke bekas perkelahian yang telah
menyebabkan Sisik Sana terbunuh, kemudian kita lepaskan anakmas pergi mendaki
Gunung Sewu.
Karena Panon tidak segera menjawab, maka Ki Ajarpun kemudian bertanya “Bagaimana
anakmas?, apakah kau tidak keberatan?”
Panon bergeser setapak, lalu “Maaf Ki Ajar, bukan maksudku hendak ingkar, tetapi
jika Ki Ajar menghendaki, baiklah, sekarang aku mengantarkan Ki Ajar ketempat
perkelahian itu”
“Kenapa sekarang?”
“Aku harus meneruskan perjalananku”
“Demikian pentingnya, sehingga kau harus tergesa-gesa?”
Panon tidak segera menjawab, sekali lagi ia menjadi bingung. Tetapi agaknya Ki
Ajar mengetahui keadaannya, karena itu maka katanya “Baiklah anakmas, bila kita
akan pergi sekarang, agaknya setelah menunjukkan tempat itu, anakmas akan
langsung pergi mendaki Gunung Sewu, meskipun dengan demikian anakmas telah
membuang waktu hampir setengah hari. Anakmas, sudah melingkar jalan dan singgah
kemari, mungkin anakmas bermaksud mengambil jalan di sebelah bukit ini, menyusur
Kali Opak ke selatan menuju lembah Payung”
“Ya, Ki Ajar”
“Tetapi anakmas harus kembali ke tempat anakku terbunuh”
“Jika itu dapat mengurangi kesalahanku, aku akan bersedia melakukannya”
Ki Ajar menarik nafas dalam, katanya kemudian “Marilah adi Rancangbandang, kita
bersiap-siap pergi mengikuti anakmas Panon”
Kiai Rancangbandang agak ragu-ragu sejenak, namun iapun kemudian mengangguk
“Baiklah kakang”
“Aku juga akan pergi” berkata anak muda yang selama ini berdiam diri di sisi Ki
Ajar Respati.
“Sambi Raga” berkata Ki Ajar Respati “Jika aku dan pamanmu pergi bersama, maka
sebaiknya kau tinggal di rumah, jika kau ikut pergi, maka rumah pamanmu akan
kosong, selain para pembantu saja”
Sambi Raga termangu-mangu, tetapi ia tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada
ayahnya.
Demikianlah, Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandang segera masuk ke ruang
dalam, Sambi Raga yang tidak lagi dapat bersikap baik kepada Panon, mengikuti
pula, baginya meninggalkan anak muda itu tentu akan lebih baik dari pada duduk
bersama, agar tidak timbul salah paham.
Sejenak kemudian Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandangpun telah siap pula,
mereka langsung pergi ke halaman sambil menuntun kuda masing-masing.
“Marilah anakmas” ajak Kiai Rancangbandang.
Panonpun segera turun dari pendapa dan mengambil kudanya.
“Sebenarnya kami tidak ingin menghambat perjalanan anakmas” berkata Ki Ajar
Respati “Anakku telah memperlambat perjalanan anakmas dengan tindakannya yang
bodoh, sekarang kami yang tua-tua inipun telah menghambat pula”
“Tidak apa Ki Ajar” jawab Panon “Akulah yang telah melakukan kesalahan”
Demikianlah merekapun kemudian meninggalkan padepokan kecil itu, Panon menempuh
arah kembali ke tempat ia bertempur melawan Sisik Sana dan kedua kawannya.
Mudah-mudahan mereka masih berada di sekitar tempat itu dan bersedia menjadi
saksi bahwa aku tidak bersalah, agaknya hal itu akan menjadi semakin baik,
apalagi jika kemudian merekapun menyatakan penyesalan atas tingkah lakunya
sehingga menjerumuskan Sisik Sana yang tidak berarti sama sekali.
Diperjalanan, mereka bertiga hampir tidak berbicara sama sekali, terdorong oleh
keinginannya untuk segera meneruskan perjalanan kepegunungan seribu, maka Panon
yang berjalan di paling depanpun rasa-rasanya semakin lama semakin cepat.
Akhirnya merekapun sampai ke tempat yang mereka tuju, dengan ragu-ragu Panon
menarik kendali kudanya dan kemudian menghentikannya sama sekali.
“Ki Ajar” berkata Panpn dengan suara yang sendat “Disinilah peristiwa itu
terjadi”
Ki Ajar dan Kiai Rancangbandang segera meloncat turun, sebagai seorang yang
berpengalaman luas, merekapun melihat bekas pertempuran yang tidak begitu seru,
perkelahian yang agaknya terlampau cepat selesai.
“Aku kira Watu Sampar dan Bandung Limpat menguburkan Sisik Sana tidak jauh dari
tempat ini” berkata Panon yang telah meloncat turun pula dari kudanya.
Sejenak Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandang termangu-mangu memandang
sekeliling, seolah-olah memang ada yang dicarinya.
“Angger Panon” berkata Ki Ajar Respati kemudian “Apakah kau yakin bahwa pada
suatu saat Watu Ampar dan Bandung Limpat akan kembali kepadaku?”
“Aku harap demikian Ki Ajar”
“Dan kau yakin bahwa mereka berdua telah menguburkan anakku sebaik-baiknya?”
“Ya, Ki Ajar”
Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, sementara Panon termangu-mangu
memandangnya, ketika Ki Ajar itu menambatkan kudanya pada sebatang pohon,
demikian pula dilakukan oleh Kiai Rancangbandang.
Tiba-tiba saja Panon menjadi berdebar-debar ketika ia melihat wajah Ki Ajar
Respati yang berubah, meskipun Ki Ajar Respati itu masih tetap tersenyum, namun
senyumnya rasa-rasanya telah jauh berbeda, apalagi ketika orang tua itu berkata
“Disinilah anakku kau bunuh anakmas, aku tidak sampai hati membiarkannya ia
berkubur seorang diri di tengah-tengah hutan ini, daripada aku memindahkan
kuburnya, agaknya lebih baik bagiku untuk memberikan seorang atau dua atau tiga
orang kawan untuk menemaninya.
Panon termangu-mangu, tetapi ia menjadi tegang.
“Tambatkan kudamu” berkata Ki Ajar Respati.
“Aku tidak mengerti maksud Ki Ajar”
“Tambatkan kudamu, karena aku memerlukan kau, kau telah membunuh anakku di sini,
sekarang kaupun harus mati dan dikuburkan disini pula”
Dada Panon bergetar mendengar kata-kata itu, ia benar-benar tidak menyangka
bahwa yang akan terjadi adalah demikian, ia menyangka bahwa orang yang bernama
Ki Ajar Respati dan adiknya adalah orang yang berjiwa besar, berjiwa ksatria dan
mulia, orang yang dapat mengerti bahwa anaknyalah yang bersalah.
“Panon Suka” berkata Ki Ajar Respati kemudian “Memang tidak menyenangkan untuk
mati sebelum tugas yang dibebankan oleh gurunya dapat diselesaikan, tetapi kau
adalah orang yang tidak tahu akan diri, kau belum melakukan apapun juga yang
menyangkut tugas yang berat bagimu, tetapi disepanjang jalan kau telah mencari
musuh, akibatnya kau akan meneyesal karena kau adalah murid yang paling buruk
yang pernah aku ketahui dari seorang guru yang mungkin cukup baik”
“Ki Ajar” berkata Panon “Apakah artinya semuanya ini?”
“Artinya, aku akan menuntut balas kematian anakku, benar kata Sambi Raga, setiap
hutang harus dibayar, dan kaupun harus membayar hutangmu, Hutang jiwa, Sisik
Sana adalah anakku yang aku banggakan, ternyata ia telah kau bunuh disini”
Panon menjadi semakin tegang.
“Nah, cepat, bersiaplah untuk mati, atau barangkali kau ingin meninggalkan
pesan?”
Dada Panon Suka benar-benar telah tergetar, sejenak ia berdiri termangu-mangu
memandang Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandang berganti-ganti.
“Cepat” bentak Ki Ajar Respati “Katakan yang ingin kau katakan”
Panon Suka menjadi gemetar, berbagai perasaan bercampur baur di dalam hatinya,
sejenak ia ragu-ragu, perasaan bersalah memang menyelinap di dalam hatinya,
tetapi sejenak kemudian ia merasa bertanggung-jawab untuk menjalankan tugas
gurunya, tugas yang amat penting.
Dalam kebimbangan itu ia mendengar Ki Ajar Respati membentaknya sekali lagi “He,
anak muda yang cengeng, jangan menyesali nasibmu yang malang, cepat, apakah yang
akan kau pesankan?, barangkali kepada gurumu atau kepada orang tuamu?, atau
barangkali kau ingin aku membunuh gurumu pula?”
Kata-kata itu benar-benar telah membakar hati anak muda itu, betapapun ia
mencoba menguasai diri, tetapi penghinaan terhadap gurunya benar-benar telah
membangunkannya dari berbagai macam kebimbangan.
Akhirnya anak muda itu berkata “Ki Ajar Respati, semula aku kagum atas kebesaran
jiwa Ki Ajar, Ki Ajar aku anggap benar-benar orang yang dapat menempatkan diri
dalam pilihan yang mampu menimbang baik dan buruk, salah dan benar, aku
berbangga bahwa di dunia ini ada seoerang yang melihat kebenaran dan menerimanya
dengan dada terbuka, meskipun maut telah merenggut jiwa anaknya, tetapi
ternyata, aku salah, yang aku hadapi adalah manusia kebanyakan, manusia biasa
seperti yang aku jumpai di jalan-jalan, di pematang-pematang, di pasar-pasar dan
di lingkungan masyarakat biasa, semua akan menjadi marah, dendam dan kehilangan
akal, jika anaknya terbunuh, apapun sebabnya, dan Ki Ajarpun berbuat seperti
itu, bukan seorang yang waskita dan bijaksana”
Wajah Ki Ajar Respati menjadi merah, sebuah tarikan nafas yang dalam nampak
lewat di lubang hidungnya, sementara Kiai Rancangbandang justru menundukkan
kepalanya.
Namun dalam pada itu, Ki Ajar Respatipun menggeretakkan giginya sambil berkata
“Setiap orang akan berusaha membela dan mempertahankan hidupnya, seperti setiap
orang, yang marah dan mendendam karena anaknya dibunuh orang, agaknya kaupun
berbuat seperti itu. Seperti yang kau katakan, tidak ubahnya dengan orang-orang
kebanyakan, kaupun telah berbuat licik dan mencari jalan keselamatan dengan cara
yang sangat memalukan, bukankah kau pernah berguru?, jika kau sayang akan
nyawamu, kenapa kau tidak menarik senjatamu dan mempertahankan hidupmu dengan
jantan, bukan merengek dengan menyentuh perasaan belas kasihan orang lain”
Darah Panon yang masih muda tiba-tiba menggelegak, ia sudah dilanda kemarahan,
namun menghadapi sikap Ki Ajar Respati, maka kesabarannya itu rasa-rasanya
menjadi luntur.
Karena itu, maka Panonpun kemudian mengadahkan dadanya sambil berkata “Ki Ajar,
aku hormati kau sebagai seorang yang lebih tua, bahkan sebagai ayah dan guruku,
tetapi jika kau masih tetap tidak melihat kebenaran, maka apa boleh buat, aku
bukan orang memiliki kelebihan dari orang lain, juga aku adalah orang biasa yang
berusaha mempertahankan hidupku, itulah alasanku yang terutama kenapa aku
membunuh anakmu, karena itu jika sekarang hidupku terancam, maka akupun akan
mempertahankannya sampai kemampuanku yang terakhir, jika aku mati dalam
perjuanganku mempertahankan hidupku, maka guru tidak akan menyalahkan aku,
karena aku gagal menjalankan tugasku”
“Bagus, itu adalah kata-kata ksatria” sahut Ki Ajar Respati. “Karena itu
bersiaplah, kau akan mati sebagai lagi-laki, seperti juga anakku mati sebagai
laki-laki, tetapi perlawananmu akan mempersulit jalan kematianmu”
“Aku tidak perduli” sahut Panon yang kehilangan kesabarannya.
Sejenak kemudian, maka Ki Ajar masih berdiri sambil bertolak pinggang memandangi
anak muda itu, namun kemudian iapun melangkah maju sambil berkata “Sebutlah nama
orang tua dan gurumu itu di saat-saat kematianmu”
Panon tidak sempat menjawab, tiba-tiba saja ia melihat Ki Ajar telah meloncat
menyerangnya, tangannya terjulur lurus mengarah ke dadanya dengan jari-jari yang
terentang merapat siap untuk menyobek dadanya.
Panon berdesis melihat serangan itu, ia teringat pada serangan Sisik Sana dengan
cara yang sama seperti yang dilakukan ayahnya, tetapi serangan Ki Ajar dibarengi
dengan deru angin yang deras, sederas tata gerak yang menggetarkan jantung
lawannya”
Tetapi Panon benar-benar telah bersiap, ia sadar bahwa tentu Ki Ajar Respati
tidak akan melakukan kesalahan seperti Sisik Sana, apalagi serangan didasari
dengan dendam dan kebencian yang menyala dihati orang tua itu.
Dengan sigapnya Panon menghindar, ia tidak berani mencoba-coba lagi, itulah
sebabnya, maka demikian serangan itu meluncur sejengkal di depan dadanya, maka
iapun segera melakukan serangan balasan, ia berputar pada tumitnya, melintangkan
kakinya, kemudian dengan gerak yang cepat ia memburu kearah yang sama sambil
melontarkan serangan dengan kakinya.
Benar-benar serangan yang tidak terduga, itulah sebabnya Ki Ajar Respati
mengerutkan keningnya, ia hanya bertindak cepat, karena itu iapun segera memutar
tubuhnya, merendah pada lututnya dan melindungi lambungnya dengan sikunya.
Yang terjadi adalah benturan yang dahsyat, serangan Panon yang tiba-tiba itu
telah membentur pertahanan Ki Ajar Respati sehingga keduanya telah terguncang.
Kiai Rancangbandang melihat benturan itu dengan hati yang tergetar, Panon adalah
anak muda yang sebenarnya masih sangat belia untuk melawan Ki Ajar Respati, jika
keduanya benar-benar telah membenturkan segenap kekuatannya, maka diluar
sadarnya ia mencemaskan anak muda itu.
Tetapi yang dilihatnya adalah berbeda dengan yang dicemaskannya, ia melihat
Panon tergetar surut satu langkah, namun ia juga melihat Ki Ajar Respati
terpaksa terdesak mundur pula.
“Luar biasa” Kiai Rancangbandang berdesis.
Sementara itu ternyata Panon telah mempersiapkan dirinya untuk menyerang, tetapi
dalam saat yang bersamaan serangan Ki Ajar Respati telah mendahuluinya, cepat
dan benar-benar terarah pada bagian yang berbahaya, jari-jari yang mengembang
rapat itu terjulur ke lehernya.
Panon dengan cekatan bergeser kesamping sambil mencondongkan tubuhnya, kemudian
dengan tangannya ia langsung menghantam lawannya, tetapi lawannya sempat
menggeliat dan berputar seperti pusaran, bahkan kemudian melintang dengan kaki
terjulur lurus ke dada Panon.
Serangan ituun begitu tiba-tiba, sehingga Panon hanya menyilangkan kedua tangan
di dadanya, dengan demikian maka sekali lagi terjadi benturan antara kedua
kekuatan itu, dan sekali lagi mereka tergetar surut.
Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru, sekali-sekali salah satu
pihak terlambat menghindar serangan lawannya, sehingga terlempar beberapa
langkah, namun kedua-duanya seakan-akan memiliki kemampuan melenting seperti
belalang, demikian mereka jatuh berguling, demikian mereka bangkit kembali.
Agaknya Ki Ajar Respati tidak mau memberi kesempatan sama sekali kepada anak
muda itu, tetapi dengan demikian ia justru menjadi seolah-olah tergesa-gesa.
Ketika serangannya gagal, maka Ki Ajar masih memburu dengan serangan keduanya,
kakinya terjulur lurus, sehingga orang tua itu bagaikan meluncur dalam garis
datar, namun Panon tidak membiarkan kepalanya terlepas karena serangan yang
dahsyat itu, ia merendah sedikit, namun ia masih sempat menyambar kaki lawannya
dan dengan mempergunakan kekuatan Ki Ajar sendiri, Panon melemparkannya dengan
derasnya.
Ki Ajar agaknya telah kehilangan keseimbangan, ketika ia terjatuh ditanah, ia
tidak dapat langsung berdiri, sekali ia terguling, tetapi sebelum ia sempat
memperbaiki keadaanya, rasa-rasanya Panonlah yang kemudian terbang menerkamnya.
Ki Ajar Respati justru tetap pada keadaannya, sambil menelentang dengan kakinya,
ia menyerang Panon yang sedang meluncur dengan kedua tangannya yang terjulur
tepat ke lehernya.
Sentuhan kaki Ki Ajar yang dilambari dengan kekuatan yang luar biasa itu telah
melemparkan Panon keudara, tetapi Panon tidak menjadi bingung dan kehilangan
akal, sekali ia berputar dan ketika ia jatuh ke tanah, maka ia telah berdiri
pada kedua kakinya yang kokoh.
Namun pada itu, Ki Ajar Respatipun telah berdiri pula, siap untuk menyerangnya.
Sekejap Panon berdiri termangu, Ia sudah mulai bertempur tanpa pertimbangan
lagi, selain mempertahankan hidupnya, apapun yang akan terjadi, sama sekali
sudah tidak dipertimbangkannya lagi, ia tidak mau mati sebelum ia menunaikan
tugasnya, atau setelah ia berjuang dengan segenap kemampuan dari ilmu yang
pernah diterimanya.
Ilmu yang sebenarnya belum pernah dipergunakan dalam pertempuran yang
sebenarnya, antara hidup dan mati, bahkan yang dilakukannya dipadepokannya, di
tempat terpencil di lereng Gunung Merbabu adalah sekedar latihan-latihan yang
seakan-akan hanya seorang diri.
Kini menghadapi seorang yang memiliki ilmu yang mumpuni yang sedang menuntut
kematian anaknya yang dibunuhnya tanpa sengaja.
Tetapi Ki Ajar Respati tidak segera menyerangnya, meskipun matanya masih tetap
membara, ia masih tetap berdiri di tempatnya.
Namun sejenak kemudian terdengar diantara desah nafas orang tua itu, berkata
“Panon, kau memang memiliki kemampuan dan ilmu gerak yang mengagumkan, kau
mempunyai kecepatan bergerak jauh melampaui dugaanku, tetapi dalam benturan
ilmu, bukan semata-mata ilmu geraklah yang menentukan, aku mempunyai ilmu yang
dapat membuat kau luluh menjadi debu”
Panon masih tetap bersiaga sepenuhnya, sambil bergeser setapak ia menjawab
“Apapun yang akan Ki Ajar lakukan, aku tidak akan lari”
“Bagus, tetapi sebelum aku membenturkan ilmu keatas kepalamu, aku ingin
menunjukkan kepadamu, bahwa ilmu yang bagaikan sekedar ceritera khayal itu
memang ada”
Panon tidak menjawab, tetapi ia termangu-mangu ketika ia melihat Ki Ajar Respati
memandang sekeliling kearah batu-batu padas yang berserakan.
“Lihat, hai anak muda yang sombong” ia berteriak lantang “Kau akan pingsan
melihat kemampuanku mempergunakan kekuatan cadangan”
Panon mengerti, bahwa Ki Ajar Respati akan mempergunakan kekuatannya, namun
Panon sama sekali tidak menjadi gentar, bahkan tiba-tiba iapun mempersiapkan
dirinya, membangunkan segenap kekuatan yang ada di dalam dirinya, kekuatan
cadangan yang jarang nampak pada permukaan tingkah laku dan tindak tanduknya
sehari-hari.
Bab 14
Sejenak Panon menunggu, yang dilihatnya kemudian benar-benar menakjubkan, Ki
Ajar Respati berteriak sambil meloncat menghantam sebuah batu padas yang
terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Akibatnya benar-benar menakjubkan, batu padas itupun pecah berantakan.
Tetapi belum lagi pecahan batu-batu padas yang berhamburan itu terserak
seluruhnya, sekali lagi terdengar gemeretak gigi dan benturan yang yang tidak
kalah dahsyatnya, sebongkah lagi batu padas pecah berserakan pula menjadi debu,
segumpal asap yang putih mengepul diantara debu yang berhamburan.
“Luar biasa” terdengar Kiai Rancangbandang berdesis kepada diri sendiri, bahkan
Ki Ajar Respatipun justru berdiri termangu-mangu untuk beberapa saat. Ia
menyaksikan kepulan asap dan debu yang hanyut didorong oleh angin yang lembut
dengan hati yang berdebar-debar.
Ternyata, sesaat setelah Ki Ajar Respati menunjukkan kekuatan yang ada di dalam
dirinya, maka Panonpun telah melakukan hal yang sama, ternyata iapun berhasil
memecahkan batu padas seperti yang dilakukan Ki Ajar Respati.
Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam, tiba-tiba saja wajahnya yang tegang itupun
rasa-rasanya menjadi luluh dan lembut, dengan suara datar ia berkata “Sangat
mengagumkan anakmas, ternyata kau memiliki kemampuan yang tiada taranya, jauh
diluar dugaanku”
Panon masih tetap bersikap hati-hati meskipun Ki Ajar Respati nampaknya tidak
bersiap untuk menyerangnya.
“Ki Ajar” berkata Panon “Aku sudah siap untuk melakukan apa saja untuk membela
hidupku dan demi tugas yang dibebankan kepadaku”
“Tidak ngger, kau tidak perlu berbuat apa-apa lagi”
“Aku tidak mengerti maksudmu, apakah Ki Ajar menunggu aku menjadi lengah dan
menghantam punggungku dengan tiba-tiba selagi aku tidak menyangka?”
“Tentu bukan begitu ngger”
“Ki Ajar, aku sudah kehilangan kepercayaan kepadamu, jika kau tidak melihat
bahwa kemampuanku tidak kalah dari apa yang dapat kau lakukan, maka kau tentu
akan bersikap lain”
Wajah Ki Ajar menegang pula sejenak, lalu “Anakmas, kenapa pandangan anakmas
menjadi sedemikian pendeknya?”
“Ki Ajar, kau tidak akan dapat berpura-pura lagi, kau tidak perlu menunggu,
kapan kau akan mencari kesempatan lagi untuk membunuhku”
Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam, ketika ia memandang Ki Rancangbandang, maka
dilihatnya Ki Rancangbandang mengerutkan keningnya sambil berkata “Jangan salah
mengerti anakmas, sebenarnyalah kami tidak bermaksud buruk kepadamu”
Sekarang kau dapat berkata begitu, tetapi apakah yang akan kau katakana jika
mayatku telah tergolek disini?”
“Tentu tidak akan sampai sedemikian jauh anakmas”
“Aku tidak percaya, jangan berbuat licik”
Sejenak Ki Ajar Respati termangu-mangu dan dengan wajah yang muram ia berkata
kepada adiknya “Apakah yang aku lakukan sudah terlampau jauh”
Kiai Rancangbandang memandang Panon sejenak, ada sesuatu yang terpancar pada
sorot matanya, dengan nada yang dalam ia berkata “Aku sudah memperhitungkan
akibat ini”
Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, namun kemudian ia melangkah mendekati Panon
sambil berkata “Anakmas, adalah wajar sekali, bahwa anakmas yang masih muda itu
telah kehilangan kepercayaan kepada kami yang tua-tua, apalagi alasanku untuk
perkelahian itupun sangat mendasar, karena aku telah kehilangan anakku” ia
berhenti sejenak, lalu “Tetapi jika masih ada sisa kepercayaanmu kepadaku,
dengarlah, aku bermaksud baik, aku benar-benar telah mengikhlaskan anakku yang
telah sesat jalan, jika aku memaksakan perkelahian ini, semata-mata karena
kebimbanganku terhadap kemampuanmu”
“Kenapa Ki Ajar membimbangkan kemampuanku?, dan untuk apa?”
“Angger Panon, bukankah angger akan pergi ke Gunung Sewu?”
“Ya”
“Aku yakin bahwa angger tidak menyadari apakah yang ada disalah satu puncak
Gunung itu, menurut perhitunganku angger tentu akan pergi ke Karangmaja,
mengunjungi Istana yang suram itu”
“Kenapa Ki Ajar memperhitungkan demikian?”
“Tidak ada yang menarik diatas Gunung itu, selain sebuah istana kecil milik
Pangeran Kuda Narpada yang telah ditinggalkannya beberapa lamanya”
Panon tidak menjawab, rasa-rasanya orang tua itu dapat menebak dengan tepat.
“Tetapi ketahuilah anakmas, bahwa istana kecil yang suram itu, ternyata telah
menarik banyak perhatian, perhatian orang-orang sakti yang pilih tanding” ia
berhenti sejenak, lalu “Itulah sebabnya aku menjadi sangsi, apakah kepergianmu
kesalah satu puncak bukit itu, bukan sekedar untuk membunuh diri dengan sia-sia,
jika kau jatuh ke tangan siapapun yang kini berada di puncak yang sangat menarik
perhatian itu, maka akibatnya akan menjadi sangat parah. Ternyata kau adalah
seorang anak muda yang memiliki ilmu yang mumpuni, karena itu, maka aku tidak
menjadi sangsi lagi, bahwa kaupun pantas mendaki pegunungan itu”
Panon mengangguk-angguk jenenak, ia melihat kejujuran di mata Ki Ajar Respati,
namun demikian, ia masih belum dapat menghapuskan perasaan curiganya, karena
itu, maka iapun kemudian berkata “Apakah kau tidak sekedar menjebak aku?”
“Kenapa aku harus menjebakmu?” bertanya Ki Ajar, “Jika aku benar-benar ingin
membunuhmu, aku masih mempunyai satu kesempatan meskipun licik, bukankah adikku
dapat membantu jika aku memang ingin membunuhmu”
Panon Suka memandang Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandang berganti-ganti,
tetapi kecurigaan terhadap keduanya masih tetap memancar pada sorot matanya,
kemudian ia berkata “Apakah aku masih dapat membangunkan kepercayaanku lagi? Ki
Ajar, apa yang terjadi adalah suatu kejutan yang tidak akan dapat dengan mudah
aku lupakan”
“Aku mengerti anakmas, tetapi ketahuilah, jika aku masih juga mendendam dan
benar-benar ingin membunuhmu, maka aku tentu akan membawa siapa saja yang akan
dapat membantuku, jika karena kesombonganku, aku yakin akan dapat melakukannya,
seperti dalam keadaan ini, maka aku akan memberikan isyarat kepada adikku, Kiai
Rancangbandang, sebenarnya bahwa adikku, Rancangbandang memiliki ilmu yang lebih
sempurna dari padaku, bahkan ilmuku itupun bukan ilmu yang baik, karena aku
menyusunnya sendiri. Sesuai dengan pengenelaku atas alam sekitarku, aku berbeda
dengan adikku Rancangbandang, setelah ia bersamaku mempelejari ilmu yang kalang
kabut, ia masih menemui bukan hanya seorang yang dapat menyempurnakan ilmunya,
tetapi dua orang kakak beradik pula, itulah sebabnya, maka ilmunya menjadi lebih
sempurna dan teratur. Dengan demikian kau akan dapat mempertimbangkan, bahwa
meskipun kau mempunyai kelebihan karena kau tenaga muda, maka kau tentu masih
harus membuat perhitungan tersendiri jika kau harus menghadapi kami berdua”
Panon termangu-mangu sejenak, tetapi kemudian ia yang justru menjawab “Apapun
yang akan terjadi, aku tidak pernah menyesal selama aku tetap merasa berjalan
diatas jalan yang benar menurut keyakinanku atas petunjuk dan didasari nasehat
guruku”
Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, namun dalam pada itu Kiai
Rancangbandang yang menyahut “Angger Panon Suka, tentu saja yang pertama-tama
kami harus minta maaf, penilaian angger terhadap kami memang dapat kami
mengerti, tetapi, cobalah menangkap kejujuran ats keterangam kami. Aku dan
kakang Ajar Respati bersepakat untuk mengetahui, sampai dimana bekal yang kau
bawa untuk mendaki Gunung Sewu dalam keadaan seperti sekarang ini, hanya itu,
tidak lebih dan tidak kurang, dan kini kami telah mengetahui bahwa angger Panon
Suka tidak perlu dicemaskan lagi, karena itulah maka kami akan dapat melepaskan
anakmas untuk pergi ke Gunung Sewu” Kiai Rancangbandang berhenti sejenak, lalu
“Agar anakmas mempercayai kami, maka aku dapat membertitahukan bahwa aku telah
melihat beberapa orang yang nampaknya meyakinkan telah naik ke Gunung Sewu,
itupun yang melalui jalur ini, mungkin dari jalur lain, beberapa orang telah
naik pula dengan kepentingan yang sama yang tidak begitu aku ketahui”
Panon menjadi bimbang.
“Dengarlah anakmas” Kiai Rancangbandang melanjutkan “Yang pasti aku ketahui,
memilik ciri-ciri lahiriah yang pernah aku kenal adalah mereka yang berasal dari
perguruan Guntur Geni”
Panon mengerutkan keningnya, gurunya memang pernah menceritakan beberapa
perguruan yang terakhir dikenalnya, dan gurunya memang pernah menyebut nama
perguruan itu, Guntur Geni, tetapi Panon tidak mempunyai gambaran yang jelas
tentang perguruan itu, karena gurunrya tidak banyak menceritakannya.
“Apakah kau pernah mendengar nama perguruan itu?” bertanya Ki Ajar Respati.
Panon mengangguk kecil, jawabnya “Aku pernah mendengar namanya, hanya mendengar
saja tanpa pengertian apapun tentang perguruan itu”
“Apakah gurumu tidak pernah mengatakan apapun juga tentang perguruan itu?”
Panon menggelengkan kepalanya, jawabnya “Guru hanya pernah menyebutkan nama
beberapa perguruanm hanya itu”
Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, agaknya Panon benar-benar seorang yag
masih belum berpengalaman, bahkan gurunyapun tidak banyak mengetahui lingkungan
yang keras pada saat-saat terakhir dari perguruan-perguruan yang tersebar.
“Mungkin guru anak muda ini menempa diri tanpa tuntunan siapapun juga seperti
aku” berkata Ki Ajar Respati di dalam hatinya.
Tetapi ia tidak mengatakannya kepada Panon.
Dalam pada itu, Panon telah mulai mencoba untuk mempercayai kata-kata Kiai
Rancangbandang, meskipun betapapun kecilnya, masih juga terpercik kecurigaannya
kepada orang tua itu.
“Karena itu anakmas” berkata Kiai Rancanbandang “Perjalanan ke Gunung Sewu
memang bukan perjalanan tamasya”
Panon mengangguk-angguk.
“Jika anakmas sudah siap menghadapi setiap kemungkinan, maka demikian adanya
bahaya yang barangkali akan dihadapi oleh anakmas, karena aku kira apa yang akan
anakmas lakukan tentu akan banyak sisip dari dugaanku”
“Apakah yang Kiai duga dari perjalananku ini?”
Kiai Rancangbandang memandang Ki Ajar sejenak, lalu katanya “Angger Panon Suka,
sebenarnyalah telah tersebar berita diantara orang-orang yang disebut sakti,
seperti orang-orang dari perguruan Guntur Geni dan mungkin dari perguruan lain,
bahwa istana Pangeran Kuda Narpada telah ditinggalkan oleh penghuninya,
maksudnya adalah Pangeran Kuda Narpada sendiri, yang tinggal adalah isterinya
saja dan anak gadisnya, ternyata bahwa istana itu telah banyak menarik
perhatian, bukan janda pangeran itu atau puterinya, tetapi apa yang mungkin
ditinggalkan oleh Pangeran Kuda Narpada, sekali lagi, yang mungkin ditinggalkan,
tetapi mungkin pula di istana itu tidak akan pernah diketemukan apapun juga”
Panon Suka menjadi berdebar-debar, ternyata bahwa sesuatu memang benar terjadi
di istana itu, dan itulah agaknya maka ia memang seharusnya datang lebih cepat.
“Tetapi nampaknya guru tidak tahu bahwa hal serupa itu telah terjadi” berkata
Panon di dalam hatinya “Ternyata guru tidak pernah mengatakan sesuatu yang
bersangkutan dengan kedatangan orang-orang itu, apalagi guru memang tidak pernah
pergi dari padepokannya yang terpencil itu”
Dalam pada itu, Kiai Rancangbandangpun berkata selanjutnya “Itulah anakmas, apa
yang aku ketahui tentang Gunung Sewu, benar-benar suatu daerah yang kurang
menyenangkan untuk dikunjungi oleh siapapun juga” ia berhenti sejenak, lalu
“Tetapi maafkan bahwa aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau juga termasuk
orang-orang yang dipengaruhi oleh keinginan tentang sesuatu yang mungkin
ditinggalkan oleh Pangeran Kuda Narpada”
Panon menunddukkan kepalanya, ia amenjadi bingung, ia memang merasa bertanggung
jawan untuk melaksanakan tugas yang dibebankan oleh gurunya, tetapi apakah niat
gurunya itu tidak termasuk dalam sifat tamak seperti yang dilakukan oleh
orang-orang lain?.
“Menilik sifar dan watak guru, tentu tidak, tetapi kenapa guru juga ingin
mendapatkannya seperti orang-orang lain?” pertanyaan itu telah membelit hatinya,
namun tiba-tiba wajah Panon menjadi terang, hampir diluar sadarya ia bergumam
“Aku ingat, Guru pernah menyebutkan bahwa jika orang lain mendahuluinya dan
berhasil, maka akibatnya akan berkepanjangan, mungkin Demak harus menaruh
perhatian dengan sungguh-sungguh dan bahkan mungkin akan mengguncangkan
ketenangan negeri yang baru berkembang ini”
“Apa katamu ngger?” bertanya Ki Ajar sambil bergeser mendekat.
Panon termangu-mangu, Kiai Rancangbandang mendekatinya pula sambil bertanya
“Apakah gurumu mencemaskan akibatnya jika ada orang lain mendahuluimu?”
“Ya, Kiai”
“Siapakah gurumu?”
“Wirit, Kiai Wirit”
Kiai Rancangbandang dan Ki Ajar mengerutkan keningnya, nama itu agaknya memang
belum pernah didengarnya, karena itu sambil menggelengkan kepalanya Ki Ajar
berkata “Aku belum pernah mendengarnya, tetapi jika benar niat gurumu seperti
yang kau katakan, maka kedatanganmu ke istana itu mempunyai maksud yang berbeda
dengan orang-orang lain”
“Apakah maksud orang lain datang ke tempat itu?”
“Mereka telah didorong oleh ketamakan dan nafsu untuk berkuasa, karena yang
mereka cari adalah lambing kekuasaan, adalah tepat sekali kata gurumu, bahwa
jika orang lain berhasil lebih dahulu dari padamu, maka mungkin sekali akan
timbul malapetaka bagi Demak”
Panon Suka mengerutkan keningnya, sementara Kiai Rancangbandang meneruskan
“Karena itu angger, jika demikian pesan gurumu, cobalah melakukan tugasmu
sebaik-baiknya, meskipun tugas itu agaknya akan terasa sangat berat karena
kehadiran orang-orang yang telah mendahuluimu mendaki Gunung Sewu”
Panon mengangguk-angguk, kepercayaannya kepada kedua orang tua itu
perlahan-lahan telah tumbuh kembali, bahkan iapun kemudian merasakan bahwa kedua
orang tua itu sangat mencemaskan dirinya, jika ia tergesa-gesa tanpa
mempersiapkan diri sebaik-baiknya mendaki Gunung Sewu yang telah berubah menjadi
wingit, bukan karena hantu, jin dan lelembut, tetapi agaknya beberapa orang
memang telah mendahuluinya pergi ke istana yang disebutkan oleh gurunya.
Selagi ia termangu-mangu, maka terdengarlah Ki Ajar Respati berkata “Angger
Panon Suka, ternyata kemampuan oleh kanuraganmu sudah memadai, jika terpaksa kau
harus bertempur, maka kau memiliki bekal yang cukup, tetapi masih dengan
keterangan, apabila kau berperang tanding, tetapi mungkin lawanmu tidak hanya
seorang atau dua, apalagi orang-orang Guntur Geni memiki senjata yang sulit
untuk dilawan”
“Apakah senjata mereka Kiai?”
“Racun, mereka adalah orang-orang yang bergelimang racun tajam yang disadapnya
dari bisa ular dan racun tumbuh-tumbuhan”
Panon termenung sejenak, kini ia menyadari sepenuhnya bahwa perjalanannya memang
berbahaya.
“Ki Ajar” katanya kemudian “Guruku sudah memberi aku bekal untuk mencegah
keracunan, Guru memberi aku obat-obatan yang dapat aku usapkan pada luka atau
tempat yang terkena racun, tetapi guru juga memberikan obat yang dapat aku
telan, obat yang sudah diramu menjadi seperti butiran buah jarak yang sudah
masak”
Ki Ajar mengangguk-angguk, katanya “Jika demikian, bekalmu memang sudah lengkap”
Namun demikian agaknya Kiai Rancangbandang masih meragukannya, karena itu maka
tiba-tiba saja ia berkata kepada Ki Ajar “Kakang, aku tidak sampai hati
melepaskan angger Panon Suka pergi seorang diri menunaikan tugas yang gawat,
agaknya gurunya yang sudah lama tidak mengetahui keadaan Gunung Sewu itu tidak
menyadari, betapa bahaya sudah menunggu muridnya”
“Jadi?”
“Aku akan mengantarkannya kakang, mungkin akupun tidak banyak berarti baginya,
aku hanya akan mengantarkan sampai ditempat yang dituju, kemudian, jika mungkin,
aku akan kembali mendahuluinya, apakah kakang sependapat?”
Ki Ajar Respati termangu-mangu sejenak, kemudian katanya “Baiklah adi, tetapi
dengan demikian kaupun telah melintas di daerah yang dapat membahayakan dirimu
sendiri, disaat kau berangkat, kau mempunyai seorang kawan yang memiliki ilmu
yang mumpuni, tetapi kelak jika kau benar-benar kembali mendahuluinya, maka kau
akan berjalan seorang diri”
“Tetapi tidak akan banyak orang yang menghiraukan perjalananku kakang,
meninggalkan Gunung Sewu tidak akan mendapat perhatian seperti saat kita
mendaki:
“Tetapi baiklah, kaupun harus mempersiapkan dirimu melawan setiap kemungkinan,
juga melawa racun”
“Aku membawa keris Kiai Tratagnaga, mudah-mudahan akan dapat membantuku melawan
racun jika pada suatu saat aku terpaksa bersentuhan dengan orang-orang Guntur
Geni atau dari perguruan yang lain”
Ki Ajar Respati mengangguk-angguk, katanya “Agaknya Kiai Tratagnaga sudah cukup
bagimu untuk melawan segala macam racun dan bisa” ia berhenti sejenak, lalu
katanya kepada Panon Suka “Angger Panon Suka, agaknya kau pun perlu
mempersiapkan dirimu lebih baik daripada sekedar membawa obat-obatan untuk
melawan racun dan bisa”
“Apakah yang harus aku lakukan Ki Ajar?”
Ki Ajar termangu-mangun sejenak, agaknya ia sedang dicengkam oleh keragu-raguan,
baru sejenak kemudian ia berkata “Anakmas Panon, aku mempunyai sesuatu yang
berguna untuk mengebalkan diri terhadap racun, tetapi itu adalah milikku
satu-satunya, jika aku sekarang bermaksud meminjamkannya kepadamu, maka sudah
barang tentu aku berharap bahwa benda itu akan dapat kembali kepadaku kelak”
Panon masih termangu-mangu.
“Anakmas, apakah kau bersedia meminjamnya?”
“Ki Ajar” Jawab Panon, aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih, sudah barang
tentu aku akan senang sekali meminjamnya, aku berjanji untuk mengembalikannya
kelak kepada Ki Ajar, tetapi aku masih ragu-ragu, apakah aku akan dapat turun
lagi dari Gunung Sewu, menilik keadaannya yang semakin gawat”
Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam, katanya “Jika kau harus tetap tinggal disalah
satu puncak pegunungan itu, maka akupun akan mengikhlaskan, tetapi sudah barang
tentu kita berharap bahwa perjalananmu akan mendapat perlindungan dari Yang Maha
Agung”
Panon menarik nafas dalam-dalam.
“Inilah anakmas” berkata Ki Ajar “Pakailah kalung rantai berbandul tali ular
bersisik seribu”
“Ular bersisik seribu?” bertanya Panon.
“Bukan sebenarnya ular bersisik seribu anakmas, tetapu batu itu disebut taji
ular bersisik seribu, batu yang memiliki kekuatan ajaib untuk melawan racun dan
bisa, ada beberapa jenis batu serupa ini, misalnya Jumerut Sisik Waja dan Akik
Naga Keling dari perguruan Cengkir Pitu dan yang sebagai ciri salah satu
perguruan di daerah timur adalah Cula dari Gunung Semeru yang disebut Cula
Kumbang Kuning bermata berlian”
Panon mengangguk-angguk, ia memperhatikan keterangan itu dengan seksama, ia
memang belum pernah mendengarnya dari gurunya, keterangan mengenai bebatuan
yanga dapat melawan bisa.
“Selebihnya” Ki Ajar Respati meneruskan “Ada semacam Batu Mirah Sarpa Suri dan
Watu Kuning Ula Cendani dari ujung barat, dan masih banyak lagi ceritanya
tentang batu-batu aneh yang memiliki kemampuan untuk menawarkan bisa, diantara
semuanya itu adalah batu yang disebut taji ular bersisik seribu, atau yang lazim
disebut Akik Jalu Naga Sisik Sasra”
Panon masih mengangguk-angguk, dengan demikian ia menjadi semakin yakin bahwa
sebenarnyalah kedua orang tua-tua itu tidak bermaksud buruk terhadapnya.
“Nah angger Panon Suka,” berkata Kiai Rancangbandang “Kau dapat meminjam Jalu
Naga Sisik Sasra, aku sudah membawa keris Kiai Tratagnaga, mudah-mudahan jika
kita bertemu dengan berbagai macam racun dan bisa, kita dapat mengelakkan diri,
sedang obat-obatan yang kau bawa dapat juga dipergunakan dimana perlu, dan
mungkin ada orang lain yang memerlukannya”
“Terima kasih Kiai, tetapi apakah dengan demikian aku tidak mengganggu Kiai?”
“Sudahlah, aku memang ingin melihat Gunung Sewu, biarlah Kakang Ajar Respati
menunggu rumah”
“Ya, dan aku masih akan mencari kuburan anakku didaerah ini, mudah-mudahan aku
dapat menemukannya”
Panon masih termangu-mangu, dan agaknya Ki Ajar Respati mengerti apa yang
dipikirkannya, sehingga iapun berkata “Lupakanlah anakmas, Sisik Sana telah
memetik buah dari tanamannya sendiri, kau adalah sekedar lantaran”
“Aku mohon maaf atas semua kelancanganku Ki Ajar”
Ki Ajar tersenyum, dilepaskannya rantai yang terbuat dari baja putih, dengan
bandul sebuah batu yang disebutnya Akik Jalu Naga sisik Sasra, batu yang
berwarna putih kebiru-biruan yang dipusatnya seolah-olah terlukis sisik yang
berlapis-lapis.
“Terimalah, kau dapat mempergunakan sampai tugasmu selesai, sudah tentu aku
berharap kau dapat kembali dan mengembalikan batu itu kepadaku” Ia berhenti
sejenak, lalu katanya kepada Kiai Rancangbandang “Jika kau akan mengikutinya,
pergilah. Kau dapat mendahuluinya, tetapi jika perlu kau akan menjadi kawan yang
dapat mengisi kejemuan di malam-malam yang sepi di atas Gunung Sewu yang wingit
itu”
“Aku mohon diri kakang, aku akan pergi bersama angger Panon Suka yang agaknya
ingin segera sampai ke atas Gunung Sewu”
Panon tidak dapat menolak, ada sesuatu kegembiraan bahwa ia mendapatkan seorang
kawan, tetapi ada juga kecemasan bahwa tugasnya akan diketahui oleh orang lain.
Selain tugas itu sendiri, maka ia harus melakukan beberapa pesan gurunya, ia
harus berhenti di Lembah Payung, menitipkan kudanya dan kemudian hadir di
padukuhan Karangmaja sebagai sesorang yang miksin yang sedang merantau, bahkan
seorang peminta-minta.
Namun Panon Suka tidak segera mengemukakan keberatan-keberatan itu, mungkin di
perjalanan ia menemukan cara yang yang sebaik-baiknya untuk menyampaikan niat
itu kepada Kiai Rancangbandang.
Demikianlah maka Panon Suka dan Kiai Rancangbandangpun segera meninggalkan hutan
itu pergi ke pegunungan berpuncak seribu, pegunungan yang membujur ke barat
dipinggir selatan pergunungan yang belum banyak disentuh kaki manusia, selain
daerah-daerah tertentu yang lebih subur dari dataran-dataran tinggi yang lain.
Memang ada terbersit sedikit kecurigaan Panon Suka, bahwa kepergian Kiai
Rancangbandang adalah karena ketamakannya pula untuk ikut serta memasuki istana
terpencil itu, namun ada semacam tangkapan dihati nuradi Panon, bahwa Kiai
Rancangbandang bukanlah seorang yang dikuasai oleh nafsu semata-mata, bahkan
tingkah lakunya menunjukkan sifatnya yang jujur dan rendah hati.
Sepeninggal Panon Suka dan Kiai Rancangbandang, Ki Ajar Respati duduk termenung,
barulah kemudian terasa betapa pahitnya melepaskan seorang anak laki-laki,
meskipun nalarnya dapat mengikhlaskannya, tetapi amat sulitlah baginya untuk
mengatur perasaannya.
“Tetapi Panon Suka tidak bersalah” ia berkata kepada diri sendiri “Mudah-mudahan
ia selamat di perjalanan, agaknya benar kata gurunya, jika orang lain yang
mendahuluinya, maka akibatnya akan sangat buruk bagi Demak”
Tetapi dalam kesepian dan kepahitan itu, Ki Ajar masih tetap berusaha menguasai
dirinya, meskipun demikian diluar sadarnya terasa pelupuk matanya menjadi basah.
“Ah….!” Ia meloncat berdiri “Aku adalah seorang laki-laki
Namun penyesalan yang tiada taranya telah membentur dinding hatinya, ia adalah
seorang ajar yang oleh orang-orang di sekitarnya dianggap mempunyai kelebihan,
baik kemampuan wadagnya maupun dalam olah kajiwan, tetapi ia tidak berhasil
menguasai anaknya sendiri yang justru sudah bertindak melampaui batas, kematian
anaknya sudah tentu sebagian adalah karena kesalahannya ketidak mampuannya
membentuk anaknya menjadi seorang yang berbuat baik.
“Mudah-mudahan Allah Yang Maha Pengampun memaafkan kedunguanku, anak yang
dipercayakan kepadaku, ternyata telah tersia-sia dan bahkan telah diambil-Nya
kembali”
Ki Ajar Respati terduduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, “Apakah
yang dapat aku katakana kepada orang lain” Gumamnya.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Ki Ajar tersentak, ia mendengar langkah
orang mendekatinya dengan hati-hati, karena itu maka iapun segera mempersiapkan
diri menghadap segala kemungkinan.
Meskipun demikian ia masih tetap duduk pada tempatnya.
Ki Ajar Respatipun kemudian terkejut ketika ia melihat dua orang datang
mendekatinya perlahan-lahan, dengan wajah yang pucat dan ketakutan.
Belum lagi Ki Ajar Respati bertanya sesuatu, kedua orang itu telah berjongkok
dihadapannya da menunduk dalam-dalam, sehingga dahinya menyentuh tanah.
Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, kedua orang itu adalah muridnya yang
telah pergi meninggalkannya bersama anaknya , Watu Sampar dan Bandung Limpat.
“Guru” terdengan suara Bandung Limpat terputus-putus “Kami telah menghadap guru
lagi setelah kami meninggalkan perguruan beberapa lamanya, kami telah melakukan
kesalahan yang tidak terhingga, seandainya demgam demikian kami harus dihukum,
maka kami tidak akan ingkar, bahkan hukuman mati sekalipun”
Ki Ajar Respati menarik nafas dalam-dalam, sejenak ia justru terbungkam,
rasa-rasanya sesuatu telah menyumbat tenggorokannya.
Namun ia berkata dengan nada yang datar “Anak-anakku, aku sudah mengetahui
segala-galanya, anak muda yang bernama Panon Suka, yang telah membunuh anakku,
telah datang kepadaku dan mengatakannya segala-galanya”
“Ya guru, kesalahan kamilah, bahwa kami tidak tidak dapat mencegah peristiwa itu
terjadi”
“Apa yang dapat kau lakukan terhadap anak muda yang bernama Panon Suka itu?
Dalam olah kanuragan, kalian sama sekali bukan tandingannya, akupun masih harus
belajar kepadanya dalam beberapa hal”
“Setidak-tidaknya kami dapat memperingatkan Sisik Sana untuk tidak melakukannya,
tetapi justru kami terlibat pula kedalamnya”
“Kalian memang telah tersesat, ilmu yang tidak kalian pelajari dengan baik itu,
kalian anggap sudah dapat kalian pergunakan, apalagi dipergunakan di jalan yang
sesat” berkata Ki Ajar Respati kemudian “Namun agaknya, kalian telah mendapat
pelajaran yang sangat berharga dengan korban yang sangat mahal”
“Kami tidak akan menghindar dari hukuman apapun guru” berkata Watu Sampar pula.
“Hukuman yang paling tepat adalah hukuman yang tumbuh dari hatimu sendiri,
penyesalan dan kemudian bertaubat, bukan sekedar penyesalan untuk sesaat, dan
kemudian perbuatan itu akan terulang lagi”
“Kami menyesal semua tingkah laku kami, dam kami mengatakan dihadapan guru,
bahwa kami telah bertaubat sampai akhir hayat kami, jika guru meragukan, maka
kematian yang dekat akan menjadi pertanda pertaubatan kami yang abadi”
“Jika aku membunuh kalian agar kalian tidak dapat berbuat salah lagi, maka itu
bukanlah penyelesaian yang paling baik buat kalian, dengan demikian maka akhir
dari segala kesalahan tidak berlandaskan pada tingkah delam ketetapan hati,
tetapi justru dalam keragu-raguan dan tanpa kepastian”
Kedua muridnya itupun tidak menjawab, rasa-rasanya dadanya memang telah
tersumbat oleh penyesalan yang tiada taranya, kesesatan mereka telah merampas
taruhan yang paling mahal, justru anak laki-laki gurunya sendiri.
“Sudahlah” berkata Ki Ajar Respati kemudian “Apakah kau telah menguburkan mayat
Sisik Sana?”
“Ya guru”
“Nah tunjukanlah kepadaku, aku akan mengambilnya dan membawanya kepadukuhan
adikku Kiai Rancangbandang, aku akan menyembahyangkan dan menguburkannya di
padukuhan itu, agar makamnya terpelihara, setidak-tidaknya merupakan kenangan
bahwa aku pernah mempunyai anak yang bernama Sisik Sana, yang pada hidupnya
telah memilih jalan yang sesat, dengan demikian akan menjadi petunjuk bagi
setiap orang yang mengenalnya dan mengenalku, bahwa aku adalah orang tua yang
gagal manjadi seorang ayah yang baik, mungkin aku berhasil dibidang yang lain,
dalam olah kanuragan dan kajiwan, pendekatan kepada Yang Maha Kuasa, pergaulan
antara sesama, tetapi justru yang satu itu, mengasuh anak-anakku, aku telah
gagal”
Kedua muridnya yang telah bertaubat itu sama sekali tidak menyahut, sehingga Ki
Ajar Respati meneruskan “Marilah, jangan terlampau lama terombang-ambing oleh
perasaan yang tidak menentu, marilah kita berbuat sesuatu”
Ketika Ki Ajar Respati berdiri, maka kedua muridnya itupun berdiri pula, Bandung
Limpatpun kemudian menunjukkan tempat yang telah dintandainya sebagai kubur
kawan seperguruannya dan anak laki-laji dari gurunya itu.
***
Bab 15
Sementara itu Panon Suka dan Kiai Rancangbandang memacu kudanya menyelusuri
jalan sempit dipinggir hutan yang tidak begitu lebat, namun kudanya tidak dapat
berlari terlampau cepat karena jalan yang agak sulit dan sempit.
Ketika mereka kemudian sampati ke jalan yang agak lebar, maka merekapun tidak
beriringan lagi, tetapi mereka berkuda bersama-sama.
Dalam pada itu maka Kiai Rancangbandang bertanya “Angger Panon Suka,
keteranganmu yang hanya selintas mengenai rencanamu pergi ke Gunung Sewu telah
menarik perhatianku, jika angger telah mendapat perintah dari guru angger, maka
perintah itu benar-benar sangat menarik perhatian”
“Ya Kiai” jawab Panon.
“Tetapi sayang, bahwa aku belum mengenal gurumu yang bernama Ki Wirit itu,
sehingga aku tidak dapat mengambil kesimpulan yang pasti”
“Jadi Kiai curiga juga bahwa yang dikatakan guru itu hanya sekedar lamis belaka”
“Bukan maksudku berkata demikian anakmas, tetapi aku hanya ingin meyakinkan
diriku sendiri”
Panon Suka menarik nafas dalam-dalam, katanya “Kiai, jika Kiai percaya kepadaku,
Kiai tidak perlu ragu-ragu lagi tentang guruku, mungin aku adalah orang yang
terlibat langsung di dalamnya, sehingga aku tidak akan dapat melihat kebenaran
dari kata-kataku sendiri, namun demikian aku telah berketetapan hati untuk
melakukan perintah guruku sebaik-baiknya”
“Tetapi angger, Angger harus melakukan perintah itu sebaik-baiknya, sebenarnya
akupun mempercayaimu, bahkan aku berpendapat, jika sekiranya gurumu sekedar
didorong oleh ketamakan dan nafsu, maka, ia tentu dengan tergesa-gesa pergi ke
Gunung Sewu dan mengambilnya sendiri di istana kecil yang terpencil itu,
mendahului orang lain” Kiai Rancangbandang berhenti sejenak, lalu “Aku tidak
dapat membayangkan, betapa tinggi ilmu gurumu, jika muridnya yang masih sangat
muda itu telah mampu berbuat seperti yang anakmas lakukan”
“Ah, Kiai terlalu memuji”
Kiai Rancangbandang menyahut “Bukan sekedar memuji anakmas, aku sudah melihat
kenyataan yang hampir diluar kesanggupan nalarku, aku pernah melihat anak-anak
muda yang memiliki ilmu yang mumpuni, tetapi anakmas mempunyai kelebihan”
“Kiai mamandang kemampuanku berlebih-lebihan, jangan-jangan Kiai akan kecewa
jika mengetahui tentang diriku yang sebenarnya, yang tidak lebih dari anak
padesan yang belajar sekedar ilmu untuk membela diri pada seorang tua yang
tinggal di gubug kecil di sebelah padukuhanku”
Kiai Rancangbandang menjadi semakin heran.
“Jadi gurumu tidak tinggal di sebuah padepokan atau padukuhan kecil?”
“Tidak Kiai, guruku tinggal di sebuah gubug kecil, di lereng gunung, tidak jauh
dari padukuhan, ia hidup menyendiri, tetapi tidak terpisah dari pergaulan hidup
yang sewajarnya, ia mengenal setiap orang di padukuhanku dengan baik, bahkan
seperti kadang sendiri”
Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, katanya “Memang aneh, gurumu mempunyai
kebiasaan yang lain” ia berhenti sejenak, lalu “Jadi dengan demikian angger
Panon Suka melakukan latihan secara terbuka? Maksudku, kadang-kadang juga
dilihat oleh orang banyak padukuan itu?”
“Tidak Kiai, aku berlatih seorang diri di halaman belakang gubug guru, jarang
orang yang datang ke gubug guruku di lereng kaki Gunung Merbabu itu, hidup
guruku benar-benar tidak menarik perhatian, ia tiba-tiba saja tinggal di tempat
itu, hanya ayahku sajalah yang banyak mengetahui tentang dirinya. Tetapi ayah
tidak banyak bercerita kepadaku tentang guruku itu”
Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, ia melihat rahasia yang tersembunyi di
dalam perguruan anak muda ini, meskipun ia yakin bukan rahasia yang buruk.
Demikianlah mereka berpacu terus meskipun tidak begitu cepat menuju Lembah
Payung di ujung Gunung Sewu.
Namun dalam pada itu di sepanjang jalan, Kiai Rancangbandang masih tetap
dipengaruhi oleh gambaran-gambaran yang buram mengenai guru Panon Suka,
seseorang yang digambarkannya, hidup menyendiri tetapi tidak terpisah dari
pergaulan yang sewajarnya, menenal setiap orang di padukuhannya dengan baik,
bahkan seperti kadang sendiri, tetapi orang-orang itu tidak banyak yang
mengetahui tentang dirinya, dan jarang sekali yang berkunjung kepadanya karena
hidupnya tidak menarik perhatian sama sekali”
Kiai Rancangbandang menarik nafas dalam-dalam, terbayang seseorang yang hidup
sederhana seperti kebanyakan orang-orang miskin, tetapi yang memiliki ilmu tiada
taranya”
Apalagi kemudian ia mengetahui bahwa guru Panon Suka itu adalah seorang yang
cacat kaki dan geraknya sangat dibatasi oleh cacatnya itu.
“Dalam keadaanya, bagaimana mungkin ia dapat memebentuk seorang anak muda
menjadi seorang yang perkasa seperti angger Panon Suka ini?” pertanyaan itu
selalu membelit di hatinya, “Tentu orang itu benar-benar bukan orang kebanyakan,
meskipun ujudnya tidak lebih sebagai seorang miskin yang hidup dalam gubug yang
didirikannya di lereng Gunung Merbabu”
Sementara itu, ketika mereka menjadi semakin dekat dengan lembah Payung,
Panonpun menjadi semakin berdebar-debar, ia harus meninggalkan kudanya kepada
seseorang dan gurunya nanti akan mencari kuda itu dan mempergunakannya.
“Apakah aku akan berterus terang kepada Kiai Rancangbandang tanpa curiga?” ia
bertanya kepada diri sendiri.
Namun akhirnya Panon tidak dapat berbuat lain, ketika mereka mendekati padukuhan
kecil di lembah Payung, maka Panonpun berkata seperti yang dipesankan gurunya
kepadanya.
“Ooo” berkata Kiai Rancangbandang “Senang sekali jika aku dapat bertemu dengan
gurumu nanti”
Panon Suka menarik nafas dalam-dalam.
“Jika demikian, maka biarlah kita menitipkan kuda kita” berkata Kiai
Rancangbandang selanjutnya.
“Kiai” berkata Panon Suka yang masih sangat muda dan belum banyak mengenyam
hidup “Jika guruku mengetahui ada dua ekor kuda, maka mungkin guruku akan
memutuskan untuk berbuat lain dari rencana semula, guruku sudah berpesan agar
tidak ada orang lain yang mengetahui tugasku dan barangkali juga tentang istana
kecil itu”
“Angger” berkata Kiai Rancangbandang “Gurumu adalah orang yang luar biasa,
tetapi ia sudah terlalu lama terpisah dari pergaulan hidup orang-orang yang
menganggap dirinya mempunyai kelebihan dari orang lain, ternyata bahwa rahasia
istana kecil itu seolah-olah telah terbuka, sehingga justru karena itu telah
mengundang banyak pihak yang mendatanginya, semula akupun tertarik pula untuk
naik ke Gunung Sewu, tetapi kakang Ajar Respati memberi nasehat yang panjang
kepadaku agar aku tidak terseret oleh ketamakan yang bodoh itu, karena itulah
aku mengurungkan niatku untuk mendaki sekedar didorong oleh ketamakan dan nafsu,
jika sekarang aku pergi, agaknya telah didorong oleh kepentingan yang lain,
keteranganmu bahwa kau ingin mencegah guncangan yang dapat timbul, sangat
menarik perhatianku, dan aku akan senang sekali jika aku dapat membantumu”
“Aku berterima kasih Kiai, tetapi guru belum mengetahui semua itu”
“Anakmas” berkata Kiai Rancangbandang “Bahwa Gurumu akan menyusulmu tentu iapun
mempunyai perhitungan tertentu, tetapi sekali lagi, aku kagum karenanya,
semuanya itu tentu sekedar didorong oleh firasatnya bahwa sesuatu telah terjadi,
bukan karena pendengarannya dari mulut orang lain, hanya orang yang memiliki
ketajaman batin yang mempunyai firasat yang sejauh itu”
“Kiai terlampau memuji”
“Aku tidak memuji, tetapi aku benar-benar kagum” ia berhenti senejak, lalu
“Dengan demikian sudah sepantasnya angger menunaikan tugas itu, sentuhan dengan
perguruan-perguruan yang lebih dahulu naik ke puncak Gunung Sewu tidak akan
banyak menghambat perjalananmu, seandainya kau pergi sendiri”
Panon menarik nafas dalam-dalam, karena itulah maka iapun tidak berniat untuk
menunda keterangannya, sebagaimana pesan gurunya tentang perjalanan yang harus
ditempuhnya.
Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, katanya “Benar-benar seorang yang rendah
hati, aku akan ikut dengan caramu, agaknya memang menyenangkan sekali untuk
memperlakukan diri kita sebagai orang yang tidak perlu mendapat perhatian
orang-orang disekitarnya” Ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi sekali lagi aku
peringatkan, mungkin gurumu belum membayangkan apa yang sebenarnya ada di
sekitar istana kecil itu, meskipun aku belum melihat sendiri, tetapi aku
membayangkan bahwa setiap orang yang mendekatinya tentu akan dicurigai oleh
setiap orang yang sudah ada di daerah itu terlebih dahulu, mungkin mereka yang
berterus terang tentang diri mereka dan perguruan mereka, tetapi juga mereka
yang menyamar seperti yang akan angger lakukan”
“Tetapi aku harus berhasil masuk istana itu dan bertemu dengan penghuninya jika
masih ada” berkata Panon Suka.
“Kenapa?” bertanya Kiai Rancangbandang.
Panon termangu-mangu, tetapi kepercayaannya kepada Kiai Rancangbandang menjadi
bertambah tebal, karena itu katanya “Aku membawa pertanda bahwa aku datang
dengan maksud baik, tetapi guruku berpesan bahwa hanya penghuni yang sebenarnya
dari istana itu sajalah yang dapat melihat pertanda itu”
Kiai Rancangbandang bergetar mendengar jawaban itu, tetapi ia tidak menampakkan
perubahan wajahnya, bahkan dengan senyum ia berkata “Menarik sekali, tetapi
apakah angger dapat mengatakan kepadaku, apakah penghuni itu akan dapat mengenal
tanda yang angger bawa?”
“Menurut guru, mereka tentu akan mengenalnya Kiai”
Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, betapa hatinya bergejolak, tetapi
wajahnya sama sekali tidak menunjukkan tanda apapun juga, sehingga Panon sama
sekali tidak menduga, bahwa Kiai Rancangbandang sedang mencoba menghubungkan
peristiwa-peristiwa yang pernah didengarnya.
Tetapi akhirnya Kiai Rancangbandang berkata di dalam hatinya “Bagaimanapun juga,
aku wajib membantu anak ini untuk mencegah kekisruhan yang semakin merata di
daerah Demak yang baru tumbuh, dengan demikian meskipun hanya seleret hitamnya
kuku, aku sudah ikut menegakkan kewibawaan pemerintahan yang sedang berusaha
untuk mewujudkan ketenangan dan kedamaian di hati rakyatnya ini”
Demikianlah, dengan hati yang tulus, Kiai Rancangbandang meneruskan
perjalanannya di sisi Panon, meskipun kadang-kadang tumbuh juga keragu-raguan
atas kebersihan tugas anak muda itu, namun ia melihat kejujuran yang bening
memancar dari tatapan mata Panon.
“Jika ada kecurangan yang terjadi atas anak muda ini, tentu bukan karena hatinya
yang licik, tetapi mudah-mudahan gurunya benar-benar tidak sekedar memanfaatkan
kejujuran anak muda ini” berkata Kiai Rancangbandang pada dirinya sendiri, namun
ia tidak henti-hentinya mencari hubungan antara peristiwa-peristiwa yang pernah
terjadi pada istana kecil itu menurut pendengarannya.
Ketika mereka kemudian memasuki padukuhan kecil itu, Kiai Rancangbandang berkata
“Jika demikian anakmas, baiklah kudamu sajalah yang kau titipkan di padukuhan
ini agar gurumu tidak menjadi curiga, aku akan membawa kudaku mendaki terus dan
menitipkannya di padukuhan yang kita jumpai di perjalanan nanti”
“Tetapi untuk sementara kita berpisah Kiai, agar orang-orang yang menerima
titipan kudaku tidak menyebutkan kepada guru, bahwa aku datang berdua”
Kiai Rancangbandang tersenyum, katanya “Kau teliti sekali angger, mudah-mudahan
bukan sekedar melepeskan diri dari padaku, karena angger segan menolak aku ikut
dalam perjalananmu”
“Ah, tentu tidak Kiai, tentu tidak”
“Baiklah, aku akan menunggumu diluar padukuhan ini”
Demikianlah maka merekapun segera berpisah, Kiai Rancangbandang berkuda terus
sampai keluar dari padukuhan kecil di lembah Payung, sedangkan Panon Suka,
sesuai dengan pesan gurunya, iapun menitipkan kudanya kepada seseorang dengan
upah sekedarnya.
“Jangan lupa, berilah kuda itu makan, beberapa hari mendatang, seseorang yang
cacat kaki akan mengambilnya” berkata Panon Suka kepada orang itu.
“Bagaimana ia tahu bahwa kau menitipkan kuda kepadaku?”
“Kami sudah berjanji sebelumnya”
“Ya, tetapi kau dan orang yang cacat kaki itu belum berjanji untuk menitipkan
kepadaku, karena baik kau maupun orang yang cacat kaki itu belum aku kenal”
“Ia akan mencari dan bertanya kepada siapapun di padukuhan ini”
Orang itu mengangguk-angguk, padukuhan ini adalah padukuhan kecil, sehingga
tidak akan banyak kesulitan untuk mencari seekor kuda diantara rumah-rumah yang
tidak begitu banyak.
Dengan senang hati orang itu menerima uang dari Panon Suka sebagai upah
pemeliharaan kudanya sebelum diambil gurunya.
Panon tidak berhenti di rumah itu meskipun penghuninya mempersilahkan.
“Aku tergesa-gesa” berkata Panon.
“Setiap orang tergesa-gesa naik ke atas Gunung Sewu” desis orang itu.
Panon mengerutkan keningnya, dengan ragu-ragu ia bertanya “Apakah banyak orang
yang naik ke Gunung Sewu?”
“Tidak, aku hanya melihat dua orang, tetapi nampaknya, merekapun tergesa-gesa”
“Ia singgah ke rumah ini juga?”
Orang itu menggeleng “Tidak, mereka hanya lewat”
Panon mengangguk-angguk, tetapi dengan demikian ia menjadi semakin yakin, bahwa
yang dikatakan oleh Kiai Rancangbandang adalah benar, sehingga terbayang
olehnya, bahwa di sekita istana kecil itu, telah berkumpul orang dari perguruan
yang berbeda-beda.
“Terima kasih, aku minta diri” kata Panon kemudian
Seperti yang sudah dijanjikan, maka Kiai Rancangbandang telah menunggunya di
luar padukuhan, merekapun kemudian bersama-sama melanjutkan perjalanan yang
mulai mendaki naik pegunungan Sewu.
Seperti yang mereka rencanakan, agar kedatangan mereka di Karangmaja tidak
menarik perhatian, maka Kiai Rancangbandangpun menitipkan kudanya pula, mereka
meneruskan perjalanan seperti dua orang pengembara yang miskin.
“Aku tidak berfikir untuk melakukan perjalanan seperti ini” gumam Kiai
Rancangbandang sambil tersenyum.
“Akupun tidak Kiai” Sahut Panon “Tetapi guru menhendaki.
“Aku dapat mengerti maksudnya, agaknya cara ini adalah cara yang paling baik,
meskipun tidak akan banyak gunanya, agaknya telah banyak orang yang mendahului
kita dengan cara yang aneh-aneh”
Panon Suka mengangguk-angguk, agaknya benar kata Kiai Rancangbandang bahwa
gurunya kurang mengenal keadaan Karangmaja pada saat terakhir, saat-saat orang
yang menyebut dirinya orang-orang sakti mulai mengenal rahasia yang tersembunyi
di istana itu.
“Siapakah yang telah membuka rahasia itu?” bertanya Panon Suka kepada dirinya
sendiri “Dan apakah guru telah mendengarnya pula?”
Tetapi Panon menggelengkan kepalanya untuk mengusir pertanyaan-pertanyaan itu,
ia sadar bahwa teka-teki itu tidak akan dapat segera terjawab.
“Yang penting aku menjalankan saja perintah guru” katanya di dalam hatinya “Itu
adalah kewajibanku”
Disepanjang perjalanan naik ke atas Bukit Seribu tidak banyak lagi yang mereka
perbincangkan, sekali-sekali Kiai Rancangbandang memberikan beberapa petunjuk
tentang daerah yang pernah mereka lalui, memeberitahukan beberapa nama padukuhan
kecil yang terselip diantara hutan-hutan perdu.
“Apakah penghuni padukuhan itu tidak pernah berpikir untuk untuk mencari daerah
baru yang lebih baik Kiai” bertanya Panon.
“Mereka justru sedang mulai membuka daerah baru” jawab Kiai Rancangbandang.
“Kenapa didaerah pegunungan seperti ini?, kenapa mereka tidak saja turun ke
daerah ngarai?”
“Keluarga mereka, orang tua mereka dan kakek serta nenek mereka adalah cikal
bakal daerah sekitar jalur jalan ini, dengan demikian, maka merekapun telah
membuka daerah baru yang tidak begitu jauh dari sanak kadang mereka”
Panon Suka mengangguk-angguk, ia mulai membayangkan daerah dan padukuhannya
sendiri, juga di lereng seperti yang sedang ditempuhnya itu, tetapi di lereng
Gunung Merbabu.
“Daerah lereng Gunung Merbabu nampaknya lebih subur” desisnya di luar sadarnya.
Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, katanya “Tanah di lereng Gunung berapi,
meskipun sudah jauh susut dan bahkan padam, memang manjadi jauh lebih subur dari
pegunungan batu dan tanah liat seperti daerah ini, tetapi dimusim hujan itupun
menjadi hijau karena air hujan.
Panon mengangguk-angguk.
“Tetapi ada daerah yang hampir tidak ditumbuhi pepohnan sama sekali, di sekitar
bukit Paran dan Bukit Seruni nampaknya seperti sebuah padang kering, tetapi ada
beberapa puncak bukit gundul yang sudah menjadi hijau, disekitar daerah
Karangmaja bukit gundul itu menjadi hutan yang nampak indah sekali”
“Kenapa harus dibuat hutan buatan, bukankah daerah itu merupakan daerah yang
dipenuhi oleh hutan yang sebenarnya?”
“Di lembah dan dataran berair, tetapi tidak di puncak-puncak bukit, beberapa
tahun yang lampau, seroang pangeran yang terdesak dari Majapahit telah tinggal
di daerah Karangmaja, ia membuat istana kecil yang sekarang menjadi pusat
perhatian banyak orang itu, ialah yang mencoba menghijaukan puncak-puncak bukit
gundul itu, dan agaknya ia berhasil, selain daerah itu menjadi hijau, ia sudah
mengurangi arus air hujan yang membanjir ke lembah-lembah di bawahnya, yang
kadang-kadang merusakkan hutan yang ada di lembah itu”,
Panon mengangguk-angguk, tetapi ia tidak begitu memahami keterangan Kiai
Rancangbandang, di padukuhannya pepohonan tumbuh di lereng gunung dengan subur
dan lebatnya, tidak usah dengan menghijaukannya seperti bukit-bukit gundul di
daerah Gunung Sewu ini, sehingga padukuhannya terletak di lingkungan hutan yang
lebat di lereng Gunung Merbabu.
Tetapi Panon Suka tidak mengatakannya, ia berdiam diri sambil mengamati keadaan
di sekelilingnya yang nampak semakin pudar sejalan dengan surutnya matahari
diujung barat.
“Kita tidak akan sampai ke padukuhan itu hari ini juga” berkata Kiai
Rancangbandang “Kita harus bermalam di perjalanan”.
Panon Suka mengangguk-angguk, diamatinya daerah yang luas dan berbukit-bukit,
lereng yang curam dan lembah yang dalam, dikejauhan nampak puncak-puncak yang
gundul penuh dengan batu-batu yang berwarna keputih-putihan.
Tetapi semuanya sudah menjadi buram.
“Dimana kita harus bermalam Kiai, di dalam goa-goa yang dangkal atau di
pepohonan?”
Kiai Rancangbandang mengerutkan dahinya, lalu “Kita akan bermalam di pinggir
saluran air di lembah itu”
Panon mengerutkan keninngya, lembah itu cukup dalam, dasarnya nampak seolah-olah
kehitaman.
“Kita memerlukan air, sekarang dan juga besok pagi”
Keduanya kemudian menuruni tebing yang curam, meskipun cukup sulit, keduanya
mempunyai ketrampilan yang memungkinkan mereka dapat turun dengan selamat.
Di lembah iu mengalir sebatang sungai yang meskipun kecil, tetapi memberikan
arti yang banyak bagi keduanya yang baru saja menempuh perjalanan, betapa
segarnya tubuh mereka, ketika mereka kemudian mandi di air yang bening, bahkan
mereka dapat meneguk untuk menghilangkan rasa haus yang serasa membakar
tenggorokan.
“Kita dapat tidur nyenyak disini” berkata Kiai Rancangbandang “Tidak ada orang
yang akan mengusik kita kecuali harimua yang kebetulan saja hendak minum di
tempat ini, tetapi sungai ini cukup panjang, sehingga kemungkinan harimau itu
datang kemaripun kecil sekali, karena mereke dapat minum di daerah udik atau
sebaliknya?”
“Ya Kiai” jawab Panon Suka, tetapi iapun kemudian mengerutkan keningnya, ketika
Kiai Rancangbandang meneruskan “Meskipun demikian kita harus tetap berhati-hati,
kita akan tidur bergantian agar kita benar-benar dapat tidur dengan tenang”
Panon mengangguk-angguk, ia sadar bahwa orang-orang tua biasanya lebih
berhati-hati, apalagi di tempat yang kurang dikenal seperti lembah yang curam
itu.
Setelah mereka mendapatkan tempat yang baik diatas batu-batu yang besar, maka
mulailah mereka beristirahat, Panon Suka harus berjaga-jaga pada separuh malam
yang terdahulu, baru setelah tengah malam, ia akan tidur dan membangunkan Kiai
Rancangbandang.
Sejenak kemudian, ketika lembah itu menjadi hitam kelam oleh malam yang turun di
lereng itu, Kiai Rancangbandang sudah mendengkur, seolah-olah tidak ada
persoalan apapun yang dipikirkannya, demikian ia berbaring, demikian ia
tertidur.
Panon Suka hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, ia sendiri digelisahkan oleh
tugasnya dan kenyataan bahwa di atas pegunungan Sewu telah berkumpul beberapa
orang yang mempunyai maksud yang sama, datang ke istana kecil itu.
Namun agaknya udara yang dingin dan angin yang basah membuat perasaannya menjadi
ngelangut.
Tetapi Panon Suka bertahan sempai tengah malam, ketika bintang gubuk Penceng
tegak diatas diujung selatan bumi, barulah ia mendekati Kiai Rancangbandang.
Ternyata Panon tidak usah membangunkannya, kerena Kiai Rancangbandang sudah
bangkit sambil menguap.
“Aku tidur nenyak sekali, mudah-mudahan kaupun dapat tidur nyenyak ngger”
Panon mengangguk, dan iapun kemudian merebahkan tubuhnya diatas sebuah batu,
betapapun perasaannya diganggu oleh kegelisahan dan kadang-kadang kecurigaan,
namun iapun akhirnya jatuh tertidur pula.
Panon tidak tahu, betapa nyenyaknya ia tertidur, ketika ia bangun, maka ia
melihat sebuah perapian kecil dipinggir sungai, Kiai Rancangbandang duduk sambil
memeluk lututnya, kain panjangnya diselubungkannya pada pundaknya.
Panon mengerutkan keningnya ketika ia melihat sesuatu di tangan Kiai
Rancangbandang, sesuatu yang dipanggangnya diatas perapian kecil itu.
Perlahan-lahan Panon bangkit dan mencoba mengamat-amatinya, namun agaknya Kiai
Rancangbandang sudah melihatnya terbangun berkata “Aku mendapat seekor pelus
yang naik ke pasir, cukup untuk makan pagi kita berdua”
Panon menarik nafas dalam-dalam, ternyata Kiai Rancangbandang sedang memanggang
sepotong daging pelus yang besar, yang tentu agak sulit untuk menangkapnya,
karena kulit pelus yang sangat licin.
Perlahan-lahan Panon mendekatinya, sambil tersenyum ia berkata “Kiai pandai
menangkap pelus”
“Sejak kanak-kanak aku hidup di pinggir sungai, padepokankupun terletak tidak
jauh dari kali opak, aku memang seorang yang ahli mencari ikan sungai”
Panon mengangguk-angguk.
“Cucilah mukamu, dan marilah kita makan pagi sebelum kita meneruskan perjalanan
mendaki bukit”
Panonpun pergi ke sungai untuk mencuci mukanya, nampaknya di sungai itu memang
banyak terdapat ikan, karena nampaknya jarang orang yang menangkap sampai ke
tempat yang membelah lembah yang curam itu.
Sejenak kemudian, setelah makan pagi, maka merekapun segera brsiap-siap, langir
masih nampak gelap, tetapi semburat merah sudah mulai membayang.
“Sebentar lagi fafar akan menyingsing, dan kita akan meneruskan perjalanan
ssebagai dua orang pengembara” kata Panon perlahan.
“Apakah pakaian kita terlampau baik bagi seorang pengembara?” bertanya Kiai
Rancangbandang.
Panon mengamati-amati bajunya, namun kemudian ia menggeleng “Mungkin tidak,
tetapi bagaimana dengan keris yang Kiai bawa itu?”
Kiai Rancangbandang mengerutkan keningnya, namun kemudian iapun berkata “Aku
akan menyimpannya di bawah bajuku, diatas Gunung Sewu dalam keadaan ini, kita
masing-masing memang harus bersenjata”
Panon mengangguk-angguk.
“Agaknya senjatamu agak lain dengan senjata pada umumnya” berkata Kiai
Rancangbandang.
Panon meraba ikat pinggangnya, terasa tangannya menyentuh tangkai pisau
belatinya yang berderet di ikat pingganngya, meskipun pisau itu hanyalah pisau
kecil yang dibuat oleh pandai besi di padesannya.
Sejenak kemudian, ketika langit menjadi semakin cerah, mereka segera memanjat
tebing, menerobos pepohonan perdu yang tumbuh di lereng yang curam itu.
Ketika Panon Suka sampai keatas, maka iapun menggeliat sambil menghirup udara
pagi yang segar, seolah-olah ia baru saja keluar dari sebuah ruangan yang gelap
dan pengap.
Maka sejenak kemudian keduanyapun melanjutkan perjalanan mereka menuju padukuhan
Karangmaja, namun perjalanan mereka kemudian adalah perjalanan yang sudah mulai
menyentuh daerah yang berbahaya bagi mereka.
“Sudah dekat” berkata Kiai Rancangbandang “Nah, apakah kau akan memanggilku
dengan namaku?, mungkin satu atau dua orang yang ada di daerah ini, pernah
mendengar namaku, jika diantara mereka ada yang pernah turun ke daerah tepian
Kali Opak di ujung Gunung Baka”
Panon Suka mengerutkan keningnya, gumamnya “Bagaimanakah sebaiknya Kiai?”
Kiai Rancangbandang termenung sejenak, kemudian katanya “Panggil aku Mina, Ki
Mina”
Panon mengangguk-angguk, katanya “Kiai menginggatkan aku akan keahlian Kiai
menangkap ikan”
“Menangkap Mina” kata Kiai Rancangbandang “Nah, mulailah panggil aku Ki Mina”
Dengan demikian maka di sepanjang jalan, Panon memanggil kawan seiringnya dengan
nama samarannya, Ki Mina. Dan dalam hubungan mereka, Panon menyebutnya sebagai
pamannya.
Matahari yang telah sampai ke puncak langitpun segera miring ke barat, sementara
dua orang pengembara itu masih tetap berjalan di atas pegunungan berbatuan
padas.
Semakin dekat mereka dengan padukuhan Karangmaja, merekapun menjadi semakin
berhati-hati, meskipun mereka masih belum melihat sesuatu yang dapat menghambat
perjalanan mereka.
Dalam pada itu, padukuhan Karangmaja nampaknya masih di selubungi oleh kehidupan
sewajarnya, dua orang yang berada di banjar, masih tetap mendapat rangsum makan
dan minum. Kidang Alit masih juga selalu pergi ke sungai dan mengganggu
gadis-gadis mandi, tetapi bahwa gadis-gadis itu kadang-kadang justru
menunggunya.
Beberapa orang yang berada di daerah Karangmaja, nampaknya masih belum
menumbuhkan gangguan yang dapat menyulitkan kehidupan penghuninya, selain
kegelisahan perasaan.
Namun ternyata bahwa Karangmaja sebenarnya sedang dibayangi oleh sekelompok
orang-orang dari perguruan Guntur Geni yang dipimpin langsung oleh orang yang
terpercaya, Kiai Paran Sanggit.
Tetapi agaknya Kiai Paran Sanggit tidak langsuing mendekati istana kecil itu, ia
masih mempunyai banyak pertimbangan bahwa ternyata Karangmaja terdapat banyak
orang yang mempunyai kepentingan yang sama dam memiliki ilmu yang harus
dipertimbangkan.
Meskipun demikian, sekali-kali Kiai Paran Sanggit berusaha untuk dapat mendengar
berita tentang Karangmaja, karena itulah maka, kadang-kadang ia mengirimkan
orangnya untuk pergi ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang.
“Orang-orang Karangmaja sering menukarkan barangnya ke padukuhan lain” berkata
Kiai Parang Sanggit “Dan kadang-kadang mereka menjual ternaknya di pasar yang
meskipun agak jauh tetapi memberikan banyak kesempatan untuk mendapatkan
barang-barang yang mereka butuhkan. Tidak banyak orang Karangmaja yang menenun
pakaian, tetapi orang-orang Karangmaja banyak membuat barang-barang dari besi
untuk alat-alat pertanian, bahkan agak lebih baik dari padukuhan yang lain.
Karena orang-orang Karangmaja mendapat beberapa petunjuk dari Pangeran Kuda
Narpada, karena itu, usahakan untuk dapat mendengar tentang Karangmaja, tetapi
di Karangmaja agar tidak dicurigai dan langsung berbenturan dengan orang-orang
dari Cengkir Pitu dan Kumbang Kuning”
Dua orang dari Guntur Geni itu dengan mempergunakan pakaian petani biasa, agar
tidak menimbulkan kecurigaan, pergi ke pasar di padukuan yang sering dikunjungi
bukan saja oleh orang-orang Karangmaja, tetapi oleh padukuhan lain di
sekitarnya, sehingga dengan demikian maka kehadiran orang baru tidak banyak
menarik perhatian.
Namun pesan Kiai Paran Sanggit kepada anak buahnya adalah, bahwa mereka tidak
boleh sama sekali mengganggu orang-orang Karangmaja agar tidak menmbulkan
persooalan-persoalan yang dapat mengganggu usaha mereka yang lebih besar dan
yang terpenting di istana yang terpencil itu.
Di tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang, bahkan dari beberapa padukuhan,
Karangmaja memang menarik perhatian dan banyak dibicarakan justru karena
perkembangan keadaannya yang terakhir, beberapa orang menjadi saling
bertanya-tanya, apalagi jika mereka bertemu langsung dengan orang-orang
Karangmaja di pasar atau di tempat lain, mereka selalu bertanya, apa yang telah
terjadi di padukuhan itu.
“Nampaknya kami dapat hidup seolah-olah seperti biasa” berkata salah seorang
dari Karangmaja yang berada di pasar yang ramai, pusat pertemuan orang-orang
dari beberapa padukuhan ”Tetapi sebenarnyalah bahwa kami selalu dibayangi oleh
perasaan cemas tentang hari depan padukuhan kami”
“Apakah orang-orang yang datang ke padukuhanmu tidak saling mengganggu, atau
menganggu penghuni padukuhan?”
“Sampai sekarang mereka tidak berbuat begitu, selain dua orang yang mereka lukai
karena sebab yang tidak begitu jelas, tetapi keduanya telah disembuhkan oleh
seorang pendatang yang masih muda yang bernama Kidang Alit”
“Untunglah ada seorang anak muda yang bernama Kidang Alit itu”
“Uh, tetapi iapun mencemaskan kami orang-orang tua, terutama yang mempunyai anak
gadis”
“Kenapa?”
“Ia adalah seorang anak muda yang sering memburu gadis-gadis cantik di padukuhan
kami, celakanya, gadis-gadis kami juga senang sekali bergaul dengan anak muda
yang tampan dan ramah itu”
“Kalian masih terlampau kaku menghadapi pergaulan anak muda”
“Mula-mula tidak, tetapi ketika sudah ada dua orang gadis yang mengandung,
karenanya kami menjadi gelisah”
“O…..” orang-orang yang mendengar percakapan itu mengangguk-angguk.
“Padukuhan kami memang sedang suram”
Kawan-kawannya dari padukuhan lain hanya dapat berkata “Kasihan, istana itu pada
suatu saat mendatangkan kegembiraan, bagi Karangmaja, tetapi disaat yang lain
mendatangkan kegelisahan dan bahkan mungkin bencana”.
Demikianlah pembicaraan mereka berkepanjangan, sampai suatu saat orang-orang
Karangmaja bercerita tentang tiga orang yang kasar, yang berada di Banjar, dua
diantara mereka terbunuh di istana kecil itu, tetapi kemudian datang lagi
kawan-kawan mereka dan tinggal di banjar pula. Meskipun hanya dua orang tetapi
akibatnya hampir sama. Makan, minum dan bahkan permintaan-permintaan yang
memberatkan kami.
Orang-orang Karangmaja itu sama sekali tidak menyadari, bahwa pembicaraan mereka
didengar oleh dua orang yang berdiri saja di dekat mereka, nampaknya kedua orang
itu sama sekali tidak memperhatkan pembicaraan itu, tetapi hampir setiap kata
selalu diingatnya, terutama, ceritera tentang dua orang baru yang ada di banjar.
“Gila” desis salah satu seorang dari kedua orang Guntur Geni yang dengan seksama
mendengarkan ceritera itu, “Siapakah yang telah berani mengaku orang-orang dari
Guntur Geni?”
“Mereka sama sekali tidak menyebutkan perguruan Guntur Geni, tetapi dua orang
yang kasar, yang mirip sifat dan sikapnya dengan tiga orang yang terdahulu”
“Apakah orang-orang Guntur Geni kasar dan rakus?”
Kawannya mengerutkan keningnya, ternyata ia mencoba untuk menilai
kawan-kawannya, kemudian berkata “Agaknya memang demikian, sebutkan seorang
diantara kita yang tidak bersikap kasar, Kiai Paran Sanggit barangkali?”
“Ia adakah orang yang paling kasar diantara kita”
“Nah, jika demikian, benarlah bahwa orang-orang Guntur Geni adalah orang-orang
yang kasar”
“Tetapi tidak semua orang kasar dan liar adalah orang-orang Guntur Geni”
“Kau benar, tetapi hal ini merupakan persoalan bagi kami, kebencian dan dendam
orang-orang Karangmaja kepada kedua orang itu akan ditumpahkan kepada
orang-orang Guntur Geni, Kiai Paran Sanggit sudah berpesan agar kita tidak
berbuat apa-apa, dan melukai hati orang-orang Karangmaja, bahwa diantara kami
telah mengorbankan seorang anak muda Karangmaja untuk menunjukkan kemampuan dan
kekasarannya, itu sudah cukup, tetapi salah seorang dari kedua orang yang
sekarang berada di banjar itu telah melakukan perbuatan serupa?
“Kita harus melaporkannya”
Kedua orang itu masih berusaha mendengarkan beberapa keterangan tentang
Karangmaja, tetapi tidak banyak yang mereka dengar lagi, karena hari menjadi
siang, dan pasar itupun menjadi semakin sepi.
“Kita akan kembali” desis salah seorang dari keduanya.
Kawannya mengangguk-angguk, tetapi matanya tersangkut pada seorang perempuan
yang sedang menjual daun pisang di dalam bakulnya.
“Ingat, jangan membuat persoalan disini” desis kawannya.
Yang lain tersenyum, katanya “Baiklah, akupun tidak berbuat apa-apa, aku hanya
sekedar memandang kecantikannya yang lugu itu saja”
“Setan alas, kau benar-benar hantu bagi perempuan”
“Kau sendiri bagaimana?”
“Tentu tidak”
“Tetapi isterimu berjumlah tiga orang, sementara kau masih saja bertualang
seperti sekarang”
“Mereka hanya memerlukan aku, bukan nafkah, kerena mereka sudah dapat mencari
makan sendiri”
Keduanya tidak berbicara lagi, yang seorang menarik tangan yang lain sambil
bergumam “Kita menghadap Kiai Paran Sanggit”
Demikianlah keduanyapun kemudian meninggalkan pasar yang sudah mulai sepi itu,
dengan gelisah mereka mencoba menebak siapakah yang berada di banjar padukuhan
Karangmaja itu, yang dianggap oleh sebagian dari orang-orang Karangmaja sebagai
kawan tiga orang yang terdahulu.
Dalam pada saat itu, bukan orang-orang Guntur Geni itu sajalah yang mendengarkan
ceritera tentang Karangmaja, di dalam pasar itu, selain orang-orang Guntur Geni
itu, dua orang lainnya telah mendengarkan ceritera-ceritera semacam itu dengan
seksama.
“Nah, kau dengar” desis yang tua kepada yang muda.
Yang muda mengangguk-angguk, katanya “Ya, Ki Mina, aku mendengar”
“Masih banyak yang dapat kita dengar di dalam hubungan semacam ini, ada baiknya
kita langsung berhubungan dengan orang-orang Karangmaja” jawab Ki Mina.
Panon Suka ragu-ragu sejenak, lalu “Apakah hal itu tidak akan dapat menimbulkan
kecurigaan mereka?”
“Mungkin, tetapi kita harus berusaha dengan sangat berhati-hati”
“Tetapi pasar itu telah menjadi sepi”
“Mungkin di warung-warung kita masih dapat bertemu dengan mereka”
Tetapi memang sulit untuk membedakan, yang manakah orang Karangmaja dan dan
manakah yang datang dari padukuhan lain, namun dengan menunggu dan mendengarkan
pembicaraan mereka beberapa saat, maka Kiai Rancangbandang yang disebut Ki Mina
itupun segera mengetahuim bahwa salah seorang dari mereka yang sedang berada di
sebuah warung itu adalah orang Karangmaja.
“Kau dengan percakapan itu” bisik Kiai Rancangbandang yang masih berdiri di muka
sebuah warung.
Panon mengangguk-angguk.
“Marilah kita masuk, mumpung tidak ada terlalu banyak orang yang ada di
dalamnya”
Keduanyapun segera memasuki warung itu dan duduk di dekat orang Karangmaja yang
sedang makan dengan lahapnya setelah ia menghabiskan dagangannya.
“Maaf Ki Sanak” kata Ki Mina.
“Silahkan” sahut orang Karangmaja itu.
Sejenak Ki Mina dan Panon Sukapun minta disediakan dua mangkuk minuman panas.
Untuk beberapa saat mereka masih dapat mendengar, seseorang yang berbicara
dengan orang Karangmaja itu. Sekali-sekali diselingi gelak tertawa jika orang
Karangmaja itu disela-sela kesibukannya mengunyah makanannya berceriera tentang
padukuhannya dengan cara yang lucu.
Ternyata Kiai Rancangbandang dan Panon Suka tidak perlu bertanya lagi kepadanya,
karena orang itu telah berceritera pula tentang istana kecil itu.
“Jadi ada seorang Pangeran yang lain yang tinggal disana?”
“Aku tidak tahu apakah ia Pangeran atau bukan, tetapi ia adalah keluarga dari
Pangeran Kuda Narpada”
Orang yang bertanya itu mengangguk-angguk, tetapi keinginan yang mendesak
agaknya tidak tertahan lagi, sehingga Kiai Rancangbandang menyela “Siapakah nama
bangsawan itu Ki Sanak?”
Orang Karangmaja itu berpaling, ditatapnya Kiai Rancangbandang yang kemudian
menunduk sambil menghirup minuman panasnya.
“Kuda Rupaka” jawab orang Karangmaja itu kemudian, “Ialah yang sudah membunuh
dua orang penjahat yang barangkali akan merampok rumah Pangeran Kuda Narpada
yang sebenarnya sudah kosong itu”
“Kosong?” Panon Suka bertanya.
“Ya, yang tinggal hanyalah perabot-perabot rumah tangga yang besar-besar, namun
tidak cukup berharga. Selama ini isi istana itu harus makan, karena itu
kadang-kadang mereka terpaksa menjual sesuatu meskipun orang-orang Karangmaja
sering juga datang membantu dengan bahan-bahan mentah. Tetapi Raden Ayu Kuda
Narpada tidak mau terlalu banyak merepotkan orang-orang Karangmaja yang
kekurangan”
“Jadi siapakah yang sudah dibunuh oleh bangasawan itu?”
“Tidak banyak yang kami ketahui” jawab orang itu “menurut Ki Buyut, orang-orang
itu disebutnya berasal dari perguruan Guntur Geni”
Kiai Rancangbandang menarik nafas dalam-dalam, benar-benar perguruan Guntur Geni
telah berada di bukit itu. Dan bahkan seperti yang didengarnya, ada beberapa
pihak telah saling berbenturan, apa lagi di dalam istana kecil itu telah tinggal
seorang bangsawan yang bernama Kuda Rupaka.
“Apakah bangsawan itu bermaksud baik atau sebaliknya?” bertanya Kiai
Rancangbandang di dalam hatinya.
Tetapi ia tidak bertanya apapun lagi, dihirupnya minumannya dan dikunyahnya
beberapa potong makanan, agaknya Panonpun telah merasa cukup, bukan saja
perutnya terlah terisi, tetapi keterangan yang didengarnya telah cukup banyak.
Demikianlah ketika orang Karangmaja itu meninggalkan warung itu, maka Kiai
Rancangbandang dan panon Sukapun membayar harga mekanan mereka dan keluar pula
dari warung. Diluar Ki Rancangbandang masih sempat bertanya, dagangan apakah
yang dibawa oleh orang Karangmaja itu.
“Kau tahu bahwa aku berjualan disini dan kalian tidak berbelanja” bertanya orang
Karangmaja itu.
“Kau tidak membawa apa-apa Ki Sanak”
Orang itu tertawa, agaknya ia memang senang berkelakar, jawabnya kemudian “Aku
menjual barang-barang dan alat-alat dari besi, aku adalah pandai besi, bukan
saja pandai besi, tetapi aku juga dapat membuat senjata yang baik, ayahku
seorang mpu keris yang ternama di Karangmaja, dan akupun sedang mempelajari
dengan tekun”
“Bagus sekali” jawab Kiai Rancangbandang “Barangkali keris yang kau pakai itu
juga buatan ayahmu?”
“Ya, lihat” katanya sambil menghunus kerisnya.
“O” desis Kiai Rancangbandang “Bagus sekali”
Dengan bangga orang itupun kemudian pergi meninggalkan Kiai Rancangbandang yang
tersenyum “Tidak lebih baik dari sebuah pisau dapur”
Panon mengerutkan keningnya, diluar sadarnya iapun bergumam “Tidak banyak
bedanya dengan pisau-pisau belatiku, Paman”
Kiai Rancangbandang tersenyum, katanya “Memang tidak banyak bedanya, pisau-pisau
yang dibuat oleh pandai besi yang tidak banyak mengetahui tentang wesi aji,
tetapi baik pisau-pisau belatimu yang berjumlah cukup banyak itu maupun keris
yang tidak lebih baik dari pisau dapur itum ditanganmu akan menjadi senjata yang
barangkali lebih baik dari pusaka yang manapun juga”
“Ah, Paman selalu memuji seperti Ki Ajar Respati”
Kiai Rancangbandang tertawa, dipandanginya orang Karangmaja yang sudah menjadi
semakin jauh.
“Nah, kita sekarang sudah mendapat gambaran yang agak jelas tentang Karangmaja,
sebuah padukuhan yang nampaknya masih tetap tenang, tetapi yang sebenarnya
diliputi oleh kemelutnya api yang membara didalam sekam, setiap saat akan dapat
menjilat keudara dan membakar padukuhan itu menjadi hangus”
“Untunglah aku datang ke padukuhan ini dengan Kiai” berkata Panon “Jika aku
pergi sendiri, mungkin aku akan menjumpai banyak kesulitan”
“Kau akan mengatasinya meskipun mungkin memerlukan waktu yang agak lama”
“Guru tidak banyak memberikan petunjuk tentang kemungkinan-kemungkinan yang
ternyata telah terjadi di atas Gunung Sewu”
“Bukan salah gurumu, karena gurumu tidak dapat bergerak dengan bebas karena
keadaan jasmaniahnya, maka ia tidak banyak mengetahui dan mendengar tentang
padukuhan di atas Gunung Sewu ini”
Panon Suka mengangguk-angguk, kemudian katanya “Jadi bagaimana sebaiknya paman,
apakah kita langsung masuk ke istana itu atau kita menunggu kesempatan yang
paling baik?”
“Angger” berkata Kiai Rancangbandang “Kita tidak tahu, apakah benar para
bangsawan yang ada di istana itu dapat dipercaya, dalam keadaan seperti sekarang
ini, kita memang wajib bercuriga terhadap siapapun juga, juga kepada keluarga
sendiri, karena ia hadir justru setelah Pangeran Kuda Narpapda tidak ada di
istana itu”
“Tetapi bagaimana mungkin kita dapat masuk ke dalam istana itu tanpa diketahui
oleh kedua bangsawan yang ada di dalamnya?”
“Kita akan mencari jalan, tentu kedua bangsawan itu tidak akan berada di istana
itu siang dan malam, pada suatu saat mereka sekali-sekali akan keluar, entah
untuk keperluan apa”
“Tetapi jika demikian, seandainya mereka benar-benar mempunyai pamrih, apakah
selama itu tidak akan terjadi sesuatu?”
Kiai Rancangbandang menarik nafas dalam-dalam, ia mengetahui dari
pembicaraan-pembicaraan yang didengar di pasar tentang kemampuan bangsawan itu,
yang dapat mengetahui keadaan seseorang yang sedang terluka dengan rabaan
jarinya, dan bahwa ia telah membunuh orang yang memasuki istana itu dengan
maksud jahat.
Maka itu maka dengan ragu-ragu Kiai Rancangbandangpun berkata “Kita harus
berhati-hati sekali, meskipun kita datang dengan wajah pengemis sekalipun, kita
akan tetap dicurigai”
“Jadi?”
“Kita harus benar-benar menyiapkan diri menghadap segala kemungkinan, agaknya
kita tidak akan terlepas sama sekali dari suatu tindakan kekerasan menghadapi
keadaan di sekitar istana kecil itu”
“Panon mengangguk-angguk, katanya “Agaknya gurupun mempertimbangkan pula, jika
tidak, maka guru tentu tidak perlu memberikan bekal ilmu kanuragan kepadaku”
Kiai Rancangbandang mengangguk-angguk, lalu “Karena itu, jangan terlampau
mengalah menghadapi setiap persoalan sebelum kita terlambat mengambil sikap, kau
agaknya terlampau sabar menghadapi keadaan, agaknya sikap itu baik sekali kau
trapkan pada saat-saat lain, kecuali menghadapi keadaan seperti di atas Gunung
Sewu itu”
Panon mengangguk-angguk pula, ia menyadari keadaan yang sedang dihadapinya,
agaknya memang bukan sekedar memelihara perasaan dan sikap yang lemah lembut.
“Angger, jika kau sudah bersiap, marilah kita mendekat, apapun yang akan kita
hadapi, kita sudah mempertimbangkan kemungkinannya”
“Paman” berkata Panon Suka “Agaknya keadaan diatas Gunung Sewu itu benar-benar
gawat, aku tidak berpikir tentang Paman, aku berterima kasih sekali atas semua
kebaikan hati paman, tetapi jika kebaikan hati itu harus dilengkapi dengan
kemungkinan yang pahit bagi keselamatan paman, maka agaknya itu sudah terlampau
banyak, apakah aku dapat menerima kebaikan hati yang berlebih-lebihan itu?”
Kiai Rancangbandang tertawa katanya “Kau benar-benar seorang anak muda yang
dewasa, kau memiliki daya pikir yang kuat dan mendasar” ia berhenti sejenak,
lalu “Anakmas, aku mengerti perasaanmu, tetapi baiklah kau singkirkan saja
sejauh-jauhnya, aku sudah dengan sengaja mengikutimu sampai ke daerah
Karangmaja, ,aku pergi dengan penuh kesadaran atas segala akibatnya”
Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya “Terima kasih Paman, agaknya tidak ada
jalan yang dapat aku tempuh untuk membalas kebaikan hati Paman ini”
“Jangan kau pikirkan, dengan demikian kau akan menambah beban perasaanmu saja,
marilah kita mulai dengan kerja yang bagimu sangat penting, juga buat masa depan
Demak yang baru tumbuh”
Panon tidak menjawab, terasa sesuatu menyesak dadanya, namun kemudian iapun
menggerakkan giginya, seolah-olah memantapkan tekadnya untuk melaksanakan
tugasnya sebaik-baiknya, bahkan sampai kemungkinan yang paling buruk sekalipun
bagi hidupnya.
Karena itulah, maka mereka berduapun dengan hati-hati berusaha mendekati
padukuhan Karangmaja yang meskipun nampaknya masih tetap tenang, tetapi agaknya
bagaikan bisul yang sudah masak untuk pecah
Berbagai pihak yang ada di sekitar Karangmaja telah mempersiapkan diri
sebaik-baiknya, semua mata seolah-olah setiap saat tertuju kepada istana kecil
yang terpencil itu. Istana yang sudah suram setelah ditinggalkan oleh Raden Kuda
Narpada.
***
Sementara itu, Raden Kuda Rupaka yang berada di istana kecil itupun menjadi
gelisah pula, ia mengetahui dengan pasti, bahwa di sekitar istana itu tentu
telah bersiap beberapa pihak yang dapat membahayakan istana kecil itu bersama
penghuninya.
Karena itulah, maka iapun selalu memperingatkan Inten Prawesti agar ia tidak
keluar dari istana tanpa pengawasannya, karena ternyata anak muda yang bernama
Kidang Alit itu memiliki berbagai macam cara untuk menjeratnya, mungkin karena
sentuhan perasaannya sebagai seorang laki-laki terhadap seorang gadis, tetapi
mungkin pula karena maksud-maksud tertentu yang tersembunyi.
“Angger Kuda Rupaka” bertanya Raden Ayu Kuda Narpada ketika kegelisahan yang
sangat telah menyentuh hatinya “Rasa-rasanya rumah ini telah dikitari oleh
bayangan yang buram, bahkan telah terjadi malapetaka yang untung masih dapat
diatasi olehmu, apakah panasnya api yang mengelilingi dinding halaman ini?”
Kuda Rupaka termangu-mangu sejenak, sekilas ditatapnya wajah Panji Sura Wilaga,
namun kemudian iapun menggelengkan kepalanya sambil menjawab “Aku tidak tahu
bibi, justru sebenarnya akulah yang harus bertanya kepada bibi, apakah ada
sesuatu yang merupakan daya tarik dari orang-orang yang tidak dikenal itu untuk
datang ke istana ini”
“O…” Raden Ayu Kuda Narpada menjadi heran “Aku tidak mengerti, menurut hematku,
isi istana ini justru sudah hampir habis, maksudku, barang-barang yang berharga
, yang ada hanyalah perabot-perabot yang aku kira tidak ada harganya”
Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya kemudian “Tentu mereka menduga bahwa ada
sesuatu yang berharga di istana ini, sehingga beberapa orang dari lingkungan
yang berbeda telah datang ”
Raden Ayu Kuda Narpada menjadi semakin prihatin, ia tidak tahu pasti apa yang
terjadi di luar istananya, tetapi firasatnya yang telah menggelisahkannya.
Apalagi setelah dua terbunuh di halaman rumahnya, suara seruling yang
seakan-akan telah membius anak gadisnya, dan perasaan yang kadang-kadang tidak
menentu dan menggelisahkan.
Ketika Raden Ayu Kuda Narpada meninggalkan Raden Kuda Rupaka, maka anak muda itu
berbisik di telinga Panji Sura Wilaga “Bibi tidak mengetahui apapun tentang
kemungkinan adanya barang-barang berharga di istana ini”
Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, namun kemudian katanya “Raden, apakah tidak
sebaiknya Raden berterus terang kepada Raden Ayu Kuda Narpada bahwa
sebenarnyalah orang-orang yang kini berdatangan ke Karangmaja adalah justru
karena istana kecil ini, dengan demikian Raden Ayu mendapat gambaran, betapa
rumitnya kedudukannya sekarang, justru setelah Pangeran Kuda Narpada tidak ada
lagi”
Kuda Rupaka mengerutkan alisnya, lalu “Apakah yang harus aku katakan kepada bibi?”
[ Istana Yang Suram 02 ]