[back to topmdi.net]

Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan

Welcome to topmdi - ebook collection 

Jilid 106 - 118

Jilid 106
NAMUN yang  pertama-tama dilakukan oleh para cantrik adalah menilai kemampuan mereka yang  menyatakan diri untuk ikut berlatih di padepokan itu. Meskipun tidak sangat teliti sebagaimana saat mereka menilai kemampuan para cantrik, namun penilaian itu dapat dipergunakan untuk membagi-bagi orang-orang padukuhan yang mengikuti latihan-latihan itu dalam kelompok-kelompok tanpa memperhatikan dari padukuhan mana saja mereka berasal. Ketika saatnya latihan-latihan itu dimulai, ternyata bahwa kemauan mereka tidak kalah tinggi dari para cantrik di Padepokan Bajra Seta itu. Meskipun waktu yang diperuntukkan bagi mereka lebih pendek dari para cantrik, tetapi kemauan mereka ternyata benar-benar membakar jantung mereka. Karena itu, maka para cantrik tidak ingin mengecewakan mereka sehingga para cantrikpun menunjukkan kemauan yang tinggi menuntun mereka meningkatkan kemampuan orangorang dari padukuhan-padukuhan sebelah meny ebelah padepokan itu. Dengan demikian m aka seisi Padepokan Bajra Seta telah menjadi sibuk. Latihan-latihan berlangsung dengan kemauan yang tinggi. Mahisa Murtipun tenggelam pula dalam kesibukan itu. Bahkan Mahisa Murti secara khusus telah menempa Mahisa Amping dan Mahisa Semu. Tetapi Mahisa Murtipun telah memberikan waktunya untuk Wantilan yang memang mempunyai tataran yang  berbeda serta landasan ilmu yang  berbeda pula, sehingga Wantilanpun harus mendapat penanganan yang khusus. Dengan caranya, maka seisi Padepokan Bajra Seta itupun menjadi semakin meningkat pula. Para cantrik tertua dari padepokan itupun langsung mendapat latihan-latihan dari Mahisa Murti sendiri, sehingga dengan demikian maka Mahisa Murti benar-benar telah menghabiskan waktunya bagi padepokannya. Dalam kesempatan tertentu, Mahisa Semupun telah diberi wewenang oleh Mahisa Murti untuk memberikan latihanlatihan kepada para cantrik yang  masih muda. Bukan saja muda umurnya, tetapi juga mereka yang belum lama berada di padepokan itu. Tetapi Mahisa Murti tidak dapat meny erahkan sekelompok cantrik kepada Wantilan, karena Wantilan mempunyai dasar yang berbeda. Hanya untuk latihan-latihan dasar yang  sifatnya umum, Wantilan dapat membantu Mahisa Murti memberikan tuntunan kepada para cantrik. Terutama mengenai ketahanan tubuh serta penguasaan gerak-gerak dasar yang paling sederhana untuk mempersiapkan para cantrik itu mulai dengan gerak-gerak dasar yang  menjurus pada unsur-unsur ilmu yang  dipelajari. Dengan latihan-latihan khusus yang berat, maka Mahisa Amping ternyata tumbuh sejalan dengan pertumbuhan ilmunya. Dengan demikian maka ilmu yang  dipelajarinya seakan-akan telah m enyatu didalam dirinya. Sadar atau tidak sa dar, maka setiap gerak anak itu seakan-akan telah terkendali dengan mapan. Mahisa Semupun semakin lama menjadi semakin meyakinkan. Tenaganya tumbuh dengan mantap sebagaimana tubuhnya yang  berkembang dengan tinggi dan kekar. Latihanlatihan yang berat telah membentuk tubuhnya menjadi seorang yang  gagah dan kuat. Setiap pagi, Mahisa Semu telah berlatih sambil membentuk tubuhnya menurut petunjuk Mahisa Murti. Sejak sebelum matahari t erbit, Mahisa Semu telah m enitikkan keringat dari lubang-lubang kulitnya bersama beberapa orang cantrik yang diserahkan kepadanya. Mereka memanfaatkan lingkungan yang luas serta lereng-lereng pegunungan disekitar padepokan. Meskipun demikian, para cantrik itu tidak melupakan tugas-tugas m ereka sehari -hari dalam kehidupan sewajarnya. Setelah berlatih dipagi hari, kemudian membersihkan diri dan makan pagi, maka para cantrik itupun telah melakukan tugas mereka sehari -hari. Diantara mereka ada yang pergi ke sawah yang diperuntukkan bagi Padepokan Bajra Seta. Ada yang pergi ke kolam-kolam ikan, ke pategalan dan ada yang melakukan tugas-tugas yang  lain. Pande besi dengan kemampuan yang  lebih dari pande besi kebanyakan setelah mereka mendapat tuntunan khusus. Ada diantara mereka yang mengurusi peternakan dan pekerjaan-pekerjaan yang  lain. Tetapi diantara mereka terdapat kelompok-kelompok yang  berada di sanggar-sanggar bergantian. Mereka dengan sungguh-sungguh berusaha meningkatkan kemampuan ilmu mereka. Baru menjelang sore, maka hampir semua cantrik turun untuk melakukan latihan-latihan sehingga halaman, kebun dan bahkan ara-ara di luar dinding padepokan menjadi penuh, termasuk anak-anak muda dan orang-orang padukuhan disekitar Padepokan Bajra Seta, sesuai dengan tataran dan tingkat kemampuan mereka masing -masing. Sementara Padepokan Bajra Seta tenggelam dalam kesibukan yang  memberikan arti yang  penting bagi perkembangan Padepokan itu, maka Mahisa Pukat yang berada di Kotaraja telah menjalani kehidupannya dalam suasana yang  berbeda. Hubungannya semakin lama menjadi semakin akrab dengan Sasi. Ternyata orang tua Sasi benarbenar tidak berkeberatan atas hubungan itu sebagaimana Mahendra sendiri. Namun dalam keadaan-keadaan tertentu, Mahisa Pukat masih saja merenungi dirinya sendiri dalam hubungannya dengan padepokan yang telah ditinggalkan meskipun menurut pengertiannya hanya sementara. Tetapi setiap kali sebuah pertanyaanpun timbul ”Apakah benar bahwa ia hanya meninggalkan padepokannya untuk sementara?” Apalagi ketika pada suatu ketika ayahnya, Mahendra memanggilnya dan dengan sungguh-sungguh berkata kepadanya ”Mahisa Pukat. Aku m elihat bahwa hubunganmu dengan Sasi semakin lama menjadi semakin bersungguhsungguh. Bukan niatku untuk m enghalangi, apalagi menurut penilaianku Arya Kuda Cemani tidak berkeberatan sama sekali dengan hubunganmu itu. Tetapi dengan demikian m aka ada satu hal yang  harus kau perhatikan.” Mahisa Pukat memperhatikan kata-kata ay ahnya itu dengan sungguh-sungguh pula. Namun sudah terasa olehnya, kemana arah pembicaraan ayahnya itu. Karena itu, Mahisa Pukat tidak terkejut ketika ayahnya kemudian berkata ”Mahisa Pukat. Masih ada satu hal yang harus kau penuhi sebelum kau benar-benar memasuki satu lingkungan kehidupan yang baru. Mak sudku, apabila kau benar-benar ingin berumah tangga.” Mahisa Pukat menundukkan kepalanya. Tetapi ia sudah tahu bahwa ay ahnya tentu akan berbicara tentang kehidupannya setelah ia benar-benar memasuki jenjang kehidupan berkeluarga. Tetapi Mahisa Pukat tidak ingin mendahului ayahnya. Karena itu, maka ia hanya diam sambil menunggu. Sebenarnyalah ayahnyapun kemudian berkata ”Mahisa Pukat. Kau harus mulai berpikir sejak sekarang. Jika kau kelak berumah tangga, apay g akan kau lakukan? Apakah kau akan kembali ke padepokan dan mengajak isterimu hidup menurut caramu di padepokan? atau kau mulai membayangkan satu bentuk kehidupan yang lain?” Mahisa Pukat tidak segera menjawab. Namun sebenarnyalah bahwa Mahendra memang menjadi gelisah memikirkannya. Jika Mahisa Pukat ingin hidup di padepokan, maka ia m erasa sangat kasihan kepada Mahisa Murti. Tanpa setahu Mahisa Pukat, maka Mahisa Murti hidupnya akan tersiksa setiap hari untuk waktu yang panjang tanpa batas. Bahwa dengan mengorbankan perasaannya sendiri Mahisa Murti telah m eninggalkan Mahisa Pukat di Singasari. Mahisa Murti termasuk seorang anak muda y g tahu diri dan tidak mementingkan diriny a sendiri. Tetapi jika ia ter siksa setiap hari, maka ada kemungkinan bahwa Mahisa Murtilah yg kelak akan meninggalkan Padepokan Bajra Seta. Sementara itu belum tentu bahwa Sasi akan dapat menerima satu bentuk kehidupan di padepokan. Mungkin sebelum perkawinan itu terjadi, selagi anganangannya melambung tinggi, Sasi berniat untuk hidup bersama dalam keadaan apapun. Meskipun demikian, apa yang t erjadi kemudian mungkin akan berbeda. Sasi dapat saja terbentur pada batas kemampuannya untuk menyesuaikan dirinya, sehingga kehidupan di padepokan akan terasa sangat membosankan. Dalam pada itu, Mahisa Pukatpun menjadi bimbang pula. Apalagi ketika ayahnya berkata ”Pukat. Sampai sekarang kau adalah seorang pemimpin sebuah padepokan. Kau hidup dalam satu suasana yang  sangat khusus. Sementara Sasi terbiasa hidup di Kotaraja. Aku tidak dapat membayangkan, apakah jadiny a jika Sasi kau ajak mencoba hidup di padepokan dengan gaya hidup orang-orang padepokan.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa ay ahnya ingin menasehatkan kepadanya agar ia tidak membawa Sasi ke padepokan. Namun Mahisa Pukat tidak tahu pasti alasan ayahnya y g sebenarnyalah Mahisa Murti telah mengorbankan perasaannya yg tertuju kepada Sasi. Bagi Mahisa Pukat, maka alasan utama adalah kebiasaan dan tatanan hidup keluarga Sasi yang jauh berbeda dengan tatanan hidup di padepokan, sehingga dengan demikian, maka satu kemungkinan yang  tidak diharapkan akan dapat terjadi atas Sasi. Dengan nada dalam, m aka Mahisa Pukatpun justru telah bertanya ”Ayah, aku justru ingin mendapat petunjuk dari ay ah.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam iapun berkata ”Mahisa Pukat. Jika kau bertanya kepadaku, maka jawabku tentu m engandung pengertian yang menguntungkan diriku pula. Karena bagaimanapun aku tidak dapat melepaskan kepentinganku sendiri.” “Maksud ay ah?” bertanya Mahisa Pukat. “Mahisa Pukat. Aku ingin menasehatkan kepadamu, sebaiknya kau tidak usah kembali ke padepokan. Setidaktidaknya untuk sementara. Kau dapat mencari sumber kehidupan disini. Adalah kebetulan bahwa aku mempunyai hubungan betapapun jauhnya dengan Sri Maharaja. Jika kau berminat, aku dapat m embawa kau menghadap. Jika bukan Sri Maharaja, maka aku dapat menyampaikannya Wreda Menteri atau pejabat-pejabat yang  lain yang  aku kenal.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan nada rendah ia berkata ”Tetapi apa yang  dapat aku lakukan ay ah? Selama ini aku hidup disebuah padepokan, sehingga yang aku kerjakan tidak lebih dari pekerjaan seorang cantrik dan sekaligus seorang petani. Jika aku harus bekerja diistana, apa yang  dapat aku perbuat selain menjadi juru taman.” Tetapi ayahnya m enggeleng. Katanya ”Kau dapat menjadi seorang prajurit. Kau mempunyai kemampuan dasar dalam olah kanuragan. bahkan jika dilakukan pendadaranpun kau akan mempunyai kesempatan cukup untuk diterima diantara mereka yang  menyatakan keinginan mereka menjadi prajurit. Bahkan mungkin kau akan dapat diterima menjadi Pelay an Dalam yang mempunyai tugas keprajuritan didalam lingkungan istana” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia teringat kepada saudara-saudara Sasi dan kawan-kawannya. Tataran kemampuan m ereka tidak terlalu tinggi, sehingga j ika ia ikut dalam pendadaran, maka kemampuannya tentu lebih baik dari anak-anak muda itu. Untuk beberapa saat Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun kemudian iapun menjawab ”Aku menurut saja, yang mana yang  terbaik menurut ayah.” “Ada dua bidang yang  terbaik bagimu. Bidang keprajuritan atau sebagai Pelay an Dalam. Jika kesempatan terbuka, bagiku kau lebih baik menjadi seorang Pelayan Dalam. Tugasnya mirip dengan tugas keprajuritan, tetapi juga mempunyai tanggung jawab atas keamanan seisi istana dan melayani isi istana pula” “Narpacunadka maksud ayah?” bertanya Mahisa Pukat. “Bukan. Tetapi Pelay an Dalam m emang dapat diperintah oleh Narpacundaka.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya ”Mana yang  baik menurut ay ah, aku tidak akan berkeberatan melakukannya.” Mahendra mengangguk-angguk. Tetapi untuk sementara ia sudah berhasil m emisahkan Mahisa Pukat dari Mahisa Murti apabila Mahisa Pukat benar-benar akan berumah tangga dengan seorang gadis yang kebetulan pernah menarik hati Mahisa Murti itu pula. Tetapi sebagai akibat dari keinginannya itu, maka Mahendrapun harus menghubungi para pejabat di istana Singasari. Bahkan ternyata kemudian, dalam satu kesempatan Mahendra sempat menghadap Sri Maharaja di Singasari. Ternyata keinginan Mahendra untuk mengabdikan anak laki -lakinya itu telah didengar pula oleh Sri Maharaja di Singasari. Ternyata Sri Maharaja justru dengan senang hati memerintahkan agar anak laki -laki Mahendera itu dapat diterima sebagai Pelay an Dalam. Mahendra memang menjadi sangat bergembira. Sebagaimana dititahkan oleh Sri Maharaja, maka Mahendrapun telah m enghubungi Manggala yang memimpin Pelay an Dalam di Istana Singasari itu. “Apa titah Sri Maharaja?” bertanya Gajah Saraya, Manggala yang memimpin Pelay an Dalam itu. “Seperti yang sudah aku katakan” jawab Mahendra ”Sri Maharaja bertitah bahwa Sri Maharaja berkenan atas permohonan anakku untuk menjadi Pelayanan Dalam.” “Untuk apa hal seperti ini kau sampaikan kepada Sri Maharaja? Bukankah ada bermacam-macam persoalan yang harus dipikirkan oleh Sri Maharaja? Tentu Sri Maharaja tidak sempat memikirkan persoalan anakmu itu.” “Tetapi Sri Maharaja ju stru sudah mendengar bahwa Mahisa Pukat ingin mengabdikan diri dalam lingkungan Pelay an Dalam di Istana Singasari. Sebelum aku m engatakan sesuatu tentang anakku itu, maka Sri Maharajalah yang  ju stru bertanya kepadaku.” “Mustahil” jawab Gajah Saraya ”aku belum pernah menyampaikannya kepada Sri Maharaja.” “Entahlah. Aku tidak tahu, siapakah yang  menyampaikannya kepada Sri Maharaja. Tetapi Sri Maharaja sudah mengetahuinya dan bahkan Sri Maharaja berkenan sekali atas keinginan anakku itu jawab Mahendra. “Mahendra” berkata Gajah Saraya ”sebenarnya kau tidak perlu bertumpu kepada Sri Maharaja. Bukankah sebelumnya aku juga sudah menyatakan akan mengusahakan agar anakmu dapat diterima asal anakmu memenuhi persyaratannya.” “Aku mengucapkan terima kasih, Gajah Saraya” sahut Mahendra ”mudah-mudahan anak itu m emenuhi syarat yang diwajibkan.” “Tetapi aku justru menjadi kecewa karena kau telah menyampaikan langsung kepada Sri Maharaja. Agaknya kau tidak percaya kepadaku.” berkata Gajah Saraya itu kemudian. “Kau salah paham Gajah Saraya” jawab Mahendra ”aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Tetapi justru kau yang tidak percaya kepadaku. Cobalah kau ingat-ingat, siapa saja yang pernah mengetahui bahwa anakku akan mengabdikan diri dalam lingkungan Pelay an Dalam di Istana Singasari? Mungkin orang itulah yang telah m enyampaikannya kepada Sri Maharaja.” “Apakah kepentingan mereka menyampaikan hal ini kepada Sri Maharaja?” bertanya Gajah Saraya. Mahendra hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengerti, bahwa Arya Kuda Cemani juga pernah mendengar keinginannya untuk mengabdikan anaknya dalam lingkungan Pelay an Dalam. Bahkan Arya Kuda Cemani sangat menyetujui, karena hal itu langsung atau tidak langsung menyangkut diri Arya Kuda Cemani itu sendiri. Justru karena Mahisa Pukat telah berhubungan degnan Sa si, anak perempuan Arya Kuda Cemani itu. “Apakah Arya Cemani yang telah menyampaikan keinginan Mahisa Pukat itu k epada Sri Maharaja?” bertanya Mahendra di dalam hatinya. Tetapi sudah barang tentu bahwa Mahendra tidak mengatakan hal itu kepada Gajah Saraya. Tetapi salah paham itu harus diluruskan. Karena itu, maka Mahendrapun kemudian berkata ”Baiklah Gajah Saraya. Pada kesempatan lain, jika aku menghadap lagi, maka aku akan bertanya kepada Sri Maharaja, siapakah yang telah menyampaikan keinginan Mahisa Pukat untuk mengabdi itu kepada Sri Maharaja.” “Kau berani melakukannya ?” bertanya Gajah Saraya. “Kenapa tidak ? Sri Maharaja adalah seorang yang  hatinya seluas lautan. Demikian pula Ratu Angabaya, sepupu Sri Maharaja yang  mendampinginya memerintah di Singasari itu. Seandainya aku m enyampaikan pertanyaan itu, maka keduaduanya tentu tidak akan marah.” “Kau terlalu deksura, Mahendra. Kau kira keduanya itu kawanmu bermain?” berkata Gajah Saraya. “Tentu tidak Gajah Saraya. Tetapi aku mengenal keduanya sejak lama. S ejak saudara -saudaraku masih m engabdi disini.” jawab Mahendra. Lalu katanya pula ”Kaupun tentu mengerti, kenapa aku sekarang tinggal di Istana Singasari.” Gajah Saraya termangu-mangu sejenak. Tetapi ia harus menilai kembali keberadaan Mahendra di Istana itu. Meskipun demikian, Gajah Saraya itu berkata ”Baiklah. Apapun yang  kau lakukan, akulah yang berwenang untuk melakukan pendadaran atas anakmu itu. Akulah yang  dapat menilai, apakah anakmu pantas menjadi seorang Pelay an Dalam atau tidak.” Pernyataan itu memang membuat jantung Mahendra berdesir. Namun Mahendra sadar, bahwa ia memang tidak dapat berbuat banyak tanpa harus menimbulkan persoalan dengan Gajah Saraya. Karena itu, maka Mahendra memang lebih banyak menunggu. Mahendra berniat agar anaknya dapat diterima dalam lingkungan Pelay an Dalam tanpa membuat persoalan. Karena itu, maka sebaiknya Mahisa Pukat menempuh sy arat-syarat yang  sewajarnya dilakukan untuk dapat diterima menjadi Pelay an Dalam. Ketika hal itu dikatakan kepada Arya Kuda Cemani, maka Arya Kuda Cemani itupun berkata ”Gajah Saraya ternyata tidak berpandangan luas. Hatinya getas seperti ranting yang kering. Sentuhan kecil saja membuat hatinya patah. Seharusnya ia tidak merasa tersinggung. Jika hal itu diketahui Sri Maharaja, maka justru Gajah Sarayalah yang akan mendapat murka.” “Tetapi biarlah Mahisa Pukat memasuki lingkungan Pelay an Dalam sesuai dengan syarat-sy arat yang harus ditempuhnya.” berkata Mahendra kemudian. Arya Kuda Cemani mengangguk-angguk. Katanya ”Ya, aku yakin syarat apapun yang diberikan, jika itu tetap dalam kewajaran, tentu akan dapat dilaluinya. Pendadaran yang betapapun beratnya asal masih sesuai dengan paugeran yang berlaku tentu akan dapat diatasinya. Kecuali jika ada permainan lain. Jika hal itu terjadi, aku mempunyai wewenang untuk memberikan laporan.” “Mudah-mudahan hal seperti itu tidak perlu terjadi” berkata Mahendra. Arya Kuda Cemani ter senyum. Sambil mengangguk-angguk ia b erkata ”Akhirnya kita juga berpaling k epada kepentingan diri. Jika persoalannya menyangkut diri kita masing-masing langsung atau tidak langsung, rasa -rasanya kita juga ingin turut campur.” “Ya” jawab Mahendra. Namun katanya kemudian ”Tetapi justru rasa keadilan kita tersinggung.” Arya Kuda Cemani tertawa. Tetapi mereka sepakat untuk tidak berbuat sesuatu sampai saat pendadaran itu datang. Mereka akan menyaksikan apakah pendadaran itu berlangsung wajar atau tidak. Adalah kebetulan bahwa istana Singsari memang sedang membutuhkan sepuluh orang Pelayan Dalam baru. Diutamakan mereka yang  masih muda dengan harapan bahwa mereka dihari mendatang akan dapat m enjadi Pelay an Dalam yang mampu menggantikan mereka yang menjadi semakin tua. Karena yang  menyatakan diri untuk memasuki lingkungan Pelay an Dalam itu melebihi dari yang dibutuhkan, maka mereka yang  m enyatakan diri untuk ikut dalam pendadaran sudah menyadari, bahwa pendadaran akan berlangsung berat. Duapuluh lima orang akan mengikuti pendadaran. Sementara yang akan diterima hanya sepuluh orang. Meskipun demikian Mahendra tidak ingin menempuh jalan pintas m eskipun seandainya hal itu dapat dilakukan. Apalagi Sri Maharaja sendiri telah menyatakan berkenan jika anak Mahendra dapat diterima menjadi Pelay an Dalam. Demikianlah, maka pada saat yang telah ditentukan, maka Manggala Gajah Saraya telah memanggil keduapuluh lima orang yang menyatakan diri untuk memasuki lingkungan Pelay an Dalam itu. Mereka akan mengikuti pendadaran yang  akan dibaktikan dalam beberapa tahap. Tahap pertama, duapuluh lima orang itu harus m enempuh perjalanan dalam jarak t ertentu. Jalan itu melalui beberapa rintangan alam yang cukup berat. Jalan yang  memang dipilih melalui lereng -lereng bukit, m eny eberang sungai dan hutanhutan kecil. Perjalanan yang akan makan waktu sehari semalam tanpa membawa bekal sama sekali. Mereka yang dapat menembus rintangan alam itulah yang kemudian akan mengikuti pendadaran yang kedua. Mereka akan dilepas seorang demi seorang tanpa diberi ancar-ancar jalan yang  akan m ereka lalui. Yang ada hanyalah isy arat-isy arat yang harus mereka cari disepanjang jalan. Ditempat-tempat tertentu mereka akan menjumpai gardugardu yang  ditunggui oleh para prajurit. Mereka harus menyatakan diri kepada para prajurit itu jika mereka telah melewati gardu itu. Satu saja gardu terlampaui, maka m ereka dianggap gagal dalam pendadaran tahap pertama. Demikianlah, maka duapuluh lima. orang itupun telah bersiap. Mereka yang  akan melakukan pendadaranpun telah bersiap. Sementara itu itu Manggala Gajah Sarayapun menunggui pendadaran itu langsung ditempat para peserta dilepas. Pa da saat yang  sudah ditemukan, maka mulailah orang yang pertama dilepas untuk menjalani pendadaran. Orang yang pertama itu dilepas di pagi hari. Meskipun demikian pada saatnya, maka perjalanannya akan m enembus gelapnya malam pula. Demikianlah berjarak waktu tertentu, telah dilepas orang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya Dalam urutan itu ternyata Mahisa Pukat adalah orang yang  terakhir dilepas. Ia justru dilepas saat matahari telah terbenam. Sebenarnya Mahisa Pukat sudah merasakan keganjilan ketika ia diny atakan sebagai orang terakhir. Ia tidak merasa ikut membuka lontar yang didalamnya tertulis urutan keberangkatan pada pendadaran itu sebagaimana yang lain. Menurut seorang prajurit yang  mengatur pendadaran, Mahisa Pukat justru peserta susulan yang tidak turut dalam undian. “Kau harus mengucap terima kasih bahwa kau dapat ikut serta” berkata seorang prajurit ketika ia menanyakan hal itu. Mahisa Pukat tidak m empersoalkannya lagi. Jika ia m asih bertanya tentang beberapa hal, maka mungkin sekali ia akan mengalami kesulitan karena sikap prajurit itu. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun menerima saja apa yang  harus dilakukan. Baginya sama saja, apakah ia mendapat giliran pertama atau terakhir. Semuanya akan mengalami waktu yang sama. Sehari semalam. Yang berangkat pagi hari, pada saatnya akan berjalan juga digelapnya malam. Bahkan Mahisa Pukat merasa beruntung, bahwa yang  telah berjalan lebih dahulu daripadanya sebanyak duapuluh ampat orang, sehingga jejaknyapun menjadi semakin banyak. Dengan demikian maka ia akan menjadi lebih mudah menelusuri jalan yang  harus dilaluinya dalam pendadaran itu. Demikianlah, maka pada saat yang ditentukan, Mahisa Pukatpun telah dilepas pula. Sementara gelap malampun mulai turun perlahan-lahan. Namun bagi Mahisa Pukat kegelapan itu tidak banyak mempengaruhinya. Sejenak kemudian, Mahisa Pukatpun telah berjalan melalui jalan yang  sepi. Ketajaman penglihatannya mampu melihat dengan baik meskipun gelap menjadi semakin kelam. Dilangit bintang berhamburan. Selembar awan lewat. Tetapi langit tetap jernih. Dengan melihat bintang Gubuk Penceng dan bintang Waluku Mahisa Pukat mampu mengenali arah. Ia tahu pasti kemana ia berjalan. Ketika jalan berbelok, maka tanpa kesulitan ia mengetahui arah, kemana ia harus pergi, karena ia m elihat isyarat yang jelas. Beberapa cabang pepohonan sengaja ditebas. Sehingga dengan demikian, maka Mahisa Pukatpun telah mengikuti petunjuk itu. Disamping isy arat itu, maka jejak mereka yang ter - dahulupun telah menuntun arah bagi Mahisa Pukat, sehingga ia tidak harus terlalu banyak berpikir. Semakin lama jalanpun menjadi semakin jauh. Jalan setapak yang jarang dilalui orang. Bahkan kemudian memasuki sebuah padang rumput tempat para gembala menggembalakan kambingnya. Pa dang rumput itu m emang agak luas. Rerumputan yang  hijau itu mulai dibasahi oleh embun yang  mulai turun. Mahisa Pukatpun merasakan bahwa malam memang menjadi semakin dingin. Tetapi ia berjalan terus. Ia belum merasakan rintangan yang berarti pada perjalanannya itu. Ketika ia melewati tanggul sebuah susukan yang  agak besar, tiba -tiba saja Mahisa Pukat dikejutkan suara anjing yang menggonggong. Tidak terlalu jauh dari tanggul yang dilewatinya. Tetapi Mahisa Pukat justru tersenyum. Telinganya yang  tajam segera mengetahui, suara gonggongan anjing yang seakan-akan suara seekor anjing yang  sangat besar itu adalah suara orang. “Tentu satu dua orang prajurit yang  mendapat tugas mengganggu mereka yang  melakukan pendadaran” berkata Mahisa Pukat didalam hatinya. Tetapi justru karena itu timbul niat Mahisa Pukat untuk bermain-main dengan mereka. Ketika suara anjing itu menjadi semakin dekat, maka Mahisa Pukatpun telah ikut pula m enirukan suara anjing itu. Hampir mirip dengan suara yang menjadi semakin dekat itu. Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa. Dua orang tidak dapat menahan tertawa mereka. Bahkan kedua orang prajurit telah muncul dari balik serumpun perdu. Sambil melangkah mendekati, seorang diantara mereka berkata ”Selamat anak muda. Mudah-mudahan kau dapat melewati pendadaran ini dengan baik.” “Terima kasih” jawab Mahisa Pukat yang juga tertawa. Bahkan katanya ”Bukankah aku orang terakhir? Marilah, kita berjalan bersama-sama.” Kedua orang itu tertawa semakin keras. Katanya ”Tentu akan merugikanmu. Jika kau ketahuan berjalan bersama kami, maka kau tentu dianggap gugur dalam pendadaran ini. Sementara itu kamipun akan kembali ketempat kalian dilepas, sehingga kita akan berlawanan arah.” Mahisa Pukatpun sambil tertawa berkata ”Baiklah. Kita akan berpisah.” Kedua orang itu berdiri untuk memperhatikan Mahisa Pukat berjalan memasuki kegelapan. Namun seorang diantara kedua orang prajurit itu berkata ”Anak yang  berani dan ramah. Aku kira ia akan dapat melewati pendadaran ini.” “Tetapi ia baru m ulai. Masih banyak rintangan yang lain yang barangkali lebih rumit. Apalagi rintangan alam yang berat,” jawab orang lain. Orang yang pertama itu mengangguk-angguk sambil bergumam ”Tetapi yang  seorang ini nampak sangat yakin akan dirinya.” “Ya” jawab kawannya ”anak ini memang mempunyai kelebihan. Meskipun sebagian besar memang tidak menjadi ketakutan, tetapi tanggapan anak ini terasa akrab.” Sementara itu Mahisa Pukatpun telah meneruskan perjalanannya. Jalan yang sempit yang  kemudian menurut isy arat yang ada, menuju kesebuah sendang yang  terpencil. Sendang yang nampaknya jarang dipergunakan airnya. Beberapa pohon besar tumbuh disekitarnya sehingga suasanya memang menjadi sangat meny eramkan. Tetapi bagi Mahisa Pukat, hal itu tidak dapat menggetarkan bulu-bulunya. Mahisa Pukat berjalan saja mengikuti isyarat dan bahkan jejak yang  dapat dilihatnya dalam kegelapan, meskipun kadang-kadang ia harus meraba dengan jari-jarinya. Beberapa saat maka Mahisa Pukatpun telah tenggelam dalam gelapnya bayang-bayang beberapa batang pohon raksasa. Ada diantaranya pohon preh, pohon nyamplung dan pohon cangkring yang  berduri. Untuk beberapa saat Mahisa Pukat berhenti dibawah pepohonan itu sambil mengamat-amati batang-batang raksasa yang tumbuh bagaikan menjulang kelangit. Kemudian bayang an hitam dirim bunnya dedaunan. Sekali-sekali terdengar suara burung malam yang  m emecah sepi. Burung bence yang suaranya bagaikan menyayat jantung. Memikik tinggi kemudian hilang dibawa terbang. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Mula-mula ia mengira bahwa suara itu juga suara seseorang untuk menakutnakuti, setidak -tidaknya menggetarkan jantung mereka yang ikut pendadaran. Tetapi ternyata tidak. Suara itu benar-benar suara burung bence. Mahisa Pukat y akin akan hal itu ketika burung bence itu terbang meninggalkan pohon ny amplung raksasa yang tumbuh diantara pohon-pohon raksasa yang  lain. Mahisa Pukat hanya dapat termangu -mangu sejenak. Baru kemudian ia berniat meneruskan perjalanannya. Jalan sempit yang lewat diantara dua batang pohon raksasa. Disebelah kiri pohon beringin dengan sulur-sulur yang  bergayutan yang membuat suasana menjadi bertambah seram. Sedangkan disebelahnya adalah sebatang pohon cangkring berdiri hampir berimpit dengan sebatang pohon yang sangat besar dengan jenis daun yang  berbeda. Daun cangkring dan daun benda. Namun karena kebiasaan seorang pengembara, maka Mahisa Pukat melangkah tanpa ragu melalui celah-celah pohon-pohon raksasa itu. Namun Mahisa Pukat memang menjadi terkejut. Telinganya menangkap desir lembut. Karena itu, maka iapun segera mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang tidak dikehendaki. Sambil berjalan maka ia benar-benar memperhatikan suasana. Beberapa langkah Mahisa Pukat berjalan dan lewat diantara batang-batang raksasa itu, maka tiba-tiba sebuah bayang an putih terayun menyambarnya. Demikian cepatnya, sehingga hampir saja bayangan putih itu sempat menyambar kepalanya. Tetapi dengan tangkas Mahisa Pukat menghindar, sehingga bayang an putih itu lewat saja sejengkal dari tubuhnya. Terayun deras seolah-olah terbang kedahan pepohonan. Tetapi bayang an putih itu tiba-tiba berhenti. Bahkan terayun kembali seolah-oleh sekali lagi ingin menyambar Mahisa Pukat yang  berdiri termangu-mangu. Tetapi pikiran Mahisa Pukat cukup terang. Bayangan itu tentu hanya sebuah benda yang  terayun karena terikat pada salah satu dahan pohon-pohon raksasa itu. Tidak ada bedanya dengan suara gonggongan anjing itu. Tentu para prajurit telah menakut-nakuti m ereka yang ikut dalam pendadaran untuk memperlemah keberanian mereka meneruskan perjalanan. Sekali lagi timbul niat Mahisa Pukat untuk bermain-main. Ketika benda itu menyambarnya, maka Mahisa Pukat sekali lagi menghindar. Tetapi ia tidak berlari menjauh. Ia ju stru menunggu benda itu terayun sekali lagi. Sebenarnyalah, benda yang berwarna putih yang seakanakan menggelantung terbang itu terayun lagi menyambarnya. Dengan cepat Mahisa Pukat meloncat m enangkap benda itu dan menariknya keras-keras. Seperti yang  diperhitungkannya, maka tali pengikat benda yang dihentakkannya itu telah terlepas. Bahkan kain pembungkus benda yang  diay unkan itu telah koyak. Sambil memeluk benda yang  terbungkus kain putih itu Mahisa Pukat melangkah meneruskan perjalanan. Tetapi dua orang prajurit ternyata telah mengejarnya sambil berteriak ”He, anak muda. Jangan kau bawa benda itu.” Mahisa Pukat berhenti.Tetapi iapun berkata ”Aku adalah orang terakhir, sehingga benda ini tidak akan dipergunakan lagi.” “Tetapi aku harus membawanya kembali.” sahut salah seorang dari kedua prajurit itu. Mahisa Pukat meny erahkan benda itu sambil t ertawa. Katanya ”Marilah. Benda itu hanya akan menjadi beban saja bagiku”. Kedua orang prajurit itupun tertawa. Tetapi seorang diantara m ereka berkata ”Kau telah m engoy akkan kain putih ini.” “Apakah masih akan terpakai?” bertanya Mahisa Pukat. “Setidak-tidaknya dapat aku pergunakan untuk celana anakku,” jawab salah seorang dari kedua prajurit itu. Mahisa Pukat tertawa semakin keras. Kedua prajurit itupun tertawa berkepanjangan pula. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Mahisa Pukatpun telah meninggalkan kedua orang prajurit itu. Sambil melambaikan tangannya prajurit itu berkata ”Selamat anak muda. Semoga kau berhasil.” “Terima kasih. Doakan saja, agar aku mampu mengatasi pendadaran ini.” Ternyata Mahisa Pukat justru telah menarik perhatian para prajurit yang bertugas. Tetapi rintangan yang  masih harus dilaluinya masih cukup banyak. Justru rintangan alam. Lereng bukit, tanah-tanah m iring yang terjal, sungai dan hutan yang masih dihuni binatang buas. Tetapi dengan tegar Mahisa Pukat berjalan terus. Dilaluinya rintangan demi rintangan yang  memang disediakan oleh alam. Dengan hati-hati Mahisa Pukat memanjat lereng bukit kecil yang terjal, berbatu-batu padas yang runcing. Ketika ia sampai kepuncak bukit kecil itu, dilihat sebuah pelita minyak kecil yang nyalanya menggeliat ditiup angin malam. Mahisa Pukat mengetahui, bahwa pelita itu dipasang pada sebuah gardu. Salah satu dari gardu -gardu yang  harus disinggahi selama ia menempuh perjalanan pendadaran. Ada empat orang prajurit yang  bertugas di gardu itu. Demikian Mahisa Pukat mendekat, mska salah seorang dari para prajurit itupun berkata ”Kau orang terakhir anak muda.” “Ya” jawab Mahisa Pukat ”aku dilepas yang  terakhir.” “Bagus. Berjalanlah terus. Sampai pada gardu ini, semuanya masih genap duapuluh lima orang. Tetapi dua orang sudah mulai nampak meragukan akan keberhasilannya. Meskipun demikian, keduanya meneruskan perjalanan.” Mahisa Pukatpun kemudian telah minta diri. Dalam kegelapan malam yang  semakin dalam ia meneruskan perjalanan. Sekali-sekali ia memandang langit yang  bersih. Bintang Gubug Penceng dan Bintang Waluku sudah bergerak semakin ke Barat. Bahkan di langit sudah nampak Bintang Bima Sakti. Mahisa Pukat berhenti ketika ia sampai ke ngarai setelah menuruni bukit k ecil itu. Kakinya memang terasa agak l etih. Batu-batu padas terasa menggelitik tapak kakinya. Untuk beberapa saat Mahisa Pukat beristirahat. Ia sadar bahwa perjalanannya masih jauh. Angin malam semilir membuat tubuh Mahisa Pukat menjadi segar kembali. Perlahan-lahan ia meneruskan perjalanannya menempuh jalur pendadaran yang  masih jauh. Anak muda itu tertegun ketika di depannya membentang sebuah sungai yang  meskipun tidak terlalu lebar, tetapi airnya cukup deras. Batu-batu yang  besar berserakan dimana-mana. Mahisa Pukatpun dengan hati-hati menuruni tebing sungai dan mencoba menjajagi airnya. Terasa airnya memang sangat dingin. Namun ia tidak mempunyai pilihan kecuali meny eberang jika ia ingin diterima menjadi Pengawal Dalam di Istana Singasari. Ternyata tidak terlalu sulit bagi Mahisa Pukat. Namun demikian, pakaiannya menjadi basah. Sehingga ia harus berjalan dengan pakaian basah di udara yang dingin di malam yang kelam. Jalan yang terbentang dihadapannya kemudian adalah padang perdu yang  agak luas. Mahisa Pukat yang  sudah terbiasa mengembara itu mengenali, bahwa setelah padang perdu yang semakin banyak dipadati pohon-pohon perdu, biasanya jalan itu akan sampai ke pinggir hutan. Ketika Mahisa Pukat kemudian memandang kekejauhan dan melihat bayang an pepohonan yang  rapat membujur panjang, maka Mahisa Pukatpun mengetahui bahwa yang dihadapannya itu bukan jajaran padukuhan, tetapi tentu sebuah hutan meskipun tidak t erlalu besar. “Memang lebih senang lewat di hutan itu siang hari” berkata Mahisa Pukat di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat memilih. Yang lainpun juga tidak dapat memilih, karena bagi mereka diberlakukan undian untuk menentukan saat keberangkatan mereka. Hanya Mahisa Pukat sajalah diantara para peserta yang  tidak ikut dalam undian. Namun ditentukan sebagai orang yang berangkat terakhir. Tetapi sebelum para peserta pendadaran itu sampai ke hutan, maka mereka akan melalui sebuah gardu lagi. Dari kejauhan Mahisa Pukat sudah melihat lam pu minyak yang menyala berkeredipan. Agaknya para prajuritpun memperhitungkan, bahwa kehadiran gardu itu akan dapat memberikan sedikit ketenangan bagi para peserta yang  kurang memiliki keberanian memasuki lingkungan hutan meskipun hutan yang terhitung kecil. Ketika Mahisa Pukat singgah di gardu itu, maka iapun disambut dengan baik oleh para prajurit yang bertugas. Tidak hanya empat tetapi enam orang. Mahisa Pukat diberitahu bahwa para peserta semuanya masih utuh, duapuluh lima orang. Dari para prajurit yang bertugas di gardu itu Mahisa Pukat mendapat pinjaman sebilah pisau b elati panjang yang tajam. Dengan nada berat prajurit itu berkata ”Kau akan memasuki jalan ditepi sebuah hutan. Karena itu, maka kau akan mendapat pinjaman sebilah pisau belati panjang. Tetapi pisau itu harus kau kembalikan kepada para prajurit yang  ada di gardu berikutnya, setelah kau melalui hutan itu.” “Terima kasih” jawab Mahisa Pukat sambil menerima pisau belati itu. Dengan pisau belati di tangan, maka Mahisa Pukat menjadi semakin tegar. Sebenarnya ia memang tidak memerlukan pisau itu. Tetapi rasa -rasanya memang lebih tenang membawa sebilah pisau belati untuk memasuki lingkungan hutan. Setidak-tidaknya pisau itu akan dapat dipergunakan untuk membersihkan ranting-ranting yang  menghalangi jalan. Beberapa saat kemudian, maka perjalanan Mahisa Pukat telah menjadi semakin dekat dengan hutan yang.membentang dihadapannya. Hutan yang meskipun tidak begitu besar, tetapi nampaknya cukup lebat, membujur sampai kelereng perbukitan. Mahisa Pukat yang  sudah mengembara melewati lingkungan yang  luas, tetapi ternyata ia belum pernah melewati jalan-jalan yang dipergunakan untuk pendadaran itu m eskipun hanya sekitar Kota raja saja. Agaknya lingkungan itu m emang lingkungan yang  khusus untuk kepentingan latihan-latihan para prajurit serta untuk pendadaran sebagaimana yang sedang terjadi itu. Dengan sebilah pisau belati panjang Mahisa Pukat berjalan melalui padang perdu yang semakin rapat. Seperti yang diperhitungkan maka sejenak kemudian, maka Mahisa Pukat itu telah m endekati sebuah hutan. Jalan yang dilaluinya itu akan melewati pinggir hutan yang  gelap itu. Tetapi Mahisa Pukat sama sekali t idak merasa gentar menghadapi jalan yang dilaluinya itu. Apalagi ia membawa sebilah pisau dilambungnya. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Mahisa Pukat telah memasuki hutan yang ternyata menurut pengamatan Mahisa Pukat berdasarkan pengalamannya hutan itu adalah hutan tutupan. Hutan yang  khusus dipergunakan sebagai arena perburuan orang-orang tertentu. Bahkan mungkin keluarga Sri Maharaja di Singasari. Namun dengan demikian Mahisa Pukatpun menyadari bahwa hutan itu tentu masih dihuni oleh binatang-binatang buas yang menjadi sa saran buruan para pemburu. Karena itu, maka bagaimanapun juga Mahisa Pukat harus berhati-hati. Demikian ia m emasuki jalan ditepi hutan, maka ia mulai memperhatikan arah angin. Ternyata hembusan angin agak kurang menguntungkan baginya. Angin berhembus kearah hutan yang  pekat itu. Tetapi Mahisa Pukat berjalan terus. Binatang buas tidak selalu akan menyerang meskipun binatang itu mencium bau seseorang. Bahkan binatang-binatang yang tidak terpaksa karena lapar tidak akan meny erang seseorang. Demikianlah, maka Mahisa Pukatpun menyusuri jalan dipinggir hutan itu. Dengan saksama ia memusatkan perhatiannya pada keadaan sekelilingnya. Bukan saja ia berusaha untuk melihat setiap gerak didalam kegelapan. Tetapi telinganyapuri dipergunakannya sebaik-baiknya. Tiba-tiba saja Mahisa Pukat terkejut. Ia m endengar suara yang aneh. Derak kayu yang saling bergeser. Tetapi suara itu disusul aum harimau yang  mengoyak sepinya malam. Mahisa Pukat dengan cepat mempersiapkan diri. Ia justru meloncat keluar dari jalur jalan dan berdiri di daerah padang perdu yang  agak longgar. Oleh bintang-bintang di langit maka padang perdu itu gelapnya tidak sepekat gelapnya pinggir hutan yang dilindungi oleh rim bunnya pepohonan. Sejenak Mahisa Pukat menunggu. Aum harimau itu masih. terdengar. Tetapi ia masih berharap bahwa harimau itu tidak mencarinya meskipun mungkin harimau itu sudah m encium baunya. Tetapi yang  terjadi tidak seperti yang diharapkan oleh Mahisa Pukat. Agaknya harimau itu benar-benar kelaparan. Ketika harimau itu muncul dari balik pepohonan hutan, maka harimau itu nampak garang sekali. Dalam kegalapan ketajaman mata Mahisa Pukat masih dapat melihat lamatlamat harimau itu merangkak perlahan-lahan sambil menengadahkan kepalanya. Agaknya harimau itu sedang meyakinkan diriny a tentang bau yang  tercium oleh hidungnya dalam keadaan yang sangat lapar. Mahisa Pukat m enarik nafas dalam-dalam. Dalam keadaan yang tegang itu ia masih sempat membuat perhitungan. Harimau itu tentu harimau yang  dengan sengaja dilepaskan dari kandang atau perangkapnya. Agaknya harimau itu dibiarkan kelaparan sehingga dengan demikian harimau itu menjadi semakin buas. Ternyata harimau itu berhasil mengetahui arah Mahisa Pukat berdiri. Perlahan-lahan harimau itu melangkah mendekati Mahisa Pukat. Terdengar harimau itu menggeram. Mahisa Pukat meraba pisau belatinya. Tetapi iapun kemudian memutuskan untuk tidak berlama-lama melayani harimau itu. Ia harus meny elesaikan perjalanannya sekitar sehari-semalam. Jika ia terlalu lama berhenti dipinggir hutan itu, maka perjalanannya akan tertunda, sehingga ada alasan bagi orang-orang yang tidak senang akan kehadirannya dalam pendadaran itu untuk menganggap bahwa ia mengalami kelambatan terlalu lama dari waktu yang telah ditentukan, sehingga ia dapat dianggap gagal dalam pendadaran tataran pertama. Tetapi Mahisa Pukatpun yakin bahwa tentu ada orang yang  mengawasi apa yang  akan terjadi. Apakah orang itu berada dibalik pepohonan atau yang  paling mungkin adalah ju stru memanjat pepohonan untuk menghindari serangan harimau yang kelaparan itu. Yang tidak dapat ditebak oleh Mahisa Pukat, apakah kehadiran seekor harimau itu berlaku juga pada duapuluh ampat orang lainnya yang mengikuti pendadaran itu, atau hanya disediakan baginya oleh orang-orang yang  tidak senang akan keikut sertaannya dalam pendadaran itu. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun berusaha untuk menghindari penglihatan orang-orang itu jika mungkin ada. Demikianlah, maka Mahisa Pukatpun kemudian telah berlari cepat -cepat menjauhi hutan itu melintasi padang perdu. Namun dalam pada itu, harimau yang lapar itupun tidak mau melepaskan mangsanya. Karena itu sambil mengaum harimau itupun meloncat mengejar Mahisa Pukat. Mahisa Pukat yang  mengerahkan tenaga dalamnya itu memang dapat berlari cepat sekali. Tetapi harimau itupun mampu berlari cepat pula. Dengan cepat Mahisa Pukat menempuh sisa perjalanannya yang masih separo lebih. Sementara itu, ia mulai memanjat lereng pegunungan lagi. Tetapi pebukitan yang didakiny a itu tidak lagi berbatu-batu padas yang menyakiti kakinya. Tetapi justru tanah terasa sangat licin. Tetapi bagi Mahisa Pukat perjalanan itu masih belum membuatnya mengalami kesulitan. Ketika fajar meny ingsing, maka Mahisa Pukat telah turun dari pebukitan dan berjalan di ngarai yang  datar. Sebuah padang rumput yang  luas terbentang dihadapannya. Ketika matahari terbit, maka terasa udara yang  segar berhembus lembut. Tetapi di padang rumput itu tidak banyak terdapat pepohonan. Hanya beberapa batang pohon saja tumbuh pada jarak yang  cukup jauh. Semakin lama maka panas mataharipun semakin terasa menyengat kulit. Sementara itu leher Mahisa Pukat mulai merasa haus. Sedangkan ia sama sekali tidak membawa bekal apapun. Di kejauhan Mahisa Pukat melihat bayang an pepohonan yang hijau. Ia tidak tahu apakah yang nampak itu padukuhan atau hutan. Tetapi m enurut perhitungan Mahisa Pukat, jalan itu tentu tidak akan melalui padukuhan-padukuhan yang  akan dapat memberikan dukungan kepada para peserta pendadaran. Jika haus, maka di padukuhan itu tentu tersedia air. Sementara jika lapar, maka akan dapat dicari makan bagaimanapun caranya. Tetapi ternyata jalan yang  harus ditempuh tidak menuju ke bayang an pepohonan itu. Ia harus berbelok melalui jalan setapak justru menghindari pepohonan yang hijau segar. Mahisa Pukatpun kemudian berbelok mengikuti lor ong sempit itu. Menurut penglihatannya, maka para peserta yang terdahulu tentu juga berjalan melalui jalan itu. Sementara itu maka sengatan mataharipun semakin terasa. Leher Mahisa Pukat semakin terasa kering. Tetapi ia m asih belum menjumpai parit, sungai atau anak sungai. Ia juga tidak menjumpai sumber mata air disepanjang lorong sempit di tengah-tengah padang rumput yang  luas itu. Apalagi rerumputan itupun kemudian menjadi semakin kuning. Tanah mulai bercampur dengan pasir dan kerikil. Sehingga panaspun terasa semakin membakar tubuhnya. Keringatpun membasahi kulit Mahisa Pukat dari ujung kepala sampai keujung kakinya. Tetapi Mahisa Pukat masih tetap berjalan dengan langkah yang  mantap. “Memang lebih senang yang mendapat giliran pertama” berkata Mahisa Pukat didalam hatinya ”ketika menempuh perjalanan di pebukitan dan hutan, hari masih terang. Sementara ketika menempuh padang ini matahari sudah tenggelam.” Tetapi Mahisa Pukat tidak dapat merasa iri. Beberapa orang diurutan terakhir juga mengalami sebagaimana yang dialaminya. Orang yang  keduapuluh ampat hanya berselisih beberapa saat saja daripadanya. Ketika Mahisa Pukat melihat segerumpul pepohonan raksasa di tengah-tengah padang itu, maka naluri pengembaranya m engatakan kepadanya, bahwa di tempat itu ada air. Meskipun barangkali tidak terlalu banyak. Karena itu, meskipun arah perjalanannya tidak m endekati sekelompok pepohonan itu, maka Mahisa Pukat sengaja telah menyimpang meskipun agak jauh. Sebenarnyalah, di tempat itu Mahisa Pukat memang menemukan sebuah sumber air yang cukup besar. Bahkan airnya melimpah mengalir kesebuah parit. Tetapi parit itu tidak menyilang jalan yang  harus dilalui jalan yang harus ditempuh oleh mereka yang mengikuti pendadaran. Ternyata Mahisa Pukat sempat menghilangkan hausnya, sementara ia masih harus berjalan cukup panjang. Tetapi setelah minum, maka tubuh Mahisa Pukat terasa semakin segar. Ia dapat berjalan lebih cepat lagi. Bahkan seakan-akan Mahisa Pukat itu telah berlari-lari kecil untuk mengganti waktu yang  dipergunakan meny impang beberapa saat ketika ia m encari sumber air yang  tidak terletak dekat dengan jalan yang  harus ditempuh. Tetapi ia tidak harus t etap b erjalan selalu diteriknya sinar matahari. Beberapa saat kemudian, maka Mahisa Pukatpun telah m emasuki sebuah hutan kecil. Hutan yang  nampaknya tidak begitu buas. Pepohonan yang tumbuh didalamnya tidak terlalu lebat. Tetapi m emang tidak mustahil bahwa di tempat itu juga terdapat binatang buas. Karena itu, maka Mahisa Pukat harus berhati-hati. Mungkin saja tiba -tiba seekor harimau terlepas dari perangkapnya dan berusaha menerkamnya lagi. Tetapi agaknya dihutan kecil itu memang tidak terdapat seekor harimaupun. Yang terdapat dihutan itu ternyata adalah beberapa ekor ular. Seekor ular gadung yang tidak t erlalu besar telah m enyambarnya dari sebatang pohon. Untunglah Mahisa Pukat sempat meloncat menghindar. Meskipun ia mempunyai penangkal racun, namun ia masih belum m erasa perlu untuk menunjukkan kepada para prajurit yang menilai pendadaran itu. Jika terdapat gigitan seekor ular, tetapi ia tidak mengalami sesuatu, maka hal itu akan dapat m enarik perhatian. “Mudah-mudahan tidak ada seorangpun yang  digigit ular disini” desis Mahisa Pukat. Ia memang m enganggap tempat itu sangat berbahaya bagi sebuah pendadaran. Beberapa puluh langkah lagi, maka langkah Mahisa Pukatpun terhenti. Ia melihat seekor ular sawah melintasi jalan yang  akan dilaluinya. Tetapi karena ular sawah bukan termasuk ular yang berbahaya, maka Mahisa Pukat tidak bergeser dari tempatnya berdiri. “Hutan ular” desis Mahisa Pukat. Bahkan ketika ia hampir sampai diujung hutan kecil itu, ia masih bertemu dengan seekor ular bandotan. Ular yang sangat berbisa, sehingga karena itu, maka Mahisa Pukatpun harus bersiap-siap menghadapinya, karena ular bandotan memang sering menyerang lebih dahulu. Tetapi justru karena Mahisa Pukat berdiri mematung, maka ular bandotan itupun segera bergeser menjauh dan masuk kedalam lebatnya hutan. Agaknya udara yang panas telah membuat ular-ular di hutan itu dan sekitarnya kepanasan dan mencari tempat yang lebih sejuk. Demikianlah beberapa saat kemudian, Mahisa Pukat telah berada di ujung hutan, sementara matahari telah lewat puncak langit. Jantungnya berdesir ketika demikian ia lewat hutan itu, maka ia telah melihat sebuah lagi gardu yang dijaga oleh beberapa orang prajurit. Ketika Mahisa Pukat mendekati gardu itu untuk menyatakan kehadirannya, maka para prajurit di gardu itu menyambutnya dengan sikap yang  wajar. Memang agak berbeda dengan para prajurit yang  ada di gardu setelah ia melewati hutan perburuan. “Bukankah kau tidak apa-apa?” bertanya salah seorang prajurit ”maksudku, bukankah kau tidak dipatuk ular.” “Hampir saja” jawab Mahisa Pukat ”ular gadung yang  menyambar aku dari pepohonan dan ular bandotan” “Sokurlah” desis prajurit itu. ”Ada tiga orang yang  tidak sempat menghindar sehingga dipatuk ular. Ketiganya masih ada disini. Tetapi ketiganya sudah diobati.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk kecil. Katanya ”Untunglah bahwa mereka sempat tertolong.” “Setiap kali kami melihat keadaan. Atau mereka yang  digigit ular biasanya berlari keluar dari hutan itu.” Muhisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya ”agaknya gardu ini memang ditempatkan disini bukan saja untuk mengamati para peserta pendadaran, tetapi juga untuk menolong mereka yang mengalami kecelakaan.” “Ya” jawab salah seorang prajurit. “Lalu bagaimana dengan mereka?” bertanya Mahisa Pukat sambil memperhatikan ketiga orang anak muda yang berbaring disebuah amben yang  besar di gardu itu. “Keadaan mereka sudah berangsur baik” jawab prajurit itu. “Maksudku, apakah dengan demikian mereka dianggap gagal dalam pendadaran yang  mereka ikuti?” Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Dengan dahi yang  berkerut iapun berkata ”Agaknya memang demikian anak muda. Karena itu kau dapat bersukur bahwa kau tangkas sehingga kau dapat lolos dari patukan ular dihutan itu seperti kawan-kawanmu yang  lain.” “Bukan karena ketangkasanku” jawab Mahisa Pukat ”tetapi aku justru diam mematung ketika ular itu lewat.” “Jika demikian otakmulah yang  tangkas” jawab prajurit itu. “Terima kasih” jawab Mahisa Pukat yang  sejenak kemudian minta diri untuk melanjutkan tugas pendadarannya. Jalan yang dihadapinya kemudian nampaknya tidak lagi terlalu sulit. Meskipun jalan menjadi turun naik karena padang perdu yang memang tidak rata. Tetapi jalan yang menanjak dan menurun tidak terasa terlalu terjal. Namun demikian, langit terasa bagaikan membara. Matahari yang sudah melewati puncaknya justru terasa semakin panas. Sinarnya menerpa tubuh Mahisa Pukat serta memeras keringatnya dari seluruh wajah kulitnya. Perasaan haus telah kembali mengganggunya. Meskipun demikian namun Mahisa Pukat memperhitungkan bahwa ia tidak akan kehabisan tenaga sampai saatnya ia sampai ketempat yang  sudah ditentukan sebagai tujuan akhir dari pendadaran, seandainya ia tidak mendapat air. Dalam pada itu, ketika Mahisa Pukat melintasi daerah yang  agak tinggi, maka ia melihat dua punggung gumuk yang memanjang. Pengalamannya mengatakan, bahwa diantara kedua punggung gumuk yang  memanjang itu terdapat sungai atau anak sungai meskipun mungkin sudah mengering. Karena itu, maka seperti yang telah dilakukan Mahisa Pukat ingin keluar dari jalur perjalanannya menuju ketempat yang diperkirakan mengandung air itu. Bahkan sebuah anak sungai. Tetapi sebelum ia benar-benar memasuki padang perdu yang panas itu, tiba-tiba saja ia mendengar suara seseorang yang mengerang. Dengan cepat Mahisa Pukat meloncat melintasi tikungan ditebing yang  agak tinggi. Demikian ia melampaui tikungan itu, maka iapun telah melihat seseorang yang  duduk bersandar tebing. Wajahnya pucat sementara keringatnya bagaikan terperas dari seluruh tubuhnya. Bibirnya nampak kering dan tubuhnya menjadi sangat lemah. “Kau kenapa?” bertanya Mahisa Pukat. “Aku tidak tahan lagi. Leherku bagaikan terbakar.” desisnya hampir tidak terdengar. “Apakah kau salah seorang peserta pendadaran untuk memasuki lingkungan Pelay an Dalam?” bertanya Mahisa Pukat. “Kau berada di urutan keberapa?” bertanya Mahisa Pukat pula. “Dua puluh dua” jawab orang itu dengan nafas terengahengah. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak bertanya anak-anak muda yang  digigit ular itu berada pada urutan keberapa. Namun tanpa ditanya anak muda yang  kehausan itu, berkata ”Sudah ada dua orang yang  lewat mendahului aku. Tetapi mereka tidak berhenti sama sekali. Aku tidak menyalahkan mereka, karena mereka juga kehausan dan lebih.” Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak berniat meninggalkan anak muda itu dalam keadaannya. Karena itu, maka katanya ”Tunggulah. Aku akan mencari air.” “Kemana kau mencari air?” bertanya orang itu dengan suara yang lemah. “Jika didekat tempat ini ada air, aku akan mengambil untukmu.” jawab Mahisa Pukat. “Tetapi itu akan memakan waktu yang panjang. Kau akan melampaui waktu yang ditetapkan sehingga kau akan dianggap gagal pula.” berkata anak muda itu. “ Itu bukan soal. Tetapi keadaanmu yang sangat lemah ini memerlukan pertolongan. Seandainya aku gagal karena ini, aku tidak meny esal. Aku m asih akan m endapat kesempatan untuk mengikuti pendadaran pada kesempatan berikutnya atau untuk menjadi prajurit,” jawab Mahisa Pukat. Anak muda itu tidak m enjawab. Sementara Mahisa Pukat berkata selanjutnya ”Tunggulah disini. Bertahanlah.” Sejenak kemudian maka Mahisa Pukatpun segera meloncat berlari menuju ke gumuk yang memanjang membujur hampir sejajar dengan jalan ayang harus dilalui. Ternyata Mahisa Pukat masih mampu berjalan cepat. Beberapa langkah dari gumuk yang  ternyata merupakan tebing yang agak tinggi itu, Mahisa Pukat sudah mendengar gemericik air. “Air”desisny a. Sebenarnyalah, ketika ia berdiri dialas tebing, ia melihat air yang mengalir. Meskipun tidak begit u deras, tetapi cukup melimpah dibanding dengan kebutuhan Mahisa Pukat. Dengan hati-hati Mahisa Pukatpun kemudian turun kesungai kecil itu. Dengan jarijarinya ia menyibak air yang  jernih dan kemudian dengan kedua telapak tangan yang  ditakupkan maka iapun meneguk air itu pula. Tubuh Mahisa Pukat terasa segar kembali sebagaimana ketika ia minum sebelumnya. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Pukat masih belum benar-benar kehausan karena ia telah menemukan sumber air sebelum ia sampai ke hutan kecil itu. Tetapi yang juga penting baginya adalah bahwa ia ingin juga membantu anak muda yang kehausan itu. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun telah mencari daun tales yang lebar yang  kebetulan tumbuh dipinggir sungai itu. Dengan daun tales itu Mahisa Pukat dengan hati-hati membawa air naik keatas tebing dan berjalan cepat-cepat kembali ke tempat anak muda itu menunggunya. Ketika Mahisa Pukat sampai ketempat anak muda itu, maka didapatinya anak muda itu terbaring diam. Matanya terpejam sedangkan bibirnya yang  kering menganga. Dengan cepat Mahisa Pukat mendekatinya dan meraba dada orang itu. Ternyata bahwa nafasny a masih mengalir melalui lubang hidungnya. Dengan hati-hati Mahisa Pukat telah menitikkan air kebibir yang kering itu. Setitik dua titik, ternyata telah membuat anak muda itu sadar kembali. “Minumlah” desis Mahisa Pukat. Anak m uda itu tersenyum. Titik-titik air itu benar-benar membuat tubuh anak muda itu menjadi bergetar kembali. Darahnya yang  seakan-akan hampir berhenti mengalir itu, telah membuat jantungnya berdetak wajar. Perlahan-lahan anak muda itu telah bangkit dan duduk. Beberapa teguk ia minum air didaun tales yang  lebar itu. Sejenak kemudian maka anak muda itu sudah dapat tersenyum. Katanya ”Terima kasih Ki Sanak. Aku merasa hidup kembali setelah nyawaku berada di ujung rambutku.” “Sudahlah” berkata Mahisa Pukat ”sebentar lagi tenagamu akan tumbuh kembali meskipun tidak dapat dengan serta merta pulih kembali. Tetapi kau akan dapat meneruskan perjalanan. Setidak-tidaknya sampai ke gardu mendatang.” Anak muda itu mengangguk. Katanya ”Ya. Aku akan meneruskan perjalanan sampai ke gardu. Berangkatlah lebih dahulu, agar kau tidak t erlambat. Lihat matahari telah turun semakin rendah. Agaknya kau adalah orang terakhir dalam pendadaran ini.” “Ya” jawab Mahisa Pukat ”aku memang orang terakhir.” “Orang yang  ke duapuluh tiga dan duapuluh empat sudah lewat beberapa saat yang lalu” desis anak muda itu. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Marilah. Kita berjalan bersama-sama.” “Jangan” berkata anak muda itu ”nanti kau terlambat” Tetapi Mahisa pukat tidak mau meninggalkan anak muda itu. Dibantunya anak muda itu bangkit dan kemudian berjalan perlahan-lahan. Namun agaknya air yang telah diminum itu membuat anak muda itu mampu berjalan agak cepat. “Aku tidak berharap untuk dapat diterima” berkata anak muda itu. “Tetapi kaupun tidak seharusnya terbaring di padang perdu itu” jawab Mahisa Pukat. Anak muda itu mengangguk kecil. Setelah beberapa saat mereka berjalan, maka keduanya terkejut. Mereka melihat muncul dihadapan mereka dua orang berkuda menuju kearah mereka. Meskipun mungkin mereka juga tergesa -gesa karena mereka tidak mau terlambat, tetapi setidak-tidaknya mereka dapat melaporkan kepada gardu berikutnya yang mereka lewati. Untunglah bahwa para prajurit itu merasa bertanggung jawab atas keselamatan para peserta sehingga dua orang yang masih belum lewat telah dicarinya. “Tentang ketiga orang yang berada di gardu disebelah hutan itu, agaknya para prajurit di gardu itu telah m endapat laporan” berkata Mahisa Pukat didalam hatinya. Setidaktidaknya dari para peserta. “Jika belum prajurit itu tentu menanyakannya” berkata Mahisa Pukat kepada diri sendiri. Demikianlah Mahisa Pukatpun telah menempuh bagian terakhir dari pendadarannya. Ketika matahari menjadi semakin rendah, m aka Mahisa Pukat berjalan semakin cepat, sehingga sebelum matahari hilang dari langit menjelang senja, maka Mahisa Pukat telah memasuki lingkaran sasaran akhir dari pendadaran yang sedang dilakukannya. Mahisa Pukat m emang menjadi berdebar-debar ketika ia memasuki sebuah pudukuhan yang diisyaratkan sebagai tujuan akhir. Padukuhan yang  dikelilingi lingkungan persawahan dan pategalan yang subur. Demikian Mahisa Pukat memasuki sebuah jalan yang  agak lebar yang  turun kesebuah bulak yang luas, terasa betapa dadanya m enjadi lapang. Dengan cepat ia melangkah m enuju pintu gerbang padukuhan itu melewati pategalan yang  sedang ditanami palawija. Agaknya air agak sulit mencapai daerah pategalan yang  m emang agak lebih tinggi. Namun pategalan itu bukannya pategalan yang gersang. Ketika Mahisa Pukat mendekati pintu gerbang padukuhan itu, ternyata beberapa orang prajurit telah menunggu. Bahkan anak-anak muda banyak pula berdiri diseputar pintu gerbang itu. Agaknya mereka m emang menunggu orang terakhir yang mengikuti pendadaran itu. Demikian Mahisa Pukat memasuki pintu gerbang, maka anak-anak muda itupun bertepuk tangan riuh. Seorang prajurit menyatakan bahwa anak muda yang datang itu adalah peserta yang terakhir yang memasuki batas jarak pendadaran dalam waktu yang tidak lebih dari batas yang  ditentukan. Oleh seorang prajurit Mahisa Pukat langsung dibawa ke banjar padukuhan. Demikian ia memasuki halaman banjar, maka iapun m elihat beberapa orang perwira telah berada di banjar. Termasuk Gajah Saraya. Bahkan Mahisa Pukatpun melihat beberapa orang prajurit yang dapat dikenalinya sebagai para petugas yang  berada di sepanjang lintasan pendadarannya. Seorang prajurit yang bertugas menerima para peserta itupun kemudian telah mempersilahkan Mahisa Pukat untuk langsung naik ke serambi samping. Mahisa Pukat mengangguk hormat. Iapun segera melangkah menuju keserambi samping. Prajurit yang  m empersilahkan naik keserambi itu sempat berkata kepadanya ”Anak muda. Kau nampak masih begitu segar, sementara kawan-kawanmu semuanya nampak kelelahan.” Mahisa Pukat termangu -mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab ”Aku hanya berpura-pura. Sebenarnyalah aku hampir menjadi pingsan.” Prajurit itu tersenyum. Katanya ”kau kira aku tidak dapat melihat keadaanmu dan keadaan kawan-kawanmu? Aku mampu memperbandingkannya. Aku justru ingin mengucapkan selamat kepadamu. Mudah-mudahan pada pendadaran selanjutnya kau juga mampu menunjukkan kelebihanmu seperti sekarang ini.” Mahisa Pukat m enarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia menjawab ”Doakan saja Ki Sanak.” Prajurit itu menepuk bahu Mahisa Pukat. Katanya ”Kau tentu memiliki tenaga setegar seekor kuda.” Mahisa Pukatlah yang tersenyum. Katanya ”Mungkin. Tetapi seekor kuda kerdil.” Prajurit itu tertawa. Sambil menunjuk ia berkata ”Disana mereka yang  baru saja menyelesaikan pendadaran menunggu. Ada beberapa orang yang  tidak dapat mencapai tempat ini. Sayang  sekali bahwa mereka tidak dapat ikut meramaikan pendadaran berikutnya. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya ”Mudahmudahan aku dapat menembus pendadaran berikutnya. Tetapi apakah aku boleh mengerti, pendadaran ini diselenggarakan dalam berapa lapis?” “Tentu boleh” jawab prajurit itu ”ada tiga lapis. Nampaknya kau sudah meny elesaikan pendadaran pada lapis pertama.” “Mudah-mudahan” jawab Mahisa Pukat. Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Ia telah memandang keadaan disekelilingnya. Baru kemudian ia berdesis ”Aku tidak ingin mendahului para perwira yang akan mengambil keputusan. Tetapi nampaknya kau memenuhi segala persy aratan. Bahkan melebihi dari yang lain, karena kau masih nampak paling tegar diantara kawan-kawanmu yang  lain.” Mahisa Pukat tertawa kecil. Katanya ”Kau masih saja memuji. Terima kasih.” Demikianlah, maka Mahisa Pukatpun segera naik ke serambi. Demikian ia memasuki serambi yang  dibatasi dinding sebelah itu, maka dilihatnya beberapa orang yang  duduk diatas tikar itu terbentang seluas serambi itu. Bahkan ada diantara mereka yang  terbaring dan menjulurkan kaki kelelahan. Mahisa Pukat tidak ingin m endapat perhatian lebih dari mereka yang  telah berada diserambi. Mereka adalah anakanak muda yang baru saja menyelesaikan pendadaran. Terutama mereka yang  meny elesaikan pendadaran pada giliran-giliran terakhir. Karena itu, demikian ia melangkah masuk, maka iapun segera menjatuhkan dirinya sambil menjelujurkan kakinya. Dipijit-pijitny a kakinya sehingga Mahisa Pukatpun nampak kelelahan seperti kawan-kawannya yang  lain. Seorang yang bertubuh tinggi besar yang duduk t idak jauh dari Mahisa Pukat bertanya ”Kaukah yang  mendapat giliran terakhir ?” ”Ya”jawab Mahisa Pukat ”hampir saja aku tidak m encapai tempat ini.” “Aku juga” berkata anak muda yang bertubuh raksa sa itu ”untunglah bahwa pada saat-saat terakhir aku masih mampu mengerahkan sisa -sisa tenagaku meskipun nafasku hampir terputus.” “Aku hampir berputus asa” desis seorang anak muda yang  bertubung sedang. Namun pada tubuhnya yang  sedang itu nampak tersimpan kekuatan yang  besar. Meskipun demikian ia juga nampak kelelahan sebagaimana anak muda yang bertubuh raksasa itu. Sesaat kemudian, seorang anak muda yang berjambang lebat, berkumis tebal dan berikat kepala hitam memasuki serambi itu pula. Nampaknya ia justru sudah cukup lama beristirahat sehingga tubuhnya sudah nampak semakin segar. Dengan nada tinggi ia berkata ”Baru pada pendadaran pertama, kalian sudah hampir mati kehabisan nafas. Bagaimana dengan pendadaran berikutnya ? Kenapa kalian tidak menarik diri saja daripada hanya membuang-buang waktu ?” Anak muda yang  bertubuh raksasa itu mengerutkan dahinya. Tiba-tiba saja ia bertanya ”Kau peserta pada urutan keberapa ?” “Kedua” jawab anak muda yang  berjambang lebat itu. “Kau sudah sempat beristirahat” desis yang  bertubuh raksasa tetapi masih kelelahan itu. “Sejak aku sampai ketempat ini, aku sama sekali tidak merasa letih. Aku tetap segar. Pendadaran ini tidak berarti apa-apa bagiku.” jawab anak muda yang berjambang lebat. Mahisa Pukat rnulai cemas bahwa pembicaraan itu akan berkepanjangan. Tetapi ternyata anak muda yang bertubuh raksasa itu berdesis ”Ternyata aku harus memikul beban berat badanku lebih dari berat badanmu. Aku hampir mati diperjalanan.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Pembicaraan itupun terhenti karenanya. Ju stru karena pengakuan anak muda yang bertubuh raksasa itu. Dalam pada itu, seorang prajurit telah datang untuk memberitahukan kepada Mahisa Pukat, bahwa telah disediakan minuman dan makanan didapur banjar itu. Mahisa Pukat mengangguk sambil berdesis ”Terima kasih.” “Apakah kau masih dapat berjalan ke dapur ?” bertanya prajurit itu. “Tentu” jawab Mahisa Pukat ”tenggorokanku kering dan sudah tentu perutku sangat lapar.” Mahisa Pukatpun kemudian berdiri dan berjalan tertatihtatih menuruni tangga serambi. Sementara itu anak muda berjambang lebat itu tertawa sambil b erkata ”Seharusnya kau tidak usah ikut pendadaran ini. Ikut saja pendadaran untuk menjadi juru madaran.” Mahisa Pukat memang berpaling. Tetapi ia tidak ingin menjawab. Namun yang justru m enjawab adalah anak muda bertubuh raksasa ”Tetapi ia berhasil mencapai batas akhir seperti kita. Aku juga kelelahan dan hampir semuanya mengalaminya. Bahkan barangkali kaupun juga kelelahan ketika kau baru saja datang.” “Tidak” jawab anak muda berjambang itu ”aku datang dalam keadaan yang masih segar sama sekali.” Anak muda berjambang itu tidak mengira bahwa prajurit yang mempersilahkan Mahisa Pukat itulah yang akan menyahut ”Jangan berbohong. Aku melihat bagaimana kau memasuki pintu gerbang banjar ini.” Anak muda itu berpaling. Wajahnya memang menjadi merah. Namun ia masih juga menjawab ”Tetapi bagaimanapun juga, aku memasuki halaman ini dalam keadaan yang lebih baik dari kalian semuanya.” Ternyata anak-anak muda yang  lain merasa lebih baik berdiam diri. Mereka masih ingin beristirahat. Karena itu maka mereka tidak merasa perlu untuk berbantah. Mahisa Pukat yang berjalan ke dapur agaknya lupa bahwa ia seharusnya masih kelelahan. Tetapi Mahisa Pukat berjalan setegar prajurit yang mengajaknya ke dapur. Anak-anak muda diserambi tidak sempat memperhatikannya. Tetapi prajurit itu berkata ”Keadaanmu jauh lebih baik dari anak muda berjambang itu.” “Aku kelelahan, kehausan dan kelaparan,” jawab Mahisa Pukat ”tetapi aku sempat beristirahat sejenak, sehingga keadaanku menjadi lebih baik. Prajurit itu tidak berkata apa-apa lagi. Sementara itu Mahisa Pukatpun telah berada didapur untuk meneguk minuman hangat dan makan. Tetapi petugas yang menghidangkan kepadanya memperingatkan bahwa sebaiknya Mahisa Pukat tidak tergesa-gesa meneguk minumannya dan jangan makan terlalu banyak. Malam itu, semua peserta harus tidur di banjar. Besok pagipagi mereka akan mendengarkan beberapa keterangan tentang pendadaran pada tataran pertama itu. Namun m alam itu Mahisa Pukat sempat berbicara dengan beberapa orang peserta pendadaran. Diantara mereka, tidak seorangpun yang mengalami seekor harimau di hutan perburuan. Hanya Mahisa Pukat sebagai orang terakhir sa jalah yang mendapat serangan seekor harimau loreng yang besar dan justru kelaparan. Tetapi Mahisa Pukat tidak dapat menganggap bahwa yang  terjadi itu satu usaha untuk menggagalkan pendadaran yang dijalaninya. Mungkin secara kebetulan memang ada seekor harimau lapar yang  keluar dari hutan disaat ia lewat. Sementara hal itu m asih m enjadi teka -teki, Mahisa Pukat tidak membesar-besarkan persoalan itu. Bahkan dengan sadar ia berusaha untuk tidak menimbulkan kesan bahwa ia telah diserang seekor harimau sehingga anak muda yang diajaknya berbicara segera melupakan pertanyaan Mahisa Pukat tentang seekor harimau di hutan perburuan. Malam itu ternyata semua prajurit yang bertugas dalam pendadaran sudah berkumpul. Mereka m emberikan laporan kepada para petugas yang akan m enentukan, siapakah yang dianggap mampu meny elesaikan pendadaran pada tataran pertama dengan baik dan siapa yang tidak. Dalam pada itu Gajah Saraya sebagai Manggala Pelay an Dalam menunggui pembicaraan penentuan itu. Tetapi ia tidak banyak ikut cam pur. Ia sudah m empercayakan keputusan itu kepada para perwira yang  ditunjuknya untuk melakukan pendadaran itu. Dari duapuluh peserta pendadaran ternyata delapan orang dinyatakan gagal. Dengan demikian m aka tujuh belas orang akan mengikuti pendadaran pada tataran berikutnya. Ketika keputusan itu diumumkan pada pagi harinya, maka para peserta itu sudah tidak terkejut lagi. Bahkan mereka yang gagal pun telah merasa sejak sebelumnya, bahwa mereka tidak akan mendapat kesempatan untuk mengikuti pendadaran berikutnya. Mahisa Pukat ternyata mendapat kesempatan untuk mengikuti pendadaran para tataran berikutnya. Meskipun ia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak wajar, khusus bagi dirinya, namun ternyata ia telah mampu mengatasi bukan saja pendadaran itu sendiri, tetapi juga satu sikap yang tidak wajar terhadap diriny a. Terutama ketika tiba-tiba saja seekor harimau telah meny erangnya ketika ia berada di hutan perburuan. Juga kenapa para prajurit yang  bertugas di gardu dibelakang hutan perburuan itu merasa heran, bahwa pisaunya tidak bernoda darah. Tetapi Mahisa Pukat tidak m engungkapkan kecurigaannya itu kepada kawan-kawannya. Baru kemudian, ketika Mahisa Pukat dan para peserta itu diperkenankan pulang ke rumah masing -masing untuk menunggu saatnya pendadaran pada tataran kedua, Mahisa. Pukat menceriterakan kecurigaannya itu kepada ay ahnya. Mahendra mengangguk-angguk mendengar pengaduan anaknya itu. Namun demikian ia berkata ”Tetapi ternyata kau masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung. Ber sy ukurlah bahwa kau masih akan mendapat kesempatan untuk mengikuti pendadaran pada tataran berikutnya.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya ”Ya ay ah. Mudah-mudahan aku dapat meny elesaikan pendadaran pada tataran-tataran berikutnya dengan baik.” “Karena itu, berdoalah. Kau tidak dapat sekedar mengandalkan kemampuan dan ilmumu. Tetapi juga perkenan dari Yang Maha Agung. Meskipun menurut perhitungan lahiriah kau mempunyai kelebihan dari anak-anak muda yang lain, tetapi mungkin ada unsur-unsur yang  tidak diketahui sebelumnya, sebagaimana tiba -tiba hadirnya seekor harimau di hutan perburuan itu, akan dapat mengganggu pelaksanaan pendadaranmu. Bahkan mungkin menggagalkannya.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud ay ahnya, karena iapun pernah mendengar ayahnya berkata meskipun tidak langsung, bahwa ada orang yang  tidak menginginkannya menjadi Pelayan Dalam. Bukan karena sikap dan tingkah laku Mahisa Pukat atau karena sebab-sebab lain yang  menyangkut anak mudaitu, karena orang tidak senang melihatnya m emasuki lingkungan Pelay an Dalam itu belum m engenal secara pribadi anak muda itu. Tetapi ju stru karena orang itu m erasa tersinggung bahwa Mahendra telah berhubungan langsung dengan Sri Maharaja. Dengan demikian maka Mahisa Pukat memang harus berhati-hati untuk seterusny a. Ia memang harus selalu berdoa untuk mendapat perlindungan dan bimbingan dari Yang Maha Agung. Dalam pada itu, diluar pengetahuan Mahisa Pukat, maka beberapa orang tengah membicarakan kelebihan seorang anak muda peserta terakhir dari pendadaran itu. Seorang dari antara para prajurit yang bertugas telah berbincang dengan seorang kawannya tentang kelebihan Mahisa Pukat. “Harimau itu diketemukan m ati” desis salah seorang dari prajurit itu. “Ya. Dan tanpa diketahui bagaimana caranya membunuh harimau itu. Harimau itu tidak t erluka pada kulitnya. Pisaunyapun tidak berbekas darah.” sahut kawannya. “Anak muda itu " sengaja memancing harimau itu ke padang perdu sehingga sulit untuk dapat diawasi. Baru kemudian harimau itu dibunuhnya” berkata orang yang  pertama. “Apakah ia mengetahui bahwa ada orang yang  sedang mengintipnya?” bertanya yang lain. “Lebih dari itu, apakah ia m engetahui bahwa harimau itu sengaja dilepaskan untuk menjebaknya agar ia gagal?” desis prajurit yang  pertama. “Untunglah bahwa ia tidak ju stru terbunuh oleh harimau itu” berkata kawannya. “Jika terjadi demikian, itu adalah salahnya sendiri. Ia telah menjauhkan diri dari kita yang  siap membantunya.” berkata prajurit yang  pertama. “Tetapi cara yang  kita lakukan memang berbahaya sekali bagi keselamatannya. Sebenarnya ada cara lain yang  lebih aman jika sekedar ingin menggagalkan pandadaran yang dilakukannya” berkata prajurit itu. “Tidak. Tidak ada cara yang  lebih baik tanpa menimbulkan kecurigaan. Tetapi cara itu ternyata telah gagal. Mungkin pada pendadaran berikutnya akan dapat diketemukan cara yang  lebih baik dan tidak menimbulkan kecurigaan pula.” Kawannya hanya menganggukangguk saja. Tetapi ia tidak tahu, kenapa peserta terakhir itu harus digagalkan.'Yang dilakukannya adalah sekedar menjalankan perintah dari pemimpin kelompoknya yang bersifat rahasia, karena hanya beberapa orang prajurit sajalah yang mengetahuinya. Khususnya yang  ada di gardu disebelah hutan perburuan itu. Demikianlah, maka dihari-hari berikutnya, Mahisa Pukat yang m enunggu pendadaran berikutnya itu masih saja selalu berada di sanggarnya. Ia sempat pula berceritera kepada Sasi pengalaman pendadaran pada tataran pertama. Tetapi ia sama sekali tidak menceriterakan bahwa ia mencurigai adanya usaha^rntuk menggagalkan keberhasilannya dalam pendadaran itu. Sasipun ikut berharap bahwa Mahisa Pukat akan dapat berhasil. Ia tahu bahwa Mahisa Pukat adalah salah seorang pemimpin dari sebuah padepokan. Tetapi Sasi memang lebih senang tinggal di Kotaraja daripada di padepokan yang terpencil. Meskipun sebelumnya ia sudah bertekad bahwa ia tidak akan ingkar jika seandainya ia harus mengikuti seseorang yang  dicintainya kemanapun juga. Tetapi jika ada kesempatan yang  lebih baik serta ada kemungkinan untuk menjatuhkan pilihan, maka ia akan memilih untuk tetap berada di Kotaraja, dekat dengan ay ah dan ibunya serta dalam suasana lingkungan yang sudah dikenalnya sejak ia masih kanak-kanak. Karena itu, maka Sasipun telah mendorong agar Mahisa Pukat berhasil melintasi pendadaran-pendadaran yang ternyata cukup berat. “Jadi masih ada dua tataran lagi?” bertanya Sasi. “Ya Sasi” jawab Mahisa Pukat ”aku m inta kau berdoa agar aku berhasil mengatasiny a.” “Tentu kakang. Aku akan selalu berdoa. Bahkan mungkin ay ah akan dapat membantumu, agar kau dapat diterima tanpa kesulitan” sahut Sasi. “Tidak Sasi. Jangan melibatkan ayahmu. Biarlah aku berusaha dengan kemampuanku sendiri. Sekaligus aku akan dapat menguji, seberapa jauh kemampuan yang aku miliki sebagai bekal hidupku dimasa mendatang. Apalagi aku y akin, bahwa ay ahmu tentu akan menolaknya. Ayahmu tentu juga ingin tahu, apakah aku memiliki kemampuan yang pantas sebagai seorang anakmuda” cegah Mahisa Pukat dengan sertamerta. Sasi mengangguk-angguk kecil. Katanya ”Jika itu yang  v kau kehendaki, aku tentu sependapat.” “Yang masih tinggal tidak begitu banyak lagi Sasi. T inggal tujuhbelas orang. Sedangkan sepuluh diantaranya akan diterima menjadi Pelay an Dalam.” berkata Mahisa Pukat kemudian. Dengan demikian maka Sasipun ikut berharap-harap cemas. Seperti yang  dikatakan oleh Mahisa Pukat, Sasi memang tidak akan m inta bantuan ayahnya. Tetapi ia hanya sekedar menceriterakan apa yang telah dilakukan oleh Mahisa Pukat. Arya Kuda Cemani tersenyum mendengar ceritera Sasi. Katanya kemudian ”Jika pendadaran-pendadaran itu berlangsung wajar, maka Mahisa Pukat t entu dapat diterima. Ia memiliki kelebihan dari semua peserta. Kecuali jika terjadi hal yang  tidak wajar. Jika hal yang tidak wajar itu terjadi, maka adalah kewajibanku untuk memberikan laporan meskipun segala keputusan terakhir bukan lagi wewenangku.” Sasi memang menjadi berbesar hati. Dengan demikian, maka kemungkinan terbesar adalah bahwa Mahisa Pukat akan dapat diterima, menjadi Pelayan Dalam di istana Sin-gasari. Dalam pada itu, Gajah Seraya dan beberapa orang perwira prajurit Singasari sedang mempersiapkan pendadaran pada tataran kedua. Peserta yang  ikut dalam pendadaran itu tinggal tujuh belas orang. Namun Gajah Saraya kemudian berkata kepada para perwira yang  ikut meny elenggarakan pendadaran ”Kita tidak harus mengambil sepuluh orang dari m ereka. Jika yang tujuhbelas orang itu ternyata tidak memenuhi sy arat dan gagal dalam pendadaran berikutnya, maka mungkin semuanya akan batal. Tidak seorangpun yang dapat diangkat. Kita harus mencari orang-orang baru yang  memiliki kemampuan lebih baik sehingga kita harus mulai lagi pendadaran sejak tataran pertama.” Para perwira yang lain hanya mengangguk-angguk. Ia menganggap bahwa ketentuan itu wajar. Yang penting bagi Gajah Saraya bukan sekedar sepuluh orang. Tetapi sepuluh orang yang benar-benar memenuhi persy aratan yang ditentukan bagi seorang Pelay an Dalam. “Dalam pada itu, maka para perwira yang mempersiapkan pendadaran pada tataran berikutnya itu telah menentukan bersama Gajah Saraya, bahwa setiap orang yang  mengikuti pendadaran akan saling bertempur untuk menilai kemampuan olah kanuragan mereka masing-masing. Setiap anak muda yang mengikuti pendadaran itu akan bertempur masingmasing ampat kali dengan lawan yang berlainan diantara para peserta itu sendiri. Dengan demikian maka para perwira yang menilai para peserta itu akan dapat menilai dan memperbandingkan kemampuan para peserta itu, sehingga mereka akan dapat memilih anak-anak muda yang  terbaik diantara mereka. Anak-anak muda yang kemampuannya berada dibawah bekal yang diharapkan pada seorang Pelay an Dalam, tidak akan dapat mengikuti pendadaran pada tataran berikutnya. Seandainya semuanya memiliki kemampuan yang cukup, maka pendadaran berikutnyalah yang  akan menentukan siapakah diahtara mereka yang terpilih.” Untuk mengatur giliran para peserta itu memang agak rumit. Namun pada dasarnya hal itu akan dapat diatur kemudian dengan undian. Setelah hal itu disetujui dan diatur segala sesuatunya yang  berhubungan dengan pendadaran pada tataran berikutnya itu, maka para peserta yang  tinggal tujuhbelas orang itupun segera dipanggil untuk menerima penjela san dari Gajah Saraya langsung. Diantara mereka memang termasuk Mahisa Pukat. Bagi Mahisa Pukat memang tidak ada masalah jika ia harus bertanding ampat kali dengan lawan yang  berbeda. Meskipun demikian Mahisa Pukat memang tidak pernah m erendahkan siapapun juga. Pa da hari yang  ditentukan, maka pertandingan diantara para peserta pendadaran itu akan segera dilangsungkan. Pada hari yang  pertama, maka baru dilakukan undian urutan dari pertandingan. Selanjutnya pertandingan akan diselenggarakan pagi dan sore hari. Seseorang paling banyak hanya akan bertanding dua kali dalam sehari. Pagi dan sore. Karena itu maka pertandingan itu memang akan memakan waktu agak panjang. Tetapi waktu yang  panjang itu memang tidak menjadi soal karena pendadaran itu dianggap sangat penting bagi seorang yang  akan memasuki lingkungan Pelayan Dalam. Sedikitnya akan diperlukan waktu tiga hari untuk keperluan pendadaran itu. Demikianlah, maka para peserta itu harus m empersiapkan diri mereka baik-baik. Menjelang m alam, para peserta harus sudah berkumpul dan m ereka akan bermalam di tem pat yang sudah disediakan. Pada pagi harinya mereka akan mulai dengan pendadaran pada tataran kedua. Setelah undian selesai, maka Mahisa Pukat sempat singgah dirumah Sasi untuk memberitahukan bahwa besok pagi ia sudah harus mulai dengan pertandingan-pertandingan dalam rangka pendadaran. Sementara itu, ayah Sasi yang kebetulan ada dirumah dan ikut menemui Mahisa Pukat berkata ”Aku akan melihat pertandingan-pertandingan dalam rangka pendadaran itu seutuhnya. Aku, atas dasar tugas yang  aku emban, berhak untuk berbuat demikian, agar pendadaran itu dapat berlangsung Wajar.” Mahisa Pukat mengangguk hormat. Ia memang tidak mengatakan bahwa terjadi sesuatu yang dianggapnya tidak wajar ketika seekor harimau tiba -tiba saja keluar dari hutan perburuan, sementara duapuluh ampat orang yang  lain tidak menjumpainya. Meskipun secara kebetulan hal itu dapat saja terjadi, tetapi ada juga kecurigaan dihati Mahisa Pukat. Ketika senja turun, maka Mahisa Pukatpun minta restu kepada ay ahnya untuk memenuhi ketentuan bahwa malam itu ia dan para peserta yang  lain harus sudah berkumpul ditempat yang ditentukan. Besok pagi-pagi, pendadaran akan dimulai dengan pertandingan pada putaran pertama. Malam itu tujuhbelas orang anak m uda telah berkumpul. Mereka masing-masing telah mempersiapkan diri sebaikbaiknya. Mereka yang  kelelahan pada pendadaran di tataran pertama telah nampak segar kembali. Anak muda yang bertubuh raksasa itu tidak lagi duduk menjelujurkan kakinya. Wajahnya tidak lagi nampak lesu dan muram. Tetapi sambil tersenyum ia menyapa kawan-kawannya yang  juga sudah menjadi segar pula. Ketika Mahisa Pukat datang, maka anak muda yang  bertubuh raksasa itu menghampirinya. Sambil tersenyum ia berkata ”Apakah kau sudah benar-benar siap menghadapi pendadaran esok?” Mahisa Pukatpun tersenyum pula. Katanya ”Sejauh dapat aku lakukan.” “Aku justru curiga kepadamu” berkata anak muda bertubuh raksasa itu. “Apa yang kau curigai?” bertanya Mahisa Pukat. “Orang-orang yang  pendiam dan rendah hati seperti kau itu biasanya justru mempunyai kelebihan dari banyak orang. Berbeda dengan anak muda yang berjambang lebat itu. Tidak lebih dari beriaknya air sungai yang dangkal dan berbatu-batu. Sama sekali tidak ada kedalaman.” “Belum tentu” jawab Mahisa Pukat. “Memang belum tentu. Tetapi agaknya kaupun menilai aku terlalu banyak berbicara sehingga tidak lebih dari air yang beriak itu.” berkata anak muda itu sambil tertawa. “Ah tidak. Kau lain. Aku justru tidak curiga kepadamu. Tenaga dan kemampuanmu akan sesuai dengan tubuhmu yang seperti raksasa itu.” berkata Mahisa Pukat. < ---sepertinya ada bagian yang terputus ternyata ku coba membetulkan letak alenia yang tertukar – Dewi KZ--- > Malam itu m ereka yang  esok akan menempuh pendadaran sempat saling berbincang. Ada yang sudah mulai meluncurkan ungkapan-ungkapan yang mempunyai pengaruh jiwani kepada yang lain, terutama yang  esok atau lusa akan berhadapan dalam pertandingan. Mereka berniat saling melemahkan ketahanan jiwani bakal lawan dalam pertandingan. Bahkan ada yang berceritera b erlebihan tentang kemampuannya. Ada juga yang  berceritera tentang perguruannya serta kemampuan yang sampai meny entuh langit. Mahisa Pukat sendiri hanya sempat mendengarkan. Ia tidak terbiasa untuk berceritera sambil meny ombongkan diri atau lingkungannya. Bahkan kadang-kadang sama sekali tidak dapat dimengerti. Anak muda yang bertubuh raksasa itu sempat berdesis ditelinga Mahisa Pukat ”Nah, kau dengar apa yang mereka ceriterakan? Mereka berebut kesempatan untuk meny ombongkan diri sendiri? He, jangan ditertawakan. Aku juga akan berbuat seperti mereka agar aku tidak menjadi orang asing disini. Jika kau tidak ikut-ikutan, maka kau tidak akan terkenal disini. Lawan-lawanmu besok akan maju ke arena dengan keyakinan penuh untuk mengalahkanmu. Tetapi jika kau mau sedikit membual, maka mereka tentu akan mempertimbangkannya sehingga key akinannya tidak utuh lagi.” “Apakah itu perlu?” bertanya Mahisa Pukat. ”Ya. Pengaruhnya cukup besar” jawab anak muda bertubuh raksasa itu. Tetapi Mahisa Pukat menggeleng sambil tersenyum. Katanya ”Aku tidak biasa berbuat seperti itu.” “Bukankah dengan demikian kau pantas dicurigai?” Mahisa Pukat terseny um. Tetapi ia tidak m enjawab. Anak muda bertubuh raksasa itu tertawa. Sambil m enepuk pundak Mahisa Pukat ia berkata ”Ternyata kau m emiliki key akinan yang sangat teguh terhadap dirimu sendiri. Aku berani bertaruh, bahwa dalam ampat kali pertandingan, kau tidak akan dikalahkan.” “Ah” desah Mahisa Pukat ”belum tentu! Bukankah tidak ada kelebihan apa -apa padaku selain aku tidak cakap membual?” “Tetapi aku berani bertaruh. He, kau mau kita bertaruh? Jika kau kalah sekali saja, maka biarlah aku yang menang dalam taruhan ini.” “Ah, kau ini. Sudahlah, membuallah jika kau ingin membual.” berkata Mahisa Pukat. Anak muda bertubuh raksasa itu tertawa berkepanjangan, sehingga beberapa orang telah berpaling kepadanya. Tetapi anak muda itu tidak dengan serta merta diam. Bahkan ia telah mengambil sepotong besi yang  nampaknya sudah dibawa dari rumahnya dan diletakkan disudut ruangan. Sambil mengacungkan sepotong besi yang  panjangnya dua jengkal itu ia berkata sambil menunjuk Mahisa Pukat ”Anak muda yang ikut pendadaran pada tataran pertama itu tidak percaya bahwa aku dapat membengkokkan sepotong lempeng besi ini.“ Anak-anak muda yang  ada diruang itu terdiam. Mereka semuanya memadang kearah anak muda yang  bertubuh raksasa itu. Ditangannya terdapat sebuah lempeng b esi yang panjangnya dua jengkal itu. Namun pada wajah beberapa orang memang nampak bahwa mereka juga tidak percaya bahwa anak muda itu dapat membengkokkan lempeng besi ditangannya itu meskipun anak muda itu bertubuh raksasa. “Nah, aku ingin membuktikan kepada peserta terakhir ini, bahwa aku dapat melakukannya,” berkata anak muda itu. Semuanyapun terdiam. Wajah-wajah mereka menjadi tegang. Sementara itu, anak muda b ertubuh raksasa itu telah memusatkan kekuatannya di kedua telapak tangannya. Anak muda itupun kemudian telah menghentakkan kekuatannya. Tangannya yang  berusaha membengkokkan besi itu menjadi gemetar. Wajahnya menjadi semburat merah. Namun perlahan-lahan besi itu m emang menjadi bengkok sehingga kedua ujungnya bertemu. Ruangan itu benar-benar dicengkam ketegangan. Anak mudayang berjambang lebat itupun memandang pameran kekuatan itu dengan mata yang hampir tidak berkedip. Demikian kedua ujung lempeng besi itu bertemu, maka anak muda itupun menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadar, dengan serta-merta beberapa orang anak muda bertepuk tangan. Namun anak muda yang  berjambang tebal itu justru bangkit dan mendekatinya. Ternyata anak muda yang  berjambang lebat itu ingin membuktikan apakah yang dibengkokkan oleh anak muda yang bertubuh raksasa itu benar-benar sepotong besi. Anak muda yang  bertubuh raksasa itu tanggap akan maksud kawannya yang  berjambang lebat itu. Karena itu, maka iapun segera meny erahkan sepotong besi itu kepadanya. Sebenarnyalah yang kemudian digenggamnya itu benarbenar sepotong lempeng besi yang cukup tebal. Sehingga iapun baru yakin bahwa anak muda bertubuh raksasa itu memang mempunyai kekuatan yang sangat besar. Tetapi bagi anak muda itu serta beberapa orang yang  lain, kekuatan yang  besar bukan satu-satunya senjata untuk dapat mengalahkan lawan dalam sebuah pertandingan. Kecerdikan, kecepatan gerak dan ketahanan tubuh termasuk diantara beberapa jenis senjata untuk memenangkan pertandingan. Meskipun demikian, apa yang telah ditunjukkan oleh anak muda bertubuh raksasa itu memang mendebarkan. Apalagi mereka yang  pada gilirannya akan bertanding melawannya. Demikianlah, anak muda bertubuh raksasa itu telah duduk kembali didekat Mahisa Pukat. Sambil menyerahkan besi yang sudah dibengkokkannya itu ia b erkata ”He, apakah kau lihat bagaimana aku membual ?” “Ya” jawab Mahisa Pukat. ”Tetapi kau tidak sekedar membual karena kau benar-benar mampu melakukannya.” “Sudahlah” anak muda bertubuh raksasa itu berdesis ”Aku masih mempunyai kesempatan untuk menakut-nakuti bakal lawanku besok. Aku bukan orang yang terlalu y akin akan diriku sendiri seperti kau.” Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah bahwa pembicaraan diantara anak-anak muda itu m emang m enjadi semakin ramai. Seperti yang dikatakan oleh anak muda yang bertubuh raksasa itu, bahwa mereka memang sedang saling membual, meny ombongkan diri dan berusaha mempengaruhi perasaan calon lawan bertanding dengan berbagai macam cara yang bagi Mahisa Pukat justru mentertawakan. < kekeliruan letak alenia sudah ku coba betulkan-Dewi KZ > Namun beberapa saat kemudian, maka pertemuan itupun berakhir. Seorang prajurit telah mempersilahkan mereka untuk beristirahat. “Kalian harus tidur dan cukup beristirahat. Besok kalian akan turun kegelanggang pertandingan dalam rangka pendadaran.” berkata prajurit itu. Anak-anak muda itupun kemudian menebar ketempat pembaringan m ereka masing-masing. Sementara itu, Mahisa Pukatpun telah mengembalikan sepotong lempeng besi yang tebal dan yang telah dibengkokkan oleh anak muda yang bertubuh raksasa itu kepadanya. Dalam pada itu Mahisa Pukat ternyata m endapat tempat untuk tidur tidak dalam bilik yang sama dengan anak muda yang bertubuh raksa sa itu. Namun, demikian ia membaringkan diriny a, maka ia melihat anak muda yang bertubuh raksasa itu mendatanginya sehingga bukan saja Mahisa Pukat yang  terkejut. Tetapi anak muda yang  lain yang ada didalam bilik itupun terkejut. “O” anak muda bertubuh raksasa itu termangu-mangu sejenak. Katanya dengan wajah yang  sedikit panas ”Maaf, aku minta maaf telah mengejutkan kalian. Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin berbicara dengan anak muda itu. Selagi aku masih ingat. Jika aku menunggu besok, mungkin aku sudah lupa.” Ketika anak-anak muda yang  lain tidak menghiraukannya lagi, maka anak muda bertubuh raksasa itu duduk dipembaringan Mahisa Pukat yang juga sudah duduk pula, sambil berkata ”Ternyata kau memiliki kekuatan iblis. Aku tadi tidak sadar, bahwa kau meny erahkan sepotong besi yang sudah m enjadi lurus kembali ini. Kau lihat, bagaimana aku mengerahkan segenap kekuatanku untuk membengkokkannya. Tetapi kau dengan mudah meluruskannya kembali, karena aku tidak m elihat bagaimana kau mengerahkan kekuatanmu untuk melakukannya.” “Sudahlah, tidurlah” desis Mahisa Pukat ”anggap saja bahwa hal itu tidak pernah terjadi. Kau tidak perlu membuat tempat ini menjadi ricuh karena kau masih ingin membual selagi yang lain sudah ingin tidur.” “Apakah jika hal ini aku katakan kepada seseorang aku dianggap membual ? Bukankah hal seperti ini benar-benar sudah terjadi dan bukan sekedar bualan ?” “Sudahlah. Tidurlah. Kau harus beristirahat. Besok kau akan turun kegelanggang.” desis Mahisa Pukat. “Untunglah bahwa aku bukan salah seorang diantara lawan-lawanmu” berkata anak muda bertubuh raksasa itu sambil berdiri dan siap untuk m eninggalkan Mahisa Pukat. Tetapi ternyata ia m asih b erkata ”Aku tantang kau bertaruh. Satu berbanding seratus. Jika sekali saja kau kalah dari keempat lawanmu, kau dianggap menang.” “Sudahlah. Aku akan tidur” desis Mahisa Pukat sambil membaringkan tubuhnya dipembaringannya. Anak muda bertubuh raksasa itu tertawa. Katanya ”Ternyata kita tidak bertemu dalam pendadaran itu. Sayang, bahwa aku juga tidak bertemu dengan anak muda berjambang itu.” “Akulah yang akan bertemu dengan anak muda itu pada hari pertandingan terakhir.” berkata Mahisa Pukat. “Pertandingan keempat maksudmu?” bertanya anak muda bertubuh raksasa itu. ”Ya” jawab Mahisa Pukat ”tetapi sejak sekarang aku sudah menjadi berdebar-debar. Nampaknya anak muda itu sangat meyakinkan. Ia menempuh pendadaran pertama tanpa kelelahan.” “ Itulah beriaknya air yang  dangkal” jawab anak muda bertubuh raksasa itu. Lalu katanya pula ”Bukankah kau dengar apa yang dikatakan oleh prajurit yang  membawamu ke dapur itu?” Mahisa Pukat tersenyum. Dengan nada rendah ia berkata ”Yang penting, aku sudah berusaha sejauh dapat aku lakukan.” “Bagus” berkata anak muda bertubuh raksasa itu ”aku juga berbuat seperti itu.” <--- terjadi pergeseran letak alenia ku coba betulkan dengan memindahkannya agar ceritanya nyambung- Dewi KZ) Anak muda bertubuh raksasa itupun ke'mudian meninggalkan Mahisa Pukat sambil menimang sepotong besiny a. Sekali-sekali ia masih menggelengkan kepalanya sambil berdesis ”Kekuatan apa yang  membuat anak itu demikian perkasa. Tidak seorangpun dapat melakukannya tanpa diketahui orang lain, tanpa mengerahkan segenap kekuatan dan tenaganya.” Didalam hati anak muda itu m emang merasa malu sekali. Betapa ia meny ombongkan diri dengan menunjukkan kekuatan raksasanya sesuai dengan tubuhnya yang tinggi dan besar. Namun anak muda peserta terakhir pada pendadaran di tataran pertama itu, tanpa diketahuinya telah mampu menyamai kekuatannya bahkan lebih dari itu, tanpa meny ombongkan dirinya. “Untunglah, bahwa aku tidak berhadapan dengan anak muda yang  luar biasa itu.” berkata anak muda bertubuh raksasa itu didalam dirinya. Dipembaringannya, anak muda bertubuh raksasa itu justru tidak segera dapat memejamkan matanya. Ia masih saja dibayangi oleh kelebihan Mahisa Pukat yang tidak diduganya sebelumnya. Meskipun ia memang m enganggap bahwa anak muda itu mempunyai key akinan yang mantap atas kemampuan diri serta daya tahan yang  luar biasa sebagaimana dilihatnya pada pendadaran yang pertama, tetapi ia tidak menduga bahwa anak muda itu m emiliki kekuatan yang lebih besar dari kekuatannya. Namun ketika malam menjadi semakin malam, anak muda itu berhasil meletakkan gejolak perasaannya, sehingga iapun tertidur karenanya. Ia memang memerlukan istirahat yang cukup karena dikeesokan harinya ia harus turun kegelanggang pertandingan dalam rangka pendadaran tataran yang kedua. Ketika fajar mulai naik dihari b erikutnya, maka anak-anak muda yang mengikuti pendadaran itupun telah bangun. Bergantian m ereka mandi dan berbenah diri. Beberapa saat kemudian, merekapun mendapat kesempatan untuk makan pagi sebelum mereka akan turun kegelanggang. Untuk beberapa lama mereka mendapat kesempatan untuk beristirahat setelah m akan. Sambil bersiap-siap untuk turun kearena pertandingan mereka melihat-lihat tempat yang sudah dipersiapkan. Mereka melihat beberapa lingkaran yang dibatasi dengan gawar. Ada delapan lingkaran dimana anakanak muda itu akan bertanding. Gajah Saraya sendirilah yang memberikan beberapa petunjuk dan penjelasan tentang pertandingan yang akan segera diselenggarakan. Dengan tegas Gajah Saraya berkata ”Semuanya harus berlangsung dalam kewajaran. Jika ada yang berbuat curang, m aka ia akan disisihkan dari kemungkinan untuk dapat mengikuti pendadaran berikutnya. Sementara itu, kami akan memilih orang terbaik yang  akan lolos ke pendadaran pada tataran ketiga. Tetapi perlu diketahui, bahwa kami tidak terikat untuk menerima sepuluh orang diantara kalian. Tetapi sepuluh orang yang memenuhi syarat. Jika diantara tidak seorangpun yang memenuhi syarat maka sudah tentu kami tidak akan dapat menerima seorangpun diantara kalian, sehingga kami harus mencari orang-orang baru Untuk mulai lagi dengan pendadaran pada tataran pertama.” Penjelasan Gajah Saraya cukup dimengerti oleh para peserta. Karena itu, maka merekapun bertekat untuk dapat lolos dari pendadaran dan bahkan dapat dianggap memenuhi sy arat untuk menjadi Pelayan Dalam. Karona seperti dikatakan oleh Gajah Saraya, Manggala dari Pelay an Dalam, bahwa y g terpenting bukannya sepuluh orang terbaik dian-tara mereka, tetapi sepuluh orang itu harus memenuhi syuat. Dalam pada itu, ketika Matahari mulai naik, maka para pesertapun sudah mulai bersiap-siap untuk memasuki arena. Beberapa orang prajuritpun segera sibuk mengatur mereka, sesuai dengan urutan yang telah ditetapkan yang didasari dengan undian yang  sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya. Demikianlah, delapan orang anak muda telah memasuki delapan buang lingkaran yang diberi gawar lawe. Sejenak kemudian, maka delapan orang berikutnya telah memasuki gawar itu pula sesuai dengan lawan yang  telah ditentukan. Sedangkan seorang diantara mereka harus menunggu pada giliran di sore hari, karena belum mendapat lawan. Setiap lingkaran diawasi oleh dua orang prajurit yang  bertugas khusus. Sementara itu ada beberapa orang perwira yang menyaksikan pertandingan itu dalam keseluruhan sebagai petugass yang  ditetapkan pula. Namun ternyata selain mere*ka, telah hadir pula Arya Kuda Cemani dengan beberapa orang perwiranya dari Petugas sandi Singasari untuk menilai apakah pendadaran itu berlangsung wajar. Gajah Saraya memang tidak mengharapkan kehadiran mereka. Tetapi Gajah Saraya tidak dapat menolak, karena Arya Kuda Cemani adalah Senapati dari Prajurit Sandi Singasari. Tetapi Arya Kuda Cemani sendiri memang tidak terlalu bersungguh-sungguh memperhatikan pertandinganpertandingan itu. Tetapi beberapa orang perwira yang mendapat tugas daripadanya telah hadir dekat dengan gawargawar lawe pada kedelapan lingkaran pertandingan itu. Diantara m ereka yang bertanding itu terdapat anak muda yang bertubuh raksasa yang  mempunyai kekuatan yang sangat besar itu. Lawannya yang  bertubuh sedang mengetahui, bahwa anak muda yang  bertubuh raksasa itu terlalu kuat. Karena itu, ia harus berusaha untuk melawannya tanpa beradu kekuatan. Ia harus bergerak cepat dan m emilih sasaran yang  tepat bagi serangan-serangannya. Meskipun demikian, sebenarnyalah lawan anak muda bertubuh raksasa itu sudah m erasa cemas bahwa ia tidak akan dapat mengimbangi kemampuan lawannya. Bukan berarti bahwa ia harus memenangkan pertandingan. Tetapi harus dapat menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan yang cukup untuk menjadi Pelay an Dalam. Di arena yang lain, anak muda yang berjambang lebat itu menghadapi anak muda yang agak kekurus-kurusan. Tidak terlalu tinggi, tetapi nampaknya anak muda itu mampu bergerak tangkas sekali. Sedangkan Mahisa Pukat menghadapi seorang anak muda yang berwajah keras dan bermata tajam. Anak-anak muda yang  harus menempuh pendadaran itu sudah tahu bahwa yang terpenting dalam pertandingan itu bukan harus dapat mengalahkan keempat lawannya. Namun yang penting, para prajurit yang  mengamati pendadaran itu yakin, bahwa peserta pendadaran itu memiliki kemampuan yang cukup untuk memasuki tingkat pendadaran berikutnya. Lebih dari itu mereka memiliki bekal yang pantas bagi seorang Pelay an Dalam. Pertandingan yang  diselenggarakan itu bukan sa ja dapat memantau kekuatan dan ketangkasan di arena, tetapi dari pendadaran itu juga dapat dipergunakan untuk menilai kecerdasan seseorang. Bagaimana seseorang harus mengambil keputusan pada saat dan dengan cara yang tepat. Ketika bende berbunyi sekali, maka anak-anak muda di arena itupun telah bersiap-siap. Kemudian terdengar bende berbuny i dua kali. Pertanda bahwa pendadaran itupun sudah dimulai. Enambelas anak muda itupun mulai bergerak. Mereka bergeser mengambil arah. Sementara itu, maka satu dua diantara mereka mulai meny erang. Bahkan seorang anak muda yang  bertubuh tidak terhitung tinggi, tetap kokoh seperti bukit batu, dengan serta merta telah meny erang lawannya dengan mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya. Tetapi lawan anak muda yang  bertubuh sekokoh batu itu ternyata tangkas sekali. Meskipun ia menyadari bahwa kekuatan lawannya sangat besar, tetapi ia tidak menjadi bingung dan kehilangan akal. Dengan tangkasnya ia menghindari setiap benturan. Tetapi dengan tiba-tiba pula, iamenyerang jika ia melihat kesempatan terbuka disela-sela pertahanan lawannya yang terlalu bernafsu menyerang itu. Sekali dua kali serangan anak muda yang  sangat tangkas itu mengenai sa saran. Tetapi anak muda yang  tubuhnya sekokoh batu hitam itu seakan-akan tidak merasakan serangan itu. Ia masih saja bergerak maju tanpa menghiraukan seranganserangan lawannya itu. Dengan demikian maka lawannyapun mulai menjadi gelisah. Serangan-serangannya seakan-akan tidak menimbulkan akibat apapun pada lawannya yang  bertubuh kekar tetapi tidak terhitung tinggi itu. Meskipun demikian, lawannya termasuk seorang anak muda yang tidak cepat menjadi putus asa. Ia mulai membidik tempat -tempat yang berbahaya, meskipun ada beberapa bagian tubuh yang  memang tidak boleh menjadi sasaran serangan. Tetapi selain tempat -tempat yang terlarang itu, masih ada bagian-bagian yang  akan dapat melemahkan ketahanan lawan. Dengan demikian, maka anak muda itu mempercepat geraknya. Setiap kali seakan-akan ia telah menghilang dari sa saran. Bahkan dengan loncatan tinggi dan berputar diudara. Menghindari serangan dengan kecepatan yang tinggi, namun yang kemudian dengan tiba -tiba meny erang dengan cepat pula. Betapapun kokohnya anak muda yang bertubuh sekokoh batu hitam itu, namun sentuhan-sentuhan serangan lawannyapun terasa semakin menyakitinya. Demikian pula anak muda yang  bertubuh seperti raksasa itu. Meskipun lawannya hanya bertubuh sedang, tetapi ternyata cukup tangkas dan bahkan cerdik. Meskipun demikian, maka kekuatan dan ketahan tubuh anak muda bertubuh raksasa itu memang sulit untuk diatasinya. Ju stru karena itu, lawan anak muda b ertubuh raksasa itu memang tidak berniat untuk berusaha memenangkan pertandingan itu. Justru karena itu, maka ia nampak tenang. Meskipun sekali-sekali ia terdor ong surut, namun ia sempat menunjukkan kemampuannya dalam olah kanuragan. Ia mampu menunjukkan betapa ia menguasai berbagai macam unsur gerak yang  bahkan kadang-kadang mengejutkan. Dengan demikian, maka lawan anak muda yang  bertubuh raksasa itu justru lebih banyak memamerkan unsur-unsur geraknya serta kecepatannya meny erang dan menghindar. Anak muda itu memperhitungkan pertandinganpertandingan berikutnya. Ia akan tetap dalam keadaan utuh baik tenaga maupun tubuhnya. Tetapi jika ia benar-benar membenturkan kekuatannya maka ia akan kelelahan dan bahkan mungkin tulang-tulangnya akan dapat menjadi sakit sehingga dalam pertandingan-pertandingan berikutnya tenaganya akan menyusut banyak, atau tulang-tulangnya tidak akan dapat bergerak dengan tenaga utuh. Meskipun beberapa kali ia terdesak, tetapi para prajurit yang bertugas mengamatinya telah memujinya. Anak itu cukup cerdik karena pertandingan akan dilakukan ampat kali. Di arena yang lain, anak muda yang berjambang lebat itu ternyata telah mendapat peringatan sampai dua kali. Ia tidak menghiraukan sa saran serangannya. Ia seakan-akan tidak ingat lagi bahwa ada bagian-bagian tubuh yang  tidak boleh menjadi sa saran serangannya. Tetapi dua kali ia mengenai tempat -tempat yang  seharusnya terlarang itu. Menghadapi kegarangan anak muda b erjambang lebat itu, lawannya memang agak m engalami kesulitan. Bagaimanapun juga lawannya masih berpegang pada tatanan yang  harus dihormati, sehingga ia tidak m au meny erang tempat-tempat terlarang. Sementara itu Mahisa Pukat juga bertanding dengan lawannya. Jika diamati sepintas saja, maka nampaknya keduanya masih bertanding dengan sengitnya. Namun para prajurit yang m engamati sejak semula telah melihat, bahwa pertandingan itu sebenarnya telah selesai. Menurut penilaian mereka, Mahisa Pukat benar-benar memiliki kelebihan dari kebanyakan anak muda yang  ikut dalam pendadaran itu, meskipun bukan berarti lawannya sama sekali tidak berdaya. Lawannya juga seorang anak m uda yang  memiliki landasan yang kuat. Namun Mahisa Pukatlah yang  mempunyai kelebihan pada jarak yang  agak jauh. Sementara itu, dibeberapa lingkaran pertandingan, para prajurit yang bertugas telah menyatakan bahwa pertandingan telah selesai. Mereka telah dapat menilai anak-anak muda yang bertanding. Pada umumnya mereka memang m emiliki bekal yang  cukup. Tetapi sudah tentu bahwa ada diantara mereka yang terpaksa harus tertinggal karena yang akan diterima sebanyak-banyaknya hanya sepuluh orang saja. Sebelum matahari mencapai puncak, maka pertandingan itu m emang sudah selesai. Anak muda yang bertubuh raksasa itu memang telah lebih dahulu menyelesaikan lawannya. Tetapi ia bertanding pun bukan berarti bahwa lawannya akan dianggap gagal dalam pendadaran itu. Anak muda yang  berjambang lebat itupun telah memenangkan pertandingan. Tetapi pertandingannya merupakan pertandingan yang terkeras. Lawannya masih saja ragu-ragu menghadapinya. Meskipun lawannya menjadi marah dan ingin membalas kecurangan anak muda berjambang lebat itu dengan kecurangan, namun hatinya masih dikekang oleh ketaatannya kepada paugeran. Sementara itu anak muda berjambat lebat itu mendapat peringatan keras dari para prajurit yang mengamati pertandingan. Seorang diantara mereka berkata ”Yang akan mengamati sore nanti akan menilaimu dengan sangat berhatihati, karena mereka tentu sudah mendapatkan laporan kami tentang kau. Bahkan mungkin kami berdualah yang  akan mendapat tugas untuk mengamatimu kembali.” Anak muda itu tidak menjawab. Tetapi dari kedua matanya terpancar gejolak perasaannya. Rasa-rasanya anak muda itu justru ingin m enantang kedua prajurit itu untuk m emasuki arena pertandingan. Tetapi keinginannya itu tidak terucapkan lewat mulutnya. Meskipun demikian kedua prajurit itu dapat menangkap getar itu lewat sor ot matanya, sehingga keduanya justru telah mengancam pula dengan tatapan mata mereka yang tajam. Demikianlah, maka para peserta pendadaran itu m endapat kesempatan untuk beristirahat sambil makan siang. Nanti menjelang sore, mereka harus bertanding lagi. Karena itu, maka mereka harus mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Beberapa orang setelah mencuci kaki, tangan, sambil menyeka keringat yang membasahi seluruh tubuhnya, segera mencari tempat untuk beristirahat sebaik-baiknya. Ada yang  berbaring diamben panjang di serambi, ada yang  duduk-duduk di kebun dibawah sejuknya pepohonan. Ada yang  justru berjalan jalan di halaman untuk melemaskan urat-uratnya, tetapi ada juga yang berniat untuk tidur barang sejenak sebelum mereka mempersilahkan untuk makan siang. Tetapi ada juga yang memijit-mijit kaki dan tangannya yang terasa menjadi sakit dan ny eri. Mahisa Pukat setelah membersihkan keringatnya dan berbenah diri, duduk diamben bambu diteritisan di belakang menghadap kebun yang rim bun oleh pepohonan. Anak muda yang bertubuh raksasa itu duduk disampingnya. Agaknya anak muda itu masih saja membicarakan kekuatan Mahisa Pukat yang tidak dapat diukur dengan penalarannya. Apalagi melihat tubuh Mahisa Pukat yang  sedang-sedang saja. “Sudahlah” desis Mahisa Pukat ”kenapa kau tidak berbicara tentang makan yang  akan kami terima sebentar lagi? Apakah kira-kira lauknya dan apakah terlalu pedas apa tidak?” “Kau selalu mengelak jika aku berbicara tentang kemampuanmu yang luar biasa itu. Kenapa?” bertanya anak muda yang bertubuh raksasa itu. “Sudahlah” jawab Mahisa Pukat ”lihat, prajurit itu tentu minta kita untuk makan siang.” Sebenarnyalah bahwa prajurit yang berkeliling itupun memberitahukan bahwa makan siang sudah tersedia. Sesaat kemudian telah terdengar pula suara bende. Pertanda bahwa para peserta itu diminta untuk pergi ke dapur. Ternyata bahwa hidangan bagi mereka merupakan hidangan yang sangat baik dan lengkap. Hidangan yang memadai bagi mereka yang  sedang mengikuti pendadaran yang berat. Untuk beberapa lama maka anak-anak muda itu beristirahat lagi setelah m ereka makan. Pada saatnya mereka akan tampil lagi di arena pertandingan melanjutkan pendadaran yang  akan diselenggarakan di sore hari. Sementara itu, para prajurit yang  mengawasi pertandingan itupun telah bertemu dan membicarakan pertandingan yang baru saja selesai serta pertandingan yang  akan diselenggarakan di sore hari. Sementara itu, para petugas sandi ikut pula menyaksikan pembicaraan-pembicaraan itu untuk memantau keseluruhan pelaksanaan pendadaran itu. Tidak ada hal yang tidak sesuai dengan ketentuan dan paugeran yang  berlaku dalam pendadaran itu. Sehingga para petugas sandi masih tidak mencampuri pendadaran yang sedang dilangsungkan. Namun mereka masih akan tetap mengikutinya sampai selesai. Demikianlah ketika matahari mulai turun disisi langit sebelah Barat, serta anak-anak muda yang  mengikuti pendadaran itu sudah cukup lama beristirahat, m aka segala persiapanpun dilakukan untuk meny elenggarakan pertandingan-pertandingan berikutnya. Seperti sebelumnya, maka delapan lingkaran yang  dibatasi dengan gawarpun telah terisi. Pa sangan-pasangan yang akan bertandingpun telah bersiap. Ketika bcnde berbunyi satu kali, maka semuanyapun telah bersiap. Meskipun ketegangan yang  mencengkam seluruh arena itu tidak lagi sebagaimana pertandingan yang  pertama, namun setiap orang yang sudah berada dalam lingkaran gawar lawe telah memusatkan perhatian mereka kepada lawan mereka masing-masing. Demikian bende berbuny i untuk kedua kali, maka pertandingan pun segera dimulai. Masing-masing masih harus kembali melakukan penjajagan karena lawan mereka berbeda. Namun dalam beberapa saat, pertandinganpun telah berlangsung dengan sengitnya. Menghadapi lawan baru, maka setiap orang harus mempergunakan cara yang lain untuk melawannya sesuai dengan sikap dan tata gerak lawan mereka masing-masing. Ternyata pertandingan itu juga berlangsung cukup lama. Karena kemampuan mereka pada umumnya setingkat, maka tidak segera nampak siapakah yang  akan menang dan siapakah yang akan kalah. Anak muda yang bertubuh raksasa itu mendapat seorang lawan yang juga memiliki kekuatan yang sangat besar. Namun kemudian ternyata bahwa dalam benturan-benturan kekuatan yang  terjadi, anak muda bertubuh raksasa itu masih mempunyai kelebihan dari lawannya. Tetapi ternyata lawannya mampu bergerak lebih cepat, sehingga kadang-kadang anak muda yang bertubuh raksasa itu terlambat mengimbangi kecepatan geraknya. Sementara itu, anak muda yang berjambang lebat itu ternyata m endapat pengawasan yang ketat dari para prajurit yang mengawasiny a. Meskipun mereka bukan prajurit-prajurit yang mengawasiny a pada pertandingan pertama, tetapi agaknya mereka yang  mengawasiny a itu sudah mendapat laporan dari para pengawas sebelumnya. Di arena pertandingan yang lain, Mahisa Pukat mendapat lawan yang  lebih kuat, tetapi agak lebih lamban. Seperti sebelumnya, sebenarnya ia dapat meny elesaikan lawannya dengan cepat. Tetapi ia tidak ingin membuat lawannya kehilangan kesempatan berikutnya. Karena itu, maka ia dengan sengaja telah menyesuaikan diri sehingga pertandingan itu kelihatan menjadi seru dan seimbang. Tetapi seperti yang terdahulu pula, maka para prajurit yang  mengamatinya melihat sesuatu yang  lain pada anak muda yang bernama Mahisa Pukat itu. Meskipun prajurit yang mengawasiny a sebelumnya tidak memberitahukan kepada prajurit yang  m engawasinya kemudian, namun prajurit yang mengawasiny a kemudian itu telah dapat menangkap kelebihan Mahisa Pukat. Seperti para pengawas sebelumnya, prajurit itupun mengerti, bahwa Mahisa Pukat dengan sengaja membiarkan lawannya menunjukkan bahwa ia mampu memberikan perlawanan yang baik. “Anak muda yang  satu ini agaknya memiliki kelebihan yang  jarang dimiliki oleh anak-anak muda sebay anya” seorang diantara para pengawas itu berbisik kepada kawannya. Kawannya mengangguk kecil. Katanya ”Ya. Aku melihat kelebihan itu. Tetapi ia tidak m au membuat lawannya malu atau kehilangan kesempatan untuk mengikuti pendadaran berikutnya.” “Jika saja ada sepuluh orang seperti anak muda itu, m aka mereka akan dapat menjadi tulang punggung kekuatan Pelay an Dalam di istana Singasari” desis prajurit yang pertama. Ternyata dalam pertandingan berikutnya kelebihan Mahisa Pukat semakin nampak betapapun ia tidak sengaja memperlihatkan. Meskipun kadang-kadang ia memberikan kesempatan lawannya mengenainya dengan seranganserangan yang  keras dan cepat, namun Mahisa Pukat sering lupa tidak menunjukkan bahwa ia menjadi kesakitan oleh serangan itu. Sementara itu, para prajurit itupun sempat melihat, bahwa Mahisa Pukat sering tidak mempergunakan kesempatan untuk menghindar atau menangkisnya. Seperti pertandingan yang  pertama, maka Mahisa Pukat bukanlah orang yang mendahului para peserta yang lain untuk mengalahkan lawannya bertanding. Tetapi ia ju stru membiarkan lawannya bertanding sampai kesempatan yang hampir berakhir. Menj elang senja maka pertandingan dihari pertamapun telah berakhir. Para peserta kemudian bergantian telah pergi ke pakiwan untuk mandi dan berbenah diri Merekapun kemudian menebar untuk beristirahat sambil membawa mangkuk minuman hangat serta makanan. Angin senja bertiup perlahan-lahan meny egarkan tubuh para peserta pendadaran. Sambil menghirup minuman hangat, satu dua mereka duduk sambil berbincang. Meskipun mereka baru saja berhadapan dalam pertandingan, namun mereka tidak benar-benar menjadi bermusuhan. Kecuali anakanak muda yang  pernah bertanding melawan anak muda yang berjambang lebat itu. Kekasaran anak muda berjambang lebat itu membuat lawannya benar-benar m enganggapnya sebagai seorang musuh. Mahisa Pukatpun duduk pula bersama dua orang peserta yang lain diserambi. Seorang diantara mereka adalah anak muda yang bertanding melawannya pada kesempatan pertama.

Jilid 107
DILUAR dugaan anak muda itu berkata ”Aku memang mencari kesempatan untuk dapat mengucapkan terima ka sih kepadamu.” “Kenapa?” Mahisa Pukat menjadi heran. “Kau memberi kesempatan kepadaku untuk memberikan perlawanan. Dengan demikian maka aku tidak nampak t erlalu lemah dimata para prajurit yang  mengawasi pertandingan kita.” “Apa yang  sudah aku lakukan? Bukankah aku berbuat sebagaimana kau lakukan? Juga sebagaimana kawan-kawan kita yang lain melakukan?” bertanya Mahisa Pukat. Tetapi anak muda itu tergawa pendek. Katanya ”Tidak. Kau telah m embiarkan aku m emberikan perlawanan untuk waktu yang cukup lama. Sebenarnya jika kau mau, maka aku akan dapat kau jatuhkan pada gerakanmu yang pertama.” “Ah, itu sangat berlebihan” jawab Mahisa Pukat ”aku telah berbuat sejauh dapat aku lakukan.” Tetapi anak muda itu menggeleng. Katanya ”Tidak. Kau berbaik hati membiarkan aku tidak kehilangan kesempatan pada saat itu juga” “Jangan mengada-ada” desis Mahisa Pukat. “Aku tidak mengada -ada. Yang mengatakan kepadaku adalah seorang prajurit yang  mengawasi kita bertanding. Prajurit itu adalah pamanku. Ia berkata jujur kepadaku.” berkata anak muda itu. “Tidak” jawab mahisa Pukat ”sama sekali tidak. Dongeng itu akan dapat merugikan kedudukanmu sendiri.” “Menurut pamanku, kedudukanku tidak akan terpengaruh. Yang mereka lihat adalah kemampuanku. Meksipun lawanku jauh lebih baik dari aku, tetapi kemampuanku berada setidaktidaknya pada tataran yang diperlukan.” berkata anak muda itu. “Sudahlah” berkata Mahisa Pukat ”kita berbicara tentang yang lain.” Anak muda itu mengangguk angguk, sementara kawannya yang seorang lagi berkata ”Aku juga mendengar seorang prajurit memuji kelebihanmu” “Sudahlah” berkata Mahisa Pukat ”Kenapa kita tidak berbicara tentang pertandingan esok pagi? Aku besok pagi akan berhadapan dengan anak muda yang  bertubuh pendek tetapi nampaknya sekokoh batu karang itu. Aku tidak tahu, apakah aku dapat bertahan.” Tetapi anak m uda itu tertawa. Katanya ”Kau tidak dapat menyembuny ikan kelebihanmu. Tetapi seperti kata kawanku ini, kau terlalu baik, sehingga kau sama sekali tidak berniat menjatuhkan orang lain cari kemungkinan untuk m engikuti pendadaran berikutnya.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Jika kau memang beranggapan demikian, sudahlah. Tetapi tidak usah disebut-sebut lagi. Biarlah kalian, berdua saja yang menganggap bahwa aku memiliki kelebihan dari kawan-kawan kita. Karena jika itu didengar oleh orang lain yang mengetahui kemampuanku yang sebenarnya, mereka akan mentertawakan aku.” “Baiklah” berkata anak muda yang menjadi lawan bertanding Mahisa Pukat pada pertandingan pertama ”Tetapi aku percaya kepada ceritera itu.” Mahisa Pukat tersenyum. Katanya ”Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih.” Namun Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar ketika ia melihat anak m uda bertubuh raksasa itu m endekat mereka. Jika saja anak muda itu masih berbicara tentang sepotong besi itu, maka pembicaraan tentu akan semakin berkepanjangan. Tetapi justru ada orang lain, ternyata anak muda bertubuh raksasa itu tidak meny inggung lagi tentang sepotong besi baja itu. Karena itu, maka merekapun kemudian sekedar berbicara tentang pertandingan pertandingan yang  telah mereka lakukan. Malam itu, maka para peserta itupun telah beristirahat sebaik baiknya. Menjelang fajar, maka merekapun telah bangun dan bergantian pergi ke pakiwan. Seperti hari pertama, mereka-pun segera berbenah diri, makan pagi dan beristirahat beberapa saat sebelum mereka memasuki lingkaran pertandingan. Pa da pertandingan ketiga, maka mulai nampak anak-anak muda yang  daya tahannya tidak t erlalu kuat. Ada diantara mereka yang  sudah nampak menjadi lelah. Tetapi masih juga ada anak-anak muda yang nampak segar dan seakan-akan kekuatannya masih tetap utuh. Dengan demikian, maka para prajurit yang  mengamati pertandingan-pertandingan itupun mulai membuat catatancatatan penting atas para peserta pendadaran. Menj elang tengah hari, maka pertandinganpun telaji selesai. Anak-anak muda itu pada umumnya memang nampak letih. Karena itu, maka merekapun telah berusaha beristirahat sebaik-baiknya. Di sore hari mereka akan memasuki arena sekali lagi. Kecuali masih ada yang  ter sisa dan yang  akan dipertandingkan esok pagi, maka pertandingan di sore hari itu adalah pertandingan yang terakhir. Demikian pula bagi Mahisa Pukat. Pertandingan di sore hari itu baginya juga merupakan yang  terakhir. Sementara itu lawan-lawannya adalah anak muda yang berjambang lebat, yang sudah beberapa kali mendapat peringatan. Beberapa orang anak m uda yang  telah mendengar serba sedikit tentang MahisaPukat justru berpengharapan, bahwa anak muda itu akan menemukan lawan yang  akan dapat memberikan sedikit peringatan kepada anak muda yang berjambang lebat itu. Sementara itu, para prajurit yang menunggui pertandingan yang masih belum selesai telah memerintahkan untuk meneruskan pertandingan. Mereka tidak boleh terpengaruh oleh keadaan diluar lingkaran pertandingan mereka m asingmasing. < -- sepertinya ada bagian cerita yang hilang -- > Mahisa Pukat masih berdiri tegang. Giginya gemeretak menahan kemarahan yang menyala didadanya. Tetapi dihadapan beberapa orang prajurit yang bertugas ia masih menahan diri. Ia sadar, bahwa pernyataan kedua orang prajurit yang bertugas itu belum merupakan keputusan terakhir. Seorang perwira yang  berdiri didekat seorang petugas sandi bertanya ”Apakah kalian yakin bahwa anak muda ini sudah melanggar paugeran.” “Ya. prajurit itu memang tegas sehingga seakan-akan ia benar-benar y akin akan penglihatannya, bahwa Mahisa Pukat telah melanggar paugeran. “Apa yang dilakukannya ?” bertanya seorang perwira petugas sandi yang mengamati pendadaran itu. “ Ia meny erang dengan kakinya sasaran yang terlarang. Tumitnya mengenai bagian bawah perut anak muda berjambang itu.” “Tidak” sahut Mahisa Pukat. Tetapi prajurit yang  seorang lagi berteriak ”Diam. Kau hanya boleh berbicara jika kau ditanya.” Mahisa Pukat memandang prajurit itu dengan tajamnya. Tetapi ia tidak berkata apapun juga. < sepertinya ada bagian yang terlompat> Anak muda berjambang itupun kemudian bangkit tertatihtatih sambil m enyeringai kesakitan. Sambil m enunjuk kearah Mahisa Pukat ia berkata ”Anak iblis itu telah berbuat curang. Seharusnya aku dapat mengalahkannya.” < sepertinya ada bagian yang terlompat> Namun tiba-tiba seorang prajurit yang  berdiri diantara mereka yang  berkerumun itu berdesis ”Tidak masuk akal jika anak muda berjambang itu dapat mengalahkannya. Aku y akin bahwa anak muda itu tidak dapat dikalahkan oleh siapapun, peserta pendadaran ini.” Prajurit yang  mengawasi pertandingan antara Mahisa Pukat dan anak muda berjambang itu berpaling kepadanya sambil membelalakkan matanya ”Kau tidak melihat pertandingan ini. Tetapi apakah kau sudah memihak ?” “Aku tidak memihak siapapun. Tetapi kita dapat berbicara dengan kawan-kawan kita yang  telah m enunggui anak muda ini bertanding.” jawab prajurit itu. < sepertinya ada bagian yang terlompat> Namun tiba -tiba mereka mendengar seseorang membentak ”Cukup. Bukankah kita mempunyai paugeran ? Kenapa kita harus berbantah disini ?” Mereka yang  sedang berkerumun itupun berpaling. Ternyata yang berdiri dua langkah dari mereka adalah Manggala Pelayan Dalam Gajah Saraya. Tidak seorangpun yang  menjawab. Sementara Gajah Saraya berkata selanjutnya ”Keputusan memang berada ditangan para prajurit yang  mengawasi pendadaran. Tetapi jika salah seorang peserta menyatakan keberatan atas keputusan yang diambil, maka akan diadakan pembicaraan khusus tentang pertandingan itu. Bukankah jela s? Kenapa kita harus berbantah disini seolah-olah kita bukan sekelompok prajurit yang berpegang pada ketentuan dan paugeran yang pasti ?” Semuanya m emang terdiam. Sementara itu, Gajah Saraya berkata ”Kita ikuti ket entuan itu. Kita akan berbicara khusus mengenai pertandingan ini. Sekarang juga.” Semuanya masih berdiam diri. Sementara itu, Gajah Sarayapun segera memerintahkan mereka yang berkepentingan untuk berkumpul diruang yang telah disediakan. Kedua orang prajurit yang  mengawasi langsung, seorang perwira petugas sandi dan kedua orang anak muda yang bertanding. Dengan jela s dan terperinci kedua orang prajurit yang  mengawasi pertandingan itu memberikan laporan tentang pelanggaran yang  dilakukan oleh Mahisa Pukat. “Berapa kali. Tetapi yang  terakhir adalah pelanggaran yang  terberat,” jawab salah seorang prajurit yang  mengawasi pertandingan itu. “Berapa kali kalian memberikan peringatan.” bertanya Gajah Saraya pula. “Sesuai dengan ketentuan. Jika pelanggaran itu terjadi dengan sengaja dan m enimbulkan akibat yang  paling buruk, sehingga lawannya bertanding tidak dapat melanjutkan pertandingan, maka yang  melanggar paugeran itu dapat dikeluarkan dari arena. Dan tidak akan dapat mengikuti tataran berikutnya.” Mahisa Pukat memang menjadi tegang. Ia sudah berprasangka buruk terhadap Gajah Saraya. Tetapi ternyata Gajah Saraya tidak segera mengambil keputusan membenarkan tindakan kedua orang prajurit yang mengawasi pendadaran itu. Bahkan Gajah Saraya masih bertanya kepada Mahisa Pukat ”Kenapa kau berkeberatan terhadap keputusan kedua prajurit yang mengawasi pendadaran itu ?” “Aku tidak m erasa melakukan pelanggaran.” jawab Mahisa Pukat ”Aku bertanding dengan wajar.” “Tetapi kedua orang prajurit itu melihat kau melakukan pelanggaran” berkata Gajah Saraya kemudian. “Aku tidak merasa melakukannya” jawab Mahisa Pukat pasti. Lalu katanya ”Aku y akin bahwa aku akan dapat mengalahkannya tanpa melakukan pelanggaran.” < sepertinya ada bagian yang terlompat> Kedua orang prajurit itu termangu-mangu. Seorang diantara mereka bertanya ”Siapakah yang  kau maksud diantara kita? Kau atau aku atau siapa?” Perwira yang mempunyai tugas mengatur itu berkata ”Maksudku, orang-orang yang sejalan dengan kita. Aku dapat menunjuk dua orang yang bersama kalian bertugas di gardu dibelakang hutan perburuan itu.” “Baik” jawab prajurit itu ”tetapi bagaimana jika ada orang lain yang  ikut mengawasi?” bertanya prajurit yang  lain. “ Itu diluar kekuasaanku. Tetapi aku akan mencari jalan agar kita dapat mengatasiny a meskipun sulit,” jawab perwira itu. “ Ingat. Jika kami berdua diketahui berlaku curang, maka kaupun akan terlibat.” desis salah seorang dari kedua prajurit itu. “Kenapa kau menjadi gila sehingga mengancamku? Aku tahu itu. Tetapi bukankah kekuasaanku terbatas? Apakah aku harus mengatur agar pertandingan ulangan itu dilakukan, ditempat tertutup dan hanya kalian berdua saja yang  boleh masuk?” jawab perwira itu dengan wajah geram. Kedua prajurit itu terdiam. Kekuasaan perwira itu memang terbatas sehingga ia tidak dapat menentukan lebih dari wewenang y g diberikan kepadanya. Namun dengan demikian maka kedua orang prajurit itupun semalaman tidak dapat tidur. Mereka sudah membayangkan bahwa kecurangan mereka akan terungkap. Mereka tahu bahwa sulit bagi anak muda berjambang lebat itu dapat mengalahkan Mahisa Pukat. Selain kedua orang prajurit itu, anak muda berjambang lebat itupun sulit pula untuk memejamkan matanya. Ia menyesal, bahwa sebelum b ertanding melawan Mahisa Pukat ia sudah sering melakukan pelanggaran, sehingga para prajurit yang mengawasiny a telah memberikan kesaksian yang merugikannya. Seandainya sebelumnya ia tidak pernah melakukan pelanggaran maka keputusan Gajah Saraya akan dapat lain. Anak muda itu terlambat m enyadari kesombongannya. Ia begitu bernafsu untuk menunjukkan kelebihannya dengan mengalahkan lawan-lawannya dalam waktu yang  pendek, sehingga justru karena itu, ia telah m elakukan pelanggaranpelanggaran yang  ternyata telah menjeratnya pada bagian terakhir dari pertandingan-pertandingan yang diselenggarakan itu. “Tetapi semuanya sudah terjadi” anak muda itu menggeram ”aku tidak mempunyai pilihan lain kecuali dalam waktu yang singkat menghentikan perlawanannya. Tanpa melakukan pelanggaran sama sekali.” Tiba-tiba saja anak muda itu bangkit dari pembaringannya. Diambilnya sebuah bumbung kecil yang  berisi serbuk dari kantoner ikat Dinererane kulitnya yang  lebar. Sambil mengamati bumbung kecilnya anak muda itu tersenyum. Bumbung itu berisi serbuk racun yang  tidak terlalu keras. Serbuk itu tidak membunuh. Tetapi serbuk itu akan dapat membuat seseorang kehilangan tenaganya. Jika racun itu mengenai tubuh seseorang maka serbuk itu akan menyusup lewat lubang-lubang kulit. Racun itu akan dapat bekerja lebih cepat jika tubuh seseorang terluka meskipun hanya segores kecil. Luka yang segores kecil itu akan mempercepat penyusupan racun kedalam darah dan mengalir keseluruh tubuh. Semakin banyak orang itu bergerak, m aka semakin cepat pula racun itu menghisap tenaganya nieskipun hanya untuk sementara. Tetapi sebelum tenaga itu tumbuh dan pulih kembali, m aka ia tentu sudah dapat m engalahkan lawannya, siapapun lawannya itu. “Terima kasih guru” desis anak muda berjambang lebat itu. Racun dari gurunya itu ternyata akan dapat dipergunakan untuk mengatasi kesulitannya menghadapi anak muda yang bernama Mahisa Pukat itu. Ia harus m engalahkan anak muda itu dan menggagalkan agar ia t idak dapat memasuki tugas Pelay an Dalam di Istana Singasari. “Besok serbuk racun itu tidak boleh ketinggalan.” desis anak muda itu. Tetapi katanya kemudian ”Tetapi aku juga tidak boleh lupa minum penawarnya. Jika tidak, tenaganyapun akan dihisapnya sehingga aku akan menjadi tidak berdaya.” Dengan demikian maka anak muda itu tidak lagi m enjadi gelisah. Bahkan ia menjadi tenang dan dapat tidur dengan ny enyak. Mahisa Pukat sendiri tidak terlalu banyak memikirkan pertandingan ulangan. Selain pertandingan ulangan itu masih ada satu pertandingan yang  lain, karena jumlah pesertanya adalah tujuh bela s orang. Menurut perhitungan Mahisa Pukat, maka ia tentu akan dapat m engalahkan anak muda itu meskipun ia tidak ingin merendahkannya, Bahkan ia masih juga berdoa, agar ia mendapat tuntutan sehingga usahanya untuk menjadi keluarga Pelayan Dalam di istana Singasari dapat terlaksana. Menj elang fajar dinihari berikutnya, maka Mahisa Pukatpun telah mempersiapkan diri. Demikian anak-anak muda yang lain, meskipun sebagian besar mereka sudah tidak akan bertanding lagi, namun merekapun telah bersiap-siap untuk melihat apa yang akan terjadi diarena, terutama dalam pertandingan ulangan antara anak muda yang  berjambang lebat itu dengan mahisa Pukat. Anak muda yang  berjambang lebat itupun mandi dan berbenah diri adalah minum-minuman hangat yang  telah tersedia didapur. Kemudian tanpa diketahui seorangpun ia telah menelan sebutir ramuan obat untuk menolak dan menawarkan serbuk racunnya. Anak muda itu ter senyum sendiri. Ia y akin akan dapat memenangkan pertandingan itu. Para prajurit yang  akan mengawasi pertandingan itu tentu akan berterima ka sih kepadanya apabila mereka berdiri dipihaknya. Apalagi jika yang akan mengawasinya nanti kedua orang prajurit yang kemarin mengawasinya. “Mereka tentu sudah m enjadi gelisah” berkata anak muda berjambang lebat itu didalam hatinya, Ketika saat makan pagi tiba, maka anak m uda berjambang lebat itu justru berjalan hilir mudik dengan wajah tengadah, ter senyum-senyum dan tertawa-tawa sambil berbincang dengan beberapa orang peserta yang lain m eskipun tanggapan kawan-kawannya agak kurang akrab. Mahisa Pukat memang agak heran melihat sikap anak muda itu. Ternyata ia masih juga terlalu y akin akan dirinya. Anak muda berjambang itu sama sekali tidak menjadi gelisah, bahwa ia akan dapat dikalahkannya dalam pendadaran ulangan. Namun Mahisa Pukatpun tidak menghiraukannya. Tetapi ia sudah bertekad untuk tidak terjebak kedalam pelanggaran paugeran sehingga ia akan dapat dianggap kalah dalam pertandingan ulangan itu. Beberapa saat kemudian, setelah mereka beristirahat sejenak, maka para peserta itupun telah dikumpulkan di halaman depan. Gawar kedelapan arena masih terpa sang meskipun yang  akan dipergunakan hanya dua. Satu diantaranya adalah pertandingan ulangan antara Mahisa Pukat dan anak muda berjambang lebat itu. Dalam pada itu keempat orang anak muda yang  akan memasuki arenapun telah diminta untuk bersiap-siap. Mereka telah berada disekitar arena yang ditentukan bagi keempat orang anak muda yang akan bertanding didua arena. Mahisa Pukatpun telah ber siap-siap pula. Ketika ia berdiri dekat dengan gawar lawe arena pertandingannya, maka anak muda berjambang itu mendekatinya sambil berdesis ”Kau akan menyesal dengan ulahmu kemarin. Pagi ini kau akan mengalami keadaan yang  lebih buruk. Dan kau akan segera tersisih dari deretan para calon Pelayan Dalam. Kaupun tidak akan mungkin ikut dalam pendadaran tataran berikutnya.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Apapun akhir dari pertandingan ulangan ini akan aku terima jika itu hasil yang kita capai dengan jujur.” “Kau memang tidak akan dapat dengan semena-mena melanggar paugeran lagi” berkata anak muda itu. Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih tetap mengendalikan diri. Sebentar lagi ia akan memasuki arena untuk benar-benar mengukur kemampuan mereka berdua. Demikianlah sejenak kemudian maka para prajurit yang  bertugaspun telah mempersiapkan diri. Sementara itu anak muda yang berjambang lebat itu minta ijin untuk pergi ke pakiwan sebelum pertandingan ulangan itu dilaksanakan. “Cepatlah” berkata prajurit yang  bertugas untuk mengawasi pertandingan itu, yang ternyata adalah dua orang prajurit yang meskipun bukan yang  m engawasiny a kemarin, tetapi m ereka adalah orang-orang yang  berdiri dipihak anak muda berjambang lebat itu. “Kemana anak itu ?” bertanya seorang prajurit yang lain. “Ke Pakiwan sebentar” jawab prajurit yang  mengawasinya. Prajurit yang  bertanya itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Dalam pada itu, kedua orang prajurit yang bertugas untuk mengawasiny a itupun memang menjadi gelisah. Tetapi mereka sudah pasrah apapun yang  terjadi. Mereka hanya menunggu keajaiban saja bahwa anak muda berjambang itu akan memenangkan pertandingan ulang itu. Apalagi ketika di sekitar arena pertandingan itu terdapat beberapa orang perwira prajurit dan bahkan prajurit sandi. Arya Kuda Cemani sendiri hadir didekat arena bersamasama dengan Gajah Saraya. “Bagaimana mungkin mendapatkan cara untuk menyelamatkan anak muda berjambang itu” desis salah seorang dari kedua orang prajurit yang  mengamatinya. Namun kawannya menjawab ”Tetapi anak itu sendiri nampaknya begitu yakin akan memenangkan pertandingan.” “Mudah-mudahan. Mungkin ia berbuat sesuatu di pakiwan.” Sebenarnyalah anak muda yang  pergi ke pakiwan itu telah menaburkan serbuk racunnya pada kedua telapak tangannya. Serbuk itu memang tidak begitu nampak. Meskipun serbuk itu bekerja cepat, tetapi tidak membahayakan jiwa orang yang terkena. Sementara itu, anak muda berjambang itu sendiri sudah menelan obat penawarnya sehingga racun itu tidak akan mempengaruhinya meskipun melekat pada kulitnya. Beberapa saat kemudian, maka anak muda itu telah kembali dan siap memasuki arena. Kedua prajurit yang mengawasi pertandingan ulang itupun mendekatinya dan seorang diantaranya bertanya ”Kau sudah siap sepenuhnya?” Anak muda itu tertawa. Katanya ”Aku akan menyelesaikannya dalam waktu singkat.” “Apakah kau tidak membual ?” bertanya prajurit itu hampir berbisik. “Lihat saja apa yang akan terjadi.” jawab anak muda itu. Kedua prajurit itu saling berpandangan sejenak. Sementara itu terdengar suara bende untuk pertama kali. Dengan demikian maka para pesertapun segera bersiap didalam arena pertandingan. Dua orang peserta yang  akan m enyelesaikan pertandingan telah memasuki arena. Demikian pula anak muda berjambang lebat itu bersama Mahisa Pukat. Ketika pertanda berikutnya dibunyikan, maka pertandingan itupun telah siap untuk dimulai. Anak muda berjambang lebat itu masih saja ter senyum ketika Mahisa Pukat mulai bergeser. Selangkah ia maju mendekat sambil berdesis ”Kau akan aku habisi dalam waktu sekejap.” Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi ia memang heran melihat sikap anak muda berjambang lebat itu. Sementara itu, selain kedua orang prajurit yang  bertugas mengamati pertandingan itu, maka beberapa orang perwira ada disekitar arena itu. Bahkan Arya Kuda Cemani dan Gajah Saraya juga menyempatkan diri untuk melihat hasil pertandingan ulangan itu. Mereka ingin melihat kebenaran dari laporan kedua orang prajurit yang  mengawasi pertandingan sebelumnya. Namun kesan yang  mereka dapatkan pada saat pertandingan itu akan dimulai, memang meyakinkan. Anak muda berjambang lebat itu benar-benar percaya diri bahwa ia akari dapat meny elesaikan pertandingan dengan cepat. Sementara itu, Mahisa Pukat tidak m enunjukkan sikap yang dapat m emberikan kesan sesuatu. Meskipun ia tetap tenang, tetapi tidak mengesankan satu keyakinan bahwa ia akan menang. Dalam pada itu, anak m uda yang  berjambang lebat yang  telah m enaburi telapak tangannya dengan serbuk racun itu hanya tinggal berusaha meny entuh kulit Mahisa Pukat dibagian manapun. Dan itu sama sekali bukan soal yang sulit. Jika ia meny erang dengan cepat, maka sentuhan-sentuhan yang diperlukan akan segera terjadi. Apalagi anak muda itu serba sedikit sudah dapat mengenali bagaimana Mahisa Pukat itu mempertahankan dirinya. Demikianlah, ketika anak muda berjambang lebat itu melihat satu kesempatan, maka iapun segera meloncat menyerang. Tangannya terayun dengan cepat mengarah kening. Tetapi Mahisa Pukat yang sudah siap itupun sempat menghindari serangan itu. Dengan cepat pula Mahisa Pukat bergeser sehingga serangan itu tidak mengenai sasarannya. Tetapi anak muda itu terus saja memburunya. Bahkan tidak lagi mempergunakan unsur-unsur gerak yang  mapan, seakanakan asal saja anak itu membenturnya. Mahisa Pukat yang mengalami serangan dengan serta merta itu m emang berusaha menangkis. Tangan anak muda berjambang yang menyambar dengan cepat kearah dada itu ditepisnya kesamping. Namun diluar dugaan Mahisa Pukat, tangan anak muda itu yang lain justru berusaha menangkap pergelangan tangannya. Serangan yang  demikian memang merupakan serangan yang tidak terbia sa dilakukan. Karena itu, maka Mahisa Pukat memang terlambat menghindar. Pergelangan tangannya memang benar-benar telah ditangkap oleh anak muda berjambang itu. Ternyata tangan Mahisa Pukat telah ditariknya dengan sekuat tenaga. Begitu menghentak dan tiba-tiba. Mahisa Pukat memang terseret oleh tarikan itu. Dengan satu putaran tangan Mahisa Pukat hampir saja terpilin. Namun Mahisa Pukat dengan cepat berguling dan memutar tubuhnya. Demikian kakinya meny entuh tanah, m aka iapun segera melenting meny erang dengan kakinya. Ternyata anak muda berjambang itu dengan cepat melepaskan tangannya dan meloncat surut, sehingga serangan Mahisa Pukat tidak mengenainya. Sejenak kemudian, maka keduanya telah berdiri lagi berhadapan. Ma sing-masing telah siap melanjutkan pertandingan. Beberapa orang prajurit, perwira dan bahkan Arya Kuda Cemani dan Gajah Saraya memang menjadi berdebar-debar. Pertandingan itu berlangsung dengan cepat. Namun merekapun segera m elihat, betapa tangkasnya Mahisa Pukat mengatasi k esulitan yang dengan tibartiba dialaminya dalam pertandingan itu. Ketika Mahisa Pukat sudah siap melanjutkan pertandi ngan, maka anak muda berjambang itu tersenyum sambil berdesis ”Kau tidak meny esali kecuranganmu kemarin? Semuanya sudah terjadi. Kau tinggal menerima akibat dari kecuranganmu itu, karena kau akan segera tersisih.” Mahisa Pukat sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia justru mulai memperhatikan pergelangan tangannya yang hampir sa ja terpilin. Ia tidak merasa bahwa pergelangannya itu menjadi sakit atau bahkan ny eri. Tetapi ia memang merasakan sesuatu. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Ketika lawannya bergeser, iapun bergeser pula. Namun ia sempat mengusap pergelangan tangannya dengan tangannya yang lain. Ra sa -rasanya ada berpuluh-puluh semut yang merayap dipergelangan tangannya dan bahkan kemudian di telapak tangannya yang  lain. Bahkan kemudian terasa seakan-akan pergelangan tangannya dan telapak tangannya yang lain itu tertusuk-tusuk oleh ujung duri yang lembut, m emang tidak sakit. Tetapi seolah-olah duri-duri yang  lembut itu ju stru menyusup ke. dalam urat-urat darahnya dan kemudian mengalir keseluruh tubuhnya. Anak muda berjambang itu melihat betapa Mahisa Pukat merasa terganggu pada pergelangan tangannya dan telapak tangannya yang lain. Tanpa m enghiraukan orang-orang yang berada disekitar arena, maka iapun tertawa berkepanjangan. Orang-orang yang ada disekitar arena itu menjadi heran. Mereka belum melihat tanda-tanda bahwa anak muda itu akan memenangkan pertandingan. Karena itu, m aka sikapnya itu telah mengundang pertanyaan. Bahkan anak muda itu kemudian bertanya ”Kenapa kau nampak menjadi bingung ?” Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Ia menghubungkan perasaan aneh pada pergelangan tangan dan telapak tangannya. Diluar sadarnya ia mengawasi pergelangan dan telapak tangannya itu. Ternyata Mahisa Pukat dapat melihat bahwa tangannya memang telah terkena serbuk yang tentu telah menimbulkan perasaan asing itu. “Racun” berkata Mahisa Pukat didalam hatinya. Apalagi ketika ia melihat sikap dan pertanyaan anak muda berjambang yang aneh itu. Karena Mahisa Pukat tidak segera menjawab, maka anak muda itu bertanya pula ”Apakah kau akan meny erah saja ?” Mahisa Pukat m engerutkan dahinya. Dengan nada rendah ia berkata ”Bukankah kita baru mulai ? Apakah kau m elihat tanda-tanda bahwa aku akan menyerah ?” “Tentu. Kau menjadi bingung dan bahkan seakan-akan ketakutan menghadapi pertandingan ulangan ini” jawab anak muda itu. “Agaknya kau sedang bermimpi” sahut Mahisa Pukat ”bangunlah. Kita berada di arena pertandingan dalam rangka pendadaran untuk memasuki lingkungan Pelay an Dalam.” Orang-orang yang ada disekitar arena itu justru mengangguk-angguk mendengar jawaban Mahisa Pukat itu. Seakan-akan Mahisa Pukat telah mewakili mereka mengatakan sebagaimana pernyataan didalam hati mereka. Anak muda itu memandang Mahisa Pukat dengan tajam. Ia melihat Mahisa Pukat masih berdiri tegak dan bahkan bersiap untuk meneruskan pertandingan. Anak muda itupun kemudian telah bergeser selangkah maju. Bahkan kemudian tanpa berkata apapun lagi, dengan garangnya ia telah meny erang Mahisa Pukat. Ia berharap bahwa jika Mahisa Pukat bergerak lebih banyak, maka racun itu akan beredar lebih cepat didalam tubuhnya. Dengan demikian maka Mahisa Pukat itu akan segera m enjadi lemah dan kehilangan kekuatannya. Mahisa Pukatpun meloncat menghindari serangan itu. Namun sebenarnyalah bahwa Mahisa Pukat telah m engambil satu sikap. Ia ingin dengan cepat menyelesaikan pertandingan itu. Anak muda berjambang itu telah cukup banyak melontarkan pernyataan yang meny inggung perasaannya bahkan penghinaan dengan m enawarkan agar Mahisa Pukat itu menyerah saja Karena itu, demikian Mahisa Pukat menghindari serangan anak muda itu, m aka iapun segera menghentakkan segenap kemampuannya. Meskipun ia belum merambah keilmu andalannya, namun tenaga dan kemampuannya sudah cukup untuk dengan cepat menghentikan perlawanan anak muda berjambang lebat itu. Apalagi Mahisa Pukat menyadari, bahwa anak muda itu telah mempergunakan racun untuk mengalahkannya meskipun Mahisa Pukatpun tahu bahwa racun yang dipergunakan itu adalah racun yang  dapat bekerja dengan cepat tetapi lunak sehingga tidak akan membunuh orang yang  dikenainya meskipun orang itu bukan Mahisa Pukat. Dengan cepat Mahisa Pukatlah yang  kemudian justru menyerang. Dengan loncatan panjang Mahisa Pukat menyerang. Tangannya terjulur lurus mengarah kedada. Ketika lawannya itu menghindar kesamping, maka Mahisa Pukat justru berputar. Kakinya bergerak mendatar dengan cepatnya. Anak muda berjambang itu terkejut. Tetapi ia tidak sempat berbuat banyak. Meskipun ia berusaha menangkis, namun hentakkan kekuatan kaki Mahisa Pukat itu telah mendorongnya beberapa langkah surut. Mahisa Pukat ternyata tidak melepaskannya. Dengan cepat Mahisa Pukat meloncat menyusulnya. Hampir saja Mahisa Pukat memukul kepala anak muda yang  sedang terbungkuk itu. Namun niat itu diurungkan, karena Mahisa Pukat tidak mau m embuat kepala anak m uda itu terguncang sampai ke otaknya. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun telah mengayunkan tangannya mendatar. Dengan punggung telapak tangannya yang terbuka, Mahisa Pukat mengenai kening anak muda itu. Anak muda itu terhuyung-huyung dan disaat ia hampir kehilangan keseimbangannya, maka serangan Mahisa Pukat telah m enyusul sekali lagi. Sisi telapak tangannya yang  sudah terangkat dan hampir saja terayun ketengkuknya telah diurungkannya. Sisi telapak tangan itu kemudian hanya mengenai pundak kanan anak muda yang berjambang itu. Ternyata serangan beruntun Mahisa Pukat itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk mengelak dan apalagi m embalas. Serangan Mahisa Pukat pada pundak anak muda itu telah membuatnya tidak mampu bertahan. Perasaan sakit yang tajam telah menggigit pundaknya itu. Tulang-tulangnya bagaikan berpatahan. Tekanan pukulan Mahisa Pukat telah mendorong anak muda itu sehingga jatuh tertelungkup. Yang terdengar kemudian adalah erang kesakitan. Anak muda itu memang berusaha untuk bangkit. Tetapi iapun telah terjatuh kembali menelentang sambil mengaduh menahan sakit. Ternyata dalam waktu yang  sangat singkat pertandingan itu telah diselesaikan oleh Mahisa Pukat. Pertandingan ulangan itu ternyata menjadi sangat menarik perhatian. Dua orang prajurit yang  seharusnya mengamati pertandingan yang  ter sisa, beberapa kali telah berpaling melihat apa yang terjadi di arena yang lain, arena pertandingan ulangan antara anak muda yang  berjambang lebat, yang  sombong dan beberapa kali melanggar paugeran dengan anak muda yang memiliki ilmu yang  dianggap lebih baik dari kebanyakan para peserta pendadaran. Bahkan dua orang yang  m eny elesaikan pertandingan yang  tersisa itupun kadang-kadang justru terhenti dan berusaha pula m elihat apa yang  terjadi diarena yang lain. Apalagi para peserta yang  sudah meny elesaikan pertandingan mereka. Semuanya telah berkumpul dan menyaksikan pertandingan ulangan itu. Ternyata semua orang telah tercenung melihat akhir pertandingan itu. Dalam waktu yang  sangat singkat pertandingan ulangan itu telah berakhir. Anak muda berjambang lebat itu sama sekali tidak mampu berbuat apapun juga. Bahkan serbuknya sama sekali tidak berpengaruh atas Mahisa Pukat. Dengan demikian kepercayaan anak muda itu kepada gurunya berguncang. Ia m enganggap bahwa racun itu tidak mempunyai arti apa-apa. Tidak sebagaimana dikatakan oleh gurunya. Namun sebenarnyalah bahwa anak muda itu tidak tahu sama sekali bahwa Mahisa Pukat bukan anak muda kebanyakan. Anak muda itu memiliki kemampuan untuk menangkal racun. Apalagi racun yang  lunak, bahkan racun yang paling tajam sekalipun tidak akan dapat membunuhnya. Dengan demikian, m aka diputuskan bahwa Mahisa Pukat telah m emenangkan pertandingan itu. Sebenarnya keputusan menang atau kalah itu tidak mutlak diperlukan. Bahkan ada diantara mereka yang dianggap memiliki kemampuan dan kekuatan yang sama sehingga tidak ada yang  menang atau kalah. Namun justru karena ada persoalan diantara kedua anak muda yang  bertanding itu, maka kemenangan salah seorang diantaranya memang diperlukan. Kedua orang prajurit yang  menunggui pertandingan itu tidak dapat berbuat banyak. Apalagi mereka tahu bahwa Gajah Saraya dan Arya Kuda Cemani khusus datang untuk m elihat hasil dari pertandingan itu, sehingga keduanya harus menyatakan hasil yang  sebenarnya yang  m emang tidak dapat disembuny ikannya. Namun dengan demikian, setiap orang yang mengikuti pendadaran itu telah menjadi curiga terhadap kedua orang prajurit yang menunggui pertandingan sebelumnya yang menganggap bahwa Mahisa Pukat seharusnya disisihkan dari pendadaran pada tataran berikutnya karena dianggap curang. Tetapi siang itu juga, sebelum keduanya dapat diusut lebih lanjut, maka datang perintah dari kesatuan kedua orang prajurit itu, bahwa keduanya harus segera kembali ke kesatuannya karena ada tugas lain yang  lebih penting. Perintah itu datang dari pemimpin kelompoknya yang  juga mengirimkan dua orang prajurit yang  lain sebagai gantinya jika diperlukan. Gajah Saraya memang menjadi heran atas sikap pemimpin kelompok kedua orang prajurit yang  dicurigai melakukan tindakan yang tidak benar itu. Tetapi Gajah Saraya tidak dapat dengan tergesa -gesa mengambil tindakan, karena hal Itu akan menyangkut wibawa antara kesatuan. Karena itu, maka diperlukan waktu untuk menghubungi pemimpin yang  lebih tinggi lagi dari pemimpin kelompok itu untuk mengambil langkah-langkah berikutnya. Dalam pada itu, pendadaran pada tataran kedua itupun telah berakhir. Para prajurit yang  bertugas akan segera menentukan, siapakah diantara ketujuhbelas orang itu yang pantas untuk mengikuti pendadaran selanjutnya. Anak muda yang berjambang itu sudah tidak berpengharapan lagi untuk dapat memasuki pendadaran tataran berikutnya. Namun iapun tidak dapat melupakan anak muda yang telah mempermalukannya. Mahisa Pukat. Sehingga iapun telah mendendamnya dan bahkan timbul k einginannya untuk membalas dendam apapun caranya. Sementara itu Mahisa Pukat yang sejak semula telah berprasangka buruk terhadap Gajah Saraya menjadi raguragu. Sampai pendadaran pada tataran kedua tidak nampak bahwa Gajah Saraya dengan sengaja ingin menyisihkannya. Bahkan pada tataran kedua Gajah-Saraya justru telah memberinya kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan untuk dapat meneruskan pendadaran pada tingkat selanjutnya. Tetapi apa yang terjadi kemudian, Mahisa Pukat tidak dapat menduganya. Bahwa kedua orang prajurit yang mengamatinya dalam pertandingan terakhir sebelum pertandingan ulangan dilakukan, begitu saja dibiarkannya meninggalkan tempat pendadaran, telah menimbulkan pertanyaan pula dihati Mahisa Pukat. Demikianlah, maka malam setelah pertandingan yang  terakhir serta pertandingan ulang selesai, para peserta masih diperintahkan untuk tetap tinggal di tempat pendadaran. Demikian semua prajurit dan Pelayan Dalam yang ikut serta menyelenggarakan pendadaran itu, kecuali dua orang prajurit yang sudah ditarik oleh kesatuannya karena ada tugas lain yang lebih penting. Malam itu, para peny elenggara pendadaran telah mengadakan pembicaraan. Esok pagi akan diumumkan langsung, siapakah yang  harus melakukan persiapan untuk mengikuti pendadaran pada tataran berikutnya Malam itu anak muda yang bertubuh raksasa itu telah menemui Mahisa Pukat. Katanya ”Nah, aku telah memenangkan taruhan. Kau tidak sekalipun terkalahkan.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Hanya satu kebetulan.” “Tidak” jawab anak muda bertubuh raksasa itu ”bukan satu kebetulan. Kau memang m emiliki k elebihan dari semua yang ikut pendadaran ini. Kita tunggu saja hasilnya Aku tidak akan menyesal seandainya aku termasuk diantara mereka yang harus menyingkir dari pendadaran berikutnya. Tetapi aku akan sangat menyesal jika kau yang  tidak dapat m emasuki tataran ketiga dari pendadaran ini.” “Bukankah keputusan terakhir terletak pada mereka yang  bertugas menilai pertandingan ini?” jawab Mahisa Pukat ”aku akan menerima semua keputusan. Juga yang  menyangkut diriku.” “Kau tidak dapat berbuat seperti itu” berkata anak muda bertubuh raksasa itu ”nampaknya memang ada sesuatu yang tidak wajar terjadi dalam pendadaran ini Dan kau harus membela diri jika kau mendapat perlakuan yang  tidak adil.” “Mudah-mudahan tidak ada perlakuan yang  tidak adil itu.” jawab Mahisa Pukat. “Ya. Mudah-mudahan tidak ada” desis anak muda bertubuh raksasa itu. Dalam pada itu, disebuah ruangan tertutup Gajah Saraya memimpin sebuah pertemuan untuk memilih siapakah yang diperkenankan mengikuti pendadaran berikutnya dan siapa yang tidak. Menurut para prajurit yang  m engawasi jalannya pendadaran, m aka pada umumnya mereka yang ikut dalam pertandingan itu memiliki kemampuan yang hampir setingkat. Namun yang jelas tidak dapat mengikuti pendadaran pada tataran berikutnya adalah anak muda berjambang lebat itu. Beberapa orang prajurit memang memberikan kesaksian bahwa ia sudah terlalu sering diperingatkan karena melanggar paugeran. Juga dalam pertandingan ulangan anak muda berjambang itu sama sekali tidak berdaya. Namun Mahisa Pukat masih melindungi anak muda berjambang itu karena ia tidak mengatakan bahwa anak muda itu telah menebarkan racun meskipun racun yang  lemah, tetapi akan dapat mempengaruhi pertandingan yang  sedang berlangsung seandainya Mahisa Pukat tidak memiliki penawar racun. Dalam pembicaraan selanjutnya, maka ternyata ada dua orang lagi yang terpaksa tersisih karena tenaga dan kemampuan mereka dianggap paling rendah diantara kawankawannya yang lain. Dengan demikian mereka yang  akan ikut dalam pendadaran berikutnya hanyalah ampat belas orang sa ja. Diantara mereka memang termasuk Mahisa Pukat. Keputusan itulah yang  akan diumumkan dikeesokan harinya kepada para peserta. Kemudian para peserta akan diijinkan pulang dan m enunggu pendadaran berikutnya yang hanya akan bertenggang waktu sepekan dengan pendadaran yang baru saja dilakukan itu. Demikianlah, sejak fajar, para peserta pendadaran itu sudah bersiap-siap untuk m endengarkan pengumuman yang akan diberikan oleh Manggala Pelay an Dalam. Ra sa-rasanya waktupun berjalan sangat lambat, sehingga para peserta itu sudah tidak sabar lagi menunggu. Namun pada umumnya mereka yang merasa dirinya berada dibawah tataran kawan-kawannya sudah merasa, bahwa mereka akan tertinggal dan tidak mendapat kesempatan untuk mengikuti pendadaran berikutnya. Ternyata pengumuman itu baru diberikan setelah para peserta itu selesai makan pagi dan beristirahat sejenak. Dengan jantung yang  berdebar-debar para peserta itu berkumpul di sebuah ruangan yang  telah disediakan. Manggala Pelay an Dalam sendirilah yang akan mengumumkan siapakah diantara mereka yang  akan dapat mengikuti pendadaran berikutnya. Sebelum menyatakan nama-nama mereka yang dapat meneruskan pendadaran, maka Gajah Saraya sudah memberikan sedikit keterangan bagi mereka yang  gagal. “Bidang pengabdian tidak hanya terbatas pada bidang keprajuritan dan Pelay an Dalam. Dimanapun kalian berada, asal kalian benar”benar melakukan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh bagi kepentingan Singasari dan seisinya, maka kalian telah melakukan pengabdian tidak kalah nilainya dengan para prajurit dan Pelay an Dalam. Jika kalian bekerja bersungguh-sungguh sebagai seorang petani, atau seorang pedagang atau seorang nelayan, atau apapun yang  bermanfaat bagi banyak orang, m aka itu sudah merupakan pengabdian bagi Singasari.” Anak-anak muda itu mendengarkan dengan gelisah. Namun apa yang dikatakan oleh Gajah Saraya itu sedikit meredakan gejolak jantung anak-anak muda yang  merasa memiliki kekurangan dari kawan-kawan mereka. Baru sejenak kemudian, Gajah Sarayapun mengumumkan nama-nama mereka yang ikut mendapat kesempatan bagi tataran berikutnya. Dua orang anak muda yang tidak dapat melanjutkan pendadaran itu memang kecewa. Tetapi mereka merasa bahwa kemampuan mereka memang berada dibawah kemampuan kawan-kawannya. Sementara itu Gajah Saraya masih berkata pula ”Kalian masih muda. Pada kesempatan lain, kalian dapat mengikutinya lagi. Mungkin kalian sudah menjadi lebih siap menghadapi pendadaran mendatang.” Yang menjadi sangat kecewa dan bahkan mendendam adalah anak m uda berjambang lebat itu. Ia termasuk diantara mereka yang  namanya tidak disebutkan untuk mengikuti pendadaran berikutnya. Namun dendamnya terutama tertuju kepada Mahisa Pukat. Anak yang  bertanya itu mengangguk-angguk. Sementara anak muda yang bertubuh raksasa itu berkata selanjutnya ”Padahal aku tidak mentertawakannya.” “Nampaknya ia memang aneh” desis anak muda yang  bertanya itu ”sejak pada pendadaran yang  pertama, ia sudah menunjukkan sikapnya yang kurang wajar.” Mahisa Pukat sama sekali tidak menyahut justru karena ia pernah mempunyai persoalan dengan anak muda itu. Demikiarilah maka akhirnya anak muda itupun saling berpisah. Mereka berpencar menuju ke rumah mereka masing-masing. Di rumah Mahisa Pukat telah berceritera tentang pendadaran pada tataran kedua itu. Iapun berceritera tentang anak muda berjambang lebat itu dan sikap Gajah Saraya, Manggala Pelayan Dalam Singasari. “Aku mula-mula memang berprasangka buruk. Tetapi ternyata ia justru memberi kesempatan kepadaku” berkata Mahisa Pukat. “Mudah-mudahan ia bersikap baik. Setidak-tidaknya bersikap wajar. Juga pada pendadaran pada tataran terakhir.” “Agaknya akan ada pendadaran ketrampilan olah senjata dan naik kuda” berkata Mahisa Pukat ”para perwira Pelay an Dalam sudah mengisy aratkan, agar kami para peserta bersiapsiap untuk menempuh pendadaran ketrampilan olah senjata dan naik kuda.” “Mudah-mudahan kau dapat berhasil” berkata Mahendra. “Jika para pengawas dan mereka yang  menentukan penerimaan para calon Pelay an Dalam itu wajar, maka menurut perhitungan aku akan dapat diterima.” berkata Mahisa Pukat. “ Itulah masalahnya. Wajar atau tidak wajar. Tetapi menurut ceritamu pada dua tahap pendadaran sudah terjadi ketidakwajaran. Bahkan pada tataran pertama ketidak wajaran itu sudah mengancam jiwamu. Bahkan m ungkin cara itu jika ditrapkan pada orang lain akan benar-benar dapat menimbulkan korban jiwa.” sahut Mahendra. Dengan demikian maka Mahendra telah berpesan agar Mahisa Pukat t etap berhati-hati. Mungkin masih ada usaha untuk menggagalkannya dengan cara yang  tidak terduga sama sekali. “Ya ayah” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia menyadari bahwa hal seperti itu masih mungkin dapat terjadi. Di hari berikutnya, meskipun Mahisa Pukat memiliki ketrampilan olah senjata dan naik kuda cukup baik dan yang menurut perhitungan berada di atas kemampuan anak-anak muda yang lain, tetapi Mahisa Pukatpun memenuhi anjuran para perwira Pelayanan Dalam. Mahisa Pukatpun telah membiasakan diri lagi berkuda berkeliling pada rumput dipinggir Kotaraja bersama dengan ayahnya. Mahisa Pukatpun berlatih mempergunakan senjata sambil dipunggung kuda. Dengan melarikan kudanya, Mahisa Pukat melemparkan lembing kesa saran yang telah disiapkan. Seonggok batang padi kering yang  diikat pada batang bambu yang  dipancangkan di pinggir padang rumput itu. Sambil melarikan kudanya, maka Mahisa Pukat berusaha mengenai sa sarannya setinggi orang itu tepat pada bagian yang  dianggapnya sebagai dadanya. “Sasaran itu adalah sasaran yang diam” b erkata Mahendra ”jika sasarannya orang yang sebenarnya, maka sa saran itu dapat bergerak.” Tetapi Mahisa Pukat yang  sudah sampai pada tataran puncak dalam ilmu kanuragan itu sama sekali tidak mengalami kesulitan. Jika latihan-latihan itu dilakukan, baginya sekedar meny egarkan kembali ilmu yang  telah dikuasainya dengan baik itu. Demikian pula kemampuan membidik dengan anak panah. Kemampuan ilmu pedang dan bahkan cambuk, parang, tongkat dan senjata apa saja. Bahkan akar-akar dan sulur pepohonan atau cabang kay u yang  patah atau ikat kepala yang dipakainya. “Tetapi ingat Mahisa Pukat” berkata Mahendra ”kau akan memasuki lingkungan pelay anan Dalam. Kau tidak perlu meny ombongkan kemampuanmu. Kau sebaiknya hanya menunjukkan kemampuanmu secukupnya, asal kau dapat diterima menjadi pelay an dalam.” Mahisa Pukat m engangguk-angguk. Ia juga melakukannya pada pendadaran tataran pertama dan kedua. Ia tidak menunjukkan kelebihannya dalam pertandinganpertandingan. Di pertandingan ulangan ia memang agak lebih banyak mengurai ilmunya karena sikap anak muda berjambang lebat yang menyakitkan hati itu. Hari demi haripun telah dilalui. Pada hari ketiga Mahisa Pukat telah mendapat pemberitahuan dan petunjuk bagi pendadaran yang  akan diselenggarakan segera. Sebenarnyalah bahwa para peserta dituntut untuk membawa bekal kemampuan dan ketrampilan olah senjata dan berkuda. Juga kemampuan membidik dengan anak panah dan lontaran lembing. Pendadaran bagi Pelay an Dalam m emang lebih berat dari pendadaran untuk menjadi seorang prajurit. Selain jumlah Pelay an Dalam m emang hanya sedikit, sehingga kesempatan yang dapat diberikanpun menjadi sempit, Pelayan Dalam juga dituntut untuk mempunyai kemampuan dan ilmu yang  cukup karena Pelay an dalam juga bertugas untuk menjaga keselamatan istana seisiny a. Termasuk Sri Maharaja dan keluarganya. Pa da saatnya Mahisa Pukat benar-benar sudah siap. Dihari kelima sebagaimana disebut dalam pemberitahukan yang telah diterimanya, Mahisa Pukat telah berkumpul di tempat pendadaran. Masih ditempat pendadaran pada tataran kedua. Namun pendadaran akan dilakukan dihalaman belakang. Di tempat yang  lapang. Beberapa jenis perlengkapan pendadaran sudah disiapkan, termasuk beberapa ekor kuda. Malam itu para peserta masih belum tahu, apa yang harus mereka lakukan esok. Mereka belum mendapat pemberitahuan tentang urutan mereka masing-masing. Karena itu, mereka harus siap untuk melakukan apa saja yang akan diperintahkan esok pagi. Ada ampatbelas orang yang  sudah siap mengikuti pendadaran pada tahap ketiga. Agaknya pendadaran itu cukup berat. Selain menunggang kuda, juga ketrampilan mempergunakan berbagai senjata sebagaimana yang  sudah disiapkan di arena yang sudah tersedia dihalaman belakang. Seperti pendadaran yang  terdahulu maka pada hari yang  pertama itu, Manggala Pelay an Dalam m emberikan beberapa penjelasan tentang pendadaran yang bakal dilangsungkan. Dari menunggang kuda, mempergunakan senjata dan ternyata yang terakhir adalah penjajagan langsung oleh para prajurit dan Pelayan Dalam yang sudah ditunjuk atas kemampuan para peserta. Mahisa Pukat memang menjadi berdebar-debar. Ada beberapa kemungkinan dapat terjadi pada dirinya. Bukan karena ia cemas menghadapi pendadaran yang bagaimanapun bentuknya, tetapi ia menjadi cemas akan kemungkinan bahwa pendadaran itu akan berlangsung tidak sewajarnya. Sementara itu, Mahisa Pukat sudah menyatakan kepada Sasi, bahwa ia memang berniat untuk menjadi Pelay an Dalam. Jika ia gagal, maka penilaian Sasi terhadap dirinya akan dapat menjadi lain. Ternyata pada hari pertama itu belum ada pendadaran. Setelah beberapa keterangan langsung dari Gajah Saraya serta beberapa orang perwira selesai diberikan, maka beberapa orang Pelayan Dalam telah siap memberikan beberapa contoh peragaan pendadaran yang akan dilakukan esok. Ternyata seperti yang  sudah diduga oleh Mahisa Pukat, maka para peserta akan dinilai k emampuannya menunggang kuda sambil bermain dengan senjata. Beberapa batang pisang telah ditancapkan di arena. Setiap peserta sambil menunggang kuda akan menebas batang-batang pisang yang  sudah ditentukan bagi mereka masing-masing. Kemudian mereka juga diwajibkan melontarkan lembing sambil memacu kudanya lewat jalur yang  sudah ditentukan pula dengan sa saran disisi kiri dan sisi kanan jalur. Para peserta pendadaran itu menjadi berdebar-debar melihat beberapa orang Pelay an Dalam menunjukkan kemampuan mereka. Agaknya setiap Pelayan Dalam akan dituntut untuk dapat melakukannya. Meskipun tidak setangkas mereka, namun para peserta pendadaran itu harus menunjukkan bekal serta meyakinkan para prajurit dan Pelay an Dalam yang  m engamati mereka, bahwa mereka pada satu saat akan mampu pula melakukannya. Peragaan itu dilakukan sampai sedikit lewat tengah hari. Beberapa m acam peragaan dari jenis pendadaran yang  akan mulai dilakukan esok pagi. Ampatbelas orang calon Pelay an Dalam itu akan m enjalani pendadaran tidak dengan urutan yang sama. Tetapi mereka akan terbagi dalam kelompokkelompok kecil yang akan melakukan pendadaran pada urutan yang berbeda. Tetapi pada dasarnya mereka akan m enjalani semua jenis pendadaran sebagaimana sudah ditentukan. Sore hari para peserta itu sempat beristirahat sambil berbincang-bincang. Anak muda bertubuh raksasa itu berkata kepada Mahisa Pukat ”Aku sudah mencoba lagi naik kuda. Aku tidak takut terjatuh. Dan aku m emang terjatuh tidak kurang dari tiga kali. Tetapi aku tidak apa-apa. Aku tidak mati. Bahkan pingsanpun tidak. Juga tulang-tulangku tidak berpatahan.” “Nah. Bukankah kau tetap utuh dan dengan demikian maka kau tetap mempunyai harapan untuk berhasil menembus pendadaran ini?” sahut Mahisa Pukat. “Ya. Untunglah bahwa aku mengikuti petunjukmu. Jika tidak, maka aku tidak akan mempunyai harapan lagi. Aku tidak akan mampu mengikuti pendadaran khususnya jenis menunggang kuda. Apalagi sambil mempermainkan senjata.” “Kau juga sudah berlatih menebas batang pisang ?” bertanya Mahisa Pukat. “Kebetulan pamanku seorang prajurit. Ia menganjurkan agar aku melakukannya. Dan aku memang sudah melakukannya” jawab anak muda itu. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia ikut bergembira melihat wajah anak muda bertubuh raksasa itu cerah penuh harapan. Ketika malam tiba, sesudah makan malam, para peserta memang mendapat kesempatan untuk bertemu dan kembali berbincang diantara mereka. Namun suasananya sudah jauh berbeda dengan malam sebelum pendadaran pada tataran kedua berlangsung. Anak-anak muaa itu t idak saling menunjukkan kelebihan m ereka. Di pendadaran berikutnya, mereka tidak akan saling berhadapan. Tetapi mereka harus menunjukkan ketrampilan mereka dan akhirnya penilaian langsung oleh para prajurit dan Pelayan Dalam. Dalam perbincangan itu mereka justru m embicarakan apa yang kira-kira akan mereka lakukan besok. Kemungkinankemungkinan baik dan sebaliknya. Namun pada umumnya para peserta pendadaran itu nampak menjadi cemas. Apalagi setelah mereka melihat peragaan dari para prajurit dan Pelayan Dalam. Tetapi mereka yang  sudah mantap untuk memasuki lingkungan Pelay an Dalam, m emang bertekad untuk berbuat sebaik-baiknya dalam pendadaran yang  akan dimulai esok. Ketika malam menjadi semakin larut, maka anak-anak muda yang  akan mengikuti pendadaran itupun telah berada diatas pembaringan masing -masing. Tetapi beberapa diantara mereka tidak segera dapat tidur. Mereka masih saja membayangkan apa yang  akan terjadi esok. Apakah mereka akan dapat lolos dari pendadaran yang  nampaknya cukup berat itu. Tetapi akhirnya menjelang tengah malam, anak-anak muda itu sudah terlelap. Pagi-pagi benar m ereka sudah bangun. Sedikit m emanasi tubuh mereka sebelum mereka mandi dan berbenah diri. Seperti kemarin dan saat mereka mengikuti pendadaran sebelumnya, maka m erekapun segera dipersilahkan pergi ke dapur untuk makan pagi. Selanjutnya mereka mendapat kesempatan beristirahat sejenak. Anak-anak muda itu terkejut ketika mereka mendengar buny i bende. Mereka tidak segera tahu apa yang harus mereka lakukan. Tetapi beberapa orang prajurit datang kepada mereka dan mempersilahkan mereka berkumpul di halaman belakang yang cukup luas. Ternyata di halaman itu telah siap beberapa orang prajurit dan Pelayan Dalam yang  akan mengatur pendadaran yang segera akan dilakukan. Seorang perwira telah memanggil nama-nama anak-anak muda yang akan mengikuti pendadaran itu sesuai dengan urutan jeni snya. Ada diantara m ereka yang akan m elakukan pendadaran ketrampilan berkuda dan bahkan menggunakan senjata diatas punggung kuda. Tetapi ada yang akan menempuh pendadaran kemampuan bidik dengan busur dan anak panah, paser dan lembing. Bahkan bandil. Senjatayangjarang dipergunakan. Sedangkan yang lain akan dinilai langsung oleh para perwira Pelayan Dalam tentang olah kanuragan. Pa da urutan pertama, Mahisa Pukat dan dua orang yang  lain mendapat giliran mengikuti pendadaran tentang kemampuan bidik dengan busur dan anak panah serta yang lain. Ber sama beberapa orang prajurit yang akan menilai kemampuan mereka, maka sekelompok kecil itu telah dibawa ketempat yang telah dipersiapkan. Demikianlah, ketika terdengar lagi isy arat suara bende, maka pendadaran itupun segera dimulai menurut jenisny a. Mahisa Pukat memang tidak banyak m engalami kesulitan. Ia memiliki kemampuan bidik yang  cukup tinggi. Sebenarnya ia dapat jauh melampaui kemampuan kedua orang kawannya. Tetapi Mahisa Pukat tidak ingin terlalu menarik perhatian sehingga ia cukup melampaui keduanya dengan lapisan yang tidak terlalu tebal. Hari itu, Mahisa Pukat dan kedua temannya meny elesaikan pendadarannya paling cepat dari kawan-kawannya yang lain. Karena itu maka Mahisa Pukat dan kedua orang kawannya sempat melihat pendadaran tentang ketrampilan berkuda. Mereka masih sempat melihat seorang diantara para peserta yang naik diatas punggung kuda sambil membawa pedang ditangan dan tombak dengan tali pada landeannya bergantung dipunggung. Anak muda itu harus menebas dua batang pisang yang tertancam pada jarak yang tidak begitu jauh. Kemudian anak muda itu harus melarikan kudanya pada jalur yang  telah ditentukan sambil mengambil t ombak dari punggungnya dan melontarkan pada sebatang pohon pisang yang lain. Anak-anak muda serta para prajurit dan Pelay an Dalam yang menyaksikan menjadi berdebar -debar, dari seorang prajurit Mahisa Pukat mendengar bahwa anak muda yang terdahulu mampu menebas dua batang pisang. Tetapi ia terlambat mengambil tombaknya dan melontarkan sasaran. Sejenak kemudian, maka isyaratpun dibunyikan. Kuda itupun segera melompat, berlari. Dengan tangkasnya anak muda yang  berada di punggung kuda itu menebas dengan pedangnya. Batang pisang yang pertama memang terpenggal. Tetapi batang yang kedua ternyata tidak sempat putus meskipun patah. Kudanya agaknya berlari terlalu jauh dari sasaran. Namun sementara itu, anak muda itu telah menggapai tombaknya dipunggung. Ia berhasil menggenggam tangkai tombaknya meskipun tergesa-gesa. Sebenarnya ia mempunyai kesempatan untuk mengenai sasarannya. Tetapi sekali lagi ia kurang menguasai kudanya sehingga jaraknya agak t erlalu jauh. Ketika tombak itu dilepaskan, ternyata tidak mengenai sa saran. Meskipun demikian yang menonton pendadaran itu bertepuk tangan. Sementara anak muda itu menjadi berdebardebar dan Bahkan c emas. Apakah dengan demikian ia dapat dianggap berhasil dalam pendadaran itu. Hari yang  pertama, lewat sedikit tengah hari pendadaran itupun telah selesai untuk dilanjutkan keesokan harinya dengan urutan yang  berbeda. Dihari berikutnya Mahisa Pukat mendapat giliran untuk dinilai langsung oleh para prajurit atau Pelayan Dalam yang bertugas. Sementara itu anak muda yang bertubuh raksasa itu mendapat giliran untuk menjalani pendadaran kemampuan bidiknya. Dengan busur dan anak panah, lembing dan bahkan bandil seperti yang  dilakukan Mahisa Pukat dihari pertama itu. Seperti hari pertama, maka dihari kedua itupun anak-anak muda peserta pendadaran bangun pagi-pagi. Sedikit pemanasan kemudian mandi dan makan pagi. Ketika matahari mulai naik, maka pendadaran dihari kedua itupun segera dimulai. Yang mengejutkan dan tidak dilakukan pada hari yang  pertama adalah, Manggala Pelayan Dalam, Gajah Saraya sendiri akan melakukan penilaian langsung terhadap anakanak muda yang mengikuti pendadaran itu dalam sebuah pertandingan. Dalam pada itu, Mahisa Pukat masih berdiri termangumangu diarena. Ia tidak tahu apa yang  harus dilakukannya. Sementara itu, diarena yang  lain, pertandingan masih berlangsung antara para prajurit dan Pelay an Dalam yang bertugas dengan anak-anak muda yang sedang mengalami pendadaran. Seorang prajurit kemudian telah mendekati Mahisa Pukat sambil berkata ”Pertandingan sudah selesai. Kau dapat meninggalkan arena.” Mahisa Pukat termangu-mangu. Dipandanginya prajurit itu sejenak. Kemudian beberapa orang yang masih berada disekitar arena. Namun Gajah Saraya dan Arya Kuda Cemani telah m elangkah meninggalkan arena pertandingan. Mereka seolah-olah tidak mempedulikan lagi Mahisa Pukat yang termangu-mangu. Akhirnya Mahisa Pukatpun meninggalkan arena itu pula. Seorang prajurit yang  pernah bertugas menjaga jalur jalan bagi para calon pada pendadaran tataran pertama yang melihat Mahisa Pukat menangkap benda yang  dibungkus dengan kain putih yang  dipergunakan untuk mengganggu anak-anak muda yang sedang menelusuri jalur pendadaran dimalam hari, mendekatinya sambil berdesis ”Sejak kau menelusuri jalan pada pendadaranmu tataran pertama aku sudah melihat kelebihanmu.” “Aku tidak mempunyai kelebihan apa-apa.” jawab Mahisa Pukat. “Tentu ada. Manggala Pelay an Dalam itu memerlukan untuk melakukan pendadaran langsung atasmu, tentu ada sebabnya. Justru karena ia melihat kelebihanmu maka ia merasa perlu untuk meyakinkannya. Hal itu hanya dapat dilakukan dengan cara yang dipilihnya itu. Nampaknya ia menjadi puas karenanya.” “Ah, aku kira bukan karena itu. Bahkan mungkin Manggala Gajah Saraya merasa kecewa setelah melakukan pendadaran langsung atasku tadi.” desis Mahisa Pukat. Tetapi prajurit itu tertawa. Katanya ”Tidak ada seorangpun diantara para calon. Bahkan para prajurit dan Pelay an Dalam yang memiliki landasan kemampuan ilmu sebagaimana kau. Kau tidak usah merasa segan. Bukankah kami terbiasa menilai kemampuan para calon prajurit atau Pelay an Dalam. Aku bertugas seperti ini bukan untuk yang pertama kali. Tetapi baru pertama kali aku m elihat seorang anak muda m emiliki kemampuan setinggi kemampuanmu. Karena itu, maka Manggala Pelay an Dalam itu tertarik untuk turun sendiri ke arena.” Mahisa Pukat m enarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Sementara itu, pertandingan yang lain masih b erlangsung. Demikian pula pendadaran pada jenis yang  lain. Kemampuan bidik dan kemampuan naik kuda serta kemampuan mempergunakan berbagai jenis senjata. Mahisa Pukat yang  masih belum mey akini apa yang  dikatakan oleh Manggala Pelayan Dalam itupun kemudian telah melangkah mendekati arena-arena pertandingan. Dilihatnya beberapa orang anak muda masih bertanding. Para prajurit dan Pelayan Dalam yang  melakukan pendadaran langsung itu ternyata cukup berhati-hati. Mereka berusaha untuk memancing kemampuan tertinggi dari para calon Pelay an Dalam itu, agar m ereka dapat menilai, apakah anakanak muda itu memiliki landasan dasar yang cukup bagi seorang Pelayan Dalam. Beberapa orang prajurit yang semula melihat pertandingan antara Mahisa Pukat dengan Manggala Pelayan dalam yang kemudian melihat pertandingan yang  lain, dengan serta merta menilai bahwa ilmu yang dimiliki Mahisa Pukat jauh berada di atas kemampuan mereka. Namun para prajurit itu masih m enunggu. Besok Mahisa Pukat akan melakukan pendadaran jenis kemampuan berkuda dan dihari berikutnya kemampuan mempergunakan segala jenis senjata dan bahkan senjata dengan benda-benda seadanya. Mahisa Pukat sendiri juga tidak begitu tertarik melihat pertandingan yang masih berlangsung. Hampir diluar kehendaknya maka Mahisa Pukatpun berjalan menyusuri tempat pendadaran yang luas itu. Disudut yang lain, beberapa orang anak muda nampaknya sudah m endekati peny elesaian. Mereka sedang menempuh pendadaran kemampuan mempergunakan senjata bidik. Termasuk lembing dan bandil. Dibagian lain, beberapa orang menjalani pendadaran kemampuan mereka berkuda dan mempergunakan senjata selagi memacu kuda. Mahisa Pukat terhenti dipinggir arena. Dua orang prajurit mendekatinya. Seorang diantara mereka berdesis ” Jenis pendadaran yang paling sulit. Mudahmudahan kau mampu m elakukannya, karena pada jenis yang lain, kau memiliki kelebihan.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Tidak ada kelebihan apa-apa.” Kedua orang prajurit itu tertawa. Namun perhatian merekapun kemudian sepenuhnya tertuju ke arena. Seorang anak muda dengan tangkasnya memacu kudanya. Ditangan kanannya tergenggam sebilah pedang yang  tajam. Sebatang pohon pisang ditebasnya sehingga putus dibatas setinggi leher seseorang yang  tubuhnya sedang. Kemudian batang pisang yang  keduapun ditebasny a putus. Namun kemudian, ternyata ia agak terlambat menggapai tombaknya yang tersangkut dipunggungnya. Ketika ia siap untuk melemparkan tombaknya, sasarannya sudah lewat meskipun baru satu dua langkah. Tetapi anak muda itu m elemparkan tombaknya pula dan tertancap ditanah selangkah dari sa saran. Mahisa Pukat mengamati pendadaran ketangkasan berkuda dan olah senjata itu sambil mengangguk-angguk kecil. Hasil pengamatannya sejak hari pertama memberi isyarat kepadanya, bahwa kebanyakan anak-anak muda yang  sedang menjalani pendadaran dalam jeni s ketangkasan berkuda dan olah senjata itu terlambat meluncurkan tombaknya “Harus ada cara yang dapat mengatasi kelambatan itu” berkata Mahisa Pukat didalam hatinya. ”Penempatan tombak itu atau sedikit memperlambat lari kudanya.” Sambil merenungi kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan apabila esok ia mendapat giliran melakukannya, Mahisa Pukat masih juga merenungi kata-kata Manggala Gajah Saraya, bahwa ia akan dapat diangkat menjadi pemimpin kelompok dari para Pelayan Dalam yang  baru yang nanti akan diangkat dari antara mereka yang  mengikuti pendadaran itu. “Apakah aku tidak salah dengar?” desis Mahisa Pukat didalam hatinya. Demikianlah maka Mahisa Pukatpun telah meninggalkan arena pendadaran ketrampilan berkuda itu. Iapun kemudian berdiri disebelah arena tempat anak-anak muda yang mengikuti pendadaran kemampuan m empergunakan senjata apa saja. Ia m elihat beberapa orang anak muda itu dengan tangkasnya memperbainkan berbagai macam senjata. Namun yang sebenarnya bagi Mahisa Pukat sama sekali tidak mengherankannya. Ia mampu berbuat jauh lebih baik dari mereka. Namun seperti pesan ayahnya, bahwa ia tidak perlu menunjukkan kemampuannya berlebih-lebihan. Baginya cukup menunjukkan kemampuannya yang  pantas bagi seorang Pelay an Dalam. Jika ia terlanjur menunjukkan tingkat kemampuannya yang tinggi, justru karena ia terpancing oleh Manggala Pelayan Dalam itu sendiri dalam pendadaran langsung yang  khusus dilakukan sendiri oleh Gajah Saraya. Namun Mahisa Pukat itu bertanya pula didalam hatinya ”Seandainya aku besok gagal dalam pendadaran ketrampilan berkuda, apakah pernyataan Manggala Pelayan Dalam itu tetap berlaku?” Tetapi Mahisa Pukat itupun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis perlahan ”Apapun yang  akan dibebankan kepundakku, asal aku dapat diterima menjadi Pelay an Dalam. Sasi sudah mengharapkannya justru bagi masa depannya pula.” Dengan langkah satu-satu Mahisa Pukat menyusuri arena demi arena. Namun penglihatannya seakan-akan hanya mengambang, meskipun ada juga satu dua hal yang menarik perhatiannya. Sedikit lewat tengah hari, maka pendadaran hari itu sudah selesai. Kelompok-kelompok kecil yang tersebar itupun telah membenahi alat-alat yang dipergunakan untuk dipergunakan lagi dikeesokan harinya. Ketika anak-anak muda itu beristirahat, maka mereka sempat pula saling berbincang. Mereka telah berbicara tentang pendadaran yang  baru saja mereka lakukan. Sebagian m erasa telah berhasil melakukan dengan baik. Namun yang lain menyesali dirinya sendiri karena yang  dilakukannya dianggapnya kurang memadai. Namun dalam pada itu Mahisa Pukat lebih banyak diam. Ia hanya mendengarkan saja pembicaraan kawan-kawannya. Bahkan kadang-kadang ia justru duduk merenung memandang kekejauhan. Kawan-kawannya memang tidak sempat melihat apa yang  dilakukannya di arena. Anak muda yang bertubuh raksasa itu mendekatinya sambil bertanya ”Kenapa kau hanya merenung sa ja? Apakah kau kurang berhasil hari ini?” “Ya” jawab Mahisa Pukat singkat. “Seseorang melihat kau memasuki arena dalam pendadaran langsung, bahkan dilakukan sendiri oleh Manggala Gajah Saraya.” “Ya” jawab Mahisa Pukat. “Bagaimana hasilnya? Sayang yang melihat kau memasuki arena pertandingan dengan Manggala Gajah Saraya sedang dalam pendadaran juga sehingga tidak dapat melihat apa yang kau lakukan menghadapi Manggala Gajah Saraya. Sedangkan para prajurit dan Pelayan Dalam yang menungguimu tidak mau mengatakan selengkapnya tentang pendadaran yang  kau lakukan.” “Kemampuanmu yang  tinggi agaknya telah menarik perhatiannya” berkata anak muda bertubuh raksasa itu. “Atau sebalikny a” jawab Mahisa Pukat. “Kau selalu merendahkan dirimu” berkata anak muda itu. “Aku tidak perlu merendahkan diriku karena tataranku memang m asih terlalu rendah ”jawab Mahisa Pukat. Tetapi katanya kemudian ”Meskipun demikian, aku memang ingin diterima dalam lingkungan Pelay an Dalam. Aku m emerlukan pekerjaan itu. Bukan saja sebagai satu pengabdian, tetapi juga penting bagi masa depanku sendiri.” “Ya. Aku juga berharap demikian” jawab anak muda bertubuh raksasa itu ”karena itu, aku ikut pendadaran ini dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya.” Sementara itu, maka seorang petugas telah mempersilahkan anak-anak muda itu untuk makan didapur dan kemudian beristirahat. Besok mereka masih akan turun kearena yang lain sesuai dengan urutan tugas mereka masing -masing dalam pendadaran itu. Setelah makan, maka anak-anak muda itu kembali mendapat kesempatan untuk beri stirahat. Di sore hari mereka tidak diwajibkan untuk mengikuti pendadaran sebagaimana pada tataran sebelumnya. Meskipun demikian, maka pendadaran pada tataran terakhir itu bagi mereka yang mengikutinya merasa cukup berat. Seperti hari-hari sebelumnya, m aka pada hari berikutnya, anak-anak muda itu bangun pagi-pagi. Sedikit memanasi tubuh mereka dengan melakukan gerakan-gerakan ringan, kemudian mandi dan makan pagi. Hari itu Mahisa Pukat mendapat giliran menempuh pendadaran dalam hal ketrampilan naik kuda. Seperti kawankawannya yang  telah melakukan sebelumnya, maka iapun harus menunjukkan ketrampilan berkuda, menguasai kuda dan kemudian mempergunakan senjata sambil naik kuda. Ketika Mahisa Pukat mendapat giliran untuk menempuh pendadaran maka para prajurit dan Pelayan Dalam yang kebetulan tidak mempunyai tugas tertentu telah m emerlukan untuk menyaksikannya. Mereka m emang menganggap bahwa Mahisa Pukat m emiliki kelebihan dari anak-anak muda yang lain. Tetapi Mahisa Pukat telah berniat untuk tidak menunjukkan kelebihannya. Ia akan m elakukan sebagaimana dilakukan oleh anak-anak muda yang  lain. Karena itu, demikian ia meloncat naik kepunggung kuda, maka ditempuhnya pendadaran itu tanpa memberikan kesan yang berlebihan. Ia berbuat sebagaimana anak-anak muda yang lain berbuat. Memutar kudanya diarena, melarikannya pada jarak tertentu, berbelok kemudian menghentikannya dengan tiba-tiba sehingga kudanya meringkik sambil berdiri tegak bertumpu pada kaki belakangnya. Semua yang  dilakukan telah dilakukan oleh kawan-kawannya yang  lain. Terakhir Mahisa Pukat mendapat giliran untuk berpacu diatas punggung kuda sambil bermain senjata. Dua batang pisang telah disiapkan seperti anak-anak muda yang mendahuluinya menempuh pendadaran ketrampilan berkuda. Selain itu juga sebatang bambu yang dibalut dengan onggokan jerami kering sebagai sa saran lontaran tombak. Mahisa Pukat yang telah melihat dan mempelajari berbagai kemungkinan dari kawan-kawannya yang terdahulu, berusaha untuk tidak membuat kesalahan yang  sama tanpa menimbulkan kekaguman yang  berlebihan. Kesannya m asih sa ja dalam batas kewajaran. Demikian isy arat diberikan, maka Mahisa Pukatpun menyentuh perut kudanya dengan tumitnya, sehingga kudanya berlari cepat melalui jalur yang  sudah ditentukan. Dengan tangkasnya Mahisa Pukat menebas kedua batang pohon pisang. Namun kemudian ia sedikit memperlambat kudanya tanpa menarik perhatian, justru saat kudanya berputar kearah batang bambu yang  dibalut dengan onggokan jerami agar tombak yang  dilontarkan dapat menancap. Pa da saat yang bersamaan, Mahisa Pukat meraih tombak yang tergantung pada seutas tali dipunggungnya. Ternyata Mahisa Pukat tidak terlambat. Kudanya yang  berlari agak jauh dari batang bambu itu telah diarahkan lebih mendekat. Kecuali sa sarannya menjadi lebih mudah digapai, juga ia mendapat kelebihan waktu meskipun hanya sekejap. Dengan tangkasnya Mahisa Pukat tidak melontarkan tombaknya kesasaran, tetapi seakan-akan ia telah menusukkan tombaknya langsung ke songgakan jerami yang membungkus patok bambu itu. Ternyata Mahisa Pukat berhasil. Tombaknya telah tertancap pada sasaran. Dengan serta merta para prajurit dan Pelay an Dalam yang  menyaksikan telah bertepuk tangan, sehingga beberapa orang anak muda yang sedang menjalani pendadaran diarena yang lain telah berpaling. Ketika mereka melihat Mahisa Pukat masih dipunggung kuda, maka merekapun menganggukangguk kecil. Bagi mereka dan para prajurit dan Pelay an Dalam m emang tidak ada orang yang  lain yang pantas untuk mendapat pujian lebih dari yang lain kecuali Mahisa Pukat. Demikianlah maka pendadaran itupun telah dilanjutkan dengan anak muda berikutnya. Sementara yang  lain telah mengikuti pendadaran yang  lain lagi. MahisaPukatpun telah beralih diarena yang  lain untuk melakukan pendadaran kemampuan mempergunakan senjata apa saja. Bahkan dengan alat apapun yang diketemukan. Ternyata sekali lagi Mahisa Pukat telah dikagumi oleh para prajurit dan Pelay an Dalam yang menungguinya meskipun mereka tidak memujinya dengan serta merta. Lewat tengah hari, maka pendadaran itupun telah dapat diselesaikan. Semua anak muda yang  m engikuti pendadaran pada tataran terakhir itu telah meny elesaikan kewajiban mereka. Semua jenis yang harus ditempuh dalam pendadaran itu telah ditempuh, sehingga m ereka tinggal m enunggu hasil dari pendadaran itu. Sepuluh orang diantara mereka akan diterima menjadi calon Pelayan Dalam di istana Singasari. Tetapi ternyata pendadaran itu masih belum selesai. Diluar rencana maka Manggala Pelayan Dalam telah mengumumkan, bahwa esok pagi masih ada satu lagi pendadaran. Ketrampilan mempergunakan senjata diatas punggung kuda. Mahisa Pukat m enjadi sangat terkejut ketika ia mendengar pengumuman bahwa pendadaran itu, khusus ditujukan bagi Mahisa Pukat saja dan akan dilakukan langsung oleh Manggala Pelayan Dalam, Gajah Saraya. Semua anak muda yang ikut dalam pendadaran itu saling bertanya diantara mereka, kenapa akan dilakukan pendadaran khusus bagi Mahisa Pukat. “Apakah Mahisa Pukat itu meragukan sehingga harus mengalami pendadaran ulang sebagaimana pada pendadaran tataran kedua? Sehingga justru Manggala Pelayan Dalam sendiri akan melakukan pendadaran khusus itu?” bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu. Tetapi tidak seorangpun yang dapat menjawab. Bahkan para prajurit dan Pelayan Dalampun tidak tahu kenapa tibatiba saja Manggala Pelay an Dalam akan melakukan pendadaran khusus itu. Mahisa Pukat sendiri m enjadi termangu-mangu. Ia tidak tahu kenapa hal seperti itu dapat t erjadi. Namun yang pertama-tama dipikirkannya adalah bahwa Manggala Pelay an Dalam itu mempunyai rencana khusus baginya. Mahisa Pukat memang meragukan pernyataannya bahwa Mahisa Pukat akan diangkat m enjadi pemimpin kelompok Pelayan Dalam. Tetapi yang terpikir kemudian adalah itu hanya sekedar alasan semata-mata. Prasangka buruknya tiba -tiba saja t elah timbul kembali. Dalam pendadaran khusus itu Gajah Saraya akan menjatuhkannya sehingga akan nampak bahwa ia tidak pantas untuk menjadi seorang Pelayan Dalam. “Jika ia berniat demikian, maka aku justru tidak akan surut selangkahpun. Perang tandingpun akan aku hadapi. Meskipun aku kemudian tidak akan diangkat menjadi Pelayan Dalam, namun namaku tidak akan tercemar karenanya” tekad yang pernah timbul didalam dadanya itupun tiba -tiba pula telah muncul kembali. Hari itu, ketika saatnya anak-anak muda itu beristirahat, maka Mahisa Pukat menjadi semakin diam. Beberapa orang memang menemuinya dan bertanya kenapa ia harus menjalani pendadaran khusus. Namun Mahisa Pukat selalu menjawab sambil menggeleng ”Aku tidak tahu.” “Apakah hasil yang kau dapat hari ini meragukan?” bertanya anak muda yang lain. “Entahlah. Tetapi aku juga merasa heran bahwa aku harus melakukan pendadaran ulang. Ketika aku mendalaminya pada tataran kedua, aku tahu persis ala sannya. Tetapi sekarang tidak sama sekali,” jawab Mahisa Pukat. Kawan-kawannya hanya dapat mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak bertanya lagi, karena merekapun mengetahui bahwa Mahisa Pukat sendiri menjadi bingung karenanya. Manggala Gajah Saraya memang tidak memberitahukan kenapa hal itu harus dilakukan. Karena itu maka para prajurit yang lain sama sekali tidak dapat memberikan keterangan apapun dengan rencana itu.. Tetapi hal itu justru sangat m enarik perhatian. Bukan saja anak-anak muda yang mengikuti pendadaran, tetapi juga para prajurit dan Pelayan Dalam yang  telah ditunjuk untuk ikut serta meny elenggarakan pendadaran itu. Mahisa Pukat sendiri memang m enjadi gelisah. Ia merasa seakan-akan setiap mata m emandang kearahnya. Baik anakanak muda yang meny ertai pendadaran itu, maupun para prajurit dan Pelay an Dalam. Sehingga rasa -rasanya ia menjadi pusat perhatian dari semua orang yang ada disekitarnya. Namun ketika malam turun dan Mahisa Pukat telah berada di pembaringannya, maka sulit pula baginya untuk segera memejamkan matanya. Ia masih saja dibayang i oleh berbagai macam pertanyaan tentang pendadaran khusus yang akan dilakukannya esok. Demikianlah, maka pagi-pagi semua anak-anak muda peserta pendadaran itupun telah siap seperti hari -hari sebelumnya. Ketika matahari memanjat langit, semuanya sudah berkumpul di halaman belakang yang  luas itu. Yang ter sedia hanyalah dua ekor kuda yang tegar dan berbagai jeni s senjata. Manggala Gajah Saraya telah memerintahkan untuk m enempatkan beberapa jenis senjata itu pada batang-batang pisang yang  ditancapkan dibeberapa tempat diarena yang  luas itu. Tombak pendek, pedang, parang, trisula, canggah, peri sai dan bahkan cambuk dan rantai. Mahisa Pukat m emang m enjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu m aksud Manggala Pelayan Dalam itu. Apakah dengan demikian Manggala itu ingin meny ingkirkannya dengan caranya atau bahkan membunuhnya sama sekali. Untuk menghilangkan kesan dan beban tanggung jawab, maka hal itu dilakukannya justru ditempat terbuka. Seakan-akan ia tidak sengaja melakukannya. Ketika kemudian Gajah Saraya memasuki arena, maka suasana memang m enjadi tegang. Mahisa Pukatpun menjadi berdebar-debar. Tanpa isy arat bende atau tanda -tanda lainnya, maka Gajah Saraya itu langsung m emanggil Mahisa Pukat. “Kita akan segera mulai” berkata Gajah Saraya ”kaudapat memilih kuda yang  mana yang  akan kau pergunakan.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sambil mengangguk hormat ia menyahut ”Aku dapat mempergunakan yang manapun yang diperuntukkan bagiku.” “Bagus” berkata Gajah Saraya ”jika demikian maka kita akan segera dapat mulai.” Namun Mahisa Pukat masih bertanya ”Apa yang  harus aku lakukan? Aku tidak mengerti peraturan yang  dipergunakan dalam pendadaran kali ini.” Gajah Saraya mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil menjawab ”Tanpa ketentuan apapun yang diberitahukan kepadamu, melihat apa yang  ada di arena ini kau tentu sudah tahu, apa yang harus kau kerjakan.” Mahisa Pukat memandang berkeliling. Ia hanya melihat kuda dan senjata-senajta yang tertancap di batang-batang pisang yang  dipancang dipinggir-pinggir arena. “Marilah” berkata Gajah Saraya yang nampaknya menjadi tidak sabar. Mahisa Pukat memang tidak dapat m enunggu lebih lama. Ketika kemudian Gajah Saraya meloncat naik ke punggung kuda, maka Mahisa Pukatpun telah meloncat pula ke punggung kuda yang lain. Demikian Mahisa Pukat duduk, maka Gajah Saraya itu mendekatinya sambil berkata perlahan ”Aku memerlukan bantuanmu. Kau harus melawan sebaik-baiknya. Kau harus membuktikan bahwa kau adalah calon yang terbaik, yang pantas untuk menjadi pemimpin kelompok dari anak-anak muda yang  akan diangkat menjadi Pelay an Dalam. Bahkan kau harus menunjukkan bahwa kau lebih baik dari Pelayan Dalam yang ada, agar mereka tidak dapat menjadi iri hati, bahwa yang diangkat menjadi pemimpin kelompok adalah orang baru. Bukan salah seorang dari m ereka yang telah lebih lama menjadi Pelay an Dalam.” Mahisa Pukat tanpa disadarinya telah menangguk men-giakan. Namun sebenarnyalah ia memang raguragu. Ia m asih saja berprasangka buruk terhadap Gajah Saraya. Jika ia benar-benar melawannya, maka jika terjadi sesuatu atas dirinya, maka itu adalah kecelakaan. Tetapi Mahisa Pukat memang tidak dapat berpikir panjang. Gajah Saraya itupun kemudian berkata ”Ambil senjatamu. Aku akan mengambil senjataku.” Mahisa Pukat tidak mempunyai kesempatan untuk bertanya. Ia melihat Gajah Saraya telah memacu kudanya untuk memungut senjata yang  akan dipergunakannya. Ternyata Mahisa Pukat pun tidak kalah tangkasnya dari manggala pelayan dalam. Demikian Gajah Saraya mengambil sebatang tombak pendek, maka Mahisa Pukat sudah menggenggam sebatang pedang. Memang timbul niatnya untuk mengambil senjata yang  lain. Tetapi Gajah Saraya telah memutar kudanya untuk sekali lagi menyerang. Sejenak k emudian maka Mahisa Pukat benar-benar harus bertahan dengan duduk dipunggung kuda. Gajah Saraya menyerangnya dengan tangkas dan kuat. Untuk beberapa saat Mahisa Pukat bertahan, tetapi terasa pedangnya mulai goy ah. Ia sadar, bahwa sejenak kemudian pedangnya tentu akan terlepas dari tangkainya. Untuk sementara Mahisa Pukat memang masih dapat bertahan. Tetapi ketika terjadi benturan yang keras, maka pedangnya benar-benar terlepas dari tangkainya dan jatuh beberapa langkah dari kudanya. Mahisa Pukat tidak akan mungkin memungut pedangnya yang sama saja dengan patah itu. Yang ada di tangannya tinggal hulunya saja. Ju stru pada saat yang  demikian Gajah Saraya telah menyerangnya. Ujung tombaknya benar-benar m engarah ke jantungnya. Mahisa Pukat tidak sempat berbuat banyak. Ujung tombak digenggaman Gajah Saraya itu seolah-olah telah meluncur dengan cepatnya mematuk ke arah jantung. Anak-anak muda yang  menyaksikan pendadaran itu menjadi berdebar -debar. Bahkan para prajurit dan Pelay an Dalam pun seakan-akan telah menahan nafasnya. Pendadaran itu terlalu berbahaya bagi seorang calon Pelayan Dalam yang masih muda itu. Betapapun ia memiliki kelebihan, namun kemudaannya tentu masih belum memberinya kesempatan untuk mendapatkan pengalaman yang cukup. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun telah melakukannya pula. Karena ia terbiasa bersenjata pedang, maka iapun telah memacu kudanya untuk mengambil sebatang pedang yang tertancap disebatang pohon pisang, sementara Gajah Saraya telah mengambil sebatang tombak pendek. Ternyata Mahisa Pukatpun tidak kalah tangkasnya dari Manggala Pelay an Dalam. Demikian Gajah Saraya mengambil sebatang tombak pendek, maka Mahisa Pukat sudah menggenggam sebatang pedang. Tetapi Mahisa Pukat terkejut. Ternyata pedang itu terlalu ringan, sehingga Mahisa Pukatpun menduga bahwa bahan yang dibuat pedang itupun bukan bahan yang baik. Tidak seperti pedang yang ada di padepokan. Meskipun pedang itu ujudnya besar dan panjang tetapi bobotnya terhitung ringan, namun terasa bahwa pedang itu kokoh dan kuat. Tetapi sekali lagi Mahisa Pukat tidak mendapat kesempatan. Gajah Saraya telah meny erangnya. Kudanya berpacu dengan tombak yang  teracu mengarah ke dadanya. Mahisa Pukat memang tidak dapat berbuat lain. Jika ia membiarkan ujung tombak itu mengoyak dadanya, m aka ia benar-benar akan mati di arena pendadaran itu. Karena itu, maka kudanyapun telah bergerak pula, justru meny ongsong kuda Gajah Saraya. Demikianlah ketika kedua ekor kuda itu bertemu, maka gajah Saraya benar-benar telah menyerang Mahisa Pukat. Tetapi dengan tangkasny a, Mahisa Pukat menangkis serangan itu. Nalurinya telah menggerakkan pedangnya untuk melindungi jiwanya. Tetapi ketika terjadi benturan, maka Mahisa Pukat segera merasa, bahwa pedangnya memang pedang yang tidak t erlalu kuat. Sementara itu, Gajah Saraya telah melarikan kudanya mendekati Mahisa Pukat yang kehilangan senjatanya. Namun ia masih menggenggam hulu pedang yang  sudah kehilangan daunnya. Namun demikian Gajah Saraya mendekat, maka tiba -tiba saja Mahisa Pukat telah m elemparkan hulu pedang itu. Tidak mengarah kepada Gajah Saraya yang berada dipunggung kudanya, tetapi justru kearah kuda itu sendiri. Gajah Saraya tidak sempat menangkis lontaran hulu pedang itu. Karena itu ketika hulu pedang itu mengenai leher kuda Manggala Pelay an Dalam itu dengan kekuatan yang sangat besar, maka kuda itupun terkejut sehingga melonjak tinggi berdiri dikedua kaki belakangnya. Gajah Saraya memang terkejut. Ia tidak sempat mempermainkan tombak pendekny a Tetapi ia harus dengan cepat menguasai kudanya yang  meringkik dengan gelisah. Mahisa Pukat mempergunakan kesempatan itu sebaikbaiknya Dengan cepat Mahisa Pukat melarikan kudanya menepi. Meny ambar sebuah senjata yang  terdekat. Parang. Meskipun parang itu bukan senjata yang terbaik baginya, tetapi ia tidak sempat memungut senjata yang lain yang tertancap pada batang-batang pisang yang  berjajar ditepi arena, sementara Gajah Saraya sudah menguasai kudanya dan mulai meny erang lagi. Ternyata parang itu justru lebih kuat dari pedang yang  telah terlepas dari tangkainya itu. Karena itu, maka dengan tangkasnya Mahisa Pukat telah bertanding melawan Gajah Saraya. Tombak pendek ditangan Manggala Pelayan Dalam itu menyambar-ny ambar dengan cepatnya. Kemudian berputar dengan cepat seperti baling-bahng. Tetapi Mahisa Pukatpun tangkas pula mempermainkan parangnya Ia menutup setiap kemungkinan ujung tombak Gajah Saraya menyentuh tubuhnya, sementarantu tangannya yang lain dengan tangkas pula mempermainkan kendali kudanya. Dengan demikian maka pertandingan itu menjadi sema kin lama semakin menegangkan. Keduanya mampu bergerak cepat dan tangkas. Parang Mahisa Pukat m emang lebih baik dari pedang yang  dipergunakan sebelumnya meskipun parang itu terlalu pendek baginya. Tetapi semakin lama, parang itupun mulai m enjadi g oy ah seperti senjatanya yang  terdahulu. Dengan demikian Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Jika parangnya juga patah seperti pedangnya, maka ia harus mendapatkan senjata yang lain yang  harus dipungutnya pula dari batang-batang pisang itu. Tetapi Mahisa Pukat yang  sudah berpengalaman itu berusaha untuk memancing lawannya bertempur semakin menepi. Selagi parangnya masih sempat dipergunakannya. Namun betapapun Mahisa Pukat menahan diri, tetapi kesabarannya memang terbatas. Dua kali senjatanya tidak mampu bertahan terhadap tombak pendek Gajah Saraya. Bukan karena kemampuannya yang  tidak memadai. Tetapi karena senjatanyalah yang tidak dapat mendukung kemampuannya. Menurut dugaan Mahisa Pukat, maka senjata-senjata yang  lainpun tentu tidak akan dapat dipergunakannya dengan baik. Kapak, trisula, canggah dan t ombak yang tertancap di batang pisang itu tentu akan dengan mudah patah atau retak atau tajamnya yang  terlepas. Karena itu, maka yang  menarik perhatian Mahisa Pukat adalah justru sebatang tongkat kayu yang  tidak t erlalu panjang. Kayu yang  nampaknya potongan sebuah cabang pohon jambu keluthuk. Tongkat kayu yang masih belum kering benar itu agaknya akan dapat dipergunakan dengan lebih baik daripada senjata-senjata lain yang ter sedia, karena agaknya batang kayu jambu keluthuk itu langsung dipotong dari dahannya. Seandainya kayu itu sudah dikerat dan patah, maka ia masih akan dapat mempergunakan potonganpotongannya untuk melawan tombak Gajah Saraya. Karena itu, ketika Mahisa Pukat merasa bahwa parang ditangannya itu m ulai goyang, iapun segera berusaha untuk mendekati sebatang kayu jam bu keluthuk yang disandarkan pada sebatang pohon pisang. Namun parang itu sudah m enjadi semakin goyah. Karena itu, maka dengan mengerahkan kemampuannya Mahisa Pukat berusaha menusuk menyusup pertahanan tombak Gajah Saraya. Serangan itu memang bukan serangan yang  berbahaya. Tetapi Gajah Saraya harus menangkis serangan itu sambil menguasai kudanya. Dengan tangkasnya, maka Mahisa Pukatpun berputar. Cepat sekali. Keduanyapun kemudian berlari menuju ke batang pisang dipinggir arena. Dengan tangkasnya Mahisa Pukat menyambar t ongkat itu dan kemudian melarikan kudanya berputar mengambil jarak. Gajah Saraya memang memburunya. Namun sambil melarikan kudanya Mahisa Pukat sempat melihat tongkatnya yang agaknya memang utuh. Tetapi tidak lebih dari sebatang kayu biasa. Demikianlah, maka sejenak kemudian Mahisa Pukat justru menjadi semakin mantap. Ia sekali lagi memutar kudanya langsung menghadapi kuda Gajah Saraya. Sementara itu Gajah Saraya sudah menjadi semakin dekat dengan ujung tombaknya mengarah kedada Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Pukat sudah menjadi mantap. Ia menggerakkan kudanya berkisar dari garis semula. Sedikit sa ja. Tetapi arah kuda Gajah Saraya memang berubah. Dengan demikian maka ujung tombak Gajah Sarayapun telah berubah bergeser pula dari sa saran. Dengan cepat Gajah Saraya harus menguasai kudanya untuk mendapatkan arah sesuai dengan berkisarnya kuda Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Pukat sudah siap menghadapi segala kemungkinan dengan tongkat kayu jambu keluthuknya. Ketika ujung tombak Gajah Saraya menyambarnya, dengan tangkasnya ia menangkis, kemudian memutar tongkatnya sehingga pangkalnya justru menusuk kearah lambung Gajah Saraya. Mahisa Pukat memang berniat untuk benar-benar memberikan perlawanan sebagai mana diharapkan oleh Gajah Saraya sendiri, sementara itu kesabarannyapun semakin larut pula justru karena dua kali ia telah mendapatkan senjata yang nampaknya dengan sengaja telah dibuat cacat. Sementara itu serangan-serangan Gajah Saraya rasa -rasanya benar-benar berbahaya baginya. Tetapi ketika Mahisa Pukat benar-benar mendapat kesempatan, ternyata ia tidak dapat benar-benar menyakiti Manggala Pelayan Dalam itu. Tongkatnya memang mampu menembus pertahanan Gajah Saraya. Tetapi Mahisa Pukat justru menahannya, sehingga sentuhan tongkatnya pada lambung Gajah Saraya tidak menggoyahkan daya tahannya. Namun Gajah Saraya sendiri tidak ingkar. Ia merasa lambungnya tersentuh pangkal tongkat Mahisa Pukat. Demikianlah sejenak kemudian maka pertandingan itu menjadi semakin sengit. Kedua ekor kuda dengan penunggangnya masing-masing itu berlari-larian saling menyambar. Bahkan kadang-kadang saling meny ilang dan hampir berbenturan. Ternyata keduanya adalah penunggang kuda yang  tangkas. Sementara kedua ekor kuda itu adalah kuda-kuda yang tegar dan kuat, sehingga pertandingan itu telah m embuat mereka yang menyaksikan menjadi berdebar-debar. Para prajurit dan Pelayan Dalam yang ada disekitar arena itu menyaksikan pertandingan itu dengan tegang. Mereka tidak melihat pendadaran di arena itu. Tetapi yang terjadi menurut penglihatan mereka adalah benar-benar sebuah pertempuran antara hidup dan mati. Namun sebenarnyalah mereka benar-benar mengagumi anak muda yang sedang m engikuti pendadaran itu. Apa yang mereka lihat, bukan sekedar seorang calon Pelay an Dalam yang sedang mengikuti pendadaran. Tetapi seorang yang berilmu tinggi sedang melakukan semacam perang tanding. Untuk beberapa saat mereka yang  berada dipinggir arena itu menyaksikan pertandingan itu dengan hampir tidak berkedip. Jantung mereka rasa-rasanya berdetak semakin cepat didalam dada mereka. Apalagi anak-anak muda yang mengikuti pendadaran. Mereka rasa-rasanya tidak mengerti apa yang sedang mereka sak sikan. Mereka hanya dapat m engikuti dua ekor kuda yang berlari-larian. Senjata yang  saling menyambar dan menangkis. Mereka harus menahan nafas ketika mereka melihat ujung tombak Gajah Saraya yang  tajam itu menyambar Mahisa Pukat. Jika ujung tombak itu meny entuhnya maka Mahisa Pukat tentu benar -benar akan terluka. Sehingga pendadaran itu merupakan pendadaran yang sangat berbahaya. Tetapi Mahisa Pukat sendiri sama sekali tidak menjadi cemas. Sejak semula ia sudah m erasa, bahwa ia akan mampu mengimbangi ketangkasan Manggala Gajah Saraya. Meskipun ia hanya bersenjata tongkat kayu jambu keluthuk sebesar dan sepanjang landean tombak Gajah Saraya, namun bagi Mahisa Pukat justru lebih baik dari pedang atau parang yang  goy ah. Dengan tongkatnya, Mahisa Pukat telah beberapa kali mampu meny entuh tubuh Gajah Saraya. Tetapi setiap kali Mahisa Pukat menahan tenaganya, sehingga sentuhan itu sama sekali tidak m embahayakan Manggala Pelayan Dalam itu. Gajah Saraya sendiri bukannya tidak m erasakan sentuhansentuhan itu. Bahkan ia mulai memperhitungkan, kemungkinan-kemungkinan lain yang  dapat terjadi. Gajah Saraya merasakan bahwa sentuhan-sentuhan ujung tongkat Mahisa Pukat semakin lama m enjadi semakin keras, sehingga pada suatu saat, sentuhan itu akan benar-benar mampu melemparkannya dari punggung kudanya. Gajah Saraya yang bertanding dengan Mahisa Pukat itu benar-benar m erasa heran. Ternyata anak yang masih muda itu benar-benar seorang yang  sangat tangkas. Jika ia dapat mengimbangi kemampuan Senapati Sawung tuwuh, ternyata bukan hanya sekedar pujian yang pernah didengarnya. Juga perang tanding yang  pernah dilakukannya dengan mPu Damar. Gajah Saraya yang  benar-benar ingin menguji kemampuan Mahisa Pukat itu m emang tidak dapat berbuat lain kecuali mengakui bahwa Mahisa Pukat adalah anak muda yang luar biasa. Yang terjadi selama pendadaran telah membuat Gajah Saraya semakin mengaguminya pula. Anak muda yang berilmu sangat tinggi itu sama sekali tidak berniat untuk meny ombongkan dirinya. Ia justru selalu menahan diri untuk berada pada tataran yang  sejajar dengan kawan-kawannya. Hanya sedikit kelebihan yang ditunjukkan agar ia dapat diterima diantara sepuluh orang terbaik diantara anak-anak muda yang mengikuti pendadaran itu. Sementara itu pendadaran itu masih berlangsung. Gajah Saraya memang ingin melihat sejauh dapat dilakukan. Ia telah memancing agar Mahisa Pukat menunjukkan kelebihannya bukan saja kepada kawan-kawannya peserta pendadaran. Tetapi juga para prajurit dan Pelayan Dalam. Gajah Saraya memang berhasil memancing agar Mahisa Pukat meningkatkan kemampuannya sampai pada suatu tataran yang  melampaui kemampuan para peserta pendadaran dan bahkan para prajurit dan Pelay an Dalam yang  ikut serta dalam tugas-tugas pendadaran itu. Juga mereka yang melakukan pendadaran langsung bagi para peserta itu. Para prajurit dan Pelayan Dalam itu sempat berkata kepada diri sendiri ”Untunglah bahwa bukan aku yang  harus melakukan pendadaran langsung atas anak muda itu.” Sebenarnyalah Mahisa Pukat memang menyadari, bahwa yang dilakukan itu sudah terlalu jauh diatas tataran seorang Pelay an Dalam. Namun ia tidak dapat berbuat lain. Ia tidak mau namanya menjadi cemar karena kegagalannya mengikuti pendadaran meskipun terasa bahwa pendadaran itu sudah tidak wajar lagi. Tetapi Mahisa Pukat memang tidak tahu, alasan apakah yang  menjadikan pendadaran itu tidak wajar. Sementara itu, pendadaran itupun masih berlangsung. Yang menyaksikannya semakin menjadi berdebar-debar. Ujung tombak Gajah Saraya menyambar-nyambar dengan garangnya. Namun tongkat Mahisa Pukatpun berputar dengan cepatnya. Menangkis setiap serangan dan bahkan sempat pula membalas meny erang. Namun dalam pada itu, yang  mulai menjadi cemas adalah Gajah Saraya itu sendiri. Ia m erasakan bahwa Mahisa Pukat masih meningkatkan kemampuannya. Sementara itu, Gajah Saraya sendiri kemudian meyakini, bahwa Mahisa Pukat memang seorang yang  berilmu sangat tinggi. Bahkan jika pertandingan itu diteruskan sehingga Mahisa Pukat kehilangan kesabarannya, maka Mahisa Pukat akan mungkin benar-benar m engalahkannya. Jika Mahisa Pukat kemudian salah paham atas maksudnya karena tekanan-tekanan yang diberikannya, maka anak muda itu akan benar-benar marah. Karena itu, maka selagi keadaan masih nampak seimbang, maka Gajah Saraya harus menghentikan pendadaran itu. Meskipun semula Gajah Saraya masih berharap-untuk dapat menundukkan Mahisa Pukat karena senjata yang dipergunakannya bukan senjata yang  baik setelah ia berhasil memancing anak muda itu sampai ketingkat yang  lebih tinggi, namun ternyata Mahisa Pukat dapat m emecahkan hambatan dari senjata-senjata yang disediakan. Karena itu, maka ketika ketegangan menjadi semakin memuncak, maka Gajah Sarayapun kemudian berusaha untuk menghindar dan m engambil jarak sambil berkata ”Tahanlah Mahisa Pukat. Tahan dirimu.” Mahesa Pukat m endengar seruan itu. Untunglah bahwa ia masih sempat mengendalikan dirinya, sehingga karena itu, maka ia berusaha untuk menghindarkan diri dari benturanbenturan yang dapat terjadi. Kedua ekor kuda itu nampak memang saling menjauh. Keduanya berusaha mengambil jarak, sementara Gajah Saraya telah melemparkan tombaknya dari jarak yang  cukup jauh kearah sebatang pohon pisang yang  ada dipinggir arena. Dengan tepat tombak itu menancap pada batang pisang itu setinggi dada. Mahisa Pukat memang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bergeser menepi dan menyandarkan tongkatnya pada sebatang pohon pisang pula. Manggala Gajah Saraya yang  melihat Mahisa Pukat menepi dan m eletakkan tongkatnya, telah bergeser ketengah-tengah arena. Kepada para peserta pendadaran untuk memasuki lingkungan Pelay an Dalam, ke pala para prajurit dan Pelay an Dalam, Gajah Saraya itu kemudian berkata ”Aku sudah melakukan pendadaran langsung atas peserta yang bernama Mahisa Pukat ini. Seorang anak muda yang  telah mampu mengalahkan seorang pemimpin padepokan yang namanya dikenal oleh orang-orang Singasari, mPu Damar, dan yang saat ini sedang melakukan pendadaran untuk memasuki lingkungan Pelayan Dalam diistana Singasari. Mendahului semua keputusan, maka aku berani mengatakan bahwa anak muda yang bernama Mahisa Pukat ini akan dapat diterima menjadi Pelayan Dalam. Dihadapan para peserta yang  kelak akan dapat diterima bersama Mahisa Pukat, kepada para prajurit dan Pelay an Dalam aku beritahukan, bahwa Mahisa Pukat akan langsung mendapat kedudukan sebagai seorang pemimpin kelompok dari kesatuan Pelay an Dalam diistana Singasari, khususnya bagi calon Pelay an Dalam yang  akan diterima bersamanya.” Tidak ada yang tahu, siapa yang  mula-mula bertepuk tangan. Namun kemudian terdengar tepuk tangan yang  riuh disekitar arena pertandingan sebagai pendadaran khusus yang diselenggarakan atas Mahisa Pukat langsung oleh Manggala Gajah Saraya. Gajah Saraya mengangguk-angguk sambil tersenyum. Dengan demikian maka ia berharap bahwa tidak ada lagi perasaan iri terhadap kedudukan yang diberikan langsung kepada orang baru yang  bernama Mahisa Pukat itu. Para prajurit dan Pelayan Dalam telah melihat langsung kemampuannya yang tinggi, yang  diy akini oleh Gajah Saraya bahwa kemampuan itu masih belum mencapai puncaknya dan bahkan mungkin Mahisa Pukat masih mempunyai ilmu simpanan yang  ternyata mampu m engatasi kemampuan mPu Damar. Dalam pada itu Mahisa Pukat sendiri menjadi berdebardebar. Tetapi agaknya teka-teki yang  untuk beberapa lama mencengkam jantungnya telah t erjawab. Manggala Gajah Saraya tidak berniat untuk meny ingkirkannya. Ia sudah menyatakan dihadapan banyak orang, bahkan diantara mereka terdapat Arya Kuda Cemani, bahwa ia akan diangkat langsung menjadi pemimpin kelompok didalam lingkungan kesatuan Pelay an Dalam diistana Singasari. Ternyata yang  menjadi berbesar hati bukan saja Mahisa Pukat sendiri. Tetapi juga Arya Kuda Cemani. Meskipun Mahisa Pukat belum pernah lewat orang tuanya berbicara tentang Sasi, tetapi seolah-olah mereka sudah saling mengetahui hubungan diantara anak-anak mereka. Bagi Arya Kuda Cemani, kedudukan seorang Pelay an Dalam akan lebih baik bagi Sasi daripada seorang pemimpin Padepokan yang  berada ditempat yang  jauh dari Kota Raja. Kebiasaan serta tata hidup Sasi sejak kanak-kanak tentu tidak akan dengan mudah ditinggalkannya. Demikianlah, maka pendadaran bagi mereka yang  ingin memasuki lingkungan Pelayan Dalam diistana Singasari itu sudah selesai. Para peserta dapat beristirahat sambil menunggu pengumuman, siapakah diantara mereka yang dapat diterima menjadi Pelayan Dalam dan siapa yang terpaksa tersisih. T etapi sebagaimana pesan Manggala Gajah Saraya, bahwa mereka yang belum beruntung dapat diterima menjadi Pelay an Dalam, maka pada kesempatan lain mungkin mereka akan mendapat kesempatan pula. Ketika para peserta itu beristirahat, maka beberapa orang diantara m ereka telah m enyatakan selamat atas keberhasilan Mahisa Pukat. Bukan saja diterima sebagai Pelayan Dalam, tetapi sekaligus akan menjadi pemimpin kelompok, dari para Pelay an Dalam yang  diterima dalam pendadaran itu. Anak muda yang  bertubuh raksasa itupun dengan lantang berkata ”Tetapi aku masih mempunyai kemenangan atasmu. ” Mahisa Pukat yang tidak tahu maksudnya tidak segera menjawab pernyataan itu. Tetapi justru kawannya yang  lain yang bertanya ”Kemenangan apa ?” “Bukankah kita pernah bertaruh. Dan akulah yang  menang dalam pertaruhan itu.” jawab anak muda bertubuh raksasa itu. Mahisa Pukat tersenyum. Katanya ”Ya. Aku mengaku kalah.” Tetapi kawannya mendesak ”Taruhan apa ?” Anak muda bertubuh raksasa itu tertawa sambil menjawab ”Aku bertaruh bahwa dalam pendadaran Mahisa Pukat tidak akan pernah kalah dalam setiap pertandingan. Bahkan pertandingan yang terakhir langsung melawan Manggala Pelay an Dalampun, Mahisa Pukat tidak dapat dikatakan kalah. Meskipun juga tidak dapat dikatakan menang.” “Ah, sudahlah” potong Mahisa Pukat ”lihat, petugas itu tentu akan mempersilahkan kita makan.” “Ya” jawab salah seorang anak muda yang juga menjadi peserta ”seandainya aku tidak diterima, aku sudah m endapat kesempatan untuk makan enak selama beberapa hari sejak pendadaran pada tataran pertama. Dirumah aku tidak pernah mendapat makan sebaik makanan yang  aku terima disini.” Kawan-kawannya tertawa. Seorang diantara mereka sempat menyahut ”Ya. Aku juga tidak pernah makan seenak makanan disini. Apakah jika kita diterima menjadi Pelayan Dalam makan kita akan seperti ini setiap hari ?” Anak-anak muda itu tertawa semakin riuh. Tetapi seorang diantara mereka berkata ”Jadi tujuan kita untuk menjadi Pelay an Dalam sekedar untuk mendapatkan makanan yang enak seperti saat pendadaran ?” “Sudahlah” berkata anak muda yang bertubuh raksasa ”kita harus makan. Aku memang sudah lapar.” Sebenarnyalah seorang petugas telah mempersilahkan anak-anak muda para peserta pendadaran itu untuk makan diruangan disebelah dapur. Sementara mereka makan, mereka masih sempat juga bergurau. Seorang mendekati anak muda bertubuh raksasa itu sambil berkata ”He, sebanyak itu kau makan ?” “Kenapa ?” bertanya anak muda bertubuh raksasa itu. “Tiga kali lipat dari Mahisa Pukat.” jawab kawannya. Yang lain tertawa. Seorang diantara mereka berkata lantang ”Tetapi anak itu lebih kuat dari Mahisa Pukat. Ia dapat membengkokkan lempengan besi yang tebal itu.” “Tidak” tiba -tiba anak muda bertubuh raksasa itu menjawab ”Ternyata Mahisa Pukat tanpa harus m engerahkan kekuatannya dapat meluruskan besi itu kembali diluar pengetahuan kalian. Nah, bukankah kalian tidak melihat ? Tetapi demikian besi itu aku bengkokkan, maka diam-diam ia telah meluruskannya kembali. Dengan demikian, meskipun tubuhku jauh lebih besar dari tubuhnya, serta aku dapat menelan makanan jauh lebih banyak dari padanya, namun ternyata Mahisa Pukat mempunyai kekuatan lebih besar dari aku.” “Ah. Jangan membual” potong Mahisa Pukat. “Kenapa aku harus membual ? Aku akan mencari sepotong besi itu dan aku akan menunjukkan kepada anak-anak muda disini.” “Bukankah itu tidak perlu” jawab Mahisa Pukat. “Kenapa tidak ?” bertanya anak muda itu. “Sudahlah. Nanti kita terbatuk. Selagi kita m akan, maka sebaiknya kita tidak berbicara.” berkata Mahisa Pukat kemudian sambil menyuapi mulutnya. Anak-anak muda itu memang terdiam sejenak. Namun anak muda bertubuh raksasa itu bertanya perlahan-lahan dan bersungguh-sungguh ”Kenapa pedang yang kau pergunakan itu patah ?” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sebelum menjawab anak muda bertubuh raksasa itu bertanya pula ”Apakah parang yang  kemudian kau pergunakan itu juga akan patah ?” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia menggeleng ”Mungkin tidak. Parang itu tidak akan patah seperti pedang yang  sebelumnya aku pergunakan.” “Tetapi kenapa kau m engganti senjatamu?” bertanya anak muda itu. Mahisa Pukat termangu -mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya ”Aku lebih senang mempergunakan senjata panjang daripada senjata pendek khususny a untuk m elawan tombak. Apalagi Manggala Gajah Saraya memiliki kemampuan yang sangat tinggi mempermainkan tombaknya. Agaknya ia terbiasa mempergunakan senjata tombak pendek seperti yang dipergunakan waktu itu.” Anak muda bertubuh raksasa itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian ”Jika kita menilai dengan jujur, maka nilaimu tentu lebih tinggi dari nilai Manggala Gajah Saraya. Kau hanya mempergunakan sebatang tongkat kayu yang seakan-akan begitu saja dipatangkan dari batangnya, sementara Manggala Gajah Saraya mempergunakan tombak yang sebenarnya.” “Tentu tidak. Tentu Manggala Gajah Saraya tidak bersungguh-sungguh ingin membunuhku. Seandainya aku tidak melawan sekalipun aku tidak akan terbunuh di pertandingan itu. Jika seorang prajurit yang  bertugas melakukan pendadaran langsung dan membunuh orang yang sedang mengalami pendadaran itu sama saja dengan sebuah pembunuhan.” jawab Mahisa Pukat. “Tetapi kenapa kau lebih senang m empergunakan t ongkat kayu itu. Sedangkan ditempat lain tersedia batang tombak?” Mahisa Pukat m emandang anak muda itu sejenak. Sambil tersenyum ia berdesis ”Apakau kau sedang meny elidiki satu perkara?” “Tidak. Tetapi aku menjadi heran melihat hal itu kau lakukan” jawab anak muda itu. “Jarak yang  terdekat yang  dapat aku capai adalah t ongkat itu. Jika aku harus memungut tombak pendek itu aku tentu terlambat” jawab Mahisa Pukat masih tersenyum. “Tetapi bukankah Manggala Gajah Saraya tidak bersungguh-sungguh? Seandainya kau terlambat sekalipun, kau tidak akan dikenainya. Apalagi benar-benar membunuhmu.” berkata anak muda itu pula. Mahisa Pukat justru tertawa. Katanya ”Kau tidak m emberi kesempatan aku untuk makan. Tetapi baiklah. Pertanyaanmu mirip pertanyaan seorang petugas rahasia yang  sedang mengusut perkara yang  rumit. Barangkali aku dapat mengusulkan kepada Manggala Gajah Saraya, bahwa kau dapat ditempatkan dalam tugas rahasia kelak.” “Ah, jangan. Aku senang menjadi anak buahmu sebagai Pelay an Dalam. Tetapi kau belum menjawab pertanyaanku.” “Seandainya aku terlambat menangkis serangannya. Meskipun serangan itu tidak akan benar-benar mengenaiku, namun nilai kemampuanku tentu dinilai kurang dari jika aku benar-benar mampu melakukannya. Sebenarnya aku memang tidak perlu meny ombongkan diriku sebagaimana terlanjur aku lakukan. Tetapi aku benar-benar terpancing sehingga diluar kendali aku telah melakukannya.” jawab Mahisa Pukat. Anak muda itu mengangguk-angguk. Namun masih ada satu pertanyaan yang  ter sangkut. Dengan ragu-ragu anak muda itu bertanya ”Kenapa pedang itu patah ?” Sebenarnya pertanyaan itu juga membersit di kepala Mahisa Pukat. Seakan-akan ada kesengajaan bahwa senjata yang disediakan baginya telah dibuat cacat. Namun kepada anak muda bertubuh raksasa itu ia m enjawab ”Mungkin aku tergesa -gesa mempergunakannya, sehingga aku kurang berhati-hati.” “Tetapi pedang itu tidak akan patah.” jawab anak muda bertubuh raksasa itu. Mahisa Pukat yang tidak ingin m endapat pertanyaan lebih panjang lagi, tiba -tiba berbatuk-batuk. Sambil menutup mulutnya ia terbungkuk-bungkuk menahan batuknya yang menyesakkan nafasnya. Kemudian ia pun menggapai semangkuk minuman. Baru setelah ia m inum beberapa teguk ia menarik nafas dalam-dalam, katanya ”Aku tidak boleh makan sambil berbicara ” “Baik. Baik” sahut anak muda bertubuh raksasa itu. Tetapi katanya kemudian ”Kau hanya berpura-pura.” Mahisa Pukat justru tertawa. Tetapi iapun kemudian benarbenar terbatuk-batuk karena butir nasi yang  m asuk ke jalur yang salah. “Sudahlah” berkata kawannya yang  lain kepada anak muda bertubuh raksasa itu ”kau jangan mengajaknya berbicara saja Barangkah kau terbiasa makan sambil berbicara. Tetapi orang lain tidak.” “Baik. Baik.” jawab anak muda bertubuh raksasa itu. Untuk beberapa lamanya anak-anak muda itu makan sambil berdiam diri. Tetapi anak muda bertubuh raksasa itii mulai beringsut. Tetapi sebelum ia bertanya lagi, kawannya sudah mendahuluinya ”Nah, kau sudah akan berbicara lagi.” “Baik. Baik. Aku akan diam” jawab anak muda itu. Demikianlah, setelah makan, maka anak muda bertubuh raksasa itu tidak lagi memburu Mahisa Pukat dengan pertanyaan-pertanyaannya. Beberapa hal sudah dapat dipahami, meskipun sebenarnya masih ada yang ingin diketahuinya. Tetapi anak muda itu menduga bahwa Mahisa Pukat tidak ingin menjawabnya. Namun sebenarnyalah pertanyaan yang  sama tengah bergejolak pula dihati Mahisa Pukat. Dalam pada itu, maka anak-anak muda itu tinggal menunggu saja pemberitahuan, siapakah diantara mereka yang gagal dalam pendadaran itu. Hanya sepuluh orang diantara mereka yang diterima. Bahkan mungkin kurang dari itu jika yang  memenuhi sy arat memang kurang dari sepuluh orang. Tetapi hari itu ternyata masih belum diumumkan siapakah yang akan diterima dan siapakah yang tidak. Anak-anak muda itu m asih akan bermalam semalam lagi. Bahkan malam itu Manggala Gajah Saraya berkenan m enjamu anak-anak muda yang ikut sampai pendadaran terakhir. Mereka yang tidak diterimapun telah ikut pula dalam jamuan itu. Tetapi karena belum diumumkan siapakah diantara mereka yang tidak diterima, maka kedudukan m ereka rasa-rasanya masih sama sa ja. Dalam jamuan itu sekali lagi Gajah Saraya mengumumkan bahwa Mahisa Pukat akan langsung diangkat menjadi pemimpin kelompok dari anak-anak muda yang  akan diterima sebagai Pelayan Dalam itu. Malam itu, setelah jamuan selesai, maka Mahisa Pukat telah ditemui oleh salah seorang petugas sandi atas nama AryaKuda Cemani. Sepengetahuan Manggala Gajah Saraya, petugas sandi itu m emberitahukan bahwa memang ada orang yang dengan sengaja ingin meny ingkirkan Mahisa Pukat dari pencalonannya. “Siapa ?” bertanya Mahisa Pukat. “Sebenarnya masih harus diusut sampai tuntas. Tetapi kami sudah m enemukan arah peny elidikan kami. Orang itu adalah seorang prajurit muda. Ia mempunyai pengaruh meskipun kedudukannya masih belum meningkat sejak semula. Ayahnya adalah seorang Senapati. Apa yang  dilakukan adalah diluar pengetahuan ay ahnya. Bahkan ketika ayahnya dihubungi, maka ia menjadi sangat terkejut. Ia pernah menghukum anaknya dalam per soalan yang  sama. Dalam kedudukannya sebagai seorang anak muda yang merasa disaingi kemudaannya. Tetapi kesalahan itu telah diulangi lagi.“ berkata petugas sandi itu. “Tetapi bagaimana ia mampu menyusun jaringan yang  demikian luasny a ?” bertanya Mahisa Pukat. ”Anak muda itu mempunyai uang cukup. Meskipun ay ahnya tidak mengetahui rencana itu, tetapi ternyata anak muda itu dan beberapa orang kawannya dapat melakukannya” jawab petugas sandi itu. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Hampir tidak terdengar ia berdesis ”Aku kira persoalan diantara kam i sudah selesai. Ternyata masih ada kelanjutannya.” “Ayahnya akan menjatuhkan hukuman yang  lebih berat.“ berkata petugas sandi itu. “Jika kau dapat berhubungan dengan ayahnya, katakan kepadanya bahwa hukuman badan itu tidak perlu. Tetapi anak itu perlu mendapat tuntunan lebih jauh. Aku ingin menemuinya jika mungkin serta diijinkan oleh ayahnya. Menurut dugaan serta perhitunganku ia sudah m enjadi jera. Mungkin ada sesuatu yang  mempengaruhinya sehingga ia mengulangi kesalahannya.” Petugas sandi itu mengangguk-angguk. Katanya ”Aku akan melaporkan kepada Arya Kuda Cemani. Ia juga meny esalkan peristiwa itu. Tetapi Arya Kuda Cemani memang menghendaki agar persoalannya diselesaikan kedalam tanpa banyak keributan. Apalagi ayah anak muda itu juga tidak berniat membela anaknya meskipun ia mempunyai kedudukan penting. Bahkan jika dikehendakinya, ia akan dapat mempergunakan kekerasan atau setidak -tidaknya mendesak dengan ancaman-ancaman kekerasan. Tetapi Senapati itu ternyata bersikap jujur dan bahkan siap menghukum anaknya sendiri.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya ”Aku justru kasihan kepadanya. Hatinya tentu tersiksa sehingga mendorongnya untuk melakukan kesalahan yang sama dengan cara yang justru lebih berbahaya.” Namun petugas sandi itu tidak memperpanjang pembicaraan itu. Beberapa saat kemudian maka anak-anak muda itupun telah memasuki bilik mereka untuk tidur, sementara malam menjadi semakin larut. Seperti biasanya, pagi-pagi benar anak-anak muda itu sudah bangun. Ketika matahari terbit, maka merekapun sudah berbenah diri dan sebentar kemudian merekapun telah makan. pagi. Setelah beristirahat sebentar, maka datanglah saat yang  mendebarkan itu. Manggala Pelay an Dalam sendiri akan mengumumkan, siapakah diantara-mereka yang  diterima menjadi Pelayan Dalam. Setelah memberikan sedikit pengantar, agar yang terpaksa tidak diterima tidak menjadi terlalu kecewa, maka Manggala Pelay an Dalam itupun berkata ”Ternyata kami berhasil mendapatkan sepuluh orang diantara kalian yang memenuhi sy arat sebagaimana yang  kami harapkan. Sebenarnya semuanya memiliki kemampuan yang memenuhi syarat. Tetapi sayang , bahwa kami hanya dapat menerima sepuluh orang saja. Meskipun demikian, karena Mahisa Pukat akan langsung diangkat menjadi pemimpin kelompok, maka jumlah penerimaan kali ini akan menjadi sebela s orang.” Anak-anak muda itu hanya dapat mengangguk-angguk. Harapan mereka menjadi lebih besar karena jumlah penerimaan itu bertambah seorang. Tetapi bagaimanapun juga harus ada diantara mereka yang  tersisih. “Semula kami menjadi cemas” berkata Manggala Pelay an Dalam itu ”bahwa yang  memenuhi sy arat tidak genap sepuluh orang. Namun ternyata justru lebih dari itu, meskipun akhirnya kam i harus memilih sepuluh orang t erbaik dari yang baik itu ditambah dengan seorang lagi.” Anak-anak muda yang mendengarkan pernyataan itu termangu-mangu. Ternyata bahwa menurut Manggala Pelay an Dalam itu, mereka semua dapat dianggap memenuhi syarat. Tetapi karena hanya sebelas orang yang  dapat diterima, maka tentu ada diantara mereka yang  harus tersisih.

Jilid 108
NAMUN Manggala Pelay an Dalam itu kemudian berkata”Mereka yang tidak dapat diterima kali ini, jika pada kesempatan lain masih berniat untuk ikut dalam pendadaran, maka kepada mereka akan diberikan perhatian khusus. Mereka yang  gagal kali ini akan m endapatkan pertanda yang dapat ditunjukkan pada kesempatan yang  lain apabila masih dikehendaki.” Demikianlah, maka kemudian Manggala Pelayan Dalam itu menyebut sepuluh orang diantara mereka yang diterima ditambah dengan seorang yang akan menjadi pemimpin kelompok mereka. Beberapa orang memang menjadi kecewa. Tetapi sekali lagi Gajah Saraya mengatakan kepada mereka, bahwa mereka akan mendapat pertanda yang  dapat mereka pergunakan pada kesempatan lain. “Tidak genap setahun kami akan memanggil anak-anak muda lagi untuk mengisi kekosongan” berkata Gajah Saraya. Dengan demikian, maka anak-anak muda itupun diperkenankan untuk m eninggalkan tempat pendadaran itu. Bagi mereka yang  diterima, maka mereka mendapat waktu sepekan. Setelah sepekan mereka harus datang melaporkan diri ditempat pendadaran itu untuk selanjutnya mereka akan memasuki barak Pelayan Dalam. Pada kesempatan pertama, maka mereka akan berada didalam barak latihan khusus bagi para Pelayan Dalam yang  baru itu. Mereka mengikuti latihan olah kanuragan untuk mendukung tugas-tugas mereka kemudian sebagai Pelay an Dalam yang  akan lebih banyak berada di istana. Menjaga keselamatan seluruh isi istana, melayani Sri Maharaja dan keluarganya serta memelihara benda-benda yang  ada di istana dan yang tidak kalah pentingnya, menjaga agar semua paugeran yang  ditrapkan di istana dapat berlaku sebagaimana seharusnya. Demikianlah maka anak-anak muda itupun telah minta diri kepada para petugas yang  melakukan pendadaran terhadap mereka selama tiga tataran berturut-turut. Yang tidak dapat diterimapun nampaknya harus menerima kenyataan itu dengan ikhlas dengan harapan bahwa pada kesempatan lain mereka akan dapat diterima. Kepada Mahisa Pukat mereka mengucapkan selamat atas keberhasilannya. Bukan saja diterima menjadi Pelay an Dalam, tetapi justru langsung diangkat menjadi pemimpin kelompok dari antara mereka yang baru saja diterima. Ternyata bahwa Mahisa Pukatpun menjadi gembira pula. Ia akan dapat m engatakan kepada Sasi bahwa ia telah diterima. Meskipun Arya Kuda Cemani adalah seorang Senopati yang dapat menilai kemampuannya, tetapi kepada Sasi ia tidak akan dapat mengatakan apapun seandainya ia tidak diterima menjadi Pelay an Dalam. Sasi akan dapat menganggapnya sebagai seorang yang  hanya dapat membual tanpa dapat memberikan bukti. Ketika ia sampai dirumah dan menyatakan bahwa ia dapat diterima maka Mahendrapun menjadi gembira pula. Hampir diluar sadarnya ia b erkata ”Aku mempunyai prasangka buruk terhadap Gfgah Saraya Tetapi ternyata ia bukan orang yang curang. Ia melihat keny ataan yang  dihadapinya dalam pendadaran yang  telah dilangsungkan dengan jujur.” Namun Mahisa Pukat telah menceriterakan pula usaha yang hampir saja menggagalkannya. “Sudahlah” berkata Mahisa Pukat ”persoalan itu jangan diperpanjang lagi. Kau sebaiknya menganggap bahwa persoalannya telah selesai.” Mahisa Pukat mengangguk sambil menjawab ”Aku memang sudah berusaha untuk menganggap per soalan itu selesai ay ah. Tetapi agaknya ayahnya ingin menegakkan wibawanya sebagai seorang Senopati. Entahlah, apa yang akan dilakukan.” “Lewat Arya Kuda Cemani aku akan memberikan pesan, agar persoalannya tidak diperpanjang lagi.” berkata Mahendra. “Tetapi ay ahnya ingin agar anaknya benar-benar menjadi jera dan tidak m elakukan hal yang serupa lagi.” desis Mahisa Pukat. Mahendra tidak menjawab. Iapun mengerti bahwa membiarkan anaknya melakukan kesalahan berarti mendorong agar hal itu dilakukan pula pada kesempatan yang lain. Dalam pada itu, maka kegembiraan Mahisa Pukatpun telah didengar pula oleh Sasi. Ayahnya tidak dapat menahan keinginannya untuk menceriterakan kepada Sasi bahwa Mahisa Pukat secara khusus telah diterima. Bahkan tidak sekedar menjadi Pelay an Dalam. Tetapi menjadi pemimpin kelompok dari Pelay an Dalam yang  baru diterima. Karena itu, ketika Mahisa Pukat datang m engunjunginya, sebelum Mahisa Pukat mengatakan sesuatu, Sasi telah lebih dahulu mengucapkan selamat kepadanya. “Aku merasa gembira sekali, bahwa kau dapat diterima secara khusus dalam lingkungan Pelayan Dalam” berkata Sasi. “Doamu didengar oleh Yang Maha Agung, Sasi” jawab Mahisa Pukat. “Ya. Satu k esempatan yang baik yang dianugerahkan oleh Yang Maha Agung kepada kita” berkata Sasi sambil menunduk Kegembiraan itu ternyata telah m eliputi seluruh keluarga Sasi. Kedua saudara laki -laki Sasipun ikut merasa gembira pula. Meskipun ketika mereka tahu apa yang  telah t erjadi atas Mahisa Pukat selama pendadaran menjadi marah pula. Tetapi sebagaimana Mahendra, maka Arya Kuda Cemanipun berharap bahwa persoalan yang berhubungan dengan Sasi itu hendaknya dianggap selesai. “Jika Senapati Sawungtywuh akan mengambil tindakan terhadap anaknya, itu adalah persoalannya. Ia memang merasa perlu untuk mendidik anaknya agar m enjadi seorang yang baik kelak” berkata Arya Kuda Cemani kepada anakanaknya pada kesempatan yang lain. Seperti yang  diperintahkan oleh Manggala Gajah Saraya, maka sepekan kemudian anak-anak muda yang  diny atakan diterima menjadi Pelayan Dalam itupun telah berada kembali ditempat mereka melakukan pendadaran. Seperti yang diperintahkan, maka merekapun telah m elaporkan diri akan kehadiran m ereka. Tidak seorangpun diantara mereka yang menarik diri. Sebelas orang telah hadir ditempat yang ditentukan, termasuk anak muda bertubuh raksasa itu. Seperti yang  telah diny atakan oleh Manggala Gajah Saraya, maka Mahisa Pukat telah langsung dinyatakan sebagai pemimpin kelompok dari para Pelay an Dalam yang  baru itu. Dalam wisuda yang  akan dilakukan beberapa hari kemudian, maka Mahisa Pukat sudah akan diwisuda m enjadi pemimpin kelompok. Beberapa orang Pelayan Dalam yang tidak sempat menyaksikan pendadaran itu memang merasa heran. Sejak mereka memasuki lingkungan Pelayan Dalam, belum pernah terjadi, seorang yang  baru saja diterima langsung diangkat menjadi pemimpin kelompok. Biasanya yang  akan memimpin sekelompok Pelayan Dalam yang  baru itu adalah mereka yang sudah lebih tua. Yang telah sekitar ampat tahun menjadi Pelay an Dalam. Ketika hal itu mereka perbincangkan, maka beberapa orang Pelay an Dalam yang  menyaksikan langsung dan bahkan bertugas pada saat-saat berlangsungnya pendadaran telah memberikan penjela san apa yang telah mereka saksikan. “Satu ceritera yang  berlebih-lebihan” jawab seorang Pelay an Dalam yang  telah bertugas lebih dari lima tahun, namun yang masih belum mendapat kesempatan untuk mendapatkan jabatan memimpin sebuah kelompok Pelay an Dalam. “Aku dan beberapa orang kawan serta prajurit menyaksikan sendiri bagaimana ia mampu mengimbangi ketangkasan Manggala Gajah Saraya.” “Tentu satu permainan dari Manggala Gajah Saraya. Apakah Mahisa Pukat itu masih sanak kadangnya?” bertanya Pelay an Dalam yang  tidak mau m enerima keny ataan tentang Mahisa Pukat. “Sepengetahuanku bukan” jawab Pelay an Dalam yang  menyaksikan langsung pendadaran itu ”jika kau melihat sendiri, maka pendapatmu tentu akan berubah.” “Tidak” jawab kawannya yang tidak terlibat dalam pendadaran itu” Manggala Gajah Saraya dapat saja berbuat sesuatu untuk memberikan kesan agar salah seorang diantara mereka yang ikut dalam pendadaran nampak memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi semuanya itu adalah permainan saja” “Jika tidak demikian, kenapa Manggala Gajah Saraya sendiri yang  harus melakukan pendadaran? Apakah menurut pendapatnya tidak ada Pelay an Dalam yang  pantas untuk melakukan pendadaran sebagaimana dilakukan terhadap para peserta yang lain?” Pelay an Dalam yang  menunggui pendadaran itu berdesis ”Aku bukannya tidak dapat menilai pendadaran yang dilakukan oleh Manggala. Menurut penglihatanku, Mahisa Pukat memang memiliki kelebihan yang jauh dari para peserta yang lain.” “Ya. Mungkin. Dengan para peserta memang mungkin. Tetapi dari kami yang  sudah bertahun-tahun bertugas sebagai Pelay an Dalam? Kami telah mengalami penempaan ilmu beberapa kali. Hampir setiap tahun kami m elakukan latihanlatihan khusus selama dua tiga bulan selain latihan-latihan yang kami lakukan hampir setiap hari. Kau tentu mampu menilai kemampuan kita sendiri dibandingkan dengan kemampuan Mahisa Pukat itu. “Mungkin kemampuan kita sebagai Pelay an Dalam. Kita memang sudah menguasai segala macam ketentuan dan paugeran yang  ada didalam istana ini. Kita sudah menguasai tugas-tugas kita seluruhnya. Sedangkan Mahisa Pukat sama sekali belum. Tetapi dalam olah kanuragan, m ungkin agak lain. Ia memiliki dasar ilmu yang  cukup tinggi.” “Aku kurang y akin akan hal itu” jawab kawannya. Pelay an Dalam yang  mengikuti pendadaran itu tidak menjawab. Ia segan bertengkar dengan kawan sendiri tentang persoalan yang sulit dicari persesuaiannya. Bahkan ketika kawannya yang lain yang ikut pula menangani pendadaran itu mengatakan hal yang sama, namun Pelay an Dalam itu masih tidak yakin pula. “Terserah” akhirnya Pelay an Dalam yang ikut menangani pendadaran itu melangkah pergi. “Aku ingin m elihat, apa yang dapat dilakukannya” berkata Pelay an Dalam yang tidak y akin akan kemampuan Mahisa Pukat itu. Dalam pada itu, maka anak-anak muda yang  sudah diterima menjadi Pelayan Dalam itu mulai memasuki barak untuk mendapatkan latihan-latihan dasar serta pengetahuan tentang tugas mereka. Mereka telah ditempatkan dibarak khusus yang  agak terpisah agar mereka dapat memusatkan perhatian mereka pada latihan-latihan yang tentu akan terasa cukup berat. Mahisa Pukat yang ada diantara mereka sudah harus mulai mengemban tugasnya sebagai pemimpin kelompok. Namun seperti yang lain, Mahisa Pukat masih harus mengikuti latihan-latihan. Meskipun Mahisa Pukat dianggap memiliki ilmu yang cukup, tetapi ia harus mengerti dan memahami keseragaman yang  harus dimiliki oleh Pelay an Dalam. Karena itu, sebelas orang yang  mempunyai latar belakang dasar ilmu yang berbeda harus mengikuti latihan-latihan agar mereka dapat segera meny esuaikan diri dalam lingkungan Pelay an Dalam Apalagi pengetahuan tentang tugas-tugas mereka serta unggah-ungguh didalam astana. Mahisa Pukat yang diangkat sebagai pemimpin kelompok sama sekali tidak dengan semata-mata menunjukkan kelebihannya dari kawan-kawannya selain menjalankan tugasnya dengan baik yang memang agak berbeda dengan kawan-kawannya yang  bukan pemimpin kelompok. Namun seperti juga kawan-kawannya Mahisa Pukat mengikuti setiap latihan dan peningkatan pengetahuan m ereka tentang tugastugas Pelayan Dalam. Baru setelah beberapa lama latihan-latihan itu berjalan, serta anak-anak muda yang diterima menjadi Pelayan Dalam itu telah m eyakinkan para petugas bahwa mereka baik secara badani m aupun secara jiwani akan m ampu m engikuti m asamasa penempaan diri, sebelas orang itu telah diwisuda oleh Manggala Gajah Saraya. Mereka secara resmi telah diterima menjadi keluarga Pelay an Dalam meskipun mereka masih harus t etap berada didalam barak latihan khusus untuk menjalani latihan-latihan yang berat dan melelahkan. Tetapi anak-anak muda yang  memang sudah mantap untuk memasuki dunianya itu tidak mengeluh. Mereka menjalankan tugas-tugas m ereka.dengan penuh gairah dan kemauan yang tinggi. Semakin lama mereka berada di barak latihan, maka kelebihan Mahisa Pukat justru menjadi semakin nampak, disengaja atau tidak. Para pelatih dalam barak itu semakin merasa segan kepadanya meskipun hal itu tidak diinginkan oleh Mahisa Pukat sendiri. Betapapun ia berusaha untuk memperlihatkan kemampuan seperlunya saja, namun kadangkadang diluar kehendaknya, kelebihannya itupun telah mencuat dengan sendiriny a. Manggala Gajah Saraya yang mendengarkan setiap laporan tentang Pelay an Dalam yang baru itu merasa semakin mantap. Ia memang berharap bahwa Mahisa Pukat akan dengan cepat memanjat ketataran yang lebih tinggi, justru karena ia mengenal Manggala Pelayan Dalam itu sudah mendengar pula bahwa Mahendra dan Arya Kuda Cemani mempunyai hubungan yang khusus justru karena anak-anak m ereka yang sudah saling mengikat meskipun baru tersirat didalam tingkah laku mereka. Ternyata Mahisa Pukat tidak m engecewakan. Bukan saja Manggala Gajah Saraya, tetapi juga ayahnya dan Arya Kuda Cemani. Sampai akhir masa latihan serta pemantapan atas tugas yang bakal diembannya, Mahisa Pukat tetap menunjukkan kelebihannya. Iapun telah menunjukkan kemampuannya memimpin sekelompok Pelayan Dalam yang diterima bersamanya. Ternyata pengalamannya memimpin sebuah padepokan telah memberikan bekal yang  sangat berarti baginya. Ketika masa latihan dasar serta pendalaman tentang tugastugas yang  harus diembannya itu sudah selesai, maka Mahisa Pukat serta sekelompok Pelay an Dalam itupun mulai mendapat tugas-tugasnya diistana. Sebagai sekelompok Pelay an Dalam yang  baru, maka Mahisa Pukat dan kelompoknya telah mendapat tugas yang  beban tanggung jawabnya tidak terlalu berat. Mereka mendapat tugas untuk menjaga dan melayani lingkungan kesatrian untuk membantu sekelompok Pelayan Dalam yang telah lebih dahulu b ertugas ditempat itu. Ternyata tugas yang dibebankan kepada para Pelay an Dalam yang baru itu tidak terlalu meny enangkan. Beban tanggung jawab mereka memang tidak begitu berat. Tetapi keluarga istana yang masih remaja dan meningkat dewasa yang tinggal di Kasatrian itu mempunyai sifat dan watak yang berbeda-beda. Ada diantara mereka yang  berhati lembut. Tetapi ada pula yang  keras dan bahkan kasar meskipun mereka adalah keluarga dekat Sri Maharaja. Namun untunglah bahwa di Kasatrian itu tinggal pula seorang Pangeran yang  sudah setengah baya yang sengaja ditempatkan di Kasatrian untuk mengendalikan para keluarga istana yang nakal dan bahkan kadang-kadang sudah mengarah kepada kekasaran. Pangeran Kuda Pratama yang b ijaksana itulah m erupakan tempat mengadu para Pelay an Dalam dan petugas lainnya di Ka satrian apabila mereka mendapat perlakuan yang kasar dari para penghuninya yang  merasa diri mereka keluarga Sri Maharjga sehingga mereka seakan-akan dapat berbuat sekehendak hati mereka. Namun Pangeran Kuda Pratama mendapat wewenang sepenuhnya oleh Sri Maharjya untuk berbuat yang  terbaik menurut pertimbangannya atas penghuni Kasatrian. Mahisa Pukat dan kelompoknya yang  bertugas di Kasatrian berusaha untuk meny esuaikan diri. Mahisa Pukat memerintahkan kepada kelompoknya agar mereka tidak mengambil langkah sendiri jika mereka menghadapi per soalan dengan para Kesatrian yang tinggal di Kasatrian itu. “Adalah tugas kita melayani mereka dan menjaga keselamatan mereka” berkata Mahisa Pukat. Para Pelay an Dalam itu juga mengerti. T etapi m ereka juga mempunyai perasaan dan harga diri sehingga kadang-kadang mereka harus mengeluh mengalami perlakuan yang kurang pantas. Mahisa Pukat sendiri, yang  terbiasa berada di padepokan sebagai salah satu dari dua orang pemimpinnya, merasa kedudukan itu terlalu menekan perasaannya. Bahkan kadangkadang Mahisa Pukat merasa bahwa ternyata tugas-tugas Pelay an Dalam sama sekali tidak sesuai dengan gejolak jiwanya yang kadang-kadang meledak-ledak. Didalam tugasnya Mahisa Pukat benar-benar merasa dirinya tidak lebih dari seorang pelayan. Setiap orang di Kasatrian dapat memberi perintah apapun juga. Kadang-kadang mereka membentak tanpa sebab. Bahkan mengumpat kasar. Sehingga Mahisa Pukat sempat m enjadi heran. Ia mengira bahwa para peng huni Kasatrian itu adalah anak-anak muda yang lembut, ramah dan m enghargai orang lain sebagaimana keluarga Sri Maharaja yang sering dilihatnya di paseban. Tetapi di Kasatrian mereka seakan-akan orang lain dari yang dilihatnya di paseban itu. Tetapi Pangeran Kuda Pratama ternyata mampu memberikan tuntunan kepada para Pelay an Dalam termasuk Mahisa Pukat. Namun juga mengendalikan para penghuni Ka satrian. Dari para petugas yang lama Mahisa Pukat dan para Pelay an Dalam yang  lain telah mendengar pengalaman mereka, sehingga mereka dapat menempatkan diri mereka sebaik-baiknya. Tetapi pada satu kesempatan Mahisa Pukat pulang menemui ayahnya, maka iapun telah menyatakan keluhankeluhannya. Bagi Mahisa Pukat ternyata bahwa hidup di Padepokan terasa jauh lebih baik daripada berada di Ka satrian. “Kau akan terbiasa dengan tugasmu” berkata ayahnya. “Kadang-kadang perasaanku m emberontak” jawab Mahisa Pukat. “Kalian adalah orang-orang baru di Ka satrian. Apalagi kalian m asih muda sehingga penghuni Ka satrian itu merasa bahwa mereka lebih senang berhubungan dengan kalian daripada dengan para Pelay an dalam yang  lebih tua.” “Bukan sekedar berhubungan” jawab Mahisa Pukat ”tetapi mereka memperlakukan kami kadang-kadang diluar batasbatas kesabaran kami. Mereka bukan saja membentak. Tetapi seorang diantara kawan-kawanku telah dipukulnya. Kawanku itu memang tidak membalas. Bukan karena ia pengecut. Tetapi justru karena ia merasa bahwa ia adalah seorang Pelay an Dalam.” “Apakah hal itu tidak kau sampaikan kepada Pangeran Kuda Pratama?” bertanya Mahendra “Ya. Terpaksa kami sampaikan. Anak muda yang memukul Pelay an Dalam itu memang dipanggil dan dimarahi. Tetapi nampaknya hal itu tidak berbekas sama sekali. Demikian ia berada di luar, maka sikapnya telah kembali lagi seperti semula. Mereka terlalu y akin bahwa kedudukan mereka jauh lebih tinggi dari seorang Pelayan Dalam” jawab Mahisa Pukat. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat m engerti perasaan anaknya yang  terbiasa hidup dalam sebuah padepokan. Namun kemudian Mahendra itupun berkata ”Mahisa Pukat. Para kesatria di Kasatrian itu adalah anakanak muda seperti kau dan kawan-kawanmu. Mereka terdiri dari anak-anak muda yang  mempunyai berbagai macam sifat dan watak. Bukankah diantara mereka yang  keras atau katakanlah kasar itu terdapat pula anak muda yang  baik dan ramah? Nah, bukankah sifat-sifat seperti itu terdapat dimanamana? Mak sudku, mereka tidak ubahnya dengan anak-anak muda yang  lain. Ada yang pantas dicela tetapi juga ada yang seharusnya memang mendapat pujian.” Mahisa Pukat m engangguk. Tetapi ia berkata ”Tetapi sifat itu ditrapkan atas kami, para Pelayan Dalam. Itulah yang membuat darah ini kadang-kadang menggelegak.” “Mahisa Pukat” berkata Mahendra ”kau memang harus sering berhubungan dengan Pangeran Kuda Pratama. Ia orang yang baik menurut penilaianku. Bertanggung jawab dan memiliki keberanian. Lebih dari itu, ia adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Pangeran itu tentu akan selalu berusaha membantu tugas-tugasmu. Apalagi ia memang diserahi tugas untuk mengawasi isi dari Kasatrian itu.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia memang sependapat bahwa Pangeran Kuda Pratama adalah seorang bangsawan yang baik dan mengerti perasaan dan tugas para Pelay an Dalam. Tetapi sudah tentu bahwa para Pelay an Dalam itu tidak akan selalu berada di sekitar Pangeran Kuda Pratama. Seperti petunjuk ay ahnya, maka selanjutnya Mahisa Pukat selalu berhubungan dengan Pangeran Kuda Pratama. Apalagi Pangeran Kuda Pratama telah m emberikan kesempatan kepada Mahisa Pukat untuk menemuinya setiap saat diperlukan. Sementara itu para Pelay an Dalam yang lebih dahulu berada di Kasatrian dengan senang hati m embantu dan ikut memecahkan masalah-masalah yang timbul terutama dihati para Pelay an Dalam. “Aku tidak kerasan tinggal dineraka ini” berkata anak muda yang bertubuh raksasa. Meskipun perasaan itu ada pula dihati Mahisa Pukat namun Mahisa Pukat sebagai pemimpin kelompok berusaha untuk menenangkan perasaan kawannya yang  bertubuh raksasa itu. “Kita akan bergayut pada kebaikan hati Pangeran Kuda Pratama” berkata Mahisa Pukat ”suatu ketika maka kita akan terbiasa dengan keadaan ini atau keadaan ini akan perlahanlahan berubah.” “Apa yang  berubah?” bertanya Pelayan Dalam bertubuh raksasa itu. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Meskipun agak ragu iapun menjawab ”Kita berharap sikap anak-anak muda di Ka satrian ini dapat berubah.” “Mereka sudah berada di Kasatrian ini sejak mereka meningkat remaja. Tetapi sikap mereka masih saja seperti itu. Aku tidak yakin bahwa sikap mereka akan dapat berubah. Seandainya perubahan itu terjadi, tentu sudah lama terjadi. Tetapi menurut para Pelay an Dalam yang terdahulu b ertugas diiini, mereka memang bersikap seperti itu. Sejak dahulu dan agaknya akan sampai saatnya mereka meninggalkan Ka satrian. Tetapi y g datang kemudian akan bersikap seperti mereka juga. Angkuh, merasa diriny a berkuasa dan menganggap kita tidak lebih budak-budak rendah yang tidak berharga.” “Sudahlah” potong Mahisa Pukat ”aku akan mencari jalan bersama-sama dengan pemimpin kelompok Pelayan Dalam yang terdahulu bertugas disini. Kami akan menemui dan mohon petunjuk Pangeran Kuda Pratama.” “Aku m eragukan perubahan yang diharapkan terjadi. Aku sebenarnya agak menyesal, kenapa aku memasuki lingkungan ini. Kenapa aku tidak menjadi seorang prajurit saja. Aku lebih senang dilemparkan ke m edan pertempuran daripada duduk diserambi Kasatrian ini sekedar untuk dibentak-bentak.” Mahisa Pukat menepuk bahu anak muda bertubuh raksasa itu. Katanya ”Percayalah. Aku akan mencari jalan.” Anak muda bertubuh raksasa itu memang diam. Tetapi terasa hatinya masih bergejolak. Meskipun ketika ia mendapat latihan khusus, ditempa badani dan jiwani, bayang an tugas sebagaimana dialami itu sudah disebut -sebut, tetapi ketika ia benar-benar harus mengalami, maka hatinya ternyata telah bergejolak. Dalam pada itu, Mahisa Pukat memang mencari cara untuk dapat sedikitpun m engurangi tekanan perasaan para Pelay an Dalam itu karena sikap para penghuni Ka satrian. Meskipun ada diantara mereka yang  baik, ramah dan lembut, namun perbandingannya lebih kecil daripada mereka yang  nakal, keras dan bahkan kasar. Seperti yang  dijanjikan, maka Mahisa Pukat telah menemui pemimpin kelompok Pelay an Dalam yang telah bertugas lebih dahulu. Mereka tidak lagi terdiri dari anak-anak muda sebagaimana kelompok yang  dipimpin oleh Mahisa Pukat. Sebagian mereka adalah orang-orang yang  telah meningkat meninggalkan usia mudanya. Diantara mereka pada umumnya sudah berkeluarga dan mempunyai satu dua orang anak. Ju stru karena yang  datang kemudian adalah anak-anak muda, maka yang  kemudian seakan-akan mendapat beban lebih berat adalah anak-anak muda itu. Para penghuni Ka satrian itu lebih ringan memberikan perintah, membentak dan berlaku kasar terhadap Pelay an Dalam yang lebih muda daripada yang sudah berumur lebih banyak itu. Dengan pemimpin kelompok Pelayan Dalam yang  terdahulu bertugas di Kasatrian, Mahisa Pukat mengadakan beberapa pembicaraan. Pelay n Dalam y g bertugas di Kasatrian harus meningkatkan kewibawaan mereka dihadapan para penghuni Kasatrian tanpa dianggap menentang atau memberontak terhadap mereka. Ketika keduanya mendapatkan kesepakatan, maka keduanya telah menghadap pangeran Kuda Pratama untuk menyampaikan rencana mereka apabila Pangeran Kuda Pratama memperkenankan. Pangeran Kuda Pratama justru tersenyum mendengar rencana itu. Sambil mengangguk-angguk ia berkata ”Rencana yang baik. Agaknya rencana ini datang dari yang  muda-muda karena sebelumnya belum pernah ada rencana seperti ini.” “Benar Pangeran” jawab pemimpin kelompok Pelay an Dalam yang  terdahulu ”meskipun hal-hal yang sama pernah kami rasakan sebelumnya, namun kami tidak berpikir untuk mengambil langkah-langkah seperti yang direncanakan oleh Mahisa Pukat. Ternyata pendapatnya itu baik. Wibawa Pelay an Dalam akan naik tanpa menyakiti hati para penghuni kasatrian.” “Baiklah. Aku akan mengaturnya” berkata Pangeran Kuda Pratama ”pada hari yang ditentukan, maka latihan khusus sebagaimana kalian rencanakan itu akan dilak sanakan dihalaman belakang Kasatrian.” Kedua orang pemimpin kelompok Pelay an Dalam yang  bertugas di Kasatrian itu mengucapkan terima kasih. Sementara mereka menunggu waktu yang akan ditentukan oleh Pangeran Kuda Pratama, maka mereka telah mempersiapkan pelaksanaannya. Ternyata Pangeran Kuda Pratama telah m engambil waktu yang terbaik yang dapat dipilihnya. Pada saat Pangeran Kuda Pratama memperingati hari dan pasaran saat Pangeran itu memasuki dan tinggal di kasatrian sambil mengemban tugasnya mengawasi para penghuni Ka satrian itu genap delapan tahun, maka Pangeran Kuda Pratama akan mengadakan semacam peringatan kecil-kecilan di halaman belakang Kasatrian. “Kita adalah kesatria-kesatria Singasari” berkata Pangeran Kuda Pratama ”ciri dari sifat kesatria bukanlah mengagungkan diri, sombong dan m erendahkan orang lain. Tapi salah satu dari ciri seorang kesatria adalah melindungi mereka yang lemah. Untuk itu kita harus memiliki kekuatan. Juga para kesatria. Tetapi karena acara seperti ini baru diselenggarakan untuk pertama kali, maka yang akan tampil kali ini adalah para Pelay an Dalam. Meskipun mereka bukan penghuni Ka satrian, tetapi mereka juga kesatria-kesatria Singasari. Karena ciri kesatria bukan dimana ia tinggal atau anak siapa mereka itu.” Anak-anak muda dan remaja yang tinggal di Kasatrian itu sebagian sama sekali tidak mendengar kata-kata Pangeran Kuda Pratama. Mereka datang untuk ikut beramai-ramai, makan bersama dan bergurau diantara mereka. Mereka tidak begitu memperhatikan acara -acara apa yang akan ditampilkan dalam peringatan itu. Yang mereka tunggu-tunggu adalah suguhan yang tentu akan meny enangkan mereka. Sementara itu Pangeran Kuda Pratamapun berkata ”Nah, sebelum kalian akan mendapat hidangan yang tentu kalian senangi, para Pelayan Dalam yang  bertugas di Kasatrian akan menunjukkan kemampuan mereka. Jika kalian, para Kesatria Singasari yang  tinggal di Kasatrian ingin turun kegelanggang, kalian akan mendapat kesempatan, meskipun seperti yang sudah aku katakan, bahwa yang  akan tampil kali ini terutama adalah Para Pelay an Dalam.” Pernyataan itu agaknya dapat sedikit menarik perhatian. Tetapi seorang Pangeran yang  meningkat dewasa tiba-tiba berteriak ”Paman, apa yang dapat mereka tunjukkan dihadapan kami? Latihan memasak say ur dan lauk pauk? Membuat minuman paling manis dengan gula yang  paling sedikit? Atau latihan membawa nampan untuk menghidangkan makanan kepada kami sekarang ini?” Anak-anak muda penghuni Kasatrian itu tiba-tiba t ertawa berkepanjangan. Seorang yang lain berteriak ”Kami sudah mulai lapar paman.” “Baiklah” berkata Pangeran Kuda Pratama ”kalian akan melihat, siapakah Pelayan Dalam yang sebenarnya. Apakah mereka m emiliki kemampuan memasak, membawa nampan untuk menghidangkan suguhan atau sekedar terkantukkantuk di serambi Kasatrian. Atau kemampuan sebagai seorang laki-laki. Seorang Kesatria yang  sanggup melindungi orang-orang yang lemah dan melindungi kalian yang tinggal di Ka satrian.” “Kenapa kami harus dilindungi? Kami memiliki kemampuan olah kanuragan. Sedang mereka hanyalah para pelayan. Bukan prajurit.” berkata salah seorang diantara mereka. “Karena itu, marilah kita lihat apa yang  dapat mereka lakukan” berkata Pangeran Kuda Pratama. Beberapa macam pertanyaan telah timbul dihati anak-anak muda itu. Para bangsawan muda itu mulai m enjadi jengkel. Mereka tidak tahu maksud Pangeran Kuda Pratama. Namun dalam pada itu, Pangeran Kuda Pratamalah yang  kemudian seakan-akan tidak menghiraukan para bangsawan muda itu. Ia mulai bertepuk tangan. Seorang Pelayan Dalam telah datang mendekat dengan sebuah tombak pendek ditangan. Pelay an Dalam itu berdiri tegak dihadapan Pangeran Kuda Pratama. “Mulailah” berkata Pangeran Kuda Pratama. Pelay an Dalam itu mengangguk hormat. Kemudian membawa tombak pendekny a melangkah ketengah-tengah arena di halaman belakang Ka satrian yang dikelilingi oleh anak-anak muda penghuni Kasatrian itu. “He, apa yang  akan dilakukannya?” teriak seorang bangsawan yang  masih sangat muda. “Dikiranya yang dibawanya itu galah jemuran pakaian” teriak yang  lain. Anak-anak muda itu tertawa. Mereka memang selalu melihat Pelay an Dalam yang  bertugas di Ka satrian itu membawa senjata. Merekapun tahu bahwa para Pelay an Dalam itu b ertugas untuk berjaga-jaga dan m elindungi istana dan isiny a jika terjadi sesuatu. Tetapi mereka menganggap bahwa Pelay an Dalam bukan prajurit sebagaimana yang mereka ketahui. Kemampuan mereka tentu hanya sekedarnya sa ja. Tidak berkemampuan sebagaimana seorang prajurit. Sekarang mereka melihat seorang Pelayan Dalam berdiri dengan t ombaknya. Tombak yang setiap hari dibawanya hilir mudik dipintu-pintu gerbang Kasatrian. Namun Pelayan Dalam itu seakan-akan tidak mempedulikan teriakan-teriakan itu. Demikian pula Pangeran Kuda Pratama yang duduk tenang ditempatnya. “Aku sudah lapar” teriak seorang bangsawan muda. Yang terdengar adalah suara tertawa gemuruh. Namun dalam pada itu, Pelayan Dalam itu mulai menggerakkan tombaknya perlahan-lahan. Diputarnya tombaknya disekitar badannya semakin lama semakin cepat. Kemudian Pelayan Dalam itu mulai mempermainkan tombaknya. Diperlihatkannya unsur-unsur gerak yang menarik dalam ilmu senjata khususny a tombak pendek. Tombak itu seakan-akan menangkis serangan yang  datang, namun kemudian dengan satu putaran, tombak itu seakanakan menggeliat dan tiba-tiba saja menusuk kearah jantung lawannya. Para bangsawan muda yang semula mentertawakan sikap Pelay an Dalam itu mulai terdiam. Mereka memang tidak mengira bahwa Pelayan Dalam itu mampu bermain-main dengan tombak yang setiap hari dibawanya kian kemari selama mereka bertugas. Mereka yang sering lihat para prajurit yang bertugas diluar istana dan di longkangan-longkangan terpenting selalu menganggap bahwa prajurit itu m emiliki kemampuan Untuk bermain dengan senjatanya karena m ereka seakan-akan telah menyatu dengan senjatanya itu. Tetapi mereka tidak menganggapnya demikian bagi Pelay an Dalam. Meskipun sejak para bangsawan itu masih berada didalam dukungan pemomongnya, mereka sudah melihat kehadiran Pelay an Dalam, namun mereka kurang memahaminya. Dalam keadaan yang paling gawat sekalipun maka yang  harus menanganinya adalah para prajurit. Bukan Pelay an Dalam. Namun para bangsawan muda itu memang belum pernah mengalami sesuatu yang  parah terjadi di Istana Singasari sejak mereka menyaidari kehadiran mereka di istana itu. Karena itu, maka m ereka belum pernah m elihat betapa seorang Pelay an Dalam mempergunakan senjatanya untuk benar-benar bertempur untuk melindungi istana dan isinya. Diantara para penghuni Kesatrian itu memang masih ada yang teringat, bagaimana huru-hara melanda istana Singasari disaat-saat sebelum Sri Maharaja bertahta bersama adik sepupunya yang mendampinginya sebagai Ratu Angabaya. Tetapi mereka tidak ingat lagi, apa yang dilakukan oleh para Pelayan Dalam. Yang mereka ingat meskipun sudah tidak jelas lagi, adalah adanya dua kelompok kekuatan yang bermusuhan. Orang-orang Sinelir dan orang-orang Rajasa. Para prajurit ternyata tidak dapat mengatasiny a. Bahkan kelompok-kelompok itu yang ternyata berada dibawah perintah Sri Rangga Wuni dan Mahisa Cempaka telah berhasil menyingkirkan Tohjaya dari tahta Singasari, bahkan kemudian ternyata telah meninggal. Mereka tidak ingat, apa yang  telah dilakukan oleh Pelay an Dalam Singasari. Tetapi kemudian mereka melihat seorang Pelayan Dalam yang memperlihatkan kemampuan mereka dalam olahraga senjata. Tombak pendek ditangannya itu kemudian berputar seperti baling -baling. Melingkar, terayun, menebas dan mematuk dengan garangnya. Sementara kaki Pelayan Dalam itu berloncatan dengan tangkasnya. Namun para bangsawan muda yang ada di Ka satriyan itu menganggap bahwa hal itu hanyalah satu kebetulan saja. Tidak semua Pelay an Dalam mampu berbuat demikian. Bahkan mungkin seluruh Pelayan Dalam yang ada di Kasatrian itu hanya seorang saja yang  dapat bermain senjata Namun ternyata dugaan itu keliru. Ketika Pelay an Dalam itu selesai bermain tombak, maka telah m emasuki arena dua orang Pelay an Dalam. Seorang bersenjata tombak dan seorang bersenjata pedang dan peri sai di tangan kiri. Setelah memberi hormat dan mendapat isyarat dari Pangeran Kuda Pratama, maka kedua orang Pelay an Dalam itu segera mempertunjukkan kemampuan mereka, mereka telah melakukan satu pertandingan yang mendebarkan. Seakanakan mereka yang ujung-ujung-bertempur dengan mempergunakan senjata m ereka yang ujung-ujungnya benarbenar tajam. Jika ujung-ujung senjata itu benar-benar menyentuh kulitf maka kulit itu tentu akan terluka. Namun kedua orang Pelay an Dalam itu ternyata cukup tangkas. Keduanya berloncatan saling meny erang dan menghindar. Menangkis dan menepis serangan lawan. Anak-anak muda yang  tinggal di Kasatrian itu menjadi semakin tercenung di tempat mereka. Mereka tidak m engira bahwa para Pelayan Dalam itu mampu melakukan permainan seperti itu. Ternyata bahwa mereka juga memiliki kemampuan sebagaimana seorang prajurit. Karena itu, maka hati m ereka memang m enjadi berdebardebar. Apalagi mereka yang  merasa sering melakukan kekasaran atas para Pelay an Dalam. Apalagi kemudian ketika Pelayan Dalam yang  lain menunjukkan kemampuan mereka berdua. Bermain senjata di atas punggung kuda dan beberapa jenis ketangkasan yang lain. Sebenarnyalah para bangsawan muda itu benar-benar terpukau. Mau tidak mau mereka harus menghargai kemampuan para Pelay an Dalam itu. Namun dalam pada itu, sekelompok bangsawan yang  berada di sudut justru agak dibelakang telah saling berbisik. Seorang diantara mereka adalah seorang bangsawan muda yang memiliki kelebihan dari para bangsawan yang  lain. Anak muda itu dianggap sebagai anak muda yang memiliki kemampuan tertinggi diantara mereka. Anak muda yang paling disegani oleh anak-anak muda seisi Ka satrian itu. Para bangsawan yang  ada di sekitarnya, yang menjadi berdebar-debar tetapi juga merasa tersinggung melihat kemampuan para Pelay an Dalam itu telah menggelitik bangsawan muda yang  dianggap memiliki kemampuan tertinggi itu. “Kita harus m enunjukkan bahwa yang mereka lakukan itu bukan satu hal yang mustahil” berkata salah seorang diantara mereka. “Apa yang harus aku lakukan?” bertanya anak muda yang  sebelumnya dianggap anak muda yang  m emiliki k emampuan tertinggi di Kasatrian. Ialah yang  telah memukul seorang diantara Pelay an Dalam yang baru saja bertugas di Kasatriyan itu. “Turunlah ke gelanggang. Tantanglah Pelayan Dalam yang  ilmunya tertinggi. Jika kau m engalahkannya, maka yang lain tidak akan berani meny ombongkan diriny a dengan bermainmain dihadapan kita seperti yang  mereka lakukan itu.” Bangsawan muda itu memang menjadi ragu-ragu. Ia melihat bahwa para Pelay an Dalam yang  juga masih muda itu memang memiliki kemampuan yang mantap. Tetapi karena para bangsawan muda yang  lain selalu menggelitiknya, maka akhirnya bangsawan muda itupun bangkit berdiri dan berteriak ”Cukup. Hentikan permainan yang tidak berarti itu.” Pangeran Kuda Pratama berpaling ke arah suara itu. Ia melihat bangsawan muda yang telah bangkit berdiri itu. Pangeran Kuda Pratama menarik nafas dalam-dalam. Ia memang berharap bahwa para bangsawan m uda itu merasa tersinggung dan m encoba untuk m enjajagi kemampuan para Pelay an Dalam itu. Karena itu, m aka Pangeran Kuda Pratama itupun berkata ”Marilah. Kemarilah. Katakan sekali lagi, apa yang  kau kehendaki atas para Pelay an Dalam itu.” Bangsawan muda itu melangkah maju. Beberapa orang yang lain telah mendor ongnya sambil berdesis ”Lakukan. Lakukan. Tantang yang  terbaik diantara mereka.” Bangsawan muda itu m emang melangkah maju mendekati Pangeran Kuda Pratama. Katanya ”Paman. Hentikan permainan yang  tidak berarti apa -apa itu. Untuk apa sebenarnya m ereka melakukan itu? Apakah mereka sekedar meny ombongkan diri atau apa ? Jika saja yang  dipertunjukkan itu pantas ditonton dengan bobot yang cukup tinggi, maka kami akan berterima kasih. Setidaknya kami akan mendapatkan pengalaman baru dalam olah kanuragan. Tetapi yang mereka lakukan sama sekali tidak memberikan kesan apapun bagi kami yang sudah mendalami olah kanuragan.” “Kau benar ngger” berkata Pangeran Kuda Pratama ”tetapi ada diantara kalian yang masih belum memiliki k emampuan apa-apa. Bagi mereka apa yang telah diper ontonkan itu akan sangat berarti.” “Paman” berkata bangsawan muda itu ”aku ingin menunjukkan kepada para Pelay an Dalam, bahwa apa yang mereka lakukan itu bagi kami merupakan tontonan yang menjemukan.” “Jadi kau akan mempertunjukkan dihadapan kami kemampuanmu olah kanuragan ? Marilah, mulailah bermain di arena. Apakah kau memerlukan seorang kawan ?” bertanya Pangeran Kuda Pratama. “Ya.” jawab bangsawan muda itu ”aku memerlukan seorang kawan bermain. Pelay an Dalam yang t erbaik diantara mereka.” “Baiklah” b erkata Pangeran Kuda Pratama kemudian ”aku akan mempersilahkan Mahisa Pukat untuk menemani Sawung Kemara. Sawung Kemara yang telah menyadap dasar ilmu kanuragan, sehingga mungkin Sawung Kemara akan dapat menunjukkan arti dari olah kanuragan dan mungkin akan sangat berarti bagi para Pelayan Dalam.” Mahisa Pukat yang disebut namanya telah melangkah maju dan berdiri dihadapan Pangeran Kuda Pratama. Sementara itu Sawung Kemara telah berdiri pula diarena. Sambil berdiri tegak menengadahkan dadanya, Sawung Kemara berkata ”He, apakah kau merasa bahwa kau pantas menemani aku dalam permainan ini ?” Mahisa Pukat yang sebelumnya telah mendapat ijin dan persetujuan dari Pangeran Kuda Pratama itupun berkata ”Ya Pangeran. Aku sudah siap atas ijin Pangeran Kuda Pratama.” Bangsawan muda itu m engerutkan dahinya. Ia m enyadari bahwa dirinya m asih belum diangkat dengan gelar Pangeran meskipun pada saatnya hal itu akan t erjadi. Tetapi ia tidak menghiraukannya. Wajahnya yang terangkat itu memandang berkeliling. Lalu katanya ”Baiklah. Tetapi jika terjadi sesuatu, itu bukan salahku. Aku sudah berusaha memperingatkanmu,” “Terima kasih atas peringatan Pangeran. T etapi bukankah aku ingin sekedar menambah pengetahuanku untuk memantapkan tugasku. Ju stru karena aku bertugas di Ka satrian.” “Baiklah. Marilah. Kita akan bermain-main tanpa senjata. Tetapi jika kulitmu tidak cukup liat, maka jari-jariku akan dapat mengoyak perutmu.” berkata Sawung Kemara. “Aku mohon agar hal seperti itu tidak terjadi. Bukankah kita sekedar bermain-main ?” berkata Mahisa Pukat. “Tetapi kadang-kadang kau mampu melindungi dirimu atau tidak. Jika kau m erasa tidak, maka sebaiknya kita urungkan permainan ini, agar aku tidak dipersalahkan telah menganiaya seorang Pelayan Dalam meskipun terjadi dihadapan banyak sak si.” “Aku akan mencoba melayani Pangeran” jawab Mahisa Pukat. Namun para bangsawan muda itu terkejut. Ternyata dihalaman belakang Ka satrian itu telah hadir orang-orang yang tidak diduga sebelumnya. Sesaat sebelum Mahisa Pukat melayani Sawung Kemara, beberapa orang Pelayan Dalam yang tidak b ertugas di Kasatrian itu datang. Seorang diantara mereka yang  berdiri dipaling depan berdiri tegak beberapa langkah dari Pangeran Kuda Pratama sambil bekata ”Ratu Angabaya berkenan hadir untuk menghormati Pangeran Kuda Pratama.” “Ratu Angabaya ?” bertanya Pangeran Kuda Pratama. “Ya” jawab Pelayan Dalam ”Ratu Angabaya telah berada dipintu gerbang halaman belakang Ka satrian.” Pangeran Kuda Pratamapun segera bangkit dan meny ongsong Ratu Angabaya yang kemudian memasuki halaman belakang Ka satrian. “Aku ingin menyaksikan peringatan sewindu kehadiran Pangeran Kuda Pratama di Ka satrian untuk mengemban tugasnya.” berkata Ratu Angabaya. “Kami mengucapkan terima ka sih atas kehadiran Ratu Angabaya” berkata Pangeran Kuda Pratama. “Nah, sebaiknya acara ini dilanjutkan. Aku tidak akan mengganggu” berkata Sri Mahisa Cempaka yang  bergelar Narasimha itu. Suasana di halaman belakang Kasatrian itu t elah berubah. Semuanya m enjadi diam bagaikan membeku. Mahisa Pukat masih saja berdiri tegak. Demikian pula Sawung Kemara. “Bukankah kalian ingin bermain bersama ?” bertanya Ratu Angabaya Hampir di luar sadarnya Mahisa Pukatpun mengangguk hormat. Dengan nada rendah Mahisa Pukat menjawab ”Hamba tuanku. Hamba ingin mendapatkan pengalaman baru dari Pangeran Sawung Kemara” Ratu Angabaya itu tersenyum. Katanya ”Apakah kau anak Mahendra yang  bernama Mahisa Pukat?” “Hamba tuanku,” jawab Mahisa Pukat. “Karena itu maka wajahmu mirip benar dengan wajah paman Mahendra.” berkata Rabu Angabaya. Namun katanya kemudian ”Silahkan. Aku ingin melihat kalian bermain-main untuk menggembirakan Pangeran Kuda Pratama.” Pangeran Kuda Pratama terseny um. Namun iapun segera mempersilahkan Ratu Angabaya Mahisa Cempaka yang bergelar Narashimha itupun kemudian duduk di sebelah Pangeran Kuda Pratama sambil berkata ”Marilah. Mulailah. Aku ingin menyaksikannya.” Para bangsawan muda yang lainpun benar-benar terdiam. Demikian pula Sawung Kemarapun menjadi berdebar-debar. Namun ada pula terpercik kegembiraan dihatinya bahwa Ratu Angabaya akan menyaksikan kemampuannya setelah ia berguru beberapa lama. Bahkan para bangsawan muda di Ka satrian itu menganggapnya sebagai seorang yang  terbaik diantara mereka. Meskipun demikian ada juga sedikit keraguraguan dihatinya setelah ia menyaksikan pameran ketrampilan para Pelayan Dalam sebelumnya. Karena ternyata merekapun memiliki kemampuan. Demikianlah atas isy arat Pangeran Kuda Pratama kedua orang yang  telah berdiri di arena itupun mempersiapkan diri. Mahisa Pukat yang sudah jauh lebih matang dari bangsawan muda itu telah bersiap untuk sekedar melayani saja. Meskipun demikian bangsawan muda itu kemudian harus merasa bangsa kemampuannya tidak melampaui kemampuan para Pelay an Dalam. Jika para Pelayan Dalam lebih banyak mengalah, itu karena kedudukannya yang memaksanya berbuat demikian meskipun sebenarnya hatinya tidak ikhlas. Sejenak kemudian, m aka kedua orang di arena itu telah mulai bergeser. Bangsawan muda itu mulai meny erang, sementara Mahisa Pukat berkisar menghindar. Namun Sawung Kemara itu telah memburunya dengan serangan beruntun. Mahisa Pukat sama sekali tidak tergetar oleh seranganserangan itu. Dengan tangkasnya ia berloncatan menghindar. Meskipun serangan Sawung Kemara m enjadi semakin cepat. Namun serangan-serangan itu tidak ada yang berhasil menyentuh tubuh Mahisa Pukat. Untuk mengimbangi serangan-serangan itu, maka sekalisekali Mahisa Pukatpun telah meny erangnya. Tidak untuk menembus pertahanan Sawung Kemara, tetapi sekedar untuk memberikan imbangan agar permainan itu tidak menjadi berat sebelah dan menjemukan. Dengan demikian maka untuk beberapa saat permainan itu memang nampak seimbang. Keduanya saling m eny erang dan menghindar. Para bangsawan muda itupun menjadi tegang seakan-akan mereka melihat pertempuran yang  sebenarnya dari dua orang yang  memiliki kemampuan seimbang. Namun Pangeran Kuda Pratama masih saja ter senyumsenyum. Ia melihat apa yang  sebenarnya terjadi. Demikian pula beberapa orang Pelayan Dalam yang  berpengalaman yang mengantar Ratu Angabaya turun ke Kasatrian. Apalagi Ratu Angabaya itu sendiri. Ia tahu pasti apa yang  sedang terjadi di arena itu. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Pukat telah membiarkan lawannya yang  muda itu berbuat apa saja. Bahkan sekali-sekali Mahisa Pukat memancing agar lawannya bertanding semakin sengit. Loncatan-loncatannya menjadi semakin cepat dan panjang, apalagi Sawung Kemara berusaha untuk secepatnya dapat mengalahkan Pelayan Dalam yang  dianggapnya t erlalu sombong itu. Tetapi usahanya itu seakan-akan selalu sia -sia. Serangannya tidak pernah meny entuh sasaran. Sementara itu Pelay an Dalam itu masih saja berloncatan dengan tangkasnya. Sawung Kemara mulai menjadi gelisah ketika Usahanya sama sekali tidak berarti. Serangan-serangannya sama sekali tidak pernah menyentuh tubuh Mahisa Pukat, sementara mahisa Pukat masih tetap segar sebagaimana saat mereka mulai bertanding. Keringat semakin deras mengalir dari lubang-lubang kulit Sawung Kemara. Sejalan dengan itu, maka tenaganyapun mulai menjadi susut, sementara Mahisa Pukat masih saja memancing untuk bertanding pada jarak yang  panjang. Ketika nafasnya mulai menjadi terengah-engah, maka Mahisa Pukat mulai menggelitiknya dengan sentuhansentuhan pada tubuhnya. Meskipun sentuhan-sentuhan itu tidak menyakitinya, tetapi sentuhan-sentuhan itu sangat menggelisahkan. Mahisa Pukat justru m engisyaratkan bahwa sentuhan-sentuhan itu semakin lama terasa menjadi semakin keras. Ketika tiga ujung jari Mahisa Pukat yang merapat menyentuh pundaknya, maka Sawung Kemara itu terdorong beberapa langkah surut sambil menyeringai menahan sakit yang mulai meny engat. Tetapi Mahisa Pukat tidak memburunya. Ia ju stru berdiri tegak dengan kaki renggang menunggu Sawung Kemara memperbaiki kedudukannya yang  goyah. Sawung Kemara memang segera mempersiapkan diri. Namun kegelisahannya semakin mencengkam jantungnya. Mahisa Pukat memang tidak segera meny erang. Selangkah demi selangkah ia maju mendekat, sementar Sawung Kemara menjadi semakin gelisah. Mahisa Pukat yang menjadi semakin dekat itu seakan-akan memandanginya dengan mata yg memancarkan api dendam yang meny orot kewajahnya. Sementara itu suara langkahnya bagaikan derap gunung yang bergetar mendekatinya. Ia sama sekali tidak melihat bahwa Mahisa Pukat justru tersenyum kepadanya. Langkahnya perlahan-lahan untuk memberi kesempatan kepada Sawung Kemara mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Namun semakin dekat wajah Mahisa Pukat itu menjadi semakin mengerikan. Seperti seekor serigala yang m enganga dengan taringnya yang  tajam, m atanya yang merah menyala serta lidahnya yang terjulur sambil menggeram. Sawung Kemara tiba-tiba kehilangan kendali atas dirinya. Kegelisahan dan bahkan ketakutan yang  mencekam jantungnya membuatnya tidak berperhitungan lagi. Dengan serta merta Sawung Kemara itu berteriak ny aring sambil meloncat menerkam Mahisa Pukat. Ketakutan serta kecemasannya yang semakin besar membuatnya menjadi sangat garang. Tetapi Mahisa Pukat tidak membentur serangan Sawung Kemara itu. Bahkan dengan cepat Mahisa Pukat menghindar sehingga terkaman Sawung Kemara tidak mengenai sa saran. Karena itu, justru bangsawan muda itu telah mengerahkan tenaga dan kemampuannya tanpa kendali, maka demikian terkamannya tidak mengenai sa saran, Sawung Kemara itu telah jatuh terjerembab. Beberapa orang bangsawan muda yang  menyaksikan permainan itu tidak dapat menahan tertawanya. Dengan serta merta mereka tertawa sambil bertepuk tangan. Namun ketika Sawung Kemara bangkit dan memandang berkeliling maka suara tertawa itu telah berhenti dengan sendirinya. Ketika Sawung Kemara memandang Ratu Angabaya, maka dilihatnya ia sedang tersenyum menyaksikannya. Demikian pula Pangeran Kuda Pratama. Karena itu, maka Sawung Kemara itupun menjadi semakin gelisah. Ternyata kemampuan para Pelay an Dalam itu jauh lebih tinggi dari yang diperkirakannya. Ia bukan saja melihat para Pelay an Dalam itu mempertunjukkan kemampuan mereka, tetapi ia sendiri sudah mencobanya. Namun ternyata bahwa kemampuannya agaknya dianggap tidak berarti apa -apa. Pelay an Dalam yang  bernama Mahisa Pukat itu masih ssya tetap tegar dan bahkan keringatnya seakan-akan sama sekali tidak mengembun dari lubang-lubang kulitnya. Ternyata Pangeran Kuda Pratama melihat kesulitan bangsawan muda itu. Iapun t idak berniat untuk mempermalukannya dihadapan banyak orang. Iapun mengetahui bahwa Mahisa Pukatpun sama sekali tidak berniat untuk meny ombongkan diri. Jika permainan itu dilakukan, semata-mata karena Mahisa Pukat ingin menempatkan kedudukan Pelay an Dalam pada tempat yang  sewajarnya dihadapan para bangsawan muda itu. Karena itu, maka Pangeran Kuda Pratama itupun kemudian berkata ”Baiklah. Sudahlah. Permainan ini kita hentikan. Sudah terlalu lama kita duduk di sini, sementara hidangan telah disiapkan. Nah, siapa yang tidak setuju jika hidangan yang sudah siap itu disuguhkan sekarang.” Hampir serentak anak-anak muda itu menyahut ”Setuju paman, setunju.” Perhatian anak-anak muda itu dengan cepat beralih. Mereka kemudian telah berpaling dari arena itu ke hidangan yang telah disiapkan. Meskipun demikian, apa yang telah terjadi di arena itu bukannya tidak berkesan sama sekali. Ketika kemudian beberapa orang pelayan m enghidangkan minuman dan makanan, maka sambil makan bangsawan muda itu mulai m erenung. Mereka mulai menilai penglihatan mereka pada permainan-permainan yang  telah dilakukan di arena. Ketika seorang Pelay an Dalam memperagakan kemampuannya dalam olah kanuragan, olah senjata dan bahkan dipunggung kuda. Kemudian permainan yang  sudah dilakukan antara Sawung Kemara dan Mahisa Pukat. Bagaimanapun juga mereka yang menyaksikan permainan itu mengerti, bahwa Sawung Kemara tidak mampu menundukkan Mahisa Pukat, meskipun m ereka tidak m elihat bahwa Mahisa Pukat mampu m engalahkan Sawung Kemara, namun setidaktidaknya Sawung Kemara tidak dapat menang pula atas Mahisa Pukat. Kehadiran Ratu Angabaya, yang sebenarnya memang sudah dihubungi oleh Pangeran Kuda Pratama, membuat peri stiwa itu semakin membekas dihati para bangsawan muda. Ternyata Ratu Angabaya menyaksikan langsung betapa para Pelay an Dalam m emiliki kemampuan jauh lebih baik dari bangsawan muda yang  berada di Kasatrian. Bahkan pada kesempatan berikutnya, setelah bangsawan-bangsawan muda yang  berada di Ka satrian itu selesai makan dan minum bersama-sama, Ratu Angabaya menganjurkan agar mereka meningkatkan kemampuan mereka “Kalian dapat belajar kepada Mahisa Pukat. Pelayan Dalam yang mahisa muda.” berkata Ratu Angabaya ”kecuali kalian yang masih berguru k epada beberapa orang guru yang  sudah ditunjuk bagi kalian. Tetapi Mahisa Pukat setidak -tidaknya akan dapat menjadi kawan berlatih yang  baik atas persetujuan guru kalian masing-masing. Pangeran Kuda Pratama akan dapat membicarakannya dengan guru kalian.” Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Kebanyakan dari mereka memang sedang berguru. Ada tiga orang guru yang ditunjuk bagi para bangsawan muda itu. Namun m asih ada dua orang diantara mereka yang belum mulai berguru. Mereka baru saja melewati usia duabelas tahun. Merekapun termasuk penghuni baru di Kasatrian. Demikianlah, maka untuk beberapa saat lamanya Ratu Angabaya masih saja berada di halaman belakang Kasatrian bersama-sama para penghuni Kasatrian. Ternyata bersama Ratu Angabaya para bangsawan muda itu sempat bergembira bersama-sama. Sikap yang  diam membeku sejak kehadirannya, perlahan-lahan dapat dipecahkan karena sikap Ratu Angabaya itu sendiri. Tetapi kegembiraan itu tidak berlangsung terlalu lama. Ratu Angabaya itupun kemudian minta diri meninggalkan Ka satrian. Ketika acara-acara itupun selesai, maka sikap penghuni Ka satrian terhadap para Pelay an Dalam itupun telah menjadi berubah. Mereka tidak lagi menganggap bahwa para Pelay an Dalam itu tidak lebih dari para Pelay an yang dapat diperlakukan sekehendak hati para bangsawan muda itu. Ju stru karena mereka mengetahui bahwa para Pelayan Dalam itu memiliki kemampuan sebagaimana seorang prajurit, maka merekapun menjadi agak segan karenanya. Sementara itu, yang dikatakan oleh Ratu Angabaya tentang Mahisa Pukat m emang telah m enimbulkan pikiran baru bagi Pangeran Kuda Pratama. Dua orang penghuni Kasatrian yang masih baru itu masih belum mulai berguru kepada salah satu diantara tiga orang guru yang ditunjuk bagi para bangsawan muda itu. Karena itu, maka Pangeran Kuda Pratama telah berbicara dengan Mahisa Pukat, apakah ia bersedia untuk menjadi orang keempat yang memberikan tuntunan oleh kanuragan bagi kedua orang bangsawan muda itu. “Tetapi bukanlah tugasku hanya sementara di Kasatrian ?” bertanya Mahisa Pukat ”setiap saat aku dapat dipindahkan ketempat yang lain.” “Meskipun kau dipindahkan, tetapi tugasmu tentu masih disekitar istana ini saja. Kau t idak akan bertugas ditempat lain karena kau seorang Pelay an Dalam. Jika Sri Maharaja atau Ratu Angabaya setuju, maka kau akan dapat ditetapkan menjadi salah seorang guru di Kasatrian. Itu kalau kau tidak berkeberatan.” “Tentu saja aku akan m enjalankan segala perintah. Tetapi agaknya hal itu akan dapat menghambat tugas-tugasku sebagai Pelay an Dalam. Sebagai seorang guru, maka waktuku tentu terikat karena disaat-saat yang  telah ditetapkan aku harus berada disanggar. Sementara itu setiap saat aku akan dapat menerima perintah yang harus aku jalankan pula. Jika waktu itu berhimpitan maka aku akan mengalami kesulitan. Sebagai seorang guru aku harus berada ditempat sesuai dengan waktu yang  telah aku tetapkan sendiri. Jika aku tidak ada ditempat pada waktu-waktu yang  sudah ditentukan itu, maka m urid-muridkupun tidak akan menghargai ketentuanketentuan itu. Bahkan ketentuan-ketentuan yang  lain pula.” Pangeran Kuda Pratama mengangguk-angguk. Katanya ”Aku m engerti. Tetapi bagaimana pendapatmu jika Manggala Pelay an Dalam, Gajah Saraya kemudian membebaskanmu dari tugas-tugas yang  lain dan mengangkatmu menjadi pelatih khusus bagi kedua orang anak muda yang masih belum terlanjur diserahkan kepada orang lain itu.” “Pangeran” berkata Mahisa Pukat kemudian ”sebenarnyalah bagaimana menurut pendapat Pangeran. Apakah aku pantas untuk menjadi guru dari kedua orang bangsawan muda itu ?” “Aku sudah mendengar beberapa tentang kau, Mahisa Pukat. Aku kenal baik dengan ay ahmu, Ki Mahendra. Aku kenal baik dengan Arya Kuda Cemani. Akupun tahu meskipun hanya dari pemberitahuan orang lain, apa yang pernah terjadi antara kau dan Senapati Sawungtuwuh. Juga yang telah kau lakukan atas mPu Damar. Karena itu, maka menurut pendapatku, kau memiliki kemampuan untuk menjadi salah seorang guru bagi para anak-anak muda penghuni Kasatrian ini. Lebih dari itu, kau akan dapat memberikan tuntunan bukan saja dalam olah kanuragan, tetapi juga olah kajiwan.” Mahisa Pukat hanya dapat menundukkan kepalanya. Ternyata Pangeran Kuda Pratama sudah mengetahui banyak sekali tentang dirinya Mahisa Pukat sama sekali tidak menyadari, bahwa Pangeran yang bertugas di Kasatrian itu menaruh perhatian demikian besarnya kepadanya. Karena itu, maka Mahisa Pukat tidak dapat mengelak lagi. Nampaknya Pangeran Kuda Pratama benar-benar berniat untuk menempatkannya di Ka satrian bukan saja sebagai pemimpin kelompok Pelay an Dalam, tetapi juga sebagai seorang guru bagi kedua orang bangsawan muda yang masih belum mulai berguru. Karena itu maka Mahisa Pukat itupun kemudian menyerahkan segala sesuatunya kepada kebijak sanaan Pangeran Kuda Pratama. Namun per soalan lain yang tidak pernah diduga sebelumnya telah terjadi. Rencana untuk menempatkan Mahisa Pukat bukan saja sebagai pemimpin kelompok Pelay an Dalam, tetapi juga sebagai guru itu telah menimbulkan persoalan pada tiga orang guru yang  telah lebih dahulu ada di Ka satrian. Apalagi ketika murid-murid mereka menceriterakan bahwa para Pelayan Dalam itu memiliki kemampuan yang tinggi dan bahkan Sawung Kemara tidak mampu mengalahkan seorang diantara para Pelayan Dalam itu. mPu Kamenjangan, guru Sawung Kemara yang mendengar ceritera tentang pertandingan itu menggeram ”Licik sekali. Anak itu masih terlalu hijau untuk dinilai dari sisi olah kanuragan.” Apalagi ketika mPu Kamenjangan itu mengetahui bahwa Pelay an Dalam yang bertanding melawan Sawung Kemara adalah Pelayan Dalam yang diusulkan untuk membimbing dua orang bangsawan yang masih sangat muda diantara para bangsawan yang  ada di Kasatrian itu. Dengan nada marah mPu Kamenjangan berkata ”Anak yang  baru mampu mengimbangi Sawung Kemara itu sudah dianggap mumpuni dan diusulkan untuk m enjadi guru dari kedua orang bangsawan muda yang baru tumbuh itu.” Kedua orang guru yang lain, yang  bersama-sama dengan mPu Kamenjangan membimbing para bangsawan muda itu sependapat dengan mPu Kamenjangan, bahwa Pelayan Dalam itu dianggap masih belum waktunya untuk menjadi salah seorang guru bagi kedua orang bangsawan yang  masih t erlalu muda itu. “Keduanya adalah anak yang baik, yang  memiliki hari depan yang cerah jika mereka berada dibawah bimbingan tangan yang baik. Karena itu, aku m erasa berkeberatan jika keduanya akan dibimbing oleh Pelay an Dalam yang  baru datang dan m emiliki kemampuan seimbang dengan Sawung Kemara.” Ternyata keberatan mPu Kamenjangan itu benar-benar disampaikan kepada Pangeran Kuda Pratama. mPu Kamenjangan m enganggap bahwa pengusulan Mahisa Pukat itu terlalu tergesa-gesa. “Tetapi kedua anak itu sudah semakin besar. Ia tumbuh menjadi remaja yang  harus meninggalkan dunia anakanaknya.” “Pangeran benar” jawab mPu Kamenjangan ”keduanya memang harus mulai. Yang kami maksudkan dengan tergesagesa bukan kapan keduanya harus mulai. Tetapi penunjukkan Pelay an Dalam itu. Apakah tidak ada orang lain yang  lebih baik dari Pelayan Dalam itu? Apakah diantara kami bertiga tidak mampu membimbing kedua orang bangsawan muda itu sehingga harus ditunjuk orang lain yang masih diragukan kemampuannya?” Pangeran Kuda Pratama menarik nafas dalam-dalam Ia tidak mgin meny ebut apa saja yang telah dilakukan oleh Mahisa Pukat, karena hal itu tentu tidak diinginkan oleh Mahisa Pukat sendiri yang kemudian dikenalnya sebagai seorang yang  rendah hati. Tetapi Pangeran Kuda Pratama itu harus menjawab Katanya ”mPu Kamenjangan. Kedua anak-anak itu masih melangkah pada tataran permulaan. Seandainya Mahisa Pukat masih belum mempunyai kemampuan cukup tinggi bukankah apa yang  dimilikinya itu sudah cukup bagi kedua anak-anak itu?” “Pangeran” jawab mPu Kamenjangan ”justru keduanya masih sedang tumbuh. Keduanya memerlukan tuntutan yang terbaik agar landasan yang  tersu sun dalam diri mereka adalah landasan yang  terkuat bagi mereka. Apalagi menurut pengamatan kami, kedua orang bangsawan muda itu memiliki dasar yang  sangat kuat, sehingga jika mereka mendapatkan bimbingan yang  terbaik, maka keduanya akan dapat menjadi orang yang  terbaik pula.” Pangeran Kuda Pratama mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian menjawab ”Aku sependapat mPu. Tetapi biarlah kami mencobanya. Apakah Mahisa Pukat dapat melakukan tugasnya dengan baik atau tidak.” “Kami sudah membicarakannya Pangeran. Kami meragukannya” Pangeran Kuda Pratama itu termangu-mangu sejenak. Tetapi ia sama sekali tidak ingin merubah niatnya untuk menyerahkan kedua orang anak yang  sedang tumbuh itu kepada Mahisa Pukat. Keduanya harus tumbuh dan berkembang dengan baik. Bukan saja menjadi anak muda yang bertandasan ilmu yang baik, tetapi juga sifat dan wataknya. Karena itu, maka katanya kemudian ”mPu. Aku sudah berbicara dengan Ratu Angabaya dan bahkan sudah disampaikan pula kepada Sri Maharaja. Ternyata baik Ratu Angabaya maupun Sri Maharaja tidak berkeberatan untuk menyerahkan kedua bangsawan muda itu kepada Mahisa Pukat.” “Tetapi baik Ratu Angabaya maupun Sri Maharaja belum mengetahui siapakah Mahisa Pukat itu.” jawab mPu Kamenjangan. “Ratu Angabaya menyaksikan permainan para Pelay an Dalam itu di halaman belakang Kasatrian” jawab Pangeran Kuda Pratama. “Sayang. Kami tidak mendapat kesempatan hadir waktu itu. Seandainya saja kami hadir, mungkin kami dapat memberikan pendapat kami lebih terperinci tentang Pelay an Dalam itu” berkata mPu Kamenjangan. Pangeran Kuda Pratama mengangguk-angguk kecil. Katanya ”Tetapi aku dan Ratu Angabaya hadir waktu itu. Kami melihat apa yang  dilakukan oleh para Pelayan Dalam termasuk Mahisa Pukat.” “Jika saja kami juga melihatnya” desis mPu Kamenjangan. - “Apakah mPu tidak percaya kepadaku dan kepada Ratu Angabaya serta beberapa orang perwira Pelay an Dalam yang menyertai Ratu Angabaya waktu itu? Apakah mPu tidak mengakui bahwa aku dan Ratu Angabaya juga memiliki kemampuan olah kanuragan sebagaimana mPu Kamenjangan?” mPu Kamenjangan terkejut mendengar pertanyaan itu. Dengan tergesa -gesa mPu Kamenjangan menjawab ”Tentu, tentu Pangeran. Pangeran dan Ratu Angabaya memiliki kemampuan yang tinggi.” <--sepertinya ada bagian cerita yang terlewat di buku aslinya-> Ternyata semakin lama anak-anak yang  masih terlalu muda itupun semakin tertarik dengan permainan-permainan yang dilakukan bersama Mahisa Pukat. Bukan saja setiap pagi berlari-lari dan bekejaran di halaman belakang Kasatrian, tetapi Mahisa Pukat kadang-kadang telah membawa mereka keluar istana. Dengan ujud dan pakaian orang kebanyakan, keduanya kadang-kadang telah menempuh perjalanan yang agak panjang. Bahkan mendaki bukit-bukit kecil. Melihat alam yang luas dari lereng pebukitan. Satu hal yang  jarang sekali mereka lakukan sebelumnya. Ternyata alam itu sangat menarik bagi keduanya. Mahisa Pukat sering m enceriterakan betapa luasny a alam ini. Terdiri dari ngarai, lembah, bukit-bukit dan bahkan gunung-gunung yang tinggi yang  nampak dari kejauhan. Jauh dibelakang cakrawala lautan yang  luas terbentang seakan-akan tanpa tepi. “Dimalam hari kita melihat bintang-bintang dilangit” berkata Mahisa Pukat. “Menarik sekali” desis salah seorang dari kedua orang anak muda itu. “Semakin kalian menjadi besar, maka harus semakin banyak yang  kalian lihat. Bukan saja alam yang  mengagumkan ini. Tetapi kalian juga harus semakin dekat dengan Pencipta Alam ini.” berkata Mahisa Pukat kemudian. Kedua bangsawan muda itu mengangguk-angguk. Ternyata alam telah m emberikan kesan yang lain dari sekedar m elihat istana, halaman yang  dibatasi oleh dinding -dinding istana dan bilik-bilik yang  dihiasi dengan perabot yang  mahal. Namun Mahisa Pukat tidak saja mengajak mereka melihat lembah dan lereng-lereng pegunungan yang  hijau segar. Tetapi Mahisa Pukat juga mengajak kedua bangsawan muda itu memasuki padukuhan-padukuhan kecil. Mereka sempat melihat kehidupan rakyat Singasari. Melihat rumah-rumah bambu beratap ilalang. Anak-anak yang telanjang berlarilarian disepanjang pematang m engejar kambing yang m ereka gembalakan. Kehidupan di padesan itu memang menimbulkan beberapa pertanyaan dihati bangsawan-bangsawan muda itu. Pakaian mereka yang  kusut. Tubuh mereka yang  kekurus-kurusan. Namun keduanya melihat wajah-wajah yang  cerah anak-anak padesan yang  duduk sambil meniup seruling disaat kambing dan lembu mereka makan rumput segar di ara-ara yang hijau. “Ternyata kehidupan itu beraneka” desis salah seorang bangsawan muda itu. “Ya” sahut yang  seorang lagi ”diistana kita melihat segalanya seakan-akah hanya senada. Tetapi dalam kehidupan yang lebih luas kita m elihat warna-warna'yang berbeda -beda. Itulah yang menarik.” “Dan jiwa kitapun akan menjadi semakin kaya. Pandangan kita akan luas karena penglihatan kita juga semakin banyak dan beraneka itulah” sahut Mahisa Pukat. Keduanya justru m enjadi semakin senang bergaul dengan Mahisa Pukat. Bahkan kadang-kadang tanpa mengatakan siapa mereka sebenarnya, Mahisa Pukat mengajak mereka berhubungan dengan orang-orang di padesan. Berbicara dengan mereka dan mengetahui serba sedikit seluk-beluk kehidupan mereka. Ternyata pengetahuan itu merupakan kelebihan bangsawan-bangsawan m uda itu dari bangsawan-bangsawan yang lain yang  lebih tua. Dengan pandangan yang  lebih luas dan beraneka itulah, maka permainan kedua anak itupun menjadi berkembang. Mereka memiliki ketrampilan mendaki lereng-lereng pebukitan. Menuruni lembah-lembah yang t erjal. Kaki merekapun m enjadi semakin kuat dan telapak kaki mereka menjadi menebal. Selain mengamati, memanjat dan menuruni lereng dan lembah-lembah pegunungan, maka merekapun diajak oleh Mahisa Pukat untuk memperhatikan berjeni s-jenis binatang ditepi-tepi hutan. Mereka sempat melihat bagaimana seekor kera dengan terampil memanjat pepohonan. Seekor kelinci yang berlari dengan cepat menyusup diantara gerumbulgerumbul liar menghindari duri-duri tajam. Seekor anak kambing yang berloncatan dan berlari-lari dilereng bukit sal ing mengejar. Seekor ular yang dengan diam-diam dan licik mengintai mangsanya menyusup tanpa menimbulkan keributan. Mereka juga m emandang dan mengamati burungburung dilangit. Burung sikatan yang lincah dengan cekatan. Burung srigunting yang mampu menantang dan melawan burung-burung yang  lebih besar dan kuat. Burung bangau yang lamban tetapi sangat sabar menanti mangsanya sambil berdiri flisebelah kakinya dipinggir rawa-rawa. Ternyata semuanya itu tidak pernah diperhatikan oleh bangsawan-bangsawan yang lain di Kasatrian. Tetapi Mahisa Pukat juga menganjurkan agar kedua orang muridnya itu mengikuti kegiatan yang dilakukan di Kasatrian. Keduanya juga belajar menari seperti yang  lain. Belajar unggah-ungguh sesuai dengan adat dan kebiasaan mereka, meskipun sebagian dari anak-anak m uda itu hanya mengetrapkannya dalam pertemuan-pertemuan resmi atau jika mereka menghadap diistana, karena apa yang  mereka lakukan sehari-hari di Kasatrian diluar pengamatan Pangeran Kuda Pratama sama sekali tidak lagi mengingat unggahunggah dan tatanan yang seharusnya berlaku. Meskipun demikian, ternyata kedua orang anak yang baru memasuki masa remajanya itu menjadi agak asing dari anakanak muda penghuni Kasatrian yang  lain. Justru karena keduanya berada dalam asuhan seorang guru yang lain dengan mempergunakan cara yang  lain pula dalam menuntun kedua murid-muridnya itu. Kedua.orang remaja itu memang merasa keterasingan mereka. Keduanya jarang sekali terlibat dalam kegiatankegiatan bersama dengan para penghuni Ka satrian yang  lain. Mereka kadang-kadang sengega ditinggalkan dan tidak diajak serta apabila para penghuni Kasatrian itu melakukan sesuatu. Ketika hal itu mereka sampaikan kepada Mahisa Pukat, maka Mahisa Pukatpun menasehatkan kepada m ereka, agar mereka bersabar dan berusaha mengikuti semua kegiatan sebanyak-banyaknya. “Jika kita tidak m enjauhi mereka, m aka pada suatu saat merekapun tidak akan memencilkan kita. Mereka tahu bahwa kita sama sekali tidak mempunyai niat buruk terhadap mereka” berkata Mahisa Pukat. Kedua remaja itu memang sudah terlanjur terikat pada Mahisa Pukat. Karena itu, maka mereka percaya kepada gurunya yang  masih muda itu. Sementara itu, dengan tugasnya yang  baru Mahisa Pukat menjadi semakin sibuk. Ia tidak saja m emimpin sekelompok Pelay an Dalam yang  masih baru, tetapi juga harus m enuntun dua orang remaja di Kasatrian itu. Tugas yang  bukan sekedar main-main, karena ia harus mempertanggung jawabkan hasilny a kelak. Kedua remaja itu harus tumbuh dan berkembang menjadi remaja yang  baik dan memenuhi keinginan para bangsawan di istana Singasari. Setidaktidaknya keduanya harus memiliki kemampuan seimbang dengan yang lain, yang berguru tidak kepada Mahisa Pukat. Dengan tugas rangkapnya itu, maka kesempatan Mahisa Pukat untuk meninggalkan Kasatrian menjadi semakin sempit. Meskipun demikian, pada saat-saat tertentu ia dapat pulang kerumah menemui ay ahnya dan bahkan juga sekali-sekali sempat menemui Sasi dirumahnya. Meskipun dengan demikian Sasi menjadi jarang bertemu dengan Mahisa Pukat, namun Sasi merasa berbangga pula bahwa Mahisa Pukat bukan lagi anak muda yang hanya berlalu-lalang dijalan-jalan Kotaraja. Tetapi ia sudah mempunyai pegangan yang mapan. Meskipun tidak lebih dari seorang Pelay an Dalam, namun karena ia m asih muda, maka kesempatan masih luas terbentang dihadapannya. Seandainya Mahisa Pukat mampu meniti kesempatan, maka ia tentu akan meningkat pada kedudukan yang lebih baik. Dalam pada itu, setelah beberapa lama Mahisa Pukat telah mulai dengan dasar-dasar olah kanuragan yang meskipun tidak langsung, tetapi sudah lebih mengarah lagi. Kedua remaja itu diajaknya untuk bertanding kecepatan berlari. Kemudian meloncat setinggi-tingginya yang dapat mereka lakukan. Meloncat pula sejauh-jauhnya. Menggerakkan seluruh anggauta badannya dan menguasai tubuhnya sebaik-baiknya. Baru kemudian, mereka diperkenalkan dengan unsur -unsur gerak yang paling sederhana. “Kalian tidak usah tergesa -gesa” berkata Mahisa Pukat ”kalian masih sangat muda sehingga kalian mempunyai kesempatan yang sangat luas”. Kedua remaja itu mengangguk-angguk. Mereka memang tidak mengeluh. Mereka lakukan semua petunjuk Mahisa Pukat sebaik-baiknya. Bagi Mahisa Pukat, kedua remaja itu memang berbeda dengan Mahisa Amping. Mahisa Amping yang pada dasarnya sudah ditempa sejak kanak-kanak oleh keadaan dan lingkungannya, maka ia memiliki beberapa kelebihan dari kedua remaja itu. Meskipun demikian kedua remaja itupun akan dapat ditempa sehingga m enjadi remaja yang memiliki kelebihan, karena pada dasarnya keduanya adalah remaja yang baik. Berbadan kokoh kuat dan berotak cerdas sehingga Mahisa Pukat jarang menemui kesulitan menghadapi keduanya. Pa da waktu-waktu selanjutnya, selain unsur-unsur gerak yang masih sederhana, Mahisa Pukatpun masih tetap membawa mereka ketempat-tempat terbuka. Justru dialam terbuka itu mereka menemukan lebih banyak dari sekedar hilir -mudik di istana. Dalam waktu yang terhitung singkat, maka Mahisa Pukat telah dapat m elihat perubahan pada kedua remaja ter sebut. Tubuh m ereka nampak menjadi semakin kuat. Gerak m ereka menjadi cepat dan cekatan. Pernafasan mereka menjadi semakin teratur sementara tubuh mereka semakin dapat mereka kuasai dengan baik. Karena itu, maka ketika mereka harus m empelajari unsurunsur gerak pada tataran selanjutnya, maka mereka sama sekali tidak mengalami kesulitan. Perubahan yang terjadi pada kedua remaja itu tidak luput dari perhatian ketiga orang guru anak-anak muda penghuni Ka satrian itu. Didasar hatinya yang  paling dalam mereka mengakui, bahwa perkembangan kedua orang remaja itu ternyata cukup memuaskan. Meskipun tidak meningkat dengan serta-merta. Namun ketiga orang guru anak-anak muda di Kasatrian itu telah m enemui Pangeran Kuda Pratama untuk memberikan wawasan tentang kedua orang remaja itu. “Mereka terlalu banyak bermain-main saja” berkata salah seorang dari mereka. Namun Pangeran. Kuda Pratama menjawab ”Mereka sedang belajar sambil bermain. Tetapi permainan mereka sama sekali tidak bertentangan dengan jalur yang  harus mereka jalani dalam m enimpa ilmu kanuragan. Aku senang dengan cara yang  dipergunakan oleh Mahisa Pukat. Anak-anak itu sama sekali tidak merasa terpaksa berlatih di sanggar yang tertutup rapat dan pengab.” Tanggapan Pangeran Kuda Pratama itu membuat mPu Kamenjangan dan kawan-kawannya menjadi semakin membenci Mahisa Pukat yang  masih belum merasa kenal dengan baik itu. Menurut mPu Kamenjangan maka Mahisa Pukat ternyata telah mendapat tempat yang paling baik diantara para guru di Kasatrian. Meskipun Pangeran Kuda Pratama sudah menjelaskan kepada m ereka, bahwa cara yang ditempuh oleh Mahisa Pukat itu m emang masih selalu dalam pengamatan namun agaknya Pangeran Kuda Pratama cenderung menganggap bahwa cara Mahisa Pukat itu lebih baik dari cara guru-guru yang lain. “Marilah kita lihat bersama-sama” berkata Pangeran Kuda Pratama ”jika ternyata kemudian Mahisa Pukat tidak berhasil dengan caranya, maka segala sesuatunya tentu perlu ditinjau kembali. Kami tentu juga tidak ingin mengorbankan kedua orang remaja yang sedang tumbuh itu.” “Kasihan mereka” berkata mPu Kamenjangan ”mereka akan menjadi korban penjajagan kemampuan Mahisa Pukat.” “Tentu sekarang kita belum dapat mengatakan demikian” jawab Pangeran Kuda Pratama ” sudah aku katakan. Aku senang dengan cara yang  ditempuh Mahisa Pukat. Tetapi sudah tentu aku tidak akan melepaskan penilaian yang  wajar. Karena persoalannya akan menyangkut masa depan dua orang remaja di Ka satrian ini.” mPu Kamenjangan memang mengangguk-angguk. Tetapi di hatinya tersimpan kebencian yang semakin mendalam kepada Mahisa Pukat. Apalagi Mahisa Pukat mempergunakan cara yang lebih disenangi oleh Pangeran Kuda Pratama. Bagaimanapun juga perasaan ketiga orang guru yang lain, namun Mahisa Pukat berjalan terus sebagaimana ia memulainya. Ia masih saja membawa murid-muridnya keluar dinding istana. Apalagi mPu Kamenjangan dan kedua orang guru yang  lain seakan-akan tidak memberikan kesempatan untuk berlatih disanggar. Hampir setiap saat sanggar itu tengah dipergunakan untuk berlatih dibawah bimbingan ketiga orang guru yang sudah lebih dahulu berada di Ka satrian. Pangeran Kuda Pratama memperhatikan perkembangan tuntunan atas penghuni Kasatrian itu dengan saksama. Setidak-tidaknya ia melihat ketiga orang guru yang sebelumnya berada di Kasatrian itu bekerja lebih keras. Dengan demikian maka anak-anak muda di Kasatrian itupun harus mengikuti perkembangan ketiga orang gurunya. Mereka juga berlatih lebih keras dari yang  sudah mereka lakukan. “Satu akibat yang  baik dari kehadiranmu” berkata Pangeran Kuda Pratama kepada Mahisa Pukat. “Ya Pangeran” jawab Mahisa Pukat. “Meskipun setiap kali aku minta mereka meningkatkan latihan-latihan mereka setiap saat, tanpa ada dorongan seperti kehadiranmu, maka mPu Kamenjangan tentu tidak akan menjadi serajin sekarang” berkata Pangeran Kuda Pratama. Lalu katanya selanjutnya ”Dengan demikian maka kehadiranmu sudah memberikan arti tersendiri.” Mahisa Pukat tersenyum sambil mengangguk hormat. Katanya ”Agaknya itu adalah arti terpenting dari kehadiranku disini.” Pangeran Kuda Pratamapun tertawa. Katanya ”Teruskan caramu. Aku senang. Mudah-mudahan kau berhasil.” “Pangeran” berkata Mahisa Pukat ”setiap saat aku menunggu penilaian Pangeran atas cara yang aku lakukan. Jika cara itu salah, maka sebelum terlambat, aku harus merubahnya.” “Sampai sekarang aku tidak m elihat keberatannya. Namun agaknya kau juga harus sering m empergunakan sanggar itu. Bukankah waktunya sudah terbagi dengan baik.” “Namun kami jarang sekali mendapat kesempatan itu. Hampir setiap saat sanggar itu terpakai. Bahkan saat-saat yang seharusnya kami pergunakan. Mungkin m ereka tahu bahwa kami memang jarang mempergunakan sanggar itu. Tetapi dimusim basah, maka kami memang harus berlatih lebih banyak didalam sanggar.” berkata Mahisa Pukat. “Karena itu sebaiknya waktu yang menjadi bagianmu kau pergunakan seperlunya, agar kesempatan itu tetap dapat kau pergunakan pada saat-saat mendatang. Jika waktumu sudah sering dipergunakan oleh orang lain, maka pada saatnya kau benar-benar tidak mempunyai kesempatan mempergunakan sanggar.” Mahisa Pukat mengangguk kecil sambil menjawab ”Baik Pangeran. Aku akan melakukannya.” Seperti petunjuk Pangeran Kuda Pratama, maka Mahisa Pukatpun mulai mengambil waktu yang  diperuntukkan baginya sepenuhnya. Meskipun mula-mula sedikit menimbulkan persoalan, tetapi akhirnya ketiga orang guru yang lain harus mengikuti petunjuk waktu yang  sudah disediakan. Sementara itu, pada kesempatan yang  lain Mahisa Pukat masih tetap sering m embawa kedua remaja itu keluar istana. Bahkan keluar Kotaraja. Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat merasa sering terganggu oleh para penghuni Kasatrian yang sering memaksa untuk melihat kedua remaja itu berlatih di sanggar. Ju stru karena m ereka baru mulai, maka unsur-unsur yang  dipelajari oleh kedua remaja itu nampaknya memang masih t erlalu sederhana, sehingga kadang-kadang para penghuni yang lain menganggap bahwa kemajuan yang dicapai oleh kedua remaja itu terlalu lamban. Namun yang  mereka lihat hanyalah ujud kewadagannya. Mereka tidak mengerti bahwa tenaga yang  ter simpan didalam unsur -unsur gerak itu jauh lebih berat dari yang dimiliki oleh anak-anak muda yang lain. Dalam pada itu, selain memberikan tuntunan kanuragan, ternyata Mahisa Pukat dapat pula membantu kedua remaja itu mempelajari ilmu yang lain. Mahisa Pukat dapat membantu kedua remaja itu m empelajari kesusastraan, i lmu hitung dan bahkan pengenalan pada tingkat pertama atas bintang-bintang dan musim. Para penghuni Kasatrian itu selain mempunyai guru-guru dalam olah kanuragan, mereka juga diwajibkan berguru dalam ilmu -ilmu yang lain. Mereka m empelajari kesusa straan, ilmu hitung dan awal dari ilmu perbintangan dan musim serta macam-macam pengetahuan yang  lain yang  akan berarti sebagai bekal hidup mereka. Tetapi anak-anak muda di Kasatrian itu sebagian besar tidak begitu t ertarik kepada ilmu pengetahuan yang  lain dari ilmu kanuragan. Meskipun mereka terpaksa mengikutinya juga pada waktu-waktu yang telah ditentukan, namun mereka lambat sekali memperoleh kemajuan. Berbeda dengan m ereka adalah kedua orang remaja yang  kebetulan juga berguru kepada Mahisa Pukat. Karena Mahisa Pukat sendiri tertarik pada beberapa jenis pengetahuan itu, maka sambil meningkatkan pengetahuannya sendiri, Mahisa Pukat sering ikut menunggui kedua remaja itu belajar dan bahkan disaat-saat mereka menerima pelajaran dari guru mereka dalam bidang yang  lain kecuali kanuragan. Dengan demikian, maka justru Mahisa Pukatlah yang  menjadi paling akrab dengan guru yang membimbing kedua remaja itu. Justru karena umurnya yang  masih terlalu muda, maka keduanya mendapat waktu tersendiri meskipun dibawah bimbingan guru yang  sama dengan anak-anak muda yang lain. Namun karena kedua remaja itu seakan-akan selalu terpisah dari anak-anak muda yang lain, maka hubungan mereka dengan anak-anak muda penghuni Kasatrian itu rasarasanya tetap saja ada jarak. Bagaimanapun juga kedua remaja itu berusaha melarutkan diri dalam pergaulan di Kasatrian, namun mereka kadang-kadang m emang sengaja ditinggalkan oleh yang lain. Tetapi kedua orang remaja itu tidak menjadi berkecil hati. Meskipun mereka lebih muda dari yang  lain, namun pandangan mereka menjadi lebih luas. Dada m ereka seakanakan menjadi lebih lapang, Cara berpikir mereka yang masih sangat muda itu justru lebih mapan. Semuanya itu tidak terlepas dari pengamatan Pangeran Kuda Pratama. Namun Pangeran itupun melihat pula, tiga orang guru yang  telah lebih dahulu ada di Kasatrian itu ternyata menjadi semakin mendendam kepada Mahisa Pukat. Sementara Mahisa Pukat sendiri nampaknya tidak banyak menghiraukan mereka. Tetapi sebenarnyalah bahwa Mahisa Pukat juga menjadi semakin berhati-hati terhadap ketiga orang guru yang  juga selalu datang bertugas di Ka satrian itu. Namun ternyata bahwa ketiga orang guru itu tidak ingin langsung menjajagi kemampuan Mahisa Pukat. mPu Kamenjangan telah berusaha untuk meminjam tangan saudara seperguruannya. mPu Sidikara. “Jajagi kemampuan anak itu mPu” berkata mPu Kamenjangan kepada adik seperguruannya. “Apakah aku harus meny elesaikannya kakang?” bertanya mPu Sidikara. “Tidak. Aku hanya ingin tahu sejauh manakah kemampuannya dalam olah kanuragan. Ia telah diangkat pula menjadi salah seorang guru bagi penghuni Kasatrian Singasari. Bahkan Pangeran Kuda Pratama ternyata senang terhadap cara yang dipergunakannya selama ini. Cara yang berbeda dari cara yang kami pergunakan.” “Hanya untuk menjajagi?” bertanya mPu Sidikara. “Ya. Jadi kau sudah tahu tataran kemampuannya, maka biarlah ia tetap dalam tugasnya. Ukuran kemampuannya akan menentukan keberhasilannya atas kedua orang muridnya di Ka satrian.” “Baiklah kakang” jawab mPu Sidikara. “Anak itu sering membawa murid-muridnya keluar Kotanya. Bahkan sampai kelereng bukit-bukit kecil itu. Kau dapat mencari kesempatan untuk menemuinya.” pesan mPu Kamenjangan. “Dihadapan kedua muridnya?” bertanya mPu Sidikara. “Aku kira tiak ada salahnya. Biarlah muridnya menyadari, bahwa guru mereka sama sekali tidak berarti.” jawab mPu Kamenjangan. “Baiklah. Aku akan menunggu kesempatan untuk dapat menemuinya dilereng bukit k ecil itu. Aku akan membuatnya jera dan memaksanya mengakui kekurangannya.” berkata mPu Sidikara. Demikianlah, maka mPu Sidikara itu memang berusaha untuk dapat memenuhi permintaan mPu Kamenjangan untuk menjajagi kemampuan Mahisa Pukat. Seorang pemimpin kelompok Pelayan Dalam yang juga ditugaskan sebagai guru dalam ilmu kanuragan atas dua orang remaja di Kasatrian. Beberapa hari mPu Sidikara memperhatikan bukit kecil itu. Namun akhirnya waktu yang dinantinya itupun datang. mPu Sidikara melihat Mahisa Pukat berlari-lari bersama kedua orang muridnya kelereng bukit di pagi-pagi sekali sebagaimana dikatakan oleh mPu Kamenjangan. Dengan cepat mPu Sidikara telah menyusulnya kelereng bukit. Ketika Mahisa Pukat mengajak kedua muridnya mengatur pernafasannya dilereng bukit, m aka mPu Sidikara itupun melangkah mendekati mereka. Untuk beberapa saat mPu Sidikara tidak berbuat sesuatu selain memperhatikan mereka bertiga. <> Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi semakin yakin bahwa orang itu tentu sedang membuat persoalan untuk dijadikan bibit pertengkaran. Namun Mahisa Pukat telah siap menghadapinya. Karena itu, maka ia sama sekali tidak ingin menghindar. Meskipun demikian Mahisa Pukat tidak semata-mata menanggapi persoalan yang sedang ditumbuhkan oleh orang yang menyebut namanya mPu Sidikara itu. Dengan nada rendah Mahisa Pukat menjawab ”Ki Sanak. Tentu aku tidak dapat menyanggupinya bahwa setiap hari aku membawa keduanya kemari. Aku tidak mempunyai wewenang mutlak atas keduanya. Berbeda dengan wewenang seorang guru atas murid-muridnya disebuah padepokan. Aku diangkat sebagai seorang guru di Kasatrian. Karena itu maka wewenangku atas murid-muridku memang terbatas.” “Jangan membuat bermacam-macam alasan. Aku memerlukan kedua anak m uda itu. Kau harus membawanya setiap hari kemari. Keduanya pantas menjadi muridku.” sahut mPu Sidikara. Mahisa Pukat berpaling kepada kedua orang remaja dari Ka satrian itu. Keduanya memang m enjadi bingung sehingga keduanya ju stru mematung memperhatikan gurunya yang sedang berbicara dengan orang yang  tidak dikenalnya tentang diri mereka. Namun akhirnya Mahisa Pukat ter senyum. Katanya ”mPu Sidikara. Kenapa kau tidak berterus-terang saja? Bukankah kau ingin menjajagi kemampuanku? Mungkin atas keinginanmu sendiri, tetapi mungkin pula atas permintaan orang lain. Kita sebelumnya tidak saling mengenal. Kita tidak mempunyai kepentingan apapun yang  saling berkaitan apalagi berbenturan. Tiba-tiba saja kau datang untuk mengungkit tentang kedudukanku sebagai guru. Nah, sebodoh-bodoh orang tentuakan timbul pertanyaan didalam diriny a. Apa sebenarnya yang kau kehendaki.” mPu Sidikarapun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya ”Baiklah. Aku tidak akan ingkar. Tetapi kau tidak perlu tahu apa kepentinganku sebenarnya Aku m emang ingin menjajagi kemampuanmu.” “Nah, dengan demikian kau tidak m embuat aku menjadi bingung dan berteka-teki. Demikian pula kedua orang muridku. Jika kau datang dan langsung m enantangku, maka kedua orang muridku tentu akan senang karena mereka berkesempatan untuk melihat apa saja yang  dapat dilakukan oleh gurunya” Wajah mPu Sidikara menjadi tegang. Ternyata Pelay an Dalam muda yang juga diangkat menjadi guru di Ka satrian itu sama sekali tidak menunjukkan kecemasannya. Agaknya anak muda itu memang terlalu y akin akan kemampuannya sehingga ia siap menghadapi siapa saja meskipun belum dikenalnya tingkat kemampuannya. Ju stru karena itu, maka mPu Sidikarapun menjadi semakin berhati-hati menghadapi Mahisa Pukat. Apalagi menurut mPu Kamenjangan, Pangeran Kuda Pratama nampaknya sangat menghargai Pelayan Dalam yang masih muda itu. Dengan nada berat mPu Sidikara itupun berkata ”Anak muda. Jika demikian maka bersiaplah. Kita akan bermainmain sejenak. Mudah-mudahan kedua orang m uridmu tidak menjadi ketakutan karena aku tidak bermaksud apa-apa selain menjajagi kemampuanmu dan memaksamu untuk mengakui, bahwa kau masih belum pantas untuk menjadi guru di Ka satrian.” Mahisa Puatpun menarik nafas dalam-dalam. Kepada kedua orang bangsawan muda yang  m enjadi muridnya itu ia berkata ”Minggirlah. Aku akan bermain-main sebentar. Kalian tidak usah cemas. mPu Sidikara tidak akan berbuat apa-apa selain berniat untuk memaksa aku mengakui bahwa aku bukan seorang guru yang baik. Sedangkan aku akan bertahan dan memaksanya mengakui, bahwa aku memang pantas untuk menjadi seorang guru di Kasatrian Singasari.” Kedua orang remaja penghuni Kasatrian itu termangumangu sejenak. Namun Mahisa Pukatpun telah mendorongnya menepi dan bahkan duduk diatas sebuah batu yang besar. Namun bagaimanapun juga kedua remaja itu menjadi tegang. Keduanya memang menganggap bahwa gurunya adalah seorang yang berilmu tinggi. Namun menghadapi seorang yang  sudah jauh lebih tua dan nampak sangat meyakinkan, keduanya menjadi cemas. Sejenak kemudian Mahisa Pukatpun telah ber siap. Namun ia sadar, bahwa mPu Sidikara adalah seorang yang  berilmu tinggi. Ia teringat kepada mPu Damar yang pernah dikalahkannya. Mungkin mPu Sidikara itu memiliki kemampuan sebagaimana mPu Damar atau bahkan lebih tinggi. Tetapi seperti biasanya Mahisa Pukat tidak ingin mengalahkan lawannya dengan serta-merta. Ia ingin mengalahkan lawannya dengan ilmu yang hanya selapis lebih tinggi dari lawannya itu. Hanya jika sangat diperlukan ia terpaksa mempergunakan puncak kemampuannya. mPu Sidikarapun kemudian telah bersiap pula. Keduanya berdiri pada jarak beberapa langkah. m Pu Sidikara memang meragukan kemampuan Mahisa Pukat yang  masih muda itu. Tetapi ia tidak ingin merendahkannya. Demikianlah, maka keduanya sudah bersiap untuk bertempur. Meskipun mPu Sidikara hanya ingin sekedar menjajagi, namun kemungkinan yang lebih gawat akan dapat terjadi. Sejenak, kemudian maka keduanyapun mulai bergeser. Bahkan m Pu Sidikara telah mulai memancing Mahisa Pukat. Mahisa Pukat yang  meloncat selangkah surut telah meny erang pula. Namun serangannya seperti serangan mPu Sidikara masih belum berbahaya. Kedua orang remaja dari istana Singasari itu menjadi semakin tegang. Mereka melihat gurunya mulai m enghindar dan meny erang. Demikian pula orang yang bernama mPu Sidikara itu. Semakin lama keduanya bergerak semakin cepat. Kedua remaja yang  memang sudah terikat pada Mahisa Pukat itu semakin mengagumi gurunya ketika ia melihat gurunya berloncatan dengan cepat. Namun merekapun menjadi cemas juga karena lawan gurunya itupun menjadi semakin garang. Mahisa Pukat dan mPu Sidikara memang bergerak semakin cepat. mPu Sidikara yang  nampaknya sangat m eyakinkan itu mulai berusaha untuk mencari kelemahan Mahisa Pukat. Tetapi mPu Sidikara ternyata mulai menjajaginya dari tataran yang paling rendah. Dengan unsur-unsur gerak yang  paling sederhana, bahkan unsur-unsur yang  telah dikenal dengan baik oleh kedua murid Mahisa Pukat itu. Mahisa Pukat memang agak tersinggung. Tetapi ia masih selalu mengendalikan dirinya. Ia masih saja melayani mPu Sidikara yang ingin menjajagi ilmunya. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Pukat yakin bahwa mPu Sidikara tentu mempunyai hubungan dengan salah seorang dari ketiga orang guru yang telah lebih dahulu berada di Kasatrian atau salah seorang daripada mereka. Bahkan mungkin sekali bahwa mPu Sidikara mempunyai hubungan dengan mPu Kamenjangan. Ju stru karena mPu Sidikara mulai dari tataran yang paling rendah, maka Mahisa Pukat mampu melihat beberapa ciri yang khusus dari unsur gerak mPu Sidikara itu sama dengan unsur gerak yang dilihatkan pada unsur -unsur gerak Sawung Kemara. Karena itu, maka dugaan Mahisa Pukat bahwa mPu Sidikara mempunyai hubungan dengan mPu Kamenjangan menjadi semakin kuat. Bahkan ketika Mahisa Pukat menjadi semakin yakin, iapun berkata sambil menghindari serangan mPu Sidikara ”mPu. Aku pernah melihat unsur-unsur gerak sebagaimana mPu peragakan kali ini. Barangkali bagi mPu memang sekedar dasar-dasar dari ilmu yang  mPu miliki. Namun justru karena itu, persamaan itu menjadi semakin jelas.” “Aku tidak tahu maksudmu” sahut mPu Sidikara. “Aku pernah bermain-main bersama Pangeran Sawung Kemara. Ternyata unsur-unsur gerak yang aku lihat pada Pangeran itu sama dengan dasar-dasar unsur gerak mPu Sidikara, justru karena mPu beranjak dari dasar ilmu yang mPu miliki. Sedangkan Pangeran Sawung Kemara adalah murid mPu Kamenjangan.” “Jadi kau menganggap bahwa aku m empunyai hubungan dengan mPu Kamenjangan ?” bertanya mPu Sidikara. “Hanya dugaanku, berdasarkan pada pengamatanku atas ciri -ciri dari ilmu yang mPu miliki dan ilmu yang  tumurun dari mPu Kamenjangan.” jawab Mahisa Pukat. mPu Sidikara sama sekali tidak m enjawab. Tetapi ia justru meningkatkan ilmunya ketataran yang  lebih tinggi. Ia memang menyesal bahwa ia berangkat dari dasar ilmunya yang  paling sederhana. Ia m emang bermaksud memanaskan hati Mahisa Pukat yang masih muda itu. Jika hatinya terbakar, m aka ia tentu akan segera berusaha dengan cepat mengalahkannya. Tetapi yang  terjadi justru tidak demikian. Mahisa Pukat itu justru berusaha mengenali ciri -ciri dasar dari ilmu yang memang bersumber dari perguruan yang  sama dengan mPu Kamenjangan. “Tetapi itu tidak penting” berkata mPu Sidikara didalam hatinya untuk menghapus perasaan kecewanya. ”Yang penting aku dapat membuktikan bahwa anak itu tidak sepantasnya menjadi guru di Kasatrian Singasari.” Dengan demikian, maka pertempuran antara keduanya itupun semakin lama menjadi semakin meningkat. mPu Sidikara dengan cepat ingin meny embunyikan unsur-unsur dasar pada ilmunya sebagaimana yang  dapat dilihat oleh Mahisa Pukat pada Pangeran Sawung Kemara. Namun persamaan itu sudah terlanjur dilihat oleh Mahisa Pukat. Demikianlah, maka keduanyapun bergerak semakin lama semakin cepat. m Pu Sidikaralah yang kemudian merasa tidak perlu lagi mempermainkan perasaan Mahisa Pukat, karena ternyata hati anak my da itu tidak mudah terbakar. Meskipun masih muda, t etapi Mahisa Pukat itu mampu m engendalikan perasaannya dengan sebaik-baiknya. Getar perasaannya sama sekali tidak nampak mempengaruhinya ketika ia memanasinya dengan menjajagi kemampuan anak muda itu dari tataran yang paling rendah. Bahkan sebalikny a, anak muda itu ju stru selalu mengimbanginya. Pada saat mPu Sidikara masih berada pada tataran terendah, Mahisa Pukat sama sekali tidak berusaha mendahuluinya dan meny elesaikannya dengan cepat. Tetapi Mahisa Pukatpun m elawannya dengan landasan ilmunya dari tataran yang  paling rendah pula. “Hanya orang yang  terlalu y akin akan kemampuannya yang  dapat berbuat demikian” berkata mPu Sidikara didalam hatinya. Ketika pertempuran itu menjadi semakin seru, maka kedua orang remaja dari kasatrian Singasari itupun menjadi semakin bingung. Mereka mulai tidak mengerti atas apa jrang terjadi. Mereka tidak tahu siapakah diantara keduanya yang  terdesak dan mendesak. Yang mereka ketahui, keduanya berloncatan dengan cepat dan bahkan semakin keras pula. Benturanbenturanpun segera t erjadi. Kadang-kadang mPu Sidikara terdesak mundur. Namun kemudian Mahisa Pukatlah yang harus bergeser surut. Serangan demi serangan telah dilontarkan dari kedua belah pihak. Dengan mata kecilnya kedua remaja itu mulai melihat bahwa serangan-serangan kedua belah pihak mulai meny entuh lawannya. Tetapi ternyata bahwa hal itu tidak mudah dilakukannya. Mahisa Pukatpun masih juga mampu m eningkatkan ilmunya sebagaimana mPu Sidikara itu sendiri. Karena itu, maka kegelisahan telah mecengkam jantungnya. Apalagi ketika ia sudah merambah ke ilmu puncaknya. “Darimana anak iblis ini menyadap ilmunya” geram mPu Sidikara didalam hatinya. Bagi mPu Sidikara, Mahisa Pukat selain merupakan anak yang  baru lahir kemarin sore, juga merupakan orang baru di Kotaraja. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Pukat memang terhitung belum begitu lama berada di Kotaraja sejak ia mengunjungi ay ahnya dan terkait oleh seorang gadis sehingga ia tidak ikut kembali ke padepokannya. Ternyata anak muda yang  sebelumnya tidak dikenalnya itu memiliki ilmu yang cukup tinggi. Dalam kegelisahannya itu, maka mPu Sidikarapun telah berteriak “He, anak ingusan. Aku sekarang percaya bahwa kau memang memiliki ilmu yang tinggi yang pantas kau pergunakan sebagai bekal untuk menyatakan kesediaanmu menjadi salah seorang guru di Ka satrian. Tetapi itu bukan berarti bahwa kau akan mampu mengalahkan aku.” “Aku tidak ingin mengalahkanmu, mPu” jawab Mahisa Pukat ”yang  aku lakukan adalah sekedar mempertahankan diri. Justru karena kau ingin menjajagi kemampuanku, maka kau harus sampai kepuncak. Karena jika tidak mau kau gagal melakukan penjajagan itu.” mPu Sidikara menggeram. Ia merasa seakan-akan anak muda itu mulai merendahkannya. Agaknya ia merasa akan dapat bertahan sampai puncak kemampuannya. Karena itu, maka mPu Sidikara itupun berkata ”Anak muda. Jika kau masih tetap bertahan sementara aku m asih terus meningkatkan ilmuku, maka pada saat aku akan kehilangan pengendalian diri. Ilmuku akan mungkin menyakitimu. Bahkan mungkin melukaimu.” “Jadi bagaimana sebaiknya menurut mPu. Apakah aku harus meny erah sampai disini? Jika demikian mPu tentu akan menjadi tidak puas. mPu tidak akan dapat menilai hasil penjajagan yang mPu lakukan. Jika orang lain bertanya kepada mPu sampai dimana kemampuanku, maka mPu hanya akan dapat mengatakan bahwa sampai pada tataran ini anak muda itu belum dapat aku kalahkan. mPu Sidikara itu menggeram. Dengan marah ia berkata”Baiklah anak muda. Aku akan menjajagi kemampuanmu sampai tuntas. Tetapi jika karena itu kau mati, aku sama sekali t idak bertanggung jawab. Biarlah kedua bangsawan remaja itu menjadi sak si, bahwa kau sendirilah yang telah mendambakan kematianmu.” “Tidak mPu. Sama sekali tidak. Aku sama sekali tidak ingin mati dalam pertandingan penjajagan ini. Sebenarnyalah mPu, karena m Pu ingin menjajagi kemampuanku, telah timbul niat pula dihatiku untuk menjajagi kemampuan mPu Sidikara. Bahkan mungkin aku juga ingin mengetahui tataran kemampuanku” jawab Mahisa Pukat. “Ternyata kau memang sombong. Baiklah. Tetapi seperti yang aku katakan, jika karena penjajagan ini kau terbunuh, itu bukan salahku.” “Jika m Pu ber sikap demikian, maka akupun akan bersikap seperti itu juga. Justru karena mPu ingin m enjajagi ilmuku dan karena itu maka dengan tidak sengaja aku m embunuh mPu, maka itupun bukan salahku. Aku sama sekali tidak bertanggung jawab karena bukan aku yang  memaksakan pertempuran. Kedua orang bangsawan remaja itu akan menjadi saksi” sahut Mahisa Pukat. Kemarahan mPu Sidikara benar-benar telah menghentakkan ilmunya. Anak muda itu benar-benar tidak mau mengakui kekalahannya, apakah anak muda itu akan tetap mampu bertahan atau akan luluh menjadi debu oleh ilmunya. Dengan demikian, maka mpu Sidikara benar-benar telah sampai pada puncak kemampuannya. Ilmunya yang jarang dilontarkannya, telah siap dilepaskannya jika Mahisa Pukat masih tetap bertahan. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Pukat memang tidak ingin menyatakan dirinya kalah pada tatara itu dan m enghentikan penjajagan yang dilakukan oleh mPu Sidikara itu. Dengan demikian m aka Mahisa Pukatpun telah bersiap m enghadapi segala kemungkinan. Ia sama sekali tidak ingin membunuh lawannya. Namun jika hal itu teijadi karena ia harus mempertahankan hidupnya, maka apaboleh buat. Kedua murid Mahisa Pukat itu semakin lama menjadi semakin gelisah. Pertempuran diantara keduanya menjadi semakin tidak dapat dimengertinya. Namun mereka sadar bahwa pertempuran itu menjadi semakin keras dan cepat. Mahisa Puat memang melihat bagaimana mPu Sudikara mencapai batas ilmu puncaknya, ia sadar bahwa sejenak kemudian, mPu Sidikara tentu akan mempergunakan ilmu pamungkasny a. Namun justru karena itu, maka Mahisa Pukat telah mendahuluinya tanpa diketahui oleh lawannya. Mahisa Pukat justru telah m empergunakan ilmunya yang  mampu seakan-akan menghisap tenaga lawannya. Sehingga dengan demikian, maka Mahisa Pukat telah berusaha untuk menyerang dan membenturkan serangan-serangannya pada tubuh lawannya. mPu Sidikara memang terkejut melihat perubahan tata gerak lawannya yang  masih muda yang  menjadi semakin cepat dan garang. Dengan demikian maka mPu Sidikarapun harus mengimbanginya. Beberapa kali ia memang harus mengatur serangan Mahisa Pukat untuk menangkisny a karena seranganserangan itu datang beruntun dengan cepatnya, sehingga mPu Sidikara tidak sempat mengelak. Namun dengan demikian mPu mengira bahwa Mahisa Pukat mulai menjadi gelisah karena ilmu mPu Sidikara menjadi semakin meningkat, bahkan mendekati puncak ilmu pamungkasnya. Sambil mengelak dan m enangkis serangan-serangan yang  datang beruntung, mPu Sidikara sempat berkata ”He, anak muda. Apakah kau mulai berputus asa? Agaknya kau thau bahwa aku akan segera m enyelesaikan permainan ini dengan ilmu pamungkasku. Jika kau tetap bertahan dan tidak menghentikan perlawananmu, maka kau benar-benar akan hancur menjadi debu. Kau tentu belum pernah melihat bagaimana ilmu Jwala Geni membakar dan melumatkan sa sarannya menjadi debu yang  kemudian hanyut diterbangkan angin.” “Menarik sekali” jawab Mahisa Pukat. Tetapi ia masih saja menyerang dengan garangnya. Yang m enjadi sasaran Mahisa Pukat tidak untuk menyakiti lawannya atau bahwa melukainya atau lebih -lebih lagi m ematahkan tulang-tulangnya. Ia hanya sekedar ingin menyentuh lawannya itu. Sambil berusaha untuk meny entuh tubuh lawannya bahkan pada ujung jari sekalipun, Mahisa Pukat berkata selanjutnya ”Tetapi mPu, kau tidak akan sempat sampai ke puncak ilmumu. Kau harus menyadari bahwa akupun ingin menyelesaikan permainan ini. Aku telah sampai pada satu kesimpulan tingkat kemampuanmu, sehingga aku merasa cukup memahami betapa tingginya ilmumu.” Hati mPu Sidikara benar -benar telah terbakar. Karena itu, maka ia tidak mempunyai perhitungan lain kecuali dengan cepat menghentikan perlawanan Mahisa Pukat yang dianggapnya terlalu sombong itu. Tetapi ketika mPu Sidikara mengambil jarak untuk mendapat kesempatan melepaskan ilmunya Jwala Geni, maka ia merasa sesuatu yang  asing pada dirinya. Demikian ia memusatkan nalar budiny a, siap untuk melepas ilmu Jwala Geni yang  akan dapat menghancurkan lawannya menjadi debu, maka terasa ada kekosongan di dalam dirinya. Ancang-ancang yang  diambilnya, ternyata tidak mampu menjadi pancadan lontaran ilmu Jawala Geni. Bahkan mPu Sidikara itu sempat merasakan betapa tulang-tulangnya menjadi lemah dan urat-urat nadinya tidak berdaya. Bahkan tenaganyapun telah menyusut dengan cepatnya. Mahisa Pukat memang tidak memburu mPu Sidikara. Meskipun mPu Sidikara masih mampu berdiri tegak dan kokoh, namun tenaganya tidak cukup kuat untuk mendukung lontaran ilmunya Jwala Geni. Jika ia memaksakannya, maka ia akan dapat kehabisan tenaga sementara ilmu yang terlontar tidak cukup kuat untuk menghancurkan lawannya. Apalagi lawannya mempunyai ilmu yang  cukup tinggi. Untuk beberapa saat lamanya mPu Sidikara berdiri termangu-mangu. Justru karena Mahisa Pukat tidak memburunya, maka mPu Sidikara sempat membuat penilaian tentang ilmunya serta kemampuan lawannya. Namun tiba-tiba mPu Sidikara menemukan sebab, karena tiba -tiba saja tenaganya bagaikan telah terserap habis. Dengan wajah merah membara ia menuding wajah Mahisa Pukat sambil berkata ”Licik kau. kau curi sebagian tenaga dan kemampuanku. Kau tentu mempergunakan ilmu itu untuk mencegah aku melontarkan ilmu Jwala Geni.” MahisaPukat tersenyum. Katanya ”Aku hanya berusaha untuk meny elamatkanmu mPu.” “Jangan omong kosong. Apa hubungannya ilmumu ini dengan keselamatanku. Bukankah kau akan memanfaatkan kemenanganmu dengan caramu ini untuk semakin meny ombongkan diri? Sementara kau tidak berani menghadapi aku dengan lontaran ilmu Jwala Geni?” “mPu. Aku belum pernah melihat apalagi mengalami serangan dengan ilmu yang disebut Jwala Geni. Tetapi mPu tidak dapat meny ombongkan ilmu Jwala Geni seakan-akan tidak ada ilmu lain yang dapat menandinginya.” sahut Mahisa Pukat. “Memang tidak ada yang menandinginya. Jika aku sempat melepaskan ilmu Jwala Geni, maka kau benar-benar akan menjadi debu.” geram mPu Sidikara. “Tidak. Seperti sudah aku katakan, bahwa aku justru ingin menyelamatkan mPu. Jika mPu mempergunakan ilmu pamungkas y aiig mPu miliki itu, maka akupun akan dapat mempergunakannya pula. Ilmu pamungkasku tentu tidak akan kalah dahsyatnya dengan ilmu yang  mPu sebut dengan Jwala Geni itu.” “Omong kosong, kau tentu takut menghadapi kekuatan ilmu Jwala Waja sehingga kau harus mempergunakan ilmumu yang licik itu.” geram mPu Sidikara. “Tidak” bentak Mahisa Pukat. Hatinya memang mulai menjadi panas. ”Marilah. Kita akan m encoba, ilmu siapakah yang mempunyai kekuatan yang  lebih tinggi.” “Aku tidak mampu melakukannya sekarang” jawab mPu Sidikara. “Kau tidak perlu melakukannya sekarang, mPu” berkata Mahisa Pukat ”tetapi aku ingin menunjukkan kemampuan ilmuku. Pada kesempatan lain, jika tenaga dan kemampuan mPu telah pulih, mPu dapat membuat perbandingannya.” mPu Sidikara tidak mengerti maksud Mahisa Pukat. Namun ia melihat Mahisa Pukat itupun kemudian berdiri menghadap tebing padas. Sementara dua orang bangsawan remaja dari Kasatrian Singasari itu memandanginya dengan tegang. Dalam waktu yang  pendek, Mahisa Pukat telah memusatkan nalar budiny a. Kemudian dengan kaki renggang ia memandangi tebing itu dengan tajamnya. Bukan saja kedua bangsawan remaja itu yang menjadi tegang. Tetapi juga mPu Sidikara. Ia melihat gejolak didalam diri Mahisa Pukat, seakan-akan lahar yang  mendidih didalam kawah gunung berapi yang hampir meledak. Demikianlah sesaat kemudian Mahisa Pukat telah menggerakkan satu kakinya kedepan. Lututnya sedikit merendah sambil menghentakkan kedua belah tangannya dengan telapak tangan terbuka m engarah ke tebing berbatubatu padas. Mahisa Pukat memang menghentakkan segenap kemampuannya. Selain ilmunya yang mampu melontarkan serangan dari jarak jauh, iapun telah melepaskan kekuatan yang diwarisiny a dari ayahnya, Mahendra. Puncak dari kekuatan ilmu andalannya. Meskipun Mahisa Pukat tidak membawa kerisnya yang  berwarna kehijau-hijauan, namun dengan segenap kekuatan dan kemampuan yang  ada didalamnya, anak muda itu sanggup melontarkan serangan yang sangat dahsyat. mPu Sidikara terkejut sekali melihat akibat serangan Mahisa Pukat. Tebing batu padas itu menggelegar runtuh berserakan sehingga bekasnya nampak seperti sebuah gua meskipun tidak terlalu dalam. Dengan wajah tegang ia memandang Mahisa Pukat dan sa sarannya itu berganti-ganti. Sementara itu kedua murid Mahisa Pukat itu justru bagaikan membeku ditempatnya Baru sejenak kemudian, Mahisa Pukat itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun berpaling dan melangkah mendekati mPu Sidikara yang  seperti orang baru saja terbangun dari sebuah mimpi yang m enghentak jantungnya sehingga berdegup semakin cepat dan semakin keras. “mPu” berkata Mahisa Pukat ”aku sudah menunjukkan kemampuanku. Untuk menjajagi dan memperbandingkan dengan kemampuan mPu Sidikara, maka dalam beberapa hari lagi, jika mPu Sidikara telah menjadi pulih kembali, kita akan bertemu lagi. Kita tidak usah berkelahi seperti anak-anak berebut oleh-oleh dari ibunya. mPu dapat melepaskan serangan dengan sasaran disebelah sa saran kekuatan dan kemampuanku itu. Dengan demikian maka mPu akan mendapatkan perbandingan ilmu yang  mPu kehendaki. mPuu dapat menceriterakannya kepada orang-orang yang  ingin tahu apakah aku pantas untuk menjadi guru di Kasatrian atau tidak. Tetapi ingat mPu, mPu hanya pantas mengatakan kepada orang-orang yang terbatas, karena aku bukan orang yang bangga dengan kesombongan yang  tidak berarti apaapa.” mPu Sidikara menarik nafas dalam-dalam. Beberapa langkah ia mendekati Mahisa Pukat yang masih berdiri tegak. Dengan nada dalam mPu Sidikara berkata ”Anak m uda. Aku sudah melihat dan bahkan mengalami benturan dengan ilmumu. Semula aku tidak mengira sama sekali bahwa kau memiliki ilmu yang  sangat tinggi. Apalagi menilik umurmu yang masih sangat muda. Tetapi kemudian aku tidak dapat ingkar. Bahwa ilmumu jauh lebih tinggi dari ilmuku. Sekarang, kau dapat berbuat apa saja atasku yang  sudah kehilangan sebagian dari tenaga dan kemampuanku. Aku terlambat menyadari bahwa kau memiliki ilmu yang  sudah jarang dimiliki orang lain itu. Namun ternyata bahwa kau memiliki ilmu yang lain yang  lebih keras dan dengan cepat mampu mengatasi lawanmu. Tetapi kau tidak mempergunakannya. Karena sebenarnyalah jika aku mempergunakan ilmuku Aji Jwala Geni dan kau membenturnya dengan ilmumu yang sangat tinggi itu, maka seperti katamu, akulah yang akan menjadi debu.” “Sudahlah” berkata Mahisa Pukat ”bukankah dengan demikian tugasmu sudah selesai ? Kau sudah berhasil menjajagi ilmuku. Dengan demikian maka per soalan kita sudah selesai.” “Aku masih harus mengucapkan terima kasih kepadamu anak muda.” berkata mPu Sidikara. “Kenapa ?” bertanya Mahisa Pukat. “Karena kau tidak melumatkankan tubuhku” jawab mPu Sidikara. “Kita tidak akan membicarakannya lagi. Sekarang, aku minta diri. Aku sudah terlalu lama berada disini. Bukankah dengan sisa tenagamu kau masih dapat menuruni tebing dan pulang kerumahmu ?” “Ya. Aku masih dapat pulang kerumah dan bertemu dengan keluargaku. Mereka tentu juga akan berterima kasih setelah mereka mendengarkan ceriteraku tentang kau anak muda.” jawab mPu Sidikara. Lalu katanya pula ”Seperti pesanmu, aku akan menyampaikan hasil pengamatanku kepada orang-orang yang sebenarnya memang telah minta kepadaku untuk menjajagi kemampuanmu. Untuk m embuat kau malu k epada dirimu sendiri bahwa kau telah bersedia menjadi guru di Ka satrian. Namun ternyata bukan kau yang  harus malu. Tetapi orang-orang yang ingin menjajagi kemampuanmu itulah yang harus malu karena kau benar -benar pantas bahkan melampaui ketiga orang guru yang telah ada di Kasatrian.” “Baiklah mPu. Jika kau ingin orang lain yang terbatas itu mengetahui tataran ilmuku, bukan maksudku untuk meny ombongkan diriku. Tetapi semata-mata agar di Kasatrian itu terdapat ketenangan. Juga diantara bangsawan-bangsawan muda yang tinggal di Kasatrian itu.” mPu Sidikara mengangguk-angguk. Katanya ”Aku mengerti anak muda” Mahisa Pukatpun kemudian berpaling kepada kedua orang muridnya. Katanya ”Sudahlah. Lupakanlah. Anggaplah bahwa yangkau saksikan benar-benar hanya sebuah permainan.” “Tetapi...” remaja-remaja itu menjadi gagap.. Mahisa Pukat tersenyum. Katanya ”Seseorang yang  mau belajar dengan tekun, ia dapat mencapai satu tataran ilmu yang mey akinkan. Ilmu apapun juga yang dipelajarinya.” “Apakah kami juga dapat melakukannya?” bertanya salah seorang dari kedua remaja itu, “Tentu” jawab Mahisa Pukat ”jika kau belajar dengan sungguh-sungguh. Tidak malas dan tidak segan berlatih dengan sebaik-baiknya. Ilmu itu memang tidak akan dapat datang dengan sendirinya. Guru-guru dalam ilmu apapun tidak akan dapat dengan meniup ubun-ubun muridnya dan lengan tiba -tiba muridnya menjadi seorang yang  mumpuni. Seorang murid akan memiliki kemampuan gurunya jika ia mau bekerja keras dan menurut segala petunjuk baik yang diberikan oleh gurunya.” Kedua orang anak muda itu mengangguk-angguk. Di dalam jantung mereka terbersit janji kepada diri sendiri, bahwa mereka akan bekerja keras untuk dapat m ewarisi ilmu yang tidak masuk penalaran mereka. Demikianlah maka Mahisa Pukatpun telah mengajak kedua orang remaja itu kembali ke Istana. Sambil memandang matahari yang tinggi dilangit Mahisa Pukat berkata ”Kita sudah terlalu lama berada di sini. Sebaiknya kita cepat kembali sebelum kalian dicari karena kalian terlalu lama tidak nampak di Kasatrian.” Kedua remaja itu pun kemudian bersama-sama Mahisa Pukat meninggalkan tempat itu. Dengan nada datar Mahisa Pukat minta diri kepada mPu Sidikara. Kepada kedua muridnya MahisaPukatpun berkata ”Minta dirilah kepada mPu Sidikara.” Kedua orang remaja itu memang menjadi ragu-ragu. Namun ketika sekali lagi Mahisa Pukat meminta kepada mereka, maka m ereka pun telah m inta diri pula kepada mPu Sidikara. mPu Sidikara tersenyum. Di luar dugaan kedua remaja itu mPu Sidikara berkata ”Belajarlah dengan baik Raden. Kau telah mendapatkan seorang guru yang  bukan saja berilmu sangat tinggi, tetapi juga orang yang  sangat baik.” “Kau tidak usah memuji mPu. Mereka masih t erlalu muda untuk mendengarkan pujian sehingga akan dapat m embekas terlalu dalam dihati mereka.” berkata Mahisa Pukat. “Kalau aku berpura-pura itu memang akan sangat berbahaya bagi m ereka. Tetapi aku berkata sebenarnya dan dengan hati yang ikhlas. Meskipun mereka masih terlalu muda untuk mendengarkan pujian, tetapi karena itu m emang satu kebenaran, maka pujian itu tidak akan memberikan cacat dihati mereka.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Iapun percaya bahwa mPu Sidikara memberikan pujian itu dengan hati yang jernih setelah ia berhasil m enguasai perasaannya. Ia memang tidak dapat ingkar dari keny ataan tentang Pelayan Dalam muda yang  dihadapinya. Bahkan mPu Sidikara itupun kemudian berdesis ”Seharusnya kau tidak menjadi seorang Pelay an Dalam”. “Kenapa ?” bertanya Mahisa Pukat. “Aku tidak yakin bahwa Manggala Pelay an Dalam itu memiliki kelebihan dari padamu.” desis mPu Sidikara. “Yang diperlukan seorang Manggala bukan sekedar kemampuan dalam olah kanuragan” jawab MahisaPukat ”tetapi juga wibawa dan kemampuan memimpin anak buahnya. Pengalaman tentu akan ikut menentukan keberhasilan seorang Manggala.” mPu Sidikara mengangguk-angguk. Namun diantara senyumnya ia berkata ”Pandanganmu tentang kehidupan ternyata lebih luas dari yang aku duga. Apalagi dibandingkan dengan umurmu yang  masih sangat muda itu.” “Sudahlah” berkata Mahisa Pukat ”hari sudah terlalu siang sekarang. Kami tidak terbiasa sampai sesiang ini k eluar dari istana Singasari.” mPU Sidikara menganggguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Ia hanya memandangi saja Mahisa Pukat yang kemudian meninggalkan tempat itu bersama kedua muridnya yang masih remaja. Sepeninggal Mahisa Pukat dan kedua muridnya, mPu Sidikara merenungi beka s sentuhan ilmu Mahisa Pukat pada tebing pegunungan. Sebagai seorang yang  berilmu tinggi, mPu Sidikara masih juga mengagumi tingkat kemampuan Mahisa Pukat yang masih muda itu. Di luar sadarnya ia berdesis ” Jika ia seumur aku kelak, apa saja yang dapat dilakukannya. Ilmunya akan dapat meruntuhkan gunung dan mampu mengeringkan lautan.” mPu Sidikara itu kemudian bahkan duduk di sebongkah batu padas yang  besar. Sambil merenungi dataran hijau didepannya yang  luas mPu Sidikara merenungi diriny a sendiri. “Untunglah anak muda itu seorang yang  bukan saja berilmu tinggi, tetapi landasan watak dan sifatnyapun t erlalu baik. Ia tidak dengan geram menghancurkan aku disini m eskipun aku hampir saja melakukannya. Seandainya ia tidak memiliki ilmu rangkap dan tidak menghentikan perlawananku, maka tubuhkupun akan lumat seperti batu psdas itu.” berkata orang itu didalam hatinya Sambil menarik nafas panjang iapun bergumam ”mPu Kimenjangan harus tahu, bahwa anak m uda itu benar-benar m«miliki ilmu yang sangat tinggi. Ia bukan saja pantas untuk menjadi guru di Kasatrian, tetapi ia adalah guru yang terbaik.” Baru beberapa saat kemudian, mPu Sidikara itu bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan tempat itu. Ia berjalan dengan sangat berhati-hati. Tenaganya memang terasa jauh su sut. Tetapi ia masih mampu berjalan cukup panjang sampai ke tempat tinggalnya m eskipun harus beristirahat beberapa kali. “Seperti kata Pelay an Dalam muda itu, tenaga dan kemampuanku akan dapat pulih kembali” berkata mPu Sidikara didalam hatinya untuk memenangkan kegelisahannya. Tetapi ia percaya bahwa Mahisa Pukat tidak akan mencelakainya. Sementara itu, ternyata kedua remaja yang  tinggal di Ka satrian itu terlalu sulit untuk merahasiakan apa yang dilihatnya. Kepada para penghuni yang  lain, pada satu kesempatan, keduanya telah m enceriterakan apa yang  telah mereka lihat.

Jilid 109
Tetapi penghuni Kasatrian yang  lain, yang  tanpa m ereka sa dari telah terentang jarak dengan kedua remaja itu, justru telah mentertawakan ceritera itu. Katanya "Kalian berm impi di siang hari. Orang yang  dikalahkan oleh Pelay an Dalam itu mungkin sebangsa pencuri ayam yang sedang mabuk. Sementara itu, kau telah membual bahwa seseorang m ampu meruntuhkan tebing-tebing padas dipegunungan." “Aku tidak membual. Aku melihat sendiri" jawab salah seorang dari kedua remaja itu. "Kau melihat didalam mimpimu" jawab seorang anak muda sambil mendorong dahi remaja itu. Remaja, murid Mahisa Pukat itu m enjadi marah. Katanya "jangan berbuat sesuka hatimu. Kau kira kepalaku harganya sama dengan tumitmu ?" Anak muda yang  mendor ong dahi renuya itu justru tertawa. Ju stru sekali lagi ia mendor ong dahi anak itu dengan jarijarinya sambil berkata "He, kau mau marah ?" Remaja itu m enepis tangan yang mendorong dahinya itu. Tetapi agaknya tangannya mendorong t erlalu keras, sehingga anak m uda yang  mendorong dahinya itulah yang kemudian marah "Kau sakiti tanganku." Tetapi remaja itu menjawab "Kau rendahkan kepalaku." "Kau mau apa ?" bentak anak muda itu. "Aku tidak mau. Aku tidak membiarkan kepalaku kau sentuh seperti itu" remaja itupun membentak pula. "Aku tidak peduli. Aku ingin bukan saja meny entuh dahimu, tetapi meremas rambutmu." anak muda itu benarbenar mengulurkan tangannya untuk menggapai kepala remaja itu. Tetapi remaja itu bergeser surut. Sekali lagi tangannya menepis. Justru lebih keras sehingga anak muda itu benar-benar kesakitan. Anak muda itu benar-benar marah. Tangannya tiba-tiba sa ja terayun kewajah remaja yang  menolak diremas rambutnya itu. Remaja yang  seorang lagi terkejut melihat ayunan tangan itu. Ra sa-rasanya ia ingin meloncat menahan tangan itu. Tetapi ternyata bahwa tangan itu tidak m engenai sa sarannya. Remaja yang  diserang wajahnya itu dengan cepat bergeser mundur. Seakan-akan ia bergerak begitu saja diluar sadarnya. Anak muda yang  mengayunkan tangannya tetapi tidak mengenainya ju stru menjadi semakin marah. Apalagi ketika para bangsawan muda yang  tinggal di Kasatrian dan m elihat peristiwa itu tertawa hampir serentak. Karena itu maka hati bangsawan muda itu menjadi semakin panas. Tetapi sebaliknya remaja yang merasa direndahkan itupun menjadi marah pula. Meskipun ia sadar bahwa anak muda itu lebih besar daripadanya, tetapi kemarahannya serta harga dirinya mendor ongnya untuk melawan. Anak-anak muda yang lain sama sekali tidak berusaha untuk melerainya. Mereka justru bertepuk tangan dan memanasi suasana agar keduanya benar-benar berkelahi meskipun sama sekali tidak seimbang. Bahkan seorang anak muda berteriak "Pukul saja anak itu. Pukul mulutnya agar tidak dapat membual lagi." Anak muda yang  marah itu m emang m encoba sekali lagi memukul mulut remaja itu. Tetapi remaja yang tidak mau diinjak harga diriny a itu sudah siap untuk melawannya. Yang tidak diharapkan memang terjadi. Dipanas-panasi oleh anak-anak muda yang  lain, maka keduanya benar-benar telah berkelahi meskipun tidak seimbang. Remaja yang seorang lagi tidak sempat untuk m encegah saudaranya yang  berkelahi itu. Ia hanya dapat memperhatikan dengan tegang. Namun iapun telah bersiap jika terjadi kecurangan dalam perkelahian itu. Tidak seorangpun dapat mengatakan, k enapa kedua orang remaja itu sama sekali tidak menjadi ketakutan menghadapi anak-anak muda yang lebih besar dan lebih banyak itu. Bahkan kedua orang remaja itu sendiri tidak menyadari bahwa hal itu merupakan salah satu akibat dari tempaan lahir dan batin yang  diberikan tidak secara langsung oleh Mahisa Pukat. Demikianlah, maka kedua orang yang tidak sama besar itu telah berkelahi. Semula anak-anak muda yang  bertepuk dan bersorak-sorak itu sama sekali tidak memperhatikan apa yang telah terjadi. Mereka memang ingin remaja itu menjadi jera untuk membual dan meny ombongkan diri. Tetapi yang  terjadi kemudian membuat mereka menjadi berdebar-debar. Tepuk tangan dan sorak itu semakin lama menjadi semakin merendah dan akhirnya hampir berhenti sama sekali. Yang mereka lihat adalah, anak muda yang  jauh lebih besar itu segera mengalami kesulitan. Para bangsawan muda itu memang menjadi tegang. Untuk beberapa saat mereka tidak y akin akan penglihatan mereka. Sebagian dari m ereka mengira bahwa anak muda itu m asih belum bersungguh-sungguh, sehingga ia nampak seakan-akan terdesak. Bangsawan muda itu memang menjadi sangat marah ketika serangan anak itu mampu mengenai tubuhnya, bahkan telah mendorongnya beberapa langkah surut. Karena itu, maka iapun telah menghentakkan kemampuannya. Ia t idak mau dipermalukan dihadapan saudara-saudaranya yang  menghuni Ka satrian itu. Dalam pada itu, maka serangan-serangannya yang datang beruntun memang sekali-sekali mampu m engenai lawannya yang masih remaja itu. Bahkan anak itu sekali terlempar dan jatuh berguling. Tetapi anak itu segera melenting bangkit dan siap untuk berkelahi lagi. Remaja itu memang menjadi liat. Meskipun ia baru menguasai unsur-unsur gerak yang  sederhana dan dasardasarnya saja, tetapi karena tubuhnya yang  ditempa dalam lingkungan alam yang luas, maka tubuh k ecilnya itu seakanakan menjadi sangat liat dan kuat dibanding dengan remaja sebay anya. Kebiasaannya memperhatikan berbagai macam binatang membuatnya seakan-akan dengan gerak naluriah menirukannya. Itulah sebabnya, maka bangsawan remaja itu justru mampu mengimbangi saudaranya yang sudah lebih tua. Perkelahian itu ternyata berlangsung cukup lama. Bangsawan yang  lebih tua itu semakin lama m enjadi semakin terdesak. Serangan-serangan bangsawan yang lebih muda itu semakin sering mengenai sa sarannya. Bahkan kening bangsawan muda itu mulai membiru. Pipinya menjadi lembab dan dadanya serasa m enjadi sesak. Beberapa kali kaki anak yang masih sangat muda itu sempat mengenai dadanya. Para bangsawan muda yang ada di Kasatrian itu memang menjadi heran. Bahkan Sawung Kemara yang  juga melihat perkelahian itu m enjadi heran. Ia sama sekali t idak m engira bahwa remaja yang  menjadi murid Mahisa Pukat, yang dianggap terbelakang itu memiliki kemampuan yang  dapat mengimbangi saudara-saudaranya yang  lebih tua. Bahkan ternyata anak itu bukan saja mampu mengimbangi. Dengan unsur gerak yang sederhana itu nampaknya anak itu cukup mapan menghadapi saudaranya yang lebih besar dan lebih tua yang  berlatih di bawah seorang guru yang dianggapnya lebih baik dari Pelayan Dalam itu. Para bangsawan muda yang kemudian diam mematung itu mulai digelitik oleh perasaan mereka. Merekapun merasa tersinggung atas kekalahan saudaranya terutama yang seperguruan. Apalagi m ereka merasa lebih besar dan lebih tua. Bahkan lebih dahulu berlatih olah kanuragan. Semula mereka memang merasa segan untuk berbuat sesuatu terhadap anak-anak yang masih lebih kecil dari mereka. Tetapi semakin lama bangsawan muda itu semakin mengalami kesulitan. Tetapi dalam pada itu, bangsawan yang masih remaja yang  seorang lagi itupun telah bersiap pula. Jika seorang yang lain mengganggu perkelahian itu, maka iapun akan segera melibatkan diri apapun yang akan terjadi. Bahkan seandainya bangsawan-bangsawan muda yang  lebih besar itu akan mengeroy oknya beramai-ramai. Namun ketika anak-anak muda itu mulai bergerak, sementara remaja yang seorang lagi telah m elangkah maju, maka dua orang Pelayan Dalam yang  bertugas dan kebetulan berkeliling Ka satrian telah m elihat perkelahian itu. Bergegas mereka mendatangi. Semula mereka mengira bahwa bangsawan-bangsawan m uda penghuni Ka satrian itu sedang berlatih. Tetapi ternyata mereka benar-benar berkelahi diantara mereka. Karena itu, maka dengan c emas kedua Pelayan Dalam itu berusaha untuk melerai, sementara bangsawan muda yang sedang berkelahi itu seakan-akan sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mempertahankan diri. "Cukup, cukup" cegah salah seorang Pelayan Dalam, sementara kawannya berusaha untuk mendorong mereka yang sedang berkelahi itu saling menjauhkan diri. "Kalian tidak boleh berkelahi" berkata Pelay an Dalam itu. "Bukan salahku " sahut remaja itu. "Ia yang  bersalah" seorang bangsawan muda menyahut. "Siapapun yang  bersalah, tetapi Raden tidak boleh berkelahi diantara kalian." berkata Pelay an Dalam itu. Para bangsawan muda itu termangu-mangu sejenak. Seandainya mereka belum tahu bahwa para Pelayan Dalam itu juga memiliki kemampuan bertempur yang tinggi sebagaimana para prajurit, maka mereka tentu tidak mendengarkan kata-kata mereka. Apalagi ketika Pelay an Dalam itu berkata "Kami adalah petugas-petugas yang mendapat wewenang. Baik karena tugas dan kedudukan kami maupun wewenang dari Pangeran Kuda Pratama. Karena itu, kami mohon, perkelahian ini dihentikan." "Ia sudah menghina aku" berkata remaja yang berkelahi itu. "Sudah, sudah " cegah Pelayan Dalam itu "semuanya akan diselesaikan oleh Pangeran Kuda Pratama. Kami akan menghadap dan m emberikan laoran tentang perkelahian ini. Raden bersama-sama tentu akan dipanggil menghadap." Bangsawan-bangsawan muda itu terdiam. Mereka mulai dapat mempergunakan penalaran mereka. Pangeran Kuda Pratama dapat marah kepada mereka dan mengambil tindakan atas mereka, karena Pangeran Kuda Pratama mempunyai wewenang untuk menghukum mereka. Tetapi perkelahian itu sudah terjadi. Karena itu, maka hal itu harus dilaporkan kepada Pangeran Kuda Pratama. Ketika laporan itu sampai kepada Pangeran Kuda Pratama, maka Pangeran Kuda Pratama telah memanggil mereka dan beberapa orang yang  menyaksikan perkelahian itu. Bahkan keempat orang yang  telah diangkat menjadi guru para bangsawan muda itu. Dengan nada dalam Pangeran Kuda Pratama berkata "Perkelahian itu sangat tidak pantas." Para bangsawan muda itu menundukkan kepalanya. Sementara Pangeran Kuda Pratama bertanya "Apa sebabnya kalian berkelahi ? Apakah guru-guru kalian menguarkan kepada kalian, agar kalian yang satu dengan yang lain harus berkelahi ?” Tidak ada yang segera menjawab, sehingga Pangeran Kuda Pratama harus mengulangi pertanyaannya. "Aku ingin mendengar jawaban kalian, agar guru-guru kalian ikut mendengar" berkata Pangeran Kuda Pratama kemudian. Bangsawan-bangsawan muda penghuni Ka satrian itu termangu-mangu. Sementara mPu Kamenjangan dan kedua orang guru yang lain saling berpandangan. Baru kemudian mPu Kamenjangan berkata "Sebaiknya kalian memang mengatakan apa yang telah terjadi agar Pangeran Kuda Pratama dapat menentukan tindakan yang akan diambilnya. Yang salah akan dinyatakan salah, yang benar akan diny atakan benar." "Ya " sahut Pangeran Kuda Pratama "perkelahian seperti itu tidak boleh terulang kembali." Ternyata yang  lebih dahulu menceriterakan persoalan yang  terjadi di Kasatrian itu adalah bangsawan-bangsawan remaja murid Mahisa Pukat. Keduanya tahu, bahwa sebenarnya Mahisa Pukat tidak menghendaki keduanya berceritera tentang kelebihannya. Tetapi mereka tidak dapat menyembuny ikan seluruhnya karena sebab dari perkelahian itu adalah justru karena keduanya telah terdorong diluar kendali, menceriterakan tentang kelebihan Mahisa Pukat. Yang ditekankan oleh remaja itu adalah perlakuan saudarasaudara mereka yang lebih besar dengan mendorong dahi salah seorang remaja itu dengan jari-jari. Perlakuan yang  tidak disenangi oleh remaja itu. Pangeran Kuda Pratama mengangguk-angguk. Kepada anak muda yang telah berkelahi itu Pangeran Kuda Pratama bertanya "Apakah kau telah mendorong kepalanya dengan jari-jarimu." "Tetapi tidak terlalu keras" jawab anak muda itu. "Yang penting bukan keras atau tidak keras. Tetapi aku tidak senang kepalaku menjadi sa saran permainan" r emaja itu menyahut. Namun mPu Kamenjanganlah yang  meny ela "Seharusnya kalian tidak melawan terhadap saudarasaudara yang  lebih tua. Kecuali kalian harus menghormati saudara-saudara kalian yang lebih tua umurnya, juga jika terjadi perselisihan, maka kalianlah yang akan mengalami kesulitan. Terakhir kalian hanya dapat mengadu." "Aku tidak mengadu" jawab remaja itu "dan aku sama sekali tidak mengalami kesulitan ? Kesulitan apa ?" “Akhirnya kau tentu hanya dapat menangis dan menandu itulah" jawab mPu Kamenjangan yang  belum sempat bertemu dengan mPu Sidikara. "Aku tidak menangis dan aku juga tidak mengadu." anak itu hampir berteriak. "Jangan ingkar ngger" berkata mPu Kamenjangan "jika kau tidak m enangis sambil mengadu, maka kita semuanya tentu tidak akan dipanggil Pangeran Kuda Pratama." Sebelum anak itu menyahut, maka Pangeran Kuda Pratamalah yang menjawab "Anak itu memang tidak mengadu dan sama sekali tidak menangis. Tetapi para Pelay an Dalam yang melihat keduanya berkelahi dan merekapun telah melerai dan melaporkannya kepadaku sehingga aku t elah m emanggil kalian semua." mPu Kamenjangan termangu -mangu. Tetapi nampak pada sor ot matanya bahwa ia tidak percaya. Karena itu, maka Pangeran Kuda Pratamapun berkata "Jika mPu tidak percaya, silahkan bertanya kepada anak-anak muda yang  lain." mPu Kamenjangan memandang wajah-wajah yang  ada disekitarnya. Anak-anak muda itupun menundukkan wajah mereka. Hanya kedua orang remaja murid Mahisa Pukat itulah yang menengadahkan wajah mereka. Karena tidak ada yang  menjawab, maka salah seorang dari kedua guru yang  lainpun berkata "Memang sulit untuk membuktikan bahwa anak itu m enangis dan mengadu. Tetapi sebaiknya anak-anak harus menghormati dan tidak berani melawan anak-anak muda yang  lebih besar, karena kecuali tidak sesuai dengan adat yang  b erlaku, juga akibatnya dapat lebih buruk lagi bagi anak-anak itu sendiri. " Tetapi diluar dugaan, anak itu berkata "Tidak. Aku sama sekali tidak mengalami akibat buruk." "Itu karena anak-anak muda yang  lebih besar merasa lebih baik mengalah" jawab guru itu. "Tidak. Tidak ada yang mengalah. Yang kalah bukan berarti mengalah." jawab anak itu. "Sudahlah" potong Mahisa Pukat "aku sependapat, bahwa yang muda harus menghormati dan takut kepada yang lebih tua. Itu memang adat yang berlaku." Kedua remaja itu termangu-mangu sejenak. Tetapi mereka tidak menjawab. Sehingga Mahisa Pukat berkata selanjutnya "Jadi kalian berdualah yang memang harus mengalah”. mPu Kamenjangan termangu -mangu m endengar kata-kata Mahisa Pukat. Apalagi kedua orang guru yang  lain. Seorang diantara mereka berkata "Kedua remaja itu tidak harus mengalah. Demi kebaikan mereka sendiri. Jika terjadi perselisihan dan perkelahian, maka yang  akan mengalami kesulitan adalah m ereka yang lebih kecil. Karena itu, m ereka bukannya harus mengalah, tetapi tahu diri begitulah." Bangsawan yang  masih remaja itu masih akan menjawab. Tetapi Mahisa Pukat lebih dahulu berkata "Sudahlah. Istilah yang dipergunakan itu memang sesuai. Tahu diri begitulah." "Ya guru" jawab remaja itu. Tetapi ia masih m elanjutkan "Kita semuanya memang harus tahu diri." Yang bertanya justru Pangeran Kuda Pratama "Apa maksudmu ?" Remaja itu hanya menundukkan kepalanya saja. Tetapi ia tidak menjawab. Ju stru Pelayan Dalam yang melerainya itulah yang  menjawab karena rasa keadilannya yang tersinggung "Ampun Pangeran, maksudnya tentu, siapa yang  merasa kalah harus mengakui kekalahannya. Jadi tahu dirilah." mPu Kamenjangan tidak senang mendengar kata-kata itu karena tidak m engandung pengertian yang  pasti. Karena itu maka iapun bertanya "Menurutmu, siapakah yang  kalah ? Jawab dengan jelas. Karena per soalannya adalah per soalan yang kasat mata. Jika kau yang melerai dan sempat menilai diantara m ereka yang berkelahi itu. Justru karena keduanya dilihat dari ujudnya sudah tidak seimbang. Apalagi dari landasan kemampuan mereka. Kecuali jika saat melerai perkelahian itu kau sedang mabuk.” "Tidak mPu, aku tidak sedang mabuk" jawab Pelay an Dalam yang  melerai itu. "Jadi apa yang  kau lihat ? Katakan dengan jujur " desak mPu Kamenjangan "dengan demikian, kita akan dapat menentukan sikap. Untuk kebaikan semuanya." Pelay an Dalam itu termangu-mangu. Namun kemudian ia menjawab "Ketika aku melerai perkelahian itu, maka anak muda yang lebih besar itu sedang terdesak dan mengalami kesulitan. " "Apa ?" bentak mPu Kamenjangan "apakah kau sedang mengigau ? Katakan sekali lagi." "Ampun mPu. Aku memang melihat bahwa anak muda itu sedang terdesak. Kitapun dapat melihat, berkas-berkas biru di wajahnya dan barangkali ia akan dapat mengatakannya sendiri. " Wajah mPu Kamenjangan menjadi merah. Guru yang  lain, yang langsung menangani bangsawan muda itu bertanya "Apakah benar begitu Raden ?" "Omong kosong " bangsawan muda itu menjawab hampir berteriak "jika saja aku tidak mengingat bahwa ia masih terlalu kanak-kanak. Tetapi justru karena itu, ia tidak tahu diri itulah. Sehingga ia justru telah menyakiti aku." "Pangeran" tiba -tiba guru anak muda itu hatinya menjadi panas "jika kita semua meragukan, sebaiknya kita melihat langsung apa yang  dapat mereka lakukan.’ Namun dengan cepat Mahisa Pukat m enyahut "Itu bukan peny elesaian yang baik. Pelayan Dalam itu sudah melerai perkelahian yang  t erjadi. Sebaiknya kita tidak justru mengadu mereka. " "Tetapi itu ada baiknya " berkata mPu Kamenjangan "bukankah lebih aman jika m ereka memperbandingkan ilmu mereka dihadapan kita darimana mereka berkelahi tanpa ada sak si orang-orang tua seperti kita ? Dengan demikian m aka yang kalah tentu akan tahu diri. Ia tidak akan berani lagi setidak-tidaknya menjadi sebab perkelahian. Yang menang tentu diperingatkan bahwa ia tidak boleh berbuat sesuka hatinya sendiri. Tetapi kepastian itu akan menenteramkan Ka satrian. Yang kalah harus tahu diri dan yang  menang tidak berbuat sewenang-wenang.” "Tetapi apakah perkelahian tidak justru menanamkan dendam dihati m ereka yang seharusnya m asih jernih itu ?" bertanya Mahisa Pukat. "Tentu tidak. Tetapi selama kepastian siapakah yang  menang dan siapakah yang  kalah belum diakui oleh m ereka, maka perkelahian akan dapat terjadi setiap saat." "Baiklah" tiba -tiba Pangeran Kuda Pratama yang  menyahut "Aku setuju dengan mPu Kamenjangan. Kita akan melihat siapakah yang menang dan siapakah yang akan kalah. Tetapi dengan janji, bahwa masing-masing bersikap jujur. Yang kalah mengakui kekalahannya dan yang  menang tidak boleh sewenang-wenang dalam kesombongannya. Selanjutnya yang besarpun merasa wajib ikut membantu dan m elindungi yang lebih kecil, sebaliknya yang  lebih kecil harus menghormati dan tahu diri." Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Apa boleh buat. Jika itu yang  harus terjadi." "Nah" berkata Pangeran Kuda Pratama "siapa yang  telah berkelahi tadi. Kita akan melihat perkelahianitu." Bangsawan yang masih remaja, murid Mahisa Pukat itupun telah melangkah kedepan sambil berkata "Aku sekedar melindungi kepalaku. Aku tidak mau kepalaku menjadi permainan. " "Kita tidak berbicara tentang sebab perkelahian itu terjadi" potong mPu Kamenjangan "nah, sekarang siapakah lawannya ?" Anak muda yang diwajahnya telah nampak berkas-berkas biru di keningnya itu memang menjadi ragu-ragu. Tetapi dihadapan gurunya ia tidak boleh nampak ketakutan. Iapun berharap bahwa jika perlu maka gurunya akan dapat berbuat sesuatu. Bukan saja atas anak itu, tetapi ju stru atas guru anak itu. Karena itu, maka anak muda itupun segera melangkah maju. Dengan ragu ia berkata "Aku sudah berusaha untuk mengalah. Tetapi anak itu justru memanfaatkannya dan menyakiti wajahku. Ketika aku siap untuk m embalas, m aka datanglah Pelay an Dalam itu m elerai. Tetapi ia menganggap bahwa aku telah terdesak.” “Marilah, sekarang kita akan m elihat apa yang sebenarnya terjadi." berkata gurunya, salah seorang diantaranya ketiga orang guru yang ada di Kasatrian itu yang datang sebelum Mahisa Pukat. Dalam pada itu maka Pangeran Kuda Pratamapun berkata "t etapi ingat. Permainan ini harus dilakukan dengan jujur. Kemudian akibatnyapun harus ditanggung dengan jujur pula. Tidak ada dendam dan tidak ada kebencian diantara para penghuni Ka satrian.” "Ya Pangeran" sahut mPu Kamenjangan. "Apa yang terjadi disini dimaksud untuk meny elesaikan persoalan. Bukan untuk menumbuhkan persoalan-persoalan baru.” Demikianlah, maka keempat orang guru yang  ada di Ka satrian itu telah mengatur tempat permainan para bangsawan muda itu. Tetapi seakan-akan merekalah yang akan t erlibat langsung, sehingga justru merekalah yang sebelumnya sudah berkeringat diseluruh tubuh mereka. Sejenak kemudian maka kedua orang bangsawan muda itu sudah berhadapan. Keduanya memang tidak seimbang. Seorang masih remaja sedang yang  lain telah mendekati usia dewasanya. Pangeran Kuda Pratama menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun ujud mereka membuatnya berdebar-debar: “Selisih yang  agak jauh itu tentu akan berpengaruh atas kekuatan tenaga mereka dan tentu juga tingkat penalaran mereka” Karena itu, maka Pangeran Kuda Pratama itu sendiri telah berada didalam arena untuk mengamati langsung permainan itu. "Serahkan mereka kepadaku" berkata Pangeran Kuda Pratama kepada para guru yang  bertugas di Kasatrian itu. Termasuk Mahisa Pukat dan guru anak muda itu. Keempat orang guru itupun bergeser mundur untuk mengambil jarak. Mereka tidak dapat menolak perintah Pangeran Kuda Pratama untuk m eninggalkan murid mereka dan mempercayakan kepada Pangeran itu. Apalagi merekapun mengetahui bahwa Pangeran Kuda Pratama adalah seorang Pangeran yang  berilmu sangat tinggi. "Nah" berkata Pangeran Kuda Pratama "sekarang kalian dapat memulainya. Aku akan mengamati dengan sebaikbaiknya. Tetapi ingat, yang  kalian lakukan adalah sekedar permainan. Bukan perkelahian." Kedua orang bangsawan muda itu mengangguk. Sementara Pangeran Kuda Pratamapun segera melangkah surut menepi. Sejenak k emudian, kedua orang bangsawan kecil itu telah berhadapan sekali lagi. Dihadapan gurunya bangsawan muda yang lebih besar itu menjadi lebih mantap. Ia mengira bahwa gurunya memiliki pengaruh yg besar terhadap guru remaja yg sombong itu. Sehingga guru remaja itu akan m engekang agar muridnya tidak berani berbuat sesuka hatinya Tetapi nampaknya remaja k ecil itu sama sekali tidak m enghiraukan kehadiran ketiga orang guru di Kasatrian itu. Seperti bangsawan muda y g lebih tua daripadanya itu maka ia ju stru menjadi semakin mantap karena gurunya juga hadir. Apalagi remaja itu telah melihat bagaimana gurunya dapat melampaui kemampuan orang yang meny ebut dirinya mPu Sidikara itu. Tetapi bangsawan muda yang lebih besar itu ternyata telah menjadi sangat garang dihadapan gurunya. Ketika Pangeran Kuda Pratama mengisy aratkan bahwa mereka dapat mulai, anak muda itu langsung meny erang. Tetapi bangsawan kecil itu sudah bersiap. Dengan tangkasnya ia meloncat menghindari serangan itu. Bahkan dengan cepat pula iapun telah berganti meny erang dengan cepat pula. Latihan-latihan yang  berat memang telah membentuk tubuhnya dan menumbuhkan tenaga didalam dirinya Meskipun dengan unsur gerak yang  masih sederhana, namun dilambari kekuatan yang besar, maka serangannya menjadi berbahaya Ketika anak muda itu menjadi semakin keras, maka remaja kecil itupun menjadi semakin keras pula Kebiasaannya berlatih dialam terbuka, dilereng-lereng bukit, dibulak-bulak panjang, turun naik tebing sungai dan lembah-lembah telah membuatnya memiliki kekuatan dan daya tahan yang  tinggi. Kebiasaannya melihat berbagai macam binatang dengan tabiatnya masing-masing telah memperkaya unsur-unsur gerak sederhana yang dikuasainya. Karena itu, maka beberapa saat kemudian maka remaja kecil itu justru nampak semakin menguasai arena. Dengan lincahnya ia berloncatan. Sekali-sekali menirukan seekor anak kambing y g berkejaran dan berkelahi di padang rumput. Namun kemudian menirukan gerak burung diudara saat menyambar mangsanya. Anak itu juga pernah melihat bagaimana seekor kucing hutan yang merunduk seekor tikus dipematang sawah. Kemudian meloncat menerkamnya dengan kuku -kukunya yang tajam. Yang terjadi adalah benar-benar diluar dugaan. Yang sering dilihat pada kedua remaja murid Mahisa Pukat itu adalah unsur -unsur gerak yang sederhana jika mereka berlatih di sanggar. Tetapi pada unsur-unsur gerak yang sederhana itu ternyata dikandung kekuatan dan day a tahan yang  tinggi. Bahkan seakan-akan secara naluriah unsur-unsur itu telah berkembang dengan sendirinya karena penglihatannya yang luas. ------ < alenia ini ku pindahi keatas k rn ga sambung di alenia ini> Kedua orang bangsawan muda itu mengangguk. Sementara Pangeran Kuda Pratamapun segera melangkah surut menepi. ------ Karena itulah, maka sekali lagi anak muda yang  lebih besar itu ternyata tidak mampu bertahan. Remaja yang lebih muda itu telah mendesaknya. Beberapa kali serangannya telah mengenai tubuh anak muda itu. Diw ay ahnya, didadanya dan di lambungnya. Semakin lama serangannya datang semakin cepat dan semakin kuat. Orang-orang, terutama guru anak muda itu, hampir tidak percaya melihat keny ataan itu. Muridnya yang  lebih besar itu benar-benar tidak mendapat kesempatan untuk membalas serangan-serangan yang  datang beruntun dengan tenaga yang terhitung sangat kuat bagi remaja seumurnya. Beberapa kali bangsawan muda itu terdor ong surut. Bahkan ketika kaki lawannya yang  kecil itu mengenai dadanya, maka hampir saja bangsawan muda itu kehilangan keseimbangannya. Untunglah bahwa lawannya yang lebih kecil itu tidak memburunya. Kakinya memang telah meloncat. Tetapi ia segera teringat pesan Pangeran Kuda Pratama, bahwa yang terjadi itu bukan perkelahian, tetapi sekedar permainan. Karena itu maka iapun mengurungkan serangannya. Meskipun ia berdiri dalam jarak jangkauan serangan kakinya, tetapi ia tidak melakukannya. Bahkan ia telah menunggu anak muda itu memperbaiki kedudukannya dan mendapatkan keseimbangan sepenuhnya kembali. Para guru di Ka satrian itu tidak dapat mengingkari keny ataan yang  terjadi itu. Anak m uda yang lebih besar itu memang terdesak oleh lawannya yang  lebih kecil. Tetapi itu bukan mimpi. Bukan pula bualan Pelay an Dalam yang melerainya. Tetapi yang terjadi itu memang telah terjadi. Ketika Pangeran Kuda Pratama telah meyakini pengamatannya bahwa anak muda itu tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi, maka iapun berpaling kepada guru yang langsung mengasuh anak muda itu. Pangeran Kuda Pratama itu memberi isyarat kepadanya untuk mendekatinya. Demikian orang itu m endekat, maka murid Mahisa Pukat yang menjadi berdebar-debar karenanya, telah memanfaatkan saat terakhir itu. Ia tidak tahu untuk apa guru anak muda yang menjadi lawannya itu dipanggil. Ju stru karena itu, m aka ia ingin meyakinkan bahwa ia benar-benar memenangkan permainan itu. Begitu guru anak muda itu tampil diarena, maka murid Mahisa Pukat yang  kecil itu telah mengerahkan segenap kekuatannya. Dengan tangkasnya ia meloncat maju sambil mengayunkan tangannya menembus pertahanan lawannya yang memang sudah goyah. Dengan kerasnya tangan murid Mahisa Pukat itu telah menghantam kearah dada Namun ternyata arah itu telah bergeser. Diluar sadarnya, remaja itu tidak benar-benar mengenai dada lawannya yang lebih besar itu, tetapi mengenai pundaknya Meskipun demikian, terdengar anak muda itu berteriak kesakitan. Tubuhnya terputar dan kemudian terhuyunghuyung kehilangan keseimbangan. Untunglah, bahwa ketika anak muda itu hampir terbanting jatuh, gurunya sempat menahannya. Pangeran Kuda Pratamapun kemudian melangkah maju sambil berkata "Nah, aku kira permainan ini sudah cukup. Aku tidak mengatakan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Semuanya telah melihatnya sendiri. Permainan ini telah berlangsung dengan jujur. Seperti aku harapkan, kelanjutan dari hubungan kalian di Ka satrianpun harus berlangsung dengan jujur.” Keempat orang guru di Kasatrian itu berdiri termangumangu. Mahisa Pukat hanya dapat mengangguk-angguk kecil. Sementara itu mPu Kamenjangan dan kedua orang guru yang lain, seakan-akan tidak dapat mempercayai apa yang  telah mereka saksikan. Tetapi mereka tidak dapat menghapus keny ataan itu. Bangsawan yang  lebih besar itu t idak mampu mengimbangi remaja yang baru mulai mempelajari oleh kanuragan itu. "Nah" berkata Pangeran Kuda Pratama "permainan ini telah selesai. Kembalilah ke Kasatrian. Kalian tidak boleh berkelahi lagi. Siapa yang berkelahi, akan benar-benar diusut. Siapa yang  salah dan siapa yang benar. Yang bersaah akan dihukum dan yang  benar tentu saja tidak. Para Pelayan Dalam akan mendapat tambahan wewenang untuk bertindak lebih jauh daripada sekedar melerai jika terjadi perkelahian. Jika perlu, maka para Pelay an Dalam dapat memisah dengan tindakan yang lebih keras lagi. Kalian tidak dapat menyalahkan mereka. Aku memberikan wewenang kepada mereka atas wewenangku di Kasatrian, " Anak-anak muda dan bahkan guru-guru mereka itupun berdiri termangu-mangu. Wajah Pangeran Kuda Pratama nampak bersungguh-sungguh. Agaknya Pangeran itu tidak sekedar mengancam. Tetapi ia tentu benar-benar akan bertindak jika masih ada perkelahian di Kasatrian. Beberapa saat kemudian, maka Pangeran Kuda Pratama itupun telah memerintahkan para bangsawan muda itu kembali ke Ka satrian, sementara itu ia m inta keempat orang guru di Ka satrian itu tinggal untuk sementara bersamanya. Demikian para bangsawan muda itu pergi, m aka Pangeran Kuda Priatama itupun berkata "Kerukunan anak-anak yang menghuni Kasatrian itu tergantung dari kalian semuanya. Jika kalian m erasa diri kalian satu, maka tentu tidak akan terjadi sesuatu di Kasatrian. Bukankah kalian dibebani tugas yang sama?” "Pangeran" berkata mPu Kamenjangan "selama ini Ka satrian itu selalu tenang. Tidak pernah ada kekisruhan apalagi perkelahian. Tetapi sekarang, sebagaimana Pangeran lihat, perkelahian itu telah terjadi di Ka satrian." Pangeran Kuda Pratama mengerutkan dahinya. Dari sorot matanya nampak bahwa jantungnya bergejolak. Namun ia masih berusaha untuk menahan diri sehingga kata-katanya masih saja sareh "mPu. Jika hal itu terjadi, siapakah yang dapat dituding telah melakukan kesalahan? Yang baru, karena sebelumnya belum pernah terjadi keributan?" "Pangeran" berkata mPu Kamenjangan "a pakah penalaran yang demikian salah?" "Aku tidak mengatakan penalaran itu salah, mPu. Tetapi penalaran yang demikian tidak selalu benar. Seandainya yang lama itu dengan serta-merta menolak kedatangan yang  baru sebelum m enilai dengan seksama?" bertanya Pangeran Kuda Pratama. Wajah mPu Kamenjangan itu menjadi merah. Ternyata Pangeran Kuda Pratama langsung menunjuknya sebagai sumber keributan yang telah terjadi di Ka satrian. Untuk beberapa saat mPu Kamenjangan itu justru terbungkam. Namun kemudian seperti ledakan bendungan pecah ia bertanya dengan lantang "Jadi Pangeran menyalahkan kami yang telah lama mengabdi di Kasatrian ini?" Ternyata Pangeran Kuda Pratama tidak menahan diri. Dengan tegas ia menjawab "Ya. Kalian bertiga telah ber salah. Kal ian tidak menerima kehadiran Mahisa Pukat dengan iklas. Karena itu, maka jarak yang telah kalian gali itu telah mempengaruhi murid-murid kalian. Kebencian kalian, atau lebih tepat lagi disebut kedengkian kalian atas kehadiran Mahisa Pukat telah membakar Kasatrian ini. Aku berterima kasih atas segala bantuan kalian selama ini. T etapi itu bukan jaminan bahwa aku harus membenarkan sikap kalian yang menurut pendapatku salah. Aku harus berani mengatakan bahwa yang  salah itu salah. Yang benar itu benar. Setidaktidaknya menurut keyakinanku atas landasan tugas dan wewenangku." "Baik" berkata mPu Kamenjangan "agaknya Pangeran cenderung berpihak kepada Mahisa Pukat. Jika demikian maka Pangeran hendaknya bersikap. Bagiku, sulit untuk dapat bertugas dalam satu lingkup kewajiban. Seperti minyak dengan air. Karena itu, maka Pangeran harus m emilih. Kami bertiga atau Mahisa Pukat, Pelayan Dalam yang  baru dapat meloncat-loncat seperti kera itu." Tetapi diluar dugaan Pangeran Kuda Pratama menjawab tegas "Aku m emilih Mahisa Pukat. Aku sediakan jawaban ini sejak aku meny etujui Mahisa Pukat bertugas di Kasatrian, karena aku y akin, lambat atau cepat, aku akan mendapat pertanyaan seperti itu." Sekali lagi wajah mPu Kamenjangan menjadi merah, bahkan terasa panas. Kemarahan telah membakar jantungnya. Namun dihadapan Pangeran Kuda Pratama, mPu Kamenjangan harus menahan diri. Ia sadar, bahwa Pangeran yang menjelang harihari tuanya itu adalah seorang yang  berilmu sangat tinggi. Meskipun demikian, seandainya persoalan seperti itu terjadi diluar istana, maka mPu Kamenjangan tentu akan mengambil sikap lain. Apalagi ia bertiga bersama dua orang guru yang lain dari para bangsawan muda di Ka satrian itu. Dengan kata-kata yang bergetar justru karena ia menahan diri, mPu Kamenjangan berkata "Jika demikian Pangeran. Tidak ada gunanya lagi kami terlalu lama mengabdi di Ka satrian. Kami mohon ijin untuk meninggalkan tugas kami. Kami dapat mengabdikan diri pada bidang yang lain, tidak pada bidang yang selama ini kami lakukan." "Baiklah mPu " jawab Pangeran Kuda Pratama "jika itu keputusan mPu, maka aku akan menghormatinya. Aku persilahkan mPu meninggalkan Ka satrian. Aku mengucapkan terima kasih atas kesediaan mPu menuntun anak-anak kami di Ka satrian selama ini. Aku juga mengucapkan terima kasih bahwa mPu bersedia mengabdikan diri dihidang lain di Singasari." Dengan penuh dendam mPu Kamenjangan telah meninggalkan Kasatrian bersama kedua orang guru yang lain. Mereka benar-benar m erasa tersingkir sejak kedatangan Mahisa Pukat di Kasatrian. Namun mereka tidak akan tinggal diam. Mereka akan membuat perhitungan langsung dengan Mahisa Pukat. Sejak ketiga orang itu keluar dari Kasatrian, maka yang  pertama-tama mereka lakukan adalah menemui mPu Sidikara. Kepada mPu Sidikara, mPu Kamenjangan mengatakan, apa yang telah terjadi dengan dirinya serta kedua orang guru yang lain. "Aku akan membuat perhitungan langsung dengan iblis kecil itu " geram mPu Kamenjangan. mPu Sidikara menarik napas dalam-dalam. Dengan nada berat ia berdesis "Aku minta maaf mPu. Aku terlambat menemui mPu." "Apa yang terlambat?" bertanya mPu Kamenjangan. "Aku telah bertemu Mahisa Pukat " jawab mPu Sidikara. "Dan kau sudah menjajagi ilmunya?" bertanya mPu Kamenjangan. "Ya " jawab mPu Sidikara. "Katakan, seberapa jauh ilmu anak itu." mPu Kamenjangan menjadi tidak sabar lagi. "Tataran ilmunya berada jauh diatas ilmuku " jawab mPu Sidikara. "Ah. Kau jangan bergurau. Aku benar-benar sedang mendendam" jawab mPu Kamenjangan. mPu Sidikara menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian menceriterakan apa yang pernah dialaminya ketika ia menjajagi ilmu Mahisa Pukat. "Apakah kau sedang mabuk waktu itu?" bertanya mPu Kamenjangan. "Aku berkata sebenarnya" jawab mPu Sidikara "aku juga tidak m engira bahwa anak itu m emiliki ilmu yang  demikian tinggi. Jauh di luar dugaanku. Bahkan sama sekali tidak terbayangkan. " "Aku tidak y akin " berkata mPu Kamenjangan "atau barangkali kau sudah terpengaruh olehnya ? Apakah ia sudah rnenjanjikan sesuatu kepadamu?" bertanya mPu Kamenjangan. “Sama sekali tidak. Aku berkata sebenarnya. Jika kau ingin menjajaginya, silahkan. Tetapi dengarlah pendapatku. Ia seorang anak muda yang baik. Meskipun aku telah memaksakan perkelahian dan bahkan aku sudah m engancam untuk membunuhnya, t etapi ia tidak berbuat apa-apa atasku yang sebenarnya tidak akan mampu melawannya. Ketika aku berniat melepaskan ilmuku, maka ia telah menahannya, sehingga aku urung mempergunakannya. Jika aku m emaksa diri untuk mempergunakan juga, sedangkan anak itu membenturnya dengan ilmu puncaknya, maka tentu akulah yang akan menjadi lumat." "Kau sudah terperangah oleh sikapnya. Tetapi bukankah kau belum m encoba untuk mempergunakan ilmu puncakmu itu?" bertanya mPu Kamenjangan. "Aku m emang belum m empergunakannya Tetapi ia sudah membuat satu perbandingan. Ia telah menghantam batu padas ditebing. Akibatnya benar-benar diluar dugaan. Dua hari kemudian, aku telah mencobanya tanpa dilihat oleh seorangpun. Tetapi apa yang  dapat aku lakukan? Luka tebing itu jauh lebih kecil dari luka yang  ditimbulkan oleh ilmu Mahisa Pukat." "Kau terpengaruh oleh permainannya. Tetapi baiklah. Aku tidak akan menyalahkanmu, karena kau tidak mempunyai kepentingan langsung. Tetapi aku lain. Aku akan benar-benar menjajagi ilmu. Aku akan menantangnya karena aku ingin menunjukkan bahwa pendapat Pangeran Kuda Pratama itu tidak b enar. Mahisa Pukat bukan orang terbaik di Kasatrian. Baik ilmunya maupun sikap dan pandangan hidupnya Juga caranya memberikan latihan-latihan kepada para bangsawan muda itu." "Aku ingin memperingatkanmu " berkata mPu Sidikara. "Kita adalah saudara seperguruan. Mungkin aku seorang yang dungu, sehingga aku merasa bahwa ilmumu lebih baik dari ilmuku. Tetapi kita yang  sama-sama tuntas ini tentu tidak terpaut terlalu banyak. Karena itu, menurut penglihatanku, ilmumu tidak akan melampaui ilmu Mahisa Pukat." Tetapi peringatan mPu Sidikara itu tidak dihiraukannya. Bahkan dengan kesal mPu Kamenjangan berkata "Baiklah. Jika kau berpendapat lain, aku tidak berkeberatan. Aku akan menyelesaikan per soalanku sendiri” "Jangan salah mengerti" sahut mPu Sidikara "justru aku merasa saudara seperguruanmu. Aku berniat memperingatkanmu. Aku tidak ingin kau mengalami kesulitan. Tetapi agaknya kau salah paham." "Terima kasih" jawab mPu Kamenjangan "jika itu yang  kau maksudkan, aku mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya. Tetapi aku tidak y akin akan keteranganmu." mPu Sidikara menarik nafas dalam-dalam. Jika Mahisa Pukat menghadapi mPu Kamenjangan, mungkin sikapnya akan berbeda dengan sikapnya saat anak muda itu menghadapinya. Mahisa Pukat tahu bahwa ia tidak berkepentingan langsung sehingga Mahisa Pukat seakan-akan tidak berniat menyakitinya. Mahisa Pukat menghentikan perlawanannya dengan cara yang  lembut dan perlahan-lahan. Tetapi menghadapi mPu Kamenjangan mungkin Mahisa Pukat akan langsung menghadapkan ilmunya yang dahsyat itu. Sementara itu menurut perhitungan mPu Sidikara, tataran ilmu mPu Kamenjangan masih belum setingkat dengan tataran ilmu Mahisa Pukat. Tetapi mPu Sidikara benar -benar tidak mampu untuk mencegah niat mPu Kamenjangan yang  merasa tersisih. Dari ceritera mPu Kamenjangan, mPu Sidikara dapat menduga, betapa besar dendam dan kebencian mPu Kamenjangan terhadap Mahisa Pukat Ber sama kedua orang guru yang lain, m Pu Kamenjangan telah merencanakan untuk membuat perhitungan dengan Mahisa Pukat. Mereka tahu bahwa Mahisa Pukat sering pergi ke lereng bukit, atau menyusuri jalan lembah dan kaki pegunungan. Bahkan mPu Sidikarapun sempat menemukannya sedang berlari-lari dilereng bukit-bukit padas. "Ada beberapa tempat yang  selalu dikunjungi" berkata mPu Kamenjangan kepada kedua orang kawannya "kita akan mencarinya ke tempat-tempat itu. Aku tidak peduli apakah orang-orang istana Singasari akan marah atau tidak. Seandainya mereka marah, belum tentu mereka dapat menangkap kita." Kedua kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seperti mPu Kamenjangan, m aka merekapun mendendam Mahisa Pukat, sehingga merekapun sependapat dengan rencana mPu Kamenjangan itu. Dalam pada itu, mPu Sidikaralah yang  justru menjadi sangat cemas. Ia mencemaskan keadaan saudara seperguruannya. Namun iapun mencemaskan Mahisa Pukat. Betapapun tinggi ilmu Mahisa Pukat, namun jika mPu Kamenjangan kehilangan harga dirinya dan bertempur bersama dua orang kawannya, maka Mahisa Pukat memang akan mendapat kesulitan. Sepeninggal mPu Kamenjangan, maka mPu Sidikara menjadi gelisah. Betapa ia mencoba untuk melupakan persoalan saudara seperguruannya dengan Mahisa Pukat. Tetapi ia tidak berhasil. Setiap kali ia teringat niat mPu Kamenjangan untuk menundukkan Mahisa Pukat, maka iapun menjadi berdebar-debar. Ia sendiri mengalami, betapa hatinya sulit dikendalikan setelah terjadi benturan ilmu melawan anak muda itu. Sebaliknya, anak muda itu ternyata masih selalu mampu menguasai dirinya sehingga dalam pertempuran yang keras, anak muda itu masih sempat memikirkan keselamatan lawannya. Tetapi apakah anafc muda itu akan berbuat demikian pula jika ia berhadapan dengan mPu Kamenjangan? Sementara itu mPu Kamenjangan akan dapat minta kedua orang guru yang  lain yang  m engalami perlakuan yang  sama dari istana Singasari, untuk bersama-sama melawan Mahisa Pukat. Bahkan mungkin per soalannya akan menjadi lebih gawat dari sekedar menundukkan dan memaksa Mahisa Pukat mengakui kelebihan mPu Kamenjangan. Tetapi justru lebih dari itu. mPu Kamenjangan yang  m enjadi sangat tersinggung itu akan dapat benar-benar m erencanakan untuk membunuh Mahisa Pukat. Ternyata kegelisahan itu telah meny iksa mPu Sidikara. Karena itu, maka untuk mengurangi beban perasaannya, maka mPu Sidikara berniat untuk m enemui Mahisa Pukat di istana Singasari. Dalam pada itu, mPu Kamenjangan benar-benar berusaha untuk dapat b ertemu dengan Mahisa Pukat. Setiap kali mPu Kamenjangan berada ditempat yang sering dikunjungi oleh Mahisa Pukat. Ia ingin menemui anak muda itu dan berbicara bersama-sama dengan kedua orang guru yang lain yang juga telah berhenti dan meninggalkan tugas mereka di Kasatrian. Sebenarnyalah, maka akhirnya, mPu Kamenjangan melihat Mahisa Pukat dan kedua muridnya yang remaja itu berlari -lari dilereng bukit. Seperti yang  diperhitungkan oleh mPu Kamenjangan, maka Mahisa Pukatpun berhenti di dataran yang cukup luas dilereng bukit itu. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Pukatpun telah melihat mPu Kamenjangan yang  mendekatinya. Karena itu, maka iapun siap menunggu apapun yang  akan dilakukan oleh mPu Kamenjangan itu. Karena hal seperti itu telah diduganya sebelumnya. mPu Kamenjangan yang  kemudian mendekatinya itupun kemudian berdiri sambil m eny ilangkan tangannya didadanya. Dengan nada berat ia b erkata "Anak muda yang  perkasa. Kau dapat berbangga diri bahwa kau telah terpilih untuk m enjadi seorang guru yang terbaik di Ka satrian. Terbukti bahwa Pangeran Kuda Pratama telah memilih kau daripada kami bertiga." "Bukan maksudku, mPu. Aku sudah berusaha berbuat sebaik-baiknya." jawab Mahisa Pukat. mPu Kamenjangan itu tertawa. Katanya "Dan ternyata kau berhasil. Sekarang kami telah tidak bertugas di Kasatrian lagi." "Aku sudah memohon kepada Pangeran Kuda Pratama agar keputusan itu dibatalkan " berkata Mahisa Pukat. "O, jadi kau juga menaruh bela s kasihan kepada kami, anak muda? Kami bukan orang-orang yang minta dibelas-kasihani. Kau kira kami akan berterima kasih atas belas-kasihanmu itu ? Seandainya Pangeran Kuda Pratama mendengarkan permohonanmu dan memanggil kami kembali, maka kami tentu akan berkeberatan. Apalagi jika hal itu karena belas kasihanmu." "Maaf mPu. Bukan karena belas-kasihan. Tetapi menurut penalaranku, mPu sudah cukup lama berada di Kasatrian, sehingga mPu sudah mengenal tugas mPu dengan baik." mPu Kamenjangan tertawa. Katanya "Terima kasih anak muda. Apapun yang  kau katakan, tidak akan dapat menghapus retak dijantungku. Karena itu, maka untuk menyembuhkannya hanya ada satu jalan. Itupun jika ternyata kau benar -benar seorang laki-laki. " "Aku tidak tahu maksudmu, mPu." sahut Mahisa Pukat. "Dengar. Besok pagi-pagi aku akan berada ditempat ini. Aku ingin kau juga berada ditempat ini. Sendiri. Aku tidak mau m enghancurkan kebanggaan kedua orang m uridmu itu atas gurunya. Jika mereka melihat kau hancur disini, m aka hatinyapun akan hancur pula. Ia akan kehilangan kepercayaan kepada semua orang yang kelak ditunjuk menjadi gurunya karena orang yang  dibanggakan ternyata sama sekali tidak memberikan kebanggaan apa-apa. Dengan demikian maka ia akan menganggap orang lainpun seperti kau.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia berpaling kepada kedua orang muridnya yang  tegang. Namun kemudian kepada mPu Kamenjangan ia berkata "Jika itu yang kau kehendaki, mPu. Maka aku akan memenuhinya." "Ternyata kau juga seorang laki-laki " desis mPu Kamenjangan sambil tersenyum. Mahisa Pukat memang tersinggung. Katanya "Bukankah mPu tahu bahwa aku sejak semula adalah laki-laki ? Bukankah mPu tahu bahwa untuk menjadi seorang Pelayan Dalam aku telah melampaui pendadaran tiga rambahan ?" mPu Kamenjangan tertawa. Katanya "Apakah artinya pendadaran seorang calon Pelayan Dalam.” "Tetapi kau tahu mPu, bahwa bekalku bukan sekedar berhasil dalam pendadaran bagi calon Pelayan Dalam," jawab Mahisa Pukat. "Bagus. Bagus" jawab mPu Kamenjangan "besok pagi-pagi aku menunggumu disini. " mPu Kamenjangan tidak menunggu jawaban Mahisa Pukat. Ber sama dengan kedua orang kawannya, iapun meninggalkan tempat itu. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian mendekati kedua orang muridnya sambil berkata "Satu contoh yang tidak baik, Raden. Tetapi aku tidak dapat m enghindar. Karena itu, sebaiknya kalian berdua tidak mengatakan kepada siapapun juga. Sebenarnya aku malu berselisih dengan siapapun juga. Tetapi mereka memaksa aku untuk m embela harga diriku." Kedua bangsawan remaja itu mengangguk-angguk. Dengan nada rendah seorang diantara mereka berkata "Aku m engerti guru. Tetapi apakah guru harus menghadapi mereka bertiga besok ?" "Tidak " jawab Mahisa Pukat "nampaknya yang  paling mendesak ingin menjajagi kemampuanku adalah mPu Kamenjangan. Agaknya mPu Sidikarapun diminta untuk mPu Kamenjangan untuk menjajagi kemampuanku. Menurut penglihatanku, mPu Kamenjangan dan mPu Sidikara memiliki sumber ilmu yang sama. Meskipun aku belum pernah mengamati unsur-unsur gerak mPu Kamenjangan, tetapi unsur itu nampak pada murid-muridnya.” Kedua remaja itu mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu seorang diantara mereka bertanya "Tetapi bagaimana jika mereka ber sama-sama melawan guru ?" "Aku berharap bahwa hal seperti itu tidak terjadi, Raden.” Kedua remaja itu tidak menjawab. Tetapi mereka nampak merenung. Agaknya mereka menjadi cemas, bahwa kedua orang kawan mPu Kamenjangan itu akan bertempur bersamasama. "Sudahlah" berkata Mahisa Pukat "bagaimanapun juga aku masih m enghargai mPu Kamenjangan. Ia tidak akan berbuat licik seperti itu." Kedua remaja itu hanya mengangguk-angguk saja betapapun mereka merasa ragu. "Marilah " berkata Mahisa Pukat "kita mulai dengan latihanlatihan ringan seperti biasanya. Lupakan apa yang  kalian lihat dan kalian dengar tadi. Itu adalah persoalanku. Biarlah aku menyelesaikan per soalanku." Kedua orang remaja itu masih berdiam diri. Merekapun kemudian bangkit dan mulai berlatih. Tetapi Mahisa Pukat mengetahui bahwa mereka tidak lagi dapat memusatkan perhatian mereka. Meskipun demikian Mahisa Pukat masih saja membawa mereka kedalam latihan-latihan untuk memanaskan tubuh mereka. Ketika matahari mulai naik, maka Mahisa Pukat mengajak kedua orang muridnya itu kembali ke Kasatrian. Mereka berjalan dengan kepala tunduk. Kedua remaja itu tidak nampak gembira seperti biasanya. Bahkan di Kasatrianpun mereka menjadi lebih banyak berdiam diri. Mahisa Pukat yang mengerti gejolak perasaan mereka, sempat memberikan petunjuk-petunjuk kepada mereka. Namun Mahisa Pukatpun menyadari bahwa ia tidak akan dapat menghapuskan gejolak perasaan anak-anak itu dengan serta merta, sehingga mereka masih saja tidak dapat memusatkan perhatian mereka kepada latihan-latihan yang harus mereka lalukan. "Lihat " berkata Mahisa Pukat sambil tersenyum "aku yang  akan menghadapi mereka tidak merasa cemas. Tidak pula kehilangan kegembiraanku hari ini. Karena itu, kalian jangan menjadi muram seperti itu." Namun jika kemudian anak-anak itu tersenyum dan tertawa, Mahisa Pukat menyadari bahwa mereka hanya sekedar ingin menghapuskan kesan kemuraman sgja. Dalam pada itu, Mahisa Pukat t erkejut ketika di sore hari seseorang telah mencarinya, ketika Mahisa Pukat menemuinya, ternyata orang itu adalah mPu Sidikara. "Marilah mPu " Mahisa Pukat mempersilahkan. Merekapun kemudian duduk diamben panjang diserambi belakang Ka satrian. "Maaf mPu" berkata Mahisa Pukat kemudian setelah mereka duduk "kedatangan mPu membuat aku berdebardebar." mPu Sidikara menarik nafas panjang. Katanya "Akulah yang harus minta maaf bahwa aku telah mengejutkanmu ngger." "Apakah mPu datang untuk sekedar melihat-lihat, atau mPu mempunyai satu kepentingan ?" mPu Sidikara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Ngger. Aku tidak tahu, apakah langkahku ini menunjukkan kepicikan penalaranku. Bahkan mungkin aku dapat disebut berkhianat terhadap saudara seperguruanku." "Maksud mPu ?" desak Mahisa Pukat. mPu Sidikarapun kemudian menceriterakan niat mPu Kamenjangan untuk menemui Mahisa Pukat dan menjajagi kemampuannya. "Sebenarnya aku dapat saja tidak ikut cam pur setelah aku melakukannya untuk kepentingan saudara seperguruanku itu pula." berkata mPu Sidikara kemudian "tetapi aku tidak dapat berbuat demikian ngger. Aku bahkan sudah mencoba untuk mencegah saudara seperguruanku itu. Aku sudah mengatakan bahwa tataran kemampuannya yang setataran dengan kemampuanku tidak akan dapat melampaui kemampuan angger Mahisa Pukat. Tetapi saudara seperguruanku itu tidak percaya. Sementara itu aku tidak ingin sesuatu terjadi, baik atas angger Mahisa Pukat yang  menurut penilaianku sama sekali tidak bersalah, tetapi juga atas saudara seperguruanku." Mahisa Pukat termangu -mangu sejenak. Namun kemudian dengan suara berat ia m enceriterakan pertemuannya dengan mPu Kamenjangan di lereng bukit. "Besok, aku harus menemuinya. Aku memang tidak mempunyai pilihan." berkata Mahisa Pukat kemudian. "Apakah angger sudah mempertimbangkan bahwa dua orang kawan mPu Kamenjangan akan hadir ?" Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia bertanya "Apakah keduanya juga saudara seperguruan mPu Kamenjangan ?" "Apakah kau melihat persamaan ilmu diantara m ereka ?" bertanya mPu Sidikara. "Aku belum pernah melihat mereka dalam olah kanuragan." jawab Mahisa Pukat "t etapi m elihat beberapa kemungkinan, mereka tidak seperguruan meskipun nampaknya mereka dapat bekeija sama dengan baik." mPu Sidikara mengangguk-angguk. Katanya "Mereka bukan saudara seperguruan. Tetapi mereka memang dapat bekerja sama dengan baik. Mereka bertiga bersama-sama bertugas di Kasatrian setelah mereka bersama-sama terpilih dari antara sebelas orang yang  menyatakan diri untuk menjadi guru di Ka satrian." jawab mPu Sidikara. "Dan mPu sendiri tidak termasuk diantara mereka ?" bertanya Mahisa Pukat. "Aku memang tidak menyatakan diri untuk mengikuti pendadaran pada waktu itu." jawab mPu Sidikara. "Selain ketiga orang itu, ada beberapa orang guru dibidang yang lain yang  bertugas di Kasatrian. " "Ya. Dengan mereka aku tidak mempunyai persoalan." jawab Mahisa Pukat. "Justru dengan mPu Kamenjangan mereka mempunyai persoalan. Tetapi Pangeran Kuda Pratama selalu berusaha menengahi. Karena mereka tidak bekerja dihidang yang sama, maka mereka dapat beijalan sesuai dengan tugas mereka sendiri-sendiri, meskipun ketidak sesuaian itu tetap ada. Namun para guru dihidang lain, tidak pernah mempersoalkannya. Mereka melaksanakan tugas m ereka saja sebaik-baiknya. Mereka menuntun para bangsawan dalam ilmu kesusa steraan, ilmu hitung, pengenalan musim dan dasar-dasar ilmu perbintangan dan secara khusus guru yang menuntun mereka dalam budi pekerti dan unggah-ungguh. Tetapi sebagian dari para bangsawan muda itu tidak belajar dengan sungguh-sungguh. Yang paling menonjol hanyalah pengetahuan dalam olah kanuragan. Guru-guru dalam olah kanuragan pulalah yang nampaknya lebih menguasai anakanak muda itu." Mahisa Pukat hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia mengerti bahwa maksud mPu Sidikara tentu baik. Agaknya apa yang dikatakannya itu adalah sikapnya yang  jujur. Ia tidak ingin saudara seperguruannya mengalami bencana karena mPu Sidikara menyadari bahwa ilmu mPu Kamenjangan itu tidak lebih tinggi dari ilmu Mahisa Pukat. T etapi iapun tidak ingin membiarkan Mahisa Pukat mengalami kesulitan, karena dengan mata gelap, mPu Kamenjangan dapat melibatkan kedua orang kawannya. Namun Mahisa Pukat memang sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Seandainya kedua orang kawan mPu Kamenjangan bersama-sama melibatkan dirinya, maka iapun harus menghadapinya dengan segenap ilmunya. Ia harus dengan cepat menghisap tenaga mereka sejauh dapat dilakukan sejak awal keduanya memasuki arena. Bahkan jika perlu, ia harus mempergunakan ilmu pamungkasnya. Karena itu, m aka Mahisa Pukat itupun kemudian berkata "mPu. Aku berterima kasih bahwa mPu telah berusaha memberikan peringatan kepadaku. Aku tahu bahwa mPu memang berdiri disimpang jalan yang  sulit. Disatu pihak berdiri mPu Kamenjangan yang  kebetulan adalah saudara seperguruan mPu, sedang dilain pihak mPu melihat kebenaran sikapku. Tetapi aku telah bersiap sepenuhnya, mPu. Meskipun aku harus mohon maaf, jika ada ketelanjuran sikapku. Aku sama sekali tidak berniat untuk menciderai dan selanjutnya mencelakai mPu Kamenjangan karena sebenarnya kami tidak bermusuhan. Yang terjadi hanyalah sekedar salah paham di Ka satrian. " "Bukan salah paham ngger " sahut mPu Sidikara "jika kita ingin mempergunakan istilah dengan jujur, maka mPu Kamenjangan merasa dengki karena kehadiran angger. Berbeda dengan kehadiran kedua kawannya karena mereka datang ber sama-sama. " Mahisa Pukat memang tidak membantah. Sambil mengangguk kecil ia berkata "Mungkin memang demikian mPu.” "Tetapi jika dengan demikian dengan tidak sengaja terjadi bencana, apaboleh buat," guman mPu Sidikara. "Tetapi aku akan berusaha mPu. Namun agaknya hati mPu Kamenjangan jauh lebih keras dari hati mPu Sidikara. " jawab Mahisa Pukat. "Ya. Kau benar ngger. Bukan karena aku ingin menunjukkan kelebihanku, tetapi hati mPu Kamenjangan memang sekeras batu." Mahisa Pukat hanya dapat mengangguk-angguk. Sementara mPu Sidikarapun kemudian telah minta diri. Kehadiran mPu Sidikara memang dapat melunakkan hati Mahisa Pukat. Kemarahannya kepada mPu Kamenjanganpun memang menyusut. Tetapi Mahisa Pukat memang tidak dapat berbuat lain daripada mempertahankan diri jika mPu Kamenjangan benar-benar ingin meny ingkirkannya dengan cara apapun juga. Malam harinya, Mahisa Pukat m emang tidak dapat segera tertidur. Kedatangan mPu Sidikara membuat perasaannya terpancang kepada persoalan yang akan dihadapinya esok pagi. Namun lewat tengah malam, akhirnya Mahisa Pukatpun sempat tertidur pula. Mimpi yang  gelisah sempat mengganggunya. Namun Mahisa Pukat merasa cukup lama beristirahat, sehingga kekuatan wadagnya benar-benar telah menjadi segar kembali. Karena ia tidak dapat mengingkari tantangan mPu Kamenjangan. Seperti dijanjikan, maka menjelang matahari terbit, Mahisa Pukat telah berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke lereng bukit untuk memenuhi janjinya kepada mPu Kamenjangan. Dengan sengaja Mahisa Pukat berjalan cepat untuk memanaskan tubuhnya. Jika ia langsung harus berhadapan dengan mPu Kamenjangan, maka darahnya sudah cukup panas dan urat-uratnya telah menjadi lemas. Tetapi ketika ia sampai di lereng bukit, ternyata mPu Kamenjangan belum ada di tempat. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak akan disangka mengulur waktu jika ia datang kemudian. Sambil menunggu, maka Mahisa Pukat telah mempergunakan waktunya untuk lebih memanaskan tubuhnya. Baru beberapa saat kemudian, Mahisa Pukat melihat mPu Kamenjangan dengan dua orang kawannya datang. Mereka beijalan sambil berbincang memanjat tebing yang  tidak terlalu terjal. mPu Kamenjangan nampaknya memang tidak tergesa -gesa. Bahkan rasa -rasanya mereka memang dengan sengaja memperlambat langkah mereka. Meskipun mPu Kamenjangan dan kedua orang kawannya sudah melihat Mahisa Pukat menunggu, tetapi mereka sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka masih sfy a berjalan seenaknya. Justru perhatian mereka tertuju kelembah dan ngarai dibawah bukit itu. m Pu Kamenjangan sempat menunjuk padukuhan-padukuhan yang teronggok di atas hijaunya hamparan batang-batang padi di sawah. Sementara itu, Kotaraja yang  seakan-akan berada dihadapan kaki mereka yang berdiri di lereng bukit kecil itu. Mahisa Pukat mula-mula memang menjadi gelisah. Ia merasa dianggap tidak berarti sama sekali oleh mPu Kamenjangan dengan kedua orang kawannya. Perhatian mereka sama sekali tidak tertuju kepadanya, meskipun mPu Kamenjangan telah menantangnya untuk saling menjajagi. Namun Mahisa Pukatpun kemudian menyadari, bahwa agaknya mPu Kamenjangan dengan sengaja ingin merendahkannya, sekaligus membuatnya m arah. Kemarahan akan dapat membuat penalaran menjadi kabur. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun sama sekali tidak menunjukkan gejolak perasaannya. Bahkan demikian ia berhenti memanaskan tubuhnya dan memandang mPu Kamenjangan yang  berjalan naik lereng bukit k ecil itu, maka iapun tidak menghiraukannya lagi. Mahisa Pukat kemudian melanjutkan gerakan-gerakan sederhananya sebagai mana dilakukannya sebelumnya. mPu Kamenjangan yang melihat sikap Mahisa Pukat itu telah mengerutkan dahinya. Apalagi kemudian Mahisa Pukat yang tubuhnya telah basah oleh keringat itu justru duduk diates seonggok batu padas dan bahkan kemudian membaringkan tubuhnya. Kedua kakinya diangkatnya berganti-ganti. Kemudian keduanya bersamasama. mPu Kamenjangan justru menjadi berdebar-debar. Mahisa Pukat itu nampaknya juga tidak memperhatikan kedatangannya. Anak m uda itu sama sekali tidak menjadi gelisah melihat orang yang  menantangnya itu mendekatinya dan siap untuk bertempur. Anak muda yang sudah berdiri sejenak melihat kedatangannya itu bukannya segera mempersiapkan diri. Tetapi ia justru masih saja memanasi tubuhnya tanpa menghiraukannya sama sekali. Namun akhirnya, mPu Kamenjangan dan kedua orang kawannya itu telah sampai ketempat Mahisa Pukat bermain"main sendiri. Demikian ketiganya berdiri beberapa langkah daripadanya, Mahisa Pukat itu menghentikan geraknya. Perlahan-lahan dengan malasnya ia bangkit berdiri. "Selamat datang mPu bertiga" sapa Mahisa Pukat. mPu Kamenjangan memandanginya dengan tajamnya. Dengan nada berat ia m enjawab "Selamat anak muda. Aku kira kau tidak akan memenuhi janjimu." Mahisa Pukat tertawa. Tetapi ia b ertanya "Apa alasan mPu dengan dugaan mPu itu?" "Kau tentu merasa betapa kecilnya kau dihadapanku." Mahisa Pukat tertawa semakin panjang. Katanya "Ya, perasaan itu m emang ada mPu. Tetapi justru perasaan itulah yang mendor ong aku untuk datang kemari. " "Kenapa ?" bertanya mPu Kamenjangan. "Aku tidak y akin bahwa perasaan itu benar. Aku tidak yakin bahwa aku terlalu kecil dihadapan mPu Kamenjangan.” "Jadi kau merasa bahwa kau pantas untuk mengimbangi kemampuanku ?" "Apakah mPu sudah bertemu dan berbicara dengan mPu Sidikara yang menurut pengakuannya saudara seperguruan mPu?" mPu Kamenjanganlah yang kemudian t ertawa. Katanya "Ya. Ia adalah saudara seperguruanku. Kami bersama-sama dituntun oleh guru yang sama. Kami bersama-sama telah menuntaskan ilmu dari perguruan kami. Tetapi Sidikara lalu berhenti. Ia tidak lagi mampu meningkatkan ilmunya. Ia sudah merasa puas dengan apa yang  dimiliki dari seorang guru sa ja. Tetapi aku tidak anak muda. Aku haus akan ilmu. Karena itu, maka setelah aku berpisah dengan Sidikara, maka kemampuanku meningkat dua tiga kali lipat dari kemampuan mPu Sidikara itu." Mahisa Pukat tersenyum. Katanya "Apakah aku juga harus mengarang ceritera yang lebih garang lagi dari c erita mPu itu sehingga kesannya aku memiliki kelebihan dari mpu ? Wajah mPu Kamenjangan m enjadi merah. Mahisa Pukat ternyata tidak mempercayai ceriteranya tentang dirinya. Karena itu, maka iapun kemudian menggeram "Baiklah, kau benar-benar anak yang sombong dan tidak tahu diri. Aku ingin menunjukkan kepadamu, bahwa kau tidak lebih dari seorang anak ingusan bagiku.” MahisaPukat m engerutkan dahinya. Ia sadar, bahwa mPu Kamenjangan justru telah menjadi marah. Namun Mahisa Pukatpun sudah memperhitungkan bahwa mPu Kamenjangan tentu tidak akan kehilangan penalarannya. Bagai manapun juga mPu Kamenjangan adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu maka Mahisa Pukatpun menyadari, bahwa pertempuran yang akan terjadi adalah pertempuran yang bukan saja sekedar penjajagan. Meskipun perasaan mPu Kamenjangan tentu sudah m engendap, namun ia pada suatu saat akan dapat kehilangan kendali, sehingga ia akan mengerahkan segenap kemampuan dan ilmunya. Jika kemudian yang  terjadi demikian, maka yang  harus dilakukannya adalah mempertaruhkan segala-galanya yang adapadanya. Demikianlah, maka mPu Kamenjangan yang marah itupun berkata "Anak muda. Bersiaplah. Matahari sudah mulai memanjat langit. Kita akan mulai bermain-main. Jika kau pernah bermain-main dengan mPu Sidikara, m aka kini kau bermain-main dengan aku. mPuKamenjangan,” "Aku sudah siap. mPu. Bukankah aku sudah datang lebih dahulu dari mPu?” sahut Mahisa Pukat. mPu Kamenjangan bergeser maju. Kepada kedua kawannya ia berkata "Nah, kalian akan m enjadi saksi apa yang terjadi disini atas anak muda yang sombong itu. Jika tanganku terlanjur menyakitinya, itu bukan salahku." Kedua orang kawan mPu Sidikara itupun segera mendekat pula. Mereka berdiri beberapa langkah dari mPu Sidikara yang kemudian telah berhadap-hadapan dengan MahisaPukat. Ternyata mPu Kamenjangan telah melepaskan senjatanya. Sebuah nenggala yang  tajam dikedua ujungnya dan menyerahkannya kepada salah seorang dari kedua kawannya. "Aku tidak ingin mempergunakannya. " Namun kemudian katanya kepada Mahisa Pukat "kau sebaiknya tidak usah melepas senjatamu itu, mungkin kau akan mempergunakannya.” Mahisa Pukat tersenyum sambil menjawab "Kau tentu sudah mendengar dari mPu Sidikara, bahwa aku tidak selalu memerlukan senjataku. Karena itu, supaya menjadi adil, maka akupun akan meletakkan senjataku pula." mPu Kamenjangan tidak menyahut. Tetapi ia hanya memandangi saja Mahisa Pukat yang kemudian m eletakkan pedang dan sarungnya diatas batu padas. "Kau m emang sombong" geram mPu Kamenjangan "tetapi segala yang  terjadi kemudian adalah salahmu sendiri.” Mahisa Pukat tidak m enjawab lagi. Ketika ia m elihat mPu Kamenjangan bergeser mendekat lagi, maka iapun benarbenar telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. mPu Kamenjangan memang mulai meny erang meskipun sekedar memancing gerakan Mahisa Pukat. Ketika Mahisa Pukat bergeser, maka mPu Kamenjangan telah meloncat menyusul dengan serangannya pula. Mahisa Pukat yang menghindar, justru telah mulai mempersiapkan diri untuk membalas serangan mPu Kamenjangan. Dengan demikian maka pertempuran itu telah menjadi semakin meningkat. Baik mPu Kamenjangan maupun Mahisa Pukat masih berusaha untuk m enjajagi kemampuan masingmasing. Namun pada langkah selanjutnya, maka mPu Kamenjangan telah bergerak semakin cepat. Mahisa Pukat mampu mengenali satu dua unsur gerak sebagaimana dapat dilihatnya pada unsur gerak mPu Sidikara yang kebetulan adalah saudara perguruan mPu Kamenjangan. Namun diantara unsur-unsur gerak yang  samam itu, memang nampak ada unsur-unsur gerak yang  berbeda. Semakin cepat mereka bertempur, m aka Mahisa Pukat memang merasakan perbedaan itu. Namun bagi Mahisa Pukat, perbedaan yang  ada itu, masih belum menyulitkannya. Meskipun mPu Kamenjangan telah m endapat laporan dari mPu Sidikara tentang Mahisa Pukat, namun agaknya mPu Kamenjangan masih ingin menjajagi langsung tataran demi tataran dari ilmu anak muda yang  telah membuatnya tersingkir dari Kasatrian. Namun Mahisa Pukat yang menyadari akan hal itu, telah berusaha untuk mengurungkannya Ia tidak ingin mPu Kamenjangan menelusuri ilmunya tataran demi tataran. Sebenarnya ia sama sekali tidak berkeberatan, namun Mahisa Pukat hanya ingin melakukan sesuatu yang  tidak sejalan dengan keinginan mPu Kamenjangan. Karena itu, pada saat mPu Kamenjangan mulai meningkatkan ilmunya tataran demi tataran, Mahisa Pukat justru telah meloncat ketataran yang lebih tinggi. mPu Kamenjangan sempat terkejut. Beberapa langkah ia terdorong surut. mPu Kamenjangan yang terkejut mendapat serangan yang  keras itu telah meloncat mengambil jarak sambil mengumpat. Namun Mahisa Pukat tidak memberinya kesempatan. Serangannya justru menjadi semakin cepat. Dengan demikian maka mPu Kamenjangan memang tidak mempunyai kesempatan untuk melihat ilmu Mahisa Pukat tataran demi tataran. Untuk m engimbangi serangan-serangan anak muda itu, maka mPu Kamenjanganpun harus dengan cepat meningkatkan ilmunya pula. Mahisa Pukat yang melihat lawannya menjatuhkan diri, mengurungkan niatnya. Tetapi justru tubuhnya berputar. Kakiny a yang terangkat itu kemudian menjadi tumpuan putaran tubuhnya sehingga kakinya yang  lain terayun mendatar menyambur kepala mPu Kamenjangan. Tetapi mPu Kamenjangan menundukkan kepalanya dalamdalam, hampir mencium tanah. Dengan demikian maka kaki Mahisa Pukat yang  terayun itu tidak mengenainya. Bahkan demikian kaki itu lewat, maka mPu Kamenjangan dengan cepat bangkit berdiri. Kakinya yang  dilipat itu dengan cepat menyerang Mahisa Pukat. Mahisa Pukatlah yang  terkejut. Tetapi Mahisa Pukat dengan cepat menjatuhkan dirinya. Kedua kakinya yang renggang meluncur mendatar menjepit sebelah kaki mPu Kamenjangan yang  berpijak kuat-kuat, sementara kakinya yang lain terayun keluar. Ketika Mahisa Pukat memutar kakinya, maka mPu Kamenjanganpun ikut berputar pula. Karena itu, maka mPu Kamenjangan itupun telah terbanting jatuh. Hanya karena ketrampilannya sajalah maka kepalanya tidak seperti dihentakkan m embentur tanah. Tubuhnya yang liat itu berhasil lepas dari jepitan kaki Mahisa Pukat. Dua kali mPu Kamenjangan berguling. Baru kemudian, ia melenting berdiri tegak diatas kedua kakinya. Demikian pula Mahisa Pukat. Ketika mPu Kamenjangan berdiri tegak, maka Mahisa Pukatpun telah berdiri pula. mPu Kamenjangan menggeram marah. Ia tidak dapat mengingkari bahwa kekuatan anak muda itu terlalu besar untuk dilawan. Benturan-benturan yang  terjadi telah membuat tubuh mPu Kamenjangan menjadi sakit. Serangan Mahisa Pukat yang  mampu menembus pertahanannya membuat tulang-tulangnya bagaikan retak. Ketika ia terbanting jatuh, meskipun ia sempat berguling dan melenting tegak berdiri, namun mPu Kamenjangan harus meny eringai menahan sakit di punggungnya. Karena itu maka mPu Kamenjangan tidak mempunyai pilihan lain. Ia tidak dapat mengingkari keny ataan bahwa memang sulit baginya untuk dapat mengalahkan Mahisa Pukat tanpa mempergunakan ilmu puncaknya. Karena itu, maka setelah tidak mempunyai kemungkinan lain maka mPu Kamenjangan itupun telah mempesiapkan dirinya untuk sampai kepada kemampuan ilmu puncaknya. Mahisa Pukat yang  m elihat unsur unsur yang  sama pada ilmu mPu Kamenjangan dengan ilmu mPu Sidikara memang menjadi termangu-mangu. Namun seperti yang  dikatakan oleh mPu Kamenjangan, bahwa ilmunya lebih dari yang  telah dimiliki oleh Mpu Sidikara. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun merasa bahwa ia harus menjadi sangat berhati-hati. Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar ketika ia melihat mPu Kamenjangan mempersiapkan dirinya dalam pemusatan nalar budinya. Hampir di luar sadarnya ia berkata "mPu. Apakah kita benar-benar akan membenturkan ilmu puncak kita?" "Per setan" geram mPu Kamenjangan "kau sudah kehilangan kesempatan untuk memohon pengampunan. Tengadahkan wajahmu k elangit dan tundukkan kepalamu ke pusat bumi. Kau akan segera hancur menjadi debu.” Mahisa Pukat memang tidak mempunyai banyak kesempatan. Karena itu, ketika mPu Kamenjangan berdiri tegak dengan kaki renggang serta kedua tangannya merapat di depan dadanya, maka Mahisa Pukatpun dengan cepat mempersiapkan dirinya pula. Meskipun ia tidak membawa kerisnya yang  berwarna kehijauan, namun ia mempersiapkan ilmunya pada landasan segala kemampuan dan tenaga-tenaga dalam yang  ada di dalam dirinya. Mahisa Pukat memang tidak mempunyai kesempatan untuk mengelakkan benturan ilmu itu. Karena itulah, m aka ketika ia melihat mPu Kamenjangan menggerakkan kedua tangannya dan m engosokkan kedua tetapi tangannya, m aka iapun telah siap untuk melontarkan ilmunya pula. Demikianlah, sekejap kemudian mPu Kamenjangan itu telah menghentakkan ilmu puncaknya. Ia telah melontarkan getar kekuatan ilmu didalam dirinya dalam lontaran ilmu yang jarang ada bandingnya. Namun sementara itu Mahisa Pukatpun telah melakukan hal yang sama. Ia telah m empersiapkan dirinya. Memusatkan nalar budinya, dan siap melontarkan puncak ilmunya pula. MahisaPukat memang tidak ingin terlambat. Ketika melihat mPu Kamenjangan melontarkan ilmunya, ia maka Mahisa Pukatpun telah melepaskan ilmunya pula. Ketika kedua telapak tangannya yang  terbuka menghadap ke arah mPu Kamenjangan, maka sinar yang kehijauan seolah-olah telah meluncur dari telapak tangan anak muda itu. Sejenak kemudian, benturan kekuatan yang  dahsyat telah terjadi. Dua getaran ilmu puncak yang  tidak ada bandingnya. Kedua kekuatan ilmu itu telah saling menghantam dengan gelombang kekuatan getaran masing-masing. Benturan kekuatan itu ternyata telah saling dan saling menekan. Keseimbangan kekuatan dahsy at yang berbenturan itu telah m enentukan akibat yang  terjadi pada kedua orang yang telah melepaskannya. Getaran yang  terpantul oleh benturan itu, ternyata telah m engetuk jantung Mahisa Pukat sehingga anak muda itu harus mengerahkan daya tahannya, agar jantungnya tidak pecah karenanya Meskipun demikian getaran yang menghentaknya itu telah mendorongnya beberapa langkah surut. Namun Mahisa Pukat masih mampu m empertahankan keseimbangannya, sehingga ia masih berdiri tegak diatas kedua kakinya. Tetapi anak muda itupun segera meny ilangkan kedua tangannya didadanya, menghisap udara dalam-dalam memenuhi rongga dadanya, kemudian menghembuskannya perlahan-lahan. Dada Mahisa Pukat memang terasa ny eri. Namun diulanginya tarikan udara kedalam rongga dadanya dan melepaskannya perlahan-lahan. Sementara itu, akibat yang  menimpa mPu Kamenjangan ternyata lebih parah. mPu Kamenjangan bukan saja terdorong beberapa langkah surut. Tetapi mPu Kamenjangan telah terlempar dan jatuh terbanting ditanah berbatu padas. Hentakkan balik pantulan benturan ilmunya melawan ilmu Mahisa Pukat yang  lebih kuat telah menghantam seisi dadanya. Betapapun mPu Kamenjangan mengerahkan daya tahannya, namun isi dadanya bagaikan telah rontok berjatuhan. Terdengar erang kesakitan. Sementara itu kedua orang kawan mPu Kamenjangan telah berlari dan berjongkok disisiny a. "mPu " desis salah seorang dari mereka. mPu Kamenjangan memang tidak pingsan. Tetapi keadaannya memang parah. Darah nampak menitik dari selasela bibirnya. "Dimana iblis itu?" desis mPu Kamenjangan. Kedua orang kawan mPu Kamenjangan itupun berpaling kearah Mahisa Pukat. Namun mereka melihat Mahisa Pukat itu sudah duduk memusatkan nalar budinya, mengatur pernafasannya untuk meningkatkan daya tahannya. Perlahanlahan maka Mahisa Pukat itu dapat m enguasai rasa sakit di dadanya. Nafasny apun semakin lama menjadi semakin lancar. Demikian pula darahnya telah mengalir wajar dijalur-jalur pembuluhnya diseluruh tubuhnya. "Kenapa kalian diam saja?" bertanya mPu Kamenjangan dengan nafas yang  tersengal-sengal. "Apa yang harus kami lakukan?" bertanya salah seorang dari mereka. "Hancurkan anak itu. Ia tidak boleh keluar dari lingkaran pertempuran ini. Ia akan menjadi semakin sombong dan mengira bahwa ia dapat mengalahkan aku" desis mPu Kamenjangan. Kedua orang kawannya itu termangu-mangu sejenak. Namun mPu Kamenjangan itu berkata "Ia tentu dalam kesulitan pula sekarang ini seandainya ia tidak mati. Dadanya tentu retak dan jantungnya telah pecah. Jika ia masih dapat bangkit, maka nyawanya sudah berada diujung rambutnya." Kedua orang kawannya itu mengangguk. Tetapi mereka memang merasa sakit hati pula terhadap Mahisa Pukat. Apalagi setelah Mahisa Pukat mampu mengalahkan mPu Kamenjangan. Maka Mahisa Pukat tentu akan semakin menengadahkan kepalanya dan berkata kepada setiap orang dan kepada Pangeran Kuda Pratama, bahwa mPu Kamenjangan telah dikalahkan. Karena itu, maka kedua orang itupun segera bangkit berdiri. Mereka berdua juga bukan orang kebanyakan. Mereka telah terpilih diantara beberapa orang yang  m enyatakan diri untuk mendapat tugas di Kasatrian, membimbing para bangsawan muda. Beberapa langkah mereka berjalan mendekati Mahisa Pukat. Sementara itu Mahisa Pukat telah berhasil m enguasai perasaan sakitnya, serta memulihkan pernafasannya serta peredaran darahnya. Meskipun demikian, tenaga dan kemampuannya memang belum pulih sepenuhnya. Tetapi Mahisa Pukat tidak akan bersedia meny erahkan kepalanya kepada siapapun juga. Karena itu, meskipun kemampuannya belum pulih kembali, namun Mahisa Pukatpun telah bangkit pula dan bersiap untuk segera menghadapi kedua orang itu dengan penuh kesadaran, bahwa kedua orang itu tentu memiliki ilmu yang tinggi pula. Karena itu, Mahisa Pukat tidak sekedar mempercayakan diri pada ilmunya yang akan dapat dilontarkan dari jarak jauh. Tetapi Mahisa Pukatpun telah mengetrapkan pula ilmunya yang mampu menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya. "Kau dalam keadaanmu seperti itu tidak akan dapat berbuat banyak, anak muda" berkata salah seorang dari kedua orang itu. "Jadi? Mak sudmu, biarlah aku menundukkan kepalaku, sementara kalian akan mematahkan leherku?" bertanya Mahisa Pukat. "Ya " jawab yang lain "kau tidak boleh kembali ke Kasatrian dengan meny ebarkan ceritera bohong tentang mPu Kamenjangan dan kami berdua " "Ceritera bohong bagaimana? Seandainya aku mengatakan bahwa aku dapat m engalahkan mPu Kamenjangan, bukankah itu sebenarnya telah terjadi?" jawab Mahisa Pukat. "Apapun yang telah terjadi, sebaiknya kau tidak mengatakan apapun kepada siapapun. Hal itu akan dapat terjadi, jika kau tidak keluar dari arena pertempuran ini." Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Tetapi kata-kata itu sudah pasti baginya. Ia harus bertempur melawan kedua orang kawan mPu Kamenjangan. Dua orang yang  juga bertugas di Ka satrian Singasari. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun telah bersiap sepenuhnya. Apapun yang  akan terjadi, tetapi ia akan mempertahankan diri sejauh dapat dilakukannya. "Nah, anak muda" berkata salah seorang dari kedua orang itu "jika kau dapat lolos dari tangan mPu Kamenjangan, maka datang saatnya kau mati pula." Mahisa Pukat menggeram. Ia memang tidak terlalu terkejut melihat sikap kedua orang itu. Karena itu, maka apa yang  akan terjadi, Mahisa Pukat telah siap menghadapinya. Bahkan sampai kemungkinan terburuk sekalipun. Meskipun belum utuh kembali, tetapi ia merasa bahwa ia telah berhasil menemukan kembali landasan untuk berpijak. Ketika kedua orang itu bergerak sal ing menjauh, maka Mahisa Pukatpun segera memiringkan tubuhnya. Satu kakinya ditariknya setengah langkah surut sambil merendah pada lututnya. Kedua tangannya mengepal dan bersilang didepan dadanya. "Jangan m enyesali nasibmu yang  buruk anak muda." desis seorang yang lain sambil bergeser selangkah "luka mPu Kamenjangan yang parah akan segera terbalas." Mahisa Pukat sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap meloncat dan bertempur pada jarak dekat, sehingga memungkinkannya untuk membenturkan tubuhnya pada tubuh lawannya, sehingga tenaga dan kemampuan lawannya akan dapat terhisap. Kecuali itu jika ia bertempur pada jarak dekat dengan salah seorang diantara mereka, maka yang  seorang tentu tidak akan dengan gegabah melontarkan ilmunya dari jarak jauh, seandainya ia memiliki kemampuan itu. Namun dalam pada itu, selagi Mahisa Pukat sudah siap untuk meloncat m enyerang dan bertempur pada jarak dekat, tiba -tiba saja terdengar suara tertawa diatas batu padas di tebing bukit kecil itu. Semua orang berpaling kearah suara itu. Yang berdiri tegak sambil tertawa diatas batu padas itu adalah mPu Sidikara. Agaknya ia telah meloncat dari balik batu padas itu. "mPu Sidikara" desis salah seorang dari kedua orang kawan mPu Kamenjangan itu. "Ya Ki Sanak. Aku telah melihat apa yang  telah terjadi disini. Aku telah melihat bagaimana mPu Kamenjangan, saudara seperguruanku itu jatuh terpelanting dan terluka parah dibagian dalam tubuhnya. " "Apakah kau akan menuntut balas atas kekalahan saudara seperguruanmu ?" bertanya salah seorang dari kedua kawan mPu Kamenjangan itu. "Tidak " jawab mPu Sidikara "aku telah memberikan peringatan kepadanya sebelum ia bertanding melawan Mahisa Pukat. Tetapi ia tidak mendengarkannya. Bahkan ia telah merendahkan bukan saja Mahisa Pukat, tetapi juga aku. mPu Kamenjangan merasa bahwa ilmunya lebih tinggi dari ilmuku. Tetapi lihat, apa yang  telah terjadi ? Apakah ilmunya benar lebih tinggi dari ilmuku." "Jika kau merasa ilmumu lebih tinggi, kenapa kau tidak menuntut balas kekalahan saudara seperguruanmu ? Jika benar ilmumu lebih tinggi, maka kau akan dengan mudah dapat mengalahkan Mahisa Pukat. " "Tidak. Aku tidak akan menuntut balas karena aku tahu siapakah yang  bersalah dalam pertandingan ini." jawab mPu Sidikara. "Apakah aku t idak salah dengar ?" bertanya salah seorang kawan mPu Kamenjangan itu "bukankah seharusnya seseorang akan membela saudara seperguruannya dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri ?" "Apakah nilai seorang saudara seperguruan lebih tinggi dari nilai kebenaran ?" bertanya mPu Sidikara. "Apakah yang  kau maksud ?" bertanya kawan mPu Kamenjangan itu. "Jika dalam persoalan ini saudara seperguruanku berada difihak yang  bersalah, apakah aku harus menuntut balas ? Sementara itu lawan saudara seperguruanku berdiri dipihak yang benar sebagaimana Mahisa Pukat ?" "Per setan" geram orang itu "kau sudah sampai hati mengkhianati saudara seperguruanmu sendiri.” "Itu lebih baik daripada aku berkhianat terhadap kebenaran." jawab mPu Sidikara. "Terkutuklah kau" berkata kawan mPu Kamenjangan itu. "Jika kelak mPu Kamenjangan sembuh dan kekuatannya pulih kembali, maka kau akan meny esal. Ia akan menghukummu." "Kenapa bukan aku yang menghukumnya? Ia sudah melanggar nasehatku." jawab mPu Sidikara. "Jangan sombong. Kau akan dihancurkan oleh saudara seperguruanmu. Biarlah sekarang aku membalaskan sakit hatinya menghancurkan Mahisa Pukat itu. Nanti, kita akan berbicara tentang pengkhianatanmu itu." berkata kawan mPu Kamenjangan itu. Tetapi mPu Sidikara itu tertawa. Katanya "Ki Sanak. Sejak semula aku m emang datang dengan tujuan lain. Sama sekali tidak akan membantu apalagi menuntut balas akan kekalahannya. Biarlah ia m enyadari, bahwa ilmunya memang masih belum mencapai tataran kemampuan Mahisa Pukat" berkata mPu Sidikara. Lalu katanya "Sekarang aku justru akan berurusan dengan kalian. Kau tahu, bahwa Mahisa Pukat masih terlalu letih. Apalagi setelah ilmunya berbenturan dengan ilmu mPu Kamenjangan. Karena itu, maka tidak adil kiranya jika ia harus b ertempur melawan dua orang sekaligus sekarang ini. Jika kalian memaksakan pertempuran, maka biarlah Mahisa Pukat melawan seorang saja diantara kalian." "Apa pedulimu. Kami berdua akan bertempur bersamasama. Mahisa Pukat harus kami hancurkan sekarang juga." geram kawan mPu Kamenjangan itu. "Ki Sanak. Jika kalian berdua m emaksa untuk bertempur melawan Mahisa Pukat, maka biarlah aku juga turun ke arena. Aku berdiri dipihak Mahisa Pukat” Kedua orang itu terkejut. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa mPu Sidikara justru akan berpihak kepada Mahisa Pukat. Justru setelah Mahisa Pukat mengalahkan mPu Kamenjangan. Seorang diantara kedua orang kawan mPu Kamenjangan itupun kemudian berkata lantang "mPu Sidikara. kau telah melengkapi pengkhianatanmu. Jika kemudian mPu Kamenjangan tahu, apa saja y g akan dilakukan atasmu?” "Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku. Sudah aku katakan, aku lebih baik berkhianat kepada saudara seperguruanku daripada berkhianat atas key akinanku." Mahisa pukat yg mendengar kata-kata mPu Sidikara itupun diluar sadarnya berkata "Terima kasih mPu. Ternyata bahwa mPu mampu melihat kebenaran.” mPu Sidikara itu melangkah mendekat. Sementara itu kedua orang kawan mPu Kamenjangan itu menjadi ragu-ragu. Jika Mahisa Pukat mampu mengalahkan mPu Kamenjangan, maka m ereka berdua tentu sulit untuk dapat memenangkan pertempuran melawan anak muda itu ber sama-sama dengan mPu Sidikara. Apalagi nampaknya mPu Sidikara juga memiliki ilmu y g tinggi sebagaimana mPu Kamenjangan. Karena itu, maka untuk beberapa saat keduanya berdiri termangu-mangu. Sementara itu mPu Sidikara telah berdiri disebelah Mahisa Pukat. Katanya "Pikirkan Ki Sanak. Maih ada kesempatan untuk mengurungkan perkelahian y g tentu tidak akan menguntungkan bagi kalian berdua. Seorang diantara kalian tentu akan dibunuh oleh Mahisa Pukat, sedang yg lain akulah yg akan membunuhnya.” Kedua orang itu benar-benar dicekam oleh kebimbangan. Antara kesetia -kawanan, harga diri dan kenyataan yg dihadapinya y g tidak dapat diingkarinya. “Pergilah. Bawa mPu Kamenjangan. Kalian tentu dapat mencari seorang tabib yang akan dapat mengobatinya. Atau mPu Kamenjangan sendiri agaknya mempunyai obat penolong untuk sementara agar ia tetap dapat bertahan hidup." berkata mPu Sidikara. Kedua orang itu masih tetap ragu-ragu. Tetapi mPu Sidikara berkata lebih keras "Jangan tunggu mPu Kamenjangan mati. Tanyakan kepadanya apakah ia membawa obat atau tidak. " Kedua orang itupun kemudian mendekati mPu Kamenjangan yang  menjadi semakin lemah. Matanya mulai terpejam sementara nafasnya menjadi semakin sesak. "mPu " desis salah seorang kawannya. mPu Kamenjangan ternyata masih mendengar suara kawannya. Dengan lemah ia bertanya "Apakah tikus itu sudah mati?- Kedua orang itu berpaling. Tetapi Mahisa Pukat dan mPu Sidikara telah berdiri dekat dibelakang mereka. Bahkan keduanya telah mendengar pula desah suara mPu Kamenjangan meskipun hanya perlahan-lahan. Kedua orang itu memang menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Sementara itu mPu Kamenjangan masih saja berdesis lemah "Apakah anak itu sudah mati?” Namun mPu Sidikaralah yg berdesis "Suruh ia menelan obat yang  dapat membantunya mempertahankan hidupnya” Kedua orang kawan mPu Kamenjangan itu ragu-ragu. Namun mPu Sidikara justru telah mendesak mereka dan berjongkok disamping mPu Kamenjangan. Tanpa mengatakan sesuatu mPu Sidikara telah mengambil sebutir obat dari kantong ikat pinggangnya dan perlahan-lahan dimasukan di sela -sela bibir mPu Kamenjangan. mPu Kamenjangan tidak menyadari apa yang  terjadi. Namun ketika obat itu seakan-akan mencair dimulutnya dan tertelan lewat kerongkongannya maka rasa-rasanya sentuhan udara segar telah mengalir didalam rongga dadanya. Darahnya yang hampir membeku telah mulai bergejolak mengalir diseluruh pembuluh ditubuh. mPu Kamenjangan sempat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi keadaannya masih saja sangat lemah. "Kalian harus menunggui mPu Kamenjangan untuk beberapa lama. Keadaannya akan berangsur baik meskipun dalam keterbatasannya. Kalian berdua kemudian dapat membantunya meninggalkan tempat ini. Jika ia menjadi sa dar, maka mPu Kamenjangan sendiri tahu, apa yang harus ditelannya. Katakan bahwa aku telah meny elipkan sebutir obat dimulutnya.” Kedua orang itu. tidak menjawab. Mereka hanya termangumangu saja melihat mPu Sidikara yang kemudian mengajak Mahisa Pukat meninggalkan tempat itu. Sepeninggal Mahisa Pukat dan mPu Sidikara, maka keadaan mPu Kamenjangan memang m enjadi semakin baik. Ketika ia kemudian menyadari keadaannya, maka ia bertanya lagi "Apakah kau sudah membunuh anak itu?” "Tidak mPu" jawab salah seorang kawannya. "Kenapa ?" bertanya mPu Kamenjangan dengan wajah tegang. Kawannya memang menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi yang seorang lagi berkata "mPu, sebaiknya mPu memikirkan keadaan mPu sekarang ini. Mungkin mPu mempunyai obat yang dapat setidak-setidaknya membantu agar day a tahan mPu semakin meningkat. Dengan demikian kita akan dapat meninggalkan tempat ini." mPu Kamenjangan termangu-mangu sejenak, sementara kawannya yang  lain berkata pula "Marilah mPu. Kita tinggalkan tempat ini. Nanti jika keadaan mPu menjadi semakin baik, biarlah kami ceriterakan apa yang  telah terjadi.” Tetapi mPu Kamenjangan itu tiba-tiba saja bertanya "Apakah mPu Sidikara ada disini ?" "Ya mPu " jawab salah seorang dari kedua kawannya. "Samar-samar aku m endengar suaranya." namun tiba-tiba ia bertanya "apakah ia memberikan obat untukku ?" Kedua orang kawannya memang ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi mPu Kamenjangan itu mendesak "Ia mempunyai obat sebagaimana aku punya. Ra sa-rasanya keadaanku cepat berubah karena obat yang  diberikannya atau obatku sendiri." Kedua kawannya tidak dapat mengelak lagi. Meskipun ragu-ragu namun seorang diantara merekapun kemudian berkata "mPu Sidikara telah memberikan obat itu kepada mPu langsung. m Pu Sidikaralah yang  m eny elipkan obat itu dibibir mPu.” "Lalu apa lagi yang dilakukan oleh orang tua ?" bertanya mPu Kamenjangan. "mPu Sidikara telah pergi." jawab kawannya. Namun katanya pula "Tetapi sudahlah mPu. Sekarang, marilah kita pergi. Kita akan dapat membicarakan nanti jika keadaan mPu sudah bertambah baik. " "Kau jangan bodoh" berkata mPu Kamenjangan "pengaruh obat itu semakin lama semakin baik. Seandainya kita sempat m enunggu beberapa saat, maka keadaanku tentu bertambah baik." "Tetapi daya obat itu mempunyai keterbatasan. Semakin lama memang semakin baik. Tetapi bagaimana jika t erlalu lama melampaui day a kekuatannya dalam keterbatasannya.” mPu Kamenjangan menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya "Baiklah. Marilah kita pergi." Kedua orang kawannya itupun telah membantu mPu Kamenjangan bangkit berdiri. Ternyata bahwa kekuatan yang tersisa dan yang bahkan telah dibantu oleh obat yang  telah diselipkan dibibirnya, namun mPu Kamenjangan masih harus dipapah oleh kedua orang kawannya ketika ia meninggalkan tempat itu. Baru kemudian, setelah mereka berada dirumah, kedua kawan mPu Kamenjangan itu menceriterakan semua peri stiwa yang terjadi sejak mPu Kamenjangan terlempar jatuh. mPu Kamenjangan sempat merenungi keterangan kedua kawannya itu. Namun bagaimanapun juga ia masih sulit untuk menerima kenyataan bahwa ia dikalahkan oleh Mahisa Pukat. mPu Kamenjangan juga sulit untuk mengerti sikap saudara seperguruannya. mPu Sidikara sama sekali t idak mau membantunya, bahkan ketika kedua orang kawannya siap melawan Mahisa Pukat, m Pu Sidikara itu menyatakan berdiri dipihak Mahisa Pukat. Namun ternyata bahwa mPu Sidikara itu telah memberikan obat baginya pada saat yang sangat mencemaskan. Seandainya mPu Sidikara membiarkannya terkapar di tanah berbatu padas, mungkin ia tidak akan sempat bangkit lagi. Justru karena obat yang diberikan oleh mPu Sidikara itu, maka ia sempat sampai kerumahnya dan kemudian sempat menelan obat yang  lebih sesuai dengan keadaannya yang  parah itu. Kedua orang kawannya itu kemudian menasehatkan kepada mPu Kamenjangan untuk beristirahat saja lebih dahulu tanpa memikirkan bermacam-macam per soalan. Biarlah yang telah terjadi atasnya itu terjadi. Jika keadaan mPu Kamenjangan telah menjadi baik, maka ia akan dapat membuat pertimbangan-pertimbangan baru, apa yang  akan dilakukannya. Sementara itu, Mahisa Pukat justru telah diminta singgah dirumah mPu Sidikara. Rumahnya memang tidak ada dilingkungan dinding Kotaraja sebagaimana mPu Kamenjangan. Namun juga tidak terlalu jauh. Rumah mPu Sidikara berada disebuah padukuhan yang  besar. Namun halamannya yang luas t erletak diujung padukuhan. Bahkan terpisah oleh kotak-kotak sawah yang  sempit, milik mPu Sidikara sendiri. "Sebuah padepokan kecil yang  tenang" desis Mahisa Pukat. mPu Sidikara mengangguk-angguk. Katanya "Aku memang merindukan sebuah padepokan. Tetapi aku masih belum sempat mendirikannya. Rumah yang  dikelilingi oleh halaman dan sawah ini aku harap kelak dapat berkembang menjadi sebuah padepokan. Meskipun tidak akan pernah dapat menjadi padepokan sebesar Padepokan Bajra Seta." "Kenapa tidak ?" bertanya Mahisa Pukat. "Tidak. Aku tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk mendirikan sebuah padepokan. Meskipuja demikian aku memang mencoba untuk merintisny a. Ada beberapa orang anak muda yang tinggal dirumahku. Mereka meny ebut aku guru." berkata mPu Sidikara. "Satu langkah awal" desis Mahisa Pukat. Beberapa lama Mahisa Pukat berada dirumah mPu Sidikara yang sejuk. Mahisa Pukat memang melihat beberapa orang anak muda yang  tinggal dirumah yang terhitung besar itu. Mereka bersikap hormat kepada mPu Sidikara sebagaimana seorang murid kepada gurunya. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dibanding dengan Padepokan Bajra Seta, maka padepokan yang sedang dirintis oleh mPu Sidikara itu adalah padepokan yang kecil saja. Untuk beberapa lama Mahisa Pukat masih berada dirumah mPu Sidikara itu. Bahkan Mahisa Pukat sempat membicarakan kemungkinan pengganti kedudukan mPu Kamenjangan di Kasatrian. Namun mPu Sidikara tersenyum sambil berdesis "Sulit bagiku untuk menerima tawaran seperti itu." Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian bertanya "Kenapa mPu. Bukan mPu yang menyebabkan mPu Kamenjangan terusir dari Kasatrian. Seandainya mPu kemudian hadir, maka tidak ada lagi hubungannya dengan kepergian mPu Kamenjangan." "Tidak ngger. Aku adalah saudara seperguruan mPu Kamenjangan. Tentu tidak baik jika kemudian aku hadir di Ka satrian, sementara saudara seperguruanku telah terusir. " jawab mPu Sidikara. Mahisa Pukat mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti sepenuhnya kenapa mPu Sidikara merasa berkeberatan untuk menggantikan kedudukan mPu Kamenjangan di Kasatrian. Karena itu, maka Mahisa Pukat tidak membicarakannya lagi. Demikianlah, setelah beberapa lama Mahisa Pukat berada dirumah mPu Sidikara, maka iapun berniat untuk minta diri. Namun Mahisa Pukat itupun kemudian bertanya "mPu, bagaimana sikap mPu jika mPu Kamenjangan benar-benar marah kepada mPu ?" mPu Sidikara ter senyum. Katanya "Sudah aku katakan ngger. Bahwa aku tidak dapat mengingkari kata nuraniku. Karena itu, maka aku akan mempertanggung jawabkan akibat dari sikapku. Sebenarnyalah bahwa mPu Kamenjangan tidak mempunyai banyak kelebihan dari aku. mPu Kamenjangan mempunyai beberapa kelebihan di satu sisi. Akupun mempunyai kelebihan disisi lain, sehingga jika kami benarbenar harus m embenturkan ilmu dan kemampuan aku sudah siap. Tetapi aku harap bahwa hal itu tidak akan terjadi. Jika kelak hati mPu Kamenjangan sudah dingin, maka ia tidak akan berusaha menghukumku. Sementara itu kedua kawannya tentu akan membuat pertimbangan-pertimbangan lain. Untuk apa ia tetap setia kepada mPu Kamenjangan jika mereka sudah tidak lagi mempunyai kepentingan yang sama." Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Hatinya ikut menjadi tenang mendengar sikap mPu Sidikara. mPu Sidikara ternyata sama sekali tidak digelisahkan oleh sikap saudara seperguruannya itu kelak. Bahkan ia berharap bahwa saudara seperguruannya dan dua orang kawannya itu berubah sikap. Sebenarnyalah ketika keadaan mPu Kamenjangan berangsur baik, maka ia sempat berpikir kembali tentang sikapnya terhadap Mahisa Pukat dan kemarahannya terhadap saudara seperguruannya. Iapun menilai arti dari usaha mPu Sidikara mengobatinya pada saat umurnya telah berada diujung rambut. Seandainya saudara seperguruannya itu benar-benar berniat buruk terhadapnya, maka untuk apa ia memberikan obat yang  m ampu m embantunya m eningkatkan day a tahan tubuhnya sehingga ia tidak mati dilereng bukit itu. Disamping itu iapun harus m engakui kelebihan Mahisa Pukat atas dirinya. Kedua kawannya itu mengatakan, bahwa beberapa saat setelah benturan itu terjadi, maka Mahisa Pukat telah mampu ber siap untuk melawan mereka berdua sebelum mPu Sidikara menampakkan diri. "Dengan demikian" berkata salah seorang kawan mPu Sidikara itu "jika Mahisa Pukat berniat, maka ia dapat saja melakukan tindakan yang  lebih jauh dari yang  sudah dilakukan. Apalagi setelah mPu Sidikara menyatakan sikapnya.” mPu Kamenjangan m engangguk-angguk kecil. T ernyata ia sempat menilai kembali, tindakan-tindakan yang  pernah diambilnya sejak Mahisa Pukat datang di Ka satrian sebagai pemimpin kelompok Pelay an Dalam. Sebagai seorang yang berilmu sangat tinggi, ia merasa ter singgung melihat perlakuan penghuni Ka satrian itu terhadap para Pelay an Dalam yang  dianggap tidak lebih dari sekedar pelay an sebagaimana para pelay an yang  lain. "Baiklah" berkata mPu Kamenjangan kepada kedua orang kawannya justru ketika luka-luka dalamnya m enjadi semakin baik beberapa hari kemudian. "Agaknya kita harus mengakhiri permusuhan kita dengan Mahisa Pukat. Meskipun aku sudah benar-benar mengancam jiwanya, namun ia masih tetap menahan diri. Aku memang tidak dapat lain kecuali mengakui kesalahan dan sekaligus mengakui kekalahanku. Bagaimanapun juga, aku tidak akan dapat menang melawannya jika aku bertindak jujur. " Kedua kawannyapun menarik nafas panjang. Sebenarnyalah bahwa mereka memang sudah jemu bermusuhan dengan Mahisa Pukat yang  berilmu tinggi. Jika anak muda itu kehilangan kesabaran, jika ia berusaha melawan mereka bertiga seorang demi seorang, maka m ereka akan dapat menjadi debu. Dengan demikian, maka persoalan yang  terjadi di Kasatrian Singasari itupun menjadi tenang. Persoalan yang memang tidak banyak diketahui orang. Tetapi yang hampir saja merenggut jiwa orang yang  pernah bertugas di Kasatrian itu. Dengan demikian maka untuk sementara Mahisa Pukat bertugas sendirian di Kasatrian Singasari. Para bangsawan muda yang  semula menjadi murid mPu Kamenjangan dan kedua orang guru yang  lain, harus belajar ilmu kanuragan kepada Mahisa Pukat. Mula-mula memang ada keseganan pada para bangsawan muda itu. Tetapi sikap Mahisa Pukat yang  tegas dan berwibawa ternyata mampu menundukkan tantangan yang tumbuh dilingkungan Kasatrian. Namun ternyata bahwa Pangeran Kuda Pratama berpendapat bahwa Mahisa Pukat akan m enjadi sangat sibuk di Ka satrian jika ia harus memberikan latihan olah kanuragan seorang diri di Kasatrian. Bahkan Pangeran Kuda Pratama itu telah memanggilnya dan bertanya kepadanya "Apakah kau dapat menunjuk seseorang yang  dapat bekerja bersama untuk memberikan latihan-latihan olah kanuragan di Kasatrian ?" Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Ingatannya yang  pertama telah meloncat kepada saudaranya Mahisa Murti yang ada di padepokan Bajra Seta. Namun ia tidak segera dapat menyanggupinya karena ia harus berhubungan lebih dahulu dengan Mahisa Murti. Karena itu, maka iapun kemudian menjawab "Pangeran, ada seorang saudaraku di Padepokan Bajra Seta. Ia memiliki kemampuan dan ilmu sebagamana aku sendiri. Jika Pangeran berkenan, aku akan menghubunginya untuk menanyakan kepadanya, apakah ia bersedia bekerja bersamaku di Ka satrian.” "Aku tidak berkeberatan. Pergilah, temuilah saudaramu itu dan ajaklah ia menemui aku." berkata Pangeran Kuda Pratama. "Jika demikian aku mohon waktu barang tiga hari untuk menemui saudaraku itu " berkata Mahisa Pukat kemudian. Ternyata Pangeran Kuda Pratama tidak berkeberatan. Setelah memberitahukan rencananya meninggalkan Kasatrian kepada para Pelay an Dalam serta menunjuk seorang diantara mereka untuk mewakilinya selama ia pergi, maka Mahisa Pukatpun telah meninggalkan Kasatrian. Ia semoat singgah untuk menemui ayahnya, memberitahukan rencananya untuk minta agar Mahisa Murti bersedia berada di Kasatrian. Demikianlah, maka Mahisa Pukatpun kemudian telah meninggalkan Kotaraja seorang diri menuju ke padepokan Bajra Seta dengan penuh harapan, bahwa saudaranya akan bersedia bekerja bersamanya di Kasatrian. Perjalanan panjang yang ditempuh seorang diri m emang terasa melelahkan. Namun karena Mahisa Pukat memacu kudanya sambil berpengharapan, maka ia dapat mengatasi perasaan lelah. Bahkan rasa-rasanya ia ingin berpacu lebih cepat lagi. Meskipun demikian Mahisa Pukat memang harus singgah disebuah kedai. Kecuali untuk kepentingan Mahisa Pukat sendiri, kudanyapun perlu beristirahat, minum dan makan rumput segar. Baru setelah beristirahat beberapa lama, maka Mahisa Pukat segera melanjutkan perjalanannya. Ternyata tidak ada hambatan apapun diperjalanan. Sehingga Mahisa Pukat telah sampai kepadepokan Bajra Seta dengan selamat. Kedatangan Mahisa Pukat disambut dengan wajah-wajah cerah. Mahisa Murti, Wantilan, Mahisa Semu apalagi Mahisa Amping telah menyatakan kegembiraan mereka atas kedatangan Mahisa Pukat. Demikian pula para cantrik yang sudah lama tidak melihat Mahisa Pukat di padepokan itu. Hampir tanpa berhenti Mahisa Amping bertanya apa saja yang telah dilakukan Mahisa Pukat di Kotaraja. Sekali2 Mahisa Semupun telah menanyakannya pula tentang pengalaman Mahisa Pukat selama di Kotaraja. Dengan senang hati Mahisa Pukatpun menceriterakan apa yang telah dialaminya. Juga keberhasilannya memasuki lingkungan Pelayan Dalam. "Alangkah senangnya" berkata Mahisa Amping. Mahisa Pukat ter senyum. Tetapi ia tidak mengatakan bahwa sebenarnya ilmunya berada pada tataran yang lebih tinggi dari tataran ilmu Pelayan Dalam pada umumnya. Demikianlah, Mahisa Pukat masih belum secara langsung mengatakan niat kedatangannya kepada Mahisa Murti. Waktu yang ada dipergunakannya untuk melihat-lihat Padepokan yang untuk beberapa lama ditinggalkannya. Bany ak hal yang menumbuhkan kembali keterikatannya dengan padepokan itu. Namun Mahisa Pukat juga harus mengingat keinginan Sasi. Sasi tentu lebih senang jika ia m engabdikan dirinya diistana Singasari sebagaimana ayah Sasi itu sendiri daripada berada di padepoan seperti ini. Mahendra y g mengetahui dengan pasti perasaan Mahisa Murti pada dasarnya berkeberatan atas rencana anaknya itu. Namun ia tidak ingin mendahuluinya meskipun ia y akin bahwa Mahisa Murti tidak akan bersedia memenuhinya. Meskipun demikian Mahendra itu juga bertanya "Jika Mahisa Murti kau ajak untuk berada di Kasatrian pula, siapakah yang  akan mengurusi Padepokan Bajra Seta?” "Ada beberapa orang yang  sudah sanggup m elakukannya" jawab Mahisa Pukat "ada paman Wantilan, ada Mahisa Semu dan para cantrik yang umurnya menjadi semakin tua. Mereka akan dapat mengurusi Padepokan itu dan mengembangkannya.” "Tetapi disebuah Padepokan diperlukan setidak -tidaknya seorang yang  dapat dianggap sebagai Panutan. Ia harus mempunyai wibawa cukup atas semua penghuni dan isi padepokan.” "Setidak -tidaknya hanya untuk sementara ayah. Sebelum aku m endapatkan kawan yang  lain yang memadai. Jika aku sudah mendapatkannya, maka b iarlah Mahisa Murti kembali ke padepokan.” Namun bagaimana dengan Mahisa Murti? Setelah berada di padepokan Mahisa Pukat justru m erasa ragu-ragu untuk menyampaikan maksudnya. Ia tidak sampai hati membiarkan padepokan yang telah dibangunnya itu ditinggal tanpa pimpinan yang cukup berwibawa. Jika ia pergi dan kemudian Mahisa Murti juga pergi, padepokan itu benarbenar akan kehilangan Panutan sebagaimana dikatakan oleh ay ahnya. Karena itu, maka Mahisa Pukat masih harus berpikir ulang tentang niatnya untuk mengajak Mahisa Murti ke Kotaraja. Meskipun demikian, Mahisa Pukat akhirnya mengatakan juga maksud kedatangannya kepada Mahisa Murti ketika mereka tinggal berdua saja. Meskipun agak ragu, namun mahisa Pukat menceriterakan apa yang  telah dialaminya di Ka satrian. Dengan urut Mahisa Pukat menceriterakan apa yang telah terjadi sehingga akhirnya ia tinggal sendiri di Ka satrian Singasari. "Pangeran Kuda Pratama memerintahkan agar aku mendapat seorang yang akan dapat bekerja bersama untuk menangani para bangsawan muda di Kasatrian. Karena itulah, maka aku pulang dan menyampaikan persoalan ini kepadamu." Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia tanggap akan maksud Mahisa Pukat. Untuk beberapa saat Mahisa Murti merenungi maksud Mahisa Pukat. Namun seperti yang sudah diduga oleh Mahisa Pukat, maka Mahisa Murti itu kemudian berkata "Aku berterima ka sih kepadamu Mahisa Pukat, bahwa kau berniat untuk mengajakku masuk ke Kasatrian Singasari. Dengan demikian maka kau telah membuka kesempatan bagiku untuk ikut mengabdi langsung diistana. tetapi jika aku kemudian juga meninggalkan padepokan ini, lalu siapakah yang akan mengungsi padepokan kita ini? Kita sudah mendirikannya, memupuknya sehingga dapat tumbuh dengan subur. Jika kemudian kita tinggalkan, bukankah kerja y g telah kita lakukan itu akan sia-sia?” Mahisa Pukat mengangguk-angguk kecil. Katanya "Aku mengerti Mahisa Murti. Ketika aku memasuki padepokan ini, maka sudah terlintas diangan-anganku jawabanmu seperti itu. Berbeda dengan saat aku mendengar perintah Pangeran Kuda Pratama yang  dengan serta-merta aku telah berpaling kepada kemungkinan membawamu ke Kasatrian" "Aku minta maaf Mahisa Pukat" berkata Mahisa Murti kemudian "tetapi apakah ayah mengerti rencanamu ini?- "Ya. Ayah pun telah mengatakan kepadaku kemungkinan sikapmu itu. Karena itu, maka aku dapat mengerti sepenuhnya " jawab Mahisa Pukat. "Sokurlah jika kau dapat mengerti. Aku sangat berterima kasih kepadamu" berkata Mahisa Murti kemudian. Mahisa Pukat memang tidak dapat berkata apapun lagi tentang niatnya mengajak Mahisa Murti memasuki lingkungan Ka satrian. Namun demikian Mahisa Pukat telah minta pertimbangan Mahisa Murti, bagaimana pendapatnya jika ia mengajak Mahisa Semu untuk sekedar membantunya di Ka satrian. Setidak-tidaknya untuk sementara karena Mahisa Semu sudah memiliki dasar kemampuan yang  utuh dari landasan ilmu padepokan Bajra Seta. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Dengan nada dalam ia berkata "Aku masih m enyangsikan kematangannya berpikir. Ia masih terlalu muda untuk membimbing anak-anak muda pula. Jika terjadi pergeseran sikap diantara mereka, maka suasananya akan cepat menjadi panas.” Mahisa Pukatpun mengangguk-angguk pula. Ia mengerti keberatan yang diajukan oleh Mahisa Murti. Karena itu, maka katanya "Baiklah. Jika demikian aku akan kembali tanpa siapapun juga.” "Kami minta maaf, Pukat, bahwa kami tidak dapat memenuhi keinginanmu." "Aku mengerti. Padepokan ini memang tidak dapat ditinggalkan." jawab Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Murtipun kemudian berkata "Meskipun demikian, biarlah aku akan ikut bersamamu sampai ke Singasari. Aku ingin m engunjungi ayah barang dua tiga hari. Aku akan mengajak Mahisa Semu dan Mahisa Amping." "Apakah Amping sudah dapat berkuda sendiri pada jarak sejauh Singasari?" bertanya Mahisa Pukat. "Aku kira ia sudah dapat melakukannya." jawab Mahisa Murti. "Sokurlah" desis Mahisa Pukat "mudah-mudahan ia cepat menguasai ilmu yang diperuntukkan baginya pada umurnya. "Aku kira ia sudah cukup baik. Ia justru mampu menunjukkan kelebihan dari takaran yang  seharusnya bagiku." jawab Mahisa Murti. Mahisa Pukat m engangguk-angguk. Iapun teringat kepada dua orang remaja di Ka satrian yang  sejak semula diasuhnya. Keduanya adalah remaja yang memiliki dasar yang  baik sebagaimana Mahisa Amping. Katanya didalam hati "Mudahmudahan keduanya mampu meny erap ilmu sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Amping. " Demikianlah, maka keduanya sepakat untuk bersama-sama menempuh perjalanan ke Kotaraja. Mahisa Pukat harus kembali ke Ka satrian sementara Mahisa Murti akan mengunjungi ayahnya bersama dengan Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Sementara mereka pergi maka Mahisa Murti m inta agar Wantilan dan beberapa orang cantrik tertua untuk memimpin padepokan itu. "Semua kerja kita sehari-hari hendaknya dapat berlangsung dengan baik" pesan Mahisa Murti. "Kami akan berusaha" jawab Wantilan. "Kami tidak akan lama paman" berkata Mahisa Murti " mungkin hanya tiga hari. Lima hari dengan perjalanan pulang balik." "Baiklah. Tetapi jangan lebih lama lagi. Padepokan ini akan terasa sepi tanpa kalian bertiga " berkata Wantilan. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Kepergian Mahisa Murti untuk sekitar lima hari sudah dianggap cukup lama. Apalagi jika ia benar-benar meninggalkan padepokan itu. Maka padepokan Bajra Seta tentu akan segera menjadi su sut dan bahkan mungkin akan hilang sama sekali. Karena itu, seandainya Mahisa Murti bersedia sekalipun, maka ia memang berniat untuk mengurungkan maksudnya mengajak Mahisa Murti untuk bekerja bersamanya di Ka satrian. Meskipun demikian, maka mereka berdua bersama Mahisa Semu dan Mahisa Amping berama-sama pergi ke Kotaraja. Mereka menempuh perjalanan berkuda pada jarak yang cukup panjang. Mahisa Semu dan Mahisa Amping yang  jarang keluar dari padepokannya sejak m ereka tinggal di padepokan itu, m erasa betapa lapangnya penglihatannya. Sawah yang  luas sampai ke kaki cakrawala. Bukit-bukit yang  membujur di kejauhan seperti tubuh raksasa dalam dongeng yang sedang tidur ny enyak. Semuanya itu pernah dilihatnya. Tetapi setelah beberapa lama ia berada di Padepokan Bajra Seta, maka iapun jarang menempuh perjalanan jauh, sehingga perjalanan yang dilakukan itu, rasa-rasanya telah m embuatnya menjadi segar. Langit yang  bersih, angin semilir lembut, membuat wajah anak itu menjadi semakin cerah. Mahisa Amping itu teringat saat pengembaraannya bersama Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan. Mereka berjalan saja tanpa batas waktu dan tujuan. Meskipun akhirnya mereka memasuki Padepokan Bajra Seta. Diluar sadarnya Mahisa Amping itupun telah memacu kudanya dipaling depan. Sambil mengamati alam yang ramah, Mahisa Amping sempat melihat beberapa orang petani yang bekerja keras di sawah mereka masing-masing. Mereka dengan tekun membersihkan sawah m ereka dari rerumputan liar yang  tumbuh diantara batang-batang padi yang  hijau. Mahisa Pukat, Mahisa Murti dan Mahisa Semu m emang tidak ingin menempuh perjalanan itu terlalu cepat. Meskipun kuda mereka berlari diatas jalan bulak, tetapi tidak t erlalu kencang. Mereka membiarkan Mahisa Amping mendahului mereka, kemudian berhenti pada jarak yang agak jauh, dibawah pepohonan yang  rindang. Sebagaimana dahulu sering dilakukannya. Bahkan dahulu Mahisa Amping yang  berlari -lari mendahului perjalanan mereka, sempat memanjat pohonpohon yang  tumbuh dipinggir jalan. Ketika kemudian matahari melampaui puncak, maka merekapun telah singgah disebuah kedai di pinggir jalan itu. Kedai yang terhitung cukup besar. Bukan saja para penunggang kuda yang  dapat beristirahat sambil m inum dan makan, tetap kuda-kuda merekapun dapat beristirahat sambil minum dan makan pula. Ketika mereka m emasuki kedai itu, m aka beberapa orang telah bearda di dalamnya. Nampaknya mereka juga orangorang yang  menempuh perjalanan jauh. Seorang diantara mereka adalah seorang yang telah berambut dan berjanggut putih. Tetapi orang itu masih nampak kuat dan tegar. Adalah diluar dugaan bahwa orang berambut putih yang  nampaknya sedang berbincang dengan kawan-kawannya itu berkata "Aku tidak rela bahwa Sidikara telah mengkhianati Kamenjangan." "Tetapi bukankah mPu Kamenjangan akhirnya sudah mengakui kekeliruannya. Ia telah salah langkah sehingga akhirnya ia justru terusir dari Kasatrian. " "Itulah yang harus dibenahi. Memang agaknya tidak ada lagi jalan kembali Ke Kasatrian. Tetapi seharusny a Sidikara tidak mengkhianatinya. Aku benci pada orang-orang yang demikian." geram orang berambut putih itu. "Tetapi guru, yang  bersalah adalah mPu Kamenjangan. Bukan mPu Sidikara." berkata yang lain. "Omong kosong" jawab orang itu "a pa artinya salah atau benar bagi saudara seperguruan ? Yang penting saudarasaudara seperguruan harus hidup dalam kesetia -kawanan. Bukan saja saat mereka berguru. Tetapi juga kemudian setelah mereka berada di luar dinding perguruan." Tiba-tiba seorang yang bertubuh gemuk dan yang  makan paling banyak diantara mereka berkata "Tetapi bukankah mPu Kamenjangan m emang kalah dan iapun m engakui kekalahan itu." "Justru pada saat yang  demikian Sidikara harus tampil. Bukan sebalikny a malahan berkhianat, " jawab orang berambut putih itu. Yang lainpun terdiam. Sementara orang berambut putih itu berkata "Itulah sebabny a kalian telah kami kumpulkan. Kita akan berbicara dengan Kamenjangan dan Sidikara. Aku berniat untuk menebus kekalahan ini." Beberapa orang diantara mereka saling berpandangan. Tetapi mereka tidak berkata apa-apa. Tetapi ketika orang tua itu keluar sebenar untuk pergi ke oekiwan, maka seorang diantara mereka berkata "Apa sebenarnya yang  dikehendaki oleh guru? Semakin tua, ia menjadi semakin berubah. Ia tidak lagi mampu menilai persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan penalasan yang bening." "Kita tahu, bahwa kakang Kamenjangan adalah murid yang  dianggap terbaik oleh guru. Ia mendapat kesempatan lebih dari murid-muridnya yang  lain. Karena itu, bahwa mPu Kamenjangan dikatakan dapat dikalahkan oleh seorang anak muda, maka janggutnya merasa terbakar." "Hus" desis yang  lain. "Tetapi bukankah guru m emang sudah berubah" berkata orang yang  pertama. "Ia memang m enjadi semakin tua. Tetapi ada yang tidak berubah. Aku masih dibiarkan makan sebanyak-banyaknya" berkata orang yang gemuk itu. Kawan-kawannya sempat tertawa. Seorang diantaranya berkata "Kau tidak pernah berpikir lain kecuali makan sebanyak-banyaknya. Apapun yang t erjadi disekelilingmu tidak akan mempengaruhimu, asal kau masih t etap dapat makan sebanyak-banyaknya." Orang itu tertawa. Tetapi dengan cepat ia menutup mulutnya.

Jilid 110
SEMENTARA itu seorang yang  lain berkata bersungguhsungguh "Nanti, setelah guru m emanggil mPu Kamenjangan dan mPu Sidikara, lalu apa yang  akan dilakukannya? Apa pula yang harus kami lakukan? Menghukum mPu Sidikara beramai-ramai?" "Entahlah" jawab yang lain "apa pula maksud guru dengan menebus kekalahan? Apakah kita harus bertempur melawan anak muda yang telah mengalahkan mPu Kamenjangan itu atau guru sendiri yang  akan melakukannya atau apa?" Tetapi merekapun terdiam ketika mereka melihat orang beranggut putih yang  mereka sebut sebagai guru itu. Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun sama sekali tidak berbicara apapun juga selain memesan makanan dan minuman serta minta agar kuda-kuda mereka juga dirawat. Namun anak-anak muda itu terkejut ketika orang berjanggut putih itu tiba -tiba saja berdiri dan melangkah mendekati mereka. Sambil duduk didekat mereka, orang itu bertanya "Anak-anak muda itu akan pergi ke mana atau dari mana?" Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang menjadi agak bingung. Sudah tentu mereka tidak akan meny ebut bahwa salah seorang diantara mereka adalah Mahisa Pukat. Kebetulan itu harus mereka tanggapi dengan sangat berhatihati. Namun ternyata bahwa Mahisa Murtilah yang  menjawab "Kami baru saja menempuh perjalanan dari Bumiagara." "Bumiagara?" orang itu mengerutkan dahinya. Kemudian iapun bertanya "Kalian akan pergi kemana?" "Kembali ke Singasari" jawab Mahisa Murti "Apakah kalian anak-anak Singasari?" bertanya orang itu. "Bukan " jawab Mahisa Murti "kami adalah orang Sangling. Tetapi ada saudara kami yang tinggal di Singasari. Sudah agak lama kami tinggal bersama saudara kami itu." Orang tua itu mengangguk-angguk. Iapun kemudian bertanya "Apakah kalian semua bersaudara?" "Ya " jawab Mahisa Murti "bahkan masih ada saudara kami yang lain." Orang itu mengangguk-angguk. Lalu katanya "Kenapa kalian tidak memilih jalan yang  lebih dekat?" "Kami sudah terbia sa menempuh jalan ini." jawab Mahisa Murti. Orang itu mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Semu dan Mahisa Amping yang  tanggap akan jawaban2 Mahisa Murti telah m engarang nama-nama bagi diri m ereka masing2. Untunglah bahwa orang itu tidak bertanya nama mereka seorang demi seorang. Bahkan kemudian orang tua itu telah bangkit dan mendekati murid-muridnya sambil berkata "Marilah. Kita lanjutkan peijalanan." Sejenak kemudian, setelah m embayar harga makanan dan minuman mereka, maka orang-orang itupun segera meninggalkan kedai itu. Selain gurunya, maka mereka berjumlah lima orang. Seorang diantara mereka, yang termuda, adalah orang yang  gemuk itu. Demikian m ereka pergi, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan mereka telah terlepas dari intaian sekelompok serigala yang lapar. "Adalah kebetulan sekali kita bertemu disini " berkata Mahisa Pukat. "Hanya terjadi satu dari seribu peristiwa" jawab Mahisa Murti "namun membuat hati ini menjadi berdebar-debar." Mahisa Pukat tersenyum. Katanya "Jika aku sempat bertemu lebih dahulu dengan mPu Sidikara." "Kau coba sajalah" berkata Mahisa Murti "sebentar lagi kita akan melanjutkan perjalanan. " "Aku akan langsung singgah dirumah mPu Sidikara mengabarkan rencana yang  kita dengar tadi." “Baiklah aku orang-orang itu tentu akan singgah lebih dahulu dirumah mPu Kamenjangan. Baru kemudian mereka akan memanggil mPu Sidikara." Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya ia menjadi tergesa-gesa meny elesaikan makan dan minumnya. Demikian mereka selesai, maka merekapun segera mempersiapkan diri. Agaknya kuda merekapun telah cukup beristirahat. Telah cukup pula makan dan minum sebagaimana mereka sendiri. Perjalanan mereka tidak lagi sekedar melarikan kuda mereka ditengah-tengah bulak. Tetapi mereka telah melarikan kuda mereka lebih kencang, meskipun tidak berpacu seperti dipacuan kuda. Setelah menempuh perjalanan panjang, maka seperti yang  direncanakan Mahisa Pukat tidak singgah dulu dirumah ay ahnya. Tetapi ia langsung m enuju kerumah mPu Sidikara. Karena itu ketika Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping datang, < sepertinya ada bagian cerita yang terlewatkan > "Apa kesan yang  kau dapatkan pada mPu Sidikara itu? " "Seperti saudara -saudara seperguruannya, mPu Sidikara merasa bahwa gurunya telah berubah." jawab Mahisa Pukat "ia berharap bahwa ia dapat berbicara dengan baik. Tetapi tanggapannya memang sama seperti saudara-saudara seperguruannya yang  lain tentang mPu Kamenjangan. mPu Kamenjangan memang terlalu manja, sehingga kadangkadang ia tidak berdiri beralaskan kenyataan. Seperti sikapnya di Ka satrian. Bahkan iapun ikut memanjakannya ketika ia minta menjajagi ilmuku." "Kenapa ia mendapat perhatian khusus dari gurunya?" bertanya Mahendra. "Ia dianggap murid terbaik oleh gurunya " jawab Mahisa Pukat "ia mempunyai beberapa kelebihan, sehingga ia mendapat perhatian khusus. Mungkin gurunya menumpahkan harapannya atas kelangsungan perguruannya kepada mPu Kamenjangan. Kesempatan mPu Kamenjangan menyusupkan ilmunya lewat para bangsawan muda di Kasatrian, ia berharap bahwa ilmunya akan m enjadi ilmu yang  paling berpengaruh. Para bangsawan itu kelak akan memegang kepemimpinan di Singasari. Sementara itu mereka adalah orang-orang yang memiliki landasan ilmu dari perguruan mPu Kamenjangan. " Mahendra mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata "Jika demikian m aka kau harus berhati-hati Mahisa Pukat. Mungkin orang itu akan berbuat apa saja untuk merebut kembali kedudukannya. Mungkin mereka tidak segan-segan berbuat licik dan mengabaikan harga dirinya untuk mencapai keinginannya, menembus kembali dinding Ka satrian. " "Tetapi Pangeran Kuda Pratama bukan seorang yang  pendiriannya mudah goyah? Besok aku akan memberikan laporan tentang kedatangan guru mPu Kamenjangan serta apa yang ia inginkan. " berkata Mahisa Pukat. "Baiklah" Mahendra mengangguk-angguk "meskipun demikian kau harus tetap berhati-hati." Demikianlah, maka malam itu Mahisa Pukat bermalam dirumah ayahnya. Ia masih ingin banyak berbicara dengan Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Memang sampai lewat tengah malam mereka berbincang tanpa habis-habisnya. Ada saja yang mereka bicarakan. Tentang padepokan Bajra Seta, tentang hubungan padepokan itu dengan padukuhan-padukuhan sekitarnya dan juga tentang Ka satrian Singasari. Namun malam menjadi semakin larut, maka Mahendrapun memperingatkan Mahisa Pukat, bahwa besok ia masih harus melakukan kewajibannya yang sudah ditinggalkan sekitar sepekan. Ketika Matahari terbit dikeesokan harinya, maka Mahisa Pukat telah siap untuk pergi ke Kasatrian. Ia minta Mahisa Murti untuk tinggal beberapa hari di Kotaraja. "Pada satu kesempatan aku akan mengajak kalian ke Ka satrian Singasari. Kalian dapat bertemu dan berbicara dengan Pangeran Kuda Pratama yang  pernah menyetujui kehadiran Mahisa Murti di Ka satrian. Kau akan dapat berbicara langsung dan memberikan alasan-alasanmu kenapa kau tidak dapat bertugas di Ka satrian" berkata Mahisa Pukat. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya "Ba iklah. Aku akan menunggu kesempatan itu." "Tentu tidak akan lama besok atau lusa " berkata Mahisa Pukat pula "sementara itu kau dapat membawa Mahisa Semu dan Mahisa Amping melihat-lihat keadaan Kotaraja.” "Baiklah" Mahisa Murti mengangguk kecil "aku mempunyai waktu beberapa hari di Kotaraja ini." Mahisa Pukatpun kemudian telah minta diri kepada ay ahnya pula untuk kembali ke Kasatrian. Namun ia m asih mempunyai sedikit waktu untuk singgah kerumah Sasi. Mahisa Pukat memang tidak dapat terlalu lama berada dirumah Sasi. Meskipun agaknya Sasi masih mengharap Mahisa Pukat tinggal lebih lama dirumahnya, namun Mahisa Pukat harus segera kembali ke Kasatrian. Bahkan ketika Arya Kuda Cemani berangkat ketugasnya maka iapun bertanya kepada Mahisa Pukat "Apakah kau masih belum bertugas hari ini?” "Aku memang akan pergi ke Kasatrian. Aku hanya singgah sebentar." jawab Mahisa Pukat. Demikianlah, sepeninggal Arya Kuda Cemani, maka Mahisa Pukat telah minta diri pula. Sasi tidak lagi menahannya, karena ia menyadari bahwa Mahisa Pukat memang harus segera berada di Kasatrian untuk melakukan tugasnya. Demikian Mahisa Pukat sampai di Kasatrian, maka yang  pertama-tama dilakukan adalah mohon untuk dapat menghadap Pangeran Kuda Pratama. Ternyata Pangeran Kuda Pratama tidak berkeberatan untuk menerimanya. Ditemuinya Mahisa Pukat diserambi tempat tinggal Pangeran Kuda Pratama masih dilingkungan Ka satrian Setelah melaporkan diri bahwa ia telah siap untuk bertugas lagi, maka Mahisa Pukatpun telah melaporkan pula bahwa kepergiannya ke Padepokan Bajra Seta tidak menghasilkan apa-apa. "Bagaimana dengan saudaramu itu?" bertanya Pangeran Kuda Pratama. "Ia sekarang berada di Kotaraja, Pangeran" jawab Mahisa Pukat. "Jika Pangeran berkenan, ia akan menghadap untuk menyampaikan alasan-alasannya, kenapa ia tidak dapat ikut bersamaku bertugas di Kasatrian. " "Tentu saja aku senang sekali menerimanya " berkata Pangeran Kuda Pratama "ajaklah ia kemari.” “Apakah besok saudaraku itu diperkenankan menghadap?" bertanya Mahisa Pukat. "y a " jawab Pangeran Kuda Pratama "kapan saja ia akan datang, aku akan menerimanya dengan senang hati. Kecuali jika kebetulan aku tidak ada di Kasatrian. " "Baiklah Pangeran " jawab Mahisa Pukat "nanti malam aku akan pulang dan besok membawa saudaraku itu m enghadap" berkata Mahisa Pukat. Namun kemudian Mahisa Pukatpun telah memberikan laporan tentang guru dan saudara-saudara seperguruan Empu Kamenjangan yang telah datang ke Kotaraja "Darimana kau tahu?" bertanya Pangeran Kuda Pratama "Hanya satu kebetulan Pangeran. Agaknya memang kurang meyakinkan. Tetapi demikianlah yang sudah terjadi.” Pangeran Kuda Pratama mengangguk-angguk. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh laporan Mahisa Pukat tentang sikap guru mPu Kamenjangan. "Apakah gurunya sudah sangat tua?" bertanya Pangeran KudaPratama. "Belum Pangeran" jawab Mahisa Pukat "mungkin umurnya tidak terpaut terlalu banyak dengan mPu kamenjangan dan mPu Sidikara." Pangeran Kuda Pratama mengangguk-angguk. Katanya "Sebaiknya kita tunggu. Langkah apa yang akan diam bil. Jika perlu, maka biarlah aku sendiri yang  akan menemui gurunya. " "Jangan Pangeran" berkata Mahisa Pukau "orang itu bukan apa-apa. Karena itu, tidak sepantasnya Pangeran m elibatkan diri langsung dengan persoalan ini. Mungkin saudaraku yang kebetulan berada di Kotaraja. Mungkin pula ay ahku." "Ayahmu sudah terlalu tua Mahisa Pukat. Bukankah aku lebih muda dari ayahmu meskipun aku juga sudah tua?" "Tetapi orang itu tidak cukup penting untuk menggerakkan wiru kain Pangeran." sahut Mahisa Pukat. Pangeran Kuda Pratama tersenyum. Katanya "Jangan melibatkan orang lain yang  tidak mempunyai sangkut-paut sama sekali dengan persoalan yang . sedang mereka hadapi. Persoalannya adalah persoalan yang langsung menyangkut kedudukan di Ka satrian. Karena itu, maka akulah yang bertanggung jawab.” "Jangan Pangeran" Mahisa Pukat mencoba mencegah. Namun Pangeran Kuda Pratama justru tertawa "Jangan memperkecil arti kehadiranku di Kasatrian ini Mahisa Pukat." "Ampun Pangeran" jawab Mahisa Pukat sambil m enunduk dalam-dalam. "Kalau kau menghargai aku, maka biarlah aku mempertanggungjawabkan keputusan yang  aku ambil." Mahisa Pukat tidak berani menjawab lagi. Karena itu maka iapun hanya dapat menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Sudahlah" berkata Pangeran Kuda Pratama "jangan dipikirkan terlalu panjang. Ajak saja besok saudaramu itu kemari. Aku m emang ingin m endengarkan alasannya kenapa ia tidak bersedia bertugas di Kasatrian. Tugas y g ditunggu oleh banyak orang” "Baik Pangeran" jawab Mahisa Pukat. "Nah, sudahlah. Bukankah kau akan mulai melakukan tugasmu setelah kurang lebih sepekan kau tinggalkan?" berkata Pangeran Kuda Pratama selanjutnya." "Ya, Pangeran" jawab Mahisa Pukat kemudian. "Tetapi aku pesankan kepadamu, sebaikny a kau tidak membawa anak-anak muridmu keluar dari istana lebih dahulu sampai dua tiga hari. Kita akan melihat perkembangan suasana." Mahisa Pukat justru m enjadi termangu-mangu. Meskipun dengan agak ragu, iapun bertanya "Jadi maksud Pangeran, aku harus menghindari guru dan saudara-saudara seperguruan mPu Kamenjangan itu?" "Bukan kau. Tetapi murid-muridmu. Anak-anak Kasatrian. Maksudku, jika kau ingin pergi keluar, jangan bawa seorangpun diantara anak-anak Kasatrian. " Mahisa Pukat m enarik nafas dalam-dalam. Justru dengan demikian m aka Pangeran Kuda Pratamaitu memberi isyarat kepadanya, agar ia selalu bersiap menghadapi segala kemungkinan tanpa melibatkan para bangsawan muda dari Ka satrian. Sambil membungkuk h ormat, maka Mahisa Pukat berkata "Ampun Pangeran. Segala perintah Pangeran akan aku lakukan." Demikianlah, maka Mahisa Pukatpun kemudian telah berada kembali diantara para Pelayan Dalam. Baru kemudian ia mendapatkan para bangsawan muda yang  telah menunggunya beberapa lama. Ra sa-rasanya mereka sudah cukup lama tidak melakukan latihan bersama dengan gurunya. Selama Mahisa Pukat pergi, maka para bangsawan muda itu melakukan latihan-latihan sendiri sekedar diawasi oleh para Pelay an Dalam yang  ditugaskan oleh Mahisa Pukat. Dalam pada itu, pada hari itu pagi-pagi benar guru mPu Kamenjangan telah mengajaknya menemui mPu Sidikara. Gurunya sama sekali tidak puas dengan keterangan mPu Kamenjangan bahwa sebenarnya ilmu anak muda yang  disebut Mahisa Pukat itu sangat tinggi sehingga ia sama sekali tidak mampu mengatasiny a. "Tetapi t elingaku mendengar bahwa Sidikara telah berkhianat kepadamu, sehingga ketika kau dikalahkan oleh anak muda itu, sementara kedua orang kawanmu ingin membelamu, ju stru Sidikara berdiri dipihak anak muda itu.” berkata gurunya. "Dari siapa guru mendengarnya?" bertanya mPu Kamenjangan. "Kau tidak perlu tahu, dari siapa aku mendengar" jawab gurunya. Tetapi mPu Kamenjangan tahu, bahwa ceritera itu tentu bermula dari salah seorang kawannya itu. Meskipun kawannya tidak berniat menyampaikannya kepada gurunya, tetapi orang lain yang  mendengarnya dan mengenal gurunya telah menyampaikannya. "Aku harus menelusuri orang yang  mengenal guru itu " berkata mPu Kamenjangan di dalam hatinya. Namun kepada gurunya mPu Kamenjangan menjawab "Sidikara sama sekali tidak ingin berkhianat. Ia hanya ingin memperingatkan aku bahwa aku telah mengambil langkah yang salah” "Kau tidak usah melindunginya " berkata gurunya "Aku berkata sebenarnya guru " jawab mPu Kamenjangan. Iapun menceriterakan bagaimana mPu Sidikara telah mengobatinya ketika ia hampir saja dijemput oleh maut. Tetapi gurunya tetap berpendapat bahwa mPu Sidikara telah melakukan kesalahan. Karena itu, maka guru mPu Kamenjangan telah mengajaknya untuk menemui mPu Sidikara, maka mPu Sidikara telah siap untuk menerima mereka. Tanpa kegelisahan sama sekali, ia mempersilakan gurunya untuk naik ke pendapa bersama saudara-saudaranya seperguruannya. "Aku menunggu sejak kemarin" berkata mPu Sidikara. "Sejak kemarin?" gurunya bertanya. "Ya. Sejak kemarin" jawab mPu Sidikara. "Bagaimana kau tahu bahwa aku akan datang kemarin ?" bertanya gurunya. "Orang yang  memberitakan kepada guru apa yang  telah terjadi dengan mPu Kamenjangan itulah yang mengatakan kepadaku," jawab Sidikara sambil terseny um. "Kau berbohong " berkata gurunya "tetapi baiklah. Meskipun kau berbohong, tetapi aku benar-benar mengetahui Atau perasaan-perasaan lain yang bergejolak di jantungmu. Kau menerima kedatanganku dengan persiapan jiwani yang  mantap. Meskipun kau berbohong tentang siapa yang mengatakan kepadamu bahwa aku datang, ny atanya kau memang mengetahuinya. " guru mPu Kamenjangan itu berhenti sejenak, lalu katanya "Aku memang kemarin datang ke rumah Kamenjangan. Sebenarnya aku memang akan langsung datang kemari. Tetapi aku tidak ingin perasaanku yang masih panas itu membakar rumahmu ini." "Terima kasih guru" jawab mPu Sidikara "aku memang sudah lama tidak bertemu dengan guru. Kedatangan guru sangat meny enangkan m eskipun aku tahu bahwa guru tentu marah akan sikapku ketika mPu Kamenjangan bertempur dengan Mahisa Pukat, seorang Pelay an Dalam yang masih sangat muda dibandingkan dengan umur kami. Maksudku umurku dan umur mPu Kamenjangan." "Nah, sekarang aku datang untuk menuntut tanggung jawabmu sebagai saudara seperguruan Kamenjangan. Kenapa kau telah mengkhianatinya?" bertanya gurunya. "Sebenarnya aku ingin bertanya kepada mPu Kamenjangan, apakah ia merasa aku khianati?" "Aku tidak peduli pendapat Kamenjangan. Tetapi menaut pendapatku, kau telah berkhianat." geram gurunya. "Nah, bukankah ada orang lain yang melaporkan kepada guru? Apa kata orang itu? Aku tidak tahu maksudnya, kenapa ia melapor kepada guru, kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwa guru akan datang menemui aku." "Jangan berbelit-belit " bentak gurunya. mPu Sidikara mengerutkan dahinya. Tetapi ia berkata "Aku tidak tahu, kenapa guru menganggap aku berbelit-belit. " "Cukup" bentak gurunya. Lalu katanya "Kau harus menebus pengkhianatanmu." "Maksud guru ?" bertanya mPu Sidikara. "Kau tantang anak itu. Kau harus mengalahkannya. Baru harga diri perguruan kita dapat diangkat kembali." Tetapi mPu Sidikara menjawab sambil menggelengkan kepalanya "Tidak guru. Aku tidak sanggup. Sebelum mPu Kamenjangan, aku telah bertempur melawannya. Juga atas permintaan mPu Kamenjangan. Ternyata aku tidak dapat mengimbangi ilmunya. Ketika kemudian mPu Kamenjangan ingin melakukannya sendiri, aku sudah m emperingatkannya. Tetapi mPu Kamenjangan tetap melakukannya. Hampir saja mPu Kamenjangan terbunuh dalam pertempuran itu." "Kenapa kau justru berbuat sebaliknya ketika kedua orang kawan Kamenjangan itu berusahamembalas sakit hati atas kekalahan Kamenjangan. Justru kau mengancam untuk berdiri dipihak anak muda itu. " "Aku justru ingin mempertahankan harga diri perguruan kita. Apa kata orang bahwa perguruan kita baru dapat mengalahkan lawannya setelah mendapat bantuan dari orang lain ? Karena itu, maka aku mencegah pertempuran yang  akan terjadi antara kedua orang kawan mPu Kamenjangan melawan Mahisa Pukat itu." jawab mPu Sidikara. Lalu iapun kemudian bertanya kepada mPu Kamenjangan "Nah, mPu Kamenjangan. Apa pendapatmu sebenarnya. Kata hati nuranimu ?" mPu Kamenjangan menarik nafas dalam-dalam. Meskipun agak ragu ia berkata "Aku memang sudah dikalahkannya. Aku harus mengakui itu." "Bagus. Besok atau sampai kapanpun aku berusaha untuk menjumpai anak itu. Saudara-saudara seperguruan kalian masih mempunyai kebesaran jiwa untuk membela nama baik perguruan kalian. Mereka akan dengan dada tengadah menghadapi Pelay an Dalam yang  angkuh itu." Namun tiba-tiba muridnya yang  gemuk itu b erkata "Guru Jika mPu Kamenjangan dan mPu Sidikara saja tidak dapat mengatasi ilmunya, apalagi kami." "Diam kau " bentak gurunya "bahwa Kamenjangan kehilangan kedudukannya di Kasatrian itu berarti bahwa ilmu perguruan kita tidak akan dapat menjadi ilmu yang paling berpengaruh di Singasari. Jika ada diantara kita yang  m asih tetap berada di Kasatrian maka para bangsawan Singasari akan m elandasi kekuatan m ereka dalam kedudukan mereka dengan ilmu dari-perguruan kita. " "Tetapi itu sudah terlepas" berkata mPu Kamenjangan "apakah dengan menantang dan berkelahi melawan Pelay an Dalam itu, kedudukan di Kasatrian dapat kita miliki kembali?” '"Kau memang bodoh. Kita jadikan Pelay an Dalam itu taruhan. Kita akan menghidupinya jika ia mampu menempatkan kau kembali di Kasatrian. " jawab mPu Kamenjangan. "Tetapi yang  menentukan kedudukanku di Kasatrian bukan Pelay an Dalam itu. Tetapi Pangeran Kuda Pratama." jawab mPu Kamenjangan. "Tetapi bukankah Pelay an Dalam itu punya mulut. Nah, biar mulutnya itu dipergunakannya untuk menyampaikan hal itu kepada Pangeran Kuda Pratama." mPu Kamenjangan menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian "Guru. Jika guru mau mendengarkan katakataku, sudahlah. Kita lupakan saja kedudukan di Kasatrian itu. Aku sudah m erasa bersalah. Jika guru ingin menghukum aku, aku sama sekali tidak berkeberatan.” "Aku tidak mau menjadi putus-a sa seperti itu." jawab gurunya "aku harus mendapatkan apa yang  aku inginkan." "Tetapi" mPu Kamenjangan memotong "aku tidak mengira bahwa guru akan bersikap demikian. Selama ini aku ju stru mencemaskan guru, justru guru akan sangat marah kepadaku karena ketamakanku di Kasatrian. Setelah aku mendapat kedudukan di Ka satrian, aku menjadi lupa diri dan melupakan semua pesan guru." "Tutup mulutmu Kamenjangan. Kau sudah m engusutkan nama perguruan kita, sekarang kau masih juga ingin menentang sikapku. Aku sudah mengambil keputusan. Meskipun kalian menganggap aku berubah, tetapi niatku untuk menguasai landasan ilmu bagi para bangsawan di Singasari tidak akan berubah. Satu cara untuk menjadikan perguruan kita menjadi perguruan yang  paling berpengaruh di Singasari." mPu Kamenjangan memang terdiam. Namun mPu Sidikaralah yang  b erkata "Guru. Biarlah aku berterus-terang. Tidak ada seorangpun diantara kita yang  akan mampu mengalahkan anak muda itu." “Aku tidak akan minta salah seorang dari antara kalian untuk berperang tanding. Kita akan menangkapnya dan memaksanya untuk m enempatkan kembali Kamenjangan di Ka satrian. Aku percaya bahwa orang-orang seperti itu akan memegang janjinya. " "Satu hal yang  mustahil" berkata mPu Kamenjangan. "Kalian m emang orang-orang dungu, bodoh dan pengecut. Tetapi kalian harus mencobanya. Kita tidak mempunyai jalan lain. Kita akan menunggu ditempat yang terbiasa baginya untuk mengadakan latihan di luar istana, bahkan diluar Kotaraja. Kemudian kita akan menangkapnya dan memaksanya untuk berjanji. Jika kalian semuanya tidak mampu menghadapinya, biarlah aku turut campur. " "Guru" berkata mPu Kamenjangan "aku benar-benar tidak mengerti sikap guru sekarang." < sepertinya ada bagian cerita yang terlewat di buku aslinya> Dengan demikian maka Mahisa Pukatpun m erasa bahwa persoalan saudaranya yang  tidak bersedia menjalani tugas di Ka satrian itu sudah selesai. Mahisa Pukat merasa bahwa ia telah menawarkannya, sehingga penolakan saudaranya itu akan dapat m eny inggung perasaan Pangeran Kuda Pratama. Namun ternyata tidak. Pangeran Kuda Pratama dapat mengerti sepenuhnya kenapa Mahisa Murti tidak dapat mengabdikan diriny a di Istana Singasari. Selain daripada itu, maka Mahisa Pukat ingin mengajak Mahisa Murti untuk pergi ke lereng bukit, ketika semua keduanya telah berada di serambi sebelum tidur, maka MahisaPukat telah menceriterakan persoalan yang  ternyata kemudian timbul karena kehadiran guru mPu Kamenjangan itu. “Baiklah " berkata Mahisa Murti "besok aku ikut pergi ke lereng bukit” jawab Mahisa Murti Malam itu, Mahisa Murti telah tidur di bilik yang di peruntukkan para Pelay an Dalam. Karena ada beberapa orang yang bertugas malam itu, maka Mahisa Murti dapat menempati pembaringannya malam itu. Pagi-pagi benar Mahisa Pukat dan Mahisa Murti telah bersih Mereka berdua telah meninggalkan Kasatrian. Tetapi Mahisa Pukat tidak mengajak seorangpun dari para bangsawan muda itu pergi ber samanya. Mahisa Pukat hanya memberikan pesan kepada dua orang Pelay an ditunjuk untuk membantu dan melayani para bangsawan muda itu berlatih di pagi hari. Para bangsawan muda itu memang menjadi heran, tidak seorangpun diantara m ereka yang  m engetahui, kemana guru mereka itu pergi, bahkan kedua bangsawan remaja yang  sejak semula menjadi murid Mahisa Pukat itupun tidak tahu kemana perginya Mahisa Pukat dan saudaranya yang  semalam bermalam di Kasatrian itu." Dalam pada itu, Mahisa Pukat yang meninggalkan Ka satrian memang memenuhi pemerintah Pangeran Kuda Pratama. Jika ia akan pergi menemui guru mPu Kamenjangan, sebaiknya ia tidak m embawa seorangpun dari antara muridkmuridnya di Kasatrian. Demikianlah sebelum matahari terbit, Mahisa Pukat dan Mahisa Murti telah berada di lereng bukit. Sebenarnyalah mereka mengetahui bahwa beberapa pasang mata mengikutinya saat mereka memanjat lereng yang  tidak terlalu terjal dan tidak terlalu tinggi itu menuju ke tempat yang terbiasa dipergunakan oleh Mahisa Pukat untuk berlatih bersama murid-muridnya di Ka satrian. "Mereka mengikuti kita " berkata Mahisa Murti. "Ya " jawab Mahisa Pukat "kita akan menunggu mereka sampai mereka menampakkan diri. " Mahisa Murti mengangguk. Keduanya berlari-lari kecil sebagaimana sering dilakukan oleh Mahisa Pukat dan muridmuridnya, para bangsawan muda di Kasatrian. Ketika keduanya berada di tempat yang  datar di lambung pembukitan itu, maka tiba-tiba saja orang yang mereka kenal sebagai guru mPu Kamenjangan itu langsung berjalan bergegas menemui mereka. Tanpa memperkenalkan diri, orang itu langsung menuding kedua orang muda itu sambil berkata "He, bukankah kalian anak-anak yang  aku temui di kedai dalam perjalanan kalian ke Singasari itu?" "Ya Ki Sanak " jawab Mahisa Pukat sambil m emperhatikan beberapa orang yang kemudian datang m engikuti guru mPu Kamenjangan. Diantara mereka terdapat mPu Kamenjangan dan mPu Sidikara. "Jadi kalian mendengar apa yang  kami katakan di kedai itu tentang Kamenjangan dan Sidikara ?" bertanya orang itu. "Ya. Kami mendengar semuanya. Kami tahu bagaimana Ki Sanak meny esali sikap mPu Sidikara. Bagaimana Ki Sanak kecewa atas kegagalan mPu Kamenjangan. Aku memang mendengarkan apa yang Ki Sanak katakan, karena aku langsung berkepentingan. " “Kenapa kalian diam saja?" bertanya Orang itu. “Jadi apa yang  harus kami perbuat? Bukankah memang sebaiknya kami tidak berbuat apa-apa saat itu ?" bertanya Mahisa Pukat. "Kau licik. Seharusnya kalian mengaku siapa sebenarnya kalian berdua." geram guru mPu Kamenjangan itu. “Untuk apa ? Bukankah dengan demikian hanya akan menimbulkan perselisihan ? Apa pula gunanya perselisihan itu. Karena kami menganggap bahwa perselisihan diantara kita tidak ada gunanya, maka kami memutuskan untuk berdiam diri saja " “Tetapi benih-benih perselisihan memang sudah ada. Bukankah akhirnya kitapun akan berselisih dan m enentukan tataran kemampuan kita? Seandainya kau berani mengaku saat itu, maka persoalan kita sudah selesai. " berkata orang itu. Tetapi Mahisa Pukat justru tersenyum sambil berkata “Aku ingin Ki Sanak lebih dahulu bertemu dengan mPu Kamenjangan dan mPu Sidikara. Mereka akan dapat memberikan pertimbangan kepadaKi Sanak, apa yang sebenarnya yang telah terjadi. Agaknya Ki Sanak telah mendengarnya dari orang lain yang tidak langsung berkepentingan." “Aku tahu Kau bermaksud agar Kamenjangan dan Sidikara berusaha membatalkan niatku untuk memaksamu agar Kamenjangan ditempatkan kembali di Kasatrian” geram guru mPu Kamenjangan. "Ya " jawab Mahisa Pukat "karena hal itu tidak akan mungkin dilakukan. Pangeran Kuda Pratamalah yang dapat menentukan hal itu. Ia bukan orang yang  m udah merubah keputusannya. " "Tetapi jika perubahan itu disertai dengan alasan-alasan yang masuk akal, maka Pangeran tua itu tentu akan menerimanya. " berkata guru mPu Kamenjangan dengan nada tinggi. Tetapi Mahisa Pukat menggeleng. Katanya "Aku tidak akan mampu meyakinkannya. " "Anak muda" berkata guru mPu Kamenjangan itu "kami datang memang untuk menangkapmu. Kami akan memaksamu untuk mengusahakan agar Kamenjangan dapat kembali memangku jabatannya di Kasatrian. Dengan demikian maka barulah persoalan diantara kita selesai. Aku memang tidak akan menuntut apapun juga kecuali kedudukan itu. Meskipun dengan kehadiranmu, maka pengaruh ilmu perguruanku atas para bangsawan di Singasari tidak akan mutlak lagi." "Bukankah sejak aku belum ada di Kasatrian pengaruh ilmu mPu Kamenjangan juga tidak mutlak? Bukankah disini ada dua orang lain yang  m enjadi guru para bangsawan muda di Ka satrian?" sahut Mahisa Pukat. "Tetapi mereka tidak berarti apa -apa. Mereka berada dibawah pengaruh Kamenjangan. Kedua orang itu tidak lebih dari sekedar membantu Kamenjangan membimbing para bangsawan muda di Kasatrian ini. Tetapi landasan ilmu yang diberikan kepada para bangsawan muda itu adalah landasan ilmu Kamenjangan." Namun Mahisa Pukat tetap menggeleng. Katanya "Aku tidak sanggup Ki Sanak." "Aku tidak bertanya kau sanggup atau tidak sanggup. Tetapi aku berniat memaksamu. Jika kau berkeras tidak mau membantu Kamenjangan kembali ke Ka satrian, maka sekarang aku akan menangkapmu dan apabila perlu membunuhmu." "Sampai seberapa jauh batas apabila perlu yang Ki Sanak maksudkan?" bertanya Mahisa Pukat. "Per setan dengan pertanyaanmu itu. Katakan sekarang bahwa kau bersedia untuk membantuku" bentak guru mPu amenjangan itu. Tetapi Mahisa Pukat menggeleng. Katanya "Tidak, mPu. aku tidak dapat membantu." "Jika demikian aku tiarus memaksamu. Kami akan menangkapmu dan memaksamu untuk menerima keinginanku, membantu agar Kamenjangan dapat diterima lagi di Kasatrian.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Jadi Ki sanak akan memaksakan perselisihan?" "Itu salahmu. Jika kau tidak mengelakkan niatku, maka tidak akan ada perselisihan itu." "Guru" berkata mPu Kamenjangan "jika demikian maka baiklah aku berterus terang. Aku tidak akan bersedia untuk bertugas kembali di Kasatrian. Harga diriku sudah larut. Aku tidak akan mempunyai wibawa lagi atas murid-muridku." “Pengecut kau" bentak gurunya marah "kenapa kau katakan bahwa aku berubah sekarang? Ternyata bukan aku yang berubah, tetapi kalian. Terutama Kamenjangan. Kau yang  aku kira akan dapat melangsungkan kebesaran nama perguruan kita, ternyata kau tidak lebih dari seorang pengecut. " mPu Kamenjangan tidak menjawab. Ia tahu bahwa gurunya benar-benar marah. Tetapi ia memang sudah berkeputusan tidak akan kembali ke Kasatrian. Karena mPu Kemenjangan tidak menjawab, maka gurunya itupun berkata "Tetapi jika kau bersikeras menolak Kamenjangan, maka aku perintahkan kepada Sidikara untuk menggantikan kedudukan Kamenjangan di Kasatrian." < sepertinya ada bagian dialog yang terlewat – Dewi KZ > "Jangan dengarkan kata orang" bentak guru mPu Kamenjangan "bagiku apapun kata orang, tujuan utama perguruan kita tidak boleh terlepas dari tangan." "Tetapi kita hidup diantara orang-orang" jawab mPu Sidikara meskipun agak ragu. "Orang akan membicarakan kita sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan mereka. Mungkin seseorang akan mengatakan bahwa kau tidak tahu malu. Tetapi orang lain akan memujimu sebagai pahlawan yang  telah meny elamatkan nama perguruanmu. Meskipun saudara seperguruannya terusir, tetapi kau ternyata mampu menggantikannya." berkata gurunya lantang. "Sementara itu, apa kata hati nurani kita sendiri?" bertanya mPu Sidikara. "Nah, itu tergantung kepadamu. Apakah kau seorang yang  berjiwa besar atau tidak lebih dari seekor tikus kecil sakitsakitan. Nurani seseorang memang tergantung pada sikap jiwani serta pandangan hidupnya. Itulah sebabnya maka setiap orang mempunyai pendapat, sikap dan tanggapan yang berbeda terhadap satu persoalan." "Tetapi bukankah ada keselarasan sikap yang  bersifat umum? Bukankah berdasarkan atas sikap itu, maka dalam kehidupan ini terdapat keselarasan dan keseimbangan?" bertanya mPu Sidikara. "Itu adalah sikap batang ilalang yang merunduk kemana arah angin bertiup. Tidak. Kau dan semua murid-muridku tidak boleh bersikap sebagaimana batang ilalang. Kalian harus tegak dan tegar pada sikap yang  telah kalian pilih sendiri." beekata guru mPu Kamenjangan itu. "Jika itu yang guru maksud, maka aku sudah m enyatakan sikapku. Agaknya sikap itu bukan sikap batang ilalang meskipun angin prahara akan bertiup,” jawab mPu Sidikara. "Kau memang anak iblis. Jika demikian, aku akan melupakan kalian berdua" geram guru mPu Kamenjangan itu. < Ada bagian cerita di buku aslinya terloncat > Dalam pada itu, saudara-saudara seperguruan mPu Kamenjangan dan mPu Sidikara itu memang tidak dapat berbuat lain kecuali bertempur dengan sungguh-sungguh. Gurunya seakan-akan melihat gejolak jantung mereka jika mereka menjadi ragu-ragu. Semakin keras gurunya berteriak maka pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Meskipun masih berada dibawah tataran mPu Kamenjang an dan mPu Sidikara, namun berlima mereka m enjadi sangat berbahaya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang harus mengerahkan tenaga mereka untuk melindungi diri, sehingga kulit daging Mahisa Murti dan Mahisa Pukat m ulai merasa ny eri. Namun dalam pada itu, mPu Sidikara menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti apa yang  telah terjadi di arena. Karena itu di dalam hati ia bergumam "Anak-anak muda yang hatinya bagaikan lautan. Mereka memiliki kesabaran yang tinggi meskipun mereka menghadapi bahaya yang  mengancam keselamatan jiwa mereka." mPu Sidikara yang pernah dikalahkan oleh Mahisa Pukat dengan kekuatan ilmu yang mampu menghisap kekuatan lawannya itu segera menyadari, bahwa kedua orang anak muda itu telah m engetrapkan ilmu itu pula. Keduanya lebih banyak membentur setiap serangan dengan serangan. Bahkan serangan-serangan mereka berdua nampaknya bukannya serangan yang  berbahaya. Seakan-akan keduanya asal saja dapat mengenai lawannya disasaran yang manapun juga. "Ternyata saudara laki -laki Mahisa Pukat itu memiliki kemampuan dan ilmu setingkat dengan Mahisa Pukat. Keduanya sama sekali tidak dapat dibedakan. Bukan saja unsur -unsur gerak yang  m ereka kuasai, t etapi juga sikap dan wataknya. "berkata mPu Sidikara didalam hatinya. Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, pertempuran itupun mulai menarik perhatian guru mPu Sidikara. Ia melihat perubahan yang  t erlalu cepat terjadi pada m urid-muridnya. Mereka yang  sudah terbiasa berlatih dengan mengerahkan segenap kekuatan dan tenaga mereka di dalam dan juga diluar sanggar, tentu mempunyai ketahanan tubuh yang  besar. Tetapi melawan dua orang anak muda itu, saudara-saudara seperguruan mPu Kamenjagan dan mPu Sidikara itu dengan cepat mengalami kesulitan. Mereka mulai nampak letih. Tenaga mereka dengan cepat pula m enyusut. Gerak mereka tidak lagi cepat dan kuat. Meskipun kelima orang itu berusaha untukmengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan mereka, namun rasa "rasanya urat-urat darah mereka mulai membeku. Jantung mereka seolah-olah menjadi semakin lambat berdetak di dalam dadanya. "He, mony et-mony ek kecil" t eriak guru mPu Kamenjangan "ada apa dengan kalian? Kenapa kalian tiba -tiba menjadi seperti kehabisan darah, sementara kalian semuanya m asih belum terluka?" Saudara-saudara seperguruan mPu Kamenjangan itu memang merasa heran tentang diri mereka sendiri. Betapapun mereka mengerahkan tenaga, namun rasa-rasanya tulangtulang mereka menjadi seberat batang-batang timah. Gurunya menjadi semakin marah melihat keadaan itu. Dengaii lantang berteriak "Apa boleh buat, Hancurkan mereka dengan ilmu pamungkas kalian." Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendengar perintah itu, karena itu, maka mereka berdua telah mengerahkan kemampuan mereka. Serangan-serangan mereka menjadi semakin cepat sehingga sentuhan-sentuhan pada tubuh lawan-lawan mereka pun menjadi semakin sering pula. Dalam pada itu, kelima orang saudara seperguruan mPu Kamenjangan itupun mendengar perintah gurunya. Tetapi rasa-rasanya mereka tidak sanggup lagi mengerahkannya. Tenaga mereka telah tersusut sampai batas yang tidak memungkinkan mereka untuk melepaskan kekuatan pamungkas mereka. Bahkan orang yang  gemuk itu kadangkadang telah menjadi goyah. Keseimbangannya tidak cukup mantap. Guru mPu Kamenjangan itu terlambat mengetahui apa yang telah terjadi. Baru kemudian dengan marah ia berteriak "Iblis yang  licik. Kal ian pergunakan ilmu yang  tidak pantas lagi dipergunakan sekarang ini. Kau curi tenaga dan kemampuan murid-muridku dengan ilmu kalian yang sangat licik itu." “Apakah yang Ki Sanak maksudkan dengan licik itu? Apakah benar kami telah berbuat licik menghadapi lima orang murid Ki Sanak itu?" sahut Mahisa Pukat. "Per setan" geram guru mPu Kamenjangan itu "jika demikian, maka biarlah aku sendiri yang akan m enghadapi kalian berdua. Aku tidak takut dengan ilmu iblismu itu." Kepada murid-muridnya iapun berteriak "Minggir, atau kalian akan terbakar oleh ilmu puncakku." Mahisa Pukat dan Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Mahisa Murti membawa pedang pusakanya. Tetapi Mahisa Pukat tidak, karena selama ini b ertugas di Ka satrian sebagai Pelay an Dalam ia mengenakan pedang keprajuritan sebagaimana yang  dipergunakan oleh semua pelay an dalam. Karena itu, maka Mahisa Murtipun tidak berniat mempergunakan pedangnya untuk melontarkan i lmunya jika bersama-sama dengan Mahisa Pukat ia harus melontarkan ilmunya untuk m elawan ilmu guru mPu Kamenjangan yang tentu sangat dahsy at itu. Sementara itu, tiba -tiba pula hampir berbareng mPu Kamenjangan dan mPu Sidikara meloncat maju sambil berkata "Jangan guru. Mereka masih terlalu muda untuk melawan ilmu puncak yang akan guru lontarkan." Tetapi guru mPu Kamenjangan itu telah menjadi sangat marah. Karena itu, maka iapun berteriak "Minggir. Atau kalian berdua akan mati lebih dahulu." "Barangkali itu lebih baik guru" sahut mPu Kamenjangan "dengan demikian aku tidak melihat guru membuat kesalahan sebagaimana pernah aku lakukan. Untunglah bahwa waktu itu ilmuku tidak cukup kuat untuk melawan ilmu Mahisa Pukat, sehingga akulah yang terluka didalam. Namun jika i lmu guru mampu memecahkan ilmu kedua orang anak muda itu, maka akulah sumber dari bencana itu dan aku memang pantas untuk dihancurkan lebih dahulu." Wajah gurunya menjadi tegang. Tetapi ia berteriak "Baik. Ber siaplah kalian berdua untuk mati." Kedua orang murid tertua itupun telah benar-benar mempersiapkan diri. Mereka sama sekali tidak berniat untuk melawan. Mereka benar -benar telah pasrah apabila gurunya ingin menghancurkan mereka dengan ilmunya yang  sangat kuat. Namun dalam pada itu, tiba -tiba saja terdengar getaran suara yang  menghentak-hentak, membentur dinding pebukitan dan melingkar-lingkar didalam setiap dada. "Ki Sanak. Jangan kau sakiti kedua orang muridmu itu. Mereka sama sekali tidak bersalah sehingga dengan demikian mereka sama sekali tidak pantas untuk mendapat hukuman." Orang-orang yang mendengar suara itu harus mengerahkan day a tahannya untuk mengatasi gejolak didalam dada m ereka masing-masing. Gejolak yang  seakan-akan mengguncang dan akan meruntuhkan jantung. Namun suara itu semakin lama menjadi semakin keras. Getarannya terasa semakin mengguncang isi dada dan bahkan rasa-rasanya menusuk sampai kepusat jantung. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun telah mengerahkan day a tahan mereka. Meskipun mereka tidak mengalami kesulitan didalam diri mereka, namun mereka benar-benar harus memusatkan segala nalar budinya untuk melawannya. Demikian pula mPu Kamenjangan dan mPu Sidikara. Apalagi saudara-saudara seperguruannya yang lebih muda. Sementara itu guru mPu Kamenjanganpun harus mempertahankan diri t erhadap serangan itu. Ia sadar, bahwa serangan itu m emang ditujukan kepadanya, sehingga karena itu, maka getaran yang  paling tajam adalah getaran yang meluncur langsung kedadanya. Tetapi orang itu adalah orang yang  berilmu tinggi, sehingga ia masih mampu mengatasi goncangan didalam dadanya. Namun dengan demikian orang itupun menyadari, bahwa orang yang  telah melontarkan serangan dengan getaran suaranya itu tentu seorang yang  berilmu sangat tinggi pula. Tetapi guru mPu Kamenjangan itu tidak mau meny erah karenanya Iapun telah mengerahkan daya tahannya untuk mengatasi getaran yang  menusuk bagian dalam dadanya itu. Namun perlahan-lahan getaran itupun semakin mengendor, sehingga akhirnya hilang sama sekali. Namun dalam pada itu, semua orang yang ada ditempat itupun terkejut karenanya. Tiba-tiba saja mereka melihat seseorang berjalan kearah mereka tanpa mereka ketahui darimana orang itu datang. Yang menjadi sangat terkejut adalah Mahisa Pukat, Mahisa Murti, mPu Kamenjangan dan mPu Sidikara. Karena orang yang datang itu adalah Pangeran Kuda Pratama. Guru mPu Kamenjangan yang  ternyata belum mengenal Pangeran Kuda Pratama dengan lantang bertanya "He, siapa kau yang  mengenakan pakaian kebesaran ? Apa kepentinganmu sehingga kau ikut mencampuri per soalan kami disini” mPu Kamenjanganlah yang  dengan serta-merta telah menyahut "Guru. Yang datang itu adalah Pangeran Kuda Pratama. " "He ?" guru mPu Kamenjangan memang menjadi sangat terkejut pula. Karena itu, maka iapun telah mengangguk hormat sambil berkata "Ampun Pangeran. Aku belum mengenal Pangeran sebelumnya, sehingga karena itu, aku tidak segera memberikan hormat. " "Bukan salah Ki Sanak" sahut Pangeran Kuda Pratama "sekarang aku datang untuk memperkenalkan diri. " "Aku merasa mendapat kehormatan yang tinggi atas kedatangan Pangeran sekarang ini." jawab guru mPu Kamenjangan. "Selebihnya aku ingin bertanya, kenapa Ki Sanak telah mempersiapkan ilmu Ki Sanak yang  sangat berbahaya untuk menyerang kedua orang murid Ki Sanak sendiri ?" "Sebenarnya aku tidak perlu memberikan penjelasan. Pangeran tentu sudah mengetahuinya, " jawab orang itu. "Aku hanya melihat kulitnya. Tetapi a pakah alasan yang  telah aku dengar itu memang alasan yang sebenarnya ? Seandainya itu benar, apa pula yang  telah mendor ong Ki Sanak sampai hati untuk membinasakan murid-murid terbaik Ki Sanak sendiri ?" "Ya, kenapa tidak ? Mereka telah berani m enentang aku, gurunya. Mereka tidak lagi mendengarkan perintahku. Bukankah itu merupakan satu pengkhianatan yang tidak dapat dimaafkan ?" "Apakah m enurut Ki Sanak, hukuman yang akan m ereka terima itu seimbang dengan kesalahan mereka ?" bertanya Pangeran Kuda Pratama. "Aku telah m engetrapkan paugeran yang pasti, Siapa yang berkhianat serta menghalangi keinginanku, maka ia akan disingkirkan. " jawab guru mPu Kamenjangan itu. Pangeran Kuda Pratama itu mengangguk-angguk kecil. Katanya " Jika demikian, maka kau adalah seorang yang memegang teguh pada sikap yang  t elah kau gariskan. Tetapi apakah kau tidak mempertimbangkan kebenaran dalam mengambil keputusan?" bertanya Pangeran Kuda Pratama. "Kebenaran bagiku adalah apapun yang  sesuai dengan ketentuan dan paugeran yang telah aku gariskan." berkata guru mPu Kamenjangan itu. "Jika demikian maka ruanglingkup kebenaran yang  kau katakan itu jangkauannya terlalu sempit. " berkata Pangeran Kuda Pratama. "Maksud Pangeran?" "Karena ada kebenaran yang  diakui oleh banyak orang. Sedangkan kebenaran yang  mutlak itu datangnya dari Yang Maha Agung."' "Kenapa kita harus berpikir demikian rumitnya? Aku tidak ingin membuat kepalaku sendiri m enjadi pening" jawab guru mPu Kamenjangan. "Jika demikian, baiklah. Kita berpijak pada kebenaran menurut landasan bersikap kita masing-masing. Karena itu maka aku tidak akan m enghindar jika kita akan berbenturan kepentingan karenanya. Aku menganggap bahwa sikapmu terhadap kedua murid utamamu itu salah. Aku akan membela mereka karena sikap yang mereka ambil ada hubungannya dengan tugas-tugas di Kasatrian yang menjadi tanggung jawabku." "Tetapi sebaiknya Pangeran tidak mencampuri persoalanku dengan murid-muridku. Itu persoalan yang sangat terbatas." berkata guru mPu Kamenjangan itu. "Aku tidak peduli. Tetapi aku m enganggap penting untuk mencampuri persoalan siapa saja yang  ingin aku campuri. " jawab Pengeran Kuda Pratama. "Pangeran telah m elanggar wewenangku sebagai guru atas murid-muridku " "Aku tidak peduli. Kita tidak usah berpikir tentang kewajaran, kebiasaan dan apa yang  sebaiknya aku lakukan atas persoalan yang menurut pendapatmu terbatas dilingkungan perguruanmu. Aku ingin melakukan apa yang ingin aku lakukan, karena aku yakin bahwa yang aku lakukan itu benar." Guru mPu Kamenjangan itu termangu-mangu. Bagaimanapun juga ada rasa segan di dalam hatinya. Pangeran Kuda Pratama adalah seorang pangeran yang berpengaruh di Singasari. Selebihnya, Pangeran Kuda Pratama adalah seorang pengeran yang berilmu sangat tinggi. Karena itu, untuk beberapa saat guru mPu Kamenjangan itu termangu-mangu. Sementara itu Pangoran Kuda Pratama berkata "Ki Sanak. Jika kau tetap berpijak pada niatmu untuk menghukum muridmu, bersiaplah. Kita akan berhadapan. Sebagai orangorang yang sudah menjelang hari-hari tuanya, sebenarnya kita sudah tidak pantas untuk berkelahi. Tetapi jika sekali-sekali kita ingin mengenang kembali masa kanak-kanak, sekaranglah kesempatannya. " Guru mPu Kamenjangan itu sama sekali tidak mengira, bahwa pada suatu saat ia harus berhadapan dengan Pangeran Kuda Pratama, Pangeran yang  memiliki kekuasaan di Ka satrian. Jika hal itu terjadi, m aka persoalannya tentu akan berkembang semakin parah. Sementara itu, m aka tujuannya untuk memasukkan pengaruhnya di istana Singasari, khususnya pengaruh ilmunya tidak akan pernah dapat terjadi. Sementara itu guru mPu Kamenjangan itu harus pula mengakui bahwa Pangeran Kuda Pratama adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Beberapa saat guru mPu Kamenjangan itu merenung. Namun kemudian ternyata bahwa penalarannya yang bening masih mampu mengendalikan perasaannya. Karena itu, maka tiba -tiba saja guru mPu Kamenjangan itupun mengangguk dalam-dalam sambil berkata "Ampun Pangeran. Sudah t entu bahwa aku tidak akan berani melakukannya. Aku tahu bahwa Pangeran adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Namun lebih daripada itu, maka aku akan dianggap deksura jika aku berani melawan Pangeran. Akupun akan menjadi musuh Singasari." Pangeran Kuda Pratama menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah iapun berkata "Terima kasih atas pengertianmu Ki Sanak. Sejak semula aku yakin bahwa Ki Sanak bukan seorang yang  mudah kehilangan penalaran. Akupun sebenarnya tidak pantas untuk mencampuri persoalanamu dengan murid-muridmu. Tetapi aku terpaksa melakukannya. Karena selama Ki Sanak masih seorang manusia biasa, maka ia masih dapat berbuat khilaf." "Akulah yang harus mengucapkan terima kasih, Pangeran. Aku memang khilaf. Ketika aku sadari bahwa u sahaku untuk mengalirkan ilmu perguruanku ke istana Singasari terputus, maka penalaranku benar -benar menjadi keruh. Aku juga mendengar bagaimana murid-muridku menganggap aku telah berubah. Tetapi dor ongan kegelisahan dan kekecewaanku membuatku tidak mendengar keluhan anak-anak muridku itu." "Tetapi masih belum terlambat" berkata Pangeran Kuda Pratama "kekecewaan Ki S&iak masih sempat dikendalikan.” "Seandainya Pangeran tidak datang ketempat ini" desis guru mPu Kamenjangan "mungkin aku akan meny esali perbuatanku sepanjang hidupku." "Tetapi bukankah itu tidak pernah terjadi?" bertanya Pangeran Kuda Pratama. "Ya Pangeran, karena Pangeran menaruh bela s kasihan kepadaku dan kepada murid-muridku." Pangeran Kuda Pratama tersenyum sambil menjawab "Bukan belas kasihan Ki Sanak. Tetapi bukankah kewajiban kita masing"masing untuk membantu meluruskan langkahlangkah yang sesat. Dalam hal ini aku melihat, nampaknya Ki Sanak tidak segera menemukan jalan untuk mengatasi gejolak perasaan Ki Sanak." "Ya Pangeran. Karena itu, aku mengucap sy ukur ." "Nah, jika demikian, m aka aku ingin mempersilahkan Ki Sanak serta murid Ki Sanak untuk singgah di Kasatrian. Aku berharap kalian akan dapat menjadi tamuku di Kasatrian." Guru mPu Kamenjangan itu termangu-mangu sejenak. Di luar sadarnya ia berpaling kepada murid-muridnya, terutama mPu Kamenjangan dan mPu Sidikara. Namun keduanya tidak memberikan isyarat apapun juga. Karena itu, maka ia harus mengambil keputusan sendiri. Sambil mengangguk hormat, guru mPu Kamenjangan itupun berkata "Satu kehormatan yang  besar bagiku, Pangeran. Tentu aku tidak akan menolak. " "Terima kasih " berkata Pangeran Kuda Pratama kemudian "bagiku kesediaan Ki Sanak juga merupakan satu kehormatan" Namun demikian baik Pangeran Kuda Pratama maupun guru mPu Kamenjangan itupun kemudian memandangi saudara-saudara seperguruan mPu Kamenjangan yang  telah bertempur melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tenaga mereka telah terhisap oleh ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sehingga yang tinggal hanyalah sisa -sisa tenaga mereka sa ja. Saudara-saudara seperguruan mPu Kamenjangan itupun mengerti, bahwa guru mereka dan Pangeran Kuda Pratama itu ingin tahu, apakah masih ada sisa tenaga mereka untuk berjalan menuju ke istana Singasari yang  jaraknya agak panjang. Seorang diantara mereka yang  tanggap itupun berkata "Guru, kami akan mencoba untuk berjalan sampai k e Istana. Mudah-mudahan kami dapat mencapai tujuan. " Saudara seperguruan mPu Kamenjangan yang gemuk itupun berkata pula "Tubuhku m emang menjadi lemah guru. Tetapi singgah di istana tentu akan sangat menarik sekali. Aku belum pernah melihat keadaan di dalam istana dan apalagi minum seteguk airnya." "Apalagi yang akan kau katakan selain seteguk airnya?" seorang saudara seperguruannya memotongnya. Betapa lemahnya tubuh orang yang gemuk itu. Tetapi ia masih dapat terseny um. Katanya "Aku berharap bahwa ada sesuatu yang dapat sedikit menambah kekuatanku yang menjadi jauh menyusut ini. Dan itu tentu ada di Istana." "Aku tahu arah bicaramu" sahut saudara seperguruan yang  lain. Orang yang  gemuk itu terawa. Tetapi ketika kakinya menjadi goyah, maka wajahnya Cepat berubah. Dengan nada dalam ia berkata "Aku ingin duduk." Tanpa menunggu jawaban, maka iapun telah duduk di atas sebongkah batu padas. Keringatnya nampak membahasahi dahi dan keningnya. Pangeran Kuda Pratama tersenyum. Katanya "Ki Sanak, kau dalam keadaan yang  tidak sewajarnya sekarang, karena sebagian dari tenagamu telah terhisap oleh ilmu anak-anak muda itu ketika kalian bertempur. Tetapi jangan cemas, karena hal itu hanya terjadi untuk sementara. Mudahmudahan besok tenagamu sudah pulih kembali seluruhnya atau sebagian besar " Orang yang bertubuh agak gemuk itu menarik nafas dalamdalam. Sambil mengangguk kecil iapun kemudian berkata "Ya pangeran. Mudah-mudahan. Tetapi dalam keadaan seperti ini, bukankah tidak berarti bahwa aku tidak dapat makan cukup?" "Per soalan itu sajakah yang mencengkam kepalamu ?" bentak salah seorang saudara seperguruannya. Wajah orang yang  bertubuh gemuk itu berkerut. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata "Bukankah didasar hatimu tersimpan pertanyaan seperti itu juga?" Saudara seperguruannya tidak menyahut lagi. Sementara itu gurunya berkata "Sudahlah, Kita ternyata telah m endapat kehormatan untuk datang ke istana Singasari." Pangeran Kuda Pratamapun kemudian berkata kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat "Marilah anak-anak muda.” Demikianlah sekelompok k ecil orang-orang yang  berada di lereng perbukitan itupun perlahan-lahan telah m eninggalkan tempat itu. Mereka tidak dapat beralan cepat, karena beberapa orang diantara mereka nampaknya telah menjadi lemah karena tenaganya menjadi susut. Namun orang-orang itu bukanlah orang kebanyakan. Karena itu, maka betapapun keadaan mereka, namun akhirnya mereka sampai pula ke istana. Meskipun demikian beberapa orang yang  melihat sekelompok orang yang  beralan lambat itu m endapat kesan, bahwa mereka telah m enempuh peijalanan yang  sangat jauh. Namun m ereka yang  telah mengenal Pangeran Kuda Pratama menjadi heran karena Pangeran itu berada di antara orangorang yang  nampak sangat kelelahan. Di istana mereka telah diterima dengan baik oleh Pangeran Kuda Pratama. Para pelay ad telah m enghidangkan hidangan bukan saja minuman dan makanan, tetapi Pangeran Kuda Pratamapun telah memerintahkan para pelay an untuk menghidangkan makan bagi para tamu itu. Kepada saudara seperguruan mPu Kamenjangan yang  gemuk itu Pangeran Kuda Pratama berkata "Marilah Ki Sanak. Silahkan. Kau akan m embuktikan bahwa keadaan tubuhmu tidak akan mengganggu selera dan kesempatan makan bagi Ki Sanak." Saudara seperguruan mPu Kamenjangan itu tertawa. Katanya "Terima kasih atas kesempatan ini Pangeran.” Demikianlah, maka saudara-saudara seperguruan mPu Kamenjangan itu bukan saja mendapat kesempatan untuk inelihat relung-relung istana Singasari dan Kasatrian, tetapi mereka juga mendapat sambutan yang  baik dan bahkan hidangan yang dapat memberikan kepuasan kepada mereka, meskipun m ereka masih juga harus m enyadari betapa tenaga mereka telah jauh menjadi su sut. Tetapi m ereka yakin bahwa tenaga mereka tentu akan dapat pulih kembali sebagaimana dikatakan oleh Pangeran Kuda Pratama. Dalam kesempatan itu yang  nampak lebih banyak berdiam diri, m enunduk bahkan m erenung adalah mPu Kamenjangan dan gurunya. Tetapi Pangeran Kuda Pratama dapat memaklumi, kenapa mereka bersikap seperti itu. Bagi mPu Kamenjangan kehadirannya di Kasatrian itu seakan-akan membawa beban karena ulahnya sendiri. Para bangsawan muda di Ka satrian itu tentu tahu kenapa ia harus meninggalkan Kasatrian dan apapula yang  pernah terjadi atas dirinya di lereng bukit itu. Sementara itu gurunyapun tentu merasa bersalah terhadap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, juga kepada Pangeran Kuda Pratama. Namun nampaknya Pangeran Kuda Pratama tidak menghiraukan persoalan itu lagi. Pangeran tua itu sama sekali tidak pernah m eny inggung lagi apalagi nampak mendendam kepada mPu Kamenjangan dan gurunya. Namun mPu Kamenjangan dan gurunya menjadi berdebardebar ketika mereka telah selesai m akan, serta m ereka telah diajak oleh Pangeran Kuda Pratama untuk duduk diserambi terbuka. Udara mengalir mengusap tubuh mereka yang berkeringat setelah makan dan minum. Di serambi terbuka itu ternyata Pangeran Kuda Pratama telah meny inggung tentang para bangsawan di Ka satrian yang sedang tumbuh. "Tugas Mahisa Pukat terlalu berat, Sementara itu saudaranya tidak dapat membantunya karena alasan yang memang masuk akal. Ia tidak dapat meninggalkan padepokannya. Jika semula mereka berdua memimpin Padepokan Bajra Seta, maka kemudian Mahisa Murti melakukannya sendiri karena Mahisa Pukat berada di sini. Jika Mahisa Murti juga harus berada di Kasatrian, maka tidak ada orang lain yang akan dapat melakukan tugas m ereka di Padepokan itu." Guru mPu Kamenjangan mengerutkan dahinya. Dengan agak ragu ia bertanya "Jadi angger Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pendiri Padepokan Bajra Seta ?" "Ya " jawab Pangeran Kuda Pratama "pendiri dan selanjutnya mereka pula yang  memimpinnya. " Guru mPu Kamenjangan itu mengangguk-angguk kecil. Katanya "Pantas bahwa keduanya memiliki ilmu yang sangat tinggi. Aku pernah mendengar kebesaran padepokan Bajra Seta. Seharusnya sejak semula aku mengetahuinya bahwa anak-anak muda yang  aku temui di kedai itu adalah para pendiri Padepokan Bajra Seta." Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian keduanyapun tersenyum. Dengan nada rendah Mahisa Pukat berkata "Waktu itu kami tidak menganggap perlu untuk menanggapi apa yang  Ki Sanak katakan" “Ya. Ya. Aku mengerti sekarang, kenapa angger berdua tidak mengatakan apa-apa yang tentang diri angger berdua.” Pangeran Kuda Pratama tersenyum pula. Katanya "Sekarang semuanya telah m enjadi jelas. Nah, sebenarnyalah aku ingin berbicara tentang anak-anak muda yang berada di Ka satrian. Aku mengerti bahwa tugas Mahisa Pukat di Ka satrian tentu terlalu berat. Selain tugasnya sebagai pemimpin kelompok Pelay an Dalam, maka ia harus memberikan latihan-latihan kepada anak-anak muda di Ka satrian. Karena itu, maka sebenarnyalah bahwa ia memerlukan seorang kawan yang  akan dapat bekerja bersamanya. Sementara itu seperti tadi aku katakan, saudaranya tidak dapat membantunya." Pangeran Kuda Pratama berhenti sejenak. Lalu katanya pula "sebenarnyalah bahwa aku ingin berbicara dengan saudara-saudara seperguruan mPu Kamenjangan. Aku tahu pasti, bahwa meskipun mPu Kamenjangan kini dapat menerima kenyataan yang terjadi dengan dada lapang, namun aku mengerti bahwa mPu Kamenjangan tentu tidak akan bersedia untuk kembali pada kedudukannya di Ka satrian. Meskipun demikian aku ingin mendengar dari mulut mPu Kamehjangan sendiri, bagaimana sikapnya seandainya aku minta mPu untuk kembali memangku tugasnya di Kasatrian" Seleret sinar memancar dimata guru mPu Kamenjangan itu. Namun mata itupun segera redup kembali. Sebenarnyalah bahwa seperti mPu Kamenjangan, iapun menyadari, bahwa kedudukan itu sudah tertutup bagi mPu Kamenjangan sendiri. Bagaimanapun juga maka ia tidak akan dapat memangku jabatannya kembali betapapun kesempatan itu diberikan kepadanya oleh Pangeran Kuda Pratama. Karena itu, maka iapun menjawab "Ampun Pangeran. Ra sa -rasanya aku memang tidak akan dapat melakukannya. Bukan karena hatiku patah seperti arang. Tetapi dengan penuh kesadaran aku menyadari bahwa aku sudah kehilangan wibawa di hadapan para bangsawan muda di Kasatrian, meskipun itu juga karena salahku sendiri. Karena itu, m aka biarlah orang lain mengemban tugas itu. Sokurlah kalau orang itu lebih baik dari aku." Pangeran Kuda Pratama mengangguk-angguk kecil. Ia cukup mengerti alasan itu sebagaimana sudah diduganya sebelumnya. Karena itu, maka iapun kemudian berkata "Aku dapat mengerti sepenuhnya mPu. Seperti yang  sudah aku katakan, aku memang sudah menduganya. Namun Mahisa Pukat benar-benar memerlukan seseorang yang  dapat bekerja bersamanya di Kasatrian ini. Karena itu, aku berharap bahwa kami segera menemukan orang itu. " "Tetapi aku t idak dapat membantunya Pangeran" jawab mPu Kamenjangan. "mPu " berkata Pangeran Kuda Pratama kemudian "sebagian dari anak-anak kami di Kasatrian telah pernah mendapat tuntunan ilmu dari mPu Kamenjangan. Karena itu, maka ilmu yang  mendasari kemampuan merekapun ilmu yang mereka warisi dari mPu Kamenjangan. Maka alangkah baiknya jika mereka tidak harus menyia-ny iakan ilmu yang pernah diterimanya itu. Karena itu, aku ingin bahwa anak-anak kami, terutama yang sudah tumbuh menjelang m asa dewasanya, dapat meneruskan mendalami ilmu yang pernah diterimanya. Sedangkan yang masih baru mulai akan dapat menyadap ilmu dari perguruan yang lain dengan bimbingan Mahisa Pukat " Pangeran Kuda Pratama berhenti sejenak. Lalu katanya lagi "Bagaimana pendapat Ki Sanak serta saudara-saudara seperguruan mPu Kamenjangan jika aku minta mPu Sidikara menggantikan kedudukan mPu Kamenjangan di Kasatrian?" Mata guru mPu Kamenjangan itupun kembali berbinar. Tetapi ia masih tetap menahan diri. Dengan nada dalam ia berkata "Aku mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya atas kesempatan ini Pangeran. Namun demikian, segala sesuatunya terserah kepada Sidikara sendiri." mPu Sidikara justru nampak bingung. Ia sudah pernah memberikan jawaban kepada Mahisa Pukat atas kemungkinan seperti itu. Ia tentu tidak merasa ny aman duduk ditempat saudara seperguruannya yang terusir. Tetapi yang kemudian bertanya kepadanya adalah Pangeran Kuda Pratama sendiri dihadapan gurunya yang nampaknya sangat berharap bahwa ia akan menerimanya. Untuk beberapa saat mPu Sidikara justru termangu-mangu. Namun kemudian dengan nada rendah ia berkata "Ampun Pangeran. Jika demikian lalu bagaimana dengan padepokanku sendiri?" Tetapi yang menyahut adalah Mahisa Pukat "Bukankah mPu baru mulai ? Padepokan itu masih belum terwujud. " "Nah, bukankah di Ka satrian ini mPu akan mendapat murid-murid yang akan dapat mewarisi ilmu mPu ?" bertanya Pangeran Kuda Pratama. mPu Sidikara benar -benar kebingungan. Namun dalam pada itu mPu Kamenjangan berkata "Aku akan ikut mengucapkan t erima kasih jika kau bersedia. Kau yang memiliki da sar ilmu sama seperti da sar ilmu yang  aku kuasai akan dapat melanjutkan tugas-tugasku. Para bangsawan muda yang pernah mempelajari dasar ilmuku, tidak akan mengalami kesulitan jika mereka kemudian belajar padamu. Namun aku akan menganjurkan kepadamu, bahwa kau akan dapat bekerja sama dengan Mahisa Pukat. Tidak ada salahnya jika kalian berdua dapat bersama-sama meningkatkan ilmu mereka meskipun kalian harus secara khusus memerinci ilmu yang akan kalian berikan kepada murid-murid kalian." mPu Sidikara menjadi semakin bingung menanggapi keadaan itu. Namun kemudian Mahisa Pukat mendekatinya sambil menepuk bahunya "Aku mengucapkan selamat, mPu” mPu Sidikara seakan-akan telah tersudut. Tidak ada jalan untuk mengelak. Karena itu, maka iapun kemudian berkata "Aku t idak akan dapat m enolak kesempatan ini m eskipun sebelumnya aku pernah menyatakan keberatanku kepada Mahisa Pukat." Pangeran Kuda Pratama tertawa. Katanya “Nah, dengan demikian maka tugas Mahisa Pukat selanjutnya tidak akan terlalu berat. Aku percaya bahwa kalian berdua dapat membagi tugas di Ka satrian" mPu Sidikara mengangguk hormat sambil berkata "Terima kasih atas kepercayaan Pangeran " Sementara itu gurunya menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata "Keputusan Pangeran untuk memberikan kesempatan kepada mPu Sidikara membuat aku sangat gembira, tetapi juga malu sekali mengingat tingkah lakuku sendiri. Orang setua aku m asih saa dicengkam oleh nafsu ketamakannya yang sangat tidak pantas." "Sudahlah" berkata Pangeran Kuda Pratama "sudah aku katakan, bahwa setiap orang dapat menjadi khilaf. Tetapi kita masih belum terlanjur terjerumus ke dalam langkah-langkah yang dapat menghancurkan diri kita sendiri. " Guru mPu Kamenjangan itu m engangguk-angguk. Dengan suara yang lemah yang berkata "Ternyata mata hatiku tidak mampu lagi melihat terang yang memancar dari nurani Pangeran" "Sudahlah. Tidak ada yang  pantas dipuji. Semua orang tentu pernah m elakukan kesalahan ." berkata Pangeran Kuda Pratama. Dengan demikian, maka mPu Sidikara yang telah ditetapkan untuk menggantikan kedudukan mPu Kamenjangan akan mulai dengan tugasnya beberapa hari kemudian. Adalah diluar perhatian m ereka ketika disisi lain didalam kedai itu, terdapat seorang anak yang sebaya dengan Mahisa Amping. Dengan dahi yang berkerut dipandanginya saja kuda lumping ditangan Mahisa Amping itu. Agaknya kuda lumping yang terbuat dari anyaman bambu dihiasi dengan warnawarna yang  menarik itu sangat menarik perhatiannya. Untuk beberapa saat anak itu memandanginya dengan dahi yang berkerut. Namun akhirnya ia menggamit seorang yang bertubuh tinggi kekar, berkumis melintang dan berjambang tebal yang  sedang makan pula bersama dengan dua orang kawannya. "Ada apa?"bertanya laki-laki bertubuh kekar itu. "Ayah. Aku minta kuda lumping seperti milik anak itu " rengek anaknya. Laki-laki itu memandangi kuda lumping ditangan Mahisa Amping itu sejenak. Diamatinya tiga orang anak m uda yang duduk bersama anak itu. Lalu katanya "Minta saja kuda lumping itu. Aku akan mengganti berapa harganya. " Anak itu dengan tanpa menjawab lagi telah mendekati Mahisa Amping. Dengan serta merta maka kuda lumping itu direbutnya dari tangan Mahisa Amping sambil berkata "Ini untukku." Mahisa Amping terkejut. Tetapi ia m empertahankan kuda lumpingnya. Katanya "Jangan. Kuda ini kami beli di pasar." "Ayah akan mengganti berapa harganya" jawab anak itu. "Kenapa kau tidak membeli sendiri?" bertanya Mahisa Amping sambil mempertahankan kuda lumpingnya. Mahisa Murti yang  melihat hal itu mencoba untuk melerainya. Dengan lembut ia berkata "Tunggu anak m anis. Kuda lumping ini kami beli di pasar." "Aku tahu" tiba -tiba saja orang bertubuh kekar itu menyahut " Berikan saja kuda lumping itu. Nanti aku ganti harganya. " Tetapi Mahisa Amping berkata kepada anak itu "Kenapa kau tidak m embeli saja di pasar itu. Masih ada banyak kuda lumping seperti ini. " Laki-laki bertubuh kekar itu nampaknya tersinggung oleh kata-kata Mahisa Amping itu. Dengan lantang ia berkata "Berikan kuda lumping itu. Nanti aku ganti harganya lipat dua." Namun Mahisa Amping menjawab "Tidak. Aku senang pada kuda lumpingku ini." "Kau dapat membeli lagi dua buah dipasar" b erkata orang bertubuh tinggi kekar itu. Suasana didalam kedai itu menjadi tegang. Seorang yang  duduk tidak jauh dari Mahisa Pukat berbisik "Berikan ngger. Orang itu adalah Permati. Seorang yang  tidak pernah dapat dicegah apapun yang  dikendakinya. Mungkin kalian belum mengenalnya. " Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun anak yang mengingini kuda lumping itu masih saja menariknariknya sementara Mahisa Amping mempertahankannya. "Nanti kuda lumpingku rusak " bentak Mahisa Amping "lepa skan. Aku tidak akan memberikannya kepadamu." Tetapi orang b ertubuh kekar itu membentak pula "Jangan banyak tingkah. Berikan, atau aku yang akan mengambilnya?" Mahisa Murti dan Mahisa Pukat m emang menjadi gelisah. Namun mereka juga tidak akan dapat memaksa Mahisa Amping. Anak itu tentu akan m enjadi kecewa. Persoalannya tidak sekedar kuda lumping yang diperebutkan itu atau membeli dua bahkan tiga buah yang lain. Tetapi Mahisa Amping telah merasa ter singgung dan direndahkan harga dirinya. Karena itu, maka sulit bagi Mahisa Amping untuk dapat memberikan kuda lumping itu. Sementara itu orang yang  duduk tidak jauh dari Mahisa Pukat itu berdesis lagi "Ngger. Permati adalah pemburu yang paling disegani. Bahkan para bangsawan Singasaripun segan kepadanya." Mahisa Pukat memang tidak menjawab. Tetapi ia tidak dapat memaksa Mahisa Amping untuk memberikan kuda lumping itu. Sebenarnyalah orang yang disebut Permati seorang pemburu yang sangat disegani itu berkata dengan suara yang bergetar oleh kemarahan yang ditahankannya "Jika anak itu tidak memberikannya, ambil saja." Anaknya ternyata juga sekeras ayahnya. Ketika Mahisa Amping benar-benar tidak mau memberikannya, maka ia memang melepaskan kuda lumping itu. Tetapi iapun telah mengayunkan tangannya memukul kearah kening Mahisa Amping. Mahisa Amping yang telah mendapatkan kuda lumpingnya memang menjadi lengah. Tangan anak yang  sebayanya itu memang mengenai keningnya, sehingga Mahisa Amping terdorong beberapa langkah sambil mengaduh kesakitan. Tetapi Mahisa Amping tidak jatuh terlentang karena badannya telah t ertahan oleh amben bambu dengan sandaran yang agak tinggi. Bahkan iapun telah jatuh terduduk sementara tangannya masih memegangi kuda lumpingnya. Tetapi Mahisa Amping sama sekali tidak senang, diperlakukan seperti itu. Apalagi anak yang  m emukulnya itu telah m emburunya sambil berteriak "Berikan kuda lumping itu, atau aku akan memukulmu lagi." "Aku tidak akan memberikan kuda itu, kau dengar. Jika kau memukul aku lagi, maka aku akan membalasmu," jawab Mahisa Amping dengan beraninya. Apalagi anak yang memukulnya itu masih sebaya dengan Mahisa Amping itu sendiri. Ternyata anak itu memang garang. Iapun segera melangkah mendekati Mahisa Amping yang sudah bangkit berdiri. Tetapi sebelum ia sempat m engayunkan tinjunya lagi, maka Mahisa Amping telah meny erangnya dengan kakiny a yang  terjulur meny ongsong anak yang mendekatinya untuk meny erangnya. Anak itu t idak menduga bahwa Mahisa Amping dengan beraninya telah menyerangnya pula. Karena itu, maka anak itulah yang  kemudian terdorong beberapa langkah surut. Tetapi anak itupun tidak terjatuh karena punggungnya tersandar pada gledeg bambu tempat pemilik kedai itu menempatkan makanan yang  masih belum dihidangkan kepada para pembeliny a. Dalam pada itu, orang yang  duduk didekat Mahisa Pukat telah memperingatkannya sekali lagi "Cegah anak itu ngger. Pemburu itu tidak akan segan-segan melakukan kekerasan. Apalagi yang  seorang lagi, yang  duduk disebelahnya adalah seorang jagal yang  garang. Jika ia ikut membantu, maka kalian akan mengalami bencana. Sedangkan yang  seorang lagi memang seorang bebahu padukuhan ini. Tetapi orang itu sudah berada dibawah pengaruh pemburu dan jagal yang garangitu. Padahal bebahu itu termasuk orang yang disegani di padukuhan ini. Ia pulalah yang  mempunyai banyak wewenang di pasar itu." Mahisa Pukat m enarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata "Keadaan sudah berkembang demikian buruknya." Orang itu m enjadi sangat tegang ketika ia m elihat Mahisa Amping telah berkelahi dengan anak yang akan merebut kuda lumpingnya. Ketika Mahisa Amping b erlari keluar dari kedai itu, maka lawannya telah mengejarnya. Ia mengira bahwa Mahisa Amping menjadi ketakutan dan melarikan diri. Tetapi tidak. Mahisa Amping yang  sudah berada di halaman, ternyata menunggunya sambil bertolak pinggang. "Kita berkelahi ditempat yang luas" teriak Mahisa Amping. Anak itu menjadi semakin marah. Iapun segera berlari turun ke halaman pula. Sementara itu, pemburu yang bertubuh tinggi kekar itu masih tetap duduk ditempatnya. Dengan y akin ia berkata kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat "Jika kau tidak menuruti kemauan anakku, maka adikmu atau anakmu itu akan mengalami kesulitan. Anak-anak yang  jauh lebih besar dari anakku, tidak berani menolak keinginannya. Karena mereka akan menjadi sasaran kemarahannya. Jika ia sudah mulai memukuli orang-orang yang berani m elawannya, maka sulit untuk menghentikannya. " Tetapi orang yang  duduk di dekat Mahisa Pukat itu terkejut ketika ia mendengar Mahisa Pukat menjawab "Apakah kau berbangga dengan sifat dan watak anakmu itu?" Orang bertubuh tinggi kekar itupun terkejut pula. Namun kemudian iapun menjawab dengan lantangnya. “Aku bangga dengan watak anakku. Ia akan menjadi seorang pemimpin yang berwibawa dan disegani banyak orang" "Dan sewenang-wenang?" sahut Mahisa Pukat. "Setan kau " geram orang itu " ter serah kepadamu jika adikmu atau anakmu itu akan menjadi lumpuh." "Semula aku m emang akan m elerai m ereka. Mungkin aku setuju untuk memberikan kuda lumping yang diingini oleh anakmu. Tetapi karena kau berbangga atas anakmu dengan wataknya itu, maka niatku aku urungkan." berkata Mahisa Pukat yang  mulai jengkel. Tetapi orang yang  duduk didekatnya berdesis "Ngger, kenapa kau melakukan itu?" Mahisa Pukat tidak menjawab. Sementara itu pemburu itupun bangkit dari tempat duduknya dan berkata "Aku akan melihat, apakah iblis kecil itu sudah dipelintir lehernya. " Pemburu itu, diiringi oleh jagal yang  agak gemuk dan perutnya membesar serta bebahu yang  disegani itupun melangkah ke pintu kedai. Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semupun telah bangkit pula. Melalui pintu samping merekapun telah turun ke halaman pula. Sementara itu Mahisa Amping telah berdiri dihadapan anak yang minta kuda lumpingnya. Keduanya memang nampak sebay a. Mereka m empunyai tinggi badan yang  sama. Namun anak pemburu itu agak lebih gemuk sedikit dari Mahisa Amping. Namun pemburu itu mengerutkan keningnya ketika melihat mahisa Amping sama sekali tidak nampak gentar melihat anaknya. Bahkan Mahisa Amping dengan tanpa raguragu bersiap untuk berkelahi. Anak Pemburu itu memang menjadi marah sekali. Ia sudah terbiasa berkelahi. Seperti kata ayahnya, ia tidak takut berkelahi melawan anak-anak remaja yang lebih besar dan dirinya. Bahkan anak yang  m enjelang dewasapun dilawannya pula. Apalagi Mahisa Amping yang meskipun tinggi tubuhnya seimbang, namun ia nampak lebih kurus dari anak pemburu itu. Beberapa saat mereka berdiri berhadapan. Kemarahan anak pemburu itu benar-benar telah membakar jantungnya melihat Mahisa Amping sama sekali tidak menjadi gentar menghadapinya. Orang yang  semula duduk didekat Mahisa Pukat dan kawannya menjadi tegang. Kepada kawannya ia berbisik "Anak muda itu tidak tahu siapa pemburu, jagal dan bebahu yang k eras hati itu. Mereka akan dapat m engalami kesulitan terutama anak yang  mempertahankan kuda lumpingnya. Anak pemburu itu meskipun nampaknya masih sebay a, tetapi ia seorang yang  ditakuti bukan saja oleh anak-anak sebay anya, bahkan anak-anak yang  lebih besar sekalipun. Bahkan anakanak yang sudah menjadi dewasa." "Anak itu mempunyai kemampuan berkelahi seperti ay ahnya " sahut kawannya. "Aku sudah mencoba memperingatkannya. Tetapi nampaknya darah muda m ereka m asih cepat menjadi panas. Tetapi disini anak-anak muda itu terjebak oleh kekuatan yang tidak akan terlawan " berkata kawannya. Tetapi ternyata keduanya ingin juga melihat apa yang  terjadi dihalaman. Meskipun melingkar lewat pintu belakang, mereka pergi juga kehalaman samping. Beberapa orang memang melihat keributan itu dari kejauhan. Namun pada umumnya mereka menjadi cemas melihat Mahisa Amping yang harus berkelahi dengan anak pemburu itu. Bukan saja anaknya yang  memiliki kekuatan lebih besar dari anak-anak seumurnya, bahkan yang  lebih besar sekalipun, anak itupun telah mendapat latihan-latihan berkelahi oleh ay ahnya yang  memang disegani oleh banyak orang. Namun Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak mencegah Mahisa Amping. Mereka membiarkan saja anak itu berkelahi dengan anak sebay anya. Demikianlah, maka sejenak kemudian anak pemburu itupun telah meloncat meny erangnya. Tangannya terayun dengan kuatnya kearah mulut Mahisa Amping. Namun pukulan itu tidak mengejutkan Mahisa Amping. Dengan tangkasnya ia meloncat m enghindar. Namun lawannya tidak melepaskannya. Iapun meloncat pula memburu. Tangannya bukan saja terayun memukul, tetapi jari-jari tangan itu justru mengembang siap menerkam wajah Mahisa Amping. Sekali lagi Mahisa Amping mengelak. Ia memang sudah memperhitungkan bahwa lawannya yang sombong dan sedang marah itu tentu akan memburunya pula. Sebenarnyalah anak itu telah meloncat memburu. Anak itu berusaha untuk menggapai kening Mahisa Amping dengan tinjunya. Tetapi Mahisa Amping tidak melepaskan kesempatan. Ju stru karena tangan lawannya siap memukulnya, bahkan kemudian tangan itu t erayun mendatar, maka lambung anak itu telah terbuka. Dengan cepat Mahisa Amping mendahuluinya. Tubuhnyapun menjadi miring. Satu kakinyt teijulur lurus kearah lambung. Yang terdengar adalah anak itu mengaduh. Tubuhnya terdorong beberapa langkah surut. Hampir saja anak itu kehilangan keseimbangan. Namun ternyata bahwa ia tetap berdiri ketika ia mengumpat kasar. Bukan hanya anak itu yang mengumpat. Tetapi ayahnya juga mengumpat. Dengan lantang ay ahnya berkata "Buat anak itu jera. Ia belum m engenalmu dan kau tidak perlu merasa belas kasihan kepadanya. " Anak pemburu itu m enggeram Wajahnya menjadi m erah. Kemarahannya seakan-akan telah membakar jantungnya. Sejenak kemudian anak itu telah m enyerang pula. Mahisa Ampingpun telah ber siap sepenuhnya, sehingga kedua orang anak yang sebay a itu berkelahi dengan sengitnya. Namun orang-orang yang  menyaksikan perkelahian itu dari kejauhan menjadi heran. Biasanya anak-anak yang  berkelahi dengan anak pemburu itu tidak akan dapat bertahan lebih dari sekejap. Tetapi anak itu mampu berkelahi untuk waktu yang  terhitung lama. Bahkan beberapa kali ia sudah mendesak anak pemburu itu sehingga berloncatan surut. Sebenarnyalah anak pemburu itu mengalami kesulitan melawan Mahisa Amping. Meskipun anak pemburu itu juga berlatih berkelahi, tetapi ia tidak mengalami latihan yang teratur dan tertib sebagaimana Mahisa Amping. Dengan demikian, maka beberapa saat kemudian, anak pemburu itu telah terdesak. Beberapa kali serangan Mahisa Amping mengenai tubuh anak pemburu itu sehingga terdorong surut. Hanya karena keras kepala dan malu sajalah anak pemburu itu m asih tetap bertahan. Namun tubuhnya telah terasa sakit dimana-mana. Serangan-serangan Mahisa Amping lebih sering mengenai tubuhnya daripada serangan-serangannya yang berhasil menembus pertahanan Mahisa Am ping. Apalagi tenaga Mahisa Amping yang  terlatih dengan baik itu lebih kuat dari lawannya meskipun tubuh lawannya itu sedikit lebih besar dari tubuh Mahisa Amping. Pemburu itu menjadi sangat gelisah. Demikian pula jagal yang perutnya besar serta bebahu padukuhan yang  disegani itu. Pemburu yang merasa anaknya tidak akan pernah dikalahkan oleh anak-anak sebay anya, memang menjadi gelisah dan bahkan kemudian menjadi marah ketika ia melihat anaknya t elah terdesak. Bahkan beberapa kali anak itu telah mengaduh kesakitan. "He, kenapa dengan kau? Kenapa tak kau pilin saja tangannya atau kakinya atau bahkan lehernya? Jika tangan atau kakinya patah itu sama sekali bukan salahmu. Saudarasaudaranya atau bahkan ayahnya tidak mau memberinya peringatan dengan siapa anak itu berhadapan. Apalagi persoalannya hanyalah sebuah kuda lumping bambu yang tidak berharga " teriak pemburu itu. Tetapi adalah diluar dugaan ketika Mahisa Amping berteriak menjawab "Jika hanya sebuah kuda lumping yang tidak berharga, kenapa ia akan merampas kuda lumpingku?” "Iblis kecil kau " bentak pemburu itu. Lalu katanya kepada anaknya "Lumpuhkan anak yang  sombong itu. Agaknya harga kuda lumping itu lebih mahal dari harga keselamatannya. " "Soalny a bukan harga kuda lumping itu " Mahisa Amping masih berteriak "tetapi ia sudah memukul aku." "Iblis itu m emang harus dihancurkan kepalanya. Ia berani menjawab kata-kataku, bahkan dengan membelalakkan matanya. " geram pemburu itu. Anaknya memang juga menjadi sangat marah. Tetapi ia sudah mengerahkan segala kemampuannya. Perkelahian itu masih sqja berlangsung ketika anak pemburu itu kemudian meny erang membabi buta. Tetapi dengan demikian Mahisa Amping nampak semakin mapan. Serangan-serangan lawannya justru menjadi semakin tidak terarah. Dalam keadaan yang demikian, maka Mahisa Amping justru m emanfaatkan keadaan dengan sebaik-baiknya. Setiap kali ia menghindari serangan lawannya, maka iapun telah membalas serangan itu dengan serangan pula. Apalagi serangan lawannya yang  membabi buta setiap kali justru telah membuka pertahanannya sendiri. Karena itu, maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin berat sebelah. Anak pemburu itu menjadi semakin terdesak dan bahkan kemudian nampak bahwa ia menjadi seolah-olah tidak berdaya sama sekali. Mahisa Amping yang marah karena tiba-tiba saja ia sudah dipukul oleh anak pemburu itu, menyerang dengan cepat dan keras. Orang-orang yang  menyaksikan perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Mereka memang berharap agar anak pemburu itu sekali-sekali dapat dikalahkan oleh anak-anak sebay anya agar ia tidak m enjadi semakin sombong. Namun merekapun menjadi gelisah dan cemas, bdhwa ay ahnya akan ikut campur pula. Jika ayahnya ikut campur, maka anak-anak muda yang datang bersama anak yang berkelahi itu, apakah kakaknya atau barangkali ay ahnya, tidak akan dapat berbuat banyak. Mereka tentu akan menjadi sa saran kemarahan pemburu itu. Bahkan jagal dan bebahu itu tentu akan ikut campur pula. Untuk beberapa saat perkelahian masih berlangsung. Namun kemudian anak pemburu itu menjadi semakin terdesak. Beberapa kali ia mengaduh kesakitan. Meskipun ia masih juga malu untuk menangis, namun rasa-rasnya ia sudah tidak sanggup lagi untuk berkelahi terus. Tetapi ayahnya masih saja berteriak "He, kenapa kau tidak dapat berbuat apa -apa menghadapi anak itu? Apakah kau sudah kehilangan keberanianmu dan kemampuanmu?" Anak itu memang masih berusaha menghentakkan tenaganya. Ia bukan saja malu, tetapi juga merasa takut bahwa ayahnya justru akan marah kepadanya. Namun ia memang tidak mampu mengimbangi tenaga dan kemampuan Mahisa Amping yang sudah terlatih dengan baik untuk waktu yang  cukup lama. Karena itu, ketika Mahisa Amping m endapat kesempatan menembus pertahanan anak pemburu itu dengan tusukan serangan kakinya mengenai dada, maka anak pemburu itu telah terdorong beberapa langkah surut. Keseimbangannya benar-benar telah terguncang. Namun ternyata Mahisa Amping yang marah karena tibatiba saja anak pemburu itu telah m emukulnya lebih dahulu, maka iapun meloncat memburunya. Tangannya terayun memperbaiki keseimbanganya itu. Namun anak itu tidak sempat melakukannya. Serangan Mahisa Amping yang  mengenai pelipis anak itu telah melemparkannya sekali lagi. Anak pemburu itupun kemudian telah jatuh terlentang. Mahisa Amping memang meloncat mendekat. Tetapi karena lawannya tidak segera bangkit, maka Mahisa Amping berdiri saja menunggu beberapa langkah disebelahnya. Anak pemburu itu memang tidak dapat segera bangkit. Kepalanya terasa pening. Sebelah matanya bagaikan tidak dapat melihat lagi. Bahkan seluruh tubuhnya terasa sakit sampai ketulang. Pemburu itu benar-benar menjadi sangat marah. Dengan tergesa -gesa ia turun kehalaman mendekati aninya yang  masih terbaring. Dengan lantang ia berkata "He, bagaimana dengan kau? Apakah kau tidak mampu memilin leher anak itu?” Anaknya tidak menjawab. Ia berusaha bangkit. Tetapi keseimbangan tubuhnya ternyata masih belum mantap. Hampir saja terjatuh kembali. Namun untunglah bahwa ay ahnya sempat memegangi bahunya. Namun kemarahan pemburu itu benar-benar menikam kemudian memandang Mahisa Pukat, Mahisa Murti dan Mahisa Semu. Dengan lantang ia berkata "He anak-anak muda. Berikan kuda lumping itu kepada anakku. Sekarang. Aku tidak mau mendengar jawaban apapun selain kuda lumping itu." "Tidak " Mahisa Ampinglah yang berteriak. “Diam kau iblis kecil" bentak pemburu itu. Lalu sekali lagi ia berteriak "Berikan kuda lumping itu. Ajari anak ini menghormati orang lain. Jika kau tidak mampu, akulah yang akan menghajarnya agar ia tidak menjadi sombong." Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu masih saja berdiri termangu-mangu. Namun yang  membuat pemburu itu semakin marah adalah karena anak yang  telah mengalahkan anaknya itu sama sekali tidak menjadi ketakutan. Ia masih saja berdiri di tempatnya. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang m enjadi cemas, bahwa pemburu itu akan berbuat sesuatu atas Mahisa Amping. Karena itu, m aka Mahisa Murtipun berkata kepada Mahisa Semu "Lindungi adikmu. Aku akan berdiri saja disini Jika pemburu itu ikut campur, kaupun harus berbuat sesuatu agar Amping tidak m enjadi sasaran kemarahan pemburu itua Aku ingin melihat, seberapa jauh kau mewarisi ilmu Padepokan Bara Seta." Mahisa Semu mengangguk kecil sambil menyahut "Baik kakang. Aku akan melindungi Amping. " Dalam pada itu, pemburu itu sudah berteriak lagi "Cepat, serahkan kuda lumping itu. Aku akan menghitung sampai lima. Jika kuda lumping itu tidak diserahkan kepada anakku maka aku akan mengambil sendiri. Akupun akan mengajari anak itu agar sedikit mengenal unggah-ungguh dan menghormati orang lain." Pemburu itu terkejut ketika ia m elihat Mahisa Semu, yang  termuda diantara ketiga orang anak muda yang datang bersama Mahisa Am ping, melangkah mendekati anak itu. Dengan mata terbelalak pemburu itu bertanya "He, apa yang akan kau lakukan? Bawa kuda lumping itu dan serahkan kepada anakku. Cepat." Tetapi Mahisa Semu menggeleng. Katanya "Tidak Ki Sanak. Kami sudah memutuskan untuk tidak meny erahkan kuda lumping itu. Seperti yang  sudah dikatakan adikku, persoalannya tidak sekedar harga kuda lumping itu. Tetapi persoalannya sudah m enyangkut harga diri. Sebagaimana Ki Sanak memaksakan kehendak Ki Sanak untuk merampas kuda lumping itu tentu juga karena harga diri Ki Sanak yang tersinggung. Bukan soal kuda lumping itu lagi." "Per setan kau. Jika demikian, aku akan memberi pelajaran serba sedikit kepada adikmu yang  sombong dan k eras k epala itu." berkata pemburu itu. Tetapi Mahisa Semu meujawab "Ia masih terlalu kecil untuk mengikuti keinginan Ki Sanak. Karena itu biarlah aku sa ja yang  mewakilinya. " Wajah pemburu itu menjadi merah padam. Jawaban Mahisa Semu itu sangat menyakitkan hatinya. Karena itu ia berteriak "He, kenapa tidak kalian bertiga mendekat kemari?" "Aku mewakili mereka" jawab Mahisa Semu. Kemarahan pemburu itu sudah tidak terkekang lagi. Dengan serta merta ia meloncat sambil mengayunkan tangannya untuk menampar mulut Mahisa Semu. Tetapi dengan tangkasny a Mahisa Semu telah m enghindar, sehingga tangan itu tidak meny entuh sa saran. Mahisa Semu yang bergeser selangkah surut. Kemudian telah menarik Mahisa Amping sambil berkata : “ Minggirlah kau dipanggil kakang” Mahisa Amping m emang bergeser m enepi. Tetapi ia tidak segera mendapatkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ia masih saja termangu-mangu menyaksikan Mahisa Semu yang sudah bersiap kembali menghadapi segala kemungkinan. Pemburu itu benar-benar merasa direndahkan. Karena itu, maka jantungnya serasa akan terlepas dari tangkainya. Ia tidak berpikir terlalu panjang lagi. Ia harus segera m enghancurkan anak yang masih terlalu muda, tetapi sangat sombong itu. Dengan demikian maka pemburu itupun segera meny erang Mahisa Semu. Tangannya terayun-ay un dengan derasnya mengarah ke kening Mahisa Semu. Namun seperti sebelumnya, Mahisa Semupun telah berloncatan menghindar. Tetapi pemburu yang  marah itu sama sekali tidak melepaskan lawannya. Dengan garang ia memburunya. Tetapi Mahisa Semu justru bergerak lebih cepat. Ia bukan sa ja menghindari serangan-serangan pemburu itu, tetapi dengan tiba- tiba Mahisa Semupun telah meny erangnya pula, justru diluar perhitungan lawannya. Karena itu, maka Mahisa Semu justru berhasil m enembus pertahanan pemburu itu. Tangannya yang terayun mendatar sempat mengenai pundak lawannya. Pemburu itu m emang terkejut. Ternyata tenaga anak yang  masih terlalu muda itu telah menggoy ahkan tubuhnya. Ketika pundaknya terdorong serangan Mahisa Semu, maka pemburu itu telah bergeser setapak surut. Pemburu itu mengumpat kasar. Ia tidak mengira bahwa lawannya bukan ssaja tangkas dan mampu bergerak cepat. Tetapi anak itu juga memiliki tenaga yang sangat besar. Sebagai seorang yang  sangat disegani oleh orang-orang diseputarnya, maka pemburu itu tidak ingin t erlalu lama berkelahi melawan anak yang  masih terlalu muda. Karena itu, maka pemburu itupun telah menghentakkan kekuatan dan kemampuannya untuk dengan cepat menghentikan perlawanan Mahisa Semu. Tetapi ternyata perhitungan pemburu itu keliru. Mahisa Semu tidak dapat dengan mudah dikalahkannya. Bahkan dengan tangkasny a anak itu telah menyerangnya. Kemarahan pemburu itu telah membuat darahnya mendidih. Tetapi ia tidak dapat menghindari kenyataan. Anak itu tidak mudah dikalahkannya. Bukan saja kecepatannya yang mampu mengimbangi kekuatan pemburu itu. Dengan demikian maka perkelahian itu menjadi semakin sengit. Mahisa Semu yang nampaknya masih terlalu muda itu dengan tangkas, cepat dan kuat, bertempur melawan pemburu yang marah itu. Pemburu yang namanya disegani oleh banyak orang karena kemampuannya yang  tinggi. Tetapi menghadapi Mahisa Semu, maka pemburu itu telah mengalami kesulitan. Mahisa Semu setiap kali mampu m engejutkannya dengan serangan-serangannya yang tidak terduga-duga. Apalagi jika terjadi benturan kekuatan, maka pemburu itu selalu terdorong satu dua langkah surut. Namun pemburu itu m asih belum percaya atas keny ataan yang dihadapinya itu. Karena itu, maka ia masih berusaha mengerahkan kekuatan dan kemampuannya. Anak yang  masih terlalu muda itu harus dapat ditundukkannya. Dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Keduanya saling meny erang dan saling bertahan. Meskipun pemburu itu memiliki kekuatan kewadagan yang terhitung besar, namun dengan beralaskan tenaga dalamnya, maka kekuatan Mahisa Semu mampu mengimbanginya, ju stru melampauinya, sehingga pemburu itu selalu saja terdesak di setiap benturan yang  terjadi. Bahkan serangan-serangan Mahisa Semua semakin lama semakin sering berhasil m enembus pertahanan pemburu itu. Dengan kecepatan gerak yang  sulit diimbangi oleh pemburu itu, maka Mahisa Semu memang lebih banyak dapat mengenai sa sarannya. Semakin lama, maka pemburu itu menjadi semakin terdesak. Serangan-serangan Mahisa Semu benar-benar telah menggoy ahkan pertahanannya. Bahkan beberapa kali pemburu yang  disegani itu dapat digoy ahkan oleh Mahisa Semu yang muda itu. Jagal dan bebahu yang  bersamanya itu termangu-mangu sejenak. Mereka menyadari bahwa pemburu itu sudah semakin terdesak. Bahkan rasa -rasanya sudah sulit untuk tetap bertahan. Namun keduanya menjadi berdebar-debar ketika m ereka melihat kedua orang anak muda yang lain melangkah mendekati arena. Anak muda yang  umurnya lebih tua dan agaknya kemampuannyapun lebih tinggi. Sebenarnyalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang  melihat kegelisahan jagal dan bebahu itu menduga bahwa mereka akan dapat ikut campur dalam perkelahian antara Mahisa Semu dan pemburu yang semakin berat sebelah itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih sempat mengangguk hormat kepada jagal dan bebahu yang menjadi gelisah itu, kemudian dengan tenangnya Mahisa Murti berdiri disebelah jagal yang gelisah itu, sementara Mahisa Pukat berdiri di sisi bebahu yang  menjadi semakin tegang melihat perkelahian itu. Sementara itu, tanpa ada yang  mengisy aratkan Mahisa Amping justru melangkah mendekati anak pemburu yang menjadi ketakutan melihat keadaan yang  tidak menguntungkannya itu. Sebelumnya ia tidak pernah mengalami hal seperti itu. Biasanya ia selalu memenangkan perkelahian Jika ada anak-anak yang  terlalu besar untuk dilawannya, maka ia selalu berlindung dibawah pengaruh ay ahnya. Tetapi saat itu, ay ahnya menjadi tidak berday a. Anak muda yang berkelahi melawan ayahnya itu bukan saja tidak takut, tetapi ia justru dapat mendesak ay ahnya sehingga ayahnya mengalami kesulitan. Sebenarnyalah pemburu itu menjadi semakin terdesak Beberapa kali serangan Mahisa Semu telah menggoy ahkan keseimbangannya. Bukan saja wajahnya menjadi m erah biru, tetapi tulang-tulangnya pun serasa berpatahan. Dalam keadaan yang paling sulit, maka pemburu itu berteriak "He, kenapa kalian diam saja membeku. Hancurkan anak-anak muda yang sombong itu." Jagal dan bebahu yang berdiri disebelah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu termangu -mangu. Namun dalam pada itu Mahisa Murtipun berkata "Ki Sanak. Sebaiknya kita tidak usah ikut cam pur. Persoalannya sebenarnya adalah per soalan antara anak-anak saja. Aku terbiasa membiarkan anak-anak berusaha meny elesaikan persoalan mereka. Biasanya aku menganjurkan agar m ereka meny elesaikan persoalan mereka tidak dengan kekerasan. Tetapi jika kekerasan itu tidak dapat dihindari, maka akupun minta anak-anak itu menyelesaikannya sendiri. Hanya dalam keadaan yang  sangat penting aku mencampuri persoalan mereka apabila keadaannya akan sangat membahayakan kedua belah pihak." Jagal dan bebahu itu menjadi sangat gelisah. Keringat mengalir diseluruh tubuh mereka. Punggung mereka menjadi basah, seolah-olah mereka baru saja selesai berendam didalam air. Namun dalam pada itu pemburu itu berteriak lagi ketika ia terdorong beberapa langkah surut "He pengecut. Kenapa kalian berdiam diri saja. Lumpuhkan anak-anak muda itu. Kemudian kalian harus ikut meny elesaikan anak iblis ini." Namun Mahisa Pukatlah yang menyahut "Sudahlah Ki Sanak. Kenapa Ki Sanak memaksakan diri untuk berkelahi terus. Kedua orang kawan Ki Sanak ini tidak akan turun ke arena perkelahian itu. Apapun alasannya, sebaiknya mereka tidak u sah ikut campur. " Pemburu itu masih akan berteriak, tetapi Mahisa Semu mendesaknya sehingga suaranya justru terputus dikerongkongan. Sementara itu Mahisa Pukat berkata kepada bebahu disebelahnya sambil m emegang pundaknya "Disini sajalah Ki Sanak. Kita tidak ikut campur." Bebahu itu terkejut. Tangan Mahisa Pukat rasa-rasanya akan memecahkan tulang dipundaknya. Namun dengan demikian, maka bebahu itu sadar sepenuhnya bahwa anak muda itu adalah anak muda yang memiliki kelebihan dari orang lain. Jari-jari anak m uda itu seperti batang-batang besi yang menjepit tulang-tulangnya, sementara anak muda itu nampaknya sama sekali tidak mempergunakan kekuatannya. Karena itu, maka bebahu itu sama sekali tidak berani berbuat sesuatu. Betapapun segannya bebahu itu terhadap pemburu yang  sedang berkelahi itu, namun ia harus membuat pertimbangan berulang kali untuk terjun kedalam perkelahian karena persoalan anak-anak itu. Berbeda dengan bebahu yang menyadari akan kekuatan Mahisa Pukat, maka jagal yang perutnya besar itu benar-benar menjadi sangat b imbang. Ia m emang sudah m enduga bahwa kedua anak muda yang berdiri disebelahnya itu berilmu tinggi. Tetapi iapun merasa sangat segan kepada pemburu yang sedang berkelahi itu. Namun dalam pada itu, maka Mahisa Murti telah melingkarkan tangannya dipunggung jagal yang  berperut besar itu. Dengan nada lembut Mahisa Murti berkata "Jangan dengarkan kicau pemburu yang  dungu itu. Sebaiknya kita memang tidak ikut campur." Jagal itu tidak menjawab. Tetapi dengan serta merta ia mengibaskan tangan Mahisa Murti. Bahkan jagal itu sudah siap untuk turun ke arena. Tetapi ia merasa tubuhnya agak lain dari biasanya. Ada sesuatu yang  kurang pada dirinya sehingga ia harus m encoba untuk menemukan, apakah yang  lain pada dirinya itu. Baru ketika ia melangkah, maka ia merasakan kakinya menjadi berat. Tangannyapun serasa tidak seperti biasanya. Baru kemudian jagal itu tahu bahwa tenaganya telah menyusut. Meskipun jagal itu masih mampu bergerak dan tegak pada keseimbangannya, tetapi rasa-rasanya ia tidak sanggup untuk berkelahi. Bahkan dengan anak-anak sekalipun. Karena itu, maka ketika kemudian pemburu itu berteriak lagi, jagal itu sama sekali tidak berbuat apa -apa. Demikian pula bebahu itu. Keduanya berdiri saja termangu -mangu ditempatnya. Dengan demikian maka keadaan pemburu itu menjadi semakin sulit. Bahkan ketika kaki Mahisa Semu berhasil mengenai dadanya, maka pemburu itupun telah terdor ong beberapa langkah surut. Hampir saja ia kehilangan keseimbangannya dan jatuh terbanting. Namun dengan susah pay ah, ia berhasil bertahan untuk tetap berdiri meskipun kakinya menjadi goy ah. Mahisa Semu yang  melihat keadaan lawannya tidak memburunya. Sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sudah mempengaruhi sikapnya pula, sehingga ia tidak t erlalu bernafsu untuk menghancurkan lawannya. Termasuk menghancurkan harga dirinya. Karena itu, maka ketika lawannya sedang dalam kesulitan, Mahisa Semu seakan-akan dengan sengaja memberinya kesempatan untuk memperbaiki keadaannya. Bahkan Mahisa Semupun kemudian berkata "Ki Sanak, apakah kita m asih akan m eneruskan persoalan kuda lumping ini? Sebenarnya aku tidak tertarik untuk menyelesaikan persoalan ini dengan cara yang  tidak manis ini. Karena itu, segala sesuatunya tergantung kepada Ki Sanak. Jika kau masih berniat untuk meneruskan perkelahian yang  tidak karuan ujung pangkalnya iui, maka akupun tidak berkeberatan. Tetapi jika Ki Sanak menganggap bahwa persoalan kita sudah selesai, maka aku akan berterima kasih.” Pemburu itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan sikap yang  garang ia berteriak "Aku ampuni kau kali ini. Tetapi ingat, jika kau atau anak itu pada k esempatan lain tidak mau Menghormati orang lain, m aka aku akan benarbenar menghukummu dan menghukumnya. " Mahisa Semu tidak menjawab. Namun kemudian pemburu itu melangkah pergi sambil menggapai anaknya yang kebingungan tanpa berpaling lagi. Juga tidak kepada kedua orang kawannya yang datang bersamanya. "Apakah kau akan mengikutinya ?" bertanya Mahisa Pukat kepada bebahu itu. Bebahu itu menggeleng. Katanya "Tidak. Tetapi aku tahu bahwa orang itu akan marah kepadaku.” "Apakah kira-kira ia akan melakukan kekerasan terhadapmu dan kawanmu itu ?" bertanya Mahisa Murti. “Agaknya tidak. Bany ak orang menyaksikan apa yang  terjadi disini. Ia tidak dapat menyalahkan aku meskipun barangkali ia akan mengumpati aku." jawab bebahu itu. Namun kemudian Mahisa Murtipun berkata kepada jagal yang perutnya besar itu "Maaf. Aku telah menyusut tenagamu. Tetapi tidak seberapa. Tidak sampai tengah malam nanti, tenagamu tentu sudah pulih kembali. Yang aku lakukan hanya sekedar mencegah agar kau tidak melibatkan diri dalam perkelahian ini. Karena jika hal itu kaulakukan maka keadaanmu akan menjadi semakin sulit." Jagal itu menjadi heran. Dengan wajah yang  tegang ia bertanya "Bagaimana hal itu dapat terjadi ?" "Mungkin kau tidak akan dapat mengerti. Tetapi jangan menjadi cemas. Seandainya senja nanti kau harus m elakukan tugasmu, maka sisa tenagamu masih cukup kuat untuk melakukannya karena setiap kejap, tenagamu yang susut perlahan-lahan akan tumbuh." Orang itu memang masih agak bingung. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh meskipun jantungnya terasa berdebardebar. Ia memang cemas, bahwa tenaganya tidak akan pernah pulih kembali. Tetapi Mahisa Murti kemudian berhasil meyakinkan, bahwa besok jagal itu tidak akan terganggu lagi dengan peristiwa yang terjadi itu. "Percay alah. Malam nanti, segala-galanya sudah berlalu bagimu. Jika kau besok bangun pagi-pagi, m aka kau adalah sebagaimana kau bangun tadi pagi." Jagal itu mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah anak-anak muda. Mudah-mudahan aku tidak menjadi seorang yang cacat seumur hidupku. Dalam keadaan seperti sekarang, aku tidak akan dapat melakukan pekerjaanku sebagai seorang jagal, karena pekerjaanku memerlukan tenagaku." Mahisa Murti menepuk bahunya sambil berkata "Aku tidak berbohong. Jika kau tidak berkeberatan, katakan di mana rumahmu. Besok aku akan datang menengokmu." Ternyata jagal itu memang tidak berkeberatan. Ia telah memberikan ancar-ancar rumahnya. Demikianlah maka Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Mahisa Amping kembali masuk ke dalam kedai. Orang-orang yang berkerumun tanpa berani mendekatpun telah pergi pula. Ketika Mahisa Murti dan saudara-saudaranya telah duduk kembali sambil meneguk minuman mereka yang tersisa, maka orang yang sejak sebelum terjadi keributan duduk didekat Mahisa Pukat itu telah duduk pula ditempatnya. "Aku tidak mengira bahwa ada orang yang  dapat mengalahkan Ki Permati itu." berkata orang itu. "Orang itu sebelumnya amat ditakuti" desis kawannya. Lalu kepada Mahisa Pukat ia berkata "Bagaimana adikmu dapat mengalahkan orang itu ngger?" "Hanya suatu kebetulan Ki Sanak. Tetapi seandainya demikian, bukankah itu wajar. Adikku masih muda. Umurnya adalah umur yang memungkinkannya berada dalam puncak kekuatan dan kemampuan. Sementara itu Ki Permati itu meskipun garang, tetapi umurnya sudah menua. Ibarat matahari kemampuannya sudah melampaui puncaknya dan mulai meluncur turun di sisi barat." "Tidak ada tanda-tanda seperti itu sebelumnya" berkata orang itu. "Bukankah yang  kau lihat itu juga satu pertanda kemundurannya?" bertanya Mahisa Pukat. Tetapi orang itu menggeleng. Katanya "Tidak. Bukan itu. Tetapi anak muda itulah yang memiliki kelebihan dari pemburu itu. Jelasnya, pemburu itu memang dapat dikalahkannya." "Seperti sudah aku katakan Ki Sanak. Hanya satu kebetulan sa ja. tidak lebih." Tetapi orang itu menyahut "Kalian memang anak-anak muda yang rendah hati. Itu dapat kami lihat bukan saja sikap kalian sebelum terjadi perkelahian itu. Sikap anak muda yang bertempur melawan Ki Permati itu juga sikap seorang yang rendah diri. Meskipun ia memenangkan perkelahian itu, tetapi ia masih menghormati lawannya dan memberi kesempatan lawannya meninggalkan arena tanpa menghancurkan harga dirinya." "Itu bukan apa -apa Ki Sanak" berkata Mahisa Pukat "bukan sikap rendah hati. Tetapi anak itu juga sudah m erasa letih berkelahi melawan Ki Permati." "Nah, bukankah jawaban angger ini semakin meyakinkan aku? Tetapi baiklah. Aku tidak akan memuji lagi." Mahisa Pukat tidak menjawab lagi. Mahisa Amping justru menundukkan kepalanya saja. Sementara Mahisa Semu bahkan seolah-olah tidak mendengar pembicaraan itu. Diteguk ny a minumannya sampai titik air yang  terakhir. "Kau minum lagi?" Bertanya Mahisa Murti. Mahisa Semu menggeleng. Katanya "Sudah cukup” Sementara itu pemilik kedai itupun telah mendekat pula sambil berkata "Peristiwa ini akan sangat berpengaruh atas tingkah lakunya. Selama ini memang belum pernah ada orang yang b erani dan dapat mengalahkannya. Kekalahan pemburu itu akan membuka mata orang banyak dan mata pemburu itu, bahwa ternyata ada orang lain, justru anak yang  masih t erlalu muda, memiliki kemampuan lebih dari kemampuannya. " Mahisa Murti dan saudara-saudaranya hanya ter senyum sa ja. Ketika kemudian m ereka selesai m inum dan makan, m aka pemilik kedai itu semula menolak untuk menerima uang pembayarannya. Namun Mahisa Murtipun berkata "Ki Sanak, jangan kecewakan kami. Jika Ki Sanak menolak, maka itu berarti hubungan kita akan terputus hari ini. Kami tentu tidak akan pernah datang lagi kekedai ini m eskipun kami pergi ke pasar." Pemilik kedai itu akhirnya terpaksa menerima uang untuk membayar m akanan dan m inuman yang  telah diminum dan dimakan oleh Mahisa Murti dan saudara-saudaranya. "Kami selalu mengharap kalian datang" berkata pemilik kedai itu "seandainya kalian tidak lagi ke pasar, pergi sealah ke kedai ini. Kami akan menerima kalian dengan senang hati. Tentu orang-orang di sekitar pasar itupun akan merasa senang pula." "Terima kasih " sahut Mahisa Pukat "kami akan selalu singgah jika kami pergi ke pasar atau lewat jalan ini." "Jangan menunggu kalau kalian pergi ke pasar atau sedang lewat jalan ini. Kalian dapat secara khusus pergi kemari " berkata pemilik kedai itu. Mahisa Pukat tertawa. Demikian pula Mahisa Murti. Namun m erekapun kemudian telah m inta diri m eninggalkan kedaiitu. Ternyata yang terjadi merupakan satu pengalaman yang  menarik. Menarik bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, tetapi lebih menarik bagi Mahisa Amping dan Mahisa Semu. Dengan pengalaman itu maka Mahisa Semu sempat menjajagi kemampuannya. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat menilai, sejauh mana Mahisa Semu meny erap ilmu yang diberikan kepadanya. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga sempat melihat, apa yang dapat dilakukan oleh Mahisa Amping. Di perjalanan pulang Mahisa Amping sempat bertanya kepada Mahisa Pukat "Kakang, apakah dikota ini anak-anak boleh mengambil m ilik orang lain dengan kekerasan a sal ia menang berkelahi sehingga dengan demikian maka seorang yang lemah tidak akan mempunyai kesempatan untuk bermain apapun juga?" "Tidak Amping " jawab Mahisa Pukat "di kota inipun seseorang yang lemah berhak m endapat perlindungan. Tetapi kadang-kadang tingkah laku seseorang lepa s dari pengamatan para petugas yang berkewajiban untuk menjaga ketertiban termasuk melindungi mereka yang  lemah dari perbuatan sewenang-wenang. " "Tetapi agaknya anak itu sudah berbuat seperti itu untuk waktu yang lama" berkata Mahisa Amping. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ternyata penglihatan Mahisa Amping yang masih remaja itu cukup tajam. Dengan nada rendah Mahisa Pukat menjawab "Agaknya ia mempunyai pengaruh yang  kuat atas lingkungannya, sehingga tidak seorangpun yang  berani melaporkannya kepada para petugas." "Justru satu peluang yang  baik bagi orang-orang seperti pemburu itu. Tetapi bagaimana dengan bebahu itu? Agaknya ia justru berpihak kepada pemburu dengan segala Wewenangwenangannya " berkata Mahisa Amping pula. "Itulah yang  dapat terjadi" jawab Mahisa Pukat "bukankah kau ingin mengatakan bahwa bebahu termasuk seorang petugas yang seharusnya melindungi orang yang  lemah?" "Ya " jawab Mahisa Amping "seandainya aku tidak m ampu mempertahankan milikku dan harga diriku, m aka bebahu itu harus melindungi aku." "Ada beberapa sebab" jawab Mahisa Pukat "mungkin bebahu itu takut terhadap pemburu yang nampaknya memiliki kekuatan yang besar dan bahkan kemampuan yang cukup." Mahisa Amping termangu-mangu. Ia menunggu kelanjutan jawaban Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Pukat tidak segera berkata apapun lagi. Karena itu, maka Mahisa Ampingpun bertanya "Apakah kakang sudah selesai berbicara? Kakang menyebutkan ada beberapa sebab. Tetapi kakang baru mengatakan satu saja." Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata "Memang ada sebab yang  lain, Amping." “Misalnya?" termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata meskipun agak ragu "Jika saja bebahu itu sudah berhutang budi kepada pemburu itu." "Hutang budi? Maksud kakang?" desak Mahisa Amping. Mahisa Pukat memang tidak akan dapat mengelak lagi. Mahisa Amping tentu akan selalu m engejarnya sampai ia memberikan jawaban yang  memuaskan kepadanya. Sementara itu Mahisa Murti hanya tersenyum saja. "Mahisa Amping" berkata Mahisa Pukat "memang mungkin bebahu itu berhutang budi kepada pemburu itu. Misalnya, pemburu itu sudah pernah menolong bebahu itu. Atau pernah memberikan sesuatu yang  berarti kepada bebahu itu. Namun tiba-tiba saja Mahisa Amping menyahut "Menyuap, begitu maksud kakang?" Mahisa Pukat m enarik nafas panjang. Tetapi ia m enjawab "Tidak selalu. Menyuap adalah pemberian dengan tujuan tertentu dalam per soalan tertentu. Tetapi mungkin pemburu itu pernah memberikan sesuatu tanpa bermaksud mempengaruhi bebahu itu dalam satu persoalan tertentu.” "Tetapi jika dengan pemberian-pemberian itu maka bebahu itu tidak lagi melakukan tugasnya dengan wajar, maka itupun dapat diartikan suapan." Mahisa Pukat termangu -mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Sudahlah. Kita sudah hampir sampai direg ol samping halaman istana. " Mahisa Amping tidak bertanya lagi. Tetapi iapun kemudian beralan paling depan. Mahisa Semu memang tidak berkata sesuatu. Tetapi ia mendengarkan dan ikut memperhatikan pembicaraan tentang bebahu itu. Sebenarnyalah ia sependapat dengan Mahisa Amping. Bahwa bebahu itu ternyata tidak lagi melakukan tugasnya dengan wajar. Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka telah sampai keistana. Mereka langsung menuju kebagian belakang. Mahendra yang ada dirumah menyambut mereka di tangga pendapa rumah yang disediakan baginya. Sambil tersenyum ia bertanya kepada Mahisa Amping "Apa yang  telah kau lihat?" Mahisa Amping memandang Mahisa Pukat dengan ragu Namun Mahisa Murtilah yang menjawab "Kami m elihat-lihat pasar ayah." "O" Mahendra mengangguk-angguk. Katanya "Marilah naik." diatas tikar pandan yang sudah terbentang. Angin terasa semilir bertiup melintasi pendapat kecil itu. Ketika kemudian Mahendra duduk pula diantara anakanaknya maka Mahisa Ampingpun segera berceritera tentang peristiwa yang terjadi di sebuah pa sar itu. "O" Mahendra mengangguk-angguk. Dengan nada tinggi ia bertanya "jadi kau baru saja berkelahi?” "Ya. Dan kakang Mahisa Semu juga" jawab Mahisa Amping. Mahendra mengangguk-angguk. Dari ceritera Mahisa Amping, Mahendra m endapat kesan, bahwa Mahisa Amping menganggap orang orang di Kotanya itu bertingkah laku buruk sebagaimana orang-orang yang  diceriterakan itu. "Amping" berkata Mahendra sambil ter senyum "tidak semua orang di Kotaraja ini berkelakuan buruk." "Tentu " jawab Mahisa Amping "tetapi aku kira kebanyakan mereka berkelakuan aneh menurut pendapat ku. Mereka terlalu mementingkan diri sendiri. Anak pemburu itu tentu tidak hanya sendiri. Tentu banyak anak di Kotaraja ini yang berwatak seperti anak itu. Mereka sama sekali tidak menghargai orang lain." Mahendra tertawa. Katanya "Nanti atau besok atau kapan soja sebelum kau kembali ke padepokan, kau tentu akan melihat bahwa tidak banyak anak yang nakal seperti itu. Meskipun kehidupan di Kotaraja ini membentuk lingkungan yangberbeda dengan kehidupan di padepokan sebagaimana kehidupan di padepokan tidak sama dengan kehidupan & padukuhan-padukuhan, tetapi di Kotaraa mi masih banyak juga orang yang  baik, orang yang  menghargai orang lain dan bahkan selalu menolong orang lain yang  dalam kesulitan." Mahisa Amping mengerutkan dahinya. Namun Mahendrapun kemudian berkata selanjutnya "Tetapi karena di Kotaraja ini diwarnai dengan kehidupan yang sibuk, maka kadang-kadang seseorang tidak banyak mempunyai kesempatan untuk memperhatikan orang lain. Namun bukan pada dasarnya orang itu terlalu mementingkan diri sendiri” Mahisa Amping tidak m enjawab. Ia tidak begitu m engerti arti dari keterangan Mahendra. Namun serba sedikit ia dapat merasakannya, sehingga karena itu, maka ia justru mencoba Hari itu, selagi Mahisa Pukat masih belum bertugas di Ka satrian maka disore hari ia mengajak Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping untuk berjalan-jalan lagi. Mereka menelusuri jalan-jalan di Kotaraja yang ramai. Namun mereka tidak singgah dan tidak pula mengunjungi siapapun. Di hari berikutnya, maka Mahisa Pukat sudah harus bertugas lagi di Kasatrian. Karena itu, maka ia harus meninggalkan Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Tetapi karena Mahisa Murti juga sudah mengenali Kotaraja itu dengan baik, maka tanpa Mahisa Pukat ia dapat mengajak Mahisa Semu dan Mahisa Amping melihat-lihat keadaan Kotaraja yang belum dilihat sebelumnya. "Jika saatnya kalian kembali ke padepokan, aku harap kau memberitahukan kepadaku di kasatrian" berkata Mahisa Pukat kepada Mahisa Murti. Mahisa Murtipun mengangguk sambil menjawab "Baiklah. Aku kira aku tidak dapat terlalu lama di Kotaraja. Dua atau tiga hari lagi aku akan m inta diri. Tetapi akupun ingin minta diri pula kepada Pangeran Kuda Pratama. " "Pangeran Kuda Pratama tentu akan merasa sangat senang jika kalian singgah sebelum kalian m eninggalkan Kotaraja." berkata Mahisa Pukat kemudian.


Jilid 111
SETELAH minta diri pula kepada ayahnya, maka Mahisa Pukatpun telah meinggalkan rumah itu untuk pergi ke Ka satrian karena ia harus sudah mulai lagi dengan tugasnya di Ka satrian. Di Kasatrian ia kemudian akan bekerja sama dengan mPu Sidikara yang menggantikan kedudukan saudara seperguruannya mPu kamenjangan. Ketika kemudian Mahisa Pukat kembali berhadapan dengan bangsawan-bangsawan muda di Ka satrian, maka iapun teringat kepada Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Seorang anak muda yang  tangkas dan cerdas. Meskipun Mahisa Semu dan Mahisa Amping adalah anak-anak yang diketemukannya diperjalanan, namun ternyata mereka dapat menjadi tumpuan harapan masa depan. Mahisa Pukatpun teringat, bagaimana ia bersama Mahisa Murti mengembara untuk menemukan satu dua orang yang pantas untuk mewarisi dan kemudian m engembangkan ilmu mereka, sehingga diperjalanan mereka menemukan Mahisa Semu, Mahisa Amping dan Wantilan yang justru sudah lebih tua daripadanya. "Sekarang aku berada diantara anak-anak muda dan remaja yang memiliki kesempatan t erbaik di Singasari" berkata Mahisa Pukat kepada diri sendiri. Tetapi Mahisa Pukat belum dapat m emutuskan apakah ia akan menunjuk satu dua orang yang akan dicarinya secara khusus atau tidak. Namun setiap kali ia melihat dua orang bangsawan yang  masih remaja yang  sejak pertama menjadi asuhannya, m aka keinginan itu selalu m enggelitiknya, karena kedua orang remaja itu menurut pendapat Mahisa Pukat memiliki landasan pribadi dan kewadagan yang memungkinkan. Meskipun demikian, Mahisa Pukat masih belum dapat menentukan apakah ia akan melakukannya atau tidak. Dalam pada itu, setelah Mahisa Pukat kembali ke Kasatrian, maka Mahisa Murti sendirilah yang mengajak Mahisa Semu dan Mahisa Amping berjalan-jalan dihari berikutnya. Mereka melihat bagian Kotaraja yang belum mereka lihat sebelumnya. Adalah diluar kehendak Mahisa Murti ketika tiba-tiba saja ia bertemu dengan Sasi yang sedang pergi berbelanja ke pasar. Kedua-duanya memang terkejut. Dengan serta-merta Sasi yang ada diseberang jalan berlari -lari mendekati Mahisa Murti sambil menyapanya "Kakang Mahisa Murti. Kapan kau datang?” Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat wajah gadis itu, m aka jantungnya menjadi berdebardebar. Bagaimanapun juga wajah gadis itu pernah terukir didinding jantungnya. Hanya dengan kekuatan yang  luar biasa, maka Mahisa Murti mampu mengendalikan dirinya. Dengan denyut nadi yang  bertambah cepat Mahisa Murtipun kemudian menjawab "Aku datang tiga hari yang lalu, Sasi.” "Kenapa kau tidak singgah?" desak Sasi. "Aku masih belum akan segera kembali ke padepokan Sasi. Besok atau lusa aku akan singgah. Aku sedang menunggu kesempatan Mahisa Pukat dapat meninggalkan tugasnya barang sebentar. " “Kauberjanji?” bertanya Sasi. Mahisa Murti mengangguk. Katanya "Ya. Aku berjanji, Sasi”. "Aku juga menunggu kakang Mahisa Pukat yang sudah beberapa lama tidak berkunjung ke rumah. Datanglah kalian berdua." minta Sasi. "Ya, ya, Sasi. Aku akan singgah sebelum aku meninggalkan Kotaraja. " jawab Mahisa Murti. Sasi tersenyum. Kecantikan seakan-akan mekar bersama senyumnya yang  jernih. Dipandanginya Mahisa Semu dan Mahisa Amping berganti-ganti. "Siapakah mereka ?" bertanya Sasi. "Keduanya adalah adikku " jawab Mahisa Murti. "O. Jadi juga adik kakang Mahisa Pukat?" bertanya Sasi. "Ya " jawab Mahisa Murti. "Ajak mereka datang ke rumah" berkata Sasi yang  kemudian m endekati Mahisa Amping. Sambil m enepuk bahu anak itu, Sasi berkata "Ikut bersama kakak-kakakmu. Kalian harus berkunjung ke rumahku ". Mahisa Amping tersenyum. Tetapi kepalanya justru menunduk. “Kau dari mana Sasi?" bertanya mahisa Murti kemudian. “Belanja. Ibu tidak dapat pergi berbelanja. Akulah jadinya yang pergi," jawab Sasi. Namun kemudian katanya "Baiklah. Aku pulang dahulu. Ibu m enunggu aku. Tetapi kau dan adikadikmu benar-benar harus singgah di rumahku”. "Baik, baik, Sasi." jawab Mahisa Murti. Sejenak kemudian, maka Sasipun melanjutkan langkahnya Sekali ia berpaling sambil tersenyum. Dilambaikannya tangannya kepada Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin mengendapkan hatinya yang bergejolak. Namun kemudian Mahisa Murti berhasil menemukan kesadarannya kembali. Ia sudah bertekad untuk melupakan Sasi. Bahkan Mahisa Murti tidak ingin bertemu dengan gadis itu lagi. Tetapi tiba -tiba saja ia telah berhadapan lagi dengan Sasi. Namun justru karena itu, Mahisa Murtipun telah berusaha untuk tetap teguh pada sikapnya, karena j ika tidak demikian, maka akibatnya akan menjadi sangat buruk baginya dan bagi Mahisa Pukat. Ketika mereka kemudian meninggalkan tempat itu, Mahisa Amping sempat bertanya "Siapakah orang itu?” MaHisa Murti mencoba untuk tersenyum. Kemudian jawabnya "Orang itu adalah kawan kakakmu Mahisa Pukat. "Tentu juga kawan kakang Mahisa Murti" sahut Mahisa Semu. Mahisa Murti mengangguk kecil sambil menjawab pendek "Ya.” Kedua adik Mahisa Murti itu tidak bertanya lagi. Mereka pengikut saja Mahisa Murti yang berjalan menelusuri jalanjalan di Kotaraja. "Bukankah jalan ini menuju ke pasar?" bertanya Mahisa Amping tiba-tiba "kemarin kita juga berjalan lewat jalan ini.” "O" Mahisa Murti baru tersadar dari lamunannya. Dengan serta merta ia m enjawab "Ya. Tetapi kita tidak akan pergi ke pasar. Kita akan berbelok di simpang tiga itu.” "Apa salahnya kita lewat jalan di depan pasar itu?" bertanya Mahisa Amping. Mahisa Murti mengerutkan dahinya. Namun Mahisa Semulah yang  tersenyum sambil menjawab "Kau akan singgah di kedai itu lagi?" “Tidak. Aku tidak haus dan tidak lapar”. Mahisa Murtipun tersenyum pula. Tetapi ia menggeleng. Katanya "tidak. Aku tidak haus dan tidak lapar”. Mahisa Murtipun tersenyum. Katanya "Kita akan singgah di kedai yang  lain. Jika pemburu itu ada disitu pula, maka kita akan dapat terganggu lagi”. "Kita justru menunjukkan bahwa kita tidak takut terganggu. Bahkan apapun yang  akan mereka lakukan." sahut Mahisa Amping. Tetapi Mahisa Murti menggeleng sambil berdesis "Jangan Amping. Kita tidak dapat berbuat seperti itu. Seakan-akan kita sengaja memancing persoalan. Meskipun kita berdiri dipihak yang benar, tetapi jika saja per soalan yang  dapat menimbulkan per selisihan itu dapat dihindari, maka sebaiknya kita menghindar. Tentu sajajika tidak harus mengorbankan keyakinan dan harga diri. Karena apapun alasannya, perselisihan bukan satu peri stiwa yang  patut dibanggakan”. "Musuh tidak dicari. Tetapi jika bertemu?” "Karena itu, lebih baik tidak bertemu bukan?" bertanya Mahisa Murti. Mahisa Am ping mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berdesis "Ya. Memang lebih baik tidak bertemu.” Mahisa Semupun tersenyum. Tetapi ia tidak berkata apaapa. Demikianlah, maka merekapun telah mengambil jalan yang  lain, sehingga mereka memang tidak menuju ke pasar. Tetapi mereka memang tidak t erlalu lama berputar-putar di Kotaraja. Mereka sempat singgah disebuah kedai untuk sekedar minum dan makan beberapa jeni s makanan yang  sulit dicari di padepokan. Kemudian merekapun telah meninggalkan kedai itu dan pulang kerumah Mahendra dibagian belakang istana Singasari. Ketika kemudian Mahisa Semu dan Mahisa Amping beristirahat dibawah sebatang pohon sawo kecil disaat udara terasa panas, m aka Mahisa Murtipun duduk pula bersandar batangnya yang  sudah cukup besar. Angin bertiup lembut mengusap wajahnya yang sedang merenung. Sementara Mahisa Semu dan Mahisa Amping bermain macanan dengan daun sawo kecik dan kerikil, maka Mahisa Murti telah merenungi dirinya sendiri. Ju stru karena ia telah bertemu dengan Sasi, maka seandainya ia tidak singgah, maka rasa-rasanya kurang mapan. Sasi akan dapat berprasangka kurang baik tentang dirinya. Mungkin Sasi m enganggapnya sombong, atau marah atau perasaan lain yang  sekedar diduga-duganya saja. Tetapi seandainya ia minta Mahisa Pukat untuk mengantarnya singgah, m ungkin Mahisa Pukat juga dapat menangkap lain tentang ajakannya itu. Atau mungkin dan mungkin telah membuatnya menjadi gelisah. Untuk datang sendiri hanya dengan Mahisa Semu dan Mahisa Amping tanpa mengajak Mahisa Pukat rasa-rasanya juga kurang pantas baginya. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun bangkit b erdiri melangkah k e tangga rumah ay ahnya sambil berkata "Aku akan minum dahulu. Aku merasa sangat haus”. Mahisa Semu dan Mahisa Amping mengangguk saja. Mereka masih bermain macanan. Tetapi demikian Mahisa Murti naik tangga rumah Mahendra, Mahisa Semupun berdesis "Kakang Mahisa Murti nampak menjadi gelisah”. Mahisa Amping mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi ia bertanya "Kenapa?” "Darimana aku tahu?" Mahisa Semu justru bertanya. "Kenapa kau justru bertanya? Bukankah kau yang  mengatakannya bahwa kakang Mahisa Murti nampak gelisah”. "Memang akulah yang mengatakannya bahwa kakang" Mahisa Murti gelisah. Tetapi aku tidak tahu kenapa kakang Mahisa Murti itu menjadi gelisah," jawab Mahisa Semu. Mahisa Amping mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia berkata "Ya. Kakang Mahisa Murti menjadi gelisah. Tetapi kita tidak tahu kenapa kakang menjadi gelisah”. Keduanyapun terdiam. Namun keduanya justru kembali memusatkan perhatian mereka kepada permainan mereka. Macanan. Sementara itu Mahisa Murti yang  gelisah m encoba untuk mengisi waktunya dengan m embaca kitab yang  dipinjamnya dari ayahnya. Mahendra m emang mempunyai beberapa kitab yang berisi kidung yang  menarik selain kitab tentang berbagai macam pengetahuan. Mahisa Murti m emang sempat melupakan kegelisahannya. Tetapi ketika ia menutup kitabnya dan melangkah turun ke halaman, ia menjadi gelisah lagi. Mahisa Murti tidak m elihat lagi Mahisa Semu dan Mahisa Amping dibawah pohon sawo keok. Namun ketika Mahisa Murti pergi ke pakiwan, dilihatnya Mahisa Semu sedang menimba air, sementara Mahisa Amping sedang mandi. "Kita akan pergi menemui kakangmu Mahisa Pukat” berkata Mahisa Murti. "Dimana?" bertanya keduanya hampir berbareng meskipun Mahisa Semu ada dipinggir perigi, sedangkan Mahisa Amping ada didalam pakiwan sedang mandi. "Sore ini" jawab Mahisa Murti. 12 "Apakah kita akan pergi ke Kasatrian?" bertanya Mahisa Semu. "Ya. Kita akan pergi ke Kasatrian" jawab Mahisa Murti. Mahisa Amping yang sedang mandi itupun segera menyelesaikannya. Ketika kemudian Mahisa Semu m asuk ke pakiwan, maka Mahisa Ampinglah yang ganti menimba air untuk mengisi jambangan. Sore itu setelah Mahisa Murti mandi dan berbenah diri maka merekapun minta diri kepada Mahendra untuk pergi ke Ka satrian menemui Mahisa Pukat. "Mudah-mudahan ia mempunyai waktu" desis Mahisa Murti. "Tentu " jawab Mahendra "jika para bangsawan muda itu sedang mempelajari ilmu pengetahuan dan kesusasteraan, maka Mahisa Pukat m empunyai waktu luang. Tetapi kadangkadang ia m elakukan tugasny a sebagai Pemimpin Kelompok Pelay an Dalam”. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya "Sebaiknya aku melihatnya ke Kasatrian. Bukankah aku tidak dianggap menganggu oleh Pangeran Kuda Pratama.” "Tidak. Kecuali jika kau berada di Kasatrian setiap saat." jawab Mahendra. Kemudian bersama Mahisa Semu dan Mahisa Ampmg mereka telah pergi ke Kasatrian untuk menemui Mahisa Pukat. Ternyata bahwa mereka telah diterima baik oleh para Pelay an Dalam yang bertugas karena sebagian dari mereka sudah mengetahui, bahwa Mahisa Murti adalah saudara kandung Mahisa Pukat, salah seorang pemimpin kelompok Pelay an Dalam di Kasatrian itu. Apalagi merekapun mengetahui bahwa Mahisa Murtipun pernah diterima dengan baik pula oleh Pangeran Kuda Pratama sendiri. Mahisa Pukatpun kemudian telah keluar dari sanggar untuk menemui mereka. "Apakah kau sedang sibuk?" bertanya Mahisa Murti. Mahisa Pukat tersenyum. Katanya "Bukankah memang sudah pekerjaanku? Aku sedang berada disanggar dengan beberapa orang bangsawan muda. Mereka sedang berlatih". "Apakah mereka kau tinggalkan tanpa pembimbing?" bertanya Mahisa Murti. "Aku justru ingin mengajak kau serta Semu dan Amping untuk melihat-lihat sanggar di Kasatrian ini." berkata Mahisa Pukat kemudian. "Menarik sekali" tiba -tibaMahisa Amping menyahut "aku ingin melihat sanggar itu". "Marilah " ajak mahisa Pukat. Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping itupun kemudian telah diajak Mahisa Pukat kedalam sanggar di Ka satrian. Demikian mereka masuk, maka Mahisa Amping dan Mahisa Semupun menjadi terheran -heran. Bahkan Mahisa Murtipun menjadi kagum pula. Sanggar itu adalah sebuah bangunan yang cukup besar dengan kelengkapan yang sangat m emadai. Semua peralatan latihan disediakan secukupnya. Hampir segala jenis senjata tersedia. Tidak hanya satu dua, tetapi beberapa untuk setiap jenis. Di salah satu bagian dari sanggar itu terdapat alat-alat untuk membentuk dan menguasai tubuh. Mahisa Semu dan Mahisa Pukat berdiri termangu-mangu memandangi ruang yang sangat luas dengan peralatan yang sebagian belum pernah dilihatnya. Didalam sanggar itu terdapat beberapa orang bangsawan muda yang sedang berlatih. Mereka adalah sebagian kecil dari anak-anak muda di Kasatrian yang  sedang mempelajari salah satu unsur khusus dari ilmu yang diberikan oleh Mahisa Pukat. Mahisa Pukat sedang menuntun anak-anak muda itu mempergunakan salah satu bagian tubuhnya yang  penting. Bahkan jika benar -benar dikuasainya, tidak kalah berbahayanya dari ujung-ujung senjata yang sangat runcing sekalipun. Kepada anak-anak muda itu Mahisa Pukat sedang memahami watak dan sifat jari. Kelima jari tangan dan jarijari kaki. Mahisa Semu dan Mahisa Amping yang m elihat alat-alat khusus yang berhubungan deng;a jari itupun menganggukangguk diluar sadarnya. Meskipun mereka sudah mendapat tuntunan dan penjelasan serupa, tetapi mereka tidak memiliki alat-alat sebagaimana tersedia di banjar itu. "Duduklah" Mahisa Pukat mempersilahkan saudarasaudaranya itu untuk duduk disebuah dingklik kayu panjang disebelah pintu yang  tertutup. Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Ampingpun duduk didingklik panjang itu. Sementara itu Mahisa Pukatpun berkata "Aku akan melanjutkan latihan anak-anak muda itu". Mahisa Murti mengangguk sambil terseny um. Katanya "Satu pengalaman yang  baik bagi Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Kesempatan menyaksikan latihan-latihan di sanggar ini akan memberikan kemungkinan-kemungkinan baru bagi mereka ". Sementara itu bangsawan-bangsawan m uda yang  melihat kehadiran ketiga orang itu termangu-mangu pula. Mahisa Pukatlah yang kemudian memperkenalkan mereka kepada para bangsawan muda itu. Bangsawan yang sebay a dengan Mahisa Semu. Sedangkan dua diantara mereka sebaya dengan Mahisa Amping. "Mereka adalah saudara-saudaraku " berkata Mahisa Pukat kepada para bangsawan muda itu "biarlah mereka mendapat kesempatan menyaksikan kalian berlatih di sanggar ini. Sanggar yang terlalu lengkap bagi saudara-saudaraku itu". Bangsawan-bangsawan muda itu memang m emperhatikan orang-orang yang disebut saudara-saudara Mahisa Pukat itu. Kedua orang remaja diantara mereka sempat mengangguk dan tersenyum ketika mereka saling memandang dengan Mahisa Amping. Sedang Mahisa Ampingpun dengan tergesa -gesa mengangguk hormat pula. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Mahisa Pukat telah membawa para bangsawan muda itu untuk mulai berlatih. Mereka mempergunakan beberapa peralatan yang  ada disanggar itu, sehingga latihan-latihan itu berjalan dengan sangat baik dimata Mahisa Semu dan Mahisa Am ping. Bahkan kemudian, anak-anak muda itu telah melakukan latihan-latihan bersama untuk mengetrapkan kemampuan mereka menguasai beberapa macam unsur gerak yang  telah mereka kuasai. Sekali-sekali Mahisa Semu dan Mahisa Amping sempat berdecak kagum. Sekali-sekali mereka mengangguk-angguk. Bahkan diluar sadarnya kadang-kadang Mahisa Amping telah bangkit berdiri. Mahisa Murti sengaja m embiarkannya. Namun kemudian Mahisa Ampingpun telah duduk kembali dengan sendirinya pula sebagaimana ia berdiri. Mahisa Semulah yang kemudian bertanya ketika Mahisa Amping bangkit berdiri "Kau mau apa?” Mahisa Amping berpaling. Namun kemudian iapun tersenyum sambil duduk. Katanya "Jika saja di padepokan ada sanggar seperti ini". "Jika ada sanggar seperti ini, kau mau apa?" bertanya Mahisa Semu kemudian. Mahisa Amping mengerutkan dahinya. Tetapi ia justru ganti bertanya "Apakah kau tidak ingin memiliki sanggar seperti ini di padepokan? Mahisa Semu menarik nafas dalam-dalam. Karena ia sudah lebih besar dari Mahisa Amping, maka Mahisa Semu dapat berpikir lebih panjang dan melihat kenyataan yang dihadapinya sehari-hari. Karena itu, maka Mahisa Semu itupun berkata "Kau tidak u sah bermimpi selagi kau tidak tidur Amping”. "Apakah aku bermimpi?" bertanya Mahisa Amping. "Ya. Bermimpi tentang sebuah banjar sebesar, seluas dan selengkap ini di Padepokan Bajra Seta." jawab Mahisa Semu. Mahisa Amping menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun menjadi diam. Ia tidak lagi setiap kali bangkit berdiri dengan wajah yang  berseri-seri melihat latihan-latihan yang mendebarkan dari para bangsawan muda itu. Sementara itu, latihan-latihan itu terus berlangsung. Anakanak muda itu berlatih dengan ber sungguh-sungguh. Namun akhirnya, Mahisa Pukat mengakhiri latihan-latihan itu. Kemudian ia mempersilahkan bangsawan-bangsawan muda itu untuk beristirahat sejenak, untuk kemudian mandi dan berbenah diri. Di malam hari mereka masih harus belajar ilmu pengetahuan yang  lain dari guru yang lain pula. Ketika para bangsawan itu sudah m eninggalkan ruapgan, maka Mahisa Pukat memberi kesempatan kepada Mahisa Semu dan Mahisa Amping untuk mencoba peralatan yang ada di barak itu. Ternyata keduanya melakukan dengan senang hati. Apalagi Mahisa Amping. Mereka telah melihat dan mencoba bermacam-macam alat yang  ada di sanggar itu. Bahkan merekapun mencoba pula menggenggam berbagai macam senjata di tangan. Sementara Mahisa Semu dan Mahisa Amping melihat-lihat, maka Mahisa Murti yang  duduk di amben panjang dipinggir sanggar itu berkata seakan-akan begitu saja meluncur dari bibirnya tanpa dibebani perasaan apapun "Mahisa Pukat, aku tadi bertemu dengan Sasi”. "Sasi? Dimana?" bertanya Mahisa Pukat. “Aku sedang berjalan-jalan dengan Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Di jalan yang  menuju ke pasar kami bertemu dengan Sasi yang agaknya baru pulang dari pasar. Katanya, ibunya tidak dapat berbelanja. Karena itu, maka Sasilah yang pergi ke pasar untuk berbelanja”. "O, sudah beberapa waktu aku tidak mengunjunginya." desis Mahisa Pukat. "Sasi minta aku singgah. Tetapi hari sudah agak siang. Sasi tentu akan sibuk didapur”. Mahisa Pukat menganggukangguk. Katanya "Sasi memang senang berada di dapur. Ibunya memang mengajarinya seperti itu”. "Bukankah itu bagus?" desis Mahisa Murti. Mahisa Pukat menganggukangguk kecil. Sementara itu Mahisa Murtipun berkata selanjutnya "Kapan kau akan berkunjung? Aku akan ikut bersamamu. Ra sanya tidak enak untuk tidak singgah barang sejenak, justru setelah aku bertemu dengan gadis itu di jalan. Dengan demikian ia mengetahui bahwa aku ada di sini". Mahisa Pukat m engangguk-angguk. Nampaknya ia sedang memperhitungkan kesempatan untuk dapat mengunjungi Sasi. "Baiklah" berkata Mahisa Pukat "besok kita akan pergi ke rumah Sasi”. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya "Jika demikian, aku besok tidak membawa Mahisa Semu dan Mahisa Amping keluar. Bukankah maksudmu besok sore?” "Ya. Besok sore aku akan berusaha untuk dapat meninggalkan tugasku barang sebentar”. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Itulah sebenarnya kepentingannya datang mengunjungi Mahisa Pukat. Namun sementara ia m enyampaikan maksudnya, maka Mahisa Semu dan Mahisa Amping sempat melihat sebuah sanggar milik istana Singasari yang  disediakan bagi para bangsawan muda. Tetapi sanggar itu bukan satu-satunya sanggar. Mahisa Pukat menceritakan bahwa masih ada lagi satu sanggar di Ka satrian. Lebih besar, lebih luas dan lebih lengkap dari sanggar itu. Sanggar yang diperuntukkan bagi para bangsawan yang sudah dewasa penuh. Bahkan mereka yang sudah berkeluargapun masih juga mempergunakan sanggar itu. Mahisa Semu dan mahisa Pukat sebenarnya ingin juga melihat sanggar itu. Tetapi Mahisa Pukat berkata "Aku tidak bertugas di Ka satrian disisi kanan. Ka satrian bagi para bangsawan yang  sudah dewasa penuh yang berada di bawah bimbingan guru yang  lain. Meskipun mereka masih juga berada di Kasatrian, tetapi seakan-akan terdapat batas diantara kedua Ka satrian itu.” Mahisa Semu dan Mahisa Pukat memang agak menjadi kecewa. Tetapi bahwa m ereka mendapat kesempatan melihat sanggar di Kasatrian itu, sudah merupakan satu kesempatan yang sangat berharga. Demikianlah setelah beberapa saat lamanya mereka berada di Kasatrian, maka Mahisa Murtipun segera minta diri. Di luar langit telah menjadi semakin suram, sementara lampu di sanggar pun telah dinyalakan oleh para pelay an. Diperjalanan pulang, Mahisa Am ping tidak putus-putusnya bercerita tentang sanggar yang sangat lengkap itu. Bahkan katanya kemudian "Sepekan aku disini, maka ilmuku tentu sudah meningkat”. "Sepekan disini ilmumu akan meningkat meskipun kau tidak diperkenankan masuk ke sanggar itu?" bertanya Mahisa Semu. Mahisa Amping mengerutkan dahinya. Tetapi iapun kemudian terdiam. Tetapi dikepalanya, sanggar itu masih saja tetap membayanginya. Sebenarnya Mahisa Semu juga masih membayangkan sanggar yang  sangat lengkap itu. Tetapi ia sudah dapat memutar penalarannya, bahwa sanggar itu hanya dapat dilihatnya saja. Ia tidak akan mungkin dapat mempergunakan kelengkapan sanggar di Kasatrian itu. Ketika mereka kemudian sampai dirumah Mahendra, maka mereka bertigapun sempat berbincang-bincang tentang sanggar itu. Bahkan Mahendra ikut pula berbicara bersama mereka. Demikian Mahisa Amping m enceriterakan kekagumannya mengenai sanggar itu, Mahendrapun kemudian bertanya "Apakah sebenarnya yang  kau kagumi? Tentu karena jenis peralatannya yang bagus, baru dan jumlahnya cukup banyak”. "Nah" berkata Mahendra pula "kemudian kau harus menilai kegunaannya. Apakah untuk berlatih dan memahami salah satu unsur gerak harus dipergunakan peralatan yang bagus buatannya, mahal harganya dan dalam jumlah yang banyak? Bukankah palang kayu di sanggar Kasatrian itu gunanya tidak lebih daripada palang bambu wulung yang ada disanggarmu? Bahkan palang bambu disanggarmu itu mempunyai kelebihan. Bambu wulung itu lebih lentur dari kayu yang dipergunakan di sanggar Kasatrian. Dengan demikian maka untuk melatih keseimbangan, palang bambumu tentu lebih baik. Tetapi sudah tentu ujudnya palang bambu wulungmu tidak sebaik palang kayu itu. Juga bandul tarik disanggarmu yang  tidak lebih dari batu-batu hitam yang  diikat dengan tambang. Sementara di Kasatrian itu dipergunakan bandul-bandul besi yang terikat dengan rantai. Tetapi tambang ijuk itu akan memberikan kekuatan tersendiri pada kulit telapak tanganmu”. Mahisa Amping mendengarkan keterangan Mahendra itu dengan bersungguh-sungguh. Demikian pula Mahisa Semu. Ternyata keduanya memahami keterangan itu. Betapapun jauh perbedaan yang nampak antara Sanggar di Padepokan Bajra Seta dan sanggar di Kasatrian itu, namun kegunaannya tentu tidak akan terlalu jauh berbeda. Dalam pada itu Mahendra masih memberikan beberapa contoh dan petunjuk, sehingga akhirnya Mahisa Semu dan Mahisa Amping tidak perlu merasa bahwa sanggarnya jauh lebih buruk dari sanggar yang  ada di kasatrian. "Apa yang  dapat dilakukan di Ka satrian itu dapat pula dilakukan di sanggar kalian di Padepokan. Yang tidak ada disanggar kalian, dapat kalian ketemukan di alam terbuka. Di lereng -lereng bukit dan di hutan-hutan perdu atau pada saatnya kalian akan mencoba menyusupi hutan-hutan lebat.” Mahisa Semu dan Mahisa Amping mengangguk-angguk pula. Sementara itu Mahisa Murtipun ikut mendengarkan keterangan ayahnya itu. Nampaknya kedua orang yang diakunya sebagai adiknya itu dapat mengerti maksud ay ahnya. Sementara itu Mahendrapun berkata "Kakakmu Mahisa Pukat ternyata juga tidak mempercayakan latihan-latihan bagi bangsawan muda itu sekedar dilakukan disanggar. Mahisa Pukat setiap kali juga m embawa murid-muridnya keluar dari istana pergi kebukit-bukit kecil untuk melakukan latihanlatihan khusus. Udara terbuka, panas matahari dan angin yang bertiup, tentu memberikan kelebihan tersendiri bagi m ereka. Seandainya latihan-latihan itu hanya dilakukan disanggar saja, maka panas matahari akan dapat menjadi musuh utama. Demikian pula udara dingin, angin kencang dan debu”. Mahisa Semu dan Mahisa Amping mengangguk-angguk. Mereka tahu bahwa tubuh seseorang yang  kurang m endapat sinar matahari akan menjadi kurang t egar. Jika seseorang yang demikian terlibat dalam pertempuran di siang hari dibawah panasny a matahari, maka keringatnya akan cepat terperas habis sebagaimana tenaganya. Bahkan yang  mungkin akan membunuhnya bukan lawannya, tetapi panas matahari itu sendiri. Keterangan yang  diberikan oleh Mahendra itu telah membesarkan hati anak-anak muda itu. Mereka tidak lagi merasa bahwa keterbatasan yang ada disanggar padepokan Bajra Seta akan membuat mereka tidak dapat maju pesat sebagaimana para bangsawan muda yang  ada di Kasatrian. Dengan demikian, maka setelah mereka makan malam dan beristirahat sejenak, Mahisa Semu dan Mahisa Amping mulai berbicara diantara mereka berdua. Mereka mulai membuat perbandingan-perbandingan antara peralatan yang  ada di sanggar di Kasatrian dengan alat-alat yang ada di sanggar padepokan Bajra Seta. Ternyata bahwa apa yang  ada di Ka satrian ada pula di sanggar mereka. Meskipun ujudnya lebih sederhana bahkan agak lain ujudnya, namun kegunaannya dapat dianggap sama. Dengan demikian maka apa yang  dapat dilakukan oleh para bangsawan muda di sanggar mereka, dapat pula mereka lakukan di sanggar mereka di Padepokan Bajra Seta. Dengan kesimpulan itu, maka ketika keduanya membaringkan diri dipembaringan, merekapun segera dapat tidur ny enyak. Namun Mahisa Murtilah yang  masih berbincang untuk waktu yang cukup lama dengan ayahnya. Mahisa Murti juga membicarakan kelebihan peralatan yang ada di sanggar di Ka satrian itu. "Nampaknya Mahisa Pukat menjadi semakin jauh dari Padepokan Bajra Seta " berkata Mahisa Murti kemudian. Mahendra mengangguk-angguk. Katanya "Sudahlah Mahisa Murti. Aku kira kau sendiri mampu membina dan mengembangkan Padepokan Bajra Seta. Memang kepergian Mahisa Pukat m erupakan satu persoalan tersendiri bagimu. Namun per soalan itu tentu akan dapat kau atasi. Kau, Mahisa Semu dan Mahisa Amping yang  dimasa datang akan dapat membantumu. Bahkan Wantilan yang  meskipun perkembangan ilmu termasuk lam bat justru karena ia terlambat mulai setelah diketahui bahwa seseorang sengaja memutar balikkan susunan pengetahuannya tentang olah kanuragan, tetapi ia dapat membantumu mengatur Padepokanmu”. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Dari sor ot matanya, ada sesuatu yang  ingin dikatakannya. Tetapi Mahisa Murti hanya menarik nafas saja dalam-dalam. Tetapi Mahendra yang sudah mengendap itu agaknya tanggap akan maksud Mahisa Murti. Karena itu meskipun Mahisa Murti tidak mengatakan sesuatu, namun Mahendra itupun berkata "Murti. Memang tidak dapat diperbandingkan, membina Padepokan Bara Seta dengan tugas-tugas di Ka satrian. Di Kasatrian, kebutuhan apapun telah disediakan. Kebutuhan peralatan untuk latihan. Kebutuhan bahan-bahan yang akan mendukung latihan-latihan di Sanggar maupun di alam terbuka. Sedangkan di Padepokan segala sesuatunya sangat terbatas. Tetapi usaha untuk mengatasi keterbatasan itupun merupakan satu ketrampilan tersendiri. Meskipun para bangsawan sekalipun, mereka tidak akan selalu terpenuhi setiap kebutuhannya. Dalam keadaan yang sempit, maka para bangsawan tidak terbiasa untuk memecahkannya dan mengatasinya. Karena itu seperti yang  aku katakan kepada Mahisa Semu dan Mahisa Amping, Padepokan Bajra Seta tidak akan lebih buruk hasilny a daripada Ka satrian Singasari. Apalagi keduanya dia suh oleh orang yang memiliki tataran yang sama pula”. Mahisa Murti m engangguk-angguk. Namun bahwa Mahisa Pukat tidak akan kembali lagi ke Padepokan itu adalah persoalan pribadi yang  sulit untuk dikesampingkan. Ra sarasanya Padepokan memang menjadi sepi. Sementara itu luka dihati Mahisa Murti masih sering terasa ny erinya. Apalagi ketika tiba-tiba saja ia bertemu dengan Sasi. Namun seperti yang  pernah dijanjikannya didalam hati, bahwa ia tidak akan terjerembab jatuh karena persoalan yang membebani perasaannya itu. Ketika kemudian Mahisa Murti berbaring dipembaringannya, maka angan-angannya masih dibelit oleh kegelisahannya itu. Namun akhirnya Mahisa Murti itupun tertidur pula. Dihari berikutnya Mahisa Murti masih sempat membawa Mahisa Semu dan Mahisa Amping berjalan-jalan. Namun di sor e hari, betapapun beratnya, Mahisa Murti tidak dapat mengelak lagi. Bersama Mahisa Pukat ia pergi kerumah Sasi. Seperti pesan Sasi, maka Mahisa Semu dan Mahisa Amping telah diajaknya pula Betapa Mahisa Murti berusaha menguasai perasaannya. Tidak seorangpun boleh mengetahuinya, bahwa perjumpaannya dengan Sasi itu telah membuat lukanya ny eri kembali. Hanya karena kesiapan jiwaninya yang  membaja, maka Mahisa Murti dapat mengatasiny a. Tetapi saat-saat yang  tidak terlalu lama itu merupakan saatsaat yang menyiksanya. Ternyata Sasi, Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Mahisa Amping sama sekali tidak m elihat kesan apapun pada Mahisa Murti. Ketika Arya Kuda Cemani ikut menemuinya, maka sikap Mahisa Murtipun nampak wajar-wajar saja. Ketika kunjungan itu sudah terhitung lama, maka merekapun telah m inta diri. Mahisa Amping m asih sempat mereguk minuman yang dihidangkan baginya sampai tetes yang terakhir. Namun Mahisa Murti telah minta diri pula, bahwa mungkin ia tidak akan sempat berkunjung lagi sampai saatnya ia kembali ke Padepokan Bajra Seta. "Apa saja yang  kau lakukan disini sehingga kau tidak sempat lagi singgah ?" bertanya Sasi. Pertanyaan itu memang sulit untuk dijawab. Tetapi iapun menjawab "Aku masih harus melihat-lihat peralatan pertanian yang ada dipasar. Aku harus mendapatkan beberapa jeni s alat yang terbaik yang  dapat aku pergunakan di Padepokan Bajra Seta”. Sasi mengangguk-angguk. Tetapi ia masih berkata "Meskipun demikian, jika mungkin kau harus singgah lagi kakang”. Mahisa Murti terseny um. Katanya "Aku tinggal satu atau dua hari saja berada di Kotaraja. Aku sudah m elampaui batas yang aku janjikan kepada orang-orang padepokanku. Ketika aku berangkat, aku berjanji bahwa perjalananku ke Singasari tidak akan lebih dari lima hari termasuk perjalanan berangkat dan kembali. Tetapi aku sudah lima hari berada disini ". “Ah, bukankah kau tidak mesti setahun sekali berkunjung ke Kotaraja ?" bertanya Sasi. "Tentu lebih dari itu. Aku sering berkunjung ke Kotaraja." jawab Mahisa Murti. "Jika kau datang ke Kotaraja, kau memang harus singgah" minta Sasi. Mahisa Pukat mengangguk-angguk sambil menjawab "Ya, ya Sasi. Aku tentu akan selalu singgah kemari”. Mahisa Murti meninggalkan rumah Sasi dengan barutbarut merah dibibir luka hatinya yang sudah m ulai kering. Tetapi seperti sebelumnya, secara jiwani, Mahisa Murti memang mempunyai ketahanan yang sangat tinggi. Berempat mereka meninggalkan rumah Arya Kuda Cemani. Sasi mengantar mereka sampai keregol halaman. Dilepa snya tamu-tamunya sampai hilang dikelok jalan. Mahisa Pukat sempat singgah sebentar dirumah ayahnya. Namun kemudian iapun kembali ke Kasatrian, tetnpat ia bertugas. "Besok aku akan menghadap Pangeran Kuda Pratama" berkata Mahisa Murti ketika Mahisa Pukat minta diri. "Apakah kau sudah akan kembali ke Padepokan?” "Ya." jawab Mahisa Murti. "Begitu tergesa -gesa? Apakah seluruh sudut Kotaraja telah dilihat oleh Mahisa Semu dan Mahisa Amping?" bertanya Mahisa Pukat. "Belum. Tetapi aku sudah terlalu lama pergi. Kau tahu bahwa aku hanya minta diri untuk lima hari termasuk perjalanannya. Sedangkan aku sudah lebih dari lima hari berada di sini." jawab Mahisa Murti. Mahisa Murti m engangguk-angguk. Katanya "Biarlah. Aku akan menyampaikannya kepada Pangeran Kuda Pratama”. "Terima kasih" sahut Mahisa Murti.' Sepeninggal Mahisa Pukat, m aka Mahisa Murtipun masih berbincang cukup panjang dengan ayahnya. Sementara itu Mahisa Semu dan Mahisa Pukat duduk di serambi depan sambil bermain macanan. Bahkan setelah mereka makan m alampun m ereka masih sa ja berbincang-bincang, sementara Mahisa Semu dan Mahisa Amping yang  sudah letih bermain-main telah pergi ke pembaringan. Dikeesokan harinya Mahisa Murti, Mahisa Semu . dan Mahisa Amping telah menghadap Pangeran Kuda Pratama untuk mohon diri, karena dihari berikutnya pagi-pagi benar mereka akan kembali ke Padepokan Bajra Seta. Pangeran Kuda Pratama telah m engucapkan terima kasih atas kunjungan Mahisa Murti ke Kasatrian. Dengan nada kebapakan Pangeran Kuda Pratama itu b erkata "Aku berdoa, semoga padepokan Bajra Seta akan berkembang sesuai dengan harapanmu. Jika Mahisa Pukat ada disini, bukan berarti bahwa ia harus terpisah dari Padepokan itu. Tetapi kelak akan nampak, bahwa Padepokan Bajra Seta adalah saudara kandung dari perkembangan ilmu di Kasatrian Singasari”. Pa da kesempatan itu, Mahisa Murti telah m inta diri pula kepada para bangsawan muda yang  menjadi murid Mahisa Pukat di Kasatrian itu. Bahkan Mahisa Murtipun sempat minta diri pula kepada mPu Sidikara yang akan menjadi kawan bertugas dengan Mahisa Pukat di Ka satrian. “Besok pagi-pagi sekali aku ada di rumah” berkata Mahisa Pukat kemudian ketika Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping meninggalkan Kasatrian. Demikianlah, maka hari itu adalah hari terakhir bagi Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping berada di Kotaraja. Karena itu, maka mereka meny empatkan diri untuk pergi ke pasar m embeli beberapa jeni s alat-alat yang  belum mereka miliki di Padepokan. Mereka m embeli beberapa jenis peralatan pertanian yang  dapat mereka contoh pembuatannya untuk dapat dikembangkan di Padepokan Bajra Seta dan di padukuhanpadukuhan di sekitarnya. Di sore hari, m ereka bertiga sengaja tidak pergi ke m anamana. Mereka justru berbenah diri karena esok pagi-pagi sekali mereka akan meninggalkan Kotaraja. Dimalam hari, Mahisa Murtipun tidak berbincang sampai larut m alam dengan ay ahnya. Ketika m alam m emasuki masa sepi uwong, maka Mahisa Murtipun telah berada dipembaringan, sementara Mahisa Semu dan Mahisa Amping telah tidur dengan ny enyak. Pagi-pagi benar dihari berikutnya, mereka telah siap. Pembantu di rumah Mahendra telah meny iapkan m inuman dan makan pagi yang hangat. Sebelum Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping meninggalkan rumah Mahendra di belakang Istana Singasari, maka kepada mereka telah dihidangkan makan pagi. Ternyata Mahisa Pukat memenuhi janjinya. Ia memang datang ke rumah ayahnya untuk melepas keberangkatan saudara-saudaranya kembali ke padepokan Bajra Seta. Ketika kemudian langit menjadi semakin terang, maka Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Ampingpun telah minta diri kepada Mahendra dan Mahisa Pukat. Mumpung masih pagi, maka mereka telah berangkat menuju ke Padepokan Bajra Seta. Mahendra masih memberikan beberapa pesan kepada Mahisa Murti agar ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membina dan m engembangkan padepokan yang telah dibangunnya. Tetapi iapun masih juga berbisik "Tetapi kau tidak boleh tenggelam tanpa memenuhi kelengkapan kemanusiaanmu. Maksudku, kau adalah seorang laki -laki wajar yang sepantasnya mempunyai sisihan”. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu ayahnya bermaksud baik. Ayahnya tidak ingin melihat ia berlarut-larut hanyut dalam arus perasaannya yang terluka. Sejenak kemudian maka ketiga orang itupun telah berpacu di jalan-jalan kota. Mereka m emang tidak memacu kudanya terlalu cepat. Apalagi menjelang fajar jalan-jalan mulai terisi oleh orang-orang yang pergi ke pasar. Baru ketika mereka berada diluar gerbang kota, maka mereka mempercepat derap kuda mereka, meskipun masih harus !etap berhati-hati karena jalan-jalan pun mulai dialiri oleh orang-orang yang membawa barang-barang dagangannya kepasar pula. Perjalanan mereka adalah perjalanan yang segar. Matahari mulai membayangi langit dengan cahayanya yang  merah kekuning-kuningan. Anginpun mulai mengusik dedaunan. Mahisa Amping seperti biasanya berada di paling depan. Kudanya berlari2 gembira sebagaimana penunggangnya. Dibelakangnya Mahisa Semu dan Mahisa Murti mengikutinya saja seberapa cepat Mahisa Amping melarikan kudanya. Ternyata perjalanan mereka tidak menemui hambatan. Mereka berkuda sampai matahari memanjat tinggi. Cahayanya mulai terasa panas dikulit, sehingga keringatpun mulai membasah. Ketika terik matahari bagaikan membakar kulit, maka merekapun sempat beristirahat disebuah kedai. Bukan saja penunggang penunggannya yang sempat beristirahat serta minum dan makan, tetapi demikian pula kuda-kuda mereka. Setelah puas mereka makan dan minum, maka mereka pun segera melanjutkan perjalanan mereka. Memang tidak ada gangguan diperjalanan. Sementara itu, orang-orang di Padepokan Bajra Seta sudah menanti kedatangan mereka. Mahisa Murti yang meninggalkan Padepokan itu hanya untuk lima hari termasuk perjalanan, ternyata telah m elampaui waktu yang  direncanakan sehingga Wantilan yang  bertugas di Padepokan menjadi gelisah. Apalagi karena Wantilan yang telah pernah ikut dalam pengembaraan yang dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahiga Pukat. Banyak persoalan yang  dapat timbul disepanjang jalan. Demikian pula persoalan akan dapat timbul di perjalanan mereka ke atau dari Singasari. Karena itu ketika Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping sampai di Padepokan, maka merekapun telah disambut dengan gembira. Namun dalam pada itu, demikian mereka berada di Padepokan, Mahisa Amping langsung menuju ke sanggar. Seakah-akan anak itu ingin melihat, apakah sanggar itu masih ada ditempatnya. Demikian pula alat-alat yang ada didalamnya. Mahisa Amping menarik nafas dalam-dalam, demikian ia berdiri dipintu sanggar. Dipandanginya ruang yang  tidak terlalu besar, alat -alat yang sederhana dan bahan-bahan yang seadanya yang  ada disanggar itu. Selagi Mahisa Amping merenung, maka Mahisa Semu telah berdiri di belakangnya sambil bertanya "Apakah kau sedang memperbandingkan sanggar kita dengan sanggar di Ka satrian?” "Ya " jawab Mahisa Amping "tetapi aku tidak lagi bermimpi untuk memiliki sanggar seperti itu”. "Kenapa?" bertanya Mahisa Semu. "Aku telah memiliki apa yang ada di sanggar Kasatrian itu. Karena itu, maka aku tidak lagi memerlukan sanggar yang lain." jawab Mahisa Amping. Mahisa Semu tersenyum. Katanya, "Ya, kita sudah memiliki segala-galanya. Seperti yang  dikatakan oleh Ki Mahendra, apa yang ada di sanggar ini dan apayang ada di sanggar Kasatrian, mempunyai kelebihannya masing -masing”. Mahisa Amping mengangguk-angguk. Iapun kemudian melangkah menyusup disela -sela alat-alat yang ada di sanggar itu. Bahkan kemudian Mahisa Amping telah meloncat dan berdiri diatas palang bambu wulung yang  meny ilang ditengahtengah sanggar. Dengan tangkasnya anak itu berloncatan dalam keseimbangan yang  sangat baik. "Kau tidak kalah tangkas dari bangsawan-bangsawan muda di Kasatrian itu" berkata Mahisa Semu. Lalu katanya "Apalagi jika palang yang kau pergunakan itu palang kayu yang sama sekali tidak lentur. Kau tentu akan nampak semakin tangkas lagi”. "Ah, tentu tidak. Tetapi bagaimanapun juga, kita disini mempunyai kesempatan yang  sama dengan mereka yang ada di Kasatrian" jawab Mahisa Amping. "Bagus" Mahisa Murtilah yang  menjawab sambil melangkah masuk diikuti oleh Wantilan "perbedaan alat-alat yang kita pergunakan dan di pergunakan di Kasatrian tidak dapat dipergunakan sebagai alasan untuk menganggap wajar jika kalian tertinggal oleh saudara-saudaramu di Kasatrian?” "Apakah mereka juga saudara-saudara kita?" bertanya Mahisa Amping. "Ya. Setidak-tidaknya saudara yang  bersama-sama menyadap ilmu dari sumber yang  sama " jawab Mahisa Murti. Mahisa Amping mengangguk-angguk. Katanya "Ya kakang. Aku akan berusaha sebaik-baiknya, bahwa aku tidak akan tertinggal oleh saudara-saudara kita di Kasatrian. Apalagi dengan alasan bahwa alat-alat serta sanggar kita kurang memadai dibandingkan dengan sanggar yang ada di Kasatrian itu”. Mahisa Murti menepuk bahu Mahisa Amping sambil berkata "Bagus. Tetapi kau tidak perlu berlatih sekarang juga. Kau perlu beristirahat. Bukankah kita masih mempunyai banyak waktu?” Mahisa Amping mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Namun sejenak kemudian, maka m erekapun telah keluar dari sanggar, sementara sambil ter senyum Mahisa Murti menceriterakan kepada Wantilan bahwa Mahisa Amping sempat melihat -lihat sebuah sanggar yang sangat lengkap dengan peralatan yang bagus sekali di Ka satrian Singasari. "Tentu saja " desis Wantilan "sanggar itu sanggar istana.” "Tetapi ternyata bahwa kegunaannya tidak berbeda dengan alat-alat yang  kita punyai disini " berkata Mahisa Murti seakanakan bergumam bagi diri sendiri. Wantilan Mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Dalam pada itu, apa yang telah dilihat di Singasari telah mendorong Mahisa Amping untuk berlatih dengan sungguhsungguh. Dengan mempergunakan alat yang ada di dalam sanggarnya, maka Mahisa Amping berusaha untuk membuat dirinya tidak kalah dari para bangsawan muda yang  berlatih di sanggar yang  lengkap di Kasatrian Singasari. Bahkan Mahisa Amping tidak saja semakin tekun berlatih di sanggar, tetapi juga diluar sanggar. Seperti dikatakan oleh Mahendra, maka kekurangan peralatan yang ada di sanggar dapat dilengkapinya dengan peralatan yang  ada di alam terbuka. Itulah sebabnya Mahisa Amping m emanfaatkan bebatuan yang berserakan di sungai. Begitu pula pasir ditepian. Mahisa Amping yang mempergunakan tepian berpasir untuk berlatih, maka rasa-rasanya ada yang memberati kakinya, sehingga dengan demikian maka beban itu akan menambah kekuatannya. Mahisa Semu yang  semula memperhatikan dor ongan kemauan Mahisa Amping untuk b erlatih lebih keras, ternyata iapun telah melakukannya pula diluar sadarnya. Sehingga karena itu, maka kedua orang itupun telah bekerja lebih keras dari saat-saat sebelumnya. Mahisa Murti yang mengasuh mereka melihat kegiatan yang meningkat dari keduanya tanpa diperintahkannya. Karena itu, yang  dilakukan oleh Mahisa Murti adalah sekedar mengarahkannya. Namun demikian, Mahisa Murti itu selalu hadir jika Mahisa Semu dan Mahisa Amping melakukan latihan-latihan ditempat yang  berbahaya, karena keduanya sering berada dilereng-lereng pebukitan yang meskipun tidak terlalu tinggi, tetapi terjal. Bahkan sebagaimana pernah dilakukannya, m aka Mahisa Semu dan Mahisa Amping semakin memperhatikan tingkah laku binatang-binatang liar. Apalagi ketika Mahisa Murti justru mendor ong mereka untuk melakukan hal itu. Pada kesempatan-kesempatan tertentu, maka Mahisa Semu dan Mahisa Amping sempat melihat sekelompok kera yang ada dipinggir hutan yang  lebat. Merekapun memperhatikan bagaimana seekor ular merunduk mangsanya. Dengan kagum mereka melihat seekor tikus tanah dengan cerdik membelakangi seekor ular yang  akan menyergapnya dengan menaburkan tanah berpasir dengan kaki belakangnya kearah mata ular itu, sehingga tikus itu terlepas dari maut. Tetapi kadang-kadang dengan hati yang  ny eri keduanya menyaksikan seekor kelinci yang  tidak mampu menyelamatkan diri dari terkaman seekor burung elang yang buas. Elang yang  terbang berputaran, namun yang tiba-tiba sa ja menukik menyambar mangsanya dengan kuku -kunya yang tajam. Tetapi pada kesempatan lain, mereka melihat seekor elang yang harus melarikan diri karena merasa tidak mampu melawan seekor burung srigunting yang  lebih kecil. Tetapi ternyata burung srigunting itu mampu bergerak dengan lincah dan tangkasnya.Burung srigunting itu dapat meny erang seekor elang yang bergerak lam ban menurut ukuran kecepatan gerak seekor burung srigunting, dari segala arah. Dengan memperhatikan tingkah laku binatang-binatang liar itu, maka Mahisa Semu dan Mahisa Amping akan dapat memperkaya unsur-unsur gerak yang telah dimilikiny a dengan warna-warna baru tanpa meninggalkan watak dan sifat pokoknya. Kebiasaan itu ternyata kadang-kadang telah membawa Mahisa Semu dan Mahisa Pukat menempuh jarak yang  cukup jauh dari padepokannya. Mahisa Murti yang tidak melepaskan tanggung jawabnya, kadang-kadang telah mengikut mereka pula. Meskipun demikian Mahisa Murti tidak membiarkan mereka melupakan waktu -waktu latihan mereka di sanggar. Namun adalah diluar pengetahuan mereka, bahwa seorang pengembara ternyata menaruh perhatian terhadap Mahisa Amping. Dengan wajah yang  nampak bersungguh-sungguh, orang itu berusaha untuk selalu mengamati Mahisa Amping yang sering berlatih diluar sanggar. Hampir setiap hari orang itu duduk tidak terlalu jauh dari pintu gerbang sanggar Padepokan Bajra Seta. Jika Mahisa Semu dan Mahisa Amping keluar dari pintu gerbang, maka tanpa setahu keduanya, orang itu telah m engikutinya kemana saja keduanya pergi. Bahkan ketika keduanya keluar bersama Mahisa Murtipun orang itu selalu mengikutinya. Adalah satu hal yang  sangat sulit dimengerti, jika orang itu mampu melepaskan diri dari tangkapan indera Mahisa Murti, bahwa orang itu selalu mengikutinya. Orang yang  sudah m enjelang hari -hari tuanya itu tertarik sekali melihat ketangkasan Mahisa Amping serta perhatiannya yang bersungguh-sungguh terhadap binatang-binatang liar. Mahisa Murti, meskipun pernah melihat orang itu, tetapi ternyata orang itu luput dari perhatiannya. Justru karena orang itu pada ujud lahiriahnya adalah seorang tua yang  cacad tubuh. Tangannya tidak lengkap sebagaimana tangan orang kebanyakan. Jari-jari disebelah tangannya tidak lengkap. Kecelakaan yang  menimpanya dimasa ia masih kanak-kanak telah meny ebabkan ampat jarinya patah. Sementara itu, wajahnyapun nampak keras dan kasar. Beberapa gores luka nampak dikening dan pipiny a. Bahkan juga didahinya. Namun justru karena itu, maka orang itu nampak seorang yang menggetarkan jantung mereka yang  baru untuk pertama kali menyaksikannya. Dengan telaten orang itu mengamati Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Namun ketajaman penglihatan batinnya, mengatakan kepadanya bahwa anak muda yang  sering mengikuti keduanya adalah anak muda yang  berilmu sangat tinggi. Ternyata orang itu berniat menunggu satu kesempatan kedua orang anak itu keluar dari Padepokan Bajra Seta tanpa anak muda yang  berilmu tinggi itu. Setelah menunggu beberapa lama, maka pada satu hari, orang itu melihat Mahisa Semu dan Mahisa Amping hanya berdua saja keluar dari Padepokan. Di pintu gerbang Mahisa Murti berpesan, agar mereka tidak terlalu lama pergi. "Sebelum makan siang, kalian harus sudah berada di padepokan lagi" berkata Mahisa Murti. "Ya, kakang. Kami tidak akan terlalu lama. Kami akan pergi ke sungai," jawab Mahisa Semu. Namun demikian mereka berjalan meninggalkan Padepokan, m aka orang yang  selalu m emperhatikannya dari kejauhan itupun mengikutinya pula. Mahisa Semu dan Mahisa Amping memang pergi ke sungai. Keduanya, seperti biasanya melakukan latihan khusus. Mdreka berlatih diatas sebongkah batu hitam yang  licin. Dengan kemampuan mereka menjaga keseimbangan maka mereka dengan tangkasnya berlatih saling meny erang dan bertahan. Mahisa Semu yang  lebih besar dan m emiliki bekal yang lebih banyak, berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kemampuan Mahisa Amping. Dari kejauhan sepa sang mata memang memperhatikan kedua orang yang  sedang berlatih itu. Seorang remaja yang sudah menjelang dewasa dengan seorang yang  memang masih remaja. "Luar biasa " desis orang itu "anak itu memang luar biasa. Ia memiliki bekal yg sangat berharga untuk masa depannya sebagai seorang yang  m endalami olah kanuragan. Yang lebih besar itupun m emiliki kelebihan dari yang  lain. Tetapi aku hanya memerlukan satu orang saja”. Perlahan-lahan orang itu mendekat. Wajahnya yang keras dan kasar, serta diwarnai dengan goresan -goresan bekas luka, nampak bersungguh-sungguh. "Aku harus mendapatkannya. Ia akan dapat menjadi tempat untuk menuangkan ilmuku. Hari -hariku semakin sempit karena umurku yang merambat semakin tua. " gumam orang itu. Untuk beberapa saat orang itu duduk di atas tanggul sambil melihat Mahisa Semu dan Mahisa Amping berlatih diatas sebongkah batu. Mereka berloncatan dengan cepat. Mereka melontarkan serangan-serangan dan menghindar. Namun kaki mereka seakan-akan dapat melekat pada batu hitam yang licin itu. Orang yang ada diatas tanggul itu memperhatikan Mahisa Semu dan Mahisa Amping yang  masih saja berlatih. Jika sekali-sekali serangan salah seorang diantara mereka mendorong lawannya, maka salah seorang diantara mereka telah terjatuh kedalam air. Namun dengan tangkasnya mereka segera bangkit dan meloncat kembali keatas batu itu. Demikianlah terjadi beberapa kali. Meskipun salah seorang diantara mereka yang  terdorong oleh serangan itu merasa kesakitan, namun ada juga kegembiraannya jika yang terkena serangan itu terjatuh ke dalam air. Tubuhnya merasa segar sehingga ketika ia sudah berdiri lagi diatas batu itu, maka segera latihan itu telah berlangsung pula. Orang yang  meiiyaksikan latihan itu dari atas tanggul kadang-kadang menjadi tegang. Tetapi kadang-kadang ia tertawa. Namun ketika Mahisa Amping jatuh kedalam air, namun dengan cepat ia bangkit dan mengibaskan air ditubuhnya, selanjutnya dengan cepat pula meloncat naik keatas batu, maka orang itu tidak dapat menahan diri. Sambil bertepuk ia berkata "Bagus, bagus sekali”. Mahisa Semu dan Mahisa Ampingpun terkejut. Latihan itupun dengan serta merta telah terhenti. Mahisa Semu dan Mahisa Pukat segera berpaling dan memandang keatas tanggul. Merekapun segera melihat, diatas tanggul ada seorang yang  cacat tubuh, berwajah keras dan kasar, serta terdapat beberapa gores luka di wajah itu. Mahisa Semu dan Mahisa Amping menjadi berdebar-debar melihat sorot mata orang itu yang bagaikan sor ot mata kucing yang melihat dua ekor tikus kecil. Sebelum Mahisa Semu dan Mahisa Amping menyadari sepenuhnya apa yang terjadi, maka orang itupun telah meluncur turun dari atas tebing. Mahisa Semu dan Mahisa Amping m encium gelagat yang  kurang baik. Karena itu, maka merekapun segera mempersiapkan diri. "Bagus sekali anak-anak " berkata orang itu "aku kagum atas ketangkasan kalian. Aku kira anak-anak seumur kalian tidak ada yang  mampu menandingi kalian dalam olah kanuragan”. Mahisa Semu mengangguk hormat sambil berkata "Terima kasih. Tetapi apa yang  kami lakukan sama sekali tidak berarti”. "Tentu tidak " berkata orang itu "kalian memiliki landasan ilmu yang mapan. Tetapi lebih dari itu, didalam diri kalian memang ter simpan kemungkinan untuk melakukannya. Pada dasarnya tubuh kalian, bentuknya maupun ukurannya, adalah tubuh pilihan. Selain itu, bakat yang kalian miliki jarang sekali tersimpan didalam diri orang lain. Karena itu, perpaduan antara bentuk tubuh, perbandingan ukurannya, kekuatan dasar serta bakat yang tersimpan, benar-benar hampir sempurna. Mahisa Semu melihat keadaan Mahisa Amping itu. Jantungnya bagaikan berhenti berdenyut. Diluar sadarnya ia meloncat hendak m enolongnya. Namun Mahisa Semu tidak tahu apa yang  terjadi atas dirinya, ketika tiba-tiba saja Mahisa Semu telah terlempar jatuh pula. Tetapi Mahisa Semu masih dapat bangkit dengan cepat. Sementara itu Mahisa Am ping masih saja menggeliat-geliat di dalam air. Meskipun airnya tidak terlalu dalam, tetapi dalam keadaan yang  demikian maka Mahisa Amping akan dapat miTtnm air sungai itu terlalu banyak. Hal itu akan dapat membahayakan jiwanya. Tetapi ketika Mahisa Semu akan meloncat mendekati Mahisa Amping lagi, orang itu menggeram "Jika kau mencoba lagi, m aka aku tidak akan menolongnya. Ia akan mati karena perutnya penuh dengan air sungai ini”. Mahisa Semu memang membatalkan niatnya. Dengan cemas ia berkata "Tolong anak itu. Angkat ia dari dalam air. "Ia sendiri meloncat menyuruk kedalam air itu " jawab orang yang  berwajah keras itu. "Tetapi ia tidak berniat membunuh diri " Mahisa Semu hampir berteriak. Orang itupun berpaling ke arah Mahisa Amping yang  menjadi semakin lemah. Namun orang berwajah keras itupun kemudian telah merunduk sambil berkata "Jangan dekati aku”. Mahisa Semu memang tidak berani mendekati orang itu, karena dengan demikian ia akan dapat mengancam hidup Mahisa Amping. Karena itu, Mahisa Semu hanya dapat memandangi orang itu dengan jantung yang berdebaran. Sebenarnyalah orang itu m emang menolong Mahisa Amping. Diletakkannya Mahisa Amping menelungkup diatas batu. Kemudian dengan memijit punggungnya, m aka airpun keluar dari mulut anak itu. "Anak ini minum terlalu banyak" berkata orang itu "ini adalah salahmu karena kau mengganggu saat aku akan menolongnya”. "Tetapi kau harus menyerahkan anak itu kepadaku" berkata Mahisa Semu. "Sekali lagi aku katakan, bahwa anak ini akan aku bawa. Aku ingin menjadikannya muridku. Tidak seorangpun yang dapat mencegahnya" berkata orang itu. "Tetapi kau tidak dapat membawanya begitu saja " berkata Mahisa Semu "kau harus bertemu lebih dahulu dengan kakang Mahisa Murti di Padepokan. "Itu tidak perlu" b erkata orang itu "kau dapat mengatakan kepada kakakmu yang  kau sebut bernama Mahisa Murti itu.” "Apakah kau takut bertemu dengan kakakku itu?" bertanya Mahisa Semu. Tetapi orang itu tertawa. Katanya "Kau memang cerdik. Kau ingin mengungkit harga diriku agar aku mau bertemu dengan kakakmu itu. Tetapi aku m emang tidak merasa perlu menemuinya. Pada kesempatan lain, setelah aku m enyimpan anak yang  memiliki bekal yang hampir sempurna ini, aku memang akan menemui kakakmu. Jika perlu, maka aku akan membuat perhitungan. Jika kakakmu tetap tidak mau me ngerti, mungkin aku akan membunuhnya, meskipun ia berilmu sangat tinggi”. Mahisa Semu memang tidak mempunyai cara lain. Sementara itu orang itu berkata lagi "Sudahlah. Ikhlaskan adikmu itu. Tetapi ketahuilah, bahwa kau sendiri memang memiliki kelebihan yang  jarang ada duanya. Tetapi sayang bahwa aku hanya ingin mempunyai seorang murid saja”. Orang itu tidak berkata lebih lanjut. Tetapi iapun kemudian berjalan menepi dan kemudian naik ketepian berpasir. Mahisa Semu yang mengikutinya tidak meny ia-ny iakan kesempatan itu. Demikian orang itu tidak lagi berada dialiran sungai, maka Mahisa Semupun segera menyerangnya. Tetapi serangannya memang tidak ada artinya. Justru Mahisa Semu itulah yang terlempar dan jatuh di pasir tepian. Untunglah bahwa pasir tepian itu telah membantunya sehingga tulang punggungnya tidak patah karenanya. Mahisa Semu menggeram. Ia tidak tahu apa yang  sebaiknya dilakukan. Namun untuk beberapa saat lamanya ia mengikuti sa ja orang yang  membawa Mahisa Amping itu naik keatas tanggul. "Jangan ikuti aku" berkata orang itu "jika kau berkeras kepala, maka aku akan dapat menjadi marah”. "Aku tidak rela kau membawa adikku " Mahisa Semu berteriak. Tetapi orang itu berkata "Adikmu masih sangat lemah. Ia masih pingsan. Jangan membuat adikmu ju stru mati”. Mahisa Semu benar-benar kebingungan. Tetapi ia masih sa ja mengikuti orang itu. Ternyata bahwa orang itu memang menjadi marah. Katanya " Ingat anak muda, Jika kau tidak mau mendengarkan katakataku, maka aku akan menjadi sangat marah. Dan kau harus tahu, bahwa dalam kemarahan itu, aku akan dapat membunuh seseorang diluar sadarku. Karena itu m enjauhlah dan jangan ikuti aku. Bahkan mungkin aku akan dapat membunuh kau dan adikmu bersama-sama”. Mahisa Semu benar-benar m enjadi kebingungan. Ia tidak tahu apa yang  harus dilakukan. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terdengar suara tertawa berkepanjangan. Seseorang tiba-tiba saja muncul dari balik pohon perdu. Seorang yang berjanggut putih. Namun yang tubuhnya masih nampak segar dan perkasa. "Orang yang berwajah keras itu terkejut melihat kedatangan orang berjanggut putih itu. Dengan nada bergetar ia bertanya " Untuk apa kakang berada di sini?” "Sambega, aku memang menyusulmu. Ketika aku tahu kau tidak ada di rumahmu, maka aku berusaha untuk menemukanmu." jawab orang berjanggut putih itu. “Untuk apa kakang Widigda. Kenapa kakang mencari aku? Bukankah aku bukan momongan kakang? Aku bukan pula bay i yang kakang lepaskan dipinggir jurang sehingga kakang harus mencari aku jika aku tidak kelihatan sehari dua hari?” "Memang Sambega. Kau bukan momonganku. Tetapi kau adalah adikku. Adik seperguruanku. Karena itu, maka aku merasa berkepentingan jika kau tidak nampak di rumah. Apalagi dalam waktu akhir-akhir ini." jawab orang berjanggung putih yang disebut Widigda itu. "Sebaiknya kakang tinggalkan aku sendiri, Biarlah aku pulang sendiri pada saatnya. Aku tahu apa yang akan aku lakukan”. "Tidak Sambega. Kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Aku sudah mengira. Dan ternyata aku memang menemukan kau sedang melakukan apa yang tidak kau ketahui itu”. "Kakang Widigda tidak usah mencampuri persoalanku. Kakang Widigda memang kakak seperguruanku. Tetapi kakang tidak dapat mencampuri persoalanku sampai kepersoalan pribadi yang paling dalam." berkata Sambega "Tidak Sambega. Guru pernah berpesan kepadaku, bahwa kita harus saling membantu. Saling mengingatkan jika seorang diantara kita lupa. Saling menunjukkan kesalahan jika kita melakukan kesalahan itu. Kita harus saling berkata benar, bukan saling membenarkan meskipun kita melakukan kesalahan," jawab Widigda. "Apa maksud kakang, aku telah melakukan kesalahan itu?" bertanya Sambega. "Menurut penglihatanku, kau memang telah melakukan kesalahan itu. Kau tidak boleh menganggu anak-anak yang sedang bermain itu." jawab Widigda. "Aku tidak m engganggu mereka. Aku justru berniat baik. Aku ingin membuat anak ini menjadi seorang yang  pilih tanding. Seorang yang tidak ada duanya di Singasari ini”. "Aku puji niatmu. Tetapi apakah caramu itu sudah benar?" bertanya Widigda. “Kakang. Aku memang tidak begitu menghiraukan cara yang aku tempuh. Tetapi karena niatku baik, maka apa yang aku lakukan inipun baik. Hasilnyapun akan menjadi baik buat aku dan buat anak ini." jawab Sambega. "Tetapi apakah itu baik buat kakak-kakaknya?" bertanya Widigda. Sambega memandang Widigda dengan tajamnya. Namun kemudian katanya "Kakang, kenapa kakang selalu menghalangi aku jika aku mempuyai keinginan yang sebenarnya sangat bersifat pribadi? Kakang juga mencegah ketika aku ingin mengawini anak mPu Kuda Taler Waja. Sekarang kakang menghalangi aku mengambil anak yang menurut penilaianku memiliki bekal hampir sempurna ini”. "Sambega" berkata Widigda "jika kau tempuh jalan wajar, maka aku tidak akan pernah menghalangimu, apapun yang akan kau lakukan? Tetapi kau sering m elakukan satu kerja yang merugikan orang lain. Gadis mPu Kuda Taler Waja adalah seorang gadis yang saat itu sudah dipertunangkan dengan seseorang dan bahkan hampir sampai pada saat upacara perkawinan. Tiba-tiba kau, yang  sudah terhitung tua, datang untuk mengambilnya. Belum lagi jika kau bercermin dipermukaan air bagaimana ujudmu itu. Maaf, bukan maksudku untuk menunjuk cacatmu. Tetapi sebaiknya kau tahu diri. Dengan demikian maka kau tidak akan m elakukan sesuatu yang dapat merugikan orang lain”. "Kakang. Ketika kakang mencegah aku mengambil gadis itu, aku dapat mengerti. Aku menurut nasehat kakang. Tetapi kakang jangan mencegah aku lagi. Aku memerlukannya. Kakang tahu bahwa aku tidak mempunyai lagi anak yang dapat m enyambung bukan saja namaku, tetapi juga m ewarisi ilmuku. Jika aku tidak mempunyai seorang istri lagi, maka ini adalah cara yang  dapat aku tempuh untuk m endapat seorang anak”. "Tidak Sambega. Anak itu tentu ada orang tuanya setidak - tidaknya walinya. Kau tidak dapat mengambilnya begitu saja " berkata Widigda. Wajah Sambega menjadi tegang. Sementara itu Widigda berkata "Sambega. Kau tahu bahwa kau tidak akan dapat memaksakan kehendakmu itu jika aku melarangmu” Sambega termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Baik kakang. Aku akan m enemui orangtuanya atau walinya atau gurunya atau siapapun yang  b ertanggung jawab atas anak itu. Aku akan m engatakan kepadanya, bahwa anak itu akan aku ambil. Aku akan m enukardengan apasaja yang dikehendakinya” “Jika orang itu tidak memberikannya?” bertanya Widigda "Aku akan menawarkan kepadanya, apakah ia akan mempertahankannya " jawab Sambega. "Bagus" merekapun terkejut mendengar suara itu Ketika mereka berpaling, mereka melihat Mahisa Murti berdiri di sebelah sebatang pohon yang  tumbuh diantara gerumbul perdu, “anak itu adalah adikku. Aku akan mempertahankannya dengan cara apapun yang  kau kehendaki. Meskipun aku tahu, cara yang paling buruk yang kau tempuh itu adalah cara yang sama dengan cara yang dipergunakan oleh seorang perampok untuk mendapatkan apa yang dikehendakinya ". tSambega menjadi merah. Diletakannya Mahisa Amping sambil m enggeram "Kau ternyata seorang laki -laki sejati. Aku senang mendengar kesediaanmu untuk mempertaruhkan kemampuanmu mempertahankan adikmu”. "Untuk mencegah niatmu, aku m emang tidak m empunyai cara lain." jawab Mahisa Murti. "Tetapi sebelumnya aku ingin memberikan sedikit keterangan kepadamu, kenapa aku menginginkan adikmu” "Aku sudah mendengar Ki Sanak " jawab Mahisa Murti "kau memerlukan seseorang untuk mewarisi ilmumu. Tetapi kau sudah diperingatkan oleh saudara seperguruanmu sendiri, bahwa cara yang  kau tempuh itu adalah keliru”. "Ki Sanak" jawab Sambega "aku memang tidak dapat menempuh jalan lain. Jika aku datang kepadamu dan m inta agar kau memberikan adikmu tentuakau berkeberatan. Sementara itu, aku sangat memerlukannya”. "Apakah tidak ada orang lain dibawah hamparan langit yang demikian luasny a itu selain adikku?" bertanya Mahisa Murti. "Adikmu adalah seorang anak yang  memiliki bekal yang  hampir sempurna. Sebenarnyalah aku belum pernah b ertemu dengan seorang anak yang memiliki bekal seperti anak ini." jawab Sambega. "Apakah jika demikian kau merasa berhak untuk mengambilnya ?" bertanya Mahisa Murti. Orang itu menunduk dalam-dalam. Sementara Widigda berkata "Sudahlah Sanbega. Marilah kita pulang. Aku akan membantumu mendapatkan seorang anak yang  akan dapat menjadi pewaris dari namamu dan ilmumu”. Sambega terduduk diatas seonggok batu padas. Sementara Mahisa Murti melangkah mendekati Mahisa Amping yang mulai menggeliat bangkit. Demikian pula Mahisa Semu. Iapun segera berlari mendekati adiknya. Untuk beberapa saat Mahisa Amping memang kebingungan. Namun ketika dilihatnya Mahisa Murti dan Mahisa Semu, maka iapun langsung bangkit berdiri. Ketika Mahisa Amping berpaling kearah Sambega yang  duduk diatas batu-batu padas, maka dilihatnya erang itu mengusap matanya yang basah. "Sudahlah" berkata Widigda "kau adalah seorang laki-laki yang berilmu tinggi. Kau juga mempunyai kesiapan jiwani yang tinggi. Karena itu tidak pantas jika kau menangis seperti kanak-kanak”. Orang itu masih saja tertunduk dalam-dalam. Sementara Mahisa Murti menjadi heran melihat keadaan Sambega itu. "Apa yang sebenarnya terjadi ?" bertanya Mahisa Murti. Widigdapun kemudian duduk pula diatas batu padas. Katanya kepada Mahisa Murti "Du duklah anak muda”. Mahisa Murti tidak menolak. Ia melihat kesungguhan pada mata orang yang  bernama Widigda itu. Menurut pembicaraannya dengan Sambega sebelumnya, iapun berpendapat, bahwa Widigda adalah seorang yang baik. "Anak muda" berkata Wididga "akulah yang  minta m aaf kepadamu atas tingkah laku adikku”. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Katanya "Jika ia mengurungkan niatnya, maka aku memaafkannya, Ki Sanak”. "Aku harap ia memang mengurungkan niatnya" jawab Widigda. "Tetapi apakah yang  sebenarnya terjadi atas Ki Sanak itu ?" bertanya Mahisa Murti. Namun kemudian dengan tergesagesa ia berkata "Tentu hal ini bukan urusanku. Tetapi karena persoalannya menyinggung adikku, maka mungkin ada baiknya aku mengetahuinya. Itupun jika yang berkepentingan tidak berkeberatan”. Widigda menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Baiklah anak muda. Aku kira adikku tidak berkeberatan. Ia m emang perlu menjelaskan, kenapa ia telah berbuat demikian”. Mahisa Murti mengangguk-angguk kecil, sementara Widigda berkata selanjutnya "Anak muda. Adikku yang sudah lewat separo baya itu pada suatu hari memang mengalami peristiwa yang tidak akan pernah dilupakannya. Rumahnya didatangi oleh ampat orang yang  berilmu tinggi yang mendendamnya karena beberapa tahun yang lalu pernah dikalahkan oleh adikku dalam perang tanding. Adikku memang tidak sampai hati m embunuhnya m eskipun perang tanding itu disepakati bahwa seorang diantara m ereka harus mati. Tetapi hal itu ternyata telah membawa ekor yang panjang,” orang itu berhenti sejenak. Lalu katanya" Perang tanding itu sendiri disebabkan karena persoalan yang sebenarnya sudah lama terjadi. Orang yang  mendendam terhadap adikku itu adalah saudara seperguruan kami sendiri. Tetapi persoalan anak perempuan guru kami telah membuat hubungan mereka menjadi retak. Dan bahkan saling bermusuhan. Ternyata Sambegalah yang mendapat kehormatan, diterima baik oleh guru maupun oleh anak gadisny a." suara Widigda itupun tertahan. Namun kemudian ia memaksa diri untuk berceritera lebih lanjut "bahwa Sambega tidak membunuh lawannya berperang tanding itu telah mengundang bencana. Orang itu justru datang dengan tiga orang kawannya. Mereka menghancurkan rumah Sambega. Melukai Sambega sehingga wajahnya menjadi cacat. Isterinya yang  setia dan anaknya satu-satunya terbunuh”. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun Widigda. masih berkata selanjutnya "Tetapi bukan cacat tangannya. Cacat tangannya dideritanya sejak kanak-kanak. Namun cacat yang lain didapatnya saat ia bertahan terhadap keempat orang berilmu tinggi itu”. Mahisa Murti m engangguk-angguk kecil diluar sadarnya. Ketika ia berpaling kepada orang yang cacat itu, m aka sekali lagi ia melihat orang itu mengusap matanya. "Peri stiwa itu telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan Sambega yang  pada saat itu juga sudah disangka mati. Namun ternyata bahwa ia masih dapat bertahan hidup. Aku meny esal bahwa aku terlambat datang. Meskipun demikian aku sempat mengobati luka-luka Sambega. Bukan saja luka pada kulit dan dagingnya, atau tulang-tulangnya. Tetapi juga bagian dalam tubuhnya”. Orang itu terdiam pula. Wajahnya juga nampak menjadi muram. Namun tiba -tiba saja ia berkata "Pada dasarnya Sambega bukan orang yang  berwatak buruk. Ia kehilangan isteri dan anaknya satu-satunya. Itulah sebabnya, maka ia sangat merindukan seorang anak yang  akan dapat menyambung namanya dan mewarisi ilmunya. Goncangan perasaan yang pernah dialaminya kadang-kadang telah membuatnya kehilangan keseimbangan dan melakukan tindakan yang tidak seharusny a sebagaimana baru saja dilakukan”. Mahisa Murti masih saja mengangguk-angguk kecil. Sementara itu Widigda masih berceritera selanjutnya "Bahkan ia juga pernah berniat mengambil seorang gadis yang sudah dekat dengan hari perkawinannya. Ia tiba-tiba saja menjadi sangat rindu kepada isterinya yang terbunuh bersama anaknya. Adalah kebetulan bahwa wajah gadis itu sangat mirip dengan isterinya”. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Bahkan iapun kemudian berdesis "Aku minta maaf Ki Sanak. Aku tidak tahu latar belakang kehidupan Ki Sambega. Yang aku lihat hanyalah ujud lahiriahnya saja. Keras, kasar dan cacat-cacat diwajahnya dan bahkan jari-jari tangannya. Aku mengira bahwa Ki Sambega adalah seorang penjahat yang sudah terlalu sering mengalami benturan kekerasan sehingga wajahnya menjadi cacat sebagaimana tubuhnya”. "Kau tidak bersalah anak muda" jawab Widigda "bahkan aku merasa sangat hormat akan sikapmu. Demikian besar perlindungan yang kau berikan terhadap adik-adikmu sehingga tanpa menghitung akibat yang dapat terjadi”. "Bukankah itu sudah menjadi kewajibanku? Aku adalah saudara yang  tertua. Bukankah aku bertanggung jawab terhadap keselamatan adik-adikku?" sahut Mahisa Murti. "Baiklah Ki Sanak" berkata Widigda "kami serahkan kembali adikmu dalam keadaan selamat”. "Terima kasih. Aku m inta maaf, bahwa dalam hal ini aku tidak dapat membantu Ki Sambega" sahut Mahisa Murti. Namun kemudian katanya "Tetapi jika Ki Sanak berdua berkenan, aku ingin mempersilahkan Ki Sanak untuk singgah di Padepokan kami. Padepokan Bajra Seta”. Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Yang kemudian menjawab adalah Widigda " aiklah Ki Sanak. Kami mengucapkan terima kasih bahwa kami diijinkan untuk singgah di Padepokan Ki Sanak”. Demikianlah, maka merekapun segera meninggalkan tempat itu. Mahisa Amping memang m asih nampak lemah. Tetapi ia dapat b erjalan sendiri m eskipun harus dipapah oleh Mahisa Semu. Ketika mereka sampai di padepokan, maka beberapa orang cantrik terkejut melihat keadaan Mahisa Amping. Wantilan yang tergesa -gesa mendekatinya bertanya dengan serta merta" Mahisa Semu. Kau apakan adikmu ? Apakah kau tidak dapat menahan diri selama kau berlatih dengan adikmu?” "Tidak, paman. Bukan aku" jawab Mahisa Semu. "Jadi kenapa dengan adikmu itu ?" desak Wantilan. Mahisa Semu memandang Mahisa Murti dengan ragu. Namun Mahisa Murti yang tanggap itupun tersenyum. Katanya " Salah Amping sendiri. Ia kurang berhati-hati bermain diatas bebatuan sungai”. Wantilan m engerutkan dahinya. Tetapi ia m elihat Mahisa Semu dan Mahisa Amping masih basah kuyup. Namun Wantilan tidak bertanya lagi. Namun dalam pada itu, Sambega melihat betapa orangorang Padepokan Bajra Seta menaruh perhatian yang  sangat besar terhadap Mahisa Amping. Seandainya ia berhasil membawa anak itu pergi, maka seisi Padepokan akan merasa kehilangan. Semuanya akan merasa bersedih. "Untunglah aku tidak berhasil membawanya pergi. Seandainya aku memaksa membawa anak itu, maka aku telah membuat seluruh isi padepokan ini bersedih. Atau mungkin mereka akan disebar untuk mencari dan memburu orang yang telah membawanya, sehingga hidupnya akan menjadi semakin tidak tenang”. Ju stru karena Mahisa Amping telah berada dilingkungannya kembali, maka rasa-rasanya hati Sambega menjadi damai. Tidak ada beban yang harus dipikulnya lagi. Di Padepokan, Sambega dan Widigda mendapat perlakuan yang sangat baik. Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping tidak m engatakan kepada siapapun, apa yang sudah dilakukan oleh Sambega. Kepada Mahisa Semu dan Mahisa Amping telah dipesan oleh Mahisa Murti, bahwa selama Sambega dan Widigda masih berada di Padepokan, sebaiknya mereka tidak meny ebut lagi apa yang pernah mereka lakukan atas Mahisa Amping itu. Namun dalam pada itu, dalam satu kesempatan Widigda sempat bertanya "Anak muda, jika angger tidak berkeberatan, aku ingin bertanya, apakah ada hubungannya antara Padepokan Bajra Seta ini dengan jalur ilmu Bajra Geni?” "Mahisa Murti memang agak terkejut mendengar pertanyaan itu. Dengan nada rendah ia bertanya "Ki Widigda, darimana Ki Widigda dapat menduga demikian?” "Hanya sekedar dugaan ngger. Ket ika aku sempat melihat kedua adikmu berlatih sebelum Sambega mengganggunya, aku melihat unsur-unsur ilmu betapapun samarnya dari ilmu Bajra Geni”. "Pada kedua anak-anak itu?" Mahisa Murti menegaskan. "Ya, pada kedua orang anak itu " jawab Widigda. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Dengan raguragu ia berkata "Nampaknya Ki Widigda m emahami benarbenar ilmu Bajra Geni atau da sar-dasar landasan ilmu Bajra Geni”. "Kau benar anak muda. Yang aku m aksud adalah dasardasar landasan ilmu Bajra Geni" jawab Widigda. "Landasan ilmuku memang dasar-dasar landasan ilmu Bajra Geni meskipun barangkali masih belum matang. Kedua adikku itu belajar padaku, sehingga dasar-dasar landasan ilmu itu telah diwarisinya pula." jawab Mahisa Murti. Ki Widigda tersenyum. Katanya "Kedua anak itu memiliki dasar"dasara landasan ilmu yang sangat kokoh. Dengan mengamati keduanya, maka dapat diambil kesimpulan, bahwa orang yang  telah mengajari mereka dalam olah kanuragan, adalah seorang yang  berilmu sangat tinggi.” Mahisa Murti tersenyum. Katanya "Ki Widigda terlalu memuji. Sebenarnyalah bahwa aku masih sedang berusaha untuk meningkatkan dan mematangkan ilmuku, agar dapat menempatkan diri pada tataran orang-orang berilmu. Meskipun barangkali pada tataran yang  paling rendah”. "Kau memang seorang anak muda yang rendah hati" berkata Widigda "tetapi dengan demikian m aka aku m enjadi semakin y akin akan kemampuanmu" Widigda berhenti sejenak, lalu katanya kemudian "Sebenarnyalah aku mengenal orang-orang berilmu tinggi dari belahan ilmu Bajra Geni. Guruku mengenal seorang yang berilmu sangat tinggi. Namanya Witantra. Meskipun Witantra masih lebih muda dari guruku, tetapi ilmunya benar-benar tidak tertandingi”. "Paman Witantra " desis Mahisa Murti diluar sadarnya. "Kau tentu mengenalnya " desis Widigda. "Ya " Mahisa Murti mengangguk-angguk "sekarang paman Witantra sudah tidak ada lagi”. "Aku sudah mendengar. Tetapi apa hubungannya dengan kau anak muda. Apakah Witantra itu kakek gurumu atau siapa?" bertanya Widigda. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian "Ayahku Mahendra adalah adik seperguruan paman Witantra” "O" orang itu mengangguk-angguk "jadi kau anak adik seperguruan Witantra?” “Ya" jawab Mahisa Murti. "Pantas, bahwa kau memiliki ilmu yang  tinggi " desis Widigda. Lalu katanya pula "Adik seperguruan Witantra tentu seorang yang  berilmu sangat tinggi pula”. "Tidak " jawab Mahisa Murti "ayahku bukan seorang yang  berilmu tinggi sebagaimana paman Witantra. Apalagi aku dan adik-adikku”. Widigda mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling kepada Sambega, maka dilihatnya Sambega selalu menundukkan wajahnya saja. "Sambega" berkata Widigda "kau tidak perlu murung. Anak muda ini berdiri di jalur perguruan yang  sudah kita kenal. Guru kita mengenal Witantra juga Mahendra. Karena itu, maka kita tidak berada di tempat orang asing”. Sambega mengangguk kecil. Katanya "Justru aku berada disini, aku merasa sangat malu”. "Tidak. Semuanya sudah dilupakan." berkata Widigda. Namun Sambega masih saja merasa rendah diri atas tingkah lakunya. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa Mahisa Murti adalah anak Mahendra yang dikenal oleh gurunya. Bahkan gurunya merasa kagum akan ilmu yang dimiliki oleh Witantra dan Mahendra saat itu sepeninggal Kebo Ijo, yang dibunuh oleh ketamakannya sendiri. Sementara itu Mahisa Murti berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Karena itu, maka iapun telah bertanya "Ki Sanak. Jika demikian, apakah guru Ki Sanak itu masih ada?” "Tidak. Guruku lebih tua dari Witantra. Ia telah m eninggal lebih dahulu. Sebagaimana kau lihat, kami muridmuridnyapun sudah setua ini”. Mahisa Murti mengangguk-angguk kecil. Sementara itu, Widigdapun masih saja bertanya tentang berbagai macam persoalan, terutama yang menyangkut Padepokan itu. Ternyata bahwa Mahisa Murtipun bersikap lebih akrab ketika ia mengetahui bahwa keduanya itu telah mengenal Witantra dan juga ayahnya, setidak-tidaknya nama Mahendra. Karena itu, maka Mahisa Murtipun telah menawarkan kepada mereka untuk tinggal lebih lama lagi di Padepokan itu. Keduanya memang tidak menolak. Widigda dan Sambega justru merasa berterima kasih sekali, bahwa mereka mendapat kesempatan untuk tinggal di Padepokan itu. Dalam pada itu, Sambega masih saja sangat tertarik kepada latihan-latihan yang  dilakukan oleh Mahisa Amping dan Mahisa Semu. Hampir setiap saat Sambega selalu m enunggui anak-anak itu berlatih. Namun agaknya Mahisa Amping sendiri m asih saja selalu dibayangi oleh kecemasan menghadapi Sambega. Ra sa -rasanya Sambega masih saja akan m enerkamnya dan membawanya lari keluar Padepokan Bajra Seta. Tetapi ketika hal itu disampaikannya kepada Mahisa Murti, maka Mahisa Murti itupun berkata "Kau tidak perlu takut lagi Amping. Orang itu ternyata bukan orang jahat. Tetapi penderitaan yang  dialaminya yang telah membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Juga atas keinginankeinginannya untuk menutupi kegelisahannya”. "Bagaimana jika kehilangan kendali itu terjadi lagi dengan tiba -tiba?" bertanya Mahisa Amping. "Saudara seperguruannya ada di sini. Ki Widigda mempunyai pengaruh yang  cukup besar atas Ki Sambega" jawab Mahisa Murti. Mahisa Amping mengangguk-angguk. Ia mencoba untuk mengerti. Tetapi jika didalam sanggar ia melihat sepa sang mata Ki Sambega yang  bagaikan m enyala, m aka jantungnya menjadi berdebar-debar. Bahkan kadang-kadang ia tidak mampu memusatkan nalar budinya dalam latihan-latihan tuu. Tetapi lambat laun agaknya Ki Sambega sendiri dapat mengerti perasaan anak itu. Tetapi karena ia selalu ingin menyaksikan Mahisa Amping dan Mahisa Semu berlatih, maka setiap kali ia minta Ki Widigda atau bahkan Mahisa Murti sendiri menemaninya, sehingga hati Mahisa Amping merasa tenang. Dengan demikian maka latihan-latihan yang  dilakukannyapun menjadi lebih baik. Dengan demikian maka rasa-rasanya Ki Sambega semakin kerasan tinggal di padepokan itu. Rasa-rasanya ia mendapat kesempatan untuk dapat menunggui lagi anaknya yang  pernah hilang. Tetapi yang  tidak terduga-duga itu telah terjadi. Ternyata saudara seperguruannya yang  pernah datang dan membunuh isteri dan anaknya itu telah mencarinya. Bahkan akhirnya mereka mengetahui bahwa Ki Sambega ada di Padepokan Bajra Seta. Untuk beberapa hari lamanya, orang itu mengamati dari kejauhan, apakah benar Ki Sambega ada di Padepokan itu. Sebenarnyalah, bahwa pada satu hari mereka memang melihat Ki Sambega itu berada di luar pintu gerbang Padepokan Bajra Seta bersama Mahisa Semu, Mahisa Amping, Wantilan dan beberapa orang cantrik. Mereka sedang menghirup udara yang cerah disore hari sekaligus menerima kunjungan beberapa orang anak muda dari padukuhan sebelah yang  sedang mempersiapkan keramaian di padukuhan mereka. Mereka ingin mempergelarkan kemampuan beberapa orang anak muda padukuhan yang  serba sedikit menguasai unsur-unsur gerak latihan dasar olah kanuragan. "Tentu saja sekedar bermain-main" berkata anak muda yang tertua diantara mereka. Lalu katanya "Kami ingin mendapat beberapa petunjuk, apa yang  sebaiknya kami lakukan untuk rencana itu. Kami tidak ingin terjadi salah paham, seakan-akan kami dengan sengaja memamerkan kemampuan yang baru setitik itu”. Wantilan tersenyum. Katanya "Satu rencana yang baik. Jika kalian meny elenggarakan pergelaran itu dengan niat yang baik, maka tentu tidak akan ada yang  menuduh kalian sekedar meny ombongkan diri”. "Sementara itu, apa yang  sepantasnya menjadi bahan pergelaran itupun ingin kami dapatkan dari mereka yang memiliki kemampuan yang cukup." berkata anak muda itu. Wantilan m engangguk-angguk. Katanya kemudian "Kalian sudah cukup berhati-hati. Baiklah kalian bertemu langsung dengan Mahisa Murti”. Anak muda yang  tertua diantara mereka itupun mengangguk hormat sambil menjawab " Terima kasih atas kesempatan itu”. Kepada Mahisa Semu Wantilan berkata "Ajak mereka menemui kakakmu jika ia tidak sedang sibuk”. Sementara mereka memasuki gerbang Padepokan Bajra Seta, maka Sambegapun berkata "Tentu akan menjadi tontonan yang menarik. Aku ingin melihat bagaimana anakanak itu melaksanakan rencananya. Mungkin diantara mereka ada anak-anak yang memiliki kelebihan dari kawankawannya”. Wantilan yang  mengetahui bahwa Ki Sambega itu merindukan seorang anak, maka iapun mengangguk-angguk sambil menjawab "Jika saja kau dapat menunggunya”. "Aku tidak mempunyai rencana yang harus segera aku lakukan. Jika saja aku masih diperkenankan berada di Padepokan ini, maka aku akan menunggu”. "Tentu. Padepokan ini t idak mempunyai keberatan apapun seandainya kau akan tinggal disini lebih lama lagi”. Untuk beberapa lamanya, Sambega masih berada di depan pintu gerbang bersama Wantilan dan beberapa orang cantrik. Namun k emudian merekapun telah masuk pula melalui regol yang kemudian ditutup. Beberapa orang dikejauhan melihat, bahwa Sambega benar-benar berada di Padepokan itu. Mereka telah melihat sendiri sehingga dengan demikian m ereka tidak akan raguragu lagi. "Kita akan menemui pemimpin dari Padepokan kecil ini." berkata salah seorang dari mereka. "Bukan sebuah padepokan kecil" berkata seorang yang  lain "nampaknya sebuah padepokan yang besar”. "Yang besar adalah bangunan dan barak-baraknya. Tetapi aku tidak yakin, bahwa ada seorang diantara mereka yang berilmu tinggi. Agaknya Sambega telah dikagumi, sehingga ia akan mempunyai pengaruh yang sangat besar di padepokan itu.” Kawannya mengangguk-angguk. Sementara itu saudara seperguruan Sambega itu berkata "Aku akan memasuki padepokan itu. Aku akan minta agar Sambega diberikan kepadaku. Kali ini umurnya tidak akan terlepas lagi dari tanganku”. "Iblis itu termasuk licin. Ternyata ia masih dapat bertahan hidup." berkata kawannya. “ Ia memang licik. Ia dapat berpura-pura mati." sahut adik seperguruannya "jika saja saat itu aku tahu bahwa ia m asih hidup. Aku tentu akan mencincangnya menjadi sayatansayatan kecil”. "Tetapi hidupnya tentu sudah tidak berarti lagi setelah isteri dan anaknya terbunuh." guman kawannya. "Perempuan terkutuk. Jika saja ia memilih aku untuk menjadi isterinya, maka ia akan m enjadi seorang perempuan yang memiliki apa saja yang ia inginkan. Tetapi karena ia memilih menjadi isteri Sambega, maka ia mengalami nasib buruk. Mati dalam keadaan yang tidak sepantasny a”. Kawannya tidak menyahut. Sementara itu saudara seperguruan Sambega berkata "Besok kita m asuki padepokan itu. Kita akan minta agar Sambega diberikan kepada kita, atau padepokan itu akan menjadi debu. Kita bukan saja berempat sebagaimana kita datang kerumahnya dan membunuhnya bersama anak isterinya, m eskipun kemudian ternyata bahwa ia luput dari maut. Sekarang kita berjumlah sepuluh orang. Padepokan itu akan kita hancurkan jika mereka menolak memberikan Sambega.” Kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi mereka merasa sebagai orang-orang berilmu tinggi, sehingga mereka akan mampu menaklukkan padepokan itu meskipun mereka tahu bahwa di padepokan itu terdapat banyak para cantrik yang tinggal. "Dengan membunuh sepuluh atau duapuluh orang, maka yang lain tentu akan meny erah " berkata saudara seperguruan Sambega itu. Sedangkan orang-orang itu m enganggap bahwa membunuh sepuluh atau duapuluh orang bukanlah pekerjaan yang sulit bagi mereka. Namun ketika malam tiba, orang-orang itu masih menunggu. Meskipun demikian bergantian mereka mengawasi regol padepokan itu agar Sam bega tidak sempat meninggalkan padepokan itu. "Besok pagi-pagi aku akan memasuki padepokan itu " berkata saudara seperguruan Sambega. Malam itu tidak terjadi sesuatu di padepokan. Anak-anak muda dari padukuhan sebelah telah pulang dengan bekal petunjuk dari Mahisa Murti, apa yang  sebaiknya mereka lakukan jika mereka ingin mempergelarkan unsur-unsur olah kanuragan. Mahisa Murti m engingatkan kepada mereka, agar unsur -unsur itu dipertunjukkan sebagaimana mereka mempertunjukkan sebuah tarian. Seperti direncanakan, maka ketika matahari mulai memanjat naik, maka sepuluh orang yang  merasa dirinya berilmu tinggi telah mendatangi Padepokan Bajra Seta. Dengan sikap yang  garang, m ereka mendekati pintu gerbang Padepokan. Para cantrik yang  b ertugas direg ol telah m enyapa mereka sambil mengangguk hormat. Namun saudara seperguruan Sambega dengan kepala tengadah menjawab "He, bawa aku kepada Sambega”. Seorang cantrik yang  tertua diantara mereka yang  bertugas mengerutkan dahinya. Ia m erasa heran m elihat sikap orangorang itu. Para cantrik di reg ol telah menangguk hormat. Mereka bertanya dengan baik, apakah mereka mempunyai satu kepentingan atau ingin bertemu atau berbicara dengan siapa. Tetapi jawaban orang itu ternyata terlalu kasar. Meskipun demikian cantrik-cantrik itu masih menahan diri. Yang tertua diantara mereka bertanya pula "Apa yang sebenarnya kalian kehendaki ?” "He, apakah kau tuli ? Bawa Sambega kepadaku " bentak orang itu dengan kasar. Cantrik yang sedang bertugas itu mulai tersinggung. Karena itu, maka yang tertua diantara mereka menjawab "Ki Sanak. Ki Sanak tamu di padepokan ini. Kalian tidak dapat bersikap seperti itu”. "Tutup mulutmu atau aku pilin lidahmu. Dengar, bawa Sambega kemari. Kau tidak dapat berbohong, karena aku melihat Sambega ada disini." bentak orang itu. Namun cantrik yang  bertugas dan merasa bertanggung jawab itu tidak begitu saja tunduk kepada orang itu betapapun orang itu nampak garang, keras dan kasar. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti yang  sudah mendapat laporan tentang kedatangan sepuluh orang itupun telah melangkah kepintu gerbang diikuti oleh Wantilan dan Mahisa Semu serta beberapa cantrik tertua di Padepokan itu. Saudara seperguruan Sambega itu memandang Mahisa Murti dengan kening yang berkerut. Anak muda itu nampak begitu y akin akan sikapnya. Tanpa ragu-ragu Mahisa Murti melangkah mendekati orang-orang yang mendatangi padepokannya itu. "Apa yang kalian cari Ki Sanak ?" bertanya Mahisa Murti. "Aku tidak akan mengulangi beberapa kali. Bawa Sambega kemari " jawab saudara seperguruan Sambega itu. "Apakah kalian ingin bertemu dengan Ki Sambega ?" bertanya Mahisa Murti. "Apakah kau tuli ?" orang itu membentak keras-keras. Sambega dan Widigda ternyata mendengar keributan di pintu gerbang. Dari bangunan induk mereka melihat bahwa yang datang itu adalah saudara seperguruan m ereka dengan beberapa orang kawannya. "Tetapi Mahisa Am ping telah terlanjur berteriak. Lengkara yang sempat memandang Mahisa Ampingpun mengumpat kasar. Dengan geram ia berkata " Aku ingin mengoy ak mulutmu, tikus kecil”. Mahisa Amping memang berusaha untuk menjaga mulutnya, agar tidak menyahut lagi. Betapapun dadanya menjadi sesak, tetapi anak itu memang mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dalam pada itu, Lengkarapun kemudian berkata kepada Sambega "Sambega, bersiaplah untuk mati. Kita akan membuat perhitungan sekarang”. Sambega menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku sudah siap, Lengkara”. Lengkarapun segera melangkah maju, sementara kawankawannya berdiri berkelompok. Namun mereka semuanya telah bersiap untuk berbuat sesuatu setiap saat Lengkara memberikan isyarat. Dalam pada itu, Widigda dan Mahisa Murti berdiri di sebelah yang lain, seakan-akan mereka telah menempatkan diri pada sisi yang berlawanan. Sedangkan Wantilan, Mahisa Semu dan beberapa orang cantrik tertua telah berderet pula membentuk sebuah lingkaran yang cukup besar. Sedangkan para cantrik yang  lainpun agaknya tertarik untuk melihat apa yang akan terjadi. Mahisa Murti tidak melarang para cantrik menyaksikan kedua orang saudara seperguruan yang telah dibakar oleh dendam itu. Siapapun yang  menang dan siapapun yang kalah, maka dendam yang  membakar dua orang saudara seperguruan itu akibatnya selalu buruk. Apalagi jika harus jatuh korban diantara mereka. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Lengkara telah mulai menyerang, sementara Sambega bergeser selangkah surut. Namun kemudian, serangan-serangan Lengkara mengalir seperti banjir bandang. Arus dendamnya benarbenar tidak terbendung lagi. Ra sa-rasanya ia ingin langsung membunuh saudara seperguruannya itu. Sambega memang terdesak. Ia terkejut atas seranganserangan yang  keras dan kasar dari saudara seperguruannya itu. Namun dendam didadanya juga sudah menyala. Seranganserangan Lengkara itu seperti curahnya minyak meny iram api dendamnya itu, sehingga berkobar bagaikan menggapai langit. Sambega ternyata tidak menahan diri lagi. Yang terbayang adalah istri dan anaknya yang  telah mati terbunuh. Kemudian kegilaannya sendiri saat ia hampir saja dengan paksa mengambil seorang gadis yang sudah siap untuk menikah karena wajahnya mirip dengan istrinya yang terbunuh. Juga kegilaannya untuk mengambil Mahisa Amping untuk dijadikan pengganti anaknya yang  terbunuh itu. Dengan demikian, maka keduanya telah meningkatkan ilmu mereka dengan cepat. Mereka ingin dengan cepat pula membunuh saudara seperguruannya itu. Widigda menyaksikan pertempuran itu dengan saksama, ketika ia masih berkumpul bersama kedua orang saudara seperguruannya itu, ia tahu pasti bahwa ilmu Sambega lebih baik dari ilmu Lengkara. Namun saat itu Widigda melihat bahwa unsur-unsur gerak yang dipergunakan Lengkara sudah tidak mumi lagi dari perguruan mereka. Dengan demikian, maka Widigda y akin bahwa Lengkara telah memperdalam ilmunya untuk pada suatu saat dapat membalas dendam. Karena itu, maka Widigda sempat menjadi berdebar-debar. Sementara itu, ia masih melihat Sambega beralaskan ilmu yang agaknya masih mumi. Unsur-unsur gerak yang dipergunakannya semuanya telah dikenalnya. Namun kegelisahannyapun menjadi semakin susut ketika ia melihat bahwa ilmu Sambega itu telah menjadi semakin matang. Meskipun ia tidak melengkapi ilmunya dengan ilmu dari jalur perguruan yang lain, namun Sambega selama bertahun-tahun telah meningkatkan dan mengembangkan ilmunya itu sehingga menjadi semakin mey akinkan. Karena itu, meskipun Sambega juga mengerti bahwa ada unsur -unsur gerak yang  terasa asing pada ilmu saudara seperguruannya, namun Sambega sama sekali tidak menjadi cemas. Demikianlah, maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin cepat dan semakin seru. Keduanya telah keduanya telah mengerahkan kemampuan mereka dalam bayangan dendam dan kebencian. Lengkara yang  telah mewarnai ilmunya dengan jalur ilmu perguruan yang lain itupun nampak semakin keras dan kasar. Serangan-serangannya kemudian datang seperti hentakan ombak yang menghantam tebing lautan. Berturut-turut susul menyusul. Tetapi Sambegapun sudah menjadi sekokoh batu-batu karang di pantai. Dengan kekuatan dan day a tahan yang tinggi, maka serangan-serangan Lengkara itu tidak menggoy ahkan pertahanannya. Dengan demikian, maka keduanya yang saling dendam itu telah saling m eny erang dan saling bertahan. Sambega yang telah mematangkan ilmunya itu m eny erang Lengkara seperti putaran angin pusaran. Namun dengan licin, Lengkara selalu berhasil keluar dari pusat putaran serangan Sambega. Selain Widigda, maka Mahisa Murti yang  juga berilmu tinggi itu memperhatikan pertempuran antara kedua orang saudara seperguruan itu dengan seksama. Mahisa Murti segera dapat melihat bahwa Lengkara telah melengkapi ilmunya dengan unsur-unsur gerak dari jalur perguruan yang lain sebagaimana Mahisa Murti sendiri tidak hanya berpijak pada ilmu yang  diwarisinya dari ayahnya saja. Namun Mahisa Murti masih m engenali watak dan sifat ilmu Sambega yang bersumber dari satu perguruan, namun yang  sudah ditingkatkan dan dikembangkan, sehingga menjadi semakin matang. Karena itulah, maka pertempuran itu menjadi sangat mendebar-debarkan, karena tidak segera dapat diketahui, siapakah yang  akan menang dan siapa yang akan kalah. Namun semakin lama Lengkara sendiri semakin merasa betapa saudara seperguruannya itu telah mematangkan ilmunya. Meskipun ia telah melengkapi ilmunya dengan unsur -unsur dari perguruan lain. Lengkara sendiri merasa bahwa sulit untuk mengatasi ilmu Sambega yang ternyata sudah menjadi semakin matang. Meskipun demikian, Lengkara masih mencoba mengerahkan kemampuannya. Ia bergerak semakin cepat. Kekuatannyapun seakan-akan menjadi semakin besar, sementara serangan-serangannya menjadi semakin garang. Tetapi Sambegapun telah melakukan hal yang  sama. Iapun mampu meningkatkan ilmunya sebagaimana dilakukan oleh Lengkara. Jika sekali-sekali Lengkara meny erang dengan mempergunakan unsur-unsur gerak yang disadapnya dari jalur perguruan lain, maka Sambega ju stru menunjukkan kematangan ilmunya. Unsur-unsur dari jalur perguruan lain itu tidak membuatnya menjadi kebingungan. Lengkara justru menjadi semakin marah. Tangannya dengan garangnya menyambar-ny ambar. Sekali bergerak bagaikan kapak yang siap membelah sebatang gelondong kayu yang besar. Namun jika serangan itu luput dari sa sarannya, maka tangan Lengkarapun menebas mendatar. Tetapi memang tidak mudah maiy entuh tubuh Sambega. Tangannya yang cacat itupun mampu menangkis serangan-serangan yang datang beruntun dengan cepat. Bahkan ketika tangan Lengkara m enyambar keningnya, maka Sambega menangkis sambaran tangan itu hanya dengan ujung jarinya yang tinggal sebuah disatu sisi tangannya, sementara tangannya yang lain, yang mempunyai jari-jari utuh, justru menyambar lambung Lengkara. Lengkara mengaduh kesakitan sambil meloncat surut untuk mengambil jarak. Sambega ternyata tidak memburunya. Ia berdiri tegak memandang saudara seperguruannya yang kesakitan itu. Tetapi matanya yang memancarkan api dendam itu masih saja bagaikan menyaia. Ia justru menunggu agar Lengkara mengetrapkan ilmu puncaknya, sehingga iapun akan membenturnya dengan ilmu yang sama. Namun Sambega masih berharap bahwa kematangan ilmunya tidak akan berada dibawah kematangan ilmu Lengkara. Bahkan seandainya ilmunya tidak lebih baik dari ilmu Lengkara, namun ia y akin bahwa ilmunya tidak berada dibawah ilmu saudara seperguruannya. Jika dengan demikian maka mereka akan mati bersama, maka Sambega sama sekali tidak merasa berkeberatan. Dendamnya sudah dituangkannya, sementara sisa hidupnya tidak akan berarti apa-apa lagi. Sementara itu Lengkara berdiri termangu-mangu beberapa langkah dari Sambega. Kemarahannya memancar dari wajahnya yang  bagaikan membara. Sambega yang nampak lebih tenang dari Lengkara itupun kemudian berkata "Lengkara. Kita berguru pada perguruan yang sama, kita m empunyai bekal ilmu yang  sama. Aku tidak tahu siapakah y ahg lebih baik diantara kita. Tetapi jika kau ingin menjajagi kemampuan kita dengan mengadu ilmu puncak yang  sama-sama kita pelajari dari guru yang sama, marilah. Meskipun kau sudah melengkapi ilmumu dengan ilmu dari perguruan lain, namun aku masih t etap bersiap membuat perbandingan ilmu itu.” Jantung Lengkara menjadi semakin terbakar. Tetapi ia masih tetap menyadari bahwa ia ragu-ragu apakah ilmu puncaknya akan dapat mencapai tataran yang  sama dengan Sambega. Karena itu untuk beberapa saat Lengkara justru berdiri mematung. Namun tatapan matanya yang  tajam bagaikan menusuk tembus ke jantung Sambega. Karena Lengkara tidak segera berbuat sesuatu, maka Sambegapun berkata “Lengkara. Kenapa kau ju stru terdiam? Marilah, segeralah bersiap. Kita akan membuat perbandingan ilmu puncak kita. Bersiaplah,, aku akan segera melakukannya. Demi nama baik keluargaku, demi nama isteri dan anakku yang telah kau bunuh, m aka sekarang kita harus membuat perhitungan yang  tuntas. Kau atau ahu akan mati. Bahkan mungkin kita akan mati bersama-sama jika ternyata tataran ilmu kita sama tinggi, sementara daya tahan kita sama-sama tidak cukup kuat untuk bertahan.” “ Iblis Kau Sambega” geram Lengkara. Tetapi Lengkara tidak segera melakukan sesuatu Ia masih saja ragu-ragu, bahwa kemampuan puncaknya akan dapat mengimbangi kemampuan puncak Sambega yang bersumber pada ilmu yang sama. Namun yang  nampaknya Sambega sempat mengembangannya dan lebih mematangkannya. Namun Sambega benar-benar tidak menunggu. Iapun mulai mempersiapkan dirinya untuk memusatkan nalar budinya. Wajah Lengkara menjadi semakin tegang. Namun terny ata Lengkara tidak sejantan Sambega yang cacat itu. Dalam keadaan yang rumit itu, iapun berteriak “Selesaikan iblis itu.” Sepuluh orang yang  datang bersamanya itu dengan sigapnya telah berloncatan berpencar. Demikian pula Lengkara telah meloncat berbaur dengan kawan-kawannya. “Pengecut kau Lengkara” teriak Sambega yang menjadi sangat marah. Bukan saja Sambega, namun Widigdapun berteriak pula “Lengkara. Kau licik. Aku sudah mengatakan bahwa aku hanya menjadi saksi jika kalian meny elesaikan persoalan kalian dengan jujur. Tapi jika salah seorang diantara kalian tidak jujur, maka aku akan ikut campur pula. "Aku tidak peduli" jawab Lengkara sambil berteriak pula “Aku datang ber sama sepuluh orang berilmu tinggi. Siapa yang mencoba menghalangi aku, maka aku akan membiasakannya. Karena itu kakang Widigda, jangan m encampuri persoalanku dengan Sambega yang memang sudah sewajarnya harus mati.” Sepuluh orang kawan-kawan Lengkara itupun segera membagi diri. Dua diantara mereka segera meny erang Widigda sementara Lengkara dan seorang yang lain telah menyerang Sambega. Sedangkan seorang diantara mereka telah bersiap menghadapi Mahisa Murti yang nampaknya masih sangat muda itu. Sedangkan yang  lain harus menghadapi kelompok-kelompok cantrik yang  dipimpin oleh Wantilan, Mahisa Semu dan beberapa orang cantrik tertua. Sementara itu, dua orang cantrik telah diminta oleh Wantilan agar menjaga Mahisa Amping. "Anak itu tidak boleh ikut-ikutan" berkata Wantilan "lawanlawan yang  dihadapi sekarang adalah orang-orang berilmu tinggi, sehingga keadaan akan sangat berbahaya baginya ". Dengan cepat pertempuranpun telak menyala. Widigda yang harus menghadapi dua orang berilmu tinggi, memang harus mengerahkan segenap kemampuannya. Demikian pula Sambega. Ia tidak dapat melontarkan ilmu pamungkasnya, justru karena ia harus bertempur melawan dua orang bersama-sama. Namun Lengkarapun tidak juga segera mendapat kesempatan untuk melakukannya, karena berdua mereka melibat Sambega dalam pertempuran yang  rapat. Lengkara memang berniat membunuh Sambega tidak dengan ilmu pamungkasnya. Bagaimanapun juga ia masih juga ragu-ragu. Jika Sambega sempat membentur lontaran ilmunya dengan ilmu yang sama, maka ada kemungkinan lain terjadi atasnya. Meskipun seandainya kawannya dapat dengan cepat membantunya meny elesaikan Sambega, namun ia sendiri dapat m engalami kesulitan, bahkan mungkin ia tidak akan sempat melihat Sambega itu terkapar mati. Berdua Lengkara memang mampu mendesak Sambega. Betapapun Sambega mengerahkan kemampuannya, namun perlahan-lahan tetapi pasti ia mulai terdesak. Di sisi lain, Widigda m asih tetap bertahan. Kedua orang yang dihadapinya tidak memiliki bekal ilmu setinggi Lengkara. Namun bukan berarti bahwa Widigda dengan cepat m ampu mengatasi lawannya, karena kedua orang lawannya itu juga berilmu tinggi. Setidak-tidaknya keduanya m ampu bertahan untuk waktu yang lama. Sementara atas pesan Lengkara sebelumnya, karena Lengkara m emang menduga bahwa ada kemungkinan Widigda bersama Sambega, bahwa untuk melawan saudara-saudara seperguruannya, mereka jangan memberi kesempatan untuk dapat melepaskan ilmu pamungkasny a yang sangat berbahaya. Ternyata Lengkara dan kawan-kawannya benar-benar menemui Widigda bersama Sambega, meskipun hal itu sempat mengejutkannya. Yang tidak dapat langsung mengetahui kemampuan lawannya adalah salah seorang diantara mereka yang  bertemu dengan Mahisa Murti. Orang itu masih berusaha untuk menjajagi kemampuan anak muda yang menjadi pemimpin Padepokan Bajra Seta itu. Tetapi karena orang itu sama sekali masih belum mengetahui kemampuan Mahisa Murti, maka orang itu berniat untuk mulai dari permulaan. Namun sejak semula, sebagaimana Lengkara, orang itu menganggap betapapun tinggi ilmu anak muda itu, namun dalam kemudaannya, ilmunya tentu masih belum masak. Karena itu, maka orang itu masih belum bersungguhsungguh menghadapi Mahisa Murti yang  menyadari akan sikap lawannya itu. Namun ternyata Mahisa Murti bersikap lain. Ia sadar, bahwa orang-orang berilmu tinggi itu akan sangat sulit dihadapi oleh para cantriknya meskipun dalam kelompokkelompok yang  sudah disusun sebaik-baiknya. Mahisa Murti tidak ingin para cantriknya menjadi korban karena per soalan orang lain. Karena itu, maka Mahisa Murtipun bertindak cepat. Ia tidak memberi waktu terlalu lama kepada lawannya. Demikian Mahisa Murti mulai, maka iapun telah mengetrapkan ilmunya yang dapat menyusut kekuatan dan kemampuan lawannya. Lawannya yang masih saja merendahkan Mahisa Murti sama sekali tidak m enyadari akan hal itu. Karena itu, m aka ketika Mahisa Murti meny erangnya, orang itu sama sekali tidak berusaha untuk menghindar. Tetapi dengan tenaganya yang besar, orang itu membentur serangan Mahisa Murti. Mahisa Murti memang sengaja meloncat surut. Sementara lawannya sempat tertawa dan berkata "Marilah anak muda. Nampaknya kau memang ingin bermain api. Jika kau pemimpin Padepokan ini, m aka kau dan seluruh cantrikmu tidak dapat m elawan aku seorang diri. Apalagi aku bersama sepuluh orang yang  datang ke padepokanmu ini”. Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia sudah memutuskan bahwa ia harus dengan cepat mengakhiri perlawanan lawannya itu untuk segera dapat melunakkan perlawanan orang yang lain. Karena itu, maka Mahisa Murtipun segera meny erang kembali. Meskipun serangannya nampak tidak berbahaya, namun sebenarnyalah bahwa serangan itu telah dilambari dengan ilmunya yang  tidak segera dapat dilihat oleh lawannya. Beberapa saat benturan-benturan telah terjadi. Mahisa Murti meny erang dengan cepat dan beruntun. Namun lawannya dengan tangkas pula menangkis setiap serangan. Sekali-sekali ia memang menghindar. Tetapi karena ia merasa memiliki kekuatan yang sangat besar, maka orang itu memang lebih banyak menangkis serangan Mahisa Murti. Beberapa kali terjadi benturan orang itu masih saja t ertawa, karena Mahisa Murti setiap kali harus berloncatan m undur. Namun ketika serangan itu datang terus-menerus, maka lawannya itu mulai merasakan kelainan pada dirinya. Wajah Widigda menjadi merah. Iapun kemudian melangkah maju dan berdiri disebelah Sambega "Aku tidak dapat m enerima kenyataan ini. Lengkara, jika kau memang berbuat licik seperti itu, m aka aku akan bertempur dipihak Sambega. Meskipun kau bersama dengan sepuluh orang berilmu tinggi, namun kami tidak akan gentar. Jika kami memang harus mati, maka biarlah kematian kami merupakan kematian seorang laki-laki”. "Kakang Widigda" geram Lengkara "aku sudah memperingatkanmu. Aku dan kau tidak mempunyai per soalan selain karena kau sudah m embantu peny embuhan Sambega. Tetapi itu sudah aku maafkan. Tetapi jika kau sekarang masih akan membantu Sambega lagi, m aka jika kau m ati sekarang pula, itu bukan salahku”. "Kau tidak perlu merasa bersalah. Kita sudah turun diarena pertempuran. Maka kematian adalah akibat yang wajar yang dapat terjadi atas mereka yang  sedang bertempur Lengkara m enggeretakkan giginya. Katanya "Jika itu yang  kau kehendaki, maka baiklah. Kita akan menunjukkan, siapakah diantara kita yang  akan berhasil membunuh lawan.” "Membunuh dengan cara yang  licik, bukan satu kebanggaan Lengkara." berkata Widigda. "Aku memang tidak sedang membanggakan diri. Yang penting bagiku adalah membunuh Sambega dengan cara apapun juga. Jika dalam hal ini kau juga terbunuh meskipun aku sudah memberimu peringatan berulang kali, maka kau sendirilah yang  membunuh dirimu sendiri." sahut Lengkara. Namun dalam pada itu, sebelum pertempuran itu mulai lagi, maka tiba-tiba Mahisa Murti telah m elangkah maju pula sambil berkata "Ki Sanak. Sudah aku katakan, bahwa aku akan meminjamkan tempat ini untuk melakukan satu perang tanding yang  jujur. Karena itu, m aka jika yang terjadi bukan lagi satu perang tanding yang  jujur, maka aku sangat berkeberatan untuk memberikan tempatku ini sebagai ajang pertempuran yang  licik dan curang”. "Setan kau" teriak Lengkara "kau berani mencampuri persoalan ini? He, siapakah yang  kau maksud dengan licik dan curang itu?” "Jadi kau masih bertanya, siapakah yang licik dan curang?" justru Mahisa Murti telah bertanya pula. "Jawab, atau kau juga akan m ati dan padepokanmu akan menjadi padepokan kami." geram Lengkara. "Baik. Aku akan menjawab" nada suara Mahisa Murti menjadi berat "Meskipun jawaban ini sudah kau ketahui. Kaulah yang licik dan curang itu”. "Setan kau. Jadi kau benar-benar ingin melibatkan diri dengan tidak memberikan tempatmu ini sebagai ajang pertempuran ini?" bertanya Lengkara. "Ya " jawab Mahisa Murti tegas "aku m inta kau tinggalkan tempatku ini, atau aku dan seisi padepokan ini akan mengusirmu”. "Ternyata kau adalah orang yang  paling sombong yang  pernah aku temui selama ini. Kau kira kau dapat mengusir aku? Kau ini siapa he? Dan aku ini siapa?” "Aku adalah Mahisa Murti, pemimpin Padepokan Bajra Seta, sedangkan kau adalah seorang saudara seperguruan yang dengki sehingga mendendam sampai keubun-ubun. Kau kira bahwa dendam seperti itu akan dapat menyelesaikan persoalan? Dengar Lengkara, dendammu akan menyala sampai ke akhir batas k eturunanmu jika keturunanmu k elak berpendirian seperti kau. Dendam yang  tidak berkeputusan serta dendam berbalas dendam, kapan dendam itu akan berakhir sehingga keturunanmu akan mengalami hidup tenteram?” "Diam kau tikus yang  dungu. Dengar, aku tidak akan pergi. Tetapi aku akan membunuh kedua orang saudara seperguruanku yang  tidak tahu diri, membunuhmu dan membunuh semua cantrikmu yang tidak mau tunduk kepadaku. Aku akan memiliki dan memimpin padepokan ini" " geram Lengkara. Mahisa Murti tidak dapat tinggal diam. Ia tahu bahwa kawan-kawan Lengkara tentu orang-orang berilmu tinggi. Tetapi ia mempunyai beberapa orang cantrik yang  sudah mendapat bekal yang cukup. Sedangkan jumlahnyapun cukup banyak. Karena itu, ketika Mahisa Murti memberikan isyarat, maka Wantilan dan Mahisa Semu segera bertindak. Mereka langsung memberikan isy arat pula kepada beberapa orang cantrik tertua yang  sudah memiliki kemampuan kanuragan yang cukup untuk menyusun kelompok-kelompok kecil. Merekapun dengan cepat mempersiapkan diri dengan senjatasenjata mereka. Terutama senjata lontar. Pisau-pisau belati dan lembing disamping pedang dilambung. Lengkara menjadi semakin marah. Sementara Widigda berkata "Angger Mahisa Murti. Biarlah kami mengatasi persoalan kami sendiri. Kami tidak ingin menyulitkan kedudukan angger disini”. "Tempat ini adalah tempat kami. Karena itu, sudah sewajarnya jika kami m enentukan, apa yang sebaiknya kami lakukan," jawab Mahisa Murti. Widigda tidak menjawab lagi. Ia tidak ingin meny inggung perasaan Mahisa Murti sebagai pemimpin Padepokan Bajra Seta. Namun Widigdapun berharap, bahwa ia tidak salah hitung, bahwa Mahisa Murtipun memiliki bekal ilmu yang memadai, sehingga akan dapat mempertahankan diri menghadapi orang-orang yang  berilmu tinggi itu. Demikianlah, maka kedua belah pihak itupun segera mempersiapkan diri.Lengkara yang  sudah tidak sabar lagi berteriak sekali lagi "Cepat, kenapa kalian menghiraukan tikus-tikus dungu itu?” Wajah Mahisa Murti m enjadi tegang. Kemarahannya telah membakar jantungnya. Ia memang tidak rela bahwa ada cantrik padepokannya yang jatuh m enjadi korban, sedangkan persoalannya sama sekali tidak menyangkut padepokannya itu. Tetapi Mahisa Murti memang benar-benar tidak dapat membiarkan kecurangan terjadi di Padepokannya yang dilakukan oleh Lengkara dan kawan-kawannya. Betapapun Mahisa Murti mengekang dirinya, m aka k etika ia melihat seorang lagi diantara para cantriknya yang terlempar keluar dari arena pertempuran dengan darah yang memancar dari luka didadanya, maka jantungnya memang menjadi panas. Dengan sor ot mata yang menyala Mahisa Murti memasuki arena pertempuran itu. Kepada para cantrik ia berkata "Bergabunglah dengan kawan-kawanmu yang  lain. Atasi orang-orang yang telah melanggar hak dan wewenang kita di padepokan mi. Aku akan membuat perhitungan dengan orang yang telah melukai cantrik-cantrik padepokan kita ini.” Para cantrik itupun segera berloncatan mundur. Namun hati merekapun mulai berkembang ketika mereka melihat Mahisa Murti sendiri telah datang membantu mereka. Sementara itu orang yang  bertubuh raksasa itupun dengan garangnya menggeram "He anak muda. Apa yang  akan kau lakukan? Apakah kau juga ingin mengalami sebagaimana dialami oleh cantrik-cantrikmu? Mereka telah terluka parah. Bahkan mereka sekarang agaknya sudah mati”. "Jadi kau memang sengaja membunuh Ki Sanak?" bertanya Mahisa Murti. "Ya, kenapa?" orang itu kemudian tertawa "bukankah kita sedang bertempur? Aku akan membunuh cantrikmu sebanyak-banyaknya. Bahkan membunuhmu karena kebodohanmu sendiri. Dan sekarang kau sudah datang untuk menyerahkan nyawamu”. Mahisa Murti benar-benar m enjadi sangat m arah. Apalagi karena orang itu benar -benar berniat membunuh cantrikcantriknya sebanyak-banyaknya. Karena itu, maka Mahisa Murtipun berkata "Jika demikian Ki Sanak. Maka kau adalah orang pertama yang  akan mati diantara kawan-kawanmu. Karena niatmu yang buruk, serta watakmu yang agaknya tidak akan mungkin dapat diperbaiki lagi, maka aku, pemimpin Padepokan ini harus m engambil langkah yang sebaik-baiknya untuk membantu m enghindarkan peristiwa seperti ini terjadi lagi dimanapun juga”. "Per setan" geram orang itu "kau tidak usah mengigau” Mahisa Murti m emang tidak berbicara lagi. Iapun segera mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya. Ia benar-benar akan bertempur melawan orang bertubuh raksasa itu.

Jilid 112
DEMIKIANLAH, maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran diantara mereka. Orang bertubuh raksasa itu memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Agaknya orang itupun sudah mempergunakan kemampuan ilmunya yang tertinggi, sehingga sentuhan tangannya -telah mengoyakkan kulit daging para cantrik. Karena itu, maka Mahisa Murti harus sangat berhati-hati. Jari-jari tangan orang itu yang mengembang merapat, jangan sampai meny entuh kulitnya. Dengan demikian maka Mahisa Murti harus mengusahakan agar serangan-serangannya sajalah yang meny entuh orang itu untuk mengetrapkan ilmunya yang mampu menyusut kekuatan dan kemampuan lawannya. Sejenak kemudian pertempuran telah terjadi dengan sengitnya. Mahisa Murti yang  berilmu tinggi itu, mampu bergerak sangat cepat. Ia selalu berusaha untuk mengelak dari serangan-serangan jari-jari lawannya yang  dapat menggores tubuh seperti tajamnya sebuah pedang. Namun kecepatan gerak Mahisa Murti ternyata masih memungkinkannya untuk meny entuh tubuh lawannya meskipun tidak ditempat-tempat yang berbahaya dan bahkan tidak menyakitinya. Orang bertubuh raksasa itu mula-mula meyakininya, bahwa ia tidak akan bertempur terlalu lama. Karena itu, maka dengan mengerahkan tenaga dan kemampuannya ia berhasil mendesak Mahisa Murti. Mahisa Murti memang beberapa kali harus berloncatan surut. Tetapi bukan berarti bahwa Mahisa Murti kehilangan kesempatan untuk m elawan lawannya yang  bertubuh raksasa itu. Tetapi justru untuk memancing lawannya agar seranganserangan Mahisa Murti dapat mengenainya. Bahkan sekali-dua kali Mahisa Murti juga menangkis serangan lawannya meskipun tidak membenturkan kekuatannya. Ia berusaha menebas serangan lawannya menyamping. Namun dengan demikian telah terjadi pula sentuhan-sentuhan diantara mereka. Dalam pada itu, beberapa orang cantrik yang  telah minggir dari arena pertempuran, masih saja ada yang  dengan tidak sengaja berdiri termangu-mangu menyaksikan pertempuran itu. Apalagi mereka yang  sudah terluka. Mereka ingin melihat apa yang  akan terjadi dengan orang yang bertubuh raksasa yang telah membuat beberapa orang kawannya terluka parah. Demikianlah, maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Keduanya saling meny erang dan bertahan. Sambaran jari-jari orang bertubuh raksasa itu memang sangat berbahaya. Tetapi Mahisa Murti m asih m ampu m engelakkan diri atau menangkisnya dengan menebas kesamping. Meskipun demikian, ketika sambaran jari-jari tangan yang  merapat itu sempat menyentuh lengannya, maka lengan Mahisa Murti itupun telah tergores dan terluka. Luka itu bagaikan minyak yang  m enyiram api kemarahan Mahisa Murti. Karena itu, m aka Mahisa Murtipun bergerak lebih cepat lagi untuk berusaha semakin sering meny entuh tubuh lawannya. Tetapi Mahisa Murti terkejut ketika tiba-tiba saja lawannya itu meloncat surut sambil tertawa. Katanya "Ternyata kau memang iblis yang  licik. Kau mempergunakan ilmu yang tidak patut dipergunakan dalam pertempuran yang terhormat. Kau bertempur sambil mencuri tenaga dan kemampuan lawanmu. Tetapi jangan meny esal, bahwa aku dapat mengetahui kelicikanmu. Karena itu, maka kau tidak akan lagi dapat mengelabui aku. Sementara meskipun kau berhasil, tetapi tenagaku masih belum seberapa tersusut, sehingga aku masih akan mampu memilin lehermu sampai patah. " Wajah Mahisa Murti menjadi panas mendengar kata-kata itu. Kemarahannya memang tidak tertahankan lagi. Apalagi ketika orang bertubuh raksasa itu berteriak "He Lengkara dan kawan-kawanku. Anak muda pemimpin padepokan ini memiliki ilmu iblis yang mampu menyusut tenaga dan kemampuan lawannya. Berhati-hatilah." "Setan" sahut orang yang bertubuh agak gemuk "ia telah membuat aku menjadi letih." Sebenarnyalah orang bertubuh gemuk itu semakin mengalami kesulitan menghadapi para cantrik yang bertempur dalam kelompok kecilnya. " Sementara itu orang bertubuh raksa sa itu berteriak lagi "Tetapi jangan cemas. Sekarang ia berdiri dihadapanku. Ia tidak akan dapat mengganggu kalian lagi, karena orang ini akan segera terbujur menjadi mayat. " Mahisa Murti menggeretakkan giginya, sementara lawannya itu berkata kepadanya "Nah, sekarang apa lagi yang akan kau lakukan ? Kau sudah tidak m emiliki apa-apa lagi, karena kecuranganmu telah aku ketahui." Mahisa Murti menggeretakkan giginya. Sementara itu Sambega dan Widigda yang  sedang mengerahkan kemampuannya untuk mengatasi masing-masing dua orang lawan menjadi berdebar-debar pula. Mereka m enjadi heran namun bangga bahwa Mahisa Murti memiliki kemampuan yang jarang dimiliki orang lain. Tetapi ternyata lawannya yang bertubuh raksasa itu mampu membacanya. Meskipun demikian kedua orang itu tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka sendiri terikat dalam pertempuran yang  tidak dapat mereka elakkan. Bahkan mereka justru mulai terdesak karena kemampuan lawan mereka yang  sulit untuk dapat diimbangi. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti tidak lagi dapat mengekang kemarahannya. Sikap orang b ertubuh raksasa itu benar-benar menyakiti hatinya. Apalagi orang itu sudah menciderai beberapa orang cantriknya sehingga terluka parah. Karena itu selagi orang-orang yang sedang bertempur itu dicengkam oleh ketegangan, maka Mahisa Murti telah mengerahkan segenap nalar budinya. Ia tidak lagi sekedar ingin menghisap tenaga dan k emampuan lawannya Tetapi ia benar-benar ingin membinasakan lawannya yang  bertubuh raksasa, yang  telah benar -benar bernafsu untuk m embunuh para cantriknya sebanyak-banyaknya serta membunuh Mahisa Murti itu sendiri serta telah pula menghina dan menyakiti hatinya. Karena itu, ketika orang bertubuh raksasa itu berdiri sambil bertolak pinggang dan tertawa berkepanjangan karena ia merasa telah menemukan kelemahan lawannya sehingga akan segera dapat mengakhiri perlawanan anak muda itu, Mahisa Murti telah menghentakkan ilmunya yang lain. Dengan mengerahkan segenap ilmu yang  ada didalam dirinya, maka Mahisa Murti telah melangkah setengah langkah kedepan. Ketika ia merendah sedikit pada lututnya, maka Mahisa Murti telah menghentakkan kedua tangannya dengan telapak tangannya menghadap kearah orang bertubuh raksasa itu. Ternyata sesuatu yang  dahsy at telah terjadi. Dari kedua telapak tangan Mahisa Murti seakan-akan telah meluncur cahaya kilat yang  meny ilaukan. Dengan kecepatan lebih dari sepuluh kali l ipat dari kecepatan anak panah yang  m eluncur dari busurnya, sinar kilat yang menyilaukan itu telah menghantam tubuh lawannya yang sedang tertawa berkepanjangan itu. Ketika orang itu melihat cahaya yang  m eletik dari t elapak tangan Mahisa Murti, ia memang terkejut. Tetapi segalanya telah terlambat. Ia masih menyadari ketika sinar itu menghantam tubuhnya yang  kemudian bagaikan telah meledak. Suara tertawanya yang terputus disambung oleh teriakan yang mengerikan menggetarkan udara Padepokan Bajra Seta. Tubuh raksa sa itu terlempar beberapa langkah. Namun kemudian jatuh terbanting ditanah. Tubuhnya menjadi bagaikan hangus terbakar terkapar tidak bergerak sama sekali. Mahisa Murtipun kemudian berdiri tegak sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Dipandanginya tubuh yang terkapar ditanah itu. Beberapa orang cantrikpun telah melingkarinya dengan wajah tegang. Pertempuran di halaman Padepokan Bajra Seta itupun bagaikan terhenti sesaat. Orang-orang berilmu tinggi yang sedang bertempur itupun menjadi termangu-mangu sejenak. Tidak seorangpun yang  menyangka, bahwa Mahisa Murti yang masih mudaitu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Bahkan Sambega dan Widigdapun menggeleng-gelengkan kepalanya. Didalam hati mereka merasa bersyukur, bahwa Sambega tidak berselisih dan apalagi bertempur dengan Mahisa Murti saat ia berusaha mengambil Mahisa Amping. Karena mereka m enyadari, betapapun tinggi ilmu Sambega, namun ia tidak akan mampu mengimbangi ilmu Mahisa Murti itu. Dalam pada itu, sejenak kemudian, maka Mahisa Murtipun berkata "Sekarang aku tidak akan berusaha mengekang diri lagi. Aku tidak mau direndahkan di Padepokanku sendiri. Padepokan Bajra Seta. Aku tidak mau seseorang bertindak sewenang-wenang terhadap cantrik-cantrik di Padepokan ini, karena akulah yang  bertanggung jawab atas keselamatan mereka. Karena itu, maka aku peringatkan kepada mereka yang masih hidup untuk menghentikan pertempuran. Jika kalian tidak mau mendengar kata-kataku, maka aku akan mendatangi kalian seorang demi seorang. Kalian akan mengalami nasib yang  sama seperti orang itu, Jika saja ia tidak menghina dan merendahkan aku, mungkin ia tidak akan mengalami nasib yang  buruk." Orang-orang berilmu tinggi yang datang bersama-sama dengan Lengkara itpun termangu-mangu. Kematian orang bertubuh raksasa itu telah menggoncangkan kesombongan mereka. Jika semula mereka mengira akan dapat menghancurkan penghuni padepokan itu dan kemudian memilikinya, maka kemudian mereka harus berpikir ulang. Dalam pada itu sekali lagi Mahisa Murti berkata lantang "Menyerahlah. Kalian tidak akan dapat luput dari tanganku jika kalian masih akan meneruskan perlawanan. Yang akan terjadi kemudian adalah pertempuran yang  jujur. Lengkara akan bertempur dengan saudara seperguruannya, Ki Sambega, seorang melawan seorang. Persoalannya adalah per soalan mereka. Siapa yang masih ingin ikut cam pur akan aku hancurkan sampai hangus seperti orang itu. " Orang-orang berilmu tinggi itu menjadi gelisah. Mereka tidak akan dapat bersama-sama menghadapi Mahisa Murti karena para cantrik yang jumlahnya cukup banyak itu telah mengepung mereka dan mengikat mereka dalam pertempuran-pertempuran. Meskipun mereka akan mampu bertahan menghadapi para cantrik itu dan bahkan jika mereka mendapat waktu yang cukup, maka mereka akan dapat menghancurkan para cantrik itu, namun jika Mahisa Murti mendatangi mereka seorang demi seorang, maka mereka benar-benar akan dapat ditumpas habis. Karena orang-orang itu masih ragu-ragu, maka Mahisa Murtipun mengulangi "Masih aku beri kesempatan terakhir. Minggirlah. Beri kesempatan Lengkara dan Sambesa berperang tanding karena per soalannya m enyangkut mereka berdua secara pribadi. Yang lain sebaiknya tidak ikut campur, atau akan berhadapan dengan aku." Orang-orang yang  datang bersama Lengkara itu ternyata tidak mau menghadapi kemungkinan terburuk seperti yang terjadi atas kawan mereka yang  bertubuh raksasa itu. Apalagi dua orang yang  sempat disusut tenaga dan kemampuannya oleh Mahisa Murti. Mereka memang telah m enyadari, bahwa mereka akan jatuh ketangan para cantrik dan bahkan mungkin mengalami nasib yang  sangat buruk. Karena itu, orang yang agak gemuk itulah yang pertama kali berkata " Baiklah. Aku akan meny ingkir dari persoalan ini." Orang yang  bertubuh tinggi kekurus-kurusan menyahut "Aku juga akan m enarik diri. Persoalan ini memang bukan persoalanku." Lengkara yang menjadi gelisah berteriak "Pengecut kau. Kita akan menghancurkan Padepokan Bajra Seta." Tetapi orang yang  berjanggut mulai keputih-putihan menjaawab "Lengkara. Maafkan kami. Kami tidak mau menjadi korban karena kemarahanmu yang  tidak terkendali itu. "Kita sudah bertekad untuk melakukannya" teriak Lengkara. "Aku tidak mau dibakar oleh ilmu anak muda yang  dahsyat itu " berkata yang lain "barangkali aku masih sanggup menghadapi ilmu yang  lain. Tetapi jangan ilmu seperti itu. Atau jangan pula ilmu yang  mampu m enghisap tenaga dan kemampuan seseorang." Yang berbicara kemudian adalah Widigda "Aku sangat menghargai pendapat angger Mahisa Murti. Persoalan antara Lengkaradan Sambega, biarlah mereka selesaikan sendiri. Persoalan itu adalah per soalan yang  sangat pribadi." Wajah Lengkara menjadi sangat tegang. Tetapi kawankawannya agaknya benar-benar tidak lagi bersedia turun ke arena pertempuran sehingga dengan demikian iapun akan berdiri sendiri. Mahisa Murtilah yang kemudian melangkah m endekatinya sambil berkata "Nah, kau dapat memilih, Lengkara. Kau lakukan perang tanding dengan jujur itu, atau kau akan bertempur melawan aku, karena aku tidak m au kau berlaku curang disini." Wajah Lengkara menjadi sangat tegang. Dipandanginya sekilas Sambega yang berdiri tegak. Matanya memancarkan dendam yang tiada taranya yang  bergejolak didalam jantungnya. Untuk beberapa saat Lengkara termangu -mangu. Ketika ia berniat mencari dan m embunuh sampai mati Sambega, maka ia t idak pernah m erasakan keragu-raguan sedikitpun. Tetapi kemudian ternyata bahwa ia harus menilai kembali sikapnya itu. Tetapi agaknya sudah terlambat. Sambegalah yang  melangkah maju sambil berkata "Lengkara. Marilah. Kita akan menyelesaikan persoalan kita dengan jujur. Persoalannya adalah per soalan diantara kau dan aku. Persoalan mi tidak menyangkut kakang Widigda. Lebih-lebih lagi angger Mahisa Murti dan seisi padepokannya ini. Karena itu, maka bersiaplah. Kita akan segera mulai dengan perang tanding yang jujur. " Wajah lengkara menjadi semakin tegang. Sementara itu Sambegapun berkata "Lengkara. Bersiaplah. Aku akan segera mulai. Aku tidak akan m emperhitungkan apakah kau sudah bersiap atau belum. Namun karena kau sudah berada disini, maka kau tentu sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan." Wajah Lengkara bukan saja menjadi semakin tegang. Tetapi wajah itu justru mulai menjadi pucat. Apalagi ket ika ia melihat Sambega itu melangkah surut sambil mempersiapkan diri untuk bertempur. Bagaimanapun juga Lengkara tidak akan dapat mengingkari keny ataan, bahwa ia tidak akan dapat menandingi Sambega yang ternyata telah m ematangkan ilmu yang sama-sama mereka sadap dari guru yang sama. Karena itu, ketika Sambega siap untuk melontarkan serangan, Lengkara itu berkata terbata -bata "Nanti dulu kakang. Jangan tergesa -gesa. - Sambega mengerutkan keningnya. Dengan heran ia bertanya "Sejak kapan kau mengaku bahwa aku adalah saudara seperguruanmu yang memiliki tataran yang  lebih tua?- "Bukankah kita dapat berbicara dengan baik? Bukankah kakang tidak akan membawa dendam dihati kakang itu berkepanjangan tanpa ada batas akhirnya?" b erkata Lengkara dengan gagap. "Apa yang  sebenarnya kau kehendaki, Lengkara? Kau datang dengan niat yang  bulat untuk membunuhku, karena usahamu beberapa waktu yang lalu telah gagal. Sekarang kau bertanya, apakah aku m endendammu tanpa batas akhir? Apa sebenarnya maumu? Siapakah yang  datang memburu? Aku atau kau?" bertanya Sambega. "Tetapi bukankah kita mempunyai nalar budi. Mempunyai mulut untuk berbicara dengan baik?" Lengkara menjadi semakin gelisah. "Sekarang, bersiaplah" berkata Sambega "sudah aku katakan apakah kau bersiap atau tidak, aku akan segera mulai." "Kakang" potong Lengkara. Sambega tidak mengiraukannya. Iapun kemudian benarbenar telah mempersiapkan dirinya untuk bertempur. Namun tiba-t iba saja Lengkara telah berlutut dihadapannya. Orang yang berwajah garang itu dengan memelas minta belas kasihan saudara seperguruannya "Kakang, aku mohon am pun." "Apakah kau masih berhak minta am pun? Jika kau mampu menghidupkan kembali isteri dan anakku yang  kau bunuh tanpa melakukan kesalahan itu, maka kau akan aku ampuni." Adalah diluar dugaan. Lengkara yang datang untuk membunuh itu tiba-tiba saja m enangis. Sambil menyembah dihiadapan Sambega ia minta untuk diampuni. "Waktu itu, aku melakukannya tanpa kesadaran kakang. Iblis telah merasuk didalam jiwaku, sehingga aku telah melakukan apa yang tidak aku kehendaki." "Dan bagaimana perasaanmu ketika kau berangkat mencari aku dengan niat untuk membunuhku?" bertanya Sambega. "Iblis itu memang belum meninggalkan jiwaku. Nalar budiku telah dicengkamnya sehingga aku tidak mampu melawan bisikannya yg jahat itu." Lengkarapun menangis dihadapan Sambega. "Lengkara " berkata Sambega dengan nada berat "sekarang, jantungku juga sedang dikuasai oleh iblis yang sama dengan iblis yang merasuki jiwamu. Karena itu, maka akupun tidak mampu melawan bisikannya. Aku ingin membunuhmu." "Ampun, kakang. Aku m ohon ampun" sambil berlutut dan membungkuk sampai dahinya meny entuh tanah, Lengkara menangis seperti kanak-kanak. "Pengecut kau" Sambega membentak keras-keras "bangkit. Kita selesaikan per soalan kita sebagaimana seorang laki-laki menyelesaikan per soalannya. Kau sudah terlanjur membunuh isteri dan anakku. Aku tidak peduli apa yang  kau lakukan itu." "Kakang, aku mohon ampun kakang. Aku m ohon ampun" tangis Lengkara sambil berpegangan kaki Sambega. Ketegangan yang  sangat telah mencengkam jantung Sambega. Dendamnya sampai menggapai langit. Tetapi ia tidak dapat membunuh seseorang yang tidak siap melawannya dalam pertempuran yang  jujur. Ia tidak dapat memukul kepala Lengkara selagi orang itu membungkuk sambil menangis, berpegangan kakinya untuk mohon ampun. Meskipun Sambega sudah siap dengan ilmu puncaknya, namun ia masih menahan diri. Gejolak perasaannya itu ju stru membuat dadanya menjadi sesak. Sementara itu Lengkara masih menangis sambil mohon ampun. Ia berpegangan kaki Sambega erat-erat, seakan-akan tidak akan dilepaskannya. Dengan demikian m aka Sambega menjadi semakin raguragu. Yang terdengar adalah gemeretak giginya menahan dendam yang  membakar dadanya. Tangannya sudah siap menaburkan ilmu puncaknya itu m enjadi gemetar. Tetapi ia tidak meremas kepala Lengkara yang  seakan-akan telah pasrah. Sambil menghentakkan tangannya Sambega itu berkata lantang "Bangkit kau pengecut. Kita akan menyelesaikan persoalan kita. Cepat, atau aku akan meremukkan k epalamu tanpa perlawanan sama sekali." "Ampun kakang, ampun" tangis Lengkara. Sambega masih menggeretakkan giginya sambil menahan diri. Namun ia sama sekali t idak menyangka, bahwa sambil berpura-pura menangis, Lengkara telah mempersiapkan serangan ilmu pamungkasny a. Karena itu, ketika Lengkara menduga bahwa Sambega telah menjadi lengah, tiba -tiba saja Lengkara itu bangkit berdiri dengan cepat. Segala kekuatan dan kemampuan ilmunya telah dipusatkannya pada sisi telapak tangannya. Sambega terkejut. Tetapi semuanya itu terjadi demikian cepatnya sehingga tidak banyak memberi kesempatan kepada Sambega untuk melawan serangan yang tiba -tiba itu dengan segenap kemampuannya. Dengan demikian, ketika tangan Lengkara itu terayun, maka Sambega telah berusaha mengerahkan ilmunya dengan sangat tergesa -gesa. Sambega hanya dapat sekedar meny ilangkan kedua tangannya untuk menyalurkan ilmunya itu membentur kekuatan ilmu Lengkara yang dapat dipersiapkan sebaik-baiknya. Benturan itu kemudian telah terjadi. Akibatnya memang sangat mengejutkan. Lengkara yang  mendapat kesempatan jauh lebih baik dari saudara seperguruannya sempat mengungkapkan segenap kemampuan ilmunya, sementara Sambega tidak mempunyai kesempatan sebagaimana Lengkara. Untunglah bahwa sejak sebelumnya ia sudah mempersiapkan diri pada tataran ilmu tertingginya, sehingga dengan demikian, maka sisi telapak tangan Lengkara itu masih juga tertahan oleh tangan Sambega yang  bersilang. Namun Sambega itu telah terdorong beberapa langkah surut. Benturan itu bagaikan hentakan yang  sangat kuat yang terjadi di dalam dirinya. Benturan ilmu yang  tidak seimbang itu seolah-olah telah memental dan m emukul bagian dalam dada Sambega. Semua orang yang  menyaksikan serangan itu terkejut. Mereka tidak mengira sama sekali, bahwa demikian liciknya Lengkara sehingga dengan sangat curang ia telah berusaha membunuh saudara seperguruannya itu. Sebenarnyalah Lengkara m emang sudah tidak lagi dapat berpikir bening. Meskipun ia sendiri terdorong selangkah surut, namun keadaannya jauh lebih baik dari Sambega. Dalam k eadaan putus a sa, maka ia tidak mempunyai pilihan kecuali membunuh Sambega dengan cara apapun juga tanpa memikirkan akibat yang  dapat terjadi pada dirinya. Dalam pada itu, ketika ia melihat Sambega terhuyunghuyung beberapa langkah surut, maka Lengkara telah mempersiapkan dirinya kembali. Dalam sekejap iapun telah meloncat memburu Sambega untuk mengayunkan serangannya yang kedua. Dengan demikian maka ilmunya akan dapat m enghancurkan dahi Sambega yang sudah tidak akan mampu melawannya sama sekali. Namun Lengkara itupun terkejut pula. Demikian ia meluncur sambil mengayunkan tangannya untuk menghan curkan dahi Sambega dengan sisi telapak tangannya, maka Lengkara itupun melihat bayangan lain yang sempat meloncat membentur serangannya. Dua kekuatan ilmu puncak yang  bersumber dari perguruan yang sama telah saling berbenturan. Widigda yang  sangat marah melihat sikap dan perbuatan Lengkara telah dengan serta merta melibatkan diriny a. Meskipun agak tergesa -gesa, tetapi Widigda masih sempat meny iapkan ilmunya dengan mapan. Demikian Lengkara meloncat mem buru Sambega, maka Widigda telah membentur ilmu adik seperguruannya itu dengan ilmu yang sama. Ternyata Widigda juga terguncang, sehingga iapun telah terdorong selangkah surut. Namun akibatnya bagi Lengkara ternyata sangat buruk. Karena ia tidak dapat mempersiapkan ilmunya sebagaimana yang diayunkan menghantam Sambega yang pertama, m aka benturan itu telah m enentukan segalagalanya. Lengkara masih sempat melihat Widigda yang sudah tidak berday a. Lengkarapun sempat merasakan benturan yang terjadi. Demikian dahsy atnya, sehingga seisi dadanya seakanakan telah meledak sehingga seluruh isi dadanya itu telah menjadi r ontok kare nanya. Lengkara sempat mengumpat kasar. Namun ketika kemudian tubuhnya terbanting jatuh, maka iapun segera terdiam. Lengkara hanya sekali menggeliat. Selanjutnya, maka Lengkara itu telah terbunuh oleh saudara seperguruannya sendiri. Widigdapun kemudian berdiri terengah-engah. Benturan itu telah menyakiti dadanya pula. Nafasny a memang terasa sesak. Namun day a tahannya masih mampu mengatasinya. Halaman itu sekejap menjadi hening. Bahkan anginpun seakan-akan telah berhenti berhembus. Tiga sosok tubuh terbaring diam di halaman itu. Tubuh raksasa yang  bagaikan menjadi hangus. Kemudian tubuh Lengkara yang juga sudah tidak bernafas lagi. Sedangkan tubuh Sambega juga nampak terbaring diam. Tetapi ketika kemudian Mahisa Murti menempelkan telinganya di dadanya, ia masih mendengar detak jantungnya betapapun lambatnya. Ternyata Widigda masih mampu mengatasi perasaan sakitny a. Iapun tergesa-gesa mendekati Sambega yang terbaring. "Ia pernah mengalami keadaan serupa. Tetapi waktu itu dengan luka-luka di tubuh dan wajahnya, ternyata ia m asih dapat ditolong. Yang Maha Agung masih memperkenankan Sambega menyambung umurnya. " desis Widigda. "Mudah-mudahan kali ini, Ki Sambega masih dapat diselamatkan pula. " desis Mahisa Murti. "Aku akaii mencoba mengobatinya " berkata Widigda "namun segala sesuatunya tergantung kepada Yang Maha Agung.” Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Wantilan dan Mahisa Semu telah mempersiapkan para cantrik untuk mengamati kawan-kawan Lengkara yang  masih ada di halaman itu, sementara Mahisa Amping menunggui para cantrik yang sedang dirawat. Namun ternyata bahwa kawan-kawan Lengkara yang  datang bersamanya tidak berbuat apa-apa. Mereka benarbenar telah meny erah setelah mereka melihat bagaimana Mahisa Murti menghabisi perlawanan orang bertubuh raksasa itu, sedangkan Lengkara telah dihancurkan oleh saudara seperguruannya sendiri. Ternyata Widigda masih mempunyai harapan atas Sambega yang terluka parah. Beberapa orang cantrikpun kemudian telah membawanya ke pendapa, sementara Widigda dengan obat -obatan yang  dibawanya mencoba untuk mengobati lukaluka Sambega. Bukan saja yang  dapat dilihat pada kulit dan dagingnya, tetapi juga luka di bagian dalam tubuhnya. Mahisa Murtilah yang  kemudian b erbicara kepada kawankawan Lengkara "Nah, siapakah di antara kalian yang ingin membela Lengkara? Katakan. Serta cara apakah yang dikehendaki. Perang tanding atau cara yang  lain?" Tidak seorangpun yang menjawab. Orang-orang yang  sudah dikumpulkan itu hanya menundukkan kepalanya saja. Gambaran mereka tentang Padepokan Bajra Seta benarbenar telah pecah berserakan. Mereka mengira bahwa Padepokan yang  dipimpin oleh seorang yang  masih sangat muda itu, tidak lebih dari sekedar nafsu ketamakan anak muda itu saja. Tanpa menimbang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, anak yang masih muda itu telah membuat sebuah padepokan. Tetapi ternyata bahwa dugaan itu salah. Anak muda itu bukan sekedar seorang yang dibakar oleh gejolak kemudaannya serta landasan ketamakannya yang  melambung sampai ke langit. Namun anak muda itu benar-benar seorang anak muda yang  memiliki bekal yang sangat mencukupi. Karena itu, m aka sembilan orang kawan Lengkara itupun segera diperlakukan sebagai tawanan yang dijaga sangat ketat oleh para cantrik, karena kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang  berilmu tinggi. Sembilan orang itu telah disimpan dalam bilik-bilik terpisah agar mereka tidak dapat saling berbincang yang satu dengan yang  lain. Apalagi m erencanakan sesuatu yang dapat menggoncangkan ketenangan Padepokan Bajra Seta. Sementara itu, Widigda yang  merawat saudara seperguruannya, semakin berpengharapan, bahwa Sambega itu dapat sembuh kembali Dalam pada itu, Lengkara dan orang yang  bertubuh raksasa itupun telah dikuburkan pula. Beberapa orang cantrik yang terluka telah mendapat perawatan sebaik-baiknya. Untunglah, meskipun luka mereka cukup parah, tetapi dengan bantuan Ki Widigda, maka agaknya luka-luka m ereka akan dapat diobati. Di hari-hari berikutnya, Widigda dan Mahisa Murti sempat berbincang dengan sembilan orang kawan Lengkara seorang demi seorang. Pada umumnya mereka memang sering menyalah gunakan kemampuan mereka yang  tinggi untuk kepentingan diri mereka. Bahkan kadang-kadang dengan kekerasan mereka merampas milik orang lain. "Kenapa kalian tidak memanfaatkan kemampuan kalian untuk hal -hal yang baik?" bertanya Widigda. "Aku tidak pernah mendapat kesempatan" jawab orang yang agak gemuk, yang  telah kehilangan sebagian kekuatan dan kemampuannya karena terhisap oleh ilmu Mahisa Murti. Namun yang ternyata kemudian telah pulih kembali. "Ketika aku mulai berguru " berkata orang itu "sama sekali tidak terlintas di kepalaku, bahwa pada suatu saat aku akan melakukan perbuatan yang melawan nilai-nilai hubungan antar sesama itu. " "Jadi bagaimana hal itu kau lakukan?" bertanya Mahisa Murti. Orang itu menunduk dalam-dalam. Kemudian dengan nada rendah ia berkata "Aku tidak m empunyai kesempatan yang lain. Aku tidak mempunyai kecakapan dan ketrampilan berbuat apapun selain berkelahi. Karena itu, maka aku telah terjerumus ke dalam dunia kekerasan seperti ini. " "Apa yang  kau maksud dengan kesempatan itu?" desak Mahisa Murti. "Di padukuhanku, aku tidak mendapat kepercayaan untuk menjadi bebahu padukuhan apalagi bebahu Kabuyutan. Aku dianggap orang yang tidak m empunyai pengalaman apapun sehingga aku tersisih dari kemungkinan mendapat pekerjaan yang wajar. Sementara itu bagaimana mungkin aku tiba-tiba sa ja mendapatkan pengalaman jika tidak seorangpun pernah memberikan kesempatan. " Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Ki Sanak. Seharusny a kau tidak tergantung kepada kesempatan yang diberikan orang lain. Apakah kau tidak mempunyai sawah atau pategalan? Mak sudku, apakah orang tuamu tidak mempunyai sehingga kau lebih senang bertualang daripada mengerjakan sawah, ladang dan pekarangan?" Orang itu m enundukkan kepalanya. Katanya dengan nada rendah hampir tidak terdengar "Aku tidak mempunyai gairah untuk mengerjakan sawah dan ladang. " "Apakah aku boleh meny ebut sifat seseorang sebagaimana kau Ki Sanak?" bertanya Mahisa Murti. Orang itu mengerutkan dahinya, sementara tanpa menunggu jawabnya, Mahisa Murti berkata "Menurut pendapatku, kau terlalu malas. Kau ingin melakukan pekerjaan yang  mudah, cepat dan mendapat hasil yang banyak tanpa menghiraukan kesulitan yang  kau timbulkan pada orang lain.” Orang itu hanya menundukkan kepalanya saja. Sementara Mahisa Murti berkata selanjutnya "Dengan modal kemampuanmu dalam olah kanuragan, maka kau dapat berbuat sewenang-wenang. Orang lain tidak mampu mencegahmu, karena kau akan membinasakannya. Tetapi dengan tindakanmu itu, maka kau tidak lagi m enjadi bagian dari hidup bebrayan." Orang itu m enarik nafas panjang. Hampir tidak terdengar ia berdesis "Aku menyadarinya." "Selanjutnya tergantung kepadamu, apakah kau akan berubah atau tidak. Jika kau merubah, maka kau harus merubah menjadi lebih baik. Bukan sebalikny a. Jika kau benar-benar berbuat demikian, maka hidupmu akan memberikan arti, bukan saja bagimu sendiri. Tetapi juga bagi bebrayan agung. Bagi banyak orang." Orang itu mengangguk-angguk kecil. Dari sorot dimatanya, Mahisa Murti dan Widigda memang melihat peny esalan yang dalam. Sehingga karena itu, maka Mahisa Murtipun berkata "Ki Sanak. Jika kau bersungguh-sungguh akan berubah, maka kau masih mempunyai kesempatan." Orang itu mengangguk lemah. Namun tiba-tiba berkata perlahan-lahan dengan penuh keraguan "Ki Sanak. Jika diperkenankan, aku ingin tinggal di padepokan ini. Meskipun seandainya aku tidak diterima sebagai cantrik, biarlah aku menjadi juru madaran atau budak sekalipun." Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Iapun menjadi ragu-ragu. Ia tidak tahu pasti apakah orang itu benar-benar berubah atau hanya berubah untuk sementara. Jika kehadirannya justru membawa pengaruh yang  kurang baik bagi murid-muridnya, maka diantara benih yang  ditaburnya di padepokan itu telah tumbuh pula benalu yang  ganas. Mahisa Murti sadar, bahwa ia tidak boleh terlalu curiga. Namun perubahan yang tiba -tiba akan dapat mengelabuinya karena perubahan itu hanya akan terjadi sementara. Karena itu, maka katanya "Ki Sanak. Bukan maksudku untuk menolak kehadiranmu di Padepokan Bajra Seta. Tetapi kau sendirilah yang kemudian akan terkekang disini. Karena itu, maaf bahwa untuk sementara aku tidak dapat menerima niatmu yang sebenarnya sangat baik itu. Seharusnya aku mengucapkan terima kasih kepadamu. Tetapi sayang, untuk waktu dekat ini, aku belum dapat menerima. Aku tidak tahu, apakah pada waktu yang lain, aku dapat membuka pintu bagimu." Orang bertubuh agak pendek itu menunduk. Ia tahu bahwa ia tidak akan dapat membersihkan namanya dalam sekejap. Itupun seakan-akan ia terpaksa melakukan karena tidak mempunyai pilihan lain. Dengan nada rendah ia berkata "Baiklah Ki Sanak. Aku mengerti bahwa untuk mengunjungi perjamuan, aku memang harus mandi dahulu, berbenah diri dan memakai pakaian yang patut. Karena itu, b iarlah aku m elakukannya. Jika kelak pada suatu saat, aku merasa sudah patut untuk mengunjungi perjamuan, maka aku akan datang kembali." "Maaf Ki Sanak. Jangan diartikan sebagai satu penolakan. Tetapi aku tinggal bersama banyak orang di Padepokan Bajra Seta ini, sehingga aku harus memperhitungkan banyak kemungkinan pula.” Orang yang  bertubuh gemuk itu mengangguk-angguk kecil. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia masih berada dibawah bayang an kesalahan yang  dilakukannya karena ia ikut bersama Lengkara menyerang Padepokan itu. Dalam pada itu, ketika Mahisa Murti dan Widigda berbicara dengan orang-orang yang lain, ternyata sebagian besar dari mereka berniat tinggal di Padepokan Bajra Seta. Namun Mahisa Murti terpaksa belum dapat menerima mereka. Tetapi kepada m ereka Mahisa Murti berkata "Tetapi jika setiap saat kalian datang ke Padepokan Bajra Seta, maka kami akan menyambut kalian dengan sebaik-baiknya. Kalian akan kami terima sebagai sahabat kami yang  baik selama kalian tidak melakukan perbuatan yang tercela. Tetapi jika kalian masih melakukan perbuatan yang melanggar nilai-nilai kehidupan banyak orang, maka kami, orang-orang Padepokan Bajra Seta adalah musuh-musuh kalian yang  utama." Orang-orang itu menyadari arti ancaman Mahisa Murti. Merekapun menyadari bahwa ancaman itu bukan ancaman sekedar menakut-nakuti mereka, karena Mahisa Murti memang seorang yang  berilmu sangat tinggi. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti memang tidak bermaksud untuk tetap menahan orang-orang itu di padepokannya. Ketika mereka sudah berada di Padepokan Bajra Seta selama sepuluh hari sebagai tawanan, maka dihari berikutnya, Mahisa Murti berniat untuk melepaskan mereka. Namun Mahisa Murti sempat mempertemukan mereka dengan Sambega yang masih terbaring karena luka-luka dibagian dalam tubuhnya meskipun keadaannya sudah berangsur menjadi baik. Mereka juga dibawa oleh Mahisa Murti menemui para cantrik yang  terluka parah. Bahkan seorang diantara para cantrik itu m asih belum dapat bangkit dan duduk dipembaringannya karena luka-lukanya yang parah, meskipun agaknya jiwanya akan dapat tertolong. Orang-orang itu memang menundukkan kepalanya. Mereka seakan-akan dihadapkan pada sebuah cermin untuk melihat cacat-cacat jiwanya yang dapat merugikan dan bahkan mengancam keselamatan orang lain yang  tidak ber salah sama sekali. Oraag-orang yang tiba -tiba saja dihadapkan pada satu bencana yang mengancam jiwanya. Kepada orang-orang yang  akan dilepaskannya itu Mahisa Murti masih memberikan beberapa pesan. Dengan memperhatikan orang-orang yang  terluka itu, m aka Mahisa Murtipun berkata "Nah, kalian harus selalu mengingat, bahwa orang-orang yang terluka itu tidak ber salah. Banyak peristiwa dapat terjadi, bahwa orang yang  tidak bersalah dapat menjadi korban karena ketamakan seseorang." Orang-orang yang akan meninggalkan Padepokan Bajra Seta itu m engangguk-angguk. Mereka benar-benar tersentuh oleh pesan Mahisa Murti. Bahkan untuk m enekankan pesanpesannya Mahisa Murti berkata "Ki Sanak. Aku dapat berkata dengan nada lunak kepada kalian. Tetapi pada da sarnya aku bukan seorang yang  sabar. Jika aku m endengar kalian masih melakukan tindakan yang  bertentangan dengan kesediaan kalian sendiri, maka aku tidak akan segan-segan berbuat sebagaimana sudah aku lakukan." Orang-orang itu hanya menunduk saja, sementara Widigda menambahkan "Aku dan Sambega yang sudah mulai sembuh akan berbuat sebagaimana angger Mahisa Murti. Kamipun tidak akan segan-segan berbuat sesuatu yang  barangkali keras dan kasar atas seseorang diantara kalian yang masih akan mengulangi perbuatan kalian." Orang-orang itu masih saja berdiam diri. Mereka memang tidak dapat mengatakan sesuatu. Namun di wajah mereka terbayang kesediaan mereka untuk melakukan pesan-pesan itu. Mahisa Murtipun kemudian berkata "Seperti yang sudah aku katakan, pintu Padepokan Bajra Seta selalu terbuka buat kalian. Datanglah kapan saja kalian ingin datang. Kalian akan kami terima dengan senang hati." Dengan suara yang bergetar seorang diantara m erekapun kemudian menyatakan terima kasih mereka atas perlakuan yang mereka alami. Meskipun mereka datang dengan niat yang jahat, namun mereka mendapat perlakuan yang  baik dan bahkan mereka merasa seakan-akan mereka menjadi tamu Padepokan yang  telah mereka kacaukannya itu. Bahkan beberapa orang cantrik telah jatuh menjadi korban. " "Kami tidak dapat mengatakan apapun selain ucapan terima kasih yang  tidak terhingga. Mudah-mudahan kami dapat mengungkapkan perasaan terima kasih itu dengan tingkah laku kami setelah kami meninggalkan Padepokan Bajra Seta ini." Mahisa Murtipun mengangguk-angguk sambil berkata "Aku percaya bahwa kalian akan dapat melakukannya.” Demikianlah m aka orang-orang itupun segera minta diri. Mahisa Murti, Widigda dan beberapa orang yang lain mengantar mereka sampai ke pintu gerbang halaman Padepokan Bajra Seta. Diluar pintu gerbang, seorang diantara mereka yang  meninggalkan Padepokan Bajra Seta itu berkata "Kami akan berpencar. Jika kami masih bergabung, maka masih ada kemungkinan kami mengulangi perbuatan kami. Jika kami berpencar, seandainya ada diantara kami yang  terjerumus kembali kedalam dunia yang hitam itu, maka biarlah yang  lain memperingatkan kami. Kami sudah bersepakat untuk setiap kali bertemu dan menilai kembali jalan kehidupan kami masing-masing." "Dimana kalian akan bertemu ?" bertanya Widigda. "Tiga bulan lagi kami akan bertemu dirumahku " jawab orang yang  bertubuh agak gemuk "selanjutnya kami akan menemukan kapan dan dimana kami akan bertemu lagi." "Bagus" desis Widigda. Seakan-akan diluar sadarnya ia berpaling kepada Mahisa Murti. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Meskipun demikian Mahisa Murti melihat bahwa ada yang akan dikatakan oleh Widigda. Karena itu, maka iapun bertanya "Apakah ada pendapat jyang dapat membantu mereka ?" Widigda menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Bagaimana jika pertemuan itu dilakukan di Padepokan Bajra Seta jika angger Mahisa Murti mengijinkan ?" Mahisa Murti ter senyum. Katanya "Tentu. Aku tidak akan berkeberatan. Bukankah aku mempersilahkan mereka untuk setiap kali singgah di Padepokan Bajra Seta ini." "Nah" berkata Widigda "kau dengar itu ?" "Terima kasih " berkata salah seorang dari m ereka "kami tentu akan sangat bersenang hati atas kesempatan itu. Jika kami sudah m engadakan pertemuan yang  pertama itu, maka kami akan datang untuk m emberitahukan, kapan kami akan mengunjungi dan bertemu di Padepokan ini.” Mahisa Murti terseny um. Katanya "Ba iklah. Aku menunggu. Seperti yang sudah aku katakan, pintu Padepokan ini terbuka bagi kalian." "Terima kasih" jawab beberapa orang hampir berbareng. Demikianlah, maka sembilan orang itu telah meninggalkan Padepokan Bajra Seta. Mereka memang berpencar seperti yang m ereka katakan. Ada yang berdua, tetapi ada juga yang bertiga. Mereka mencoba untuk tidak saling bergantung dan sal ing mempengaruhi agar mereka tidak terjerumus lagi kedalam kelakuan mereka terdahulu. Dengan berpencar mereka akan mendapatkan suasana baru dalam petualangan dan pengembaraan mereka. Namun ternyata dengan demikian, orang-orang itu mulai merindukan rumah m ereka, kampung halaman mereka dan bayangan tentang hidup sewajarnya. Sepeninggal mereka, maka Widigdalah yang  nampak banyak merenung. Rasa-rasanya ada sesuatu yang dipikirkannya. Tetapi Mahisa Murti mencoba untuk mengerti. Sambega masih terbaring di pembaringan meskipun keadaannya menjadi berangsur baik. Namun diluar pengetahuan Mahisa Murti, Widigda dan Sambega telah berbicara diantara mereka. Dengan penuh kesungguhan Sambega berkata "Kakang, nampaknya di Padepokan Bajra Seta ini aku menemukan ketenangan. Jiwaku yang  gelisah oleh peristiwaperistiwa yang  terjadi atas diriku, membuat aku hampir menjadi putus asa. Aku kira aku tidak akan pernah mengalami satu kesempatan bahwa aku masih merasa hidup diantara orang-orang lain. Tetapi ternyata disini aku telah menemukannya. " Widigda mengangguk-angguk. Katanya "Aku mengerti Sambega. Tetapi ternyata angger Mahisa Murti tidak atau barangkali belum dapat menerima kawan-kawan Lengkara tinggal disini. Meskipun kita tahu, bahwa Mahisa Murti tentu akan dapat membedakan antara kau dan Lengkara." "Apakah kira-kira angger Mahisa Murti masih m encurigai aku?" bertanya Sambega. "Aku tidak tahu pasti. Tetapi menurut dugaanku, angger Mahisa Murti tidak akan mencurigaimu lagi. Meskipun demikian, aku tidak tahu apa yang  tersimpan dihatinya." berkata Widigda. Sambega mengangguk-angguk kecil. Namun katanya kemudian "Kakang, bagaimanapun juga aku akan mencoba untuk menyampaikan hal ini kepada angger Mahisa Murti. Tetapi untuk memperkuat kemungkinan agar permohonanku kepada angger Mahisa Murti, aku minta kakang Widigda menyampaikan hal ini kepadanya. Kakang tahu, bahwa aku tertarik sekali kepada angger Mahisa Amping yang umurnya kira-kira sama dengan umur anakku saat ia terbunuh. Selain Padepokan Bajra Seta ini terasa tenang, akupun dapat ikut membantu perkembangan anak itu. Meskipun ilmu angger Mahisa Murti tidak tertandingi, namun aku dapat melengkapinya dengan sedikit kemampuan yang  ada padaku." Widigda mengangguk-angguk. Katanya "Sambega. Aku akan mencobanya. Tetapi keputusan terakhir berada ditangan angger Mahisa Murti. Mudah-mudahan ia dapat mengerti perasaanmu dan sekaligus tidak mencurigaimu lagi." "Terima kasih kakang. " desis Sambega. Tetapi iapun kemudian bertanya "Selanjutnya, apakah rencana kakang Widigda sendiri dalam waktu dekat?" "Aku akan pulang. Bukankah aku mempunyai keluarga? Selain itu, aku harus menjaga padepokan kecil yang  telah ditinggalkan oleh guru yang telah menghadap kembali kepada Yang Maha Agung. Bagaimanapun juga tempat itu pernah menjadi tempat kita m enempa diri, meskipun hasilny a tidak lebih dari apa yang kita miliki sekarang serta perselisihan diantara saudara seperguruan." Sambega mengangguk kecil. Katanya "Sokurlah jika kakang Widigda bersedia memelihara padepokan kecil kita. Sekalisekali kita m emang m erindukan m asa-masa silam m eskipun kita sadar, bahwa kita tidak akan dapat kembali ke masa itu.” Widigda m enarik nafas dalam-dalam. Keinginan Sambega itu akan menjadi beban baginya. Meskipun agak ragu, Widigda bertanya "Sambega, apakah tidak pernah terpikir olehmu, bahwa kau akan tinggal di padepokan kita itu?" "Sebenarnyalah aku juga ingin melakukannya kakang. Tetapi jika aku berada di padepokan kecil itu, maka aku akan selalu dibayang i oleh kepahitan hidupku sehingga hampir saja membuat aku berputus asa. Jika aku merindukan masa lampau, tentu aku akan berusaha mengenang masa2 yang manis saja." Widigda mengangguk-angguk. Katanya "Ba iklah. Aku akan mencobanya. Aku akan berbicara dengan angger Mahisa Murti." Ju stru karena kesediaan Widigda untuk menyampaikan keinginan Sambega itulah, maka Widigda sendiri ju stru nampak sering merenung. Kadang-kadang jantungnya benarbenar dicengkam oleh k eragu-raguan. Mungkin sebagaimana kawan-kawan Lengkara, Mahisa Murti masih belum dapat menerima Sambega untuk tinggal dilingkungan keluarga Padepokan Bajra Seta. Tetapi ia memang harus mencoba. Betapapun keragu-raguan mencengkam jantungnya, namun akhirnya Widigdapun menyampaikan keinginan Sambega itu kepada Mahisa Murti. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia pernah menolak perm intaan kawan Lengkara untuk tinggal di Padepokan itu. Namun Mahisa Murti memang mencoba untuk menilai perbedaan antara Sambega dan kawan Lengkara itu. "Tetapi segalanya terserah kepada angger Mahisa Murti" berkata Widigda "jika aku yang menyampaikan permohonan Sambega itu, karena Sambega sendiri tidak dapat menyampaikannya." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya "Aku memang menganggap bahwa paman Sambega agak berbeda dari kawan-kawan Lengkara. Kepada mereka aku memang m asih belum dapat memberikan kepercayaan sepenuhnya. Sedangkan kepada paman Sambega, aku sudah tidak menaruh kecurigaan sama sekali." "Apakah dengan demikian, angger bermaksud menerima kehadiran Sambega di Padepokan Bajra Seta ini?" "Ya, tentu paman. Aku akan dengan senang hati m enerima paman Sambega. Namun dengan keadaan seperti apa yang  ada ini. Sibuk dan barangkali tidak ada ketenangan. " "Tidak ngger. Justru Sambega mendapat ketenangan di Padepokan ini. Ketenangan baginya bukan berarti diam, tidak ada gerak dan tantangan. Justru kesibukan dan tantangan akan memberikan kegairahan pada jiwanya yang  telah dikoyak oleh perbuatan jahat saudara seperguruannya sendiri." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya "Jika demikian, kami akan mengucapkan terima kasih atas kesediaan paman Sambega untuk tinggal disini. Paman Sambega akan dapat menjadi kawan paman Wantilan. Dengan demikian maka tugasku akan menjadi semakin ringan." "Bukan ngger. Tetapi mungkin Sambega justru akan menambah beban angger. Tetapi jika pada suatu saat angger memang tidak dapat lagi membiarkannya berada di padepokan ini, maka angger dapat berterus terang kepadanya." berkata Widigda. "Kenapa aku tidak dapat membiarkan paman Sambega disini? Jika sikap kita masing-masing wajar, maka tentu tidak akan ada alasannya untuk tidak dapat tinggal bersama-sama disatu tempat. Kecuali jika salah seorang diantara kami berbuat sesuatu yang  tidak sepatutnya dilakukan." "Terima kasih ngger. Sambega tentu akan merasa gembira sekali atas keputusan yang angger ambil itu. Dengan demikian akupun berharap, bahwa orang itu akan dapat menemukan kembali kewajaran penalaran sehingga tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang  nampaknya merupakan satu kejahatan." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia tahu maksud Widigda. Dalam kegoncangan jiwa, Sambega memang melakukan perbuatan yang dapat dianggap kejahatan, sebagaimana ia berusaha untuk membawa Mahisa Amping. Latar belakang jiwani yang mendor ongnya melakukan perbuatan itu sama sekali tidak mampu dikendalikannya, sehingga perbuatan-perbuatannya akan dapat membahayakan dirinya sendiri. Karena itu, maka dengan penuh pengertian Mahisa Murti menerima permintaan Sambega itu. Bahkan ketika ia berbicara dengan Wantilan dan Mahisa Semu, maka keduanyapun sama sekali tidak berkeberatan. Tetapi Mahisa Amping dengan ragu-ragu telah bertanya "Apakah orang itu tidak berbahaya bagiku kakang?" "Tidak Amping, pada dasarnya ia memang tidak berbahaya. Yang terjadi itu adalah karena goncangan perasaan yang hampir tidak dapat ditanggungkannya. " jawab Mahisa Murti. "Apakah jiwanya sekarang sudah tenang kakang?" bertanya Mahisa Amping pula. "Agaknya memang demikian. Apalagi setelah kematian orang yang membunuh anak dan isterinya itu. Seakan-akan himpitan jiwanya telah terangkat" jawab Mahisa Murti. "Apakah peny akit seperti itu tidak akan dapat kambuh lagi, kakang?" Mahisa Amping masih bertanya. Mahisa Murti tersenyum. Katanya "Jika terjadi persoalan yang rumit dan tidak mampu diatasinya, memang mungkin ia mendapat goncangan jiwa lagi. Tetapi, ia m erasa mendapat ketenangan di Padepokan ini, sehingga mudah-mudahan tidak akan terjadi lagi persoalan yang menghimpit jiwanya sehingga paman Sambega itu kehilangan pegangan. " Mahisa Amping termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, iapun mengangguk-angguk kecil sambil berdesis "Mudah-mudahan." Dengan demikian, maka Sambega merasa bahwa dirinya telah menjadi bagian dari Padepokan Bajra Seta. Ketika Widigda menyampaikan keputusan menerimanya tinggal di Padepokan itu, maka iapun menjadi sangat gembira. Dari hari ke hari, maka luka -luka Sambega telah berangsur sembuh. Terutama luka bagian dalam tubuhnya. Setiap pagi Sambega telah berjalan-jalan mengelilingi Padepokan itu bersama Widigda yang masih selalu merawatnya. Kadangkadang Sambega telah mengajak Mahisa Amping untuk berjalan-jalan bersamanya. Meskipun kadang-kadang masih ragu, namun Mahisa Amping tidak menolaknya. Bersama dengan Sambega dan Widigda, Mahisa Amping kadang-kadang berjalan-jalan tidak sa ja di dalam lingkungan Padepokannya, namun juga keluar dari Padepokan menyusuri sawah dan ladang. Setelah beberapa hari berada di Padepokan Bajra Seta, maka Sambegapun menjadi semakin baik. Bahkan t enaganya rasa-rasanya telah pulih kembali. Sekali-sekali ia sudah mencoba untuk berlatih di sanggar Padepokan Bujra Seta dengan peralatan yang ada. Dalam pada itu, ketika keadaan Sambega telah benar-benar pulih kembali, maka Widigdapun merasa bahwa kewajibannya telah selesai. Jika ia harus tinggal terlalu lama di Padepokan Bajra Seta, karena ia tidak ingin membuat penghuni Padepokan itu bertambah beban. Karena itulah, maka ia menunggui Sambega sampai Sambega pulih dan mampu melayani dirinya sendiri. Dengan demikian maka Widigdapun mulai memikirkan kepentingannya sendiri. Kepada Sambega ia menyatakan bahwa ia ingin meninggalkan Padepokan itu dan pulang ke padepokan kecil yang ditinggalkan gurunya. Ia memang pernah mendapat pesan dari gurunya itu, agar ia m erawat padepokan kecil itu sebaik-baiknya. "Meskipun padepokan kita adalah padepokan kecil yang  tidak terhitung, tetapi sebaiknya kau pelihara sebaik-baiknya" berkata gurunya sesaat sebelum ia dipanggil kembali oleh Yang Maha Agung. Karena itulah, maka meskipun padepokan itu menjadi sepi dan hanya dihuni oleh keluarganya saja, namun Widigda merasa berkewajiban untuk melakukan pesan gurunya sebaik2nya. Sambega tidak dapat menahan saudara seperguruannya lebih lama lagi. Iapun mengerti, bahwa Widigda memang harus berada di padepokannya. Demikianlah, ketika tiba saatnya, maka Widigdapun telah minta diri kepada Mahisa Murti, kepada Mahisa Semu, Mahisa Amping, Wantilan dan seisi Padepokan Bajra Seta. Juga kepada Sambega yang  telah menjadi pulih kembali serta telah menjadi penghuni Padepokan Bajra Seta. "Aku selalu berharap, paman singgah di Padepokan ini apabila paman menempuh perjalanan." berkata Mahisa Murti. "Tentu " jawab Widigda "bahkan aku tentu akan memerlukan mengunjungi Padepokan Bajra Seta ini meskipun aku tidak menempuh perjalanan kemanapun juga." "Terima kasih " sahut Mahisa Murti "kami benar-benar berharap." “Aku titipkan adik seperguruanku disini." berkata Widigda kemudian. "Paman Sambega akan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan Padepokan ini lahir dan batin. Paman Sambega yang mempunyai pengalaman yang  sangat luas akan sangat berarti bagi perkembangan pengenalan kami atas lingkungan yang lebih luas." "Jangan memuji begitu " berkata Sambega "aku harus merasa bahwa aku bukan apa-apa disini, selain menumpang untuk mendapatkan ketenangan." "Jangan merajuk begitu " berkata Widigda sambil tersenyum. Mahisa Murtipun tersenyum pula. Namun kemudian Widigda itupun telah minta diri untuk meninggalkan Padepokan Bajra Seta. Demikianlah, maka Sambega telah berusaha untuk menyesuaikan hidupnya dengan kehidupan di padepokan Bajra Seta. Sebelumnya ia memang tidak terbiasa untuk hidup dalam kelompok yang besar. Ia terbiasa hidup seorang diri. Bertualang dari satu tempat ketempat yang  lain. Bahkan kadang-kadang tanpa tujuan. Sekali-sekali ia pulang ke padepokan dan tinggal beberapa lama. Apalagi setelah jiwanya terguncang. Ia semakin jauh dari lingkungannya. Ia merasa hidup seorang diri tanpa sentuhan orang lain. Orang lain bagi Sambega adalah benar-benar orang lain yang tidak saling mempedulikan. Apalagi menyangkutkan kepentingan yang satu dengan yang lain. Tetapi di Padepokan Bajra Seta, seorang tidak dapat lepas dari kaitannya dengan orang lain. Mereka harus dapat hidup dalam hubungan yang serasi. Yang satu selalu mengingat kepentingan yang  lain. Jika seseorang mengalami kesulitan, maka yang  lain wajib membantunya. Sehingga hidup di Padepokan itu rasa-rasanya seperti sekelompok orang yang bersama-sama memikul beban. Berat atau ringan, semuanya ikut memikulnya. Mula-mula Sambega memang merasakan kesulitan. Kadang-kadang ia tidak tahu kenapa ia harus m elibatkan diri dalam kerja yang dilakukan orang lain. Sambega juga mencoba mengerti, bahwa ia harus ikut duduk-duduk bersama beberapa orang yang sedang beristirahat dan berbincang-bincang yang bagi Sambega tidak pernah dilakukannya sebelumnya. Di Padepokan Bajra Seta itulah Sambega mulai m engenal kebersamaan. Bahkan juga mengekang diri dan bertenggang rasa. Membagi kesulitan namun juga bersama-sama menikmati kepuasan jika kerja mereka berhasil. Lebih dari itu semuanya, maka Sambega juga mulai menekuni jalan hidup yang  sebelumnya kurang dimengerti. Bagaimana ia berhubungan dengan Sumber Hidupnya. Setelah beberapa lama berada di Padepokan Bajra Seta, Sambega merasa dirinya menjadi orang lain. Ia memang tidak dapat menghapus cacatnya. Cacat ditangannya. Cacat diwajahnya serta cacat badani yang  lain. Tetapi lambat laun Sambega dapat m enghapus sedikit demi sedikit cacat jiwani, meskipun ia masih tetap menjadi manusia biasa dengan segala kekurangannya. Mahisa Murti dan Wantilan mengamati perkembangan jiwa Sambega dengan saksama. Wantilan yang juga pernah mengalami gejolak sebagaimana dialami oleh Sambega. Karena itu, maka ia merasa yakin, bahwa Sambega sama sekali tidak berpura-pura. Sebagaimana dialaminya, maka perubahan itu terjadi sampai keda sar kesadarannya yang paling dalam. "Pada dasarnya ia bukan seorang yang  berhati kelam" berkata Mahisa Murti. "Ya " Wantilan m engangguk-angguk "tingkah laku saudara seperguruannya itulah yang telah membuatnya menjadi seorang yang berkelakuan aneh sehingga sulit m engendalikan diri sendiri. Dendamnya kadang-kadang meledak tanpa mempertimbangkan sasarannya.” Mahisa Murti juga mengangguk-angguk. Katanya "Kematian saudara seperguruannya itu telah menguras dendamnya sampai kering. Itulah agaknya yang telah membantunya menumbuhkan kesadaran didalam dirinya." "Kita dapat mengharapkan tenaga dan kemampuannya. Bagaimanapun juga ia memiliki ilmu yang  tinggi." desis Wantilan. Sebagaimana diperhitungkan oleh Mahisa Murti dan Wantilan, maka Sambega benar-benar menjadi orang yang berarti di Padepokan itu. Sejak ia menyadari arti dari hidupnya yang  selalu berkaitan dengan lingkungannya serta dibawah bayang an kuasa Sumber Hidupnya, m aka Sambega telah menjadi manusia lain yang  berarti bagi banyak orang. Sementara itu, perhatiannya kepada Mahisa Amping tidak berubah. Bahkan seolah-olah Sambega telah menempatkan dirinya menjadi pemomong anak yang  tumbuh remaja itu. Meskipun demikian, Sambega tidak mau dengan sertamerta m emaksa agar anak itu m empelajari ilmunya. Dengan hati-hati ia memperhatikan apa yang  telah dimiliki oleh Mahisa Amping. Baru kemudian, Sambega berbicara dengan Mahisa Murti, apakah ia diperkenankan melengkapi ilmu yang telah ada didalam diri anak itu, tanpa mengganggu kemapanan ilmu yang telah ada. "Kau memerlukan waktu paman" berkata Mahisa Murti. "Ya, aku mengerti ngger. Tetapi aku berjanji bahwa aku tidak akan mengganggunya. Ilmu yang  telah dipelajarinya, yang sejalan dengan ilmuku itulah yang  akan aku perdalam, sehingga anak itu benar-benar mampu menguasainya. Bukan sa ja Mahisa Amping, tetapi juga Mahisa Semu." Mahisa Murti mengangguk-angguk kecil. Katanya "Silahkan paman. Pada saat-saat tertentu jika akan melihat perkembangannya. "Terima Kasih ngger " jawab Sambega "tetapi aku benarbenar berjanji, agar yang  aku lakukan tidak ju stru menyulitkan anak itu. Apalagi susunan dan tatanan tubuhnya serta sy araf dan urat-uratnya.” Dengan ijin Mahisa Murti, maka Mahisa Semu dan Mahisa Amping pada hari-hari tertentu telah berlatih bersama Sambega. Sekali-sekali disanggar tertutup, namun kadangkadang disanggar terbuka. Sambega masih belum membawa anak-anak itu keluar terlalu jauh dari Padepokan. Bagaimanapun juga ia masih memikirkan kawan-kawan Lengkara. Mungkin ada diantara mereka yang tidak dengan tulus menerima kenyataan sehingga masih ter sisa dendam didalam hati. Sambega sendiri tidak mengkhawatirkan dirinya. Tetapi ia tidak ingin anak-anak itu mengalami kesulitan. Pa da hari -hari tertentu, Mahisa Murti sendiri memerlukan melihat apa yang  dilakukan oleh Sambega. Sampai seberapa jauh Sambega mengisi dan menambah pengenalan Mahisa Semu dan Mahisa Am ping tentang olah kanuragan. Ternyata Mahisa Murti tidak pernah m erasa berkeberatan atas usaha Sambega untuk membantu meningkatkan pengenalan Mahisa Amping dan Mahisa Semu tentang ilmu kanuragan. Sambega telah memperkenalkan beberapa unsur yang dekat dan mempunyai watak dan kegunaan yang  sama dari ilmu yang telah dipelajarinya. Mahisa Murti sama sekali tidak berkeberatan, bahwa ada warna lain dalam susunan ilmunya. Sebagaimana Mahisa Murti sendiri tidak hanya menyadap ilmu dari satu perguruan. Ia tidak berguru khusus kepada ayahnya. Tetapi juga kepada beberapa orang lain yang sempat memperkaya ilmunya. Dalam kematangan penguasaannya atas ilmunya, maka unsurunsur yang  ada didalam dirinya itu akan tersusun menjadi kesatuan ilmu yang tinggi. Luluh dan menyatu. Meskipun demikian Mahisa Murti tidak melepaskan Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Setiap kali, keduanya dibawa masuk kedalam sanggar tertutup tanpa orang lain. Juga tidak bersama Sambega. Dengan demikian, maka Mahisa Murti selalu dapat menilik kemajuan keduanya serta kemungkinan adanya unsur-unsur yang  tidak menguntungkan didalam dirinya. Ia bukannya tidak percaya kepada Sambega, tetapi ia memang harus berhati-hati. Sambega sama sekali tidak merasa tersinggung. Ia mengerti bahwa Mahisa Murti memang harus berbuat demikian sebagai satu tanggung jawab atas anak-anak yang telah diambilnya. Apalagi Mahisa Murti berharap, bahwa Mahisa Semu dan Mahisa Amping akan dapat menjadi penerus di Padepokan Bajra Seta disamping orang-orang yang masih akan diketemukan kemudian. "Jika saja kelak lahir anak Mahisa Pukat " b erkata Mahisa Murti didalam hatinya. Tetapi sebelum hal itu terjadi, maka harus ada seseorang yang telah disiapkan, karena kepemimpinan Padepokan Bajra Seta tidak boleh terputus. Namun dalam pada itu, hubungan antara Kediri dan Singasari, masih saja diwarnai oleh kemelut yang nampaknya tidak akan pernah menjadi jernih. Kediri selalu merasa dirinya berada dibawah kekuasaan Singasari, sementara Kediri memiliki usia yang  lebih tua dari sekedar Pakuwon Tumapel yang kemudian berhasil mengalahkan Kediri. Tetapi bagaimanapun juga para pemimpin di Kediri adalah trah keturunan dari para penguasa. Darah yang  mengalir didalam tubuh mereka adalah tetesan darah raja-raja yang  berkuasa turun-temurun. Sedangkan Singasari yang  kemudian menjadi besar m elampaui Kediri adalah pemerintahan yang  lahir dari tangan seorang penyamun di padang Karautan. Namun bagaimanapun juga Singasari itu telah ada dan berkuasa di muka bumi. Kediri memang pernah dikalahkan. Karena itu, maka betapapun Kediri mengaku sebagai keturunan raja-raja yang  sah, namun Singasari telah melahirkan keturunan raja-raja yang  sah itu pula karena kuasanya. Jika kekuasaan Kediri lahir dari keturunan darah, maka kekuasaan Singasari lahir dari ujung pedang. Kemelut yang terjadi antara dua jalur kekuasaan itu, meskipun beberapa saat nampak menjadi jernih, namun setiap saat dapat menjadi keruh kembali. Gejolak-gejolak itu dapat muncul dipermukaan betapapun kedua belah pihak berusaha meredamnya. Beberapa orang pemimpin di Kediri tidak henti-hentinya berusaha untuk dapat bangkit k embali dari reruntuhan yang sangat menyakitkan itu. Dengan demikian, maka gejolak itu getarannya selalu terasa sampai kejarak yang jauh di jangkauan kekuasaannya. Sementara itu, di Singasari, Mahisa Pukat masih tetap berada didalam tugasnya. Bahkan rasa-rasanya Mahisa Pukat akan tetap berada di Ka satrian bukan karena ia seorang Pelay an Dalam yang pantas ditempatkan di Kasatrian. Tetapi justru karena ia telah diangkat menjadi guru bagi para Kesatria. Selain Mahisa Pukat, maka Mpu Sidikarapun telah berada di Ka satrian pula. Ternyata keduanya dapat bekerja bersama dengan baik. Meskipun keduanya bersumber ilmu dari perguruan yang  berbeda, namun keduanya dapat saling mengerti. Keduanya dapat saling membantu dan saling mengisi dengan sebaik-baiknya. Apalagi mPu Sidikara yang meskipun lebih tua, namun menempatkan diri karena ia merasa bahwa ilmu Mahisa Pukat lebih baik dan lebih tinggi dari ilmunya. Tetapi Mahisa Pukat sendiri sama sekali tidak merasa lebih penting dan lebih berarti dari mPu Sidikara. Dengan demikian, maka sikap kedua orang guru di Ka satrian itu berpengaruh baik pula terhadap para Kesatria di Singasari. Menghadapi kemelut yang terjadi antara Singasari dan Kediri, maka Pangeran Kuda Pratama telah memberikan pesan -pesan khusus kepada Mahisa Pukat dan mPu Sidikara. Para Kesatria itu sebaiknya mengetahui dan meyakini kehadiran Singasari sebagai satu keharusan yang tidak dapat diingkari. Pendiri Singasari, Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi, lahir atas kehendak Brahma. Dengan demikian, maka para Kesatria di Singasari akan merasa y akin akan haknya, karena mereka merasa bahwa meskipun menurut ujud lahiriahnya, Ken Arok yang kemudian menjadi Akuwu di Tumapel dan setelah m engalahkan Kediri menjadi seorang Maharaja adalah keturunan rakyat biasa, karena ia lahir dari seorang perempuan di lingkungan para petani yang  bernama Ken Endog, namun ia adalah anak Bathara Brahma, sehingga ia berhak mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari siapapun, meskipun ia keturunan rajaraja sekalipun. Dengan key akinan seperti itu, maka para Kesatria di Singasari memang merasa bahwa kedudukan mereka seharusnya lebih tinggi dari para Kesatria di Kediri. Tetapi dalam pada itu, beberapa orang pemimpin di Kediri telah mey akinkan anak-anak m ereka, bahwa ceritera tentang Ken Arok sebagai anak Brahma adalah sekedar usaha Singasari untuk mengesahkan kedudukan Ken Arok itu, karena sebenarnya Ken Arok tidak lebih dari anak Ken Endog dan seorang petani yang bernama Gajah Para. Yang bahkan kemudian telah menjelajahi kehidupan yang kasar dan kotor diantara para penjahat, pencuri dan penyamun di Padang Karautan. Namun dalam kemelut seperti itu, hubungan Mahisa Pukat dengan Sasi berjalan dengan baik. Justru karena Mahisa Pukat telah m endapat kedudukan yang  baik, m aka kedua orang tua Sasi mulai memikirkan hubungan anaknya dengan Mahisa Pukat itu dengan lebih bersungguh-sungguh. Beberapa orang mulai menyebut-ny ebut hubungan mereka yang  memang menjadi semakin rapat. Bahkan para Kesatria muda di Ka satrian Singasaripun mulai pula menyebut-ny ebut nama Sasi, seorang gadis yang erat hubungannya dengan gurunya, pemimpin Pelay an Dalam yang  agaknya semakin lama justru menjadi semakin renggang dengan jabatannya sebagai pemimpin kelompok Pelay an Dalam dan bahkan menjadi lebih akrab dengan kedudukannya sebagai guru dalam olah kanuragan di Kasatrian. Hubungan Mahisa Pukat dengan Sasi itupun menjadi perhatian pula bagi Mahendra. Apalagi umur Mahisa Pukat memang sudah cukup memadai untuk menempuh satu kehidupan keluarga. Namun ada satu hal yang masih terasa menggelitik dihati Mahendra. Mahisa Murti. Namun Mahendra y akin, bahwa Mahisa Murti tidak akan menjadi sakit hati seandainya Mahisa Pukat harus mendahuluinya, m enikah dengan Sasi. Meskipun Mahendra tahu, bahwa bekas-bekas luka di hati Mahisa Murti tentu masih juga terasa pedih, tetapi Mahisa Murti adalah seorang anak muda yang  akan mampu mempergunakan penalarannya untuk mengatasi gejolak perasaannya. Karena itulah, maka Mahendra harus mulai bersiap-siap untuk datang dengan resmi menemui Arya Kuda Cemani untuk minta secara resmi pula bahwa Sasi akan diperisteri oleh Mahisa Pukat. Mahendra memang tidak dapat m enunggu terlalu lama. Ia tahu bahwa Arya Kuda Cemani telah menunggu. Tetapi sebagai orang tua dari seorang gadis, maka Arya Kuda Cemani tidak akan dapat m embicarakannya lebih dahulu. Sementara itu, beberapa orang tetangga dan bahkan kawan-kawannya justru telah mulai membicarakannya. Karena itulah, maka Mahendra telah memanggil Mahisa Pukat untuk berbicara tentang hubungannya dengan Sasi. Meskipun Mahisa Pukat mempunyai kedudukan dan wewenang lebih tinggi dari mPu Sidikara di Kasatrian, namun Mahisa Pukat merasa jauh lebih m uda daripadanya. Karena itu, maka sebelum ia bertemu dengan ayahnya, maka Mahisa Pukat telah berbicara dengan mPu Sidikara, minta petunjuk apa yang  sebaiknya dilakukannya. "Kau sudah cukup mempunyai bekal untuk menempuh satu kehidupan baru" berkata mPu Sidikara "umurmu sudah cukup. Kedudukanmu baik. Bukan sekedar pemimpin kelompok Pelay an Dalam. Orang tuamu nampaknya tidak berkeberatan atas hubunganmu dengan gadis yang sesuai dengan hatimu. Demikian pula orang tua gadis itu. Karena itu, agaknya tidak ada lagi persoalan yang dapat menjadi hambatan seandainya ayahmu bertanya tentang per soalanmu dengan gadis itu." Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia mengerti apa yang  dimaksud oleh mPu Sidikara. Tetapi yang  dipikirkannya adalah saudara laki-lakinya, Mahisa Murti. Sepanjang umurnya, Mahisa Pukat seakan-akan tidak pernah berpisah dengan saudaranya itu. Jika kemudian ia harus menempuh satu kehidupan keluarga, maka rasa-rasanya ia telah m eninggalkannya dibelakang. Rasa-rasanya ia telah meloncat mendahuluinya beberapa langkah kedepan. Ketika hal itu dikemukakannya kepada mPu Sidikara, maka mPu Sidikara itupun berkata "Tetapi bukankah kalian untuk selanjutnya tidak akan dapat saling tergantung yang  satu dengan yang lain. Kalian tidak akan dapat saling menunggu, sementara kau t elah m enemukan seseorang yang  pantas dan bersedia untuk hidup bersama. Seandainya saudaramu itu tidak segera m endapatkan jodohnya, maka persoalanmu akan menggantung. Mungkin kau dapat m enerima hal itu karena kau merasa terikat oleh saudaramu itu. Tetapi kau juga harus memikirkan perasaan gadis bakal isterimu itu. Apakah ia dapat m enerima keadaan yang  mengambang itu atau tidak. Mungkin gadis itu tidak pernah m enyatakannya kepadamu. Tetapi diam-diam hatinya mulai tersiksa sebelum ia benarbenar menjadi isterimu." Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya "Ba iklah. Aku sudah mempunyai bekal untuk berbicara dengan ayah.” Demikianlah, maka Mahisa Pukat itupun pada suatu malam telah datang memenuhi panggilan ayahnya. Dengan bekal yang mantap maka Mahisa Pukat akan mengemukakan sikapnya dalam hubungannya dengan Sasi. Sebenarnyalah Mahendra memang m enanyakan beberapa hal kepada Mahisa Pukat dalam hubungannya dengan Sasi. Mahendra bertanya, apakah Mahisa Pukat benar-benar sudah mantap untuk kelak berkeluarga dengan anak perempuan Arya Kuda Cemani itu. "Aku sudah memikirkan dengan masak, ay ah" jawab Mahisa Pukat. "Selama kau berhubungan dengan gadis itu, apakah kau sudah dapat menjajagi sifat dan wataknya?" bertanya ayahnya. "Ya, ayah. Selama ini aku telah m encoba untuk mengenali sifat dan wataknya. Menurut pendapatku, Sasi adalah seorang gadis yang baik." jawab Mahisa Pukat. "Baiklah Pukat. Jika kau memang sudah mantap serta sudah kau pikirkan m asak-masak, maka aku harus berbuat sesuatu. Hubunganmu dengan Sasi sudah cukup lama, sehingga beberapa orang lain mulai membicarakannya." berkata ayahnya. Mahisa Pukat mengangguk kecil. Meskipun demikian ia masih bertanya "Apakah kita sangat tergantung kepada orang lain itu, ay ah?" Mahendra mengerutkan dahinya. Namun ia ganti bertanya "Apakah kita dapat melepaskan diri sepenuhnya dari lingkungan kita? Apakah kita dapat sama sekali tidak menghiraukan pendapat orang lain?" Mahisa Pukat m enarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia menjawab "Memang tidak ayah." "Sudahlah. Yang penting, kau harus bersiap-siap untuk pergi kerumah Arya Kuda Cemani. " berkata Mahendra. "Aku sendiri?" bertanya Mahisa Pukat. "Tentu tidak. Mak sudku, kau akan ikut bersamaku datang kerumah Arya Kuda Cemani. Mungkin kita akan mengajak dua atau tiga orang untuk menemani kita datang secara resmi minta Sasi untuk kelak menjadi isterimu." Mahisa Pukat mengangguk-angguk kecil. Dengan nada rendah ia menyahut "Ya ayah." "Baiklah" berkata Mahendra, "namun, sebelum aku menemui Arya Kuda Cemani, maka aku ingin bertemu dengan Mahisa Murti lebih dahulu. Bukan apa-apa, hanya sekedar memberitahukan, bahwa aku akan melamar Sasi untukmu. Aku berharap bahwa Mahisa Murti pun akan segera menemukan seorang gadis untuk menjadi isteriny a pula.” "Apakah ayah akan pergi ke Padepokan Bajra Seta?" "Ya " jawab Mahendra. "Perjalanan itu terlalu panjang buat ayah sekarang. Ayah menjadi semakin tua. Ayah akan menjadi sangat letih. " berkata Mahisa Pukat. "Tidak. Meskipun umurku sudah tua, tetapi kau lihat, bahwa badanku masih utuh. Inderaku masih baik dan bahkan penalaranku pun masih belum menjadi kabur." "Sebaiknya aku saja yang pergi ke Padepokan Bajra Seta, ay ah" berkata Mahisa Pukat. "Tidak baik bahwa kau yang akan berbicara dengan Mahisa Murti. Aku kira lebih pantas akulah yang memberi tahukan kepadanya bahwa aku akan melamar Sasi untukmu. Aku tahu bahwa Mahisa Murti tidak akan ter singgung siapapun yang datang memberitahukan hal ini kepadanya. Tetapi jika aku yang datang, maka rasa-rasanya per soalan yang  aku sampaikan kepadanya lebih bersungguh-sungguh.” "Ayah. Jika kau pergi ke Padepokan Bajra Seta, bukannya aku yang  akan berbicara. Tetapi aku hanya sekedar memanggil Mahisa Murti untuk menghadap ay ah. Nah, nanti ayah jugalah yang akan menyampaikannya kepadanya." sahut Mahisa Pukat. Mahendra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Sudah lama aku tidak menempuh satu perjalanan. Ternyata ada kerinduan untuk berderap diatas punggung kuda menyusuri jalan-jalan panjang." Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Jika ay ahnya memang berniat untuk melakukan satu perjalanan, maka Mahisa Pukat tentu tidak dapat mencegahnya. Meskipun Mahisa Pukat masih mengingatkannya bahwa perjalanan ke Padepokan Bajra Seta cukup jauh, tetapi Mahendra memang sudah berniat untuk melakukannya. Meskipun demikian Mahisa Pukatpun berkata "Ayah, jika ay ah sudah berketetapan hati untuk pergi ke Padepokan Bajra Seta, m aka biarlah aku ikut bersama ayah untuk m enemani ay ah bercakap-cakap disepanjang jalan. Jika ayah sudah menetapkan waktu, aku mohon ayah memberitahukan kepadaku, agar aku dapat m inta ijin kepada Pangeran Kuda Pratama dan memberitahukannya kepada mPu Sidikara.” "Aku kira, aku perlu segera bertemu denganMahisa Murti. Karena itu, bagaiamana pertimbanganmu jika dalam tiga hari ini, kita berangkat ke Padepokan Bajra Seta." "Bagiku, kapan saja hari yang  ay ah tentukan, tidak berkeberatan. Jika ay ah akan pergi tiga hari lagi, maka akupun dapat saja pergi bersama ay ah. Besok aku akan minta ijin kepada Pangeran Kuda Pratama" jawab Mahisa Pukat. "Baiklah. Kita akan berangkat tiga hari lagi. Akupunharus minta ijin dahulu kepada Sri Maharaja, karena sewaktu -waktu aku dapat saja dipanggil untuk menghadap." "Baiklah ayah" berkata Mahisa Pukat kemudian "menjelang keberangkatan kita k e Padepokan Bajra Seta, aku akan tidur disini, agar kita dapat berangkat pagi-pagi sekali.” Mahendra mengangguk-angguk sambil menjawab "Ya. Aku sependapat" jawab Mahendra. Demikianlah, maka dihari berikutnya Mahisa Pukatpun telah minta ijin kepada Pangeran Kuda Pratama dan memberitahukan kepada mPu Sidikara bahwa ia akan menyertai ayahnya pergi ke Padepokan Bajra Seta untuk menemui saudaranya, Mahisa Murti. Sementara itu, Mahendrapun telah menyampaikan permohonannya pula lewat Narpacundaka Sri Maharaja di Singasari. Ternyata Sri Maharaja tidak berkeberatan. Namun Sri Maharaja berpesan, agar Mahendra tidak telalu lama berada di Padepokan Bajra Seta. "Dalam keadaan yang penting, aku memerlukannya" pesan Sri Maharaja. Seperti yang direncanakan, maka pada hari yang  ketiga, Mahendra dan Mahisa Pukat telah meninggalkan halaman belakang istana Singasari pagi-pagi benar. Meskipun Mahendra sudah semakin tua, ternyata ia masih tegar duduk dipunggung kuda. Menj elang matahari terbit, maka kedua orang ayah dan anak itu sudah keluar dari pintu gerbang Kotaraja. Kuda-kuda mereka berderap menyusuri jalan panjang dalam keremangan dini hari. Udara terasa segar mengusap wajah-wajah mereka. Mahisa Pukat berkuda disebelah ayahnya dengan wajah tengadah. Nampak wajahnya yang  cerah memandang jalan yang terbentang dihadapan mereka yang  mulai menjadi semakin terang. Mereka mulai berpapasan dengan orang-orang yang  akan pergi ke pasar. Satu dua masih ada yang  membawa obor belarak. Namun yang  lain telah membuang obor-obor mereka, karena fajar menjadi semakin merah. Ketika mereka berpapasan dengan iring-iringan pedati, maka m ereka masih m endengar kidung perlahan-lahan dari para pedagang yang duduk di dalam pedati itu. Sambil berselimut kain panjang, mereka mengusir dingin dengan dendang yang  riang. Dengan nada dalam Mahendra berdesis "mereka bekerja dengan tekun. Mereka bekerja keras tanpa mengharapkan hasil yang  berlebihan." "Ketekunan dan kerja keras yang mereka lakukan pantas untuk diteladani" berkata Mahendra. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Orang-orang yang  membawa dagangan m ereka ke pasar, mungkin hasil sawah, hasil pategalan atau hasil kerja tangan mereka, memang tidak terlalu banyak berharap. Tetapi masih ada juga orang yang  ingin mendapat hasil yang banyak, cepat tanpa bekerja keras. Mereka mengandalkan kemampuan dan keberanian mereka menggertak orang lain. Mengancam dan sedikit kemampuan olah kanuragan. Tetapi orang-orang yang  pergi ke pasar didini hari itupun tidak pergi sendiri-sendiri. Biasanya mereka pergi ke pasar membawa dagangan mereka dalam kelompok-kelompok yang cukup besar sehingga orang-orang yang  berniat jahat tidak berani mengganggu mereka lagi. Sejenak kemudian, maka langitpun menjadi terang. Matahari mulai nampak mengarungi perjalanan panjangnya dari cakrawala ke cakrawala. Mahendra dan Mahisa Pukat masih melarikan kuda mereka disepanjang jalan yang  menjadi semakin ramai, sehingga dengan demikian maka keduanya tidak berpacu terlalu cepat. Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka panasnyapun menjadi semakin meny engat kulit. Keringat mengalir semakin banyak pula membasahi punggung. Semakin jauh m ereka dari Kotaraja, maka jalan memang menjadi semakin sepi. Bukan saja karena matahari semakin tinggi, tetapi padukuhan memang menjadi semakin jarang. Namun Mahendra dan Mahisa Pukatpun kemudian merasa perlu untuk beristirahat. Bukan saja mereka juga sudah merasa letih. Tetapi lebih-lebih kuda mereka yang  menjadi haus dan lapar. Karena itu, maka keduanyapun telah berhenti disebuah kedai yang cukup besar disebelah pasar di padukuhan yang juga termasuk besar. Ketika mereka masuk kedalam setelah m enyerahkan kuda mereka kepada seorang penjaga dan memesan agar kuda itu diberi makan dan minum, maka didalam kedai itu sudah terdapat beberapa orang yang  sedang makan dan minum. Mahendra dan Mahisa Pukatpun kemudian duduk disudut ruangan, disebuah lincak bambu yang  panjang dan m emakai sandaran. Dilincak agak ditengah terdapat dua orang yang juga sedang minum dan makan, sedangkan beberapa orang yang lain duduk disudut yang terdekat dengan pintu masuk kedai itu. Keadaan di kedai itu nampaknya tenang-tenang saja. Orang-orang yang  ada didalamnya sibuk dengan minuman dan makanan yang  dihidangkan kepada mereka masingmasing. Hanya sekali-sekali terdengar orang-orang yang  ada didalam kedai itu memesan makanan lain yang  mereka kehendaki. Mahendra dan Mahisa Pukat yang  memang m erasa haus itupun telah memesan makanan dan m inuman. Seperti yang lain -lainpun maka keduanyapun segera m endapat pelay anan yang baik. Namun beberapa saat kemudian, orang-orang yang ada didalam kedai itupun bagaikan diguncang ketika ampat orang memasuki kedai itu. Demikian mereka duduk, maka suara mereka telah memenuhi ruangan itu. Jika ada diantara mereka yang tertawa, m aka suaranya bagaikan m enggetarkan kedai itu. Ketenangan di kedai itu memang terganggu. Tetapi agaknya orang-orang yang sudah lebih dahulu duduk dikedai itu tidak ingin menegur m ereka, karena jika hal itu mereka lakukan, maka akan dapat terjadi perselisihan. Dua orang yang  duduk agak ditengah itupun sama sekali tidak menghiraukan kehadiran mereka meskipun agaknya merekapun merasa terganggu. Namun ketika salah seorang diantara keempat orang yang  datang itu memperhatikan kedua orang yang  sudah lebih dahulu duduk dikedai itu, maka orang itupun tiba-tiba mendekatinya. Sambil menepuk bahunya, maka orang itu berkata lantang "He, ternyata kau kami ketemukan disini. " Kedua orang itu berpaling. Keduanya yang semula tidak memperhatikan orang-orang yang  memasuki kedai itu terkejut. Keempat orang itu kemudian ternyata berpindah dan duduk didekat kedua orang itu. Mereka berbicara dengan keras, diselingi oleh suara tertawa yang  menggelitik telinga. Seorang diantara mereka dengan lantang bertanya "Dimana Lengkara sekarang? Bukankah kau telah mengikut orang itu?" Dengan segan salah seorang dari kedua orang itu menjawab "Lengkara sudah mati." "Ia memang harus mati. Lengkara sudah merampas beberapa orang kawan kita dan membawanya bagi kepentingannya." berkata orang itu. Lalu iapun bertanya "Dimana ia mati dan siapa yang membunuhnya?" "Ia dibunuh oleh Widigda di Padepokan Bajra Seta " jawab salah seorang dari kedua orang yang  duduk lebih dahulu itu. Mahendra dan Mahisa Pukat t erkejut m endengar jawaban yang meny ebut Padepokan Bajra Seta itu, sehingga justru karena itu, maka merekapun mendengarkan pembicaraan itu dengan seksama. Salah seorang dari keempat orang itu bertanya "Siapakah Widigda itu?" "Saudara seperguruan Lengkara " jawab orang itu singkat. "Akhirnya ia memetik buah dari biji yang  ditanamnya sendiri " berkata orang lain diantara keempat orang itu. Lalu katanya "Nah, jika demikian, kalian harus kembali lagi kedalam kelompok kami. Bahkan seandainya Lengkara masih hiduppun, aku m enghendaki kau kembali dan menyatu lagi dengan kami. Apalagi selama ini kau masih meny embunyikan sesuatu, sehingga kau harus meny elesaikan tanggung jawabmu itu." "Jangan mengada-ada " jawab salah seorang dari kedua orang yang  datang lebih dahulu "aku tidak pernah menyembuny ikan sesuatu. Akupun tidak akan mau kembali lagi bersama kelompokmu. Aku sudah jemu hidup seperti seekor serigala yang liar dan setiap kali m encuri ternak pada petani. Biarkan aku dan kawan-kawanku hidup dengan wajar. Apalagi aku sudah berjanji kepada pemimpin Padepokan Bajra Seta, bahwa aku akan kembali kedalam kehidupan wajar sebagaimana orang banyak" Keempat orang itu tertawa berkepanjangan. Seorang diantara mereka justru memukul-mukul lincak dengan kerasnya, sehingga semua orang yang  ada didalam kedai itu merasa terganggu. Tetapi tidak ada seorangpun yang  mau menegurnya. Melihat ujud dan sikapnya, maka mereka adalah orang2 yang tentu tidak akan mudah mau m endengarkan pendapat orang lain. Seorang diantara mereka berkata "Jangan menjadi cengeng. Kau tentu tidak akan dapat m enghindari tanggung jawabmu. Kita sudah lama bekerja bersama. Karena itu, kau jangan lepas dari lingkungan kami." Tetapi kedua orang itu hampir bersamaan menjawab "Tidak. " Yang seorang meneruskan "Kami tidak mau." "Dimana kawan-kawanmu yang  lain yang telah ikut bersama Lengkara?" Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian yang  seorangpun menjawab "Kawan-kawan kami telah berpencar. Kami tidak tahu kemana mereka pergi. Tetapi kami semuanya sudah berjanji bahwa kami tidak akan mengulangi cara hidup kami y g gelap itu." Keempat orang itu tertawa semakin keras. Sambil menepuk bahu salah seorang dari kedua orang yang  datang lebih dahulu itu, seorang yang bertubuh tinggi berkata "Kau akan m enjadi seorang yang alim? Seorang yang baik budi dan berhati putih seperti kapas?" Kawan-kawannya tertawa berkepanjangan. Orang-orang yang  ada di kedai itu semakin merasa terganggu. Dua orang yang ada di bagian dalam ruang itu telah bangkit berdiri dan mendekati pemilik kedai itu untuk menghitung harga makanan dan minuman mereka. Kemudian setelah membayar, merekapun cepat berlalu sambil bergeremang. Mahendra dan Mahisa Pukatpun sebenarnya merasa terganggu juga. Tetapi selain mereka masih menghabiskan makanan yang mereka pesan, lebih-lebih lagi karena orangorang itu meny ebut-ny ebut Padepokan Bajra Seta, maka keduanya justru menunggu perkembangan pembicaraan kedua orang itu. Tetapi ternyata kedua orang yang datang lebih dahulu itu berkeras tidak mau lagi bergabung dengan keempat orang yang datang kemudian itu. Sehingga perselisihanpun tidak dapat dihindarkan. "Kami dapat berbuat baik sebagaimana sikap seorang sahabat. Tetapi kami dapat juga bersikap kasar jika persahabatan kita kalian khianati." berkata orang yang bertubuh tinggi. "Aku tidak pernah merasa mengkhianati persahabatan kita. Aku tidak pernah menganggap kalian bukan lagi sahabat kami. Tetapi kalianpun tidak dapat memaksaa kami untuk tetap hidup dalam dunia yang  hitam sebagaimana duniamu. Jika sa ja kalian meninggalkan dunia kalian, maka kami tentu akan bersedia bergabung dengan kalian dan bekerja bersama.” "Apa yang  dapat kita lakukan?" bertanya orang yang  bertubuh tinggi. "Banyak sekali" jawab salah seorang dari kedua orang yang  datang terdahulu "kita dapat mencoba untuk berdagang. Atau mencoba minta ijin kepada salah seorang Buyut di sebuah Kabuyutan untuk membuka hutan atau kita kembangkan tanah dan ladang yang  sudah kita miliki. Atau apapun yang pantas kita lakukan dalam lingkungan orang-orang beradab.” Keempat orang itu tertawa semakin keras. Namun seorang diantara m ereka berkata "Sudahlah. Kami tidak m emerlukan sesorahmu itu. Karena sebenarnya kalian tidak dapat memilih. Kal ian harus menurut perintah yang kami berikan, karena sebenarnya kami tidak sedang sekedar menawarkan satu keadaan. Tetapi kami sedang memberikan perintah yang  harus kalian lakukan.” "Tidak " teriak salah seorang dari kedua orang yang datang lebih dahulu. Nampaknya kemarahan telah meledak di jantungnya, sehingga tidak tertahankan lagi. Keempat orang yang datang kemudian itu tidak t ertawa lagi. Wajah mereka menjadi tegang. Orang yang  bertubuh tinggi, yang nampaknya paling berpengaruh diantara kawan2nya itu berkata "Kau tidak dapat m enolak. Jika kau menolak, maka kami akan memaksamu." "Kau kira aku akan tunduk kepada kemauanmu?" jawab salah seorang dari kedua orang itu. "Kalian terlalu banyak mengetahui tentang kami. Jika kalian tidak lagi berada diantara kami, maka kalian akan dapat berkhianat dan mengganggu kehidupan kami." "Meskipun aku tidak berniat untuk berkhianat, tetapi kalian agaknya menganggap bahwa hal itu akan aku lakukan. Demikian pula kawanku ini. Karena itu, aku justru tidak peduli lagi. Aku akan berbuat sesuai dengan keinginanku. Kalian tidak dapat memaksa aku dan kawanku untuk mengikuti kehendak kalian." "Per setan dengan igauanmu" geram orang bertubuh tinggi itu "jika kalian berkeras hati menolak ajakan kami, maka kalian akan m eny esal. Kepala kalian akan kami penggal dan kami pasang diatas gerbang padukuhan itu dengan pesan, tidak seorangpun boleh memindahkannya. Siapa yang melanggar perintah kami, maka kepala orang itulah yang  akan menggantikannya. " Tetapi kedua orang itu sama sekali tidak takut. Seorang diantara mereka berkata "Kami sudah lama bergaul dengan kalian. Kami tahu kemampuan kalian dan kalianpun tahu kemampuan kami. Karena itu, kami tidak akan menjadi ketakutan berhadapan dengan kalian berempat." "Kalian melihat sekarang kami berempat. Tetapi sebentar lagi beberapa orang kawan kami akan datang lagi. Mereka mengenal kalian dan kalian tentu juga mengenal mereka. Diantara mereka adalah kakang Kebo Lor og. Nah, apa katamu jika kakang Kebo Lor og itu sampai disini. " Ternyata nama Kebo Lorog mampu m enggetarkan jantung kedua orang itu. Sementara orang bertubuh tinggi itu berkata " Kau tidak akan sempat lari. Meskipun kami tahu kemampuan kalian dan kalian tahu kemampuan kami, namun kami t entu dapat menahan kalian sampai kakang Kebo Lor og datang.- Wajah kedua orang itu memang menjadi tegang. Untuk beberapa saat keduanya justru saling berdiam diri. Keempat orang itupun tiba-tiba telah t ertawa berkepanjangan lagi. Orang yang bertubuh tinggi itu berkata "Nah, apa katamu jika kau akan berhadapan dengan kakang Kebo Lor og?" Namun tiba -tiba saja kedua orang itu saling memberi isy arat. Keduanyapun bangkit berdiri. Seorang diantara mereka berkata "Aku akan pergi sekarang." "Tidak. Kau tidak akan dapat pergi." "Aku tidak peduli" jawab salah seorang dari kedua orang itu. Seorang diantara merekapun kemudian mengambil uang dari kantong ikat pinggangnya dan meletakkannya didalam mangkuknya sambil berkata "Aku tidak sempat menghitung. Jika uangku kurang, lain kali aku akan datang membayar kekurangannya. Jika lebih biarlah aku titipkan disini.” Tetapi keempat orang itu tiba-tiba telah bergerak mengepung keduanya. Yang bertubuh tinggi berkata "Kau tidak akan dapat lari kemanapun." Tetapi kedua orang itu tidak menghiraukannya. Mereka dengan cepat meloncat meny ibak orang-orang yang menghalanginya. Namun keempat orang itu mengejar mereka sehingga mereka turun ke halaman. Ternyata kedua orang itu tidak ingin tertahan terlalu lama. Demikian keempat orang itu turun menyusulnya, maka kedua orang itu sudah menggenggam senjata mereka masingmasing. Keempat orang itu memang menjadi ragu-ragu. Tetapi mereka tidak ingin membiarkan kedua orang itu lari. Karena itu, sekali lagi keempat orang itu mengepungnya. Merekapun telah menarik senjata mereka pula. Maka tidak dapat dihindari lagi, pertempuranpun telah terjadi di halaman kedai itu. Beberapa orang yang tidak ingin terlibat, dengan tergesa - gesa telah meninggalkan kedai itu. Mereka dengan tergesagesa membayar harga makanan dan minuman mereka, kemudian dengan tergesa-gesa pula pergi menjauh. Meskipun dikejauhan mereka berhenti juga untuk melihat apa yang terjadi. Tetapi Mahisa Pukat dan Mahendra tidak pergi meninggalkan kedai itu. Bahkan m ereka bergeser m endekati pintu dan melihat apa yang  terjadi di halaman. Pemilik kedai itupun menjadi ketakutan. Ia tidak berani mencegah pertempuran yang  terjadi di halaman. Apalagi mereka telah mempergunakan senjata pula. Namun seperti yang  dikatakan, m aka keempat orang itu ternyata memang tidak mampu mengimbangi kemampuan kedua orang yang  datang lebih dahulu. Namun keempat orang itu memang hanya sekedar menahan mereka sambil menunggu kawn-kawan mereka yang  datang kemudian. Tetapi kedua orang itu memang terlalu garang bagi mereka. Seorang diantara keempat orang itu harus berloncatan mengambil jarak ketika ujung senjata salah seorang lawannya menggores tubuhnya. "Jangan ganggu kami" berkata salah seorang dari kedua orang itu "atau aku terpaksa harus membunuh?" "Kau memang pembunuh" geram salah seorang dari keempat orang itu "tetapi sebentar lagi kalian berdua akan menjadi mayat. " Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi mereka justru menyerang semakin garang. Keempat orang itu memang mengalami kesulitan. Orang kedua diantara mereka telah terluka pula. Justru didadanya. Selagi ia berusaha memperbaiki keadaannya, m aka orang ketiga justru berteriak tinggi sambil mengumpat." "Pergilah " geram salah seorang dari kedua orang lawan mereka "jangan dungu. Kalian akan dapat mati disini." Tetapi betapapun mereka terluka, namun keempat orang itu masih berusaha untuk menahan kedua orang itu. Dalam pada itu, sebenarnyalah dari kejauhan beberapa orang berkuda berpacu dengan kecepatan tinggi. Apalagi ketika mereka melihat pertempuran di halaman kedai itu. Merekapun segera mempercepat kuda mereka. Dalam pada itu, salah seorang diantara mereka yang  terluka berteriak "Nah, lihat, siapakah yang  datang." Kedua orang itupun menyadari, bahwa yang datang adalah Kebo Lorog dengan beberapa orang m engikutnya yang  lain. Karena itu, maka merekapun telah meningkatkan kemampuan mereka, sehingga keempat orang lawan mereka itupun telah mereka lukai. Karena mereka tidak dapat menghindar lagi dari Kebo Lor og, maka mereka berusaha untuk mengurangi jumlah lawan mereka. Ampat orang yang mendahului Kebo Lor og itu sudah tidak berdaya sama sekali. Meskipun mereka tidak terbunuh, tetapi mereka seakanakan telah kehilangan kemampuan mereka untuk bertempur. Darah telah mengalir dari luka-luka mereka. Tetapi mereka segera tertolong ketika iring-iringan Kebo Lor og itu memasuki halaman didepan kedai itu. Dengan tangkasnya seorang yang bertubuh gemuk, berkumis lebat dan berwajah keras dengan beberapa bekas luka dikening meloncat dari kudanya. Orang itulah yang bernama Kebo Lor og. "Apa yang  terjadi disini?" bertanya Kebo Lorog. Orang yang  bertubuh tinggi, salah seorang dari keempat orang yang datang lebih dahulu dari Kebo Lor og itupun segera melaporkan apa yang  telah terjadi, meskipun dengan nafas yang terengah-enggah. Mata Kebo Lor og itupun menjadi bagaikan menyala. Dipandanginya kedua orang yang  telah melukai keempat orang pengikutnya itu. Dengan suara bergetar karena kemarahan yang menghentak-hentak didadanya, Kebo Lor og itu menggeram "Jadi kau sudah merasa berilmu tinggi sekarang, he, sehingga kau berani melukai orang-orangku." "Mereka memaksa aku " jawab salah seorang dari kedua orang itu dengan dada tengadah. "Setan kau " geram Kebo Lorog "kau kira kau dapat melepaskan diri dari tanggung jawabmu? Selama ini kau selalu minta perlindunganku. Tetapi setelah kau kenal Lengkara, kau mengikut serigala itu." "Lengkara sudah mati" berkata salah seorang dari mereka yang terluka. Kebo Lorog mengerutkan dahinya. Katanya "Jika demikian, maka kau tidak mempunyai pilihan lain. Siapa yang akan melindungimu sekarang jika Lengkara sudah mati?” "Aku tidak akan berlindung kepada siapa pun juga. Tetapi aku tidak akan kembali kedunia yang gelap itu lagi. Aku sudah berjanji kepada Mahisa Murti, pemimpin Padepokan Bajra Seta. " "Setan" geram Kebo Lor og "kau kira Mahisa Murti itu akan dapat m elindungimu? Apalagi sekarang. Kalian hanya berdua disini, sehingga kalian tidak mempunyai pilihan lain. Kalian harus mengikut kami, melakukan perintah-perintah kami." "Aku sudah mengatakan, bahwa aku tidak mau." "Jadi kau memang ingin membunuh dirimu he? Lihat, dengan berapa orang aku datang? Katakan bahwa keempat orangku itu sudah tidak mampu lagi bertempur melawanmu. Tetapi aku datang bersama empat orang lagi. Sedangkan aku sendiri akan mampu memilin leher kalian berdua tanpa orang lain." Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Mereka memang m engakui bahwa Kebo Lorog adalah orang berilmu tinggi. Tetapi keduanya benar-benar tidak berniat untuk kembali dalam kehidupan yang  gelap diantara para pengikut Kebo Lor og. Karena itu, apapun yang  akan terjadi, keduanya itu tetap pada pendiriannya. Sementara itu Kebo Lor og memerintahkan kepada orang-orangnya "Kalian dapat membantai seorang diantara keduanya. Biarlah yang seorang akulah yang  akan menyayatnya menjadi kepingan daging dan tulang. " Lalu katanya kepada kedua orang itu "He, berteriaklah m emanggil pemimpin Padepokan Bajra Seta itu untuk melindungi sekarang ini." Kedua orang itu diam membeku. Tetapi keduanya sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Termasuk kemungkinan yang  paling buruk sekalipun. Namun dalam pada itu semua orang yang  ada di halaman itu terkejut. Termasuk Kebo Lor og. Dari pintu kedai itu keluar seorang anak muda yang berkata lantang "Akulah salah seorang pemimpin Padepokan Bajra Seta. " Kedua orang yang  menolak ajakan Kebo Lorog itu termangu-mangu sejenak. Sepintas anak muda itu memang mirip dengan Mahisa Murti. Apalagi ketika anak muda itu berkata "Jika kau pernah berjanji kepada Mahisa Murti, maka Mahisa Murti m emang berkewajiban melindungimu. Karena disini tidak ada Mahisa Murti, maka akulah yang wajib mengambil alih kewajibannya itu, karena aku adalah saudaranya laki -laki. Satu diantara dua orang pemimpin Padepokan Bajra Seta. Namaku Mahisa Pukat." "Mahisa Pukat" kedua orang itu berbareng meny ebut namanya. "Kalian agaknya belum pernah bertemu dengan aku, karena ketika kalian bertemu dan menyatakan janji kalian kepada Mahisa Murti aku berada di Singasari." "Apakah kau benar saudara laki -laki Mahisa Murti?" bertanya salah seorang dari kedua orang itu agak ragu meskipun kehadirannya itu akan menguntungkannya. Tetapi kemudian ia berkata "Jika benar, maka kami akan sangat berterima kasih. " "Ya " jawab Mahisa Pukat "karena itu, maka aku akan mengambil alih tanggung jawabnya." Kedua orang yang  telah hampir kehilangan harapan untuk dapat tetap hidup itu jantungnya seakan-akan telah m enyala kembali. Apalagi ketika kemudian Mahendra juga keluar dari kedai itu. Meskipun orang itu sudah tua, tetapi nampak dari sor ot matanya bahwa ia memiliki kelebihan dari kebanyakan orang itu. Namun Mahisa Pukatlah yang  kemudian berkata "Ki Sanak. Ambillah keempat orang pengikut Kebo Lorog itu. Biarlah aku yang menghadapinya. Mungkin ia merasa lebih senang mendapat lawan yang belum pernah ditemuinya sebelumnya." Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun seorang diantara mereka berkata "Kebo Lor og adalah seorang yang berilmu tinggi..” Mahisa Pukat mengerutkan dahinya. Sementara itu Kebo Lor og sendiri berkata sambil t ertawa "Ternyata disini ada juga kecoak yang  ingin m enjadi seorang pahlawan. He, peringatkan orang itu, agar ia tidak mati siasia. " Tetapi Mahisa Pukat justru bertanya kepada kedua orang itu "Ki Sanak, apakah kau tahu, melihat atau sedikitnya mendengar tentang kemampuan saudaraku Mahisa Murti?" "Ya " jawab kedua orang itu bersamaan. "Katakan dengan jujur menurut pendapatmu, apakah kirakira Mahisa Murti tidak mampu mengimbangi kemampuan Kebo Lor og?" bertanya Mahisa Pukat. Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata "Mahisa Murti adalah seorang yang  berilmu sangat tinggi. " "Jadi, menurut perhitunganmu, ia akan dapat mengalahkan Kebo Lor og?" bertanya Mahisa Pukat kempdian. "Ya " jawab orang itu. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya "Jika demikian aku juga akan berusaha untuk dapat m engalahkan Kebo Lor og. " "Tetapi... " kedua orang itu masih saja nampak ragu-ragu. Mahisa Pukat terseny um. Katanya "Jangan ragu-ragu. Aku saudara kandung Mahisa Murti. Saudara-saudaraku yang  lain adalah Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Ada seorang pamanku disana, Paman Wantilan. Kau kenal mereka? "Ya, y a " kedua orang itu menyahut hampir berbareng. Wajah merekapun kemudian membayangkan key akinan mereka, bahwa Mahisa Pukat yang  mirip dengan Mahisa Murti itu adalah memang saudara Mahisa Murti. Seandainya ilmunya terpaut, maka terpautnya juga tidak terlalu banyak. Karena itu, ketika kemudian Mahisa Pukat maju mendekati Kebo Lor og, keduanya tidak menahannya lagi. "Bagus" berkata Kebo Lor og, “jadi kalian benar-benar ingin mati sebagai pahlawan?" "Hanya aku yang  akan t erlibat. Ayahku tidak. Tetapi akupun tidak ingin mati sebagai pahlawan, tetapi aku ingin meredam kesewenang-wenanganmu. Jika kedua orang itu tidak lagi ingin terlibat dalam gerombolan hitammu, kenapa kau memaksanya? Bahkan dengan kekerasan pula." "Itu per soalan antara kami dan mereka. Persoalan yang  tidak terjadi dengan serta merta sekarang ini. Tetapi persoalannya sudah dimulai dan berkembang sejak lama. Aku tidak perlu berceritera sampai sehari semalam tentang hubungan kami dan mereka. Namun sebaiknya kalian tidak usah turut campur. Betapa tinggi ilmu saudaramu itu, tetapi kau tidak akan dapat berbuat apa-apa atasku." "Apapun yang terjadi, aku berdiri di pihak kedua orang itu. Biarlah mereka berdua bertempur melawan keempat orang pengikutmu. Bahkan jika keempat orang yang t erluka itu masih mampu ikut campur. Sementara itu, kau akan berhadapan depgan aku." "Per setan dengan bualanmu" geram Kebo Lorog "aku tidak akan segan-segan membunuhmu. Dan namamu akan tetap dikenang sebagai seorang pahlawan yang  mati tanpa arti.” Tetapi Mahisa Pukat justru tertawa. Katanya "Aku tidak berkeberatan dengan segala macam gelar. Tetapi yang penting, aku tidak ingin mati. Tetapi aku juga tidak ingin membunuhmu kecuali dalam keadaan terpaksa sekali. Namun agaknya kau akan memaksaku untuk melakukannya. " Kebo Lorog menggeram marah. Bahkan matanya telah menjadi merah seperti bara. Dengan suara yang bergetar karena kemarahan yang menghentak-hentak dadanya, iapun berkata kepada para pengikutnya "Bunuh keduanya. Aku akan membunuh kecoak ini. Setelah kecoak ini mati aku injak, maka biarlah kita membunuh kedua kecoak sakit-sakitan itu pula." Mahisa Pukat justru tertawa semakin keras. Katanya "Apakah ada sebutan yang lebih buruk dari kecoak?" Kebo Lor og benar-benar telah kehabisan kesabaran. Karena itu, maka iapun segera bergeser mendekati Mahisa Pukat, sementara keempat pengikutnya berusaha untuk mengepung kedua orang yang telah menolak ajakan mereka itu. Sedangkan dua dari empat orang yang  telah terluka itu ternyata masih sanggup untuk mengangkat senjatanya meskipun tenaga mereka telah jauh susut, sedangkan dua orang yang  lain sama sekali telah tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Keempat orang yang datang bersama dengan Kebo Lorog itu juga sudah mencabut senjatanya pula. Mereka telah bersiap untuk bertempur habis-habisan, karena merekapun mengetahui tataran kemampuan kedua orang yang  akan dibunuhnya itu. Kebo Lor og yang yakin akan kemampuannya itu sama sekali tidak ingin mempergunakan senjata. Karena orang itu tidak bersenjata, maka Mahisa Pukatpun tidak bersenjata pula, meskipun ia membawa pedangnya yang merupakan bagian dari senjata kembar dengan senjata Mahisa Murti. Kedua orang yang berhadapan dengan enam orang lawan itupun telah mulai bergerak. Mereka memang harus mengerahkan segenap kemampuan mereka. Bagaimanapun juga melawan enam orang tentu merupakan satu pertempuran yang sangat berat. Kepada kedua orang yang  sudah terluka itu salah seorang dari mereka berkata "Sebaiknya kalian tidak melibatkan diri lagi, karena kemampuan kalian sama sekali t idak memadai untuk pertempuran ini." "Per setan dengan igauan kalian itu " geram salah seorang dari kedua orang yang  terluka itu. Lawannya itupun berdesis "Aku m enyesal bahwa aku tidak membunuhmu tadi." "Akulah yang  nanti akan membunuhmu" jawab orang yang  terluka itu. Ternyata kedua orang yang  dikepung itu tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan tidak terduga sebelumnya, seorang di antara mereka segera meloncat dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ujung pedangnya dengan serta merta telah m enggapai pundak dari salah seorang yang  memang sudah terluka itu. Orang itu terkejut. Diluar sadarnya, maka iapun berteriak kesakitan. Tenaganya yang  sudah ter susut itu tidak m ampu melontarkan tubuh untuk menghindar. Karena itu, maka ujung pedang itupun benar-benar telah mematuk dan menghujam dipundaknya. Beberapa langkah orang itu terdor ong surut. Bahkan kemudian iapun terjatuh ditanah. Senjatanya terlepas dari tangannya. Agaknya ujung pedang lawannya itu telah memotong urat dipundaknya sehingga tangan kanannya itu rasa-rasanya bagaikan menjadi lumpuh. Kelima orang yang Iainpun dengan serta merta telah bergerak pula. Seorang diantara mereka yang  telah terluka itu berteriak "Licik kau. Kau curi kesempatan sebelum kami bersiap?” "Itulah kebodohan kalian. Jika kalian berhadapan dengan lawan, maka kalian harus sudah bersiap sejak semula. " Seorang dari para pengikut Kebo Lorog itupun mencoba untuk melakukan hal yang  sama. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang dengan garangnya. Tetapi ujung senjatanya tidak menyentuh apapun juga. Bahkan ketika senjata itu terjulur, maka dengan kerasnya lawannya memukul senjata itu sehingga justru terlepas dari tangannya. Untunglah bahwa kawan-kawannya dengan cepat melindunginya dengan m eny erang hampir bersamaan. Kedua orang lawan mereka terpaksa bergeser surut sehingga orang yang kehilangan senjatanya itu sempat memungutnya kembali sambil mengumpat-umpat. Ketika ia kemudian bersiap kembali, maka ia masih harus beberapa kali meniup tangannya yang terasa seperti menyentuh bara api. Demikianlah maka para pengikut Kebo Lor og itu telah bertempur melawan kedua orang yang  tidak mau tunduk kepada kemauan mereka. Ternyata kedua orang itu benar-benar mampu mengimbangi kelima orang lawannya. Kedua orang itu sekalisekali b ertempur pada jarak yang  dekat, namun sekali-sekali mereka saling menjauh. Loncatan-loncatan mereka yang panjang dan dengan kecepatan yang  tinggi, membuat kelima orang lawan mereka itu kadang-kadang menjadi bingung seakan-akan kehilangan sasaran. Namun kelima orang itu sesekali juga dapat m endesak kedua orang lawan m ereka itu dan bahkan mencoba mengurungnya. Kebo Lor og sempat memperhatikan pertempuran itu sesaat. Kemudian dengan nada tinggi ia berkata "Lihat. Kedua orang yang  akan kau lindungi itu akan segera mati.” "Kau akan mati lebih dahulu dari mereka. Kemudian delapan orang pengikutmu itu juga akan mati. Kecuali jika kau menyerah dan membawa orang-orangmu pergi.” Kebo Lor og menggeram. Kemarahannya tidak tertahan lagi. Darahnya bagaikan telah mendidih didalam jantungnya. Karena itu, maka iapun mulai bergeser menyerang Mahisa Pukat yang  memang sudah bersiap untuk bertempur. Sejenak kemudian, m aka keduanyapun telah m ulai saling menyerang. Kebo Lor og ternyata benar-benar seorang yang memiliki kekuatan yang  luar biasa. Tenaganya bagaikan tenaga raksasa yang sedang mengamuk. Ayunan tangannya telah menggetarkan udara menerpa kulit Mahisa Pukat. Mahisa Pukat menyadari, betapa besar kekuatan lawannya itu. Karena itu, maka iapun segera mempergunakan lambaran tenaga dalamnya untuk mengimbangi kekuatan raksasa Kebo Lor og. Ketika terjadi benturan-benturan diantara keduanya, Kebo Lor og memang menjadi heran. Anak muda itu ternyata mampu mengimbangi kekuatannya. Tetapi Kebo Lorogpun mengerti, bahwa Mahisa Pukat telah mengalasi kekuatannya dengan tenaga dalam. Karena itu, untuk tetap berada pada tataran yang lebih tinggi, maka Kebo Lorogpun telah mengungkapkan tenaga dalamnya pula. Namun k emampuan Mahisa Pukat ternyata memang lebih tinggi dari Kebo Lor og. Karena itu, meskipun pada da sarnya kekuatan Kebo Lorog itu lebih besar, tetapi dilambari dengan tenaga dalam masing-masing, maka Kebo Lor og ternyata tidak mampu menekan kekuatan lawannya. Mahendra yang berdiri di luar pintu kedai itu memperhatikan pertempuran yang  terjadi itu dengan seksama. Sekali-sekali nampak keningnya berkerut. Kedua orang yang  harus bertempur melawan para pengikut Kebo Lor og itu m emang harus mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka. Keempat orang pengikut Kebo Lor og yang datang kemudian itu masih mempunyai tenaga yang segar. Sedangkan seorang yang telah terluka itu masih juga terasa mengganggu, karena iapun dapat merupakan bagian dari kepungan di seputar kedua orang itu. Namun kedua orang itu memang lebih tangkas dari lawanlawan mereka. Meskipun jumlah lawan mereka lebih dari dua kali lipat, namun kedua orang itu masih mampu mengimbanginya. Sementara itu, Mahisa Pukat yang  bertempur melawan Kebo Lorog, tetapi ternyata Mahisa Pukat masih mampu mengimbanginya. Keduanya bergerak semakin lama semakin cepat. Bahkan Kebo Lorog yang gemuk itupun mampu bergerak dengan kecepatan yang tinggi, seakan-akan tubuhnya yang besar itu tidak terasa memberatinya. Karena itulah maka keduanyapun berloncatan dengan tangkasnya saling menyerang dan saling menghindar. Sekalisekali masih saja terjadi benturan jika seorang diantara mereka menangkis serangan lawannya. Dalam benturan-benturan yang  terjadi, maka keduanya justru mengetahui bahwa lawan mereka memang memiliki tenaga dan kekuatan yang besar. Sementara itu loncatanloncatan yang  cepat dan ringan membuat pertempuran itu bagaikan angin pusaran yang  berputaran tidak berkeputusan. Orang-orang yang  menyaksikan pertempuran itu dari kejauhan, tidak tahu apa yang  sebenarnya terjadi. Bahkan merekapun kemudian sulit membedakan, ketika dua bayangan bagaikan menjadi berbaur tanpa batas. Hanya Mahendralah yang  dapat melihat apa yang  sebenarnya terjadi. Namun iapun mengerutkan dahinya melihat kedua orang itu m eningkatkan ilmu m ereka semakin lama semakin tinggi. Diputaran pertempuran yang  lain, dua orang yang datang terdahulu tengah bertempur melawan para pengikut Kebo Lor og. Ternyata keduanya m emang memiliki kelebihan dari lawan-lawan mereka. Senjata kedua orang itu berputaran menggapai-gapai dengan cepat. Sehingga sekali-sekali k elima orang yang  mengepungnya harus berloncatan menjauh. Namun sejenak kemudian mereka dengan serentak m eloncat menyerang bersama-sama. Namun kedua orang yang menolak untuk bekerja bersama dengan Kebo Lorog itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka tidak mau m enunggu keadaan menjadi semakin buruk. Dengan demikian, maka senjata mereka seakan-akan berputar semakin cepat. Kedua orang itu tidak membiarkan diri mereka terkurung di dalam kepungan. Dengan isyarat maka keduanya serentak menghentakkan kekuatan mereka menyerang sisi yang  sedang dalam paling lemah dari kepungan itu. Tiga diantara kelima orang pengikut Kebo Lor og itu terkejut sekali. Kedua orang itu begitu tiba -tiba meloncat menyerang mereka. Ketiga orang itu memang berusaha untuk menghindar dan menangkis serangan itu. Seorang diantara mereka yang tidak menjadi sasaran langsung sempat meloncat menghindar. Seorang lagi berusaha untuk menangkis ujung pedang yang bergetar dan kemudian terayun m endatar menyambar kearah lambung. Satu benturan yang keras telah terjadi. Namun pengikut Kebo Lorog yang  terkejut itu t ernyata tidak mampu menahan kekuatan benturan yang seakan-akan merayap lewat pedangnya menggigit telapak tangannya. Senjata orang itupun tidak mampu lagi dipertahankannya, sehingga terloncat dari tangannya. Dengan gugup orang itu berlari meninggalkan lawannya. Sementara lawannya memang tidak sempat mengejarnya. Dua orang pengikut Kebo Lorog yang  lain sempat memburu menyelamatkan kawannya yang kehilangan senjatanya itu. Tetapi mereka tidak sempat menolong kawannya yang lain. Ju stru kedua orang bersama-sama meny elamatkan kawannya yang kehilangan senjatanya, maka kawannya yang  seorang lagi mengalami nasib yang  buruk. Meskipun ia mampu menangkis serangan lawannya ketika pedang lawannya itu terjulur, tetapi pedang itu menggeliat dan berputar dengan cepat. Pengikut Kebo Lor og itu meloncat mundur untuk mempertahankan senjatanya. Tetapi lawannya ternyata meloncat pula memburu. Ayunan pedangnya yang datang lurus dari samping m enebas kearah lehernya membuatnya meloncat surut sambil melindungi lehernya dengan senjatanya. Tetapi ternyata pedang lawannya berputar. Pedang nya mematuk kearah dadanya yang  seakan-akan terbuka. Pengikut Kebo Lorog itu dengan cepat memiringkan tubuhnya karena tangannya terlambat menangkis serangan itu. Tetapi pengikut Kebo Lor og itu tidak dapat melepaskan diri sepenuhnya. Uluran pedang lawannya sempat mengoyak lengannya, sehingga sebuah luka telah menganga. Orang itu m eloncat surut mengambil jarak. Terasa darah yang hangat telah meleleh sampai ketangannya dan bahkan jari-jarinya. Orang itu mengumpat kasar. Kemarahannya telah menyala didadanya. Namun, ia tidak dapat mengingkari keny ataan, bahwa ia memang sudah terluka. Sementara itu kedua orang itu telah berhasil m ematahkan kepungan para pengikut Kebo Lor og. Orang yang telah kehilangan senjatanya itu tidak sempat lagi memungutnya. Karena itu, m aka iapun telah mengambil senjata dari salah seorang pengikut Kebo Lorog yang datang lebih dahulu, namun telah terluka dan tidak dapat bertempur terus. Dengan demikian, m aka lima orang pengikut Kebo Lorog bertempur itu, dua diantaranya telah terluka. Bagaimanapun juga luka itu telah mempengaruhi mereka karena semakin banyak darah yang  mengalir, maka tenaga merekapun menjadi semakin susut. Kedua orang yang  menolak untuk bergabung dengan Kebo Lor og itu menjadi semakin berpengharapan untuk dapat segera meny elesaikan pertempuran itu. Ketika sesaat-sesaat mereka sempat melihat pertempuran antara Mahisa Pukat dan Kebo Lor og, dada mereka pun tergetar. Mereka tidak segera mengetahui siapakah yang  akan m emenangkan pertempuran itu. Apalagi keduanya tahu pasti, bahwa Kebo Lor og memang seorang yang  memiliki ilmu yang  tinggi. Sebenarnyalah bahwa Kebo Lorog tidak segera dapat didesak. Bahkan kemudian ternyata bahwa Mahisa Pukat mengalami kesulitan ketika Kebo Lor og itu mengerahkan kemampuannya. Bukan saja tenaganya seakan-akan m enjadi semakin besar, tetapi day a tahanyapun telah bertambahtambah. Dengan demikian, maka pertempuran antara Mahisa Pukat dan Kebo Lor og itu memang menjadi semakin sengit. Bahkan Mahendra yang menyaksikan pertempuran itu mulai menjadi berdebar-debar. Tenaga Kebo Lor og yang  serasa m enjadi berlipat itu telah mendesak Mahisa Pukat. Namun Mahisa Pukatpun kemudian sampai pada tataran tertinggi dari tenaga dalamnya, sehingga kekuatannyapun mengimbangi kekuatan lawannya. Tetapi meskipun demikian, ada sesuatu yang  membuat Mahendra berdebar-debar. Dalam pengerahan tenaga sampai kepuncak, sentuhan tangan Mahisa Pukat sama sekali tidak mengguncangkan lawannya. Sekali-sekali Mahisa Pukat masih juga tergetar, jika serangan lawannya mampu menembus pertahanannya. Bahkan Mahisa Pukat pernah terdorong beberapa langkah surut. Tetapi serangan Mahisa Pukat yang mengenai tubuh Kebo Lor og seakan-akan tidak terasa sama sekali. Mahisa Pukatpun kemudian merasakan hal itu. Karena itu, maka ia tidak membiarkan lawannya tetap pada tataran kemampuannya. Mahisa Pukatpun kemudian telah mengetrapkan ilmunya yang  mampu menghisap tenaga dan kemampuan lawannya.

Jilid 113
DENGAN demikian maka Mahisa Pukat justru lebih banyak berusaha untuk membentur serangan-serangan lawan. Meskipun tulang dan dagingnya terasa sakit, tetapi ia berharap bahwa kekuatan dan kemampuan lawannya itu menyusut. Tetapi setelah bertempur untuk waktu yang  terhitung lama, kemampuan lawannya sama sekali tidak m enyusut. Bahkan Kebo Lorog itu justru menjadi semakin garang. Seranganserangannya datang beruntun seperti debur ombak menghantam tebing pantai. Mahisa Pukat menjadi heran. Bahkan kegelisahannya mulai nampak pada tata geraknya. Beberapa kali ia berloncatan surut mengambil jarak serta berusaha mengamati keadaan lawannya. Dalam pada itu, Kebo Lor ogpun tertawa berkepanjangan. Tanpa memburu anak muda yang  meloncat surut menjauhinya itu ia berkata disela-sela suara tertawanya “Nah, Mahisa Pukat. Apalagi yang  akan kau andalkan? Ilmumu untuk menghisap tenaga serta kemampuan lawanmu tidak berarti sama sekali bagiku. Guruku telah m empelajari ilmu itu serta penangkalnya sekaligus. Ilmu kebalku bukan saja mampu menjadi peri sai dari serangan-seranganmu, tetapi juga ilmumu yang sebenarnya termasuk ilmu yang  jarang ada duanya itu. Nah, sekarang kau tidak dapat berbuat lain kecuali menyerah. Bersimpuh dihadapanku dan membiarkan aku berbuat apa saja atasmu. Tetapi aku berjanji tidak akan membunuhmu, m eskipun untuk selama- lamanya kau tidak akan dapat menghalangi aku lagi.” Wajah Mahisa Pukat m enjadi m erah. Tetapi Kebo Lorog memang memiliki kemampuan sebagaimana dikatakannya itu. Ilmu kebalny a mampu menangkal ilmunya yang dapat menghisap tenaga dan kemampuan lawan. Tetapi sama sekali tidak terbersit niat dihati Mahisa Pukat untuk meny erah dan apalagi membiarkan Kebo Lor og itu membuatnya cacat. Karena itu, maka Mahisa Pukat masih saja bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Mahendra memang menjadi berdebar-debar. Iapun melihat, bahwa ilmu Mahisa Pukat yang tersembuny i itu tidak dapat ditrapkan melawan kekebalan Kebo Lor og. Kekebalan yang khusus, bukan saja melawan benturan-benturan kekerasan dan tajamnya senjata, tetapi juga melawan ilmu Mahisa Pukat yang jarang diketahui orang itu. Namun bagaimanapun juga Mahisa Pukat selalu terdesak. Serangan-serangannya memang menjadi tidak berarti bagi lawannya. Ilmu k ebal Kebo Lorog tidak dapat ditembus oleh kekuatan dan tenaga dalam Mahisa Pukat yang  telah dilepaskannya seluruhnya. Sementara itu, tubuh Mahisa Pukat terasa semakin lama semakin dicengkam oleh kesakitan. Kulit dagingnya terasa memar, sementara tulang-tulangnya bagaikan menjadi, retak. Ketika serangannya yang  dilontarkan dengan mengerahkan tenaganya sempat ditangkap oleh ketajaman penglihatan Kebo Lor og, maka Kebo Lor og sama sekali tidak menghindar. Ia justru mengerahkan tenaganya pula untuk membentur serangan Mahisa Pukat. Satu benturan yang sengit telah terjadi. Namun Mahisa Pukatlah yang justru terdor ong surut. Melambung diudara, kemudian melayang jatuh. Hanya karena keliatan tubuhnya sa jalah, maka Mahisa Pukat jatuh dengan mapan. Justru ia sempat berguling dua kali dan kemudian meloncat bangkit. Kebo Lor og tertawa berkepanjangan, sementara keringat mulai mengalir dipunggung Mahendra. Bahkan kedua orang yang  menolak bergabung dengan Kebo Lor og, yang  juga sempat menyaksikannya sekilas, menjadi gelisah pula. Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat tidak ingin benarbenar dihancurkan oleh Kebo Lorog. Karena itu, maka Mahisa Pukat tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus berlindung dibelakang ilmu pamungkasny a. Demikianlah, m aka Mahisa Pukatpun telah mengerahkan segenap tenaga serta segenap ilmu yang  ada didalam dirinya. Kemudian memusatkan nalar budinya untuk membangkitkan ilmu puncaknya. Dengan lambaran segenap kemampuan dan ilmu yang  tersimpan didalam diriny a, maka Mahisa Pukat itu telah menarik sebelah kakinya surut. Dengan lutut yang sedikit merendah, m aka Mahisa Pukatpun telah sampai pada batas tertinggi kemampuan ilmu yang  dimilikinya. Sejenak kemudian, maka kedua tangan Mahisa Pukat telah bersilang didadanya, kemudian terjulur lurus menghentak kedepan dengan telapak tangan yang terbuka menghadap lawannya. Kebo Lor og terkejut melihat sikap Mahisa Pukat. Bahkan jantungnya telah tergetar ketika ia melihat seleret sinar memancar di telapak tangan anak muda itu. Kemudian dengan cepat meluncur ke arah jantung didadanya. Kebo Lorog yang  juga berilmu tinggi itu memang tidak membiarkan dadanya pecah oleh hantaman ilmu yang meluncur dari telapak tangan Mahisa Pukat. Karena itu, maka Kebo Lor og itupun meloncat menghindarinya. Tetapi ilmu yang terlontar dari telapak tangan Mahisa Pukat terlalu cepat untuk dapat dihindari sepenuhnya oleh Kebo Lorog yang  agak gemuk itu. Karena itu, maka Kebo Lor og tidak berhasil lepas sama sekali dari tikaman ilmu Mahisa Pukat. Yang terjadi adalah benturan yang  dahsy at. Kebo Lorog itulah yang  kemudian terlempar dan melambung beberapa langkah surut. Ketika Kebo Lor og terbanting jatuh, betapapun ia berusaha untuk menggeliat dan bangkit kembali, namun tubuhnya tidak lagi mampu untuk bergerak lagi. fulang-tulang dadanya serasa berpatahan. Bahkan seisi daday a terasa menjadi panas bagaikan terbakar Kebo Lor og itu mengumpat kasar. Tetapi suaranya yang  parau tertelan kembali lewat kerongkongannya yang kering. Ilmu puncak Mahisa Pukat ternyata tidak mampu diatasiny a. Hanya karena Kebo Lor og berilmu tinggi, serta usahanya untuk menghindari serangan Mahisa Pukat yang meluncur kearahnya sajalah, maka Kebo Lor og m asih tetap menyadari sepenuhnya apa yang terjadi. Tetapi wadagnya sama sekali tidak lagi mampu mendukung segala ilmu, kemampuan dan kelebihan-kelebihannya. Mahisa Pukat berdiri termangu-mangu. Sementara itu, para pengikut Kebo Lor og yang sedang bertempur itupun terkejut pula. Mereka melihat Kebo Lorog itu terbanting jatuh dan tidak dapat bangkit kembali. Kedua orang yang  tidak mau bergabung dengan Kebo Lorog itupun melihat, bagaimana Mahisa Pukat mengalahkan Kebo Lor og. Yang mereka lihat itu seakan-akan merupakan ulangan dari apa yang  pernah m ereka lihat di padepokan Bajra Seta. Sehingga dengan demikian maka keduanyapun yakin, bahwa Mahisa Pukat itu memang saudara laki -laki Mahisa Murti sebagaimana dikatakannya. Ketika kemudian Kebo Lorog yang berilmu tinggi itu terbaring di halaman kedai itu, maka para pengikutnyapun menjadi ragu-ragu. Kedua orang yang  tidak mau bergabung dengan m ereka itupun tidak dapat mereka kalahkan. Apalagi apabila anak m uda yang  telah m engalahkan Kebo Lorog itu ikut bertempur melawan mereka. Mahisa Pukat masih berdiri termangu-mangu sejenak. Ketika ia melihat bahwa Kebo Lor og sudah tidak mampu bangkit lagi, maka iapun melangkah mendekati para pengikutnya sambil berkata “Nah, apakah yang akan kalian lakukan?” Para pengikut Kebo Lor og itu m enjadi semakin berdebardebar. Sekali-sekali mereka memandang kedua orang yang menolak bergabung bersama mereka itu. Namun kemudian dipandanginya Mahisa Pukat yang telah melumpuhkan pemimpinnya yang dianggapnya tidak dapat dikalahkan oleh siapapun juga. "Apakah kalian akan meneruskan pertempuran ini? " bertanya Mahisa Pukat. Orang-orang itu tetap terdiam. Tidak seorangpun diantara mereka yang  menjawab. "Kenapa kalian diam saja?" desak Mahisa Pukat "atau kami yang harus mulai meny erang kalian?" Tidak seorang pun yang  menjawab meskipun mereka saling berpandangan. Melihat sikap m ereka, maka Mahisa Pukatpun kemudian berkata "Baiklah. Aku masih akan m inta kepada kedua orang yang kalian paksa untuk bergabung dengan kalian itu untuk memberikan kesempatan sekali lagi. Jika kesempatan kali ini tidak kau pergunakan sebaik-baiknya, maka nasib kalian akan menjadi lebih buruk dari Kebo Lorog itu sendiri." Orang-orang itupun masih saja termangu-mangu. Tidak seorangpun yang  menjawab. Sementara itu, Mahisa Pukat berkata selanjutnya "Ba iklah. Kesempatan terakhir bagi kalian untuk menyerah. Jika kesempatan ini tidak kalian pergunakan, maka kalian tidak akan mempunyai pilihan lain." Orang-orang itu masih berpandangan sejenak. Namun seorang yang  terluka cukup parah berkata "Aku meny erah.” Tetapi Mahisa Pukat menyahut "Yang terutama bukan kalian yang  memang sudah tidak dapat melawan. Aku bertanya kepada mereka yang  masih mampu mempergunakan senjatanya melawan kami." Suasana memang menjadi tegang. Namun kemudian seorang diantara mereka yang  masih bertempur dengan sigapnya berkata sambil meletakkan senjatanya "Kami menyerah." Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Bagus. Jika kalian meny erah, maka persoalannya dapat dianggap selesai. Lihat pemimpinmu itu. Ia belum m ati. Tetapi Kebo Lor og tidak akan mampu lagi memimpin kalian. Jika ia dapat sembuh, ia tidak akan mampu lagi menguasai segenap ilmunya karena dukungan wadagnya tidak memungkinkan lagi. Ia akan cacat untuk selanjutnya.” Wajah para pengikutnya menjadi tegang. Sementara Mahisa Pukat berkata lagi "Apakah kalian menyesal bahwa pemimpin kalian menjadi cacat? Apakah kalian masih bermimpi untuk tetap hidup dalam petualangan kalian seperti saat -saat kalian mengembara dibawah pimpinannya.” Pertanyaan itu telah m enghentak dijantung para pengikut Kebo Lor og itu. Untuk sesaat keadaan memang menjadi sepi. Semuanya terdiam sementara wajah-wajah menjadi tegang. Bukan hanya m ereka yang terlibat dalam pertempuran itu sa ja, tetapi orang-orang yang  m enyaksikan dari k ejauhanpun menjadi tegang pula. Bahkan Mahendra yang  menyaksikan semua peristiwa yang terjadi di halaman kedai itupun juga menjadi tegang. Dalam pada itu, seorang di antara para pengikut Kebo Lor og itupun kemudian berkata "Ki Sanak. Kami tidak tahu apa yang sebaiknya kami lakukan dikemudian hari. Tetapi jika pemimpin kami tidak lagi mampu melakukan tugasnya, maka agaknya kamipun harus mempertimbangkannya untuk berbuat yang lain." "Jadi seandainya kalian meninggalkan dunia hitammu, bukan karena kesadaran yang  tumbuh dari dasar hatimu. Tetapi semata-mata karena tidak ada lagi orang yang  dapat membawamu melakukan kejahatan-kejahatan itu?" bertanya MahisaPukat. "Tidak. Bukan karena itu. Tetapi kami benar-benar tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Dan bahkan kami tidak tahu apa yang  harus kami katakan sekarang ini." jawab pengikut Kebo Lorog itu. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya "Apapun alasannya. Tetapi kau dapat bercermin kepada kedua orang yang pernah bekerja bersamamu itu. Mereka sekarang sama sekali t idak goncang oleh bujukan atau ancaman atau apapun juga. Mereka sudah berdiri tegak pada sikap mereka. " Para pengikut Kebo Lorog itu m engangguk-angguk. Tetapi wajah mereka masih membayangkan keragu-raguan sikap. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun berkata "Baiklah. Pikirkan kata-kataku ini. Jika kalian masih tetap berdiri dibayangi kejahatan yang pemah kalian lakukan dibawah pimpinan Kebo Lor og itu, maka kalian akan berhadapan dengan bekas-bekas kawan kalian dan lebih dari itu, kalian akan berhadapan dengan seluruh isi Padepokan Bajra Seta selain kalian m erupakan orang-orang yang tentu akan selalu diburu oleh para prajurit Singasari. " Orang-orang itu menundukkan kepalanya. Tetapi tidak seorangpun yang  menyahut. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun membentak "He, kenapa kalian m embisu? Apakah aku harus membawa kalian kepada para prajurit Singasari?” "Sebenarnyalah aku tidak tahu apa yang harus aku katakan" jawab salah seorang diantara mereka dengan serta-merta "Tetapi yakinlah, bahwa kami tidak akan mengulangi lagi perbuatan-perbuatan kami. Bukan karena Kebo Lor og sudah tidak berdaya lagi. Tetapi kami m engerti kenapa kami harus menghentikannya." "Apa yang meloncat dari mulutmu itu tidak lebih dari sekedar usahamu untuk m eny elamatkan diri. Tetapi baiklah. Kita akan melihat apa yang  akan terjadi kelak. " berkata MahisaPukat. Para pengikut Kebo Lorog itu tidak menjawab. Tetapi kegelisahan memang membayang disor ot mata mereka. Sementaraitu Mahisa Pukatpun berkata "Sekarang, lihat pemimpinmu itu. Tolong rawat orang itu baik-baik. Tetapi ingat, kita tentu masih akan bertemu dimanapun juga. Jika bukan aku, tentu para cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Atau saudaraku Mahisa Murti, atau Mahisa Semu atau Paman Wantilan. Tetapi karena aku mempunyai banyak hubungan dengan prajurit Singasari, maka jika kalian masih tetap hidup dalam bayangan kejahatan, maka Arya Kuda Cemani, seorang Panglima dari Pa sukan Sandi di Singasari akan langsung menangani perburuan atas kalian." Diluar sadarnya maka para pengikut Kebo Lor og itu mengangguk-angguk. Tetapi hati mereka benar-benar menjadi kuncup mendengar ancaman Mahisa Pukat itu. "Namun segala sesuatunya terserah kepada kalian " berkata Mahisa Pukat kemudian. Lalu katanya sekali lagi "Sekarang lihat pemimpinmu itu." Para pengikut Kebo Lorog yang  tidak terluka itupun telah melangkah mendekati Kebo Lor og yang  terbaring. Ternyata orang itu agaknya masih pingsan. Kepada kedua orang yang  menolak bergabung dengan Kebo Lor og itu Mahisa Pukat berkata "Ki Sanak. Kalian dapat mengamati apa yang  mereka lakukan disini sampai mereka membawa Kebo Lorog itu pergi. Kami berdua akan melanjutkan perjalanan kami menuju ke Padepokan Bajra Seta. " "Baiklah" jawab salah seorang dari mereka "kami mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu. Kau telah menyelamatkan jiwa kami sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Murti. Mahisa Murti waktu itu dapat saja membunuh kami semuanya karena kami telah melakukan kesalahan yang sebenamya tidak pantas untuk dimaafkan. Tetapi kami dapat keluar hidup-hidup dariPadepokan Bajra Seta. Karena itulah, maka kami berjanji untuk menghentikan segala kegiatan gila kami sebagaimana selalu kami lakukan sebelumnya. Bahkan memang kami pernah melakukannya bersama-sama dengan Kebo Lor og. " "Baiklah. Sekarang kami berdua akan minta diri. kami mengucapkan selamat atas kesediaan kalian meninggalkan satu lingkungan yang  penuh dengan kegelapan." Berkata Mahisa Pukat. Lalu katanya pula ”Orang itu adalah ay ahku. Juga ayah Mahisa Murti." "O" kedua orang itupun mengangguk hormat kepada Mahendra yang  masih berdiri di tempatnya. Namun Mahendrapun telah m engangguk hormat pula kepada m ereka berdua. Demikianlah, maka Mahendra dan Mahisa Pukatpun meninggalkan kedai itu setelah membayar harga makanan dan minuman mereka serta kuda-kuda mereka, melanjutkan perjalanan menuju ke Padepokan Bajra Seta. Keduanya telah tertahan beberapa saat diperjalanan. Karena itu, maka perjalanan mereka memerlukan waktu lebih lama dari yang  mereka rencanakan. Namun dengan demikian mereka mengetahui, apa yang  baru saja terjadi di Padepokan Bajra Seta. Agaknya telah terjadi pertentangan diantara sekelompok orang yang semula tidak mempunyai sangkut-paut dengan Padepokan Bajra Seta, namun kemudian justru telah melibatkan Padepokan itu. Tetapi Mahendra dan Mahisa Pukat tidak berniat untuk bermalam diperjalanan. Meskipun mereka masih harus berhenti untuk memberi kesempatan kuda mereka untuk beristirahat, minum dan makan rerumputan segar, namun kemudian mereka telah melanjutkan perjalanan. Ketika mereka sampai di Padepokan, maka para cantrik yang bertugas memang terkejut. Dengan tergopoh-gopoh mereka membuka pintu gerbang Padepokan serta mempersilahkan keduanya memasuki Padepokan yang  sudah lelap. Mahisa Murti yang dibangunkan oleh seorang cantrikpun terkejut pula. Dengan tergesa -gesa Mahisa Murti pergi ke bangunan induk Padepokan Bajra Seta. Mahendra dan Mahisa Pukat, memang sudah menunggu di bangunan induk. Demikian mereka melihat Mahisa Murti yang tergesa -gesa menemuinya, Mahendra segera berkata "Kami datang untuk membawa kabar baik. " Mahisa Murti yang kemudian duduk m enemui Mahendra dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahendra berkata "Perjalanan kami terhambat beberapa saat. Karena itu, kami datang larut malam." Mahisa Pukatlah yang  kemudian m enceriterakan apa yang terjadi di perjalanan sehingga mereka tertahan beberapa saat disebuah kedai. "Dua orang itu berceritera serba sedikit, tentang peristiwa yang terjadi di Padepokan ini" berkata Mahisa Pukat Sementara Mahendra minta Mahisa Murti menceriterakan peristiwa yang pernah terjadi itu. Seorang cantrik kemudian menghidangkan minuman panas dengan beberapa potong makanan yang  sudah dingin. Namun Mahisa Murtipun berkata "Biarlah para cantrik menyiapkan makan malam. Bukankah ay ah dan Mahisa Pukat belum makan malam diperjalanan?" Mahisa Pukatlah yang  mengangguk sambil menjawab "Terima kasih. Kami memang sudah merasa lapar. Ketika kuda kami sempat berhenti, minum air diparit yang jernih serta makan rerumputan segar, kami tidak dapat makan apapun juga, karena kami tidak dapat berbagi makanan dengan kuda-kuda kami." Mahisa Murtipun tertawa. Katanya "Kami akan menangkap seekor ay am." "Jangan" cegah Mahisa Pukat "jangan karena kedatangan kami, seekor ayam tidak sempat melihat matahari terbit esok pagi." Mahisa Murti tertawa. Mahendrapun tertawa pula. Namun Mahisa Murtipun menjawab "Baiklah. Biarlah para cantrik mencari telur saja di pe tar angan. Karena kami tidak mempunyai lauk yang lain” Sambil menunggu nasi masak, maka Mahisa Murtipun telah menceriterakan apa yang  terjadi di Padepokan Bajra Seta. Bahkan kemudian Mahisa Murtipun minta para cantrik memanggil Sambega dan Wantilan untuk ikut menemui Mahendra dan Mahisa Pukat. Sambega yang  kemudian mendengar pula apa yang  telah terjadi diperjalanan Mahendra dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk sambil berkata "Sokurlah, jika para pengikut Lengkara itu benar-benar menginsy afi arti dari hidup mereka. " Namun pembicaraan mereka terhenti, ketika para cantrik membawa hidangan yang  masih hangat. Nasi yang  masih mengepulkan asap, telur dadar dan sambal terasi. "Benar-benar tidak ada yang  lain " berkata Mahisa Murti. "Bukankah ini sudah cukup ? Semua adalah kegemaranku. Telur dadar dan sambal terasi. Tentu tidak terlalu pedas, sedikit asin dan sedikit berambang." desis Mahisa Pukat. Mereka tertawa. Namun kemudian merekapun makan dengan lahapnya. Bahkan Mahisa Murti, Wantilan dan Sambegapun ikut pula bersama mereka makan, meskipun mereka sudah makan m alam, setelah Mahendra dan Mahisa Pukat mencuci kaki dan tangan mereka serta berbenah diri. Namun setelah mereka selesai makan, Mahendra tidak ingin dengan serta merta mengatakan maksud kedatangannya. Karena itu setelah duduk dan berbincang sebentar setelah mereka makan, maka Mahendrapun berkata "Nah, sekarang, ijinkan kami beristirahat. Kami memang agak letih.” Mahisa Murtipun kemudian memerintahkan seorang cantrik untuk menyiapkan dua buah bilik bagi Mahendra dan Mahisa Pukat. Bagi Padepokan Bajra Seta, rasa-rasanya Mahisa Pukat memang bukan lagi bagian dari Padepokan itu, sehingga Mahisa Pukatpun diterima sebagaimana mereka menerima seorang tamu. Mahisa Pukat memang merasakan hal itu. Karena itu rasa-rasanya memang ada yang  hilang baginya jika ia berada di Padepokan Bajra Seta. Tetapi itu memang tidak dapat diingkarinya. Ia sadar, bahwa ia seakan-akan memang sudah keluar dari lingkungan Padepokan itu. Sementara itu, Mahisa Murti dengan ketajaman panggraitannya telah tanggap, bahwa ay ahnya dan Mahisa Pukat tentu m embawa persoalan, yang cukup penting untuk disampaikan kepadanya. Dengan demikian Mahisa Murti tidak dapat minta ayahnya serta Mahisa Pukat untuk mengatakan per soalan yang dibawanya. Mahisa Murtipun tahu bahwa keduanya, terutama Mahisa Pukat tentu m erasa letih. Selain mereka menempuh perjalanan panjang, Mahisa Pukat juga harus berhenti untuk bertempur. Bahkan harus melepaskan ilmu puncaknya. Demikianlah, maka Padepokan Bajra Setapun telah menjadi sepi kembali. Mahendra dan Mahisa Pukat telah berada didalam bilik mereka. Sementara itu Mahisa Murti, Sambega dan para cantrikpun telah kembali ke pembaringan selain mereka yang  memang bertugas. Wantilan masih sempat melihat para cantrik yang  bertugas diregol. Namun kemudian iapun telah pergi ke biliknya pula. Ketika fajar m enyingsing, maka Mahisa Semu dan Mahisa Amping terkejut melihat Mahendra dan Mahisa Pukat berada di Padepokan. Dengan serta merta keduanya telah menemuinya dan bertanya tentang kedatangan mereka, keadaan di Singasari, bahkan Mahisa Amping telah bertanya pula tentang sanggar di Kasatrian. Mahisa Pukat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sambil tersenyum. Namun Mahisa Pukat tidak menjawab ketika Mahisa Amping bertanya, apakah keperluan mereka datang ke Padepokan. Hari itu, rasa-rasanya Mahisa Pukat telah berada kembali ditengah-tengah dunianya. Dengan sendiriny a ia telah ikut melakukan kegiatan sebagaimana selalu dilakukannya ketika ia masih berada di Padepokan Bajra Seta. Memang jauh berbeda dari kegiatan yang  dilakukannya di Kasatrian. Tetapi rasa-rasanya baru kemarin ia meninggalkan Padepokan itu dan berada di Kasatrian istana Singasari. Ketika kegiatan pagi di padepokan itu lewat, maka Mahendra telah minta agar Mahisa Murti duduk b ersamanya dan Mahisa Pukat untuk berbicara tentang sesuatu hal yang dianggapnya penting. Mahisa Murti memang menjadi berdebar -debar. Namun semalam ayahnya sudah mengatakan kepadanya, bahwa ay ahnya dan Mahisa Pukat datang dengan membawa kabar baik. Tetapi masih timbul pertanyaan didalam hatinya "Kabar baik bagi siapa? Bagi aku atau bagi Mahisa Pukat atau bagi Padepokan Bajra Seta?" Tetapi pertanyaan itu tidak diucapkannya. Ia menunggu ay ahnya akan mengatakannya. Sebenarnyalah, sejenak kemudian, maka ayahnyapun menyampaikan niat Mahisa Pukat untuk melamar dan selanjutnya menikah dengan Sasi. Anak gadis Arya Kuda Cemani. Jantung Mahisa Murti memang terasa menghentak. Namun dengan cepat ia berusaha menguasai perasaannya. Bahkan kemudian Mahisa Murtipun tersenyum sambil berkata "Sokurlah. Satu keputusan yang  bijaksana. " Mahendra mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata "Kita memang harus menghormati sikap lingkungan kita dan lingkungan Arya Kuda Cemani. Ketika orang-orang mulai berbicara tentang hubungan antara Mahisa Pukat dan Sasi, m aka persoalanpun rasa -rasanya seperti dipacu. Apalagi Mahisa Pukat telah mendapatkan pekerjaan yang mapan di istana, sementara umumyapun sudah sampai diatas batas kewajaran untuk berumah tangga. Karena itu, m aka aku kira tidak ada lagi persoalan yang  harus ditunggu, selain persetujuanmu." "O" Mahisa Murti justru terkejut. Dengan nada tinggi iapun bertanya "Kenapa persetujuanku?” "Maksudku, kita dapat berbincang-bincang lebih dahulu sebelum aku benar-benar datang melamar kepada Arya Kuda Cemani. " "Seperti yang  sudah aku katakan, ayah. Keputusan ay ah untuk segera melamar dan bahkan pernikahan akan segera dilaksanakan pula, adalah satu keputusan yang  bijaksana." Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia m emang sudah mengira bahwa sikap Mahisa Murti adalah sebagaimana ditunjukkan itu. Namun sebagai seorang ayah yang  m engerti perasaan anaknya, Mahendra justru menjadi terharu. Tetapi dihadapan Mahisa Pukat ia sama sekali tidak menunjukkan perasaannya. Sambil mengangguk-angguk kecil Mahendra berkata besok lusa aku kembali ke Singasari, maka aku akan segera datang menemui Arya Kuda Cemani. "Semakin cepat, tentu semakin baik, ayah" berkata Mahisa Murti. "Ya. Semuanya memang sebaiknya segera dilakukan" jawab Mahendra Mahisa Murti mengangguk-angguk pula. Kepada Mahisa Pukat ia berkata "Kau harus benar-benar m empersiapkan diri melangkah kedalam satu dunia yang  baru sama sekali. Rasarasanya memang tidak ada satu perguruan yang memberikan tutunan secara terperinci bagaimana seseorang memasuki satu kehidupan rumah tangga, kecuali petunjuk-petunjuk secara umum sekali. " Mahisa Pukat tersenyum. Katanya "Tetapi kita dapat belajar dengan memperhatikan sisi-sisi kehidupan satu keluarga. Meskipun demikian, sebagian besar dari keberhasilannya tergantung kepada yang  menjalani sendiri. " "Kesadaranmu akan hal itu merupakan modal yang  berharga, Pukat" desis Mahendra "karena itu, mereka yang akan memasuki satu kehidupan keluarga dituntut untuk bertanggung jawab sepenuhnya. Sejak mempersiapkan diri, sampai saatnya memasuki kehidupan keluarga dan seterusnya sampai pada batas akhir hayat." Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia menyahut "Ya ay ah." "Nah, ternyata tidak ada persoalan lagi yang akan menghambat perjalananmu m emasuki satu kehidupan baru. Kau akan berada dalam satu lingkungan yang  mengikatmu." "Ya ay ah" desis Mahisa Pukat. Demikianlah, maka Mahendra merasa bahwa ia telah melakukan apa yang seharusny a dilakukan, karena per soalan Mahisa Pukat dan Sasi sebenarnya telah menyangkut pula Mahisa Murti. Namun kebesaran jiwa Mahisa Murti sama sekali tidak menimbulkan hambatan apapun bagi Mahisa Pukat. Bahkan Mahendra y akin bahwa Mahisa Murti tentu akan membantu apa saja yang dapat dilakukan bagi kepentingan Mahisa Pukat. Karena itu, maka Mahendra merasa tidak perlu terlalu lama berada di Padepokan Bajra Seta. Mahendra menganggap bahwa semakin cepat persoalan itu diselesaikan, akan menjadi semakin baik. Karena itu, maka Mahendra merencanakan setelah bermalam dua malam di Padepokan Bajra Seta, ia berniat untuk mengajak Mahisa Pukat kembali ke Singasari. Mahisa Semu dan Mahisa Amping sebenarnya minta agai Mahisa Pukat dan Mahendra tidak tergesa -gesa meninggalkan Padepokan itu. Tetapi sambil ter senyum Mahendra berkata "Ada sesuatu yang penting yang harus kami selesaikan di Singasari. Pada saatnya kalian akan kami minta datang ke Singasari." "Apakah yang  penting yang harus diselesaikan itu ?" bertanya Mahisa Amping. Mahendra tertawa. Katanya "Besok kau akan tahu. Tetapi belum sekarang." "Apakah termasuk rahasia ?" bertanya Mahisa Amping pula. Mahendra masih tertawa. Sambil m enepuk bahu anak itu Mahendra berkata "Ya. Sesuatu yang  sangat rahasia. " Mahisa Amping menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak bertanya lagi, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya tersenyum saja. Demikianlah seperti yang  direncanakan, m aka Mahendra dan Mahisa Pukatpun segera mempersiapkan diri setelah mereka bermalam dua malam penuh di Padepokan Bajra Seta. Ketika fajar meny ingsing keduanya sudah siap berangkat kembali ke Singasari. Dalam kesempatan yang singkat, Mahendra sempat berbisik ditelinga Mahisa Murti sebelumnya Mahisa Pukat mendekati mereka "Aku menunggu, kapan aku harus melamar lagi seorang gadis bagimu, Mahisa Murti." Mahisa Murti terseny um. Katanya "Ayah tidak usah memikirkan aku." "Sulit bagi seorang ay ah untuk berbuat demikian" jawab Mahendra. Mahisa Murti mencoba untuk tertawa. Namun Mahendra yang tua itu tahu, betapa gersangnya hati anaknya itu. Namun Mahisa Murtipun kemudian b erkata "Ayah. Aku akan segera menyusul ayah ke Singasari untuk mohon agar ay ah melakukan lagi hal yang  sama sebagaimana akan ayah lakukan." Mahendra menepuk pundak Mahisa Murti sambil berkata "Ayah bersungguh-sungguh, Murti" Mahisa Murti mengangguk kecil. Katanya "Aku mohon ay ah berdoa untukku." "Aku selalu berdoa untuk anak-anakku" jawab Mahendra. "Terima kasih ayah" desis Mahisa Murti. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Mahendra dan Mahisa Pukatpun telah minta diri kepada seluruh isi Padepokan Bajra Seta. Sebelum matahari terbit, maka mereka berdua telah meloncat kepunggung kudanya dan berpacu keluar dari pintu gerbang Padepokan Bajra Seta. Sepeninggal Mahendra dan Mahisa Pukat, Mahisa Murti memang agak lebih banyak merenung. Tidak seorangpun tahu, kenapa Mahisa Murti berbuat demikian. Seisi Padepokan Bajra Seta, termasuk Wantilan dan Sambega menganggap bahwa Mahisa Murti hanya merasa sepi setelah ayah dan saudaranya meninggalkannya. Namun sebenarnyalah Mahisa Murti merasa sepi. Meskipun ia berada dihiruk-pikuknya kerja dan latihan di Padepokan Bajra Seta, namun Mahisa Murti memang m erasa bahwa ada yang masih kurang didalam hidupnya. Sekali-sekali Mahisa Murti memang masih membayangkan wajah Sasi. Namun setiap kali, Mahisa Murti diluar sadarnya telah menggelengkan kepalanya, seakan-akan ia ingin mengibaskan ingatan itu sejauh-jauhnya. "Aku harus melupakannya" berkata Mahisa Murti kepada diri sendiri. Dalam keadaan yang  demikian, maka Mahisa Murti berusaha mengisi waktu-waktunya yang luang dengan berbuat apa saja. Mungkin di sanggar seorang diri. Mungkin di sanggar bersama Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Bahkan kadangkadang dengan Wantilan, karena bagaimanapun juga kemampuan Wantilan masih harus selalu diasah agar menjadi semakin tajam dan tidak berhenti dan diam. Bahkan kadangkadang Mahisa Murti berada di dekat perapian para cantrik yang mempunyai ketrampilan sebagai pandai besi. Atau kerja lain bersama para cantrik. Meskipun demikian, masih saja ada waktu yang  terselip tanpa disadarinya saat-saat wajah itu membayang kembali. Bahkan kadang-kadang bersama dengan Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Murti memang mempunyai kendali yang  kuat atas gejolak perasaannya, sehingga karena itu, maka bagaimanapun juga, Mahisa Murti masih selalu dapat mengatasinya sendiri. Namun diluar sadarnya, maka Mahisa Murti mengisi kekosongan jiwanya itu juga dengan semakin menekuni ilmunya. Mahisa Murti semakin menempa dirinya sehingga setapak demi setapak ilmunya menjadi semakin matang. Bahkan bukan saja Mahisa Murti sendiri. Tetapi juga Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Keduanya merasa bahwa perhatian Mahisa Murti terhadap m ereka justru bertambah. Bahkan Wantilanpun ikut merasakan, betapa Mahisa Murti berbuat apa saja bagi peningkatan kesejahteraan Padepokan Bajra Seta lahir dan batin. Sementara itu, di Singasari, Mahendra dan Mahisa Pukat telah sibuk mempersiapkan diri untuk datang m enemui Arya Kuda Cemani. Bukan sekedar Mahendra dan Mahisa Pukat datang bertamu dan kemudian menyampaikan maksud kedatangannya. Tetapi pembicaraan-pembicaraan yang demikian harus disusul dengan upacara-upacara yang  wajib dilakukan. Untuk kepentingan itu semuanya, maka Mahendra harus menunjuk beberapa orang tua untuk mengadakan pembicaraan-pembicaraan pendahuluan. Tetapi sebelumnya, karena Mahendra sudah mengenal dengan baik Arya Kuda Cemani, maka pokok persoalannya justru telah mereka setujui bersama. Tetapi mereka tidak dapat meninggalkan segala macam ketentuan dan upacara yang  harus diselenggarakan. Ketika hal t sb. didengar oleh Sri Maharaja, ternyata Sri Maharaja yang  juga mengenal baik Mahendra, yang atas titahnya tinggal di istana, telah menaruh perhatian pula. Bahkan Sri Maharaja sendiri memerintahkan kepada beberapa orang pejabat di istana untuk membantu segala macam keperluan Mahendra dan Arya Kuda Cemani. Akhirnya kedua belah pihak telah sampai pada satu persetujuan kapan mereka akan melaksanakan pernikahan Mahisa Pukat dengan Sasi. Memang ada beberapa pihak yang tersinggung oleh kepastian bahwa Sa si akan menjadi isteri Mahisa Pukat. Tetapi justru karena Sri Maharaja sendiri juga memberikan restunya, maka tidak seorangpun yang berani menyatakan keberatannya atau dengan sengaja mengganggu rencana itu. Karena itu, maka segala persiapan dan upacara pendahuluan dapat berlangsung dengan wajar dan tidak terjadi hambatan yang berarti. Dengan demikian, maka sekali lagi Mahendra ingin pergi ke Padepokan Bajra Seta untuk memanggil Mahisa Murti, agar Mahisa Murti dapat ikut menunggui pernikahan Mahisa Pukat di Singasari. Karena perkawinan itu mendapat restu dari Sri Maharaja, maka Mahendra tidak dapat m eny elenggarakannya sekedarnya saja. Apalagi orang tua Sasi, Arya Kuda Cemani. Tetapi Mahendra tidak ingin mengajak Mahisa Pukat yang  akan segera memasuki saat pernikahannya. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Pukat memang ingin mengantarkan ayahnya pergi ke Padepokan Bajra Seta, tetapi ay ahnya justru berkeberatan. "Kau sudah tidak sebaiknya menempuh perjalanan yang  panjang lagi, Mahisa Pukat. Waktumu tinggal sedikit. Karena itu lebih baik kau mempersiapkan dirimu saja untuk memasuki hari-harimu yang terpenting." "Tetapi ayah tidak dapat pergi sendiri ke Padepokan Bajra Seta" berkata Mahisa Pukat "bukankah pada perjalanan kita yang lalu telah t erjadi sesuatu yang  sama sekali tidak menarik ?" "Aku justru ingin mengatakah kepadamu tentang hal itu. Bagaimana jika kau mengalami kesulitan di perjalanan ?" sahut Mahendra. "Tetapi aku tidak dapat m embiarkan ayah pergi sendiri. " berkata Mahisa Pukat "jika terjadi sesuatu dengan ay ah, maka Mahisa Murti dan bahkan kakang Mahisa Bungalan tentu akan menyalahkan aku. Mereka tentu menganggap bahwa aku hanya dapat bermanja-manja sedangkan ayah menjadi semakin tua harus melakukan perjalanan yang berat dan panjang." Tetapi Mahendra kemudian berdesis "Mahisa Pukat. Kau jangan terlalu mencemaskan aku. Aku memang sudah tua. Tetapi aku masih belum pikun. Karena itu, aku masih dapat berhati-hati diperjalanan. Jika aku tidak mencampuri persoalan orang lain, maka aku kira aku tidak akan menjumpai persoalan yang  gawat. Jika beberapa saat yang lewat kita mendapat hambatan, itu karena kita sengaja mencampuri persoalan orang lain." Meskipun demikian Mahisa Pukat menjawab "Tidak ay ah. Tidak sebaiknya ayah pergi sendiri. " "Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu ?" bertanya Mahendra ragu-ragu. "Aku dapat pergi bersama ayah. Aku berjanji bahwa aku tidak akan mencampuri per soalan orang lain, meskipun persoalan mereka itu juga menyangkut nama Padepokan kita. " jawab Mahisa Pukat. Mahendra m enarik nafas dalam-dalam. Katanya "Mahisa Pukat. Bagaimanapun juga aku nasehatkan kepadamu agar kau tidak usah pergi. Jika kau tidak menghendaki aku pergi sendiri, baiklah aku akan mencari seorang kawan untuk menempuh perjalanan. Atau barangkali kau dapat menunjuk seseorang untuk menemani aku." Mahisa Pukat termangu-mangu Sejenak. Namun kemudian katanya "Ayah. Mungkin itu adalah salah satu jalan keluar jika ay ah memang tidak mengijinkan aku pergi.” "Jika demikian, siapa yang menurut pendapatmu dapat pergi bersama aku ke Padepokan Bara Seta ?" Mahisa Pukat termangu -mangu sejenak. Namun kemudian ia ju stru bertanya "Apakah tidak ada seorang Senapati di istana yang  menurut ayah dapat pergi bersama ayah ?" "Mungkin aku dapat mengajak salah seorang diantara mereka. " desis Mahendra. Namun tiba-tiba Mahisa Pukat berkata "Tetapi aku kira aku dapat mengusulkan seseorang.” "Siapa ?" bertanya Mahendra. "Orang itu tentu tidak akan berkeberatan pergi bersama ay ah ke Padepokan Bajra Seta" berkata Mahisa Pukat kemudian. "Siapa ?" desak Mahendra. "mPu Sidikara. Kawanku memberikan tuntunan kepada para Kesatria dan Kasatrian." jawab Mahisa Pukat. Mahendra mengangguk-angguk. Katanya "Jika kau menganggap bahwa orang itu pantas untuk pergi bersamaku ka Padepokan Bajra Seta, aku sama sekali tidak berkeberatan” "Tentu ayah. Selain orangnya memang baik, ia memiliki kemampuan yang  tinggi, sehingga jika ada orang yang mengganggu perjalanan ayah, mPu Sidikara tidak akan menjadi beban ay ah. Ia akan dapat melindungi dirinya sendiri. " Mahendra mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah, jika mPu Sidikara tidak berkeberatan. Tetapi apakah ia diijinkan untuk meninggalkan tugasny a ?" "Aku akan berbicara dengan Pangeran Kuda Pratama. Jika aku berterus-terang, maka Pangeran Kuda Pratamd tentu tidak akan berkeberatan. " Ketika kemudian hal itu disampaikan oleh Mahisa Pukat kepada Pangeran Kuda Pratama, maka Pangeran Kuda Pratama sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan kemudian mPu Sidikara dipanggilnya dan langsung diberitahukan kepadanya, bahwa Mahisa Pukat ingin minta pert olongannya. Ternyata seperti yang diduga oleh Mahisa Pukat, mPu Sidikara sama sekali tidak berkeberatan. Dengan senang hati ia memenuhi permintaan Mahisa Pukat untuk mengantar ay ahnya yang  sudah menjadi semakin tua ke Padepokan Bajra Seta. Demikianlah, pada hari yang  sudah ditentukan, maka Manendra dan mPu Sidikarapun telah berangkat menuju ke Padepokan Bajra Seta. Mahisa Pukat yang  sebenarnya tidak ingin melepaskan ay ahnya yang  tua itu pergi tanpa diantarnya sendiri, mengantarnya sampai kepintu gerbang Hatinya memang menjadi berdebar-debar melihat ayahnya yang menjadi semakin tua itu melarikan kudanya menempuh perjalanan yang  panjang. Tetapi hatinya menjadi sedikit tenang, bahwa ay ahnya bersedia pergi bersama mPu Sidikara yang meskipun ilmunya masih setingkat dibawahnya, tetapi ia termasuk otang yang  berilmu tinggi. Sejenak kemudian, maka Mahendra dan mPu Sidikara itupun telah menyusuri jalanjalan bulak yang  panjang. Sementara itu, langitpun menjadi semakin cerah karena matahari memanjat semakin tinggi. Awan putih, mengalir dihembus angin semilir menuju ke puncak bukit. Di arah Utara sekelompok bangau terbang melintas dengan cepat, seakan-akan menjadi cemas bahwa mereka tidak akan mendapatkan mangsanya yang  sempat bersembunyi. Diperjalanan banyak yang sempat diperbincangkan oleh Mahendra dan mPu Sidikara. Kadang-kadang mPu Sidikara niemuji kelebihan Mahisa Pukat. Bahkan mengaguminya. "Mahisa Pukat masih muda " b erkata mPu Sidikara "tetapi kemampuan dan pengalamannya dalam olah kanuragan terlalu luas dibandingkan dengan orang-orang yang lebih tua sebagaimana aku ini. Dihadapan Mahisa Pukat rasa-rasanya aku tidak lebih dari seekor katak didalam tempurung. " "mPu terlalu memuji" desis MaMendra "sebenarnya aku akan lebih berbangga jika anakku memiliki kelebihan kemampuan dan pengalaman di bidang yang  lain kecuali olah kanuragan. Tetapi agaknya Mahisa Pukat bukan seseorang yang memiliki pengetahuan yang cukup apalagi dalam ilmu pemerintahan." "Tidak " jawab mPu Sidikara "dibidang pemerintahanpun Mahisa Pukat memiliki kemampuan yang cukup. Bahkan sebagai seorang pemimpin kelompok Pelay an Dalam, Mahisa Pukat memiliki kemampuan jauh lebih baik dari mereka yang memiliki jabatan setingkat di kalangan Pelay an Dalam. Karena itu, dalam kesempatan luang, Pangeran Kuda Pratama sering berbincang dengan Mahisa Pukat." “mPu memuji lagi." desis Mahendra. mPu Sidikara tertawa. Katanya "Sekali lagi aku mengatakan, bahwa aku tidak sekedar memuji. Aku m emang memuji. Tetapi pujianku merupakan ungkapan kekagumanku." mPu Sidikara berhenti sejenak. Lalu katanya "Pembicaraan yang  sering dilakukan oleh Mahisa Pukat dan Pangeran Kuda Pratama agaknya akan menguntungkan kedua belah pihak. Pangeran Kuda Pratama mendapat pikiranpikiran baru yang segar dari Mahisa Pukat yang muda, sementara itu Mahisa Pukat akan banyak mendapatkan pengetahuan serta menimba pengalaman dari Pangeran Kuda Pratama yang selain berilmu sangat tinggi, juga seorang yang memiliki pengetahuan yang  sangat luas dalam banyak bidang." Mahendra mengangguk-angguk. Katanya "Aku juga harus mengucapkan terima kasih kepada Pangeran Kuda Pratama.” "Pangeran Kuda Pratama yang  juga mengagumi k elebihan Mahisa Pukat dalam banyak hal, ternyata dengan sengaja telah memberikan banyak pengetahuan kepada anak muda itu. Bahkan juga dalam olah kanuragan." berkata mPu Sidikara. "Apakah benar begitu ?" bertanya Mahendra. mPu Sidikara mengangguk sambil menjawab dengan sungguh-sungguh "Sebenarnyalah demikian. Mahisa Pukat memang seorang anak muda yang  akan dapat memegang masa depan. Karena itu, maka penempatannya di Kasatrian adalah tepat sekali." Mahendra tidak bertanya lagi. Kepalanya masih saja menggangguk-angguk kecil. Dengan demikian m aka ia telah meletakkan banyak harapan pada Mahisa Pukat bagi masa depannya. Namun Mahendrapun teringat pula kepada Mahisa Murtii Mahisa Murti dalam segala hal tidak kalah dari Mahisa Pukat. Seandainya ada selisih diantara keduanya, maka selisih itu hanya selapis-selapis tipis. Namun nasib keduanyalah yang memang berbeda. Tetapi agaknya Mahisa Murtipun telah meletakkan pilihannya. Sebagaimana Mahisa Pukat mengabdi di Ka satrian, maka Mahisa Murtipun telah memilih tempat untuk mengabdi. Di Padepokan Bajra Seta. Namun kehadiran Pangeran Kuda Pratama di Kasatrian agaknya akan memberikan harapan yang lebih baik bagi Mahisa Pukat jika yang  dikatakan mPu Sidikara itu benar. Mahisa Pukat akan dapat menambah pengetahuannya menjadi semakin luas. Tidak hanya dalam olah kanuragan. Tetapi juga dalam ilmu yang  lain. Untuk beberapa saat keduanya melarikan kuda mereka sambil berdiam diri. Seakan-akan m ereka sedang menikmati wajah cakrawala dihadapan mereka. Lereng pebukitan yang hijau memanjang. Sawah yang  luas dengan tanamannya yang subur membentang. Ketika matahari m emancarkan panasnya yang terik, m aka keduanyapun merasa perlu untuk beristirahat. Tetapi Mahendra tidak mengajak mPu Sidikara beristirahat dikedai yang pernah disinggahinya ketika ia dan Mahisa Pukat pergi ke Padepokan Bajra Seta. Kepada mPu Sidikara, Mahendra sudah menceriterakan apa yang  telah terjadi ketika mereka singgah di kedai itu. "Aku memang tidak dapat mencegah Mahisa Pukat mencampuri persoalan orang-orangitu" berkata Mahendra "karena persoalan mereka langsung menyangkut Padepokan Bajra Seta. mPu Sidikara mengangguk-angguk. Katanya "Seandainya tidak menyangkut Padepokan Bajra Seta sekalipun, apabila anak muda itu tersentuh rasa keadilannya, maka ia tentu akan melibatkan diri.” Mahendra mengangguk-angguk. Memang sulit bagi Mahisa Pukat dan tentu juga Mahisa Murti untuk berdiam diri jika mereka melihat sesuatu yang tidak sepatutnya terjadi. Apalagi jika rasa keadilan mereka tersinggung sebagaimana dikatakan oleh mPu Sidikara. Demikianlah, maka keduanyapun telah beristirahat disebuah kedai yang  tidak terlalu besar, tetapi cukup ramai. Beberapa orang telah berada di kedai itu. Tidak ada yang  menarik perhatian Mahendra dan mPu Sidikara. Namun keduanya sudah berniat untuk tidak mencampuri persoalan orang lain jika persoalannya masih terbatas dalam batas-batas kewajaran. Ternyata memang tidak ada persoalan apapun yang terjadi di kedai itu. Meskipun demikian, keduanya merasa sedikit tertarik pada pembicaraan beberapa orang yang ada di kedai itu, bahwa sekelompok orang sehari sebelumnya telah melintasi daerah itu. "Mereka mengaku orang-orang Kediri" berkata salah seorang diantara mereka. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Sejak Kediri dikalahkan oleh Singasari, maka betapapun tenangnya permukaan hubungan antara Singasari dan Kediri, namun dibawah wajah yang tenang itu masih saja terdapat getar yang setiap saat akan dapat bergejolak dan muncul dipermukaan. Beberapa kali telah teqadi benturan kekerasan di Kediri antara mereka yang  berbeda sikap. Juga benturan kekerasan antara orang-orang Kediri dan orang-orang Singasari. Mahendra dan mPu Sidikara hanya mendengarkan saja pembicaraan orang-orang di kedai itu tentang orang-orang Kediri yang  melintasi daerah mereka. "Mereka memang tidak berbuat apa -apa" berkata salah seorang dari mereka. Meskipun Mahendra dan mPu Sidikara tidak m encampuri pembicaraan itu, namun mereka mendengarkan dengan baik. Hal itu akan dapat menjadi laporan yang  akan disampaikan oleh mPu Sidikara kepada Pangeran Kuda Pratama. Demikianlah, setelah Mahendra dan mPu Sidikara cukup lama beristirahat, merekapun segera melanjutkan perjalanan mereka lagi. Perjalanan ke Padepokan Bajra Seta memang perjalanan yang cukup panjang. Tetapi karena keduanya tidak mengalami hambatan apapun juga, maka perjalanan mereka memang lebih cepat dari perjalanan Mahendra dan Mahisa Pukat beberapa saat yang  lalu. Meskipun demikian, keduanya masih juga harus berhenti lagi untuk memberi kesempatan kuda mereka beristirahat. Tetapi karena malam mulai m embayangi perjalanan m ereka, maka sudah tidak ada lagi kedai yang  terbuka pintunya. Karena itu, m aka mereka harus beristirahat ditepi jalan dan membiarkan kuda mereka minum air yang bening diparit yang mengalir gemericik dipinggir jalan. Kemudian memberi kesempatan kuda kuda itu untuk merenggut rerumputan yang segar yang  tumbuh di tanggul parit, sementara Mahendra dan mPu Sidikara duduk bersandar batang batang yang tumbuh dipinggir jalan. Angin yang semilir membuat mereka justru terkantukkantuk. Sementara kuda mereka masih sibuk makan rerumputan segar ditanggul parit. Mahendra dan mPu Sidikara memang tidak tergesa -gesa. Jarak yang akan ditempuh sudah tidak terlalu jauh lagi. Mereka akan sampai ke Padepokan Bajra Seta jauh lebih awal dari perjalanan Mahendra dan Mahisa Pukat yang  terhenti diperjalanan. "Kita akan segera sampai " berkata Mahendra. Namun katanya kemudian "Tetapi kuda-kuda itu sudah menjadi lelah dan lapar sehingga kasihan jika memaksa kuda-kuda itu meneruskan perjalanan meskipun sudah tidak jauh lagi. "Kita juga tidak terlalu tergesa -gesa " jawab mPu Sidikara. Mahendra mengangguk-angguk sambil m enjawab "Bahkan seandainya kita bermalan disini. " "Bermalam?" bertanya mPu Sidikara. Mahendra t ertawa. Katanya "Hanya seandainya. Mataku tiba -tiba saja merasa sangat mengantuk. Angin inilah yang seakan-akan mengipasi wajahku." mPu Sidikara tersenyum. Katanya "Ya. Aku juga mengantuk. Mungkin kita merasa letih dan sedikit lapar." Mahendra ju stru tertawa. Katanya "Padahal kita masih harus menunggu sampai Padepokan. Tidak ada lagi kedai yang terbuka dimalam hari. Kecuali jika ada keramaian di salah satu padukuhan yang  akan kita lewati." "Keramaian dan tont onan" desis mPu Sidikara. "Ya " jawab Mahendra "tari topeng." mPu Sidikara menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab lagi. Matanya benar-benar terasa mengantuk. Tetapi keduanya tidak ingin tertidur di tempat itu. Karena itu, ketika kuda-kuda mereka sudah puas makan dan minum, serta beristirahat beberapa saat, maka keduanyapun melanjutkan perjalanan mereka ke Padepokan Bajra Seta. Tetapi ketika mereka memasuki sebuah padukuhan yang  besar, ternyata seperti yang mereka katakan, di halaman yang luas dari sebuah rumah yang besar, terdapat k eramaian yang agaknya akan diselenggarakan tontonan pula. Karena itu, meskipun tontonan yang  agaknya akan diselenggarakan dipendapa rumah yang  besar itu belum dimulai, namun di halaman rumah itu, bahkan diluar halaman sudah banyak orang berjualan. "Nah" desis Mahendra "ternyata doa kita dikabulkan. Ada keramaian dan mungkin tontonan. Tetapi yang  penting bukan tontonannya. Tetapi disekitar tempat tentu terdapat sebuah kedai yang masih terbuka pintunya. Atau tentu ada orang yang berjualan dipinggir jalan. Seandainya kita harus duduk dipinggir jalan, bukankah orang-orang disekitar tempat ini tidak mengenal kita?" mPu Sidikara tersenyum. Katanya "Dimasa muda, Ki Mahendra tentu termasuk orang yang  senang menempuh perjalanan." "Katakanlah bertualang. Aku dimasa mudaku memang seorang petualang" berkata Mahendra. mPu Sidikara tertawa. Namun mereka sudah memperlambat perjalanan mereka dan berhenti tidak jauh dari tempat keramaian. Ternyata hanya beberapa puluh langkah dari tempat keramaian itu terdapat sebuah kedai yang  masih buka atau sengaja membuka pintu justru karena ada keramaian itu. Meskipun kedai itu tidak terlalu besar, tetapi nampaknya cukup bersih dan lengkap. Mahendra dan mPu Sidikara kemudian telah berhenti didepan kedai itu. Mereka menambatkan kuda mereka dan memasuki kedai yang  masih sepi itu. "Silahkan Ki Sanak" pemilik kedai itu mempersilahkan dengan ramah. Lalu katanya pula "Kedai ini justru baru saja dibuka karena didepan itu ada keramaian. Daganganku masih utuh, hangat dan barangkali ada yang  sesuai dengan selera Ki Sanak." Mahendra tersenyum sambil menjawab "Kami sedang dalam perjalanan. Karena itu, kami merasa lapar. Apapun yang ada, tentu sesuai dengan selera orang kelaparan. " Pemilik kedai itu tertawa. Katanya "Sebenarnya aku ingin mendapat penilaian tentang masakanku. Tetapi j ika Ki Sanak memang lapar, maka agaknya seperti apapun masakanku tentu terasa enak sekali. Dengan demikian maka penilaian Ki Sanak menjadi kurang wajar." Mahendra dan mPu Sidikara tertawa pula. Dengan nada tinggi mPu Sidikara berkata "Tetapi aku harap lidahku masih juga mampu m enilai masakan Ki Sanak. Tetapi sudah tentu ada perhitungan ter sendiri sebagai harga penilaianku, karena aku memang seorang ahli menilai masakan." Pemilik kedai itu tertawa berkepanjangan. Namun kemudian ia bertanya "Nah, sekarang Ki Sanak akan memesan apa?" Mahendra dan mPu Sidikarapun kemudian memesan minuman dan makanan bagi mereka masing -masing. Ketika pesanan itu disampaikan, maka Mahendrapun bertanya " Tont onan apakah yang  akan di pagelarkan nanti?" "Wayang topeng " jawab pemilik kedai itu "penari-penari itu datang dari Kabuyutan Teleng. Kabuyutan yang terkenal dengan penari-penari topengnya." "O" Mahendra mengangguk-angguk, sementara pemilik kedai itu berkata selanjutnya "rencananya tontonan itu akan berlangsung semalam suntuk." Mahendra dan mPu Sidikara mengangguk-angguk. Dengan nada berat Mahendra bertanya "Apakah di padukuhan ini sering diselenggarakan keramaian dengan tontonan seperti itu?" "Bukan sering Ki Sanak. Tetapi kadang-kadang orang-orang yang kebetulan memiliki kelebihan uang jika mempunyai keperluan, telah meny elenggarakan keramaian seperti itu." Mahendra dan mPu Sidikara mengangguk-angguk. Sementara pemilik kedai itu berkata selanjutnya "Jika mereka tidak mau menyelenggarakan keramaian, lalu bagaimana nasib para penari topeng? Bukankah mereka seperti juga kita memerlukan makan, pakaian dan papan? Memang ada diantara mereka yang  mata pencahariannya sehari-hari adalah bertani. Sedangkan menari hanyalah sekedar kesenangan saja. Tetapi ada diantara mereka yang  sedikit banyak mengharapkan bahwa kemampuannya menari itu dapat menunjang kesejahteraan hidup mereka dan keluarga mereka. " Mahendra dan mPu Sidikara masih saja menganggukangguk. Namun tiba -tiba saja mPu Sidikara berkata "Tetapi ada saat dua orang penari yang  merasa malu untuk meny ebut hubungan antara kemampuannya menari dengan imbalan yang diperolehnya." Pemilik kedai itu mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia berkata "Itu adalah keaneka ragaman sifat dan watak seseorang. " Mahendra dan mPu Sidikara tidak bertanya lagi. Tetapi mereka mulai m enikmati m akanan dan minuman yang telah mereka pesan. Ternyata makanan dan minuman di kedai itu memang cukup memenuhi selera Mahendra dan mPu Sidikara. Bahkan mungkin juga orang-orang lain yang datang kedalam kedai kecil itu. Sementara itu, orang yang  berkerumun di rumah yang  menyelenggarakan keramaian itu menjadi semakin banyak. Gamelanpun mulai dipukul meskipun tont onannya sendiri masih belum mulai. Namun dalam pada itu, selagi orang-orang yang  berkerumun di halaman keramaian itu m asih duduk-duduk menyebar karena pertunjukkan masih belum dimulai, tiba-tiba sa ja telah terjadi kekalutan. Beberapa orang tiba-tiba memasuki halaman rumah itu sambil berteriak-teriak kasar. Dua orang diantaranya naik kependapa sambil berteriak "Berhenti, berhenti." Orang-orang yang sedana duduk-duduk di halaman terkejut. Sebagian dari mereka telah menepi. Bahkan ada yang menyingkir. Mahendra dan mPu Sidikara yang sudah selesai makan, ikut terkejut pula. Kepada pemilik kedai itu mPu Sidikara bertanya "Apa yang  terjadi?" "Entahlah" jawab pemilik kedai itu sambil melangkah keluar dari kedainya. Seorang yang  menyingkir dari halaman rumah yang  menjadi ribut itu lewat didepan kedai itu dengan tergesa -gesa Tetapi pemilik kedai itu m enghentikannya dan bertanya "Apa yang terjadi di halaman rumah itu?" "Keributan. Ada orang yang  tiba-tiba saja berteriak-teriak tidak menentu." jawab orang itu. "Kenapa?" bertanya pemilik kedai itu. "Tidak seorangpun tahu apa sebabnya dan tidak seorangpun tahu siapakah mereka itu " jawab orang yang lewat itu pula. Namun agaknya orang itu tidak ingin berhenti lebih lama lagi. Ia merasa lebih baik pergi daripada harus mengalami sesuatu ditempat itu. Pemilik kedai itu memang tidak dapat menahannya. Namun dari depan kedainya ia melihat tempat keramaian itu menjadi semakin ribut. Bahkan orang-orang mulai berlarilarian meninggalkan tempat itu. Terutama perempuan dan anak-anak. Mereka m enjadi ketakutan ketika beberapa orang yang memasuki halaman itu berteriak-teriak dengan kasar. Mereka m erusak peralatan pertunjukkan, dan bahkan m ereka melemparkan gamelan yang  sudah mulai ditabuh. Pemilik kedai itu telah menyeberang jalan dan melihat apa yang terjadi. Tetapi ia tidak sempat mendekat. Bahkan pemilik kedai itupun telah menjauh pula. Ketika seorang laki -laki bergeser keluar dari halaman diantara beberapa orang yang  lain yang  kebetulan telah dikenal oleh pemilik kedai itu, maka iapun bertanya lagi "Apa yang terjadi? Orang itu menggeleng. Katanya "Aku tidak jelas." Namun kemudian seorang yang  lain yang juga telah dikenalnya berkata "Orang-orang yang  datang itu menjadi marah. Mereka marah justru karena ada keramaian disini." "Kenapa?" bertanya mPu Sidikara yang tiba-tiba saja telah berdiri dibelakang pemilik kedai itu. "Aku tidak jelas" jawab orang itu. mPu Sidikara termangu-mangu sejenak. Didorong oleh keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi, maka iapun berkata kepada Mahendra "Aku akan melihat sebentar." Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia pergi bersama anaknya, mereka terhambat karena mereka mencampuri per soalan orang lain. Tetapi justru karena orang lain itu tersangkut pula pada Padepokan Bajra Seta. Tetapi Mahendra tidak dapat mencegah mPu Sidikara, meskipun sebelum berangkat mereka telah sepakat untuk tidak m encampuri persoalan yang  tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Bahkan sebelum melangkah mPu Sidikara itu berkata "Aku tidak akan mencampuri persoalan yang terjadi di rumah itu. Aku hanya ingin tahu. Mahendra termangu -mangu. Tetapi ia hanya diam saja ketika mPu Sidikara melangkah memasuki halaman itu. Halaman rumah orang yang  sedang menyelenggarakan keramaian itu memang menjadi kacau. Dipendapa gamelan yang sudah diatur rapi menjadi berserakan. Beberapa orang menyeret pemilik rumah itu sambil mengumpat-umpat. "Kau memang orang yang tidak tahu diri" teriak seseorang yang m eny eret pemilik rumah itu "dalam keadaan seperti ini, kau masih sempat bersuka ria. Menghambur-hamburkan uang untuk keperluan yang  tidak berarti." "Apa sebenarnya maksud Ki Sanak dan siapakah Ki Sanak itu ?" bertanya pemilik rumah itu. Sebelum orang yang menyeretnya menjawab, maka terdengar jerit seorang perempuan. Ternyata isterinya juga di seret ke pendapa dan kemudian dilemparkannya kedekat suaminya sehingga jatuh terguling. Dengan tergesa-gesa suaminya menolongnya sehingga keduanya kemudian duduk dilantai sementara beberapa orang berdiri mengerumuninya. "Kenapa kalian tidak tanggap akan keadaan ?" bentak seorang yang  bertubuh tinggi kekar. Berjambang dan berkum is lebat. Rambutnya bergerai terjulur dibawah ikat kepalanya yang  dipakainya sekenanya saja. "Kami tidak tahu maksud Ki Sanak" sahut pemilik rumah itu. "Gila kau. Apakah aku harus menampar mulutmu ?" geram orang bertubuh kekar itu. "Jangan. Aku hanya bertanya. Jika aku sudah mendapat penjelasan, aku tentu akan melakukannya." "Kau adalah gambaran orang-orang yang tidak tahu diri. Penjilat dan pengkhianat." teriak orang yang bertubuh kekar itu. "Sebutkan, apakah kesalahan kami" bertanya pemilik rumahitu. "Kenapa kau hambur-hamburkan uangmu, sementara kami memerlukan uang untuk perjuangan kami yang m asih jauh dari selesai. " berkata orang itu. "Apakah yang kau maksud dengan perjuangan kami ?" bertanya pemilik rumah itu. Tiba-tiba saja kaki orang bertubuh kekar itu m enyambar mulut pemilik rumah itu, sehingga orang itu terdor ong dan jatuh terlentang. Terdengar orang itu mengaduh, sementara isterinya berusaha menolongnya sambil menangis." "Jangan kau tangisi suamimu" geram orang bertubuh kekar itu "jika kau tidak mau diam, maka kaulah yang  akan aku bawa." Meskipun dadanya menjadi sesak oleh isaknya yang  tertahan, namun perempuan itu berusaha untuk tidak menangis lagi. "Dengar baik-baik" berkata orang bertubuh kekar "kita sekarang sedang berusaha menegakkan kewibawaan kekuasaan di Kediri. Kita memerlukan dukungan dari segala pihak. Kita semua harus berprihatin. Semua tenaga, harta benda dan pikiran kita harus kita curahkan untuk perjuangan kita yang panjang. Bahkan nyawa kita. Sementara kau bersenang-senang dengan menghambur-hamburkan uang tanpa arti sama sekali." "Apa maksudmu dengan menegakkan kewibawaan kekuasaan di Kediri ?" bertanya pemilik rumah itu. "Kau gila" geram orang yang bertubuh k ekar itu, sehingga suami isteri pemilik rumah itu menjadi ketakutan "Kediri harus bangkit untuk menggulingkan kuasa Singasari." "Tetapi, tetapi, lingkungan ini bukan telatah Kediri." desis pemilik rumah itu dengan ragu-ragu. Sekali lagi kaki orang bertubuh kekar itu menyambar dagu pemilik rumah itu, sehingga sekali lagi orang itu jatuh terlentang. Sementara isterinya tidak lagi berani menangis meskipun ia berusaha membantu suaminya bangkit lagi. "Katakan sekali lagi. Lehermu akan aku putuskan dengan pedangku ini" geram orang bertubuh kekar itu. "Maksudku, maksudku, apa yang  dapat aku bantu ?" bertanya pemilik rumah itu. "Nah, seharusnya kau bertanya seperti itu " sahut orang bertubuh kekar itu "karena kau sudah terlanjur menyiapkan sebuah keramaian, maka apaboleh buat. Jika keramaian dan tontonan ini urung, maka orang-orangyang sudah siap untuk menonton, akan menjadi kecewa." orang itu berhenti sejenak. Lalu katanya "Karena itu tebu s kesalahanmu dengan menyediakan uang sebanyak yang kau pergunakan untuk keramaian ini. Jika tidak, maka aku akan m engambil sendiri uang dan barang-barang perhiasanmu yang nilainya akan lebih banyak dari jika kau sendiri yang mengambilnya dan memberikannya kepadaku." Kedua orang suami isteri itu saling berpandangan. Namun orang bertubuh kekar itu membentak "Cepat, atau aku akan mengambilnya sendiri ? Bahkan aku akan mengambil perhiasan yang  dipakai oleh isterimu. Tetapi akan lebih mudah jika aku bawa beserta isterimu sama sekali." "Jangan, jangan lakukan itu" minta pemilik rumah itu. "Jika demikian, berikan uang itu." geram orang itu. "Baiklah. Kami akan mengambilnya " jawab pemilik rumah itu ketakutan. "Kau sendiri mengambilnya. Biar isterimu tinggal disini. Jika kau ingkar, maka isterimu akan pergi ber samaku." tibatiba saja orang itu tertawa berkepanjangan. Pemilik rumah itu memang tidak dapat berbuat lain. Iapun segera masuk kedalam rumahnya untuk mengambil uang itu. mPu Sidikara termangu-mangu sejenak. Ia melihat sikap orang-orang yang berada di pendapa itu dengan jantung yang berdebaran. Ra sa keadilannya benar-benar tersinggung. Apalagi jika kemudian pemilik rumah itu keluar dari ruang dalam sambil membawa sekampil uang. Tanpa m enunggu pemilik rumah itu m eny erahkan, maka sekampil uang itupun segera disambar oleh orang bertubuh kekar itu sambil berkata "Aku tahu, bahwa kau ingin m enipu aku. Uang sekian ini tentu tidak akan cukup untuk membeayai keramaian semeriah ini dengan tontonan semalam suntuk. Tetapi kami tidak ingin ribut-ribut lagi. Kami juga tidak ingin mengecewakan orang-orang yang  sudah menunggu di halaman untuk menonton tari topeng yang sudah dipersiapkan. Karena itu, maka aku terima uang ini apa adanya. Kau boleh melanjutkan rencanamu." Pemilik rumah itu tidak dapat menjawab apa -apa. Ia memang harus merelakan uang itu daripada isterinya serta perhiasan yang  melekat ditubuh isterinya itu dibawa oleh orang-orang yang tidak dikenal itu. Bagi pemilik rumah itu, uang, perhiasan dan bahkan harta benda akan dapat dicarinya lagi. Tetapi tidak dengan isterinya itu. Tetapi bagi mPu Sidikara, tingkah laku orang-orang yang  mengaku orang Kediri itu tidak dapat diterimanya. Namun ketika ia bergerak selangkah, seseorang telah menggamitnya. mPu Sidikara y g berpaling itupun menarik nafas dalamdalam. Ia melihat Mahendra yang  tadi ditinggalkannya diluar, ternyata sudah menyusulnya masuk ke halaman pula. Sebelum Mahendra berkata sesuatu, mPu Sidikara justru sudah mendahului "Kita sudah berjanji untuk tidak mencampuri persoalan orang lain." Mahendra tersenyum. Katanya "Ya. kita tidak akan mencampuri persoalan orang lain." “Tetapi yang terjadi itu sudah menyinggung rasa keadaanku" jawab mPu Sidikara. "Aku mengerti mPu. Jika aku minta mPu tidak mencampuri persoalannya, bukan sekedar karena kita sudah berjanji. Tetapi kita juga harus menjaga keselamatan pemilik rumah itu, isterinya dan bahkan orang-orang padukuhan ini?" jawab Mahendra. mPu Sidikara termangu-mangu sejenak. Sementara Mahendra berkata selanjutnya "Jika kita mencampuri persoalannya, mungkin kita dapat mengurungkan niatnya malam ini. Tetapi bukankah kita tidak selalu berada di padukuhan ini? Bagaimana jadiny a jika besok mereka kembali kemari dan berbuat lebih jahat lagi? Barangkali m ereka tidak sa ja mengambil uangnya, tetapi juga isterinya sebagaimana dikatakannya." mPu Sidikara menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata "Ki Mahendra benar. Bagi pemilik rumah itu, maka isterinya dan keselamatan keluarganya tentu lebih berharga daripada uangnya. Karena itu, sebaiknya kita memang tidak mencampuri persoalannya. " mPu Sidikara mengangguk-angguk. Apalagi ketika ia melihat orang-orang yang  datang m embuat gaduh itu sudah mulai m elangkah turun dari pendapa sambil membawa uang dalam kampil yang diberikan oleh pemilik rumah itu. Dalam pada itui Mahendra dan mPu Sidikara telah keluar pula dari halaman dan kembali kekedai. Sementara itu Mahendra bergumam"Kita belum m embayar harga makanan dan minuman dari kedai itu." Tetapi sebelum keduanya masuk kedalam kedai, maka beberapa orang y g membuat keributan di halaman rumah sebelah telah keluar pula dan melintas didepan kedai itu. Namun tiba -tiba mereka berhenti beberapa langkah didepan kedai kecil itu. Seorang diantara mereka telah melangkah mendekati dua ekor kuda yang ditambatkan pada patok-patok bambu didepan kedai itu. Mahendra dan mPu Sidikara menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika orang itu mulai mengusap leher kuda itu. Tiba-tiba seorang diantara mereka berteriak "He, siapakah pemilik kedai ini? Pemilik kedai yang  masih berdiri di pinggir jalan itupun menjadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan ketakutan ia m elangkah kepintu kedai sambil berkata dengan suara bergetar "Aku, Ki Sanak." "Jangan takut" berkata orang itu "aku tidak mempunyai persoalan dengan kau. Tetapi aku hanya ingin bertanya, siapakah pemilik kuda-kuda ini." Jantung pemilik kedai itu menjadi berdebar-debar. Sementara itu orang yang bertubuh k ekar itu telah b erdiri di dekat kuda-kuda itu pula. Bahkan ia telah membentak dengan lantang "Siapa pemilik kuda ini, he?- Sebelum pemilik kedai itu yang  ketakutan itu menjawab, mpu Sidikaralah yang menjawab "Kami Ki Sanak. Kamilah pemilik kedua ekor kuda itu." Bahkan kemudian mPu Sidikara itu berpaling kepada Mahendra sambil berkata hampir berbisik “Bukankah kami tidak sedang m encampuri persoalan orang lain sekarang ini?" Mahendra sempat tersenyum sambil menjawab "Tidak. Kita tidak sedang mencampuri persoalan orang lain." Karena itu maka mPu Sidikarapun segera m elangkah maju mendekati kudanya yang nampaknya menarik perhatian. Orang-orang itu agaknya memang sangat t ertarik kepada kuda-kuda itu. Orang yang bertubuh kekar itu berkata "Ki Sanak. Apakah kuda kalian hanya dua ekor ini? "Ya " jawab Mahendra "dua ekor untuk dua orang. " "Dirumah?" bertanya orang itu. "Tidak. Kami tidak mempunyai yang  lain. Kami bukan orang kaya, sehingga seekor kuda bagi kami masing-masing sudah lebih dari cukup." Orang itu mengangguk-angguk. Namun tiba -tiba saja ia berkata "Ki Sanak. Sebagaimana aku katakan tadi dirumah seberang jalan, bahwa kita semuanya sedang berjuang. Orang yang sedang mengadakan keramaian dengan tontonan itu telah dengan suka rela menyumbang uang sekampil penuh. Meskipun belum sebanyak beay a keramaiannya, namun sumbangan itu cukup berharga bagi kami. Nah, sekarang, aku berharap Ki Sanak berdua juga bersedia menyumbang bagi perjuangan kami." "Apakah kami juga harus menyumbangkan sekampil uang? Ki Sanak, sudah aku katakan, bahwa kami bukan orang-orang kaya." jawab Mahendra. "Aku tahu itu" bentak orang bertubuh kekar itu "Seandainya kau orang kaya sekalipun, kau tentu tidak membawa uang sebanyak itu dalam perjalanan." "Jadi maksud Ki Sanak?" bertanya Mahendra. "Kami membutuhkan kuda-kuda kalian untuk mempercepat gerak kami" jawab orang bertubuh kekar itu. Tetapi Mahendra menjawab "Kuda kami hanya dua, sedangkan kalian lebih dari dua orang. Bukankah akan sia -sia sa ja?" "Sekarang kami mendapat dua. Besok kami m endapat dua dan besok malam kami mendapat dua lagi." jawab orang bertubuh kekar itu. Namun mPu Sidikara justru tertawa. Katanya "Darimana sa ja kau dapat kan kuda-kuda itu? Merampas milik orang lain sebagaimana kalian ingin merampas kuda kami?" Mata orang bertubuh kekar itu terbelalak. Dipandanginya mPu Sidikara dengan tajamnya. Kemudian oarng itupun menggeram "Tegasnya, aku ingin memiliki kuda kalian. Apapun alasan kami. Bahkan tanpa alasan sekalipun. Kalian tidak mempunyai pilihan. Kalian tidak dapat menolak keinginan kami untuk memiliki kuda kalian, kecuali kalian ingin mati." "Dengar Ki Sanak" jawab Mahendra yang masih bernada rendah "kami bukan orang-orang Kediri sebagaimana kalian. Karena kami mendengar dirumah sebelah, bahwa kalian sedang berjuang bagi Kediri. Tetapi itu ceritera ngayawara. Sekarang tidak ada per soalan apapun yang  timbul antara Singasari dan Kediri. Keduanya dapat hidup berdampingan dalam persekutuan yang damai. Memang ada beberapa orang yang tidak puas atas keadaan itu di Kediri. Mereka juga berusaha untuk menumbuhkan kekacauan. Dan itu sama sekali bukan perjuangan." "Itu adalah sikap dan pandangan orang Singasari. Tetapi berbeda dengan sikap dan pandangan orang Kediri. " jawab orang bertubuh kekar itu. "Tetapi apakah benar kau berjuang untuk Kediri sebagaimana yang kau katakan? Aku y akin, seandainya sekelompok orang Kediri yang tidak puas terhadap keadaan dan tatanan pemerintahan dalam hubungannya antara Kediri dan Singasari, caranya tentu tidak seperti yang  kau lakukan. Kau tentu memanfaatkan kemelut kecil yang  timbul itu untuk mencari keuntungan bagi dirimu sendiri. Kau merampok dengan alasan yang kau buat-buat. Namun dengan demikian, yang akan mendapatkan getahnya adalah orang-orang Kediri. " jawab Mahendra. "Setan kau" bentak orang bertubuh kekar itu "siapakah kalian yang berani sesorah dihadapanku?" "Namaku Mahendra. Aku adalah orang padepokan Bajra Seta. Sekarang, jawab pertanyaanku. Kalian ini siapa?" bertanya Mahendra. "Siapapun kami, sama sekali bukan soal bagi kalian" jawab orang itu "tetapi serahkan kuda kalian atau kalian atau kalian menjadi mayat disini." "Yang kalian lakukan itu adalah ciri -ciri perbuatan perampok" mPu Sidikara yang  menyahut "Karena itu, m aka kami sama sekali tidak akan merelakan kuda -kuda kami." "Apakah kuda-kuda kalian lebih berharga dari nyawa kalian?" bertanya orang itu. "Bukan begitu Ki Sanak. Nyawa kuda-kudaku lebih berharga dari nyawa kalian" sahut mPu Sidikara. Orang bertubuh kekar itu menggeram. Katanya "Setan kalian. Kalian telah membuat kami marah." "Bukan maksud kami Ki Sanak" berkata Mahendra "sebenarnya kami tidak ingin berselisih. Tetapi kami juga tidak ingin kehilangan kuda-kuda kami." "Kau orang tua tidak tahu diri. Ditiup anginpun tubuhmu akan roboh. Apakah kau masih akan berkelahi melawan kami." bertanya orang itu. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Mahisa Pukatpun selalu m emperingatkannya, bahwa ia sudah terlalu tua untuk bertempur. Tetapi apa boleh buat. Ia tidak dapat memberikan kudanya. Meskipun ia sudah m enjadi semakin tua, namun ia masih memiliki Iandasan ilmu yang  cukup. Demikianlah, maka Mahendra dan mPu Sidikara tidak dapat mengelak dari pertengkaran yang bahkan mungkin akan terjadi kekerasan karena m ereka tidak mau melepaskan kuda mereka. Betapapun mereka berusaha menghindarinya dengan niat tanpa mencampuri per soalan orang lain, namun ternyata persoalan itu datang atas mereka sendiri. Dalam pada itu, maka orang bertubuh kekar itu berkata kepada dua orang kawannya "He, dorong orang-orang itu mundur. Aku akan membawa kuda mereka. " "Jangan" sahut Mahendra. "Kau tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi jika kau menjadi keras kepala, maka nasibmu akan menjadi sangat buruk. Jauh lebih buruk dari pemilik rumah yang  sedang mengadakan keramaian itu." berkata orang bertubuh kekar itu. Sebelum Mahendra menjawab, dua orang telah m endekati Mahendra dan mPu Sidikara. Dengan garang orang yang kemudian berdiri di hadapan Mahendra itu berkata "Pergilah. Atau wajahmu akan menjadi pengab?" "Jangan terlalu garang Ki Sanak" berkata Mahendra "Kudakuda itu adalah kuda-kuda kami. Kalian tidak berhak membawanya. Apalagi aku masih sangat memerlukannya." "Per setan dengan orang itu " berkata orang yang  bertubuh kekar "jika ia m asih berbicara lagi, sobek saja bibirnya atau rontokkan giginya. " Tetapi Mahendra ternyata masih menjawab "Jangan berkata begitu. Apakah kita sama sekali tidak lagi menjunjung tinggi nilai-nilai hubungan antara sesama?" Orang yang berdiri dihadapan Mahendra memang tidak berpikir lebih panjang lagi. Tiba-tiba saja tangannya terayun menampar mulut Mahendra. Tetapi orang itu menjadi terkejut sekali. Ia tidak tahu apa yang telah membentur tangannya. Tetapi pergelangan tangannya menjadi sakit sekali. Sementara itu telapak tangannya sama sekali tidak meny entuh mulut Mahendra. "Setan. Apa yang kau lakukan?" bentak orang itu. "Aku tidak berbuat apa-apa " jawab Mahendra. Orang itu menjadi marah sekali. Sekali lagi ia mengayunkan tangannya. Jauh lebih keras. Bahkan orang itu mengira bahwa bukan sajah wajah Mahendra menjadi pengab, t etapi mungkin justru lehernya akan terputar dengan kerasnya. Tetapi orang itu bukan saja terkejut. Tetapi orang itu mengaduh kesakitan. Sekali lagi pergelangan tangannya terasa membentur sesuatu. Lebih keras, sehingga rasa-rasanya tulangnya akan patah. Tetapi sementara itu orang yang  bertubuh kekar dan seorang kawannya tidak menunggu per soalan itu selesai dengan tuntas. Keduanya dengan serta merta telah m eloncat ke atas punggung kuda Mahendra dan mPu Sidikara. Tetapi sebelum keduanya melarikan kedua ekor kuda itu, mPu Sidikara ternyata sempat bergerak lebih cepat. Ia sempat memungut dua butir kerikil kecil dan dilemparkannya ke perut kedua ekor kuda itu. Demikian cepatnya sehingga tidak seorangpun sempat berbuat sesuatu. Kedua ekor kuda itu terkejut. Hampir berbareng keduanya telah meringkik sambil melonjak sehingga kuda-kuda itu berdiri diatas kedua kaki belakangnya. Ketika kemudian kaki depannya kembali m eny entuh tanah, maka kedua ekor kuda itu justru melonjak-lonjak. Ternyata mPu Sidikara telah melempar sekali lagi perut kedua ekor kuda itu dengan kerikil kecil. Kedua orang itu jatuh terbanting ditanah. Sementara itu Mahendra dan mPu Sidikara segera berlari mendapatkan kuda yang sangat gelisah itu. Dengan suara lembut dan usapan perlahan-lahan pada lehernya, maka kuda itu menjadi tenang kembali. Mahendra dan mPu Sidikara telah menambatkan kembali kuda-kuda itu pada patok didepan kedai itu. Namun keduanya tidak lagi meninggalkan kedua ekor kuda itu. Orang yang bertubuh kekar dan seorang kawannya yang  terjatuh dari punggung kuda itu telah bangkit. Punggung merekalah yang  merasa seakan patah karenanya. Namun mereka tidak ingin mengurungkan niatnya untuk mengambil kedua ekor kuda itu. Apalagi orang itu tentu memperhatikan harga diri mereka dihadapan orang banyak. Karena itu, maka orang bertubuh kekar itu kemudian telah berteriak "Orang-orang gila. Kalian akan meny esal akan tingkah laku kalian. " "Bukankah kuda-kuda itu memang tidak ingin m empunyai penunggang yang  lain kecuali kami berdua" berkata mPu Sidikara. "Aku tidak peduli" teriak orang yang  bertubuh kekar itu. "Sekali lagi aku katakan Ki Sanak. Kami tidak akan melepaskan kuda-kuda kami. Sebenarnya kami sudah berjanji ketika kami berangkat, bahwa kamitidak akan berselisih dan tidak akan mencampuri per soalan orang lain di sepanjang perjalanan. Namun agaknya kalian telah memaksa kami untuk berbuat sesuatu. Setidaknya kami harus mempertahankan kuda-kuda kami." "Per setan" geram orang bertubuh kekar "hancurkan orangorang sombong itu. Beberapa orangpun segera bergerak mengepung Mahendra dan mPu Sidikara. Jumlah mereka tiba -tiba saja menjadi cukup banyak. Namun Mahendra dan mPu Sidikara yang memiliki ketajaman penglihatan, tidak melihat seorangpun diantara mereka yang  harus disegani, meskipun keduanya tidak terbiasa untuk merendahkan orang lain. Demikianlah ketika orang-orang itu m ulai bergerak, mPu Sidikara berkata "Aku masih ingin memperingatkan kalian sekali lagi. Jangan ganggu kami, atau kami akan membuat kalian menyesali perbuatan kalian. Sudah aku katakan, bahwa kalian tidak dapat meny ebut diri kalian berjuang untuk Kediri dengan cara seperti itu. Cara yang kotor. Kalian tentu memanfaatkan keadaan untuk kepentingan kalian sendiri." "Cukup" teriak orang bertubuh kekar itu "bungkam mereka dengan cara yang paling baik. Mereka harus menyadari kesalahan mereka. Sebelum mati mereka harus sempat menyesali kesalahan mereka serta meny esali keterlambatan mereka menyadari kesalahan. Baru kemudian kalian dapat berbuat apa saja atas mereka." "Perintahmu berbahaya Ki Sanak" berkata mPu Sidikara "orang yang  menerima perintahmu itu dapat menjadi gila. Tetapi perintahmu itu juga merangsang kami untuk melakukan hal yang sama sebagaimana kau kehendaki." "Setan. Kau masih berani mengancam" bentak orang bertubuh kekar itu. Lalu katanya kepada orang-orangnya "Cepat. Kenapa kalian masih diam saja?" Dengan perintah itu, maka beberapa orang segera bergerak. Dua orang terdekat telah menyerang Mahendra dan mPu Sidikara. Namun yang  terjadi telah mengejutkan kawankawannya. Orang yang meny erang mPu Sidikara itu telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting ditanah. Sementara itu orang yang  m eny erang Mahendra itu tiba-tiba sa ja telah terduduk lemah. Mahendra dengan keempat jarijarinya yang merapat telah menekan paha orang itu. Kemudian dengan kecepatan yang tidak diketahui oleh lawannya, Mahendra meny entuh dua simpul ditengkuknya dengan jari-jarinya. Sehingga dengan demikian, maka tulangtulang orang itu bagaikan telah dilepas dari kulit dagingnya. Sementara orang itu terduduk lemah, maka kawannya tidak lagi mampu bangkit berdiri. Tulang punggungnya serasa menjadi patah karenanya. Karena itu, ketika ia berusaha untuk dengan serta merta bangkit berdiri, maka orang itu telah terjatuh kembali sambil menyeringai menahan sakit. "He, kenapa dengan kalian" bentak orang bertubuh kekar itu. Namun yang  didengarnya hanyalah kedua orang itu mengaduh. Orang bertubuh kekar itu menjadi tidak sabar lagi. Karena itu, maka iapun segera memberikan isy arat agar orangorangnya bergerak bersama-sama. Mahendra dan mPu Sidikarapun melihat orang-orang itu mulai bergerak. Karena itu, keduanyapun telah mengambil jarak pula. Agaknya mereka memang harus melawan orangorang itu. Betapapun lemahnya seseorang, tetapi jika ia bergerak bersama-sama, maka Mahendra dan mPu Sidkara memang harus berhati-hati. Ketika kemudian orang bertubuh kekar itu memberikan, aba-aba, maka merekapun telah meny erang Mahendra dan mPu Sidikara bersama-sama. Sebenarnyalah bahwa mereka bukannya orang-orang yang  tidak berilmu sama sekali. Mereka telah menjelajahi beberapa Pakuwon, Kabuyutan dan apalagi padukuhan-padukuhan. Tentu sudah banyak pengalaman yang mereka dapatkan, sehingga dengan demikian mereka termasuk orang-orang yang berbahaya. Apalagi nampaknya mereka adalah orang-orang yang  tidak pernah ragu-ragu melakukan kekerasan, sehingga dengan demikian m aka Mahendra dan mPu Sidikara harus berhatihati. Jika perlu, m aka keduanya harus dapat bertindak keras menghadapi mereka. Sebenarnyalah, maka orang-orang itu segera bertempur dengan keras. Berganti-ganti mereka menyerang seperti ombak yang datang menghantam tebing. Namun kadangkadang mereka datang bersama-sama melanda lawannya dengan kekuatan yang  besar. Tetapi lawan mereka adalah Mahendra dan mPu Sidikara. Meskipun Mahendra nampak sudah menjadi tua. Tetapi ia masih mampu menghadapi lawannya beberapa orang sekaligus. Setiap ada kesempatan Mahendra berusaha untuk menyentuh bagian-bagian tubuh lawannya yang  m enentukan. Satu dua orang sempat disentuh tengkuk dan punggungnya disebelah meny ebelah tulang belakang. Dengan demikian, maka tenaga merekapun menjadi jauh susut. Karena itulah, maka orang-orang yang mengepung dan bertempur melawan Mahendra tidak lagi mampu bergerak dengan tegar dan sepenuh tenaga. Bahkan ada satu dua yang seakan-akan kehilangan seluruh kekuatannya. Sentuhan-sentuhan jari Mahendra ternyata sempat menimbulkan kekusutan pada jaringan syaraf lawannya, sehingga dengan demikian sentuhan-sentuhan jari-jari tangan yang kuat sekali itu merupakan senjata yang  sangat berbahaya. Berbeda dengan Mahendra, maka mPu Sidikara telah melepaskan tenaga dalamnya, sehingga kekuatannya seakanakan menjadi berlipat. Setiap sentuhan tangannya rasarasanya dapat meretakkan atau bukan mematahkan tulangtulang lawannya. Meskipun demikian pertempuran itu berlangsung juga beberapa lama. Diluar dugaan Mahendra dan mPu Sidikara, ternyata orang-orang yang  mengaku orang-orang Kediri itu cukup banyak, sehingga pertempuran itu telah memakan waktu agak lama. Namun kemudian ternyata orang-orang itu berusaha untuk menghindar dari arena. Mereka yang masih cukup kuat berusaha untuk membantu kawan-kawan mereka yang menjadi kesakitan atau seakan-akan telah kehilangan tenaga mereka. Namun kepada orang-orang yang terakhir berada di arena, Mahendra berkata "Ki Sanak. Aku tidak akan memburu kalian. Tetapi aku berpesan, bahwa aku tidak mau bertemu dengan kalian sekali lagi dalam keadaan seperti ini, karena aku akan mengambil tindakan yang lebih keras lagi. Mungkin aku akan melukai kalian, bahkan luka-luka yang  parah atau membunuh kalian, karena kalian adalah pemberontak. Sedangkan hukuman bagi pemberontak adalah hukuman yang paling berat." Orang-orang itu memang masih sempat mendengar. Namun kemudian merekapun, berlari -larian meninggalkan Mahendra dan mPu Sidikara. Untuk beberapa saat tempat itu justru menjadi lengang. Orang-orang yang melihat pertempuran antara dua orang berkuda melawan sekelompok orang kasar itu merasa lebih baik menjauh. Namun, demikian orang-orang kasar itu pergi, beberapa orang telah bergeser mendekat. "Untunglah, bahwa Ki Sanak bukan orang kebanyakan" desis pemilik kedai, orang yang  pertama berani mendekati Mahendra dan mPu Sidikara. "Kami adalah orang kebanyakan " jawab Mahendra. "Tetapi kalian memiliki kelebihan. Kalian telah b ertempur dan memenangkan pertempuran melawan sekian banyak orang dalam waktu yang  terhitung cepat. Kalian telah menyakiti dan bahkan membuat beberapa orang seakan-akan menjadi lumpuh." "Satu kebetulan" desis Mahendra. Sementara itu, pemilik rumah diseberang yang akan menyelenggarakan keramaian itu mendekat pula. Iapun kemudian berkata "Jika saja Ki Sanak tadi menolongku mengusir orang-orang itu, maka uang yang mereka bawa lebih baik aku serahkan kepada Ki Sanak saja." Mahendra tersenyum. Katanya "Terima kasih. Seandainya kami m elakukannya sama sekali bukan karena uang sekampil itu." "Kenapa ? Apakah Ki Sanak orang-orang yang sangat kaya sehingga menganggap uang sekampil itu tidak berarti ?" bertanya pemilik rumah itu. mPu Sidikaralah yang  menjawab sambil menggeleng "Tidak Ki Sanak. Kami bukan orang-orang kaya. Kami juga tidak menganggap uang sekampil itu tidak berarti." "Jadi kenapa kalian yang berkemampuan tinggi tidak mau membantuku mengusir orang-orang itu." bertanya orang yang menyelenggarakan keramaian itu. Lalu katanya "Jika kalian bukan orang kaya, bukankah uang itu akan sangat berarti bagimu. Mungkin untuk membeli kuda lagi atau membeli tanah dan ladang. Atau keperluan keperluan lain, bagaimanapun juga uang mempunyai pengaruh yang sangat besar." "Tetapi uangmu tidak dapat berbuat apa -apa ketiga orangorang itu datang kepadamu dan menyakitimu ?" bertanya mPu Sidikara. "Jika aku mempunyai kesempatan, aku tentu dapat mengupah orang untuk menjaga agar orang-orang itu tidak berbuat sekehendak hatinya dirumahku." "Tetapi kau terlambat dan uang itu tidak berati apa -apa seandainya orang-orang itu membawa isterimu pergi." Pemilik rumah yang sedang menyelenggarakan keramaian itu m engerutkan dahinya. Namun ia menjawab "Tetapi aku ingin mengetahui alasanmu, kenapa kau tidak melakukannya ? Apakah bagimu upah sekampil uang itu kurang? Tetapi jika demikian, kenapa kau akhirnya bertempur juga untuk sekedar mempertahankan dua ekor kuda. ?" "Kami tidak membantumu karena kami menganggap bahwa yang dilakukan oleh orang-orang itu sudah pada tempatnya" jawab mPu Sidikara. "Kenapa. Mereka merampok uangku " orang itu hampir berteriak karena ia mulai menjadi marah. "Peri stiwa ini agar menjadi peringatan bagimu, bahwa uang sama sekali tidak berdaya m enghadapi sesuatu yang m emang harus terjadi. Juga satu peringatan, bahwa uang itu akan demikian mudahnya hilang. Apakah dirampok orang atau dicuri pencuri atau terbakar atau bencana-bencana yang  lain. Jika aku m enolongmu dan apalagi m enerima upah yang  kau berikan kepadaku, maka peringatan itu tidak akan pernah kau terima serta kenyataannya tidak akan pernah kau alami." jawab mPu Sidikara. Lalu katanya pula "Aku tidak tahu kehidupanmu sehari-hari. Tetapi menilik sikap dan katakatamu sekarang ini, m aka kau termasuk orang yang  gemar sekali meny impan uang dan menghargai segala sesuatunya dengan uang. Sementara uang itu ternyata kuasanya tidak sebesar yang  kau duga." Wajah orang itu menjadi tegang. Dipandanginya mPu Sidikara dengan tajamnya. Sementara itu mPu Sidikara berkata "Ki Sanak. Sebenarnyalah bahwa aku tidak mau membantumu karena aku sendiri mempunyai kepentingan. Kepentingan apa ?" bertanya orang itu. mPu Sidikara itu ter senyum. Dengan nada tinggi ia berkata "Aku telah mengalahkan sekelompok orang yang merampokmu. Karena itu, kau tentu tahu bahwa meskipun kami hanya dua orang, tetapi kami dapat berbuat lebih banyak dari kelompok orang itu." Orang yang  ingin mengadakan keramaian itupun menjadi tegang. Sementara mPu Sidikara berkata selanjutnya "Dengar. Jika orang-orang itu memerlukan dana bagi perjuangannya dan tersinggung melihat kau meny elenggarakan keramaian, maka akupun tersinggung karena kau menganggap bahwa uang itu segala-galanya. Karena itu, maka aku senang melihat kau dirampok. Seperti aku katakan, kami m erasa perlu untuk memberikan peringatan kepadamu. Bahkan aku ingin membakar rumahmu, agar kau tahu bahwa harta bendamu tidak berarti apa -apa." Wajah orang itu m enjadi tegang. Sementara mPu Sidikara berkata selanjutnya "Nah, suruh isteri dan keluargamu keluar dari rumahmu. Para penari dan orang-orang yang  sedang mempersiapkan hidangan bagi tamu-tamu terhormatmu." "Apa yang akan kau lakukan?" bertanya orang itu. "Membakar rumahmu, kau dengar. Kami berdua memang lebih jahat dari sekelompok orang yang melarikan diri itu. Tetapi kamipun memiliki ilmu jauh lebih tinggi dari m ereka. Siapa yang  ingin menghalangi kami, akan kami lemparkan kedalam api." "Tetapi" wajah orang itu menjadi pucat. "Marilah " berkata mPu Sidikara kepada Mahendra "kita bakar rumahnya, gamelannya dan semua perabot rumahnya. Semuanya, termasuk orang-orang yang tidak mau keluar." "Jangan, jangan. Kami, aku dan keluargaku mohon ampun. " suara orang itu menjadi serak. Ketika mPu Sidikara melangkah maju, maka orang itu telah bersimpuh didepan mPu Sidikara "Jangan Ki Sanak. Jangan." "Siapa yang , mengalangi aku akan aku bunuh dengan caraku." "Jangan Ki Sanak. Apa saja yang akan kau minta. Aku akan memberikannya. " berkata orang itu. "Sekali lagi kau berkata seperti itu, aku bakar rumahmu dengan kau terikat didalamnya." geram mPu Sidikara. "Jadi, jadi apa yang  harus aku lakukan?" bertanya orang itu ketakutan. mPu Sidikara menarik nafas dalam-dalam. Namun Mahendralah yang  kemudian m erasa ka sihan kepada orang itu. Katanya "Kau harus minta maaf, bahwa kau telah menghina kami dengan menawarkan upah kepada kami. Kami hanya ingin membuktikan bahwa uangmu bukan segalagalanya. Jika kami m embakar rumahmu dengan segala isinya itu akan membuktikan, bahwa kekayaanmu tidak dapat memadamkan api yang akan m enelan rumah dan jika perlu kau dan ist erimu itu." Wajah orang itu menjadi semakin tegang. Ia kembali dicengkam ketakutan melampaui saat dipendapa rumahnya berdiri beberapa orang yang berwajah keras dan bertingkah laku kasar. Dengan suara gemetar orang itupun berkata "Kami m inta maaf. Kami sekeluarga mohon ampun. Kami tidak tahu dengan siapa kam i berhadapan." "Dengan siapapun kau berhadapan" berkata Mahendra "kau tidak dapat membanggakan dan bahkan bersandar kepada uang dan harta kekayaanmu." "Aku mengerti. Kami sekeluarga mengerti." Mahendrapun kemudian m enggamit mPu Sidikara sambil berdesis "Ia akan dapat mati ketakutan." mPu Sidikara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata "Nah, Ki Sanak. Lain kali berhati-hatilah. Tidak semua orang seperti kau yang menganggap bahwa tumpuan tertinggi untuk mendapatkan kebahagiaan hidup dalam uang." "Ya, ya. Kami mohon, ampun" orang itu seakan-akan menangis "aku meny esal sekali." mPu Sidikaralah yang kemudian berkata "Ki Sanak. Dengar baik-baik. Jika aku tidak menggagalkan perampokan itu, karena aku m empunyai pertimbangan yang jauh. Justru bagi keselamatanmu. Kegagalan mereka akan dapat membuat mereka semakin mendendam, sedangkan kami hanya sekedar orang lewat. Jika orang itu kembali lagi besok atau lusa, kami tidak akan dapat membantu, sementara orang-orang itu akan menjadi lebih buas lagi. Karena pertimbangan itulah, m aka kami lebih baik meninggalkan halaman rumahmu. Tetapi ternyata persoalannya bergeser. Orang-orang itu ingin mendapatkan kuda kami, sehingga kami harus mempertahankannya. Meskipun akhirnya kami berkelahi, namun orang-orang itu tidak m endendam kepadamu. Karena itu, ketika mereka pergi, kamipun tidak ganti merampok uang itu. Meskipun semua orang pada umumnya memerlukan uang, tetapi tidak semua orang menjadi rakus dan menganggap uang adalah puncak dari segala -galanya." "Kami mengerti, Ki Sanak. Kami mengerti," jawab orang itu. "Baiklah" berkata mPu Sidikara "jika kau dapat dan m au mengerti, sokurlah. Aku tidak jadi membakar rumahmu, meskipun sepeninggalku kau tentu sudah berubah lagi. " "Tidak. Tidak. Aku berjanji" jawab orang itu. mPu Sidikarapun kemudian berkata kepada Mahendra "Marilah. Kita teruskan perjalanan kita. Sekedar memberi kesempatan kuda-kuda kita beristirahat lebih panjang." Mahendra tersenyum. Namun katanya Aku minta diri kepada pemilik kedai itu." "Biarlah aku yang  meny elesaikannya " berkata mPu Sidikara. "Bukankah aku yang mengajak mPu menempuh perjalanan ini?" sahut Mahendra. mPu Sidikara tertawa. Namun ia tidak membantah lagi. Demikianlah, setelah mereka membayar harga makanan dan minuman di kedai itu, maka keduanyapun telah meloncat ke punggung kuda. Keduanya sempat melambaikan tangannya kepada pemilik rumah yang  sedang meny elenggarakan keramaian itu. Pemilik rumah itu berdiri termangu-mangu. Malam itu terjadi dua peristiwa yang  telah mengguncangkan perasaannya. Namun peri stiwa itu merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi dirinya. Sekelompok orang yang merampoknya dan dua orang yang  ter singgung justru karena ia menawarkan upah bagi mereka. Orang itu semula memang tidak mengira bahwa ada orang yang tersinggung justru saat ditawarkan uang kepadanya. Bagi orang itu, uang dan kekayaan memang segala-galanya. Dengan uang ia merasa dapat berbuat apa saja. Namun suatu ketika ia memang dihadapkan pada satu kenyataan, bahwa uang justru dapat menjerumuskannya kedalan kesulitan. Bahkan hampir sa ja ia harus meny erahkan isterinya kepada sekelompok orang yang merampok dirumahnya, justru saat ia sedang menyelenggarakan keramaian. Dengan kepala tunduk orang itu berjalan kembali kerumahnya. Jika semula ia selalu menengadahkan wajahnya karena ia merasa menjadi orang yang  paling kaya di padukuhannya, sedangkan ukuran harga dirinya adalah uang, maka ia merasa dirinya sebagai orang yang  berkedudukan paling tinggi diantara tetangga-tetangganya. Namun rasa -rasanya ia telah terhempas menimpa batu karang. Ternyata ada orang yang sama sekali tidak bergantung pada uang dan mempunyai penilaian tersendiri terhadap orang yang  memiliki kekayaan yang  melimpah. Karena itu, maka orang itupun merasa perlu untuk merenungi kembali jalan hidup yang  telah ditempuhnya itu. Sementara itu, Mahendra dan mPu Sidikara telah meneruskan perjalanan m ereka. Ternyata perjalanan mereka tidak lebih cepat dari perjalanan yang  pernah ditempuh oleh Mahendra dan Mahisa Pukat sebelumnya. "Kita sudah m enepati rencana kita ketika kita berangkat" berkata mPu Sidikara sambil tersenyum. "Ya " jawab Mahendra "kita memang tidak mencampuri persoalan orang lain. " mPu Sidikara tertawa, katanya "Tetapi orang lainlah yang  mencampuri persoalan kita." Keduanyapun tertawa. Sementara itu kuda mereka berpacu dikegelapan malam. Namun karena kedua penunggangnya adalah orang-orang yang  memiliki kelebihan, maka mereka sama sekali tidak mengalami kesulitan. Selain kuda-kuda mereka juga terbiasa menempuh perjalanan dalam segala waktu dan keadaan, kendalinyapun dapat menuntun kudakuda itu untuk menginjakkan kakinya diatas jalan yang panjang. Ternyata keduanya tidak berhenti lagi diperjalanan. Apalagi Padepokan Bajra Seta memang tidak terlalu jauh lagi. Demikianlah, ketika mereka sampai di Padepokan, maka para cantrik yang  bertugaspun telah menjadi terkejut pula. Apalagi ketika mereka melihat bahwa yang  datang itu adalah Mahendra dan seorang yang  belum mereka kenal. Demikian keduanya diper silahkan masuk regol Padepokan, maka seorang cantrikpun telah m encari Mahisa Murti untuk memberitahukan kehadiran mereka. Tetapi ternyata Mahisa Murti tidak ada dibiliknya meskipun m alam telah larut. Namun cantrik itu sudah tahu kebiasaan Mahisa Murti. Jika di malam hari ia tidak sedang bepergian tetapi tidak ada didalam biliknya, maka ia tentu berada di sanggar. Sebenarnyalah, bahwa cantrik itu telah menemukan Mahisa Murti sedang berada di sanggar. Sendiri. Agaknya Mahisa Murti sedang beristirahat, karena ia tidak sedang berlatih. Tetapi Mahisa Murti justru sedang duduk disudut sanggar dengan lam pu yang hanya remang-remang. Namun ketika cantrik itu mendekatinya, maka nampak keringat membasahi seluruh tubuh Mahisa Murti. "Ada apa ?" bertanya Mahisa Murti kepada cantrik itu. "Ada tamu diluar. Ki Mahendra dengan seorang yang  belum kami kenal" jawab cantrik itu. Mahisa Murti mengerutkan dahinya. Dengan nada berat ia bertanya "Apakah ayah tidak meny ebut nama orang itu ?” "Tidak " jawab cantrik itu. "Baiklah" berkata Mahisa Murti "persilahkan mereka duduk. Siapkan hidangan. Minum dan makan. Mereka t entu telah m enempuh perjalanan yang melelahkan. Demikian pula kuda-kuda mereka." Mahisa Murti berhenti sejenak. Lalu "Aku akan membenahi pakaianku sebentar." Beberapa saat kemudian, maka Mahisa Murtipun telah melangkah ke bangunan induk Padepokan Bajra Seta. Disepanjang langkahnya, Mahisa Murti m asih saja bertanyatanya, siapakah kawan ayahnya itu. Namun yang lebih menarik perhatiannya, apakah keperluan mereka datang ke Padepokan. " Ketika Mahisa Murti memasuki pendapa di bangunan induk Padepokan Bajra Seta, maka iapun segera melihat bahwa ayahnya memang datang dengan membawa seorang kawan. "Kenapa ay ah tidak datang bersama Mahisa Pukat ?" pertanyaan itu telah mengusik hatinya. Bahkan sebuah pertanyaan yang  lain telah muncul pula "Apakah sesuatu terjadi dengan Mahisa Pukat ?" Ketika kemudian Mahendra dan mPu Sidikara mengangkat wajahnya, m aka barulah Mahisa Murti sempat m emandang wajah itu. Karena itu, maka dengan serta merta iapun berdesis "mPu Sidikara. " Demikianlah, maka Mahisa Murtipun telah menyambut tamunya dengan akrab. Setelah menanyakan keselamatan ay ahnya dan mPu Sidikara selama perjalanan, maka Mahisa Murtipun bertanya "Kenapa ay ah tidak mengajak Mahisa Pukat?" "Mahisa Pukat sedang sibuk dengan tugasnya " jawab Mahendra. "Tetapi seharusny a ia dapat minta ijin barang satu dua hari untuk mengantarkan ay ah betapapun sibuknya" berkata Mahisa Muiti "Akulah yang  salah" mPu Sidikara memotong pembicaraan itu "karena keinginanku pergi ke Padepokan Bajra Seta, maka aku telah minta agar Mahisa Pukat melakukan tugas rangkap di Kasatrian, sementara aku pergi bersama Ki Mahendra ke Padepokan Bajra Seta." Mahisa Murti mengerutkan dahinya. Sedangkan mPu Sidikara berkata selanjutnya "Pangeran Kuda Pratama berkeberatan jika kami berdua bersama-sama minta ijin meninggalkan kasatrian. Karena aku mendesak terup, akhirnya Mahisa Pukatlah yang  m engalah. Akulah yang pergi ke Padepokan Bajra Seta." Mahisa Murti m engangguk-angguk, sementara Mahendra hanya tersenyum saja. Namun akhirnya Mahisa Murti bertanya pula "Kenapa baru setelah malam larut ayah dan mPu Sidikara baru datang, seperti ketika ay ah menempuh perjalanan ini bersama Mahisa Pukat ?" Mahendra tersenyum. Katanya "perjalanan kami sedikit terhalang. Sejak kami berangkat, kami sudah berjanji untuk tidak m encampuri persoalan orang lain, agar perjalanan kita tidak menemui hambatan. Tetapi t ernyata orang lainlah yang telah mencampuri persoalan kami." "Maksud ay ah ?" bertanya Mahisa Murti. Mahendrapun kemudian menceriterakan apa yang  telah terjadi diperjalanan. Meskipun tidak seberat saat Mahendra itu datang ke Padepokan Bajra Seta bersama Mahisa Pukat, namun apa yang  terjadi diperjalanan itu, telah merampas banyak waktu pula. Mahisa Murtipun tersenyum. Katanya "Sokurlah, bagaimanapun juga peri stiwa seperti itu merupakan hambatan yang harus diatasi juga." Mahendra dan mPu Sidikara tidak menjawab karena seorang cantrik telah naik keluar membawa hidangan. Minuman hangat dan makanan. "Makan sedang disiapkan" berkata Mahisa Murti. Demikianlah, setelah minum minuman hangat serta makan beberapa potong makanan, maka Mahendra dan mPu Sidikarapun telah pergi ke pakiwan serta membenahi dirinya. Baru kemudian m ereka dipersilahkan untuk makan diruang dalam. "Sebenarnya kami tidak terlalu lapar " berkata Mahendra "lewat senja kami singgah untuk makan. Tetapi kemudian terjadi peri stiwa itu." "Jika demikian, maka ayah dan mPu Sidikara tentu menjadi lapar lagi" berkata Mahisa Murti. Mahendra dan mPu Sidikara tertawa. Namun merekapun kemudian telah makan pula dengan lahapnya. Dalam pada itu, setelah mereka selesai makan dan beristirahat sejenak, maka Mahisa Murtipun mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam bilik yang sudah disediakan. Meskipun Mahisa Murti mengetahui, bahwa kedatangan ay ahnya tentu membawa persoalan yang penting, namun Mahisa Murti t idak ingin membuat ayahnya menjadi t erlalu letih. Mahendra juga tidak ingin tergesa -gesa mengatakan keperluannya. Ia ingin mengatur perasaannya, sehingga apa yang akan dikatakannya menjadi lebih mapan. Baru dihari berikutnya, setelah mereka makan pagi, m aka Mahendrapun berkata "Mahisa Murti. Ada sesuatu yang akan aku sampaikan kepadamu. Tidak terlalu penting, tetapi sebaiknya memang kau ketahui." Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahendrapun berkata "Aku m embawa kabar tentang Mahisa Pukat. " Sebenarnyalah Mahisa Murti sudah menduga. Karena itulah maka ayahnya telah datang tidak bersama Mahisa Pukat itu sendiri. "Pembicaraanku dengan Arya Kuda Cemani tentang hubungan antara Mahisa Pukat dengan Sasi telah maju selangkah lagi" berkata Mahendra. "O" Mahisa Murti mengangguk-angguk. "Kami telah mendapat kesepakatan, kapan Mahisa Pukat dan Sasi akan menikah." berkata Mahendra pula. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berdesis "Sokurlah. Dengan demikian, maka tataran pertama hubungan antara Mahisa Pukat dan Sasi akan terselesaikan." "Ya " jawab Mahendra. Namun dengan penglihatan mata hatinya, Mahendra m elihat bahwa luka dihati Mahisa Murti itu terasa ny eri kembali. Namun Mahendra percaya, bahwa day a tahan Mahisa Murti cukup kuat untuk mengatasiny a. "Jadi sebulan lagi. Kita harus melakukan persiapan sebaikbaiknya. Sri Maharaja secara pribadi menyatakan merestui pernikahan itu." "Sri Maharaja ?" bertanya Mahisa Murti. Mahendra mengangguk. Baru kemudian ia berkata "Sebenarnya aku belum pernah menyampaikan langsung hal itu kepada Sri Maharaja. Aku tidak tahu, darimana Sri Maharaja mengetahui bahwa Mahisa Pukat, Pelayan Dalam yang bertugas di Ka satrian, tetapi yang  juga guru dari para Kesatria Singasari, akan segera menikah. Apalagi Pelay an Dalam itu adalah anakku, sedang bakal isterinya adalah anak seorang Senapati dari Pasukan Sandi di Singasari. " "Aku ikut merasa berbangga, ayah" jawab Mahisa Murti. Nada suara memang merendah. Namun terasa bahwa katakata itu diucapkannya dengan tulus. "Nah" berkata Mahendra "tentu saja kami yang  ada di Singasari menginginkan agar kau berada di Singasari saat itu." "Tentu ayah" jawab Mahisa Murti "aku akan berada di Singasari." "Bawa Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Namun Wantilan terpaksa tidak dapat hadir dalam upacara itu, karena salah seorang diantara kalian harus tetap berada di padepokan. " "Ya, ay ah. Paman Wantilan akan aku m inta untuk tetap berada di padepokan. Selain paman Wantilan sudah ada dua orang cantrik yang  dapat dipercaya. Cantrik itu cukup cerdas, rajin dan landasan ilmunya yang  cukup." "Sokurlah" jawab Mahendra "dengan demikian m aka aku akan dapat tenang berada di Singasari." "Tetapi sudah tentu bahwa kami tidak dapat b erlama-lama berada di Singasari. Kami akan datang ke Singasari sepekan sebelum hari pernikahan dan sampai sepekan sesudahnya. Itu sudah berarti sepuluh hari, ay ah." "Aku mengerti Mahisa Murti. Aku kira waktu yang kau sediakan itu sudah cukup" berkata Mahendra. Mahisa Murti mengangguk-angguk, sedangkan mPu Sidikara lebih banyak berdiam diri sambil mendengarkan, karena per soalan yang  dibicarakan itu adalah per soalan keluarga. Baru kemudian setelah pembicaraan tentang hari-hari pernikahan Mahisa Pukat selesai, pembicaraan m ereka mulai merambat ke berbagai soal. mPu Sidikarapun mulai ikut berbicara pula. Bahkan kemudian pembicaraan mereka sampai pada kegiatan para cantrik serta waktu -waktu mereka berlatih. "Mereka berlatih sambil bekerja" berkata Mahisa Murti. "dengan demikian mereka akan mendapatkan pengetahuan yang m endekati kebutuhan bagi mereka kelak. Mereka tidak hanya mempelajari ilmu kanuragan. Tetapi juga bagaimana mereka dapat menjadi seorang petani yang baik. Seorang pande besi yang  baik. Seorang pedagang yang baik, serta berbagai macam pengetahuan yang  lain yang akan berarti bagi mereka kelak jika mereka menempuh kehidupan yang sebenarnya." mPu Sidikara mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Murti pun telah mempersilahkan mPu Sidikara untuk melihatlihat seisi Padepokan Bajra Seta. Mula-mula mereka melihatlihat sanggar terbuka dan sanggar tertutup. Beberapa orang cantrik sedang berlatih di kedua sanggar itu. Mereka memang mempergunakan alat-alat yang  sederhana. Namun dengan alat-alat yang sederhana itu para cantrik itu justru m endapat tempaan yang  cukup berat. Selain m empelajari unsur-unsur gerak, berlatih mempergunakan berbagai jenis senjata, merekapun telah dilatih untuk dengan cepat menentukan langkah-langkah yang  terbaik untuk mengatasi satu kesulitan. Mereka tidak terbiasa mempergunakan alat atau senjata yang lengkap dan seakan-akan tinggal memakainya. Tetapi para cantrik di Padepokan Bajra Seta harus siap untuk mengatasi kesulitan yang  timbul dengan alat dan senjata sesuai dengan apa yang  ada. Di sanggar terbuka mPu Sidikara menyaksikan para cantrik itu menempa kewadagan mereka dengan alat-alat yang sederhana pula, namun yang  sangat berarti. Para cantrik yang berlatih di sanggar terbuka itu m enunjukkan bahwa mereka tidak saja asal melakukan latihan dengan menggerakkan tubuh mereka. Tetapi mPu Sidikara yang  juga mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang  luas itu, m elihat, bahwa segala sesuatunya berlangsung dengan tertib. Para cantrik tertua yang  ditunjuk oleh Mahisa Murti untuk memberikan latihan kepada para cantrik yang  lebih muda, agaknya lebih menguasai pengetahuan tentang penguasaan tubuh, sehingga dengan demikian, maka merekapun mampu melakukan uruturutan latihan yang baik yang tidak justru merusakkan tubuh mereka. Mereka berlatih untuk meningkatkan ketrampilan, kecepatan gerak, day a tahan dan penguasaan tubuh sepenuhnya. Kemudian berlatih dengan sungguh-sungguh untuk mengatur pernafasan yang  sebaik-baiknya agar dapat memberikan manfaat yang setinggi-tingginya sesuai dengan kemungkinan yang  sedang dihadapi. Ketika kemudian mereka meninggalkan sanggar dan melihat-lihat bagian lain dari Padepokan Bajra Seta, maka mPu Sidikara itupun sempat melihat bangunan-bangunan khusus tempat para cantrik bekerja. Disebuah sudut, mPu Sidikara menyaksikan beberapa bangunan yang dipergunakan oleh para cantrik untuk mengerjakan pekerjaan besi dan baja. Beberapa orang cantrik yang bekerja sebagai pande besi sedang melakukan tugas mereka. Mereka sedang menempa besi untuk membuat alat-alat pertanian. Dalam pada itu Mahisa Murtipun berkata "Tidak semuanya mereka adalah cantrik Padepokan Bajra Seta." "Maksudmu?" bertanya mPu Sidikara. "Ada diantara mereka adalah anak-anak muda dari padukuhan sebelah. Mereka datang untuk menyadap pengetahuan tertentu. Antara lain sebagai pande besi." mPu Sidikara mengangguk-angguk. Ia memang merasa kagum terhadap kegiatan yang dilihatnya di Padepokan Bajra Seta. Ternyata bahwa kegiatan padepokan itu tidak saja sekedar berarti bagi Padepokan Bajra Seta sendiri, tetapi juga berarti bagi padukuhan-padukuhan dan bahkan Kabuyutankabuyutan disekitarnya. Dengan nada dalam ia berkata "Menarik sekali." "Ya " jawab Mahisa Murti "mereka akan dapat memanfaatkan ilmu dan pengetahuan mereka di padukuhan mereka masing-masing." "Kegiatan yang jarang sekali dilakukan di padepokanpadepokan yang lain. " desis mPu Sidikara. "Dengan ketrampilan itu, anak-anak muda di padukuhanpadukuhan sebelah meny ebelah Padepokan Bajra Seta mempunyai bekal untuk berbuat sesuatu. Mereka yang tanahnya sempit tidak lagi menggantungkan hidupnya pada tanah yang  akan terbagi habis diantara saudara-saudaranya. Apalagi mereka yang anaknya terlalu banyak. Anak-anak muda itu juga tidak akan bergantung pada kesempatan untuk bekerja menjadi bebahu Kabuyutan atau bebahu padukuhan atau petugas-petugas lain yang  ditetapkan oleh padukuhan atau Kabuyutan. Tetapi mereka akan dapat mandiri. Mereka dapat memanfaatkan ketrampilannya untuk mendapatkan nafkahnya, tanpa menggantungkan diri kepada orang lain.” mPu Sidikara mengangguk-angguk. Sementara itu segera teringat anak anak-anak muda yang  berada di Kasatrian. Mereka berada dalam satu lingkungan yang berbeda. Namun agaknya Mahisa Pukat telah m embuat perubahan-perubahan meskipun perlahan-lahan. Para penghuni Ka satrian telah diperkenalkannya dengan alam terbuka. Para Ka satria itu mulai m elihat kehidupan diluar istana. Para petani yang bekerja keras, para pedagang yang  harus tangkas berpikir menghadapi setiap gejolak pasar, para pande besi yang berlimbah peluh serta berbagai macam kehidupan yang jauh berbeda dari suasana kehidupan di istana. Ketika kemudian mereka kembali ke pendapa bangunan induk Padepokan Bajra Seta, maka mPu Sidikara itupun berkata "Padepokan ini merupakan satu dunia tersendiri dengan aneka ragam kegiatan. Tetapi dalam keseluruhan, Padepokan Bajra Seta adalah satu sanggar raksasa yang menempa berbagai jenis ilmu, kemampuan dan ketrampilan serta pengetahuan." Mahendra ter senyum. Katanya "Sebaiknya m emang bukan aku yang  mengucapkannya. Jika kau yang  mengatakannya, maka aku adalah seorang yang  sangat sombong. Namun sekarang mPu Sidikara yang  sempat melihatnya dan sempat mengatakannya. " "Ya. Jika aku m engatakannya, bukan karena aku berada di hadapan Ki Mahendra dan angger Mahisa Murti. Tetapi aku menilai dengan jujur dan menurut pendapatku, kenyataannya adalah memang demikian" berkata mPu Sidikara. "Terima kasih" sahut Mahisa Murti "namun apa yang kami miliki adalah sangat sederhana sekali. Dengan demikian, maka apa yang  dapat kami tabur pada padukuhan-padukuhan disekitar Padepokan Bajra Seta memang terlalu sedikit." mPu Sidikara mengangugk-angguk. Katanya "Tetapi kedudukan Padepokan Bajra Seta bagi orang-orang disekitarnya menjadi lebih penting dari Ka satrian di Singasari. Untunglah bahwa angger Mahisa Pukat hadir di Kasatrian sehingga perlahan-lahan telah melakukan beberapa perubahan atau katakan pembaharuan. Tetapi tentu saja kesempatan yang dimilikinya sangat terbatas. Angger Mahisa Pukat tidak akan dapat melanggar paugeran -paugeran yang masih dipegang kuat di istana Singasari. Namun bahwa para kesatria itu sempat melihat kenyataan diluar istana itu sudah merupakan satu hal yang sangat berarti. Ternyata ada diantara para Kesatria itu t ertarik untuk memperhatikan kehidupan yang berat dan keras diluar istana. " "Sokurlah" berkata Mahisa Murti "mudah-mudahan para kesatria itu akan menjadi semakin dekat dengan rakyatnya dengan segala keny ataan hidup mereka." "Jika angger Mahisa Pukat mempunyai kesempatan yang  panjang di Kasatrian, maka agaknya ia akan dapat melakukannya dalam keterbatasannya " desis mPu Sidikara. Dalam pada itu Mahendrapun berkata "Seharusnya dengan peralatan yang  ada di Kasatrian, para kesatrian itu dapat berbuat lebih banyak bagi lingkungannya. Tetapi paugeran yang ada memang tidak memungkinkannya. " Mahisa Murti mengangguk-angguk. Iapun dapat mengerti bahwa ada batas antara seisi istana dengan lingkungan di luar istana. Karena itu, betapapun ada keinginan untuk melakukannya, namun Mahisa Pukat tentu tidak akan berbuat terlalu banyak. Dalam pada itu, apa yang  dilihat mPu Sidikara ternyata sangat berkesan dihatinya. Ia memang menjadi kagum melihat ketegaran Mahisa Murti memimpin Padepokan Bajra Seta yang besar. Apalagi Mahisa Murti adalah seorang anak muda yang masih sedang tumbuh, sehingga masih banyak kemungkinan yang  dapat terjadi di masa depan. Di mata mPu Sidikara, maka kesempatan yang  ada didepan Mahisa Murti memang berbeda dengan kesempatan yang dihadapi oleh Mahisa Pukat. Meskipun kedua-duanya akan dapat menginjak jenjang yang lebih tinggi, namun bidang mereka sangat berbeda. Semakin tinggi jenjang yang mereka injak maka jarak keduanya akan menjadi semakin jauh. "Apalagi jika Ki Mahendra yang  menjadi pengikat diantara keduanya sudah tidak ada lagi. Maka dari kehari, maka dinding yang  membatasi kedua orang anak muda itu seakanakan menjadi semakin tinggi " berkata mPu Sidikara didalam hatinya. Namun mPu Sidikara itu masih melihat bahwa kedua bersaudara itu mempunyai ikatan batin yang  sangat kuat. Ia masih berharap agar ikatan yang ada itu dapat selalu dipelihara dan dikembangkan dimanapun mereka masingmasing berada. Meskipun jalan m ereka berbeda, namun jika masing-masing sudah memilihnya, maka tidak akan ada perasaan saling bersaing. Meskipun jarak mereka menjadi semakin jauh, tetapi ikatan batin yang  ada diantara mereka akan tetap menjalin hubungan diantara mereka. Tetapi satu hal yang tidak diketahui oleh mPu Sidikara, bahwa Mahisa Murti pernah meny ingkir dari satu benturan kepentingan yang sama tanpa sepengetahuan Mahisa Pukat. Demikianlah, disaat mPu Sidikara berada di Padepokan Bajra Seta, maka tidak jemu-jemunya ia melihat kerja yang dilakukan oleh para cantrik disela-sela latihan olah kanuragan. Jika para kesatria di Kasatrian Singasari harus juga menuntut pengetahuan tentang berbagai macam ilmu, termasuk ilmu bintang, kesusa steraan dan ilmu pemerintahan, maka para cantrik itu disamping mempelajari berbagai macam ilmu, namun mereka juga langsung melakukannya di lapangan. Mereka langsung turun dalam kerja sehingga apa yang  mereka pelajari itu akan dapat diuji pelak sanaannya. Namun mPu Sidikara yang  termasuk salah seorang guru di Ka satrian berkata didalam hatinya "Tetapi kebutuhan dari para kesatria itu m emang jauh berbeda dari kebutuhan para cantrik. " Karena itu, maka iapun menyadari, apa yang dapat ditrapkan di Padepokan Bajra Seta, belum tentu dapat ditrapkan di Ka satrian. Dan hal ini agaknya juga disadari oleh Mahisa Pukat, sehingga jika ia mulai m elakukan perubahanperubahan, maka ia harus m enilai setiap rencananya, apakah hal itu sesuai dengan kebutuhan para kesatria Singasari. Bahkan Mahisa Pukatpun harus mempertimbangkan kepentingan orang-orang, lain yang memberikan tuntunan tentang berbagai macam ilmu selain olah kanuragan bagi para kesatria itu.

Jilid 114
TETAPI mPu Sidikara memang tidak terlalu lama berada di Padepokan Bajra Seta. Ketika m ereka sudah bermalam dua malam, maka Mahendra merencanakan untuk kembali di keesokan harinya. "Jadi ayah tinggal bermalam satu m alam lagi ?" bertanya Mahisa Murti. "Aku harus segera berada di Singasari lagi, Murti. Aku harus m empersiapkan segala sesuatunya. Bukankah aku tidak mempunyai lagi siapa-siapa yang dapat aku ajak berbincang selain Mahisa Pukat sendiri ?" berkata Mahendra. "Tidak. Ayah tentu mempunyai kawan untuk berbincang. Bukankah mPu Sidikara dapat membantu ayah ?" Mahendra tersenyum. Katanya "mPu Sidikara berada di Ka satrian. " "Bukankah kasatrian juga berada dilingkungan istana ?" bertanya Mahisa Murti pula. “Tetapi rumahku berada jauh di halaman belakang” sahut Mahendra. mPu Sidikara tertawa. Katanya "Aku akan membantu kesibukan Ki Mahendra menjelang perkawinan puteranya. Aku akan dapat melakukan apa saja. Sebelum, disaat upacara pernikahan berlangsung dan sesudahnya." Mahendra dan Mahisa Murtipun tertawa pula. Disela-sela suara tertawanya Mahendra berkata "Terima kasih mPu. Aku memang mencari orang yang dapat melakukan apa saja.” Meskipun mereka seakan-akan hanya sekedar berkelakar, namun mPu Sidikara memang dengan sungguh-sungguh bersedia membantu kesibukan Mahendra sehubungan dengan pernikahan Mahisa Pukat. Ketika kemudian malam turun, maka Mahisa Pukatpun mempersilahkan ayahnya dan mPu Sidikara untuk beristirahat, karena mereka akan bangun pagi-pagi benar dan selanjutnya kembali ke Singasari setelah beberapa hari beberapa di Padepokan Bajra Seta. Tetapi Mahendra dan mPu Sidikara memang tidak terbiasa tidur sebelum malam larut. Karena itu, m aka m ereka masih duduk-duduk dipendapa untuk beberapa lama. Dalam pada itu, diluar padepokan, beberapa orang berkuda sedang memperhatikan Padepokan Bajra Seta dari k ejauhan. Mereka melihat dinding yang cukup tinggi mengitari satu lingkungan yang  cukup luas. Beberapa bangunan nampak membujur berjajar didalam lingkungan dinding padepokan. "Aku t idak m engira bahwa Padepokan Bajra Seta adalah padepokan yang  besar " berkata seorang yang  bertubuh sedang yang duduk diatas punggung kudanya dipaling depan dari iring-iringan orang berkuda itu. "Ya " jawab seorang yang  bertubuh kekar yang berkuda disebelahnya "aku juga tidak membayangkan, bahwa padepokan Bajra Seta mempunyai lingkungan yang luas serta bangunan yang  cukup banyak didalamnya. Satu gambaran bahwa penghuni Padepokan itu cukup banyak pula." "Selain jumlahnya yang banyak, agaknya di Padepokan itu juga tinggal orang-orang berilmu tinggi. Yang sudah kita ketahui dua diantara mereka telah mampu mengejutkan kalian" berkata orang yang bertubuh sedang itu kemudian. Kawannya yang bertubuh kekar itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya "Lalu, apakah kita tetap pada rencana kita mengambil orang yang  aku katakan itu ?" Orang bertubuh sedang itu berpaling kepada seorang yang  bertubuh kekurus-kurusan sambil berkata "Bagaimana menurut pendapatmu ?" Orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu termangumangu sejenak. Namun kemudian katanya "Aku sendiri tidak mempunyai persoalan dengan orang itu. Tetapi jika kalian ingin tetap m engambilnya, maka kami akan melakukannya. Betapapun tinggi ilmu orang-orang padepokan ini, bagiku bukan m asalah. Aku dan kedua orang kawanku akan dapat menyelesaikan mereka. Semuanya tergantung kepada kalian. Seandainya terjadi pertempuran, apakah kira-kira kalian dapat bertahan melawan isi padepokan ini ?" Orang yang bertubuh sedang itu termangu-mangu. Katanya "Kami belum mengetahui kekuatan Padepokan Bajra Seta ini. Menurut pendapatku, padepokan ini tentu mempunyai kekuatan yang besar, sehingga kita perlu membuat pertimbangan sebaik-baiknya." "Sekarang harus kita nilai, apakah sikap orang yang  mengaku orang Padepokan Bajra Seta itu sangat membahayakan k edudukan kita atau tidak ?" bertanya orang yang kekurus-kurusan. "Semuanya sudah aku ceriterakan" sahut orang bertubuh kekar "mereka menganggap bahwa apa yang  kita lakukan tidak lebih dari perampokan." "Kau sudah mulai dengan langkah yang  salah" berkata orang yang  kekurus-kurusan itu "kau merampok dengan mengatas-namakan diri orang Kediri. " "Aku tidak merampok. Aku mengambil uang dari orangorang kaya itu untuk aku kumpulkan sebagaimana sudah pernah dilakukan oleh orang-orang yang berjuang lebih dahulu dari kita. Sudah berapa kali hal seperti itu kita lakukan. Hasilnya cukup baik. Kita mendapat banyak dana bagi perjuangan kita. " "Itulah yang aku sebut sebagai satu kebodohan." berkata orang yang  kekurus-kurusan itu "berapa kali cara itu dilakukan. Tetapi cara itu tidak pernah menghasilkan dukungan yang  sebenarnya bagi perjuangan kita. " "Jadi, bagaimana yang  tidak bodoh menurut pendapatmu ?" bertanya orang yang  bertubuh sedang. "Yang kalian lakukan justru menimbulkan kebencian pada perjuangan yang  sedang kalian lakukan. Jika mereka menuduh kita tempuh selama ini memang tidak ubahnya dengan cara yang dilakukan oleh kelompok-kelompok b erandal, perampok atau peny amun." Orang yang  bertubuh kekar itupun mengerutkan dahinya. Sementara orang yang kekurus-kurusan itu berkata selanjutnya "Kalian seharusny a tidak mengancam atau menakut-nakuti orang dengan mengatas-namakan perjuangan yang sebenarnya kita lakukan. Tetapi kalian dapat mengatakan apa saja. Bahkan menyebut dirinya perampok sekalipun. Sebaliknya jika kita ju stru memberi, setidak -tidaknya memberikan harapan kepada orang banyak bahwa masa depan adalah satu masa yang  lebih baik dari masa yang  sedang mereka jalani sekarang. Tetapi jika kalian datang dengan mengancam, menakut-nakuti dan merampok, maka orang banyak itu akan m embenci kalian dan m embenci perjuangan kita semuanya. " Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian orang bertubuh kekar itu berkata "Kenapa baru sekarang kau berkata begitu, justru saat kita menghadapi Padepokan Bajra Seta yang kita nilai sebagai sebuah padepokan yang besar dan kuat ?" "Jadi kau m enuduh bahwa pendapatku timbul karena aku takut menghadapi kekuatan yang ada di Padepokan Bajra Seta?” Orang bertubuh kekar itu tidak menjawab. Ia memang tidak ingin membuat orang yang  bertubuh kekurus-kurusan itu marah, karena ia memang seorang yang berilmu tinggi. "Jika kau mengira demikian, maka kau salah" berkata orang yang  bertubuh kekurus-kurusan itu "sudah aku katakan, jika kalian berniat untuk mengambil dua orang yang  mengaku dari Padepokan Bajra Seta ini, aku akan mengambilnya tanpa perasaan takut sama sekali. Tetapi menurut pendapatku, caracara yang kau tempuh selama ini adalah salah." "Jadi sebaiknya apakah yang harus kita lakukan ?" bertanya orang yang  bertubuh sedang. "Kita harus berbuat sebalikny a. Padepokan yang besar seperti Padepokan Bajra Seta ini harus kita dekati. Jika mungkin kita m engajak m ereka untuk membantu perjuangan kita. Kita yakinkan mereka, bahwa peluangan yang kami lakukan akan sangat berarti bagi rakyat banyak. Terutama Kediri." "Tetapi Padepokan Bajra Seta tidak terletak ditlatah Kediri" berkata orang yang bertubuh kekar. "Kita dapat memberikan harapan atas Padepokan ini. Kelak jika Kediri bangkit, maka Padepokan ini akan mendapat kedudukan khusus m eskipun daerah Singasari yang  lain akan mengalami bentuk yang  berbeda dari kedudukannya sekarang." Orang-orang yang  mendengarkan keterangan itu mengangguk-angguk. Karena itu, orang yang  bertubuh sedang, yang memimpin seluruh kelompok itu kemudian berkata "Baiklah. Kita akan mencoba. Tetapi apa yang  mula-mula harus kita lakukan ?" "Kita memasuki Padepokan ini. Kita sengaja datang untuk membiarkan persoalan yang pernah terjadi. T etapi kita tidak akan menuntut sama sekali. Kita justru akan minta maaf karena sikap dan tingkah laku kita. Terutama kesan perampokan yang terjadi." Orang yang  bertubuh kekar itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, orang yang kekurus-kurusan itu berkata "Kaulah orangnya yang harus minta maaf atas kelakuanmu bersama sekelompok orang pada waktu itu. Kemudian persoalan ini akan diambil alih. Kita semuanya yang  akan minta maaf dan kemudian m emberikan penjelasan, harapan dan janji.” Orang bertubuh kekar itu termangu-mangu. Namun orang bertubuh sedang yang  memimpin sekelompok orang-orang berkuda itu bertanya "Apa kau berkeberatan ?" Orang bertubuh kekar itu berkata "Aku tidak mempunyai pilihan lain. " "Tentu kau mempunyai pilihan lain " berkata pemimpin sekelompok orang berkuda itu "jika kau tidak mau minta maaf, maka kita akan melakukan rencana kita semula. Kita akan mengambil kedua orang dari Padepokan Bajra Seta itu. Tetapi sudah tentu kita tidak tahu apakah kita akan berhasil atau tidak. Apakah kita m asing-masing masih akan dapat keluar. Mungkin aku dan beberapa orang akan dapat melepaskan diri jika kita terjepit. Tetapi orang-orang yang  hanya besar mulutnya tidak akan dapat berbuat banyak. Mereka akan dibantai oleh para cantrik di Padepokan Bajra Seta." Orang bertubuh kekar itu termangu-mangu. Ia sadar, bahwa ia bukan termasuk seorang yang  berilmu tinggi. Karena itu, maka katanya "Aku akan minta maaf kepaa orang-orang Bajra Seta." "Bagus" berkata orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu "jika demikian, m arilah. Kita m endekati gerbang Padepokan Bajra Seta." Demikianlah, maka sekelompok orang-orang berkuda itupun langsung menuju kepintu gerbang Padepokan Bajra Seta. Dua orang yang bertugas dipanggung disebelah pintu gerbang itu segera memberi isyarat kepada para cantrik yang ada disebelah pintu gerbang itu. Dengan cepat, cantrik yang  bertugas disebelah pintu gerbang itupun telah m enyampaikan pesan itu kepada para cantrik yang  bertugas digardu disebelah bangunan induk Padepokan Bajra Seta. Beberapa orang cantrikpun dengan cepat telah berlari kepintu gerbang. Sebagian dari m ereka telah m emanjat naik keatas panggung, sedangkan yang lain bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dalam pada itu, Mahisa Murti, mPu Sidikara. dan Mahendrapun terkejut mendengar laporan tentang sekelompok orang-orang berkuda yang  datang itu. Karena itu, maka merekapun segera pergi ke pintu gerbang dan naik kepanggung. Orang-orang berkuda itu berhenti diluar pintu gerbang. Orang yang  bertubuh sedang itupun telah mengangkat tangannya agar para cantrik itu mengetahui bahwa kedatangan mereka tidak berniat buruk dan bermusuhan. Mahisa Murti yang sudah berada diatas panggung disebelah pintu gerbang itupun segera bertanya "Siapakah kalian ?" Orang yang bertubuh sedang itupun menjawab "Kami ingin berbicara dengan orang Padepokan Bajra Seta yang pernah bertemu dengan sekelompok kawan kami, namun agaknya telah terjadi salah paham." Mahendra dan mPu Sidikara berpandangan sejenak. Dengan nada berat mPu Sidikara berbisik "Orang yang berkuda dibelakang orang yang  berbicara itulah yang kita temui sedang merampok uang itu." "Ya " Mahendra mengangguk-angguk "mungkin orang itu menjadi dendam." "Baiklah. Biarlah aku yang  menerimanya" berkata mPu Sidikara yang kemudian melangkah maju melekat bibir pagar dipanggungan itu. Lalu katanya kepada orang-orang berkuda itu "Aku mengerti siapakah yang kalian maksud. Apakah kalian berniat mempersoalkannya lagi ?" "Tidak Ki Sanak. Tetapi kami ingin bertemu dan berbicara." berkata pemimpin sekelompok orang-orang berkuda itu. mPu Sidikarapun kemudistn berpaling kepada Mahisa Murti. Ia adalah pemimpin Padepokan itu. Karena itu, maka ia harus m endapat keputusan dari Mahisa Murti, apakah orangorang itu diperkenankan masuk atau tidak. Jika tidak, maka ia akan menerima orang-orang itu diluar padepokan. Namun Mahisa Murti yang  tanggap itupun berkata "Biarlah mereka masuk mPu. Kita akan berbicara dengan mereka. Namun sementara itu, m aka para cantrik dari Padepokan Bajra Seta telah bersiap. Meskipun mereka masih ter sebar, namun jika terjadi sesuatu, maka m ereka akan dengan cepat bergerak. Ketika Mahisa Murti melihat Sambega ada diantara para cantrik dan berdiri didekat Wantilan, maka iapun segera teringat saat-saat saudara seperguruan Sambega yang sedang memburunya, sehingga ia harus ikut campur pula. Dengan isyarat, maka Mahisa Murti m emerintahkan para cantrik yang ada di gerbang untuk membuka pintunya. Demikian pintu terbuka, maka Mahisa Murti yang masih ada dipanggungan itupun berkata "Silahkan masuk Ki Sanak. Kita akan dapat berbicara lebih baik." Sekelompok orang-orang berkuda itupun kemudian telah memasuki pintu gerbang meskipun agak ragu. Demikian orang terakhir melewati pintu, maka pintu gerbang itupun telah ditutup kembali. Orang-orang berkuda itu termangu-mangu sejenak. Ketika mereka melihat isi Padepokan Bajra Seta, maka jantung merekapun menjadi semakin berdebar-debar. Di halaman itu para cantrik dalam kelompok-kelompok kecil ter sebar dibeberapa tempat. Namun nampak betapa mereka bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu, Mahisa Murti, mPu Sidikara dan Mahendrapun telah turun pula dari atas panggung. Suasanapun menjadi tegang. Orang-orang berkuda itu tidak dapat mengkesampingkan kenyataan yang mereka hadapi, bahwa Padepokan Bajra Seta memang sebuah padepokan yang besar dan kuat. Seandainya mereka ingin memaksakan kehendak mereka untuk mengambil orang-orang yang  mereka maksud, m ereka tentu akan menghadapi k esulitan. Meskipun ada diantara orang-orang berkuda itu orang-orang yang berilmu tinggi. Namun menghadapi keny ataan yang  ada di Padepokan Seta, maka mereka harus berpikir ulang. Orang yang  bertubuh sedang dan beberapa orang yang  berilmu tinggi diantara orang-orang berkuda itupun telah menyerahkan kuda mereka kepada kawan-kawannya yang lain, sementara mereka melangkah beberapa langkah maju. Mahisa Murti, Mahendra dan mPu Sidikarapun telah melangkah mendekati mereka pula. Dengan nada rendah mPu Sidikara bertanya kepada orang yang bertubuh kekar "Kau cari kami berdua ? Apakah kau masih merasa mempunyai persoalan dengan kami ? Bukankah kami sama sekali tidak merampas uang hasil rampokanmu itu ?" Orang bertubuh kekar itu mengerutkan dahinya. Jantungnya serasa berdetak semakin cepat. Namun yang menjawab adalah orang yang  kekurus-kurusan itu "Tidak Ki Sanak. Seandainya kami m asih mempunyai persoalan, sama sekali tidak ingin membuat kesalah-pahaman baru. Ju stru kami datang untuk menjernihkan kesalah pahaman itu.” "Apakah kalian bermaksud baik atau ingin menantang kami ?" bertanya mPu Sidikara. Orang bertubuh kekurus-kurusan itu menarik nafas dalamdalam. Ia semakin menyadari, bahwa sulit untuk memaksakan kehendak mereka terhadap orang-orang padepokan itu. Untunglah bahwa mereka sudah memakai cara yang  lain untuk melakukan pendekatan dengan seisi padepokan itu. Dengan nada rendah orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu berdesis "Kami bermaksud baik Ki Sanak. Justru kami ingin mohon maaf atas kesalahan yang pernah kami buat." mPu Sidikara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Mahisa Murtilah yang mempersilahkan "Jika demikian, marilah. Kita duduk dipendapa. Kita dapat b erbicara dengan cara yang lebih baik." Orang-orang itu tidak menolak. Beberapa orang diantara mereka mengikuti Mahisa Murti, Mahendra dan mPu Sidikara naik kependapa untuk dapat berbicara dengan lebih baik. Sementara itu beberapa orang yang lain, masih tetap berdiri di halaman sambil memegangi kuda-kuda mereka, termasuk mereka yang  naik ke pendapa. Demikian orang-orang itu naik kependapa sementara yang lain masih berdiri di halaman, maka terjadi pula pergeser kelompok-kelompok cantrik yang ada di halaman. Wantilan dan Sambega bergeser kedekat pendapa, sementara kelompok yang lain berdiri semakin dekat dengan pintu regol yang tertutup. Beberapa orang cantrik masih tetap berada dipanggungan! Sedangkan yang lain lagi berdiri disudut bangunan induk Padepokan Bajra Seta. Mahisa Semupun kemudian telah melangkah mendekati orang-orang berkuda yang  masih berada di halaman bersama dengan tiga orang cantrik. Dengan ramah Mahisa Semu bertanya kepada mereka "Ki Sanak, kenapa Ki Sanak tidak ikut naik kependapa ? Bukankah Ki Sanak dapat ikut berbincang, atau setidak-tidaknya dapat duduk ditempat yang  lebih hangat.” Orang-orang itu memang merasa agak canggung mendapat pertanyaan demikian. Sebenarnyalah m ereka sedang berjagajaga menghadapi segala kemungkinan. Jika pembicaraan diantara mereka yang duduk dipendapa itu tidak menemukan titik temu atau bahkan bersiap untuk segera bertindak. Namun bagaimanapun juga mereka tidak dapat menutup mata, betapa para cantrik padepokan itu bersikap. Karena itu, maka seorang diantara mereka menjawab "Terima kasih Ki Sanak. Biar kami disini saja menjaga kuda-kuda kami”. "Ku da-kuda itu dapat diikat dipatok-patok yang  sudah kami sediakan dipinggir halaman itu Ki Sanak" berkata Mahisa Semu. "Terima kasih. Biarlah kami disini " jawab orang itu. Namun Mahisa Semu masih berkata selanjutnya "Tempat ini adalah tempat tertutup Ki Sanak. Tidak akan ada kemungkinan bahwa kuda-kuda itu akan melarikan diri apalagi hilang diambil orang." "Tentu. Tentu. Kami tahu itu Ki Sanak" jawab orang itu. "Atau kalian sudah terbiasa terlalu berhati-hati menghadapi perkembangan persoalan ?" bertanya Mahisa Semu pula. Wajah orang itu m enegang sejenak. Anak itu masih terlalu muda. Namun sikapnya nampak meyakinkan. Karena itu, maka orang-orang itu harus menahan diri. Seorang yang lain justru telah menyahut "Ki Sanak. Kami tidak akan t erlalu lama berada disini. Karena itu biarlah kami menunggu disini saja.” Mahisa Semu mengangguk-angguk kecil. Katanya "Jika itu yang Ki Sanak kehendaki, silahkan." Orang-orang itu tidak menjawab, sementara Mahisa Semu melangkah meninggalkan orang itu. Tetapi tidak terlalu jauh. Dipendapa, orang yang kekurus-kurusan itu sebagaimana yang m ereka sepakati sebelum m ereka memasuki Padepokan itu, telah menyatakan peny esalannya atas perbuatan orang yang bertubuh kekar itu. Karena itu, muka iapun kemudian berkata kepada orang yang bertubuh kekar itu "Kau harus minta maaf” Orang yang bertubuh kekar itu m emang tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka betapapun beratnya, tetapi iapun kemudian memandangi mPu Sidikara dan Mahendra berganti-ganti "Kami mencari kalian untuk minta maaf” "Kaulah yang  mula-mula harus minta maaf" berkata pemimpin kelompok itu "kau sudah melakukan perbuatan yang  tercela sehingga menimbulkan kesalahpahaman dengan orang-orang Padepokan Bajra Seta." Orang bertubuh kekar itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata "Aku mohon maaf. Waktu itu kami, maksudku aku dan orang-orang yang bersamaku waktu itu, bukan kami yang  datang sekarang ini, telah m elakukan satu perbuatan yang  justru m erugikan nama baik kam i sendiri." mPu Sidikara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya "Kenapa kau m erasa bahwa tindakanmu itu telah merugikan nama baikmu sendiri ?" Orang bertubuh kekar itupun kemudian berpaling kepada orang yang  kekurus-kurusan itu sambil berkata "Aku telah mendapat tegoran dari para pemimpinku." "Ki Sanak" berkata orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu "Orang ini telah melakukan pemerasan dan bahkan perampokan dengan mengatas namakan perjuangan yang sedang kami lakukan. Mungkin maksudnya baik. Ia ingin dengan cepat dapat mengumpulkan bekal yang m endukung perjuangan kami. Tetapi caranya justru sangat tercela. Dengan demikian orang-orang terutama yang  langsung menjadi korban, tidak akan mendukung perjuangan kami .” "Apakah sebenarnya yang kalian perjuangkan ?" bertanya Mahendra. "Kami adalah sekelompok orang yang  menyadari, betapa pincangnya pemerintahan Singasari sekarang ini. Terutama dalam hubungannya dengan Kediri. Karena itu, m aka kami ingin mengembalikan keadaan seperti sebelum Tumapel merampas kekuasaan Kediri dan kemudian mendirikan Singasari." jawab orang yang kekurus-kurusan itu. "Jadi itukah yang kalian sebut sebagai satu perjuangan ?" bertanya mPu Sidikara. "Sebenarnya kami tidak sekedar berjuang untuk mengembalikan keadaan sebagaimana sebelum Singasari berdiri. Tetapi kami juga ingin mengembalikan hak yang pernah dirampas oleh S ingasari. Terutama hak yang luas dari padepokan-padepokan yang  ada di Kediri. Seperti halnya Padepokan Bajra Seta yang  besar ini, pada masa kejayaan Kediri, padepokan seperti ini akan mendapat dukungan sepenuhnya dari istana. Bahkan padepokan Bajra Seta tentu akan mendapat bantuan yang  besar sehingga padepokan ini akan berkembang dengan pesatnya. Nah, Ki Sanak. Jika kekuasaan Kediri pulih kembali, maka aku berani m enjamin bahwa Padepokan Bajra Seta akan dapat menjadi padepokan yang jauh lebih besar dari sekarang serta memiliki berbagai macam perlengkapan yang  lebih memadai." berkata pemimpin kelompok itu. Tetapi orang itu terkejut ketika Mahendra bertanya "Ki Sanak. Siapakah kau sebenarnya ? Apakah kedudukanmu sehingga kau berani memberikan janji seperti itu ?" ' Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab "Aku adalah salah seorang Senopati dari pasukan Kediri yang  sedang mempersiapkan pengambil alihan kekuasaan itu ?" "Siapakah yang telah mengangkatmu ? Sri Baginda di Kediri atau siapa ?" desak Mahendra. Namun orang itu masih menjawab "Tidak. Tentu tidak. Tetapi Ki Sanak tidak perlu mengetahui, siapakah yang  telah mengangkat aku menjadi Senapati. Namun yang  jela s, aku mempunyai kekuasaan yang  cukup besar sebagaimana seorang Senapati perang yang  menguasai satu wilayah tertentu yang luas." "Dan wilayah kuasamu sampai ke lingkungan ini yang  justru berada di luar wilayah Kediri ?" bertanya Mahendra pula. "Kua saku meliputi daerah yang  luas sekali. Mungkin orang menganggap bahwa daerah kuasaku berada diluar daerah Kediri. Tetapi tentu Kediri sekarang yang  kau maksud." "Sudahlah Ki Sanak" berkata Mahendra "lupakanlah itu. Sebaiknya kita tidak terlalu banyak berharap. Kami sudah puas dengan keadaan kami sekarang. Padepokan kami sudah bergerak maju dengan pesat menurut penilaian kami. Karena itu, biarlah kami berjalan sebagaimana sekarang." "Ki Sanak" berkata orang yang kekurus-kurusan itu "mungkin para pemimpin padepokan ini sekarang berpijak pada sikap sebagaimana kau katakan. Tetapi kenyataan akan berubah di daerah ini. Kalian harus mempunyai pandangan yang jauh kedepan. Langkah yang cepat yang  diambil oleh para pemimpin di Kediri harus kalian perhitungkan. " "Terima kasih atas perhatian kalian terhadap Padepokan Bajra Seta ini. Tetapi kami mohon maaf, bahwa kami tidak dapat berbuat apa-apa." desis Mahendra. Orang yang kekurus-kurusan itu menarik nafas dalamdalam. Katanya "Pikirkan untuk bekerja bersama kami Ki Sanak. Kami tidak akan minta sesuatu dari kalian. Tetapi kami ingin meyakinkan kalian bahwa masa depan kalian akan menjadi semakin cerah." mPu Sidikaralah yang kemudian berkata "Ki Sanak. Kami sudah puas dengan keadaan kami sekarang. Bukan berarti kami menolak kerja sama dengan siapapun juga. Tetapi tidak untuk tujuan sebagaimana kalian katakan. " Pemimpin kelompok itu mengerutkan dahinya. Namun orang yang  bertubuh kekurus-kurusan itu masih berkata dengan nada rendah "Ki Sanak. Kami hanya menawarkan kemungkinan-kemungkinan. Semuanya terserah kepada Ki Sanak. Mungkin saat ini kalian masih belum sempat memikirkan kesempatan yang terbuka dimasa -masa yang  akan datang bagi padepokan kalian. Namun kami tidak menutup kemungkinan bahwa pada suatu saat Ki Sanak akan menyediakan diri bekerja bersama kami. Tentu saja dengan sy arat-syarat yang  kita bicarakan bersama. Mungkin kalian mempunyai sy arat -syarat tertentu untuk dapat menerima uluran tangan kami." Mahendra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Ki Sanak. Aku minta Ki Sanak melupakan kami. Anggap saja bahwa kami tidak pernah kalian kenal, karena kami tidak akan pernah dapat bekerja bersama siapapun dengan tujuan sebagaimana yang  Ki Sanak katakan. " "Baiklah" berkata,orang yang  kekurus-kurusan itu "kami tidak akan memaksakan kehendak kami. Kamipun menyadari bahwa hal itu sekarang tidak dapat kami lakukan. Tetapi sekali lagi aku katakan, bahwa kami akan selalu membuka kesempatan kepada Padepokan Bajra Seta untuk bekerja bersama kami. Karena aku y akin, bahwa kalianpun akan melihat bahwa masa depan tanah ini adalah milik Kediri." "Terima kasih atas kesempatan yang  terbuka itu Ki Sanak." jawab Mahendra "tetapi sekali lagi kami beritahukan, bahwa kami bukanlah sekelompok orang yang  kalian maksudkan. " Orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu menganggukangguk. Sambil berpaling kepada pemimpin kelompok itu ia berkata "Marilah. Kita tidak dapat m emaksa seseorang untuk mempunyai dasar pertimbangan yang  sama untuk menanggapi satu persoalan. Karena itu, maka kita harus menghormati sikap yang  berbeda ini. Meskipun kita selalu berharap bahwa pada suatu saat, akan terjadi pendekatan diantara kita dan Padepokan Bajra Seta." Pemimpin kelompok itupun mengangguk-angguk pula. Dengan nada rendah ia menjawab "Ba iklah. Kita tinggalkan tempat ini. Tetapi kita sudah minta m aaf atas langkah kami yang salah sehingga menimbulkan salah paham dengan Padepokan Bajra Seta." Orang-orang yang datang ke Padepokan Bajra Seta itu memang tidak mempunyai pilihan lain. Mereka memang harus mengakui kenyataan yang mereka jumpai di Padepokan Bajra Seta. Ternyata padepokan itu terlalu kuat untuk dipaksa menuruti kehendak mereka. Mereka juga tidak akan dapat memaksa mengambil orang Padepokan Bajra Seta yang pernah berselisih dengan orang bertubuh kekar itu. Karena itu, maka beberapa saat kemudian, maka orangorang yang  datang ke Padepokan Bajra Seta itu telah m inta Mahendra, mPu Sidikara dan Mahisa Murti mengantar mereka sampai ke regol halaman padepokan. Kawan-kawan mereka yang menunggu dihalaman telah minta diri pula. Juga kepada Mahisa Semu yang mendekati m ereka ketika m ereka akan meninggalkan padepokan. Diregol, para cantrik yang bertugas, bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Sementara para cantrik yang diatas panggung disebelah-menyebelah gerbang tidak melihat kelompok-kelompok lain diluar padepokan. Demikian pula cantrik yang bertugas di sudut-sudut belakang padepokan tidak memberikan isy arat apa-apa sehingga tidak menimbulkan kecurigaan, bahwa kelompok orang berkuda itu datang ber sama kelompok-kelompok yang  lain. Sebenarnyalah bahwa kelompok itu memang tidak datang bersama kelompok yang  lain. Ketika kemudian pintu dibuka, maka sekelompok orang berkuda itupun segera keluar lewat pintu gerbang. Diluar pintu orang-orang itu berhenti sejenak. Beberapa orang sempat melambaikan tangannya kepada penghuni padepokan itu. Kemudian, sekelompok orang itupun segera melarikan kuda mereka memasuki gelapnya malam. Sinar-sinar onc or di pintu gerbangpun kemudian tidak mampu lagi menggapai orang terakhir dari orang-orang berkuda itu. Dalam pada itu, pintu gerbang Padepokan Bajra Seta itupun segera ditutup. Sejenak kemudian, maka Mahendra, mPu Sidikara dan Mahisa Murti telah duduk pula diserambi. Ternyata kehadiran orang-orang berkuda itu sangat menarik untuk diperbincangkan. "Apakah niat mereka sebenarnya datang ke padepokan ini" desis Mahendra "tentu tidak sekedar minta maaf." "Memang sulit untuk ditebak" sahut mPu Sidikara "tetapi mungkin mereka menyadari, bahwa apa yang mereka lakukan dapat menimbulkan akibat buruk bagi kelompok itu sendiri, sebagaimana mereka katakan. Orang-orang yang menjadi korban tidak akan mendukung mereka dengan sepenuh hati. Pa dahal m ereka m emerlukan dukungan bukan hanya sekedar memberikan uang sebagaimana yang diminta. " "Agaknya m ereka ingin memancing kesediaan kita untuk membantu mereka " berkata Mahisa Murti "mereka bukan saja memerlukan uang dan benda-benda berharga atau bahan makanan dan sebagainya, bahkan tenaga manusia sebagaimana pernah terjadi atas Kabuyutan Bumiagara." Mahendra m engangguk-angguk, sementara Mahisa Murti berkata "Nampaknya orang-orang yang  pernah mengalami kegagalan itu tidak jemu-jemunya mencoba dan mencoba lagi." "Usaha mereka agaknya memang tidak akan pernah patah " desis mPu Sidikara. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Satu hal yang perlu mendapat perhatian dari Sri Maharaja. Bahkan secara khusus. Meskipun nampaknya hubungan antara Singasari dan Kediri berlangsung dengan baik, namun usahausaha sebagaimana dilakukan oleh beberapa orang bangsawan, masih saja berlangsung. Berganti-ganti orang yang m emimpin perlawanan terhadap kemapanan hubungan antara Singasari dan Kediri. Sampai saat-saat terakhir usaha itu memang selalu dapat digagalkan. Tetapi bukan berarti dapat diabaikan.” Peri stiwa malam itu ternyata telah mendorong Mahisa Murti untuk minta agar ay ahnya dan mPu Sidikara untuk menunda keberangkatannya. "Kenapa ?" bertanya Mahendra. "Tidak apa-apa ay ah. Hanya sekedar untuk menenangkan perasaan. Jika ayah dan mPu Sidikara berangkat juga besok, maka aku akan m erasa gelisah sampai aku sempat pergi ke Singasari untuk mey akinkan bahwa tidak terjadi sesuatu pada ay ah dan mPu diperjalanan ke Singasari." mPu Sidikara menarik nafas dalam-dalam sambil berkata "Baiklah Ki Mahendra. Kita tentu tidak ingin membuat angger Mahisa Murti selalu gelisah. Biarlah keberangkatan kita ditunda satu hari lagi." "Itupun aku mohon agar tiga orang cantrik diperkenankan mengikuti perjalanan ay ah dan imjPu berdua ke Singasari. Mereka tidak akan mengawal ayah dan mPu. Tetapi sekedar memberikan ketenteraman dihatiku. Jika mereka kembali dua tiga hari lagi, maka mereka akan dapat mengatakan bahwa perjalanan ayah dan mPu selamat sampai di Singasari.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Terbersit perasaan bangga dihatinya atas kedua anaknya. Seperti juga Mahisa Pukat, maka Mahisa Murtipun mencemaskannya karena ia sudah menjadi semakin tua. Namun kesadaran akan kecemasan anak-anaknya itulah yang membuatnya kemudian berkata "Baiklah. Aku akan menunda perjalananku kembali ke Singasari. Aku juga tidak berkeberatan jika kau mengirimkan tiga orang cantrik untuk pergi bersama kami ke Singasari." Mahisa Murti m enarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga sebenarnya ia m erasa cemas, bahwa ayahnya dan mPu Sidikara akan bertemu atau sengaja dicegat oleh orang-orang yang baru saja meninggalkan Padepokan Bajra Seta. Meskipun mungkin mereka tidak tahu bahwa kedua orang yang pernah mereka temui diperjalanan itu akan menempuh perjalanan kembali ke Singasari. Demikianlah, maka perjalanan Mahendra dan mPu Sidikara telah tertunda. Sementara itu, Mahisa Murti telah menunjuk tiga orang kepercayaannya untuk pergi bersama ay ahnya dan mPu Sidikara kembali ke Singasari. Seorang diantara mereka adalah Wantilan. Sedang dua orang yang  lain adalah dua orang cantrik terbaik di padepokan itu. Tetapi orang-orang yang datang ke Padepokan Bajra Seta sama sekali tidak berniat mencegatnya. Mereka memang tidak tahu bahwa dua orang yang pernah berselisih paham dengan orang yang  bertubuh kekar itu akan kembali ke Singasari. Apalagi orang-orang itu masih belum berputus-a sa. Mereka masih akan mencoba untuk mendekat orang-orang padepokan itu. Sedikit demi sedikit tanpa menyakiti hati para pemimpinnya. Tetapi ternyata bahwa cara itu tidak saja ditrapkan pada orang-orang Padepokan Bajra Seta. Orang yang kekuruskurusan dan berilmu tinggi itu ternyata memiliki pikiran yang lebih jernih dari para pemimpin kelompok orang-orang berkuda itu. Jika mereka terbia sa melakukan kekerasan, maka orang yang  bertubuh kekurus-kurusan itu telah mendesak mereka untuk melakukan cara yang lain. Dengan cermat orang itu mempelajari kegagalan-kegagalan yang pernah terjadi dimasa -masa sebelumnya. Kekerasan ternyata tidak banyak membawa hasil. Bahkan memancing kebencian dan jarak yang semakin jauh dengan orang-orang atau kelompok atau bahkan rakyat se Kabuyutan yang pernah menjadi korban. Mungkin cara itu akan dapat memberikan hasil yang  lebih baik. Karena itu, maka yang dilakukan oleh orang-orang yang  mendukung usaha untuk merubah tatanan hubungan antara Smgasan Kediri itu tidak lagi mempergunakan cara yang keras dan kasar. Mereka mencoba membujuk, memberikan janjijanji dan harapan bagi banyak orang. Dalam pada itu, Mahendra dan mPu Sidikara telah memperpanjang waktunya satu hari satu malam di Padepokan Bajra Seta. Baru dihari berikutnya, pagi-pagi benar Mahendra dan mPu Sidikara telah bersiap. Demikian pula tiga orang yang akan meny ertainya pergi ke Singasari. Menj elang fajar, maka lima orang berkuda telah siap untuk berangkat. Mahisa Murti m elepaskan mereka dipintu gerbang Padepokan Bajra Seta. Dengan hati yang  berdebar-debar Mahisa Murti melihat ayahnya yang sudah menjadi semakin tua duduk dipunggung kudanya. Wajahnya, tubuhnya dan bahkan ketangkasannya sudah tidak lagi sebagaimana ayahnya beberapa tahun yang lalu. Meskipun sorot matanya serta wajahnya yang  masih menunjukkan ketegaran jiwanya, namun wadagnya sudah semakin tidak mendukungnya lagi. Tetapi Mahisa Murti tidak dapat mencegah ayahnya. Ia masih harus tetap memberikan key akinan kepada ayahnya, bahwa hari-harinya masih tetap berarti. Bahwa ayahnya bukan seorang yang harus diletakkan dipintu sentong tengah sebagai hiasan saja. Sebenarnyalah Mahendra sendiri merasa, bahwa belum waktunya baginya untuk menghabiskan sisa umurnya dengan duduk bertopang dagu dipringgitan. Demikianlah, maka sejenak kemudian Mahendra, mPu Sidikara dan ketiga orang yang  meny ertainya itu sudah berpacu menembus bulak-bulak persawahan. Mereka memacu kudanya semakin cepat. Perjalanan yang  mereka tempuh adalah perjalanan yang  panjang. Ternyata apa yang dicemaskan oleh Mahisa Murti tidak terjadi. Tidak ada gangguan sama sekali diperjalanan. Juga saat mereka berhenti di kedai untuk beristirahat dan sekedar minum dan makan. Dengan demikian, maka perjalanan yang  mereka tempuh lebih cepat dari perjalanan m ereka saat mereka menuju ke Padepokan Bajra Seta, karena mereka t erhenti beberapa saat diperjalanan untuk meny elesaikan per soalan yang  disebut oleh orang-orang Kediri sebagai satu kesalah-pahaman. Demikian Mahisa Pukat mendengar bahwa ayahnya datang, maka iapun segera minta ijin kepada Pangeran Kuda Pratama untuk menemuinya. "Darimana kau m engetahui bahwa ay ahmu t elah datang?" bertanya Pangeran Kuda Pratama. "Seorang Pelayan Dalam yang baru kembali telah melihat ay ah dan mPu Sidikara pulang dari Padepokan Bajra Seta.” jawab Mahisa Pukat. "Bukankah ayahmu tidak akan pergi lagi ke m ana-mana?" bertanya Pangeran Kuda Pratama. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Pangeran, ay ah sudah terlalu tua untuk menempuh perjalanan panjang. Tetapi aku tidak dapat mencegahnya ketika ay ah berangkat. Karena itu, demikian ay ah pulang, rasa-rasanya ingin segera mengetahui berita keselamatannya. " Pangeran Kuda Pratama ter senyum. Katanya "Baiklah. Pergilah. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu atas ay ahmu dan mPu Sidikara di perjalanan." Demikianlah maka Mahisa Pukatpun segera pulang kerumah ayahnya. Meskipun rumah ayahnya juga berada di halaman istana, tetapi agak jauh menjorok kebelakang, sementara Ka satrian berada di arah samping istana Singasari. Ketika Mahisa Pukat naik ketangga rumahnya, maka malampun telah turun. Dipringgitan Mahisa Pukat melihat Wantilan dan dua orang cantrik padepokannya duduk bersama mPu Sidikara. Tubuh mereka masih basah oleh keringat. Sementara itu Mahendra sendiri masih berada di dalam. Mahisa Pukat berada di rumah ay ahnya sampai jauh malam. Banyak yang  diceritakan oleh Mahendra dan mPu Sidikara, sementara pembantu dirumah Mahendra itu telah menghidangkan minuman dan makanan bahkan makan malam. Dalam kesempatan itu pula Mahendra telah mengatakan bahwa Mahisa Murti akan datang sepekan sebelum dan sesudah hari pernikahan Mahisa Pukat berlangsung. "Kenapa hanya sepuluh hari?" bertanya Mahisa Pukat. "Sulit bagi Mahisa Murti untuk m eninggalkan padepokan terlalu lama." jawab Mahendra "iapun sudah berjanji bahwa Mahisa Semu dan Mahisa Amping akan ikut serta bersamanya. Kecuali Wantilan. Ia harus tinggal untuk menunggui padepokan." Mahisa Pukat memandang Wantilan yang  menganggukangguk. Katanya "Paman dapat datang setelah Mahisa Murti kembali ke padepokan. " Wantilan tersenyum. Katanya "Sebenarnya aku juga ingin menunggui pernikahanmu. Tetapi padepokan kita tidak akan dapat ditinggalkan begitu saja. Meskipun ada orang lain yang dapat berbuat lebih baik dari padaku, namun rasa -rasanya aku ingin juga ikut menungguinya. Nah, setelah Mahisa Murti kembali ke padepokan, aku akan mempertimbangkannya." Demikianlah, maka baru lewat tengah malam Mahisa Pukat minta diri. Ia tahu bahwa ay ahnya dan mereka yang  baru datang dari padepokan itu perlu beristirahat. Ketika Mahisa Pukat kembali ke Kasatrian, ternyata bahwa mPu Sidikara telah kembali pula ke Ka satrian bersamanya. Dalam pada itu sejak kedatangannya dari Padepokan Bajra Seta, Mahendra telah bersiap-siap untuk m elakukan upacara pernikahan anaknya sebagaimana telah disetujui bersama dengan Arya Kuda Cemani. Seperti yang dijanjikan, maka mPu Sidikarapun telah ikut membantu sejauh dapat dilakukan disamping tugas-tugasnya di Kasatrian. Ternyata bukan saja mPu Sidikara, tetapi beberapa orang yang bersama-sama tinggal di lingkungan istana telah ikut membantunya pula. Bahkan Pangeran Kuda Pratamapun telah menaruh perhatian yang besar terhadap rencana pernikahan Mahisa Pukat. Dari hari ke hari kesibukanpun nampak semakin meningkat. Apalagi dirumah Arya Kuda Cemani. Persiapanpersiapan telah dilakukan sebaik-baiknya. Pernikahan yang telah mendapat restu dari Sri Maharaja itu tentu akan banyak mendapat perhatian dari para pemimpin di Singasari. Apalagi kedua orang tua dari mereka yang  akan menikah adalah orang-orang yang  banyak dikenal dilingkungan istana Singasari. Di Padepokan Bajra Seta, Mahisa Murtipun telah mempersiapkan diriny a untuk menghadiri pernikahan Mahisa Pukat dengan Sasi. Bukan hanya persiapan keberangkatannya sa ja. Tetapi juga per siapan jiwani agar jantungnya tidak terguncang karenanya. Wantilan yang telah berada kembali di Padepokan Biijra Seta bersama dua orang cantrik telah menceriterakan, persiapan-persiapan yang telah dilakukan oleh Mahendra dan Arya Kuda Cemani menjelang pernikahan Mahisa Pukat dengan Sasi. "Kau diharap datang sebelum sepekan" berkata Wantilan. Tetapi Mahisa Murti m enggeleng sambil menjawab "Aku tidak dapat meninggalkan padepokan ini terlalu lama. Jika orang-orang yang  m engaku orang Kediri itu berbuat sesuatu yang bertentangan dengan sikapnya yang  manis itu, maka padepokan ini tentu akan menjadi sangat sibuk. " Wantilan mengangguk-angguk. Katanya "Aku mengerti.” "Sepuluh hari bagiku sudah terhitung waktu yang sangat panjang." berkata Mahisa Murti kemudian. Wantilan hanya mengangguk-angguk soja. Namun dalam pada itu, Wantilan m emang m erasa heran. Pada saat-saat terakhir, menjelang kepergiannya ke Singasari, Mahisa Murti benar-benar telah tenggelam didalam sanggarnya. Mahisa Semu dan Mahisa Ampingpun telah ditempa jauh lebih berat dari hari -hari sebelumnya. Bahkan Wantilan sendiri mendapat kesempatan lebih banyak pula untuk berlatih bersama Mahisa Murti, sehingga kesempatan itu menjadi sangat berarti baginya. Bahkan Wantilan yang mempunyai dasar ilmu yang berbeda dan bahkan hampir saja membinasakannya perlahan-lahan, telah dapat diluruskan dan bahkan selapis demi selapis telah meningkat semakin tinggi. Yang kemudian dapat dibanggakan oleh Wantilan dalam perkembangan ilmunya adalah kemampuannya dalam ilmu pedang. Kemampuan itu seakan-akan begitu saja lahir dan berkembang didalam dirinya dengan tuntunan yang tidak terlalu banyak dari Mahisa Murti. Bahkan kemudian ilmu pedang Wantilan m erupakan salah satu dari ilmu puncaknya ketika dengan tuntunan Mahisa Murti, ilmu pedangnya mencapai satu tataran yang  mampu melampaui sekedar kemampuan kewadagan. Meskipun Wantilan tidak mempunyai senjata sebagaimana dimiliki oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, tetapi dengan pedang yang  dibuat secara khusus oleh seorang cantrik yang telah pernah berguru pada para ahli pembuat senjata di Singasari, maka ilmu pedang Wantilan merupakan ilmu kebanggaannya. Sementara itu, Mahisa Semu dan Mahisa Amping yang  sejak awal mempunyai landasan ilmu yang  diberikan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka kemampuan mereka telah merambat sampai pada persiapan untuk memahami dasar-dasar ilmu tertinggi yang  dimiliki Mahisa Murti, terutama dari jalur ilmu yang  diwarisiny a dari Mahendra. Kemampuan Aji Bajra Geni. Namun karena Mahisa Amping masih t erlalu muda, maka Mahisa Murti tidak dapat memberikan landasan ilmu setataran dengan Mahisa Semu, agar tidak justru mengganggu perkembangan kewadagan dan kejiwaannya. Tetapi setapak demi setapak, Mahisa Murti memang berniat untuk menyiapkan anak itu sebaik-baiknya. Bahkan menurut pengamatan Mahisa Murti, didalam diri Mahisa Amping tersimpan bekal yang  lebih baik dari anak-anak kebanyakan. Dalam pada itu, Wantilan yang  umurnya sudah lebih banyak dari Mahisa Murti, rasa-rasanya melihat sesuatu yang asing didalam diri Mahisa Murti, justru menjelang pernikahan Mahisa Pukat. Wantilan telah menghubungkan keadaan Mahisa Murti itu dengan saat-saat Mahisa Murti pulang dari Singasari tanpa Mahisa Pukat. Saat itu iapun melihat sikap yang asing itu yang perlahan-lahan menjadi semakin samar dan bahkan hilang. Namun tiba -tiba sikap itu kini dilihatnya lagi. Namun Wantilan itu justru telah mengagumi Mahisa Murti yang dapat menyalurkan gejolak perasaannya itu dengan sikap yang justru memberikan arti baginya. Mahisa Murti yang nampaknya dicengkam oleh kegelisahan itu telah mengisi waktu-waktunya yang  nampak gelisah itu dengan memperdalam ilmu serta memberikan tuntunan kepada orang-orang yang ada disekitamya. Termasuk Wantilan sendiri, Mahisa Semu, Mahisa Amping dan para cantrik. Mahisa Murti tidak memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk dilindas oleh perasaannya. Namun ju stru mendorongnya untuk melakukan pekerjaan yang  sangat berarti baginya dan bagi lingkungannya. Tetapi Wantilan tidak pernah b ertanya kepada anak muda itu, apakah yang  sebenarnya telah terjadi atasnya. Bahkan sikap Mahendra yang  sangat berhati-hati terhadap Mahisa Murti telah menambah key akinannya, bahwa telah terjadi sesuatu yang menyentuh perasaan anak muda itu. Wantilan memang m enghubungkan persoalan itu dengan pernikahan Mahisa Pukat yang  akan berlangsung tidak terlalu lama lagi. Demikianlah, saat-saat pernikahan itupun menjadi semakin dekat. Wantilan memang melihat Mahisa Murti menjadi semakin murung. Tetapi ia menjadi semakin banyak berada di dalam sanggar. Sendiri atau dengan siapapun juga. Bahkan dengan beberapa orang cantrik terpilih. Namun dalam pada itu, yang  dianggap akan mengganggu padepokan Bajra Seta oleh orang-orang yang  mengaku dari Kediri itu tidak pernah terjadi. Namun orang yang kekuruskurusan yang pernah datang ke padepokan itu, telah pernah singgah pula untuk menemui Mahisa Murti. Orang itu masih sa ja menawarkan kesempatan untuk bekerja bersaf menyusun keadaan baru dalam hubungan antara Singasari dbn Ke&ra Namun sy erti sebelumnya, Mahisa Murti sama sekali tidak tergerak hatinya. Bahkan Mahisa Murti itu berharap agar orang itu tidak kembali lagi ke padepokannya. Orang yang  bertubuh kekurus-kurusan itu menjadi termangu-mangu karenanya. Dengan nada rendah ia berkata "Anak muda. Sama sekali tidak ada niatku untuk menipumu. Aku, berkata sebenarnya, bahwa masa depan tanah ini tergantung pada keberhasilan perjuangaan kami.” Namun Mahisa Murti itupun menjawab "Ki Sanak. Kedudukan kami sekarang sudah cukup baik bagi kami. Kami tidak ingin mendapat lebih banyak lagi." "Anak muda" berkata orang itu "setiap orang tentu memiliki cita -cita. Setiap orang ingin mendapat lebih dari yang pernah didapatkannya. Karena itu, kau yang masih muda, tentu ingin mencapai sesuatu yang  lebih tinggi dari yang  telah ada ditanganmu sekarang. " "Kau benar Ki Sanak. Tetapi yang aku tidak sependapat adalah cara yang  kau tawarkan kepadaku. Pada dasarnya aku tidak ingin menjadi pemberontak. Mungkin ada sesuatu yang tidak sesuai dengan jalan pikiranku sekarang ini yang terjadi di Singasari, tetapi jika aku menghendaki perubahan, aku tidak akan mempergunakan cara sebagaimana kau tawarkan. " Orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu menganggukangguk kecil. Tetapi ia masih saja menahan diri. Katanya "Baiklah anak muda. Mungkin kau masih belum mengerti sepenuhnya maksud dari perjuangan kami. Tetapi aku y akin bahwa pada suatu saat kau akan mengerti." "Ki Sanak" berkata Mahisa Murti "aku minta, kau jangan kembali lagi kemari, karena itu hanya akan membuang-buang waktu saja. Pendirianku tidak akan pernah goy ah." Tetapi orang yang  bertubuh kekurus-kurusan itu berkata "Aku akan minta diri. Tetapi aku y akin, bahwa pada suatu saat kau akan mengerti." Mahisa Murti m enggeleng sambil menjawab "Jangan kau berharap, karena sebenarnyalah bahwa aku sudah mengerti apa yang kau maksud dengan penjuangan. Menurut pendapatku, yang  kau maksud dengan perjuanganmu itu tidak lebih dari sebuah pemberontakan. Baik terhadap Singasari, maupun terhadap Kediri sendiri. " Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Mahisa Murti menyadari, bahwa orang itu sedang menahan diri karena jantungnya telah bergejolak. Namun orang itu berusaha tersenyum sambil berkata "Baiklah anak muda. Aku mohon diri. Aku akan berdoa bagimu, agar kau segera menyadari kedudukanmu. Kau mempunyai kekuatan untuk m enggapai satu ujud k ehidupan yang baru yang  jauh lebih baik dari sekarang. Mudahmudahan kau akan bersedia bergerak disaat-saat mendatang. " "Terima kasih atas kunjunganmu Ki Sanak " berkata Mahisa Murti "mudah-mudahan kau tidak akan datang lagi kemari jika kau masih saja ingin berbicara tentang pemberontakanmu. Aku sama sekali tidak berkeberatan menerima kunjunganmu dan siapa saja, sepanjang tidak membawa per soalan yang  sangat aku benci itu." Orang itu mengangguk kecil. Katanya "Baiklah. Aku akan selalu ingat akan kata-katamu. Tetapi aku tidak akan berhenti berharap bahwa kau akan menemukan satu kesadaran yang sangat berarti bagi masa depanmu." "Jangan memaksa aku untuk mengusirmu dengan ka sar Ki Sanak" berkata Mahisa Murti "aku ingin berbuat sebaikbaiknya bagi tamu-tamuku sepanjang mereka tidak menyinggung perasaanku." Orang itu tersenyum. Namun kemudian iapun meninggalkan padepokan Bajra Seta. Namun orang itu menyadari, bahwa anak muda yang  memimpin Padepokan Bajra Seta itu adalah seorang yang  m empunyai pijakan yang sangat kuat atas sikapnya sehingga tidak mudah untuk dapat diguncang. Demikianlah, sepeninggal orang itu maka Mahisa Murtipun menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia telah terlepas dari himpitan perasaan yang terasa menyesakkan dadanya. Pa da saat-saat terakhir, perasaan Mahisa Murti terasa agak terganggu. Ia sedang berusaha untuk memantapkan sikapnya menghadapi per soalan pribadinya. Bahkan Mahisa Murti sedang mempersiapkan dirinya untuk pergi ke Singasari ketika tiba -tiba saja muncul orang yang kekurus-kurusan itu yang selalu m enawarkan kemungkinan hari depan yang lebih baik. Hampir saja Mahisa Murti kehilangan kesabarannya. Namun untunglah bahwa orang itu tidak m endesaknya sampai batas kesabaran Mahisa Murti. Demikianlah, hari-haripun berlalu. Di Singasari persiapan hari -hari pernikahan Mahisa Pukat menjadi semakin mendesak. Rumah Arya Kuda Cemani sudah mulai sibuk dengan berbagai macam pekerjaan yang berhubungan dengan upacara pernikahan itu. Namun bagaimanapun juga perasaan Mahendra sebagai seorang ay ah kadang-kadang terasa bergejolak pula jika ia mengingat anaknya yang  berada di padepokan yang  jauh. Namun ia merasa bersukur bahwa Mahisa Murti ternyata mempunyai kesabaran, yang  luas sehingga jalan yang  dilalui Mahisa Pukat tidak banyak mengalami hambatan, bahkan tidak menimbulkan benturan kepentingan antara kedua orang anak laki -lakinya itu. Demikianlah, hari -hari yang semakin dekat itu telah membuat Mahendra semakin tegang. Namun kebutuhan yang berhubungan dengan hari pernikahan Mahisa Pukat itu telah dilengkapinya. Demikian pula dirumah Aiy a Kuda Cemani. Kesibukannyapun menjadi semakin meningkat. Bahkan perempuan-perempuan mulai sibuk siang dan malam. Sementara itu Sasi sudah tidak diperkenankan lagi meninggalkan rumahnya. Beberapa hari menjelang keberangkatannya ke Singasari, Mahisa Murti memang menjadi semakin gelisah. Disaat-saat lewat ia m emang dapat mengekang perasaannya. Meskipun Mahisa Murti telah meyakinkan dirinya, bahwa ia masih akan tetap mampu mengendalikan diri, namun jika ia melihat saatsaat Sasi bersanding dengan Mahisa Pukat, maka perasaannya itu tentu akan tergetar juga. Tetapi apapun yang  akan dihadapinya di Singasari, maka Mahisa Murti memang harus datang. Dalam keadaan yang  rumit itu, Mahisa Murti tidak mempunyai tempat sama sekali untuk mengurangi beban perasaannya. Ia masih belum dapat m engatakannya kepada Wantilan. Meskipun Wantilan baginya merupakan orang yang dituakannya, tetapi rasa -rasanya untuk menyatakan per soalan pribadiny a dan apalagi menyangkut saudara laki-lakinya yang juga dikenal baik oleh Wantilan, masih juga terlalu berat. Karena itu, maka Mahisa Murti telah berniat untuk membawa bebannya itu sendiri. Di Singasari mungkin ia dapat berbicara dengan ayahnya sekedar untuk mengurangi berat beban perasaannya itu. Namun sebelumnya, ia harus memikulnya sendiri. Namun bagaimanapun juga Mahisa Murti menutupi kegelisahannya itu, Wantilan masih juga dapat melihatnya. Bahkan kemudian ia dapat juga berbicara dengan Sambega mengenai anak muda, pemimpin Padepokan Bajra Seta itu. Keduanya sependapat, bahwa Mahisa Murti memang sedang memikul beban perasaannya. Namun keduanya tidak ada yang  ber sedia menanyakannya. "Aku tidak tahu, apakah hatinya akan terbuka " berkata Wantilan. "Apalagi aku orang baru disini " berkata Sambega "aku masih belum tahu watak dan sifatnya sedalam-dalamnya. Karena itu, aku takut kalau justru aku melakukan kesalahan. " Wantilan mengangguk-angguk. Katanya "Jika saja angger Mahisa Murti mau membuka diri. " Tetapi Mahisa Murti tetap tidak mengatakan kepada Wantilan dan siapapun di Padepokan Bajra Seta. Meskipun Mahisa Murti tahu, bahwa Wantilan sebenarnya telah membaca kegelisahan hatinya. Namun Mahisa Murti m asih belum dapat mengatakan kepadanya. Tetapi perasaan Wantilan sebagai orang yang  lebih tua dari Mahisa Murti memang sudah m enangkapnya sejak beberapa saat sebelum hari-hari yang pahit itu datang. Kegelisahan Mahisa Murti semakin nampak justru semakin dekat hari keberangkatannya ke Singasari. Tetapi sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti memang pernah berbicara dengan Wantilan, m eskipun tidak berterus-terang. Namun ungkapan yang  sedikit itu masih belum cukup kuat untuk mendor ong Wantilan berbicara tentang per soalan yang rumit tentang pribadi anak muda itu. Apalagi untuk selanjutnya Mahisa Murti tidak pernah lagi meny inggung persoalan pribadinya itu. Namun menjelang hari keberangkatannya, ternyata Mahisa Murti telah berdesah tentang kekalutan perasaannya ketika ia sedang duduk bersama Wantilan dan Sambega. "Sesuatu sedang menyulitkan perasaanku " desis Mahisa Murti. Wantilan m enarik nafas panjang. Katanya "Sebenarnyalah kami melihat kegelisahan pada sikapmu dihari-hari terakhir ini, ngger. Tetapi aku tidak berani mempersoalkannya karena agaknya ada yang  tersembunyi dihatimu." "Maaf paman" jawab Mahisa Murti "tidak sepantasny a aku mengeluh dihadapan paman kedua." "Kalau saja kami dapat membantumu ngger" desis Sambega. "Terima kasih paman. Aku tahu bahwa paman berdua tentu bersedia membantu memperingan perasaanku. Mungkin paman akan menghibur aku atau akan memberikan jalan keluar. Tetapi biarlah, sebaiknya pada kesempatan lain aku akan mengatakannya." "Tetapi kau membuat kami gelisah" berkata Wantilan. "Maaf paman" jawab Mahisa Murti "aku sama sekali tidak berniat membuat paman gelisah. Tetapi aku dapat mengerti kenapa paman gelisah melihat sikap dan tingkah lakuku. Meskipun aku berusaha untuk meny embunyikannya. Tetapi sulit bagiku untuk sama sekali menghapus kesan itu dari permukaan." Wantilan mengangguk-angguk. Katanya "Aku yang sudah lebih tua ini hanya dapat menduga-duga, meskipun agak mendekati kebenaran serta sedikit keterangan yang sebagaimana pernah kau katakan kepadaku. Tetapi baiklah. Kami tidak akan mengatakan sesuatu sekarang ini. Namun kami hanya ingin berpesan, agar angger Mahisa Murti tetap mampu mengendalikan diri apapun yang  sedang kau hadapi.” Mahisa Murti m enarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata "Ya paman" "Bukankan besok kau akan berangkat ke Singasari ?" bertanya Wantilan. "Ya paman" jawab Mahisa Murti pula. "Baiklah. Kau akan tetap sebagaimana kau sekarang, kemarin dan dahulu. Kau adalah seorang anak muda yang mampu menguasai diri. Kau tidak mudah hanyut oleh arus perasaanmu. Tetapi kau mampu mencari keseimbangan antara nalar dan perasaanmu itu.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun iapun telah menduga-duga, apakah Wantilan benar-benar telah meraba persoalannya dengan tepat. Namun malam itu Mahisa Murti telah minta Mahisa Semu dan Mahisa Amping untuk bersiap-siap karena esok mereka akan pergi ke Singasari. Berbeda dengan Mahisa Murti yang  menjadi murung, maka Mahisa Semu dan Mahisa Amping menjadi gembira sekali. Mereka akan mendapat kesempatan untuk pergi ke Singasari dan menyaksikan Mahisa Pukat yang akan menikah. Karena itu, justru karena mereka seakan-akan tidak sabar lagi menunggu sampai esok, maka keduanya tidak segera dapat tidur. Mahisa Murti malam itupun sulit untuk dapat memejamkan matanya namun karena alasan yang  berbeda. Demikianlah, pagi-pagi sekali, mereka bertiga sudah mempersiapkan diri. Mahisa Semu dan Mahisa Amping sebelum terang tanah, sudah mandi dan berpakaian rapi. Mereka juga membawa sebungkus pakaian mereka yang terbaik, yang akan m ereka kenakan saat pernikahan Mahisa Pukat. Menj elang Ajar meny ingsing maka mereka bertiga sudah selesai dengan makan pagi. Setelah beristirahat sambil minum minuman hangat, maka merekapun segera m inta diri k epada seisi padepokan untuk berangkat ke Singasari. "Berhati-hatilah" pesan Wantilan "perjalanan Ki Mahendra dengan angger Mahisa Pukat serta perjalanannya kemudian bersama mPu Sidikara mengalami hambatan.” Tetapi Mahisa Murti menjawab "Namun perjalanan paman dari Singasari bukankah tidak mengalami hambatan apapun ?" "Ya " Wantilan mengangguk-angguk. Lalu katanya "Mudahmudahan perjalanan angger juga tidak mengalami hambatan. " Mahisa Murti mengangguk kecil sambil berkata "Doa paman serta seisi Padepokan Bajra Seta yang aku minta. " Wantilan menarik nafas dalam-dalam sambil berkata "Kami akan selalu berdoa ngger." Sebenarnyalah bahwa Wantilan dan Sambega melepas Mahisa Murti dengan jantung yang berdebaran bukan karena mereka mencemaskan keselamatan Mahisa Murti di perjalanan. Mereka tahu bahwa Mahisa Murti adalah orang yang berilmu tinggi, sementara Mahisa Semupun telah disiapkan untuk mewarisi ilmu yang  tertinggi itu pula. Bahkan Mahisa Amping yang kecil itu sudah memiliki bekal cukup diperjalanan. Namun yang  menggelisahkan Mahisa Murti justru keseimbangan penalaran dan perasaan Mahisa Murti menghadapi kenyataan di Singasari. Karena menurut dugaan Wantilan, kemurungan Mahisa Murti tentu ada hubungannya dengan pernikahan Mahisa Pukat. Demikianlah, sebelum matahari terbit, ketiga orang itupun telah meninggalkan Padepokan Bajra Seta. Jalan-jalan yang mereka lalui masih sepi. Tetapi mendekati padukuhan yang besar diujung bulak panjang, maka mulai nampak setu dua orang lewat sambil membawa obor. Mereka adalah orangorang padukuhan kecil terdekat yang akan pergi menjual hasil kebunnya ke pasar. Tetapi obor berlarak itupun segera dipadamkan, karena langit telah menjadi semakin terang. Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping itupun melarikan kuda mereka disegarnya udara pagi. Seperti bia sa, Mahisa Amping selalu berada dipaling depan. Dibelakangnya Mahisa Semu sekali-sekali menyusul dan m e]arikan kudanya disebelah Mahisa Amping. Namun kemudian Mahisa Amping telah mendahuluinya lagi beberapa langkah. Mahisa Murti mengikuti keduanya pada jarak tertentu. Jika keduanya menjadi semakin jauh, maka Mahisa Murtipun melarikan kudanya lebih cepat. Tetapi jika jaraknya m enjadi terlalu dekat, maka Mahisa Murti telah memperlambat kudanya pula. Disepanjang perjalanan Mahisa Murti berusaha untuk tidak mengecewakan kedua orang anak itu. Itupun berusaha nampak gembira seperti Mahisa Semu dan Mahisa Am ping. Dengan demikian maka perjalanan itu merupakan perjalanan yang m eny enangkan bagi kedua orang anak muda itu. Udara terasa segar sementara jalan tidak terlalu ramai. Namun semakin jauh mereka menempuh perjalanan, maka mataharipun merambat semakin tinggi dilangit. Panasnya mulai terasa gatal dikulit. Namun Mahisa Amping masih saja berpacu didepan. Tetapi sekali-sekali iapun berhenti menunggu Mahisa Semu dan Mahisa Murti. Ketika kemudian matahari sampai dipuncak langit, maka Mahisa Amping mulai merasa haus. Mahisa Murti yang melihat keadaannya, telah mengajaknya berhenti di sebuah kedai yang  terletak disebelah pasar yang sudah mulai menjadi sepi. Namun masih juga ada sebagian diantara para pedagang yang menunggu orang-orang yang  agak kesiangan pergi berbelanja. Jika Mahisa Murti pergi dan kembali dari Singasari, ia sudah sering melihat kedai itu. Tetapi selama ini ia belum pernah singgah di kedai itu. Kedai yang nampaknya cukup besar dan cukup ramai dikunjungi orang. Seperti Oeberapa buah kedai yang  lain, maka ada orang yang khusus melayani para penunggang kuda jika mereka memesan makan dan minum bagi kuda mereka. Demikian pula di kedai itu. Seorang anak muda telah siap m emberikan minum dan makan bagi kuda Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Sementara itu, maka ketiga orang itupun telah naik dan masuk kedalam kedai itu. Ternyata didalam kedai itu telah duduk beberapa orang yang datang lebih dahulu. Sekelompok anak muda duduk disudut kedai itu. Mahisa Semu yang sempat menghitungnya berdesis "Lima orang anak muda itu minum tuak. " Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan." Mahisa Semu mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian Mahisa Murtipun berkata "Sudahlah. Jangan t erlalu lama memperhatikan mereka. Anak-anak itu akan dapat menjadi salah paham." Mahisa Semu mengangguk-angguk. Sambil duduk iapun berkata "Apakah mereka tidak akan mabuk?" "Mungkin mereka hanya minum sedikit." jawab Mahisa Murti. Mahisa Semu tidak bertanya lagi. Ia mulai memperhatikan makanan yang  disediakan di kedai itu. Bahkan Mahisa Amping sempatberdiri didepan geledeg bambu untuk melihat-lihat jenis makanan yang tersedia. "Panggil adikmu" desis Mahisa Murti. Mahisa Semupun kemudian telah mendekati Mahisa Amping dan menariknya, membawanya duduk bersama Mahisa Murti. Sejenak kemudian, maka Mahisa Murtipun telah memesan minuman dan m akanan kepada pemilik kedai yang  ternyata tidak begitu ramah bagaimana pemilik kedai yang pernah disinggahinya disepanjang jalan ke Singasari. Tetapi Mahisa Murti tidak menghiraukannya. Yang penting baginya, mereka dapat mengobat lapar dan haus. Demikian pula kuda-kuda mereka. Sementara itu, anak-anak muda itu masih saja minum tuak. Sebagaimana dilihat oleh Mahisa Murti, maka di kedai itu memang disediakan tuak. Agaknya para pembeli tidak pernah dibatasi, berapa saja mereka akan membeli, minum dan kemudian mulai mabuk. Tetapi agaknya hal yang demikian sudah terbiasa terjadi di kedai itu. Beberapa orang lain yang  duduk minum dan makan sama sekali tidak menghiraukan mereka. "Lihat, Mahisa Semu" berkata Mahisa Murti "anak -anak muda itu mulai menjadi mabuk." Mahisa Semu mengangguk-angguk, sementara Mahisa Amping m enjadi heran melihat m ereka yang  m ulai t ertawatawa dan berbicara kesana kemari tanpa ujung pangkal. Namun Mahisa Murti telah memperingatkan kedua adik angkatnya itu sekali lagi "Jangan memandangi mereka seperti itu. Nanti kalian akan dapat memancing persoalan. " "Hanya karena dipandangi?" bertanya Mahisa Amping. "Ya. Apalagi jika mereka menjadi mabuk. Kesadaran mereka tidak lagi dapat dikendalikan, sehingga m ereka akan berbuat apa saja sesuai dengan gejolak perasaannya. " jawab Mahisa Murti. Mahisa Semu dan Mahisa Amping mengangguk-angguk, meskipun diluar sadar, sekali-sekali keduanya berpaling juga kepada mereka. Namun ketika minuman dan makanan dihidangi maka Mahisa Semu dan Mahisa Amping memang tidak lagi menghiraukan beberapa orang anak muda itu lagi. Mereka sibuk dengan minuman hangat dan makanan yang mereka pesan. Namun dalam pada itu, ketika pembantu pemilik kedai itu menghidangkan minuman yang dipesan lagi oleh Mahisa Amping yang  kehausan, maka Mahisa Murtipun berdesis "Ki Sanak. Anak-anak muda itu sudah mulai menjadi mabuk. Apakah tidak sebaiknya dihentikan saja agar mereka tidak minum tuak lebih banyak lagi?" Pembantu yang melayani pesanan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Tetapi tanpa tuak, maka kedai ini tidak akan mempunyai b anyak pembeli." "Tetapi bukankah pembeli yang  lain juga tidak memesan tuak sebagaimana anak-anak muda itu?" desis Mahisa Murti perlahan-lahan. "Tetapi tidak cukup banyak. Apalagi m enjelang sore hari. Yang banyak berdatangan di kedai ini adalah anak-anak uda yang pada umumnya memerlukan tuak. " jawab pembantu itu. "Jika demikian, maka kedai ini akan dianggap kurang baik bagi kebanyakan orang" berkata Mahisa Murti "kalian menarik pembeli dari golongan anak-anak m uda yang  sering m abuk tuak, tetapi kalian akan kehilangan pembeli lain yang tidak senang melihat anak-anak muda sekedar bermabuk-mabukan sementara orang lain bekerja keras untuk epentingan m asa depannya dan masa depan keluarganya. " "Tetapi ini adalah kebijakan pemilik kedai ini, Ki Sanak" jawab orang itu. Mahisa Murti memang tidak banyak berbicara lagi. Iapun kemudian lebih banyak memperhatikan minuman dan makanannya sendiri sebagaimana Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Namun Mahisa Murti terkejut ketika kemudian tiba-tiba sa ja mendengar anak-anak muda yang sudah mulai mabuk itu tertawa hampir berbareng. Ketika Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping berpaling, maka m ereka melihat anakanak muda itu justru memandangi m ereka. Bahkan diantara mereka adalah pemilik kedai itu. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun pemilik kedai tu berkata lantang "Nah, lihatlah betapa alimnya orangorang itu. Mereka mencela kalian yang minum tuak di kedaiku ini." Mahisa Murti m emang terkejut. Ia tidak mengira bahwa pemilik kedai yang  agaknya mendengar laporan tentang persoalan yang  dikatakannya telah langsung mengambil langkah sesuai dengan kebijaksanaannya itu. Mahia Murti memang meny esal bahwa ia telah mencampuri persoalan pemilik kedai itu. Tetapi hal itu sudah terlanjur dilakukannya. Ketika Mahisa Murti memandang pembantu yang  diajaknya berbicara tentang anak-anak muda yang  membeli tuak di kedai itu, orang itu menundukkan kepalanya. Sementara itu Mahisa Semu berdesis "Pembantu itu agaknya telah mengatakannya kepada pemilik kedai ini." "Mungkin maksudnya baik. Mungkin ia sependapat dengan pendapatku dan m enyampaikannya kepada pemilik kedai itu. Tetapi pemilik kedai itulah yang ternyata telah menentukan kebijaksanaan dan tidak mau terubahnya." sahut Mahisa Murti. Mahisa Semu mengangguk-angguk, sementara Mahisa Amping masih sibuk menyuapi mulutnya. Tetapi kemudian iapun bertanya "Apa maksud pemilik kedai itu ?" "Entahlah" jawab Mahisa Murti yang mencoba untuk tidak menghiraukan lagi sikap pemilik kedai dan anak-anak muda yang mulai mabuk itu. Tetapi pemilik kedai itu ternyata tidak berhenti sampai sekian. Ia masih berkata lagi "Kehadirannya telah merusak ketenangan langganan-langgananku." "Apakah kita harus mengusirnya ?" bertanya seorang anak muda yang juga sudah mulai mabuk. "Terserah kepada kalian" berkata pemilik k edai itu "tetapi jangan rusakkan perabot kedaiku ini." Anak muda itu tertawa. Sementara Mahisa Murti memang menjadi berdebar-debar. Sebenarnya ia tidak ingin menimbulkan persoalan. Tetapi ia tidak mengira bahwa pemilik kedai itu m erasa tersinggung oleh pendapatnya yang dikatakannya kepada pembantunya. Namun untuk sementara Mahisa Murti masih duduk diam. Ia masih sempat menelan makanan yang dikunyahnya meskipun ia menjadi gelisah. Sementara itu, dua orang anak muda telah bangkit berdiri. Tetapi keseimbangan penalarannya agaknya sudah terganggu. Perlahan-lahan keduanya mendekati Mahisa Murti yang  masih duduk ditempatnya. Ternyata beberapa orang yang ada di kedai itu tidak menghiraukan apa yang terjadi. Agaknya sikap anak-anak muda tu sudah sangat sering dilihatnya sehingga sudah menjadi terbiasa bagi mereka. Kedua orang anak muda itupun kemudian berdiri dibelakang Mahisa Murti. Sambil tertawa seorang diantaranya berkata "Ki Sanak. Jika kau tidak senang m elihat kebia saan kami, sebaiknya kau pergi saja. Jangan sesorah seperti seorang yang arif dan mengetahui baik dan buruk dengan sempurna. " Mahisa Murti benar-benar tidak ingin membuat keributan, Karena itu, maka iapun berkata "Baiklah. Kami akan pergi." "Ternyata kau cukup bijaksana" berkata salah seorang dari kedua orang anak muda yang sudah mulai mabuk itu. Mahisa Murti m emang bangkit berdiri. Ia memberi isyarat kepada Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Apalagi mereka sudah cukup minum dan makan, sehingga mereka akan dapat meneruskan perjalanan mereka ke Singasari. Kepada pemilik kedai yang  masih berada diantara anakanak muda yang  mulai mabuk itu Mahisa Murti bertanya "Berapa keping aku harus membayar ?" Pemilik kedai itu tertawa kecil. Katanya "Aku senang kau singgah dikedaiku Ki Sanak. Tetapi lain kali kau tidak usah sesorah seperti itu. Kau tidak berwenang untuk merubah kebijaksanaanku, karena kedai ini adalah kedaiku." "Baik Ki Sanak" jawab Mahisa Murti "tetapi berapa aku harus membayar ?" "Kali ini kau mendapat perlakuan khusus. Kau tidak usah membayar asal kau cepat pergi," jawab pemilik kedai itu. Wajah Mahisa Murti menjadi merah sesaat. Ia merasa tersinggung oleh kata-kata itu. Apalagi ketika kemudian terdengar anak-anak muda itu tertawa meledak. Bahkan beberapa orang lain di kedai itu tertawa pula. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba untuk mengendapkan perasaannya yang mulai bergejolak. Namun Mahisa Murti masih berusaha untuk menahan diri. Tetapi diluar dugaan, maka Mahisa Amping justru berkata "Bukankah kebetulan sekali, kakang. Kita tidak usah membayar harga minuman dan makanan yang sudah kita makan dan kita minum. Lain kali kita datang lagi ke kedai ini dan sesorah lagi. Nah, kita akan mendapat perlakuan khusus dan tidak perlu membayar lagi. " "Sst " Mahisa Semu berdesah. Tetapi anak itu justru menjawab "Bukan salah kita. Bahkan jika kita membawa sebungkus besar makanan, maka kita t idak akan membayarnya. " Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Sementara Mahisa Semu yang  mengetahui maksud Mahisa Murti agar tidak timbul keributan, telah menggandeng Mahisa Amping dan menuntunnya keluar. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Semu juga merasa tersinggung karena sikap pemilik kedai itu. Tetapi Mahisa Semu sudah dapat mengekang dirinya. Sementara Mahisa Amping yang sudah tumbuh remaja itu, masih belum dapat memilih sikap yang  sebaik-baiknya sesuai dengan sikap Mahisa Murti. Bahkan ia masih juga berkata keras-keras "Mereka mengira bahwa kakang Mahisa Murti tidak mempunyai uang untuk membayar harga makanan dan minuman itu. " "Cukup" teriak pemilik kedai yang  memang tidak begitu ramah itu "aku sudah berbuat sebaik-baiknya bagi kalian yang mencoba untuk mengganggu ketenangan kedai ini. Tetapi kalian masih juga banyak tingkah." Mahisa Amping yang agaknya masih akan berbicara lagi telah didahului oleh Mahisa Semu. Katanya hampir berbisik " udahlah Amping. Kakang Mahisa Murti tidak ingin terjadi keributan. " Mahisa Amping mengerutkan keningnya. Namun semuanya sudah terlanjur dilakukannya. Pemilik kedai itu sudah terlanjur marah. Karena itu, ketika kemudian Mahisa Murti bergerak pula keluar, maka pemilik kedai itu menyusulnya sampai diluar pintu sambil berkata lantang "Anak tidak tahu diri. Apa sebenarnya yang kau kehendaki." Mahisa Murti memberi isy arat agar Mahisa Amping tidak menjawab. Bahkan iapun m emberi isyarat agar m ereka pergi ke kuda mereka dan meninggalkan tempat itu. Tetapi anak-anak muda yang sudah mulai mabuk itu telah menyusulnya pula turun ke halaman. Bahkan seorang yang sudah lebih tua lagi yang tidak m abuk, telah pula berada di halaman. Dengan suara serak orang yang lebih tua itu berkata "Kenapa kau sengaja membuat keributan di tempat ini ? Kal ian tentu sekedar orang lewat. Kami adalah orang-orang yang tinggal disekitar tempat ini. Kami tidak pernah merasa terganggu oleh perbuatan anak-anak muda itu. Justru kenapa kalian mencoba untuk menumbuhkan persoalan disini." Mahisa Murti justru termangu-mangu sejenak. Dua orang anak muda telah berdiri didekat kuda-kuda Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping. "Ki Sanak" berkata Mahisa Murti kemudian "kami sama sekali tidak ingin membuat keributan. Kami hanya sekedar mengatakan pendapat kami. Jika kalian tidak sesuai, bukankah kami tidak dapat memaksakanpendapat kami itu.” "Jadi buat apa kalian m engatakan pendapat kalian itu jika kalian tidak ingin membuat keributan" teriak seorang anak muda yang  pandangan m atanya sudah m ulai berputar-putar karena pengaruh tuak. "Aku sudah bersedia pergi. Tetapi kalian menahan kami dengan cara seperti ini." berkata Mahisa Murti. "Karena apa yang  kalian lakukan sudah keterlaluan. Kalian bukan saja menyatakan pendapat lagi, tetapi kalian sudah menyinggung perasaan kami, merendahkan kami dan pokoknya perbuatan kalian tidak dapat kami maafkan." berkata pemilik kedai itu. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat m enyalahkan Mahisa Amping yang masih sangat muda itu. Karena itu, maka Mahisa Murti yang  sudah tidak lagi dapat menghindar itu ju stru mencoba menjelaskan pendapatnya "Ki Sanak. Baiklah. Jika persoalannya sudah tidak dapat dikesampingkan lagi, aku ju stru akan berbicara lebih banyak lagi." Wajah pemilik kedai itu menjadi panas. Dengan geram ia berkata "Tidak ada yang perlu kau katakan lagi. " "Ada" jawab Mahisa Murti "aku akan mengulangi pendapatku, bahwa tidak sebaiknya di kedai ini disediakan tuak dengan tidak terbatas. Membiarkan anak-anak muda mabuk disetiap saat. Selagi matahari m asih belum turun ke barat, anak-anak muda itu telah mulai menjadi mabuk. Ju stru saat -saat mereka harus bekerja atau melakukan perbuatan apapun yang  berarti. Di sawah, di pategalan atau di rumah atau dimana saja." "Mereka anak orang-orang yang berkecukupan" teriak pemilik kedai itu "buat apa mereka harus bekerja keras ?" "Sekarang mereka anak-anak orang kaya. Tetapi k ekayaan orang tua mereka tidak akan dapat berkembang engan sendirinya. Bukankah orang tua mereka menjadi kaya karena mereka bekerja keras ? Seandainya mereka mendapat warisan, bukankah warisan itu harus dikembangkan agar tidak menjadi semakin susut dan akhirnya habis tanpa arti sama sekali." "Mereka tidak perlu berbuat apa-apa lagi. Sawah, ladang, ternak dan kekay aan mereka akan berkembang dengan sendirinya." berkata seorang yang lebih tua dari anak-anak muda itu. "Tetapi perbuatan mereka akan berpengaruh buruk terhadap anak-anak muda yang  lain. Anak-anak muda yang bukan anak orang-orang kaya. Jika mereka meniru anak-anak orang kaya itu, maka kehidupan mereka akan menjadi semakin sulit. Sementara itu kehidupan mereka, keluarga mereka dan m asa depan mereka menuntut kerja keras. Juga kampung halaman mereka, padukuhan mereka dan Kabuyutan mereka.” "Cukup." pemilik k edai itu berteriak. em entara itu seorang diantara anak-anak muda yang sedang mulai mabuk itu melangkah mendekati Mahisa Murti sambil berkata "Jika kau berbicara sepatah kata lagi, maka aku akan mengoyak mulutmu." Tetapi yang  terjadi adalah diluar dugaan. Mahisa Amping telah melangkah dan berdiri diantara anak muda yang mulai mabuk itu dengan Mahisa Murti. Sambil mendor ong anak muda itu kuat-kuat Mahisa Amping berkata "He orang mabuk. Kau mau apa ?" "Amping" desis Mahisa Semu. Tetapi Mahisa Amping sudah berdiri bertolak pinggang sambil berkata "Kalian, orang-orang mabuk. Kalian mau apa ? Dalam keadaan mabuk, kalian tidak akan dapat berbuat apa -apa. Selagi berdiripun kalian tidak lagi dapat menjaga keseimbangan kalian." Tetapi anak muda yang  didor ong oleh Mahisa Amping itu menjadi sangat marah. Dalam keadaan setengah sadar, maka iapun melangkah maju sambil mengayunkan tangannya. Tetapi tangan itu sama sekali tidak meny entuh apapun juga karena Mahisa Amping bergeser selangkah surut. Tetapi ay unan tangannya itu sendiri justru telah menyeretnya sehingga anak muda itupun menjadi terhuyunghuyung. Apalagi ia dalam keadaan mulai mabuk. Mahisa Amping memang masih belum dapat berpikir jauh. Ia masih mengikuti saja gejolak perasaannya. Karena itu, demikian ia m elihat anak muda itu t erhuyung-huyung, maka Mahisa Amping justru telah menarik tangannya, sehingga anak muda itu jatuh terjerembab. Namun dengan demikian, maka tidak ada jalan lagi untuk menghindari pertengkaran. Mahisa Amping yang masih sangat muda itu tidak lagi dapat menahan dirinya. Namun Mahisa Amping benar-benar telah bersiap untuk berkelahi m eskipun anak-anak muda yang  mabuk itu adalah anak-anak muda yang lebih tua dan lebih besar dari padanya. Mahisa Murti hanya dapat menarik nafas dalam-dalam Tetapi ia dapat mengerti, bahwa Mahisa Amping menjadi sangat marah kepada orang-orang yang telah meny inggung perasaannya itu. Bahkan nampaknya Mahisa Semupun sulit untuk menahan dirinya meskipun ia berusaha dengan sungguh-sungguh. Karena itu, maka Mahisa Murtipun tidak lagi ingin mengelak. Bukan karena ia ingin berbuat semena-mena. Namun ia merasa bahwa sikapnya adalah benar. Pendapatnya tidak semestinya dianggap sebagai pendapat yang merusak ketenangan kedai itu. Dengan demikian, m aka Mahisa Murti itu justru berkata "Aku peringatkan kalian, agar kalian tidak mempergunakan kekerasan. Aku hanya mengatakan pendapat yang aku yakini benar. Jika kalian menganggap pendapatku itu salah, itu persoalan kalian. Tetapi sekali lagi aku katakan, bahwa usaha yang tidak sepantasny a dilakukan, karena dengan demikian kedai ini sudah ikut mengaburkan masa depan anak-anak muda yang  sering menjadi mabuk di kedai ini, justru tanpa menghitung waktu.” Orang yang lebih tua dari anak-anak muda yang  mulai mabuk itu justru telah berteriak "Usir orang-orang ini. Jika mereka melawan, buat mereka menjadi jera." Anak-anak muda yang  sudah mulai mabuk itu mulai bergerak. Namun Mahisa Murtipun bertanya "Apa hubunganmu dengan pemilik kedai itu sehingga kau telah ikut mempertahankan sikapnya, tetapi kau sendiri tidak menjadi mabuk karenanya, atau sama sekali tidak minum tuak ? Bukankah seharusnya kau peringatkan anak-anak muda yang terlalu banyak minum sehingga mereka menjadi mabuk itu ?" "Per setan, apa pedulimu " jawab orang itu "yang  penting, kau harus pergi atau kau akan dihajar disini." Mahisa Murti tidak menjawab. Ketika Mahisa Semu berpaling kepadanya, maka Mahisa Murti itupun berkata "Jangan kehilangan kendali diri Semu. Kau sudah dapat membuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan. Aku akan mengendalikan adikmu." Mahisa Semu mengangguk kecil. Ia mengerti maksud Mahisa Murti. Karena itu, maka iapun berusaha untuk tidak berbuat berlebih-lebihan. Apalagi anak-anak muda itu sedang mabuk. Dalam pada itu, beberapa orang anak muda telah mengepung Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Ada diantara mereka yang sudah benar -benar mabuk. Ada yang baru mulai. Tetapi ada yang masih sadar sepenuhnya apa yang tengah terjadi itu. Orang yang sudah lebih tua dari mereka yang  sedang mabuk itu serta pemilik kedai itu justru bergerak menepi. Mereka nampaknya tidak ingin melibatkan diri dalam perkelahian itu. Namun mereka telah memanas-manasi suasana sehingga anak-anak muda yang  mulai mabuk itu menjadi marah. Dalam pada itu, Mahisa Murti sendiri tidak langsung ikut larut dalam perkelahian yang  terjadi kemudian. Mahisa Murti mengamati kedua adik angkatnya itu dengan saksama. Ia tidak ingin keduanya tidak lagi mampu menahan diri sehingga melakukan tindakan-tindakan yang berbahaya bagi anak-anak muda yang sedang mabuk itu. Sejenak kemudian, telah terjadi perkelahian antara Mahisa Semu dan Mahisa Amping melawan beberapa orang anak muda yang sedang mabuk. Sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Amping, maka anak-anak muda itu tidak lagi mampu berkelahi sebaik-baiknya. Ju stru karena kesadarannya tidak lagi terkendali sepenuhnya, maka kepala merekapun mulai menjadi pening oleh tuak. Karena itu, maka Mahisa Semu dan Mahisa Amping mempunyai kesempatan lebih baik untuk mengatasi lawanlawannya. Meskipun anak-anak muda itu jumlahnya berlipat banyaknya, namun justru karena mereka tidak menguasai penalarannya sepenuhnya ada diantara mereka yang  tidak berkelahi sepenuhnya. Mereka hanya saling mendor ong dan bahkan kemudian jatuh bersama-sama. Tetapi ternyata ada diantara mereka yang masih sepenuhnya menguasai diri mereka. Jika pengaruh tuak mulai menggelitik otaknya, maka mereka justru menjadi lebih berbahaya. Orang-orang itulah yang kemudian mendapat perhatian sepenuhnya oleh Mahisa Semu sementara Mahisa Amping bermain-main dengan anak-anak muda yang  dengan terhuyung-huyung berputaran disekitarnya. Sekali-sekali mencoba memukul, namun ketika tubuhnya didorong kesamping, maka keseimbangannya tidak ingin dapat dikuasainya. Tetapi tiga orang diantara mereka justru menjadi sangat berbahaya. Matanya mulai gelisah sementara bau tuak masih berhembus lewat sela-sela bibirnya. Ketiga orang anak muda itu mulai meny ibak kawankawannya yang  tidak lagi dapat menguasai dirinya sendiri. Mahisa Semu yang  melihat mereka memang menjadi berdebar-debar. Ia tidak membiarkan anak-anak muda itu bertindak langsung terhadap Mahisa Amping yang masih saja berloncatan diantara mereka yang sedang mabuk. Sekali-sekali ia mendorong anak-anak muda itu, sehingga mereka berjatuhan. Namun kemudian Mahisa Amping itu segera meloncat surut. Jika ada diantara lawan-lawannya itu menyerangnya, maka dengan mudah ia dapat menghindar dan membalas meny erang. Tetapi agaknya tidak demikian dengan ketiga orang anak muda yang  masih mampu menguasai penalarannya sepenuhnya meskipun otaknya sudah dipengaruhi oleh tuak itu. Ju stru karena itu, maka ketiganya menjadi sangat garang, sementara tenaganya masih tetap utuh dan bahkan seakanakan menjadi bertambah-tambah. Ketika kawan-kawannya menyibak, maka Mahisa Semulah yang dengan cepat menghadapi mereka sambil berkata "Apa yang akan kalian lakukan Ki Sanak." "Mengoy ak mulutmu" geram salah seorang dari antara mereka. Mahisa Semu menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Sebenarnya kami tidak bermaksud menimbulkan keributan.” Tetapi seorang yang  bertubuh kekar segera memotong "Omong kosong. Kalian sudah mengacaukan ketenangan kami dengan tingkah laku kalian. Seandainya kalian dengan suka rela pergi meninggalkan kedai ini, kita tidak mempunyai persoalan lagi. " "Kami sudah bersiap-siap untuk pergi" jawab Mahisa Semu. "Tetapi mulut anak itu telah membuat kami sakit hati." jawab anak muda yang  lain. Mahisa Semu tidak menjawab lagi. Namun ia harus bersiap sebaik-baiknya. Ketiga orang anak muda itu mulai bergerak menyerangnya. Namun Mahisa Semu yang  sudah terlatih, bahkan sudah mulai b ersiap-siap untuk sampai kepuncak kemampuan ilmu Bajra Geni, telah bersiap pula menghadapi mereka. Demikian, maka sejenak kemudian, Mahisa Semu itu telah berkelahi pula menghadapi ketiga orang anak muda itu. Dengan kemampuannya yang  semakin matang, maka Mahisa Semu berloncatan meny erang ketiga lawannya berganti-ganti. Namun ketiga orang yang  sudah dipengaruhi oleh tuak itupun berkelahi dengan garangnya. Mereka meny erang bersama-sama dari tiga arah yang berbeda. Namun ternyata mereka berhadapan dengan anak muda yang memiliki kemampuan yang semakin matang. Karena itu, maka tiba -tiba saja salah seorang dari mereka telah terlempar dan jatuh berguling ditanah. Ketika anak muda itu berusaha untuk bangkit dan bersiap dan berkelahi lagi, m aka seorang kawannya yang lainlah yang  berteriak kesakitan dan terbanting jatuh. Tetapi anak-anak muda itu m asih juga tidak menjadi jera. Meskipun agak kesakitan, tetapi keduanya telah ber siap pula untuk berkelahi, Sementara itu, seorang kawannya yang  lain, telah m eloncat menjauhi Mahisa Semu sebelum kedua orang kawannya ber siap. Baru kemudian mereka bertiga berloncatan mendekat lagi dari arah yang  berbeda. Sementara itu, Mahisa Amping masih juga bermain-main dengan beberapa orang anak-anak muda yang  telah mulai menjadi mabuk. Anak itu justru berlari-lari berkeliling halaman. Namun kemudian tiba -tiba saja ia meny erang salah seorang dari mereka yang sedang terhuyung-huyung mengejarnya sehingga orang itu terjatuh justru menimpa kawan-kawannya. Dengan demikian, yang  dilakukan oleh Mahisa Amping tidak lebih dari sekedar bermain-main. Sementara itu anak-anak muda yang  m engejarnyapun sudah menjadi jemu pula. Kepala mereka terasa pening sehingga ada diantara m ereka yang justru m enjadi mual dan m erasa akan muntah-muntah. Tetapi tiga orang yang menjadi semakin garang itu m asih berkelahi melawan Mahisa Semu. Mereka berkelahi dengan sungguh-sungguh. Bahkan mereka menjadi semakin garang oleh pengaruh tuak, namun yang belum terasa sangat mengganggu kesadaran mereka. Dalam pada itu, pemilik kedai dan seorang yang meskipun masih nampak m uda tetapi lebih tua dari anak-anak muda yang mabuk itu, memperhatikan perkelahian itu dengan kening yang berkerut. Mereka nampaknya tidak begitu menghiraukan Mahisa Amping. Meskipun mereka merasa heran juga bahwa anak itu memiliki ketangkasan yang tinggi, namun mereka lebih m emperhatikan Mahisa Semu. Ternyata Mahisa Semu sama sekali tidak mengalami kesulitan melawan ketiga orang anak muda yang berkelahi dengan garangnya. Bahkan anak-anak muda itu telah mulai merasa kesakitan. Sekali-sekali salah seorang dari mereka terlempar keluar lingkaran perkelahian yang menjadi semakin keras. Tetapi wajah kedua orang itu menjadi cemas. Anak-anak muda itu nampaknya akan kehilangan kesempatan. Bahkan ketika tubuh mereka menjadi semakin terasa sakit, ny eri dan terasa pedih oleh goresan-goresan kerikil saat mereka terjatuh, perlawanan merekapun menjadi semakin mengendor. "Anak iblis itu harus dibuat jera" geram orang yang sedikit lebih tua dari anak-anak muda yang  minum tuak itu. "Ternyata dengan sedikit kemampuan, mereka berani mengganggu usaha kita" sahut pemilik kedai itu. "Biarlah aku yang menghajarnya. Awasi anak yang  tertua itu. Nam paknya ia juga memiliki kemampuan." berkata orang itu. Pemilik kedai itu mengangguk kecil. Dipandanginya Mahisa Murti yang  mengamati kedua adiknya yang  sedang berkelahi. Namun ternyata bahwa ia tidak perlu mencemaskan Mahisa Amping, karena Mahisa Amping lebih banyak bermain-main daripada berkelahi. Ia berlari-lari berputaran, meskipun sekali-sekali ia meny erang juga. Namun anak-anak muda yang mabuk itu akhirnya tidak menghiraukan anak itu lagi. Mereka kebanyakan merasa sangat terganggu oleh kepala mereka yang menjadi pening. Bahkan kemudian perutnya menjadi mual. Sebagian dari mereka ju stru telah menjatuhkan diri di tangga kedai itu, sementara tinggal seorang saja yang  m asih berusaha mengejar untuk m enangkap Mahisa Amping. Tetapi Mahisa Amping masih berlari -lari terus dan sekali-sekali berhenti untuk melawan. Bahkan Mahisa Amping kemudian telah bersiap untuk berkelahi. Bukan saja berlari-lari. Sementara itu, orang yang  sudah lebih tua dari anak-anak muda yang  mabuk itu melangkah mendekati Mahisa Semu yang m asih berkelahi melawan tiga orang lawannya. Namun ketiga orang anak muda itu tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Tubuh mereka sudah terasa semakin lemah, sementara dibeberapa tempat terdapat noda-noda kebiru-biruan. Wajah mereka menjadi lembab dan tulang-tulang mereka terasa ny eri. Goresan-goresan kerikil m ulai menitikkan darah yang terasa menjadi pedih oleh keringat. Orang yang  lebih tua dari mereka itupun tiba -tiba saja berteriak "Minggir. Biarlah aku memberinya sedikit peringatan agar anak ini menjadi jera. Jika tidak, maka ia akan merasa menang dan berbuat lebih buruk lagi dikemudian hari. " Ketiga orang anak muda yang sudah mulai dipengaruhi tuak itu termangu-mangu sejenak. Namun ketika orang yang berteriak itu m elangkah maju mendekati Mahisa Semu, maka anak-anak muda itu melangkah surut. "Kami tidak dapat membiarkan kau dengan kebanggaanmu karena kau merasa dapat mengalahkan ketiga orang anak muda itu. Tetapi ingat, m ereka dalam keadaan mabuk. Jika mereka memiliki kesadarannya sepenuhnya, maka kau akan mengalami nasib yang  sangat buruk" berkata orang itu. "Aku tidak mulai membuat keributan disini " jawab Mahisa Semu "aku hanya mempertahankan diri. " "Saudaramu sudah membuat onar disini. Kau dengan sombong mengangkat dadamu karena kau merasa menang melawan tiga orang anak muda. Karena itu, maka kau harus mendapat peringatan agar kau menjadi jera." geram orang itu. Mahisa Semu termangu -mangu sejenak. Namun iapun menyadari, bahwa orang itu tentu bukan orang kebanyakan. Ia sudah melihat, bagaimana Mahisa Semu itu berkelahi melawan tiga orang anak muda yang sudah mulai dipengaruhi oleh tuak. Sehingga orang itu tentu sudah mempunyai gambaran tentang kemampuan Mahisa Semu. Karena itu, maka menghadapi orang itu, Mahisa Semu harus berhati-hati. Bahkan diluar sadarnya, maka Mahisa Semu telah berpaling kepada Mahisa Murti. Mahisa Murti tidak dapat berbuat lain kecuali mengangguk kecil. Ia tidak dapat lagi menarik segala persoalan yang sudah terjadi di kedai itu. Isy arat itu telah membesarkan hati Mahisa Semu. Karena itu, ketika orang yang lebih tua itu bersiap untuk mulai berkelahi, maka Mahisa Semupun telah bersiap pula. "Kau, kakakmu dan adikmu harus minta maaf kepada kami semuanya disini, karena kalian sudah mengganggu ketenangan kami." berkata orang itu. Tetapi Mahisa Semu menjawab lantang "Kalianlah yang  harus minta maaf kepada kami karena kalian telah mengganggu perjalanan kami. Kami yangberniat baik telah kalian tanggapi dengan sikap yang  buruk sekali. Karena itu, maka kalian memang pantas untuk mendapat peringatan." "Anak iblis kau " geram orang itu "aku koyakkan mulutmu." Mahisa Semu tidak menjawab. Tetapi ia sudah bersiap sepenuhnya untuk menghadapi orang itu. Sebenarnyalah sejenak kemudian orang itu telah m eloncat menyerang, sehingga Mahisa Semu harus bergeser meng hindarinya. Tetapi agaknya orang itu sudah benar-benar menjadi marah. Dengan garangnya orang itu m emburu dan menyerang beruntun sehingga Mahisa Semu harus berloncatan mundur untuk mengambil jarak. Meskipun demikian, jantung Mahisa Semu sama sekali tidak tergetar karenanya. Dengan cermat ia mengamati tatanan gerak lawannya. Namun kemudian, anak muda itu telah bangkit untuk melakukan serangan-serangan pula. Yang terjadi kemudian bukan sekedar perkelahian antara orang-orang mabuk. Tetapi dua orang yang dengan penuh kesadaran mempergunakan kemampuannya untuk mengalahkan lawannya. Dengan demikian maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin keras. Ternyata orang yang  lebih tua dari anak-anak muda yang  mabuk itu memang memiliki kemampuan olah kanuragan. Mahisa Murti yang memperhatikan perkelahian itu mengerutkan dahinya. Ia mulai m enduga, bahwa orang yang berkelahi dengan Mahisa Semu itu adalah orang yang  memang diupah oleh pemilik kedai itu untuk mengamankan kebijaksanaan pemilik kedai itu. Dengan keras dan bahkan kasar orang itu meny erang sejadi-jadinya. Tetapi Mahisa Semu yang  terlatih itu masih tetap mampu m engimbanginya. Bahkan kemudian perlahanlahan Mahisa Semu mulai mengatasinya. Namun orang itu juga bukan orang kebanyakan. Seranganserangannya menjadi semakin keras. Orang itu berloncatan dengan cepatnya, sementara tubuhnya seakan-akan menjadi sangat ringan. Tetapi Mahisa Semu ternyata mampu mengimbangi kecepatan geraknya. Meskipun Mahisa Semu masih muda, tetapi ia tidak segera menjadi gelisah melihat kemampuan lawannya. Dengan mengerahkan kemampuannya, maka beberapa kali Mahisa Semu justru berhasil memotong gerak lawannya, sehingga lawannya itu justru terkejut karenanya. Lawannya yang  melihat Mahisa Semu m engalahkan ketiga orang anak muda yang  telah dipengaruhi oleh tuak itu memang sudah menduga bahwa anak muda itu memiliki landasan ilmu kanuragan. Tetapi ia tidak mengira bahwa tataran kemampuan ilmu kanuragan anak muda itu sedemikian tinggi baginya, sehingga akhirnya ia mengalami kesulitan. Tetapi ada satu hal kelebihan orang itu. Ia lebih tua dari Mahisa Semu. Iapun ternyata memiliki pengalaman yang  luas bertualang didunia kekerasan. Karena itu berdasarkan atas pengalamannya, maka ia masih dapat bertahan lebih lama. Bahkan sekali-sekali ia masih juga mampu membuat tipuantipuan sehingga Mahisa Semu kadang-kadang terkejut karenanya. Meskipun demikian, ketangkasan Mahisa Semu memang membuat lawannya kadang-kadang harus berloncatan mundur. Kaki Mahisa Semu seakan-akan menggapai-gapai tubuhnya kemanapun ia menghindar. Sementara itu, kedua tangannya dengan rapat m elindungi tubuhnya dari seranganserangan lawannya yang  dengan tiba-tiba menerpanya. Demikianlah, perkelahian itu m enjadi semakin seru. Pada saat -saat yang  gawat, maka serangan-serangan Mahisa Semu sempat masuk menembus pertahanan lawannya. Ketika lawannya mengayunkan tangannya kearah kening Mahisa Semu, maka Mahisa Semu dengan cepat merendah. Demikian tangan lawannya itu terayun, maka dengan cepat kaki Mahisa Semu yang memiringkan tubuhnya itu terjulur langsung mengenai bagian bawah ketiak lawannya. Lawannya itu terdor ong surut. Tetapi dengan berputar satu lingkaran dan sedikit merendah, iapun segera mempersiapkan diri. Ketika kemudian Mahisa Semu meloncat m emburunya, maka Mahisa Semu justru terkejut. Lawannya itu sempat bergeser selangkah kesamping. Namun kemudian ia meloncat maju dengan tangan kawannya yang  terjulur lurus. Untunglah bahwa Mahisa Semu sempat memiringkan kepalanya, sehingga yang dikenai serangan lawannya itu hanyalah daun telinganya Meskipun demikian rasa-rasanya daun telinganya itu menjadi panas. Bukan saja karena sengatan rasa sakit. Tetapi juga kemarahan yang  menerpa jantungnya. Karena itu, maka Mahisa Semu menjadi semakin garang pula. Jika semula ia masih menghormati lawannya yang umurnya lebih tua daripadanya, maka kemudian, Mahisa Semu seakan-akan telah m elupakannya. Anak muda itu telah mengerahkan tenaga dalamnya sejauh tingkat kemampuannya. Namun demikian, tenaga Mahisa Semu itu seakan-akan telah menjadi berlipat. Dengan demikian, m aka serangan-serangan Mahisa Semu menjadi semakin kuat dan semakin keras, sehingga dengan demikian, maka lawannya itu menjadi semakin mengalami kesulitan. Pemilik kedai itu mulai menjadi gelisah. Anak itu ternyata bukan anak muda kebanyakan. Ia memiliki kelebihan dari bukan saja anak-anak muda sebay anya. Tetapi orang-orang yang lebih tua dan lebih berpengalaman. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Semu semakin lama semakin menguasai lawannya. Seranganserangannya menjadi semakin cepat dan semakin keras. Bahkan semakin banyak seranganserangannya yang  mampu menyusup dan menguak pertahanan lawannya. Dengan demikian, maka keadaan orang itu menjadi semakin sulit sementara Mahisa Semu sudah terlanjur menjadi marah. Ketika serangan kakinya mengenai lam bung lawannya, maka lawannya itu telah terdorong beberapa langkah surut. Namun Mahisa Semu masih memburunya. Serangan berikutnya dilontarkannya dengan kakinya pula. Sambil memiringkan tubuhnya, maka serangannya datang meluncur dengan derasnya. Orang itu tidak sempat menghindar. Serangan kaki itu ternyata tepat hinggap didadanya. Ternyata serangan itu telah m engakhiri perlawanan orang itu. Ia terdor ong dengan derasnya dan tidak lagi mampu mempertahankan keseimbangannya. Orang itupun kemudian telah jatuh terlentang. Demikian kerasnya sehingga tulang punggungnya serasa akan patah. Ketika orang itu berusaha untuk bangkit, maka ia hanya dapat meny eringai menahan sakit. Bahkan kemudian terdengar ia mengerang kesakitan. Sementara itu, pemilik kedai itupun menjadi gelisah. Mahisa Murti yang tidak t erlibat dalam perkelahian itu telah berdiri didekat pemilik kedai itu. Dengan nada dalam ia berdesis "Ki Sanak. Apakah kau akan membantunya. Kau lihat, tidak ada yang  dapat melawan adikku itu. Tetapi jika kau ingin, maka kau dapat melakukan. Atau kau akan mencobai aku sebagaimana pesannya tadi. Bukankah kau tadi dipesan untuk mengawasi aku." Pemilik kedai itu berdiri termangu-mangu. Namun ketika Mahisa Murti menggeram, maka ia mulai menjadi gemetar. "Aku memiliki kemampuan berlipat dari adikku itu. Nah, jika kau ingin mencobanya, m arilah. Aku akan mengajarimu agar kau sekali-sekali mau mendengarkan pendapat orang lain.” Tetapi pemilik kedai itu justru berkata dengan suara bergetar "Ki Sanak. Kami mohon maaf. Jangan sakiti kami." "Tetapi kawan-kawanmu sudah terlanjur kesakitan " desis Mahisa Murti "supaya adil, maka kaupun harus disakiti." "Ampun. Aku mohon ampun Ki Sanak. Aku tidak akan mengulangi kesalahan ini." Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Sementara itu, Mahisa Amping berdiri bertolak pinggang. Ternyata ia berkelahi dengan salah seorang anak muda yang  m abuk itu. Namun tidak t erlalu lama, karena anak muda itu dengan mudah didorongnya jatuh. Bahkan beberapa kali. Mahisa Semupun masih b erdiri termangu-mangu. Namun kemudian katanya "Ki Sanak. Marilah. Aku ingin berbicara dengan kau dan kawanmu itu." Pemilik kedai itu termangu-mangu sejenak. Ketika ia melihat disekitarnya, ternyata masih ada beberapa orang yang berdiri dihalaman kedainya itu. Justru bukan orang-orang yang semula ada di kedai itu. Mereka datang ketika mereka mendengar telah terjadi perkelahian di halaman kedai itu antara beberapa orang lewat yang sempat singgah dan dianggap mengganggu ketenangan orang-orang yang sering ribut di kedai itu karena mabuk. Mahisa Semupun kemudian melangkah mendekati lawannya yang  punggungnya serasa patah itu. Katanya "Bangkit dan dengar kata-kata kakakku." "Punggungku sakit sekali" desis orang itu. "Kau mau bangkit atau aku patahkan kakimu?" geram Mahisa Semu sambil menangkap pergelangan kaki orang itu. "Jangan. Jangan" minta orang itu. "Jika demikian, cepat bangkit, sebelum aku kehabisan kesabaran." bentak Mahisa Semu. Dengan susah payah sambil meny eringai kesakitan orang itu mencoba untuk bangkit. Betapapun sakitnya, namun ia tidak ingin kakinya dipilin oleh anak muda itu sehingga patah. Sementara itu Mahisa Amping sambil bertolak pinggang membentak anak muda yang  mabuk itu "Bangun. Dengar kakakku berbicara. Kau dan kawan-kawanmu harus merangkak mendekat dan mendengarkan kata-katanya. " Tetapi Mahisa Murtilah yang kemudian memanggilnya. Demikian Mahisa Amping mendekat, Mahisa Murtipun berkata "Mereka sedang mabuk. Sulit untuk mengerti katakatamu." Mahisa Amping termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dua orang diantara anak-anak m uda yang  m abuk itu telah muntah-muntah di halaman itu. Mahisa Amping memalingkan wajahnya sambil berdesis "Mereka harus dihukum." "Bukan kita yang  akan menghukumnya." jawab Mahisa Murti. "Siapa?" bertanya Mahisa Am ping. "Kita akan berbicara dengan pemilik kedai itu " desis Mahisa Murti. Mahisa Amping justru termangu-mangu. Namun ia tidak menjawab lagi. Orang yang  kesakitan punggungnya dan pemilik kedai itupun kemudian berdiri dengan wajah pucat dihadapan Mahisa Murti. Sementara beberapa orang datang dari rumahrumah yang tidak terlalu jauh dari kedai itu, serta beberapa orang yang  masih berada di pasar disebelah. Sebelum Mahisa Murti bertanya kepada kedua orang itu, Mahisa Murti ju stru bertanya kepada orang-orang yang berkerumun "Nah, apakah kata kalian tentang kedai ini?" Seorang yang rambutnya sudah mulai ubanan m elangkah maju mendekat sambil berkata "Apakah maksud angger sebenarnya? Apakah yang angger maksud tentang anak-anak muda yang sering bermabuk-mabukan di kedai ini?" "Ya " jawab Mahisa Murti "apakah tidak ada akibat bagi para penghuni rumah disekitar tempat ini atau mereka yang masih berada di pasar itu?" Orang yang  berambut ubanan itu menarik nafas dalamdalam. Katanya "Sebenarnyalah bahwa sudah agak lama kami ingin berbicara tentang hal itu. Tetapi pemilik kedai ini agaknya tidak senang mendengarkan pendapat kami." "Tidak " sahut pemilik kedai itu dengan serta merta. “Bukan maksudku. Tetapi selama ini memang tidak ada orang yang memberi aku petunjuk." "Kau jangan mengada-ada " bentak Mahisa Murti "ketika aku menyatakan pendapatku, kau langsung menjadi m arah. Kau panasi hati anak-anak muda itu, sehingga mereka menyerang kami." "Tetapi, bukan maksudku menolak pendapatmu ngger " jawab pemilik kedai itu. "Ingat. Aku dapat berbuat apa saja terhadapmu. Aku dapat memukulmu sampai kepalamu menjadi retak. Kau lihat, bahwa orang-orang yang datang sekarang tidak semuanya akan membantumu." "Tetapi aku mau m endengarnya" orang itu mulai m enjadi gagap. Ketika Mahisa Murti memandanginya dengan wajahyang bersungguh-sungguh orang itu berkata dengan suara yang menjadi gemetar lagi. "Ya. Ya. Aku akan mendengarnya." Sementara itu Mahisa Murti bertanya kepada orang yang  rambutnya mulai beruban itu "Bagaimana pendapat kalian? "Anak-anak muda yang  mabuk itu kadang-kadang memang mengganggu," jawab orang itu bahkan tidaa mengenal waktu" Mahisa Murti mengangguk-angguk kecil. Sementara seorang perempuan berkata "Anakku mulai minum tuak juga." Mahisa Murti memandangi pemilik kedai itu dengan tajamnya. Sementara itu pemilik kedai itu menjadi semakin cemas. Orang-orang yang biasanya berdiam diri dan tidak berani m enyatakan sikapny a itu, telah mulai m engungkapkan perasaan mereka. Seorang demi seorang akan terpancing untuk menyatakan pendapatnya. Sebenarnya bahwa orang-orang yang  tinggal disekitar kedai itu serta orang-orang yang terbiasa berada di pasar, ternyata sependapat, bahwa kedai yang meny ediakan tuak itu kurang bijaksana. Apalagi pendapat beberapa orang perempuan yang anaknya sudah mulai dipengaruhi oleh tuak. Mahisa Murtipun mengangguk-angguk sambil berkata kepada pemilik k edai itu "Nah, kau dengar pendapat mereka. Mereka sebenarnya berkeberatan. Tetapi aku tidak tahu kenapa mereka selama ini hanya berdiam diri saja. Mungkin karena kau memiliki seorang upahan yang berilmu sebagaimana orang yang  ternyata tidak dapat mengalahkah adikku itu." Tetapi orang itu tiba-tiba saja menyahut meskipun m asih harus menyeringai menahan sakit "Aku bukan orang upahan." "O" Mahisa Murti berpaling kepadanya "jadi kenapa kau pertaruhkan dirimu untuk membelanya ? Jika kau m enerima upah untuk pekerjaan itu, maka namanya kau orang upahan, karena upah itulah yang menentukan, apakah kau akan melakukan pekerjaan itu atau bukan." "Tetapi aku bukan orang upahan " jawab orang itu. "Jadi kenapa ?" desak Mahisa Murti. Orang itu justru menjadi ragu-ragu. Tetapi pemilik kedai itulah yang  kemudian menjawab Orang itulah yang memberikan tuak kepadaku. Semakin banyak anak-anak yang minum, maka semakin banyak pula tuaknya laku." Mahisa Murti berdesah perlahan. Katanya "Jika demikian, maka kalian berdualah yang  bertanggungjawab jika semakin banyak anak-anak muda yang menjadi terbiasa m inum tuak. Mereka akan menjadi ketagihan. Bahkan semakin lama mereka minum semakin banyak. Tuak kalian memang menjadi semakin laris. Tetapi apakah kalian berpikir tentang akibatnya yang dapat terjadi atas anak-anak muda itu ? Lihat, apa yang telah mereka kerjakan sejak pagi sampai sesiang ini ? Dudukduduk, minum tuak, mabuk kemudian muntah-muntah dan tidur atau m engganggu orang lain. Sementara itu anak-anak muda yang lain sedang sibuk bekerja keras untuk membentuk masa depan mereka.” Pemilik kedai dan orang yang  kesakitan di punggungnya itu tidak menjawab. Namun Mahisa Murtipun berkata terus "Nah, sekarang terserah orang-orang yang  tinggal disekitar kedai ini. Kalian harus mendengarkan pendapat mereka. Aku sendiri m emang sering lewat jalan ini. Aku sudah m elihat orang keluar masuk kedai ini, termasuk anak-anak muda. Tetapi baru sekarang kami sempat singgah disini dan m enyaksikan apa yang  ada didalam kedai ini." Pemilik kedai dan orang yang  kesakitan punggungnya itu hanya menundukkan kepala mereka saja. Tetapi mereka sama sekali tidak menjawab. Dalam pada itu, Mahisa Murti masih berkata kepada orangorang yang  mengerumuninya "Ki Sanak. Selanjutnya terserah kepada kalian. Jika kalian memang menentang, maka sebaiknya kalian berbicara berterus-terang kepada pemilik kedai. Sementara itu, kalian jangan tergesa -gesa membebankan semua kesalahan kepada anak-anak muda itu. Mereka harus mendapat bimbingan dan petunjuk bahwa apa yang mereka lakukan bukan jalan terbaik bagi kehidupan mereka kelak.” Seorang yang  berambut ubanan itu berkata "Kami memang memerlukan satu saat yang mengejutkan seperti ini. Dengan demikian, m aka anak-anak itu akan m elihat kenyataan yang mereka hadapi. Mereka semua sama sekali tidak menghargai apa yang  telah ditentukan oleh banyak orang serta pemisahan anggapan atas yang  baik dan yang buruk.” Pemilik kedai dan orang yang  punggungnya bagai patah itu semakin menunduk. Kemudian seorangpun berkata lantang "Kita akan m enutup kedai itu, nanti kalian pergi, maka kami masih berteka-teki, apakah akan ada perubahan yang terjadi di kedai ini. Bahkan mungkin kami, yang tentu akan dapat dikenali oleh pemilik kedai dan pembuat tuak itu, akan diancam oleh bahaya yang tidak akan dapat kami elakkan." "Jangan takut" berkata Mahisa Murti "hal itu tidak akan terjadi. Setelah aku mengetahui keadaan ini, maka tempat ini akan selalu diawasi oleh para prajurit Singasari." "Prajurit Singasari ? Bukankah Singasari masih jauh ?" bertanya orang bertubuh kecil itu. "Ya. Singasari memang masih jauh. Tetapi prajurit itu akan datang dan menghubungi bebahu Kabuyutan yang membawahi tempat ini. Para prajurit itu akan dapat membicarakan persoalan kedai ini dengan Ki Buyut dan para bebahunya, sehingga pengawasan sehari-hari kedai ini ada ditangan mereka." "Bagus" berkata orang bertubuh kecil itu. Agaknya ia memiliki keberanian untuk berbicara lebih terbuka dari kawan-kawannya m eskipun tubuhnya kecil. Kemudian iapun berkata pula "sebaiknya para prajurit itu memang berbicara dengan Ki Buyut. Jika mereka hanya berbicara dengan Ki Bekel, maka tidak akan ada artinya lagi." "Kenapa ?" bertanya Mahisa Murti. "Kita disini semuanya tahu, apa yang  dilakukan oleh Ki Bekel. Tetapi tidak seorangpun diantara kami yang  berani berbicara. Kamipun tidak tahu dengan siapa kami harus berbicara." "Apa ?" bertanya Mahisa Murti. "Pemilik kedai dan pembuat tuak itu memiliki ilmu dan kemampuan. Sedangkan Ki Bekel mempunyai kekuasaan yang juga bersandar pada kekuatan beberapa orang bebahunya. Sementara itu tuak menghasilkan uang. Nah…” Tetapi seorang yang  lain berteriak "Bakar saja gubug yang telah menyesatkan itu. Dua adikku mulutnya telah mulai berbau tuak. Kelakuannya sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Mereka juga sering berada dikedai ini." Sementara itu, m aka Mahisa Murtipun berkata "Baiklah. Kami serahkan pemilik k edai itu kepada kalian, apapun yang akan kalian lakukan. Namun satu hal yang  perlu aku pesankan, kalian harus memperlakukan mereka sebagaimana kalian memperlakukan sesama, karena mereka juga mempunyai perasaan serta nalar budi." "Kami akan menghukum mereka " teriaki seseorang. "Itu tidak perlu " jawab Mahisa Murti "t etapi kalian harus yakin, bahwa di kedai ini tidak akan dijual tuak.” Pemilik kedai itu termangu-mangu. Namun kemudian Mahisa Murti berkata sekali lagi "Aku akan sering lewat jalan ini. Karena itu, maka kalian harus melakukan apa yang seharusnya kalian lakukan menurut pertimbangan nalar budi kalian. Meskipun sekali lagi aku peringatkan, mereka harus diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan diri sendiri. " Demikianlah, maka Mahisa Murtipun kemudian berkata "Aku mengerti. Sekarang akan melanjutkan perjalanan. Jika terjadi sesuatu, maka aku akan cepat mengerti." Orang-orang yang berkerumun itupun menganggukangguk. Ketika seorang yang bertubuh kecil meny eruak kawan-kawannya dan kemudian berdiri dipaling depan, Mahisa Murtipun bertanya "Ada yang  akan kau katakan ?" "Ya " jawab orang itu "selama ini diantara kami m emang tidak ada yang  berani berbuat sesuatu. Pemilik kedai dan orang yang membuat tuak itu adalah orang-orang yang ditakuti. Mereka dapat berbuat apa saja terhadap kami. Jika uang itulah pusar dari persoalan yang sebenarnya kami hadapi disini, sehingga Ki Bekelpun tidak bemiat untuk menghentikan penjualan tuak di kedai ini." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya "Aku mengerti sekarang apa yang terjadi disini. Baiklah. Aku berjanji, bahwa petugas dari Singasari akan menghubungi Ki Buyut. " Orang bertubuh kecil itu mengangguk-angguk. Namun diwajah beberapa orang Mahisa Murti m asih m elihat keraguraguan. Karena itu Mahisa Murtipun berkata "Kalian tidak usah takut atau ragu-ragu menghadapi per soalan ini. Tetapi juga tidak usah bertindak b erlebihan sebagaimana dikatakan oleh beberapa orang untuk menghukum pemilik kedai itu dan pembuat tuak itu. Biarlah Ki Buyut menangani hal ini.” "Sebenarnya kami tidak takut terhadap kedua orang itu " berkata seorang yang  bertubuh kekar "bahkan kami siap menghukumnya beramai-ramai. Jika selama ini kami hanya berdiam diri, karena kami memang menghormati sikap Ki Bekel. Tetapi tentu ada batas-batas tertentu. Yang kalian lakukan adalah semacam awal dari langkah-langkah baik yang dapat dilakukan disini." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun sebelum pembicaraan berkepanjangan, maka orang-orang itu tertegun. Orang yang siap untuk menghukum itupun terdiam pula. Beberapa orang telah mendatangi tempat itu. Orang itulah yang disebut Ki Bekel. "Apa yang terjadi disini. Seseorang telah melaporkan bahwa ada orang yang  berusaha mengacaukan ketenangan di tempat ini." berkata Ki Bekel yang datang diiringi oleh beberapa orang bebahu yang memang sering menakut-nakuti orang-orang padukuhan yang  cukup besar itu. Mahisa Murtilah yang  kemudian melangkah m aju sambil menjawab lantang "Akulah orangnya. Bukankah kau Bekel yang berkuasa di padukuhan ini ?" "Ya. Aku penguasa padukuhan ini. " jawab Ki Bekel. "Bagus" berkata Mahisa Murti "aku pesan kepadamu, awasi kedai ini. Di kedai ini tidak boleh lagi dijual tuak yang  dapat meracuni anak-anak muda. Bahkan mereka dalam keadaan mabuk telah mengganggu ketenangan padukuhan ini. " "Siapa kau ?" bertanya Ki Bekel. "Siapapun aku, itu tidak penting. Tetapi dengar keteranganku. Orang-orang yang  berkerumun ini sependapat, bahwa tidak sepantasny a di kedai ini dijual tuak, karena anakanak mereka mulai dijalari penyakit minuman itu. Tetapi selama ini kau tidak berbuat apa-apa untuk mencegahnya. " "Setan kau " geram Ki Bekel "kau berbicara dengan aku, Ki Bekel yang berkuasa di padukuhan ini. " "Aku tidak peduli. Orang-orang disekitar kedai ini sudah mulai bangkit. Mereka tidak lagi dibayangi oleh ketakutan. Bahkan mereka sudah siap untuk bertindak, menghukum pemilik kedai dan penjual tuak itu. Tetapi itu bukan wewenang mereka. Tetapi wewenangmu." "Kau jangan mengigau seperti itu. Ingat, disini aku mempunyai wewenang sepenuhnya. Aku dapat bertindak atasmu" berkata Ki Bekel. Tetapi Mahisa Murti seakan-akan tidak mendengarnya. Bahkan ia b erkata "Akan datang petugas dari Singasari untuk menata pergaulan hidup di padukuhan ini." Tetapi Ki Bekel yang marah itu m enjawab lantang "Omong kosong. Aku tidak percaya kepada kata -katamu itu.” "Aku tidak akan m emaksamu untuk percaya. Tetapi pada saatnya petugas dari Singasari itu akan datang bersama sekelompok prajurit. Jika kau keras kepala, maka kau akan ditangkap." "Aku tidak menunggu prajurit dari Singasari. Akulah yang  akan menangkapmu sekarang. " teriak Ki Bekel. Pemilik kedai dan orang yang ternyata pembuat tuak yang sudah menjadi ketakutan, tiba -tiba telah menengadahkan kepalanya lagi. Sebalikny a orang yang  telah berteriak untuk menghukum pemilik kedai dan pembuat tuak itu menjadi ragu-ragu. Bagaimanapun juga, Ki Bekel adalah seorang yang berilmu.


Jilid 115
KI BEKEL PUN kemudian telah memberi isyarat kepada para bebahu untuk melaksanakan perintahnya. Bahkan katanya kemudian "Jika mereka melawan, buat mereka menjadi jera.’ "Kau tidak akan dapat bertindak apa-apa Ki Bekel. Orangorangmu akan bangkit menentangmu." sahut Mahisa Murti. Tetapi Ki Bekel berteriak "Siapa yang  berani menentang aku, penguasa di padukuhan ini ? Siapa ?" Ternyata sikap dan suara Ki Bekel benar-benar berpengaruh. Orang-orang yang  semula telah nampak bangkit dan mendapatkan keberanian untuk menentukan sikapnya, tiba -tiba sudah berubah. Mereka justru terdiam dan berdiri seperti patung. "He, kenapa kalian diam saja ?" bertanya Mahisa Murti "tunjukkan bahwa kalian sekarang sudah bersikap." Tetapi Ki Bekel berteriak "Siapa yang ingin mati lebih dahulu?" Tidak seorangpun yang berani bergerak. Bahkan ujung jari kakinya sekalipun. Ki Bekelpun tertawa berkepanjangan. Katanya kepada pemilik kedai itu "Nah, bukankah ketenangan kedaimu tidak akan diganggu oleh orang-orang itu ?" "Ya Ki Bekel" jawab pemilik kedai itu. "Nah, sekarang, apa yang akan kau lakukan atas orang itu " bertanya Ki Bekel. "Orang itu harus menjadi jera." jawab pemilik kedai itu. "Lakukan. Aku akan menungguimu. Jika orang itu mencoba untuk melawan, maka serahkan orang itu kepadaku." berkata Ki Bekel kepada pemilik kedai itu. "Serahkan kepadaku" geram pembuat tuak itu "punggungku rasa-rasanya sudah dipatahkan oleh anak muda itu aku akan membalas, tetapi terhadap orang yang bertanggung jawab ini. " Wajah-wajahpun menjadi tegang. Orang yang  punggungnya bagaikan patah itu, sempat menyuruh seseorang "Ambil cemeti kuda itu." Orang yang diperintahkan untuk mengambil cemeti kuda itu termangu-mangu. Ia tidak melihat cemeti yang dimaksudkan. Namun pembuat tuak itu berteriak "Ambil itu, disudut kedai. " Barulah orang itu m engerti. Yang dimaksud cemeti kuda adalah sepotong bambu yang disandarkan disudut kedai itu. Dengan tanpa m embantah lagi, maka orang itupun telah melangkah kesudut kedai itu untuk mengambil sepotong bambu yang panjangnya hampir sepanjang tubuhnya sendiri. Dalam pada itu Mahisa Murtipun menjadi tegang. Ia menjadi bimbang, apakah sebaiknya dilakukan terhadap Ki Bekel dan beberapa orang bebahu itu. Mahisa Murti sama sekali t idak m enjadi ketakutan untuk m elawan mereka, tetapi apakah ia harus menundukkan m ereka dengan kekerasan ? Yang dipikirkan oleh Mahisa Murti justru orang-orang yang semula telah menyatakan tekadnya, namun dihadapan Ki Bekel mereka tidak berani berbuat sesuatu. "Jangan-jangan Ki Bekel akan m enumpahkan dendamnya kepada mereka." berkata Mahisa Murti didalam hatinya. Namun tiba -tiba Mahisa Murti mengerutkan dahinya. Agaknya lebih baik baginya apabila ia menakut-nakuti bukan sa ja pemilik kedai dan pembuat tuak itu . Tetapi juga Ki Bekel dan para bebahu, sehingga mereka tidak akan berbuat sesuatu yang dapat membuat orang-orang yang  sudah terlanjur menyatakan sikapnya itu m engalami kesulitan di kemudian hari. Karena itu, maka tiba-tiba saja Mahisa Murtipun berteriak kepada orang yang  m engambil sepotong bambu itu "He, kau yang akan mengambil cemeti kuda. Berhenti ditempatmu." Orang itu terkejut. Ia m emang berhenti beberapa langkah dari sudut kedai itu. "Jangan mengambil bambu itu." berkata Mahisa Murti kemudian dengan nada tinggi. Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang yang  m embuat tuak itu berteriak pula "Cepat. Jangan dengarkan kata-katanya. Ia adalah orang yang  akan menerima hukuman." Tetapi Mahisa Murti langsung menanggapi "Jika kau maju lagi, maka kau akan mengalami kesulitan. " "Omong kosong" ternyata Ki Bekel juga menjadi semakin marah "ambil sepotong bambu itu." "Ki Bekel" berkata Mahisa Murti "hentikan tingkahmu yang  buruk itu. Atau aku harus berbuat sesuatu untuk meyakinkanmu?" "Jangan membual lagi. Kau akan menjalani hukuman disini, dihadapanku, orang yang berkuasa di padukuhan ini.” jawab Ki Bekel sambil menengadahkan wajahnya. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak mempunyai pilihan lain. Sementara itu sikap Ki Bekel, para bebahu dan pemilik kedai serta orang yang membuat tuak itu bagi Mahisa Murti sudah keterlaluan. Ki Bekel tahu bahwa banyak orang yang tidak sejalan dengan kebijak sanaannya tentang kedai dan tuak itu. Namun Ki Bekel sama sekali tidak menghiraukannya. Hatinya sama sekali tidak tergerak melihat anak-anak muda yang menjadi mabuk, muntah-muntah kemudian tidur dimana sa ja tubuhnya terbaring. Ki Bekel sama sekali tidak mau memikirkan masa depan anak-anak muda itu. Karena itu, maka bulat niat Mahisa Murti untuk membuat hati Ki Bekel itu tergetar. Karena itu, ketika orang yang akan m engambil sepotong bambu itu melangkah maju lagi, Mahisa Murti berkata "Cukup. Kau sudah berdiri terlalu dekat. Mundurlah. Jika aku menghitung sampai tiga kau tidak mundur, maka kau akan mengalami bencana. " Orang itu kembali menjadi ragu-ragu. Namun Ki Bekel berteriak pula "Cepat lakukan. Orang ini harus dipukuli sampai jera. Pedangnya tidak akan kuasa mencegah keputusan itu, karena jika ia menarik pedangnya, maka artinya ia membunuh diri." Tetapi ketika orang itu akan bergerak lagi, Mahisa Murti mulai menghitung "Satu, dua...." Ternyata orang itu terpengaruh oleh hitungan yang  diucapkan Mahisa Murti. Karena itu, maka ketika Mahisa Murti mulai menghitung, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi, m aka orang itu melangkah mundur. Bahkan dengan tergesa -gesa. Sementara itu Mahisa Murti memang sudah kehabisan kesabaran menghadapi Ki Bekel. Sikapny a yang menjengkelkan serta jalan pikirannya yang  pendek menjadi sangat memuakkan bagi Mahisa Murti. Demikianlah ketika Mahisa Murti mengucapkan hitungan yang ketiga, maka Mahisa Murtipun telah menghentakkan tangannya kearah sudut kedai tempat sepotong bambu itu bersandar. Tidak dengan mengerahkan segenap tenaga dan kekuatan yang ada didalam diriny a. Yang dilontarkannya adalah kekuatan pada permukaannya saja. Namun akibatnya sudah cukup menggemparkan. Bukan sa ja sepotong bambu itu yang hancur menjadi debu, tetapi tiang disudut kedai itupun telah hancur pula, sehingga atap disudut kedai itu telah runtuh. Terdengar derak kayu-kayu yang patah, kemudian tulangtulang atap itu jatuh berserakan. Orang yang sudah bergerak mundur itu ternyata masih juga tersentuh hentakkan kekuatan ilmu Mahisa Murti. Orang itu telah terdor ong beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah. Untunglah bahwa ia sudah mengambil jarak, sehingga akibatnya tidak membahayakannya. Meskipun demikian, kulitnya telah terluka pula tergores oleh batu-batu kerikil yang  bertebaran. Kuda-kuda yang  ada di halaman kedai itu terkejut. Seekor diantaranya telah meringkik sambil berdiri pada kaki belakangnya, sementara yang lain berputar-putar dengan gelisah. Ringkik kuda yang keras itu seolah-olah membuat getaran kekuatan Mahisa Murti semakin mencengkam. Orang-orang yang melihat peristiwa itu berdiri mematung. Wajah mereka menjadi pucat, sementara tubuh Ki Bekel, para bebahu, pemilik kedai dan orang yang  membuat tuak itu menjadi gemetar. Anak-anak yang  m eskipun m abuk, namun jantung m ereka bagaikan berdentang semakin cepat didalam dadanya. Sejenak keheningan telah mencengkam. Ki Bekel berdiri tegak dengan mulut terkatub rapat. Sementara itu lutut pemilik kedai yang  baru saja menengadahkan wajahnya itu bergetar dan beradu yang satu dengan yang lain. Baru sejenak kemudian Mahisa Murti berkata "Ki Bekel.” Ki Bekel itu terkejut bukan kepalang. Suara itu seperti ledakan petir menyambar telinganya. Dengan gagap iapun kemudian menjawab "Ya, y a, anak muda." "Sekarang, kau dan para bebahu itu aku minta berdiri terpisah dari banyak orang." "Tetapi, tetapi, untuk apa anak muda" suaranya menjadi gagap. "Aku akan melakukannya atas kalian. Jika kalian memang orang berilmu tinggi dan merasa berkuasa disini berlandaskan ilmumu dan kekuatan pengikut-pengikutmu tanpa menghiraukan nurani rakyatmu, maka kalian tentu dapat menangkis atau menghindari seranganku." berkata Mahisa Murti. "Tidak. Jangan, jangan" minta Ki Bekel "kami mohon maaf." "Seperti kau yang akan menghukum aku, maka akulah sekarang yang  akan menghukummu tanpa menghiraukan paugeran yang  berlaku. Aku membatalkan niatku untuk minta agar para prajurit Singasari menata kembali kehidupan di padukuhan ini. Tetapi aku sendiri akan bertindak sekarang, tanpa menghiraukan tatanan dan paugeran yang manapun. Aku dapat melakukannya karena aku memiliki ilmu yang dapat mengatasi kalian, bahkan jika semua orang disini menentangku." geram Mahisa Murti. Ki Bekel m enjadi semakin ketakutan. Demikian pula para bebahu, pemilik kedai dan pembuat tuak itu. Dengan suara memelas Ki Bekel memohon "Kami mohon ampun anak muda." "Seandainya aku tadi m inta ampun kepadamu, apakah kau juga akan mengampuniku dan tidak jadi menghukumku ?" bertanya Mahisa Murti. "Tentu, tentu anak muda" jawab Ki Bekel. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya "Kau telah melakukan kesalahan lagi Ki Bekel." Wajah Ki Bekel semakin pucat. Dengan gagap ia bertanya "Kesalahan apa lagi anak muda ?" "Kau telah mencoba menipuku. Kau tidak akan begitu mudah memaafkan seseorang menilik watakmu. Bukankah kau benar-benar akan m enghukumku ? Memukuliku dengan sepotong bambu ? Bahkan kau telah menantangku, bahwa jika aku menarik pedangku itu berarti aku akan membunuh diriku sendiri. " "Tidak anak muda, sungguh tidak. Aku mohon ampun, aku benar-benar mohon ampun. "Ki Bekel itu bagaikan merintih. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya "Bagaimana dengan yang  lain ?" Pemilik kedai dan pembuat tuak itupun hampir berbareng berkata "Aku juga mohon ampun." "Baiklah" berkata Mahisa Murti kemudian "aku akan memaafkan kalian. Tetapi kalian tahu apa yang  aku kehendaki." "Ya, ya, anak muda. Aku mengerti" jawab Ki Bekel. "Bukan hanya kau " berkata Mahisa Murti kemudian. "Ya, y a. Bukan hanya aku. Tetapi kami tahu maksudmu" jawab Ki Bekel pula. "Baiklah" berkata Mahisa Murti "aku kali ini percaya kepada kalian. Aku menghargai sikap beberapa orang yang telah berani menyatakan pendapat dan sikapnya, meskipun pada saat terakhir, mereka menjadi silau melihat kehadiran Ki Bekel. Pada saat-saat tertentu aku akan lewat jalan ini pergi dan kembali dari Singasari. Aku akan m enepati kata-kataku, bahwa aku akan m emberitahukan kepada prajurit Singasari, agar mereka ikut campur menata kembali kehidupan di Kabuyutan ini. " Ki Bekel hanya m enundukkan kepalanya. Ia tidak berani membantah lagi. Ia sudah melihat apa yang  dapat dilakukan oleh anak muda yang  dikiranya sekedar mempunyai kemampuan olah kanuragan itu. Namun yang ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi. Demikianlah maka Mahisa Murtipun kemudian telah mengajak Mahisa Semu dan Mahisa Amping meninggalkan tempat itu. Mereka sempat m emperhatikan beberapa orang anak muda dalam keadaan yang berbeda. Ada yang benarbenar telah menjadi mabuk, ada yang baru mulai, tetapi ada juga yang  sudah mulai dipengaruhi oleh tuak, tetapi kesadarannya masih utuh. Namun dalam keadaan kesakitan karena mereka telah berkelahi dengan Mahisa Semu. "Nah Ki Bekel. Itulah anak-anakmu. Jika karena itu kau dapat menjadi seorang yang kaya raya, maka kau tahu, bahwa kau m endapatkan harta benda dengan mengorbankan anakanakmu sendiri. Sementara anak-anak m uda itu bermabukmabukan, maka anak-anak muda yang  lain bekerja keras memeras keringat disawah, pategalan dan di panggang dipanasny a perapian pande besi. Sementara itu orang-orang tua mulai mengeluh melihat tingkah laku anak-anaknya yang menjadi harapan bagi masa depannya.” Ki Bekel tidak menjawab. Namun wajahnya menjadi semakin menunduk. Sementara jantungnya menjadi berdebaran. Diluar sadarnya Ki Bekel mengerling kepada anak-anak m uda itu. Dahinyapun menjadi berkerut. Seakanakan baru saat itu ia melihat pertama kali akibat yang terjadi atas anak-anak muda itu. "Renungkan Ki Bekel" berkata Mahisa Murti yang  kemudian sudah duduk di atas kudanya. Sebelum kuda itu berlari, maka Mahisa Murti telah melemparkan beberapa keping uang sambil berkata kepada pemilik kedai itu "Ambillah. Jika kurang, besok jika aku lewat lagi, aku akan singgah dan menambahinya. Jika lebih, kelebihannya aku belikan tuak. Seberapa dapatnya, buang tuak itu kedalam parit dibelakang kedai itu.” Pemilik kedai itu tidak sempat menjawab. Mahisa Murtipun kemudian telah melarikan kudanya, diikuti oleh Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Ketiganya memang tidak memacu kuda mereka terlalu kencang, sementara Mahisa Murti berkata kepada kedua adik angkatnya "Kau lihat akibat buruk dari minum tuak." Mahisa Semu dan Mahisa Amping mengangguk mengiakan. Sementara Mahisa Murti berkata selanjutnya "Kita masih belum sempat melihat, betapa pahitnya hati orang tua mereka melihat keadaan anak-anaknya. Satu dua kita sudah mendengar keluhan semacam itu. Tetapi orang-orang yang berkerumun tadi ternyata tidak dapat berbuat sesuatu ketika Ki Bekel dan para bebahu datang. " "Mereka menjadi ketakutan" berkata Mahisa Semu. Mahisa Murti mengangguk. Namun ia tidak menjawab lagi. Demikianlah maka kuda merekapun berlari terus. Perjalanan mereka sudah terhambat beberapa lama. Namun justru karena itu mereka sempat melihat sesuatu yang membuat orang-orang tua berprihatin. Kecuali satu dua orang tua yang membiarkan tabiat anak-anaknya yang  tidak terawat justru untuk menutupi kekurangan mereka sendiri. Sementara itu, angin yang lembut telah mengusap wajah mereka yang  berkeringat. Dedaunan yang  hijau bergerak dengan malasny a. Mahisa Murti dan kedua orang adik angkatnya berkuda menyusuri jalan bulak yang panjang. Mereka tidak t erlalu banyak berbicara. Sekali-sekali Mahisa Amping yang sudah berada didepan, berpaling kepada Mahisa Murti dan Mahisa Semu yang  berkuda dibelakangnya. Namun anak itu tetap berada di depan. Untuk selanjutnya tidak ada hambatan apapun diperjalanan. Ketika menjelang senja mereka sempat singgah lagi disebuah kedai. Mereka memang terlalu malam sampai di Singasari. Ketika mereka memasuki pintu gerbang butulan halaman istana, maka para prajurit yang bertugas telah menghentikan mereka. Untuk beberapa saat lamanya Mahisa Murti harus menjawab pertanyaan-pertanyaan para prajurit itu. Namun akhirnya pemimpin prajurit yang  bertugas di pintu gerbang itu berkata "Baiklah. Biarlah salah seorang dari antara kami mengantar Ki Sanak sampai ke rumah Ki Mahendra.” "Terima kasih, Ki Sanak" jawab Mahisa Murti. Demikianlah, maka Mahisa Murtipun telah diantar memasuki halaman belakang istana Singasari sampai kerumah Mahendra. Ketika mereka mengetuk pintu yang sudah tertutup rapat, maka Mahendra memang terkejut. Demikian ia membuka pintu, maka dilihatnya Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping diantar oleh seorang. prajurit yang  bertugas. Mahendra menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Kepada prajurit yang  mengantar mereka, Mahendra berkata "Terima kasih Ki Sanak. Mereka memang anakanakku." Prajurit itu m engangguk hormat sambil berkata "Maaf Ki Mahendra, bahwa diantara kami yang  malam ini bertugas, kebetulan belum mengenal putra Ki Mahendra ini." "Bukankah kau kenal Mahisa Pukat ?" bertanya Mahendra. "Tentu Ki Mahendra." jawab prajurit itu. "Apakah diantara mereka tidak ada kemiripan ?" bertanya Mahendra pula sambil tertawa. Prajurit itu mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang Mahisa Murti sekila s, maka iapun berkata "Ya, y a. Mereka memang mirip." Demikianlah, maka prajurit itupun telah m inta diri untuk kembali ke tempat tugas mereka, sementara itu bukan saja Mahendra yang mengucapkan terima kasih, tetapi juga Mahisa Murti. "Apakah kau juga terhambat diperjalanan ?" bertanya Mahendra ketika mereka sudah duduk diruang dalam. "Ya ayah" jawab Mahisa Murti "tetapi agaknya karena kami juga mencoba mencampuri persoalan orang lain. " Mahendra tersenyum. Namun katanya "Duduklah. Biarlah dibuat minuman bagi kalian. Nanti aku minta kau ber-ceritera tentang perjalananmu." "Tidak usah ay ah. Kami sudah makan dan minum" berkata Mahisa Murti kemudian. "Biarlah pembantu dirumah ini membuat minuman hangat. Aku juga m erasa haus" jawab Mahendra. Lalu katanya "Jika kalian ingin berbenah diri, pergilah ke pakiwan. " Setelah menambatkan kuda-kuda m ereka dibelakang dan membersihkan diri di pakiwan, maka mereka telah duduk diruang dalam. Mahisa Ampinglah yang kemudian berceritera tentang perjalanan mereka. Meskipun ceriteranya tidak lebih dari ceritera seorang remaja, namun Mahendra dapat menangkap persoalan yang  ada dibalik peri stiwa itu. Karena itu, maka setelah Mahisa Amping selesai berceritera, Mahendra itupun berkata "Memang kadangkadang sulit bagi kita untuk menahan diri agar sama sekali tidak mencampuri persoalan orang lain. Jika kita melihat kepincangan dalam tatanan kehidupan terjadi disekitar kita, maka sulit bagi kita untuk tidak mencampurinya." "Ya, ayah." sahut Mahisa Murti "a palagi bagi aku dan barangkali juga Mahisa Pukat yang  pernah menjalani laku tapa ngrame. Ra sa-rasanya selalu terdorong untuk berbuat sesuatu jika perasaan kami tersinggung oleh kepincangan dalam tatanan kehidupan ini." Mahendra mengangguk-angguk. Katanya "Aku mengerti. Bahkan ketika aku dan mPu Sidikara berniat untuk tidak mencampuri persoalan orang lain, maka justru kami tergelincir juga dalam per soalan yang  menyangkut kami berdua." Mahisa Murti terseny um. Namun katanya "Tetapi rasarasanya aku tidak terlalu bersalah mencampuri persoalan yang terjadi di kedai itu." "Memang kadang-kadang datang masanya, bahwa kita justru sebaiknya mencampuri persoalan orang lain." Mahisa Murti mengangguk-angguk, sementara Mn).<aa amping bertanya "Bukankah kita tidak berniat berbuat jahat ?- "Ya Amping " jawab Mahisa Murti "ada bedanya antara berbuat jahat dan mencampuri persoalan orang lain. Jika kita mencampuri persoalan orang lain, mungkin justru kita berniat baik. Tetapi meskipun kita berniat baik, namun kita tetap saja mencampuri persoalan orang lain.” Mahisa Am ping mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia mengangguk-angguk. Ia mencoba memahami keterangan Mahisa Murti itu. Demikianlah, maka pembantu dirumah Mahendrapun kemudian telah menghidangkan minuman hangat dan bahkan makan. Meskipun mereka sudah makan diperjalanan, tetapi Mahisa Semu dan Mahisa Amping rasa-rasanya memang masih ingin makan lagi. Setelah makan dan beristirahat sejenak, maka Mahendra telah mempersilahkan Mahisa Murti dan kedua adik angkatnya beri stirahat. "Besok saja kita berbicara tentang hari-hari pernikahan Mahisa Pukat sepekan lagi" berkata Mahendra. Mahisa Murti mengangguk sambil menjawab "baik ay ah. Bukankah tidak ada persoalan yang  menyimpang ?" "Tidak " jawab Mahendra "semua berjalan sebagaimana direncanakan. " "Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya Sokurlah. Mudah-mudahan segalanya dapat berjalan dengan baik dan selamat." "Sejak besok Mahisa Pukat sudah tidak bertugas. Besok ia sudah berada di rumah ini. Ia mendapat waktu setengah bulan untuk melaksanakan pernikahannya. " Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Semu bertanya dengan nada yang  jernih "Jadi besok kakang Mahisa Pukat sudah tidak bertugas di Kasatrian lagi?" "Untuk setengah bulan" jawab Mahendra. Demikianlah, maka Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping pun pergi ke pembaringan. Meskipun malam sudah terlalu jauh, namun mereka masih mempunyai waktu untuk tidur barang sebentar. Seperti yang  dikatakan oleh Mahendra, maka dihari berikutnya Mahisa Pukat telah dibebaskan dari tugasnya Ber sama mPu Sidikara Mahisa Pukat pulang kerumah Mahendra. Mahisa Pukat m enjadi sangat bergembira ketika ia m elihat Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping telah datang. Bahkan kemudian iapun bertanya "Paman Wantilan jadi tidak datang?" "Ya " jawab Mahisa Murti "harus ada yang  menunggui padepokan. Mudah-mudahan tidak ada kesulitan. " Sejak hari itu, maka Mahisa Pukat sudah tidak lagi pergi ke Ka satrian. Berbagai persiapan sudah dilakukan dirumah Mahendra. Ketika matahari mulai naik, maka dua orang tua telah berada dirumah Mahendra untuk membantu melakukan persiapan-persiapan yang  diperlukan. Tetapi kesibukan dirumah Mahendra tidak nampak sebagaimana dirumah Arya Kuda Cemani. Demikianlah, selama di Singasari, Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping ikut tenggelam dalam kesibukan. Ada saja yang harus m ereka lakukan. mPu Sidikara meskipun harus tetap bertugas di Kasatrian, t etapi pada waktu-waktu luangnya, iapun ikut sibuk dirumah Mahisa Pukat. Bukan saja sibuk untuk meny iapkan saat-saat pernikahan. Tetapi Mahendra harus mempersiapkan tempat tinggal bagi Mahisa Pukat dan isterinya. "Beruntunglah bahwa aku mendapat rumah yang memadai di bagian belakang istana ini" berkata Mahendra "meskipun kecil, tetapi cukup lengkap, sehingga dapat dipergunakan bersama Mahisa Pukat nanti setelah berkeluarga. Aku juga sudah menyampaikan permohonan. Ternyata Sn Paduka Maharaja dengan perantara seorang pejabat rumah tangga istana tidak berkeberatan jika rumah ini aku pergunakan bersama Mahisa Pukat." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun terbersit diangannya, bahwa dengan demikian Mahisa Pukat masih belum benar -benar mapan, karena ia masih belum mempunyai tempat tinggal sendiri. Menurut pendapat Mahisa Murti, rumah ayahnya itu adalah rumah yang  disediakan oleh Sri Baginda Maharaja untuk ditempati. Tetapi tidak untuk dimiliki. Apalagi letaknya memang berada di dalam lingkungan dinding istana. Setelah berkeluarga, Mahisa Pukat masih harus melengkapi dirinya. Ia harus berusaha untuk memiliki sebuah tempat tinggal betapapun kecilny a. Dihari berikutnya, maka segala persiapan sudah hampir selesai. Rumah Arya Kuda Cemani sudah di hias dengan tarub. Jika senja turun, maka rumah dan halamannya nampak terang benderang. Lampu minyak dan onc or sudah dipasang dimanamana. Di hari berikutnya, barulah Mahisa Bungalan datang. Akuwu Sangling itu ingin menunggui adiknya yang akan menikah meskipun Mahisa Bungalan juga merasa heran, kenapa Mahisa Murti sama sekali belum tergerak hatinya untuk memilih seorang kawan hidup. Baru setelah sehari berada di Singasari, diluar pengetahuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, Mahendra telah menceriterakan hubungan yang rumit antara Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Sa si, seorang gadis cantik anak Arya Kuda Cemani Mahisa Bungalan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Seperti ayahnya iapun merasa iba terhadap Mahisa Murti. Tetapi ia tidak boleh menyatakannya, karena dengan demikian maka ia akan dapat meny inggung perasaannya. Juga ia tidak dapat berbicara tentang hal itu kepada Mahisa Pukat. Dalam kesempatan itu, maka Mahisa Bungalan dapat bertemu dengan kedua adiknya yang  baru. Adik yang  diangkat oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat Mahisa Bungalan senang melihat keduanya. Bahkan ketajaman penglihatannya langsung dapat melihat kelebihan keduanya. Terutama Mahisa Amping yang  memiliki ketajaman penggraita m eskipun dalam usia mudanya kadang-kadang ia tidak tahu bahwa ia melihat satu isy arat. “Kedua anak itu merupakan harapan dihari mendatang" berkaa Mahisa Bungalan, ketika ia sempat berbicara dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat “Aku akan mencoba membentuknya " berkata Mahisa Murti “tetapi pada dasarnya anak-anak itu merupakan anak yang baik” Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Dengan senang hati ia menawarkan agar keduanya bersedia datang ke Pakuwon Sangling. "Lain kali aku akan mengajak mereka" berkata Mahisa Murti. Dalam pada itu, m aka hari yang ditunggu-tunggu itupun akhirnya sampai juga. Sudah sampai pada hari yang ditentukan bagi Mahisa Pukat dan Sasi untuk melaksanakan pernikahan. Bulan, pekan, hari dan bahkan saatnya sudah diperhitungkan dengan baik oleh orang-oraifg tua. Karena itu, orang-orang tua itu mempersiapkan segalanya untuk dapat dilaksanakan tepat pada waktunya. Sebenarnyalah bahwa segalanya memang dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana. Tidak ada hambatan apapun yang mengganggu acara pernikahan Mahisa Pukat dan Sasi, anak perempuan Arya Kuda Cemani. Salah seorang Senapati yang  berpengaruh di Singasari, terutama dibidang tugas-tugas sandi. Namun dalam pada itu, ketika upacara terpenting dari pernikahan itu siap dilak sanakan sesuai dengan paugeran dasar, hubungannya dengan kepercayaan yang dianut oleh kedua orang yang siap dipersandingkan itu, justru telah terjadi keributan. Keluarga Arya Kuda C emani serta beberapa orang kawan dekatnya dari lingkungan keprajuritan, bahkan utusan resmi Sri Maharaja di Singasari yang hadir di rumah Arya Kuda Cemani terkejut atas kehadiran seorang yang  b ertubuh tinggi dan besar. Rambutnya yang  tergerak m encuat dibawah ikat kepalanya nampak sudah memutih. Tetapi tubuhnya masih nampak kuat dan tegar. Dikedua pergelangan tangannya nampak gelang-gelang akar-akaran disatu sisi, sedang disisi yang  lain, nampak terbalut oleh kulit yang tebal dan lebar hampir sampai ke siku. Ber sama orang itu nampak seorang anak muda yang  bertubuh sedang. Wajahnya bersih dan tampan. Matanya tajam berkilat-kilat. Kedua orang itu melangkah langsung menuju ke tangga pendapa. Namun ternyata keduanya berhenti dibawah tangga yang pertama. Beberapa orangpun segera bangkit berdiri ketika m ereka melihat sikap yang tidak sewajarnya dari kedua orang itu Seorang Senapati dari pasukan berkuda yang  juga hadir ditempat itu segera bangkit, turun dari tangga langsung berdiri dihadapan orang itu. Meskipun demikian Senapati itu masih bertanya dengan baik "Ki Sanak. Apakah Ki Sanak juga akan menghadiri upacara pernikahan anak perempuan Arya Kuda Cemani ? Jika demikian, m arilah, silahkan naik dan duduk diantara kami. Upacara memang sudah hampir dimulai." Tetapi orang itu menjawab singkat "Tidak. Aku akan berbicara dengan Kuda Cemani." Senapati itu mengerutkan dahinya. Namun iapun menjawab "Sayang  Ki Sanak. Arya Kuda Cemani dan isterinya sudah siap mengikuti upacara pernikahan anak gadisnya. " "Aku akan berbicara dengan orang itu, sekarang. Sebelum upacara itu berlangsung. " “Tetapi mereka sudah siap untuk melakukan upacara itu” “Aku tidak peduli” jawab orang itu yang  kemudian justru berteriak "Kuda Cemani. Aku datang untuk menagih janji” Senapati dari pasukan berkuda itu mengerutkan dahinya. Katanya "Ki Sanak. Aku minta Ki Sanak bersabar. Setelah upacara selesai, maka kau dapat berbicara dengan tenang” Tetapi orang itu berteriak lantang "Tidak, aku akan bicara sekarang .Justru sebelum upacara pernikahan, upacara itu harus dibatalkan” "Kenapa ?" bertanya Senapati itu. “Sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Aku akan bertemu dengan Kuda Cemani. " jawab orang itu. Sebelum Senapati itu menjawab, maka orang itu berteriak lebih keras "Ku da Cemani, apakah kau sekarang sudah menjadi pengecut? Keluarlah. Kita akan berbicara sebagai laki-laki. Jika kau sekarang m enjadi pengecut seperti betina licik, aku sebagai saudara seperguruanmu akan ikut menderita malu. Karena itu, maka lebih baik aku membunuhmu saja." Teriakan itu telah membuat beberapa orang tidak lagi dapat menahan diri. Beberapa orang serentak bangkit dan mendekatinya. Utusan resmi Sri Baginda Maharaja Singasari justru memerlukan menemui orang itu sambil berkata "Ki Sanak. Aku berada disini atas nama Sri Maharaja Singasari. Aku minta kau menangguhkan persoalanmu dengan Arya Kuda Cemani. " "Aku hormati Raden sebagai utusan resmi Sri Baginda Maharaja. Tetapi persoalanku dengan Kuda Cemani adalah persoalan pribadi. Tidak ada orang lain yang  dapat ikut mencampurinya. Sekali lagi, justru sebelum upacara pernikahan dilaksanakan." Sementara itu, justru karena ada utusan resmi Sri Baginda yang hadir dalam upacara itu, m aka dihalaman itu terdapat beberapa orang prajurit yang  bertugas. Dua orang diantara mereka telah mendekat pula. Namun orang itu berteriak pula "Kuda Cemani. Tamutamumu yang sebagian adalah prajurit-prajurit Singasari tentu akan dapat mengusir aku dengan kekerasan. Tetapi dengan demikian, maka kau akan aku anggap sebagai orang yang paling licik, pengecut dan penakut diseluruh muka bumi." "Cukup Ki Sanak. Cukup" berkata mPu Sidikara yang juga menunggui pernikahan Mahisa Pukat "marilah kita berbicara ditempat yang terpisah. Mungkin kita akan dapat menemukan persesuaian pendapat. " “Tidak. Aku akan langsung berbicara dengan Kuda Cemani.” jawab orang itu dengan lantang. Orang-orang yang  k emudian mengerumuninya sudah siap untuk mengambil tindakan terhadap orang itu. Jika perlu dengan kekerasan, karena orang itu telah mengganggu upacara yang harus segera dimulai. Namun tiba -tiba terdengar suara diantara mereka yang  berkerumun “Apa yang  sebenarnya kau kehendaki, kakang.” Mata orangitupun menjadi berkilat ketika ia melihat Arya Kuda Cemani meny ibak orang-orang yang  m engerumuninya itu. Orang bertubuh tinggi dan besar itu memandang Arya Kuda Cemani dengan mata yang menyala. Kemudian dengan geram orang itu berkata “Kuda C emani. Aku datang untuk menagih janji.” “Kakang” berkata Arya Kuda Cemani “Apakah aku mempunyai hutang? Apalagi hutang janji?” “Kau jangan ingkar. Meskipun kau sekarang Senapati pasukan sandi di Singasari, tetapi hubunganmu dengan aku secara pribadi tidak dapat kau hapuskan. Kau adalah adik seperguruanku, betapapun nasib kita berbeda.” berkata orang itu. “Aku tidak pernah ingkar, kakang. Bahwa kau adalah saudara seperguruanku. Bahkan saudara tua. Nah, aku ju stru akan minta restumu. Bahkan hari ini aku akan m enikahkan anakku.” sahut Arya Kuda Cemani. Namun kemudian dengan serta merta ia bertanya “Atau barangkali kakang merasa tersinggung bahwa aku tidak memberitahukan pernikahan anakku ini sebelumnya kepada kakang.” "Ya " jawab orang itu "tetapi lebih dari sekedar tidak memberitahu” "Sebenarnya aku sama sekali tidak melupakan kakang. Tetapi aku tidak tahu dimana kakang tinggal sekarang, sehingga aku tidak dapat memberitahukan kepada kakang, bahwa hari ini aku akan menikahkan anakku " sahut Arya Kuda Cemani. "Aku tidak y akin kebenaran alasanmu. Aku tidak berada di tempat yang  terlalu jauh." berkata orang itu kemudian "Meskipun tidak terlalu jauh, tetapi aku benar-benar tidak mengerti dimana kakang tinggal. Tetapi jika kemudian kakang mengetahui bahwa hari ini aku menikahkan anakku dan kakang bersedia hadir aku akan merasa senang sekali. Bahkan aku memang harus minta maaf kepada kakang, bahwa aku tidak dapat menghubungi kakang sebelumnya” “Bukan sekedar bahwa aku tidak kau bentahu, Kuda Cemani. Tetapi kau harus ingat akan janjimu, bahwa persaudaraan kita tidak akan pernah terputus." “Ya, y a kakang. Aku memang berharap bahwa hubungan persaudaraan kita tidak akan pernah putus sampai kapanpun” “Kenapa anakmu perempuan kau nikahkan dengan anak muda yang lain?" bertanya orang itu. "Maksud kakang?" bertanya Arya Kuda Cemani. "Aku mempunyai seorang anak laki -laki, Kuda Cemani. Dan kau mempunyai anak perempuan. Jika kau tidak ingkar akan janjimu, maka anak perempuanmu harus menjadi menantuku, sehingga persaudaraan kita tidak akan terputus. Tetapi karena kau sudah m enjadi Senapati yang  berpengaruh di Singasari, maka kau berusaha untuk mengkesampingkan aku. Anakmu kau nikahkan dengan seorang Pelay an Dalam yang  bertugas di Ka satrian. Bahkan telah diangkat m enjadi pelatih bagi para Kesatrian muda Singasari." Wajah Arya Kuda Cemani menjadi tegang. Sesaat Arya Kuda Cemani berusaha mengendalikan perasaannya. Namun demikian katanya "Maaf kakang. Aku akan memberikan penjelasan tentang hal itu kepada kakang. Tetapi aku m inta kakang duduk dahulu. Nanti sesudah aku selesai, maka penjelasanku tentu akan memuaskan kakang. " "Tidak " jawab orang itu "kau akan m enjebak aku. Sesudah pernikahan berlangsung, maka anak gadismu sudah bukan hakmu lagi. Tetapi sekarang, sebelum pernikahan itu dilaksanakan, maka kau harus memenuhi janjimu. Berikan anak gadismu kepadaku. Ia akan menjadi menantuku. Itu adalah satu-satunya cara untuk m elangsungkan persaudaraan kita seterusnya. Kecuali jika kau mempunyai dua anak perempuan." "Kakang, itu tidak mungkin. Kakangpun tidak dapat mengartikan niat kita untuk melangsungkan persaudaraan dengan menikahkan anak kita. Karena pernikahan itu biasanya justru dilakukan oleh dua orang yang tidak mempunyai sangkut paut persaudaraan." "Kau tidak usah mengatakan seribu macam alasan. Kau berikan anakmu atau tidak?" bertanya orang itu. "Maaf kakang. Aku tidak dapat memberikannya." jawab Arya Kuda Cemani. "Kau tahu akibat dari sikapmu itu?" bertanya orang itu. "Ya. Aku tahu. Aku harus mempertahankan sikapku dengan cara yang kakang kehendaki," jawab Arya Kuda Cemani "apapun yang  kakang kehendaki, aku tidak akan ingkar." "Baik Kuda Cemani. Tetapi aku tidak akan menantangmu bertempur sekarang. Aku tahu bahwa ilmumu telah maju dengan pesat. Bahkan kau telah mampu menguasai Aji Panglimunan." jawab orang itu. "Jadi apa yang  kakang kehendaki?" bertanya Arya Kuda Cemani. "Aku ingin m engetahui, apakah bakal m enantumu mampu mempertahankan bakal isterinya. " "Maksud kakang?" bertanya Arya Kuda Cemani. "Aku bawa anakku. Ia akan merebut kedudukannya sebagai bakal menantumu" berkata orang itu "caranya adalah cara seorang laki -laki. Siapa yang  menang, ia adalah calon menantumu yang akan melaksanakan pernikahannya hari ini." "Gila" geram Aya Kuda Cemani yang kehilangan kesabaran "t idak. Ia sudah siap untuk melakukan upacara. Apa yang terjadi, akulah yang akan menghadapi. Kakang sendiri atau anakmu. Aku tidak peduli." "Kau cemaskan bakal menantumu bahwa ia tidak akan menang?" bertanya orang itu. Wajah Arya Kuda Cemani memang terasa m enjadi panas. Selangkah ia maju sambil berkuta "Kakang. Aku mohon kakang jangan mengganggu. Aku masih mencoba untuk menahan diri. Tetapi jika kakang masih memaksa untuk melakukan hal yang  tidak m asuk akal ini, maka aku dapat berbuat lebih jauh lagi. Kakang melihat, bahwa disini sudah banyak tamuku yang hadir. Upacarapun sudah siap untuk dimulai. " "Sudah aku katakan Kuda Cemani. Kau dapat mengusir aku dengan kekerasan. Disini tentu banyak kawan-kawanmu, Senapati dan Panglima Perang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi jika kau gunakan kekerasan dengan cara seperti itu, maka harga dirimu akan terpelanting jatuh dan tidak berharga lagi. Apalagi harga diri calon menantumu itu Ia akan menjadi orang yang  paling tidak berharga di Singasari.” "Kakang" berkata Arya Kuda Cemani "aku tidak pernah mengingkari per saudaraan kita. Tetapi dua orang bersaudara kadang-kadang memang dapat berbeda sikap dan kepentingan. Karena itu, aku akan mempertahankan diri” "Itu tidak cukup. Anakku m enantang bakal m enantumu" berkata orang itu "sekali lagi, anakku menantang calon mantumu. Jika anakku menang, maka ia akan mengambil alih kedudukan calon menantumu itu." Kemarahan Arya Kuda Cemani sudah sampai keubunubunnya. Namun sebelum ia bertindak sesuatu, terdengar suara seorang yang lain "Bagus. Tetapi kau datang agak terlambat Ki Sanak. Sebelum kau datang, aku sudah melakukannya. Aku adalah cadangan utama calon m enantu Arya Kuda Cemani. Seandainya anakmu dapat m engalahkan calon menantunya yang  sudah siap melakukan upacara itu maka ia masih juga harus mengalahkan aku. Karena itu maka daripada ia harus bertanding melawan calon menantu yang sudah siap melakukan upacara, dan bahkan sudah berpakaian upacara pula, maka sebaiknya biarlah ia bertanding melawan aku lebih dahulu." Wajah saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu menjadi semakin tegang. Dengan nada geram ia bertanya "Siapa kau anak muda. Kenapa kau mencampuri persoalanku dengan adik seperguruanku." “Sudah aku katakan. Aku datang untuk mengambil Sasi tetapi aku menunggu sampai upacara selesai. Aku tidak berkeberatan jika persoalanku dengan Sasi dilakukan sesudah upacara, karena upacara ini bagiku tidak berarti apa -apa selain untuk menghormati tamu-tamu yang sudah diundang. Aku juga tidak ingin mengecewakan para tamu serta merendahkan Arya Kuda Cemani dipandangan mata sahabat-sahabatnya. Tetapi jika itu yang  akan kau lakukan maka aku terpaksa ikut campur juga." “Siapa kau ?” desis saudara seperguruan Arya Kuda Cemani. “Untuk apa kau bertanya?” Wajah saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itulah yang  kemudian menjadi merah. Namun ia masih berkata "Kami tidak mempunyai persoalan dengan kau anak muda” “Kau cemaskan bahwa anakmu tidak akan menang?” Jantung saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu bagaikan akan meledak. Namun anaknyalah yang  kemudian berkata dengan nada datar tanpa gejolak sama sekali "Aku terima tantangannya. Aku akan menyelesaikan anak ini lebih dahulu. Baru kemudian calon menantu paman Arya Kuda Cemani. Sebenarnya aku sama sekali tidak menganggap penting Sasi. Tetapi aku tidak mau harga diri ay ahku direndahkan. Itu sa ja. " Orang-orang yang  melihat sikap dan kata-kata anak muda itu memang menjadi berdebar-debar. Begitu yakin ia akan dirinya sendiri sehingga yang  terjadi disekitarnya itu seakanakan tidak mempengaruhi gejolak jiwanya Kedua saudara laki-laki Sasi yang  juga ikut mendekat menjadi berdebar-debar. Sebagai prajurit mereka memiliki ketahanan jiwani yang telah ditempa. Tetapi seorang diantara mereka berdesis "Mahisa Murti akan m endapat lawan yang tentu juga berilmu tinggi sebagaimana Mahisa Murti sendiri. " Sebenarnyalah Mahisa Murtilah yang  ingin menggantikan saudaranya menghadapi anak saudara seperguruan Arya Kuda Cemam itu. Namun melihat sikap anak muda yang datang untuk bertanding itu, Mahisa Murti merasa bahwa ia memang harus berhati-hati. Sementara itu saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itupun berkata "Jadi akan kau lay ani anak ini?" "Ia juga sudah merendahkan harga diri ayah dan harga diriku. Aku condong untuk meny elesaikan anak ini lebih dahulu. Sudah aku katakan, bahwa Sasi sama sekali tidak penting bagiku. Aku juga belum pernah mengenalnya dan apalagi tertarik kepadanya. " Namun Arya Kuda Cemanilah yang menyahut "Jadi kalian datang sekedar untuk mengacaukan upacara ini?" "Tidak " jawab anak muda itu "sudah aku katakan pula. Aku dan ayah tidak mau direndahkan, dikesampingkan dan sama sekali tidak dihargai. Itu saja. " "Dengan cara yang  menarik sekali" desis Mahisa Murti kemudian. "Ya, itu adalah cara yang telah kami pilih" jawab anak muda itu masih dengan nada datar." "Baiklah, apapun alasanmu, aku tidak akan menarik kesediaanku untuk m elayanimu. Tetapi sebaiknya kita tidak mengganggu upacara ini, maka jalan yang  kau pilih itu akan kita lakukan ditempat lain. Bukankah kau tidak mempedulikan apa yang  terjadi atas Sasi?" berkata Mahisa Murti. Anak muda itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia menjawab "Tidak. Semuanya harus t erjadi di sini. Calon pengantin itu harus mengetahui, bahwa ia sebenarnya tidak berharga sama sekali dimata ayahku. Kau tidak akan dapat memancing aku pergi dari tempat ini. Kecuali sebagaimana dikatakan oleh ayahku, semua Senapati dan Panglima yang ada disini dan berilmu tinggi bersama-sama mengusir kami berdua dengan kekerasan. Kami tentu akan pergi, namun dengan demikian harga diri keluarga ini akan terinjak-injak oleh langkah kami saat kami keluar regol halaman rumah ini." Wajah Mahisa Murti menjadi semburat merah oleh gejolak perasaan didadanya. Namun ia masih berusaha menguasai perasaannya. Karena itu, maka iapun bertanya "Ki Sanak. Apakah menurut pendapatmu pantas jika diruang dalam upacara pengantin sudah siap dilakukan sedang dihalaman terjadi perkelahian?" "Itulah yang  menarik" jawab anak muda itu "tetapi terserah kepada kalian. " Mahisa Bungalan yang  kemudian juga turun dari tangga pendapa m enggeretakkan giginya. Hampir saja ia kehilangan kesabaran. Namun ia justru kagum melihat Mahisa Murti masih dapat menahan diri. Tetapi Mahisa Murtipun kemudian berkata lantang "Baiklah. Kami akan memberikan suguhan tontonan terbaik yang pernah diselenggarakan dalam upacara pengantin. Apa boleh buat. " Orang-orang yang  menyaksikan menjadi tegang. Mereka memang melupakan sepasang pengantin yang sudah siap melakukan upacara. Dalam pada itu, Mahisa Pukat memang mendengar keributan yang terjadi. Bahkan ia sudah hampir meninggalkan tempatnya. Namun mPu Sidikaralah yang kemudian mendekatinya. Ia berterus terang mengatakan apa terjadi. Iapun mengatakan keputusan yang sudah diambil oleh Mahisa Murti untuk mewakilinya Mahisa Pukat menggeretakkan giginya. Tetapi beberapa orang telah mencegahnya, agar ia tidak meninggalkan tempatnya. Segala persiapan sudah dilakukan, sehingga karena itu, maka kedua orang pengantin itu harus dilindungi dari segala macam gangguan. Di halaman Mahisa Murti sudah siap menghadapi anak muda yang berwajah bersih dan bermata tajam berkilat -kilat itu. Namun sikapnya dingin dan berbicara dengan nada yang datar. Arya Kuda Cemani m emang tidak dapat mencegahnya. Ia juga tidak mau dihinakan. Karena itu, maka ia berpengharapan bahwa Mahisa Murti akan berhasil m ewakili saudaranya. Bahkan didalam hati Arya Kuda Cemani sudah bertekad, jika Mahisa Murti gagal, m aka ia akan m enantang saudara seperguruannya itu dalam pertandingan yang sama sebagaimana dilakukan oleh anak saudara seperguruannya itu dengan Mahisa Murti. Namun demikian, ketika halaman rumah Arya Kuda Cemani yang  sedang melaksanakan upacara pernikahan anaknya itu berubah menjadi arena perang tanding, maka Arya Kuda Cemani sempat m emberikan sedikit sesorah. Arya Kuda Cemani mohon maaf kepada orang-orang yang  telah diundangnya untuk m enghadiri upacara pernikahan anaknya. Bahkan termasuk utusan Sri Baginda Maharaja. Namun para Senapati dan Panglima, serta para pejabat, yang hadir ditempat itu ternyata sama sekali tidak merasa berkeberatan. Bukan karena mereka senang menyaksikan perkelahian, tetapi merekapun mengerti, bahwa Arya Kuda Cemani tidak mempunyai pilihan lain. Saudara seperguruannya sudah m enyudutkannya, sehingga apa yang terjadi itu tidak dapat dihindari. Meskipun demikian, orang-orang yang kemudian menyaksikan perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Sikap anak muda yang menantang calon pengantin itu sangat meyakinkan. Sikapnya, wajahnya, pandangan matanya dan kata-kata yang meluncur dari mulutnya. Tanpa-diminta, maka orang-orang itu telah berharap, bahkan berdoa agar Mahisa Murti dapat mengatasi anak muda itu. Mahisa Murti sendiri m emang menjadi berdebar-debar. Ia merasa bahwa ia harus sangat berhati-hati. Lawannya yang berilmu tinggi itu tentu tidak akan begitu saja mengaku kalah seandainya Mahisa Murti dapat mendesaknya. Demikianlah, maka dengan sendiriny a telah terbentuk satu arena di halaman rumah Arya Kuda Cemani. Para tamu telah turun dari pendapa dan berdiri melingkar di halaman. Mahendra yang  berdiri disebelah Arya Kuda Cemani juga menjadi tegang seperti Arya Kuda Cemani sendiri. Bahkan Mahisa Bungalan sempat menahan nafas. Sudah lama ia tidak bertemu dan menyaksikan kemampuan adiknya. Apalagi ketika ia melihat lawannya yang demikian yakin akan diriny a. Sementara itu diruang dalam, beberapa orang berusaha untuk menenangkan Mahisa Pukat yang  gelisah. Ia sendiri ingin turun untuk menyatakan bahwa dirinya tidak hanya sekedar menompang kemampuan orang lain, meskipun orang lain itu adalah saudaranya sendiri. Dalam pada itu, maka perkelahian di halaman itupun sudah dimulai. Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani ju stru berdiri didalam arena. Ketika kedua anak muda itu mulai bergerak, maka orang itupun berkata "Buktikan, bahwa kau bukan cucurut yang  pantas disingkirkan begitu saja. Tunjukkan kepada mereka, bahwa kau juga mempunyai harga. Selanjutnya, kau boleh saja. tidak peduli terhadap gadis itu jika kau menganggap gadis itu tidak berharga bagimu." Yang menggertakkan giginya adalah Mahisa Bungalan. Dengan lantang ia berkata "Murti. Jika kau gagal, maka kaulah cucurut itu." Mahisa Murti mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Meskipun tidak terucapkan, ia berjanji kepada kakaknya Mahisa Bungalan, bahwa ia tidak ingin menjadi cucurut itu. Karena itu, maka Mahisa Murtipun telah m empersiapkan diri sebaik-baiknya. Justru ia menyadari, bahwa lawannya tentu seorang yang berilmu sangat tinggi. Karena saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu tidak keluar dari arena, maka Mahisa Bungalan yang sulit untuk mengekang dirinya itupun telah berada didalam arena pula. Ia akan mengimbangi apapun yang  akan dilakukan oleh saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu. Namun di luar arena, Arya Kuda Cemani sendiri sudah bersiap sepenuhnya. Ia akan menghadapi saudara seperguruannya itu jika ia akan ikut campur. Mahendrapun menjadi tegang. Ia bukan saja m emikirkan Mahisa Murti. Tetapi ia juga memikirkan perasaan Mahisa Pukat. Namun Mahendra berharap bahwa mPu Sidikara yang masuk keruang dalam dapat menenangkan Mahisa Pukat. Upacara yang  sudah disiapkan itu memang tertunda. Tetapi Mahisa Pukat tidak beranjak dari tempat yang  disediakan baginya. Namun seandainya yang mewakilinya bukan Mahisa Murti, mungkin Mahisa Pukat tidak akan dapat dicegah lagi. Demikianlah, maka Mahisa Murti dan anak muda yang  datang bersama ayahnya itu sudah bersiap untuk bertanding. Keduanya mulai bergeser berputaran. Orang-orang yang berada di luar arena mulai menahan naias. Kedua anak muda itu seakan-akan memang telah disiapkan untuk turun ke gelanggang pertandingan. Kedua-duanya nampak meyakinkan. Besar tubuh m ereka tidak terpaut banyak. Jika pandangan mata anak muda yang datang bersama ay ahnya itu tajam berkilat-kilat, maka mata Mahisa Murti bagaikan bercahaya memandang lawannya itu. Sejenak kemudian, maka kedua anak muda itu sudah mulai sal ing meny erang. Mereka masih berusaha untuk saling menjajagi. Karena itu, maka serangan-serangan mereka masih belum terasa berbahaya. Namun sentuhan-sentuhan yang terjadi sudah mengisy aratkan bagi mereka berdua, bahwa mereka berhadapan dengan lawan yang memiliki kekuatan yang  besar serta kemampuan yang  tinggi. Saudara sepreguruan Arya Kuda Cemani nampak terlalu yakin akan kemampuan anaknya. Karena itu, maka sikapnya menjadi sangat meyakinkan pula. Ia sama sekali tidak menghiraukan kehadiran Mahisa Bungalan didalam arena dan bahkan tidak mempedulikan sama sekali orang-orang yang  berdiri disekitar arena itu, termasuk utusan Sri Baginda Maharaja di Singasari. Bahkan kemudian saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu berkata kepada anaknya "Kau tidak usah bertenggang rasa. Jika kau dapat melumpuhkannya selama sekejap, lakukanlah. Biarlah orang-orang yang menyaksikan yakin, bahwa kau memang pantas untuk dihormati melampaui calon m enantu Kuda Cemani yang  sombong itu. Jika kemudian kau tidak mempedulikan anak Kuda Cemani, itu akan semakin meyakinkan mereka, bahwa kau datang dituntun oleh harga dirimu. Bukan oleh nafsu untuk merebut perempuan itu." Mahisa Bungalan hanya dapat menggeretakkan giginya. Namun ia benar-benar berharap bahwa Mahisa Murti jangan mengecewakan keluarganya dan keluarga Arya Kuda Cemani. Dalam pada itu, perkelahian antara kedua orang anak muda itu semakin lama menjadi semakin cepat. Keduanya bergerak dengan tangkas dan cepat. Kemudian m ereka nampak dalam setiap unsur di tataran gerak mereka. Seperti dikehendaki oleh ay ahnya, maka anak muda itu memang berniat untuk dengan cepat meny elesaikan Mahisa Murti. Semakin cepat, maka kemampuannya akan semakin nampak lebih tinggi. Tetapi ternyata bahwa lawannya cukup liat. Mahisa Murti tidak dapat dengan mudah ditundukkan. Bahkan semakin lama justru menjadi semakin sulit, sehingga mereka telah memasuki tataran yang  semakin tinggi. Sikap saudara seperguruan Arya Kuda Cemani memang sangat menyakitkan hati Mahisa Murti. Karena itu, maka ia tidak membiarkan lawannya itu mendesaknya. Setiap kali lawannya itu meningkatkan ilmunya selapis, maka Mahisa Murtipun telah melakukannya pula. Wajah-wajah yang ada disekitar arena itu menjadi tegang. Apalagi Arya Kuda Cemani sendiri. Bahkan semakin lama ia menyaksikan pertempuran itu, maka wajahnya menjadi semakin tegang. Mahendra melihat ketegangan itu. Hampir diluar sadarnya ia berdesis "Mu dah-mudahan Mahisa Murti memiliki kemampuan setidak-tidaknya mengimbangi kemampuan anak muda itu.” "Aku tetap berpengharapan" jawab Arya Kuda Cemani "angger Mahisa Murti memiliki kelebihan jauh diatas kebanyakan anak-anak sebayanya." "Tetapi anak muda itu sungguh meyakinkan" desis Mahendra. "Yang m enarik perhatian, ilmu anak itu bukan keturunan ilmu dari perguruan kami. Ia tentu tidak sekedar berguru kepada ayahnya. Aku kenal betul unsur-unsur dari ilmu perguruan kami sendiri. Aku m engenali kemampuan saudara seperguruanku itu seperti aku mengenali kemampuanku sendiri. " desis Arya Kuda Cemani. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Agaknya yang akan terlibat bukan sekedar saudara seperguruan Arya Kuda Cemani sendiri. "Jika anak muda yang  bertempur dengan Mahisa Murti itu berasal dari satu perguruan, maka perguruan itu akan dapat melibatkan diri ke dalam persoalan yang  sebenarnya sangat terbatas dan pribadi itu.” Ternyata bukan hanya Mahendra saja yang menjadi cemas karenanya. Arya Kuda Cemanipun kemudian berkata "Salahsalah, perguruan anak muda itu akan dapat ikut tersinggung karenanya." "Apa boleh buat. Untungnya Mahisa Murti juga berpijak pada sebuah padepokan meskipun terhitung baru, sehingga belum melahirkan murid-murid yang  berilmu tinggi." "Ki Mahendra. Bukan maksud kami melibatkan angger Mahisa Murti. Apalagi perguruannya yang sedang tumbuh itu." "Aku mengerti Raden. Tetapi memang tidak ada pilihan lain " jawab Mahendra. Demikianlah, maka Mahisa Murti telah terlibat kedalam satu pertempuran yang  menjadi semakin sengit. Ternyata anak muda itu m emang m emiliki kelebihan dari anak-anak muda yang lain. Serangan-serangannya datang beruntun seperti ombak ditepian. Sekali-sekali pertahanan Mahisa Murti memang terguncang. Namun setiap kali, Mahisa Murti m enjadi kokoh kembali seperti batu karang yang  tidak tergetar oleh debur ombak yang  garang. Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani mulai mengerutkan dahinya. Menurut penglihatannya, Mahisa Murti masih saja mampu mengimbangi kemampuan anaknya. Setiap kali anaknya meningkatkan ilmunya, maka lawannya itupun telah melakukannya pula. Karena itu, demikian anaknya bergerak lebih cepat, maka lawannyapun seakan-akan menjadi lebih tangkas. Beberapa kali anak muda itu kehilangan kesempatan. Serangannya yang  nampaknya sangat mapan, namun sama sekali tidak mengenai sasaran. Bahkan setiap kali serangannya menjadi sia -sia saja. Semakin lama darah anak muda itu rasa-rasanya menjadi semakin panas. Setelah berguru b ertahun-tahun, maka ketika ilmunya diuji di arena, ternyata tidak dengan cepat dapat menyelesaikan lawannya. Sementara itu, Mahisa Murti semakin lama semakin mengenali tataran kemampuan ilmu anak m uda itu. Mahisa Murti memang harus mengakui, bahwa landasan ilmu anak muda itu memang sangat mey akinkan. Tetapi karena anak muda itu m asih belum m emiliki banyak pengalaman, m aka ilmunya masih belum berkembang. Anak itu dengan setia mengikuti segenap tatanan dari unsur-unsur gerak yang dikuasainya. Namun berhadapan dengan Mahisa Murti yang sudah memiliki pengalaman yang sangat luas, maka anak muda itu mulai mengalami kesulitan. Beberapa kali serangan-serangan yang  sudah diperhitungkan dengan masak-sesuai dengan wewaton dari unsur -unsur gerak yang  telah dipelajarinya, ternyata hasilnya tidak sebagaimana diperhitungkan. Wajah saudara seperguruan Arya Kuda Cemani mulai berkerut. Sebagai seorang yang  berilmu tinggi, ia mengerti kelemahan anak-anak muda yang  baru keluar dari perguruan. Ia sudah memberikan banyak sekali petunjuk. Bahkan latihanlatihan khusus bagi anaknya agar anaknya mampu mengetrapkan ilmunya dalam benturan yang sebenarnya terjadi. Bukan sekedar latihan-latihan yang  t eratur. Ia sudah memberikan berbagai macam pesan, bahkan ia sendiri telah bersama-sama berada di sanggar dengan anaknya untuk menempanya agar ilmu yang  dimiliki anaknya itu dapat ditrapkan dalam benturan ilmu yang sebenarnya. Namun saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu harus mengakui bahwa anak muda yang  seakan-akan mewakili calon menantu Arya Kuda Cemani itu memiliki ilmu yang tinggi sekaligus pengalaman yang luas. Karena itu, maka ia tidak akan dapat berharap anaknya dapat memenangkan pertempuran itu jika ia tidak mempergunakan ilmu puncaknya. Ilmu pada tataran tertinggi yang diwarisinya dari gurunya. Ayahnya itu mengetahui betapa dahsy atnya ilmu itu. Karena itu, maka orang yang dikenai ilmu itu, jarang sekali yang akan mampu bertahan. Sentuhan tangan anaknya pada puncak ilmunya akan dapat mematahkan tulang dan melumatkan isi dada. Sedangkan pada sisi yang  lain dari ilmunya itu dapat m embuat telapak tangannya itu bagaikan membara. Sentuhan telapak tangannya akan dapat menghanguskan kulit daging lawannya. Bahkan jika tangannya itu sempat mencekik leher, maka lawannya tidak akan berharap untuk dapat meny elamatkan diri. Untuk beberapa saat orang itu masih ingin meyakinkan seberapa jauh kemungkinan yang  dapat digapai oleh anaknya. Namun ketika serangan-serangan Mahisa Murti mulai mengenai tubuhnya, maka orang itu y akin, bahwa anaknya harus mempergunakan ilmu puncaknya untuk melumpuhkan lawannya. Sebenarnyalah bahwa serangan Mahisa Murti mulai mengenai tubuh lawannya. Kakinya sempat menyusup diselasela pertahanan anak muda itu yang  terbuka, justru saat ia menyerang. Mahisa Murti yang merendahkan diri untuk menghindari sambaran tangan lawannya melihat bahwa bagian samping dada lawannya itu terbuka. Karena itu, maka dengan cepat Mahisa Murti menyerang dengan kakinya menyamping. Demikian kaki Mahisa Murti itu menghantam bagian samping dada lawannya, maka anak itu terputar sekali. Hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Namun ternyata bahwa ia cukup tangkas untuk kemudian tegak kembali. Tetapi Mahisa Murti tidak memberinya kesempatan. Dengan cepat ia memburu lawannya. Demikian lawannya mengatasi goncangan keseimbangannya dan tegak kembali, maka Mahisa Murti telah meny erangnya pula. Dengan demikian, maka lawan Mahisa Murti itu harus meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak, agar ia sempat memperbaiki kedudukannya. Mahisa Murti yang  sudah siap meloncat memburunya terkejut. Ia melihat telapak tangan anak muda itu berasap tipis. Namun ketajaman penglihatan matanya serta landasan pengalamannya, segera menahannya untuk tidak segera meloncat meny erang. Dengan tegang Mahisa Murti m emandang telapak tangan anak muda itu. Ia melihat telapak tangan itu bagaikan menjadi bara. Kemerah-merahan dan asap tipis nampak mengepul dari telapak tangan itu. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menyadari, bahwa sentuhan telapak tangan lawannya itu akan dapat membakar kulitnya. Namun berdasarkan atas pengalaman serta pengetahuannya tentang berbagai macam ilmu dari orang-orang berilmu tinggi yang dikenalnya, maka ilmu itu yang  dapat melukai tubuh lawannya dengan sentuhan api hanyalah telapak tangannya saja. Dengan demikian, maka Mahisa Murti harus menjadi sangat berhati-hati. Sebenarnya ia dapat menghentikan perlawanan anak muda itu dengan serangannya jarak jauh. Tetapi Mahisa Murti tidak ingin menghancurkannya. Anak itu belum tentu seorang yang berhati hitam. Mungkin ia terdorong oleh keinginannya untuk mencoba ilmunya. Dipanasi pula dengan sikap ayahnya yang  agaknya memang tinggi hati itu. Maka anak muda itu telah langsung terjerumus kedalam pertempuran melawan seorang yang memiliki ilmu yang tinggi serta pengalaman yang luas. Namun Mahisa Murti tidak mau membiarkan dirinya terbakar oleh ilmu lawannya. Karena itu, maka Mahisa Murti telah mengetrapkan ilmunya yang mempunyai daya kemampuan menghisap ilmu lawannya. Meskipun demikian, Mahisa Murti menyadari sepenuhnya bahwa tubuhnya tidak boleh ter sentuh telapak tangan lawannya. Justru ialah yang harus berusaha sebanyak mungkin bersentuhan dengan tubuh anak muda itu, tetapi tidak di telapak tangannya yang m enjadi kemerah-merahan itu. Pertempuran selanjutnya menjadi semakin cepat. Mahisa Murti lebih banyak berloncatan menghindar. Namun kemudian dengan tiba-tiba saja menggapai lawannya untuk menyentuh bagian tubuhnya yang manapun juga. Dengan sisi telapak tangannya, Mahisa Murti telah menerobos pertahanan anak muda itu mengenai pundaknya. Pundaknya memang terasa sakit. Anak muda itu m eloncat surut. Namun dengan cepat ia dapat m engatasi rasa sakit itu. Bahkan kemudian dengan garang ia telah meloncat meny erang dengan kedua telapak tangannya terbuka. Orang-orang yang ada disekitar arena itu menjadi berdebar-debar. Mereka seolah-olah melihat pertempuran yang tidak seimbang. Apalagi Mahisa Murti masih juga tidak menarik pedangnya meskipun lawannya sudah mengetrapkan ilmu puncaknya. Sementara itu, mereka masih belum melihat, bahwa Mahisa Murti juga mempergunakan ilmu andalannya. Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani mulai dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat anaknya beberapa kali mendesak lawannya. Meskipun serangan-serangan lawannya sempat meny entuh tubuhnya, tetapi serangan-serangan itu sama sekali tidak berbahaya bagi anaknya. Apalagi ketika telapak tangan anaknya sempat meny entuh lengan Mahisa Murti, sehingga Mahisa Murti terkejut karenanya. Dengan serta m erta ia meloncat menjauh. Terasa lengannya menjadi sangat panas. Luka bakar membekas dilengannya. Kulitnya nampak terkelupas meskipun luka itu tidak terlalu besar. "Telapak tangannya akan segera meny entuh wajahmu. Kemudian lehermu dan seluruh tubuhmu" berkata saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu. Tetapi Mahisa Murti menjadi semakin berhati-hati. Meskipun ia sudah terluka, tetapi ia tidak menarik pedangnya. Ia masih akan menghentikan perlawanan anak muda itu dengan cara yang  lain. Pertempuranpun segera menyala lagi ketika anak muda itu meloncat meny erang Mahisa Mutti. Kedua telapak tangannya menggapai-gapai. Bahkan anak muda itu berusaha untuk menangkap tubuh Mahisa Murti. Jika ia berhasil m enangkap Mahisa Murti, maka untuk beberapa saat lamanya, telapak tangannya akan membakar tubuh lawannya itu, sehingga genggaman tangannya akan semakin membenam ditubuh lawannya itu sampai ke tulang. Tetapi tidak mudah untuk menangkap Mahisa Murti. Meskipun lengan Mahisa Murti telah terluka, tetapi Mahisa Murti m asih tetap dengan tangkas berloncatan. Sekali-sekali tangannya mengenai pundaknya, lengannya dan bahkan kadang-kadang kakinya yang menyapu dengan cepat, sempat mengenai paha anak muda itu. Tetapi anak muda itu sama sekali tidak m enjadi kesakitan. Meskipun sekali-sekali ia harus menyeringai karena serangan Mahisa Murti yang dapat m engenainya, tetapi dengan cepat perasaan sakit itu selalu dapat diatasinya. Bahkan Mahisa Murtilah yang  harus m eloncat surut ketika serangan kakinya berhasil ditangkis oleh lawannya. Betisnya justru telah tersentuh telapak tangan anak muda itu, sehingga terluka. Luka bakar itu memang tidak terlalu besar. Tetapi ny eri di lengannya dan di betisny a itu memang membuat Mahisa Murti bukan saja sakit kulitnya, tetapi juga sakit hatinya. Itulah sebabny a, maka selain ilmunya yang  mampu menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya, maka Mahisa Murti telah meningkatkan tenaga dalamnya, sehingga serangan-serangannya menjadi semakin garang. Sentuhansentuhan serangannya yang sempat menembus pertahanan anak muda itu bukan saja sekedar m eny entuh, tetapi ketika kaki Mahisa Murti sempat mengenai lambungnya, anak itu benar-benar telah terlempar jatuh. Dengan kerasnya anak muda itu terbanting. Sekali ia berguling ditanah. Dengan tangkasny a ia segera berusaha untuk meloncat bangkit. Mahisa Murti sengaja tidak memburunya. Dibiarkannya anak muda itu tegak berdiri sambil mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Namun tubuh anak muda itu mulai terasa aneh. Lambungnya memang merasa sakit sekali. Tendangan Mahisa Murti tidak sekedar menyentuhnya sebagaimana seranganserangan sebelumnya. Tetapi serangan itu benar-benar menyakitinya. Namun yang  membuatnya gelisah bukannya perasaan sakit dilambungnya itu. Tetapi sendi-sendiny a terasa mulai melemah. Tenaganya serasa dengan cepat susut, sehingga kekuatannyapun menjadi jauh berkurang. Anak muda itu menjadi heran atas dirinya sendiri. Ia sudah ditempa didalam sanggar dengan latihan-latihan yang  berat. Ia sudah terbiasa berada didalam sanggar dan berlatih sehari suntuk bahkan lebih tanpa berhenti. Tetapi di arena itu, ia baru bertempur beberapa lama, tenaganya sudah mulai menjadi susut. Anak muda itu memang merasa telah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya untuk mengimbangi lawannya. Bahkan kemudian dengan i lmu puncaknya. Tetapi bahwa tenaganya dengan cepat susut, adalah diluar perhitungannya. Namun selagi tangannya masih membara, m aka ia masih merasa y akin, bahawa ia akan dapat m engalahkan lawannya betapapun lawannya itu bergerak dengan cepat dan dengan tenaga yang  sangat kuat. Namun ketika kemudian anak muda itu m ulai bertempur lagi, ia menjadi semakin merasa, betapa tenaganya benarbenar telah menyusut dengan cepat. Mahisa Murtipun mulai melihat keadaan lawannya. Meskipun anak muda itu masih berusaha untuk tetap garang, tetapi sebenarnya bahwa ia sama sekali sudah tidak berbahaya lagi. Warna bara ditangannyapun sudah mulai memudar, meskipun asap tipis masih nampak samar-samar. Meskipun demikian, Mahisa Murti masih harus menghindarinya karena telapak tangan itu masih akan dapat membakar kulitnya. Ketika anak muda itu mulai bergeser mendekat, Mahisa Murti masih berdiri saja ditempatnya. Meskipun kulitnya sudah terluka serta panas dan ny eri telah menyengatnya, namun Mahisa Murti masih berusaha untuk menahan diri. Sampai dibatas perkelahian itu, beberapa orang mulai menarik nafas dalam-dalam. Arya Kuda Cemani yang mengetahui kelebihan Mahisa Murtipun mengangguk-angguk. Ia melihat luka ditubuh Mahisa Murti. Tetapi ia melihat bahwa tenaga lawannya telah jauh menyusut. Arya Kuda Cemani yang m engenal Mahisa Murti dengan baik, benar-benar telah mengaguminya. Meskipun tubuhnya telah terluka, tetapi anak muda itu tidak membiarkan dirinya hanyut oleh arus perasaannya. Sejenak kemudian pertempuranpun telah terjadi lagi. Anak muda itulah yang telah meny erang Mahisa Murti. Namun Mahisa Murti tidak lagi banyak mengalami kesulitan. Dengan tangkasnya ia menghindari setiap serangan. Namun kemudian dengan cepat pula ia justru telah menyerang. Beberapa kali Mahisa Murti berhasil menembus pertahanan lawannya sehingga beberapa kali pula ia dapat mengenainya. Sementara itu, telapak tangan lawannya yang  semakin m emudar tidak lagi mampu menggapai dan meny entuh tubuh Mahisa Murti. Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani melihat perubahan yang  tiba -tiba t erjadi atas anaknya itu. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang luas, maka orang itu tiba -tiba telah berteriak "He, ternyata kau telah berlaku curang. " Mahisa Murti segera tanggap. Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu telah mengetahui bahwa ia telah mempergunakan ilmu yang mampu menghisap tenaga dan kemampuan lawannya. Ju stru karena itu, maka Mahisa Murtipun telah meloncat surut untuk mengambil jarak dari lawannya. Sementara itu, lawannyapun nampak menjadi semakin letih. Ia memang berusaha untuk memburu Mahisa Murti, tetapi langkahnya sudah mulai nampak gontai. "Cukup, berhentilah" teriak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu "Kenapa?" bertanya anaknya "aku sudah hampir menguasainya. Ia akan segera menyadari kekalahannya." "Tidak " jawab ayahnya. Wajah anaknya menjadi merah. Namun sebenarnyalah bahwa anak muda itu sudah menjadi semakin lemah. Ketika ia melangkah maju, maka langkahnya sudah menjadi goy ah. Beberapa orang yang  berilmu tinggi yang hadir di pertemuan itu benar-benar m erasa kagum terhadap Mahisa Murti. Mereka m engetahui, ilmu apa yang  dimiliki oleh anak muda itu. Ilmu yang  sudah jarang sekali terdapat di dunia olah kanuragan. Yang lebih mereka kagumi adalah, bahwa anak muda itu tidak m engetrapkan ilmunya dengan semena-mena. Ia tidak memperlakukan lawannya dengan sewenang-wenang, apalagi karena Mahisa Murti itu sudah dilukai. Mahisa Murti itu masih t etap dapat mengendalikan dirinya disaat ia berdiri diambang kemenangan. Dalam pada itu, maka saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itupun telah melangkah mendekati Mahisa Murti sambil berkata "Ternyata kau bukan seorang yang jantan. " "Kenapa?" bertanya Mahisa Murti. "Kau telah mempergunakan ilmu yang sangat licik. Kau curi perlahan-lahan kekuatan dan kemampuan anakku, sehingga sampai pada suatu saat anakku kehabisan tenaga dan kemampuan." berkata saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu. "Ki Sanak" berkata Mahisa Murti "seorang pencuri mengambil m ilik orang lain dengan diam-diam, justru diluar pengetahuan pemiliknya yang  mungkin sedang tidur atau sedang bepergian atau sedang melakukan satu hal sehingga ia tidak melihat pencuri itu. Tetapi yang aku lakukan adalah satu perbuatan yang  langsung terjadi dihadapan pemilik k ekuatan dan kemampuan itu. Ia tidak sedang tidur atau sedang lengah atau sedang berpaling sekalipun. Kita justru sedang bertempur, sementara anakmu telah membakar telapak tangan dengan inti kekuatan api yang diserapnya dari udara disekelilingnya. Nah, apakah dengan demikian aku dapat disebut curang? Justru setelah kulitku terbakar dilengan dan betis sehingga terkelupas." "Apapun alasanmu, tetapi kau trapkan ilmumu tanpa setahu anakku," jawab orang itu. "Sebenarnya tergantung dari sisi mana kita memandang. Kau dapat menganggap aku licik. Tetapi orang lain dapat saja menganggap bahwa anakmulah yang terlalu dungu, sehingga ia tidak mengetahui bahwa ia sedang berhadapan dengan salah satu jeni s ilmu yang dapat menghisap kekuatan dan kemampuannya.” "Cukup" teriak saudara seperguruah Arya Kuda Cemani "apapun yang  kau katakan, tetapi kecuranganmu harus dihukum." Wajah Mahisa Murti menjadi tegang. Dengan nada berat ia bertanya "Apa maksudmu Ki Sanak. Apakah kau merasa berhak menghukum aku?" “Tentu” jawab orang itu. Tetapi terdengar jawaban Arya Kuda Cemani "Tidak. Kau tidak berhak menghukumnya. Kecuali ia tidak bersalah, maka tempat ini adalah tempat tinggalku. Aku mempunyai wewenang lebih besar dari siapapun yang  ada disini. " "Aku tidak peduli" jawab saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu. Lalu katanya "Ada atau tidak ada wewenang, tetapi aku akan menghukumnya. Ia sudah menciderai anakku dengan licik. Bahkan tidak bertanggung jawab sama sekali, sehingga anakku kehilangan sebagian besar dari tenaganya." “Bukankah akibat yang  demikian seharusny a sudah diperhitungkan sejak pertandingan akan dimulai? Salah seorang diantara m ereka yang bertanding akan dapat kalah atau menang. Kemungkinan ketiga adalah tidak ada yang kalah dan tidak ada yang  menang. Jadi, jika anak kakang kalah, itu adalah akibat wajar dari satu pertandingan." "Tetapi tidak dengan licik" teriak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani. "Tidak ada yang  licik," jawab Arya Kuda C emani "aku tahu bahwa angger Mahisa Murti mempunyai kemampuan jauh dari yang  diperlihatkan saat ini. Bahkan seandainya kakang sendiri yang  turun ke medan, maka kakang akan dapat dihancurkan jika ia mau. Tetapi ilmu yang  telah dipergunakannya adalah ilmu yang  paling lunak meskipun akibatnya akan dapat m enjadi dahsyat sekali. Tetapi angger Mahisa Murti t idak berbuat lebih banyak dari m enghentikan pertandingan." Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu termangumangu. Namun Arya Kuda Cerna nipun berkata "Kakang, sebaiknya kakang tidak melakukan apa -apa terhadap angger Mahisa Murti. Jika kakang memang ingin turun ke gelanggang, maka biarlah aku yang  m elayaninya. Aku adalah saudara seperguruan kakang. Kita saling mengetahui kekuatan dan kelemahan kita masing -masing, sehingga satu diantara kita tidak akan berbahaya bagi yang lain. Tetapi jika kakang justru ingin melawan angger Mahisa Murti, maka kakang tentu akan menyesalinya.” Wajah saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu benarbenar menjadi tegang. Dipandanginya anaknya, Mahisa Murti dan Arya Kuda Cemani berganti-ganti. Bahkan kemudian diedarkannya pandangan matanya. Baru saat itu, seakan-akan saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu melihat, siapa saja yang ada disekitarnya. Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu melihat beberapa pasang mata yang memandanginya dengan tajam. Dari sorot matanya, maka dapat diduga, bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Sementara itu, Arya Kuda Cemani sendiri sudah siap untuk melayaninya. Sedangkan orang yang berdiri di sebelah Arya Kuda Cemani, meskipun umurnya sudah lebih tua, namun dimatanya membayang kemampuannya yang sangat tinggi. Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu berdiri termangu-mangu. Sementara itu anaknya sudah menjadi terlalu lemah untuk dapat bertempur lagi. Meskipun ia masih berdiri tegak, tetapi ia sudah bukan apa-apa lagi bagi Mahisa Murti. Karena itu, maka peny esalan memang mulai merayapi jantung saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu. Ia memang tidak menyangka bahwa anaknya akan bertemu dengan anak muda yang  memiliki ilmu yang  lebih tinggi. Menurut pendapatnya, maka anaknya telah m ampu m ewarisi ilmu yang  sulit dicari bandingnya. Dalam usianya yang  masih muda, maka sulit ada anak muda sebayanya yang  mampu mengimbanginya. Ia datang kerumah Arya Kuda Cemani justru ingin memamerkan kelebihan anaknya itu. Tetapi yang didapatkannya justru sebaliknya. Arya Kuda Cemani yang  telah m eny inggung perasaannya, karena ia sama sekali tidak memberitahukan kepadanya, bahwa ia akan menikahkan anaknya perempuan, akan dipermalukannya dihadapan orang banyak. Calon menantunya akan direndahkan dan dihinakan. Bahkan kemudian anak perempuan Arya Kuda Cemani itupun akan direndahkannya pula dihadapan tamu-tamunya, karena ia sama sekali tidak mengingininya. Selagi saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu termangu-mangu, maka Arya Kuda Cemani itupun berkata "Kakang. Baiklah aku m emperkenalkan anak muda itu. Anak muda yang sudah m enempatkan diri m enjadi lawan anakmu itu adalah saudara laki-laki calon menantuku. Ia memiliki ilmu dan kemampuan yang  seimbang dengan saudara laki-lakinya, calon menantuku itu. Semua orang akan menjadi saksi, bahwa seandainya calon menantuku sendiri yang  turun ke gelanggang, maka akibatnya akan sama saja. Bahkan mungkin calon menantuku tidak mampu m engekang diri sebagaimana dilakukan oleh angger Mahisa Murti itu." Wajah saudara seperguruan Arya Kuda Cemani terasa menjadi sangat tebal. Namun kemudian tanpa berkata satu patah katapun, ia telah menyambar tangan anaknya dan ditariknya untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi sekali lagi ia terkejut. Anaknya itu hampir saja jatuh tertelungkup. Ia tidak lagi mampu untuk berjalan terlalu cepat. Ayahnya kemudian memang menyadari akan hal itu. Karena itu, maka iapun m enjadi lebih berhati-hati. Bahkan anak muda itu seakan-akan telah dipapah oleh ay ahnya keluar dari reg ol halaman rumah Arya Kuda Cemani. Beberapa saat setelah kedua orang itu hilang dari pandangan, maka Arya Kuda Cemani cepat mempersilahkan tamu-tamunya duduk kembali sambil minta maaf, bahwa telah terjadi sesuatu yang  mengganggu pertemuan itu. Meskipun kemudian para tamu itu memang duduk kembali, tetapi suasananya sudah jauh berubah. Arya Kuda Cemani memang tidak mempunyai cara untuk dapat memulihkan kembali suasana. Meskipun demikian serba sedikit, para tamu itu mulai memperhatikan upacara yang  memang sudah disiapkan. Meskipun terlambat, namun upacara itupun diteruskan juga. Satu demi satu, tapak-tapak upacara itupun berlangsung sesuai dengan ketentuan yang  harus dilakukan. Sementara itu, Mahisa Murti yang terluka telah dibawa ke ruang digandok rumah Arya Kuda Cemani. mPu Sidikaralah yang menemaninya serta mengobatinya. Kulit Mahisa Murti telah terkelupas, sementara dagingnya nampak kemerahan. Luka bakar itu m emang tidak terlalu besar, tetapi perasaan ny eri terasa semakin meny engat. "Kau sudah mempertaruhkan nyawamu " berkata mPu Sidikara. "Tetapi bukankah aku m asih tetap hidup ?" Mahisa Murti justru bertanya. mPu Sidikara menganggukangguk. Katanya "Lukamu juga tidak terlalu berbahaya meskipun tentu terasa sakit” Mahisa Murti mengangguk kecil. Tetapi sambil tersenyum ia bertanya "mPu, apakah luka ini akan membekas?” mPu Sidikarapun terseny um pula. Katanya "Aku mempunyai obat terbaik untuk menghilangkan bekas luka bakar.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Bahkan iapun kemudian tertawa sambil berdesis "Jika ada noda-noda pada kulitku, maka aku akan semakin dijauhi gadis-gadis." mPu Sidikarapun tertawa pula sambil berkata "Tetapi luka itu hanya terdapat dilengan dan di betis. Sementara itu wajahmu masih tetap bersih dan menarik." Mahisa Murti memang tertawa berkepanjangan. Namun dibalik suara tertawanya terber sit perasaannya yang  pahit. Bagaimanapun juga, sentuhan pernikahan Mahisa Pukat itu tetap terasa pedihnya dihati Mahisa Murti. Meskipun dalam suasana yang sudah sedikit berbeda, namun upacara pernikahan itupun dapat diselesaikan dengan selamat. Semua mata acara satu demi satu telah diselesaikan dengan baik meskipun terlambat. Dengan demikian, maka sejak hari itu, Mahisa Pukat tidak lagi hidup sendiri. Ia sudah menginjak pada satu kehidupan berkeluarga. Namun untuk sementara maka Mahisa Pukat dan isterinya akan tinggal bersama-sama dengan Mahendra yang  mendapat tempat tinggal dibagian belakang istana. Sementara itu, Mahisa Pukat sendiri juga bertugas di bagian lain dari istana itu. Kasatrian. Seperti yang  dikatakan, bahwa Mahisa Murti memang tidak segera kembali. Bersama kedua orang adik angkatnya Mahisa Murti akan tinggal sepekan lagi di Singasari Waktu yang  sepekan itu sama sekali tidak menarik bagi Mahisa Murti. Meskipun Mahisa Pukat masih berada dirumah Arya Kuda Cemani, namun rasa -rasanya, udara Kotaraja itu terlampau panas. Hari-hari dilalui oleh Mahisa Murti dengan hati yang  kosong. Untunglah ada Mahisa Semu dan Mahisa Amping yang  dapat mengisi waktunya dengan berbagai macam kesibukan. Keduanya kadang-kadang minta Mahisa Murti berjalan-jalan. Pergi ketempat-tempat yang  menarik dan yang  belum sempat dilihatnya sebelumnya. Tetapi Mahisa Murti memenuhi janjinya. Ia berada di Singasari sampai batasnya. Sepekan. Bahkan hampir setiap hari Mahisa Murti pergi mengunjungi Mahisa Pukat meskipun hanya sebentar-sebentar. Sambil menunggu batas waktu yang dijanjikan, mPu Sidikara telah berhasil meny embuhkan luka -luka bakar ditubuh Mahisa Murti. Meskipun masih nampak bekasnya lamat-lamat, namun Mahisa Murti memang y akin, bahwa luka itu tidak akan meninggalkan bekas dikulitnya. "Kau m emang tabib yang  luar biasa, mPu " berkata Mahisa Murti. "Sama sekali tidak, " jawab mPu Sidikara. "Kau dapat meny embuhkan lukaku dalam waktu yang  sangat pendek. Dalam tiga hari lukaku sudah hampir hilang sama sekali. Aku kira tabib yang  m anapun tidak akan dapat berbuat demikian. Luka-luka bakar sebagaimana aku alami itu, setidak-tidaknya m emerlukan waktu sepuluh hari untuk menyembuhkannya. Belum lagi menghilangkan bekasbekasnya. " berkata Mahisa Murti. "Akulah yang seharusny a menjadi heran" berkata mPu Sidikara "aku memang memerlukan waktu sepuluh hari untuk menyembuhkan luka sebagaimana yang kau alami. Tetapi kau memang aneh. Kulit dagingmu seakan-akan telah menyimpan kekuatan peny embuhan yang luar biasa. Bahkan tanpa aku obati pun dalam waktu tiga hari lukamu akan sembuh sendiri. Kekuatan peny embuhan yang  belum pernah aku lihat sebelumnya." "Ah, kau jangan mengada -ada mPu " desis Mahisa Murti. "Percay alah" jawab mPu Sidikara "kau m empunyai banyak kelebihan dari orang lain. Sebenarnya aku ju stru ingin tahu, apa yang meny ebabkan kau m emiliki kekuatan peny embuhan seperti itu." "Kau membuat aku menjadi besar kepala" sahut Mahisa Murti. "Yakinlah" jawab mPu Sidikara "pada kesempatan yang  panjang k elak, aku ingin m engamati cara hidupmu. Apa saja yang kau makan. Kebiasaan apa yang kau lakukan, jeni s air di padepokanmu atau barangkali laku yang  selalu kau jalani.” "Tidak ada yang  aneh, mPu. Semuanya sebagaimana orang lain. Aku makan nasi biasa. Minum air biasa. Kebiasaanku sehari-hari sudah mPu lihat. Sekali-sekali aku berada di sanggar. Lalu apa lagi ?" mPu sidikara mengangguk-angguk. Katanya "Jika segalanya berlangsung seperti biasa, seperti kebanyakan orang, maka kau memang memiliki keajaiban yang tidak dimiliki orang lain." "Ah, lagakmu seperti menimang anak-anak yang  sedang belajar berjalan. " desis Mahisa Murti. mPu Sidikara tertawa. Tetapi katanya "Aku bersungguhsungguh. Aku tidak tahu bagaimana aku harus mengatakannya. Tetapi sebenarnyalah demikian." "Sudahlah. Biarlah aku saja yang  memuji mPu." berkata Mahisa Murti. "Tetapi pada suatu saat kau akan y akin akan kebenaran kata-kataku." berkata mPu Sidikara selanjutnya. "Terima kasih mPu. Jika apa yang  mPu katakan benar, maka aku adalah orang yang  paling berbahagia didunia." jawab Mahisa Murti sambil t ertawa. mPu Sidikara m emang tidak dapat menahan tertawanya. Namun sebenarnyalah mPu Sidikara merasa heran bahwa dalam waktu yang sangat singkat, luka-luka bakar Mahisa Murti sudah dapat sembuh. Padahal obat yang dipergunakan adalah obat yang terbiasa dipergunakan juga. Sedangkan bagi orang lain, peny embuhan luka seperti yang  dialami oleh Mahisa Murti itu diperlukan waktu sekitar sepuluh hari, meskipun pada hari kelima atau keenam luka itu sudah tidak terasa ny eri lagi. Sebaliknya Mahisa Murti juga merasa heran, bahwa mPu Sidikara ternyata memiliki kemampuan pengobatan yang sangat tinggi. Dalam waktu yang  pendek luka -lukanya telah dapat disembuhkan. Demikianlah akhirnya Mahisa Murti memasuki hari-hari terakhir di Singasari. Pada malam terakhir, Mahisa Murti sempat berjalan-jalan dengan mPu Sidikara, sementara Mahisa Semu dan Mahisa Amping ditinggalkannya dirumah Arya Kuda Cemani untuk menemani Mahisa Pukat. Meskipun rumah Arya Kuda Cemani masih nampak ramai, namun keramaian itu sudah jauh menyusut, sehingga terasa menjadi semakin lengang. Ber sama mPu Sidikara, Mahisa Murti telah menyusuri jalan-jalan Kotaraja. Namun mereka berjalan terus bahkan melewati pintu gerbang kota. Jalan memang menjadi semakin sepi dan gelap. Tidak lagi banyak terdapat obor di pintu-pintu reg ol halaman. Meskipun demikian, masih juga nampak kerelip obor digardu-gardu perondan. Sepinya m alam itu terasa begitu tenang dan sejuk dihati Mahisa Murti Desah angin didedaunan membuatnya semakin segar. Luka-lukanya benar-benar telah sembuh sama sekali. Keduanya terhenti, ketika didepan mereka terbentang bulak yang panjang. Dengan nada rendah mPu Sidikara bertanya "Apakah kita akan berjalan terus, atau kembali ke kota ?" Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Marilah kita kembali saja. Mahisa Semu dan Mahisa Amping nanti terlalu lama menunggu. " "Marilah " jawab mPu Sidikara "bulak dihadapan kita itu agaknya sama saja dengan bulak-bulak yang  lain. Apalagi dalam keremangan m alam. Yang nampak hanyalah kunangkunang yang  berkeredipan didaun padi. Ratusan, bahkan ribuan sehingga kadang-kadang nampak seperti bongkahbongkah bara yang kebiru-biruan.” Namun ketika mereka sudah mulai berbalik, terdengar suara lembut "Anak muda yang  berilmu tinggi. Aku ingin minta kau meneruskan langkahmu. Kau dapat sendiri atau bersama kawanmu itu. Aku ingin berbicara dengan kau barang sejenak." Mahisa Murti dan mPu Sidikara termangu-mangu. Mahisa Murtipun kemudian berdesis "Apakah kau berbicara dengan aku, Ki Sanak?" "Ya. Aku berbicara dengan kau Mahisa Murti" jawab suara itu. Mahisa Murti memandang mPu Sidikara sejenak. Namun sebelum ia menjawab terdengar suara itu "Aku memang sedang menunggu kesempatan seperti ini. Karena itu, jangan segera kembali ke kota. Berjalanlah beberapa ratus langkah lagi ketengah bulak yang  sepi dan gelap itu." "Untuk apa?" bertanya Mahisa Murti "kita sudah bertemu disini. Apakah kau dapat berbicara disini?" "Tidak. Aku tidak dapat berbicara disini. T etapi aku ingin berbicara denganmu di bulak panjang itu." "Kalau aku tidak mau" jawab Mahisa Murti. Orang yang  berbicara itu tertawa pendek. Katanya "Aku yakin kau akan mau meluangkan waktumu sedikit." "Jika saja aku tahu untuk apa " jawab Mahisa Murti "kedua orang adikku sudah menunggu sejak sore hari. " "Adikmu tidak akan merasa terlalu lama menungguku. Aku hanya memerlukan waktumu sebentar saja." jawab suara itu. Mahisa Murti m emang ragu-ragu. Ia belum melihat orang yang berbicara itu. Namun iapun kemudian berdesis kepada mPu Sidikara "Aku akan memenuhinya. " Ternyata mPu Sidikara juga ingin tahu, apa yang akan terjadi. Karena itu, maka katanya "Baiklah. Aku ternyata juga telah tergelitik untuk mengetahui apa yang  akan dilakukannya." Dengan demikian, maka Mahisa Murti itupun berkata "Baiklah. Aku akan berjalan beberapa ratus langkah lagi ketengah-tengah bulak itu. Tetapi aku minta kau segera menampakkan dirimu. Orang yang berbicara sambil bersembunyi akan dapat menimbulkan prasangka buruk karena ada kesan tidak terbuka. Terdengar suara tertawa. Katanya "Jika aku tidak dengan sengaja menunjukkan diriku, apakah kau tidak dapat mengetahui dimana aku bersembuny i? " "Tidak " jawab Mahisa Murti. "Jangan malas anak muda. Ilmumu sangat tinggi. Kau tentu memiliki ketajaman indera melampaui kebanyakan orang. Karena itu, jika kau mau, maka kau akan dapat menemukan aku." "Untuk apa sebenarnya kita main sembunyi-sembuny ian? Ketika aku masih kanak-kanak aku memang senang melakukannya. Kawanku bersembuny i ditempat yang  sulit diketemukan, tetapi aku dengan bersungguh-sungguh mencarinya. Namun waktu itu aku m empunyai kebanggaan dan kepuasan tersendiri jika aku berhasil menemukannya dan mendahuluinya berlari sampai ke tempat hinggap. Apakah sekarang aku masih juga harus berbuat demikian?" bertanya Mahisa Murti. Jawaban orang itu memang tidak disangka-sangka "Anak muda. Ternyata jiwamu sudah benar-benar masak. Jauh lebih masak dari sewajarnya saja. Tanpa tingkah laku yang anehaneh." "Kau m embuat aku m alu anak muda. Baiklah, aku benarbenar mengagumimu dengan sikapmu." Mahisa Murti tidak menjawab lagi. Tetapi ia mulai merasakan sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi. Sebenarnyalah sejenak kemudian, Mahisa Murti melihat bayang an dikegelapan. Seseorang berdiri beberapa langkah dihadapannya. Namun Mahisa Murti belum dapat melihat wajah orang itu dengan jelas. Tetapi satu hal yang  diyakini, orang itu tentu orang yang berilmu sangat tinggi, sehingga Mahisa Murti tidak tahu, kapan orang itu m eloncat ketengah jalan yang  dilaluinya itu. Namun dengan demikian, maka Mahisa Murtipun mengajak mPu Sidikara untuk melangkah mendekat. Tetapi jarak antara Mahisa Murti dan mPu Sidikara dengan orang itu tidak menjadi lebih dekat. Keduanya tidak m elihat orang itu menapak mundur. Tetapi rasa -rasanya orang itu tidak dapat didekatinya. Namun tataran ilmu Mahisa Murti dan mPu Sidikara yang  juga cukup tinggi, tidak begitu menghiraukannya. Mereka melangkah terus ditengah-tengah jalan bulak yang  gelap. Tetapi setelah menurut pendapat Mahisa Murti cukup jauh, maka iapun telah berhenti sambil berkata "Aku hanya akan sampai disini. " "Tidak anak muda" berkata orang itu "aku ingin kau lebih mendekat. Dengan demikian kita akan dapat saling melihat dan mendengar pembicaraan kita dengan lebih jelas." Tetapi Mahisa Murti menjawab "Cukup Ki Sanak. Jika kau ingin melihat dan mendengar pembicaraan kami lebih jelas, maka kau sajalah yang mendekat." "Bukankah itu tidak pantas? Kaulah yang muda, datanglah mendekat lagi." Tetapi Mahisa Murti justru m engajak mPu Sidikara duduk diatas rerumputan sambil berkata "Jika kau ingin m endekat, mendekatlah. Jika tidak, maka biarlah aku kembali ke kota." Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Kau m emang keras anak muda. Tetapi baiklah. Aku akan mendekat.” Sebenarnyalah bayang an itu telah bergeser beberapa langkah semakin dekat. Namun yang  nampak didalam kegelapan malam hanyalah ujudnya saja. Mahisa Murti masih belum dapat melihat dengan jela s wajah orang itu. Namun Mahisa Murti dan mPu Sidikarapun telah berdiri tegak pula. Ju stru mereka sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan yang  dapat terjadi. "Anak muda" berkata orang itu "ternyata kau adalah seorang yang memang benar -benar sudah matang. Bukan saja ilmumu, tetapi juga sikapmu." "Kau tidak usah m emuji Ki Sanak. Sekarang, katakan, apa yang kau ingini." "Anak muda" jawab orang itu "perkenankan aku memperkenalkan diri. Aku adalah orang yang sudah lama sekali menenggelamkan diri dalam ilmu kanuragan. Sejak kanak-kanak aku sudah berguru dengan tekun. Sehingga akhirnya aku memiliki ilmu yang  cukup menurut penilaianku sendiri. Tetapi tiba -tiba saja aku melihat kemampuan ilmumu. Aku menjadi sangat iri karenanya." "Kenapa?" bertanya Mahisa Murti "bukankah kau sendiri sudah memiliki ilmu yang tinggi?" "Aku menjadi kurang y akin akan ilmuku sendiri. Itulah sebabnya aku menemui sekarang ini." "Jadi, maksudmu?" bertanya Mahisa Murti. "Aku hanya ingin sedikit membuat perbandingan ilmu. Aku ingin menantangmu." jawab orang itu. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Darimana kau tahu dan kemudian m enganggap bahwa aku berilmu tinggi?" "Aku pernah melihat kau bertempur. Jika kau bertanya kapan dan dimana, maka aku sudah lupa." jawab orang itu. "Kau siapa?" bertanya Mahisa Murti. "Aku kira, kau tidak perlu mengetahui siapa aku. Yang penting, marilah kita mencoba, ilmu siapakah yang  lebih baik. " "Apakah itu perlu?" bertanya Mahisa Murti "jika kau ingin dianggap terbaik, maka biarlah aku nyatakan kaulah orang yang terbaik itu." "Tidak anak muda. Soalnya bukan yang  terbaik atau bukan. Tetapi aku benar-benar ingin membuat satu perbandingan ilmu." jawab orang itu "ilmuku atau ilmumulah yang lebih baik. Itu saja." "Jika kau sudah mengetahui, apakah ada gunanya?" "Tentu. Hal itu akan sangat berguna bagiku," jawab orang itu. "Tetapi tidak bagiku." jawab Mahisa Murti. "Bagimu tentu akan sangat berarti juga. " "Aku tidak memerlukannya" jawab Mahisa Murti. "Jika demikian, perlu atau tidak perlu, aku akan memaksakan kehendakku. Aku sangat memerlukannya" berkata orang itu. Mahisa Murti tidak dapat berbuat lain. Dipandanginya mPu Sidikara sejenak untuk mendapat pertimbangannya. "Bukan kau yang  memaksakan kehendakmu" berkata mPu Sidikara tegas. Agaknya mPu Sidikara tidak begitu senang terhadap sikap orang itu. "Baiklah" berkata Mahisa Murti "meskipun aku tidak mengenalmu, yang karena itu tidak mempunyai per soalan apapun denganmu, tetapi jika kau memaksakan kehendakmu, maka apaboleh buat." "Bagus anak muda" berkata orang itu "aku memang sangat berharap." Mahisa Murtipun kemudian telah m elangkah maju. Tanpa mengetahui maksud sebenarnya dari orang itu, maka Mahisa Murtipun sudah bersiap menghadapinya. "Bersiaplah anak muda” berkata orang itu "aku tidak akan sekedar bermain-main. Dalam perbandingan ilmu, untuk mencapai kesimpulan yang  paling baik adalah apabila kita bersungguh-sungguh. Jika salah seorang diantara kita mengalami kesulitan atau bahkan mati, itu adalah akibat wajar dari satu usaha untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya." Mahisa Murti mengerutkan dahinya. Ia merasa bahwa ia telah terlibat dalam satu persoalan yang belum dimengertinya. Demikianlah, maka orang itupun telah bersiap. Semakin lama, maka pandangan Mahisa Murtipun menjadi semakin jelas didalam kegelapan. Ia mulai dapat m elihat wajah orang itu. Apalagi ketika mereka berhadapan semakin dekat. "Bersiaplah anak muda, aku akan mulai" desis orang itu. Mahisa Murti telah bersiap sepenuhnya. Sementara mPu Sidikarapun telah bergeser menjauh. Sejenak kemudian, orang itu mulai bergerak. Ia dengan serta merta telah m enyerang. Bukan sekedar untuk menjajagi ilmu Mahisa Murti, tetapi serangan-serangannya datang beruntun dengan garangnya melanda Mahisa Murti yang memang agak menjadi terkejut. Namun Mahisa Murtipun segera menyesuaikan diri. Ia sa dar bahwa ia berhadapan dengan orang berilmu tinggi. Karena itu, maka anak muda itu merasa harus sangat berhatihati. Pa da benturan-benturan yang  terjadi kemudian, maka Mahisa Murti merasakan betapa besar tenaga dan kemampuan orang itu. Apalagi orang itu telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Karena itulah maka Mahisa Murtipun harus dengan cepat meningkatkan ilmunya pula. Bahkan ada sedikit kesan tergesa -gesa. Tetapi karena pada da sarnya Mahisa Murti m emiliki ilmu yang tinggi, maka pertempuran itupun dengan cepat telah menjadi semakin sengit. Keduanya telah menghentakkan tenaga dalam yang mereka miliki. Sehingga dengan demikian benturan yang terjadipun menjadi semakin kuat dan keras. mPu Sidikara yang melihat pertempuran itu menjadi cemas. Ia m elihat seakan-akan keduanya adalah orang-orang yang sudah mendendam untuk waktu yang lama. Demikian mereka bertemu, maka benturan yang sangat sengit telah terjadi. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti dengan cepat m erasa betapa lawannya telah menekannya. Serangan-serangannya datang beruntun susul-menyusul. Tangan dan kaki orang itu menyambar-ny ambar dengan cepat dilam bari kekuatan yang sangat besar. Mahisa Murti juga harus mengerahkan kekuatan dan kemampuannya untuk mengimbangi tekanan lawannya. Sebagai m ewaris ilmu Bajra Geni, maka Mahisa Murti benarbenar meyakinkan. Ketika lawannya menekannya semakin berat, maka Mahisa Murtipun segera sampai kepuncak ilmunya. Dengan demikian, maka pertempuranpun menjadi semakin mendebarkan. Dua kekuatan ilmu yang  tinggi telah saling berbenturan. Ketika keduanya benar-benar sampai kepuncak ilmu mereka, m aka pertempuran itupun menjadi semakin rumit. Sekali-sekali keduanya bagaikan tenggelam dalam satu pusaran yang cepat. Namun kemudian keduanya telah mengambil jarak. Mereka hanya berkisar sejengkal-sejengkal dengan gerak-gerak yang  nampaknya sederhana. Orang yang  menantang Mahisa Murti itu ternyata masih juga berusaha menekan Mahisa Murti. Tetapi sentuhan tangan Mahisa Murti telah m embuatnya sangat berhati-hati. Tangan Mahisa Murti yang  dilam bari ilmunya itu seakan-akan menjadi sekeras baja. Bahkan semakin mapan ilmunya, sentuhan ilmu Bajra Geni itu telah m enjalarkan getaran yang tajam kedalam tubuh lawannya. Namun lawannya seakanakan mampu meredam ilmu itu. Seakan-akan tubuh orang itu memiliki kekuatan penangkal, sehingga getaran yang menjalar itu tidak menyakitinya. Demikian pula tangan Mahisa Murti yang menjadi sekeras baja itu tidak menggoyahkan pertahanannya. Bahkan lawannya itu justru telah semakin mendesaknya. Kekuatannya seakan-akan justru semakin lama semakin besar. Sentuhan tangan Mahisa Murti yang menjadi bagaikan sekeras baja ternyata telah membentur tubuh yang seolah-olah menjadi liat. Kekuatan yang besar dan keras itu telah mengenai sasaran yang  mampu menelan kekuatan dan kekerasan serangan Mahisa Murti. Tubuh orang itu, bahkan tulang-tulangnya seakan-akan menjadi sangat lentur sehingga benturan yang  terjadi kemudian telah berubah, karena lawan Mahisa Murti itu tidak lagi mengandalkan benturan kekerasan untuk melawan kekerasan. Dengan demikian, maka Mahisa Murti telah mengalami kesulitan. Yang terkilas kemudian di kepalanya adalah mempergunakan ilmunya yang  lain. Mahisa Murti telah mengetrapkan pula ilmunya yang  mampu menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya. Beberapa saat pertempuran itu masih b erlangsung dengan sengitnya. Mahisa Murti berusaha untuk sebanyak-banyaknya membenturkan serangannya atau ju stru menangkis serangan lawannya. Namun lawannya seakan-akan menjadi semakin liat. Mahisa Murti merasa semakin sulit untuk menghindari serangan-serangan itu. Beberapa kali lawannya mampu menembus pertahanannya dan mengenai tubuhnya. Dalam pada itu, semakin lama Mahisa Murti bertempur, maka ia melihat sesuatu yang  menarik perhatiannya. Meskipun lawannya itu seorang yang berilmu tinggi, dengan tatanan dan unsur-unsur gerak yang  sangat rumit dan berbahaya, namun ada yang dapat dikenalinya. Sekali-sekali Mahisa Murti m erasakan kesamaan unsur gerak lawannya itu dengan unsur gerak anak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani. Karena itu, maka Mahisa Murti mulai menjadi curiga, bahwa orang itu adalah saudara seperguruan atau bahkan guru anak muda yang  telah dikalahkannya itu. Namun meskipun persamaan itu dikenalinya, tetapi tataran antara keduanya sangat jauh berbeda. Lawannya itu agaknya benar-benar telah m ampu mengembangkan ilmunya sampai kepuncaknya. Meskipun demikian, Mahisa Murti masihberpeng harapan. Dengan ilmunya yang  mampu menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya, ia akan dapat meredakan seranganserangan lawannya itu. Tetapi harapan Mahisa Murti itu tidak segera terjadi. Meskipun benturan demi benturan terjadi, namun Mahisa Murti masih saja menghadapi lawannya dengan kekuatan dan ilmunya yang justru seakan-akan menjadi semakin tinggi. Ketika Mahisa Murti menjadi gelisah, maka terdengar lawannya itu berkata "Ilmumu memang luar biasa anak muda. Tetapi kau tidak akan mampu menghisap kekuatan dan kemampuanku dengan ilmumu itu. Ilmu yang jarang dimiliki orang sekarang ini. Ilmu yang sangat ditakuti oleh banyak orang." Jantung Mahisa Murti m emang berdebar semakin keras. Ternyata orang itu m emang berilmu sangat tinggi. Ilmunya yang selalu mampu menghentikan perlawanan lawanlawannya itu ternyata tidak dapat ditrapkan kepada lawannya itu. Namun dengan demikian Mahisa Murti harus mulai memperhitungkan kemungkinan untuk mengetrapkan ilmu pamungkasny a. Jika tidak ada jalan lain, maka ia akan melontarkan ilmunya itu. Tetapi akibatnya tidak dapat diduganya. Namun karena ilmunya untuk menghisap kekuatan lawannya serta ilmu Bajra Geniny a tidak mampu menghentikan perlawanan orang yang  tidak dikenalnya itu, maka Mahisa Murtipun harus mempersiapkan diri dengan ilmu pamungkasnya. Bahkan Mahisa Murti sudah berniat untuk mempergunakan pedangnya yang akan mampu mendukung kekuatan ilmu pamungkasnya. Ketika lawannya menjadi semakin mendesaknya, maka Mahisa Murti itupun telah menarik pedangnya yang  berwarna kehijau-hijauan. Lawannya yang melihat pedang itupun meloncat surut. Dengan nada berat ia berkata "Pedangmu adalah pedang yang jarang ada duanya. Darimana kau dapatkan pedang itu” "Apakah kau perlu mengetahuinya ?" bertanya Mahisa Murti." "Aku mengerti bahwa kau tidak akan mengatakannya. Tetapi sudah tentu bahwa aku tidak akan membiarkan leherku kau tebas dengan pedangmu itu." "Aku tidak akan pernah m enanyakannya. Tetapi aku akan melakukannya kecuali jika kau menghentikan pertempuran ini." geram Mahisa Murti. "Tidak anak muda " jawab orang itu "aku masih belum mengetahui kemampuanmu sampai tuntas. Karena itu, maka aku akan bertempur terus. Jika kau mati dalam pertempuran ini, itu adalah salahmu sendiri. " Mahisa Murti tidak menjawab lagi. Tetapi iapun dengan serta merta telah meny erang orang itu. Pedangnya berputaran dengan cepat. Sehingga yang  nampak kemudian seolah-olah sebuah gumpalan asap yang berwarna kehijau-hijauan. Tetapi lawan Mahisa Murti itupun kemudian telah menarik senjatanya pula. Sepa sang pisau belati panjang. Ternyata bahwa pisau belati panjang itu berwarna kehitaman. Kerelipkerelip kecil nampak sepanjang daun pisau belati yang  mirip dengan sebilah keris itu. Bahkan ternyata orang itu berkata "Yang aku pegang memang berbentuk pisau. Tetapi buatannya tidak lebih buruk dari membuat keri s. Bahkan ketika pisau ini dibuat, mPu yang membuatnya sangat memperhatikan kekurangan-kekurangan yang terdapat pada sebilah keris jika dipergunakan untuk bertempur seperti yang  sedang kaulakukan sekarang. Karena itu, maka mPu itu telah membuat senjata yang  daunnya seperti keris dengan pamornya tetapi m emiliki kemampuan tempur lebih baik daripada keris. Bahkan sebagai pusaka, kedua pisauku ini terbuat dari wesi aji yang  bernilai tinggi." Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi pedangnya mulai menebas dengan cepat. Namun lawannya mampu menangkisnya. Bahkan kemudian ketika pedang itu berputar dan mematuk kearah jantung. Lawannya itu telah meloncat surut dengan cepatnya. Sejenak kemudian, maka pertempuranpun berlangsung semakin cepat. Benturan-benturan yang terjadipun menjadi semakin keras. Namun terasa ditangan Mahisa Murti, bahwa kekuatan lawannya benar -benar tidak menyusut sama sekali. Bahkan semakin lama kedua ujung pisau belati itu rasarasanya menjadi semakin dekat dengan kulit Mahisa Murti. Mahisa Murti benar-benar tidak mempunyai pilihan lain. Sebelum kulit dagingnya disayat oleh pisau lawannya, maka Mahisa Murti m emutuskan untuk menghentikan perlawanan orang itu dengan ilmu pamungkasnya. Tetapi memang tidak mudah bagi Mahisa Murti untuk melepaskan ilmunya yang  mungkin akan dapat menghancurkan tubuh lawannya. Meskipun ia tahu bahwa lawannya orang berilmu tinggi. Bahkan mungkin lawannya akan dapat melepaskan ilmunya yang jauh lebih berbahaya dari ilmu Mahisa Murti sehingga ia sendirilah yang  akan hancur menjadi debu. Namun saat-saat Mahisa Murti menjadi ragu ia telah dipergunakan lawannya sebaik-baiknya. Serangannya ju stru telah melibatnya dengan cepat, sehingga tidak sempat dihindarinya lagi. Dua g oresan pisau telah menyayat lengan dan pundaknya. Ketika perasaan pedih dan ny eri itu meny engatnya, maka Mahisa Murti segera m eloncat mundur. Ia terkejut ketika ia merasa darah yang  hangat telah meleleh dari luka-lukanya. Dengan demikian, maka Mahisa Murtipun menjadi semakin y akin bahwa ia harus mempergunakan ilmu pamungkasny a. Jika lawannya juga mempergunakan ilmu yang lebih tinggi dari ilmunya, maka apaboleh buat. Ia sendiri akan lebur digelapnya m alam. Biarlah mPu Sidikara menjadi sak si kehancurannya. "Mudah-mudahan mPu Sidikara dapat m eny ebut siapakah lawanku ini" berkata Mahisa Murti didalam hatinya "jika mPu Sidikara melihat unsur-unsur geraknya yang  sama tetapi dalam tataran yang  jauh lebih tinggi dari anak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani, maka mPu Sidikara tentu akan dapat menyebut pula siapakah lawanku, sehingga ayah dan Arya Kuda Cemani mengetahui, bahwa kekalahan anak muda di halaman rumah Arya Kuda Cemani itu telah menimbulkan dendam bagi perguruannya. Meskipun mPu Sidikara tidak tahu apakah orang ini saudara seperguruannya atau bahkan gurunya sendiri." Demikianlah, maka Mahisa Murti tidak mempunyai pilihan lain. Ia tidak mau dikoyak-koyak oleh pisau-pisau belati lawannya. Karena itu, ketika keadaannya menjadi semakin sulit, maka Mahisa Murtipun telah meloncat mengambil jarak. Mahisa Murti tidak memberi kesempatan meny erang. Demikian lawannya siap untuk m eloncat m emburunya, maka Mahisa Murtipun telah berdiri tegak dengan kedua belah tangannya m emegangi hulu pedangnya. Dengan cepat ujung pedangnya telah terangkat, sedang ujungnya lurus mengarah ke dada lawannya. Mahisa Murti tidak menunggu lagi. Dengan dilambari oleh segenap ilmu dan kekuatan yang  tersimpan didalam dirinya, maka Mahisa Murti telah melontarkan serangannya dari jarak beberapa langkah dari lawannya. Demikian ujung pedangnya yang  berwarna kehijau-hijauan itu lurus mengacu kearah dada lawannya, maka seleret sinar meluncur dengan cepat dari ujung pedangnya melampaui kecepatan anak panah yang  lepa s dari busurnya. Namun ternyata lawannya benar-benar tangkas. Ia memang terkejut sesaat. Tetapi ternyata orang itu masih sempat meloncat dengan kecepatan yang tidak ka sat mata, sehingga serangan Mahisa Murti itu tidak mengenainya. Namun Mahisa Murti tidak m embiarkan orang itu terlepas. Karena itu, sesaat kemudian maka serangan berikutnya telah terlepas pula meluncur mengarah ke jantung orang itu. Tetapi sekali lagi serangan Mahisa Murti tidak mengenai sa saran. Orang itu sempat m enghindar dan bahkan m eloncat semakin dekat. Bahkan serangan ketiga Mahisa Murtipun tidak mengenainya pula. Lawan Mahisa Murti itu sudah berada dekat disebelahnya. Dengan demikian, maka Mahisa Murti tidak sempat lagi meny erangnya. Apalagi ujung senjata lawannya itu telah terayun menggapai tubuhnya, sehingga Mahisa Murti harus meloncat m enghindar. Ketika kemudian Mahisa Murti berusaha untuk mengambil jarak, maka orang itu benar-benar tidak memberinya kesempatan. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti m engalami kesulitan. Meskipun orang itu belum mempergunakan ilmu yang  mampu menggetarkan jantung, namun kecepatan geraknya serta kemampuannya menangkal ilmu Mahisa Murti yang dapat menghisap kekuatan dan kemampuannya, telah membuat Mahisa Murti berdebar-debar. Bahkan juga mPu Sidikara yang berdiri diluar arena. Dengan demikian, maka mPu Sidikara memperhitungkan bahwa Mahisa Murti tidak akan mampu mengimbangi kemampuan orang itu. Padahal menurut pendapatnya, Mahisa Murti adalah seorang anak muda yang berilmu sangat tinggi, bahkan hampir tidak dapat digapai oleh penalarannya. Tetapi lawannya itu ternyata mampu mengatasinya. Bahkan menjadi sangat berbahaya bagi Mahisa Murti. Karena itu, tanpa berpikir panjang lagi, maka mPu Sidikara itupun telah m elangkah maju sambil berkata "Ki Sanak. Kau datang dengan membawa dendam dihatimu. Aku melihat hubunganmu dengan anak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani. Karena itu, kedatanganmu tentu ada hubungannya dengan kekalahan anak itu yang  telah bertempur melawan Mahisa Murti. Sekarang kau datang untuk membalas dendam. Sebenarnya aku tidak akan turut campur seandainya kedatanganmu itu bukan karena dendam. Sementara Mahisa Murti berdiri dipihak yang benar. Karena itu, sebagaimana kau membela anak muda itu, yang aku tidak tahu apakah ia saudara seperguruanmu atau muridmu, maka akupun akan membela sahabatku. Akupun telah dibakar oleh dendam sebagaimana menyala dihatimu.” Orang itu ternyata meloncat surut. Dengan nada rendah ia berkata "Ki Sanak. Aku tahu bahwa ilmumu masih belum setinggi ilmu Mahisa Murti. Tetapi jika kalian berdua bertempur bersama-sama m aka aku tentu tidak akan dapat mengimbangi. Kalian berdua memiliki kemampuan menyerang dari jarak jauh. Aku masih mampu m enghindar jika Mahisa Murti saja yang meny erangku, tetapi jika kalian berdua meny erang bersama-sama, maka aku tentu akan dapat kalian hancurkan. Sementara itu, aku tidak ingin melakukannya atas kalian. Baik kalian berdua maupun salah seorang diantara kalian. " mPu Sidikara termangu -mangu sejenak. Namun iapun kemudian berkata "Jangan berbohong. Kau tidak m empunyai kemampuan untuk berbuat demikian. " "Aku sudah menduga bahwa kalian tidak akan mempercayainya. Tetapi jangan licik. Beri aku kesempatan menunjukkan kepada kalian apakah aku dapat berbuat demikian atau tidak." Mahisa Murti dan mPu Sidikara tidak menjawab. Sementara itu, ia melihat orang itu mengatupkan kedua telapak tangannya. Namun sejenak kemudian, orang itu telah menghentakkan tangannya ke arah sebatang pohon gay am yang tumbuh di atas tanggul parit di pinggir jalan. Dari telapak tangannya yang  terbuka itu seakan-akan telah meluncur bola api sebesar buah jeruk pecel m eluncur dengan cepat kearah pohon gayam itu. Bola api yang  berwarna merah kebiru -biruan. Namun demikian bola api itu menyentuh selembar daun pada pohon gay am itu, maka m eledaklah bunga api sebesar gubug kecil yang  terdapat di tengah-tengah sawah untuk berteduh para petani dari teriknya matahari yang meny engat punggung disaat mereka bekerja disawah ditengah hari. Mahisa Murti dan mPu Sidikara memang terkejut. Mereka menjadi semakin y akin, bahwa lawannya berilmu sangat tinggi. Kedua orang itu bagaikan membeku ketika mereka melihat bunga api itu kemudian padam. Ternyata cabang daun pohon gayam itu telah habis terbakar. Sementara cabang dan rantingranting masih nampak membara.Namun kemudian cabangcabang pohon gayam itu beruntuhan jatuh di tanah. Namun dengan m eledaknya bunga api itu, Mahisa Murti dan mPu Sidikara sempat melihat wajah orang itu sekilas. Bukan sekedar bayangan di kegelapan. Tetapi mereka dapat melihat wajah itu dengan jela s. Wajah seorang yang umurnya tentu sudah melampaui pertengahan abad. Meskipun demikian, dengan kesadaran bahwa orang itu berilmu sangat tinggi, maka Mahisa Murti dan mPu Sidikara tidak dapat ingkar. Jika mereka masih harus bertempur, maka mereka telah bersiap menghadapi segala kemungkinan, apapun yang akan terjadi atas mereka. Tetapi keduanya menjadi heran. Orang itu nampaknya tidak mempersiapkan diriny a untuk meneruskan pertempuran. Sambil melangkah surut orang itu berkata "Sayang. Aku tidak dapat meneruskan pertempuran ini. Seperti sudah aku katakan, aku tidak ingin membinasakan kalian atau salah seorang dari kalian. Karena menurut pendapatku, kehadiran kalian ternyata sangat berarti bagi orang banyak. Telah banyak yang  kalian lakukan untuk kepentingan sesama. Karena itu, maka keinginanku untuk membuat perbandingan ilmu sudah aku anggap cukup. Aku sudah tahu seberapa tinggi tingkat kemampuan Mahisa Murti. Karena itu, aku mohon diri. Aku m inta m aaf jika aku sudah melukaimu, Mahisa Murti. Tanpa melukaimu, maka kau tentu tidak akan sampai kepada puncak kemampuanmu. Salam buat Mahendra, Arya Kuda Cemani, Mahisa Pukat dan seluruh keluarga mereka termasuk para penghuni Padepokan Bajra Seta. " Orang itu tidak menunggu jawaban. Sejenak kemudian, orang itu seakan-akan melayang mundur. Semakin lama semakin jauh, sehingga akhirnya hilang didalam kegelapan. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun lukanya ternyata masih juga terasa ny eri. Ketika Mahisa Murti berdesis menahan pedih luka dilengan dan pundaknya, maka mPu Sidikarapun berkata "Lukamu perlu diobati. Mungkin luka itu berbahaya sehingga orang itu tidak merasa perlu untuk meny erangku dengan ilmunya yang lain." "Aku tidak terpengaruh oleh racun" berkata Mahisa Murti. "Mungkin ia mempunyai sejeni s racun yang  lain." desis mPu Sidikara. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Menilik titik -titik darah yang  keluar dari luka, agaknya luka itu justru tidak beracun." mPu Sidikara mengangguk-angguk. Ketika ia melihat luka itu, ia m emang m enduga bahwa luka itu tidak dikotori oleh racun. Tetapi mPu Sidikara masih ingin melihat luka itu ditempat yang  lebih terang. Karena itu, maka iapun mengajak Mahisa Murti untuk kembali m emasuki kota. Dibeberapa regol halaman terdapat onc or yang dapat menerangi luka itu. Ketika mPu Sidikara melihat luka Mahisa Murti dibawah cahaya oncor disebuah reg ol rumah yang  besar, ternyata bahwa luka itu m enurut pengamatan mPu Sidikara memang tidak beracun. "Nampaknya orang itu m emang tidak berniat buruk" desis mPu Sidikara kemudian, Mahisa Murti mengangguk. Katanya "Mungkin. Menurut perhitunganku, ia akan dapat berbuat lebih banyak dari yang dilakukannya itu. Agaknya orang itu benar-benar ingin menjajagi kemampuanku sampai kepuncak." "Lalu, menurut pendapatmu, apa maksudnya melakukan penjajagan sampai tuntas ?" bertanya mPu Sidikara. Mahisa Murti menggeleng. Katanya "Aku tidak tahu. Ia datang dan pergi begitu saja." "Tetapi agaknya orang itu mempunyai hubungan dengan anak saudara seperguruan Arya Kuda C emani. " berkata mPu Sidikara. "Aku juga melihat unsur itu." jawab Mahisa Murti. "Unsur itu jelas ada. Ketika kau berkelahi dengan anak itu, aku tidak dapat melihat dengan utuh. Tetapi aku dapat melihat kesamaan itu." berkata mPu Sidikara. Mahisa Murti mengangguk-angguk. mPu Sidikara waktu itu memang sibuk dengan Mahisa Pukat. Namun ia dapat segera mengenali kesamaan unsur yang ada diantara kedua lawan Mahisa Murti itu meskipun pada tataran yang  jauh berbeda. "Sudahlah" berkata mPu Sidikara "kita akan pulang. Bukankah Mahisa Semu dan Mahisa Amping menunggumu di rumah Arya Kuda Cemani ?" "Dengan luka dibahu dan dipundak ?" "Lalu, apakah anak-anak itu dibiarkan disana, sementara besok kau merencanakan kembali ke Padepokan Bajra Seta ?” "Aku ingin pulang kerumah ay ah lebih dahulu untuk sekedar m embersihkan darah yang  m engering disekitar luka, agar beka snya tidak nampak terlalu menarik perhatian. "Tetapi luka itu sendiri tidak akan hilang dalam sekejap”, berkata mPu Sidikara.

Jilid 116
"MESKIPUN demikian setelah dibersihkan, kesannya akan berbeda sekali." mPu Sidikara memang tidak berkeberatan. Karena itu, maka merekapun segera berjalan kembali kerumah Mahendra. Ketika Mahendra melihat anaknya yang  terluka, maka iapun menjadi sangat terkejut. Dengan serta merta maka iapun bertanya "Apa yang terjadi ?" "Biarlah mPu Sidikara berceritera ay ah, aku akan membersihkan lukaku lebih dahulu." "Kau memerlukan air hangat" berkata ayahnya. "Aku akan merebusnya " jawab Mahisa Murti. Demikianlah ketika Mahisa Murti sibuk didapur bersama pembantu dirumah Mahendra sebelum mandi dan membersihkan lukanya, maka mPu Sidikara telah berceritera tentang orang yang aneh, yang  menemui mereka dibulak panjang sedikit diluar kota. mPu Sidikara menceriterakan apa yang  telah terjadi dari awal sampai akhir. mPu Sidikara juga berceritera tentang pohon gayam yang terbakar. Terakhir mPu Sidikara menyampaikan salam dari orang yang aneh itu sebelum ia menghilang dikegelapan. "Orang itu tentu berilmu sangat tinggi" berkata Mahendra. "Namun nampaknya ia memang tidak berniat buruk" sahut mPu Sidikara. "Mudah-mudahan ia memang tidak berniat buruk." sahut Mahendra sambil mengangguk-angguk. "Jika ia berniat buruk, tentu ia sudah melakukannya, karena ia memang mempunyai kesempatan untuk itu" berkata mPu Sidikara selanjutnya. Sementara mPu Sidikara berbincang dengan Mahendra, maka Mahisa Murtipun telah mandi dan membersihkan lukalukanya dengan air hangat. Baru kemudian ia ikut berbincang diruang dalam sejenak. Karena kemudian iapun teringat akan Mahisa Semu dan Mahisa Amping. "Sudah terlalu malam. Amping tentu sudah mengantuk" berkata Mahisa Murti. "Baiklah. Pergilah kerumah Arya Kuda Cemani. Agaknya disana masih ada beberapa orang keluarganya yang  berjagajaga." Sejenak kemudian, maka Mahisa Murtipun telah pergi ke rumah Arya Kuda Cemani untuk mengambil Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Sekaligus untuk minta diri, karena dihari berikutnya Mahisa Murti dan kedua orang adik angkatnya itu akan meninggalkan Singasari kembali ke Padepokan Bajra Seta yang jaraknya terhitung panjang. "Singasari akan terasa sepi" berkata Mahisa Pukat. "Bukankah kau akan segera kembali kedalam kesibukanmu sehari-hari?" bertanya Mahisa Murti. "Ya " jawab Mahisa Pukat "t etapi rasa-rasanya sepeninggal kakang Mahisa Bungalan yang begitu tergesa -gesa, dan besok kau bersama Mahisa Semu dan Mahisa Amping, aku akan tinggal sendiri di Singasari." "Tentu tidak " mPu Sidikaralah yang  m enyahut "disini ada Ki Mahendra. Lebih dari itu, kau tidak lagi sendiri di Singasari yang ramai ini." Mahisa Pukat tersenyum. Mahisa Murti juga ter senyum meskipun landasannya berbeda. Namun Mahisa Pukat dan Arya Kuda Cemani tidak dapat menahan Mahisa Murti lebih lama lagi. Mereka terpaksa melepaskan Mahisa Murti esok meninggalkan Singasari kembali ke Padepokan Bajra Seta. Namun dalam pada itu, meskipun Mahisa Murti sudah membersihkan diri, tetapi luka-lukanya masih juga dapat dilihat oleh Mahisa Pukat dan Arya Kuda Cemani. Tetapi Mahisa Murti tidak mengatakan selengkapnya sebagaimana yang terjadi. Ia hanya m engatakan dengan singkat bahwa di bulak panjang telah terjadi perselisihan karena salah paham. "Tetapi siapa yang  dapat m elukaimu itu ?" bertanya Arya Kuda Cemani. "Begitu tiba-tiba diluar kesiapanku" jawab Mahisa Murti "t etapi tidak apa-apa." "Kau apakan orang itu ?" bertanya. Mahisa Pukat. "Orang itu pergi dengan sendirinya," jawab Mahisa Murti. Namun katanya kemudian "Satu kejadian yang  tidak penting. " Mahisa Pukat dan Arya Kuda Cemani memang tidak bertanya lebih jauh. Agaknya Mahisa Murti sendiri juga tidak menaruh banyak perhatian terhadap garis-garis luka dilengan dan pundaknya itu. Sementara itu, Amping memang sudah menjadi sangat mengantuk. Sekali-sekali m atanya sudah terpejam sedangkan kepalanya terangguk-angguk. Karena itu, maka Mahisa Murtipun segera minta diri. Juga minta diri karena dikeesokan harinya ia akan kembali ke Padepokan Bajra Seta. Malam itu mPu Sidikara tidur dirumah Mahendra. Ia tidak kembali ke Kasatrian, karena esok pagi ia akan menunggui keberangkatan Mahisa Murti kembali ke Padepokan Bajra Seta. mPu Sidikara memang sudah minta ijin untuk itu, sekaligus mengantar Mahisa Murti yang m ohon diri kepada Pangeran Kuda Pratama. ' Pagi-pagi benar Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping sudah bersiap. Sementara mereka sudah berada di halaman, mPu Sidikara masih sempat berdesis "Aku tidak akan memberimu obat. Luka-lukamu akan sembuh dengan sendirinya, karena didalam tubuhmu telah terdapat obat untuk segala macam penyakit." "Ah, kau" desis Mahisa Murti. Namun mPu Sidikara menjawab dengan bersungguhsungguh "aku berkata sebenarnya. " Mahisa Murti terseny um. Katanya "Bukan aku yang  mempunyai kelebihan. Tetapi obat-obatmu. Atau bahkan sentuhan tanganmu sudah cukup meny embuhkan segala macam penyakit." "Jika benar, tentu aku akan merasa bahagia sekali" desis mPu Sidikara. Mahisa Murtipun tertawa. Demikian pula mPu Sidikara. Demikianlah, maka sejenak kemudian Mahisa Murti dan kedua adik angkatnyapun meninggalkan istana Singasari. Mereka telah m eninggalkan pesan pula, agar ayahnya tidak mengatakan yang  sebenarnya, kenapa ia terluka. "Kau harus sering datang kemari Mahisa Murti" desis ay ahnya dimuka regol samping halaman istana "barangkali aku tidak akan dapat sering m engunjungi Padepokan Bajra Seta. " "Baik ay ah. Biar aku saja yang  datang kemari. Ayah sebaiknya tidak melakukan pekerjaan atau perjalanan yang meletihkan" jawab Mahisa Murti. Mahendra menepuk bahu anaknya. Kemudian mengelus kepala Mahisa Semu dan Mahisa Amping sambil berkata "Kalian harus berbuat sebaik-baiknya untuk mempersiapkan masa depan kalian yang panjang nanti." Keduanya mengangguk hormat. Mahisa Semu berdesis perlahan "Kami mohon restu." Demikianlah, maka sejenak kemudian bertiga mereka telah berpacu meninggalkan istana. Untuk beberapa lama mereka menyusuri jalan-jalan ramai di Kotaraja. Namun kemudian merekapun telah meluncur lewat pintu gerbaiig kota. Jalan memang tidak lagi terlalu ramai, sehingga m ereka dapat berkuda lebih cepat lagi. Meskipun demikian mereka tidak berpacu dengan kecepatan yang  terlalu tinggi. Selain debu yang  berhamburan, mereka dapat menimbulkan kecelakaan karena kuda-kuda mereka yang kurang terkendali. Seperti biasanya maka Mahisa Amping telah melarikan kudanya dipaling depan. Cahaya matahari pagi yang cerah menimpa dedaunan yang masih basah oleh embun, membuat Mahisa Amping merasa semakin segar, sesegar kudanya yang tegar. Namun tiba -tiba saja Mahisa Amping telah menarik kendali kudanya, sehingga kudanya itupun terkejut. Dengan serta merta kudanya itupun telah berhenti, sekali berputar namun kemudian Mahisa Amping berhasil menenangkannya. Mahisa Murti dan Mahisa Semupun terkejut. Dengan cepat mereka mendekat. Namun kuda Mahisa Amping telah menjadi tenang kembali. "Apa yang telah terjadi?" bertanya Mahisa Murti. Mahisa Amping m engerutkan dahinya. Namun kemudian iapun menjawab "Aku tidak tahu kakang. Tiba-tiba saja aku ingin menghentikan kudaku. Tanganku serasa bergerak sendiri m enarik kendali kudaku. Aku sendiri bahkan terkejut karenanya." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya "Satu getar isy arat bagimu. Coba Amping, lihat, apakah kau mengenali isy arat itu lebih dari sekedar terkejut dan menarik kendali kuda?- Mahisa Amping termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian bertanya "Apa maksud kakang?" "Amping, lihat kedalam dirimu sendiri. Tumbuhkan pertanyaan didalam dirimu, kenapa kau harus menarik kendali kudamu." berkata Mahisa Murti. "Aku tidak tahu maksud kakang. " desis Mahisa Amping. "Lihat kembali getar isy arat itu Amping." "Apa yang  harus aku lakukan ?" bertanya Mahisa Amping kebingungan. "Kau harus memusatkan nalar budimu. Bangkitkan kembali getar isyarat itu. Lihatlah kekedalamannya. Kita harus mengurai dan menemukan artinya. " "Aku tidak tahu." jawab Mahisa Amping kebingungan. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak dapat memaksa Mahisa Amping untuk melakukan sesuatu yang tidak dimengertinya. Dengan nada rendah Mahisa Murti itpun berkata "Sudahlah. Pada saatnya kau akan mengetahuinya apa artinya getaran yang  timbul didalam dadamu. Pada saat berikutnya kau tentu akan dapat m empelajari untuk dapat menangkap maksud dari getaran yang  timbul didalam dadamu itu." Mahisa Amping memang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengerti dengan jelas, apa yang  telah terjadi dengan dirinya itu. Karena itu, m aka Mahisa Murtipun berkata "Marilah. Kita melanjutkan perjalanan." Ketika Mahisa Amping akan mendahului lagi, maka Mahisa Murtipun berkata "Kita bersama-sama Amping." Mahisa Amping mengerti maksud Mahisa Murti. Karena itu, maka iapun tidak lagi melarikan kudanya jauh mendahului Mahisa Murti dan Mahisa Semu. Beberapa ratus patok telah berlalu. Ternyata mereka tidak menjumpai persoalan yang  dapat menghambat perjalanan mereka. Ketika mereka melewati sebuah pasar yang  tidak terlalu ramai, karena nampaknya hari itu bukan hari pasaran, mereka tidak berhenti. Beberapa orang yang  ada di pasar itu memandangi mereka dengan dahi berkerut. Namun ketiga orang berkuda itu berjalan terus. Sekali-sekali Mahisa Amping memang berpaling dan bahkan memandang berkeliling. Tibatiba saja dahinya berkerut ketika ia m elihat seseorang yang berdiri termangu-mangu disebelah pintu gerbang pa sar. Sekali lagi hampir diluar sadarnya, ia menarik kembali kudanya. Karena kudanya memang tidak berlari kencang, maka kudanyapun segera berhenti. Mahisa Murti dan Mahisa Semupun berhenti disebelah menyebelahnya. Dengan kening berkerut Mahisa Murtipun bertanya "Kenapa kau berhenti lagi dengan tiba-tiba ?” Mahisa Amping termangu -mangu sejenak Namun kemudian katanya "Aku melihat orang berdiri disebelah pintu gerbang pasar. Begitu aku melihatnya, rasa -rasanya jantungku bergetar semakin cepat. Mahisa Murti dan Mahisa Semupun serentak telah berpaling kearah pintu gerbang pasar. Dengan nada rendah Mahisa Murti bertanya "Orang yang  bersandar pagar itu?" "Bukan " jawab Mahisa Amping. "Yang mana?" desak Mahisa Semu. Mahisa Amping tidak segera menjawab. Tetapi orang yang dilihatnya itu sudah tidak ada ditempatnya. "Apakah ia masih ada di sana?" bertanya Mahisa Murti pula. Mahisa Ampingpun menggeleng. Katanya "Orang itu sudah pergi." "Bukankah kau tidak tidur dan bermimpi sambil berkuda?" bertanya Mahisa Semu. "Aku m elihat sebenarnya. Dan aku tidak tahu kenapa aku menjadi berdebar-debar." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya"Baiklah, Marilah, kita lanjutkan perjalanan kita. " Mahisa Amping tidak menjawab. Namun merekapun kemudian telah m elanjutkan perjalanan. Kuda-kuda itu tidak berlari terlalu cepat. Bahkan sepanjang perjalanan Mahisa Amping menjadi tegang. Tetapi Mahisa Murtipun berkata "Jangan gelisah, Amping. Tidak akan ada hambatan disepanjang perjalanan kita.” Mahisa Amping m engangguk kecil. Tetapi bagaimanapun juga Mahisa Amping masih saja memikirkan gejolak perasaannya yang kurang dimengertinya'sendiri. Diperjalanan yang panjang itu, maka ketiganyapun telah berhenti dan beristirahat disebuah kedai. Bukan kedai yang pernah disinggahinya. Tetapi justru kedai yang  lain, yang  sama sekali asing bagi Mahisa Murti dan kedua adik angkatnya. Di kedai itu ternyata mereka mendapat pelayanan yang  baik. Pemilik kedai itu cukup ramah. Demikian pula pembantu-pembantunya yang melayani para pembelinya. Di kedai itu juga tidak dijumpai anak-anak muda yang  minum tuak dan bertingkah laku kurang mapan. Mereka memang melihat dua tiga orang anak muda yang ada di kedai itu. Namun nampaknya mereka adalah anak-anak muda yang sedang bepergian. Sikapnyapun wajar. Jika anak-anak muda itu nampak cerah dan gembira, bahkan sekali-sekali terdengar mereka tertawa, justru menunjukkan kemudaan mereka. Namun sikap mereka tidak berlebihan. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Iapun masih muda juga. Tetapi rasa-rasanya masa mudanya sudah lewat. Ia tidak lagi berada dalam suasana sebagaimana anak-anak muda itu. Ia tidak lagi berkumpul bersama anak-anak muda sebay anya, bergurau dan bergembira menikmati satu masa yang penuh gairah. Tetapi Mahisa Murti tidak meny esal. Ia telah dengan sengaja terjun kesatu dunia yang dipilihnya. Untuk beberapa lama mereka duduk dikedai itu menikmati minuman dan m akanan yang  kebetulan sesuai dengan selera mereka. Namun tiba -tiba saja Mahisa Amping telah bangkit berdiri. Wajahnya menjadi tegang memandang ke jalan yang membujur dihadapan kedai itu. "Apa yang kau lihat?" bertanya Mahisa Murti. "Orang berkuda itu" jawab Mahisa Amping. "Yang baru saja lewat?" bertanya Mahisa Murti. "Ya " jawab anak itu. "Siapa?" bertanya Mahisa Semu pula. "Yang berdiri disebelah pasar itu" jawab Mahisa Amping. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak melihat wajah orang berkuda yang lewat di depan kedai itu. Justru saat Mahisa Murti baru meneguk minumannya. Apalagi ia tidak mengira bahwa orang berkuda itu adalah orang yang telah menarik perhatian Mahisa Amping didekat pasar itu. "Sudahlah" berkata Mahisa Murti kemudian "jangan hiraukan lagi orang itu." Mahisa Amping yang telah duduk kembali itu mengangguk. Tetapi nafasnya menjadi terengah-engah seperti seseorang yang baru saja berlari-lari menempuh jarak yang  panjang. "Minumlah" berkata Mahisa Murti kemudian. Mahisa Ampingpun kemudian mengangkat mangkuknya dan minum beberapa teguk. Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, merekapun telah meneruskan perjalanan mereka. Mereka tidak lagi merasa haus dan lapar. Demikian juga kuda-kuda mereka. Namun demikian, meskipun tidak dikatakan kepada kedua adik angkatnya, Mahisa Murti menjadi sangat berhati-hati. Bagaimana pun ia tidak dapat melepaskan perhatiannya kepada sikap Mahisa Amping. Apalagi ketiga ia meraba goresan lukanya yang  meskipun tidak lagi t erlalu menarik perhatian orang lain, namun masih terasa sedikit ny eri jika tersentuh ujung-ujung jarinya. "Apakah orang itu yang  aku temui diluar pintu gerbang kota Singasari?" pertanyaan itu timbul pula dihati Mahisa Murti. Tetapi Mahisa Murti sama sekali tidak nampak menjadi gelisah. "Sesaat kemudian, maka kuda -kuda m ereka telah berlarilari disepanjang bulak. Tetapi sekali-sekali m ereka menyusup diantara padukuhan-padukuhan yang bertebaran diantara kotak-kotak sawah yang luas, seperti onggokan pulau-pulau ditengah-tengah lautan yang tenang. Mahisa Murti dan kedua adik angkatnya ternyata memang tidak mengalami hambatan apapun. Mereka telah melampaui kedai yang mereka singgahi saat mereka berangkat. Tetapi kedai itu ternyata tutup. Agaknya memang terjadi perubahanperubahan tatanan kehidupan di lingkungan itu. "Apakah kakang akan singgah?" bertanya Mahisa Semu. Mahisa Murti memang memperlambat lari kudanya. Tetapi sebenarnya ia tidak berniat untuk berhenti. Namun dua orang yang berdiri dipinggir jalan tiba-tiba telah melambaikan tangannya sambil berkata "Anak-anak muda. Kenapa kalian tidak singgah?" Mahisa Murti dan kedua adik angkatnyapun telah berhenti. Bahkan mereka telah berloncatan turun. Antara ingat dan tidak ingat mereka mengenali kedua orang itu. Mereka ikut mengerumuninya saat terjadi keributan di kedai yang tutup itu. "Kedai itu tutup" desis Mahisa Murti. "Untuk sementara " jawab salah seorang dari mereka. "Kenapa ?" bertanya Mahisa Murti. "Penghuni padukuhan ini tidak ingin melihat kehidupan yang muram itu lagi. Karena itu, maka pemilik kedai itu harus merubah wajah kedainya," jawab orang itu. "Bagaimana dengan Ki Bengkel dan para bebahu?" bertanya Mahisa Murti. "Mereka sudah berubah" jawab orang itu. "Sokurlah" desis Mahisa Murti "mudah-mudahan segala sesuatunya akan tetap baik untuk seterusny a." Namun Mahisa Murti memang tidak dapat singgah di padukuhan itu m eskipun kedua orang itu m enganjurkan agar mereka singgah dirumah Ki Bekel. "Ki Bekel tentu akan senang sekali menerima kehadiran kalian dirumahnya" berkata orang itu. "Terima kasih. Lain kali kami akan singgah. Agaknya kami akan sering melalui jalan ini" jawab Mahisa Murti. Demikianlah, m aka Mahisa Murtipun segera melanjutkan perjalanannya bersama kedua adik angkatnya. Namun rasarasanya mereka ikut bergembira, bahwa satu perubahan telah terjadi di padukuhan itu. Bahkan Ki Bekelpun telah turut berubah pula. Di perjalanan selanjutnya, mereka memang tidak mengalami hambatan apapun meski Mahisa Murti masih tetap berhati-hati. Mahisa Ampingpun tidak lagi nampak gelisah sekali. Bahkan anak itu mulai banyak berbicara sebagaimana kebiasaannya. Ketika mereka kemudian memasuki jalan yang langsung menuju ke regol padepokan mereka, maka jantung mereka rasa-rasanya telah dibasahi dengan air embun yang  sejuk. Kedatangan mereka disambut oleh seisi Padepokan Bajra Seta dengana perasaan sokur. Perjalanan yang  panjang telah mereka selesaikan dengan selamat. Bahkan m ereka sampai di Padepokan lebih awal dari kedatangan Mahendra dan mPu Sidikara pada kunjungan mereka yang terakhir. Setelah mandi dan berbenah diri serta beristirahat sejenak, maka merekapun duduk di pendapa bangunan induk Padepokan mereka bersama Wantilan dan Sambega serta beberapa orang cantrik. Sementara itu lampu minyak yang menyala ditengah-tengah pendapa itu bergoyang  dihembus angin yang  melintas. Banyak hal yang dapat diceritakan oleh Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Mahisa Amping tidak henti-hentinya berceritera tentang pernikahan Mahisa Pukat yang meriah. Upacara-upacara yang  sebagian besar belum pernah disaksikan. Namun Mahisa Amping juga berceritera tentang perkelahian antara Mahisa Murti dengan seorang anak muda yang  merasa tersinggung oleh pernikahan Mahisa Pukat itu. Mereka yang  mendengarkan Mahisa Amping berceritera hanya ter senyum-senyum saja. Mereka memang mengenal Mahisa Amping yang  banyak berbicara itu. Ketika malam menjadi larut, Mahisa Ampingpun mulai mengantuk. Mahisa Semupun nampak letih. Sehingga dengan demikian, maka Mahisa Murti telah minta agar mereka beristirahat. "Tidurlah. Kalian tentu letih dan mengantuk" Mahisa Amping m emandang Mahisa Semu sekilas. Ketika ia melihat Mahisa Semu mengangguk, maka Mahisa Ampingpun kemudian beringsut dan meninggalkan pertemuan itu bersama Mahisa Semu. Baru kemudian Mahisa Murtipun menceriterakan apa yang  dialaminya di Singasari pada malam hari menjelang keberangkatannya kembali ke Padepokan Bajra Seta di pagi harinya. Mahisa Murtipun berceritera tentang isyarat yang tergetar didada Mahisa Amping namun yang tidak dapat ditangkap dan apalagi diterjemahkannya. Wantilan, Sambega dan beberapa orang cantrik yang  ikut berkumpul di pendapa itu mengerti maksud Mahisa Murti. Mereka harus berhatihati menghadapi beberapa kemungkinan yang  dapat terjadi. Orang yang dilihat oleh Mahisa Amping diregol pasar dan kemudian melintas di depan kedai itu mungkin adalah orang yang bertemu dengan Mahisa Murti diluar gerbang kota di Singasari. Orang yang memiliki ilmu yang  sangat tinggi. Bahkan lebih tinggi dari ilmu Mahisa Murti. "Tetapi kita tidak perlu terlalu cemas" berkata Mahisa Murti "kita tidak pernah melakukan satu perbuatan yang dengan sengaja mengganggu orang lain." Yang mendengarkan keterangan Mahisa Murti itu mengangguk-angguk. Mereka memang tidak mengganggu orang lain. Jika hal itu pernah dilakukan Sambega, namun itu sudah lewat, sehingga hal seperti itu tidak lagi dilakukan. Dihari-hari berikutnya, maka kehidupan di Padepokan itu berjalan wajar. Tidak ada per soalan-persoalan yang  dapat mengeruhkan kehidupan di Padepokan itu. Kerja, latihanlatihan dan peningkatan pengetahuan berlangsung dari hari ke hari. Namun dalam pada itu, seseorang selalu mengawasi kehidupan di Padepokan itu dari hari ke hari. Orang itu tahu benar, bahwa sekali-sekali Mahisa Murti keluar dari padepokannya untuk berbagai macam keperluan. Kadangkadang pergi ke padukuhan-padukuhan sebelah meny ebelah untuk melakukan hubungan agar kehidupan di padepokan itu tidak terpisah dari lingkungan disekitarnya. Sementara itu anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan disekitarnya masih banyak yang  ikut menyadap ilmu di Padepokan Bajra Seta. Karena itu, maka pada satu saat, orang itu memang berkesempatan untuk m enemui Mahisa Murti ketika Mahisa Murti kembali dari padukuhan disebelah padepokannya. Mahisa Murti memang terkejut. Iapun segera dapat mengenali, bahwa orang itu adalah orang yang  pernah menemuinya dan bahkan melukainya diluar gerbang kota Singasari. Ketika orang itu membakar sebatang pohon gayam, maka Mahisa Murti sempat melihat dengan jelas wajah orang itu. "Kau " desis Mahisa Murti. Orang itu tersenyum. Katanya "Ya. Aku memang sengaja ingin menemuimu seorang diri. " "Kaukah yang  mengikuti perjalananku dari Singasari beberapa hari yang  lalu ?" bertanya Mahisa Murti. Orang itu menggeleng sambil menjawab "Bukan aku." Wajah Mahisa Murti berkerut. Ia tidak m elihat perubahan wajah orang itu. Karena itu, maka Mahisa Murti berkata "Aku memang mencurigaimu bahwa kau telah mengikuti aku saat itu." "Aku berkata sesungguhnya, bahwa bukan aku yang  mengikutimu. Tetapi aku tahu siapa orang itu." "Siapa ?" bertanya Mahisa Murti. "Orang berilmu tinggi ? Ia ingin melihat padepokanmu. Sekarang orang itu kembali ke Singasari." jawab orang itu. "Untuk apa ?" bertanya Mahisa Murti. Orang itu m enarik nafas dalam-dalam. Katanya "Kau telah membuat per soalan dengan orang itu. Orang itu bukan seorang yang  berhati lapang. Karena itu, maka tentu timbul niatnya untuk membuat perhitungan denganmu." "Apa yang telah aku lakukan ?" bertanya Mahisa Murti. "Mungkin kau tidak sengaja melakukannya. Tetapi akibatnya tidak akan baik buatmu." berkata orang itu. "Ya. Tetapi apa yang telah aku lakukan ?" b ertanya Mahisa Murti pula. "Kau telah berkelahi melawan anak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani " jawab orang itu. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Tetapi bukankah saat itu tidak ada jalan yang terbaik yang harus aku lakukan terhadap anak muda itu ? Tentu tidak sepantasnya jika Mahisa Pukat sendiri turun ke medan justru ia sudah dalam pakaian upacara disaat pernikahannya." "Kau memang tidak bersalah" jawab orang itu "tetapi orang itu tidak akan dapat mengerti." "Orang itu siapa ? Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani ?" bertanya Mahisa Murti. "Bukan saudara seperguruan Arya Kuda Cemani. Seandainya ia akan menuntut balas, maka ia tidak akan dapat mengalahkanmu." jawab orang itu. "Jadi siapa ?" desak Mahisa Murti. "Guru anak yang  kau kalahkan itu. Ia tidak berguru kepada ay ahnya sendiri. Ia berguru kepada seorang yang  memiliki ilmu sangat tinggi. Namun ternyata anak muda itu tidak dapat mengalahkanmu. Tentu juga tidak dapat mengalahkan Mahisa Pukat. Karena itu maka ia menjadi sakit hati. Sementara itu, ia bukan orang yang  lapang dada." berkata orang itu. "Apakah Ki Sanak guru anak muda yang  telah aku kalahkan itu karena aku melihat unsur ilmu Ki Sanak mempunyai persamaan dengan unsur ilmu anak muda itu ?" "Sudah aku katakan bahwa orang itu bukan aku. Orang yang m engikutimu karena ia ingin melihat tempat tinggalmu itu bukan aku." jawab orang itu. "Jadi bagaimana ? Aku m enjadi bingung. Jika demikian, apa maksud Ki Sanak sebenarnya?" bertanya Mahisa Murti. "Anak muda " berkata orang itu "kau adalah anak muda yang luar biasa. Pada umurmu yang  m uda itu, kau memiliki segala-galanya. Ilmu yang jarang ada duanya. Namun meskipun demikian, setelah aku menjajagi ilmumu sampai kepuncak, maka kau tidak akan mampu melawan guru anak muda yang telah kau kalahkan itu." "Apa hubungan Ki Sanak dengan orang itu justru karena persamaan ilmu yang aku lihat ?" bertanya Mahisa Murti. "Aku saudara seperguruannya. Aku saudara tua seperguruan dari orang yang mendendammu. Anak muda yang kau kalahkan itu adalah murid adik seperguruanku." Mahisa Murti m enarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia bertanya "Jadi apa yang sebenarnya Ki Sanak inginkan ? Apakah yang Ki Sanak kehendaki dari aku ?" Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan nada dalam iapun berkata "Aku sudah berbicara dengan Arya Kuda Cemani. Aku bahkan sudah berbicara dengan Ki Mahendra. Karena itu, maka aku sudah mengetahui banyak hal tentang kau, Mahisa Murti." Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak segera percaya pada kata-kata orang yang  belum dikenalnya dengan baik itu, selain ia tidak dapat mengingkari, bahwa orang itu memang berilmu sangat tinggi. Dalam pada itu, maka orang itupun berkata "Mahisa Murti. Setelah aku berbicara dengan Ki Mahendra dan Arya Kuda Cemani, m aka aku berpendapat, bahwa kau adalah seorang anak muda yang  pantas dikagumi. Kau telah banyak melakukan sesuatu bagi banyak orang. Bahkan pada suatu saat kau pernah melakukan tapa ngrame bersama Mahisa Pukat. Kau bahkan banyak m emberikan pengorbanan bagi sesama. Kau juga telah banyak berkorban bagi saudaramu, Mahisa Pukat. Antara lain juga saat kau bertempur dengan anak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu. Murid saudara seperguruanku itu." Mahisa Murti masih saja termangu-mangu. Tetapi ia merasa ketika ia memberitahukan bahwa ia telah bertempur dengan orang yang tidak dikenalnya diluar kota Singasari, ay ahnya sama sekali tidak memberikan kesan, bahwa ia pernah berbicara dengan orangyang melukainya. Karena itu, maka Mahisa Murti itupun bertanya "Kapan Ki Sanak bertemu dengan ayah?" "Setelah kau berangkat meninggalkan Singasari" jawab orang itu. "Tetapi bagaimana Ki Sanak mengetahui bahwa saudara seperguruan Ki Sanak itu mengikuti aku untuk melihat padepokanku disini?" bertanya Mahisa Murti pula. "Itu adalah bagian dari kegiatanku. Aku tidak dapat menceriterakannya " jawab orang itu. Mahisa Murti memang tidak mendesaknya. Tetapi ia bertanya "Sekarang, apakah yang Ki Sanak inginkan?" "Mahisa Murti" berkata orang itu "semakin banyak aku mengetahui tentang kau, maka semakin ingin aku ikut mencampuri persoalanmu dengan saudara seperguruanku itu. Aku tidak ingin bahwa kau yang  telah banyak berbuat baik bagi banyak orang itu, justru akan mengalami kesulitan. Sebagaimana aku katakan, bahwa saudara seperguruanku itu pada suatu saat, tentu akan datang kepadamu. Sementara itu aku tahu bahwa ilmunya lebih tinggi dari ilmumu." Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak segera menjawab. Sementara orang itu berkata selanjutnya "Tetapi sebenarnyalah bahwa kau mempunyai kemungkinan yang lebih baik dari saudara seperguruanku. Bekal yang  kau miliki lebih banyak. Jika saja ada yang membantumu, m aka kemampuanmu dengan cepat akan meningkat. Apalagi jika seseorang dengan tepat membantumu m eloncati satu tataran yang kini seolah-olah membatasi kemungkinan perkembangan ilmumu." Mahisa Murti m engerutkan dahinya. Dengan nada datar ia bertanya "Apakah Ki Sanak melihat batas itu?" "Adalah kebetulan, bahwa aku berdiri diatas tataran itu, sehingga aku sempat melihatnya. Sementara ini, tidak ada orang yang  mampu melihatnya karena tidak ada orang yang memiliki kelebihan darimu." orang itu berhenti sejenak, lalu katanya "Mahisa Murti, bukan maksudku untuk meny ombongkan diri. Tetapi jika ada k esan seperti itu, maka maksudku semata-mata untuk m engatakan bahwa aku dapat membantumu untuk meloncat pada satu tataran menembus batas yang selama ini seakan-akan tidak memberi kemungkinan lagi bagimu untuk berkembang." "Maksud Ki Sanak?" bertanya Mahisa Murti. "Aku menawarkan diri untuk membantumu menembus batas itu." jawab orang itu. Mahisa Murti tidak segera menjawab. Untuk sejenak ia termenung. Seolah-olah ia meyakinkan dirinya, apakah yang dikatakan oleh orang itu benar-benar akan dapat dilakukan. Namun orang itupun kemudian berkata "Tetapi Mahisa Murti. Jika kau benar-benar mampu menembus batas ilmumu yang sekarang, sehingga kau akan mendapat kesempatan untuk membubung lebih tinggi, sehingga kemampuanmu dapat berada diatas kemampuan saudara seperguruanku, aku minta agar bila saudara seperguruanku itu k elak benar-benar datang kepadamu, kau dapat mengendalikan dirimu. Maksudku, kau hanya akan melawannya sampai batas mengalahkannya. Tidak membunuhnya. " Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara orang itu berkata "Aku minta maaf, bahwa permintaan ini aku sampaikan untuk mey akinkanku. Sebenarnya aku percaya, bahwa kau tentu akan berbuat demikian karena kau m emang bukan seorang pembunuh." Mahisa Murti memandang orang itu dengan tajamnya. Dengan nada dalam iapun berkata "Jika Ki Sanak berbaik hati untuk membantuku, maka aku tidak dapat berkata lain kecuali mengucapkan terima kasih yang  sebesar-besarnya." "Jika kau m empercayai aku Mahisa Murti, maka kita akan berada didalam sanggar untuk beberapa hari. Bukan berarti bahwa kau tidak dapat keluar sanggar sama sekali. Tetapi waktumu yang beberapa hari itu akan lebih banyak berada didalam sanggar dari pada di luar. " "Aku akan menjalani laku itu Ki Sanak." jawab Mahisa Murti. "Baiklah. Aku yakin bahwa kau akan mampu menyusul ilmu saudara seperguruanku itu, justru karena bekalmu sudah lengkap." berkata orang itu. Dengan demikian maka Mahisa Murti telah mempersilahkan orang itu untuk singgah di Padepokannya. Mahisa Murti juga ingin bertanya kepada Mahisa Amping, apakah bukan orang itulah yang telah dilihatnya di dekat pintu gerbang pasar. Yang kemudian juga dilihatnya lewat di depan kedai saat Mahisa Murti dan kedua adik angkatnya itu singgah. Ketika kemudian Mahisa Murti dan orang itu m emasuki regol padepokan, maka Mahisa Amping tengah berlari-lari di halaman mengajar ayamnya yang terlepas dari kurungan. Namun demikian ia melihat Mahisa Murti datang, maka iapun berhenti, Mahisa Murti memang menjadi berdebar-debar. Mahisa Amping memandangi orang yang  datang itu dengan seksama. Namun sama sekali tidak ada kesan, bahwa ia pernah melihat orang itu. Selangkah-selangkah Mahisa Amping mendekat sambil bertanya "Apakah kakang pergi ke padukuhan?" "Ya " jawab Mahisa Murti. "Kakang tidak mengajak aku serta. Aku sudah berjanji kepada Windu, anak padukuhan itu untuk memberinya sepasang ayam kate.” Mahisa Murti tertawa. Katanya "Bukankah besok atau lusa kau dapat memberikannya. Mungkin anak itu akan datang kemari. Atau kau titipkan saja kepada anak-anak padukuhan yang belajar menjadi pande besi di perapen itu.” Tetapi anak itu menjawab "Aku akan datang sendiri kerumahnya. Ia akan menukarnya dengan sepa sang burung merpati gambir." Sambil menepuk pundak Mahisa Amping, Mahisa Murti berkata "Besok aku masih akan pergi ke padukuhan lagi. Besok kau boleh ikut. " Mahisa Murti terdiam sejenak. Namun iapun kemudian bertanya "Apakah kau mengenal kakek yang  datang ini?" Mahisa Amping memandangi orang itu dengan seksama. Namun iapun kemudian menggeleng sambil berkata "Aku belum mengenalnya kakang." "Kenalkan anak manis" berkata orang itu "panggil aku kakek Wijang. "Selamat datang di padepokan kami, kakek Wijang" berkata Mahisa Amping sambil mengangguk dalam-dalam. Kiai Wijang ter senyum sambil berkata "Kau benar-benar anak yang  baik" Lalu iapun bertanya kepada Mahisa Murti "Siapakah anak ini?" "Adikku " iawab Mahisa Murti. Kiai Wijang mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Meskipun demikian Mahisa Murti mengerti bahwa orang itu masih ingin bertanya tentang Mahisa Amping, karena orang itu tentu tahu bahwa ia tidak mempunyai saudara yang lain kecuali Mahisa Pukat. Namun Mahisa Murti itu justru bertanya "Apakah ay ah tidak pernah berceritera tentang adik-adik angkatku?" Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun menjawab "Ki Mahendra terlalu banyak berceritera tentang dirimu. Mungkin perhatiannya saat itu tidak ada yang ter sisa untuk berbicara tentang orang lain." Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Ayah masih menganggap aku kanak-kanak " "Sama sekali tidak" jawab Kiai Wijang. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Sementara itu Mahisa Amping telah menghambur berlari menyusul ay am yang dikejarnya sambil berkata "Aku akan menangkap ay am itu kakang." Mahisa Murti tidak menjawab. Sementara itu Mahisa Amping telah berlari menjauh. "Aku mempunyai dua orang adik angkat" berkata Mahisa Murti kemudian "Mahisa Semu dan Mahisa Amping" Kiai Wijang mengangguk-angguk, sementara Mahisa Murti mengajaknya naik ke pendapa. Kepada Kiai Wijang Mahisa Murti sempat m enceriterakan kemampuan Mahisa Amping untuk menangkap isyarat. Tetapi ia sendiri tidak menyadarinya. Bahkan tidak mengerti apa yang terjadi. Mahisa Murtipun berceritera juga bagaimana Mahisa Amping menerima isyarat tentang seseorang yang mengikutinya dari Singasari saat Mahisa Murti dan kedua orang adik angkatnya itu pulang dari Singasari. "Anak yang luar biasa. Firasatnya tentu tajam sekali. Jika ada seseorang yang dapat membantu mengasahnya, maka anak itu akan dapat menjadi anak yang  memiliki kelebihan dari kebanyakan orang. " “Mudah-mudahan" berkata Mahisa Murti. "Orang yang  dimaksud anak itu tentu saudara seperguruanku itu " berkata Kiai Wijang. "Tetapi kenapa ia tidak berbuat sesuatu ketika aku dalam perjalanan kembali ke Padepokan Bajra Seta?" "Salah satu kelemahannya, ia kurang y akin akan kemampuannya yang  sangat tinggi itu. Ia tentu ingin meyakinkan, bahwa ia akan dapat mengalahkanmu." "Apa yang akan dilakukannya?" bertanya Mahisa Murti. "Ia akan mengirimkan orang untuk menjajagi kemampuanmu. Tidak hanya satu orang. Tetapi beberapa. Orang-orang itu tidak akan membunuhmu. Tetapi sekedar mengetahui seberapa tingkat ilmumu.” "Satu cara yang rumit " desis Mahisa Murti. “Ya. Tetapi itu sudah m enjadi kebia saannya. Tetapi ia juga bukan seorang pembunuh yang sebenarnya. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa ia tidak pernah membunuh.” Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Jika demikian maka ia akan m enghadapi dua tataran pertempuran. Ia akan bertemu dengan orang-orang yang  sekedar menjajagi ilmunya. Orang-orang itu tentu mencari perkara agar dapat timbul perkelahian. Baru kemudian saudara seperguruan Kiai Wijang itu akan datang untuk membuat perhitungan yang sebenarnya. Demikianlah, maka Mahisa Murtipun kemudian telah memperkenalkan Kiai Wijang dengan Wantilan, Sambega dan para cantrik di padepokannya. Kepada mereka Mahisa Murti mengatakan, bahwa Kiai Wijang untuk beberapa hari akan berada di Padepokan Bajra Seta. Sebenarnyalah bahwa sejak saat itu Kiai Wijang memang berada di padepokan. Seperti yang  dijanjikan, maka Kiai Wijang benar-benar telah mencoba untuk menghentakkan ilmu Mahisa Murti. Namun untuk satu dua hari, Kiai Wijang dengan sungguh-sungguh telah melihat, menilai dan menimbang ilmu dan kemampuan Mahisa Murti sendiri. Ia melihat unsur-unsur serta dorongan kekuatan dan kemampuan yang ada didalam diriny a. Kiai Wijang juga melihat seberapa tinggi tenaga dalam yang  ada didalam diri Mahisa Murti serta seberapa jauh ia mampu mengungkapkannya. Ketika Kiai Wijang merasa sudah cukup teliti menilai kekuatan, tenaga dan kemampuan yang ada didalam diri Mahisa Murti, maka iapun berkata "Kau m empunyai segalasegalanya anak muda. Kau tinggal melangkah satu langkah lagi. Maka segala-galanya sudah akan terbuka bagimu. Tetapi yang selangkah itu kadang-kadang memang sulit untuk dilakukan. Bukan karena tidak memiliki day a loncat yang  kuat. Tetapi sekedar memerlukan petunjuk, kemana harus melangkah." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya "Aku memang tidak tahu, apa yang harus aku lakukan." "Kau memang masih terlalu muda. Seandainya tidak ada persoalan yang mendesak, maka pada saatnya, kau sendiri akan dapat melihat dan mengerti, apa yang  harus kau lakukan untuk meniti jalan menuju kearah yang  benar, sehingga kau akan mampu melangkah mencapai tataran puncakmu." berkata Kiai Wijang " bahkan masih jauh lebih awal dari yang pernah aku capai sebagaimana sekarang ini." Mahisa Murti menganggukangguk pula. Katanya kemudian "Aku hanya dapat mengucapkan terima ka sih yang sebesar-besarnya atas petunjuk Kiai." "Aku tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa jika aku tidak berhadapan dengan kau yang memiliki segala-galanya. Aku tidak akan dapat mendorong dan menunjukkan apapun juga kepada murid adik seperguruanku itu. Karena ia tidak memiliki bekal yang lengkap sebagaimana kau." Mahisa Murti ju stru termangu-mangu sejenak. Tetapi dihatinya ia mengucap sokur kepada Yang Maha Agung, yang telah mempertemukannya dengan seorang yang berilmu lebih tinggi dari ilmunya dan yang  bersedia menuntunnya untuk mencapai tataran yang lebih tinggi sebagaimana pernah ditemuinya beberapa kali dalam petualangannya. Demikianlah, dihari -hari berikutnya, Mahisa Murti hampir setiap saat berada didalam sanggarnya. Seisi padepokan itu mengetahui bahwa Mahisa Murti sedang berusaha dengan bekerja keras untuk meningkatkan ilmunya. Beberapa orang memang menjadi heran, bahwa masih ada orang yang memiliki ilmu lebih tinggi dari Mahisa Murti. Namun mereka tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa Mahisa Murti memang mengakui bahwa Kiai Wijang memiliki ilmu yang  lebih tinggi dari ilmunya. Demikianlah dari hari kehari, Mahisa Murti seakan-akan semakin terdorong menuju kepintu yang  sudah terbuka. Betapapun berat laku yang  harus dijalani, bahkan rasa-rasanya Mahisa Murti harus merangkak diteriknya panas matahari dan di dinginnya embun malam, tetapi semuanya itu dilakukannya dengan sungguh-sungguh. Namun disamping laku yang dijalani, maka Kiai Wijangpun minta agar Mahisa Murti tidak henti-hentinya memohon, agar baginya dibukakan pintu untuk menembus batas tataran tertinggi ilmunya yang  seakan-akan sudah mapan didalam dirinya. Memang terjadi gejolak didalam diri Mahisa Murti. Jika ia sekali-sekali keluar dari sanggar, maka ia nampak sangat letih. Bahkan seakan-akan untuk menggerakkan tangannyapun Mahisa Murti menjadi segan. Namun demikian ia masuk kembali ke dalam sanggar, maka tenaga dan kekuatannya seakan-akan menjadi pulih kembali, sehingga apapun yang harus dilakukannya, dapat dilakukannya. Disanggar, Mahisa Murti memang lebih banyak mengungkapkan tenaga didalam dirinya. Melihat kekedalaman diri serta segala kemungkinan-kemungkinannya. Upaya untuk semakin mengenali kekuatan didalam diri serta usaha memancarkannya keluar. Jalinan pernafasan yang mampu mengucapkan getar kekuatan didalam diri itu. Lebih dari segala-galanya adalah key akinannya akan Kuasa dari Yang Maha Agung. Demikianlah, maka hari -haripun berlalu, Mahisa Murti nampak semakin letih. Sehingga akhirnya, Mahisa Murti untuk tiga hari tiga m alam sama sekali t idak nampak k eluar dari sanggarnya. Ketika dengan gelisah Mahisa Semu dan Mahisa Amping bertanya kepada Wantilan, maka jawabnya "Mahisa Murti memang sudah mengatakan bahwa selama tiga hari tiga malam ia akan berada di sanggar. Kita harus menunggu dengan sabar.” Keduanya mengangguk-angguk. Namun Mahisa Semu masih bertanya " Tetapi bukankah paman Wantilan percaya kepada orang yang  berilmu sangat tinggi itu bahwa ia tidak akan menyulitkan kakang Mahis Murti." Wantilan mengerutkan dahinya. Dipandanginya Mahisa Amping sekila s. Hampir diluar sadarnya ia bertanya"Bagaimana menurut pendapatmu?" Mahisa Amping memandang Mahisa Semu dan Wantilan berganti-ganti. Namun kemudian anak itu justru bertanya "Apakah nanti kakang Mahisa Murti akan memiliki ilmu yang semakin tinggi?" Wantilan mengangguk kecil. Katanya " Kita berdoa. Semoga kakakmu Mahisa Murti berhasil." Mahisa Amping m engangguk-angguk pula. Sementara itu Wantilan tidak melihat isyarat yang  mencemaskan pada sikap Mahisa Amping yang  memiliki firasat yang  sangat tajam. Namun bagaimanapun juga, seisi padepokan itu m emang menanti dengan jantung yang  berdebar -debar. Bukan hanya Wantilan, Sambega, Mahisa Semu dan Mahisa Amping saja. Tetapi para cantrikpun rasa-rasanya ingin segera m elihat apa yang telah terjadi dengan Mahisa Murti. Sementara itu didalam sanggar Mahisa Murti tengah memusatkan nalar budinya untuk menggapai hentakan terakhir pada laku yang tengah dijalaninya. Mahisa Murti sudah tidak lagi mempergunakan wadagnya untuk melakukan gerakan-gerakan terakhir. Mahisa Murti justru hanya duduk bersila dengan menyilangkan tangan didadanya. Matanya terpejam dengan wajah yang  sedikit menunduk. Namun dalam pada itu, ia sedang memusatkan kekuatan batinnya untuk melakukan gerakan-gerakan yang harus diulanginya dan diulanginya. Mahisa Murti seakan-akan menyaksikan dirinya sendiri dengan mata hatinya, bergerak berloncatan, berputaran, menghentak-hentak dan bahkan melayang-layang dengan tangkasnya. Tanpa m enggerakkan wadagnya, Mahisa Murti telah meyakinkan dirinya, penguasaan atas semua simpul sy arafnya, sehingga semua geraknya benar-benar terkendali oleh kehendaknya. Kesadaran akan dirinya atas semua bagian dari tubuhnya. Penguasaan tenaga dasar didalam dirinya serta irama pernafasannya yang mengental telah menebarkan getar kekuatan yang  tiada taranya, sehingga getar itu seakan-akan telah membuat kulit dan dagingnya menjadi liat. Dimata hatinya, Mahisa Murti melihat dirinya sendiri semakin lama menjadi semakin mantap. Setiap gerak menimbulkan getar dari tenaga dasarnya dalam irama pernafasannya yang mapan. Dibelakang Mahisa Murti, Kiai Wijang duduk bersila. Kedua telapak tangannya dilekatkannya dipunggung Mahisa Murti. Orang itu seakan-akan ikut melihat apa yang sedang dilakukan oleh Mahisa Murti tanpa unsur kewadagannya itu. Namun Mahisa Murtipun seakan-akan juga mendengar perintah-perintah yang  diucapkan oleh Kiai Wijang. Sebenarnyalah perintah-perintah itu memang pernah diucapkan. Sebelum Mahisa Murti mulai menjalani laku terakhir itu, Mahisa Murti harus m elakukan gerakan-gerakan sebagaimana diperintahkan oleh Kiai Wijang. Perintah itu diulanginya beberapa kali, sementara Mahisa Murti melakukannya beberapa kali pula, sehingga akhirnya pada puncak laku yang harus dijalaninya, maka Mahisa Murti ju stru melakukannya tanpa unsur kewadagannya. Demikian pula setiap perintah yang diucapkan Kiai Wijang sama sekali tidak mempergunakan lagi kata-kata dari lesannya. Demikianlah, ketika segala sesuatunya sudah sampai pada batas tertinggi, dari usaha pencapaian oleh Mahisa Murti, maka gerakan-gerakan Mahisa Murti tanpa unsur kewadagannya itu menjadi semakin lamban. Tetapi menjadi semakin mantap. Seakan-akan udara disekitarnya ikut bergetar dan bergerak sebagaimana Mahisa Murti. Sehingga akhirnya, Mahisa Murtipun sampai pada batasnya. Demikian ia melakukan unsur gerak yang terakhir tanpa wadagnya, pada tarikan nafasnya yang  berat, maka Mahisa Murtipun kemudian telah menghempaskan dirinya, duduk bersila sebagaimana unsur wadagnya. Dalam peningkatan pemusatan nalar budi pada tataran tertinggi, maka Mahisa Murti itupun seakan-akan telah terangkat dari tempat duduknya, melayang dan bayangan diangan-angan Mahisa Murti dalam ujud dirinya sendiri itu tiba -tiba telah menyatu kembali kedalam unsur kewadagannya. Sesaat terasa nafas Mahisa Murti menjadi sesak. Ada semacam kericuhan didalam irama tarikan nafasnya. Namun beberapa saat kemudian, Mahisa Murti mulai merasa bahwa ia telah berhasil m enguasai kembali dirinya sendiri sepenuhnya. Tarikan nafasny a yang  panjang-panjang mulai menjadi semakin teratur. Sejenak kemudian maka Mahisa Murtipun mulai membuka matanya. Ia melihat bayang an yang  kabur. Namun semakin lama menjadi semakin jelas, sehingga akhirnya ia melihat isi sanggarnya satu persatu. Mahisa Murtipun segera m enyadari sepenuhnya apa yang  telah t erjadi pada dirinya. Keringat telah membasah diseluruh tubuhnya sehingga seolah-olah Mahisa Murti itu baru saja bangkit dari bawah arus sungai yang deras. Perlahan-lahan Mahisa Murti beringsut. Tangan Kiai Wijang tidak lagi terasa di punggungnya. Ketika ia kemudian memutar dirinya perlahan-lahan, maka ia melihat bahwa Kiai Wijangpun sedang berusaha untuk menemukan keseimbangan dirinya. Tangannya memang sudah berada dipangkuannya dengan kedua telapak tangannya menakup. Demikian Mahisa Murti kemudian duduk menyamping, maka Kiai Wijang itupun tersenyum sambil berdesis " Kau telah berhasil ngger. Kau telah mampu melangkah melampaui hambatan dipuncak kemampuanmu.” "Aku mengucapkan terima kasih atas tuntunan Kiai. Jika aku berhasil, tentu karena Kiailah yang telah menuntun menunjukkan jalan bagiku." sahut Mahisa Murti. "Bersukurlah kepada Yang Maha Agung, yang  telah memberimu kekuatan untuk menggapai satu langkah yang penting didalam hidupmu. Namun kaupun harus berjanji, bahwa kemampuanmu tidak akan kau salah gunakan. " berkata Kiai Wijang kemudian. "Aku berjanji, Kiai" jawab Mahisa Murti. "Kau harus berjanji terutama kepada dirimu sendiri. Lebih dari itu, kepada Yang Maha Agung." Mahisa Murti mengangguk dalam-dalam. Katanya "Aku mengerti, Kiai. Aku akan melakukannya." "Baiklah. Sekarang, kita dapat keluar dari sanggar. Keluarga Padepokan Bajra Seta tentu menunggumu dengan cemas." Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Kiai Wijang telah keluar dari sanggar. Mereka telah minta disediakan air abu merang untuk mandi keramas. Baru kemudian mereka minum minuman hangat serta makan makanan cair. Meskipun Mahisa Murti nampak letih sekali, tetapi cahaya wajahnya yang ceria menunjukkan keberhasilannya. Minuman hangat dan makanan cair telah membuat wajahnya yang pucat menjadi sedikit merah. Perlahan-lahan kekuatan didalam tubuhnya yang letih mulai tumbuh kembali. Mahisa Murti itupun mengucapkan terima kasih ketika ia menerima pernyataan selamat dari seisi padepokan. Kecemasan yang  mencengkam padepokan itu rasa-rasanya telah lampau. Ketika semalam telah lewat, serta Mahisa Murti sudah mulai makan sebagaimana biasanya, maka kekuatannyapun menjadi semakin meningkat pula. Demikian pula Kiai Wijang yang juga merasa sangat letih. Tetapi di hari kedua, maka Mahisa Murti dan Kiai Wijang sudah hampir menjadi pulih kembali. Mahisa Murti sudah mulai melakukan gerakangerakan sederhana di sanggarnya bersama Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Ketika Mahisa Murti sudah pulih kembali, maka Kiai Wijang menjadi sangat puas m elihat hasil yang telah dicapai oleh Mahisa Murti. Kiai Wijang sendiri telah menjajagi kemampuan anak muda itu setelah ia menembus dinding yang seakan-akan membatasinya pada kemampuannya yang  sudah mapan. Dalam penjajagan yang dilakukan disanggar, maka Kiai Wijang itupun berkata "Bukan main ngger. Semua tataran ilmumu sudah meningkat. Jika sebelumnya aku mampu menangkal ilmumu yang mampu menghisap kemampuan dan kekuatan orang lain, maka rasa -rasanya sekarang tidak lagi sepenuhnya. Ketika aku minta kau pergunakan ilmumu itu, aku merasakan kekuatan itu menghisap disetiap sentuhan betapapun kecilny a. Namun dalam pertempuran yang lama, maka aku akan dapat kehabisan tenaga. Bukan saja karena aku harus mengerahkan segala kemampuanku untuk mengatasi kemampuanmu, tetapi juga karena aku tidak dapat lagi menangkal ilmumu sepenuhnya. Selain kemungkinan itu, maka akupun menjadi ragu. Apakah aku mampu melawan ilmumu dalam benturan puncak ilmu kita masing-masing.” "Tetapi Kiai sudah m emiliki pengalaman yang  sangat luas serta kemampuan mengembangkan ilmu Kiai sejauh -jauhnya. " Kiai Wijang ter senyum. Katanya "Tetapi bekal yang  ada didalam diriku tidak selengkap bekal yang  ada didalam dirimu. Dengan m enjalani laku m aka apa yang ada didalam dirimu, ternyata sudah berada pada tataran yang  tidak lagi terjangkau oleh ilmuku." "Tetapi seperti yang aku katakan, Kiai memiliki lumbung pengalaman yang tidak terhingga." berkata Mahisa Murti. "Mungkin ngger. Tetapi semisal bangunan, bahan-bahan yang ada padamu lebih baik dari bahan-bahan yang  ada padaku." berkata Kiai Wijang. Lalu katanya pula "Nah, selanjutnya kau akan dapat membuat semua bekal yang ada didalam dirimu luluh menyatu. Aku y akin bahwa dalam waktu yang singkat semuanya itu akan dapat kau lakukan. Semuanya yang ada didalam dirimu akan luluh m enjadi satu kebulatan ilmu yang  jarang ada duanya. " "Aku mohon doa restu Kiai." desis Mahisa Murti. "Tetapi kau harus selalu ingat. Kau bertanggung jawab atas ilmumu yang sangat tinggi. Kau tidak boleh menyalah gunakannya. " Mahisa Murti mengangguk-angguk. Seakan-akan kepada dirinya sendiri ia bergumam "Aku akan selalu mengingatnya." Demikianlah, dihari berikutnya, maka tenaga dan kekuatan Mahisa Murtipun benar-benar telah mencapai tataran tertingginya kembali. Bahkan tataran ilmunya sudah meningkat dengan satu loncatan panjang, menembus batas kemapanan dari ilmunya itu sebelumnya. Dihari berikutnya, m aka Kiai Wijang yang merasa bahwa tugasnya telah selesai itupun kemudian telah minta diri. Ia harus segera kembali ke tempat tinggalnya yang  terpencil. "Meskipun tempat tinggalku terpencil, t etapi hidupku sehari-hari tidak terpisah dari lingkunganku, sebagaimana kehidupan di padepokan ini. Namun orang-orang disekitarku mempunyai tanggapan yang berbeda atas diriku. Mereka menganggap aku seorang petani yang  hidup dari hasil pategalan dan bahkan tinggal disebuah gubug kecil di tengahtengah pategalan. " "Apakah Kiai tidak berkeluarga ?" bertanya Mahisa Murti. Pandangan mata orang itu menerawang jauh. Dengan nada yang lemah ia menjawab "Sekarang tidak ngger" Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Ia melihat sinar mata Kiai Wijang yang  kemudian menjadi redup. Katanya dengan nada rendah. “Aku telah kehilangan segalagalanya. Bahkan dua orang muridku telah tidak ada pula. Satu bencana yang  tidak terduga telah terjadi. Justru disaat aku sedang berada dipuncak kejayaan karena ilmuku yang menurut pendapatku waktu itu tidak ada yang  mampu mengimbanginya. Ternyata itu merupakan bencana bagiku. Beberapa orang telah m endendamku karena kesombonganku, kesewenang-wenanganku dan barangkali juga keganasanku. Akhirnya mereka tidak tahan lagi mengalami perlakuanku. Mereka sepakat untuk datang kerumahku bersama-sama karena mereka merasa tidak akan dapat mengalahkan aku sendiri-sendiri. Tetapi ternyata saat itu aku tidak ada dirumah. Yang ada adalah isteriku, seorang anakku perempuan dan dua orang muridku. Seorang diantaranya diantaranya adalah bakal menantuku. Tetapi mereka semuanya telah dihancurkan. Rumahku telah dibakar habis bersama tubuh-tubuh mereka yang terbunuh." Kiai Wijang berhenti sejenak. Lalu katanya "Ketika aku pulang dan menemui keny ataan itu, aku m emang hampir menjadi gila. Aku bertekad untuk mencari mereka dan akan membunuh mereka semuanya dengan caraku." Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Matanya menjadi semakin lama semakin redup. Kenangan yang buruk itu menjadi semakin jela s di angan-angannya. Katanya kemudian " Tiga orang telah aku habisi dengan caraku. Tetapi aku tidak puas. Dari mereka aku tahu, siapa -siapa yang telah datang kerumahku dan m embunuh keluargaku dan m urid-muridku. Karena itu, maka aku bertekad untuk menemukan mereka semuanya. " Mahisa Murti mendengarkan ceritera tentang peristiwa yang buruk itu dengan hati yang  berdebar-debar. Sementara itu Kiai Wijang berkata selanjutnya " Tetapi pada saat aku hampir kehilangan seluruh dasar kemanusiaanku, maka aku telah bertemu dengan seorang tua. Bukan pertemuan biasa. Tetapi justru pada saat aku terjebak. Sisa-sisa musuhku telah berkumpul dan menyusun jebakan yang  tidak dapat aku hindari. Aku tidak mampu melawan beberapa orang bersamasama. Aku memang mengira bahwa aku tentu sudah mati. Bahkan barangkali itu yang terbaik buatku. Namun ternyata tidak. Aku ditolong oleh orang tua itu. Lukaku diobati. Sedikit demi sedikit aku sembuh. Namun setiap hari aku m endengar ceriteranya tentang kebaikan. Tentang keluhuran budi dan tentang sumber hidup manusia. Maka sedikit demi sedikit terbangunlah sikap yang  jauh berbeda dari sikapku sebelumnya. Ketika kemudian aku sembuh dan pulih kembali, maka aku telah menjadi orang lain. Untuk menghindari kemungkinan buruk itu terjadi lagi atasku, sehingga sifat-sifat ganasku tumbuh kembali, maka aku telah hidup dalam satu dunia yang  lain pula. Aku tinggal disebuah pategalan. Terpisah dari padukuhan-padukuhan. Tetapi bukan b erarti bahwa aku tidak berhubungan dengan orang-orang padukuhan itu." "Di manakah orang tua itu sekarang ?" bertanya Mahisa Murti. "Orang itu sudah tidak ada lagi. Orang itu adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Lebih tinggi dari ilmuku waktu itu, meskipun aku m engira bahwa aku adalah orang yang  terbaik dalam olah kanuragan diseluruh dunia. Namun sebelum ia meninggal, ia sudah memberikan warisan ilmu kepadaku. Tetapi bekal yang ada padaku waktu itu ternyata tidak selengkap bekal yang kau m iliki. Karena itu, m aka suatu saat setelah kau mampu mengembangkan ilmumu, kau akan menjadi orang yang  jauh lebih baik dari aku. Bukan saja ilmumu. Tetapi arti dari kehadiranmu diantara sesama. Karena itu, maka aku memaksa diri untuk membantumu agar kau tidak mengalami kesulitan karena dendam yang membakar saudara seperguruanku itu." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya “Apakah Kiai juga masih sering berhubungan dengan saudara seperguruan Kiai ?" "Jarang sekali. Cara hidup kami sudah jauh berbeda. Aku tidak lagi mempunyai arti apa-apa baginya. Akupun berharap bahwa ia tidak tahu atas kehadiranku disini. " "Apakah ia tidak dapat melihat bekas tangan Kiai pada ilmuku sesudah Kiai menuntunku menembus batas kemapanannya ?" "Tidak. Kau tetap berpijak pada landasan dasar ilmumu yang semula tentu warisi dari beberapa sumber namun yang sudah luluh menyatu dalam dirimu. Itulah yang akan dilihatnya. Sementara aku hanya menolongmu untuk melakukan satu loncatan panjang menembus batas yang seakan-akan menghentikan peningkatannya." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun setiap kali ia masih saja mengucapkan terima kasih kepada Kiai Wijang. Dengan ilmunya yang  semakin meningkat, maka akan semakin banyak pula yang  dapat dilakukannya bagi kepentingan sesamanya. Demikianlah, maka Mahisa Murti tidak lagi dapat menahan orang itu untuk tinggal lebih lama di Padepokan Bajra Seta. Pa da suatu hari, maka Kiai Wijang itupun telah meninggalkan padepokan itu, tanpa mau memberi tahukan, dimana ia tinggal. "Tetapi pada saatnya kau akan mengetahuinya. Bahkan aku akan mengundangmu untuk mengunjungi aku ditempat tinggalku. Namun ingat, aku bukan orang yang memiliki kelebihan apa-apa diantara orang-orang padukuhan itu." Mahisa Murti memang harus melepaskan orang itu, betapapun berat hatinya. Sebelum pergi Kiai Wijang masih memperingatkannya "Hati-hatilah dengan saudara seperguruanku. Tetapi tolong, jangan kau bunuh orang itu. Usahakan agar kau m ampu menundukkannya dan sokurlah jika kau mampu membuatnya jera." Mahisa Murti mengangguk sambil menjawab "Aku akan mencoba Kiai. Namun percayalah, bahwa aku sama sekali tidak mempunyai niat membunuhnya." "Aku mempercayaimu ngger. Sehingga jika saudara seperguruanku itu terbunuh, tentu sama sekali tidak kau sengaja.” Mahisa Murti tidak menjawab. Iapun percaya bahwa Kiai Wijang berkata dengan jujur. Bukan sekedar membesarkan hatinya. Namun sepeninggal Kiai Wijang, Mahisa Murti harus selalu berhati-hati. Saudara seperguruan Kiai Wijang itu akan mengirimkan orang untuk menjajagi kemampuannya. Jika ia berada di puncak kemampuannya setelah ia mendapat tuntutan laku dari Kiai Wijang, maka saudara seperguruan Kiai Wijang itu t entu tidak akan datang kepadanya. Karena itu, maka Mahisa Murti sudah bertekad untuk memancing saudara seperguruan Kiai Wijang itu agar ia datang menemuinya. Dengan demikian, maka ia harus memberikan kesan bahwa ia tidak akan mampu m engalahkan saudara seperguruan Kiai Wijang. Namun sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti m emang tidak dengan sombong menepuk dadanya bahwa ia tentu akan dapat mengalahkan saudara seperguruan Kiai Wijang, karena menurut pendapatnya, perhitungan Kiai Wijangpun tentu dapat keliru pula, karena betapapun tinggi ilmunya, namun Kiai Wijang tetap hanya titah biasa, sehingga kemungkinan bahwa ia keliru dapat juga terjadi. Dari hari kehari, maka Mahisa Murtipun masih selalu menunggu orang-orang yang  mungkin dikirim oleh saudara seperguruan Kiai Wijang. Justru karena itu, maka Mahisa Murti menjadi lebih banyak pergi keluar padepokannya seorang diri. Namun sementara itu, jika Mahisa Murti berada didalam sanggarnya, maka ia sempat mendalami ilmunya dan berusaha mengembangkannya. Justru karena ia sudah berhasil menembus batas kemapanan ilmunya, maka rasa-rasanya setapak demi setapak, Mahisa Murti menuju kemapanannya pada tataran yang lebih tinggi. Dalam pada itu, saat yang  ditunggunya itu akhirnya datang pula. Ternyata untuk beberapa hari tiga orang telah mengamatinya saat-saat Mahisa Murti keluar dari padepokannya. Pa da saat yang dianggap paling tepat, selagi Mahisa Murti berada diluar padepokannya menjelang senja, tiga orang itu telah datang menemuinya. Seorang diantara mereka langsung bertanya "Ki Sanak. Menurut ciri-ciri yang  ada, maka bukankah kau Mahisa Murti ?" Mahisa Murti m engangguk mengiakan. Katanya "Ya. Aku adalah Mahisa Murti. Pemimpin Padepokan Bajra Seta yang berada tidak jauh dari tempat ini.” "Bagus Ki Sanak" berkata orang itu "aku memang menunggumu. S ejak dua hari yang lalu kami meny empatkan diri untuk dapat menemuimu." "Kenapa kau tidak datang ke padepokan ?" bertanya Mahisa Murti. "Tidak Ki Sanak." jawab orang itu "aku ingin bertemu justru saat kau sendiri. " Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia sama sekali tidak terkejut mendengar jawaban itu. Namun ia masih juga bertanya "Apakah kau mempunyai keperluan khusus dengan aku ? Tidak dengan padepokanku ?" "Ya. Aku mempunyai keperluan khusus dengan kau, Mahisa Murti." berkata orang itu. "Siapakah sebenarnya kalian bertiga ?" bertanya Mahisa Murti pula. "Itu tidak penting bagimu." jawab orang itu. "Jadi, apakah yang  penting bagiku ?" bertanya Mahisa Murti selanjutnya. "Kami datang untuk menangkapmu. Kami ingin membawamu kepada pemimpin kami. Jangan takut bahwa kami akan menyakitimu, karena segala sesuatunya terserah kepada pemimpin kami." jawab orang itu. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya menebak "Jadi, kalian sekedar mencari per soalan untuk berselisih ? Apakah sebenarnya maksudmu. Bukankah kita belum pernah bertemu sehingga tidak ada per soalan diantara kita ?" "Seharusnya kau tidak m enghindar. Kau sudah m elakukan kecurangan sehingga kau harus bertanggung jawab." jawab orang itu. "Kecurangan apa ?" bertanya Mahisa Murti. "Sudahlah, sekarang menyerahlah. Jangan banyak bertanya lagi." berkata orang itu. "Ki Sanak" berkata Mahisa Murti yang  sudah m engetahui maksud kedatangan orang itu "jika kau sekedar mencari perkara untuk berselisih, marilah. Aku tidak berkeberatan. Tetapi sudah tentu bahwa aku tidak akan m eny erah begitu sa ja. Marilah, siapa diantara kalian yang  akan mencoba untuk berkelahi melawan aku?" "Kami tidak datang untuk menantangmu berperang tanding. Karena itu, m aka tidak ada seorang diantara kami yang akan maju melawanmu. Tetapi kami bertiga memang sudah siap untuk membawamu kepada pemimpin kami." "O, begitu. Jadi kalian akan bertempur bersama-sama ?" bertanya Mahisa Murti pula. "Sekali lagi. Kami akan m enangkapmu. Itu saja. Terserah kamu mengartikannya" jawab orang itu. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Apa yang  dikatakan oleh Kiai Wijang itu benar-benar terjadi. Dengan nada berat Mahisa Murtipun kemudian berkata "Ki Sanak. Sikap Ki Sanak benar-benar tidak dapat aku mengerti. Tetapi sudah tentu bahwa aku tidak akan bersedia menyerahkan diri, apalagi untuk kalian bawa kepada orang lain yang menurut pendapatku, tidak ada hubungan apapun juga dengan aku dan padepokanku." "Jika kau benar-benar berkeberatan, maka ber siaplah. Aku mendapat wewenang untuk mempergunakan kekerasan. Bahkan jika kau tetap berkeras, maka jika kau mati, sama sekali bukan tanggungjawabku.” "Jadi tanggung jawab siapa ?" bertanya Mahisa Murti. "Tanggung jawabmu sendiri " jawab orang itu. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia memang harus bertempur. Tetapi ia harus memberikan kesan, bahwa ilmunya tidak akan melampaui ilmu saudara seperguruan Kiai Wijang. Meskipun ia tetap sadar, bahwa banyak kemungkinan dapat terjadi. Demikianlah, ketiga orang itupun kemudian telah bergeser. Mereka telah saling menjauhi. Dengan nada berat seorang diantara mereka berkata " Bersiaplah. Kami benar-benar akan bertindak sesuai dengan wewenang yang  ada pada kami. Ber siaplah. Mungkin kau akan sampai kebatas hidupmu." Mahisa Murti tidak menjawab. Sementara itu malampun mulai turun. Namun karena ketajaman penglihatan mereka, maka m ereka masih dapat melihat dengan jelas orang-orang yang sudah siap untuk bertempur itu. Demikianlah, maka ketiga orang itu mulai bergeser. Seorang diantara m ereka telah meloncat m eny erang. Namun Mahisa Murti yang melangkah surut, telah berhasil membebaskan diriny a dari garis serangan itu. Tetapi kedua orang yang  lainpun telah meny erang pula berganti-ganti. Demikianlah, maka pertempuran antara Mahisa Murti melawan ketiga orang itupun menjadi semakin cepat. Ketiga orang itu ternyata memang berilmu tinggi. Tetapi untuk menjajagi kemampuan seseorang dibandingkan dengan saudara seperguruan Kiai Wijang itu, maka ketiga orang itu tentu tidak memiliki kemampuan lebih baik dari saudara seperguruan Kiai Wijang itu sendiri. Jika ketiga orang itu mampu mengalahkannya, maka orang yang  telah dikalahkannya itu tentu tidak akan menang melawan saudara seperguruan Kiai Wijang itu sendiri. Mahisa Murti m enyadari akan hal itu. Karena itu, maka ia memang tidak ingin mengalahkan ketiga orang itu. Yang dilakukan oleh Mahisa Murti adalah sekedar mengimbangi kemampuan ketiga orang yang bertempur semakin lama semakin cepat. Meskipun demikian, ternyata ketiga orang itu merasa sulit untuk dengan cepat mengalahkan Mahisa Murti. Bertiga mereka telah mengerahkan kemampuan mereka. Namun Mahisa Murti masih saja luput dari serangan-serangan mereka yang datang beruntun seperti arus banjir yang deras. Namun sebalikny a, Mahisa Murti tidak juga dapat menyentuh mereka. Mahisa Murti lebih banyak m enghindar daripada meny erang. Bahkan rasa-rasanya Mahisa Murti memang tidak mempunyai kesempatan sama sekali. Semakin lama pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Ketiga orang itu menekan semakin berat. Mereka m eny erang dari tiga arah bahkan serangan itu-sering datang bersamasama. Namun sebenarnyalah bahwa ketiga orang itu justru dapat dipergunakan oleh Mahisa Murti untuk mengenal tataran ilmunya sendiri. Meskipun didalam sanggar bersama Kiai Wijang, Mahisa Murti sudah melakukan penjajagan itu, namun menghadapi ketiga orang yang sebelumnya belum pernah dikenal, maka Mahisa Murti akan mendapat kesempatan yang lain untuk menilai kemampuannya sendiri. Untuk beberapa saat Mahisa Murti m emang tidak berbuat lebih dari sekedar mengimbangi ketiga lawannya. Namun kemudian timbul niatnya untuk memberikan lebih banyak perlawanan sebelum akhirnya ia harus melarikan diri dari pertempuran itu masuk kedalam padepokannya atau berusaha menghilangkan jejaknya di kegelapan. Dengan demikian, maka pertempuran itupun justru meningkat menjadi semakin sengit. Mahisa Murtipun kemudian tidak sekedar berusaha menghindari seranganserangan lawannya. Namun iapun mulai membalas menyerang. Ternyata serangan-serangan Mahisa Murti itu telah mengejutkan lawan-lawannya. Apalagi setelah beberapa kali ia mampu mengenai mereka. Bahkan m enyakiti m ereka seorang demi seorang. Meskipun demikian Mahisa Murti tidak sampai melampaui batas keinginannya untuk memancing saudara seperguruan Kiai Wijang. Karena itu, m aka yang  kemudian dilakukannya adalah menilai daya tahan tubuhnya sendiri. Untuk beberapa saat Mahisa Murti justru membiarkan lawan-lawannya itu meny erangnya dan bahkan mengenainya. Dengan demikian, m aka Mahisa Murtipun merasa yakin, bahwa ilmunya memang meningkat. Satu loncatan yang panjang telah dilakukannya sehingga ia mampu menembus batas kemapanannya untuk mendapatkan kemapanan baru dalam tataran yang  lebih tinggi. Lawan-lawannya yang berhasil mengenainya menjadi semakin garang. Mereka menganggap bahwa tenaga dan kemampuan Mahisa Murti sudah mulai menjadi susut, sehingga tidak mampu lagi menghadapi ketiga orang lawannya itu. Mahisa Murti memang beberapa kali harus berloncatan mundur. Serangan lawan-lawannya memang menjadi semakin garang, sehingga kemudian serangan-serangan itu mulai menyakitinya. Tetapi Mahisa Murti memang membiarkannya. Meskipun dimata lawan-lawannya Mahisa Murti masih juga berloncatan menghindar, namun beberapa kali mereka berhasil menembus pertahanan anak muda itu. Untuk mengurangi rasa sakitnya, maka Mahisa Murti telah mengerahkan day a tahannya. Dengan lambaran tenaga dalam, maka Mahisa Murti mengerahkan getar didalam dirinya melawan serangan-serangan yang mengenai tubuhnya. Dengan m engentalkan tenaga yang  dialasi tenaga dalamnya, maka Mahisa Murti berusaha menahan setiap serangan yang mengenai tubuhnya. Ternyata akibatnya m emang luar biasa. Kulitnya seakanakan menjadi liat. Serangan-serangan yang  mengenai tubuhnya seakan-akan telah memental tanpa menyakitinya. Ternyata puncak dari day a tahannya telah membuat kulitnya seakan-akan menjadi kebal. Ia tidak lagi merasa serangan-serangan lawannya yang  mengenainya itu menyakitinya. Tetapi Mahisa Murti tidak menjadi kehilangan akal. Ia tidak berniat untuk m enghancurkan lawan-lawannya itu m eskipun kemudian m enurut perhitungannya ia akan dapat mengatasi ketiga lawannya, meskipun Mahisa Murti y akin, bahwa ada diantara mereka yang  masih meny impan ilmu puncaknya. Sebenarnyalah bahwa karena Mahisa Murti tidak segera dapat ditundukkannya, meskipun serangan-serangan mereka mampu menembus pertahanan anak muda itu dan bahkan sekali-sekali mengguncang keseimbangannya, maka seorang diantara merekapun berniat untuk memaksa Mahisa Murti untuk mengakui kekalahannya. Karena itu, maka dalam pertempuran selanjutnya, Mahisa Murti merasa betapa serangan salah seorang lawannya menjadi sangat berbahaya. Seorang yang  bertubuh tinggi meskipun agak kekurus-kurusan itu ternyata memiliki kelebihan dari kedua orang yang  lain. Meskipun Mahisa Murti dilindungi day a tahannya yang  memiliki sifat m endekati ilmu kebal, namun ia harus berhati-hati terhadap lawannya yang bertubuh tinggi itu. Tangan orang itu seakan-akan semakin lama menjadi semakin keras, sehingga kemudian tangan itu bagaikan gumpalan batu hitam. Dengan demikian, maka sentuhan tangan itu masih juga mampu menggetarkan day a tahan Mahisa Murti, sehingga ia merasa betapa kerasnya tangan lawannya. Meskipun masih dalam batas perlindungan daya tahannya, namun sentuhan itu memang dapat menggetarkan daya tahannya yang sangat tinggi itu. Sementara itu, Mahisa Murti merasa sudah cukup bermainmain dengan ketiga orang lawannya. Ia masih ingin memancing kehadiran saudara seperguruan Kiai Wijang. Sebagaimana pesan Kiai Wijang, m aka ia sama sekali tidak ingin mengakhiri hidup orang itu. Tetapi ia ingin membuat orang itu jera. Meskipun demikian, Mahisa Murti juga tidak m engingkari kemungkinan bahwa justru ia sendirilah yang  akan dikalahkan dan justru diakhiri oleh saudara seperguruan Kiai Wijang itu. Namun Mahisa Murti masih mempunyai sandaran untuk menyerahkan segala kemungkinan yang  bakal terjadi. Ia y akin akan kuasa Yang Maha Agung. Demikianlah, maka Mahisa Murti seakan-akan menjadi semakin terdesak. Serangan-serangan ketiga orang lawannya berganti-ganti telah mengenai tubuhnya. Mahisa Murti sama sekali tidak memberikan kesan, bahwa daya tahannya mampu m engatasi serangan-serangan yang  datang beruntun itu. Hanya serangan dari orang yang  b ertubuh agak tinggi itulah yang sebenarnya mampu menggetarkan day a tahannya. Namun tidak menentukan. Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Mahisa Murtipun berusaha untuk berloncatan mengambil jarak. Orang yang  b ertubuh tinggi itu sempat berkata "Jangan lari. Meny erah sajalah. Atau kau akan mati." Tetapi Mahisa Murti sadar, bahwa orang-orang itu tidak akan membunuhnya. Mereka tentu akan membiarkannya hidup. Kemudian orang-orang itu akan melaporkannya kepada saudara seperguruan Kiai Wijang. Mahisa Murtipun kemudian sudah bersiap-siap untuk melarikan diri. Ia dapat dengan cepat memasuki gerumbulgerumbul yang diselubungi oleh kegelapan sebagaimana direncanakannya. Tetapi tiba-tiba timbul pertanyaan dihatinya "Apakah yang akan mereka lakukan seandainya aku benar-benar kalah ? Apakah mereka akan membawa aku kepada saudara seperguruan Kiai Wijang untuk ditantang berperang tanding ?.” Tetapi akhirnya Mahisa Murti memilih untuk melakukan rencananya. Ia akan melarikan diri kedalam kegelapan. Ia berharap bahwa saudara seperguruan Kiai Wijang itu benarbenar akan datang kepadanya. Beberapa saat Mahisa Murti masih bertahan sambil berloncatan berputaran. Tetapi kemanapun ia pergi, maka salah seorang lawannya telah memburunya dan menyerangnya. Tetapi akhirnya Mahisa Murtipun telah benar-benar berusaha melepaskan diri. Dengan beberapa loncatan, panjang ia masuk kedalam gerumbul-gerumbul perdu. Untuk beberapa saat ketiga orang lawannya mampu melihat jejaknya pada ranting-ranting yang terguncang. Namun kemudian rasarasanya menjadi semakin sulit untuk mereka ikuti. "Jangan lari, pengecut " teriak orang yang  bertubuh tinggi itu. T etapi ia justru berhenti m engejar. Demikian pula kedua orang kawannya. Sejenak mereka memandang kekegelapan. Namun kemudian orang bertubuh tinggi itu berkata "Ia memang memiliki kelebihan. Tetapi ia bukan lawan yang tangguh bagi Kiai Putut. " Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang diantaranya berkata "Kulitnya cukup liat. Ia mampu bergerak cepat. Semua itu harus kita laporkan kepada Kiai Putut, agar ia tidak salah menilai anak muda itu." "Tetapi ia akan dengan cepat digila s oleh kemampuan Kiai Putut yang  sangat tinggi." sahut kawannya yang  seorang. "Tugas kita sudah selesai " berkata orang yang  bertubuh tinggi. “Besok k ita kembali ke perguruan untuk memberikan laporan tentang tugas kita ini." Sementara itu, Mahisa Murti yang  melarikan diri itupun berhenti disebuah padang perdu yang  tidak begitu luas. Ketika ia mengetahui bahwa ketiga orang lawannya sudah tidak mengejarnya lagi, maka iapun kemudian m elangkah menuju ke padepokannya. Sebelum Mahisa Murti memasuki regol padepokannya, maka dibenahinya pakaiannya. Ia tidak ingin menceriterakan apa yang  dialaminya kepada isi padepokannya. Karena itu, maka Mahisa Murtipun telah menghapus segala kesan tentang perkelahian yang baru saja dilakukan melawan ketiga orang yang  memang sudah diduganya akan datang. Wantilan yang  kebetulan berada di pendapa bangunan induk padepokannya itu dengan serta-merta bertanya "Kau datang dari mana ?" "Dari padukuhan sebelah Barat itu, paman," jawab Mahisa Murti. "Biasanya kau tidak sampai malam jika kau pergi ke padukuhan itu." berkata Wantilan pula. Mahisa Murti tersenyum. Katanya "Aku melihat anak-anak muda yang  sedang beramai-ramai mempersiapkan keramaian. Ki Bekel di padukuhan itu akan menyelenggarakan peralatan." Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia memang pergi ke rumah Ki Bekel itu. Dan Ki Bekel memang akan menyelenggarakan peralatan. Anaknya perempuan akan menikah dengan anak seorang saudagar ternak yang terhitung berkecukupan. Namun Mahisa Murti tidak naik kependapa. Katanya "Aku belum mandi." Demikianlah, sejak hari itu Mahisa Murti menjadi semakin berhati-hati. Ia memperhitungkan bahwa saudara seperguruan Kiai Wijang itu tentu akan datang menemuinya. Dari hari ke hari Mahisa Murti menanti. Namun ia tidak melalaikan tugasny a sebagai seorang pemimpin di Padepokan Bajra Seta. Sejak Mahisa Pukat m eninggalkan padepokan itu, maka tugas Mahisa Murti memang menjadi bertambah berat. Mahisa Murtipun tidak melupakan tugas khususny a. Ia dengan sungguh-sungguh telah m enempa Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Keduanya tidak lagi pernah m erasa semakin jauh dari Mahisa Murti sebagaimana saat-saat mereka datang. Jika Mahisa Murti tidak langsung menunggui mereka didalam sanggar, maka mereka sudah m enyadari bahwa tugas Mahisa Murti memang cukup banyak. Namun pada hari -hari terakhir, Mahisa Murti lebih banyak pergi seorang diri menjelang senja. Ada-ada saja yang dilakukan. Mahisa Murti tidak selalu pergi ke padukuhanpadukuhan disekitar padepokannya. Kadang-kadang Mahisa Murti justru pergi ke tempat-tempat yang terpencil untuk berlatih seorang diri dialam terbuka. Sekali-sekali di padang perdu, dilereng bukit atau ditepian sungai. Mahisa Murti memang dengan sengaja memberi kesempatan kepada saudara seperguruan Kiai Wijang untuk menemuinya. Namun disamping itu, Mahisa Murti juga sedang berlatih sehingga ia benar-benar dapat menguasai setiap unsur dari ilmunya serta setiap unsur dari tubuhnya sendiri. Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa saudara seperguruan Kiai Wijang yang  telah mendapat laporan dari ketiga orang yang dimintanya untuk menjajagi kemampuan Mahisa Murti, telah berada di dekat padepokan itu pula. Ternyata ia tidak datang sendiri. Ketiga orang yang telah lebih dahulu datang menemui Mahisa Murti itu diajaknya pula. Dengan mudah, maka saudara seperguruan Kiai Wijang itupun segera mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Mahisa Murti. Selagi Mahisa Murti berada di padang perdu untuk memantapkan penguasaannya atas unsur-unsur ilmunya tetapi juga unsur-unsur tubuhnya, maka saudara seperguruan Kiai Wijang bersama ketiga orang pengikutnya telah mengamatinya dengan saksama. "Luar biasa " desis orang itu "anak muda itu memang berilmu sangat tinggi. Jika pertumbuhannya tidak dihentikan, maka beberapa tahun lagi, ia akan m enjadi orang yang sangat berbahaya." "Bagaimana Kiai Putut dapat menghentikan pertumbuhan ilmu anak muda itu ? Apakah anak muda itu harus dibunuh ?" "Tidak " jawab saudara seperguruan Kiai Wijang itu "tetapi bagian dari tubuhnya atau simpulsimpul syarafny a harus dirusak agar jalur hubungan antara kehendak dan bagian-bagian tubuhnya terganggu. Dengan demikian, maka ia tidak akan mampu lagi menguasai tubuhnya dengan sempurna. Sehingga ia tidak mungkin menjadi seorang yang memiliki kemampuan tinggi dalam olah kanuragan, meskipun ujud dan sikapnya sehari-hari tidak menunjukkan cacatnya itu.” Ketiga orang yang  datang bersama Kiai Putut itu mengangguk-angguk. Sementara Kiai Putut itu berkata selanjutnya "Anak itu masih tetap dapat melakukan kerja sehari-hari. Tetapi tidak lebih dari seorang gembala di padang penggembalaan. Ia hanya dapat meniup seruling sambil duduk bersandar pepohonan mengalunkan lagu sedih meratapi nasibny a yang  malang. Tetapi semuanya itu terjadi akibat kesombongannya sendiri." Ketiga orang yang menyertainya itu hanya menganggukangguk saja. Namun rasa-rasanya memang sayang sekali, bahwa tunas yang sedang tumbuh itu harus dipatahkan. Tetapi ketiga orang itu tidak berani mengatakannya. Dalam pada itu, maka mataharipun telah menjadi semakin rendah dan bahkan telah tenggelam dibalik punggung gunung. Langit menjadi buram dan angin semilir lembut. Mahisa Murtipun menghentikan gerakan-gerakannya. Ia mulai menurunkan irama pernafasannya. Bahkan kemudian kedua tangannya telah menakup diatas kepalanya, kemudian turun perlahan-lahan sampai ke depan dadanya. Dengan satu tarikan nafas panjang, maka kedua tangannya itupun dilepaskannya. Namun demikian Mahisa Murti berhenti sama sekali, terdengar seseorang tertawa dari balik gerumbul perdu. Mahisa Murti pura-pura terkejut. Tetapi sebenarnyalah sejak ia berlatih, ia sudah mengetahui, bahwa ada beberapa pasang mata tengah mengawasiny a. Dengan nada yang tajam Mahisa Murti bertanya "Siapakah kalian?" "Baiklah aku mengaku, siapakah aku sebenarnya. Aku adalah Kiai Putut. Seorang yang pernah merasa kau rendahkan dihadapan banyak orang" jawab orang itu. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya kepada ketiga orang yang menyertai Kiai Putut itu "Bukankah kau orang-orang yang pernah datang m enemui aku beberapa hari yang lalu?" "Ya " jawab orang itu "kami memang telah datang menemuimu beberapa hari yang  lalu. Kami pernah sedikit bermain-main. Namun dengan licik kau melarikan diri." Mahisa Murti tertawa. Katanya "Akukah yang licik? Bukankah aku bertempur seorang diri, sedangkan kalian bertempur bersama-sama?" "Kita tidak sedang berperang tanding. Tetapi kami sedang mengemban tugas untuk menangkapmu" jawab orang yang bertubuh tinggi itu. "Nah, bukankah dengan demikian aku juga tidak sedang berperang tanding? Yang aku lakukan adalah m embebaskan diri dari usaha penangkapan dari orang-orang yang tidak aku kenal." "Per setan" potong Kiai Putut "sekarang aku datang untuk menantangmu berperang tanding" "Apakah alasanmu?" bertanya Mahisa Murti. "Kau telah menghina aku" jawab orang itu. "Kapan dan dimana?" bertanya Mahisa Murti pula. "Seharusnya kau tidak bertanya seperti itu. Pertanyaanmu menunjukkan betapa sombongnya kau. Kau yang sudah menghina dan merendahkan martabat perguruanku, begitu sa ja melupakannya tanpa merasa bertanggung jawab sama sekali, " jawab Kiai Putut. Mahisa Murti m enarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku tidak pernah merasa menyakiti hati orang lain, apalagi menghina dan merendahkan martabat sebuah perguruan." "Per setan. Apapun yang kau katakan, tetapi bersiaplah untuk menerima akibat dari perbuatanmu itu. Aku datang untuk menunjukkan kepadamu, bahwa kau untuk selanjutnya tidak akan menghina aku lagi." berkata Kiai Putut kemudian. Mahisa Murti tidak sempat menjawab. Orang itu telah bergeser mendekat dan bersiap untuk bertempur. Namun orang itu sempat berkata kepada ketiga orang itu "Kalian menjadi saksi. Aku tantang anak ini berperang tanding, agar ia tidak lagi merasa berhak melarikan diri. Kecuali jika ia benar-benar seorang yang licik." Ketiga orang itu tidak menjawab. Sementara Mahisa Murtipun telah bersiap pula. Ia memang tidak merasa perlu untuk bertanya lebih lannjut untuk apa orang itu datang. Demikianlah, maka sejenak kemudian, orang itu telah memancing gerakan Mahisa Murti. Dengan serangan yang lemah, orang itu mulai berloncatan. Mahisa Murtipun bergeser menghindar. Namun Kiai Putut itu telah memburunya. Dengan demikian maka pertempuran itupun segera menyala. Selapis demi selapis keduanya mulai m eningkatkan kemampuan mereka. Namun keduanya masih saja saling menjajagi kemampuan masing-masing. Mahisa Murtipun segera mengenali unsur-unsur gerak dalam ilmu lawannya. Bukan saja yang  dikenalinya lewat lawannya, anak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani, tetapi juga lewat saudara seperguruan Kiai Putut yang ju stru telah mempersiapkannya untuk menghadapinya. Dengan nada rendah Mahisa Murti itupun kemudian berkata "Aku sekarang tahu Kiai Putut. Kau m endendamku karena aku telah bertempur melawan seorang anak muda yang memiliki ilmu sejalan dengan ilmumu di Singasari." Kiai Putut itu ju stru meloncat surut. Dipandanginya Mahisa Murti dengan tatapan mata yang  menyala. Dari sorot matanya Mahisa Murti memang melihat dendam yang memancar. Dengan geram orang itu m enyahut "Anak muda. Sekarang kau m engetahui kenapa aku datang darijauh untuk bertemu dengan kau. Sekarang kau tidak akan dapat ingkar lagi, bahwa kau memang pernah menghina aku dan merendahkan martabat perguruanku." "Kiai Putut" berkata Mahisa Murti "menurut pengetahuanku, kau adalah seorang guru yang  mumpuni. Kau adalah seorang yang pantas menjadi contoh bagi muridmuridmu. Jika kau masih terbawa oleh arus perasaanmu yang tidak terkendali, apakah jadinya dengan perguruanmu?” "Jadi menurut pendapatmu, apapun yang  terjadi di perguruanku, sebaiknya aku duduk saja berpangku tangan? Apakah aku harus mematikan perasaanku jika aku melihat seseorang menghina muridku dan perguruanku? Itukah menurut pendapatmu sikap seorang guru yang  baik?" "Ki Putut" berkata Mahisa Murti kemudian "apakah kau tersinggung bahwa muridmu telah dikalahkan oleh seseorang? Seharusnya kau melihat persoalannya secara utuh. Bukan hanya sepotong, bahwa muridmu telah dikalahkan. Seorang guru menurut pendapatku, harus berani menunjukkan kepada muridnya, yang manakah yang  benar dan yang manakah yang a salah. Jika murid Kiai Putut melakukan kesalahan, seharusnya Kiai Putut tidak membelanya. Justru memperingatkannya. Karena pembelaan Kiai akan mendorong murid Kiai itu untuk melakukan kesalahan-kesalahan berikutnya. Karena anak itu akan merasa selalu mendapat perlindungan. " "Siapakah yang  dapat m enentukan, bahwa muridku telah bersalah? Siapa pula yang dapat menentukan garis yang memisahkan antara kebenaran dan ketidak benaran. Apa katamu jika aku berpendapat bahwa muridku telah berjalan diatas jalan kebenaran?" berkata Kiai Putut. "Ki Putut. Kenapa kau yang sudah ubanan itu m asih saja mudah dibakar oleh perasaan dendam? Kiai Putut. Sekarang kau datang kepadaku dengan membawa dendam. Tetapi ketahuilah, bahwa aku tidak berdiri sendiri. Jika saja guruku atau orang tuaku atau siapa saja yang  menganggap, sekali lagi, menganggap aku berjalan diatas jalan kebenaran menuntut balas, maka dendam itu akan berkepanjangan. Orang lain yang menganggapmu benar akan menuntut dan yang lain dan yang lain. Bukankah dengan demikian, dunia ini akan dibakar oleh perasaan dendam?" "O" Kiai Putut menyahut dengan serta merta "ajaran itukah yang kau terima dari gurumu? Kau biarkan sajakah jiwa keluargamu dihinakan dan direndahkan martabatnya? "Aku akan melihat persoalannya, Kiai" jawab Mahisa Murti. Tetapi Mahisa Murti tidak sempat meny elesaikan katakatanya. Kiai Putut itupun berteriak "Jangan banyak berbicara lagi. Aku sudah siap untuk menghancurkanmu. Kau akan kehilangan kemampuanmu untuk selama-lamanya. Meskipun aku tidak ingin membunuhmu, tetapi kau harus menebus kesombonganmu dengan harga yang sangat mahal.” Mahisa Murti memang tidak sempat menjawab. Orang itupun mulai meloncat meny erang. Tangannya bergerak dengan cepat menyambar wajah Mahisa Murti. Tetapi Mahisa Murti dengan tangkas pula mengelak, sehingga serangan Kiai Putut itu tidak mengenainya. Namun demikian Mahisa Murti bergeser, maka kaki Kiai Putut lah yang menyambar lambung. Mahisa Murti memang tidak sempat mengelak. Dengan sikunya ia m encoba melindungi lambungnya. Dengan sedikit merendah, Mahisa Murti berusaha mendapat tumpuan pada kedua kakinya yang  bagaikan berakar kedalam bumi. Tetapi Mahisa Murti ternyata masih terguncang pula. Ia bergerak dan tergeser setapak surut. Namun Kiai Pututpun terkejut. Serangan kakinya yang  keras dan cepat itu telah membentur kekuatan yang kokoh, sehingga terasa getaran yang merambat dari telapak kakinya ke setiap sendi-sendi tulangnya. "Anak iblis" geram Kiai Putut "darimana kau mendapatkan kekuatan itu?" Mahisa Murti tidak menjawab. Namun iapun mulai menyerang pula. Dengan demikian, maka keduanyapun kembali terlibat dalam pertempuran yang  sengit. Kiai Putut bergerak semakin lama semakin cepat. Namun Mahisa Murtipun mampu mengimbanginya pula. Selapis demi selapis ilmu mereka semakin meningkat. Ketiga orang yang  m enyaksikan pertempuran itu memang menjadi tegang. Mereka sudah m emberitahukan kepada Kiai Putut, bahwa anak muda itu memiliki kemampuan yang tinggi. Kiai Putut memang tidak ingin langsung m enghancurkan lawannya yang masih muda itu. Ia ingin tahu, tataran tertinggi kemampuannya. Bahwa anak muda itu mampu mengalahkan muridnya yang  termasuk salah seorang diantara muridnya yang terbaik, telah menggelitik hatinya untuk mengetahui pada tataran yang mana Mahisa Murti itu berada. Namun setiap kali Kiai Putut itu meningkatkan ilmunya, maka lawannya yang  muda itu masih saja mampu mengimbangi. Bahkan setelah Kiai Putut berada pada tataran selapis diatas tataran muridnya, Mahisa Murti m asih dapat mengimbanginya. Dengan demikian maka Kiai Puput itu y akin bahwa kekalahan muridnya bukan karena kesalahan yang  dilakukan oleh m uridnya itu. Tetapi ilmu Mahisa Murti memang lebih tinggi dari ilmu muridnya itu. Dengan demikian, maka Kiai Piatut justru menjadi semakin bernafsu untuk menundukkan Mahisa Murti dan membuatnya kehilangan segenap kemampuannya tanpa mendapat kesempatan untuk menumbuhkannya kembali. "Hukuman itu adalah hukuman yang  paling pantas untuk anak muda yang telah m enghina perguruanku" berkata Kiai Puput didalam hatinya. Namun dalam pada itu, Kiai Puput masih belum dapat menundukkan Mahisa Murti. Ketika Kiai Putut bergerak semakin cepat, maka Mahisa Murtipun melakukannya pula. Keduanyapun kemudian berloncatan saling meny erang dan menghindar. S ekali-sekali m emang terjadi benturan diantara mereka. Namun Mahisa Murti masih tetap mampu bertahan. Kiai Puput memang m enjadi semakin heran. Ketika Kiai Puput meningkatkan kemampuannya lagi, maka Mahisa Murti masih belum dapat ditundukkannya. Karena itu, maka kemarahan Kiai Puputpun menjadi semakin membakar hatinya. Anak muda yang m engalahkan muridnya itu ternyata memang memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari yang  diduganya. Ketika Kiai Putut meningkatkan ilmunya lebih tinggi, maka kecepatannya bergerakpun justru menjadi berkurang. Ia tidak lagi berloncatan dengan cepat, bahkan seakan-akan kakinya tidak meny entuh tanah. Tetapi geraknya ju stru nampak semakin lamban. Namun setiap ayunan tangan atau kakinya, seakan-akan telah menggetarkan udara disekitarnya. Mahisa Murti menyadari, bahwa lawannya mulai merambah pada ilmu andalannya. Karena itu, maka Mahisa Murtipun harus berhati-hati. Iapun telah memanjat pada tataran ilmunya semakin tinggi. Kiai Putut memang menjadi semakin heran. Seranganserangannya yang meluncur dengan cepat sebelumnya, tidak mampu menembus pertahanan anak muda yang  sangat rapat itu. Kecepatannya bergerak, masih juga dapat diimbanginya. Namun ketika gerak Kiai Putut justru menjadi lamban, Mahisa Murti harus menjadi sangat berhati-hati. Meskipun Kiai Puatut tidak lagi berloncatan sebagaimana sebelumnya, namun bobot serangannya benar-benar m enjadi semakin berbahaya. Ketika tangannya terayun menyambar kening, meskipun Mahisa Murti sempat mengelak, namun getar udara yang deras telah menerpa wajahnya. "Satu kekuatan yang  sangat besar " desis Mahisa Murti. Ia sa dar, jika serangan-serangan itu mampu mengenai tubuhnya, maka keseimbangannya tentu akan terguncang. Untuk melindungi dirinya, selain memperketat pertahanannya, m aka Mahisa Murtipun telah meningkatkan day a tahannya. Sehingga day a tahannya pada tataran tertinggi itu seakan-akan merupakan lapisan ilmu kebal yang menyelubungi tubuhnya. Semakin lama maka pertempuran itupun menjadi semakin mendebarkan. Meskipun keduanya tidak lagi berloncatan dengan cepat, namun serangan-serangan mereka menjadi sangat berbahaya. Bahkan keduanya seakan-akan tidak lagi berusaha untuk menyusup diantara pertahanan lawannya, tetapi mereka siap untuk saling membenturkan kekuatan dan kemampuan mereka. Mereka tidak merasa perlu mencari celah -celah pertahanan lawannya. Tetapi mereka berusaha untuk langsung memecahkan pertahanan lawannya itu. Semakin tinggi tingkat tataran ilmu mereka, maka Kiai Puputpun menjadi semakin marah. Tetapi juga semakin heran. Tingkat kemampuannya telah berada jauh diatas kemampuan muridnya. Tetapi anak muda itu masih juga mampu mempertahankan diri. Benturan-benturan yang terjadi, sama sekali masih belum m ampu mengoyak apalagi memecahkan pertahanan Mahisa Murti. Bahkan anak muda itu bukan saja hanya bertahan. Namun seranganserangannyapun membuat Kiai Puput menjadi berdebardebar. Ketiga orang pengikut Kiai Putut itu menjadi sangat tegang. Yang m ereka saksikan adalah benturan-benturan ilmu yang tinggi. Meskipun mereka menyadari, bahwa anak muda itu berilmu tinggi, tetapi mereka tidak mengira bahwa ia m asih mampu bertahan sampai tataran yang sedemikian jauhnya. "Kenapa saat itu ia melarikan diri ?" desis orang yang  bertubuh tinggi. "Entahlah" jawab kawannya "jika saja saat itu ia berniat menghancurkan kami bertiga, maka agaknya ia mampu melakukannya.” "Ilmunya seimbang dengan ilmu Kiai Puput." desis orang yang bertubuh tinggi. Tetapi kawannya yang  lain berdesis "Kiai Putut belum sampai kepuncak ilmunya, karena Kiai Putut memang tidak ingin membunuh anak muda itu. Tetapi jika ia kehabisan kesabaran, maka anak muda itu tentu akan dibunuhnya." Ketiga orang itu terdiam ketika mereka melihat Kiai Puput melontarkan serangan yang dahsy at. Dengan satu loncatan panjang, Kiai Putut mengangkat tangannya dan diayunkannya langsung kearah kepala Mahisa Murti. Mahisa Murti m emang tidak sempat mengelak. Tetapi kedua tangannya terangkat dan bersilang melindungi kepalanya itu. Satu benturan yang sangat keras telah terjadi. Dua kekuatan raksasa telah beradu. Yang tidak diduga telah terjadi. Mahisa Murti memang terdorong surut. Tetapi ia dengan cepat dapat menguasai keseimbangannya sehingga Mahisa Murti itu tidak terdorong jatuh. Namun sementara itu, Kiai Putut yang  telah meny erang Mahisa Murti itu m erasakan betapa kekuatan ilmunya telah membentur pertahanan yang  benar-benar diluar dugaannya. Kiai Putut memang melihat Mahisa Murti menangkis serangannya. Ia mengira bahwa dengan demikian pertempuran itu akan berakhir. Tangan Mahisa Murti akan patah sehingga untuk selanjutnya ia tidak akan mampu mempergunakan tangannya itu. Seandainya tangan itu sembuh, namun tangan itu tentu sudah cacat dan hanya mampu dipergunakan untuk melakukan sesuatu yang  tidak berarti. Apalagi kemudian ia akan dapat merusakkan simpulsimpul sarafnya sehingga hubungan antara kehendak dan sy araf penggerak tidak dapat berjalan lancar untuk seterusnya. Tetapi yang  terjadi tidak sebagaimana dikehendaki. Ketika benturan itu terjadi, maka keseimbangan Kiai Putut justru telah terguncang. Kiai Putut justru terdorong dan mental beberapa langkah. Untunglah bahwa ia masih mampu mempertahankan keseimbangannya, sehinga Kiai Putut itu tidak jatuh terlentang. Mahisa Murti memang melihat Kiai Putut itu goyah. Tetapi ia tidak meloncat memburu dan mempergunakan kesempatan itu. Ketika Kiai Puput berusaha untuk memperbaiki keseimbangannya, maka Mahisa Murti berdiri saja memandanginya. Kiai Putut itu menggeram. Kemarahan telah membakar kepalanya, sehingga ia tidak lagi dapat mengendalikan dirinya. Dengan suara yang  bergetar oleh kemarahan yang  menghentak-hentak didadanya Kiai Putut itu berkata "Kau memang anak iblis. Jika semula aku tidak ingin membunuhmu, maka kau m emang tidak m empunyai pilihan lain. Karena itu, maka bersiaplah untuk mati anak muda." "Kiai Putut" sahut Mahisa Murti dengan nada berat "Apakah sebenarnya persoalan yang  terjadi diantara kita ? Apakah karena aku sempat mengalahkan muridmu, maka kita harus bertempur sampai mati ? Itu sangat berlebihan Kiai.” "Per setan anak cengeng" Kiai Putut hampir berteriak "sudah aku katakan, bahwa semula aku tidak akan membunuhmu. Tetapi ternyata kau sombong, keras kepala dan tidak tahu diri. Karena itu, m aka aku benar-benar akan membunuhmu." "Sampai saat ini akupun masih dapat mengendalikan diriku, Kiai. Tetapi jika keadaan menjadi semakin gawat, maka akupun dapat m engancammu sebagaimana kau mengancam aku, meskipun aku sama sekali tidak menghendaki hal itu terjadi." "Kesombonganmu itulah yang  membuat aku bernafsu untuk membunuhmu. Kau kira kau itu siapa, dan kau kira aku ini siapa, sehingga kau berani mengancam aku ?" "Aku bukan siapa -siapa dan kau juga bukan siapa -siapa, Kiai. Kita masing -masing sudah dibakar oleh kemarahan sementara api dendam menyala dihatimu. Karena itu, m aka baik kau m aupun aku m erasa tidak perlu lagi tahu siapakah kita masing -masing sebenarnya. " "Per setan kau anak iblis" geram Kiai Putut sambil meloncat menyerang. Namun Mahisa Murtipun telah bersiap sepenuhnya. Ia tidak mengelak, tetapi sekali lagi ia menangkis serangan itu. Benturan kekuatan itu telah m enggetarkan isi dada kedua belah pihak, sehingga Kiai Puput menjadi semakin garang karenanya. Dengan demikian, maka Kiai Putut telah mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan dor ongan tenaga dalamnya yang terbina dengan baik, Kiai Putut berusaha mendesak Mahisa Murti. Tetapi Mahisa Murtipun mampu mengimbanginya. Bahkan tenaga Mahisa Murti justru seakan-akan menjadi semakin bertambah-tambah. Serangan-serangannya menjadi semakin kuat dan bahkan beberapa kali Mahisa Murti mampu menembus pertahanan Kiai Putut. Tetapi Mahisa Murti telah menemui lagi kemampuan yang  sangat tinggi. Mahisa Murti segera mengenalinya, sebagaimana saat ia bertempur melawan Kiai Wijang diluar gerbang Kotaraja. Tubuh Kiai Putut itu seakan-akan menjadi sangat liat. Tulang-tulangnya menjadi lentur. Jika terjadi benturan, maka tidak terasa hentakan-hentakan yang  keras. Tetapi ju stru sebaliknya. Tenaga dan kekuatan Mahisa Murti bagaikan tertampung dan hilang tertelan tanpa beka s. Mahisa Murti sebenarnya tidak terkejut menghadapi keadaan itu. Sebagai saudara seperguruan Kiai Wijang, maka Kiai Pututpun tentu mampu melakukannya. Namun Mahisa Murti tidak terhenti sampai sekian. Ia tidak menjadi kehilangan akal. Dengan bantuan Kiai Wijang, maka kemampuan dan ilmu Mahisa Murti telah menjadi jauh berkembang. Ia telah berhasil menembus batasan kemapanan ilmunya sendiri untuk menggapai satu tataran kemapanan kemampuan yang lebih tinggi. Karena itu, maka menghadapi ilmu lawannya, Mahisa Murtipun telah mengerahkan day a tahan tubuhnya. Seperti yang pernah terjadi, maka day a tahannya yang sampai kepuncak itu dapat meny elubungi dirinya mirip dengan kekuatan ilmu kebal. Tetapi lebih dari itu, Mahisa Murtipun berniat untuk mengetrapkan ilmunya yang  mampu menghisap tenaga dan kemampuan lawannya. Meskipun ia pernah gagal ketika ia berhadapan dengan Kiai Wijang, namun setelah ilmunya berkembang, maka ia berharap bahwa ilmunya itu akan mampu menembus penangkal yang  dimiliki oleh Kiai Putut. Ketika pertempuran itu menjadi semakin sengit, maka Mahisa Murti tidak mempunyai pilihan lain. Ia mulai mengetrapkan ilmunya yang  mampu menghisap tenaga dan kemampuan lawannya, meskipun tidak langsung dengan kemampuan sepenuhnya. Memang timbul niat Mahisa Murti untuk mengetahui batas tataran ilmunya itu pada saat ilmunya itu menembus kekuatan penangkal yang  dimiliki oleh Kiai Pulut. Tetapi juga tidak tertutup kemungkinan, bahwa ternyata sampai puncak kemampuannya, ilmunya itu m asih tetap tidak dapat menembus penangkal yang  dimiliki oleh Kiai Putut. Meskipun Kiai Wijang pernah mengatakannya, bahwa Mahisa Murti mampu mengatasi penangkal ilmunya, namun tidak mustahil bahwa Kiai Putut dapat mengembangkannya lebih baik. Demikianlah, maka pertempuran itupun sampai pada puncaknya. Mahisa Murti benar-benar telah mengetrapkan ilmunya meskipun tidak pada tingkat tertinggi. Namun dalam pada itu, sejenak kemudian, maka Kiai Puput yang meloncat sambil mengambil jarak itu tertawa Katanya "Anak muda. Kau ternyata memiliki ilmu yang  luar biasa. Kau mampu dengan licik menghisap tenaga dan kekuatan lawanmu. Tetapi kau akan kecewa bahwa kau mencoba mengelapkannya padaku, karena aku mempunyai penangkal ilmumu itu. Sayang bahwa muridku belum pernah mewarisi kekuatan penangkal itu. Tetapi pada suatu saat, ia akan memilikinya juga. Namun bahwa kau tidak akan pernah melihat kemampuannya itu, karena hari ini adalah hari terakhirmu." Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia meny erang semakin garang. Benturan demi benturan telah terjadi. Serangan Mahisa Murti memang bagaikan tertelan kedalam kulit dan daging lawannya tanpa menyakitinya. Bahkan i lmunya yang mampu menghisap tenaga lawannya masih juga belum sampai pada batas untuk menembus penangkal lawannya itu. Tetapi lawannyapun menjadi gelisah, bahwa Mahisa Murti yang mempergunakan perisai daya tahannya yang ditingkatkannya sampai kepuncak itupun rasa -rasanya selalu dapat mengatasi rasa sakit pada setiap serangan Kiai Puput menembus pertahanannya. Serangan-serangan Kiai Puputpun rasa-rasanya sama sekali tidak menyakitinya. Bahkan seakan-akan tidak terasa sama sekali. Sementara itu, selapis demi selapis Mahisa Murtipun telah meningkatkan ilmunya untuk menghisap kemampuan lawannya itu. Dengan keyakinan bahwa ia mampu menangkal ilmu Mahisa Murti, maka ternyata Kiai Puput justru menjadi lengah. Ia tidak menghiraukan bahwa Mahisa Murti meningkatkan ilmunya selapis demi selapis, sehingga akhirnya, seperti juga terhadap Kiai Wijang, maka ilmu itu mampu memecahkan penangkalnya yang dimiliki oleh Kiai Puput. Tetapi Kiai Puput tidak segera menyadarinya. Perlahanlahan tetapi pasti, Mahisa Murti telah m enghisap tenaga dan kemampuan Kiai Puput. Namun akhirnya, Kiai Puput yang  berilmu tinggi itupun menjadi curiga. Ia merasakan sesuatu yang  tidak wajar terjadi pada dirinya. Dengan demikian, maka ia mulai memperhatikan setiap benturan dan sentuhan yang  terjadi. “Anak iblis" Kiai Puput menggeram. Ia segera mengetahui, bahwa kemampuan ilmu Mahisa Murti mampu menembus day a tangkalnya terhadap ilmu itu. Karena itu, maka dengan gelisah Kiai Puput itu telah meloncat surut mengambil jarak. Mahisa Murti sengaja tidak meloncat memburunya. Masih terngiang pesan Kiai Wijang, bahwa Mahisa Murti tidak membunuh Kiai Puput apabila ia dapat mengatasi ilmunya. Mahisa Murti sama sekali tidak ingin mengingkari pesan Kiai Wijang yang telah m embantunya meningkatkan ilmunya. Karena itu, maka ketika ia melihat Kiai Puput meloncat surut, maka ia justru memberikan kesempatan. Dengan demikian ia berharap agar Kiai Puput sempat menilai apa yang  telah terjadi. Untuk beberapa saat Kiai Puput b erdiri termangu-mangu. Namun kemudian ternyata dugaan Mahisa Murti keliru. Kiai Puput tidak menilai per soalan yang  sedang dihadapinya. Tetapi darahnya justru telah mendidih. Dengan geram Kiai Puput itu berkata "Anak muda. Ternyata kau benar-benar keras kepala. Sampai saat ini aku masih mengekang diri. Karena itu, aku ingin memperingatkanmu sekali lagi, agar kau tidak dengan sombong mencoba melawan aku." "Jika aku tidak melawan, lalu apa yang akan terjadi atas diriku?" bertanya Mahisa Murti. "Kau tidak akan mati" jawab Kiai Puput. "Lalu apa ? Kita akhiri pertempuran ini sampai disini?" bertanya Mahisa Murti. "Ya." jawab Kiai Puput. "Jika demikian, baiklah. Aku tidak berkeberatan. Kita lupakan permusuhan ini untuk selanjutnya. " berkata Mahisa Murti. Ketiga orang yang  m enyaksikan pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Namun diluar sadar, mereka menganggap bahwa keputusan itu adalah keputusan yang bijaksana. Tetapi ternyata Kiai Puput masih berkati " Tetapi aku masih mempunyai syarat." "Maksud Kiai Puput ?" bertanya Mahisa Murti dengan jantung yang berdebaran. "Untuk selamanya kau tidak akan memiliki kemampuan ilmu kanuragan lagi" jawab Kiai Puput. “Aku memilih mati. Aku kira seperti kau, akupun tidak akan dapat hidup dengan keadaan yang  demikian. " Wajah Mahisa Murti menjadi tegang. Dengan suara yang  bergetar Mahisa Murti bertanya "Bagaimana hal seperti itu dapat terjadi atasku ?" "Aku akan membuat kau cacat. Aku akan merusakkan simpul-simpul sy arafmu, sehingga hubungan antara kehendak dan sy araf penggerakmu tidak wajar lagi." jawab Kiai Puput. Telinga Mahisa Murti menjadi panas. Betapapun ia menyabarkan hatinya, namun kata-kata Kiai Puput itu telah menyulut darah mudanya, sehingga bibirnya serasa bergetar. "Kiai Puput " sahut Mahisa Murti "aku masih belum kau kalahkan. Jika kau masih dapat meningkatkan ilmumu, maka akupun masih mampu m elakukannya pula. Karena, itu, jika kau masih menuntut bermacam-macam syarat, apalagi dengan lambaran dendam seperti itu, maka aku akan melayanimu bertempur sampai kapanpun. Aku pertaruhkan apa yang  ada padaku untuk menjaga kehormatan dan harga diriku. Kau tentu tahu, bahwa aku lebih baik mati daripada mendapat penghinaan seperti itu." Gigi Kiai Puput itupun gemeretak menahan kemarahannya. Dengan lantang ia berkata "Anak muda. Jika kau menolak sy aratku dan masih berniat melawanku, maka kau akan mati hangus menjadi abu. Aku tidak hanya sekedar mengancammu. Tetapi aku akan benar-benar dapat melakukan atasmu." "Aku tidak peduli" jawab Mahisa Murti "tetapi aku tidak dapat kau hinakan seperti itu. Betapapun lemahnya seekor kucing, tetapi jika ia terinjak kaki, m aka ia akan m enggeliat juga." "Bagus" geram Kiai Puput "jika demikian bersiaplah. Kau benar-benar akan mengalami kematian yang  sangat pahit.” "Aku atau kau, Kiai" jawab Mahisa Murti. Kiai Puput yang marah serta dibakar oleh dendam dihatinya itu tidak dapat mengekang diri lagi. Iapun segera bersiap untuk bertempur dalam tataran puncak kemampuannya. Ketiga orang yang  m enyaksikan pertempuran itu kembali menjadi tegang. Semula mereka sempat menarik nafas panjang, ketika ketegangan seakan-akan telah mereda. Namun sudah tentu bahwa anak muda itu tidak akan dengan suka rela membiarkan tubuhnya menjadi cacat. Apalagi cacat untuk sepanjang umurnya. Sementara itu, anak muda itu masih belum dapat dianggap kalah. Bahkan anak muda itu mampu menunjukkan beberapa kelebihan dari Kiai Puput itu sendiri. Karena itu, maka degup pernafasan merekapun seakanakan menjadi semakin cepat, tetapi seakan-akan tertahantahan oleh ketegangan yang semakin memuncak. Mahisa Murti dan Kiai Puputpun telah bertempur kembali. Namun Kiai Puput yang menyadari betapa berbahayanya ilmu Mahisa Murti, selalu berusaha untuk menghindari setiap benturan. Bahkan Kiai Puputpun merasa bahwa ia tidak akan sempat menyerang untuk mengenai tubuh lawannya, karena dengan demikian akan berarti satu sentuhan. Sementara tubuh lawannya yang muda itu seakan-akan tidak dapat disakitinya, namun justru tenaga dan kemampuannya akan terhisap. Karena itu, maka Kiai Puput tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus menunjukkan puncak kemampuannya selagi tenaga dan kemampuannya masih dapat dianggap utuh. Beberapa saat kemudian, ketika ia m endapat kesempatan, maka Kiai Puputpun telah meloncat mengambil jarak. Dengan lantang iapun berkata "Anak muda. Kali ini adalah kesempatanmu yang  terakhir. Karena aku menaruh belas kasihan kepadamu yang  masih muda, maka aku memberi kesempatan kepadamu sekali lagi tetapi yang  terakhir untuk menyerah. Jika tidak, maka kau benar-benar akan mati dengan cara yang  sama sekali tidak meny enangkan." "Sudah aku katakan Kiai. Aku tidak akan menghentikan perlawanan dengan sy arat yang  kau berikan itu. Tetapi jika kau mengancam untuk membunuhku, maka akupun akan melakukannya juga, karena sebenarnya akupun tidak ingin membunuhmu jika kau menyadari bahwa langkahmu itu adalah langkah yang  salah. Dendam yang berbalas dendam tidak akan pernah mendapat peny elesaian. Tetapi jika kau menyadari akan kesalahanmu itu, maka aku berjanji tidak akan membunuhmu." berkata Mahisa Murti yang sudah menjadi semakin marah itu. Tetapi ancaman Mahisa Murti itu membuat Kiai Puput seakan-akan menjadi mata gelap. Dengan lantang ia berbicara "Anak muda. Lihat, apa yang dapat aku lakukan. Bukan hanya sekedar mencuri kesempatan menghisap kekuatan dan kemampuan lawan, tetapi aku akan dapat membakarmu hidup-hidup." "Aku tidak peduli" jawab Mahisa Murti. "Anak iblis. Buka matamu lebar-lebar. Aku akan menunjukkan kepadamu, bahwa aku tidak hanya sekedar mengancammu." Mahisa Murti tidak sempat menjawab. Ia melihat orang itu sedang memusatkan nalar budinya. Hanya sesaat. Kemudian kedua telapak tangannyapun dikatubkannya. Ketika kemudian ia menghentakkan tangannya, maka dari telapak tangannya yang terbuka itu seakan-akan telah m eluncur segumpal api sebesar buah jeruk pecel kearah sebatang pohon cangkring yang tumbuh di padang perdu itu. Mahisa Murti dengan tegang mengikuti peristiwa sebagaimana pernah dilihatnya. Sementara itu ketiga orang pengikut Kiai Puput itu bagaikan membeku ditempat mereka. Tiba-tiba saja mereka merasa bahwa tidak adil jika anak muda itu harus mati oleh dendam yang  membakar jantung Kiai Puput. Demikianlah maka sebagaimana pernah terjadi, maka ketika api itu meny entuh selembar daun cangkring, maka meledaklah bunga api sebagaimana pernah disaksikannya. Ketiga orang yang  m enyaksikan pameran ilrru itu m enjadi sangat tegang. Jika ilmu itu dilontarkan langsung kearah Mahisa Murti, maka anak muda itu tentu benar-benar akan menjadi abu. Dalam pada itu, Mahisa Murtipun menyaksikan bunga api yang m eledak itu dengan jantung yang  berdebaran. Ilmu Kiai Puput, sebagaimana Kiai Wijang memang luar bia sa. Sementara itu, terdengar suara Kiai Puput "Nah, anak muda. Kau dapat memilih. Meny erah dengan segala akibatnya atau mengalami serangan ilmu seperti yang  kau lihat." Mahisa Murti memang menjadi tegang. Ia melihat daun dan ranting pohon cangkring itu memang rontok menjadi abu. Tetapi ia melihat dahan-dahan utamanya dan apalagi pohon pohon cangkring itu masih berdiri tegak. Dengan demikian maka Mahisa Murti mengerti bahwa kekuatan ilmu Kiai Wijang masih jauh lebih tinggi. Ketika Kiai Wijang menghantam pohon gayam dengan ilmunya yang  dahsyat itu, maka bukan saja ranting-ranting dan daun-daunnya sajalah yang runtuh menjadi debu. Tetapi juga cabang-cabangnya yang besar runtuh berserakan. Karena itu, maka Mahisa Murtipun berniat untuk mengimbangi pameran kekuatan ilmu itu. Dipusatkannya nalar budinya. Ketika segala kekuatan yang dimilikinya sudah dihimpunnya, maka iapun mulai mengangkat tangannya. Kedua telapak tangannya memang ditakupkan. Namun kemudian tangannya itupun dihentakkannya dengan kedua telapak tangannya terbuka menghadap ke batang pohon cangkring yang  besar itu. Dari tangan Mahisa Murti telah meluncur cahaya yang  kehijau-hijauan. Mahisa Murti sendiri m engerutkan dahinya, ketika ia melihat cahaya itu jauh lebih terang dari cahaya yang meluncur dari telapak tangannya disaat-saat sebelumnya. Cahaya itupun dengan kecepatan yang sangat tinggi telah menyambar batang cangkring yang  masih berdiri tegak itu. Yang terjadi adalah sangat mengejutkan. Pokok batang Cangkring itu telah meledak dengan dahsy atnya. Pohon cangkring yang  besar itu ternyata tidak saja mampu dirobohkan, tetapi batang pohon yang besar itu seakan-akan telah dilemparkan ke udara. Melenting dan kemudian jatuh beberapa langkah dan r oboh ditanah. Pohon itu telah terpenggal dari pokoknya yang masih berpegangan pada akarakarnya yang  menancap jauh kedalam bumi. Ketiga orang pengikut Kiai Puput itu rasa-rasanya seperti sedang bermimpi. Peristiwa itu sangat dahsy at didalam penglihatan mereka. Batang cangkring yang besar dan r oboh, serta pokoknya yang  masih menghunjam ditanah, nampak merah membara. Kiai Puput menyaksikan pameran kekuatan ilmu anak muda itu dengan mulut yang menganga. Ia merasa kepalanya tersuruk kedalam dunia mimpi yang menakutkan. Anak muda itu ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi. Selagi Kiai Puput termangu-mangu dicengkam oleh gejolak perasaannya, maka Mahisa Murti telah berdiri menghadap kepadanya sambil berkata "Nah, Kiai Puput. Kita masingmasing sudah menunjukkan kemampuan dan kekuatan ilmu kita. Terserah kepadamu, apakah kau masih akan memaksakan kehendakmu. Bukan maksudku untuk meny ombongkan diri jika aku menunjukkan kelebihanku kepadamu, Kiai Puput. Tetapi aku y akin, bahwa jika kau benar-benar meny erangku dengan ilmumu itu, kau sendiri akan mengalami kesulitan. Aku akan dapat membentur ilmumu sehingga ilmumu sama sekali tidak akan menyentuhku. Aku dapat menahan jarak atas apimu. Sementara kelebihan ilmuku akan dapat m endorong ilmumu mental dan akan menghancurkan dirimu sendiri. " Wajah Kiai Puput menjadi tegang. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan yang  dihadapinya. Iapun tidak akan dapat ingkar, bahwa kekuatan ilmu anak muda itu lebih besar dari kekuatan ilmunya. Bukan karena tenaga dan kemampuannya sudah terhisap oleh anak muda itu, karena ia segera menyadari hal itu. Tetapi ia harus mengakui, anak muda itu lebih baik dari Kiai Puput itu sendiri. Untuk beberapa saat Kiai Puput berdiri menegang. Ia berdiri dipersimpangan antara keny ataan yang  dihadapinya serta harga diriny a. Tetapi jika ia berpegang pada harga dirinya, maka tubuhnya akan terbaring ditempat itu. Bahkan mungkin untuk selama-lamanya. Ketiga orang itupun akan tetap menceriterakan kepada semua orang, bahwa ia telah dikalahkan oleh seorang anak muda, pemimpin Padepokan Bajra Seta. Mahisa Murti dengan sengaja memang memberikan kesempatan kepada Kiai Puput untuk menentukan sikap. Meskipun demikian Mahisa Murti tidak menjadi lengah, karena dapat saja setiap saat Kiai Puput itu dengan serta merta menyerangnya. Namun ternyata Kiai Puput itupun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata "Aku harus mengakui kelebihanmu anak muda. Aku memang tidak akan dapat mengalahkanmu." "Jadi, apakah yang  akan kau lakukan ?" bertanya Mahisa Murti. "Kaulah yang  akan menentukan." jawab Kiai Puput. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata "Bagaimana jika aku m engajukan syarat yang sama sebagaimana kau ajukan ?" Wajah Kiai Puput menegang. Namun kemudian katanya "Jika kau berkeras untuk melakukannya, baiklah anak muda.” "Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Katanya "Jadi kau berkeberatan jika aku membuatmu cacat dan kemudian merusakkan simpul-simpul sarafmu agar hubungan antara kehendak dan syaraf-sy araf penggerakmu tidak bekerja dengan wajar?"

Jilid 117
KIAI Puput m emandang anak muda itu dengan tajamnya. Dengan nada dalam ia berkata "Tentu saja” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya "Kiai Puput. Jika demikian, baiklah aku tidak melakukannya. Aku sendiri berkeberatan diperlakukan seperti itu. Karena itu, sebaiknya aku tidak memperlakukan orang lain demikian pula." Hati Kiai Puput benar-benar tersentuh mendengar katakata Mahisa Murti itu. Orang tua itu justru seakan-akan telah dihadapkan pada sebuah cermin. Dengan jelas ia telah melihat, cacat diwajahnya sendiri. Mahisa Murti itu masih jauh lebih muda dari umurnya sendiri. Dalam umurnya yang masih jauh lebih muda itu, ia memiliki ilmu yang lebih t inggi dari ilmunya. Namun anak muda itu sudah mampu mengendapkan perasaannya. Bahkan betapa tinggi tenggang rasa dari anak muda itu, sehingga dalam kemudaannya apalagi dalam suasana yang  diliputi oleh kemarahan dan dendam, ia m asih dapat m empertimbangkan untuk tidak memperlakukan kepada orang lain apa yang  tidak ingin diperlakukan atas dirinya. Dengan demikian, maka kebanggaan Kiai Puput akan dirinya sendiri telah menjadi hancur berkeping-keping. Ia menjadi sangat kecil dihadapan anak muda yang telah mengurungkan niatnya untuk menghukumnya itu. Seandainya ia dalam kedudukan sebagaimana anak muda itu, maka ia tentu akan berbuat lain. S ejak ia berangkat dari rumahnya ia sudah berniat untuk menghukum anak muda itu karena dendam yang membakar jantungnya. Namun dendam, kebencian, harga diri dan kesombongannya benar-benar telah dihancurkan oleh Mahisa Murti. Karena itu, maka dengan nada rendah ia berkata "Anak muda. Kenapa kau tidak membunuh aku saja?” "Kenapa?" bertanya Mahisa Murti. "Kau runtuhkan martabatku jauh lebih rendah dari yang  pernah kau lakukan. Ketika kau m engalahkan muridku, aku sudah merasa terhina. Ketika kemudian ternyata bahwa ilmumu akan mampu mengalahkan aku, maka aku merasa semakin tidak berharga. Tetapi bahwa kau tidak membunuhku, telah membuat martabatku benar-benar lebih rendah daripada debu. Aku datang dengan dendama yang membara. Kemudian kau anak yang  baru kemarin sore, telah mampu meredam kemarahanmu. Kenapa kau tidak memperlakukan terhadapku apa yang tidak ingin diperlakukan orang terhadapmu?” "Bukankah orang lain juga mempunyai perasaan sebagaimana aku sendiri, " jawab Mahisa Murti "t etapi baiklah. Kita tidak usah membicarakannya lagi. Kita lupakan apa yang telah terjadi. Tetapi bukan berarti bahwa apa yang terjadi sama sekali tidak berkesan dihati kita masing -masing. Yang kita lupakan adalah dendam diantara kita. Namun untuk selanjutnya kita tidak akan terjerat lagi oleh dendam itu." "Mahisa Murti" berkata Kiai Puput "nampaknya dunia memang sudah terbalik. Aku yang sudah kenyang makan garam harus mendengarkan nasehatmu, seorang anak muda yang masih belum kering pupuk lempuyang diubun-ubunnya." "Kau berkeberatan?” bertanya Mahisa Murti. "Tidak. Aku sama sekali tidak berkeberatan" jawab Kiai Puput dengan serta merta. "Nah, sekarang ajak ketiga orang kawanmu itu singgah di padepokanku" ajak Mahisa Murti. "Tidak anak muda" jawab Kiai Puput "aku minta diri. Aku tidak pantas singgah di padepokanmu." "Kau tidak percaya bahwa aku mempersilahkan dengan jujur tanpa niat apapun juga?" "Aku percaya anak m uda. Tetapi aku tidak pantas untuk menerima undanganmu. Biarlah kami mohon diri. " berkata Kiai Puput. Mahisa Murti tidak memaksanya. Karena itu, maka katanya "Baiklah. Jika demikian, aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan." "Anak muda. Aku mohon maaf atas segala tingkah lakuku. Yang terjadi merupakan satu pengalaman yang sangat berharga bagiku." Demikianlah, maka Kiai Puput telah menguak ketiga orang kawannya untuk meninggalkan tempat itu. Sementara itu, orang yang  bertubuh tinggi kekurus-kurusan berkata "Aku atas nama kawan-kawanku juga minta maaf anak muda. Kami menyadari sekarang, betapa bodohnya kami waktu itu. Kami merasa mampu memenangkan pertempuran diantara kita. Ternyata bahwa kami bagimu tidak lebih dari debu." "Sudahlah" berkata Mahisa Murti "mudah-mudahan pengalaman seperti ini tidak terulang lagi." Sejenak kemudian, maka keempat orang itupun telah meninggalkan Mahisa Murti sendirian. Keempatnya itupun segera telah hilang didalam kegelapan serta bayangan gerumbul-gerumbul perdu. Sambil melangkah menjauh, Kiai Puput berkata "Kalian tidak memberitahukan kepadaku, betapa tinggi ilmu anak itu." "Kami mohon maaf, Kiai. Kami benar -benar tidak m ampu menilai kemampuannya," jawab orang bertubuh tinggi itu. Ketiga orang itu menjadai berdebar-debar. Sikap Kiai Puput memang tidak dapat diduga-duga. Jika ia menganggap mereka bertiga sudah melakukan kesalahan, maka Kiai Puput itu akan dapat berbuat sesuatu yang  tidak pernah mereka duga. Untuk beberapa saat Kiai Puput hanya berdiam diri. Sambil melangkah, maka Kiai Puput menundukkan kepalanya seakanakan memandangi kedua ujung ibu jarinya yang  saling mendahului berganti-ganti. "Apakah anak muda itu sengaja memancing aku untuk datang" t iba-tiba Kiai Puput itu berdesis. "Aku tidak berpikir sejauh itu, Kiai" jawab orang yang  bertubuh tinggi itu "tetapi darimana anak itu tahu bahwa Kiai akan datang kepadanya?” "Panggraitanya tentu tajam sekali" jawab Kiai Puput. "Tetapi kami benar-benar tidak mengira bahwa ia memiliki kemampuan setinggi itu. Ketika ia melarikan diri, kami menyangka bahwa kami sudah dapat mengatasiny a." "Sudahlah" berkata Kiai Puput "satu pengalaman yang  sangat berharga bagiku. Anak itu seolah -olah telah membuka mata hatiku untuk melihat jauh lebih dari sekedar kebanggaan atas kemampuanku yang tinggi. Aku telah salah menempatkan diriku sendiri pada jajaran orang-orang berilmu. Ketika muridku itu dikalahkan oleh anak muda itu, jantungku benarbenar terbakar. Aku tidak yakin dan tidak rela bahwa ada anak muda yang sebay a yang mampu mengalahkan muridku. Namun ternyata bukan hanya muridku yang  dikalahkannya. Tetapi juga aku sendiri." Ketiga orang pengikutnya tidak menyahut. Mereka khawatir bahwa mereka akan salah ucap dan membuat Kiai Puput itu marah. Namun nampaknya Kiai Puput itu justru telah mengendapkan hatinya. Katanya "Aku tidak dapat mengingkari keny ataan ini." Ketiga orang pengikutnya itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka masih saja tetap berdiam diri karena kemungkinan-kemungkinan yang tidak mereka kehendaki masih dapat tetjadi. Namun mereka berharap bahwa Kiai Puput benar-benar menyadari bahwa yang telah t erjadi itu bukannya sekedar mimpi buruk. Beberapa saat kemudian, keempat orang itu berjalan menempuh kegelapan sambil berdiam diri. Masing-masing menerawang kedalam angan-angannya sendiri. Sementara itu, Mahisa Murti yang  sudah bersiap-siap untuk kembali ke Padepokan, terkejut mendengar langkah lembut dari arah belakang. Dengan cepat ia berbalik menghadap kearah suara itu. Iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan yang  dapat terjadi. "Aku ngger " terdengar suara lembut dari kegelapan. Namun Mahisa Murti segera mengenalinya. Ternyata yang  datang itu adalah Kiai Wijang. Karena itu, maka Mahisa Murti itupun segera menyapanya "Kiai Wijang." "Ya ngger" jawab Kiai Wijang "aku telah melihat segalanya. Karena itu, aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu, bahwa kau telah mampu mengekang dirimu. Sebenarnyalah aku kagum melihat kebesaran hatimu serta kelapangan dadamu." "Kiai memuji" desis Mahisa Murti. "Aku berkata sebenarnya ngger " jawab Kiai Wijang "aku sudah tidak mempunyai harapan bahwa Kiai Puput akan dapat keluar dari tempat ini dengan selamat. Menurut perhitunganku, maka tubuhnya tentu akan kau lumatkan. Seandainya hal itu terjadi, maka aku tidak dapat menyalahkan kau ngger, karena apa yang  dilakukan oleh saudara seperguruanku itu sudah terlalu jauh. Tetapi kau tidak membunuhnya. Kau masih sempat menundukkannya tanpa melukainya." "Aku mencoba untuk selalu mengingat pesan Kiai” "Apapun yang aku pesankan, tetapi perbuatan Kiai Puput sudah tidak dapat dimaafkan lagi. Tetapi ternyata kau telah memaafkannya." "Bukankah yang  aku lakukan itu tidak lebih dari memenuhi pesan Kiai? Aku tidak berbuat kebaikan apa-apa, Kiai.” "Perasaan tidak melakukan kebaikan itulah yang  mengagumkan. Kiai Wijang berhenti sejenak, lalu katanya "Yang aku ketahui betapa luas hatimu melampaui luasnya lautan, bukannya hanya karena kau tidak membunuh Kiai Puput. Tetapi bahwa kau telah meninggalkan Singasari dan meninggalkan Mahisa Pukat untuk tetap berada di sana. " "Ah" desah Mahisa Murti "aku sudah melupakannya. " "Aku m engerti ngger. Tetapi aku hanya ingin mengatakan, bahwa yang  kau lakukan sekarang ini bukannya karena pesanku semata-mata. Meskipun aku berpesan seribu kali, tetapi perbuatan Kiai Puput sudah melampaui batas, maka kesempatannya untuk hidup kecil sekali. Beruntunglah Kiai Puput bahwa kali ini ia berhadapan dengan kau.” "Sudahlah Kiai" berkata Mahisa Murti "aku telah menganggap bahwa tidak pernah terjadi sesuatu antara aku dan Kiai Puput serta muridnya. " Kiai Wijang mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Namun mudah-mudahan Kiai Puput menjadikan pengalamannya hari ini pelajaran yang  berharga bagi sisa hidupnya." "Nampaknya ia juga tidak dapat melupakan pengalaman ini, Kiai" berkata Mahisa Murti. "Kita berdoa baginya." desis Kiai Wijang. Demikianlah maka Mahisa Murtipun telah mempersilahkan Kiai Wijang untuk singgah di padepokan. Sementara Kiai Wijang sempat b erkata "Aku sudah c emas, bahwa Kiai Puput akan singgah. Jika demikian, mungkin sekali ia akan mendengar dari satu dua orang cantrik, bahwa aku pernah berada di Padepokan Bajra Seta." Mahisa Murti mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata "Untunglah bahwa Kiai Puput menolak. " "Ya. Jika ia tahu bahwa aku pernah berada disini, maka ia akan dapat menjadi curiga, bahwa aku memang telah ikut mencampuri persoalannya. Tetapi ia tentu juga mengetahui, bahwa siapapun tidak akan mungkin mampu menyiapkan seseorang untuk menguasai ilmu pada tataranmu dalam waktu yang sangat pendek, jika kau sendiri tidak memiliki bekal untuk dapat melakukannya. Aku kira Kiai Puput tidak sampai pada jangkauan penalaran bahwa aku telah melakukan sesuatu bagimu dan ternyata berhasil." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata "Meskipun demikian sebaiknya Kiai Puput untuk waktu yang pendek tidak singgah di padepokanku." "Memang itulah yang terbaik " berkata Kiai Wijang. Namun kemudian iapun berkata "Tetapi bagaimanapun juga ia tidak dapat melihat bekas tanganku. Segala unsur gerak yang nampak padamu, sama sekali berbeda dengan unsur-unsur gerak pokok dari perguruanku. Jika terdapat persamaan itu adalah landasan dasar yang mempunyai persamaan pada segala macam perguruan." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Meskipun tidak nampak bekasny a, tetapi bagiku, Kiai telah menjadi penentu atas kemampuanku." "Tidak. Bukan begitu. Apakah aku dapat berbuat sebagaimana aku lakukan atas orang lain ? Katakan, atas murid Kiai Puput itu atau siapapun ? Tentu tidak. Karena itu, aku sama sekali bukan penentu." Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian "Apapun yang terjadi, tetapi aku tidak akan dapat mengingkari keny ataan bahwa Kiai telah ikut menentukan kehadiranku didunia olah kanuragan." Kiai Wijang tersenyum. Katanya sambil menunjuk oncor yang nampak dikejauhan "Bukankah itu regol padepokanmu." "Ya. Kiai" jawab Mahisa Murti. Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka Mahisa Murti itupun telah membenahi pakaiannya yang kusut. Namun kemudian mereka berdua telah melangkah menuju keregol halaman yang  sudah ditutup meskipun masih tersisa sedikit. Mahisa Murtilah yang  mengetuk pintu reg ol itu. Dari celahcelah pintu yang  masih terbuka sedikit itu, cantrik yang bertugas melihat Mahisa Murti dan Kiai Wijang berdiri diluar pintu. Maka para cantrik yang  bertugas itupun segera membukanya. "Pintu belum diselarak" desis Mahisa Murti. "Kami memang menunggu " jawab cantrik itu. Demikianlah, maka keduanyapun telah memasuki Padepokan Bajra Seta yang sudah nampak sepi, sementara malam telah menjadi semakin malam. Wantilan dan Sambega yang kemudian mengetahui kehadiran Mahisa Murti bersama Kiai Wijang, telah naik kependapa bangunan induk padepokan untuk ikut menemuinya. Namun justru Mahisa Murtilah yang kemudian meninggalkan tamunya untuk pergi ke pakiwan. "Aku juga belum mandi" berkata Kiai Wijang sambil tertawa. "Apakah Kiai akan mandi dahulu ?" bertanya Mahisa Murti. Tetapi Kiai Wijang tersenyum sambil menjawab "Nanti sa ja. Silahkan kau mandi. Nampaknya kau baru berlatih, sehingga keringatmu masih mengembun ditubuhmu." "Ya Kiai. Aku memang baru saja berlatih di padang perdu.” Ketika kemudian Mahisa Murti meninggalkan mereka yang  duduk dipendapa, maka Wantilanpun bertanya "Apakah Mahisa Murti berlatih dibawah pengawasan Kiai ?” "Tidak " jawab Kiai Wijang "aku hanya sekedar akan berkunjung ketika aku melihat angger Mahisa Murti berlatih." Pembicaraan merekapun kemudian tidak lagi meny inggung Mahisa Murti yang  sedang berlatih. Tetapi mereka telah berbicara tentang keadaan Singasari dari hari kehari. Sekali-sekali Kiai Wijang telah meny inggung keluarga Sri Maharaja di Singasari. Putera Sri Maharaja yang diharapkan kelak menjadi Putera Mahkota sudah tumbuh semakin besar. Beberapa saat kemudian maka Mahisa Murtipun tehih selesai berbenah diri. Iapun kemudian duduk pula di pendapa serta berbincang tentang banyak hal. Malam itu Kiai Wijang bermalam lagi di Padepokan Bajra Seta. Bahkan tidak hanya satu malam. Kepada Mahisa Murti, Kiai Wijang berkata "Bukankah aku boleh tinggal disini beberapa lama ?” "Tentu Kiai." jawab Mahisa Murti "kehadiran Kiai disini akan memberikan kesegaran bagi kami disini. " Dengan demikian, maka selama Kiai Wijang berada di Padepokan Bajra Seta, Mahisa Murti sempat menekuni ilmunya. Ia harus semakin meyakinkan diri, bahwa ia memang sudah berada didalam kemapanan pada tataran yang  lebih tinggi. Kiai Wijang sama sekali tidak berkeberatan untuk bersamasama dengan Mahisa Murti berada di sanggarnya. Karena Kiai Wijang menganggap bahwa Mahisa Murti sudah sepantasnya untuk memiliki i lmu yang sangat tinggi, bahkan paling tinggi sekalipun. Ia telah membuktikan bahwa banyak kerja yang telah dilakukan untuk kepentingan sesamanya. Bahkan Mahisa Murti pernah menjalani laku tapa ngrame. Laku yang dijalaninya dengan menolong sesama yang memang memerlukan pertolongan. Membimbing orang yang buta, memberi air bagi orang yang  kehausan dan memberi makan kepada orang yang lapar. Melindungi orang yang  lemah dan menunjukkan jalan bagi orang yang  tersesat. Kesempatan itu memang dipergunakan sebaik-baiknya oleh Mahisa Murti. Selama Kiai Wijang ada di padepokan. Sehingga dalam tatarannya yang  lebih tinggi, Mahisa Murti masih mampu mengembangkan dan mematangkannya. Ju stru karena Kiai Wijang juga memiliki ilmu yang sangat tinggi maka latihan-latihan itu m emungkinkan Mahisa Murti untuk mengembangkan apa yang  telah dimilikiny a. Bahkan Mahisa Murti sempat untuk melihat k embali bekal yang ada didalam dirinya. Kemudian mencari kemungkinankemungkinan baru yang lebih baik. Dengan beberapa unsur yang dimilikinya,-maka Mahisa Murti dapat menyusun unsurunsur baru yang paling sesuai bagi dirinya sendiri, sehingga kemudian ilmu yang  nampak bukan lagi ilmu yang bersumber dari beberapa jalur perguruan, tetapi sudah menyatu utuh dan bulat. Dalam kebulatannya, sebagaimana dikatakan oleh Kiai Wijang, ternyata bekal yang ada didalam diri Mahisa Murti lebih lengkap dari bahan yang  ada didalam diri Kiai Wijang sendiri. Sehingga karena itu, m aka Kiai Wijang yakin, bahwa pada saat yang  pendek, kemampuan ilmu Mahisa Murti sudah akan menjadi lebih baik dari ilmunya. Tetapi Kiai Wijang sama sekali tidak merasa dengki dan iri. Ia memang sudah berniat untuk membantu Mahisa Murti mencapai tataran yang  paling tinggi sekalipun, karena Kiai Wijang mengetahui pribadi Mahisa Murti. Semakin tinggi ilmu yang  dimiliki oleh Mahisa Murti, maka akan semakin banyaklah pengabdian yang dapat diberikan oleh anak muda itu kepada sesamanya. Sebenarnyalah bahwa Kiai Wijang juga sudah m engetahui bahwa Mahisa Pukat telah melakukan hal yang  sama sebagaimana pernah dilakukan oleh Mahisa Murti. Namun Mahisa Pukat yang telah m embangun sebuah keluarga serta terikat pada tugas-tugasnya di istana, tentu tidak akan dapat berbuat sebanyak yang dapat dilakukan oleh Mahisa Murti bagi orang banyak. Mahisa Pukat tentu akan selalu berada dalam tugasny a di Kasatrian. Diluar tugasny a di Kasatrian maka waktunya akan diberikannya kepada keluarganya. Dalam pada itu, Kiai Wijang masih saja berada di Padepokan Bajra Seta. Ia merasakan padepokan itu sebagai satu tempat yang  menyenangkan. Ia dapat merasakan ketenangan dalam kesibukan kerja para cantrik di Padepokan itu. Dari pagi sampai menjelang tengah hari, terdengar kesibukan kerja hampir disemua bagian dari padepokan itu. Sedangkan di sanggar beberapa orang cantrik tengah ditempa dalam olah kanuragan sesuai dengan giliran masing-masing. Dengan demikian, maka meningkatnya ilmu kanuragan, pengetahuan-pengetahuan yang  lain serta ketrampilan kerja berjalan dalam keseimbangan. Para cantrik di Padepokan Bajra Seta tidak semata-mata menimba ilmu kanuragan, tetapi juga beberapa macam ilmu yang  lain yang berhubungan dengan tata kehidupan yang akan mereka jalani kemudian. Dalam pada itu, pada waktu senggang, Kiai Wijang masih juga sering mengadakan perbincangan khusus dengan Mahisa Murti tentang masa depan Padepokan Bajra Seta. Kepada Mahisa Murti, Kiai Wijang menyatakan pendapatnya, bahwa Mahisa Murti harus dengan segera mempersiapkan orang-orang yang  akan dapat membantunya jika ia berada dalam kesulitan. "Angger tidak akan dapat m eny elesaikan semua masalah sendiri" berkata Kiai Wijang. Mahisa Murti mengangguk-angguk kecil. Dengan nada rendah ia berkata "Ya. Aku mengerti Kiai. Saat ini memang belum ada orang yang  dapat aku percaya sepenuhnya untuk melakukan tugas-tugas yang paling rumit di Padepokan ini. Semuanya masih harus aku tangani sendiri. "Jika datang bahaya yang  m elanda Padepokan ini, dengan beberapa orang pelaku yang berilmu tinggi, maka angger harus menyusun kelompok -kelompok yang akan menghadapi mereka itu. Mungkin dengan demikian Padepokan ini dapat menyelesaikan tugas dengan baik. Tetapi tentu dengan banyak korban." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya "Ya Kiai. " "Nah. Jika demikian maka kau dapat m enyusun kekuatan dari orang-orang yang  pada dasarnya sudah mempunyai landasan sendiri. Kemudian beberapa orang cantrik pilihan dan agaknya yang memang sudah kau per siapkan adalah Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Namun Mahisa Amping masih terlalu kecil untuk di tempa menjadi seorang yang berilmu tinggi dalam waktu yang  pendek. Bagi anak itu masih diperlukan waktu beberapa tahun lagi. Namun agaknya yang segera dapat dimulai adalah Mahisa Semu, meskipun pada dasarnya, Mahisa Amping mempunyai beberapa kelebihan. Terutama ketajaman panggraitanya. Apabila hal itu dapat dipertajam, maka Mahisa Amping kelak akan menjadi seorang yang m emiliki ilmu yang khusus. Kurnia yang  dilimpahkan oleh Yang Maha Agung itu tentu akan dapat dimanfaatkan untuk mengabdikan diri kepada sesama." Dengan nada dalam Mahisa Murti bertanya "Bagaimana pendapat Kiai tentang paman Wantilan dan Sambega. " "Seperti kau ngger, aku percaya kepada m ereka. Apalagi menurut ceriteramu tentang apa yang  pernah mereka lakukan. Karena itu, maka mereka termasuk orang-orang yang  pada dasarnya memang sudah memiliki landasan kemampuan sendiri. Tetapi aku yakin, bahwa kau akan dapat membentuk mereka. Bukan saja untuk meningkatkah kemampuan dalam olah kanuragan, tetapi juga meningkatkan pengabdian mereka. Karena rasa-rasanya mereka tidak lagi mempunyai banyak kepentingan bagi diri mereka sendiri. " Mahisa Murti mengangguk-angguk. Wantilan dan Sambega nampaknya memang tidak lagi banyak mempunyai kepentingan didalam sisa hidup m ereka. Wantilan sepanjang penglihatan Mahisa Murti telah benar-benar meny erahkan diri dan hidupnya bagi Padepokan Bajra Seta. S ejak ia berada di padepokan itu, maka apa yang dilakukannya hanyalah yang berarti bagi Padepokan Bajra Seta. Demikian pula Sambega. Ia benar -benar telah berubah sebagaimana Wantilan. Sambega telah meninggalkan kehidupannya yang  lama dan seakan-akan m emang m enjadi manusia baru setelah ia tinggal di padepokan. Karena itu, maka Mahisa Murtipun berkata "Aku sependapat Kiai. Aku akan berusaha untuk berbuat sesuatu, agar paman Wantilan dan Sambega dapat membantu dalam banyak hal. Demikian pula ada ampat orang cantrik yang memiliki banyak kelebihan dari kawan-kawannya. Agaknya mereka dapat didor ong untuk dapat m embantu tugas-tugas disini." “ Itu tentu akan lebih baik. Sementara itu, angger Mahisa Murti sendiri akan selalu mengembangkan ilmu yang  telah kau miliki agar menjadi lebih masak." berkata Kiai Wijang. “Ya, Kiai” jawab Mahisa Murti. "Dengan demikian padepokan ini akan menjadi sebuah padepokan yang  baik. Padepokan yang  akan dapat berdiri sejajar dengan padepokan-padepokan t erbaik yang  ada di Singasari. Kita tahu ada banyak sekali padepokan-padepokan yang tersebar dimana-mana. Namun kitapun tahu, berapa padepokan yang benar-benar merupakan padepokan yang  baik dan memberikan arti bagi Singasari." berkata Kiai Wijang kemudian. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sementara Kiai Wijang berkata "Angger. Jika kau tidak berkeberatan, aku bersedia membantumu membina Padepokan Bajra Seta. Tetapi sudah tentu bahwa tidak setiap saat aku ada disini. Tetapi mungkin sebulan sekali atau dua kali aku dapat berada di padepokan ini meskipun hanya untuk sepekan. Mungkin aku tidak perlu membatu m eningkatkan kemampuan dalam olah kanuragan, karena dasar ilmu kita berbeda. Tetapi aku mempunyai pengalaman yang  luas sebagai seorang petani dan peternak. Aku juga mempunyai pengalaman m emelihara berbagai jenis ikan di kolam -kolam. Aku juga mempunyai sedikit pengetahuan tentang perbintangan dan musim. Mungkin pengalamanku ini akan berarti bagi padepokan ini serta orangorang yang  tinggal di padukuhan-padukuhan disekitarnya, karena aku tahu bahwa kau tidak menutup hubungan dengan orang-orang dari padukuhan disekitar padepokan ini. Aku melihat anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan disekitar tempat ini sering berkunjung kemari.” "Terima kasih, Kiai" berkata Mahisa Murti "kami, seisi padepokan ini akan merasa beruntung sekali, jika Kiai berkenan selalu berkunjung ke padepokan ini. Kami m emang sangat memerlukan petunjuk tentang bermacam-macam hal yang akan dapat meningkatkah pengetahuan kami. Apa yang kami dapatkan disini memang sangat terbatas sehingga kehadiran Kiai akan sangat berarti bagi kami. "Tetapi jangan terlalu banyak berharap" berkata Kiai Wijang kemudian "Karena apa yang aku m iliki itu juga tidak terlalu banyak." "Tetapi semuanya itu akan sangat berarti bagi kami" sahut Mahisa Murti. Dengan kesediaan itu, maka Mahisa Murti semakin berharap bahwa padepokannya akan menjadi semakin baik. Sebagaimana dikatakan oleh Kiai Wijang, padepokannya akan menjadi salah satu diantara padepokan yang baik di Singasari. Dalam pada itu, maka setelah beberapa hari berada di padepokan, maka Kiai Wjjangpun telah minta diri dengan kesediaannya untuk datang setiap kali ke Padepokan Bajra Seta. Sepeninggal Kiai Wijang, maka Mahisa Murtipun berusaha untuk memenuhi pesannya, membenahi diri. Untuk waktu yang panjang, Mahisa Murti selalu disibukkan oleh persoalanpersoalan diluar padepokannya Beberapa kali ia harus pergi ke Singasari, serta per soalan-persoalan yang  lain yang ju stru tidak menyangkut kepentingan padepokannya dalam keseluruhan. Seperti petunjuk dari Kiai Wijang, maka Mahisa Murti telah secara khusus membantu Wantilan dan Sambega untuk meningkatkan kemampuan mereka. Dengan bersungguhsungguh Mahisa Murti mendorong agar keduanya tidak terhenti pada tataran yang  telah dimilikiny a. Dengan ilmu dan kemampuannya yang  tinggi, Mahisa Murti dapat menuntun keduanya, meskipun landasan ilmu mereka berbeda, untuk mengisi kekurangan-kekurangan dan kekosongan ilmu mereka. Dengan bersungguh-sungguh pula Wantilan dan Sambega mengikuti segala petunjuk-petunjuk Mahisa Murti. Apalagi mereka y akin bahwa ilmu Mahisa Murti telah menjadi semakin meningkat pula. Merekapun telah menyatakan kesediaan mereka untuk semakin banyak berbuat bagi padepokan mereka. Ternyata Wantilan dan Sambega mampu meny esuaikan diri dengan maksud Mahisa Murti. Mereka berusaha untuk meningkatkan ilmu mereka dengan unsur -unsur baru. Namun Mahisa Murti tidak dengan tergesa -gesa m emaksakan unsurunsur baru itu tanpa memperhatikan landasan yang telah ada. Namun justru karena kesediaan kedua orang itu serta hati mereka yang  terbuka, maka usaha merekapun menunjukkan hasilny a. Setapak demi setapak Wantilan dan Sambega mampu meningkatkan ilmu mereka. Pada umur yang sudah separo bay a, maka keduanya sama sekali tidak merasa terlambat untuk menjalani laku yang terhitung berat. Namun dengan demikian, maka ilmu mereka terasa menjadi semakin lengkap. Kekosongan dan kekurangan yang terdapat sebelumnya seakan-akan telah terisi sehingga ilmu mereda menjadi semakin mengental dan padat. Bahkan merekapun telah mulai meraba pada inti tenaga dasar dari ilmu mereka masing-masing. Sehingga ungkapannya pun menjadi jauh lebih tajam dari sebelumnya. Meskipun dasar ilmu yang  nampak pada Wantilan dan Sambega tetap berbeda, namun terdapat persamaan isi dalam perkembangannya, karena keduanya mendapat tuntutan dari Mahisa Murti. Disamping kedua orang itu, maka Mahisa Murti juga telah membina tiga orang cantriknya yang t ertua. Bukan saja umurnya, tetapi juga masa kedatangan mereka di padepokan itu serta derajat kemampuan mereka. Tiga orang cantrik itu telah dipanggil oleh Mahisa Murti di pendapa bangunan induk padepokannya. Ketika ketiganya menghadap, maka Wantilan dan Sambegapun duduk pula bersama mereka. Kepada ketiga orang cantrik itu, Mahisa Murti menawarkan apakah mereka bersedia menjalani laku yang  berat untuk mencapai satu tataran ilmu yang  lebih tinggi. "Tentu " jawab mereka berbareng dengan serta merta. "Baiklah" berkata Mahisa Murti "jika demikian, maka kalian akan mendapat kesempatan khusus untuk menjalani laku. Aku ingin kalian akan dapat menjadi pembantu utama di padepokan ini bersama paman Wantilan dan paman Sambega. Selama ini kalian memang sudah melakukan tugas itu. Namun aku ingin kalian dapat meny elesaikan persoalan-per soalan yang lebih rumit di padepokan ini bahkan hubungannya dengan lingkungan diluar padepokan. " "Terima kasih " berkata salah seorang dari m ereka "kami memang menunggu kesempatan seperti ini." "Tetapi kalian harus bekerja keras. Lebih keras dari yang  pernah kalian lakukan selama ini." berkata Mahisa Murti. "Kami berjanji" jawab salah seorang dari m ereka "apapun yang harus kami lakukan." "Kerja keras itu tidak akan selesai dalam waktu satu dua hari, atau satu dua pekan. Tetapi untuk waktu yang panjang" berkata Mahisa Murti pula "Sampai kapanpun akan kami jalani" jawab seorang dari ketiga orang cantrik itu. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia y akin bahwa ketiga orang itu akan dapat memenuhi harapannya. Mereka tentu akan dapat ikut membantu tugas-tugas kepemimpinan di padepokan itu. Meskipun demikian harapan utama Mahisa Murti tetap ada pada Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Bersama Mahisa Pukat mereka telah melakukan pengembaraan yang panjang untuk menemukan seseorang yang akan dapat menjadi tumpuan masa depan. Namun Mahisa Semu dan Mahisa Amping masih harus dimatangkan, sehingga memerlukan waktu yang  jauh lebih panjang. Karena Mahisa Semu dan Mahisa Amping akan ditempa secara khusus untuk memegang kendali padepokan di masa datang, meskipun Mahisa Murti menyadari bahwa rencana itu bukan rencana yang  mutlak, karena untuk menjadi seorang pemimpin yang terpenting bukan hanya sekedar kemampuan olah kanuragan, tetapi juga kemampuan lain yang berhubungan dengan tatanan kehidupan serta lebih dari segalanya adalah pribadinya. Namun adalah menjadi kewajibannya untuk berusaha membina dan mempersiapkan pemangku jabatan kepemimpinan dimasa datang. Demikianlah, maka kecuali para cantrik yang  dipersiapkan untuk membantunya memimpin padepokan itu dalam jangka yang terhitung dekat serta Wantilan dan Sambega, maka Mahisa Murti dengan teratur membina Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Mereka harus benar-benar memahami, menguasai dan mematangkan ilmu tahap demi tahap, karena tahapan-tahapan itu akan menjadi landasan bagi tataran berikutnya. Dengan demikian, maka ilmu kedua orang anak muda itu menjadi mantap dan padat. Ternyata untuk semuanya itu Mahisa Murti harus bekerja keras. Ia seakan-akan bekerja sendiri tanpa mengenal lelah. Hari-harinya seakan-akan habis dipergunakannya untuk membina isi padepokannya dari segala tataran. Wantilan dan Sambega yang  umurnya sudah menjelang separo bay a, memperhatikan Mahisa Murti dengan prihatin. Meskipun dalam ilmu kanuragan dan ilmu yang lain Mahisa Murti jauh melampaui kemampuan mereka, tetapi bagaimanapun juga umur mereka tidak akan dapat disusul dan dilampaui oleh Mahisa Murti. Karena itu, maka kadang-kadang Wantilan dengan tarikan nafas panjang berkata kepada Sambega "Mahisa Murti telah kehilangan m asa remaja dan masa mudanya. Ia tidak dapat menikmati hari-harinya sebagaimana anak-anak muda yang lain. Bahkan para cantrik di padepokan ini yang  sempat bercanda, bermain dan kadang-kadang pergi keluar padepokan dan singgah di padukuhan-padukuhan terdekat. " "Ya " sahut sambega "jika Mahisa Murti ke padukuhan, tentu karena ada sesuatu yang  harus dilakukan. Ia menjadi seorang yang cara dan laku hidupnya menjadi jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya. Apalagi karena kedudukannya sebagai seorang pemimpin padepokan. " Tetapi keduanya tidak dapat berbuat apa-apa. Nampaknya Mahisa Murti m emang sudah m eletakkan diri kedalam tugastugas pengabdiannya. Bahkan sejak ia masih bersama-sama Mahisa Pukat melakukan pengembaraan, maka m ereka telah melakukan Tapa Ngrame. Namun Mahisa Pukat yang kemudian berada di Kasatrian mempunyai kesempatan lebih baik untuk menikmati masa mudanya mekipun terbatas. Bahkan kemudian Mahisa Pukat telah melengkapi hidupnya dengan sebuah kehidupan keluarga. Ketika seperti yang  dijanjikan, Kiai Wijang datang ke Padepokan Bajra Seta, maka pada satu kesempatan hal itu telah di katakan oleh Wantilan dan Sambega kepadanya. Kiai Wijang hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Ia memang kehilangan. Tetapi dengan apa yang dilakukan itu, ia mendapatkan kepuasan jiwa tersendiri. Memang berbeda dengan kesenangan bagi anak-anak muda sebay anya yang  lain. Wantilan dan Sambega mengangguk-angguk. Namun Wantilan itupun berkata "Tetapi bukankah dengan demikian ia telah kehilangan satu bagian dari jalan hidupnya.?” Kiai Wijang mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Ia telah kehilangan satu bagian dari hidupnya. Tetapi semua itu dilakukannya dengan penuh kesadaran. Jiwa pengabdiannya yang besar telah mengalahkan kesenangan pribadiny a.” “Tetapi apakah Mahisa Murti untuk selanjutnya tidak akan memikirkan diriny a sendiri? Apakah ia tidak akan me nginjak satu kehidupan rumah tangga sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Pukat?” bertanya Sambega. “Mudah-mudahan pada suatu saat hatinya terbuka bagi seorang gadis" jawab Kiai Wijang. "Namun umurnya sudah menjadi semakin tua " berkata Wantilan. "Pada satu kesempatan aku akan berbicara dengan anak muda itu" berkata Kiai Wijang. "Mudah-mudahan Mahisa Murti t idak terbenam dalam pengabdiannya tanpa m emikirkan pribadinya. Jika hidupnya dilengkapi dengan sebuah keluarga, maka kami ingin melihat ia mendapat kebahagian yang  utuh dalam hi dupnya. Selain kepuasan batin atas pengabdiannya, juga keutuhan kehidupan lahiriahnya terpenuhi” Kiai Wijahg mengangguk-angguk. Ternyata para penghuni padepokan itu juga memikirkan Mahisa Murti sebagai satu pribadi, yang  perlu melengkapi diri dalam kehidupan kesehariannya sebagai satu kewajaran. Ternyata Kiai Wijang memang memenuhi janjinya. Pada satu kesempatan ia memang berkata kepada Mahisa Murti tentang kehidupan pribadinya. Tetapi ketika hal itu disampaikan kepada Mahisa Murti, maka Mahisa Murti ter senyum sambil m enjawab "Bukankah masa itu akan datang dengan sendirinya? "Tetapi umurmu akan tumbuh terus, ngger. Pamanmu Wantilan dan Sambega ternyata ikut memikirkanmu. Dan jika kau percaya, ay ahmu juga pernah mengatakan hal itu kepadaku.” "Kiai sering mengunjungi ayah?” bertanya Mihisa Murti. "Baru akhir-akhir ini, ngger. Ternyata orang-orang tua kadang-kadang memerlukan untuk saling bertemu dan berbicara apa saja. Tetapi yang  kami bicarakan kebanyakan justru hal-hal yang tidak penting. Rasa-rasanya kami sudah terlalu letih untuk membicarakan persoalan-per soalan yang dapat membebani perasaan. "Sebagaimana ay ah, Kiai juga sebaiknya lebih banyak beristirahat" berkata Mahisa Murti. "Aku juga sudah terlalu banyak berisitirahat. Aku kita, ay ahmu memang sedikit lebih tua dari aku ngger. Namun ay ahmu masih mempunyai kesibukan di istana. Sekali-kali ay ahmu masih m enghadap Sri Maharaja dan Ratu Angabaya. Sementara aku tidak m empunyai kesibukan apa-apa. Karena itu, aku merasa senang bahwa aku boleh datang mengunjungi padepokan ini setiap kali dan sedikit m embangi pengalaman dengan para cantrik.” "Kami justru berterima kasih sekali, Kiai " desis Mahisa Murti. "Tetapi sebaiknya kau tetap memperhatikan harapan ay ahmu, pamanmu Wantilan dan Sambega dan tentu juga Mahisa Pukat.” Mahisa Murti tersenyum. Namun Kiai Wijang ternyata mampu menangkap betapa asamnya perasaan Mahisa Murti. Kiai Wijang tidak berkata lebih jauh. Tetapi ia sudah memperingatkannya. Kepada Wantilan dan Sambega pada kesempatan lain, telah diceritakannya pula pembicaraannya dengan Mahisa Murti itu. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti masih saja tenggelam dalam tugasnya. Ditempanya tiga orang cantrik tertua. Bukan sa ja dalam olah kanuragan, tetapi juga kemampuan memimpin para cantrik yang lebih muda dari padanya. Sementara itu Kiai Wijang benar-benar telah m elengkapinya dengan berbagai macam pengalaman yang sangat berarti bagi mereka. Dengan demikian, m aka ketiga orang itupun telah benarbenar menjadi cantrik yang memiliki kemampuan yang semakin tinggi sebagaimana Wantilan dan Sambega. Sehingga karena itu, m aka mereka akan mendapat keperca yaan lebih besar dari Mahisa Murti untuk membantunya, memimpin Padepokan Bajra Seta. Sementara itu, Mahisa Semu dan Mahisa Amping tumbuh sejalan dengan perkembangan ilmu mereka. Bukan saja dalam olah kanuragan, tetapi juga ilmu yang  lain. Karena Kiai Wijangpun sangat m enaruh perhatian terhadap mereka. Pada waktu-waktu tertentu Kiai Wijang memang berada di padepokan itu sebagaimana dijanjikannya. Demikianlah dari hari kehari, Padepokan Bajra Seta tumbuh semakin subur. Bukan saja kemampuan para cantrik, tetapi juga kesejahteraan hidup mereka sehari -hari. Penghasilan sawah dan ladangnya semakin meningkat berkat cara pengolahan tanah yang semakin baik. Pengalaman Kiai Wijang yang mereka ungkapkan dalam kerja sehari -hari ternyata telah membuahkan hasil. Pategalan yang semula kering telah m enjadi ba sah. Air sungai yang  dinaikkan untuk mengairi tanah dan sebuah kolam yang luas. Beberapa petak tanah yang  dipergunakan untuk perternakan serta sebuah padang rumput tempat menggembala. Sementara itu, didalam dinding padepokan terdapat beberapa kelompok tempat kerja pande besi yang telah mempergunakan peralatan dan cara yang dipelajari dari para pande besi dari Singasari, sehingga hasilny a menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Bukan saja pembuatan alat-alat pertanian tetapi juga pembuatan senjata. Hubungan padepokan itu dengan padukuhan disekitarnya menjadi semakin baik. Sehingga Padepokan Bajra Seta rasarasanya memang menjadi bagian dari lingkungannya. Tanah yang tergelar disekitar Padepokan Bajra Seta nampak hijau segar sampai di lembah-lembah dan lereng pegunungan. Mahisa Murti yang  memimpin Padepokan Bajra Seta, sebagaimana dikatakan oleh Kiai Wijang memang mendapatkan kepuasan tersendiri dengan hasil yang kasatmata itu . Bukan saja karena hijaunya lembah dan lereng pegunungan, tetapi juga peningkatan kemampuan cantrikcantriknya yang  akan membekali m ereka dimasa mendatang. Tidak hanya dalam olah kanuragan. Tetapi juga sebagai bekal di berbagai sisi kehidupan. Dalam pada itu, k etika ketiga orang cantrik yang ditempa secara khusus telah mencapai satu tataran tertentu, maka Mahisa Murtipun berniat untuk mengukuhkan kedudukan mereka. Tiga orang cantrik itupun telah ditetapkannya menjadi pembantu utamanya dalam memimpin padepokan itu bersama Wantilan dan Sambega. Didepan para cantrik, maka Mahisa Murti telah menetapkan ketiga orang itu akan ikut memimpin Padepokan Bajra Seta dibawah kepemimpinannya, ber sama Wantilan dan Sambega. Namun karena Wantilan dan Sambega umurnya lebih tua dari mereka, serta mempunyai pengalaman yang lebih luas, maka mereka harus selalu mendengarkan pendapat dan petunjuknya. "Dengan ini" berkata Mahisa Murti dihadapan penghuni Padepokan Bajra Seta "aku menetapkan bahwa Manyar, Parama dan Lembana untuk mengemban tugas sebagai Putut di Padepokan ini sehingga untuk selanjutnya mereka akan disebut Putut Many ar, Parama dan Lembana di lingkungan Bajra Seta. Mereka akan membantu aku, paman Wantilan dan paman Sambega memimpin padepokan ini.” Ketetapan itu disambut dengan gembira oleh para cantrik, karena sejak sebelumnya, ketiga orang itu memang sudah melakukan tugas sebagaimana ditetapkan itu. Namun dengan ketetapan itu maka kedudukan mereka menjadi jelas. Sementara itu, Mahisa Murti telah menunjuk tiga orang cantrik yang lain yang  akan m engikuti latihan-latihan khusus untuk meningkatkan kemampuan m ereka agar mereka juga akan dapat membantu memimpin padepokan itu untuk masa mendatang. Demikianlah, maka kedudukan Padepokan Bajra Seta rasarasanya menjadi semakin mapan. Jalur kepemimpinan yang mulai terbagi itu akan dapat meningkatkan tata kehidupan di padepokan itu diberbagai segi. Anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan disekitar padepokan itupun menjadi semakin banyak yang  datang berkunjung sehingga seakan-akan mereka telah menyatu dengan para cantrik. Namun dalam pada itu, selagi padepokan Bajra Seta dan padukuhan-padukuhan disekitarnya merasakan kehidupan yang semakin mapan, maka Kabuyutan mereka mulai terganggu dengan kedatangan beberapa kelompok pengungsi dari Kabuyutan disebelah hutan yang  m emanjang membatasi kedua Kabuyutan itu. Orang-orang Kabuyutan seberang hutan yang mempunyai sanak saudara di Kabuyutan Talang Alun itupun telah berdatangan untuk mencari perlindungan. Anak-anak muda dari nadukuhan-padukuhan sebelah yang  termasuk lingkungan Kabuyutan Talang Alun telah menceriterakan hal itu kepada para cantrik, sehingga akhirnya, hal itu didengar oleh Mahisa Murti. "Apa yang terjadi di Kabuyutan Talang Alun ?" bertanya Mahisa Murti. Putut Manyar yang langsung mendengar dari anak-anak muda padukuhan disebelah padepokan itu memberitahukan tentang datangnya kelompokkelompok pengungsi dari Kabuyutan diseberang hutan. Mereka menyeberangi hutan itu dalam kelompokkelompok menuju ke Kabuyutan Talang Alun. Di Kabuyutan diseberang hutan itu telah terjadi k eributan yang agaknya sangat m encemaskan, sehingga banyak orang yang terpaksa mengungsi. "Aku belum dapat bertemu langsung dengan para pengungsi itu " berkata Putut Manyar kemudian. "Pergilah ke padukuhan bersama anak-anak muda itu. Temuilah satu dua orang pengungsi untuk mendapatkan keterangan, kenapa mereka harus mengungsi." Putut Manyar bersama seorang cantrik segera melakukan tugas itu. Bersama dua orang anak muda dari padukuhan sebelah, yang  kebetulan juga didatangi oleh sekelompok pengungsi, berusaha untuk dapat bertemu dengan mereka. Dari pertemuan itu Putut Manyar segera mengetahui, bahwa para pengungsi itu berada dalam ketakutan. Sebuah keluarga yang mengungsi dirumah pamannya yang  tinggal di Kabuyutan Talang Alun tidak sempat membawa barang-barangnya selain seikat benda-bendayang paling berharga. "Tetangga-tetangga kam i juga tidak sempat membawa apaapa." berkata seorang laki -laki separo bay a yang  m engungsi bersama keluarganya itu. "Apa yang  telah terjadi di padukuhan kalian ?" bertanya Putut Manyar. "Keributan. Setiap kali datang orang-orang yang  mula-mula sekedar menakut-nakuti. Namun kemudian mereka telah menangkapi pemimpin-pemimpin padukuhan kami. Ki Bekel dan para bebahu sudah ditangkapi. Satu dua orang diantara mereka yang  m encoba melawan, nasibny a tidak kita ketahui lagi. Ki Bekelpun telah terluka pula dan jatuh ketangan mereka. " jawab orang itu. "Apa yang mereka kehendaki ?” bertanya Putut Manyar. "Kami tidak tahu pasti. Tetapi menurut pendengaran kami, telah terjadi perebutan warisan di Kabuyutan kami." jawab orang itu. "Perebutan warisan ? Kenapa sampai terjadi kekerasan atas para pemimpin padukuhan ? Seberapa besarnya warisan yang diperebutkan itu ?” "Warisan kedudukan. Sebenarnya terjadinya tidak di Kabuyutan kami. T etapi terjadi di Kabuyutan Pudaklamatan. Tetapi Ki Buyut di Pudaklamatan memang masih ada hubungan keluarga dengan Ki Buyut di Kabuyutan kami. Kabuyutan Sendang Apit." "Bukankah Kabuyutan-Kabuyutan itu terletak di seberang hutan itu ?" bertanya Putut Manyar pula. "Ya. Kami dalam kelompok-kelompok telah menyeberang hutan. Keberanian kami melawan binatang buas timbul didesak oleh ketakutan kami terhadap orang-orang yang mengacaukan padukuhan kami, melukai dan menangkap Ki Bekel serta beberapa orang lainnya. " Putut Manyar m engangguk-angguk. Agaknya telah terjadi pergolakan disebrang hutan. Pergolakan itu memang tidak begitu terasa di Kabuyutan Talang Alun, jika saja tidak ada arus pengungsi yang  berdatangan. Keterangan itu oleh Putut Manyar telah dibawa ke Padepokan Bajra Seta. Dihadapan para pemimpin Padepokan Bajra Seta, Putut Manyar telah menceriterakan hasil pembicaraannya dengan para pengungsi yang  sempat ditemuinya. Jarak antara kedua Kabuyutan itu dengan Kabuyutan Talang Alun memang tidak sangat jauh. Tetapi karena diantara Kabuyutan itu dengan Kabuyutan Talang Alun dipisahkan oleh hutan yang  masih terhitung lebat, maka hubungan antara Kabuyutan-kabuyutan itu dengan Kabuyutan Talang Alun tidak terlalu rapat. Apalagi dengan padepokan Bajra Seta. Mahisa Murti dan para pemimpin yang  lain mendengarkan keterangan Putut Manyar itu dengan sungguh-sungguh. Namun sebagaimana tanggapan mereka, Mahisa Murtipun berkata "Kita memang tidak dapat langsung mencampuri persoalan ini. Tetapi ada baiknya kita selalu mengikuti perkembangannya. Jika persoalannya merembet menyeberangi hutan sampai ke Kabuyutan Talang Alun, maka mau tidak mau kita harus mencampurinya. Kabuyutan itu adalah Kabuyutan kita pula." Yang lain mengangguk-angguk. Mereka memang sependapat. Padepokan Bajra Seta tidak dapat dengan tergesagesa menentukan satu sikap sebelum m engetahui lebih jauh, apa yang  sebenarnya telah terjadi. Namun Mahisa Murti telah memerintahkan kepada Putut Manyar untuk terus-menerus mengikuti persoalan yang timbul justru karena arus pengungsi yang mengalir menyeberangi hutan yang terhitung lebat itu. Dengan perintah itu, m aka Putut Manyar memang sering pergi ke padukuhan sebelah. Ia sering duduk berbincang dengan anak-anak muda yang semakin meningkatkan penjagaan. Apalagi di malam hari. Kedatangan para pengungsi itu memang telah menimbulkan persoalan yang  harus ditangani dengan hati-hati oleh padukuhan sebelah. Dimalam hari Putut Manyar dengan dua atau tiga cantrik kadang-kadang ikut berada digardu sampai menjelang fajar. Kehadiran mereka selalu disambut baik oleh anak-anak muda padukuhan. Rasa-rasanya mereka memberikan ketenangan, karena anak-anak muda itu tahu, bahwa para cantrik dari Padepokan Bajra Seta adalah orang-orang yang  cukup terlatih. Ternyata kedatangan para pengungsi memang mendatangkan masalah bagi padukuhan-padukuhan di Kabuyutan Talang Alun. Ternyata ada juga orang-orang yang tidak berjantung, yang memanfaatkan keadaan yang rumit itu untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri, bahkan dengan cara yang paling buruk. Orang-orang yang  bermaksud jahat memperhitungkan bahwa para pengungsi itu tentu membawa barang-barang mereka yang  paling berharga. Karena itu, m aka orang-orang yang hidupnya berada dibayang an yang hitam, seolah-olah mendapat kesempatan untuk meningkatkan kegiatan mereka. Tetapi ternyata bahwa anak-anak muda di padukuhan itu tidak tinggal diam. Bahkan ketika percobaan perampokan pernah terjadi, m aka para pengungsi itupun telah ikut pula dalam kegiatan anak-anak muda dan para penghuni padukuhan ditempat pengungsian mereka, karena mereka tahu, bahwa persoalan itu justru timbul karena kehadiran para pengungsi itu. Tetapi kelompok penjahat yang  besar, m enganggap bahwa anak-anak itu tidak akan mampu mencegah mereka. Tetapi mereka tidak memperhitungkan, bahwa anak-anak muda padukuhan-padukuhan disekitar padepokan itu sering berada di padepokan dan bermain-main dengan para cantrik. Bahkan mereka mendapat waktu yang  khusus untuk serba sedikit mempelajari ilmu kanuragan, serta mempergunakan berbagai jenis senjata. "Tetapi kita harus berhati-hati terhadap para penghuni padepokan itu " b erkata salah seorang pemimpin sekelompok perampok kepada para pengikutnya. "Mereka tentu tidak akan ikut cam pur" sahut salah seorang diantara para pengikutnya itu. "Belum tentu " jawab yang lain "mereka sering berkeliaran di padukuhan-padukuhan.” "Mereka tentu sekedar mencari makan" jawab pengikut yang pertama. "Bagaimanapun juga kita harus berhati-hati" berkata pemimpinnya "apapun yang mereka cari di padukuhan, kehadiran mereka akan mempengaruhi semua rencana kita. Bukankah kita sudah mendengar bahwa penghuni padepokan itu m emiliki kemampuan olah kanuragan ? Aku sendiri tidak akan pernah takut menghadapi siapapun juga, bahkan pemimpin padepokan itu sekalipun. Tetapi jumlah mereka agaknya terlalu banyak bagi kita." "Bukankah hanya satu dua orang saja yang  sering berkeliaran di padukuhan-padukuhan ?" berkata seorang pengikutnya. "Ya. Tetapi dengan isyarat atau suara kentongan, m ereka dapat m emanggil kawan-kawannya, karena jarak padepokan itu dari padukuhan tidak terlalu jauh sehingga dapat dijangkau oleh suara kentongan. " jawab pemimpinnya. Para pengikutnya mengangguk-angguk. Namun sebagian dari m ereka tidak banyak m emperhitungkan gangguan yang dapat dilakukan oleh para penghuni padepokan. Meskipun demikian, pemimpinnya masih berusaha untuk memperhatikan kegiatan para cantrik di padepokan. Tetapi rasa-rasanya memang tidak banyak cantrik yang  keluar dan pergi ke padukuhan. Jika mereka melihat dua atau tiga orang yang nampak mengunjungi padukuhan terdekat, maka mereka merasa bahwa para cantrik itu dapat diabaikannya. Namun yang  terjadi lebih dahulu, justru pertengkaran kelompok-kelompok penjahat itu sendiri. Ketika sekelompok penjahat yang  dipimpin oleh Jaran Abang berpapasan dengan sekelompok yang lain, yang  dipimpin oleh Ki Sempon telah terjadi salah paham, sehingga diantara kedua kelompok itu telah terjadi perkelahian. Beberapa orang telah menjadi korban. Namun ketika kelompok Ki Sempon m elarikan diri, maka korban yang  terbunuh dalam perkelahian itu telah ditinggalkan begitu saja. Bahkan diantara mereka terdapat dua orang yang terluka namun masih dapat mempertahankan hidupnya, sehingga ketika seorang gembala menemukan mereka, mereka masih hidup. Gembala itu terkejut melihat beberapa sosok tubuh terbaring diam. Karena itu sambil berteriak-teriak ia berlari pulang. Bahkan ampat ekor kambingnya ditinggalkannya begitu saja. Beberapa orang daii padukuhan, termasuk Ki Bekel yang  mendapat laporan tentang bekas perkelahian itupun segera datang. Mereka masih sempat m enemukan dua orang yang masih hidup meskipun terluka parah. "Rawat mereka" perintah Ki Bekel "dari m ereka kita akan mendapat keterangan. " Orang-orang padukuhan itupun kemudian telah m embawa kedua orang yang masih hidup itu ke banjar. Dipanggilnya dukun yang  paling baik di padukuhan itu untuk mengobati luka-luka yang  cukup parah. "Usahakan agar kedua orang itu tetap hidup" berkata seorang anak muda kepada dukun yang  segera datang. Tetapi dukun itu menjawab "Aku akan berusaha sejauh dapat aku lakukan. Tetapi hidup dan matinya tidak tergantung kepadaku." Anak muda itu m enarik nafas dalam-dalam. Namun iapun telah mengangguk mengiakan. Sementara itu, tiga orang yang  telah terbunuhpun segera dikuburkan. Namun Ki Bekel dan beberapa orang padukuhan telah menduga, bahwa yang terjadi adalah benturan kekuatan antara para penjahat yang  berebut ladang. Sebenarnyalah ketika kedua orang yang  terluka itu mulai dapat berbicara dengan agak jela s, maka mereka mengaku bahwa kedua-duanya adalah para pengikut Ki Sempon. "Seorang kawanku mati. Tetapi dua orang pengikut Jaran Abang juga mati." berkata orang itu. "Apa sebenarnya yang  kalian perebutkan ?" bertanya Ki Bekel meskipun ia sudah dapat menduga apa yang  telah terjadi. "Kami memperhitungkan bahwa para pengungsi tentu membawa barang-barang mereka yang paling berharga. Itulah yang kami inginkan disamping harta benda yang  sudah ada di padukuhan ini " jawab orang yang  terluka itu. "Jika kalian inginkan harta benda para penghuni padukuhan itu, kenapa baru sekarang hal itu kalian lakukan” "Sudah aku katakan. Para pengungsi itu seakan-akan telah mempersiapkan harta-bendanya untuk begitu saja kami ambil" jawab orang itu. Ki Bekel mengangguk-angguk. Tetapi semakin jelas baginya bahwa per soalan yang timbul karena kedatangan para pengungsi itu akan saling berkait. Padukuhannya harus bersiaga menghadapi segala kemungkinan, namun mereka juga harus meny ediakan pangan bagi mereka yang tinggal dilingkungan sanak kadang mereka di Kabuyutan Talang Alun. Tetapi mereka t idak akan dapat m enolak kehadiran para pengungsi yang ketakutan di kampung halaman mereka sendiri berdasarkan peri kemanusiaan. Kepada orang-orang yang  ingin memanfaatkan kesulitan orang lain itu, membuat Ki Bekel m enjadi sangat berprihatin. Ju stru orang-orang yang  memerlukan perlindungan dan pertolongan itu malah menjadi sasaran kejahatan. Karena itu, Ki Bekelpun telah memerintahkan orang-orang sepadukuhan itu bangkit m elawan mereka. Sementara itu, Ki Bekelpun telah mengirimkan laporan kepada Ki Buyut Talang Alun. Dengan cepat pula Ki Buyut menyampaikan laporan itu kesemua padukuhan dilingkungannya dengan harapan, agar semua padukuhan menjadi waspada dan bersiap menghadapi segala kemungkinan. Terutama padukuhan-padukuhan yang menjadi tempat tujuan para pengungsi yang datang dari seberang hutan. Namun Jaran Abang sama sekali t idak terpengaruh oleh kesiagaan anak-anak muda dan bahkan semua laki -laki yang masih mampu memegang senjata. Menurut Jaran Abang yang kemudian seakan-akan menguasai ladang perburuan itu, anak-anak m uda itu sama sekali tidak akan mampu berbuat banyak. Namun hal itupun segera didengar oleh para cantrik di padepokan. Putut Many arpun telah memberikan laporan tentang hal itu kepada Mahisa Murti. "Kita harus membantu padukuhan-padukuhan yang  menjadi sasaran ancaman para penjahat itu" berkata Mahisa Murti. Dengan demikian, maka Mahisa Murtipun telah memerintahkan ketiga orang Pututnya, masing-masing bersama dua orang cantrik terpilih untuk berada di padukuhan-padukuhan yang  paling rawan. Namun merekapun berpesan jika dipadukuhan lain terjadi pula perampokan, maka mereka harus dengan cepat memberikan isyarat dengan kentongan. Sebenarnyalah, bahwa pada malam yang sudah direncanakan, maka Jaran Abang telah membawa orangorangnya menuju ke padukuhan Logandeng. Logandeng memang bukan padukuhan terdekat dengan padepokan Bajra Seta. Namun Putut Lembana dengan dua orang cantrik terpilih berada di padukuhan itu. Sebelum m ereka memasuki padukuhan itu, Jaran Abang telah memerintahkan melihat -lihat, apakah ada yang  menarik perhatian di padukuhan itu. Dimata pengikut Jaran Abang yang diperintahkan untuk melihat keadaan padukuhan itu memang tidak adanya kelainan dari kemungkinan yang  mereka bayangkan. Anakanak muda di gardu-gardu perondan. Mungkin beberapa orang laki -laki yang lebih tua berkumpul di banjar dan dirumah Ki Bekel yang  ketakutan. Kepada mereka yang  mengamati padukuhan itu Jaran Abang bertanya "Apakah kau tidak m elihat orang-orang dari Padepokan sebelah yang  berkeliaran di padukuhan itu ?” Orang yang mendapat perintah mengamati padukuhan itu memang tidak melihat sekelompok cantrik yang  bergabung dengan anak-anak muda di padukuhan itu. Mereka m emang tidak melihat Putut Lembana dan hanya dua orang cantrik yang memang berada di gardu dimulut lor ong. Dari kegelapan salah seorang diantara mereka yang  mengamati padukuhan itu melihat beberapa orang anak muda yang berada di gardu dimulut lor ong. Namun nampaknya tidak ada orang lain diantara anak-anak muda itu. Mereka bergurau dan bercanda sebagaimana dengan kawan-kawan akrab mereka. Sebenarnyalah bahwa Putut Lembana dapat m enempatkan diri. Selain ia memang masih muda, iapun dapat bergurau sebagaimana anak-anak muda yang  lain. Sehingga dengan demikian, maka tidak seorangpun yang  menyangka bahwa Putut Lembana dan dua orang cantrik yang meny ertainya, bukan bagian dari anak muda di padukuhan itu. Berda sarkan atas keterangan itu, maka Jaran Abang tidak menunda lagi niatnya. Diperintahkannya para pengikutnya untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. "Jika ada cantrik yang  bersembunyi di rumah Ki Bekel, kita tidak boleh ragu -ragu menghadapinya. Kita akan menghancurkan mereka sebagaimana kita menghancurkan kelotnpok Ki Sempon yang  dungu itu." berkata pemimpin mereka. Demikianlah, maka tanpa melewati reg ol padukuhan, mereka memasuki dinding padukuhan itu. Mereka berloncatan memanjat dinding dan meloncat memasuki sebuah kebun yang  luas dan sepi. Sejak sehari sebelumnya mereka sudah memilih sasaran. Mereka melihat sebuah rumah yang  besar yang  memang tidak terlalu jauh dari rumah Ki Bekel. Merka mengetahui bahwa ada beberapa pengungsi yang tinggal di rumah yang  besar itu. Bukan pengungsi kebanyakan. Tetapi nampaknya juga orangorang berada sebagaimana pemilik rumah itu. "Kita akan m endapatkan apa yang kita cari " berkata Jaran Abang "kita tidak boleh ragu -ragu." Para pengikutnya mengangguk-angguk. Telah berpuluh kali mereka melakukan perampokan. Karena itu, apa yang akan mereka lakukan itu seakan-akan tidak berbeda dengan saatsaat mereka akan menuai padi disawah mereka ketika padi sudah mulai menguning dan menjadi masak. Meskipun demikian, Jaran Abang memang memerintahkan agar mereka berusaha untuk tidak diketahui oleh anak-anak muda. Bagi mereka hal itu tentu akan lebih baik. Meskipun mereka y akin bahwa anak-anak muda itu tidak akan dapat menghentikannya, namun jika terjadi benturan kekerasan, maka ia tentu akan kehilangan satu dua pengikutnya atau setidak-tidaknya ada diantara mereka yang terluka. Karena itu, dengan hati-hati sekelompok orang yang  dipimpin oleh Jaran Abang itu telah menyusup disela-sela pepohonan di halaman-halaman rumah yang sepi, karena pintu-pintu rumah tertutup rapat. Untuk beberapa saat Jaran Abang dan para pengikutnya mengendap di halaman rumah yang berseberangan dengan rumah yang akan menjadi sasaran. Jaran Abang sendiri telah meloncat dan menelungkup diatas dinding halaman untuk memperhatikan apakah keadaan cukup aman. Ternyata jalan terlalu sepi. Rasa-rasanya tidak ada seorangpun yang  lewat dimalam yang  dingin itu. Bahkan para perondapun lebih senang tetap berada digardu-gardu. Berkelakar sambil menghirup minuman hangat. Karena itu, maka Jaran Abangpun telah memberikan isy arat kepada para pengikutnya untuk dengan cepat menyeberangi jalan dan masuk ke halaman rumah yang  akan menjadi sasaran. Semuanya itu dapat dilakukan dengan cepat. Para pengikutnya yang  berpengalaman itu tidak memerlukan terlalu banyak petunjuk. Mereka tahu apa yang  harus mereka lakukan. Beberapa saat Jaran Abang dan para pengikutnya menunggu sambil mengamati rumah yang  terhitung besar itu. Jaran Abang sudah membayangkan bahwa mereka akan mendapat hasil yang  baik dirumah itu. Kecuali pemilik rumah itu sendiri terhitung orang yang berada, maka para pengungsi yang ada dirumah itupun tentu orang-orang yang berada pula. Jika mereka membawa barang-barang berharga dari kampung-halamannya, maka barang-barang berharga itu tentu disimpannya dalam satu kotak atau kantung khusus yang tinggal mengambil dan membawanya. Namun ketika Jaran Abang itu mulai akan bertindak, maka iapun mengumpat ka sar. Ia mendengar suara kotekan para peronda. Ampat orang anak muda membawa kentongankentongan kecil menyusuri jalan-jalan m embangunkan para penghuni rumah yang  tidur ny enyak agar mereka tidak terlalu terlena dalam mimpi sehingga kehilangan kewaspadaan. Jaran Abang terpaksa mengurungkan niatnya. Ia m emberi isy arat kepada para pengikutnya agar bersembuny i di halaman rumah itu. Namun merekapun sadar, bahwa penghuni rumah itu tentu akan terbangun oleh suara kentongan-kentongan kecil di tangan para peronda itu. "Aku ingin menghentikan bunyi kent ongan itu" geram salah seorang pengikut Jaran Abang. Tetapi Jaran Abang berdesis "Biarkan saja. Hati-hatilah, jangan menarik perhatian mereka. " Para pengikut Jaran Abang itupun kemudian benar-benar berusaha untuk berdiam diri. Anak-anak muda yang  meronda itupun semakin dekat dengan halaman tempat para pengikut Jaran Abang itu bersembunyi sekaligus sebagai sa saran utama usaha perampokan yang  akan mereka lakukan. Namun orang-orang yang sudah berpengalaman itu memang tidak begitu memperhitungkan para peronda itu. Meskipun mereka sedang bersembunyi, tetapi ada saja diantara mereka yang tidak sepenuhnya berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi atau gerak. Sehingga karena itu, maka ketika anak-anak muda itu lewat dan bunyi kentongan mereka berhenti sejenak, seorang diantara anak-anak muda yang meronda itu memang mendengar gemerisik di belakang dinding halaman yang tidak t erlalu tinggi. Telinga anak-anak muda padukuhan itu sendiri m emang tidak mendengar buny i itu. Tetapi seorang diantara mereka yang meronda berkeliling itu adalah Putut Lembana yang mempunyai pendengaran yang sangat tajam telah m endengar gemerisik itu. Putut itu menduga bahwa suara itu adalah suara kaki seseorang yang  sedang beringsut atau bergeser dari tempatnya ke tempat yang lain. Tetapi Putut Lembana tidak segera berbuat sesuatu, la masih saja bersikap sebagaimana semula. Tetapi Putut itu ternyata telah m elihat-lihat beberapa batang pepohonan yang ada di halaman rumah yang besar itu. "He, kau lihat pohon jambu air itu ?" desis Putut Lembana. Tetapi cukup kuat untuk didengar oleh orang-orang yang ada didalam dinding. Anak-anak muda padukuhan itu mengangguk. Seorang diantara mereka menjawab "Jambu air itu berbuah sepanjang musim." "Buahnya tentu segar sekali" berkata Putut Lembana. "Ya. Tetapi jarang sekali kami, anak-anak padukuhan ini merasakan segarnya jambu air itu” "Kenapa ?” bertanya Putut Lembana. "Penghuninya memang agak kikir. Jambu itu biasanya dijual langsung dipohonnya. Namun dalam waktu singkatnya, buahnya telah memenuhi segala cabang dan rantingrantingnya lagi." jawab anak muda itu. "Aku ingin mencicipinya " berkata Putut Lembana. Anak-anak muda itu menjadi termangu-mangu. Jika pemilik rumah itu tahu, maka ia tentu akan sangat marah. Tetapi Putut Lembana itu berkata "Aku tidak akan memetik buah dipohon itu. Aku hanya ingin mencari sisa-sisa kelelawar yang berserakan dibawah pohon itu. Tentu ada yang m asih utuh satu atau dua buah.” Anak-anak muda itu merasa heran. Apakah Putut Lembana benar-benar tidak pernah makan jambu air ? Seorang diantara anak-anak muda itu pernah berada untuk beberapa hari di padepokan. Seingatnya di padepokan terdapat juga pohon jambu air. Bahkan tidak hanya sebatang. Rasa-rasanya ada pohon jambu air putih dan ada pohon jambu air yang merah. Bahkan ada sebatang pohon jam bu dersana yang  segar dan sebatang jam bu gowok yang berwarna ungu. Sementara di kebun belakang terdapat beberapa batang pohon jambu mete. Putut Lembana melihat wajah-wajah yang membayangkan keheranan itu. Cahaya onc or direg ol meskipun tidak begitu besar sempat menggapai wajah-wajah yang berkerut itu. Namun Putut Lembana mendekati seorang diantara mereka sambil memberi isyarat untuk meny iapkan kentongan mereka serta senjata mereka. Anak muda itu menegang sejenak. Namun iapun mengangguk-angguk kecil. Iapun telah m emberi isyarat pula kepada kawan-kawannya untuk bersiap. Sebenarnyalah Putut Lembana itu telah mendorong pintu regol halaman sambil berkata "Tunggu. Aku hanya sebentar. Aku hanya ingin sebuah saja.” Tetapi di halaman Jaran Abang mengumpat tertahan. Namun ia telah memberi isyarat pula kepada orang-orangnya untuk bersiap. Ketika Putut Lembana kemudian memasuki halaman rumah itu, maka iapun mencoba memandang berkeliling dengan penglihatannya yang tajam. Ketika ia melihat daun pohon bunga soka yang  rimbun serta beberapa batang perdu yang lain bergerak, maka Putut Lembana yakin bahwa ada orang dihalaman itu. Tetapi Putut Lembana tidak segera m engambil tindakan. Bahkan ia benar-benar mencari jambu air yang memang terdapat satu dua tergolek ditanah dibawah pohon yang buahnya bergayutan banyak sekali itu. Setelah memungut satu-dua buah, maka Putut itupun segera bergerak keluar. Diluar ia berbisik kepada anak m uda yang  menyertainya "Panggil kawan-kawanmu. Hati-hati. Kepung halaman rumah ini. Beritahu gardu yang lain tanpa membuny ikan kentongan. " Demikian anak itu melangkah pergi dengan hati-hati, maka Putut Lembanapun berkata "Jambu ini m emang luar biasa. Manis dan segar sekali." "Sisa kelelawar memang manis." jawab salah seorang kawannya yang  mengerti isy arat Putut Lembana. Sementara kawannya menjawab "Jambu itu manis bukan karena sisa kelelawar. Karena jambu itu sudah masak dan rasanya manis, maka kelelawar telah mencurinya. Tetapi sayang, jambu itu terjatuh ditanah. " Putut Lembana tertawa. Katanya "Jambu ini manis meskipun agak kotor. Itu saja." Kawan-kawannyapun tertawa pula, sementara Putut Lembana berkata "Marilah, kita berjalan terus. He, kita belum membangunkan penghuni rumah ini. Sejak kita mendekati halaman rumah ini, kita sudah berhenti kotekan. Namun, sekarang kita harus membuny ikan lagi." Tetapi jumlah m ereka berkurang seorang karena pergi ke gardu m emanggil kawan -kawannya. Karena itu, maka m ereka memang menjadi ragu-ragu. Suaranya tentu akan berbeda dengan kotekan yang  dibuny ikan oleh ampat orang. Namun Putut Lembana yang  memperhitungkan, bahwa anak-anak muda itu akan segera datang, berdesis perlahan "Marilah, kita bunyikan saja keras-keras." Demikianlah, maka ketiga orang anak muda termasuk Putut Lembana itu telah membuny ikan kentongan mereka. Ju stru lebih keras dari semula. Bahkan dengan irama yang lebih cepat, sehingga suaranya menjadi gaduh. Bahkan ketika mereka sengaja membuat iramanya meleset, suara kotekan itu menjadi tidak keruan. Putut Lembanapun kemudian berkata keras-keras "Cukup. Cukup. Iramanya rusak. Kita harus mengulangi." Kotekan itupun terhenti. "Hati, hati. Kita tidak boleh tergesa -gesa. " berkata seorang temannya. Namun tingkah laku anak-anak muda itu membuat darah Jaran Abang mendidih sampai ke ubun-ubun. Karena itu, ia menjadi tidak sabar lagi. Dengan sekali hentak, Jaran Abang telah berdiri diatas dinding halaman rumah itu. "Setan kau anak-anak muda. Aku perintahkan kalian masuk kedalam. Kalian t idak m empunyai pilihan lagi." geram Jaran Abang. Ketiga anak muda itu bergeser surut. Putut Lembanalah yang bertanya "Siapakah kau ?” "Kalian tidak usah berpura-pura lagi. Aku tahu bahwa kalian melihat sesuatu yang memaksa kalian melakukan perbuatan gila itu. Aku tahu bahwa satu atau dua orang diantara kalian, tentu bukan anak muda dari padukuhan ini, karena anak muda itu tidak mengetahui bahwa pemilik jam bu ini kikir. Anak muda itupun baru sekali ini melihat bahwa disini ada jambu air. Nah, sekarang kalian semuanya harus masuk ke halaman. Jangan menjawab apapun juga. Ma suklah sekarang, sebelum aku kehabisan kesabaran." "Kau belum menjawab, siapakah kau ?” "Aku tidak akan menjawab semua pertanyaanmu. Aku tidak mau m endengar pertanyaan apapun juga. Sekali lagi. Untuk yang terakhir aku berkata. Masuklah kedalam halaman rumah ini." Putut Lembana termangu-mangu sejenak. Sementara itu kedua anak muda yang  bersamanya menunggu, apa yang  akan dilakukan oleh Putut Lembana. Sementara itu Putut Lembana memang ingin mengulur waktu. Ia yakin bahwa yang ada di halaman itu tentu tidak hanya satu dua orang saja. Tetapi beberapa orang yang memiliki pengalaman melakukan kekerasan. Karena itu, maka Putut Lembana itu berkata "Ki Sanak. Kami tidak tahu, apa sebenarnya yang kalian kehendaki atas diri kami. Kami sedang meronda. Karena itu, maka kami akan menyusuri jalan-jalan di padukuhan kami. Tidak masuk kedalam halaman rumah itu. Jika tadi aku masuk, semata-mata karena aku ingin mendapatkan jambu air. " "Cukup" bentak orang itu "masuk. Atau kami harus memaksa kalian dengan kekerasan." Agaknya Putut Lembana memang tidak mendapat kesempatan lagi. Karena itu, maka iapun menjawab "Kami tidak akan masuk. Kami tahu bahwa kau bukan pemilik rumah ini. Karena itu, kami justru akan menangkapmu." Jaran Abang itu bersuit nyaring. Ia benar-benar telah kehilangan kesabaran, sehingga ia telah memanggil orangorangnya untuk memaksa Putut Lembana dan kedua kawannya masuk kehalaman. Namun pada saat itu, beberapa orang anak muda dari gardu terdekat telah datang. Mereka tidak dengan serta merta menyerang kelompok Jaran Abang. Tetapi anak-anak muda itu justru telah m erayap dari halaman ke halaman mendekati rumah yang menjadi sasaran perampok itu. Namun ketika mereka mendengar suitan nyaring, maka mereka telah berusaha untuk mengetahui keadaan Putut Lembana dan kedua orang anak muda yang menyertainya. Anak-anak muda itu kemudian telah melihat beberapa orang berloncatan melewati dinding halaman rumah yang menjadi sasaran perampokan itu. Orang-orang itupun kemudian telah m engepung Putut Lembana dan kedua orang anak muda yang  meny ertainya. "Paksa mereka masuk. Jika mereka melawan, maka apaboleh buat. Mereka akan mati muda." berkata Jaran Abang. Namun para penjahat itu tidak mendapat banyak kesempatan. Anak-anak muda yang melihat keadaan Putut Lembana dan kedua orang kawannya dalam kesulitan, m aka merekapun segera bertindak. Dua orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang  ada diantara anak-anak muda itu bersama Putut Lembana, datang pula bersama-sama anakanak muda itu. Melihat kehadiran anak-anak muda itu, maka Jaran Abangpun m engumpat. Dengan lantang ia berkata "Jika yang terjadi kemudian kalian akan m enjadi seperti tebasan batang ilalang, sama sekali bukan tanggung jawab kami." Anak-anak m uda itu sama sekali tidak m enghiraukannya. Merekapun segera turun ke jalan serta berdiri di kedua sisi dari para pengikut Jaran Abang itu. Bahkan masih ada diantara mereka yang berada di atas dinding halaman diseberang halaman rumah yang menjadi sasaran. Namun masih ada juga anak-anak muda yang berada di dalam halaman rumah yang menjadi sasaran perampokan itu. Jaran Abang tidak m empunyai pilihan lain. Iapun segera meneriakkan perintah "Selesaikan anak-anak dungu itu. Mereka tidak menyadari akibat dari perbuatan mereka." Tetapi Putut Lembana memberikan perintah "Jangan biarkan seorangpun melarikan diri." Demikianlah, maka pertempuranpun segera berkobar. Jaran Abang tahu pasti, bahwa pemimpin dari anak-anak muda itu adalah anak muda yang mencari jambu air di bawah pohonnya. Namun Jaran Abangpun tahu bahwa anak muda itu sekedar ingin mengetahui keadaan didalam halaman rumah itu. Sejenak kemudian, maka pertempuranpun segera terjadi. Putut Lembana dengan sengaja telah menghadapi Jaran Abang. Sementara itu, k edua orang cantrik yang  bersamanya berada di padukuhan itu bertempur melawan beberapa orang penjahat yang sudah sangat berpengalaman. Anak-anak muda padukuhan itu memang merasa ngeri melihat sikap dan tatanan gerak mereka yang keras dan kasar. Beberapa orang anak muda m emang terdesak surut. Namun kedua orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta itu telah membesarkan hati mereka. Seorang diantara para cantrik yang dengan m enghentak menyerang salah seorang diantara para pengikut Jaran Abang itu, langsung dapat melukai lawannya. Terdengar orang itu berteriak kesakitan. Sejenak kemudian, maka orang itupun telah jatuh berguling ditanah. Cantrik itu bukan seorang pembunuh, sehingga karena itu, maka orang yang  sudah terluka cukup parah itu dibiarkannya. Tetapi dengan demikian, maka hati anak-anak muda padukuhan itu mulai menjadi hangat. Keberanian merekapun menjadi semakin memanasi jantungnya. Dipimpin oleh kedua orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta itu, maka anak-anak muda padukuhan itupun telah melakukan perlawanan yang  sangat sengit. Apalagi ketika beberapa orang anak muda dari gardu yang lain telah datang pula. Sementara itu, Jarah Abang ternyata telah mendapat lawan yang b erilmu tinggi. Karena itu, maka iapun b erteriak "Setan kau anak muda. Siapakah kau sebenarnya?” "Kau belum menjawab pertanyaanku, siapakah kau dan untuk apa kau berada di sini." Jaran Abang itu menggeram. Katanya "Aku tidak memerlukan nama dari orang-orang yang  akan kubunuh." Putut Lembana yang melihat kedua cantrik Padepokan Bajra Seta sudah ada diantara anak-anak muda yang  menjadi semakin lama semakin banyak berada ditempat itu menjadi semakin tenang. Sehingga ia dapat memusatkan perhatiannya kepada pemimpin sekelompok orang yang  tidak dikenal dan yang menurut perhitungannya tentu akan berbuat jahat. Apalagi melihat ujud lahiriah dari orang-orang yang  datang bersama lawannya itu serta senjata-senjata yang  mereka pergunakan. Demikianlah, maka Putut Lembanapun telah bertempur dengan sengitnya. Putut lembana yang juga pernah mendengar tentang pertempuran antara orang-orang yang berniat jahat, serta tentang dua orang pengikut seorang pemimpin kelompok yang bernama Jaran Abang yang  jatuh ketangan Ki Bekel rencana terluka dalam pertempuran antara para penjahat itu, telah menduga bahwa yang  dihadapinya adalah Jaran Abang itu sendiri. Karena itu, ketika Jaran Abang menjadi semakin garang, Putut Lembana itu berkata sambil menghindari serangan lawannya "He, Ki Sanak, Kau kira aku tidak tahu bahwa gerombolan ini adalah gerombolan Jaran Abang dan kau sendiri adalah pemimpinnya ?” "Per setan. Darimana kau tahu ?” bertanya Jaran Abang. "Namamu memang sudah terkenal sampai ke mana-mana. Kau ditakuti oleh setiap orang yang  pernah mendengar namamu. Bukan saja oleh para penghuni Kabuyutan dan padukuhan-padukuhan, tetapi para prajurit Singasaripun menjadi gentar mendengar namamu." "Namaku memang ditakuti oleh Panglima Prajurit Singasari sekalipun. Karena itu, kenapa kau berani melawan aku ? Apakah itu bukan berarti bahwa kau sedang membunuh diri." "Aku hanya ingin membuktikan, apakah kabar itu benar atau tidak, " jawab Putut Lembana. "Betapa sombongnya kau anak muda. Tetapi kau akan menyesal, karena kau akan mati malam ini." geram Jaran Abang. "Aku tidak ingin mati. Itulah sebabnya, aku melawanmu sekarang." sahut Putut Lembana. "Kau tahu bahwa aku tidak terkalahkan." berkata Jaran Abang dengan lantang. "Itulah yang  menarik untuk menjajagi kemampuanmu, justru karena kau merasa tidak terkalahkan." jawab Putut Lembana. Jaran Abang menggeram. Namun kemudian katanya "Apapun yang  kau katakan, namun umurmu tidak akan sampai fajar. " Putut Lembana yang  masih muda itu tertawa. Katanya "Apakah kau dapat menentukan, kapan aku harus mati ? Umurku tidak tergantung kepadamu, Jaran Abang. " "Per setan kau" Jaran Abang menjadi semakin marah. Serangannya memang menjadi semakin garang. Namun anak muda yang melawannya itu masih saja nampak tenang. Sebenarnyalah, semakin marah Jaran Abang, maka kendalinya atas ilmunya justru menjadi semakin longgar. Jaran Abang terlalu bernafsu untuk segera mengalahkan lawannya. Namun justru dengan demikian, maka semakin banyak ia melakukan kesalahan. Dalam pada itu, m aka dua orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta bersama anak-anak m uda padukuhan itu tengah bertempur melawan para pengikut Jaran Abang. Semakin lama jumlah anak-anak muda itu semakin banyak. Bahkan beberapa orang laki -laki yang lebih tuapun telah terjun pula dalam pertempuran. Apalagi mereka yang telah berpengalaman serta memiliki kemampuan olah kanuragan karena mereka sering berada di Padepokan Bajra Seta. Dengan demikian, maka para pengikut Jaran Abang itu mulai mengalami kesulitan. Dua orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta itupun menjadi semakin garang pula, sehingga anak-anak muda padukuhan itu menjadi semakin berani menghadapi para perampok yang  kasar itu. Jaran Abang memang tidak menduga, bahwa anak-anak muda padukuhan itu m enjadi demikian berani m enghadapi para pengikutnya. Bahkan para pengikutnya seakan-akan menjadi tidak berdaya. Anak-anak muda itu dibawah pimpinan kedua orang cantrik Padepokan Bajra Seta telah menyerang para pengikut Jaran Abang itu dari segala jurusan. Sementara itu ujung senjata kedua orang cantrik itupun telah menggapai kulit daging para pengikut Jaran Abang. Dua orang telah terbaring diam. Sementara yang  lain masih berloncatan sambil berteriak-teriak. Namun ruang gerak mereka menjadi semakin sempit. Sementara itu Putut Lembana masih saja bertempur dengan sengitnya melawan Jaran Abang. Keduanya telah mempergunakan senjata masing-masing. Jaran Abang bersenjata kapak yang  besar bermata rangkap. Sedangkan Putut Lembana bersenjata sebilah pedang khusus sebagaimana pedang yang dibuat oleh para cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang telah mendapat petunjuk dari pande besi istana Singasari. Sebilah pedang yang ujudnya cukup besar dan panjang. Jaran Abang yang  m emiliki pengalaman petualangan yang luas tanpa ragu-ragu berusaha untuk menghancurkan lawannya. Ia sudah terlalu sering melihat darah tertumbuh dari tubuh orang-orang yang  pernah dibantainya. Tetapi anak m uda itu ternyata amat liat. Kapaknya yang  berayun-ayun dengan cepatnya, sama sekali tidak meny entuh tubuh lawannya. Namun ketika anak muda itu sengaja menangkis ayunan kapaknya sehingga terjadi benturan, maka Jaran Abang itupun mengumpat habis-habisan. Hampir saja ia berteriak kegirangan karena kapaknya disangkanya akan dapat melontarkan senjata anak muda itu, sehingga ay unan berikutnya kapaknya akan dapat m embelah kepala lawannya itu, karena lawannya sudah tidak bersenjata lagi. Namun yang terjadi sama sekali tidak sebagaimana dibayangkan. Justru kapaknyalah yang  hampir saja terlepas dari tangannya. Sementara itu, pedang anak muda itu sama sekali tidak tergoyahkan. Jantung Jaran Abang menjadi semakin sakit ketika anak itu justru telah merendahkannya. Pada saat ia mengalami kesulitan dengan kapaknya yang hampir terlepas, disaat ia berusaha mengambil jarak untuk memperbaiki kedudukannya, lawannya itu sengaja tidak memburunya. Bahkan anak muda itu berkata. "Hati-hatilah Jaran Abang. Jangan biarkan kapakmu terloncat dari tanganmu. Dengan senjata ditangan kau tidak dapat mengalahkan aku, apalagi jika kau lemparkan kapakmu.” "Setan kau" geram Jaran Abang. "Nah bersiaplah. Aku beri kau waktu untuk memperbaiki genggamanmu pada kapakmu itu.” "Aku tidak butuh waktu. Aku tidak dalam kesulitan Kapakku ini akan segera m engoyak mulutmu" b erkata Jaran Abang lantang. "Sekarang, aku beri kesempatan kau memperhatikan pertempuran ini. Orang-orangmu sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Anak-anak muda padukuhan ini bukan lagi anak-anak kecil yang  ketakutan melihat kalian dengan garang mengayun-ayunkan senjata, tetapi anak-anak muda padukuhan ini adalah anak-anak muda yang  terlatih baik. Jaran Abang tidak menjawab. Namun dengan geram ia meloncat meny erang Putut Lembana. Namun bagaimana juga Putut Lembana tidak dapat dikalahkan. Putut yang  telah ditempa di Padepokan Bajra Seta itu mempunyai banyak kelebihan dari Jaran Abang itu sendiri, meskipun Jaran Abang berpengalaman menghancurkan lawan-lawannya. Bahkan para pemimpin penjahatpun merasa ngeri mendengar namanya. Karena itulah, maka Jaran Abang tidak lagi mempunyai kesempatan untuk menang. Apalagi ketika ia sempat melihat orang-orangnya semakin menyusut. Karena itu, maka iapun telah membuat pertimbangan lain. Ia harus melepaskan niatnya untuk merampok rumah yang diperhitungkannya memiliki simpanan harta benda yang cukup banyak. Karena itu, maka ketika keadaan benar-benar tidak memungkinkan, maka Jaran Abang itu telah berusaha untuk bergeser mendekati regol halaman tanpa menimbulkan kesan pada lawannya. Putut Lembana memang hanya mengira bahwa lawannya menjadi semakin terdesak mundur. Namun ketika Jaran Abang itu sampai kedepan regol halaman yang  memang tidak diselarak, dengan serta merta, ia berlari mendorong pintu regol itu. Putut Lembana terkejut. Tetapi ia kehilangan k esempatan yang sekejap itu, namun yang memberikan keuntungan yang menentukan bagi hidup dan mati Jaran Abang. Putut Lembana yang segera menyadari usaha lawannya untuk melarikan diri, segera mengejarnya. Iapun telah meloncat berlari. Namun langkah terhenti lagi sekejap, karena Jaran Abang telah mendor ong pintu regol dari dalam dengan hentakkan yang  sangat keras. Ketika Putut Lembana m endorong pintu itu, m aka Jaran Abang telah berlari menjauh. Putut Lembana m asih melihat bayang annya yang melingkar disudut rumah. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, Putut itu mengejarnya. Namun ia kehilangan jejak. Ketika Putut itu melingkari sudut rumah, maka bayangan Jaran Abang telah hilang. Putut Lembana memang tidak segera berhenti. Ia berusaha menyusul meloncati dinding disebelah seketheng. Tetapi ketika ia berada di longkangan, ia tidak m elihat Jaran Abang lagi. Putut Lembana menarik nafas dalam-dalam. Ia memang merasa sangat kecewa karena ia kehilangan lawannya. Karena itu, m aka iapun segera kembali k e halaman depan dan keluar lagi turun ke jalan. Ternyata beberapa orang pengikut Jaran Abang yang  lainpun dapat melarikan diri. Tetapi yang lain dapat di tangkap dan bahkan ada yang  terluka parah. Seorang diantara mereka telah m enghembuskan nafas terakhir karena lukanya yang sangat parah. Ki Bekel yang telah mendapat laporan, ternyata sudah berada di t empat itu pula. Bahkan agaknya orang yang  sudah melampaui setengah abad itu masih ikut pula membawa sebatang tombak pendek bertempur bersama anak anak muda padukuhannya. Namun Ki Bekel itu harus merenungi tiga orang anak muda yang terluka cukup parah. Sementara yang lain terluka ringan. Meskipun demikian goresan-goresan senjata di tubuh anakanak muda itu seakan-akan tidak terasa menyakitinya. Namun tiga orang diantara mereka harus di bawa ke banjar untuk mendapat pengobatan. Demikian pula para pengikut Jaran Abang yang terluka dan menyerah telah dibawa ke banjar pula dengan pengawalan yang ketat. Orang-orang yang tertawan itu memang tidak melihat kemungkinan lain kecuali menyerah. Mereka memang tidak memperhitungkan bahwa hampir semua laki-laki di padukuhan itu telah berani keluar untuk ikut memberikan perlawanan. Betapapun garangnya Jaran Abang dan pengikutnya, namun jumlah yang  banyak itupun berpengaruh pula. Demikianlah, maka orang-orang padukuhan itu telah menggagalkan usaha perampokan yang dilakukan oleh Jaran Abang dan kelompoknya yang  dianggap kelompok perampok yang terkuat. Penghuni rumah yang  hampir saja menjadi sa saran perampokan itu berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Ki Bekel bahwa perampokan itu telah digagalkan. "Berterima kasihlah kepada angger Putut Lembana. Ia telah memimpin anak-anak muda di padukuhan ini untuk melakukan perlawanan terhadap para perampok itu." jawab Ki Bekel. "Ki Bekel sendirilah yang  memimpin. Aku hanya sekedar ikut bersama anak-anak muda padukuhan ini" sahut Putut Lembana. Tetapi pemilik rumah itu berkali-kali m engucapkan terima kasihnya. Dua keluarga yang  mengungsi dirumahnya juga ikut mengucapkan terima ka sih atas kecepatan bertindak anakanak muda di padukuhan itu. "Aku memang membawa milikku yang paling berharga yang dapat aku bawa. Jika m ilikku yang dapat aku bawa itu dirampas oleh para perampok, m aka habislah segala-galanya berkata salah seorang diantara para pengungsi itu.” Dengan kegagalan itu, maka Ki Bekel dan para penghuni padukuhan itu berharap, bahwa para perampok tidak akan mengusik ketenangan padukuhan Logandeng. Jika gerombolan Jaran Abang yang ditakuti itu gagal melakukan perampokan di padukuhan Logandeng, apalagi gerombolan lain yang  lebih lemah dari gerombolan Jaran Abang itu. Meskipun demikian, maka per soalan yang  dihadapi oleh padukuhan Logandeng masih tetap rumit. Demikian pula padukuhan-padukuhan yang  lain di Kabuyutan Talang Alun. Kehadiran para pengungsi itu telah memberikan berbagai macam persoalan. Berita tentang perampokan yang gagal di padukuhan Logandeng, membuat padukuhan-padukuhan lain lebih berhati-hati. Mereka semakin m eningkatkan k esiagaan anakanak muda di padukuhan-padukuhan itu. Meskipun gerombolan Jaran Abang telah dihancurkan di Logandeng, tetapi mungkin gerombolan -gerombolan lain merasa ju stru mendapat kesempatan. Atau karena Jaran Abang sendiri belum tertangkap, maka Jaran Abang akan menyusun kekuatan kembali atau bergabung dengan ger ombolan lain yang akan dapat menjadi semakin kuat. Namun dengan demikian, maka kecemasan para penghuni beberapa padukuhan di Kabuyutan Talang Alun itu telah didengar oleh Mahisa Murti. Iapun telah memerintahkan ketiga Pututnya dan beberapa orang cantrik untuk berusaha membantu menenangkan kegelisahan di padukuhanpadukuhan itu. Bahkan Mahisa Murti telah menempatkan disetiap padukuhan tiga orang cantrik terpilih. Sementara di padukuhan-padukuhan yang paling rawan, Mahisa Murti telah menempatkan Putut Manyar, Putut Parama dan Putut Lembana, m asing-masing bersama dua orang cantrik untuk membantu jika terjadi sesuatu sebagaimana telah t erjadi di padukuhan Logandeng. Disamping usaha untuk mengatasi kemungkinan terjadi perampokan, maka padukuhan-padukuhan itu masih juga dibebani untuk membantu keluarga yang  menampung para pengungsi dari seberang hutan. Mereka tidak saja memerlukan tempat untuk bernaung dari teriknya matahari dan dinginnya embun malam, namun mereka juga memerlukan m akan dan minum. Padukuhan-padukuhan yang menampung para pengungsi tidak dapat menyerahkan peny ediaan makan dan minum mereka kepada keluarga yang menampung mereka sepenuhnya. Apalagi keluarga yang terhitung keluarga sederhana. Demikianlah, maka Padepokan Bajra Seta mau tidak mau telah ikut t erlibat dalam kesibukan m engatasi per soalan para pengungsi di Kabuyutan Talang Alun. Sementara itu dari hari ke hari, arus pengungsi tidak menyusut. Tetapi justru menjadi semakin banyak. Bahkan di padukuhan Logandeng, seorang bebahu dari Kabuyutan Sendang Apit telah datang bersama beberapa keluarga pengungsi lainnya. Kedatangan seorang bebahu di padukuhan Logandeng memang menarik perhatian. Ketika Mahisa Murti m endengar tentang hal itu, maka iapun berkata kepada Wantilan dan Sambega "Paman, aku ingin pergi ke Logandeng. Mungkin seorang bebahu yang  mengungsi di Logandeng dapat memberikan beberapa penjela san tentang keadaan Kabuyutannya." Wantilan dan Sambega mengangguk-angguk. Dengan bersungguh-sungguh Wantilanpun berkata "Agaknya telah terjadi sesuatu yang penting di Kabuyutan-kabuyutan diseberang hutan. Mudah-mudahan bebahu itu dapat mengungkapkannya." Demikianlah dihari berikutnya Mahisa Murti telah mengajak Mahisa Semu untuk pergi ke Logandeng. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Amping juga ingin ikut bersama mereka, namun Mahisa Murtipun berkata "Lain kali saja kau ikut Amping. Kami sedang melakukan tugas yang  penting. Kau masih terlalu muda untuk ikut bersama kami. Sedangkan kakakmu Mahisa Semu ju stru harus mulai terjun kedalam tugas-tugas yang lebih bersungguh-sungguh. Nanti, jika kau tumbuh semakin besar, m aka kaupun slrati sampai saatnya untuk memulai dengan tugas-tugas yang lebih berat." Mahisa Amping m engangguk kecil. Betapapun inginnya ia ikut melakukan sesuatu, namun ia tidak dapat memaksakan keinginannya kepada kakak angkatnya yang mengasuhnya itu. Berdua Mahisa Murti dan Mahisa Semupun telah pergi ke padukuhan Logandeng untuk mendengar ceritera tentang Kabuyutan diseberang hutan yang  sedang dilanda kekalutan. Di Logandeng, Mahisa Murti dan Mahisa Semu langsung menemui Ki Bekel sebelum menemui bebahu Kabuyutan Sendang Apit. Kepada Ki Bekel, Mahisa Murti telah mengutarakan niatnya untuk bertemu dengan bebahu dari Kabuyutan Sendang Apit itu. "Marilah ngger" berkata Ki Bekel "biarlah aku antar angger menemui bebahu itu. Dengan keluarganya ia tinggal dirumah adikku. Bebahu itu tidak bersedia ketika aku persilahkan tinggal dirumahku." "Kenapa Ki Bekel ?” bertanya Mahisa Murti. "Menurut pendapatnya, jika ia tinggal dirumahku, akan dapat mempengaruhi tugas-tugasku. Bahkan kedudukanku." jawab Ki Bekel. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Baiklah Ki Bekel. Jika Ki Bekel kebetulan mempunyai waktu, aku berterima ka sih atas kesediaan Ki Bekel untuk bersamaku menemui bebahu yang tinggal dirumah adik Ki Bekel itu." Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Semu bersama Ki Bekel telah pergi kerumah adik Ki Bekel yang letaknya berdampingan dengan banjar padukuhan. Bebahu dari Kabuyutan Sendang Apit itu masih kelihatan letih sekali. Bahkan masih nampak kegelisahan m embayang diwajahnya. Meskipun ia mencoba juga untuk terseny um, tetapi masih membekas tekanan-tekanan batin yang dialaminya. "Apa yang sebenarnya terjadi ?” bertanya Mahisa Murti. Bebahu dari Kabuyutan Sendang Apit itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia berkata "Bencana itu telah menikam Kabuyutan kami." "kenapa dan bagaimana hal itu terjadi ?” bertanya Mahisa Murti. "Per soalannya berkisar pada dua Kabuyutan. Kabuyutan Sendang Apit dan Kabuyutan Pudaklamatan. Beberapa orang bebahu dari Kabuyutan Sendang Apit telah ditangkap. Ada dua orang Bekel dari padukuhan yang  termasuk lingkungan Kabuyutan Sendang Apit telah ditangkap pula. " "Siapa yang  telah m enangkap mereka ?” bertanya Mahisa Murti dengan wajah yang  berkerut. "Orang-orang dari Kabuyutan Pudaklamatan. " "Kenapa ?” desak Mahisa Murti. Bebahu itu m enarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya "Ki Buyut Pudaklamatan merasa memiliki hak sepenuhnya untuk menguasai dua Kabuyutan yang  bertetangga itu. Dahulu Kabuyutan Pudaklamatan dan Kabuyutan Sendang Apit memang satu. Namun kemudian untuk menghindari persoalan yang dapat timbul kemudian, justru telah dipecah menjadi dua. Namun ternyata bahwa akhirnya pertengkaran itu pecah juga." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Meskipun ia tidak bertanya lebih banyak, tetapi bebahu itulah yang  kemudian berceritera "Ki Buyut dari Pudaklamatan menganggap bahwa adanya Kabuyutan Sendang Apit sama sekali tidak dapat dibenarkan. Sebelum dua Kabuyutan itu dipisahkan, maka kakek Ki Buyut Pudaklamatan yang juga kakek Ki Buyut Sendang Apitlah yang memegang pimpinan sebagai Buyut di Kabuyutan Mapanjang. Ki Buyut Mapanjang m empunyai dua orang anak laki -laki. Tetapi anak yang  sulung meninggal sebelum sempat menggantikan kedudukan ayahnya. Karena itu, yang  kemudian mewarisi kedudukan ay ahnya adalah anak yang bungsu. Sementara itu, anak yang sulung Ki Buyut Mapanjang mempunyai seorang anak laki -laki. Tetapi anaknya yang bungsu, yang  menggantikan kedudukan ayahnyapun mempunyai anak laki -laki. Untuk menghindari perselisihan, maka Ki Buyut Mapanjang yang  muda, anak bungsu dari Ki Buyut yang tua yang  telah meninggal, menetapkan bahwa Kabuyutan Mapanjang dibagi dua. Anaknya akan menjadi Buyut bagian Selatan sedangkan kemanakannya, anak kakaknya yang lebih dahulu m eninggal akan menjadi Buyut dibelahan Utara. Ma sing-masing disebut Kabuyutan Sendang Apit dan Kabuyutan Pudaklamatan dibatasi oleh sebatang sungai kecil yang  membelah Kabuyutan Mapanjang." "Apakah kemudian Ki Buyut Pudaklamatan menuntut kembali Kabuyutan yang separo, yang  m enurut pendapatnya menjadi haknya pula ?” bertanya Mahisa Murti. "Ya " jawab bebahu itu. "Sejak kapan Mapanjang dibagi menjadi dua ?" bertanya Mahisa Murti pula. "Sudah lebih dari duapuluh tahun yang lalu " jawab bebahu itu. "Sudah demikian lama. Kenapa baru sekarang persoalan itu diungkit kembali ? Apakah selama ini hubungan antara kedua padukuhan itu buruk ?” bertanya Mahisa Murti. "Memang tidak terduga sebelumnya" jawab bebahu itu. Ki Buyut Pudaklamatan yang  masih sepupu dengan Ki Buyut Sendang Apit, nampak rukun. Ki Buyut Pudaklamatan yang sedikit lebih tua, menganggap Ki Buyut Sendang Apit sebagai adik kandungnya." "Jadi bagaimana perselisihan itu t erjadi." bertanya Mahisa Murti. "Itulah yang  aneh. Tiba-tiba saja hal itu terjadi." jawab bebahu itu. Namun katanya kemudian "Kami menduga, bahwa ada pihak ketiga yang ikut campur. Menurut dugaan kami adalah justru orang yang dituakan oleh kedua Kabuyutan itu." "Siapakah orang itu ?” bertanya Mahisa Murti. "Seorang mPu yang memimpin sebuah Padepokan yang  terletak di lereng bukit kecil dipinggir suhgai yang memisahkan kedua Kabuyutan itu. Mahisa Murti mengangguk-angguk kecil. Dengan dahi yang  berkerut ia bertanya "Siapakah nama mPu itu dan apakah nama padepokannya ?” "Namanya mPu Renapati. Ia memimpin sebuah padepokan yang lebih banyak disebut padepokan Renapati sebagaimana nama pemimpinnya. Tetapi nama yang  sebenarnya dari padepokan itu adalah Padepokan Kencana Pura.” jawab bebahu itu. Mahisa Murti mendengarkan keterangan itu dengan bersungguh-sungguh. Agaknya karena padepokannya dengan padepokan yang disebut oleh bebahu itu dibatasi oleh hutan yang memanjang, maka Mahisa Murti m asih belum pernah berhubungan. Meskipun Mahisa Murti pernah melakukan petualangan yang panjang, namun ju stru ia tidak m eny entuh lingkungan diseberang hutan yang  jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun apa yang  terjadi itu memang sangat menarik perhatiannya. Apalagi karena banyak pengungsi yang  mengalir ke padukuhan-padukuhan dilingkungan Kabuyutan Talang Alun, yang  terhitung dekat dengan padepokannya. Tetapi Mahisa Murti masih belum tahu apa yang sebaiknya dilakukan menanggapi gejolak yang  terjadi. Tetapi untuk mengatasi kemungkinan berbagai macam kesulitan yang  dapat timbul di padukuhan Logandeng yang tidak terhitung padukuhan yang  kaya itu, Mahisa Murti telah menawarkan kepada Ki Bekel "Jika perlu, Ki Bekel, di padepokan kami ada sedikit tempat untuk membantu memberikan tempat untuk sementara kepada beberapa keluarga yang  mengungsi dari Kabuyutan diseberang hutan itu." "Terima kasih ngger" berkata Ki Bekel "sampai saat ini kami masih belum m erasa sangat terdesak. Tetapi mungkin pada suatu saat kami memang memerlukan bantuan angger Mahisa Murti." "Kami akan menerima dengan senang hati ki Bekel. Asal mereka bersedia m enerima keadaan sebagaimana adanya di padepokan kami yang sederhana itu." "Tentu saja " jawab Ki Bekel "mereka yang datang mengungsi kedaerah ini tentu tidak akan memilih tempat. Bagi mereka dimanapun mereka ditampung, tidak menjadi soal. Yang penting mereka terlindung dibawah atap yang  betapapun sederhananya." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Baiklah Ki Bekel. Kami, penghuni Padepokan Bajra Seta akan terus mengikuti perkembangan yang bakal terjadi. Apapun yang sebaikny a dan dapat kami lakukan, akan kami lakukan. Terutama membantu melindungi para pengungsi itu dari tangan-tangan jahat yang  ju stru memanfaatkan kesulitan orang lain untuk kepentingan m ereka sendiri. Apalagi dengan laku kejahatan.” "Terima kasih ngger. Tanpa bantuan angger serta para cantrik dari Padepokan Bajra Seta, maka sebagaimana yang pernah terjadi di padukuhan Logandeng, kita tentu akan mengalami malapetaka " berkata Ki Bekel. "Bukankah itu sudah menjadi kewajiban kami, sebagaimana kami menumpang untuk hidup dilingkungan Kabuyutan Talang Alun." jawab Mahisa Murti. Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Semupun meninggalkan padukuhan yang  sedang dibayang i oleh berbagai macam persoalan itu. Dengan demikian maka Mahisa Semupun telah diperkenalkan dengan persoalan-per soalan kehidupan yang lebih luas dari sekedar dinding padepokan. "Kita memang tidak dapat hidup dengan mengurung diri di lingkungan yang  sempit. Kita harus memperluas tatapan mata kita sampai ke cakrawala. " berkata Mahisa Murti. Namun katanya kemudian "tetapi ternyata penglihatankupun masih terlalu sempit. Aku tidak m engenali nama-nama orang-orang yang m emiliki pengaruh yang luas atau orang-orang yang berilmu sangat tinggi. Sebagaimana aku belum mengenal nama mPu Renapati. " Mahisa Semu mengangguk-angguk kecil. Katanya "Jika kakang memberi aku kesempatan, aku akan sangat b erterima kasih. " "Ya. Kau harus mulai mengenal dunia yang luas ini. Tetapi tentu tidak dengan serta-merta. Tetapi sedikit demi sedikit. Pengenalanmu harus lebih luas dari pengenalanku. Ketika aku bertualang, aku telah dibatasi oleh laku dan kepentinganku serta kepentingan padepokan ini sendiri, sehingga seakanakan aku tidak berkesempatan melihat persoalan-per soalan yang lain." Mahisa Semu masih mengangguk-angguk. Ia ingat jelas, bagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengambilnya dan membawanya. Iapun ingat jelas, perjalanan yang panjang yang ditempuhnya sampai ke Padepokan Bajra Seta. Namun sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat lebih terikat pada laku Tapa Ngrame yang dijalaninya. Di padepokan Mahisa Murtipun telah berbicara dengan para pemimpin Padepokannya tentang keadaan yang  terjadi di Kabuyutan-kabuyutan seberang hutan. Karena itu, maka Mahisa Murti telah memerintahkan semua cantrik untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Baik di Kabuyutan-kabuyutan diseberang hutan, maupun di Kabuyutan Talang Alun serta padukuhanpadukuhan yang  termasuk didalam lingkungannya. Dimalam hari Mahisa Murti masih tetap mengirimkan beberapa orang cantriknya termasuk ketiga orang Putut di Padepokan Bajra Seta untuk ikut meronda di padukuhanpadukuhan selama keadaan masih menggelisahkan. Ketika Kiai Wijang datang ke Padepokan Bajra Seta sebagaimana sering dilakukannya, maka Mahisa Murtipun telah menceriterakan apa yang  telah terjadi di Kabuyutan Talang Alun serta Kabuyutan-kabuyutan diseberang hutan. Orang tua itu mendengarkan ceritera Mahisa Murti dengan bersungguh-sungguh. Ketika Mahisa Murti menceriterakan keterlibatan seorang pemimpin padepokan, maka Kiai Wijang itupun bertanya "Siapakah nama orang itu ?. "mPu Renapati. Ia memimpin padepokan yang  lebih banyak disebut Padepokan Renapati. dari pada nama padepokan itu yang sebenarnya, Padepokan Kencana Pura.” Kiai Wijang mengangguk-angguk. Katanya "Jadi mPu Renapati berdiri dibelakang kekalutan ini ?” "Menurut seorang bebahu dari Kabuyutan Sendang Apit. " jawab Mahisa Murti. "Aku mengenal orang itu " desis Kiai Wijang "ia memang seorang yang  berilmu tinggi. Ia memiliki beberapa kelebihan dari para mPu dan para pemimpin padepokan. Aku kira orang itu tentu mengetahui serba sedikit tentang Padepokan Bajra Seta meskipun kau belum pernah m engenal padepokannya dan orang itu sendiri. Ia memang sering mengirimkan orang-orangnya untuk mengetahui banyak hal disekitarnya. Bahkan sampai pada jarak yang  jauh." "Apakah keuntungannya ?” bertanya Mahisa Murti. "Hanya orang itu sendirilah yang  tahu. Tetapi aku mempunyai dugaan, bahwa ia termasuk orang yang  tidak menginginkan ada orang lain yang lebih baik daripadanya." jawab Kiai Wijang. "Tetapi apa hubungannya dengan usahanya untuk menumbuhkan kekacauan diantara kedua Kabuyutan yang dipimpin oleh dua orang saudara sepupu, yang semula hidup rukun dan damai." "Juga hanya mPu Renapati itu sendirilah yang  mengetahui." jawab Kiai Wijang. Namun katanya kemudian "Tetapi aku sependapat bahwa Padepokan Bajra Seta harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Justru karena kita t idak tahu dengan pasti, apa yang dikehendaki oleh mPu yang jalan pikirannya sulit untuk dimengerti orang lain itu." "Apakah itu memang sifatnya, Kiai ?” bertanya Mahisa Murti. Kiai Wijang mengangguk sambil menjawab "Ya. Sifatnya memang demikian. Tetapi kita masih perlu mengetahui, kenapa ia telah mencampuri hubungan antara dua orang saudara sepupu yang sejak semula nampak baik dan rukun sehingga akhirnya justru telah terjadi benturan antara keduanya. Kitapun harus mencurigai, kenapa orang-orang Sendang Apit harus m engungsi dan sama sekali tidak mampu bertahan." "Apakah menurut dugaan Kiai Padepokan Renapati itu langsung ikut melibatkan diri dalam benturan itu ?” bertanya Mahisa Murti. "Aku tidak mengkesampingkan kemungkinan itu ngger. Mengingat sifat mPu Renapati" jawab Kiai Wijang. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Padepokan mPu Renapati itu semakin menarik perhatiannya. Namun Mahisa Murti sadar, bahwa ia harus berhati-hati untuk berbuat sesuatu agar Padepokan Bajra Seta tidak terlibat langsung langsung dalam persoalan yang  mungkin akan menjadi semakin berbelit itu. Sementara itu, Kiai Wijang berkata selanjutnya "Persoalan yang terjadi itu m emang menarik untuk m endapat perhatian khusus. Karena itu, maka jika angger tidak berkeberatan, apakah aku diijinkan untuk tinggal di Padepokan Bajra Seta selama masih belum ada titik -tit ik terang mengenai per soalan itu ? Bukan maksudku untuk melibatkan diri, tetapi aku ingin tahu, apa yang  dilakukan oleh mPu Renapati itu. Apa latar belakangnya dan apa pula pamrihnya." "Tentu. Kiai. Kapan saja Kiai ingin berada di padepokan ini, kami seisi padepokan tidak akan berkeberatan. " jawab Mahisa Murti. Sebenarnyalah seperti yang  dikatakan, m Pu Wijang untuk sementara m emang tinggal di Padepokan Bajra Seta. Seperti Mahisa Murti sendiri, maka Kiai Wijangpun dengan sungguhsungguh mengikuti perkembangan yang terjadi di Kabuyutan Talang Alun dan Kabuyutan-kabuyutan di seberang hutan. Namun dalam pada itu, masih saja ada orang-orang baru yang datang mengungsi m eny eberangi hutan. Terutama yang mempunyai sanak kadang di Kabuyutan Talang Alun. Ketakutan mereka terhadap kekalutan yang timbul di Kabuyutan mereka, benar-benar telah mengatasi ketakutan mereka terhadap kegarangan hutan yang  membujur memanjang yang harus mereka seberangi bersama perempuan dan anak-anak. Namun akhirnya, Mahisa Murti tidak dapat sekedar menunggu keterangan dari para pengungsi. Sesuai dengan pendapat Kiai Wijang, maka sebaiknya mereka langsung melihat, apa yang  telah terjadi di Kabuyutan Sendang Apit. Bahkan Kiai Wijang dan Mahisa Murti telah sependapat, bahwa mereka berdua akan meny eberangi untuk melihat apa yang telah terjadi dibelakang lebatnya hutan yang memisahkan lingkungan mereka dengan lingkungan seberang. Namun sebelum keduanya berangkat, maka m ereka telah mendapat laporan, bahwa seorang anak Ki Buyut Sendang Apit telah berada di padukuhan Logandeng. Seorang anak lakilaki yang sudah menginjak remaja. "Ada baiknya kita menemuinya" berkata Kiai Wijang "ia tentu tidak sendiri. Mungkin ada satu dua orang yang mengawalnya atau oleh Ki Buyut sengaja disingkirkan agar tidak mengalami kesulitan sebagaimana jika anak itu ikut bertahan di Kabuyutan Sendang Apit. " Mahisa Murtipun ternyata sependapat. Karena itu, sebelum mereka benar-benar meny eberangi hutan, maka m ereka telah pergi ke padukuhan Logandeng untuk menemui anak Ki Buyut Sendang Apit. Seperti yang pernah dilakukan, maka Mahisa Murti lebih dahulu telah menemui Ki Bekel. Baru kemudian Ki Bekel telah mengantarkannya menemui remaja, anak Ki Buyut itu. "Maaf Ki Bekel. Barangkali kami terlalu merepotkan Ki Bekel" berkata Mahisa Murti. "Tidak. Tidak ngger. Kami berterima kasih justru karena angger bersedia membantu kami, memperhatikan keadaan para pengungsi yang ada di padukuhan kami."jawab Ki Bekel. Demikianlah, bersama Ki Bekel, Mahisa Murti dan Kiai Wijang telah diantar ke rumah adik Ki Bekel. Ternyata anak Ki Buyut Sendang Apit itu telah ditempatkan dalam satu rumah dengan bebahu yang  telah mengungsi sebelumnya. Di rumah itu Mahisa Murti dan Kiai Wijang dapat langsung bertemu dengan anak Ki Buyut Sendang Apit, yang  mengungsi bersama dua orang pengawalnya. Namun kedua pengawalnya bersikap sangat berhati-hati. Bahkan agak keras terhadap orang yang belum dikenalnya. Tanpa Ki Bekel, maka Mahisa Murti dan Kiai Wijang tidak akan dapat berbicara langsung dengan anak Ki Buyut itu. Bahkan bersama Ki Bekel pun kedua pengawalnya itu nampak selalu curiga. Ki Bekel sudah berusaha menjelaskan, bahwa Mahisa Murti adalah pemimpin Padepokan Bajra Seta yang banyak memberikan bantuan kepada padukuhan Logandeng bukan sa ja saat sulit seperti saat itu, tetapi sudah sejak waktu -waktu sebelumnya. Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Namun kecurigaan mereka nampaknya tidak juga menyusut. Karena itu, Mahisa Murti dan Kiai Wijang sulit untuk mendapat penjelasan-penjelasan yang  terbuka tentang keadaan Kabuyutan Sendang Apit. Bebahu yang sudah berada di rumah itu sebelumnya, yang  ikut menemui Mahisa Murti dan Kiai Wijang Juga berusaha untuk membuka pengertian kedua orang pengawal anak Ki Buyut itu. Tetapi keduanya masih saja mencurigai setiap orang. Ketika Mahisa Murti bertanya dimana Ki Buyut Sendang Apit saat itu berada, maka salah seorang pengawal itu ju stru ganti bertanya "Untuk apa kalian mengetahuinya?” "Ki Sanak" berkata Kiai Wijang "kami hanya ingin mendapat gambaran tentang peristiwa yang t erjadi di Kabuyutan Sendang Apit." "Jika Ki Sanak mengetahuinya, apakah ada gunanya?” bertanya salah seorang pengawal itu. "Kami memang tidak menjanjikan bahwa kami akan berguna bagi kalian" jawab Mahisa Murti "kami hanya tertarik mendengar peri stiwa yang  telah mengguncangkan ketenangan hidup orang banyak itu." "Sekarang kalian sudah mengetahui bahwa anak ini ada disini. Sebenarnya aku sudah minta kepada Ki Bekel agar tidak setiap orang diberitahu, dimana anak ini tinggal. " berkata salah seorang dari kedua pengawalnya itu. Tetapi Ki Bekellah yang  menjawab "Ki Sanak. Bagiku angger Mahisa Murti dan Kiai Wijang tidak terhitung setiap orang. Mereka bagi kami adalah orang-orang yang  dekat dan bahkan aku dapat mengatakan bahwa mereka adalah pelindung kami. Bukan saja padukuhan ini, tetapi juga seluruh Kabuyutan ini. Angger Mahisa Murti pulalah yang  baru kemarin meny elamatkan padukuhan ini dari tangan sekelompok penjahat yang berniat m erampok para pengungsi disini. Jika anak-anak muda padukuhan ini mampu memberikan sedikit perlawanan, maka itu adalah karena angger Mahisa Murti pula.” Kedua pengawal itu m emang m engangguk-angguk. Tetapi seorang diantara mereka masih juga berkata "Tetapi Ki Bekel. Sejak semula aku sudah minta agar anak ini diperlakukan khusus." "Jika aku mengajak angger Mahisa Murti dan Kiai Wijang datang kemari ini juga dalam rangka perlakuan khusus itu. Aku tidak m embawa keduanya kepada setiap pengungsi yang ada di sini. Sebelumnya aku memang mempertemukan angger Mahisa Murti dengan bebahu yang  kini juga berada di sini." "Baik. Ba ik" jawab salah seorang pengawalnya "tetapi kami tidak dapat memberikan banyak keterangan tentang Kabuyutan kami. Satu kenyataan yang  telah kalian lihat, bahwa kami harus mengungsi dari Kabuyutan kami yang sedang kalut itu. Tetapi kami sekarang tidak tahu dimana Ki Buyut berada." "Baiklah" sahut Mahisa Murti "kami memang tidak ingin mengetahui dimana Ki Buyut berada. Sebenarnya kami hanya ingin tahu, kenapa kemelut itu terjadi Apa pula peran mPu Renapati dan Padepokannya. " Kedua pengawal itu m enggeleng. Seorang diantara mereka berkata "Kami tidak tahu, Ki Sanak. Yang kami tahu, kami harus meny elamatkan anak muda ini. Dan itu sudah kami lakukan. Mudah-mudahan kami dapat m elakukan tugas kami selanjutnya dengan baik. Tentu saja dengan bantuan Ki Bekel dan para bebahu padukuhan Logandeng." Namun bebahu Kabuyutan yang sudah berada dirumah itu lebih dahulu berkata "Aku sudah mengatakan serba sedikit tentang kemelut yang  terjadi. Tetapi aku percaya kepada angger Mahisa Murti. Bahkan seperti kata Ki Bekel, angger Mahisa Murti telah melindungi para pengungsi yang ada di padukuhan ini. Baru saja para pengungsi diselamatkan dari perampokan. Namun m ungkin lain kali dari kekuatan yang lebih besar dari sekedar perampokan." Kedua pengawal anak Ki Buyut Sendang Apit itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi kerut didahinya menunjukkan bahwa mereka tidak sependapat dengan bebahu itu. Mahisa Murti dan Kiai Wijangpun tidak memaksa. Sementara Ki Bekel merasa kecewa pula atas sikap kedua pengawal itu. Namun Mahisa Murti kemudian berkata "Baiklah. Aku mengerti sikap hati-hati para pengawal anak Ki Buyut itu. Mereka belum mengenal kami, sehingga karena itu, maka mereka tidak langsung dapat mempercayai kami." Tetapi Ki Bekel menjawab "Mungkin mereka tidak mengenal angger Mahisa Murti dan Kiai Wijang. Bahkan mungkin mereka belum pernah m endengar nama Padepokan Bajra Seta. Tetapi seharusnya mereka mengenal aku dan percaya kepadaku." Wajah kedua pengawal itu menjadi tegang. Tetapi keduanya tidak mengatakan sesuatu. Mahisa Murti dan Kiai Wijangpun tidak terlalu lama berada ditempat itu. Sejenak kemudian m aka keduanya telah m inta diri dan kembali ke Padepokan Bajra Seta. Kepada Ki Bekel, Mahisa Murti berkata "Sikap kedua pengawal itu m embayangkan, bahwa kekalutan di Kabuyutan Sendang Apit telah sampai kepuncaknya. Kedua pengawal itu selalu dibayangi oleh suasana yang  dapat membahayakan anak Ki Buyut itu, sehingga merekapun menjadi sangat berhatihati." "Bukan sekedar sangat berhati-hati. Tetapi sudah berlebihan. Sebenarnya aku merasa tersinggung oleh sikapnya itu." sahut Ki Bekel. "Sudahlah Ki Bekel" berkata Mahisa Murti kemudian "biarlah untuk sementara kita tidak mengganggu mereka." "Untunglah mereka berhadapan dengan angger. Jika tidak, maka tentu akan dapat m enjadi salah paham. Bahkan tanpa angger, agaknya aku akan ber sikap lain pula." Mahisa Murti terseny um. Katanya "Lain kali mudahmudahan kita dapat berbicara lebih banyak dengan mereka.” Kiai Wijangpun kemudian berdesis pula "Kecemasan telah mencengkam setiap orang di Kabuyutan Sendang Apit. Bukan sa ja keluarga Ki Buyut, tetapi tentu juga semua penghuninya." "Tetapi pengawal-pengawal yang dungu itu tidak mau membantu memberikan gambaran tentang keadaan di Kabuyutannya." Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Kiai Wijangpun telah meninggalkan padukuhan Logandeng kembali ke Padepokan Bajra Seta. Sambil m elangkah memasuki gerbang padepokan, Mahisa Murti berkata "Jika kita tidak berhasil mendapat keterangan tentang Kabuyutan itu disini Kiai, maka kita lanjutkan saja rencana kita untuk melihat langsung keadaan kedua Kabuyutan itu." Kiai Wijang mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Kita memang sebaiknya melihat sendiri keadaan Kabuyutan itu.” Meskipun demikian, maka keduanya masih akan menunggu satu dua hari. Mungkin ada keterangan-keterangan baru yang dapat m emberikan petunjuk arah bagi langkah-langkah yang dapat diambil oleh Padepokan Bajra Seta. Namun dikeesokan harinya, seorang utusan Ki Bekel memberitahukan, bahwa anak Ki Buyut dari Sendang Apit telah meninggalkan padukuhan Logandeng. Anak itu telah dibawa oleh para pengawalnya menemui Ki Buyut Talang Alun dan atas persetujuan Ki Buyut Talang Alun, anak itu kini berada di rumah Ki Buyut. "Terima kasih atas pemberitahuan ini" berkata Mahisa Murti "pada suatu saat kami akan menghadap Ki Buyut Talang Alun." Namun dengan demikian, Mahisa Murti dan Kiai Wijang telah mengambil kesimpulan, bahwa anak Ki Buyut itu benarbenar telah terancam. Sehingga kedua pengawalnya menjadi sangat berhati-hati. Disore hari Mahisa Murti dan Kiai Wijang dengan mengajak Mahisa Semu yang  mulai diperkenalkan dengan persoalan-persoalan yang lebih luas telah langsung m enemui Ki Bekel itu sendiri. Sebenarnyalah seperti yang  dikatakan oleh utusannya, bahwa anak Ki Buyut Sendang Apit telah berada di rumah Ki Buyut Talang Alun. "Bahkan kedua pengawal itu berpesan dengan lebih bersungguh-sungguh bahwa hal ini jangan sampai diketahui oleh siapapun." berkata Ki Bekel selanjutnya. "Tetapi Ki Bekel memberitahukan kepada kami" desis Mahisa Murti sambil ter senyum. "Kami hanya memberitahukan kepada orang-orang yang  sangat kami percaya. Orang yang  aku perintahkan menemui angger itupun orang yang  sangat aku percaya" jawab Ki Bekel. "Jika demikian, Ki Bekel" berkata Mahisa Murti "keadaan memang menjadi sangat gawat. Biarlah nanti malam Putut Lembana dan Mahisa Semu berada di banjar. Kami akan menempatkan ampat orang cantrik pilihan. Sementara kami akan m engirimkan dua orang Putut yang  lain ke rumah Ki Buyut Talang Alun. Tetapi mereka tidak akan bertemu langsung dengan Ki Buyut. Mereka m engenal baik anak-anak muda di Kabuyutan, sehingga biar saja mereka langsung berbaur dengan mereka."


Jilid 118
"TERIMA KASIH NGGER. Aku mengerti maksud angger. Agaknya angger mencemaskan kemungkinan ada orang-orang yang langsung memburu anak Ki Buyut Sendang Apit itu sampai kemari.” "Ya, Ki Bekel." jawab Mahisa Murti, sementara Kiai Wijang menyambungnya "Kami membaca naluri kedua pengawal yang tajam itu, sehingga mereka merasa perlu memindahkan momongannya." Ki Bekel mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia bergumam "Jika demikian, maka kami harus bersiap-siap sepenuhnya. " Dengan sungguh-sungguh Mahisa Murtipun menjawab "Ya. Padukuhan ini harus benar-benar bersiap. Yang akan dihadapi mungkin bukan sekedar perampok betapapun kuatnya. Tetapi mungkin satu kelompok khusus yang dikirim untuk memburu anak ki Buyut Sendang Apit itu." Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Kiai Wijangpun mohon diri. Sementara itu, Ki Bekelpun langsung memerintahkan anak-anak muda padukuhan itu bersiap-siap. Bahkan bukan hanya anak-anak muda, tetapi semua laki -laki yang berani dan masih memiliki tenaga dan kemampuan untuk ikut mengamankan padukuhan mereka dari pihak manapun juga. Ki Bekel sendiri tidak hanya sekedar memberi perintah. Tetapi ia sudah berniat untuk m emimpin langsung kekuatan padukuhan itu jika t erjadi sesuatu. Dengan demikian, m aka setiap bebahupun telah ikut bersiap-siap pula menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Menj elang senja, maka seperti yang  dikatakan oleh Mahisa Murti, maka Putut Lembana dan Mahisa Semu telah berada di padukuhan itu berserta ampat orang cantrik pilihan. Pada waktu yang sama, dua orang Putut yang  lain serta ampat orang cantrik pula telah berada di padukuhan induk Kabuyutan Talang Alun. Kehadiran anak Ki Buyut Sendang Apit agaknya telah membuat padukuhan induk Kabuyutan Talang Alun juga bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan atas permintaan kedua orang pengawal anak Ki Buyut Sendang Apit itu. Berbeda dengan kehadiran Putut Lembana dan Mahisa Semu di Logandeng yang langsung berhubungan dengan Ki Bekel, maka Putut Manyar dan Putut Parama serta para cantrik yang  datang bersamanya, ju stru langsung berada di banjar bersama anak-anak muda yang sudah mereka kenal dengan baik. Namun ternyata tidak seorangpun diantara anak-anak muda yang mengetahui, bahwa anak Ki Buyut Sendang Apit ada di padukuhan induk itu. Tidak seorangpun yang menyebutnya. Bahkan seorang bebahu yang  ada diantara merekapun tidak menyinggung bahwa diantara para pengungsi itu terdapat anak Ki Buyut Sendang Apit. Namun ju stru karena itu, maka kedua Putut dan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta juga tidak menyebut sama sekali tentang pengungsi yang  khusus itu. Ketika malam turun, maka baik di padukuhan induk, maupun di padukuhan Logandeng, gardu -gardupun telah berisi. Demikian pula banjar padukuhan. Ki Bekel dan para bebahu juga sudah berada di banjar pula. Ki Bekel yang  duduk dipendapa banjar bersama Putut Lembana dan Mahisa Semu serta para bebahu telah membicarakan banyak kemungkinan yang dapat terjadi di padukuhan itu. Dalam pada itu, maka Putut Lembanapun berkata "Ki Bekel. Keadaan ini mungkin akan berlangsung untuk waktu yang agak panjang. Ki Bekel harus berusaha untuk selanjutnya, mengatur tugas-tugas anak-anak muda. Karena tugas-tugas mereka memerlukan waktu, maka sebaiknya semua tenaga jangan dihentakkan habis-habisan. Jika malam ini semua anak muda dan laki-laki keluar dari rumah, dapat dimengerti, justru pada hari yang pertama. Namun mulai besok, sebaiknya Ki Bekel mulai menghemat tenaga. Anakanak muda dan laki -laki di padukuhan ini dapat diatur bergantian. Dengan demikian maka tenaga mereka tidak terhambur sia -sia.” Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya "Aku sependapat ngger. Tetapi hari ini aku tidak sempat melakukannya. Tetapi malam nanti, menjelang dini, aku akan memanggil para bebahu untuk mengatur kegiatan di malam-malam berikutnya." Tetapi pembicaraan mereka terputus ketika dua orang anak muda naik ke pendapa banjar dengan tergesa -gesa. "Ada apa ?" bertanya Ki Bekel. "Ki Bekel" jawab salah seorang dari anak muda itu "aku melihat sekelompok orang yang tidak dikenal mendekati padukuhan ini. " "Mungkin mereka sekelompok pengungsi yang  baru datang" desis Ki Bekel. "Tidak. Mereka semuanya laki-laki bersenjata. " Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya " aku akan ke pintu gerbang padukuhan." "Mereka sudah semakin dekat. Kami yang berada di bulak berlari lewat pematang dan tanggul parit mendahului mereka." berkata salah seorang dari keduanya. Ki Bekelpun dengan tergesa -gesa telah ber siap m enuju ke regol padukuhan. Putut Lembana, Mahisa Semu dan para bebahupun ikut pula bersamanya. Sementara anak-anak muda dan laki -laki yang ada di banjar diminta mempersiapkan diri. "Hubungi gardu-gardu per onda. Kalian datang kepada mereka. Jangan bunyikan isyarat lebih dahulu sebelum semuanya jelas. Mungkin kita memang tidak perlu membunyikannya. Anak-anak muda yang  ada di gardu dibelakang regol akan dapat menjadi penghubung jika baik sekali. " Demikianlah, maka Ki Bekel serta beberapa orangpun telah menuju ke regol padukuhan. Beberapa saat mereka menunggu. Sementara itu kepada beberapa orang anak muda yang ada di gardu dibelakang reg ol, Ki Bekel minta mereka mengamati keadaan. Mungkin mereka memang tidak melewati regol padukuhan. "Buat hubungan dari gardu ke gardu untuk mengamati seluruh jalan masuk ke padukuhan ini." berkata Ki Bekel kepada anak-anak muda yang  sedang meronda. Anak-anaK muda yang sedang meronda itupun sea-era menjalankan tugas sebagaimana diperintahkan oleh Ki Bekel. Mereka segera memencar untuk menghubungi gardu-gardu yang ter sebar. Beranting perintah Ki Bekel itupun dalam waktu yang singkat telah sampai kepada para per onda di gardu-gardu terutama yang dekat dengan jalur jalan memasuki padukuhan itu. Untuk beberapa saat Ki Bekel menunggu. Demikian pula anak-anak m uda yang  m engawasi setiap pintu regol. Namun mereka tidak melihat seorangpun. Bahkan para peronda itu tidak saja m engawasi jalan-jalan masuk, tetapi juga dinding padukuhan yang  seakan-akan setiap jengkal mendapat pengawasan yang sungguh-sungguh. Putut Lembana yang berada di regol induk bersama Ki Bekel itu dengan kepekaan panggraitannya merasakan satu kejanggalan. Sekelompok orang itu tentu sudah berada disekitar padukuhan itu. Mungkin mereka sengaja menunggu. Tetapi mungkin tidak. Karena itu, seakan-akan demikian tiba-tiba ia berkata "Ki Bekel, aku akan pergi ke banjar. Aku ingin melihat rumah tempat anak Ki Buyut Sendang Apit itu kemarin tinggal, sebelum dipindahkan kerumah Ki Buyut Talang Alun. " "Untuk apa ?" bertanya Ki Bekel. "Aku akan melihatnya " jawab Putut Lembana. Lalu katanya kepada Mahisa Semu" Marilah. Kita lihat rumah itu.” Dengan tergesa-gesa Putut Lembana dan Mahisa Semu telah pergi ke banjar. Namun sebelum mereka sampai, ternyata mereka telah melihat keributan yang terjadi. Demikian Putut Lembana sampai ke banjar, maka iapun segera bertanya "Apa yang terjadi ?" "Beberapa orang telah mendatangi rumah sebelah " jawab anak muda itu. "Dimana para cantrik sekarang ?" bertanya Mahisa Semu "Mereka telah pergi kerumah sebelah," jawab anak muda itu. Lalu katanya pula "Kawan-kawan juga sudah pergi kerumah sebelah." Putut Lembana dan Mahisa Semupun segera berlari Putut Lembana itu sempat berdesis "Aku sudah mengira Mereka tentu bukan orang kebanyakan. Mereka mampu memasuki padukuhan ini tanpa diketahui oleh para peronda dan anakanak muda yang  bertugas." "Kenapa mereka mendatangi rumah itu ?" bertanya Mahisa Semu. "Mereka mengira bahwa anak Ki Buyut Sendang Apit masih berada ditempat itu. " Mahisa Semu tidak sempat bertanya lagi. Mereka telah memasuki halaman rumah saudara Ki Bekel yang  sebelumnya menjadi tempat tinggal ai.ak Ki Buyut Sendang Apit yang telah mengungsi dari Kabuyutannya yang  sedang kalut. Pertempuran m emang telah t erjadi di halaman rumah itu Para cantrik telah terlibat pula didalamnya selain beberapa orang anak muda. Bebahu Sendang Apit yang  mengungsi dirumah itupun telah ikut bertempur pula bersama anak-anak muda Logandeng. Namun sebenarnyalah bahwa orang-orang yang datang menyerang itu memiliki beberapa kelebihan dari anak-anak muda Logandeng. Untunglah para cantrik sudah ada diantara mereka, sehingga meskipun hanya ampat orang, namun para cantrik itu dapat memberikan kekuatan dan lebih dari itu, keempat cantrik yang  bertempur dengan garangnya itu menjadi pendor ong jiwani bagi keberanian anak-anak muda Logandeng sebagaimana saat mereka bertempur dengan sekelompok perampok yang  dipimpin oleh Jaran Abang. Kedatangan Putut Lembana dan Mahisa Semu ternyata telah membangkitkan keberanian yang  semakin tinggi. Beberapa orang anak muda diluar sadarnya tiba -tiba saja sudah bersorak, sehingga sekelompok orang yang  m eny erang padukuhan Logandeng itu t erkejut. Merekapun segera sadar, bahwa yang  datang itu tentu orang-orang yang dianggap penting oleh anak-anak muda Logandeng itu. Sebenarnyalah ketika Putut Lembana dan Mahisa Semu mulai turun kegelanggang, maka orang-orang yang datang menyerang itu mengetahui dengan pasti, bahwa dua orang anak muda itu memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda yang lain. Pemimpin sekelompok orang yang meny erang padukuhan itupun telah berusaha untuk dapat langsung menghadapi Putut Lembana. Sementara itu, Putut Lembanapun tidak menghindarinya. "Kau tentu bukan bagian dari anak-anak muda Logandeng" geram lawannya itu. "Kenapa ? Aku adalah bagian dari mereka. Aku kemanakan Ki Bekel Logandeng " jawab Putut Lembana. "Omong kosong" geram orang itu sambil menyerang. Dengan tangkas Putut Lembana menghindari serangan itu. Bahkan iapun telah mulai meny erang pula dengan cepatnya. Sementara itu, lawannya itu bertanya pula "Dimana kau sembunyikan anak itu he ?" "Anak yang mana ?" jawab Putut Lembana. "Jangan berpura-pura. Jika kami tidak m enemukan anak itu, maka padukuhan ini akan kami hancurkan." geram orang itu. "Kau salah menilai kemampuan anak-anak muda Logandeng" jawab Putut Lembana" tetapi semuanya sudah terlanjur. Kau sudah terlanjur menginjak bumi Logandeng. Kau telah membasahi bumi kami dengan darah. Karena itu, maka kalian tidak akan dapat keluar lagi dari padukuhan ini. Kemungkinan terbaik bagi kalian hanyalah meny erahkan diri. Karena kami tidak terbiasa membunuh orang yang sudah menyerah.” Orang itu benar-benar menjadi m arah. Ia m erasa terhina oleh kata-kata Putut Lembana. Karena itu, maka iapun kemudian meny erang dengan garangnya. Tetapi Putut Lembana dengan tangkasnya menghindari serangan itu dengan loncatan panjang. Lawannya mengira bahwa Putut Lembana itu terdesak. Tetapi Putut Lembana justru tertawa sambil berkata "Apakah kau benar-benar orang Pudaklamatan? Atau kau datang dari Padepokan Kencana Pura yang  lebih dikenal dengan Padepokan Renapati?" "Setan kau. Darimana kau dapat meny ebut semuanya” Putut Lembana meloncat menghindari serangan lawannya. Namun ia sempat bertanya pula "Siapa namamu he? Kau kira aku tidak dapat m elihat bahwa ada beberapa orang diantara kalian yang  memiliki unsur gerak yang senafas. Tentu kemampuan itu kajian terima dari sebuah perguruan” "Tutup mulutmu. Aku akan membunuhmu" geram orang itu. Putut Lembana tidak bertanya lagi. Pertempuran diantara keduanya menjadi semakin sengit. Tetapi justru Putut Lembana mengenali kesamaan unsur gerak dari beberapa orang kawannya, maka seakan-akan tanpa menyadarinya, iapun mulai memperhatikan beberapa orang yang  mengaku anak-anak muda Padukuhan Logandeng. Pada setiap kesempatan ia mencoba mengenali unsur gerak anak-anak muda yang bertempur dihalaman. Ternyata orang itupun mampu mengenali kesamaan antara beberapa orang yang ternyata adalah para cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Hampir diluar sadarnya pula orang itu berteriak "He, siapa sebenarnya kau dan beberapa orang yang ada disini, he? Jika kau dapat menyebut aku dari sebuah perguruan, bukankah kau dan beberapa orang kawanmu juga datang dari sebuah perguruan?" "Ya " jawab Putut Lembana "seorang yang berilmu telah datang hampir setiap pekan dua kali untuk melatih kami, anak-anak muda Logandeng dalam olah kanuragan. Memang tidak semua, tetapi sebagian dari kami." Orang itu menggeram marah. Dengan serta merta ia meningkatkan kemampuannya meny erang Putut Lembana bagaikan arus banjir bandang. Tetapi Putut Lembana ternyata cukup tangkas. Seranganserangan lawannya dapat dihindarinya. Bahkan sekali-sekali iapun telah membalas menyerang pula. Bahkan seranganserangan Putut Lembana cukup mengejutkan lawannya. Sementara itu, Mahisa Semupun bertempur dengan sengitnya pula. Ia menghadapi seorang yang  bertubuh sedang. Namun wajahnya nampak garang. Seleret bekas luka terdapat dikeningnya, Kepalanya yang botak membuat kesan tersendiri. Namun Mahisa Semu dengan tangkasnya melawan orang berkepala botak itu. Dengan cepat ia berloncatan menghindari serangan-serangan yang keras. Namun tiba-tiba saja Mahisa Semulah yang meloncat meny erang. Lawannya memang m emiliki pengalaman yang  lebih luas. Tetapi bahwa Mahisa Semu yang  telah ditempa di Padepokan Bajra Seta, telah m embuat lawannya kadang-kadang m enjadi bingung. Mahisa Semu yang  bagi lawannya masih t erlalu muda itu, ternyata sulit untuk dapat dikuasainya. Mahisa Semu yang  telah m endalami latihan-latihan untuk membangunkan tenaga dalamnya itu, benar-benar telah mengejutkan lawannya ketika sekali-sekali terjadi benturan Anak yang masih sangat muda itu ternyata telah memiliki kekuatan yang  sangat besar, serta kemampuan ilmu yang mendebarkan. Bahkan ketika pertempuran itu menjadi semakin sengit. Mahisa Semu ju stru mulai berhasil menyusupkan seranganserangannya disela -sela pertahanan lawannya. Lawannya yang  berkepala botak itu terkejut ketika kaki Mahisa Semu ternyata mampu menggapai lambungnya sehingga orang berkepala botak itu terdorong selangkah surut. Orang itu meny eringai kesakitan. Namun mulutnya telah mengumpat kasar. Mahisa Semu yang melihat lawannya mengambil jarak, justru tidak m emburunya. Ia berusaha m enahan diri untuk melihat akibat dari serangannya. "Anak iblis" geram orang berkepala botak itu "kau benarbenar tidak tahu diri. Kau kira bahwa seranganmu itu benarbenar dapat m engenai tubuhku. Jika sekali kau berhasil itu karena aku ingin mencoba, seberapa jauh kekuatan serta ketrampilanmu." "Apakah kau sudah dapat menilai hasilny a?" bertanya Mahisa Semu. "Gila kau. Aku koyakkan mulutmu" geram orang itu. Mahisa Semu memang tidak berbicara lebih banyak lagi. Namun serangan-serangannya yang  kemudian datang seperti badai yang menghantam dan mengguncang pepohonan Orang berkepala botak itu harus melihat kenyataan. Anak yang masih sangat muda itu ternyata benar-benar telah menggetarkan jantungnya. Beberapa kali orang berkepala botak itu harus berloncatan mundur. Orang berkepala botak itu tidak menunggu lebih lama lagi. Sementara itu anak-anak muda menjadi semakin banyak berdatangan. Bahkan kemudian Ki Bekel dan beberapa bebahu yang mendapat laporan segera datang pula. Karena itulah, m aka orang-orang yang  datang m eny erang itu harus memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Namun ternyata bahwa orang-orang yang datang itu cukup licik. Dua orang diantara mereka telah meny elinap masuk melalui pintu butulan. Karena pintu itu diselarak dari dalam, maka pintu itu telah dirusak dan dipecahkan dari luar. Dua orang itu sempat menerobos masuk ke dalam dan mencari anak Ki Buyut Sendang Apit yang  mereka cari. Kedua orang itu telah m enggemparkan orang-orang yang  ada didalam rumah itu. Beberapa orang perempuan telah berteriak. Sementara semua laki -laki telah keluar ikut bertempur di halaman rumah itu. Termasuk bebahu yang mengungsi ketempat itu serta adik Ki Bekel itu sendiri. Tetapi kedua orang itu tidak menemukan yang mereka cari. Didalam rumah itu tidak ada seorang anak laki -laki remaja. Juga pengawal-pengawalnya tidak kelihatan berada di rumah itu. Sementara itu jerit perempuan didalam rumah itu telah mengundang perhatian anak-anak muda yang  ada didalam halaman. Karena itu, m aka beberapa orang diantara mereka telah meloncat berlari kepintu pringgitan. Seorang cantrik yang melihat m erekapun telah m enyusul pula sambil berkata "Tunggu” "Aku dengar jerit didalam rumah." berkata seorang anak muda. Cantrik itu tidak menjawab. Tetapi dengan pedang ditangan ia berdiri di depan pintu pringgitan yang terbuka sedikit. "Kenapa kau justru berhenti disitu?" bertanya seorang anak muda. Cantrik itu masih tidak menjawab. Namun perlahanlahan ia berkisar. Dengan hatihati ia memperhatikan keadaan diruang dalam. Beberapa orang perempuan berdiri ketakutan. Namun cantrik itu sempat membaca arah pandangan mata perempuan2 itu lewat pintu yang sedikit terbuka itu. Karena itu, maka dengan serta merta cantrik itu telah menendang pintu yang  sedikit terbuka itu. Sekaligus meloncat dengan pedang terjulur. Seperti yang  diperhitungkan, maka seorang diantara kedua orang yang ada didalam rumah itu telah mengayunkan senjatanya menebas kearah leher cantrik itu. Tetapi cantrik itu telah bersiap sepenuhnya. Karena itu, dengan tangkasny a ia merendah dan sekaligus m eloncat menjauhi pintu. Sementara itu ujung tombak dari seorangyangsatu lagi telah terjulur pula. Tetapi sekali lagi cantrik itu meloncat menjauh. Pa da saat itu, dua orang anak muda telah menerobos masuk pula, sementara cantrik itu berteriak "Hati-hati." Tetapi seorang diantara kedua orang yang  telah berada didalam, yang siap meny erang anak-anak muda itu ju stru harus meloncat menghindari serangan cantrik yang sudah lebih dahulu masuk. Sedangkan kedua orang anak muda yang menyusul kemudian itupun segera bersiap m enghadapi orang yang satu lagi. Ketika dua orang anak muda yang lain masuk pula kedalam, maka cantrik itupun berkata "jaga perempuan dan anak-anak itu.” Namun nampaknya kedua orang yang menyelinap masuk itu tidak ingin bertempur diruang dalam yang  sempit. Tetapi mereka juga tidak mau keluar lewat pintu depan, karena dengan demikian maka mereka akan sampai di pringgitan. Karena itu, maka terdengar isyarat dari salah seorang diantara m ereka. Sebuah suitan nyaring telah m enggetarkan seisi rumah itu. Bahkan getarannya terdengar sampai ke halaman. Kedua orang yang sudah ada didalam itupun dengan serta merta telah m eloncat m eninggalkan ruang dalam m enembus pintu samping masuk ke serambi dan berlari keluar pintu butulan. Pintu yang  telah mereka pecahkan ketika mereka memasuki bagian dalam rumah itu dengan tidak melalui pintu depan. Ternyata isyarat itu bukan sekedar isyarat untuk berlari keluar dari ruang dalam. Tetapi juga isyarat, yang memberitahukan bahwa didalam rumah itu tidak terdapat orang yang  mereka cari. Didalam rumah itu tidak diketemukan anak Ki Buyut Sendang Apit. Tidak pula para pengawalnya. Isy arat itu terdengar sahut menyahut. Yang seorang memberikan isy arat yang didengar oleh yang lain. Yang lainpun telah memperdengarkan isyarat pula. Namun dalam pada itu, Putut Lembana yang  bertempur dengan pemimpin kelompok dari orang-orang yang menyerang itu m endengar pula isy arat itu. Karena itu, maka serangan-serangan justru menjadi semakin sengit. Ia sama sekali tidak berniat untuk memberi kesempatan orang itu melarikan diri dari arena. Pertempuran itu m emang menjadi semakin sengit. Orangorang yang datang meny erang itu merasa telah terjebak dalam satu pertempuran yang rapat, sehingga sulit bagi mereka untuk melarikan diri dari arena. Satu dua orang diantara mereka memang telah menjadi korban dalam pertempuran itu. Sementara itu, cantrik yang bertempur didalam rumah, serta anak-anak muda yang  bersamanya, ternyata m engalami kesulitan untuk mengejar kedua orang yang melarikan diri itu. Keduanya dengan cepat berpencar dan masuk kedalam gelap. Cantrik dan anak-anak m uda yang  mengejarnya ternyata telah kehilangan jejak. Ketika mereka menyusul buruan mereka meloncati dinding halaman, maka orang yang mereka kejar itu telah hilang. Cantrik itupun bersama dengan anak-anak muda yang ikut mengejar buruan mereka akhirnya harus kembali ke halaman, menyatukan diri dengan kawan-kawan mereka yang  telah mengepung halaman itu. Tetapi beberapa orang diantara mereka ternyata tidak menunggu lebih lama lagi, Ketika mereka mendengar isyarat itu, maka merekapun dengan serta merta telah berusaha untuk mencari jalan keluar dari halaman rumah itu. Pemimpin kelompok mereka ternyata tidak mampu berbuat sesuatu. Demikian pula orang yang  sedang bertempur melawan Mahisa Semu. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk meninggalkan arena. Putut Lembana dan Mahisa Semu tanggap akan isy arat yang  terdengar, sehingga justru karena itu, maka mereka menjadi seakan-akan semakin lekat dengan lawan-lawan mereka. Tetapi beberapa orang memang sempat melarikan diri, sedang yang lain lagi harus menyerah karena mereka tidak mempunyai pilihan lain. Namun lawan Putut Lembana itu seakan-akan tidak menghiraukan apa yang  telah t erjadi. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, ia berusaha untuk menguasai Putut Lembana. Namun ternyata usahanya sia -sia. Putut Lembana yang sudah ditempa di Padepokan Bajra Seta itu ternyata mampu mengimbanginya, bahkan kemudian semakin jelas, bahwa Putut Lembana memiliki kelebihan dari lawannya. Sedangkan yang bertempur melawan Mahisa Semu menjadi seperti orang yang sedang mabuk. Lawannya yang  masih muda itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk mengambil jarak. Setiap kali lawannya meloncat surut, maka dengan cepat Mahisa Semu telah memburunya. Bahkan kemudian sekali-sekali serangan Mahisa Semu yang masih terlalu muda itu justru mulai menyusup menembus pertahanan lawannya. Lawannya yang semula menganggap bahwa Mahisa Semu tidak lebih dari seorang anak kecil, menjadi gugup ketika keningnya ternyata mulai tersentuh tangan Mahisa Semu terayun menebas dengan kerasnya, sementara orang itu menghindari dengan m enundukkan kepalanya, Mahisa Semu telah memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Demikian orang itu menunduk, maka dengan pukulan yang keras, Mahisa Semu meny erang kepala yang botak itu dengan sisi telapak tangannya pula. Orang itu mengaduh tertahan. Namun kepalanya yang  tunduk itu menjadi semakin menunduk. Hampir bersamaan dengan itu, maka Mahisa Semu telah mengangkat lututnya, sehingga lutut itu telah membentur hidung orang yang berkepala botak itu . Sekali lagi orang itu mengaduh. Wajahnyapun segera terangkat. Namun Mahisa Semu yang  belum berpengalaman itu, justru menghentikan serangannya ketika ia melihat darah dihidung lawannya yang telah membentur lututnya. Kesempatan itu dipergunakan oleh lawannya untuk meloncat mengambil jarak. Ketika Mahisa Semu meloncat memburunya, langkahnya tertegun. Lawannya itu mengacukan parangnya sambil berkata "Semula aku segan mempergunakan senjata, karena aku mengira bahwa lawanku tidak lebih dari anak-anak yang baru lepas menyusu. Ternyata lawanku tidak kurang dari anak serigala yang liar dan buas” Mahisa Semu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun telah m enarik luwuknya yang memiliki nilai tersendiri bagi anak muda itu. "Bagus" berkata lawannya yang hidungnya berdarah "Apaboleh buat. Kau akan m ati karena senjataku. Meskipun aku tidak berhasil memutar lehermu sampai patah dan terpaksa m empergunakan senjata, namun kematianmu akan memberikan kesadaran kepada kawan-kawanmu bahwa anakanak muda padukuhan Logandeng tidak mempunyai kelebihan apa-apa dari anak-anak muda yang lain. " Mahisa Semu sama sekali tidak menjawab. Tetapi dengan loncatan panjang anak itu mulai menyerang. Pertempuran berikutnya merupakan pertempuran yang  sengit. Kedua senjata itu berputaran dengan cepat. Sekalisekali senjata itu beradu. Namun ternyata bahwa tenaga Mahisa Semu semakin lama justru m enjadi semakin mapan. Sementara tenaga lawannya menjadi semakin menyusut. Tetapi lawan Mahisa Semu memang m emiliki pengalaman yang lebih banyak. Karena itu, maka dengan pengalamannya yang panjang itu, orang berkepala botak itu sekali dua kali mampu menipu Mahisa Semu dengan gerakan-gerakan yang cepat dan mengejutkan. Mahisa Semu terkejut ketika perasaan pedih meny engat lambungnya. Sehingga karena itu, maka Mahisa Semulah yang meloncat mengambil jarak. Terasa bahwa cairan yang hangat mengalir dari lambungnya itu. Ujung senjata lawannya telah meny entuh kulitnya, sehingga seleret luka telah menganga. Kemarahan anak muda itu telah membakar jantungnya. Karena itu, maka ia tidak lagi mengekang diri. Lawannya ternyata telah melukainya. Dengan garangnya Mahisa Semupun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Justru sebelum tenaganya menjadi jauh susut, jika darahnya tidak segera menjawab pampat. Karena itulah, maka pertempuranpun menjadi semakin sengit. Keduanya saling meny erang dan bertahan. Tetapi Mahisa Semu yang  telah ditempa dengan sungguhsungguh itu ternyata mempunyai peluang yang  lebih banyak. Meskipun ia telah terluka, namun serangan-serangannya justru menjadi semakin berbahaya. Lukanya merupakan cambuk baginya untuk meny elesaikan lawannya. Lawannya benar -benar mengalami kesulitan. Seranganserangan Mahisa Semu benar-benar tidak dapat dibendung lagi. Meskipun lambungnya telah tergores ujung senjata, tetapi tenaga dan kemampuannya sama sekali tidak menyusut. Itulah sebabnya, maka lawannya benar-benar menjadi cemas. Beberapa kali luwuk Mahisa Semu berdesing ditelinganya. Bahkan semakin lama rasa-rasanya ujung senjata Mahisa Semu itu semakin dekat diwajah kulitnya. Lawan Mahisa Semu yang berkepala botak itu benar-benar mengalami kesulitan. Rasa-rasanya ia sudah tidak akan mendapat kesempatan lagi untuk dapat meny entuh kulit anak muda itu dengan senjatanya. Bahkan orang itu terkejut ketika tiba-tiba saja ujung luwuk Mahisa Semu itu sempat menggapai pundaknya. Orang itu m eloncat jauh kebelakang. Memang ada niatnya untuk melarikan diri. Tetapi rasa-rasanya sulit baginya untuk mendapatkan kesempatan karena Mahisa Semu selalu melekat dengan senjata berputaran. Jika ia m encoba untuk melarikan diri, maka punggungnya akan dapat dilubangi dengan luwuk oleh anak itu. Namun untuk bertempur terus rasa-rasanya memang sia -sia saja. Sementara itu, lawan Putut Lembana mengalami kesulitan pula. Pemimpin kelompok itu benar-benar tidak akan mampu mengalahkan Putut Lembana. Tetapi justru karena ia diserahi untuk bertanggung jawab atas tugas kelompoknya, maka rasarasanya ia tidak akan dapat begitu saja meninggalkan arena itu. Kegagalan itu akan dapat menghancurkan namanya. Ia akan menjadi tidak berharga lagi bagi pemimpinnya dan bahkan perguruannya, justru pada saat ia mulai merayap untuk menggapai satu kedudukan yang  terhormat. Karena itu, maka orang itu harus membuat satu pilihan diantara beberapa kemungkinan. Melarikan diri tanpa menghiraukan kawannya yang masih bertempur. Tetapi kemudian namanya akan dicampakkan di lubang sampah dan bahkan mungkin akan ditimbun dengan sampah pula atau bahkan akan dibakar sama sekali. Atau ia harus memilih untuk mati di pertempuran itu. Meskipun ia tidak begitu jelas untuk apa sebenarnya ia m ati. Sedangkan kemungkinan yang lain adalah menyerah saja. Namanya tentujuga akan terlempar dari deretan nama-nama laki-laki jantan di perguruannya. Tetapi ia tidak akan mengalami siksaan penghinaan diantara saudarasaudara seperguruannya. Karena itu, maka orang itu telah memilih kemungkinan yang terakhir. Ketika ia semakin terdesak dan mengalami kesulitan untuk melepaskan diri dari putaran serangan Putut Lembana, maka ia tidak mempunyai pilihan lain. Ketika punggungnya sudah melekat dinding halaman, m aka orang itu benar-benar telah berputus asa. Ia tidak akan sempat meloncat k eatas dinding, karena justru jika ia melakukannya, maka lawannyaakan dapat menyerangnya dan bahkan menghancurkan tulang punggungnya. Karena itu, maka pemimpin kelompok orang-orang yang  menyerang padukuhan itupun berteriak sambil mengacukan tangannya kedepan, seakan-akan ingin menahan agar lawannya tidak bergeser lebih dekat lagi "Aku m enyerah. Aku menyerah." Putut Lembana menahan dirinya. Sebenarnya ia sudah siap meloncat m enyerang lawannya yang sudah tidak mempunyai banyak k esempatan itu. Ia berharap dengan demikian, maka pertempuran itu akan segera berakhir. Tetapi ternyata lawannya telah menyatakan untuk menyerahkan diri. Namun dalam pada itu, lawan Mahisa Semu terlambat untuk melemparkan senjatanya dan menyatakan diri menyerah. Sesaat sebelum pemimpin kelompoknya itu menyerah, Mahisa Semu telah meloncat dengan garangnya. Senjata t erjulur lurus mengarah kedada lawannya. Namun dengan sekuat tenaganya berusaha menangkis serangan itu dengan menebas senjata Mahisa Semu kesamping. Tetapi Mahisa Semu m engurungkan serangannya. Senjata itu tibatiba menggeliat. Luwuk Mahisa Semu tidak menusuk kearah jantung, tetapi kemudian terayun mendatar. Lawannya terkejut. Tetapi ia masih sempat menghindar. Tetapi serangan berikutnya, senjata itu telah m ematuk lurus kembali. Lawannya yang  berkepala botak itu hanya sempat memiringkan tubuhnya. Karena itu, maka ia tidak mampu melepaskan diri sepenuhnya dari garis serangan lawannya yang masih sangat muda itu. Terdengar orang itu m engaduh ketika luwuk Mahisa Semu itu menembus sela-sela tulang iganya. Mahisa Semu ju stru terkejut ketika ia merasa bahwa tusukannya itu mengenai tubuh lawannya. Dengan serta merta ia menarik luwuknya, bahkan seakan-akan diluar kehendaknya sendiri. Namun dengan demikian, maka darah seakan-akan telah memancar dari luka itu. Beberapa saat orang itu terhuyunghuyung. Namun kemudian orang berkepala botak itupun telah jatuh terjerembab. Dua orang kawannya yang  telah meny erah lebih dahulu tiba -tiba bangkit berdiri. Tetapi beberapa ujung senjata dengan cepat telah teracu dan bahkan ada yang melekat ditubuh mereka. Namun seorang cantrik yang  ada diantara mereka berkata "Biarlah mereka melihat keadaan kawannya. " Anak-anak m uda yang hampir saja menekan ujung-ujung senjata mereka pada kulit orang itu, telah bergeser surut. Sementara cantrik itu berkata "Lihat keadaan kawanmu itu.” Kedua orang itupun segera m enghampiri kawannya yang  terbaring sambil meny eringai menahan sakit. Darah mas:h sa ja dengan derasnya mengalir dari lukanya yang parah. Cantrik itupun kemudian mendekati pula. Katanya "Tahan dengan kain agar darah itu tidak terlalu banyak keluar.” Kemudian katanya kepada seorang anak muda "Tolong, cari air." Sementara menunggu, anak muda yang mencari air, Putut Lembana yang  telah memaksa lawannya untuk meny erah itupun kemudian memanggil salah seorang cantrik dan menyerahkan lawannya itu dalam pengawasannya, sedang Putut Lembana sendiri telah mendekati orang yang terluka parah itu pula. Ketika anak muda yang  mencari air itu datang dengan membawa air ditempayan maka cantrik itupun berusaha untuk mengurangi arus darah itu dengan m enaburkan obat pada luka itu. Namun kemudian juga melarutkan obat yang lain kedalam air dan dituangkannya perlahan-lahan kedalam mulut orang yang  berkepala botak itu. "Nampaknya sebagaimana orang yang bertempur melawanku, orang ini termasuk orang penting diantara mereka yang  meny erang padukuhan ini" desis Putut Lembana ditelinga cantrik itu "karena itu, usahakan agar ia dapat bertahan. Mungkin ia akan dapat memberikan keterangan atau setidak-tidaknya melengkapi k eterangan kawannya yang menyerah itu." Demikianlah, maka pertempuran dirumah saudara Ki Bekel itu sudah selesai. Beberapa orang m eny erah, yang  lain lukaluka. Bahkan mereka terpaksa menyerahkan dua orang korban yang tidak dapat diselamatkan. Sementara ada pula diantara mereka yang  sempat melarikan diri. Namun ada pula diantara anak-anak muda Logandeng yang  menjadi korban. Tetapi dengan jumlah yang  lebih banyak, serta hadirnya Putut Lembana dan para cantrik, nampaknya telah m ampu memperkecil korban. Meskipun demikian ada enam orang anak muda yang  terluka. Dua diantaranya cukup berat. Sementara itu lebih dari lima orang yang  lain telah tergores senjata pula. Meskipun mereka hanya terluka ringan, tetapi mereka tetap memerlukan pengobatan yang baik. Atas ijin Ki Bekel, maka pemimpin kelompok yang  bertempur melawan Putut Lembana itu akan menjadi sumber keterangan tentang keadaan diseberang hutan. Karena itu, maka orang itupun akan ditempatkan terpisah dari kawankawannya. Bahkan Ki Bekel itupun berkata "Biar orang itu berada di rumahku." Ternyata Putut Lembana tidak membuang banyak waktu. Segala sesuatunya diserahkannya kepada para cantrik, sementara Putut Lembana telah mengajak Mahisa Semu untuk pergi ke rumah Ki Bekel. "Kita tidak perlu menunggu sampai esok pagi" berkata Putut Lembana sambil mengobati luka Mahisa Semu "malam ini k ita minta untuk dapat langsung berbicara dengan orang itu." "Apakah Ki Bekel mengijinkan?" bertanya Mahisa Semu. "Ki Bekel tidak berkeberatan" jawab Putut Lembana "aku sudah menghubunginya." Demikianlah, seperti yang dikatakan, Putut Lembana dan Mahisa Semupun telah berada dirumah Ki Bekel. Tawanan itupun telah dibawa kerumah itu pula dengan pengawalan yang kuat. Seorang cantrik dan lima orang anak m uda telah menjaga orang yang  dianggap sangat berbahaya itu. Dirumah Ki Bekel, orang itu telah ditempatkan disebuah bilik digandok kanan. Diserambi duduk mereka yang mengawal orang itu serta dua orang bebahu yang datang pula kerumah itu. Sementara beberapa orang anak muda yang lain yang mengawal rumah dan keluarga Ki Bekel masih tetap berada di pendapa. Putut Lembana, Mahisa Semu dan Ki Bekel kemudian juga berada didalam bilik tempat pemimpin kelompok yang  datang menyerang padukuhan Logandeng itu ditahan. "Ki Sanak" berkata Putut Lembana "sebenarnyalah bahwa kami ingin mengetahui, apa yang  telah terjadi di seberang hutan itu, sehingga banyak sekali orang yang  harus pergi mengungsi. Dipadukuhan ini saja terdapat beberapa keluarga sehingga mau tidak mau akan berpengaruh pada tatanan kehidupan dan kesejahteraan orang-orang Logandeng sendiri. Apalagi jika hal seperti ini akan berlangsung lama." "Aku letih sekali" berkata orang itu "aku minta waktu untuk beristirahat. Yang letih bukan saja tubuhku, tetapi juga penalaranku dan bahkan juga ingatanku." "Aku juga letih Ki Sanak" jawab Putut Lembana. Lalu ia bertanya "Bukankah kita baru saja bertempur? Apa yang kau lakukan, juga aku lakukan." "Tidak " jawab orang itu "aku sudah berjalan melintasi hutan yang lebat itu." "Aku y akin kau tidak letih. Kau seorang yang berilmu tinggi, sehingga kaupun tentu pernah ditempa sehingga kau tentu mempunyai daya tahan yang  sangat kuat. "Tidak. Aku tidak mempunyai day a tahan yang kuat. Sekarang aku ingin beristirahat." jawab orang itu. "Kau harus m enjawab pertanyaan-pertanyaanku Ki Sanak" berkata Putut Lembana. "Aku tidak mau." jawab orang itu. Namun tiba-tiba saja Putut Lembana yang  muda itu dengan tangkasnya menangkap pergelangan tangan orang itu dan memilihnya." Aku ingin menantangmu untuk berperang tanding. Jika kau menolak berbicara dan menolak berperang tanding, maka aku akan membunuhmu dengan caraku. Kau memang sangat pantas untuk diperlakukan seperti itu." Orang itu meny eringai menahan sakit. Tetapi Putut Lembana justru semakin menekan tangan itu. "Jangan, sakit" desis orang itu. "Aku minta kau berbicara malam ini. Jika kau mengaku merasa letih, maka aku akan membuatmu semakin letih dan tidak berdaya. " geram Putut Lembana. Pemimpin kelompok itu benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Anak muda itu memiliki kelebihan daripadanya. Sementara anak yang masih lebih muda lagi itu telah mampu mengalahkan kawannya yang  berkepala botak itu. Bahkan melukainya cukup parah. "Perbuatanmu telah menimbulkan korban di padukuhan ini. Karena itu, maka k emarahan orang-orang padukuhan ini telah m enjalar sampai kesetiap ubun-ubun. Kau tentu tahu maksudku. Justru karena kau adalah orang yang bertanggung jawab." Wajah orang itu menjadi pucat. Ia memang menyadari bahwa kedudukannya menjadi sangat lemah. Apapun yang diperlakukan atas dirinya, tentu dapat dianggap sah oleh orang-orang Logandeng. Bahkan dihadapan Ki Bekel sekalipun. Karena itu, maka ia tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus berbicara jika ia tidak ingin nasibnya menjadi sangat buruk. Sementara itu, Putut Lembanapun bertanya "Bagaimana Ki Sanak ? Apakah kau tetap pada pendirianmu." "Lepaskan. Aku akan berbicara" desis orang itu. Putut Lembana telah melepaskan tangan orang itu. Sambil beringsut sedikit iapun kemudian berkata "Aku kira kau cukup bijaksana menilai keadaan. Kau berada di rumah Ki Bekel Logandeng, sehingga kau tidak m empunyai kesempatan lain kecuali menjawab pertanyaan-pertanyaan kami dengan benar." Orang itu mengangguk kecil. "Nah, beritahukan kepada kami, apakah kalian orang-orang padepokan Renapati ?" Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk kecil sambil menjawab. "Ya. Aku orang dari Padepokan Renapati. Beberapa orang yang datang bersamaku memang para cantrik dari Padepokan Renapati." "Katakan, apa sebabnya, bahwa Ki Buyut Pudaklamatan berniat mengambil alih kepemimpinan Kabuyutan Sendang Apit, meskipun pemisahan itu sudah berjalan lama sekali. Kenapa pula baru sekarang dan begitu tiba -tiba ?" "Aku tidak tahu, Ki Sanak. Aku hanya menjalankan perintah untuk m engambil anak Ki Buyut Sendang Apit yang diketahui ada di padukuhan ini." "Anak Ki Buyut Sendang Apit memang pernah berada di padukuhan ini. Tetapi sekarang sudah tidak berada disim lagi ?" "Dimana ?" bertanya orang itu. “Apakah aku harus memberitahukan kepadamu ? Kemudian melepaskanmu pergi ?" bertanya Putut Lembana. Orang itu tidak menjawab. Tetapi kepalanya justru menunduk dalam-dalam. Dalam pada itu, Putut Lembanapun berkata "Nah, sekarang beritahukan kepada kamt, kenapa tiba -tiba saja Ki Buyut Pudaklamatan menyerang Kabuyutan Sendang Apit ?” "Aku tidak tahu Ki Sanak. Aku hanya menjalankan perintah." jawab orang itu. "Tolong Ki Sanak. Jawab pertanyaan kami. Jika kau tidak mau menjawab, maka kau akan mengalami kesulitan." berkata Putut Lembana. Keringat dingin telah m engalir diseluruh tubuh pemimpin sekelompok orang yang  meny erang padukuhan Logandeng itu. Sementara Putut Lembana bertanya pula "Kenapa Ki Buyut Pudaklamatan tiba-tiba saja meny erang Kabuyutan Sendang Apit, justru setelah untuk waktu yang  lama kedua Kabuyutan itu sempat hidup tenteram dan saling menghormati. Bahkan kedua orang Buyut yang masih sepupu itu dapat hidup rukun, tidak saja sebagai saudara sepupu, tetapi juga sebagai dua orang Buyut yang bertetangga." "Ya, Ki Sanak. Kami tahu bahwa kedua Kabuyutan itu pernah hidup rukun." jawab orang itu "tetapi tiba -tiba saja terjadi gejolak itu. Kemudian, kami sekelompok orang diperintahkan untuk mengambil anak Ki Buyut Sendang Apit yang menurut keterangan ada di padukuhan ini. " "Itu sudah kau katakan. Yang belum kau katakan, apakah sebabnya, kekalutan itu tiba -tiba saja terjadi." potong Putut Lembana. Ketika orang itu sempat memandang wajah Putut Lembana sekilas, maka jantungnya menjadi berdebar-debar. Wajah anak muda itu bagaikan menjadi bara. Orang itu m engetahui, bahwa batas kesabaran anak muda itu sudah sampai kepuncaknya. Karena itu, maka ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi jika ia tidak ingin tulangtulangnya dipatahkan, bahkan barangkali juga lehernya. Karena itu, ketika sekali lagi anak muda itu bertanya, bahkan dengan membentaknya, maka orang itu tidak dapat ingkar lagi. "Aku tidak akan mengulangi lagi pertanyaanku" geram Putut Lembana. Orang itu menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan gejolak jantungnya. Kemudian katanya "Baiklah, anak muda. Tetapi sudah tentu aku tidak akan dapat berbicara lebih banyak dari yang aku ketahui. Bahkan seandainya aku diperas sampai matipun, aku tidak akan dapat berbicara lebih banyak lagi." Putut Lembana menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ingin mengendapkan perasaannya yang  bergejolak. Dengan suara yang bergetar ia menggeram "Katakan apa yang  kau ketahui itu. Apakah aku akan m emerasmu sampai m ati, itu terserah kepadaku." Wajah orang itu menjadi tegang. Namun ia tidak menjawab. "Nah, sekarang katakan, apa sebabnya kekalutan itu terjadi." Putut Lembana benar-benar kehilangan kesabaran. Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab "Memang telah terjadi campur tangan mPu Renapati." "Apa yang dilakukan oleh mPu Renapati itu ?" bertanya Putut Lembana. "mPu Renapati memang menghendaki agar kedua Kabuyutan itu disatukan kembali sebagaimana semula. Kedua Kabuyutan itu harus menjadi satu dibawah kekuasaan Ki Buyut Pudaklamatan, karena sebenarnya ay ahnyalah yang berhak untuk mewarisi kedudukan itu. Hanya karena ayahnya telah meninggal lebih dahulu, maka pewaris jabatan itu berpindah kepada adiknya, ayah Ki Buyut Sendang Apit. Karena itulah, maka segala-galanya harus dikembalikan seperti semula." "Apa pamrih mPu Renapati dengan keinginannya itu ? Jika Kabuyutan Pudaklamatan dan Sendang Apit sudah menjadi satu, apa keuntungan mPu Renapati ? Jika ia mendorong kepada Ki Buyut Pudaklamatan melakukan hal itu, maka mPu Renapati tentu akan mendapat keuntungan. " Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara Putut Lembana yang  sudah kehabisan kesabaran itu membentak "Jawab. Aku tahu bahwa yang  aku tanyakan tidak lebih dari yang kau ketahui. Karena itu, j ika kau mati, m aka itu adalah salahmu sendiri, karena seharusnya kau dapat menghindarinya. " Orang itu memang tidak dapat menghindar lagi. Putut Lembana yang  marah itu memang dapat melemparkannya kepada orang-orang padukuhan Logandeng yang  marah itu pula. Ternyata orang itu tidak dapat berbuat lain. Putut Lembana yang sudah kehilangan kesabaran itu membentak "Jawab. Kau tidak dapat mempermainkan kami. Kau ada ditangan kami dan jiwamu tidak berharga bagi kami." "Baik. Baik. " orang itu menjadi gagap. Lalu katanya "Alasan yang sebenarnya adalah sederhana sekali. Anak Ki Buyut Pudaklamatan akan menjadi menantu mPu Renapati.” "He ?" Putut Lembana dan mereka yang mendengar jawaban itu terkejut. Dengan nada tinggi Putut Lembana mendesak "Kau jangan a sal membuka mulutmu. Kau tahu akibatnya jika kau tidak berkata dengan jujur. " "Aku berkata sebenarnya. Anak laki -laki Ki Buyut Pudaklamatan diharapkan akan mewarisi dua Kabuyutan sekaligus;, sehingga dengan demikian, maka anak mPu Renapati akan menjadi isteri seorang Buyut yang daerahnya sangat luas." "Satu m impi yang gila" geram Ki Bekel Logandeng "hanya karena mimpi itu, maka mPu Renapati telah m engorbankan orang-orangnya. Cantrik-cantriknya, orang-orang Pudaklamatan dan tentu juga orang-orang Sendang Apit yang ingin mempertahankan daerahnya, kampung halamannya." "Tetapi bukankah dahulu kedua Kabuyutan itu memang satu?" bertanya tawanan itu. "Itu dahulu. Tetapi perubahan-perubahan telah terjadi. Bahkan ada dua Kabuyutan Pudaklamatan dan Sendang Apit telah dianggap sah." jawab Ki Bekel Logandeng. Lalu katanya pula "Dahulu Tumapel adalah sebuah Pakuwon, Sekarang Tumapel telah menjadi Singasari yang  besar." "Perubahan-perubahan itu masih berlangsung sampai sekarang. Apa yang pernah pecah itu akan bersatu kembali." berkata tawanan itu. "Perubahan yang  dipaksakan dengan kekerasan, akibatnya akan berkepanjangan. Dendam dan kebencian" berkata Ki Bekel. "Yang ingin digapai oleh mPu Renapati tentu bukan sekedar mimpi yang  sederhana itu. Bukan sekedar bersatunya kembali dua Kabuyutan. Tetapi dengan sebuah Kabuyutan yang besar, maka mPu Renapati akan memiliki landasan kekuatan yang besar." berkata Putut Lembana. "Landasan apa ?" bertanya Ki Bekel. "Aku belum pernah m elihat kedua Kabuyutan itu. Namun agaknya jika kedua Kabuyutan itu menjadi satu, akan tergalang kekuatan yang  besar. Ditambah lagi dengan sejumlah orang-orang terlatih dari padepokan Renapati. Maka mimpi mPu Renapatipun akan berkembang. Mungkin kekuatan itu akan dapat menguasai sebuah Pakuwon atau bahkan lebih luas lagi dari sebuah Pakuwon. Atau bahwa mPu Renapati telah berpaling kepada kekuasaan Kediri. " berkata Putut Lembana. Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Ya Mungkin kau benar-benar ngger. Mimpi mPu Renapati bukan mimpi yang sederhana. Yang dilakukannya sekarang adalah sekedar pancadan saja." "Dengan demikian, maka per soalan yang  timbul karena tingkah mPu Renapati bukan persoalan yang  sederhana, yang terbatas dalam lingkungan kedua Kabuyutan itu saja. Tetapi akan menebar sampai kedaerah yang  lebih luas." "Ya, ngger. Hal ini harus kita bicarakan dengan Ki Buyut Talang Alun. Juga dengan angger Mahisa Murti. Persoalannya memang bukan persoalan yang sederhana sebagaimana angger katakan." Putut Lembanapun kemudian berkata "Baiklah Ki Bekel. Aku akan mengatakannya kepada pimpinan padepokan kami. Sementara itu, biarlah orang ini disini. Kita masih memerlukannya. " Ki Bekel mengangguk sambil menjawab "Ya. Silahkan angger berbicara dengan angger Mahisa Murti. Aku akan berbicara dengan Ki Buyut. Orang ini akan aku simpan disini.” "Orang ini harus dijaga sebaik-baiknya. Jika ia tidak kembali pada waktunya, mungkin pimpinannya akan mengirimkan orang lebih banyak lagi untuk mencari m ereka kemari. Mungkin orang-orang Pudaklamatan, tetapi juga mungkin orang-orang padepokan Renapati.” "Baiklah ngger. Anak-anak akan menjaganya sebaikbaiknya.- jawab Ki Bekel. Sementara itu langitpun menjadi semakin terang. Malam berangsur-angsur menjadi larut. Putut Lembanapun telah minta diri untuk melaporkan apa yang telah terjadi di padukuhan Logandeng. Namun Putut Lembana itupun berkata "Biarlah keempat orang cantrik itu tetap berada di sini. Mungkin mereka diperlukan, karena nampaknya perkembangan keadaan tidak dapat diperhitungkan sebelumnya." "Terima kasih ngger. Biarlah mereka berada di banjar. Mereka dapat beristirahat, karena mereka tentu letih. " Demikianlah, maka Putut Lembana itupun telah meninggalkan Logandeng. Ketika ia sampai di padepokan, maka Putut Manyar dan Putut Parama masih belum kembali. Dengan singkat Putut Lembana telah m emberikan laporan tentang kedatangan sekelompok orang dari padepokan Renapati dan orang-orang dari Kabuyutan. Pudaklamatan. "Kami berhasil menangkap pemimpin mereka " berkata Putut Lembana. Iapun kemudian melaporkan keterangan yang dapat mereka sadap dari pemimpin kelompok orang-orang yang m eny erang padukuhan Logandeng untuk mencari anak Ki Buyut Sendang Apit. Mahisa Murti mendengarkan laporan itu dengan sungguhsungguh. KepadaKiaiWijang, MahisaMurti itupun berkata "Nampaknya per soalannya akan berkembang. Kegagalan itu tentu membuat mereka semakin bernafsu." "Ya " Kiai Wijang mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Nampaknya Padepokan B#a S eta akan terlibat lebih banyak lagi dalam pertikaian yang terjadi diseberang hutan. " Mahisa Murti m engangguk-angguk. Katanya "Jika hal itu harus kami lakukan bagi kepentingan sesama, maka kami akan melakukannya Kiai. Tentu saja dalam batas-batas kewajaran." "Yang agaknya harus segera dilakukan adalah membantu Kabuyutan Talang Alun. Bagi Ki Renapati menangkap anak Ki Buyut Sendang Apit, tentu termasuk salah satu keharusan jika mereka benar-benar ingin m emotong masa depan Kabuyutan Sendang Apit." berkata Putut Lembana. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi pengawal anak Ki Buyut Sendang Apit itu nampaknya terlalu curiga kepada setiap orang, termasuk kepada Mahisa Murti meskipun Ki Bekel sendiri sudah mengatakan tentang diriny a, bahkan mempertanggung-jawabkannya. Sehingga Ki Bekel itu telah merasa tersinggung pula. Tetapi sikap itu tidak seharusnya menghalangi niat Padepokan Bajra Seta untuk membantu kesulitan yang  sedang dialami oleh Kabuyutan Sendang Apit. Meskipun demikian, langkah-langkah yang diambil harus diperhitungkan dengan sebaik-baiknya. Karena itu, maka yang dapat segera dilakukan oleh Mahisa Murti adalah membantu Ki Bekel Logandeng mengamankan padukuhannya. Jika hal itu memang dikehendaki oleh Ki Buyut Talang Alun, maka Mahisa Murtipun akan melakukannya pula. Dalam pada itu, hari itu juga Ki Bekel telah m enemui Ki Buyut di Talang Alun untuk memberikan laporan tentang serangan yang  telah terjadi di padukuhan Logandeng. "Ternyata mereka mencari anak Ki Buyut Sendang Apit. " berkata Ki Bekel. "Untunglah, anak itu telah kami pindahkan" berkata salah seorang pengawalnya. Namun Ki Bekel yang masih belum dapat melupakan sakit hatinya yang pernah tersinggung oleh sikap pengawal itu menjawab "Seandainya anak itu masih berada di Logandengpun, anak itu akan tetap terlindung. Nyatanya, kami justru dapat menangkap pemimpin kelompok orangorang yang  datang ke padukuhan itu, yang terdiri dari orangorang padepokan Renapati dan orang-orang Kabuyutan Pudaklamatan." Pengawal itu m engerutkan dahinya. Dengan nada berat ia berkata "Tetapi kami bertanggung jawab atas keselamatannya." "Apa yang  dapat kalian lakukan berdua?" bertanya Ki Bekel "Kalian datang ke padukuhan Logandeng tanpa k epercayaan. Kami sudah menanggung akibat kedatangan kalian. Tetapi kalian masih saja memperkecil arti pengorbanan kami." "Sudahlah" berkata Ki Buyut "kedua pengawal itu tentu berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Jika orang-orang Renapati dan orang-orang Pudaklamatan telah datang ke padukuhan Logandeng dan ternyata mengalami kegagalan, maka kita harus bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan yang lebih buruk lagi. Jika orang-orang dari Padepokan Renapati dan Kabuyutan Pudaklamatan itu mengetahui bahwa anak Ki Buyut Sendang Apit ada di sini, maka mungkin sekali mereka akan datang kemari. " "Ya. Itu mungkin sekali" jawab Ki Bekel "bagi mPu Renapati, anak itu merupakan duri bagi masa depan kedua Kabuyutan yang  ingin dipersatukan itu. " "Darimana kau tahu hal itu Ki Bekel?" bertanya salah seorang pengawal anak Ki Buyut Sendang Apit itu? "Bukankah sebagian sudah kau katakan?" jawab Ki Bekel. Kedua pengawal itu m enarik nafas dalam-dalam. Seorang diantara mereka berkata "Aku merasa bertanggung jawab atas keselamatan anak Ki Buyut Sendang Apit. " "Meskipun demikian, kalian seharusnya dapat membedakan, siapa yang  pantas kalian curigai dan siapa yang tidak. Jika kalian tidak percaya kepada seseorang yang telah menyelamatkan tempat kalian mengungsi, m aka kalian justru akan dapat berada dalam kesulitan. Tegasny a, jika angger Mahisa Murti dari Padepokan Bajra Seta itu menarik diri karena merasa ter singgung, maka kita benar-benar berada dalam kesulitan. Apalagi jika Ki Bekel Pudaklamatan dan mPu Renapati mengirimkan orang-orang terbaiknya ke Kabuyutan ini. Mungkin kita dapat mengimbangi kekuatan Kabuyutan Pudaklamatan. Tetapi orang-orang berilmu tinggi dari Padepokan Renapati akan dapat mengacaukan pertahanan kami." Kedua orang itu mengangguk-angguk. Tetapi diwajah mereka masih nampak sesuatu yang membuat m ereka raguragu. Karena itu, maka Ki Buyutpun berkata "Sebaiknya kalian percaya kepadaku sepenuhnya. Karena itu, maka kalian juga harus mempercayai orang-orang yang aku percaya. Jika tidak, maka akupun akan dapat tersinggung seperti Ki Bekel Logandeng itu." Kedua orang itu masih saja m engangguk-angguk. Seorang diantara merekapun berkata "Baiklah Ki Buyut. Segala sesuatunya terserah kepada Ki Buyut." "Nah, baiklah. Jika demikian maka aku akan merasa mendapat kepercayaan sepenuhnya, sehingga aku tidak raguragu mengambil keputusan, karena aku tidak merasa bimbang bahwa keputusanku akan kalian tentang." Kedua orang itu, maka atas kepercayaan kedua orang pengawal anak Ki Buyut Sendang Apit itu, maka Ki Buyut menjadi lebih leluasan untuk bertindak. Iapun telah b ertemu dan berbicara langsung dengan Mahisa Murti dan Kiai Wijang. Bahkan Ki Buyut itupun telah mengatakan pula kepada Mahisa Murti, bahwa Ki Buyut Sendang Apit masih berada di sekitar Kabuyutannya bersama orang-orang yang setia kepadanya untuk mengadakan perlawanan. Namun kekuatan Kabuyutan Pudaklamatan yang dibantu oleh Padepokan Renapati memang tidak dapat dilawannya. Meskipun demikian, Ki Buyut Sendang Apit tidak segera berputus a sa. Dengan meny elamatkan anaknya, maka Ki Buyut masih mempunyai harapan untuk memiliki masa depan. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Kiai Wijangpun telah bersepakat untuk langsung melihat keadaan di Kabuyutan Sendang Apit. Mereka ingin menguak bebahu yang mengungsi di padukuhan Logandeng untuk memastikan keadaan yang  sebenarnya terjadi di Kabuyutan Sendang Apit itu. Ternyata bebahu itu tidak berkeberatan. Bahkan ia merasa bangga jika ia dapat berbuat sesuatu bagi Kebuyutannya. Ketika Mahisa Murti siap untuk berangkat ke Kabuyutan Sendang Apit, maka Mahisa Murti telah membicarakan penempatan para Putut serta cantriknya di padukuhan induk dan padukuhan Logandeng yang  nampaknya tetap menjadi sa saran orang-orang Pudaklamatan dan orang-orang Padepokan Renapati justru karena seorang dari kepercayaan mPu Renapati telah tertangkap dan disimpan di padukuhan Logandeng. Bahkan Mahisa Murti telah berpesan kepada Wantilan dan Sambega bahwa mereka dapat melepaskan Mahisa Semu untuk bersama-sama dengan Putut Lembana berada di padukuhan Logandeng. "Tetapi Mahisa Amping masih belum waktunya untuk langsung ikut melibatkan diri dalam hal ini" berkata Mahisa Murti. "Baiklah" jawab Wantilan "aku akan menjaga agar Mahisa Amping tetap berada di padepokan. " "Kami m enyerahkan kebijaksanaan kepada paman berdua. Paman dapat menentukan menambah.. atau mengurangi kegiatan dan jumlah para cantrik di Kabuyutan Talang Alun termasuk padukuhan Logandeng dan padukuhan-padukuhan yang  lain. Namun harus diperhitungkan bahwa Kabuyutan Talang Alun bukan saja menjadi sa saran serangan orang-orang Kabuyutan Pudaklamatan, tetapi juga orang-orang dari Padepokan Renapati “ "Kami akan berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya, ngger. Mudah-mudahan kami tidak menemui kesulitan untuk mengatasi kehadiran orang-orang Pudaklamatan dan orangorang Padepokan Renapati. Kami percaya bahwa Kabuyutan Talang Alun sendiri sudah mempersiapkan diri sebaikbaiknya: jawab Wantilan. "Ya. Namun yang harus banyak mendapat perhatian adalah orang-orang Renapati." sahut Mahisa Murti. Wantilan dan Sambega mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Wantilan berkata "Kami akan selalu berhubungan dengan Ki Buyut dan para Bekel di Kabuyutan Talang Alun." Demikianlah, maka setelah minta diri kepada Ki Bekel Logandeng dan Ki Buyut Talang Alun maka Mahisa Murti dan Kiai Wijang pun telah berangkat keseberang hutan yang terhitung lebat untuk melihat sendiri keadaan kedua Kabuyutan yang  sedang bertikai bersama seorang bebahu Kabuyutan Sendang Apit yang  sedang mengungsi di padukuhan Logandeng. Dengan demikian maka mereka tidak akan kesulitan mencari jalan. Meskipun mereka menembus hutan yang. sangat lebat, tetapi mereka sama sekali tidak mengalami gangguan yang  dapat menghambat perjalanan mereka. Karena itu, maka mereka tidak berlama-lama berada di hutan. Dihari berikutnya, mereka telah berada diseberang. Pengawal itu termangu -mangu sejenak. Sementara itu Ki Bekel berkata selanjutnya "Sebenarnya kau tidak perlu terlalu mencurigai kami. Yang penting bagi kalian adalah menyelamatkan anak Ki Buyut itu. Bukan meny embunyikan keny ataan yang terjadi di Kabuyutan Sendang Apit dan Pudaklamatan. Jika kami berkesempatan mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka kami akan dapat mengambil langkahlangkah yang tepat untuk menanggapinya. " Kedua pengawal anak Ki Buyut Sendang Apit itu termangumangu sejenak. Namun ia tidak menjawab sama sekali. "Ki Buyut" berkata Ki Bekel kemudian "agaknya bantuan Padepokan Bajra Seta memang kita perlukan. Jika orangorang padepokan Renapati itu mencari anak Ki Buyut Sendang Apit sampai ke padukuhan induk ini, maka nampaknya benturan kekerasan tidak dapat dihindarkan lagi. mPu Renapati tentu tidak ingin terjadi kegagalan lagi, sebagaimana sekelompok orang yang  dikirimkannya ke padukuhan Logandeng. Bahkan mungkin mPu Renapati tidak hanya sekedar mencari anak Ki Buyut. Tetapi mungkin ia juga mendendam padukuhan Logandeng." "Ya " Ki Buyut mengangguk-angguk "kita memang harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Anak-anak muda dan setiap laki -laki yang  masih sanggup dan mampu ikut bertempur diwajibkan ikut mempertahankan kampung halamannya." "Nah, kau dengar Ki Sanak" berkata Ki Bekel Logandeng kepada kedua orang pengawal anak Ki Buyut Sendang Apit "bukankah kami tidak sekedar main-main. Malam nanti aku akan minta pada pimpinan Padepokan Bajra Seta untuk mengirimkan pasukan ke padukuhan Logandeng dan ke padukuhan induk. Pa sukan yang terdiri dari para cantrik yang terlatih. Meskipun jumlahnya terhitung kecil, tetapi kemampuan m ereka tinggi. Sementara itu kehadiran m ereka juga mendor ong keberanian anak-anak muda kami.” Kedua orang pengawal anak Ki Buyut itu m asih berdiam diri. Mereka memang melihat keny ataan itu. Kabuyutan Talang Alun ikut mengalami goncangan karena per soalan yang terjadi di Kabuyutan Sendang Apit dan Kabuyutan Pudaklamatan. Dalam pada itu, maka Ki Buyutpun berkata "Ki Bekel. Aku akan sangat berterimakasih jika angger Mahisa Murti bersedia mengirimkan beberapa orang cantrik untuk membantu kesulitan kami jika orang-orang dari padepokan Renapati datang mencari anak Ki Buyut Sendang Apit. Meskipun anakanak kami siap m enghadapi ancaman yang  betapapun juga, namun kelebihan dari para cantrik di Padepokan Bajra Seta akan sangat berarti bagi kita." Dari rumah Ki Buyut Talang Alun, Ki Bekel langsung menuju ke padepokan Bajra Seta menemui Mahisa Murti. Diceriterakannya hasil pembicaraannya dengan Ki Buyut. Bahkan Ki Buyut justru memerlukan bantuan dari Padepokan B^jra Seta. Mahisa Murti m engangguk-angguk. Dengan nada rendah Mahisa Murti menjawab "Baiklah Ki Bekel. Kami akan mengirimkan beberapa orang cantrik. Sebenarnya sejak semalam beberapa orang cantrik kami juga sudah ada di Kabuyutan. Tetapi mereka tidak melapor langsung kepada Ki Buyut. Tetapi mereka langsung berbaur dengan anak-anak mudanya. Putut Many ar dan Putut Parama juga ada disana malam tadi. Bahkan mereka pulang hampir tengah hari. " Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Sokurlah. Kami hanya dapat mengucapkan terima kasih." "Jika Ki Buyut sudah setuju, maka biarlah kedua orang Putut padepokan ini nanti menghadap Ki Buyut untuk menyatakan kehadiran mereka bersama beberapa orang cantrik di Kabuyutan. Sementara itu Putut Lembana dan beberapa orang cantrik pula, akan tetap berada di Logandeng. Mungkin mPu Renapati berusaha menemukan orangorangnya yang dianggapnya hilang.” Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya "Terima kasih. Kami hanya dapat mengucapkan terima kasih." Demikianlah, seperti yang  dijanjikan oleh Mahisa Murti, maka padepokan Bajra Seta telah m engirimkan Putut Manyar dan Putut Parama ke padukuhan induk. Selain mereka berdua, beberapa orang cantrik juga diperintahkan untuk meny ertai mereka. Namun untuk beberapa kepentingan, maka mereka memang tidak datang bersama-sama. Sedangkan Putut Lembana dan beberapa orang cantrik tetap diperintahkan untuk berada di Logandeng. Sementara itu, Mahisa Murti telah memerintahkan pula beberapa orang cantrik untuk mengamati jalur jalan dari hutan yang memanjang meny ekat daerah Kabuyutan Talang Alun dan Kabuyutan Sendang Apit. Mereka mendapat tugas untuk mengamati jika ada sekelompok orang yang  menembus hutan itu dari seberang serta dianggap mencurigakan. Apalagi jika yang datang itu sekelompok laki -laki bersenjata. Mereka dibekali dengan dua ekor burung merpati yang  sudah terbiasa terbang di m alam hari. Jika m ereka melihat sekelompok orang yang pantas dicurigai, maka m ereka harus melepaskan burung merpati itu. Burung itu akan langsung terbang ke padepokan dan hinggap di gupon mereka. Cantrik yang bertugas di padepokan harus selalu mengawasi jika burung itu datang kembali dan memasuki guponnya. Tetapi di malam yang kemudian turun, tidak terjadi hal-hal yang dapat m engganggu ketenangan Kabuyutan Talang Alun termasuk padukuhan Logandeng. Ketika malam itu kedua pengawal anak Ki Buyut menyatakan kegelisahannya kepada Ki Buyut, maka Ki Buyutpun menjawab "Aku kira benar apa yang dikatakan oleh Ki Bekel. Kalian terlalu curiga kepada orang lain. " Mahisa Murti dan Kiai Wijang berniat untuk dapat bertemu dan berbicara dengan Ki Buyut Sendang Apit. Tetapi m ereka tidak tahu dimana Ki Buyut Sendang Apit itu berada. Namun karena mereka datang bersama bebahu Sendang Apit, maka mereka berharap untuk dapat menemukan tempat persembunyian Ki Buyut Sendang Apit. Ketika ketiga orang itu kemudian berada di Kabuyutan yang  sedang bergolak itu, maka mereka segera melihat, betapa tata kehidupan hampir tidak terkendali lagi. Tetapi k etiga orang itu masih belum memasuki lingkungan yang lebih dalam lagi. Mereka baru melihat keadaan itu dari kejauhan. Bagaimanapun juga mereka harus t etap berhati-hati menghadapi kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas mereka. Ketika mereka bertiga berhasil meny elinap sampai ke sebuah padukuhan di Kabuyutan Sendang Apit, maka orangorang di padukuhan itu memang terkejut. "Keadaan sangat berbahaya bagimu." berkata seorang sahabat bebahu itu "sebaiknya kau m eninggalkan padukuhan ini." "Apakah kau sendiri tidak berada dalam bahaya?" bertanya bebahu itu. "Aku orang kebanyakan. Meskipun aku mengalami perlakuan buruk, tetapi keselamatanku masih dapat diharapkan. Tetapi kau lain. Kau bebahu Kabuyutan ini. Dengan demikian maka keselamatanmu terancam" berkata sahabatnya itu. "Aku memang hanya singgah. Aku akan segera meninggalkan tempat ini." berkata bebahu itu. Beberapa saat ia terdiam. Baru kemudian ia berkata "Aku mencari hubungan dengan Ki Buyut untuk melaporkan tentang keadaan anaknya." Sahabatnya itu termangu-mangu. Katanya kemudian "Hanya orang-orang tertentu yang tahu, dimana Ki Buyut berada. Tetapi menurut pendengaranku, keadaannya memang sangat buruk. Meskipun demikian, Ki Buyut tetap bertahan. Sekali-sekali ia m emang datang k e Kabuyutan. Tetapi segera menghilang lagi. Dua malam yang  lalu, tiba -tiba saja Ki Buyut dengan beberapa orang telah muncul di banjar. Ki Buyut sempat berada di Banjar hampir semalam suntuk. Namun menjelang dini Ki Buyut segera pergi. Untunglah bahwa sekelompok pengawal dari Kabuyutan Pudaklamatan serta beberapa orang cantrik dari Padepokan Kencana Pura telah datang ke banjar untuk meny ergap Ki Buyut. Tetapi banjar itu telah kosong." "Ki Buyut harus lebih berhati-hati." desis bebahu itu. "Tetapi kehadiran Ki Buyut di banjar telah membangkitkan kesetiaan orang-orang Sendang Apit yang telah hampir berputus asa. Namun dengan demikian maka para cantrik mPu Renapati menjadi semakin garang pula." berkata sahabat bebahu itu. Bebahu itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian "Baiklah. Kami minta diri. Dua orang kawanku ini adalah orang dari Talang Alun. Mereka ingin tahu apa yang  t erjadi di sini." "Kalian berkunjung ke Kabuyutan kami pada saat yang  kurang baik, Ki Sanak." berkata orang itu. Mahisa Murti dan Kiai Wijang tersenyum saja. Sementara bebahu itu b erkata "Justru karena keadaan yang  kurang baik itulah yang telah memanggilnya kemari. Ki Talang Alun terdapat banyak pengungsi dari Kabuyutan kita." "Tetangga sebelah juga telah mengungsi ke Talang Alun. Tetapi aku masih mencoba bertahan di sini." Bebahu itupun kemudian minta diri. Tetapi ia masih bertanya "Apakah aku dapat memasuki padukuhan induk?" "Jangan lakukan itu. Berbahaya sekali. Apalagi bagi seorang bebahu seperti kau." Bebahu itu mengangguk-angguk kecil. Katanya kemudian "Aku ingin bertemu dengan Ki Buyut. Aku merasa malu, bahwa aku telah mengungsi lebih dahulu, sementara Ki Buyut dan beberapa orang kawan-kawan masih tetap berada di sini." "Tetapi diperlukan cadangan kekuatan diluar Kabuyutan kita yang telah diduduki ini. Diperlukan juga hubungan dengan Kabuyutan-kabuyutan lain yang akan bersedia membantu menegakkan kebenaran di Kabuyutan Sendang Apit ini." "Ya " bebahu itu mengangguk "salah satu diantara Kabuyutan yang  siap membantu adalah Kabuyutan Talang Alun." Demikianlah, maka bebahu itupun telah meninggalkan padukuhan itu. Mereka berusaha untuk menyusup dari padukuhan ke padukuhan. Namun sulit bagi m ereka untuk mendapat sedikit petunjuk dimana Ki Buyut bersembunyi. Dalam pada itu, selagi mereka masih harus mencari Ki Buyut, maka bertiga mereka selalu bergerak dari satu tempat ke tempat yang  lain. Ketika kemudian malam turun, maka mereka tidur dimana saja yang  mereka anggap tidak akan terganggu oleh para peronda darimanapun datangnya. Namun dihari berikutnya, Mahisa Murti itupun berkata "Bagaimana pendapat kalian jika kita langsung menemui Ki Buyut Pudaklamatan. " Bebahu itu nampak tegang. Katanya "Sangat berbahaya bagiku, justru karena aku bebahu Kabuyutan Sendang Apit. "Kami mengerti" sahut Mahisa Murti "karena itu sebaiknya kau bersembuny i saja lebih dahulu. Biarlah kami berdua saja pergi ke Kabuyutan Pudaklamatan." Bebahu itu termangu-mangu. Bahkan iapun bertanya "Dimana aku harus bersembunyi? Dipategalan atau di lereng bukit?" "Kau bersembuny i saja dirumah salah seorang sahabatmu yang dapat kau percaya" sahut Mahisa Murti. Bebahu itu mengangguk-angguk. Katanya"Baiklah. Aku akan berusaha untuk bersembunyi saja. Tetapi dimana kita akan bertemu setelah kau pergi ke padukuhan induk Kabuyutan Pudaklamatan ? "Kita bertemu ditempat kita semalam bermalam besok jawab Mahisa Murti. “Baiklah " berkata Bebahu itu "mudah-mudahan kau dapat mempengaruhi pendapat Ki Buyut Pudaklamatan agar niatnya diurungkan. Ki Buyut Pudaklamatan jangan terseret oleh niat buruk mPu Renapati dari Padepokan Kencana Pura.” Demikianlah, maka merekapun segera berpisah. Mahisa Murti dan Kiai Wijang pergi ke Pudaklamatan, sementara bebahu itu telah pergi ke tempat seorang sahabatnya yang  lain, yang akan bersedia menerimanya untuk bersembunyi beberapa saat. Namun demikian, mereka harus berusaha untuk lepas dari penglihatan para peronda dari Pudaklamatan serta dari Padepokan Renapati yang selalu berkeliling dari padukuhan ke padukuhan. Mahisa Murti dan Kiai Wijang yang tidak ingin mengalami kesulitan diperjalanan, telah menempuh jalan-jalan bulak dan menghindari padukuhan-padukuhan. Mereka berusaha untuk tidak bertemu dengan siapapun juga. Kecuali dengan orangorang yang  bekerja d i sawah mereka. Ketika keduanya memasuki lingkungan Kabuyutan Pudaklamatan, maka barulah mereka m erasa sedikit tenang, karena di Kabuyutan itu tidak terasa langpung ada satu gejolak yang mengaduk tatanan kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian, Mahisa Murti dan Kiai Wijang nampaknya telah menarik perhatian beberapa orang. Ada juga diantara orang-orang Kabuyutan Pudaklamatan yang merasakan sesuatu yang lain pada kedua orang itu. Tetapi akhirnya, Mahisa Murti dan Kiai Wijang sampai juga dirumah Ki Buyut Pudaklamatan. Namun ternyata bahwa rumah itu telah dijaga dengan rapat oleh sekelompok anakanak muda. Tetapi keduanya sudah berniat untuk bertemu dan berbicara dengan Ki Buyut, karena itu maka Mahisa Murti itupun telah menemui anak-anak muda yang sedang berjagajaga diregol itu. “Kami akan m enghadap Ki Buyut Pudaklamatan" berkata Mahisa Murti. “Siapakah kalian?” bertanya salah seorang diantara mereka, yang nampaknya pemimpin sekelompok dari anak-anak muda yang sedang bertugas itu. “Kami datang dari seberang hutan. Kami adalah orang dari Kabuyutan Talang Alun”. jawab Mahisa Murti. “Talang Alun?” anak muda itu termangu -mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Mak sudmu Kabuyutan yang menerima banyak pengungsi dari Sendang Apit?” “Ya” jawab Mahisa Murti "justru itu aku ingin berbicara dengan Ki Buyut Pudaklamatan.” Anak muda itu kemudian berbicara dengan beberapa orang kawannya. Baru kemudian ia menjawab "Aku persilahkan kalian menunggu. Aku ingin menanyakannya lebih dahulu, apakah kau dapat diterima atau tidak.” “Ki Sanak" berkata Mahisa Murti kemudian "kami datang dari jauh. Kami hanya sekedar ingin mendapat keterangan langsung dari Ki Buyut Pudaklamatan, apakah yang sebenarnya terjadi.” “Kenapa kau tidak bertanya kepada Ki Buyut Sendang Apit?” “Kami tidak berhasil menemui Ki Buyut Sendang Apit.” Seorang anak muda yang  lainpun menyahut "Kabuyutan Sendang Apit sudah tidak ada lagi.” Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata "Tolong Ki Sanak. Bagaimanapun sikap Ki Buyut, aku ingin mendengarnya.” “Tunggullah" berkata anak muda yang  akan menyampaikannya kepada Ki Buyut. Mahisa Murti dan Kiai Wijangpun kemudian telah dipersilahkan duduk di gardu yang agaknya baru dibuat setelah terjadi kekalutan antara Kabuyutan Pudaklamatan dengan Kabuyutan Sendang Apit. Ketikaniat Mahisa Murti untuk bertemu dengan Ki Buyut itu disampaikan oleh anak m uda yang  sedang bertugas itu, maka Ki Buyutpun menjadi ragu-ragu. Seorang yang sedang duduk bersamanya berkata "Apakah ada gunanya?” “Aku kira akan ada gunanya” jawab Ki Buyut “Kabuyutan Talang Alun yang  tiba -tiba didatangi banyak pengungsi itu tentu ingin mengetahui, apa yang  telah terjadi. Ketika mereka datang ke Kabuyutan Sendang Apit, maka Ki Buyut Sendang Apit tidak dapat ditemuinya.” “Tidak perlu Ki Buyut. Perintahkan saja para pengawal mengusirnya. Bahkan jika dijalan pulang mereka bertemu dengan para per onda dan para cantrik dari Padepokan Renapati, biarlah mereka ditangkap.” “Apa salahnya jika kita mendengarkan pertanyaanpertanyaannya, pendapatnya atau barangkali petunjukpetunjuknya.” “Kita tidak memerlukan petunjuk dan pendapat dan siapapun. Kita sudah cukup matang untuk m enentukan sikap sendiri" berkata orang itu. “Tetapi aku tidak berkeberatan menerima mereka " berkata Ki Buyut. “Ki Buyut hanya membuang-buang waktu saja.” berkata orang itu "tetapi terserah kepada Ki Buyut jika Ki Buyut akan menerima mereka.” “Aku ingin mendapat orang lain sebanyak-banyaknya” jawab Ki Buyut kemudian. Orang itu tidak berusaha mencegah lagi. Karena itu, m aka Ki Buyutpun telah mengisy aratkan agar orang dari Talang Alun itu diijinkan menemuinya. "Biarlah ia duduk dipendapa " berkata Ki Buyut. Sejenak kemudian, maka Ki Buyutpun telah menerima Mahisa Murti dan Kiai Wijang dipendapa rumahnya. Sementara orang yang  bersamanya itupun telah ikut pula menemui kedua orang tamu itu. Mahisa Murti dan Kiai Wijangpun kemudian telah memperkenalkan diri dan menyatakan bahwa keduanya adalah orang-orang Talang Alun yang diperintahkan oleh Ki Buyut untuk mendapatkan keterangan tentang kemelut yang terjadi diseberang hutan. "Kabuyutan kami telah dibanjiri oleh para pengungsi" berkata Mahisa Murti kemudian. "Namun kami tidak berhasil menemui Ki Buyut Sendang Apit." Ki Buyut Sendang Apit sudah tidak dalam kedudukannya lagi" berkata orang yang meny ertai Ki Buyut Pudaklamatan itu. Ki Buyut Pudaklamatan itu sendiri m enarik nafas dalamdalam. Katanya "Apa yang  ingin Ki Sanak ketahui ? Barangkali aku akan dapat memberikan keterangan." "Kami ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi di Kabuyutan Sendang Apit. Menurut para pengungsi, para pengawal dari Kabuyutan Pudaklamatan telah menduduki Kabuyutan Sendang Apit, sehingga orang-orang Sendang Apit telah mengungsi meninggalkan kampung halamannya.” Orang yang menyertai Ki Buyut itulah yang  menjawab "Sebenarnya tidak terjadi sesuatu. Seperti dua orang bersaudara dalam satu keluarga. Sekali-sekali terjadi perselisihan. Tetapi nanti atau besok, mereka akan menjadi baik kembali. Karena itu, maka sebaiknya Ki Sanak berdua dan bahkan Kabuyutan Talang Alun t idak usah mencampuri persoalan kami disini." "Bagaimanapun juga agaknya kami sudah terlibat. Kami mengalami sedikit kesulitan dengan ppra pengungsi." "Apakah mereka berbuat buruk di Kabuyutan Talang Alun ?" bertanya Ki Buyut. "Tidak. Sama sekali tidak. Tetapi mereka memerlukan makan, tempat tinggal dan kebutuhan-kebutuhan lain selama mereka berada di Talang Alun. " jawab Mahisa Murti. "Seharusnya mereka tidak perlu meninggalkan kampung halaman mereka " berkata orang yang  meny ertai Ki Buyut itu. "Aku justru m embayangkan bahwa keadaan telah m enjadi demikian buruknya sehingga mereka harus mengungsi,” berkata Mahisa Murti kemudian. "Gambaran dari orang-orang luar yang tidak langsung menyaksikan sendiri keadaan Kabuyutan kami" berkata orang itu. "Bukan sekedar gambaran, karena kami sudah melihat keadaan itu. Aku telah menyaksikan sendiri dengan Kabuyutan Sendang Apit. Yang berkeliaran disana adalah para pengawal dari Kabuyutan Pudaklamatan. " "Sudahlah Ki Sanak" berkata orang yang  meny ertai Ki Buyut Pudaklamatan itu "sebaiknya kalian tidak usah ikut memikirkan keadaan kami disini dan di Kabuyutan Sendang Apit. Itu persoalan kami. Persoalan keluarga kami." "Kami memang tidak akan mempersoalkan apa yang terjadi diantara keluarga. Tetapi karena persoalannya menyangkut kehidupan orang banyak, dan bahkan kehidupan di Kabuyutan kami, maka kami memerlukan mendapat keterangan. " "Inilah yang  terjadi di Kabuyutan kami" berkata orang itu "t idak akan terjadi perubahan apa -apa. Sebaiknya kalian tidak usah mencampuri persoalan kami." "Ki Sanak" berkata Mahisa Murti "kami t idak akan mencampuri persoalan kalian. Tetapi karena di Kabuyutan kami terdapat banyak pengungsi, maka kami ingin sekedar mendapat keterangan. Lebih dari itu, kalian telah melanggar kemandirian kami. Sekelompok orang telah dikirim dari Kabuyutan Pudaklamatan memasuki Kabuyutan kami." Ki Buyut Pudaklamatan justru terkejut. Karena itu, maka ia bertanya "Apakah kau berkata sebenarnya ?" "Ya, Ki Buyut " jawab Mahisa Murti "sekelompok orang yang  ternyata memburu anak laki-laki Ki Buyut Sendang Apit yang dikira mengungsi ke Talang Alun. Tetapi mereka tidak menemukan yang  mereka cari. Justru karena itu, maka Kabuyutan kami telah disentuh pula oleh pertentangan yang terjadi di sebelah hutan ini." "Jika kalian tidak m encampuri persoalan kami, maka kami tentu tidak akan menyentuh Kabuyutan Talang Alun. Tetapi bahwa Talang Alun telah mencampuri persoalan kami, maka kami memang tidak mempunyai pilihan lain." "Aku tidak pernah memerintahkan para pengawal dari Pudaklamatan memasuki Kabuyutan Talang Alun" berkata Ki Buyut. "Siapapun yang  memerintahkan, namun hal itu sudah terjadi." jawab Mahisa Murti. Lalu katanya "Hal itulah yang mendorong kami untuk datang menemui Ki Buyut Pudaklamatan. Karena jika hal seperti itu terulang kembali, maka Pudaklamatan telah menyeret Talang Alun untuk melibatkan diri. " Orang yang meny ertai Ki Buyut itulah yang  menyahut "Bahwa Talang Alun telah meny embuny ikan anak Ki Buyut Sendang Apit itu b erarti bahwa Talang Alun telah melibatkan diri kedalam persoalan kami, persoalan antara keluarga sendiri. " "Kami menerima para pengungsi itu atas dasar perikemanusiaan semata-mata. Namun karena kemudian merupakan beban bagi kami, maka kami ingin mengetahui apakah yang  sebenarnya telah terjadi." Orang yang meny ertai Ki Buyut itulah yang  menjawab lagi "Sudah aku katakan. Sekedar perselisihan diantara keluarga. Nanti, pada suatu saat tentu akan menjadi baik lagi." "Lalu bagaimana dengan korban perselisihan itu ? Jika keadaan menjadi baik, apakah korban perselisihan itu akan pulih kembali ?" bertanya Mahisa Murti. "Sudahlah" berkata orang itu "jangan terlalu banyak mencampuri persoalan orang lain. Jika kau merasa berkeberatan dengan para pengungsi itu, usir saja mereka dari Talang Alun." "Itukah gambaran sikap orang-orang Pudaklamatan ?" bertanya Mahisa Murti. "Tidak " t iba-tiba Ki Buyut memotong "aku tidak pernah menginginkan perselisihan ini." "Ki Buyut" berkata Kiai Wijang kemudian "kenapa Ki Buyut tidak berusaha untuk meny elesaikan per soalan antara Pudaklamatan dan Sendang Apit dengan baik ?" "Sebenarnya tidak ada perselisihan yang mendasar" jawab Ki Buyut. "Jadi bagaimana kekalutan itu dapat terjadi ? Bukankah sebaiknya Ki Buyut Pudaklamatan bertemu dan berbincangbincang dengan Ki Buyut Sendang Apit untuk memecahkan persoalan yang  timbul. Dengan demikian maka perselisihan ini tidak akan berlanjut terus. Bukankah Ki Buyut Sendang Apit itu adik sepupu Ki Buyut sendiri ?" "Cukup. Cukup. Kalian sudah terlalu banyak berbicara disini" berkata orang yang  meny ertai Ki Buyut Pudaklamatan. Namun Kiai Wijang seakan-akan tidak mendengar. Bahkan iapun berkata "Ki Buyut. Jika Ki Buyut menghendaki, maka Ki Buyut Talang Alun akan bersedia menjadi penengah pembicaraan diantara kalian. " "Sudah cukup. Sekali lagi aku peringatkan, jangan mencampuri persoalan kami." Tetapi Ki Buyut Pudaklamatan itu berkata "Jika adi Buyut Sendang Apit bersedia ditemui, aku sama sekali tidak berkeberatan untuk berbicara." Namun sebelum pembicaraan berkepanjangan, maka seorang anak muda telah muncul dari ruang dalam. Demikian ia membuka pintu pringgitan maka iapun bertanya dengan lantang "Untuk apa kalian berdua datang kemari ? Aku mendengar sebagian dari pembicaraan kalian.. Ra sa-rasanya kalian adalah orang yang  terpandai dibumi ini sehingga kalian mencoba untuk menguari ayahku ?" Mahisa Murti dan Kiai Wijang memandang anak muda itu dengan saksama. Dengan segera mereka mengetahui, bahwa anak muda itulah anak Ki Buyut Pudaklamatan yang  akan menjadi menantu mPu Renapati dari padepokan Kencana Pura. Sebelum Mahisa Murti dan Kiai Wijang menjawab, maka anak muda itupun berkata lantang "Sebaikny a kalian meninggalkan tempat ini. Semakin lama kalian disini, m aka telingaku akan menjadi semakin panas." "Duduklah" berkata Ki Buyut "keduanya adalah tamuku. Kau tidak berhak berkata sepert itu. " "Sudahlah ayah" berkata anak muda itu "ayah jangan membiarkan dua ekor ular tidur dibawah selimut yang  sedang ay ah pergunakan. Bagaimanapun juga, kedua ekor ular itu akan dapat menggigit. Karena itu, biarlah keduanya pergi." "Aku tidak mempersilahkan mereka pergi," jawab ayahnya. Wajah anak muda itu menjadi merah. Namun kemudian ia berkata "Aku sudah memberi kalian berdua peringatan. Karena itu, jika terjadi sesuatu atas kalian berdua, itu adalah salah kalian sendiri. " Ki Buyutlah yang menjadi marah. Tetapi orang yang  menyertainya duduk menemui kedua tamunya itu berkata "Sebaiknya Ki Buyut mendengarkan pendapat anak Ki Buyut itu. Ternyata panggraitanya lebih tajam dari Ki Buyut sendiri.” Mahisa Murti dan Kiai Wijangpun saling berpandangan. Mereka sadar, bahwa mereka tidak akan dapat berbicara dengan sebaik-baiknya. Meskipun demikian mereka menangkap kesan, bahwa sebenarnya Ki Buyut sendiri bukan seorang yang tamak. Ki Buyut sendiri tidak ingin terjadi perselisihan antara kedua Kabuyutan itu. Namun anaknya yang sudah dipengaruhi oleh mPu Renapati menghendaki lain. Anak muda itu membayangkan satu masa depan yang gemilang dalam pemerintahannya, sehingga ia lupa pada sangkan paraning dumadi. Anak muda itu terbius oleh hembusan lidah mPu Renapati tentang mimpi bagi masa depan yang  besar. Karena itu, maka Mahisa Murti dan Kiai Wijang menganggap bahwa kehadiran mereka di rumah itu tidak akan berarti apa-apa lagi. Merekapun yakin, bahwa orang yang selalu meny ertai Ki Buyut itu tentu salah seorang dari padepokan Renapati yang  ditempatkan di Kabuyutan Pudaklamatan. Karena itu, maka sesaat kemudian, maka Mahisa Murtipun berkata "Baiklah Ki Buyut. Jika demikian, maka kami mohon diri. Kami akan kembali ke Kabuyutan Talang Alun. Namun kami serba sedikit telah melihat satu gambaran, apa yang telah terjadi disini. Mak sudku di Kabuyutan Sendang Apit dan Kabuyutan Pudaklamatan. " "Terima kasih atas kunjungan kalian Ki Sanak. Salam buat Ki Buyut di Talang Alun. Kami hargai niatnya untuk membantu memecahkan kekalutan yang terjadi di Kabuyutan kami." "Tidak ada kekalutan disini ay ah." berkata anak muda itu "hanya orang-orang lain yang iri hati sajalah yang menganggap bahwa di Kabuyutan Pudaklamatan ada kekalutan.” Tetapi jawab ay ahnya mengejutkannya. “Bagaimana kau dapat menyembuny ikan kenyataan yang  digelar di kedua Kabuyutan ? Apakah kau kira orang-orang yang pernah lewat Kabuyutan ini buta dan tuli ?" Wajah anak muda itu m enjadi marah. Namun orang yang  selalu meny ertai Ki Buyut itu berkata "Kekalutan memang ada dimana-mana diseluruh muka bumi. Tetapi kekalutan yang terjadi disini terlalu dibesar-besarkan orang. Tetapi apapun yang terjadi, biarlah orang lain tidak ikut mencampurinya. " Mahisa Murti dan Kiai Wijangpun kemudian telah minta diri. Ki Buyut yang mengantarnya sampai ke tangga pendapa berpesan "Hati-hatilah Ki Sanak. Semoga kalian selamat sampai di Kabuyutan Talang Alun." "Doa Ki Buyut menyertai kami berdua" jawab Mahisa Murti. Demikianlah keduanyapun segera melangkah meninggalkan Kabuyutan itu, sementara Ki Buyutpun segera naik pula kependapa dan selanjutnya masuk keruang dalam. Yang ada di pendapa kemudian adalah orang yang  selalu menyertai Ki Buyut itu serta anaknya laki-laki. Dengan geram anak Ki Buyut Pudaklamatan itu m enggeram "Bereskan saja orang-orang itu. " "Jangan ngger. Jika keduanya tidak sampai ke Kabuyutan Talang Alun, maka akan dapat menjadi alasan bagi Kabuyutan itu untuk langsung mencampuri persoalannya. Hilangnya kedua orang itu akan dapat m enjadi alasan bagi Kabuyutan Talang Alun untuk meny erang Kabuyutan Pudaklamatan." "Apakah kita takut menghadapi Kabuyutan Talang Alun Bukankah padepokan Renapati cukup kuat untuk menghadapi tiga atau ampat Kabuyutan sekaligus ? Apalagi bersama-sama dengan Kabuyutan Pudaklamatan." Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Tetapi sebaiknya kita untuk sementara membatasi diri. Mungkin pada kesempatan lain kita justru akan memancing pertengkaran dengan Kabuyutan Talang Alun. " Tetapi anak muda itu berkata "Kita selesaikan mereka justru di Kabuyutan Talang Alun sendiri. Kita kirim beberapa orang pilihan untuk mengikutinya dan membunuhnya diseberang hutan, sehingga akan dapat diketemukan oleh orang-orang Talang Alun. Jika m ereka mati di daerah m ereka sendiri, maka mereka tidak akan dapat menuduh kita sehingga mereka tidak mempunyai alasan untuk mengirimkan pasukan menyeberangi hutan. " Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Satu kerja yang berat." "Kita kirim lima atau enam orang yang  berilmu tinggi. Diantara mereka dari padepokan Renapati. Mereka harus berusaha mendahului keduanya dan menunggunya diseberang hutan, justru dibulak-bulak panjang di tlatah Kabuyutan Talang Alun itu sendiri. Usahakan agar mayatnya dapat diketemukan oleh orang-orang Talang Alun, apakah mereka yang akan pergi ke sawah atau mereka yang  akan pergi ke pasar." "Tidak hanya ada satu jalan menuju ke Talang Alun" jawab orang itu. "Tetapi jalan keluar dari hutan itu tentu dapat diperhitungkan. Agaknya jalur jalan para pengungsi itulah yang akan mereka lewati." "Jika kedua orang itu membaurkan diri dengan para pengungsi yang  menuju ke Kabuyutan Talang Alun ?" "Itu lebih baik. Orang-orang kita akan dapat mencari prekara sehingga terjadi perselisihan dan perkelahian. Orangorang kitapun harus menyatukan diri dengan para pengungsi itu." Orang yang meny ertai Ki Buyut itu mengangguk-angguk. Katanya "Aku akan mencobanya. Mudah-mudahan mPu Renapati setuju." "Kita tidak mempunyai banyak waktu. Orang itu tidak boleh lolos. Biarlah orang-orang kita mendahuluinya dengan berkuda. Satu dua orang akan menyertai mereka dan akan membawa kembali kuda-kuda itu, setelah orang-orang kita memasuki hutan." Demikianlah, maka orang itupun dengan tergesa -gesa meninggalkan rumah Ki Buyut menuju ke Padepokan Renapati. Dengan tergesa -gesa pula ia menemui mPu Renapati dan melaporkan rencana calon menantunya itu. mPu Renapati berpikir sejenak. Lalu katanya "Lakukan perintahnya. Ternyata penalarannya cukup tajam. Kedua orang itu tidak boleh memberikan kesan sikap Ki Buyut kepada orang-orang Talang Alun." Orang itupun kemudian telah melakukan perintah itu dengan tergesa -gesa. mPu Renapati telah menunjuk Kebo Wanter dan Lembu Pangambah untuk melakukan tugas itu bersama ampat orang kawan mereka. "Aku percaya bahwa Kebo Wanter dan Lembu Pangambah akan dapat m elakukannya. Apalagi disertai oleh ampat orang yang lain. Jika mereka bergabung dengan para pengungsi, sebaiknya mereka tidak berkelompok. Tetapi mereka harus sal ing memisahkan diri. " Sesaat kemudian, Kebo Wanter dan Lembu Pangambah telah dipanggil. Ketika perintah itu diberikan, maka Kebo Wanter bertanya "Bukankah hanya ada dua orang dari Kabuyutan Talang Alun yang  harus kami selesaikan ?" "Ya. Hanya dua orang." "Kenapa kami berdua harus membawa ampat orang lagi ? Seorang saja diantara kami akan dapat meny elesaikan mereka. Apalagi dua orang. Karena itu, ampat orang itu tidak perlu sama sekali. "Kalian tidak usah membantah. Pergilah bersama ampat orang. Kalian dengar ?" Kebo Wanter dan Lembu Pangambah mengangguk-angguk. Sementara itu orang yang  mendapat perintah dari mPu Renapati itu berkata "Kita tidak ingin rencana ini gagal, sehingga akibatnya akan m enjadi semakin buruk. Karena itu, maka kedua orang itu tidak boleh melarikan diri. Meskipun kalian berdua saja yakin akan dapat mengalahkan mereka, bahkan seorang saja diantara kalian, tetapi kemungkinan melarikan diri harus diperhitungkan." Kebo Wanter dan Lembu Pangambah masih m enganggukangguk. Sementara orang itu memberitahukan ciri -ciri dari orang yang  harus mereka cari itu. "Pergunakan jalur para pengungsi. Mungkin kedua orang itu ada diantara mereka." Demikianlah, maka sejenak kemudian enam orang telah berpacu menuju ke hutan yang meny ekat Kabuyutan Sendang Apit dengan Kabuyutan Talang Alun. Bersama mereka ikut pula tiga orang yang akan membawa kuda-kuda itu kembali ke padepokan Renapati. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti dan Kiai Wijangyang kemudian telah bertemu kembali dengan bebahu Sendang Apit itu telah memutuskan untuk kembali ke Talang Alun. Nampaknya tidak mungkin dapat berbicara terbuka dengan Ki Buyut Pudaklamatan yang selalu dibayang i oleh seseorang yang agaknya sengaja ditempatkan di rumah Ki Buyut oleh mPu Renapati. Sementara itu, anak Ki Buyut sendiri agaknya telah menjadi mabok oleh mimpi tentang m asa depan yang besar. Tetapi bebahu itu sendiri telah menyatakan diri untuk tinggal. Ia merasa akan mendapat kesempatan bertemu dengan Ki Buyut Sendang Apit yang masih berada di Kabuyutannya- "Aku tentu dapat bertemu, dengan Ki Buyut meskipun tidak segera. Aku akan mengajak Ki Buyut menemui Ki Buyut Talang Alun dan membawanya ke Padepokan Bajra Seta.” "Kami menunggu " berkata Mahisa Murti. "Mudah-mudahan Ki Buyut bersedia meninggalkan Kabuyutan Sendang Apit barang dua tiga hari untuk keperluan itu." berkata bebahu itu. "Berhati-hatilah" pesan Kiai Wijang. "Terima kasih. Kiai berduapun harus berhati-hati dijalan." berkata bebahu itu. "Jika kau gagal menemui Ki Buyut, kau harus segera, menghubungi kami" berkata Mahisa Murti kemudian. "Baik. Tetapi nampaknya aku sudah mendapatkan jalur untuk sampai kepadanya. Ternyata aku masih dipercaya meskipun aku sudah pernah lari dari medan. " berkata bebahu itu. Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Kiai Wijang telah meninggalkan bebahu itu di Kabuyutannya. Mereka memang telah menempuh perjalanan melalui jalur para pengungsi yang  masih saja mengalir dari Kabuyutan Sendang Apit meny eberangi hutan. Mereka berharap bahwa diseberang hutan, mereka akan mendapatkan ketenangan setidaktidaknya untuk sementara sambil menunggu perkembangan keadaan di Kabuyutan 'mereka. Sekelompok pengungsi yang  meny eberangi hutan itu memang tertarik melihat kehadiran dua orang yang sebelumnya belum mereka kenal. Orang-orang Kabuyutan Sendang Apit m emang melihat kelainan pada Mahisa Murti dan Kiai Wijang dari kebiasaan orang-orang Kabuyutan itu. Namun sekelompok pengungsi itupun merasa bahwa mereka memang tidak dapat mengenali semua penghuni Kabuyutan Sendang Apit yang  termasuk luas itu. Apalagi kemungkinan hadirnya orang-orang baru yang  datang dari Kabuyutan lain untuk menetap di Kabuyutan Sendang Apit. Apalagi nampaknya kedua orang itu bukan orang yang jahat yang akan dapat mengganggu mereka diperjalanan. Meskipun demikian, seorang laki -laki diantara para pengungsi itu telah bertanya kepada Mahisa Murti dan Kiai Wijang "Apakah kalian juga pengungsi seperti kami?" Ternyata Mahisa Murti menjawab apa adanya "Tidak Ki Sanak. Kami adalah orang-orang dari Kabuyutan Talang Alun diseberang hutan. Di Kabuyutan kami terdapat banyak sekali pengungsi yang  mengalir dari Kabuyutan Sendang Apit. Karena itu, kami sengajaa pergi ke Sendang Apit untuk melihat keadaan. " Laki-laki itu mengangguk-angguk. Katanya "Jadi kalian adalah orang-oranga Talang Alun." "Ya " jawab Mahisa Murti. Laki-laki itu mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya "Bagaimana keadaan saudara-saudara kami yang telah berada di Talang Alun?" "Kami di Talang Alun telah mencoba berbuat sebaikbaiknya. T etapi sudah tentu sesuai dengan kemampuan yang ada pada kam i." Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Perjalanan di hutan yang  lebat itu memang bukan perjalanan yang  mudah. Apalagi diantara mereka terdapat perempuan dan anak-anak. Karena itu, m aka perjalananpun menjadi lambat dan sekali-sekali harus beri stirahat. Beberapa orang laki -laki yang ada diantara mereka telah merambah jalan yang  akan dilalui. Namun merekapun bersiap pula jika tiba-tiba mereka bertemu dengan binatang buas yang akan mengganggu. . Tetapi binatang buas di hutan itu justru menyingkir jika mereka melihat sekelompok orang yang lewat. Apalagi jika mereka membawa obor dimalam hari. Namun ditengah hutan m ereka telah bertemu dengan tiga orang yang  nampaknya sedang beri stirahat. Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak menegur sekelompok orang yang  sedang mengungsi itu. Mereka hanya memperhatikan seorang demi seorang. Namun kemudian sekelompok pengungsi itupun kemudian telah lewat. "Apakah kita akan menggabungkan diri dengan mereka?" bertanya lembu Pangambah. "Tidak perlu." jawab Kebo Wanter "hanya akan mengganggu saja. Mungkin satu orang diantara mereka akan bertanya kepada kita. Bahkan mungkin kedua orang yang harus kita selesaikan itu. Kita harus berpikir bagaimanakita menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka itu.” "Dua orang yang dimaksud mPu Renapati tentu dua orang yang ada diantara para pengungsi itu " berkata Lembu Pangambah. "Ya. Aku sudah pasti." jawab Kebo Wanter. "Jika demikian, kenapa tidak kita selesaikan sekarang saja disini?" bertanya seorang yang ikut bersama Kebo Wanter dan Lembu Pangambah. "Tiga orang kawan kita yang  lain ada di ujung hutan" jawab Kebo Wanter "selebihnya, perintah itu mengatakan bahwa kita harus membunuh m ereka di daerah Kabuyutan Talang Alun sendiri. " "Kenapa? Bukankah lebih baik kita bunuh di hutan ini?" "Jika mereka mati di Talang Alun, maka itu adalah persoalan Talang Alun sendiri. Tetapi jika di hutan ini atau di Sendang Apit, maka persoalannya akan dapat m enjadi lain. Orang-orang Talang Alun akan dapat menyangkutkan Kabuyutan Sendang Apit atas kematian orang-orangnya itu.” Orang itu tidak bertanya lagi, sementara itu kelompok pengungsi itu sudah menjadi semakin jauh. Baru beberapa saat kemudian maka ketiga orang itupun bangkit dan melangkah mengikuti arah para pengungsi itu. Ketika kemudian para pengungsi itu melihat tiga orang yang lam duduk-duduk diatas sebatang pohon yang  rebah dihutan itu, maka mereka mulai merasa curiga. Mungkin enam orang itu berniat buruk terhadap para pengungsi itu. Mungkin mereka perampok yang mengira bahwa para pengungsi itu membawa barang-barang mereka yang  paling berharga. Tetapi ketiga orang yang  ditemuinya kemudian itu juga tidak m engganggu m ereka. Ketiganya hanya memperhatikan sa ja iring-iringan sekelompok pengungsi yang lewat. Namun dalam pada itu, setiap laki -laki diantara para pengungsi itu sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Mereka telah mempersiapkan senjata mereka untuk melindungi keluarga mereka serta m ilik mereka yang sempat mereka bawa. Ketika para pengungsi itu kemudian keluar dari hutan yang  lebat, yang menyekat Kabuyutan Sendang Apit dengan Kabuyutan Talang Alun, maka rasa-rasanya mereka mulai dapat bernafas lega. Beberapa saat kemudian, mereka akan meninggalkan padang perdu dan turun ke daerah per sawahan. Kemudian merekapun akan segera sampai ke padukuhanpadukuhan terdekat dari Kabuyutan Talang Alun, yang akan menjadi tempat mereka untuk menetap sementara. "Kami sudah sampai ke Talang Alun, Ki Sanak" berkata laki -laki yang  sejak semula berbincang dengan Mahisa Murti dan Kiai Wijang. "Ya. Kalian telah berada di Talang Alun" jawab Mahisa Murti. "Dimana kami dapat tinggal?" bertanya laki-laki itu. "Datang saja ke padukuhan yang mana saja. Di banjar telah ditugaskan orang-orang yang akan m engatur dimana kalian akan ditempatkan, " jawab Mahisa Murti. Laki-laki itu m engangguk-angguk. Katanya "Terima kasih. Kami tidak akan melupakan jasa orang-orang Talang Alun.” Demikianlah iring-iringan itu berjalan dengan wajah yang  memancarkan harapan untuk mendapatkan tempat yang  lebih tenang. Mereka seakan-akan telah melupakan perjalanan yang panjang menelu suri hutan dan padang perdu. Sementara itu, malam yang  turunpun semakin lama menjadi semakin gelap. Perempuan dan anak-anak yang merasa sangat letih, terpaksa harus berhenti lagi untuk beristirahat sebagaimana mereka lakukan beberapa kali sepanjang perjalanan. Namun rasa-rasanya mereka sudah tidak diburu oleh kecemasan, bahwa m ereka akan mengalami perlakuan kasar. Seakan-akan mereka sudah berada diambang pintu regol rumah mereka sendiri. Namun ketenangan m ereka ternyata telah terusik. Enam orang yang mereka temui di hutan itupun telah menyusul mereka. Dua orang yang berjalan dipaling depan langsung berdiri dekat ditempat para pengungsi itu beristirahat. "Kami tidak akan mengganggu kalian " berkata salah seorang dari mereka. Para pengungsi itu termangu-mangu sejenak. Tetapi setiap laki -laki yang ada diantara mereka m emang sudah bersiap. Meski pun melihat ujudnya, keenam orang itu tentu orang yang memiliki kelebihan, tetapi para pengungsi itu t idak akan membiarkan mereka dirampok atau mengalami perlakuan buruk. Mereka sudah bersusah payah menempuh perjalanan yang panjang dan sulit. Sehingga karena itu, maka merekapun rasa-rasanya tidak akan mau berkorban lebih banyak lagi. Tetapi salah seorang dari keenam orang itu berkata "Aku justru sedang mencari saudaraku sendiri dari Talang Alun. Diluar sadarnya orang-orang itu berpaling kepada Mahisa Murti dan Kiai Wijang. Ternyata orang-orang itupun telah memandang kearah keduanya pula. Sebelum Mahisa Murti dan Kiai Wijang berkata sesuatti, maka orang yang mengaku mencari saudaranya itu berkata "Ternyata kau benar-benar ada di sana. Ketika kami m elihat iring-iringan pengungsi ini lewat, kau berusaha untuk menyembuny ikan dirimu diantara mereka. Tetapi ada diantara kami yang  berhasil melihat kalian berdua. " Mahisa Murti dan Kiai Wijang segera tanggap apa yang  sedang mereka hadapi. Karena itu, maka Kiai Wijangpun segera menyahut "Ki Sanak. Kalian tidak u sah berputar-putar lagi. Katakan saja apa m aksud kalian. Kami memang orangorang Talang Alun. Tetapi kalian bukan." "Jangan memutar balikkan persoalan. Beberapa hari kau telah m enghilang dari Talang Alun. Sekarang kau kembali ke Talang Alun bersama para pengungsi. Ki Buyut yang menugaskan kami mencarimu, hampir berputus-a sa. Untunglah kami melihat kau yang mencoba menyusup diantara para pengungsi itu. " "Sudahlah, katakan apa yang kau maui?" berkata Mahisa Murti. Salah seorang diantara mereka yang  mencegat Mahisa Murti dan Kiai Wijang itupun berkata kepada para pengungsi "Nah Ki Sanak. Aku persilahkan kalian melanjutkan perjalanan. Di Talang Alun telah disediakan tempat bagi kalian. Biarlah aku meny elesaikan kedua orang yang  telah banyak m elakukan kejahatan di Kabuyutan kami. Untunglah mereka berdua belum melakukan kejahatan atas kalian, karena agaknya kalian tidak menjadi ketakutan karenanya. Bahkan nampaknya setiap laki-laki dalam iring-iringan pengungsi ini sudah siap untuk melawan. " Para pengungsi itu memang menjadi bingung. Namun orang itu berkata selanjutnya "Silahkan meninggalkan tempat ini. Kami akan m enangkap mereka dan m embawanya kepada Ki Buyut. Jika kedua orang ini melawan, maka kami terpaksa mengakhirinya. " Para pengungsi itu memang menjadi cemas. Karena itu, maka m ereka memang merasa lebih baik tidak ikut campur. Apalagi orang itu mengatakan bahwa ia dan kawan-kawannya mendapat tugas dari Ki Buyut Talang Alun. Ketika para pengungsi itu bersiap untuk melanjutkan perjalanan, maka Mahisa Murti justru berkata "Silahkan Ki Sanak. Jangan ragu-ragu. Tinggalkan tempat ini dan sampaikan kepada Ki Buyut apa yang telah terjadi disini." Para pengungsi yang masih baru saja mencoba untuk beristirahat itu telah bersiap untuk m elanjutkan perjalanan. Sementara Mahisa Murti berkata "Padukuhan yang pertama sudah tidak jauh lagi. Lampu-lampunya telah nampak dari tempat ini. Yang nampak terang itu tentu obor diregol padukuhan.- Para pengungsi itupun segera melanjutkan perjalanan. Mereka m emang menjadi berdebar-debar dan bahkan merasa cemas melihat gelagat yang tidak baik antara keenam orang yang m engikuti mereka dari dalam hutan dengan dua orang yang bersama-sama mereka sejak dari seberang hutan. Tetapi para pengungsi itu memang tidak ingin ikut campur jika persoalannya adalah persoalan orang-orang Talang Alun sendiri. Mereka memang merasa tidak berhak untuk melibatkan diri kedalamnya. Namun yang  m enggelisahkan mereka, bahwa Talang Alun yang dikiranya tenang dan damai itu masih juga diguncang oleh peri stiwa-peristiwa kekerasan yang  mencemaskan. Sementara itu, ketika para pengungsi itu sudah menjadi semakin jauh, maka Kebo Wengker itupun berkata "Ki Sanak. Kami memang mendapat perintah untuk meny elesaikan Ki Sanak berdua, karena kalian akan dapat membuat suasana menjadi semakin Kalut. Kabuyutan Talang Alun tidak ingin terlibat dalam pertikaian yang terjadi di Pudaklamatan dan Sendang Apit. Karena itu, m aka bahwa kalian telah m encoba mencampuri persoalan mereka maka kalian harus dilenyapkan dari bumi Talang Alun." Tetapi Mahisa Murti itu justru bertanya "Bukankah tidak ada pertikaian apa-apa di Pudaklamatan? Bukankah yang  terjadi itu satu hal yang  sangat wajar, bahwa Ki Buyut Pudaklamatan mengambil kembali miliknya dari tangan adik sepupunya? Kelak anak Ki Buyut itu akan menjadi seorang pemimpin yang  besar yang  memimpin sebuah Kabuyutan besar yang  terdiri dari gabungan dua Kabuyutan. He, apakah kau tidak setuju? Jika sikapmu itu diketahui oleh Ki Buyut Pudaklamatan, anak laki-lakiny a atau bahkan m Pu Renapati, maka kalian akan meny esal. Apalagi karena kalian sudah menganggap bahwa yang  terjadi di Kabuyutan Pudaklamatan adalah satu pertikaian." Wajah Kebo Wanter menjadi merah. Sementara Lembu Pangambah membentak "Gila kau. Apapun yang  kau katakan, kami akan membunuh kalian. " "Nah, bukankah sudah aku katakan, sebaiknya kalian katakan langsung, apa maksud kalian. Kalian memang tidak usah berbelit-belit dan berputar-putar." "Baik" geram Lembu Pangambah "tundukkan kepalamu. Aku akan memanggalnya. Kematian yang demikian adalah kematian yang paling terhormat bagi kalian daripada kalian akan mati seperti seekor tikus didalam genggaman sekor kucing." Mahisa Murti sama sekali tidak menjadi ketakutan. Anak muda itu justru tertawa "Satu tantangan yang sudah t erlalu sering diucapkan orang. Sudahlah. Kita tidak usah banyak berbicara. Marilah, kita akan bertempur. Tetapi maaf, bahwa kami memang tidak m embawa senjata, karena senjata akan menyulitkan perjalanan kami di Kabuyutan Pudaklamatan.” Kebo Wanter menggeram. Sambil melangkah surut mengambil jarak ia berkata "Kau memang terlalu sombong. Tetapi jangan takut bahwa aku akan membunuhmu dengan senjata. Jari-jariku cukup kuat untuk mematahkan lehermu, sementara itu kawanku itu akan mencekik kakek tua itu dengan jari-jarinya pula. "Lalu, apa yang akan dilakukan oleh keempat kawanmu itu ?" bertanya Kiai Wijang tiba-tiba. " Telinga Kebo Wanter menjadi panas bagaikan disentuh api. Dengan geram ia menjawab "Mereka akan menjaga kalian, agar kalian tidak sempat melarikan diri." "Apakah kalian menduga bahwa kami akan m elarikan diri ?" bertanya Kiai Wijang pula. "Ya." jawab Kebo Wanter "aku melihat kelicikan disorot mata kalian. Kalian tidak akan merasa malu untuk melarikan diri karena kalian memang tidak mempunyai harga diri sama sekali. " Kiai Wijang tertawa. Katanya "Satu dugaan yang  tepat. Karena k etika aku muda, maka aku adalah pelari tercepat di padukuhanku. Setiap ada lomba memburu itik, maka aku tentu menjadi pemenangnya. " "Cukup" bentak Kebo Wanter yang  tidak dapat m enahan marahnya. Kepada keempat kawannya ia berkata "Jaga agar mereka tidak sempat melarikan diri. " Keempat kawannya itupun segera memencar diseputar keempat orang yang nampaknya sudah siap untuk bertempur itu. Kebo Wanter yang marah itu segera menghadapi Mahisa Murti, sementara Lembu Pangambah melangkah mendekati Kiai Wijang yang  telah mengambil jarak dari Mahisa Murti. "Pandanglah Kabuyutan Talang Alun untuk yang terakhir. Kau akan segera mati, sebelum kawan para pengawal padukuhan terdekat itu datang kemari. Para pengungsi itu tentu m enceriterakan apa yang mereka lihat. Para pengawal tentu ingin mengetahui apa yang  sebenarnya terjadi disini. " geram Kebo Wanter. "Ya. Sebentar lagi mereka tentu akan datang" sahut Mahisa Murti. "Tetapi kau tidak akan memiliki waktu yang sebentar itu." geram Kebo Wanter pula. Mahisa Murti m emang tidak menjawab lagi. Kebo Wanter telah mulai bergerak. Bahkan Lembu Pangambahlah yang justru telah meloncat menyerang Kiai Wijang. Lembu Pangambah ingin dalam waktu yang singkat, orang tua itu sudah dapat dibunuhnya. Tetapi Kiai Wijang cukup berhati-hati. Dengan tangkasnya ia bergeser kesamping. Tidak sebagaimana seorang tua yang bergerak dengan lam ban. Tetapi orang tua itu melenting dengan kecepatan yang justru mendahului serangan lawannya. Lembu Pangambah memang agak terkejut melihat ketangkasan orang itu itu. Apalagi ketika ia masih mendengar orang tua itu justru tertawa. Bahkan sambil berkata "Jangan tergesa -gesa, karena kau tidak dapat membidik sasaran dengan baik. " Lembu Pangambah mengumpat ka sar. Namun serangannyapun segera meluncur kembali. Tetapi seperti yang terdahulu, serangannya itu tidak menyentuh sasaran. Lembu Pangambah yang  geram itupun berteriak "Jangan lari. Kau tidak akan lepas dari tanganku.” Tetapi jawaban Kiai Wijang memang menyakitkan telinganya. Katanya "Bukankah aku tidak akan dapat melarikan diri karena kawan-kawanmu telah mengepungku ?" "Per setan kau setan tua. Kau akan menyesal tingkah lakumu itu." geram Lembu Pangambah. Kiai Wijang tidak 'menjawab. Ia melihat dalam keremangan malam, m ata Lembu Pangambah itu seakan-akan m embara. Kemarahannya telah membakar ubun-ubunnya. Dengan garangnya Lembu Pangambah itu meny erang lawannya. Ia sama sekali tidak berusaha untuk menjajagi kemampuan orang tua itu. Lembu Pangambah ingin pekerjaan itu segera selesai sehingga bersama kawan-kawannya ia akan segera meninggalkan daerah Talang Alun yang  banyak dihuni oleh para pengungsi dari Sendang Apit. Tetapi ternyata tidak mudah untuk menundukkan orang tua itu. Ketika orang tua itu mulai bertempur, maka ia sama sekali tidak menunjukkan ketuaannya lagi. Sementara itu, Kebo Wanterpun telah mengerahkan kemampuannya pula. Anak muda yang  sombong itu harus dihancurkan dalam waktu yang  pendek. Sebelum mati anak muda itu harus mengakui, bahwa ia bukan apa-apa bagi Kebo Wanter. Tetapi ternyata bahwa perhitungan Kebo Wanter itu keliru. Anak muda itu tidak segera dapat ditundukkannya. Seranganserangannya sama sekali tidak mampu meny entuh sasaran. Bahkan sekali-sekali, anak muda itu justru dengan sengaja memb entur serangannya. Kebo Wanter adalah seorang yang  memiliki pengalaman yang luas. Sebagai seorang yang  ditempa di sebuah padepokan, maka Kebo Wanterpun m emiliki landasan ilmu yang cukup tinggi. Namun yang dihadapinya adalah Mahisa Murti, pemimpin sebuah padepokan yang cukup besar dan bahkan telah mendapat perhatian khusus dari Singasari. Karena itu, m aka Kebo Wanter mulai m erasa dihadapkan pada sebuah teka-t eki, bahwa anak muda dari Talang Alun itu tidak segera dapat ditundukkannya. Dengan, demikian, maka Kebo Wanter, seorang murid dari perguruan mPu Renapati yang  terpilih itu, menjadi semakin marah. Tidak seharusny a anak dari Talang Alun itu dapat bertahan terlalu lama menghadapinya. Tetapi ia tidak dapat m engingkari kenyataan. Anak muda itu m asih mampu bertahan. Bahkan serangan-serangan Kebo Wanter itu masih belum berhasil meny entuh kulitnya. Karena itu, maka Kebo Wanter tidak lagi mengekang dirinya. Ia berniat segera mengakhiri pertempuran. Karena itu, maka iapun segera meningkat ketataran ilmunya yang lebih tinggi. Yang sebelumnya sama sekali tidak diduganya, bahkan ia akan sampai ketataran itu untuk menghadapi anak muda Talang Alun itu. Dengan demikian, maka serangan2 Kebo Wanterpun menjadi semakin keras dan cepat. Kakinya berloncatan diseputar Mahisa Murti yang  berusaha tidak terlalu banyak bergerak. Namun setiap geraknya seakan-akan telah menimbulkan getar udara yang  menerpa kulit lawannya. Mula-mula Kebo Wanter tidak mau menghiraukan hal itu. Namun kemudian ia menyadari, bahwa hal itu memang terjadi. "Kau sadap ilmumu itu dari iblis mana, anak muda?" bertanya Kebo Wanter kemudian. "Aku tidak bersahabat dengan iblis Ki Sanak" jawab Mahisa Murti. "Per setan dengan kesombonganmu" geram Kebo Wanter. Namun Kebo Wanter itupun kemudian harus mengakui, bahwa lawannya yang masih muda itu memang berilmu tinggi. Seperti Kebo Wanter masih belum ingin mempergunakan senjata. Ia tahu bahwa lawannya yang  m asih muda itu tidak bersenjata. Iapun telah berkata bahwa ia akan membunuh anak muda itu tanpa senjata. Karena itu, betapapun ia menghadapi keny ataan bahwa lawannya itu berilmu tinggi, maka Kebo Wanter masih belum mempergunakan senjatanya. Tetapi benturan-benturan yang  kemudian terjadi, memaksaKebo Wanter berpikir ulang. Ia tidak dapat sekedar menjunjung harga dirinya, tetapi semakin mengalami kesulitan untuk mempertahankan diri. Apalagi ketika kemudian, Mahisa Murti mulai menembus pertahanan Kebo Wanter dengan serangan-serangannya. Ju stru saat Kebo Wanter menggapai tataran ilmu yang dikuasainya, maka Mahisa Murti mulai menguak pertahanannya. Ketika Kebo Wanter meloncat meny erang dengan garangnya, dengan menjulurkan tangannya kearah pelipis Mahisa Murti, maka Mahisa Murti justru m erendah. Sambil memutar tubuhnya, maka Mahisa Murti telah menjulurkan sebelah kakinya mengarah kedada Kebo Wanter. Tetapi Kebo Wanter sempat menghindar. Dengan cepat Kebo Wantaer memiringkan tubuhnya. Serangan kaki Mahisa Murti itu m emang tidak mengenai sa sarannya. Namun Mahisa Murti tidak berhenti. Dengan loncatan kecil, tubuhnya berputar. Kakinyalah yang  dengan derasnya terayun menggapai kening. Ternyata Kebo Wanter tidak mampu bergerak secepat Mahisa Murti. Meskipun ia tanggap akan serangan kaki berikutnya, namun Kebo Wanter ternyata telah terlambat menghindar. Kaki Mahisa Murti yang terayun mendatar itu menyambar keningnya. Demikian derasnya, sehingga Kebo Wanterpun telah terdorong beberapa langkah dan bahkan kemudian telah kehilangan keseimbangannya pula. Kebo Wanter itu jatuh terbanting di tanah. Satu kejadian yang tidak pernah diperkirakan sejak ia berangkat dari padepokan Renapati. Yang diangan-angankan adalah bagaimana membunuh anak Talang Alun itu dengan tangannya, membiarkan mayatnya terbujur di bulak itu. Jika kemudian mayat itu oleh orang-orang Talang Alun maka m ereka akan menjadi bingung. Mungkin mereka dapat menduga bahwa anak muda dan seorang kawannya telah dibunuh oleh orang seberang hutan, tetapi karena kematiannya terjadi di Kabuyutan Talang Alun, maka orangorang Talang Alun tidak dapat m enuduh, bahwa orang-orang seberang hutan itulah yang  telah membunuhnya. ===== 00000ooooooo


Para pembaca sekalian, cerita Hi jaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan HANYA SAMPAI DISINI saja…… Karena Pengarangnya Bpk SH Mintardja tidak sempat menyelesaikannya sebab beliau dipanggil menghadap Sang Maha Kuasa.. Terserah para pembaca untuk menafsirkan sendiri ending dari cerita ini

 (c) topmdi.net 2011. All Rights Reserved.