Welcome to topmdi - ebook collection
Jilid 106
-
118
Jilid 106 NAMUN yang pertama-tama
dilakukan oleh para cantrik adalah menilai kemampuan mereka
yang menyatakan diri untuk ikut berlatih di padepokan itu.
Meskipun tidak sangat teliti sebagaimana saat mereka menilai
kemampuan para cantrik, namun penilaian itu dapat dipergunakan untuk
membagi-bagi orang-orang padukuhan yang mengikuti latihan-latihan
itu dalam kelompok-kelompok tanpa memperhatikan dari padukuhan mana
saja mereka berasal. Ketika saatnya latihan-latihan itu dimulai,
ternyata bahwa kemauan mereka tidak kalah tinggi dari para cantrik
di Padepokan Bajra Seta itu. Meskipun waktu yang diperuntukkan bagi
mereka lebih pendek dari para cantrik, tetapi kemauan mereka
ternyata benar-benar membakar jantung mereka. Karena itu, maka para
cantrik tidak ingin mengecewakan mereka sehingga para cantrikpun
menunjukkan kemauan yang tinggi menuntun mereka meningkatkan
kemampuan orangorang dari padukuhan-padukuhan sebelah meny ebelah
padepokan itu. Dengan demikian m aka seisi Padepokan Bajra Seta
telah menjadi sibuk. Latihan-latihan berlangsung dengan kemauan yang
tinggi. Mahisa Murtipun tenggelam pula dalam kesibukan itu. Bahkan
Mahisa Murti secara khusus telah menempa Mahisa Amping dan Mahisa
Semu. Tetapi Mahisa Murtipun telah memberikan waktunya untuk
Wantilan yang memang mempunyai tataran yang berbeda serta
landasan ilmu yang berbeda pula, sehingga Wantilanpun harus
mendapat penanganan yang khusus. Dengan caranya, maka seisi
Padepokan Bajra Seta itupun menjadi semakin meningkat pula. Para
cantrik tertua dari padepokan itupun langsung mendapat
latihan-latihan dari Mahisa Murti sendiri, sehingga dengan demikian
maka Mahisa Murti benar-benar telah menghabiskan waktunya bagi
padepokannya. Dalam kesempatan tertentu, Mahisa Semupun telah diberi
wewenang oleh Mahisa Murti untuk memberikan latihanlatihan kepada
para cantrik yang masih muda. Bukan saja muda umurnya, tetapi
juga mereka yang belum lama berada di padepokan itu. Tetapi Mahisa
Murti tidak dapat meny erahkan sekelompok cantrik kepada Wantilan,
karena Wantilan mempunyai dasar yang berbeda. Hanya untuk
latihan-latihan dasar yang sifatnya umum, Wantilan dapat
membantu Mahisa Murti memberikan tuntunan kepada para cantrik.
Terutama mengenai ketahanan tubuh serta penguasaan gerak-gerak dasar
yang paling sederhana untuk mempersiapkan para cantrik itu mulai
dengan gerak-gerak dasar yang menjurus pada unsur-unsur ilmu
yang dipelajari. Dengan latihan-latihan khusus yang berat,
maka Mahisa Amping ternyata tumbuh sejalan dengan pertumbuhan
ilmunya. Dengan demikian maka ilmu yang dipelajarinya
seakan-akan telah m enyatu didalam dirinya. Sadar atau tidak sa dar,
maka setiap gerak anak itu seakan-akan telah terkendali dengan
mapan. Mahisa Semupun semakin lama menjadi semakin meyakinkan.
Tenaganya tumbuh dengan mantap sebagaimana tubuhnya yang
berkembang dengan tinggi dan kekar. Latihanlatihan yang berat telah
membentuk tubuhnya menjadi seorang yang gagah dan kuat. Setiap
pagi, Mahisa Semu telah berlatih sambil membentuk tubuhnya menurut
petunjuk Mahisa Murti. Sejak sebelum matahari t erbit, Mahisa Semu
telah m enitikkan keringat dari lubang-lubang kulitnya bersama
beberapa orang cantrik yang diserahkan kepadanya. Mereka
memanfaatkan lingkungan yang luas serta lereng-lereng pegunungan
disekitar padepokan. Meskipun demikian, para cantrik itu tidak
melupakan tugas-tugas m ereka sehari -hari dalam kehidupan
sewajarnya. Setelah berlatih dipagi hari, kemudian membersihkan diri
dan makan pagi, maka para cantrik itupun telah melakukan tugas
mereka sehari -hari. Diantara mereka ada yang pergi ke sawah yang
diperuntukkan bagi Padepokan Bajra Seta. Ada yang pergi ke
kolam-kolam ikan, ke pategalan dan ada yang melakukan tugas-tugas
yang lain. Pande besi dengan kemampuan yang lebih dari
pande besi kebanyakan setelah mereka mendapat tuntunan khusus. Ada
diantara mereka yang mengurusi peternakan dan pekerjaan-pekerjaan
yang lain. Tetapi diantara mereka terdapat kelompok-kelompok
yang berada di sanggar-sanggar bergantian. Mereka dengan
sungguh-sungguh berusaha meningkatkan kemampuan ilmu mereka. Baru
menjelang sore, maka hampir semua cantrik turun untuk melakukan
latihan-latihan sehingga halaman, kebun dan bahkan ara-ara di luar
dinding padepokan menjadi penuh, termasuk anak-anak muda dan
orang-orang padukuhan disekitar Padepokan Bajra Seta, sesuai dengan
tataran dan tingkat kemampuan mereka masing -masing. Sementara
Padepokan Bajra Seta tenggelam dalam kesibukan yang memberikan
arti yang penting bagi perkembangan Padepokan itu, maka Mahisa
Pukat yang berada di Kotaraja telah menjalani kehidupannya dalam
suasana yang berbeda. Hubungannya semakin lama menjadi semakin
akrab dengan Sasi. Ternyata orang tua Sasi benarbenar tidak
berkeberatan atas hubungan itu sebagaimana Mahendra sendiri. Namun
dalam keadaan-keadaan tertentu, Mahisa Pukat masih saja merenungi
dirinya sendiri dalam hubungannya dengan padepokan yang telah
ditinggalkan meskipun menurut pengertiannya hanya sementara. Tetapi
setiap kali sebuah pertanyaanpun timbul ”Apakah benar bahwa ia hanya
meninggalkan padepokannya untuk sementara?” Apalagi ketika pada
suatu ketika ayahnya, Mahendra memanggilnya dan dengan
sungguh-sungguh berkata kepadanya ”Mahisa Pukat. Aku m elihat bahwa
hubunganmu dengan Sasi semakin lama menjadi semakin
bersungguhsungguh. Bukan niatku untuk m enghalangi, apalagi menurut
penilaianku Arya Kuda Cemani tidak berkeberatan sama sekali dengan
hubunganmu itu. Tetapi dengan demikian m aka ada satu hal yang
harus kau perhatikan.” Mahisa Pukat memperhatikan kata-kata ay ahnya
itu dengan sungguh-sungguh pula. Namun sudah terasa olehnya, kemana
arah pembicaraan ayahnya itu. Karena itu, Mahisa Pukat tidak
terkejut ketika ayahnya kemudian berkata ”Mahisa Pukat. Masih ada
satu hal yang harus kau penuhi sebelum kau benar-benar memasuki satu
lingkungan kehidupan yang baru. Mak sudku, apabila kau benar-benar
ingin berumah tangga.” Mahisa Pukat menundukkan kepalanya. Tetapi ia
sudah tahu bahwa ay ahnya tentu akan berbicara tentang kehidupannya
setelah ia benar-benar memasuki jenjang kehidupan berkeluarga.
Tetapi Mahisa Pukat tidak ingin mendahului ayahnya. Karena itu, maka
ia hanya diam sambil menunggu. Sebenarnyalah ayahnyapun kemudian
berkata ”Mahisa Pukat. Kau harus mulai berpikir sejak sekarang. Jika
kau kelak berumah tangga, apay g akan kau lakukan? Apakah kau akan
kembali ke padepokan dan mengajak isterimu hidup menurut caramu di
padepokan? atau kau mulai membayangkan satu bentuk kehidupan yang
lain?” Mahisa Pukat tidak segera menjawab. Namun sebenarnyalah bahwa
Mahendra memang menjadi gelisah memikirkannya. Jika Mahisa Pukat
ingin hidup di padepokan, maka ia m erasa sangat kasihan kepada
Mahisa Murti. Tanpa setahu Mahisa Pukat, maka Mahisa Murti hidupnya
akan tersiksa setiap hari untuk waktu yang panjang tanpa batas.
Bahwa dengan mengorbankan perasaannya sendiri Mahisa Murti telah m
eninggalkan Mahisa Pukat di Singasari. Mahisa Murti termasuk seorang
anak muda y g tahu diri dan tidak mementingkan diriny a sendiri.
Tetapi jika ia ter siksa setiap hari, maka ada kemungkinan bahwa
Mahisa Murtilah yg kelak akan meninggalkan Padepokan Bajra Seta.
Sementara itu belum tentu bahwa Sasi akan dapat menerima satu bentuk
kehidupan di padepokan. Mungkin sebelum perkawinan itu terjadi,
selagi anganangannya melambung tinggi, Sasi berniat untuk hidup
bersama dalam keadaan apapun. Meskipun demikian, apa yang t erjadi
kemudian mungkin akan berbeda. Sasi dapat saja terbentur pada batas
kemampuannya untuk menyesuaikan dirinya, sehingga kehidupan di
padepokan akan terasa sangat membosankan. Dalam pada itu, Mahisa
Pukatpun menjadi bimbang pula. Apalagi ketika ayahnya berkata
”Pukat. Sampai sekarang kau adalah seorang pemimpin sebuah
padepokan. Kau hidup dalam satu suasana yang sangat khusus.
Sementara Sasi terbiasa hidup di Kotaraja. Aku tidak dapat
membayangkan, apakah jadiny a jika Sasi kau ajak mencoba hidup di
padepokan dengan gaya hidup orang-orang padepokan.” Mahisa Pukat
menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa ay ahnya ingin menasehatkan
kepadanya agar ia tidak membawa Sasi ke padepokan. Namun Mahisa
Pukat tidak tahu pasti alasan ayahnya y g sebenarnyalah Mahisa Murti
telah mengorbankan perasaannya yg tertuju kepada Sasi. Bagi Mahisa
Pukat, maka alasan utama adalah kebiasaan dan tatanan hidup keluarga
Sasi yang jauh berbeda dengan tatanan hidup di padepokan, sehingga
dengan demikian, maka satu kemungkinan yang tidak diharapkan
akan dapat terjadi atas Sasi. Dengan nada dalam, m aka Mahisa
Pukatpun justru telah bertanya ”Ayah, aku justru ingin mendapat
petunjuk dari ay ah.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Dengan
nada dalam iapun berkata ”Mahisa Pukat. Jika kau bertanya kepadaku,
maka jawabku tentu m engandung pengertian yang menguntungkan diriku
pula. Karena bagaimanapun aku tidak dapat melepaskan kepentinganku
sendiri.” “Maksud ay ah?” bertanya Mahisa Pukat. “Mahisa Pukat. Aku
ingin menasehatkan kepadamu, sebaiknya kau tidak usah kembali ke
padepokan. Setidaktidaknya untuk sementara. Kau dapat mencari sumber
kehidupan disini. Adalah kebetulan bahwa aku mempunyai hubungan
betapapun jauhnya dengan Sri Maharaja. Jika kau berminat, aku dapat
m embawa kau menghadap. Jika bukan Sri Maharaja, maka aku dapat
menyampaikannya Wreda Menteri atau pejabat-pejabat yang lain
yang aku kenal.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun
dengan nada rendah ia berkata ”Tetapi apa yang dapat aku
lakukan ay ah? Selama ini aku hidup disebuah padepokan, sehingga
yang aku kerjakan tidak lebih dari pekerjaan seorang cantrik dan
sekaligus seorang petani. Jika aku harus bekerja diistana, apa
yang dapat aku perbuat selain menjadi juru taman.” Tetapi
ayahnya m enggeleng. Katanya ”Kau dapat menjadi seorang prajurit.
Kau mempunyai kemampuan dasar dalam olah kanuragan. bahkan jika
dilakukan pendadaranpun kau akan mempunyai kesempatan cukup untuk
diterima diantara mereka yang menyatakan keinginan mereka
menjadi prajurit. Bahkan mungkin kau akan dapat diterima menjadi
Pelay an Dalam yang mempunyai tugas keprajuritan didalam lingkungan
istana” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia teringat kepada
saudara-saudara Sasi dan kawan-kawannya. Tataran kemampuan m ereka
tidak terlalu tinggi, sehingga j ika ia ikut dalam pendadaran, maka
kemampuannya tentu lebih baik dari anak-anak muda itu. Untuk
beberapa saat Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun kemudian iapun
menjawab ”Aku menurut saja, yang mana yang terbaik menurut
ayah.” “Ada dua bidang yang terbaik bagimu. Bidang
keprajuritan atau sebagai Pelay an Dalam. Jika kesempatan terbuka,
bagiku kau lebih baik menjadi seorang Pelayan Dalam. Tugasnya mirip
dengan tugas keprajuritan, tetapi juga mempunyai tanggung jawab atas
keamanan seisi istana dan melayani isi istana pula” “Narpacunadka
maksud ayah?” bertanya Mahisa Pukat. “Bukan. Tetapi Pelay an Dalam m
emang dapat diperintah oleh Narpacundaka.” Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Katanya ”Mana yang baik menurut ay ah, aku
tidak akan berkeberatan melakukannya.” Mahendra mengangguk-angguk.
Tetapi untuk sementara ia sudah berhasil m emisahkan Mahisa Pukat
dari Mahisa Murti apabila Mahisa Pukat benar-benar akan berumah
tangga dengan seorang gadis yang kebetulan pernah menarik hati
Mahisa Murti itu pula. Tetapi sebagai akibat dari keinginannya itu,
maka Mahendrapun harus menghubungi para pejabat di istana Singasari.
Bahkan ternyata kemudian, dalam satu kesempatan Mahendra sempat
menghadap Sri Maharaja di Singasari. Ternyata keinginan Mahendra
untuk mengabdikan anak laki -lakinya itu telah didengar pula oleh
Sri Maharaja di Singasari. Ternyata Sri Maharaja justru dengan
senang hati memerintahkan agar anak laki -laki Mahendera itu dapat
diterima sebagai Pelay an Dalam. Mahendra memang menjadi sangat
bergembira. Sebagaimana dititahkan oleh Sri Maharaja, maka
Mahendrapun telah m enghubungi Manggala yang memimpin Pelay an Dalam
di Istana Singasari itu. “Apa titah Sri Maharaja?” bertanya Gajah
Saraya, Manggala yang memimpin Pelay an Dalam itu. “Seperti yang
sudah aku katakan” jawab Mahendra ”Sri Maharaja bertitah bahwa Sri
Maharaja berkenan atas permohonan anakku untuk menjadi Pelayanan
Dalam.” “Untuk apa hal seperti ini kau sampaikan kepada Sri
Maharaja? Bukankah ada bermacam-macam persoalan yang harus
dipikirkan oleh Sri Maharaja? Tentu Sri Maharaja tidak sempat
memikirkan persoalan anakmu itu.” “Tetapi Sri Maharaja ju stru sudah
mendengar bahwa Mahisa Pukat ingin mengabdikan diri dalam lingkungan
Pelay an Dalam di Istana Singasari. Sebelum aku m engatakan sesuatu
tentang anakku itu, maka Sri Maharajalah yang ju stru bertanya
kepadaku.” “Mustahil” jawab Gajah Saraya ”aku belum pernah
menyampaikannya kepada Sri Maharaja.” “Entahlah. Aku tidak tahu,
siapakah yang menyampaikannya kepada Sri Maharaja. Tetapi Sri
Maharaja sudah mengetahuinya dan bahkan Sri Maharaja berkenan sekali
atas keinginan anakku itu jawab Mahendra. “Mahendra” berkata Gajah
Saraya ”sebenarnya kau tidak perlu bertumpu kepada Sri Maharaja.
Bukankah sebelumnya aku juga sudah menyatakan akan mengusahakan agar
anakmu dapat diterima asal anakmu memenuhi persyaratannya.” “Aku
mengucapkan terima kasih, Gajah Saraya” sahut Mahendra
”mudah-mudahan anak itu m emenuhi syarat yang diwajibkan.” “Tetapi
aku justru menjadi kecewa karena kau telah menyampaikan langsung
kepada Sri Maharaja. Agaknya kau tidak percaya kepadaku.” berkata
Gajah Saraya itu kemudian. “Kau salah paham Gajah Saraya” jawab
Mahendra ”aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Tetapi justru kau
yang tidak percaya kepadaku. Cobalah kau ingat-ingat, siapa saja
yang pernah mengetahui bahwa anakku akan mengabdikan diri dalam
lingkungan Pelay an Dalam di Istana Singasari? Mungkin orang itulah
yang telah m enyampaikannya kepada Sri Maharaja.” “Apakah
kepentingan mereka menyampaikan hal ini kepada Sri Maharaja?”
bertanya Gajah Saraya. Mahendra hanya dapat menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia mengerti, bahwa Arya Kuda Cemani juga pernah
mendengar keinginannya untuk mengabdikan anaknya dalam lingkungan
Pelay an Dalam. Bahkan Arya Kuda Cemani sangat menyetujui, karena
hal itu langsung atau tidak langsung menyangkut diri Arya Kuda
Cemani itu sendiri. Justru karena Mahisa Pukat telah berhubungan
degnan Sa si, anak perempuan Arya Kuda Cemani itu. “Apakah Arya
Cemani yang telah menyampaikan keinginan Mahisa Pukat itu k epada
Sri Maharaja?” bertanya Mahendra di dalam hatinya. Tetapi sudah
barang tentu bahwa Mahendra tidak mengatakan hal itu kepada Gajah
Saraya. Tetapi salah paham itu harus diluruskan. Karena itu, maka
Mahendrapun kemudian berkata ”Baiklah Gajah Saraya. Pada kesempatan
lain, jika aku menghadap lagi, maka aku akan bertanya kepada Sri
Maharaja, siapakah yang telah menyampaikan keinginan Mahisa Pukat
untuk mengabdi itu kepada Sri Maharaja.” “Kau berani melakukannya ?”
bertanya Gajah Saraya. “Kenapa tidak ? Sri Maharaja adalah seorang
yang hatinya seluas lautan. Demikian pula Ratu Angabaya,
sepupu Sri Maharaja yang mendampinginya memerintah di
Singasari itu. Seandainya aku m enyampaikan pertanyaan itu, maka
keduaduanya tentu tidak akan marah.” “Kau terlalu deksura, Mahendra.
Kau kira keduanya itu kawanmu bermain?” berkata Gajah Saraya. “Tentu
tidak Gajah Saraya. Tetapi aku mengenal keduanya sejak lama. S ejak
saudara -saudaraku masih m engabdi disini.” jawab Mahendra. Lalu
katanya pula ”Kaupun tentu mengerti, kenapa aku sekarang tinggal di
Istana Singasari.” Gajah Saraya termangu-mangu sejenak. Tetapi ia
harus menilai kembali keberadaan Mahendra di Istana itu. Meskipun
demikian, Gajah Saraya itu berkata ”Baiklah. Apapun yang kau
lakukan, akulah yang berwenang untuk melakukan pendadaran atas
anakmu itu. Akulah yang dapat menilai, apakah anakmu pantas
menjadi seorang Pelay an Dalam atau tidak.” Pernyataan itu memang
membuat jantung Mahendra berdesir. Namun Mahendra sadar, bahwa ia
memang tidak dapat berbuat banyak tanpa harus menimbulkan persoalan
dengan Gajah Saraya. Karena itu, maka Mahendra memang lebih banyak
menunggu. Mahendra berniat agar anaknya dapat diterima dalam
lingkungan Pelay an Dalam tanpa membuat persoalan. Karena itu, maka
sebaiknya Mahisa Pukat menempuh sy arat-syarat yang sewajarnya
dilakukan untuk dapat diterima menjadi Pelay an Dalam. Ketika hal
itu dikatakan kepada Arya Kuda Cemani, maka Arya Kuda Cemani itupun
berkata ”Gajah Saraya ternyata tidak berpandangan luas. Hatinya
getas seperti ranting yang kering. Sentuhan kecil saja membuat
hatinya patah. Seharusnya ia tidak merasa tersinggung. Jika hal itu
diketahui Sri Maharaja, maka justru Gajah Sarayalah yang akan
mendapat murka.” “Tetapi biarlah Mahisa Pukat memasuki lingkungan
Pelay an Dalam sesuai dengan syarat-sy arat yang harus ditempuhnya.”
berkata Mahendra kemudian. Arya Kuda Cemani mengangguk-angguk.
Katanya ”Ya, aku yakin syarat apapun yang diberikan, jika itu tetap
dalam kewajaran, tentu akan dapat dilaluinya. Pendadaran yang
betapapun beratnya asal masih sesuai dengan paugeran yang berlaku
tentu akan dapat diatasinya. Kecuali jika ada permainan lain. Jika
hal itu terjadi, aku mempunyai wewenang untuk memberikan laporan.”
“Mudah-mudahan hal seperti itu tidak perlu terjadi” berkata
Mahendra. Arya Kuda Cemani ter senyum. Sambil mengangguk-angguk ia b
erkata ”Akhirnya kita juga berpaling k epada kepentingan diri. Jika
persoalannya menyangkut diri kita masing-masing langsung atau tidak
langsung, rasa -rasanya kita juga ingin turut campur.” “Ya” jawab
Mahendra. Namun katanya kemudian ”Tetapi justru rasa keadilan kita
tersinggung.” Arya Kuda Cemani tertawa. Tetapi mereka sepakat untuk
tidak berbuat sesuatu sampai saat pendadaran itu datang. Mereka akan
menyaksikan apakah pendadaran itu berlangsung wajar atau tidak.
Adalah kebetulan bahwa istana Singsari memang sedang membutuhkan
sepuluh orang Pelayan Dalam baru. Diutamakan mereka yang masih
muda dengan harapan bahwa mereka dihari mendatang akan dapat m
enjadi Pelay an Dalam yang mampu menggantikan mereka yang menjadi
semakin tua. Karena yang menyatakan diri untuk memasuki
lingkungan Pelay an Dalam itu melebihi dari yang dibutuhkan, maka
mereka yang m enyatakan diri untuk ikut dalam pendadaran sudah
menyadari, bahwa pendadaran akan berlangsung berat. Duapuluh lima
orang akan mengikuti pendadaran. Sementara yang akan diterima hanya
sepuluh orang. Meskipun demikian Mahendra tidak ingin menempuh jalan
pintas m eskipun seandainya hal itu dapat dilakukan. Apalagi Sri
Maharaja sendiri telah menyatakan berkenan jika anak Mahendra dapat
diterima menjadi Pelay an Dalam. Demikianlah, maka pada saat yang
telah ditentukan, maka Manggala Gajah Saraya telah memanggil
keduapuluh lima orang yang menyatakan diri untuk memasuki lingkungan
Pelay an Dalam itu. Mereka akan mengikuti pendadaran yang akan
dibaktikan dalam beberapa tahap. Tahap pertama, duapuluh lima orang
itu harus m enempuh perjalanan dalam jarak t ertentu. Jalan itu
melalui beberapa rintangan alam yang cukup berat. Jalan yang
memang dipilih melalui lereng -lereng bukit, m eny eberang sungai
dan hutanhutan kecil. Perjalanan yang akan makan waktu sehari
semalam tanpa membawa bekal sama sekali. Mereka yang dapat menembus
rintangan alam itulah yang kemudian akan mengikuti pendadaran yang
kedua. Mereka akan dilepas seorang demi seorang tanpa diberi
ancar-ancar jalan yang akan m ereka lalui. Yang ada hanyalah
isy arat-isy arat yang harus mereka cari disepanjang jalan.
Ditempat-tempat tertentu mereka akan menjumpai gardugardu yang
ditunggui oleh para prajurit. Mereka harus menyatakan diri kepada
para prajurit itu jika mereka telah melewati gardu itu. Satu saja
gardu terlampaui, maka m ereka dianggap gagal dalam pendadaran tahap
pertama. Demikianlah, maka duapuluh lima. orang itupun telah
bersiap. Mereka yang akan melakukan pendadaranpun telah
bersiap. Sementara itu itu Manggala Gajah Sarayapun menunggui
pendadaran itu langsung ditempat para peserta dilepas. Pa da saat
yang sudah ditemukan, maka mulailah orang yang pertama dilepas
untuk menjalani pendadaran. Orang yang pertama itu dilepas di pagi
hari. Meskipun demikian pada saatnya, maka perjalanannya akan m
enembus gelapnya malam pula. Demikianlah berjarak waktu tertentu,
telah dilepas orang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya Dalam
urutan itu ternyata Mahisa Pukat adalah orang yang terakhir
dilepas. Ia justru dilepas saat matahari telah terbenam. Sebenarnya
Mahisa Pukat sudah merasakan keganjilan ketika ia diny atakan
sebagai orang terakhir. Ia tidak merasa ikut membuka lontar yang
didalamnya tertulis urutan keberangkatan pada pendadaran itu
sebagaimana yang lain. Menurut seorang prajurit yang mengatur
pendadaran, Mahisa Pukat justru peserta susulan yang tidak turut
dalam undian. “Kau harus mengucap terima kasih bahwa kau dapat ikut
serta” berkata seorang prajurit ketika ia menanyakan hal itu. Mahisa
Pukat tidak m empersoalkannya lagi. Jika ia m asih bertanya tentang
beberapa hal, maka mungkin sekali ia akan mengalami kesulitan karena
sikap prajurit itu. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun menerima saja
apa yang harus dilakukan. Baginya sama saja, apakah ia
mendapat giliran pertama atau terakhir. Semuanya akan mengalami
waktu yang sama. Sehari semalam. Yang berangkat pagi hari, pada
saatnya akan berjalan juga digelapnya malam. Bahkan Mahisa Pukat
merasa beruntung, bahwa yang telah berjalan lebih dahulu
daripadanya sebanyak duapuluh ampat orang, sehingga jejaknyapun
menjadi semakin banyak. Dengan demikian maka ia akan menjadi lebih
mudah menelusuri jalan yang harus dilaluinya dalam pendadaran
itu. Demikianlah, maka pada saat yang ditentukan, Mahisa Pukatpun
telah dilepas pula. Sementara gelap malampun mulai turun
perlahan-lahan. Namun bagi Mahisa Pukat kegelapan itu tidak banyak
mempengaruhinya. Sejenak kemudian, Mahisa Pukatpun telah berjalan
melalui jalan yang sepi. Ketajaman penglihatannya mampu
melihat dengan baik meskipun gelap menjadi semakin kelam. Dilangit
bintang berhamburan. Selembar awan lewat. Tetapi langit tetap
jernih. Dengan melihat bintang Gubuk Penceng dan bintang Waluku
Mahisa Pukat mampu mengenali arah. Ia tahu pasti kemana ia berjalan.
Ketika jalan berbelok, maka tanpa kesulitan ia mengetahui arah,
kemana ia harus pergi, karena ia m elihat isyarat yang jelas.
Beberapa cabang pepohonan sengaja ditebas. Sehingga dengan demikian,
maka Mahisa Pukatpun telah mengikuti petunjuk itu. Disamping isy
arat itu, maka jejak mereka yang ter - dahulupun telah menuntun arah
bagi Mahisa Pukat, sehingga ia tidak harus terlalu banyak berpikir.
Semakin lama jalanpun menjadi semakin jauh. Jalan setapak yang
jarang dilalui orang. Bahkan kemudian memasuki sebuah padang rumput
tempat para gembala menggembalakan kambingnya. Pa dang rumput itu m
emang agak luas. Rerumputan yang hijau itu mulai dibasahi oleh
embun yang mulai turun. Mahisa Pukatpun merasakan bahwa malam
memang menjadi semakin dingin. Tetapi ia berjalan terus. Ia belum
merasakan rintangan yang berarti pada perjalanannya itu. Ketika ia
melewati tanggul sebuah susukan yang agak besar, tiba -tiba
saja Mahisa Pukat dikejutkan suara anjing yang menggonggong. Tidak
terlalu jauh dari tanggul yang dilewatinya. Tetapi Mahisa Pukat
justru tersenyum. Telinganya yang tajam segera mengetahui,
suara gonggongan anjing yang seakan-akan suara seekor anjing
yang sangat besar itu adalah suara orang. “Tentu satu dua
orang prajurit yang mendapat tugas mengganggu mereka
yang melakukan pendadaran” berkata Mahisa Pukat didalam
hatinya. Tetapi justru karena itu timbul niat Mahisa Pukat untuk
bermain-main dengan mereka. Ketika suara anjing itu menjadi semakin
dekat, maka Mahisa Pukatpun telah ikut pula m enirukan suara anjing
itu. Hampir mirip dengan suara yang menjadi semakin dekat itu. Yang
terdengar kemudian adalah suara tertawa. Dua orang tidak dapat
menahan tertawa mereka. Bahkan kedua orang prajurit telah muncul
dari balik serumpun perdu. Sambil melangkah mendekati, seorang
diantara mereka berkata ”Selamat anak muda. Mudah-mudahan kau dapat
melewati pendadaran ini dengan baik.” “Terima kasih” jawab Mahisa
Pukat yang juga tertawa. Bahkan katanya ”Bukankah aku orang
terakhir? Marilah, kita berjalan bersama-sama.” Kedua orang itu
tertawa semakin keras. Katanya ”Tentu akan merugikanmu. Jika kau
ketahuan berjalan bersama kami, maka kau tentu dianggap gugur dalam
pendadaran ini. Sementara itu kamipun akan kembali ketempat kalian
dilepas, sehingga kita akan berlawanan arah.” Mahisa Pukatpun sambil
tertawa berkata ”Baiklah. Kita akan berpisah.” Kedua orang itu
berdiri untuk memperhatikan Mahisa Pukat berjalan memasuki
kegelapan. Namun seorang diantara kedua orang prajurit itu berkata
”Anak yang berani dan ramah. Aku kira ia akan dapat melewati
pendadaran ini.” “Tetapi ia baru m ulai. Masih banyak rintangan yang
lain yang barangkali lebih rumit. Apalagi rintangan alam yang
berat,” jawab orang lain. Orang yang pertama itu mengangguk-angguk
sambil bergumam ”Tetapi yang seorang ini nampak sangat yakin
akan dirinya.” “Ya” jawab kawannya ”anak ini memang mempunyai
kelebihan. Meskipun sebagian besar memang tidak menjadi ketakutan,
tetapi tanggapan anak ini terasa akrab.” Sementara itu Mahisa
Pukatpun telah meneruskan perjalanannya. Jalan yang sempit
yang kemudian menurut isy arat yang ada, menuju kesebuah
sendang yang terpencil. Sendang yang nampaknya jarang
dipergunakan airnya. Beberapa pohon besar tumbuh disekitarnya
sehingga suasanya memang menjadi sangat meny eramkan. Tetapi bagi
Mahisa Pukat, hal itu tidak dapat menggetarkan bulu-bulunya. Mahisa
Pukat berjalan saja mengikuti isyarat dan bahkan jejak yang
dapat dilihatnya dalam kegelapan, meskipun kadang-kadang ia harus
meraba dengan jari-jarinya. Beberapa saat maka Mahisa Pukatpun telah
tenggelam dalam gelapnya bayang-bayang beberapa batang pohon
raksasa. Ada diantaranya pohon preh, pohon nyamplung dan pohon
cangkring yang berduri. Untuk beberapa saat Mahisa Pukat
berhenti dibawah pepohonan itu sambil mengamat-amati batang-batang
raksasa yang tumbuh bagaikan menjulang kelangit. Kemudian bayang an
hitam dirim bunnya dedaunan. Sekali-sekali terdengar suara burung
malam yang m emecah sepi. Burung bence yang suaranya bagaikan
menyayat jantung. Memikik tinggi kemudian hilang dibawa terbang.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Mula-mula ia mengira bahwa
suara itu juga suara seseorang untuk menakutnakuti, setidak
-tidaknya menggetarkan jantung mereka yang ikut pendadaran. Tetapi
ternyata tidak. Suara itu benar-benar suara burung bence. Mahisa
Pukat y akin akan hal itu ketika burung bence itu terbang
meninggalkan pohon ny amplung raksasa yang tumbuh diantara
pohon-pohon raksasa yang lain. Mahisa Pukat hanya dapat
termangu -mangu sejenak. Baru kemudian ia berniat meneruskan
perjalanannya. Jalan sempit yang lewat diantara dua batang pohon
raksasa. Disebelah kiri pohon beringin dengan sulur-sulur yang
bergayutan yang membuat suasana menjadi bertambah seram. Sedangkan
disebelahnya adalah sebatang pohon cangkring berdiri hampir berimpit
dengan sebatang pohon yang sangat besar dengan jenis daun yang
berbeda. Daun cangkring dan daun benda. Namun karena kebiasaan
seorang pengembara, maka Mahisa Pukat melangkah tanpa ragu melalui
celah-celah pohon-pohon raksasa itu. Namun Mahisa Pukat memang
menjadi terkejut. Telinganya menangkap desir lembut. Karena itu,
maka iapun segera mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang
tidak dikehendaki. Sambil berjalan maka ia benar-benar memperhatikan
suasana. Beberapa langkah Mahisa Pukat berjalan dan lewat diantara
batang-batang raksasa itu, maka tiba-tiba sebuah bayang an putih
terayun menyambarnya. Demikian cepatnya, sehingga hampir saja
bayangan putih itu sempat menyambar kepalanya. Tetapi dengan tangkas
Mahisa Pukat menghindar, sehingga bayang an putih itu lewat saja
sejengkal dari tubuhnya. Terayun deras seolah-olah terbang kedahan
pepohonan. Tetapi bayang an putih itu tiba-tiba berhenti. Bahkan
terayun kembali seolah-oleh sekali lagi ingin menyambar Mahisa Pukat
yang berdiri termangu-mangu. Tetapi pikiran Mahisa Pukat cukup
terang. Bayangan itu tentu hanya sebuah benda yang terayun
karena terikat pada salah satu dahan pohon-pohon raksasa itu. Tidak
ada bedanya dengan suara gonggongan anjing itu. Tentu para prajurit
telah menakut-nakuti m ereka yang ikut dalam pendadaran untuk
memperlemah keberanian mereka meneruskan perjalanan. Sekali lagi
timbul niat Mahisa Pukat untuk bermain-main. Ketika benda itu
menyambarnya, maka Mahisa Pukat sekali lagi menghindar. Tetapi ia
tidak berlari menjauh. Ia ju stru menunggu benda itu terayun sekali
lagi. Sebenarnyalah, benda yang berwarna putih yang seakanakan
menggelantung terbang itu terayun lagi menyambarnya. Dengan cepat
Mahisa Pukat meloncat m enangkap benda itu dan menariknya
keras-keras. Seperti yang diperhitungkannya, maka tali
pengikat benda yang dihentakkannya itu telah terlepas. Bahkan kain
pembungkus benda yang diay unkan itu telah koyak. Sambil
memeluk benda yang terbungkus kain putih itu Mahisa Pukat
melangkah meneruskan perjalanan. Tetapi dua orang prajurit ternyata
telah mengejarnya sambil berteriak ”He, anak muda. Jangan kau bawa
benda itu.” Mahisa Pukat berhenti.Tetapi iapun berkata ”Aku adalah
orang terakhir, sehingga benda ini tidak akan dipergunakan lagi.”
“Tetapi aku harus membawanya kembali.” sahut salah seorang dari
kedua prajurit itu. Mahisa Pukat meny erahkan benda itu sambil t
ertawa. Katanya ”Marilah. Benda itu hanya akan menjadi beban saja
bagiku”. Kedua orang prajurit itupun tertawa. Tetapi seorang
diantara m ereka berkata ”Kau telah m engoy akkan kain putih ini.”
“Apakah masih akan terpakai?” bertanya Mahisa Pukat.
“Setidak-tidaknya dapat aku pergunakan untuk celana anakku,” jawab
salah seorang dari kedua prajurit itu. Mahisa Pukat tertawa semakin
keras. Kedua prajurit itupun tertawa berkepanjangan pula.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, Mahisa Pukatpun telah
meninggalkan kedua orang prajurit itu. Sambil melambaikan tangannya
prajurit itu berkata ”Selamat anak muda. Semoga kau berhasil.”
“Terima kasih. Doakan saja, agar aku mampu mengatasi pendadaran
ini.” Ternyata Mahisa Pukat justru telah menarik perhatian para
prajurit yang bertugas. Tetapi rintangan yang masih harus
dilaluinya masih cukup banyak. Justru rintangan alam. Lereng bukit,
tanah-tanah m iring yang terjal, sungai dan hutan yang masih dihuni
binatang buas. Tetapi dengan tegar Mahisa Pukat berjalan terus.
Dilaluinya rintangan demi rintangan yang memang disediakan
oleh alam. Dengan hati-hati Mahisa Pukat memanjat lereng bukit kecil
yang terjal, berbatu-batu padas yang runcing. Ketika ia sampai
kepuncak bukit kecil itu, dilihat sebuah pelita minyak kecil yang
nyalanya menggeliat ditiup angin malam. Mahisa Pukat mengetahui,
bahwa pelita itu dipasang pada sebuah gardu. Salah satu dari gardu
-gardu yang harus disinggahi selama ia menempuh perjalanan
pendadaran. Ada empat orang prajurit yang bertugas di gardu
itu. Demikian Mahisa Pukat mendekat, mska salah seorang dari para
prajurit itupun berkata ”Kau orang terakhir anak muda.” “Ya” jawab
Mahisa Pukat ”aku dilepas yang terakhir.” “Bagus. Berjalanlah
terus. Sampai pada gardu ini, semuanya masih genap duapuluh lima
orang. Tetapi dua orang sudah mulai nampak meragukan akan
keberhasilannya. Meskipun demikian, keduanya meneruskan perjalanan.”
Mahisa Pukatpun kemudian telah minta diri. Dalam kegelapan malam
yang semakin dalam ia meneruskan perjalanan. Sekali-sekali ia
memandang langit yang bersih. Bintang Gubug Penceng dan
Bintang Waluku sudah bergerak semakin ke Barat. Bahkan di langit
sudah nampak Bintang Bima Sakti. Mahisa Pukat berhenti ketika ia
sampai ke ngarai setelah menuruni bukit k ecil itu. Kakinya memang
terasa agak l etih. Batu-batu padas terasa menggelitik tapak
kakinya. Untuk beberapa saat Mahisa Pukat beristirahat. Ia sadar
bahwa perjalanannya masih jauh. Angin malam semilir membuat tubuh
Mahisa Pukat menjadi segar kembali. Perlahan-lahan ia meneruskan
perjalanannya menempuh jalur pendadaran yang masih jauh. Anak
muda itu tertegun ketika di depannya membentang sebuah sungai
yang meskipun tidak terlalu lebar, tetapi airnya cukup deras.
Batu-batu yang besar berserakan dimana-mana. Mahisa Pukatpun
dengan hati-hati menuruni tebing sungai dan mencoba menjajagi
airnya. Terasa airnya memang sangat dingin. Namun ia tidak mempunyai
pilihan kecuali meny eberang jika ia ingin diterima menjadi Pengawal
Dalam di Istana Singasari. Ternyata tidak terlalu sulit bagi Mahisa
Pukat. Namun demikian, pakaiannya menjadi basah. Sehingga ia harus
berjalan dengan pakaian basah di udara yang dingin di malam yang
kelam. Jalan yang terbentang dihadapannya kemudian adalah padang
perdu yang agak luas. Mahisa Pukat yang sudah terbiasa
mengembara itu mengenali, bahwa setelah padang perdu yang semakin
banyak dipadati pohon-pohon perdu, biasanya jalan itu akan sampai ke
pinggir hutan. Ketika Mahisa Pukat kemudian memandang kekejauhan dan
melihat bayang an pepohonan yang rapat membujur panjang, maka
Mahisa Pukatpun mengetahui bahwa yang dihadapannya itu bukan jajaran
padukuhan, tetapi tentu sebuah hutan meskipun tidak t erlalu besar.
“Memang lebih senang lewat di hutan itu siang hari” berkata Mahisa
Pukat di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat memilih. Yang lainpun
juga tidak dapat memilih, karena bagi mereka diberlakukan undian
untuk menentukan saat keberangkatan mereka. Hanya Mahisa Pukat
sajalah diantara para peserta yang tidak ikut dalam undian.
Namun ditentukan sebagai orang yang berangkat terakhir. Tetapi
sebelum para peserta pendadaran itu sampai ke hutan, maka mereka
akan melalui sebuah gardu lagi. Dari kejauhan Mahisa Pukat sudah
melihat lam pu minyak yang menyala berkeredipan. Agaknya para
prajuritpun memperhitungkan, bahwa kehadiran gardu itu akan dapat
memberikan sedikit ketenangan bagi para peserta yang kurang
memiliki keberanian memasuki lingkungan hutan meskipun hutan yang
terhitung kecil. Ketika Mahisa Pukat singgah di gardu itu, maka
iapun disambut dengan baik oleh para prajurit yang bertugas. Tidak
hanya empat tetapi enam orang. Mahisa Pukat diberitahu bahwa para
peserta semuanya masih utuh, duapuluh lima orang. Dari para prajurit
yang bertugas di gardu itu Mahisa Pukat mendapat pinjaman sebilah
pisau b elati panjang yang tajam. Dengan nada berat prajurit itu
berkata ”Kau akan memasuki jalan ditepi sebuah hutan. Karena itu,
maka kau akan mendapat pinjaman sebilah pisau belati panjang. Tetapi
pisau itu harus kau kembalikan kepada para prajurit yang ada
di gardu berikutnya, setelah kau melalui hutan itu.” “Terima kasih”
jawab Mahisa Pukat sambil menerima pisau belati itu. Dengan pisau
belati di tangan, maka Mahisa Pukat menjadi semakin tegar.
Sebenarnya ia memang tidak memerlukan pisau itu. Tetapi rasa
-rasanya memang lebih tenang membawa sebilah pisau belati untuk
memasuki lingkungan hutan. Setidak-tidaknya pisau itu akan dapat
dipergunakan untuk membersihkan ranting-ranting yang
menghalangi jalan. Beberapa saat kemudian, maka perjalanan Mahisa
Pukat telah menjadi semakin dekat dengan hutan yang.membentang
dihadapannya. Hutan yang meskipun tidak begitu besar, tetapi
nampaknya cukup lebat, membujur sampai kelereng perbukitan. Mahisa
Pukat yang sudah mengembara melewati lingkungan yang
luas, tetapi ternyata ia belum pernah melewati jalan-jalan yang
dipergunakan untuk pendadaran itu m eskipun hanya sekitar Kota raja
saja. Agaknya lingkungan itu m emang lingkungan yang khusus
untuk kepentingan latihan-latihan para prajurit serta untuk
pendadaran sebagaimana yang sedang terjadi itu. Dengan sebilah pisau
belati panjang Mahisa Pukat berjalan melalui padang perdu yang
semakin rapat. Seperti yang diperhitungkan maka sejenak kemudian,
maka Mahisa Pukat itu telah m endekati sebuah hutan. Jalan yang
dilaluinya itu akan melewati pinggir hutan yang gelap itu.
Tetapi Mahisa Pukat sama sekali t idak merasa gentar menghadapi
jalan yang dilaluinya itu. Apalagi ia membawa sebilah pisau
dilambungnya. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Mahisa Pukat telah
memasuki hutan yang ternyata menurut pengamatan Mahisa Pukat
berdasarkan pengalamannya hutan itu adalah hutan tutupan. Hutan
yang khusus dipergunakan sebagai arena perburuan orang-orang
tertentu. Bahkan mungkin keluarga Sri Maharaja di Singasari. Namun
dengan demikian Mahisa Pukatpun menyadari bahwa hutan itu tentu
masih dihuni oleh binatang-binatang buas yang menjadi sa saran
buruan para pemburu. Karena itu, maka bagaimanapun juga Mahisa Pukat
harus berhati-hati. Demikian ia m emasuki jalan ditepi hutan, maka
ia mulai memperhatikan arah angin. Ternyata hembusan angin agak
kurang menguntungkan baginya. Angin berhembus kearah hutan
yang pekat itu. Tetapi Mahisa Pukat berjalan terus. Binatang
buas tidak selalu akan menyerang meskipun binatang itu mencium bau
seseorang. Bahkan binatang-binatang yang tidak terpaksa karena lapar
tidak akan meny erang seseorang. Demikianlah, maka Mahisa Pukatpun
menyusuri jalan dipinggir hutan itu. Dengan saksama ia memusatkan
perhatiannya pada keadaan sekelilingnya. Bukan saja ia berusaha
untuk melihat setiap gerak didalam kegelapan. Tetapi telinganyapuri
dipergunakannya sebaik-baiknya. Tiba-tiba saja Mahisa Pukat
terkejut. Ia m endengar suara yang aneh. Derak kayu yang saling
bergeser. Tetapi suara itu disusul aum harimau yang mengoyak
sepinya malam. Mahisa Pukat dengan cepat mempersiapkan diri. Ia
justru meloncat keluar dari jalur jalan dan berdiri di daerah padang
perdu yang agak longgar. Oleh bintang-bintang di langit maka
padang perdu itu gelapnya tidak sepekat gelapnya pinggir hutan yang
dilindungi oleh rim bunnya pepohonan. Sejenak Mahisa Pukat menunggu.
Aum harimau itu masih. terdengar. Tetapi ia masih berharap bahwa
harimau itu tidak mencarinya meskipun mungkin harimau itu sudah m
encium baunya. Tetapi yang terjadi tidak seperti yang
diharapkan oleh Mahisa Pukat. Agaknya harimau itu benar-benar
kelaparan. Ketika harimau itu muncul dari balik pepohonan hutan,
maka harimau itu nampak garang sekali. Dalam kegalapan ketajaman
mata Mahisa Pukat masih dapat melihat lamatlamat harimau itu
merangkak perlahan-lahan sambil menengadahkan kepalanya. Agaknya
harimau itu sedang meyakinkan diriny a tentang bau yang
tercium oleh hidungnya dalam keadaan yang sangat lapar. Mahisa Pukat
m enarik nafas dalam-dalam. Dalam keadaan yang tegang itu ia masih
sempat membuat perhitungan. Harimau itu tentu harimau yang
dengan sengaja dilepaskan dari kandang atau perangkapnya. Agaknya
harimau itu dibiarkan kelaparan sehingga dengan demikian harimau itu
menjadi semakin buas. Ternyata harimau itu berhasil mengetahui arah
Mahisa Pukat berdiri. Perlahan-lahan harimau itu melangkah mendekati
Mahisa Pukat. Terdengar harimau itu menggeram. Mahisa Pukat meraba
pisau belatinya. Tetapi iapun kemudian memutuskan untuk tidak
berlama-lama melayani harimau itu. Ia harus meny elesaikan
perjalanannya sekitar sehari-semalam. Jika ia terlalu lama berhenti
dipinggir hutan itu, maka perjalanannya akan tertunda, sehingga ada
alasan bagi orang-orang yang tidak senang akan kehadirannya dalam
pendadaran itu untuk menganggap bahwa ia mengalami kelambatan
terlalu lama dari waktu yang telah ditentukan, sehingga ia dapat
dianggap gagal dalam pendadaran tataran pertama. Tetapi Mahisa
Pukatpun yakin bahwa tentu ada orang yang mengawasi apa
yang akan terjadi. Apakah orang itu berada dibalik pepohonan
atau yang paling mungkin adalah ju stru memanjat pepohonan
untuk menghindari serangan harimau yang kelaparan itu. Yang tidak
dapat ditebak oleh Mahisa Pukat, apakah kehadiran seekor harimau itu
berlaku juga pada duapuluh ampat orang lainnya yang mengikuti
pendadaran itu, atau hanya disediakan baginya oleh orang-orang
yang tidak senang akan keikut sertaannya dalam pendadaran itu.
Karena itu, maka Mahisa Pukatpun berusaha untuk menghindari
penglihatan orang-orang itu jika mungkin ada. Demikianlah, maka
Mahisa Pukatpun kemudian telah berlari cepat -cepat menjauhi hutan
itu melintasi padang perdu. Namun dalam pada itu, harimau yang lapar
itupun tidak mau melepaskan mangsanya. Karena itu sambil mengaum
harimau itupun meloncat mengejar Mahisa Pukat. Mahisa Pukat
yang mengerahkan tenaga dalamnya itu memang dapat berlari
cepat sekali. Tetapi harimau itupun mampu berlari cepat pula. Dengan
cepat Mahisa Pukat menempuh sisa perjalanannya yang masih separo
lebih. Sementara itu, ia mulai memanjat lereng pegunungan lagi.
Tetapi pebukitan yang didakiny a itu tidak lagi berbatu-batu padas
yang menyakiti kakinya. Tetapi justru tanah terasa sangat licin.
Tetapi bagi Mahisa Pukat perjalanan itu masih belum membuatnya
mengalami kesulitan. Ketika fajar meny ingsing, maka Mahisa Pukat
telah turun dari pebukitan dan berjalan di ngarai yang datar.
Sebuah padang rumput yang luas terbentang dihadapannya. Ketika
matahari terbit, maka terasa udara yang segar berhembus
lembut. Tetapi di padang rumput itu tidak banyak terdapat pepohonan.
Hanya beberapa batang pohon saja tumbuh pada jarak yang cukup
jauh. Semakin lama maka panas mataharipun semakin terasa menyengat
kulit. Sementara itu leher Mahisa Pukat mulai merasa haus. Sedangkan
ia sama sekali tidak membawa bekal apapun. Di kejauhan Mahisa Pukat
melihat bayang an pepohonan yang hijau. Ia tidak tahu apakah yang
nampak itu padukuhan atau hutan. Tetapi m enurut perhitungan Mahisa
Pukat, jalan itu tentu tidak akan melalui padukuhan-padukuhan
yang akan dapat memberikan dukungan kepada para peserta
pendadaran. Jika haus, maka di padukuhan itu tentu tersedia air.
Sementara jika lapar, maka akan dapat dicari makan bagaimanapun
caranya. Tetapi ternyata jalan yang harus ditempuh tidak
menuju ke bayang an pepohonan itu. Ia harus berbelok melalui jalan
setapak justru menghindari pepohonan yang hijau segar. Mahisa
Pukatpun kemudian berbelok mengikuti lor ong sempit itu. Menurut
penglihatannya, maka para peserta yang terdahulu tentu juga berjalan
melalui jalan itu. Sementara itu maka sengatan mataharipun semakin
terasa. Leher Mahisa Pukat semakin terasa kering. Tetapi ia m asih
belum menjumpai parit, sungai atau anak sungai. Ia juga tidak
menjumpai sumber mata air disepanjang lorong sempit di tengah-tengah
padang rumput yang luas itu. Apalagi rerumputan itupun
kemudian menjadi semakin kuning. Tanah mulai bercampur dengan pasir
dan kerikil. Sehingga panaspun terasa semakin membakar tubuhnya.
Keringatpun membasahi kulit Mahisa Pukat dari ujung kepala sampai
keujung kakinya. Tetapi Mahisa Pukat masih tetap berjalan dengan
langkah yang mantap. “Memang lebih senang yang mendapat
giliran pertama” berkata Mahisa Pukat didalam hatinya ”ketika
menempuh perjalanan di pebukitan dan hutan, hari masih terang.
Sementara ketika menempuh padang ini matahari sudah tenggelam.”
Tetapi Mahisa Pukat tidak dapat merasa iri. Beberapa orang diurutan
terakhir juga mengalami sebagaimana yang dialaminya. Orang
yang keduapuluh ampat hanya berselisih beberapa saat saja
daripadanya. Ketika Mahisa Pukat melihat segerumpul pepohonan
raksasa di tengah-tengah padang itu, maka naluri pengembaranya m
engatakan kepadanya, bahwa di tempat itu ada air. Meskipun
barangkali tidak terlalu banyak. Karena itu, meskipun arah
perjalanannya tidak m endekati sekelompok pepohonan itu, maka Mahisa
Pukat sengaja telah menyimpang meskipun agak jauh. Sebenarnyalah, di
tempat itu Mahisa Pukat memang menemukan sebuah sumber air yang
cukup besar. Bahkan airnya melimpah mengalir kesebuah parit. Tetapi
parit itu tidak menyilang jalan yang harus dilalui jalan yang
harus ditempuh oleh mereka yang mengikuti pendadaran. Ternyata
Mahisa Pukat sempat menghilangkan hausnya, sementara ia masih harus
berjalan cukup panjang. Tetapi setelah minum, maka tubuh Mahisa
Pukat terasa semakin segar. Ia dapat berjalan lebih cepat lagi.
Bahkan seakan-akan Mahisa Pukat itu telah berlari-lari kecil untuk
mengganti waktu yang dipergunakan meny impang beberapa saat
ketika ia m encari sumber air yang tidak terletak dekat dengan
jalan yang harus ditempuh. Tetapi ia tidak harus t etap b
erjalan selalu diteriknya sinar matahari. Beberapa saat kemudian,
maka Mahisa Pukatpun telah m emasuki sebuah hutan kecil. Hutan
yang nampaknya tidak begitu buas. Pepohonan yang tumbuh
didalamnya tidak terlalu lebat. Tetapi m emang tidak mustahil bahwa
di tempat itu juga terdapat binatang buas. Karena itu, maka Mahisa
Pukat harus berhati-hati. Mungkin saja tiba -tiba seekor harimau
terlepas dari perangkapnya dan berusaha menerkamnya lagi. Tetapi
agaknya dihutan kecil itu memang tidak terdapat seekor harimaupun.
Yang terdapat dihutan itu ternyata adalah beberapa ekor ular. Seekor
ular gadung yang tidak t erlalu besar telah m enyambarnya dari
sebatang pohon. Untunglah Mahisa Pukat sempat meloncat menghindar.
Meskipun ia mempunyai penangkal racun, namun ia masih belum m erasa
perlu untuk menunjukkan kepada para prajurit yang menilai pendadaran
itu. Jika terdapat gigitan seekor ular, tetapi ia tidak mengalami
sesuatu, maka hal itu akan dapat m enarik perhatian. “Mudah-mudahan
tidak ada seorangpun yang digigit ular disini” desis Mahisa
Pukat. Ia memang m enganggap tempat itu sangat berbahaya bagi sebuah
pendadaran. Beberapa puluh langkah lagi, maka langkah Mahisa
Pukatpun terhenti. Ia melihat seekor ular sawah melintasi jalan
yang akan dilaluinya. Tetapi karena ular sawah bukan termasuk
ular yang berbahaya, maka Mahisa Pukat tidak bergeser dari tempatnya
berdiri. “Hutan ular” desis Mahisa Pukat. Bahkan ketika ia hampir
sampai diujung hutan kecil itu, ia masih bertemu dengan seekor ular
bandotan. Ular yang sangat berbisa, sehingga karena itu, maka Mahisa
Pukatpun harus bersiap-siap menghadapinya, karena ular bandotan
memang sering menyerang lebih dahulu. Tetapi justru karena Mahisa
Pukat berdiri mematung, maka ular bandotan itupun segera bergeser
menjauh dan masuk kedalam lebatnya hutan. Agaknya udara yang panas
telah membuat ular-ular di hutan itu dan sekitarnya kepanasan dan
mencari tempat yang lebih sejuk. Demikianlah beberapa saat kemudian,
Mahisa Pukat telah berada di ujung hutan, sementara matahari telah
lewat puncak langit. Jantungnya berdesir ketika demikian ia lewat
hutan itu, maka ia telah melihat sebuah lagi gardu yang dijaga oleh
beberapa orang prajurit. Ketika Mahisa Pukat mendekati gardu itu
untuk menyatakan kehadirannya, maka para prajurit di gardu itu
menyambutnya dengan sikap yang wajar. Memang agak berbeda
dengan para prajurit yang ada di gardu setelah ia melewati
hutan perburuan. “Bukankah kau tidak apa-apa?” bertanya salah
seorang prajurit ”maksudku, bukankah kau tidak dipatuk ular.”
“Hampir saja” jawab Mahisa Pukat ”ular gadung yang menyambar
aku dari pepohonan dan ular bandotan” “Sokurlah” desis prajurit itu.
”Ada tiga orang yang tidak sempat menghindar sehingga dipatuk
ular. Ketiganya masih ada disini. Tetapi ketiganya sudah diobati.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk kecil. Katanya ”Untunglah bahwa
mereka sempat tertolong.” “Setiap kali kami melihat keadaan. Atau
mereka yang digigit ular biasanya berlari keluar dari hutan
itu.” Muhisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya ”agaknya gardu ini
memang ditempatkan disini bukan saja untuk mengamati para peserta
pendadaran, tetapi juga untuk menolong mereka yang mengalami
kecelakaan.” “Ya” jawab salah seorang prajurit. “Lalu bagaimana
dengan mereka?” bertanya Mahisa Pukat sambil memperhatikan ketiga
orang anak muda yang berbaring disebuah amben yang besar di
gardu itu. “Keadaan mereka sudah berangsur baik” jawab prajurit itu.
“Maksudku, apakah dengan demikian mereka dianggap gagal dalam
pendadaran yang mereka ikuti?” Prajurit itu termangu-mangu
sejenak. Dengan dahi yang berkerut iapun berkata ”Agaknya
memang demikian anak muda. Karena itu kau dapat bersukur bahwa kau
tangkas sehingga kau dapat lolos dari patukan ular dihutan itu
seperti kawan-kawanmu yang lain.” “Bukan karena ketangkasanku”
jawab Mahisa Pukat ”tetapi aku justru diam mematung ketika ular itu
lewat.” “Jika demikian otakmulah yang tangkas” jawab prajurit
itu. “Terima kasih” jawab Mahisa Pukat yang sejenak kemudian
minta diri untuk melanjutkan tugas pendadarannya. Jalan yang
dihadapinya kemudian nampaknya tidak lagi terlalu sulit. Meskipun
jalan menjadi turun naik karena padang perdu yang memang tidak rata.
Tetapi jalan yang menanjak dan menurun tidak terasa terlalu terjal.
Namun demikian, langit terasa bagaikan membara. Matahari yang sudah
melewati puncaknya justru terasa semakin panas. Sinarnya menerpa
tubuh Mahisa Pukat serta memeras keringatnya dari seluruh wajah
kulitnya. Perasaan haus telah kembali mengganggunya. Meskipun
demikian namun Mahisa Pukat memperhitungkan bahwa ia tidak akan
kehabisan tenaga sampai saatnya ia sampai ketempat yang sudah
ditentukan sebagai tujuan akhir dari pendadaran, seandainya ia tidak
mendapat air. Dalam pada itu, ketika Mahisa Pukat melintasi daerah
yang agak tinggi, maka ia melihat dua punggung gumuk yang
memanjang. Pengalamannya mengatakan, bahwa diantara kedua punggung
gumuk yang memanjang itu terdapat sungai atau anak sungai
meskipun mungkin sudah mengering. Karena itu, maka seperti yang
telah dilakukan Mahisa Pukat ingin keluar dari jalur perjalanannya
menuju ketempat yang diperkirakan mengandung air itu. Bahkan sebuah
anak sungai. Tetapi sebelum ia benar-benar memasuki padang perdu
yang panas itu, tiba-tiba saja ia mendengar suara seseorang yang
mengerang. Dengan cepat Mahisa Pukat meloncat melintasi tikungan
ditebing yang agak tinggi. Demikian ia melampaui tikungan itu,
maka iapun telah melihat seseorang yang duduk bersandar
tebing. Wajahnya pucat sementara keringatnya bagaikan terperas dari
seluruh tubuhnya. Bibirnya nampak kering dan tubuhnya menjadi sangat
lemah. “Kau kenapa?” bertanya Mahisa Pukat. “Aku tidak tahan lagi.
Leherku bagaikan terbakar.” desisnya hampir tidak terdengar. “Apakah
kau salah seorang peserta pendadaran untuk memasuki lingkungan Pelay
an Dalam?” bertanya Mahisa Pukat. “Kau berada di urutan keberapa?”
bertanya Mahisa Pukat pula. “Dua puluh dua” jawab orang itu dengan
nafas terengahengah. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia
tidak bertanya anak-anak muda yang digigit ular itu berada
pada urutan keberapa. Namun tanpa ditanya anak muda yang
kehausan itu, berkata ”Sudah ada dua orang yang lewat
mendahului aku. Tetapi mereka tidak berhenti sama sekali. Aku tidak
menyalahkan mereka, karena mereka juga kehausan dan lebih.” Mahisa
Pukat termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak berniat meninggalkan
anak muda itu dalam keadaannya. Karena itu, maka katanya ”Tunggulah.
Aku akan mencari air.” “Kemana kau mencari air?” bertanya orang itu
dengan suara yang lemah. “Jika didekat tempat ini ada air, aku akan
mengambil untukmu.” jawab Mahisa Pukat. “Tetapi itu akan memakan
waktu yang panjang. Kau akan melampaui waktu yang ditetapkan
sehingga kau akan dianggap gagal pula.” berkata anak muda itu. “ Itu
bukan soal. Tetapi keadaanmu yang sangat lemah ini memerlukan
pertolongan. Seandainya aku gagal karena ini, aku tidak meny esal.
Aku m asih akan m endapat kesempatan untuk mengikuti pendadaran pada
kesempatan berikutnya atau untuk menjadi prajurit,” jawab Mahisa
Pukat. Anak muda itu tidak m enjawab. Sementara Mahisa Pukat berkata
selanjutnya ”Tunggulah disini. Bertahanlah.” Sejenak kemudian maka
Mahisa Pukatpun segera meloncat berlari menuju ke gumuk yang
memanjang membujur hampir sejajar dengan jalan ayang harus dilalui.
Ternyata Mahisa Pukat masih mampu berjalan cepat. Beberapa langkah
dari gumuk yang ternyata merupakan tebing yang agak tinggi
itu, Mahisa Pukat sudah mendengar gemericik air. “Air”desisny a.
Sebenarnyalah, ketika ia berdiri dialas tebing, ia melihat air yang
mengalir. Meskipun tidak begit u deras, tetapi cukup melimpah
dibanding dengan kebutuhan Mahisa Pukat. Dengan hati-hati Mahisa
Pukatpun kemudian turun kesungai kecil itu. Dengan jarijarinya ia
menyibak air yang jernih dan kemudian dengan kedua telapak
tangan yang ditakupkan maka iapun meneguk air itu pula. Tubuh
Mahisa Pukat terasa segar kembali sebagaimana ketika ia minum
sebelumnya. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Pukat masih belum benar-benar
kehausan karena ia telah menemukan sumber air sebelum ia sampai ke
hutan kecil itu. Tetapi yang juga penting baginya adalah bahwa ia
ingin juga membantu anak muda yang kehausan itu. Karena itu, maka
Mahisa Pukatpun telah mencari daun tales yang lebar yang
kebetulan tumbuh dipinggir sungai itu. Dengan daun tales itu Mahisa
Pukat dengan hati-hati membawa air naik keatas tebing dan berjalan
cepat-cepat kembali ke tempat anak muda itu menunggunya. Ketika
Mahisa Pukat sampai ketempat anak muda itu, maka didapatinya anak
muda itu terbaring diam. Matanya terpejam sedangkan bibirnya
yang kering menganga. Dengan cepat Mahisa Pukat mendekatinya
dan meraba dada orang itu. Ternyata bahwa nafasny a masih mengalir
melalui lubang hidungnya. Dengan hati-hati Mahisa Pukat telah
menitikkan air kebibir yang kering itu. Setitik dua titik, ternyata
telah membuat anak muda itu sadar kembali. “Minumlah” desis Mahisa
Pukat. Anak m uda itu tersenyum. Titik-titik air itu benar-benar
membuat tubuh anak muda itu menjadi bergetar kembali. Darahnya
yang seakan-akan hampir berhenti mengalir itu, telah membuat
jantungnya berdetak wajar. Perlahan-lahan anak muda itu telah
bangkit dan duduk. Beberapa teguk ia minum air didaun tales
yang lebar itu. Sejenak kemudian maka anak muda itu sudah
dapat tersenyum. Katanya ”Terima kasih Ki Sanak. Aku merasa hidup
kembali setelah nyawaku berada di ujung rambutku.” “Sudahlah”
berkata Mahisa Pukat ”sebentar lagi tenagamu akan tumbuh kembali
meskipun tidak dapat dengan serta merta pulih kembali. Tetapi kau
akan dapat meneruskan perjalanan. Setidak-tidaknya sampai ke gardu
mendatang.” Anak muda itu mengangguk. Katanya ”Ya. Aku akan
meneruskan perjalanan sampai ke gardu. Berangkatlah lebih dahulu,
agar kau tidak t erlambat. Lihat matahari telah turun semakin
rendah. Agaknya kau adalah orang terakhir dalam pendadaran ini.”
“Ya” jawab Mahisa Pukat ”aku memang orang terakhir.” “Orang
yang ke duapuluh tiga dan duapuluh empat sudah lewat beberapa
saat yang lalu” desis anak muda itu. Mahisa Pukat menarik nafas
dalam-dalam. Katanya ”Marilah. Kita berjalan bersama-sama.” “Jangan”
berkata anak muda itu ”nanti kau terlambat” Tetapi Mahisa pukat
tidak mau meninggalkan anak muda itu. Dibantunya anak muda itu
bangkit dan kemudian berjalan perlahan-lahan. Namun agaknya air yang
telah diminum itu membuat anak muda itu mampu berjalan agak cepat.
“Aku tidak berharap untuk dapat diterima” berkata anak muda itu.
“Tetapi kaupun tidak seharusnya terbaring di padang perdu itu” jawab
Mahisa Pukat. Anak muda itu mengangguk kecil. Setelah beberapa saat
mereka berjalan, maka keduanya terkejut. Mereka melihat muncul
dihadapan mereka dua orang berkuda menuju kearah mereka. Meskipun
mungkin mereka juga tergesa -gesa karena mereka tidak mau terlambat,
tetapi setidak-tidaknya mereka dapat melaporkan kepada gardu
berikutnya yang mereka lewati. Untunglah bahwa para prajurit itu
merasa bertanggung jawab atas keselamatan para peserta sehingga dua
orang yang masih belum lewat telah dicarinya. “Tentang ketiga orang
yang berada di gardu disebelah hutan itu, agaknya para prajurit di
gardu itu telah m endapat laporan” berkata Mahisa Pukat didalam
hatinya. Setidaktidaknya dari para peserta. “Jika belum prajurit itu
tentu menanyakannya” berkata Mahisa Pukat kepada diri sendiri.
Demikianlah Mahisa Pukatpun telah menempuh bagian terakhir dari
pendadarannya. Ketika matahari menjadi semakin rendah, m aka Mahisa
Pukat berjalan semakin cepat, sehingga sebelum matahari hilang dari
langit menjelang senja, maka Mahisa Pukat telah memasuki lingkaran
sasaran akhir dari pendadaran yang sedang dilakukannya. Mahisa Pukat
m emang menjadi berdebar-debar ketika ia memasuki sebuah pudukuhan
yang diisyaratkan sebagai tujuan akhir. Padukuhan yang
dikelilingi lingkungan persawahan dan pategalan yang subur. Demikian
Mahisa Pukat memasuki sebuah jalan yang agak lebar yang
turun kesebuah bulak yang luas, terasa betapa dadanya m enjadi
lapang. Dengan cepat ia melangkah m enuju pintu gerbang padukuhan
itu melewati pategalan yang sedang ditanami palawija. Agaknya
air agak sulit mencapai daerah pategalan yang m emang agak
lebih tinggi. Namun pategalan itu bukannya pategalan yang gersang.
Ketika Mahisa Pukat mendekati pintu gerbang padukuhan itu, ternyata
beberapa orang prajurit telah menunggu. Bahkan anak-anak muda banyak
pula berdiri diseputar pintu gerbang itu. Agaknya mereka m emang
menunggu orang terakhir yang mengikuti pendadaran itu. Demikian
Mahisa Pukat memasuki pintu gerbang, maka anak-anak muda itupun
bertepuk tangan riuh. Seorang prajurit menyatakan bahwa anak muda
yang datang itu adalah peserta yang terakhir yang memasuki batas
jarak pendadaran dalam waktu yang tidak lebih dari batas yang
ditentukan. Oleh seorang prajurit Mahisa Pukat langsung dibawa ke
banjar padukuhan. Demikian ia memasuki halaman banjar, maka iapun m
elihat beberapa orang perwira telah berada di banjar. Termasuk Gajah
Saraya. Bahkan Mahisa Pukatpun melihat beberapa orang prajurit yang
dapat dikenalinya sebagai para petugas yang berada di
sepanjang lintasan pendadarannya. Seorang prajurit yang bertugas
menerima para peserta itupun kemudian telah mempersilahkan Mahisa
Pukat untuk langsung naik ke serambi samping. Mahisa Pukat
mengangguk hormat. Iapun segera melangkah menuju keserambi samping.
Prajurit yang m empersilahkan naik keserambi itu sempat
berkata kepadanya ”Anak muda. Kau nampak masih begitu segar,
sementara kawan-kawanmu semuanya nampak kelelahan.” Mahisa Pukat
termangu -mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab ”Aku hanya
berpura-pura. Sebenarnyalah aku hampir menjadi pingsan.” Prajurit
itu tersenyum. Katanya ”kau kira aku tidak dapat melihat keadaanmu
dan keadaan kawan-kawanmu? Aku mampu memperbandingkannya. Aku justru
ingin mengucapkan selamat kepadamu. Mudah-mudahan pada pendadaran
selanjutnya kau juga mampu menunjukkan kelebihanmu seperti sekarang
ini.” Mahisa Pukat m enarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia
menjawab ”Doakan saja Ki Sanak.” Prajurit itu menepuk bahu Mahisa
Pukat. Katanya ”Kau tentu memiliki tenaga setegar seekor kuda.”
Mahisa Pukatlah yang tersenyum. Katanya ”Mungkin. Tetapi seekor kuda
kerdil.” Prajurit itu tertawa. Sambil menunjuk ia berkata ”Disana
mereka yang baru saja menyelesaikan pendadaran menunggu. Ada
beberapa orang yang tidak dapat mencapai tempat ini.
Sayang sekali bahwa mereka tidak dapat ikut meramaikan
pendadaran berikutnya. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya
”Mudahmudahan aku dapat menembus pendadaran berikutnya. Tetapi
apakah aku boleh mengerti, pendadaran ini diselenggarakan dalam
berapa lapis?” “Tentu boleh” jawab prajurit itu ”ada tiga lapis.
Nampaknya kau sudah meny elesaikan pendadaran pada lapis pertama.”
“Mudah-mudahan” jawab Mahisa Pukat. Prajurit itu termangu-mangu
sejenak. Ia telah memandang keadaan disekelilingnya. Baru kemudian
ia berdesis ”Aku tidak ingin mendahului para perwira yang akan
mengambil keputusan. Tetapi nampaknya kau memenuhi segala persy
aratan. Bahkan melebihi dari yang lain, karena kau masih nampak
paling tegar diantara kawan-kawanmu yang lain.” Mahisa Pukat
tertawa kecil. Katanya ”Kau masih saja memuji. Terima kasih.”
Demikianlah, maka Mahisa Pukatpun segera naik ke serambi. Demikian
ia memasuki serambi yang dibatasi dinding sebelah itu, maka
dilihatnya beberapa orang yang duduk diatas tikar itu
terbentang seluas serambi itu. Bahkan ada diantara mereka yang
terbaring dan menjulurkan kaki kelelahan. Mahisa Pukat tidak ingin m
endapat perhatian lebih dari mereka yang telah berada
diserambi. Mereka adalah anakanak muda yang baru saja menyelesaikan
pendadaran. Terutama mereka yang meny elesaikan pendadaran
pada giliran-giliran terakhir. Karena itu, demikian ia melangkah
masuk, maka iapun segera menjatuhkan dirinya sambil menjelujurkan
kakinya. Dipijit-pijitny a kakinya sehingga Mahisa Pukatpun nampak
kelelahan seperti kawan-kawannya yang lain. Seorang yang
bertubuh tinggi besar yang duduk t idak jauh dari Mahisa Pukat
bertanya ”Kaukah yang mendapat giliran terakhir ?” ”Ya”jawab
Mahisa Pukat ”hampir saja aku tidak m encapai tempat ini.” “Aku
juga” berkata anak muda yang bertubuh raksa sa itu ”untunglah bahwa
pada saat-saat terakhir aku masih mampu mengerahkan sisa -sisa
tenagaku meskipun nafasku hampir terputus.” “Aku hampir berputus
asa” desis seorang anak muda yang bertubung sedang. Namun pada
tubuhnya yang sedang itu nampak tersimpan kekuatan yang
besar. Meskipun demikian ia juga nampak kelelahan sebagaimana anak
muda yang bertubuh raksasa itu. Sesaat kemudian, seorang anak muda
yang berjambang lebat, berkumis tebal dan berikat kepala hitam
memasuki serambi itu pula. Nampaknya ia justru sudah cukup lama
beristirahat sehingga tubuhnya sudah nampak semakin segar. Dengan
nada tinggi ia berkata ”Baru pada pendadaran pertama, kalian sudah
hampir mati kehabisan nafas. Bagaimana dengan pendadaran berikutnya
? Kenapa kalian tidak menarik diri saja daripada hanya
membuang-buang waktu ?” Anak muda yang bertubuh raksasa itu
mengerutkan dahinya. Tiba-tiba saja ia bertanya ”Kau peserta pada
urutan keberapa ?” “Kedua” jawab anak muda yang berjambang
lebat itu. “Kau sudah sempat beristirahat” desis yang bertubuh
raksasa tetapi masih kelelahan itu. “Sejak aku sampai ketempat ini,
aku sama sekali tidak merasa letih. Aku tetap segar. Pendadaran ini
tidak berarti apa-apa bagiku.” jawab anak muda yang berjambang
lebat. Mahisa Pukat rnulai cemas bahwa pembicaraan itu akan
berkepanjangan. Tetapi ternyata anak muda yang bertubuh raksasa itu
berdesis ”Ternyata aku harus memikul beban berat badanku lebih dari
berat badanmu. Aku hampir mati diperjalanan.” Mahisa Pukat menarik
nafas dalam-dalam. Pembicaraan itupun terhenti karenanya. Ju stru
karena pengakuan anak muda yang bertubuh raksasa itu. Dalam pada
itu, seorang prajurit telah datang untuk memberitahukan kepada
Mahisa Pukat, bahwa telah disediakan minuman dan makanan didapur
banjar itu. Mahisa Pukat mengangguk sambil berdesis ”Terima kasih.”
“Apakah kau masih dapat berjalan ke dapur ?” bertanya prajurit itu.
“Tentu” jawab Mahisa Pukat ”tenggorokanku kering dan sudah tentu
perutku sangat lapar.” Mahisa Pukatpun kemudian berdiri dan berjalan
tertatihtatih menuruni tangga serambi. Sementara itu anak muda
berjambang lebat itu tertawa sambil b erkata ”Seharusnya kau tidak
usah ikut pendadaran ini. Ikut saja pendadaran untuk menjadi juru
madaran.” Mahisa Pukat memang berpaling. Tetapi ia tidak ingin
menjawab. Namun yang justru m enjawab adalah anak muda bertubuh
raksasa ”Tetapi ia berhasil mencapai batas akhir seperti kita. Aku
juga kelelahan dan hampir semuanya mengalaminya. Bahkan barangkali
kaupun juga kelelahan ketika kau baru saja datang.” “Tidak” jawab
anak muda berjambang itu ”aku datang dalam keadaan yang masih segar
sama sekali.” Anak muda berjambang itu tidak mengira bahwa prajurit
yang mempersilahkan Mahisa Pukat itulah yang akan menyahut ”Jangan
berbohong. Aku melihat bagaimana kau memasuki pintu gerbang banjar
ini.” Anak muda itu berpaling. Wajahnya memang menjadi merah. Namun
ia masih juga menjawab ”Tetapi bagaimanapun juga, aku memasuki
halaman ini dalam keadaan yang lebih baik dari kalian semuanya.”
Ternyata anak-anak muda yang lain merasa lebih baik berdiam
diri. Mereka masih ingin beristirahat. Karena itu maka mereka tidak
merasa perlu untuk berbantah. Mahisa Pukat yang berjalan ke dapur
agaknya lupa bahwa ia seharusnya masih kelelahan. Tetapi Mahisa
Pukat berjalan setegar prajurit yang mengajaknya ke dapur. Anak-anak
muda diserambi tidak sempat memperhatikannya. Tetapi prajurit itu
berkata ”Keadaanmu jauh lebih baik dari anak muda berjambang itu.”
“Aku kelelahan, kehausan dan kelaparan,” jawab Mahisa Pukat ”tetapi
aku sempat beristirahat sejenak, sehingga keadaanku menjadi lebih
baik. Prajurit itu tidak berkata apa-apa lagi. Sementara itu Mahisa
Pukatpun telah berada didapur untuk meneguk minuman hangat dan
makan. Tetapi petugas yang menghidangkan kepadanya memperingatkan
bahwa sebaiknya Mahisa Pukat tidak tergesa-gesa meneguk minumannya
dan jangan makan terlalu banyak. Malam itu, semua peserta harus
tidur di banjar. Besok pagipagi mereka akan mendengarkan beberapa
keterangan tentang pendadaran pada tataran pertama itu. Namun m alam
itu Mahisa Pukat sempat berbicara dengan beberapa orang peserta
pendadaran. Diantara mereka, tidak seorangpun yang mengalami seekor
harimau di hutan perburuan. Hanya Mahisa Pukat sebagai orang
terakhir sa jalah yang mendapat serangan seekor harimau loreng yang
besar dan justru kelaparan. Tetapi Mahisa Pukat tidak dapat
menganggap bahwa yang terjadi itu satu usaha untuk
menggagalkan pendadaran yang dijalaninya. Mungkin secara kebetulan
memang ada seekor harimau lapar yang keluar dari hutan disaat
ia lewat. Sementara hal itu m asih m enjadi teka -teki, Mahisa Pukat
tidak membesar-besarkan persoalan itu. Bahkan dengan sadar ia
berusaha untuk tidak menimbulkan kesan bahwa ia telah diserang
seekor harimau sehingga anak muda yang diajaknya berbicara segera
melupakan pertanyaan Mahisa Pukat tentang seekor harimau di hutan
perburuan. Malam itu ternyata semua prajurit yang bertugas dalam
pendadaran sudah berkumpul. Mereka m emberikan laporan kepada para
petugas yang akan m enentukan, siapakah yang dianggap mampu meny
elesaikan pendadaran pada tataran pertama dengan baik dan siapa yang
tidak. Dalam pada itu Gajah Saraya sebagai Manggala Pelay an Dalam
menunggui pembicaraan penentuan itu. Tetapi ia tidak banyak ikut cam
pur. Ia sudah m empercayakan keputusan itu kepada para perwira
yang ditunjuknya untuk melakukan pendadaran itu. Dari duapuluh
peserta pendadaran ternyata delapan orang dinyatakan gagal. Dengan
demikian m aka tujuh belas orang akan mengikuti pendadaran pada
tataran berikutnya. Ketika keputusan itu diumumkan pada pagi
harinya, maka para peserta itu sudah tidak terkejut lagi. Bahkan
mereka yang gagal pun telah merasa sejak sebelumnya, bahwa mereka
tidak akan mendapat kesempatan untuk mengikuti pendadaran
berikutnya. Mahisa Pukat ternyata mendapat kesempatan untuk
mengikuti pendadaran para tataran berikutnya. Meskipun ia merasa
bahwa ada sesuatu yang tidak wajar, khusus bagi dirinya, namun
ternyata ia telah mampu mengatasi bukan saja pendadaran itu sendiri,
tetapi juga satu sikap yang tidak wajar terhadap diriny a. Terutama
ketika tiba-tiba saja seekor harimau telah meny erangnya ketika ia
berada di hutan perburuan. Juga kenapa para prajurit yang
bertugas di gardu dibelakang hutan perburuan itu merasa heran, bahwa
pisaunya tidak bernoda darah. Tetapi Mahisa Pukat tidak m
engungkapkan kecurigaannya itu kepada kawan-kawannya. Baru kemudian,
ketika Mahisa Pukat dan para peserta itu diperkenankan pulang ke
rumah masing -masing untuk menunggu saatnya pendadaran pada tataran
kedua, Mahisa. Pukat menceriterakan kecurigaannya itu kepada ay
ahnya. Mahendra mengangguk-angguk mendengar pengaduan anaknya itu.
Namun demikian ia berkata ”Tetapi ternyata kau masih mendapat
perlindungan dari Yang Maha Agung. Ber sy ukurlah bahwa kau masih
akan mendapat kesempatan untuk mengikuti pendadaran pada tataran
berikutnya.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya ”Ya ay ah.
Mudah-mudahan aku dapat meny elesaikan pendadaran pada
tataran-tataran berikutnya dengan baik.” “Karena itu, berdoalah. Kau
tidak dapat sekedar mengandalkan kemampuan dan ilmumu. Tetapi juga
perkenan dari Yang Maha Agung. Meskipun menurut perhitungan lahiriah
kau mempunyai kelebihan dari anak-anak muda yang lain, tetapi
mungkin ada unsur-unsur yang tidak diketahui sebelumnya,
sebagaimana tiba -tiba hadirnya seekor harimau di hutan perburuan
itu, akan dapat mengganggu pelaksanaan pendadaranmu. Bahkan mungkin
menggagalkannya.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud
ay ahnya, karena iapun pernah mendengar ayahnya berkata meskipun
tidak langsung, bahwa ada orang yang tidak menginginkannya
menjadi Pelayan Dalam. Bukan karena sikap dan tingkah laku Mahisa
Pukat atau karena sebab-sebab lain yang menyangkut anak
mudaitu, karena orang tidak senang melihatnya m emasuki lingkungan
Pelay an Dalam itu belum m engenal secara pribadi anak muda itu.
Tetapi ju stru karena orang itu m erasa tersinggung bahwa Mahendra
telah berhubungan langsung dengan Sri Maharaja. Dengan demikian maka
Mahisa Pukat memang harus berhati-hati untuk seterusny a. Ia memang
harus selalu berdoa untuk mendapat perlindungan dan bimbingan dari
Yang Maha Agung. Dalam pada itu, diluar pengetahuan Mahisa Pukat,
maka beberapa orang tengah membicarakan kelebihan seorang anak muda
peserta terakhir dari pendadaran itu. Seorang dari antara para
prajurit yang bertugas telah berbincang dengan seorang kawannya
tentang kelebihan Mahisa Pukat. “Harimau itu diketemukan m ati”
desis salah seorang dari prajurit itu. “Ya. Dan tanpa diketahui
bagaimana caranya membunuh harimau itu. Harimau itu tidak t erluka
pada kulitnya. Pisaunyapun tidak berbekas darah.” sahut kawannya.
“Anak muda itu " sengaja memancing harimau itu ke padang perdu
sehingga sulit untuk dapat diawasi. Baru kemudian harimau itu
dibunuhnya” berkata orang yang pertama. “Apakah ia mengetahui
bahwa ada orang yang sedang mengintipnya?” bertanya yang lain.
“Lebih dari itu, apakah ia m engetahui bahwa harimau itu sengaja
dilepaskan untuk menjebaknya agar ia gagal?” desis prajurit
yang pertama. “Untunglah bahwa ia tidak ju stru terbunuh oleh
harimau itu” berkata kawannya. “Jika terjadi demikian, itu adalah
salahnya sendiri. Ia telah menjauhkan diri dari kita yang siap
membantunya.” berkata prajurit yang pertama. “Tetapi cara
yang kita lakukan memang berbahaya sekali bagi keselamatannya.
Sebenarnya ada cara lain yang lebih aman jika sekedar ingin
menggagalkan pandadaran yang dilakukannya” berkata prajurit itu.
“Tidak. Tidak ada cara yang lebih baik tanpa menimbulkan
kecurigaan. Tetapi cara itu ternyata telah gagal. Mungkin pada
pendadaran berikutnya akan dapat diketemukan cara yang lebih
baik dan tidak menimbulkan kecurigaan pula.” Kawannya hanya
menganggukangguk saja. Tetapi ia tidak tahu, kenapa peserta terakhir
itu harus digagalkan.'Yang dilakukannya adalah sekedar menjalankan
perintah dari pemimpin kelompoknya yang bersifat rahasia, karena
hanya beberapa orang prajurit sajalah yang mengetahuinya. Khususnya
yang ada di gardu disebelah hutan perburuan itu. Demikianlah,
maka dihari-hari berikutnya, Mahisa Pukat yang m enunggu pendadaran
berikutnya itu masih saja selalu berada di sanggarnya. Ia sempat
pula berceritera kepada Sasi pengalaman pendadaran pada tataran
pertama. Tetapi ia sama sekali tidak menceriterakan bahwa ia
mencurigai adanya usaha^rntuk menggagalkan keberhasilannya dalam
pendadaran itu. Sasipun ikut berharap bahwa Mahisa Pukat akan dapat
berhasil. Ia tahu bahwa Mahisa Pukat adalah salah seorang pemimpin
dari sebuah padepokan. Tetapi Sasi memang lebih senang tinggal di
Kotaraja daripada di padepokan yang terpencil. Meskipun sebelumnya
ia sudah bertekad bahwa ia tidak akan ingkar jika seandainya ia
harus mengikuti seseorang yang dicintainya kemanapun juga.
Tetapi jika ada kesempatan yang lebih baik serta ada
kemungkinan untuk menjatuhkan pilihan, maka ia akan memilih untuk
tetap berada di Kotaraja, dekat dengan ay ah dan ibunya serta dalam
suasana lingkungan yang sudah dikenalnya sejak ia masih kanak-kanak.
Karena itu, maka Sasipun telah mendorong agar Mahisa Pukat berhasil
melintasi pendadaran-pendadaran yang ternyata cukup berat. “Jadi
masih ada dua tataran lagi?” bertanya Sasi. “Ya Sasi” jawab Mahisa
Pukat ”aku m inta kau berdoa agar aku berhasil mengatasiny a.”
“Tentu kakang. Aku akan selalu berdoa. Bahkan mungkin ay ah akan
dapat membantumu, agar kau dapat diterima tanpa kesulitan” sahut
Sasi. “Tidak Sasi. Jangan melibatkan ayahmu. Biarlah aku berusaha
dengan kemampuanku sendiri. Sekaligus aku akan dapat menguji,
seberapa jauh kemampuan yang aku miliki sebagai bekal hidupku dimasa
mendatang. Apalagi aku y akin, bahwa ay ahmu tentu akan menolaknya.
Ayahmu tentu juga ingin tahu, apakah aku memiliki kemampuan yang
pantas sebagai seorang anakmuda” cegah Mahisa Pukat dengan
sertamerta. Sasi mengangguk-angguk kecil. Katanya ”Jika itu
yang v kau kehendaki, aku tentu sependapat.” “Yang masih
tinggal tidak begitu banyak lagi Sasi. T inggal tujuhbelas orang.
Sedangkan sepuluh diantaranya akan diterima menjadi Pelay an Dalam.”
berkata Mahisa Pukat kemudian. Dengan demikian maka Sasipun ikut
berharap-harap cemas. Seperti yang dikatakan oleh Mahisa
Pukat, Sasi memang tidak akan m inta bantuan ayahnya. Tetapi ia
hanya sekedar menceriterakan apa yang telah dilakukan oleh Mahisa
Pukat. Arya Kuda Cemani tersenyum mendengar ceritera Sasi. Katanya
kemudian ”Jika pendadaran-pendadaran itu berlangsung wajar, maka
Mahisa Pukat t entu dapat diterima. Ia memiliki kelebihan dari semua
peserta. Kecuali jika terjadi hal yang tidak wajar. Jika hal
yang tidak wajar itu terjadi, maka adalah kewajibanku untuk
memberikan laporan meskipun segala keputusan terakhir bukan lagi
wewenangku.” Sasi memang menjadi berbesar hati. Dengan demikian,
maka kemungkinan terbesar adalah bahwa Mahisa Pukat akan dapat
diterima, menjadi Pelayan Dalam di istana Sin-gasari. Dalam pada
itu, Gajah Seraya dan beberapa orang perwira prajurit Singasari
sedang mempersiapkan pendadaran pada tataran kedua. Peserta
yang ikut dalam pendadaran itu tinggal tujuh belas orang.
Namun Gajah Saraya kemudian berkata kepada para perwira yang
ikut meny elenggarakan pendadaran ”Kita tidak harus mengambil
sepuluh orang dari m ereka. Jika yang tujuhbelas orang itu ternyata
tidak memenuhi sy arat dan gagal dalam pendadaran berikutnya, maka
mungkin semuanya akan batal. Tidak seorangpun yang dapat diangkat.
Kita harus mencari orang-orang baru yang memiliki kemampuan
lebih baik sehingga kita harus mulai lagi pendadaran sejak tataran
pertama.” Para perwira yang lain hanya mengangguk-angguk. Ia
menganggap bahwa ketentuan itu wajar. Yang penting bagi Gajah Saraya
bukan sekedar sepuluh orang. Tetapi sepuluh orang yang benar-benar
memenuhi persy aratan yang ditentukan bagi seorang Pelay an Dalam.
“Dalam pada itu, maka para perwira yang mempersiapkan pendadaran
pada tataran berikutnya itu telah menentukan bersama Gajah Saraya,
bahwa setiap orang yang mengikuti pendadaran akan saling
bertempur untuk menilai kemampuan olah kanuragan mereka
masing-masing. Setiap anak muda yang mengikuti pendadaran itu akan
bertempur masingmasing ampat kali dengan lawan yang berlainan
diantara para peserta itu sendiri. Dengan demikian maka para perwira
yang menilai para peserta itu akan dapat menilai dan
memperbandingkan kemampuan para peserta itu, sehingga mereka akan
dapat memilih anak-anak muda yang terbaik diantara mereka.
Anak-anak muda yang kemampuannya berada dibawah bekal yang
diharapkan pada seorang Pelay an Dalam, tidak akan dapat mengikuti
pendadaran pada tataran berikutnya. Seandainya semuanya memiliki
kemampuan yang cukup, maka pendadaran berikutnyalah yang akan
menentukan siapakah diahtara mereka yang terpilih.” Untuk mengatur
giliran para peserta itu memang agak rumit. Namun pada dasarnya hal
itu akan dapat diatur kemudian dengan undian. Setelah hal itu
disetujui dan diatur segala sesuatunya yang berhubungan dengan
pendadaran pada tataran berikutnya itu, maka para peserta yang
tinggal tujuhbelas orang itupun segera dipanggil untuk menerima
penjela san dari Gajah Saraya langsung. Diantara mereka memang
termasuk Mahisa Pukat. Bagi Mahisa Pukat memang tidak ada masalah
jika ia harus bertanding ampat kali dengan lawan yang berbeda.
Meskipun demikian Mahisa Pukat memang tidak pernah m erendahkan
siapapun juga. Pa da hari yang ditentukan, maka pertandingan
diantara para peserta pendadaran itu akan segera dilangsungkan. Pada
hari yang pertama, maka baru dilakukan undian urutan dari
pertandingan. Selanjutnya pertandingan akan diselenggarakan pagi dan
sore hari. Seseorang paling banyak hanya akan bertanding dua kali
dalam sehari. Pagi dan sore. Karena itu maka pertandingan itu memang
akan memakan waktu agak panjang. Tetapi waktu yang panjang itu
memang tidak menjadi soal karena pendadaran itu dianggap sangat
penting bagi seorang yang akan memasuki lingkungan Pelayan
Dalam. Sedikitnya akan diperlukan waktu tiga hari untuk keperluan
pendadaran itu. Demikianlah, maka para peserta itu harus m
empersiapkan diri mereka baik-baik. Menjelang m alam, para peserta
harus sudah berkumpul dan m ereka akan bermalam di tem pat yang
sudah disediakan. Pada pagi harinya mereka akan mulai dengan
pendadaran pada tataran kedua. Setelah undian selesai, maka Mahisa
Pukat sempat singgah dirumah Sasi untuk memberitahukan bahwa besok
pagi ia sudah harus mulai dengan pertandingan-pertandingan dalam
rangka pendadaran. Sementara itu, ayah Sasi yang kebetulan ada
dirumah dan ikut menemui Mahisa Pukat berkata ”Aku akan melihat
pertandingan-pertandingan dalam rangka pendadaran itu seutuhnya.
Aku, atas dasar tugas yang aku emban, berhak untuk berbuat
demikian, agar pendadaran itu dapat berlangsung Wajar.” Mahisa Pukat
mengangguk hormat. Ia memang tidak mengatakan bahwa terjadi sesuatu
yang dianggapnya tidak wajar ketika seekor harimau tiba -tiba saja
keluar dari hutan perburuan, sementara duapuluh ampat orang
yang lain tidak menjumpainya. Meskipun secara kebetulan hal
itu dapat saja terjadi, tetapi ada juga kecurigaan dihati Mahisa
Pukat. Ketika senja turun, maka Mahisa Pukatpun minta restu kepada
ay ahnya untuk memenuhi ketentuan bahwa malam itu ia dan para
peserta yang lain harus sudah berkumpul ditempat yang
ditentukan. Besok pagi-pagi, pendadaran akan dimulai dengan
pertandingan pada putaran pertama. Malam itu tujuhbelas orang anak m
uda telah berkumpul. Mereka masing-masing telah mempersiapkan diri
sebaikbaiknya. Mereka yang kelelahan pada pendadaran di
tataran pertama telah nampak segar kembali. Anak muda yang bertubuh
raksasa itu tidak lagi duduk menjelujurkan kakinya. Wajahnya tidak
lagi nampak lesu dan muram. Tetapi sambil tersenyum ia menyapa
kawan-kawannya yang juga sudah menjadi segar pula. Ketika
Mahisa Pukat datang, maka anak muda yang bertubuh raksasa itu
menghampirinya. Sambil tersenyum ia berkata ”Apakah kau sudah
benar-benar siap menghadapi pendadaran esok?” Mahisa Pukatpun
tersenyum pula. Katanya ”Sejauh dapat aku lakukan.” “Aku justru
curiga kepadamu” berkata anak muda bertubuh raksasa itu. “Apa yang
kau curigai?” bertanya Mahisa Pukat. “Orang-orang yang pendiam
dan rendah hati seperti kau itu biasanya justru mempunyai kelebihan
dari banyak orang. Berbeda dengan anak muda yang berjambang lebat
itu. Tidak lebih dari beriaknya air sungai yang dangkal dan
berbatu-batu. Sama sekali tidak ada kedalaman.” “Belum tentu” jawab
Mahisa Pukat. “Memang belum tentu. Tetapi agaknya kaupun menilai aku
terlalu banyak berbicara sehingga tidak lebih dari air yang beriak
itu.” berkata anak muda itu sambil tertawa. “Ah tidak. Kau lain. Aku
justru tidak curiga kepadamu. Tenaga dan kemampuanmu akan sesuai
dengan tubuhmu yang seperti raksasa itu.” berkata Mahisa Pukat. <
---sepertinya ada bagian yang terputus ternyata ku coba membetulkan
letak alenia yang tertukar – Dewi KZ--- > Malam itu m ereka
yang esok akan menempuh pendadaran sempat saling berbincang.
Ada yang sudah mulai meluncurkan ungkapan-ungkapan yang mempunyai
pengaruh jiwani kepada yang lain, terutama yang esok atau lusa
akan berhadapan dalam pertandingan. Mereka berniat saling melemahkan
ketahanan jiwani bakal lawan dalam pertandingan. Bahkan ada yang
berceritera b erlebihan tentang kemampuannya. Ada juga yang
berceritera tentang perguruannya serta kemampuan yang sampai meny
entuh langit. Mahisa Pukat sendiri hanya sempat mendengarkan. Ia
tidak terbiasa untuk berceritera sambil meny ombongkan diri atau
lingkungannya. Bahkan kadang-kadang sama sekali tidak dapat
dimengerti. Anak muda yang bertubuh raksasa itu sempat berdesis
ditelinga Mahisa Pukat ”Nah, kau dengar apa yang mereka ceriterakan?
Mereka berebut kesempatan untuk meny ombongkan diri sendiri? He,
jangan ditertawakan. Aku juga akan berbuat seperti mereka agar aku
tidak menjadi orang asing disini. Jika kau tidak ikut-ikutan, maka
kau tidak akan terkenal disini. Lawan-lawanmu besok akan maju ke
arena dengan keyakinan penuh untuk mengalahkanmu. Tetapi jika kau
mau sedikit membual, maka mereka tentu akan mempertimbangkannya
sehingga key akinannya tidak utuh lagi.” “Apakah itu perlu?”
bertanya Mahisa Pukat. ”Ya. Pengaruhnya cukup besar” jawab anak muda
bertubuh raksasa itu. Tetapi Mahisa Pukat menggeleng sambil
tersenyum. Katanya ”Aku tidak biasa berbuat seperti itu.” “Bukankah
dengan demikian kau pantas dicurigai?” Mahisa Pukat terseny um.
Tetapi ia tidak m enjawab. Anak muda bertubuh raksasa itu tertawa.
Sambil m enepuk pundak Mahisa Pukat ia berkata ”Ternyata kau m
emiliki key akinan yang sangat teguh terhadap dirimu sendiri. Aku
berani bertaruh, bahwa dalam ampat kali pertandingan, kau tidak akan
dikalahkan.” “Ah” desah Mahisa Pukat ”belum tentu! Bukankah tidak
ada kelebihan apa -apa padaku selain aku tidak cakap membual?”
“Tetapi aku berani bertaruh. He, kau mau kita bertaruh? Jika kau
kalah sekali saja, maka biarlah aku yang menang dalam taruhan ini.”
“Ah, kau ini. Sudahlah, membuallah jika kau ingin membual.” berkata
Mahisa Pukat. Anak muda bertubuh raksasa itu tertawa berkepanjangan,
sehingga beberapa orang telah berpaling kepadanya. Tetapi anak muda
itu tidak dengan serta merta diam. Bahkan ia telah mengambil
sepotong besi yang nampaknya sudah dibawa dari rumahnya dan
diletakkan disudut ruangan. Sambil mengacungkan sepotong besi
yang panjangnya dua jengkal itu ia berkata sambil menunjuk
Mahisa Pukat ”Anak muda yang ikut pendadaran pada tataran pertama
itu tidak percaya bahwa aku dapat membengkokkan sepotong lempeng
besi ini.“ Anak-anak muda yang ada diruang itu terdiam. Mereka
semuanya memadang kearah anak muda yang bertubuh raksasa itu.
Ditangannya terdapat sebuah lempeng b esi yang panjangnya dua
jengkal itu. Namun pada wajah beberapa orang memang nampak bahwa
mereka juga tidak percaya bahwa anak muda itu dapat membengkokkan
lempeng besi ditangannya itu meskipun anak muda itu bertubuh
raksasa. “Nah, aku ingin membuktikan kepada peserta terakhir ini,
bahwa aku dapat melakukannya,” berkata anak muda itu. Semuanyapun
terdiam. Wajah-wajah mereka menjadi tegang. Sementara itu, anak muda
b ertubuh raksasa itu telah memusatkan kekuatannya di kedua telapak
tangannya. Anak muda itupun kemudian telah menghentakkan
kekuatannya. Tangannya yang berusaha membengkokkan besi itu
menjadi gemetar. Wajahnya menjadi semburat merah. Namun
perlahan-lahan besi itu m emang menjadi bengkok sehingga kedua
ujungnya bertemu. Ruangan itu benar-benar dicengkam ketegangan. Anak
mudayang berjambang lebat itupun memandang pameran kekuatan itu
dengan mata yang hampir tidak berkedip. Demikian kedua ujung lempeng
besi itu bertemu, maka anak muda itupun menarik nafas dalam-dalam.
Diluar sadar, dengan serta-merta beberapa orang anak muda bertepuk
tangan. Namun anak muda yang berjambang tebal itu justru
bangkit dan mendekatinya. Ternyata anak muda yang berjambang
lebat itu ingin membuktikan apakah yang dibengkokkan oleh anak muda
yang bertubuh raksasa itu benar-benar sepotong besi. Anak muda
yang bertubuh raksasa itu tanggap akan maksud kawannya
yang berjambang lebat itu. Karena itu, maka iapun segera meny
erahkan sepotong besi itu kepadanya. Sebenarnyalah yang kemudian
digenggamnya itu benarbenar sepotong lempeng besi yang cukup tebal.
Sehingga iapun baru yakin bahwa anak muda bertubuh raksasa itu
memang mempunyai kekuatan yang sangat besar. Tetapi bagi anak muda
itu serta beberapa orang yang lain, kekuatan yang besar
bukan satu-satunya senjata untuk dapat mengalahkan lawan dalam
sebuah pertandingan. Kecerdikan, kecepatan gerak dan ketahanan tubuh
termasuk diantara beberapa jenis senjata untuk memenangkan
pertandingan. Meskipun demikian, apa yang telah ditunjukkan oleh
anak muda bertubuh raksasa itu memang mendebarkan. Apalagi mereka
yang pada gilirannya akan bertanding melawannya. Demikianlah,
anak muda bertubuh raksasa itu telah duduk kembali didekat Mahisa
Pukat. Sambil menyerahkan besi yang sudah dibengkokkannya itu ia b
erkata ”He, apakah kau lihat bagaimana aku membual ?” “Ya” jawab
Mahisa Pukat. ”Tetapi kau tidak sekedar membual karena kau
benar-benar mampu melakukannya.” “Sudahlah” anak muda bertubuh
raksasa itu berdesis ”Aku masih mempunyai kesempatan untuk
menakut-nakuti bakal lawanku besok. Aku bukan orang yang terlalu y
akin akan diriku sendiri seperti kau.” Mahisa Pukat tidak menjawab.
Tetapi sebenarnyalah bahwa pembicaraan diantara anak-anak muda itu m
emang m enjadi semakin ramai. Seperti yang dikatakan oleh anak muda
yang bertubuh raksasa itu, bahwa mereka memang sedang saling
membual, meny ombongkan diri dan berusaha mempengaruhi perasaan
calon lawan bertanding dengan berbagai macam cara yang bagi Mahisa
Pukat justru mentertawakan. < kekeliruan letak alenia sudah ku
coba betulkan-Dewi KZ > Namun beberapa saat kemudian, maka
pertemuan itupun berakhir. Seorang prajurit telah mempersilahkan
mereka untuk beristirahat. “Kalian harus tidur dan cukup
beristirahat. Besok kalian akan turun kegelanggang pertandingan
dalam rangka pendadaran.” berkata prajurit itu. Anak-anak muda
itupun kemudian menebar ketempat pembaringan m ereka masing-masing.
Sementara itu, Mahisa Pukatpun telah mengembalikan sepotong lempeng
besi yang tebal dan yang telah dibengkokkan oleh anak muda yang
bertubuh raksasa itu kepadanya. Dalam pada itu Mahisa Pukat ternyata
m endapat tempat untuk tidur tidak dalam bilik yang sama dengan anak
muda yang bertubuh raksa sa itu. Namun, demikian ia membaringkan
diriny a, maka ia melihat anak muda yang bertubuh raksasa itu
mendatanginya sehingga bukan saja Mahisa Pukat yang terkejut.
Tetapi anak muda yang lain yang ada didalam bilik itupun
terkejut. “O” anak muda bertubuh raksasa itu termangu-mangu sejenak.
Katanya dengan wajah yang sedikit panas ”Maaf, aku minta maaf
telah mengejutkan kalian. Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin
berbicara dengan anak muda itu. Selagi aku masih ingat. Jika aku
menunggu besok, mungkin aku sudah lupa.” Ketika anak-anak muda
yang lain tidak menghiraukannya lagi, maka anak muda bertubuh
raksasa itu duduk dipembaringan Mahisa Pukat yang juga sudah duduk
pula, sambil berkata ”Ternyata kau memiliki kekuatan iblis. Aku tadi
tidak sadar, bahwa kau meny erahkan sepotong besi yang sudah m
enjadi lurus kembali ini. Kau lihat, bagaimana aku mengerahkan
segenap kekuatanku untuk membengkokkannya. Tetapi kau dengan mudah
meluruskannya kembali, karena aku tidak m elihat bagaimana kau
mengerahkan kekuatanmu untuk melakukannya.” “Sudahlah, tidurlah”
desis Mahisa Pukat ”anggap saja bahwa hal itu tidak pernah terjadi.
Kau tidak perlu membuat tempat ini menjadi ricuh karena kau masih
ingin membual selagi yang lain sudah ingin tidur.” “Apakah jika hal
ini aku katakan kepada seseorang aku dianggap membual ? Bukankah hal
seperti ini benar-benar sudah terjadi dan bukan sekedar bualan ?”
“Sudahlah. Tidurlah. Kau harus beristirahat. Besok kau akan turun
kegelanggang.” desis Mahisa Pukat. “Untunglah bahwa aku bukan salah
seorang diantara lawan-lawanmu” berkata anak muda bertubuh raksasa
itu sambil berdiri dan siap untuk m eninggalkan Mahisa Pukat. Tetapi
ternyata ia m asih b erkata ”Aku tantang kau bertaruh. Satu
berbanding seratus. Jika sekali saja kau kalah dari keempat lawanmu,
kau dianggap menang.” “Sudahlah. Aku akan tidur” desis Mahisa Pukat
sambil membaringkan tubuhnya dipembaringannya. Anak muda bertubuh
raksasa itu tertawa. Katanya ”Ternyata kita tidak bertemu dalam
pendadaran itu. Sayang, bahwa aku juga tidak bertemu dengan anak
muda berjambang itu.” “Akulah yang akan bertemu dengan anak muda itu
pada hari pertandingan terakhir.” berkata Mahisa Pukat.
“Pertandingan keempat maksudmu?” bertanya anak muda bertubuh raksasa
itu. ”Ya” jawab Mahisa Pukat ”tetapi sejak sekarang aku sudah
menjadi berdebar-debar. Nampaknya anak muda itu sangat meyakinkan.
Ia menempuh pendadaran pertama tanpa kelelahan.” “ Itulah beriaknya
air yang dangkal” jawab anak muda bertubuh raksasa itu. Lalu
katanya pula ”Bukankah kau dengar apa yang dikatakan oleh prajurit
yang membawamu ke dapur itu?” Mahisa Pukat tersenyum. Dengan
nada rendah ia berkata ”Yang penting, aku sudah berusaha sejauh
dapat aku lakukan.” “Bagus” berkata anak muda bertubuh raksasa itu
”aku juga berbuat seperti itu.” <--- terjadi pergeseran letak
alenia ku coba betulkan dengan memindahkannya agar ceritanya
nyambung- Dewi KZ) Anak muda bertubuh raksasa itupun ke'mudian
meninggalkan Mahisa Pukat sambil menimang sepotong besiny a.
Sekali-sekali ia masih menggelengkan kepalanya sambil berdesis
”Kekuatan apa yang membuat anak itu demikian perkasa. Tidak
seorangpun dapat melakukannya tanpa diketahui orang lain, tanpa
mengerahkan segenap kekuatan dan tenaganya.” Didalam hati anak muda
itu m emang merasa malu sekali. Betapa ia meny ombongkan diri dengan
menunjukkan kekuatan raksasanya sesuai dengan tubuhnya yang tinggi
dan besar. Namun anak muda peserta terakhir pada pendadaran di
tataran pertama itu, tanpa diketahuinya telah mampu menyamai
kekuatannya bahkan lebih dari itu, tanpa meny ombongkan dirinya.
“Untunglah, bahwa aku tidak berhadapan dengan anak muda yang
luar biasa itu.” berkata anak muda bertubuh raksasa itu didalam
dirinya. Dipembaringannya, anak muda bertubuh raksasa itu justru
tidak segera dapat memejamkan matanya. Ia masih saja dibayangi oleh
kelebihan Mahisa Pukat yang tidak diduganya sebelumnya. Meskipun ia
memang m enganggap bahwa anak muda itu mempunyai key akinan yang
mantap atas kemampuan diri serta daya tahan yang luar biasa
sebagaimana dilihatnya pada pendadaran yang pertama, tetapi ia tidak
menduga bahwa anak muda itu m emiliki kekuatan yang lebih besar dari
kekuatannya. Namun ketika malam menjadi semakin malam, anak muda itu
berhasil meletakkan gejolak perasaannya, sehingga iapun tertidur
karenanya. Ia memang memerlukan istirahat yang cukup karena
dikeesokan harinya ia harus turun kegelanggang pertandingan dalam
rangka pendadaran tataran yang kedua. Ketika fajar mulai naik dihari
b erikutnya, maka anak-anak muda yang mengikuti pendadaran itupun
telah bangun. Bergantian m ereka mandi dan berbenah diri. Beberapa
saat kemudian, merekapun mendapat kesempatan untuk makan pagi
sebelum mereka akan turun kegelanggang. Untuk beberapa lama mereka
mendapat kesempatan untuk beristirahat setelah m akan. Sambil
bersiap-siap untuk turun kearena pertandingan mereka melihat-lihat
tempat yang sudah dipersiapkan. Mereka melihat beberapa lingkaran
yang dibatasi dengan gawar. Ada delapan lingkaran dimana anakanak
muda itu akan bertanding. Gajah Saraya sendirilah yang memberikan
beberapa petunjuk dan penjelasan tentang pertandingan yang akan
segera diselenggarakan. Dengan tegas Gajah Saraya berkata ”Semuanya
harus berlangsung dalam kewajaran. Jika ada yang berbuat curang, m
aka ia akan disisihkan dari kemungkinan untuk dapat mengikuti
pendadaran berikutnya. Sementara itu, kami akan memilih orang
terbaik yang akan lolos ke pendadaran pada tataran ketiga.
Tetapi perlu diketahui, bahwa kami tidak terikat untuk menerima
sepuluh orang diantara kalian. Tetapi sepuluh orang yang memenuhi
syarat. Jika diantara tidak seorangpun yang memenuhi syarat maka
sudah tentu kami tidak akan dapat menerima seorangpun diantara
kalian, sehingga kami harus mencari orang-orang baru Untuk mulai
lagi dengan pendadaran pada tataran pertama.” Penjelasan Gajah
Saraya cukup dimengerti oleh para peserta. Karena itu, maka
merekapun bertekat untuk dapat lolos dari pendadaran dan bahkan
dapat dianggap memenuhi sy arat untuk menjadi Pelayan Dalam. Karona
seperti dikatakan oleh Gajah Saraya, Manggala dari Pelay an Dalam,
bahwa y g terpenting bukannya sepuluh orang terbaik dian-tara
mereka, tetapi sepuluh orang itu harus memenuhi syuat. Dalam pada
itu, ketika Matahari mulai naik, maka para pesertapun sudah mulai
bersiap-siap untuk memasuki arena. Beberapa orang prajuritpun segera
sibuk mengatur mereka, sesuai dengan urutan yang telah ditetapkan
yang didasari dengan undian yang sudah dilakukan beberapa hari
sebelumnya. Demikianlah, delapan orang anak muda telah memasuki
delapan buang lingkaran yang diberi gawar lawe. Sejenak kemudian,
maka delapan orang berikutnya telah memasuki gawar itu pula sesuai
dengan lawan yang telah ditentukan. Sedangkan seorang diantara
mereka harus menunggu pada giliran di sore hari, karena belum
mendapat lawan. Setiap lingkaran diawasi oleh dua orang prajurit
yang bertugas khusus. Sementara itu ada beberapa orang perwira
yang menyaksikan pertandingan itu dalam keseluruhan sebagai petugass
yang ditetapkan pula. Namun ternyata selain mere*ka, telah
hadir pula Arya Kuda Cemani dengan beberapa orang perwiranya dari
Petugas sandi Singasari untuk menilai apakah pendadaran itu
berlangsung wajar. Gajah Saraya memang tidak mengharapkan kehadiran
mereka. Tetapi Gajah Saraya tidak dapat menolak, karena Arya Kuda
Cemani adalah Senapati dari Prajurit Sandi Singasari. Tetapi Arya
Kuda Cemani sendiri memang tidak terlalu bersungguh-sungguh
memperhatikan pertandinganpertandingan itu. Tetapi beberapa orang
perwira yang mendapat tugas daripadanya telah hadir dekat dengan
gawargawar lawe pada kedelapan lingkaran pertandingan itu. Diantara
m ereka yang bertanding itu terdapat anak muda yang bertubuh raksasa
yang mempunyai kekuatan yang sangat besar itu. Lawannya
yang bertubuh sedang mengetahui, bahwa anak muda yang
bertubuh raksasa itu terlalu kuat. Karena itu, ia harus berusaha
untuk melawannya tanpa beradu kekuatan. Ia harus bergerak cepat dan
m emilih sasaran yang tepat bagi serangan-serangannya.
Meskipun demikian, sebenarnyalah lawan anak muda bertubuh raksasa
itu sudah m erasa cemas bahwa ia tidak akan dapat mengimbangi
kemampuan lawannya. Bukan berarti bahwa ia harus memenangkan
pertandingan. Tetapi harus dapat menunjukkan bahwa ia memiliki
kemampuan yang cukup untuk menjadi Pelay an Dalam. Di arena yang
lain, anak muda yang berjambang lebat itu menghadapi anak muda yang
agak kekurus-kurusan. Tidak terlalu tinggi, tetapi nampaknya anak
muda itu mampu bergerak tangkas sekali. Sedangkan Mahisa Pukat
menghadapi seorang anak muda yang berwajah keras dan bermata tajam.
Anak-anak muda yang harus menempuh pendadaran itu sudah tahu
bahwa yang terpenting dalam pertandingan itu bukan harus dapat
mengalahkan keempat lawannya. Namun yang penting, para prajurit
yang mengamati pendadaran itu yakin, bahwa peserta pendadaran
itu memiliki kemampuan yang cukup untuk memasuki tingkat pendadaran
berikutnya. Lebih dari itu mereka memiliki bekal yang pantas bagi
seorang Pelay an Dalam. Pertandingan yang diselenggarakan itu
bukan sa ja dapat memantau kekuatan dan ketangkasan di arena, tetapi
dari pendadaran itu juga dapat dipergunakan untuk menilai kecerdasan
seseorang. Bagaimana seseorang harus mengambil keputusan pada saat
dan dengan cara yang tepat. Ketika bende berbunyi sekali, maka
anak-anak muda di arena itupun telah bersiap-siap. Kemudian
terdengar bende berbuny i dua kali. Pertanda bahwa pendadaran itupun
sudah dimulai. Enambelas anak muda itupun mulai bergerak. Mereka
bergeser mengambil arah. Sementara itu, maka satu dua diantara
mereka mulai meny erang. Bahkan seorang anak muda yang
bertubuh tidak terhitung tinggi, tetap kokoh seperti bukit batu,
dengan serta merta telah meny erang lawannya dengan mengerahkan
segenap tenaga dan kemampuannya. Tetapi lawan anak muda yang
bertubuh sekokoh batu itu ternyata tangkas sekali. Meskipun ia
menyadari bahwa kekuatan lawannya sangat besar, tetapi ia tidak
menjadi bingung dan kehilangan akal. Dengan tangkasnya ia
menghindari setiap benturan. Tetapi dengan tiba-tiba pula,
iamenyerang jika ia melihat kesempatan terbuka disela-sela
pertahanan lawannya yang terlalu bernafsu menyerang itu. Sekali dua
kali serangan anak muda yang sangat tangkas itu mengenai sa
saran. Tetapi anak muda yang tubuhnya sekokoh batu hitam itu
seakan-akan tidak merasakan serangan itu. Ia masih saja bergerak
maju tanpa menghiraukan seranganserangan lawannya itu. Dengan
demikian maka lawannyapun mulai menjadi gelisah.
Serangan-serangannya seakan-akan tidak menimbulkan akibat apapun
pada lawannya yang bertubuh kekar tetapi tidak terhitung
tinggi itu. Meskipun demikian, lawannya termasuk seorang anak muda
yang tidak cepat menjadi putus asa. Ia mulai membidik tempat -tempat
yang berbahaya, meskipun ada beberapa bagian tubuh yang memang
tidak boleh menjadi sasaran serangan. Tetapi selain tempat -tempat
yang terlarang itu, masih ada bagian-bagian yang akan dapat
melemahkan ketahanan lawan. Dengan demikian, maka anak muda itu
mempercepat geraknya. Setiap kali seakan-akan ia telah menghilang
dari sa saran. Bahkan dengan loncatan tinggi dan berputar diudara.
Menghindari serangan dengan kecepatan yang tinggi, namun yang
kemudian dengan tiba -tiba meny erang dengan cepat pula. Betapapun
kokohnya anak muda yang bertubuh sekokoh batu hitam itu, namun
sentuhan-sentuhan serangan lawannyapun terasa semakin menyakitinya.
Demikian pula anak muda yang bertubuh seperti raksasa itu.
Meskipun lawannya hanya bertubuh sedang, tetapi ternyata cukup
tangkas dan bahkan cerdik. Meskipun demikian, maka kekuatan dan
ketahan tubuh anak muda bertubuh raksasa itu memang sulit untuk
diatasinya. Ju stru karena itu, lawan anak muda b ertubuh raksasa
itu memang tidak berniat untuk berusaha memenangkan pertandingan
itu. Justru karena itu, maka ia nampak tenang. Meskipun
sekali-sekali ia terdor ong surut, namun ia sempat menunjukkan
kemampuannya dalam olah kanuragan. Ia mampu menunjukkan betapa ia
menguasai berbagai macam unsur gerak yang bahkan kadang-kadang
mengejutkan. Dengan demikian, maka lawan anak muda yang
bertubuh raksasa itu justru lebih banyak memamerkan unsur-unsur
geraknya serta kecepatannya meny erang dan menghindar. Anak muda itu
memperhitungkan pertandinganpertandingan berikutnya. Ia akan tetap
dalam keadaan utuh baik tenaga maupun tubuhnya. Tetapi jika ia
benar-benar membenturkan kekuatannya maka ia akan kelelahan dan
bahkan mungkin tulang-tulangnya akan dapat menjadi sakit sehingga
dalam pertandingan-pertandingan berikutnya tenaganya akan menyusut
banyak, atau tulang-tulangnya tidak akan dapat bergerak dengan
tenaga utuh. Meskipun beberapa kali ia terdesak, tetapi para
prajurit yang bertugas mengamatinya telah memujinya. Anak itu cukup
cerdik karena pertandingan akan dilakukan ampat kali. Di arena yang
lain, anak muda yang berjambang lebat itu ternyata telah mendapat
peringatan sampai dua kali. Ia tidak menghiraukan sa saran
serangannya. Ia seakan-akan tidak ingat lagi bahwa ada bagian-bagian
tubuh yang tidak boleh menjadi sa saran serangannya. Tetapi
dua kali ia mengenai tempat -tempat yang seharusnya terlarang
itu. Menghadapi kegarangan anak muda b erjambang lebat itu, lawannya
memang agak m engalami kesulitan. Bagaimanapun juga lawannya masih
berpegang pada tatanan yang harus dihormati, sehingga ia tidak
m au meny erang tempat-tempat terlarang. Sementara itu Mahisa Pukat
juga bertanding dengan lawannya. Jika diamati sepintas saja, maka
nampaknya keduanya masih bertanding dengan sengitnya. Namun para
prajurit yang m engamati sejak semula telah melihat, bahwa
pertandingan itu sebenarnya telah selesai. Menurut penilaian mereka,
Mahisa Pukat benar-benar memiliki kelebihan dari kebanyakan anak
muda yang ikut dalam pendadaran itu, meskipun bukan berarti
lawannya sama sekali tidak berdaya. Lawannya juga seorang anak m uda
yang memiliki landasan yang kuat. Namun Mahisa Pukatlah
yang mempunyai kelebihan pada jarak yang agak jauh.
Sementara itu, dibeberapa lingkaran pertandingan, para prajurit yang
bertugas telah menyatakan bahwa pertandingan telah selesai. Mereka
telah dapat menilai anak-anak muda yang bertanding. Pada umumnya
mereka memang m emiliki bekal yang cukup. Tetapi sudah tentu
bahwa ada diantara mereka yang terpaksa harus tertinggal karena yang
akan diterima sebanyak-banyaknya hanya sepuluh orang saja. Sebelum
matahari mencapai puncak, maka pertandingan itu m emang sudah
selesai. Anak muda yang bertubuh raksasa itu memang telah lebih
dahulu menyelesaikan lawannya. Tetapi ia bertanding pun bukan
berarti bahwa lawannya akan dianggap gagal dalam pendadaran itu.
Anak muda yang berjambang lebat itupun telah memenangkan
pertandingan. Tetapi pertandingannya merupakan pertandingan yang
terkeras. Lawannya masih saja ragu-ragu menghadapinya. Meskipun
lawannya menjadi marah dan ingin membalas kecurangan anak muda
berjambang lebat itu dengan kecurangan, namun hatinya masih dikekang
oleh ketaatannya kepada paugeran. Sementara itu anak muda berjambat
lebat itu mendapat peringatan keras dari para prajurit yang
mengamati pertandingan. Seorang diantara mereka berkata ”Yang akan
mengamati sore nanti akan menilaimu dengan sangat berhatihati,
karena mereka tentu sudah mendapatkan laporan kami tentang kau.
Bahkan mungkin kami berdualah yang akan mendapat tugas untuk
mengamatimu kembali.” Anak muda itu tidak menjawab. Tetapi dari
kedua matanya terpancar gejolak perasaannya. Rasa-rasanya anak muda
itu justru ingin m enantang kedua prajurit itu untuk m emasuki arena
pertandingan. Tetapi keinginannya itu tidak terucapkan lewat
mulutnya. Meskipun demikian kedua prajurit itu dapat menangkap getar
itu lewat sor ot matanya, sehingga keduanya justru telah mengancam
pula dengan tatapan mata mereka yang tajam. Demikianlah, maka para
peserta pendadaran itu m endapat kesempatan untuk beristirahat
sambil makan siang. Nanti menjelang sore, mereka harus bertanding
lagi. Karena itu, maka mereka harus mempergunakan kesempatan itu
sebaik-baiknya. Beberapa orang setelah mencuci kaki, tangan, sambil
menyeka keringat yang membasahi seluruh tubuhnya, segera mencari
tempat untuk beristirahat sebaik-baiknya. Ada yang berbaring
diamben panjang di serambi, ada yang duduk-duduk di kebun
dibawah sejuknya pepohonan. Ada yang justru berjalan jalan di
halaman untuk melemaskan urat-uratnya, tetapi ada juga yang berniat
untuk tidur barang sejenak sebelum mereka mempersilahkan untuk makan
siang. Tetapi ada juga yang memijit-mijit kaki dan tangannya yang
terasa menjadi sakit dan ny eri. Mahisa Pukat setelah membersihkan
keringatnya dan berbenah diri, duduk diamben bambu diteritisan di
belakang menghadap kebun yang rim bun oleh pepohonan. Anak muda yang
bertubuh raksasa itu duduk disampingnya. Agaknya anak muda itu masih
saja membicarakan kekuatan Mahisa Pukat yang tidak dapat diukur
dengan penalarannya. Apalagi melihat tubuh Mahisa Pukat yang
sedang-sedang saja. “Sudahlah” desis Mahisa Pukat ”kenapa kau tidak
berbicara tentang makan yang akan kami terima sebentar lagi?
Apakah kira-kira lauknya dan apakah terlalu pedas apa tidak?” “Kau
selalu mengelak jika aku berbicara tentang kemampuanmu yang luar
biasa itu. Kenapa?” bertanya anak muda yang bertubuh raksasa itu.
“Sudahlah” jawab Mahisa Pukat ”lihat, prajurit itu tentu minta kita
untuk makan siang.” Sebenarnyalah bahwa prajurit yang berkeliling
itupun memberitahukan bahwa makan siang sudah tersedia. Sesaat
kemudian telah terdengar pula suara bende. Pertanda bahwa para
peserta itu diminta untuk pergi ke dapur. Ternyata bahwa hidangan
bagi mereka merupakan hidangan yang sangat baik dan lengkap.
Hidangan yang memadai bagi mereka yang sedang mengikuti
pendadaran yang berat. Untuk beberapa lama maka anak-anak muda itu
beristirahat lagi setelah m ereka makan. Pada saatnya mereka akan
tampil lagi di arena pertandingan melanjutkan pendadaran yang
akan diselenggarakan di sore hari. Sementara itu, para prajurit
yang mengawasi pertandingan itupun telah bertemu dan
membicarakan pertandingan yang baru saja selesai serta pertandingan
yang akan diselenggarakan di sore hari. Sementara itu, para
petugas sandi ikut pula menyaksikan pembicaraan-pembicaraan itu
untuk memantau keseluruhan pelaksanaan pendadaran itu. Tidak ada hal
yang tidak sesuai dengan ketentuan dan paugeran yang berlaku
dalam pendadaran itu. Sehingga para petugas sandi masih tidak
mencampuri pendadaran yang sedang dilangsungkan. Namun mereka masih
akan tetap mengikutinya sampai selesai. Demikianlah ketika matahari
mulai turun disisi langit sebelah Barat, serta anak-anak muda
yang mengikuti pendadaran itu sudah cukup lama beristirahat, m
aka segala persiapanpun dilakukan untuk meny elenggarakan
pertandingan-pertandingan berikutnya. Seperti sebelumnya, maka
delapan lingkaran yang dibatasi dengan gawarpun telah terisi.
Pa sangan-pasangan yang akan bertandingpun telah bersiap. Ketika
bcnde berbunyi satu kali, maka semuanyapun telah bersiap. Meskipun
ketegangan yang mencengkam seluruh arena itu tidak lagi
sebagaimana pertandingan yang pertama, namun setiap orang yang
sudah berada dalam lingkaran gawar lawe telah memusatkan perhatian
mereka kepada lawan mereka masing-masing. Demikian bende berbuny i
untuk kedua kali, maka pertandingan pun segera dimulai.
Masing-masing masih harus kembali melakukan penjajagan karena lawan
mereka berbeda. Namun dalam beberapa saat, pertandinganpun telah
berlangsung dengan sengitnya. Menghadapi lawan baru, maka setiap
orang harus mempergunakan cara yang lain untuk melawannya sesuai
dengan sikap dan tata gerak lawan mereka masing-masing. Ternyata
pertandingan itu juga berlangsung cukup lama. Karena kemampuan
mereka pada umumnya setingkat, maka tidak segera nampak siapakah
yang akan menang dan siapakah yang akan kalah. Anak muda yang
bertubuh raksasa itu mendapat seorang lawan yang juga memiliki
kekuatan yang sangat besar. Namun kemudian ternyata bahwa dalam
benturan-benturan kekuatan yang terjadi, anak muda bertubuh
raksasa itu masih mempunyai kelebihan dari lawannya. Tetapi ternyata
lawannya mampu bergerak lebih cepat, sehingga kadang-kadang anak
muda yang bertubuh raksasa itu terlambat mengimbangi kecepatan
geraknya. Sementara itu, anak muda yang berjambang lebat itu
ternyata m endapat pengawasan yang ketat dari para prajurit yang
mengawasiny a. Meskipun mereka bukan prajurit-prajurit yang
mengawasiny a pada pertandingan pertama, tetapi agaknya mereka
yang mengawasiny a itu sudah mendapat laporan dari para
pengawas sebelumnya. Di arena pertandingan yang lain, Mahisa Pukat
mendapat lawan yang lebih kuat, tetapi agak lebih lamban.
Seperti sebelumnya, sebenarnya ia dapat meny elesaikan lawannya
dengan cepat. Tetapi ia tidak ingin membuat lawannya kehilangan
kesempatan berikutnya. Karena itu, maka ia dengan sengaja telah
menyesuaikan diri sehingga pertandingan itu kelihatan menjadi seru
dan seimbang. Tetapi seperti yang terdahulu pula, maka para prajurit
yang mengamatinya melihat sesuatu yang lain pada anak
muda yang bernama Mahisa Pukat itu. Meskipun prajurit yang
mengawasiny a sebelumnya tidak memberitahukan kepada prajurit
yang m engawasinya kemudian, namun prajurit yang mengawasiny a
kemudian itu telah dapat menangkap kelebihan Mahisa Pukat. Seperti
para pengawas sebelumnya, prajurit itupun mengerti, bahwa Mahisa
Pukat dengan sengaja membiarkan lawannya menunjukkan bahwa ia mampu
memberikan perlawanan yang baik. “Anak muda yang satu ini
agaknya memiliki kelebihan yang jarang dimiliki oleh anak-anak
muda sebay anya” seorang diantara para pengawas itu berbisik kepada
kawannya. Kawannya mengangguk kecil. Katanya ”Ya. Aku melihat
kelebihan itu. Tetapi ia tidak m au membuat lawannya malu atau
kehilangan kesempatan untuk mengikuti pendadaran berikutnya.” “Jika
saja ada sepuluh orang seperti anak muda itu, m aka mereka akan
dapat menjadi tulang punggung kekuatan Pelay an Dalam di istana
Singasari” desis prajurit yang pertama. Ternyata dalam pertandingan
berikutnya kelebihan Mahisa Pukat semakin nampak betapapun ia tidak
sengaja memperlihatkan. Meskipun kadang-kadang ia memberikan
kesempatan lawannya mengenainya dengan seranganserangan yang
keras dan cepat, namun Mahisa Pukat sering lupa tidak menunjukkan
bahwa ia menjadi kesakitan oleh serangan itu. Sementara itu, para
prajurit itupun sempat melihat, bahwa Mahisa Pukat sering tidak
mempergunakan kesempatan untuk menghindar atau menangkisnya. Seperti
pertandingan yang pertama, maka Mahisa Pukat bukanlah orang
yang mendahului para peserta yang lain untuk mengalahkan lawannya
bertanding. Tetapi ia ju stru membiarkan lawannya bertanding sampai
kesempatan yang hampir berakhir. Menj elang senja maka pertandingan
dihari pertamapun telah berakhir. Para peserta kemudian bergantian
telah pergi ke pakiwan untuk mandi dan berbenah diri Merekapun
kemudian menebar untuk beristirahat sambil membawa mangkuk minuman
hangat serta makanan. Angin senja bertiup perlahan-lahan meny
egarkan tubuh para peserta pendadaran. Sambil menghirup minuman
hangat, satu dua mereka duduk sambil berbincang. Meskipun mereka
baru saja berhadapan dalam pertandingan, namun mereka tidak
benar-benar menjadi bermusuhan. Kecuali anakanak muda yang
pernah bertanding melawan anak muda yang berjambang lebat itu.
Kekasaran anak muda berjambang lebat itu membuat lawannya
benar-benar m enganggapnya sebagai seorang musuh. Mahisa Pukatpun
duduk pula bersama dua orang peserta yang lain diserambi. Seorang
diantara mereka adalah anak muda yang bertanding melawannya pada
kesempatan
pertama.
Jilid 107 DILUAR dugaan anak muda itu
berkata ”Aku memang mencari kesempatan untuk dapat mengucapkan
terima ka sih kepadamu.” “Kenapa?” Mahisa Pukat menjadi heran. “Kau
memberi kesempatan kepadaku untuk memberikan perlawanan. Dengan
demikian maka aku tidak nampak t erlalu lemah dimata para prajurit
yang mengawasi pertandingan kita.” “Apa yang sudah aku
lakukan? Bukankah aku berbuat sebagaimana kau lakukan? Juga
sebagaimana kawan-kawan kita yang lain melakukan?” bertanya Mahisa
Pukat. Tetapi anak muda itu tergawa pendek. Katanya ”Tidak. Kau
telah m embiarkan aku m emberikan perlawanan untuk waktu yang cukup
lama. Sebenarnya jika kau mau, maka aku akan dapat kau jatuhkan pada
gerakanmu yang pertama.” “Ah, itu sangat berlebihan” jawab Mahisa
Pukat ”aku telah berbuat sejauh dapat aku lakukan.” Tetapi anak muda
itu menggeleng. Katanya ”Tidak. Kau berbaik hati membiarkan aku
tidak kehilangan kesempatan pada saat itu juga” “Jangan mengada-ada”
desis Mahisa Pukat. “Aku tidak mengada -ada. Yang mengatakan
kepadaku adalah seorang prajurit yang mengawasi kita
bertanding. Prajurit itu adalah pamanku. Ia berkata jujur kepadaku.”
berkata anak muda itu. “Tidak” jawab mahisa Pukat ”sama sekali
tidak. Dongeng itu akan dapat merugikan kedudukanmu sendiri.”
“Menurut pamanku, kedudukanku tidak akan terpengaruh. Yang mereka
lihat adalah kemampuanku. Meksipun lawanku jauh lebih baik dari aku,
tetapi kemampuanku berada setidaktidaknya pada tataran yang
diperlukan.” berkata anak muda itu. “Sudahlah” berkata Mahisa Pukat
”kita berbicara tentang yang lain.” Anak muda itu mengangguk angguk,
sementara kawannya yang seorang lagi berkata ”Aku juga mendengar
seorang prajurit memuji kelebihanmu” “Sudahlah” berkata Mahisa Pukat
”Kenapa kita tidak berbicara tentang pertandingan esok pagi? Aku
besok pagi akan berhadapan dengan anak muda yang bertubuh
pendek tetapi nampaknya sekokoh batu karang itu. Aku tidak tahu,
apakah aku dapat bertahan.” Tetapi anak m uda itu tertawa. Katanya
”Kau tidak dapat menyembuny ikan kelebihanmu. Tetapi seperti kata
kawanku ini, kau terlalu baik, sehingga kau sama sekali tidak
berniat menjatuhkan orang lain cari kemungkinan untuk m engikuti
pendadaran berikutnya.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam.
Katanya ”Jika kau memang beranggapan demikian, sudahlah. Tetapi
tidak usah disebut-sebut lagi. Biarlah kalian, berdua saja yang
menganggap bahwa aku memiliki kelebihan dari kawan-kawan kita.
Karena jika itu didengar oleh orang lain yang mengetahui kemampuanku
yang sebenarnya, mereka akan mentertawakan aku.” “Baiklah” berkata
anak muda yang menjadi lawan bertanding Mahisa Pukat pada
pertandingan pertama ”Tetapi aku percaya kepada ceritera itu.”
Mahisa Pukat tersenyum. Katanya ”Aku hanya dapat mengucapkan terima
kasih.” Namun Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar ketika ia melihat
anak m uda bertubuh raksasa itu m endekat mereka. Jika saja anak
muda itu masih berbicara tentang sepotong besi itu, maka pembicaraan
tentu akan semakin berkepanjangan. Tetapi justru ada orang lain,
ternyata anak muda bertubuh raksasa itu tidak meny inggung lagi
tentang sepotong besi baja itu. Karena itu, maka merekapun kemudian
sekedar berbicara tentang pertandingan pertandingan yang telah
mereka lakukan. Malam itu, maka para peserta itupun telah
beristirahat sebaik baiknya. Menjelang fajar, maka merekapun telah
bangun dan bergantian pergi ke pakiwan. Seperti hari pertama,
mereka-pun segera berbenah diri, makan pagi dan beristirahat
beberapa saat sebelum mereka memasuki lingkaran pertandingan. Pa da
pertandingan ketiga, maka mulai nampak anak-anak muda yang
daya tahannya tidak t erlalu kuat. Ada diantara mereka yang
sudah nampak menjadi lelah. Tetapi masih juga ada anak-anak muda
yang nampak segar dan seakan-akan kekuatannya masih tetap utuh.
Dengan demikian, maka para prajurit yang mengamati
pertandingan-pertandingan itupun mulai membuat catatancatatan
penting atas para peserta pendadaran. Menj elang tengah hari, maka
pertandinganpun telaji selesai. Anak-anak muda itu pada umumnya
memang nampak letih. Karena itu, maka merekapun telah berusaha
beristirahat sebaik-baiknya. Di sore hari mereka akan memasuki arena
sekali lagi. Kecuali masih ada yang ter sisa dan yang
akan dipertandingkan esok pagi, maka pertandingan di sore hari itu
adalah pertandingan yang terakhir. Demikian pula bagi Mahisa Pukat.
Pertandingan di sore hari itu baginya juga merupakan yang
terakhir. Sementara itu lawan-lawannya adalah anak muda yang
berjambang lebat, yang sudah beberapa kali mendapat peringatan.
Beberapa orang anak m uda yang telah mendengar serba sedikit
tentang MahisaPukat justru berpengharapan, bahwa anak muda itu akan
menemukan lawan yang akan dapat memberikan sedikit peringatan
kepada anak muda yang berjambang lebat itu. Sementara itu, para
prajurit yang menunggui pertandingan yang masih belum selesai telah
memerintahkan untuk meneruskan pertandingan. Mereka tidak boleh
terpengaruh oleh keadaan diluar lingkaran pertandingan mereka m
asingmasing. < -- sepertinya ada bagian cerita yang hilang --
> Mahisa Pukat masih berdiri tegang. Giginya gemeretak menahan
kemarahan yang menyala didadanya. Tetapi dihadapan beberapa orang
prajurit yang bertugas ia masih menahan diri. Ia sadar, bahwa
pernyataan kedua orang prajurit yang bertugas itu belum merupakan
keputusan terakhir. Seorang perwira yang berdiri didekat
seorang petugas sandi bertanya ”Apakah kalian yakin bahwa anak muda
ini sudah melanggar paugeran.” “Ya. prajurit itu memang tegas
sehingga seakan-akan ia benar-benar y akin akan penglihatannya,
bahwa Mahisa Pukat telah melanggar paugeran. “Apa yang dilakukannya
?” bertanya seorang perwira petugas sandi yang mengamati pendadaran
itu. “ Ia meny erang dengan kakinya sasaran yang terlarang. Tumitnya
mengenai bagian bawah perut anak muda berjambang itu.” “Tidak” sahut
Mahisa Pukat. Tetapi prajurit yang seorang lagi berteriak
”Diam. Kau hanya boleh berbicara jika kau ditanya.” Mahisa Pukat
memandang prajurit itu dengan tajamnya. Tetapi ia tidak berkata
apapun juga. < sepertinya ada bagian yang terlompat> Anak muda
berjambang itupun kemudian bangkit tertatihtatih sambil m enyeringai
kesakitan. Sambil m enunjuk kearah Mahisa Pukat ia berkata ”Anak
iblis itu telah berbuat curang. Seharusnya aku dapat
mengalahkannya.” < sepertinya ada bagian yang terlompat> Namun
tiba-tiba seorang prajurit yang berdiri diantara mereka
yang berkerumun itu berdesis ”Tidak masuk akal jika anak muda
berjambang itu dapat mengalahkannya. Aku y akin bahwa anak muda itu
tidak dapat dikalahkan oleh siapapun, peserta pendadaran ini.”
Prajurit yang mengawasi pertandingan antara Mahisa Pukat dan
anak muda berjambang itu berpaling kepadanya sambil membelalakkan
matanya ”Kau tidak melihat pertandingan ini. Tetapi apakah kau sudah
memihak ?” “Aku tidak memihak siapapun. Tetapi kita dapat berbicara
dengan kawan-kawan kita yang telah m enunggui anak muda ini
bertanding.” jawab prajurit itu. < sepertinya ada bagian yang
terlompat> Namun tiba -tiba mereka mendengar seseorang membentak
”Cukup. Bukankah kita mempunyai paugeran ? Kenapa kita harus
berbantah disini ?” Mereka yang sedang berkerumun itupun
berpaling. Ternyata yang berdiri dua langkah dari mereka adalah
Manggala Pelayan Dalam Gajah Saraya. Tidak seorangpun yang
menjawab. Sementara Gajah Saraya berkata selanjutnya ”Keputusan
memang berada ditangan para prajurit yang mengawasi
pendadaran. Tetapi jika salah seorang peserta menyatakan keberatan
atas keputusan yang diambil, maka akan diadakan pembicaraan khusus
tentang pertandingan itu. Bukankah jela s? Kenapa kita harus
berbantah disini seolah-olah kita bukan sekelompok prajurit yang
berpegang pada ketentuan dan paugeran yang pasti ?” Semuanya m emang
terdiam. Sementara itu, Gajah Saraya berkata ”Kita ikuti ket entuan
itu. Kita akan berbicara khusus mengenai pertandingan ini. Sekarang
juga.” Semuanya masih berdiam diri. Sementara itu, Gajah Sarayapun
segera memerintahkan mereka yang berkepentingan untuk berkumpul
diruang yang telah disediakan. Kedua orang prajurit yang
mengawasi langsung, seorang perwira petugas sandi dan kedua orang
anak muda yang bertanding. Dengan jela s dan terperinci kedua orang
prajurit yang mengawasi pertandingan itu memberikan laporan
tentang pelanggaran yang dilakukan oleh Mahisa Pukat. “Berapa
kali. Tetapi yang terakhir adalah pelanggaran yang
terberat,” jawab salah seorang prajurit yang mengawasi
pertandingan itu. “Berapa kali kalian memberikan peringatan.”
bertanya Gajah Saraya pula. “Sesuai dengan ketentuan. Jika
pelanggaran itu terjadi dengan sengaja dan m enimbulkan akibat
yang paling buruk, sehingga lawannya bertanding tidak dapat
melanjutkan pertandingan, maka yang melanggar paugeran itu
dapat dikeluarkan dari arena. Dan tidak akan dapat mengikuti tataran
berikutnya.” Mahisa Pukat memang menjadi tegang. Ia sudah
berprasangka buruk terhadap Gajah Saraya. Tetapi ternyata Gajah
Saraya tidak segera mengambil keputusan membenarkan tindakan kedua
orang prajurit yang mengawasi pendadaran itu. Bahkan Gajah Saraya
masih bertanya kepada Mahisa Pukat ”Kenapa kau berkeberatan terhadap
keputusan kedua prajurit yang mengawasi pendadaran itu ?” “Aku tidak
m erasa melakukan pelanggaran.” jawab Mahisa Pukat ”Aku bertanding
dengan wajar.” “Tetapi kedua orang prajurit itu melihat kau
melakukan pelanggaran” berkata Gajah Saraya kemudian. “Aku tidak
merasa melakukannya” jawab Mahisa Pukat pasti. Lalu katanya ”Aku y
akin bahwa aku akan dapat mengalahkannya tanpa melakukan
pelanggaran.” < sepertinya ada bagian yang terlompat> Kedua
orang prajurit itu termangu-mangu. Seorang diantara mereka bertanya
”Siapakah yang kau maksud diantara kita? Kau atau aku atau
siapa?” Perwira yang mempunyai tugas mengatur itu berkata ”Maksudku,
orang-orang yang sejalan dengan kita. Aku dapat menunjuk dua orang
yang bersama kalian bertugas di gardu dibelakang hutan perburuan
itu.” “Baik” jawab prajurit itu ”tetapi bagaimana jika ada orang
lain yang ikut mengawasi?” bertanya prajurit yang lain.
“ Itu diluar kekuasaanku. Tetapi aku akan mencari jalan agar kita
dapat mengatasiny a meskipun sulit,” jawab perwira itu. “ Ingat.
Jika kami berdua diketahui berlaku curang, maka kaupun akan
terlibat.” desis salah seorang dari kedua prajurit itu. “Kenapa kau
menjadi gila sehingga mengancamku? Aku tahu itu. Tetapi bukankah
kekuasaanku terbatas? Apakah aku harus mengatur agar pertandingan
ulangan itu dilakukan, ditempat tertutup dan hanya kalian berdua
saja yang boleh masuk?” jawab perwira itu dengan wajah geram.
Kedua prajurit itu terdiam. Kekuasaan perwira itu memang terbatas
sehingga ia tidak dapat menentukan lebih dari wewenang y g diberikan
kepadanya. Namun dengan demikian maka kedua orang prajurit itupun
semalaman tidak dapat tidur. Mereka sudah membayangkan bahwa
kecurangan mereka akan terungkap. Mereka tahu bahwa sulit bagi anak
muda berjambang lebat itu dapat mengalahkan Mahisa Pukat. Selain
kedua orang prajurit itu, anak muda berjambang lebat itupun sulit
pula untuk memejamkan matanya. Ia menyesal, bahwa sebelum b
ertanding melawan Mahisa Pukat ia sudah sering melakukan
pelanggaran, sehingga para prajurit yang mengawasiny a telah
memberikan kesaksian yang merugikannya. Seandainya sebelumnya ia
tidak pernah melakukan pelanggaran maka keputusan Gajah Saraya akan
dapat lain. Anak muda itu terlambat m enyadari kesombongannya. Ia
begitu bernafsu untuk menunjukkan kelebihannya dengan mengalahkan
lawan-lawannya dalam waktu yang pendek, sehingga justru karena
itu, ia telah m elakukan pelanggaranpelanggaran yang ternyata
telah menjeratnya pada bagian terakhir dari
pertandingan-pertandingan yang diselenggarakan itu. “Tetapi semuanya
sudah terjadi” anak muda itu menggeram ”aku tidak mempunyai pilihan
lain kecuali dalam waktu yang singkat menghentikan perlawanannya.
Tanpa melakukan pelanggaran sama sekali.” Tiba-tiba saja anak muda
itu bangkit dari pembaringannya. Diambilnya sebuah bumbung kecil
yang berisi serbuk dari kantoner ikat Dinererane kulitnya
yang lebar. Sambil mengamati bumbung kecilnya anak muda itu
tersenyum. Bumbung itu berisi serbuk racun yang tidak terlalu
keras. Serbuk itu tidak membunuh. Tetapi serbuk itu akan dapat
membuat seseorang kehilangan tenaganya. Jika racun itu mengenai
tubuh seseorang maka serbuk itu akan menyusup lewat lubang-lubang
kulit. Racun itu akan dapat bekerja lebih cepat jika tubuh seseorang
terluka meskipun hanya segores kecil. Luka yang segores kecil itu
akan mempercepat penyusupan racun kedalam darah dan mengalir
keseluruh tubuh. Semakin banyak orang itu bergerak, m aka semakin
cepat pula racun itu menghisap tenaganya nieskipun hanya untuk
sementara. Tetapi sebelum tenaga itu tumbuh dan pulih kembali, m aka
ia tentu sudah dapat m engalahkan lawannya, siapapun lawannya itu.
“Terima kasih guru” desis anak muda berjambang lebat itu. Racun dari
gurunya itu ternyata akan dapat dipergunakan untuk mengatasi
kesulitannya menghadapi anak muda yang bernama Mahisa Pukat itu. Ia
harus m engalahkan anak muda itu dan menggagalkan agar ia t idak
dapat memasuki tugas Pelay an Dalam di Istana Singasari. “Besok
serbuk racun itu tidak boleh ketinggalan.” desis anak muda itu.
Tetapi katanya kemudian ”Tetapi aku juga tidak boleh lupa minum
penawarnya. Jika tidak, tenaganyapun akan dihisapnya sehingga aku
akan menjadi tidak berdaya.” Dengan demikian maka anak muda itu
tidak lagi m enjadi gelisah. Bahkan ia menjadi tenang dan dapat
tidur dengan ny enyak. Mahisa Pukat sendiri tidak terlalu banyak
memikirkan pertandingan ulangan. Selain pertandingan ulangan itu
masih ada satu pertandingan yang lain, karena jumlah
pesertanya adalah tujuh bela s orang. Menurut perhitungan Mahisa
Pukat, maka ia tentu akan dapat m engalahkan anak muda itu meskipun
ia tidak ingin merendahkannya, Bahkan ia masih juga berdoa, agar ia
mendapat tuntutan sehingga usahanya untuk menjadi keluarga Pelayan
Dalam di istana Singasari dapat terlaksana. Menj elang fajar
dinihari berikutnya, maka Mahisa Pukatpun telah mempersiapkan diri.
Demikian anak-anak muda yang lain, meskipun sebagian besar mereka
sudah tidak akan bertanding lagi, namun merekapun telah bersiap-siap
untuk melihat apa yang akan terjadi diarena, terutama dalam
pertandingan ulangan antara anak muda yang berjambang lebat
itu dengan mahisa Pukat. Anak muda yang berjambang lebat
itupun mandi dan berbenah diri adalah minum-minuman hangat
yang telah tersedia didapur. Kemudian tanpa diketahui
seorangpun ia telah menelan sebutir ramuan obat untuk menolak dan
menawarkan serbuk racunnya. Anak muda itu ter senyum sendiri. Ia y
akin akan dapat memenangkan pertandingan itu. Para prajurit
yang akan mengawasi pertandingan itu tentu akan berterima ka
sih kepadanya apabila mereka berdiri dipihaknya. Apalagi jika yang
akan mengawasinya nanti kedua orang prajurit yang kemarin
mengawasinya. “Mereka tentu sudah m enjadi gelisah” berkata anak
muda berjambang lebat itu didalam hatinya, Ketika saat makan pagi
tiba, maka anak m uda berjambang lebat itu justru berjalan hilir
mudik dengan wajah tengadah, ter senyum-senyum dan tertawa-tawa
sambil berbincang dengan beberapa orang peserta yang lain m eskipun
tanggapan kawan-kawannya agak kurang akrab. Mahisa Pukat memang agak
heran melihat sikap anak muda itu. Ternyata ia masih juga terlalu y
akin akan dirinya. Anak muda berjambang itu sama sekali tidak
menjadi gelisah, bahwa ia akan dapat dikalahkannya dalam pendadaran
ulangan. Namun Mahisa Pukatpun tidak menghiraukannya. Tetapi ia
sudah bertekad untuk tidak terjebak kedalam pelanggaran paugeran
sehingga ia akan dapat dianggap kalah dalam pertandingan ulangan
itu. Beberapa saat kemudian, setelah mereka beristirahat sejenak,
maka para peserta itupun telah dikumpulkan di halaman depan. Gawar
kedelapan arena masih terpa sang meskipun yang akan
dipergunakan hanya dua. Satu diantaranya adalah pertandingan ulangan
antara Mahisa Pukat dan anak muda berjambang lebat itu. Dalam pada
itu keempat orang anak muda yang akan memasuki arenapun telah
diminta untuk bersiap-siap. Mereka telah berada disekitar arena yang
ditentukan bagi keempat orang anak muda yang akan bertanding didua
arena. Mahisa Pukatpun telah ber siap-siap pula. Ketika ia berdiri
dekat dengan gawar lawe arena pertandingannya, maka anak muda
berjambang itu mendekatinya sambil berdesis ”Kau akan menyesal
dengan ulahmu kemarin. Pagi ini kau akan mengalami keadaan
yang lebih buruk. Dan kau akan segera tersisih dari deretan
para calon Pelayan Dalam. Kaupun tidak akan mungkin ikut dalam
pendadaran tataran berikutnya.” Mahisa Pukat menarik nafas
dalam-dalam. Katanya ”Apapun akhir dari pertandingan ulangan ini
akan aku terima jika itu hasil yang kita capai dengan jujur.” “Kau
memang tidak akan dapat dengan semena-mena melanggar paugeran lagi”
berkata anak muda itu. Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Tetapi ia
masih tetap mengendalikan diri. Sebentar lagi ia akan memasuki arena
untuk benar-benar mengukur kemampuan mereka berdua. Demikianlah
sejenak kemudian maka para prajurit yang bertugaspun telah
mempersiapkan diri. Sementara itu anak muda yang berjambang lebat
itu minta ijin untuk pergi ke pakiwan sebelum pertandingan ulangan
itu dilaksanakan. “Cepatlah” berkata prajurit yang bertugas
untuk mengawasi pertandingan itu, yang ternyata adalah dua orang
prajurit yang meskipun bukan yang m engawasiny a kemarin,
tetapi m ereka adalah orang-orang yang berdiri dipihak anak
muda berjambang lebat itu. “Kemana anak itu ?” bertanya seorang
prajurit yang lain. “Ke Pakiwan sebentar” jawab prajurit yang
mengawasinya. Prajurit yang bertanya itu mengangguk-angguk.
Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Dalam pada itu, kedua orang
prajurit yang bertugas untuk mengawasiny a itupun memang menjadi
gelisah. Tetapi mereka sudah pasrah apapun yang terjadi.
Mereka hanya menunggu keajaiban saja bahwa anak muda berjambang itu
akan memenangkan pertandingan ulang itu. Apalagi ketika di sekitar
arena pertandingan itu terdapat beberapa orang perwira prajurit dan
bahkan prajurit sandi. Arya Kuda Cemani sendiri hadir didekat arena
bersamasama dengan Gajah Saraya. “Bagaimana mungkin mendapatkan cara
untuk menyelamatkan anak muda berjambang itu” desis salah seorang
dari kedua orang prajurit yang mengamatinya. Namun kawannya
menjawab ”Tetapi anak itu sendiri nampaknya begitu yakin akan
memenangkan pertandingan.” “Mudah-mudahan. Mungkin ia berbuat
sesuatu di pakiwan.” Sebenarnyalah anak muda yang pergi ke
pakiwan itu telah menaburkan serbuk racunnya pada kedua telapak
tangannya. Serbuk itu memang tidak begitu nampak. Meskipun serbuk
itu bekerja cepat, tetapi tidak membahayakan jiwa orang yang
terkena. Sementara itu, anak muda berjambang itu sendiri sudah
menelan obat penawarnya sehingga racun itu tidak akan
mempengaruhinya meskipun melekat pada kulitnya. Beberapa saat
kemudian, maka anak muda itu telah kembali dan siap memasuki arena.
Kedua prajurit yang mengawasi pertandingan ulang itupun mendekatinya
dan seorang diantaranya bertanya ”Kau sudah siap sepenuhnya?” Anak
muda itu tertawa. Katanya ”Aku akan menyelesaikannya dalam waktu
singkat.” “Apakah kau tidak membual ?” bertanya prajurit itu hampir
berbisik. “Lihat saja apa yang akan terjadi.” jawab anak muda itu.
Kedua prajurit itu saling berpandangan sejenak. Sementara itu
terdengar suara bende untuk pertama kali. Dengan demikian maka para
pesertapun segera bersiap didalam arena pertandingan. Dua orang
peserta yang akan m enyelesaikan pertandingan telah memasuki
arena. Demikian pula anak muda berjambang lebat itu bersama Mahisa
Pukat. Ketika pertanda berikutnya dibunyikan, maka pertandingan
itupun telah siap untuk dimulai. Anak muda berjambang lebat itu
masih saja ter senyum ketika Mahisa Pukat mulai bergeser. Selangkah
ia maju mendekat sambil berdesis ”Kau akan aku habisi dalam waktu
sekejap.” Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi ia memang heran
melihat sikap anak muda berjambang lebat itu. Sementara itu, selain
kedua orang prajurit yang bertugas mengamati pertandingan itu,
maka beberapa orang perwira ada disekitar arena itu. Bahkan Arya
Kuda Cemani dan Gajah Saraya juga menyempatkan diri untuk melihat
hasil pertandingan ulangan itu. Mereka ingin melihat kebenaran dari
laporan kedua orang prajurit yang mengawasi pertandingan
sebelumnya. Namun kesan yang mereka dapatkan pada saat
pertandingan itu akan dimulai, memang meyakinkan. Anak muda
berjambang lebat itu benar-benar percaya diri bahwa ia akari dapat
meny elesaikan pertandingan dengan cepat. Sementara itu, Mahisa
Pukat tidak m enunjukkan sikap yang dapat m emberikan kesan sesuatu.
Meskipun ia tetap tenang, tetapi tidak mengesankan satu keyakinan
bahwa ia akan menang. Dalam pada itu, anak m uda yang
berjambang lebat yang telah m enaburi telapak tangannya dengan
serbuk racun itu hanya tinggal berusaha meny entuh kulit Mahisa
Pukat dibagian manapun. Dan itu sama sekali bukan soal yang sulit.
Jika ia meny erang dengan cepat, maka sentuhan-sentuhan yang
diperlukan akan segera terjadi. Apalagi anak muda itu serba sedikit
sudah dapat mengenali bagaimana Mahisa Pukat itu mempertahankan
dirinya. Demikianlah, ketika anak muda berjambang lebat itu melihat
satu kesempatan, maka iapun segera meloncat menyerang. Tangannya
terayun dengan cepat mengarah kening. Tetapi Mahisa Pukat yang sudah
siap itupun sempat menghindari serangan itu. Dengan cepat pula
Mahisa Pukat bergeser sehingga serangan itu tidak mengenai
sasarannya. Tetapi anak muda itu terus saja memburunya. Bahkan tidak
lagi mempergunakan unsur-unsur gerak yang mapan, seakanakan
asal saja anak itu membenturnya. Mahisa Pukat yang mengalami
serangan dengan serta merta itu m emang berusaha menangkis. Tangan
anak muda berjambang yang menyambar dengan cepat kearah dada itu
ditepisnya kesamping. Namun diluar dugaan Mahisa Pukat, tangan anak
muda itu yang lain justru berusaha menangkap pergelangan tangannya.
Serangan yang demikian memang merupakan serangan yang tidak
terbia sa dilakukan. Karena itu, maka Mahisa Pukat memang terlambat
menghindar. Pergelangan tangannya memang benar-benar telah ditangkap
oleh anak muda berjambang itu. Ternyata tangan Mahisa Pukat telah
ditariknya dengan sekuat tenaga. Begitu menghentak dan tiba-tiba.
Mahisa Pukat memang terseret oleh tarikan itu. Dengan satu putaran
tangan Mahisa Pukat hampir saja terpilin. Namun Mahisa Pukat dengan
cepat berguling dan memutar tubuhnya. Demikian kakinya meny entuh
tanah, m aka iapun segera melenting meny erang dengan kakinya.
Ternyata anak muda berjambang itu dengan cepat melepaskan tangannya
dan meloncat surut, sehingga serangan Mahisa Pukat tidak
mengenainya. Sejenak kemudian, maka keduanya telah berdiri lagi
berhadapan. Ma sing-masing telah siap melanjutkan pertandingan.
Beberapa orang prajurit, perwira dan bahkan Arya Kuda Cemani dan
Gajah Saraya memang menjadi berdebar-debar. Pertandingan itu
berlangsung dengan cepat. Namun merekapun segera m elihat, betapa
tangkasnya Mahisa Pukat mengatasi k esulitan yang dengan tibartiba
dialaminya dalam pertandingan itu. Ketika Mahisa Pukat sudah siap
melanjutkan pertandi ngan, maka anak muda berjambang itu tersenyum
sambil berdesis ”Kau tidak meny esali kecuranganmu kemarin? Semuanya
sudah terjadi. Kau tinggal menerima akibat dari kecuranganmu itu,
karena kau akan segera tersisih.” Mahisa Pukat sama sekali tidak
menjawab. Tetapi ia justru mulai memperhatikan pergelangan tangannya
yang hampir sa ja terpilin. Ia tidak merasa bahwa pergelangannya itu
menjadi sakit atau bahkan ny eri. Tetapi ia memang merasakan
sesuatu. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Ketika lawannya
bergeser, iapun bergeser pula. Namun ia sempat mengusap pergelangan
tangannya dengan tangannya yang lain. Ra sa -rasanya ada
berpuluh-puluh semut yang merayap dipergelangan tangannya dan bahkan
kemudian di telapak tangannya yang lain. Bahkan kemudian
terasa seakan-akan pergelangan tangannya dan telapak tangannya yang
lain itu tertusuk-tusuk oleh ujung duri yang lembut, m emang tidak
sakit. Tetapi seolah-olah duri-duri yang lembut itu ju stru
menyusup ke. dalam urat-urat darahnya dan kemudian mengalir
keseluruh tubuhnya. Anak muda berjambang itu melihat betapa Mahisa
Pukat merasa terganggu pada pergelangan tangannya dan telapak
tangannya yang lain. Tanpa m enghiraukan orang-orang yang berada
disekitar arena, maka iapun tertawa berkepanjangan. Orang-orang yang
ada disekitar arena itu menjadi heran. Mereka belum melihat
tanda-tanda bahwa anak muda itu akan memenangkan pertandingan.
Karena itu, m aka sikapnya itu telah mengundang pertanyaan. Bahkan
anak muda itu kemudian bertanya ”Kenapa kau nampak menjadi bingung
?” Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Ia menghubungkan perasaan
aneh pada pergelangan tangan dan telapak tangannya. Diluar sadarnya
ia mengawasi pergelangan dan telapak tangannya itu. Ternyata Mahisa
Pukat dapat melihat bahwa tangannya memang telah terkena serbuk yang
tentu telah menimbulkan perasaan asing itu. “Racun” berkata Mahisa
Pukat didalam hatinya. Apalagi ketika ia melihat sikap dan
pertanyaan anak muda berjambang yang aneh itu. Karena Mahisa Pukat
tidak segera menjawab, maka anak muda itu bertanya pula ”Apakah kau
akan meny erah saja ?” Mahisa Pukat m engerutkan dahinya. Dengan
nada rendah ia berkata ”Bukankah kita baru mulai ? Apakah kau m
elihat tanda-tanda bahwa aku akan menyerah ?” “Tentu. Kau menjadi
bingung dan bahkan seakan-akan ketakutan menghadapi pertandingan
ulangan ini” jawab anak muda itu. “Agaknya kau sedang bermimpi”
sahut Mahisa Pukat ”bangunlah. Kita berada di arena pertandingan
dalam rangka pendadaran untuk memasuki lingkungan Pelay an Dalam.”
Orang-orang yang ada disekitar arena itu justru mengangguk-angguk
mendengar jawaban Mahisa Pukat itu. Seakan-akan Mahisa Pukat telah
mewakili mereka mengatakan sebagaimana pernyataan didalam hati
mereka. Anak muda itu memandang Mahisa Pukat dengan tajam. Ia
melihat Mahisa Pukat masih berdiri tegak dan bahkan bersiap untuk
meneruskan pertandingan. Anak muda itupun kemudian telah bergeser
selangkah maju. Bahkan kemudian tanpa berkata apapun lagi, dengan
garangnya ia telah meny erang Mahisa Pukat. Ia berharap bahwa jika
Mahisa Pukat bergerak lebih banyak, maka racun itu akan beredar
lebih cepat didalam tubuhnya. Dengan demikian maka Mahisa Pukat itu
akan segera m enjadi lemah dan kehilangan kekuatannya. Mahisa
Pukatpun meloncat menghindari serangan itu. Namun sebenarnyalah
bahwa Mahisa Pukat telah m engambil satu sikap. Ia ingin dengan
cepat menyelesaikan pertandingan itu. Anak muda berjambang itu telah
cukup banyak melontarkan pernyataan yang meny inggung perasaannya
bahkan penghinaan dengan m enawarkan agar Mahisa Pukat itu menyerah
saja Karena itu, demikian Mahisa Pukat menghindari serangan anak
muda itu, m aka iapun segera menghentakkan segenap kemampuannya.
Meskipun ia belum merambah keilmu andalannya, namun tenaga dan
kemampuannya sudah cukup untuk dengan cepat menghentikan perlawanan
anak muda berjambang lebat itu. Apalagi Mahisa Pukat menyadari,
bahwa anak muda itu telah mempergunakan racun untuk mengalahkannya
meskipun Mahisa Pukatpun tahu bahwa racun yang dipergunakan itu
adalah racun yang dapat bekerja dengan cepat tetapi lunak
sehingga tidak akan membunuh orang yang dikenainya meskipun
orang itu bukan Mahisa Pukat. Dengan cepat Mahisa Pukatlah
yang kemudian justru menyerang. Dengan loncatan panjang Mahisa
Pukat menyerang. Tangannya terjulur lurus mengarah kedada. Ketika
lawannya itu menghindar kesamping, maka Mahisa Pukat justru
berputar. Kakinya bergerak mendatar dengan cepatnya. Anak muda
berjambang itu terkejut. Tetapi ia tidak sempat berbuat banyak.
Meskipun ia berusaha menangkis, namun hentakkan kekuatan kaki Mahisa
Pukat itu telah mendorongnya beberapa langkah surut. Mahisa Pukat
ternyata tidak melepaskannya. Dengan cepat Mahisa Pukat meloncat
menyusulnya. Hampir saja Mahisa Pukat memukul kepala anak muda
yang sedang terbungkuk itu. Namun niat itu diurungkan, karena
Mahisa Pukat tidak mau m embuat kepala anak m uda itu terguncang
sampai ke otaknya. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun telah
mengayunkan tangannya mendatar. Dengan punggung telapak tangannya
yang terbuka, Mahisa Pukat mengenai kening anak muda itu. Anak muda
itu terhuyung-huyung dan disaat ia hampir kehilangan
keseimbangannya, maka serangan Mahisa Pukat telah m enyusul sekali
lagi. Sisi telapak tangannya yang sudah terangkat dan hampir
saja terayun ketengkuknya telah diurungkannya. Sisi telapak tangan
itu kemudian hanya mengenai pundak kanan anak muda yang berjambang
itu. Ternyata serangan beruntun Mahisa Pukat itu sama sekali tidak
memberi kesempatan kepada lawannya untuk mengelak dan apalagi m
embalas. Serangan Mahisa Pukat pada pundak anak muda itu telah
membuatnya tidak mampu bertahan. Perasaan sakit yang tajam telah
menggigit pundaknya itu. Tulang-tulangnya bagaikan berpatahan.
Tekanan pukulan Mahisa Pukat telah mendorong anak muda itu sehingga
jatuh tertelungkup. Yang terdengar kemudian adalah erang kesakitan.
Anak muda itu memang berusaha untuk bangkit. Tetapi iapun telah
terjatuh kembali menelentang sambil mengaduh menahan sakit. Ternyata
dalam waktu yang sangat singkat pertandingan itu telah
diselesaikan oleh Mahisa Pukat. Pertandingan ulangan itu ternyata
menjadi sangat menarik perhatian. Dua orang prajurit yang
seharusnya mengamati pertandingan yang ter sisa, beberapa kali
telah berpaling melihat apa yang terjadi di arena yang lain, arena
pertandingan ulangan antara anak muda yang berjambang lebat,
yang sombong dan beberapa kali melanggar paugeran dengan anak
muda yang memiliki ilmu yang dianggap lebih baik dari
kebanyakan para peserta pendadaran. Bahkan dua orang yang m
eny elesaikan pertandingan yang tersisa itupun kadang-kadang
justru terhenti dan berusaha pula m elihat apa yang terjadi
diarena yang lain. Apalagi para peserta yang sudah meny
elesaikan pertandingan mereka. Semuanya telah berkumpul dan
menyaksikan pertandingan ulangan itu. Ternyata semua orang telah
tercenung melihat akhir pertandingan itu. Dalam waktu yang
sangat singkat pertandingan ulangan itu telah berakhir. Anak muda
berjambang lebat itu sama sekali tidak mampu berbuat apapun juga.
Bahkan serbuknya sama sekali tidak berpengaruh atas Mahisa Pukat.
Dengan demikian kepercayaan anak muda itu kepada gurunya berguncang.
Ia m enganggap bahwa racun itu tidak mempunyai arti apa-apa. Tidak
sebagaimana dikatakan oleh gurunya. Namun sebenarnyalah bahwa anak
muda itu tidak tahu sama sekali bahwa Mahisa Pukat bukan anak muda
kebanyakan. Anak muda itu memiliki kemampuan untuk menangkal racun.
Apalagi racun yang lunak, bahkan racun yang paling tajam
sekalipun tidak akan dapat membunuhnya. Dengan demikian, m aka
diputuskan bahwa Mahisa Pukat telah m emenangkan pertandingan itu.
Sebenarnya keputusan menang atau kalah itu tidak mutlak diperlukan.
Bahkan ada diantara mereka yang dianggap memiliki kemampuan dan
kekuatan yang sama sehingga tidak ada yang menang atau kalah.
Namun justru karena ada persoalan diantara kedua anak muda
yang bertanding itu, maka kemenangan salah seorang diantaranya
memang diperlukan. Kedua orang prajurit yang menunggui
pertandingan itu tidak dapat berbuat banyak. Apalagi mereka tahu
bahwa Gajah Saraya dan Arya Kuda Cemani khusus datang untuk m elihat
hasil dari pertandingan itu, sehingga keduanya harus menyatakan
hasil yang sebenarnya yang m emang tidak dapat disembuny
ikannya. Namun dengan demikian, setiap orang yang mengikuti
pendadaran itu telah menjadi curiga terhadap kedua orang prajurit
yang menunggui pertandingan sebelumnya yang menganggap bahwa Mahisa
Pukat seharusnya disisihkan dari pendadaran pada tataran berikutnya
karena dianggap curang. Tetapi siang itu juga, sebelum keduanya
dapat diusut lebih lanjut, maka datang perintah dari kesatuan kedua
orang prajurit itu, bahwa keduanya harus segera kembali ke
kesatuannya karena ada tugas lain yang lebih penting. Perintah
itu datang dari pemimpin kelompoknya yang juga mengirimkan dua
orang prajurit yang lain sebagai gantinya jika diperlukan.
Gajah Saraya memang menjadi heran atas sikap pemimpin kelompok kedua
orang prajurit yang dicurigai melakukan tindakan yang tidak
benar itu. Tetapi Gajah Saraya tidak dapat dengan tergesa -gesa
mengambil tindakan, karena hal Itu akan menyangkut wibawa antara
kesatuan. Karena itu, maka diperlukan waktu untuk menghubungi
pemimpin yang lebih tinggi lagi dari pemimpin kelompok itu
untuk mengambil langkah-langkah berikutnya. Dalam pada itu,
pendadaran pada tataran kedua itupun telah berakhir. Para prajurit
yang bertugas akan segera menentukan, siapakah diantara
ketujuhbelas orang itu yang pantas untuk mengikuti pendadaran
selanjutnya. Anak muda yang berjambang itu sudah tidak
berpengharapan lagi untuk dapat memasuki pendadaran tataran
berikutnya. Namun iapun tidak dapat melupakan anak muda yang telah
mempermalukannya. Mahisa Pukat. Sehingga iapun telah mendendamnya
dan bahkan timbul k einginannya untuk membalas dendam apapun
caranya. Sementara itu Mahisa Pukat yang sejak semula telah
berprasangka buruk terhadap Gajah Saraya menjadi raguragu. Sampai
pendadaran pada tataran kedua tidak nampak bahwa Gajah Saraya dengan
sengaja ingin menyisihkannya. Bahkan pada tataran kedua Gajah-Saraya
justru telah memberinya kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia
memiliki kemampuan untuk dapat meneruskan pendadaran pada tingkat
selanjutnya. Tetapi apa yang terjadi kemudian, Mahisa Pukat tidak
dapat menduganya. Bahwa kedua orang prajurit yang mengamatinya dalam
pertandingan terakhir sebelum pertandingan ulangan dilakukan, begitu
saja dibiarkannya meninggalkan tempat pendadaran, telah menimbulkan
pertanyaan pula dihati Mahisa Pukat. Demikianlah, maka malam setelah
pertandingan yang terakhir serta pertandingan ulang selesai,
para peserta masih diperintahkan untuk tetap tinggal di tempat
pendadaran. Demikian semua prajurit dan Pelayan Dalam yang ikut
serta menyelenggarakan pendadaran itu, kecuali dua orang prajurit
yang sudah ditarik oleh kesatuannya karena ada tugas lain yang lebih
penting. Malam itu, para peny elenggara pendadaran telah mengadakan
pembicaraan. Esok pagi akan diumumkan langsung, siapakah yang
harus melakukan persiapan untuk mengikuti pendadaran pada tataran
berikutnya Malam itu anak muda yang bertubuh raksasa itu telah
menemui Mahisa Pukat. Katanya ”Nah, aku telah memenangkan taruhan.
Kau tidak sekalipun terkalahkan.” Mahisa Pukat menarik nafas
dalam-dalam. Katanya ”Hanya satu kebetulan.” “Tidak” jawab anak muda
bertubuh raksasa itu ”bukan satu kebetulan. Kau memang m emiliki k
elebihan dari semua yang ikut pendadaran ini. Kita tunggu saja
hasilnya Aku tidak akan menyesal seandainya aku termasuk diantara
mereka yang harus menyingkir dari pendadaran berikutnya. Tetapi aku
akan sangat menyesal jika kau yang tidak dapat m emasuki
tataran ketiga dari pendadaran ini.” “Bukankah keputusan terakhir
terletak pada mereka yang bertugas menilai pertandingan ini?”
jawab Mahisa Pukat ”aku akan menerima semua keputusan. Juga
yang menyangkut diriku.” “Kau tidak dapat berbuat seperti itu”
berkata anak muda bertubuh raksasa itu ”nampaknya memang ada sesuatu
yang tidak wajar terjadi dalam pendadaran ini Dan kau harus membela
diri jika kau mendapat perlakuan yang tidak adil.”
“Mudah-mudahan tidak ada perlakuan yang tidak adil itu.” jawab
Mahisa Pukat. “Ya. Mudah-mudahan tidak ada” desis anak muda bertubuh
raksasa itu. Dalam pada itu, disebuah ruangan tertutup Gajah Saraya
memimpin sebuah pertemuan untuk memilih siapakah yang diperkenankan
mengikuti pendadaran berikutnya dan siapa yang tidak. Menurut para
prajurit yang m engawasi jalannya pendadaran, m aka pada
umumnya mereka yang ikut dalam pertandingan itu memiliki kemampuan
yang hampir setingkat. Namun yang jelas tidak dapat mengikuti
pendadaran pada tataran berikutnya adalah anak muda berjambang lebat
itu. Beberapa orang prajurit memang memberikan kesaksian bahwa ia
sudah terlalu sering diperingatkan karena melanggar paugeran. Juga
dalam pertandingan ulangan anak muda berjambang itu sama sekali
tidak berdaya. Namun Mahisa Pukat masih melindungi anak muda
berjambang itu karena ia tidak mengatakan bahwa anak muda itu telah
menebarkan racun meskipun racun yang lemah, tetapi akan dapat
mempengaruhi pertandingan yang sedang berlangsung seandainya
Mahisa Pukat tidak memiliki penawar racun. Dalam pembicaraan
selanjutnya, maka ternyata ada dua orang lagi yang terpaksa tersisih
karena tenaga dan kemampuan mereka dianggap paling rendah diantara
kawankawannya yang lain. Dengan demikian mereka yang akan ikut
dalam pendadaran berikutnya hanyalah ampat belas orang sa ja.
Diantara mereka memang termasuk Mahisa Pukat. Keputusan itulah
yang akan diumumkan dikeesokan harinya kepada para peserta.
Kemudian para peserta akan diijinkan pulang dan m enunggu pendadaran
berikutnya yang hanya akan bertenggang waktu sepekan dengan
pendadaran yang baru saja dilakukan itu. Demikianlah, sejak fajar,
para peserta pendadaran itu sudah bersiap-siap untuk m endengarkan
pengumuman yang akan diberikan oleh Manggala Pelay an Dalam. Ra
sa-rasanya waktupun berjalan sangat lambat, sehingga para peserta
itu sudah tidak sabar lagi menunggu. Namun pada umumnya mereka yang
merasa dirinya berada dibawah tataran kawan-kawannya sudah merasa,
bahwa mereka akan tertinggal dan tidak mendapat kesempatan untuk
mengikuti pendadaran berikutnya. Ternyata pengumuman itu baru
diberikan setelah para peserta itu selesai makan pagi dan
beristirahat sejenak. Dengan jantung yang berdebar-debar para
peserta itu berkumpul di sebuah ruangan yang telah disediakan.
Manggala Pelay an Dalam sendirilah yang akan mengumumkan siapakah
diantara mereka yang akan dapat mengikuti pendadaran
berikutnya. Sebelum menyatakan nama-nama mereka yang dapat
meneruskan pendadaran, maka Gajah Saraya sudah memberikan sedikit
keterangan bagi mereka yang gagal. “Bidang pengabdian tidak
hanya terbatas pada bidang keprajuritan dan Pelay an Dalam.
Dimanapun kalian berada, asal kalian benar”benar melakukan dengan
ikhlas dan bersungguh-sungguh bagi kepentingan Singasari dan
seisinya, maka kalian telah melakukan pengabdian tidak kalah
nilainya dengan para prajurit dan Pelay an Dalam. Jika kalian
bekerja bersungguh-sungguh sebagai seorang petani, atau seorang
pedagang atau seorang nelayan, atau apapun yang bermanfaat
bagi banyak orang, m aka itu sudah merupakan pengabdian bagi
Singasari.” Anak-anak muda itu mendengarkan dengan gelisah. Namun
apa yang dikatakan oleh Gajah Saraya itu sedikit meredakan gejolak
jantung anak-anak muda yang merasa memiliki kekurangan dari
kawan-kawan mereka. Baru sejenak kemudian, Gajah Sarayapun
mengumumkan nama-nama mereka yang ikut mendapat kesempatan bagi
tataran berikutnya. Dua orang anak muda yang tidak dapat melanjutkan
pendadaran itu memang kecewa. Tetapi mereka merasa bahwa kemampuan
mereka memang berada dibawah kemampuan kawan-kawannya. Sementara itu
Gajah Saraya masih berkata pula ”Kalian masih muda. Pada kesempatan
lain, kalian dapat mengikutinya lagi. Mungkin kalian sudah menjadi
lebih siap menghadapi pendadaran mendatang.” Yang menjadi sangat
kecewa dan bahkan mendendam adalah anak m uda berjambang lebat itu.
Ia termasuk diantara mereka yang namanya tidak disebutkan
untuk mengikuti pendadaran berikutnya. Namun dendamnya terutama
tertuju kepada Mahisa Pukat. Anak yang bertanya itu
mengangguk-angguk. Sementara anak muda yang bertubuh raksasa itu
berkata selanjutnya ”Padahal aku tidak mentertawakannya.” “Nampaknya
ia memang aneh” desis anak muda yang bertanya itu ”sejak pada
pendadaran yang pertama, ia sudah menunjukkan sikapnya yang
kurang wajar.” Mahisa Pukat sama sekali tidak menyahut justru karena
ia pernah mempunyai persoalan dengan anak muda itu. Demikiarilah
maka akhirnya anak muda itupun saling berpisah. Mereka berpencar
menuju ke rumah mereka masing-masing. Di rumah Mahisa Pukat telah
berceritera tentang pendadaran pada tataran kedua itu. Iapun
berceritera tentang anak muda berjambang lebat itu dan sikap Gajah
Saraya, Manggala Pelayan Dalam Singasari. “Aku mula-mula memang
berprasangka buruk. Tetapi ternyata ia justru memberi kesempatan
kepadaku” berkata Mahisa Pukat. “Mudah-mudahan ia bersikap baik.
Setidak-tidaknya bersikap wajar. Juga pada pendadaran pada tataran
terakhir.” “Agaknya akan ada pendadaran ketrampilan olah senjata dan
naik kuda” berkata Mahisa Pukat ”para perwira Pelay an Dalam sudah
mengisy aratkan, agar kami para peserta bersiapsiap untuk menempuh
pendadaran ketrampilan olah senjata dan naik kuda.” “Mudah-mudahan
kau dapat berhasil” berkata Mahendra. “Jika para pengawas dan mereka
yang menentukan penerimaan para calon Pelay an Dalam itu
wajar, maka menurut perhitungan aku akan dapat diterima.” berkata
Mahisa Pukat. “ Itulah masalahnya. Wajar atau tidak wajar. Tetapi
menurut ceritamu pada dua tahap pendadaran sudah terjadi
ketidakwajaran. Bahkan pada tataran pertama ketidak wajaran itu
sudah mengancam jiwamu. Bahkan m ungkin cara itu jika ditrapkan pada
orang lain akan benar-benar dapat menimbulkan korban jiwa.” sahut
Mahendra. Dengan demikian maka Mahendra telah berpesan agar Mahisa
Pukat t etap berhati-hati. Mungkin masih ada usaha untuk
menggagalkannya dengan cara yang tidak terduga sama sekali.
“Ya ayah” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia menyadari bahwa hal
seperti itu masih mungkin dapat terjadi. Di hari berikutnya,
meskipun Mahisa Pukat memiliki ketrampilan olah senjata dan naik
kuda cukup baik dan yang menurut perhitungan berada di atas
kemampuan anak-anak muda yang lain, tetapi Mahisa Pukatpun memenuhi
anjuran para perwira Pelayanan Dalam. Mahisa Pukatpun telah
membiasakan diri lagi berkuda berkeliling pada rumput dipinggir
Kotaraja bersama dengan ayahnya. Mahisa Pukatpun berlatih
mempergunakan senjata sambil dipunggung kuda. Dengan melarikan
kudanya, Mahisa Pukat melemparkan lembing kesa saran yang telah
disiapkan. Seonggok batang padi kering yang diikat pada batang
bambu yang dipancangkan di pinggir padang rumput itu. Sambil
melarikan kudanya, maka Mahisa Pukat berusaha mengenai sa sarannya
setinggi orang itu tepat pada bagian yang dianggapnya sebagai
dadanya. “Sasaran itu adalah sasaran yang diam” b erkata Mahendra
”jika sasarannya orang yang sebenarnya, maka sa saran itu dapat
bergerak.” Tetapi Mahisa Pukat yang sudah sampai pada tataran
puncak dalam ilmu kanuragan itu sama sekali tidak mengalami
kesulitan. Jika latihan-latihan itu dilakukan, baginya sekedar meny
egarkan kembali ilmu yang telah dikuasainya dengan baik itu.
Demikian pula kemampuan membidik dengan anak panah. Kemampuan ilmu
pedang dan bahkan cambuk, parang, tongkat dan senjata apa saja.
Bahkan akar-akar dan sulur pepohonan atau cabang kay u yang
patah atau ikat kepala yang dipakainya. “Tetapi ingat Mahisa Pukat”
berkata Mahendra ”kau akan memasuki lingkungan pelay anan Dalam. Kau
tidak perlu meny ombongkan kemampuanmu. Kau sebaiknya hanya
menunjukkan kemampuanmu secukupnya, asal kau dapat diterima menjadi
pelay an dalam.” Mahisa Pukat m engangguk-angguk. Ia juga
melakukannya pada pendadaran tataran pertama dan kedua. Ia tidak
menunjukkan kelebihannya dalam pertandinganpertandingan. Di
pertandingan ulangan ia memang agak lebih banyak mengurai ilmunya
karena sikap anak muda berjambang lebat yang menyakitkan hati itu.
Hari demi haripun telah dilalui. Pada hari ketiga Mahisa Pukat telah
mendapat pemberitahuan dan petunjuk bagi pendadaran yang akan
diselenggarakan segera. Sebenarnyalah bahwa para peserta dituntut
untuk membawa bekal kemampuan dan ketrampilan olah senjata dan
berkuda. Juga kemampuan membidik dengan anak panah dan lontaran
lembing. Pendadaran bagi Pelay an Dalam m emang lebih berat dari
pendadaran untuk menjadi seorang prajurit. Selain jumlah Pelay an
Dalam m emang hanya sedikit, sehingga kesempatan yang dapat
diberikanpun menjadi sempit, Pelayan Dalam juga dituntut untuk
mempunyai kemampuan dan ilmu yang cukup karena Pelay an dalam
juga bertugas untuk menjaga keselamatan istana seisiny a. Termasuk
Sri Maharaja dan keluarganya. Pa da saatnya Mahisa Pukat benar-benar
sudah siap. Dihari kelima sebagaimana disebut dalam pemberitahukan
yang telah diterimanya, Mahisa Pukat telah berkumpul di tempat
pendadaran. Masih ditempat pendadaran pada tataran kedua. Namun
pendadaran akan dilakukan dihalaman belakang. Di tempat yang
lapang. Beberapa jenis perlengkapan pendadaran sudah disiapkan,
termasuk beberapa ekor kuda. Malam itu para peserta masih belum
tahu, apa yang harus mereka lakukan esok. Mereka belum mendapat
pemberitahuan tentang urutan mereka masing-masing. Karena itu,
mereka harus siap untuk melakukan apa saja yang akan diperintahkan
esok pagi. Ada ampatbelas orang yang sudah siap mengikuti
pendadaran pada tahap ketiga. Agaknya pendadaran itu cukup berat.
Selain menunggang kuda, juga ketrampilan mempergunakan berbagai
senjata sebagaimana yang sudah disiapkan di arena yang sudah
tersedia dihalaman belakang. Seperti pendadaran yang terdahulu
maka pada hari yang pertama itu, Manggala Pelay an Dalam m
emberikan beberapa penjelasan tentang pendadaran yang bakal
dilangsungkan. Dari menunggang kuda, mempergunakan senjata dan
ternyata yang terakhir adalah penjajagan langsung oleh para prajurit
dan Pelayan Dalam yang sudah ditunjuk atas kemampuan para peserta.
Mahisa Pukat memang menjadi berdebar-debar. Ada beberapa kemungkinan
dapat terjadi pada dirinya. Bukan karena ia cemas menghadapi
pendadaran yang bagaimanapun bentuknya, tetapi ia menjadi cemas akan
kemungkinan bahwa pendadaran itu akan berlangsung tidak sewajarnya.
Sementara itu, Mahisa Pukat sudah menyatakan kepada Sasi, bahwa ia
memang berniat untuk menjadi Pelay an Dalam. Jika ia gagal, maka
penilaian Sasi terhadap dirinya akan dapat menjadi lain. Ternyata
pada hari pertama itu belum ada pendadaran. Setelah beberapa
keterangan langsung dari Gajah Saraya serta beberapa orang perwira
selesai diberikan, maka beberapa orang Pelayan Dalam telah siap
memberikan beberapa contoh peragaan pendadaran yang akan dilakukan
esok. Ternyata seperti yang sudah diduga oleh Mahisa Pukat,
maka para peserta akan dinilai k emampuannya menunggang kuda sambil
bermain dengan senjata. Beberapa batang pisang telah ditancapkan di
arena. Setiap peserta sambil menunggang kuda akan menebas
batang-batang pisang yang sudah ditentukan bagi mereka
masing-masing. Kemudian mereka juga diwajibkan melontarkan lembing
sambil memacu kudanya lewat jalur yang sudah ditentukan pula
dengan sa saran disisi kiri dan sisi kanan jalur. Para peserta
pendadaran itu menjadi berdebar-debar melihat beberapa orang Pelay
an Dalam menunjukkan kemampuan mereka. Agaknya setiap Pelayan Dalam
akan dituntut untuk dapat melakukannya. Meskipun tidak setangkas
mereka, namun para peserta pendadaran itu harus menunjukkan bekal
serta meyakinkan para prajurit dan Pelay an Dalam yang m
engamati mereka, bahwa mereka pada satu saat akan mampu pula
melakukannya. Peragaan itu dilakukan sampai sedikit lewat tengah
hari. Beberapa m acam peragaan dari jenis pendadaran yang akan
mulai dilakukan esok pagi. Ampatbelas orang calon Pelay an Dalam itu
akan m enjalani pendadaran tidak dengan urutan yang sama. Tetapi
mereka akan terbagi dalam kelompokkelompok kecil yang akan melakukan
pendadaran pada urutan yang berbeda. Tetapi pada dasarnya mereka
akan m enjalani semua jenis pendadaran sebagaimana sudah ditentukan.
Sore hari para peserta itu sempat beristirahat sambil
berbincang-bincang. Anak muda bertubuh raksasa itu berkata kepada
Mahisa Pukat ”Aku sudah mencoba lagi naik kuda. Aku tidak takut
terjatuh. Dan aku m emang terjatuh tidak kurang dari tiga kali.
Tetapi aku tidak apa-apa. Aku tidak mati. Bahkan pingsanpun tidak.
Juga tulang-tulangku tidak berpatahan.” “Nah. Bukankah kau tetap
utuh dan dengan demikian maka kau tetap mempunyai harapan untuk
berhasil menembus pendadaran ini?” sahut Mahisa Pukat. “Ya.
Untunglah bahwa aku mengikuti petunjukmu. Jika tidak, maka aku tidak
akan mempunyai harapan lagi. Aku tidak akan mampu mengikuti
pendadaran khususnya jenis menunggang kuda. Apalagi sambil
mempermainkan senjata.” “Kau juga sudah berlatih menebas batang
pisang ?” bertanya Mahisa Pukat. “Kebetulan pamanku seorang
prajurit. Ia menganjurkan agar aku melakukannya. Dan aku memang
sudah melakukannya” jawab anak muda itu. Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Ia ikut bergembira melihat wajah anak muda
bertubuh raksasa itu cerah penuh harapan. Ketika malam tiba, sesudah
makan malam, para peserta memang mendapat kesempatan untuk bertemu
dan kembali berbincang diantara mereka. Namun suasananya sudah jauh
berbeda dengan malam sebelum pendadaran pada tataran kedua
berlangsung. Anak-anak muaa itu t idak saling menunjukkan kelebihan
m ereka. Di pendadaran berikutnya, mereka tidak akan saling
berhadapan. Tetapi mereka harus menunjukkan ketrampilan mereka dan
akhirnya penilaian langsung oleh para prajurit dan Pelayan Dalam.
Dalam perbincangan itu mereka justru m embicarakan apa yang
kira-kira akan mereka lakukan besok. Kemungkinankemungkinan baik dan
sebaliknya. Namun pada umumnya para peserta pendadaran itu nampak
menjadi cemas. Apalagi setelah mereka melihat peragaan dari para
prajurit dan Pelayan Dalam. Tetapi mereka yang sudah mantap
untuk memasuki lingkungan Pelay an Dalam, m emang bertekad untuk
berbuat sebaik-baiknya dalam pendadaran yang akan dimulai
esok. Ketika malam menjadi semakin larut, maka anak-anak muda
yang akan mengikuti pendadaran itupun telah berada diatas
pembaringan masing -masing. Tetapi beberapa diantara mereka tidak
segera dapat tidur. Mereka masih saja membayangkan apa yang
akan terjadi esok. Apakah mereka akan dapat lolos dari pendadaran
yang nampaknya cukup berat itu. Tetapi akhirnya menjelang
tengah malam, anak-anak muda itu sudah terlelap. Pagi-pagi benar m
ereka sudah bangun. Sedikit m emanasi tubuh mereka sebelum mereka
mandi dan berbenah diri. Seperti kemarin dan saat mereka mengikuti
pendadaran sebelumnya, maka m erekapun segera dipersilahkan pergi ke
dapur untuk makan pagi. Selanjutnya mereka mendapat kesempatan
beristirahat sejenak. Anak-anak muda itu terkejut ketika mereka
mendengar buny i bende. Mereka tidak segera tahu apa yang harus
mereka lakukan. Tetapi beberapa orang prajurit datang kepada mereka
dan mempersilahkan mereka berkumpul di halaman belakang yang cukup
luas. Ternyata di halaman itu telah siap beberapa orang prajurit dan
Pelayan Dalam yang akan mengatur pendadaran yang segera akan
dilakukan. Seorang perwira telah memanggil nama-nama anak-anak muda
yang akan mengikuti pendadaran itu sesuai dengan urutan jeni snya.
Ada diantara m ereka yang akan m elakukan pendadaran ketrampilan
berkuda dan bahkan menggunakan senjata diatas punggung kuda. Tetapi
ada yang akan menempuh pendadaran kemampuan bidik dengan busur dan
anak panah, paser dan lembing. Bahkan bandil. Senjatayangjarang
dipergunakan. Sedangkan yang lain akan dinilai langsung oleh para
perwira Pelayan Dalam tentang olah kanuragan. Pa da urutan pertama,
Mahisa Pukat dan dua orang yang lain mendapat giliran
mengikuti pendadaran tentang kemampuan bidik dengan busur dan anak
panah serta yang lain. Ber sama beberapa orang prajurit yang akan
menilai kemampuan mereka, maka sekelompok kecil itu telah dibawa
ketempat yang telah dipersiapkan. Demikianlah, ketika terdengar lagi
isy arat suara bende, maka pendadaran itupun segera dimulai menurut
jenisny a. Mahisa Pukat memang tidak banyak m engalami kesulitan. Ia
memiliki kemampuan bidik yang cukup tinggi. Sebenarnya ia
dapat jauh melampaui kemampuan kedua orang kawannya. Tetapi Mahisa
Pukat tidak ingin terlalu menarik perhatian sehingga ia cukup
melampaui keduanya dengan lapisan yang tidak terlalu tebal. Hari
itu, Mahisa Pukat dan kedua temannya meny elesaikan pendadarannya
paling cepat dari kawan-kawannya yang lain. Karena itu maka Mahisa
Pukat dan kedua orang kawannya sempat melihat pendadaran tentang
ketrampilan berkuda. Mereka masih sempat melihat seorang diantara
para peserta yang naik diatas punggung kuda sambil membawa pedang
ditangan dan tombak dengan tali pada landeannya bergantung
dipunggung. Anak muda itu harus menebas dua batang pisang yang
tertancam pada jarak yang tidak begitu jauh. Kemudian anak muda itu
harus melarikan kudanya pada jalur yang telah ditentukan
sambil mengambil t ombak dari punggungnya dan melontarkan pada
sebatang pohon pisang yang lain. Anak-anak muda serta para prajurit
dan Pelay an Dalam yang menyaksikan menjadi berdebar -debar, dari
seorang prajurit Mahisa Pukat mendengar bahwa anak muda yang
terdahulu mampu menebas dua batang pisang. Tetapi ia terlambat
mengambil tombaknya dan melontarkan sasaran. Sejenak kemudian, maka
isyaratpun dibunyikan. Kuda itupun segera melompat, berlari. Dengan
tangkasnya anak muda yang berada di punggung kuda itu menebas
dengan pedangnya. Batang pisang yang pertama memang terpenggal.
Tetapi batang yang kedua ternyata tidak sempat putus meskipun patah.
Kudanya agaknya berlari terlalu jauh dari sasaran. Namun sementara
itu, anak muda itu telah menggapai tombaknya dipunggung. Ia berhasil
menggenggam tangkai tombaknya meskipun tergesa-gesa. Sebenarnya ia
mempunyai kesempatan untuk mengenai sasarannya. Tetapi sekali lagi
ia kurang menguasai kudanya sehingga jaraknya agak t erlalu jauh.
Ketika tombak itu dilepaskan, ternyata tidak mengenai sa saran.
Meskipun demikian yang menonton pendadaran itu bertepuk tangan.
Sementara anak muda itu menjadi berdebardebar dan Bahkan c emas.
Apakah dengan demikian ia dapat dianggap berhasil dalam pendadaran
itu. Hari yang pertama, lewat sedikit tengah hari pendadaran
itupun telah selesai untuk dilanjutkan keesokan harinya dengan
urutan yang berbeda. Dihari berikutnya Mahisa Pukat mendapat
giliran untuk dinilai langsung oleh para prajurit atau Pelayan Dalam
yang bertugas. Sementara itu anak muda yang bertubuh raksasa itu
mendapat giliran untuk menjalani pendadaran kemampuan bidiknya.
Dengan busur dan anak panah, lembing dan bahkan bandil seperti
yang dilakukan Mahisa Pukat dihari pertama itu. Seperti hari
pertama, maka dihari kedua itupun anak-anak muda peserta pendadaran
bangun pagi-pagi. Sedikit pemanasan kemudian mandi dan makan pagi.
Ketika matahari mulai naik, maka pendadaran dihari kedua itupun
segera dimulai. Yang mengejutkan dan tidak dilakukan pada hari
yang pertama adalah, Manggala Pelayan Dalam, Gajah Saraya
sendiri akan melakukan penilaian langsung terhadap anakanak muda
yang mengikuti pendadaran itu dalam sebuah pertandingan. Dalam pada
itu, Mahisa Pukat masih berdiri termangumangu diarena. Ia tidak tahu
apa yang harus dilakukannya. Sementara itu, diarena yang
lain, pertandingan masih berlangsung antara para prajurit dan Pelay
an Dalam yang bertugas dengan anak-anak muda yang sedang mengalami
pendadaran. Seorang prajurit kemudian telah mendekati Mahisa Pukat
sambil berkata ”Pertandingan sudah selesai. Kau dapat meninggalkan
arena.” Mahisa Pukat termangu-mangu. Dipandanginya prajurit itu
sejenak. Kemudian beberapa orang yang masih berada disekitar arena.
Namun Gajah Saraya dan Arya Kuda Cemani telah m elangkah
meninggalkan arena pertandingan. Mereka seolah-olah tidak
mempedulikan lagi Mahisa Pukat yang termangu-mangu. Akhirnya Mahisa
Pukatpun meninggalkan arena itu pula. Seorang prajurit yang
pernah bertugas menjaga jalur jalan bagi para calon pada pendadaran
tataran pertama yang melihat Mahisa Pukat menangkap benda yang
dibungkus dengan kain putih yang dipergunakan untuk mengganggu
anak-anak muda yang sedang menelusuri jalur pendadaran dimalam hari,
mendekatinya sambil berdesis ”Sejak kau menelusuri jalan pada
pendadaranmu tataran pertama aku sudah melihat kelebihanmu.” “Aku
tidak mempunyai kelebihan apa-apa.” jawab Mahisa Pukat. “Tentu ada.
Manggala Pelay an Dalam itu memerlukan untuk melakukan pendadaran
langsung atasmu, tentu ada sebabnya. Justru karena ia melihat
kelebihanmu maka ia merasa perlu untuk meyakinkannya. Hal itu hanya
dapat dilakukan dengan cara yang dipilihnya itu. Nampaknya ia
menjadi puas karenanya.” “Ah, aku kira bukan karena itu. Bahkan
mungkin Manggala Gajah Saraya merasa kecewa setelah melakukan
pendadaran langsung atasku tadi.” desis Mahisa Pukat. Tetapi
prajurit itu tertawa. Katanya ”Tidak ada seorangpun diantara para
calon. Bahkan para prajurit dan Pelay an Dalam yang memiliki
landasan kemampuan ilmu sebagaimana kau. Kau tidak usah merasa
segan. Bukankah kami terbiasa menilai kemampuan para calon prajurit
atau Pelay an Dalam. Aku bertugas seperti ini bukan untuk yang
pertama kali. Tetapi baru pertama kali aku m elihat seorang anak
muda m emiliki kemampuan setinggi kemampuanmu. Karena itu, maka
Manggala Pelay an Dalam itu tertarik untuk turun sendiri ke arena.”
Mahisa Pukat m enarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab
lagi. Sementara itu, pertandingan yang lain masih b erlangsung.
Demikian pula pendadaran pada jenis yang lain. Kemampuan bidik
dan kemampuan naik kuda serta kemampuan mempergunakan berbagai jenis
senjata. Mahisa Pukat yang masih belum mey akini apa
yang dikatakan oleh Manggala Pelayan Dalam itupun kemudian
telah melangkah mendekati arena-arena pertandingan. Dilihatnya
beberapa orang anak muda masih bertanding. Para prajurit dan Pelayan
Dalam yang melakukan pendadaran langsung itu ternyata cukup
berhati-hati. Mereka berusaha untuk memancing kemampuan tertinggi
dari para calon Pelay an Dalam itu, agar m ereka dapat menilai,
apakah anakanak muda itu memiliki landasan dasar yang cukup bagi
seorang Pelayan Dalam. Beberapa orang prajurit yang semula melihat
pertandingan antara Mahisa Pukat dengan Manggala Pelayan dalam yang
kemudian melihat pertandingan yang lain, dengan serta merta
menilai bahwa ilmu yang dimiliki Mahisa Pukat jauh berada di atas
kemampuan mereka. Namun para prajurit itu masih m enunggu. Besok
Mahisa Pukat akan melakukan pendadaran jenis kemampuan berkuda dan
dihari berikutnya kemampuan mempergunakan segala jenis senjata dan
bahkan senjata dengan benda-benda seadanya. Mahisa Pukat sendiri
juga tidak begitu tertarik melihat pertandingan yang masih
berlangsung. Hampir diluar kehendaknya maka Mahisa Pukatpun berjalan
menyusuri tempat pendadaran yang luas itu. Disudut yang lain,
beberapa orang anak muda nampaknya sudah m endekati peny elesaian.
Mereka sedang menempuh pendadaran kemampuan mempergunakan senjata
bidik. Termasuk lembing dan bandil. Dibagian lain, beberapa orang
menjalani pendadaran kemampuan mereka berkuda dan mempergunakan
senjata selagi memacu kuda. Mahisa Pukat terhenti dipinggir arena.
Dua orang prajurit mendekatinya. Seorang diantara mereka berdesis ”
Jenis pendadaran yang paling sulit. Mudahmudahan kau mampu m
elakukannya, karena pada jenis yang lain, kau memiliki kelebihan.”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Tidak ada kelebihan
apa-apa.” Kedua orang prajurit itu tertawa. Namun perhatian
merekapun kemudian sepenuhnya tertuju ke arena. Seorang anak muda
dengan tangkasnya memacu kudanya. Ditangan kanannya tergenggam
sebilah pedang yang tajam. Sebatang pohon pisang ditebasnya
sehingga putus dibatas setinggi leher seseorang yang tubuhnya
sedang. Kemudian batang pisang yang keduapun ditebasny a
putus. Namun kemudian, ternyata ia agak terlambat menggapai
tombaknya yang tersangkut dipunggungnya. Ketika ia siap untuk
melemparkan tombaknya, sasarannya sudah lewat meskipun baru satu dua
langkah. Tetapi anak muda itu m elemparkan tombaknya pula dan
tertancap ditanah selangkah dari sa saran. Mahisa Pukat mengamati
pendadaran ketangkasan berkuda dan olah senjata itu sambil
mengangguk-angguk kecil. Hasil pengamatannya sejak hari pertama
memberi isyarat kepadanya, bahwa kebanyakan anak-anak muda
yang sedang menjalani pendadaran dalam jeni s ketangkasan
berkuda dan olah senjata itu terlambat meluncurkan tombaknya “Harus
ada cara yang dapat mengatasi kelambatan itu” berkata Mahisa Pukat
didalam hatinya. ”Penempatan tombak itu atau sedikit memperlambat
lari kudanya.” Sambil merenungi kemungkinan-kemungkinan yang dapat
dilakukan apabila esok ia mendapat giliran melakukannya, Mahisa
Pukat masih juga merenungi kata-kata Manggala Gajah Saraya, bahwa ia
akan dapat diangkat menjadi pemimpin kelompok dari para Pelayan
Dalam yang baru yang nanti akan diangkat dari antara mereka
yang mengikuti pendadaran itu. “Apakah aku tidak salah
dengar?” desis Mahisa Pukat didalam hatinya. Demikianlah maka Mahisa
Pukatpun telah meninggalkan arena pendadaran ketrampilan berkuda
itu. Iapun kemudian berdiri disebelah arena tempat anak-anak muda
yang mengikuti pendadaran kemampuan m empergunakan senjata apa saja.
Ia m elihat beberapa orang anak muda itu dengan tangkasnya
memperbainkan berbagai macam senjata. Namun yang sebenarnya bagi
Mahisa Pukat sama sekali tidak mengherankannya. Ia mampu berbuat
jauh lebih baik dari mereka. Namun seperti pesan ayahnya, bahwa ia
tidak perlu menunjukkan kemampuannya berlebih-lebihan. Baginya cukup
menunjukkan kemampuannya yang pantas bagi seorang Pelay an
Dalam. Jika ia terlanjur menunjukkan tingkat kemampuannya yang
tinggi, justru karena ia terpancing oleh Manggala Pelayan Dalam itu
sendiri dalam pendadaran langsung yang khusus dilakukan
sendiri oleh Gajah Saraya. Namun Mahisa Pukat itu bertanya pula
didalam hatinya ”Seandainya aku besok gagal dalam pendadaran
ketrampilan berkuda, apakah pernyataan Manggala Pelayan Dalam itu
tetap berlaku?” Tetapi Mahisa Pukat itupun kemudian menarik nafas
dalam-dalam sambil berdesis perlahan ”Apapun yang akan
dibebankan kepundakku, asal aku dapat diterima menjadi Pelay an
Dalam. Sasi sudah mengharapkannya justru bagi masa depannya pula.”
Dengan langkah satu-satu Mahisa Pukat menyusuri arena demi arena.
Namun penglihatannya seakan-akan hanya mengambang, meskipun ada juga
satu dua hal yang menarik perhatiannya. Sedikit lewat tengah hari,
maka pendadaran hari itu sudah selesai. Kelompok-kelompok kecil yang
tersebar itupun telah membenahi alat-alat yang dipergunakan untuk
dipergunakan lagi dikeesokan harinya. Ketika anak-anak muda itu
beristirahat, maka mereka sempat pula saling berbincang. Mereka
telah berbicara tentang pendadaran yang baru saja mereka
lakukan. Sebagian m erasa telah berhasil melakukan dengan baik.
Namun yang lain menyesali dirinya sendiri karena yang
dilakukannya dianggapnya kurang memadai. Namun dalam pada itu Mahisa
Pukat lebih banyak diam. Ia hanya mendengarkan saja pembicaraan
kawan-kawannya. Bahkan kadang-kadang ia justru duduk merenung
memandang kekejauhan. Kawan-kawannya memang tidak sempat melihat apa
yang dilakukannya di arena. Anak muda yang bertubuh raksasa
itu mendekatinya sambil bertanya ”Kenapa kau hanya merenung sa ja?
Apakah kau kurang berhasil hari ini?” “Ya” jawab Mahisa Pukat
singkat. “Seseorang melihat kau memasuki arena dalam pendadaran
langsung, bahkan dilakukan sendiri oleh Manggala Gajah Saraya.” “Ya”
jawab Mahisa Pukat. “Bagaimana hasilnya? Sayang yang melihat kau
memasuki arena pertandingan dengan Manggala Gajah Saraya sedang
dalam pendadaran juga sehingga tidak dapat melihat apa yang kau
lakukan menghadapi Manggala Gajah Saraya. Sedangkan para prajurit
dan Pelayan Dalam yang menungguimu tidak mau mengatakan selengkapnya
tentang pendadaran yang kau lakukan.” “Kemampuanmu yang
tinggi agaknya telah menarik perhatiannya” berkata anak muda
bertubuh raksasa itu. “Atau sebalikny a” jawab Mahisa Pukat. “Kau
selalu merendahkan dirimu” berkata anak muda itu. “Aku tidak perlu
merendahkan diriku karena tataranku memang m asih terlalu rendah
”jawab Mahisa Pukat. Tetapi katanya kemudian ”Meskipun demikian, aku
memang ingin diterima dalam lingkungan Pelay an Dalam. Aku m
emerlukan pekerjaan itu. Bukan saja sebagai satu pengabdian, tetapi
juga penting bagi masa depanku sendiri.” “Ya. Aku juga berharap
demikian” jawab anak muda bertubuh raksasa itu ”karena itu, aku ikut
pendadaran ini dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya.” Sementara
itu, maka seorang petugas telah mempersilahkan anak-anak muda itu
untuk makan didapur dan kemudian beristirahat. Besok mereka masih
akan turun kearena yang lain sesuai dengan urutan tugas mereka
masing -masing dalam pendadaran itu. Setelah makan, maka anak-anak
muda itu kembali mendapat kesempatan untuk beri stirahat. Di sore
hari mereka tidak diwajibkan untuk mengikuti pendadaran sebagaimana
pada tataran sebelumnya. Meskipun demikian, maka pendadaran pada
tataran terakhir itu bagi mereka yang mengikutinya merasa cukup
berat. Seperti hari-hari sebelumnya, m aka pada hari berikutnya,
anak-anak muda itu bangun pagi-pagi. Sedikit memanasi tubuh mereka
dengan melakukan gerakan-gerakan ringan, kemudian mandi dan makan
pagi. Hari itu Mahisa Pukat mendapat giliran menempuh pendadaran
dalam hal ketrampilan naik kuda. Seperti kawankawannya yang
telah melakukan sebelumnya, maka iapun harus menunjukkan ketrampilan
berkuda, menguasai kuda dan kemudian mempergunakan senjata sambil
naik kuda. Ketika Mahisa Pukat mendapat giliran untuk menempuh
pendadaran maka para prajurit dan Pelayan Dalam yang kebetulan tidak
mempunyai tugas tertentu telah m emerlukan untuk menyaksikannya.
Mereka m emang menganggap bahwa Mahisa Pukat m emiliki kelebihan
dari anak-anak muda yang lain. Tetapi Mahisa Pukat telah berniat
untuk tidak menunjukkan kelebihannya. Ia akan m elakukan sebagaimana
dilakukan oleh anak-anak muda yang lain. Karena itu, demikian
ia meloncat naik kepunggung kuda, maka ditempuhnya pendadaran itu
tanpa memberikan kesan yang berlebihan. Ia berbuat sebagaimana
anak-anak muda yang lain berbuat. Memutar kudanya diarena,
melarikannya pada jarak tertentu, berbelok kemudian menghentikannya
dengan tiba-tiba sehingga kudanya meringkik sambil berdiri tegak
bertumpu pada kaki belakangnya. Semua yang dilakukan telah
dilakukan oleh kawan-kawannya yang lain. Terakhir Mahisa Pukat
mendapat giliran untuk berpacu diatas punggung kuda sambil bermain
senjata. Dua batang pisang telah disiapkan seperti anak-anak muda
yang mendahuluinya menempuh pendadaran ketrampilan berkuda. Selain
itu juga sebatang bambu yang dibalut dengan onggokan jerami kering
sebagai sa saran lontaran tombak. Mahisa Pukat yang telah melihat
dan mempelajari berbagai kemungkinan dari kawan-kawannya yang
terdahulu, berusaha untuk tidak membuat kesalahan yang sama
tanpa menimbulkan kekaguman yang berlebihan. Kesannya m asih
sa ja dalam batas kewajaran. Demikian isy arat diberikan, maka
Mahisa Pukatpun menyentuh perut kudanya dengan tumitnya, sehingga
kudanya berlari cepat melalui jalur yang sudah ditentukan.
Dengan tangkasnya Mahisa Pukat menebas kedua batang pohon pisang.
Namun kemudian ia sedikit memperlambat kudanya tanpa menarik
perhatian, justru saat kudanya berputar kearah batang bambu
yang dibalut dengan onggokan jerami agar tombak yang
dilontarkan dapat menancap. Pa da saat yang bersamaan, Mahisa Pukat
meraih tombak yang tergantung pada seutas tali dipunggungnya.
Ternyata Mahisa Pukat tidak terlambat. Kudanya yang berlari
agak jauh dari batang bambu itu telah diarahkan lebih mendekat.
Kecuali sa sarannya menjadi lebih mudah digapai, juga ia mendapat
kelebihan waktu meskipun hanya sekejap. Dengan tangkasnya Mahisa
Pukat tidak melontarkan tombaknya kesasaran, tetapi seakan-akan ia
telah menusukkan tombaknya langsung ke songgakan jerami yang
membungkus patok bambu itu. Ternyata Mahisa Pukat berhasil.
Tombaknya telah tertancap pada sasaran. Dengan serta merta para
prajurit dan Pelay an Dalam yang menyaksikan telah bertepuk
tangan, sehingga beberapa orang anak muda yang sedang menjalani
pendadaran diarena yang lain telah berpaling. Ketika mereka melihat
Mahisa Pukat masih dipunggung kuda, maka merekapun menganggukangguk
kecil. Bagi mereka dan para prajurit dan Pelay an Dalam m emang
tidak ada orang yang lain yang pantas untuk mendapat pujian
lebih dari yang lain kecuali Mahisa Pukat. Demikianlah maka
pendadaran itupun telah dilanjutkan dengan anak muda berikutnya.
Sementara yang lain telah mengikuti pendadaran yang lain
lagi. MahisaPukatpun telah beralih diarena yang lain untuk
melakukan pendadaran kemampuan mempergunakan senjata apa saja.
Bahkan dengan alat apapun yang diketemukan. Ternyata sekali lagi
Mahisa Pukat telah dikagumi oleh para prajurit dan Pelay an Dalam
yang menungguinya meskipun mereka tidak memujinya dengan serta
merta. Lewat tengah hari, maka pendadaran itupun telah dapat
diselesaikan. Semua anak muda yang m engikuti pendadaran pada
tataran terakhir itu telah meny elesaikan kewajiban mereka. Semua
jenis yang harus ditempuh dalam pendadaran itu telah ditempuh,
sehingga m ereka tinggal m enunggu hasil dari pendadaran itu.
Sepuluh orang diantara mereka akan diterima menjadi calon Pelayan
Dalam di istana Singasari. Tetapi ternyata pendadaran itu masih
belum selesai. Diluar rencana maka Manggala Pelayan Dalam telah
mengumumkan, bahwa esok pagi masih ada satu lagi pendadaran.
Ketrampilan mempergunakan senjata diatas punggung kuda. Mahisa Pukat
m enjadi sangat terkejut ketika ia mendengar pengumuman bahwa
pendadaran itu, khusus ditujukan bagi Mahisa Pukat saja dan akan
dilakukan langsung oleh Manggala Pelayan Dalam, Gajah Saraya. Semua
anak muda yang ikut dalam pendadaran itu saling bertanya diantara
mereka, kenapa akan dilakukan pendadaran khusus bagi Mahisa Pukat.
“Apakah Mahisa Pukat itu meragukan sehingga harus mengalami
pendadaran ulang sebagaimana pada pendadaran tataran kedua? Sehingga
justru Manggala Pelayan Dalam sendiri akan melakukan pendadaran
khusus itu?” bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu. Tetapi
tidak seorangpun yang dapat menjawab. Bahkan para prajurit dan
Pelayan Dalampun tidak tahu kenapa tibatiba saja Manggala Pelay an
Dalam akan melakukan pendadaran khusus itu. Mahisa Pukat sendiri m
enjadi termangu-mangu. Ia tidak tahu kenapa hal seperti itu dapat t
erjadi. Namun yang pertama-tama dipikirkannya adalah bahwa Manggala
Pelay an Dalam itu mempunyai rencana khusus baginya. Mahisa Pukat
memang meragukan pernyataannya bahwa Mahisa Pukat akan diangkat m
enjadi pemimpin kelompok Pelayan Dalam. Tetapi yang terpikir
kemudian adalah itu hanya sekedar alasan semata-mata. Prasangka
buruknya tiba -tiba saja t elah timbul kembali. Dalam pendadaran
khusus itu Gajah Saraya akan menjatuhkannya sehingga akan nampak
bahwa ia tidak pantas untuk menjadi seorang Pelayan Dalam. “Jika ia
berniat demikian, maka aku justru tidak akan surut selangkahpun.
Perang tandingpun akan aku hadapi. Meskipun aku kemudian tidak akan
diangkat menjadi Pelayan Dalam, namun namaku tidak akan tercemar
karenanya” tekad yang pernah timbul didalam dadanya itupun tiba
-tiba pula telah muncul kembali. Hari itu, ketika saatnya anak-anak
muda itu beristirahat, maka Mahisa Pukat menjadi semakin diam.
Beberapa orang memang menemuinya dan bertanya kenapa ia harus
menjalani pendadaran khusus. Namun Mahisa Pukat selalu menjawab
sambil menggeleng ”Aku tidak tahu.” “Apakah hasil yang kau dapat
hari ini meragukan?” bertanya anak muda yang lain. “Entahlah. Tetapi
aku juga merasa heran bahwa aku harus melakukan pendadaran ulang.
Ketika aku mendalaminya pada tataran kedua, aku tahu persis ala
sannya. Tetapi sekarang tidak sama sekali,” jawab Mahisa Pukat.
Kawan-kawannya hanya dapat mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak
bertanya lagi, karena merekapun mengetahui bahwa Mahisa Pukat
sendiri menjadi bingung karenanya. Manggala Gajah Saraya memang
tidak memberitahukan kenapa hal itu harus dilakukan. Karena itu maka
para prajurit yang lain sama sekali tidak dapat memberikan
keterangan apapun dengan rencana itu.. Tetapi hal itu justru sangat
m enarik perhatian. Bukan saja anak-anak muda yang mengikuti
pendadaran, tetapi juga para prajurit dan Pelayan Dalam yang
telah ditunjuk untuk ikut serta meny elenggarakan pendadaran itu.
Mahisa Pukat sendiri memang m enjadi gelisah. Ia merasa seakan-akan
setiap mata m emandang kearahnya. Baik anakanak muda yang meny ertai
pendadaran itu, maupun para prajurit dan Pelay an Dalam. Sehingga
rasa -rasanya ia menjadi pusat perhatian dari semua orang yang ada
disekitarnya. Namun ketika malam turun dan Mahisa Pukat telah berada
di pembaringannya, maka sulit pula baginya untuk segera memejamkan
matanya. Ia masih saja dibayang i oleh berbagai macam pertanyaan
tentang pendadaran khusus yang akan dilakukannya esok. Demikianlah,
maka pagi-pagi semua anak-anak muda peserta pendadaran itupun telah
siap seperti hari -hari sebelumnya. Ketika matahari memanjat langit,
semuanya sudah berkumpul di halaman belakang yang luas itu.
Yang ter sedia hanyalah dua ekor kuda yang tegar dan berbagai jeni s
senjata. Manggala Gajah Saraya telah memerintahkan untuk m
enempatkan beberapa jenis senjata itu pada batang-batang pisang
yang ditancapkan dibeberapa tempat diarena yang luas
itu. Tombak pendek, pedang, parang, trisula, canggah, peri sai dan
bahkan cambuk dan rantai. Mahisa Pukat m emang m enjadi
berdebar-debar. Ia tidak tahu m aksud Manggala Pelayan Dalam itu.
Apakah dengan demikian Manggala itu ingin meny ingkirkannya dengan
caranya atau bahkan membunuhnya sama sekali. Untuk menghilangkan
kesan dan beban tanggung jawab, maka hal itu dilakukannya justru
ditempat terbuka. Seakan-akan ia tidak sengaja melakukannya. Ketika
kemudian Gajah Saraya memasuki arena, maka suasana memang m enjadi
tegang. Mahisa Pukatpun menjadi berdebar-debar. Tanpa isy arat bende
atau tanda -tanda lainnya, maka Gajah Saraya itu langsung m emanggil
Mahisa Pukat. “Kita akan segera mulai” berkata Gajah Saraya
”kaudapat memilih kuda yang mana yang akan kau
pergunakan.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sambil
mengangguk hormat ia menyahut ”Aku dapat mempergunakan yang manapun
yang diperuntukkan bagiku.” “Bagus” berkata Gajah Saraya ”jika
demikian maka kita akan segera dapat mulai.” Namun Mahisa Pukat
masih bertanya ”Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mengerti
peraturan yang dipergunakan dalam pendadaran kali ini.” Gajah
Saraya mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil
menjawab ”Tanpa ketentuan apapun yang diberitahukan kepadamu,
melihat apa yang ada di arena ini kau tentu sudah tahu, apa
yang harus kau kerjakan.” Mahisa Pukat memandang berkeliling. Ia
hanya melihat kuda dan senjata-senajta yang tertancap di
batang-batang pisang yang dipancang dipinggir-pinggir arena.
“Marilah” berkata Gajah Saraya yang nampaknya menjadi tidak sabar.
Mahisa Pukat memang tidak dapat m enunggu lebih lama. Ketika
kemudian Gajah Saraya meloncat naik ke punggung kuda, maka Mahisa
Pukatpun telah meloncat pula ke punggung kuda yang lain. Demikian
Mahisa Pukat duduk, maka Gajah Saraya itu mendekatinya sambil
berkata perlahan ”Aku memerlukan bantuanmu. Kau harus melawan
sebaik-baiknya. Kau harus membuktikan bahwa kau adalah calon yang
terbaik, yang pantas untuk menjadi pemimpin kelompok dari anak-anak
muda yang akan diangkat menjadi Pelay an Dalam. Bahkan kau
harus menunjukkan bahwa kau lebih baik dari Pelayan Dalam yang ada,
agar mereka tidak dapat menjadi iri hati, bahwa yang diangkat
menjadi pemimpin kelompok adalah orang baru. Bukan salah seorang
dari m ereka yang telah lebih lama menjadi Pelay an Dalam.” Mahisa
Pukat tanpa disadarinya telah menangguk men-giakan. Namun
sebenarnyalah ia memang raguragu. Ia m asih saja berprasangka buruk
terhadap Gajah Saraya. Jika ia benar-benar melawannya, maka jika
terjadi sesuatu atas dirinya, maka itu adalah kecelakaan. Tetapi
Mahisa Pukat memang tidak dapat berpikir panjang. Gajah Saraya
itupun kemudian berkata ”Ambil senjatamu. Aku akan mengambil
senjataku.” Mahisa Pukat tidak mempunyai kesempatan untuk bertanya.
Ia melihat Gajah Saraya telah memacu kudanya untuk memungut senjata
yang akan dipergunakannya. Ternyata Mahisa Pukat pun tidak
kalah tangkasnya dari manggala pelayan dalam. Demikian Gajah Saraya
mengambil sebatang tombak pendek, maka Mahisa Pukat sudah
menggenggam sebatang pedang. Memang timbul niatnya untuk mengambil
senjata yang lain. Tetapi Gajah Saraya telah memutar kudanya
untuk sekali lagi menyerang. Sejenak k emudian maka Mahisa Pukat
benar-benar harus bertahan dengan duduk dipunggung kuda. Gajah
Saraya menyerangnya dengan tangkas dan kuat. Untuk beberapa saat
Mahisa Pukat bertahan, tetapi terasa pedangnya mulai goy ah. Ia
sadar, bahwa sejenak kemudian pedangnya tentu akan terlepas dari
tangkainya. Untuk sementara Mahisa Pukat memang masih dapat
bertahan. Tetapi ketika terjadi benturan yang keras, maka pedangnya
benar-benar terlepas dari tangkainya dan jatuh beberapa langkah dari
kudanya. Mahisa Pukat tidak akan mungkin memungut pedangnya yang
sama saja dengan patah itu. Yang ada di tangannya tinggal hulunya
saja. Ju stru pada saat yang demikian Gajah Saraya telah
menyerangnya. Ujung tombaknya benar-benar m engarah ke jantungnya.
Mahisa Pukat tidak sempat berbuat banyak. Ujung tombak digenggaman
Gajah Saraya itu seolah-olah telah meluncur dengan cepatnya mematuk
ke arah jantung. Anak-anak muda yang menyaksikan pendadaran
itu menjadi berdebar -debar. Bahkan para prajurit dan Pelay an Dalam
pun seakan-akan telah menahan nafasnya. Pendadaran itu terlalu
berbahaya bagi seorang calon Pelayan Dalam yang masih muda itu.
Betapapun ia memiliki kelebihan, namun kemudaannya tentu masih belum
memberinya kesempatan untuk mendapatkan pengalaman yang cukup.
Karena itu, maka Mahisa Pukatpun telah melakukannya pula. Karena ia
terbiasa bersenjata pedang, maka iapun telah memacu kudanya untuk
mengambil sebatang pedang yang tertancap disebatang pohon pisang,
sementara Gajah Saraya telah mengambil sebatang tombak pendek.
Ternyata Mahisa Pukatpun tidak kalah tangkasnya dari Manggala Pelay
an Dalam. Demikian Gajah Saraya mengambil sebatang tombak pendek,
maka Mahisa Pukat sudah menggenggam sebatang pedang. Tetapi Mahisa
Pukat terkejut. Ternyata pedang itu terlalu ringan, sehingga Mahisa
Pukatpun menduga bahwa bahan yang dibuat pedang itupun bukan bahan
yang baik. Tidak seperti pedang yang ada di padepokan. Meskipun
pedang itu ujudnya besar dan panjang tetapi bobotnya terhitung
ringan, namun terasa bahwa pedang itu kokoh dan kuat. Tetapi sekali
lagi Mahisa Pukat tidak mendapat kesempatan. Gajah Saraya telah meny
erangnya. Kudanya berpacu dengan tombak yang teracu mengarah
ke dadanya. Mahisa Pukat memang tidak dapat berbuat lain. Jika ia
membiarkan ujung tombak itu mengoyak dadanya, m aka ia benar-benar
akan mati di arena pendadaran itu. Karena itu, maka kudanyapun telah
bergerak pula, justru meny ongsong kuda Gajah Saraya. Demikianlah
ketika kedua ekor kuda itu bertemu, maka gajah Saraya benar-benar
telah menyerang Mahisa Pukat. Tetapi dengan tangkasny a, Mahisa
Pukat menangkis serangan itu. Nalurinya telah menggerakkan pedangnya
untuk melindungi jiwanya. Tetapi ketika terjadi benturan, maka
Mahisa Pukat segera merasa, bahwa pedangnya memang pedang yang tidak
t erlalu kuat. Sementara itu, Gajah Saraya telah melarikan kudanya
mendekati Mahisa Pukat yang kehilangan senjatanya. Namun ia masih
menggenggam hulu pedang yang sudah kehilangan daunnya. Namun
demikian Gajah Saraya mendekat, maka tiba -tiba saja Mahisa Pukat
telah m elemparkan hulu pedang itu. Tidak mengarah kepada Gajah
Saraya yang berada dipunggung kudanya, tetapi justru kearah kuda itu
sendiri. Gajah Saraya tidak sempat menangkis lontaran hulu pedang
itu. Karena itu ketika hulu pedang itu mengenai leher kuda Manggala
Pelay an Dalam itu dengan kekuatan yang sangat besar, maka kuda
itupun terkejut sehingga melonjak tinggi berdiri dikedua kaki
belakangnya. Gajah Saraya memang terkejut. Ia tidak sempat
mempermainkan tombak pendekny a Tetapi ia harus dengan cepat
menguasai kudanya yang meringkik dengan gelisah. Mahisa Pukat
mempergunakan kesempatan itu sebaikbaiknya Dengan cepat Mahisa Pukat
melarikan kudanya menepi. Meny ambar sebuah senjata yang
terdekat. Parang. Meskipun parang itu bukan senjata yang terbaik
baginya, tetapi ia tidak sempat memungut senjata yang lain yang
tertancap pada batang-batang pisang yang berjajar ditepi
arena, sementara Gajah Saraya sudah menguasai kudanya dan mulai meny
erang lagi. Ternyata parang itu justru lebih kuat dari pedang
yang telah terlepas dari tangkainya itu. Karena itu, maka
dengan tangkasnya Mahisa Pukat telah bertanding melawan Gajah
Saraya. Tombak pendek ditangan Manggala Pelayan Dalam itu
menyambar-ny ambar dengan cepatnya. Kemudian berputar dengan cepat
seperti baling-bahng. Tetapi Mahisa Pukatpun tangkas pula
mempermainkan parangnya Ia menutup setiap kemungkinan ujung tombak
Gajah Saraya menyentuh tubuhnya, sementarantu tangannya yang lain
dengan tangkas pula mempermainkan kendali kudanya. Dengan demikian
maka pertandingan itu menjadi sema kin lama semakin menegangkan.
Keduanya mampu bergerak cepat dan tangkas. Parang Mahisa Pukat m
emang lebih baik dari pedang yang dipergunakan sebelumnya
meskipun parang itu terlalu pendek baginya. Tetapi semakin lama,
parang itupun mulai m enjadi g oy ah seperti senjatanya yang
terdahulu. Dengan demikian Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Jika
parangnya juga patah seperti pedangnya, maka ia harus mendapatkan
senjata yang lain yang harus dipungutnya pula dari
batang-batang pisang itu. Tetapi Mahisa Pukat yang sudah
berpengalaman itu berusaha untuk memancing lawannya bertempur
semakin menepi. Selagi parangnya masih sempat dipergunakannya. Namun
betapapun Mahisa Pukat menahan diri, tetapi kesabarannya memang
terbatas. Dua kali senjatanya tidak mampu bertahan terhadap tombak
pendek Gajah Saraya. Bukan karena kemampuannya yang tidak
memadai. Tetapi karena senjatanyalah yang tidak dapat mendukung
kemampuannya. Menurut dugaan Mahisa Pukat, maka senjata-senjata
yang lainpun tentu tidak akan dapat dipergunakannya dengan
baik. Kapak, trisula, canggah dan t ombak yang tertancap di batang
pisang itu tentu akan dengan mudah patah atau retak atau tajamnya
yang terlepas. Karena itu, maka yang menarik perhatian
Mahisa Pukat adalah justru sebatang tongkat kayu yang tidak t
erlalu panjang. Kayu yang nampaknya potongan sebuah cabang
pohon jambu keluthuk. Tongkat kayu yang masih belum kering benar itu
agaknya akan dapat dipergunakan dengan lebih baik daripada
senjata-senjata lain yang ter sedia, karena agaknya batang kayu
jambu keluthuk itu langsung dipotong dari dahannya. Seandainya kayu
itu sudah dikerat dan patah, maka ia masih akan dapat mempergunakan
potonganpotongannya untuk melawan tombak Gajah Saraya. Karena itu,
ketika Mahisa Pukat merasa bahwa parang ditangannya itu m ulai
goyang, iapun segera berusaha untuk mendekati sebatang kayu jam bu
keluthuk yang disandarkan pada sebatang pohon pisang. Namun parang
itu sudah m enjadi semakin goyah. Karena itu, maka dengan
mengerahkan kemampuannya Mahisa Pukat berusaha menusuk menyusup
pertahanan tombak Gajah Saraya. Serangan itu memang bukan serangan
yang berbahaya. Tetapi Gajah Saraya harus menangkis serangan
itu sambil menguasai kudanya. Dengan tangkasnya, maka Mahisa
Pukatpun berputar. Cepat sekali. Keduanyapun kemudian berlari menuju
ke batang pisang dipinggir arena. Dengan tangkasnya Mahisa Pukat
menyambar t ongkat itu dan kemudian melarikan kudanya berputar
mengambil jarak. Gajah Saraya memang memburunya. Namun sambil
melarikan kudanya Mahisa Pukat sempat melihat tongkatnya yang
agaknya memang utuh. Tetapi tidak lebih dari sebatang kayu biasa.
Demikianlah, maka sejenak kemudian Mahisa Pukat justru menjadi
semakin mantap. Ia sekali lagi memutar kudanya langsung menghadapi
kuda Gajah Saraya. Sementara itu Gajah Saraya sudah menjadi semakin
dekat dengan ujung tombaknya mengarah kedada Mahisa Pukat. Tetapi
Mahisa Pukat sudah menjadi mantap. Ia menggerakkan kudanya berkisar
dari garis semula. Sedikit sa ja. Tetapi arah kuda Gajah Saraya
memang berubah. Dengan demikian maka ujung tombak Gajah Sarayapun
telah berubah bergeser pula dari sa saran. Dengan cepat Gajah Saraya
harus menguasai kudanya untuk mendapatkan arah sesuai dengan
berkisarnya kuda Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Pukat sudah siap
menghadapi segala kemungkinan dengan tongkat kayu jambu keluthuknya.
Ketika ujung tombak Gajah Saraya menyambarnya, dengan tangkasnya ia
menangkis, kemudian memutar tongkatnya sehingga pangkalnya justru
menusuk kearah lambung Gajah Saraya. Mahisa Pukat memang berniat
untuk benar-benar memberikan perlawanan sebagai mana diharapkan oleh
Gajah Saraya sendiri, sementara itu kesabarannyapun semakin larut
pula justru karena dua kali ia telah mendapatkan senjata yang
nampaknya dengan sengaja telah dibuat cacat. Sementara itu
serangan-serangan Gajah Saraya rasa -rasanya benar-benar berbahaya
baginya. Tetapi ketika Mahisa Pukat benar-benar mendapat kesempatan,
ternyata ia tidak dapat benar-benar menyakiti Manggala Pelayan Dalam
itu. Tongkatnya memang mampu menembus pertahanan Gajah Saraya.
Tetapi Mahisa Pukat justru menahannya, sehingga sentuhan tongkatnya
pada lambung Gajah Saraya tidak menggoyahkan daya tahannya. Namun
Gajah Saraya sendiri tidak ingkar. Ia merasa lambungnya tersentuh
pangkal tongkat Mahisa Pukat. Demikianlah sejenak kemudian maka
pertandingan itu menjadi semakin sengit. Kedua ekor kuda dengan
penunggangnya masing-masing itu berlari-larian saling menyambar.
Bahkan kadang-kadang saling meny ilang dan hampir berbenturan.
Ternyata keduanya adalah penunggang kuda yang tangkas.
Sementara kedua ekor kuda itu adalah kuda-kuda yang tegar dan kuat,
sehingga pertandingan itu telah m embuat mereka yang menyaksikan
menjadi berdebar-debar. Para prajurit dan Pelayan Dalam yang ada
disekitar arena itu menyaksikan pertandingan itu dengan tegang.
Mereka tidak melihat pendadaran di arena itu. Tetapi yang terjadi
menurut penglihatan mereka adalah benar-benar sebuah pertempuran
antara hidup dan mati. Namun sebenarnyalah mereka benar-benar
mengagumi anak muda yang sedang m engikuti pendadaran itu. Apa yang
mereka lihat, bukan sekedar seorang calon Pelay an Dalam yang sedang
mengikuti pendadaran. Tetapi seorang yang berilmu tinggi sedang
melakukan semacam perang tanding. Untuk beberapa saat mereka
yang berada dipinggir arena itu menyaksikan pertandingan itu
dengan hampir tidak berkedip. Jantung mereka rasa-rasanya berdetak
semakin cepat didalam dada mereka. Apalagi anak-anak muda yang
mengikuti pendadaran. Mereka rasa-rasanya tidak mengerti apa yang
sedang mereka sak sikan. Mereka hanya dapat m engikuti dua ekor kuda
yang berlari-larian. Senjata yang saling menyambar dan
menangkis. Mereka harus menahan nafas ketika mereka melihat ujung
tombak Gajah Saraya yang tajam itu menyambar Mahisa Pukat.
Jika ujung tombak itu meny entuhnya maka Mahisa Pukat tentu benar
-benar akan terluka. Sehingga pendadaran itu merupakan pendadaran
yang sangat berbahaya. Tetapi Mahisa Pukat sendiri sama sekali tidak
menjadi cemas. Sejak semula ia sudah m erasa, bahwa ia akan mampu
mengimbangi ketangkasan Manggala Gajah Saraya. Meskipun ia hanya
bersenjata tongkat kayu jambu keluthuk sebesar dan sepanjang landean
tombak Gajah Saraya, namun bagi Mahisa Pukat justru lebih baik dari
pedang atau parang yang goy ah. Dengan tongkatnya, Mahisa
Pukat telah beberapa kali mampu meny entuh tubuh Gajah Saraya.
Tetapi setiap kali Mahisa Pukat menahan tenaganya, sehingga sentuhan
itu sama sekali tidak m embahayakan Manggala Pelayan Dalam itu.
Gajah Saraya sendiri bukannya tidak m erasakan sentuhansentuhan itu.
Bahkan ia mulai memperhitungkan, kemungkinan-kemungkinan lain
yang dapat terjadi. Gajah Saraya merasakan bahwa
sentuhan-sentuhan ujung tongkat Mahisa Pukat semakin lama m enjadi
semakin keras, sehingga pada suatu saat, sentuhan itu akan
benar-benar mampu melemparkannya dari punggung kudanya. Gajah Saraya
yang bertanding dengan Mahisa Pukat itu benar-benar m erasa heran.
Ternyata anak yang masih muda itu benar-benar seorang yang
sangat tangkas. Jika ia dapat mengimbangi kemampuan Senapati Sawung
tuwuh, ternyata bukan hanya sekedar pujian yang pernah didengarnya.
Juga perang tanding yang pernah dilakukannya dengan mPu Damar.
Gajah Saraya yang benar-benar ingin menguji kemampuan Mahisa
Pukat itu m emang tidak dapat berbuat lain kecuali mengakui bahwa
Mahisa Pukat adalah anak muda yang luar biasa. Yang terjadi selama
pendadaran telah membuat Gajah Saraya semakin mengaguminya pula.
Anak muda yang berilmu sangat tinggi itu sama sekali tidak berniat
untuk meny ombongkan dirinya. Ia justru selalu menahan diri untuk
berada pada tataran yang sejajar dengan kawan-kawannya. Hanya
sedikit kelebihan yang ditunjukkan agar ia dapat diterima diantara
sepuluh orang terbaik diantara anak-anak muda yang mengikuti
pendadaran itu. Sementara itu pendadaran itu masih berlangsung.
Gajah Saraya memang ingin melihat sejauh dapat dilakukan. Ia telah
memancing agar Mahisa Pukat menunjukkan kelebihannya bukan saja
kepada kawan-kawannya peserta pendadaran. Tetapi juga para prajurit
dan Pelayan Dalam. Gajah Saraya memang berhasil memancing agar
Mahisa Pukat meningkatkan kemampuannya sampai pada suatu tataran
yang melampaui kemampuan para peserta pendadaran dan bahkan
para prajurit dan Pelay an Dalam yang ikut serta dalam
tugas-tugas pendadaran itu. Juga mereka yang melakukan pendadaran
langsung bagi para peserta itu. Para prajurit dan Pelayan Dalam itu
sempat berkata kepada diri sendiri ”Untunglah bahwa bukan aku
yang harus melakukan pendadaran langsung atas anak muda itu.”
Sebenarnyalah Mahisa Pukat memang menyadari, bahwa yang dilakukan
itu sudah terlalu jauh diatas tataran seorang Pelay an Dalam. Namun
ia tidak dapat berbuat lain. Ia tidak mau namanya menjadi cemar
karena kegagalannya mengikuti pendadaran meskipun terasa bahwa
pendadaran itu sudah tidak wajar lagi. Tetapi Mahisa Pukat memang
tidak tahu, alasan apakah yang menjadikan pendadaran itu tidak
wajar. Sementara itu, pendadaran itupun masih berlangsung. Yang
menyaksikannya semakin menjadi berdebar-debar. Ujung tombak Gajah
Saraya menyambar-nyambar dengan garangnya. Namun tongkat Mahisa
Pukatpun berputar dengan cepatnya. Menangkis setiap serangan dan
bahkan sempat pula membalas meny erang. Namun dalam pada itu,
yang mulai menjadi cemas adalah Gajah Saraya itu sendiri. Ia m
erasakan bahwa Mahisa Pukat masih meningkatkan kemampuannya.
Sementara itu, Gajah Saraya sendiri kemudian meyakini, bahwa Mahisa
Pukat memang seorang yang berilmu sangat tinggi. Bahkan jika
pertandingan itu diteruskan sehingga Mahisa Pukat kehilangan
kesabarannya, maka Mahisa Pukat akan mungkin benar-benar m
engalahkannya. Jika Mahisa Pukat kemudian salah paham atas maksudnya
karena tekanan-tekanan yang diberikannya, maka anak muda itu akan
benar-benar marah. Karena itu, maka selagi keadaan masih nampak
seimbang, maka Gajah Saraya harus menghentikan pendadaran itu.
Meskipun semula Gajah Saraya masih berharap-untuk dapat menundukkan
Mahisa Pukat karena senjata yang dipergunakannya bukan senjata
yang baik setelah ia berhasil memancing anak muda itu sampai
ketingkat yang lebih tinggi, namun ternyata Mahisa Pukat dapat
m emecahkan hambatan dari senjata-senjata yang disediakan. Karena
itu, maka ketika ketegangan menjadi semakin memuncak, maka Gajah
Sarayapun kemudian berusaha untuk menghindar dan m engambil jarak
sambil berkata ”Tahanlah Mahisa Pukat. Tahan dirimu.” Mahesa Pukat m
endengar seruan itu. Untunglah bahwa ia masih sempat mengendalikan
dirinya, sehingga karena itu, maka ia berusaha untuk menghindarkan
diri dari benturanbenturan yang dapat terjadi. Kedua ekor kuda itu
nampak memang saling menjauh. Keduanya berusaha mengambil jarak,
sementara Gajah Saraya telah melemparkan tombaknya dari jarak
yang cukup jauh kearah sebatang pohon pisang yang ada
dipinggir arena. Dengan tepat tombak itu menancap pada batang pisang
itu setinggi dada. Mahisa Pukat memang termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian iapun bergeser menepi dan menyandarkan tongkatnya pada
sebatang pohon pisang pula. Manggala Gajah Saraya yang melihat
Mahisa Pukat menepi dan m eletakkan tongkatnya, telah bergeser
ketengah-tengah arena. Kepada para peserta pendadaran untuk memasuki
lingkungan Pelay an Dalam, ke pala para prajurit dan Pelay an Dalam,
Gajah Saraya itu kemudian berkata ”Aku sudah melakukan pendadaran
langsung atas peserta yang bernama Mahisa Pukat ini. Seorang anak
muda yang telah mampu mengalahkan seorang pemimpin padepokan
yang namanya dikenal oleh orang-orang Singasari, mPu Damar, dan yang
saat ini sedang melakukan pendadaran untuk memasuki lingkungan
Pelayan Dalam diistana Singasari. Mendahului semua keputusan, maka
aku berani mengatakan bahwa anak muda yang bernama Mahisa Pukat ini
akan dapat diterima menjadi Pelayan Dalam. Dihadapan para peserta
yang kelak akan dapat diterima bersama Mahisa Pukat, kepada
para prajurit dan Pelay an Dalam aku beritahukan, bahwa Mahisa Pukat
akan langsung mendapat kedudukan sebagai seorang pemimpin kelompok
dari kesatuan Pelay an Dalam diistana Singasari, khususnya bagi
calon Pelay an Dalam yang akan diterima bersamanya.” Tidak ada
yang tahu, siapa yang mula-mula bertepuk tangan. Namun
kemudian terdengar tepuk tangan yang riuh disekitar arena
pertandingan sebagai pendadaran khusus yang diselenggarakan atas
Mahisa Pukat langsung oleh Manggala Gajah Saraya. Gajah Saraya
mengangguk-angguk sambil tersenyum. Dengan demikian maka ia berharap
bahwa tidak ada lagi perasaan iri terhadap kedudukan yang diberikan
langsung kepada orang baru yang bernama Mahisa Pukat itu. Para
prajurit dan Pelayan Dalam telah melihat langsung kemampuannya yang
tinggi, yang diy akini oleh Gajah Saraya bahwa kemampuan itu
masih belum mencapai puncaknya dan bahkan mungkin Mahisa Pukat masih
mempunyai ilmu simpanan yang ternyata mampu m engatasi
kemampuan mPu Damar. Dalam pada itu Mahisa Pukat sendiri menjadi
berdebardebar. Tetapi agaknya teka-teki yang untuk beberapa
lama mencengkam jantungnya telah t erjawab. Manggala Gajah Saraya
tidak berniat untuk meny ingkirkannya. Ia sudah menyatakan dihadapan
banyak orang, bahkan diantara mereka terdapat Arya Kuda Cemani,
bahwa ia akan diangkat langsung menjadi pemimpin kelompok didalam
lingkungan kesatuan Pelay an Dalam diistana Singasari. Ternyata
yang menjadi berbesar hati bukan saja Mahisa Pukat sendiri.
Tetapi juga Arya Kuda Cemani. Meskipun Mahisa Pukat belum pernah
lewat orang tuanya berbicara tentang Sasi, tetapi seolah-olah mereka
sudah saling mengetahui hubungan diantara anak-anak mereka. Bagi
Arya Kuda Cemani, kedudukan seorang Pelay an Dalam akan lebih baik
bagi Sasi daripada seorang pemimpin Padepokan yang berada
ditempat yang jauh dari Kota Raja. Kebiasaan serta tata hidup
Sasi sejak kanak-kanak tentu tidak akan dengan mudah
ditinggalkannya. Demikianlah, maka pendadaran bagi mereka yang
ingin memasuki lingkungan Pelayan Dalam diistana Singasari itu sudah
selesai. Para peserta dapat beristirahat sambil menunggu pengumuman,
siapakah diantara mereka yang dapat diterima menjadi Pelayan Dalam
dan siapa yang terpaksa tersisih. T etapi sebagaimana pesan Manggala
Gajah Saraya, bahwa mereka yang belum beruntung dapat diterima
menjadi Pelay an Dalam, maka pada kesempatan lain mungkin mereka
akan mendapat kesempatan pula. Ketika para peserta itu beristirahat,
maka beberapa orang diantara m ereka telah m enyatakan selamat atas
keberhasilan Mahisa Pukat. Bukan saja diterima sebagai Pelayan
Dalam, tetapi sekaligus akan menjadi pemimpin kelompok, dari para
Pelay an Dalam yang diterima dalam pendadaran itu. Anak muda
yang bertubuh raksasa itupun dengan lantang berkata ”Tetapi
aku masih mempunyai kemenangan atasmu. ” Mahisa Pukat yang tidak
tahu maksudnya tidak segera menjawab pernyataan itu. Tetapi justru
kawannya yang lain yang bertanya ”Kemenangan apa ?” “Bukankah
kita pernah bertaruh. Dan akulah yang menang dalam pertaruhan
itu.” jawab anak muda bertubuh raksasa itu. Mahisa Pukat tersenyum.
Katanya ”Ya. Aku mengaku kalah.” Tetapi kawannya mendesak ”Taruhan
apa ?” Anak muda bertubuh raksasa itu tertawa sambil menjawab ”Aku
bertaruh bahwa dalam pendadaran Mahisa Pukat tidak akan pernah kalah
dalam setiap pertandingan. Bahkan pertandingan yang terakhir
langsung melawan Manggala Pelay an Dalampun, Mahisa Pukat tidak
dapat dikatakan kalah. Meskipun juga tidak dapat dikatakan menang.”
“Ah, sudahlah” potong Mahisa Pukat ”lihat, petugas itu tentu akan
mempersilahkan kita makan.” “Ya” jawab salah seorang anak muda yang
juga menjadi peserta ”seandainya aku tidak diterima, aku sudah m
endapat kesempatan untuk makan enak selama beberapa hari sejak
pendadaran pada tataran pertama. Dirumah aku tidak pernah mendapat
makan sebaik makanan yang aku terima disini.” Kawan-kawannya
tertawa. Seorang diantara mereka sempat menyahut ”Ya. Aku juga tidak
pernah makan seenak makanan disini. Apakah jika kita diterima
menjadi Pelayan Dalam makan kita akan seperti ini setiap hari ?”
Anak-anak muda itu tertawa semakin riuh. Tetapi seorang diantara
mereka berkata ”Jadi tujuan kita untuk menjadi Pelay an Dalam
sekedar untuk mendapatkan makanan yang enak seperti saat pendadaran
?” “Sudahlah” berkata anak muda yang bertubuh raksasa ”kita harus
makan. Aku memang sudah lapar.” Sebenarnyalah seorang petugas telah
mempersilahkan anak-anak muda para peserta pendadaran itu untuk
makan diruangan disebelah dapur. Sementara mereka makan, mereka
masih sempat juga bergurau. Seorang mendekati anak muda bertubuh
raksasa itu sambil berkata ”He, sebanyak itu kau makan ?” “Kenapa ?”
bertanya anak muda bertubuh raksasa itu. “Tiga kali lipat dari
Mahisa Pukat.” jawab kawannya. Yang lain tertawa. Seorang diantara
mereka berkata lantang ”Tetapi anak itu lebih kuat dari Mahisa
Pukat. Ia dapat membengkokkan lempengan besi yang tebal itu.”
“Tidak” tiba -tiba anak muda bertubuh raksasa itu menjawab ”Ternyata
Mahisa Pukat tanpa harus m engerahkan kekuatannya dapat meluruskan
besi itu kembali diluar pengetahuan kalian. Nah, bukankah kalian
tidak melihat ? Tetapi demikian besi itu aku bengkokkan, maka
diam-diam ia telah meluruskannya kembali. Dengan demikian, meskipun
tubuhku jauh lebih besar dari tubuhnya, serta aku dapat menelan
makanan jauh lebih banyak dari padanya, namun ternyata Mahisa Pukat
mempunyai kekuatan lebih besar dari aku.” “Ah. Jangan membual”
potong Mahisa Pukat. “Kenapa aku harus membual ? Aku akan mencari
sepotong besi itu dan aku akan menunjukkan kepada anak-anak muda
disini.” “Bukankah itu tidak perlu” jawab Mahisa Pukat. “Kenapa
tidak ?” bertanya anak muda itu. “Sudahlah. Nanti kita terbatuk.
Selagi kita m akan, maka sebaiknya kita tidak berbicara.” berkata
Mahisa Pukat kemudian sambil menyuapi mulutnya. Anak-anak muda itu
memang terdiam sejenak. Namun anak muda bertubuh raksasa itu
bertanya perlahan-lahan dan bersungguh-sungguh ”Kenapa pedang yang
kau pergunakan itu patah ?” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam.
Sebelum menjawab anak muda bertubuh raksasa itu bertanya pula
”Apakah parang yang kemudian kau pergunakan itu juga akan
patah ?” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia
menggeleng ”Mungkin tidak. Parang itu tidak akan patah seperti
pedang yang sebelumnya aku pergunakan.” “Tetapi kenapa kau m
engganti senjatamu?” bertanya anak muda itu. Mahisa Pukat termangu
-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya ”Aku lebih senang
mempergunakan senjata panjang daripada senjata pendek khususny a
untuk m elawan tombak. Apalagi Manggala Gajah Saraya memiliki
kemampuan yang sangat tinggi mempermainkan tombaknya. Agaknya ia
terbiasa mempergunakan senjata tombak pendek seperti yang
dipergunakan waktu itu.” Anak muda bertubuh raksasa itu
mengangguk-angguk. Katanya kemudian ”Jika kita menilai dengan jujur,
maka nilaimu tentu lebih tinggi dari nilai Manggala Gajah Saraya.
Kau hanya mempergunakan sebatang tongkat kayu yang seakan-akan
begitu saja dipatangkan dari batangnya, sementara Manggala Gajah
Saraya mempergunakan tombak yang sebenarnya.” “Tentu tidak. Tentu
Manggala Gajah Saraya tidak bersungguh-sungguh ingin membunuhku.
Seandainya aku tidak melawan sekalipun aku tidak akan terbunuh di
pertandingan itu. Jika seorang prajurit yang bertugas
melakukan pendadaran langsung dan membunuh orang yang sedang
mengalami pendadaran itu sama saja dengan sebuah pembunuhan.” jawab
Mahisa Pukat. “Tetapi kenapa kau lebih senang m empergunakan t
ongkat kayu itu. Sedangkan ditempat lain tersedia batang tombak?”
Mahisa Pukat m emandang anak muda itu sejenak. Sambil tersenyum ia
berdesis ”Apakau kau sedang meny elidiki satu perkara?” “Tidak.
Tetapi aku menjadi heran melihat hal itu kau lakukan” jawab anak
muda itu. “Jarak yang terdekat yang dapat aku capai
adalah t ongkat itu. Jika aku harus memungut tombak pendek itu aku
tentu terlambat” jawab Mahisa Pukat masih tersenyum. “Tetapi
bukankah Manggala Gajah Saraya tidak bersungguh-sungguh? Seandainya
kau terlambat sekalipun, kau tidak akan dikenainya. Apalagi
benar-benar membunuhmu.” berkata anak muda itu pula. Mahisa Pukat
justru tertawa. Katanya ”Kau tidak m emberi kesempatan aku untuk
makan. Tetapi baiklah. Pertanyaanmu mirip pertanyaan seorang petugas
rahasia yang sedang mengusut perkara yang rumit.
Barangkali aku dapat mengusulkan kepada Manggala Gajah Saraya, bahwa
kau dapat ditempatkan dalam tugas rahasia kelak.” “Ah, jangan. Aku
senang menjadi anak buahmu sebagai Pelay an Dalam. Tetapi kau belum
menjawab pertanyaanku.” “Seandainya aku terlambat menangkis
serangannya. Meskipun serangan itu tidak akan benar-benar
mengenaiku, namun nilai kemampuanku tentu dinilai kurang dari jika
aku benar-benar mampu melakukannya. Sebenarnya aku memang tidak
perlu meny ombongkan diriku sebagaimana terlanjur aku lakukan.
Tetapi aku benar-benar terpancing sehingga diluar kendali aku telah
melakukannya.” jawab Mahisa Pukat. Anak muda itu mengangguk-angguk.
Namun masih ada satu pertanyaan yang ter sangkut. Dengan
ragu-ragu anak muda itu bertanya ”Kenapa pedang itu patah ?”
Sebenarnya pertanyaan itu juga membersit di kepala Mahisa Pukat.
Seakan-akan ada kesengajaan bahwa senjata yang disediakan baginya
telah dibuat cacat. Namun kepada anak muda bertubuh raksasa itu ia m
enjawab ”Mungkin aku tergesa -gesa mempergunakannya, sehingga aku
kurang berhati-hati.” “Tetapi pedang itu tidak akan patah.” jawab
anak muda bertubuh raksasa itu. Mahisa Pukat yang tidak ingin m
endapat pertanyaan lebih panjang lagi, tiba -tiba berbatuk-batuk.
Sambil menutup mulutnya ia terbungkuk-bungkuk menahan batuknya yang
menyesakkan nafasnya. Kemudian ia pun menggapai semangkuk minuman.
Baru setelah ia m inum beberapa teguk ia menarik nafas dalam-dalam,
katanya ”Aku tidak boleh makan sambil berbicara ” “Baik. Baik” sahut
anak muda bertubuh raksasa itu. Tetapi katanya kemudian ”Kau hanya
berpura-pura.” Mahisa Pukat justru tertawa. Tetapi iapun kemudian
benarbenar terbatuk-batuk karena butir nasi yang m asuk ke
jalur yang salah. “Sudahlah” berkata kawannya yang lain kepada
anak muda bertubuh raksasa itu ”kau jangan mengajaknya berbicara
saja Barangkah kau terbiasa makan sambil berbicara. Tetapi orang
lain tidak.” “Baik. Baik.” jawab anak muda bertubuh raksasa itu.
Untuk beberapa lamanya anak-anak muda itu makan sambil berdiam diri.
Tetapi anak muda bertubuh raksasa itii mulai beringsut. Tetapi
sebelum ia bertanya lagi, kawannya sudah mendahuluinya ”Nah, kau
sudah akan berbicara lagi.” “Baik. Baik. Aku akan diam” jawab anak
muda itu. Demikianlah, setelah makan, maka anak muda bertubuh
raksasa itu tidak lagi memburu Mahisa Pukat dengan
pertanyaan-pertanyaannya. Beberapa hal sudah dapat dipahami,
meskipun sebenarnya masih ada yang ingin diketahuinya. Tetapi anak
muda itu menduga bahwa Mahisa Pukat tidak ingin menjawabnya. Namun
sebenarnyalah pertanyaan yang sama tengah bergejolak pula
dihati Mahisa Pukat. Dalam pada itu, maka anak-anak muda itu tinggal
menunggu saja pemberitahuan, siapakah diantara mereka yang gagal
dalam pendadaran itu. Hanya sepuluh orang diantara mereka yang
diterima. Bahkan mungkin kurang dari itu jika yang memenuhi sy
arat memang kurang dari sepuluh orang. Tetapi hari itu ternyata
masih belum diumumkan siapakah yang akan diterima dan siapakah yang
tidak. Anak-anak muda itu m asih akan bermalam semalam lagi. Bahkan
malam itu Manggala Gajah Saraya berkenan m enjamu anak-anak muda
yang ikut sampai pendadaran terakhir. Mereka yang tidak diterimapun
telah ikut pula dalam jamuan itu. Tetapi karena belum diumumkan
siapakah diantara mereka yang tidak diterima, maka kedudukan m ereka
rasa-rasanya masih sama sa ja. Dalam jamuan itu sekali lagi Gajah
Saraya mengumumkan bahwa Mahisa Pukat akan langsung diangkat menjadi
pemimpin kelompok dari anak-anak muda yang akan diterima
sebagai Pelayan Dalam itu. Malam itu, setelah jamuan selesai, maka
Mahisa Pukat telah ditemui oleh salah seorang petugas sandi atas
nama AryaKuda Cemani. Sepengetahuan Manggala Gajah Saraya, petugas
sandi itu m emberitahukan bahwa memang ada orang yang dengan sengaja
ingin meny ingkirkan Mahisa Pukat dari pencalonannya. “Siapa ?”
bertanya Mahisa Pukat. “Sebenarnya masih harus diusut sampai tuntas.
Tetapi kami sudah m enemukan arah peny elidikan kami. Orang itu
adalah seorang prajurit muda. Ia mempunyai pengaruh meskipun
kedudukannya masih belum meningkat sejak semula. Ayahnya adalah
seorang Senapati. Apa yang dilakukan adalah diluar pengetahuan
ay ahnya. Bahkan ketika ayahnya dihubungi, maka ia menjadi sangat
terkejut. Ia pernah menghukum anaknya dalam per soalan yang
sama. Dalam kedudukannya sebagai seorang anak muda yang merasa
disaingi kemudaannya. Tetapi kesalahan itu telah diulangi lagi.“
berkata petugas sandi itu. “Tetapi bagaimana ia mampu menyusun
jaringan yang demikian luasny a ?” bertanya Mahisa Pukat.
”Anak muda itu mempunyai uang cukup. Meskipun ay ahnya tidak
mengetahui rencana itu, tetapi ternyata anak muda itu dan beberapa
orang kawannya dapat melakukannya” jawab petugas sandi itu. Mahisa
Pukat menarik nafas dalam-dalam. Hampir tidak terdengar ia berdesis
”Aku kira persoalan diantara kam i sudah selesai. Ternyata masih ada
kelanjutannya.” “Ayahnya akan menjatuhkan hukuman yang lebih
berat.“ berkata petugas sandi itu. “Jika kau dapat berhubungan
dengan ayahnya, katakan kepadanya bahwa hukuman badan itu tidak
perlu. Tetapi anak itu perlu mendapat tuntunan lebih jauh. Aku ingin
menemuinya jika mungkin serta diijinkan oleh ayahnya. Menurut dugaan
serta perhitunganku ia sudah m enjadi jera. Mungkin ada sesuatu
yang mempengaruhinya sehingga ia mengulangi kesalahannya.”
Petugas sandi itu mengangguk-angguk. Katanya ”Aku akan melaporkan
kepada Arya Kuda Cemani. Ia juga meny esalkan peristiwa itu. Tetapi
Arya Kuda Cemani memang menghendaki agar persoalannya diselesaikan
kedalam tanpa banyak keributan. Apalagi ayah anak muda itu juga
tidak berniat membela anaknya meskipun ia mempunyai kedudukan
penting. Bahkan jika dikehendakinya, ia akan dapat mempergunakan
kekerasan atau setidak -tidaknya mendesak dengan ancaman-ancaman
kekerasan. Tetapi Senapati itu ternyata bersikap jujur dan bahkan
siap menghukum anaknya sendiri.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk.
Katanya ”Aku justru kasihan kepadanya. Hatinya tentu tersiksa
sehingga mendorongnya untuk melakukan kesalahan yang sama dengan
cara yang justru lebih berbahaya.” Namun petugas sandi itu tidak
memperpanjang pembicaraan itu. Beberapa saat kemudian maka anak-anak
muda itupun telah memasuki bilik mereka untuk tidur, sementara malam
menjadi semakin larut. Seperti biasanya, pagi-pagi benar anak-anak
muda itu sudah bangun. Ketika matahari terbit, maka merekapun sudah
berbenah diri dan sebentar kemudian merekapun telah makan. pagi.
Setelah beristirahat sebentar, maka datanglah saat yang
mendebarkan itu. Manggala Pelay an Dalam sendiri akan mengumumkan,
siapakah diantara-mereka yang diterima menjadi Pelayan Dalam.
Setelah memberikan sedikit pengantar, agar yang terpaksa tidak
diterima tidak menjadi terlalu kecewa, maka Manggala Pelay an Dalam
itupun berkata ”Ternyata kami berhasil mendapatkan sepuluh orang
diantara kalian yang memenuhi sy arat sebagaimana yang kami
harapkan. Sebenarnya semuanya memiliki kemampuan yang memenuhi
syarat. Tetapi sayang , bahwa kami hanya dapat menerima sepuluh
orang saja. Meskipun demikian, karena Mahisa Pukat akan langsung
diangkat menjadi pemimpin kelompok, maka jumlah penerimaan kali ini
akan menjadi sebela s orang.” Anak-anak muda itu hanya dapat
mengangguk-angguk. Harapan mereka menjadi lebih besar karena jumlah
penerimaan itu bertambah seorang. Tetapi bagaimanapun juga harus ada
diantara mereka yang tersisih. “Semula kami menjadi cemas”
berkata Manggala Pelay an Dalam itu ”bahwa yang memenuhi sy
arat tidak genap sepuluh orang. Namun ternyata justru lebih dari
itu, meskipun akhirnya kam i harus memilih sepuluh orang t erbaik
dari yang baik itu ditambah dengan seorang lagi.” Anak-anak muda
yang mendengarkan pernyataan itu termangu-mangu. Ternyata bahwa
menurut Manggala Pelay an Dalam itu, mereka semua dapat dianggap
memenuhi syarat. Tetapi karena hanya sebelas orang yang dapat
diterima, maka tentu ada diantara mereka yang harus
tersisih.
Jilid 108 NAMUN Manggala Pelay an Dalam
itu kemudian berkata”Mereka yang tidak dapat diterima kali ini, jika
pada kesempatan lain masih berniat untuk ikut dalam pendadaran, maka
kepada mereka akan diberikan perhatian khusus. Mereka yang
gagal kali ini akan m endapatkan pertanda yang dapat ditunjukkan
pada kesempatan yang lain apabila masih dikehendaki.”
Demikianlah, maka kemudian Manggala Pelayan Dalam itu menyebut
sepuluh orang diantara mereka yang diterima ditambah dengan seorang
yang akan menjadi pemimpin kelompok mereka. Beberapa orang memang
menjadi kecewa. Tetapi sekali lagi Gajah Saraya mengatakan kepada
mereka, bahwa mereka akan mendapat pertanda yang dapat mereka
pergunakan pada kesempatan lain. “Tidak genap setahun kami akan
memanggil anak-anak muda lagi untuk mengisi kekosongan” berkata
Gajah Saraya. Dengan demikian, maka anak-anak muda itupun
diperkenankan untuk m eninggalkan tempat pendadaran itu. Bagi mereka
yang diterima, maka mereka mendapat waktu sepekan. Setelah
sepekan mereka harus datang melaporkan diri ditempat pendadaran itu
untuk selanjutnya mereka akan memasuki barak Pelayan Dalam. Pada
kesempatan pertama, maka mereka akan berada didalam barak latihan
khusus bagi para Pelayan Dalam yang baru itu. Mereka mengikuti
latihan olah kanuragan untuk mendukung tugas-tugas mereka kemudian
sebagai Pelay an Dalam yang akan lebih banyak berada di
istana. Menjaga keselamatan seluruh isi istana, melayani Sri
Maharaja dan keluarganya serta memelihara benda-benda yang ada
di istana dan yang tidak kalah pentingnya, menjaga agar semua
paugeran yang ditrapkan di istana dapat berlaku sebagaimana
seharusnya. Demikianlah maka anak-anak muda itupun telah minta diri
kepada para petugas yang melakukan pendadaran terhadap mereka
selama tiga tataran berturut-turut. Yang tidak dapat diterimapun
nampaknya harus menerima kenyataan itu dengan ikhlas dengan harapan
bahwa pada kesempatan lain mereka akan dapat diterima. Kepada Mahisa
Pukat mereka mengucapkan selamat atas keberhasilannya. Bukan saja
diterima menjadi Pelay an Dalam, tetapi justru langsung diangkat
menjadi pemimpin kelompok dari antara mereka yang baru saja
diterima. Ternyata bahwa Mahisa Pukatpun menjadi gembira pula. Ia
akan dapat m engatakan kepada Sasi bahwa ia telah diterima. Meskipun
Arya Kuda Cemani adalah seorang Senopati yang dapat menilai
kemampuannya, tetapi kepada Sasi ia tidak akan dapat mengatakan
apapun seandainya ia tidak diterima menjadi Pelay an Dalam. Sasi
akan dapat menganggapnya sebagai seorang yang hanya dapat
membual tanpa dapat memberikan bukti. Ketika ia sampai dirumah dan
menyatakan bahwa ia dapat diterima maka Mahendrapun menjadi gembira
pula. Hampir diluar sadarnya ia b erkata ”Aku mempunyai prasangka
buruk terhadap Gfgah Saraya Tetapi ternyata ia bukan orang yang
curang. Ia melihat keny ataan yang dihadapinya dalam
pendadaran yang telah dilangsungkan dengan jujur.” Namun
Mahisa Pukat telah menceriterakan pula usaha yang hampir saja
menggagalkannya. “Sudahlah” berkata Mahisa Pukat ”persoalan itu
jangan diperpanjang lagi. Kau sebaiknya menganggap bahwa
persoalannya telah selesai.” Mahisa Pukat mengangguk sambil menjawab
”Aku memang sudah berusaha untuk menganggap per soalan itu selesai
ay ah. Tetapi agaknya ayahnya ingin menegakkan wibawanya sebagai
seorang Senopati. Entahlah, apa yang akan dilakukan.” “Lewat Arya
Kuda Cemani aku akan memberikan pesan, agar persoalannya tidak
diperpanjang lagi.” berkata Mahendra. “Tetapi ay ahnya ingin agar
anaknya benar-benar menjadi jera dan tidak m elakukan hal yang
serupa lagi.” desis Mahisa Pukat. Mahendra tidak menjawab. Iapun
mengerti bahwa membiarkan anaknya melakukan kesalahan berarti
mendorong agar hal itu dilakukan pula pada kesempatan yang lain.
Dalam pada itu, maka kegembiraan Mahisa Pukatpun telah didengar pula
oleh Sasi. Ayahnya tidak dapat menahan keinginannya untuk
menceriterakan kepada Sasi bahwa Mahisa Pukat secara khusus telah
diterima. Bahkan tidak sekedar menjadi Pelay an Dalam. Tetapi
menjadi pemimpin kelompok dari Pelay an Dalam yang baru
diterima. Karena itu, ketika Mahisa Pukat datang m engunjunginya,
sebelum Mahisa Pukat mengatakan sesuatu, Sasi telah lebih dahulu
mengucapkan selamat kepadanya. “Aku merasa gembira sekali, bahwa kau
dapat diterima secara khusus dalam lingkungan Pelayan Dalam” berkata
Sasi. “Doamu didengar oleh Yang Maha Agung, Sasi” jawab Mahisa
Pukat. “Ya. Satu k esempatan yang baik yang dianugerahkan oleh Yang
Maha Agung kepada kita” berkata Sasi sambil menunduk Kegembiraan itu
ternyata telah m eliputi seluruh keluarga Sasi. Kedua saudara laki
-laki Sasipun ikut merasa gembira pula. Meskipun ketika mereka tahu
apa yang telah t erjadi atas Mahisa Pukat selama pendadaran
menjadi marah pula. Tetapi sebagaimana Mahendra, maka Arya Kuda
Cemanipun berharap bahwa persoalan yang berhubungan dengan Sasi itu
hendaknya dianggap selesai. “Jika Senapati Sawungtywuh akan
mengambil tindakan terhadap anaknya, itu adalah persoalannya. Ia
memang merasa perlu untuk mendidik anaknya agar m enjadi seorang
yang baik kelak” berkata Arya Kuda Cemani kepada anakanaknya pada
kesempatan yang lain. Seperti yang diperintahkan oleh Manggala
Gajah Saraya, maka sepekan kemudian anak-anak muda yang diny
atakan diterima menjadi Pelayan Dalam itupun telah berada kembali
ditempat mereka melakukan pendadaran. Seperti yang diperintahkan,
maka merekapun telah m elaporkan diri akan kehadiran m ereka. Tidak
seorangpun diantara mereka yang menarik diri. Sebelas orang telah
hadir ditempat yang ditentukan, termasuk anak muda bertubuh raksasa
itu. Seperti yang telah diny atakan oleh Manggala Gajah
Saraya, maka Mahisa Pukat telah langsung dinyatakan sebagai pemimpin
kelompok dari para Pelay an Dalam yang baru itu. Dalam wisuda
yang akan dilakukan beberapa hari kemudian, maka Mahisa Pukat
sudah akan diwisuda m enjadi pemimpin kelompok. Beberapa orang
Pelayan Dalam yang tidak sempat menyaksikan pendadaran itu memang
merasa heran. Sejak mereka memasuki lingkungan Pelayan Dalam, belum
pernah terjadi, seorang yang baru saja diterima langsung
diangkat menjadi pemimpin kelompok. Biasanya yang akan
memimpin sekelompok Pelayan Dalam yang baru itu adalah mereka
yang sudah lebih tua. Yang telah sekitar ampat tahun menjadi Pelay
an Dalam. Ketika hal itu mereka perbincangkan, maka beberapa orang
Pelay an Dalam yang menyaksikan langsung dan bahkan bertugas
pada saat-saat berlangsungnya pendadaran telah memberikan penjela
san apa yang telah mereka saksikan. “Satu ceritera yang
berlebih-lebihan” jawab seorang Pelay an Dalam yang telah
bertugas lebih dari lima tahun, namun yang masih belum mendapat
kesempatan untuk mendapatkan jabatan memimpin sebuah kelompok Pelay
an Dalam. “Aku dan beberapa orang kawan serta prajurit menyaksikan
sendiri bagaimana ia mampu mengimbangi ketangkasan Manggala Gajah
Saraya.” “Tentu satu permainan dari Manggala Gajah Saraya. Apakah
Mahisa Pukat itu masih sanak kadangnya?” bertanya Pelay an Dalam
yang tidak mau m enerima keny ataan tentang Mahisa Pukat.
“Sepengetahuanku bukan” jawab Pelay an Dalam yang menyaksikan
langsung pendadaran itu ”jika kau melihat sendiri, maka pendapatmu
tentu akan berubah.” “Tidak” jawab kawannya yang tidak terlibat
dalam pendadaran itu” Manggala Gajah Saraya dapat saja berbuat
sesuatu untuk memberikan kesan agar salah seorang diantara mereka
yang ikut dalam pendadaran nampak memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi
semuanya itu adalah permainan saja” “Jika tidak demikian, kenapa
Manggala Gajah Saraya sendiri yang harus melakukan pendadaran?
Apakah menurut pendapatnya tidak ada Pelay an Dalam yang
pantas untuk melakukan pendadaran sebagaimana dilakukan terhadap
para peserta yang lain?” Pelay an Dalam yang menunggui
pendadaran itu berdesis ”Aku bukannya tidak dapat menilai pendadaran
yang dilakukan oleh Manggala. Menurut penglihatanku, Mahisa Pukat
memang memiliki kelebihan yang jauh dari para peserta yang lain.”
“Ya. Mungkin. Dengan para peserta memang mungkin. Tetapi dari kami
yang sudah bertahun-tahun bertugas sebagai Pelay an Dalam?
Kami telah mengalami penempaan ilmu beberapa kali. Hampir setiap
tahun kami m elakukan latihanlatihan khusus selama dua tiga bulan
selain latihan-latihan yang kami lakukan hampir setiap hari. Kau
tentu mampu menilai kemampuan kita sendiri dibandingkan dengan
kemampuan Mahisa Pukat itu. “Mungkin kemampuan kita sebagai Pelay an
Dalam. Kita memang sudah menguasai segala macam ketentuan dan
paugeran yang ada didalam istana ini. Kita sudah menguasai
tugas-tugas kita seluruhnya. Sedangkan Mahisa Pukat sama sekali
belum. Tetapi dalam olah kanuragan, m ungkin agak lain. Ia memiliki
dasar ilmu yang cukup tinggi.” “Aku kurang y akin akan hal
itu” jawab kawannya. Pelay an Dalam yang mengikuti pendadaran
itu tidak menjawab. Ia segan bertengkar dengan kawan sendiri tentang
persoalan yang sulit dicari persesuaiannya. Bahkan ketika kawannya
yang lain yang ikut pula menangani pendadaran itu mengatakan hal
yang sama, namun Pelay an Dalam itu masih tidak yakin pula.
“Terserah” akhirnya Pelay an Dalam yang ikut menangani pendadaran
itu melangkah pergi. “Aku ingin m elihat, apa yang dapat
dilakukannya” berkata Pelay an Dalam yang tidak y akin akan
kemampuan Mahisa Pukat itu. Dalam pada itu, maka anak-anak muda
yang sudah diterima menjadi Pelayan Dalam itu mulai memasuki
barak untuk mendapatkan latihan-latihan dasar serta pengetahuan
tentang tugas mereka. Mereka telah ditempatkan dibarak khusus
yang agak terpisah agar mereka dapat memusatkan perhatian
mereka pada latihan-latihan yang tentu akan terasa cukup berat.
Mahisa Pukat yang ada diantara mereka sudah harus mulai mengemban
tugasnya sebagai pemimpin kelompok. Namun seperti yang lain, Mahisa
Pukat masih harus mengikuti latihan-latihan. Meskipun Mahisa Pukat
dianggap memiliki ilmu yang cukup, tetapi ia harus mengerti dan
memahami keseragaman yang harus dimiliki oleh Pelay an Dalam.
Karena itu, sebelas orang yang mempunyai latar belakang dasar
ilmu yang berbeda harus mengikuti latihan-latihan agar mereka dapat
segera meny esuaikan diri dalam lingkungan Pelay an Dalam Apalagi
pengetahuan tentang tugas-tugas mereka serta unggah-ungguh didalam
astana. Mahisa Pukat yang diangkat sebagai pemimpin kelompok sama
sekali tidak dengan semata-mata menunjukkan kelebihannya dari
kawan-kawannya selain menjalankan tugasnya dengan baik yang memang
agak berbeda dengan kawan-kawannya yang bukan pemimpin
kelompok. Namun seperti juga kawan-kawannya Mahisa Pukat mengikuti
setiap latihan dan peningkatan pengetahuan m ereka tentang
tugastugas Pelayan Dalam. Baru setelah beberapa lama latihan-latihan
itu berjalan, serta anak-anak muda yang diterima menjadi Pelayan
Dalam itu telah m eyakinkan para petugas bahwa mereka baik secara
badani m aupun secara jiwani akan m ampu m engikuti m asamasa
penempaan diri, sebelas orang itu telah diwisuda oleh Manggala Gajah
Saraya. Mereka secara resmi telah diterima menjadi keluarga Pelay an
Dalam meskipun mereka masih harus t etap berada didalam barak
latihan khusus untuk menjalani latihan-latihan yang berat dan
melelahkan. Tetapi anak-anak muda yang memang sudah mantap
untuk memasuki dunianya itu tidak mengeluh. Mereka menjalankan
tugas-tugas m ereka.dengan penuh gairah dan kemauan yang tinggi.
Semakin lama mereka berada di barak latihan, maka kelebihan Mahisa
Pukat justru menjadi semakin nampak, disengaja atau tidak. Para
pelatih dalam barak itu semakin merasa segan kepadanya meskipun hal
itu tidak diinginkan oleh Mahisa Pukat sendiri. Betapapun ia
berusaha untuk memperlihatkan kemampuan seperlunya saja, namun
kadangkadang diluar kehendaknya, kelebihannya itupun telah mencuat
dengan sendiriny a. Manggala Gajah Saraya yang mendengarkan setiap
laporan tentang Pelay an Dalam yang baru itu merasa semakin mantap.
Ia memang berharap bahwa Mahisa Pukat akan dengan cepat memanjat
ketataran yang lebih tinggi, justru karena ia mengenal Manggala
Pelayan Dalam itu sudah mendengar pula bahwa Mahendra dan Arya Kuda
Cemani mempunyai hubungan yang khusus justru karena anak-anak m
ereka yang sudah saling mengikat meskipun baru tersirat didalam
tingkah laku mereka. Ternyata Mahisa Pukat tidak m engecewakan.
Bukan saja Manggala Gajah Saraya, tetapi juga ayahnya dan Arya Kuda
Cemani. Sampai akhir masa latihan serta pemantapan atas tugas yang
bakal diembannya, Mahisa Pukat tetap menunjukkan kelebihannya. Iapun
telah menunjukkan kemampuannya memimpin sekelompok Pelayan Dalam
yang diterima bersamanya. Ternyata pengalamannya memimpin sebuah
padepokan telah memberikan bekal yang sangat berarti baginya.
Ketika masa latihan dasar serta pendalaman tentang tugastugas
yang harus diembannya itu sudah selesai, maka Mahisa Pukat
serta sekelompok Pelay an Dalam itupun mulai mendapat tugas-tugasnya
diistana. Sebagai sekelompok Pelay an Dalam yang baru, maka
Mahisa Pukat dan kelompoknya telah mendapat tugas yang beban
tanggung jawabnya tidak terlalu berat. Mereka mendapat tugas untuk
menjaga dan melayani lingkungan kesatrian untuk membantu sekelompok
Pelayan Dalam yang telah lebih dahulu b ertugas ditempat itu.
Ternyata tugas yang dibebankan kepada para Pelay an Dalam yang baru
itu tidak terlalu meny enangkan. Beban tanggung jawab mereka memang
tidak begitu berat. Tetapi keluarga istana yang masih remaja dan
meningkat dewasa yang tinggal di Kasatrian itu mempunyai sifat dan
watak yang berbeda-beda. Ada diantara mereka yang berhati
lembut. Tetapi ada pula yang keras dan bahkan kasar meskipun
mereka adalah keluarga dekat Sri Maharaja. Namun untunglah bahwa di
Kasatrian itu tinggal pula seorang Pangeran yang sudah
setengah baya yang sengaja ditempatkan di Kasatrian untuk
mengendalikan para keluarga istana yang nakal dan bahkan
kadang-kadang sudah mengarah kepada kekasaran. Pangeran Kuda Pratama
yang b ijaksana itulah m erupakan tempat mengadu para Pelay an Dalam
dan petugas lainnya di Ka satrian apabila mereka mendapat perlakuan
yang kasar dari para penghuninya yang merasa diri mereka
keluarga Sri Maharjga sehingga mereka seakan-akan dapat berbuat
sekehendak hati mereka. Namun Pangeran Kuda Pratama mendapat
wewenang sepenuhnya oleh Sri Maharjya untuk berbuat yang
terbaik menurut pertimbangannya atas penghuni Kasatrian. Mahisa
Pukat dan kelompoknya yang bertugas di Kasatrian berusaha
untuk meny esuaikan diri. Mahisa Pukat memerintahkan kepada
kelompoknya agar mereka tidak mengambil langkah sendiri jika mereka
menghadapi per soalan dengan para Kesatrian yang tinggal di
Kasatrian itu. “Adalah tugas kita melayani mereka dan menjaga
keselamatan mereka” berkata Mahisa Pukat. Para Pelay an Dalam itu
juga mengerti. T etapi m ereka juga mempunyai perasaan dan harga
diri sehingga kadang-kadang mereka harus mengeluh mengalami
perlakuan yang kurang pantas. Mahisa Pukat sendiri, yang
terbiasa berada di padepokan sebagai salah satu dari dua orang
pemimpinnya, merasa kedudukan itu terlalu menekan perasaannya.
Bahkan kadangkadang Mahisa Pukat merasa bahwa ternyata tugas-tugas
Pelay an Dalam sama sekali tidak sesuai dengan gejolak jiwanya yang
kadang-kadang meledak-ledak. Didalam tugasnya Mahisa Pukat
benar-benar merasa dirinya tidak lebih dari seorang pelayan. Setiap
orang di Kasatrian dapat memberi perintah apapun juga. Kadang-kadang
mereka membentak tanpa sebab. Bahkan mengumpat kasar. Sehingga
Mahisa Pukat sempat m enjadi heran. Ia mengira bahwa para peng huni
Kasatrian itu adalah anak-anak muda yang lembut, ramah dan m
enghargai orang lain sebagaimana keluarga Sri Maharaja yang sering
dilihatnya di paseban. Tetapi di Kasatrian mereka seakan-akan orang
lain dari yang dilihatnya di paseban itu. Tetapi Pangeran Kuda
Pratama ternyata mampu memberikan tuntunan kepada para Pelay an
Dalam termasuk Mahisa Pukat. Namun juga mengendalikan para penghuni
Ka satrian. Dari para petugas yang lama Mahisa Pukat dan para Pelay
an Dalam yang lain telah mendengar pengalaman mereka, sehingga
mereka dapat menempatkan diri mereka sebaik-baiknya. Tetapi pada
satu kesempatan Mahisa Pukat pulang menemui ayahnya, maka iapun
telah menyatakan keluhankeluhannya. Bagi Mahisa Pukat ternyata bahwa
hidup di Padepokan terasa jauh lebih baik daripada berada di Ka
satrian. “Kau akan terbiasa dengan tugasmu” berkata ayahnya.
“Kadang-kadang perasaanku m emberontak” jawab Mahisa Pukat. “Kalian
adalah orang-orang baru di Ka satrian. Apalagi kalian m asih muda
sehingga penghuni Ka satrian itu merasa bahwa mereka lebih senang
berhubungan dengan kalian daripada dengan para Pelay an dalam
yang lebih tua.” “Bukan sekedar berhubungan” jawab Mahisa
Pukat ”tetapi mereka memperlakukan kami kadang-kadang diluar
batasbatas kesabaran kami. Mereka bukan saja membentak. Tetapi
seorang diantara kawan-kawanku telah dipukulnya. Kawanku itu memang
tidak membalas. Bukan karena ia pengecut. Tetapi justru karena ia
merasa bahwa ia adalah seorang Pelay an Dalam.” “Apakah hal itu
tidak kau sampaikan kepada Pangeran Kuda Pratama?” bertanya Mahendra
“Ya. Terpaksa kami sampaikan. Anak muda yang memukul Pelay an Dalam
itu memang dipanggil dan dimarahi. Tetapi nampaknya hal itu tidak
berbekas sama sekali. Demikian ia berada di luar, maka sikapnya
telah kembali lagi seperti semula. Mereka terlalu y akin bahwa
kedudukan mereka jauh lebih tinggi dari seorang Pelayan Dalam” jawab
Mahisa Pukat. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat m engerti
perasaan anaknya yang terbiasa hidup dalam sebuah padepokan.
Namun kemudian Mahendra itupun berkata ”Mahisa Pukat. Para kesatria
di Kasatrian itu adalah anakanak muda seperti kau dan kawan-kawanmu.
Mereka terdiri dari anak-anak muda yang mempunyai berbagai
macam sifat dan watak. Bukankah diantara mereka yang keras
atau katakanlah kasar itu terdapat pula anak muda yang baik
dan ramah? Nah, bukankah sifat-sifat seperti itu terdapat
dimanamana? Mak sudku, mereka tidak ubahnya dengan anak-anak muda
yang lain. Ada yang pantas dicela tetapi juga ada yang
seharusnya memang mendapat pujian.” Mahisa Pukat m engangguk. Tetapi
ia berkata ”Tetapi sifat itu ditrapkan atas kami, para Pelayan
Dalam. Itulah yang membuat darah ini kadang-kadang menggelegak.”
“Mahisa Pukat” berkata Mahendra ”kau memang harus sering berhubungan
dengan Pangeran Kuda Pratama. Ia orang yang baik menurut
penilaianku. Bertanggung jawab dan memiliki keberanian. Lebih dari
itu, ia adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Pangeran itu
tentu akan selalu berusaha membantu tugas-tugasmu. Apalagi ia memang
diserahi tugas untuk mengawasi isi dari Kasatrian itu.” Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Ia memang sependapat bahwa Pangeran Kuda Pratama
adalah seorang bangsawan yang baik dan mengerti perasaan dan tugas
para Pelay an Dalam. Tetapi sudah tentu bahwa para Pelay an Dalam
itu tidak akan selalu berada di sekitar Pangeran Kuda Pratama.
Seperti petunjuk ay ahnya, maka selanjutnya Mahisa Pukat selalu
berhubungan dengan Pangeran Kuda Pratama. Apalagi Pangeran Kuda
Pratama telah m emberikan kesempatan kepada Mahisa Pukat untuk
menemuinya setiap saat diperlukan. Sementara itu para Pelay an Dalam
yang lebih dahulu berada di Kasatrian dengan senang hati m embantu
dan ikut memecahkan masalah-masalah yang timbul terutama dihati para
Pelay an Dalam. “Aku tidak kerasan tinggal dineraka ini” berkata
anak muda yang bertubuh raksasa. Meskipun perasaan itu ada pula
dihati Mahisa Pukat namun Mahisa Pukat sebagai pemimpin kelompok
berusaha untuk menenangkan perasaan kawannya yang bertubuh
raksasa itu. “Kita akan bergayut pada kebaikan hati Pangeran Kuda
Pratama” berkata Mahisa Pukat ”suatu ketika maka kita akan terbiasa
dengan keadaan ini atau keadaan ini akan perlahanlahan berubah.”
“Apa yang berubah?” bertanya Pelayan Dalam bertubuh raksasa
itu. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Meskipun agak ragu iapun
menjawab ”Kita berharap sikap anak-anak muda di Ka satrian ini dapat
berubah.” “Mereka sudah berada di Kasatrian ini sejak mereka
meningkat remaja. Tetapi sikap mereka masih saja seperti itu. Aku
tidak yakin bahwa sikap mereka akan dapat berubah. Seandainya
perubahan itu terjadi, tentu sudah lama terjadi. Tetapi menurut para
Pelay an Dalam yang terdahulu b ertugas diiini, mereka memang
bersikap seperti itu. Sejak dahulu dan agaknya akan sampai saatnya
mereka meninggalkan Ka satrian. Tetapi y g datang kemudian akan
bersikap seperti mereka juga. Angkuh, merasa diriny a berkuasa dan
menganggap kita tidak lebih budak-budak rendah yang tidak berharga.”
“Sudahlah” potong Mahisa Pukat ”aku akan mencari jalan bersama-sama
dengan pemimpin kelompok Pelayan Dalam yang terdahulu bertugas
disini. Kami akan menemui dan mohon petunjuk Pangeran Kuda Pratama.”
“Aku m eragukan perubahan yang diharapkan terjadi. Aku sebenarnya
agak menyesal, kenapa aku memasuki lingkungan ini. Kenapa aku tidak
menjadi seorang prajurit saja. Aku lebih senang dilemparkan ke m
edan pertempuran daripada duduk diserambi Kasatrian ini sekedar
untuk dibentak-bentak.” Mahisa Pukat menepuk bahu anak muda bertubuh
raksasa itu. Katanya ”Percayalah. Aku akan mencari jalan.” Anak muda
bertubuh raksasa itu memang diam. Tetapi terasa hatinya masih
bergejolak. Meskipun ketika ia mendapat latihan khusus, ditempa
badani dan jiwani, bayang an tugas sebagaimana dialami itu sudah
disebut -sebut, tetapi ketika ia benar-benar harus mengalami, maka
hatinya ternyata telah bergejolak. Dalam pada itu, Mahisa Pukat
memang mencari cara untuk dapat sedikitpun m engurangi tekanan
perasaan para Pelay an Dalam itu karena sikap para penghuni Ka
satrian. Meskipun ada diantara mereka yang baik, ramah dan
lembut, namun perbandingannya lebih kecil daripada mereka yang
nakal, keras dan bahkan kasar. Seperti yang dijanjikan, maka
Mahisa Pukat telah menemui pemimpin kelompok Pelay an Dalam yang
telah bertugas lebih dahulu. Mereka tidak lagi terdiri dari
anak-anak muda sebagaimana kelompok yang dipimpin oleh Mahisa
Pukat. Sebagian mereka adalah orang-orang yang telah meningkat
meninggalkan usia mudanya. Diantara mereka pada umumnya sudah
berkeluarga dan mempunyai satu dua orang anak. Ju stru karena
yang datang kemudian adalah anak-anak muda, maka yang
kemudian seakan-akan mendapat beban lebih berat adalah anak-anak
muda itu. Para penghuni Ka satrian itu lebih ringan memberikan
perintah, membentak dan berlaku kasar terhadap Pelay an Dalam yang
lebih muda daripada yang sudah berumur lebih banyak itu. Dengan
pemimpin kelompok Pelayan Dalam yang terdahulu bertugas di
Kasatrian, Mahisa Pukat mengadakan beberapa pembicaraan. Pelay n
Dalam y g bertugas di Kasatrian harus meningkatkan kewibawaan mereka
dihadapan para penghuni Kasatrian tanpa dianggap menentang atau
memberontak terhadap mereka. Ketika keduanya mendapatkan
kesepakatan, maka keduanya telah menghadap pangeran Kuda Pratama
untuk menyampaikan rencana mereka apabila Pangeran Kuda Pratama
memperkenankan. Pangeran Kuda Pratama justru tersenyum mendengar
rencana itu. Sambil mengangguk-angguk ia berkata ”Rencana yang baik.
Agaknya rencana ini datang dari yang muda-muda karena
sebelumnya belum pernah ada rencana seperti ini.” “Benar Pangeran”
jawab pemimpin kelompok Pelay an Dalam yang terdahulu
”meskipun hal-hal yang sama pernah kami rasakan sebelumnya, namun
kami tidak berpikir untuk mengambil langkah-langkah seperti yang
direncanakan oleh Mahisa Pukat. Ternyata pendapatnya itu baik.
Wibawa Pelay an Dalam akan naik tanpa menyakiti hati para penghuni
kasatrian.” “Baiklah. Aku akan mengaturnya” berkata Pangeran Kuda
Pratama ”pada hari yang ditentukan, maka latihan khusus sebagaimana
kalian rencanakan itu akan dilak sanakan dihalaman belakang
Kasatrian.” Kedua orang pemimpin kelompok Pelay an Dalam yang
bertugas di Kasatrian itu mengucapkan terima kasih. Sementara mereka
menunggu waktu yang akan ditentukan oleh Pangeran Kuda Pratama, maka
mereka telah mempersiapkan pelaksanaannya. Ternyata Pangeran Kuda
Pratama telah m engambil waktu yang terbaik yang dapat dipilihnya.
Pada saat Pangeran Kuda Pratama memperingati hari dan pasaran saat
Pangeran itu memasuki dan tinggal di kasatrian sambil mengemban
tugasnya mengawasi para penghuni Ka satrian itu genap delapan tahun,
maka Pangeran Kuda Pratama akan mengadakan semacam peringatan
kecil-kecilan di halaman belakang Kasatrian. “Kita adalah
kesatria-kesatria Singasari” berkata Pangeran Kuda Pratama ”ciri
dari sifat kesatria bukanlah mengagungkan diri, sombong dan m
erendahkan orang lain. Tapi salah satu dari ciri seorang kesatria
adalah melindungi mereka yang lemah. Untuk itu kita harus memiliki
kekuatan. Juga para kesatria. Tetapi karena acara seperti ini baru
diselenggarakan untuk pertama kali, maka yang akan tampil kali ini
adalah para Pelay an Dalam. Meskipun mereka bukan penghuni Ka
satrian, tetapi mereka juga kesatria-kesatria Singasari. Karena ciri
kesatria bukan dimana ia tinggal atau anak siapa mereka itu.”
Anak-anak muda dan remaja yang tinggal di Kasatrian itu sebagian
sama sekali tidak mendengar kata-kata Pangeran Kuda Pratama. Mereka
datang untuk ikut beramai-ramai, makan bersama dan bergurau diantara
mereka. Mereka tidak begitu memperhatikan acara -acara apa yang akan
ditampilkan dalam peringatan itu. Yang mereka tunggu-tunggu adalah
suguhan yang tentu akan meny enangkan mereka. Sementara itu Pangeran
Kuda Pratamapun berkata ”Nah, sebelum kalian akan mendapat hidangan
yang tentu kalian senangi, para Pelayan Dalam yang bertugas di
Kasatrian akan menunjukkan kemampuan mereka. Jika kalian, para
Kesatria Singasari yang tinggal di Kasatrian ingin turun
kegelanggang, kalian akan mendapat kesempatan, meskipun seperti yang
sudah aku katakan, bahwa yang akan tampil kali ini terutama
adalah Para Pelay an Dalam.” Pernyataan itu agaknya dapat sedikit
menarik perhatian. Tetapi seorang Pangeran yang meningkat
dewasa tiba-tiba berteriak ”Paman, apa yang dapat mereka tunjukkan
dihadapan kami? Latihan memasak say ur dan lauk pauk? Membuat
minuman paling manis dengan gula yang paling sedikit? Atau
latihan membawa nampan untuk menghidangkan makanan kepada kami
sekarang ini?” Anak-anak muda penghuni Kasatrian itu tiba-tiba t
ertawa berkepanjangan. Seorang yang lain berteriak ”Kami sudah mulai
lapar paman.” “Baiklah” berkata Pangeran Kuda Pratama ”kalian akan
melihat, siapakah Pelayan Dalam yang sebenarnya. Apakah mereka m
emiliki kemampuan memasak, membawa nampan untuk menghidangkan
suguhan atau sekedar terkantukkantuk di serambi Kasatrian. Atau
kemampuan sebagai seorang laki-laki. Seorang Kesatria yang
sanggup melindungi orang-orang yang lemah dan melindungi kalian yang
tinggal di Ka satrian.” “Kenapa kami harus dilindungi? Kami memiliki
kemampuan olah kanuragan. Sedang mereka hanyalah para pelayan. Bukan
prajurit.” berkata salah seorang diantara mereka. “Karena itu,
marilah kita lihat apa yang dapat mereka lakukan” berkata
Pangeran Kuda Pratama. Beberapa macam pertanyaan telah timbul dihati
anak-anak muda itu. Para bangsawan muda itu mulai m enjadi jengkel.
Mereka tidak tahu maksud Pangeran Kuda Pratama. Namun dalam pada
itu, Pangeran Kuda Pratamalah yang kemudian seakan-akan tidak
menghiraukan para bangsawan muda itu. Ia mulai bertepuk tangan.
Seorang Pelayan Dalam telah datang mendekat dengan sebuah tombak
pendek ditangan. Pelay an Dalam itu berdiri tegak dihadapan Pangeran
Kuda Pratama. “Mulailah” berkata Pangeran Kuda Pratama. Pelay an
Dalam itu mengangguk hormat. Kemudian membawa tombak pendekny a
melangkah ketengah-tengah arena di halaman belakang Ka satrian yang
dikelilingi oleh anak-anak muda penghuni Kasatrian itu. “He, apa
yang akan dilakukannya?” teriak seorang bangsawan yang
masih sangat muda. “Dikiranya yang dibawanya itu galah jemuran
pakaian” teriak yang lain. Anak-anak muda itu tertawa. Mereka
memang selalu melihat Pelay an Dalam yang bertugas di Ka
satrian itu membawa senjata. Merekapun tahu bahwa para Pelay an
Dalam itu b ertugas untuk berjaga-jaga dan m elindungi istana dan
isiny a jika terjadi sesuatu. Tetapi mereka menganggap bahwa Pelay
an Dalam bukan prajurit sebagaimana yang mereka ketahui. Kemampuan
mereka tentu hanya sekedarnya sa ja. Tidak berkemampuan sebagaimana
seorang prajurit. Sekarang mereka melihat seorang Pelayan Dalam
berdiri dengan t ombaknya. Tombak yang setiap hari dibawanya hilir
mudik dipintu-pintu gerbang Kasatrian. Namun Pelayan Dalam itu
seakan-akan tidak mempedulikan teriakan-teriakan itu. Demikian pula
Pangeran Kuda Pratama yang duduk tenang ditempatnya. “Aku sudah
lapar” teriak seorang bangsawan muda. Yang terdengar adalah suara
tertawa gemuruh. Namun dalam pada itu, Pelayan Dalam itu mulai
menggerakkan tombaknya perlahan-lahan. Diputarnya tombaknya
disekitar badannya semakin lama semakin cepat. Kemudian Pelayan
Dalam itu mulai mempermainkan tombaknya. Diperlihatkannya
unsur-unsur gerak yang menarik dalam ilmu senjata khususny a tombak
pendek. Tombak itu seakan-akan menangkis serangan yang datang,
namun kemudian dengan satu putaran, tombak itu seakanakan menggeliat
dan tiba-tiba saja menusuk kearah jantung lawannya. Para bangsawan
muda yang semula mentertawakan sikap Pelay an Dalam itu mulai
terdiam. Mereka memang tidak mengira bahwa Pelayan Dalam itu mampu
bermain-main dengan tombak yang setiap hari dibawanya kian kemari
selama mereka bertugas. Mereka yang sering lihat para prajurit yang
bertugas diluar istana dan di longkangan-longkangan terpenting
selalu menganggap bahwa prajurit itu m emiliki kemampuan Untuk
bermain dengan senjatanya karena m ereka seakan-akan telah menyatu
dengan senjatanya itu. Tetapi mereka tidak menganggapnya demikian
bagi Pelay an Dalam. Meskipun sejak para bangsawan itu masih berada
didalam dukungan pemomongnya, mereka sudah melihat kehadiran Pelay
an Dalam, namun mereka kurang memahaminya. Dalam keadaan yang paling
gawat sekalipun maka yang harus menanganinya adalah para
prajurit. Bukan Pelay an Dalam. Namun para bangsawan muda itu memang
belum pernah mengalami sesuatu yang parah terjadi di Istana
Singasari sejak mereka menyaidari kehadiran mereka di istana itu.
Karena itu, maka m ereka belum pernah m elihat betapa seorang Pelay
an Dalam mempergunakan senjatanya untuk benar-benar bertempur untuk
melindungi istana dan isinya. Diantara para penghuni Kesatrian itu
memang masih ada yang teringat, bagaimana huru-hara melanda istana
Singasari disaat-saat sebelum Sri Maharaja bertahta bersama adik
sepupunya yang mendampinginya sebagai Ratu Angabaya. Tetapi mereka
tidak ingat lagi, apa yang dilakukan oleh para Pelayan Dalam. Yang
mereka ingat meskipun sudah tidak jelas lagi, adalah adanya dua
kelompok kekuatan yang bermusuhan. Orang-orang Sinelir dan
orang-orang Rajasa. Para prajurit ternyata tidak dapat mengatasiny
a. Bahkan kelompok-kelompok itu yang ternyata berada dibawah
perintah Sri Rangga Wuni dan Mahisa Cempaka telah berhasil
menyingkirkan Tohjaya dari tahta Singasari, bahkan kemudian ternyata
telah meninggal. Mereka tidak ingat, apa yang telah dilakukan
oleh Pelay an Dalam Singasari. Tetapi kemudian mereka melihat
seorang Pelayan Dalam yang memperlihatkan kemampuan mereka dalam
olahraga senjata. Tombak pendek ditangannya itu kemudian berputar
seperti baling -baling. Melingkar, terayun, menebas dan mematuk
dengan garangnya. Sementara kaki Pelayan Dalam itu berloncatan
dengan tangkasnya. Namun para bangsawan muda yang ada di Ka satriyan
itu menganggap bahwa hal itu hanyalah satu kebetulan saja. Tidak
semua Pelay an Dalam mampu berbuat demikian. Bahkan mungkin seluruh
Pelayan Dalam yang ada di Kasatrian itu hanya seorang saja
yang dapat bermain senjata Namun ternyata dugaan itu keliru.
Ketika Pelay an Dalam itu selesai bermain tombak, maka telah m
emasuki arena dua orang Pelay an Dalam. Seorang bersenjata tombak
dan seorang bersenjata pedang dan peri sai di tangan kiri. Setelah
memberi hormat dan mendapat isyarat dari Pangeran Kuda Pratama, maka
kedua orang Pelay an Dalam itu segera mempertunjukkan kemampuan
mereka, mereka telah melakukan satu pertandingan yang mendebarkan.
Seakanakan mereka yang ujung-ujung-bertempur dengan mempergunakan
senjata m ereka yang ujung-ujungnya benarbenar tajam. Jika
ujung-ujung senjata itu benar-benar menyentuh kulitf maka kulit itu
tentu akan terluka. Namun kedua orang Pelay an Dalam itu ternyata
cukup tangkas. Keduanya berloncatan saling meny erang dan
menghindar. Menangkis dan menepis serangan lawan. Anak-anak muda
yang tinggal di Kasatrian itu menjadi semakin tercenung di
tempat mereka. Mereka tidak m engira bahwa para Pelayan Dalam itu
mampu melakukan permainan seperti itu. Ternyata bahwa mereka juga
memiliki kemampuan sebagaimana seorang prajurit. Karena itu, maka
hati m ereka memang m enjadi berdebardebar. Apalagi mereka
yang merasa sering melakukan kekasaran atas para Pelay an
Dalam. Apalagi kemudian ketika Pelayan Dalam yang lain
menunjukkan kemampuan mereka berdua. Bermain senjata di atas
punggung kuda dan beberapa jenis ketangkasan yang lain.
Sebenarnyalah para bangsawan muda itu benar-benar terpukau. Mau
tidak mau mereka harus menghargai kemampuan para Pelay an Dalam itu.
Namun dalam pada itu, sekelompok bangsawan yang berada di
sudut justru agak dibelakang telah saling berbisik. Seorang diantara
mereka adalah seorang bangsawan muda yang memiliki kelebihan dari
para bangsawan yang lain. Anak muda itu dianggap sebagai anak
muda yang memiliki kemampuan tertinggi diantara mereka. Anak muda
yang paling disegani oleh anak-anak muda seisi Ka satrian itu. Para
bangsawan yang ada di sekitarnya, yang menjadi berdebar-debar
tetapi juga merasa tersinggung melihat kemampuan para Pelay an Dalam
itu telah menggelitik bangsawan muda yang dianggap memiliki
kemampuan tertinggi itu. “Kita harus m enunjukkan bahwa yang mereka
lakukan itu bukan satu hal yang mustahil” berkata salah seorang
diantara mereka. “Apa yang harus aku lakukan?” bertanya anak muda
yang sebelumnya dianggap anak muda yang m emiliki k
emampuan tertinggi di Kasatrian. Ialah yang telah memukul
seorang diantara Pelay an Dalam yang baru saja bertugas di
Kasatriyan itu. “Turunlah ke gelanggang. Tantanglah Pelayan Dalam
yang ilmunya tertinggi. Jika kau m engalahkannya, maka yang
lain tidak akan berani meny ombongkan diriny a dengan bermainmain
dihadapan kita seperti yang mereka lakukan itu.” Bangsawan
muda itu memang menjadi ragu-ragu. Ia melihat bahwa para Pelay an
Dalam yang juga masih muda itu memang memiliki kemampuan yang
mantap. Tetapi karena para bangsawan muda yang lain selalu
menggelitiknya, maka akhirnya bangsawan muda itupun bangkit berdiri
dan berteriak ”Cukup. Hentikan permainan yang tidak berarti itu.”
Pangeran Kuda Pratama berpaling ke arah suara itu. Ia melihat
bangsawan muda yang telah bangkit berdiri itu. Pangeran Kuda Pratama
menarik nafas dalam-dalam. Ia memang berharap bahwa para bangsawan m
uda itu merasa tersinggung dan m encoba untuk m enjajagi kemampuan
para Pelay an Dalam itu. Karena itu, m aka Pangeran Kuda Pratama
itupun berkata ”Marilah. Kemarilah. Katakan sekali lagi, apa
yang kau kehendaki atas para Pelay an Dalam itu.” Bangsawan
muda itu melangkah maju. Beberapa orang yang lain telah mendor
ongnya sambil berdesis ”Lakukan. Lakukan. Tantang yang terbaik
diantara mereka.” Bangsawan muda itu m emang melangkah maju
mendekati Pangeran Kuda Pratama. Katanya ”Paman. Hentikan permainan
yang tidak berarti apa -apa itu. Untuk apa sebenarnya m ereka
melakukan itu? Apakah mereka sekedar meny ombongkan diri atau apa ?
Jika saja yang dipertunjukkan itu pantas ditonton dengan bobot
yang cukup tinggi, maka kami akan berterima kasih. Setidaknya kami
akan mendapatkan pengalaman baru dalam olah kanuragan. Tetapi yang
mereka lakukan sama sekali tidak memberikan kesan apapun bagi kami
yang sudah mendalami olah kanuragan.” “Kau benar ngger” berkata
Pangeran Kuda Pratama ”tetapi ada diantara kalian yang masih belum
memiliki k emampuan apa-apa. Bagi mereka apa yang telah diper
ontonkan itu akan sangat berarti.” “Paman” berkata bangsawan muda
itu ”aku ingin menunjukkan kepada para Pelay an Dalam, bahwa apa
yang mereka lakukan itu bagi kami merupakan tontonan yang
menjemukan.” “Jadi kau akan mempertunjukkan dihadapan kami
kemampuanmu olah kanuragan ? Marilah, mulailah bermain di arena.
Apakah kau memerlukan seorang kawan ?” bertanya Pangeran Kuda
Pratama. “Ya.” jawab bangsawan muda itu ”aku memerlukan seorang
kawan bermain. Pelay an Dalam yang t erbaik diantara mereka.”
“Baiklah” b erkata Pangeran Kuda Pratama kemudian ”aku akan
mempersilahkan Mahisa Pukat untuk menemani Sawung Kemara. Sawung
Kemara yang telah menyadap dasar ilmu kanuragan, sehingga mungkin
Sawung Kemara akan dapat menunjukkan arti dari olah kanuragan dan
mungkin akan sangat berarti bagi para Pelayan Dalam.” Mahisa Pukat
yang disebut namanya telah melangkah maju dan berdiri dihadapan
Pangeran Kuda Pratama. Sementara itu Sawung Kemara telah berdiri
pula diarena. Sambil berdiri tegak menengadahkan dadanya, Sawung
Kemara berkata ”He, apakah kau merasa bahwa kau pantas menemani aku
dalam permainan ini ?” Mahisa Pukat yang sebelumnya telah mendapat
ijin dan persetujuan dari Pangeran Kuda Pratama itupun berkata ”Ya
Pangeran. Aku sudah siap atas ijin Pangeran Kuda Pratama.” Bangsawan
muda itu m engerutkan dahinya. Ia m enyadari bahwa dirinya m asih
belum diangkat dengan gelar Pangeran meskipun pada saatnya hal itu
akan t erjadi. Tetapi ia tidak menghiraukannya. Wajahnya yang
terangkat itu memandang berkeliling. Lalu katanya ”Baiklah. Tetapi
jika terjadi sesuatu, itu bukan salahku. Aku sudah berusaha
memperingatkanmu,” “Terima kasih atas peringatan Pangeran. T etapi
bukankah aku ingin sekedar menambah pengetahuanku untuk memantapkan
tugasku. Ju stru karena aku bertugas di Ka satrian.” “Baiklah.
Marilah. Kita akan bermain-main tanpa senjata. Tetapi jika kulitmu
tidak cukup liat, maka jari-jariku akan dapat mengoyak perutmu.”
berkata Sawung Kemara. “Aku mohon agar hal seperti itu tidak
terjadi. Bukankah kita sekedar bermain-main ?” berkata Mahisa Pukat.
“Tetapi kadang-kadang kau mampu melindungi dirimu atau tidak. Jika
kau m erasa tidak, maka sebaiknya kita urungkan permainan ini, agar
aku tidak dipersalahkan telah menganiaya seorang Pelayan Dalam
meskipun terjadi dihadapan banyak sak si.” “Aku akan mencoba
melayani Pangeran” jawab Mahisa Pukat. Namun para bangsawan muda itu
terkejut. Ternyata dihalaman belakang Ka satrian itu telah hadir
orang-orang yang tidak diduga sebelumnya. Sesaat sebelum Mahisa
Pukat melayani Sawung Kemara, beberapa orang Pelayan Dalam yang
tidak b ertugas di Kasatrian itu datang. Seorang diantara mereka
yang berdiri dipaling depan berdiri tegak beberapa langkah
dari Pangeran Kuda Pratama sambil bekata ”Ratu Angabaya berkenan
hadir untuk menghormati Pangeran Kuda Pratama.” “Ratu Angabaya ?”
bertanya Pangeran Kuda Pratama. “Ya” jawab Pelayan Dalam ”Ratu
Angabaya telah berada dipintu gerbang halaman belakang Ka satrian.”
Pangeran Kuda Pratamapun segera bangkit dan meny ongsong Ratu
Angabaya yang kemudian memasuki halaman belakang Ka satrian. “Aku
ingin menyaksikan peringatan sewindu kehadiran Pangeran Kuda Pratama
di Ka satrian untuk mengemban tugasnya.” berkata Ratu Angabaya.
“Kami mengucapkan terima ka sih atas kehadiran Ratu Angabaya”
berkata Pangeran Kuda Pratama. “Nah, sebaiknya acara ini
dilanjutkan. Aku tidak akan mengganggu” berkata Sri Mahisa Cempaka
yang bergelar Narasimha itu. Suasana di halaman belakang
Kasatrian itu t elah berubah. Semuanya m enjadi diam bagaikan
membeku. Mahisa Pukat masih saja berdiri tegak. Demikian pula Sawung
Kemara. “Bukankah kalian ingin bermain bersama ?” bertanya Ratu
Angabaya Hampir di luar sadarnya Mahisa Pukatpun mengangguk hormat.
Dengan nada rendah Mahisa Pukat menjawab ”Hamba tuanku. Hamba ingin
mendapatkan pengalaman baru dari Pangeran Sawung Kemara” Ratu
Angabaya itu tersenyum. Katanya ”Apakah kau anak Mahendra yang
bernama Mahisa Pukat?” “Hamba tuanku,” jawab Mahisa Pukat. “Karena
itu maka wajahmu mirip benar dengan wajah paman Mahendra.” berkata
Rabu Angabaya. Namun katanya kemudian ”Silahkan. Aku ingin melihat
kalian bermain-main untuk menggembirakan Pangeran Kuda Pratama.”
Pangeran Kuda Pratama terseny um. Namun iapun segera mempersilahkan
Ratu Angabaya Mahisa Cempaka yang bergelar Narashimha itupun
kemudian duduk di sebelah Pangeran Kuda Pratama sambil berkata
”Marilah. Mulailah. Aku ingin menyaksikannya.” Para bangsawan muda
yang lainpun benar-benar terdiam. Demikian pula Sawung Kemarapun
menjadi berdebar-debar. Namun ada pula terpercik kegembiraan
dihatinya bahwa Ratu Angabaya akan menyaksikan kemampuannya setelah
ia berguru beberapa lama. Bahkan para bangsawan muda di Ka satrian
itu menganggapnya sebagai seorang yang terbaik diantara
mereka. Meskipun demikian ada juga sedikit keraguraguan dihatinya
setelah ia menyaksikan pameran ketrampilan para Pelayan Dalam
sebelumnya. Karena ternyata merekapun memiliki kemampuan.
Demikianlah atas isy arat Pangeran Kuda Pratama kedua orang
yang telah berdiri di arena itupun mempersiapkan diri. Mahisa
Pukat yang sudah jauh lebih matang dari bangsawan muda itu telah
bersiap untuk sekedar melayani saja. Meskipun demikian bangsawan
muda itu kemudian harus merasa bangsa kemampuannya tidak melampaui
kemampuan para Pelay an Dalam. Jika para Pelayan Dalam lebih banyak
mengalah, itu karena kedudukannya yang memaksanya berbuat demikian
meskipun sebenarnya hatinya tidak ikhlas. Sejenak kemudian, m aka
kedua orang di arena itu telah mulai bergeser. Bangsawan muda itu
mulai meny erang, sementara Mahisa Pukat berkisar menghindar. Namun
Sawung Kemara itu telah memburunya dengan serangan beruntun. Mahisa
Pukat sama sekali tidak tergetar oleh seranganserangan itu. Dengan
tangkasnya ia berloncatan menghindar. Meskipun serangan Sawung
Kemara m enjadi semakin cepat. Namun serangan-serangan itu tidak ada
yang berhasil menyentuh tubuh Mahisa Pukat. Untuk mengimbangi
serangan-serangan itu, maka sekalisekali Mahisa Pukatpun telah meny
erangnya. Tidak untuk menembus pertahanan Sawung Kemara, tetapi
sekedar untuk memberikan imbangan agar permainan itu tidak menjadi
berat sebelah dan menjemukan. Dengan demikian maka untuk beberapa
saat permainan itu memang nampak seimbang. Keduanya saling m eny
erang dan menghindar. Para bangsawan muda itupun menjadi tegang
seakan-akan mereka melihat pertempuran yang sebenarnya dari
dua orang yang memiliki kemampuan seimbang. Namun Pangeran
Kuda Pratama masih saja ter senyumsenyum. Ia melihat apa yang
sebenarnya terjadi. Demikian pula beberapa orang Pelayan Dalam
yang berpengalaman yang mengantar Ratu Angabaya turun ke
Kasatrian. Apalagi Ratu Angabaya itu sendiri. Ia tahu pasti apa
yang sedang terjadi di arena itu. Sebenarnyalah bahwa Mahisa
Pukat telah membiarkan lawannya yang muda itu berbuat apa
saja. Bahkan sekali-sekali Mahisa Pukat memancing agar lawannya
bertanding semakin sengit. Loncatan-loncatannya menjadi semakin
cepat dan panjang, apalagi Sawung Kemara berusaha untuk secepatnya
dapat mengalahkan Pelayan Dalam yang dianggapnya t erlalu
sombong itu. Tetapi usahanya itu seakan-akan selalu sia -sia.
Serangannya tidak pernah meny entuh sasaran. Sementara itu Pelay an
Dalam itu masih saja berloncatan dengan tangkasnya. Sawung Kemara
mulai menjadi gelisah ketika Usahanya sama sekali tidak berarti.
Serangan-serangannya sama sekali tidak pernah menyentuh tubuh Mahisa
Pukat, sementara mahisa Pukat masih tetap segar sebagaimana saat
mereka mulai bertanding. Keringat semakin deras mengalir dari
lubang-lubang kulit Sawung Kemara. Sejalan dengan itu, maka
tenaganyapun mulai menjadi susut, sementara Mahisa Pukat masih saja
memancing untuk bertanding pada jarak yang panjang. Ketika
nafasnya mulai menjadi terengah-engah, maka Mahisa Pukat mulai
menggelitiknya dengan sentuhansentuhan pada tubuhnya. Meskipun
sentuhan-sentuhan itu tidak menyakitinya, tetapi sentuhan-sentuhan
itu sangat menggelisahkan. Mahisa Pukat justru m engisyaratkan bahwa
sentuhan-sentuhan itu semakin lama terasa menjadi semakin keras.
Ketika tiga ujung jari Mahisa Pukat yang merapat menyentuh
pundaknya, maka Sawung Kemara itu terdorong beberapa langkah surut
sambil menyeringai menahan sakit yang mulai meny engat. Tetapi
Mahisa Pukat tidak memburunya. Ia ju stru berdiri tegak dengan kaki
renggang menunggu Sawung Kemara memperbaiki kedudukannya yang
goyah. Sawung Kemara memang segera mempersiapkan diri. Namun
kegelisahannya semakin mencengkam jantungnya. Mahisa Pukat memang
tidak segera meny erang. Selangkah demi selangkah ia maju mendekat,
sementar Sawung Kemara menjadi semakin gelisah. Mahisa Pukat yang
menjadi semakin dekat itu seakan-akan memandanginya dengan mata yg
memancarkan api dendam yang meny orot kewajahnya. Sementara itu
suara langkahnya bagaikan derap gunung yang bergetar mendekatinya.
Ia sama sekali tidak melihat bahwa Mahisa Pukat justru tersenyum
kepadanya. Langkahnya perlahan-lahan untuk memberi kesempatan kepada
Sawung Kemara mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Namun semakin dekat
wajah Mahisa Pukat itu menjadi semakin mengerikan. Seperti seekor
serigala yang m enganga dengan taringnya yang tajam, m atanya
yang merah menyala serta lidahnya yang terjulur sambil menggeram.
Sawung Kemara tiba-tiba kehilangan kendali atas dirinya. Kegelisahan
dan bahkan ketakutan yang mencekam jantungnya membuatnya tidak
berperhitungan lagi. Dengan serta merta Sawung Kemara itu berteriak
ny aring sambil meloncat menerkam Mahisa Pukat. Ketakutan serta
kecemasannya yang semakin besar membuatnya menjadi sangat garang.
Tetapi Mahisa Pukat tidak membentur serangan Sawung Kemara itu.
Bahkan dengan cepat Mahisa Pukat menghindar sehingga terkaman Sawung
Kemara tidak mengenai sa saran. Karena itu, justru bangsawan muda
itu telah mengerahkan tenaga dan kemampuannya tanpa kendali, maka
demikian terkamannya tidak mengenai sa saran, Sawung Kemara itu
telah jatuh terjerembab. Beberapa orang bangsawan muda yang
menyaksikan permainan itu tidak dapat menahan tertawanya. Dengan
serta merta mereka tertawa sambil bertepuk tangan. Namun ketika
Sawung Kemara bangkit dan memandang berkeliling maka suara tertawa
itu telah berhenti dengan sendirinya. Ketika Sawung Kemara memandang
Ratu Angabaya, maka dilihatnya ia sedang tersenyum menyaksikannya.
Demikian pula Pangeran Kuda Pratama. Karena itu, maka Sawung Kemara
itupun menjadi semakin gelisah. Ternyata kemampuan para Pelay an
Dalam itu jauh lebih tinggi dari yang diperkirakannya. Ia bukan saja
melihat para Pelay an Dalam itu mempertunjukkan kemampuan mereka,
tetapi ia sendiri sudah mencobanya. Namun ternyata bahwa
kemampuannya agaknya dianggap tidak berarti apa -apa. Pelay an Dalam
yang bernama Mahisa Pukat itu masih ssya tetap tegar dan
bahkan keringatnya seakan-akan sama sekali tidak mengembun dari
lubang-lubang kulitnya. Ternyata Pangeran Kuda Pratama melihat
kesulitan bangsawan muda itu. Iapun t idak berniat untuk
mempermalukannya dihadapan banyak orang. Iapun mengetahui bahwa
Mahisa Pukatpun sama sekali tidak berniat untuk meny ombongkan diri.
Jika permainan itu dilakukan, semata-mata karena Mahisa Pukat ingin
menempatkan kedudukan Pelay an Dalam pada tempat yang
sewajarnya dihadapan para bangsawan muda itu. Karena itu, maka
Pangeran Kuda Pratama itupun kemudian berkata ”Baiklah. Sudahlah.
Permainan ini kita hentikan. Sudah terlalu lama kita duduk di sini,
sementara hidangan telah disiapkan. Nah, siapa yang tidak setuju
jika hidangan yang sudah siap itu disuguhkan sekarang.” Hampir
serentak anak-anak muda itu menyahut ”Setuju paman, setunju.”
Perhatian anak-anak muda itu dengan cepat beralih. Mereka kemudian
telah berpaling dari arena itu ke hidangan yang telah disiapkan.
Meskipun demikian, apa yang telah terjadi di arena itu bukannya
tidak berkesan sama sekali. Ketika kemudian beberapa orang pelayan m
enghidangkan minuman dan makanan, maka sambil makan bangsawan muda
itu mulai m erenung. Mereka mulai menilai penglihatan mereka pada
permainan-permainan yang telah dilakukan di arena. Ketika
seorang Pelay an Dalam memperagakan kemampuannya dalam olah
kanuragan, olah senjata dan bahkan dipunggung kuda. Kemudian
permainan yang sudah dilakukan antara Sawung Kemara dan Mahisa
Pukat. Bagaimanapun juga mereka yang menyaksikan permainan itu
mengerti, bahwa Sawung Kemara tidak mampu menundukkan Mahisa Pukat,
meskipun m ereka tidak m elihat bahwa Mahisa Pukat mampu m
engalahkan Sawung Kemara, namun setidaktidaknya Sawung Kemara tidak
dapat menang pula atas Mahisa Pukat. Kehadiran Ratu Angabaya, yang
sebenarnya memang sudah dihubungi oleh Pangeran Kuda Pratama,
membuat peri stiwa itu semakin membekas dihati para bangsawan muda.
Ternyata Ratu Angabaya menyaksikan langsung betapa para Pelay an
Dalam m emiliki kemampuan jauh lebih baik dari bangsawan muda
yang berada di Kasatrian. Bahkan pada kesempatan berikutnya,
setelah bangsawan-bangsawan muda yang berada di Ka satrian itu
selesai makan dan minum bersama-sama, Ratu Angabaya menganjurkan
agar mereka meningkatkan kemampuan mereka “Kalian dapat belajar
kepada Mahisa Pukat. Pelayan Dalam yang mahisa muda.” berkata Ratu
Angabaya ”kecuali kalian yang masih berguru k epada beberapa orang
guru yang sudah ditunjuk bagi kalian. Tetapi Mahisa Pukat
setidak -tidaknya akan dapat menjadi kawan berlatih yang baik
atas persetujuan guru kalian masing-masing. Pangeran Kuda Pratama
akan dapat membicarakannya dengan guru kalian.” Anak-anak muda itu
mengangguk-angguk. Kebanyakan dari mereka memang sedang berguru. Ada
tiga orang guru yang ditunjuk bagi para bangsawan muda itu. Namun m
asih ada dua orang diantara mereka yang belum mulai berguru. Mereka
baru saja melewati usia duabelas tahun. Merekapun termasuk penghuni
baru di Kasatrian. Demikianlah, maka untuk beberapa saat lamanya
Ratu Angabaya masih saja berada di halaman belakang Kasatrian
bersama-sama para penghuni Kasatrian. Ternyata bersama Ratu Angabaya
para bangsawan muda itu sempat bergembira bersama-sama. Sikap
yang diam membeku sejak kehadirannya, perlahan-lahan dapat
dipecahkan karena sikap Ratu Angabaya itu sendiri. Tetapi
kegembiraan itu tidak berlangsung terlalu lama. Ratu Angabaya itupun
kemudian minta diri meninggalkan Ka satrian. Ketika acara-acara
itupun selesai, maka sikap penghuni Ka satrian terhadap para Pelay
an Dalam itupun telah menjadi berubah. Mereka tidak lagi menganggap
bahwa para Pelay an Dalam itu tidak lebih dari para Pelay an yang
dapat diperlakukan sekehendak hati para bangsawan muda itu. Ju stru
karena mereka mengetahui bahwa para Pelayan Dalam itu memiliki
kemampuan sebagaimana seorang prajurit, maka merekapun menjadi agak
segan karenanya. Sementara itu, yang dikatakan oleh Ratu Angabaya
tentang Mahisa Pukat m emang telah m enimbulkan pikiran baru bagi
Pangeran Kuda Pratama. Dua orang penghuni Kasatrian yang masih baru
itu masih belum mulai berguru kepada salah satu diantara tiga orang
guru yang ditunjuk bagi para bangsawan muda itu. Karena itu, maka
Pangeran Kuda Pratama telah berbicara dengan Mahisa Pukat, apakah ia
bersedia untuk menjadi orang keempat yang memberikan tuntunan oleh
kanuragan bagi kedua orang bangsawan muda itu. “Tetapi bukanlah
tugasku hanya sementara di Kasatrian ?” bertanya Mahisa Pukat
”setiap saat aku dapat dipindahkan ketempat yang lain.” “Meskipun
kau dipindahkan, tetapi tugasmu tentu masih disekitar istana ini
saja. Kau t idak akan bertugas ditempat lain karena kau seorang
Pelay an Dalam. Jika Sri Maharaja atau Ratu Angabaya setuju, maka
kau akan dapat ditetapkan menjadi salah seorang guru di Kasatrian.
Itu kalau kau tidak berkeberatan.” “Tentu saja aku akan m enjalankan
segala perintah. Tetapi agaknya hal itu akan dapat menghambat
tugas-tugasku sebagai Pelay an Dalam. Sebagai seorang guru, maka
waktuku tentu terikat karena disaat-saat yang telah ditetapkan
aku harus berada disanggar. Sementara itu setiap saat aku akan dapat
menerima perintah yang harus aku jalankan pula. Jika waktu itu
berhimpitan maka aku akan mengalami kesulitan. Sebagai seorang guru
aku harus berada ditempat sesuai dengan waktu yang telah aku
tetapkan sendiri. Jika aku tidak ada ditempat pada waktu-waktu
yang sudah ditentukan itu, maka m urid-muridkupun tidak akan
menghargai ketentuanketentuan itu. Bahkan ketentuan-ketentuan
yang lain pula.” Pangeran Kuda Pratama mengangguk-angguk.
Katanya ”Aku m engerti. Tetapi bagaimana pendapatmu jika Manggala
Pelay an Dalam, Gajah Saraya kemudian membebaskanmu dari tugas-tugas
yang lain dan mengangkatmu menjadi pelatih khusus bagi kedua
orang anak muda yang masih belum terlanjur diserahkan kepada orang
lain itu.” “Pangeran” berkata Mahisa Pukat kemudian ”sebenarnyalah
bagaimana menurut pendapat Pangeran. Apakah aku pantas untuk menjadi
guru dari kedua orang bangsawan muda itu ?” “Aku sudah mendengar
beberapa tentang kau, Mahisa Pukat. Aku kenal baik dengan ay ahmu,
Ki Mahendra. Aku kenal baik dengan Arya Kuda Cemani. Akupun tahu
meskipun hanya dari pemberitahuan orang lain, apa yang pernah
terjadi antara kau dan Senapati Sawungtuwuh. Juga yang telah kau
lakukan atas mPu Damar. Karena itu, maka menurut pendapatku, kau
memiliki kemampuan untuk menjadi salah seorang guru bagi para
anak-anak muda penghuni Kasatrian ini. Lebih dari itu, kau akan
dapat memberikan tuntunan bukan saja dalam olah kanuragan, tetapi
juga olah kajiwan.” Mahisa Pukat hanya dapat menundukkan kepalanya.
Ternyata Pangeran Kuda Pratama sudah mengetahui banyak sekali
tentang dirinya Mahisa Pukat sama sekali tidak menyadari, bahwa
Pangeran yang bertugas di Kasatrian itu menaruh perhatian demikian
besarnya kepadanya. Karena itu, maka Mahisa Pukat tidak dapat
mengelak lagi. Nampaknya Pangeran Kuda Pratama benar-benar berniat
untuk menempatkannya di Ka satrian bukan saja sebagai pemimpin
kelompok Pelay an Dalam, tetapi juga sebagai seorang guru bagi kedua
orang bangsawan muda yang masih belum mulai berguru. Karena itu maka
Mahisa Pukat itupun kemudian menyerahkan segala sesuatunya kepada
kebijak sanaan Pangeran Kuda Pratama. Namun per soalan lain yang
tidak pernah diduga sebelumnya telah terjadi. Rencana untuk
menempatkan Mahisa Pukat bukan saja sebagai pemimpin kelompok Pelay
an Dalam, tetapi juga sebagai guru itu telah menimbulkan persoalan
pada tiga orang guru yang telah lebih dahulu ada di Ka
satrian. Apalagi ketika murid-murid mereka menceriterakan bahwa para
Pelayan Dalam itu memiliki kemampuan yang tinggi dan bahkan Sawung
Kemara tidak mampu mengalahkan seorang diantara para Pelayan Dalam
itu. mPu Kamenjangan, guru Sawung Kemara yang mendengar ceritera
tentang pertandingan itu menggeram ”Licik sekali. Anak itu masih
terlalu hijau untuk dinilai dari sisi olah kanuragan.” Apalagi
ketika mPu Kamenjangan itu mengetahui bahwa Pelay an Dalam yang
bertanding melawan Sawung Kemara adalah Pelayan Dalam yang diusulkan
untuk membimbing dua orang bangsawan yang masih sangat muda diantara
para bangsawan yang ada di Kasatrian itu. Dengan nada marah
mPu Kamenjangan berkata ”Anak yang baru mampu mengimbangi
Sawung Kemara itu sudah dianggap mumpuni dan diusulkan untuk m
enjadi guru dari kedua orang bangsawan muda yang baru tumbuh itu.”
Kedua orang guru yang lain, yang bersama-sama dengan mPu
Kamenjangan membimbing para bangsawan muda itu sependapat dengan mPu
Kamenjangan, bahwa Pelayan Dalam itu dianggap masih belum waktunya
untuk menjadi salah seorang guru bagi kedua orang bangsawan
yang masih t erlalu muda itu. “Keduanya adalah anak yang baik,
yang memiliki hari depan yang cerah jika mereka berada dibawah
bimbingan tangan yang baik. Karena itu, aku m erasa berkeberatan
jika keduanya akan dibimbing oleh Pelay an Dalam yang baru
datang dan m emiliki kemampuan seimbang dengan Sawung Kemara.”
Ternyata keberatan mPu Kamenjangan itu benar-benar disampaikan
kepada Pangeran Kuda Pratama. mPu Kamenjangan m enganggap bahwa
pengusulan Mahisa Pukat itu terlalu tergesa-gesa. “Tetapi kedua anak
itu sudah semakin besar. Ia tumbuh menjadi remaja yang harus
meninggalkan dunia anakanaknya.” “Pangeran benar” jawab mPu
Kamenjangan ”keduanya memang harus mulai. Yang kami maksudkan dengan
tergesagesa bukan kapan keduanya harus mulai. Tetapi penunjukkan
Pelay an Dalam itu. Apakah tidak ada orang lain yang lebih
baik dari Pelayan Dalam itu? Apakah diantara kami bertiga tidak
mampu membimbing kedua orang bangsawan muda itu sehingga harus
ditunjuk orang lain yang masih diragukan kemampuannya?” Pangeran
Kuda Pratama menarik nafas dalam-dalam Ia tidak mgin meny ebut apa
saja yang telah dilakukan oleh Mahisa Pukat, karena hal itu tentu
tidak diinginkan oleh Mahisa Pukat sendiri yang kemudian dikenalnya
sebagai seorang yang rendah hati. Tetapi Pangeran Kuda Pratama
itu harus menjawab Katanya ”mPu Kamenjangan. Kedua anak-anak itu
masih melangkah pada tataran permulaan. Seandainya Mahisa Pukat
masih belum mempunyai kemampuan cukup tinggi bukankah apa yang
dimilikinya itu sudah cukup bagi kedua anak-anak itu?” “Pangeran”
jawab mPu Kamenjangan ”justru keduanya masih sedang tumbuh. Keduanya
memerlukan tuntutan yang terbaik agar landasan yang tersu sun
dalam diri mereka adalah landasan yang terkuat bagi mereka.
Apalagi menurut pengamatan kami, kedua orang bangsawan muda itu
memiliki dasar yang sangat kuat, sehingga jika mereka
mendapatkan bimbingan yang terbaik, maka keduanya akan dapat
menjadi orang yang terbaik pula.” Pangeran Kuda Pratama
mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian menjawab ”Aku sependapat
mPu. Tetapi biarlah kami mencobanya. Apakah Mahisa Pukat dapat
melakukan tugasnya dengan baik atau tidak.” “Kami sudah
membicarakannya Pangeran. Kami meragukannya” Pangeran Kuda Pratama
itu termangu-mangu sejenak. Tetapi ia sama sekali tidak ingin
merubah niatnya untuk menyerahkan kedua orang anak yang sedang
tumbuh itu kepada Mahisa Pukat. Keduanya harus tumbuh dan berkembang
dengan baik. Bukan saja menjadi anak muda yang bertandasan ilmu yang
baik, tetapi juga sifat dan wataknya. Karena itu, maka katanya
kemudian ”mPu. Aku sudah berbicara dengan Ratu Angabaya dan bahkan
sudah disampaikan pula kepada Sri Maharaja. Ternyata baik Ratu
Angabaya maupun Sri Maharaja tidak berkeberatan untuk menyerahkan
kedua bangsawan muda itu kepada Mahisa Pukat.” “Tetapi baik Ratu
Angabaya maupun Sri Maharaja belum mengetahui siapakah Mahisa Pukat
itu.” jawab mPu Kamenjangan. “Ratu Angabaya menyaksikan permainan
para Pelay an Dalam itu di halaman belakang Kasatrian” jawab
Pangeran Kuda Pratama. “Sayang. Kami tidak mendapat kesempatan hadir
waktu itu. Seandainya saja kami hadir, mungkin kami dapat memberikan
pendapat kami lebih terperinci tentang Pelay an Dalam itu” berkata
mPu Kamenjangan. Pangeran Kuda Pratama mengangguk-angguk kecil.
Katanya ”Tetapi aku dan Ratu Angabaya hadir waktu itu. Kami melihat
apa yang dilakukan oleh para Pelayan Dalam termasuk Mahisa
Pukat.” “Jika saja kami juga melihatnya” desis mPu Kamenjangan. -
“Apakah mPu tidak percaya kepadaku dan kepada Ratu Angabaya serta
beberapa orang perwira Pelay an Dalam yang menyertai Ratu Angabaya
waktu itu? Apakah mPu tidak mengakui bahwa aku dan Ratu Angabaya
juga memiliki kemampuan olah kanuragan sebagaimana mPu Kamenjangan?”
mPu Kamenjangan terkejut mendengar pertanyaan itu. Dengan tergesa
-gesa mPu Kamenjangan menjawab ”Tentu, tentu Pangeran. Pangeran dan
Ratu Angabaya memiliki kemampuan yang tinggi.” <--sepertinya ada
bagian cerita yang terlewat di buku aslinya-> Ternyata semakin
lama anak-anak yang masih terlalu muda itupun semakin tertarik
dengan permainan-permainan yang dilakukan bersama Mahisa Pukat.
Bukan saja setiap pagi berlari-lari dan bekejaran di halaman
belakang Kasatrian, tetapi Mahisa Pukat kadang-kadang telah membawa
mereka keluar istana. Dengan ujud dan pakaian orang kebanyakan,
keduanya kadang-kadang telah menempuh perjalanan yang agak panjang.
Bahkan mendaki bukit-bukit kecil. Melihat alam yang luas dari lereng
pebukitan. Satu hal yang jarang sekali mereka lakukan
sebelumnya. Ternyata alam itu sangat menarik bagi keduanya. Mahisa
Pukat sering m enceriterakan betapa luasny a alam ini. Terdiri dari
ngarai, lembah, bukit-bukit dan bahkan gunung-gunung yang tinggi
yang nampak dari kejauhan. Jauh dibelakang cakrawala lautan
yang luas terbentang seakan-akan tanpa tepi. “Dimalam hari
kita melihat bintang-bintang dilangit” berkata Mahisa Pukat.
“Menarik sekali” desis salah seorang dari kedua orang anak muda itu.
“Semakin kalian menjadi besar, maka harus semakin banyak yang
kalian lihat. Bukan saja alam yang mengagumkan ini. Tetapi
kalian juga harus semakin dekat dengan Pencipta Alam ini.” berkata
Mahisa Pukat kemudian. Kedua bangsawan muda itu mengangguk-angguk.
Ternyata alam telah m emberikan kesan yang lain dari sekedar m
elihat istana, halaman yang dibatasi oleh dinding -dinding
istana dan bilik-bilik yang dihiasi dengan perabot yang
mahal. Namun Mahisa Pukat tidak saja mengajak mereka melihat lembah
dan lereng-lereng pegunungan yang hijau segar. Tetapi Mahisa
Pukat juga mengajak kedua bangsawan muda itu memasuki
padukuhan-padukuhan kecil. Mereka sempat melihat kehidupan rakyat
Singasari. Melihat rumah-rumah bambu beratap ilalang. Anak-anak yang
telanjang berlarilarian disepanjang pematang m engejar kambing yang
m ereka gembalakan. Kehidupan di padesan itu memang menimbulkan
beberapa pertanyaan dihati bangsawan-bangsawan muda itu. Pakaian
mereka yang kusut. Tubuh mereka yang kekurus-kurusan.
Namun keduanya melihat wajah-wajah yang cerah anak-anak
padesan yang duduk sambil meniup seruling disaat kambing dan
lembu mereka makan rumput segar di ara-ara yang hijau. “Ternyata
kehidupan itu beraneka” desis salah seorang bangsawan muda itu. “Ya”
sahut yang seorang lagi ”diistana kita melihat segalanya
seakan-akah hanya senada. Tetapi dalam kehidupan yang lebih luas
kita m elihat warna-warna'yang berbeda -beda. Itulah yang menarik.”
“Dan jiwa kitapun akan menjadi semakin kaya. Pandangan kita akan
luas karena penglihatan kita juga semakin banyak dan beraneka
itulah” sahut Mahisa Pukat. Keduanya justru m enjadi semakin senang
bergaul dengan Mahisa Pukat. Bahkan kadang-kadang tanpa mengatakan
siapa mereka sebenarnya, Mahisa Pukat mengajak mereka berhubungan
dengan orang-orang di padesan. Berbicara dengan mereka dan
mengetahui serba sedikit seluk-beluk kehidupan mereka. Ternyata
pengetahuan itu merupakan kelebihan bangsawan-bangsawan m uda itu
dari bangsawan-bangsawan yang lain yang lebih tua. Dengan
pandangan yang lebih luas dan beraneka itulah, maka permainan
kedua anak itupun menjadi berkembang. Mereka memiliki ketrampilan
mendaki lereng-lereng pebukitan. Menuruni lembah-lembah yang t
erjal. Kaki merekapun m enjadi semakin kuat dan telapak kaki mereka
menjadi menebal. Selain mengamati, memanjat dan menuruni lereng dan
lembah-lembah pegunungan, maka merekapun diajak oleh Mahisa Pukat
untuk memperhatikan berjeni s-jenis binatang ditepi-tepi hutan.
Mereka sempat melihat bagaimana seekor kera dengan terampil memanjat
pepohonan. Seekor kelinci yang berlari dengan cepat menyusup
diantara gerumbulgerumbul liar menghindari duri-duri tajam. Seekor
anak kambing yang berloncatan dan berlari-lari dilereng bukit sal
ing mengejar. Seekor ular yang dengan diam-diam dan licik mengintai
mangsanya menyusup tanpa menimbulkan keributan. Mereka juga m
emandang dan mengamati burungburung dilangit. Burung sikatan yang
lincah dengan cekatan. Burung srigunting yang mampu menantang dan
melawan burung-burung yang lebih besar dan kuat. Burung bangau
yang lamban tetapi sangat sabar menanti mangsanya sambil berdiri
flisebelah kakinya dipinggir rawa-rawa. Ternyata semuanya itu tidak
pernah diperhatikan oleh bangsawan-bangsawan yang lain di Kasatrian.
Tetapi Mahisa Pukat juga menganjurkan agar kedua orang muridnya itu
mengikuti kegiatan yang dilakukan di Kasatrian. Keduanya juga
belajar menari seperti yang lain. Belajar unggah-ungguh sesuai
dengan adat dan kebiasaan mereka, meskipun sebagian dari anak-anak m
uda itu hanya mengetrapkannya dalam pertemuan-pertemuan resmi atau
jika mereka menghadap diistana, karena apa yang mereka lakukan
sehari-hari di Kasatrian diluar pengamatan Pangeran Kuda Pratama
sama sekali tidak lagi mengingat unggahunggah dan tatanan yang
seharusnya berlaku. Meskipun demikian, ternyata kedua orang anak
yang baru memasuki masa remajanya itu menjadi agak asing dari
anakanak muda penghuni Kasatrian yang lain. Justru karena
keduanya berada dalam asuhan seorang guru yang lain dengan
mempergunakan cara yang lain pula dalam menuntun kedua
murid-muridnya itu. Kedua.orang remaja itu memang merasa
keterasingan mereka. Keduanya jarang sekali terlibat dalam
kegiatankegiatan bersama dengan para penghuni Ka satrian yang
lain. Mereka kadang-kadang sengega ditinggalkan dan tidak diajak
serta apabila para penghuni Kasatrian itu melakukan sesuatu. Ketika
hal itu mereka sampaikan kepada Mahisa Pukat, maka Mahisa Pukatpun
menasehatkan kepada m ereka, agar mereka bersabar dan berusaha
mengikuti semua kegiatan sebanyak-banyaknya. “Jika kita tidak m
enjauhi mereka, m aka pada suatu saat merekapun tidak akan
memencilkan kita. Mereka tahu bahwa kita sama sekali tidak mempunyai
niat buruk terhadap mereka” berkata Mahisa Pukat. Kedua remaja itu
memang sudah terlanjur terikat pada Mahisa Pukat. Karena itu, maka
mereka percaya kepada gurunya yang masih muda itu. Sementara
itu, dengan tugasnya yang baru Mahisa Pukat menjadi semakin
sibuk. Ia tidak saja m emimpin sekelompok Pelay an Dalam yang
masih baru, tetapi juga harus m enuntun dua orang remaja di
Kasatrian itu. Tugas yang bukan sekedar main-main, karena ia
harus mempertanggung jawabkan hasilny a kelak. Kedua remaja itu
harus tumbuh dan berkembang menjadi remaja yang baik dan
memenuhi keinginan para bangsawan di istana Singasari.
Setidaktidaknya keduanya harus memiliki kemampuan seimbang dengan
yang lain, yang berguru tidak kepada Mahisa Pukat. Dengan tugas
rangkapnya itu, maka kesempatan Mahisa Pukat untuk meninggalkan
Kasatrian menjadi semakin sempit. Meskipun demikian, pada saat-saat
tertentu ia dapat pulang kerumah menemui ay ahnya dan bahkan juga
sekali-sekali sempat menemui Sasi dirumahnya. Meskipun dengan
demikian Sasi menjadi jarang bertemu dengan Mahisa Pukat, namun Sasi
merasa berbangga pula bahwa Mahisa Pukat bukan lagi anak muda yang
hanya berlalu-lalang dijalan-jalan Kotaraja. Tetapi ia sudah
mempunyai pegangan yang mapan. Meskipun tidak lebih dari seorang
Pelay an Dalam, namun karena ia m asih muda, maka kesempatan masih
luas terbentang dihadapannya. Seandainya Mahisa Pukat mampu meniti
kesempatan, maka ia tentu akan meningkat pada kedudukan yang lebih
baik. Dalam pada itu, setelah beberapa lama Mahisa Pukat telah mulai
dengan dasar-dasar olah kanuragan yang meskipun tidak langsung,
tetapi sudah lebih mengarah lagi. Kedua remaja itu diajaknya untuk
bertanding kecepatan berlari. Kemudian meloncat setinggi-tingginya
yang dapat mereka lakukan. Meloncat pula sejauh-jauhnya.
Menggerakkan seluruh anggauta badannya dan menguasai tubuhnya
sebaik-baiknya. Baru kemudian, mereka diperkenalkan dengan unsur
-unsur gerak yang paling sederhana. “Kalian tidak usah tergesa
-gesa” berkata Mahisa Pukat ”kalian masih sangat muda sehingga
kalian mempunyai kesempatan yang sangat luas”. Kedua remaja itu
mengangguk-angguk. Mereka memang tidak mengeluh. Mereka lakukan
semua petunjuk Mahisa Pukat sebaik-baiknya. Bagi Mahisa Pukat, kedua
remaja itu memang berbeda dengan Mahisa Amping. Mahisa Amping yang
pada dasarnya sudah ditempa sejak kanak-kanak oleh keadaan dan
lingkungannya, maka ia memiliki beberapa kelebihan dari kedua remaja
itu. Meskipun demikian kedua remaja itupun akan dapat ditempa
sehingga m enjadi remaja yang memiliki kelebihan, karena pada
dasarnya keduanya adalah remaja yang baik. Berbadan kokoh kuat dan
berotak cerdas sehingga Mahisa Pukat jarang menemui kesulitan
menghadapi keduanya. Pa da waktu-waktu selanjutnya, selain
unsur-unsur gerak yang masih sederhana, Mahisa Pukatpun masih tetap
membawa mereka ketempat-tempat terbuka. Justru dialam terbuka itu
mereka menemukan lebih banyak dari sekedar hilir -mudik di istana.
Dalam waktu yang terhitung singkat, maka Mahisa Pukat telah dapat m
elihat perubahan pada kedua remaja ter sebut. Tubuh m ereka nampak
menjadi semakin kuat. Gerak m ereka menjadi cepat dan cekatan.
Pernafasan mereka menjadi semakin teratur sementara tubuh mereka
semakin dapat mereka kuasai dengan baik. Karena itu, maka ketika
mereka harus m empelajari unsurunsur gerak pada tataran selanjutnya,
maka mereka sama sekali tidak mengalami kesulitan. Perubahan yang
terjadi pada kedua remaja itu tidak luput dari perhatian ketiga
orang guru anak-anak muda penghuni Ka satrian itu. Didasar hatinya
yang paling dalam mereka mengakui, bahwa perkembangan kedua
orang remaja itu ternyata cukup memuaskan. Meskipun tidak meningkat
dengan serta-merta. Namun ketiga orang guru anak-anak muda di
Kasatrian itu telah m enemui Pangeran Kuda Pratama untuk memberikan
wawasan tentang kedua orang remaja itu. “Mereka terlalu banyak
bermain-main saja” berkata salah seorang dari mereka. Namun
Pangeran. Kuda Pratama menjawab ”Mereka sedang belajar sambil
bermain. Tetapi permainan mereka sama sekali tidak bertentangan
dengan jalur yang harus mereka jalani dalam m enimpa ilmu
kanuragan. Aku senang dengan cara yang dipergunakan oleh
Mahisa Pukat. Anak-anak itu sama sekali tidak merasa terpaksa
berlatih di sanggar yang tertutup rapat dan pengab.” Tanggapan
Pangeran Kuda Pratama itu membuat mPu Kamenjangan dan kawan-kawannya
menjadi semakin membenci Mahisa Pukat yang masih belum merasa
kenal dengan baik itu. Menurut mPu Kamenjangan maka Mahisa Pukat
ternyata telah mendapat tempat yang paling baik diantara para guru
di Kasatrian. Meskipun Pangeran Kuda Pratama sudah menjelaskan
kepada m ereka, bahwa cara yang ditempuh oleh Mahisa Pukat itu m
emang masih selalu dalam pengamatan namun agaknya Pangeran Kuda
Pratama cenderung menganggap bahwa cara Mahisa Pukat itu lebih baik
dari cara guru-guru yang lain. “Marilah kita lihat bersama-sama”
berkata Pangeran Kuda Pratama ”jika ternyata kemudian Mahisa Pukat
tidak berhasil dengan caranya, maka segala sesuatunya tentu perlu
ditinjau kembali. Kami tentu juga tidak ingin mengorbankan kedua
orang remaja yang sedang tumbuh itu.” “Kasihan mereka” berkata mPu
Kamenjangan ”mereka akan menjadi korban penjajagan kemampuan Mahisa
Pukat.” “Tentu sekarang kita belum dapat mengatakan demikian” jawab
Pangeran Kuda Pratama ” sudah aku katakan. Aku senang dengan cara
yang ditempuh Mahisa Pukat. Tetapi sudah tentu aku tidak akan
melepaskan penilaian yang wajar. Karena persoalannya akan
menyangkut masa depan dua orang remaja di Ka satrian ini.” mPu
Kamenjangan memang mengangguk-angguk. Tetapi di hatinya tersimpan
kebencian yang semakin mendalam kepada Mahisa Pukat. Apalagi Mahisa
Pukat mempergunakan cara yang lebih disenangi oleh Pangeran Kuda
Pratama. Bagaimanapun juga perasaan ketiga orang guru yang lain,
namun Mahisa Pukat berjalan terus sebagaimana ia memulainya. Ia
masih saja membawa murid-muridnya keluar dinding istana. Apalagi mPu
Kamenjangan dan kedua orang guru yang lain seakan-akan tidak
memberikan kesempatan untuk berlatih disanggar. Hampir setiap saat
sanggar itu tengah dipergunakan untuk berlatih dibawah bimbingan
ketiga orang guru yang sudah lebih dahulu berada di Ka satrian.
Pangeran Kuda Pratama memperhatikan perkembangan tuntunan atas
penghuni Kasatrian itu dengan saksama. Setidak-tidaknya ia melihat
ketiga orang guru yang sebelumnya berada di Kasatrian itu bekerja
lebih keras. Dengan demikian maka anak-anak muda di Kasatrian itupun
harus mengikuti perkembangan ketiga orang gurunya. Mereka juga
berlatih lebih keras dari yang sudah mereka lakukan. “Satu
akibat yang baik dari kehadiranmu” berkata Pangeran Kuda
Pratama kepada Mahisa Pukat. “Ya Pangeran” jawab Mahisa Pukat.
“Meskipun setiap kali aku minta mereka meningkatkan latihan-latihan
mereka setiap saat, tanpa ada dorongan seperti kehadiranmu, maka mPu
Kamenjangan tentu tidak akan menjadi serajin sekarang” berkata
Pangeran Kuda Pratama. Lalu katanya selanjutnya ”Dengan demikian
maka kehadiranmu sudah memberikan arti tersendiri.” Mahisa Pukat
tersenyum sambil mengangguk hormat. Katanya ”Agaknya itu adalah arti
terpenting dari kehadiranku disini.” Pangeran Kuda Pratamapun
tertawa. Katanya ”Teruskan caramu. Aku senang. Mudah-mudahan kau
berhasil.” “Pangeran” berkata Mahisa Pukat ”setiap saat aku menunggu
penilaian Pangeran atas cara yang aku lakukan. Jika cara itu salah,
maka sebelum terlambat, aku harus merubahnya.” “Sampai sekarang aku
tidak m elihat keberatannya. Namun agaknya kau juga harus sering m
empergunakan sanggar itu. Bukankah waktunya sudah terbagi dengan
baik.” “Namun kami jarang sekali mendapat kesempatan itu. Hampir
setiap saat sanggar itu terpakai. Bahkan saat-saat yang seharusnya
kami pergunakan. Mungkin m ereka tahu bahwa kami memang jarang
mempergunakan sanggar itu. Tetapi dimusim basah, maka kami memang
harus berlatih lebih banyak didalam sanggar.” berkata Mahisa Pukat.
“Karena itu sebaiknya waktu yang menjadi bagianmu kau pergunakan
seperlunya, agar kesempatan itu tetap dapat kau pergunakan pada
saat-saat mendatang. Jika waktumu sudah sering dipergunakan oleh
orang lain, maka pada saatnya kau benar-benar tidak mempunyai
kesempatan mempergunakan sanggar.” Mahisa Pukat mengangguk kecil
sambil menjawab ”Baik Pangeran. Aku akan melakukannya.” Seperti
petunjuk Pangeran Kuda Pratama, maka Mahisa Pukatpun mulai mengambil
waktu yang diperuntukkan baginya sepenuhnya. Meskipun
mula-mula sedikit menimbulkan persoalan, tetapi akhirnya ketiga
orang guru yang lain harus mengikuti petunjuk waktu yang sudah
disediakan. Sementara itu, pada kesempatan yang lain Mahisa
Pukat masih tetap sering m embawa kedua remaja itu keluar istana.
Bahkan keluar Kotaraja. Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat merasa
sering terganggu oleh para penghuni Kasatrian yang sering memaksa
untuk melihat kedua remaja itu berlatih di sanggar. Ju stru karena m
ereka baru mulai, maka unsur-unsur yang dipelajari oleh kedua
remaja itu nampaknya memang masih t erlalu sederhana, sehingga
kadang-kadang para penghuni yang lain menganggap bahwa kemajuan yang
dicapai oleh kedua remaja itu terlalu lamban. Namun yang
mereka lihat hanyalah ujud kewadagannya. Mereka tidak mengerti bahwa
tenaga yang ter simpan didalam unsur -unsur gerak itu jauh
lebih berat dari yang dimiliki oleh anak-anak muda yang lain. Dalam
pada itu, selain memberikan tuntunan kanuragan, ternyata Mahisa
Pukat dapat pula membantu kedua remaja itu mempelajari ilmu yang
lain. Mahisa Pukat dapat membantu kedua remaja itu m empelajari
kesusastraan, i lmu hitung dan bahkan pengenalan pada tingkat
pertama atas bintang-bintang dan musim. Para penghuni Kasatrian itu
selain mempunyai guru-guru dalam olah kanuragan, mereka juga
diwajibkan berguru dalam ilmu -ilmu yang lain. Mereka m empelajari
kesusa straan, ilmu hitung dan awal dari ilmu perbintangan dan musim
serta macam-macam pengetahuan yang lain yang akan
berarti sebagai bekal hidup mereka. Tetapi anak-anak muda di
Kasatrian itu sebagian besar tidak begitu t ertarik kepada ilmu
pengetahuan yang lain dari ilmu kanuragan. Meskipun mereka
terpaksa mengikutinya juga pada waktu-waktu yang telah ditentukan,
namun mereka lambat sekali memperoleh kemajuan. Berbeda dengan m
ereka adalah kedua orang remaja yang kebetulan juga berguru
kepada Mahisa Pukat. Karena Mahisa Pukat sendiri tertarik pada
beberapa jenis pengetahuan itu, maka sambil meningkatkan
pengetahuannya sendiri, Mahisa Pukat sering ikut menunggui kedua
remaja itu belajar dan bahkan disaat-saat mereka menerima pelajaran
dari guru mereka dalam bidang yang lain kecuali kanuragan.
Dengan demikian, maka justru Mahisa Pukatlah yang menjadi
paling akrab dengan guru yang membimbing kedua remaja itu. Justru
karena umurnya yang masih terlalu muda, maka keduanya mendapat
waktu tersendiri meskipun dibawah bimbingan guru yang sama
dengan anak-anak muda yang lain. Namun karena kedua remaja itu
seakan-akan selalu terpisah dari anak-anak muda yang lain, maka
hubungan mereka dengan anak-anak muda penghuni Kasatrian itu
rasarasanya tetap saja ada jarak. Bagaimanapun juga kedua remaja itu
berusaha melarutkan diri dalam pergaulan di Kasatrian, namun mereka
kadang-kadang m emang sengaja ditinggalkan oleh yang lain. Tetapi
kedua orang remaja itu tidak menjadi berkecil hati. Meskipun mereka
lebih muda dari yang lain, namun pandangan mereka menjadi
lebih luas. Dada m ereka seakanakan menjadi lebih lapang, Cara
berpikir mereka yang masih sangat muda itu justru lebih mapan.
Semuanya itu tidak terlepas dari pengamatan Pangeran Kuda Pratama.
Namun Pangeran itupun melihat pula, tiga orang guru yang telah
lebih dahulu ada di Kasatrian itu ternyata menjadi semakin mendendam
kepada Mahisa Pukat. Sementara Mahisa Pukat sendiri nampaknya tidak
banyak menghiraukan mereka. Tetapi sebenarnyalah bahwa Mahisa Pukat
juga menjadi semakin berhati-hati terhadap ketiga orang guru
yang juga selalu datang bertugas di Ka satrian itu. Namun
ternyata bahwa ketiga orang guru itu tidak ingin langsung menjajagi
kemampuan Mahisa Pukat. mPu Kamenjangan telah berusaha untuk
meminjam tangan saudara seperguruannya. mPu Sidikara. “Jajagi
kemampuan anak itu mPu” berkata mPu Kamenjangan kepada adik
seperguruannya. “Apakah aku harus meny elesaikannya kakang?”
bertanya mPu Sidikara. “Tidak. Aku hanya ingin tahu sejauh manakah
kemampuannya dalam olah kanuragan. Ia telah diangkat pula menjadi
salah seorang guru bagi penghuni Kasatrian Singasari. Bahkan
Pangeran Kuda Pratama ternyata senang terhadap cara yang
dipergunakannya selama ini. Cara yang berbeda dari cara yang kami
pergunakan.” “Hanya untuk menjajagi?” bertanya mPu Sidikara. “Ya.
Jadi kau sudah tahu tataran kemampuannya, maka biarlah ia tetap
dalam tugasnya. Ukuran kemampuannya akan menentukan keberhasilannya
atas kedua orang muridnya di Ka satrian.” “Baiklah kakang” jawab mPu
Sidikara. “Anak itu sering membawa murid-muridnya keluar Kotanya.
Bahkan sampai kelereng bukit-bukit kecil itu. Kau dapat mencari
kesempatan untuk menemuinya.” pesan mPu Kamenjangan. “Dihadapan
kedua muridnya?” bertanya mPu Sidikara. “Aku kira tiak ada salahnya.
Biarlah muridnya menyadari, bahwa guru mereka sama sekali tidak
berarti.” jawab mPu Kamenjangan. “Baiklah. Aku akan menunggu
kesempatan untuk dapat menemuinya dilereng bukit k ecil itu. Aku
akan membuatnya jera dan memaksanya mengakui kekurangannya.” berkata
mPu Sidikara. Demikianlah, maka mPu Sidikara itu memang berusaha
untuk dapat memenuhi permintaan mPu Kamenjangan untuk menjajagi
kemampuan Mahisa Pukat. Seorang pemimpin kelompok Pelayan Dalam yang
juga ditugaskan sebagai guru dalam ilmu kanuragan atas dua orang
remaja di Kasatrian. Beberapa hari mPu Sidikara memperhatikan bukit
kecil itu. Namun akhirnya waktu yang dinantinya itupun datang. mPu
Sidikara melihat Mahisa Pukat berlari-lari bersama kedua orang
muridnya kelereng bukit di pagi-pagi sekali sebagaimana dikatakan
oleh mPu Kamenjangan. Dengan cepat mPu Sidikara telah menyusulnya
kelereng bukit. Ketika Mahisa Pukat mengajak kedua muridnya mengatur
pernafasannya dilereng bukit, m aka mPu Sidikara itupun melangkah
mendekati mereka. Untuk beberapa saat mPu Sidikara tidak berbuat
sesuatu selain memperhatikan mereka bertiga. <> Mahisa Pukat
menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi semakin yakin bahwa orang itu
tentu sedang membuat persoalan untuk dijadikan bibit pertengkaran.
Namun Mahisa Pukat telah siap menghadapinya. Karena itu, maka ia
sama sekali tidak ingin menghindar. Meskipun demikian Mahisa Pukat
tidak semata-mata menanggapi persoalan yang sedang ditumbuhkan oleh
orang yang menyebut namanya mPu Sidikara itu. Dengan nada rendah
Mahisa Pukat menjawab ”Ki Sanak. Tentu aku tidak dapat
menyanggupinya bahwa setiap hari aku membawa keduanya kemari. Aku
tidak mempunyai wewenang mutlak atas keduanya. Berbeda dengan
wewenang seorang guru atas murid-muridnya disebuah padepokan. Aku
diangkat sebagai seorang guru di Kasatrian. Karena itu maka
wewenangku atas murid-muridku memang terbatas.” “Jangan membuat
bermacam-macam alasan. Aku memerlukan kedua anak m uda itu. Kau
harus membawanya setiap hari kemari. Keduanya pantas menjadi
muridku.” sahut mPu Sidikara. Mahisa Pukat berpaling kepada kedua
orang remaja dari Ka satrian itu. Keduanya memang m enjadi bingung
sehingga keduanya ju stru mematung memperhatikan gurunya yang sedang
berbicara dengan orang yang tidak dikenalnya tentang diri
mereka. Namun akhirnya Mahisa Pukat ter senyum. Katanya ”mPu
Sidikara. Kenapa kau tidak berterus-terang saja? Bukankah kau ingin
menjajagi kemampuanku? Mungkin atas keinginanmu sendiri, tetapi
mungkin pula atas permintaan orang lain. Kita sebelumnya tidak
saling mengenal. Kita tidak mempunyai kepentingan apapun yang
saling berkaitan apalagi berbenturan. Tiba-tiba saja kau datang
untuk mengungkit tentang kedudukanku sebagai guru. Nah,
sebodoh-bodoh orang tentuakan timbul pertanyaan didalam diriny a.
Apa sebenarnya yang kau kehendaki.” mPu Sidikarapun termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian katanya ”Baiklah. Aku tidak akan ingkar.
Tetapi kau tidak perlu tahu apa kepentinganku sebenarnya Aku m emang
ingin menjajagi kemampuanmu.” “Nah, dengan demikian kau tidak m
embuat aku menjadi bingung dan berteka-teki. Demikian pula kedua
orang muridku. Jika kau datang dan langsung m enantangku, maka kedua
orang muridku tentu akan senang karena mereka berkesempatan untuk
melihat apa saja yang dapat dilakukan oleh gurunya” Wajah mPu
Sidikara menjadi tegang. Ternyata Pelay an Dalam muda yang juga
diangkat menjadi guru di Ka satrian itu sama sekali tidak
menunjukkan kecemasannya. Agaknya anak muda itu memang terlalu y
akin akan kemampuannya sehingga ia siap menghadapi siapa saja
meskipun belum dikenalnya tingkat kemampuannya. Ju stru karena itu,
maka mPu Sidikarapun menjadi semakin berhati-hati menghadapi Mahisa
Pukat. Apalagi menurut mPu Kamenjangan, Pangeran Kuda Pratama
nampaknya sangat menghargai Pelayan Dalam yang masih muda itu.
Dengan nada berat mPu Sidikara itupun berkata ”Anak muda. Jika
demikian maka bersiaplah. Kita akan bermainmain sejenak.
Mudah-mudahan kedua orang m uridmu tidak menjadi ketakutan karena
aku tidak bermaksud apa-apa selain menjajagi kemampuanmu dan
memaksamu untuk mengakui, bahwa kau masih belum pantas untuk menjadi
guru di Ka satrian.” Mahisa Puatpun menarik nafas dalam-dalam.
Kepada kedua orang bangsawan muda yang m enjadi muridnya itu
ia berkata ”Minggirlah. Aku akan bermain-main sebentar. Kalian tidak
usah cemas. mPu Sidikara tidak akan berbuat apa-apa selain berniat
untuk memaksa aku mengakui bahwa aku bukan seorang guru yang baik.
Sedangkan aku akan bertahan dan memaksanya mengakui, bahwa aku
memang pantas untuk menjadi seorang guru di Kasatrian Singasari.”
Kedua orang remaja penghuni Kasatrian itu termangumangu sejenak.
Namun Mahisa Pukatpun telah mendorongnya menepi dan bahkan duduk
diatas sebuah batu yang besar. Namun bagaimanapun juga kedua remaja
itu menjadi tegang. Keduanya memang menganggap bahwa gurunya adalah
seorang yang berilmu tinggi. Namun menghadapi seorang yang
sudah jauh lebih tua dan nampak sangat meyakinkan, keduanya menjadi
cemas. Sejenak kemudian Mahisa Pukatpun telah ber siap. Namun ia
sadar, bahwa mPu Sidikara adalah seorang yang berilmu tinggi.
Ia teringat kepada mPu Damar yang pernah dikalahkannya. Mungkin mPu
Sidikara itu memiliki kemampuan sebagaimana mPu Damar atau bahkan
lebih tinggi. Tetapi seperti biasanya Mahisa Pukat tidak ingin
mengalahkan lawannya dengan serta-merta. Ia ingin mengalahkan
lawannya dengan ilmu yang hanya selapis lebih tinggi dari lawannya
itu. Hanya jika sangat diperlukan ia terpaksa mempergunakan puncak
kemampuannya. mPu Sidikarapun kemudian telah bersiap pula. Keduanya
berdiri pada jarak beberapa langkah. m Pu Sidikara memang meragukan
kemampuan Mahisa Pukat yang masih muda itu. Tetapi ia tidak
ingin merendahkannya. Demikianlah, maka keduanya sudah bersiap untuk
bertempur. Meskipun mPu Sidikara hanya ingin sekedar menjajagi,
namun kemungkinan yang lebih gawat akan dapat terjadi. Sejenak,
kemudian maka keduanyapun mulai bergeser. Bahkan m Pu Sidikara telah
mulai memancing Mahisa Pukat. Mahisa Pukat yang meloncat
selangkah surut telah meny erang pula. Namun serangannya seperti
serangan mPu Sidikara masih belum berbahaya. Kedua orang remaja dari
istana Singasari itu menjadi semakin tegang. Mereka melihat gurunya
mulai m enghindar dan meny erang. Demikian pula orang yang bernama
mPu Sidikara itu. Semakin lama keduanya bergerak semakin cepat.
Kedua remaja yang memang sudah terikat pada Mahisa Pukat itu
semakin mengagumi gurunya ketika ia melihat gurunya berloncatan
dengan cepat. Namun merekapun menjadi cemas juga karena lawan
gurunya itupun menjadi semakin garang. Mahisa Pukat dan mPu Sidikara
memang bergerak semakin cepat. mPu Sidikara yang nampaknya
sangat m eyakinkan itu mulai berusaha untuk mencari kelemahan Mahisa
Pukat. Tetapi mPu Sidikara ternyata mulai menjajaginya dari tataran
yang paling rendah. Dengan unsur-unsur gerak yang paling
sederhana, bahkan unsur-unsur yang telah dikenal dengan baik
oleh kedua murid Mahisa Pukat itu. Mahisa Pukat memang agak
tersinggung. Tetapi ia masih selalu mengendalikan dirinya. Ia masih
saja melayani mPu Sidikara yang ingin menjajagi ilmunya.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Pukat yakin bahwa mPu Sidikara tentu
mempunyai hubungan dengan salah seorang dari ketiga orang guru yang
telah lebih dahulu berada di Kasatrian atau salah seorang daripada
mereka. Bahkan mungkin sekali bahwa mPu Sidikara mempunyai hubungan
dengan mPu Kamenjangan. Ju stru karena mPu Sidikara mulai dari
tataran yang paling rendah, maka Mahisa Pukat mampu melihat beberapa
ciri yang khusus dari unsur gerak mPu Sidikara itu sama dengan unsur
gerak yang dilihatkan pada unsur -unsur gerak Sawung Kemara. Karena
itu, maka dugaan Mahisa Pukat bahwa mPu Sidikara mempunyai hubungan
dengan mPu Kamenjangan menjadi semakin kuat. Bahkan ketika Mahisa
Pukat menjadi semakin yakin, iapun berkata sambil menghindari
serangan mPu Sidikara ”mPu. Aku pernah melihat unsur-unsur gerak
sebagaimana mPu peragakan kali ini. Barangkali bagi mPu memang
sekedar dasar-dasar dari ilmu yang mPu miliki. Namun justru
karena itu, persamaan itu menjadi semakin jelas.” “Aku tidak tahu
maksudmu” sahut mPu Sidikara. “Aku pernah bermain-main bersama
Pangeran Sawung Kemara. Ternyata unsur-unsur gerak yang aku lihat
pada Pangeran itu sama dengan dasar-dasar unsur gerak mPu Sidikara,
justru karena mPu beranjak dari dasar ilmu yang mPu miliki.
Sedangkan Pangeran Sawung Kemara adalah murid mPu Kamenjangan.”
“Jadi kau menganggap bahwa aku m empunyai hubungan dengan mPu
Kamenjangan ?” bertanya mPu Sidikara. “Hanya dugaanku, berdasarkan
pada pengamatanku atas ciri -ciri dari ilmu yang mPu miliki dan ilmu
yang tumurun dari mPu Kamenjangan.” jawab Mahisa Pukat. mPu
Sidikara sama sekali tidak m enjawab. Tetapi ia justru meningkatkan
ilmunya ketataran yang lebih tinggi. Ia memang menyesal bahwa
ia berangkat dari dasar ilmunya yang paling sederhana. Ia m
emang bermaksud memanaskan hati Mahisa Pukat yang masih muda itu.
Jika hatinya terbakar, m aka ia tentu akan segera berusaha dengan
cepat mengalahkannya. Tetapi yang terjadi justru tidak
demikian. Mahisa Pukat itu justru berusaha mengenali ciri -ciri
dasar dari ilmu yang memang bersumber dari perguruan yang sama
dengan mPu Kamenjangan. “Tetapi itu tidak penting” berkata mPu
Sidikara didalam hatinya untuk menghapus perasaan kecewanya. ”Yang
penting aku dapat membuktikan bahwa anak itu tidak sepantasnya
menjadi guru di Kasatrian Singasari.” Dengan demikian, maka
pertempuran antara keduanya itupun semakin lama menjadi semakin
meningkat. mPu Sidikara dengan cepat ingin meny embunyikan
unsur-unsur dasar pada ilmunya sebagaimana yang dapat dilihat
oleh Mahisa Pukat pada Pangeran Sawung Kemara. Namun persamaan itu
sudah terlanjur dilihat oleh Mahisa Pukat. Demikianlah, maka
keduanyapun bergerak semakin lama semakin cepat. m Pu Sidikaralah
yang kemudian merasa tidak perlu lagi mempermainkan perasaan Mahisa
Pukat, karena ternyata hati anak my da itu tidak mudah terbakar.
Meskipun masih muda, t etapi Mahisa Pukat itu mampu m engendalikan
perasaannya dengan sebaik-baiknya. Getar perasaannya sama sekali
tidak nampak mempengaruhinya ketika ia memanasinya dengan menjajagi
kemampuan anak muda itu dari tataran yang paling rendah. Bahkan
sebalikny a, anak muda itu ju stru selalu mengimbanginya. Pada saat
mPu Sidikara masih berada pada tataran terendah, Mahisa Pukat sama
sekali tidak berusaha mendahuluinya dan meny elesaikannya dengan
cepat. Tetapi Mahisa Pukatpun m elawannya dengan landasan ilmunya
dari tataran yang paling rendah pula. “Hanya orang yang
terlalu y akin akan kemampuannya yang dapat berbuat demikian”
berkata mPu Sidikara didalam hatinya. Ketika pertempuran itu menjadi
semakin seru, maka kedua orang remaja dari kasatrian Singasari
itupun menjadi semakin bingung. Mereka mulai tidak mengerti atas apa
jrang terjadi. Mereka tidak tahu siapakah diantara keduanya
yang terdesak dan mendesak. Yang mereka ketahui, keduanya
berloncatan dengan cepat dan bahkan semakin keras pula.
Benturanbenturanpun segera t erjadi. Kadang-kadang mPu Sidikara
terdesak mundur. Namun kemudian Mahisa Pukatlah yang harus bergeser
surut. Serangan demi serangan telah dilontarkan dari kedua belah
pihak. Dengan mata kecilnya kedua remaja itu mulai melihat bahwa
serangan-serangan kedua belah pihak mulai meny entuh lawannya.
Tetapi ternyata bahwa hal itu tidak mudah dilakukannya. Mahisa
Pukatpun masih juga mampu m eningkatkan ilmunya sebagaimana mPu
Sidikara itu sendiri. Karena itu, maka kegelisahan telah mecengkam
jantungnya. Apalagi ketika ia sudah merambah ke ilmu puncaknya.
“Darimana anak iblis ini menyadap ilmunya” geram mPu Sidikara
didalam hatinya. Bagi mPu Sidikara, Mahisa Pukat selain merupakan
anak yang baru lahir kemarin sore, juga merupakan orang baru
di Kotaraja. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Pukat memang terhitung belum
begitu lama berada di Kotaraja sejak ia mengunjungi ay ahnya dan
terkait oleh seorang gadis sehingga ia tidak ikut kembali ke
padepokannya. Ternyata anak muda yang sebelumnya tidak
dikenalnya itu memiliki ilmu yang cukup tinggi. Dalam kegelisahannya
itu, maka mPu Sidikarapun telah berteriak “He, anak ingusan. Aku
sekarang percaya bahwa kau memang memiliki ilmu yang tinggi yang
pantas kau pergunakan sebagai bekal untuk menyatakan kesediaanmu
menjadi salah seorang guru di Ka satrian. Tetapi itu bukan berarti
bahwa kau akan mampu mengalahkan aku.” “Aku tidak ingin
mengalahkanmu, mPu” jawab Mahisa Pukat ”yang aku lakukan
adalah sekedar mempertahankan diri. Justru karena kau ingin
menjajagi kemampuanku, maka kau harus sampai kepuncak. Karena jika
tidak mau kau gagal melakukan penjajagan itu.” mPu Sidikara
menggeram. Ia merasa seakan-akan anak muda itu mulai merendahkannya.
Agaknya ia merasa akan dapat bertahan sampai puncak kemampuannya.
Karena itu, maka mPu Sidikara itupun berkata ”Anak muda. Jika kau
masih tetap bertahan sementara aku m asih terus meningkatkan ilmuku,
maka pada saat aku akan kehilangan pengendalian diri. Ilmuku akan
mungkin menyakitimu. Bahkan mungkin melukaimu.” “Jadi bagaimana
sebaiknya menurut mPu. Apakah aku harus meny erah sampai disini?
Jika demikian mPu tentu akan menjadi tidak puas. mPu tidak akan
dapat menilai hasil penjajagan yang mPu lakukan. Jika orang lain
bertanya kepada mPu sampai dimana kemampuanku, maka mPu hanya akan
dapat mengatakan bahwa sampai pada tataran ini anak muda itu belum
dapat aku kalahkan. mPu Sidikara itu menggeram. Dengan marah ia
berkata”Baiklah anak muda. Aku akan menjajagi kemampuanmu sampai
tuntas. Tetapi jika karena itu kau mati, aku sama sekali t idak
bertanggung jawab. Biarlah kedua bangsawan remaja itu menjadi sak
si, bahwa kau sendirilah yang telah mendambakan kematianmu.” “Tidak
mPu. Sama sekali tidak. Aku sama sekali tidak ingin mati dalam
pertandingan penjajagan ini. Sebenarnyalah mPu, karena m Pu ingin
menjajagi kemampuanku, telah timbul niat pula dihatiku untuk
menjajagi kemampuan mPu Sidikara. Bahkan mungkin aku juga ingin
mengetahui tataran kemampuanku” jawab Mahisa Pukat. “Ternyata kau
memang sombong. Baiklah. Tetapi seperti yang aku katakan, jika
karena penjajagan ini kau terbunuh, itu bukan salahku.” “Jika m Pu
ber sikap demikian, maka akupun akan bersikap seperti itu juga.
Justru karena mPu ingin m enjajagi ilmuku dan karena itu maka dengan
tidak sengaja aku m embunuh mPu, maka itupun bukan salahku. Aku sama
sekali tidak bertanggung jawab karena bukan aku yang
memaksakan pertempuran. Kedua orang bangsawan remaja itu akan
menjadi saksi” sahut Mahisa Pukat. Kemarahan mPu Sidikara
benar-benar telah menghentakkan ilmunya. Anak muda itu benar-benar
tidak mau mengakui kekalahannya, apakah anak muda itu akan tetap
mampu bertahan atau akan luluh menjadi debu oleh ilmunya. Dengan
demikian, maka mpu Sidikara benar-benar telah sampai pada puncak
kemampuannya. Ilmunya yang jarang dilontarkannya, telah siap
dilepaskannya jika Mahisa Pukat masih tetap bertahan. Sebenarnyalah
bahwa Mahisa Pukat memang tidak ingin menyatakan dirinya kalah pada
tatara itu dan m enghentikan penjajagan yang dilakukan oleh mPu
Sidikara itu. Dengan demikian m aka Mahisa Pukatpun telah bersiap m
enghadapi segala kemungkinan. Ia sama sekali tidak ingin membunuh
lawannya. Namun jika hal itu teijadi karena ia harus mempertahankan
hidupnya, maka apaboleh buat. Kedua murid Mahisa Pukat itu semakin
lama menjadi semakin gelisah. Pertempuran diantara keduanya menjadi
semakin tidak dapat dimengertinya. Namun mereka sadar bahwa
pertempuran itu menjadi semakin keras dan cepat. Mahisa Puat memang
melihat bagaimana mPu Sudikara mencapai batas ilmu puncaknya, ia
sadar bahwa sejenak kemudian, mPu Sidikara tentu akan mempergunakan
ilmu pamungkasny a. Namun justru karena itu, maka Mahisa Pukat telah
mendahuluinya tanpa diketahui oleh lawannya. Mahisa Pukat justru
telah m empergunakan ilmunya yang mampu seakan-akan menghisap
tenaga lawannya. Sehingga dengan demikian, maka Mahisa Pukat telah
berusaha untuk menyerang dan membenturkan serangan-serangannya pada
tubuh lawannya. mPu Sidikara memang terkejut melihat perubahan tata
gerak lawannya yang masih muda yang menjadi semakin
cepat dan garang. Dengan demikian maka mPu Sidikarapun harus
mengimbanginya. Beberapa kali ia memang harus mengatur serangan
Mahisa Pukat untuk menangkisny a karena seranganserangan itu datang
beruntun dengan cepatnya, sehingga mPu Sidikara tidak sempat
mengelak. Namun dengan demikian mPu mengira bahwa Mahisa Pukat mulai
menjadi gelisah karena ilmu mPu Sidikara menjadi semakin meningkat,
bahkan mendekati puncak ilmu pamungkasnya. Sambil mengelak dan m
enangkis serangan-serangan yang datang beruntung, mPu Sidikara
sempat berkata ”He, anak muda. Apakah kau mulai berputus asa?
Agaknya kau thau bahwa aku akan segera m enyelesaikan permainan ini
dengan ilmu pamungkasku. Jika kau tetap bertahan dan tidak
menghentikan perlawananmu, maka kau benar-benar akan hancur menjadi
debu. Kau tentu belum pernah melihat bagaimana ilmu Jwala Geni
membakar dan melumatkan sa sarannya menjadi debu yang kemudian
hanyut diterbangkan angin.” “Menarik sekali” jawab Mahisa Pukat.
Tetapi ia masih saja menyerang dengan garangnya. Yang m enjadi
sasaran Mahisa Pukat tidak untuk menyakiti lawannya atau bahwa
melukainya atau lebih -lebih lagi m ematahkan tulang-tulangnya. Ia
hanya sekedar ingin menyentuh lawannya itu. Sambil berusaha untuk
meny entuh tubuh lawannya bahkan pada ujung jari sekalipun, Mahisa
Pukat berkata selanjutnya ”Tetapi mPu, kau tidak akan sempat sampai
ke puncak ilmumu. Kau harus menyadari bahwa akupun ingin
menyelesaikan permainan ini. Aku telah sampai pada satu kesimpulan
tingkat kemampuanmu, sehingga aku merasa cukup memahami betapa
tingginya ilmumu.” Hati mPu Sidikara benar -benar telah terbakar.
Karena itu, maka ia tidak mempunyai perhitungan lain kecuali dengan
cepat menghentikan perlawanan Mahisa Pukat yang dianggapnya terlalu
sombong itu. Tetapi ketika mPu Sidikara mengambil jarak untuk
mendapat kesempatan melepaskan ilmunya Jwala Geni, maka ia merasa
sesuatu yang asing pada dirinya. Demikian ia memusatkan nalar
budiny a, siap untuk melepas ilmu Jwala Geni yang akan dapat
menghancurkan lawannya menjadi debu, maka terasa ada kekosongan di
dalam dirinya. Ancang-ancang yang diambilnya, ternyata tidak
mampu menjadi pancadan lontaran ilmu Jawala Geni. Bahkan mPu
Sidikara itu sempat merasakan betapa tulang-tulangnya menjadi lemah
dan urat-urat nadinya tidak berdaya. Bahkan tenaganyapun telah
menyusut dengan cepatnya. Mahisa Pukat memang tidak memburu mPu
Sidikara. Meskipun mPu Sidikara masih mampu berdiri tegak dan kokoh,
namun tenaganya tidak cukup kuat untuk mendukung lontaran ilmunya
Jwala Geni. Jika ia memaksakannya, maka ia akan dapat kehabisan
tenaga sementara ilmu yang terlontar tidak cukup kuat untuk
menghancurkan lawannya. Apalagi lawannya mempunyai ilmu yang
cukup tinggi. Untuk beberapa saat lamanya mPu Sidikara berdiri
termangu-mangu. Justru karena Mahisa Pukat tidak memburunya, maka
mPu Sidikara sempat membuat penilaian tentang ilmunya serta
kemampuan lawannya. Namun tiba-tiba mPu Sidikara menemukan sebab,
karena tiba -tiba saja tenaganya bagaikan telah terserap habis.
Dengan wajah merah membara ia menuding wajah Mahisa Pukat sambil
berkata ”Licik kau. kau curi sebagian tenaga dan kemampuanku. Kau
tentu mempergunakan ilmu itu untuk mencegah aku melontarkan ilmu
Jwala Geni.” MahisaPukat tersenyum. Katanya ”Aku hanya berusaha
untuk meny elamatkanmu mPu.” “Jangan omong kosong. Apa hubungannya
ilmumu ini dengan keselamatanku. Bukankah kau akan memanfaatkan
kemenanganmu dengan caramu ini untuk semakin meny ombongkan diri?
Sementara kau tidak berani menghadapi aku dengan lontaran ilmu Jwala
Geni?” “mPu. Aku belum pernah melihat apalagi mengalami serangan
dengan ilmu yang disebut Jwala Geni. Tetapi mPu tidak dapat meny
ombongkan ilmu Jwala Geni seakan-akan tidak ada ilmu lain yang dapat
menandinginya.” sahut Mahisa Pukat. “Memang tidak ada yang
menandinginya. Jika aku sempat melepaskan ilmu Jwala Geni, maka kau
benar-benar akan menjadi debu.” geram mPu Sidikara. “Tidak. Seperti
sudah aku katakan, bahwa aku justru ingin menyelamatkan mPu. Jika
mPu mempergunakan ilmu pamungkas y aiig mPu miliki itu, maka akupun
akan dapat mempergunakannya pula. Ilmu pamungkasku tentu tidak akan
kalah dahsyatnya dengan ilmu yang mPu sebut dengan Jwala Geni
itu.” “Omong kosong, kau tentu takut menghadapi kekuatan ilmu Jwala
Waja sehingga kau harus mempergunakan ilmumu yang licik itu.” geram
mPu Sidikara. “Tidak” bentak Mahisa Pukat. Hatinya memang mulai
menjadi panas. ”Marilah. Kita akan m encoba, ilmu siapakah yang
mempunyai kekuatan yang lebih tinggi.” “Aku tidak mampu
melakukannya sekarang” jawab mPu Sidikara. “Kau tidak perlu
melakukannya sekarang, mPu” berkata Mahisa Pukat ”tetapi aku ingin
menunjukkan kemampuan ilmuku. Pada kesempatan lain, jika tenaga dan
kemampuan mPu telah pulih, mPu dapat membuat perbandingannya.” mPu
Sidikara tidak mengerti maksud Mahisa Pukat. Namun ia melihat Mahisa
Pukat itupun kemudian berdiri menghadap tebing padas. Sementara dua
orang bangsawan remaja dari Kasatrian Singasari itu memandanginya
dengan tegang. Dalam waktu yang pendek, Mahisa Pukat telah
memusatkan nalar budiny a. Kemudian dengan kaki renggang ia
memandangi tebing itu dengan tajamnya. Bukan saja kedua bangsawan
remaja itu yang menjadi tegang. Tetapi juga mPu Sidikara. Ia melihat
gejolak didalam diri Mahisa Pukat, seakan-akan lahar yang
mendidih didalam kawah gunung berapi yang hampir meledak.
Demikianlah sesaat kemudian Mahisa Pukat telah menggerakkan satu
kakinya kedepan. Lututnya sedikit merendah sambil menghentakkan
kedua belah tangannya dengan telapak tangan terbuka m engarah ke
tebing berbatubatu padas. Mahisa Pukat memang menghentakkan segenap
kemampuannya. Selain ilmunya yang mampu melontarkan serangan dari
jarak jauh, iapun telah melepaskan kekuatan yang diwarisiny a dari
ayahnya, Mahendra. Puncak dari kekuatan ilmu andalannya. Meskipun
Mahisa Pukat tidak membawa kerisnya yang berwarna
kehijau-hijauan, namun dengan segenap kekuatan dan kemampuan
yang ada didalamnya, anak muda itu sanggup melontarkan
serangan yang sangat dahsyat. mPu Sidikara terkejut sekali melihat
akibat serangan Mahisa Pukat. Tebing batu padas itu menggelegar
runtuh berserakan sehingga bekasnya nampak seperti sebuah gua
meskipun tidak terlalu dalam. Dengan wajah tegang ia memandang
Mahisa Pukat dan sa sarannya itu berganti-ganti. Sementara itu kedua
murid Mahisa Pukat itu justru bagaikan membeku ditempatnya Baru
sejenak kemudian, Mahisa Pukat itu menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian iapun berpaling dan melangkah mendekati mPu Sidikara
yang seperti orang baru saja terbangun dari sebuah mimpi yang
m enghentak jantungnya sehingga berdegup semakin cepat dan semakin
keras. “mPu” berkata Mahisa Pukat ”aku sudah menunjukkan
kemampuanku. Untuk menjajagi dan memperbandingkan dengan kemampuan
mPu Sidikara, maka dalam beberapa hari lagi, jika mPu Sidikara telah
menjadi pulih kembali, kita akan bertemu lagi. Kita tidak usah
berkelahi seperti anak-anak berebut oleh-oleh dari ibunya. mPu dapat
melepaskan serangan dengan sasaran disebelah sa saran kekuatan dan
kemampuanku itu. Dengan demikian maka mPu akan mendapatkan
perbandingan ilmu yang mPu kehendaki. mPuu dapat
menceriterakannya kepada orang-orang yang ingin tahu apakah
aku pantas untuk menjadi guru di Kasatrian atau tidak. Tetapi ingat
mPu, mPu hanya pantas mengatakan kepada orang-orang yang terbatas,
karena aku bukan orang yang bangga dengan kesombongan yang
tidak berarti apaapa.” mPu Sidikara menarik nafas dalam-dalam.
Beberapa langkah ia mendekati Mahisa Pukat yang masih berdiri tegak.
Dengan nada dalam mPu Sidikara berkata ”Anak m uda. Aku sudah
melihat dan bahkan mengalami benturan dengan ilmumu. Semula aku
tidak mengira sama sekali bahwa kau memiliki ilmu yang sangat
tinggi. Apalagi menilik umurmu yang masih sangat muda. Tetapi
kemudian aku tidak dapat ingkar. Bahwa ilmumu jauh lebih tinggi dari
ilmuku. Sekarang, kau dapat berbuat apa saja atasku yang sudah
kehilangan sebagian dari tenaga dan kemampuanku. Aku terlambat
menyadari bahwa kau memiliki ilmu yang sudah jarang dimiliki
orang lain itu. Namun ternyata bahwa kau memiliki ilmu yang lain
yang lebih keras dan dengan cepat mampu mengatasi lawanmu.
Tetapi kau tidak mempergunakannya. Karena sebenarnyalah jika aku
mempergunakan ilmuku Aji Jwala Geni dan kau membenturnya dengan
ilmumu yang sangat tinggi itu, maka seperti katamu, akulah yang akan
menjadi debu.” “Sudahlah” berkata Mahisa Pukat ”bukankah dengan
demikian tugasmu sudah selesai ? Kau sudah berhasil menjajagi
ilmuku. Dengan demikian maka per soalan kita sudah selesai.” “Aku
masih harus mengucapkan terima kasih kepadamu anak muda.” berkata
mPu Sidikara. “Kenapa ?” bertanya Mahisa Pukat. “Karena kau tidak
melumatkankan tubuhku” jawab mPu Sidikara. “Kita tidak akan
membicarakannya lagi. Sekarang, aku minta diri. Aku sudah terlalu
lama berada disini. Bukankah dengan sisa tenagamu kau masih dapat
menuruni tebing dan pulang kerumahmu ?” “Ya. Aku masih dapat pulang
kerumah dan bertemu dengan keluargaku. Mereka tentu juga akan
berterima kasih setelah mereka mendengarkan ceriteraku tentang kau
anak muda.” jawab mPu Sidikara. Lalu katanya pula ”Seperti pesanmu,
aku akan menyampaikan hasil pengamatanku kepada orang-orang yang
sebenarnya memang telah minta kepadaku untuk menjajagi kemampuanmu.
Untuk m embuat kau malu k epada dirimu sendiri bahwa kau telah
bersedia menjadi guru di Ka satrian. Namun ternyata bukan kau
yang harus malu. Tetapi orang-orang yang ingin menjajagi
kemampuanmu itulah yang harus malu karena kau benar -benar pantas
bahkan melampaui ketiga orang guru yang telah ada di Kasatrian.”
“Baiklah mPu. Jika kau ingin orang lain yang terbatas itu mengetahui
tataran ilmuku, bukan maksudku untuk meny ombongkan diriku. Tetapi
semata-mata agar di Kasatrian itu terdapat ketenangan. Juga diantara
bangsawan-bangsawan muda yang tinggal di Kasatrian itu.” mPu
Sidikara mengangguk-angguk. Katanya ”Aku mengerti anak muda” Mahisa
Pukatpun kemudian berpaling kepada kedua orang muridnya. Katanya
”Sudahlah. Lupakanlah. Anggaplah bahwa yangkau saksikan benar-benar
hanya sebuah permainan.” “Tetapi...” remaja-remaja itu menjadi
gagap.. Mahisa Pukat tersenyum. Katanya ”Seseorang yang mau
belajar dengan tekun, ia dapat mencapai satu tataran ilmu yang mey
akinkan. Ilmu apapun juga yang dipelajarinya.” “Apakah kami juga
dapat melakukannya?” bertanya salah seorang dari kedua remaja itu,
“Tentu” jawab Mahisa Pukat ”jika kau belajar dengan sungguh-sungguh.
Tidak malas dan tidak segan berlatih dengan sebaik-baiknya. Ilmu itu
memang tidak akan dapat datang dengan sendirinya. Guru-guru dalam
ilmu apapun tidak akan dapat dengan meniup ubun-ubun muridnya dan
lengan tiba -tiba muridnya menjadi seorang yang mumpuni.
Seorang murid akan memiliki kemampuan gurunya jika ia mau bekerja
keras dan menurut segala petunjuk baik yang diberikan oleh gurunya.”
Kedua orang anak muda itu mengangguk-angguk. Di dalam jantung mereka
terbersit janji kepada diri sendiri, bahwa mereka akan bekerja keras
untuk dapat m ewarisi ilmu yang tidak masuk penalaran mereka.
Demikianlah maka Mahisa Pukatpun telah mengajak kedua orang remaja
itu kembali ke Istana. Sambil memandang matahari yang tinggi
dilangit Mahisa Pukat berkata ”Kita sudah terlalu lama berada di
sini. Sebaiknya kita cepat kembali sebelum kalian dicari karena
kalian terlalu lama tidak nampak di Kasatrian.” Kedua remaja itu pun
kemudian bersama-sama Mahisa Pukat meninggalkan tempat itu. Dengan
nada datar Mahisa Pukat minta diri kepada mPu Sidikara. Kepada kedua
muridnya MahisaPukatpun berkata ”Minta dirilah kepada mPu Sidikara.”
Kedua orang remaja itu memang menjadi ragu-ragu. Namun ketika sekali
lagi Mahisa Pukat meminta kepada mereka, maka m ereka pun telah m
inta diri pula kepada mPu Sidikara. mPu Sidikara tersenyum. Di luar
dugaan kedua remaja itu mPu Sidikara berkata ”Belajarlah dengan baik
Raden. Kau telah mendapatkan seorang guru yang bukan saja
berilmu sangat tinggi, tetapi juga orang yang sangat baik.”
“Kau tidak usah memuji mPu. Mereka masih t erlalu muda untuk
mendengarkan pujian sehingga akan dapat m embekas terlalu dalam
dihati mereka.” berkata Mahisa Pukat. “Kalau aku berpura-pura itu
memang akan sangat berbahaya bagi m ereka. Tetapi aku berkata
sebenarnya dan dengan hati yang ikhlas. Meskipun mereka masih
terlalu muda untuk mendengarkan pujian, tetapi karena itu m emang
satu kebenaran, maka pujian itu tidak akan memberikan cacat dihati
mereka.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Iapun percaya bahwa
mPu Sidikara memberikan pujian itu dengan hati yang jernih setelah
ia berhasil m enguasai perasaannya. Ia memang tidak dapat ingkar
dari keny ataan tentang Pelayan Dalam muda yang dihadapinya.
Bahkan mPu Sidikara itupun kemudian berdesis ”Seharusnya kau tidak
menjadi seorang Pelay an Dalam”. “Kenapa ?” bertanya Mahisa Pukat.
“Aku tidak yakin bahwa Manggala Pelay an Dalam itu memiliki
kelebihan dari padamu.” desis mPu Sidikara. “Yang diperlukan seorang
Manggala bukan sekedar kemampuan dalam olah kanuragan” jawab
MahisaPukat ”tetapi juga wibawa dan kemampuan memimpin anak buahnya.
Pengalaman tentu akan ikut menentukan keberhasilan seorang
Manggala.” mPu Sidikara mengangguk-angguk. Namun diantara senyumnya
ia berkata ”Pandanganmu tentang kehidupan ternyata lebih luas dari
yang aku duga. Apalagi dibandingkan dengan umurmu yang masih
sangat muda itu.” “Sudahlah” berkata Mahisa Pukat ”hari sudah
terlalu siang sekarang. Kami tidak terbiasa sampai sesiang ini k
eluar dari istana Singasari.” mPU Sidikara menganggguk-angguk.
Tetapi ia tidak menjawab lagi. Ia hanya memandangi saja Mahisa Pukat
yang kemudian meninggalkan tempat itu bersama kedua muridnya yang
masih remaja. Sepeninggal Mahisa Pukat dan kedua muridnya, mPu
Sidikara merenungi beka s sentuhan ilmu Mahisa Pukat pada tebing
pegunungan. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, mPu Sidikara
masih juga mengagumi tingkat kemampuan Mahisa Pukat yang masih muda
itu. Di luar sadarnya ia berdesis ” Jika ia seumur aku kelak, apa
saja yang dapat dilakukannya. Ilmunya akan dapat meruntuhkan gunung
dan mampu mengeringkan lautan.” mPu Sidikara itu kemudian bahkan
duduk di sebongkah batu padas yang besar. Sambil merenungi
dataran hijau didepannya yang luas mPu Sidikara merenungi
diriny a sendiri. “Untunglah anak muda itu seorang yang bukan
saja berilmu tinggi, tetapi landasan watak dan sifatnyapun t erlalu
baik. Ia tidak dengan geram menghancurkan aku disini m eskipun aku
hampir saja melakukannya. Seandainya ia tidak memiliki ilmu rangkap
dan tidak menghentikan perlawananku, maka tubuhkupun akan lumat
seperti batu psdas itu.” berkata orang itu didalam hatinya Sambil
menarik nafas panjang iapun bergumam ”mPu Kimenjangan harus tahu,
bahwa anak m uda itu benar-benar m«miliki ilmu yang sangat tinggi.
Ia bukan saja pantas untuk menjadi guru di Kasatrian, tetapi ia
adalah guru yang terbaik.” Baru beberapa saat kemudian, mPu Sidikara
itu bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan tempat itu. Ia
berjalan dengan sangat berhati-hati. Tenaganya memang terasa jauh su
sut. Tetapi ia masih mampu berjalan cukup panjang sampai ke tempat
tinggalnya m eskipun harus beristirahat beberapa kali. “Seperti kata
Pelay an Dalam muda itu, tenaga dan kemampuanku akan dapat pulih
kembali” berkata mPu Sidikara didalam hatinya untuk memenangkan
kegelisahannya. Tetapi ia percaya bahwa Mahisa Pukat tidak akan
mencelakainya. Sementara itu, ternyata kedua remaja yang
tinggal di Ka satrian itu terlalu sulit untuk merahasiakan apa yang
dilihatnya. Kepada para penghuni yang lain, pada satu
kesempatan, keduanya telah m enceriterakan apa yang telah
mereka
lihat.
Jilid 109 Tetapi penghuni Kasatrian
yang lain, yang tanpa m ereka sa dari telah terentang
jarak dengan kedua remaja itu, justru telah mentertawakan ceritera
itu. Katanya "Kalian berm impi di siang hari. Orang yang
dikalahkan oleh Pelay an Dalam itu mungkin sebangsa pencuri ayam
yang sedang mabuk. Sementara itu, kau telah membual bahwa seseorang
m ampu meruntuhkan tebing-tebing padas dipegunungan." “Aku tidak
membual. Aku melihat sendiri" jawab salah seorang dari kedua remaja
itu. "Kau melihat didalam mimpimu" jawab seorang anak muda sambil
mendorong dahi remaja itu. Remaja, murid Mahisa Pukat itu m enjadi
marah. Katanya "jangan berbuat sesuka hatimu. Kau kira kepalaku
harganya sama dengan tumitmu ?" Anak muda yang mendor ong dahi
renuya itu justru tertawa. Ju stru sekali lagi ia mendor ong dahi
anak itu dengan jarijarinya sambil berkata "He, kau mau marah ?"
Remaja itu m enepis tangan yang mendorong dahinya itu. Tetapi
agaknya tangannya mendorong t erlalu keras, sehingga anak m uda
yang mendorong dahinya itulah yang kemudian marah "Kau sakiti
tanganku." Tetapi remaja itu menjawab "Kau rendahkan kepalaku." "Kau
mau apa ?" bentak anak muda itu. "Aku tidak mau. Aku tidak
membiarkan kepalaku kau sentuh seperti itu" remaja itupun membentak
pula. "Aku tidak peduli. Aku ingin bukan saja meny entuh dahimu,
tetapi meremas rambutmu." anak muda itu benarbenar mengulurkan
tangannya untuk menggapai kepala remaja itu. Tetapi remaja itu
bergeser surut. Sekali lagi tangannya menepis. Justru lebih keras
sehingga anak muda itu benar-benar kesakitan. Anak muda itu
benar-benar marah. Tangannya tiba-tiba sa ja terayun kewajah remaja
yang menolak diremas rambutnya itu. Remaja yang seorang
lagi terkejut melihat ayunan tangan itu. Ra sa-rasanya ia ingin
meloncat menahan tangan itu. Tetapi ternyata bahwa tangan itu tidak
m engenai sa sarannya. Remaja yang diserang wajahnya itu
dengan cepat bergeser mundur. Seakan-akan ia bergerak begitu saja
diluar sadarnya. Anak muda yang mengayunkan tangannya tetapi
tidak mengenainya ju stru menjadi semakin marah. Apalagi ketika para
bangsawan muda yang tinggal di Kasatrian dan m elihat
peristiwa itu tertawa hampir serentak. Karena itu maka hati
bangsawan muda itu menjadi semakin panas. Tetapi sebaliknya remaja
yang merasa direndahkan itupun menjadi marah pula. Meskipun ia sadar
bahwa anak muda itu lebih besar daripadanya, tetapi kemarahannya
serta harga dirinya mendor ongnya untuk melawan. Anak-anak muda yang
lain sama sekali tidak berusaha untuk melerainya. Mereka justru
bertepuk tangan dan memanasi suasana agar keduanya benar-benar
berkelahi meskipun sama sekali tidak seimbang. Bahkan seorang anak
muda berteriak "Pukul saja anak itu. Pukul mulutnya agar tidak dapat
membual lagi." Anak muda yang marah itu m emang m encoba
sekali lagi memukul mulut remaja itu. Tetapi remaja yang tidak mau
diinjak harga diriny a itu sudah siap untuk melawannya. Yang tidak
diharapkan memang terjadi. Dipanas-panasi oleh anak-anak muda
yang lain, maka keduanya benar-benar telah berkelahi meskipun
tidak seimbang. Remaja yang seorang lagi tidak sempat untuk m
encegah saudaranya yang berkelahi itu. Ia hanya dapat
memperhatikan dengan tegang. Namun iapun telah bersiap jika terjadi
kecurangan dalam perkelahian itu. Tidak seorangpun dapat mengatakan,
k enapa kedua orang remaja itu sama sekali tidak menjadi ketakutan
menghadapi anak-anak muda yang lebih besar dan lebih banyak itu.
Bahkan kedua orang remaja itu sendiri tidak menyadari bahwa hal itu
merupakan salah satu akibat dari tempaan lahir dan batin yang
diberikan tidak secara langsung oleh Mahisa Pukat. Demikianlah, maka
kedua orang yang tidak sama besar itu telah berkelahi. Semula
anak-anak muda yang bertepuk dan bersorak-sorak itu sama
sekali tidak memperhatikan apa yang telah terjadi. Mereka memang
ingin remaja itu menjadi jera untuk membual dan meny ombongkan diri.
Tetapi yang terjadi kemudian membuat mereka menjadi
berdebar-debar. Tepuk tangan dan sorak itu semakin lama menjadi
semakin merendah dan akhirnya hampir berhenti sama sekali. Yang
mereka lihat adalah, anak muda yang jauh lebih besar itu
segera mengalami kesulitan. Para bangsawan muda itu memang menjadi
tegang. Untuk beberapa saat mereka tidak y akin akan penglihatan
mereka. Sebagian dari m ereka mengira bahwa anak muda itu m asih
belum bersungguh-sungguh, sehingga ia nampak seakan-akan terdesak.
Bangsawan muda itu memang menjadi sangat marah ketika serangan anak
itu mampu mengenai tubuhnya, bahkan telah mendorongnya beberapa
langkah surut. Karena itu, maka iapun telah menghentakkan
kemampuannya. Ia t idak mau dipermalukan dihadapan
saudara-saudaranya yang menghuni Ka satrian itu. Dalam pada
itu, maka serangan-serangannya yang datang beruntun memang
sekali-sekali mampu m engenai lawannya yang masih remaja itu. Bahkan
anak itu sekali terlempar dan jatuh berguling. Tetapi anak itu
segera melenting bangkit dan siap untuk berkelahi lagi. Remaja itu
memang menjadi liat. Meskipun ia baru menguasai unsur-unsur gerak
yang sederhana dan dasardasarnya saja, tetapi karena tubuhnya
yang ditempa dalam lingkungan alam yang luas, maka tubuh k
ecilnya itu seakanakan menjadi sangat liat dan kuat dibanding dengan
remaja sebay anya. Kebiasaannya memperhatikan berbagai macam
binatang membuatnya seakan-akan dengan gerak naluriah menirukannya.
Itulah sebabnya, maka bangsawan remaja itu justru mampu mengimbangi
saudaranya yang sudah lebih tua. Perkelahian itu ternyata
berlangsung cukup lama. Bangsawan yang lebih tua itu semakin
lama m enjadi semakin terdesak. Serangan-serangan bangsawan yang
lebih muda itu semakin sering mengenai sa sarannya. Bahkan kening
bangsawan muda itu mulai membiru. Pipinya menjadi lembab dan dadanya
serasa m enjadi sesak. Beberapa kali kaki anak yang masih sangat
muda itu sempat mengenai dadanya. Para bangsawan muda yang ada di
Kasatrian itu memang menjadi heran. Bahkan Sawung Kemara yang
juga melihat perkelahian itu m enjadi heran. Ia sama sekali t idak m
engira bahwa remaja yang menjadi murid Mahisa Pukat, yang
dianggap terbelakang itu memiliki kemampuan yang dapat
mengimbangi saudara-saudaranya yang lebih tua. Bahkan ternyata
anak itu bukan saja mampu mengimbangi. Dengan unsur gerak yang
sederhana itu nampaknya anak itu cukup mapan menghadapi saudaranya
yang lebih besar dan lebih tua yang berlatih di bawah seorang
guru yang dianggapnya lebih baik dari Pelayan Dalam itu. Para
bangsawan muda yang kemudian diam mematung itu mulai digelitik oleh
perasaan mereka. Merekapun merasa tersinggung atas kekalahan
saudaranya terutama yang seperguruan. Apalagi m ereka merasa lebih
besar dan lebih tua. Bahkan lebih dahulu berlatih olah kanuragan.
Semula mereka memang merasa segan untuk berbuat sesuatu terhadap
anak-anak yang masih lebih kecil dari mereka. Tetapi semakin lama
bangsawan muda itu semakin mengalami kesulitan. Tetapi dalam pada
itu, bangsawan yang masih remaja yang seorang lagi itupun
telah bersiap pula. Jika seorang yang lain mengganggu perkelahian
itu, maka iapun akan segera melibatkan diri apapun yang akan
terjadi. Bahkan seandainya bangsawan-bangsawan muda yang lebih
besar itu akan mengeroy oknya beramai-ramai. Namun ketika anak-anak
muda itu mulai bergerak, sementara remaja yang seorang lagi telah m
elangkah maju, maka dua orang Pelayan Dalam yang bertugas dan
kebetulan berkeliling Ka satrian telah m elihat perkelahian itu.
Bergegas mereka mendatangi. Semula mereka mengira bahwa
bangsawan-bangsawan m uda penghuni Ka satrian itu sedang berlatih.
Tetapi ternyata mereka benar-benar berkelahi diantara mereka. Karena
itu, maka dengan c emas kedua Pelayan Dalam itu berusaha untuk
melerai, sementara bangsawan muda yang sedang berkelahi itu
seakan-akan sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk
mempertahankan diri. "Cukup, cukup" cegah salah seorang Pelayan
Dalam, sementara kawannya berusaha untuk mendorong mereka yang
sedang berkelahi itu saling menjauhkan diri. "Kalian tidak boleh
berkelahi" berkata Pelay an Dalam itu. "Bukan salahku " sahut remaja
itu. "Ia yang bersalah" seorang bangsawan muda menyahut.
"Siapapun yang bersalah, tetapi Raden tidak boleh berkelahi
diantara kalian." berkata Pelay an Dalam itu. Para bangsawan muda
itu termangu-mangu sejenak. Seandainya mereka belum tahu bahwa para
Pelayan Dalam itu juga memiliki kemampuan bertempur yang tinggi
sebagaimana para prajurit, maka mereka tentu tidak mendengarkan
kata-kata mereka. Apalagi ketika Pelay an Dalam itu berkata "Kami
adalah petugas-petugas yang mendapat wewenang. Baik karena tugas dan
kedudukan kami maupun wewenang dari Pangeran Kuda Pratama. Karena
itu, kami mohon, perkelahian ini dihentikan." "Ia sudah menghina
aku" berkata remaja yang berkelahi itu. "Sudah, sudah " cegah
Pelayan Dalam itu "semuanya akan diselesaikan oleh Pangeran Kuda
Pratama. Kami akan menghadap dan m emberikan laoran tentang
perkelahian ini. Raden bersama-sama tentu akan dipanggil menghadap."
Bangsawan-bangsawan muda itu terdiam. Mereka mulai dapat
mempergunakan penalaran mereka. Pangeran Kuda Pratama dapat marah
kepada mereka dan mengambil tindakan atas mereka, karena Pangeran
Kuda Pratama mempunyai wewenang untuk menghukum mereka. Tetapi
perkelahian itu sudah terjadi. Karena itu, maka hal itu harus
dilaporkan kepada Pangeran Kuda Pratama. Ketika laporan itu sampai
kepada Pangeran Kuda Pratama, maka Pangeran Kuda Pratama telah
memanggil mereka dan beberapa orang yang menyaksikan
perkelahian itu. Bahkan keempat orang yang telah diangkat
menjadi guru para bangsawan muda itu. Dengan nada dalam Pangeran
Kuda Pratama berkata "Perkelahian itu sangat tidak pantas." Para
bangsawan muda itu menundukkan kepalanya. Sementara Pangeran Kuda
Pratama bertanya "Apa sebabnya kalian berkelahi ? Apakah guru-guru
kalian menguarkan kepada kalian, agar kalian yang satu dengan yang
lain harus berkelahi ?” Tidak ada yang segera menjawab, sehingga
Pangeran Kuda Pratama harus mengulangi pertanyaannya. "Aku ingin
mendengar jawaban kalian, agar guru-guru kalian ikut mendengar"
berkata Pangeran Kuda Pratama kemudian. Bangsawan-bangsawan muda
penghuni Ka satrian itu termangu-mangu. Sementara mPu Kamenjangan
dan kedua orang guru yang lain saling berpandangan. Baru kemudian
mPu Kamenjangan berkata "Sebaiknya kalian memang mengatakan apa yang
telah terjadi agar Pangeran Kuda Pratama dapat menentukan tindakan
yang akan diambilnya. Yang salah akan dinyatakan salah, yang benar
akan diny atakan benar." "Ya " sahut Pangeran Kuda Pratama
"perkelahian seperti itu tidak boleh terulang kembali." Ternyata
yang lebih dahulu menceriterakan persoalan yang terjadi
di Kasatrian itu adalah bangsawan-bangsawan remaja murid Mahisa
Pukat. Keduanya tahu, bahwa sebenarnya Mahisa Pukat tidak
menghendaki keduanya berceritera tentang kelebihannya. Tetapi mereka
tidak dapat menyembuny ikan seluruhnya karena sebab dari perkelahian
itu adalah justru karena keduanya telah terdorong diluar kendali,
menceriterakan tentang kelebihan Mahisa Pukat. Yang ditekankan oleh
remaja itu adalah perlakuan saudarasaudara mereka yang lebih besar
dengan mendorong dahi salah seorang remaja itu dengan jari-jari.
Perlakuan yang tidak disenangi oleh remaja itu. Pangeran Kuda
Pratama mengangguk-angguk. Kepada anak muda yang telah berkelahi itu
Pangeran Kuda Pratama bertanya "Apakah kau telah mendorong kepalanya
dengan jari-jarimu." "Tetapi tidak terlalu keras" jawab anak muda
itu. "Yang penting bukan keras atau tidak keras. Tetapi aku tidak
senang kepalaku menjadi sa saran permainan" r emaja itu menyahut.
Namun mPu Kamenjanganlah yang meny ela "Seharusnya kalian
tidak melawan terhadap saudarasaudara yang lebih tua. Kecuali
kalian harus menghormati saudara-saudara kalian yang lebih tua
umurnya, juga jika terjadi perselisihan, maka kalianlah yang akan
mengalami kesulitan. Terakhir kalian hanya dapat mengadu." "Aku
tidak mengadu" jawab remaja itu "dan aku sama sekali tidak mengalami
kesulitan ? Kesulitan apa ?" “Akhirnya kau tentu hanya dapat
menangis dan menandu itulah" jawab mPu Kamenjangan yang belum
sempat bertemu dengan mPu Sidikara. "Aku tidak menangis dan aku juga
tidak mengadu." anak itu hampir berteriak. "Jangan ingkar ngger"
berkata mPu Kamenjangan "jika kau tidak m enangis sambil mengadu,
maka kita semuanya tentu tidak akan dipanggil Pangeran Kuda
Pratama." Sebelum anak itu menyahut, maka Pangeran Kuda Pratamalah
yang menjawab "Anak itu memang tidak mengadu dan sama sekali tidak
menangis. Tetapi para Pelay an Dalam yang melihat keduanya berkelahi
dan merekapun telah melerai dan melaporkannya kepadaku sehingga aku
t elah m emanggil kalian semua." mPu Kamenjangan termangu -mangu.
Tetapi nampak pada sor ot matanya bahwa ia tidak percaya. Karena
itu, maka Pangeran Kuda Pratamapun berkata "Jika mPu tidak percaya,
silahkan bertanya kepada anak-anak muda yang lain." mPu
Kamenjangan memandang wajah-wajah yang ada disekitarnya.
Anak-anak muda itupun menundukkan wajah mereka. Hanya kedua orang
remaja murid Mahisa Pukat itulah yang menengadahkan wajah mereka.
Karena tidak ada yang menjawab, maka salah seorang dari kedua
guru yang lainpun berkata "Memang sulit untuk membuktikan
bahwa anak itu m enangis dan mengadu. Tetapi sebaiknya anak-anak
harus menghormati dan tidak berani melawan anak-anak muda yang
lebih besar, karena kecuali tidak sesuai dengan adat yang b
erlaku, juga akibatnya dapat lebih buruk lagi bagi anak-anak itu
sendiri. " Tetapi diluar dugaan, anak itu berkata "Tidak. Aku sama
sekali tidak mengalami akibat buruk." "Itu karena anak-anak muda
yang lebih besar merasa lebih baik mengalah" jawab guru itu.
"Tidak. Tidak ada yang mengalah. Yang kalah bukan berarti mengalah."
jawab anak itu. "Sudahlah" potong Mahisa Pukat "aku sependapat,
bahwa yang muda harus menghormati dan takut kepada yang lebih tua.
Itu memang adat yang berlaku." Kedua remaja itu termangu-mangu
sejenak. Tetapi mereka tidak menjawab. Sehingga Mahisa Pukat berkata
selanjutnya "Jadi kalian berdualah yang memang harus mengalah”. mPu
Kamenjangan termangu -mangu m endengar kata-kata Mahisa Pukat.
Apalagi kedua orang guru yang lain. Seorang diantara mereka
berkata "Kedua remaja itu tidak harus mengalah. Demi kebaikan mereka
sendiri. Jika terjadi perselisihan dan perkelahian, maka yang
akan mengalami kesulitan adalah m ereka yang lebih kecil. Karena
itu, m ereka bukannya harus mengalah, tetapi tahu diri begitulah."
Bangsawan yang masih remaja itu masih akan menjawab. Tetapi
Mahisa Pukat lebih dahulu berkata "Sudahlah. Istilah yang
dipergunakan itu memang sesuai. Tahu diri begitulah." "Ya guru"
jawab remaja itu. Tetapi ia masih m elanjutkan "Kita semuanya memang
harus tahu diri." Yang bertanya justru Pangeran Kuda Pratama "Apa
maksudmu ?" Remaja itu hanya menundukkan kepalanya saja. Tetapi ia
tidak menjawab. Ju stru Pelayan Dalam yang melerainya itulah
yang menjawab karena rasa keadilannya yang tersinggung "Ampun
Pangeran, maksudnya tentu, siapa yang merasa kalah harus
mengakui kekalahannya. Jadi tahu dirilah." mPu Kamenjangan tidak
senang mendengar kata-kata itu karena tidak m engandung pengertian
yang pasti. Karena itu maka iapun bertanya "Menurutmu,
siapakah yang kalah ? Jawab dengan jelas. Karena per soalannya
adalah per soalan yang kasat mata. Jika kau yang melerai dan sempat
menilai diantara m ereka yang berkelahi itu. Justru karena keduanya
dilihat dari ujudnya sudah tidak seimbang. Apalagi dari landasan
kemampuan mereka. Kecuali jika saat melerai perkelahian itu kau
sedang mabuk.” "Tidak mPu, aku tidak sedang mabuk" jawab Pelay an
Dalam yang melerai itu. "Jadi apa yang kau lihat ?
Katakan dengan jujur " desak mPu Kamenjangan "dengan demikian, kita
akan dapat menentukan sikap. Untuk kebaikan semuanya." Pelay an
Dalam itu termangu-mangu. Namun kemudian ia menjawab "Ketika aku
melerai perkelahian itu, maka anak muda yang lebih besar itu sedang
terdesak dan mengalami kesulitan. " "Apa ?" bentak mPu Kamenjangan
"apakah kau sedang mengigau ? Katakan sekali lagi." "Ampun mPu. Aku
memang melihat bahwa anak muda itu sedang terdesak. Kitapun dapat
melihat, berkas-berkas biru di wajahnya dan barangkali ia akan dapat
mengatakannya sendiri. " Wajah mPu Kamenjangan menjadi merah. Guru
yang lain, yang langsung menangani bangsawan muda itu bertanya
"Apakah benar begitu Raden ?" "Omong kosong " bangsawan muda itu
menjawab hampir berteriak "jika saja aku tidak mengingat bahwa ia
masih terlalu kanak-kanak. Tetapi justru karena itu, ia tidak tahu
diri itulah. Sehingga ia justru telah menyakiti aku." "Pangeran"
tiba -tiba guru anak muda itu hatinya menjadi panas "jika kita semua
meragukan, sebaiknya kita melihat langsung apa yang dapat
mereka lakukan.’ Namun dengan cepat Mahisa Pukat m enyahut "Itu
bukan peny elesaian yang baik. Pelayan Dalam itu sudah melerai
perkelahian yang t erjadi. Sebaiknya kita tidak justru mengadu
mereka. " "Tetapi itu ada baiknya " berkata mPu Kamenjangan
"bukankah lebih aman jika m ereka memperbandingkan ilmu mereka
dihadapan kita darimana mereka berkelahi tanpa ada sak si
orang-orang tua seperti kita ? Dengan demikian m aka yang kalah
tentu akan tahu diri. Ia tidak akan berani lagi setidak-tidaknya
menjadi sebab perkelahian. Yang menang tentu diperingatkan bahwa ia
tidak boleh berbuat sesuka hatinya sendiri. Tetapi kepastian itu
akan menenteramkan Ka satrian. Yang kalah harus tahu diri dan
yang menang tidak berbuat sewenang-wenang.” "Tetapi apakah
perkelahian tidak justru menanamkan dendam dihati m ereka yang
seharusnya m asih jernih itu ?" bertanya Mahisa Pukat. "Tentu tidak.
Tetapi selama kepastian siapakah yang menang dan siapakah
yang kalah belum diakui oleh m ereka, maka perkelahian akan
dapat terjadi setiap saat." "Baiklah" tiba -tiba Pangeran Kuda
Pratama yang menyahut "Aku setuju dengan mPu Kamenjangan. Kita
akan melihat siapakah yang menang dan siapakah yang akan kalah.
Tetapi dengan janji, bahwa masing-masing bersikap jujur. Yang kalah
mengakui kekalahannya dan yang menang tidak boleh
sewenang-wenang dalam kesombongannya. Selanjutnya yang besarpun
merasa wajib ikut membantu dan m elindungi yang lebih kecil,
sebaliknya yang lebih kecil harus menghormati dan tahu diri."
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Apa boleh buat.
Jika itu yang harus terjadi." "Nah" berkata Pangeran Kuda
Pratama "siapa yang telah berkelahi tadi. Kita akan melihat
perkelahianitu." Bangsawan yang masih remaja, murid Mahisa Pukat
itupun telah melangkah kedepan sambil berkata "Aku sekedar
melindungi kepalaku. Aku tidak mau kepalaku menjadi permainan. "
"Kita tidak berbicara tentang sebab perkelahian itu terjadi" potong
mPu Kamenjangan "nah, sekarang siapakah lawannya ?" Anak muda yang
diwajahnya telah nampak berkas-berkas biru di keningnya itu memang
menjadi ragu-ragu. Tetapi dihadapan gurunya ia tidak boleh nampak
ketakutan. Iapun berharap bahwa jika perlu maka gurunya akan dapat
berbuat sesuatu. Bukan saja atas anak itu, tetapi ju stru atas guru
anak itu. Karena itu, maka anak muda itupun segera melangkah maju.
Dengan ragu ia berkata "Aku sudah berusaha untuk mengalah. Tetapi
anak itu justru memanfaatkannya dan menyakiti wajahku. Ketika aku
siap untuk m embalas, m aka datanglah Pelay an Dalam itu m elerai.
Tetapi ia menganggap bahwa aku telah terdesak.” “Marilah, sekarang
kita akan m elihat apa yang sebenarnya terjadi." berkata gurunya,
salah seorang diantaranya ketiga orang guru yang ada di Kasatrian
itu yang datang sebelum Mahisa Pukat. Dalam pada itu maka Pangeran
Kuda Pratamapun berkata "t etapi ingat. Permainan ini harus
dilakukan dengan jujur. Kemudian akibatnyapun harus ditanggung
dengan jujur pula. Tidak ada dendam dan tidak ada kebencian diantara
para penghuni Ka satrian.” "Ya Pangeran" sahut mPu Kamenjangan. "Apa
yang terjadi disini dimaksud untuk meny elesaikan persoalan. Bukan
untuk menumbuhkan persoalan-persoalan baru.” Demikianlah, maka
keempat orang guru yang ada di Ka satrian itu telah mengatur
tempat permainan para bangsawan muda itu. Tetapi seakan-akan
merekalah yang akan t erlibat langsung, sehingga justru merekalah
yang sebelumnya sudah berkeringat diseluruh tubuh mereka. Sejenak
kemudian maka kedua orang bangsawan muda itu sudah berhadapan.
Keduanya memang tidak seimbang. Seorang masih remaja sedang
yang lain telah mendekati usia dewasanya. Pangeran Kuda
Pratama menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun ujud mereka
membuatnya berdebar-debar: “Selisih yang agak jauh itu tentu
akan berpengaruh atas kekuatan tenaga mereka dan tentu juga tingkat
penalaran mereka” Karena itu, maka Pangeran Kuda Pratama itu sendiri
telah berada didalam arena untuk mengamati langsung permainan itu.
"Serahkan mereka kepadaku" berkata Pangeran Kuda Pratama kepada para
guru yang bertugas di Kasatrian itu. Termasuk Mahisa Pukat dan
guru anak muda itu. Keempat orang guru itupun bergeser mundur untuk
mengambil jarak. Mereka tidak dapat menolak perintah Pangeran Kuda
Pratama untuk m eninggalkan murid mereka dan mempercayakan kepada
Pangeran itu. Apalagi merekapun mengetahui bahwa Pangeran Kuda
Pratama adalah seorang Pangeran yang berilmu sangat tinggi.
"Nah" berkata Pangeran Kuda Pratama "sekarang kalian dapat
memulainya. Aku akan mengamati dengan sebaikbaiknya. Tetapi ingat,
yang kalian lakukan adalah sekedar permainan. Bukan
perkelahian." Kedua orang bangsawan muda itu mengangguk. Sementara
Pangeran Kuda Pratamapun segera melangkah surut menepi. Sejenak k
emudian, kedua orang bangsawan kecil itu telah berhadapan sekali
lagi. Dihadapan gurunya bangsawan muda yang lebih besar itu menjadi
lebih mantap. Ia mengira bahwa gurunya memiliki pengaruh yg besar
terhadap guru remaja yg sombong itu. Sehingga guru remaja itu akan m
engekang agar muridnya tidak berani berbuat sesuka hatinya Tetapi
nampaknya remaja k ecil itu sama sekali tidak m enghiraukan
kehadiran ketiga orang guru di Kasatrian itu. Seperti bangsawan muda
y g lebih tua daripadanya itu maka ia ju stru menjadi semakin mantap
karena gurunya juga hadir. Apalagi remaja itu telah melihat
bagaimana gurunya dapat melampaui kemampuan orang yang meny ebut
dirinya mPu Sidikara itu. Tetapi bangsawan muda yang lebih besar itu
ternyata telah menjadi sangat garang dihadapan gurunya. Ketika
Pangeran Kuda Pratama mengisy aratkan bahwa mereka dapat mulai, anak
muda itu langsung meny erang. Tetapi bangsawan kecil itu sudah
bersiap. Dengan tangkasnya ia meloncat menghindari serangan itu.
Bahkan dengan cepat pula iapun telah berganti meny erang dengan
cepat pula. Latihan-latihan yang berat memang telah membentuk
tubuhnya dan menumbuhkan tenaga didalam dirinya Meskipun dengan
unsur gerak yang masih sederhana, namun dilambari kekuatan
yang besar, maka serangannya menjadi berbahaya Ketika anak muda itu
menjadi semakin keras, maka remaja kecil itupun menjadi semakin
keras pula Kebiasaannya berlatih dialam terbuka, dilereng-lereng
bukit, dibulak-bulak panjang, turun naik tebing sungai dan
lembah-lembah telah membuatnya memiliki kekuatan dan daya tahan
yang tinggi. Kebiasaannya melihat berbagai macam binatang
dengan tabiatnya masing-masing telah memperkaya unsur-unsur gerak
sederhana yang dikuasainya. Karena itu, maka beberapa saat kemudian
maka remaja kecil itu justru nampak semakin menguasai arena. Dengan
lincahnya ia berloncatan. Sekali-sekali menirukan seekor anak
kambing y g berkejaran dan berkelahi di padang rumput. Namun
kemudian menirukan gerak burung diudara saat menyambar mangsanya.
Anak itu juga pernah melihat bagaimana seekor kucing hutan yang
merunduk seekor tikus dipematang sawah. Kemudian meloncat
menerkamnya dengan kuku -kukunya yang tajam. Yang terjadi adalah
benar-benar diluar dugaan. Yang sering dilihat pada kedua remaja
murid Mahisa Pukat itu adalah unsur -unsur gerak yang sederhana jika
mereka berlatih di sanggar. Tetapi pada unsur-unsur gerak yang
sederhana itu ternyata dikandung kekuatan dan day a tahan yang
tinggi. Bahkan seakan-akan secara naluriah unsur-unsur itu telah
berkembang dengan sendirinya karena penglihatannya yang luas. ------
< alenia ini ku pindahi keatas k rn ga sambung di alenia ini>
Kedua orang bangsawan muda itu mengangguk. Sementara Pangeran Kuda
Pratamapun segera melangkah surut menepi. ------ Karena itulah, maka
sekali lagi anak muda yang lebih besar itu ternyata tidak
mampu bertahan. Remaja yang lebih muda itu telah mendesaknya.
Beberapa kali serangannya telah mengenai tubuh anak muda itu. Diw ay
ahnya, didadanya dan di lambungnya. Semakin lama serangannya datang
semakin cepat dan semakin kuat. Orang-orang, terutama guru anak muda
itu, hampir tidak percaya melihat keny ataan itu. Muridnya
yang lebih besar itu benar-benar tidak mendapat kesempatan
untuk membalas serangan-serangan yang datang beruntun dengan
tenaga yang terhitung sangat kuat bagi remaja seumurnya. Beberapa
kali bangsawan muda itu terdor ong surut. Bahkan ketika kaki
lawannya yang kecil itu mengenai dadanya, maka hampir saja
bangsawan muda itu kehilangan keseimbangannya. Untunglah bahwa
lawannya yang lebih kecil itu tidak memburunya. Kakinya memang telah
meloncat. Tetapi ia segera teringat pesan Pangeran Kuda Pratama,
bahwa yang terjadi itu bukan perkelahian, tetapi sekedar permainan.
Karena itu maka iapun mengurungkan serangannya. Meskipun ia berdiri
dalam jarak jangkauan serangan kakinya, tetapi ia tidak
melakukannya. Bahkan ia telah menunggu anak muda itu memperbaiki
kedudukannya dan mendapatkan keseimbangan sepenuhnya kembali. Para
guru di Ka satrian itu tidak dapat mengingkari keny ataan yang
terjadi itu. Anak m uda yang lebih besar itu memang terdesak oleh
lawannya yang lebih kecil. Tetapi itu bukan mimpi. Bukan pula
bualan Pelay an Dalam yang melerainya. Tetapi yang terjadi itu
memang telah terjadi. Ketika Pangeran Kuda Pratama telah meyakini
pengamatannya bahwa anak muda itu tidak akan mampu bertahan lebih
lama lagi, maka iapun berpaling kepada guru yang langsung mengasuh
anak muda itu. Pangeran Kuda Pratama itu memberi isyarat kepadanya
untuk mendekatinya. Demikian orang itu m endekat, maka murid Mahisa
Pukat yang menjadi berdebar-debar karenanya, telah memanfaatkan saat
terakhir itu. Ia tidak tahu untuk apa guru anak muda yang menjadi
lawannya itu dipanggil. Ju stru karena itu, m aka ia ingin
meyakinkan bahwa ia benar-benar memenangkan permainan itu. Begitu
guru anak muda itu tampil diarena, maka murid Mahisa Pukat
yang kecil itu telah mengerahkan segenap kekuatannya. Dengan
tangkasnya ia meloncat maju sambil mengayunkan tangannya menembus
pertahanan lawannya yang memang sudah goyah. Dengan kerasnya tangan
murid Mahisa Pukat itu telah menghantam kearah dada Namun ternyata
arah itu telah bergeser. Diluar sadarnya, remaja itu tidak
benar-benar mengenai dada lawannya yang lebih besar itu, tetapi
mengenai pundaknya Meskipun demikian, terdengar anak muda itu
berteriak kesakitan. Tubuhnya terputar dan kemudian terhuyunghuyung
kehilangan keseimbangan. Untunglah, bahwa ketika anak muda itu
hampir terbanting jatuh, gurunya sempat menahannya. Pangeran Kuda
Pratamapun kemudian melangkah maju sambil berkata "Nah, aku kira
permainan ini sudah cukup. Aku tidak mengatakan siapa yang kalah dan
siapa yang menang. Semuanya telah melihatnya sendiri. Permainan ini
telah berlangsung dengan jujur. Seperti aku harapkan, kelanjutan
dari hubungan kalian di Ka satrianpun harus berlangsung dengan
jujur.” Keempat orang guru di Kasatrian itu berdiri termangumangu.
Mahisa Pukat hanya dapat mengangguk-angguk kecil. Sementara itu mPu
Kamenjangan dan kedua orang guru yang lain, seakan-akan tidak dapat
mempercayai apa yang telah mereka saksikan. Tetapi mereka
tidak dapat menghapus keny ataan itu. Bangsawan yang lebih
besar itu t idak mampu mengimbangi remaja yang baru mulai
mempelajari oleh kanuragan itu. "Nah" berkata Pangeran Kuda Pratama
"permainan ini telah selesai. Kembalilah ke Kasatrian. Kalian tidak
boleh berkelahi lagi. Siapa yang berkelahi, akan benar-benar diusut.
Siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang bersaah akan
dihukum dan yang benar tentu saja tidak. Para Pelayan Dalam
akan mendapat tambahan wewenang untuk bertindak lebih jauh daripada
sekedar melerai jika terjadi perkelahian. Jika perlu, maka para
Pelay an Dalam dapat memisah dengan tindakan yang lebih keras lagi.
Kalian tidak dapat menyalahkan mereka. Aku memberikan wewenang
kepada mereka atas wewenangku di Kasatrian, " Anak-anak muda dan
bahkan guru-guru mereka itupun berdiri termangu-mangu. Wajah
Pangeran Kuda Pratama nampak bersungguh-sungguh. Agaknya Pangeran
itu tidak sekedar mengancam. Tetapi ia tentu benar-benar akan
bertindak jika masih ada perkelahian di Kasatrian. Beberapa saat
kemudian, maka Pangeran Kuda Pratama itupun telah memerintahkan para
bangsawan muda itu kembali ke Ka satrian, sementara itu ia m inta
keempat orang guru di Ka satrian itu tinggal untuk sementara
bersamanya. Demikian para bangsawan muda itu pergi, m aka Pangeran
Kuda Priatama itupun berkata "Kerukunan anak-anak yang menghuni
Kasatrian itu tergantung dari kalian semuanya. Jika kalian m erasa
diri kalian satu, maka tentu tidak akan terjadi sesuatu di
Kasatrian. Bukankah kalian dibebani tugas yang sama?” "Pangeran"
berkata mPu Kamenjangan "selama ini Ka satrian itu selalu tenang.
Tidak pernah ada kekisruhan apalagi perkelahian. Tetapi sekarang,
sebagaimana Pangeran lihat, perkelahian itu telah terjadi di Ka
satrian." Pangeran Kuda Pratama mengerutkan dahinya. Dari sorot
matanya nampak bahwa jantungnya bergejolak. Namun ia masih berusaha
untuk menahan diri sehingga kata-katanya masih saja sareh "mPu. Jika
hal itu terjadi, siapakah yang dapat dituding telah melakukan
kesalahan? Yang baru, karena sebelumnya belum pernah terjadi
keributan?" "Pangeran" berkata mPu Kamenjangan "a pakah penalaran
yang demikian salah?" "Aku tidak mengatakan penalaran itu salah,
mPu. Tetapi penalaran yang demikian tidak selalu benar. Seandainya
yang lama itu dengan serta-merta menolak kedatangan yang baru
sebelum m enilai dengan seksama?" bertanya Pangeran Kuda Pratama.
Wajah mPu Kamenjangan itu menjadi merah. Ternyata Pangeran Kuda
Pratama langsung menunjuknya sebagai sumber keributan yang telah
terjadi di Ka satrian. Untuk beberapa saat mPu Kamenjangan itu
justru terbungkam. Namun kemudian seperti ledakan bendungan pecah ia
bertanya dengan lantang "Jadi Pangeran menyalahkan kami yang telah
lama mengabdi di Kasatrian ini?" Ternyata Pangeran Kuda Pratama
tidak menahan diri. Dengan tegas ia menjawab "Ya. Kalian bertiga
telah ber salah. Kal ian tidak menerima kehadiran Mahisa Pukat
dengan iklas. Karena itu, maka jarak yang telah kalian gali itu
telah mempengaruhi murid-murid kalian. Kebencian kalian, atau lebih
tepat lagi disebut kedengkian kalian atas kehadiran Mahisa Pukat
telah membakar Kasatrian ini. Aku berterima kasih atas segala
bantuan kalian selama ini. T etapi itu bukan jaminan bahwa aku harus
membenarkan sikap kalian yang menurut pendapatku salah. Aku harus
berani mengatakan bahwa yang salah itu salah. Yang benar itu
benar. Setidaktidaknya menurut keyakinanku atas landasan tugas dan
wewenangku." "Baik" berkata mPu Kamenjangan "agaknya Pangeran
cenderung berpihak kepada Mahisa Pukat. Jika demikian maka Pangeran
hendaknya bersikap. Bagiku, sulit untuk dapat bertugas dalam satu
lingkup kewajiban. Seperti minyak dengan air. Karena itu, maka
Pangeran harus m emilih. Kami bertiga atau Mahisa Pukat, Pelayan
Dalam yang baru dapat meloncat-loncat seperti kera itu."
Tetapi diluar dugaan Pangeran Kuda Pratama menjawab tegas "Aku m
emilih Mahisa Pukat. Aku sediakan jawaban ini sejak aku meny etujui
Mahisa Pukat bertugas di Kasatrian, karena aku y akin, lambat atau
cepat, aku akan mendapat pertanyaan seperti itu." Sekali lagi wajah
mPu Kamenjangan menjadi merah, bahkan terasa panas. Kemarahan telah
membakar jantungnya. Namun dihadapan Pangeran Kuda Pratama, mPu
Kamenjangan harus menahan diri. Ia sadar, bahwa Pangeran yang
menjelang harihari tuanya itu adalah seorang yang berilmu
sangat tinggi. Meskipun demikian, seandainya persoalan seperti itu
terjadi diluar istana, maka mPu Kamenjangan tentu akan mengambil
sikap lain. Apalagi ia bertiga bersama dua orang guru yang lain dari
para bangsawan muda di Ka satrian itu. Dengan kata-kata yang
bergetar justru karena ia menahan diri, mPu Kamenjangan berkata
"Jika demikian Pangeran. Tidak ada gunanya lagi kami terlalu lama
mengabdi di Ka satrian. Kami mohon ijin untuk meninggalkan tugas
kami. Kami dapat mengabdikan diri pada bidang yang lain, tidak pada
bidang yang selama ini kami lakukan." "Baiklah mPu " jawab Pangeran
Kuda Pratama "jika itu keputusan mPu, maka aku akan menghormatinya.
Aku persilahkan mPu meninggalkan Ka satrian. Aku mengucapkan terima
kasih atas kesediaan mPu menuntun anak-anak kami di Ka satrian
selama ini. Aku juga mengucapkan terima kasih bahwa mPu bersedia
mengabdikan diri dihidang lain di Singasari." Dengan penuh dendam
mPu Kamenjangan telah meninggalkan Kasatrian bersama kedua orang
guru yang lain. Mereka benar-benar m erasa tersingkir sejak
kedatangan Mahisa Pukat di Kasatrian. Namun mereka tidak akan
tinggal diam. Mereka akan membuat perhitungan langsung dengan Mahisa
Pukat. Sejak ketiga orang itu keluar dari Kasatrian, maka yang
pertama-tama mereka lakukan adalah menemui mPu Sidikara. Kepada mPu
Sidikara, mPu Kamenjangan mengatakan, apa yang telah terjadi dengan
dirinya serta kedua orang guru yang lain. "Aku akan membuat
perhitungan langsung dengan iblis kecil itu " geram mPu Kamenjangan.
mPu Sidikara menarik napas dalam-dalam. Dengan nada berat ia
berdesis "Aku minta maaf mPu. Aku terlambat menemui mPu." "Apa yang
terlambat?" bertanya mPu Kamenjangan. "Aku telah bertemu Mahisa
Pukat " jawab mPu Sidikara. "Dan kau sudah menjajagi ilmunya?"
bertanya mPu Kamenjangan. "Ya " jawab mPu Sidikara. "Katakan,
seberapa jauh ilmu anak itu." mPu Kamenjangan menjadi tidak sabar
lagi. "Tataran ilmunya berada jauh diatas ilmuku " jawab mPu
Sidikara. "Ah. Kau jangan bergurau. Aku benar-benar sedang
mendendam" jawab mPu Kamenjangan. mPu Sidikara menarik nafas
dalam-dalam. Namun iapun kemudian menceriterakan apa yang pernah
dialaminya ketika ia menjajagi ilmu Mahisa Pukat. "Apakah kau sedang
mabuk waktu itu?" bertanya mPu Kamenjangan. "Aku berkata sebenarnya"
jawab mPu Sidikara "aku juga tidak m engira bahwa anak itu m emiliki
ilmu yang demikian tinggi. Jauh di luar dugaanku. Bahkan sama
sekali tidak terbayangkan. " "Aku tidak y akin " berkata mPu
Kamenjangan "atau barangkali kau sudah terpengaruh olehnya ? Apakah
ia sudah rnenjanjikan sesuatu kepadamu?" bertanya mPu Kamenjangan.
“Sama sekali tidak. Aku berkata sebenarnya. Jika kau ingin
menjajaginya, silahkan. Tetapi dengarlah pendapatku. Ia seorang anak
muda yang baik. Meskipun aku telah memaksakan perkelahian dan bahkan
aku sudah m engancam untuk membunuhnya, t etapi ia tidak berbuat
apa-apa atasku yang sebenarnya tidak akan mampu melawannya. Ketika
aku berniat melepaskan ilmuku, maka ia telah menahannya, sehingga
aku urung mempergunakannya. Jika aku m emaksa diri untuk
mempergunakan juga, sedangkan anak itu membenturnya dengan ilmu
puncaknya, maka tentu akulah yang akan menjadi lumat." "Kau sudah
terperangah oleh sikapnya. Tetapi bukankah kau belum m encoba untuk
mempergunakan ilmu puncakmu itu?" bertanya mPu Kamenjangan. "Aku m
emang belum m empergunakannya Tetapi ia sudah membuat satu
perbandingan. Ia telah menghantam batu padas ditebing. Akibatnya
benar-benar diluar dugaan. Dua hari kemudian, aku telah mencobanya
tanpa dilihat oleh seorangpun. Tetapi apa yang dapat aku
lakukan? Luka tebing itu jauh lebih kecil dari luka yang
ditimbulkan oleh ilmu Mahisa Pukat." "Kau terpengaruh oleh
permainannya. Tetapi baiklah. Aku tidak akan menyalahkanmu, karena
kau tidak mempunyai kepentingan langsung. Tetapi aku lain. Aku akan
benar-benar menjajagi ilmu. Aku akan menantangnya karena aku ingin
menunjukkan bahwa pendapat Pangeran Kuda Pratama itu tidak b enar.
Mahisa Pukat bukan orang terbaik di Kasatrian. Baik ilmunya maupun
sikap dan pandangan hidupnya Juga caranya memberikan latihan-latihan
kepada para bangsawan muda itu." "Aku ingin memperingatkanmu "
berkata mPu Sidikara. "Kita adalah saudara seperguruan. Mungkin aku
seorang yang dungu, sehingga aku merasa bahwa ilmumu lebih baik dari
ilmuku. Tetapi kita yang sama-sama tuntas ini tentu tidak
terpaut terlalu banyak. Karena itu, menurut penglihatanku, ilmumu
tidak akan melampaui ilmu Mahisa Pukat." Tetapi peringatan mPu
Sidikara itu tidak dihiraukannya. Bahkan dengan kesal mPu
Kamenjangan berkata "Baiklah. Jika kau berpendapat lain, aku tidak
berkeberatan. Aku akan menyelesaikan per soalanku sendiri” "Jangan
salah mengerti" sahut mPu Sidikara "justru aku merasa saudara
seperguruanmu. Aku berniat memperingatkanmu. Aku tidak ingin kau
mengalami kesulitan. Tetapi agaknya kau salah paham." "Terima kasih"
jawab mPu Kamenjangan "jika itu yang kau maksudkan, aku
mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya. Tetapi aku tidak y
akin akan keteranganmu." mPu Sidikara menarik nafas dalam-dalam.
Jika Mahisa Pukat menghadapi mPu Kamenjangan, mungkin sikapnya akan
berbeda dengan sikapnya saat anak muda itu menghadapinya. Mahisa
Pukat tahu bahwa ia tidak berkepentingan langsung sehingga Mahisa
Pukat seakan-akan tidak berniat menyakitinya. Mahisa Pukat
menghentikan perlawanannya dengan cara yang lembut dan
perlahan-lahan. Tetapi menghadapi mPu Kamenjangan mungkin Mahisa
Pukat akan langsung menghadapkan ilmunya yang dahsyat itu. Sementara
itu menurut perhitungan mPu Sidikara, tataran ilmu mPu Kamenjangan
masih belum setingkat dengan tataran ilmu Mahisa Pukat. Tetapi mPu
Sidikara benar -benar tidak mampu untuk mencegah niat mPu
Kamenjangan yang merasa tersisih. Dari ceritera mPu
Kamenjangan, mPu Sidikara dapat menduga, betapa besar dendam dan
kebencian mPu Kamenjangan terhadap Mahisa Pukat Ber sama kedua orang
guru yang lain, m Pu Kamenjangan telah merencanakan untuk membuat
perhitungan dengan Mahisa Pukat. Mereka tahu bahwa Mahisa Pukat
sering pergi ke lereng bukit, atau menyusuri jalan lembah dan kaki
pegunungan. Bahkan mPu Sidikarapun sempat menemukannya sedang
berlari-lari dilereng bukit-bukit padas. "Ada beberapa tempat
yang selalu dikunjungi" berkata mPu Kamenjangan kepada kedua
orang kawannya "kita akan mencarinya ke tempat-tempat itu. Aku tidak
peduli apakah orang-orang istana Singasari akan marah atau tidak.
Seandainya mereka marah, belum tentu mereka dapat menangkap kita."
Kedua kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seperti mPu Kamenjangan, m
aka merekapun mendendam Mahisa Pukat, sehingga merekapun sependapat
dengan rencana mPu Kamenjangan itu. Dalam pada itu, mPu Sidikaralah
yang justru menjadi sangat cemas. Ia mencemaskan keadaan
saudara seperguruannya. Namun iapun mencemaskan Mahisa Pukat.
Betapapun tinggi ilmu Mahisa Pukat, namun jika mPu Kamenjangan
kehilangan harga dirinya dan bertempur bersama dua orang kawannya,
maka Mahisa Pukat memang akan mendapat kesulitan. Sepeninggal mPu
Kamenjangan, maka mPu Sidikara menjadi gelisah. Betapa ia mencoba
untuk melupakan persoalan saudara seperguruannya dengan Mahisa
Pukat. Tetapi ia tidak berhasil. Setiap kali ia teringat niat mPu
Kamenjangan untuk menundukkan Mahisa Pukat, maka iapun menjadi
berdebar-debar. Ia sendiri mengalami, betapa hatinya sulit
dikendalikan setelah terjadi benturan ilmu melawan anak muda itu.
Sebaliknya, anak muda itu ternyata masih selalu mampu menguasai
dirinya sehingga dalam pertempuran yang keras, anak muda itu masih
sempat memikirkan keselamatan lawannya. Tetapi apakah anafc muda itu
akan berbuat demikian pula jika ia berhadapan dengan mPu
Kamenjangan? Sementara itu mPu Kamenjangan akan dapat minta kedua
orang guru yang lain yang m engalami perlakuan
yang sama dari istana Singasari, untuk bersama-sama melawan
Mahisa Pukat. Bahkan mungkin per soalannya akan menjadi lebih gawat
dari sekedar menundukkan dan memaksa Mahisa Pukat mengakui kelebihan
mPu Kamenjangan. Tetapi justru lebih dari itu. mPu Kamenjangan
yang m enjadi sangat tersinggung itu akan dapat benar-benar m
erencanakan untuk membunuh Mahisa Pukat. Ternyata kegelisahan itu
telah meny iksa mPu Sidikara. Karena itu, maka untuk mengurangi
beban perasaannya, maka mPu Sidikara berniat untuk m enemui Mahisa
Pukat di istana Singasari. Dalam pada itu, mPu Kamenjangan
benar-benar berusaha untuk dapat b ertemu dengan Mahisa Pukat.
Setiap kali mPu Kamenjangan berada ditempat yang sering dikunjungi
oleh Mahisa Pukat. Ia ingin menemui anak muda itu dan berbicara
bersama-sama dengan kedua orang guru yang lain yang juga telah
berhenti dan meninggalkan tugas mereka di Kasatrian. Sebenarnyalah,
maka akhirnya, mPu Kamenjangan melihat Mahisa Pukat dan kedua
muridnya yang remaja itu berlari -lari dilereng bukit. Seperti
yang diperhitungkan oleh mPu Kamenjangan, maka Mahisa Pukatpun
berhenti di dataran yang cukup luas dilereng bukit itu.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Pukatpun telah melihat mPu Kamenjangan
yang mendekatinya. Karena itu, maka iapun siap menunggu apapun
yang akan dilakukan oleh mPu Kamenjangan itu. Karena hal
seperti itu telah diduganya sebelumnya. mPu Kamenjangan yang
kemudian mendekatinya itupun kemudian berdiri sambil m eny ilangkan
tangannya didadanya. Dengan nada berat ia b erkata "Anak muda
yang perkasa. Kau dapat berbangga diri bahwa kau telah
terpilih untuk m enjadi seorang guru yang terbaik di Ka satrian.
Terbukti bahwa Pangeran Kuda Pratama telah memilih kau daripada kami
bertiga." "Bukan maksudku, mPu. Aku sudah berusaha berbuat
sebaik-baiknya." jawab Mahisa Pukat. mPu Kamenjangan itu tertawa.
Katanya "Dan ternyata kau berhasil. Sekarang kami telah tidak
bertugas di Kasatrian lagi." "Aku sudah memohon kepada Pangeran Kuda
Pratama agar keputusan itu dibatalkan " berkata Mahisa Pukat. "O,
jadi kau juga menaruh bela s kasihan kepada kami, anak muda? Kami
bukan orang-orang yang minta dibelas-kasihani. Kau kira kami akan
berterima kasih atas belas-kasihanmu itu ? Seandainya Pangeran Kuda
Pratama mendengarkan permohonanmu dan memanggil kami kembali, maka
kami tentu akan berkeberatan. Apalagi jika hal itu karena belas
kasihanmu." "Maaf mPu. Bukan karena belas-kasihan. Tetapi menurut
penalaranku, mPu sudah cukup lama berada di Kasatrian, sehingga mPu
sudah mengenal tugas mPu dengan baik." mPu Kamenjangan tertawa.
Katanya "Terima kasih anak muda. Apapun yang kau katakan,
tidak akan dapat menghapus retak dijantungku. Karena itu, maka untuk
menyembuhkannya hanya ada satu jalan. Itupun jika ternyata kau benar
-benar seorang laki-laki. " "Aku tidak tahu maksudmu, mPu." sahut
Mahisa Pukat. "Dengar. Besok pagi-pagi aku akan berada ditempat ini.
Aku ingin kau juga berada ditempat ini. Sendiri. Aku tidak mau m
enghancurkan kebanggaan kedua orang m uridmu itu atas gurunya. Jika
mereka melihat kau hancur disini, m aka hatinyapun akan hancur pula.
Ia akan kehilangan kepercayaan kepada semua orang yang kelak
ditunjuk menjadi gurunya karena orang yang dibanggakan
ternyata sama sekali tidak memberikan kebanggaan apa-apa. Dengan
demikian maka ia akan menganggap orang lainpun seperti kau.” Mahisa
Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia berpaling kepada kedua orang
muridnya yang tegang. Namun kemudian kepada mPu Kamenjangan ia
berkata "Jika itu yang kau kehendaki, mPu. Maka aku akan
memenuhinya." "Ternyata kau juga seorang laki-laki " desis mPu
Kamenjangan sambil tersenyum. Mahisa Pukat memang tersinggung.
Katanya "Bukankah mPu tahu bahwa aku sejak semula adalah laki-laki ?
Bukankah mPu tahu bahwa untuk menjadi seorang Pelayan Dalam aku
telah melampaui pendadaran tiga rambahan ?" mPu Kamenjangan tertawa.
Katanya "Apakah artinya pendadaran seorang calon Pelayan Dalam.”
"Tetapi kau tahu mPu, bahwa bekalku bukan sekedar berhasil dalam
pendadaran bagi calon Pelayan Dalam," jawab Mahisa Pukat. "Bagus.
Bagus" jawab mPu Kamenjangan "besok pagi-pagi aku menunggumu disini.
" mPu Kamenjangan tidak menunggu jawaban Mahisa Pukat. Ber sama
dengan kedua orang kawannya, iapun meninggalkan tempat itu. Mahisa
Pukat menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian mendekati kedua
orang muridnya sambil berkata "Satu contoh yang tidak baik, Raden.
Tetapi aku tidak dapat m enghindar. Karena itu, sebaiknya kalian
berdua tidak mengatakan kepada siapapun juga. Sebenarnya aku malu
berselisih dengan siapapun juga. Tetapi mereka memaksa aku untuk m
embela harga diriku." Kedua bangsawan remaja itu mengangguk-angguk.
Dengan nada rendah seorang diantara mereka berkata "Aku m engerti
guru. Tetapi apakah guru harus menghadapi mereka bertiga besok ?"
"Tidak " jawab Mahisa Pukat "nampaknya yang paling mendesak
ingin menjajagi kemampuanku adalah mPu Kamenjangan. Agaknya mPu
Sidikarapun diminta untuk mPu Kamenjangan untuk menjajagi
kemampuanku. Menurut penglihatanku, mPu Kamenjangan dan mPu Sidikara
memiliki sumber ilmu yang sama. Meskipun aku belum pernah mengamati
unsur-unsur gerak mPu Kamenjangan, tetapi unsur itu nampak pada
murid-muridnya.” Kedua remaja itu mengangguk-angguk. Dengan
ragu-ragu seorang diantara mereka bertanya "Tetapi bagaimana jika
mereka ber sama-sama melawan guru ?" "Aku berharap bahwa hal seperti
itu tidak terjadi, Raden.” Kedua remaja itu tidak menjawab. Tetapi
mereka nampak merenung. Agaknya mereka menjadi cemas, bahwa kedua
orang kawan mPu Kamenjangan itu akan bertempur bersamasama.
"Sudahlah" berkata Mahisa Pukat "bagaimanapun juga aku masih m
enghargai mPu Kamenjangan. Ia tidak akan berbuat licik seperti itu."
Kedua remaja itu hanya mengangguk-angguk saja betapapun mereka
merasa ragu. "Marilah " berkata Mahisa Pukat "kita mulai dengan
latihanlatihan ringan seperti biasanya. Lupakan apa yang
kalian lihat dan kalian dengar tadi. Itu adalah persoalanku. Biarlah
aku menyelesaikan per soalanku." Kedua orang remaja itu masih
berdiam diri. Merekapun kemudian bangkit dan mulai berlatih. Tetapi
Mahisa Pukat mengetahui bahwa mereka tidak lagi dapat memusatkan
perhatian mereka. Meskipun demikian Mahisa Pukat masih saja membawa
mereka kedalam latihan-latihan untuk memanaskan tubuh mereka. Ketika
matahari mulai naik, maka Mahisa Pukat mengajak kedua orang muridnya
itu kembali ke Kasatrian. Mereka berjalan dengan kepala tunduk.
Kedua remaja itu tidak nampak gembira seperti biasanya. Bahkan di
Kasatrianpun mereka menjadi lebih banyak berdiam diri. Mahisa Pukat
yang mengerti gejolak perasaan mereka, sempat memberikan
petunjuk-petunjuk kepada mereka. Namun Mahisa Pukatpun menyadari
bahwa ia tidak akan dapat menghapuskan gejolak perasaan anak-anak
itu dengan serta merta, sehingga mereka masih saja tidak dapat
memusatkan perhatian mereka kepada latihan-latihan yang harus mereka
lalukan. "Lihat " berkata Mahisa Pukat sambil tersenyum "aku
yang akan menghadapi mereka tidak merasa cemas. Tidak pula
kehilangan kegembiraanku hari ini. Karena itu, kalian jangan menjadi
muram seperti itu." Namun jika kemudian anak-anak itu tersenyum dan
tertawa, Mahisa Pukat menyadari bahwa mereka hanya sekedar ingin
menghapuskan kesan kemuraman sgja. Dalam pada itu, Mahisa Pukat t
erkejut ketika di sore hari seseorang telah mencarinya, ketika
Mahisa Pukat menemuinya, ternyata orang itu adalah mPu Sidikara.
"Marilah mPu " Mahisa Pukat mempersilahkan. Merekapun kemudian duduk
diamben panjang diserambi belakang Ka satrian. "Maaf mPu" berkata
Mahisa Pukat kemudian setelah mereka duduk "kedatangan mPu membuat
aku berdebardebar." mPu Sidikara menarik nafas panjang. Katanya
"Akulah yang harus minta maaf bahwa aku telah mengejutkanmu ngger."
"Apakah mPu datang untuk sekedar melihat-lihat, atau mPu mempunyai
satu kepentingan ?" mPu Sidikara termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian katanya "Ngger. Aku tidak tahu, apakah langkahku ini
menunjukkan kepicikan penalaranku. Bahkan mungkin aku dapat disebut
berkhianat terhadap saudara seperguruanku." "Maksud mPu ?" desak
Mahisa Pukat. mPu Sidikarapun kemudian menceriterakan niat mPu
Kamenjangan untuk menemui Mahisa Pukat dan menjajagi kemampuannya.
"Sebenarnya aku dapat saja tidak ikut cam pur setelah aku
melakukannya untuk kepentingan saudara seperguruanku itu pula."
berkata mPu Sidikara kemudian "tetapi aku tidak dapat berbuat
demikian ngger. Aku bahkan sudah mencoba untuk mencegah saudara
seperguruanku itu. Aku sudah mengatakan bahwa tataran kemampuannya
yang setataran dengan kemampuanku tidak akan dapat melampaui
kemampuan angger Mahisa Pukat. Tetapi saudara seperguruanku itu
tidak percaya. Sementara itu aku tidak ingin sesuatu terjadi, baik
atas angger Mahisa Pukat yang menurut penilaianku sama sekali
tidak bersalah, tetapi juga atas saudara seperguruanku." Mahisa
Pukat termangu -mangu sejenak. Namun kemudian dengan suara berat ia
m enceriterakan pertemuannya dengan mPu Kamenjangan di lereng bukit.
"Besok, aku harus menemuinya. Aku memang tidak mempunyai pilihan."
berkata Mahisa Pukat kemudian. "Apakah angger sudah mempertimbangkan
bahwa dua orang kawan mPu Kamenjangan akan hadir ?" Mahisa Pukat
menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia bertanya "Apakah
keduanya juga saudara seperguruan mPu Kamenjangan ?" "Apakah kau
melihat persamaan ilmu diantara m ereka ?" bertanya mPu Sidikara.
"Aku belum pernah melihat mereka dalam olah kanuragan." jawab Mahisa
Pukat "t etapi m elihat beberapa kemungkinan, mereka tidak
seperguruan meskipun nampaknya mereka dapat bekeija sama dengan
baik." mPu Sidikara mengangguk-angguk. Katanya "Mereka bukan saudara
seperguruan. Tetapi mereka memang dapat bekerja sama dengan baik.
Mereka bertiga bersama-sama bertugas di Kasatrian setelah mereka
bersama-sama terpilih dari antara sebelas orang yang
menyatakan diri untuk menjadi guru di Ka satrian." jawab mPu
Sidikara. "Dan mPu sendiri tidak termasuk diantara mereka ?"
bertanya Mahisa Pukat. "Aku memang tidak menyatakan diri untuk
mengikuti pendadaran pada waktu itu." jawab mPu Sidikara. "Selain
ketiga orang itu, ada beberapa orang guru dibidang yang lain
yang bertugas di Kasatrian. " "Ya. Dengan mereka aku tidak
mempunyai persoalan." jawab Mahisa Pukat. "Justru dengan mPu
Kamenjangan mereka mempunyai persoalan. Tetapi Pangeran Kuda Pratama
selalu berusaha menengahi. Karena mereka tidak bekerja dihidang yang
sama, maka mereka dapat beijalan sesuai dengan tugas mereka
sendiri-sendiri, meskipun ketidak sesuaian itu tetap ada. Namun para
guru dihidang lain, tidak pernah mempersoalkannya. Mereka
melaksanakan tugas m ereka saja sebaik-baiknya. Mereka menuntun para
bangsawan dalam ilmu kesusa steraan, ilmu hitung, pengenalan musim
dan dasar-dasar ilmu perbintangan dan secara khusus guru yang
menuntun mereka dalam budi pekerti dan unggah-ungguh. Tetapi
sebagian dari para bangsawan muda itu tidak belajar dengan
sungguh-sungguh. Yang paling menonjol hanyalah pengetahuan dalam
olah kanuragan. Guru-guru dalam olah kanuragan pulalah yang
nampaknya lebih menguasai anakanak muda itu." Mahisa Pukat hanya
mengangguk-angguk saja. Tetapi ia mengerti bahwa maksud mPu Sidikara
tentu baik. Agaknya apa yang dikatakannya itu adalah sikapnya
yang jujur. Ia tidak ingin saudara seperguruannya mengalami
bencana karena mPu Sidikara menyadari bahwa ilmu mPu Kamenjangan itu
tidak lebih tinggi dari ilmu Mahisa Pukat. T etapi iapun tidak ingin
membiarkan Mahisa Pukat mengalami kesulitan, karena dengan mata
gelap, mPu Kamenjangan dapat melibatkan kedua orang kawannya. Namun
Mahisa Pukat memang sudah siap menghadapi segala kemungkinan.
Seandainya kedua orang kawan mPu Kamenjangan bersama-sama melibatkan
dirinya, maka iapun harus menghadapinya dengan segenap ilmunya. Ia
harus dengan cepat menghisap tenaga mereka sejauh dapat dilakukan
sejak awal keduanya memasuki arena. Bahkan jika perlu, ia harus
mempergunakan ilmu pamungkasnya. Karena itu, m aka Mahisa Pukat
itupun kemudian berkata "mPu. Aku berterima kasih bahwa mPu telah
berusaha memberikan peringatan kepadaku. Aku tahu bahwa mPu memang
berdiri disimpang jalan yang sulit. Disatu pihak berdiri mPu
Kamenjangan yang kebetulan adalah saudara seperguruan mPu,
sedang dilain pihak mPu melihat kebenaran sikapku. Tetapi aku telah
bersiap sepenuhnya, mPu. Meskipun aku harus mohon maaf, jika ada
ketelanjuran sikapku. Aku sama sekali tidak berniat untuk menciderai
dan selanjutnya mencelakai mPu Kamenjangan karena sebenarnya kami
tidak bermusuhan. Yang terjadi hanyalah sekedar salah paham di Ka
satrian. " "Bukan salah paham ngger " sahut mPu Sidikara "jika kita
ingin mempergunakan istilah dengan jujur, maka mPu Kamenjangan
merasa dengki karena kehadiran angger. Berbeda dengan kehadiran
kedua kawannya karena mereka datang ber sama-sama. " Mahisa Pukat
memang tidak membantah. Sambil mengangguk kecil ia berkata "Mungkin
memang demikian mPu.” "Tetapi jika dengan demikian dengan tidak
sengaja terjadi bencana, apaboleh buat," guman mPu Sidikara. "Tetapi
aku akan berusaha mPu. Namun agaknya hati mPu Kamenjangan jauh lebih
keras dari hati mPu Sidikara. " jawab Mahisa Pukat. "Ya. Kau benar
ngger. Bukan karena aku ingin menunjukkan kelebihanku, tetapi hati
mPu Kamenjangan memang sekeras batu." Mahisa Pukat hanya dapat
mengangguk-angguk. Sementara mPu Sidikarapun kemudian telah minta
diri. Kehadiran mPu Sidikara memang dapat melunakkan hati Mahisa
Pukat. Kemarahannya kepada mPu Kamenjanganpun memang menyusut.
Tetapi Mahisa Pukat memang tidak dapat berbuat lain daripada
mempertahankan diri jika mPu Kamenjangan benar-benar ingin meny
ingkirkannya dengan cara apapun juga. Malam harinya, Mahisa Pukat m
emang tidak dapat segera tertidur. Kedatangan mPu Sidikara membuat
perasaannya terpancang kepada persoalan yang akan dihadapinya esok
pagi. Namun lewat tengah malam, akhirnya Mahisa Pukatpun sempat
tertidur pula. Mimpi yang gelisah sempat mengganggunya. Namun
Mahisa Pukat merasa cukup lama beristirahat, sehingga kekuatan
wadagnya benar-benar telah menjadi segar kembali. Karena ia tidak
dapat mengingkari tantangan mPu Kamenjangan. Seperti dijanjikan,
maka menjelang matahari terbit, Mahisa Pukat telah berjalan dengan
tergesa-gesa menuju ke lereng bukit untuk memenuhi janjinya kepada
mPu Kamenjangan. Dengan sengaja Mahisa Pukat berjalan cepat untuk
memanaskan tubuhnya. Jika ia langsung harus berhadapan dengan mPu
Kamenjangan, maka darahnya sudah cukup panas dan urat-uratnya telah
menjadi lemas. Tetapi ketika ia sampai di lereng bukit, ternyata mPu
Kamenjangan belum ada di tempat. Mahisa Pukat menarik nafas
dalam-dalam. Ia tidak akan disangka mengulur waktu jika ia datang
kemudian. Sambil menunggu, maka Mahisa Pukat telah mempergunakan
waktunya untuk lebih memanaskan tubuhnya. Baru beberapa saat
kemudian, Mahisa Pukat melihat mPu Kamenjangan dengan dua orang
kawannya datang. Mereka beijalan sambil berbincang memanjat tebing
yang tidak terlalu terjal. mPu Kamenjangan nampaknya memang
tidak tergesa -gesa. Bahkan rasa -rasanya mereka memang dengan
sengaja memperlambat langkah mereka. Meskipun mPu Kamenjangan dan
kedua orang kawannya sudah melihat Mahisa Pukat menunggu, tetapi
mereka sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka masih sfy a
berjalan seenaknya. Justru perhatian mereka tertuju kelembah dan
ngarai dibawah bukit itu. m Pu Kamenjangan sempat menunjuk
padukuhan-padukuhan yang teronggok di atas hijaunya hamparan
batang-batang padi di sawah. Sementara itu, Kotaraja yang
seakan-akan berada dihadapan kaki mereka yang berdiri di lereng
bukit kecil itu. Mahisa Pukat mula-mula memang menjadi gelisah. Ia
merasa dianggap tidak berarti sama sekali oleh mPu Kamenjangan
dengan kedua orang kawannya. Perhatian mereka sama sekali tidak
tertuju kepadanya, meskipun mPu Kamenjangan telah menantangnya untuk
saling menjajagi. Namun Mahisa Pukatpun kemudian menyadari, bahwa
agaknya mPu Kamenjangan dengan sengaja ingin merendahkannya,
sekaligus membuatnya m arah. Kemarahan akan dapat membuat penalaran
menjadi kabur. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun sama sekali tidak
menunjukkan gejolak perasaannya. Bahkan demikian ia berhenti
memanaskan tubuhnya dan memandang mPu Kamenjangan yang
berjalan naik lereng bukit k ecil itu, maka iapun tidak
menghiraukannya lagi. Mahisa Pukat kemudian melanjutkan
gerakan-gerakan sederhananya sebagai mana dilakukannya sebelumnya.
mPu Kamenjangan yang melihat sikap Mahisa Pukat itu telah
mengerutkan dahinya. Apalagi kemudian Mahisa Pukat yang tubuhnya
telah basah oleh keringat itu justru duduk diates seonggok batu
padas dan bahkan kemudian membaringkan tubuhnya. Kedua kakinya
diangkatnya berganti-ganti. Kemudian keduanya bersamasama. mPu
Kamenjangan justru menjadi berdebar-debar. Mahisa Pukat itu
nampaknya juga tidak memperhatikan kedatangannya. Anak m uda itu
sama sekali tidak menjadi gelisah melihat orang yang
menantangnya itu mendekatinya dan siap untuk bertempur. Anak muda
yang sudah berdiri sejenak melihat kedatangannya itu bukannya segera
mempersiapkan diri. Tetapi ia justru masih saja memanasi tubuhnya
tanpa menghiraukannya sama sekali. Namun akhirnya, mPu Kamenjangan
dan kedua orang kawannya itu telah sampai ketempat Mahisa Pukat
bermain"main sendiri. Demikian ketiganya berdiri beberapa langkah
daripadanya, Mahisa Pukat itu menghentikan geraknya. Perlahan-lahan
dengan malasnya ia bangkit berdiri. "Selamat datang mPu bertiga"
sapa Mahisa Pukat. mPu Kamenjangan memandanginya dengan tajamnya.
Dengan nada berat ia m enjawab "Selamat anak muda. Aku kira kau
tidak akan memenuhi janjimu." Mahisa Pukat tertawa. Tetapi ia b
ertanya "Apa alasan mPu dengan dugaan mPu itu?" "Kau tentu merasa
betapa kecilnya kau dihadapanku." Mahisa Pukat tertawa semakin
panjang. Katanya "Ya, perasaan itu m emang ada mPu. Tetapi justru
perasaan itulah yang mendor ong aku untuk datang kemari. " "Kenapa
?" bertanya mPu Kamenjangan. "Aku tidak y akin bahwa perasaan itu
benar. Aku tidak yakin bahwa aku terlalu kecil dihadapan mPu
Kamenjangan.” "Jadi kau merasa bahwa kau pantas untuk mengimbangi
kemampuanku ?" "Apakah mPu sudah bertemu dan berbicara dengan mPu
Sidikara yang menurut pengakuannya saudara seperguruan mPu?" mPu
Kamenjanganlah yang kemudian t ertawa. Katanya "Ya. Ia adalah
saudara seperguruanku. Kami bersama-sama dituntun oleh guru yang
sama. Kami bersama-sama telah menuntaskan ilmu dari perguruan kami.
Tetapi Sidikara lalu berhenti. Ia tidak lagi mampu meningkatkan
ilmunya. Ia sudah merasa puas dengan apa yang dimiliki dari
seorang guru sa ja. Tetapi aku tidak anak muda. Aku haus akan ilmu.
Karena itu, maka setelah aku berpisah dengan Sidikara, maka
kemampuanku meningkat dua tiga kali lipat dari kemampuan mPu
Sidikara itu." Mahisa Pukat tersenyum. Katanya "Apakah aku juga
harus mengarang ceritera yang lebih garang lagi dari c erita mPu itu
sehingga kesannya aku memiliki kelebihan dari mpu ? Wajah mPu
Kamenjangan m enjadi merah. Mahisa Pukat ternyata tidak mempercayai
ceriteranya tentang dirinya. Karena itu, maka iapun kemudian
menggeram "Baiklah, kau benar-benar anak yang sombong dan tidak tahu
diri. Aku ingin menunjukkan kepadamu, bahwa kau tidak lebih dari
seorang anak ingusan bagiku.” MahisaPukat m engerutkan dahinya. Ia
sadar, bahwa mPu Kamenjangan justru telah menjadi marah. Namun
Mahisa Pukatpun sudah memperhitungkan bahwa mPu Kamenjangan tentu
tidak akan kehilangan penalarannya. Bagai manapun juga mPu
Kamenjangan adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena
itu maka Mahisa Pukatpun menyadari, bahwa pertempuran yang akan
terjadi adalah pertempuran yang bukan saja sekedar penjajagan.
Meskipun perasaan mPu Kamenjangan tentu sudah m engendap, namun ia
pada suatu saat akan dapat kehilangan kendali, sehingga ia akan
mengerahkan segenap kemampuan dan ilmunya. Jika kemudian yang
terjadi demikian, maka yang harus dilakukannya adalah
mempertaruhkan segala-galanya yang adapadanya. Demikianlah, maka mPu
Kamenjangan yang marah itupun berkata "Anak muda. Bersiaplah.
Matahari sudah mulai memanjat langit. Kita akan mulai bermain-main.
Jika kau pernah bermain-main dengan mPu Sidikara, m aka kini kau
bermain-main dengan aku. mPuKamenjangan,” "Aku sudah siap. mPu.
Bukankah aku sudah datang lebih dahulu dari mPu?” sahut Mahisa
Pukat. mPu Kamenjangan bergeser maju. Kepada kedua kawannya ia
berkata "Nah, kalian akan m enjadi saksi apa yang terjadi disini
atas anak muda yang sombong itu. Jika tanganku terlanjur
menyakitinya, itu bukan salahku." Kedua orang kawan mPu Sidikara
itupun segera mendekat pula. Mereka berdiri beberapa langkah dari
mPu Sidikara yang kemudian telah berhadap-hadapan dengan
MahisaPukat. Ternyata mPu Kamenjangan telah melepaskan senjatanya.
Sebuah nenggala yang tajam dikedua ujungnya dan menyerahkannya
kepada salah seorang dari kedua kawannya. "Aku tidak ingin
mempergunakannya. " Namun kemudian katanya kepada Mahisa Pukat "kau
sebaiknya tidak usah melepas senjatamu itu, mungkin kau akan
mempergunakannya.” Mahisa Pukat tersenyum sambil menjawab "Kau tentu
sudah mendengar dari mPu Sidikara, bahwa aku tidak selalu memerlukan
senjataku. Karena itu, supaya menjadi adil, maka akupun akan
meletakkan senjataku pula." mPu Kamenjangan tidak menyahut. Tetapi
ia hanya memandangi saja Mahisa Pukat yang kemudian m eletakkan
pedang dan sarungnya diatas batu padas. "Kau m emang sombong" geram
mPu Kamenjangan "tetapi segala yang terjadi kemudian adalah
salahmu sendiri.” Mahisa Pukat tidak m enjawab lagi. Ketika ia m
elihat mPu Kamenjangan bergeser mendekat lagi, maka iapun benarbenar
telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. mPu Kamenjangan memang
mulai meny erang meskipun sekedar memancing gerakan Mahisa Pukat.
Ketika Mahisa Pukat bergeser, maka mPu Kamenjangan telah meloncat
menyusul dengan serangannya pula. Mahisa Pukat yang menghindar,
justru telah mulai mempersiapkan diri untuk membalas serangan mPu
Kamenjangan. Dengan demikian maka pertempuran itu telah menjadi
semakin meningkat. Baik mPu Kamenjangan maupun Mahisa Pukat masih
berusaha untuk m enjajagi kemampuan masingmasing. Namun pada langkah
selanjutnya, maka mPu Kamenjangan telah bergerak semakin cepat.
Mahisa Pukat mampu mengenali satu dua unsur gerak sebagaimana dapat
dilihatnya pada unsur gerak mPu Sidikara yang kebetulan adalah
saudara perguruan mPu Kamenjangan. Namun diantara unsur-unsur gerak
yang samam itu, memang nampak ada unsur-unsur gerak yang
berbeda. Semakin cepat mereka bertempur, m aka Mahisa Pukat memang
merasakan perbedaan itu. Namun bagi Mahisa Pukat, perbedaan
yang ada itu, masih belum menyulitkannya. Meskipun mPu
Kamenjangan telah m endapat laporan dari mPu Sidikara tentang Mahisa
Pukat, namun agaknya mPu Kamenjangan masih ingin menjajagi langsung
tataran demi tataran dari ilmu anak muda yang telah membuatnya
tersingkir dari Kasatrian. Namun Mahisa Pukat yang menyadari akan
hal itu, telah berusaha untuk mengurungkannya Ia tidak ingin mPu
Kamenjangan menelusuri ilmunya tataran demi tataran. Sebenarnya ia
sama sekali tidak berkeberatan, namun Mahisa Pukat hanya ingin
melakukan sesuatu yang tidak sejalan dengan keinginan mPu
Kamenjangan. Karena itu, pada saat mPu Kamenjangan mulai
meningkatkan ilmunya tataran demi tataran, Mahisa Pukat justru telah
meloncat ketataran yang lebih tinggi. mPu Kamenjangan sempat
terkejut. Beberapa langkah ia terdorong surut. mPu Kamenjangan yang
terkejut mendapat serangan yang keras itu telah meloncat
mengambil jarak sambil mengumpat. Namun Mahisa Pukat tidak
memberinya kesempatan. Serangannya justru menjadi semakin cepat.
Dengan demikian maka mPu Kamenjangan memang tidak mempunyai
kesempatan untuk melihat ilmu Mahisa Pukat tataran demi tataran.
Untuk m engimbangi serangan-serangan anak muda itu, maka mPu
Kamenjanganpun harus dengan cepat meningkatkan ilmunya pula. Mahisa
Pukat yang melihat lawannya menjatuhkan diri, mengurungkan niatnya.
Tetapi justru tubuhnya berputar. Kakiny a yang terangkat itu
kemudian menjadi tumpuan putaran tubuhnya sehingga kakinya
yang lain terayun mendatar menyambur kepala mPu Kamenjangan.
Tetapi mPu Kamenjangan menundukkan kepalanya dalamdalam, hampir
mencium tanah. Dengan demikian maka kaki Mahisa Pukat yang
terayun itu tidak mengenainya. Bahkan demikian kaki itu lewat, maka
mPu Kamenjangan dengan cepat bangkit berdiri. Kakinya yang
dilipat itu dengan cepat menyerang Mahisa Pukat. Mahisa Pukatlah
yang terkejut. Tetapi Mahisa Pukat dengan cepat menjatuhkan
dirinya. Kedua kakinya yang renggang meluncur mendatar menjepit
sebelah kaki mPu Kamenjangan yang berpijak kuat-kuat,
sementara kakinya yang lain terayun keluar. Ketika Mahisa Pukat
memutar kakinya, maka mPu Kamenjanganpun ikut berputar pula. Karena
itu, maka mPu Kamenjangan itupun telah terbanting jatuh. Hanya
karena ketrampilannya sajalah maka kepalanya tidak seperti
dihentakkan m embentur tanah. Tubuhnya yang liat itu berhasil lepas
dari jepitan kaki Mahisa Pukat. Dua kali mPu Kamenjangan berguling.
Baru kemudian, ia melenting berdiri tegak diatas kedua kakinya.
Demikian pula Mahisa Pukat. Ketika mPu Kamenjangan berdiri tegak,
maka Mahisa Pukatpun telah berdiri pula. mPu Kamenjangan menggeram
marah. Ia tidak dapat mengingkari bahwa kekuatan anak muda itu
terlalu besar untuk dilawan. Benturan-benturan yang terjadi
telah membuat tubuh mPu Kamenjangan menjadi sakit. Serangan Mahisa
Pukat yang mampu menembus pertahanannya membuat
tulang-tulangnya bagaikan retak. Ketika ia terbanting jatuh,
meskipun ia sempat berguling dan melenting tegak berdiri, namun mPu
Kamenjangan harus meny eringai menahan sakit di punggungnya. Karena
itu maka mPu Kamenjangan tidak mempunyai pilihan lain. Ia tidak
dapat mengingkari keny ataan bahwa memang sulit baginya untuk dapat
mengalahkan Mahisa Pukat tanpa mempergunakan ilmu puncaknya. Karena
itu, maka setelah tidak mempunyai kemungkinan lain maka mPu
Kamenjangan itupun telah mempesiapkan dirinya untuk sampai kepada
kemampuan ilmu puncaknya. Mahisa Pukat yang m elihat unsur
unsur yang sama pada ilmu mPu Kamenjangan dengan ilmu mPu
Sidikara memang menjadi termangu-mangu. Namun seperti yang
dikatakan oleh mPu Kamenjangan, bahwa ilmunya lebih dari yang
telah dimiliki oleh Mpu Sidikara. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun
merasa bahwa ia harus menjadi sangat berhati-hati. Mahisa Pukat
menjadi berdebar-debar ketika ia melihat mPu Kamenjangan
mempersiapkan dirinya dalam pemusatan nalar budinya. Hampir di luar
sadarnya ia berkata "mPu. Apakah kita benar-benar akan membenturkan
ilmu puncak kita?" "Per setan" geram mPu Kamenjangan "kau sudah
kehilangan kesempatan untuk memohon pengampunan. Tengadahkan wajahmu
k elangit dan tundukkan kepalamu ke pusat bumi. Kau akan segera
hancur menjadi debu.” Mahisa Pukat memang tidak mempunyai banyak
kesempatan. Karena itu, ketika mPu Kamenjangan berdiri tegak dengan
kaki renggang serta kedua tangannya merapat di depan dadanya, maka
Mahisa Pukatpun dengan cepat mempersiapkan dirinya pula. Meskipun ia
tidak membawa kerisnya yang berwarna kehijauan, namun ia
mempersiapkan ilmunya pada landasan segala kemampuan dan
tenaga-tenaga dalam yang ada di dalam dirinya. Mahisa Pukat
memang tidak mempunyai kesempatan untuk mengelakkan benturan ilmu
itu. Karena itulah, m aka ketika ia melihat mPu Kamenjangan
menggerakkan kedua tangannya dan m engosokkan kedua tetapi
tangannya, m aka iapun telah siap untuk melontarkan ilmunya pula.
Demikianlah, sekejap kemudian mPu Kamenjangan itu telah
menghentakkan ilmu puncaknya. Ia telah melontarkan getar kekuatan
ilmu didalam dirinya dalam lontaran ilmu yang jarang ada bandingnya.
Namun sementara itu Mahisa Pukatpun telah melakukan hal yang sama.
Ia telah m empersiapkan dirinya. Memusatkan nalar budinya, dan siap
melontarkan puncak ilmunya pula. MahisaPukat memang tidak ingin
terlambat. Ketika melihat mPu Kamenjangan melontarkan ilmunya, ia
maka Mahisa Pukatpun telah melepaskan ilmunya pula. Ketika kedua
telapak tangannya yang terbuka menghadap ke arah mPu
Kamenjangan, maka sinar yang kehijauan seolah-olah telah meluncur
dari telapak tangan anak muda itu. Sejenak kemudian, benturan
kekuatan yang dahsyat telah terjadi. Dua getaran ilmu puncak
yang tidak ada bandingnya. Kedua kekuatan ilmu itu telah
saling menghantam dengan gelombang kekuatan getaran masing-masing.
Benturan kekuatan itu ternyata telah saling dan saling menekan.
Keseimbangan kekuatan dahsy at yang berbenturan itu telah m
enentukan akibat yang terjadi pada kedua orang yang telah
melepaskannya. Getaran yang terpantul oleh benturan itu,
ternyata telah m engetuk jantung Mahisa Pukat sehingga anak muda itu
harus mengerahkan daya tahannya, agar jantungnya tidak pecah
karenanya Meskipun demikian getaran yang menghentaknya itu telah
mendorongnya beberapa langkah surut. Namun Mahisa Pukat masih mampu
m empertahankan keseimbangannya, sehingga ia masih berdiri tegak
diatas kedua kakinya. Tetapi anak muda itupun segera meny ilangkan
kedua tangannya didadanya, menghisap udara dalam-dalam memenuhi
rongga dadanya, kemudian menghembuskannya perlahan-lahan. Dada
Mahisa Pukat memang terasa ny eri. Namun diulanginya tarikan udara
kedalam rongga dadanya dan melepaskannya perlahan-lahan. Sementara
itu, akibat yang menimpa mPu Kamenjangan ternyata lebih parah.
mPu Kamenjangan bukan saja terdorong beberapa langkah surut. Tetapi
mPu Kamenjangan telah terlempar dan jatuh terbanting ditanah berbatu
padas. Hentakkan balik pantulan benturan ilmunya melawan ilmu Mahisa
Pukat yang lebih kuat telah menghantam seisi dadanya.
Betapapun mPu Kamenjangan mengerahkan daya tahannya, namun isi
dadanya bagaikan telah rontok berjatuhan. Terdengar erang kesakitan.
Sementara itu kedua orang kawan mPu Kamenjangan telah berlari dan
berjongkok disisiny a. "mPu " desis salah seorang dari mereka. mPu
Kamenjangan memang tidak pingsan. Tetapi keadaannya memang parah.
Darah nampak menitik dari selasela bibirnya. "Dimana iblis itu?"
desis mPu Kamenjangan. Kedua orang kawan mPu Kamenjangan itupun
berpaling kearah Mahisa Pukat. Namun mereka melihat Mahisa Pukat itu
sudah duduk memusatkan nalar budinya, mengatur pernafasannya untuk
meningkatkan daya tahannya. Perlahanlahan maka Mahisa Pukat itu
dapat m enguasai rasa sakit di dadanya. Nafasny apun semakin lama
menjadi semakin lancar. Demikian pula darahnya telah mengalir wajar
dijalur-jalur pembuluhnya diseluruh tubuhnya. "Kenapa kalian diam
saja?" bertanya mPu Kamenjangan dengan nafas yang
tersengal-sengal. "Apa yang harus kami lakukan?" bertanya salah
seorang dari mereka. "Hancurkan anak itu. Ia tidak boleh keluar dari
lingkaran pertempuran ini. Ia akan menjadi semakin sombong dan
mengira bahwa ia dapat mengalahkan aku" desis mPu Kamenjangan. Kedua
orang kawannya itu termangu-mangu sejenak. Namun mPu Kamenjangan itu
berkata "Ia tentu dalam kesulitan pula sekarang ini seandainya ia
tidak mati. Dadanya tentu retak dan jantungnya telah pecah. Jika ia
masih dapat bangkit, maka nyawanya sudah berada diujung rambutnya."
Kedua orang kawannya itu mengangguk. Tetapi mereka memang merasa
sakit hati pula terhadap Mahisa Pukat. Apalagi setelah Mahisa Pukat
mampu mengalahkan mPu Kamenjangan. Maka Mahisa Pukat tentu akan
semakin menengadahkan kepalanya dan berkata kepada setiap orang dan
kepada Pangeran Kuda Pratama, bahwa mPu Kamenjangan telah
dikalahkan. Karena itu, maka kedua orang itupun segera bangkit
berdiri. Mereka berdua juga bukan orang kebanyakan. Mereka telah
terpilih diantara beberapa orang yang m enyatakan diri untuk
mendapat tugas di Kasatrian, membimbing para bangsawan muda.
Beberapa langkah mereka berjalan mendekati Mahisa Pukat. Sementara
itu Mahisa Pukat telah berhasil m enguasai perasaan sakitnya, serta
memulihkan pernafasannya serta peredaran darahnya. Meskipun
demikian, tenaga dan kemampuannya memang belum pulih sepenuhnya.
Tetapi Mahisa Pukat tidak akan bersedia meny erahkan kepalanya
kepada siapapun juga. Karena itu, meskipun kemampuannya belum pulih
kembali, namun Mahisa Pukatpun telah bangkit pula dan bersiap untuk
segera menghadapi kedua orang itu dengan penuh kesadaran, bahwa
kedua orang itu tentu memiliki ilmu yang tinggi pula. Karena itu,
Mahisa Pukat tidak sekedar mempercayakan diri pada ilmunya yang akan
dapat dilontarkan dari jarak jauh. Tetapi Mahisa Pukatpun telah
mengetrapkan pula ilmunya yang mampu menghisap kekuatan dan
kemampuan lawannya. "Kau dalam keadaanmu seperti itu tidak akan
dapat berbuat banyak, anak muda" berkata salah seorang dari kedua
orang itu. "Jadi? Mak sudmu, biarlah aku menundukkan kepalaku,
sementara kalian akan mematahkan leherku?" bertanya Mahisa Pukat.
"Ya " jawab yang lain "kau tidak boleh kembali ke Kasatrian dengan
meny ebarkan ceritera bohong tentang mPu Kamenjangan dan kami berdua
" "Ceritera bohong bagaimana? Seandainya aku mengatakan bahwa aku
dapat m engalahkan mPu Kamenjangan, bukankah itu sebenarnya telah
terjadi?" jawab Mahisa Pukat. "Apapun yang telah terjadi, sebaiknya
kau tidak mengatakan apapun kepada siapapun. Hal itu akan dapat
terjadi, jika kau tidak keluar dari arena pertempuran ini." Mahisa
Pukat termangu-mangu sejenak. Tetapi kata-kata itu sudah pasti
baginya. Ia harus bertempur melawan kedua orang kawan mPu
Kamenjangan. Dua orang yang juga bertugas di Ka satrian
Singasari. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun telah bersiap
sepenuhnya. Apapun yang akan terjadi, tetapi ia akan
mempertahankan diri sejauh dapat dilakukannya. "Nah, anak muda"
berkata salah seorang dari kedua orang itu "jika kau dapat lolos
dari tangan mPu Kamenjangan, maka datang saatnya kau mati pula."
Mahisa Pukat menggeram. Ia memang tidak terlalu terkejut melihat
sikap kedua orang itu. Karena itu, maka apa yang akan terjadi,
Mahisa Pukat telah siap menghadapinya. Bahkan sampai kemungkinan
terburuk sekalipun. Meskipun belum utuh kembali, tetapi ia merasa
bahwa ia telah berhasil menemukan kembali landasan untuk berpijak.
Ketika kedua orang itu bergerak sal ing menjauh, maka Mahisa
Pukatpun segera memiringkan tubuhnya. Satu kakinya ditariknya
setengah langkah surut sambil merendah pada lututnya. Kedua
tangannya mengepal dan bersilang didepan dadanya. "Jangan m enyesali
nasibmu yang buruk anak muda." desis seorang yang lain sambil
bergeser selangkah "luka mPu Kamenjangan yang parah akan segera
terbalas." Mahisa Pukat sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia sudah
siap meloncat dan bertempur pada jarak dekat, sehingga
memungkinkannya untuk membenturkan tubuhnya pada tubuh lawannya,
sehingga tenaga dan kemampuan lawannya akan dapat terhisap. Kecuali
itu jika ia bertempur pada jarak dekat dengan salah seorang diantara
mereka, maka yang seorang tentu tidak akan dengan gegabah
melontarkan ilmunya dari jarak jauh, seandainya ia memiliki
kemampuan itu. Namun dalam pada itu, selagi Mahisa Pukat sudah siap
untuk meloncat m enyerang dan bertempur pada jarak dekat, tiba -tiba
saja terdengar suara tertawa diatas batu padas di tebing bukit kecil
itu. Semua orang berpaling kearah suara itu. Yang berdiri tegak
sambil tertawa diatas batu padas itu adalah mPu Sidikara. Agaknya ia
telah meloncat dari balik batu padas itu. "mPu Sidikara" desis salah
seorang dari kedua orang kawan mPu Kamenjangan itu. "Ya Ki Sanak.
Aku telah melihat apa yang telah terjadi disini. Aku telah
melihat bagaimana mPu Kamenjangan, saudara seperguruanku itu jatuh
terpelanting dan terluka parah dibagian dalam tubuhnya. " "Apakah
kau akan menuntut balas atas kekalahan saudara seperguruanmu ?"
bertanya salah seorang dari kedua kawan mPu Kamenjangan itu. "Tidak
" jawab mPu Sidikara "aku telah memberikan peringatan kepadanya
sebelum ia bertanding melawan Mahisa Pukat. Tetapi ia tidak
mendengarkannya. Bahkan ia telah merendahkan bukan saja Mahisa
Pukat, tetapi juga aku. mPu Kamenjangan merasa bahwa ilmunya lebih
tinggi dari ilmuku. Tetapi lihat, apa yang telah terjadi ?
Apakah ilmunya benar lebih tinggi dari ilmuku." "Jika kau merasa
ilmumu lebih tinggi, kenapa kau tidak menuntut balas kekalahan
saudara seperguruanmu ? Jika benar ilmumu lebih tinggi, maka kau
akan dengan mudah dapat mengalahkan Mahisa Pukat. " "Tidak. Aku
tidak akan menuntut balas karena aku tahu siapakah yang
bersalah dalam pertandingan ini." jawab mPu Sidikara. "Apakah aku t
idak salah dengar ?" bertanya salah seorang kawan mPu Kamenjangan
itu "bukankah seharusnya seseorang akan membela saudara
seperguruannya dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri ?" "Apakah
nilai seorang saudara seperguruan lebih tinggi dari nilai kebenaran
?" bertanya mPu Sidikara. "Apakah yang kau maksud ?" bertanya
kawan mPu Kamenjangan itu. "Jika dalam persoalan ini saudara
seperguruanku berada difihak yang bersalah, apakah aku harus
menuntut balas ? Sementara itu lawan saudara seperguruanku berdiri
dipihak yang benar sebagaimana Mahisa Pukat ?" "Per setan" geram
orang itu "kau sudah sampai hati mengkhianati saudara seperguruanmu
sendiri.” "Itu lebih baik daripada aku berkhianat terhadap
kebenaran." jawab mPu Sidikara. "Terkutuklah kau" berkata kawan mPu
Kamenjangan itu. "Jika kelak mPu Kamenjangan sembuh dan kekuatannya
pulih kembali, maka kau akan meny esal. Ia akan menghukummu."
"Kenapa bukan aku yang menghukumnya? Ia sudah melanggar nasehatku."
jawab mPu Sidikara. "Jangan sombong. Kau akan dihancurkan oleh
saudara seperguruanmu. Biarlah sekarang aku membalaskan sakit
hatinya menghancurkan Mahisa Pukat itu. Nanti, kita akan berbicara
tentang pengkhianatanmu itu." berkata kawan mPu Kamenjangan itu.
Tetapi mPu Sidikara itu tertawa. Katanya "Ki Sanak. Sejak semula aku
m emang datang dengan tujuan lain. Sama sekali tidak akan membantu
apalagi menuntut balas akan kekalahannya. Biarlah ia m enyadari,
bahwa ilmunya memang masih belum mencapai tataran kemampuan Mahisa
Pukat" berkata mPu Sidikara. Lalu katanya "Sekarang aku justru akan
berurusan dengan kalian. Kau tahu, bahwa Mahisa Pukat masih terlalu
letih. Apalagi setelah ilmunya berbenturan dengan ilmu mPu
Kamenjangan. Karena itu, maka tidak adil kiranya jika ia harus b
ertempur melawan dua orang sekaligus sekarang ini. Jika kalian
memaksakan pertempuran, maka biarlah Mahisa Pukat melawan seorang
saja diantara kalian." "Apa pedulimu. Kami berdua akan bertempur
bersamasama. Mahisa Pukat harus kami hancurkan sekarang juga." geram
kawan mPu Kamenjangan itu. "Ki Sanak. Jika kalian berdua m emaksa
untuk bertempur melawan Mahisa Pukat, maka biarlah aku juga turun ke
arena. Aku berdiri dipihak Mahisa Pukat” Kedua orang itu terkejut.
Mereka sama sekali tidak mengira bahwa mPu Sidikara justru akan
berpihak kepada Mahisa Pukat. Justru setelah Mahisa Pukat
mengalahkan mPu Kamenjangan. Seorang diantara kedua orang kawan mPu
Kamenjangan itupun kemudian berkata lantang "mPu Sidikara. kau telah
melengkapi pengkhianatanmu. Jika kemudian mPu Kamenjangan tahu, apa
saja y g akan dilakukan atasmu?” "Aku akan bertanggung jawab atas
perbuatanku. Sudah aku katakan, aku lebih baik berkhianat kepada
saudara seperguruanku daripada berkhianat atas key akinanku." Mahisa
pukat yg mendengar kata-kata mPu Sidikara itupun diluar sadarnya
berkata "Terima kasih mPu. Ternyata bahwa mPu mampu melihat
kebenaran.” mPu Sidikara itu melangkah mendekat. Sementara itu kedua
orang kawan mPu Kamenjangan itu menjadi ragu-ragu. Jika Mahisa Pukat
mampu mengalahkan mPu Kamenjangan, maka m ereka berdua tentu sulit
untuk dapat memenangkan pertempuran melawan anak muda itu ber
sama-sama dengan mPu Sidikara. Apalagi nampaknya mPu Sidikara juga
memiliki ilmu y g tinggi sebagaimana mPu Kamenjangan. Karena itu,
maka untuk beberapa saat keduanya berdiri termangu-mangu. Sementara
itu mPu Sidikara telah berdiri disebelah Mahisa Pukat. Katanya
"Pikirkan Ki Sanak. Maih ada kesempatan untuk mengurungkan
perkelahian y g tentu tidak akan menguntungkan bagi kalian berdua.
Seorang diantara kalian tentu akan dibunuh oleh Mahisa Pukat, sedang
yg lain akulah yg akan membunuhnya.” Kedua orang itu benar-benar
dicekam oleh kebimbangan. Antara kesetia -kawanan, harga diri dan
kenyataan yg dihadapinya y g tidak dapat diingkarinya. “Pergilah.
Bawa mPu Kamenjangan. Kalian tentu dapat mencari seorang tabib yang
akan dapat mengobatinya. Atau mPu Kamenjangan sendiri agaknya
mempunyai obat penolong untuk sementara agar ia tetap dapat bertahan
hidup." berkata mPu Sidikara. Kedua orang itu masih tetap ragu-ragu.
Tetapi mPu Sidikara berkata lebih keras "Jangan tunggu mPu
Kamenjangan mati. Tanyakan kepadanya apakah ia membawa obat atau
tidak. " Kedua orang itupun kemudian mendekati mPu Kamenjangan
yang menjadi semakin lemah. Matanya mulai terpejam sementara
nafasnya menjadi semakin sesak. "mPu " desis salah seorang kawannya.
mPu Kamenjangan ternyata masih mendengar suara kawannya. Dengan
lemah ia bertanya "Apakah tikus itu sudah mati?- Kedua orang itu
berpaling. Tetapi Mahisa Pukat dan mPu Sidikara telah berdiri dekat
dibelakang mereka. Bahkan keduanya telah mendengar pula desah suara
mPu Kamenjangan meskipun hanya perlahan-lahan. Kedua orang itu
memang menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Sementara itu mPu
Kamenjangan masih saja berdesis lemah "Apakah anak itu sudah mati?”
Namun mPu Sidikaralah yg berdesis "Suruh ia menelan obat yang
dapat membantunya mempertahankan hidupnya” Kedua orang kawan mPu
Kamenjangan itu ragu-ragu. Namun mPu Sidikara justru telah mendesak
mereka dan berjongkok disamping mPu Kamenjangan. Tanpa mengatakan
sesuatu mPu Sidikara telah mengambil sebutir obat dari kantong ikat
pinggangnya dan perlahan-lahan dimasukan di sela -sela bibir mPu
Kamenjangan. mPu Kamenjangan tidak menyadari apa yang terjadi.
Namun ketika obat itu seakan-akan mencair dimulutnya dan tertelan
lewat kerongkongannya maka rasa-rasanya sentuhan udara segar telah
mengalir didalam rongga dadanya. Darahnya yang hampir membeku telah
mulai bergejolak mengalir diseluruh pembuluh ditubuh. mPu
Kamenjangan sempat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi keadaannya
masih saja sangat lemah. "Kalian harus menunggui mPu Kamenjangan
untuk beberapa lama. Keadaannya akan berangsur baik meskipun dalam
keterbatasannya. Kalian berdua kemudian dapat membantunya
meninggalkan tempat ini. Jika ia menjadi sa dar, maka mPu
Kamenjangan sendiri tahu, apa yang harus ditelannya. Katakan bahwa
aku telah meny elipkan sebutir obat dimulutnya.” Kedua orang itu.
tidak menjawab. Mereka hanya termangumangu saja melihat mPu Sidikara
yang kemudian mengajak Mahisa Pukat meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal Mahisa Pukat dan mPu Sidikara, maka keadaan mPu
Kamenjangan memang m enjadi semakin baik. Ketika ia kemudian
menyadari keadaannya, maka ia bertanya lagi "Apakah kau sudah
membunuh anak itu?” "Tidak mPu" jawab salah seorang kawannya.
"Kenapa ?" bertanya mPu Kamenjangan dengan wajah tegang. Kawannya
memang menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi yang seorang lagi
berkata "mPu, sebaiknya mPu memikirkan keadaan mPu sekarang ini.
Mungkin mPu mempunyai obat yang dapat setidak-setidaknya membantu
agar day a tahan mPu semakin meningkat. Dengan demikian kita akan
dapat meninggalkan tempat ini." mPu Kamenjangan termangu-mangu
sejenak, sementara kawannya yang lain berkata pula "Marilah
mPu. Kita tinggalkan tempat ini. Nanti jika keadaan mPu menjadi
semakin baik, biarlah kami ceriterakan apa yang telah
terjadi.” Tetapi mPu Kamenjangan itu tiba-tiba saja bertanya "Apakah
mPu Sidikara ada disini ?" "Ya mPu " jawab salah seorang dari kedua
kawannya. "Samar-samar aku m endengar suaranya." namun tiba-tiba ia
bertanya "apakah ia memberikan obat untukku ?" Kedua orang kawannya
memang ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi mPu Kamenjangan itu mendesak
"Ia mempunyai obat sebagaimana aku punya. Ra sa-rasanya keadaanku
cepat berubah karena obat yang diberikannya atau obatku
sendiri." Kedua kawannya tidak dapat mengelak lagi. Meskipun
ragu-ragu namun seorang diantara merekapun kemudian berkata "mPu
Sidikara telah memberikan obat itu kepada mPu langsung. m Pu
Sidikaralah yang m eny elipkan obat itu dibibir mPu.” "Lalu
apa lagi yang dilakukan oleh orang tua ?" bertanya mPu Kamenjangan.
"mPu Sidikara telah pergi." jawab kawannya. Namun katanya pula
"Tetapi sudahlah mPu. Sekarang, marilah kita pergi. Kita akan dapat
membicarakan nanti jika keadaan mPu sudah bertambah baik. " "Kau
jangan bodoh" berkata mPu Kamenjangan "pengaruh obat itu semakin
lama semakin baik. Seandainya kita sempat m enunggu beberapa saat,
maka keadaanku tentu bertambah baik." "Tetapi daya obat itu
mempunyai keterbatasan. Semakin lama memang semakin baik. Tetapi
bagaimana jika t erlalu lama melampaui day a kekuatannya dalam
keterbatasannya.” mPu Kamenjangan menarik nafas dalam-dalam. Lalu
katanya "Baiklah. Marilah kita pergi." Kedua orang kawannya itupun
telah membantu mPu Kamenjangan bangkit berdiri. Ternyata bahwa
kekuatan yang tersisa dan yang bahkan telah dibantu oleh obat
yang telah diselipkan dibibirnya, namun mPu Kamenjangan masih
harus dipapah oleh kedua orang kawannya ketika ia meninggalkan
tempat itu. Baru kemudian, setelah mereka berada dirumah, kedua
kawan mPu Kamenjangan itu menceriterakan semua peri stiwa yang
terjadi sejak mPu Kamenjangan terlempar jatuh. mPu Kamenjangan
sempat merenungi keterangan kedua kawannya itu. Namun bagaimanapun
juga ia masih sulit untuk menerima kenyataan bahwa ia dikalahkan
oleh Mahisa Pukat. mPu Kamenjangan juga sulit untuk mengerti sikap
saudara seperguruannya. mPu Sidikara sama sekali t idak mau
membantunya, bahkan ketika kedua orang kawannya siap melawan Mahisa
Pukat, m Pu Sidikara itu menyatakan berdiri dipihak Mahisa Pukat.
Namun ternyata bahwa mPu Sidikara itu telah memberikan obat baginya
pada saat yang sangat mencemaskan. Seandainya mPu Sidikara
membiarkannya terkapar di tanah berbatu padas, mungkin ia tidak akan
sempat bangkit lagi. Justru karena obat yang diberikan oleh mPu
Sidikara itu, maka ia sempat sampai kerumahnya dan kemudian sempat
menelan obat yang lebih sesuai dengan keadaannya yang
parah itu. Kedua orang kawannya itu kemudian menasehatkan kepada mPu
Kamenjangan untuk beristirahat saja lebih dahulu tanpa memikirkan
bermacam-macam per soalan. Biarlah yang telah terjadi atasnya itu
terjadi. Jika keadaan mPu Kamenjangan telah menjadi baik, maka ia
akan dapat membuat pertimbangan-pertimbangan baru, apa yang
akan dilakukannya. Sementara itu, Mahisa Pukat justru telah diminta
singgah dirumah mPu Sidikara. Rumahnya memang tidak ada dilingkungan
dinding Kotaraja sebagaimana mPu Kamenjangan. Namun juga tidak
terlalu jauh. Rumah mPu Sidikara berada disebuah padukuhan
yang besar. Namun halamannya yang luas t erletak diujung
padukuhan. Bahkan terpisah oleh kotak-kotak sawah yang sempit,
milik mPu Sidikara sendiri. "Sebuah padepokan kecil yang
tenang" desis Mahisa Pukat. mPu Sidikara mengangguk-angguk. Katanya
"Aku memang merindukan sebuah padepokan. Tetapi aku masih belum
sempat mendirikannya. Rumah yang dikelilingi oleh halaman dan
sawah ini aku harap kelak dapat berkembang menjadi sebuah padepokan.
Meskipun tidak akan pernah dapat menjadi padepokan sebesar Padepokan
Bajra Seta." "Kenapa tidak ?" bertanya Mahisa Pukat. "Tidak. Aku
tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk mendirikan sebuah
padepokan. Meskipuja demikian aku memang mencoba untuk merintisny a.
Ada beberapa orang anak muda yang tinggal dirumahku. Mereka meny
ebut aku guru." berkata mPu Sidikara. "Satu langkah awal" desis
Mahisa Pukat. Beberapa lama Mahisa Pukat berada dirumah mPu Sidikara
yang sejuk. Mahisa Pukat memang melihat beberapa orang anak muda
yang tinggal dirumah yang terhitung besar itu. Mereka bersikap
hormat kepada mPu Sidikara sebagaimana seorang murid kepada gurunya.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dibanding dengan Padepokan Bajra
Seta, maka padepokan yang sedang dirintis oleh mPu Sidikara itu
adalah padepokan yang kecil saja. Untuk beberapa lama Mahisa Pukat
masih berada dirumah mPu Sidikara itu. Bahkan Mahisa Pukat sempat
membicarakan kemungkinan pengganti kedudukan mPu Kamenjangan di
Kasatrian. Namun mPu Sidikara tersenyum sambil berdesis "Sulit
bagiku untuk menerima tawaran seperti itu." Mahisa Pukat
termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian bertanya "Kenapa mPu.
Bukan mPu yang menyebabkan mPu Kamenjangan terusir dari Kasatrian.
Seandainya mPu kemudian hadir, maka tidak ada lagi hubungannya
dengan kepergian mPu Kamenjangan." "Tidak ngger. Aku adalah saudara
seperguruan mPu Kamenjangan. Tentu tidak baik jika kemudian aku
hadir di Ka satrian, sementara saudara seperguruanku telah terusir.
" jawab mPu Sidikara. Mahisa Pukat mengangguk-angguk kecil. Ia
mengerti sepenuhnya kenapa mPu Sidikara merasa berkeberatan untuk
menggantikan kedudukan mPu Kamenjangan di Kasatrian. Karena itu,
maka Mahisa Pukat tidak membicarakannya lagi. Demikianlah, setelah
beberapa lama Mahisa Pukat berada dirumah mPu Sidikara, maka iapun
berniat untuk minta diri. Namun Mahisa Pukat itupun kemudian
bertanya "mPu, bagaimana sikap mPu jika mPu Kamenjangan benar-benar
marah kepada mPu ?" mPu Sidikara ter senyum. Katanya "Sudah aku
katakan ngger. Bahwa aku tidak dapat mengingkari kata nuraniku.
Karena itu, maka aku akan mempertanggung jawabkan akibat dari
sikapku. Sebenarnyalah bahwa mPu Kamenjangan tidak mempunyai banyak
kelebihan dari aku. mPu Kamenjangan mempunyai beberapa kelebihan di
satu sisi. Akupun mempunyai kelebihan disisi lain, sehingga jika
kami benarbenar harus m embenturkan ilmu dan kemampuan aku sudah
siap. Tetapi aku harap bahwa hal itu tidak akan terjadi. Jika kelak
hati mPu Kamenjangan sudah dingin, maka ia tidak akan berusaha
menghukumku. Sementara itu kedua kawannya tentu akan membuat
pertimbangan-pertimbangan lain. Untuk apa ia tetap setia kepada mPu
Kamenjangan jika mereka sudah tidak lagi mempunyai kepentingan yang
sama." Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Hatinya ikut menjadi tenang
mendengar sikap mPu Sidikara. mPu Sidikara ternyata sama sekali
tidak digelisahkan oleh sikap saudara seperguruannya itu kelak.
Bahkan ia berharap bahwa saudara seperguruannya dan dua orang
kawannya itu berubah sikap. Sebenarnyalah ketika keadaan mPu
Kamenjangan berangsur baik, maka ia sempat berpikir kembali tentang
sikapnya terhadap Mahisa Pukat dan kemarahannya terhadap saudara
seperguruannya. Iapun menilai arti dari usaha mPu Sidikara
mengobatinya pada saat umurnya telah berada diujung rambut.
Seandainya saudara seperguruannya itu benar-benar berniat buruk
terhadapnya, maka untuk apa ia memberikan obat yang m ampu m
embantunya m eningkatkan day a tahan tubuhnya sehingga ia tidak mati
dilereng bukit itu. Disamping itu iapun harus m engakui kelebihan
Mahisa Pukat atas dirinya. Kedua kawannya itu mengatakan, bahwa
beberapa saat setelah benturan itu terjadi, maka Mahisa Pukat telah
mampu ber siap untuk melawan mereka berdua sebelum mPu Sidikara
menampakkan diri. "Dengan demikian" berkata salah seorang kawan mPu
Sidikara itu "jika Mahisa Pukat berniat, maka ia dapat saja
melakukan tindakan yang lebih jauh dari yang sudah
dilakukan. Apalagi setelah mPu Sidikara menyatakan sikapnya.” mPu
Kamenjangan m engangguk-angguk kecil. T ernyata ia sempat menilai
kembali, tindakan-tindakan yang pernah diambilnya sejak Mahisa
Pukat datang di Ka satrian sebagai pemimpin kelompok Pelay an Dalam.
Sebagai seorang yang berilmu sangat tinggi, ia merasa ter singgung
melihat perlakuan penghuni Ka satrian itu terhadap para Pelay an
Dalam yang dianggap tidak lebih dari sekedar pelay an
sebagaimana para pelay an yang lain. "Baiklah" berkata mPu
Kamenjangan kepada kedua orang kawannya justru ketika luka-luka
dalamnya m enjadi semakin baik beberapa hari kemudian. "Agaknya kita
harus mengakhiri permusuhan kita dengan Mahisa Pukat. Meskipun aku
sudah benar-benar mengancam jiwanya, namun ia masih tetap menahan
diri. Aku memang tidak dapat lain kecuali mengakui kesalahan dan
sekaligus mengakui kekalahanku. Bagaimanapun juga, aku tidak akan
dapat menang melawannya jika aku bertindak jujur. " Kedua
kawannyapun menarik nafas panjang. Sebenarnyalah bahwa mereka memang
sudah jemu bermusuhan dengan Mahisa Pukat yang berilmu tinggi.
Jika anak muda itu kehilangan kesabaran, jika ia berusaha melawan
mereka bertiga seorang demi seorang, maka m ereka akan dapat menjadi
debu. Dengan demikian, maka persoalan yang terjadi di
Kasatrian Singasari itupun menjadi tenang. Persoalan yang memang
tidak banyak diketahui orang. Tetapi yang hampir saja merenggut jiwa
orang yang pernah bertugas di Kasatrian itu. Dengan demikian
maka untuk sementara Mahisa Pukat bertugas sendirian di Kasatrian
Singasari. Para bangsawan muda yang semula menjadi murid mPu
Kamenjangan dan kedua orang guru yang lain, harus belajar ilmu
kanuragan kepada Mahisa Pukat. Mula-mula memang ada keseganan pada
para bangsawan muda itu. Tetapi sikap Mahisa Pukat yang tegas
dan berwibawa ternyata mampu menundukkan tantangan yang tumbuh
dilingkungan Kasatrian. Namun ternyata bahwa Pangeran Kuda Pratama
berpendapat bahwa Mahisa Pukat akan m enjadi sangat sibuk di Ka
satrian jika ia harus memberikan latihan olah kanuragan seorang diri
di Kasatrian. Bahkan Pangeran Kuda Pratama itu telah memanggilnya
dan bertanya kepadanya "Apakah kau dapat menunjuk seseorang
yang dapat bekerja bersama untuk memberikan latihan-latihan
olah kanuragan di Kasatrian ?" Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak.
Ingatannya yang pertama telah meloncat kepada saudaranya
Mahisa Murti yang ada di padepokan Bajra Seta. Namun ia tidak segera
dapat menyanggupinya karena ia harus berhubungan lebih dahulu dengan
Mahisa Murti. Karena itu, maka iapun kemudian menjawab "Pangeran,
ada seorang saudaraku di Padepokan Bajra Seta. Ia memiliki kemampuan
dan ilmu sebagamana aku sendiri. Jika Pangeran berkenan, aku akan
menghubunginya untuk menanyakan kepadanya, apakah ia bersedia
bekerja bersamaku di Ka satrian.” "Aku tidak berkeberatan. Pergilah,
temuilah saudaramu itu dan ajaklah ia menemui aku." berkata Pangeran
Kuda Pratama. "Jika demikian aku mohon waktu barang tiga hari untuk
menemui saudaraku itu " berkata Mahisa Pukat kemudian. Ternyata
Pangeran Kuda Pratama tidak berkeberatan. Setelah memberitahukan
rencananya meninggalkan Kasatrian kepada para Pelay an Dalam serta
menunjuk seorang diantara mereka untuk mewakilinya selama ia pergi,
maka Mahisa Pukatpun telah meninggalkan Kasatrian. Ia semoat singgah
untuk menemui ayahnya, memberitahukan rencananya untuk minta agar
Mahisa Murti bersedia berada di Kasatrian. Demikianlah, maka Mahisa
Pukatpun kemudian telah meninggalkan Kotaraja seorang diri menuju ke
padepokan Bajra Seta dengan penuh harapan, bahwa saudaranya akan
bersedia bekerja bersamanya di Kasatrian. Perjalanan panjang yang
ditempuh seorang diri m emang terasa melelahkan. Namun karena Mahisa
Pukat memacu kudanya sambil berpengharapan, maka ia dapat mengatasi
perasaan lelah. Bahkan rasa-rasanya ia ingin berpacu lebih cepat
lagi. Meskipun demikian Mahisa Pukat memang harus singgah disebuah
kedai. Kecuali untuk kepentingan Mahisa Pukat sendiri, kudanyapun
perlu beristirahat, minum dan makan rumput segar. Baru setelah
beristirahat beberapa lama, maka Mahisa Pukat segera melanjutkan
perjalanannya. Ternyata tidak ada hambatan apapun diperjalanan.
Sehingga Mahisa Pukat telah sampai kepadepokan Bajra Seta dengan
selamat. Kedatangan Mahisa Pukat disambut dengan wajah-wajah cerah.
Mahisa Murti, Wantilan, Mahisa Semu apalagi Mahisa Amping telah
menyatakan kegembiraan mereka atas kedatangan Mahisa Pukat. Demikian
pula para cantrik yang sudah lama tidak melihat Mahisa Pukat di
padepokan itu. Hampir tanpa berhenti Mahisa Amping bertanya apa saja
yang telah dilakukan Mahisa Pukat di Kotaraja. Sekali2 Mahisa
Semupun telah menanyakannya pula tentang pengalaman Mahisa Pukat
selama di Kotaraja. Dengan senang hati Mahisa Pukatpun
menceriterakan apa yang telah dialaminya. Juga keberhasilannya
memasuki lingkungan Pelayan Dalam. "Alangkah senangnya" berkata
Mahisa Amping. Mahisa Pukat ter senyum. Tetapi ia tidak mengatakan
bahwa sebenarnya ilmunya berada pada tataran yang lebih tinggi dari
tataran ilmu Pelayan Dalam pada umumnya. Demikianlah, Mahisa Pukat
masih belum secara langsung mengatakan niat kedatangannya kepada
Mahisa Murti. Waktu yang ada dipergunakannya untuk melihat-lihat
Padepokan yang untuk beberapa lama ditinggalkannya. Bany ak hal yang
menumbuhkan kembali keterikatannya dengan padepokan itu. Namun
Mahisa Pukat juga harus mengingat keinginan Sasi. Sasi tentu lebih
senang jika ia m engabdikan dirinya diistana Singasari sebagaimana
ayah Sasi itu sendiri daripada berada di padepoan seperti ini.
Mahendra y g mengetahui dengan pasti perasaan Mahisa Murti pada
dasarnya berkeberatan atas rencana anaknya itu. Namun ia tidak ingin
mendahuluinya meskipun ia y akin bahwa Mahisa Murti tidak akan
bersedia memenuhinya. Meskipun demikian Mahendra itu juga bertanya
"Jika Mahisa Murti kau ajak untuk berada di Kasatrian pula, siapakah
yang akan mengurusi Padepokan Bajra Seta?” "Ada beberapa orang
yang sudah sanggup m elakukannya" jawab Mahisa Pukat "ada
paman Wantilan, ada Mahisa Semu dan para cantrik yang umurnya
menjadi semakin tua. Mereka akan dapat mengurusi Padepokan itu dan
mengembangkannya.” "Tetapi disebuah Padepokan diperlukan setidak
-tidaknya seorang yang dapat dianggap sebagai Panutan. Ia
harus mempunyai wibawa cukup atas semua penghuni dan isi padepokan.”
"Setidak -tidaknya hanya untuk sementara ayah. Sebelum aku m
endapatkan kawan yang lain yang memadai. Jika aku sudah
mendapatkannya, maka b iarlah Mahisa Murti kembali ke padepokan.”
Namun bagaimana dengan Mahisa Murti? Setelah berada di padepokan
Mahisa Pukat justru m erasa ragu-ragu untuk menyampaikan maksudnya.
Ia tidak sampai hati membiarkan padepokan yang telah dibangunnya itu
ditinggal tanpa pimpinan yang cukup berwibawa. Jika ia pergi dan
kemudian Mahisa Murti juga pergi, padepokan itu benarbenar akan
kehilangan Panutan sebagaimana dikatakan oleh ay ahnya. Karena itu,
maka Mahisa Pukat masih harus berpikir ulang tentang niatnya untuk
mengajak Mahisa Murti ke Kotaraja. Meskipun demikian, Mahisa Pukat
akhirnya mengatakan juga maksud kedatangannya kepada Mahisa Murti
ketika mereka tinggal berdua saja. Meskipun agak ragu, namun mahisa
Pukat menceriterakan apa yang telah dialaminya di Ka satrian.
Dengan urut Mahisa Pukat menceriterakan apa yang telah terjadi
sehingga akhirnya ia tinggal sendiri di Ka satrian Singasari.
"Pangeran Kuda Pratama memerintahkan agar aku mendapat seorang yang
akan dapat bekerja bersama untuk menangani para bangsawan muda di
Kasatrian. Karena itulah, maka aku pulang dan menyampaikan persoalan
ini kepadamu." Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia tanggap
akan maksud Mahisa Pukat. Untuk beberapa saat Mahisa Murti merenungi
maksud Mahisa Pukat. Namun seperti yang sudah diduga oleh Mahisa
Pukat, maka Mahisa Murti itu kemudian berkata "Aku berterima ka sih
kepadamu Mahisa Pukat, bahwa kau berniat untuk mengajakku masuk ke
Kasatrian Singasari. Dengan demikian maka kau telah membuka
kesempatan bagiku untuk ikut mengabdi langsung diistana. tetapi jika
aku kemudian juga meninggalkan padepokan ini, lalu siapakah yang
akan mengungsi padepokan kita ini? Kita sudah mendirikannya,
memupuknya sehingga dapat tumbuh dengan subur. Jika kemudian kita
tinggalkan, bukankah kerja y g telah kita lakukan itu akan sia-sia?”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk kecil. Katanya "Aku mengerti Mahisa
Murti. Ketika aku memasuki padepokan ini, maka sudah terlintas
diangan-anganku jawabanmu seperti itu. Berbeda dengan saat aku
mendengar perintah Pangeran Kuda Pratama yang dengan
serta-merta aku telah berpaling kepada kemungkinan membawamu ke
Kasatrian" "Aku minta maaf Mahisa Pukat" berkata Mahisa Murti
kemudian "tetapi apakah ayah mengerti rencanamu ini?- "Ya. Ayah pun
telah mengatakan kepadaku kemungkinan sikapmu itu. Karena itu, maka
aku dapat mengerti sepenuhnya " jawab Mahisa Pukat. "Sokurlah jika
kau dapat mengerti. Aku sangat berterima kasih kepadamu" berkata
Mahisa Murti kemudian. Mahisa Pukat memang tidak dapat berkata
apapun lagi tentang niatnya mengajak Mahisa Murti memasuki
lingkungan Ka satrian. Namun demikian Mahisa Pukat telah minta
pertimbangan Mahisa Murti, bagaimana pendapatnya jika ia mengajak
Mahisa Semu untuk sekedar membantunya di Ka satrian.
Setidak-tidaknya untuk sementara karena Mahisa Semu sudah memiliki
dasar kemampuan yang utuh dari landasan ilmu padepokan Bajra
Seta. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Dengan nada dalam ia
berkata "Aku masih m enyangsikan kematangannya berpikir. Ia masih
terlalu muda untuk membimbing anak-anak muda pula. Jika terjadi
pergeseran sikap diantara mereka, maka suasananya akan cepat menjadi
panas.” Mahisa Pukatpun mengangguk-angguk pula. Ia mengerti
keberatan yang diajukan oleh Mahisa Murti. Karena itu, maka katanya
"Baiklah. Jika demikian aku akan kembali tanpa siapapun juga.” "Kami
minta maaf, Pukat, bahwa kami tidak dapat memenuhi keinginanmu."
"Aku mengerti. Padepokan ini memang tidak dapat ditinggalkan." jawab
Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Murtipun kemudian berkata "Meskipun
demikian, biarlah aku akan ikut bersamamu sampai ke Singasari. Aku
ingin m engunjungi ayah barang dua tiga hari. Aku akan mengajak
Mahisa Semu dan Mahisa Amping." "Apakah Amping sudah dapat berkuda
sendiri pada jarak sejauh Singasari?" bertanya Mahisa Pukat. "Aku
kira ia sudah dapat melakukannya." jawab Mahisa Murti. "Sokurlah"
desis Mahisa Pukat "mudah-mudahan ia cepat menguasai ilmu yang
diperuntukkan baginya pada umurnya. "Aku kira ia sudah cukup baik.
Ia justru mampu menunjukkan kelebihan dari takaran yang
seharusnya bagiku." jawab Mahisa Murti. Mahisa Pukat m
engangguk-angguk. Iapun teringat kepada dua orang remaja di Ka
satrian yang sejak semula diasuhnya. Keduanya adalah remaja
yang memiliki dasar yang baik sebagaimana Mahisa Amping.
Katanya didalam hati "Mudahmudahan keduanya mampu meny erap ilmu
sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Amping. " Demikianlah, maka
keduanya sepakat untuk bersama-sama menempuh perjalanan ke Kotaraja.
Mahisa Pukat harus kembali ke Ka satrian sementara Mahisa Murti akan
mengunjungi ayahnya bersama dengan Mahisa Semu dan Mahisa Amping.
Sementara mereka pergi maka Mahisa Murti m inta agar Wantilan dan
beberapa orang cantrik tertua untuk memimpin padepokan itu. "Semua
kerja kita sehari-hari hendaknya dapat berlangsung dengan baik"
pesan Mahisa Murti. "Kami akan berusaha" jawab Wantilan. "Kami tidak
akan lama paman" berkata Mahisa Murti " mungkin hanya tiga hari.
Lima hari dengan perjalanan pulang balik." "Baiklah. Tetapi jangan
lebih lama lagi. Padepokan ini akan terasa sepi tanpa kalian bertiga
" berkata Wantilan. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam.
Kepergian Mahisa Murti untuk sekitar lima hari sudah dianggap cukup
lama. Apalagi jika ia benar-benar meninggalkan padepokan itu. Maka
padepokan Bajra Seta tentu akan segera menjadi su sut dan bahkan
mungkin akan hilang sama sekali. Karena itu, seandainya Mahisa Murti
bersedia sekalipun, maka ia memang berniat untuk mengurungkan
maksudnya mengajak Mahisa Murti untuk bekerja bersamanya di Ka
satrian. Meskipun demikian, maka mereka berdua bersama Mahisa Semu
dan Mahisa Amping berama-sama pergi ke Kotaraja. Mereka menempuh
perjalanan berkuda pada jarak yang cukup panjang. Mahisa Semu dan
Mahisa Amping yang jarang keluar dari padepokannya sejak m
ereka tinggal di padepokan itu, m erasa betapa lapangnya
penglihatannya. Sawah yang luas sampai ke kaki cakrawala.
Bukit-bukit yang membujur di kejauhan seperti tubuh raksasa
dalam dongeng yang sedang tidur ny enyak. Semuanya itu pernah
dilihatnya. Tetapi setelah beberapa lama ia berada di Padepokan
Bajra Seta, maka iapun jarang menempuh perjalanan jauh, sehingga
perjalanan yang dilakukan itu, rasa-rasanya telah m embuatnya
menjadi segar. Langit yang bersih, angin semilir lembut,
membuat wajah anak itu menjadi semakin cerah. Mahisa Amping itu
teringat saat pengembaraannya bersama Mahisa Murti, Mahisa Pukat,
Mahisa Semu dan Wantilan. Mereka berjalan saja tanpa batas waktu dan
tujuan. Meskipun akhirnya mereka memasuki Padepokan Bajra Seta.
Diluar sadarnya Mahisa Amping itupun telah memacu kudanya dipaling
depan. Sambil mengamati alam yang ramah, Mahisa Amping sempat
melihat beberapa orang petani yang bekerja keras di sawah mereka
masing-masing. Mereka dengan tekun membersihkan sawah m ereka dari
rerumputan liar yang tumbuh diantara batang-batang padi
yang hijau. Mahisa Pukat, Mahisa Murti dan Mahisa Semu m emang
tidak ingin menempuh perjalanan itu terlalu cepat. Meskipun kuda
mereka berlari diatas jalan bulak, tetapi tidak t erlalu kencang.
Mereka membiarkan Mahisa Amping mendahului mereka, kemudian berhenti
pada jarak yang agak jauh, dibawah pepohonan yang rindang.
Sebagaimana dahulu sering dilakukannya. Bahkan dahulu Mahisa Amping
yang berlari -lari mendahului perjalanan mereka, sempat
memanjat pohonpohon yang tumbuh dipinggir jalan. Ketika
kemudian matahari melampaui puncak, maka merekapun telah singgah
disebuah kedai di pinggir jalan itu. Kedai yang terhitung cukup
besar. Bukan saja para penunggang kuda yang dapat beristirahat
sambil m inum dan makan, tetap kuda-kuda merekapun dapat
beristirahat sambil minum dan makan pula. Ketika mereka m emasuki
kedai itu, m aka beberapa orang telah bearda di dalamnya. Nampaknya
mereka juga orangorang yang menempuh perjalanan jauh. Seorang
diantara mereka adalah seorang yang telah berambut dan berjanggut
putih. Tetapi orang itu masih nampak kuat dan tegar. Adalah diluar
dugaan bahwa orang berambut putih yang nampaknya sedang
berbincang dengan kawan-kawannya itu berkata "Aku tidak rela bahwa
Sidikara telah mengkhianati Kamenjangan." "Tetapi bukankah mPu
Kamenjangan akhirnya sudah mengakui kekeliruannya. Ia telah salah
langkah sehingga akhirnya ia justru terusir dari Kasatrian. "
"Itulah yang harus dibenahi. Memang agaknya tidak ada lagi jalan
kembali Ke Kasatrian. Tetapi seharusny a Sidikara tidak
mengkhianatinya. Aku benci pada orang-orang yang demikian." geram
orang berambut putih itu. "Tetapi guru, yang bersalah adalah
mPu Kamenjangan. Bukan mPu Sidikara." berkata yang lain. "Omong
kosong" jawab orang itu "a pa artinya salah atau benar bagi saudara
seperguruan ? Yang penting saudarasaudara seperguruan harus hidup
dalam kesetia -kawanan. Bukan saja saat mereka berguru. Tetapi juga
kemudian setelah mereka berada di luar dinding perguruan." Tiba-tiba
seorang yang bertubuh gemuk dan yang makan paling banyak
diantara mereka berkata "Tetapi bukankah mPu Kamenjangan m emang
kalah dan iapun m engakui kekalahan itu." "Justru pada saat
yang demikian Sidikara harus tampil. Bukan sebalikny a malahan
berkhianat, " jawab orang berambut putih itu. Yang lainpun terdiam.
Sementara orang berambut putih itu berkata "Itulah sebabny a kalian
telah kami kumpulkan. Kita akan berbicara dengan Kamenjangan dan
Sidikara. Aku berniat untuk menebus kekalahan ini." Beberapa orang
diantara mereka saling berpandangan. Tetapi mereka tidak berkata
apa-apa. Tetapi ketika orang tua itu keluar sebenar untuk pergi ke
oekiwan, maka seorang diantara mereka berkata "Apa sebenarnya
yang dikehendaki oleh guru? Semakin tua, ia menjadi semakin
berubah. Ia tidak lagi mampu menilai persoalan-persoalan yang
dihadapinya dengan penalasan yang bening." "Kita tahu, bahwa kakang
Kamenjangan adalah murid yang dianggap terbaik oleh guru. Ia
mendapat kesempatan lebih dari murid-muridnya yang lain.
Karena itu, bahwa mPu Kamenjangan dikatakan dapat dikalahkan oleh
seorang anak muda, maka janggutnya merasa terbakar." "Hus" desis
yang lain. "Tetapi bukankah guru m emang sudah berubah"
berkata orang yang pertama. "Ia memang m enjadi semakin tua.
Tetapi ada yang tidak berubah. Aku masih dibiarkan makan
sebanyak-banyaknya" berkata orang yang gemuk itu. Kawan-kawannya
sempat tertawa. Seorang diantaranya berkata "Kau tidak pernah
berpikir lain kecuali makan sebanyak-banyaknya. Apapun yang t erjadi
disekelilingmu tidak akan mempengaruhimu, asal kau masih t etap
dapat makan sebanyak-banyaknya." Orang itu tertawa. Tetapi dengan
cepat ia menutup
mulutnya.
Jilid 110 SEMENTARA itu seorang
yang lain berkata bersungguhsungguh "Nanti, setelah guru m
emanggil mPu Kamenjangan dan mPu Sidikara, lalu apa yang akan
dilakukannya? Apa pula yang harus kami lakukan? Menghukum mPu
Sidikara beramai-ramai?" "Entahlah" jawab yang lain "apa pula maksud
guru dengan menebus kekalahan? Apakah kita harus bertempur melawan
anak muda yang telah mengalahkan mPu Kamenjangan itu atau guru
sendiri yang akan melakukannya atau apa?" Tetapi merekapun
terdiam ketika mereka melihat orang beranggut putih yang
mereka sebut sebagai guru itu. Untuk beberapa saat mereka saling
berdiam diri. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun sama sekali tidak
berbicara apapun juga selain memesan makanan dan minuman serta minta
agar kuda-kuda mereka juga dirawat. Namun anak-anak muda itu
terkejut ketika orang berjanggut putih itu tiba -tiba saja berdiri
dan melangkah mendekati mereka. Sambil duduk didekat mereka, orang
itu bertanya "Anak-anak muda itu akan pergi ke mana atau dari mana?"
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang menjadi agak bingung. Sudah
tentu mereka tidak akan meny ebut bahwa salah seorang diantara
mereka adalah Mahisa Pukat. Kebetulan itu harus mereka tanggapi
dengan sangat berhatihati. Namun ternyata bahwa Mahisa Murtilah
yang menjawab "Kami baru saja menempuh perjalanan dari
Bumiagara." "Bumiagara?" orang itu mengerutkan dahinya. Kemudian
iapun bertanya "Kalian akan pergi kemana?" "Kembali ke Singasari"
jawab Mahisa Murti "Apakah kalian anak-anak Singasari?" bertanya
orang itu. "Bukan " jawab Mahisa Murti "kami adalah orang Sangling.
Tetapi ada saudara kami yang tinggal di Singasari. Sudah agak lama
kami tinggal bersama saudara kami itu." Orang tua itu
mengangguk-angguk. Iapun kemudian bertanya "Apakah kalian semua
bersaudara?" "Ya " jawab Mahisa Murti "bahkan masih ada saudara kami
yang lain." Orang itu mengangguk-angguk. Lalu katanya "Kenapa kalian
tidak memilih jalan yang lebih dekat?" "Kami sudah terbia sa
menempuh jalan ini." jawab Mahisa Murti. Orang itu
mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Semu dan Mahisa Amping
yang tanggap akan jawaban2 Mahisa Murti telah m engarang
nama-nama bagi diri m ereka masing2. Untunglah bahwa orang itu tidak
bertanya nama mereka seorang demi seorang. Bahkan kemudian orang tua
itu telah bangkit dan mendekati murid-muridnya sambil berkata
"Marilah. Kita lanjutkan peijalanan." Sejenak kemudian, setelah m
embayar harga makanan dan minuman mereka, maka orang-orang itupun
segera meninggalkan kedai itu. Selain gurunya, maka mereka berjumlah
lima orang. Seorang diantara mereka, yang termuda, adalah orang
yang gemuk itu. Demikian m ereka pergi, maka Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat itupun menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan mereka
telah terlepas dari intaian sekelompok serigala yang lapar. "Adalah
kebetulan sekali kita bertemu disini " berkata Mahisa Pukat. "Hanya
terjadi satu dari seribu peristiwa" jawab Mahisa Murti "namun
membuat hati ini menjadi berdebar-debar." Mahisa Pukat tersenyum.
Katanya "Jika aku sempat bertemu lebih dahulu dengan mPu Sidikara."
"Kau coba sajalah" berkata Mahisa Murti "sebentar lagi kita akan
melanjutkan perjalanan. " "Aku akan langsung singgah dirumah mPu
Sidikara mengabarkan rencana yang kita dengar tadi." “Baiklah
aku orang-orang itu tentu akan singgah lebih dahulu dirumah mPu
Kamenjangan. Baru kemudian mereka akan memanggil mPu Sidikara."
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya ia menjadi
tergesa-gesa meny elesaikan makan dan minumnya. Demikian mereka
selesai, maka merekapun segera mempersiapkan diri. Agaknya kuda
merekapun telah cukup beristirahat. Telah cukup pula makan dan minum
sebagaimana mereka sendiri. Perjalanan mereka tidak lagi sekedar
melarikan kuda mereka ditengah-tengah bulak. Tetapi mereka telah
melarikan kuda mereka lebih kencang, meskipun tidak berpacu seperti
dipacuan kuda. Setelah menempuh perjalanan panjang, maka seperti
yang direncanakan Mahisa Pukat tidak singgah dulu dirumah ay
ahnya. Tetapi ia langsung m enuju kerumah mPu Sidikara. Karena itu
ketika Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping datang, <
sepertinya ada bagian cerita yang terlewatkan > "Apa kesan
yang kau dapatkan pada mPu Sidikara itu? " "Seperti saudara
-saudara seperguruannya, mPu Sidikara merasa bahwa gurunya telah
berubah." jawab Mahisa Pukat "ia berharap bahwa ia dapat berbicara
dengan baik. Tetapi tanggapannya memang sama seperti saudara-saudara
seperguruannya yang lain tentang mPu Kamenjangan. mPu
Kamenjangan memang terlalu manja, sehingga kadangkadang ia tidak
berdiri beralaskan kenyataan. Seperti sikapnya di Ka satrian. Bahkan
iapun ikut memanjakannya ketika ia minta menjajagi ilmuku." "Kenapa
ia mendapat perhatian khusus dari gurunya?" bertanya Mahendra. "Ia
dianggap murid terbaik oleh gurunya " jawab Mahisa Pukat "ia
mempunyai beberapa kelebihan, sehingga ia mendapat perhatian khusus.
Mungkin gurunya menumpahkan harapannya atas kelangsungan
perguruannya kepada mPu Kamenjangan. Kesempatan mPu Kamenjangan
menyusupkan ilmunya lewat para bangsawan muda di Kasatrian, ia
berharap bahwa ilmunya akan m enjadi ilmu yang paling
berpengaruh. Para bangsawan itu kelak akan memegang kepemimpinan di
Singasari. Sementara itu mereka adalah orang-orang yang memiliki
landasan ilmu dari perguruan mPu Kamenjangan. " Mahendra
mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata "Jika demikian m aka
kau harus berhati-hati Mahisa Pukat. Mungkin orang itu akan berbuat
apa saja untuk merebut kembali kedudukannya. Mungkin mereka tidak
segan-segan berbuat licik dan mengabaikan harga dirinya untuk
mencapai keinginannya, menembus kembali dinding Ka satrian. "
"Tetapi Pangeran Kuda Pratama bukan seorang yang pendiriannya
mudah goyah? Besok aku akan memberikan laporan tentang kedatangan
guru mPu Kamenjangan serta apa yang ia inginkan. " berkata Mahisa
Pukat. "Baiklah" Mahendra mengangguk-angguk "meskipun demikian kau
harus tetap berhati-hati." Demikianlah, maka malam itu Mahisa Pukat
bermalam dirumah ayahnya. Ia masih ingin banyak berbicara dengan
Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Memang sampai lewat
tengah malam mereka berbincang tanpa habis-habisnya. Ada saja yang
mereka bicarakan. Tentang padepokan Bajra Seta, tentang hubungan
padepokan itu dengan padukuhan-padukuhan sekitarnya dan juga tentang
Ka satrian Singasari. Namun malam menjadi semakin larut, maka
Mahendrapun memperingatkan Mahisa Pukat, bahwa besok ia masih harus
melakukan kewajibannya yang sudah ditinggalkan sekitar sepekan.
Ketika Matahari terbit dikeesokan harinya, maka Mahisa Pukat telah
siap untuk pergi ke Kasatrian. Ia minta Mahisa Murti untuk tinggal
beberapa hari di Kotaraja. "Pada satu kesempatan aku akan mengajak
kalian ke Ka satrian Singasari. Kalian dapat bertemu dan berbicara
dengan Pangeran Kuda Pratama yang pernah menyetujui kehadiran
Mahisa Murti di Ka satrian. Kau akan dapat berbicara langsung dan
memberikan alasan-alasanmu kenapa kau tidak dapat bertugas di Ka
satrian" berkata Mahisa Pukat. Mahisa Murti mengangguk-angguk.
Katanya "Ba iklah. Aku akan menunggu kesempatan itu." "Tentu tidak
akan lama besok atau lusa " berkata Mahisa Pukat pula "sementara itu
kau dapat membawa Mahisa Semu dan Mahisa Amping melihat-lihat
keadaan Kotaraja.” "Baiklah" Mahisa Murti mengangguk kecil "aku
mempunyai waktu beberapa hari di Kotaraja ini." Mahisa Pukatpun
kemudian telah minta diri kepada ay ahnya pula untuk kembali ke
Kasatrian. Namun ia m asih mempunyai sedikit waktu untuk singgah
kerumah Sasi. Mahisa Pukat memang tidak dapat terlalu lama berada
dirumah Sasi. Meskipun agaknya Sasi masih mengharap Mahisa Pukat
tinggal lebih lama dirumahnya, namun Mahisa Pukat harus segera
kembali ke Kasatrian. Bahkan ketika Arya Kuda Cemani berangkat
ketugasnya maka iapun bertanya kepada Mahisa Pukat "Apakah kau masih
belum bertugas hari ini?” "Aku memang akan pergi ke Kasatrian. Aku
hanya singgah sebentar." jawab Mahisa Pukat. Demikianlah,
sepeninggal Arya Kuda Cemani, maka Mahisa Pukat telah minta diri
pula. Sasi tidak lagi menahannya, karena ia menyadari bahwa Mahisa
Pukat memang harus segera berada di Kasatrian untuk melakukan
tugasnya. Demikian Mahisa Pukat sampai di Kasatrian, maka yang
pertama-tama dilakukan adalah mohon untuk dapat menghadap Pangeran
Kuda Pratama. Ternyata Pangeran Kuda Pratama tidak berkeberatan
untuk menerimanya. Ditemuinya Mahisa Pukat diserambi tempat tinggal
Pangeran Kuda Pratama masih dilingkungan Ka satrian Setelah
melaporkan diri bahwa ia telah siap untuk bertugas lagi, maka Mahisa
Pukatpun telah melaporkan pula bahwa kepergiannya ke Padepokan Bajra
Seta tidak menghasilkan apa-apa. "Bagaimana dengan saudaramu itu?"
bertanya Pangeran Kuda Pratama. "Ia sekarang berada di Kotaraja,
Pangeran" jawab Mahisa Pukat. "Jika Pangeran berkenan, ia akan
menghadap untuk menyampaikan alasan-alasannya, kenapa ia tidak dapat
ikut bersamaku bertugas di Kasatrian. " "Tentu saja aku senang
sekali menerimanya " berkata Pangeran Kuda Pratama "ajaklah ia
kemari.” “Apakah besok saudaraku itu diperkenankan menghadap?"
bertanya Mahisa Pukat. "y a " jawab Pangeran Kuda Pratama "kapan
saja ia akan datang, aku akan menerimanya dengan senang hati.
Kecuali jika kebetulan aku tidak ada di Kasatrian. " "Baiklah
Pangeran " jawab Mahisa Pukat "nanti malam aku akan pulang dan besok
membawa saudaraku itu m enghadap" berkata Mahisa Pukat. Namun
kemudian Mahisa Pukatpun telah memberikan laporan tentang guru dan
saudara-saudara seperguruan Empu Kamenjangan yang telah datang ke
Kotaraja "Darimana kau tahu?" bertanya Pangeran Kuda Pratama "Hanya
satu kebetulan Pangeran. Agaknya memang kurang meyakinkan. Tetapi
demikianlah yang sudah terjadi.” Pangeran Kuda Pratama
mengangguk-angguk. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh laporan
Mahisa Pukat tentang sikap guru mPu Kamenjangan. "Apakah gurunya
sudah sangat tua?" bertanya Pangeran KudaPratama. "Belum Pangeran"
jawab Mahisa Pukat "mungkin umurnya tidak terpaut terlalu banyak
dengan mPu kamenjangan dan mPu Sidikara." Pangeran Kuda Pratama
mengangguk-angguk. Katanya "Sebaiknya kita tunggu. Langkah apa yang
akan diam bil. Jika perlu, maka biarlah aku sendiri yang akan
menemui gurunya. " "Jangan Pangeran" berkata Mahisa Pukau "orang itu
bukan apa-apa. Karena itu, tidak sepantasnya Pangeran m elibatkan
diri langsung dengan persoalan ini. Mungkin saudaraku yang kebetulan
berada di Kotaraja. Mungkin pula ay ahku." "Ayahmu sudah terlalu tua
Mahisa Pukat. Bukankah aku lebih muda dari ayahmu meskipun aku juga
sudah tua?" "Tetapi orang itu tidak cukup penting untuk menggerakkan
wiru kain Pangeran." sahut Mahisa Pukat. Pangeran Kuda Pratama
tersenyum. Katanya "Jangan melibatkan orang lain yang tidak
mempunyai sangkut-paut sama sekali dengan persoalan yang . sedang
mereka hadapi. Persoalannya adalah persoalan yang langsung
menyangkut kedudukan di Ka satrian. Karena itu, maka akulah yang
bertanggung jawab.” "Jangan Pangeran" Mahisa Pukat mencoba mencegah.
Namun Pangeran Kuda Pratama justru tertawa "Jangan memperkecil arti
kehadiranku di Kasatrian ini Mahisa Pukat." "Ampun Pangeran" jawab
Mahisa Pukat sambil m enunduk dalam-dalam. "Kalau kau menghargai
aku, maka biarlah aku mempertanggungjawabkan keputusan yang
aku ambil." Mahisa Pukat tidak berani menjawab lagi. Karena itu maka
iapun hanya dapat menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Sudahlah"
berkata Pangeran Kuda Pratama "jangan dipikirkan terlalu panjang.
Ajak saja besok saudaramu itu kemari. Aku m emang ingin m
endengarkan alasannya kenapa ia tidak bersedia bertugas di
Kasatrian. Tugas y g ditunggu oleh banyak orang” "Baik Pangeran"
jawab Mahisa Pukat. "Nah, sudahlah. Bukankah kau akan mulai
melakukan tugasmu setelah kurang lebih sepekan kau tinggalkan?"
berkata Pangeran Kuda Pratama selanjutnya." "Ya, Pangeran" jawab
Mahisa Pukat kemudian. "Tetapi aku pesankan kepadamu, sebaikny a kau
tidak membawa anak-anak muridmu keluar dari istana lebih dahulu
sampai dua tiga hari. Kita akan melihat perkembangan suasana."
Mahisa Pukat justru m enjadi termangu-mangu. Meskipun dengan agak
ragu, iapun bertanya "Jadi maksud Pangeran, aku harus menghindari
guru dan saudara-saudara seperguruan mPu Kamenjangan itu?" "Bukan
kau. Tetapi murid-muridmu. Anak-anak Kasatrian. Maksudku, jika kau
ingin pergi keluar, jangan bawa seorangpun diantara anak-anak
Kasatrian. " Mahisa Pukat m enarik nafas dalam-dalam. Justru dengan
demikian m aka Pangeran Kuda Pratamaitu memberi isyarat kepadanya,
agar ia selalu bersiap menghadapi segala kemungkinan tanpa
melibatkan para bangsawan muda dari Ka satrian. Sambil membungkuk h
ormat, maka Mahisa Pukat berkata "Ampun Pangeran. Segala perintah
Pangeran akan aku lakukan." Demikianlah, maka Mahisa Pukatpun
kemudian telah berada kembali diantara para Pelayan Dalam. Baru
kemudian ia mendapatkan para bangsawan muda yang telah
menunggunya beberapa lama. Ra sa-rasanya mereka sudah cukup lama
tidak melakukan latihan bersama dengan gurunya. Selama Mahisa Pukat
pergi, maka para bangsawan muda itu melakukan latihan-latihan
sendiri sekedar diawasi oleh para Pelay an Dalam yang
ditugaskan oleh Mahisa Pukat. Dalam pada itu, pada hari itu
pagi-pagi benar guru mPu Kamenjangan telah mengajaknya menemui mPu
Sidikara. Gurunya sama sekali tidak puas dengan keterangan mPu
Kamenjangan bahwa sebenarnya ilmu anak muda yang disebut
Mahisa Pukat itu sangat tinggi sehingga ia sama sekali tidak mampu
mengatasiny a. "Tetapi t elingaku mendengar bahwa Sidikara telah
berkhianat kepadamu, sehingga ketika kau dikalahkan oleh anak muda
itu, sementara kedua orang kawanmu ingin membelamu, ju stru Sidikara
berdiri dipihak anak muda itu.” berkata gurunya. "Dari siapa guru
mendengarnya?" bertanya mPu Kamenjangan. "Kau tidak perlu tahu, dari
siapa aku mendengar" jawab gurunya. Tetapi mPu Kamenjangan tahu,
bahwa ceritera itu tentu bermula dari salah seorang kawannya itu.
Meskipun kawannya tidak berniat menyampaikannya kepada gurunya,
tetapi orang lain yang mendengarnya dan mengenal gurunya telah
menyampaikannya. "Aku harus menelusuri orang yang mengenal
guru itu " berkata mPu Kamenjangan di dalam hatinya. Namun kepada
gurunya mPu Kamenjangan menjawab "Sidikara sama sekali tidak ingin
berkhianat. Ia hanya ingin memperingatkan aku bahwa aku telah
mengambil langkah yang salah” "Kau tidak usah melindunginya "
berkata gurunya "Aku berkata sebenarnya guru " jawab mPu
Kamenjangan. Iapun menceriterakan bagaimana mPu Sidikara telah
mengobatinya ketika ia hampir saja dijemput oleh maut. Tetapi
gurunya tetap berpendapat bahwa mPu Sidikara telah melakukan
kesalahan. Karena itu, maka guru mPu Kamenjangan telah mengajaknya
untuk menemui mPu Sidikara, maka mPu Sidikara telah siap untuk
menerima mereka. Tanpa kegelisahan sama sekali, ia mempersilakan
gurunya untuk naik ke pendapa bersama saudara-saudaranya
seperguruannya. "Aku menunggu sejak kemarin" berkata mPu Sidikara.
"Sejak kemarin?" gurunya bertanya. "Ya. Sejak kemarin" jawab mPu
Sidikara. "Bagaimana kau tahu bahwa aku akan datang kemarin ?"
bertanya gurunya. "Orang yang memberitakan kepada guru apa
yang telah terjadi dengan mPu Kamenjangan itulah yang
mengatakan kepadaku," jawab Sidikara sambil terseny um. "Kau
berbohong " berkata gurunya "tetapi baiklah. Meskipun kau berbohong,
tetapi aku benar-benar mengetahui Atau perasaan-perasaan lain yang
bergejolak di jantungmu. Kau menerima kedatanganku dengan persiapan
jiwani yang mantap. Meskipun kau berbohong tentang siapa yang
mengatakan kepadamu bahwa aku datang, ny atanya kau memang
mengetahuinya. " guru mPu Kamenjangan itu berhenti sejenak, lalu
katanya "Aku memang kemarin datang ke rumah Kamenjangan. Sebenarnya
aku memang akan langsung datang kemari. Tetapi aku tidak ingin
perasaanku yang masih panas itu membakar rumahmu ini." "Terima kasih
guru" jawab mPu Sidikara "aku memang sudah lama tidak bertemu dengan
guru. Kedatangan guru sangat meny enangkan m eskipun aku tahu bahwa
guru tentu marah akan sikapku ketika mPu Kamenjangan bertempur
dengan Mahisa Pukat, seorang Pelay an Dalam yang masih sangat muda
dibandingkan dengan umur kami. Maksudku umurku dan umur mPu
Kamenjangan." "Nah, sekarang aku datang untuk menuntut tanggung
jawabmu sebagai saudara seperguruan Kamenjangan. Kenapa kau telah
mengkhianatinya?" bertanya gurunya. "Sebenarnya aku ingin bertanya
kepada mPu Kamenjangan, apakah ia merasa aku khianati?" "Aku tidak
peduli pendapat Kamenjangan. Tetapi menaut pendapatku, kau telah
berkhianat." geram gurunya. "Nah, bukankah ada orang lain yang
melaporkan kepada guru? Apa kata orang itu? Aku tidak tahu
maksudnya, kenapa ia melapor kepada guru, kemudian ia memberitahukan
kepadaku bahwa guru akan datang menemui aku." "Jangan berbelit-belit
" bentak gurunya. mPu Sidikara mengerutkan dahinya. Tetapi ia
berkata "Aku tidak tahu, kenapa guru menganggap aku berbelit-belit.
" "Cukup" bentak gurunya. Lalu katanya "Kau harus menebus
pengkhianatanmu." "Maksud guru ?" bertanya mPu Sidikara. "Kau
tantang anak itu. Kau harus mengalahkannya. Baru harga diri
perguruan kita dapat diangkat kembali." Tetapi mPu Sidikara menjawab
sambil menggelengkan kepalanya "Tidak guru. Aku tidak sanggup.
Sebelum mPu Kamenjangan, aku telah bertempur melawannya. Juga atas
permintaan mPu Kamenjangan. Ternyata aku tidak dapat mengimbangi
ilmunya. Ketika kemudian mPu Kamenjangan ingin melakukannya sendiri,
aku sudah m emperingatkannya. Tetapi mPu Kamenjangan tetap
melakukannya. Hampir saja mPu Kamenjangan terbunuh dalam pertempuran
itu." "Kenapa kau justru berbuat sebaliknya ketika kedua orang kawan
Kamenjangan itu berusahamembalas sakit hati atas kekalahan
Kamenjangan. Justru kau mengancam untuk berdiri dipihak anak muda
itu. " "Aku justru ingin mempertahankan harga diri perguruan kita.
Apa kata orang bahwa perguruan kita baru dapat mengalahkan lawannya
setelah mendapat bantuan dari orang lain ? Karena itu, maka aku
mencegah pertempuran yang akan terjadi antara kedua orang
kawan mPu Kamenjangan melawan Mahisa Pukat itu." jawab mPu Sidikara.
Lalu iapun kemudian bertanya kepada mPu Kamenjangan "Nah, mPu
Kamenjangan. Apa pendapatmu sebenarnya. Kata hati nuranimu ?" mPu
Kamenjangan menarik nafas dalam-dalam. Meskipun agak ragu ia berkata
"Aku memang sudah dikalahkannya. Aku harus mengakui itu." "Bagus.
Besok atau sampai kapanpun aku berusaha untuk menjumpai anak itu.
Saudara-saudara seperguruan kalian masih mempunyai kebesaran jiwa
untuk membela nama baik perguruan kalian. Mereka akan dengan dada
tengadah menghadapi Pelay an Dalam yang angkuh itu." Namun
tiba-tiba muridnya yang gemuk itu b erkata "Guru Jika mPu
Kamenjangan dan mPu Sidikara saja tidak dapat mengatasi ilmunya,
apalagi kami." "Diam kau " bentak gurunya "bahwa Kamenjangan
kehilangan kedudukannya di Kasatrian itu berarti bahwa ilmu
perguruan kita tidak akan dapat menjadi ilmu yang paling berpengaruh
di Singasari. Jika ada diantara kita yang m asih tetap berada
di Kasatrian maka para bangsawan Singasari akan m elandasi kekuatan
m ereka dalam kedudukan mereka dengan ilmu dari-perguruan kita. "
"Tetapi itu sudah terlepas" berkata mPu Kamenjangan "apakah dengan
menantang dan berkelahi melawan Pelay an Dalam itu, kedudukan di
Kasatrian dapat kita miliki kembali?” '"Kau memang bodoh. Kita
jadikan Pelay an Dalam itu taruhan. Kita akan menghidupinya jika ia
mampu menempatkan kau kembali di Kasatrian. " jawab mPu Kamenjangan.
"Tetapi yang menentukan kedudukanku di Kasatrian bukan Pelay
an Dalam itu. Tetapi Pangeran Kuda Pratama." jawab mPu Kamenjangan.
"Tetapi bukankah Pelay an Dalam itu punya mulut. Nah, biar mulutnya
itu dipergunakannya untuk menyampaikan hal itu kepada Pangeran Kuda
Pratama." mPu Kamenjangan menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya
kemudian "Guru. Jika guru mau mendengarkan katakataku, sudahlah.
Kita lupakan saja kedudukan di Kasatrian itu. Aku sudah m erasa
bersalah. Jika guru ingin menghukum aku, aku sama sekali tidak
berkeberatan.” "Aku tidak mau menjadi putus-a sa seperti itu." jawab
gurunya "aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan."
"Tetapi" mPu Kamenjangan memotong "aku tidak mengira bahwa guru akan
bersikap demikian. Selama ini aku ju stru mencemaskan guru, justru
guru akan sangat marah kepadaku karena ketamakanku di Kasatrian.
Setelah aku mendapat kedudukan di Ka satrian, aku menjadi lupa diri
dan melupakan semua pesan guru." "Tutup mulutmu Kamenjangan. Kau
sudah m engusutkan nama perguruan kita, sekarang kau masih juga
ingin menentang sikapku. Aku sudah mengambil keputusan. Meskipun
kalian menganggap aku berubah, tetapi niatku untuk menguasai
landasan ilmu bagi para bangsawan di Singasari tidak akan berubah.
Satu cara untuk menjadikan perguruan kita menjadi perguruan
yang paling berpengaruh di Singasari." mPu Kamenjangan memang
terdiam. Namun mPu Sidikaralah yang b erkata "Guru. Biarlah
aku berterus-terang. Tidak ada seorangpun diantara kita yang
akan mampu mengalahkan anak muda itu." “Aku tidak akan minta salah
seorang dari antara kalian untuk berperang tanding. Kita akan
menangkapnya dan memaksanya untuk m enempatkan kembali Kamenjangan
di Ka satrian. Aku percaya bahwa orang-orang seperti itu akan
memegang janjinya. " "Satu hal yang mustahil" berkata mPu
Kamenjangan. "Kalian m emang orang-orang dungu, bodoh dan pengecut.
Tetapi kalian harus mencobanya. Kita tidak mempunyai jalan lain.
Kita akan menunggu ditempat yang terbiasa baginya untuk mengadakan
latihan di luar istana, bahkan diluar Kotaraja. Kemudian kita akan
menangkapnya dan memaksanya untuk berjanji. Jika kalian semuanya
tidak mampu menghadapinya, biarlah aku turut campur. " "Guru"
berkata mPu Kamenjangan "aku benar-benar tidak mengerti sikap guru
sekarang." < sepertinya ada bagian cerita yang terlewat di buku
aslinya> Dengan demikian maka Mahisa Pukatpun m erasa bahwa
persoalan saudaranya yang tidak bersedia menjalani tugas di Ka
satrian itu sudah selesai. Mahisa Pukat merasa bahwa ia telah
menawarkannya, sehingga penolakan saudaranya itu akan dapat m eny
inggung perasaan Pangeran Kuda Pratama. Namun ternyata tidak.
Pangeran Kuda Pratama dapat mengerti sepenuhnya kenapa Mahisa Murti
tidak dapat mengabdikan diriny a di Istana Singasari. Selain
daripada itu, maka Mahisa Pukat ingin mengajak Mahisa Murti untuk
pergi ke lereng bukit, ketika semua keduanya telah berada di serambi
sebelum tidur, maka MahisaPukat telah menceriterakan persoalan
yang ternyata kemudian timbul karena kehadiran guru mPu
Kamenjangan itu. “Baiklah " berkata Mahisa Murti "besok aku ikut
pergi ke lereng bukit” jawab Mahisa Murti Malam itu, Mahisa Murti
telah tidur di bilik yang di peruntukkan para Pelay an Dalam. Karena
ada beberapa orang yang bertugas malam itu, maka Mahisa Murti dapat
menempati pembaringannya malam itu. Pagi-pagi benar Mahisa Pukat dan
Mahisa Murti telah bersih Mereka berdua telah meninggalkan
Kasatrian. Tetapi Mahisa Pukat tidak mengajak seorangpun dari para
bangsawan muda itu pergi ber samanya. Mahisa Pukat hanya memberikan
pesan kepada dua orang Pelay an ditunjuk untuk membantu dan melayani
para bangsawan muda itu berlatih di pagi hari. Para bangsawan muda
itu memang menjadi heran, tidak seorangpun diantara m ereka
yang m engetahui, kemana guru mereka itu pergi, bahkan kedua
bangsawan remaja yang sejak semula menjadi murid Mahisa Pukat
itupun tidak tahu kemana perginya Mahisa Pukat dan saudaranya
yang semalam bermalam di Kasatrian itu." Dalam pada itu,
Mahisa Pukat yang meninggalkan Ka satrian memang memenuhi pemerintah
Pangeran Kuda Pratama. Jika ia akan pergi menemui guru mPu
Kamenjangan, sebaiknya ia tidak m embawa seorangpun dari antara
muridkmuridnya di Kasatrian. Demikianlah sebelum matahari terbit,
Mahisa Pukat dan Mahisa Murti telah berada di lereng bukit.
Sebenarnyalah mereka mengetahui bahwa beberapa pasang mata
mengikutinya saat mereka memanjat lereng yang tidak terlalu
terjal dan tidak terlalu tinggi itu menuju ke tempat yang terbiasa
dipergunakan oleh Mahisa Pukat untuk berlatih bersama murid-muridnya
di Ka satrian. "Mereka mengikuti kita " berkata Mahisa Murti. "Ya "
jawab Mahisa Pukat "kita akan menunggu mereka sampai mereka
menampakkan diri. " Mahisa Murti mengangguk. Keduanya berlari-lari
kecil sebagaimana sering dilakukan oleh Mahisa Pukat dan
muridmuridnya, para bangsawan muda di Kasatrian. Ketika keduanya
berada di tempat yang datar di lambung pembukitan itu, maka
tiba-tiba saja orang yang mereka kenal sebagai guru mPu Kamenjangan
itu langsung berjalan bergegas menemui mereka. Tanpa memperkenalkan
diri, orang itu langsung menuding kedua orang muda itu sambil
berkata "He, bukankah kalian anak-anak yang aku temui di kedai
dalam perjalanan kalian ke Singasari itu?" "Ya Ki Sanak " jawab
Mahisa Pukat sambil m emperhatikan beberapa orang yang kemudian
datang m engikuti guru mPu Kamenjangan. Diantara mereka terdapat mPu
Kamenjangan dan mPu Sidikara. "Jadi kalian mendengar apa yang
kami katakan di kedai itu tentang Kamenjangan dan Sidikara ?"
bertanya orang itu. "Ya. Kami mendengar semuanya. Kami tahu
bagaimana Ki Sanak meny esali sikap mPu Sidikara. Bagaimana Ki Sanak
kecewa atas kegagalan mPu Kamenjangan. Aku memang mendengarkan apa
yang Ki Sanak katakan, karena aku langsung berkepentingan. " “Kenapa
kalian diam saja?" bertanya Orang itu. “Jadi apa yang harus
kami perbuat? Bukankah memang sebaiknya kami tidak berbuat apa-apa
saat itu ?" bertanya Mahisa Pukat. "Kau licik. Seharusnya kalian
mengaku siapa sebenarnya kalian berdua." geram guru mPu Kamenjangan
itu. “Untuk apa ? Bukankah dengan demikian hanya akan menimbulkan
perselisihan ? Apa pula gunanya perselisihan itu. Karena kami
menganggap bahwa perselisihan diantara kita tidak ada gunanya, maka
kami memutuskan untuk berdiam diri saja " “Tetapi benih-benih
perselisihan memang sudah ada. Bukankah akhirnya kitapun akan
berselisih dan m enentukan tataran kemampuan kita? Seandainya kau
berani mengaku saat itu, maka persoalan kita sudah selesai. "
berkata orang itu. Tetapi Mahisa Pukat justru tersenyum sambil
berkata “Aku ingin Ki Sanak lebih dahulu bertemu dengan mPu
Kamenjangan dan mPu Sidikara. Mereka akan dapat memberikan
pertimbangan kepadaKi Sanak, apa yang sebenarnya yang telah terjadi.
Agaknya Ki Sanak telah mendengarnya dari orang lain yang tidak
langsung berkepentingan." “Aku tahu Kau bermaksud agar Kamenjangan
dan Sidikara berusaha membatalkan niatku untuk memaksamu agar
Kamenjangan ditempatkan kembali di Kasatrian” geram guru mPu
Kamenjangan. "Ya " jawab Mahisa Pukat "karena hal itu tidak akan
mungkin dilakukan. Pangeran Kuda Pratamalah yang dapat menentukan
hal itu. Ia bukan orang yang m udah merubah keputusannya. "
"Tetapi jika perubahan itu disertai dengan alasan-alasan yang masuk
akal, maka Pangeran tua itu tentu akan menerimanya. " berkata guru
mPu Kamenjangan dengan nada tinggi. Tetapi Mahisa Pukat menggeleng.
Katanya "Aku tidak akan mampu meyakinkannya. " "Anak muda" berkata
guru mPu Kamenjangan itu "kami datang memang untuk menangkapmu. Kami
akan memaksamu untuk mengusahakan agar Kamenjangan dapat kembali
memangku jabatannya di Kasatrian. Dengan demikian maka barulah
persoalan diantara kita selesai. Aku memang tidak akan menuntut
apapun juga kecuali kedudukan itu. Meskipun dengan kehadiranmu, maka
pengaruh ilmu perguruanku atas para bangsawan di Singasari tidak
akan mutlak lagi." "Bukankah sejak aku belum ada di Kasatrian
pengaruh ilmu mPu Kamenjangan juga tidak mutlak? Bukankah disini ada
dua orang lain yang m enjadi guru para bangsawan muda di Ka
satrian?" sahut Mahisa Pukat. "Tetapi mereka tidak berarti apa -apa.
Mereka berada dibawah pengaruh Kamenjangan. Kedua orang itu tidak
lebih dari sekedar membantu Kamenjangan membimbing para bangsawan
muda di Kasatrian ini. Tetapi landasan ilmu yang diberikan kepada
para bangsawan muda itu adalah landasan ilmu Kamenjangan." Namun
Mahisa Pukat tetap menggeleng. Katanya "Aku tidak sanggup Ki Sanak."
"Aku tidak bertanya kau sanggup atau tidak sanggup. Tetapi aku
berniat memaksamu. Jika kau berkeras tidak mau membantu Kamenjangan
kembali ke Ka satrian, maka sekarang aku akan menangkapmu dan
apabila perlu membunuhmu." "Sampai seberapa jauh batas apabila perlu
yang Ki Sanak maksudkan?" bertanya Mahisa Pukat. "Per setan dengan
pertanyaanmu itu. Katakan sekarang bahwa kau bersedia untuk
membantuku" bentak guru mPu amenjangan itu. Tetapi Mahisa Pukat
menggeleng. Katanya "Tidak, mPu. aku tidak dapat membantu." "Jika
demikian aku tiarus memaksamu. Kami akan menangkapmu dan memaksamu
untuk menerima keinginanku, membantu agar Kamenjangan dapat diterima
lagi di Kasatrian.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya
"Jadi Ki sanak akan memaksakan perselisihan?" "Itu salahmu. Jika kau
tidak mengelakkan niatku, maka tidak akan ada perselisihan itu."
"Guru" berkata mPu Kamenjangan "jika demikian maka baiklah aku
berterus terang. Aku tidak akan bersedia untuk bertugas kembali di
Kasatrian. Harga diriku sudah larut. Aku tidak akan mempunyai wibawa
lagi atas murid-muridku." “Pengecut kau" bentak gurunya marah
"kenapa kau katakan bahwa aku berubah sekarang? Ternyata bukan aku
yang berubah, tetapi kalian. Terutama Kamenjangan. Kau yang
aku kira akan dapat melangsungkan kebesaran nama perguruan kita,
ternyata kau tidak lebih dari seorang pengecut. " mPu Kamenjangan
tidak menjawab. Ia tahu bahwa gurunya benar-benar marah. Tetapi ia
memang sudah berkeputusan tidak akan kembali ke Kasatrian. Karena
mPu Kemenjangan tidak menjawab, maka gurunya itupun berkata "Tetapi
jika kau bersikeras menolak Kamenjangan, maka aku perintahkan kepada
Sidikara untuk menggantikan kedudukan Kamenjangan di Kasatrian."
< sepertinya ada bagian dialog yang terlewat – Dewi KZ >
"Jangan dengarkan kata orang" bentak guru mPu Kamenjangan "bagiku
apapun kata orang, tujuan utama perguruan kita tidak boleh terlepas
dari tangan." "Tetapi kita hidup diantara orang-orang" jawab mPu
Sidikara meskipun agak ragu. "Orang akan membicarakan kita sesuai
dengan sudut pandang dan kepentingan mereka. Mungkin seseorang akan
mengatakan bahwa kau tidak tahu malu. Tetapi orang lain akan
memujimu sebagai pahlawan yang telah meny elamatkan nama
perguruanmu. Meskipun saudara seperguruannya terusir, tetapi kau
ternyata mampu menggantikannya." berkata gurunya lantang. "Sementara
itu, apa kata hati nurani kita sendiri?" bertanya mPu Sidikara.
"Nah, itu tergantung kepadamu. Apakah kau seorang yang berjiwa
besar atau tidak lebih dari seekor tikus kecil sakitsakitan. Nurani
seseorang memang tergantung pada sikap jiwani serta pandangan
hidupnya. Itulah sebabnya maka setiap orang mempunyai pendapat,
sikap dan tanggapan yang berbeda terhadap satu persoalan." "Tetapi
bukankah ada keselarasan sikap yang bersifat umum? Bukankah
berdasarkan atas sikap itu, maka dalam kehidupan ini terdapat
keselarasan dan keseimbangan?" bertanya mPu Sidikara. "Itu adalah
sikap batang ilalang yang merunduk kemana arah angin bertiup. Tidak.
Kau dan semua murid-muridku tidak boleh bersikap sebagaimana batang
ilalang. Kalian harus tegak dan tegar pada sikap yang telah
kalian pilih sendiri." beekata guru mPu Kamenjangan itu. "Jika itu
yang guru maksud, maka aku sudah m enyatakan sikapku. Agaknya sikap
itu bukan sikap batang ilalang meskipun angin prahara akan bertiup,”
jawab mPu Sidikara. "Kau memang anak iblis. Jika demikian, aku akan
melupakan kalian berdua" geram guru mPu Kamenjangan itu. < Ada
bagian cerita di buku aslinya terloncat > Dalam pada itu,
saudara-saudara seperguruan mPu Kamenjangan dan mPu Sidikara itu
memang tidak dapat berbuat lain kecuali bertempur dengan
sungguh-sungguh. Gurunya seakan-akan melihat gejolak jantung mereka
jika mereka menjadi ragu-ragu. Semakin keras gurunya berteriak maka
pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Meskipun masih berada
dibawah tataran mPu Kamenjang an dan mPu Sidikara, namun berlima
mereka m enjadi sangat berbahaya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
memang harus mengerahkan tenaga mereka untuk melindungi diri,
sehingga kulit daging Mahisa Murti dan Mahisa Pukat m ulai merasa ny
eri. Namun dalam pada itu, mPu Sidikara menarik nafas dalam-dalam.
Ia mengerti apa yang telah terjadi di arena. Karena itu di
dalam hati ia bergumam "Anak-anak muda yang hatinya bagaikan lautan.
Mereka memiliki kesabaran yang tinggi meskipun mereka menghadapi
bahaya yang mengancam keselamatan jiwa mereka." mPu Sidikara
yang pernah dikalahkan oleh Mahisa Pukat dengan kekuatan ilmu yang
mampu menghisap kekuatan lawannya itu segera menyadari, bahwa kedua
orang anak muda itu telah m engetrapkan ilmu itu pula. Keduanya
lebih banyak membentur setiap serangan dengan serangan. Bahkan
serangan-serangan mereka berdua nampaknya bukannya serangan
yang berbahaya. Seakan-akan keduanya asal saja dapat mengenai
lawannya disasaran yang manapun juga. "Ternyata saudara laki -laki
Mahisa Pukat itu memiliki kemampuan dan ilmu setingkat dengan Mahisa
Pukat. Keduanya sama sekali tidak dapat dibedakan. Bukan saja unsur
-unsur gerak yang m ereka kuasai, t etapi juga sikap dan
wataknya. "berkata mPu Sidikara didalam hatinya. Demikianlah, maka
beberapa saat kemudian, pertempuran itupun mulai menarik perhatian
guru mPu Sidikara. Ia melihat perubahan yang t erlalu cepat
terjadi pada m urid-muridnya. Mereka yang sudah terbiasa
berlatih dengan mengerahkan segenap kekuatan dan tenaga mereka di
dalam dan juga diluar sanggar, tentu mempunyai ketahanan tubuh
yang besar. Tetapi melawan dua orang anak muda itu,
saudara-saudara seperguruan mPu Kamenjagan dan mPu Sidikara itu
dengan cepat mengalami kesulitan. Mereka mulai nampak letih. Tenaga
mereka dengan cepat pula m enyusut. Gerak mereka tidak lagi cepat
dan kuat. Meskipun kelima orang itu berusaha untukmengerahkan
segenap kekuatan dan kemampuan mereka, namun rasa "rasanya urat-urat
darah mereka mulai membeku. Jantung mereka seolah-olah menjadi
semakin lambat berdetak di dalam dadanya. "He, mony et-mony ek
kecil" t eriak guru mPu Kamenjangan "ada apa dengan kalian? Kenapa
kalian tiba -tiba menjadi seperti kehabisan darah, sementara kalian
semuanya m asih belum terluka?" Saudara-saudara seperguruan mPu
Kamenjangan itu memang merasa heran tentang diri mereka sendiri.
Betapapun mereka mengerahkan tenaga, namun rasa-rasanya tulangtulang
mereka menjadi seberat batang-batang timah. Gurunya menjadi semakin
marah melihat keadaan itu. Dengaii lantang berteriak "Apa boleh
buat, Hancurkan mereka dengan ilmu pamungkas kalian." Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat mendengar perintah itu, karena itu, maka mereka
berdua telah mengerahkan kemampuan mereka. Serangan-serangan mereka
menjadi semakin cepat sehingga sentuhan-sentuhan pada tubuh
lawan-lawan mereka pun menjadi semakin sering pula. Dalam pada itu,
kelima orang saudara seperguruan mPu Kamenjangan itupun mendengar
perintah gurunya. Tetapi rasa-rasanya mereka tidak sanggup lagi
mengerahkannya. Tenaga mereka telah tersusut sampai batas yang tidak
memungkinkan mereka untuk melepaskan kekuatan pamungkas mereka.
Bahkan orang yang gemuk itu kadangkadang telah menjadi goyah.
Keseimbangannya tidak cukup mantap. Guru mPu Kamenjangan itu
terlambat mengetahui apa yang telah terjadi. Baru kemudian dengan
marah ia berteriak "Iblis yang licik. Kal ian pergunakan ilmu
yang tidak pantas lagi dipergunakan sekarang ini. Kau curi
tenaga dan kemampuan murid-muridku dengan ilmu kalian yang sangat
licik itu." “Apakah yang Ki Sanak maksudkan dengan licik itu? Apakah
benar kami telah berbuat licik menghadapi lima orang murid Ki Sanak
itu?" sahut Mahisa Pukat. "Per setan" geram guru mPu Kamenjangan itu
"jika demikian, maka biarlah aku sendiri yang akan m enghadapi
kalian berdua. Aku tidak takut dengan ilmu iblismu itu." Kepada
murid-muridnya iapun berteriak "Minggir, atau kalian akan terbakar
oleh ilmu puncakku." Mahisa Pukat dan Mahisa Murti termangu-mangu
sejenak. Mahisa Murti membawa pedang pusakanya. Tetapi Mahisa Pukat
tidak, karena selama ini b ertugas di Ka satrian sebagai Pelay an
Dalam ia mengenakan pedang keprajuritan sebagaimana yang
dipergunakan oleh semua pelay an dalam. Karena itu, maka Mahisa
Murtipun tidak berniat mempergunakan pedangnya untuk melontarkan i
lmunya jika bersama-sama dengan Mahisa Pukat ia harus melontarkan
ilmunya untuk m elawan ilmu guru mPu Kamenjangan yang tentu sangat
dahsy at itu. Sementara itu, tiba -tiba pula hampir berbareng mPu
Kamenjangan dan mPu Sidikara meloncat maju sambil berkata "Jangan
guru. Mereka masih terlalu muda untuk melawan ilmu puncak yang akan
guru lontarkan." Tetapi guru mPu Kamenjangan itu telah menjadi
sangat marah. Karena itu, maka iapun berteriak "Minggir. Atau kalian
berdua akan mati lebih dahulu." "Barangkali itu lebih baik guru"
sahut mPu Kamenjangan "dengan demikian aku tidak melihat guru
membuat kesalahan sebagaimana pernah aku lakukan. Untunglah bahwa
waktu itu ilmuku tidak cukup kuat untuk melawan ilmu Mahisa Pukat,
sehingga akulah yang terluka didalam. Namun jika i lmu guru mampu
memecahkan ilmu kedua orang anak muda itu, maka akulah sumber dari
bencana itu dan aku memang pantas untuk dihancurkan lebih dahulu."
Wajah gurunya menjadi tegang. Tetapi ia berteriak "Baik. Ber siaplah
kalian berdua untuk mati." Kedua orang murid tertua itupun telah
benar-benar mempersiapkan diri. Mereka sama sekali tidak berniat
untuk melawan. Mereka benar -benar telah pasrah apabila gurunya
ingin menghancurkan mereka dengan ilmunya yang sangat kuat.
Namun dalam pada itu, tiba -tiba saja terdengar getaran suara
yang menghentak-hentak, membentur dinding pebukitan dan
melingkar-lingkar didalam setiap dada. "Ki Sanak. Jangan kau sakiti
kedua orang muridmu itu. Mereka sama sekali tidak bersalah sehingga
dengan demikian mereka sama sekali tidak pantas untuk mendapat
hukuman." Orang-orang yang mendengar suara itu harus mengerahkan day
a tahannya untuk mengatasi gejolak didalam dada m ereka
masing-masing. Gejolak yang seakan-akan mengguncang dan akan
meruntuhkan jantung. Namun suara itu semakin lama menjadi semakin
keras. Getarannya terasa semakin mengguncang isi dada dan bahkan
rasa-rasanya menusuk sampai kepusat jantung. Mahisa Murti dan Mahisa
Pukatpun telah mengerahkan day a tahan mereka. Meskipun mereka tidak
mengalami kesulitan didalam diri mereka, namun mereka benar-benar
harus memusatkan segala nalar budinya untuk melawannya. Demikian
pula mPu Kamenjangan dan mPu Sidikara. Apalagi saudara-saudara
seperguruannya yang lebih muda. Sementara itu guru mPu
Kamenjanganpun harus mempertahankan diri t erhadap serangan itu. Ia
sadar, bahwa serangan itu m emang ditujukan kepadanya, sehingga
karena itu, maka getaran yang paling tajam adalah getaran yang
meluncur langsung kedadanya. Tetapi orang itu adalah orang
yang berilmu tinggi, sehingga ia masih mampu mengatasi
goncangan didalam dadanya. Namun dengan demikian orang itupun
menyadari, bahwa orang yang telah melontarkan serangan dengan
getaran suaranya itu tentu seorang yang berilmu sangat tinggi
pula. Tetapi guru mPu Kamenjangan itu tidak mau meny erah karenanya
Iapun telah mengerahkan daya tahannya untuk mengatasi getaran
yang menusuk bagian dalam dadanya itu. Namun perlahan-lahan
getaran itupun semakin mengendor, sehingga akhirnya hilang sama
sekali. Namun dalam pada itu, semua orang yang ada ditempat itupun
terkejut karenanya. Tiba-tiba saja mereka melihat seseorang berjalan
kearah mereka tanpa mereka ketahui darimana orang itu datang. Yang
menjadi sangat terkejut adalah Mahisa Pukat, Mahisa Murti, mPu
Kamenjangan dan mPu Sidikara. Karena orang yang datang itu adalah
Pangeran Kuda Pratama. Guru mPu Kamenjangan yang ternyata
belum mengenal Pangeran Kuda Pratama dengan lantang bertanya "He,
siapa kau yang mengenakan pakaian kebesaran ? Apa
kepentinganmu sehingga kau ikut mencampuri per soalan kami disini”
mPu Kamenjanganlah yang dengan serta-merta telah menyahut
"Guru. Yang datang itu adalah Pangeran Kuda Pratama. " "He ?" guru
mPu Kamenjangan memang menjadi sangat terkejut pula. Karena itu,
maka iapun telah mengangguk hormat sambil berkata "Ampun Pangeran.
Aku belum mengenal Pangeran sebelumnya, sehingga karena itu, aku
tidak segera memberikan hormat. " "Bukan salah Ki Sanak" sahut
Pangeran Kuda Pratama "sekarang aku datang untuk memperkenalkan
diri. " "Aku merasa mendapat kehormatan yang tinggi atas kedatangan
Pangeran sekarang ini." jawab guru mPu Kamenjangan. "Selebihnya aku
ingin bertanya, kenapa Ki Sanak telah mempersiapkan ilmu Ki Sanak
yang sangat berbahaya untuk menyerang kedua orang murid Ki
Sanak sendiri ?" "Sebenarnya aku tidak perlu memberikan penjelasan.
Pangeran tentu sudah mengetahuinya, " jawab orang itu. "Aku hanya
melihat kulitnya. Tetapi a pakah alasan yang telah aku dengar
itu memang alasan yang sebenarnya ? Seandainya itu benar, apa pula
yang telah mendor ong Ki Sanak sampai hati untuk membinasakan
murid-murid terbaik Ki Sanak sendiri ?" "Ya, kenapa tidak ? Mereka
telah berani m enentang aku, gurunya. Mereka tidak lagi mendengarkan
perintahku. Bukankah itu merupakan satu pengkhianatan yang tidak
dapat dimaafkan ?" "Apakah m enurut Ki Sanak, hukuman yang akan m
ereka terima itu seimbang dengan kesalahan mereka ?" bertanya
Pangeran Kuda Pratama. "Aku telah m engetrapkan paugeran yang pasti,
Siapa yang berkhianat serta menghalangi keinginanku, maka ia akan
disingkirkan. " jawab guru mPu Kamenjangan itu. Pangeran Kuda
Pratama itu mengangguk-angguk kecil. Katanya " Jika demikian, maka
kau adalah seorang yang memegang teguh pada sikap yang t elah
kau gariskan. Tetapi apakah kau tidak mempertimbangkan kebenaran
dalam mengambil keputusan?" bertanya Pangeran Kuda Pratama.
"Kebenaran bagiku adalah apapun yang sesuai dengan ketentuan
dan paugeran yang telah aku gariskan." berkata guru mPu Kamenjangan
itu. "Jika demikian maka ruanglingkup kebenaran yang kau
katakan itu jangkauannya terlalu sempit. " berkata Pangeran Kuda
Pratama. "Maksud Pangeran?" "Karena ada kebenaran yang diakui
oleh banyak orang. Sedangkan kebenaran yang mutlak itu
datangnya dari Yang Maha Agung."' "Kenapa kita harus berpikir
demikian rumitnya? Aku tidak ingin membuat kepalaku sendiri m enjadi
pening" jawab guru mPu Kamenjangan. "Jika demikian, baiklah. Kita
berpijak pada kebenaran menurut landasan bersikap kita
masing-masing. Karena itu maka aku tidak akan m enghindar jika kita
akan berbenturan kepentingan karenanya. Aku menganggap bahwa sikapmu
terhadap kedua murid utamamu itu salah. Aku akan membela mereka
karena sikap yang mereka ambil ada hubungannya dengan tugas-tugas di
Kasatrian yang menjadi tanggung jawabku." "Tetapi sebaiknya Pangeran
tidak mencampuri persoalanku dengan murid-muridku. Itu persoalan
yang sangat terbatas." berkata guru mPu Kamenjangan itu. "Aku tidak
peduli. Tetapi aku m enganggap penting untuk mencampuri persoalan
siapa saja yang ingin aku campuri. " jawab Pengeran Kuda
Pratama. "Pangeran telah m elanggar wewenangku sebagai guru atas
murid-muridku " "Aku tidak peduli. Kita tidak usah berpikir tentang
kewajaran, kebiasaan dan apa yang sebaiknya aku lakukan atas
persoalan yang menurut pendapatmu terbatas dilingkungan perguruanmu.
Aku ingin melakukan apa yang ingin aku lakukan, karena aku yakin
bahwa yang aku lakukan itu benar." Guru mPu Kamenjangan itu
termangu-mangu. Bagaimanapun juga ada rasa segan di dalam hatinya.
Pangeran Kuda Pratama adalah seorang pangeran yang berpengaruh di
Singasari. Selebihnya, Pangeran Kuda Pratama adalah seorang pengeran
yang berilmu sangat tinggi. Karena itu, untuk beberapa saat guru mPu
Kamenjangan itu termangu-mangu. Sementara itu Pangoran Kuda Pratama
berkata "Ki Sanak. Jika kau tetap berpijak pada niatmu untuk
menghukum muridmu, bersiaplah. Kita akan berhadapan. Sebagai
orangorang yang sudah menjelang hari-hari tuanya, sebenarnya kita
sudah tidak pantas untuk berkelahi. Tetapi jika sekali-sekali kita
ingin mengenang kembali masa kanak-kanak, sekaranglah kesempatannya.
" Guru mPu Kamenjangan itu sama sekali tidak mengira, bahwa pada
suatu saat ia harus berhadapan dengan Pangeran Kuda Pratama,
Pangeran yang memiliki kekuasaan di Ka satrian. Jika hal itu
terjadi, m aka persoalannya tentu akan berkembang semakin parah.
Sementara itu, m aka tujuannya untuk memasukkan pengaruhnya di
istana Singasari, khususnya pengaruh ilmunya tidak akan pernah dapat
terjadi. Sementara itu guru mPu Kamenjangan itu harus pula mengakui
bahwa Pangeran Kuda Pratama adalah orang yang berilmu sangat tinggi.
Beberapa saat guru mPu Kamenjangan itu merenung. Namun kemudian
ternyata bahwa penalarannya yang bening masih mampu mengendalikan
perasaannya. Karena itu, maka tiba -tiba saja guru mPu Kamenjangan
itupun mengangguk dalam-dalam sambil berkata "Ampun Pangeran. Sudah
t entu bahwa aku tidak akan berani melakukannya. Aku tahu bahwa
Pangeran adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Namun lebih
daripada itu, maka aku akan dianggap deksura jika aku berani melawan
Pangeran. Akupun akan menjadi musuh Singasari." Pangeran Kuda
Pratama menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah iapun berkata
"Terima kasih atas pengertianmu Ki Sanak. Sejak semula aku yakin
bahwa Ki Sanak bukan seorang yang mudah kehilangan penalaran.
Akupun sebenarnya tidak pantas untuk mencampuri persoalanamu dengan
murid-muridmu. Tetapi aku terpaksa melakukannya. Karena selama Ki
Sanak masih seorang manusia biasa, maka ia masih dapat berbuat
khilaf." "Akulah yang harus mengucapkan terima kasih, Pangeran. Aku
memang khilaf. Ketika aku sadari bahwa u sahaku untuk mengalirkan
ilmu perguruanku ke istana Singasari terputus, maka penalaranku
benar -benar menjadi keruh. Aku juga mendengar bagaimana
murid-muridku menganggap aku telah berubah. Tetapi dor ongan
kegelisahan dan kekecewaanku membuatku tidak mendengar keluhan
anak-anak muridku itu." "Tetapi masih belum terlambat" berkata
Pangeran Kuda Pratama "kekecewaan Ki S&iak masih sempat
dikendalikan.” "Seandainya Pangeran tidak datang ketempat ini" desis
guru mPu Kamenjangan "mungkin aku akan meny esali perbuatanku
sepanjang hidupku." "Tetapi bukankah itu tidak pernah terjadi?"
bertanya Pangeran Kuda Pratama. "Ya Pangeran, karena Pangeran
menaruh bela s kasihan kepadaku dan kepada murid-muridku." Pangeran
Kuda Pratama tersenyum sambil menjawab "Bukan belas kasihan Ki
Sanak. Tetapi bukankah kewajiban kita masing"masing untuk membantu
meluruskan langkahlangkah yang sesat. Dalam hal ini aku melihat,
nampaknya Ki Sanak tidak segera menemukan jalan untuk mengatasi
gejolak perasaan Ki Sanak." "Ya Pangeran. Karena itu, aku mengucap
sy ukur ." "Nah, jika demikian, m aka aku ingin mempersilahkan Ki
Sanak serta murid Ki Sanak untuk singgah di Kasatrian. Aku berharap
kalian akan dapat menjadi tamuku di Kasatrian." Guru mPu Kamenjangan
itu termangu-mangu sejenak. Di luar sadarnya ia berpaling kepada
murid-muridnya, terutama mPu Kamenjangan dan mPu Sidikara. Namun
keduanya tidak memberikan isyarat apapun juga. Karena itu, maka ia
harus mengambil keputusan sendiri. Sambil mengangguk hormat, guru
mPu Kamenjangan itupun berkata "Satu kehormatan yang besar
bagiku, Pangeran. Tentu aku tidak akan menolak. " "Terima kasih "
berkata Pangeran Kuda Pratama kemudian "bagiku kesediaan Ki Sanak
juga merupakan satu kehormatan" Namun demikian baik Pangeran Kuda
Pratama maupun guru mPu Kamenjangan itupun kemudian memandangi
saudara-saudara seperguruan mPu Kamenjangan yang telah
bertempur melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tenaga mereka telah
terhisap oleh ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sehingga yang
tinggal hanyalah sisa -sisa tenaga mereka sa ja. Saudara-saudara
seperguruan mPu Kamenjangan itupun mengerti, bahwa guru mereka dan
Pangeran Kuda Pratama itu ingin tahu, apakah masih ada sisa tenaga
mereka untuk berjalan menuju ke istana Singasari yang jaraknya
agak panjang. Seorang diantara mereka yang tanggap itupun
berkata "Guru, kami akan mencoba untuk berjalan sampai k e Istana.
Mudah-mudahan kami dapat mencapai tujuan. " Saudara seperguruan mPu
Kamenjangan yang gemuk itupun berkata pula "Tubuhku m emang menjadi
lemah guru. Tetapi singgah di istana tentu akan sangat menarik
sekali. Aku belum pernah melihat keadaan di dalam istana dan apalagi
minum seteguk airnya." "Apalagi yang akan kau katakan selain seteguk
airnya?" seorang saudara seperguruannya memotongnya. Betapa lemahnya
tubuh orang yang gemuk itu. Tetapi ia masih dapat terseny um.
Katanya "Aku berharap bahwa ada sesuatu yang dapat sedikit menambah
kekuatanku yang menjadi jauh menyusut ini. Dan itu tentu ada di
Istana." "Aku tahu arah bicaramu" sahut saudara seperguruan
yang lain. Orang yang gemuk itu terawa. Tetapi ketika
kakinya menjadi goyah, maka wajahnya Cepat berubah. Dengan nada
dalam ia berkata "Aku ingin duduk." Tanpa menunggu jawaban, maka
iapun telah duduk di atas sebongkah batu padas. Keringatnya nampak
membahasahi dahi dan keningnya. Pangeran Kuda Pratama tersenyum.
Katanya "Ki Sanak, kau dalam keadaan yang tidak sewajarnya
sekarang, karena sebagian dari tenagamu telah terhisap oleh ilmu
anak-anak muda itu ketika kalian bertempur. Tetapi jangan cemas,
karena hal itu hanya terjadi untuk sementara. Mudahmudahan besok
tenagamu sudah pulih kembali seluruhnya atau sebagian besar " Orang
yang bertubuh agak gemuk itu menarik nafas dalamdalam. Sambil
mengangguk kecil iapun kemudian berkata "Ya pangeran. Mudah-mudahan.
Tetapi dalam keadaan seperti ini, bukankah tidak berarti bahwa aku
tidak dapat makan cukup?" "Per soalan itu sajakah yang mencengkam
kepalamu ?" bentak salah seorang saudara seperguruannya. Wajah orang
yang bertubuh gemuk itu berkerut. Namun kemudian iapun
tersenyum sambil berkata "Bukankah didasar hatimu tersimpan
pertanyaan seperti itu juga?" Saudara seperguruannya tidak menyahut
lagi. Sementara itu gurunya berkata "Sudahlah, Kita ternyata telah m
endapat kehormatan untuk datang ke istana Singasari." Pangeran Kuda
Pratamapun kemudian berkata kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
"Marilah anak-anak muda.” Demikianlah sekelompok k ecil orang-orang
yang berada di lereng perbukitan itupun perlahan-lahan telah m
eninggalkan tempat itu. Mereka tidak dapat beralan cepat, karena
beberapa orang diantara mereka nampaknya telah menjadi lemah karena
tenaganya menjadi susut. Namun orang-orang itu bukanlah orang
kebanyakan. Karena itu, maka betapapun keadaan mereka, namun
akhirnya mereka sampai pula ke istana. Meskipun demikian beberapa
orang yang melihat sekelompok orang yang beralan lambat
itu m endapat kesan, bahwa mereka telah m enempuh peijalanan
yang sangat jauh. Namun m ereka yang telah mengenal
Pangeran Kuda Pratama menjadi heran karena Pangeran itu berada di
antara orangorang yang nampak sangat kelelahan. Di istana
mereka telah diterima dengan baik oleh Pangeran Kuda Pratama. Para
pelay ad telah m enghidangkan hidangan bukan saja minuman dan
makanan, tetapi Pangeran Kuda Pratamapun telah memerintahkan para
pelay an untuk menghidangkan makan bagi para tamu itu. Kepada
saudara seperguruan mPu Kamenjangan yang gemuk itu Pangeran
Kuda Pratama berkata "Marilah Ki Sanak. Silahkan. Kau akan m
embuktikan bahwa keadaan tubuhmu tidak akan mengganggu selera dan
kesempatan makan bagi Ki Sanak." Saudara seperguruan mPu Kamenjangan
itu tertawa. Katanya "Terima kasih atas kesempatan ini Pangeran.”
Demikianlah, maka saudara-saudara seperguruan mPu Kamenjangan itu
bukan saja mendapat kesempatan untuk inelihat relung-relung istana
Singasari dan Kasatrian, tetapi mereka juga mendapat sambutan
yang baik dan bahkan hidangan yang dapat memberikan kepuasan
kepada mereka, meskipun m ereka masih juga harus m enyadari betapa
tenaga mereka telah jauh menjadi su sut. Tetapi m ereka yakin bahwa
tenaga mereka tentu akan dapat pulih kembali sebagaimana dikatakan
oleh Pangeran Kuda Pratama. Dalam kesempatan itu yang nampak
lebih banyak berdiam diri, m enunduk bahkan m erenung adalah mPu
Kamenjangan dan gurunya. Tetapi Pangeran Kuda Pratama dapat
memaklumi, kenapa mereka bersikap seperti itu. Bagi mPu Kamenjangan
kehadirannya di Kasatrian itu seakan-akan membawa beban karena
ulahnya sendiri. Para bangsawan muda di Ka satrian itu tentu tahu
kenapa ia harus meninggalkan Kasatrian dan apapula yang pernah
terjadi atas dirinya di lereng bukit itu. Sementara itu gurunyapun
tentu merasa bersalah terhadap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, juga
kepada Pangeran Kuda Pratama. Namun nampaknya Pangeran Kuda Pratama
tidak menghiraukan persoalan itu lagi. Pangeran tua itu sama sekali
tidak pernah m eny inggung lagi apalagi nampak mendendam kepada mPu
Kamenjangan dan gurunya. Namun mPu Kamenjangan dan gurunya menjadi
berdebardebar ketika mereka telah selesai m akan, serta m ereka
telah diajak oleh Pangeran Kuda Pratama untuk duduk diserambi
terbuka. Udara mengalir mengusap tubuh mereka yang berkeringat
setelah makan dan minum. Di serambi terbuka itu ternyata Pangeran
Kuda Pratama telah meny inggung tentang para bangsawan di Ka satrian
yang sedang tumbuh. "Tugas Mahisa Pukat terlalu berat, Sementara itu
saudaranya tidak dapat membantunya karena alasan yang memang masuk
akal. Ia tidak dapat meninggalkan padepokannya. Jika semula mereka
berdua memimpin Padepokan Bajra Seta, maka kemudian Mahisa Murti
melakukannya sendiri karena Mahisa Pukat berada di sini. Jika Mahisa
Murti juga harus berada di Kasatrian, maka tidak ada orang lain yang
akan dapat melakukan tugas m ereka di Padepokan itu." Guru mPu
Kamenjangan mengerutkan dahinya. Dengan agak ragu ia bertanya "Jadi
angger Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pendiri Padepokan Bajra
Seta ?" "Ya " jawab Pangeran Kuda Pratama "pendiri dan selanjutnya
mereka pula yang memimpinnya. " Guru mPu Kamenjangan itu
mengangguk-angguk kecil. Katanya "Pantas bahwa keduanya memiliki
ilmu yang sangat tinggi. Aku pernah mendengar kebesaran padepokan
Bajra Seta. Seharusnya sejak semula aku mengetahuinya bahwa
anak-anak muda yang aku temui di kedai itu adalah para pendiri
Padepokan Bajra Seta." Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling
berpandangan sejenak. Namun kemudian keduanyapun tersenyum. Dengan
nada rendah Mahisa Pukat berkata "Waktu itu kami tidak menganggap
perlu untuk menanggapi apa yang Ki Sanak katakan" “Ya. Ya. Aku
mengerti sekarang, kenapa angger berdua tidak mengatakan apa-apa
yang tentang diri angger berdua.” Pangeran Kuda Pratama tersenyum
pula. Katanya "Sekarang semuanya telah m enjadi jelas. Nah,
sebenarnyalah aku ingin berbicara tentang anak-anak muda yang berada
di Ka satrian. Aku mengerti bahwa tugas Mahisa Pukat di Ka satrian
tentu terlalu berat. Selain tugasnya sebagai pemimpin kelompok Pelay
an Dalam, maka ia harus memberikan latihan-latihan kepada anak-anak
muda di Ka satrian. Karena itu, maka sebenarnyalah bahwa ia
memerlukan seorang kawan yang akan dapat bekerja bersamanya.
Sementara itu seperti tadi aku katakan, saudaranya tidak dapat
membantunya." Pangeran Kuda Pratama berhenti sejenak. Lalu katanya
pula "sebenarnyalah bahwa aku ingin berbicara dengan saudara-saudara
seperguruan mPu Kamenjangan. Aku tahu pasti, bahwa meskipun mPu
Kamenjangan kini dapat menerima kenyataan yang terjadi dengan dada
lapang, namun aku mengerti bahwa mPu Kamenjangan tentu tidak akan
bersedia untuk kembali pada kedudukannya di Ka satrian. Meskipun
demikian aku ingin mendengar dari mulut mPu Kamehjangan sendiri,
bagaimana sikapnya seandainya aku minta mPu untuk kembali memangku
tugasnya di Kasatrian" Seleret sinar memancar dimata guru mPu
Kamenjangan itu. Namun mata itupun segera redup kembali.
Sebenarnyalah bahwa seperti mPu Kamenjangan, iapun menyadari, bahwa
kedudukan itu sudah tertutup bagi mPu Kamenjangan sendiri.
Bagaimanapun juga maka ia tidak akan dapat memangku jabatannya
kembali betapapun kesempatan itu diberikan kepadanya oleh Pangeran
Kuda Pratama. Karena itu, maka iapun menjawab "Ampun Pangeran. Ra sa
-rasanya aku memang tidak akan dapat melakukannya. Bukan karena
hatiku patah seperti arang. Tetapi dengan penuh kesadaran aku
menyadari bahwa aku sudah kehilangan wibawa di hadapan para
bangsawan muda di Kasatrian, meskipun itu juga karena salahku
sendiri. Karena itu, m aka biarlah orang lain mengemban tugas itu.
Sokurlah kalau orang itu lebih baik dari aku." Pangeran Kuda Pratama
mengangguk-angguk kecil. Ia cukup mengerti alasan itu sebagaimana
sudah diduganya sebelumnya. Karena itu, maka iapun kemudian berkata
"Aku dapat mengerti sepenuhnya mPu. Seperti yang sudah aku
katakan, aku memang sudah menduganya. Namun Mahisa Pukat benar-benar
memerlukan seseorang yang dapat bekerja bersamanya di
Kasatrian ini. Karena itu, aku berharap bahwa kami segera menemukan
orang itu. " "Tetapi aku t idak dapat membantunya Pangeran" jawab
mPu Kamenjangan. "mPu " berkata Pangeran Kuda Pratama kemudian
"sebagian dari anak-anak kami di Kasatrian telah pernah mendapat
tuntunan ilmu dari mPu Kamenjangan. Karena itu, maka ilmu yang
mendasari kemampuan merekapun ilmu yang mereka warisi dari mPu
Kamenjangan. Maka alangkah baiknya jika mereka tidak harus menyia-ny
iakan ilmu yang pernah diterimanya itu. Karena itu, aku ingin bahwa
anak-anak kami, terutama yang sudah tumbuh menjelang m asa
dewasanya, dapat meneruskan mendalami ilmu yang pernah diterimanya.
Sedangkan yang masih baru mulai akan dapat menyadap ilmu dari
perguruan yang lain dengan bimbingan Mahisa Pukat " Pangeran Kuda
Pratama berhenti sejenak. Lalu katanya lagi "Bagaimana pendapat Ki
Sanak serta saudara-saudara seperguruan mPu Kamenjangan jika aku
minta mPu Sidikara menggantikan kedudukan mPu Kamenjangan di
Kasatrian?" Mata guru mPu Kamenjangan itupun kembali berbinar.
Tetapi ia masih tetap menahan diri. Dengan nada dalam ia berkata
"Aku mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya atas kesempatan
ini Pangeran. Namun demikian, segala sesuatunya terserah kepada
Sidikara sendiri." mPu Sidikara justru nampak bingung. Ia sudah
pernah memberikan jawaban kepada Mahisa Pukat atas kemungkinan
seperti itu. Ia tentu tidak merasa ny aman duduk ditempat saudara
seperguruannya yang terusir. Tetapi yang kemudian bertanya kepadanya
adalah Pangeran Kuda Pratama sendiri dihadapan gurunya yang
nampaknya sangat berharap bahwa ia akan menerimanya. Untuk beberapa
saat mPu Sidikara justru termangu-mangu. Namun kemudian dengan nada
rendah ia berkata "Ampun Pangeran. Jika demikian lalu bagaimana
dengan padepokanku sendiri?" Tetapi yang menyahut adalah Mahisa
Pukat "Bukankah mPu baru mulai ? Padepokan itu masih belum terwujud.
" "Nah, bukankah di Ka satrian ini mPu akan mendapat murid-murid
yang akan dapat mewarisi ilmu mPu ?" bertanya Pangeran Kuda Pratama.
mPu Sidikara benar -benar kebingungan. Namun dalam pada itu mPu
Kamenjangan berkata "Aku akan ikut mengucapkan t erima kasih jika
kau bersedia. Kau yang memiliki da sar ilmu sama seperti da sar ilmu
yang aku kuasai akan dapat melanjutkan tugas-tugasku. Para
bangsawan muda yang pernah mempelajari dasar ilmuku, tidak akan
mengalami kesulitan jika mereka kemudian belajar padamu. Namun aku
akan menganjurkan kepadamu, bahwa kau akan dapat bekerja sama dengan
Mahisa Pukat. Tidak ada salahnya jika kalian berdua dapat
bersama-sama meningkatkan ilmu mereka meskipun kalian harus secara
khusus memerinci ilmu yang akan kalian berikan kepada murid-murid
kalian." mPu Sidikara menjadi semakin bingung menanggapi keadaan
itu. Namun kemudian Mahisa Pukat mendekatinya sambil menepuk bahunya
"Aku mengucapkan selamat, mPu” mPu Sidikara seakan-akan telah
tersudut. Tidak ada jalan untuk mengelak. Karena itu, maka iapun
kemudian berkata "Aku t idak akan dapat m enolak kesempatan ini m
eskipun sebelumnya aku pernah menyatakan keberatanku kepada Mahisa
Pukat." Pangeran Kuda Pratama tertawa. Katanya “Nah, dengan demikian
maka tugas Mahisa Pukat selanjutnya tidak akan terlalu berat. Aku
percaya bahwa kalian berdua dapat membagi tugas di Ka satrian" mPu
Sidikara mengangguk hormat sambil berkata "Terima kasih atas
kepercayaan Pangeran " Sementara itu gurunya menarik nafas
dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata "Keputusan Pangeran untuk
memberikan kesempatan kepada mPu Sidikara membuat aku sangat
gembira, tetapi juga malu sekali mengingat tingkah lakuku sendiri.
Orang setua aku m asih saa dicengkam oleh nafsu ketamakannya yang
sangat tidak pantas." "Sudahlah" berkata Pangeran Kuda Pratama
"sudah aku katakan, bahwa setiap orang dapat menjadi khilaf. Tetapi
kita masih belum terlanjur terjerumus ke dalam langkah-langkah yang
dapat menghancurkan diri kita sendiri. " Guru mPu Kamenjangan itu m
engangguk-angguk. Dengan suara yang lemah yang berkata "Ternyata
mata hatiku tidak mampu lagi melihat terang yang memancar dari
nurani Pangeran" "Sudahlah. Tidak ada yang pantas dipuji.
Semua orang tentu pernah m elakukan kesalahan ." berkata Pangeran
Kuda Pratama. Dengan demikian, maka mPu Sidikara yang telah
ditetapkan untuk menggantikan kedudukan mPu Kamenjangan akan mulai
dengan tugasnya beberapa hari kemudian. Adalah diluar perhatian m
ereka ketika disisi lain didalam kedai itu, terdapat seorang anak
yang sebaya dengan Mahisa Amping. Dengan dahi yang berkerut
dipandanginya saja kuda lumping ditangan Mahisa Amping itu. Agaknya
kuda lumping yang terbuat dari anyaman bambu dihiasi dengan
warnawarna yang menarik itu sangat menarik perhatiannya. Untuk
beberapa saat anak itu memandanginya dengan dahi yang berkerut.
Namun akhirnya ia menggamit seorang yang bertubuh tinggi kekar,
berkumis melintang dan berjambang tebal yang sedang makan pula
bersama dengan dua orang kawannya. "Ada apa?"bertanya laki-laki
bertubuh kekar itu. "Ayah. Aku minta kuda lumping seperti milik anak
itu " rengek anaknya. Laki-laki itu memandangi kuda lumping ditangan
Mahisa Amping itu sejenak. Diamatinya tiga orang anak m uda yang
duduk bersama anak itu. Lalu katanya "Minta saja kuda lumping itu.
Aku akan mengganti berapa harganya. " Anak itu dengan tanpa menjawab
lagi telah mendekati Mahisa Amping. Dengan serta merta maka kuda
lumping itu direbutnya dari tangan Mahisa Amping sambil berkata "Ini
untukku." Mahisa Amping terkejut. Tetapi ia m empertahankan kuda
lumpingnya. Katanya "Jangan. Kuda ini kami beli di pasar." "Ayah
akan mengganti berapa harganya" jawab anak itu. "Kenapa kau tidak
membeli sendiri?" bertanya Mahisa Amping sambil mempertahankan kuda
lumpingnya. Mahisa Murti yang melihat hal itu mencoba untuk
melerainya. Dengan lembut ia berkata "Tunggu anak m anis. Kuda
lumping ini kami beli di pasar." "Aku tahu" tiba -tiba saja orang
bertubuh kekar itu menyahut " Berikan saja kuda lumping itu. Nanti
aku ganti harganya. " Tetapi Mahisa Amping berkata kepada anak itu
"Kenapa kau tidak m embeli saja di pasar itu. Masih ada banyak kuda
lumping seperti ini. " Laki-laki bertubuh kekar itu nampaknya
tersinggung oleh kata-kata Mahisa Amping itu. Dengan lantang ia
berkata "Berikan kuda lumping itu. Nanti aku ganti harganya lipat
dua." Namun Mahisa Amping menjawab "Tidak. Aku senang pada kuda
lumpingku ini." "Kau dapat membeli lagi dua buah dipasar" b erkata
orang bertubuh tinggi kekar itu. Suasana didalam kedai itu menjadi
tegang. Seorang yang duduk tidak jauh dari Mahisa Pukat
berbisik "Berikan ngger. Orang itu adalah Permati. Seorang
yang tidak pernah dapat dicegah apapun yang
dikendakinya. Mungkin kalian belum mengenalnya. " Mahisa Pukat
menarik nafas dalam-dalam. Namun anak yang mengingini kuda lumping
itu masih saja menariknariknya sementara Mahisa Amping
mempertahankannya. "Nanti kuda lumpingku rusak " bentak Mahisa
Amping "lepa skan. Aku tidak akan memberikannya kepadamu." Tetapi
orang b ertubuh kekar itu membentak pula "Jangan banyak tingkah.
Berikan, atau aku yang akan mengambilnya?" Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat m emang menjadi gelisah. Namun mereka juga tidak akan dapat
memaksa Mahisa Amping. Anak itu tentu akan m enjadi kecewa.
Persoalannya tidak sekedar kuda lumping yang diperebutkan itu atau
membeli dua bahkan tiga buah yang lain. Tetapi Mahisa Amping telah
merasa ter singgung dan direndahkan harga dirinya. Karena itu, maka
sulit bagi Mahisa Amping untuk dapat memberikan kuda lumping itu.
Sementara itu orang yang duduk tidak jauh dari Mahisa Pukat
itu berdesis lagi "Ngger. Permati adalah pemburu yang paling
disegani. Bahkan para bangsawan Singasaripun segan kepadanya."
Mahisa Pukat memang tidak menjawab. Tetapi ia tidak dapat memaksa
Mahisa Amping untuk memberikan kuda lumping itu. Sebenarnyalah orang
yang disebut Permati seorang pemburu yang sangat disegani itu
berkata dengan suara yang bergetar oleh kemarahan yang ditahankannya
"Jika anak itu tidak memberikannya, ambil saja." Anaknya ternyata
juga sekeras ayahnya. Ketika Mahisa Amping benar-benar tidak mau
memberikannya, maka ia memang melepaskan kuda lumping itu. Tetapi
iapun telah mengayunkan tangannya memukul kearah kening Mahisa
Amping. Mahisa Amping yang telah mendapatkan kuda lumpingnya memang
menjadi lengah. Tangan anak yang sebayanya itu memang mengenai
keningnya, sehingga Mahisa Amping terdorong beberapa langkah sambil
mengaduh kesakitan. Tetapi Mahisa Amping tidak jatuh terlentang
karena badannya telah t ertahan oleh amben bambu dengan sandaran
yang agak tinggi. Bahkan iapun telah jatuh terduduk sementara
tangannya masih memegangi kuda lumpingnya. Tetapi Mahisa Amping sama
sekali tidak senang, diperlakukan seperti itu. Apalagi anak
yang m emukulnya itu telah m emburunya sambil berteriak
"Berikan kuda lumping itu, atau aku akan memukulmu lagi." "Aku tidak
akan memberikan kuda itu, kau dengar. Jika kau memukul aku lagi,
maka aku akan membalasmu," jawab Mahisa Amping dengan beraninya.
Apalagi anak yang memukulnya itu masih sebaya dengan Mahisa Amping
itu sendiri. Ternyata anak itu memang garang. Iapun segera melangkah
mendekati Mahisa Amping yang sudah bangkit berdiri. Tetapi sebelum
ia sempat m engayunkan tinjunya lagi, maka Mahisa Amping telah meny
erangnya dengan kakiny a yang terjulur meny ongsong anak yang
mendekatinya untuk meny erangnya. Anak itu t idak menduga bahwa
Mahisa Amping dengan beraninya telah menyerangnya pula. Karena itu,
maka anak itulah yang kemudian terdorong beberapa langkah
surut. Tetapi anak itupun tidak terjatuh karena punggungnya
tersandar pada gledeg bambu tempat pemilik kedai itu menempatkan
makanan yang masih belum dihidangkan kepada para pembeliny a.
Dalam pada itu, orang yang duduk didekat Mahisa Pukat telah
memperingatkannya sekali lagi "Cegah anak itu ngger. Pemburu itu
tidak akan segan-segan melakukan kekerasan. Apalagi yang
seorang lagi, yang duduk disebelahnya adalah seorang jagal
yang garang. Jika ia ikut membantu, maka kalian akan mengalami
bencana. Sedangkan yang seorang lagi memang seorang bebahu
padukuhan ini. Tetapi orang itu sudah berada dibawah pengaruh
pemburu dan jagal yang garangitu. Padahal bebahu itu termasuk orang
yang disegani di padukuhan ini. Ia pulalah yang mempunyai
banyak wewenang di pasar itu." Mahisa Pukat m enarik nafas
dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata "Keadaan sudah berkembang
demikian buruknya." Orang itu m enjadi sangat tegang ketika ia m
elihat Mahisa Amping telah berkelahi dengan anak yang akan merebut
kuda lumpingnya. Ketika Mahisa Amping b erlari keluar dari kedai
itu, maka lawannya telah mengejarnya. Ia mengira bahwa Mahisa Amping
menjadi ketakutan dan melarikan diri. Tetapi tidak. Mahisa Amping
yang sudah berada di halaman, ternyata menunggunya sambil
bertolak pinggang. "Kita berkelahi ditempat yang luas" teriak Mahisa
Amping. Anak itu menjadi semakin marah. Iapun segera berlari turun
ke halaman pula. Sementara itu, pemburu yang bertubuh tinggi kekar
itu masih tetap duduk ditempatnya. Dengan y akin ia berkata kepada
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat "Jika kau tidak menuruti kemauan
anakku, maka adikmu atau anakmu itu akan mengalami kesulitan.
Anak-anak yang jauh lebih besar dari anakku, tidak berani
menolak keinginannya. Karena mereka akan menjadi sasaran
kemarahannya. Jika ia sudah mulai memukuli orang-orang yang berani m
elawannya, maka sulit untuk menghentikannya. " Tetapi orang
yang duduk di dekat Mahisa Pukat itu terkejut ketika ia
mendengar Mahisa Pukat menjawab "Apakah kau berbangga dengan sifat
dan watak anakmu itu?" Orang bertubuh tinggi kekar itupun terkejut
pula. Namun kemudian iapun menjawab dengan lantangnya. “Aku bangga
dengan watak anakku. Ia akan menjadi seorang pemimpin yang berwibawa
dan disegani banyak orang" "Dan sewenang-wenang?" sahut Mahisa
Pukat. "Setan kau " geram orang itu " ter serah kepadamu jika adikmu
atau anakmu itu akan menjadi lumpuh." "Semula aku m emang akan m
elerai m ereka. Mungkin aku setuju untuk memberikan kuda lumping
yang diingini oleh anakmu. Tetapi karena kau berbangga atas anakmu
dengan wataknya itu, maka niatku aku urungkan." berkata Mahisa Pukat
yang mulai jengkel. Tetapi orang yang duduk didekatnya
berdesis "Ngger, kenapa kau melakukan itu?" Mahisa Pukat tidak
menjawab. Sementara itu pemburu itupun bangkit dari tempat duduknya
dan berkata "Aku akan melihat, apakah iblis kecil itu sudah
dipelintir lehernya. " Pemburu itu, diiringi oleh jagal yang
agak gemuk dan perutnya membesar serta bebahu yang disegani
itupun melangkah ke pintu kedai. Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan
Mahisa Semupun telah bangkit pula. Melalui pintu samping merekapun
telah turun ke halaman pula. Sementara itu Mahisa Amping telah
berdiri dihadapan anak yang minta kuda lumpingnya. Keduanya memang
nampak sebay a. Mereka m empunyai tinggi badan yang sama.
Namun anak pemburu itu agak lebih gemuk sedikit dari Mahisa Amping.
Namun pemburu itu mengerutkan keningnya ketika melihat mahisa Amping
sama sekali tidak nampak gentar melihat anaknya. Bahkan Mahisa
Amping dengan tanpa raguragu bersiap untuk berkelahi. Anak Pemburu
itu memang menjadi marah sekali. Ia sudah terbiasa berkelahi.
Seperti kata ayahnya, ia tidak takut berkelahi melawan anak-anak
remaja yang lebih besar dan dirinya. Bahkan anak yang m
enjelang dewasapun dilawannya pula. Apalagi Mahisa Amping yang
meskipun tinggi tubuhnya seimbang, namun ia nampak lebih kurus dari
anak pemburu itu. Beberapa saat mereka berdiri berhadapan. Kemarahan
anak pemburu itu benar-benar telah membakar jantungnya melihat
Mahisa Amping sama sekali tidak menjadi gentar menghadapinya. Orang
yang semula duduk didekat Mahisa Pukat dan kawannya menjadi
tegang. Kepada kawannya ia berbisik "Anak muda itu tidak tahu siapa
pemburu, jagal dan bebahu yang k eras hati itu. Mereka akan dapat m
engalami kesulitan terutama anak yang mempertahankan kuda
lumpingnya. Anak pemburu itu meskipun nampaknya masih sebay a,
tetapi ia seorang yang ditakuti bukan saja oleh anak-anak
sebay anya, bahkan anak-anak yang lebih besar sekalipun.
Bahkan anakanak yang sudah menjadi dewasa." "Anak itu mempunyai
kemampuan berkelahi seperti ay ahnya " sahut kawannya. "Aku sudah
mencoba memperingatkannya. Tetapi nampaknya darah muda m ereka m
asih cepat menjadi panas. Tetapi disini anak-anak muda itu terjebak
oleh kekuatan yang tidak akan terlawan " berkata kawannya. Tetapi
ternyata keduanya ingin juga melihat apa yang terjadi
dihalaman. Meskipun melingkar lewat pintu belakang, mereka pergi
juga kehalaman samping. Beberapa orang memang melihat keributan itu
dari kejauhan. Namun pada umumnya mereka menjadi cemas melihat
Mahisa Amping yang harus berkelahi dengan anak pemburu itu. Bukan
saja anaknya yang memiliki kekuatan lebih besar dari anak-anak
seumurnya, bahkan yang lebih besar sekalipun, anak itupun
telah mendapat latihan-latihan berkelahi oleh ay ahnya yang
memang disegani oleh banyak orang. Namun Mahisa Murti, Mahisa Pukat
dan Mahisa Semu tidak mencegah Mahisa Amping. Mereka membiarkan saja
anak itu berkelahi dengan anak sebay anya. Demikianlah, maka sejenak
kemudian anak pemburu itupun telah meloncat meny erangnya. Tangannya
terayun dengan kuatnya kearah mulut Mahisa Amping. Namun pukulan itu
tidak mengejutkan Mahisa Amping. Dengan tangkasnya ia meloncat m
enghindar. Namun lawannya tidak melepaskannya. Iapun meloncat pula
memburu. Tangannya bukan saja terayun memukul, tetapi jari-jari
tangan itu justru mengembang siap menerkam wajah Mahisa Amping.
Sekali lagi Mahisa Amping mengelak. Ia memang sudah memperhitungkan
bahwa lawannya yang sombong dan sedang marah itu tentu akan
memburunya pula. Sebenarnyalah anak itu telah meloncat memburu. Anak
itu berusaha untuk menggapai kening Mahisa Amping dengan tinjunya.
Tetapi Mahisa Amping tidak melepaskan kesempatan. Ju stru karena
tangan lawannya siap memukulnya, bahkan kemudian tangan itu t erayun
mendatar, maka lambung anak itu telah terbuka. Dengan cepat Mahisa
Amping mendahuluinya. Tubuhnyapun menjadi miring. Satu kakinyt
teijulur lurus kearah lambung. Yang terdengar adalah anak itu
mengaduh. Tubuhnya terdorong beberapa langkah surut. Hampir saja
anak itu kehilangan keseimbangan. Namun ternyata bahwa ia tetap
berdiri ketika ia mengumpat kasar. Bukan hanya anak itu yang
mengumpat. Tetapi ayahnya juga mengumpat. Dengan lantang ay ahnya
berkata "Buat anak itu jera. Ia belum m engenalmu dan kau tidak
perlu merasa belas kasihan kepadanya. " Anak pemburu itu m enggeram
Wajahnya menjadi m erah. Kemarahannya seakan-akan telah membakar
jantungnya. Sejenak kemudian anak itu telah m enyerang pula. Mahisa
Ampingpun telah ber siap sepenuhnya, sehingga kedua orang anak yang
sebay a itu berkelahi dengan sengitnya. Namun orang-orang yang
menyaksikan perkelahian itu dari kejauhan menjadi heran. Biasanya
anak-anak yang berkelahi dengan anak pemburu itu tidak akan
dapat bertahan lebih dari sekejap. Tetapi anak itu mampu berkelahi
untuk waktu yang terhitung lama. Bahkan beberapa kali ia sudah
mendesak anak pemburu itu sehingga berloncatan surut. Sebenarnyalah
anak pemburu itu mengalami kesulitan melawan Mahisa Amping. Meskipun
anak pemburu itu juga berlatih berkelahi, tetapi ia tidak mengalami
latihan yang teratur dan tertib sebagaimana Mahisa Amping. Dengan
demikian, maka beberapa saat kemudian, anak pemburu itu telah
terdesak. Beberapa kali serangan Mahisa Amping mengenai tubuh anak
pemburu itu sehingga terdorong surut. Hanya karena keras kepala dan
malu sajalah anak pemburu itu m asih tetap bertahan. Namun tubuhnya
telah terasa sakit dimana-mana. Serangan-serangan Mahisa Amping
lebih sering mengenai tubuhnya daripada serangan-serangannya yang
berhasil menembus pertahanan Mahisa Am ping. Apalagi tenaga Mahisa
Amping yang terlatih dengan baik itu lebih kuat dari lawannya
meskipun tubuh lawannya itu sedikit lebih besar dari tubuh Mahisa
Amping. Pemburu itu menjadi sangat gelisah. Demikian pula jagal yang
perutnya besar serta bebahu padukuhan yang disegani itu.
Pemburu yang merasa anaknya tidak akan pernah dikalahkan oleh
anak-anak sebay anya, memang menjadi gelisah dan bahkan kemudian
menjadi marah ketika ia melihat anaknya t elah terdesak. Bahkan
beberapa kali anak itu telah mengaduh kesakitan. "He, kenapa dengan
kau? Kenapa tak kau pilin saja tangannya atau kakinya atau bahkan
lehernya? Jika tangan atau kakinya patah itu sama sekali bukan
salahmu. Saudarasaudaranya atau bahkan ayahnya tidak mau memberinya
peringatan dengan siapa anak itu berhadapan. Apalagi persoalannya
hanyalah sebuah kuda lumping bambu yang tidak berharga " teriak
pemburu itu. Tetapi adalah diluar dugaan ketika Mahisa Amping
berteriak menjawab "Jika hanya sebuah kuda lumping yang tidak
berharga, kenapa ia akan merampas kuda lumpingku?” "Iblis kecil kau
" bentak pemburu itu. Lalu katanya kepada anaknya "Lumpuhkan anak
yang sombong itu. Agaknya harga kuda lumping itu lebih mahal
dari harga keselamatannya. " "Soalny a bukan harga kuda lumping itu
" Mahisa Amping masih berteriak "tetapi ia sudah memukul aku."
"Iblis itu m emang harus dihancurkan kepalanya. Ia berani menjawab
kata-kataku, bahkan dengan membelalakkan matanya. " geram pemburu
itu. Anaknya memang juga menjadi sangat marah. Tetapi ia sudah
mengerahkan segala kemampuannya. Perkelahian itu masih sqja
berlangsung ketika anak pemburu itu kemudian meny erang membabi
buta. Tetapi dengan demikian Mahisa Amping nampak semakin mapan.
Serangan-serangan lawannya justru menjadi semakin tidak terarah.
Dalam keadaan yang demikian, maka Mahisa Amping justru m emanfaatkan
keadaan dengan sebaik-baiknya. Setiap kali ia menghindari serangan
lawannya, maka iapun telah membalas serangan itu dengan serangan
pula. Apalagi serangan lawannya yang membabi buta setiap kali
justru telah membuka pertahanannya sendiri. Karena itu, maka
perkelahian itu semakin lama menjadi semakin berat sebelah. Anak
pemburu itu menjadi semakin terdesak dan bahkan kemudian nampak
bahwa ia menjadi seolah-olah tidak berdaya sama sekali. Mahisa
Amping yang marah karena tiba-tiba saja ia sudah dipukul oleh anak
pemburu itu, menyerang dengan cepat dan keras. Orang-orang
yang menyaksikan perkelahian itu menjadi berdebar-debar.
Mereka memang berharap agar anak pemburu itu sekali-sekali dapat
dikalahkan oleh anak-anak sebay anya agar ia tidak m enjadi semakin
sombong. Namun merekapun menjadi gelisah dan cemas, bdhwa ay ahnya
akan ikut campur pula. Jika ayahnya ikut campur, maka anak-anak muda
yang datang bersama anak yang berkelahi itu, apakah kakaknya atau
barangkali ay ahnya, tidak akan dapat berbuat banyak. Mereka tentu
akan menjadi sa saran kemarahan pemburu itu. Bahkan jagal dan bebahu
itu tentu akan ikut campur pula. Untuk beberapa saat perkelahian
masih berlangsung. Namun kemudian anak pemburu itu menjadi semakin
terdesak. Beberapa kali ia mengaduh kesakitan. Meskipun ia masih
juga malu untuk menangis, namun rasa-rasnya ia sudah tidak sanggup
lagi untuk berkelahi terus. Tetapi ayahnya masih saja berteriak "He,
kenapa kau tidak dapat berbuat apa -apa menghadapi anak itu? Apakah
kau sudah kehilangan keberanianmu dan kemampuanmu?" Anak itu memang
masih berusaha menghentakkan tenaganya. Ia bukan saja malu, tetapi
juga merasa takut bahwa ayahnya justru akan marah kepadanya. Namun
ia memang tidak mampu mengimbangi tenaga dan kemampuan Mahisa Amping
yang sudah terlatih dengan baik untuk waktu yang cukup lama.
Karena itu, ketika Mahisa Amping m endapat kesempatan menembus
pertahanan anak pemburu itu dengan tusukan serangan kakinya mengenai
dada, maka anak pemburu itu telah terdorong beberapa langkah surut.
Keseimbangannya benar-benar telah terguncang. Namun ternyata Mahisa
Amping yang marah karena tibatiba saja anak pemburu itu telah m
emukulnya lebih dahulu, maka iapun meloncat memburunya. Tangannya
terayun memperbaiki keseimbanganya itu. Namun anak itu tidak sempat
melakukannya. Serangan Mahisa Amping yang mengenai pelipis
anak itu telah melemparkannya sekali lagi. Anak pemburu itupun
kemudian telah jatuh terlentang. Mahisa Amping memang meloncat
mendekat. Tetapi karena lawannya tidak segera bangkit, maka Mahisa
Amping berdiri saja menunggu beberapa langkah disebelahnya. Anak
pemburu itu memang tidak dapat segera bangkit. Kepalanya terasa
pening. Sebelah matanya bagaikan tidak dapat melihat lagi. Bahkan
seluruh tubuhnya terasa sakit sampai ketulang. Pemburu itu
benar-benar menjadi sangat marah. Dengan tergesa -gesa ia turun
kehalaman mendekati aninya yang masih terbaring. Dengan
lantang ia berkata "He, bagaimana dengan kau? Apakah kau tidak mampu
memilin leher anak itu?” Anaknya tidak menjawab. Ia berusaha
bangkit. Tetapi keseimbangan tubuhnya ternyata masih belum mantap.
Hampir saja terjatuh kembali. Namun untunglah bahwa ay ahnya sempat
memegangi bahunya. Namun kemarahan pemburu itu benar-benar menikam
kemudian memandang Mahisa Pukat, Mahisa Murti dan Mahisa Semu.
Dengan lantang ia berkata "He anak-anak muda. Berikan kuda lumping
itu kepada anakku. Sekarang. Aku tidak mau mendengar jawaban apapun
selain kuda lumping itu." "Tidak " Mahisa Ampinglah yang berteriak.
“Diam kau iblis kecil" bentak pemburu itu. Lalu sekali lagi ia
berteriak "Berikan kuda lumping itu. Ajari anak ini menghormati
orang lain. Jika kau tidak mampu, akulah yang akan menghajarnya agar
ia tidak menjadi sombong." Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa
Semu masih saja berdiri termangu-mangu. Namun yang membuat
pemburu itu semakin marah adalah karena anak yang telah
mengalahkan anaknya itu sama sekali tidak menjadi ketakutan. Ia
masih saja berdiri di tempatnya. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat memang m enjadi cemas, bahwa pemburu itu akan berbuat sesuatu
atas Mahisa Amping. Karena itu, m aka Mahisa Murtipun berkata kepada
Mahisa Semu "Lindungi adikmu. Aku akan berdiri saja disini Jika
pemburu itu ikut campur, kaupun harus berbuat sesuatu agar Amping
tidak m enjadi sasaran kemarahan pemburu itua Aku ingin melihat,
seberapa jauh kau mewarisi ilmu Padepokan Bara Seta." Mahisa Semu
mengangguk kecil sambil menyahut "Baik kakang. Aku akan melindungi
Amping. " Dalam pada itu, pemburu itu sudah berteriak lagi "Cepat,
serahkan kuda lumping itu. Aku akan menghitung sampai lima. Jika
kuda lumping itu tidak diserahkan kepada anakku maka aku akan
mengambil sendiri. Akupun akan mengajari anak itu agar sedikit
mengenal unggah-ungguh dan menghormati orang lain." Pemburu itu
terkejut ketika ia m elihat Mahisa Semu, yang termuda diantara
ketiga orang anak muda yang datang bersama Mahisa Am ping, melangkah
mendekati anak itu. Dengan mata terbelalak pemburu itu bertanya "He,
apa yang akan kau lakukan? Bawa kuda lumping itu dan serahkan kepada
anakku. Cepat." Tetapi Mahisa Semu menggeleng. Katanya "Tidak Ki
Sanak. Kami sudah memutuskan untuk tidak meny erahkan kuda lumping
itu. Seperti yang sudah dikatakan adikku, persoalannya tidak
sekedar harga kuda lumping itu. Tetapi persoalannya sudah m
enyangkut harga diri. Sebagaimana Ki Sanak memaksakan kehendak Ki
Sanak untuk merampas kuda lumping itu tentu juga karena harga diri
Ki Sanak yang tersinggung. Bukan soal kuda lumping itu lagi." "Per
setan kau. Jika demikian, aku akan memberi pelajaran serba sedikit
kepada adikmu yang sombong dan k eras k epala itu." berkata
pemburu itu. Tetapi Mahisa Semu meujawab "Ia masih terlalu kecil
untuk mengikuti keinginan Ki Sanak. Karena itu biarlah aku sa ja
yang mewakilinya. " Wajah pemburu itu menjadi merah padam.
Jawaban Mahisa Semu itu sangat menyakitkan hatinya. Karena itu ia
berteriak "He, kenapa tidak kalian bertiga mendekat kemari?" "Aku
mewakili mereka" jawab Mahisa Semu. Kemarahan pemburu itu sudah
tidak terkekang lagi. Dengan serta merta ia meloncat sambil
mengayunkan tangannya untuk menampar mulut Mahisa Semu. Tetapi
dengan tangkasny a Mahisa Semu telah m enghindar, sehingga tangan
itu tidak meny entuh sa saran. Mahisa Semu yang bergeser selangkah
surut. Kemudian telah menarik Mahisa Amping sambil berkata : “
Minggirlah kau dipanggil kakang” Mahisa Amping m emang bergeser m
enepi. Tetapi ia tidak segera mendapatkan Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat. Ia masih saja termangu-mangu menyaksikan Mahisa Semu yang
sudah bersiap kembali menghadapi segala kemungkinan. Pemburu itu
benar-benar merasa direndahkan. Karena itu, maka jantungnya serasa
akan terlepas dari tangkainya. Ia tidak berpikir terlalu panjang
lagi. Ia harus segera m enghancurkan anak yang masih terlalu muda,
tetapi sangat sombong itu. Dengan demikian maka pemburu itupun
segera meny erang Mahisa Semu. Tangannya terayun-ay un dengan
derasnya mengarah ke kening Mahisa Semu. Namun seperti sebelumnya,
Mahisa Semupun telah berloncatan menghindar. Tetapi pemburu
yang marah itu sama sekali tidak melepaskan lawannya. Dengan
garang ia memburunya. Tetapi Mahisa Semu justru bergerak lebih
cepat. Ia bukan sa ja menghindari serangan-serangan pemburu itu,
tetapi dengan tiba- tiba Mahisa Semupun telah meny erangnya pula,
justru diluar perhitungan lawannya. Karena itu, maka Mahisa Semu
justru berhasil m enembus pertahanan pemburu itu. Tangannya yang
terayun mendatar sempat mengenai pundak lawannya. Pemburu itu m
emang terkejut. Ternyata tenaga anak yang masih terlalu muda
itu telah menggoy ahkan tubuhnya. Ketika pundaknya terdorong
serangan Mahisa Semu, maka pemburu itu telah bergeser setapak surut.
Pemburu itu mengumpat kasar. Ia tidak mengira bahwa lawannya bukan
ssaja tangkas dan mampu bergerak cepat. Tetapi anak itu juga
memiliki tenaga yang sangat besar. Sebagai seorang yang sangat
disegani oleh orang-orang diseputarnya, maka pemburu itu tidak ingin
t erlalu lama berkelahi melawan anak yang masih terlalu muda.
Karena itu, maka pemburu itupun telah menghentakkan kekuatan dan
kemampuannya untuk dengan cepat menghentikan perlawanan Mahisa Semu.
Tetapi ternyata perhitungan pemburu itu keliru. Mahisa Semu tidak
dapat dengan mudah dikalahkannya. Bahkan dengan tangkasny a anak itu
telah menyerangnya. Kemarahan pemburu itu telah membuat darahnya
mendidih. Tetapi ia tidak dapat menghindari kenyataan. Anak itu
tidak mudah dikalahkannya. Bukan saja kecepatannya yang mampu
mengimbangi kekuatan pemburu itu. Dengan demikian maka perkelahian
itu menjadi semakin sengit. Mahisa Semu yang nampaknya masih terlalu
muda itu dengan tangkas, cepat dan kuat, bertempur melawan pemburu
yang marah itu. Pemburu yang namanya disegani oleh banyak orang
karena kemampuannya yang tinggi. Tetapi menghadapi Mahisa
Semu, maka pemburu itu telah mengalami kesulitan. Mahisa Semu setiap
kali mampu m engejutkannya dengan serangan-serangannya yang tidak
terduga-duga. Apalagi jika terjadi benturan kekuatan, maka pemburu
itu selalu terdorong satu dua langkah surut. Namun pemburu itu m
asih belum percaya atas keny ataan yang dihadapinya itu. Karena itu,
maka ia masih berusaha mengerahkan kekuatan dan kemampuannya. Anak
yang masih terlalu muda itu harus dapat ditundukkannya. Dengan
demikian maka pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Keduanya
saling meny erang dan saling bertahan. Meskipun pemburu itu memiliki
kekuatan kewadagan yang terhitung besar, namun dengan beralaskan
tenaga dalamnya, maka kekuatan Mahisa Semu mampu mengimbanginya, ju
stru melampauinya, sehingga pemburu itu selalu saja terdesak di
setiap benturan yang terjadi. Bahkan serangan-serangan Mahisa
Semua semakin lama semakin sering berhasil m enembus pertahanan
pemburu itu. Dengan kecepatan gerak yang sulit diimbangi oleh
pemburu itu, maka Mahisa Semu memang lebih banyak dapat mengenai sa
sarannya. Semakin lama, maka pemburu itu menjadi semakin terdesak.
Serangan-serangan Mahisa Semu benar-benar telah menggoy ahkan
pertahanannya. Bahkan beberapa kali pemburu yang disegani itu
dapat digoy ahkan oleh Mahisa Semu yang muda itu. Jagal dan bebahu
yang bersamanya itu termangu-mangu sejenak. Mereka menyadari
bahwa pemburu itu sudah semakin terdesak. Bahkan rasa -rasanya sudah
sulit untuk tetap bertahan. Namun keduanya menjadi berdebar-debar
ketika m ereka melihat kedua orang anak muda yang lain melangkah
mendekati arena. Anak muda yang umurnya lebih tua dan agaknya
kemampuannyapun lebih tinggi. Sebenarnyalah Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat yang melihat kegelisahan jagal dan bebahu itu menduga
bahwa mereka akan dapat ikut campur dalam perkelahian antara Mahisa
Semu dan pemburu yang semakin berat sebelah itu Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat masih sempat mengangguk hormat kepada jagal dan bebahu
yang menjadi gelisah itu, kemudian dengan tenangnya Mahisa Murti
berdiri disebelah jagal yang gelisah itu, sementara Mahisa Pukat
berdiri di sisi bebahu yang menjadi semakin tegang melihat
perkelahian itu. Sementara itu, tanpa ada yang mengisy aratkan
Mahisa Amping justru melangkah mendekati anak pemburu yang menjadi
ketakutan melihat keadaan yang tidak menguntungkannya itu.
Sebelumnya ia tidak pernah mengalami hal seperti itu. Biasanya ia
selalu memenangkan perkelahian Jika ada anak-anak yang terlalu
besar untuk dilawannya, maka ia selalu berlindung dibawah pengaruh
ay ahnya. Tetapi saat itu, ay ahnya menjadi tidak berday a. Anak
muda yang berkelahi melawan ayahnya itu bukan saja tidak takut,
tetapi ia justru dapat mendesak ay ahnya sehingga ayahnya mengalami
kesulitan. Sebenarnyalah pemburu itu menjadi semakin terdesak
Beberapa kali serangan Mahisa Semu telah menggoy ahkan
keseimbangannya. Bukan saja wajahnya menjadi m erah biru, tetapi
tulang-tulangnya pun serasa berpatahan. Dalam keadaan yang paling
sulit, maka pemburu itu berteriak "He, kenapa kalian diam saja
membeku. Hancurkan anak-anak muda yang sombong itu." Jagal dan
bebahu yang berdiri disebelah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu
termangu -mangu. Namun dalam pada itu Mahisa Murtipun berkata "Ki
Sanak. Sebaiknya kita tidak usah ikut cam pur. Persoalannya
sebenarnya adalah per soalan antara anak-anak saja. Aku terbiasa
membiarkan anak-anak berusaha meny elesaikan persoalan mereka.
Biasanya aku menganjurkan agar m ereka meny elesaikan persoalan
mereka tidak dengan kekerasan. Tetapi jika kekerasan itu tidak dapat
dihindari, maka akupun minta anak-anak itu menyelesaikannya sendiri.
Hanya dalam keadaan yang sangat penting aku mencampuri
persoalan mereka apabila keadaannya akan sangat membahayakan kedua
belah pihak." Jagal dan bebahu itu menjadi sangat gelisah. Keringat
mengalir diseluruh tubuh mereka. Punggung mereka menjadi basah,
seolah-olah mereka baru saja selesai berendam didalam air. Namun
dalam pada itu pemburu itu berteriak lagi ketika ia terdorong
beberapa langkah surut "He pengecut. Kenapa kalian berdiam diri
saja. Lumpuhkan anak-anak muda itu. Kemudian kalian harus ikut meny
elesaikan anak iblis ini." Namun Mahisa Pukatlah yang menyahut
"Sudahlah Ki Sanak. Kenapa Ki Sanak memaksakan diri untuk berkelahi
terus. Kedua orang kawan Ki Sanak ini tidak akan turun ke arena
perkelahian itu. Apapun alasannya, sebaiknya mereka tidak u sah ikut
campur. " Pemburu itu masih akan berteriak, tetapi Mahisa Semu
mendesaknya sehingga suaranya justru terputus dikerongkongan.
Sementara itu Mahisa Pukat berkata kepada bebahu disebelahnya sambil
m emegang pundaknya "Disini sajalah Ki Sanak. Kita tidak ikut
campur." Bebahu itu terkejut. Tangan Mahisa Pukat rasa-rasanya akan
memecahkan tulang dipundaknya. Namun dengan demikian, maka bebahu
itu sadar sepenuhnya bahwa anak muda itu adalah anak muda yang
memiliki kelebihan dari orang lain. Jari-jari anak m uda itu seperti
batang-batang besi yang menjepit tulang-tulangnya, sementara anak
muda itu nampaknya sama sekali tidak mempergunakan kekuatannya.
Karena itu, maka bebahu itu sama sekali tidak berani berbuat
sesuatu. Betapapun segannya bebahu itu terhadap pemburu yang
sedang berkelahi itu, namun ia harus membuat pertimbangan berulang
kali untuk terjun kedalam perkelahian karena persoalan anak-anak
itu. Berbeda dengan bebahu yang menyadari akan kekuatan Mahisa
Pukat, maka jagal yang perutnya besar itu benar-benar menjadi sangat
b imbang. Ia m emang sudah m enduga bahwa kedua anak muda yang
berdiri disebelahnya itu berilmu tinggi. Tetapi iapun merasa sangat
segan kepada pemburu yang sedang berkelahi itu. Namun dalam pada
itu, maka Mahisa Murti telah melingkarkan tangannya dipunggung jagal
yang berperut besar itu. Dengan nada lembut Mahisa Murti
berkata "Jangan dengarkan kicau pemburu yang dungu itu.
Sebaiknya kita memang tidak ikut campur." Jagal itu tidak menjawab.
Tetapi dengan serta merta ia mengibaskan tangan Mahisa Murti. Bahkan
jagal itu sudah siap untuk turun ke arena. Tetapi ia merasa tubuhnya
agak lain dari biasanya. Ada sesuatu yang kurang pada dirinya
sehingga ia harus m encoba untuk menemukan, apakah yang lain
pada dirinya itu. Baru ketika ia melangkah, maka ia merasakan
kakinya menjadi berat. Tangannyapun serasa tidak seperti biasanya.
Baru kemudian jagal itu tahu bahwa tenaganya telah menyusut.
Meskipun jagal itu masih mampu bergerak dan tegak pada
keseimbangannya, tetapi rasa-rasanya ia tidak sanggup untuk
berkelahi. Bahkan dengan anak-anak sekalipun. Karena itu, maka
ketika kemudian pemburu itu berteriak lagi, jagal itu sama sekali
tidak berbuat apa -apa. Demikian pula bebahu itu. Keduanya berdiri
saja termangu -mangu ditempatnya. Dengan demikian maka keadaan
pemburu itu menjadi semakin sulit. Bahkan ketika kaki Mahisa Semu
berhasil mengenai dadanya, maka pemburu itupun telah terdor ong
beberapa langkah surut. Hampir saja ia kehilangan keseimbangannya
dan jatuh terbanting. Namun dengan susah pay ah, ia berhasil
bertahan untuk tetap berdiri meskipun kakinya menjadi goy ah. Mahisa
Semu yang melihat keadaan lawannya tidak memburunya. Sikap
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sudah mempengaruhi sikapnya
pula, sehingga ia tidak t erlalu bernafsu untuk menghancurkan
lawannya. Termasuk menghancurkan harga dirinya. Karena itu, maka
ketika lawannya sedang dalam kesulitan, Mahisa Semu seakan-akan
dengan sengaja memberinya kesempatan untuk memperbaiki keadaannya.
Bahkan Mahisa Semupun kemudian berkata "Ki Sanak, apakah kita m asih
akan m eneruskan persoalan kuda lumping ini? Sebenarnya aku tidak
tertarik untuk menyelesaikan persoalan ini dengan cara yang
tidak manis ini. Karena itu, segala sesuatunya tergantung kepada Ki
Sanak. Jika kau masih berniat untuk meneruskan perkelahian
yang tidak karuan ujung pangkalnya iui, maka akupun tidak
berkeberatan. Tetapi jika Ki Sanak menganggap bahwa persoalan kita
sudah selesai, maka aku akan berterima kasih.” Pemburu itu
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan sikap yang
garang ia berteriak "Aku ampuni kau kali ini. Tetapi ingat, jika kau
atau anak itu pada k esempatan lain tidak mau Menghormati orang
lain, m aka aku akan benarbenar menghukummu dan menghukumnya. "
Mahisa Semu tidak menjawab. Namun kemudian pemburu itu melangkah
pergi sambil menggapai anaknya yang kebingungan tanpa berpaling
lagi. Juga tidak kepada kedua orang kawannya yang datang bersamanya.
"Apakah kau akan mengikutinya ?" bertanya Mahisa Pukat kepada bebahu
itu. Bebahu itu menggeleng. Katanya "Tidak. Tetapi aku tahu bahwa
orang itu akan marah kepadaku.” "Apakah kira-kira ia akan melakukan
kekerasan terhadapmu dan kawanmu itu ?" bertanya Mahisa Murti.
“Agaknya tidak. Bany ak orang menyaksikan apa yang terjadi
disini. Ia tidak dapat menyalahkan aku meskipun barangkali ia akan
mengumpati aku." jawab bebahu itu. Namun kemudian Mahisa Murtipun
berkata kepada jagal yang perutnya besar itu "Maaf. Aku telah
menyusut tenagamu. Tetapi tidak seberapa. Tidak sampai tengah malam
nanti, tenagamu tentu sudah pulih kembali. Yang aku lakukan hanya
sekedar mencegah agar kau tidak melibatkan diri dalam perkelahian
ini. Karena jika hal itu kaulakukan maka keadaanmu akan menjadi
semakin sulit." Jagal itu menjadi heran. Dengan wajah yang
tegang ia bertanya "Bagaimana hal itu dapat terjadi ?" "Mungkin kau
tidak akan dapat mengerti. Tetapi jangan menjadi cemas. Seandainya
senja nanti kau harus m elakukan tugasmu, maka sisa tenagamu masih
cukup kuat untuk melakukannya karena setiap kejap, tenagamu yang
susut perlahan-lahan akan tumbuh." Orang itu memang masih agak
bingung. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh meskipun jantungnya
terasa berdebardebar. Ia memang cemas, bahwa tenaganya tidak akan
pernah pulih kembali. Tetapi Mahisa Murti kemudian berhasil
meyakinkan, bahwa besok jagal itu tidak akan terganggu lagi dengan
peristiwa yang terjadi itu. "Percay alah. Malam nanti,
segala-galanya sudah berlalu bagimu. Jika kau besok bangun
pagi-pagi, m aka kau adalah sebagaimana kau bangun tadi pagi." Jagal
itu mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah anak-anak muda.
Mudah-mudahan aku tidak menjadi seorang yang cacat seumur hidupku.
Dalam keadaan seperti sekarang, aku tidak akan dapat melakukan
pekerjaanku sebagai seorang jagal, karena pekerjaanku memerlukan
tenagaku." Mahisa Murti menepuk bahunya sambil berkata "Aku tidak
berbohong. Jika kau tidak berkeberatan, katakan di mana rumahmu.
Besok aku akan datang menengokmu." Ternyata jagal itu memang tidak
berkeberatan. Ia telah memberikan ancar-ancar rumahnya. Demikianlah
maka Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Mahisa Amping
kembali masuk ke dalam kedai. Orang-orang yang berkerumun tanpa
berani mendekatpun telah pergi pula. Ketika Mahisa Murti dan
saudara-saudaranya telah duduk kembali sambil meneguk minuman mereka
yang tersisa, maka orang yang sejak sebelum terjadi keributan duduk
didekat Mahisa Pukat itu telah duduk pula ditempatnya. "Aku tidak
mengira bahwa ada orang yang dapat mengalahkan Ki Permati
itu." berkata orang itu. "Orang itu sebelumnya amat ditakuti" desis
kawannya. Lalu kepada Mahisa Pukat ia berkata "Bagaimana adikmu
dapat mengalahkan orang itu ngger?" "Hanya suatu kebetulan Ki Sanak.
Tetapi seandainya demikian, bukankah itu wajar. Adikku masih muda.
Umurnya adalah umur yang memungkinkannya berada dalam puncak
kekuatan dan kemampuan. Sementara itu Ki Permati itu meskipun
garang, tetapi umurnya sudah menua. Ibarat matahari kemampuannya
sudah melampaui puncaknya dan mulai meluncur turun di sisi barat."
"Tidak ada tanda-tanda seperti itu sebelumnya" berkata orang itu.
"Bukankah yang kau lihat itu juga satu pertanda
kemundurannya?" bertanya Mahisa Pukat. Tetapi orang itu menggeleng.
Katanya "Tidak. Bukan itu. Tetapi anak muda itulah yang memiliki
kelebihan dari pemburu itu. Jelasnya, pemburu itu memang dapat
dikalahkannya." "Seperti sudah aku katakan Ki Sanak. Hanya satu
kebetulan sa ja. tidak lebih." Tetapi orang itu menyahut "Kalian
memang anak-anak muda yang rendah hati. Itu dapat kami lihat bukan
saja sikap kalian sebelum terjadi perkelahian itu. Sikap anak muda
yang bertempur melawan Ki Permati itu juga sikap seorang yang rendah
diri. Meskipun ia memenangkan perkelahian itu, tetapi ia masih
menghormati lawannya dan memberi kesempatan lawannya meninggalkan
arena tanpa menghancurkan harga dirinya." "Itu bukan apa -apa Ki
Sanak" berkata Mahisa Pukat "bukan sikap rendah hati. Tetapi anak
itu juga sudah m erasa letih berkelahi melawan Ki Permati." "Nah,
bukankah jawaban angger ini semakin meyakinkan aku? Tetapi baiklah.
Aku tidak akan memuji lagi." Mahisa Pukat tidak menjawab lagi.
Mahisa Amping justru menundukkan kepalanya saja. Sementara Mahisa
Semu bahkan seolah-olah tidak mendengar pembicaraan itu. Diteguk ny
a minumannya sampai titik air yang terakhir. "Kau minum lagi?"
Bertanya Mahisa Murti. Mahisa Semu menggeleng. Katanya "Sudah cukup”
Sementara itu pemilik kedai itupun telah mendekat pula sambil
berkata "Peristiwa ini akan sangat berpengaruh atas tingkah lakunya.
Selama ini memang belum pernah ada orang yang b erani dan dapat
mengalahkannya. Kekalahan pemburu itu akan membuka mata orang banyak
dan mata pemburu itu, bahwa ternyata ada orang lain, justru anak
yang masih t erlalu muda, memiliki kemampuan lebih dari
kemampuannya. " Mahisa Murti dan saudara-saudaranya hanya ter senyum
sa ja. Ketika kemudian m ereka selesai m inum dan makan, m aka
pemilik kedai itu semula menolak untuk menerima uang pembayarannya.
Namun Mahisa Murtipun berkata "Ki Sanak, jangan kecewakan kami. Jika
Ki Sanak menolak, maka itu berarti hubungan kita akan terputus hari
ini. Kami tentu tidak akan pernah datang lagi kekedai ini m eskipun
kami pergi ke pasar." Pemilik kedai itu akhirnya terpaksa menerima
uang untuk membayar m akanan dan m inuman yang telah diminum
dan dimakan oleh Mahisa Murti dan saudara-saudaranya. "Kami selalu
mengharap kalian datang" berkata pemilik kedai itu "seandainya
kalian tidak lagi ke pasar, pergi sealah ke kedai ini. Kami akan
menerima kalian dengan senang hati. Tentu orang-orang di sekitar
pasar itupun akan merasa senang pula." "Terima kasih " sahut Mahisa
Pukat "kami akan selalu singgah jika kami pergi ke pasar atau lewat
jalan ini." "Jangan menunggu kalau kalian pergi ke pasar atau sedang
lewat jalan ini. Kalian dapat secara khusus pergi kemari " berkata
pemilik kedai itu. Mahisa Pukat tertawa. Demikian pula Mahisa Murti.
Namun m erekapun kemudian telah m inta diri m eninggalkan kedaiitu.
Ternyata yang terjadi merupakan satu pengalaman yang menarik.
Menarik bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, tetapi lebih menarik
bagi Mahisa Amping dan Mahisa Semu. Dengan pengalaman itu maka
Mahisa Semu sempat menjajagi kemampuannya. Sementara Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat dapat menilai, sejauh mana Mahisa Semu meny erap
ilmu yang diberikan kepadanya. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
juga sempat melihat, apa yang dapat dilakukan oleh Mahisa Amping. Di
perjalanan pulang Mahisa Amping sempat bertanya kepada Mahisa Pukat
"Kakang, apakah dikota ini anak-anak boleh mengambil m ilik orang
lain dengan kekerasan a sal ia menang berkelahi sehingga dengan
demikian maka seorang yang lemah tidak akan mempunyai kesempatan
untuk bermain apapun juga?" "Tidak Amping " jawab Mahisa Pukat "di
kota inipun seseorang yang lemah berhak m endapat perlindungan.
Tetapi kadang-kadang tingkah laku seseorang lepa s dari pengamatan
para petugas yang berkewajiban untuk menjaga ketertiban termasuk
melindungi mereka yang lemah dari perbuatan sewenang-wenang. "
"Tetapi agaknya anak itu sudah berbuat seperti itu untuk waktu yang
lama" berkata Mahisa Amping. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam.
Ternyata penglihatan Mahisa Amping yang masih remaja itu cukup
tajam. Dengan nada rendah Mahisa Pukat menjawab "Agaknya ia
mempunyai pengaruh yang kuat atas lingkungannya, sehingga
tidak seorangpun yang berani melaporkannya kepada para
petugas." "Justru satu peluang yang baik bagi orang-orang
seperti pemburu itu. Tetapi bagaimana dengan bebahu itu? Agaknya ia
justru berpihak kepada pemburu dengan segala Wewenangwenangannya "
berkata Mahisa Amping pula. "Itulah yang dapat terjadi" jawab
Mahisa Pukat "bukankah kau ingin mengatakan bahwa bebahu termasuk
seorang petugas yang seharusnya melindungi orang yang lemah?"
"Ya " jawab Mahisa Amping "seandainya aku tidak m ampu
mempertahankan milikku dan harga diriku, m aka bebahu itu harus
melindungi aku." "Ada beberapa sebab" jawab Mahisa Pukat "mungkin
bebahu itu takut terhadap pemburu yang nampaknya memiliki kekuatan
yang besar dan bahkan kemampuan yang cukup." Mahisa Amping
termangu-mangu. Ia menunggu kelanjutan jawaban Mahisa Pukat. Tetapi
Mahisa Pukat tidak segera berkata apapun lagi. Karena itu, maka
Mahisa Ampingpun bertanya "Apakah kakang sudah selesai berbicara?
Kakang menyebutkan ada beberapa sebab. Tetapi kakang baru mengatakan
satu saja." Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
iapun berkata "Memang ada sebab yang lain, Amping."
“Misalnya?" termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata
meskipun agak ragu "Jika saja bebahu itu sudah berhutang budi kepada
pemburu itu." "Hutang budi? Maksud kakang?" desak Mahisa Amping.
Mahisa Pukat memang tidak akan dapat mengelak lagi. Mahisa Amping
tentu akan selalu m engejarnya sampai ia memberikan jawaban
yang memuaskan kepadanya. Sementara itu Mahisa Murti hanya
tersenyum saja. "Mahisa Amping" berkata Mahisa Pukat "memang mungkin
bebahu itu berhutang budi kepada pemburu itu. Misalnya, pemburu itu
sudah pernah menolong bebahu itu. Atau pernah memberikan sesuatu
yang berarti kepada bebahu itu. Namun tiba-tiba saja Mahisa
Amping menyahut "Menyuap, begitu maksud kakang?" Mahisa Pukat m
enarik nafas panjang. Tetapi ia m enjawab "Tidak selalu. Menyuap
adalah pemberian dengan tujuan tertentu dalam per soalan tertentu.
Tetapi mungkin pemburu itu pernah memberikan sesuatu tanpa bermaksud
mempengaruhi bebahu itu dalam satu persoalan tertentu.” "Tetapi jika
dengan pemberian-pemberian itu maka bebahu itu tidak lagi melakukan
tugasnya dengan wajar, maka itupun dapat diartikan suapan." Mahisa
Pukat termangu -mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Sudahlah.
Kita sudah hampir sampai direg ol samping halaman istana. " Mahisa
Amping tidak bertanya lagi. Tetapi iapun kemudian beralan paling
depan. Mahisa Semu memang tidak berkata sesuatu. Tetapi ia
mendengarkan dan ikut memperhatikan pembicaraan tentang bebahu itu.
Sebenarnyalah ia sependapat dengan Mahisa Amping. Bahwa bebahu itu
ternyata tidak lagi melakukan tugasnya dengan wajar. Demikianlah,
maka sejenak kemudian mereka telah sampai keistana. Mereka langsung
menuju kebagian belakang. Mahendra yang ada dirumah menyambut mereka
di tangga pendapa rumah yang disediakan baginya. Sambil tersenyum ia
bertanya kepada Mahisa Amping "Apa yang telah kau lihat?"
Mahisa Amping memandang Mahisa Pukat dengan ragu Namun Mahisa
Murtilah yang menjawab "Kami m elihat-lihat pasar ayah." "O"
Mahendra mengangguk-angguk. Katanya "Marilah naik." diatas tikar
pandan yang sudah terbentang. Angin terasa semilir bertiup melintasi
pendapat kecil itu. Ketika kemudian Mahendra duduk pula diantara
anakanaknya maka Mahisa Ampingpun segera berceritera tentang
peristiwa yang terjadi di sebuah pa sar itu. "O" Mahendra
mengangguk-angguk. Dengan nada tinggi ia bertanya "jadi kau baru
saja berkelahi?” "Ya. Dan kakang Mahisa Semu juga" jawab Mahisa
Amping. Mahendra mengangguk-angguk. Dari ceritera Mahisa Amping,
Mahendra m endapat kesan, bahwa Mahisa Amping menganggap orang orang
di Kotanya itu bertingkah laku buruk sebagaimana orang-orang
yang diceriterakan itu. "Amping" berkata Mahendra sambil ter
senyum "tidak semua orang di Kotaraja ini berkelakuan buruk." "Tentu
" jawab Mahisa Amping "tetapi aku kira kebanyakan mereka berkelakuan
aneh menurut pendapat ku. Mereka terlalu mementingkan diri sendiri.
Anak pemburu itu tentu tidak hanya sendiri. Tentu banyak anak di
Kotaraja ini yang berwatak seperti anak itu. Mereka sama sekali
tidak menghargai orang lain." Mahendra tertawa. Katanya "Nanti atau
besok atau kapan soja sebelum kau kembali ke padepokan, kau tentu
akan melihat bahwa tidak banyak anak yang nakal seperti itu.
Meskipun kehidupan di Kotaraja ini membentuk lingkungan yangberbeda
dengan kehidupan di padepokan sebagaimana kehidupan di padepokan
tidak sama dengan kehidupan & padukuhan-padukuhan, tetapi di
Kotaraa mi masih banyak juga orang yang baik, orang yang
menghargai orang lain dan bahkan selalu menolong orang lain
yang dalam kesulitan." Mahisa Amping mengerutkan dahinya.
Namun Mahendrapun kemudian berkata selanjutnya "Tetapi karena di
Kotaraja ini diwarnai dengan kehidupan yang sibuk, maka
kadang-kadang seseorang tidak banyak mempunyai kesempatan untuk
memperhatikan orang lain. Namun bukan pada dasarnya orang itu
terlalu mementingkan diri sendiri” Mahisa Amping tidak m enjawab. Ia
tidak begitu m engerti arti dari keterangan Mahendra. Namun serba
sedikit ia dapat merasakannya, sehingga karena itu, maka ia justru
mencoba Hari itu, selagi Mahisa Pukat masih belum bertugas di Ka
satrian maka disore hari ia mengajak Mahisa Murti, Mahisa Semu dan
Mahisa Amping untuk berjalan-jalan lagi. Mereka menelusuri
jalan-jalan di Kotaraja yang ramai. Namun mereka tidak singgah dan
tidak pula mengunjungi siapapun. Di hari berikutnya, maka Mahisa
Pukat sudah harus bertugas lagi di Kasatrian. Karena itu, maka ia
harus meninggalkan Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping.
Tetapi karena Mahisa Murti juga sudah mengenali Kotaraja itu dengan
baik, maka tanpa Mahisa Pukat ia dapat mengajak Mahisa Semu dan
Mahisa Amping melihat-lihat keadaan Kotaraja yang belum dilihat
sebelumnya. "Jika saatnya kalian kembali ke padepokan, aku harap kau
memberitahukan kepadaku di kasatrian" berkata Mahisa Pukat kepada
Mahisa Murti. Mahisa Murtipun mengangguk sambil menjawab "Baiklah.
Aku kira aku tidak dapat terlalu lama di Kotaraja. Dua atau tiga
hari lagi aku akan m inta diri. Tetapi akupun ingin minta diri pula
kepada Pangeran Kuda Pratama. " "Pangeran Kuda Pratama tentu akan
merasa sangat senang jika kalian singgah sebelum kalian m
eninggalkan Kotaraja." berkata Mahisa Pukat
kemudian.
Jilid 111 SETELAH minta diri pula
kepada ayahnya, maka Mahisa Pukatpun telah meinggalkan rumah itu
untuk pergi ke Ka satrian karena ia harus sudah mulai lagi dengan
tugasnya di Ka satrian. Di Kasatrian ia kemudian akan bekerja sama
dengan mPu Sidikara yang menggantikan kedudukan saudara
seperguruannya mPu kamenjangan. Ketika kemudian Mahisa Pukat kembali
berhadapan dengan bangsawan-bangsawan muda di Ka satrian, maka iapun
teringat kepada Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Seorang anak muda
yang tangkas dan cerdas. Meskipun Mahisa Semu dan Mahisa
Amping adalah anak-anak yang diketemukannya diperjalanan, namun
ternyata mereka dapat menjadi tumpuan harapan masa depan. Mahisa
Pukatpun teringat, bagaimana ia bersama Mahisa Murti mengembara
untuk menemukan satu dua orang yang pantas untuk mewarisi dan
kemudian m engembangkan ilmu mereka, sehingga diperjalanan mereka
menemukan Mahisa Semu, Mahisa Amping dan Wantilan yang justru sudah
lebih tua daripadanya. "Sekarang aku berada diantara anak-anak muda
dan remaja yang memiliki kesempatan t erbaik di Singasari" berkata
Mahisa Pukat kepada diri sendiri. Tetapi Mahisa Pukat belum dapat m
emutuskan apakah ia akan menunjuk satu dua orang yang akan dicarinya
secara khusus atau tidak. Namun setiap kali ia melihat dua orang
bangsawan yang masih remaja yang sejak pertama menjadi
asuhannya, m aka keinginan itu selalu m enggelitiknya, karena kedua
orang remaja itu menurut pendapat Mahisa Pukat memiliki landasan
pribadi dan kewadagan yang memungkinkan. Meskipun demikian, Mahisa
Pukat masih belum dapat menentukan apakah ia akan melakukannya atau
tidak. Dalam pada itu, setelah Mahisa Pukat kembali ke Kasatrian,
maka Mahisa Murti sendirilah yang mengajak Mahisa Semu dan Mahisa
Amping berjalan-jalan dihari berikutnya. Mereka melihat bagian
Kotaraja yang belum mereka lihat sebelumnya. Adalah diluar kehendak
Mahisa Murti ketika tiba-tiba saja ia bertemu dengan Sasi yang
sedang pergi berbelanja ke pasar. Kedua-duanya memang terkejut.
Dengan serta-merta Sasi yang ada diseberang jalan berlari -lari
mendekati Mahisa Murti sambil menyapanya "Kakang Mahisa Murti. Kapan
kau datang?” Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia
melihat wajah gadis itu, m aka jantungnya menjadi berdebardebar.
Bagaimanapun juga wajah gadis itu pernah terukir didinding
jantungnya. Hanya dengan kekuatan yang luar biasa, maka Mahisa
Murti mampu mengendalikan dirinya. Dengan denyut nadi yang
bertambah cepat Mahisa Murtipun kemudian menjawab "Aku datang tiga
hari yang lalu, Sasi.” "Kenapa kau tidak singgah?" desak Sasi. "Aku
masih belum akan segera kembali ke padepokan Sasi. Besok atau lusa
aku akan singgah. Aku sedang menunggu kesempatan Mahisa Pukat dapat
meninggalkan tugasnya barang sebentar. " “Kauberjanji?” bertanya
Sasi. Mahisa Murti mengangguk. Katanya "Ya. Aku berjanji, Sasi”.
"Aku juga menunggu kakang Mahisa Pukat yang sudah beberapa lama
tidak berkunjung ke rumah. Datanglah kalian berdua." minta Sasi.
"Ya, ya, Sasi. Aku akan singgah sebelum aku meninggalkan Kotaraja. "
jawab Mahisa Murti. Sasi tersenyum. Kecantikan seakan-akan mekar
bersama senyumnya yang jernih. Dipandanginya Mahisa Semu dan
Mahisa Amping berganti-ganti. "Siapakah mereka ?" bertanya Sasi.
"Keduanya adalah adikku " jawab Mahisa Murti. "O. Jadi juga adik
kakang Mahisa Pukat?" bertanya Sasi. "Ya " jawab Mahisa Murti. "Ajak
mereka datang ke rumah" berkata Sasi yang kemudian m endekati
Mahisa Amping. Sambil m enepuk bahu anak itu, Sasi berkata "Ikut
bersama kakak-kakakmu. Kalian harus berkunjung ke rumahku ". Mahisa
Amping tersenyum. Tetapi kepalanya justru menunduk. “Kau dari mana
Sasi?" bertanya mahisa Murti kemudian. “Belanja. Ibu tidak dapat
pergi berbelanja. Akulah jadinya yang pergi," jawab Sasi. Namun
kemudian katanya "Baiklah. Aku pulang dahulu. Ibu m enunggu aku.
Tetapi kau dan adikadikmu benar-benar harus singgah di rumahku”.
"Baik, baik, Sasi." jawab Mahisa Murti. Sejenak kemudian, maka
Sasipun melanjutkan langkahnya Sekali ia berpaling sambil tersenyum.
Dilambaikannya tangannya kepada Mahisa Semu dan Mahisa Amping.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin
mengendapkan hatinya yang bergejolak. Namun kemudian Mahisa Murti
berhasil menemukan kesadarannya kembali. Ia sudah bertekad untuk
melupakan Sasi. Bahkan Mahisa Murti tidak ingin bertemu dengan gadis
itu lagi. Tetapi tiba -tiba saja ia telah berhadapan lagi dengan
Sasi. Namun justru karena itu, Mahisa Murtipun telah berusaha untuk
tetap teguh pada sikapnya, karena j ika tidak demikian, maka
akibatnya akan menjadi sangat buruk baginya dan bagi Mahisa Pukat.
Ketika mereka kemudian meninggalkan tempat itu, Mahisa Amping sempat
bertanya "Siapakah orang itu?” MaHisa Murti mencoba untuk tersenyum.
Kemudian jawabnya "Orang itu adalah kawan kakakmu Mahisa Pukat.
"Tentu juga kawan kakang Mahisa Murti" sahut Mahisa Semu. Mahisa
Murti mengangguk kecil sambil menjawab pendek "Ya.” Kedua adik
Mahisa Murti itu tidak bertanya lagi. Mereka pengikut saja Mahisa
Murti yang berjalan menelusuri jalanjalan di Kotaraja. "Bukankah
jalan ini menuju ke pasar?" bertanya Mahisa Amping tiba-tiba
"kemarin kita juga berjalan lewat jalan ini.” "O" Mahisa Murti baru
tersadar dari lamunannya. Dengan serta merta ia m enjawab "Ya.
Tetapi kita tidak akan pergi ke pasar. Kita akan berbelok di simpang
tiga itu.” "Apa salahnya kita lewat jalan di depan pasar itu?"
bertanya Mahisa Amping. Mahisa Murti mengerutkan dahinya. Namun
Mahisa Semulah yang tersenyum sambil menjawab "Kau akan
singgah di kedai itu lagi?" “Tidak. Aku tidak haus dan tidak lapar”.
Mahisa Murtipun tersenyum pula. Tetapi ia menggeleng. Katanya
"tidak. Aku tidak haus dan tidak lapar”. Mahisa Murtipun tersenyum.
Katanya "Kita akan singgah di kedai yang lain. Jika pemburu
itu ada disitu pula, maka kita akan dapat terganggu lagi”. "Kita
justru menunjukkan bahwa kita tidak takut terganggu. Bahkan apapun
yang akan mereka lakukan." sahut Mahisa Amping. Tetapi Mahisa
Murti menggeleng sambil berdesis "Jangan Amping. Kita tidak dapat
berbuat seperti itu. Seakan-akan kita sengaja memancing persoalan.
Meskipun kita berdiri dipihak yang benar, tetapi jika saja per
soalan yang dapat menimbulkan per selisihan itu dapat
dihindari, maka sebaiknya kita menghindar. Tentu sajajika tidak
harus mengorbankan keyakinan dan harga diri. Karena apapun
alasannya, perselisihan bukan satu peri stiwa yang patut
dibanggakan”. "Musuh tidak dicari. Tetapi jika bertemu?” "Karena
itu, lebih baik tidak bertemu bukan?" bertanya Mahisa Murti. Mahisa
Am ping mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil
berdesis "Ya. Memang lebih baik tidak bertemu.” Mahisa Semupun
tersenyum. Tetapi ia tidak berkata apaapa. Demikianlah, maka
merekapun telah mengambil jalan yang lain, sehingga mereka
memang tidak menuju ke pasar. Tetapi mereka memang tidak t erlalu
lama berputar-putar di Kotaraja. Mereka sempat singgah disebuah
kedai untuk sekedar minum dan makan beberapa jeni s makanan
yang sulit dicari di padepokan. Kemudian merekapun telah
meninggalkan kedai itu dan pulang kerumah Mahendra dibagian belakang
istana Singasari. Ketika kemudian Mahisa Semu dan Mahisa Amping
beristirahat dibawah sebatang pohon sawo kecil disaat udara terasa
panas, m aka Mahisa Murtipun duduk pula bersandar batangnya
yang sudah cukup besar. Angin bertiup lembut mengusap wajahnya
yang sedang merenung. Sementara Mahisa Semu dan Mahisa Amping
bermain macanan dengan daun sawo kecik dan kerikil, maka Mahisa
Murti telah merenungi dirinya sendiri. Ju stru karena ia telah
bertemu dengan Sasi, maka seandainya ia tidak singgah, maka
rasa-rasanya kurang mapan. Sasi akan dapat berprasangka kurang baik
tentang dirinya. Mungkin Sasi m enganggapnya sombong, atau marah
atau perasaan lain yang sekedar diduga-duganya saja. Tetapi
seandainya ia minta Mahisa Pukat untuk mengantarnya singgah, m
ungkin Mahisa Pukat juga dapat menangkap lain tentang ajakannya itu.
Atau mungkin dan mungkin telah membuatnya menjadi gelisah. Untuk
datang sendiri hanya dengan Mahisa Semu dan Mahisa Amping tanpa
mengajak Mahisa Pukat rasa-rasanya juga kurang pantas baginya.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun bangkit
b erdiri melangkah k e tangga rumah ay ahnya sambil berkata "Aku
akan minum dahulu. Aku merasa sangat haus”. Mahisa Semu dan Mahisa
Amping mengangguk saja. Mereka masih bermain macanan. Tetapi
demikian Mahisa Murti naik tangga rumah Mahendra, Mahisa Semupun
berdesis "Kakang Mahisa Murti nampak menjadi gelisah”. Mahisa Amping
mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi ia bertanya "Kenapa?”
"Darimana aku tahu?" Mahisa Semu justru bertanya. "Kenapa kau justru
bertanya? Bukankah kau yang mengatakannya bahwa kakang Mahisa
Murti nampak gelisah”. "Memang akulah yang mengatakannya bahwa
kakang" Mahisa Murti gelisah. Tetapi aku tidak tahu kenapa kakang
Mahisa Murti itu menjadi gelisah," jawab Mahisa Semu. Mahisa Amping
mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia berkata "Ya. Kakang Mahisa
Murti menjadi gelisah. Tetapi kita tidak tahu kenapa kakang menjadi
gelisah”. Keduanyapun terdiam. Namun keduanya justru kembali
memusatkan perhatian mereka kepada permainan mereka. Macanan.
Sementara itu Mahisa Murti yang gelisah m encoba untuk mengisi
waktunya dengan m embaca kitab yang dipinjamnya dari ayahnya.
Mahendra m emang mempunyai beberapa kitab yang berisi kidung
yang menarik selain kitab tentang berbagai macam pengetahuan.
Mahisa Murti m emang sempat melupakan kegelisahannya. Tetapi ketika
ia menutup kitabnya dan melangkah turun ke halaman, ia menjadi
gelisah lagi. Mahisa Murti tidak m elihat lagi Mahisa Semu dan
Mahisa Amping dibawah pohon sawo keok. Namun ketika Mahisa Murti
pergi ke pakiwan, dilihatnya Mahisa Semu sedang menimba air,
sementara Mahisa Amping sedang mandi. "Kita akan pergi menemui
kakangmu Mahisa Pukat” berkata Mahisa Murti. "Dimana?" bertanya
keduanya hampir berbareng meskipun Mahisa Semu ada dipinggir perigi,
sedangkan Mahisa Amping ada didalam pakiwan sedang mandi. "Sore ini"
jawab Mahisa Murti. 12 "Apakah kita akan pergi ke Kasatrian?"
bertanya Mahisa Semu. "Ya. Kita akan pergi ke Kasatrian" jawab
Mahisa Murti. Mahisa Amping yang sedang mandi itupun segera
menyelesaikannya. Ketika kemudian Mahisa Semu m asuk ke pakiwan,
maka Mahisa Ampinglah yang ganti menimba air untuk mengisi
jambangan. Sore itu setelah Mahisa Murti mandi dan berbenah diri
maka merekapun minta diri kepada Mahendra untuk pergi ke Ka satrian
menemui Mahisa Pukat. "Mudah-mudahan ia mempunyai waktu" desis
Mahisa Murti. "Tentu " jawab Mahendra "jika para bangsawan muda itu
sedang mempelajari ilmu pengetahuan dan kesusasteraan, maka Mahisa
Pukat m empunyai waktu luang. Tetapi kadangkadang ia m elakukan
tugasny a sebagai Pemimpin Kelompok Pelay an Dalam”. Mahisa Murti
mengangguk-angguk. Katanya "Sebaiknya aku melihatnya ke Kasatrian.
Bukankah aku tidak dianggap menganggu oleh Pangeran Kuda Pratama.”
"Tidak. Kecuali jika kau berada di Kasatrian setiap saat." jawab
Mahendra. Kemudian bersama Mahisa Semu dan Mahisa Ampmg mereka telah
pergi ke Kasatrian untuk menemui Mahisa Pukat. Ternyata bahwa mereka
telah diterima baik oleh para Pelay an Dalam yang bertugas karena
sebagian dari mereka sudah mengetahui, bahwa Mahisa Murti adalah
saudara kandung Mahisa Pukat, salah seorang pemimpin kelompok Pelay
an Dalam di Kasatrian itu. Apalagi merekapun mengetahui bahwa Mahisa
Murtipun pernah diterima dengan baik pula oleh Pangeran Kuda Pratama
sendiri. Mahisa Pukatpun kemudian telah keluar dari sanggar untuk
menemui mereka. "Apakah kau sedang sibuk?" bertanya Mahisa Murti.
Mahisa Pukat tersenyum. Katanya "Bukankah memang sudah pekerjaanku?
Aku sedang berada disanggar dengan beberapa orang bangsawan muda.
Mereka sedang berlatih". "Apakah mereka kau tinggalkan tanpa
pembimbing?" bertanya Mahisa Murti. "Aku justru ingin mengajak kau
serta Semu dan Amping untuk melihat-lihat sanggar di Kasatrian ini."
berkata Mahisa Pukat kemudian. "Menarik sekali" tiba -tibaMahisa
Amping menyahut "aku ingin melihat sanggar itu". "Marilah " ajak
mahisa Pukat. Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping itupun
kemudian telah diajak Mahisa Pukat kedalam sanggar di Ka satrian.
Demikian mereka masuk, maka Mahisa Amping dan Mahisa Semupun menjadi
terheran -heran. Bahkan Mahisa Murtipun menjadi kagum pula. Sanggar
itu adalah sebuah bangunan yang cukup besar dengan kelengkapan yang
sangat m emadai. Semua peralatan latihan disediakan secukupnya.
Hampir segala jenis senjata tersedia. Tidak hanya satu dua, tetapi
beberapa untuk setiap jenis. Di salah satu bagian dari sanggar itu
terdapat alat-alat untuk membentuk dan menguasai tubuh. Mahisa Semu
dan Mahisa Pukat berdiri termangu-mangu memandangi ruang yang sangat
luas dengan peralatan yang sebagian belum pernah dilihatnya. Didalam
sanggar itu terdapat beberapa orang bangsawan muda yang sedang
berlatih. Mereka adalah sebagian kecil dari anak-anak muda di
Kasatrian yang sedang mempelajari salah satu unsur khusus dari
ilmu yang diberikan oleh Mahisa Pukat. Mahisa Pukat sedang menuntun
anak-anak muda itu mempergunakan salah satu bagian tubuhnya
yang penting. Bahkan jika benar -benar dikuasainya, tidak
kalah berbahayanya dari ujung-ujung senjata yang sangat runcing
sekalipun. Kepada anak-anak muda itu Mahisa Pukat sedang memahami
watak dan sifat jari. Kelima jari tangan dan jarijari kaki. Mahisa
Semu dan Mahisa Amping yang m elihat alat-alat khusus yang
berhubungan deng;a jari itupun menganggukangguk diluar sadarnya.
Meskipun mereka sudah mendapat tuntunan dan penjelasan serupa,
tetapi mereka tidak memiliki alat-alat sebagaimana tersedia di
banjar itu. "Duduklah" Mahisa Pukat mempersilahkan saudarasaudaranya
itu untuk duduk disebuah dingklik kayu panjang disebelah pintu
yang tertutup. Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Ampingpun
duduk didingklik panjang itu. Sementara itu Mahisa Pukatpun berkata
"Aku akan melanjutkan latihan anak-anak muda itu". Mahisa Murti
mengangguk sambil terseny um. Katanya "Satu pengalaman yang
baik bagi Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Kesempatan menyaksikan
latihan-latihan di sanggar ini akan memberikan
kemungkinan-kemungkinan baru bagi mereka ". Sementara itu
bangsawan-bangsawan m uda yang melihat kehadiran ketiga orang
itu termangu-mangu pula. Mahisa Pukatlah yang kemudian
memperkenalkan mereka kepada para bangsawan muda itu. Bangsawan yang
sebay a dengan Mahisa Semu. Sedangkan dua diantara mereka sebaya
dengan Mahisa Amping. "Mereka adalah saudara-saudaraku " berkata
Mahisa Pukat kepada para bangsawan muda itu "biarlah mereka mendapat
kesempatan menyaksikan kalian berlatih di sanggar ini. Sanggar yang
terlalu lengkap bagi saudara-saudaraku itu". Bangsawan-bangsawan
muda itu memang m emperhatikan orang-orang yang disebut
saudara-saudara Mahisa Pukat itu. Kedua orang remaja diantara mereka
sempat mengangguk dan tersenyum ketika mereka saling memandang
dengan Mahisa Amping. Sedang Mahisa Ampingpun dengan tergesa -gesa
mengangguk hormat pula. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Mahisa
Pukat telah membawa para bangsawan muda itu untuk mulai berlatih.
Mereka mempergunakan beberapa peralatan yang ada disanggar
itu, sehingga latihan-latihan itu berjalan dengan sangat baik dimata
Mahisa Semu dan Mahisa Am ping. Bahkan kemudian, anak-anak muda itu
telah melakukan latihan-latihan bersama untuk mengetrapkan kemampuan
mereka menguasai beberapa macam unsur gerak yang telah mereka
kuasai. Sekali-sekali Mahisa Semu dan Mahisa Amping sempat berdecak
kagum. Sekali-sekali mereka mengangguk-angguk. Bahkan diluar
sadarnya kadang-kadang Mahisa Amping telah bangkit berdiri. Mahisa
Murti sengaja m embiarkannya. Namun kemudian Mahisa Ampingpun telah
duduk kembali dengan sendirinya pula sebagaimana ia berdiri. Mahisa
Semulah yang kemudian bertanya ketika Mahisa Amping bangkit berdiri
"Kau mau apa?” Mahisa Amping berpaling. Namun kemudian iapun
tersenyum sambil duduk. Katanya "Jika saja di padepokan ada sanggar
seperti ini". "Jika ada sanggar seperti ini, kau mau apa?" bertanya
Mahisa Semu kemudian. Mahisa Amping mengerutkan dahinya. Tetapi ia
justru ganti bertanya "Apakah kau tidak ingin memiliki sanggar
seperti ini di padepokan? Mahisa Semu menarik nafas dalam-dalam.
Karena ia sudah lebih besar dari Mahisa Amping, maka Mahisa Semu
dapat berpikir lebih panjang dan melihat kenyataan yang dihadapinya
sehari-hari. Karena itu, maka Mahisa Semu itupun berkata "Kau tidak
u sah bermimpi selagi kau tidak tidur Amping”. "Apakah aku
bermimpi?" bertanya Mahisa Amping. "Ya. Bermimpi tentang sebuah
banjar sebesar, seluas dan selengkap ini di Padepokan Bajra Seta."
jawab Mahisa Semu. Mahisa Amping menarik nafas dalam-dalam. Namun
iapun menjadi diam. Ia tidak lagi setiap kali bangkit berdiri dengan
wajah yang berseri-seri melihat latihan-latihan yang
mendebarkan dari para bangsawan muda itu. Sementara itu,
latihan-latihan itu terus berlangsung. Anakanak muda itu berlatih
dengan ber sungguh-sungguh. Namun akhirnya, Mahisa Pukat mengakhiri
latihan-latihan itu. Kemudian ia mempersilahkan bangsawan-bangsawan
muda itu untuk beristirahat sejenak, untuk kemudian mandi dan
berbenah diri. Di malam hari mereka masih harus belajar ilmu
pengetahuan yang lain dari guru yang lain pula. Ketika para
bangsawan itu sudah m eninggalkan ruapgan, maka Mahisa Pukat memberi
kesempatan kepada Mahisa Semu dan Mahisa Amping untuk mencoba
peralatan yang ada di barak itu. Ternyata keduanya melakukan dengan
senang hati. Apalagi Mahisa Amping. Mereka telah melihat dan mencoba
bermacam-macam alat yang ada di sanggar itu. Bahkan merekapun
mencoba pula menggenggam berbagai macam senjata di tangan. Sementara
Mahisa Semu dan Mahisa Amping melihat-lihat, maka Mahisa Murti
yang duduk di amben panjang dipinggir sanggar itu berkata
seakan-akan begitu saja meluncur dari bibirnya tanpa dibebani
perasaan apapun "Mahisa Pukat, aku tadi bertemu dengan Sasi”. "Sasi?
Dimana?" bertanya Mahisa Pukat. “Aku sedang berjalan-jalan dengan
Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Di jalan yang menuju ke pasar
kami bertemu dengan Sasi yang agaknya baru pulang dari pasar.
Katanya, ibunya tidak dapat berbelanja. Karena itu, maka Sasilah
yang pergi ke pasar untuk berbelanja”. "O, sudah beberapa waktu aku
tidak mengunjunginya." desis Mahisa Pukat. "Sasi minta aku singgah.
Tetapi hari sudah agak siang. Sasi tentu akan sibuk didapur”. Mahisa
Pukat menganggukangguk. Katanya "Sasi memang senang berada di dapur.
Ibunya memang mengajarinya seperti itu”. "Bukankah itu bagus?" desis
Mahisa Murti. Mahisa Pukat menganggukangguk kecil. Sementara itu
Mahisa Murtipun berkata selanjutnya "Kapan kau akan berkunjung? Aku
akan ikut bersamamu. Ra sanya tidak enak untuk tidak singgah barang
sejenak, justru setelah aku bertemu dengan gadis itu di jalan.
Dengan demikian ia mengetahui bahwa aku ada di sini". Mahisa Pukat m
engangguk-angguk. Nampaknya ia sedang memperhitungkan kesempatan
untuk dapat mengunjungi Sasi. "Baiklah" berkata Mahisa Pukat "besok
kita akan pergi ke rumah Sasi”. Mahisa Murti mengangguk-angguk.
Katanya "Jika demikian, aku besok tidak membawa Mahisa Semu dan
Mahisa Amping keluar. Bukankah maksudmu besok sore?” "Ya. Besok sore
aku akan berusaha untuk dapat meninggalkan tugasku barang sebentar”.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Itulah sebenarnya kepentingannya
datang mengunjungi Mahisa Pukat. Namun sementara ia m enyampaikan
maksudnya, maka Mahisa Semu dan Mahisa Amping sempat melihat sebuah
sanggar milik istana Singasari yang disediakan bagi para
bangsawan muda. Tetapi sanggar itu bukan satu-satunya sanggar.
Mahisa Pukat menceritakan bahwa masih ada lagi satu sanggar di Ka
satrian. Lebih besar, lebih luas dan lebih lengkap dari sanggar itu.
Sanggar yang diperuntukkan bagi para bangsawan yang sudah dewasa
penuh. Bahkan mereka yang sudah berkeluargapun masih juga
mempergunakan sanggar itu. Mahisa Semu dan mahisa Pukat sebenarnya
ingin juga melihat sanggar itu. Tetapi Mahisa Pukat berkata "Aku
tidak bertugas di Ka satrian disisi kanan. Ka satrian bagi para
bangsawan yang sudah dewasa penuh yang berada di bawah
bimbingan guru yang lain. Meskipun mereka masih juga berada di
Kasatrian, tetapi seakan-akan terdapat batas diantara kedua Ka
satrian itu.” Mahisa Semu dan Mahisa Pukat memang agak menjadi
kecewa. Tetapi bahwa m ereka mendapat kesempatan melihat sanggar di
Kasatrian itu, sudah merupakan satu kesempatan yang sangat berharga.
Demikianlah setelah beberapa saat lamanya mereka berada di
Kasatrian, maka Mahisa Murtipun segera minta diri. Di luar langit
telah menjadi semakin suram, sementara lampu di sanggar pun telah
dinyalakan oleh para pelay an. Diperjalanan pulang, Mahisa Am ping
tidak putus-putusnya bercerita tentang sanggar yang sangat lengkap
itu. Bahkan katanya kemudian "Sepekan aku disini, maka ilmuku tentu
sudah meningkat”. "Sepekan disini ilmumu akan meningkat meskipun kau
tidak diperkenankan masuk ke sanggar itu?" bertanya Mahisa Semu.
Mahisa Amping mengerutkan dahinya. Tetapi iapun kemudian terdiam.
Tetapi dikepalanya, sanggar itu masih saja tetap membayanginya.
Sebenarnya Mahisa Semu juga masih membayangkan sanggar yang
sangat lengkap itu. Tetapi ia sudah dapat memutar penalarannya,
bahwa sanggar itu hanya dapat dilihatnya saja. Ia tidak akan mungkin
dapat mempergunakan kelengkapan sanggar di Kasatrian itu. Ketika
mereka kemudian sampai dirumah Mahendra, maka mereka bertigapun
sempat berbincang-bincang tentang sanggar itu. Bahkan Mahendra ikut
pula berbicara bersama mereka. Demikian Mahisa Amping m
enceriterakan kekagumannya mengenai sanggar itu, Mahendrapun
kemudian bertanya "Apakah sebenarnya yang kau kagumi? Tentu
karena jenis peralatannya yang bagus, baru dan jumlahnya cukup
banyak”. "Nah" berkata Mahendra pula "kemudian kau harus menilai
kegunaannya. Apakah untuk berlatih dan memahami salah satu unsur
gerak harus dipergunakan peralatan yang bagus buatannya, mahal
harganya dan dalam jumlah yang banyak? Bukankah palang kayu di
sanggar Kasatrian itu gunanya tidak lebih daripada palang bambu
wulung yang ada disanggarmu? Bahkan palang bambu disanggarmu itu
mempunyai kelebihan. Bambu wulung itu lebih lentur dari kayu yang
dipergunakan di sanggar Kasatrian. Dengan demikian maka untuk
melatih keseimbangan, palang bambumu tentu lebih baik. Tetapi sudah
tentu ujudnya palang bambu wulungmu tidak sebaik palang kayu itu.
Juga bandul tarik disanggarmu yang tidak lebih dari batu-batu
hitam yang diikat dengan tambang. Sementara di Kasatrian itu
dipergunakan bandul-bandul besi yang terikat dengan rantai. Tetapi
tambang ijuk itu akan memberikan kekuatan tersendiri pada kulit
telapak tanganmu”. Mahisa Amping mendengarkan keterangan Mahendra
itu dengan bersungguh-sungguh. Demikian pula Mahisa Semu. Ternyata
keduanya memahami keterangan itu. Betapapun jauh perbedaan yang
nampak antara Sanggar di Padepokan Bajra Seta dan sanggar di
Kasatrian itu, namun kegunaannya tentu tidak akan terlalu jauh
berbeda. Dalam pada itu Mahendra masih memberikan beberapa contoh
dan petunjuk, sehingga akhirnya Mahisa Semu dan Mahisa Amping tidak
perlu merasa bahwa sanggarnya jauh lebih buruk dari sanggar
yang ada di kasatrian. "Apa yang dapat dilakukan di Ka
satrian itu dapat pula dilakukan di sanggar kalian di Padepokan.
Yang tidak ada disanggar kalian, dapat kalian ketemukan di alam
terbuka. Di lereng -lereng bukit dan di hutan-hutan perdu atau pada
saatnya kalian akan mencoba menyusupi hutan-hutan lebat.” Mahisa
Semu dan Mahisa Amping mengangguk-angguk pula. Sementara itu Mahisa
Murtipun ikut mendengarkan keterangan ayahnya itu. Nampaknya kedua
orang yang diakunya sebagai adiknya itu dapat mengerti maksud ay
ahnya. Sementara itu Mahendrapun berkata "Kakakmu Mahisa Pukat
ternyata juga tidak mempercayakan latihan-latihan bagi bangsawan
muda itu sekedar dilakukan disanggar. Mahisa Pukat setiap kali juga
m embawa murid-muridnya keluar dari istana pergi kebukit-bukit kecil
untuk melakukan latihanlatihan khusus. Udara terbuka, panas matahari
dan angin yang bertiup, tentu memberikan kelebihan tersendiri bagi m
ereka. Seandainya latihan-latihan itu hanya dilakukan disanggar
saja, maka panas matahari akan dapat menjadi musuh utama. Demikian
pula udara dingin, angin kencang dan debu”. Mahisa Semu dan Mahisa
Amping mengangguk-angguk. Mereka tahu bahwa tubuh seseorang
yang kurang m endapat sinar matahari akan menjadi kurang t
egar. Jika seseorang yang demikian terlibat dalam pertempuran di
siang hari dibawah panasny a matahari, maka keringatnya akan cepat
terperas habis sebagaimana tenaganya. Bahkan yang mungkin akan
membunuhnya bukan lawannya, tetapi panas matahari itu sendiri.
Keterangan yang diberikan oleh Mahendra itu telah membesarkan
hati anak-anak muda itu. Mereka tidak lagi merasa bahwa keterbatasan
yang ada disanggar padepokan Bajra Seta akan membuat mereka tidak
dapat maju pesat sebagaimana para bangsawan muda yang ada di
Kasatrian. Dengan demikian, maka setelah mereka makan malam dan
beristirahat sejenak, Mahisa Semu dan Mahisa Amping mulai berbicara
diantara mereka berdua. Mereka mulai membuat
perbandingan-perbandingan antara peralatan yang ada di sanggar
di Kasatrian dengan alat-alat yang ada di sanggar padepokan Bajra
Seta. Ternyata bahwa apa yang ada di Ka satrian ada pula di
sanggar mereka. Meskipun ujudnya lebih sederhana bahkan agak lain
ujudnya, namun kegunaannya dapat dianggap sama. Dengan demikian maka
apa yang dapat dilakukan oleh para bangsawan muda di sanggar
mereka, dapat pula mereka lakukan di sanggar mereka di Padepokan
Bajra Seta. Dengan kesimpulan itu, maka ketika keduanya membaringkan
diri dipembaringan, merekapun segera dapat tidur ny enyak. Namun
Mahisa Murtilah yang masih berbincang untuk waktu yang cukup
lama dengan ayahnya. Mahisa Murti juga membicarakan kelebihan
peralatan yang ada di sanggar di Ka satrian itu. "Nampaknya Mahisa
Pukat menjadi semakin jauh dari Padepokan Bajra Seta " berkata
Mahisa Murti kemudian. Mahendra mengangguk-angguk. Katanya "Sudahlah
Mahisa Murti. Aku kira kau sendiri mampu membina dan mengembangkan
Padepokan Bajra Seta. Memang kepergian Mahisa Pukat m erupakan satu
persoalan tersendiri bagimu. Namun per soalan itu tentu akan dapat
kau atasi. Kau, Mahisa Semu dan Mahisa Amping yang dimasa
datang akan dapat membantumu. Bahkan Wantilan yang meskipun
perkembangan ilmu termasuk lam bat justru karena ia terlambat mulai
setelah diketahui bahwa seseorang sengaja memutar balikkan susunan
pengetahuannya tentang olah kanuragan, tetapi ia dapat membantumu
mengatur Padepokanmu”. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Dari sor ot
matanya, ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Tetapi Mahisa
Murti hanya menarik nafas saja dalam-dalam. Tetapi Mahendra yang
sudah mengendap itu agaknya tanggap akan maksud Mahisa Murti. Karena
itu meskipun Mahisa Murti tidak mengatakan sesuatu, namun Mahendra
itupun berkata "Murti. Memang tidak dapat diperbandingkan, membina
Padepokan Bara Seta dengan tugas-tugas di Ka satrian. Di Kasatrian,
kebutuhan apapun telah disediakan. Kebutuhan peralatan untuk
latihan. Kebutuhan bahan-bahan yang akan mendukung latihan-latihan
di Sanggar maupun di alam terbuka. Sedangkan di Padepokan segala
sesuatunya sangat terbatas. Tetapi usaha untuk mengatasi
keterbatasan itupun merupakan satu ketrampilan tersendiri. Meskipun
para bangsawan sekalipun, mereka tidak akan selalu terpenuhi setiap
kebutuhannya. Dalam keadaan yang sempit, maka para bangsawan tidak
terbiasa untuk memecahkannya dan mengatasinya. Karena itu seperti
yang aku katakan kepada Mahisa Semu dan Mahisa Amping,
Padepokan Bajra Seta tidak akan lebih buruk hasilny a daripada Ka
satrian Singasari. Apalagi keduanya dia suh oleh orang yang memiliki
tataran yang sama pula”. Mahisa Murti m engangguk-angguk. Namun
bahwa Mahisa Pukat tidak akan kembali lagi ke Padepokan itu adalah
persoalan pribadi yang sulit untuk dikesampingkan. Ra
sarasanya Padepokan memang menjadi sepi. Sementara itu luka dihati
Mahisa Murti masih sering terasa ny erinya. Apalagi ketika tiba-tiba
saja ia bertemu dengan Sasi. Namun seperti yang pernah
dijanjikannya didalam hati, bahwa ia tidak akan terjerembab jatuh
karena persoalan yang membebani perasaannya itu. Ketika kemudian
Mahisa Murti berbaring dipembaringannya, maka angan-angannya masih
dibelit oleh kegelisahannya itu. Namun akhirnya Mahisa Murti itupun
tertidur pula. Dihari berikutnya Mahisa Murti masih sempat membawa
Mahisa Semu dan Mahisa Amping berjalan-jalan. Namun di sor e hari,
betapapun beratnya, Mahisa Murti tidak dapat mengelak lagi. Bersama
Mahisa Pukat ia pergi kerumah Sasi. Seperti pesan Sasi, maka Mahisa
Semu dan Mahisa Amping telah diajaknya pula Betapa Mahisa Murti
berusaha menguasai perasaannya. Tidak seorangpun boleh
mengetahuinya, bahwa perjumpaannya dengan Sasi itu telah membuat
lukanya ny eri kembali. Hanya karena kesiapan jiwaninya yang
membaja, maka Mahisa Murti dapat mengatasiny a. Tetapi saat-saat
yang tidak terlalu lama itu merupakan saatsaat yang
menyiksanya. Ternyata Sasi, Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Mahisa
Amping sama sekali tidak m elihat kesan apapun pada Mahisa Murti.
Ketika Arya Kuda Cemani ikut menemuinya, maka sikap Mahisa Murtipun
nampak wajar-wajar saja. Ketika kunjungan itu sudah terhitung lama,
maka merekapun telah m inta diri. Mahisa Amping m asih sempat
mereguk minuman yang dihidangkan baginya sampai tetes yang terakhir.
Namun Mahisa Murti telah minta diri pula, bahwa mungkin ia tidak
akan sempat berkunjung lagi sampai saatnya ia kembali ke Padepokan
Bajra Seta. "Apa saja yang kau lakukan disini sehingga kau
tidak sempat lagi singgah ?" bertanya Sasi. Pertanyaan itu memang
sulit untuk dijawab. Tetapi iapun menjawab "Aku masih harus
melihat-lihat peralatan pertanian yang ada dipasar. Aku harus
mendapatkan beberapa jeni s alat yang terbaik yang dapat aku
pergunakan di Padepokan Bajra Seta”. Sasi mengangguk-angguk. Tetapi
ia masih berkata "Meskipun demikian, jika mungkin kau harus singgah
lagi kakang”. Mahisa Murti terseny um. Katanya "Aku tinggal satu
atau dua hari saja berada di Kotaraja. Aku sudah m elampaui batas
yang aku janjikan kepada orang-orang padepokanku. Ketika aku
berangkat, aku berjanji bahwa perjalananku ke Singasari tidak akan
lebih dari lima hari termasuk perjalanan berangkat dan kembali.
Tetapi aku sudah lima hari berada disini ". “Ah, bukankah kau tidak
mesti setahun sekali berkunjung ke Kotaraja ?" bertanya Sasi. "Tentu
lebih dari itu. Aku sering berkunjung ke Kotaraja." jawab Mahisa
Murti. "Jika kau datang ke Kotaraja, kau memang harus singgah" minta
Sasi. Mahisa Pukat mengangguk-angguk sambil menjawab "Ya, ya Sasi.
Aku tentu akan selalu singgah kemari”. Mahisa Murti meninggalkan
rumah Sasi dengan barutbarut merah dibibir luka hatinya yang sudah m
ulai kering. Tetapi seperti sebelumnya, secara jiwani, Mahisa Murti
memang mempunyai ketahanan yang sangat tinggi. Berempat mereka
meninggalkan rumah Arya Kuda Cemani. Sasi mengantar mereka sampai
keregol halaman. Dilepa snya tamu-tamunya sampai hilang dikelok
jalan. Mahisa Pukat sempat singgah sebentar dirumah ayahnya. Namun
kemudian iapun kembali ke Kasatrian, tetnpat ia bertugas. "Besok aku
akan menghadap Pangeran Kuda Pratama" berkata Mahisa Murti ketika
Mahisa Pukat minta diri. "Apakah kau sudah akan kembali ke
Padepokan?” "Ya." jawab Mahisa Murti. "Begitu tergesa -gesa? Apakah
seluruh sudut Kotaraja telah dilihat oleh Mahisa Semu dan Mahisa
Amping?" bertanya Mahisa Pukat. "Belum. Tetapi aku sudah terlalu
lama pergi. Kau tahu bahwa aku hanya minta diri untuk lima hari
termasuk perjalanannya. Sedangkan aku sudah lebih dari lima hari
berada di sini." jawab Mahisa Murti. Mahisa Murti m
engangguk-angguk. Katanya "Biarlah. Aku akan menyampaikannya kepada
Pangeran Kuda Pratama”. "Terima kasih" sahut Mahisa Murti.'
Sepeninggal Mahisa Pukat, m aka Mahisa Murtipun masih berbincang
cukup panjang dengan ayahnya. Sementara itu Mahisa Semu dan Mahisa
Pukat duduk di serambi depan sambil bermain macanan. Bahkan setelah
mereka makan m alampun m ereka masih sa ja berbincang-bincang,
sementara Mahisa Semu dan Mahisa Amping yang sudah letih
bermain-main telah pergi ke pembaringan. Dikeesokan harinya Mahisa
Murti, Mahisa Semu . dan Mahisa Amping telah menghadap Pangeran Kuda
Pratama untuk mohon diri, karena dihari berikutnya pagi-pagi benar
mereka akan kembali ke Padepokan Bajra Seta. Pangeran Kuda Pratama
telah m engucapkan terima kasih atas kunjungan Mahisa Murti ke
Kasatrian. Dengan nada kebapakan Pangeran Kuda Pratama itu b erkata
"Aku berdoa, semoga padepokan Bajra Seta akan berkembang sesuai
dengan harapanmu. Jika Mahisa Pukat ada disini, bukan berarti bahwa
ia harus terpisah dari Padepokan itu. Tetapi kelak akan nampak,
bahwa Padepokan Bajra Seta adalah saudara kandung dari perkembangan
ilmu di Kasatrian Singasari”. Pa da kesempatan itu, Mahisa Murti
telah m inta diri pula kepada para bangsawan muda yang menjadi
murid Mahisa Pukat di Kasatrian itu. Bahkan Mahisa Murtipun sempat
minta diri pula kepada mPu Sidikara yang akan menjadi kawan bertugas
dengan Mahisa Pukat di Ka satrian. “Besok pagi-pagi sekali aku ada
di rumah” berkata Mahisa Pukat kemudian ketika Mahisa Murti, Mahisa
Semu dan Mahisa Amping meninggalkan Kasatrian. Demikianlah, maka
hari itu adalah hari terakhir bagi Mahisa Murti, Mahisa Semu dan
Mahisa Amping berada di Kotaraja. Karena itu, maka mereka meny
empatkan diri untuk pergi ke pasar m embeli beberapa jeni s
alat-alat yang belum mereka miliki di Padepokan. Mereka m
embeli beberapa jenis peralatan pertanian yang dapat mereka
contoh pembuatannya untuk dapat dikembangkan di Padepokan Bajra Seta
dan di padukuhanpadukuhan di sekitarnya. Di sore hari, m ereka
bertiga sengaja tidak pergi ke m anamana. Mereka justru berbenah
diri karena esok pagi-pagi sekali mereka akan meninggalkan Kotaraja.
Dimalam hari, Mahisa Murtipun tidak berbincang sampai larut m alam
dengan ay ahnya. Ketika m alam m emasuki masa sepi uwong, maka
Mahisa Murtipun telah berada dipembaringan, sementara Mahisa Semu
dan Mahisa Amping telah tidur dengan ny enyak. Pagi-pagi benar
dihari berikutnya, mereka telah siap. Pembantu di rumah Mahendra
telah meny iapkan m inuman dan makan pagi yang hangat. Sebelum
Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping meninggalkan rumah
Mahendra di belakang Istana Singasari, maka kepada mereka telah
dihidangkan makan pagi. Ternyata Mahisa Pukat memenuhi janjinya. Ia
memang datang ke rumah ayahnya untuk melepas keberangkatan
saudara-saudaranya kembali ke padepokan Bajra Seta. Ketika kemudian
langit menjadi semakin terang, maka Mahisa Murti, Mahisa Semu dan
Mahisa Ampingpun telah minta diri kepada Mahendra dan Mahisa Pukat.
Mumpung masih pagi, maka mereka telah berangkat menuju ke Padepokan
Bajra Seta. Mahendra masih memberikan beberapa pesan kepada Mahisa
Murti agar ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membina dan m
engembangkan padepokan yang telah dibangunnya. Tetapi iapun masih
juga berbisik "Tetapi kau tidak boleh tenggelam tanpa memenuhi
kelengkapan kemanusiaanmu. Maksudku, kau adalah seorang laki -laki
wajar yang sepantasnya mempunyai sisihan”. Mahisa Murti menarik
nafas dalam-dalam. Ia tahu ayahnya bermaksud baik. Ayahnya tidak
ingin melihat ia berlarut-larut hanyut dalam arus perasaannya yang
terluka. Sejenak kemudian maka ketiga orang itupun telah berpacu di
jalan-jalan kota. Mereka m emang tidak memacu kudanya terlalu cepat.
Apalagi menjelang fajar jalan-jalan mulai terisi oleh orang-orang
yang pergi ke pasar. Baru ketika mereka berada diluar gerbang kota,
maka mereka mempercepat derap kuda mereka, meskipun masih harus
!etap berhati-hati karena jalan-jalan pun mulai dialiri oleh
orang-orang yang membawa barang-barang dagangannya kepasar pula.
Perjalanan mereka adalah perjalanan yang segar. Matahari mulai
membayangi langit dengan cahayanya yang merah
kekuning-kuningan. Anginpun mulai mengusik dedaunan. Mahisa Amping
seperti biasanya berada di paling depan. Kudanya berlari2 gembira
sebagaimana penunggangnya. Dibelakangnya Mahisa Semu dan Mahisa
Murti mengikutinya saja seberapa cepat Mahisa Amping melarikan
kudanya. Ternyata perjalanan mereka tidak menemui hambatan. Mereka
berkuda sampai matahari memanjat tinggi. Cahayanya mulai terasa
panas dikulit, sehingga keringatpun mulai membasah. Ketika terik
matahari bagaikan membakar kulit, maka merekapun sempat beristirahat
disebuah kedai. Bukan saja penunggang penunggannya yang sempat
beristirahat serta minum dan makan, tetapi demikian pula kuda-kuda
mereka. Setelah puas mereka makan dan minum, maka mereka pun segera
melanjutkan perjalanan mereka. Memang tidak ada gangguan
diperjalanan. Sementara itu, orang-orang di Padepokan Bajra Seta
sudah menanti kedatangan mereka. Mahisa Murti yang meninggalkan
Padepokan itu hanya untuk lima hari termasuk perjalanan, ternyata
telah m elampaui waktu yang direncanakan sehingga Wantilan
yang bertugas di Padepokan menjadi gelisah. Apalagi karena
Wantilan yang telah pernah ikut dalam pengembaraan yang dilakukan
oleh Mahisa Murti dan Mahiga Pukat. Banyak persoalan yang
dapat timbul disepanjang jalan. Demikian pula persoalan akan dapat
timbul di perjalanan mereka ke atau dari Singasari. Karena itu
ketika Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping sampai di
Padepokan, maka merekapun telah disambut dengan gembira. Namun dalam
pada itu, demikian mereka berada di Padepokan, Mahisa Amping
langsung menuju ke sanggar. Seakah-akan anak itu ingin melihat,
apakah sanggar itu masih ada ditempatnya. Demikian pula alat-alat
yang ada didalamnya. Mahisa Amping menarik nafas dalam-dalam,
demikian ia berdiri dipintu sanggar. Dipandanginya ruang yang
tidak terlalu besar, alat -alat yang sederhana dan bahan-bahan yang
seadanya yang ada disanggar itu. Selagi Mahisa Amping
merenung, maka Mahisa Semu telah berdiri di belakangnya sambil
bertanya "Apakah kau sedang memperbandingkan sanggar kita dengan
sanggar di Ka satrian?” "Ya " jawab Mahisa Amping "tetapi aku tidak
lagi bermimpi untuk memiliki sanggar seperti itu”. "Kenapa?"
bertanya Mahisa Semu. "Aku telah memiliki apa yang ada di sanggar
Kasatrian itu. Karena itu, maka aku tidak lagi memerlukan sanggar
yang lain." jawab Mahisa Amping. Mahisa Semu tersenyum. Katanya,
"Ya, kita sudah memiliki segala-galanya. Seperti yang
dikatakan oleh Ki Mahendra, apa yang ada di sanggar ini dan apayang
ada di sanggar Kasatrian, mempunyai kelebihannya masing -masing”.
Mahisa Amping mengangguk-angguk. Iapun kemudian melangkah menyusup
disela -sela alat-alat yang ada di sanggar itu. Bahkan kemudian
Mahisa Amping telah meloncat dan berdiri diatas palang bambu wulung
yang meny ilang ditengahtengah sanggar. Dengan tangkasnya anak
itu berloncatan dalam keseimbangan yang sangat baik. "Kau
tidak kalah tangkas dari bangsawan-bangsawan muda di Kasatrian itu"
berkata Mahisa Semu. Lalu katanya "Apalagi jika palang yang kau
pergunakan itu palang kayu yang sama sekali tidak lentur. Kau tentu
akan nampak semakin tangkas lagi”. "Ah, tentu tidak. Tetapi
bagaimanapun juga, kita disini mempunyai kesempatan yang sama
dengan mereka yang ada di Kasatrian" jawab Mahisa Amping. "Bagus"
Mahisa Murtilah yang menjawab sambil melangkah masuk diikuti
oleh Wantilan "perbedaan alat-alat yang kita pergunakan dan di
pergunakan di Kasatrian tidak dapat dipergunakan sebagai alasan
untuk menganggap wajar jika kalian tertinggal oleh saudara-saudaramu
di Kasatrian?” "Apakah mereka juga saudara-saudara kita?" bertanya
Mahisa Amping. "Ya. Setidak-tidaknya saudara yang bersama-sama
menyadap ilmu dari sumber yang sama " jawab Mahisa Murti.
Mahisa Amping mengangguk-angguk. Katanya "Ya kakang. Aku akan
berusaha sebaik-baiknya, bahwa aku tidak akan tertinggal oleh
saudara-saudara kita di Kasatrian. Apalagi dengan alasan bahwa
alat-alat serta sanggar kita kurang memadai dibandingkan dengan
sanggar yang ada di Kasatrian itu”. Mahisa Murti menepuk bahu Mahisa
Amping sambil berkata "Bagus. Tetapi kau tidak perlu berlatih
sekarang juga. Kau perlu beristirahat. Bukankah kita masih mempunyai
banyak waktu?” Mahisa Amping mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak
menjawab. Namun sejenak kemudian, maka m erekapun telah keluar dari
sanggar, sementara sambil ter senyum Mahisa Murti menceriterakan
kepada Wantilan bahwa Mahisa Amping sempat melihat -lihat sebuah
sanggar yang sangat lengkap dengan peralatan yang bagus sekali di Ka
satrian Singasari. "Tentu saja " desis Wantilan "sanggar itu sanggar
istana.” "Tetapi ternyata bahwa kegunaannya tidak berbeda dengan
alat-alat yang kita punyai disini " berkata Mahisa Murti
seakanakan bergumam bagi diri sendiri. Wantilan Mengangguk-angguk.
Tetapi ia tidak menjawab. Dalam pada itu, apa yang telah dilihat di
Singasari telah mendorong Mahisa Amping untuk berlatih dengan
sungguhsungguh. Dengan mempergunakan alat yang ada di dalam
sanggarnya, maka Mahisa Amping berusaha untuk membuat dirinya tidak
kalah dari para bangsawan muda yang berlatih di sanggar
yang lengkap di Kasatrian Singasari. Bahkan Mahisa Amping
tidak saja semakin tekun berlatih di sanggar, tetapi juga diluar
sanggar. Seperti dikatakan oleh Mahendra, maka kekurangan peralatan
yang ada di sanggar dapat dilengkapinya dengan peralatan yang
ada di alam terbuka. Itulah sebabnya Mahisa Amping m emanfaatkan
bebatuan yang berserakan di sungai. Begitu pula pasir ditepian.
Mahisa Amping yang mempergunakan tepian berpasir untuk berlatih,
maka rasa-rasanya ada yang memberati kakinya, sehingga dengan
demikian maka beban itu akan menambah kekuatannya. Mahisa Semu
yang semula memperhatikan dor ongan kemauan Mahisa Amping
untuk b erlatih lebih keras, ternyata iapun telah melakukannya pula
diluar sadarnya. Sehingga karena itu, maka kedua orang itupun telah
bekerja lebih keras dari saat-saat sebelumnya. Mahisa Murti yang
mengasuh mereka melihat kegiatan yang meningkat dari keduanya tanpa
diperintahkannya. Karena itu, yang dilakukan oleh Mahisa Murti
adalah sekedar mengarahkannya. Namun demikian, Mahisa Murti itu
selalu hadir jika Mahisa Semu dan Mahisa Amping melakukan
latihan-latihan ditempat yang berbahaya, karena keduanya
sering berada dilereng-lereng pebukitan yang meskipun tidak terlalu
tinggi, tetapi terjal. Bahkan sebagaimana pernah dilakukannya, m aka
Mahisa Semu dan Mahisa Amping semakin memperhatikan tingkah laku
binatang-binatang liar. Apalagi ketika Mahisa Murti justru mendor
ong mereka untuk melakukan hal itu. Pada kesempatan-kesempatan
tertentu, maka Mahisa Semu dan Mahisa Amping sempat melihat
sekelompok kera yang ada dipinggir hutan yang lebat. Merekapun
memperhatikan bagaimana seekor ular merunduk mangsanya. Dengan kagum
mereka melihat seekor tikus tanah dengan cerdik membelakangi seekor
ular yang akan menyergapnya dengan menaburkan tanah berpasir
dengan kaki belakangnya kearah mata ular itu, sehingga tikus itu
terlepas dari maut. Tetapi kadang-kadang dengan hati yang ny
eri keduanya menyaksikan seekor kelinci yang tidak mampu
menyelamatkan diri dari terkaman seekor burung elang yang buas.
Elang yang terbang berputaran, namun yang tiba-tiba sa ja
menukik menyambar mangsanya dengan kuku -kunya yang tajam. Tetapi
pada kesempatan lain, mereka melihat seekor elang yang harus
melarikan diri karena merasa tidak mampu melawan seekor burung
srigunting yang lebih kecil. Tetapi ternyata burung srigunting
itu mampu bergerak dengan lincah dan tangkasnya.Burung srigunting
itu dapat meny erang seekor elang yang bergerak lam ban menurut
ukuran kecepatan gerak seekor burung srigunting, dari segala arah.
Dengan memperhatikan tingkah laku binatang-binatang liar itu, maka
Mahisa Semu dan Mahisa Amping akan dapat memperkaya unsur-unsur
gerak yang telah dimilikiny a dengan warna-warna baru tanpa
meninggalkan watak dan sifat pokoknya. Kebiasaan itu ternyata
kadang-kadang telah membawa Mahisa Semu dan Mahisa Pukat menempuh
jarak yang cukup jauh dari padepokannya. Mahisa Murti yang
tidak melepaskan tanggung jawabnya, kadang-kadang telah mengikut
mereka pula. Meskipun demikian Mahisa Murti tidak membiarkan mereka
melupakan waktu -waktu latihan mereka di sanggar. Namun adalah
diluar pengetahuan mereka, bahwa seorang pengembara ternyata menaruh
perhatian terhadap Mahisa Amping. Dengan wajah yang nampak
bersungguh-sungguh, orang itu berusaha untuk selalu mengamati Mahisa
Amping yang sering berlatih diluar sanggar. Hampir setiap hari orang
itu duduk tidak terlalu jauh dari pintu gerbang sanggar Padepokan
Bajra Seta. Jika Mahisa Semu dan Mahisa Amping keluar dari pintu
gerbang, maka tanpa setahu keduanya, orang itu telah m engikutinya
kemana saja keduanya pergi. Bahkan ketika keduanya keluar bersama
Mahisa Murtipun orang itu selalu mengikutinya. Adalah satu hal
yang sangat sulit dimengerti, jika orang itu mampu melepaskan
diri dari tangkapan indera Mahisa Murti, bahwa orang itu selalu
mengikutinya. Orang yang sudah m enjelang hari -hari tuanya
itu tertarik sekali melihat ketangkasan Mahisa Amping serta
perhatiannya yang bersungguh-sungguh terhadap binatang-binatang
liar. Mahisa Murti, meskipun pernah melihat orang itu, tetapi
ternyata orang itu luput dari perhatiannya. Justru karena orang itu
pada ujud lahiriahnya adalah seorang tua yang cacad tubuh.
Tangannya tidak lengkap sebagaimana tangan orang kebanyakan.
Jari-jari disebelah tangannya tidak lengkap. Kecelakaan yang
menimpanya dimasa ia masih kanak-kanak telah meny ebabkan ampat
jarinya patah. Sementara itu, wajahnyapun nampak keras dan kasar.
Beberapa gores luka nampak dikening dan pipiny a. Bahkan juga
didahinya. Namun justru karena itu, maka orang itu nampak seorang
yang menggetarkan jantung mereka yang baru untuk pertama kali
menyaksikannya. Dengan telaten orang itu mengamati Mahisa Semu dan
Mahisa Amping. Namun ketajaman penglihatan batinnya, mengatakan
kepadanya bahwa anak muda yang sering mengikuti keduanya
adalah anak muda yang berilmu sangat tinggi. Ternyata orang
itu berniat menunggu satu kesempatan kedua orang anak itu keluar
dari Padepokan Bajra Seta tanpa anak muda yang berilmu tinggi
itu. Setelah menunggu beberapa lama, maka pada satu hari, orang itu
melihat Mahisa Semu dan Mahisa Amping hanya berdua saja keluar dari
Padepokan. Di pintu gerbang Mahisa Murti berpesan, agar mereka tidak
terlalu lama pergi. "Sebelum makan siang, kalian harus sudah berada
di padepokan lagi" berkata Mahisa Murti. "Ya, kakang. Kami tidak
akan terlalu lama. Kami akan pergi ke sungai," jawab Mahisa Semu.
Namun demikian mereka berjalan meninggalkan Padepokan, m aka orang
yang selalu m emperhatikannya dari kejauhan itupun
mengikutinya pula. Mahisa Semu dan Mahisa Amping memang pergi ke
sungai. Keduanya, seperti biasanya melakukan latihan khusus. Mdreka
berlatih diatas sebongkah batu hitam yang licin. Dengan
kemampuan mereka menjaga keseimbangan maka mereka dengan tangkasnya
berlatih saling meny erang dan bertahan. Mahisa Semu yang
lebih besar dan m emiliki bekal yang lebih banyak, berusaha untuk
menyesuaikan diri dengan kemampuan Mahisa Amping. Dari kejauhan sepa
sang mata memang memperhatikan kedua orang yang sedang
berlatih itu. Seorang remaja yang sudah menjelang dewasa dengan
seorang yang memang masih remaja. "Luar biasa " desis orang
itu "anak itu memang luar biasa. Ia memiliki bekal yg sangat
berharga untuk masa depannya sebagai seorang yang m endalami
olah kanuragan. Yang lebih besar itupun m emiliki kelebihan dari
yang lain. Tetapi aku hanya memerlukan satu orang saja”.
Perlahan-lahan orang itu mendekat. Wajahnya yang keras dan kasar,
serta diwarnai dengan goresan -goresan bekas luka, nampak
bersungguh-sungguh. "Aku harus mendapatkannya. Ia akan dapat menjadi
tempat untuk menuangkan ilmuku. Hari -hariku semakin sempit karena
umurku yang merambat semakin tua. " gumam orang itu. Untuk beberapa
saat orang itu duduk di atas tanggul sambil melihat Mahisa Semu dan
Mahisa Amping berlatih diatas sebongkah batu. Mereka berloncatan
dengan cepat. Mereka melontarkan serangan-serangan dan menghindar.
Namun kaki mereka seakan-akan dapat melekat pada batu hitam yang
licin itu. Orang yang ada diatas tanggul itu memperhatikan Mahisa
Semu dan Mahisa Amping yang masih saja berlatih. Jika
sekali-sekali serangan salah seorang diantara mereka mendorong
lawannya, maka salah seorang diantara mereka telah terjatuh kedalam
air. Namun dengan tangkasnya mereka segera bangkit dan meloncat
kembali keatas batu itu. Demikianlah terjadi beberapa kali. Meskipun
salah seorang diantara mereka yang terdorong oleh serangan itu
merasa kesakitan, namun ada juga kegembiraannya jika yang terkena
serangan itu terjatuh ke dalam air. Tubuhnya merasa segar sehingga
ketika ia sudah berdiri lagi diatas batu itu, maka segera latihan
itu telah berlangsung pula. Orang yang meiiyaksikan latihan
itu dari atas tanggul kadang-kadang menjadi tegang. Tetapi
kadang-kadang ia tertawa. Namun ketika Mahisa Amping jatuh kedalam
air, namun dengan cepat ia bangkit dan mengibaskan air ditubuhnya,
selanjutnya dengan cepat pula meloncat naik keatas batu, maka orang
itu tidak dapat menahan diri. Sambil bertepuk ia berkata "Bagus,
bagus sekali”. Mahisa Semu dan Mahisa Ampingpun terkejut. Latihan
itupun dengan serta merta telah terhenti. Mahisa Semu dan Mahisa
Pukat segera berpaling dan memandang keatas tanggul. Merekapun
segera melihat, diatas tanggul ada seorang yang cacat tubuh,
berwajah keras dan kasar, serta terdapat beberapa gores luka di
wajah itu. Mahisa Semu dan Mahisa Amping menjadi berdebar-debar
melihat sorot mata orang itu yang bagaikan sor ot mata kucing yang
melihat dua ekor tikus kecil. Sebelum Mahisa Semu dan Mahisa Amping
menyadari sepenuhnya apa yang terjadi, maka orang itupun telah
meluncur turun dari atas tebing. Mahisa Semu dan Mahisa Amping m
encium gelagat yang kurang baik. Karena itu, maka merekapun
segera mempersiapkan diri. "Bagus sekali anak-anak " berkata orang
itu "aku kagum atas ketangkasan kalian. Aku kira anak-anak seumur
kalian tidak ada yang mampu menandingi kalian dalam olah
kanuragan”. Mahisa Semu mengangguk hormat sambil berkata "Terima
kasih. Tetapi apa yang kami lakukan sama sekali tidak
berarti”. "Tentu tidak " berkata orang itu "kalian memiliki landasan
ilmu yang mapan. Tetapi lebih dari itu, didalam diri kalian memang
ter simpan kemungkinan untuk melakukannya. Pada dasarnya tubuh
kalian, bentuknya maupun ukurannya, adalah tubuh pilihan. Selain
itu, bakat yang kalian miliki jarang sekali tersimpan didalam diri
orang lain. Karena itu, perpaduan antara bentuk tubuh, perbandingan
ukurannya, kekuatan dasar serta bakat yang tersimpan, benar-benar
hampir sempurna. Mahisa Semu melihat keadaan Mahisa Amping itu.
Jantungnya bagaikan berhenti berdenyut. Diluar sadarnya ia meloncat
hendak m enolongnya. Namun Mahisa Semu tidak tahu apa yang
terjadi atas dirinya, ketika tiba-tiba saja Mahisa Semu telah
terlempar jatuh pula. Tetapi Mahisa Semu masih dapat bangkit dengan
cepat. Sementara itu Mahisa Am ping masih saja menggeliat-geliat di
dalam air. Meskipun airnya tidak terlalu dalam, tetapi dalam keadaan
yang demikian maka Mahisa Amping akan dapat miTtnm air sungai
itu terlalu banyak. Hal itu akan dapat membahayakan jiwanya. Tetapi
ketika Mahisa Semu akan meloncat mendekati Mahisa Amping lagi, orang
itu menggeram "Jika kau mencoba lagi, m aka aku tidak akan
menolongnya. Ia akan mati karena perutnya penuh dengan air sungai
ini”. Mahisa Semu memang membatalkan niatnya. Dengan cemas ia
berkata "Tolong anak itu. Angkat ia dari dalam air. "Ia sendiri
meloncat menyuruk kedalam air itu " jawab orang yang berwajah
keras itu. "Tetapi ia tidak berniat membunuh diri " Mahisa Semu
hampir berteriak. Orang itupun berpaling ke arah Mahisa Amping
yang menjadi semakin lemah. Namun orang berwajah keras itupun
kemudian telah merunduk sambil berkata "Jangan dekati aku”. Mahisa
Semu memang tidak berani mendekati orang itu, karena dengan demikian
ia akan dapat mengancam hidup Mahisa Amping. Karena itu, Mahisa Semu
hanya dapat memandangi orang itu dengan jantung yang berdebaran.
Sebenarnyalah orang itu m emang menolong Mahisa Amping.
Diletakkannya Mahisa Amping menelungkup diatas batu. Kemudian dengan
memijit punggungnya, m aka airpun keluar dari mulut anak itu. "Anak
ini minum terlalu banyak" berkata orang itu "ini adalah salahmu
karena kau mengganggu saat aku akan menolongnya”. "Tetapi kau harus
menyerahkan anak itu kepadaku" berkata Mahisa Semu. "Sekali lagi aku
katakan, bahwa anak ini akan aku bawa. Aku ingin menjadikannya
muridku. Tidak seorangpun yang dapat mencegahnya" berkata orang itu.
"Tetapi kau tidak dapat membawanya begitu saja " berkata Mahisa Semu
"kau harus bertemu lebih dahulu dengan kakang Mahisa Murti di
Padepokan. "Itu tidak perlu" b erkata orang itu "kau dapat
mengatakan kepada kakakmu yang kau sebut bernama Mahisa Murti
itu.” "Apakah kau takut bertemu dengan kakakku itu?" bertanya Mahisa
Semu. Tetapi orang itu tertawa. Katanya "Kau memang cerdik. Kau
ingin mengungkit harga diriku agar aku mau bertemu dengan kakakmu
itu. Tetapi aku m emang tidak merasa perlu menemuinya. Pada
kesempatan lain, setelah aku m enyimpan anak yang memiliki
bekal yang hampir sempurna ini, aku memang akan menemui kakakmu.
Jika perlu, maka aku akan membuat perhitungan. Jika kakakmu tetap
tidak mau me ngerti, mungkin aku akan membunuhnya, meskipun ia
berilmu sangat tinggi”. Mahisa Semu memang tidak mempunyai cara
lain. Sementara itu orang itu berkata lagi "Sudahlah. Ikhlaskan
adikmu itu. Tetapi ketahuilah, bahwa kau sendiri memang memiliki
kelebihan yang jarang ada duanya. Tetapi sayang bahwa aku
hanya ingin mempunyai seorang murid saja”. Orang itu tidak berkata
lebih lanjut. Tetapi iapun kemudian berjalan menepi dan kemudian
naik ketepian berpasir. Mahisa Semu yang mengikutinya tidak meny
ia-ny iakan kesempatan itu. Demikian orang itu tidak lagi berada
dialiran sungai, maka Mahisa Semupun segera menyerangnya. Tetapi
serangannya memang tidak ada artinya. Justru Mahisa Semu itulah yang
terlempar dan jatuh di pasir tepian. Untunglah bahwa pasir tepian
itu telah membantunya sehingga tulang punggungnya tidak patah
karenanya. Mahisa Semu menggeram. Ia tidak tahu apa yang
sebaiknya dilakukan. Namun untuk beberapa saat lamanya ia mengikuti
sa ja orang yang membawa Mahisa Amping itu naik keatas
tanggul. "Jangan ikuti aku" berkata orang itu "jika kau berkeras
kepala, maka aku akan dapat menjadi marah”. "Aku tidak rela kau
membawa adikku " Mahisa Semu berteriak. Tetapi orang itu berkata
"Adikmu masih sangat lemah. Ia masih pingsan. Jangan membuat adikmu
ju stru mati”. Mahisa Semu benar-benar kebingungan. Tetapi ia masih
sa ja mengikuti orang itu. Ternyata bahwa orang itu memang menjadi
marah. Katanya " Ingat anak muda, Jika kau tidak mau mendengarkan
katakataku, maka aku akan menjadi sangat marah. Dan kau harus tahu,
bahwa dalam kemarahan itu, aku akan dapat membunuh seseorang diluar
sadarku. Karena itu m enjauhlah dan jangan ikuti aku. Bahkan mungkin
aku akan dapat membunuh kau dan adikmu bersama-sama”. Mahisa Semu
benar-benar m enjadi kebingungan. Ia tidak tahu apa yang harus
dilakukan. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terdengar suara
tertawa berkepanjangan. Seseorang tiba-tiba saja muncul dari balik
pohon perdu. Seorang yang berjanggut putih. Namun yang tubuhnya
masih nampak segar dan perkasa. "Orang yang berwajah keras itu
terkejut melihat kedatangan orang berjanggut putih itu. Dengan nada
bergetar ia bertanya " Untuk apa kakang berada di sini?” "Sambega,
aku memang menyusulmu. Ketika aku tahu kau tidak ada di rumahmu,
maka aku berusaha untuk menemukanmu." jawab orang berjanggut putih
itu. “Untuk apa kakang Widigda. Kenapa kakang mencari aku? Bukankah
aku bukan momongan kakang? Aku bukan pula bay i yang kakang lepaskan
dipinggir jurang sehingga kakang harus mencari aku jika aku tidak
kelihatan sehari dua hari?” "Memang Sambega. Kau bukan momonganku.
Tetapi kau adalah adikku. Adik seperguruanku. Karena itu, maka aku
merasa berkepentingan jika kau tidak nampak di rumah. Apalagi dalam
waktu akhir-akhir ini." jawab orang berjanggung putih yang disebut
Widigda itu. "Sebaiknya kakang tinggalkan aku sendiri, Biarlah aku
pulang sendiri pada saatnya. Aku tahu apa yang akan aku lakukan”.
"Tidak Sambega. Kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Aku sudah
mengira. Dan ternyata aku memang menemukan kau sedang melakukan apa
yang tidak kau ketahui itu”. "Kakang Widigda tidak usah mencampuri
persoalanku. Kakang Widigda memang kakak seperguruanku. Tetapi
kakang tidak dapat mencampuri persoalanku sampai kepersoalan pribadi
yang paling dalam." berkata Sambega "Tidak Sambega. Guru pernah
berpesan kepadaku, bahwa kita harus saling membantu. Saling
mengingatkan jika seorang diantara kita lupa. Saling menunjukkan
kesalahan jika kita melakukan kesalahan itu. Kita harus saling
berkata benar, bukan saling membenarkan meskipun kita melakukan
kesalahan," jawab Widigda. "Apa maksud kakang, aku telah melakukan
kesalahan itu?" bertanya Sambega. "Menurut penglihatanku, kau memang
telah melakukan kesalahan itu. Kau tidak boleh menganggu anak-anak
yang sedang bermain itu." jawab Widigda. "Aku tidak m engganggu
mereka. Aku justru berniat baik. Aku ingin membuat anak ini menjadi
seorang yang pilih tanding. Seorang yang tidak ada duanya di
Singasari ini”. "Aku puji niatmu. Tetapi apakah caramu itu sudah
benar?" bertanya Widigda. “Kakang. Aku memang tidak begitu
menghiraukan cara yang aku tempuh. Tetapi karena niatku baik, maka
apa yang aku lakukan inipun baik. Hasilnyapun akan menjadi baik buat
aku dan buat anak ini." jawab Sambega. "Tetapi apakah itu baik buat
kakak-kakaknya?" bertanya Widigda. Sambega memandang Widigda dengan
tajamnya. Namun kemudian katanya "Kakang, kenapa kakang selalu
menghalangi aku jika aku mempuyai keinginan yang sebenarnya sangat
bersifat pribadi? Kakang juga mencegah ketika aku ingin mengawini
anak mPu Kuda Taler Waja. Sekarang kakang menghalangi aku mengambil
anak yang menurut penilaianku memiliki bekal hampir sempurna ini”.
"Sambega" berkata Widigda "jika kau tempuh jalan wajar, maka aku
tidak akan pernah menghalangimu, apapun yang akan kau lakukan?
Tetapi kau sering m elakukan satu kerja yang merugikan orang lain.
Gadis mPu Kuda Taler Waja adalah seorang gadis yang saat itu sudah
dipertunangkan dengan seseorang dan bahkan hampir sampai pada saat
upacara perkawinan. Tiba-tiba kau, yang sudah terhitung tua,
datang untuk mengambilnya. Belum lagi jika kau bercermin dipermukaan
air bagaimana ujudmu itu. Maaf, bukan maksudku untuk menunjuk
cacatmu. Tetapi sebaiknya kau tahu diri. Dengan demikian maka kau
tidak akan m elakukan sesuatu yang dapat merugikan orang lain”.
"Kakang. Ketika kakang mencegah aku mengambil gadis itu, aku dapat
mengerti. Aku menurut nasehat kakang. Tetapi kakang jangan mencegah
aku lagi. Aku memerlukannya. Kakang tahu bahwa aku tidak mempunyai
lagi anak yang dapat m enyambung bukan saja namaku, tetapi juga m
ewarisi ilmuku. Jika aku tidak mempunyai seorang istri lagi, maka
ini adalah cara yang dapat aku tempuh untuk m endapat seorang
anak”. "Tidak Sambega. Anak itu tentu ada orang tuanya setidak -
tidaknya walinya. Kau tidak dapat mengambilnya begitu saja " berkata
Widigda. Wajah Sambega menjadi tegang. Sementara itu Widigda berkata
"Sambega. Kau tahu bahwa kau tidak akan dapat memaksakan kehendakmu
itu jika aku melarangmu” Sambega termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian katanya “Baik kakang. Aku akan m enemui orangtuanya atau
walinya atau gurunya atau siapapun yang b ertanggung jawab
atas anak itu. Aku akan m engatakan kepadanya, bahwa anak itu akan
aku ambil. Aku akan m enukardengan apasaja yang dikehendakinya”
“Jika orang itu tidak memberikannya?” bertanya Widigda "Aku akan
menawarkan kepadanya, apakah ia akan mempertahankannya " jawab
Sambega. "Bagus" merekapun terkejut mendengar suara itu Ketika
mereka berpaling, mereka melihat Mahisa Murti berdiri di sebelah
sebatang pohon yang tumbuh diantara gerumbul perdu, “anak itu
adalah adikku. Aku akan mempertahankannya dengan cara apapun
yang kau kehendaki. Meskipun aku tahu, cara yang paling buruk
yang kau tempuh itu adalah cara yang sama dengan cara yang
dipergunakan oleh seorang perampok untuk mendapatkan apa yang
dikehendakinya ". tSambega menjadi merah. Diletakannya Mahisa Amping
sambil m enggeram "Kau ternyata seorang laki -laki sejati. Aku
senang mendengar kesediaanmu untuk mempertaruhkan kemampuanmu
mempertahankan adikmu”. "Untuk mencegah niatmu, aku m emang tidak m
empunyai cara lain." jawab Mahisa Murti. "Tetapi sebelumnya aku
ingin memberikan sedikit keterangan kepadamu, kenapa aku
menginginkan adikmu” "Aku sudah mendengar Ki Sanak " jawab Mahisa
Murti "kau memerlukan seseorang untuk mewarisi ilmumu. Tetapi kau
sudah diperingatkan oleh saudara seperguruanmu sendiri, bahwa cara
yang kau tempuh itu adalah keliru”. "Ki Sanak" jawab Sambega
"aku memang tidak dapat menempuh jalan lain. Jika aku datang
kepadamu dan m inta agar kau memberikan adikmu tentuakau
berkeberatan. Sementara itu, aku sangat memerlukannya”. "Apakah
tidak ada orang lain dibawah hamparan langit yang demikian luasny a
itu selain adikku?" bertanya Mahisa Murti. "Adikmu adalah seorang
anak yang memiliki bekal yang hampir sempurna.
Sebenarnyalah aku belum pernah b ertemu dengan seorang anak yang
memiliki bekal seperti anak ini." jawab Sambega. "Apakah jika
demikian kau merasa berhak untuk mengambilnya ?" bertanya Mahisa
Murti. Orang itu menunduk dalam-dalam. Sementara Widigda berkata
"Sudahlah Sanbega. Marilah kita pulang. Aku akan membantumu
mendapatkan seorang anak yang akan dapat menjadi pewaris dari
namamu dan ilmumu”. Sambega terduduk diatas seonggok batu padas.
Sementara Mahisa Murti melangkah mendekati Mahisa Amping yang mulai
menggeliat bangkit. Demikian pula Mahisa Semu. Iapun segera berlari
mendekati adiknya. Untuk beberapa saat Mahisa Amping memang
kebingungan. Namun ketika dilihatnya Mahisa Murti dan Mahisa Semu,
maka iapun langsung bangkit berdiri. Ketika Mahisa Amping berpaling
kearah Sambega yang duduk diatas batu-batu padas, maka
dilihatnya erang itu mengusap matanya yang basah. "Sudahlah" berkata
Widigda "kau adalah seorang laki-laki yang berilmu tinggi. Kau juga
mempunyai kesiapan jiwani yang tinggi. Karena itu tidak pantas jika
kau menangis seperti kanak-kanak”. Orang itu masih saja tertunduk
dalam-dalam. Sementara Mahisa Murti menjadi heran melihat keadaan
Sambega itu. "Apa yang sebenarnya terjadi ?" bertanya Mahisa Murti.
Widigdapun kemudian duduk pula diatas batu padas. Katanya kepada
Mahisa Murti "Du duklah anak muda”. Mahisa Murti tidak menolak. Ia
melihat kesungguhan pada mata orang yang bernama Widigda itu.
Menurut pembicaraannya dengan Sambega sebelumnya, iapun berpendapat,
bahwa Widigda adalah seorang yang baik. "Anak muda" berkata Wididga
"akulah yang minta m aaf kepadamu atas tingkah laku adikku”.
Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Katanya "Jika ia mengurungkan
niatnya, maka aku memaafkannya, Ki Sanak”. "Aku harap ia memang
mengurungkan niatnya" jawab Widigda. "Tetapi apakah yang
sebenarnya terjadi atas Ki Sanak itu ?" bertanya Mahisa Murti. Namun
kemudian dengan tergesagesa ia berkata "Tentu hal ini bukan
urusanku. Tetapi karena persoalannya menyinggung adikku, maka
mungkin ada baiknya aku mengetahuinya. Itupun jika yang
berkepentingan tidak berkeberatan”. Widigda menarik nafas
dalam-dalam. Katanya "Baiklah anak muda. Aku kira adikku tidak
berkeberatan. Ia m emang perlu menjelaskan, kenapa ia telah berbuat
demikian”. Mahisa Murti mengangguk-angguk kecil, sementara Widigda
berkata selanjutnya "Anak muda. Adikku yang sudah lewat separo baya
itu pada suatu hari memang mengalami peristiwa yang tidak akan
pernah dilupakannya. Rumahnya didatangi oleh ampat orang yang
berilmu tinggi yang mendendamnya karena beberapa tahun yang lalu
pernah dikalahkan oleh adikku dalam perang tanding. Adikku memang
tidak sampai hati m embunuhnya m eskipun perang tanding itu
disepakati bahwa seorang diantara m ereka harus mati. Tetapi hal itu
ternyata telah membawa ekor yang panjang,” orang itu berhenti
sejenak. Lalu katanya" Perang tanding itu sendiri disebabkan karena
persoalan yang sebenarnya sudah lama terjadi. Orang yang
mendendam terhadap adikku itu adalah saudara seperguruan kami
sendiri. Tetapi persoalan anak perempuan guru kami telah membuat
hubungan mereka menjadi retak. Dan bahkan saling bermusuhan.
Ternyata Sambegalah yang mendapat kehormatan, diterima baik oleh
guru maupun oleh anak gadisny a." suara Widigda itupun tertahan.
Namun kemudian ia memaksa diri untuk berceritera lebih lanjut "bahwa
Sambega tidak membunuh lawannya berperang tanding itu telah
mengundang bencana. Orang itu justru datang dengan tiga orang
kawannya. Mereka menghancurkan rumah Sambega. Melukai Sambega
sehingga wajahnya menjadi cacat. Isterinya yang setia dan
anaknya satu-satunya terbunuh”. Mahisa Murti mengangguk-angguk.
Namun Widigda. masih berkata selanjutnya "Tetapi bukan cacat
tangannya. Cacat tangannya dideritanya sejak kanak-kanak. Namun
cacat yang lain didapatnya saat ia bertahan terhadap keempat orang
berilmu tinggi itu”. Mahisa Murti m engangguk-angguk kecil diluar
sadarnya. Ketika ia berpaling kepada orang yang cacat itu, m aka
sekali lagi ia melihat orang itu mengusap matanya. "Peri stiwa itu
telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan Sambega yang pada
saat itu juga sudah disangka mati. Namun ternyata bahwa ia masih
dapat bertahan hidup. Aku meny esal bahwa aku terlambat datang.
Meskipun demikian aku sempat mengobati luka-luka Sambega. Bukan saja
luka pada kulit dan dagingnya, atau tulang-tulangnya. Tetapi juga
bagian dalam tubuhnya”. Orang itu terdiam pula. Wajahnya juga nampak
menjadi muram. Namun tiba -tiba saja ia berkata "Pada dasarnya
Sambega bukan orang yang berwatak buruk. Ia kehilangan isteri
dan anaknya satu-satunya. Itulah sebabnya, maka ia sangat merindukan
seorang anak yang akan dapat menyambung namanya dan mewarisi
ilmunya. Goncangan perasaan yang pernah dialaminya kadang-kadang
telah membuatnya kehilangan keseimbangan dan melakukan tindakan yang
tidak seharusny a sebagaimana baru saja dilakukan”. Mahisa Murti
masih saja mengangguk-angguk kecil. Sementara itu Widigda masih
berceritera selanjutnya "Bahkan ia juga pernah berniat mengambil
seorang gadis yang sudah dekat dengan hari perkawinannya. Ia
tiba-tiba saja menjadi sangat rindu kepada isterinya yang terbunuh
bersama anaknya. Adalah kebetulan bahwa wajah gadis itu sangat mirip
dengan isterinya”. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Bahkan
iapun kemudian berdesis "Aku minta maaf Ki Sanak. Aku tidak tahu
latar belakang kehidupan Ki Sambega. Yang aku lihat hanyalah ujud
lahiriahnya saja. Keras, kasar dan cacat-cacat diwajahnya dan bahkan
jari-jari tangannya. Aku mengira bahwa Ki Sambega adalah seorang
penjahat yang sudah terlalu sering mengalami benturan kekerasan
sehingga wajahnya menjadi cacat sebagaimana tubuhnya”. "Kau tidak
bersalah anak muda" jawab Widigda "bahkan aku merasa sangat hormat
akan sikapmu. Demikian besar perlindungan yang kau berikan terhadap
adik-adikmu sehingga tanpa menghitung akibat yang dapat terjadi”.
"Bukankah itu sudah menjadi kewajibanku? Aku adalah saudara
yang tertua. Bukankah aku bertanggung jawab terhadap
keselamatan adik-adikku?" sahut Mahisa Murti. "Baiklah Ki Sanak"
berkata Widigda "kami serahkan kembali adikmu dalam keadaan
selamat”. "Terima kasih. Aku m inta maaf, bahwa dalam hal ini aku
tidak dapat membantu Ki Sambega" sahut Mahisa Murti. Namun kemudian
katanya "Tetapi jika Ki Sanak berdua berkenan, aku ingin
mempersilahkan Ki Sanak untuk singgah di Padepokan kami. Padepokan
Bajra Seta”. Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Yang
kemudian menjawab adalah Widigda " aiklah Ki Sanak. Kami mengucapkan
terima kasih bahwa kami diijinkan untuk singgah di Padepokan Ki
Sanak”. Demikianlah, maka merekapun segera meninggalkan tempat itu.
Mahisa Amping memang m asih nampak lemah. Tetapi ia dapat b erjalan
sendiri m eskipun harus dipapah oleh Mahisa Semu. Ketika mereka
sampai di padepokan, maka beberapa orang cantrik terkejut melihat
keadaan Mahisa Amping. Wantilan yang tergesa -gesa mendekatinya
bertanya dengan serta merta" Mahisa Semu. Kau apakan adikmu ? Apakah
kau tidak dapat menahan diri selama kau berlatih dengan adikmu?”
"Tidak, paman. Bukan aku" jawab Mahisa Semu. "Jadi kenapa dengan
adikmu itu ?" desak Wantilan. Mahisa Semu memandang Mahisa Murti
dengan ragu. Namun Mahisa Murti yang tanggap itupun tersenyum.
Katanya " Salah Amping sendiri. Ia kurang berhati-hati bermain
diatas bebatuan sungai”. Wantilan m engerutkan dahinya. Tetapi ia m
elihat Mahisa Semu dan Mahisa Amping masih basah kuyup. Namun
Wantilan tidak bertanya lagi. Namun dalam pada itu, Sambega melihat
betapa orangorang Padepokan Bajra Seta menaruh perhatian yang
sangat besar terhadap Mahisa Amping. Seandainya ia berhasil membawa
anak itu pergi, maka seisi Padepokan akan merasa kehilangan.
Semuanya akan merasa bersedih. "Untunglah aku tidak berhasil
membawanya pergi. Seandainya aku memaksa membawa anak itu, maka aku
telah membuat seluruh isi padepokan ini bersedih. Atau mungkin
mereka akan disebar untuk mencari dan memburu orang yang telah
membawanya, sehingga hidupnya akan menjadi semakin tidak tenang”. Ju
stru karena Mahisa Amping telah berada dilingkungannya kembali, maka
rasa-rasanya hati Sambega menjadi damai. Tidak ada beban yang harus
dipikulnya lagi. Di Padepokan, Sambega dan Widigda mendapat
perlakuan yang sangat baik. Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa
Amping tidak m engatakan kepada siapapun, apa yang sudah dilakukan
oleh Sambega. Kepada Mahisa Semu dan Mahisa Amping telah dipesan
oleh Mahisa Murti, bahwa selama Sambega dan Widigda masih berada di
Padepokan, sebaiknya mereka tidak meny ebut lagi apa yang pernah
mereka lakukan atas Mahisa Amping itu. Namun dalam pada itu, dalam
satu kesempatan Widigda sempat bertanya "Anak muda, jika angger
tidak berkeberatan, aku ingin bertanya, apakah ada hubungannya
antara Padepokan Bajra Seta ini dengan jalur ilmu Bajra Geni?”
"Mahisa Murti memang agak terkejut mendengar pertanyaan itu. Dengan
nada rendah ia bertanya "Ki Widigda, darimana Ki Widigda dapat
menduga demikian?” "Hanya sekedar dugaan ngger. Ket ika aku sempat
melihat kedua adikmu berlatih sebelum Sambega mengganggunya, aku
melihat unsur-unsur ilmu betapapun samarnya dari ilmu Bajra Geni”.
"Pada kedua anak-anak itu?" Mahisa Murti menegaskan. "Ya, pada kedua
orang anak itu " jawab Widigda. Mahisa Murti menarik nafas
dalam-dalam. Dengan raguragu ia berkata "Nampaknya Ki Widigda m
emahami benarbenar ilmu Bajra Geni atau da sar-dasar landasan ilmu
Bajra Geni”. "Kau benar anak muda. Yang aku m aksud adalah
dasardasar landasan ilmu Bajra Geni" jawab Widigda. "Landasan ilmuku
memang dasar-dasar landasan ilmu Bajra Geni meskipun barangkali
masih belum matang. Kedua adikku itu belajar padaku, sehingga
dasar-dasar landasan ilmu itu telah diwarisinya pula." jawab Mahisa
Murti. Ki Widigda tersenyum. Katanya "Kedua anak itu memiliki
dasar"dasara landasan ilmu yang sangat kokoh. Dengan mengamati
keduanya, maka dapat diambil kesimpulan, bahwa orang yang
telah mengajari mereka dalam olah kanuragan, adalah seorang
yang berilmu sangat tinggi.” Mahisa Murti tersenyum. Katanya
"Ki Widigda terlalu memuji. Sebenarnyalah bahwa aku masih sedang
berusaha untuk meningkatkan dan mematangkan ilmuku, agar dapat
menempatkan diri pada tataran orang-orang berilmu. Meskipun
barangkali pada tataran yang paling rendah”. "Kau memang
seorang anak muda yang rendah hati" berkata Widigda "tetapi dengan
demikian m aka aku m enjadi semakin y akin akan kemampuanmu" Widigda
berhenti sejenak, lalu katanya kemudian "Sebenarnyalah aku mengenal
orang-orang berilmu tinggi dari belahan ilmu Bajra Geni. Guruku
mengenal seorang yang berilmu sangat tinggi. Namanya Witantra.
Meskipun Witantra masih lebih muda dari guruku, tetapi ilmunya
benar-benar tidak tertandingi”. "Paman Witantra " desis Mahisa Murti
diluar sadarnya. "Kau tentu mengenalnya " desis Widigda. "Ya "
Mahisa Murti mengangguk-angguk "sekarang paman Witantra sudah tidak
ada lagi”. "Aku sudah mendengar. Tetapi apa hubungannya dengan kau
anak muda. Apakah Witantra itu kakek gurumu atau siapa?" bertanya
Widigda. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya
kemudian "Ayahku Mahendra adalah adik seperguruan paman Witantra”
"O" orang itu mengangguk-angguk "jadi kau anak adik seperguruan
Witantra?” “Ya" jawab Mahisa Murti. "Pantas, bahwa kau memiliki ilmu
yang tinggi " desis Widigda. Lalu katanya pula "Adik
seperguruan Witantra tentu seorang yang berilmu sangat tinggi
pula”. "Tidak " jawab Mahisa Murti "ayahku bukan seorang yang
berilmu tinggi sebagaimana paman Witantra. Apalagi aku dan
adik-adikku”. Widigda mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling kepada
Sambega, maka dilihatnya Sambega selalu menundukkan wajahnya saja.
"Sambega" berkata Widigda "kau tidak perlu murung. Anak muda ini
berdiri di jalur perguruan yang sudah kita kenal. Guru kita
mengenal Witantra juga Mahendra. Karena itu, maka kita tidak berada
di tempat orang asing”. Sambega mengangguk kecil. Katanya "Justru
aku berada disini, aku merasa sangat malu”. "Tidak. Semuanya sudah
dilupakan." berkata Widigda. Namun Sambega masih saja merasa rendah
diri atas tingkah lakunya. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa Mahisa
Murti adalah anak Mahendra yang dikenal oleh gurunya. Bahkan gurunya
merasa kagum akan ilmu yang dimiliki oleh Witantra dan Mahendra saat
itu sepeninggal Kebo Ijo, yang dibunuh oleh ketamakannya sendiri.
Sementara itu Mahisa Murti berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Karena itu, maka iapun telah bertanya "Ki Sanak. Jika demikian,
apakah guru Ki Sanak itu masih ada?” "Tidak. Guruku lebih tua dari
Witantra. Ia telah m eninggal lebih dahulu. Sebagaimana kau lihat,
kami muridmuridnyapun sudah setua ini”. Mahisa Murti
mengangguk-angguk kecil. Sementara itu, Widigdapun masih saja
bertanya tentang berbagai macam persoalan, terutama yang menyangkut
Padepokan itu. Ternyata bahwa Mahisa Murtipun bersikap lebih akrab
ketika ia mengetahui bahwa keduanya itu telah mengenal Witantra dan
juga ayahnya, setidak-tidaknya nama Mahendra. Karena itu, maka
Mahisa Murtipun telah menawarkan kepada mereka untuk tinggal lebih
lama lagi di Padepokan itu. Keduanya memang tidak menolak. Widigda
dan Sambega justru merasa berterima kasih sekali, bahwa mereka
mendapat kesempatan untuk tinggal di Padepokan itu. Dalam pada itu,
Sambega masih saja sangat tertarik kepada latihan-latihan yang
dilakukan oleh Mahisa Amping dan Mahisa Semu. Hampir setiap saat
Sambega selalu m enunggui anak-anak itu berlatih. Namun agaknya
Mahisa Amping sendiri m asih saja selalu dibayangi oleh kecemasan
menghadapi Sambega. Ra sa -rasanya Sambega masih saja akan m
enerkamnya dan membawanya lari keluar Padepokan Bajra Seta. Tetapi
ketika hal itu disampaikannya kepada Mahisa Murti, maka Mahisa Murti
itupun berkata "Kau tidak perlu takut lagi Amping. Orang itu
ternyata bukan orang jahat. Tetapi penderitaan yang dialaminya
yang telah membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Juga
atas keinginankeinginannya untuk menutupi kegelisahannya”.
"Bagaimana jika kehilangan kendali itu terjadi lagi dengan tiba
-tiba?" bertanya Mahisa Amping. "Saudara seperguruannya ada di sini.
Ki Widigda mempunyai pengaruh yang cukup besar atas Ki
Sambega" jawab Mahisa Murti. Mahisa Amping mengangguk-angguk. Ia
mencoba untuk mengerti. Tetapi jika didalam sanggar ia melihat sepa
sang mata Ki Sambega yang bagaikan m enyala, m aka jantungnya
menjadi berdebar-debar. Bahkan kadang-kadang ia tidak mampu
memusatkan nalar budinya dalam latihan-latihan tuu. Tetapi lambat
laun agaknya Ki Sambega sendiri dapat mengerti perasaan anak itu.
Tetapi karena ia selalu ingin menyaksikan Mahisa Amping dan Mahisa
Semu berlatih, maka setiap kali ia minta Ki Widigda atau bahkan
Mahisa Murti sendiri menemaninya, sehingga hati Mahisa Amping merasa
tenang. Dengan demikian maka latihan-latihan yang
dilakukannyapun menjadi lebih baik. Dengan demikian maka
rasa-rasanya Ki Sambega semakin kerasan tinggal di padepokan itu.
Rasa-rasanya ia mendapat kesempatan untuk dapat menunggui lagi
anaknya yang pernah hilang. Tetapi yang tidak
terduga-duga itu telah terjadi. Ternyata saudara seperguruannya
yang pernah datang dan membunuh isteri dan anaknya itu telah
mencarinya. Bahkan akhirnya mereka mengetahui bahwa Ki Sambega ada
di Padepokan Bajra Seta. Untuk beberapa hari lamanya, orang itu
mengamati dari kejauhan, apakah benar Ki Sambega ada di Padepokan
itu. Sebenarnyalah, bahwa pada satu hari mereka memang melihat Ki
Sambega itu berada di luar pintu gerbang Padepokan Bajra Seta
bersama Mahisa Semu, Mahisa Amping, Wantilan dan beberapa orang
cantrik. Mereka sedang menghirup udara yang cerah disore hari
sekaligus menerima kunjungan beberapa orang anak muda dari padukuhan
sebelah yang sedang mempersiapkan keramaian di padukuhan
mereka. Mereka ingin mempergelarkan kemampuan beberapa orang anak
muda padukuhan yang serba sedikit menguasai unsur-unsur gerak
latihan dasar olah kanuragan. "Tentu saja sekedar bermain-main"
berkata anak muda yang tertua diantara mereka. Lalu katanya "Kami
ingin mendapat beberapa petunjuk, apa yang sebaiknya kami
lakukan untuk rencana itu. Kami tidak ingin terjadi salah paham,
seakan-akan kami dengan sengaja memamerkan kemampuan yang baru
setitik itu”. Wantilan tersenyum. Katanya "Satu rencana yang baik.
Jika kalian meny elenggarakan pergelaran itu dengan niat yang baik,
maka tentu tidak akan ada yang menuduh kalian sekedar meny
ombongkan diri”. "Sementara itu, apa yang sepantasnya menjadi
bahan pergelaran itupun ingin kami dapatkan dari mereka yang
memiliki kemampuan yang cukup." berkata anak muda itu. Wantilan m
engangguk-angguk. Katanya kemudian "Kalian sudah cukup berhati-hati.
Baiklah kalian bertemu langsung dengan Mahisa Murti”. Anak muda
yang tertua diantara mereka itupun mengangguk hormat sambil
menjawab " Terima kasih atas kesempatan itu”. Kepada Mahisa Semu
Wantilan berkata "Ajak mereka menemui kakakmu jika ia tidak sedang
sibuk”. Sementara mereka memasuki gerbang Padepokan Bajra Seta, maka
Sambegapun berkata "Tentu akan menjadi tontonan yang menarik. Aku
ingin melihat bagaimana anakanak itu melaksanakan rencananya.
Mungkin diantara mereka ada anak-anak yang memiliki kelebihan dari
kawankawannya”. Wantilan yang mengetahui bahwa Ki Sambega itu
merindukan seorang anak, maka iapun mengangguk-angguk sambil
menjawab "Jika saja kau dapat menunggunya”. "Aku tidak mempunyai
rencana yang harus segera aku lakukan. Jika saja aku masih
diperkenankan berada di Padepokan ini, maka aku akan menunggu”.
"Tentu. Padepokan ini t idak mempunyai keberatan apapun seandainya
kau akan tinggal disini lebih lama lagi”. Untuk beberapa lamanya,
Sambega masih berada di depan pintu gerbang bersama Wantilan dan
beberapa orang cantrik. Namun k emudian merekapun telah masuk pula
melalui regol yang kemudian ditutup. Beberapa orang dikejauhan
melihat, bahwa Sambega benar-benar berada di Padepokan itu. Mereka
telah melihat sendiri sehingga dengan demikian m ereka tidak akan
raguragu lagi. "Kita akan menemui pemimpin dari Padepokan kecil
ini." berkata salah seorang dari mereka. "Bukan sebuah padepokan
kecil" berkata seorang yang lain "nampaknya sebuah padepokan
yang besar”. "Yang besar adalah bangunan dan barak-baraknya. Tetapi
aku tidak yakin, bahwa ada seorang diantara mereka yang berilmu
tinggi. Agaknya Sambega telah dikagumi, sehingga ia akan mempunyai
pengaruh yang sangat besar di padepokan itu.” Kawannya
mengangguk-angguk. Sementara itu saudara seperguruan Sambega itu
berkata "Aku akan memasuki padepokan itu. Aku akan minta agar
Sambega diberikan kepadaku. Kali ini umurnya tidak akan terlepas
lagi dari tanganku”. "Iblis itu termasuk licin. Ternyata ia masih
dapat bertahan hidup." berkata kawannya. “ Ia memang licik. Ia dapat
berpura-pura mati." sahut adik seperguruannya "jika saja saat itu
aku tahu bahwa ia m asih hidup. Aku tentu akan mencincangnya menjadi
sayatansayatan kecil”. "Tetapi hidupnya tentu sudah tidak berarti
lagi setelah isteri dan anaknya terbunuh." guman kawannya.
"Perempuan terkutuk. Jika saja ia memilih aku untuk menjadi
isterinya, maka ia akan m enjadi seorang perempuan yang memiliki apa
saja yang ia inginkan. Tetapi karena ia memilih menjadi isteri
Sambega, maka ia mengalami nasib buruk. Mati dalam keadaan yang
tidak sepantasny a”. Kawannya tidak menyahut. Sementara itu saudara
seperguruan Sambega berkata "Besok kita m asuki padepokan itu. Kita
akan minta agar Sambega diberikan kepada kita, atau padepokan itu
akan menjadi debu. Kita bukan saja berempat sebagaimana kita datang
kerumahnya dan membunuhnya bersama anak isterinya, m eskipun
kemudian ternyata bahwa ia luput dari maut. Sekarang kita berjumlah
sepuluh orang. Padepokan itu akan kita hancurkan jika mereka menolak
memberikan Sambega.” Kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi mereka
merasa sebagai orang-orang berilmu tinggi, sehingga mereka akan
mampu menaklukkan padepokan itu meskipun mereka tahu bahwa di
padepokan itu terdapat banyak para cantrik yang tinggal. "Dengan
membunuh sepuluh atau duapuluh orang, maka yang lain tentu akan meny
erah " berkata saudara seperguruan Sambega itu. Sedangkan
orang-orang itu m enganggap bahwa membunuh sepuluh atau duapuluh
orang bukanlah pekerjaan yang sulit bagi mereka. Namun ketika malam
tiba, orang-orang itu masih menunggu. Meskipun demikian bergantian
mereka mengawasi regol padepokan itu agar Sam bega tidak sempat
meninggalkan padepokan itu. "Besok pagi-pagi aku akan memasuki
padepokan itu " berkata saudara seperguruan Sambega. Malam itu tidak
terjadi sesuatu di padepokan. Anak-anak muda dari padukuhan sebelah
telah pulang dengan bekal petunjuk dari Mahisa Murti, apa yang
sebaiknya mereka lakukan jika mereka ingin mempergelarkan
unsur-unsur olah kanuragan. Mahisa Murti m engingatkan kepada
mereka, agar unsur -unsur itu dipertunjukkan sebagaimana mereka
mempertunjukkan sebuah tarian. Seperti direncanakan, maka ketika
matahari mulai memanjat naik, maka sepuluh orang yang merasa
dirinya berilmu tinggi telah mendatangi Padepokan Bajra Seta. Dengan
sikap yang garang, m ereka mendekati pintu gerbang Padepokan.
Para cantrik yang b ertugas direg ol telah m enyapa mereka
sambil mengangguk hormat. Namun saudara seperguruan Sambega dengan
kepala tengadah menjawab "He, bawa aku kepada Sambega”. Seorang
cantrik yang tertua diantara mereka yang bertugas
mengerutkan dahinya. Ia m erasa heran m elihat sikap orangorang itu.
Para cantrik di reg ol telah menangguk hormat. Mereka bertanya
dengan baik, apakah mereka mempunyai satu kepentingan atau ingin
bertemu atau berbicara dengan siapa. Tetapi jawaban orang itu
ternyata terlalu kasar. Meskipun demikian cantrik-cantrik itu masih
menahan diri. Yang tertua diantara mereka bertanya pula "Apa yang
sebenarnya kalian kehendaki ?” "He, apakah kau tuli ? Bawa Sambega
kepadaku " bentak orang itu dengan kasar. Cantrik yang sedang
bertugas itu mulai tersinggung. Karena itu, maka yang tertua
diantara mereka menjawab "Ki Sanak. Ki Sanak tamu di padepokan ini.
Kalian tidak dapat bersikap seperti itu”. "Tutup mulutmu atau aku
pilin lidahmu. Dengar, bawa Sambega kemari. Kau tidak dapat
berbohong, karena aku melihat Sambega ada disini." bentak orang itu.
Namun cantrik yang bertugas dan merasa bertanggung jawab itu
tidak begitu saja tunduk kepada orang itu betapapun orang itu nampak
garang, keras dan kasar. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti
yang sudah mendapat laporan tentang kedatangan sepuluh orang
itupun telah melangkah kepintu gerbang diikuti oleh Wantilan dan
Mahisa Semu serta beberapa cantrik tertua di Padepokan itu. Saudara
seperguruan Sambega itu memandang Mahisa Murti dengan kening yang
berkerut. Anak muda itu nampak begitu y akin akan sikapnya. Tanpa
ragu-ragu Mahisa Murti melangkah mendekati orang-orang yang
mendatangi padepokannya itu. "Apa yang kalian cari Ki Sanak ?"
bertanya Mahisa Murti. "Aku tidak akan mengulangi beberapa kali.
Bawa Sambega kemari " jawab saudara seperguruan Sambega itu. "Apakah
kalian ingin bertemu dengan Ki Sambega ?" bertanya Mahisa Murti.
"Apakah kau tuli ?" orang itu membentak keras-keras. Sambega dan
Widigda ternyata mendengar keributan di pintu gerbang. Dari bangunan
induk mereka melihat bahwa yang datang itu adalah saudara
seperguruan m ereka dengan beberapa orang kawannya. "Tetapi Mahisa
Am ping telah terlanjur berteriak. Lengkara yang sempat memandang
Mahisa Ampingpun mengumpat kasar. Dengan geram ia berkata " Aku
ingin mengoy ak mulutmu, tikus kecil”. Mahisa Amping memang berusaha
untuk menjaga mulutnya, agar tidak menyahut lagi. Betapapun dadanya
menjadi sesak, tetapi anak itu memang mengatupkan mulutnya
rapat-rapat. Dalam pada itu, Lengkarapun kemudian berkata kepada
Sambega "Sambega, bersiaplah untuk mati. Kita akan membuat
perhitungan sekarang”. Sambega menarik nafas dalam-dalam. Katanya
"Aku sudah siap, Lengkara”. Lengkarapun segera melangkah maju,
sementara kawankawannya berdiri berkelompok. Namun mereka semuanya
telah bersiap untuk berbuat sesuatu setiap saat Lengkara memberikan
isyarat. Dalam pada itu, Widigda dan Mahisa Murti berdiri di sebelah
yang lain, seakan-akan mereka telah menempatkan diri pada sisi yang
berlawanan. Sedangkan Wantilan, Mahisa Semu dan beberapa orang
cantrik tertua telah berderet pula membentuk sebuah lingkaran yang
cukup besar. Sedangkan para cantrik yang lainpun agaknya
tertarik untuk melihat apa yang akan terjadi. Mahisa Murti tidak
melarang para cantrik menyaksikan kedua orang saudara seperguruan
yang telah dibakar oleh dendam itu. Siapapun yang menang dan
siapapun yang kalah, maka dendam yang membakar dua orang
saudara seperguruan itu akibatnya selalu buruk. Apalagi jika harus
jatuh korban diantara mereka. Demikianlah, maka sejenak kemudian,
Lengkara telah mulai menyerang, sementara Sambega bergeser selangkah
surut. Namun kemudian, serangan-serangan Lengkara mengalir seperti
banjir bandang. Arus dendamnya benarbenar tidak terbendung lagi. Ra
sa-rasanya ia ingin langsung membunuh saudara seperguruannya itu.
Sambega memang terdesak. Ia terkejut atas seranganserangan
yang keras dan kasar dari saudara seperguruannya itu. Namun
dendam didadanya juga sudah menyala. Seranganserangan Lengkara itu
seperti curahnya minyak meny iram api dendamnya itu, sehingga
berkobar bagaikan menggapai langit. Sambega ternyata tidak menahan
diri lagi. Yang terbayang adalah istri dan anaknya yang telah
mati terbunuh. Kemudian kegilaannya sendiri saat ia hampir saja
dengan paksa mengambil seorang gadis yang sudah siap untuk menikah
karena wajahnya mirip dengan istrinya yang terbunuh. Juga
kegilaannya untuk mengambil Mahisa Amping untuk dijadikan pengganti
anaknya yang terbunuh itu. Dengan demikian, maka keduanya
telah meningkatkan ilmu mereka dengan cepat. Mereka ingin dengan
cepat pula membunuh saudara seperguruannya itu. Widigda menyaksikan
pertempuran itu dengan saksama, ketika ia masih berkumpul bersama
kedua orang saudara seperguruannya itu, ia tahu pasti bahwa ilmu
Sambega lebih baik dari ilmu Lengkara. Namun saat itu Widigda
melihat bahwa unsur-unsur gerak yang dipergunakan Lengkara sudah
tidak mumi lagi dari perguruan mereka. Dengan demikian, maka Widigda
y akin bahwa Lengkara telah memperdalam ilmunya untuk pada suatu
saat dapat membalas dendam. Karena itu, maka Widigda sempat menjadi
berdebar-debar. Sementara itu, ia masih melihat Sambega beralaskan
ilmu yang agaknya masih mumi. Unsur-unsur gerak yang dipergunakannya
semuanya telah dikenalnya. Namun kegelisahannyapun menjadi semakin
susut ketika ia melihat bahwa ilmu Sambega itu telah menjadi semakin
matang. Meskipun ia tidak melengkapi ilmunya dengan ilmu dari jalur
perguruan yang lain, namun Sambega selama bertahun-tahun telah
meningkatkan dan mengembangkan ilmunya itu sehingga menjadi semakin
mey akinkan. Karena itu, meskipun Sambega juga mengerti bahwa ada
unsur -unsur gerak yang terasa asing pada ilmu saudara
seperguruannya, namun Sambega sama sekali tidak menjadi cemas.
Demikianlah, maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin cepat
dan semakin seru. Keduanya telah keduanya telah mengerahkan
kemampuan mereka dalam bayangan dendam dan kebencian. Lengkara
yang telah mewarnai ilmunya dengan jalur ilmu perguruan yang
lain itupun nampak semakin keras dan kasar. Serangan-serangannya
kemudian datang seperti hentakan ombak yang menghantam tebing
lautan. Berturut-turut susul menyusul. Tetapi Sambegapun sudah
menjadi sekokoh batu-batu karang di pantai. Dengan kekuatan dan day
a tahan yang tinggi, maka serangan-serangan Lengkara itu tidak
menggoy ahkan pertahanannya. Dengan demikian, maka keduanya yang
saling dendam itu telah saling m eny erang dan saling bertahan.
Sambega yang telah mematangkan ilmunya itu m eny erang Lengkara
seperti putaran angin pusaran. Namun dengan licin, Lengkara selalu
berhasil keluar dari pusat putaran serangan Sambega. Selain Widigda,
maka Mahisa Murti yang juga berilmu tinggi itu memperhatikan
pertempuran antara kedua orang saudara seperguruan itu dengan
seksama. Mahisa Murti segera dapat melihat bahwa Lengkara telah
melengkapi ilmunya dengan unsur-unsur gerak dari jalur perguruan
yang lain sebagaimana Mahisa Murti sendiri tidak hanya berpijak pada
ilmu yang diwarisinya dari ayahnya saja. Namun Mahisa Murti
masih m engenali watak dan sifat ilmu Sambega yang bersumber dari
satu perguruan, namun yang sudah ditingkatkan dan
dikembangkan, sehingga menjadi semakin matang. Karena itulah, maka
pertempuran itu menjadi sangat mendebar-debarkan, karena tidak
segera dapat diketahui, siapakah yang akan menang dan siapa
yang akan kalah. Namun semakin lama Lengkara sendiri semakin merasa
betapa saudara seperguruannya itu telah mematangkan ilmunya.
Meskipun ia telah melengkapi ilmunya dengan unsur -unsur dari
perguruan lain. Lengkara sendiri merasa bahwa sulit untuk mengatasi
ilmu Sambega yang ternyata sudah menjadi semakin matang. Meskipun
demikian, Lengkara masih mencoba mengerahkan kemampuannya. Ia
bergerak semakin cepat. Kekuatannyapun seakan-akan menjadi semakin
besar, sementara serangan-serangannya menjadi semakin garang. Tetapi
Sambegapun telah melakukan hal yang sama. Iapun mampu
meningkatkan ilmunya sebagaimana dilakukan oleh Lengkara. Jika
sekali-sekali Lengkara meny erang dengan mempergunakan unsur-unsur
gerak yang disadapnya dari jalur perguruan lain, maka Sambega ju
stru menunjukkan kematangan ilmunya. Unsur-unsur dari jalur
perguruan lain itu tidak membuatnya menjadi kebingungan. Lengkara
justru menjadi semakin marah. Tangannya dengan garangnya
menyambar-ny ambar. Sekali bergerak bagaikan kapak yang siap
membelah sebatang gelondong kayu yang besar. Namun jika serangan itu
luput dari sa sarannya, maka tangan Lengkarapun menebas mendatar.
Tetapi memang tidak mudah maiy entuh tubuh Sambega. Tangannya yang
cacat itupun mampu menangkis serangan-serangan yang datang beruntun
dengan cepat. Bahkan ketika tangan Lengkara m enyambar keningnya,
maka Sambega menangkis sambaran tangan itu hanya dengan ujung
jarinya yang tinggal sebuah disatu sisi tangannya, sementara
tangannya yang lain, yang mempunyai jari-jari utuh, justru menyambar
lambung Lengkara. Lengkara mengaduh kesakitan sambil meloncat surut
untuk mengambil jarak. Sambega ternyata tidak memburunya. Ia berdiri
tegak memandang saudara seperguruannya yang kesakitan itu. Tetapi
matanya yang memancarkan api dendam itu masih saja bagaikan menyaia.
Ia justru menunggu agar Lengkara mengetrapkan ilmu puncaknya,
sehingga iapun akan membenturnya dengan ilmu yang sama. Namun
Sambega masih berharap bahwa kematangan ilmunya tidak akan berada
dibawah kematangan ilmu Lengkara. Bahkan seandainya ilmunya tidak
lebih baik dari ilmu Lengkara, namun ia y akin bahwa ilmunya tidak
berada dibawah ilmu saudara seperguruannya. Jika dengan demikian
maka mereka akan mati bersama, maka Sambega sama sekali tidak merasa
berkeberatan. Dendamnya sudah dituangkannya, sementara sisa hidupnya
tidak akan berarti apa-apa lagi. Sementara itu Lengkara berdiri
termangu-mangu beberapa langkah dari Sambega. Kemarahannya memancar
dari wajahnya yang bagaikan membara. Sambega yang nampak lebih
tenang dari Lengkara itupun kemudian berkata "Lengkara. Kita berguru
pada perguruan yang sama, kita m empunyai bekal ilmu yang
sama. Aku tidak tahu siapakah y ahg lebih baik diantara kita. Tetapi
jika kau ingin menjajagi kemampuan kita dengan mengadu ilmu puncak
yang sama-sama kita pelajari dari guru yang sama, marilah.
Meskipun kau sudah melengkapi ilmumu dengan ilmu dari perguruan
lain, namun aku masih t etap bersiap membuat perbandingan ilmu itu.”
Jantung Lengkara menjadi semakin terbakar. Tetapi ia masih tetap
menyadari bahwa ia ragu-ragu apakah ilmu puncaknya akan dapat
mencapai tataran yang sama dengan Sambega. Karena itu untuk
beberapa saat Lengkara justru berdiri mematung. Namun tatapan
matanya yang tajam bagaikan menusuk tembus ke jantung Sambega.
Karena Lengkara tidak segera berbuat sesuatu, maka Sambegapun
berkata “Lengkara. Kenapa kau ju stru terdiam? Marilah, segeralah
bersiap. Kita akan membuat perbandingan ilmu puncak kita.
Bersiaplah,, aku akan segera melakukannya. Demi nama baik
keluargaku, demi nama isteri dan anakku yang telah kau bunuh, m aka
sekarang kita harus membuat perhitungan yang tuntas. Kau atau
ahu akan mati. Bahkan mungkin kita akan mati bersama-sama jika
ternyata tataran ilmu kita sama tinggi, sementara daya tahan kita
sama-sama tidak cukup kuat untuk bertahan.” “ Iblis Kau Sambega”
geram Lengkara. Tetapi Lengkara tidak segera melakukan sesuatu Ia
masih saja ragu-ragu, bahwa kemampuan puncaknya akan dapat
mengimbangi kemampuan puncak Sambega yang bersumber pada ilmu yang
sama. Namun yang nampaknya Sambega sempat mengembangannya dan
lebih mematangkannya. Namun Sambega benar-benar tidak menunggu.
Iapun mulai mempersiapkan dirinya untuk memusatkan nalar budinya.
Wajah Lengkara menjadi semakin tegang. Namun terny ata Lengkara
tidak sejantan Sambega yang cacat itu. Dalam keadaan yang rumit itu,
iapun berteriak “Selesaikan iblis itu.” Sepuluh orang yang
datang bersamanya itu dengan sigapnya telah berloncatan berpencar.
Demikian pula Lengkara telah meloncat berbaur dengan kawan-kawannya.
“Pengecut kau Lengkara” teriak Sambega yang menjadi sangat marah.
Bukan saja Sambega, namun Widigdapun berteriak pula “Lengkara. Kau
licik. Aku sudah mengatakan bahwa aku hanya menjadi saksi jika
kalian meny elesaikan persoalan kalian dengan jujur. Tapi jika salah
seorang diantara kalian tidak jujur, maka aku akan ikut campur pula.
"Aku tidak peduli" jawab Lengkara sambil berteriak pula “Aku datang
ber sama sepuluh orang berilmu tinggi. Siapa yang mencoba
menghalangi aku, maka aku akan membiasakannya. Karena itu kakang
Widigda, jangan m encampuri persoalanku dengan Sambega yang memang
sudah sewajarnya harus mati.” Sepuluh orang kawan-kawan Lengkara
itupun segera membagi diri. Dua diantara mereka segera meny erang
Widigda sementara Lengkara dan seorang yang lain telah menyerang
Sambega. Sedangkan seorang diantara mereka telah bersiap menghadapi
Mahisa Murti yang nampaknya masih sangat muda itu. Sedangkan
yang lain harus menghadapi kelompok-kelompok cantrik
yang dipimpin oleh Wantilan, Mahisa Semu dan beberapa orang
cantrik tertua. Sementara itu, dua orang cantrik telah diminta oleh
Wantilan agar menjaga Mahisa Amping. "Anak itu tidak boleh
ikut-ikutan" berkata Wantilan "lawanlawan yang dihadapi
sekarang adalah orang-orang berilmu tinggi, sehingga keadaan akan
sangat berbahaya baginya ". Dengan cepat pertempuranpun telak
menyala. Widigda yang harus menghadapi dua orang berilmu tinggi,
memang harus mengerahkan segenap kemampuannya. Demikian pula
Sambega. Ia tidak dapat melontarkan ilmu pamungkasnya, justru karena
ia harus bertempur melawan dua orang bersama-sama. Namun Lengkarapun
tidak juga segera mendapat kesempatan untuk melakukannya, karena
berdua mereka melibat Sambega dalam pertempuran yang rapat.
Lengkara memang berniat membunuh Sambega tidak dengan ilmu
pamungkasnya. Bagaimanapun juga ia masih juga ragu-ragu. Jika
Sambega sempat membentur lontaran ilmunya dengan ilmu yang sama,
maka ada kemungkinan lain terjadi atasnya. Meskipun seandainya
kawannya dapat dengan cepat membantunya meny elesaikan Sambega,
namun ia sendiri dapat m engalami kesulitan, bahkan mungkin ia tidak
akan sempat melihat Sambega itu terkapar mati. Berdua Lengkara
memang mampu mendesak Sambega. Betapapun Sambega mengerahkan
kemampuannya, namun perlahan-lahan tetapi pasti ia mulai terdesak.
Di sisi lain, Widigda m asih tetap bertahan. Kedua orang yang
dihadapinya tidak memiliki bekal ilmu setinggi Lengkara. Namun bukan
berarti bahwa Widigda dengan cepat m ampu mengatasi lawannya, karena
kedua orang lawannya itu juga berilmu tinggi. Setidak-tidaknya
keduanya m ampu bertahan untuk waktu yang lama. Sementara atas pesan
Lengkara sebelumnya, karena Lengkara m emang menduga bahwa ada
kemungkinan Widigda bersama Sambega, bahwa untuk melawan
saudara-saudara seperguruannya, mereka jangan memberi kesempatan
untuk dapat melepaskan ilmu pamungkasny a yang sangat berbahaya.
Ternyata Lengkara dan kawan-kawannya benar-benar menemui Widigda
bersama Sambega, meskipun hal itu sempat mengejutkannya. Yang tidak
dapat langsung mengetahui kemampuan lawannya adalah salah seorang
diantara mereka yang bertemu dengan Mahisa Murti. Orang itu
masih berusaha untuk menjajagi kemampuan anak muda yang menjadi
pemimpin Padepokan Bajra Seta itu. Tetapi karena orang itu sama
sekali masih belum mengetahui kemampuan Mahisa Murti, maka orang itu
berniat untuk mulai dari permulaan. Namun sejak semula, sebagaimana
Lengkara, orang itu menganggap betapapun tinggi ilmu anak muda itu,
namun dalam kemudaannya, ilmunya tentu masih belum masak. Karena
itu, maka orang itu masih belum bersungguhsungguh menghadapi Mahisa
Murti yang menyadari akan sikap lawannya itu. Namun ternyata
Mahisa Murti bersikap lain. Ia sadar, bahwa orang-orang berilmu
tinggi itu akan sangat sulit dihadapi oleh para cantriknya meskipun
dalam kelompokkelompok yang sudah disusun sebaik-baiknya.
Mahisa Murti tidak ingin para cantriknya menjadi korban karena per
soalan orang lain. Karena itu, maka Mahisa Murtipun bertindak cepat.
Ia tidak memberi waktu terlalu lama kepada lawannya. Demikian Mahisa
Murti mulai, maka iapun telah mengetrapkan ilmunya yang dapat
menyusut kekuatan dan kemampuan lawannya. Lawannya yang masih saja
merendahkan Mahisa Murti sama sekali tidak m enyadari akan hal itu.
Karena itu, m aka ketika Mahisa Murti meny erangnya, orang itu sama
sekali tidak berusaha untuk menghindar. Tetapi dengan tenaganya yang
besar, orang itu membentur serangan Mahisa Murti. Mahisa Murti
memang sengaja meloncat surut. Sementara lawannya sempat tertawa dan
berkata "Marilah anak muda. Nampaknya kau memang ingin bermain api.
Jika kau pemimpin Padepokan ini, m aka kau dan seluruh cantrikmu
tidak dapat m elawan aku seorang diri. Apalagi aku bersama sepuluh
orang yang datang ke padepokanmu ini”. Mahisa Murti tidak
menjawab. Tetapi ia sudah memutuskan bahwa ia harus dengan cepat
mengakhiri perlawanan lawannya itu untuk segera dapat melunakkan
perlawanan orang yang lain. Karena itu, maka Mahisa Murtipun segera
meny erang kembali. Meskipun serangannya nampak tidak berbahaya,
namun sebenarnyalah bahwa serangan itu telah dilambari dengan
ilmunya yang tidak segera dapat dilihat oleh lawannya.
Beberapa saat benturan-benturan telah terjadi. Mahisa Murti meny
erang dengan cepat dan beruntun. Namun lawannya dengan tangkas pula
menangkis setiap serangan. Sekali-sekali ia memang menghindar.
Tetapi karena ia merasa memiliki kekuatan yang sangat besar, maka
orang itu memang lebih banyak menangkis serangan Mahisa Murti.
Beberapa kali terjadi benturan orang itu masih saja t ertawa, karena
Mahisa Murti setiap kali harus berloncatan m undur. Namun ketika
serangan itu datang terus-menerus, maka lawannya itu mulai merasakan
kelainan pada dirinya. Wajah Widigda menjadi merah. Iapun kemudian
melangkah maju dan berdiri disebelah Sambega "Aku tidak dapat m
enerima kenyataan ini. Lengkara, jika kau memang berbuat licik
seperti itu, m aka aku akan bertempur dipihak Sambega. Meskipun kau
bersama dengan sepuluh orang berilmu tinggi, namun kami tidak akan
gentar. Jika kami memang harus mati, maka biarlah kematian kami
merupakan kematian seorang laki-laki”. "Kakang Widigda" geram
Lengkara "aku sudah memperingatkanmu. Aku dan kau tidak mempunyai
per soalan selain karena kau sudah m embantu peny embuhan Sambega.
Tetapi itu sudah aku maafkan. Tetapi jika kau sekarang masih akan
membantu Sambega lagi, m aka jika kau m ati sekarang pula, itu bukan
salahku”. "Kau tidak perlu merasa bersalah. Kita sudah turun diarena
pertempuran. Maka kematian adalah akibat yang wajar yang dapat
terjadi atas mereka yang sedang bertempur Lengkara m
enggeretakkan giginya. Katanya "Jika itu yang kau kehendaki,
maka baiklah. Kita akan menunjukkan, siapakah diantara kita
yang akan berhasil membunuh lawan.” "Membunuh dengan cara
yang licik, bukan satu kebanggaan Lengkara." berkata Widigda.
"Aku memang tidak sedang membanggakan diri. Yang penting bagiku
adalah membunuh Sambega dengan cara apapun juga. Jika dalam hal ini
kau juga terbunuh meskipun aku sudah memberimu peringatan berulang
kali, maka kau sendirilah yang membunuh dirimu sendiri." sahut
Lengkara. Namun dalam pada itu, sebelum pertempuran itu mulai lagi,
maka tiba-tiba Mahisa Murti telah m elangkah maju pula sambil
berkata "Ki Sanak. Sudah aku katakan, bahwa aku akan meminjamkan
tempat ini untuk melakukan satu perang tanding yang jujur.
Karena itu, m aka jika yang terjadi bukan lagi satu perang tanding
yang jujur, maka aku sangat berkeberatan untuk memberikan
tempatku ini sebagai ajang pertempuran yang licik dan curang”.
"Setan kau" teriak Lengkara "kau berani mencampuri persoalan ini?
He, siapakah yang kau maksud dengan licik dan curang itu?”
"Jadi kau masih bertanya, siapakah yang licik dan curang?" justru
Mahisa Murti telah bertanya pula. "Jawab, atau kau juga akan m ati
dan padepokanmu akan menjadi padepokan kami." geram Lengkara. "Baik.
Aku akan menjawab" nada suara Mahisa Murti menjadi berat "Meskipun
jawaban ini sudah kau ketahui. Kaulah yang licik dan curang itu”.
"Setan kau. Jadi kau benar-benar ingin melibatkan diri dengan tidak
memberikan tempatmu ini sebagai ajang pertempuran ini?" bertanya
Lengkara. "Ya " jawab Mahisa Murti tegas "aku m inta kau tinggalkan
tempatku ini, atau aku dan seisi padepokan ini akan mengusirmu”.
"Ternyata kau adalah orang yang paling sombong yang
pernah aku temui selama ini. Kau kira kau dapat mengusir aku? Kau
ini siapa he? Dan aku ini siapa?” "Aku adalah Mahisa Murti, pemimpin
Padepokan Bajra Seta, sedangkan kau adalah seorang saudara
seperguruan yang dengki sehingga mendendam sampai keubun-ubun. Kau
kira bahwa dendam seperti itu akan dapat menyelesaikan persoalan?
Dengar Lengkara, dendammu akan menyala sampai ke akhir batas k
eturunanmu jika keturunanmu k elak berpendirian seperti kau. Dendam
yang tidak berkeputusan serta dendam berbalas dendam, kapan
dendam itu akan berakhir sehingga keturunanmu akan mengalami hidup
tenteram?” "Diam kau tikus yang dungu. Dengar, aku tidak akan
pergi. Tetapi aku akan membunuh kedua orang saudara seperguruanku
yang tidak tahu diri, membunuhmu dan membunuh semua cantrikmu
yang tidak mau tunduk kepadaku. Aku akan memiliki dan memimpin
padepokan ini" " geram Lengkara. Mahisa Murti tidak dapat tinggal
diam. Ia tahu bahwa kawan-kawan Lengkara tentu orang-orang berilmu
tinggi. Tetapi ia mempunyai beberapa orang cantrik yang sudah
mendapat bekal yang cukup. Sedangkan jumlahnyapun cukup banyak.
Karena itu, ketika Mahisa Murti memberikan isyarat, maka Wantilan
dan Mahisa Semu segera bertindak. Mereka langsung memberikan isy
arat pula kepada beberapa orang cantrik tertua yang sudah
memiliki kemampuan kanuragan yang cukup untuk menyusun
kelompok-kelompok kecil. Merekapun dengan cepat mempersiapkan diri
dengan senjatasenjata mereka. Terutama senjata lontar. Pisau-pisau
belati dan lembing disamping pedang dilambung. Lengkara menjadi
semakin marah. Sementara Widigda berkata "Angger Mahisa Murti.
Biarlah kami mengatasi persoalan kami sendiri. Kami tidak ingin
menyulitkan kedudukan angger disini”. "Tempat ini adalah tempat
kami. Karena itu, sudah sewajarnya jika kami m enentukan, apa yang
sebaiknya kami lakukan," jawab Mahisa Murti. Widigda tidak menjawab
lagi. Ia tidak ingin meny inggung perasaan Mahisa Murti sebagai
pemimpin Padepokan Bajra Seta. Namun Widigdapun berharap, bahwa ia
tidak salah hitung, bahwa Mahisa Murtipun memiliki bekal ilmu yang
memadai, sehingga akan dapat mempertahankan diri menghadapi
orang-orang yang berilmu tinggi itu. Demikianlah, maka kedua
belah pihak itupun segera mempersiapkan diri.Lengkara yang
sudah tidak sabar lagi berteriak sekali lagi "Cepat, kenapa kalian
menghiraukan tikus-tikus dungu itu?” Wajah Mahisa Murti m enjadi
tegang. Kemarahannya telah membakar jantungnya. Ia memang tidak rela
bahwa ada cantrik padepokannya yang jatuh m enjadi korban, sedangkan
persoalannya sama sekali tidak menyangkut padepokannya itu. Tetapi
Mahisa Murti memang benar-benar tidak dapat membiarkan kecurangan
terjadi di Padepokannya yang dilakukan oleh Lengkara dan
kawan-kawannya. Betapapun Mahisa Murti mengekang dirinya, m aka k
etika ia melihat seorang lagi diantara para cantriknya yang
terlempar keluar dari arena pertempuran dengan darah yang memancar
dari luka didadanya, maka jantungnya memang menjadi panas. Dengan
sor ot mata yang menyala Mahisa Murti memasuki arena pertempuran
itu. Kepada para cantrik ia berkata "Bergabunglah dengan
kawan-kawanmu yang lain. Atasi orang-orang yang telah
melanggar hak dan wewenang kita di padepokan mi. Aku akan membuat
perhitungan dengan orang yang telah melukai cantrik-cantrik
padepokan kita ini.” Para cantrik itupun segera berloncatan mundur.
Namun hati merekapun mulai berkembang ketika mereka melihat Mahisa
Murti sendiri telah datang membantu mereka. Sementara itu orang
yang bertubuh raksasa itupun dengan garangnya menggeram "He
anak muda. Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau juga ingin
mengalami sebagaimana dialami oleh cantrik-cantrikmu? Mereka telah
terluka parah. Bahkan mereka sekarang agaknya sudah mati”. "Jadi kau
memang sengaja membunuh Ki Sanak?" bertanya Mahisa Murti. "Ya,
kenapa?" orang itu kemudian tertawa "bukankah kita sedang bertempur?
Aku akan membunuh cantrikmu sebanyak-banyaknya. Bahkan membunuhmu
karena kebodohanmu sendiri. Dan sekarang kau sudah datang untuk
menyerahkan nyawamu”. Mahisa Murti benar-benar m enjadi sangat m
arah. Apalagi karena orang itu benar -benar berniat membunuh
cantrikcantriknya sebanyak-banyaknya. Karena itu, maka Mahisa
Murtipun berkata "Jika demikian Ki Sanak. Maka kau adalah orang
pertama yang akan mati diantara kawan-kawanmu. Karena niatmu
yang buruk, serta watakmu yang agaknya tidak akan mungkin dapat
diperbaiki lagi, maka aku, pemimpin Padepokan ini harus m engambil
langkah yang sebaik-baiknya untuk membantu m enghindarkan peristiwa
seperti ini terjadi lagi dimanapun juga”. "Per setan" geram orang
itu "kau tidak usah mengigau” Mahisa Murti m emang tidak berbicara
lagi. Iapun segera mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya. Ia
benar-benar akan bertempur melawan orang bertubuh raksasa
itu.
Jilid 112 DEMIKIANLAH, maka sejenak
kemudian telah terjadi pertempuran diantara mereka. Orang bertubuh
raksasa itu memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Agaknya orang
itupun sudah mempergunakan kemampuan ilmunya yang tertinggi,
sehingga sentuhan tangannya -telah mengoyakkan kulit daging para
cantrik. Karena itu, maka Mahisa Murti harus sangat berhati-hati.
Jari-jari tangan orang itu yang mengembang merapat, jangan sampai
meny entuh kulitnya. Dengan demikian maka Mahisa Murti harus
mengusahakan agar serangan-serangannya sajalah yang meny entuh orang
itu untuk mengetrapkan ilmunya yang mampu menyusut kekuatan dan
kemampuan lawannya. Sejenak kemudian pertempuran telah terjadi
dengan sengitnya. Mahisa Murti yang berilmu tinggi itu, mampu
bergerak sangat cepat. Ia selalu berusaha untuk mengelak dari
serangan-serangan jari-jari lawannya yang dapat menggores
tubuh seperti tajamnya sebuah pedang. Namun kecepatan gerak Mahisa
Murti ternyata masih memungkinkannya untuk meny entuh tubuh lawannya
meskipun tidak ditempat-tempat yang berbahaya dan bahkan tidak
menyakitinya. Orang bertubuh raksasa itu mula-mula meyakininya,
bahwa ia tidak akan bertempur terlalu lama. Karena itu, maka dengan
mengerahkan tenaga dan kemampuannya ia berhasil mendesak Mahisa
Murti. Mahisa Murti memang beberapa kali harus berloncatan surut.
Tetapi bukan berarti bahwa Mahisa Murti kehilangan kesempatan untuk
m elawan lawannya yang bertubuh raksasa itu. Tetapi justru
untuk memancing lawannya agar seranganserangan Mahisa Murti dapat
mengenainya. Bahkan sekali-dua kali Mahisa Murti juga menangkis
serangan lawannya meskipun tidak membenturkan kekuatannya. Ia
berusaha menebas serangan lawannya menyamping. Namun dengan demikian
telah terjadi pula sentuhan-sentuhan diantara mereka. Dalam pada
itu, beberapa orang cantrik yang telah minggir dari arena
pertempuran, masih saja ada yang dengan tidak sengaja berdiri
termangu-mangu menyaksikan pertempuran itu. Apalagi mereka
yang sudah terluka. Mereka ingin melihat apa yang akan
terjadi dengan orang yang bertubuh raksasa yang telah membuat
beberapa orang kawannya terluka parah. Demikianlah, maka pertempuran
itu semakin lama menjadi semakin sengit. Keduanya saling meny erang
dan bertahan. Sambaran jari-jari orang bertubuh raksasa itu memang
sangat berbahaya. Tetapi Mahisa Murti m asih m ampu m engelakkan
diri atau menangkisnya dengan menebas kesamping. Meskipun demikian,
ketika sambaran jari-jari tangan yang merapat itu sempat
menyentuh lengannya, maka lengan Mahisa Murti itupun telah tergores
dan terluka. Luka itu bagaikan minyak yang m enyiram api
kemarahan Mahisa Murti. Karena itu, m aka Mahisa Murtipun bergerak
lebih cepat lagi untuk berusaha semakin sering meny entuh tubuh
lawannya. Tetapi Mahisa Murti terkejut ketika tiba-tiba saja
lawannya itu meloncat surut sambil tertawa. Katanya "Ternyata kau
memang iblis yang licik. Kau mempergunakan ilmu yang tidak
patut dipergunakan dalam pertempuran yang terhormat. Kau bertempur
sambil mencuri tenaga dan kemampuan lawanmu. Tetapi jangan meny
esal, bahwa aku dapat mengetahui kelicikanmu. Karena itu, maka kau
tidak akan lagi dapat mengelabui aku. Sementara meskipun kau
berhasil, tetapi tenagaku masih belum seberapa tersusut, sehingga
aku masih akan mampu memilin lehermu sampai patah. " Wajah Mahisa
Murti menjadi panas mendengar kata-kata itu. Kemarahannya memang
tidak tertahankan lagi. Apalagi ketika orang bertubuh raksasa itu
berteriak "He Lengkara dan kawan-kawanku. Anak muda pemimpin
padepokan ini memiliki ilmu iblis yang mampu menyusut tenaga dan
kemampuan lawannya. Berhati-hatilah." "Setan" sahut orang yang
bertubuh agak gemuk "ia telah membuat aku menjadi letih."
Sebenarnyalah orang bertubuh gemuk itu semakin mengalami kesulitan
menghadapi para cantrik yang bertempur dalam kelompok kecilnya. "
Sementara itu orang bertubuh raksa sa itu berteriak lagi "Tetapi
jangan cemas. Sekarang ia berdiri dihadapanku. Ia tidak akan dapat
mengganggu kalian lagi, karena orang ini akan segera terbujur
menjadi mayat. " Mahisa Murti menggeretakkan giginya, sementara
lawannya itu berkata kepadanya "Nah, sekarang apa lagi yang akan kau
lakukan ? Kau sudah tidak m emiliki apa-apa lagi, karena
kecuranganmu telah aku ketahui." Mahisa Murti menggeretakkan
giginya. Sementara itu Sambega dan Widigda yang sedang
mengerahkan kemampuannya untuk mengatasi masing-masing dua orang
lawan menjadi berdebar-debar pula. Mereka m enjadi heran namun
bangga bahwa Mahisa Murti memiliki kemampuan yang jarang dimiliki
orang lain. Tetapi ternyata lawannya yang bertubuh raksasa itu mampu
membacanya. Meskipun demikian kedua orang itu tidak dapat berbuat
apa-apa. Mereka sendiri terikat dalam pertempuran yang tidak
dapat mereka elakkan. Bahkan mereka justru mulai terdesak karena
kemampuan lawan mereka yang sulit untuk dapat diimbangi. Namun
dalam pada itu, Mahisa Murti tidak lagi dapat mengekang
kemarahannya. Sikap orang b ertubuh raksasa itu benar-benar
menyakiti hatinya. Apalagi orang itu sudah menciderai beberapa orang
cantriknya sehingga terluka parah. Karena itu selagi orang-orang
yang sedang bertempur itu dicengkam oleh ketegangan, maka Mahisa
Murti telah mengerahkan segenap nalar budinya. Ia tidak lagi sekedar
ingin menghisap tenaga dan k emampuan lawannya Tetapi ia benar-benar
ingin membinasakan lawannya yang bertubuh raksasa, yang
telah benar -benar bernafsu untuk m embunuh para cantriknya
sebanyak-banyaknya serta membunuh Mahisa Murti itu sendiri serta
telah pula menghina dan menyakiti hatinya. Karena itu, ketika orang
bertubuh raksasa itu berdiri sambil bertolak pinggang dan tertawa
berkepanjangan karena ia merasa telah menemukan kelemahan lawannya
sehingga akan segera dapat mengakhiri perlawanan anak muda itu,
Mahisa Murti telah menghentakkan ilmunya yang lain. Dengan
mengerahkan segenap ilmu yang ada didalam dirinya, maka Mahisa
Murti telah melangkah setengah langkah kedepan. Ketika ia merendah
sedikit pada lututnya, maka Mahisa Murti telah menghentakkan kedua
tangannya dengan telapak tangannya menghadap kearah orang bertubuh
raksasa itu. Ternyata sesuatu yang dahsy at telah terjadi.
Dari kedua telapak tangan Mahisa Murti seakan-akan telah meluncur
cahaya kilat yang meny ilaukan. Dengan kecepatan lebih dari
sepuluh kali l ipat dari kecepatan anak panah yang m eluncur
dari busurnya, sinar kilat yang menyilaukan itu telah menghantam
tubuh lawannya yang sedang tertawa berkepanjangan itu. Ketika orang
itu melihat cahaya yang m eletik dari t elapak tangan Mahisa
Murti, ia memang terkejut. Tetapi segalanya telah terlambat. Ia
masih menyadari ketika sinar itu menghantam tubuhnya yang
kemudian bagaikan telah meledak. Suara tertawanya yang terputus
disambung oleh teriakan yang mengerikan menggetarkan udara Padepokan
Bajra Seta. Tubuh raksa sa itu terlempar beberapa langkah. Namun
kemudian jatuh terbanting ditanah. Tubuhnya menjadi bagaikan hangus
terbakar terkapar tidak bergerak sama sekali. Mahisa Murtipun
kemudian berdiri tegak sambil menggosok-gosokkan kedua telapak
tangannya. Dipandanginya tubuh yang terkapar ditanah itu. Beberapa
orang cantrikpun telah melingkarinya dengan wajah tegang.
Pertempuran di halaman Padepokan Bajra Seta itupun bagaikan terhenti
sesaat. Orang-orang berilmu tinggi yang sedang bertempur itupun
menjadi termangu-mangu sejenak. Tidak seorangpun yang
menyangka, bahwa Mahisa Murti yang masih mudaitu memiliki ilmu yang
sangat tinggi. Bahkan Sambega dan Widigdapun menggeleng-gelengkan
kepalanya. Didalam hati mereka merasa bersyukur, bahwa Sambega tidak
berselisih dan apalagi bertempur dengan Mahisa Murti saat ia
berusaha mengambil Mahisa Amping. Karena mereka m enyadari,
betapapun tinggi ilmu Sambega, namun ia tidak akan mampu mengimbangi
ilmu Mahisa Murti itu. Dalam pada itu, sejenak kemudian, maka Mahisa
Murtipun berkata "Sekarang aku tidak akan berusaha mengekang diri
lagi. Aku tidak mau direndahkan di Padepokanku sendiri. Padepokan
Bajra Seta. Aku tidak mau seseorang bertindak sewenang-wenang
terhadap cantrik-cantrik di Padepokan ini, karena akulah yang
bertanggung jawab atas keselamatan mereka. Karena itu, maka aku
peringatkan kepada mereka yang masih hidup untuk menghentikan
pertempuran. Jika kalian tidak mau mendengar kata-kataku, maka aku
akan mendatangi kalian seorang demi seorang. Kalian akan mengalami
nasib yang sama seperti orang itu, Jika saja ia tidak menghina
dan merendahkan aku, mungkin ia tidak akan mengalami nasib
yang buruk." Orang-orang berilmu tinggi yang datang
bersama-sama dengan Lengkara itpun termangu-mangu. Kematian orang
bertubuh raksasa itu telah menggoncangkan kesombongan mereka. Jika
semula mereka mengira akan dapat menghancurkan penghuni padepokan
itu dan kemudian memilikinya, maka kemudian mereka harus berpikir
ulang. Dalam pada itu sekali lagi Mahisa Murti berkata lantang
"Menyerahlah. Kalian tidak akan dapat luput dari tanganku jika
kalian masih akan meneruskan perlawanan. Yang akan terjadi kemudian
adalah pertempuran yang jujur. Lengkara akan bertempur dengan
saudara seperguruannya, Ki Sambega, seorang melawan seorang.
Persoalannya adalah per soalan mereka. Siapa yang masih ingin ikut
cam pur akan aku hancurkan sampai hangus seperti orang itu. "
Orang-orang berilmu tinggi itu menjadi gelisah. Mereka tidak akan
dapat bersama-sama menghadapi Mahisa Murti karena para cantrik yang
jumlahnya cukup banyak itu telah mengepung mereka dan mengikat
mereka dalam pertempuran-pertempuran. Meskipun mereka akan mampu
bertahan menghadapi para cantrik itu dan bahkan jika mereka mendapat
waktu yang cukup, maka mereka akan dapat menghancurkan para cantrik
itu, namun jika Mahisa Murti mendatangi mereka seorang demi seorang,
maka mereka benar-benar akan dapat ditumpas habis. Karena
orang-orang itu masih ragu-ragu, maka Mahisa Murtipun mengulangi
"Masih aku beri kesempatan terakhir. Minggirlah. Beri kesempatan
Lengkara dan Sambesa berperang tanding karena per soalannya m
enyangkut mereka berdua secara pribadi. Yang lain sebaiknya tidak
ikut campur, atau akan berhadapan dengan aku." Orang-orang
yang datang bersama Lengkara itu ternyata tidak mau menghadapi
kemungkinan terburuk seperti yang terjadi atas kawan mereka
yang bertubuh raksasa itu. Apalagi dua orang yang sempat
disusut tenaga dan kemampuannya oleh Mahisa Murti. Mereka memang
telah m enyadari, bahwa mereka akan jatuh ketangan para cantrik dan
bahkan mungkin mengalami nasib yang sangat buruk. Karena itu,
orang yang agak gemuk itulah yang pertama kali berkata " Baiklah.
Aku akan meny ingkir dari persoalan ini." Orang yang bertubuh
tinggi kekurus-kurusan menyahut "Aku juga akan m enarik diri.
Persoalan ini memang bukan persoalanku." Lengkara yang menjadi
gelisah berteriak "Pengecut kau. Kita akan menghancurkan Padepokan
Bajra Seta." Tetapi orang yang berjanggut mulai
keputih-putihan menjaawab "Lengkara. Maafkan kami. Kami tidak mau
menjadi korban karena kemarahanmu yang tidak terkendali itu.
"Kita sudah bertekad untuk melakukannya" teriak Lengkara. "Aku tidak
mau dibakar oleh ilmu anak muda yang dahsyat itu " berkata
yang lain "barangkali aku masih sanggup menghadapi ilmu yang
lain. Tetapi jangan ilmu seperti itu. Atau jangan pula ilmu
yang mampu m enghisap tenaga dan kemampuan seseorang." Yang
berbicara kemudian adalah Widigda "Aku sangat menghargai pendapat
angger Mahisa Murti. Persoalan antara Lengkaradan Sambega, biarlah
mereka selesaikan sendiri. Persoalan itu adalah per soalan
yang sangat pribadi." Wajah Lengkara menjadi sangat tegang.
Tetapi kawankawannya agaknya benar-benar tidak lagi bersedia turun
ke arena pertempuran sehingga dengan demikian iapun akan berdiri
sendiri. Mahisa Murtilah yang kemudian melangkah m endekatinya
sambil berkata "Nah, kau dapat memilih, Lengkara. Kau lakukan perang
tanding dengan jujur itu, atau kau akan bertempur melawan aku,
karena aku tidak m au kau berlaku curang disini." Wajah Lengkara
menjadi sangat tegang. Dipandanginya sekilas Sambega yang berdiri
tegak. Matanya memancarkan dendam yang tiada taranya yang
bergejolak didalam jantungnya. Untuk beberapa saat Lengkara termangu
-mangu. Ketika ia berniat mencari dan m embunuh sampai mati Sambega,
maka ia t idak pernah m erasakan keragu-raguan sedikitpun. Tetapi
kemudian ternyata bahwa ia harus menilai kembali sikapnya itu.
Tetapi agaknya sudah terlambat. Sambegalah yang melangkah maju
sambil berkata "Lengkara. Marilah. Kita akan menyelesaikan persoalan
kita dengan jujur. Persoalannya adalah per soalan diantara kau dan
aku. Persoalan mi tidak menyangkut kakang Widigda. Lebih-lebih lagi
angger Mahisa Murti dan seisi padepokannya ini. Karena itu, maka
bersiaplah. Kita akan segera mulai dengan perang tanding yang jujur.
" Wajah lengkara menjadi semakin tegang. Sementara itu Sambegapun
berkata "Lengkara. Bersiaplah. Aku akan segera mulai. Aku tidak akan
m emperhitungkan apakah kau sudah bersiap atau belum. Namun karena
kau sudah berada disini, maka kau tentu sudah bersiap menghadapi
segala kemungkinan." Wajah Lengkara bukan saja menjadi semakin
tegang. Tetapi wajah itu justru mulai menjadi pucat. Apalagi ket ika
ia melihat Sambega itu melangkah surut sambil mempersiapkan diri
untuk bertempur. Bagaimanapun juga Lengkara tidak akan dapat
mengingkari keny ataan, bahwa ia tidak akan dapat menandingi Sambega
yang ternyata telah m ematangkan ilmu yang sama-sama mereka sadap
dari guru yang sama. Karena itu, ketika Sambega siap untuk
melontarkan serangan, Lengkara itu berkata terbata -bata "Nanti dulu
kakang. Jangan tergesa -gesa. - Sambega mengerutkan keningnya.
Dengan heran ia bertanya "Sejak kapan kau mengaku bahwa aku adalah
saudara seperguruanmu yang memiliki tataran yang lebih tua?-
"Bukankah kita dapat berbicara dengan baik? Bukankah kakang tidak
akan membawa dendam dihati kakang itu berkepanjangan tanpa ada batas
akhirnya?" b erkata Lengkara dengan gagap. "Apa yang
sebenarnya kau kehendaki, Lengkara? Kau datang dengan niat
yang bulat untuk membunuhku, karena usahamu beberapa waktu
yang lalu telah gagal. Sekarang kau bertanya, apakah aku m
endendammu tanpa batas akhir? Apa sebenarnya maumu? Siapakah
yang datang memburu? Aku atau kau?" bertanya Sambega. "Tetapi
bukankah kita mempunyai nalar budi. Mempunyai mulut untuk berbicara
dengan baik?" Lengkara menjadi semakin gelisah. "Sekarang,
bersiaplah" berkata Sambega "sudah aku katakan apakah kau bersiap
atau tidak, aku akan segera mulai." "Kakang" potong Lengkara.
Sambega tidak mengiraukannya. Iapun kemudian benarbenar telah
mempersiapkan dirinya untuk bertempur. Namun tiba-t iba saja
Lengkara telah berlutut dihadapannya. Orang yang berwajah garang itu
dengan memelas minta belas kasihan saudara seperguruannya "Kakang,
aku mohon am pun." "Apakah kau masih berhak minta am pun? Jika kau
mampu menghidupkan kembali isteri dan anakku yang kau bunuh
tanpa melakukan kesalahan itu, maka kau akan aku ampuni." Adalah
diluar dugaan. Lengkara yang datang untuk membunuh itu tiba-tiba
saja m enangis. Sambil menyembah dihiadapan Sambega ia minta untuk
diampuni. "Waktu itu, aku melakukannya tanpa kesadaran kakang. Iblis
telah merasuk didalam jiwaku, sehingga aku telah melakukan apa yang
tidak aku kehendaki." "Dan bagaimana perasaanmu ketika kau berangkat
mencari aku dengan niat untuk membunuhku?" bertanya Sambega. "Iblis
itu memang belum meninggalkan jiwaku. Nalar budiku telah
dicengkamnya sehingga aku tidak mampu melawan bisikannya yg jahat
itu." Lengkarapun menangis dihadapan Sambega. "Lengkara " berkata
Sambega dengan nada berat "sekarang, jantungku juga sedang dikuasai
oleh iblis yang sama dengan iblis yang merasuki jiwamu. Karena itu,
maka akupun tidak mampu melawan bisikannya. Aku ingin membunuhmu."
"Ampun, kakang. Aku m ohon ampun" sambil berlutut dan membungkuk
sampai dahinya meny entuh tanah, Lengkara menangis seperti
kanak-kanak. "Pengecut kau" Sambega membentak keras-keras "bangkit.
Kita selesaikan per soalan kita sebagaimana seorang laki-laki
menyelesaikan per soalannya. Kau sudah terlanjur membunuh isteri dan
anakku. Aku tidak peduli apa yang kau lakukan itu." "Kakang,
aku mohon ampun kakang. Aku m ohon ampun" tangis Lengkara sambil
berpegangan kaki Sambega. Ketegangan yang sangat telah
mencengkam jantung Sambega. Dendamnya sampai menggapai langit.
Tetapi ia tidak dapat membunuh seseorang yang tidak siap melawannya
dalam pertempuran yang jujur. Ia tidak dapat memukul kepala
Lengkara selagi orang itu membungkuk sambil menangis, berpegangan
kakinya untuk mohon ampun. Meskipun Sambega sudah siap dengan ilmu
puncaknya, namun ia masih menahan diri. Gejolak perasaannya itu ju
stru membuat dadanya menjadi sesak. Sementara itu Lengkara masih
menangis sambil mohon ampun. Ia berpegangan kaki Sambega erat-erat,
seakan-akan tidak akan dilepaskannya. Dengan demikian m aka Sambega
menjadi semakin raguragu. Yang terdengar adalah gemeretak giginya
menahan dendam yang membakar dadanya. Tangannya sudah siap
menaburkan ilmu puncaknya itu m enjadi gemetar. Tetapi ia tidak
meremas kepala Lengkara yang seakan-akan telah pasrah. Sambil
menghentakkan tangannya Sambega itu berkata lantang "Bangkit kau
pengecut. Kita akan menyelesaikan persoalan kita. Cepat, atau aku
akan meremukkan k epalamu tanpa perlawanan sama sekali." "Ampun
kakang, ampun" tangis Lengkara. Sambega masih menggeretakkan giginya
sambil menahan diri. Namun ia sama sekali t idak menyangka, bahwa
sambil berpura-pura menangis, Lengkara telah mempersiapkan serangan
ilmu pamungkasny a. Karena itu, ketika Lengkara menduga bahwa
Sambega telah menjadi lengah, tiba -tiba saja Lengkara itu bangkit
berdiri dengan cepat. Segala kekuatan dan kemampuan ilmunya telah
dipusatkannya pada sisi telapak tangannya. Sambega terkejut. Tetapi
semuanya itu terjadi demikian cepatnya sehingga tidak banyak memberi
kesempatan kepada Sambega untuk melawan serangan yang tiba -tiba itu
dengan segenap kemampuannya. Dengan demikian, ketika tangan Lengkara
itu terayun, maka Sambega telah berusaha mengerahkan ilmunya dengan
sangat tergesa -gesa. Sambega hanya dapat sekedar meny ilangkan
kedua tangannya untuk menyalurkan ilmunya itu membentur kekuatan
ilmu Lengkara yang dapat dipersiapkan sebaik-baiknya. Benturan itu
kemudian telah terjadi. Akibatnya memang sangat mengejutkan.
Lengkara yang mendapat kesempatan jauh lebih baik dari saudara
seperguruannya sempat mengungkapkan segenap kemampuan ilmunya,
sementara Sambega tidak mempunyai kesempatan sebagaimana Lengkara.
Untunglah bahwa sejak sebelumnya ia sudah mempersiapkan diri pada
tataran ilmu tertingginya, sehingga dengan demikian, maka sisi
telapak tangan Lengkara itu masih juga tertahan oleh tangan Sambega
yang bersilang. Namun Sambega itu telah terdorong beberapa
langkah surut. Benturan itu bagaikan hentakan yang sangat kuat
yang terjadi di dalam dirinya. Benturan ilmu yang tidak
seimbang itu seolah-olah telah memental dan m emukul bagian dalam
dada Sambega. Semua orang yang menyaksikan serangan itu
terkejut. Mereka tidak mengira sama sekali, bahwa demikian liciknya
Lengkara sehingga dengan sangat curang ia telah berusaha membunuh
saudara seperguruannya itu. Sebenarnyalah Lengkara m emang sudah
tidak lagi dapat berpikir bening. Meskipun ia sendiri terdorong
selangkah surut, namun keadaannya jauh lebih baik dari Sambega.
Dalam k eadaan putus a sa, maka ia tidak mempunyai pilihan kecuali
membunuh Sambega dengan cara apapun juga tanpa memikirkan akibat
yang dapat terjadi pada dirinya. Dalam pada itu, ketika ia
melihat Sambega terhuyunghuyung beberapa langkah surut, maka
Lengkara telah mempersiapkan dirinya kembali. Dalam sekejap iapun
telah meloncat memburu Sambega untuk mengayunkan serangannya yang
kedua. Dengan demikian maka ilmunya akan dapat m enghancurkan dahi
Sambega yang sudah tidak akan mampu melawannya sama sekali. Namun
Lengkara itupun terkejut pula. Demikian ia meluncur sambil
mengayunkan tangannya untuk menghan curkan dahi Sambega dengan sisi
telapak tangannya, maka Lengkara itupun melihat bayangan lain yang
sempat meloncat membentur serangannya. Dua kekuatan ilmu puncak
yang bersumber dari perguruan yang sama telah saling
berbenturan. Widigda yang sangat marah melihat sikap dan
perbuatan Lengkara telah dengan serta merta melibatkan diriny a.
Meskipun agak tergesa -gesa, tetapi Widigda masih sempat meny iapkan
ilmunya dengan mapan. Demikian Lengkara meloncat mem buru Sambega,
maka Widigda telah membentur ilmu adik seperguruannya itu dengan
ilmu yang sama. Ternyata Widigda juga terguncang, sehingga iapun
telah terdorong selangkah surut. Namun akibatnya bagi Lengkara
ternyata sangat buruk. Karena ia tidak dapat mempersiapkan ilmunya
sebagaimana yang diayunkan menghantam Sambega yang pertama, m aka
benturan itu telah m enentukan segalagalanya. Lengkara masih sempat
melihat Widigda yang sudah tidak berday a. Lengkarapun sempat
merasakan benturan yang terjadi. Demikian dahsy atnya, sehingga
seisi dadanya seakanakan telah meledak sehingga seluruh isi dadanya
itu telah menjadi r ontok kare nanya. Lengkara sempat mengumpat
kasar. Namun ketika kemudian tubuhnya terbanting jatuh, maka iapun
segera terdiam. Lengkara hanya sekali menggeliat. Selanjutnya, maka
Lengkara itu telah terbunuh oleh saudara seperguruannya sendiri.
Widigdapun kemudian berdiri terengah-engah. Benturan itu telah
menyakiti dadanya pula. Nafasny a memang terasa sesak. Namun day a
tahannya masih mampu mengatasinya. Halaman itu sekejap menjadi
hening. Bahkan anginpun seakan-akan telah berhenti berhembus. Tiga
sosok tubuh terbaring diam di halaman itu. Tubuh raksasa yang
bagaikan menjadi hangus. Kemudian tubuh Lengkara yang juga sudah
tidak bernafas lagi. Sedangkan tubuh Sambega juga nampak terbaring
diam. Tetapi ketika kemudian Mahisa Murti menempelkan telinganya di
dadanya, ia masih mendengar detak jantungnya betapapun lambatnya.
Ternyata Widigda masih mampu mengatasi perasaan sakitny a. Iapun
tergesa-gesa mendekati Sambega yang terbaring. "Ia pernah mengalami
keadaan serupa. Tetapi waktu itu dengan luka-luka di tubuh dan
wajahnya, ternyata ia m asih dapat ditolong. Yang Maha Agung masih
memperkenankan Sambega menyambung umurnya. " desis Widigda.
"Mudah-mudahan kali ini, Ki Sambega masih dapat diselamatkan pula. "
desis Mahisa Murti. "Aku akaii mencoba mengobatinya " berkata
Widigda "namun segala sesuatunya tergantung kepada Yang Maha Agung.”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Wantilan dan
Mahisa Semu telah mempersiapkan para cantrik untuk mengamati
kawan-kawan Lengkara yang masih ada di halaman itu, sementara
Mahisa Amping menunggui para cantrik yang sedang dirawat. Namun
ternyata bahwa kawan-kawan Lengkara yang datang bersamanya
tidak berbuat apa-apa. Mereka benarbenar telah meny erah setelah
mereka melihat bagaimana Mahisa Murti menghabisi perlawanan orang
bertubuh raksasa itu, sedangkan Lengkara telah dihancurkan oleh
saudara seperguruannya sendiri. Ternyata Widigda masih mempunyai
harapan atas Sambega yang terluka parah. Beberapa orang cantrikpun
kemudian telah membawanya ke pendapa, sementara Widigda dengan obat
-obatan yang dibawanya mencoba untuk mengobati lukaluka
Sambega. Bukan saja yang dapat dilihat pada kulit dan
dagingnya, tetapi juga luka di bagian dalam tubuhnya. Mahisa
Murtilah yang kemudian b erbicara kepada kawankawan Lengkara
"Nah, siapakah di antara kalian yang ingin membela Lengkara?
Katakan. Serta cara apakah yang dikehendaki. Perang tanding atau
cara yang lain?" Tidak seorangpun yang menjawab. Orang-orang
yang sudah dikumpulkan itu hanya menundukkan kepalanya saja.
Gambaran mereka tentang Padepokan Bajra Seta benarbenar telah pecah
berserakan. Mereka mengira bahwa Padepokan yang dipimpin oleh
seorang yang masih sangat muda itu, tidak lebih dari sekedar
nafsu ketamakan anak muda itu saja. Tanpa menimbang
kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, anak yang masih muda itu telah
membuat sebuah padepokan. Tetapi ternyata bahwa dugaan itu salah.
Anak muda itu bukan sekedar seorang yang dibakar oleh gejolak
kemudaannya serta landasan ketamakannya yang melambung sampai
ke langit. Namun anak muda itu benar-benar seorang anak muda
yang memiliki bekal yang sangat mencukupi. Karena itu, m aka
sembilan orang kawan Lengkara itupun segera diperlakukan sebagai
tawanan yang dijaga sangat ketat oleh para cantrik, karena
kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi.
Sembilan orang itu telah disimpan dalam bilik-bilik terpisah agar
mereka tidak dapat saling berbincang yang satu dengan yang
lain. Apalagi m erencanakan sesuatu yang dapat menggoncangkan
ketenangan Padepokan Bajra Seta. Sementara itu, Widigda yang
merawat saudara seperguruannya, semakin berpengharapan, bahwa
Sambega itu dapat sembuh kembali Dalam pada itu, Lengkara dan orang
yang bertubuh raksasa itupun telah dikuburkan pula. Beberapa
orang cantrik yang terluka telah mendapat perawatan sebaik-baiknya.
Untunglah, meskipun luka mereka cukup parah, tetapi dengan bantuan
Ki Widigda, maka agaknya luka-luka m ereka akan dapat diobati. Di
hari-hari berikutnya, Widigda dan Mahisa Murti sempat berbincang
dengan sembilan orang kawan Lengkara seorang demi seorang. Pada
umumnya mereka memang sering menyalah gunakan kemampuan mereka
yang tinggi untuk kepentingan diri mereka. Bahkan
kadang-kadang dengan kekerasan mereka merampas milik orang lain.
"Kenapa kalian tidak memanfaatkan kemampuan kalian untuk hal -hal
yang baik?" bertanya Widigda. "Aku tidak pernah mendapat kesempatan"
jawab orang yang agak gemuk, yang telah kehilangan sebagian
kekuatan dan kemampuannya karena terhisap oleh ilmu Mahisa Murti.
Namun yang ternyata kemudian telah pulih kembali. "Ketika aku mulai
berguru " berkata orang itu "sama sekali tidak terlintas di
kepalaku, bahwa pada suatu saat aku akan melakukan perbuatan yang
melawan nilai-nilai hubungan antar sesama itu. " "Jadi bagaimana hal
itu kau lakukan?" bertanya Mahisa Murti. Orang itu menunduk
dalam-dalam. Kemudian dengan nada rendah ia berkata "Aku tidak m
empunyai kesempatan yang lain. Aku tidak mempunyai kecakapan dan
ketrampilan berbuat apapun selain berkelahi. Karena itu, maka aku
telah terjerumus ke dalam dunia kekerasan seperti ini. " "Apa
yang kau maksud dengan kesempatan itu?" desak Mahisa Murti.
"Di padukuhanku, aku tidak mendapat kepercayaan untuk menjadi bebahu
padukuhan apalagi bebahu Kabuyutan. Aku dianggap orang yang tidak m
empunyai pengalaman apapun sehingga aku tersisih dari kemungkinan
mendapat pekerjaan yang wajar. Sementara itu bagaimana mungkin aku
tiba-tiba sa ja mendapatkan pengalaman jika tidak seorangpun pernah
memberikan kesempatan. " Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam.
Katanya "Ki Sanak. Seharusny a kau tidak tergantung kepada
kesempatan yang diberikan orang lain. Apakah kau tidak mempunyai
sawah atau pategalan? Mak sudku, apakah orang tuamu tidak mempunyai
sehingga kau lebih senang bertualang daripada mengerjakan sawah,
ladang dan pekarangan?" Orang itu m enundukkan kepalanya. Katanya
dengan nada rendah hampir tidak terdengar "Aku tidak mempunyai
gairah untuk mengerjakan sawah dan ladang. " "Apakah aku boleh meny
ebut sifat seseorang sebagaimana kau Ki Sanak?" bertanya Mahisa
Murti. Orang itu mengerutkan dahinya, sementara tanpa menunggu
jawabnya, Mahisa Murti berkata "Menurut pendapatku, kau terlalu
malas. Kau ingin melakukan pekerjaan yang mudah, cepat dan
mendapat hasil yang banyak tanpa menghiraukan kesulitan yang
kau timbulkan pada orang lain.” Orang itu hanya menundukkan
kepalanya saja. Sementara Mahisa Murti berkata selanjutnya "Dengan
modal kemampuanmu dalam olah kanuragan, maka kau dapat berbuat
sewenang-wenang. Orang lain tidak mampu mencegahmu, karena kau akan
membinasakannya. Tetapi dengan tindakanmu itu, maka kau tidak lagi m
enjadi bagian dari hidup bebrayan." Orang itu m enarik nafas
panjang. Hampir tidak terdengar ia berdesis "Aku menyadarinya."
"Selanjutnya tergantung kepadamu, apakah kau akan berubah atau
tidak. Jika kau merubah, maka kau harus merubah menjadi lebih baik.
Bukan sebalikny a. Jika kau benar-benar berbuat demikian, maka
hidupmu akan memberikan arti, bukan saja bagimu sendiri. Tetapi juga
bagi bebrayan agung. Bagi banyak orang." Orang itu mengangguk-angguk
kecil. Dari sorot dimatanya, Mahisa Murti dan Widigda memang melihat
peny esalan yang dalam. Sehingga karena itu, maka Mahisa Murtipun
berkata "Ki Sanak. Jika kau bersungguh-sungguh akan berubah, maka
kau masih mempunyai kesempatan." Orang itu mengangguk lemah. Namun
tiba-tiba berkata perlahan-lahan dengan penuh keraguan "Ki Sanak.
Jika diperkenankan, aku ingin tinggal di padepokan ini. Meskipun
seandainya aku tidak diterima sebagai cantrik, biarlah aku menjadi
juru madaran atau budak sekalipun." Mahisa Murti menarik nafas
dalam-dalam. Iapun menjadi ragu-ragu. Ia tidak tahu pasti apakah
orang itu benar-benar berubah atau hanya berubah untuk sementara.
Jika kehadirannya justru membawa pengaruh yang kurang baik
bagi murid-muridnya, maka diantara benih yang ditaburnya di
padepokan itu telah tumbuh pula benalu yang ganas. Mahisa
Murti sadar, bahwa ia tidak boleh terlalu curiga. Namun perubahan
yang tiba -tiba akan dapat mengelabuinya karena perubahan itu hanya
akan terjadi sementara. Karena itu, maka katanya "Ki Sanak. Bukan
maksudku untuk menolak kehadiranmu di Padepokan Bajra Seta. Tetapi
kau sendirilah yang kemudian akan terkekang disini. Karena itu, maaf
bahwa untuk sementara aku tidak dapat menerima niatmu yang
sebenarnya sangat baik itu. Seharusnya aku mengucapkan terima kasih
kepadamu. Tetapi sayang, untuk waktu dekat ini, aku belum dapat
menerima. Aku tidak tahu, apakah pada waktu yang lain, aku dapat
membuka pintu bagimu." Orang bertubuh agak pendek itu menunduk. Ia
tahu bahwa ia tidak akan dapat membersihkan namanya dalam sekejap.
Itupun seakan-akan ia terpaksa melakukan karena tidak mempunyai
pilihan lain. Dengan nada rendah ia berkata "Baiklah Ki Sanak. Aku
mengerti bahwa untuk mengunjungi perjamuan, aku memang harus mandi
dahulu, berbenah diri dan memakai pakaian yang patut. Karena itu, b
iarlah aku m elakukannya. Jika kelak pada suatu saat, aku merasa
sudah patut untuk mengunjungi perjamuan, maka aku akan datang
kembali." "Maaf Ki Sanak. Jangan diartikan sebagai satu penolakan.
Tetapi aku tinggal bersama banyak orang di Padepokan Bajra Seta ini,
sehingga aku harus memperhitungkan banyak kemungkinan pula.” Orang
yang bertubuh gemuk itu mengangguk-angguk kecil. Ia sadar
sepenuhnya bahwa ia masih berada dibawah bayang an kesalahan
yang dilakukannya karena ia ikut bersama Lengkara menyerang
Padepokan itu. Dalam pada itu, ketika Mahisa Murti dan Widigda
berbicara dengan orang-orang yang lain, ternyata sebagian besar dari
mereka berniat tinggal di Padepokan Bajra Seta. Namun Mahisa Murti
terpaksa belum dapat menerima mereka. Tetapi kepada m ereka Mahisa
Murti berkata "Tetapi jika setiap saat kalian datang ke Padepokan
Bajra Seta, maka kami akan menyambut kalian dengan sebaik-baiknya.
Kalian akan kami terima sebagai sahabat kami yang baik selama
kalian tidak melakukan perbuatan yang tercela. Tetapi jika kalian
masih melakukan perbuatan yang melanggar nilai-nilai kehidupan
banyak orang, maka kami, orang-orang Padepokan Bajra Seta adalah
musuh-musuh kalian yang utama." Orang-orang itu menyadari arti
ancaman Mahisa Murti. Merekapun menyadari bahwa ancaman itu bukan
ancaman sekedar menakut-nakuti mereka, karena Mahisa Murti memang
seorang yang berilmu sangat tinggi. Namun dalam pada itu,
Mahisa Murti memang tidak bermaksud untuk tetap menahan orang-orang
itu di padepokannya. Ketika mereka sudah berada di Padepokan Bajra
Seta selama sepuluh hari sebagai tawanan, maka dihari berikutnya,
Mahisa Murti berniat untuk melepaskan mereka. Namun Mahisa Murti
sempat mempertemukan mereka dengan Sambega yang masih terbaring
karena luka-luka dibagian dalam tubuhnya meskipun keadaannya sudah
berangsur menjadi baik. Mereka juga dibawa oleh Mahisa Murti menemui
para cantrik yang terluka parah. Bahkan seorang diantara para
cantrik itu m asih belum dapat bangkit dan duduk dipembaringannya
karena luka-lukanya yang parah, meskipun agaknya jiwanya akan dapat
tertolong. Orang-orang itu memang menundukkan kepalanya. Mereka
seakan-akan dihadapkan pada sebuah cermin untuk melihat cacat-cacat
jiwanya yang dapat merugikan dan bahkan mengancam keselamatan orang
lain yang tidak ber salah sama sekali. Oraag-orang yang tiba
-tiba saja dihadapkan pada satu bencana yang mengancam jiwanya.
Kepada orang-orang yang akan dilepaskannya itu Mahisa Murti
masih memberikan beberapa pesan. Dengan memperhatikan orang-orang
yang terluka itu, m aka Mahisa Murtipun berkata "Nah, kalian
harus selalu mengingat, bahwa orang-orang yang terluka itu tidak ber
salah. Banyak peristiwa dapat terjadi, bahwa orang yang tidak
bersalah dapat menjadi korban karena ketamakan seseorang."
Orang-orang yang akan meninggalkan Padepokan Bajra Seta itu m
engangguk-angguk. Mereka benar-benar tersentuh oleh pesan Mahisa
Murti. Bahkan untuk m enekankan pesanpesannya Mahisa Murti berkata
"Ki Sanak. Aku dapat berkata dengan nada lunak kepada kalian. Tetapi
pada da sarnya aku bukan seorang yang sabar. Jika aku m
endengar kalian masih melakukan tindakan yang bertentangan
dengan kesediaan kalian sendiri, maka aku tidak akan segan-segan
berbuat sebagaimana sudah aku lakukan." Orang-orang itu hanya
menunduk saja, sementara Widigda menambahkan "Aku dan Sambega yang
sudah mulai sembuh akan berbuat sebagaimana angger Mahisa Murti.
Kamipun tidak akan segan-segan berbuat sesuatu yang barangkali
keras dan kasar atas seseorang diantara kalian yang masih akan
mengulangi perbuatan kalian." Orang-orang itu masih saja berdiam
diri. Mereka memang tidak dapat mengatakan sesuatu. Namun di wajah
mereka terbayang kesediaan mereka untuk melakukan pesan-pesan itu.
Mahisa Murtipun kemudian berkata "Seperti yang sudah aku katakan,
pintu Padepokan Bajra Seta selalu terbuka buat kalian. Datanglah
kapan saja kalian ingin datang. Kalian akan kami terima dengan
senang hati." Dengan suara yang bergetar seorang diantara m erekapun
kemudian menyatakan terima kasih mereka atas perlakuan yang mereka
alami. Meskipun mereka datang dengan niat yang jahat, namun mereka
mendapat perlakuan yang baik dan bahkan mereka merasa
seakan-akan mereka menjadi tamu Padepokan yang telah mereka
kacaukannya itu. Bahkan beberapa orang cantrik telah jatuh menjadi
korban. " "Kami tidak dapat mengatakan apapun selain ucapan terima
kasih yang tidak terhingga. Mudah-mudahan kami dapat
mengungkapkan perasaan terima kasih itu dengan tingkah laku kami
setelah kami meninggalkan Padepokan Bajra Seta ini." Mahisa Murtipun
mengangguk-angguk sambil berkata "Aku percaya bahwa kalian akan
dapat melakukannya.” Demikianlah m aka orang-orang itupun segera
minta diri. Mahisa Murti, Widigda dan beberapa orang yang lain
mengantar mereka sampai ke pintu gerbang halaman Padepokan Bajra
Seta. Diluar pintu gerbang, seorang diantara mereka yang
meninggalkan Padepokan Bajra Seta itu berkata "Kami akan berpencar.
Jika kami masih bergabung, maka masih ada kemungkinan kami
mengulangi perbuatan kami. Jika kami berpencar, seandainya ada
diantara kami yang terjerumus kembali kedalam dunia yang hitam
itu, maka biarlah yang lain memperingatkan kami. Kami sudah
bersepakat untuk setiap kali bertemu dan menilai kembali jalan
kehidupan kami masing-masing." "Dimana kalian akan bertemu ?"
bertanya Widigda. "Tiga bulan lagi kami akan bertemu dirumahku "
jawab orang yang bertubuh agak gemuk "selanjutnya kami akan
menemukan kapan dan dimana kami akan bertemu lagi." "Bagus" desis
Widigda. Seakan-akan diluar sadarnya ia berpaling kepada Mahisa
Murti. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Meskipun demikian Mahisa
Murti melihat bahwa ada yang akan dikatakan oleh Widigda. Karena
itu, maka iapun bertanya "Apakah ada pendapat jyang dapat membantu
mereka ?" Widigda menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Bagaimana jika
pertemuan itu dilakukan di Padepokan Bajra Seta jika angger Mahisa
Murti mengijinkan ?" Mahisa Murti ter senyum. Katanya "Tentu. Aku
tidak akan berkeberatan. Bukankah aku mempersilahkan mereka untuk
setiap kali singgah di Padepokan Bajra Seta ini." "Nah" berkata
Widigda "kau dengar itu ?" "Terima kasih " berkata salah seorang
dari m ereka "kami tentu akan sangat bersenang hati atas kesempatan
itu. Jika kami sudah m engadakan pertemuan yang pertama itu,
maka kami akan datang untuk m emberitahukan, kapan kami akan
mengunjungi dan bertemu di Padepokan ini.” Mahisa Murti terseny um.
Katanya "Ba iklah. Aku menunggu. Seperti yang sudah aku katakan,
pintu Padepokan ini terbuka bagi kalian." "Terima kasih" jawab
beberapa orang hampir berbareng. Demikianlah, maka sembilan orang
itu telah meninggalkan Padepokan Bajra Seta. Mereka memang berpencar
seperti yang m ereka katakan. Ada yang berdua, tetapi ada juga yang
bertiga. Mereka mencoba untuk tidak saling bergantung dan sal ing
mempengaruhi agar mereka tidak terjerumus lagi kedalam kelakuan
mereka terdahulu. Dengan berpencar mereka akan mendapatkan suasana
baru dalam petualangan dan pengembaraan mereka. Namun ternyata
dengan demikian, orang-orang itu mulai merindukan rumah m ereka,
kampung halaman mereka dan bayangan tentang hidup sewajarnya.
Sepeninggal mereka, maka Widigdalah yang nampak banyak
merenung. Rasa-rasanya ada sesuatu yang dipikirkannya. Tetapi Mahisa
Murti mencoba untuk mengerti. Sambega masih terbaring di pembaringan
meskipun keadaannya menjadi berangsur baik. Namun diluar pengetahuan
Mahisa Murti, Widigda dan Sambega telah berbicara diantara mereka.
Dengan penuh kesungguhan Sambega berkata "Kakang, nampaknya di
Padepokan Bajra Seta ini aku menemukan ketenangan. Jiwaku yang
gelisah oleh peristiwaperistiwa yang terjadi atas diriku,
membuat aku hampir menjadi putus asa. Aku kira aku tidak akan pernah
mengalami satu kesempatan bahwa aku masih merasa hidup diantara
orang-orang lain. Tetapi ternyata disini aku telah menemukannya. "
Widigda mengangguk-angguk. Katanya "Aku mengerti Sambega. Tetapi
ternyata angger Mahisa Murti tidak atau barangkali belum dapat
menerima kawan-kawan Lengkara tinggal disini. Meskipun kita tahu,
bahwa Mahisa Murti tentu akan dapat membedakan antara kau dan
Lengkara." "Apakah kira-kira angger Mahisa Murti masih m encurigai
aku?" bertanya Sambega. "Aku tidak tahu pasti. Tetapi menurut
dugaanku, angger Mahisa Murti tidak akan mencurigaimu lagi. Meskipun
demikian, aku tidak tahu apa yang tersimpan dihatinya."
berkata Widigda. Sambega mengangguk-angguk kecil. Namun katanya
kemudian "Kakang, bagaimanapun juga aku akan mencoba untuk
menyampaikan hal ini kepada angger Mahisa Murti. Tetapi untuk
memperkuat kemungkinan agar permohonanku kepada angger Mahisa Murti,
aku minta kakang Widigda menyampaikan hal ini kepadanya. Kakang
tahu, bahwa aku tertarik sekali kepada angger Mahisa Amping yang
umurnya kira-kira sama dengan umur anakku saat ia terbunuh. Selain
Padepokan Bajra Seta ini terasa tenang, akupun dapat ikut membantu
perkembangan anak itu. Meskipun ilmu angger Mahisa Murti tidak
tertandingi, namun aku dapat melengkapinya dengan sedikit kemampuan
yang ada padaku." Widigda mengangguk-angguk. Katanya "Sambega.
Aku akan mencobanya. Tetapi keputusan terakhir berada ditangan
angger Mahisa Murti. Mudah-mudahan ia dapat mengerti perasaanmu dan
sekaligus tidak mencurigaimu lagi." "Terima kasih kakang. " desis
Sambega. Tetapi iapun kemudian bertanya "Selanjutnya, apakah rencana
kakang Widigda sendiri dalam waktu dekat?" "Aku akan pulang.
Bukankah aku mempunyai keluarga? Selain itu, aku harus menjaga
padepokan kecil yang telah ditinggalkan oleh guru yang telah
menghadap kembali kepada Yang Maha Agung. Bagaimanapun juga tempat
itu pernah menjadi tempat kita m enempa diri, meskipun hasilny a
tidak lebih dari apa yang kita miliki sekarang serta perselisihan
diantara saudara seperguruan." Sambega mengangguk kecil. Katanya
"Sokurlah jika kakang Widigda bersedia memelihara padepokan kecil
kita. Sekalisekali kita m emang m erindukan m asa-masa silam m
eskipun kita sadar, bahwa kita tidak akan dapat kembali ke masa
itu.” Widigda m enarik nafas dalam-dalam. Keinginan Sambega itu akan
menjadi beban baginya. Meskipun agak ragu, Widigda bertanya
"Sambega, apakah tidak pernah terpikir olehmu, bahwa kau akan
tinggal di padepokan kita itu?" "Sebenarnyalah aku juga ingin
melakukannya kakang. Tetapi jika aku berada di padepokan kecil itu,
maka aku akan selalu dibayang i oleh kepahitan hidupku sehingga
hampir saja membuat aku berputus asa. Jika aku merindukan masa
lampau, tentu aku akan berusaha mengenang masa2 yang manis saja."
Widigda mengangguk-angguk. Katanya "Ba iklah. Aku akan mencobanya.
Aku akan berbicara dengan angger Mahisa Murti." Ju stru karena
kesediaan Widigda untuk menyampaikan keinginan Sambega itulah, maka
Widigda sendiri ju stru nampak sering merenung. Kadang-kadang
jantungnya benarbenar dicengkam oleh k eragu-raguan. Mungkin
sebagaimana kawan-kawan Lengkara, Mahisa Murti masih belum dapat
menerima Sambega untuk tinggal dilingkungan keluarga Padepokan Bajra
Seta. Tetapi ia memang harus mencoba. Betapapun keragu-raguan
mencengkam jantungnya, namun akhirnya Widigdapun menyampaikan
keinginan Sambega itu kepada Mahisa Murti. Mahisa Murti menarik
nafas dalam-dalam. Ia pernah menolak perm intaan kawan Lengkara
untuk tinggal di Padepokan itu. Namun Mahisa Murti memang mencoba
untuk menilai perbedaan antara Sambega dan kawan Lengkara itu.
"Tetapi segalanya terserah kepada angger Mahisa Murti" berkata
Widigda "jika aku yang menyampaikan permohonan Sambega itu, karena
Sambega sendiri tidak dapat menyampaikannya." Mahisa Murti
mengangguk-angguk. Katanya "Aku memang menganggap bahwa paman
Sambega agak berbeda dari kawan-kawan Lengkara. Kepada mereka aku
memang m asih belum dapat memberikan kepercayaan sepenuhnya.
Sedangkan kepada paman Sambega, aku sudah tidak menaruh kecurigaan
sama sekali." "Apakah dengan demikian, angger bermaksud menerima
kehadiran Sambega di Padepokan Bajra Seta ini?" "Ya, tentu paman.
Aku akan dengan senang hati m enerima paman Sambega. Namun dengan
keadaan seperti apa yang ada ini. Sibuk dan barangkali tidak
ada ketenangan. " "Tidak ngger. Justru Sambega mendapat ketenangan
di Padepokan ini. Ketenangan baginya bukan berarti diam, tidak ada
gerak dan tantangan. Justru kesibukan dan tantangan akan memberikan
kegairahan pada jiwanya yang telah dikoyak oleh perbuatan
jahat saudara seperguruannya sendiri." Mahisa Murti
mengangguk-angguk. Katanya "Jika demikian, kami akan mengucapkan
terima kasih atas kesediaan paman Sambega untuk tinggal disini.
Paman Sambega akan dapat menjadi kawan paman Wantilan. Dengan
demikian maka tugasku akan menjadi semakin ringan." "Bukan ngger.
Tetapi mungkin Sambega justru akan menambah beban angger. Tetapi
jika pada suatu saat angger memang tidak dapat lagi membiarkannya
berada di padepokan ini, maka angger dapat berterus terang
kepadanya." berkata Widigda. "Kenapa aku tidak dapat membiarkan
paman Sambega disini? Jika sikap kita masing-masing wajar, maka
tentu tidak akan ada alasannya untuk tidak dapat tinggal
bersama-sama disatu tempat. Kecuali jika salah seorang diantara kami
berbuat sesuatu yang tidak sepatutnya dilakukan." "Terima
kasih ngger. Sambega tentu akan merasa gembira sekali atas keputusan
yang angger ambil itu. Dengan demikian akupun berharap, bahwa orang
itu akan dapat menemukan kembali kewajaran penalaran sehingga tidak
melakukan perbuatan-perbuatan yang nampaknya merupakan satu
kejahatan." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia tahu maksud Widigda.
Dalam kegoncangan jiwa, Sambega memang melakukan perbuatan yang
dapat dianggap kejahatan, sebagaimana ia berusaha untuk membawa
Mahisa Amping. Latar belakang jiwani yang mendor ongnya melakukan
perbuatan itu sama sekali tidak mampu dikendalikannya, sehingga
perbuatan-perbuatannya akan dapat membahayakan dirinya sendiri.
Karena itu, maka dengan penuh pengertian Mahisa Murti menerima
permintaan Sambega itu. Bahkan ketika ia berbicara dengan Wantilan
dan Mahisa Semu, maka keduanyapun sama sekali tidak berkeberatan.
Tetapi Mahisa Amping dengan ragu-ragu telah bertanya "Apakah orang
itu tidak berbahaya bagiku kakang?" "Tidak Amping, pada dasarnya ia
memang tidak berbahaya. Yang terjadi itu adalah karena goncangan
perasaan yang hampir tidak dapat ditanggungkannya. " jawab Mahisa
Murti. "Apakah jiwanya sekarang sudah tenang kakang?" bertanya
Mahisa Amping pula. "Agaknya memang demikian. Apalagi setelah
kematian orang yang membunuh anak dan isterinya itu. Seakan-akan
himpitan jiwanya telah terangkat" jawab Mahisa Murti. "Apakah peny
akit seperti itu tidak akan dapat kambuh lagi, kakang?" Mahisa
Amping masih bertanya. Mahisa Murti tersenyum. Katanya "Jika terjadi
persoalan yang rumit dan tidak mampu diatasinya, memang mungkin ia
mendapat goncangan jiwa lagi. Tetapi, ia m erasa mendapat ketenangan
di Padepokan ini, sehingga mudah-mudahan tidak akan terjadi lagi
persoalan yang menghimpit jiwanya sehingga paman Sambega itu
kehilangan pegangan. " Mahisa Amping termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian, iapun mengangguk-angguk kecil sambil berdesis
"Mudah-mudahan." Dengan demikian, maka Sambega merasa bahwa dirinya
telah menjadi bagian dari Padepokan Bajra Seta. Ketika Widigda
menyampaikan keputusan menerimanya tinggal di Padepokan itu, maka
iapun menjadi sangat gembira. Dari hari ke hari, maka luka -luka
Sambega telah berangsur sembuh. Terutama luka bagian dalam tubuhnya.
Setiap pagi Sambega telah berjalan-jalan mengelilingi Padepokan itu
bersama Widigda yang masih selalu merawatnya. Kadangkadang Sambega
telah mengajak Mahisa Amping untuk berjalan-jalan bersamanya.
Meskipun kadang-kadang masih ragu, namun Mahisa Amping tidak
menolaknya. Bersama dengan Sambega dan Widigda, Mahisa Amping
kadang-kadang berjalan-jalan tidak sa ja di dalam lingkungan
Padepokannya, namun juga keluar dari Padepokan menyusuri sawah dan
ladang. Setelah beberapa hari berada di Padepokan Bajra Seta, maka
Sambegapun menjadi semakin baik. Bahkan t enaganya rasa-rasanya
telah pulih kembali. Sekali-sekali ia sudah mencoba untuk berlatih
di sanggar Padepokan Bujra Seta dengan peralatan yang ada. Dalam
pada itu, ketika keadaan Sambega telah benar-benar pulih kembali,
maka Widigdapun merasa bahwa kewajibannya telah selesai. Jika ia
harus tinggal terlalu lama di Padepokan Bajra Seta, karena ia tidak
ingin membuat penghuni Padepokan itu bertambah beban. Karena itulah,
maka ia menunggui Sambega sampai Sambega pulih dan mampu melayani
dirinya sendiri. Dengan demikian maka Widigdapun mulai memikirkan
kepentingannya sendiri. Kepada Sambega ia menyatakan bahwa ia ingin
meninggalkan Padepokan itu dan pulang ke padepokan kecil yang
ditinggalkan gurunya. Ia memang pernah mendapat pesan dari gurunya
itu, agar ia m erawat padepokan kecil itu sebaik-baiknya. "Meskipun
padepokan kita adalah padepokan kecil yang tidak terhitung,
tetapi sebaiknya kau pelihara sebaik-baiknya" berkata gurunya sesaat
sebelum ia dipanggil kembali oleh Yang Maha Agung. Karena itulah,
maka meskipun padepokan itu menjadi sepi dan hanya dihuni oleh
keluarganya saja, namun Widigda merasa berkewajiban untuk melakukan
pesan gurunya sebaik2nya. Sambega tidak dapat menahan saudara
seperguruannya lebih lama lagi. Iapun mengerti, bahwa Widigda memang
harus berada di padepokannya. Demikianlah, ketika tiba saatnya, maka
Widigdapun telah minta diri kepada Mahisa Murti, kepada Mahisa Semu,
Mahisa Amping, Wantilan dan seisi Padepokan Bajra Seta. Juga kepada
Sambega yang telah menjadi pulih kembali serta telah menjadi
penghuni Padepokan Bajra Seta. "Aku selalu berharap, paman singgah
di Padepokan ini apabila paman menempuh perjalanan." berkata Mahisa
Murti. "Tentu " jawab Widigda "bahkan aku tentu akan memerlukan
mengunjungi Padepokan Bajra Seta ini meskipun aku tidak menempuh
perjalanan kemanapun juga." "Terima kasih " sahut Mahisa Murti "kami
benar-benar berharap." “Aku titipkan adik seperguruanku disini."
berkata Widigda kemudian. "Paman Sambega akan dapat membantu
meningkatkan kesejahteraan Padepokan ini lahir dan batin. Paman
Sambega yang mempunyai pengalaman yang sangat luas akan sangat
berarti bagi perkembangan pengenalan kami atas lingkungan yang lebih
luas." "Jangan memuji begitu " berkata Sambega "aku harus merasa
bahwa aku bukan apa-apa disini, selain menumpang untuk mendapatkan
ketenangan." "Jangan merajuk begitu " berkata Widigda sambil
tersenyum. Mahisa Murtipun tersenyum pula. Namun kemudian Widigda
itupun telah minta diri untuk meninggalkan Padepokan Bajra Seta.
Demikianlah, maka Sambega telah berusaha untuk menyesuaikan hidupnya
dengan kehidupan di padepokan Bajra Seta. Sebelumnya ia memang tidak
terbiasa untuk hidup dalam kelompok yang besar. Ia terbiasa hidup
seorang diri. Bertualang dari satu tempat ketempat yang lain.
Bahkan kadang-kadang tanpa tujuan. Sekali-sekali ia pulang ke
padepokan dan tinggal beberapa lama. Apalagi setelah jiwanya
terguncang. Ia semakin jauh dari lingkungannya. Ia merasa hidup
seorang diri tanpa sentuhan orang lain. Orang lain bagi Sambega
adalah benar-benar orang lain yang tidak saling mempedulikan.
Apalagi menyangkutkan kepentingan yang satu dengan yang lain. Tetapi
di Padepokan Bajra Seta, seorang tidak dapat lepas dari kaitannya
dengan orang lain. Mereka harus dapat hidup dalam hubungan yang
serasi. Yang satu selalu mengingat kepentingan yang lain. Jika
seseorang mengalami kesulitan, maka yang lain wajib
membantunya. Sehingga hidup di Padepokan itu rasa-rasanya seperti
sekelompok orang yang bersama-sama memikul beban. Berat atau ringan,
semuanya ikut memikulnya. Mula-mula Sambega memang merasakan
kesulitan. Kadang-kadang ia tidak tahu kenapa ia harus m elibatkan
diri dalam kerja yang dilakukan orang lain. Sambega juga mencoba
mengerti, bahwa ia harus ikut duduk-duduk bersama beberapa orang
yang sedang beristirahat dan berbincang-bincang yang bagi Sambega
tidak pernah dilakukannya sebelumnya. Di Padepokan Bajra Seta itulah
Sambega mulai m engenal kebersamaan. Bahkan juga mengekang diri dan
bertenggang rasa. Membagi kesulitan namun juga bersama-sama
menikmati kepuasan jika kerja mereka berhasil. Lebih dari itu
semuanya, maka Sambega juga mulai menekuni jalan hidup yang
sebelumnya kurang dimengerti. Bagaimana ia berhubungan dengan Sumber
Hidupnya. Setelah beberapa lama berada di Padepokan Bajra Seta,
Sambega merasa dirinya menjadi orang lain. Ia memang tidak dapat
menghapus cacatnya. Cacat ditangannya. Cacat diwajahnya serta cacat
badani yang lain. Tetapi lambat laun Sambega dapat m enghapus
sedikit demi sedikit cacat jiwani, meskipun ia masih tetap menjadi
manusia biasa dengan segala kekurangannya. Mahisa Murti dan Wantilan
mengamati perkembangan jiwa Sambega dengan saksama. Wantilan yang
juga pernah mengalami gejolak sebagaimana dialami oleh Sambega.
Karena itu, maka ia merasa yakin, bahwa Sambega sama sekali tidak
berpura-pura. Sebagaimana dialaminya, maka perubahan itu terjadi
sampai keda sar kesadarannya yang paling dalam. "Pada dasarnya ia
bukan seorang yang berhati kelam" berkata Mahisa Murti. "Ya "
Wantilan m engangguk-angguk "tingkah laku saudara seperguruannya
itulah yang telah membuatnya menjadi seorang yang berkelakuan aneh
sehingga sulit m engendalikan diri sendiri. Dendamnya kadang-kadang
meledak tanpa mempertimbangkan sasarannya.” Mahisa Murti juga
mengangguk-angguk. Katanya "Kematian saudara seperguruannya itu
telah menguras dendamnya sampai kering. Itulah agaknya yang telah
membantunya menumbuhkan kesadaran didalam dirinya." "Kita dapat
mengharapkan tenaga dan kemampuannya. Bagaimanapun juga ia memiliki
ilmu yang tinggi." desis Wantilan. Sebagaimana diperhitungkan
oleh Mahisa Murti dan Wantilan, maka Sambega benar-benar menjadi
orang yang berarti di Padepokan itu. Sejak ia menyadari arti dari
hidupnya yang selalu berkaitan dengan lingkungannya serta
dibawah bayang an kuasa Sumber Hidupnya, m aka Sambega telah menjadi
manusia lain yang berarti bagi banyak orang. Sementara itu,
perhatiannya kepada Mahisa Amping tidak berubah. Bahkan seolah-olah
Sambega telah menempatkan dirinya menjadi pemomong anak yang
tumbuh remaja itu. Meskipun demikian, Sambega tidak mau dengan
sertamerta m emaksa agar anak itu m empelajari ilmunya. Dengan
hati-hati ia memperhatikan apa yang telah dimiliki oleh Mahisa
Amping. Baru kemudian, Sambega berbicara dengan Mahisa Murti, apakah
ia diperkenankan melengkapi ilmu yang telah ada didalam diri anak
itu, tanpa mengganggu kemapanan ilmu yang telah ada. "Kau memerlukan
waktu paman" berkata Mahisa Murti. "Ya, aku mengerti ngger. Tetapi
aku berjanji bahwa aku tidak akan mengganggunya. Ilmu yang
telah dipelajarinya, yang sejalan dengan ilmuku itulah yang
akan aku perdalam, sehingga anak itu benar-benar mampu menguasainya.
Bukan sa ja Mahisa Amping, tetapi juga Mahisa Semu." Mahisa Murti
mengangguk-angguk kecil. Katanya "Silahkan paman. Pada saat-saat
tertentu jika akan melihat perkembangannya. "Terima Kasih ngger "
jawab Sambega "tetapi aku benarbenar berjanji, agar yang aku
lakukan tidak ju stru menyulitkan anak itu. Apalagi susunan dan
tatanan tubuhnya serta sy araf dan urat-uratnya.” Dengan ijin Mahisa
Murti, maka Mahisa Semu dan Mahisa Amping pada hari-hari tertentu
telah berlatih bersama Sambega. Sekali-sekali disanggar tertutup,
namun kadangkadang disanggar terbuka. Sambega masih belum membawa
anak-anak itu keluar terlalu jauh dari Padepokan. Bagaimanapun juga
ia masih memikirkan kawan-kawan Lengkara. Mungkin ada diantara
mereka yang tidak dengan tulus menerima kenyataan sehingga masih ter
sisa dendam didalam hati. Sambega sendiri tidak mengkhawatirkan
dirinya. Tetapi ia tidak ingin anak-anak itu mengalami kesulitan. Pa
da hari -hari tertentu, Mahisa Murti sendiri memerlukan melihat apa
yang dilakukan oleh Sambega. Sampai seberapa jauh Sambega
mengisi dan menambah pengenalan Mahisa Semu dan Mahisa Am ping
tentang olah kanuragan. Ternyata Mahisa Murti tidak pernah m erasa
berkeberatan atas usaha Sambega untuk membantu meningkatkan
pengenalan Mahisa Amping dan Mahisa Semu tentang ilmu kanuragan.
Sambega telah memperkenalkan beberapa unsur yang dekat dan mempunyai
watak dan kegunaan yang sama dari ilmu yang telah
dipelajarinya. Mahisa Murti sama sekali tidak berkeberatan, bahwa
ada warna lain dalam susunan ilmunya. Sebagaimana Mahisa Murti
sendiri tidak hanya menyadap ilmu dari satu perguruan. Ia tidak
berguru khusus kepada ayahnya. Tetapi juga kepada beberapa orang
lain yang sempat memperkaya ilmunya. Dalam kematangan penguasaannya
atas ilmunya, maka unsurunsur yang ada didalam dirinya itu
akan tersusun menjadi kesatuan ilmu yang tinggi. Luluh dan menyatu.
Meskipun demikian Mahisa Murti tidak melepaskan Mahisa Semu dan
Mahisa Amping. Setiap kali, keduanya dibawa masuk kedalam sanggar
tertutup tanpa orang lain. Juga tidak bersama Sambega. Dengan
demikian, maka Mahisa Murti selalu dapat menilik kemajuan keduanya
serta kemungkinan adanya unsur-unsur yang tidak menguntungkan
didalam dirinya. Ia bukannya tidak percaya kepada Sambega, tetapi ia
memang harus berhati-hati. Sambega sama sekali tidak merasa
tersinggung. Ia mengerti bahwa Mahisa Murti memang harus berbuat
demikian sebagai satu tanggung jawab atas anak-anak yang telah
diambilnya. Apalagi Mahisa Murti berharap, bahwa Mahisa Semu dan
Mahisa Amping akan dapat menjadi penerus di Padepokan Bajra Seta
disamping orang-orang yang masih akan diketemukan kemudian. "Jika
saja kelak lahir anak Mahisa Pukat " b erkata Mahisa Murti didalam
hatinya. Tetapi sebelum hal itu terjadi, maka harus ada seseorang
yang telah disiapkan, karena kepemimpinan Padepokan Bajra Seta tidak
boleh terputus. Namun dalam pada itu, hubungan antara Kediri dan
Singasari, masih saja diwarnai oleh kemelut yang nampaknya tidak
akan pernah menjadi jernih. Kediri selalu merasa dirinya berada
dibawah kekuasaan Singasari, sementara Kediri memiliki usia
yang lebih tua dari sekedar Pakuwon Tumapel yang kemudian
berhasil mengalahkan Kediri. Tetapi bagaimanapun juga para pemimpin
di Kediri adalah trah keturunan dari para penguasa. Darah yang
mengalir didalam tubuh mereka adalah tetesan darah raja-raja
yang berkuasa turun-temurun. Sedangkan Singasari yang
kemudian menjadi besar m elampaui Kediri adalah pemerintahan
yang lahir dari tangan seorang penyamun di padang Karautan.
Namun bagaimanapun juga Singasari itu telah ada dan berkuasa di muka
bumi. Kediri memang pernah dikalahkan. Karena itu, maka betapapun
Kediri mengaku sebagai keturunan raja-raja yang sah, namun
Singasari telah melahirkan keturunan raja-raja yang sah itu
pula karena kuasanya. Jika kekuasaan Kediri lahir dari keturunan
darah, maka kekuasaan Singasari lahir dari ujung pedang. Kemelut
yang terjadi antara dua jalur kekuasaan itu, meskipun beberapa saat
nampak menjadi jernih, namun setiap saat dapat menjadi keruh
kembali. Gejolak-gejolak itu dapat muncul dipermukaan betapapun
kedua belah pihak berusaha meredamnya. Beberapa orang pemimpin di
Kediri tidak henti-hentinya berusaha untuk dapat bangkit k embali
dari reruntuhan yang sangat menyakitkan itu. Dengan demikian, maka
gejolak itu getarannya selalu terasa sampai kejarak yang jauh di
jangkauan kekuasaannya. Sementara itu, di Singasari, Mahisa Pukat
masih tetap berada didalam tugasnya. Bahkan rasa-rasanya Mahisa
Pukat akan tetap berada di Ka satrian bukan karena ia seorang Pelay
an Dalam yang pantas ditempatkan di Kasatrian. Tetapi justru karena
ia telah diangkat menjadi guru bagi para Kesatria. Selain Mahisa
Pukat, maka Mpu Sidikarapun telah berada di Ka satrian pula.
Ternyata keduanya dapat bekerja bersama dengan baik. Meskipun
keduanya bersumber ilmu dari perguruan yang berbeda, namun
keduanya dapat saling mengerti. Keduanya dapat saling membantu dan
saling mengisi dengan sebaik-baiknya. Apalagi mPu Sidikara yang
meskipun lebih tua, namun menempatkan diri karena ia merasa bahwa
ilmu Mahisa Pukat lebih baik dan lebih tinggi dari ilmunya. Tetapi
Mahisa Pukat sendiri sama sekali tidak merasa lebih penting dan
lebih berarti dari mPu Sidikara. Dengan demikian, maka sikap kedua
orang guru di Ka satrian itu berpengaruh baik pula terhadap para
Kesatria di Singasari. Menghadapi kemelut yang terjadi antara
Singasari dan Kediri, maka Pangeran Kuda Pratama telah memberikan
pesan -pesan khusus kepada Mahisa Pukat dan mPu Sidikara. Para
Kesatria itu sebaiknya mengetahui dan meyakini kehadiran Singasari
sebagai satu keharusan yang tidak dapat diingkari. Pendiri
Singasari, Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang
Amurwabhumi, lahir atas kehendak Brahma. Dengan demikian, maka para
Kesatria di Singasari akan merasa y akin akan haknya, karena mereka
merasa bahwa meskipun menurut ujud lahiriahnya, Ken Arok yang
kemudian menjadi Akuwu di Tumapel dan setelah m engalahkan Kediri
menjadi seorang Maharaja adalah keturunan rakyat biasa, karena ia
lahir dari seorang perempuan di lingkungan para petani yang
bernama Ken Endog, namun ia adalah anak Bathara Brahma, sehingga ia
berhak mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari siapapun, meskipun
ia keturunan rajaraja sekalipun. Dengan key akinan seperti itu, maka
para Kesatria di Singasari memang merasa bahwa kedudukan mereka
seharusnya lebih tinggi dari para Kesatria di Kediri. Tetapi dalam
pada itu, beberapa orang pemimpin di Kediri telah mey akinkan
anak-anak m ereka, bahwa ceritera tentang Ken Arok sebagai anak
Brahma adalah sekedar usaha Singasari untuk mengesahkan kedudukan
Ken Arok itu, karena sebenarnya Ken Arok tidak lebih dari anak Ken
Endog dan seorang petani yang bernama Gajah Para. Yang bahkan
kemudian telah menjelajahi kehidupan yang kasar dan kotor diantara
para penjahat, pencuri dan penyamun di Padang Karautan. Namun dalam
kemelut seperti itu, hubungan Mahisa Pukat dengan Sasi berjalan
dengan baik. Justru karena Mahisa Pukat telah m endapat kedudukan
yang baik, m aka kedua orang tua Sasi mulai memikirkan
hubungan anaknya dengan Mahisa Pukat itu dengan lebih
bersungguh-sungguh. Beberapa orang mulai menyebut-ny ebut hubungan
mereka yang memang menjadi semakin rapat. Bahkan para Kesatria
muda di Ka satrian Singasaripun mulai pula menyebut-ny ebut nama
Sasi, seorang gadis yang erat hubungannya dengan gurunya, pemimpin
Pelay an Dalam yang agaknya semakin lama justru menjadi
semakin renggang dengan jabatannya sebagai pemimpin kelompok Pelay
an Dalam dan bahkan menjadi lebih akrab dengan kedudukannya sebagai
guru dalam olah kanuragan di Kasatrian. Hubungan Mahisa Pukat dengan
Sasi itupun menjadi perhatian pula bagi Mahendra. Apalagi umur
Mahisa Pukat memang sudah cukup memadai untuk menempuh satu
kehidupan keluarga. Namun ada satu hal yang masih terasa menggelitik
dihati Mahendra. Mahisa Murti. Namun Mahendra y akin, bahwa Mahisa
Murti tidak akan menjadi sakit hati seandainya Mahisa Pukat harus
mendahuluinya, m enikah dengan Sasi. Meskipun Mahendra tahu, bahwa
bekas-bekas luka di hati Mahisa Murti tentu masih juga terasa pedih,
tetapi Mahisa Murti adalah seorang anak muda yang akan mampu
mempergunakan penalarannya untuk mengatasi gejolak perasaannya.
Karena itulah, maka Mahendra harus mulai bersiap-siap untuk datang
dengan resmi menemui Arya Kuda Cemani untuk minta secara resmi pula
bahwa Sasi akan diperisteri oleh Mahisa Pukat. Mahendra memang tidak
dapat m enunggu terlalu lama. Ia tahu bahwa Arya Kuda Cemani telah
menunggu. Tetapi sebagai orang tua dari seorang gadis, maka Arya
Kuda Cemani tidak akan dapat m embicarakannya lebih dahulu.
Sementara itu, beberapa orang tetangga dan bahkan kawan-kawannya
justru telah mulai membicarakannya. Karena itulah, maka Mahendra
telah memanggil Mahisa Pukat untuk berbicara tentang hubungannya
dengan Sasi. Meskipun Mahisa Pukat mempunyai kedudukan dan wewenang
lebih tinggi dari mPu Sidikara di Kasatrian, namun Mahisa Pukat
merasa jauh lebih m uda daripadanya. Karena itu, maka sebelum ia
bertemu dengan ayahnya, maka Mahisa Pukat telah berbicara dengan mPu
Sidikara, minta petunjuk apa yang sebaiknya dilakukannya. "Kau
sudah cukup mempunyai bekal untuk menempuh satu kehidupan baru"
berkata mPu Sidikara "umurmu sudah cukup. Kedudukanmu baik. Bukan
sekedar pemimpin kelompok Pelay an Dalam. Orang tuamu nampaknya
tidak berkeberatan atas hubunganmu dengan gadis yang sesuai dengan
hatimu. Demikian pula orang tua gadis itu. Karena itu, agaknya tidak
ada lagi persoalan yang dapat menjadi hambatan seandainya ayahmu
bertanya tentang per soalanmu dengan gadis itu." Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Ia mengerti apa yang dimaksud oleh mPu
Sidikara. Tetapi yang dipikirkannya adalah saudara
laki-lakinya, Mahisa Murti. Sepanjang umurnya, Mahisa Pukat
seakan-akan tidak pernah berpisah dengan saudaranya itu. Jika
kemudian ia harus menempuh satu kehidupan keluarga, maka
rasa-rasanya ia telah m eninggalkannya dibelakang. Rasa-rasanya ia
telah meloncat mendahuluinya beberapa langkah kedepan. Ketika hal
itu dikemukakannya kepada mPu Sidikara, maka mPu Sidikara itupun
berkata "Tetapi bukankah kalian untuk selanjutnya tidak akan dapat
saling tergantung yang satu dengan yang lain. Kalian tidak
akan dapat saling menunggu, sementara kau t elah m enemukan
seseorang yang pantas dan bersedia untuk hidup bersama.
Seandainya saudaramu itu tidak segera m endapatkan jodohnya, maka
persoalanmu akan menggantung. Mungkin kau dapat m enerima hal itu
karena kau merasa terikat oleh saudaramu itu. Tetapi kau juga harus
memikirkan perasaan gadis bakal isterimu itu. Apakah ia dapat m
enerima keadaan yang mengambang itu atau tidak. Mungkin gadis
itu tidak pernah m enyatakannya kepadamu. Tetapi diam-diam hatinya
mulai tersiksa sebelum ia benarbenar menjadi isterimu." Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Katanya "Ba iklah. Aku sudah mempunyai bekal
untuk berbicara dengan ayah.” Demikianlah, maka Mahisa Pukat itupun
pada suatu malam telah datang memenuhi panggilan ayahnya. Dengan
bekal yang mantap maka Mahisa Pukat akan mengemukakan sikapnya dalam
hubungannya dengan Sasi. Sebenarnyalah Mahendra memang m enanyakan
beberapa hal kepada Mahisa Pukat dalam hubungannya dengan Sasi.
Mahendra bertanya, apakah Mahisa Pukat benar-benar sudah mantap
untuk kelak berkeluarga dengan anak perempuan Arya Kuda Cemani itu.
"Aku sudah memikirkan dengan masak, ay ah" jawab Mahisa Pukat.
"Selama kau berhubungan dengan gadis itu, apakah kau sudah dapat
menjajagi sifat dan wataknya?" bertanya ayahnya. "Ya, ayah. Selama
ini aku telah m encoba untuk mengenali sifat dan wataknya. Menurut
pendapatku, Sasi adalah seorang gadis yang baik." jawab Mahisa
Pukat. "Baiklah Pukat. Jika kau memang sudah mantap serta sudah kau
pikirkan m asak-masak, maka aku harus berbuat sesuatu. Hubunganmu
dengan Sasi sudah cukup lama, sehingga beberapa orang lain mulai
membicarakannya." berkata ayahnya. Mahisa Pukat mengangguk kecil.
Meskipun demikian ia masih bertanya "Apakah kita sangat tergantung
kepada orang lain itu, ay ah?" Mahendra mengerutkan dahinya. Namun
ia ganti bertanya "Apakah kita dapat melepaskan diri sepenuhnya dari
lingkungan kita? Apakah kita dapat sama sekali tidak menghiraukan
pendapat orang lain?" Mahisa Pukat m enarik nafas dalam-dalam.
Dengan nada rendah ia menjawab "Memang tidak ayah." "Sudahlah. Yang
penting, kau harus bersiap-siap untuk pergi kerumah Arya Kuda
Cemani. " berkata Mahendra. "Aku sendiri?" bertanya Mahisa Pukat.
"Tentu tidak. Mak sudku, kau akan ikut bersamaku datang kerumah Arya
Kuda Cemani. Mungkin kita akan mengajak dua atau tiga orang untuk
menemani kita datang secara resmi minta Sasi untuk kelak menjadi
isterimu." Mahisa Pukat mengangguk-angguk kecil. Dengan nada rendah
ia menyahut "Ya ayah." "Baiklah" berkata Mahendra, "namun, sebelum
aku menemui Arya Kuda Cemani, maka aku ingin bertemu dengan Mahisa
Murti lebih dahulu. Bukan apa-apa, hanya sekedar memberitahukan,
bahwa aku akan melamar Sasi untukmu. Aku berharap bahwa Mahisa Murti
pun akan segera menemukan seorang gadis untuk menjadi isteriny a
pula.” "Apakah ayah akan pergi ke Padepokan Bajra Seta?" "Ya " jawab
Mahendra. "Perjalanan itu terlalu panjang buat ayah sekarang. Ayah
menjadi semakin tua. Ayah akan menjadi sangat letih. " berkata
Mahisa Pukat. "Tidak. Meskipun umurku sudah tua, tetapi kau lihat,
bahwa badanku masih utuh. Inderaku masih baik dan bahkan penalaranku
pun masih belum menjadi kabur." "Sebaiknya aku saja yang pergi ke
Padepokan Bajra Seta, ay ah" berkata Mahisa Pukat. "Tidak baik bahwa
kau yang akan berbicara dengan Mahisa Murti. Aku kira lebih pantas
akulah yang memberi tahukan kepadanya bahwa aku akan melamar Sasi
untukmu. Aku tahu bahwa Mahisa Murti tidak akan ter singgung
siapapun yang datang memberitahukan hal ini kepadanya. Tetapi jika
aku yang datang, maka rasa-rasanya per soalan yang aku
sampaikan kepadanya lebih bersungguh-sungguh.” "Ayah. Jika kau pergi
ke Padepokan Bajra Seta, bukannya aku yang akan berbicara.
Tetapi aku hanya sekedar memanggil Mahisa Murti untuk menghadap ay
ah. Nah, nanti ayah jugalah yang akan menyampaikannya kepadanya."
sahut Mahisa Pukat. Mahendra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya "Sudah lama aku tidak menempuh satu perjalanan. Ternyata ada
kerinduan untuk berderap diatas punggung kuda menyusuri jalan-jalan
panjang." Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Jika ay ahnya memang
berniat untuk melakukan satu perjalanan, maka Mahisa Pukat tentu
tidak dapat mencegahnya. Meskipun Mahisa Pukat masih mengingatkannya
bahwa perjalanan ke Padepokan Bajra Seta cukup jauh, tetapi Mahendra
memang sudah berniat untuk melakukannya. Meskipun demikian Mahisa
Pukatpun berkata "Ayah, jika ay ah sudah berketetapan hati untuk
pergi ke Padepokan Bajra Seta, m aka biarlah aku ikut bersama ayah
untuk m enemani ay ah bercakap-cakap disepanjang jalan. Jika ayah
sudah menetapkan waktu, aku mohon ayah memberitahukan kepadaku, agar
aku dapat m inta ijin kepada Pangeran Kuda Pratama dan
memberitahukannya kepada mPu Sidikara.” "Aku kira, aku perlu segera
bertemu denganMahisa Murti. Karena itu, bagaiamana pertimbanganmu
jika dalam tiga hari ini, kita berangkat ke Padepokan Bajra Seta."
"Bagiku, kapan saja hari yang ay ah tentukan, tidak
berkeberatan. Jika ay ah akan pergi tiga hari lagi, maka akupun
dapat saja pergi bersama ay ah. Besok aku akan minta ijin kepada
Pangeran Kuda Pratama" jawab Mahisa Pukat. "Baiklah. Kita akan
berangkat tiga hari lagi. Akupunharus minta ijin dahulu kepada Sri
Maharaja, karena sewaktu -waktu aku dapat saja dipanggil untuk
menghadap." "Baiklah ayah" berkata Mahisa Pukat kemudian "menjelang
keberangkatan kita k e Padepokan Bajra Seta, aku akan tidur disini,
agar kita dapat berangkat pagi-pagi sekali.” Mahendra
mengangguk-angguk sambil menjawab "Ya. Aku sependapat" jawab
Mahendra. Demikianlah, maka dihari berikutnya Mahisa Pukatpun telah
minta ijin kepada Pangeran Kuda Pratama dan memberitahukan kepada
mPu Sidikara bahwa ia akan menyertai ayahnya pergi ke Padepokan
Bajra Seta untuk menemui saudaranya, Mahisa Murti. Sementara itu,
Mahendrapun telah menyampaikan permohonannya pula lewat Narpacundaka
Sri Maharaja di Singasari. Ternyata Sri Maharaja tidak berkeberatan.
Namun Sri Maharaja berpesan, agar Mahendra tidak telalu lama berada
di Padepokan Bajra Seta. "Dalam keadaan yang penting, aku
memerlukannya" pesan Sri Maharaja. Seperti yang direncanakan, maka
pada hari yang ketiga, Mahendra dan Mahisa Pukat telah
meninggalkan halaman belakang istana Singasari pagi-pagi benar.
Meskipun Mahendra sudah semakin tua, ternyata ia masih tegar duduk
dipunggung kuda. Menj elang matahari terbit, maka kedua orang ayah
dan anak itu sudah keluar dari pintu gerbang Kotaraja. Kuda-kuda
mereka berderap menyusuri jalan panjang dalam keremangan dini hari.
Udara terasa segar mengusap wajah-wajah mereka. Mahisa Pukat berkuda
disebelah ayahnya dengan wajah tengadah. Nampak wajahnya yang
cerah memandang jalan yang terbentang dihadapan mereka yang
mulai menjadi semakin terang. Mereka mulai berpapasan dengan
orang-orang yang akan pergi ke pasar. Satu dua masih ada
yang membawa obor belarak. Namun yang lain telah
membuang obor-obor mereka, karena fajar menjadi semakin merah.
Ketika mereka berpapasan dengan iring-iringan pedati, maka m ereka
masih m endengar kidung perlahan-lahan dari para pedagang yang duduk
di dalam pedati itu. Sambil berselimut kain panjang, mereka mengusir
dingin dengan dendang yang riang. Dengan nada dalam Mahendra
berdesis "mereka bekerja dengan tekun. Mereka bekerja keras tanpa
mengharapkan hasil yang berlebihan." "Ketekunan dan kerja
keras yang mereka lakukan pantas untuk diteladani" berkata Mahendra.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Orang-orang yang membawa
dagangan m ereka ke pasar, mungkin hasil sawah, hasil pategalan atau
hasil kerja tangan mereka, memang tidak terlalu banyak berharap.
Tetapi masih ada juga orang yang ingin mendapat hasil yang
banyak, cepat tanpa bekerja keras. Mereka mengandalkan kemampuan dan
keberanian mereka menggertak orang lain. Mengancam dan sedikit
kemampuan olah kanuragan. Tetapi orang-orang yang pergi ke
pasar didini hari itupun tidak pergi sendiri-sendiri. Biasanya
mereka pergi ke pasar membawa dagangan mereka dalam
kelompok-kelompok yang cukup besar sehingga orang-orang yang
berniat jahat tidak berani mengganggu mereka lagi. Sejenak kemudian,
maka langitpun menjadi terang. Matahari mulai nampak mengarungi
perjalanan panjangnya dari cakrawala ke cakrawala. Mahendra dan
Mahisa Pukat masih melarikan kuda mereka disepanjang jalan
yang menjadi semakin ramai, sehingga dengan demikian maka
keduanya tidak berpacu terlalu cepat. Ketika matahari menjadi
semakin tinggi, maka panasnyapun menjadi semakin meny engat kulit.
Keringat mengalir semakin banyak pula membasahi punggung. Semakin
jauh m ereka dari Kotaraja, maka jalan memang menjadi semakin sepi.
Bukan saja karena matahari semakin tinggi, tetapi padukuhan memang
menjadi semakin jarang. Namun Mahendra dan Mahisa Pukatpun kemudian
merasa perlu untuk beristirahat. Bukan saja mereka juga sudah merasa
letih. Tetapi lebih-lebih kuda mereka yang menjadi haus dan
lapar. Karena itu, maka keduanyapun telah berhenti disebuah kedai
yang cukup besar disebelah pasar di padukuhan yang juga termasuk
besar. Ketika mereka masuk kedalam setelah m enyerahkan kuda mereka
kepada seorang penjaga dan memesan agar kuda itu diberi makan dan
minum, maka didalam kedai itu sudah terdapat beberapa orang
yang sedang makan dan minum. Mahendra dan Mahisa Pukatpun
kemudian duduk disudut ruangan, disebuah lincak bambu yang
panjang dan m emakai sandaran. Dilincak agak ditengah terdapat dua
orang yang juga sedang minum dan makan, sedangkan beberapa orang
yang lain duduk disudut yang terdekat dengan pintu masuk kedai itu.
Keadaan di kedai itu nampaknya tenang-tenang saja. Orang-orang
yang ada didalamnya sibuk dengan minuman dan makanan
yang dihidangkan kepada mereka masingmasing. Hanya
sekali-sekali terdengar orang-orang yang ada didalam kedai itu
memesan makanan lain yang mereka kehendaki. Mahendra dan
Mahisa Pukat yang memang m erasa haus itupun telah memesan
makanan dan m inuman. Seperti yang lain -lainpun maka keduanyapun
segera m endapat pelay anan yang baik. Namun beberapa saat kemudian,
orang-orang yang ada didalam kedai itupun bagaikan diguncang ketika
ampat orang memasuki kedai itu. Demikian mereka duduk, maka suara
mereka telah memenuhi ruangan itu. Jika ada diantara mereka yang
tertawa, m aka suaranya bagaikan m enggetarkan kedai itu. Ketenangan
di kedai itu memang terganggu. Tetapi agaknya orang-orang yang sudah
lebih dahulu duduk dikedai itu tidak ingin menegur m ereka, karena
jika hal itu mereka lakukan, maka akan dapat terjadi perselisihan.
Dua orang yang duduk agak ditengah itupun sama sekali tidak
menghiraukan kehadiran mereka meskipun agaknya merekapun merasa
terganggu. Namun ketika salah seorang diantara keempat orang
yang datang itu memperhatikan kedua orang yang sudah
lebih dahulu duduk dikedai itu, maka orang itupun tiba-tiba
mendekatinya. Sambil menepuk bahunya, maka orang itu berkata lantang
"He, ternyata kau kami ketemukan disini. " Kedua orang itu
berpaling. Keduanya yang semula tidak memperhatikan orang-orang
yang memasuki kedai itu terkejut. Keempat orang itu kemudian
ternyata berpindah dan duduk didekat kedua orang itu. Mereka
berbicara dengan keras, diselingi oleh suara tertawa yang
menggelitik telinga. Seorang diantara mereka dengan lantang bertanya
"Dimana Lengkara sekarang? Bukankah kau telah mengikut orang itu?"
Dengan segan salah seorang dari kedua orang itu menjawab "Lengkara
sudah mati." "Ia memang harus mati. Lengkara sudah merampas beberapa
orang kawan kita dan membawanya bagi kepentingannya." berkata orang
itu. Lalu iapun bertanya "Dimana ia mati dan siapa yang
membunuhnya?" "Ia dibunuh oleh Widigda di Padepokan Bajra Seta "
jawab salah seorang dari kedua orang yang duduk lebih dahulu
itu. Mahendra dan Mahisa Pukat t erkejut m endengar jawaban yang
meny ebut Padepokan Bajra Seta itu, sehingga justru karena itu, maka
merekapun mendengarkan pembicaraan itu dengan seksama. Salah seorang
dari keempat orang itu bertanya "Siapakah Widigda itu?" "Saudara
seperguruan Lengkara " jawab orang itu singkat. "Akhirnya ia memetik
buah dari biji yang ditanamnya sendiri " berkata orang lain
diantara keempat orang itu. Lalu katanya "Nah, jika demikian, kalian
harus kembali lagi kedalam kelompok kami. Bahkan seandainya Lengkara
masih hiduppun, aku m enghendaki kau kembali dan menyatu lagi dengan
kami. Apalagi selama ini kau masih meny embunyikan sesuatu, sehingga
kau harus meny elesaikan tanggung jawabmu itu." "Jangan mengada-ada
" jawab salah seorang dari kedua orang yang datang lebih
dahulu "aku tidak pernah menyembuny ikan sesuatu. Akupun tidak akan
mau kembali lagi bersama kelompokmu. Aku sudah jemu hidup seperti
seekor serigala yang liar dan setiap kali m encuri ternak pada
petani. Biarkan aku dan kawan-kawanku hidup dengan wajar. Apalagi
aku sudah berjanji kepada pemimpin Padepokan Bajra Seta, bahwa aku
akan kembali kedalam kehidupan wajar sebagaimana orang banyak"
Keempat orang itu tertawa berkepanjangan. Seorang diantara mereka
justru memukul-mukul lincak dengan kerasnya, sehingga semua orang
yang ada didalam kedai itu merasa terganggu. Tetapi tidak ada
seorangpun yang mau menegurnya. Melihat ujud dan sikapnya,
maka mereka adalah orang2 yang tentu tidak akan mudah mau m
endengarkan pendapat orang lain. Seorang diantara mereka berkata
"Jangan menjadi cengeng. Kau tentu tidak akan dapat m enghindari
tanggung jawabmu. Kita sudah lama bekerja bersama. Karena itu, kau
jangan lepas dari lingkungan kami." Tetapi kedua orang itu hampir
bersamaan menjawab "Tidak. " Yang seorang meneruskan "Kami tidak
mau." "Dimana kawan-kawanmu yang lain yang telah ikut bersama
Lengkara?" Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun
kemudian yang seorangpun menjawab "Kawan-kawan kami telah
berpencar. Kami tidak tahu kemana mereka pergi. Tetapi kami semuanya
sudah berjanji bahwa kami tidak akan mengulangi cara hidup kami y g
gelap itu." Keempat orang itu tertawa semakin keras. Sambil menepuk
bahu salah seorang dari kedua orang yang datang lebih dahulu
itu, seorang yang bertubuh tinggi berkata "Kau akan m enjadi seorang
yang alim? Seorang yang baik budi dan berhati putih seperti kapas?"
Kawan-kawannya tertawa berkepanjangan. Orang-orang yang ada di
kedai itu semakin merasa terganggu. Dua orang yang ada di bagian
dalam ruang itu telah bangkit berdiri dan mendekati pemilik kedai
itu untuk menghitung harga makanan dan minuman mereka. Kemudian
setelah membayar, merekapun cepat berlalu sambil bergeremang.
Mahendra dan Mahisa Pukatpun sebenarnya merasa terganggu juga.
Tetapi selain mereka masih menghabiskan makanan yang mereka pesan,
lebih-lebih lagi karena orangorang itu meny ebut-ny ebut Padepokan
Bajra Seta, maka keduanya justru menunggu perkembangan pembicaraan
kedua orang itu. Tetapi ternyata kedua orang yang datang lebih
dahulu itu berkeras tidak mau lagi bergabung dengan keempat orang
yang datang kemudian itu. Sehingga perselisihanpun tidak dapat
dihindarkan. "Kami dapat berbuat baik sebagaimana sikap seorang
sahabat. Tetapi kami dapat juga bersikap kasar jika persahabatan
kita kalian khianati." berkata orang yang bertubuh tinggi. "Aku
tidak pernah merasa mengkhianati persahabatan kita. Aku tidak pernah
menganggap kalian bukan lagi sahabat kami. Tetapi kalianpun tidak
dapat memaksaa kami untuk tetap hidup dalam dunia yang hitam
sebagaimana duniamu. Jika sa ja kalian meninggalkan dunia kalian,
maka kami tentu akan bersedia bergabung dengan kalian dan bekerja
bersama.” "Apa yang dapat kita lakukan?" bertanya orang
yang bertubuh tinggi. "Banyak sekali" jawab salah seorang dari
kedua orang yang datang terdahulu "kita dapat mencoba untuk
berdagang. Atau mencoba minta ijin kepada salah seorang Buyut di
sebuah Kabuyutan untuk membuka hutan atau kita kembangkan tanah dan
ladang yang sudah kita miliki. Atau apapun yang pantas kita
lakukan dalam lingkungan orang-orang beradab.” Keempat orang itu
tertawa semakin keras. Namun seorang diantara m ereka berkata
"Sudahlah. Kami tidak m emerlukan sesorahmu itu. Karena sebenarnya
kalian tidak dapat memilih. Kal ian harus menurut perintah yang kami
berikan, karena sebenarnya kami tidak sedang sekedar menawarkan satu
keadaan. Tetapi kami sedang memberikan perintah yang harus
kalian lakukan.” "Tidak " teriak salah seorang dari kedua orang yang
datang lebih dahulu. Nampaknya kemarahan telah meledak di
jantungnya, sehingga tidak tertahankan lagi. Keempat orang yang
datang kemudian itu tidak t ertawa lagi. Wajah mereka menjadi
tegang. Orang yang bertubuh tinggi, yang nampaknya paling
berpengaruh diantara kawan2nya itu berkata "Kau tidak dapat m
enolak. Jika kau menolak, maka kami akan memaksamu." "Kau kira aku
akan tunduk kepada kemauanmu?" jawab salah seorang dari kedua orang
itu. "Kalian terlalu banyak mengetahui tentang kami. Jika kalian
tidak lagi berada diantara kami, maka kalian akan dapat berkhianat
dan mengganggu kehidupan kami." "Meskipun aku tidak berniat untuk
berkhianat, tetapi kalian agaknya menganggap bahwa hal itu akan aku
lakukan. Demikian pula kawanku ini. Karena itu, aku justru tidak
peduli lagi. Aku akan berbuat sesuai dengan keinginanku. Kalian
tidak dapat memaksa aku dan kawanku untuk mengikuti kehendak
kalian." "Per setan dengan igauanmu" geram orang bertubuh tinggi itu
"jika kalian berkeras hati menolak ajakan kami, maka kalian akan m
eny esal. Kepala kalian akan kami penggal dan kami pasang diatas
gerbang padukuhan itu dengan pesan, tidak seorangpun boleh
memindahkannya. Siapa yang melanggar perintah kami, maka kepala
orang itulah yang akan menggantikannya. " Tetapi kedua orang
itu sama sekali tidak takut. Seorang diantara mereka berkata "Kami
sudah lama bergaul dengan kalian. Kami tahu kemampuan kalian dan
kalianpun tahu kemampuan kami. Karena itu, kami tidak akan menjadi
ketakutan berhadapan dengan kalian berempat." "Kalian melihat
sekarang kami berempat. Tetapi sebentar lagi beberapa orang kawan
kami akan datang lagi. Mereka mengenal kalian dan kalian tentu juga
mengenal mereka. Diantara mereka adalah kakang Kebo Lor og. Nah, apa
katamu jika kakang Kebo Lor og itu sampai disini. " Ternyata nama
Kebo Lorog mampu m enggetarkan jantung kedua orang itu. Sementara
orang bertubuh tinggi itu berkata " Kau tidak akan sempat lari.
Meskipun kami tahu kemampuan kalian dan kalian tahu kemampuan kami,
namun kami t entu dapat menahan kalian sampai kakang Kebo Lor og
datang.- Wajah kedua orang itu memang menjadi tegang. Untuk beberapa
saat keduanya justru saling berdiam diri. Keempat orang itupun
tiba-tiba telah t ertawa berkepanjangan lagi. Orang yang bertubuh
tinggi itu berkata "Nah, apa katamu jika kau akan berhadapan dengan
kakang Kebo Lor og?" Namun tiba -tiba saja kedua orang itu saling
memberi isy arat. Keduanyapun bangkit berdiri. Seorang diantara
mereka berkata "Aku akan pergi sekarang." "Tidak. Kau tidak akan
dapat pergi." "Aku tidak peduli" jawab salah seorang dari kedua
orang itu. Seorang diantara merekapun kemudian mengambil uang dari
kantong ikat pinggangnya dan meletakkannya didalam mangkuknya sambil
berkata "Aku tidak sempat menghitung. Jika uangku kurang, lain kali
aku akan datang membayar kekurangannya. Jika lebih biarlah aku
titipkan disini.” Tetapi keempat orang itu tiba-tiba telah bergerak
mengepung keduanya. Yang bertubuh tinggi berkata "Kau tidak akan
dapat lari kemanapun." Tetapi kedua orang itu tidak menghiraukannya.
Mereka dengan cepat meloncat meny ibak orang-orang yang
menghalanginya. Namun keempat orang itu mengejar mereka sehingga
mereka turun ke halaman. Ternyata kedua orang itu tidak ingin
tertahan terlalu lama. Demikian keempat orang itu turun menyusulnya,
maka kedua orang itu sudah menggenggam senjata mereka masingmasing.
Keempat orang itu memang menjadi ragu-ragu. Tetapi mereka tidak
ingin membiarkan kedua orang itu lari. Karena itu, sekali lagi
keempat orang itu mengepungnya. Merekapun telah menarik senjata
mereka pula. Maka tidak dapat dihindari lagi, pertempuranpun telah
terjadi di halaman kedai itu. Beberapa orang yang tidak ingin
terlibat, dengan tergesa - gesa telah meninggalkan kedai itu. Mereka
dengan tergesagesa membayar harga makanan dan minuman mereka,
kemudian dengan tergesa-gesa pula pergi menjauh. Meskipun dikejauhan
mereka berhenti juga untuk melihat apa yang terjadi. Tetapi Mahisa
Pukat dan Mahendra tidak pergi meninggalkan kedai itu. Bahkan m
ereka bergeser m endekati pintu dan melihat apa yang terjadi
di halaman. Pemilik kedai itupun menjadi ketakutan. Ia tidak berani
mencegah pertempuran yang terjadi di halaman. Apalagi mereka
telah mempergunakan senjata pula. Namun seperti yang
dikatakan, m aka keempat orang itu ternyata memang tidak mampu
mengimbangi kemampuan kedua orang yang datang lebih dahulu.
Namun keempat orang itu memang hanya sekedar menahan mereka sambil
menunggu kawn-kawan mereka yang datang kemudian. Tetapi kedua
orang itu memang terlalu garang bagi mereka. Seorang diantara
keempat orang itu harus berloncatan mengambil jarak ketika ujung
senjata salah seorang lawannya menggores tubuhnya. "Jangan ganggu
kami" berkata salah seorang dari kedua orang itu "atau aku terpaksa
harus membunuh?" "Kau memang pembunuh" geram salah seorang dari
keempat orang itu "tetapi sebentar lagi kalian berdua akan menjadi
mayat. " Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi mereka justru
menyerang semakin garang. Keempat orang itu memang mengalami
kesulitan. Orang kedua diantara mereka telah terluka pula. Justru
didadanya. Selagi ia berusaha memperbaiki keadaannya, m aka orang
ketiga justru berteriak tinggi sambil mengumpat." "Pergilah " geram
salah seorang dari kedua orang lawan mereka "jangan dungu. Kalian
akan dapat mati disini." Tetapi betapapun mereka terluka, namun
keempat orang itu masih berusaha untuk menahan kedua orang itu.
Dalam pada itu, sebenarnyalah dari kejauhan beberapa orang berkuda
berpacu dengan kecepatan tinggi. Apalagi ketika mereka melihat
pertempuran di halaman kedai itu. Merekapun segera mempercepat kuda
mereka. Dalam pada itu, salah seorang diantara mereka yang
terluka berteriak "Nah, lihat, siapakah yang datang." Kedua
orang itupun menyadari, bahwa yang datang adalah Kebo Lorog dengan
beberapa orang m engikutnya yang lain. Karena itu, maka
merekapun telah meningkatkan kemampuan mereka, sehingga keempat
orang lawan mereka itupun telah mereka lukai. Karena mereka tidak
dapat menghindar lagi dari Kebo Lor og, maka mereka berusaha untuk
mengurangi jumlah lawan mereka. Ampat orang yang mendahului Kebo Lor
og itu sudah tidak berdaya sama sekali. Meskipun mereka tidak
terbunuh, tetapi mereka seakanakan telah kehilangan kemampuan mereka
untuk bertempur. Darah telah mengalir dari luka-luka mereka. Tetapi
mereka segera tertolong ketika iring-iringan Kebo Lor og itu
memasuki halaman didepan kedai itu. Dengan tangkasnya seorang yang
bertubuh gemuk, berkumis lebat dan berwajah keras dengan beberapa
bekas luka dikening meloncat dari kudanya. Orang itulah yang bernama
Kebo Lor og. "Apa yang terjadi disini?" bertanya Kebo Lorog.
Orang yang bertubuh tinggi, salah seorang dari keempat orang
yang datang lebih dahulu dari Kebo Lor og itupun segera melaporkan
apa yang telah terjadi, meskipun dengan nafas yang
terengah-enggah. Mata Kebo Lor og itupun menjadi bagaikan menyala.
Dipandanginya kedua orang yang telah melukai keempat orang
pengikutnya itu. Dengan suara bergetar karena kemarahan yang
menghentak-hentak didadanya, Kebo Lor og itu menggeram "Jadi kau
sudah merasa berilmu tinggi sekarang, he, sehingga kau berani
melukai orang-orangku." "Mereka memaksa aku " jawab salah seorang
dari kedua orang itu dengan dada tengadah. "Setan kau " geram Kebo
Lorog "kau kira kau dapat melepaskan diri dari tanggung jawabmu?
Selama ini kau selalu minta perlindunganku. Tetapi setelah kau kenal
Lengkara, kau mengikut serigala itu." "Lengkara sudah mati" berkata
salah seorang dari mereka yang terluka. Kebo Lorog mengerutkan
dahinya. Katanya "Jika demikian, maka kau tidak mempunyai pilihan
lain. Siapa yang akan melindungimu sekarang jika Lengkara sudah
mati?” "Aku tidak akan berlindung kepada siapa pun juga. Tetapi aku
tidak akan kembali kedunia yang gelap itu lagi. Aku sudah berjanji
kepada Mahisa Murti, pemimpin Padepokan Bajra Seta. " "Setan" geram
Kebo Lor og "kau kira Mahisa Murti itu akan dapat m elindungimu?
Apalagi sekarang. Kalian hanya berdua disini, sehingga kalian tidak
mempunyai pilihan lain. Kalian harus mengikut kami, melakukan
perintah-perintah kami." "Aku sudah mengatakan, bahwa aku tidak
mau." "Jadi kau memang ingin membunuh dirimu he? Lihat, dengan
berapa orang aku datang? Katakan bahwa keempat orangku itu sudah
tidak mampu lagi bertempur melawanmu. Tetapi aku datang bersama
empat orang lagi. Sedangkan aku sendiri akan mampu memilin leher
kalian berdua tanpa orang lain." Kedua orang itu termangu-mangu
sejenak. Mereka memang m engakui bahwa Kebo Lorog adalah orang
berilmu tinggi. Tetapi keduanya benar-benar tidak berniat untuk
kembali dalam kehidupan yang gelap diantara para pengikut Kebo
Lor og. Karena itu, apapun yang akan terjadi, keduanya itu
tetap pada pendiriannya. Sementara itu Kebo Lor og memerintahkan
kepada orang-orangnya "Kalian dapat membantai seorang diantara
keduanya. Biarlah yang seorang akulah yang akan menyayatnya
menjadi kepingan daging dan tulang. " Lalu katanya kepada kedua
orang itu "He, berteriaklah m emanggil pemimpin Padepokan Bajra Seta
itu untuk melindungi sekarang ini." Kedua orang itu diam membeku.
Tetapi keduanya sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Termasuk kemungkinan yang paling buruk sekalipun. Namun dalam
pada itu semua orang yang ada di halaman itu terkejut.
Termasuk Kebo Lor og. Dari pintu kedai itu keluar seorang anak muda
yang berkata lantang "Akulah salah seorang pemimpin Padepokan Bajra
Seta. " Kedua orang yang menolak ajakan Kebo Lorog itu
termangu-mangu sejenak. Sepintas anak muda itu memang mirip dengan
Mahisa Murti. Apalagi ketika anak muda itu berkata "Jika kau pernah
berjanji kepada Mahisa Murti, maka Mahisa Murti m emang berkewajiban
melindungimu. Karena disini tidak ada Mahisa Murti, maka akulah yang
wajib mengambil alih kewajibannya itu, karena aku adalah saudaranya
laki -laki. Satu diantara dua orang pemimpin Padepokan Bajra Seta.
Namaku Mahisa Pukat." "Mahisa Pukat" kedua orang itu berbareng meny
ebut namanya. "Kalian agaknya belum pernah bertemu dengan aku,
karena ketika kalian bertemu dan menyatakan janji kalian kepada
Mahisa Murti aku berada di Singasari." "Apakah kau benar saudara
laki -laki Mahisa Murti?" bertanya salah seorang dari kedua orang
itu agak ragu meskipun kehadirannya itu akan menguntungkannya.
Tetapi kemudian ia berkata "Jika benar, maka kami akan sangat
berterima kasih. " "Ya " jawab Mahisa Pukat "karena itu, maka aku
akan mengambil alih tanggung jawabnya." Kedua orang yang telah
hampir kehilangan harapan untuk dapat tetap hidup itu jantungnya
seakan-akan telah m enyala kembali. Apalagi ketika kemudian Mahendra
juga keluar dari kedai itu. Meskipun orang itu sudah tua, tetapi
nampak dari sor ot matanya bahwa ia memiliki kelebihan dari
kebanyakan orang itu. Namun Mahisa Pukatlah yang kemudian
berkata "Ki Sanak. Ambillah keempat orang pengikut Kebo Lorog itu.
Biarlah aku yang menghadapinya. Mungkin ia merasa lebih senang
mendapat lawan yang belum pernah ditemuinya sebelumnya." Kedua orang
itu termangu-mangu sejenak. Namun seorang diantara mereka berkata
"Kebo Lor og adalah seorang yang berilmu tinggi..” Mahisa Pukat
mengerutkan dahinya. Sementara itu Kebo Lor og sendiri berkata
sambil t ertawa "Ternyata disini ada juga kecoak yang ingin m
enjadi seorang pahlawan. He, peringatkan orang itu, agar ia tidak
mati siasia. " Tetapi Mahisa Pukat justru bertanya kepada kedua
orang itu "Ki Sanak, apakah kau tahu, melihat atau sedikitnya
mendengar tentang kemampuan saudaraku Mahisa Murti?" "Ya " jawab
kedua orang itu bersamaan. "Katakan dengan jujur menurut pendapatmu,
apakah kirakira Mahisa Murti tidak mampu mengimbangi kemampuan Kebo
Lor og?" bertanya Mahisa Pukat. Orang itu termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian iapun berkata "Mahisa Murti adalah seorang yang
berilmu sangat tinggi. " "Jadi, menurut perhitunganmu, ia akan dapat
mengalahkan Kebo Lor og?" bertanya Mahisa Pukat kempdian. "Ya "
jawab orang itu. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya "Jika
demikian aku juga akan berusaha untuk dapat m engalahkan Kebo Lor
og. " "Tetapi... " kedua orang itu masih saja nampak ragu-ragu.
Mahisa Pukat terseny um. Katanya "Jangan ragu-ragu. Aku saudara
kandung Mahisa Murti. Saudara-saudaraku yang lain adalah
Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Ada seorang pamanku disana, Paman
Wantilan. Kau kenal mereka? "Ya, y a " kedua orang itu menyahut
hampir berbareng. Wajah merekapun kemudian membayangkan key akinan
mereka, bahwa Mahisa Pukat yang mirip dengan Mahisa Murti itu
adalah memang saudara Mahisa Murti. Seandainya ilmunya terpaut, maka
terpautnya juga tidak terlalu banyak. Karena itu, ketika kemudian
Mahisa Pukat maju mendekati Kebo Lor og, keduanya tidak menahannya
lagi. "Bagus" berkata Kebo Lor og, “jadi kalian benar-benar ingin
mati sebagai pahlawan?" "Hanya aku yang akan t erlibat. Ayahku
tidak. Tetapi akupun tidak ingin mati sebagai pahlawan, tetapi aku
ingin meredam kesewenang-wenanganmu. Jika kedua orang itu tidak lagi
ingin terlibat dalam gerombolan hitammu, kenapa kau memaksanya?
Bahkan dengan kekerasan pula." "Itu per soalan antara kami dan
mereka. Persoalan yang tidak terjadi dengan serta merta
sekarang ini. Tetapi persoalannya sudah dimulai dan berkembang sejak
lama. Aku tidak perlu berceritera sampai sehari semalam tentang
hubungan kami dan mereka. Namun sebaiknya kalian tidak usah turut
campur. Betapa tinggi ilmu saudaramu itu, tetapi kau tidak akan
dapat berbuat apa-apa atasku." "Apapun yang terjadi, aku berdiri di
pihak kedua orang itu. Biarlah mereka berdua bertempur melawan
keempat orang pengikutmu. Bahkan jika keempat orang yang t erluka
itu masih mampu ikut campur. Sementara itu, kau akan berhadapan
depgan aku." "Per setan dengan bualanmu" geram Kebo Lorog "aku tidak
akan segan-segan membunuhmu. Dan namamu akan tetap dikenang sebagai
seorang pahlawan yang mati tanpa arti.” Tetapi Mahisa Pukat
justru tertawa. Katanya "Aku tidak berkeberatan dengan segala macam
gelar. Tetapi yang penting, aku tidak ingin mati. Tetapi aku juga
tidak ingin membunuhmu kecuali dalam keadaan terpaksa sekali. Namun
agaknya kau akan memaksaku untuk melakukannya. " Kebo Lorog
menggeram marah. Bahkan matanya telah menjadi merah seperti bara.
Dengan suara yang bergetar karena kemarahan yang menghentak-hentak
dadanya, iapun berkata kepada para pengikutnya "Bunuh keduanya. Aku
akan membunuh kecoak ini. Setelah kecoak ini mati aku injak, maka
biarlah kita membunuh kedua kecoak sakit-sakitan itu pula." Mahisa
Pukat justru tertawa semakin keras. Katanya "Apakah ada sebutan yang
lebih buruk dari kecoak?" Kebo Lor og benar-benar telah kehabisan
kesabaran. Karena itu, maka iapun segera bergeser mendekati Mahisa
Pukat, sementara keempat pengikutnya berusaha untuk mengepung kedua
orang yang telah menolak ajakan mereka itu. Sedangkan dua dari empat
orang yang telah terluka itu ternyata masih sanggup untuk
mengangkat senjatanya meskipun tenaga mereka telah jauh susut,
sedangkan dua orang yang lain sama sekali telah tidak mampu
berbuat apa-apa lagi. Keempat orang yang datang bersama dengan Kebo
Lorog itu juga sudah mencabut senjatanya pula. Mereka telah bersiap
untuk bertempur habis-habisan, karena merekapun mengetahui tataran
kemampuan kedua orang yang akan dibunuhnya itu. Kebo Lor og
yang yakin akan kemampuannya itu sama sekali tidak ingin
mempergunakan senjata. Karena orang itu tidak bersenjata, maka
Mahisa Pukatpun tidak bersenjata pula, meskipun ia membawa pedangnya
yang merupakan bagian dari senjata kembar dengan senjata Mahisa
Murti. Kedua orang yang berhadapan dengan enam orang lawan itupun
telah mulai bergerak. Mereka memang harus mengerahkan segenap
kemampuan mereka. Bagaimanapun juga melawan enam orang tentu
merupakan satu pertempuran yang sangat berat. Kepada kedua orang
yang sudah terluka itu salah seorang dari mereka berkata
"Sebaiknya kalian tidak melibatkan diri lagi, karena kemampuan
kalian sama sekali t idak memadai untuk pertempuran ini." "Per setan
dengan igauan kalian itu " geram salah seorang dari kedua orang
yang terluka itu. Lawannya itupun berdesis "Aku m enyesal
bahwa aku tidak membunuhmu tadi." "Akulah yang nanti akan
membunuhmu" jawab orang yang terluka itu. Ternyata kedua orang
yang dikepung itu tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan tidak
terduga sebelumnya, seorang di antara mereka segera meloncat dengan
kecepatan yang sangat tinggi. Ujung pedangnya dengan serta merta
telah m enggapai pundak dari salah seorang yang memang sudah
terluka itu. Orang itu terkejut. Diluar sadarnya, maka iapun
berteriak kesakitan. Tenaganya yang sudah ter susut itu tidak
m ampu melontarkan tubuh untuk menghindar. Karena itu, maka ujung
pedang itupun benar-benar telah mematuk dan menghujam dipundaknya.
Beberapa langkah orang itu terdor ong surut. Bahkan kemudian iapun
terjatuh ditanah. Senjatanya terlepas dari tangannya. Agaknya ujung
pedang lawannya itu telah memotong urat dipundaknya sehingga tangan
kanannya itu rasa-rasanya bagaikan menjadi lumpuh. Kelima orang yang
Iainpun dengan serta merta telah bergerak pula. Seorang diantara
mereka yang telah terluka itu berteriak "Licik kau. Kau curi
kesempatan sebelum kami bersiap?” "Itulah kebodohan kalian. Jika
kalian berhadapan dengan lawan, maka kalian harus sudah bersiap
sejak semula. " Seorang dari para pengikut Kebo Lorog itupun mencoba
untuk melakukan hal yang sama. Tiba-tiba saja ia meloncat
menyerang dengan garangnya. Tetapi ujung senjatanya tidak menyentuh
apapun juga. Bahkan ketika senjata itu terjulur, maka dengan
kerasnya lawannya memukul senjata itu sehingga justru terlepas dari
tangannya. Untunglah bahwa kawan-kawannya dengan cepat melindunginya
dengan m eny erang hampir bersamaan. Kedua orang lawan mereka
terpaksa bergeser surut sehingga orang yang kehilangan senjatanya
itu sempat memungutnya kembali sambil mengumpat-umpat. Ketika ia
kemudian bersiap kembali, maka ia masih harus beberapa kali meniup
tangannya yang terasa seperti menyentuh bara api. Demikianlah maka
para pengikut Kebo Lor og itu telah bertempur melawan kedua orang
yang tidak mau tunduk kepada kemauan mereka. Ternyata kedua
orang itu benar-benar mampu mengimbangi kelima orang lawannya. Kedua
orang itu sekalisekali b ertempur pada jarak yang dekat, namun
sekali-sekali mereka saling menjauh. Loncatan-loncatan mereka yang
panjang dan dengan kecepatan yang tinggi, membuat kelima orang
lawan mereka itu kadang-kadang menjadi bingung seakan-akan
kehilangan sasaran. Namun kelima orang itu sesekali juga dapat m
endesak kedua orang lawan m ereka itu dan bahkan mencoba
mengurungnya. Kebo Lor og sempat memperhatikan pertempuran itu
sesaat. Kemudian dengan nada tinggi ia berkata "Lihat. Kedua orang
yang akan kau lindungi itu akan segera mati.” "Kau akan mati
lebih dahulu dari mereka. Kemudian delapan orang pengikutmu itu juga
akan mati. Kecuali jika kau menyerah dan membawa orang-orangmu
pergi.” Kebo Lor og menggeram. Kemarahannya tidak tertahan lagi.
Darahnya bagaikan telah mendidih didalam jantungnya. Karena itu,
maka iapun mulai bergeser menyerang Mahisa Pukat yang memang
sudah bersiap untuk bertempur. Sejenak kemudian, m aka keduanyapun
telah m ulai saling menyerang. Kebo Lor og ternyata benar-benar
seorang yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Tenaganya
bagaikan tenaga raksasa yang sedang mengamuk. Ayunan tangannya telah
menggetarkan udara menerpa kulit Mahisa Pukat. Mahisa Pukat
menyadari, betapa besar kekuatan lawannya itu. Karena itu, maka
iapun segera mempergunakan lambaran tenaga dalamnya untuk
mengimbangi kekuatan raksasa Kebo Lor og. Ketika terjadi
benturan-benturan diantara keduanya, Kebo Lor og memang menjadi
heran. Anak muda itu ternyata mampu mengimbangi kekuatannya. Tetapi
Kebo Lorogpun mengerti, bahwa Mahisa Pukat telah mengalasi
kekuatannya dengan tenaga dalam. Karena itu, untuk tetap berada pada
tataran yang lebih tinggi, maka Kebo Lorogpun telah mengungkapkan
tenaga dalamnya pula. Namun k emampuan Mahisa Pukat ternyata memang
lebih tinggi dari Kebo Lor og. Karena itu, meskipun pada da sarnya
kekuatan Kebo Lorog itu lebih besar, tetapi dilambari dengan tenaga
dalam masing-masing, maka Kebo Lor og ternyata tidak mampu menekan
kekuatan lawannya. Mahendra yang berdiri di luar pintu kedai itu
memperhatikan pertempuran yang terjadi itu dengan seksama.
Sekali-sekali nampak keningnya berkerut. Kedua orang yang
harus bertempur melawan para pengikut Kebo Lor og itu m emang harus
mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka. Keempat orang
pengikut Kebo Lor og yang datang kemudian itu masih mempunyai tenaga
yang segar. Sedangkan seorang yang telah terluka itu masih juga
terasa mengganggu, karena iapun dapat merupakan bagian dari kepungan
di seputar kedua orang itu. Namun kedua orang itu memang lebih
tangkas dari lawanlawan mereka. Meskipun jumlah lawan mereka lebih
dari dua kali lipat, namun kedua orang itu masih mampu
mengimbanginya. Sementara itu, Mahisa Pukat yang bertempur
melawan Kebo Lorog, tetapi ternyata Mahisa Pukat masih mampu
mengimbanginya. Keduanya bergerak semakin lama semakin cepat. Bahkan
Kebo Lorog yang gemuk itupun mampu bergerak dengan kecepatan yang
tinggi, seakan-akan tubuhnya yang besar itu tidak terasa
memberatinya. Karena itulah maka keduanyapun berloncatan dengan
tangkasnya saling menyerang dan saling menghindar. Sekalisekali
masih saja terjadi benturan jika seorang diantara mereka menangkis
serangan lawannya. Dalam benturan-benturan yang terjadi, maka
keduanya justru mengetahui bahwa lawan mereka memang memiliki tenaga
dan kekuatan yang besar. Sementara itu loncatanloncatan yang
cepat dan ringan membuat pertempuran itu bagaikan angin pusaran
yang berputaran tidak berkeputusan. Orang-orang yang
menyaksikan pertempuran itu dari kejauhan, tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi. Bahkan merekapun kemudian sulit membedakan,
ketika dua bayangan bagaikan menjadi berbaur tanpa batas. Hanya
Mahendralah yang dapat melihat apa yang sebenarnya
terjadi. Namun iapun mengerutkan dahinya melihat kedua orang itu m
eningkatkan ilmu m ereka semakin lama semakin tinggi. Diputaran
pertempuran yang lain, dua orang yang datang terdahulu tengah
bertempur melawan para pengikut Kebo Lor og. Ternyata keduanya m
emang memiliki kelebihan dari lawan-lawan mereka. Senjata kedua
orang itu berputaran menggapai-gapai dengan cepat. Sehingga
sekali-sekali k elima orang yang mengepungnya harus
berloncatan menjauh. Namun sejenak kemudian mereka dengan serentak m
eloncat menyerang bersama-sama. Namun kedua orang yang menolak untuk
bekerja bersama dengan Kebo Lorog itu telah mengerahkan segenap
kemampuan mereka. Mereka tidak mau m enunggu keadaan menjadi semakin
buruk. Dengan demikian, maka senjata mereka seakan-akan berputar
semakin cepat. Kedua orang itu tidak membiarkan diri mereka
terkurung di dalam kepungan. Dengan isyarat maka keduanya serentak
menghentakkan kekuatan mereka menyerang sisi yang sedang dalam
paling lemah dari kepungan itu. Tiga diantara kelima orang pengikut
Kebo Lor og itu terkejut sekali. Kedua orang itu begitu tiba -tiba
meloncat menyerang mereka. Ketiga orang itu memang berusaha untuk
menghindar dan menangkis serangan itu. Seorang diantara mereka yang
tidak menjadi sasaran langsung sempat meloncat menghindar. Seorang
lagi berusaha untuk menangkis ujung pedang yang bergetar dan
kemudian terayun m endatar menyambar kearah lambung. Satu benturan
yang keras telah terjadi. Namun pengikut Kebo Lorog yang
terkejut itu t ernyata tidak mampu menahan kekuatan benturan yang
seakan-akan merayap lewat pedangnya menggigit telapak tangannya.
Senjata orang itupun tidak mampu lagi dipertahankannya, sehingga
terloncat dari tangannya. Dengan gugup orang itu berlari
meninggalkan lawannya. Sementara lawannya memang tidak sempat
mengejarnya. Dua orang pengikut Kebo Lorog yang lain sempat
memburu menyelamatkan kawannya yang kehilangan senjatanya itu.
Tetapi mereka tidak sempat menolong kawannya yang lain. Ju stru
kedua orang bersama-sama meny elamatkan kawannya yang kehilangan
senjatanya, maka kawannya yang seorang lagi mengalami nasib
yang buruk. Meskipun ia mampu menangkis serangan lawannya
ketika pedang lawannya itu terjulur, tetapi pedang itu menggeliat
dan berputar dengan cepat. Pengikut Kebo Lor og itu meloncat mundur
untuk mempertahankan senjatanya. Tetapi lawannya ternyata meloncat
pula memburu. Ayunan pedangnya yang datang lurus dari samping m
enebas kearah lehernya membuatnya meloncat surut sambil melindungi
lehernya dengan senjatanya. Tetapi ternyata pedang lawannya
berputar. Pedang nya mematuk kearah dadanya yang seakan-akan
terbuka. Pengikut Kebo Lorog itu dengan cepat memiringkan tubuhnya
karena tangannya terlambat menangkis serangan itu. Tetapi pengikut
Kebo Lor og itu tidak dapat melepaskan diri sepenuhnya. Uluran
pedang lawannya sempat mengoyak lengannya, sehingga sebuah luka
telah menganga. Orang itu m eloncat surut mengambil jarak. Terasa
darah yang hangat telah meleleh sampai ketangannya dan bahkan
jari-jarinya. Orang itu mengumpat kasar. Kemarahannya telah menyala
didadanya. Namun, ia tidak dapat mengingkari keny ataan, bahwa ia
memang sudah terluka. Sementara itu kedua orang itu telah berhasil m
ematahkan kepungan para pengikut Kebo Lor og. Orang yang telah
kehilangan senjatanya itu tidak sempat lagi memungutnya. Karena itu,
m aka iapun telah mengambil senjata dari salah seorang pengikut Kebo
Lorog yang datang lebih dahulu, namun telah terluka dan tidak dapat
bertempur terus. Dengan demikian, m aka lima orang pengikut Kebo
Lorog bertempur itu, dua diantaranya telah terluka. Bagaimanapun
juga luka itu telah mempengaruhi mereka karena semakin banyak darah
yang mengalir, maka tenaga merekapun menjadi semakin susut.
Kedua orang yang menolak untuk bergabung dengan Kebo Lor og
itu menjadi semakin berpengharapan untuk dapat segera meny elesaikan
pertempuran itu. Ketika sesaat-sesaat mereka sempat melihat
pertempuran antara Mahisa Pukat dan Kebo Lor og, dada mereka pun
tergetar. Mereka tidak segera mengetahui siapakah yang akan m
emenangkan pertempuran itu. Apalagi keduanya tahu pasti, bahwa Kebo
Lor og memang seorang yang memiliki ilmu yang tinggi.
Sebenarnyalah bahwa Kebo Lorog tidak segera dapat didesak. Bahkan
kemudian ternyata bahwa Mahisa Pukat mengalami kesulitan ketika Kebo
Lor og itu mengerahkan kemampuannya. Bukan saja tenaganya
seakan-akan m enjadi semakin besar, tetapi day a tahanyapun telah
bertambahtambah. Dengan demikian, maka pertempuran antara Mahisa
Pukat dan Kebo Lor og itu memang menjadi semakin sengit. Bahkan
Mahendra yang menyaksikan pertempuran itu mulai menjadi
berdebar-debar. Tenaga Kebo Lor og yang serasa m enjadi
berlipat itu telah mendesak Mahisa Pukat. Namun Mahisa Pukatpun
kemudian sampai pada tataran tertinggi dari tenaga dalamnya,
sehingga kekuatannyapun mengimbangi kekuatan lawannya. Tetapi
meskipun demikian, ada sesuatu yang membuat Mahendra
berdebar-debar. Dalam pengerahan tenaga sampai kepuncak, sentuhan
tangan Mahisa Pukat sama sekali tidak mengguncangkan lawannya.
Sekali-sekali Mahisa Pukat masih juga tergetar, jika serangan
lawannya mampu menembus pertahanannya. Bahkan Mahisa Pukat pernah
terdorong beberapa langkah surut. Tetapi serangan Mahisa Pukat yang
mengenai tubuh Kebo Lor og seakan-akan tidak terasa sama sekali.
Mahisa Pukatpun kemudian merasakan hal itu. Karena itu, maka ia
tidak membiarkan lawannya tetap pada tataran kemampuannya. Mahisa
Pukatpun kemudian telah mengetrapkan ilmunya yang mampu
menghisap tenaga dan kemampuan
lawannya.
Jilid 113 DENGAN demikian maka Mahisa
Pukat justru lebih banyak berusaha untuk membentur serangan-serangan
lawan. Meskipun tulang dan dagingnya terasa sakit, tetapi ia
berharap bahwa kekuatan dan kemampuan lawannya itu menyusut. Tetapi
setelah bertempur untuk waktu yang terhitung lama, kemampuan
lawannya sama sekali tidak m enyusut. Bahkan Kebo Lorog itu justru
menjadi semakin garang. Seranganserangannya datang beruntun seperti
debur ombak menghantam tebing pantai. Mahisa Pukat menjadi heran.
Bahkan kegelisahannya mulai nampak pada tata geraknya. Beberapa kali
ia berloncatan surut mengambil jarak serta berusaha mengamati
keadaan lawannya. Dalam pada itu, Kebo Lor ogpun tertawa
berkepanjangan. Tanpa memburu anak muda yang meloncat surut
menjauhinya itu ia berkata disela-sela suara tertawanya “Nah, Mahisa
Pukat. Apalagi yang akan kau andalkan? Ilmumu untuk menghisap
tenaga serta kemampuan lawanmu tidak berarti sama sekali bagiku.
Guruku telah m empelajari ilmu itu serta penangkalnya sekaligus.
Ilmu kebalku bukan saja mampu menjadi peri sai dari
serangan-seranganmu, tetapi juga ilmumu yang sebenarnya termasuk
ilmu yang jarang ada duanya itu. Nah, sekarang kau tidak dapat
berbuat lain kecuali menyerah. Bersimpuh dihadapanku dan membiarkan
aku berbuat apa saja atasmu. Tetapi aku berjanji tidak akan
membunuhmu, m eskipun untuk selama- lamanya kau tidak akan dapat
menghalangi aku lagi.” Wajah Mahisa Pukat m enjadi m erah. Tetapi
Kebo Lorog memang memiliki kemampuan sebagaimana dikatakannya itu.
Ilmu kebalny a mampu menangkal ilmunya yang dapat menghisap tenaga
dan kemampuan lawan. Tetapi sama sekali tidak terbersit niat dihati
Mahisa Pukat untuk meny erah dan apalagi membiarkan Kebo Lor og itu
membuatnya cacat. Karena itu, maka Mahisa Pukat masih saja bertempur
dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Mahendra memang menjadi
berdebar-debar. Iapun melihat, bahwa ilmu Mahisa Pukat yang
tersembuny i itu tidak dapat ditrapkan melawan kekebalan Kebo Lor
og. Kekebalan yang khusus, bukan saja melawan benturan-benturan
kekerasan dan tajamnya senjata, tetapi juga melawan ilmu Mahisa
Pukat yang jarang diketahui orang itu. Namun bagaimanapun juga
Mahisa Pukat selalu terdesak. Serangan-serangannya memang menjadi
tidak berarti bagi lawannya. Ilmu k ebal Kebo Lorog tidak dapat
ditembus oleh kekuatan dan tenaga dalam Mahisa Pukat yang
telah dilepaskannya seluruhnya. Sementara itu, tubuh Mahisa Pukat
terasa semakin lama semakin dicengkam oleh kesakitan. Kulit
dagingnya terasa memar, sementara tulang-tulangnya bagaikan menjadi,
retak. Ketika serangannya yang dilontarkan dengan mengerahkan
tenaganya sempat ditangkap oleh ketajaman penglihatan Kebo Lor og,
maka Kebo Lor og sama sekali tidak menghindar. Ia justru mengerahkan
tenaganya pula untuk membentur serangan Mahisa Pukat. Satu benturan
yang sengit telah terjadi. Namun Mahisa Pukatlah yang justru terdor
ong surut. Melambung diudara, kemudian melayang jatuh. Hanya karena
keliatan tubuhnya sa jalah, maka Mahisa Pukat jatuh dengan mapan.
Justru ia sempat berguling dua kali dan kemudian meloncat bangkit.
Kebo Lor og tertawa berkepanjangan, sementara keringat mulai
mengalir dipunggung Mahendra. Bahkan kedua orang yang menolak
bergabung dengan Kebo Lor og, yang juga sempat menyaksikannya
sekilas, menjadi gelisah pula. Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat
tidak ingin benarbenar dihancurkan oleh Kebo Lorog. Karena itu, maka
Mahisa Pukat tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus berlindung
dibelakang ilmu pamungkasny a. Demikianlah, m aka Mahisa Pukatpun
telah mengerahkan segenap tenaga serta segenap ilmu yang ada
didalam dirinya. Kemudian memusatkan nalar budinya untuk
membangkitkan ilmu puncaknya. Dengan lambaran segenap kemampuan dan
ilmu yang tersimpan didalam diriny a, maka Mahisa Pukat itu
telah menarik sebelah kakinya surut. Dengan lutut yang sedikit
merendah, m aka Mahisa Pukatpun telah sampai pada batas tertinggi
kemampuan ilmu yang dimilikinya. Sejenak kemudian, maka kedua
tangan Mahisa Pukat telah bersilang didadanya, kemudian terjulur
lurus menghentak kedepan dengan telapak tangan yang terbuka
menghadap lawannya. Kebo Lor og terkejut melihat sikap Mahisa Pukat.
Bahkan jantungnya telah tergetar ketika ia melihat seleret sinar
memancar di telapak tangan anak muda itu. Kemudian dengan cepat
meluncur ke arah jantung didadanya. Kebo Lorog yang juga
berilmu tinggi itu memang tidak membiarkan dadanya pecah oleh
hantaman ilmu yang meluncur dari telapak tangan Mahisa Pukat. Karena
itu, maka Kebo Lor og itupun meloncat menghindarinya. Tetapi ilmu
yang terlontar dari telapak tangan Mahisa Pukat terlalu cepat untuk
dapat dihindari sepenuhnya oleh Kebo Lorog yang agak gemuk
itu. Karena itu, maka Kebo Lor og tidak berhasil lepas sama sekali
dari tikaman ilmu Mahisa Pukat. Yang terjadi adalah benturan
yang dahsy at. Kebo Lorog itulah yang kemudian terlempar
dan melambung beberapa langkah surut. Ketika Kebo Lor og terbanting
jatuh, betapapun ia berusaha untuk menggeliat dan bangkit kembali,
namun tubuhnya tidak lagi mampu untuk bergerak lagi. fulang-tulang
dadanya serasa berpatahan. Bahkan seisi daday a terasa menjadi panas
bagaikan terbakar Kebo Lor og itu mengumpat kasar. Tetapi suaranya
yang parau tertelan kembali lewat kerongkongannya yang kering.
Ilmu puncak Mahisa Pukat ternyata tidak mampu diatasiny a. Hanya
karena Kebo Lor og berilmu tinggi, serta usahanya untuk menghindari
serangan Mahisa Pukat yang meluncur kearahnya sajalah, maka Kebo Lor
og m asih tetap menyadari sepenuhnya apa yang terjadi. Tetapi
wadagnya sama sekali tidak lagi mampu mendukung segala ilmu,
kemampuan dan kelebihan-kelebihannya. Mahisa Pukat berdiri
termangu-mangu. Sementara itu, para pengikut Kebo Lor og yang sedang
bertempur itupun terkejut pula. Mereka melihat Kebo Lorog itu
terbanting jatuh dan tidak dapat bangkit kembali. Kedua orang
yang tidak mau bergabung dengan Kebo Lorog itupun melihat,
bagaimana Mahisa Pukat mengalahkan Kebo Lor og. Yang mereka lihat
itu seakan-akan merupakan ulangan dari apa yang pernah m ereka
lihat di padepokan Bajra Seta. Sehingga dengan demikian maka
keduanyapun yakin, bahwa Mahisa Pukat itu memang saudara laki -laki
Mahisa Murti sebagaimana dikatakannya. Ketika kemudian Kebo Lorog
yang berilmu tinggi itu terbaring di halaman kedai itu, maka para
pengikutnyapun menjadi ragu-ragu. Kedua orang yang tidak mau
bergabung dengan m ereka itupun tidak dapat mereka kalahkan. Apalagi
apabila anak m uda yang telah m engalahkan Kebo Lorog itu ikut
bertempur melawan mereka. Mahisa Pukat masih berdiri termangu-mangu
sejenak. Ketika ia melihat bahwa Kebo Lor og sudah tidak mampu
bangkit lagi, maka iapun melangkah mendekati para pengikutnya sambil
berkata “Nah, apakah yang akan kalian lakukan?” Para pengikut Kebo
Lor og itu m enjadi semakin berdebardebar. Sekali-sekali mereka
memandang kedua orang yang menolak bergabung bersama mereka itu.
Namun kemudian dipandanginya Mahisa Pukat yang telah melumpuhkan
pemimpinnya yang dianggapnya tidak dapat dikalahkan oleh siapapun
juga. "Apakah kalian akan meneruskan pertempuran ini? " bertanya
Mahisa Pukat. Orang-orang itu tetap terdiam. Tidak seorangpun
diantara mereka yang menjawab. "Kenapa kalian diam saja?"
desak Mahisa Pukat "atau kami yang harus mulai meny erang kalian?"
Tidak seorang pun yang menjawab meskipun mereka saling
berpandangan. Melihat sikap m ereka, maka Mahisa Pukatpun kemudian
berkata "Baiklah. Aku masih akan m inta kepada kedua orang yang
kalian paksa untuk bergabung dengan kalian itu untuk memberikan
kesempatan sekali lagi. Jika kesempatan kali ini tidak kau
pergunakan sebaik-baiknya, maka nasib kalian akan menjadi lebih
buruk dari Kebo Lorog itu sendiri." Orang-orang itupun masih saja
termangu-mangu. Tidak seorangpun yang menjawab. Sementara itu,
Mahisa Pukat berkata selanjutnya "Ba iklah. Kesempatan terakhir bagi
kalian untuk menyerah. Jika kesempatan ini tidak kalian pergunakan,
maka kalian tidak akan mempunyai pilihan lain." Orang-orang itu
masih berpandangan sejenak. Namun seorang yang terluka cukup
parah berkata "Aku meny erah.” Tetapi Mahisa Pukat menyahut "Yang
terutama bukan kalian yang memang sudah tidak dapat melawan.
Aku bertanya kepada mereka yang masih mampu mempergunakan
senjatanya melawan kami." Suasana memang menjadi tegang. Namun
kemudian seorang diantara mereka yang masih bertempur dengan
sigapnya berkata sambil meletakkan senjatanya "Kami menyerah."
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Bagus. Jika kalian
meny erah, maka persoalannya dapat dianggap selesai. Lihat
pemimpinmu itu. Ia belum m ati. Tetapi Kebo Lor og tidak akan mampu
lagi memimpin kalian. Jika ia dapat sembuh, ia tidak akan mampu lagi
menguasai segenap ilmunya karena dukungan wadagnya tidak
memungkinkan lagi. Ia akan cacat untuk selanjutnya.” Wajah para
pengikutnya menjadi tegang. Sementara Mahisa Pukat berkata lagi
"Apakah kalian menyesal bahwa pemimpin kalian menjadi cacat? Apakah
kalian masih bermimpi untuk tetap hidup dalam petualangan kalian
seperti saat -saat kalian mengembara dibawah pimpinannya.”
Pertanyaan itu telah m enghentak dijantung para pengikut Kebo Lor og
itu. Untuk sesaat keadaan memang menjadi sepi. Semuanya terdiam
sementara wajah-wajah menjadi tegang. Bukan hanya m ereka yang
terlibat dalam pertempuran itu sa ja, tetapi orang-orang yang
m enyaksikan dari k ejauhanpun menjadi tegang pula. Bahkan Mahendra
yang menyaksikan semua peristiwa yang terjadi di halaman kedai
itupun juga menjadi tegang. Dalam pada itu, seorang di antara para
pengikut Kebo Lor og itupun kemudian berkata "Ki Sanak. Kami tidak
tahu apa yang sebaiknya kami lakukan dikemudian hari. Tetapi jika
pemimpin kami tidak lagi mampu melakukan tugasnya, maka agaknya
kamipun harus mempertimbangkannya untuk berbuat yang lain." "Jadi
seandainya kalian meninggalkan dunia hitammu, bukan karena kesadaran
yang tumbuh dari dasar hatimu. Tetapi semata-mata karena tidak
ada lagi orang yang dapat membawamu melakukan
kejahatan-kejahatan itu?" bertanya MahisaPukat. "Tidak. Bukan karena
itu. Tetapi kami benar-benar tidak tahu apa yang harus kami lakukan.
Dan bahkan kami tidak tahu apa yang harus kami katakan
sekarang ini." jawab pengikut Kebo Lorog itu. Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Katanya "Apapun alasannya. Tetapi kau dapat
bercermin kepada kedua orang yang pernah bekerja bersamamu itu.
Mereka sekarang sama sekali t idak goncang oleh bujukan atau ancaman
atau apapun juga. Mereka sudah berdiri tegak pada sikap mereka. "
Para pengikut Kebo Lorog itu m engangguk-angguk. Tetapi wajah mereka
masih membayangkan keragu-raguan sikap. Karena itu, maka Mahisa
Pukatpun berkata "Baiklah. Pikirkan kata-kataku ini. Jika kalian
masih tetap berdiri dibayangi kejahatan yang pemah kalian lakukan
dibawah pimpinan Kebo Lor og itu, maka kalian akan berhadapan dengan
bekas-bekas kawan kalian dan lebih dari itu, kalian akan berhadapan
dengan seluruh isi Padepokan Bajra Seta selain kalian m erupakan
orang-orang yang tentu akan selalu diburu oleh para prajurit
Singasari. " Orang-orang itu menundukkan kepalanya. Tetapi tidak
seorangpun yang menyahut. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun
membentak "He, kenapa kalian m embisu? Apakah aku harus membawa
kalian kepada para prajurit Singasari?” "Sebenarnyalah aku tidak
tahu apa yang harus aku katakan" jawab salah seorang diantara mereka
dengan serta-merta "Tetapi yakinlah, bahwa kami tidak akan
mengulangi lagi perbuatan-perbuatan kami. Bukan karena Kebo Lor og
sudah tidak berdaya lagi. Tetapi kami m engerti kenapa kami harus
menghentikannya." "Apa yang meloncat dari mulutmu itu tidak lebih
dari sekedar usahamu untuk m eny elamatkan diri. Tetapi baiklah.
Kita akan melihat apa yang akan terjadi kelak. " berkata
MahisaPukat. Para pengikut Kebo Lorog itu tidak menjawab. Tetapi
kegelisahan memang membayang disor ot mata mereka. Sementaraitu
Mahisa Pukatpun berkata "Sekarang, lihat pemimpinmu itu. Tolong
rawat orang itu baik-baik. Tetapi ingat, kita tentu masih akan
bertemu dimanapun juga. Jika bukan aku, tentu para cantrik dari
Padepokan Bajra Seta. Atau saudaraku Mahisa Murti, atau Mahisa Semu
atau Paman Wantilan. Tetapi karena aku mempunyai banyak hubungan
dengan prajurit Singasari, maka jika kalian masih tetap hidup dalam
bayangan kejahatan, maka Arya Kuda Cemani, seorang Panglima dari Pa
sukan Sandi di Singasari akan langsung menangani perburuan atas
kalian." Diluar sadarnya maka para pengikut Kebo Lor og itu
mengangguk-angguk. Tetapi hati mereka benar-benar menjadi kuncup
mendengar ancaman Mahisa Pukat itu. "Namun segala sesuatunya
terserah kepada kalian " berkata Mahisa Pukat kemudian. Lalu katanya
sekali lagi "Sekarang lihat pemimpinmu itu." Para pengikut Kebo
Lorog yang tidak terluka itupun telah melangkah mendekati Kebo
Lor og yang terbaring. Ternyata orang itu agaknya masih
pingsan. Kepada kedua orang yang menolak bergabung dengan Kebo
Lor og itu Mahisa Pukat berkata "Ki Sanak. Kalian dapat mengamati
apa yang mereka lakukan disini sampai mereka membawa Kebo
Lorog itu pergi. Kami berdua akan melanjutkan perjalanan kami menuju
ke Padepokan Bajra Seta. " "Baiklah" jawab salah seorang dari mereka
"kami mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu. Kau telah
menyelamatkan jiwa kami sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Murti.
Mahisa Murti waktu itu dapat saja membunuh kami semuanya karena kami
telah melakukan kesalahan yang sebenamya tidak pantas untuk
dimaafkan. Tetapi kami dapat keluar hidup-hidup dariPadepokan Bajra
Seta. Karena itulah, maka kami berjanji untuk menghentikan segala
kegiatan gila kami sebagaimana selalu kami lakukan sebelumnya.
Bahkan memang kami pernah melakukannya bersama-sama dengan Kebo Lor
og. " "Baiklah. Sekarang kami berdua akan minta diri. kami
mengucapkan selamat atas kesediaan kalian meninggalkan satu
lingkungan yang penuh dengan kegelapan." Berkata Mahisa Pukat.
Lalu katanya pula ”Orang itu adalah ay ahku. Juga ayah Mahisa
Murti." "O" kedua orang itupun mengangguk hormat kepada Mahendra
yang masih berdiri di tempatnya. Namun Mahendrapun telah m
engangguk hormat pula kepada m ereka berdua. Demikianlah, maka
Mahendra dan Mahisa Pukatpun meninggalkan kedai itu setelah membayar
harga makanan dan minuman mereka serta kuda-kuda mereka, melanjutkan
perjalanan menuju ke Padepokan Bajra Seta. Keduanya telah tertahan
beberapa saat diperjalanan. Karena itu, maka perjalanan mereka
memerlukan waktu lebih lama dari yang mereka rencanakan. Namun
dengan demikian mereka mengetahui, apa yang baru saja terjadi
di Padepokan Bajra Seta. Agaknya telah terjadi pertentangan diantara
sekelompok orang yang semula tidak mempunyai sangkut-paut dengan
Padepokan Bajra Seta, namun kemudian justru telah melibatkan
Padepokan itu. Tetapi Mahendra dan Mahisa Pukat tidak berniat untuk
bermalam diperjalanan. Meskipun mereka masih harus berhenti untuk
memberi kesempatan kuda mereka untuk beristirahat, minum dan makan
rerumputan segar, namun kemudian mereka telah melanjutkan
perjalanan. Ketika mereka sampai di Padepokan, maka para cantrik
yang bertugas memang terkejut. Dengan tergopoh-gopoh mereka membuka
pintu gerbang Padepokan serta mempersilahkan keduanya memasuki
Padepokan yang sudah lelap. Mahisa Murti yang dibangunkan oleh
seorang cantrikpun terkejut pula. Dengan tergesa -gesa Mahisa Murti
pergi ke bangunan induk Padepokan Bajra Seta. Mahendra dan Mahisa
Pukat, memang sudah menunggu di bangunan induk. Demikian mereka
melihat Mahisa Murti yang tergesa -gesa menemuinya, Mahendra segera
berkata "Kami datang untuk membawa kabar baik. " Mahisa Murti yang
kemudian duduk m enemui Mahendra dan Mahisa Pukat menarik nafas
dalam-dalam. Sementara itu Mahendra berkata "Perjalanan kami
terhambat beberapa saat. Karena itu, kami datang larut malam."
Mahisa Pukatlah yang kemudian m enceriterakan apa yang terjadi
di perjalanan sehingga mereka tertahan beberapa saat disebuah kedai.
"Dua orang itu berceritera serba sedikit, tentang peristiwa yang
terjadi di Padepokan ini" berkata Mahisa Pukat Sementara Mahendra
minta Mahisa Murti menceriterakan peristiwa yang pernah terjadi itu.
Seorang cantrik kemudian menghidangkan minuman panas dengan beberapa
potong makanan yang sudah dingin. Namun Mahisa Murtipun
berkata "Biarlah para cantrik menyiapkan makan malam. Bukankah ay ah
dan Mahisa Pukat belum makan malam diperjalanan?" Mahisa Pukatlah
yang mengangguk sambil menjawab "Terima kasih. Kami memang
sudah merasa lapar. Ketika kuda kami sempat berhenti, minum air
diparit yang jernih serta makan rerumputan segar, kami tidak dapat
makan apapun juga, karena kami tidak dapat berbagi makanan dengan
kuda-kuda kami." Mahisa Murtipun tertawa. Katanya "Kami akan
menangkap seekor ay am." "Jangan" cegah Mahisa Pukat "jangan karena
kedatangan kami, seekor ayam tidak sempat melihat matahari terbit
esok pagi." Mahisa Murti tertawa. Mahendrapun tertawa pula. Namun
Mahisa Murtipun menjawab "Baiklah. Biarlah para cantrik mencari
telur saja di pe tar angan. Karena kami tidak mempunyai lauk yang
lain” Sambil menunggu nasi masak, maka Mahisa Murtipun telah
menceriterakan apa yang terjadi di Padepokan Bajra Seta.
Bahkan kemudian Mahisa Murtipun minta para cantrik memanggil Sambega
dan Wantilan untuk ikut menemui Mahendra dan Mahisa Pukat. Sambega
yang kemudian mendengar pula apa yang telah terjadi
diperjalanan Mahendra dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk sambil
berkata "Sokurlah, jika para pengikut Lengkara itu benar-benar
menginsy afi arti dari hidup mereka. " Namun pembicaraan mereka
terhenti, ketika para cantrik membawa hidangan yang masih
hangat. Nasi yang masih mengepulkan asap, telur dadar dan
sambal terasi. "Benar-benar tidak ada yang lain " berkata
Mahisa Murti. "Bukankah ini sudah cukup ? Semua adalah kegemaranku.
Telur dadar dan sambal terasi. Tentu tidak terlalu pedas, sedikit
asin dan sedikit berambang." desis Mahisa Pukat. Mereka tertawa.
Namun kemudian merekapun makan dengan lahapnya. Bahkan Mahisa Murti,
Wantilan dan Sambegapun ikut pula bersama mereka makan, meskipun
mereka sudah makan m alam, setelah Mahendra dan Mahisa Pukat mencuci
kaki dan tangan mereka serta berbenah diri. Namun setelah mereka
selesai makan, Mahendra tidak ingin dengan serta merta mengatakan
maksud kedatangannya. Karena itu setelah duduk dan berbincang
sebentar setelah mereka makan, maka Mahendrapun berkata "Nah,
sekarang, ijinkan kami beristirahat. Kami memang agak letih.” Mahisa
Murtipun kemudian memerintahkan seorang cantrik untuk menyiapkan dua
buah bilik bagi Mahendra dan Mahisa Pukat. Bagi Padepokan Bajra
Seta, rasa-rasanya Mahisa Pukat memang bukan lagi bagian dari
Padepokan itu, sehingga Mahisa Pukatpun diterima sebagaimana mereka
menerima seorang tamu. Mahisa Pukat memang merasakan hal itu. Karena
itu rasa-rasanya memang ada yang hilang baginya jika ia berada
di Padepokan Bajra Seta. Tetapi itu memang tidak dapat diingkarinya.
Ia sadar, bahwa ia seakan-akan memang sudah keluar dari lingkungan
Padepokan itu. Sementara itu, Mahisa Murti dengan ketajaman
panggraitannya telah tanggap, bahwa ay ahnya dan Mahisa Pukat tentu
m embawa persoalan, yang cukup penting untuk disampaikan kepadanya.
Dengan demikian Mahisa Murti tidak dapat minta ayahnya serta Mahisa
Pukat untuk mengatakan per soalan yang dibawanya. Mahisa Murtipun
tahu bahwa keduanya, terutama Mahisa Pukat tentu m erasa letih.
Selain mereka menempuh perjalanan panjang, Mahisa Pukat juga harus
berhenti untuk bertempur. Bahkan harus melepaskan ilmu puncaknya.
Demikianlah, maka Padepokan Bajra Setapun telah menjadi sepi
kembali. Mahendra dan Mahisa Pukat telah berada didalam bilik
mereka. Sementara itu Mahisa Murti, Sambega dan para cantrikpun
telah kembali ke pembaringan selain mereka yang memang
bertugas. Wantilan masih sempat melihat para cantrik yang
bertugas diregol. Namun kemudian iapun telah pergi ke biliknya pula.
Ketika fajar m enyingsing, maka Mahisa Semu dan Mahisa Amping
terkejut melihat Mahendra dan Mahisa Pukat berada di Padepokan.
Dengan serta merta keduanya telah menemuinya dan bertanya tentang
kedatangan mereka, keadaan di Singasari, bahkan Mahisa Amping telah
bertanya pula tentang sanggar di Kasatrian. Mahisa Pukat menjawab
pertanyaan-pertanyaan itu sambil tersenyum. Namun Mahisa Pukat tidak
menjawab ketika Mahisa Amping bertanya, apakah keperluan mereka
datang ke Padepokan. Hari itu, rasa-rasanya Mahisa Pukat telah
berada kembali ditengah-tengah dunianya. Dengan sendiriny a ia telah
ikut melakukan kegiatan sebagaimana selalu dilakukannya ketika ia
masih berada di Padepokan Bajra Seta. Memang jauh berbeda dari
kegiatan yang dilakukannya di Kasatrian. Tetapi rasa-rasanya
baru kemarin ia meninggalkan Padepokan itu dan berada di Kasatrian
istana Singasari. Ketika kegiatan pagi di padepokan itu lewat, maka
Mahendra telah minta agar Mahisa Murti duduk b ersamanya dan Mahisa
Pukat untuk berbicara tentang sesuatu hal yang dianggapnya penting.
Mahisa Murti memang menjadi berdebar -debar. Namun semalam ayahnya
sudah mengatakan kepadanya, bahwa ay ahnya dan Mahisa Pukat datang
dengan membawa kabar baik. Tetapi masih timbul pertanyaan didalam
hatinya "Kabar baik bagi siapa? Bagi aku atau bagi Mahisa Pukat atau
bagi Padepokan Bajra Seta?" Tetapi pertanyaan itu tidak
diucapkannya. Ia menunggu ay ahnya akan mengatakannya.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian, maka ayahnyapun menyampaikan niat
Mahisa Pukat untuk melamar dan selanjutnya menikah dengan Sasi. Anak
gadis Arya Kuda Cemani. Jantung Mahisa Murti memang terasa
menghentak. Namun dengan cepat ia berusaha menguasai perasaannya.
Bahkan kemudian Mahisa Murtipun tersenyum sambil berkata "Sokurlah.
Satu keputusan yang bijaksana. " Mahendra mengangguk-angguk.
Dengan nada rendah ia berkata "Kita memang harus menghormati sikap
lingkungan kita dan lingkungan Arya Kuda Cemani. Ketika orang-orang
mulai berbicara tentang hubungan antara Mahisa Pukat dan Sasi, m aka
persoalanpun rasa -rasanya seperti dipacu. Apalagi Mahisa Pukat
telah mendapatkan pekerjaan yang mapan di istana, sementara
umumyapun sudah sampai diatas batas kewajaran untuk berumah tangga.
Karena itu, m aka aku kira tidak ada lagi persoalan yang harus
ditunggu, selain persetujuanmu." "O" Mahisa Murti justru terkejut.
Dengan nada tinggi iapun bertanya "Kenapa persetujuanku?” "Maksudku,
kita dapat berbincang-bincang lebih dahulu sebelum aku benar-benar
datang melamar kepada Arya Kuda Cemani. " "Seperti yang sudah
aku katakan, ayah. Keputusan ay ah untuk segera melamar dan bahkan
pernikahan akan segera dilaksanakan pula, adalah satu keputusan
yang bijaksana." Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia m
emang sudah mengira bahwa sikap Mahisa Murti adalah sebagaimana
ditunjukkan itu. Namun sebagai seorang ayah yang m engerti
perasaan anaknya, Mahendra justru menjadi terharu. Tetapi dihadapan
Mahisa Pukat ia sama sekali tidak menunjukkan perasaannya. Sambil
mengangguk-angguk kecil Mahendra berkata besok lusa aku kembali ke
Singasari, maka aku akan segera datang menemui Arya Kuda Cemani.
"Semakin cepat, tentu semakin baik, ayah" berkata Mahisa Murti. "Ya.
Semuanya memang sebaiknya segera dilakukan" jawab Mahendra Mahisa
Murti mengangguk-angguk pula. Kepada Mahisa Pukat ia berkata "Kau
harus benar-benar m empersiapkan diri melangkah kedalam satu dunia
yang baru sama sekali. Rasarasanya memang tidak ada satu
perguruan yang memberikan tutunan secara terperinci bagaimana
seseorang memasuki satu kehidupan rumah tangga, kecuali
petunjuk-petunjuk secara umum sekali. " Mahisa Pukat tersenyum.
Katanya "Tetapi kita dapat belajar dengan memperhatikan sisi-sisi
kehidupan satu keluarga. Meskipun demikian, sebagian besar dari
keberhasilannya tergantung kepada yang menjalani sendiri. "
"Kesadaranmu akan hal itu merupakan modal yang berharga,
Pukat" desis Mahendra "karena itu, mereka yang akan memasuki satu
kehidupan keluarga dituntut untuk bertanggung jawab sepenuhnya.
Sejak mempersiapkan diri, sampai saatnya memasuki kehidupan keluarga
dan seterusnya sampai pada batas akhir hayat." Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia menyahut "Ya ay ah." "Nah,
ternyata tidak ada persoalan lagi yang akan menghambat perjalananmu
m emasuki satu kehidupan baru. Kau akan berada dalam satu lingkungan
yang mengikatmu." "Ya ay ah" desis Mahisa Pukat. Demikianlah,
maka Mahendra merasa bahwa ia telah melakukan apa yang seharusny a
dilakukan, karena per soalan Mahisa Pukat dan Sasi sebenarnya telah
menyangkut pula Mahisa Murti. Namun kebesaran jiwa Mahisa Murti sama
sekali tidak menimbulkan hambatan apapun bagi Mahisa Pukat. Bahkan
Mahendra y akin bahwa Mahisa Murti tentu akan membantu apa saja yang
dapat dilakukan bagi kepentingan Mahisa Pukat. Karena itu, maka
Mahendra merasa tidak perlu terlalu lama berada di Padepokan Bajra
Seta. Mahendra menganggap bahwa semakin cepat persoalan itu
diselesaikan, akan menjadi semakin baik. Karena itu, maka Mahendra
merencanakan setelah bermalam dua malam di Padepokan Bajra Seta, ia
berniat untuk mengajak Mahisa Pukat kembali ke Singasari. Mahisa
Semu dan Mahisa Amping sebenarnya minta agai Mahisa Pukat dan
Mahendra tidak tergesa -gesa meninggalkan Padepokan itu. Tetapi
sambil ter senyum Mahendra berkata "Ada sesuatu yang penting yang
harus kami selesaikan di Singasari. Pada saatnya kalian akan kami
minta datang ke Singasari." "Apakah yang penting yang harus
diselesaikan itu ?" bertanya Mahisa Amping. Mahendra tertawa.
Katanya "Besok kau akan tahu. Tetapi belum sekarang." "Apakah
termasuk rahasia ?" bertanya Mahisa Amping pula. Mahendra masih
tertawa. Sambil m enepuk bahu anak itu Mahendra berkata "Ya. Sesuatu
yang sangat rahasia. " Mahisa Amping menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia tidak bertanya lagi, sementara Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat hanya tersenyum saja. Demikianlah seperti
yang direncanakan, m aka Mahendra dan Mahisa Pukatpun segera
mempersiapkan diri setelah mereka bermalam dua malam penuh di
Padepokan Bajra Seta. Ketika fajar meny ingsing keduanya sudah siap
berangkat kembali ke Singasari. Dalam kesempatan yang singkat,
Mahendra sempat berbisik ditelinga Mahisa Murti sebelumnya Mahisa
Pukat mendekati mereka "Aku menunggu, kapan aku harus melamar lagi
seorang gadis bagimu, Mahisa Murti." Mahisa Murti terseny um.
Katanya "Ayah tidak usah memikirkan aku." "Sulit bagi seorang ay ah
untuk berbuat demikian" jawab Mahendra. Mahisa Murti mencoba untuk
tertawa. Namun Mahendra yang tua itu tahu, betapa gersangnya hati
anaknya itu. Namun Mahisa Murtipun kemudian b erkata "Ayah. Aku akan
segera menyusul ayah ke Singasari untuk mohon agar ay ah melakukan
lagi hal yang sama sebagaimana akan ayah lakukan." Mahendra
menepuk pundak Mahisa Murti sambil berkata "Ayah bersungguh-sungguh,
Murti" Mahisa Murti mengangguk kecil. Katanya "Aku mohon ay ah
berdoa untukku." "Aku selalu berdoa untuk anak-anakku" jawab
Mahendra. "Terima kasih ayah" desis Mahisa Murti. Demikianlah, maka
sejenak kemudian, Mahendra dan Mahisa Pukatpun telah minta diri
kepada seluruh isi Padepokan Bajra Seta. Sebelum matahari terbit,
maka mereka berdua telah meloncat kepunggung kudanya dan berpacu
keluar dari pintu gerbang Padepokan Bajra Seta. Sepeninggal Mahendra
dan Mahisa Pukat, Mahisa Murti memang agak lebih banyak merenung.
Tidak seorangpun tahu, kenapa Mahisa Murti berbuat demikian. Seisi
Padepokan Bajra Seta, termasuk Wantilan dan Sambega menganggap bahwa
Mahisa Murti hanya merasa sepi setelah ayah dan saudaranya
meninggalkannya. Namun sebenarnyalah Mahisa Murti merasa sepi.
Meskipun ia berada dihiruk-pikuknya kerja dan latihan di Padepokan
Bajra Seta, namun Mahisa Murti memang m erasa bahwa ada yang masih
kurang didalam hidupnya. Sekali-sekali Mahisa Murti memang masih
membayangkan wajah Sasi. Namun setiap kali, Mahisa Murti diluar
sadarnya telah menggelengkan kepalanya, seakan-akan ia ingin
mengibaskan ingatan itu sejauh-jauhnya. "Aku harus melupakannya"
berkata Mahisa Murti kepada diri sendiri. Dalam keadaan yang
demikian, maka Mahisa Murti berusaha mengisi waktu-waktunya yang
luang dengan berbuat apa saja. Mungkin di sanggar seorang diri.
Mungkin di sanggar bersama Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Bahkan
kadangkadang dengan Wantilan, karena bagaimanapun juga kemampuan
Wantilan masih harus selalu diasah agar menjadi semakin tajam dan
tidak berhenti dan diam. Bahkan kadangkadang Mahisa Murti berada di
dekat perapian para cantrik yang mempunyai ketrampilan sebagai
pandai besi. Atau kerja lain bersama para cantrik. Meskipun
demikian, masih saja ada waktu yang terselip tanpa disadarinya
saat-saat wajah itu membayang kembali. Bahkan kadang-kadang bersama
dengan Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Murti memang mempunyai kendali
yang kuat atas gejolak perasaannya, sehingga karena itu, maka
bagaimanapun juga, Mahisa Murti masih selalu dapat mengatasinya
sendiri. Namun diluar sadarnya, maka Mahisa Murti mengisi kekosongan
jiwanya itu juga dengan semakin menekuni ilmunya. Mahisa Murti
semakin menempa dirinya sehingga setapak demi setapak ilmunya
menjadi semakin matang. Bahkan bukan saja Mahisa Murti sendiri.
Tetapi juga Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Keduanya merasa bahwa
perhatian Mahisa Murti terhadap m ereka justru bertambah. Bahkan
Wantilanpun ikut merasakan, betapa Mahisa Murti berbuat apa saja
bagi peningkatan kesejahteraan Padepokan Bajra Seta lahir dan batin.
Sementara itu, di Singasari, Mahendra dan Mahisa Pukat telah sibuk
mempersiapkan diri untuk datang m enemui Arya Kuda Cemani. Bukan
sekedar Mahendra dan Mahisa Pukat datang bertamu dan kemudian
menyampaikan maksud kedatangannya. Tetapi pembicaraan-pembicaraan
yang demikian harus disusul dengan upacara-upacara yang wajib
dilakukan. Untuk kepentingan itu semuanya, maka Mahendra harus
menunjuk beberapa orang tua untuk mengadakan pembicaraan-pembicaraan
pendahuluan. Tetapi sebelumnya, karena Mahendra sudah mengenal
dengan baik Arya Kuda Cemani, maka pokok persoalannya justru telah
mereka setujui bersama. Tetapi mereka tidak dapat meninggalkan
segala macam ketentuan dan upacara yang harus diselenggarakan.
Ketika hal t sb. didengar oleh Sri Maharaja, ternyata Sri Maharaja
yang juga mengenal baik Mahendra, yang atas titahnya tinggal
di istana, telah menaruh perhatian pula. Bahkan Sri Maharaja sendiri
memerintahkan kepada beberapa orang pejabat di istana untuk membantu
segala macam keperluan Mahendra dan Arya Kuda Cemani. Akhirnya kedua
belah pihak telah sampai pada satu persetujuan kapan mereka akan
melaksanakan pernikahan Mahisa Pukat dengan Sasi. Memang ada
beberapa pihak yang tersinggung oleh kepastian bahwa Sa si akan
menjadi isteri Mahisa Pukat. Tetapi justru karena Sri Maharaja
sendiri juga memberikan restunya, maka tidak seorangpun yang berani
menyatakan keberatannya atau dengan sengaja mengganggu rencana itu.
Karena itu, maka segala persiapan dan upacara pendahuluan dapat
berlangsung dengan wajar dan tidak terjadi hambatan yang berarti.
Dengan demikian, maka sekali lagi Mahendra ingin pergi ke Padepokan
Bajra Seta untuk memanggil Mahisa Murti, agar Mahisa Murti dapat
ikut menunggui pernikahan Mahisa Pukat di Singasari. Karena
perkawinan itu mendapat restu dari Sri Maharaja, maka Mahendra tidak
dapat m eny elenggarakannya sekedarnya saja. Apalagi orang tua Sasi,
Arya Kuda Cemani. Tetapi Mahendra tidak ingin mengajak Mahisa Pukat
yang akan segera memasuki saat pernikahannya. Sebenarnyalah
bahwa Mahisa Pukat memang ingin mengantarkan ayahnya pergi ke
Padepokan Bajra Seta, tetapi ay ahnya justru berkeberatan. "Kau
sudah tidak sebaiknya menempuh perjalanan yang panjang lagi,
Mahisa Pukat. Waktumu tinggal sedikit. Karena itu lebih baik kau
mempersiapkan dirimu saja untuk memasuki hari-harimu yang
terpenting." "Tetapi ayah tidak dapat pergi sendiri ke Padepokan
Bajra Seta" berkata Mahisa Pukat "bukankah pada perjalanan kita yang
lalu telah t erjadi sesuatu yang sama sekali tidak menarik ?"
"Aku justru ingin mengatakah kepadamu tentang hal itu. Bagaimana
jika kau mengalami kesulitan di perjalanan ?" sahut Mahendra.
"Tetapi aku tidak dapat m embiarkan ayah pergi sendiri. " berkata
Mahisa Pukat "jika terjadi sesuatu dengan ay ah, maka Mahisa Murti
dan bahkan kakang Mahisa Bungalan tentu akan menyalahkan aku. Mereka
tentu menganggap bahwa aku hanya dapat bermanja-manja sedangkan ayah
menjadi semakin tua harus melakukan perjalanan yang berat dan
panjang." Tetapi Mahendra kemudian berdesis "Mahisa Pukat. Kau
jangan terlalu mencemaskan aku. Aku memang sudah tua. Tetapi aku
masih belum pikun. Karena itu, aku masih dapat berhati-hati
diperjalanan. Jika aku tidak mencampuri persoalan orang lain, maka
aku kira aku tidak akan menjumpai persoalan yang gawat. Jika
beberapa saat yang lewat kita mendapat hambatan, itu karena kita
sengaja mencampuri persoalan orang lain." Meskipun demikian Mahisa
Pukat menjawab "Tidak ay ah. Tidak sebaiknya ayah pergi sendiri. "
"Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu ?" bertanya Mahendra
ragu-ragu. "Aku dapat pergi bersama ayah. Aku berjanji bahwa aku
tidak akan mencampuri per soalan orang lain, meskipun persoalan
mereka itu juga menyangkut nama Padepokan kita. " jawab Mahisa
Pukat. Mahendra m enarik nafas dalam-dalam. Katanya "Mahisa Pukat.
Bagaimanapun juga aku nasehatkan kepadamu agar kau tidak usah pergi.
Jika kau tidak menghendaki aku pergi sendiri, baiklah aku akan
mencari seorang kawan untuk menempuh perjalanan. Atau barangkali kau
dapat menunjuk seseorang untuk menemani aku." Mahisa Pukat
termangu-mangu Sejenak. Namun kemudian katanya "Ayah. Mungkin itu
adalah salah satu jalan keluar jika ay ah memang tidak mengijinkan
aku pergi.” "Jika demikian, siapa yang menurut pendapatmu dapat
pergi bersama aku ke Padepokan Bara Seta ?" Mahisa Pukat termangu
-mangu sejenak. Namun kemudian ia ju stru bertanya "Apakah tidak ada
seorang Senapati di istana yang menurut ayah dapat pergi
bersama ayah ?" "Mungkin aku dapat mengajak salah seorang diantara
mereka. " desis Mahendra. Namun tiba-tiba Mahisa Pukat berkata
"Tetapi aku kira aku dapat mengusulkan seseorang.” "Siapa ?"
bertanya Mahendra. "Orang itu tentu tidak akan berkeberatan pergi
bersama ay ah ke Padepokan Bajra Seta" berkata Mahisa Pukat
kemudian. "Siapa ?" desak Mahendra. "mPu Sidikara. Kawanku
memberikan tuntunan kepada para Kesatria dan Kasatrian." jawab
Mahisa Pukat. Mahendra mengangguk-angguk. Katanya "Jika kau
menganggap bahwa orang itu pantas untuk pergi bersamaku ka Padepokan
Bajra Seta, aku sama sekali tidak berkeberatan” "Tentu ayah. Selain
orangnya memang baik, ia memiliki kemampuan yang tinggi,
sehingga jika ada orang yang mengganggu perjalanan ayah, mPu
Sidikara tidak akan menjadi beban ay ah. Ia akan dapat melindungi
dirinya sendiri. " Mahendra mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah,
jika mPu Sidikara tidak berkeberatan. Tetapi apakah ia diijinkan
untuk meninggalkan tugasny a ?" "Aku akan berbicara dengan Pangeran
Kuda Pratama. Jika aku berterus-terang, maka Pangeran Kuda Pratamd
tentu tidak akan berkeberatan. " Ketika kemudian hal itu disampaikan
oleh Mahisa Pukat kepada Pangeran Kuda Pratama, maka Pangeran Kuda
Pratama sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan kemudian mPu Sidikara
dipanggilnya dan langsung diberitahukan kepadanya, bahwa Mahisa
Pukat ingin minta pert olongannya. Ternyata seperti yang diduga oleh
Mahisa Pukat, mPu Sidikara sama sekali tidak berkeberatan. Dengan
senang hati ia memenuhi permintaan Mahisa Pukat untuk mengantar ay
ahnya yang sudah menjadi semakin tua ke Padepokan Bajra Seta.
Demikianlah, pada hari yang sudah ditentukan, maka Manendra
dan mPu Sidikarapun telah berangkat menuju ke Padepokan Bajra Seta.
Mahisa Pukat yang sebenarnya tidak ingin melepaskan ay ahnya
yang tua itu pergi tanpa diantarnya sendiri, mengantarnya
sampai kepintu gerbang Hatinya memang menjadi berdebar-debar melihat
ayahnya yang menjadi semakin tua itu melarikan kudanya menempuh
perjalanan yang panjang. Tetapi hatinya menjadi sedikit
tenang, bahwa ay ahnya bersedia pergi bersama mPu Sidikara yang
meskipun ilmunya masih setingkat dibawahnya, tetapi ia termasuk
otang yang berilmu tinggi. Sejenak kemudian, maka Mahendra dan
mPu Sidikara itupun telah menyusuri jalanjalan bulak yang
panjang. Sementara itu, langitpun menjadi semakin cerah karena
matahari memanjat semakin tinggi. Awan putih, mengalir dihembus
angin semilir menuju ke puncak bukit. Di arah Utara sekelompok
bangau terbang melintas dengan cepat, seakan-akan menjadi cemas
bahwa mereka tidak akan mendapatkan mangsanya yang sempat
bersembunyi. Diperjalanan banyak yang sempat diperbincangkan oleh
Mahendra dan mPu Sidikara. Kadang-kadang mPu Sidikara niemuji
kelebihan Mahisa Pukat. Bahkan mengaguminya. "Mahisa Pukat masih
muda " b erkata mPu Sidikara "tetapi kemampuan dan pengalamannya
dalam olah kanuragan terlalu luas dibandingkan dengan orang-orang
yang lebih tua sebagaimana aku ini. Dihadapan Mahisa Pukat
rasa-rasanya aku tidak lebih dari seekor katak didalam tempurung. "
"mPu terlalu memuji" desis MaMendra "sebenarnya aku akan lebih
berbangga jika anakku memiliki kelebihan kemampuan dan pengalaman di
bidang yang lain kecuali olah kanuragan. Tetapi agaknya Mahisa
Pukat bukan seseorang yang memiliki pengetahuan yang cukup apalagi
dalam ilmu pemerintahan." "Tidak " jawab mPu Sidikara "dibidang
pemerintahanpun Mahisa Pukat memiliki kemampuan yang cukup. Bahkan
sebagai seorang pemimpin kelompok Pelay an Dalam, Mahisa Pukat
memiliki kemampuan jauh lebih baik dari mereka yang memiliki jabatan
setingkat di kalangan Pelay an Dalam. Karena itu, dalam kesempatan
luang, Pangeran Kuda Pratama sering berbincang dengan Mahisa Pukat."
“mPu memuji lagi." desis Mahendra. mPu Sidikara tertawa. Katanya
"Sekali lagi aku mengatakan, bahwa aku tidak sekedar memuji. Aku m
emang memuji. Tetapi pujianku merupakan ungkapan kekagumanku." mPu
Sidikara berhenti sejenak. Lalu katanya "Pembicaraan yang
sering dilakukan oleh Mahisa Pukat dan Pangeran Kuda Pratama agaknya
akan menguntungkan kedua belah pihak. Pangeran Kuda Pratama mendapat
pikiranpikiran baru yang segar dari Mahisa Pukat yang muda,
sementara itu Mahisa Pukat akan banyak mendapatkan pengetahuan serta
menimba pengalaman dari Pangeran Kuda Pratama yang selain berilmu
sangat tinggi, juga seorang yang memiliki pengetahuan yang
sangat luas dalam banyak bidang." Mahendra mengangguk-angguk.
Katanya "Aku juga harus mengucapkan terima kasih kepada Pangeran
Kuda Pratama.” "Pangeran Kuda Pratama yang juga mengagumi k
elebihan Mahisa Pukat dalam banyak hal, ternyata dengan sengaja
telah memberikan banyak pengetahuan kepada anak muda itu. Bahkan
juga dalam olah kanuragan." berkata mPu Sidikara. "Apakah benar
begitu ?" bertanya Mahendra. mPu Sidikara mengangguk sambil menjawab
dengan sungguh-sungguh "Sebenarnyalah demikian. Mahisa Pukat memang
seorang anak muda yang akan dapat memegang masa depan. Karena
itu, maka penempatannya di Kasatrian adalah tepat sekali." Mahendra
tidak bertanya lagi. Kepalanya masih saja menggangguk-angguk kecil.
Dengan demikian m aka ia telah meletakkan banyak harapan pada Mahisa
Pukat bagi masa depannya. Namun Mahendrapun teringat pula kepada
Mahisa Murtii Mahisa Murti dalam segala hal tidak kalah dari Mahisa
Pukat. Seandainya ada selisih diantara keduanya, maka selisih itu
hanya selapis-selapis tipis. Namun nasib keduanyalah yang memang
berbeda. Tetapi agaknya Mahisa Murtipun telah meletakkan pilihannya.
Sebagaimana Mahisa Pukat mengabdi di Ka satrian, maka Mahisa
Murtipun telah memilih tempat untuk mengabdi. Di Padepokan Bajra
Seta. Namun kehadiran Pangeran Kuda Pratama di Kasatrian agaknya
akan memberikan harapan yang lebih baik bagi Mahisa Pukat jika
yang dikatakan mPu Sidikara itu benar. Mahisa Pukat akan dapat
menambah pengetahuannya menjadi semakin luas. Tidak hanya dalam olah
kanuragan. Tetapi juga dalam ilmu yang lain. Untuk beberapa
saat keduanya melarikan kuda mereka sambil berdiam diri. Seakan-akan
m ereka sedang menikmati wajah cakrawala dihadapan mereka. Lereng
pebukitan yang hijau memanjang. Sawah yang luas dengan
tanamannya yang subur membentang. Ketika matahari m emancarkan
panasnya yang terik, m aka keduanyapun merasa perlu untuk
beristirahat. Tetapi Mahendra tidak mengajak mPu Sidikara
beristirahat dikedai yang pernah disinggahinya ketika ia dan Mahisa
Pukat pergi ke Padepokan Bajra Seta. Kepada mPu Sidikara, Mahendra
sudah menceriterakan apa yang telah terjadi ketika mereka
singgah di kedai itu. "Aku memang tidak dapat mencegah Mahisa Pukat
mencampuri persoalan orang-orangitu" berkata Mahendra "karena
persoalan mereka langsung menyangkut Padepokan Bajra Seta. mPu
Sidikara mengangguk-angguk. Katanya "Seandainya tidak menyangkut
Padepokan Bajra Seta sekalipun, apabila anak muda itu tersentuh rasa
keadilannya, maka ia tentu akan melibatkan diri.” Mahendra
mengangguk-angguk. Memang sulit bagi Mahisa Pukat dan tentu juga
Mahisa Murti untuk berdiam diri jika mereka melihat sesuatu yang
tidak sepatutnya terjadi. Apalagi jika rasa keadilan mereka
tersinggung sebagaimana dikatakan oleh mPu Sidikara. Demikianlah,
maka keduanyapun telah beristirahat disebuah kedai yang tidak
terlalu besar, tetapi cukup ramai. Beberapa orang telah berada di
kedai itu. Tidak ada yang menarik perhatian Mahendra dan mPu
Sidikara. Namun keduanya sudah berniat untuk tidak mencampuri
persoalan orang lain jika persoalannya masih terbatas dalam
batas-batas kewajaran. Ternyata memang tidak ada persoalan apapun
yang terjadi di kedai itu. Meskipun demikian, keduanya merasa
sedikit tertarik pada pembicaraan beberapa orang yang ada di kedai
itu, bahwa sekelompok orang sehari sebelumnya telah melintasi daerah
itu. "Mereka mengaku orang-orang Kediri" berkata salah seorang
diantara mereka. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Sejak Kediri
dikalahkan oleh Singasari, maka betapapun tenangnya permukaan
hubungan antara Singasari dan Kediri, namun dibawah wajah yang
tenang itu masih saja terdapat getar yang setiap saat akan dapat
bergejolak dan muncul dipermukaan. Beberapa kali telah teqadi
benturan kekerasan di Kediri antara mereka yang berbeda sikap.
Juga benturan kekerasan antara orang-orang Kediri dan orang-orang
Singasari. Mahendra dan mPu Sidikara hanya mendengarkan saja
pembicaraan orang-orang di kedai itu tentang orang-orang Kediri
yang melintasi daerah mereka. "Mereka memang tidak berbuat apa
-apa" berkata salah seorang dari mereka. Meskipun Mahendra dan mPu
Sidikara tidak m encampuri pembicaraan itu, namun mereka
mendengarkan dengan baik. Hal itu akan dapat menjadi laporan
yang akan disampaikan oleh mPu Sidikara kepada Pangeran Kuda
Pratama. Demikianlah, setelah Mahendra dan mPu Sidikara cukup lama
beristirahat, merekapun segera melanjutkan perjalanan mereka lagi.
Perjalanan ke Padepokan Bajra Seta memang perjalanan yang cukup
panjang. Tetapi karena keduanya tidak mengalami hambatan apapun
juga, maka perjalanan mereka memang lebih cepat dari perjalanan
Mahendra dan Mahisa Pukat beberapa saat yang lalu. Meskipun
demikian, keduanya masih juga harus berhenti lagi untuk memberi
kesempatan kuda mereka beristirahat. Tetapi karena malam mulai m
embayangi perjalanan m ereka, maka sudah tidak ada lagi kedai
yang terbuka pintunya. Karena itu, m aka mereka harus
beristirahat ditepi jalan dan membiarkan kuda mereka minum air yang
bening diparit yang mengalir gemericik dipinggir jalan. Kemudian
memberi kesempatan kuda kuda itu untuk merenggut rerumputan yang
segar yang tumbuh di tanggul parit, sementara Mahendra dan mPu
Sidikara duduk bersandar batang batang yang tumbuh dipinggir jalan.
Angin yang semilir membuat mereka justru terkantukkantuk. Sementara
kuda mereka masih sibuk makan rerumputan segar ditanggul parit.
Mahendra dan mPu Sidikara memang tidak tergesa -gesa. Jarak yang
akan ditempuh sudah tidak terlalu jauh lagi. Mereka akan sampai ke
Padepokan Bajra Seta jauh lebih awal dari perjalanan Mahendra dan
Mahisa Pukat yang terhenti diperjalanan. "Kita akan segera
sampai " berkata Mahendra. Namun katanya kemudian "Tetapi kuda-kuda
itu sudah menjadi lelah dan lapar sehingga kasihan jika memaksa
kuda-kuda itu meneruskan perjalanan meskipun sudah tidak jauh lagi.
"Kita juga tidak terlalu tergesa -gesa " jawab mPu Sidikara.
Mahendra mengangguk-angguk sambil m enjawab "Bahkan seandainya kita
bermalan disini. " "Bermalam?" bertanya mPu Sidikara. Mahendra t
ertawa. Katanya "Hanya seandainya. Mataku tiba -tiba saja merasa
sangat mengantuk. Angin inilah yang seakan-akan mengipasi wajahku."
mPu Sidikara tersenyum. Katanya "Ya. Aku juga mengantuk. Mungkin
kita merasa letih dan sedikit lapar." Mahendra ju stru tertawa.
Katanya "Padahal kita masih harus menunggu sampai Padepokan. Tidak
ada lagi kedai yang terbuka dimalam hari. Kecuali jika ada keramaian
di salah satu padukuhan yang akan kita lewati." "Keramaian dan
tont onan" desis mPu Sidikara. "Ya " jawab Mahendra "tari topeng."
mPu Sidikara menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab
lagi. Matanya benar-benar terasa mengantuk. Tetapi keduanya tidak
ingin tertidur di tempat itu. Karena itu, ketika kuda-kuda mereka
sudah puas makan dan minum, serta beristirahat beberapa saat, maka
keduanyapun melanjutkan perjalanan mereka ke Padepokan Bajra Seta.
Tetapi ketika mereka memasuki sebuah padukuhan yang besar,
ternyata seperti yang mereka katakan, di halaman yang luas dari
sebuah rumah yang besar, terdapat k eramaian yang agaknya akan
diselenggarakan tontonan pula. Karena itu, meskipun tontonan
yang agaknya akan diselenggarakan dipendapa rumah yang
besar itu belum dimulai, namun di halaman rumah itu, bahkan diluar
halaman sudah banyak orang berjualan. "Nah" desis Mahendra "ternyata
doa kita dikabulkan. Ada keramaian dan mungkin tontonan. Tetapi
yang penting bukan tontonannya. Tetapi disekitar tempat tentu
terdapat sebuah kedai yang masih terbuka pintunya. Atau tentu ada
orang yang berjualan dipinggir jalan. Seandainya kita harus duduk
dipinggir jalan, bukankah orang-orang disekitar tempat ini tidak
mengenal kita?" mPu Sidikara tersenyum. Katanya "Dimasa muda, Ki
Mahendra tentu termasuk orang yang senang menempuh
perjalanan." "Katakanlah bertualang. Aku dimasa mudaku memang
seorang petualang" berkata Mahendra. mPu Sidikara tertawa. Namun
mereka sudah memperlambat perjalanan mereka dan berhenti tidak jauh
dari tempat keramaian. Ternyata hanya beberapa puluh langkah dari
tempat keramaian itu terdapat sebuah kedai yang masih buka
atau sengaja membuka pintu justru karena ada keramaian itu. Meskipun
kedai itu tidak terlalu besar, tetapi nampaknya cukup bersih dan
lengkap. Mahendra dan mPu Sidikara kemudian telah berhenti didepan
kedai itu. Mereka menambatkan kuda mereka dan memasuki kedai
yang masih sepi itu. "Silahkan Ki Sanak" pemilik kedai itu
mempersilahkan dengan ramah. Lalu katanya pula "Kedai ini justru
baru saja dibuka karena didepan itu ada keramaian. Daganganku masih
utuh, hangat dan barangkali ada yang sesuai dengan selera Ki
Sanak." Mahendra tersenyum sambil menjawab "Kami sedang dalam
perjalanan. Karena itu, kami merasa lapar. Apapun yang ada, tentu
sesuai dengan selera orang kelaparan. " Pemilik kedai itu tertawa.
Katanya "Sebenarnya aku ingin mendapat penilaian tentang masakanku.
Tetapi j ika Ki Sanak memang lapar, maka agaknya seperti apapun
masakanku tentu terasa enak sekali. Dengan demikian maka penilaian
Ki Sanak menjadi kurang wajar." Mahendra dan mPu Sidikara tertawa
pula. Dengan nada tinggi mPu Sidikara berkata "Tetapi aku harap
lidahku masih juga mampu m enilai masakan Ki Sanak. Tetapi sudah
tentu ada perhitungan ter sendiri sebagai harga penilaianku, karena
aku memang seorang ahli menilai masakan." Pemilik kedai itu tertawa
berkepanjangan. Namun kemudian ia bertanya "Nah, sekarang Ki Sanak
akan memesan apa?" Mahendra dan mPu Sidikarapun kemudian memesan
minuman dan makanan bagi mereka masing -masing. Ketika pesanan itu
disampaikan, maka Mahendrapun bertanya " Tont onan apakah yang
akan di pagelarkan nanti?" "Wayang topeng " jawab pemilik kedai itu
"penari-penari itu datang dari Kabuyutan Teleng. Kabuyutan yang
terkenal dengan penari-penari topengnya." "O" Mahendra
mengangguk-angguk, sementara pemilik kedai itu berkata selanjutnya
"rencananya tontonan itu akan berlangsung semalam suntuk." Mahendra
dan mPu Sidikara mengangguk-angguk. Dengan nada berat Mahendra
bertanya "Apakah di padukuhan ini sering diselenggarakan keramaian
dengan tontonan seperti itu?" "Bukan sering Ki Sanak. Tetapi
kadang-kadang orang-orang yang kebetulan memiliki kelebihan uang
jika mempunyai keperluan, telah meny elenggarakan keramaian seperti
itu." Mahendra dan mPu Sidikara mengangguk-angguk. Sementara pemilik
kedai itu berkata selanjutnya "Jika mereka tidak mau
menyelenggarakan keramaian, lalu bagaimana nasib para penari topeng?
Bukankah mereka seperti juga kita memerlukan makan, pakaian dan
papan? Memang ada diantara mereka yang mata pencahariannya
sehari-hari adalah bertani. Sedangkan menari hanyalah sekedar
kesenangan saja. Tetapi ada diantara mereka yang sedikit
banyak mengharapkan bahwa kemampuannya menari itu dapat menunjang
kesejahteraan hidup mereka dan keluarga mereka. " Mahendra dan mPu
Sidikara masih saja menganggukangguk. Namun tiba -tiba saja mPu
Sidikara berkata "Tetapi ada saat dua orang penari yang merasa
malu untuk meny ebut hubungan antara kemampuannya menari dengan
imbalan yang diperolehnya." Pemilik kedai itu mengangguk-angguk
kecil. Tetapi ia berkata "Itu adalah keaneka ragaman sifat dan watak
seseorang. " Mahendra dan mPu Sidikara tidak bertanya lagi. Tetapi
mereka mulai m enikmati m akanan dan minuman yang telah mereka
pesan. Ternyata makanan dan minuman di kedai itu memang cukup
memenuhi selera Mahendra dan mPu Sidikara. Bahkan mungkin juga
orang-orang lain yang datang kedalam kedai kecil itu. Sementara itu,
orang yang berkerumun di rumah yang menyelenggarakan
keramaian itu menjadi semakin banyak. Gamelanpun mulai dipukul
meskipun tont onannya sendiri masih belum mulai. Namun dalam pada
itu, selagi orang-orang yang berkerumun di halaman keramaian
itu m asih duduk-duduk menyebar karena pertunjukkan masih belum
dimulai, tiba-tiba sa ja telah terjadi kekalutan. Beberapa orang
tiba-tiba memasuki halaman rumah itu sambil berteriak-teriak kasar.
Dua orang diantaranya naik kependapa sambil berteriak "Berhenti,
berhenti." Orang-orang yang sedana duduk-duduk di halaman terkejut.
Sebagian dari mereka telah menepi. Bahkan ada yang menyingkir.
Mahendra dan mPu Sidikara yang sudah selesai makan, ikut terkejut
pula. Kepada pemilik kedai itu mPu Sidikara bertanya "Apa yang
terjadi?" "Entahlah" jawab pemilik kedai itu sambil melangkah keluar
dari kedainya. Seorang yang menyingkir dari halaman rumah
yang menjadi ribut itu lewat didepan kedai itu dengan tergesa
-gesa Tetapi pemilik kedai itu m enghentikannya dan bertanya "Apa
yang terjadi di halaman rumah itu?" "Keributan. Ada orang yang
tiba-tiba saja berteriak-teriak tidak menentu." jawab orang itu.
"Kenapa?" bertanya pemilik kedai itu. "Tidak seorangpun tahu apa
sebabnya dan tidak seorangpun tahu siapakah mereka itu " jawab orang
yang lewat itu pula. Namun agaknya orang itu tidak ingin berhenti
lebih lama lagi. Ia merasa lebih baik pergi daripada harus mengalami
sesuatu ditempat itu. Pemilik kedai itu memang tidak dapat
menahannya. Namun dari depan kedainya ia melihat tempat keramaian
itu menjadi semakin ribut. Bahkan orang-orang mulai berlarilarian
meninggalkan tempat itu. Terutama perempuan dan anak-anak. Mereka m
enjadi ketakutan ketika beberapa orang yang memasuki halaman itu
berteriak-teriak dengan kasar. Mereka m erusak peralatan
pertunjukkan, dan bahkan m ereka melemparkan gamelan yang
sudah mulai ditabuh. Pemilik kedai itu telah menyeberang jalan dan
melihat apa yang terjadi. Tetapi ia tidak sempat mendekat. Bahkan
pemilik kedai itupun telah menjauh pula. Ketika seorang laki -laki
bergeser keluar dari halaman diantara beberapa orang yang lain
yang kebetulan telah dikenal oleh pemilik kedai itu, maka
iapun bertanya lagi "Apa yang terjadi? Orang itu menggeleng. Katanya
"Aku tidak jelas." Namun kemudian seorang yang lain yang juga
telah dikenalnya berkata "Orang-orang yang datang itu menjadi
marah. Mereka marah justru karena ada keramaian disini." "Kenapa?"
bertanya mPu Sidikara yang tiba-tiba saja telah berdiri dibelakang
pemilik kedai itu. "Aku tidak jelas" jawab orang itu. mPu Sidikara
termangu-mangu sejenak. Didorong oleh keinginannya untuk mengetahui
apa yang terjadi, maka iapun berkata kepada Mahendra "Aku akan
melihat sebentar." Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia
pergi bersama anaknya, mereka terhambat karena mereka mencampuri per
soalan orang lain. Tetapi justru karena orang lain itu tersangkut
pula pada Padepokan Bajra Seta. Tetapi Mahendra tidak dapat mencegah
mPu Sidikara, meskipun sebelum berangkat mereka telah sepakat untuk
tidak m encampuri persoalan yang tidak ada sangkut pautnya
dengan mereka. Bahkan sebelum melangkah mPu Sidikara itu berkata
"Aku tidak akan mencampuri persoalan yang terjadi di rumah itu. Aku
hanya ingin tahu. Mahendra termangu -mangu. Tetapi ia hanya diam
saja ketika mPu Sidikara melangkah memasuki halaman itu. Halaman
rumah orang yang sedang menyelenggarakan keramaian itu memang
menjadi kacau. Dipendapa gamelan yang sudah diatur rapi menjadi
berserakan. Beberapa orang menyeret pemilik rumah itu sambil
mengumpat-umpat. "Kau memang orang yang tidak tahu diri" teriak
seseorang yang m eny eret pemilik rumah itu "dalam keadaan seperti
ini, kau masih sempat bersuka ria. Menghambur-hamburkan uang untuk
keperluan yang tidak berarti." "Apa sebenarnya maksud Ki Sanak
dan siapakah Ki Sanak itu ?" bertanya pemilik rumah itu. Sebelum
orang yang menyeretnya menjawab, maka terdengar jerit seorang
perempuan. Ternyata isterinya juga di seret ke pendapa dan kemudian
dilemparkannya kedekat suaminya sehingga jatuh terguling. Dengan
tergesa-gesa suaminya menolongnya sehingga keduanya kemudian duduk
dilantai sementara beberapa orang berdiri mengerumuninya. "Kenapa
kalian tidak tanggap akan keadaan ?" bentak seorang yang
bertubuh tinggi kekar. Berjambang dan berkum is lebat. Rambutnya
bergerai terjulur dibawah ikat kepalanya yang dipakainya
sekenanya saja. "Kami tidak tahu maksud Ki Sanak" sahut pemilik
rumah itu. "Gila kau. Apakah aku harus menampar mulutmu ?" geram
orang bertubuh kekar itu. "Jangan. Aku hanya bertanya. Jika aku
sudah mendapat penjelasan, aku tentu akan melakukannya." "Kau adalah
gambaran orang-orang yang tidak tahu diri. Penjilat dan
pengkhianat." teriak orang yang bertubuh kekar itu. "Sebutkan,
apakah kesalahan kami" bertanya pemilik rumahitu. "Kenapa kau
hambur-hamburkan uangmu, sementara kami memerlukan uang untuk
perjuangan kami yang m asih jauh dari selesai. " berkata orang itu.
"Apakah yang kau maksud dengan perjuangan kami ?" bertanya pemilik
rumah itu. Tiba-tiba saja kaki orang bertubuh kekar itu m enyambar
mulut pemilik rumah itu, sehingga orang itu terdor ong dan jatuh
terlentang. Terdengar orang itu mengaduh, sementara isterinya
berusaha menolongnya sambil menangis." "Jangan kau tangisi suamimu"
geram orang bertubuh kekar itu "jika kau tidak mau diam, maka kaulah
yang akan aku bawa." Meskipun dadanya menjadi sesak oleh
isaknya yang tertahan, namun perempuan itu berusaha untuk
tidak menangis lagi. "Dengar baik-baik" berkata orang bertubuh kekar
"kita sekarang sedang berusaha menegakkan kewibawaan kekuasaan di
Kediri. Kita memerlukan dukungan dari segala pihak. Kita semua harus
berprihatin. Semua tenaga, harta benda dan pikiran kita harus kita
curahkan untuk perjuangan kita yang panjang. Bahkan nyawa kita.
Sementara kau bersenang-senang dengan menghambur-hamburkan uang
tanpa arti sama sekali." "Apa maksudmu dengan menegakkan kewibawaan
kekuasaan di Kediri ?" bertanya pemilik rumah itu. "Kau gila" geram
orang yang bertubuh k ekar itu, sehingga suami isteri pemilik rumah
itu menjadi ketakutan "Kediri harus bangkit untuk menggulingkan
kuasa Singasari." "Tetapi, tetapi, lingkungan ini bukan telatah
Kediri." desis pemilik rumah itu dengan ragu-ragu. Sekali lagi kaki
orang bertubuh kekar itu menyambar dagu pemilik rumah itu, sehingga
sekali lagi orang itu jatuh terlentang. Sementara isterinya tidak
lagi berani menangis meskipun ia berusaha membantu suaminya bangkit
lagi. "Katakan sekali lagi. Lehermu akan aku putuskan dengan
pedangku ini" geram orang bertubuh kekar itu. "Maksudku, maksudku,
apa yang dapat aku bantu ?" bertanya pemilik rumah itu. "Nah,
seharusnya kau bertanya seperti itu " sahut orang bertubuh kekar itu
"karena kau sudah terlanjur menyiapkan sebuah keramaian, maka
apaboleh buat. Jika keramaian dan tontonan ini urung, maka
orang-orangyang sudah siap untuk menonton, akan menjadi kecewa."
orang itu berhenti sejenak. Lalu katanya "Karena itu tebu s
kesalahanmu dengan menyediakan uang sebanyak yang kau pergunakan
untuk keramaian ini. Jika tidak, maka aku akan m engambil sendiri
uang dan barang-barang perhiasanmu yang nilainya akan lebih banyak
dari jika kau sendiri yang mengambilnya dan memberikannya kepadaku."
Kedua orang suami isteri itu saling berpandangan. Namun orang
bertubuh kekar itu membentak "Cepat, atau aku akan mengambilnya
sendiri ? Bahkan aku akan mengambil perhiasan yang dipakai
oleh isterimu. Tetapi akan lebih mudah jika aku bawa beserta
isterimu sama sekali." "Jangan, jangan lakukan itu" minta pemilik
rumah itu. "Jika demikian, berikan uang itu." geram orang itu.
"Baiklah. Kami akan mengambilnya " jawab pemilik rumah itu
ketakutan. "Kau sendiri mengambilnya. Biar isterimu tinggal disini.
Jika kau ingkar, maka isterimu akan pergi ber samaku." tibatiba saja
orang itu tertawa berkepanjangan. Pemilik rumah itu memang tidak
dapat berbuat lain. Iapun segera masuk kedalam rumahnya untuk
mengambil uang itu. mPu Sidikara termangu-mangu sejenak. Ia melihat
sikap orang-orang yang berada di pendapa itu dengan jantung yang
berdebaran. Ra sa keadilannya benar-benar tersinggung. Apalagi jika
kemudian pemilik rumah itu keluar dari ruang dalam sambil membawa
sekampil uang. Tanpa m enunggu pemilik rumah itu m eny erahkan, maka
sekampil uang itupun segera disambar oleh orang bertubuh kekar itu
sambil berkata "Aku tahu, bahwa kau ingin m enipu aku. Uang sekian
ini tentu tidak akan cukup untuk membeayai keramaian semeriah ini
dengan tontonan semalam suntuk. Tetapi kami tidak ingin ribut-ribut
lagi. Kami juga tidak ingin mengecewakan orang-orang yang
sudah menunggu di halaman untuk menonton tari topeng yang sudah
dipersiapkan. Karena itu, maka aku terima uang ini apa adanya. Kau
boleh melanjutkan rencanamu." Pemilik rumah itu tidak dapat menjawab
apa -apa. Ia memang harus merelakan uang itu daripada isterinya
serta perhiasan yang melekat ditubuh isterinya itu dibawa oleh
orang-orang yang tidak dikenal itu. Bagi pemilik rumah itu, uang,
perhiasan dan bahkan harta benda akan dapat dicarinya lagi. Tetapi
tidak dengan isterinya itu. Tetapi bagi mPu Sidikara, tingkah laku
orang-orang yang mengaku orang Kediri itu tidak dapat
diterimanya. Namun ketika ia bergerak selangkah, seseorang telah
menggamitnya. mPu Sidikara y g berpaling itupun menarik nafas
dalamdalam. Ia melihat Mahendra yang tadi ditinggalkannya
diluar, ternyata sudah menyusulnya masuk ke halaman pula. Sebelum
Mahendra berkata sesuatu, mPu Sidikara justru sudah mendahului "Kita
sudah berjanji untuk tidak mencampuri persoalan orang lain."
Mahendra tersenyum. Katanya "Ya. kita tidak akan mencampuri
persoalan orang lain." “Tetapi yang terjadi itu sudah menyinggung
rasa keadaanku" jawab mPu Sidikara. "Aku mengerti mPu. Jika aku
minta mPu tidak mencampuri persoalannya, bukan sekedar karena kita
sudah berjanji. Tetapi kita juga harus menjaga keselamatan pemilik
rumah itu, isterinya dan bahkan orang-orang padukuhan ini?" jawab
Mahendra. mPu Sidikara termangu-mangu sejenak. Sementara Mahendra
berkata selanjutnya "Jika kita mencampuri persoalannya, mungkin kita
dapat mengurungkan niatnya malam ini. Tetapi bukankah kita tidak
selalu berada di padukuhan ini? Bagaimana jadiny a jika besok mereka
kembali kemari dan berbuat lebih jahat lagi? Barangkali m ereka
tidak sa ja mengambil uangnya, tetapi juga isterinya sebagaimana
dikatakannya." mPu Sidikara menarik nafas dalam-dalam. Sambil
mengangguk-angguk ia berkata "Ki Mahendra benar. Bagi pemilik rumah
itu, maka isterinya dan keselamatan keluarganya tentu lebih berharga
daripada uangnya. Karena itu, sebaiknya kita memang tidak mencampuri
persoalannya. " mPu Sidikara mengangguk-angguk. Apalagi ketika ia
melihat orang-orang yang datang m embuat gaduh itu sudah mulai
m elangkah turun dari pendapa sambil membawa uang dalam kampil yang
diberikan oleh pemilik rumah itu. Dalam pada itui Mahendra dan mPu
Sidikara telah keluar pula dari halaman dan kembali kekedai.
Sementara itu Mahendra bergumam"Kita belum m embayar harga makanan
dan minuman dari kedai itu." Tetapi sebelum keduanya masuk kedalam
kedai, maka beberapa orang y g membuat keributan di halaman rumah
sebelah telah keluar pula dan melintas didepan kedai itu. Namun tiba
-tiba mereka berhenti beberapa langkah didepan kedai kecil itu.
Seorang diantara mereka telah melangkah mendekati dua ekor kuda yang
ditambatkan pada patok-patok bambu didepan kedai itu. Mahendra dan
mPu Sidikara menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika orang itu mulai
mengusap leher kuda itu. Tiba-tiba seorang diantara mereka berteriak
"He, siapakah pemilik kedai ini? Pemilik kedai yang masih
berdiri di pinggir jalan itupun menjadi termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian dengan ketakutan ia m elangkah kepintu kedai sambil
berkata dengan suara bergetar "Aku, Ki Sanak." "Jangan takut"
berkata orang itu "aku tidak mempunyai persoalan dengan kau. Tetapi
aku hanya ingin bertanya, siapakah pemilik kuda-kuda ini." Jantung
pemilik kedai itu menjadi berdebar-debar. Sementara itu orang yang
bertubuh k ekar itu telah b erdiri di dekat kuda-kuda itu pula.
Bahkan ia telah membentak dengan lantang "Siapa pemilik kuda ini,
he?- Sebelum pemilik kedai itu yang ketakutan itu menjawab,
mpu Sidikaralah yang menjawab "Kami Ki Sanak. Kamilah pemilik kedua
ekor kuda itu." Bahkan kemudian mPu Sidikara itu berpaling kepada
Mahendra sambil berkata hampir berbisik “Bukankah kami tidak sedang
m encampuri persoalan orang lain sekarang ini?" Mahendra sempat
tersenyum sambil menjawab "Tidak. Kita tidak sedang mencampuri
persoalan orang lain." Karena itu maka mPu Sidikarapun segera m
elangkah maju mendekati kudanya yang nampaknya menarik perhatian.
Orang-orang itu agaknya memang sangat t ertarik kepada kuda-kuda
itu. Orang yang bertubuh kekar itu berkata "Ki Sanak. Apakah kuda
kalian hanya dua ekor ini? "Ya " jawab Mahendra "dua ekor untuk dua
orang. " "Dirumah?" bertanya orang itu. "Tidak. Kami tidak mempunyai
yang lain. Kami bukan orang kaya, sehingga seekor kuda bagi
kami masing-masing sudah lebih dari cukup." Orang itu
mengangguk-angguk. Namun tiba -tiba saja ia berkata "Ki Sanak.
Sebagaimana aku katakan tadi dirumah seberang jalan, bahwa kita
semuanya sedang berjuang. Orang yang sedang mengadakan keramaian
dengan tontonan itu telah dengan suka rela menyumbang uang sekampil
penuh. Meskipun belum sebanyak beay a keramaiannya, namun sumbangan
itu cukup berharga bagi kami. Nah, sekarang, aku berharap Ki Sanak
berdua juga bersedia menyumbang bagi perjuangan kami." "Apakah kami
juga harus menyumbangkan sekampil uang? Ki Sanak, sudah aku katakan,
bahwa kami bukan orang-orang kaya." jawab Mahendra. "Aku tahu itu"
bentak orang bertubuh kekar itu "Seandainya kau orang kaya
sekalipun, kau tentu tidak membawa uang sebanyak itu dalam
perjalanan." "Jadi maksud Ki Sanak?" bertanya Mahendra. "Kami
membutuhkan kuda-kuda kalian untuk mempercepat gerak kami" jawab
orang bertubuh kekar itu. Tetapi Mahendra menjawab "Kuda kami hanya
dua, sedangkan kalian lebih dari dua orang. Bukankah akan sia -sia
sa ja?" "Sekarang kami mendapat dua. Besok kami m endapat dua dan
besok malam kami mendapat dua lagi." jawab orang bertubuh kekar itu.
Namun mPu Sidikara justru tertawa. Katanya "Darimana sa ja kau dapat
kan kuda-kuda itu? Merampas milik orang lain sebagaimana kalian
ingin merampas kuda kami?" Mata orang bertubuh kekar itu terbelalak.
Dipandanginya mPu Sidikara dengan tajamnya. Kemudian oarng itupun
menggeram "Tegasnya, aku ingin memiliki kuda kalian. Apapun alasan
kami. Bahkan tanpa alasan sekalipun. Kalian tidak mempunyai pilihan.
Kalian tidak dapat menolak keinginan kami untuk memiliki kuda
kalian, kecuali kalian ingin mati." "Dengar Ki Sanak" jawab Mahendra
yang masih bernada rendah "kami bukan orang-orang Kediri sebagaimana
kalian. Karena kami mendengar dirumah sebelah, bahwa kalian sedang
berjuang bagi Kediri. Tetapi itu ceritera ngayawara. Sekarang tidak
ada per soalan apapun yang timbul antara Singasari dan Kediri.
Keduanya dapat hidup berdampingan dalam persekutuan yang damai.
Memang ada beberapa orang yang tidak puas atas keadaan itu di
Kediri. Mereka juga berusaha untuk menumbuhkan kekacauan. Dan itu
sama sekali bukan perjuangan." "Itu adalah sikap dan pandangan orang
Singasari. Tetapi berbeda dengan sikap dan pandangan orang Kediri. "
jawab orang bertubuh kekar itu. "Tetapi apakah benar kau berjuang
untuk Kediri sebagaimana yang kau katakan? Aku y akin, seandainya
sekelompok orang Kediri yang tidak puas terhadap keadaan dan tatanan
pemerintahan dalam hubungannya antara Kediri dan Singasari, caranya
tentu tidak seperti yang kau lakukan. Kau tentu memanfaatkan
kemelut kecil yang timbul itu untuk mencari keuntungan bagi
dirimu sendiri. Kau merampok dengan alasan yang kau buat-buat. Namun
dengan demikian, yang akan mendapatkan getahnya adalah orang-orang
Kediri. " jawab Mahendra. "Setan kau" bentak orang bertubuh kekar
itu "siapakah kalian yang berani sesorah dihadapanku?" "Namaku
Mahendra. Aku adalah orang padepokan Bajra Seta. Sekarang, jawab
pertanyaanku. Kalian ini siapa?" bertanya Mahendra. "Siapapun kami,
sama sekali bukan soal bagi kalian" jawab orang itu "tetapi serahkan
kuda kalian atau kalian atau kalian menjadi mayat disini." "Yang
kalian lakukan itu adalah ciri -ciri perbuatan perampok" mPu
Sidikara yang menyahut "Karena itu, m aka kami sama sekali
tidak akan merelakan kuda -kuda kami." "Apakah kuda-kuda kalian
lebih berharga dari nyawa kalian?" bertanya orang itu. "Bukan begitu
Ki Sanak. Nyawa kuda-kudaku lebih berharga dari nyawa kalian" sahut
mPu Sidikara. Orang bertubuh kekar itu menggeram. Katanya "Setan
kalian. Kalian telah membuat kami marah." "Bukan maksud kami Ki
Sanak" berkata Mahendra "sebenarnya kami tidak ingin berselisih.
Tetapi kami juga tidak ingin kehilangan kuda-kuda kami." "Kau orang
tua tidak tahu diri. Ditiup anginpun tubuhmu akan roboh. Apakah kau
masih akan berkelahi melawan kami." bertanya orang itu. Mahendra
menarik nafas dalam-dalam. Mahisa Pukatpun selalu m
emperingatkannya, bahwa ia sudah terlalu tua untuk bertempur. Tetapi
apa boleh buat. Ia tidak dapat memberikan kudanya. Meskipun ia sudah
m enjadi semakin tua, namun ia masih memiliki Iandasan ilmu
yang cukup. Demikianlah, maka Mahendra dan mPu Sidikara tidak
dapat mengelak dari pertengkaran yang bahkan mungkin akan terjadi
kekerasan karena m ereka tidak mau melepaskan kuda mereka. Betapapun
mereka berusaha menghindarinya dengan niat tanpa mencampuri per
soalan orang lain, namun ternyata persoalan itu datang atas mereka
sendiri. Dalam pada itu, maka orang bertubuh kekar itu berkata
kepada dua orang kawannya "He, dorong orang-orang itu mundur. Aku
akan membawa kuda mereka. " "Jangan" sahut Mahendra. "Kau tidak
mempunyai pilihan lain. Tetapi jika kau menjadi keras kepala, maka
nasibmu akan menjadi sangat buruk. Jauh lebih buruk dari pemilik
rumah yang sedang mengadakan keramaian itu." berkata orang
bertubuh kekar itu. Sebelum Mahendra menjawab, dua orang telah m
endekati Mahendra dan mPu Sidikara. Dengan garang orang yang
kemudian berdiri di hadapan Mahendra itu berkata "Pergilah. Atau
wajahmu akan menjadi pengab?" "Jangan terlalu garang Ki Sanak"
berkata Mahendra "Kudakuda itu adalah kuda-kuda kami. Kalian tidak
berhak membawanya. Apalagi aku masih sangat memerlukannya." "Per
setan dengan orang itu " berkata orang yang bertubuh kekar
"jika ia m asih berbicara lagi, sobek saja bibirnya atau rontokkan
giginya. " Tetapi Mahendra ternyata masih menjawab "Jangan berkata
begitu. Apakah kita sama sekali tidak lagi menjunjung tinggi
nilai-nilai hubungan antara sesama?" Orang yang berdiri dihadapan
Mahendra memang tidak berpikir lebih panjang lagi. Tiba-tiba saja
tangannya terayun menampar mulut Mahendra. Tetapi orang itu menjadi
terkejut sekali. Ia tidak tahu apa yang telah membentur tangannya.
Tetapi pergelangan tangannya menjadi sakit sekali. Sementara itu
telapak tangannya sama sekali tidak meny entuh mulut Mahendra.
"Setan. Apa yang kau lakukan?" bentak orang itu. "Aku tidak berbuat
apa-apa " jawab Mahendra. Orang itu menjadi marah sekali. Sekali
lagi ia mengayunkan tangannya. Jauh lebih keras. Bahkan orang itu
mengira bahwa bukan sajah wajah Mahendra menjadi pengab, t etapi
mungkin justru lehernya akan terputar dengan kerasnya. Tetapi orang
itu bukan saja terkejut. Tetapi orang itu mengaduh kesakitan. Sekali
lagi pergelangan tangannya terasa membentur sesuatu. Lebih keras,
sehingga rasa-rasanya tulangnya akan patah. Tetapi sementara itu
orang yang bertubuh kekar dan seorang kawannya tidak menunggu
per soalan itu selesai dengan tuntas. Keduanya dengan serta merta
telah m eloncat ke atas punggung kuda Mahendra dan mPu Sidikara.
Tetapi sebelum keduanya melarikan kedua ekor kuda itu, mPu Sidikara
ternyata sempat bergerak lebih cepat. Ia sempat memungut dua butir
kerikil kecil dan dilemparkannya ke perut kedua ekor kuda itu.
Demikian cepatnya sehingga tidak seorangpun sempat berbuat sesuatu.
Kedua ekor kuda itu terkejut. Hampir berbareng keduanya telah
meringkik sambil melonjak sehingga kuda-kuda itu berdiri diatas
kedua kaki belakangnya. Ketika kemudian kaki depannya kembali m eny
entuh tanah, maka kedua ekor kuda itu justru melonjak-lonjak.
Ternyata mPu Sidikara telah melempar sekali lagi perut kedua ekor
kuda itu dengan kerikil kecil. Kedua orang itu jatuh terbanting
ditanah. Sementara itu Mahendra dan mPu Sidikara segera berlari
mendapatkan kuda yang sangat gelisah itu. Dengan suara lembut dan
usapan perlahan-lahan pada lehernya, maka kuda itu menjadi tenang
kembali. Mahendra dan mPu Sidikara telah menambatkan kembali
kuda-kuda itu pada patok didepan kedai itu. Namun keduanya tidak
lagi meninggalkan kedua ekor kuda itu. Orang yang bertubuh kekar dan
seorang kawannya yang terjatuh dari punggung kuda itu telah
bangkit. Punggung merekalah yang merasa seakan patah
karenanya. Namun mereka tidak ingin mengurungkan niatnya untuk
mengambil kedua ekor kuda itu. Apalagi orang itu tentu memperhatikan
harga diri mereka dihadapan orang banyak. Karena itu, maka orang
bertubuh kekar itu kemudian telah berteriak "Orang-orang gila.
Kalian akan meny esal akan tingkah laku kalian. " "Bukankah
kuda-kuda itu memang tidak ingin m empunyai penunggang yang
lain kecuali kami berdua" berkata mPu Sidikara. "Aku tidak peduli"
teriak orang yang bertubuh kekar itu. "Sekali lagi aku katakan
Ki Sanak. Kami tidak akan melepaskan kuda-kuda kami. Sebenarnya kami
sudah berjanji ketika kami berangkat, bahwa kamitidak akan
berselisih dan tidak akan mencampuri per soalan orang lain di
sepanjang perjalanan. Namun agaknya kalian telah memaksa kami untuk
berbuat sesuatu. Setidaknya kami harus mempertahankan kuda-kuda
kami." "Per setan" geram orang bertubuh kekar "hancurkan orangorang
sombong itu. Beberapa orangpun segera bergerak mengepung Mahendra
dan mPu Sidikara. Jumlah mereka tiba -tiba saja menjadi cukup
banyak. Namun Mahendra dan mPu Sidikara yang memiliki ketajaman
penglihatan, tidak melihat seorangpun diantara mereka yang
harus disegani, meskipun keduanya tidak terbiasa untuk merendahkan
orang lain. Demikianlah ketika orang-orang itu m ulai bergerak, mPu
Sidikara berkata "Aku masih ingin memperingatkan kalian sekali lagi.
Jangan ganggu kami, atau kami akan membuat kalian menyesali
perbuatan kalian. Sudah aku katakan, bahwa kalian tidak dapat meny
ebut diri kalian berjuang untuk Kediri dengan cara seperti itu. Cara
yang kotor. Kalian tentu memanfaatkan keadaan untuk kepentingan
kalian sendiri." "Cukup" teriak orang bertubuh kekar itu "bungkam
mereka dengan cara yang paling baik. Mereka harus menyadari
kesalahan mereka. Sebelum mati mereka harus sempat menyesali
kesalahan mereka serta meny esali keterlambatan mereka menyadari
kesalahan. Baru kemudian kalian dapat berbuat apa saja atas mereka."
"Perintahmu berbahaya Ki Sanak" berkata mPu Sidikara "orang
yang menerima perintahmu itu dapat menjadi gila. Tetapi
perintahmu itu juga merangsang kami untuk melakukan hal yang sama
sebagaimana kau kehendaki." "Setan. Kau masih berani mengancam"
bentak orang bertubuh kekar itu. Lalu katanya kepada orang-orangnya
"Cepat. Kenapa kalian masih diam saja?" Dengan perintah itu, maka
beberapa orang segera bergerak. Dua orang terdekat telah menyerang
Mahendra dan mPu Sidikara. Namun yang terjadi telah
mengejutkan kawankawannya. Orang yang meny erang mPu Sidikara itu
telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting ditanah.
Sementara itu orang yang m eny erang Mahendra itu tiba-tiba sa
ja telah terduduk lemah. Mahendra dengan keempat jarijarinya yang
merapat telah menekan paha orang itu. Kemudian dengan kecepatan yang
tidak diketahui oleh lawannya, Mahendra meny entuh dua simpul
ditengkuknya dengan jari-jarinya. Sehingga dengan demikian, maka
tulangtulang orang itu bagaikan telah dilepas dari kulit dagingnya.
Sementara orang itu terduduk lemah, maka kawannya tidak lagi mampu
bangkit berdiri. Tulang punggungnya serasa menjadi patah karenanya.
Karena itu, ketika ia berusaha untuk dengan serta merta bangkit
berdiri, maka orang itu telah terjatuh kembali sambil menyeringai
menahan sakit. "He, kenapa dengan kalian" bentak orang bertubuh
kekar itu. Namun yang didengarnya hanyalah kedua orang itu
mengaduh. Orang bertubuh kekar itu menjadi tidak sabar lagi. Karena
itu, maka iapun segera memberikan isy arat agar orangorangnya
bergerak bersama-sama. Mahendra dan mPu Sidikarapun melihat
orang-orang itu mulai bergerak. Karena itu, keduanyapun telah
mengambil jarak pula. Agaknya mereka memang harus melawan orangorang
itu. Betapapun lemahnya seseorang, tetapi jika ia bergerak
bersama-sama, maka Mahendra dan mPu Sidkara memang harus
berhati-hati. Ketika kemudian orang bertubuh kekar itu memberikan,
aba-aba, maka merekapun telah meny erang Mahendra dan mPu Sidikara
bersama-sama. Sebenarnyalah bahwa mereka bukannya orang-orang
yang tidak berilmu sama sekali. Mereka telah menjelajahi
beberapa Pakuwon, Kabuyutan dan apalagi padukuhan-padukuhan. Tentu
sudah banyak pengalaman yang mereka dapatkan, sehingga dengan
demikian mereka termasuk orang-orang yang berbahaya. Apalagi
nampaknya mereka adalah orang-orang yang tidak pernah
ragu-ragu melakukan kekerasan, sehingga dengan demikian m aka
Mahendra dan mPu Sidikara harus berhatihati. Jika perlu, m aka
keduanya harus dapat bertindak keras menghadapi mereka.
Sebenarnyalah, maka orang-orang itu segera bertempur dengan keras.
Berganti-ganti mereka menyerang seperti ombak yang datang menghantam
tebing. Namun kadangkadang mereka datang bersama-sama melanda
lawannya dengan kekuatan yang besar. Tetapi lawan mereka
adalah Mahendra dan mPu Sidikara. Meskipun Mahendra nampak sudah
menjadi tua. Tetapi ia masih mampu menghadapi lawannya beberapa
orang sekaligus. Setiap ada kesempatan Mahendra berusaha untuk
menyentuh bagian-bagian tubuh lawannya yang m enentukan. Satu
dua orang sempat disentuh tengkuk dan punggungnya disebelah meny
ebelah tulang belakang. Dengan demikian, maka tenaga merekapun
menjadi jauh susut. Karena itulah, maka orang-orang yang mengepung
dan bertempur melawan Mahendra tidak lagi mampu bergerak dengan
tegar dan sepenuh tenaga. Bahkan ada satu dua yang seakan-akan
kehilangan seluruh kekuatannya. Sentuhan-sentuhan jari Mahendra
ternyata sempat menimbulkan kekusutan pada jaringan syaraf lawannya,
sehingga dengan demikian sentuhan-sentuhan jari-jari tangan yang
kuat sekali itu merupakan senjata yang sangat berbahaya.
Berbeda dengan Mahendra, maka mPu Sidikara telah melepaskan tenaga
dalamnya, sehingga kekuatannya seakanakan menjadi berlipat. Setiap
sentuhan tangannya rasarasanya dapat meretakkan atau bukan
mematahkan tulangtulang lawannya. Meskipun demikian pertempuran itu
berlangsung juga beberapa lama. Diluar dugaan Mahendra dan mPu
Sidikara, ternyata orang-orang yang mengaku orang-orang Kediri
itu cukup banyak, sehingga pertempuran itu telah memakan waktu agak
lama. Namun kemudian ternyata orang-orang itu berusaha untuk
menghindar dari arena. Mereka yang masih cukup kuat berusaha untuk
membantu kawan-kawan mereka yang menjadi kesakitan atau seakan-akan
telah kehilangan tenaga mereka. Namun kepada orang-orang yang
terakhir berada di arena, Mahendra berkata "Ki Sanak. Aku tidak akan
memburu kalian. Tetapi aku berpesan, bahwa aku tidak mau bertemu
dengan kalian sekali lagi dalam keadaan seperti ini, karena aku akan
mengambil tindakan yang lebih keras lagi. Mungkin aku akan melukai
kalian, bahkan luka-luka yang parah atau membunuh kalian,
karena kalian adalah pemberontak. Sedangkan hukuman bagi pemberontak
adalah hukuman yang paling berat." Orang-orang itu memang masih
sempat mendengar. Namun kemudian merekapun, berlari -larian
meninggalkan Mahendra dan mPu Sidikara. Untuk beberapa saat tempat
itu justru menjadi lengang. Orang-orang yang melihat pertempuran
antara dua orang berkuda melawan sekelompok orang kasar itu merasa
lebih baik menjauh. Namun, demikian orang-orang kasar itu pergi,
beberapa orang telah bergeser mendekat. "Untunglah, bahwa Ki Sanak
bukan orang kebanyakan" desis pemilik kedai, orang yang
pertama berani mendekati Mahendra dan mPu Sidikara. "Kami adalah
orang kebanyakan " jawab Mahendra. "Tetapi kalian memiliki
kelebihan. Kalian telah b ertempur dan memenangkan pertempuran
melawan sekian banyak orang dalam waktu yang terhitung cepat.
Kalian telah menyakiti dan bahkan membuat beberapa orang seakan-akan
menjadi lumpuh." "Satu kebetulan" desis Mahendra. Sementara itu,
pemilik rumah diseberang yang akan menyelenggarakan keramaian itu
mendekat pula. Iapun kemudian berkata "Jika saja Ki Sanak tadi
menolongku mengusir orang-orang itu, maka uang yang mereka bawa
lebih baik aku serahkan kepada Ki Sanak saja." Mahendra tersenyum.
Katanya "Terima kasih. Seandainya kami m elakukannya sama sekali
bukan karena uang sekampil itu." "Kenapa ? Apakah Ki Sanak
orang-orang yang sangat kaya sehingga menganggap uang sekampil itu
tidak berarti ?" bertanya pemilik rumah itu. mPu Sidikaralah
yang menjawab sambil menggeleng "Tidak Ki Sanak. Kami bukan
orang-orang kaya. Kami juga tidak menganggap uang sekampil itu tidak
berarti." "Jadi kenapa kalian yang berkemampuan tinggi tidak mau
membantuku mengusir orang-orang itu." bertanya orang yang
menyelenggarakan keramaian itu. Lalu katanya "Jika kalian bukan
orang kaya, bukankah uang itu akan sangat berarti bagimu. Mungkin
untuk membeli kuda lagi atau membeli tanah dan ladang. Atau
keperluan keperluan lain, bagaimanapun juga uang mempunyai pengaruh
yang sangat besar." "Tetapi uangmu tidak dapat berbuat apa -apa
ketiga orangorang itu datang kepadamu dan menyakitimu ?" bertanya
mPu Sidikara. "Jika aku mempunyai kesempatan, aku tentu dapat
mengupah orang untuk menjaga agar orang-orang itu tidak berbuat
sekehendak hatinya dirumahku." "Tetapi kau terlambat dan uang itu
tidak berati apa -apa seandainya orang-orang itu membawa isterimu
pergi." Pemilik rumah yang sedang menyelenggarakan keramaian itu m
engerutkan dahinya. Namun ia menjawab "Tetapi aku ingin mengetahui
alasanmu, kenapa kau tidak melakukannya ? Apakah bagimu upah
sekampil uang itu kurang? Tetapi jika demikian, kenapa kau akhirnya
bertempur juga untuk sekedar mempertahankan dua ekor kuda. ?" "Kami
tidak membantumu karena kami menganggap bahwa yang dilakukan oleh
orang-orang itu sudah pada tempatnya" jawab mPu Sidikara. "Kenapa.
Mereka merampok uangku " orang itu hampir berteriak karena ia mulai
menjadi marah. "Peri stiwa ini agar menjadi peringatan bagimu, bahwa
uang sama sekali tidak berdaya m enghadapi sesuatu yang m emang
harus terjadi. Juga satu peringatan, bahwa uang itu akan demikian
mudahnya hilang. Apakah dirampok orang atau dicuri pencuri atau
terbakar atau bencana-bencana yang lain. Jika aku m enolongmu
dan apalagi m enerima upah yang kau berikan kepadaku, maka
peringatan itu tidak akan pernah kau terima serta kenyataannya tidak
akan pernah kau alami." jawab mPu Sidikara. Lalu katanya pula "Aku
tidak tahu kehidupanmu sehari-hari. Tetapi menilik sikap dan
katakatamu sekarang ini, m aka kau termasuk orang yang gemar
sekali meny impan uang dan menghargai segala sesuatunya dengan uang.
Sementara uang itu ternyata kuasanya tidak sebesar yang kau
duga." Wajah orang itu menjadi tegang. Dipandanginya mPu Sidikara
dengan tajamnya. Sementara itu mPu Sidikara berkata "Ki Sanak.
Sebenarnyalah bahwa aku tidak mau membantumu karena aku sendiri
mempunyai kepentingan. Kepentingan apa ?" bertanya orang itu. mPu
Sidikara itu ter senyum. Dengan nada tinggi ia berkata "Aku telah
mengalahkan sekelompok orang yang merampokmu. Karena itu, kau tentu
tahu bahwa meskipun kami hanya dua orang, tetapi kami dapat berbuat
lebih banyak dari kelompok orang itu." Orang yang ingin
mengadakan keramaian itupun menjadi tegang. Sementara mPu Sidikara
berkata selanjutnya "Dengar. Jika orang-orang itu memerlukan dana
bagi perjuangannya dan tersinggung melihat kau meny elenggarakan
keramaian, maka akupun tersinggung karena kau menganggap bahwa uang
itu segala-galanya. Karena itu, maka aku senang melihat kau
dirampok. Seperti aku katakan, kami m erasa perlu untuk memberikan
peringatan kepadamu. Bahkan aku ingin membakar rumahmu, agar kau
tahu bahwa harta bendamu tidak berarti apa -apa." Wajah orang itu m
enjadi tegang. Sementara mPu Sidikara berkata selanjutnya "Nah,
suruh isteri dan keluargamu keluar dari rumahmu. Para penari dan
orang-orang yang sedang mempersiapkan hidangan bagi tamu-tamu
terhormatmu." "Apa yang akan kau lakukan?" bertanya orang itu.
"Membakar rumahmu, kau dengar. Kami berdua memang lebih jahat dari
sekelompok orang yang melarikan diri itu. Tetapi kamipun memiliki
ilmu jauh lebih tinggi dari m ereka. Siapa yang ingin
menghalangi kami, akan kami lemparkan kedalam api." "Tetapi" wajah
orang itu menjadi pucat. "Marilah " berkata mPu Sidikara kepada
Mahendra "kita bakar rumahnya, gamelannya dan semua perabot
rumahnya. Semuanya, termasuk orang-orang yang tidak mau keluar."
"Jangan, jangan. Kami, aku dan keluargaku mohon ampun. " suara orang
itu menjadi serak. Ketika mPu Sidikara melangkah maju, maka orang
itu telah bersimpuh didepan mPu Sidikara "Jangan Ki Sanak. Jangan."
"Siapa yang , mengalangi aku akan aku bunuh dengan caraku." "Jangan
Ki Sanak. Apa saja yang akan kau minta. Aku akan memberikannya. "
berkata orang itu. "Sekali lagi kau berkata seperti itu, aku bakar
rumahmu dengan kau terikat didalamnya." geram mPu Sidikara. "Jadi,
jadi apa yang harus aku lakukan?" bertanya orang itu
ketakutan. mPu Sidikara menarik nafas dalam-dalam. Namun Mahendralah
yang kemudian m erasa ka sihan kepada orang itu. Katanya "Kau
harus minta maaf, bahwa kau telah menghina kami dengan menawarkan
upah kepada kami. Kami hanya ingin membuktikan bahwa uangmu bukan
segalagalanya. Jika kami m embakar rumahmu dengan segala isinya itu
akan membuktikan, bahwa kekayaanmu tidak dapat memadamkan api yang
akan m enelan rumah dan jika perlu kau dan ist erimu itu." Wajah
orang itu menjadi semakin tegang. Ia kembali dicengkam ketakutan
melampaui saat dipendapa rumahnya berdiri beberapa orang yang
berwajah keras dan bertingkah laku kasar. Dengan suara gemetar orang
itupun berkata "Kami m inta maaf. Kami sekeluarga mohon ampun. Kami
tidak tahu dengan siapa kam i berhadapan." "Dengan siapapun kau
berhadapan" berkata Mahendra "kau tidak dapat membanggakan dan
bahkan bersandar kepada uang dan harta kekayaanmu." "Aku mengerti.
Kami sekeluarga mengerti." Mahendrapun kemudian m enggamit mPu
Sidikara sambil berdesis "Ia akan dapat mati ketakutan." mPu
Sidikara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata "Nah,
Ki Sanak. Lain kali berhati-hatilah. Tidak semua orang seperti kau
yang menganggap bahwa tumpuan tertinggi untuk mendapatkan
kebahagiaan hidup dalam uang." "Ya, ya. Kami mohon, ampun" orang itu
seakan-akan menangis "aku meny esal sekali." mPu Sidikaralah yang
kemudian berkata "Ki Sanak. Dengar baik-baik. Jika aku tidak
menggagalkan perampokan itu, karena aku m empunyai pertimbangan yang
jauh. Justru bagi keselamatanmu. Kegagalan mereka akan dapat membuat
mereka semakin mendendam, sedangkan kami hanya sekedar orang lewat.
Jika orang itu kembali lagi besok atau lusa, kami tidak akan dapat
membantu, sementara orang-orang itu akan menjadi lebih buas lagi.
Karena pertimbangan itulah, m aka kami lebih baik meninggalkan
halaman rumahmu. Tetapi ternyata persoalannya bergeser. Orang-orang
itu ingin mendapatkan kuda kami, sehingga kami harus
mempertahankannya. Meskipun akhirnya kami berkelahi, namun
orang-orang itu tidak m endendam kepadamu. Karena itu, ketika mereka
pergi, kamipun tidak ganti merampok uang itu. Meskipun semua orang
pada umumnya memerlukan uang, tetapi tidak semua orang menjadi rakus
dan menganggap uang adalah puncak dari segala -galanya." "Kami
mengerti, Ki Sanak. Kami mengerti," jawab orang itu. "Baiklah"
berkata mPu Sidikara "jika kau dapat dan m au mengerti, sokurlah.
Aku tidak jadi membakar rumahmu, meskipun sepeninggalku kau tentu
sudah berubah lagi. " "Tidak. Tidak. Aku berjanji" jawab orang itu.
mPu Sidikarapun kemudian berkata kepada Mahendra "Marilah. Kita
teruskan perjalanan kita. Sekedar memberi kesempatan kuda-kuda kita
beristirahat lebih panjang." Mahendra tersenyum. Namun katanya Aku
minta diri kepada pemilik kedai itu." "Biarlah aku yang meny
elesaikannya " berkata mPu Sidikara. "Bukankah aku yang mengajak mPu
menempuh perjalanan ini?" sahut Mahendra. mPu Sidikara tertawa.
Namun ia tidak membantah lagi. Demikianlah, setelah mereka membayar
harga makanan dan minuman di kedai itu, maka keduanyapun telah
meloncat ke punggung kuda. Keduanya sempat melambaikan tangannya
kepada pemilik rumah yang sedang meny elenggarakan keramaian
itu. Pemilik rumah itu berdiri termangu-mangu. Malam itu terjadi dua
peristiwa yang telah mengguncangkan perasaannya. Namun peri
stiwa itu merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi dirinya.
Sekelompok orang yang merampoknya dan dua orang yang ter
singgung justru karena ia menawarkan upah bagi mereka. Orang itu
semula memang tidak mengira bahwa ada orang yang tersinggung justru
saat ditawarkan uang kepadanya. Bagi orang itu, uang dan kekayaan
memang segala-galanya. Dengan uang ia merasa dapat berbuat apa saja.
Namun suatu ketika ia memang dihadapkan pada satu kenyataan, bahwa
uang justru dapat menjerumuskannya kedalan kesulitan. Bahkan hampir
sa ja ia harus meny erahkan isterinya kepada sekelompok orang yang
merampok dirumahnya, justru saat ia sedang menyelenggarakan
keramaian. Dengan kepala tunduk orang itu berjalan kembali
kerumahnya. Jika semula ia selalu menengadahkan wajahnya karena ia
merasa menjadi orang yang paling kaya di padukuhannya,
sedangkan ukuran harga dirinya adalah uang, maka ia merasa dirinya
sebagai orang yang berkedudukan paling tinggi diantara
tetangga-tetangganya. Namun rasa -rasanya ia telah terhempas menimpa
batu karang. Ternyata ada orang yang sama sekali tidak bergantung
pada uang dan mempunyai penilaian tersendiri terhadap orang
yang memiliki kekayaan yang melimpah. Karena itu, maka
orang itupun merasa perlu untuk merenungi kembali jalan hidup
yang telah ditempuhnya itu. Sementara itu, Mahendra dan mPu
Sidikara telah meneruskan perjalanan m ereka. Ternyata perjalanan
mereka tidak lebih cepat dari perjalanan yang pernah ditempuh
oleh Mahendra dan Mahisa Pukat sebelumnya. "Kita sudah m enepati
rencana kita ketika kita berangkat" berkata mPu Sidikara sambil
tersenyum. "Ya " jawab Mahendra "kita memang tidak mencampuri
persoalan orang lain. " mPu Sidikara tertawa, katanya "Tetapi orang
lainlah yang mencampuri persoalan kita." Keduanyapun tertawa.
Sementara itu kuda mereka berpacu dikegelapan malam. Namun karena
kedua penunggangnya adalah orang-orang yang memiliki
kelebihan, maka mereka sama sekali tidak mengalami kesulitan. Selain
kuda-kuda mereka juga terbiasa menempuh perjalanan dalam segala
waktu dan keadaan, kendalinyapun dapat menuntun kudakuda itu untuk
menginjakkan kakinya diatas jalan yang panjang. Ternyata keduanya
tidak berhenti lagi diperjalanan. Apalagi Padepokan Bajra Seta
memang tidak terlalu jauh lagi. Demikianlah, ketika mereka sampai di
Padepokan, maka para cantrik yang bertugaspun telah menjadi
terkejut pula. Apalagi ketika mereka melihat bahwa yang datang
itu adalah Mahendra dan seorang yang belum mereka kenal.
Demikian keduanya diper silahkan masuk regol Padepokan, maka seorang
cantrikpun telah m encari Mahisa Murti untuk memberitahukan
kehadiran mereka. Tetapi ternyata Mahisa Murti tidak ada dibiliknya
meskipun m alam telah larut. Namun cantrik itu sudah tahu kebiasaan
Mahisa Murti. Jika di malam hari ia tidak sedang bepergian tetapi
tidak ada didalam biliknya, maka ia tentu berada di sanggar.
Sebenarnyalah, bahwa cantrik itu telah menemukan Mahisa Murti sedang
berada di sanggar. Sendiri. Agaknya Mahisa Murti sedang
beristirahat, karena ia tidak sedang berlatih. Tetapi Mahisa Murti
justru sedang duduk disudut sanggar dengan lam pu yang hanya
remang-remang. Namun ketika cantrik itu mendekatinya, maka nampak
keringat membasahi seluruh tubuh Mahisa Murti. "Ada apa ?" bertanya
Mahisa Murti kepada cantrik itu. "Ada tamu diluar. Ki Mahendra
dengan seorang yang belum kami kenal" jawab cantrik itu.
Mahisa Murti mengerutkan dahinya. Dengan nada berat ia bertanya
"Apakah ayah tidak meny ebut nama orang itu ?” "Tidak " jawab
cantrik itu. "Baiklah" berkata Mahisa Murti "persilahkan mereka
duduk. Siapkan hidangan. Minum dan makan. Mereka t entu telah m
enempuh perjalanan yang melelahkan. Demikian pula kuda-kuda mereka."
Mahisa Murti berhenti sejenak. Lalu "Aku akan membenahi pakaianku
sebentar." Beberapa saat kemudian, maka Mahisa Murtipun telah
melangkah ke bangunan induk Padepokan Bajra Seta. Disepanjang
langkahnya, Mahisa Murti m asih saja bertanyatanya, siapakah kawan
ayahnya itu. Namun yang lebih menarik perhatiannya, apakah keperluan
mereka datang ke Padepokan. " Ketika Mahisa Murti memasuki pendapa
di bangunan induk Padepokan Bajra Seta, maka iapun segera melihat
bahwa ayahnya memang datang dengan membawa seorang kawan. "Kenapa ay
ah tidak datang bersama Mahisa Pukat ?" pertanyaan itu telah
mengusik hatinya. Bahkan sebuah pertanyaan yang lain telah
muncul pula "Apakah sesuatu terjadi dengan Mahisa Pukat ?" Ketika
kemudian Mahendra dan mPu Sidikara mengangkat wajahnya, m aka
barulah Mahisa Murti sempat m emandang wajah itu. Karena itu, maka
dengan serta merta iapun berdesis "mPu Sidikara. " Demikianlah, maka
Mahisa Murtipun telah menyambut tamunya dengan akrab. Setelah
menanyakan keselamatan ay ahnya dan mPu Sidikara selama perjalanan,
maka Mahisa Murtipun bertanya "Kenapa ay ah tidak mengajak Mahisa
Pukat?" "Mahisa Pukat sedang sibuk dengan tugasnya " jawab Mahendra.
"Tetapi seharusny a ia dapat minta ijin barang satu dua hari untuk
mengantarkan ay ah betapapun sibuknya" berkata Mahisa Muiti "Akulah
yang salah" mPu Sidikara memotong pembicaraan itu "karena
keinginanku pergi ke Padepokan Bajra Seta, maka aku telah minta agar
Mahisa Pukat melakukan tugas rangkap di Kasatrian, sementara aku
pergi bersama Ki Mahendra ke Padepokan Bajra Seta." Mahisa Murti
mengerutkan dahinya. Sedangkan mPu Sidikara berkata selanjutnya
"Pangeran Kuda Pratama berkeberatan jika kami berdua bersama-sama
minta ijin meninggalkan kasatrian. Karena aku mendesak terup,
akhirnya Mahisa Pukatlah yang m engalah. Akulah yang pergi ke
Padepokan Bajra Seta." Mahisa Murti m engangguk-angguk, sementara
Mahendra hanya tersenyum saja. Namun akhirnya Mahisa Murti bertanya
pula "Kenapa baru setelah malam larut ayah dan mPu Sidikara baru
datang, seperti ketika ay ah menempuh perjalanan ini bersama Mahisa
Pukat ?" Mahendra tersenyum. Katanya "perjalanan kami sedikit
terhalang. Sejak kami berangkat, kami sudah berjanji untuk tidak m
encampuri persoalan orang lain, agar perjalanan kita tidak menemui
hambatan. Tetapi t ernyata orang lainlah yang telah mencampuri
persoalan kami." "Maksud ay ah ?" bertanya Mahisa Murti. Mahendrapun
kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi diperjalanan.
Meskipun tidak seberat saat Mahendra itu datang ke Padepokan Bajra
Seta bersama Mahisa Pukat, namun apa yang terjadi diperjalanan
itu, telah merampas banyak waktu pula. Mahisa Murtipun tersenyum.
Katanya "Sokurlah, bagaimanapun juga peri stiwa seperti itu
merupakan hambatan yang harus diatasi juga." Mahendra dan mPu
Sidikara tidak menjawab karena seorang cantrik telah naik keluar
membawa hidangan. Minuman hangat dan makanan. "Makan sedang
disiapkan" berkata Mahisa Murti. Demikianlah, setelah minum minuman
hangat serta makan beberapa potong makanan, maka Mahendra dan mPu
Sidikarapun telah pergi ke pakiwan serta membenahi dirinya. Baru
kemudian m ereka dipersilahkan untuk makan diruang dalam.
"Sebenarnya kami tidak terlalu lapar " berkata Mahendra "lewat senja
kami singgah untuk makan. Tetapi kemudian terjadi peri stiwa itu."
"Jika demikian, maka ayah dan mPu Sidikara tentu menjadi lapar lagi"
berkata Mahisa Murti. Mahendra dan mPu Sidikara tertawa. Namun
merekapun kemudian telah makan pula dengan lahapnya. Dalam pada itu,
setelah mereka selesai makan dan beristirahat sejenak, maka Mahisa
Murtipun mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam bilik yang sudah
disediakan. Meskipun Mahisa Murti mengetahui, bahwa kedatangan ay
ahnya tentu membawa persoalan yang penting, namun Mahisa Murti t
idak ingin membuat ayahnya menjadi t erlalu letih. Mahendra juga
tidak ingin tergesa -gesa mengatakan keperluannya. Ia ingin mengatur
perasaannya, sehingga apa yang akan dikatakannya menjadi lebih
mapan. Baru dihari berikutnya, setelah mereka makan pagi, m aka
Mahendrapun berkata "Mahisa Murti. Ada sesuatu yang akan aku
sampaikan kepadamu. Tidak terlalu penting, tetapi sebaiknya memang
kau ketahui." Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu
Mahendrapun berkata "Aku m embawa kabar tentang Mahisa Pukat. "
Sebenarnyalah Mahisa Murti sudah menduga. Karena itulah maka ayahnya
telah datang tidak bersama Mahisa Pukat itu sendiri. "Pembicaraanku
dengan Arya Kuda Cemani tentang hubungan antara Mahisa Pukat dengan
Sasi telah maju selangkah lagi" berkata Mahendra. "O" Mahisa Murti
mengangguk-angguk. "Kami telah mendapat kesepakatan, kapan Mahisa
Pukat dan Sasi akan menikah." berkata Mahendra pula. Mahisa Murti
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berdesis "Sokurlah.
Dengan demikian, maka tataran pertama hubungan antara Mahisa Pukat
dan Sasi akan terselesaikan." "Ya " jawab Mahendra. Namun dengan
penglihatan mata hatinya, Mahendra m elihat bahwa luka dihati Mahisa
Murti itu terasa ny eri kembali. Namun Mahendra percaya, bahwa day a
tahan Mahisa Murti cukup kuat untuk mengatasiny a. "Jadi sebulan
lagi. Kita harus melakukan persiapan sebaikbaiknya. Sri Maharaja
secara pribadi menyatakan merestui pernikahan itu." "Sri Maharaja ?"
bertanya Mahisa Murti. Mahendra mengangguk. Baru kemudian ia berkata
"Sebenarnya aku belum pernah menyampaikan langsung hal itu kepada
Sri Maharaja. Aku tidak tahu, darimana Sri Maharaja mengetahui bahwa
Mahisa Pukat, Pelayan Dalam yang bertugas di Ka satrian, tetapi
yang juga guru dari para Kesatria Singasari, akan segera
menikah. Apalagi Pelay an Dalam itu adalah anakku, sedang bakal
isterinya adalah anak seorang Senapati dari Pasukan Sandi di
Singasari. " "Aku ikut merasa berbangga, ayah" jawab Mahisa Murti.
Nada suara memang merendah. Namun terasa bahwa katakata itu
diucapkannya dengan tulus. "Nah" berkata Mahendra "tentu saja kami
yang ada di Singasari menginginkan agar kau berada di
Singasari saat itu." "Tentu ayah" jawab Mahisa Murti "aku akan
berada di Singasari." "Bawa Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Namun
Wantilan terpaksa tidak dapat hadir dalam upacara itu, karena salah
seorang diantara kalian harus tetap berada di padepokan. " "Ya, ay
ah. Paman Wantilan akan aku m inta untuk tetap berada di padepokan.
Selain paman Wantilan sudah ada dua orang cantrik yang dapat
dipercaya. Cantrik itu cukup cerdas, rajin dan landasan ilmunya
yang cukup." "Sokurlah" jawab Mahendra "dengan demikian m aka
aku akan dapat tenang berada di Singasari." "Tetapi sudah tentu
bahwa kami tidak dapat b erlama-lama berada di Singasari. Kami akan
datang ke Singasari sepekan sebelum hari pernikahan dan sampai
sepekan sesudahnya. Itu sudah berarti sepuluh hari, ay ah." "Aku
mengerti Mahisa Murti. Aku kira waktu yang kau sediakan itu sudah
cukup" berkata Mahendra. Mahisa Murti mengangguk-angguk, sedangkan
mPu Sidikara lebih banyak berdiam diri sambil mendengarkan, karena
per soalan yang dibicarakan itu adalah per soalan keluarga.
Baru kemudian setelah pembicaraan tentang hari-hari pernikahan
Mahisa Pukat selesai, pembicaraan m ereka mulai merambat ke berbagai
soal. mPu Sidikarapun mulai ikut berbicara pula. Bahkan kemudian
pembicaraan mereka sampai pada kegiatan para cantrik serta waktu
-waktu mereka berlatih. "Mereka berlatih sambil bekerja" berkata
Mahisa Murti. "dengan demikian mereka akan mendapatkan pengetahuan
yang m endekati kebutuhan bagi mereka kelak. Mereka tidak hanya
mempelajari ilmu kanuragan. Tetapi juga bagaimana mereka dapat
menjadi seorang petani yang baik. Seorang pande besi yang
baik. Seorang pedagang yang baik, serta berbagai macam pengetahuan
yang lain yang akan berarti bagi mereka kelak jika mereka
menempuh kehidupan yang sebenarnya." mPu Sidikara mengangguk-angguk.
Sementara itu Mahisa Murti pun telah mempersilahkan mPu Sidikara
untuk melihatlihat seisi Padepokan Bajra Seta. Mula-mula mereka
melihatlihat sanggar terbuka dan sanggar tertutup. Beberapa orang
cantrik sedang berlatih di kedua sanggar itu. Mereka memang
mempergunakan alat-alat yang sederhana. Namun dengan alat-alat
yang sederhana itu para cantrik itu justru m endapat tempaan
yang cukup berat. Selain m empelajari unsur-unsur gerak,
berlatih mempergunakan berbagai jenis senjata, merekapun telah
dilatih untuk dengan cepat menentukan langkah-langkah yang
terbaik untuk mengatasi satu kesulitan. Mereka tidak terbiasa
mempergunakan alat atau senjata yang lengkap dan seakan-akan tinggal
memakainya. Tetapi para cantrik di Padepokan Bajra Seta harus siap
untuk mengatasi kesulitan yang timbul dengan alat dan senjata
sesuai dengan apa yang ada. Di sanggar terbuka mPu Sidikara
menyaksikan para cantrik itu menempa kewadagan mereka dengan
alat-alat yang sederhana pula, namun yang sangat berarti. Para
cantrik yang berlatih di sanggar terbuka itu m enunjukkan bahwa
mereka tidak saja asal melakukan latihan dengan menggerakkan tubuh
mereka. Tetapi mPu Sidikara yang juga mempunyai pengetahuan
dan pengalaman yang luas itu, m elihat, bahwa segala
sesuatunya berlangsung dengan tertib. Para cantrik tertua yang
ditunjuk oleh Mahisa Murti untuk memberikan latihan kepada para
cantrik yang lebih muda, agaknya lebih menguasai pengetahuan
tentang penguasaan tubuh, sehingga dengan demikian, maka merekapun
mampu melakukan uruturutan latihan yang baik yang tidak justru
merusakkan tubuh mereka. Mereka berlatih untuk meningkatkan
ketrampilan, kecepatan gerak, day a tahan dan penguasaan tubuh
sepenuhnya. Kemudian berlatih dengan sungguh-sungguh untuk mengatur
pernafasan yang sebaik-baiknya agar dapat memberikan manfaat
yang setinggi-tingginya sesuai dengan kemungkinan yang sedang
dihadapi. Ketika kemudian mereka meninggalkan sanggar dan
melihat-lihat bagian lain dari Padepokan Bajra Seta, maka mPu
Sidikara itupun sempat melihat bangunan-bangunan khusus tempat para
cantrik bekerja. Disebuah sudut, mPu Sidikara menyaksikan beberapa
bangunan yang dipergunakan oleh para cantrik untuk mengerjakan
pekerjaan besi dan baja. Beberapa orang cantrik yang bekerja sebagai
pande besi sedang melakukan tugas mereka. Mereka sedang menempa besi
untuk membuat alat-alat pertanian. Dalam pada itu Mahisa Murtipun
berkata "Tidak semuanya mereka adalah cantrik Padepokan Bajra Seta."
"Maksudmu?" bertanya mPu Sidikara. "Ada diantara mereka adalah
anak-anak muda dari padukuhan sebelah. Mereka datang untuk menyadap
pengetahuan tertentu. Antara lain sebagai pande besi." mPu Sidikara
mengangguk-angguk. Ia memang merasa kagum terhadap kegiatan yang
dilihatnya di Padepokan Bajra Seta. Ternyata bahwa kegiatan
padepokan itu tidak saja sekedar berarti bagi Padepokan Bajra Seta
sendiri, tetapi juga berarti bagi padukuhan-padukuhan dan bahkan
Kabuyutankabuyutan disekitarnya. Dengan nada dalam ia berkata
"Menarik sekali." "Ya " jawab Mahisa Murti "mereka akan dapat
memanfaatkan ilmu dan pengetahuan mereka di padukuhan mereka
masing-masing." "Kegiatan yang jarang sekali dilakukan di
padepokanpadepokan yang lain. " desis mPu Sidikara. "Dengan
ketrampilan itu, anak-anak muda di padukuhanpadukuhan sebelah meny
ebelah Padepokan Bajra Seta mempunyai bekal untuk berbuat sesuatu.
Mereka yang tanahnya sempit tidak lagi menggantungkan hidupnya pada
tanah yang akan terbagi habis diantara saudara-saudaranya.
Apalagi mereka yang anaknya terlalu banyak. Anak-anak muda itu juga
tidak akan bergantung pada kesempatan untuk bekerja menjadi bebahu
Kabuyutan atau bebahu padukuhan atau petugas-petugas lain yang
ditetapkan oleh padukuhan atau Kabuyutan. Tetapi mereka akan dapat
mandiri. Mereka dapat memanfaatkan ketrampilannya untuk mendapatkan
nafkahnya, tanpa menggantungkan diri kepada orang lain.” mPu
Sidikara mengangguk-angguk. Sementara itu segera teringat anak
anak-anak muda yang berada di Kasatrian. Mereka berada dalam
satu lingkungan yang berbeda. Namun agaknya Mahisa Pukat telah m
embuat perubahan-perubahan meskipun perlahan-lahan. Para penghuni Ka
satrian telah diperkenalkannya dengan alam terbuka. Para Ka satria
itu mulai m elihat kehidupan diluar istana. Para petani yang bekerja
keras, para pedagang yang harus tangkas berpikir menghadapi
setiap gejolak pasar, para pande besi yang berlimbah peluh serta
berbagai macam kehidupan yang jauh berbeda dari suasana kehidupan di
istana. Ketika kemudian mereka kembali ke pendapa bangunan induk
Padepokan Bajra Seta, maka mPu Sidikara itupun berkata "Padepokan
ini merupakan satu dunia tersendiri dengan aneka ragam kegiatan.
Tetapi dalam keseluruhan, Padepokan Bajra Seta adalah satu sanggar
raksasa yang menempa berbagai jenis ilmu, kemampuan dan ketrampilan
serta pengetahuan." Mahendra ter senyum. Katanya "Sebaiknya m emang
bukan aku yang mengucapkannya. Jika kau yang
mengatakannya, maka aku adalah seorang yang sangat sombong.
Namun sekarang mPu Sidikara yang sempat melihatnya dan sempat
mengatakannya. " "Ya. Jika aku m engatakannya, bukan karena aku
berada di hadapan Ki Mahendra dan angger Mahisa Murti. Tetapi aku
menilai dengan jujur dan menurut pendapatku, kenyataannya adalah
memang demikian" berkata mPu Sidikara. "Terima kasih" sahut Mahisa
Murti "namun apa yang kami miliki adalah sangat sederhana sekali.
Dengan demikian, maka apa yang dapat kami tabur pada
padukuhan-padukuhan disekitar Padepokan Bajra Seta memang terlalu
sedikit." mPu Sidikara mengangugk-angguk. Katanya "Tetapi kedudukan
Padepokan Bajra Seta bagi orang-orang disekitarnya menjadi lebih
penting dari Ka satrian di Singasari. Untunglah bahwa angger Mahisa
Pukat hadir di Kasatrian sehingga perlahan-lahan telah melakukan
beberapa perubahan atau katakan pembaharuan. Tetapi tentu saja
kesempatan yang dimilikinya sangat terbatas. Angger Mahisa Pukat
tidak akan dapat melanggar paugeran -paugeran yang masih dipegang
kuat di istana Singasari. Namun bahwa para kesatria itu sempat
melihat kenyataan diluar istana itu sudah merupakan satu hal yang
sangat berarti. Ternyata ada diantara para Kesatria itu t ertarik
untuk memperhatikan kehidupan yang berat dan keras diluar istana. "
"Sokurlah" berkata Mahisa Murti "mudah-mudahan para kesatria itu
akan menjadi semakin dekat dengan rakyatnya dengan segala keny ataan
hidup mereka." "Jika angger Mahisa Pukat mempunyai kesempatan
yang panjang di Kasatrian, maka agaknya ia akan dapat
melakukannya dalam keterbatasannya " desis mPu Sidikara. Dalam pada
itu Mahendrapun berkata "Seharusnya dengan peralatan yang ada
di Kasatrian, para kesatrian itu dapat berbuat lebih banyak bagi
lingkungannya. Tetapi paugeran yang ada memang tidak
memungkinkannya. " Mahisa Murti mengangguk-angguk. Iapun dapat
mengerti bahwa ada batas antara seisi istana dengan lingkungan di
luar istana. Karena itu, betapapun ada keinginan untuk melakukannya,
namun Mahisa Pukat tentu tidak akan berbuat terlalu banyak. Dalam
pada itu, apa yang dilihat mPu Sidikara ternyata sangat
berkesan dihatinya. Ia memang menjadi kagum melihat ketegaran Mahisa
Murti memimpin Padepokan Bajra Seta yang besar. Apalagi Mahisa Murti
adalah seorang anak muda yang masih sedang tumbuh, sehingga masih
banyak kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan. Di mata
mPu Sidikara, maka kesempatan yang ada didepan Mahisa Murti
memang berbeda dengan kesempatan yang dihadapi oleh Mahisa Pukat.
Meskipun kedua-duanya akan dapat menginjak jenjang yang lebih
tinggi, namun bidang mereka sangat berbeda. Semakin tinggi jenjang
yang mereka injak maka jarak keduanya akan menjadi semakin jauh.
"Apalagi jika Ki Mahendra yang menjadi pengikat diantara
keduanya sudah tidak ada lagi. Maka dari kehari, maka dinding
yang membatasi kedua orang anak muda itu seakanakan menjadi
semakin tinggi " berkata mPu Sidikara didalam hatinya. Namun mPu
Sidikara itu masih melihat bahwa kedua bersaudara itu mempunyai
ikatan batin yang sangat kuat. Ia masih berharap agar ikatan
yang ada itu dapat selalu dipelihara dan dikembangkan dimanapun
mereka masingmasing berada. Meskipun jalan m ereka berbeda, namun
jika masing-masing sudah memilihnya, maka tidak akan ada perasaan
saling bersaing. Meskipun jarak mereka menjadi semakin jauh, tetapi
ikatan batin yang ada diantara mereka akan tetap menjalin
hubungan diantara mereka. Tetapi satu hal yang tidak diketahui oleh
mPu Sidikara, bahwa Mahisa Murti pernah meny ingkir dari satu
benturan kepentingan yang sama tanpa sepengetahuan Mahisa Pukat.
Demikianlah, disaat mPu Sidikara berada di Padepokan Bajra Seta,
maka tidak jemu-jemunya ia melihat kerja yang dilakukan oleh para
cantrik disela-sela latihan olah kanuragan. Jika para kesatria di
Kasatrian Singasari harus juga menuntut pengetahuan tentang berbagai
macam ilmu, termasuk ilmu bintang, kesusa steraan dan ilmu
pemerintahan, maka para cantrik itu disamping mempelajari berbagai
macam ilmu, namun mereka juga langsung melakukannya di lapangan.
Mereka langsung turun dalam kerja sehingga apa yang mereka
pelajari itu akan dapat diuji pelak sanaannya. Namun mPu Sidikara
yang termasuk salah seorang guru di Ka satrian berkata didalam
hatinya "Tetapi kebutuhan dari para kesatria itu m emang jauh
berbeda dari kebutuhan para cantrik. " Karena itu, maka iapun
menyadari, apa yang dapat ditrapkan di Padepokan Bajra Seta, belum
tentu dapat ditrapkan di Ka satrian. Dan hal ini agaknya juga
disadari oleh Mahisa Pukat, sehingga jika ia mulai m elakukan
perubahanperubahan, maka ia harus m enilai setiap rencananya, apakah
hal itu sesuai dengan kebutuhan para kesatria Singasari. Bahkan
Mahisa Pukatpun harus mempertimbangkan kepentingan orang-orang, lain
yang memberikan tuntunan tentang berbagai macam ilmu selain olah
kanuragan bagi para kesatria
itu.
Jilid 114 TETAPI mPu Sidikara memang
tidak terlalu lama berada di Padepokan Bajra Seta. Ketika m ereka
sudah bermalam dua malam, maka Mahendra merencanakan untuk kembali
di keesokan harinya. "Jadi ayah tinggal bermalam satu m alam lagi ?"
bertanya Mahisa Murti. "Aku harus segera berada di Singasari lagi,
Murti. Aku harus m empersiapkan segala sesuatunya. Bukankah aku
tidak mempunyai lagi siapa-siapa yang dapat aku ajak berbincang
selain Mahisa Pukat sendiri ?" berkata Mahendra. "Tidak. Ayah tentu
mempunyai kawan untuk berbincang. Bukankah mPu Sidikara dapat
membantu ayah ?" Mahendra tersenyum. Katanya "mPu Sidikara berada di
Ka satrian. " "Bukankah kasatrian juga berada dilingkungan istana ?"
bertanya Mahisa Murti pula. “Tetapi rumahku berada jauh di halaman
belakang” sahut Mahendra. mPu Sidikara tertawa. Katanya "Aku akan
membantu kesibukan Ki Mahendra menjelang perkawinan puteranya. Aku
akan dapat melakukan apa saja. Sebelum, disaat upacara pernikahan
berlangsung dan sesudahnya." Mahendra dan Mahisa Murtipun tertawa
pula. Disela-sela suara tertawanya Mahendra berkata "Terima kasih
mPu. Aku memang mencari orang yang dapat melakukan apa saja.”
Meskipun mereka seakan-akan hanya sekedar berkelakar, namun mPu
Sidikara memang dengan sungguh-sungguh bersedia membantu kesibukan
Mahendra sehubungan dengan pernikahan Mahisa Pukat. Ketika kemudian
malam turun, maka Mahisa Pukatpun mempersilahkan ayahnya dan mPu
Sidikara untuk beristirahat, karena mereka akan bangun pagi-pagi
benar dan selanjutnya kembali ke Singasari setelah beberapa hari
beberapa di Padepokan Bajra Seta. Tetapi Mahendra dan mPu Sidikara
memang tidak terbiasa tidur sebelum malam larut. Karena itu, m aka m
ereka masih duduk-duduk dipendapa untuk beberapa lama. Dalam pada
itu, diluar padepokan, beberapa orang berkuda sedang memperhatikan
Padepokan Bajra Seta dari k ejauhan. Mereka melihat dinding yang
cukup tinggi mengitari satu lingkungan yang cukup luas.
Beberapa bangunan nampak membujur berjajar didalam lingkungan
dinding padepokan. "Aku t idak m engira bahwa Padepokan Bajra Seta
adalah padepokan yang besar " berkata seorang yang
bertubuh sedang yang duduk diatas punggung kudanya dipaling depan
dari iring-iringan orang berkuda itu. "Ya " jawab seorang yang
bertubuh kekar yang berkuda disebelahnya "aku juga tidak
membayangkan, bahwa padepokan Bajra Seta mempunyai lingkungan yang
luas serta bangunan yang cukup banyak didalamnya. Satu
gambaran bahwa penghuni Padepokan itu cukup banyak pula." "Selain
jumlahnya yang banyak, agaknya di Padepokan itu juga tinggal
orang-orang berilmu tinggi. Yang sudah kita ketahui dua diantara
mereka telah mampu mengejutkan kalian" berkata orang yang bertubuh
sedang itu kemudian. Kawannya yang bertubuh kekar itu
mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya "Lalu, apakah kita tetap
pada rencana kita mengambil orang yang aku katakan itu ?"
Orang bertubuh sedang itu berpaling kepada seorang yang
bertubuh kekurus-kurusan sambil berkata "Bagaimana menurut
pendapatmu ?" Orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu termangumangu
sejenak. Namun kemudian katanya "Aku sendiri tidak mempunyai
persoalan dengan orang itu. Tetapi jika kalian ingin tetap m
engambilnya, maka kami akan melakukannya. Betapapun tinggi ilmu
orang-orang padepokan ini, bagiku bukan m asalah. Aku dan kedua
orang kawanku akan dapat menyelesaikan mereka. Semuanya tergantung
kepada kalian. Seandainya terjadi pertempuran, apakah kira-kira
kalian dapat bertahan melawan isi padepokan ini ?" Orang yang
bertubuh sedang itu termangu-mangu. Katanya "Kami belum mengetahui
kekuatan Padepokan Bajra Seta ini. Menurut pendapatku, padepokan ini
tentu mempunyai kekuatan yang besar, sehingga kita perlu membuat
pertimbangan sebaik-baiknya." "Sekarang harus kita nilai, apakah
sikap orang yang mengaku orang Padepokan Bajra Seta itu sangat
membahayakan k edudukan kita atau tidak ?" bertanya orang yang
kekurus-kurusan. "Semuanya sudah aku ceriterakan" sahut orang
bertubuh kekar "mereka menganggap bahwa apa yang kita lakukan
tidak lebih dari perampokan." "Kau sudah mulai dengan langkah
yang salah" berkata orang yang kekurus-kurusan itu "kau
merampok dengan mengatas-namakan diri orang Kediri. " "Aku tidak
merampok. Aku mengambil uang dari orangorang kaya itu untuk aku
kumpulkan sebagaimana sudah pernah dilakukan oleh orang-orang yang
berjuang lebih dahulu dari kita. Sudah berapa kali hal seperti itu
kita lakukan. Hasilnya cukup baik. Kita mendapat banyak dana bagi
perjuangan kita. " "Itulah yang aku sebut sebagai satu kebodohan."
berkata orang yang kekurus-kurusan itu "berapa kali cara itu
dilakukan. Tetapi cara itu tidak pernah menghasilkan dukungan
yang sebenarnya bagi perjuangan kita. " "Jadi, bagaimana
yang tidak bodoh menurut pendapatmu ?" bertanya orang
yang bertubuh sedang. "Yang kalian lakukan justru menimbulkan
kebencian pada perjuangan yang sedang kalian lakukan. Jika
mereka menuduh kita tempuh selama ini memang tidak ubahnya dengan
cara yang dilakukan oleh kelompok-kelompok b erandal, perampok atau
peny amun." Orang yang bertubuh kekar itupun mengerutkan
dahinya. Sementara orang yang kekurus-kurusan itu berkata
selanjutnya "Kalian seharusny a tidak mengancam atau menakut-nakuti
orang dengan mengatas-namakan perjuangan yang sebenarnya kita
lakukan. Tetapi kalian dapat mengatakan apa saja. Bahkan menyebut
dirinya perampok sekalipun. Sebaliknya jika kita ju stru memberi,
setidak -tidaknya memberikan harapan kepada orang banyak bahwa masa
depan adalah satu masa yang lebih baik dari masa yang
sedang mereka jalani sekarang. Tetapi jika kalian datang dengan
mengancam, menakut-nakuti dan merampok, maka orang banyak itu akan m
embenci kalian dan m embenci perjuangan kita semuanya. "
Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian orang
bertubuh kekar itu berkata "Kenapa baru sekarang kau berkata begitu,
justru saat kita menghadapi Padepokan Bajra Seta yang kita nilai
sebagai sebuah padepokan yang besar dan kuat ?" "Jadi kau m enuduh
bahwa pendapatku timbul karena aku takut menghadapi kekuatan yang
ada di Padepokan Bajra Seta?” Orang bertubuh kekar itu tidak
menjawab. Ia memang tidak ingin membuat orang yang bertubuh
kekurus-kurusan itu marah, karena ia memang seorang yang berilmu
tinggi. "Jika kau mengira demikian, maka kau salah" berkata orang
yang bertubuh kekurus-kurusan itu "sudah aku katakan, jika
kalian berniat untuk mengambil dua orang yang mengaku dari
Padepokan Bajra Seta ini, aku akan mengambilnya tanpa perasaan takut
sama sekali. Tetapi menurut pendapatku, caracara yang kau tempuh
selama ini adalah salah." "Jadi sebaiknya apakah yang harus kita
lakukan ?" bertanya orang yang bertubuh sedang. "Kita harus
berbuat sebalikny a. Padepokan yang besar seperti Padepokan Bajra
Seta ini harus kita dekati. Jika mungkin kita m engajak m ereka
untuk membantu perjuangan kita. Kita yakinkan mereka, bahwa
peluangan yang kami lakukan akan sangat berarti bagi rakyat banyak.
Terutama Kediri." "Tetapi Padepokan Bajra Seta tidak terletak
ditlatah Kediri" berkata orang yang bertubuh kekar. "Kita dapat
memberikan harapan atas Padepokan ini. Kelak jika Kediri bangkit,
maka Padepokan ini akan mendapat kedudukan khusus m eskipun daerah
Singasari yang lain akan mengalami bentuk yang berbeda
dari kedudukannya sekarang." Orang-orang yang mendengarkan
keterangan itu mengangguk-angguk. Karena itu, orang yang
bertubuh sedang, yang memimpin seluruh kelompok itu kemudian berkata
"Baiklah. Kita akan mencoba. Tetapi apa yang mula-mula harus
kita lakukan ?" "Kita memasuki Padepokan ini. Kita sengaja datang
untuk membiarkan persoalan yang pernah terjadi. T etapi kita tidak
akan menuntut sama sekali. Kita justru akan minta maaf karena sikap
dan tingkah laku kita. Terutama kesan perampokan yang terjadi."
Orang yang bertubuh kekar itu menarik nafas dalam-dalam.
Sementara itu, orang yang kekurus-kurusan itu berkata "Kaulah
orangnya yang harus minta maaf atas kelakuanmu bersama sekelompok
orang pada waktu itu. Kemudian persoalan ini akan diambil alih. Kita
semuanya yang akan minta maaf dan kemudian m emberikan
penjelasan, harapan dan janji.” Orang bertubuh kekar itu
termangu-mangu. Namun orang bertubuh sedang yang memimpin
sekelompok orang-orang berkuda itu bertanya "Apa kau berkeberatan ?"
Orang bertubuh kekar itu berkata "Aku tidak mempunyai pilihan lain.
" "Tentu kau mempunyai pilihan lain " berkata pemimpin sekelompok
orang berkuda itu "jika kau tidak mau minta maaf, maka kita akan
melakukan rencana kita semula. Kita akan mengambil kedua orang dari
Padepokan Bajra Seta itu. Tetapi sudah tentu kita tidak tahu apakah
kita akan berhasil atau tidak. Apakah kita m asing-masing masih akan
dapat keluar. Mungkin aku dan beberapa orang akan dapat melepaskan
diri jika kita terjepit. Tetapi orang-orang yang hanya besar
mulutnya tidak akan dapat berbuat banyak. Mereka akan dibantai oleh
para cantrik di Padepokan Bajra Seta." Orang bertubuh kekar itu
termangu-mangu. Ia sadar, bahwa ia bukan termasuk seorang yang
berilmu tinggi. Karena itu, maka katanya "Aku akan minta maaf kepaa
orang-orang Bajra Seta." "Bagus" berkata orang yang bertubuh
kekurus-kurusan itu "jika demikian, m arilah. Kita m endekati
gerbang Padepokan Bajra Seta." Demikianlah, maka sekelompok
orang-orang berkuda itupun langsung menuju kepintu gerbang Padepokan
Bajra Seta. Dua orang yang bertugas dipanggung disebelah pintu
gerbang itu segera memberi isyarat kepada para cantrik yang ada
disebelah pintu gerbang itu. Dengan cepat, cantrik yang
bertugas disebelah pintu gerbang itupun telah m enyampaikan pesan
itu kepada para cantrik yang bertugas digardu disebelah
bangunan induk Padepokan Bajra Seta. Beberapa orang cantrikpun
dengan cepat telah berlari kepintu gerbang. Sebagian dari m ereka
telah m emanjat naik keatas panggung, sedangkan yang lain bersiap
menghadapi segala kemungkinan. Dalam pada itu, Mahisa Murti, mPu
Sidikara. dan Mahendrapun terkejut mendengar laporan tentang
sekelompok orang-orang berkuda yang datang itu. Karena itu,
maka merekapun segera pergi ke pintu gerbang dan naik kepanggung.
Orang-orang berkuda itu berhenti diluar pintu gerbang. Orang
yang bertubuh sedang itupun telah mengangkat tangannya agar
para cantrik itu mengetahui bahwa kedatangan mereka tidak berniat
buruk dan bermusuhan. Mahisa Murti yang sudah berada diatas panggung
disebelah pintu gerbang itupun segera bertanya "Siapakah kalian ?"
Orang yang bertubuh sedang itupun menjawab "Kami ingin berbicara
dengan orang Padepokan Bajra Seta yang pernah bertemu dengan
sekelompok kawan kami, namun agaknya telah terjadi salah paham."
Mahendra dan mPu Sidikara berpandangan sejenak. Dengan nada berat
mPu Sidikara berbisik "Orang yang berkuda dibelakang orang
yang berbicara itulah yang kita temui sedang merampok uang
itu." "Ya " Mahendra mengangguk-angguk "mungkin orang itu menjadi
dendam." "Baiklah. Biarlah aku yang menerimanya" berkata mPu
Sidikara yang kemudian melangkah maju melekat bibir pagar
dipanggungan itu. Lalu katanya kepada orang-orang berkuda itu "Aku
mengerti siapakah yang kalian maksud. Apakah kalian berniat
mempersoalkannya lagi ?" "Tidak Ki Sanak. Tetapi kami ingin bertemu
dan berbicara." berkata pemimpin sekelompok orang-orang berkuda itu.
mPu Sidikarapun kemudistn berpaling kepada Mahisa Murti. Ia adalah
pemimpin Padepokan itu. Karena itu, maka ia harus m endapat
keputusan dari Mahisa Murti, apakah orangorang itu diperkenankan
masuk atau tidak. Jika tidak, maka ia akan menerima orang-orang itu
diluar padepokan. Namun Mahisa Murti yang tanggap itupun
berkata "Biarlah mereka masuk mPu. Kita akan berbicara dengan
mereka. Namun sementara itu, m aka para cantrik dari Padepokan Bajra
Seta telah bersiap. Meskipun mereka masih ter sebar, namun jika
terjadi sesuatu, maka m ereka akan dengan cepat bergerak. Ketika
Mahisa Murti melihat Sambega ada diantara para cantrik dan berdiri
didekat Wantilan, maka iapun segera teringat saat-saat saudara
seperguruan Sambega yang sedang memburunya, sehingga ia harus ikut
campur pula. Dengan isyarat, maka Mahisa Murti m emerintahkan para
cantrik yang ada di gerbang untuk membuka pintunya. Demikian pintu
terbuka, maka Mahisa Murti yang masih ada dipanggungan itupun
berkata "Silahkan masuk Ki Sanak. Kita akan dapat berbicara lebih
baik." Sekelompok orang-orang berkuda itupun kemudian telah memasuki
pintu gerbang meskipun agak ragu. Demikian orang terakhir melewati
pintu, maka pintu gerbang itupun telah ditutup kembali. Orang-orang
berkuda itu termangu-mangu sejenak. Ketika mereka melihat isi
Padepokan Bajra Seta, maka jantung merekapun menjadi semakin
berdebar-debar. Di halaman itu para cantrik dalam kelompok-kelompok
kecil ter sebar dibeberapa tempat. Namun nampak betapa mereka
bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu,
Mahisa Murti, mPu Sidikara dan Mahendrapun telah turun pula dari
atas panggung. Suasanapun menjadi tegang. Orang-orang berkuda itu
tidak dapat mengkesampingkan kenyataan yang mereka hadapi, bahwa
Padepokan Bajra Seta memang sebuah padepokan yang besar dan kuat.
Seandainya mereka ingin memaksakan kehendak mereka untuk mengambil
orang-orang yang mereka maksud, m ereka tentu akan menghadapi
k esulitan. Meskipun ada diantara orang-orang berkuda itu
orang-orang yang berilmu tinggi. Namun menghadapi keny ataan
yang ada di Padepokan Seta, maka mereka harus berpikir ulang.
Orang yang bertubuh sedang dan beberapa orang yang
berilmu tinggi diantara orang-orang berkuda itupun telah menyerahkan
kuda mereka kepada kawan-kawannya yang lain, sementara mereka
melangkah beberapa langkah maju. Mahisa Murti, Mahendra dan mPu
Sidikarapun telah melangkah mendekati mereka pula. Dengan nada
rendah mPu Sidikara bertanya kepada orang yang bertubuh kekar "Kau
cari kami berdua ? Apakah kau masih merasa mempunyai persoalan
dengan kami ? Bukankah kami sama sekali tidak merampas uang hasil
rampokanmu itu ?" Orang bertubuh kekar itu mengerutkan dahinya.
Jantungnya serasa berdetak semakin cepat. Namun yang menjawab adalah
orang yang kekurus-kurusan itu "Tidak Ki Sanak. Seandainya
kami m asih mempunyai persoalan, sama sekali tidak ingin membuat
kesalah-pahaman baru. Ju stru kami datang untuk menjernihkan kesalah
pahaman itu.” "Apakah kalian bermaksud baik atau ingin menantang
kami ?" bertanya mPu Sidikara. Orang bertubuh kekurus-kurusan itu
menarik nafas dalamdalam. Ia semakin menyadari, bahwa sulit untuk
memaksakan kehendak mereka terhadap orang-orang padepokan itu.
Untunglah bahwa mereka sudah memakai cara yang lain untuk
melakukan pendekatan dengan seisi padepokan itu. Dengan nada rendah
orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu berdesis "Kami bermaksud
baik Ki Sanak. Justru kami ingin mohon maaf atas kesalahan yang
pernah kami buat." mPu Sidikara termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian Mahisa Murtilah yang mempersilahkan "Jika demikian,
marilah. Kita duduk dipendapa. Kita dapat b erbicara dengan cara
yang lebih baik." Orang-orang itu tidak menolak. Beberapa orang
diantara mereka mengikuti Mahisa Murti, Mahendra dan mPu Sidikara
naik kependapa untuk dapat berbicara dengan lebih baik. Sementara
itu beberapa orang yang lain, masih tetap berdiri di halaman sambil
memegangi kuda-kuda mereka, termasuk mereka yang naik ke
pendapa. Demikian orang-orang itu naik kependapa sementara yang lain
masih berdiri di halaman, maka terjadi pula pergeser
kelompok-kelompok cantrik yang ada di halaman. Wantilan dan Sambega
bergeser kedekat pendapa, sementara kelompok yang lain berdiri
semakin dekat dengan pintu regol yang tertutup. Beberapa orang
cantrik masih tetap berada dipanggungan! Sedangkan yang lain lagi
berdiri disudut bangunan induk Padepokan Bajra Seta. Mahisa Semupun
kemudian telah melangkah mendekati orang-orang berkuda yang
masih berada di halaman bersama dengan tiga orang cantrik. Dengan
ramah Mahisa Semu bertanya kepada mereka "Ki Sanak, kenapa Ki Sanak
tidak ikut naik kependapa ? Bukankah Ki Sanak dapat ikut berbincang,
atau setidak-tidaknya dapat duduk ditempat yang lebih hangat.”
Orang-orang itu memang merasa agak canggung mendapat pertanyaan
demikian. Sebenarnyalah m ereka sedang berjagajaga menghadapi segala
kemungkinan. Jika pembicaraan diantara mereka yang duduk dipendapa
itu tidak menemukan titik temu atau bahkan bersiap untuk segera
bertindak. Namun bagaimanapun juga mereka tidak dapat menutup mata,
betapa para cantrik padepokan itu bersikap. Karena itu, maka seorang
diantara mereka menjawab "Terima kasih Ki Sanak. Biar kami disini
saja menjaga kuda-kuda kami”. "Ku da-kuda itu dapat diikat
dipatok-patok yang sudah kami sediakan dipinggir halaman itu
Ki Sanak" berkata Mahisa Semu. "Terima kasih. Biarlah kami disini "
jawab orang itu. Namun Mahisa Semu masih berkata selanjutnya "Tempat
ini adalah tempat tertutup Ki Sanak. Tidak akan ada kemungkinan
bahwa kuda-kuda itu akan melarikan diri apalagi hilang diambil
orang." "Tentu. Tentu. Kami tahu itu Ki Sanak" jawab orang itu.
"Atau kalian sudah terbiasa terlalu berhati-hati menghadapi
perkembangan persoalan ?" bertanya Mahisa Semu pula. Wajah orang itu
m enegang sejenak. Anak itu masih terlalu muda. Namun sikapnya
nampak meyakinkan. Karena itu, maka orang-orang itu harus menahan
diri. Seorang yang lain justru telah menyahut "Ki Sanak. Kami tidak
akan t erlalu lama berada disini. Karena itu biarlah kami menunggu
disini saja.” Mahisa Semu mengangguk-angguk kecil. Katanya "Jika itu
yang Ki Sanak kehendaki, silahkan." Orang-orang itu tidak menjawab,
sementara Mahisa Semu melangkah meninggalkan orang itu. Tetapi tidak
terlalu jauh. Dipendapa, orang yang kekurus-kurusan itu sebagaimana
yang m ereka sepakati sebelum m ereka memasuki Padepokan itu, telah
menyatakan peny esalannya atas perbuatan orang yang bertubuh kekar
itu. Karena itu, muka iapun kemudian berkata kepada orang yang
bertubuh kekar itu "Kau harus minta maaf” Orang yang bertubuh kekar
itu m emang tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka betapapun
beratnya, tetapi iapun kemudian memandangi mPu Sidikara dan Mahendra
berganti-ganti "Kami mencari kalian untuk minta maaf” "Kaulah
yang mula-mula harus minta maaf" berkata pemimpin kelompok itu
"kau sudah melakukan perbuatan yang tercela sehingga
menimbulkan kesalahpahaman dengan orang-orang Padepokan Bajra Seta."
Orang bertubuh kekar itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
iapun berkata "Aku mohon maaf. Waktu itu kami, maksudku aku dan
orang-orang yang bersamaku waktu itu, bukan kami yang datang
sekarang ini, telah m elakukan satu perbuatan yang justru m
erugikan nama baik kam i sendiri." mPu Sidikara termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian iapun bertanya "Kenapa kau m erasa bahwa
tindakanmu itu telah merugikan nama baikmu sendiri ?" Orang bertubuh
kekar itupun kemudian berpaling kepada orang yang
kekurus-kurusan itu sambil berkata "Aku telah mendapat tegoran dari
para pemimpinku." "Ki Sanak" berkata orang yang bertubuh
kekurus-kurusan itu "Orang ini telah melakukan pemerasan dan bahkan
perampokan dengan mengatas namakan perjuangan yang sedang kami
lakukan. Mungkin maksudnya baik. Ia ingin dengan cepat dapat
mengumpulkan bekal yang m endukung perjuangan kami. Tetapi caranya
justru sangat tercela. Dengan demikian orang-orang terutama
yang langsung menjadi korban, tidak akan mendukung perjuangan
kami .” "Apakah sebenarnya yang kalian perjuangkan ?" bertanya
Mahendra. "Kami adalah sekelompok orang yang menyadari, betapa
pincangnya pemerintahan Singasari sekarang ini. Terutama dalam
hubungannya dengan Kediri. Karena itu, m aka kami ingin
mengembalikan keadaan seperti sebelum Tumapel merampas kekuasaan
Kediri dan kemudian mendirikan Singasari." jawab orang yang
kekurus-kurusan itu. "Jadi itukah yang kalian sebut sebagai satu
perjuangan ?" bertanya mPu Sidikara. "Sebenarnya kami tidak sekedar
berjuang untuk mengembalikan keadaan sebagaimana sebelum Singasari
berdiri. Tetapi kami juga ingin mengembalikan hak yang pernah
dirampas oleh S ingasari. Terutama hak yang luas dari
padepokan-padepokan yang ada di Kediri. Seperti halnya
Padepokan Bajra Seta yang besar ini, pada masa kejayaan
Kediri, padepokan seperti ini akan mendapat dukungan sepenuhnya dari
istana. Bahkan padepokan Bajra Seta tentu akan mendapat bantuan
yang besar sehingga padepokan ini akan berkembang dengan
pesatnya. Nah, Ki Sanak. Jika kekuasaan Kediri pulih kembali, maka
aku berani m enjamin bahwa Padepokan Bajra Seta akan dapat menjadi
padepokan yang jauh lebih besar dari sekarang serta memiliki
berbagai macam perlengkapan yang lebih memadai." berkata
pemimpin kelompok itu. Tetapi orang itu terkejut ketika Mahendra
bertanya "Ki Sanak. Siapakah kau sebenarnya ? Apakah kedudukanmu
sehingga kau berani memberikan janji seperti itu ?" ' Orang itu
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab "Aku adalah
salah seorang Senopati dari pasukan Kediri yang sedang
mempersiapkan pengambil alihan kekuasaan itu ?" "Siapakah yang telah
mengangkatmu ? Sri Baginda di Kediri atau siapa ?" desak Mahendra.
Namun orang itu masih menjawab "Tidak. Tentu tidak. Tetapi Ki Sanak
tidak perlu mengetahui, siapakah yang telah mengangkat aku
menjadi Senapati. Namun yang jela s, aku mempunyai kekuasaan
yang cukup besar sebagaimana seorang Senapati perang
yang menguasai satu wilayah tertentu yang luas." "Dan wilayah
kuasamu sampai ke lingkungan ini yang justru berada di luar
wilayah Kediri ?" bertanya Mahendra pula. "Kua saku meliputi daerah
yang luas sekali. Mungkin orang menganggap bahwa daerah
kuasaku berada diluar daerah Kediri. Tetapi tentu Kediri sekarang
yang kau maksud." "Sudahlah Ki Sanak" berkata Mahendra
"lupakanlah itu. Sebaiknya kita tidak terlalu banyak berharap. Kami
sudah puas dengan keadaan kami sekarang. Padepokan kami sudah
bergerak maju dengan pesat menurut penilaian kami. Karena itu,
biarlah kami berjalan sebagaimana sekarang." "Ki Sanak" berkata
orang yang kekurus-kurusan itu "mungkin para pemimpin padepokan ini
sekarang berpijak pada sikap sebagaimana kau katakan. Tetapi
kenyataan akan berubah di daerah ini. Kalian harus mempunyai
pandangan yang jauh kedepan. Langkah yang cepat yang diambil
oleh para pemimpin di Kediri harus kalian perhitungkan. " "Terima
kasih atas perhatian kalian terhadap Padepokan Bajra Seta ini.
Tetapi kami mohon maaf, bahwa kami tidak dapat berbuat apa-apa."
desis Mahendra. Orang yang kekurus-kurusan itu menarik nafas
dalamdalam. Katanya "Pikirkan untuk bekerja bersama kami Ki Sanak.
Kami tidak akan minta sesuatu dari kalian. Tetapi kami ingin
meyakinkan kalian bahwa masa depan kalian akan menjadi semakin
cerah." mPu Sidikaralah yang kemudian berkata "Ki Sanak. Kami sudah
puas dengan keadaan kami sekarang. Bukan berarti kami menolak kerja
sama dengan siapapun juga. Tetapi tidak untuk tujuan sebagaimana
kalian katakan. " Pemimpin kelompok itu mengerutkan dahinya. Namun
orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu masih berkata dengan
nada rendah "Ki Sanak. Kami hanya menawarkan
kemungkinan-kemungkinan. Semuanya terserah kepada Ki Sanak. Mungkin
saat ini kalian masih belum sempat memikirkan kesempatan yang
terbuka dimasa -masa yang akan datang bagi padepokan kalian.
Namun kami tidak menutup kemungkinan bahwa pada suatu saat Ki Sanak
akan menyediakan diri bekerja bersama kami. Tentu saja dengan sy
arat-syarat yang kita bicarakan bersama. Mungkin kalian
mempunyai sy arat -syarat tertentu untuk dapat menerima uluran
tangan kami." Mahendra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya "Ki Sanak. Aku minta Ki Sanak melupakan kami. Anggap saja
bahwa kami tidak pernah kalian kenal, karena kami tidak akan pernah
dapat bekerja bersama siapapun dengan tujuan sebagaimana yang
Ki Sanak katakan. " "Baiklah" berkata,orang yang
kekurus-kurusan itu "kami tidak akan memaksakan kehendak kami.
Kamipun menyadari bahwa hal itu sekarang tidak dapat kami lakukan.
Tetapi sekali lagi aku katakan, bahwa kami akan selalu membuka
kesempatan kepada Padepokan Bajra Seta untuk bekerja bersama kami.
Karena aku y akin, bahwa kalianpun akan melihat bahwa masa depan
tanah ini adalah milik Kediri." "Terima kasih atas kesempatan
yang terbuka itu Ki Sanak." jawab Mahendra "tetapi sekali lagi
kami beritahukan, bahwa kami bukanlah sekelompok orang yang
kalian maksudkan. " Orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu
menganggukangguk. Sambil berpaling kepada pemimpin kelompok itu ia
berkata "Marilah. Kita tidak dapat m emaksa seseorang untuk
mempunyai dasar pertimbangan yang sama untuk menanggapi satu
persoalan. Karena itu, maka kita harus menghormati sikap yang
berbeda ini. Meskipun kita selalu berharap bahwa pada suatu saat,
akan terjadi pendekatan diantara kita dan Padepokan Bajra Seta."
Pemimpin kelompok itupun mengangguk-angguk pula. Dengan nada rendah
ia menjawab "Ba iklah. Kita tinggalkan tempat ini. Tetapi kita sudah
minta m aaf atas langkah kami yang salah sehingga menimbulkan salah
paham dengan Padepokan Bajra Seta." Orang-orang yang datang ke
Padepokan Bajra Seta itu memang tidak mempunyai pilihan lain. Mereka
memang harus mengakui kenyataan yang mereka jumpai di Padepokan
Bajra Seta. Ternyata padepokan itu terlalu kuat untuk dipaksa
menuruti kehendak mereka. Mereka juga tidak akan dapat memaksa
mengambil orang Padepokan Bajra Seta yang pernah berselisih dengan
orang bertubuh kekar itu. Karena itu, maka beberapa saat kemudian,
maka orangorang yang datang ke Padepokan Bajra Seta itu telah
m inta Mahendra, mPu Sidikara dan Mahisa Murti mengantar mereka
sampai ke regol halaman padepokan. Kawan-kawan mereka yang menunggu
dihalaman telah minta diri pula. Juga kepada Mahisa Semu yang
mendekati m ereka ketika m ereka akan meninggalkan padepokan.
Diregol, para cantrik yang bertugas, bersiap untuk menghadapi segala
kemungkinan. Sementara para cantrik yang diatas panggung
disebelah-menyebelah gerbang tidak melihat kelompok-kelompok lain
diluar padepokan. Demikian pula cantrik yang bertugas di sudut-sudut
belakang padepokan tidak memberikan isy arat apa-apa sehingga tidak
menimbulkan kecurigaan, bahwa kelompok orang berkuda itu datang ber
sama kelompok-kelompok yang lain. Sebenarnyalah bahwa kelompok
itu memang tidak datang bersama kelompok yang lain. Ketika
kemudian pintu dibuka, maka sekelompok orang berkuda itupun segera
keluar lewat pintu gerbang. Diluar pintu orang-orang itu berhenti
sejenak. Beberapa orang sempat melambaikan tangannya kepada penghuni
padepokan itu. Kemudian, sekelompok orang itupun segera melarikan
kuda mereka memasuki gelapnya malam. Sinar-sinar onc or di pintu
gerbangpun kemudian tidak mampu lagi menggapai orang terakhir dari
orang-orang berkuda itu. Dalam pada itu, pintu gerbang Padepokan
Bajra Seta itupun segera ditutup. Sejenak kemudian, maka Mahendra,
mPu Sidikara dan Mahisa Murti telah duduk pula diserambi. Ternyata
kehadiran orang-orang berkuda itu sangat menarik untuk
diperbincangkan. "Apakah niat mereka sebenarnya datang ke padepokan
ini" desis Mahendra "tentu tidak sekedar minta maaf." "Memang sulit
untuk ditebak" sahut mPu Sidikara "tetapi mungkin mereka menyadari,
bahwa apa yang mereka lakukan dapat menimbulkan akibat buruk bagi
kelompok itu sendiri, sebagaimana mereka katakan. Orang-orang yang
menjadi korban tidak akan mendukung mereka dengan sepenuh hati. Pa
dahal m ereka m emerlukan dukungan bukan hanya sekedar memberikan
uang sebagaimana yang diminta. " "Agaknya m ereka ingin memancing
kesediaan kita untuk membantu mereka " berkata Mahisa Murti "mereka
bukan saja memerlukan uang dan benda-benda berharga atau bahan
makanan dan sebagainya, bahkan tenaga manusia sebagaimana pernah
terjadi atas Kabuyutan Bumiagara." Mahendra m engangguk-angguk,
sementara Mahisa Murti berkata "Nampaknya orang-orang yang
pernah mengalami kegagalan itu tidak jemu-jemunya mencoba dan
mencoba lagi." "Usaha mereka agaknya memang tidak akan pernah patah
" desis mPu Sidikara. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya
"Satu hal yang perlu mendapat perhatian dari Sri Maharaja. Bahkan
secara khusus. Meskipun nampaknya hubungan antara Singasari dan
Kediri berlangsung dengan baik, namun usahausaha sebagaimana
dilakukan oleh beberapa orang bangsawan, masih saja berlangsung.
Berganti-ganti orang yang m emimpin perlawanan terhadap kemapanan
hubungan antara Singasari dan Kediri. Sampai saat-saat terakhir
usaha itu memang selalu dapat digagalkan. Tetapi bukan berarti dapat
diabaikan.” Peri stiwa malam itu ternyata telah mendorong Mahisa
Murti untuk minta agar ay ahnya dan mPu Sidikara untuk menunda
keberangkatannya. "Kenapa ?" bertanya Mahendra. "Tidak apa-apa ay
ah. Hanya sekedar untuk menenangkan perasaan. Jika ayah dan mPu
Sidikara berangkat juga besok, maka aku akan m erasa gelisah sampai
aku sempat pergi ke Singasari untuk mey akinkan bahwa tidak terjadi
sesuatu pada ay ah dan mPu diperjalanan ke Singasari." mPu Sidikara
menarik nafas dalam-dalam sambil berkata "Baiklah Ki Mahendra. Kita
tentu tidak ingin membuat angger Mahisa Murti selalu gelisah.
Biarlah keberangkatan kita ditunda satu hari lagi." "Itupun aku
mohon agar tiga orang cantrik diperkenankan mengikuti perjalanan ay
ah dan imjPu berdua ke Singasari. Mereka tidak akan mengawal ayah
dan mPu. Tetapi sekedar memberikan ketenteraman dihatiku. Jika
mereka kembali dua tiga hari lagi, maka mereka akan dapat mengatakan
bahwa perjalanan ayah dan mPu selamat sampai di Singasari.” Mahendra
menarik nafas dalam-dalam. Terbersit perasaan bangga dihatinya atas
kedua anaknya. Seperti juga Mahisa Pukat, maka Mahisa Murtipun
mencemaskannya karena ia sudah menjadi semakin tua. Namun kesadaran
akan kecemasan anak-anaknya itulah yang membuatnya kemudian berkata
"Baiklah. Aku akan menunda perjalananku kembali ke Singasari. Aku
juga tidak berkeberatan jika kau mengirimkan tiga orang cantrik
untuk pergi bersama kami ke Singasari." Mahisa Murti m enarik nafas
dalam-dalam. Bagaimanapun juga sebenarnya ia m erasa cemas, bahwa
ayahnya dan mPu Sidikara akan bertemu atau sengaja dicegat oleh
orang-orang yang baru saja meninggalkan Padepokan Bajra Seta.
Meskipun mungkin mereka tidak tahu bahwa kedua orang yang pernah
mereka temui diperjalanan itu akan menempuh perjalanan kembali ke
Singasari. Demikianlah, maka perjalanan Mahendra dan mPu Sidikara
telah tertunda. Sementara itu, Mahisa Murti telah menunjuk tiga
orang kepercayaannya untuk pergi bersama ay ahnya dan mPu Sidikara
kembali ke Singasari. Seorang diantara mereka adalah Wantilan.
Sedang dua orang yang lain adalah dua orang cantrik terbaik di
padepokan itu. Tetapi orang-orang yang datang ke Padepokan Bajra
Seta sama sekali tidak berniat mencegatnya. Mereka memang tidak tahu
bahwa dua orang yang pernah berselisih paham dengan orang yang
bertubuh kekar itu akan kembali ke Singasari. Apalagi orang-orang
itu masih belum berputus-a sa. Mereka masih akan mencoba untuk
mendekat orang-orang padepokan itu. Sedikit demi sedikit tanpa
menyakiti hati para pemimpinnya. Tetapi ternyata bahwa cara itu
tidak saja ditrapkan pada orang-orang Padepokan Bajra Seta. Orang
yang kekuruskurusan dan berilmu tinggi itu ternyata memiliki pikiran
yang lebih jernih dari para pemimpin kelompok orang-orang berkuda
itu. Jika mereka terbia sa melakukan kekerasan, maka orang
yang bertubuh kekurus-kurusan itu telah mendesak mereka untuk
melakukan cara yang lain. Dengan cermat orang itu mempelajari
kegagalan-kegagalan yang pernah terjadi dimasa -masa sebelumnya.
Kekerasan ternyata tidak banyak membawa hasil. Bahkan memancing
kebencian dan jarak yang semakin jauh dengan orang-orang atau
kelompok atau bahkan rakyat se Kabuyutan yang pernah menjadi korban.
Mungkin cara itu akan dapat memberikan hasil yang lebih baik.
Karena itu, maka yang dilakukan oleh orang-orang yang
mendukung usaha untuk merubah tatanan hubungan antara Smgasan Kediri
itu tidak lagi mempergunakan cara yang keras dan kasar. Mereka
mencoba membujuk, memberikan janjijanji dan harapan bagi banyak
orang. Dalam pada itu, Mahendra dan mPu Sidikara telah memperpanjang
waktunya satu hari satu malam di Padepokan Bajra Seta. Baru dihari
berikutnya, pagi-pagi benar Mahendra dan mPu Sidikara telah bersiap.
Demikian pula tiga orang yang akan meny ertainya pergi ke Singasari.
Menj elang fajar, maka lima orang berkuda telah siap untuk
berangkat. Mahisa Murti m elepaskan mereka dipintu gerbang Padepokan
Bajra Seta. Dengan hati yang berdebar-debar Mahisa Murti
melihat ayahnya yang sudah menjadi semakin tua duduk dipunggung
kudanya. Wajahnya, tubuhnya dan bahkan ketangkasannya sudah tidak
lagi sebagaimana ayahnya beberapa tahun yang lalu. Meskipun sorot
matanya serta wajahnya yang masih menunjukkan ketegaran
jiwanya, namun wadagnya sudah semakin tidak mendukungnya lagi.
Tetapi Mahisa Murti tidak dapat mencegah ayahnya. Ia masih harus
tetap memberikan key akinan kepada ayahnya, bahwa hari-harinya masih
tetap berarti. Bahwa ayahnya bukan seorang yang harus diletakkan
dipintu sentong tengah sebagai hiasan saja. Sebenarnyalah Mahendra
sendiri merasa, bahwa belum waktunya baginya untuk menghabiskan sisa
umurnya dengan duduk bertopang dagu dipringgitan. Demikianlah, maka
sejenak kemudian Mahendra, mPu Sidikara dan ketiga orang yang
meny ertainya itu sudah berpacu menembus bulak-bulak persawahan.
Mereka memacu kudanya semakin cepat. Perjalanan yang mereka
tempuh adalah perjalanan yang panjang. Ternyata apa yang
dicemaskan oleh Mahisa Murti tidak terjadi. Tidak ada gangguan sama
sekali diperjalanan. Juga saat mereka berhenti di kedai untuk
beristirahat dan sekedar minum dan makan. Dengan demikian, maka
perjalanan yang mereka tempuh lebih cepat dari perjalanan m
ereka saat mereka menuju ke Padepokan Bajra Seta, karena mereka t
erhenti beberapa saat diperjalanan untuk meny elesaikan per soalan
yang disebut oleh orang-orang Kediri sebagai satu
kesalah-pahaman. Demikian Mahisa Pukat mendengar bahwa ayahnya
datang, maka iapun segera minta ijin kepada Pangeran Kuda Pratama
untuk menemuinya. "Darimana kau m engetahui bahwa ay ahmu t elah
datang?" bertanya Pangeran Kuda Pratama. "Seorang Pelayan Dalam yang
baru kembali telah melihat ay ah dan mPu Sidikara pulang dari
Padepokan Bajra Seta.” jawab Mahisa Pukat. "Bukankah ayahmu tidak
akan pergi lagi ke m ana-mana?" bertanya Pangeran Kuda Pratama.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Pangeran, ay ah
sudah terlalu tua untuk menempuh perjalanan panjang. Tetapi aku
tidak dapat mencegahnya ketika ay ah berangkat. Karena itu, demikian
ay ah pulang, rasa-rasanya ingin segera mengetahui berita
keselamatannya. " Pangeran Kuda Pratama ter senyum. Katanya
"Baiklah. Pergilah. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu atas ay ahmu
dan mPu Sidikara di perjalanan." Demikianlah maka Mahisa Pukatpun
segera pulang kerumah ayahnya. Meskipun rumah ayahnya juga berada di
halaman istana, tetapi agak jauh menjorok kebelakang, sementara Ka
satrian berada di arah samping istana Singasari. Ketika Mahisa Pukat
naik ketangga rumahnya, maka malampun telah turun. Dipringgitan
Mahisa Pukat melihat Wantilan dan dua orang cantrik padepokannya
duduk bersama mPu Sidikara. Tubuh mereka masih basah oleh keringat.
Sementara itu Mahendra sendiri masih berada di dalam. Mahisa Pukat
berada di rumah ay ahnya sampai jauh malam. Banyak yang
diceritakan oleh Mahendra dan mPu Sidikara, sementara pembantu
dirumah Mahendra itu telah menghidangkan minuman dan makanan bahkan
makan malam. Dalam kesempatan itu pula Mahendra telah mengatakan
bahwa Mahisa Murti akan datang sepekan sebelum dan sesudah hari
pernikahan Mahisa Pukat berlangsung. "Kenapa hanya sepuluh hari?"
bertanya Mahisa Pukat. "Sulit bagi Mahisa Murti untuk m eninggalkan
padepokan terlalu lama." jawab Mahendra "iapun sudah berjanji bahwa
Mahisa Semu dan Mahisa Amping akan ikut serta bersamanya. Kecuali
Wantilan. Ia harus tinggal untuk menunggui padepokan." Mahisa Pukat
memandang Wantilan yang menganggukangguk. Katanya "Paman dapat
datang setelah Mahisa Murti kembali ke padepokan. " Wantilan
tersenyum. Katanya "Sebenarnya aku juga ingin menunggui
pernikahanmu. Tetapi padepokan kita tidak akan dapat ditinggalkan
begitu saja. Meskipun ada orang lain yang dapat berbuat lebih baik
dari padaku, namun rasa -rasanya aku ingin juga ikut menungguinya.
Nah, setelah Mahisa Murti kembali ke padepokan, aku akan
mempertimbangkannya." Demikianlah, maka baru lewat tengah malam
Mahisa Pukat minta diri. Ia tahu bahwa ay ahnya dan mereka
yang baru datang dari padepokan itu perlu beristirahat. Ketika
Mahisa Pukat kembali ke Kasatrian, ternyata bahwa mPu Sidikara telah
kembali pula ke Ka satrian bersamanya. Dalam pada itu sejak
kedatangannya dari Padepokan Bajra Seta, Mahendra telah bersiap-siap
untuk m elakukan upacara pernikahan anaknya sebagaimana telah
disetujui bersama dengan Arya Kuda Cemani. Seperti yang dijanjikan,
maka mPu Sidikarapun telah ikut membantu sejauh dapat dilakukan
disamping tugas-tugasnya di Kasatrian. Ternyata bukan saja mPu
Sidikara, tetapi beberapa orang yang bersama-sama tinggal di
lingkungan istana telah ikut membantunya pula. Bahkan Pangeran Kuda
Pratamapun telah menaruh perhatian yang besar terhadap rencana
pernikahan Mahisa Pukat. Dari hari ke hari kesibukanpun nampak
semakin meningkat. Apalagi dirumah Arya Kuda Cemani.
Persiapanpersiapan telah dilakukan sebaik-baiknya. Pernikahan yang
telah mendapat restu dari Sri Maharaja itu tentu akan banyak
mendapat perhatian dari para pemimpin di Singasari. Apalagi kedua
orang tua dari mereka yang akan menikah adalah orang-orang
yang banyak dikenal dilingkungan istana Singasari. Di
Padepokan Bajra Seta, Mahisa Murtipun telah mempersiapkan diriny a
untuk menghadiri pernikahan Mahisa Pukat dengan Sasi. Bukan hanya
persiapan keberangkatannya sa ja. Tetapi juga per siapan jiwani agar
jantungnya tidak terguncang karenanya. Wantilan yang telah berada
kembali di Padepokan Biijra Seta bersama dua orang cantrik telah
menceriterakan, persiapan-persiapan yang telah dilakukan oleh
Mahendra dan Arya Kuda Cemani menjelang pernikahan Mahisa Pukat
dengan Sasi. "Kau diharap datang sebelum sepekan" berkata Wantilan.
Tetapi Mahisa Murti m enggeleng sambil menjawab "Aku tidak dapat
meninggalkan padepokan ini terlalu lama. Jika orang-orang yang
m engaku orang Kediri itu berbuat sesuatu yang bertentangan dengan
sikapnya yang manis itu, maka padepokan ini tentu akan menjadi
sangat sibuk. " Wantilan mengangguk-angguk. Katanya "Aku mengerti.”
"Sepuluh hari bagiku sudah terhitung waktu yang sangat panjang."
berkata Mahisa Murti kemudian. Wantilan hanya mengangguk-angguk
soja. Namun dalam pada itu, Wantilan m emang m erasa heran. Pada
saat-saat terakhir, menjelang kepergiannya ke Singasari, Mahisa
Murti benar-benar telah tenggelam didalam sanggarnya. Mahisa Semu
dan Mahisa Ampingpun telah ditempa jauh lebih berat dari hari -hari
sebelumnya. Bahkan Wantilan sendiri mendapat kesempatan lebih banyak
pula untuk berlatih bersama Mahisa Murti, sehingga kesempatan itu
menjadi sangat berarti baginya. Bahkan Wantilan yang mempunyai dasar
ilmu yang berbeda dan bahkan hampir saja membinasakannya
perlahan-lahan, telah dapat diluruskan dan bahkan selapis demi
selapis telah meningkat semakin tinggi. Yang kemudian dapat
dibanggakan oleh Wantilan dalam perkembangan ilmunya adalah
kemampuannya dalam ilmu pedang. Kemampuan itu seakan-akan begitu
saja lahir dan berkembang didalam dirinya dengan tuntunan yang tidak
terlalu banyak dari Mahisa Murti. Bahkan kemudian ilmu pedang
Wantilan m erupakan salah satu dari ilmu puncaknya ketika dengan
tuntunan Mahisa Murti, ilmu pedangnya mencapai satu tataran
yang mampu melampaui sekedar kemampuan kewadagan. Meskipun
Wantilan tidak mempunyai senjata sebagaimana dimiliki oleh Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat, tetapi dengan pedang yang dibuat
secara khusus oleh seorang cantrik yang telah pernah berguru pada
para ahli pembuat senjata di Singasari, maka ilmu pedang Wantilan
merupakan ilmu kebanggaannya. Sementara itu, Mahisa Semu dan Mahisa
Amping yang sejak awal mempunyai landasan ilmu yang
diberikan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka kemampuan mereka
telah merambat sampai pada persiapan untuk memahami dasar-dasar ilmu
tertinggi yang dimiliki Mahisa Murti, terutama dari jalur ilmu
yang diwarisiny a dari Mahendra. Kemampuan Aji Bajra Geni.
Namun karena Mahisa Amping masih t erlalu muda, maka Mahisa Murti
tidak dapat memberikan landasan ilmu setataran dengan Mahisa Semu,
agar tidak justru mengganggu perkembangan kewadagan dan kejiwaannya.
Tetapi setapak demi setapak, Mahisa Murti memang berniat untuk
menyiapkan anak itu sebaik-baiknya. Bahkan menurut pengamatan Mahisa
Murti, didalam diri Mahisa Amping tersimpan bekal yang lebih
baik dari anak-anak kebanyakan. Dalam pada itu, Wantilan yang
umurnya sudah lebih banyak dari Mahisa Murti, rasa-rasanya melihat
sesuatu yang asing didalam diri Mahisa Murti, justru menjelang
pernikahan Mahisa Pukat. Wantilan telah menghubungkan keadaan Mahisa
Murti itu dengan saat-saat Mahisa Murti pulang dari Singasari tanpa
Mahisa Pukat. Saat itu iapun melihat sikap yang asing itu yang
perlahan-lahan menjadi semakin samar dan bahkan hilang. Namun tiba
-tiba sikap itu kini dilihatnya lagi. Namun Wantilan itu justru
telah mengagumi Mahisa Murti yang dapat menyalurkan gejolak
perasaannya itu dengan sikap yang justru memberikan arti baginya.
Mahisa Murti yang nampaknya dicengkam oleh kegelisahan itu telah
mengisi waktu-waktunya yang nampak gelisah itu dengan
memperdalam ilmu serta memberikan tuntunan kepada orang-orang yang
ada disekitamya. Termasuk Wantilan sendiri, Mahisa Semu, Mahisa
Amping dan para cantrik. Mahisa Murti tidak memberi kesempatan
kepada dirinya sendiri untuk dilindas oleh perasaannya. Namun ju
stru mendorongnya untuk melakukan pekerjaan yang sangat
berarti baginya dan bagi lingkungannya. Tetapi Wantilan tidak pernah
b ertanya kepada anak muda itu, apakah yang sebenarnya telah
terjadi atasnya. Bahkan sikap Mahendra yang sangat
berhati-hati terhadap Mahisa Murti telah menambah key akinannya,
bahwa telah terjadi sesuatu yang menyentuh perasaan anak muda itu.
Wantilan memang m enghubungkan persoalan itu dengan pernikahan
Mahisa Pukat yang akan berlangsung tidak terlalu lama lagi.
Demikianlah, saat-saat pernikahan itupun menjadi semakin dekat.
Wantilan memang melihat Mahisa Murti menjadi semakin murung. Tetapi
ia menjadi semakin banyak berada di dalam sanggar. Sendiri atau
dengan siapapun juga. Bahkan dengan beberapa orang cantrik terpilih.
Namun dalam pada itu, yang dianggap akan mengganggu padepokan
Bajra Seta oleh orang-orang yang mengaku dari Kediri itu tidak
pernah terjadi. Namun orang yang kekuruskurusan yang pernah datang
ke padepokan itu, telah pernah singgah pula untuk menemui Mahisa
Murti. Orang itu masih sa ja menawarkan kesempatan untuk bekerja
bersaf menyusun keadaan baru dalam hubungan antara Singasari dbn
Ke&ra Namun sy erti sebelumnya, Mahisa Murti sama sekali tidak
tergerak hatinya. Bahkan Mahisa Murti itu berharap agar orang itu
tidak kembali lagi ke padepokannya. Orang yang bertubuh
kekurus-kurusan itu menjadi termangu-mangu karenanya. Dengan nada
rendah ia berkata "Anak muda. Sama sekali tidak ada niatku untuk
menipumu. Aku, berkata sebenarnya, bahwa masa depan tanah ini
tergantung pada keberhasilan perjuangaan kami.” Namun Mahisa Murti
itupun menjawab "Ki Sanak. Kedudukan kami sekarang sudah cukup baik
bagi kami. Kami tidak ingin mendapat lebih banyak lagi." "Anak muda"
berkata orang itu "setiap orang tentu memiliki cita -cita. Setiap
orang ingin mendapat lebih dari yang pernah didapatkannya. Karena
itu, kau yang masih muda, tentu ingin mencapai sesuatu yang
lebih tinggi dari yang telah ada ditanganmu sekarang. " "Kau
benar Ki Sanak. Tetapi yang aku tidak sependapat adalah cara
yang kau tawarkan kepadaku. Pada dasarnya aku tidak ingin
menjadi pemberontak. Mungkin ada sesuatu yang tidak sesuai dengan
jalan pikiranku sekarang ini yang terjadi di Singasari, tetapi jika
aku menghendaki perubahan, aku tidak akan mempergunakan cara
sebagaimana kau tawarkan. " Orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu
menganggukangguk kecil. Tetapi ia masih saja menahan diri. Katanya
"Baiklah anak muda. Mungkin kau masih belum mengerti sepenuhnya
maksud dari perjuangan kami. Tetapi aku y akin bahwa pada suatu saat
kau akan mengerti." "Ki Sanak" berkata Mahisa Murti "aku minta, kau
jangan kembali lagi kemari, karena itu hanya akan membuang-buang
waktu saja. Pendirianku tidak akan pernah goy ah." Tetapi orang
yang bertubuh kekurus-kurusan itu berkata "Aku akan minta
diri. Tetapi aku y akin, bahwa pada suatu saat kau akan mengerti."
Mahisa Murti m enggeleng sambil menjawab "Jangan kau berharap,
karena sebenarnyalah bahwa aku sudah mengerti apa yang kau maksud
dengan penjuangan. Menurut pendapatku, yang kau maksud dengan
perjuanganmu itu tidak lebih dari sebuah pemberontakan. Baik
terhadap Singasari, maupun terhadap Kediri sendiri. " Orang itu
menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Mahisa Murti menyadari, bahwa
orang itu sedang menahan diri karena jantungnya telah bergejolak.
Namun orang itu berusaha tersenyum sambil berkata "Baiklah anak
muda. Aku mohon diri. Aku akan berdoa bagimu, agar kau segera
menyadari kedudukanmu. Kau mempunyai kekuatan untuk m enggapai satu
ujud k ehidupan yang baru yang jauh lebih baik dari sekarang.
Mudahmudahan kau akan bersedia bergerak disaat-saat mendatang. "
"Terima kasih atas kunjunganmu Ki Sanak " berkata Mahisa Murti
"mudah-mudahan kau tidak akan datang lagi kemari jika kau masih saja
ingin berbicara tentang pemberontakanmu. Aku sama sekali tidak
berkeberatan menerima kunjunganmu dan siapa saja, sepanjang tidak
membawa per soalan yang sangat aku benci itu." Orang itu
mengangguk kecil. Katanya "Baiklah. Aku akan selalu ingat akan
kata-katamu. Tetapi aku tidak akan berhenti berharap bahwa kau akan
menemukan satu kesadaran yang sangat berarti bagi masa depanmu."
"Jangan memaksa aku untuk mengusirmu dengan ka sar Ki Sanak" berkata
Mahisa Murti "aku ingin berbuat sebaikbaiknya bagi tamu-tamuku
sepanjang mereka tidak menyinggung perasaanku." Orang itu tersenyum.
Namun kemudian iapun meninggalkan padepokan Bajra Seta. Namun orang
itu menyadari, bahwa anak muda yang memimpin Padepokan Bajra
Seta itu adalah seorang yang m empunyai pijakan yang sangat
kuat atas sikapnya sehingga tidak mudah untuk dapat diguncang.
Demikianlah, sepeninggal orang itu maka Mahisa Murtipun menarik
nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia telah terlepas dari himpitan
perasaan yang terasa menyesakkan dadanya. Pa da saat-saat terakhir,
perasaan Mahisa Murti terasa agak terganggu. Ia sedang berusaha
untuk memantapkan sikapnya menghadapi per soalan pribadinya. Bahkan
Mahisa Murti sedang mempersiapkan dirinya untuk pergi ke Singasari
ketika tiba -tiba saja muncul orang yang kekurus-kurusan itu yang
selalu m enawarkan kemungkinan hari depan yang lebih baik. Hampir
saja Mahisa Murti kehilangan kesabarannya. Namun untunglah bahwa
orang itu tidak m endesaknya sampai batas kesabaran Mahisa Murti.
Demikianlah, hari-haripun berlalu. Di Singasari persiapan hari -hari
pernikahan Mahisa Pukat menjadi semakin mendesak. Rumah Arya Kuda
Cemani sudah mulai sibuk dengan berbagai macam pekerjaan yang
berhubungan dengan upacara pernikahan itu. Namun bagaimanapun juga
perasaan Mahendra sebagai seorang ay ah kadang-kadang terasa
bergejolak pula jika ia mengingat anaknya yang berada di
padepokan yang jauh. Namun ia merasa bersukur bahwa Mahisa
Murti ternyata mempunyai kesabaran, yang luas sehingga jalan
yang dilalui Mahisa Pukat tidak banyak mengalami hambatan,
bahkan tidak menimbulkan benturan kepentingan antara kedua orang
anak laki -lakinya itu. Demikianlah, hari -hari yang semakin dekat
itu telah membuat Mahendra semakin tegang. Namun kebutuhan yang
berhubungan dengan hari pernikahan Mahisa Pukat itu telah
dilengkapinya. Demikian pula dirumah Aiy a Kuda Cemani.
Kesibukannyapun menjadi semakin meningkat. Bahkan
perempuan-perempuan mulai sibuk siang dan malam. Sementara itu Sasi
sudah tidak diperkenankan lagi meninggalkan rumahnya. Beberapa hari
menjelang keberangkatannya ke Singasari, Mahisa Murti memang menjadi
semakin gelisah. Disaat-saat lewat ia m emang dapat mengekang
perasaannya. Meskipun Mahisa Murti telah meyakinkan dirinya, bahwa
ia masih akan tetap mampu mengendalikan diri, namun jika ia melihat
saatsaat Sasi bersanding dengan Mahisa Pukat, maka perasaannya itu
tentu akan tergetar juga. Tetapi apapun yang akan dihadapinya
di Singasari, maka Mahisa Murti memang harus datang. Dalam keadaan
yang rumit itu, Mahisa Murti tidak mempunyai tempat sama
sekali untuk mengurangi beban perasaannya. Ia masih belum dapat m
engatakannya kepada Wantilan. Meskipun Wantilan baginya merupakan
orang yang dituakannya, tetapi rasa -rasanya untuk menyatakan per
soalan pribadiny a dan apalagi menyangkut saudara laki-lakinya yang
juga dikenal baik oleh Wantilan, masih juga terlalu berat. Karena
itu, maka Mahisa Murti telah berniat untuk membawa bebannya itu
sendiri. Di Singasari mungkin ia dapat berbicara dengan ayahnya
sekedar untuk mengurangi berat beban perasaannya itu. Namun
sebelumnya, ia harus memikulnya sendiri. Namun bagaimanapun juga
Mahisa Murti menutupi kegelisahannya itu, Wantilan masih juga dapat
melihatnya. Bahkan kemudian ia dapat juga berbicara dengan Sambega
mengenai anak muda, pemimpin Padepokan Bajra Seta itu. Keduanya
sependapat, bahwa Mahisa Murti memang sedang memikul beban
perasaannya. Namun keduanya tidak ada yang ber sedia
menanyakannya. "Aku tidak tahu, apakah hatinya akan terbuka "
berkata Wantilan. "Apalagi aku orang baru disini " berkata Sambega
"aku masih belum tahu watak dan sifatnya sedalam-dalamnya. Karena
itu, aku takut kalau justru aku melakukan kesalahan. " Wantilan
mengangguk-angguk. Katanya "Jika saja angger Mahisa Murti mau
membuka diri. " Tetapi Mahisa Murti tetap tidak mengatakan kepada
Wantilan dan siapapun di Padepokan Bajra Seta. Meskipun Mahisa Murti
tahu, bahwa Wantilan sebenarnya telah membaca kegelisahan hatinya.
Namun Mahisa Murti m asih belum dapat mengatakan kepadanya. Tetapi
perasaan Wantilan sebagai orang yang lebih tua dari Mahisa
Murti memang sudah m enangkapnya sejak beberapa saat sebelum
hari-hari yang pahit itu datang. Kegelisahan Mahisa Murti semakin
nampak justru semakin dekat hari keberangkatannya ke Singasari.
Tetapi sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti memang pernah berbicara
dengan Wantilan, m eskipun tidak berterus-terang. Namun ungkapan
yang sedikit itu masih belum cukup kuat untuk mendor ong
Wantilan berbicara tentang per soalan yang rumit tentang pribadi
anak muda itu. Apalagi untuk selanjutnya Mahisa Murti tidak pernah
lagi meny inggung persoalan pribadinya itu. Namun menjelang hari
keberangkatannya, ternyata Mahisa Murti telah berdesah tentang
kekalutan perasaannya ketika ia sedang duduk bersama Wantilan dan
Sambega. "Sesuatu sedang menyulitkan perasaanku " desis Mahisa
Murti. Wantilan m enarik nafas panjang. Katanya "Sebenarnyalah kami
melihat kegelisahan pada sikapmu dihari-hari terakhir ini, ngger.
Tetapi aku tidak berani mempersoalkannya karena agaknya ada
yang tersembunyi dihatimu." "Maaf paman" jawab Mahisa Murti
"tidak sepantasny a aku mengeluh dihadapan paman kedua." "Kalau saja
kami dapat membantumu ngger" desis Sambega. "Terima kasih paman. Aku
tahu bahwa paman berdua tentu bersedia membantu memperingan
perasaanku. Mungkin paman akan menghibur aku atau akan memberikan
jalan keluar. Tetapi biarlah, sebaiknya pada kesempatan lain aku
akan mengatakannya." "Tetapi kau membuat kami gelisah" berkata
Wantilan. "Maaf paman" jawab Mahisa Murti "aku sama sekali tidak
berniat membuat paman gelisah. Tetapi aku dapat mengerti kenapa
paman gelisah melihat sikap dan tingkah lakuku. Meskipun aku
berusaha untuk meny embunyikannya. Tetapi sulit bagiku untuk sama
sekali menghapus kesan itu dari permukaan." Wantilan
mengangguk-angguk. Katanya "Aku yang sudah lebih tua ini hanya dapat
menduga-duga, meskipun agak mendekati kebenaran serta sedikit
keterangan yang sebagaimana pernah kau katakan kepadaku. Tetapi
baiklah. Kami tidak akan mengatakan sesuatu sekarang ini. Namun kami
hanya ingin berpesan, agar angger Mahisa Murti tetap mampu
mengendalikan diri apapun yang sedang kau hadapi.” Mahisa
Murti m enarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata "Ya
paman" "Bukankan besok kau akan berangkat ke Singasari ?" bertanya
Wantilan. "Ya paman" jawab Mahisa Murti pula. "Baiklah. Kau akan
tetap sebagaimana kau sekarang, kemarin dan dahulu. Kau adalah
seorang anak muda yang mampu menguasai diri. Kau tidak mudah hanyut
oleh arus perasaanmu. Tetapi kau mampu mencari keseimbangan antara
nalar dan perasaanmu itu.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun
iapun telah menduga-duga, apakah Wantilan benar-benar telah meraba
persoalannya dengan tepat. Namun malam itu Mahisa Murti telah minta
Mahisa Semu dan Mahisa Amping untuk bersiap-siap karena esok mereka
akan pergi ke Singasari. Berbeda dengan Mahisa Murti yang
menjadi murung, maka Mahisa Semu dan Mahisa Amping menjadi gembira
sekali. Mereka akan mendapat kesempatan untuk pergi ke Singasari dan
menyaksikan Mahisa Pukat yang akan menikah. Karena itu, justru
karena mereka seakan-akan tidak sabar lagi menunggu sampai esok,
maka keduanya tidak segera dapat tidur. Mahisa Murti malam itupun
sulit untuk dapat memejamkan matanya namun karena alasan yang
berbeda. Demikianlah, pagi-pagi sekali, mereka bertiga sudah
mempersiapkan diri. Mahisa Semu dan Mahisa Amping sebelum terang
tanah, sudah mandi dan berpakaian rapi. Mereka juga membawa
sebungkus pakaian mereka yang terbaik, yang akan m ereka kenakan
saat pernikahan Mahisa Pukat. Menj elang Ajar meny ingsing maka
mereka bertiga sudah selesai dengan makan pagi. Setelah beristirahat
sambil minum minuman hangat, maka merekapun segera m inta diri k
epada seisi padepokan untuk berangkat ke Singasari.
"Berhati-hatilah" pesan Wantilan "perjalanan Ki Mahendra dengan
angger Mahisa Pukat serta perjalanannya kemudian bersama mPu
Sidikara mengalami hambatan.” Tetapi Mahisa Murti menjawab "Namun
perjalanan paman dari Singasari bukankah tidak mengalami hambatan
apapun ?" "Ya " Wantilan mengangguk-angguk. Lalu katanya
"Mudahmudahan perjalanan angger juga tidak mengalami hambatan. "
Mahisa Murti mengangguk kecil sambil berkata "Doa paman serta seisi
Padepokan Bajra Seta yang aku minta. " Wantilan menarik nafas
dalam-dalam sambil berkata "Kami akan selalu berdoa ngger."
Sebenarnyalah bahwa Wantilan dan Sambega melepas Mahisa Murti dengan
jantung yang berdebaran bukan karena mereka mencemaskan keselamatan
Mahisa Murti di perjalanan. Mereka tahu bahwa Mahisa Murti adalah
orang yang berilmu tinggi, sementara Mahisa Semupun telah disiapkan
untuk mewarisi ilmu yang tertinggi itu pula. Bahkan Mahisa
Amping yang kecil itu sudah memiliki bekal cukup diperjalanan. Namun
yang menggelisahkan Mahisa Murti justru keseimbangan penalaran
dan perasaan Mahisa Murti menghadapi kenyataan di Singasari. Karena
menurut dugaan Wantilan, kemurungan Mahisa Murti tentu ada
hubungannya dengan pernikahan Mahisa Pukat. Demikianlah, sebelum
matahari terbit, ketiga orang itupun telah meninggalkan Padepokan
Bajra Seta. Jalan-jalan yang mereka lalui masih sepi. Tetapi
mendekati padukuhan yang besar diujung bulak panjang, maka mulai
nampak setu dua orang lewat sambil membawa obor. Mereka adalah
orangorang padukuhan kecil terdekat yang akan pergi menjual hasil
kebunnya ke pasar. Tetapi obor berlarak itupun segera dipadamkan,
karena langit telah menjadi semakin terang. Mahisa Murti, Mahisa
Semu dan Mahisa Amping itupun melarikan kuda mereka disegarnya udara
pagi. Seperti bia sa, Mahisa Amping selalu berada dipaling depan.
Dibelakangnya Mahisa Semu sekali-sekali menyusul dan m e]arikan
kudanya disebelah Mahisa Amping. Namun kemudian Mahisa Amping telah
mendahuluinya lagi beberapa langkah. Mahisa Murti mengikuti keduanya
pada jarak tertentu. Jika keduanya menjadi semakin jauh, maka Mahisa
Murtipun melarikan kudanya lebih cepat. Tetapi jika jaraknya m
enjadi terlalu dekat, maka Mahisa Murti telah memperlambat kudanya
pula. Disepanjang perjalanan Mahisa Murti berusaha untuk tidak
mengecewakan kedua orang anak itu. Itupun berusaha nampak gembira
seperti Mahisa Semu dan Mahisa Am ping. Dengan demikian maka
perjalanan itu merupakan perjalanan yang m eny enangkan bagi kedua
orang anak muda itu. Udara terasa segar sementara jalan tidak
terlalu ramai. Namun semakin jauh mereka menempuh perjalanan, maka
mataharipun merambat semakin tinggi dilangit. Panasnya mulai terasa
gatal dikulit. Namun Mahisa Amping masih saja berpacu didepan.
Tetapi sekali-sekali iapun berhenti menunggu Mahisa Semu dan Mahisa
Murti. Ketika kemudian matahari sampai dipuncak langit, maka Mahisa
Amping mulai merasa haus. Mahisa Murti yang melihat keadaannya,
telah mengajaknya berhenti di sebuah kedai yang terletak
disebelah pasar yang sudah mulai menjadi sepi. Namun masih juga ada
sebagian diantara para pedagang yang menunggu orang-orang yang
agak kesiangan pergi berbelanja. Jika Mahisa Murti pergi dan kembali
dari Singasari, ia sudah sering melihat kedai itu. Tetapi selama ini
ia belum pernah singgah di kedai itu. Kedai yang nampaknya cukup
besar dan cukup ramai dikunjungi orang. Seperti Oeberapa buah kedai
yang lain, maka ada orang yang khusus melayani para penunggang
kuda jika mereka memesan makan dan minum bagi kuda mereka. Demikian
pula di kedai itu. Seorang anak muda telah siap m emberikan minum
dan makan bagi kuda Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping.
Sementara itu, maka ketiga orang itupun telah naik dan masuk kedalam
kedai itu. Ternyata didalam kedai itu telah duduk beberapa orang
yang datang lebih dahulu. Sekelompok anak muda duduk disudut kedai
itu. Mahisa Semu yang sempat menghitungnya berdesis "Lima orang anak
muda itu minum tuak. " Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam.
Katanya "Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan." Mahisa Semu
mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian Mahisa Murtipun berkata
"Sudahlah. Jangan t erlalu lama memperhatikan mereka. Anak-anak itu
akan dapat menjadi salah paham." Mahisa Semu mengangguk-angguk.
Sambil duduk iapun berkata "Apakah mereka tidak akan mabuk?"
"Mungkin mereka hanya minum sedikit." jawab Mahisa Murti. Mahisa
Semu tidak bertanya lagi. Ia mulai memperhatikan makanan yang
disediakan di kedai itu. Bahkan Mahisa Amping sempatberdiri didepan
geledeg bambu untuk melihat-lihat jenis makanan yang tersedia.
"Panggil adikmu" desis Mahisa Murti. Mahisa Semupun kemudian telah
mendekati Mahisa Amping dan menariknya, membawanya duduk bersama
Mahisa Murti. Sejenak kemudian, maka Mahisa Murtipun telah memesan
minuman dan m akanan kepada pemilik kedai yang ternyata tidak
begitu ramah bagaimana pemilik kedai yang pernah disinggahinya
disepanjang jalan ke Singasari. Tetapi Mahisa Murti tidak
menghiraukannya. Yang penting baginya, mereka dapat mengobat lapar
dan haus. Demikian pula kuda-kuda mereka. Sementara itu, anak-anak
muda itu masih saja minum tuak. Sebagaimana dilihat oleh Mahisa
Murti, maka di kedai itu memang disediakan tuak. Agaknya para
pembeli tidak pernah dibatasi, berapa saja mereka akan membeli,
minum dan kemudian mulai mabuk. Tetapi agaknya hal yang demikian
sudah terbiasa terjadi di kedai itu. Beberapa orang lain yang
duduk minum dan makan sama sekali tidak menghiraukan mereka. "Lihat,
Mahisa Semu" berkata Mahisa Murti "anak -anak muda itu mulai menjadi
mabuk." Mahisa Semu mengangguk-angguk, sementara Mahisa Amping m
enjadi heran melihat m ereka yang m ulai t ertawatawa dan
berbicara kesana kemari tanpa ujung pangkal. Namun Mahisa Murti
telah memperingatkan kedua adik angkatnya itu sekali lagi "Jangan
memandangi mereka seperti itu. Nanti kalian akan dapat memancing
persoalan. " "Hanya karena dipandangi?" bertanya Mahisa Amping. "Ya.
Apalagi jika mereka menjadi mabuk. Kesadaran mereka tidak lagi dapat
dikendalikan, sehingga m ereka akan berbuat apa saja sesuai dengan
gejolak perasaannya. " jawab Mahisa Murti. Mahisa Semu dan Mahisa
Amping mengangguk-angguk, meskipun diluar sadar, sekali-sekali
keduanya berpaling juga kepada mereka. Namun ketika minuman dan
makanan dihidangi maka Mahisa Semu dan Mahisa Amping memang tidak
lagi menghiraukan beberapa orang anak muda itu lagi. Mereka sibuk
dengan minuman hangat dan makanan yang mereka pesan. Namun dalam
pada itu, ketika pembantu pemilik kedai itu menghidangkan minuman
yang dipesan lagi oleh Mahisa Amping yang kehausan, maka
Mahisa Murtipun berdesis "Ki Sanak. Anak-anak muda itu sudah mulai
menjadi mabuk. Apakah tidak sebaiknya dihentikan saja agar mereka
tidak minum tuak lebih banyak lagi?" Pembantu yang melayani pesanan
itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Tetapi tanpa
tuak, maka kedai ini tidak akan mempunyai b anyak pembeli." "Tetapi
bukankah pembeli yang lain juga tidak memesan tuak sebagaimana
anak-anak muda itu?" desis Mahisa Murti perlahan-lahan. "Tetapi
tidak cukup banyak. Apalagi m enjelang sore hari. Yang banyak
berdatangan di kedai ini adalah anak-anak uda yang pada umumnya
memerlukan tuak. " jawab pembantu itu. "Jika demikian, maka kedai
ini akan dianggap kurang baik bagi kebanyakan orang" berkata Mahisa
Murti "kalian menarik pembeli dari golongan anak-anak m uda
yang sering m abuk tuak, tetapi kalian akan kehilangan pembeli
lain yang tidak senang melihat anak-anak muda sekedar
bermabuk-mabukan sementara orang lain bekerja keras untuk epentingan
m asa depannya dan masa depan keluarganya. " "Tetapi ini adalah
kebijakan pemilik kedai ini, Ki Sanak" jawab orang itu. Mahisa Murti
memang tidak banyak berbicara lagi. Iapun kemudian lebih banyak
memperhatikan minuman dan makanannya sendiri sebagaimana Mahisa Semu
dan Mahisa Amping. Namun Mahisa Murti terkejut ketika kemudian
tiba-tiba sa ja mendengar anak-anak muda yang sudah mulai mabuk itu
tertawa hampir berbareng. Ketika Mahisa Murti, Mahisa Semu dan
Mahisa Amping berpaling, maka m ereka melihat anakanak muda itu
justru memandangi m ereka. Bahkan diantara mereka adalah pemilik
kedai itu. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun pemilik kedai
tu berkata lantang "Nah, lihatlah betapa alimnya orangorang itu.
Mereka mencela kalian yang minum tuak di kedaiku ini." Mahisa Murti
m emang terkejut. Ia tidak mengira bahwa pemilik kedai yang
agaknya mendengar laporan tentang persoalan yang dikatakannya
telah langsung mengambil langkah sesuai dengan kebijaksanaannya itu.
Mahia Murti memang meny esal bahwa ia telah mencampuri persoalan
pemilik kedai itu. Tetapi hal itu sudah terlanjur dilakukannya.
Ketika Mahisa Murti memandang pembantu yang diajaknya
berbicara tentang anak-anak muda yang membeli tuak di kedai
itu, orang itu menundukkan kepalanya. Sementara itu Mahisa Semu
berdesis "Pembantu itu agaknya telah mengatakannya kepada pemilik
kedai ini." "Mungkin maksudnya baik. Mungkin ia sependapat dengan
pendapatku dan m enyampaikannya kepada pemilik kedai itu. Tetapi
pemilik kedai itulah yang ternyata telah menentukan kebijaksanaan
dan tidak mau terubahnya." sahut Mahisa Murti. Mahisa Semu
mengangguk-angguk, sementara Mahisa Amping masih sibuk menyuapi
mulutnya. Tetapi kemudian iapun bertanya "Apa maksud pemilik kedai
itu ?" "Entahlah" jawab Mahisa Murti yang mencoba untuk tidak
menghiraukan lagi sikap pemilik kedai dan anak-anak muda yang mulai
mabuk itu. Tetapi pemilik kedai itu ternyata tidak berhenti sampai
sekian. Ia masih berkata lagi "Kehadirannya telah merusak ketenangan
langganan-langgananku." "Apakah kita harus mengusirnya ?" bertanya
seorang anak muda yang juga sudah mulai mabuk. "Terserah kepada
kalian" berkata pemilik k edai itu "tetapi jangan rusakkan perabot
kedaiku ini." Anak muda itu tertawa. Sementara Mahisa Murti memang
menjadi berdebar-debar. Sebenarnya ia tidak ingin menimbulkan
persoalan. Tetapi ia tidak mengira bahwa pemilik kedai itu m erasa
tersinggung oleh pendapatnya yang dikatakannya kepada pembantunya.
Namun untuk sementara Mahisa Murti masih duduk diam. Ia masih sempat
menelan makanan yang dikunyahnya meskipun ia menjadi gelisah.
Sementara itu, dua orang anak muda telah bangkit berdiri. Tetapi
keseimbangan penalarannya agaknya sudah terganggu. Perlahan-lahan
keduanya mendekati Mahisa Murti yang masih duduk ditempatnya.
Ternyata beberapa orang yang ada di kedai itu tidak menghiraukan apa
yang terjadi. Agaknya sikap anak-anak muda tu sudah sangat sering
dilihatnya sehingga sudah menjadi terbiasa bagi mereka. Kedua orang
anak muda itupun kemudian berdiri dibelakang Mahisa Murti. Sambil
tertawa seorang diantaranya berkata "Ki Sanak. Jika kau tidak senang
m elihat kebia saan kami, sebaiknya kau pergi saja. Jangan sesorah
seperti seorang yang arif dan mengetahui baik dan buruk dengan
sempurna. " Mahisa Murti benar-benar tidak ingin membuat keributan,
Karena itu, maka iapun berkata "Baiklah. Kami akan pergi." "Ternyata
kau cukup bijaksana" berkata salah seorang dari kedua orang anak
muda yang sudah mulai mabuk itu. Mahisa Murti m emang bangkit
berdiri. Ia memberi isyarat kepada Mahisa Semu dan Mahisa Amping.
Apalagi mereka sudah cukup minum dan makan, sehingga mereka akan
dapat meneruskan perjalanan mereka ke Singasari. Kepada pemilik
kedai yang masih berada diantara anakanak muda yang
mulai mabuk itu Mahisa Murti bertanya "Berapa keping aku harus
membayar ?" Pemilik kedai itu tertawa kecil. Katanya "Aku senang kau
singgah dikedaiku Ki Sanak. Tetapi lain kali kau tidak usah sesorah
seperti itu. Kau tidak berwenang untuk merubah kebijaksanaanku,
karena kedai ini adalah kedaiku." "Baik Ki Sanak" jawab Mahisa Murti
"tetapi berapa aku harus membayar ?" "Kali ini kau mendapat
perlakuan khusus. Kau tidak usah membayar asal kau cepat pergi,"
jawab pemilik kedai itu. Wajah Mahisa Murti menjadi merah sesaat. Ia
merasa tersinggung oleh kata-kata itu. Apalagi ketika kemudian
terdengar anak-anak muda itu tertawa meledak. Bahkan beberapa orang
lain di kedai itu tertawa pula. Mahisa Murti menarik nafas
dalam-dalam. Ia mencoba untuk mengendapkan perasaannya yang mulai
bergejolak. Namun Mahisa Murti masih berusaha untuk menahan diri.
Tetapi diluar dugaan, maka Mahisa Amping justru berkata "Bukankah
kebetulan sekali, kakang. Kita tidak usah membayar harga minuman dan
makanan yang sudah kita makan dan kita minum. Lain kali kita datang
lagi ke kedai ini dan sesorah lagi. Nah, kita akan mendapat
perlakuan khusus dan tidak perlu membayar lagi. " "Sst " Mahisa Semu
berdesah. Tetapi anak itu justru menjawab "Bukan salah kita. Bahkan
jika kita membawa sebungkus besar makanan, maka kita t idak akan
membayarnya. " Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Sementara Mahisa
Semu yang mengetahui maksud Mahisa Murti agar tidak timbul
keributan, telah menggandeng Mahisa Amping dan menuntunnya keluar.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Semu juga merasa tersinggung karena sikap
pemilik kedai itu. Tetapi Mahisa Semu sudah dapat mengekang dirinya.
Sementara Mahisa Amping yang sudah tumbuh remaja itu, masih belum
dapat memilih sikap yang sebaik-baiknya sesuai dengan sikap
Mahisa Murti. Bahkan ia masih juga berkata keras-keras "Mereka
mengira bahwa kakang Mahisa Murti tidak mempunyai uang untuk
membayar harga makanan dan minuman itu. " "Cukup" teriak pemilik
kedai yang memang tidak begitu ramah itu "aku sudah berbuat
sebaik-baiknya bagi kalian yang mencoba untuk mengganggu ketenangan
kedai ini. Tetapi kalian masih juga banyak tingkah." Mahisa Amping
yang agaknya masih akan berbicara lagi telah didahului oleh Mahisa
Semu. Katanya hampir berbisik " udahlah Amping. Kakang Mahisa Murti
tidak ingin terjadi keributan. " Mahisa Amping mengerutkan
keningnya. Namun semuanya sudah terlanjur dilakukannya. Pemilik
kedai itu sudah terlanjur marah. Karena itu, ketika kemudian Mahisa
Murti bergerak pula keluar, maka pemilik kedai itu menyusulnya
sampai diluar pintu sambil berkata lantang "Anak tidak tahu diri.
Apa sebenarnya yang kau kehendaki." Mahisa Murti memberi isy arat
agar Mahisa Amping tidak menjawab. Bahkan iapun m emberi isyarat
agar m ereka pergi ke kuda mereka dan meninggalkan tempat itu.
Tetapi anak-anak muda yang sudah mulai mabuk itu telah menyusulnya
pula turun ke halaman. Bahkan seorang yang sudah lebih tua lagi yang
tidak m abuk, telah pula berada di halaman. Dengan suara serak orang
yang lebih tua itu berkata "Kenapa kau sengaja membuat keributan di
tempat ini ? Kal ian tentu sekedar orang lewat. Kami adalah
orang-orang yang tinggal disekitar tempat ini. Kami tidak pernah
merasa terganggu oleh perbuatan anak-anak muda itu. Justru kenapa
kalian mencoba untuk menumbuhkan persoalan disini." Mahisa Murti
justru termangu-mangu sejenak. Dua orang anak muda telah berdiri
didekat kuda-kuda Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping. "Ki
Sanak" berkata Mahisa Murti kemudian "kami sama sekali tidak ingin
membuat keributan. Kami hanya sekedar mengatakan pendapat kami. Jika
kalian tidak sesuai, bukankah kami tidak dapat memaksakanpendapat
kami itu.” "Jadi buat apa kalian m engatakan pendapat kalian itu
jika kalian tidak ingin membuat keributan" teriak seorang anak muda
yang pandangan m atanya sudah m ulai berputar-putar karena
pengaruh tuak. "Aku sudah bersedia pergi. Tetapi kalian menahan kami
dengan cara seperti ini." berkata Mahisa Murti. "Karena apa
yang kalian lakukan sudah keterlaluan. Kalian bukan saja
menyatakan pendapat lagi, tetapi kalian sudah menyinggung perasaan
kami, merendahkan kami dan pokoknya perbuatan kalian tidak dapat
kami maafkan." berkata pemilik kedai itu. Mahisa Murti menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat m enyalahkan Mahisa Amping yang
masih sangat muda itu. Karena itu, maka Mahisa Murti yang
sudah tidak lagi dapat menghindar itu ju stru mencoba menjelaskan
pendapatnya "Ki Sanak. Baiklah. Jika persoalannya sudah tidak dapat
dikesampingkan lagi, aku ju stru akan berbicara lebih banyak lagi."
Wajah pemilik kedai itu menjadi panas. Dengan geram ia berkata
"Tidak ada yang perlu kau katakan lagi. " "Ada" jawab Mahisa Murti
"aku akan mengulangi pendapatku, bahwa tidak sebaiknya di kedai ini
disediakan tuak dengan tidak terbatas. Membiarkan anak-anak muda
mabuk disetiap saat. Selagi matahari m asih belum turun ke barat,
anak-anak muda itu telah mulai menjadi mabuk. Ju stru saat -saat
mereka harus bekerja atau melakukan perbuatan apapun yang
berarti. Di sawah, di pategalan atau di rumah atau dimana saja."
"Mereka anak orang-orang yang berkecukupan" teriak pemilik kedai itu
"buat apa mereka harus bekerja keras ?" "Sekarang mereka anak-anak
orang kaya. Tetapi k ekayaan orang tua mereka tidak akan dapat
berkembang engan sendirinya. Bukankah orang tua mereka menjadi kaya
karena mereka bekerja keras ? Seandainya mereka mendapat warisan,
bukankah warisan itu harus dikembangkan agar tidak menjadi semakin
susut dan akhirnya habis tanpa arti sama sekali." "Mereka tidak
perlu berbuat apa-apa lagi. Sawah, ladang, ternak dan kekay aan
mereka akan berkembang dengan sendirinya." berkata seorang yang
lebih tua dari anak-anak muda itu. "Tetapi perbuatan mereka akan
berpengaruh buruk terhadap anak-anak muda yang lain. Anak-anak
muda yang bukan anak orang-orang kaya. Jika mereka meniru anak-anak
orang kaya itu, maka kehidupan mereka akan menjadi semakin sulit.
Sementara itu kehidupan mereka, keluarga mereka dan m asa depan
mereka menuntut kerja keras. Juga kampung halaman mereka, padukuhan
mereka dan Kabuyutan mereka.” "Cukup." pemilik k edai itu berteriak.
em entara itu seorang diantara anak-anak muda yang sedang mulai
mabuk itu melangkah mendekati Mahisa Murti sambil berkata "Jika kau
berbicara sepatah kata lagi, maka aku akan mengoyak mulutmu." Tetapi
yang terjadi adalah diluar dugaan. Mahisa Amping telah
melangkah dan berdiri diantara anak muda yang mulai mabuk itu dengan
Mahisa Murti. Sambil mendor ong anak muda itu kuat-kuat Mahisa
Amping berkata "He orang mabuk. Kau mau apa ?" "Amping" desis Mahisa
Semu. Tetapi Mahisa Amping sudah berdiri bertolak pinggang sambil
berkata "Kalian, orang-orang mabuk. Kalian mau apa ? Dalam keadaan
mabuk, kalian tidak akan dapat berbuat apa -apa. Selagi berdiripun
kalian tidak lagi dapat menjaga keseimbangan kalian." Tetapi anak
muda yang didor ong oleh Mahisa Amping itu menjadi sangat
marah. Dalam keadaan setengah sadar, maka iapun melangkah maju
sambil mengayunkan tangannya. Tetapi tangan itu sama sekali tidak
meny entuh apapun juga karena Mahisa Amping bergeser selangkah
surut. Tetapi ay unan tangannya itu sendiri justru telah menyeretnya
sehingga anak muda itupun menjadi terhuyunghuyung. Apalagi ia dalam
keadaan mulai mabuk. Mahisa Amping memang masih belum dapat berpikir
jauh. Ia masih mengikuti saja gejolak perasaannya. Karena itu,
demikian ia m elihat anak muda itu t erhuyung-huyung, maka Mahisa
Amping justru telah menarik tangannya, sehingga anak muda itu jatuh
terjerembab. Namun dengan demikian, maka tidak ada jalan lagi untuk
menghindari pertengkaran. Mahisa Amping yang masih sangat muda itu
tidak lagi dapat menahan dirinya. Namun Mahisa Amping benar-benar
telah bersiap untuk berkelahi m eskipun anak-anak muda yang
mabuk itu adalah anak-anak muda yang lebih tua dan lebih besar dari
padanya. Mahisa Murti hanya dapat menarik nafas dalam-dalam Tetapi
ia dapat mengerti, bahwa Mahisa Amping menjadi sangat marah kepada
orang-orang yang telah meny inggung perasaannya itu. Bahkan
nampaknya Mahisa Semupun sulit untuk menahan dirinya meskipun ia
berusaha dengan sungguh-sungguh. Karena itu, maka Mahisa Murtipun
tidak lagi ingin mengelak. Bukan karena ia ingin berbuat
semena-mena. Namun ia merasa bahwa sikapnya adalah benar.
Pendapatnya tidak semestinya dianggap sebagai pendapat yang merusak
ketenangan kedai itu. Dengan demikian, m aka Mahisa Murti itu justru
berkata "Aku peringatkan kalian, agar kalian tidak mempergunakan
kekerasan. Aku hanya mengatakan pendapat yang aku yakini benar. Jika
kalian menganggap pendapatku itu salah, itu persoalan kalian. Tetapi
sekali lagi aku katakan, bahwa usaha yang tidak sepantasny a
dilakukan, karena dengan demikian kedai ini sudah ikut mengaburkan
masa depan anak-anak muda yang sering menjadi mabuk di kedai
ini, justru tanpa menghitung waktu.” Orang yang lebih tua dari
anak-anak muda yang mulai mabuk itu justru telah berteriak
"Usir orang-orang ini. Jika mereka melawan, buat mereka menjadi
jera." Anak-anak muda yang sudah mulai mabuk itu mulai
bergerak. Namun Mahisa Murtipun bertanya "Apa hubunganmu dengan
pemilik kedai itu sehingga kau telah ikut mempertahankan sikapnya,
tetapi kau sendiri tidak menjadi mabuk karenanya, atau sama sekali
tidak minum tuak ? Bukankah seharusnya kau peringatkan anak-anak
muda yang terlalu banyak minum sehingga mereka menjadi mabuk itu ?"
"Per setan, apa pedulimu " jawab orang itu "yang penting, kau
harus pergi atau kau akan dihajar disini." Mahisa Murti tidak
menjawab. Ketika Mahisa Semu berpaling kepadanya, maka Mahisa Murti
itupun berkata "Jangan kehilangan kendali diri Semu. Kau sudah dapat
membuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan. Aku akan mengendalikan
adikmu." Mahisa Semu mengangguk kecil. Ia mengerti maksud Mahisa
Murti. Karena itu, maka iapun berusaha untuk tidak berbuat
berlebih-lebihan. Apalagi anak-anak muda itu sedang mabuk. Dalam
pada itu, beberapa orang anak muda telah mengepung Mahisa Murti,
Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Ada diantara mereka yang sudah benar
-benar mabuk. Ada yang baru mulai. Tetapi ada yang masih sadar
sepenuhnya apa yang tengah terjadi itu. Orang yang sudah lebih tua
dari mereka yang sedang mabuk itu serta pemilik kedai itu
justru bergerak menepi. Mereka nampaknya tidak ingin melibatkan diri
dalam perkelahian itu. Namun mereka telah memanas-manasi suasana
sehingga anak-anak muda yang mulai mabuk itu menjadi marah.
Dalam pada itu, Mahisa Murti sendiri tidak langsung ikut larut dalam
perkelahian yang terjadi kemudian. Mahisa Murti mengamati
kedua adik angkatnya itu dengan saksama. Ia tidak ingin keduanya
tidak lagi mampu menahan diri sehingga melakukan tindakan-tindakan
yang berbahaya bagi anak-anak muda yang sedang mabuk itu. Sejenak
kemudian, telah terjadi perkelahian antara Mahisa Semu dan Mahisa
Amping melawan beberapa orang anak muda yang sedang mabuk.
Sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Amping, maka anak-anak muda itu
tidak lagi mampu berkelahi sebaik-baiknya. Ju stru karena
kesadarannya tidak lagi terkendali sepenuhnya, maka kepala merekapun
mulai menjadi pening oleh tuak. Karena itu, maka Mahisa Semu dan
Mahisa Amping mempunyai kesempatan lebih baik untuk mengatasi
lawanlawannya. Meskipun anak-anak muda itu jumlahnya berlipat
banyaknya, namun justru karena mereka tidak menguasai penalarannya
sepenuhnya ada diantara mereka yang tidak berkelahi
sepenuhnya. Mereka hanya saling mendor ong dan bahkan kemudian jatuh
bersama-sama. Tetapi ternyata ada diantara mereka yang masih
sepenuhnya menguasai diri mereka. Jika pengaruh tuak mulai
menggelitik otaknya, maka mereka justru menjadi lebih berbahaya.
Orang-orang itulah yang kemudian mendapat perhatian sepenuhnya oleh
Mahisa Semu sementara Mahisa Amping bermain-main dengan anak-anak
muda yang dengan terhuyung-huyung berputaran disekitarnya.
Sekali-sekali mencoba memukul, namun ketika tubuhnya didorong
kesamping, maka keseimbangannya tidak ingin dapat dikuasainya.
Tetapi tiga orang diantara mereka justru menjadi sangat berbahaya.
Matanya mulai gelisah sementara bau tuak masih berhembus lewat
sela-sela bibirnya. Ketiga orang anak muda itu mulai meny ibak
kawankawannya yang tidak lagi dapat menguasai dirinya sendiri.
Mahisa Semu yang melihat mereka memang menjadi berdebar-debar.
Ia tidak membiarkan anak-anak muda itu bertindak langsung terhadap
Mahisa Amping yang masih saja berloncatan diantara mereka yang
sedang mabuk. Sekali-sekali ia mendorong anak-anak muda itu,
sehingga mereka berjatuhan. Namun kemudian Mahisa Amping itu segera
meloncat surut. Jika ada diantara lawan-lawannya itu menyerangnya,
maka dengan mudah ia dapat menghindar dan membalas meny erang.
Tetapi agaknya tidak demikian dengan ketiga orang anak muda
yang masih mampu menguasai penalarannya sepenuhnya meskipun
otaknya sudah dipengaruhi oleh tuak itu. Ju stru karena itu, maka
ketiganya menjadi sangat garang, sementara tenaganya masih tetap
utuh dan bahkan seakanakan menjadi bertambah-tambah. Ketika
kawan-kawannya menyibak, maka Mahisa Semulah yang dengan cepat
menghadapi mereka sambil berkata "Apa yang akan kalian lakukan Ki
Sanak." "Mengoy ak mulutmu" geram salah seorang dari antara mereka.
Mahisa Semu menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Sebenarnya kami
tidak bermaksud menimbulkan keributan.” Tetapi seorang yang
bertubuh kekar segera memotong "Omong kosong. Kalian sudah
mengacaukan ketenangan kami dengan tingkah laku kalian. Seandainya
kalian dengan suka rela pergi meninggalkan kedai ini, kita tidak
mempunyai persoalan lagi. " "Kami sudah bersiap-siap untuk pergi"
jawab Mahisa Semu. "Tetapi mulut anak itu telah membuat kami sakit
hati." jawab anak muda yang lain. Mahisa Semu tidak menjawab
lagi. Namun ia harus bersiap sebaik-baiknya. Ketiga orang anak muda
itu mulai bergerak menyerangnya. Namun Mahisa Semu yang sudah
terlatih, bahkan sudah mulai b ersiap-siap untuk sampai kepuncak
kemampuan ilmu Bajra Geni, telah bersiap pula menghadapi mereka.
Demikian, maka sejenak kemudian, Mahisa Semu itu telah berkelahi
pula menghadapi ketiga orang anak muda itu. Dengan kemampuannya
yang semakin matang, maka Mahisa Semu berloncatan meny erang
ketiga lawannya berganti-ganti. Namun ketiga orang yang sudah
dipengaruhi oleh tuak itupun berkelahi dengan garangnya. Mereka meny
erang bersama-sama dari tiga arah yang berbeda. Namun ternyata
mereka berhadapan dengan anak muda yang memiliki kemampuan yang
semakin matang. Karena itu, maka tiba -tiba saja salah seorang dari
mereka telah terlempar dan jatuh berguling ditanah. Ketika anak muda
itu berusaha untuk bangkit dan bersiap dan berkelahi lagi, m aka
seorang kawannya yang lainlah yang berteriak kesakitan dan
terbanting jatuh. Tetapi anak-anak muda itu m asih juga tidak
menjadi jera. Meskipun agak kesakitan, tetapi keduanya telah ber
siap pula untuk berkelahi, Sementara itu, seorang kawannya
yang lain, telah m eloncat menjauhi Mahisa Semu sebelum kedua
orang kawannya ber siap. Baru kemudian mereka bertiga berloncatan
mendekat lagi dari arah yang berbeda. Sementara itu, Mahisa
Amping masih juga bermain-main dengan beberapa orang anak-anak muda
yang telah mulai menjadi mabuk. Anak itu justru berlari-lari
berkeliling halaman. Namun kemudian tiba -tiba saja ia meny erang
salah seorang dari mereka yang sedang terhuyung-huyung mengejarnya
sehingga orang itu terjatuh justru menimpa kawan-kawannya. Dengan
demikian, yang dilakukan oleh Mahisa Amping tidak lebih dari
sekedar bermain-main. Sementara itu anak-anak muda yang m
engejarnyapun sudah menjadi jemu pula. Kepala mereka terasa pening
sehingga ada diantara m ereka yang justru m enjadi mual dan m erasa
akan muntah-muntah. Tetapi tiga orang yang menjadi semakin garang
itu m asih berkelahi melawan Mahisa Semu. Mereka berkelahi dengan
sungguh-sungguh. Bahkan mereka menjadi semakin garang oleh pengaruh
tuak, namun yang belum terasa sangat mengganggu kesadaran mereka.
Dalam pada itu, pemilik kedai dan seorang yang meskipun masih nampak
m uda tetapi lebih tua dari anak-anak muda yang mabuk itu,
memperhatikan perkelahian itu dengan kening yang berkerut. Mereka
nampaknya tidak begitu menghiraukan Mahisa Amping. Meskipun mereka
merasa heran juga bahwa anak itu memiliki ketangkasan yang tinggi,
namun mereka lebih m emperhatikan Mahisa Semu. Ternyata Mahisa Semu
sama sekali tidak mengalami kesulitan melawan ketiga orang anak muda
yang berkelahi dengan garangnya. Bahkan anak-anak muda itu telah
mulai merasa kesakitan. Sekali-sekali salah seorang dari mereka
terlempar keluar lingkaran perkelahian yang menjadi semakin keras.
Tetapi wajah kedua orang itu menjadi cemas. Anak-anak muda itu
nampaknya akan kehilangan kesempatan. Bahkan ketika tubuh mereka
menjadi semakin terasa sakit, ny eri dan terasa pedih oleh
goresan-goresan kerikil saat mereka terjatuh, perlawanan merekapun
menjadi semakin mengendor. "Anak iblis itu harus dibuat jera" geram
orang yang sedikit lebih tua dari anak-anak muda yang minum
tuak itu. "Ternyata dengan sedikit kemampuan, mereka berani
mengganggu usaha kita" sahut pemilik kedai itu. "Biarlah aku yang
menghajarnya. Awasi anak yang tertua itu. Nam paknya ia juga
memiliki kemampuan." berkata orang itu. Pemilik kedai itu mengangguk
kecil. Dipandanginya Mahisa Murti yang mengamati kedua adiknya
yang sedang berkelahi. Namun ternyata bahwa ia tidak perlu
mencemaskan Mahisa Amping, karena Mahisa Amping lebih banyak
bermain-main daripada berkelahi. Ia berlari-lari berputaran,
meskipun sekali-sekali ia meny erang juga. Namun anak-anak muda yang
mabuk itu akhirnya tidak menghiraukan anak itu lagi. Mereka
kebanyakan merasa sangat terganggu oleh kepala mereka yang menjadi
pening. Bahkan kemudian perutnya menjadi mual. Sebagian dari mereka
ju stru telah menjatuhkan diri di tangga kedai itu, sementara
tinggal seorang saja yang m asih berusaha mengejar untuk m
enangkap Mahisa Amping. Tetapi Mahisa Amping masih berlari -lari
terus dan sekali-sekali berhenti untuk melawan. Bahkan Mahisa Amping
kemudian telah bersiap untuk berkelahi. Bukan saja berlari-lari.
Sementara itu, orang yang sudah lebih tua dari anak-anak muda
yang mabuk itu melangkah mendekati Mahisa Semu yang m asih
berkelahi melawan tiga orang lawannya. Namun ketiga orang anak muda
itu tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Tubuh mereka sudah terasa
semakin lemah, sementara dibeberapa tempat terdapat noda-noda
kebiru-biruan. Wajah mereka menjadi lembab dan tulang-tulang mereka
terasa ny eri. Goresan-goresan kerikil m ulai menitikkan darah yang
terasa menjadi pedih oleh keringat. Orang yang lebih tua dari
mereka itupun tiba -tiba saja berteriak "Minggir. Biarlah aku
memberinya sedikit peringatan agar anak ini menjadi jera. Jika
tidak, maka ia akan merasa menang dan berbuat lebih buruk lagi
dikemudian hari. " Ketiga orang anak muda yang sudah mulai
dipengaruhi tuak itu termangu-mangu sejenak. Namun ketika orang yang
berteriak itu m elangkah maju mendekati Mahisa Semu, maka anak-anak
muda itu melangkah surut. "Kami tidak dapat membiarkan kau dengan
kebanggaanmu karena kau merasa dapat mengalahkan ketiga orang anak
muda itu. Tetapi ingat, m ereka dalam keadaan mabuk. Jika mereka
memiliki kesadarannya sepenuhnya, maka kau akan mengalami nasib
yang sangat buruk" berkata orang itu. "Aku tidak mulai membuat
keributan disini " jawab Mahisa Semu "aku hanya mempertahankan diri.
" "Saudaramu sudah membuat onar disini. Kau dengan sombong
mengangkat dadamu karena kau merasa menang melawan tiga orang anak
muda. Karena itu, maka kau harus mendapat peringatan agar kau
menjadi jera." geram orang itu. Mahisa Semu termangu -mangu sejenak.
Namun iapun menyadari, bahwa orang itu tentu bukan orang kebanyakan.
Ia sudah melihat, bagaimana Mahisa Semu itu berkelahi melawan tiga
orang anak muda yang sudah mulai dipengaruhi oleh tuak. Sehingga
orang itu tentu sudah mempunyai gambaran tentang kemampuan Mahisa
Semu. Karena itu, maka menghadapi orang itu, Mahisa Semu harus
berhati-hati. Bahkan diluar sadarnya, maka Mahisa Semu telah
berpaling kepada Mahisa Murti. Mahisa Murti tidak dapat berbuat lain
kecuali mengangguk kecil. Ia tidak dapat lagi menarik segala
persoalan yang sudah terjadi di kedai itu. Isy arat itu telah
membesarkan hati Mahisa Semu. Karena itu, ketika orang yang lebih
tua itu bersiap untuk mulai berkelahi, maka Mahisa Semupun telah
bersiap pula. "Kau, kakakmu dan adikmu harus minta maaf kepada kami
semuanya disini, karena kalian sudah mengganggu ketenangan kami."
berkata orang itu. Tetapi Mahisa Semu menjawab lantang "Kalianlah
yang harus minta maaf kepada kami karena kalian telah
mengganggu perjalanan kami. Kami yangberniat baik telah kalian
tanggapi dengan sikap yang buruk sekali. Karena itu, maka
kalian memang pantas untuk mendapat peringatan." "Anak iblis kau "
geram orang itu "aku koyakkan mulutmu." Mahisa Semu tidak menjawab.
Tetapi ia sudah bersiap sepenuhnya untuk menghadapi orang itu.
Sebenarnyalah sejenak kemudian orang itu telah m eloncat menyerang,
sehingga Mahisa Semu harus bergeser meng hindarinya. Tetapi agaknya
orang itu sudah benar-benar menjadi marah. Dengan garangnya orang
itu m emburu dan menyerang beruntun sehingga Mahisa Semu harus
berloncatan mundur untuk mengambil jarak. Meskipun demikian, jantung
Mahisa Semu sama sekali tidak tergetar karenanya. Dengan cermat ia
mengamati tatanan gerak lawannya. Namun kemudian, anak muda itu
telah bangkit untuk melakukan serangan-serangan pula. Yang terjadi
kemudian bukan sekedar perkelahian antara orang-orang mabuk. Tetapi
dua orang yang dengan penuh kesadaran mempergunakan kemampuannya
untuk mengalahkan lawannya. Dengan demikian maka perkelahian itu
semakin lama menjadi semakin keras. Ternyata orang yang lebih
tua dari anak-anak muda yang mabuk itu memang memiliki
kemampuan olah kanuragan. Mahisa Murti yang memperhatikan
perkelahian itu mengerutkan dahinya. Ia mulai m enduga, bahwa orang
yang berkelahi dengan Mahisa Semu itu adalah orang yang memang
diupah oleh pemilik kedai itu untuk mengamankan kebijaksanaan
pemilik kedai itu. Dengan keras dan bahkan kasar orang itu meny
erang sejadi-jadinya. Tetapi Mahisa Semu yang terlatih itu
masih tetap mampu m engimbanginya. Bahkan kemudian perlahanlahan
Mahisa Semu mulai mengatasinya. Namun orang itu juga bukan orang
kebanyakan. Seranganserangannya menjadi semakin keras. Orang itu
berloncatan dengan cepatnya, sementara tubuhnya seakan-akan menjadi
sangat ringan. Tetapi Mahisa Semu ternyata mampu mengimbangi
kecepatan geraknya. Meskipun Mahisa Semu masih muda, tetapi ia tidak
segera menjadi gelisah melihat kemampuan lawannya. Dengan
mengerahkan kemampuannya, maka beberapa kali Mahisa Semu justru
berhasil memotong gerak lawannya, sehingga lawannya itu justru
terkejut karenanya. Lawannya yang melihat Mahisa Semu m
engalahkan ketiga orang anak muda yang telah dipengaruhi oleh
tuak itu memang sudah menduga bahwa anak muda itu memiliki landasan
ilmu kanuragan. Tetapi ia tidak mengira bahwa tataran kemampuan ilmu
kanuragan anak muda itu sedemikian tinggi baginya, sehingga akhirnya
ia mengalami kesulitan. Tetapi ada satu hal kelebihan orang itu. Ia
lebih tua dari Mahisa Semu. Iapun ternyata memiliki pengalaman
yang luas bertualang didunia kekerasan. Karena itu berdasarkan
atas pengalamannya, maka ia masih dapat bertahan lebih lama. Bahkan
sekali-sekali ia masih juga mampu membuat tipuantipuan sehingga
Mahisa Semu kadang-kadang terkejut karenanya. Meskipun demikian,
ketangkasan Mahisa Semu memang membuat lawannya kadang-kadang harus
berloncatan mundur. Kaki Mahisa Semu seakan-akan menggapai-gapai
tubuhnya kemanapun ia menghindar. Sementara itu, kedua tangannya
dengan rapat m elindungi tubuhnya dari seranganserangan lawannya
yang dengan tiba-tiba menerpanya. Demikianlah, perkelahian itu
m enjadi semakin seru. Pada saat -saat yang gawat, maka
serangan-serangan Mahisa Semu sempat masuk menembus pertahanan
lawannya. Ketika lawannya mengayunkan tangannya kearah kening Mahisa
Semu, maka Mahisa Semu dengan cepat merendah. Demikian tangan
lawannya itu terayun, maka dengan cepat kaki Mahisa Semu yang
memiringkan tubuhnya itu terjulur langsung mengenai bagian bawah
ketiak lawannya. Lawannya itu terdor ong surut. Tetapi dengan
berputar satu lingkaran dan sedikit merendah, iapun segera
mempersiapkan diri. Ketika kemudian Mahisa Semu meloncat m
emburunya, maka Mahisa Semu justru terkejut. Lawannya itu sempat
bergeser selangkah kesamping. Namun kemudian ia meloncat maju dengan
tangan kawannya yang terjulur lurus. Untunglah bahwa Mahisa
Semu sempat memiringkan kepalanya, sehingga yang dikenai serangan
lawannya itu hanyalah daun telinganya Meskipun demikian rasa-rasanya
daun telinganya itu menjadi panas. Bukan saja karena sengatan rasa
sakit. Tetapi juga kemarahan yang menerpa jantungnya. Karena
itu, maka Mahisa Semu menjadi semakin garang pula. Jika semula ia
masih menghormati lawannya yang umurnya lebih tua daripadanya, maka
kemudian, Mahisa Semu seakan-akan telah m elupakannya. Anak muda itu
telah mengerahkan tenaga dalamnya sejauh tingkat kemampuannya. Namun
demikian, tenaga Mahisa Semu itu seakan-akan telah menjadi berlipat.
Dengan demikian, m aka serangan-serangan Mahisa Semu menjadi semakin
kuat dan semakin keras, sehingga dengan demikian, maka lawannya itu
menjadi semakin mengalami kesulitan. Pemilik kedai itu mulai menjadi
gelisah. Anak itu ternyata bukan anak muda kebanyakan. Ia memiliki
kelebihan dari bukan saja anak-anak muda sebay anya. Tetapi
orang-orang yang lebih tua dan lebih berpengalaman. Sebenarnyalah
bahwa Mahisa Semu semakin lama semakin menguasai lawannya.
Seranganserangannya menjadi semakin cepat dan semakin keras. Bahkan
semakin banyak seranganserangannya yang mampu menyusup dan
menguak pertahanan lawannya. Dengan demikian, maka keadaan orang itu
menjadi semakin sulit sementara Mahisa Semu sudah terlanjur menjadi
marah. Ketika serangan kakinya mengenai lam bung lawannya, maka
lawannya itu telah terdorong beberapa langkah surut. Namun Mahisa
Semu masih memburunya. Serangan berikutnya dilontarkannya dengan
kakinya pula. Sambil memiringkan tubuhnya, maka serangannya datang
meluncur dengan derasnya. Orang itu tidak sempat menghindar.
Serangan kaki itu ternyata tepat hinggap didadanya. Ternyata
serangan itu telah m engakhiri perlawanan orang itu. Ia terdor ong
dengan derasnya dan tidak lagi mampu mempertahankan keseimbangannya.
Orang itupun kemudian telah jatuh terlentang. Demikian kerasnya
sehingga tulang punggungnya serasa akan patah. Ketika orang itu
berusaha untuk bangkit, maka ia hanya dapat meny eringai menahan
sakit. Bahkan kemudian terdengar ia mengerang kesakitan. Sementara
itu, pemilik kedai itupun menjadi gelisah. Mahisa Murti yang tidak t
erlibat dalam perkelahian itu telah berdiri didekat pemilik kedai
itu. Dengan nada dalam ia berdesis "Ki Sanak. Apakah kau akan
membantunya. Kau lihat, tidak ada yang dapat melawan adikku
itu. Tetapi jika kau ingin, maka kau dapat melakukan. Atau kau akan
mencobai aku sebagaimana pesannya tadi. Bukankah kau tadi dipesan
untuk mengawasi aku." Pemilik kedai itu berdiri termangu-mangu.
Namun ketika Mahisa Murti menggeram, maka ia mulai menjadi gemetar.
"Aku memiliki kemampuan berlipat dari adikku itu. Nah, jika kau
ingin mencobanya, m arilah. Aku akan mengajarimu agar kau
sekali-sekali mau mendengarkan pendapat orang lain.” Tetapi pemilik
kedai itu justru berkata dengan suara bergetar "Ki Sanak. Kami mohon
maaf. Jangan sakiti kami." "Tetapi kawan-kawanmu sudah terlanjur
kesakitan " desis Mahisa Murti "supaya adil, maka kaupun harus
disakiti." "Ampun. Aku mohon ampun Ki Sanak. Aku tidak akan
mengulangi kesalahan ini." Mahisa Murti termangu-mangu sejenak.
Sementara itu, Mahisa Amping berdiri bertolak pinggang. Ternyata ia
berkelahi dengan salah seorang anak muda yang m abuk itu.
Namun tidak t erlalu lama, karena anak muda itu dengan mudah
didorongnya jatuh. Bahkan beberapa kali. Mahisa Semupun masih b
erdiri termangu-mangu. Namun kemudian katanya "Ki Sanak. Marilah.
Aku ingin berbicara dengan kau dan kawanmu itu." Pemilik kedai itu
termangu-mangu sejenak. Ketika ia melihat disekitarnya, ternyata
masih ada beberapa orang yang berdiri dihalaman kedainya itu. Justru
bukan orang-orang yang semula ada di kedai itu. Mereka datang ketika
mereka mendengar telah terjadi perkelahian di halaman kedai itu
antara beberapa orang lewat yang sempat singgah dan dianggap
mengganggu ketenangan orang-orang yang sering ribut di kedai itu
karena mabuk. Mahisa Semupun kemudian melangkah mendekati lawannya
yang punggungnya serasa patah itu. Katanya "Bangkit dan dengar
kata-kata kakakku." "Punggungku sakit sekali" desis orang itu. "Kau
mau bangkit atau aku patahkan kakimu?" geram Mahisa Semu sambil
menangkap pergelangan kaki orang itu. "Jangan. Jangan" minta orang
itu. "Jika demikian, cepat bangkit, sebelum aku kehabisan
kesabaran." bentak Mahisa Semu. Dengan susah payah sambil meny
eringai kesakitan orang itu mencoba untuk bangkit. Betapapun
sakitnya, namun ia tidak ingin kakinya dipilin oleh anak muda itu
sehingga patah. Sementara itu Mahisa Amping sambil bertolak pinggang
membentak anak muda yang mabuk itu "Bangun. Dengar kakakku
berbicara. Kau dan kawan-kawanmu harus merangkak mendekat dan
mendengarkan kata-katanya. " Tetapi Mahisa Murtilah yang kemudian
memanggilnya. Demikian Mahisa Amping mendekat, Mahisa Murtipun
berkata "Mereka sedang mabuk. Sulit untuk mengerti katakatamu."
Mahisa Amping termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dua orang
diantara anak-anak m uda yang m abuk itu telah muntah-muntah
di halaman itu. Mahisa Amping memalingkan wajahnya sambil berdesis
"Mereka harus dihukum." "Bukan kita yang akan menghukumnya."
jawab Mahisa Murti. "Siapa?" bertanya Mahisa Am ping. "Kita akan
berbicara dengan pemilik kedai itu " desis Mahisa Murti. Mahisa
Amping justru termangu-mangu. Namun ia tidak menjawab lagi. Orang
yang kesakitan punggungnya dan pemilik kedai itupun kemudian
berdiri dengan wajah pucat dihadapan Mahisa Murti. Sementara
beberapa orang datang dari rumahrumah yang tidak terlalu jauh dari
kedai itu, serta beberapa orang yang masih berada di pasar
disebelah. Sebelum Mahisa Murti bertanya kepada kedua orang itu,
Mahisa Murti ju stru bertanya kepada orang-orang yang berkerumun
"Nah, apakah kata kalian tentang kedai ini?" Seorang yang rambutnya
sudah mulai ubanan m elangkah maju mendekat sambil berkata "Apakah
maksud angger sebenarnya? Apakah yang angger maksud tentang
anak-anak muda yang sering bermabuk-mabukan di kedai ini?" "Ya "
jawab Mahisa Murti "apakah tidak ada akibat bagi para penghuni rumah
disekitar tempat ini atau mereka yang masih berada di pasar itu?"
Orang yang berambut ubanan itu menarik nafas dalamdalam.
Katanya "Sebenarnyalah bahwa sudah agak lama kami ingin berbicara
tentang hal itu. Tetapi pemilik kedai ini agaknya tidak senang
mendengarkan pendapat kami." "Tidak " sahut pemilik kedai itu dengan
serta merta. “Bukan maksudku. Tetapi selama ini memang tidak ada
orang yang memberi aku petunjuk." "Kau jangan mengada-ada " bentak
Mahisa Murti "ketika aku menyatakan pendapatku, kau langsung menjadi
m arah. Kau panasi hati anak-anak muda itu, sehingga mereka
menyerang kami." "Tetapi, bukan maksudku menolak pendapatmu ngger "
jawab pemilik kedai itu. "Ingat. Aku dapat berbuat apa saja
terhadapmu. Aku dapat memukulmu sampai kepalamu menjadi retak. Kau
lihat, bahwa orang-orang yang datang sekarang tidak semuanya akan
membantumu." "Tetapi aku mau m endengarnya" orang itu mulai m enjadi
gagap. Ketika Mahisa Murti memandanginya dengan wajahyang
bersungguh-sungguh orang itu berkata dengan suara yang menjadi
gemetar lagi. "Ya. Ya. Aku akan mendengarnya." Sementara itu Mahisa
Murti bertanya kepada orang yang rambutnya mulai beruban itu
"Bagaimana pendapat kalian? "Anak-anak muda yang mabuk itu
kadang-kadang memang mengganggu," jawab orang itu bahkan tidaa
mengenal waktu" Mahisa Murti mengangguk-angguk kecil. Sementara
seorang perempuan berkata "Anakku mulai minum tuak juga." Mahisa
Murti memandangi pemilik kedai itu dengan tajamnya. Sementara itu
pemilik kedai itu menjadi semakin cemas. Orang-orang yang biasanya
berdiam diri dan tidak berani m enyatakan sikapny a itu, telah mulai
m engungkapkan perasaan mereka. Seorang demi seorang akan terpancing
untuk menyatakan pendapatnya. Sebenarnya bahwa orang-orang
yang tinggal disekitar kedai itu serta orang-orang yang
terbiasa berada di pasar, ternyata sependapat, bahwa kedai yang meny
ediakan tuak itu kurang bijaksana. Apalagi pendapat beberapa orang
perempuan yang anaknya sudah mulai dipengaruhi oleh tuak. Mahisa
Murtipun mengangguk-angguk sambil berkata kepada pemilik k edai itu
"Nah, kau dengar pendapat mereka. Mereka sebenarnya berkeberatan.
Tetapi aku tidak tahu kenapa mereka selama ini hanya berdiam diri
saja. Mungkin karena kau memiliki seorang upahan yang berilmu
sebagaimana orang yang ternyata tidak dapat mengalahkah adikku
itu." Tetapi orang itu tiba-tiba saja menyahut meskipun m asih harus
menyeringai menahan sakit "Aku bukan orang upahan." "O" Mahisa Murti
berpaling kepadanya "jadi kenapa kau pertaruhkan dirimu untuk
membelanya ? Jika kau m enerima upah untuk pekerjaan itu, maka
namanya kau orang upahan, karena upah itulah yang menentukan, apakah
kau akan melakukan pekerjaan itu atau bukan." "Tetapi aku bukan
orang upahan " jawab orang itu. "Jadi kenapa ?" desak Mahisa Murti.
Orang itu justru menjadi ragu-ragu. Tetapi pemilik kedai itulah
yang kemudian menjawab Orang itulah yang memberikan tuak
kepadaku. Semakin banyak anak-anak yang minum, maka semakin banyak
pula tuaknya laku." Mahisa Murti berdesah perlahan. Katanya "Jika
demikian, maka kalian berdualah yang bertanggungjawab jika
semakin banyak anak-anak muda yang menjadi terbiasa m inum tuak.
Mereka akan menjadi ketagihan. Bahkan semakin lama mereka minum
semakin banyak. Tuak kalian memang menjadi semakin laris. Tetapi
apakah kalian berpikir tentang akibatnya yang dapat terjadi atas
anak-anak muda itu ? Lihat, apa yang telah mereka kerjakan sejak
pagi sampai sesiang ini ? Dudukduduk, minum tuak, mabuk kemudian
muntah-muntah dan tidur atau m engganggu orang lain. Sementara itu
anak-anak muda yang lain sedang sibuk bekerja keras untuk membentuk
masa depan mereka.” Pemilik kedai dan orang yang kesakitan di
punggungnya itu tidak menjawab. Namun Mahisa Murtipun berkata terus
"Nah, sekarang terserah orang-orang yang tinggal disekitar
kedai ini. Kalian harus mendengarkan pendapat mereka. Aku sendiri m
emang sering lewat jalan ini. Aku sudah m elihat orang keluar masuk
kedai ini, termasuk anak-anak muda. Tetapi baru sekarang kami sempat
singgah disini dan m enyaksikan apa yang ada didalam kedai
ini." Pemilik kedai dan orang yang kesakitan punggungnya itu
hanya menundukkan kepala mereka saja. Tetapi mereka sama sekali
tidak menjawab. Dalam pada itu, Mahisa Murti masih berkata kepada
orangorang yang mengerumuninya "Ki Sanak. Selanjutnya terserah
kepada kalian. Jika kalian memang menentang, maka sebaiknya kalian
berbicara berterus-terang kepada pemilik kedai. Sementara itu,
kalian jangan tergesa -gesa membebankan semua kesalahan kepada
anak-anak muda itu. Mereka harus mendapat bimbingan dan petunjuk
bahwa apa yang mereka lakukan bukan jalan terbaik bagi kehidupan
mereka kelak.” Seorang yang berambut ubanan itu berkata "Kami
memang memerlukan satu saat yang mengejutkan seperti ini. Dengan
demikian, m aka anak-anak itu akan m elihat kenyataan yang mereka
hadapi. Mereka semua sama sekali tidak menghargai apa yang
telah ditentukan oleh banyak orang serta pemisahan anggapan atas
yang baik dan yang buruk.” Pemilik kedai dan orang yang
punggungnya bagai patah itu semakin menunduk. Kemudian seorangpun
berkata lantang "Kita akan m enutup kedai itu, nanti kalian pergi,
maka kami masih berteka-teki, apakah akan ada perubahan yang terjadi
di kedai ini. Bahkan mungkin kami, yang tentu akan dapat dikenali
oleh pemilik kedai dan pembuat tuak itu, akan diancam oleh bahaya
yang tidak akan dapat kami elakkan." "Jangan takut" berkata Mahisa
Murti "hal itu tidak akan terjadi. Setelah aku mengetahui keadaan
ini, maka tempat ini akan selalu diawasi oleh para prajurit
Singasari." "Prajurit Singasari ? Bukankah Singasari masih jauh ?"
bertanya orang bertubuh kecil itu. "Ya. Singasari memang masih jauh.
Tetapi prajurit itu akan datang dan menghubungi bebahu Kabuyutan
yang membawahi tempat ini. Para prajurit itu akan dapat membicarakan
persoalan kedai ini dengan Ki Buyut dan para bebahunya, sehingga
pengawasan sehari-hari kedai ini ada ditangan mereka." "Bagus"
berkata orang bertubuh kecil itu. Agaknya ia memiliki keberanian
untuk berbicara lebih terbuka dari kawan-kawannya m eskipun tubuhnya
kecil. Kemudian iapun berkata pula "sebaiknya para prajurit itu
memang berbicara dengan Ki Buyut. Jika mereka hanya berbicara dengan
Ki Bekel, maka tidak akan ada artinya lagi." "Kenapa ?" bertanya
Mahisa Murti. "Kita disini semuanya tahu, apa yang dilakukan
oleh Ki Bekel. Tetapi tidak seorangpun diantara kami yang
berani berbicara. Kamipun tidak tahu dengan siapa kami harus
berbicara." "Apa ?" bertanya Mahisa Murti. "Pemilik kedai dan
pembuat tuak itu memiliki ilmu dan kemampuan. Sedangkan Ki Bekel
mempunyai kekuasaan yang juga bersandar pada kekuatan beberapa orang
bebahunya. Sementara itu tuak menghasilkan uang. Nah…” Tetapi
seorang yang lain berteriak "Bakar saja gubug yang telah
menyesatkan itu. Dua adikku mulutnya telah mulai berbau tuak.
Kelakuannya sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Mereka juga sering
berada dikedai ini." Sementara itu, m aka Mahisa Murtipun berkata
"Baiklah. Kami serahkan pemilik k edai itu kepada kalian, apapun
yang akan kalian lakukan. Namun satu hal yang perlu aku
pesankan, kalian harus memperlakukan mereka sebagaimana kalian
memperlakukan sesama, karena mereka juga mempunyai perasaan serta
nalar budi." "Kami akan menghukum mereka " teriaki seseorang. "Itu
tidak perlu " jawab Mahisa Murti "t etapi kalian harus yakin, bahwa
di kedai ini tidak akan dijual tuak.” Pemilik kedai itu
termangu-mangu. Namun kemudian Mahisa Murti berkata sekali lagi "Aku
akan sering lewat jalan ini. Karena itu, maka kalian harus melakukan
apa yang seharusnya kalian lakukan menurut pertimbangan nalar budi
kalian. Meskipun sekali lagi aku peringatkan, mereka harus
diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan diri sendiri. "
Demikianlah, maka Mahisa Murtipun kemudian berkata "Aku mengerti.
Sekarang akan melanjutkan perjalanan. Jika terjadi sesuatu, maka aku
akan cepat mengerti." Orang-orang yang berkerumun itupun
menganggukangguk. Ketika seorang yang bertubuh kecil meny eruak
kawan-kawannya dan kemudian berdiri dipaling depan, Mahisa Murtipun
bertanya "Ada yang akan kau katakan ?" "Ya " jawab orang itu
"selama ini diantara kami m emang tidak ada yang berani
berbuat sesuatu. Pemilik kedai dan orang yang membuat tuak itu
adalah orang-orang yang ditakuti. Mereka dapat berbuat apa saja
terhadap kami. Jika uang itulah pusar dari persoalan yang sebenarnya
kami hadapi disini, sehingga Ki Bekelpun tidak bemiat untuk
menghentikan penjualan tuak di kedai ini." Mahisa Murti
mengangguk-angguk. Katanya "Aku mengerti sekarang apa yang terjadi
disini. Baiklah. Aku berjanji, bahwa petugas dari Singasari akan
menghubungi Ki Buyut. " Orang bertubuh kecil itu mengangguk-angguk.
Namun diwajah beberapa orang Mahisa Murti m asih m elihat
keraguraguan. Karena itu Mahisa Murtipun berkata "Kalian tidak usah
takut atau ragu-ragu menghadapi per soalan ini. Tetapi juga tidak
usah bertindak b erlebihan sebagaimana dikatakan oleh beberapa orang
untuk menghukum pemilik kedai itu dan pembuat tuak itu. Biarlah Ki
Buyut menangani hal ini.” "Sebenarnya kami tidak takut terhadap
kedua orang itu " berkata seorang yang bertubuh kekar "bahkan
kami siap menghukumnya beramai-ramai. Jika selama ini kami hanya
berdiam diri, karena kami memang menghormati sikap Ki Bekel. Tetapi
tentu ada batas-batas tertentu. Yang kalian lakukan adalah semacam
awal dari langkah-langkah baik yang dapat dilakukan disini." Mahisa
Murti mengangguk-angguk. Namun sebelum pembicaraan berkepanjangan,
maka orang-orang itu tertegun. Orang yang siap untuk menghukum
itupun terdiam pula. Beberapa orang telah mendatangi tempat itu.
Orang itulah yang disebut Ki Bekel. "Apa yang terjadi disini.
Seseorang telah melaporkan bahwa ada orang yang berusaha
mengacaukan ketenangan di tempat ini." berkata Ki Bekel yang datang
diiringi oleh beberapa orang bebahu yang memang sering
menakut-nakuti orang-orang padukuhan yang cukup besar itu.
Mahisa Murtilah yang kemudian melangkah m aju sambil menjawab
lantang "Akulah orangnya. Bukankah kau Bekel yang berkuasa di
padukuhan ini ?" "Ya. Aku penguasa padukuhan ini. " jawab Ki Bekel.
"Bagus" berkata Mahisa Murti "aku pesan kepadamu, awasi kedai ini.
Di kedai ini tidak boleh lagi dijual tuak yang dapat meracuni
anak-anak muda. Bahkan mereka dalam keadaan mabuk telah mengganggu
ketenangan padukuhan ini. " "Siapa kau ?" bertanya Ki Bekel.
"Siapapun aku, itu tidak penting. Tetapi dengar keteranganku.
Orang-orang yang berkerumun ini sependapat, bahwa tidak
sepantasny a di kedai ini dijual tuak, karena anakanak mereka mulai
dijalari penyakit minuman itu. Tetapi selama ini kau tidak berbuat
apa-apa untuk mencegahnya. " "Setan kau " geram Ki Bekel "kau
berbicara dengan aku, Ki Bekel yang berkuasa di padukuhan ini. "
"Aku tidak peduli. Orang-orang disekitar kedai ini sudah mulai
bangkit. Mereka tidak lagi dibayangi oleh ketakutan. Bahkan mereka
sudah siap untuk bertindak, menghukum pemilik kedai dan penjual tuak
itu. Tetapi itu bukan wewenang mereka. Tetapi wewenangmu." "Kau
jangan mengigau seperti itu. Ingat, disini aku mempunyai wewenang
sepenuhnya. Aku dapat bertindak atasmu" berkata Ki Bekel. Tetapi
Mahisa Murti seakan-akan tidak mendengarnya. Bahkan ia b erkata
"Akan datang petugas dari Singasari untuk menata pergaulan hidup di
padukuhan ini." Tetapi Ki Bekel yang marah itu m enjawab lantang
"Omong kosong. Aku tidak percaya kepada kata -katamu itu.” "Aku
tidak akan m emaksamu untuk percaya. Tetapi pada saatnya petugas
dari Singasari itu akan datang bersama sekelompok prajurit. Jika kau
keras kepala, maka kau akan ditangkap." "Aku tidak menunggu prajurit
dari Singasari. Akulah yang akan menangkapmu sekarang. "
teriak Ki Bekel. Pemilik kedai dan orang yang ternyata pembuat tuak
yang sudah menjadi ketakutan, tiba -tiba telah menengadahkan
kepalanya lagi. Sebalikny a orang yang telah berteriak untuk
menghukum pemilik kedai dan pembuat tuak itu menjadi ragu-ragu.
Bagaimanapun juga, Ki Bekel adalah seorang yang
berilmu.
Jilid 115 KI BEKEL PUN kemudian
telah memberi isyarat kepada para bebahu untuk melaksanakan
perintahnya. Bahkan katanya kemudian "Jika mereka melawan, buat
mereka menjadi jera.’ "Kau tidak akan dapat bertindak apa-apa Ki
Bekel. Orangorangmu akan bangkit menentangmu." sahut Mahisa Murti.
Tetapi Ki Bekel berteriak "Siapa yang berani menentang aku,
penguasa di padukuhan ini ? Siapa ?" Ternyata sikap dan suara Ki
Bekel benar-benar berpengaruh. Orang-orang yang semula telah
nampak bangkit dan mendapatkan keberanian untuk menentukan sikapnya,
tiba -tiba sudah berubah. Mereka justru terdiam dan berdiri seperti
patung. "He, kenapa kalian diam saja ?" bertanya Mahisa Murti
"tunjukkan bahwa kalian sekarang sudah bersikap." Tetapi Ki Bekel
berteriak "Siapa yang ingin mati lebih dahulu?" Tidak seorangpun
yang berani bergerak. Bahkan ujung jari kakinya sekalipun. Ki
Bekelpun tertawa berkepanjangan. Katanya kepada pemilik kedai itu
"Nah, bukankah ketenangan kedaimu tidak akan diganggu oleh
orang-orang itu ?" "Ya Ki Bekel" jawab pemilik kedai itu. "Nah,
sekarang, apa yang akan kau lakukan atas orang itu " bertanya Ki
Bekel. "Orang itu harus menjadi jera." jawab pemilik kedai itu.
"Lakukan. Aku akan menungguimu. Jika orang itu mencoba untuk
melawan, maka serahkan orang itu kepadaku." berkata Ki Bekel kepada
pemilik kedai itu. "Serahkan kepadaku" geram pembuat tuak itu
"punggungku rasa-rasanya sudah dipatahkan oleh anak muda itu aku
akan membalas, tetapi terhadap orang yang bertanggung jawab ini. "
Wajah-wajahpun menjadi tegang. Orang yang punggungnya bagaikan
patah itu, sempat menyuruh seseorang "Ambil cemeti kuda itu." Orang
yang diperintahkan untuk mengambil cemeti kuda itu termangu-mangu.
Ia tidak melihat cemeti yang dimaksudkan. Namun pembuat tuak itu
berteriak "Ambil itu, disudut kedai. " Barulah orang itu m engerti.
Yang dimaksud cemeti kuda adalah sepotong bambu yang disandarkan
disudut kedai itu. Dengan tanpa m embantah lagi, maka orang itupun
telah melangkah kesudut kedai itu untuk mengambil sepotong bambu
yang panjangnya hampir sepanjang tubuhnya sendiri. Dalam pada itu
Mahisa Murtipun menjadi tegang. Ia menjadi bimbang, apakah sebaiknya
dilakukan terhadap Ki Bekel dan beberapa orang bebahu itu. Mahisa
Murti sama sekali t idak m enjadi ketakutan untuk m elawan mereka,
tetapi apakah ia harus menundukkan m ereka dengan kekerasan ? Yang
dipikirkan oleh Mahisa Murti justru orang-orang yang semula telah
menyatakan tekadnya, namun dihadapan Ki Bekel mereka tidak berani
berbuat sesuatu. "Jangan-jangan Ki Bekel akan m enumpahkan dendamnya
kepada mereka." berkata Mahisa Murti didalam hatinya. Namun tiba
-tiba Mahisa Murti mengerutkan dahinya. Agaknya lebih baik baginya
apabila ia menakut-nakuti bukan sa ja pemilik kedai dan pembuat tuak
itu . Tetapi juga Ki Bekel dan para bebahu, sehingga mereka tidak
akan berbuat sesuatu yang dapat membuat orang-orang yang sudah
terlanjur menyatakan sikapnya itu m engalami kesulitan di kemudian
hari. Karena itu, maka tiba-tiba saja Mahisa Murtipun berteriak
kepada orang yang m engambil sepotong bambu itu "He, kau yang
akan mengambil cemeti kuda. Berhenti ditempatmu." Orang itu
terkejut. Ia m emang berhenti beberapa langkah dari sudut kedai itu.
"Jangan mengambil bambu itu." berkata Mahisa Murti kemudian dengan
nada tinggi. Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang
yang m embuat tuak itu berteriak pula "Cepat. Jangan dengarkan
kata-katanya. Ia adalah orang yang akan menerima hukuman."
Tetapi Mahisa Murti langsung menanggapi "Jika kau maju lagi, maka
kau akan mengalami kesulitan. " "Omong kosong" ternyata Ki Bekel
juga menjadi semakin marah "ambil sepotong bambu itu." "Ki Bekel"
berkata Mahisa Murti "hentikan tingkahmu yang buruk itu. Atau
aku harus berbuat sesuatu untuk meyakinkanmu?" "Jangan membual lagi.
Kau akan menjalani hukuman disini, dihadapanku, orang yang berkuasa
di padukuhan ini.” jawab Ki Bekel sambil menengadahkan wajahnya.
Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak mempunyai
pilihan lain. Sementara itu sikap Ki Bekel, para bebahu dan pemilik
kedai serta orang yang membuat tuak itu bagi Mahisa Murti sudah
keterlaluan. Ki Bekel tahu bahwa banyak orang yang tidak sejalan
dengan kebijak sanaannya tentang kedai dan tuak itu. Namun Ki Bekel
sama sekali tidak menghiraukannya. Hatinya sama sekali tidak
tergerak melihat anak-anak muda yang menjadi mabuk, muntah-muntah
kemudian tidur dimana sa ja tubuhnya terbaring. Ki Bekel sama sekali
tidak mau memikirkan masa depan anak-anak muda itu. Karena itu, maka
bulat niat Mahisa Murti untuk membuat hati Ki Bekel itu tergetar.
Karena itu, ketika orang yang akan m engambil sepotong bambu itu
melangkah maju lagi, Mahisa Murti berkata "Cukup. Kau sudah berdiri
terlalu dekat. Mundurlah. Jika aku menghitung sampai tiga kau tidak
mundur, maka kau akan mengalami bencana. " Orang itu kembali menjadi
ragu-ragu. Namun Ki Bekel berteriak pula "Cepat lakukan. Orang ini
harus dipukuli sampai jera. Pedangnya tidak akan kuasa mencegah
keputusan itu, karena jika ia menarik pedangnya, maka artinya ia
membunuh diri." Tetapi ketika orang itu akan bergerak lagi, Mahisa
Murti mulai menghitung "Satu, dua...." Ternyata orang itu
terpengaruh oleh hitungan yang diucapkan Mahisa Murti. Karena
itu, maka ketika Mahisa Murti mulai menghitung, tanpa mengetahui apa
yang akan terjadi, m aka orang itu melangkah mundur. Bahkan dengan
tergesa -gesa. Sementara itu Mahisa Murti memang sudah kehabisan
kesabaran menghadapi Ki Bekel. Sikapny a yang menjengkelkan serta
jalan pikirannya yang pendek menjadi sangat memuakkan bagi
Mahisa Murti. Demikianlah ketika Mahisa Murti mengucapkan hitungan
yang ketiga, maka Mahisa Murtipun telah menghentakkan tangannya
kearah sudut kedai tempat sepotong bambu itu bersandar. Tidak dengan
mengerahkan segenap tenaga dan kekuatan yang ada didalam diriny a.
Yang dilontarkannya adalah kekuatan pada permukaannya saja. Namun
akibatnya sudah cukup menggemparkan. Bukan sa ja sepotong bambu itu
yang hancur menjadi debu, tetapi tiang disudut kedai itupun telah
hancur pula, sehingga atap disudut kedai itu telah runtuh. Terdengar
derak kayu-kayu yang patah, kemudian tulangtulang atap itu jatuh
berserakan. Orang yang sudah bergerak mundur itu ternyata masih juga
tersentuh hentakkan kekuatan ilmu Mahisa Murti. Orang itu telah
terdor ong beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah. Untunglah
bahwa ia sudah mengambil jarak, sehingga akibatnya tidak
membahayakannya. Meskipun demikian, kulitnya telah terluka pula
tergores oleh batu-batu kerikil yang bertebaran. Kuda-kuda
yang ada di halaman kedai itu terkejut. Seekor diantaranya
telah meringkik sambil berdiri pada kaki belakangnya, sementara yang
lain berputar-putar dengan gelisah. Ringkik kuda yang keras itu
seolah-olah membuat getaran kekuatan Mahisa Murti semakin
mencengkam. Orang-orang yang melihat peristiwa itu berdiri mematung.
Wajah mereka menjadi pucat, sementara tubuh Ki Bekel, para bebahu,
pemilik kedai dan orang yang membuat tuak itu menjadi gemetar.
Anak-anak yang m eskipun m abuk, namun jantung m ereka
bagaikan berdentang semakin cepat didalam dadanya. Sejenak
keheningan telah mencengkam. Ki Bekel berdiri tegak dengan mulut
terkatub rapat. Sementara itu lutut pemilik kedai yang baru
saja menengadahkan wajahnya itu bergetar dan beradu yang satu dengan
yang lain. Baru sejenak kemudian Mahisa Murti berkata "Ki Bekel.” Ki
Bekel itu terkejut bukan kepalang. Suara itu seperti ledakan petir
menyambar telinganya. Dengan gagap iapun kemudian menjawab "Ya, y a,
anak muda." "Sekarang, kau dan para bebahu itu aku minta berdiri
terpisah dari banyak orang." "Tetapi, tetapi, untuk apa anak muda"
suaranya menjadi gagap. "Aku akan melakukannya atas kalian. Jika
kalian memang orang berilmu tinggi dan merasa berkuasa disini
berlandaskan ilmumu dan kekuatan pengikut-pengikutmu tanpa
menghiraukan nurani rakyatmu, maka kalian tentu dapat menangkis atau
menghindari seranganku." berkata Mahisa Murti. "Tidak. Jangan,
jangan" minta Ki Bekel "kami mohon maaf." "Seperti kau yang akan
menghukum aku, maka akulah sekarang yang akan menghukummu
tanpa menghiraukan paugeran yang berlaku. Aku membatalkan
niatku untuk minta agar para prajurit Singasari menata kembali
kehidupan di padukuhan ini. Tetapi aku sendiri akan bertindak
sekarang, tanpa menghiraukan tatanan dan paugeran yang manapun. Aku
dapat melakukannya karena aku memiliki ilmu yang dapat mengatasi
kalian, bahkan jika semua orang disini menentangku." geram Mahisa
Murti. Ki Bekel m enjadi semakin ketakutan. Demikian pula para
bebahu, pemilik kedai dan pembuat tuak itu. Dengan suara memelas Ki
Bekel memohon "Kami mohon ampun anak muda." "Seandainya aku tadi m
inta ampun kepadamu, apakah kau juga akan mengampuniku dan tidak
jadi menghukumku ?" bertanya Mahisa Murti. "Tentu, tentu anak muda"
jawab Ki Bekel. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
katanya "Kau telah melakukan kesalahan lagi Ki Bekel." Wajah Ki
Bekel semakin pucat. Dengan gagap ia bertanya "Kesalahan apa lagi
anak muda ?" "Kau telah mencoba menipuku. Kau tidak akan begitu
mudah memaafkan seseorang menilik watakmu. Bukankah kau benar-benar
akan m enghukumku ? Memukuliku dengan sepotong bambu ? Bahkan kau
telah menantangku, bahwa jika aku menarik pedangku itu berarti aku
akan membunuh diriku sendiri. " "Tidak anak muda, sungguh tidak. Aku
mohon ampun, aku benar-benar mohon ampun. "Ki Bekel itu bagaikan
merintih. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
bertanya "Bagaimana dengan yang lain ?" Pemilik kedai dan
pembuat tuak itupun hampir berbareng berkata "Aku juga mohon ampun."
"Baiklah" berkata Mahisa Murti kemudian "aku akan memaafkan kalian.
Tetapi kalian tahu apa yang aku kehendaki." "Ya, ya, anak
muda. Aku mengerti" jawab Ki Bekel. "Bukan hanya kau " berkata
Mahisa Murti kemudian. "Ya, y a. Bukan hanya aku. Tetapi kami tahu
maksudmu" jawab Ki Bekel pula. "Baiklah" berkata Mahisa Murti "aku
kali ini percaya kepada kalian. Aku menghargai sikap beberapa orang
yang telah berani menyatakan pendapat dan sikapnya, meskipun pada
saat terakhir, mereka menjadi silau melihat kehadiran Ki Bekel. Pada
saat-saat tertentu aku akan lewat jalan ini pergi dan kembali dari
Singasari. Aku akan m enepati kata-kataku, bahwa aku akan m
emberitahukan kepada prajurit Singasari, agar mereka ikut campur
menata kembali kehidupan di Kabuyutan ini. " Ki Bekel hanya m
enundukkan kepalanya. Ia tidak berani membantah lagi. Ia sudah
melihat apa yang dapat dilakukan oleh anak muda yang
dikiranya sekedar mempunyai kemampuan olah kanuragan itu. Namun yang
ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi. Demikianlah maka Mahisa
Murtipun kemudian telah mengajak Mahisa Semu dan Mahisa Amping
meninggalkan tempat itu. Mereka sempat m emperhatikan beberapa orang
anak muda dalam keadaan yang berbeda. Ada yang benarbenar telah
menjadi mabuk, ada yang baru mulai, tetapi ada juga yang sudah
mulai dipengaruhi oleh tuak, tetapi kesadarannya masih utuh. Namun
dalam keadaan kesakitan karena mereka telah berkelahi dengan Mahisa
Semu. "Nah Ki Bekel. Itulah anak-anakmu. Jika karena itu kau dapat
menjadi seorang yang kaya raya, maka kau tahu, bahwa kau m
endapatkan harta benda dengan mengorbankan anakanakmu sendiri.
Sementara anak-anak m uda itu bermabukmabukan, maka anak-anak muda
yang lain bekerja keras memeras keringat disawah, pategalan
dan di panggang dipanasny a perapian pande besi. Sementara itu
orang-orang tua mulai mengeluh melihat tingkah laku anak-anaknya
yang menjadi harapan bagi masa depannya.” Ki Bekel tidak menjawab.
Namun wajahnya menjadi semakin menunduk. Sementara jantungnya
menjadi berdebaran. Diluar sadarnya Ki Bekel mengerling kepada
anak-anak m uda itu. Dahinyapun menjadi berkerut. Seakanakan baru
saat itu ia melihat pertama kali akibat yang terjadi atas anak-anak
muda itu. "Renungkan Ki Bekel" berkata Mahisa Murti yang
kemudian sudah duduk di atas kudanya. Sebelum kuda itu berlari, maka
Mahisa Murti telah melemparkan beberapa keping uang sambil berkata
kepada pemilik kedai itu "Ambillah. Jika kurang, besok jika aku
lewat lagi, aku akan singgah dan menambahinya. Jika lebih,
kelebihannya aku belikan tuak. Seberapa dapatnya, buang tuak itu
kedalam parit dibelakang kedai itu.” Pemilik kedai itu tidak sempat
menjawab. Mahisa Murtipun kemudian telah melarikan kudanya, diikuti
oleh Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Ketiganya memang tidak memacu
kuda mereka terlalu kencang, sementara Mahisa Murti berkata kepada
kedua adik angkatnya "Kau lihat akibat buruk dari minum tuak."
Mahisa Semu dan Mahisa Amping mengangguk mengiakan. Sementara Mahisa
Murti berkata selanjutnya "Kita masih belum sempat melihat, betapa
pahitnya hati orang tua mereka melihat keadaan anak-anaknya. Satu
dua kita sudah mendengar keluhan semacam itu. Tetapi orang-orang
yang berkerumun tadi ternyata tidak dapat berbuat sesuatu ketika Ki
Bekel dan para bebahu datang. " "Mereka menjadi ketakutan" berkata
Mahisa Semu. Mahisa Murti mengangguk. Namun ia tidak menjawab lagi.
Demikianlah maka kuda merekapun berlari terus. Perjalanan mereka
sudah terhambat beberapa lama. Namun justru karena itu mereka sempat
melihat sesuatu yang membuat orang-orang tua berprihatin. Kecuali
satu dua orang tua yang membiarkan tabiat anak-anaknya yang
tidak terawat justru untuk menutupi kekurangan mereka sendiri.
Sementara itu, angin yang lembut telah mengusap wajah mereka
yang berkeringat. Dedaunan yang hijau bergerak dengan
malasny a. Mahisa Murti dan kedua orang adik angkatnya berkuda
menyusuri jalan bulak yang panjang. Mereka tidak t erlalu banyak
berbicara. Sekali-sekali Mahisa Amping yang sudah berada didepan,
berpaling kepada Mahisa Murti dan Mahisa Semu yang berkuda
dibelakangnya. Namun anak itu tetap berada di depan. Untuk
selanjutnya tidak ada hambatan apapun diperjalanan. Ketika menjelang
senja mereka sempat singgah lagi disebuah kedai. Mereka memang
terlalu malam sampai di Singasari. Ketika mereka memasuki pintu
gerbang butulan halaman istana, maka para prajurit yang bertugas
telah menghentikan mereka. Untuk beberapa saat lamanya Mahisa Murti
harus menjawab pertanyaan-pertanyaan para prajurit itu. Namun
akhirnya pemimpin prajurit yang bertugas di pintu gerbang itu
berkata "Baiklah. Biarlah salah seorang dari antara kami mengantar
Ki Sanak sampai ke rumah Ki Mahendra.” "Terima kasih, Ki Sanak"
jawab Mahisa Murti. Demikianlah, maka Mahisa Murtipun telah diantar
memasuki halaman belakang istana Singasari sampai kerumah Mahendra.
Ketika mereka mengetuk pintu yang sudah tertutup rapat, maka
Mahendra memang terkejut. Demikian ia membuka pintu, maka dilihatnya
Mahisa Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping diantar oleh seorang.
prajurit yang bertugas. Mahendra menyambut kedatangan mereka
dengan gembira. Kepada prajurit yang mengantar mereka,
Mahendra berkata "Terima kasih Ki Sanak. Mereka memang anakanakku."
Prajurit itu m engangguk hormat sambil berkata "Maaf Ki Mahendra,
bahwa diantara kami yang malam ini bertugas, kebetulan belum
mengenal putra Ki Mahendra ini." "Bukankah kau kenal Mahisa Pukat ?"
bertanya Mahendra. "Tentu Ki Mahendra." jawab prajurit itu. "Apakah
diantara mereka tidak ada kemiripan ?" bertanya Mahendra pula sambil
tertawa. Prajurit itu mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang
Mahisa Murti sekila s, maka iapun berkata "Ya, y a. Mereka memang
mirip." Demikianlah, maka prajurit itupun telah m inta diri untuk
kembali ke tempat tugas mereka, sementara itu bukan saja Mahendra
yang mengucapkan terima kasih, tetapi juga Mahisa Murti. "Apakah kau
juga terhambat diperjalanan ?" bertanya Mahendra ketika mereka sudah
duduk diruang dalam. "Ya ayah" jawab Mahisa Murti "tetapi agaknya
karena kami juga mencoba mencampuri persoalan orang lain. " Mahendra
tersenyum. Namun katanya "Duduklah. Biarlah dibuat minuman bagi
kalian. Nanti aku minta kau ber-ceritera tentang perjalananmu."
"Tidak usah ay ah. Kami sudah makan dan minum" berkata Mahisa Murti
kemudian. "Biarlah pembantu dirumah ini membuat minuman hangat. Aku
juga m erasa haus" jawab Mahendra. Lalu katanya "Jika kalian ingin
berbenah diri, pergilah ke pakiwan. " Setelah menambatkan kuda-kuda
m ereka dibelakang dan membersihkan diri di pakiwan, maka mereka
telah duduk diruang dalam. Mahisa Ampinglah yang kemudian
berceritera tentang perjalanan mereka. Meskipun ceriteranya tidak
lebih dari ceritera seorang remaja, namun Mahendra dapat menangkap
persoalan yang ada dibalik peri stiwa itu. Karena itu, maka
setelah Mahisa Amping selesai berceritera, Mahendra itupun berkata
"Memang kadangkadang sulit bagi kita untuk menahan diri agar sama
sekali tidak mencampuri persoalan orang lain. Jika kita melihat
kepincangan dalam tatanan kehidupan terjadi disekitar kita, maka
sulit bagi kita untuk tidak mencampurinya." "Ya, ayah." sahut Mahisa
Murti "a palagi bagi aku dan barangkali juga Mahisa Pukat yang
pernah menjalani laku tapa ngrame. Ra sa-rasanya selalu terdorong
untuk berbuat sesuatu jika perasaan kami tersinggung oleh
kepincangan dalam tatanan kehidupan ini." Mahendra
mengangguk-angguk. Katanya "Aku mengerti. Bahkan ketika aku dan mPu
Sidikara berniat untuk tidak mencampuri persoalan orang lain, maka
justru kami tergelincir juga dalam per soalan yang menyangkut
kami berdua." Mahisa Murti terseny um. Namun katanya "Tetapi
rasarasanya aku tidak terlalu bersalah mencampuri persoalan yang
terjadi di kedai itu." "Memang kadang-kadang datang masanya, bahwa
kita justru sebaiknya mencampuri persoalan orang lain." Mahisa Murti
mengangguk-angguk, sementara Mn).<aa amping bertanya "Bukankah
kita tidak berniat berbuat jahat ?- "Ya Amping " jawab Mahisa Murti
"ada bedanya antara berbuat jahat dan mencampuri persoalan orang
lain. Jika kita mencampuri persoalan orang lain, mungkin justru kita
berniat baik. Tetapi meskipun kita berniat baik, namun kita tetap
saja mencampuri persoalan orang lain.” Mahisa Am ping mengerutkan
dahinya. Namun kemudian ia mengangguk-angguk. Ia mencoba memahami
keterangan Mahisa Murti itu. Demikianlah, maka pembantu dirumah
Mahendrapun kemudian telah menghidangkan minuman hangat dan bahkan
makan. Meskipun mereka sudah makan diperjalanan, tetapi Mahisa Semu
dan Mahisa Amping rasa-rasanya memang masih ingin makan lagi.
Setelah makan dan beristirahat sejenak, maka Mahendra telah
mempersilahkan Mahisa Murti dan kedua adik angkatnya beri stirahat.
"Besok saja kita berbicara tentang hari-hari pernikahan Mahisa Pukat
sepekan lagi" berkata Mahendra. Mahisa Murti mengangguk sambil
menjawab "baik ay ah. Bukankah tidak ada persoalan yang
menyimpang ?" "Tidak " jawab Mahendra "semua berjalan sebagaimana
direncanakan. " "Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya Sokurlah.
Mudah-mudahan segalanya dapat berjalan dengan baik dan selamat."
"Sejak besok Mahisa Pukat sudah tidak bertugas. Besok ia sudah
berada di rumah ini. Ia mendapat waktu setengah bulan untuk
melaksanakan pernikahannya. " Mahisa Murti mengangguk-angguk.
Sementara Mahisa Semu bertanya dengan nada yang jernih "Jadi
besok kakang Mahisa Pukat sudah tidak bertugas di Kasatrian lagi?"
"Untuk setengah bulan" jawab Mahendra. Demikianlah, maka Mahisa
Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping pun pergi ke pembaringan.
Meskipun malam sudah terlalu jauh, namun mereka masih mempunyai
waktu untuk tidur barang sebentar. Seperti yang dikatakan oleh
Mahendra, maka dihari berikutnya Mahisa Pukat telah dibebaskan dari
tugasnya Ber sama mPu Sidikara Mahisa Pukat pulang kerumah Mahendra.
Mahisa Pukat m enjadi sangat bergembira ketika ia m elihat Mahisa
Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping telah datang. Bahkan kemudian
iapun bertanya "Paman Wantilan jadi tidak datang?" "Ya " jawab
Mahisa Murti "harus ada yang menunggui padepokan.
Mudah-mudahan tidak ada kesulitan. " Sejak hari itu, maka Mahisa
Pukat sudah tidak lagi pergi ke Ka satrian. Berbagai persiapan sudah
dilakukan dirumah Mahendra. Ketika matahari mulai naik, maka dua
orang tua telah berada dirumah Mahendra untuk membantu melakukan
persiapan-persiapan yang diperlukan. Tetapi kesibukan dirumah
Mahendra tidak nampak sebagaimana dirumah Arya Kuda Cemani.
Demikianlah, selama di Singasari, Mahisa Murti, Mahisa Semu dan
Mahisa Amping ikut tenggelam dalam kesibukan. Ada saja yang harus m
ereka lakukan. mPu Sidikara meskipun harus tetap bertugas di
Kasatrian, t etapi pada waktu-waktu luangnya, iapun ikut sibuk
dirumah Mahisa Pukat. Bukan saja sibuk untuk meny iapkan saat-saat
pernikahan. Tetapi Mahendra harus mempersiapkan tempat tinggal bagi
Mahisa Pukat dan isterinya. "Beruntunglah bahwa aku mendapat rumah
yang memadai di bagian belakang istana ini" berkata Mahendra
"meskipun kecil, tetapi cukup lengkap, sehingga dapat dipergunakan
bersama Mahisa Pukat nanti setelah berkeluarga. Aku juga sudah
menyampaikan permohonan. Ternyata Sn Paduka Maharaja dengan
perantara seorang pejabat rumah tangga istana tidak berkeberatan
jika rumah ini aku pergunakan bersama Mahisa Pukat." Mahisa Murti
mengangguk-angguk. Namun terbersit diangannya, bahwa dengan demikian
Mahisa Pukat masih belum benar -benar mapan, karena ia masih belum
mempunyai tempat tinggal sendiri. Menurut pendapat Mahisa Murti,
rumah ayahnya itu adalah rumah yang disediakan oleh Sri
Baginda Maharaja untuk ditempati. Tetapi tidak untuk dimiliki.
Apalagi letaknya memang berada di dalam lingkungan dinding istana.
Setelah berkeluarga, Mahisa Pukat masih harus melengkapi dirinya. Ia
harus berusaha untuk memiliki sebuah tempat tinggal betapapun
kecilny a. Dihari berikutnya, maka segala persiapan sudah hampir
selesai. Rumah Arya Kuda Cemani sudah di hias dengan tarub. Jika
senja turun, maka rumah dan halamannya nampak terang benderang.
Lampu minyak dan onc or sudah dipasang dimanamana. Di hari
berikutnya, barulah Mahisa Bungalan datang. Akuwu Sangling itu ingin
menunggui adiknya yang akan menikah meskipun Mahisa Bungalan juga
merasa heran, kenapa Mahisa Murti sama sekali belum tergerak hatinya
untuk memilih seorang kawan hidup. Baru setelah sehari berada di
Singasari, diluar pengetahuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,
Mahendra telah menceriterakan hubungan yang rumit antara Mahisa
Murti, Mahisa Pukat dan Sa si, seorang gadis cantik anak Arya Kuda
Cemani Mahisa Bungalan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.
Seperti ayahnya iapun merasa iba terhadap Mahisa Murti. Tetapi ia
tidak boleh menyatakannya, karena dengan demikian maka ia akan dapat
meny inggung perasaannya. Juga ia tidak dapat berbicara tentang hal
itu kepada Mahisa Pukat. Dalam kesempatan itu, maka Mahisa Bungalan
dapat bertemu dengan kedua adiknya yang baru. Adik yang
diangkat oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat Mahisa Bungalan senang
melihat keduanya. Bahkan ketajaman penglihatannya langsung dapat
melihat kelebihan keduanya. Terutama Mahisa Amping yang
memiliki ketajaman penggraita m eskipun dalam usia mudanya
kadang-kadang ia tidak tahu bahwa ia melihat satu isy arat. “Kedua
anak itu merupakan harapan dihari mendatang" berkaa Mahisa Bungalan,
ketika ia sempat berbicara dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat “Aku
akan mencoba membentuknya " berkata Mahisa Murti “tetapi pada
dasarnya anak-anak itu merupakan anak yang baik” Mahisa Bungalan
mengangguk-angguk. Dengan senang hati ia menawarkan agar keduanya
bersedia datang ke Pakuwon Sangling. "Lain kali aku akan mengajak
mereka" berkata Mahisa Murti. Dalam pada itu, m aka hari yang
ditunggu-tunggu itupun akhirnya sampai juga. Sudah sampai pada hari
yang ditentukan bagi Mahisa Pukat dan Sasi untuk melaksanakan
pernikahan. Bulan, pekan, hari dan bahkan saatnya sudah
diperhitungkan dengan baik oleh orang-oraifg tua. Karena itu,
orang-orang tua itu mempersiapkan segalanya untuk dapat dilaksanakan
tepat pada waktunya. Sebenarnyalah bahwa segalanya memang dapat
dilaksanakan sesuai dengan rencana. Tidak ada hambatan apapun yang
mengganggu acara pernikahan Mahisa Pukat dan Sasi, anak perempuan
Arya Kuda Cemani. Salah seorang Senapati yang berpengaruh di
Singasari, terutama dibidang tugas-tugas sandi. Namun dalam pada
itu, ketika upacara terpenting dari pernikahan itu siap dilak
sanakan sesuai dengan paugeran dasar, hubungannya dengan kepercayaan
yang dianut oleh kedua orang yang siap dipersandingkan itu, justru
telah terjadi keributan. Keluarga Arya Kuda C emani serta beberapa
orang kawan dekatnya dari lingkungan keprajuritan, bahkan utusan
resmi Sri Maharaja di Singasari yang hadir di rumah Arya Kuda Cemani
terkejut atas kehadiran seorang yang b ertubuh tinggi dan
besar. Rambutnya yang tergerak m encuat dibawah ikat kepalanya
nampak sudah memutih. Tetapi tubuhnya masih nampak kuat dan tegar.
Dikedua pergelangan tangannya nampak gelang-gelang akar-akaran
disatu sisi, sedang disisi yang lain, nampak terbalut oleh
kulit yang tebal dan lebar hampir sampai ke siku. Ber sama orang itu
nampak seorang anak muda yang bertubuh sedang. Wajahnya bersih
dan tampan. Matanya tajam berkilat-kilat. Kedua orang itu melangkah
langsung menuju ke tangga pendapa. Namun ternyata keduanya berhenti
dibawah tangga yang pertama. Beberapa orangpun segera bangkit
berdiri ketika m ereka melihat sikap yang tidak sewajarnya dari
kedua orang itu Seorang Senapati dari pasukan berkuda yang
juga hadir ditempat itu segera bangkit, turun dari tangga langsung
berdiri dihadapan orang itu. Meskipun demikian Senapati itu masih
bertanya dengan baik "Ki Sanak. Apakah Ki Sanak juga akan menghadiri
upacara pernikahan anak perempuan Arya Kuda Cemani ? Jika demikian,
m arilah, silahkan naik dan duduk diantara kami. Upacara memang
sudah hampir dimulai." Tetapi orang itu menjawab singkat "Tidak. Aku
akan berbicara dengan Kuda Cemani." Senapati itu mengerutkan
dahinya. Namun iapun menjawab "Sayang Ki Sanak. Arya Kuda
Cemani dan isterinya sudah siap mengikuti upacara pernikahan anak
gadisnya. " "Aku akan berbicara dengan orang itu, sekarang. Sebelum
upacara itu berlangsung. " “Tetapi mereka sudah siap untuk melakukan
upacara itu” “Aku tidak peduli” jawab orang itu yang kemudian
justru berteriak "Kuda Cemani. Aku datang untuk menagih janji”
Senapati dari pasukan berkuda itu mengerutkan dahinya. Katanya "Ki
Sanak. Aku minta Ki Sanak bersabar. Setelah upacara selesai, maka
kau dapat berbicara dengan tenang” Tetapi orang itu berteriak
lantang "Tidak, aku akan bicara sekarang .Justru sebelum upacara
pernikahan, upacara itu harus dibatalkan” "Kenapa ?" bertanya
Senapati itu. “Sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Aku akan
bertemu dengan Kuda Cemani. " jawab orang itu. Sebelum Senapati itu
menjawab, maka orang itu berteriak lebih keras "Ku da Cemani, apakah
kau sekarang sudah menjadi pengecut? Keluarlah. Kita akan berbicara
sebagai laki-laki. Jika kau sekarang m enjadi pengecut seperti
betina licik, aku sebagai saudara seperguruanmu akan ikut menderita
malu. Karena itu, maka lebih baik aku membunuhmu saja." Teriakan itu
telah membuat beberapa orang tidak lagi dapat menahan diri. Beberapa
orang serentak bangkit dan mendekatinya. Utusan resmi Sri Baginda
Maharaja Singasari justru memerlukan menemui orang itu sambil
berkata "Ki Sanak. Aku berada disini atas nama Sri Maharaja
Singasari. Aku minta kau menangguhkan persoalanmu dengan Arya Kuda
Cemani. " "Aku hormati Raden sebagai utusan resmi Sri Baginda
Maharaja. Tetapi persoalanku dengan Kuda Cemani adalah persoalan
pribadi. Tidak ada orang lain yang dapat ikut mencampurinya.
Sekali lagi, justru sebelum upacara pernikahan dilaksanakan."
Sementara itu, justru karena ada utusan resmi Sri Baginda yang hadir
dalam upacara itu, m aka dihalaman itu terdapat beberapa orang
prajurit yang bertugas. Dua orang diantara mereka telah
mendekat pula. Namun orang itu berteriak pula "Kuda Cemani.
Tamutamumu yang sebagian adalah prajurit-prajurit Singasari tentu
akan dapat mengusir aku dengan kekerasan. Tetapi dengan demikian,
maka kau akan aku anggap sebagai orang yang paling licik, pengecut
dan penakut diseluruh muka bumi." "Cukup Ki Sanak. Cukup" berkata
mPu Sidikara yang juga menunggui pernikahan Mahisa Pukat "marilah
kita berbicara ditempat yang terpisah. Mungkin kita akan dapat
menemukan persesuaian pendapat. " “Tidak. Aku akan langsung
berbicara dengan Kuda Cemani.” jawab orang itu dengan lantang.
Orang-orang yang k emudian mengerumuninya sudah siap untuk
mengambil tindakan terhadap orang itu. Jika perlu dengan kekerasan,
karena orang itu telah mengganggu upacara yang harus segera dimulai.
Namun tiba -tiba terdengar suara diantara mereka yang
berkerumun “Apa yang sebenarnya kau kehendaki, kakang.” Mata
orangitupun menjadi berkilat ketika ia melihat Arya Kuda Cemani meny
ibak orang-orang yang m engerumuninya itu. Orang bertubuh
tinggi dan besar itu memandang Arya Kuda Cemani dengan mata yang
menyala. Kemudian dengan geram orang itu berkata “Kuda C emani. Aku
datang untuk menagih janji.” “Kakang” berkata Arya Kuda Cemani
“Apakah aku mempunyai hutang? Apalagi hutang janji?” “Kau jangan
ingkar. Meskipun kau sekarang Senapati pasukan sandi di Singasari,
tetapi hubunganmu dengan aku secara pribadi tidak dapat kau
hapuskan. Kau adalah adik seperguruanku, betapapun nasib kita
berbeda.” berkata orang itu. “Aku tidak pernah ingkar, kakang. Bahwa
kau adalah saudara seperguruanku. Bahkan saudara tua. Nah, aku ju
stru akan minta restumu. Bahkan hari ini aku akan m enikahkan
anakku.” sahut Arya Kuda Cemani. Namun kemudian dengan serta merta
ia bertanya “Atau barangkali kakang merasa tersinggung bahwa aku
tidak memberitahukan pernikahan anakku ini sebelumnya kepada
kakang.” "Ya " jawab orang itu "tetapi lebih dari sekedar tidak
memberitahu” "Sebenarnya aku sama sekali tidak melupakan kakang.
Tetapi aku tidak tahu dimana kakang tinggal sekarang, sehingga aku
tidak dapat memberitahukan kepada kakang, bahwa hari ini aku akan
menikahkan anakku " sahut Arya Kuda Cemani. "Aku tidak y akin
kebenaran alasanmu. Aku tidak berada di tempat yang terlalu
jauh." berkata orang itu kemudian "Meskipun tidak terlalu jauh,
tetapi aku benar-benar tidak mengerti dimana kakang tinggal. Tetapi
jika kemudian kakang mengetahui bahwa hari ini aku menikahkan anakku
dan kakang bersedia hadir aku akan merasa senang sekali. Bahkan aku
memang harus minta maaf kepada kakang, bahwa aku tidak dapat
menghubungi kakang sebelumnya” “Bukan sekedar bahwa aku tidak kau
bentahu, Kuda Cemani. Tetapi kau harus ingat akan janjimu, bahwa
persaudaraan kita tidak akan pernah terputus." “Ya, y a kakang. Aku
memang berharap bahwa hubungan persaudaraan kita tidak akan pernah
putus sampai kapanpun” “Kenapa anakmu perempuan kau nikahkan dengan
anak muda yang lain?" bertanya orang itu. "Maksud kakang?" bertanya
Arya Kuda Cemani. "Aku mempunyai seorang anak laki -laki, Kuda
Cemani. Dan kau mempunyai anak perempuan. Jika kau tidak ingkar akan
janjimu, maka anak perempuanmu harus menjadi menantuku, sehingga
persaudaraan kita tidak akan terputus. Tetapi karena kau sudah m
enjadi Senapati yang berpengaruh di Singasari, maka kau
berusaha untuk mengkesampingkan aku. Anakmu kau nikahkan dengan
seorang Pelay an Dalam yang bertugas di Ka satrian. Bahkan
telah diangkat m enjadi pelatih bagi para Kesatrian muda Singasari."
Wajah Arya Kuda Cemani menjadi tegang. Sesaat Arya Kuda Cemani
berusaha mengendalikan perasaannya. Namun demikian katanya "Maaf
kakang. Aku akan memberikan penjelasan tentang hal itu kepada
kakang. Tetapi aku m inta kakang duduk dahulu. Nanti sesudah aku
selesai, maka penjelasanku tentu akan memuaskan kakang. " "Tidak "
jawab orang itu "kau akan m enjebak aku. Sesudah pernikahan
berlangsung, maka anak gadismu sudah bukan hakmu lagi. Tetapi
sekarang, sebelum pernikahan itu dilaksanakan, maka kau harus
memenuhi janjimu. Berikan anak gadismu kepadaku. Ia akan menjadi
menantuku. Itu adalah satu-satunya cara untuk m elangsungkan
persaudaraan kita seterusnya. Kecuali jika kau mempunyai dua anak
perempuan." "Kakang, itu tidak mungkin. Kakangpun tidak dapat
mengartikan niat kita untuk melangsungkan persaudaraan dengan
menikahkan anak kita. Karena pernikahan itu biasanya justru
dilakukan oleh dua orang yang tidak mempunyai sangkut paut
persaudaraan." "Kau tidak usah mengatakan seribu macam alasan. Kau
berikan anakmu atau tidak?" bertanya orang itu. "Maaf kakang. Aku
tidak dapat memberikannya." jawab Arya Kuda Cemani. "Kau tahu akibat
dari sikapmu itu?" bertanya orang itu. "Ya. Aku tahu. Aku harus
mempertahankan sikapku dengan cara yang kakang kehendaki," jawab
Arya Kuda Cemani "apapun yang kakang kehendaki, aku tidak akan
ingkar." "Baik Kuda Cemani. Tetapi aku tidak akan menantangmu
bertempur sekarang. Aku tahu bahwa ilmumu telah maju dengan pesat.
Bahkan kau telah mampu menguasai Aji Panglimunan." jawab orang itu.
"Jadi apa yang kakang kehendaki?" bertanya Arya Kuda Cemani.
"Aku ingin m engetahui, apakah bakal m enantumu mampu mempertahankan
bakal isterinya. " "Maksud kakang?" bertanya Arya Kuda Cemani. "Aku
bawa anakku. Ia akan merebut kedudukannya sebagai bakal menantumu"
berkata orang itu "caranya adalah cara seorang laki -laki. Siapa
yang menang, ia adalah calon menantumu yang akan melaksanakan
pernikahannya hari ini." "Gila" geram Aya Kuda Cemani yang
kehilangan kesabaran "t idak. Ia sudah siap untuk melakukan upacara.
Apa yang terjadi, akulah yang akan menghadapi. Kakang sendiri atau
anakmu. Aku tidak peduli." "Kau cemaskan bakal menantumu bahwa ia
tidak akan menang?" bertanya orang itu. Wajah Arya Kuda Cemani
memang terasa m enjadi panas. Selangkah ia maju sambil berkuta
"Kakang. Aku mohon kakang jangan mengganggu. Aku masih mencoba untuk
menahan diri. Tetapi jika kakang masih memaksa untuk melakukan hal
yang tidak m asuk akal ini, maka aku dapat berbuat lebih jauh
lagi. Kakang melihat, bahwa disini sudah banyak tamuku yang hadir.
Upacarapun sudah siap untuk dimulai. " "Sudah aku katakan Kuda
Cemani. Kau dapat mengusir aku dengan kekerasan. Disini tentu banyak
kawan-kawanmu, Senapati dan Panglima Perang yang memiliki ilmu yang
tinggi. Tetapi jika kau gunakan kekerasan dengan cara seperti itu,
maka harga dirimu akan terpelanting jatuh dan tidak berharga lagi.
Apalagi harga diri calon menantumu itu Ia akan menjadi orang
yang paling tidak berharga di Singasari.” "Kakang" berkata
Arya Kuda Cemani "aku tidak pernah mengingkari per saudaraan kita.
Tetapi dua orang bersaudara kadang-kadang memang dapat berbeda sikap
dan kepentingan. Karena itu, aku akan mempertahankan diri” "Itu
tidak cukup. Anakku m enantang bakal m enantumu" berkata orang itu
"sekali lagi, anakku menantang calon mantumu. Jika anakku menang,
maka ia akan mengambil alih kedudukan calon menantumu itu."
Kemarahan Arya Kuda Cemani sudah sampai keubunubunnya. Namun sebelum
ia bertindak sesuatu, terdengar suara seorang yang lain "Bagus.
Tetapi kau datang agak terlambat Ki Sanak. Sebelum kau datang, aku
sudah melakukannya. Aku adalah cadangan utama calon m enantu Arya
Kuda Cemani. Seandainya anakmu dapat m engalahkan calon menantunya
yang sudah siap melakukan upacara itu maka ia masih juga harus
mengalahkan aku. Karena itu maka daripada ia harus bertanding
melawan calon menantu yang sudah siap melakukan upacara, dan bahkan
sudah berpakaian upacara pula, maka sebaiknya biarlah ia bertanding
melawan aku lebih dahulu." Wajah saudara seperguruan Arya Kuda
Cemani itu menjadi semakin tegang. Dengan nada geram ia bertanya
"Siapa kau anak muda. Kenapa kau mencampuri persoalanku dengan adik
seperguruanku." “Sudah aku katakan. Aku datang untuk mengambil Sasi
tetapi aku menunggu sampai upacara selesai. Aku tidak berkeberatan
jika persoalanku dengan Sasi dilakukan sesudah upacara, karena
upacara ini bagiku tidak berarti apa -apa selain untuk menghormati
tamu-tamu yang sudah diundang. Aku juga tidak ingin mengecewakan
para tamu serta merendahkan Arya Kuda Cemani dipandangan mata
sahabat-sahabatnya. Tetapi jika itu yang akan kau lakukan maka
aku terpaksa ikut campur juga." “Siapa kau ?” desis saudara
seperguruan Arya Kuda Cemani. “Untuk apa kau bertanya?” Wajah
saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itulah yang kemudian
menjadi merah. Namun ia masih berkata "Kami tidak mempunyai
persoalan dengan kau anak muda” “Kau cemaskan bahwa anakmu tidak
akan menang?” Jantung saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu
bagaikan akan meledak. Namun anaknyalah yang kemudian berkata
dengan nada datar tanpa gejolak sama sekali "Aku terima
tantangannya. Aku akan menyelesaikan anak ini lebih dahulu. Baru
kemudian calon menantu paman Arya Kuda Cemani. Sebenarnya aku sama
sekali tidak menganggap penting Sasi. Tetapi aku tidak mau harga
diri ay ahku direndahkan. Itu sa ja. " Orang-orang yang
melihat sikap dan kata-kata anak muda itu memang menjadi
berdebar-debar. Begitu yakin ia akan dirinya sendiri sehingga
yang terjadi disekitarnya itu seakanakan tidak mempengaruhi
gejolak jiwanya Kedua saudara laki-laki Sasi yang juga ikut
mendekat menjadi berdebar-debar. Sebagai prajurit mereka memiliki
ketahanan jiwani yang telah ditempa. Tetapi seorang diantara mereka
berdesis "Mahisa Murti akan m endapat lawan yang tentu juga berilmu
tinggi sebagaimana Mahisa Murti sendiri. " Sebenarnyalah Mahisa
Murtilah yang ingin menggantikan saudaranya menghadapi anak
saudara seperguruan Arya Kuda Cemam itu. Namun melihat sikap anak
muda yang datang untuk bertanding itu, Mahisa Murti merasa bahwa ia
memang harus berhati-hati. Sementara itu saudara seperguruan Arya
Kuda Cemani itupun berkata "Jadi akan kau lay ani anak ini?" "Ia
juga sudah merendahkan harga diri ayah dan harga diriku. Aku condong
untuk meny elesaikan anak ini lebih dahulu. Sudah aku katakan, bahwa
Sasi sama sekali tidak penting bagiku. Aku juga belum pernah
mengenalnya dan apalagi tertarik kepadanya. " Namun Arya Kuda
Cemanilah yang menyahut "Jadi kalian datang sekedar untuk
mengacaukan upacara ini?" "Tidak " jawab anak muda itu "sudah aku
katakan pula. Aku dan ayah tidak mau direndahkan, dikesampingkan dan
sama sekali tidak dihargai. Itu saja. " "Dengan cara yang
menarik sekali" desis Mahisa Murti kemudian. "Ya, itu adalah cara
yang telah kami pilih" jawab anak muda itu masih dengan nada datar."
"Baiklah, apapun alasanmu, aku tidak akan menarik kesediaanku untuk
m elayanimu. Tetapi sebaiknya kita tidak mengganggu upacara ini,
maka jalan yang kau pilih itu akan kita lakukan ditempat lain.
Bukankah kau tidak mempedulikan apa yang terjadi atas Sasi?"
berkata Mahisa Murti. Anak muda itu mengerutkan dahinya. Namun
kemudian ia menjawab "Tidak. Semuanya harus t erjadi di sini. Calon
pengantin itu harus mengetahui, bahwa ia sebenarnya tidak berharga
sama sekali dimata ayahku. Kau tidak akan dapat memancing aku pergi
dari tempat ini. Kecuali sebagaimana dikatakan oleh ayahku, semua
Senapati dan Panglima yang ada disini dan berilmu tinggi
bersama-sama mengusir kami berdua dengan kekerasan. Kami tentu akan
pergi, namun dengan demikian harga diri keluarga ini akan
terinjak-injak oleh langkah kami saat kami keluar regol halaman
rumah ini." Wajah Mahisa Murti menjadi semburat merah oleh gejolak
perasaan didadanya. Namun ia masih berusaha menguasai perasaannya.
Karena itu, maka iapun bertanya "Ki Sanak. Apakah menurut pendapatmu
pantas jika diruang dalam upacara pengantin sudah siap dilakukan
sedang dihalaman terjadi perkelahian?" "Itulah yang menarik"
jawab anak muda itu "tetapi terserah kepada kalian. " Mahisa
Bungalan yang kemudian juga turun dari tangga pendapa m
enggeretakkan giginya. Hampir saja ia kehilangan kesabaran. Namun ia
justru kagum melihat Mahisa Murti masih dapat menahan diri. Tetapi
Mahisa Murtipun kemudian berkata lantang "Baiklah. Kami akan
memberikan suguhan tontonan terbaik yang pernah diselenggarakan
dalam upacara pengantin. Apa boleh buat. " Orang-orang yang
menyaksikan menjadi tegang. Mereka memang melupakan sepasang
pengantin yang sudah siap melakukan upacara. Dalam pada itu, Mahisa
Pukat memang mendengar keributan yang terjadi. Bahkan ia sudah
hampir meninggalkan tempatnya. Namun mPu Sidikaralah yang kemudian
mendekatinya. Ia berterus terang mengatakan apa terjadi. Iapun
mengatakan keputusan yang sudah diambil oleh Mahisa Murti untuk
mewakilinya Mahisa Pukat menggeretakkan giginya. Tetapi beberapa
orang telah mencegahnya, agar ia tidak meninggalkan tempatnya.
Segala persiapan sudah dilakukan, sehingga karena itu, maka kedua
orang pengantin itu harus dilindungi dari segala macam gangguan. Di
halaman Mahisa Murti sudah siap menghadapi anak muda yang berwajah
bersih dan bermata tajam berkilat -kilat itu. Namun sikapnya dingin
dan berbicara dengan nada yang datar. Arya Kuda Cemani m emang tidak
dapat mencegahnya. Ia juga tidak mau dihinakan. Karena itu, maka ia
berpengharapan bahwa Mahisa Murti akan berhasil m ewakili
saudaranya. Bahkan didalam hati Arya Kuda Cemani sudah bertekad,
jika Mahisa Murti gagal, m aka ia akan m enantang saudara
seperguruannya itu dalam pertandingan yang sama sebagaimana
dilakukan oleh anak saudara seperguruannya itu dengan Mahisa Murti.
Namun demikian, ketika halaman rumah Arya Kuda Cemani yang
sedang melaksanakan upacara pernikahan anaknya itu berubah menjadi
arena perang tanding, maka Arya Kuda Cemani sempat m emberikan
sedikit sesorah. Arya Kuda Cemani mohon maaf kepada orang-orang
yang telah diundangnya untuk m enghadiri upacara pernikahan
anaknya. Bahkan termasuk utusan Sri Baginda Maharaja. Namun para
Senapati dan Panglima, serta para pejabat, yang hadir ditempat itu
ternyata sama sekali tidak merasa berkeberatan. Bukan karena mereka
senang menyaksikan perkelahian, tetapi merekapun mengerti, bahwa
Arya Kuda Cemani tidak mempunyai pilihan lain. Saudara
seperguruannya sudah m enyudutkannya, sehingga apa yang terjadi itu
tidak dapat dihindari. Meskipun demikian, orang-orang yang kemudian
menyaksikan perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Sikap anak muda
yang menantang calon pengantin itu sangat meyakinkan. Sikapnya,
wajahnya, pandangan matanya dan kata-kata yang meluncur dari
mulutnya. Tanpa-diminta, maka orang-orang itu telah berharap, bahkan
berdoa agar Mahisa Murti dapat mengatasi anak muda itu. Mahisa Murti
sendiri m emang menjadi berdebar-debar. Ia merasa bahwa ia harus
sangat berhati-hati. Lawannya yang berilmu tinggi itu tentu tidak
akan begitu saja mengaku kalah seandainya Mahisa Murti dapat
mendesaknya. Demikianlah, maka dengan sendiriny a telah terbentuk
satu arena di halaman rumah Arya Kuda Cemani. Para tamu telah turun
dari pendapa dan berdiri melingkar di halaman. Mahendra yang
berdiri disebelah Arya Kuda Cemani juga menjadi tegang seperti Arya
Kuda Cemani sendiri. Bahkan Mahisa Bungalan sempat menahan nafas.
Sudah lama ia tidak bertemu dan menyaksikan kemampuan adiknya.
Apalagi ketika ia melihat lawannya yang demikian yakin akan diriny
a. Sementara itu diruang dalam, beberapa orang berusaha untuk
menenangkan Mahisa Pukat yang gelisah. Ia sendiri ingin turun
untuk menyatakan bahwa dirinya tidak hanya sekedar menompang
kemampuan orang lain, meskipun orang lain itu adalah saudaranya
sendiri. Dalam pada itu, maka perkelahian di halaman itupun sudah
dimulai. Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani ju stru berdiri
didalam arena. Ketika kedua anak muda itu mulai bergerak, maka orang
itupun berkata "Buktikan, bahwa kau bukan cucurut yang pantas
disingkirkan begitu saja. Tunjukkan kepada mereka, bahwa kau juga
mempunyai harga. Selanjutnya, kau boleh saja. tidak peduli terhadap
gadis itu jika kau menganggap gadis itu tidak berharga bagimu." Yang
menggertakkan giginya adalah Mahisa Bungalan. Dengan lantang ia
berkata "Murti. Jika kau gagal, maka kaulah cucurut itu." Mahisa
Murti mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Meskipun tidak terucapkan,
ia berjanji kepada kakaknya Mahisa Bungalan, bahwa ia tidak ingin
menjadi cucurut itu. Karena itu, maka Mahisa Murtipun telah m
empersiapkan diri sebaik-baiknya. Justru ia menyadari, bahwa
lawannya tentu seorang yang berilmu sangat tinggi. Karena saudara
seperguruan Arya Kuda Cemani itu tidak keluar dari arena, maka
Mahisa Bungalan yang sulit untuk mengekang dirinya itupun telah
berada didalam arena pula. Ia akan mengimbangi apapun yang
akan dilakukan oleh saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu. Namun
di luar arena, Arya Kuda Cemani sendiri sudah bersiap sepenuhnya. Ia
akan menghadapi saudara seperguruannya itu jika ia akan ikut campur.
Mahendrapun menjadi tegang. Ia bukan saja m emikirkan Mahisa Murti.
Tetapi ia juga memikirkan perasaan Mahisa Pukat. Namun Mahendra
berharap bahwa mPu Sidikara yang masuk keruang dalam dapat
menenangkan Mahisa Pukat. Upacara yang sudah disiapkan itu
memang tertunda. Tetapi Mahisa Pukat tidak beranjak dari tempat
yang disediakan baginya. Namun seandainya yang mewakilinya
bukan Mahisa Murti, mungkin Mahisa Pukat tidak akan dapat dicegah
lagi. Demikianlah, maka Mahisa Murti dan anak muda yang datang
bersama ayahnya itu sudah bersiap untuk bertanding. Keduanya mulai
bergeser berputaran. Orang-orang yang berada di luar arena mulai
menahan naias. Kedua anak muda itu seakan-akan memang telah
disiapkan untuk turun ke gelanggang pertandingan. Kedua-duanya
nampak meyakinkan. Besar tubuh m ereka tidak terpaut banyak. Jika
pandangan mata anak muda yang datang bersama ay ahnya itu tajam
berkilat-kilat, maka mata Mahisa Murti bagaikan bercahaya memandang
lawannya itu. Sejenak kemudian, maka kedua anak muda itu sudah mulai
sal ing meny erang. Mereka masih berusaha untuk saling menjajagi.
Karena itu, maka serangan-serangan mereka masih belum terasa
berbahaya. Namun sentuhan-sentuhan yang terjadi sudah mengisy
aratkan bagi mereka berdua, bahwa mereka berhadapan dengan lawan
yang memiliki kekuatan yang besar serta kemampuan yang
tinggi. Saudara sepreguruan Arya Kuda Cemani nampak terlalu yakin
akan kemampuan anaknya. Karena itu, maka sikapnya menjadi sangat
meyakinkan pula. Ia sama sekali tidak menghiraukan kehadiran Mahisa
Bungalan didalam arena dan bahkan tidak mempedulikan sama sekali
orang-orang yang berdiri disekitar arena itu, termasuk utusan
Sri Baginda Maharaja di Singasari. Bahkan kemudian saudara
seperguruan Arya Kuda Cemani itu berkata kepada anaknya "Kau tidak
usah bertenggang rasa. Jika kau dapat melumpuhkannya selama sekejap,
lakukanlah. Biarlah orang-orang yang menyaksikan yakin, bahwa kau
memang pantas untuk dihormati melampaui calon m enantu Kuda Cemani
yang sombong itu. Jika kemudian kau tidak mempedulikan anak
Kuda Cemani, itu akan semakin meyakinkan mereka, bahwa kau datang
dituntun oleh harga dirimu. Bukan oleh nafsu untuk merebut perempuan
itu." Mahisa Bungalan hanya dapat menggeretakkan giginya. Namun ia
benar-benar berharap bahwa Mahisa Murti jangan mengecewakan
keluarganya dan keluarga Arya Kuda Cemani. Dalam pada itu,
perkelahian antara kedua orang anak muda itu semakin lama menjadi
semakin cepat. Keduanya bergerak dengan tangkas dan cepat. Kemudian
m ereka nampak dalam setiap unsur di tataran gerak mereka. Seperti
dikehendaki oleh ay ahnya, maka anak muda itu memang berniat untuk
dengan cepat meny elesaikan Mahisa Murti. Semakin cepat, maka
kemampuannya akan semakin nampak lebih tinggi. Tetapi ternyata bahwa
lawannya cukup liat. Mahisa Murti tidak dapat dengan mudah
ditundukkan. Bahkan semakin lama justru menjadi semakin sulit,
sehingga mereka telah memasuki tataran yang semakin tinggi.
Sikap saudara seperguruan Arya Kuda Cemani memang sangat menyakitkan
hati Mahisa Murti. Karena itu, maka ia tidak membiarkan lawannya itu
mendesaknya. Setiap kali lawannya itu meningkatkan ilmunya selapis,
maka Mahisa Murtipun telah melakukannya pula. Wajah-wajah yang ada
disekitar arena itu menjadi tegang. Apalagi Arya Kuda Cemani
sendiri. Bahkan semakin lama ia menyaksikan pertempuran itu, maka
wajahnya menjadi semakin tegang. Mahendra melihat ketegangan itu.
Hampir diluar sadarnya ia berdesis "Mu dah-mudahan Mahisa Murti
memiliki kemampuan setidak-tidaknya mengimbangi kemampuan anak muda
itu.” "Aku tetap berpengharapan" jawab Arya Kuda Cemani "angger
Mahisa Murti memiliki kelebihan jauh diatas kebanyakan anak-anak
sebayanya." "Tetapi anak muda itu sungguh meyakinkan" desis
Mahendra. "Yang m enarik perhatian, ilmu anak itu bukan keturunan
ilmu dari perguruan kami. Ia tentu tidak sekedar berguru kepada
ayahnya. Aku kenal betul unsur-unsur dari ilmu perguruan kami
sendiri. Aku m engenali kemampuan saudara seperguruanku itu seperti
aku mengenali kemampuanku sendiri. " desis Arya Kuda Cemani.
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Agaknya yang akan terlibat bukan
sekedar saudara seperguruan Arya Kuda Cemani sendiri. "Jika anak
muda yang bertempur dengan Mahisa Murti itu berasal dari satu
perguruan, maka perguruan itu akan dapat melibatkan diri ke dalam
persoalan yang sebenarnya sangat terbatas dan pribadi itu.”
Ternyata bukan hanya Mahendra saja yang menjadi cemas karenanya.
Arya Kuda Cemanipun kemudian berkata "Salahsalah, perguruan anak
muda itu akan dapat ikut tersinggung karenanya." "Apa boleh buat.
Untungnya Mahisa Murti juga berpijak pada sebuah padepokan meskipun
terhitung baru, sehingga belum melahirkan murid-murid yang
berilmu tinggi." "Ki Mahendra. Bukan maksud kami melibatkan angger
Mahisa Murti. Apalagi perguruannya yang sedang tumbuh itu." "Aku
mengerti Raden. Tetapi memang tidak ada pilihan lain " jawab
Mahendra. Demikianlah, maka Mahisa Murti telah terlibat kedalam satu
pertempuran yang menjadi semakin sengit. Ternyata anak muda
itu m emang m emiliki kelebihan dari anak-anak muda yang lain.
Serangan-serangannya datang beruntun seperti ombak ditepian.
Sekali-sekali pertahanan Mahisa Murti memang terguncang. Namun
setiap kali, Mahisa Murti m enjadi kokoh kembali seperti batu karang
yang tidak tergetar oleh debur ombak yang garang.
Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani mulai mengerutkan dahinya.
Menurut penglihatannya, Mahisa Murti masih saja mampu mengimbangi
kemampuan anaknya. Setiap kali anaknya meningkatkan ilmunya, maka
lawannya itupun telah melakukannya pula. Karena itu, demikian
anaknya bergerak lebih cepat, maka lawannyapun seakan-akan menjadi
lebih tangkas. Beberapa kali anak muda itu kehilangan kesempatan.
Serangannya yang nampaknya sangat mapan, namun sama sekali
tidak mengenai sasaran. Bahkan setiap kali serangannya menjadi sia
-sia saja. Semakin lama darah anak muda itu rasa-rasanya menjadi
semakin panas. Setelah berguru b ertahun-tahun, maka ketika ilmunya
diuji di arena, ternyata tidak dengan cepat dapat menyelesaikan
lawannya. Sementara itu, Mahisa Murti semakin lama semakin mengenali
tataran kemampuan ilmu anak m uda itu. Mahisa Murti memang harus
mengakui, bahwa landasan ilmu anak muda itu memang sangat mey
akinkan. Tetapi karena anak muda itu m asih belum m emiliki banyak
pengalaman, m aka ilmunya masih belum berkembang. Anak itu dengan
setia mengikuti segenap tatanan dari unsur-unsur gerak yang
dikuasainya. Namun berhadapan dengan Mahisa Murti yang sudah
memiliki pengalaman yang sangat luas, maka anak muda itu mulai
mengalami kesulitan. Beberapa kali serangan-serangan yang
sudah diperhitungkan dengan masak-sesuai dengan wewaton dari unsur
-unsur gerak yang telah dipelajarinya, ternyata hasilnya tidak
sebagaimana diperhitungkan. Wajah saudara seperguruan Arya Kuda
Cemani mulai berkerut. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, ia
mengerti kelemahan anak-anak muda yang baru keluar dari
perguruan. Ia sudah memberikan banyak sekali petunjuk. Bahkan
latihanlatihan khusus bagi anaknya agar anaknya mampu mengetrapkan
ilmunya dalam benturan yang sebenarnya terjadi. Bukan sekedar
latihan-latihan yang t eratur. Ia sudah memberikan berbagai
macam pesan, bahkan ia sendiri telah bersama-sama berada di sanggar
dengan anaknya untuk menempanya agar ilmu yang dimiliki
anaknya itu dapat ditrapkan dalam benturan ilmu yang sebenarnya.
Namun saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu harus mengakui bahwa
anak muda yang seakan-akan mewakili calon menantu Arya Kuda
Cemani itu memiliki ilmu yang tinggi sekaligus pengalaman yang luas.
Karena itu, maka ia tidak akan dapat berharap anaknya dapat
memenangkan pertempuran itu jika ia tidak mempergunakan ilmu
puncaknya. Ilmu pada tataran tertinggi yang diwarisinya dari
gurunya. Ayahnya itu mengetahui betapa dahsy atnya ilmu itu. Karena
itu, maka orang yang dikenai ilmu itu, jarang sekali yang akan mampu
bertahan. Sentuhan tangan anaknya pada puncak ilmunya akan dapat
mematahkan tulang dan melumatkan isi dada. Sedangkan pada sisi
yang lain dari ilmunya itu dapat m embuat telapak tangannya
itu bagaikan membara. Sentuhan telapak tangannya akan dapat
menghanguskan kulit daging lawannya. Bahkan jika tangannya itu
sempat mencekik leher, maka lawannya tidak akan berharap untuk dapat
meny elamatkan diri. Untuk beberapa saat orang itu masih ingin
meyakinkan seberapa jauh kemungkinan yang dapat digapai oleh
anaknya. Namun ketika serangan-serangan Mahisa Murti mulai mengenai
tubuhnya, maka orang itu y akin, bahwa anaknya harus mempergunakan
ilmu puncaknya untuk melumpuhkan lawannya. Sebenarnyalah bahwa
serangan Mahisa Murti mulai mengenai tubuh lawannya. Kakinya sempat
menyusup diselasela pertahanan anak muda itu yang terbuka,
justru saat ia menyerang. Mahisa Murti yang merendahkan diri untuk
menghindari sambaran tangan lawannya melihat bahwa bagian samping
dada lawannya itu terbuka. Karena itu, maka dengan cepat Mahisa
Murti menyerang dengan kakinya menyamping. Demikian kaki Mahisa
Murti itu menghantam bagian samping dada lawannya, maka anak itu
terputar sekali. Hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Namun
ternyata bahwa ia cukup tangkas untuk kemudian tegak kembali. Tetapi
Mahisa Murti tidak memberinya kesempatan. Dengan cepat ia memburu
lawannya. Demikian lawannya mengatasi goncangan keseimbangannya dan
tegak kembali, maka Mahisa Murti telah meny erangnya pula. Dengan
demikian, maka lawan Mahisa Murti itu harus meloncat beberapa
langkah surut untuk mengambil jarak, agar ia sempat memperbaiki
kedudukannya. Mahisa Murti yang sudah siap meloncat memburunya
terkejut. Ia melihat telapak tangan anak muda itu berasap tipis.
Namun ketajaman penglihatan matanya serta landasan pengalamannya,
segera menahannya untuk tidak segera meloncat meny erang. Dengan
tegang Mahisa Murti m emandang telapak tangan anak muda itu. Ia
melihat telapak tangan itu bagaikan menjadi bara. Kemerah-merahan
dan asap tipis nampak mengepul dari telapak tangan itu. Mahisa Murti
termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menyadari, bahwa
sentuhan telapak tangan lawannya itu akan dapat membakar kulitnya.
Namun berdasarkan atas pengalaman serta pengetahuannya tentang
berbagai macam ilmu dari orang-orang berilmu tinggi yang dikenalnya,
maka ilmu itu yang dapat melukai tubuh lawannya dengan
sentuhan api hanyalah telapak tangannya saja. Dengan demikian, maka
Mahisa Murti harus menjadi sangat berhati-hati. Sebenarnya ia dapat
menghentikan perlawanan anak muda itu dengan serangannya jarak jauh.
Tetapi Mahisa Murti tidak ingin menghancurkannya. Anak itu belum
tentu seorang yang berhati hitam. Mungkin ia terdorong oleh
keinginannya untuk mencoba ilmunya. Dipanasi pula dengan sikap
ayahnya yang agaknya memang tinggi hati itu. Maka anak muda
itu telah langsung terjerumus kedalam pertempuran melawan seorang
yang memiliki ilmu yang tinggi serta pengalaman yang luas. Namun
Mahisa Murti tidak mau membiarkan dirinya terbakar oleh ilmu
lawannya. Karena itu, maka Mahisa Murti telah mengetrapkan ilmunya
yang mempunyai daya kemampuan menghisap ilmu lawannya. Meskipun
demikian, Mahisa Murti menyadari sepenuhnya bahwa tubuhnya tidak
boleh ter sentuh telapak tangan lawannya. Justru ialah yang harus
berusaha sebanyak mungkin bersentuhan dengan tubuh anak muda itu,
tetapi tidak di telapak tangannya yang m enjadi kemerah-merahan itu.
Pertempuran selanjutnya menjadi semakin cepat. Mahisa Murti lebih
banyak berloncatan menghindar. Namun kemudian dengan tiba-tiba saja
menggapai lawannya untuk menyentuh bagian tubuhnya yang manapun
juga. Dengan sisi telapak tangannya, Mahisa Murti telah menerobos
pertahanan anak muda itu mengenai pundaknya. Pundaknya memang terasa
sakit. Anak muda itu m eloncat surut. Namun dengan cepat ia dapat m
engatasi rasa sakit itu. Bahkan kemudian dengan garang ia telah
meloncat meny erang dengan kedua telapak tangannya terbuka.
Orang-orang yang ada disekitar arena itu menjadi berdebar-debar.
Mereka seolah-olah melihat pertempuran yang tidak seimbang. Apalagi
Mahisa Murti masih juga tidak menarik pedangnya meskipun lawannya
sudah mengetrapkan ilmu puncaknya. Sementara itu, mereka masih belum
melihat, bahwa Mahisa Murti juga mempergunakan ilmu andalannya.
Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani mulai dapat menarik nafas
dalam-dalam. Ia melihat anaknya beberapa kali mendesak lawannya.
Meskipun serangan-serangan lawannya sempat meny entuh tubuhnya,
tetapi serangan-serangan itu sama sekali tidak berbahaya bagi
anaknya. Apalagi ketika telapak tangan anaknya sempat meny entuh
lengan Mahisa Murti, sehingga Mahisa Murti terkejut karenanya.
Dengan serta m erta ia meloncat menjauh. Terasa lengannya menjadi
sangat panas. Luka bakar membekas dilengannya. Kulitnya nampak
terkelupas meskipun luka itu tidak terlalu besar. "Telapak tangannya
akan segera meny entuh wajahmu. Kemudian lehermu dan seluruh
tubuhmu" berkata saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu. Tetapi
Mahisa Murti menjadi semakin berhati-hati. Meskipun ia sudah
terluka, tetapi ia tidak menarik pedangnya. Ia masih akan
menghentikan perlawanan anak muda itu dengan cara yang lain.
Pertempuranpun segera menyala lagi ketika anak muda itu meloncat
meny erang Mahisa Mutti. Kedua telapak tangannya menggapai-gapai.
Bahkan anak muda itu berusaha untuk menangkap tubuh Mahisa Murti.
Jika ia berhasil m enangkap Mahisa Murti, maka untuk beberapa saat
lamanya, telapak tangannya akan membakar tubuh lawannya itu,
sehingga genggaman tangannya akan semakin membenam ditubuh lawannya
itu sampai ke tulang. Tetapi tidak mudah untuk menangkap Mahisa
Murti. Meskipun lengan Mahisa Murti telah terluka, tetapi Mahisa
Murti m asih tetap dengan tangkas berloncatan. Sekali-sekali
tangannya mengenai pundaknya, lengannya dan bahkan kadang-kadang
kakinya yang menyapu dengan cepat, sempat mengenai paha anak muda
itu. Tetapi anak muda itu sama sekali tidak m enjadi kesakitan.
Meskipun sekali-sekali ia harus menyeringai karena serangan Mahisa
Murti yang dapat m engenainya, tetapi dengan cepat perasaan sakit
itu selalu dapat diatasinya. Bahkan Mahisa Murtilah yang harus
m eloncat surut ketika serangan kakinya berhasil ditangkis oleh
lawannya. Betisnya justru telah tersentuh telapak tangan anak muda
itu, sehingga terluka. Luka bakar itu memang tidak terlalu besar.
Tetapi ny eri di lengannya dan di betisny a itu memang membuat
Mahisa Murti bukan saja sakit kulitnya, tetapi juga sakit hatinya.
Itulah sebabny a, maka selain ilmunya yang mampu menghisap
kekuatan dan kemampuan lawannya, maka Mahisa Murti telah
meningkatkan tenaga dalamnya, sehingga serangan-serangannya menjadi
semakin garang. Sentuhansentuhan serangannya yang sempat menembus
pertahanan anak muda itu bukan saja sekedar m eny entuh, tetapi
ketika kaki Mahisa Murti sempat mengenai lambungnya, anak itu
benar-benar telah terlempar jatuh. Dengan kerasnya anak muda itu
terbanting. Sekali ia berguling ditanah. Dengan tangkasny a ia
segera berusaha untuk meloncat bangkit. Mahisa Murti sengaja tidak
memburunya. Dibiarkannya anak muda itu tegak berdiri sambil
mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Namun tubuh
anak muda itu mulai terasa aneh. Lambungnya memang merasa sakit
sekali. Tendangan Mahisa Murti tidak sekedar menyentuhnya
sebagaimana seranganserangan sebelumnya. Tetapi serangan itu
benar-benar menyakitinya. Namun yang membuatnya gelisah
bukannya perasaan sakit dilambungnya itu. Tetapi sendi-sendiny a
terasa mulai melemah. Tenaganya serasa dengan cepat susut, sehingga
kekuatannyapun menjadi jauh berkurang. Anak muda itu menjadi heran
atas dirinya sendiri. Ia sudah ditempa didalam sanggar dengan
latihan-latihan yang berat. Ia sudah terbiasa berada didalam
sanggar dan berlatih sehari suntuk bahkan lebih tanpa berhenti.
Tetapi di arena itu, ia baru bertempur beberapa lama, tenaganya
sudah mulai menjadi susut. Anak muda itu memang merasa telah
mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya untuk mengimbangi
lawannya. Bahkan kemudian dengan i lmu puncaknya. Tetapi bahwa
tenaganya dengan cepat susut, adalah diluar perhitungannya. Namun
selagi tangannya masih membara, m aka ia masih merasa y akin, bahawa
ia akan dapat m engalahkan lawannya betapapun lawannya itu bergerak
dengan cepat dan dengan tenaga yang sangat kuat. Namun ketika
kemudian anak muda itu m ulai bertempur lagi, ia menjadi semakin
merasa, betapa tenaganya benarbenar telah menyusut dengan cepat.
Mahisa Murtipun mulai melihat keadaan lawannya. Meskipun anak muda
itu masih berusaha untuk tetap garang, tetapi sebenarnya bahwa ia
sama sekali sudah tidak berbahaya lagi. Warna bara ditangannyapun
sudah mulai memudar, meskipun asap tipis masih nampak samar-samar.
Meskipun demikian, Mahisa Murti masih harus menghindarinya karena
telapak tangan itu masih akan dapat membakar kulitnya. Ketika anak
muda itu mulai bergeser mendekat, Mahisa Murti masih berdiri saja
ditempatnya. Meskipun kulitnya sudah terluka serta panas dan ny eri
telah menyengatnya, namun Mahisa Murti masih berusaha untuk menahan
diri. Sampai dibatas perkelahian itu, beberapa orang mulai menarik
nafas dalam-dalam. Arya Kuda Cemani yang mengetahui kelebihan Mahisa
Murtipun mengangguk-angguk. Ia melihat luka ditubuh Mahisa Murti.
Tetapi ia melihat bahwa tenaga lawannya telah jauh menyusut. Arya
Kuda Cemani yang m engenal Mahisa Murti dengan baik, benar-benar
telah mengaguminya. Meskipun tubuhnya telah terluka, tetapi anak
muda itu tidak membiarkan dirinya hanyut oleh arus perasaannya.
Sejenak kemudian pertempuranpun telah terjadi lagi. Anak muda itulah
yang telah meny erang Mahisa Murti. Namun Mahisa Murti tidak lagi
banyak mengalami kesulitan. Dengan tangkasnya ia menghindari setiap
serangan. Namun kemudian dengan cepat pula ia justru telah
menyerang. Beberapa kali Mahisa Murti berhasil menembus pertahanan
lawannya sehingga beberapa kali pula ia dapat mengenainya. Sementara
itu, telapak tangan lawannya yang semakin m emudar tidak lagi
mampu menggapai dan meny entuh tubuh Mahisa Murti. Saudara
seperguruan Arya Kuda Cemani melihat perubahan yang tiba -tiba
t erjadi atas anaknya itu. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman
yang luas, maka orang itu tiba -tiba telah berteriak "He, ternyata
kau telah berlaku curang. " Mahisa Murti segera tanggap. Saudara
seperguruan Arya Kuda Cemani itu telah mengetahui bahwa ia telah
mempergunakan ilmu yang mampu menghisap tenaga dan kemampuan
lawannya. Ju stru karena itu, maka Mahisa Murtipun telah meloncat
surut untuk mengambil jarak dari lawannya. Sementara itu,
lawannyapun nampak menjadi semakin letih. Ia memang berusaha untuk
memburu Mahisa Murti, tetapi langkahnya sudah mulai nampak gontai.
"Cukup, berhentilah" teriak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu
"Kenapa?" bertanya anaknya "aku sudah hampir menguasainya. Ia akan
segera menyadari kekalahannya." "Tidak " jawab ayahnya. Wajah
anaknya menjadi merah. Namun sebenarnyalah bahwa anak muda itu sudah
menjadi semakin lemah. Ketika ia melangkah maju, maka langkahnya
sudah menjadi goy ah. Beberapa orang yang berilmu tinggi yang
hadir di pertemuan itu benar-benar m erasa kagum terhadap Mahisa
Murti. Mereka m engetahui, ilmu apa yang dimiliki oleh anak
muda itu. Ilmu yang sudah jarang sekali terdapat di dunia olah
kanuragan. Yang lebih mereka kagumi adalah, bahwa anak muda itu
tidak m engetrapkan ilmunya dengan semena-mena. Ia tidak
memperlakukan lawannya dengan sewenang-wenang, apalagi karena Mahisa
Murti itu sudah dilukai. Mahisa Murti itu masih t etap dapat
mengendalikan dirinya disaat ia berdiri diambang kemenangan. Dalam
pada itu, maka saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itupun telah
melangkah mendekati Mahisa Murti sambil berkata "Ternyata kau bukan
seorang yang jantan. " "Kenapa?" bertanya Mahisa Murti. "Kau telah
mempergunakan ilmu yang sangat licik. Kau curi perlahan-lahan
kekuatan dan kemampuan anakku, sehingga sampai pada suatu saat
anakku kehabisan tenaga dan kemampuan." berkata saudara seperguruan
Arya Kuda Cemani itu. "Ki Sanak" berkata Mahisa Murti "seorang
pencuri mengambil m ilik orang lain dengan diam-diam, justru diluar
pengetahuan pemiliknya yang mungkin sedang tidur atau sedang
bepergian atau sedang melakukan satu hal sehingga ia tidak melihat
pencuri itu. Tetapi yang aku lakukan adalah satu perbuatan
yang langsung terjadi dihadapan pemilik k ekuatan dan
kemampuan itu. Ia tidak sedang tidur atau sedang lengah atau sedang
berpaling sekalipun. Kita justru sedang bertempur, sementara anakmu
telah membakar telapak tangan dengan inti kekuatan api yang
diserapnya dari udara disekelilingnya. Nah, apakah dengan demikian
aku dapat disebut curang? Justru setelah kulitku terbakar dilengan
dan betis sehingga terkelupas." "Apapun alasanmu, tetapi kau trapkan
ilmumu tanpa setahu anakku," jawab orang itu. "Sebenarnya tergantung
dari sisi mana kita memandang. Kau dapat menganggap aku licik.
Tetapi orang lain dapat saja menganggap bahwa anakmulah yang terlalu
dungu, sehingga ia tidak mengetahui bahwa ia sedang berhadapan
dengan salah satu jeni s ilmu yang dapat menghisap kekuatan dan
kemampuannya.” "Cukup" teriak saudara seperguruah Arya Kuda Cemani
"apapun yang kau katakan, tetapi kecuranganmu harus dihukum."
Wajah Mahisa Murti menjadi tegang. Dengan nada berat ia bertanya
"Apa maksudmu Ki Sanak. Apakah kau merasa berhak menghukum aku?"
“Tentu” jawab orang itu. Tetapi terdengar jawaban Arya Kuda Cemani
"Tidak. Kau tidak berhak menghukumnya. Kecuali ia tidak bersalah,
maka tempat ini adalah tempat tinggalku. Aku mempunyai wewenang
lebih besar dari siapapun yang ada disini. " "Aku tidak
peduli" jawab saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu. Lalu katanya
"Ada atau tidak ada wewenang, tetapi aku akan menghukumnya. Ia sudah
menciderai anakku dengan licik. Bahkan tidak bertanggung jawab sama
sekali, sehingga anakku kehilangan sebagian besar dari tenaganya."
“Bukankah akibat yang demikian seharusny a sudah
diperhitungkan sejak pertandingan akan dimulai? Salah seorang
diantara m ereka yang bertanding akan dapat kalah atau menang.
Kemungkinan ketiga adalah tidak ada yang kalah dan tidak ada
yang menang. Jadi, jika anak kakang kalah, itu adalah akibat
wajar dari satu pertandingan." "Tetapi tidak dengan licik" teriak
saudara seperguruan Arya Kuda Cemani. "Tidak ada yang licik,"
jawab Arya Kuda C emani "aku tahu bahwa angger Mahisa Murti
mempunyai kemampuan jauh dari yang diperlihatkan saat ini.
Bahkan seandainya kakang sendiri yang turun ke medan, maka
kakang akan dapat dihancurkan jika ia mau. Tetapi ilmu yang
telah dipergunakannya adalah ilmu yang paling lunak meskipun
akibatnya akan dapat m enjadi dahsyat sekali. Tetapi angger Mahisa
Murti t idak berbuat lebih banyak dari m enghentikan pertandingan."
Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu termangumangu. Namun Arya
Kuda Cerna nipun berkata "Kakang, sebaiknya kakang tidak melakukan
apa -apa terhadap angger Mahisa Murti. Jika kakang memang ingin
turun ke gelanggang, maka biarlah aku yang m elayaninya. Aku
adalah saudara seperguruan kakang. Kita saling mengetahui kekuatan
dan kelemahan kita masing -masing, sehingga satu diantara kita tidak
akan berbahaya bagi yang lain. Tetapi jika kakang justru ingin
melawan angger Mahisa Murti, maka kakang tentu akan menyesalinya.”
Wajah saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu benarbenar menjadi
tegang. Dipandanginya anaknya, Mahisa Murti dan Arya Kuda Cemani
berganti-ganti. Bahkan kemudian diedarkannya pandangan matanya. Baru
saat itu, seakan-akan saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu
melihat, siapa saja yang ada disekitarnya. Saudara seperguruan Arya
Kuda Cemani itu melihat beberapa pasang mata yang memandanginya
dengan tajam. Dari sorot matanya, maka dapat diduga, bahwa
orang-orang itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Sementara
itu, Arya Kuda Cemani sendiri sudah siap untuk melayaninya.
Sedangkan orang yang berdiri di sebelah Arya Kuda Cemani, meskipun
umurnya sudah lebih tua, namun dimatanya membayang kemampuannya yang
sangat tinggi. Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu berdiri
termangu-mangu. Sementara itu anaknya sudah menjadi terlalu lemah
untuk dapat bertempur lagi. Meskipun ia masih berdiri tegak, tetapi
ia sudah bukan apa-apa lagi bagi Mahisa Murti. Karena itu, maka peny
esalan memang mulai merayapi jantung saudara seperguruan Arya Kuda
Cemani itu. Ia memang tidak menyangka bahwa anaknya akan bertemu
dengan anak muda yang memiliki ilmu yang lebih tinggi.
Menurut pendapatnya, maka anaknya telah m ampu m ewarisi ilmu
yang sulit dicari bandingnya. Dalam usianya yang masih
muda, maka sulit ada anak muda sebayanya yang mampu
mengimbanginya. Ia datang kerumah Arya Kuda Cemani justru ingin
memamerkan kelebihan anaknya itu. Tetapi yang didapatkannya justru
sebaliknya. Arya Kuda Cemani yang telah m eny inggung
perasaannya, karena ia sama sekali tidak memberitahukan kepadanya,
bahwa ia akan menikahkan anaknya perempuan, akan dipermalukannya
dihadapan orang banyak. Calon menantunya akan direndahkan dan
dihinakan. Bahkan kemudian anak perempuan Arya Kuda Cemani itupun
akan direndahkannya pula dihadapan tamu-tamunya, karena ia sama
sekali tidak mengingininya. Selagi saudara seperguruan Arya Kuda
Cemani itu termangu-mangu, maka Arya Kuda Cemani itupun berkata
"Kakang. Baiklah aku m emperkenalkan anak muda itu. Anak muda yang
sudah m enempatkan diri m enjadi lawan anakmu itu adalah saudara
laki-laki calon menantuku. Ia memiliki ilmu dan kemampuan yang
seimbang dengan saudara laki-lakinya, calon menantuku itu. Semua
orang akan menjadi saksi, bahwa seandainya calon menantuku sendiri
yang turun ke gelanggang, maka akibatnya akan sama saja.
Bahkan mungkin calon menantuku tidak mampu m engekang diri
sebagaimana dilakukan oleh angger Mahisa Murti itu." Wajah saudara
seperguruan Arya Kuda Cemani terasa menjadi sangat tebal. Namun
kemudian tanpa berkata satu patah katapun, ia telah menyambar tangan
anaknya dan ditariknya untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi sekali
lagi ia terkejut. Anaknya itu hampir saja jatuh tertelungkup. Ia
tidak lagi mampu untuk berjalan terlalu cepat. Ayahnya kemudian
memang menyadari akan hal itu. Karena itu, maka iapun m enjadi lebih
berhati-hati. Bahkan anak muda itu seakan-akan telah dipapah oleh ay
ahnya keluar dari reg ol halaman rumah Arya Kuda Cemani. Beberapa
saat setelah kedua orang itu hilang dari pandangan, maka Arya Kuda
Cemani cepat mempersilahkan tamu-tamunya duduk kembali sambil minta
maaf, bahwa telah terjadi sesuatu yang mengganggu pertemuan
itu. Meskipun kemudian para tamu itu memang duduk kembali, tetapi
suasananya sudah jauh berubah. Arya Kuda Cemani memang tidak
mempunyai cara untuk dapat memulihkan kembali suasana. Meskipun
demikian serba sedikit, para tamu itu mulai memperhatikan upacara
yang memang sudah disiapkan. Meskipun terlambat, namun upacara
itupun diteruskan juga. Satu demi satu, tapak-tapak upacara itupun
berlangsung sesuai dengan ketentuan yang harus dilakukan.
Sementara itu, Mahisa Murti yang terluka telah dibawa ke ruang
digandok rumah Arya Kuda Cemani. mPu Sidikaralah yang menemaninya
serta mengobatinya. Kulit Mahisa Murti telah terkelupas, sementara
dagingnya nampak kemerahan. Luka bakar itu m emang tidak terlalu
besar, tetapi perasaan ny eri terasa semakin meny engat. "Kau sudah
mempertaruhkan nyawamu " berkata mPu Sidikara. "Tetapi bukankah aku
m asih tetap hidup ?" Mahisa Murti justru bertanya. mPu Sidikara
menganggukangguk. Katanya "Lukamu juga tidak terlalu berbahaya
meskipun tentu terasa sakit” Mahisa Murti mengangguk kecil. Tetapi
sambil tersenyum ia bertanya "mPu, apakah luka ini akan membekas?”
mPu Sidikarapun terseny um pula. Katanya "Aku mempunyai obat terbaik
untuk menghilangkan bekas luka bakar.” Mahisa Murti
mengangguk-angguk. Bahkan iapun kemudian tertawa sambil berdesis
"Jika ada noda-noda pada kulitku, maka aku akan semakin dijauhi
gadis-gadis." mPu Sidikarapun tertawa pula sambil berkata "Tetapi
luka itu hanya terdapat dilengan dan di betis. Sementara itu wajahmu
masih tetap bersih dan menarik." Mahisa Murti memang tertawa
berkepanjangan. Namun dibalik suara tertawanya terber sit
perasaannya yang pahit. Bagaimanapun juga, sentuhan pernikahan
Mahisa Pukat itu tetap terasa pedihnya dihati Mahisa Murti. Meskipun
dalam suasana yang sudah sedikit berbeda, namun upacara pernikahan
itupun dapat diselesaikan dengan selamat. Semua mata acara satu demi
satu telah diselesaikan dengan baik meskipun terlambat. Dengan
demikian, maka sejak hari itu, Mahisa Pukat tidak lagi hidup
sendiri. Ia sudah menginjak pada satu kehidupan berkeluarga. Namun
untuk sementara maka Mahisa Pukat dan isterinya akan tinggal
bersama-sama dengan Mahendra yang mendapat tempat tinggal
dibagian belakang istana. Sementara itu, Mahisa Pukat sendiri juga
bertugas di bagian lain dari istana itu. Kasatrian. Seperti
yang dikatakan, bahwa Mahisa Murti memang tidak segera
kembali. Bersama kedua orang adik angkatnya Mahisa Murti akan
tinggal sepekan lagi di Singasari Waktu yang sepekan itu sama
sekali tidak menarik bagi Mahisa Murti. Meskipun Mahisa Pukat masih
berada dirumah Arya Kuda Cemani, namun rasa -rasanya, udara Kotaraja
itu terlampau panas. Hari-hari dilalui oleh Mahisa Murti dengan hati
yang kosong. Untunglah ada Mahisa Semu dan Mahisa Amping
yang dapat mengisi waktunya dengan berbagai macam kesibukan.
Keduanya kadang-kadang minta Mahisa Murti berjalan-jalan. Pergi
ketempat-tempat yang menarik dan yang belum sempat
dilihatnya sebelumnya. Tetapi Mahisa Murti memenuhi janjinya. Ia
berada di Singasari sampai batasnya. Sepekan. Bahkan hampir setiap
hari Mahisa Murti pergi mengunjungi Mahisa Pukat meskipun hanya
sebentar-sebentar. Sambil menunggu batas waktu yang dijanjikan, mPu
Sidikara telah berhasil meny embuhkan luka -luka bakar ditubuh
Mahisa Murti. Meskipun masih nampak bekasnya lamat-lamat, namun
Mahisa Murti memang y akin, bahwa luka itu tidak akan meninggalkan
bekas dikulitnya. "Kau m emang tabib yang luar biasa, mPu "
berkata Mahisa Murti. "Sama sekali tidak, " jawab mPu Sidikara. "Kau
dapat meny embuhkan lukaku dalam waktu yang sangat pendek.
Dalam tiga hari lukaku sudah hampir hilang sama sekali. Aku kira
tabib yang m anapun tidak akan dapat berbuat demikian.
Luka-luka bakar sebagaimana aku alami itu, setidak-tidaknya m
emerlukan waktu sepuluh hari untuk menyembuhkannya. Belum lagi
menghilangkan bekasbekasnya. " berkata Mahisa Murti. "Akulah yang
seharusny a menjadi heran" berkata mPu Sidikara "aku memang
memerlukan waktu sepuluh hari untuk menyembuhkan luka sebagaimana
yang kau alami. Tetapi kau memang aneh. Kulit dagingmu seakan-akan
telah menyimpan kekuatan peny embuhan yang luar biasa. Bahkan tanpa
aku obati pun dalam waktu tiga hari lukamu akan sembuh sendiri.
Kekuatan peny embuhan yang belum pernah aku lihat sebelumnya."
"Ah, kau jangan mengada -ada mPu " desis Mahisa Murti. "Percay alah"
jawab mPu Sidikara "kau m empunyai banyak kelebihan dari orang lain.
Sebenarnya aku ju stru ingin tahu, apa yang meny ebabkan kau m
emiliki kekuatan peny embuhan seperti itu." "Kau membuat aku menjadi
besar kepala" sahut Mahisa Murti. "Yakinlah" jawab mPu Sidikara
"pada kesempatan yang panjang k elak, aku ingin m engamati
cara hidupmu. Apa saja yang kau makan. Kebiasaan apa yang kau
lakukan, jeni s air di padepokanmu atau barangkali laku yang
selalu kau jalani.” "Tidak ada yang aneh, mPu. Semuanya
sebagaimana orang lain. Aku makan nasi biasa. Minum air biasa.
Kebiasaanku sehari-hari sudah mPu lihat. Sekali-sekali aku berada di
sanggar. Lalu apa lagi ?" mPu sidikara mengangguk-angguk. Katanya
"Jika segalanya berlangsung seperti biasa, seperti kebanyakan orang,
maka kau memang memiliki keajaiban yang tidak dimiliki orang lain."
"Ah, lagakmu seperti menimang anak-anak yang sedang belajar
berjalan. " desis Mahisa Murti. mPu Sidikara tertawa. Tetapi katanya
"Aku bersungguhsungguh. Aku tidak tahu bagaimana aku harus
mengatakannya. Tetapi sebenarnyalah demikian." "Sudahlah. Biarlah
aku saja yang memuji mPu." berkata Mahisa Murti. "Tetapi pada
suatu saat kau akan y akin akan kebenaran kata-kataku." berkata mPu
Sidikara selanjutnya. "Terima kasih mPu. Jika apa yang mPu
katakan benar, maka aku adalah orang yang paling berbahagia
didunia." jawab Mahisa Murti sambil t ertawa. mPu Sidikara m emang
tidak dapat menahan tertawanya. Namun sebenarnyalah mPu Sidikara
merasa heran bahwa dalam waktu yang sangat singkat, luka-luka bakar
Mahisa Murti sudah dapat sembuh. Padahal obat yang dipergunakan
adalah obat yang terbiasa dipergunakan juga. Sedangkan bagi orang
lain, peny embuhan luka seperti yang dialami oleh Mahisa Murti
itu diperlukan waktu sekitar sepuluh hari, meskipun pada hari kelima
atau keenam luka itu sudah tidak terasa ny eri lagi. Sebaliknya
Mahisa Murti juga merasa heran, bahwa mPu Sidikara ternyata memiliki
kemampuan pengobatan yang sangat tinggi. Dalam waktu yang
pendek luka -lukanya telah dapat disembuhkan. Demikianlah akhirnya
Mahisa Murti memasuki hari-hari terakhir di Singasari. Pada malam
terakhir, Mahisa Murti sempat berjalan-jalan dengan mPu Sidikara,
sementara Mahisa Semu dan Mahisa Amping ditinggalkannya dirumah Arya
Kuda Cemani untuk menemani Mahisa Pukat. Meskipun rumah Arya Kuda
Cemani masih nampak ramai, namun keramaian itu sudah jauh menyusut,
sehingga terasa menjadi semakin lengang. Ber sama mPu Sidikara,
Mahisa Murti telah menyusuri jalan-jalan Kotaraja. Namun mereka
berjalan terus bahkan melewati pintu gerbang kota. Jalan memang
menjadi semakin sepi dan gelap. Tidak lagi banyak terdapat obor di
pintu-pintu reg ol halaman. Meskipun demikian, masih juga nampak
kerelip obor digardu-gardu perondan. Sepinya m alam itu terasa
begitu tenang dan sejuk dihati Mahisa Murti Desah angin didedaunan
membuatnya semakin segar. Luka-lukanya benar-benar telah sembuh sama
sekali. Keduanya terhenti, ketika didepan mereka terbentang bulak
yang panjang. Dengan nada rendah mPu Sidikara bertanya "Apakah kita
akan berjalan terus, atau kembali ke kota ?" Mahisa Murti
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Marilah kita kembali
saja. Mahisa Semu dan Mahisa Amping nanti terlalu lama menunggu. "
"Marilah " jawab mPu Sidikara "bulak dihadapan kita itu agaknya sama
saja dengan bulak-bulak yang lain. Apalagi dalam keremangan m
alam. Yang nampak hanyalah kunangkunang yang berkeredipan
didaun padi. Ratusan, bahkan ribuan sehingga kadang-kadang nampak
seperti bongkahbongkah bara yang kebiru-biruan.” Namun ketika mereka
sudah mulai berbalik, terdengar suara lembut "Anak muda yang
berilmu tinggi. Aku ingin minta kau meneruskan langkahmu. Kau dapat
sendiri atau bersama kawanmu itu. Aku ingin berbicara dengan kau
barang sejenak." Mahisa Murti dan mPu Sidikara termangu-mangu.
Mahisa Murtipun kemudian berdesis "Apakah kau berbicara dengan aku,
Ki Sanak?" "Ya. Aku berbicara dengan kau Mahisa Murti" jawab suara
itu. Mahisa Murti memandang mPu Sidikara sejenak. Namun sebelum ia
menjawab terdengar suara itu "Aku memang sedang menunggu kesempatan
seperti ini. Karena itu, jangan segera kembali ke kota. Berjalanlah
beberapa ratus langkah lagi ketengah bulak yang sepi dan gelap
itu." "Untuk apa?" bertanya Mahisa Murti "kita sudah bertemu disini.
Apakah kau dapat berbicara disini?" "Tidak. Aku tidak dapat
berbicara disini. T etapi aku ingin berbicara denganmu di bulak
panjang itu." "Kalau aku tidak mau" jawab Mahisa Murti. Orang
yang berbicara itu tertawa pendek. Katanya "Aku yakin kau akan
mau meluangkan waktumu sedikit." "Jika saja aku tahu untuk apa "
jawab Mahisa Murti "kedua orang adikku sudah menunggu sejak sore
hari. " "Adikmu tidak akan merasa terlalu lama menungguku. Aku hanya
memerlukan waktumu sebentar saja." jawab suara itu. Mahisa Murti m
emang ragu-ragu. Ia belum melihat orang yang berbicara itu. Namun
iapun kemudian berdesis kepada mPu Sidikara "Aku akan memenuhinya. "
Ternyata mPu Sidikara juga ingin tahu, apa yang akan terjadi. Karena
itu, maka katanya "Baiklah. Aku ternyata juga telah tergelitik untuk
mengetahui apa yang akan dilakukannya." Dengan demikian, maka
Mahisa Murti itupun berkata "Baiklah. Aku akan berjalan beberapa
ratus langkah lagi ketengah-tengah bulak itu. Tetapi aku minta kau
segera menampakkan dirimu. Orang yang berbicara sambil bersembunyi
akan dapat menimbulkan prasangka buruk karena ada kesan tidak
terbuka. Terdengar suara tertawa. Katanya "Jika aku tidak dengan
sengaja menunjukkan diriku, apakah kau tidak dapat mengetahui dimana
aku bersembuny i? " "Tidak " jawab Mahisa Murti. "Jangan malas anak
muda. Ilmumu sangat tinggi. Kau tentu memiliki ketajaman indera
melampaui kebanyakan orang. Karena itu, jika kau mau, maka kau akan
dapat menemukan aku." "Untuk apa sebenarnya kita main
sembunyi-sembuny ian? Ketika aku masih kanak-kanak aku memang senang
melakukannya. Kawanku bersembuny i ditempat yang sulit
diketemukan, tetapi aku dengan bersungguh-sungguh mencarinya. Namun
waktu itu aku m empunyai kebanggaan dan kepuasan tersendiri jika aku
berhasil menemukannya dan mendahuluinya berlari sampai ke tempat
hinggap. Apakah sekarang aku masih juga harus berbuat demikian?"
bertanya Mahisa Murti. Jawaban orang itu memang tidak
disangka-sangka "Anak muda. Ternyata jiwamu sudah benar-benar masak.
Jauh lebih masak dari sewajarnya saja. Tanpa tingkah laku yang
anehaneh." "Kau m embuat aku m alu anak muda. Baiklah, aku
benarbenar mengagumimu dengan sikapmu." Mahisa Murti tidak menjawab
lagi. Tetapi ia mulai merasakan sesuatu yang tidak diinginkan akan
terjadi. Sebenarnyalah sejenak kemudian, Mahisa Murti melihat bayang
an dikegelapan. Seseorang berdiri beberapa langkah dihadapannya.
Namun Mahisa Murti belum dapat melihat wajah orang itu dengan jelas.
Tetapi satu hal yang diyakini, orang itu tentu orang yang
berilmu sangat tinggi, sehingga Mahisa Murti tidak tahu, kapan orang
itu m eloncat ketengah jalan yang dilaluinya itu. Namun dengan
demikian, maka Mahisa Murtipun mengajak mPu Sidikara untuk melangkah
mendekat. Tetapi jarak antara Mahisa Murti dan mPu Sidikara dengan
orang itu tidak menjadi lebih dekat. Keduanya tidak m elihat orang
itu menapak mundur. Tetapi rasa -rasanya orang itu tidak dapat
didekatinya. Namun tataran ilmu Mahisa Murti dan mPu Sidikara
yang juga cukup tinggi, tidak begitu menghiraukannya. Mereka
melangkah terus ditengah-tengah jalan bulak yang gelap. Tetapi
setelah menurut pendapat Mahisa Murti cukup jauh, maka iapun telah
berhenti sambil berkata "Aku hanya akan sampai disini. " "Tidak anak
muda" berkata orang itu "aku ingin kau lebih mendekat. Dengan
demikian kita akan dapat saling melihat dan mendengar pembicaraan
kita dengan lebih jelas." Tetapi Mahisa Murti menjawab "Cukup Ki
Sanak. Jika kau ingin melihat dan mendengar pembicaraan kami lebih
jelas, maka kau sajalah yang mendekat." "Bukankah itu tidak pantas?
Kaulah yang muda, datanglah mendekat lagi." Tetapi Mahisa Murti
justru m engajak mPu Sidikara duduk diatas rerumputan sambil berkata
"Jika kau ingin m endekat, mendekatlah. Jika tidak, maka biarlah aku
kembali ke kota." Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya "Kau m emang keras anak muda. Tetapi baiklah. Aku akan
mendekat.” Sebenarnyalah bayang an itu telah bergeser beberapa
langkah semakin dekat. Namun yang nampak didalam kegelapan
malam hanyalah ujudnya saja. Mahisa Murti masih belum dapat melihat
dengan jela s wajah orang itu. Namun Mahisa Murti dan mPu
Sidikarapun telah berdiri tegak pula. Ju stru mereka sudah bersiap
menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi. "Anak muda"
berkata orang itu "ternyata kau adalah seorang yang memang benar
-benar sudah matang. Bukan saja ilmumu, tetapi juga sikapmu." "Kau
tidak usah m emuji Ki Sanak. Sekarang, katakan, apa yang kau
ingini." "Anak muda" jawab orang itu "perkenankan aku memperkenalkan
diri. Aku adalah orang yang sudah lama sekali menenggelamkan diri
dalam ilmu kanuragan. Sejak kanak-kanak aku sudah berguru dengan
tekun. Sehingga akhirnya aku memiliki ilmu yang cukup menurut
penilaianku sendiri. Tetapi tiba -tiba saja aku melihat kemampuan
ilmumu. Aku menjadi sangat iri karenanya." "Kenapa?" bertanya Mahisa
Murti "bukankah kau sendiri sudah memiliki ilmu yang tinggi?" "Aku
menjadi kurang y akin akan ilmuku sendiri. Itulah sebabnya aku
menemui sekarang ini." "Jadi, maksudmu?" bertanya Mahisa Murti. "Aku
hanya ingin sedikit membuat perbandingan ilmu. Aku ingin
menantangmu." jawab orang itu. Mahisa Murti menarik nafas
dalam-dalam. Katanya "Darimana kau tahu dan kemudian m enganggap
bahwa aku berilmu tinggi?" "Aku pernah melihat kau bertempur. Jika
kau bertanya kapan dan dimana, maka aku sudah lupa." jawab orang
itu. "Kau siapa?" bertanya Mahisa Murti. "Aku kira, kau tidak perlu
mengetahui siapa aku. Yang penting, marilah kita mencoba, ilmu
siapakah yang lebih baik. " "Apakah itu perlu?" bertanya
Mahisa Murti "jika kau ingin dianggap terbaik, maka biarlah aku
nyatakan kaulah orang yang terbaik itu." "Tidak anak muda. Soalnya
bukan yang terbaik atau bukan. Tetapi aku benar-benar ingin
membuat satu perbandingan ilmu." jawab orang itu "ilmuku atau
ilmumulah yang lebih baik. Itu saja." "Jika kau sudah mengetahui,
apakah ada gunanya?" "Tentu. Hal itu akan sangat berguna bagiku,"
jawab orang itu. "Tetapi tidak bagiku." jawab Mahisa Murti. "Bagimu
tentu akan sangat berarti juga. " "Aku tidak memerlukannya" jawab
Mahisa Murti. "Jika demikian, perlu atau tidak perlu, aku akan
memaksakan kehendakku. Aku sangat memerlukannya" berkata orang itu.
Mahisa Murti tidak dapat berbuat lain. Dipandanginya mPu Sidikara
sejenak untuk mendapat pertimbangannya. "Bukan kau yang
memaksakan kehendakmu" berkata mPu Sidikara tegas. Agaknya mPu
Sidikara tidak begitu senang terhadap sikap orang itu. "Baiklah"
berkata Mahisa Murti "meskipun aku tidak mengenalmu, yang karena itu
tidak mempunyai per soalan apapun denganmu, tetapi jika kau
memaksakan kehendakmu, maka apaboleh buat." "Bagus anak muda"
berkata orang itu "aku memang sangat berharap." Mahisa Murtipun
kemudian telah m elangkah maju. Tanpa mengetahui maksud sebenarnya
dari orang itu, maka Mahisa Murtipun sudah bersiap menghadapinya.
"Bersiaplah anak muda” berkata orang itu "aku tidak akan sekedar
bermain-main. Dalam perbandingan ilmu, untuk mencapai kesimpulan
yang paling baik adalah apabila kita bersungguh-sungguh. Jika
salah seorang diantara kita mengalami kesulitan atau bahkan mati,
itu adalah akibat wajar dari satu usaha untuk mencapai hasil yang
sebaik-baiknya." Mahisa Murti mengerutkan dahinya. Ia merasa bahwa
ia telah terlibat dalam satu persoalan yang belum dimengertinya.
Demikianlah, maka orang itupun telah bersiap. Semakin lama, maka
pandangan Mahisa Murtipun menjadi semakin jelas didalam kegelapan.
Ia mulai dapat m elihat wajah orang itu. Apalagi ketika mereka
berhadapan semakin dekat. "Bersiaplah anak muda, aku akan mulai"
desis orang itu. Mahisa Murti telah bersiap sepenuhnya. Sementara
mPu Sidikarapun telah bergeser menjauh. Sejenak kemudian, orang itu
mulai bergerak. Ia dengan serta merta telah m enyerang. Bukan
sekedar untuk menjajagi ilmu Mahisa Murti, tetapi
serangan-serangannya datang beruntun dengan garangnya melanda Mahisa
Murti yang memang agak menjadi terkejut. Namun Mahisa Murtipun
segera menyesuaikan diri. Ia sa dar bahwa ia berhadapan dengan orang
berilmu tinggi. Karena itu, maka anak muda itu merasa harus sangat
berhatihati. Pa da benturan-benturan yang terjadi kemudian,
maka Mahisa Murti merasakan betapa besar tenaga dan kemampuan orang
itu. Apalagi orang itu telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi.
Karena itulah maka Mahisa Murtipun harus dengan cepat meningkatkan
ilmunya pula. Bahkan ada sedikit kesan tergesa -gesa. Tetapi karena
pada da sarnya Mahisa Murti m emiliki ilmu yang tinggi, maka
pertempuran itupun dengan cepat telah menjadi semakin sengit.
Keduanya telah menghentakkan tenaga dalam yang mereka miliki.
Sehingga dengan demikian benturan yang terjadipun menjadi semakin
kuat dan keras. mPu Sidikara yang melihat pertempuran itu menjadi
cemas. Ia m elihat seakan-akan keduanya adalah orang-orang yang
sudah mendendam untuk waktu yang lama. Demikian mereka bertemu, maka
benturan yang sangat sengit telah terjadi. Sebenarnyalah bahwa
Mahisa Murti dengan cepat m erasa betapa lawannya telah menekannya.
Serangan-serangannya datang beruntun susul-menyusul. Tangan dan kaki
orang itu menyambar-ny ambar dengan cepat dilam bari kekuatan yang
sangat besar. Mahisa Murti juga harus mengerahkan kekuatan dan
kemampuannya untuk mengimbangi tekanan lawannya. Sebagai m ewaris
ilmu Bajra Geni, maka Mahisa Murti benarbenar meyakinkan. Ketika
lawannya menekannya semakin berat, maka Mahisa Murtipun segera
sampai kepuncak ilmunya. Dengan demikian, maka pertempuranpun
menjadi semakin mendebarkan. Dua kekuatan ilmu yang tinggi
telah saling berbenturan. Ketika keduanya benar-benar sampai
kepuncak ilmu mereka, m aka pertempuran itupun menjadi semakin
rumit. Sekali-sekali keduanya bagaikan tenggelam dalam satu pusaran
yang cepat. Namun kemudian keduanya telah mengambil jarak. Mereka
hanya berkisar sejengkal-sejengkal dengan gerak-gerak yang
nampaknya sederhana. Orang yang menantang Mahisa Murti itu
ternyata masih juga berusaha menekan Mahisa Murti. Tetapi sentuhan
tangan Mahisa Murti telah m embuatnya sangat berhati-hati. Tangan
Mahisa Murti yang dilam bari ilmunya itu seakan-akan menjadi
sekeras baja. Bahkan semakin mapan ilmunya, sentuhan ilmu Bajra Geni
itu telah m enjalarkan getaran yang tajam kedalam tubuh lawannya.
Namun lawannya seakanakan mampu meredam ilmu itu. Seakan-akan tubuh
orang itu memiliki kekuatan penangkal, sehingga getaran yang
menjalar itu tidak menyakitinya. Demikian pula tangan Mahisa Murti
yang menjadi sekeras baja itu tidak menggoyahkan pertahanannya.
Bahkan lawannya itu justru telah semakin mendesaknya. Kekuatannya
seakan-akan justru semakin lama semakin besar. Sentuhan tangan
Mahisa Murti yang menjadi bagaikan sekeras baja ternyata telah
membentur tubuh yang seolah-olah menjadi liat. Kekuatan yang besar
dan keras itu telah mengenai sasaran yang mampu menelan
kekuatan dan kekerasan serangan Mahisa Murti. Tubuh orang itu,
bahkan tulang-tulangnya seakan-akan menjadi sangat lentur sehingga
benturan yang terjadi kemudian telah berubah, karena lawan
Mahisa Murti itu tidak lagi mengandalkan benturan kekerasan untuk
melawan kekerasan. Dengan demikian, maka Mahisa Murti telah
mengalami kesulitan. Yang terkilas kemudian di kepalanya adalah
mempergunakan ilmunya yang lain. Mahisa Murti telah
mengetrapkan pula ilmunya yang mampu menghisap kekuatan dan
kemampuan lawannya. Beberapa saat pertempuran itu masih b erlangsung
dengan sengitnya. Mahisa Murti berusaha untuk sebanyak-banyaknya
membenturkan serangannya atau ju stru menangkis serangan lawannya.
Namun lawannya seakan-akan menjadi semakin liat. Mahisa Murti merasa
semakin sulit untuk menghindari serangan-serangan itu. Beberapa kali
lawannya mampu menembus pertahanannya dan mengenai tubuhnya. Dalam
pada itu, semakin lama Mahisa Murti bertempur, maka ia melihat
sesuatu yang menarik perhatiannya. Meskipun lawannya itu
seorang yang berilmu tinggi, dengan tatanan dan unsur-unsur gerak
yang sangat rumit dan berbahaya, namun ada yang dapat
dikenalinya. Sekali-sekali Mahisa Murti m erasakan kesamaan unsur
gerak lawannya itu dengan unsur gerak anak saudara seperguruan Arya
Kuda Cemani. Karena itu, maka Mahisa Murti mulai menjadi curiga,
bahwa orang itu adalah saudara seperguruan atau bahkan guru anak
muda yang telah dikalahkannya itu. Namun meskipun persamaan
itu dikenalinya, tetapi tataran antara keduanya sangat jauh berbeda.
Lawannya itu agaknya benar-benar telah m ampu mengembangkan ilmunya
sampai kepuncaknya. Meskipun demikian, Mahisa Murti masihberpeng
harapan. Dengan ilmunya yang mampu menghisap kekuatan dan
kemampuan lawannya, ia akan dapat meredakan seranganserangan
lawannya itu. Tetapi harapan Mahisa Murti itu tidak segera terjadi.
Meskipun benturan demi benturan terjadi, namun Mahisa Murti masih
saja menghadapi lawannya dengan kekuatan dan ilmunya yang justru
seakan-akan menjadi semakin tinggi. Ketika Mahisa Murti menjadi
gelisah, maka terdengar lawannya itu berkata "Ilmumu memang luar
biasa anak muda. Tetapi kau tidak akan mampu menghisap kekuatan dan
kemampuanku dengan ilmumu itu. Ilmu yang jarang dimiliki orang
sekarang ini. Ilmu yang sangat ditakuti oleh banyak orang." Jantung
Mahisa Murti m emang berdebar semakin keras. Ternyata orang itu m
emang berilmu sangat tinggi. Ilmunya yang selalu mampu menghentikan
perlawanan lawanlawannya itu ternyata tidak dapat ditrapkan kepada
lawannya itu. Namun dengan demikian Mahisa Murti harus mulai
memperhitungkan kemungkinan untuk mengetrapkan ilmu pamungkasny a.
Jika tidak ada jalan lain, maka ia akan melontarkan ilmunya itu.
Tetapi akibatnya tidak dapat diduganya. Namun karena ilmunya untuk
menghisap kekuatan lawannya serta ilmu Bajra Geniny a tidak mampu
menghentikan perlawanan orang yang tidak dikenalnya itu, maka
Mahisa Murtipun harus mempersiapkan diri dengan ilmu pamungkasnya.
Bahkan Mahisa Murti sudah berniat untuk mempergunakan pedangnya yang
akan mampu mendukung kekuatan ilmu pamungkasnya. Ketika lawannya
menjadi semakin mendesaknya, maka Mahisa Murti itupun telah menarik
pedangnya yang berwarna kehijau-hijauan. Lawannya yang melihat
pedang itupun meloncat surut. Dengan nada berat ia berkata "Pedangmu
adalah pedang yang jarang ada duanya. Darimana kau dapatkan pedang
itu” "Apakah kau perlu mengetahuinya ?" bertanya Mahisa Murti." "Aku
mengerti bahwa kau tidak akan mengatakannya. Tetapi sudah tentu
bahwa aku tidak akan membiarkan leherku kau tebas dengan pedangmu
itu." "Aku tidak akan pernah m enanyakannya. Tetapi aku akan
melakukannya kecuali jika kau menghentikan pertempuran ini." geram
Mahisa Murti. "Tidak anak muda " jawab orang itu "aku masih belum
mengetahui kemampuanmu sampai tuntas. Karena itu, maka aku akan
bertempur terus. Jika kau mati dalam pertempuran ini, itu adalah
salahmu sendiri. " Mahisa Murti tidak menjawab lagi. Tetapi iapun
dengan serta merta telah meny erang orang itu. Pedangnya berputaran
dengan cepat. Sehingga yang nampak kemudian seolah-olah sebuah
gumpalan asap yang berwarna kehijau-hijauan. Tetapi lawan Mahisa
Murti itupun kemudian telah menarik senjatanya pula. Sepa sang pisau
belati panjang. Ternyata bahwa pisau belati panjang itu berwarna
kehitaman. Kerelipkerelip kecil nampak sepanjang daun pisau belati
yang mirip dengan sebilah keris itu. Bahkan ternyata orang itu
berkata "Yang aku pegang memang berbentuk pisau. Tetapi buatannya
tidak lebih buruk dari membuat keri s. Bahkan ketika pisau ini
dibuat, mPu yang membuatnya sangat memperhatikan
kekurangan-kekurangan yang terdapat pada sebilah keris jika
dipergunakan untuk bertempur seperti yang sedang kaulakukan
sekarang. Karena itu, maka mPu itu telah membuat senjata yang
daunnya seperti keris dengan pamornya tetapi m emiliki kemampuan
tempur lebih baik daripada keris. Bahkan sebagai pusaka, kedua
pisauku ini terbuat dari wesi aji yang bernilai tinggi."
Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi pedangnya mulai menebas dengan
cepat. Namun lawannya mampu menangkisnya. Bahkan kemudian ketika
pedang itu berputar dan mematuk kearah jantung. Lawannya itu telah
meloncat surut dengan cepatnya. Sejenak kemudian, maka
pertempuranpun berlangsung semakin cepat. Benturan-benturan yang
terjadipun menjadi semakin keras. Namun terasa ditangan Mahisa
Murti, bahwa kekuatan lawannya benar -benar tidak menyusut sama
sekali. Bahkan semakin lama kedua ujung pisau belati itu rasarasanya
menjadi semakin dekat dengan kulit Mahisa Murti. Mahisa Murti
benar-benar tidak mempunyai pilihan lain. Sebelum kulit dagingnya
disayat oleh pisau lawannya, maka Mahisa Murti m emutuskan untuk
menghentikan perlawanan orang itu dengan ilmu pamungkasnya. Tetapi
memang tidak mudah bagi Mahisa Murti untuk melepaskan ilmunya
yang mungkin akan dapat menghancurkan tubuh lawannya. Meskipun
ia tahu bahwa lawannya orang berilmu tinggi. Bahkan mungkin lawannya
akan dapat melepaskan ilmunya yang jauh lebih berbahaya dari ilmu
Mahisa Murti sehingga ia sendirilah yang akan hancur menjadi
debu. Namun saat-saat Mahisa Murti menjadi ragu ia telah
dipergunakan lawannya sebaik-baiknya. Serangannya ju stru telah
melibatnya dengan cepat, sehingga tidak sempat dihindarinya lagi.
Dua g oresan pisau telah menyayat lengan dan pundaknya. Ketika
perasaan pedih dan ny eri itu meny engatnya, maka Mahisa Murti
segera m eloncat mundur. Ia terkejut ketika ia merasa darah
yang hangat telah meleleh dari luka-lukanya. Dengan demikian,
maka Mahisa Murtipun menjadi semakin y akin bahwa ia harus
mempergunakan ilmu pamungkasny a. Jika lawannya juga mempergunakan
ilmu yang lebih tinggi dari ilmunya, maka apaboleh buat. Ia sendiri
akan lebur digelapnya m alam. Biarlah mPu Sidikara menjadi sak si
kehancurannya. "Mudah-mudahan mPu Sidikara dapat m eny ebut siapakah
lawanku ini" berkata Mahisa Murti didalam hatinya "jika mPu Sidikara
melihat unsur-unsur geraknya yang sama tetapi dalam tataran
yang jauh lebih tinggi dari anak saudara seperguruan Arya Kuda
Cemani, maka mPu Sidikara tentu akan dapat menyebut pula siapakah
lawanku, sehingga ayah dan Arya Kuda Cemani mengetahui, bahwa
kekalahan anak muda di halaman rumah Arya Kuda Cemani itu telah
menimbulkan dendam bagi perguruannya. Meskipun mPu Sidikara tidak
tahu apakah orang ini saudara seperguruannya atau bahkan gurunya
sendiri." Demikianlah, maka Mahisa Murti tidak mempunyai pilihan
lain. Ia tidak mau dikoyak-koyak oleh pisau-pisau belati lawannya.
Karena itu, ketika keadaannya menjadi semakin sulit, maka Mahisa
Murtipun telah meloncat mengambil jarak. Mahisa Murti tidak memberi
kesempatan meny erang. Demikian lawannya siap untuk m eloncat m
emburunya, maka Mahisa Murtipun telah berdiri tegak dengan kedua
belah tangannya m emegangi hulu pedangnya. Dengan cepat ujung
pedangnya telah terangkat, sedang ujungnya lurus mengarah ke dada
lawannya. Mahisa Murti tidak menunggu lagi. Dengan dilambari oleh
segenap ilmu dan kekuatan yang tersimpan didalam dirinya, maka
Mahisa Murti telah melontarkan serangannya dari jarak beberapa
langkah dari lawannya. Demikian ujung pedangnya yang berwarna
kehijau-hijauan itu lurus mengacu kearah dada lawannya, maka seleret
sinar meluncur dengan cepat dari ujung pedangnya melampaui kecepatan
anak panah yang lepa s dari busurnya. Namun ternyata lawannya
benar-benar tangkas. Ia memang terkejut sesaat. Tetapi ternyata
orang itu masih sempat meloncat dengan kecepatan yang tidak ka sat
mata, sehingga serangan Mahisa Murti itu tidak mengenainya. Namun
Mahisa Murti tidak m embiarkan orang itu terlepas. Karena itu,
sesaat kemudian maka serangan berikutnya telah terlepas pula
meluncur mengarah ke jantung orang itu. Tetapi sekali lagi serangan
Mahisa Murti tidak mengenai sa saran. Orang itu sempat m enghindar
dan bahkan m eloncat semakin dekat. Bahkan serangan ketiga Mahisa
Murtipun tidak mengenainya pula. Lawan Mahisa Murti itu sudah berada
dekat disebelahnya. Dengan demikian, maka Mahisa Murti tidak sempat
lagi meny erangnya. Apalagi ujung senjata lawannya itu telah terayun
menggapai tubuhnya, sehingga Mahisa Murti harus meloncat m
enghindar. Ketika kemudian Mahisa Murti berusaha untuk mengambil
jarak, maka orang itu benar-benar tidak memberinya kesempatan.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti m engalami kesulitan. Meskipun
orang itu belum mempergunakan ilmu yang mampu menggetarkan
jantung, namun kecepatan geraknya serta kemampuannya menangkal ilmu
Mahisa Murti yang dapat menghisap kekuatan dan kemampuannya, telah
membuat Mahisa Murti berdebar-debar. Bahkan juga mPu Sidikara yang
berdiri diluar arena. Dengan demikian, maka mPu Sidikara
memperhitungkan bahwa Mahisa Murti tidak akan mampu mengimbangi
kemampuan orang itu. Padahal menurut pendapatnya, Mahisa Murti
adalah seorang anak muda yang berilmu sangat tinggi, bahkan hampir
tidak dapat digapai oleh penalarannya. Tetapi lawannya itu ternyata
mampu mengatasinya. Bahkan menjadi sangat berbahaya bagi Mahisa
Murti. Karena itu, tanpa berpikir panjang lagi, maka mPu Sidikara
itupun telah m elangkah maju sambil berkata "Ki Sanak. Kau datang
dengan membawa dendam dihatimu. Aku melihat hubunganmu dengan anak
saudara seperguruan Arya Kuda Cemani. Karena itu, kedatanganmu tentu
ada hubungannya dengan kekalahan anak itu yang telah bertempur
melawan Mahisa Murti. Sekarang kau datang untuk membalas dendam.
Sebenarnya aku tidak akan turut campur seandainya kedatanganmu itu
bukan karena dendam. Sementara Mahisa Murti berdiri dipihak yang
benar. Karena itu, sebagaimana kau membela anak muda itu, yang aku
tidak tahu apakah ia saudara seperguruanmu atau muridmu, maka akupun
akan membela sahabatku. Akupun telah dibakar oleh dendam sebagaimana
menyala dihatimu.” Orang itu ternyata meloncat surut. Dengan nada
rendah ia berkata "Ki Sanak. Aku tahu bahwa ilmumu masih belum
setinggi ilmu Mahisa Murti. Tetapi jika kalian berdua bertempur
bersama-sama m aka aku tentu tidak akan dapat mengimbangi. Kalian
berdua memiliki kemampuan menyerang dari jarak jauh. Aku masih mampu
m enghindar jika Mahisa Murti saja yang meny erangku, tetapi jika
kalian berdua meny erang bersama-sama, maka aku tentu akan dapat
kalian hancurkan. Sementara itu, aku tidak ingin melakukannya atas
kalian. Baik kalian berdua maupun salah seorang diantara kalian. "
mPu Sidikara termangu -mangu sejenak. Namun iapun kemudian berkata
"Jangan berbohong. Kau tidak m empunyai kemampuan untuk berbuat
demikian. " "Aku sudah menduga bahwa kalian tidak akan
mempercayainya. Tetapi jangan licik. Beri aku kesempatan menunjukkan
kepada kalian apakah aku dapat berbuat demikian atau tidak." Mahisa
Murti dan mPu Sidikara tidak menjawab. Sementara itu, ia melihat
orang itu mengatupkan kedua telapak tangannya. Namun sejenak
kemudian, orang itu telah menghentakkan tangannya ke arah sebatang
pohon gay am yang tumbuh di atas tanggul parit di pinggir jalan.
Dari telapak tangannya yang terbuka itu seakan-akan telah
meluncur bola api sebesar buah jeruk pecel m eluncur dengan cepat
kearah pohon gayam itu. Bola api yang berwarna merah kebiru
-biruan. Namun demikian bola api itu menyentuh selembar daun pada
pohon gay am itu, maka m eledaklah bunga api sebesar gubug kecil
yang terdapat di tengah-tengah sawah untuk berteduh para
petani dari teriknya matahari yang meny engat punggung disaat mereka
bekerja disawah ditengah hari. Mahisa Murti dan mPu Sidikara memang
terkejut. Mereka menjadi semakin y akin, bahwa lawannya berilmu
sangat tinggi. Kedua orang itu bagaikan membeku ketika mereka
melihat bunga api itu kemudian padam. Ternyata cabang daun pohon
gayam itu telah habis terbakar. Sementara cabang dan rantingranting
masih nampak membara.Namun kemudian cabangcabang pohon gayam itu
beruntuhan jatuh di tanah. Namun dengan m eledaknya bunga api itu,
Mahisa Murti dan mPu Sidikara sempat melihat wajah orang itu
sekilas. Bukan sekedar bayangan di kegelapan. Tetapi mereka dapat
melihat wajah itu dengan jela s. Wajah seorang yang umurnya tentu
sudah melampaui pertengahan abad. Meskipun demikian, dengan
kesadaran bahwa orang itu berilmu sangat tinggi, maka Mahisa Murti
dan mPu Sidikara tidak dapat ingkar. Jika mereka masih harus
bertempur, maka mereka telah bersiap menghadapi segala kemungkinan,
apapun yang akan terjadi atas mereka. Tetapi keduanya menjadi heran.
Orang itu nampaknya tidak mempersiapkan diriny a untuk meneruskan
pertempuran. Sambil melangkah surut orang itu berkata "Sayang. Aku
tidak dapat meneruskan pertempuran ini. Seperti sudah aku katakan,
aku tidak ingin membinasakan kalian atau salah seorang dari kalian.
Karena menurut pendapatku, kehadiran kalian ternyata sangat berarti
bagi orang banyak. Telah banyak yang kalian lakukan untuk
kepentingan sesama. Karena itu, maka keinginanku untuk membuat
perbandingan ilmu sudah aku anggap cukup. Aku sudah tahu seberapa
tinggi tingkat kemampuan Mahisa Murti. Karena itu, aku mohon diri.
Aku m inta m aaf jika aku sudah melukaimu, Mahisa Murti. Tanpa
melukaimu, maka kau tentu tidak akan sampai kepada puncak
kemampuanmu. Salam buat Mahendra, Arya Kuda Cemani, Mahisa Pukat dan
seluruh keluarga mereka termasuk para penghuni Padepokan Bajra Seta.
" Orang itu tidak menunggu jawaban. Sejenak kemudian, orang itu
seakan-akan melayang mundur. Semakin lama semakin jauh, sehingga
akhirnya hilang didalam kegelapan. Mahisa Murti menarik nafas
dalam-dalam. Namun lukanya ternyata masih juga terasa ny eri. Ketika
Mahisa Murti berdesis menahan pedih luka dilengan dan pundaknya,
maka mPu Sidikarapun berkata "Lukamu perlu diobati. Mungkin luka itu
berbahaya sehingga orang itu tidak merasa perlu untuk meny erangku
dengan ilmunya yang lain." "Aku tidak terpengaruh oleh racun"
berkata Mahisa Murti. "Mungkin ia mempunyai sejeni s racun
yang lain." desis mPu Sidikara. Mahisa Murti termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian katanya "Menilik titik -titik darah
yang keluar dari luka, agaknya luka itu justru tidak beracun."
mPu Sidikara mengangguk-angguk. Ketika ia melihat luka itu, ia m
emang m enduga bahwa luka itu tidak dikotori oleh racun. Tetapi mPu
Sidikara masih ingin melihat luka itu ditempat yang lebih
terang. Karena itu, maka iapun mengajak Mahisa Murti untuk kembali m
emasuki kota. Dibeberapa regol halaman terdapat onc or yang dapat
menerangi luka itu. Ketika mPu Sidikara melihat luka Mahisa Murti
dibawah cahaya oncor disebuah reg ol rumah yang besar,
ternyata bahwa luka itu m enurut pengamatan mPu Sidikara memang
tidak beracun. "Nampaknya orang itu m emang tidak berniat buruk"
desis mPu Sidikara kemudian, Mahisa Murti mengangguk. Katanya
"Mungkin. Menurut perhitunganku, ia akan dapat berbuat lebih banyak
dari yang dilakukannya itu. Agaknya orang itu benar-benar ingin
menjajagi kemampuanku sampai kepuncak." "Lalu, menurut pendapatmu,
apa maksudnya melakukan penjajagan sampai tuntas ?" bertanya mPu
Sidikara. Mahisa Murti menggeleng. Katanya "Aku tidak tahu. Ia
datang dan pergi begitu saja." "Tetapi agaknya orang itu mempunyai
hubungan dengan anak saudara seperguruan Arya Kuda C emani. "
berkata mPu Sidikara. "Aku juga melihat unsur itu." jawab Mahisa
Murti. "Unsur itu jelas ada. Ketika kau berkelahi dengan anak itu,
aku tidak dapat melihat dengan utuh. Tetapi aku dapat melihat
kesamaan itu." berkata mPu Sidikara. Mahisa Murti mengangguk-angguk.
mPu Sidikara waktu itu memang sibuk dengan Mahisa Pukat. Namun ia
dapat segera mengenali kesamaan unsur yang ada diantara kedua lawan
Mahisa Murti itu meskipun pada tataran yang jauh berbeda.
"Sudahlah" berkata mPu Sidikara "kita akan pulang. Bukankah Mahisa
Semu dan Mahisa Amping menunggumu di rumah Arya Kuda Cemani ?"
"Dengan luka dibahu dan dipundak ?" "Lalu, apakah anak-anak itu
dibiarkan disana, sementara besok kau merencanakan kembali ke
Padepokan Bajra Seta ?” "Aku ingin pulang kerumah ay ah lebih dahulu
untuk sekedar m embersihkan darah yang m engering disekitar
luka, agar beka snya tidak nampak terlalu menarik perhatian. "Tetapi
luka itu sendiri tidak akan hilang dalam sekejap”, berkata mPu
Sidikara.
Jilid 116 "MESKIPUN demikian setelah
dibersihkan, kesannya akan berbeda sekali." mPu Sidikara memang
tidak berkeberatan. Karena itu, maka merekapun segera berjalan
kembali kerumah Mahendra. Ketika Mahendra melihat anaknya yang
terluka, maka iapun menjadi sangat terkejut. Dengan serta merta maka
iapun bertanya "Apa yang terjadi ?" "Biarlah mPu Sidikara
berceritera ay ah, aku akan membersihkan lukaku lebih dahulu." "Kau
memerlukan air hangat" berkata ayahnya. "Aku akan merebusnya " jawab
Mahisa Murti. Demikianlah ketika Mahisa Murti sibuk didapur bersama
pembantu dirumah Mahendra sebelum mandi dan membersihkan lukanya,
maka mPu Sidikara telah berceritera tentang orang yang aneh,
yang menemui mereka dibulak panjang sedikit diluar kota. mPu
Sidikara menceriterakan apa yang telah terjadi dari awal
sampai akhir. mPu Sidikara juga berceritera tentang pohon gayam yang
terbakar. Terakhir mPu Sidikara menyampaikan salam dari orang yang
aneh itu sebelum ia menghilang dikegelapan. "Orang itu tentu berilmu
sangat tinggi" berkata Mahendra. "Namun nampaknya ia memang tidak
berniat buruk" sahut mPu Sidikara. "Mudah-mudahan ia memang tidak
berniat buruk." sahut Mahendra sambil mengangguk-angguk. "Jika ia
berniat buruk, tentu ia sudah melakukannya, karena ia memang
mempunyai kesempatan untuk itu" berkata mPu Sidikara selanjutnya.
Sementara mPu Sidikara berbincang dengan Mahendra, maka Mahisa
Murtipun telah mandi dan membersihkan lukalukanya dengan air hangat.
Baru kemudian ia ikut berbincang diruang dalam sejenak. Karena
kemudian iapun teringat akan Mahisa Semu dan Mahisa Amping. "Sudah
terlalu malam. Amping tentu sudah mengantuk" berkata Mahisa Murti.
"Baiklah. Pergilah kerumah Arya Kuda Cemani. Agaknya disana masih
ada beberapa orang keluarganya yang berjagajaga." Sejenak
kemudian, maka Mahisa Murtipun telah pergi ke rumah Arya Kuda Cemani
untuk mengambil Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Sekaligus untuk minta
diri, karena dihari berikutnya Mahisa Murti dan kedua orang adik
angkatnya itu akan meninggalkan Singasari kembali ke Padepokan Bajra
Seta yang jaraknya terhitung panjang. "Singasari akan terasa sepi"
berkata Mahisa Pukat. "Bukankah kau akan segera kembali kedalam
kesibukanmu sehari-hari?" bertanya Mahisa Murti. "Ya " jawab Mahisa
Pukat "t etapi rasa-rasanya sepeninggal kakang Mahisa Bungalan yang
begitu tergesa -gesa, dan besok kau bersama Mahisa Semu dan Mahisa
Amping, aku akan tinggal sendiri di Singasari." "Tentu tidak " mPu
Sidikaralah yang m enyahut "disini ada Ki Mahendra. Lebih dari
itu, kau tidak lagi sendiri di Singasari yang ramai ini." Mahisa
Pukat tersenyum. Mahisa Murti juga ter senyum meskipun landasannya
berbeda. Namun Mahisa Pukat dan Arya Kuda Cemani tidak dapat menahan
Mahisa Murti lebih lama lagi. Mereka terpaksa melepaskan Mahisa
Murti esok meninggalkan Singasari kembali ke Padepokan Bajra Seta.
Namun dalam pada itu, meskipun Mahisa Murti sudah membersihkan diri,
tetapi luka-lukanya masih juga dapat dilihat oleh Mahisa Pukat dan
Arya Kuda Cemani. Tetapi Mahisa Murti tidak mengatakan selengkapnya
sebagaimana yang terjadi. Ia hanya m engatakan dengan singkat bahwa
di bulak panjang telah terjadi perselisihan karena salah paham.
"Tetapi siapa yang dapat m elukaimu itu ?" bertanya Arya Kuda
Cemani. "Begitu tiba-tiba diluar kesiapanku" jawab Mahisa Murti "t
etapi tidak apa-apa." "Kau apakan orang itu ?" bertanya. Mahisa
Pukat. "Orang itu pergi dengan sendirinya," jawab Mahisa Murti.
Namun katanya kemudian "Satu kejadian yang tidak penting. "
Mahisa Pukat dan Arya Kuda Cemani memang tidak bertanya lebih jauh.
Agaknya Mahisa Murti sendiri juga tidak menaruh banyak perhatian
terhadap garis-garis luka dilengan dan pundaknya itu. Sementara itu,
Amping memang sudah menjadi sangat mengantuk. Sekali-sekali m atanya
sudah terpejam sedangkan kepalanya terangguk-angguk. Karena itu,
maka Mahisa Murtipun segera minta diri. Juga minta diri karena
dikeesokan harinya ia akan kembali ke Padepokan Bajra Seta. Malam
itu mPu Sidikara tidur dirumah Mahendra. Ia tidak kembali ke
Kasatrian, karena esok pagi ia akan menunggui keberangkatan Mahisa
Murti kembali ke Padepokan Bajra Seta. mPu Sidikara memang sudah
minta ijin untuk itu, sekaligus mengantar Mahisa Murti yang m ohon
diri kepada Pangeran Kuda Pratama. ' Pagi-pagi benar Mahisa Murti,
Mahisa Semu dan Mahisa Amping sudah bersiap. Sementara mereka sudah
berada di halaman, mPu Sidikara masih sempat berdesis "Aku tidak
akan memberimu obat. Luka-lukamu akan sembuh dengan sendirinya,
karena didalam tubuhmu telah terdapat obat untuk segala macam
penyakit." "Ah, kau" desis Mahisa Murti. Namun mPu Sidikara menjawab
dengan bersungguhsungguh "aku berkata sebenarnya. " Mahisa Murti
terseny um. Katanya "Bukan aku yang mempunyai kelebihan.
Tetapi obat-obatmu. Atau bahkan sentuhan tanganmu sudah cukup meny
embuhkan segala macam penyakit." "Jika benar, tentu aku akan merasa
bahagia sekali" desis mPu Sidikara. Mahisa Murtipun tertawa.
Demikian pula mPu Sidikara. Demikianlah, maka sejenak kemudian
Mahisa Murti dan kedua adik angkatnyapun meninggalkan istana
Singasari. Mereka telah m eninggalkan pesan pula, agar ayahnya tidak
mengatakan yang sebenarnya, kenapa ia terluka. "Kau harus
sering datang kemari Mahisa Murti" desis ay ahnya dimuka regol
samping halaman istana "barangkali aku tidak akan dapat sering m
engunjungi Padepokan Bajra Seta. " "Baik ay ah. Biar aku saja
yang datang kemari. Ayah sebaiknya tidak melakukan pekerjaan
atau perjalanan yang meletihkan" jawab Mahisa Murti. Mahendra
menepuk bahu anaknya. Kemudian mengelus kepala Mahisa Semu dan
Mahisa Amping sambil berkata "Kalian harus berbuat sebaik-baiknya
untuk mempersiapkan masa depan kalian yang panjang nanti." Keduanya
mengangguk hormat. Mahisa Semu berdesis perlahan "Kami mohon restu."
Demikianlah, maka sejenak kemudian bertiga mereka telah berpacu
meninggalkan istana. Untuk beberapa lama mereka menyusuri
jalan-jalan ramai di Kotaraja. Namun kemudian merekapun telah
meluncur lewat pintu gerbaiig kota. Jalan memang tidak lagi terlalu
ramai, sehingga m ereka dapat berkuda lebih cepat lagi. Meskipun
demikian mereka tidak berpacu dengan kecepatan yang terlalu
tinggi. Selain debu yang berhamburan, mereka dapat menimbulkan
kecelakaan karena kuda-kuda mereka yang kurang terkendali. Seperti
biasanya maka Mahisa Amping telah melarikan kudanya dipaling depan.
Cahaya matahari pagi yang cerah menimpa dedaunan yang masih basah
oleh embun, membuat Mahisa Amping merasa semakin segar, sesegar
kudanya yang tegar. Namun tiba -tiba saja Mahisa Amping telah
menarik kendali kudanya, sehingga kudanya itupun terkejut. Dengan
serta merta kudanya itupun telah berhenti, sekali berputar namun
kemudian Mahisa Amping berhasil menenangkannya. Mahisa Murti dan
Mahisa Semupun terkejut. Dengan cepat mereka mendekat. Namun kuda
Mahisa Amping telah menjadi tenang kembali. "Apa yang telah
terjadi?" bertanya Mahisa Murti. Mahisa Amping m engerutkan dahinya.
Namun kemudian iapun menjawab "Aku tidak tahu kakang. Tiba-tiba saja
aku ingin menghentikan kudaku. Tanganku serasa bergerak sendiri m
enarik kendali kudaku. Aku sendiri bahkan terkejut karenanya."
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya "Satu getar isy arat bagimu.
Coba Amping, lihat, apakah kau mengenali isy arat itu lebih dari
sekedar terkejut dan menarik kendali kuda?- Mahisa Amping
termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian bertanya "Apa maksud
kakang?" "Amping, lihat kedalam dirimu sendiri. Tumbuhkan pertanyaan
didalam dirimu, kenapa kau harus menarik kendali kudamu." berkata
Mahisa Murti. "Aku tidak tahu maksud kakang. " desis Mahisa Amping.
"Lihat kembali getar isy arat itu Amping." "Apa yang harus aku
lakukan ?" bertanya Mahisa Amping kebingungan. "Kau harus memusatkan
nalar budimu. Bangkitkan kembali getar isyarat itu. Lihatlah
kekedalamannya. Kita harus mengurai dan menemukan artinya. " "Aku
tidak tahu." jawab Mahisa Amping kebingungan. Mahisa Murti menarik
nafas dalam-dalam. Ia memang tidak dapat memaksa Mahisa Amping untuk
melakukan sesuatu yang tidak dimengertinya. Dengan nada rendah
Mahisa Murti itpun berkata "Sudahlah. Pada saatnya kau akan
mengetahuinya apa artinya getaran yang timbul didalam dadamu.
Pada saat berikutnya kau tentu akan dapat m empelajari untuk dapat
menangkap maksud dari getaran yang timbul didalam dadamu itu."
Mahisa Amping memang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengerti
dengan jelas, apa yang telah terjadi dengan dirinya itu.
Karena itu, m aka Mahisa Murtipun berkata "Marilah. Kita melanjutkan
perjalanan." Ketika Mahisa Amping akan mendahului lagi, maka Mahisa
Murtipun berkata "Kita bersama-sama Amping." Mahisa Amping mengerti
maksud Mahisa Murti. Karena itu, maka iapun tidak lagi melarikan
kudanya jauh mendahului Mahisa Murti dan Mahisa Semu. Beberapa ratus
patok telah berlalu. Ternyata mereka tidak menjumpai persoalan
yang dapat menghambat perjalanan mereka. Ketika mereka
melewati sebuah pasar yang tidak terlalu ramai, karena
nampaknya hari itu bukan hari pasaran, mereka tidak berhenti.
Beberapa orang yang ada di pasar itu memandangi mereka dengan
dahi berkerut. Namun ketiga orang berkuda itu berjalan terus.
Sekali-sekali Mahisa Amping memang berpaling dan bahkan memandang
berkeliling. Tibatiba saja dahinya berkerut ketika ia m elihat
seseorang yang berdiri termangu-mangu disebelah pintu gerbang pa
sar. Sekali lagi hampir diluar sadarnya, ia menarik kembali kudanya.
Karena kudanya memang tidak berlari kencang, maka kudanyapun segera
berhenti. Mahisa Murti dan Mahisa Semupun berhenti disebelah
menyebelahnya. Dengan kening berkerut Mahisa Murtipun bertanya
"Kenapa kau berhenti lagi dengan tiba-tiba ?” Mahisa Amping termangu
-mangu sejenak Namun kemudian katanya "Aku melihat orang berdiri
disebelah pintu gerbang pasar. Begitu aku melihatnya, rasa -rasanya
jantungku bergetar semakin cepat. Mahisa Murti dan Mahisa Semupun
serentak telah berpaling kearah pintu gerbang pasar. Dengan nada
rendah Mahisa Murti bertanya "Orang yang bersandar pagar itu?"
"Bukan " jawab Mahisa Amping. "Yang mana?" desak Mahisa Semu. Mahisa
Amping tidak segera menjawab. Tetapi orang yang dilihatnya itu sudah
tidak ada ditempatnya. "Apakah ia masih ada di sana?" bertanya
Mahisa Murti pula. Mahisa Ampingpun menggeleng. Katanya "Orang itu
sudah pergi." "Bukankah kau tidak tidur dan bermimpi sambil
berkuda?" bertanya Mahisa Semu. "Aku m elihat sebenarnya. Dan aku
tidak tahu kenapa aku menjadi berdebar-debar." Mahisa Murti
mengangguk-angguk. Katanya"Baiklah, Marilah, kita lanjutkan
perjalanan kita. " Mahisa Amping tidak menjawab. Namun merekapun
kemudian telah m elanjutkan perjalanan. Kuda-kuda itu tidak berlari
terlalu cepat. Bahkan sepanjang perjalanan Mahisa Amping menjadi
tegang. Tetapi Mahisa Murtipun berkata "Jangan gelisah, Amping.
Tidak akan ada hambatan disepanjang perjalanan kita.” Mahisa Amping
m engangguk kecil. Tetapi bagaimanapun juga Mahisa Amping masih saja
memikirkan gejolak perasaannya yang kurang dimengertinya'sendiri.
Diperjalanan yang panjang itu, maka ketiganyapun telah berhenti dan
beristirahat disebuah kedai. Bukan kedai yang pernah disinggahinya.
Tetapi justru kedai yang lain, yang sama sekali asing
bagi Mahisa Murti dan kedua adik angkatnya. Di kedai itu ternyata
mereka mendapat pelayanan yang baik. Pemilik kedai itu cukup
ramah. Demikian pula pembantu-pembantunya yang melayani para
pembelinya. Di kedai itu juga tidak dijumpai anak-anak muda
yang minum tuak dan bertingkah laku kurang mapan. Mereka
memang melihat dua tiga orang anak muda yang ada di kedai itu. Namun
nampaknya mereka adalah anak-anak muda yang sedang bepergian.
Sikapnyapun wajar. Jika anak-anak muda itu nampak cerah dan gembira,
bahkan sekali-sekali terdengar mereka tertawa, justru menunjukkan
kemudaan mereka. Namun sikap mereka tidak berlebihan. Mahisa Murti
menarik nafas dalam-dalam. Iapun masih muda juga. Tetapi
rasa-rasanya masa mudanya sudah lewat. Ia tidak lagi berada dalam
suasana sebagaimana anak-anak muda itu. Ia tidak lagi berkumpul
bersama anak-anak muda sebay anya, bergurau dan bergembira menikmati
satu masa yang penuh gairah. Tetapi Mahisa Murti tidak meny esal. Ia
telah dengan sengaja terjun kesatu dunia yang dipilihnya. Untuk
beberapa lama mereka duduk dikedai itu menikmati minuman dan m
akanan yang kebetulan sesuai dengan selera mereka. Namun tiba
-tiba saja Mahisa Amping telah bangkit berdiri. Wajahnya menjadi
tegang memandang ke jalan yang membujur dihadapan kedai itu. "Apa
yang kau lihat?" bertanya Mahisa Murti. "Orang berkuda itu" jawab
Mahisa Amping. "Yang baru saja lewat?" bertanya Mahisa Murti. "Ya "
jawab anak itu. "Siapa?" bertanya Mahisa Semu pula. "Yang berdiri
disebelah pasar itu" jawab Mahisa Amping. Mahisa Murti menarik nafas
dalam-dalam. Ia tidak melihat wajah orang berkuda yang lewat di
depan kedai itu. Justru saat Mahisa Murti baru meneguk minumannya.
Apalagi ia tidak mengira bahwa orang berkuda itu adalah orang yang
telah menarik perhatian Mahisa Amping didekat pasar itu. "Sudahlah"
berkata Mahisa Murti kemudian "jangan hiraukan lagi orang itu."
Mahisa Amping yang telah duduk kembali itu mengangguk. Tetapi
nafasnya menjadi terengah-engah seperti seseorang yang baru saja
berlari-lari menempuh jarak yang panjang. "Minumlah" berkata
Mahisa Murti kemudian. Mahisa Ampingpun kemudian mengangkat
mangkuknya dan minum beberapa teguk. Demikianlah, maka beberapa saat
kemudian, merekapun telah meneruskan perjalanan mereka. Mereka tidak
lagi merasa haus dan lapar. Demikian juga kuda-kuda mereka. Namun
demikian, meskipun tidak dikatakan kepada kedua adik angkatnya,
Mahisa Murti menjadi sangat berhati-hati. Bagaimana pun ia tidak
dapat melepaskan perhatiannya kepada sikap Mahisa Amping. Apalagi
ketiga ia meraba goresan lukanya yang meskipun tidak lagi t
erlalu menarik perhatian orang lain, namun masih terasa sedikit ny
eri jika tersentuh ujung-ujung jarinya. "Apakah orang itu yang
aku temui diluar pintu gerbang kota Singasari?" pertanyaan itu
timbul pula dihati Mahisa Murti. Tetapi Mahisa Murti sama sekali
tidak nampak menjadi gelisah. "Sesaat kemudian, maka kuda -kuda m
ereka telah berlarilari disepanjang bulak. Tetapi sekali-sekali m
ereka menyusup diantara padukuhan-padukuhan yang bertebaran diantara
kotak-kotak sawah yang luas, seperti onggokan pulau-pulau
ditengah-tengah lautan yang tenang. Mahisa Murti dan kedua adik
angkatnya ternyata memang tidak mengalami hambatan apapun. Mereka
telah melampaui kedai yang mereka singgahi saat mereka berangkat.
Tetapi kedai itu ternyata tutup. Agaknya memang terjadi
perubahanperubahan tatanan kehidupan di lingkungan itu. "Apakah
kakang akan singgah?" bertanya Mahisa Semu. Mahisa Murti memang
memperlambat lari kudanya. Tetapi sebenarnya ia tidak berniat untuk
berhenti. Namun dua orang yang berdiri dipinggir jalan tiba-tiba
telah melambaikan tangannya sambil berkata "Anak-anak muda. Kenapa
kalian tidak singgah?" Mahisa Murti dan kedua adik angkatnyapun
telah berhenti. Bahkan mereka telah berloncatan turun. Antara ingat
dan tidak ingat mereka mengenali kedua orang itu. Mereka ikut
mengerumuninya saat terjadi keributan di kedai yang tutup itu.
"Kedai itu tutup" desis Mahisa Murti. "Untuk sementara " jawab salah
seorang dari mereka. "Kenapa ?" bertanya Mahisa Murti. "Penghuni
padukuhan ini tidak ingin melihat kehidupan yang muram itu lagi.
Karena itu, maka pemilik kedai itu harus merubah wajah kedainya,"
jawab orang itu. "Bagaimana dengan Ki Bengkel dan para bebahu?"
bertanya Mahisa Murti. "Mereka sudah berubah" jawab orang itu.
"Sokurlah" desis Mahisa Murti "mudah-mudahan segala sesuatunya akan
tetap baik untuk seterusny a." Namun Mahisa Murti memang tidak dapat
singgah di padukuhan itu m eskipun kedua orang itu m enganjurkan
agar mereka singgah dirumah Ki Bekel. "Ki Bekel tentu akan senang
sekali menerima kehadiran kalian dirumahnya" berkata orang itu.
"Terima kasih. Lain kali kami akan singgah. Agaknya kami akan sering
melalui jalan ini" jawab Mahisa Murti. Demikianlah, m aka Mahisa
Murtipun segera melanjutkan perjalanannya bersama kedua adik
angkatnya. Namun rasarasanya mereka ikut bergembira, bahwa satu
perubahan telah terjadi di padukuhan itu. Bahkan Ki Bekelpun telah
turut berubah pula. Di perjalanan selanjutnya, mereka memang tidak
mengalami hambatan apapun meski Mahisa Murti masih tetap
berhati-hati. Mahisa Ampingpun tidak lagi nampak gelisah sekali.
Bahkan anak itu mulai banyak berbicara sebagaimana kebiasaannya.
Ketika mereka kemudian memasuki jalan yang langsung menuju ke regol
padepokan mereka, maka jantung mereka rasa-rasanya telah dibasahi
dengan air embun yang sejuk. Kedatangan mereka disambut oleh
seisi Padepokan Bajra Seta dengana perasaan sokur. Perjalanan
yang panjang telah mereka selesaikan dengan selamat. Bahkan m
ereka sampai di Padepokan lebih awal dari kedatangan Mahendra dan
mPu Sidikara pada kunjungan mereka yang terakhir. Setelah mandi dan
berbenah diri serta beristirahat sejenak, maka merekapun duduk di
pendapa bangunan induk Padepokan mereka bersama Wantilan dan Sambega
serta beberapa orang cantrik. Sementara itu lampu minyak yang
menyala ditengah-tengah pendapa itu bergoyang dihembus angin
yang melintas. Banyak hal yang dapat diceritakan oleh Mahisa
Murti, Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Mahisa Amping tidak
henti-hentinya berceritera tentang pernikahan Mahisa Pukat yang
meriah. Upacara-upacara yang sebagian besar belum pernah
disaksikan. Namun Mahisa Amping juga berceritera tentang perkelahian
antara Mahisa Murti dengan seorang anak muda yang merasa
tersinggung oleh pernikahan Mahisa Pukat itu. Mereka yang
mendengarkan Mahisa Amping berceritera hanya ter senyum-senyum saja.
Mereka memang mengenal Mahisa Amping yang banyak berbicara
itu. Ketika malam menjadi larut, Mahisa Ampingpun mulai mengantuk.
Mahisa Semupun nampak letih. Sehingga dengan demikian, maka Mahisa
Murti telah minta agar mereka beristirahat. "Tidurlah. Kalian tentu
letih dan mengantuk" Mahisa Amping m emandang Mahisa Semu sekilas.
Ketika ia melihat Mahisa Semu mengangguk, maka Mahisa Ampingpun
kemudian beringsut dan meninggalkan pertemuan itu bersama Mahisa
Semu. Baru kemudian Mahisa Murtipun menceriterakan apa yang
dialaminya di Singasari pada malam hari menjelang keberangkatannya
kembali ke Padepokan Bajra Seta di pagi harinya. Mahisa Murtipun
berceritera tentang isyarat yang tergetar didada Mahisa Amping namun
yang tidak dapat ditangkap dan apalagi diterjemahkannya. Wantilan,
Sambega dan beberapa orang cantrik yang ikut berkumpul di
pendapa itu mengerti maksud Mahisa Murti. Mereka harus berhatihati
menghadapi beberapa kemungkinan yang dapat terjadi. Orang yang
dilihat oleh Mahisa Amping diregol pasar dan kemudian melintas di
depan kedai itu mungkin adalah orang yang bertemu dengan Mahisa
Murti diluar gerbang kota di Singasari. Orang yang memiliki ilmu
yang sangat tinggi. Bahkan lebih tinggi dari ilmu Mahisa
Murti. "Tetapi kita tidak perlu terlalu cemas" berkata Mahisa Murti
"kita tidak pernah melakukan satu perbuatan yang dengan sengaja
mengganggu orang lain." Yang mendengarkan keterangan Mahisa Murti
itu mengangguk-angguk. Mereka memang tidak mengganggu orang lain.
Jika hal itu pernah dilakukan Sambega, namun itu sudah lewat,
sehingga hal seperti itu tidak lagi dilakukan. Dihari-hari
berikutnya, maka kehidupan di Padepokan itu berjalan wajar. Tidak
ada per soalan-persoalan yang dapat mengeruhkan kehidupan di
Padepokan itu. Kerja, latihanlatihan dan peningkatan pengetahuan
berlangsung dari hari ke hari. Namun dalam pada itu, seseorang
selalu mengawasi kehidupan di Padepokan itu dari hari ke hari. Orang
itu tahu benar, bahwa sekali-sekali Mahisa Murti keluar dari
padepokannya untuk berbagai macam keperluan. Kadangkadang pergi ke
padukuhan-padukuhan sebelah meny ebelah untuk melakukan hubungan
agar kehidupan di padepokan itu tidak terpisah dari lingkungan
disekitarnya. Sementara itu anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan
disekitarnya masih banyak yang ikut menyadap ilmu di Padepokan
Bajra Seta. Karena itu, maka pada satu saat, orang itu memang
berkesempatan untuk m enemui Mahisa Murti ketika Mahisa Murti
kembali dari padukuhan disebelah padepokannya. Mahisa Murti memang
terkejut. Iapun segera dapat mengenali, bahwa orang itu adalah orang
yang pernah menemuinya dan bahkan melukainya diluar gerbang
kota Singasari. Ketika orang itu membakar sebatang pohon gayam, maka
Mahisa Murti sempat melihat dengan jelas wajah orang itu. "Kau "
desis Mahisa Murti. Orang itu tersenyum. Katanya "Ya. Aku memang
sengaja ingin menemuimu seorang diri. " "Kaukah yang mengikuti
perjalananku dari Singasari beberapa hari yang lalu ?"
bertanya Mahisa Murti. Orang itu menggeleng sambil menjawab "Bukan
aku." Wajah Mahisa Murti berkerut. Ia tidak m elihat perubahan wajah
orang itu. Karena itu, maka Mahisa Murti berkata "Aku memang
mencurigaimu bahwa kau telah mengikuti aku saat itu." "Aku berkata
sesungguhnya, bahwa bukan aku yang mengikutimu. Tetapi aku
tahu siapa orang itu." "Siapa ?" bertanya Mahisa Murti. "Orang
berilmu tinggi ? Ia ingin melihat padepokanmu. Sekarang orang itu
kembali ke Singasari." jawab orang itu. "Untuk apa ?" bertanya
Mahisa Murti. Orang itu m enarik nafas dalam-dalam. Katanya "Kau
telah membuat per soalan dengan orang itu. Orang itu bukan seorang
yang berhati lapang. Karena itu, maka tentu timbul niatnya
untuk membuat perhitungan denganmu." "Apa yang telah aku lakukan ?"
bertanya Mahisa Murti. "Mungkin kau tidak sengaja melakukannya.
Tetapi akibatnya tidak akan baik buatmu." berkata orang itu. "Ya.
Tetapi apa yang telah aku lakukan ?" b ertanya Mahisa Murti pula.
"Kau telah berkelahi melawan anak saudara seperguruan Arya Kuda
Cemani " jawab orang itu. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya
"Ya. Tetapi bukankah saat itu tidak ada jalan yang terbaik yang
harus aku lakukan terhadap anak muda itu ? Tentu tidak sepantasnya
jika Mahisa Pukat sendiri turun ke medan justru ia sudah dalam
pakaian upacara disaat pernikahannya." "Kau memang tidak bersalah"
jawab orang itu "tetapi orang itu tidak akan dapat mengerti." "Orang
itu siapa ? Saudara seperguruan Arya Kuda Cemani ?" bertanya Mahisa
Murti. "Bukan saudara seperguruan Arya Kuda Cemani. Seandainya ia
akan menuntut balas, maka ia tidak akan dapat mengalahkanmu." jawab
orang itu. "Jadi siapa ?" desak Mahisa Murti. "Guru anak yang
kau kalahkan itu. Ia tidak berguru kepada ay ahnya sendiri. Ia
berguru kepada seorang yang memiliki ilmu sangat tinggi. Namun
ternyata anak muda itu tidak dapat mengalahkanmu. Tentu juga tidak
dapat mengalahkan Mahisa Pukat. Karena itu maka ia menjadi sakit
hati. Sementara itu, ia bukan orang yang lapang dada." berkata
orang itu. "Apakah Ki Sanak guru anak muda yang telah aku
kalahkan itu karena aku melihat unsur ilmu Ki Sanak mempunyai
persamaan dengan unsur ilmu anak muda itu ?" "Sudah aku katakan
bahwa orang itu bukan aku. Orang yang m engikutimu karena ia ingin
melihat tempat tinggalmu itu bukan aku." jawab orang itu. "Jadi
bagaimana ? Aku m enjadi bingung. Jika demikian, apa maksud Ki Sanak
sebenarnya?" bertanya Mahisa Murti. "Anak muda " berkata orang itu
"kau adalah anak muda yang luar biasa. Pada umurmu yang m uda
itu, kau memiliki segala-galanya. Ilmu yang jarang ada duanya. Namun
meskipun demikian, setelah aku menjajagi ilmumu sampai kepuncak,
maka kau tidak akan mampu melawan guru anak muda yang telah kau
kalahkan itu." "Apa hubungan Ki Sanak dengan orang itu justru karena
persamaan ilmu yang aku lihat ?" bertanya Mahisa Murti. "Aku saudara
seperguruannya. Aku saudara tua seperguruan dari orang yang
mendendammu. Anak muda yang kau kalahkan itu adalah murid adik
seperguruanku." Mahisa Murti m enarik nafas dalam-dalam. Dengan nada
rendah ia bertanya "Jadi apa yang sebenarnya Ki Sanak inginkan ?
Apakah yang Ki Sanak kehendaki dari aku ?" Orang itu termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian dengan nada dalam iapun berkata "Aku sudah
berbicara dengan Arya Kuda Cemani. Aku bahkan sudah berbicara dengan
Ki Mahendra. Karena itu, maka aku sudah mengetahui banyak hal
tentang kau, Mahisa Murti." Mahisa Murti termangu-mangu sejenak.
Namun ia tidak segera percaya pada kata-kata orang yang belum
dikenalnya dengan baik itu, selain ia tidak dapat mengingkari, bahwa
orang itu memang berilmu sangat tinggi. Dalam pada itu, maka orang
itupun berkata "Mahisa Murti. Setelah aku berbicara dengan Ki
Mahendra dan Arya Kuda Cemani, m aka aku berpendapat, bahwa kau
adalah seorang anak muda yang pantas dikagumi. Kau telah
banyak melakukan sesuatu bagi banyak orang. Bahkan pada suatu saat
kau pernah melakukan tapa ngrame bersama Mahisa Pukat. Kau bahkan
banyak m emberikan pengorbanan bagi sesama. Kau juga telah banyak
berkorban bagi saudaramu, Mahisa Pukat. Antara lain juga saat kau
bertempur dengan anak saudara seperguruan Arya Kuda Cemani itu.
Murid saudara seperguruanku itu." Mahisa Murti masih saja
termangu-mangu. Tetapi ia merasa ketika ia memberitahukan bahwa ia
telah bertempur dengan orang yang tidak dikenalnya diluar kota
Singasari, ay ahnya sama sekali tidak memberikan kesan, bahwa ia
pernah berbicara dengan orangyang melukainya. Karena itu, maka
Mahisa Murti itupun bertanya "Kapan Ki Sanak bertemu dengan ayah?"
"Setelah kau berangkat meninggalkan Singasari" jawab orang itu.
"Tetapi bagaimana Ki Sanak mengetahui bahwa saudara seperguruan Ki
Sanak itu mengikuti aku untuk melihat padepokanku disini?" bertanya
Mahisa Murti pula. "Itu adalah bagian dari kegiatanku. Aku tidak
dapat menceriterakannya " jawab orang itu. Mahisa Murti memang tidak
mendesaknya. Tetapi ia bertanya "Sekarang, apakah yang Ki Sanak
inginkan?" "Mahisa Murti" berkata orang itu "semakin banyak aku
mengetahui tentang kau, maka semakin ingin aku ikut mencampuri
persoalanmu dengan saudara seperguruanku itu. Aku tidak ingin bahwa
kau yang telah banyak berbuat baik bagi banyak orang itu,
justru akan mengalami kesulitan. Sebagaimana aku katakan, bahwa
saudara seperguruanku itu pada suatu saat, tentu akan datang
kepadamu. Sementara itu aku tahu bahwa ilmunya lebih tinggi dari
ilmumu." Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak segera
menjawab. Sementara orang itu berkata selanjutnya "Tetapi
sebenarnyalah bahwa kau mempunyai kemungkinan yang lebih baik dari
saudara seperguruanku. Bekal yang kau miliki lebih banyak.
Jika saja ada yang membantumu, m aka kemampuanmu dengan cepat akan
meningkat. Apalagi jika seseorang dengan tepat membantumu m eloncati
satu tataran yang kini seolah-olah membatasi kemungkinan
perkembangan ilmumu." Mahisa Murti m engerutkan dahinya. Dengan nada
datar ia bertanya "Apakah Ki Sanak melihat batas itu?" "Adalah
kebetulan, bahwa aku berdiri diatas tataran itu, sehingga aku sempat
melihatnya. Sementara ini, tidak ada orang yang mampu
melihatnya karena tidak ada orang yang memiliki kelebihan darimu."
orang itu berhenti sejenak, lalu katanya "Mahisa Murti, bukan
maksudku untuk meny ombongkan diri. Tetapi jika ada k esan seperti
itu, maka maksudku semata-mata untuk m engatakan bahwa aku dapat
membantumu untuk meloncat pada satu tataran menembus batas yang
selama ini seakan-akan tidak memberi kemungkinan lagi bagimu untuk
berkembang." "Maksud Ki Sanak?" bertanya Mahisa Murti. "Aku
menawarkan diri untuk membantumu menembus batas itu." jawab orang
itu. Mahisa Murti tidak segera menjawab. Untuk sejenak ia termenung.
Seolah-olah ia meyakinkan dirinya, apakah yang dikatakan oleh orang
itu benar-benar akan dapat dilakukan. Namun orang itupun kemudian
berkata "Tetapi Mahisa Murti. Jika kau benar-benar mampu menembus
batas ilmumu yang sekarang, sehingga kau akan mendapat kesempatan
untuk membubung lebih tinggi, sehingga kemampuanmu dapat berada
diatas kemampuan saudara seperguruanku, aku minta agar bila saudara
seperguruanku itu k elak benar-benar datang kepadamu, kau dapat
mengendalikan dirimu. Maksudku, kau hanya akan melawannya sampai
batas mengalahkannya. Tidak membunuhnya. " Mahisa Murti menarik
nafas dalam-dalam. Sementara orang itu berkata "Aku minta maaf,
bahwa permintaan ini aku sampaikan untuk mey akinkanku. Sebenarnya
aku percaya, bahwa kau tentu akan berbuat demikian karena kau m
emang bukan seorang pembunuh." Mahisa Murti memandang orang itu
dengan tajamnya. Dengan nada dalam iapun berkata "Jika Ki Sanak
berbaik hati untuk membantuku, maka aku tidak dapat berkata lain
kecuali mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya." "Jika
kau m empercayai aku Mahisa Murti, maka kita akan berada didalam
sanggar untuk beberapa hari. Bukan berarti bahwa kau tidak dapat
keluar sanggar sama sekali. Tetapi waktumu yang beberapa hari itu
akan lebih banyak berada didalam sanggar dari pada di luar. " "Aku
akan menjalani laku itu Ki Sanak." jawab Mahisa Murti. "Baiklah. Aku
yakin bahwa kau akan mampu menyusul ilmu saudara seperguruanku itu,
justru karena bekalmu sudah lengkap." berkata orang itu. Dengan
demikian maka Mahisa Murti telah mempersilahkan orang itu untuk
singgah di Padepokannya. Mahisa Murti juga ingin bertanya kepada
Mahisa Amping, apakah bukan orang itulah yang telah dilihatnya di
dekat pintu gerbang pasar. Yang kemudian juga dilihatnya lewat di
depan kedai saat Mahisa Murti dan kedua adik angkatnya itu singgah.
Ketika kemudian Mahisa Murti dan orang itu m emasuki regol
padepokan, maka Mahisa Amping tengah berlari-lari di halaman
mengajar ayamnya yang terlepas dari kurungan. Namun demikian ia
melihat Mahisa Murti datang, maka iapun berhenti, Mahisa Murti
memang menjadi berdebar-debar. Mahisa Amping memandangi orang
yang datang itu dengan seksama. Namun sama sekali tidak ada
kesan, bahwa ia pernah melihat orang itu. Selangkah-selangkah Mahisa
Amping mendekat sambil bertanya "Apakah kakang pergi ke padukuhan?"
"Ya " jawab Mahisa Murti. "Kakang tidak mengajak aku serta. Aku
sudah berjanji kepada Windu, anak padukuhan itu untuk memberinya
sepasang ayam kate.” Mahisa Murti tertawa. Katanya "Bukankah besok
atau lusa kau dapat memberikannya. Mungkin anak itu akan datang
kemari. Atau kau titipkan saja kepada anak-anak padukuhan yang
belajar menjadi pande besi di perapen itu.” Tetapi anak itu menjawab
"Aku akan datang sendiri kerumahnya. Ia akan menukarnya dengan sepa
sang burung merpati gambir." Sambil menepuk pundak Mahisa Amping,
Mahisa Murti berkata "Besok aku masih akan pergi ke padukuhan lagi.
Besok kau boleh ikut. " Mahisa Murti terdiam sejenak. Namun iapun
kemudian bertanya "Apakah kau mengenal kakek yang datang ini?"
Mahisa Amping memandangi orang itu dengan seksama. Namun iapun
kemudian menggeleng sambil berkata "Aku belum mengenalnya kakang."
"Kenalkan anak manis" berkata orang itu "panggil aku kakek Wijang.
"Selamat datang di padepokan kami, kakek Wijang" berkata Mahisa
Amping sambil mengangguk dalam-dalam. Kiai Wijang ter senyum sambil
berkata "Kau benar-benar anak yang baik" Lalu iapun bertanya
kepada Mahisa Murti "Siapakah anak ini?" "Adikku " iawab Mahisa
Murti. Kiai Wijang mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak bertanya
lagi. Meskipun demikian Mahisa Murti mengerti bahwa orang itu masih
ingin bertanya tentang Mahisa Amping, karena orang itu tentu tahu
bahwa ia tidak mempunyai saudara yang lain kecuali Mahisa Pukat.
Namun Mahisa Murti itu justru bertanya "Apakah ay ah tidak pernah
berceritera tentang adik-adik angkatku?" Orang itu mengerutkan
dahinya. Namun kemudian iapun menjawab "Ki Mahendra terlalu banyak
berceritera tentang dirimu. Mungkin perhatiannya saat itu tidak ada
yang ter sisa untuk berbicara tentang orang lain." Mahisa Murti
menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Ayah masih menganggap aku
kanak-kanak " "Sama sekali tidak" jawab Kiai Wijang. Mahisa Murti
termangu-mangu sejenak. Sementara itu Mahisa Amping telah menghambur
berlari menyusul ay am yang dikejarnya sambil berkata "Aku akan
menangkap ay am itu kakang." Mahisa Murti tidak menjawab. Sementara
itu Mahisa Amping telah berlari menjauh. "Aku mempunyai dua orang
adik angkat" berkata Mahisa Murti kemudian "Mahisa Semu dan Mahisa
Amping" Kiai Wijang mengangguk-angguk, sementara Mahisa Murti
mengajaknya naik ke pendapa. Kepada Kiai Wijang Mahisa Murti sempat
m enceriterakan kemampuan Mahisa Amping untuk menangkap isyarat.
Tetapi ia sendiri tidak menyadarinya. Bahkan tidak mengerti apa yang
terjadi. Mahisa Murtipun berceritera juga bagaimana Mahisa Amping
menerima isyarat tentang seseorang yang mengikutinya dari Singasari
saat Mahisa Murti dan kedua orang adik angkatnya itu pulang dari
Singasari. "Anak yang luar biasa. Firasatnya tentu tajam sekali.
Jika ada seseorang yang dapat membantu mengasahnya, maka anak itu
akan dapat menjadi anak yang memiliki kelebihan dari
kebanyakan orang. " “Mudah-mudahan" berkata Mahisa Murti. "Orang
yang dimaksud anak itu tentu saudara seperguruanku itu "
berkata Kiai Wijang. "Tetapi kenapa ia tidak berbuat sesuatu ketika
aku dalam perjalanan kembali ke Padepokan Bajra Seta?" "Salah satu
kelemahannya, ia kurang y akin akan kemampuannya yang sangat
tinggi itu. Ia tentu ingin meyakinkan, bahwa ia akan dapat
mengalahkanmu." "Apa yang akan dilakukannya?" bertanya Mahisa Murti.
"Ia akan mengirimkan orang untuk menjajagi kemampuanmu. Tidak hanya
satu orang. Tetapi beberapa. Orang-orang itu tidak akan membunuhmu.
Tetapi sekedar mengetahui seberapa tingkat ilmumu.” "Satu cara yang
rumit " desis Mahisa Murti. “Ya. Tetapi itu sudah m enjadi kebia
saannya. Tetapi ia juga bukan seorang pembunuh yang sebenarnya.
Meskipun demikian, bukan berarti bahwa ia tidak pernah membunuh.”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Jika demikian maka ia akan m
enghadapi dua tataran pertempuran. Ia akan bertemu dengan
orang-orang yang sekedar menjajagi ilmunya. Orang-orang itu
tentu mencari perkara agar dapat timbul perkelahian. Baru kemudian
saudara seperguruan Kiai Wijang itu akan datang untuk membuat
perhitungan yang sebenarnya. Demikianlah, maka Mahisa Murtipun
kemudian telah memperkenalkan Kiai Wijang dengan Wantilan, Sambega
dan para cantrik di padepokannya. Kepada mereka Mahisa Murti
mengatakan, bahwa Kiai Wijang untuk beberapa hari akan berada di
Padepokan Bajra Seta. Sebenarnyalah bahwa sejak saat itu Kiai Wijang
memang berada di padepokan. Seperti yang dijanjikan, maka Kiai
Wijang benar-benar telah mencoba untuk menghentakkan ilmu Mahisa
Murti. Namun untuk satu dua hari, Kiai Wijang dengan sungguh-sungguh
telah melihat, menilai dan menimbang ilmu dan kemampuan Mahisa Murti
sendiri. Ia melihat unsur-unsur serta dorongan kekuatan dan
kemampuan yang ada didalam diriny a. Kiai Wijang juga melihat
seberapa tinggi tenaga dalam yang ada didalam diri Mahisa
Murti serta seberapa jauh ia mampu mengungkapkannya. Ketika Kiai
Wijang merasa sudah cukup teliti menilai kekuatan, tenaga dan
kemampuan yang ada didalam diri Mahisa Murti, maka iapun berkata
"Kau m empunyai segalasegalanya anak muda. Kau tinggal melangkah
satu langkah lagi. Maka segala-galanya sudah akan terbuka bagimu.
Tetapi yang selangkah itu kadang-kadang memang sulit untuk
dilakukan. Bukan karena tidak memiliki day a loncat yang kuat.
Tetapi sekedar memerlukan petunjuk, kemana harus melangkah." Mahisa
Murti mengangguk-angguk. Katanya "Aku memang tidak tahu, apa yang
harus aku lakukan." "Kau memang masih terlalu muda. Seandainya tidak
ada persoalan yang mendesak, maka pada saatnya, kau sendiri akan
dapat melihat dan mengerti, apa yang harus kau lakukan untuk
meniti jalan menuju kearah yang benar, sehingga kau akan mampu
melangkah mencapai tataran puncakmu." berkata Kiai Wijang " bahkan
masih jauh lebih awal dari yang pernah aku capai sebagaimana
sekarang ini." Mahisa Murti menganggukangguk pula. Katanya kemudian
"Aku hanya dapat mengucapkan terima ka sih yang sebesar-besarnya
atas petunjuk Kiai." "Aku tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa
jika aku tidak berhadapan dengan kau yang memiliki segala-galanya.
Aku tidak akan dapat mendorong dan menunjukkan apapun juga kepada
murid adik seperguruanku itu. Karena ia tidak memiliki bekal yang
lengkap sebagaimana kau." Mahisa Murti ju stru termangu-mangu
sejenak. Tetapi dihatinya ia mengucap sokur kepada Yang Maha Agung,
yang telah mempertemukannya dengan seorang yang berilmu lebih tinggi
dari ilmunya dan yang bersedia menuntunnya untuk mencapai
tataran yang lebih tinggi sebagaimana pernah ditemuinya beberapa
kali dalam petualangannya. Demikianlah, dihari -hari berikutnya,
Mahisa Murti hampir setiap saat berada didalam sanggarnya. Seisi
padepokan itu mengetahui bahwa Mahisa Murti sedang berusaha dengan
bekerja keras untuk meningkatkan ilmunya. Beberapa orang memang
menjadi heran, bahwa masih ada orang yang memiliki ilmu lebih tinggi
dari Mahisa Murti. Namun mereka tidak dapat mengingkari kenyataan,
bahwa Mahisa Murti memang mengakui bahwa Kiai Wijang memiliki ilmu
yang lebih tinggi dari ilmunya. Demikianlah dari hari kehari,
Mahisa Murti seakan-akan semakin terdorong menuju kepintu yang
sudah terbuka. Betapapun berat laku yang harus dijalani,
bahkan rasa-rasanya Mahisa Murti harus merangkak diteriknya panas
matahari dan di dinginnya embun malam, tetapi semuanya itu
dilakukannya dengan sungguh-sungguh. Namun disamping laku yang
dijalani, maka Kiai Wijangpun minta agar Mahisa Murti tidak
henti-hentinya memohon, agar baginya dibukakan pintu untuk menembus
batas tataran tertinggi ilmunya yang seakan-akan sudah mapan
didalam dirinya. Memang terjadi gejolak didalam diri Mahisa Murti.
Jika ia sekali-sekali keluar dari sanggar, maka ia nampak sangat
letih. Bahkan seakan-akan untuk menggerakkan tangannyapun Mahisa
Murti menjadi segan. Namun demikian ia masuk kembali ke dalam
sanggar, maka tenaga dan kekuatannya seakan-akan menjadi pulih
kembali, sehingga apapun yang harus dilakukannya, dapat
dilakukannya. Disanggar, Mahisa Murti memang lebih banyak
mengungkapkan tenaga didalam dirinya. Melihat kekedalaman diri serta
segala kemungkinan-kemungkinannya. Upaya untuk semakin mengenali
kekuatan didalam diri serta usaha memancarkannya keluar. Jalinan
pernafasan yang mampu mengucapkan getar kekuatan didalam diri itu.
Lebih dari segala-galanya adalah key akinannya akan Kuasa dari Yang
Maha Agung. Demikianlah, maka hari -haripun berlalu, Mahisa Murti
nampak semakin letih. Sehingga akhirnya, Mahisa Murti untuk tiga
hari tiga m alam sama sekali t idak nampak k eluar dari sanggarnya.
Ketika dengan gelisah Mahisa Semu dan Mahisa Amping bertanya kepada
Wantilan, maka jawabnya "Mahisa Murti memang sudah mengatakan bahwa
selama tiga hari tiga malam ia akan berada di sanggar. Kita harus
menunggu dengan sabar.” Keduanya mengangguk-angguk. Namun Mahisa
Semu masih bertanya " Tetapi bukankah paman Wantilan percaya kepada
orang yang berilmu sangat tinggi itu bahwa ia tidak akan
menyulitkan kakang Mahis Murti." Wantilan mengerutkan dahinya.
Dipandanginya Mahisa Amping sekila s. Hampir diluar sadarnya ia
bertanya"Bagaimana menurut pendapatmu?" Mahisa Amping memandang
Mahisa Semu dan Wantilan berganti-ganti. Namun kemudian anak itu
justru bertanya "Apakah nanti kakang Mahisa Murti akan memiliki ilmu
yang semakin tinggi?" Wantilan mengangguk kecil. Katanya " Kita
berdoa. Semoga kakakmu Mahisa Murti berhasil." Mahisa Amping m
engangguk-angguk pula. Sementara itu Wantilan tidak melihat isyarat
yang mencemaskan pada sikap Mahisa Amping yang memiliki
firasat yang sangat tajam. Namun bagaimanapun juga, seisi
padepokan itu m emang menanti dengan jantung yang berdebar
-debar. Bukan hanya Wantilan, Sambega, Mahisa Semu dan Mahisa Amping
saja. Tetapi para cantrikpun rasa-rasanya ingin segera m elihat apa
yang telah terjadi dengan Mahisa Murti. Sementara itu didalam
sanggar Mahisa Murti tengah memusatkan nalar budinya untuk menggapai
hentakan terakhir pada laku yang tengah dijalaninya. Mahisa Murti
sudah tidak lagi mempergunakan wadagnya untuk melakukan
gerakan-gerakan terakhir. Mahisa Murti justru hanya duduk bersila
dengan menyilangkan tangan didadanya. Matanya terpejam dengan wajah
yang sedikit menunduk. Namun dalam pada itu, ia sedang
memusatkan kekuatan batinnya untuk melakukan gerakan-gerakan yang
harus diulanginya dan diulanginya. Mahisa Murti seakan-akan
menyaksikan dirinya sendiri dengan mata hatinya, bergerak
berloncatan, berputaran, menghentak-hentak dan bahkan
melayang-layang dengan tangkasnya. Tanpa m enggerakkan wadagnya,
Mahisa Murti telah meyakinkan dirinya, penguasaan atas semua simpul
sy arafnya, sehingga semua geraknya benar-benar terkendali oleh
kehendaknya. Kesadaran akan dirinya atas semua bagian dari tubuhnya.
Penguasaan tenaga dasar didalam dirinya serta irama pernafasannya
yang mengental telah menebarkan getar kekuatan yang tiada
taranya, sehingga getar itu seakan-akan telah membuat kulit dan
dagingnya menjadi liat. Dimata hatinya, Mahisa Murti melihat dirinya
sendiri semakin lama menjadi semakin mantap. Setiap gerak
menimbulkan getar dari tenaga dasarnya dalam irama pernafasannya
yang mapan. Dibelakang Mahisa Murti, Kiai Wijang duduk bersila.
Kedua telapak tangannya dilekatkannya dipunggung Mahisa Murti. Orang
itu seakan-akan ikut melihat apa yang sedang dilakukan oleh Mahisa
Murti tanpa unsur kewadagannya itu. Namun Mahisa Murtipun
seakan-akan juga mendengar perintah-perintah yang diucapkan
oleh Kiai Wijang. Sebenarnyalah perintah-perintah itu memang pernah
diucapkan. Sebelum Mahisa Murti mulai menjalani laku terakhir itu,
Mahisa Murti harus m elakukan gerakan-gerakan sebagaimana
diperintahkan oleh Kiai Wijang. Perintah itu diulanginya beberapa
kali, sementara Mahisa Murti melakukannya beberapa kali pula,
sehingga akhirnya pada puncak laku yang harus dijalaninya, maka
Mahisa Murti ju stru melakukannya tanpa unsur kewadagannya. Demikian
pula setiap perintah yang diucapkan Kiai Wijang sama sekali tidak
mempergunakan lagi kata-kata dari lesannya. Demikianlah, ketika
segala sesuatunya sudah sampai pada batas tertinggi, dari usaha
pencapaian oleh Mahisa Murti, maka gerakan-gerakan Mahisa Murti
tanpa unsur kewadagannya itu menjadi semakin lamban. Tetapi menjadi
semakin mantap. Seakan-akan udara disekitarnya ikut bergetar dan
bergerak sebagaimana Mahisa Murti. Sehingga akhirnya, Mahisa
Murtipun sampai pada batasnya. Demikian ia melakukan unsur gerak
yang terakhir tanpa wadagnya, pada tarikan nafasnya yang
berat, maka Mahisa Murtipun kemudian telah menghempaskan dirinya,
duduk bersila sebagaimana unsur wadagnya. Dalam peningkatan
pemusatan nalar budi pada tataran tertinggi, maka Mahisa Murti
itupun seakan-akan telah terangkat dari tempat duduknya, melayang
dan bayangan diangan-angan Mahisa Murti dalam ujud dirinya sendiri
itu tiba -tiba telah menyatu kembali kedalam unsur kewadagannya.
Sesaat terasa nafas Mahisa Murti menjadi sesak. Ada semacam
kericuhan didalam irama tarikan nafasnya. Namun beberapa saat
kemudian, Mahisa Murti mulai merasa bahwa ia telah berhasil m
enguasai kembali dirinya sendiri sepenuhnya. Tarikan nafasny a
yang panjang-panjang mulai menjadi semakin teratur. Sejenak
kemudian maka Mahisa Murtipun mulai membuka matanya. Ia melihat
bayang an yang kabur. Namun semakin lama menjadi semakin
jelas, sehingga akhirnya ia melihat isi sanggarnya satu persatu.
Mahisa Murtipun segera m enyadari sepenuhnya apa yang telah t
erjadi pada dirinya. Keringat telah membasah diseluruh tubuhnya
sehingga seolah-olah Mahisa Murti itu baru saja bangkit dari bawah
arus sungai yang deras. Perlahan-lahan Mahisa Murti beringsut.
Tangan Kiai Wijang tidak lagi terasa di punggungnya. Ketika ia
kemudian memutar dirinya perlahan-lahan, maka ia melihat bahwa Kiai
Wijangpun sedang berusaha untuk menemukan keseimbangan dirinya.
Tangannya memang sudah berada dipangkuannya dengan kedua telapak
tangannya menakup. Demikian Mahisa Murti kemudian duduk menyamping,
maka Kiai Wijang itupun tersenyum sambil berdesis " Kau telah
berhasil ngger. Kau telah mampu melangkah melampaui hambatan
dipuncak kemampuanmu.” "Aku mengucapkan terima kasih atas tuntunan
Kiai. Jika aku berhasil, tentu karena Kiailah yang telah menuntun
menunjukkan jalan bagiku." sahut Mahisa Murti. "Bersukurlah kepada
Yang Maha Agung, yang telah memberimu kekuatan untuk menggapai
satu langkah yang penting didalam hidupmu. Namun kaupun harus
berjanji, bahwa kemampuanmu tidak akan kau salah gunakan. " berkata
Kiai Wijang kemudian. "Aku berjanji, Kiai" jawab Mahisa Murti. "Kau
harus berjanji terutama kepada dirimu sendiri. Lebih dari itu,
kepada Yang Maha Agung." Mahisa Murti mengangguk dalam-dalam.
Katanya "Aku mengerti, Kiai. Aku akan melakukannya." "Baiklah.
Sekarang, kita dapat keluar dari sanggar. Keluarga Padepokan Bajra
Seta tentu menunggumu dengan cemas." Demikianlah, maka Mahisa Murti
dan Kiai Wijang telah keluar dari sanggar. Mereka telah minta
disediakan air abu merang untuk mandi keramas. Baru kemudian mereka
minum minuman hangat serta makan makanan cair. Meskipun Mahisa Murti
nampak letih sekali, tetapi cahaya wajahnya yang ceria menunjukkan
keberhasilannya. Minuman hangat dan makanan cair telah membuat
wajahnya yang pucat menjadi sedikit merah. Perlahan-lahan kekuatan
didalam tubuhnya yang letih mulai tumbuh kembali. Mahisa Murti
itupun mengucapkan terima kasih ketika ia menerima pernyataan
selamat dari seisi padepokan. Kecemasan yang mencengkam
padepokan itu rasa-rasanya telah lampau. Ketika semalam telah lewat,
serta Mahisa Murti sudah mulai makan sebagaimana biasanya, maka
kekuatannyapun menjadi semakin meningkat pula. Demikian pula Kiai
Wijang yang juga merasa sangat letih. Tetapi di hari kedua, maka
Mahisa Murti dan Kiai Wijang sudah hampir menjadi pulih kembali.
Mahisa Murti sudah mulai melakukan gerakangerakan sederhana di
sanggarnya bersama Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Ketika Mahisa
Murti sudah pulih kembali, maka Kiai Wijang menjadi sangat puas m
elihat hasil yang telah dicapai oleh Mahisa Murti. Kiai Wijang
sendiri telah menjajagi kemampuan anak muda itu setelah ia menembus
dinding yang seakan-akan membatasinya pada kemampuannya yang
sudah mapan. Dalam penjajagan yang dilakukan disanggar, maka Kiai
Wijang itupun berkata "Bukan main ngger. Semua tataran ilmumu sudah
meningkat. Jika sebelumnya aku mampu menangkal ilmumu yang mampu
menghisap kemampuan dan kekuatan orang lain, maka rasa -rasanya
sekarang tidak lagi sepenuhnya. Ketika aku minta kau pergunakan
ilmumu itu, aku merasakan kekuatan itu menghisap disetiap sentuhan
betapapun kecilny a. Namun dalam pertempuran yang lama, maka aku
akan dapat kehabisan tenaga. Bukan saja karena aku harus mengerahkan
segala kemampuanku untuk mengatasi kemampuanmu, tetapi juga karena
aku tidak dapat lagi menangkal ilmumu sepenuhnya. Selain kemungkinan
itu, maka akupun menjadi ragu. Apakah aku mampu melawan ilmumu dalam
benturan puncak ilmu kita masing-masing.” "Tetapi Kiai sudah m
emiliki pengalaman yang sangat luas serta kemampuan
mengembangkan ilmu Kiai sejauh -jauhnya. " Kiai Wijang ter senyum.
Katanya "Tetapi bekal yang ada didalam diriku tidak selengkap
bekal yang ada didalam dirimu. Dengan m enjalani laku m aka
apa yang ada didalam dirimu, ternyata sudah berada pada tataran
yang tidak lagi terjangkau oleh ilmuku." "Tetapi seperti yang
aku katakan, Kiai memiliki lumbung pengalaman yang tidak terhingga."
berkata Mahisa Murti. "Mungkin ngger. Tetapi semisal bangunan,
bahan-bahan yang ada padamu lebih baik dari bahan-bahan yang
ada padaku." berkata Kiai Wijang. Lalu katanya pula "Nah,
selanjutnya kau akan dapat membuat semua bekal yang ada didalam
dirimu luluh menyatu. Aku y akin bahwa dalam waktu yang singkat
semuanya itu akan dapat kau lakukan. Semuanya yang ada didalam
dirimu akan luluh m enjadi satu kebulatan ilmu yang jarang ada
duanya. " "Aku mohon doa restu Kiai." desis Mahisa Murti. "Tetapi
kau harus selalu ingat. Kau bertanggung jawab atas ilmumu yang
sangat tinggi. Kau tidak boleh menyalah gunakannya. " Mahisa Murti
mengangguk-angguk. Seakan-akan kepada dirinya sendiri ia bergumam
"Aku akan selalu mengingatnya." Demikianlah, dihari berikutnya, maka
tenaga dan kekuatan Mahisa Murtipun benar-benar telah mencapai
tataran tertingginya kembali. Bahkan tataran ilmunya sudah meningkat
dengan satu loncatan panjang, menembus batas kemapanan dari ilmunya
itu sebelumnya. Dihari berikutnya, m aka Kiai Wijang yang merasa
bahwa tugasnya telah selesai itupun kemudian telah minta diri. Ia
harus segera kembali ke tempat tinggalnya yang terpencil.
"Meskipun tempat tinggalku terpencil, t etapi hidupku sehari-hari
tidak terpisah dari lingkunganku, sebagaimana kehidupan di padepokan
ini. Namun orang-orang disekitarku mempunyai tanggapan yang berbeda
atas diriku. Mereka menganggap aku seorang petani yang hidup
dari hasil pategalan dan bahkan tinggal disebuah gubug kecil di
tengahtengah pategalan. " "Apakah Kiai tidak berkeluarga ?" bertanya
Mahisa Murti. Pandangan mata orang itu menerawang jauh. Dengan nada
yang lemah ia menjawab "Sekarang tidak ngger" Mahisa Murti
termangu-mangu sejenak. Ia melihat sinar mata Kiai Wijang yang
kemudian menjadi redup. Katanya dengan nada rendah. “Aku telah
kehilangan segalagalanya. Bahkan dua orang muridku telah tidak ada
pula. Satu bencana yang tidak terduga telah terjadi. Justru
disaat aku sedang berada dipuncak kejayaan karena ilmuku yang
menurut pendapatku waktu itu tidak ada yang mampu
mengimbanginya. Ternyata itu merupakan bencana bagiku. Beberapa
orang telah m endendamku karena kesombonganku, kesewenang-wenanganku
dan barangkali juga keganasanku. Akhirnya mereka tidak tahan lagi
mengalami perlakuanku. Mereka sepakat untuk datang kerumahku
bersama-sama karena mereka merasa tidak akan dapat mengalahkan aku
sendiri-sendiri. Tetapi ternyata saat itu aku tidak ada dirumah.
Yang ada adalah isteriku, seorang anakku perempuan dan dua orang
muridku. Seorang diantaranya diantaranya adalah bakal menantuku.
Tetapi mereka semuanya telah dihancurkan. Rumahku telah dibakar
habis bersama tubuh-tubuh mereka yang terbunuh." Kiai Wijang
berhenti sejenak. Lalu katanya "Ketika aku pulang dan menemui keny
ataan itu, aku m emang hampir menjadi gila. Aku bertekad untuk
mencari mereka dan akan membunuh mereka semuanya dengan caraku."
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Matanya menjadi semakin lama
semakin redup. Kenangan yang buruk itu menjadi semakin jela s di
angan-angannya. Katanya kemudian " Tiga orang telah aku habisi
dengan caraku. Tetapi aku tidak puas. Dari mereka aku tahu, siapa
-siapa yang telah datang kerumahku dan m embunuh keluargaku dan m
urid-muridku. Karena itu, maka aku bertekad untuk menemukan mereka
semuanya. " Mahisa Murti mendengarkan ceritera tentang peristiwa
yang buruk itu dengan hati yang berdebar-debar. Sementara itu
Kiai Wijang berkata selanjutnya " Tetapi pada saat aku hampir
kehilangan seluruh dasar kemanusiaanku, maka aku telah bertemu
dengan seorang tua. Bukan pertemuan biasa. Tetapi justru pada saat
aku terjebak. Sisa-sisa musuhku telah berkumpul dan menyusun jebakan
yang tidak dapat aku hindari. Aku tidak mampu melawan beberapa
orang bersamasama. Aku memang mengira bahwa aku tentu sudah mati.
Bahkan barangkali itu yang terbaik buatku. Namun ternyata tidak. Aku
ditolong oleh orang tua itu. Lukaku diobati. Sedikit demi sedikit
aku sembuh. Namun setiap hari aku m endengar ceriteranya tentang
kebaikan. Tentang keluhuran budi dan tentang sumber hidup manusia.
Maka sedikit demi sedikit terbangunlah sikap yang jauh berbeda
dari sikapku sebelumnya. Ketika kemudian aku sembuh dan pulih
kembali, maka aku telah menjadi orang lain. Untuk menghindari
kemungkinan buruk itu terjadi lagi atasku, sehingga sifat-sifat
ganasku tumbuh kembali, maka aku telah hidup dalam satu dunia
yang lain pula. Aku tinggal disebuah pategalan. Terpisah dari
padukuhan-padukuhan. Tetapi bukan b erarti bahwa aku tidak
berhubungan dengan orang-orang padukuhan itu." "Di manakah orang tua
itu sekarang ?" bertanya Mahisa Murti. "Orang itu sudah tidak ada
lagi. Orang itu adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Lebih
tinggi dari ilmuku waktu itu, meskipun aku m engira bahwa aku adalah
orang yang terbaik dalam olah kanuragan diseluruh dunia. Namun
sebelum ia meninggal, ia sudah memberikan warisan ilmu kepadaku.
Tetapi bekal yang ada padaku waktu itu ternyata tidak selengkap
bekal yang kau m iliki. Karena itu, m aka suatu saat setelah kau
mampu mengembangkan ilmumu, kau akan menjadi orang yang jauh
lebih baik dari aku. Bukan saja ilmumu. Tetapi arti dari kehadiranmu
diantara sesama. Karena itu, maka aku memaksa diri untuk membantumu
agar kau tidak mengalami kesulitan karena dendam yang membakar
saudara seperguruanku itu." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun
kemudian iapun bertanya “Apakah Kiai juga masih sering berhubungan
dengan saudara seperguruan Kiai ?" "Jarang sekali. Cara hidup kami
sudah jauh berbeda. Aku tidak lagi mempunyai arti apa-apa baginya.
Akupun berharap bahwa ia tidak tahu atas kehadiranku disini. "
"Apakah ia tidak dapat melihat bekas tangan Kiai pada ilmuku sesudah
Kiai menuntunku menembus batas kemapanannya ?" "Tidak. Kau tetap
berpijak pada landasan dasar ilmumu yang semula tentu warisi dari
beberapa sumber namun yang sudah luluh menyatu dalam dirimu. Itulah
yang akan dilihatnya. Sementara aku hanya menolongmu untuk melakukan
satu loncatan panjang menembus batas yang seakan-akan menghentikan
peningkatannya." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun setiap kali
ia masih saja mengucapkan terima kasih kepada Kiai Wijang. Dengan
ilmunya yang semakin meningkat, maka akan semakin banyak pula
yang dapat dilakukannya bagi kepentingan sesamanya.
Demikianlah, maka Mahisa Murti tidak lagi dapat menahan orang itu
untuk tinggal lebih lama di Padepokan Bajra Seta. Pa da suatu hari,
maka Kiai Wijang itupun telah meninggalkan padepokan itu, tanpa mau
memberi tahukan, dimana ia tinggal. "Tetapi pada saatnya kau akan
mengetahuinya. Bahkan aku akan mengundangmu untuk mengunjungi aku
ditempat tinggalku. Namun ingat, aku bukan orang yang memiliki
kelebihan apa-apa diantara orang-orang padukuhan itu." Mahisa Murti
memang harus melepaskan orang itu, betapapun berat hatinya. Sebelum
pergi Kiai Wijang masih memperingatkannya "Hati-hatilah dengan
saudara seperguruanku. Tetapi tolong, jangan kau bunuh orang itu.
Usahakan agar kau m ampu menundukkannya dan sokurlah jika kau mampu
membuatnya jera." Mahisa Murti mengangguk sambil menjawab "Aku akan
mencoba Kiai. Namun percayalah, bahwa aku sama sekali tidak
mempunyai niat membunuhnya." "Aku mempercayaimu ngger. Sehingga jika
saudara seperguruanku itu terbunuh, tentu sama sekali tidak kau
sengaja.” Mahisa Murti tidak menjawab. Iapun percaya bahwa Kiai
Wijang berkata dengan jujur. Bukan sekedar membesarkan hatinya.
Namun sepeninggal Kiai Wijang, Mahisa Murti harus selalu
berhati-hati. Saudara seperguruan Kiai Wijang itu akan mengirimkan
orang untuk menjajagi kemampuannya. Jika ia berada di puncak
kemampuannya setelah ia mendapat tuntutan laku dari Kiai Wijang,
maka saudara seperguruan Kiai Wijang itu t entu tidak akan datang
kepadanya. Karena itu, maka Mahisa Murti sudah bertekad untuk
memancing saudara seperguruan Kiai Wijang itu agar ia datang
menemuinya. Dengan demikian, maka ia harus memberikan kesan bahwa ia
tidak akan mampu m engalahkan saudara seperguruan Kiai Wijang. Namun
sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti m emang tidak dengan sombong
menepuk dadanya bahwa ia tentu akan dapat mengalahkan saudara
seperguruan Kiai Wijang, karena menurut pendapatnya, perhitungan
Kiai Wijangpun tentu dapat keliru pula, karena betapapun tinggi
ilmunya, namun Kiai Wijang tetap hanya titah biasa, sehingga
kemungkinan bahwa ia keliru dapat juga terjadi. Dari hari kehari,
maka Mahisa Murtipun masih selalu menunggu orang-orang yang
mungkin dikirim oleh saudara seperguruan Kiai Wijang. Justru karena
itu, maka Mahisa Murti menjadi lebih banyak pergi keluar
padepokannya seorang diri. Namun sementara itu, jika Mahisa Murti
berada didalam sanggarnya, maka ia sempat mendalami ilmunya dan
berusaha mengembangkannya. Justru karena ia sudah berhasil menembus
batas kemapanan ilmunya, maka rasa-rasanya setapak demi setapak,
Mahisa Murti menuju kemapanannya pada tataran yang lebih tinggi.
Dalam pada itu, saat yang ditunggunya itu akhirnya datang
pula. Ternyata untuk beberapa hari tiga orang telah mengamatinya
saat-saat Mahisa Murti keluar dari padepokannya. Pa da saat yang
dianggap paling tepat, selagi Mahisa Murti berada diluar
padepokannya menjelang senja, tiga orang itu telah datang
menemuinya. Seorang diantara mereka langsung bertanya "Ki Sanak.
Menurut ciri-ciri yang ada, maka bukankah kau Mahisa Murti ?"
Mahisa Murti m engangguk mengiakan. Katanya "Ya. Aku adalah Mahisa
Murti. Pemimpin Padepokan Bajra Seta yang berada tidak jauh dari
tempat ini.” "Bagus Ki Sanak" berkata orang itu "aku memang
menunggumu. S ejak dua hari yang lalu kami meny empatkan diri untuk
dapat menemuimu." "Kenapa kau tidak datang ke padepokan ?" bertanya
Mahisa Murti. "Tidak Ki Sanak." jawab orang itu "aku ingin bertemu
justru saat kau sendiri. " Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam.
Sebenarnya ia sama sekali tidak terkejut mendengar jawaban itu.
Namun ia masih juga bertanya "Apakah kau mempunyai keperluan khusus
dengan aku ? Tidak dengan padepokanku ?" "Ya. Aku mempunyai
keperluan khusus dengan kau, Mahisa Murti." berkata orang itu.
"Siapakah sebenarnya kalian bertiga ?" bertanya Mahisa Murti pula.
"Itu tidak penting bagimu." jawab orang itu. "Jadi, apakah
yang penting bagiku ?" bertanya Mahisa Murti selanjutnya.
"Kami datang untuk menangkapmu. Kami ingin membawamu kepada pemimpin
kami. Jangan takut bahwa kami akan menyakitimu, karena segala
sesuatunya terserah kepada pemimpin kami." jawab orang itu. Mahisa
Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya menebak "Jadi,
kalian sekedar mencari per soalan untuk berselisih ? Apakah
sebenarnya maksudmu. Bukankah kita belum pernah bertemu sehingga
tidak ada per soalan diantara kita ?" "Seharusnya kau tidak m
enghindar. Kau sudah m elakukan kecurangan sehingga kau harus
bertanggung jawab." jawab orang itu. "Kecurangan apa ?" bertanya
Mahisa Murti. "Sudahlah, sekarang menyerahlah. Jangan banyak
bertanya lagi." berkata orang itu. "Ki Sanak" berkata Mahisa Murti
yang sudah m engetahui maksud kedatangan orang itu "jika kau
sekedar mencari perkara untuk berselisih, marilah. Aku tidak
berkeberatan. Tetapi sudah tentu bahwa aku tidak akan m eny erah
begitu sa ja. Marilah, siapa diantara kalian yang akan mencoba
untuk berkelahi melawan aku?" "Kami tidak datang untuk menantangmu
berperang tanding. Karena itu, m aka tidak ada seorang diantara kami
yang akan maju melawanmu. Tetapi kami bertiga memang sudah siap
untuk membawamu kepada pemimpin kami." "O, begitu. Jadi kalian akan
bertempur bersama-sama ?" bertanya Mahisa Murti pula. "Sekali lagi.
Kami akan m enangkapmu. Itu saja. Terserah kamu mengartikannya"
jawab orang itu. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Apa
yang dikatakan oleh Kiai Wijang itu benar-benar terjadi.
Dengan nada berat Mahisa Murtipun kemudian berkata "Ki Sanak. Sikap
Ki Sanak benar-benar tidak dapat aku mengerti. Tetapi sudah tentu
bahwa aku tidak akan bersedia menyerahkan diri, apalagi untuk kalian
bawa kepada orang lain yang menurut pendapatku, tidak ada hubungan
apapun juga dengan aku dan padepokanku." "Jika kau benar-benar
berkeberatan, maka ber siaplah. Aku mendapat wewenang untuk
mempergunakan kekerasan. Bahkan jika kau tetap berkeras, maka jika
kau mati, sama sekali bukan tanggungjawabku.” "Jadi tanggung jawab
siapa ?" bertanya Mahisa Murti. "Tanggung jawabmu sendiri " jawab
orang itu. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia memang harus
bertempur. Tetapi ia harus memberikan kesan, bahwa ilmunya tidak
akan melampaui ilmu saudara seperguruan Kiai Wijang. Meskipun ia
tetap sadar, bahwa banyak kemungkinan dapat terjadi. Demikianlah,
ketiga orang itupun kemudian telah bergeser. Mereka telah saling
menjauhi. Dengan nada berat seorang diantara mereka berkata "
Bersiaplah. Kami benar-benar akan bertindak sesuai dengan wewenang
yang ada pada kami. Ber siaplah. Mungkin kau akan sampai
kebatas hidupmu." Mahisa Murti tidak menjawab. Sementara itu
malampun mulai turun. Namun karena ketajaman penglihatan mereka,
maka m ereka masih dapat melihat dengan jelas orang-orang yang sudah
siap untuk bertempur itu. Demikianlah, maka ketiga orang itu mulai
bergeser. Seorang diantara m ereka telah meloncat m eny erang. Namun
Mahisa Murti yang melangkah surut, telah berhasil membebaskan diriny
a dari garis serangan itu. Tetapi kedua orang yang lainpun
telah meny erang pula berganti-ganti. Demikianlah, maka pertempuran
antara Mahisa Murti melawan ketiga orang itupun menjadi semakin
cepat. Ketiga orang itu ternyata memang berilmu tinggi. Tetapi untuk
menjajagi kemampuan seseorang dibandingkan dengan saudara
seperguruan Kiai Wijang itu, maka ketiga orang itu tentu tidak
memiliki kemampuan lebih baik dari saudara seperguruan Kiai Wijang
itu sendiri. Jika ketiga orang itu mampu mengalahkannya, maka orang
yang telah dikalahkannya itu tentu tidak akan menang melawan
saudara seperguruan Kiai Wijang itu sendiri. Mahisa Murti m enyadari
akan hal itu. Karena itu, maka ia memang tidak ingin mengalahkan
ketiga orang itu. Yang dilakukan oleh Mahisa Murti adalah sekedar
mengimbangi kemampuan ketiga orang yang bertempur semakin lama
semakin cepat. Meskipun demikian, ternyata ketiga orang itu merasa
sulit untuk dengan cepat mengalahkan Mahisa Murti. Bertiga mereka
telah mengerahkan kemampuan mereka. Namun Mahisa Murti masih saja
luput dari serangan-serangan mereka yang datang beruntun seperti
arus banjir yang deras. Namun sebalikny a, Mahisa Murti tidak juga
dapat menyentuh mereka. Mahisa Murti lebih banyak m enghindar
daripada meny erang. Bahkan rasa-rasanya Mahisa Murti memang tidak
mempunyai kesempatan sama sekali. Semakin lama pertempuran itupun
menjadi semakin sengit. Ketiga orang itu menekan semakin berat.
Mereka m eny erang dari tiga arah bahkan serangan itu-sering datang
bersamasama. Namun sebenarnyalah bahwa ketiga orang itu justru dapat
dipergunakan oleh Mahisa Murti untuk mengenal tataran ilmunya
sendiri. Meskipun didalam sanggar bersama Kiai Wijang, Mahisa Murti
sudah melakukan penjajagan itu, namun menghadapi ketiga orang yang
sebelumnya belum pernah dikenal, maka Mahisa Murti akan mendapat
kesempatan yang lain untuk menilai kemampuannya sendiri. Untuk
beberapa saat Mahisa Murti m emang tidak berbuat lebih dari sekedar
mengimbangi ketiga lawannya. Namun kemudian timbul niatnya untuk
memberikan lebih banyak perlawanan sebelum akhirnya ia harus
melarikan diri dari pertempuran itu masuk kedalam padepokannya atau
berusaha menghilangkan jejaknya di kegelapan. Dengan demikian, maka
pertempuran itupun justru meningkat menjadi semakin sengit. Mahisa
Murtipun kemudian tidak sekedar berusaha menghindari
seranganserangan lawannya. Namun iapun mulai membalas menyerang.
Ternyata serangan-serangan Mahisa Murti itu telah mengejutkan
lawan-lawannya. Apalagi setelah beberapa kali ia mampu mengenai
mereka. Bahkan m enyakiti m ereka seorang demi seorang. Meskipun
demikian Mahisa Murti tidak sampai melampaui batas keinginannya
untuk memancing saudara seperguruan Kiai Wijang. Karena itu, m aka
yang kemudian dilakukannya adalah menilai daya tahan tubuhnya
sendiri. Untuk beberapa saat Mahisa Murti justru membiarkan
lawan-lawannya itu meny erangnya dan bahkan mengenainya. Dengan
demikian, m aka Mahisa Murtipun merasa yakin, bahwa ilmunya memang
meningkat. Satu loncatan yang panjang telah dilakukannya sehingga ia
mampu menembus batas kemapanannya untuk mendapatkan kemapanan baru
dalam tataran yang lebih tinggi. Lawan-lawannya yang berhasil
mengenainya menjadi semakin garang. Mereka menganggap bahwa tenaga
dan kemampuan Mahisa Murti sudah mulai menjadi susut, sehingga tidak
mampu lagi menghadapi ketiga orang lawannya itu. Mahisa Murti memang
beberapa kali harus berloncatan mundur. Serangan lawan-lawannya
memang menjadi semakin garang, sehingga kemudian serangan-serangan
itu mulai menyakitinya. Tetapi Mahisa Murti memang membiarkannya.
Meskipun dimata lawan-lawannya Mahisa Murti masih juga berloncatan
menghindar, namun beberapa kali mereka berhasil menembus pertahanan
anak muda itu. Untuk mengurangi rasa sakitnya, maka Mahisa Murti
telah mengerahkan day a tahannya. Dengan lambaran tenaga dalam, maka
Mahisa Murti mengerahkan getar didalam dirinya melawan
serangan-serangan yang mengenai tubuhnya. Dengan m engentalkan
tenaga yang dialasi tenaga dalamnya, maka Mahisa Murti
berusaha menahan setiap serangan yang mengenai tubuhnya. Ternyata
akibatnya m emang luar biasa. Kulitnya seakanakan menjadi liat.
Serangan-serangan yang mengenai tubuhnya seakan-akan telah
memental tanpa menyakitinya. Ternyata puncak dari day a tahannya
telah membuat kulitnya seakan-akan menjadi kebal. Ia tidak lagi
merasa serangan-serangan lawannya yang mengenainya itu
menyakitinya. Tetapi Mahisa Murti tidak menjadi kehilangan akal. Ia
tidak berniat untuk m enghancurkan lawan-lawannya itu m eskipun
kemudian m enurut perhitungannya ia akan dapat mengatasi ketiga
lawannya, meskipun Mahisa Murti y akin, bahwa ada diantara mereka
yang masih meny impan ilmu puncaknya. Sebenarnyalah bahwa
karena Mahisa Murti tidak segera dapat ditundukkannya, meskipun
serangan-serangan mereka mampu menembus pertahanan anak muda itu dan
bahkan sekali-sekali mengguncang keseimbangannya, maka seorang
diantara merekapun berniat untuk memaksa Mahisa Murti untuk mengakui
kekalahannya. Karena itu, maka dalam pertempuran selanjutnya, Mahisa
Murti merasa betapa serangan salah seorang lawannya menjadi sangat
berbahaya. Seorang yang bertubuh tinggi meskipun agak
kekurus-kurusan itu ternyata memiliki kelebihan dari kedua orang
yang lain. Meskipun Mahisa Murti dilindungi day a tahannya
yang memiliki sifat m endekati ilmu kebal, namun ia harus
berhati-hati terhadap lawannya yang bertubuh tinggi itu. Tangan
orang itu seakan-akan semakin lama menjadi semakin keras, sehingga
kemudian tangan itu bagaikan gumpalan batu hitam. Dengan demikian,
maka sentuhan tangan itu masih juga mampu menggetarkan day a tahan
Mahisa Murti, sehingga ia merasa betapa kerasnya tangan lawannya.
Meskipun masih dalam batas perlindungan daya tahannya, namun
sentuhan itu memang dapat menggetarkan daya tahannya yang sangat
tinggi itu. Sementara itu, Mahisa Murti merasa sudah cukup
bermainmain dengan ketiga orang lawannya. Ia masih ingin memancing
kehadiran saudara seperguruan Kiai Wijang. Sebagaimana pesan Kiai
Wijang, m aka ia sama sekali tidak ingin mengakhiri hidup orang itu.
Tetapi ia ingin membuat orang itu jera. Meskipun demikian, Mahisa
Murti juga tidak m engingkari kemungkinan bahwa justru ia sendirilah
yang akan dikalahkan dan justru diakhiri oleh saudara
seperguruan Kiai Wijang itu. Namun Mahisa Murti masih mempunyai
sandaran untuk menyerahkan segala kemungkinan yang bakal
terjadi. Ia y akin akan kuasa Yang Maha Agung. Demikianlah, maka
Mahisa Murti seakan-akan menjadi semakin terdesak. Serangan-serangan
ketiga orang lawannya berganti-ganti telah mengenai tubuhnya. Mahisa
Murti sama sekali tidak memberikan kesan, bahwa daya tahannya mampu
m engatasi serangan-serangan yang datang beruntun itu. Hanya
serangan dari orang yang b ertubuh agak tinggi itulah yang
sebenarnya mampu menggetarkan day a tahannya. Namun tidak
menentukan. Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Mahisa
Murtipun berusaha untuk berloncatan mengambil jarak. Orang
yang b ertubuh tinggi itu sempat berkata "Jangan lari. Meny
erah sajalah. Atau kau akan mati." Tetapi Mahisa Murti sadar, bahwa
orang-orang itu tidak akan membunuhnya. Mereka tentu akan
membiarkannya hidup. Kemudian orang-orang itu akan melaporkannya
kepada saudara seperguruan Kiai Wijang. Mahisa Murtipun kemudian
sudah bersiap-siap untuk melarikan diri. Ia dapat dengan cepat
memasuki gerumbulgerumbul yang diselubungi oleh kegelapan
sebagaimana direncanakannya. Tetapi tiba-tiba timbul pertanyaan
dihatinya "Apakah yang akan mereka lakukan seandainya aku
benar-benar kalah ? Apakah mereka akan membawa aku kepada saudara
seperguruan Kiai Wijang untuk ditantang berperang tanding ?.” Tetapi
akhirnya Mahisa Murti memilih untuk melakukan rencananya. Ia akan
melarikan diri kedalam kegelapan. Ia berharap bahwa saudara
seperguruan Kiai Wijang itu benarbenar akan datang kepadanya.
Beberapa saat Mahisa Murti masih bertahan sambil berloncatan
berputaran. Tetapi kemanapun ia pergi, maka salah seorang lawannya
telah memburunya dan menyerangnya. Tetapi akhirnya Mahisa Murtipun
telah benar-benar berusaha melepaskan diri. Dengan beberapa
loncatan, panjang ia masuk kedalam gerumbul-gerumbul perdu. Untuk
beberapa saat ketiga orang lawannya mampu melihat jejaknya pada
ranting-ranting yang terguncang. Namun kemudian rasarasanya menjadi
semakin sulit untuk mereka ikuti. "Jangan lari, pengecut " teriak
orang yang bertubuh tinggi itu. T etapi ia justru berhenti m
engejar. Demikian pula kedua orang kawannya. Sejenak mereka
memandang kekegelapan. Namun kemudian orang bertubuh tinggi itu
berkata "Ia memang memiliki kelebihan. Tetapi ia bukan lawan yang
tangguh bagi Kiai Putut. " Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang
diantaranya berkata "Kulitnya cukup liat. Ia mampu bergerak cepat.
Semua itu harus kita laporkan kepada Kiai Putut, agar ia tidak salah
menilai anak muda itu." "Tetapi ia akan dengan cepat digila s oleh
kemampuan Kiai Putut yang sangat tinggi." sahut kawannya
yang seorang. "Tugas kita sudah selesai " berkata orang
yang bertubuh tinggi. “Besok k ita kembali ke perguruan untuk
memberikan laporan tentang tugas kita ini." Sementara itu, Mahisa
Murti yang melarikan diri itupun berhenti disebuah padang
perdu yang tidak begitu luas. Ketika ia mengetahui bahwa
ketiga orang lawannya sudah tidak mengejarnya lagi, maka iapun
kemudian m elangkah menuju ke padepokannya. Sebelum Mahisa Murti
memasuki regol padepokannya, maka dibenahinya pakaiannya. Ia tidak
ingin menceriterakan apa yang dialaminya kepada isi
padepokannya. Karena itu, maka Mahisa Murtipun telah menghapus
segala kesan tentang perkelahian yang baru saja dilakukan melawan
ketiga orang yang memang sudah diduganya akan datang. Wantilan
yang kebetulan berada di pendapa bangunan induk padepokannya
itu dengan serta-merta bertanya "Kau datang dari mana ?" "Dari
padukuhan sebelah Barat itu, paman," jawab Mahisa Murti. "Biasanya
kau tidak sampai malam jika kau pergi ke padukuhan itu." berkata
Wantilan pula. Mahisa Murti tersenyum. Katanya "Aku melihat
anak-anak muda yang sedang beramai-ramai mempersiapkan
keramaian. Ki Bekel di padukuhan itu akan menyelenggarakan
peralatan." Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia memang pergi
ke rumah Ki Bekel itu. Dan Ki Bekel memang akan menyelenggarakan
peralatan. Anaknya perempuan akan menikah dengan anak seorang
saudagar ternak yang terhitung berkecukupan. Namun Mahisa Murti
tidak naik kependapa. Katanya "Aku belum mandi." Demikianlah, sejak
hari itu Mahisa Murti menjadi semakin berhati-hati. Ia
memperhitungkan bahwa saudara seperguruan Kiai Wijang itu tentu akan
datang menemuinya. Dari hari ke hari Mahisa Murti menanti. Namun ia
tidak melalaikan tugasny a sebagai seorang pemimpin di Padepokan
Bajra Seta. Sejak Mahisa Pukat m eninggalkan padepokan itu, maka
tugas Mahisa Murti memang menjadi bertambah berat. Mahisa Murtipun
tidak melupakan tugas khususny a. Ia dengan sungguh-sungguh telah m
enempa Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Keduanya tidak lagi pernah m
erasa semakin jauh dari Mahisa Murti sebagaimana saat-saat mereka
datang. Jika Mahisa Murti tidak langsung menunggui mereka didalam
sanggar, maka mereka sudah m enyadari bahwa tugas Mahisa Murti
memang cukup banyak. Namun pada hari -hari terakhir, Mahisa Murti
lebih banyak pergi seorang diri menjelang senja. Ada-ada saja yang
dilakukan. Mahisa Murti tidak selalu pergi ke padukuhanpadukuhan
disekitar padepokannya. Kadang-kadang Mahisa Murti justru pergi ke
tempat-tempat yang terpencil untuk berlatih seorang diri dialam
terbuka. Sekali-sekali di padang perdu, dilereng bukit atau ditepian
sungai. Mahisa Murti memang dengan sengaja memberi kesempatan kepada
saudara seperguruan Kiai Wijang untuk menemuinya. Namun disamping
itu, Mahisa Murti juga sedang berlatih sehingga ia benar-benar dapat
menguasai setiap unsur dari ilmunya serta setiap unsur dari tubuhnya
sendiri. Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa saudara seperguruan
Kiai Wijang yang telah mendapat laporan dari ketiga orang yang
dimintanya untuk menjajagi kemampuan Mahisa Murti, telah berada di
dekat padepokan itu pula. Ternyata ia tidak datang sendiri. Ketiga
orang yang telah lebih dahulu datang menemui Mahisa Murti itu
diajaknya pula. Dengan mudah, maka saudara seperguruan Kiai Wijang
itupun segera mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Mahisa Murti.
Selagi Mahisa Murti berada di padang perdu untuk memantapkan
penguasaannya atas unsur-unsur ilmunya tetapi juga unsur-unsur
tubuhnya, maka saudara seperguruan Kiai Wijang bersama ketiga orang
pengikutnya telah mengamatinya dengan saksama. "Luar biasa " desis
orang itu "anak muda itu memang berilmu sangat tinggi. Jika
pertumbuhannya tidak dihentikan, maka beberapa tahun lagi, ia akan m
enjadi orang yang sangat berbahaya." "Bagaimana Kiai Putut dapat
menghentikan pertumbuhan ilmu anak muda itu ? Apakah anak muda itu
harus dibunuh ?" "Tidak " jawab saudara seperguruan Kiai Wijang itu
"tetapi bagian dari tubuhnya atau simpulsimpul syarafny a harus
dirusak agar jalur hubungan antara kehendak dan bagian-bagian
tubuhnya terganggu. Dengan demikian, maka ia tidak akan mampu lagi
menguasai tubuhnya dengan sempurna. Sehingga ia tidak mungkin
menjadi seorang yang memiliki kemampuan tinggi dalam olah kanuragan,
meskipun ujud dan sikapnya sehari-hari tidak menunjukkan cacatnya
itu.” Ketiga orang yang datang bersama Kiai Putut itu
mengangguk-angguk. Sementara Kiai Putut itu berkata selanjutnya
"Anak itu masih tetap dapat melakukan kerja sehari-hari. Tetapi
tidak lebih dari seorang gembala di padang penggembalaan. Ia hanya
dapat meniup seruling sambil duduk bersandar pepohonan mengalunkan
lagu sedih meratapi nasibny a yang malang. Tetapi semuanya itu
terjadi akibat kesombongannya sendiri." Ketiga orang yang
menyertainya itu hanya menganggukangguk saja. Namun rasa-rasanya
memang sayang sekali, bahwa tunas yang sedang tumbuh itu harus
dipatahkan. Tetapi ketiga orang itu tidak berani mengatakannya.
Dalam pada itu, maka mataharipun telah menjadi semakin rendah dan
bahkan telah tenggelam dibalik punggung gunung. Langit menjadi buram
dan angin semilir lembut. Mahisa Murtipun menghentikan
gerakan-gerakannya. Ia mulai menurunkan irama pernafasannya. Bahkan
kemudian kedua tangannya telah menakup diatas kepalanya, kemudian
turun perlahan-lahan sampai ke depan dadanya. Dengan satu tarikan
nafas panjang, maka kedua tangannya itupun dilepaskannya. Namun
demikian Mahisa Murti berhenti sama sekali, terdengar seseorang
tertawa dari balik gerumbul perdu. Mahisa Murti pura-pura terkejut.
Tetapi sebenarnyalah sejak ia berlatih, ia sudah mengetahui, bahwa
ada beberapa pasang mata tengah mengawasiny a. Dengan nada yang
tajam Mahisa Murti bertanya "Siapakah kalian?" "Baiklah aku mengaku,
siapakah aku sebenarnya. Aku adalah Kiai Putut. Seorang yang pernah
merasa kau rendahkan dihadapan banyak orang" jawab orang itu. Mahisa
Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya kepada
ketiga orang yang menyertai Kiai Putut itu "Bukankah kau orang-orang
yang pernah datang m enemui aku beberapa hari yang lalu?" "Ya "
jawab orang itu "kami memang telah datang menemuimu beberapa hari
yang lalu. Kami pernah sedikit bermain-main. Namun dengan
licik kau melarikan diri." Mahisa Murti tertawa. Katanya "Akukah
yang licik? Bukankah aku bertempur seorang diri, sedangkan kalian
bertempur bersama-sama?" "Kita tidak sedang berperang tanding.
Tetapi kami sedang mengemban tugas untuk menangkapmu" jawab orang
yang bertubuh tinggi itu. "Nah, bukankah dengan demikian aku juga
tidak sedang berperang tanding? Yang aku lakukan adalah m embebaskan
diri dari usaha penangkapan dari orang-orang yang tidak aku kenal."
"Per setan" potong Kiai Putut "sekarang aku datang untuk menantangmu
berperang tanding" "Apakah alasanmu?" bertanya Mahisa Murti. "Kau
telah menghina aku" jawab orang itu. "Kapan dan dimana?" bertanya
Mahisa Murti pula. "Seharusnya kau tidak bertanya seperti itu.
Pertanyaanmu menunjukkan betapa sombongnya kau. Kau yang sudah
menghina dan merendahkan martabat perguruanku, begitu sa ja
melupakannya tanpa merasa bertanggung jawab sama sekali, " jawab
Kiai Putut. Mahisa Murti m enarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku
tidak pernah merasa menyakiti hati orang lain, apalagi menghina dan
merendahkan martabat sebuah perguruan." "Per setan. Apapun yang kau
katakan, tetapi bersiaplah untuk menerima akibat dari perbuatanmu
itu. Aku datang untuk menunjukkan kepadamu, bahwa kau untuk
selanjutnya tidak akan menghina aku lagi." berkata Kiai Putut
kemudian. Mahisa Murti tidak sempat menjawab. Orang itu telah
bergeser mendekat dan bersiap untuk bertempur. Namun orang itu
sempat berkata kepada ketiga orang itu "Kalian menjadi saksi. Aku
tantang anak ini berperang tanding, agar ia tidak lagi merasa berhak
melarikan diri. Kecuali jika ia benar-benar seorang yang licik."
Ketiga orang itu tidak menjawab. Sementara Mahisa Murtipun telah
bersiap pula. Ia memang tidak merasa perlu untuk bertanya lebih
lannjut untuk apa orang itu datang. Demikianlah, maka sejenak
kemudian, orang itu telah memancing gerakan Mahisa Murti. Dengan
serangan yang lemah, orang itu mulai berloncatan. Mahisa Murtipun
bergeser menghindar. Namun Kiai Putut itu telah memburunya. Dengan
demikian maka pertempuran itupun segera menyala. Selapis demi
selapis keduanya mulai m eningkatkan kemampuan mereka. Namun
keduanya masih saja saling menjajagi kemampuan masing-masing. Mahisa
Murtipun segera mengenali unsur-unsur gerak dalam ilmu lawannya.
Bukan saja yang dikenalinya lewat lawannya, anak saudara
seperguruan Arya Kuda Cemani, tetapi juga lewat saudara seperguruan
Kiai Putut yang ju stru telah mempersiapkannya untuk menghadapinya.
Dengan nada rendah Mahisa Murti itupun kemudian berkata "Aku
sekarang tahu Kiai Putut. Kau m endendamku karena aku telah
bertempur melawan seorang anak muda yang memiliki ilmu sejalan
dengan ilmumu di Singasari." Kiai Putut itu ju stru meloncat surut.
Dipandanginya Mahisa Murti dengan tatapan mata yang menyala.
Dari sorot matanya Mahisa Murti memang melihat dendam yang memancar.
Dengan geram orang itu m enyahut "Anak muda. Sekarang kau m
engetahui kenapa aku datang darijauh untuk bertemu dengan kau.
Sekarang kau tidak akan dapat ingkar lagi, bahwa kau memang pernah
menghina aku dan merendahkan martabat perguruanku." "Kiai Putut"
berkata Mahisa Murti "menurut pengetahuanku, kau adalah seorang guru
yang mumpuni. Kau adalah seorang yang pantas menjadi contoh
bagi muridmuridmu. Jika kau masih terbawa oleh arus perasaanmu yang
tidak terkendali, apakah jadinya dengan perguruanmu?” "Jadi menurut
pendapatmu, apapun yang terjadi di perguruanku, sebaiknya aku
duduk saja berpangku tangan? Apakah aku harus mematikan perasaanku
jika aku melihat seseorang menghina muridku dan perguruanku? Itukah
menurut pendapatmu sikap seorang guru yang baik?" "Ki Putut"
berkata Mahisa Murti kemudian "apakah kau tersinggung bahwa muridmu
telah dikalahkan oleh seseorang? Seharusnya kau melihat persoalannya
secara utuh. Bukan hanya sepotong, bahwa muridmu telah dikalahkan.
Seorang guru menurut pendapatku, harus berani menunjukkan kepada
muridnya, yang manakah yang benar dan yang manakah yang a
salah. Jika murid Kiai Putut melakukan kesalahan, seharusnya Kiai
Putut tidak membelanya. Justru memperingatkannya. Karena pembelaan
Kiai akan mendorong murid Kiai itu untuk melakukan
kesalahan-kesalahan berikutnya. Karena anak itu akan merasa selalu
mendapat perlindungan. " "Siapakah yang dapat m enentukan,
bahwa muridku telah bersalah? Siapa pula yang dapat menentukan garis
yang memisahkan antara kebenaran dan ketidak benaran. Apa katamu
jika aku berpendapat bahwa muridku telah berjalan diatas jalan
kebenaran?" berkata Kiai Putut. "Ki Putut. Kenapa kau yang sudah
ubanan itu m asih saja mudah dibakar oleh perasaan dendam? Kiai
Putut. Sekarang kau datang kepadaku dengan membawa dendam. Tetapi
ketahuilah, bahwa aku tidak berdiri sendiri. Jika saja guruku atau
orang tuaku atau siapa saja yang menganggap, sekali lagi,
menganggap aku berjalan diatas jalan kebenaran menuntut balas, maka
dendam itu akan berkepanjangan. Orang lain yang menganggapmu benar
akan menuntut dan yang lain dan yang lain. Bukankah dengan demikian,
dunia ini akan dibakar oleh perasaan dendam?" "O" Kiai Putut
menyahut dengan serta merta "ajaran itukah yang kau terima dari
gurumu? Kau biarkan sajakah jiwa keluargamu dihinakan dan
direndahkan martabatnya? "Aku akan melihat persoalannya, Kiai" jawab
Mahisa Murti. Tetapi Mahisa Murti tidak sempat meny elesaikan
katakatanya. Kiai Putut itupun berteriak "Jangan banyak berbicara
lagi. Aku sudah siap untuk menghancurkanmu. Kau akan kehilangan
kemampuanmu untuk selama-lamanya. Meskipun aku tidak ingin
membunuhmu, tetapi kau harus menebus kesombonganmu dengan harga yang
sangat mahal.” Mahisa Murti memang tidak sempat menjawab. Orang
itupun mulai meloncat meny erang. Tangannya bergerak dengan cepat
menyambar wajah Mahisa Murti. Tetapi Mahisa Murti dengan tangkas
pula mengelak, sehingga serangan Kiai Putut itu tidak mengenainya.
Namun demikian Mahisa Murti bergeser, maka kaki Kiai Putut lah yang
menyambar lambung. Mahisa Murti memang tidak sempat mengelak. Dengan
sikunya ia m encoba melindungi lambungnya. Dengan sedikit merendah,
Mahisa Murti berusaha mendapat tumpuan pada kedua kakinya yang
bagaikan berakar kedalam bumi. Tetapi Mahisa Murti ternyata masih
terguncang pula. Ia bergerak dan tergeser setapak surut. Namun Kiai
Pututpun terkejut. Serangan kakinya yang keras dan cepat itu
telah membentur kekuatan yang kokoh, sehingga terasa getaran yang
merambat dari telapak kakinya ke setiap sendi-sendi tulangnya. "Anak
iblis" geram Kiai Putut "darimana kau mendapatkan kekuatan itu?"
Mahisa Murti tidak menjawab. Namun iapun mulai menyerang pula.
Dengan demikian, maka keduanyapun kembali terlibat dalam pertempuran
yang sengit. Kiai Putut bergerak semakin lama semakin cepat.
Namun Mahisa Murtipun mampu mengimbanginya pula. Selapis demi
selapis ilmu mereka semakin meningkat. Ketiga orang yang m
enyaksikan pertempuran itu memang menjadi tegang. Mereka sudah m
emberitahukan kepada Kiai Putut, bahwa anak muda itu memiliki
kemampuan yang tinggi. Kiai Putut memang tidak ingin langsung m
enghancurkan lawannya yang masih muda itu. Ia ingin tahu, tataran
tertinggi kemampuannya. Bahwa anak muda itu mampu mengalahkan
muridnya yang termasuk salah seorang diantara muridnya yang
terbaik, telah menggelitik hatinya untuk mengetahui pada tataran
yang mana Mahisa Murti itu berada. Namun setiap kali Kiai Putut itu
meningkatkan ilmunya, maka lawannya yang muda itu masih saja
mampu mengimbangi. Bahkan setelah Kiai Putut berada pada tataran
selapis diatas tataran muridnya, Mahisa Murti m asih dapat
mengimbanginya. Dengan demikian maka Kiai Puput itu y akin bahwa
kekalahan muridnya bukan karena kesalahan yang dilakukan oleh
m uridnya itu. Tetapi ilmu Mahisa Murti memang lebih tinggi dari
ilmu muridnya itu. Dengan demikian, maka Kiai Piatut justru menjadi
semakin bernafsu untuk menundukkan Mahisa Murti dan membuatnya
kehilangan segenap kemampuannya tanpa mendapat kesempatan untuk
menumbuhkannya kembali. "Hukuman itu adalah hukuman yang
paling pantas untuk anak muda yang telah m enghina perguruanku"
berkata Kiai Puput didalam hatinya. Namun dalam pada itu, Kiai Puput
masih belum dapat menundukkan Mahisa Murti. Ketika Kiai Putut
bergerak semakin cepat, maka Mahisa Murtipun melakukannya pula.
Keduanyapun kemudian berloncatan saling meny erang dan menghindar. S
ekali-sekali m emang terjadi benturan diantara mereka. Namun Mahisa
Murti masih tetap mampu bertahan. Kiai Puput memang m enjadi semakin
heran. Ketika Kiai Puput meningkatkan kemampuannya lagi, maka Mahisa
Murti masih belum dapat ditundukkannya. Karena itu, maka kemarahan
Kiai Puputpun menjadi semakin membakar hatinya. Anak muda yang m
engalahkan muridnya itu ternyata memang memiliki ilmu yang jauh
lebih tinggi dari yang diduganya. Ketika Kiai Putut
meningkatkan ilmunya lebih tinggi, maka kecepatannya bergerakpun
justru menjadi berkurang. Ia tidak lagi berloncatan dengan cepat,
bahkan seakan-akan kakinya tidak meny entuh tanah. Tetapi geraknya
ju stru nampak semakin lamban. Namun setiap ayunan tangan atau
kakinya, seakan-akan telah menggetarkan udara disekitarnya. Mahisa
Murti menyadari, bahwa lawannya mulai merambah pada ilmu andalannya.
Karena itu, maka Mahisa Murtipun harus berhati-hati. Iapun telah
memanjat pada tataran ilmunya semakin tinggi. Kiai Putut memang
menjadi semakin heran. Seranganserangannya yang meluncur dengan
cepat sebelumnya, tidak mampu menembus pertahanan anak muda
yang sangat rapat itu. Kecepatannya bergerak, masih juga dapat
diimbanginya. Namun ketika gerak Kiai Putut justru menjadi lamban,
Mahisa Murti harus menjadi sangat berhati-hati. Meskipun Kiai Puatut
tidak lagi berloncatan sebagaimana sebelumnya, namun bobot
serangannya benar-benar m enjadi semakin berbahaya. Ketika tangannya
terayun menyambar kening, meskipun Mahisa Murti sempat mengelak,
namun getar udara yang deras telah menerpa wajahnya. "Satu kekuatan
yang sangat besar " desis Mahisa Murti. Ia sa dar, jika
serangan-serangan itu mampu mengenai tubuhnya, maka keseimbangannya
tentu akan terguncang. Untuk melindungi dirinya, selain memperketat
pertahanannya, m aka Mahisa Murtipun telah meningkatkan day a
tahannya. Sehingga day a tahannya pada tataran tertinggi itu
seakan-akan merupakan lapisan ilmu kebal yang menyelubungi tubuhnya.
Semakin lama maka pertempuran itupun menjadi semakin mendebarkan.
Meskipun keduanya tidak lagi berloncatan dengan cepat, namun
serangan-serangan mereka menjadi sangat berbahaya. Bahkan keduanya
seakan-akan tidak lagi berusaha untuk menyusup diantara pertahanan
lawannya, tetapi mereka siap untuk saling membenturkan kekuatan dan
kemampuan mereka. Mereka tidak merasa perlu mencari celah -celah
pertahanan lawannya. Tetapi mereka berusaha untuk langsung
memecahkan pertahanan lawannya itu. Semakin tinggi tingkat tataran
ilmu mereka, maka Kiai Puputpun menjadi semakin marah. Tetapi juga
semakin heran. Tingkat kemampuannya telah berada jauh diatas
kemampuan muridnya. Tetapi anak muda itu masih juga mampu
mempertahankan diri. Benturan-benturan yang terjadi, sama sekali
masih belum m ampu mengoyak apalagi memecahkan pertahanan Mahisa
Murti. Bahkan anak muda itu bukan saja hanya bertahan. Namun
seranganserangannyapun membuat Kiai Puput menjadi berdebardebar.
Ketiga orang pengikut Kiai Putut itu menjadi sangat tegang. Yang m
ereka saksikan adalah benturan-benturan ilmu yang tinggi. Meskipun
mereka menyadari, bahwa anak muda itu berilmu tinggi, tetapi mereka
tidak mengira bahwa ia m asih mampu bertahan sampai tataran yang
sedemikian jauhnya. "Kenapa saat itu ia melarikan diri ?" desis
orang yang bertubuh tinggi. "Entahlah" jawab kawannya "jika
saja saat itu ia berniat menghancurkan kami bertiga, maka agaknya ia
mampu melakukannya.” "Ilmunya seimbang dengan ilmu Kiai Puput."
desis orang yang bertubuh tinggi. Tetapi kawannya yang lain
berdesis "Kiai Putut belum sampai kepuncak ilmunya, karena Kiai
Putut memang tidak ingin membunuh anak muda itu. Tetapi jika ia
kehabisan kesabaran, maka anak muda itu tentu akan dibunuhnya."
Ketiga orang itu terdiam ketika mereka melihat Kiai Puput
melontarkan serangan yang dahsy at. Dengan satu loncatan panjang,
Kiai Putut mengangkat tangannya dan diayunkannya langsung kearah
kepala Mahisa Murti. Mahisa Murti m emang tidak sempat mengelak.
Tetapi kedua tangannya terangkat dan bersilang melindungi kepalanya
itu. Satu benturan yang sangat keras telah terjadi. Dua kekuatan
raksasa telah beradu. Yang tidak diduga telah terjadi. Mahisa Murti
memang terdorong surut. Tetapi ia dengan cepat dapat menguasai
keseimbangannya sehingga Mahisa Murti itu tidak terdorong jatuh.
Namun sementara itu, Kiai Putut yang telah meny erang Mahisa
Murti itu m erasakan betapa kekuatan ilmunya telah membentur
pertahanan yang benar-benar diluar dugaannya. Kiai Putut
memang melihat Mahisa Murti menangkis serangannya. Ia mengira bahwa
dengan demikian pertempuran itu akan berakhir. Tangan Mahisa Murti
akan patah sehingga untuk selanjutnya ia tidak akan mampu
mempergunakan tangannya itu. Seandainya tangan itu sembuh, namun
tangan itu tentu sudah cacat dan hanya mampu dipergunakan untuk
melakukan sesuatu yang tidak berarti. Apalagi kemudian ia akan
dapat merusakkan simpulsimpul sarafnya sehingga hubungan antara
kehendak dan sy araf penggerak tidak dapat berjalan lancar untuk
seterusnya. Tetapi yang terjadi tidak sebagaimana dikehendaki.
Ketika benturan itu terjadi, maka keseimbangan Kiai Putut justru
telah terguncang. Kiai Putut justru terdorong dan mental beberapa
langkah. Untunglah bahwa ia masih mampu mempertahankan
keseimbangannya, sehinga Kiai Putut itu tidak jatuh terlentang.
Mahisa Murti memang melihat Kiai Putut itu goyah. Tetapi ia tidak
meloncat memburu dan mempergunakan kesempatan itu. Ketika Kiai Puput
berusaha untuk memperbaiki keseimbangannya, maka Mahisa Murti
berdiri saja memandanginya. Kiai Putut itu menggeram. Kemarahan
telah membakar kepalanya, sehingga ia tidak lagi dapat mengendalikan
dirinya. Dengan suara yang bergetar oleh kemarahan yang
menghentak-hentak didadanya Kiai Putut itu berkata "Kau memang anak
iblis. Jika semula aku tidak ingin membunuhmu, maka kau m emang
tidak m empunyai pilihan lain. Karena itu, maka bersiaplah untuk
mati anak muda." "Kiai Putut" sahut Mahisa Murti dengan nada berat
"Apakah sebenarnya persoalan yang terjadi diantara kita ?
Apakah karena aku sempat mengalahkan muridmu, maka kita harus
bertempur sampai mati ? Itu sangat berlebihan Kiai.” "Per setan anak
cengeng" Kiai Putut hampir berteriak "sudah aku katakan, bahwa
semula aku tidak akan membunuhmu. Tetapi ternyata kau sombong, keras
kepala dan tidak tahu diri. Karena itu, m aka aku benar-benar akan
membunuhmu." "Sampai saat ini akupun masih dapat mengendalikan
diriku, Kiai. Tetapi jika keadaan menjadi semakin gawat, maka akupun
dapat m engancammu sebagaimana kau mengancam aku, meskipun aku sama
sekali tidak menghendaki hal itu terjadi." "Kesombonganmu itulah
yang membuat aku bernafsu untuk membunuhmu. Kau kira kau itu
siapa, dan kau kira aku ini siapa, sehingga kau berani mengancam aku
?" "Aku bukan siapa -siapa dan kau juga bukan siapa -siapa, Kiai.
Kita masing -masing sudah dibakar oleh kemarahan sementara api
dendam menyala dihatimu. Karena itu, m aka baik kau m aupun aku m
erasa tidak perlu lagi tahu siapakah kita masing -masing sebenarnya.
" "Per setan kau anak iblis" geram Kiai Putut sambil meloncat
menyerang. Namun Mahisa Murtipun telah bersiap sepenuhnya. Ia tidak
mengelak, tetapi sekali lagi ia menangkis serangan itu. Benturan
kekuatan itu telah m enggetarkan isi dada kedua belah pihak,
sehingga Kiai Puput menjadi semakin garang karenanya. Dengan
demikian, maka Kiai Putut telah mengerahkan segenap kemampuannya.
Dengan dor ongan tenaga dalamnya yang terbina dengan baik, Kiai
Putut berusaha mendesak Mahisa Murti. Tetapi Mahisa Murtipun mampu
mengimbanginya. Bahkan tenaga Mahisa Murti justru seakan-akan
menjadi semakin bertambah-tambah. Serangan-serangannya menjadi
semakin kuat dan bahkan beberapa kali Mahisa Murti mampu menembus
pertahanan Kiai Putut. Tetapi Mahisa Murti telah menemui lagi
kemampuan yang sangat tinggi. Mahisa Murti segera
mengenalinya, sebagaimana saat ia bertempur melawan Kiai Wijang
diluar gerbang Kotaraja. Tubuh Kiai Putut itu seakan-akan menjadi
sangat liat. Tulang-tulangnya menjadi lentur. Jika terjadi benturan,
maka tidak terasa hentakan-hentakan yang keras. Tetapi ju stru
sebaliknya. Tenaga dan kekuatan Mahisa Murti bagaikan tertampung dan
hilang tertelan tanpa beka s. Mahisa Murti sebenarnya tidak terkejut
menghadapi keadaan itu. Sebagai saudara seperguruan Kiai Wijang,
maka Kiai Pututpun tentu mampu melakukannya. Namun Mahisa Murti
tidak terhenti sampai sekian. Ia tidak menjadi kehilangan akal.
Dengan bantuan Kiai Wijang, maka kemampuan dan ilmu Mahisa Murti
telah menjadi jauh berkembang. Ia telah berhasil menembus batasan
kemapanan ilmunya sendiri untuk menggapai satu tataran kemapanan
kemampuan yang lebih tinggi. Karena itu, maka menghadapi ilmu
lawannya, Mahisa Murtipun telah mengerahkan day a tahan tubuhnya.
Seperti yang pernah terjadi, maka day a tahannya yang sampai
kepuncak itu dapat meny elubungi dirinya mirip dengan kekuatan ilmu
kebal. Tetapi lebih dari itu, Mahisa Murtipun berniat untuk
mengetrapkan ilmunya yang mampu menghisap tenaga dan kemampuan
lawannya. Meskipun ia pernah gagal ketika ia berhadapan dengan Kiai
Wijang, namun setelah ilmunya berkembang, maka ia berharap bahwa
ilmunya itu akan mampu menembus penangkal yang dimiliki oleh
Kiai Putut. Ketika pertempuran itu menjadi semakin sengit, maka
Mahisa Murti tidak mempunyai pilihan lain. Ia mulai mengetrapkan
ilmunya yang mampu menghisap tenaga dan kemampuan lawannya,
meskipun tidak langsung dengan kemampuan sepenuhnya. Memang timbul
niat Mahisa Murti untuk mengetahui batas tataran ilmunya itu pada
saat ilmunya itu menembus kekuatan penangkal yang dimiliki
oleh Kiai Pulut. Tetapi juga tidak tertutup kemungkinan, bahwa
ternyata sampai puncak kemampuannya, ilmunya itu m asih tetap tidak
dapat menembus penangkal yang dimiliki oleh Kiai Putut.
Meskipun Kiai Wijang pernah mengatakannya, bahwa Mahisa Murti mampu
mengatasi penangkal ilmunya, namun tidak mustahil bahwa Kiai Putut
dapat mengembangkannya lebih baik. Demikianlah, maka pertempuran
itupun sampai pada puncaknya. Mahisa Murti benar-benar telah
mengetrapkan ilmunya meskipun tidak pada tingkat tertinggi. Namun
dalam pada itu, sejenak kemudian, maka Kiai Puput yang meloncat
sambil mengambil jarak itu tertawa Katanya "Anak muda. Kau ternyata
memiliki ilmu yang luar biasa. Kau mampu dengan licik
menghisap tenaga dan kekuatan lawanmu. Tetapi kau akan kecewa bahwa
kau mencoba mengelapkannya padaku, karena aku mempunyai penangkal
ilmumu itu. Sayang bahwa muridku belum pernah mewarisi kekuatan
penangkal itu. Tetapi pada suatu saat, ia akan memilikinya juga.
Namun bahwa kau tidak akan pernah melihat kemampuannya itu, karena
hari ini adalah hari terakhirmu." Mahisa Murti tidak menjawab.
Tetapi ia meny erang semakin garang. Benturan demi benturan telah
terjadi. Serangan Mahisa Murti memang bagaikan tertelan kedalam
kulit dan daging lawannya tanpa menyakitinya. Bahkan i lmunya yang
mampu menghisap tenaga lawannya masih juga belum sampai pada batas
untuk menembus penangkal lawannya itu. Tetapi lawannyapun menjadi
gelisah, bahwa Mahisa Murti yang mempergunakan perisai daya tahannya
yang ditingkatkannya sampai kepuncak itupun rasa -rasanya selalu
dapat mengatasi rasa sakit pada setiap serangan Kiai Puput menembus
pertahanannya. Serangan-serangan Kiai Puputpun rasa-rasanya sama
sekali tidak menyakitinya. Bahkan seakan-akan tidak terasa sama
sekali. Sementara itu, selapis demi selapis Mahisa Murtipun telah
meningkatkan ilmunya untuk menghisap kemampuan lawannya itu. Dengan
keyakinan bahwa ia mampu menangkal ilmu Mahisa Murti, maka ternyata
Kiai Puput justru menjadi lengah. Ia tidak menghiraukan bahwa Mahisa
Murti meningkatkan ilmunya selapis demi selapis, sehingga akhirnya,
seperti juga terhadap Kiai Wijang, maka ilmu itu mampu memecahkan
penangkalnya yang dimiliki oleh Kiai Puput. Tetapi Kiai Puput tidak
segera menyadarinya. Perlahanlahan tetapi pasti, Mahisa Murti telah
m enghisap tenaga dan kemampuan Kiai Puput. Namun akhirnya, Kiai
Puput yang berilmu tinggi itupun menjadi curiga. Ia merasakan
sesuatu yang tidak wajar terjadi pada dirinya. Dengan
demikian, maka ia mulai memperhatikan setiap benturan dan sentuhan
yang terjadi. “Anak iblis" Kiai Puput menggeram. Ia segera
mengetahui, bahwa kemampuan ilmu Mahisa Murti mampu menembus day a
tangkalnya terhadap ilmu itu. Karena itu, maka dengan gelisah Kiai
Puput itu telah meloncat surut mengambil jarak. Mahisa Murti sengaja
tidak meloncat memburunya. Masih terngiang pesan Kiai Wijang, bahwa
Mahisa Murti tidak membunuh Kiai Puput apabila ia dapat mengatasi
ilmunya. Mahisa Murti sama sekali tidak ingin mengingkari pesan Kiai
Wijang yang telah m embantunya meningkatkan ilmunya. Karena itu,
maka ketika ia melihat Kiai Puput meloncat surut, maka ia justru
memberikan kesempatan. Dengan demikian ia berharap agar Kiai Puput
sempat menilai apa yang telah terjadi. Untuk beberapa saat
Kiai Puput b erdiri termangu-mangu. Namun kemudian ternyata dugaan
Mahisa Murti keliru. Kiai Puput tidak menilai per soalan yang
sedang dihadapinya. Tetapi darahnya justru telah mendidih. Dengan
geram Kiai Puput itu berkata "Anak muda. Ternyata kau benar-benar
keras kepala. Sampai saat ini aku masih mengekang diri. Karena itu,
aku ingin memperingatkanmu sekali lagi, agar kau tidak dengan
sombong mencoba melawan aku." "Jika aku tidak melawan, lalu apa yang
akan terjadi atas diriku?" bertanya Mahisa Murti. "Kau tidak akan
mati" jawab Kiai Puput. "Lalu apa ? Kita akhiri pertempuran ini
sampai disini?" bertanya Mahisa Murti. "Ya." jawab Kiai Puput. "Jika
demikian, baiklah. Aku tidak berkeberatan. Kita lupakan permusuhan
ini untuk selanjutnya. " berkata Mahisa Murti. Ketiga orang
yang m enyaksikan pertempuran itu menjadi berdebar-debar.
Namun diluar sadar, mereka menganggap bahwa keputusan itu adalah
keputusan yang bijaksana. Tetapi ternyata Kiai Puput masih berkati "
Tetapi aku masih mempunyai syarat." "Maksud Kiai Puput ?" bertanya
Mahisa Murti dengan jantung yang berdebaran. "Untuk selamanya kau
tidak akan memiliki kemampuan ilmu kanuragan lagi" jawab Kiai Puput.
“Aku memilih mati. Aku kira seperti kau, akupun tidak akan dapat
hidup dengan keadaan yang demikian. " Wajah Mahisa Murti
menjadi tegang. Dengan suara yang bergetar Mahisa Murti
bertanya "Bagaimana hal seperti itu dapat terjadi atasku ?" "Aku
akan membuat kau cacat. Aku akan merusakkan simpul-simpul sy arafmu,
sehingga hubungan antara kehendak dan sy araf penggerakmu tidak
wajar lagi." jawab Kiai Puput. Telinga Mahisa Murti menjadi panas.
Betapapun ia menyabarkan hatinya, namun kata-kata Kiai Puput itu
telah menyulut darah mudanya, sehingga bibirnya serasa bergetar.
"Kiai Puput " sahut Mahisa Murti "aku masih belum kau kalahkan. Jika
kau masih dapat meningkatkan ilmumu, maka akupun masih mampu m
elakukannya pula. Karena, itu, jika kau masih menuntut
bermacam-macam syarat, apalagi dengan lambaran dendam seperti itu,
maka aku akan melayanimu bertempur sampai kapanpun. Aku pertaruhkan
apa yang ada padaku untuk menjaga kehormatan dan harga diriku.
Kau tentu tahu, bahwa aku lebih baik mati daripada mendapat
penghinaan seperti itu." Gigi Kiai Puput itupun gemeretak menahan
kemarahannya. Dengan lantang ia berkata "Anak muda. Jika kau menolak
sy aratku dan masih berniat melawanku, maka kau akan mati hangus
menjadi abu. Aku tidak hanya sekedar mengancammu. Tetapi aku akan
benar-benar dapat melakukan atasmu." "Aku tidak peduli" jawab Mahisa
Murti "tetapi aku tidak dapat kau hinakan seperti itu. Betapapun
lemahnya seekor kucing, tetapi jika ia terinjak kaki, m aka ia akan
m enggeliat juga." "Bagus" geram Kiai Puput "jika demikian
bersiaplah. Kau benar-benar akan mengalami kematian yang
sangat pahit.” "Aku atau kau, Kiai" jawab Mahisa Murti. Kiai Puput
yang marah serta dibakar oleh dendam dihatinya itu tidak dapat
mengekang diri lagi. Iapun segera bersiap untuk bertempur dalam
tataran puncak kemampuannya. Ketiga orang yang m enyaksikan
pertempuran itu kembali menjadi tegang. Semula mereka sempat menarik
nafas panjang, ketika ketegangan seakan-akan telah mereda. Namun
sudah tentu bahwa anak muda itu tidak akan dengan suka rela
membiarkan tubuhnya menjadi cacat. Apalagi cacat untuk sepanjang
umurnya. Sementara itu, anak muda itu masih belum dapat dianggap
kalah. Bahkan anak muda itu mampu menunjukkan beberapa kelebihan
dari Kiai Puput itu sendiri. Karena itu, maka degup pernafasan
merekapun seakanakan menjadi semakin cepat, tetapi seakan-akan
tertahantahan oleh ketegangan yang semakin memuncak. Mahisa Murti
dan Kiai Puputpun telah bertempur kembali. Namun Kiai Puput yang
menyadari betapa berbahayanya ilmu Mahisa Murti, selalu berusaha
untuk menghindari setiap benturan. Bahkan Kiai Puputpun merasa bahwa
ia tidak akan sempat menyerang untuk mengenai tubuh lawannya, karena
dengan demikian akan berarti satu sentuhan. Sementara tubuh lawannya
yang muda itu seakan-akan tidak dapat disakitinya, namun justru
tenaga dan kemampuannya akan terhisap. Karena itu, maka Kiai Puput
tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus menunjukkan puncak
kemampuannya selagi tenaga dan kemampuannya masih dapat dianggap
utuh. Beberapa saat kemudian, ketika ia m endapat kesempatan, maka
Kiai Puputpun telah meloncat mengambil jarak. Dengan lantang iapun
berkata "Anak muda. Kali ini adalah kesempatanmu yang
terakhir. Karena aku menaruh belas kasihan kepadamu yang masih
muda, maka aku memberi kesempatan kepadamu sekali lagi tetapi
yang terakhir untuk menyerah. Jika tidak, maka kau benar-benar
akan mati dengan cara yang sama sekali tidak meny enangkan."
"Sudah aku katakan Kiai. Aku tidak akan menghentikan perlawanan
dengan sy arat yang kau berikan itu. Tetapi jika kau mengancam
untuk membunuhku, maka akupun akan melakukannya juga, karena
sebenarnya akupun tidak ingin membunuhmu jika kau menyadari bahwa
langkahmu itu adalah langkah yang salah. Dendam yang berbalas
dendam tidak akan pernah mendapat peny elesaian. Tetapi jika kau
menyadari akan kesalahanmu itu, maka aku berjanji tidak akan
membunuhmu." berkata Mahisa Murti yang sudah menjadi semakin marah
itu. Tetapi ancaman Mahisa Murti itu membuat Kiai Puput seakan-akan
menjadi mata gelap. Dengan lantang ia berbicara "Anak muda. Lihat,
apa yang dapat aku lakukan. Bukan hanya sekedar mencuri kesempatan
menghisap kekuatan dan kemampuan lawan, tetapi aku akan dapat
membakarmu hidup-hidup." "Aku tidak peduli" jawab Mahisa Murti.
"Anak iblis. Buka matamu lebar-lebar. Aku akan menunjukkan kepadamu,
bahwa aku tidak hanya sekedar mengancammu." Mahisa Murti tidak
sempat menjawab. Ia melihat orang itu sedang memusatkan nalar
budinya. Hanya sesaat. Kemudian kedua telapak tangannyapun
dikatubkannya. Ketika kemudian ia menghentakkan tangannya, maka dari
telapak tangannya yang terbuka itu seakan-akan telah m eluncur
segumpal api sebesar buah jeruk pecel kearah sebatang pohon
cangkring yang tumbuh di padang perdu itu. Mahisa Murti dengan
tegang mengikuti peristiwa sebagaimana pernah dilihatnya. Sementara
itu ketiga orang pengikut Kiai Puput itu bagaikan membeku ditempat
mereka. Tiba-tiba saja mereka merasa bahwa tidak adil jika anak muda
itu harus mati oleh dendam yang membakar jantung Kiai Puput.
Demikianlah maka sebagaimana pernah terjadi, maka ketika api itu
meny entuh selembar daun cangkring, maka meledaklah bunga api
sebagaimana pernah disaksikannya. Ketiga orang yang m
enyaksikan pameran ilrru itu m enjadi sangat tegang. Jika ilmu itu
dilontarkan langsung kearah Mahisa Murti, maka anak muda itu tentu
benar-benar akan menjadi abu. Dalam pada itu, Mahisa Murtipun
menyaksikan bunga api yang m eledak itu dengan jantung yang
berdebaran. Ilmu Kiai Puput, sebagaimana Kiai Wijang memang luar bia
sa. Sementara itu, terdengar suara Kiai Puput "Nah, anak muda. Kau
dapat memilih. Meny erah dengan segala akibatnya atau mengalami
serangan ilmu seperti yang kau lihat." Mahisa Murti memang
menjadi tegang. Ia melihat daun dan ranting pohon cangkring itu
memang rontok menjadi abu. Tetapi ia melihat dahan-dahan utamanya
dan apalagi pohon pohon cangkring itu masih berdiri tegak. Dengan
demikian maka Mahisa Murti mengerti bahwa kekuatan ilmu Kiai Wijang
masih jauh lebih tinggi. Ketika Kiai Wijang menghantam pohon gayam
dengan ilmunya yang dahsyat itu, maka bukan saja
ranting-ranting dan daun-daunnya sajalah yang runtuh menjadi debu.
Tetapi juga cabang-cabangnya yang besar runtuh berserakan. Karena
itu, maka Mahisa Murtipun berniat untuk mengimbangi pameran kekuatan
ilmu itu. Dipusatkannya nalar budinya. Ketika segala kekuatan yang
dimilikinya sudah dihimpunnya, maka iapun mulai mengangkat
tangannya. Kedua telapak tangannya memang ditakupkan. Namun kemudian
tangannya itupun dihentakkannya dengan kedua telapak tangannya
terbuka menghadap ke batang pohon cangkring yang besar itu.
Dari tangan Mahisa Murti telah meluncur cahaya yang
kehijau-hijauan. Mahisa Murti sendiri m engerutkan dahinya, ketika
ia melihat cahaya itu jauh lebih terang dari cahaya yang meluncur
dari telapak tangannya disaat-saat sebelumnya. Cahaya itupun dengan
kecepatan yang sangat tinggi telah menyambar batang cangkring
yang masih berdiri tegak itu. Yang terjadi adalah sangat
mengejutkan. Pokok batang Cangkring itu telah meledak dengan dahsy
atnya. Pohon cangkring yang besar itu ternyata tidak saja
mampu dirobohkan, tetapi batang pohon yang besar itu seakan-akan
telah dilemparkan ke udara. Melenting dan kemudian jatuh beberapa
langkah dan r oboh ditanah. Pohon itu telah terpenggal dari pokoknya
yang masih berpegangan pada akarakarnya yang menancap jauh
kedalam bumi. Ketiga orang pengikut Kiai Puput itu rasa-rasanya
seperti sedang bermimpi. Peristiwa itu sangat dahsy at didalam
penglihatan mereka. Batang cangkring yang besar dan r oboh, serta
pokoknya yang masih menghunjam ditanah, nampak merah membara.
Kiai Puput menyaksikan pameran kekuatan ilmu anak muda itu dengan
mulut yang menganga. Ia merasa kepalanya tersuruk kedalam dunia
mimpi yang menakutkan. Anak muda itu ternyata memiliki ilmu yang
sangat tinggi. Selagi Kiai Puput termangu-mangu dicengkam oleh
gejolak perasaannya, maka Mahisa Murti telah berdiri menghadap
kepadanya sambil berkata "Nah, Kiai Puput. Kita masingmasing sudah
menunjukkan kemampuan dan kekuatan ilmu kita. Terserah kepadamu,
apakah kau masih akan memaksakan kehendakmu. Bukan maksudku untuk
meny ombongkan diri jika aku menunjukkan kelebihanku kepadamu, Kiai
Puput. Tetapi aku y akin, bahwa jika kau benar-benar meny erangku
dengan ilmumu itu, kau sendiri akan mengalami kesulitan. Aku akan
dapat membentur ilmumu sehingga ilmumu sama sekali tidak akan
menyentuhku. Aku dapat menahan jarak atas apimu. Sementara kelebihan
ilmuku akan dapat m endorong ilmumu mental dan akan menghancurkan
dirimu sendiri. " Wajah Kiai Puput menjadi tegang. Ia tidak dapat
mengingkari kenyataan yang dihadapinya. Iapun tidak akan dapat
ingkar, bahwa kekuatan ilmu anak muda itu lebih besar dari kekuatan
ilmunya. Bukan karena tenaga dan kemampuannya sudah terhisap oleh
anak muda itu, karena ia segera menyadari hal itu. Tetapi ia harus
mengakui, anak muda itu lebih baik dari Kiai Puput itu sendiri.
Untuk beberapa saat Kiai Puput berdiri menegang. Ia berdiri
dipersimpangan antara keny ataan yang dihadapinya serta harga
diriny a. Tetapi jika ia berpegang pada harga dirinya, maka tubuhnya
akan terbaring ditempat itu. Bahkan mungkin untuk selama-lamanya.
Ketiga orang itupun akan tetap menceriterakan kepada semua orang,
bahwa ia telah dikalahkan oleh seorang anak muda, pemimpin Padepokan
Bajra Seta. Mahisa Murti dengan sengaja memang memberikan kesempatan
kepada Kiai Puput untuk menentukan sikap. Meskipun demikian Mahisa
Murti tidak menjadi lengah, karena dapat saja setiap saat Kiai Puput
itu dengan serta merta menyerangnya. Namun ternyata Kiai Puput
itupun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata "Aku harus
mengakui kelebihanmu anak muda. Aku memang tidak akan dapat
mengalahkanmu." "Jadi, apakah yang akan kau lakukan ?"
bertanya Mahisa Murti. "Kaulah yang akan menentukan." jawab
Kiai Puput. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
iapun berkata "Bagaimana jika aku m engajukan syarat yang sama
sebagaimana kau ajukan ?" Wajah Kiai Puput menegang. Namun kemudian
katanya "Jika kau berkeras untuk melakukannya, baiklah anak muda.”
"Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Katanya "Jadi kau berkeberatan
jika aku membuatmu cacat dan kemudian merusakkan simpul-simpul
sarafmu agar hubungan antara kehendak dan syaraf-sy araf penggerakmu
tidak bekerja dengan
wajar?"
Jilid 117 KIAI Puput m emandang anak
muda itu dengan tajamnya. Dengan nada dalam ia berkata "Tentu saja”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya "Kiai Puput. Jika demikian,
baiklah aku tidak melakukannya. Aku sendiri berkeberatan
diperlakukan seperti itu. Karena itu, sebaiknya aku tidak
memperlakukan orang lain demikian pula." Hati Kiai Puput benar-benar
tersentuh mendengar katakata Mahisa Murti itu. Orang tua itu justru
seakan-akan telah dihadapkan pada sebuah cermin. Dengan jelas ia
telah melihat, cacat diwajahnya sendiri. Mahisa Murti itu masih jauh
lebih muda dari umurnya sendiri. Dalam umurnya yang masih jauh lebih
muda itu, ia memiliki ilmu yang lebih t inggi dari ilmunya. Namun
anak muda itu sudah mampu mengendapkan perasaannya. Bahkan betapa
tinggi tenggang rasa dari anak muda itu, sehingga dalam kemudaannya
apalagi dalam suasana yang diliputi oleh kemarahan dan dendam,
ia m asih dapat m empertimbangkan untuk tidak memperlakukan kepada
orang lain apa yang tidak ingin diperlakukan atas dirinya.
Dengan demikian, maka kebanggaan Kiai Puput akan dirinya sendiri
telah menjadi hancur berkeping-keping. Ia menjadi sangat kecil
dihadapan anak muda yang telah mengurungkan niatnya untuk
menghukumnya itu. Seandainya ia dalam kedudukan sebagaimana anak
muda itu, maka ia tentu akan berbuat lain. S ejak ia berangkat dari
rumahnya ia sudah berniat untuk menghukum anak muda itu karena
dendam yang membakar jantungnya. Namun dendam, kebencian, harga diri
dan kesombongannya benar-benar telah dihancurkan oleh Mahisa Murti.
Karena itu, maka dengan nada rendah ia berkata "Anak muda. Kenapa
kau tidak membunuh aku saja?” "Kenapa?" bertanya Mahisa Murti. "Kau
runtuhkan martabatku jauh lebih rendah dari yang pernah kau
lakukan. Ketika kau m engalahkan muridku, aku sudah merasa terhina.
Ketika kemudian ternyata bahwa ilmumu akan mampu mengalahkan aku,
maka aku merasa semakin tidak berharga. Tetapi bahwa kau tidak
membunuhku, telah membuat martabatku benar-benar lebih rendah
daripada debu. Aku datang dengan dendama yang membara. Kemudian kau
anak yang baru kemarin sore, telah mampu meredam kemarahanmu.
Kenapa kau tidak memperlakukan terhadapku apa yang tidak ingin
diperlakukan orang terhadapmu?” "Bukankah orang lain juga mempunyai
perasaan sebagaimana aku sendiri, " jawab Mahisa Murti "t etapi
baiklah. Kita tidak usah membicarakannya lagi. Kita lupakan apa yang
telah terjadi. Tetapi bukan berarti bahwa apa yang terjadi sama
sekali tidak berkesan dihati kita masing -masing. Yang kita lupakan
adalah dendam diantara kita. Namun untuk selanjutnya kita tidak akan
terjerat lagi oleh dendam itu." "Mahisa Murti" berkata Kiai Puput
"nampaknya dunia memang sudah terbalik. Aku yang sudah kenyang makan
garam harus mendengarkan nasehatmu, seorang anak muda yang masih
belum kering pupuk lempuyang diubun-ubunnya." "Kau berkeberatan?”
bertanya Mahisa Murti. "Tidak. Aku sama sekali tidak berkeberatan"
jawab Kiai Puput dengan serta merta. "Nah, sekarang ajak ketiga
orang kawanmu itu singgah di padepokanku" ajak Mahisa Murti. "Tidak
anak muda" jawab Kiai Puput "aku minta diri. Aku tidak pantas
singgah di padepokanmu." "Kau tidak percaya bahwa aku mempersilahkan
dengan jujur tanpa niat apapun juga?" "Aku percaya anak m uda.
Tetapi aku tidak pantas untuk menerima undanganmu. Biarlah kami
mohon diri. " berkata Kiai Puput. Mahisa Murti tidak memaksanya.
Karena itu, maka katanya "Baiklah. Jika demikian, aku hanya dapat
mengucapkan selamat jalan." "Anak muda. Aku mohon maaf atas segala
tingkah lakuku. Yang terjadi merupakan satu pengalaman yang sangat
berharga bagiku." Demikianlah, maka Kiai Puput telah menguak ketiga
orang kawannya untuk meninggalkan tempat itu. Sementara itu, orang
yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan berkata "Aku atas nama
kawan-kawanku juga minta maaf anak muda. Kami menyadari sekarang,
betapa bodohnya kami waktu itu. Kami merasa mampu memenangkan
pertempuran diantara kita. Ternyata bahwa kami bagimu tidak lebih
dari debu." "Sudahlah" berkata Mahisa Murti "mudah-mudahan
pengalaman seperti ini tidak terulang lagi." Sejenak kemudian, maka
keempat orang itupun telah meninggalkan Mahisa Murti sendirian.
Keempatnya itupun segera telah hilang didalam kegelapan serta
bayangan gerumbul-gerumbul perdu. Sambil melangkah menjauh, Kiai
Puput berkata "Kalian tidak memberitahukan kepadaku, betapa tinggi
ilmu anak itu." "Kami mohon maaf, Kiai. Kami benar -benar tidak m
ampu menilai kemampuannya," jawab orang bertubuh tinggi itu. Ketiga
orang itu menjadai berdebar-debar. Sikap Kiai Puput memang tidak
dapat diduga-duga. Jika ia menganggap mereka bertiga sudah melakukan
kesalahan, maka Kiai Puput itu akan dapat berbuat sesuatu yang
tidak pernah mereka duga. Untuk beberapa saat Kiai Puput hanya
berdiam diri. Sambil melangkah, maka Kiai Puput menundukkan
kepalanya seakanakan memandangi kedua ujung ibu jarinya yang
saling mendahului berganti-ganti. "Apakah anak muda itu sengaja
memancing aku untuk datang" t iba-tiba Kiai Puput itu berdesis. "Aku
tidak berpikir sejauh itu, Kiai" jawab orang yang bertubuh
tinggi itu "tetapi darimana anak itu tahu bahwa Kiai akan datang
kepadanya?” "Panggraitanya tentu tajam sekali" jawab Kiai Puput.
"Tetapi kami benar-benar tidak mengira bahwa ia memiliki kemampuan
setinggi itu. Ketika ia melarikan diri, kami menyangka bahwa kami
sudah dapat mengatasiny a." "Sudahlah" berkata Kiai Puput "satu
pengalaman yang sangat berharga bagiku. Anak itu seolah -olah
telah membuka mata hatiku untuk melihat jauh lebih dari sekedar
kebanggaan atas kemampuanku yang tinggi. Aku telah salah menempatkan
diriku sendiri pada jajaran orang-orang berilmu. Ketika muridku itu
dikalahkan oleh anak muda itu, jantungku benarbenar terbakar. Aku
tidak yakin dan tidak rela bahwa ada anak muda yang sebay a yang
mampu mengalahkan muridku. Namun ternyata bukan hanya muridku
yang dikalahkannya. Tetapi juga aku sendiri." Ketiga orang
pengikutnya tidak menyahut. Mereka khawatir bahwa mereka akan salah
ucap dan membuat Kiai Puput itu marah. Namun nampaknya Kiai Puput
itu justru telah mengendapkan hatinya. Katanya "Aku tidak dapat
mengingkari keny ataan ini." Ketiga orang pengikutnya itu menarik
nafas dalam-dalam. Tetapi mereka masih saja tetap berdiam diri
karena kemungkinan-kemungkinan yang tidak mereka kehendaki masih
dapat tetjadi. Namun mereka berharap bahwa Kiai Puput benar-benar
menyadari bahwa yang telah t erjadi itu bukannya sekedar mimpi
buruk. Beberapa saat kemudian, keempat orang itu berjalan menempuh
kegelapan sambil berdiam diri. Masing-masing menerawang kedalam
angan-angannya sendiri. Sementara itu, Mahisa Murti yang sudah
bersiap-siap untuk kembali ke Padepokan, terkejut mendengar langkah
lembut dari arah belakang. Dengan cepat ia berbalik menghadap kearah
suara itu. Iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan
yang dapat terjadi. "Aku ngger " terdengar suara lembut dari
kegelapan. Namun Mahisa Murti segera mengenalinya. Ternyata
yang datang itu adalah Kiai Wijang. Karena itu, maka Mahisa
Murti itupun segera menyapanya "Kiai Wijang." "Ya ngger" jawab Kiai
Wijang "aku telah melihat segalanya. Karena itu, aku ingin
mengucapkan terima kasih kepadamu, bahwa kau telah mampu mengekang
dirimu. Sebenarnyalah aku kagum melihat kebesaran hatimu serta
kelapangan dadamu." "Kiai memuji" desis Mahisa Murti. "Aku berkata
sebenarnya ngger " jawab Kiai Wijang "aku sudah tidak mempunyai
harapan bahwa Kiai Puput akan dapat keluar dari tempat ini dengan
selamat. Menurut perhitunganku, maka tubuhnya tentu akan kau
lumatkan. Seandainya hal itu terjadi, maka aku tidak dapat
menyalahkan kau ngger, karena apa yang dilakukan oleh saudara
seperguruanku itu sudah terlalu jauh. Tetapi kau tidak membunuhnya.
Kau masih sempat menundukkannya tanpa melukainya." "Aku mencoba
untuk selalu mengingat pesan Kiai” "Apapun yang aku pesankan, tetapi
perbuatan Kiai Puput sudah tidak dapat dimaafkan lagi. Tetapi
ternyata kau telah memaafkannya." "Bukankah yang aku lakukan
itu tidak lebih dari memenuhi pesan Kiai? Aku tidak berbuat kebaikan
apa-apa, Kiai.” "Perasaan tidak melakukan kebaikan itulah yang
mengagumkan. Kiai Wijang berhenti sejenak, lalu katanya "Yang aku
ketahui betapa luas hatimu melampaui luasnya lautan, bukannya hanya
karena kau tidak membunuh Kiai Puput. Tetapi bahwa kau telah
meninggalkan Singasari dan meninggalkan Mahisa Pukat untuk tetap
berada di sana. " "Ah" desah Mahisa Murti "aku sudah melupakannya. "
"Aku m engerti ngger. Tetapi aku hanya ingin mengatakan, bahwa
yang kau lakukan sekarang ini bukannya karena pesanku
semata-mata. Meskipun aku berpesan seribu kali, tetapi perbuatan
Kiai Puput sudah melampaui batas, maka kesempatannya untuk hidup
kecil sekali. Beruntunglah Kiai Puput bahwa kali ini ia berhadapan
dengan kau.” "Sudahlah Kiai" berkata Mahisa Murti "aku telah
menganggap bahwa tidak pernah terjadi sesuatu antara aku dan Kiai
Puput serta muridnya. " Kiai Wijang mengangguk-angguk. Katanya "Ya.
Namun mudah-mudahan Kiai Puput menjadikan pengalamannya hari ini
pelajaran yang berharga bagi sisa hidupnya." "Nampaknya ia
juga tidak dapat melupakan pengalaman ini, Kiai" berkata Mahisa
Murti. "Kita berdoa baginya." desis Kiai Wijang. Demikianlah maka
Mahisa Murtipun telah mempersilahkan Kiai Wijang untuk singgah di
padepokan. Sementara Kiai Wijang sempat b erkata "Aku sudah c emas,
bahwa Kiai Puput akan singgah. Jika demikian, mungkin sekali ia akan
mendengar dari satu dua orang cantrik, bahwa aku pernah berada di
Padepokan Bajra Seta." Mahisa Murti mengerutkan dahinya. Namun
kemudian iapun tersenyum sambil berkata "Untunglah bahwa Kiai Puput
menolak. " "Ya. Jika ia tahu bahwa aku pernah berada disini, maka ia
akan dapat menjadi curiga, bahwa aku memang telah ikut mencampuri
persoalannya. Tetapi ia tentu juga mengetahui, bahwa siapapun tidak
akan mungkin mampu menyiapkan seseorang untuk menguasai ilmu pada
tataranmu dalam waktu yang sangat pendek, jika kau sendiri tidak
memiliki bekal untuk dapat melakukannya. Aku kira Kiai Puput tidak
sampai pada jangkauan penalaran bahwa aku telah melakukan sesuatu
bagimu dan ternyata berhasil." Mahisa Murti mengangguk-angguk.
Dengan nada rendah ia berkata "Meskipun demikian sebaiknya Kiai
Puput untuk waktu yang pendek tidak singgah di padepokanku." "Memang
itulah yang terbaik " berkata Kiai Wijang. Namun kemudian iapun
berkata "Tetapi bagaimanapun juga ia tidak dapat melihat bekas
tanganku. Segala unsur gerak yang nampak padamu, sama sekali berbeda
dengan unsur-unsur gerak pokok dari perguruanku. Jika terdapat
persamaan itu adalah landasan dasar yang mempunyai persamaan pada
segala macam perguruan." Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya
kemudian "Meskipun tidak nampak bekasny a, tetapi bagiku, Kiai telah
menjadi penentu atas kemampuanku." "Tidak. Bukan begitu. Apakah aku
dapat berbuat sebagaimana aku lakukan atas orang lain ? Katakan,
atas murid Kiai Puput itu atau siapapun ? Tentu tidak. Karena itu,
aku sama sekali bukan penentu." Mahisa Murti menarik nafas
dalam-dalam. Katanya kemudian "Apapun yang terjadi, tetapi aku tidak
akan dapat mengingkari keny ataan bahwa Kiai telah ikut menentukan
kehadiranku didunia olah kanuragan." Kiai Wijang tersenyum. Katanya
sambil menunjuk oncor yang nampak dikejauhan "Bukankah itu regol
padepokanmu." "Ya. Kiai" jawab Mahisa Murti. Ketika mereka menjadi
semakin dekat, maka Mahisa Murti itupun telah membenahi pakaiannya
yang kusut. Namun kemudian mereka berdua telah melangkah menuju
keregol halaman yang sudah ditutup meskipun masih tersisa
sedikit. Mahisa Murtilah yang mengetuk pintu reg ol itu. Dari
celahcelah pintu yang masih terbuka sedikit itu, cantrik yang
bertugas melihat Mahisa Murti dan Kiai Wijang berdiri diluar pintu.
Maka para cantrik yang bertugas itupun segera membukanya.
"Pintu belum diselarak" desis Mahisa Murti. "Kami memang menunggu "
jawab cantrik itu. Demikianlah, maka keduanyapun telah memasuki
Padepokan Bajra Seta yang sudah nampak sepi, sementara malam telah
menjadi semakin malam. Wantilan dan Sambega yang kemudian mengetahui
kehadiran Mahisa Murti bersama Kiai Wijang, telah naik kependapa
bangunan induk padepokan untuk ikut menemuinya. Namun justru Mahisa
Murtilah yang kemudian meninggalkan tamunya untuk pergi ke pakiwan.
"Aku juga belum mandi" berkata Kiai Wijang sambil tertawa. "Apakah
Kiai akan mandi dahulu ?" bertanya Mahisa Murti. Tetapi Kiai Wijang
tersenyum sambil menjawab "Nanti sa ja. Silahkan kau mandi.
Nampaknya kau baru berlatih, sehingga keringatmu masih mengembun
ditubuhmu." "Ya Kiai. Aku memang baru saja berlatih di padang
perdu.” Ketika kemudian Mahisa Murti meninggalkan mereka yang
duduk dipendapa, maka Wantilanpun bertanya "Apakah Mahisa Murti
berlatih dibawah pengawasan Kiai ?” "Tidak " jawab Kiai Wijang "aku
hanya sekedar akan berkunjung ketika aku melihat angger Mahisa Murti
berlatih." Pembicaraan merekapun kemudian tidak lagi meny inggung
Mahisa Murti yang sedang berlatih. Tetapi mereka telah
berbicara tentang keadaan Singasari dari hari kehari. Sekali-sekali
Kiai Wijang telah meny inggung keluarga Sri Maharaja di Singasari.
Putera Sri Maharaja yang diharapkan kelak menjadi Putera Mahkota
sudah tumbuh semakin besar. Beberapa saat kemudian maka Mahisa
Murtipun tehih selesai berbenah diri. Iapun kemudian duduk pula di
pendapa serta berbincang tentang banyak hal. Malam itu Kiai Wijang
bermalam lagi di Padepokan Bajra Seta. Bahkan tidak hanya satu
malam. Kepada Mahisa Murti, Kiai Wijang berkata "Bukankah aku boleh
tinggal disini beberapa lama ?” "Tentu Kiai." jawab Mahisa Murti
"kehadiran Kiai disini akan memberikan kesegaran bagi kami disini. "
Dengan demikian, maka selama Kiai Wijang berada di Padepokan Bajra
Seta, Mahisa Murti sempat menekuni ilmunya. Ia harus semakin
meyakinkan diri, bahwa ia memang sudah berada didalam kemapanan pada
tataran yang lebih tinggi. Kiai Wijang sama sekali tidak
berkeberatan untuk bersamasama dengan Mahisa Murti berada di
sanggarnya. Karena Kiai Wijang menganggap bahwa Mahisa Murti sudah
sepantasnya untuk memiliki i lmu yang sangat tinggi, bahkan paling
tinggi sekalipun. Ia telah membuktikan bahwa banyak kerja yang telah
dilakukan untuk kepentingan sesamanya. Bahkan Mahisa Murti pernah
menjalani laku tapa ngrame. Laku yang dijalaninya dengan menolong
sesama yang memang memerlukan pertolongan. Membimbing orang yang
buta, memberi air bagi orang yang kehausan dan memberi makan
kepada orang yang lapar. Melindungi orang yang lemah dan
menunjukkan jalan bagi orang yang tersesat. Kesempatan itu
memang dipergunakan sebaik-baiknya oleh Mahisa Murti. Selama Kiai
Wijang ada di padepokan. Sehingga dalam tatarannya yang lebih
tinggi, Mahisa Murti masih mampu mengembangkan dan mematangkannya.
Ju stru karena Kiai Wijang juga memiliki ilmu yang sangat tinggi
maka latihan-latihan itu m emungkinkan Mahisa Murti untuk
mengembangkan apa yang telah dimilikiny a. Bahkan Mahisa Murti
sempat untuk melihat k embali bekal yang ada didalam dirinya.
Kemudian mencari kemungkinankemungkinan baru yang lebih baik. Dengan
beberapa unsur yang dimilikinya,-maka Mahisa Murti dapat menyusun
unsurunsur baru yang paling sesuai bagi dirinya sendiri, sehingga
kemudian ilmu yang nampak bukan lagi ilmu yang bersumber dari
beberapa jalur perguruan, tetapi sudah menyatu utuh dan bulat. Dalam
kebulatannya, sebagaimana dikatakan oleh Kiai Wijang, ternyata bekal
yang ada didalam diri Mahisa Murti lebih lengkap dari bahan
yang ada didalam diri Kiai Wijang sendiri. Sehingga karena
itu, m aka Kiai Wijang yakin, bahwa pada saat yang pendek,
kemampuan ilmu Mahisa Murti sudah akan menjadi lebih baik dari
ilmunya. Tetapi Kiai Wijang sama sekali tidak merasa dengki dan iri.
Ia memang sudah berniat untuk membantu Mahisa Murti mencapai tataran
yang paling tinggi sekalipun, karena Kiai Wijang mengetahui
pribadi Mahisa Murti. Semakin tinggi ilmu yang dimiliki oleh
Mahisa Murti, maka akan semakin banyaklah pengabdian yang dapat
diberikan oleh anak muda itu kepada sesamanya. Sebenarnyalah bahwa
Kiai Wijang juga sudah m engetahui bahwa Mahisa Pukat telah
melakukan hal yang sama sebagaimana pernah dilakukan oleh
Mahisa Murti. Namun Mahisa Pukat yang telah m embangun sebuah
keluarga serta terikat pada tugas-tugasnya di istana, tentu tidak
akan dapat berbuat sebanyak yang dapat dilakukan oleh Mahisa Murti
bagi orang banyak. Mahisa Pukat tentu akan selalu berada dalam
tugasny a di Kasatrian. Diluar tugasny a di Kasatrian maka waktunya
akan diberikannya kepada keluarganya. Dalam pada itu, Kiai Wijang
masih saja berada di Padepokan Bajra Seta. Ia merasakan padepokan
itu sebagai satu tempat yang menyenangkan. Ia dapat merasakan
ketenangan dalam kesibukan kerja para cantrik di Padepokan itu. Dari
pagi sampai menjelang tengah hari, terdengar kesibukan kerja hampir
disemua bagian dari padepokan itu. Sedangkan di sanggar beberapa
orang cantrik tengah ditempa dalam olah kanuragan sesuai dengan
giliran masing-masing. Dengan demikian, maka meningkatnya ilmu
kanuragan, pengetahuan-pengetahuan yang lain serta ketrampilan
kerja berjalan dalam keseimbangan. Para cantrik di Padepokan Bajra
Seta tidak semata-mata menimba ilmu kanuragan, tetapi juga beberapa
macam ilmu yang lain yang berhubungan dengan tata kehidupan
yang akan mereka jalani kemudian. Dalam pada itu, pada waktu
senggang, Kiai Wijang masih juga sering mengadakan perbincangan
khusus dengan Mahisa Murti tentang masa depan Padepokan Bajra Seta.
Kepada Mahisa Murti, Kiai Wijang menyatakan pendapatnya, bahwa
Mahisa Murti harus dengan segera mempersiapkan orang-orang
yang akan dapat membantunya jika ia berada dalam kesulitan.
"Angger tidak akan dapat m eny elesaikan semua masalah sendiri"
berkata Kiai Wijang. Mahisa Murti mengangguk-angguk kecil. Dengan
nada rendah ia berkata "Ya. Aku mengerti Kiai. Saat ini memang belum
ada orang yang dapat aku percaya sepenuhnya untuk melakukan
tugas-tugas yang paling rumit di Padepokan ini. Semuanya masih harus
aku tangani sendiri. "Jika datang bahaya yang m elanda
Padepokan ini, dengan beberapa orang pelaku yang berilmu tinggi,
maka angger harus menyusun kelompok -kelompok yang akan menghadapi
mereka itu. Mungkin dengan demikian Padepokan ini dapat
menyelesaikan tugas dengan baik. Tetapi tentu dengan banyak korban."
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya "Ya Kiai. " "Nah. Jika
demikian maka kau dapat m enyusun kekuatan dari orang-orang
yang pada dasarnya sudah mempunyai landasan sendiri. Kemudian
beberapa orang cantrik pilihan dan agaknya yang memang sudah kau per
siapkan adalah Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Namun Mahisa Amping
masih terlalu kecil untuk di tempa menjadi seorang yang berilmu
tinggi dalam waktu yang pendek. Bagi anak itu masih diperlukan
waktu beberapa tahun lagi. Namun agaknya yang segera dapat dimulai
adalah Mahisa Semu, meskipun pada dasarnya, Mahisa Amping mempunyai
beberapa kelebihan. Terutama ketajaman panggraitanya. Apabila hal
itu dapat dipertajam, maka Mahisa Amping kelak akan menjadi seorang
yang m emiliki ilmu yang khusus. Kurnia yang dilimpahkan oleh
Yang Maha Agung itu tentu akan dapat dimanfaatkan untuk mengabdikan
diri kepada sesama." Dengan nada dalam Mahisa Murti bertanya
"Bagaimana pendapat Kiai tentang paman Wantilan dan Sambega. "
"Seperti kau ngger, aku percaya kepada m ereka. Apalagi menurut
ceriteramu tentang apa yang pernah mereka lakukan. Karena itu,
maka mereka termasuk orang-orang yang pada dasarnya memang
sudah memiliki landasan kemampuan sendiri. Tetapi aku yakin, bahwa
kau akan dapat membentuk mereka. Bukan saja untuk meningkatkah
kemampuan dalam olah kanuragan, tetapi juga meningkatkan pengabdian
mereka. Karena rasa-rasanya mereka tidak lagi mempunyai banyak
kepentingan bagi diri mereka sendiri. " Mahisa Murti
mengangguk-angguk. Wantilan dan Sambega nampaknya memang tidak lagi
banyak mempunyai kepentingan didalam sisa hidup m ereka. Wantilan
sepanjang penglihatan Mahisa Murti telah benar-benar meny erahkan
diri dan hidupnya bagi Padepokan Bajra Seta. S ejak ia berada di
padepokan itu, maka apa yang dilakukannya hanyalah yang berarti bagi
Padepokan Bajra Seta. Demikian pula Sambega. Ia benar -benar telah
berubah sebagaimana Wantilan. Sambega telah meninggalkan
kehidupannya yang lama dan seakan-akan m emang m enjadi
manusia baru setelah ia tinggal di padepokan. Karena itu, maka
Mahisa Murtipun berkata "Aku sependapat Kiai. Aku akan berusaha
untuk berbuat sesuatu, agar paman Wantilan dan Sambega dapat
membantu dalam banyak hal. Demikian pula ada ampat orang cantrik
yang memiliki banyak kelebihan dari kawan-kawannya. Agaknya mereka
dapat didor ong untuk dapat m embantu tugas-tugas disini." “ Itu
tentu akan lebih baik. Sementara itu, angger Mahisa Murti sendiri
akan selalu mengembangkan ilmu yang telah kau miliki agar
menjadi lebih masak." berkata Kiai Wijang. “Ya, Kiai” jawab Mahisa
Murti. "Dengan demikian padepokan ini akan menjadi sebuah padepokan
yang baik. Padepokan yang akan dapat berdiri sejajar
dengan padepokan-padepokan t erbaik yang ada di Singasari.
Kita tahu ada banyak sekali padepokan-padepokan yang tersebar
dimana-mana. Namun kitapun tahu, berapa padepokan yang benar-benar
merupakan padepokan yang baik dan memberikan arti bagi
Singasari." berkata Kiai Wijang kemudian. Mahisa Murti
mengangguk-angguk. Sementara Kiai Wijang berkata "Angger. Jika kau
tidak berkeberatan, aku bersedia membantumu membina Padepokan Bajra
Seta. Tetapi sudah tentu bahwa tidak setiap saat aku ada disini.
Tetapi mungkin sebulan sekali atau dua kali aku dapat berada di
padepokan ini meskipun hanya untuk sepekan. Mungkin aku tidak perlu
membatu m eningkatkan kemampuan dalam olah kanuragan, karena dasar
ilmu kita berbeda. Tetapi aku mempunyai pengalaman yang luas
sebagai seorang petani dan peternak. Aku juga mempunyai pengalaman m
emelihara berbagai jenis ikan di kolam -kolam. Aku juga mempunyai
sedikit pengetahuan tentang perbintangan dan musim. Mungkin
pengalamanku ini akan berarti bagi padepokan ini serta orangorang
yang tinggal di padukuhan-padukuhan disekitarnya, karena aku
tahu bahwa kau tidak menutup hubungan dengan orang-orang dari
padukuhan disekitar padepokan ini. Aku melihat anak-anak muda dari
padukuhan-padukuhan disekitar tempat ini sering berkunjung kemari.”
"Terima kasih, Kiai" berkata Mahisa Murti "kami, seisi padepokan ini
akan merasa beruntung sekali, jika Kiai berkenan selalu berkunjung
ke padepokan ini. Kami m emang sangat memerlukan petunjuk tentang
bermacam-macam hal yang akan dapat meningkatkah pengetahuan kami.
Apa yang kami dapatkan disini memang sangat terbatas sehingga
kehadiran Kiai akan sangat berarti bagi kami. "Tetapi jangan terlalu
banyak berharap" berkata Kiai Wijang kemudian "Karena apa yang aku m
iliki itu juga tidak terlalu banyak." "Tetapi semuanya itu akan
sangat berarti bagi kami" sahut Mahisa Murti. Dengan kesediaan itu,
maka Mahisa Murti semakin berharap bahwa padepokannya akan menjadi
semakin baik. Sebagaimana dikatakan oleh Kiai Wijang, padepokannya
akan menjadi salah satu diantara padepokan yang baik di Singasari.
Dalam pada itu, maka setelah beberapa hari berada di padepokan, maka
Kiai Wjjangpun telah minta diri dengan kesediaannya untuk datang
setiap kali ke Padepokan Bajra Seta. Sepeninggal Kiai Wijang, maka
Mahisa Murtipun berusaha untuk memenuhi pesannya, membenahi diri.
Untuk waktu yang panjang, Mahisa Murti selalu disibukkan oleh
persoalanpersoalan diluar padepokannya Beberapa kali ia harus pergi
ke Singasari, serta per soalan-persoalan yang lain yang ju
stru tidak menyangkut kepentingan padepokannya dalam keseluruhan.
Seperti petunjuk dari Kiai Wijang, maka Mahisa Murti telah secara
khusus membantu Wantilan dan Sambega untuk meningkatkan kemampuan
mereka. Dengan bersungguhsungguh Mahisa Murti mendorong agar
keduanya tidak terhenti pada tataran yang telah dimilikiny a.
Dengan ilmu dan kemampuannya yang tinggi, Mahisa Murti dapat
menuntun keduanya, meskipun landasan ilmu mereka berbeda, untuk
mengisi kekurangan-kekurangan dan kekosongan ilmu mereka. Dengan
bersungguh-sungguh pula Wantilan dan Sambega mengikuti segala
petunjuk-petunjuk Mahisa Murti. Apalagi mereka y akin bahwa ilmu
Mahisa Murti telah menjadi semakin meningkat pula. Merekapun telah
menyatakan kesediaan mereka untuk semakin banyak berbuat bagi
padepokan mereka. Ternyata Wantilan dan Sambega mampu meny esuaikan
diri dengan maksud Mahisa Murti. Mereka berusaha untuk meningkatkan
ilmu mereka dengan unsur -unsur baru. Namun Mahisa Murti tidak
dengan tergesa -gesa m emaksakan unsurunsur baru itu tanpa
memperhatikan landasan yang telah ada. Namun justru karena kesediaan
kedua orang itu serta hati mereka yang terbuka, maka usaha
merekapun menunjukkan hasilny a. Setapak demi setapak Wantilan dan
Sambega mampu meningkatkan ilmu mereka. Pada umur yang sudah separo
bay a, maka keduanya sama sekali tidak merasa terlambat untuk
menjalani laku yang terhitung berat. Namun dengan demikian, maka
ilmu mereka terasa menjadi semakin lengkap. Kekosongan dan
kekurangan yang terdapat sebelumnya seakan-akan telah terisi
sehingga ilmu mereda menjadi semakin mengental dan padat. Bahkan
merekapun telah mulai meraba pada inti tenaga dasar dari ilmu mereka
masing-masing. Sehingga ungkapannya pun menjadi jauh lebih tajam
dari sebelumnya. Meskipun dasar ilmu yang nampak pada Wantilan
dan Sambega tetap berbeda, namun terdapat persamaan isi dalam
perkembangannya, karena keduanya mendapat tuntutan dari Mahisa
Murti. Disamping kedua orang itu, maka Mahisa Murti juga telah
membina tiga orang cantriknya yang t ertua. Bukan saja umurnya,
tetapi juga masa kedatangan mereka di padepokan itu serta derajat
kemampuan mereka. Tiga orang cantrik itu telah dipanggil oleh Mahisa
Murti di pendapa bangunan induk padepokannya. Ketika ketiganya
menghadap, maka Wantilan dan Sambegapun duduk pula bersama mereka.
Kepada ketiga orang cantrik itu, Mahisa Murti menawarkan apakah
mereka bersedia menjalani laku yang berat untuk mencapai satu
tataran ilmu yang lebih tinggi. "Tentu " jawab mereka
berbareng dengan serta merta. "Baiklah" berkata Mahisa Murti "jika
demikian, maka kalian akan mendapat kesempatan khusus untuk
menjalani laku. Aku ingin kalian akan dapat menjadi pembantu utama
di padepokan ini bersama paman Wantilan dan paman Sambega. Selama
ini kalian memang sudah melakukan tugas itu. Namun aku ingin kalian
dapat meny elesaikan persoalan-per soalan yang lebih rumit di
padepokan ini bahkan hubungannya dengan lingkungan diluar padepokan.
" "Terima kasih " berkata salah seorang dari m ereka "kami memang
menunggu kesempatan seperti ini." "Tetapi kalian harus bekerja
keras. Lebih keras dari yang pernah kalian lakukan selama
ini." berkata Mahisa Murti. "Kami berjanji" jawab salah seorang dari
m ereka "apapun yang harus kami lakukan." "Kerja keras itu tidak
akan selesai dalam waktu satu dua hari, atau satu dua pekan. Tetapi
untuk waktu yang panjang" berkata Mahisa Murti pula "Sampai kapanpun
akan kami jalani" jawab seorang dari ketiga orang cantrik itu.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia y akin bahwa ketiga orang itu
akan dapat memenuhi harapannya. Mereka tentu akan dapat ikut
membantu tugas-tugas kepemimpinan di padepokan itu. Meskipun
demikian harapan utama Mahisa Murti tetap ada pada Mahisa Semu dan
Mahisa Amping. Bersama Mahisa Pukat mereka telah melakukan
pengembaraan yang panjang untuk menemukan seseorang yang akan dapat
menjadi tumpuan masa depan. Namun Mahisa Semu dan Mahisa Amping
masih harus dimatangkan, sehingga memerlukan waktu yang jauh
lebih panjang. Karena Mahisa Semu dan Mahisa Amping akan ditempa
secara khusus untuk memegang kendali padepokan di masa datang,
meskipun Mahisa Murti menyadari bahwa rencana itu bukan rencana
yang mutlak, karena untuk menjadi seorang pemimpin yang
terpenting bukan hanya sekedar kemampuan olah kanuragan, tetapi juga
kemampuan lain yang berhubungan dengan tatanan kehidupan serta lebih
dari segalanya adalah pribadinya. Namun adalah menjadi kewajibannya
untuk berusaha membina dan mempersiapkan pemangku jabatan
kepemimpinan dimasa datang. Demikianlah, maka kecuali para cantrik
yang dipersiapkan untuk membantunya memimpin padepokan itu
dalam jangka yang terhitung dekat serta Wantilan dan Sambega, maka
Mahisa Murti dengan teratur membina Mahisa Semu dan Mahisa Amping.
Mereka harus benar-benar memahami, menguasai dan mematangkan ilmu
tahap demi tahap, karena tahapan-tahapan itu akan menjadi landasan
bagi tataran berikutnya. Dengan demikian, maka ilmu kedua orang anak
muda itu menjadi mantap dan padat. Ternyata untuk semuanya itu
Mahisa Murti harus bekerja keras. Ia seakan-akan bekerja sendiri
tanpa mengenal lelah. Hari-harinya seakan-akan habis dipergunakannya
untuk membina isi padepokannya dari segala tataran. Wantilan dan
Sambega yang umurnya sudah menjelang separo bay a,
memperhatikan Mahisa Murti dengan prihatin. Meskipun dalam ilmu
kanuragan dan ilmu yang lain Mahisa Murti jauh melampaui kemampuan
mereka, tetapi bagaimanapun juga umur mereka tidak akan dapat
disusul dan dilampaui oleh Mahisa Murti. Karena itu, maka
kadang-kadang Wantilan dengan tarikan nafas panjang berkata kepada
Sambega "Mahisa Murti telah kehilangan m asa remaja dan masa
mudanya. Ia tidak dapat menikmati hari-harinya sebagaimana anak-anak
muda yang lain. Bahkan para cantrik di padepokan ini yang
sempat bercanda, bermain dan kadang-kadang pergi keluar padepokan
dan singgah di padukuhan-padukuhan terdekat. " "Ya " sahut sambega
"jika Mahisa Murti ke padukuhan, tentu karena ada sesuatu yang
harus dilakukan. Ia menjadi seorang yang cara dan laku hidupnya
menjadi jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya. Apalagi karena
kedudukannya sebagai seorang pemimpin padepokan. " Tetapi keduanya
tidak dapat berbuat apa-apa. Nampaknya Mahisa Murti m emang sudah m
eletakkan diri kedalam tugastugas pengabdiannya. Bahkan sejak ia
masih bersama-sama Mahisa Pukat melakukan pengembaraan, maka m ereka
telah melakukan Tapa Ngrame. Namun Mahisa Pukat yang kemudian berada
di Kasatrian mempunyai kesempatan lebih baik untuk menikmati masa
mudanya mekipun terbatas. Bahkan kemudian Mahisa Pukat telah
melengkapi hidupnya dengan sebuah kehidupan keluarga. Ketika seperti
yang dijanjikan, Kiai Wijang datang ke Padepokan Bajra Seta,
maka pada satu kesempatan hal itu telah di katakan oleh Wantilan dan
Sambega kepadanya. Kiai Wijang hanya dapat menarik nafas
dalam-dalam. Katanya "Ia memang kehilangan. Tetapi dengan apa yang
dilakukan itu, ia mendapatkan kepuasan jiwa tersendiri. Memang
berbeda dengan kesenangan bagi anak-anak muda sebay anya yang
lain. Wantilan dan Sambega mengangguk-angguk. Namun Wantilan itupun
berkata "Tetapi bukankah dengan demikian ia telah kehilangan satu
bagian dari jalan hidupnya.?” Kiai Wijang mengangguk-angguk. Katanya
"Ya. Ia telah kehilangan satu bagian dari hidupnya. Tetapi semua itu
dilakukannya dengan penuh kesadaran. Jiwa pengabdiannya yang besar
telah mengalahkan kesenangan pribadiny a.” “Tetapi apakah Mahisa
Murti untuk selanjutnya tidak akan memikirkan diriny a sendiri?
Apakah ia tidak akan me nginjak satu kehidupan rumah tangga
sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Pukat?” bertanya Sambega.
“Mudah-mudahan pada suatu saat hatinya terbuka bagi seorang gadis"
jawab Kiai Wijang. "Namun umurnya sudah menjadi semakin tua "
berkata Wantilan. "Pada satu kesempatan aku akan berbicara dengan
anak muda itu" berkata Kiai Wijang. "Mudah-mudahan Mahisa Murti t
idak terbenam dalam pengabdiannya tanpa m emikirkan pribadinya. Jika
hidupnya dilengkapi dengan sebuah keluarga, maka kami ingin melihat
ia mendapat kebahagian yang utuh dalam hi dupnya. Selain
kepuasan batin atas pengabdiannya, juga keutuhan kehidupan
lahiriahnya terpenuhi” Kiai Wijahg mengangguk-angguk. Ternyata para
penghuni padepokan itu juga memikirkan Mahisa Murti sebagai satu
pribadi, yang perlu melengkapi diri dalam kehidupan
kesehariannya sebagai satu kewajaran. Ternyata Kiai Wijang memang
memenuhi janjinya. Pada satu kesempatan ia memang berkata kepada
Mahisa Murti tentang kehidupan pribadinya. Tetapi ketika hal itu
disampaikan kepada Mahisa Murti, maka Mahisa Murti ter senyum sambil
m enjawab "Bukankah masa itu akan datang dengan sendirinya? "Tetapi
umurmu akan tumbuh terus, ngger. Pamanmu Wantilan dan Sambega
ternyata ikut memikirkanmu. Dan jika kau percaya, ay ahmu juga
pernah mengatakan hal itu kepadaku.” "Kiai sering mengunjungi ayah?”
bertanya Mihisa Murti. "Baru akhir-akhir ini, ngger. Ternyata
orang-orang tua kadang-kadang memerlukan untuk saling bertemu dan
berbicara apa saja. Tetapi yang kami bicarakan kebanyakan
justru hal-hal yang tidak penting. Rasa-rasanya kami sudah terlalu
letih untuk membicarakan persoalan-per soalan yang dapat membebani
perasaan. "Sebagaimana ay ah, Kiai juga sebaiknya lebih banyak
beristirahat" berkata Mahisa Murti. "Aku juga sudah terlalu banyak
berisitirahat. Aku kita, ay ahmu memang sedikit lebih tua dari aku
ngger. Namun ay ahmu masih mempunyai kesibukan di istana.
Sekali-kali ay ahmu masih m enghadap Sri Maharaja dan Ratu Angabaya.
Sementara aku tidak m empunyai kesibukan apa-apa. Karena itu, aku
merasa senang bahwa aku boleh datang mengunjungi padepokan ini
setiap kali dan sedikit m embangi pengalaman dengan para cantrik.”
"Kami justru berterima kasih sekali, Kiai " desis Mahisa Murti.
"Tetapi sebaiknya kau tetap memperhatikan harapan ay ahmu, pamanmu
Wantilan dan Sambega dan tentu juga Mahisa Pukat.” Mahisa Murti
tersenyum. Namun Kiai Wijang ternyata mampu menangkap betapa asamnya
perasaan Mahisa Murti. Kiai Wijang tidak berkata lebih jauh. Tetapi
ia sudah memperingatkannya. Kepada Wantilan dan Sambega pada
kesempatan lain, telah diceritakannya pula pembicaraannya dengan
Mahisa Murti itu. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti masih saja
tenggelam dalam tugasnya. Ditempanya tiga orang cantrik tertua.
Bukan sa ja dalam olah kanuragan, tetapi juga kemampuan memimpin
para cantrik yang lebih muda dari padanya. Sementara itu Kiai Wijang
benar-benar telah m elengkapinya dengan berbagai macam pengalaman
yang sangat berarti bagi mereka. Dengan demikian, m aka ketiga orang
itupun telah benarbenar menjadi cantrik yang memiliki kemampuan yang
semakin tinggi sebagaimana Wantilan dan Sambega. Sehingga karena
itu, m aka mereka akan mendapat keperca yaan lebih besar dari Mahisa
Murti untuk membantunya, memimpin Padepokan Bajra Seta. Sementara
itu, Mahisa Semu dan Mahisa Amping tumbuh sejalan dengan
perkembangan ilmu mereka. Bukan saja dalam olah kanuragan, tetapi
juga ilmu yang lain. Karena Kiai Wijangpun sangat m enaruh
perhatian terhadap mereka. Pada waktu-waktu tertentu Kiai Wijang
memang berada di padepokan itu sebagaimana dijanjikannya.
Demikianlah dari hari kehari, Padepokan Bajra Seta tumbuh semakin
subur. Bukan saja kemampuan para cantrik, tetapi juga kesejahteraan
hidup mereka sehari -hari. Penghasilan sawah dan ladangnya semakin
meningkat berkat cara pengolahan tanah yang semakin baik. Pengalaman
Kiai Wijang yang mereka ungkapkan dalam kerja sehari -hari ternyata
telah membuahkan hasil. Pategalan yang semula kering telah m enjadi
ba sah. Air sungai yang dinaikkan untuk mengairi tanah dan
sebuah kolam yang luas. Beberapa petak tanah yang dipergunakan
untuk perternakan serta sebuah padang rumput tempat menggembala.
Sementara itu, didalam dinding padepokan terdapat beberapa kelompok
tempat kerja pande besi yang telah mempergunakan peralatan dan cara
yang dipelajari dari para pande besi dari Singasari, sehingga
hasilny a menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Bukan saja
pembuatan alat-alat pertanian tetapi juga pembuatan senjata.
Hubungan padepokan itu dengan padukuhan disekitarnya menjadi semakin
baik. Sehingga Padepokan Bajra Seta rasarasanya memang menjadi
bagian dari lingkungannya. Tanah yang tergelar disekitar Padepokan
Bajra Seta nampak hijau segar sampai di lembah-lembah dan lereng
pegunungan. Mahisa Murti yang memimpin Padepokan Bajra Seta,
sebagaimana dikatakan oleh Kiai Wijang memang mendapatkan kepuasan
tersendiri dengan hasil yang kasatmata itu . Bukan saja karena
hijaunya lembah dan lereng pegunungan, tetapi juga peningkatan
kemampuan cantrikcantriknya yang akan membekali m ereka dimasa
mendatang. Tidak hanya dalam olah kanuragan. Tetapi juga sebagai
bekal di berbagai sisi kehidupan. Dalam pada itu, k etika ketiga
orang cantrik yang ditempa secara khusus telah mencapai satu tataran
tertentu, maka Mahisa Murtipun berniat untuk mengukuhkan kedudukan
mereka. Tiga orang cantrik itupun telah ditetapkannya menjadi
pembantu utamanya dalam memimpin padepokan itu bersama Wantilan dan
Sambega. Didepan para cantrik, maka Mahisa Murti telah menetapkan
ketiga orang itu akan ikut memimpin Padepokan Bajra Seta dibawah
kepemimpinannya, ber sama Wantilan dan Sambega. Namun karena
Wantilan dan Sambega umurnya lebih tua dari mereka, serta mempunyai
pengalaman yang lebih luas, maka mereka harus selalu mendengarkan
pendapat dan petunjuknya. "Dengan ini" berkata Mahisa Murti
dihadapan penghuni Padepokan Bajra Seta "aku menetapkan bahwa
Manyar, Parama dan Lembana untuk mengemban tugas sebagai Putut di
Padepokan ini sehingga untuk selanjutnya mereka akan disebut Putut
Many ar, Parama dan Lembana di lingkungan Bajra Seta. Mereka akan
membantu aku, paman Wantilan dan paman Sambega memimpin padepokan
ini.” Ketetapan itu disambut dengan gembira oleh para cantrik,
karena sejak sebelumnya, ketiga orang itu memang sudah melakukan
tugas sebagaimana ditetapkan itu. Namun dengan ketetapan itu maka
kedudukan mereka menjadi jelas. Sementara itu, Mahisa Murti telah
menunjuk tiga orang cantrik yang lain yang akan m engikuti
latihan-latihan khusus untuk meningkatkan kemampuan m ereka agar
mereka juga akan dapat membantu memimpin padepokan itu untuk masa
mendatang. Demikianlah, maka kedudukan Padepokan Bajra Seta
rasarasanya menjadi semakin mapan. Jalur kepemimpinan yang mulai
terbagi itu akan dapat meningkatkan tata kehidupan di padepokan itu
diberbagai segi. Anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan disekitar
padepokan itupun menjadi semakin banyak yang datang berkunjung
sehingga seakan-akan mereka telah menyatu dengan para cantrik. Namun
dalam pada itu, selagi padepokan Bajra Seta dan padukuhan-padukuhan
disekitarnya merasakan kehidupan yang semakin mapan, maka Kabuyutan
mereka mulai terganggu dengan kedatangan beberapa kelompok pengungsi
dari Kabuyutan disebelah hutan yang m emanjang membatasi kedua
Kabuyutan itu. Orang-orang Kabuyutan seberang hutan yang mempunyai
sanak saudara di Kabuyutan Talang Alun itupun telah berdatangan
untuk mencari perlindungan. Anak-anak muda dari nadukuhan-padukuhan
sebelah yang termasuk lingkungan Kabuyutan Talang Alun telah
menceriterakan hal itu kepada para cantrik, sehingga akhirnya, hal
itu didengar oleh Mahisa Murti. "Apa yang terjadi di Kabuyutan
Talang Alun ?" bertanya Mahisa Murti. Putut Manyar yang langsung
mendengar dari anak-anak muda padukuhan disebelah padepokan itu
memberitahukan tentang datangnya kelompokkelompok pengungsi dari
Kabuyutan diseberang hutan. Mereka menyeberangi hutan itu dalam
kelompokkelompok menuju ke Kabuyutan Talang Alun. Di Kabuyutan
diseberang hutan itu telah terjadi k eributan yang agaknya sangat m
encemaskan, sehingga banyak orang yang terpaksa mengungsi. "Aku
belum dapat bertemu langsung dengan para pengungsi itu " berkata
Putut Manyar kemudian. "Pergilah ke padukuhan bersama anak-anak muda
itu. Temuilah satu dua orang pengungsi untuk mendapatkan keterangan,
kenapa mereka harus mengungsi." Putut Manyar bersama seorang cantrik
segera melakukan tugas itu. Bersama dua orang anak muda dari
padukuhan sebelah, yang kebetulan juga didatangi oleh
sekelompok pengungsi, berusaha untuk dapat bertemu dengan mereka.
Dari pertemuan itu Putut Manyar segera mengetahui, bahwa para
pengungsi itu berada dalam ketakutan. Sebuah keluarga yang mengungsi
dirumah pamannya yang tinggal di Kabuyutan Talang Alun tidak
sempat membawa barang-barangnya selain seikat benda-bendayang paling
berharga. "Tetangga-tetangga kam i juga tidak sempat membawa
apaapa." berkata seorang laki -laki separo bay a yang m
engungsi bersama keluarganya itu. "Apa yang telah terjadi di
padukuhan kalian ?" bertanya Putut Manyar. "Keributan. Setiap kali
datang orang-orang yang mula-mula sekedar menakut-nakuti.
Namun kemudian mereka telah menangkapi pemimpin-pemimpin padukuhan
kami. Ki Bekel dan para bebahu sudah ditangkapi. Satu dua orang
diantara mereka yang m encoba melawan, nasibny a tidak kita
ketahui lagi. Ki Bekelpun telah terluka pula dan jatuh ketangan
mereka. " jawab orang itu. "Apa yang mereka kehendaki ?” bertanya
Putut Manyar. "Kami tidak tahu pasti. Tetapi menurut pendengaran
kami, telah terjadi perebutan warisan di Kabuyutan kami." jawab
orang itu. "Perebutan warisan ? Kenapa sampai terjadi kekerasan atas
para pemimpin padukuhan ? Seberapa besarnya warisan yang
diperebutkan itu ?” "Warisan kedudukan. Sebenarnya terjadinya tidak
di Kabuyutan kami. T etapi terjadi di Kabuyutan Pudaklamatan. Tetapi
Ki Buyut di Pudaklamatan memang masih ada hubungan keluarga dengan
Ki Buyut di Kabuyutan kami. Kabuyutan Sendang Apit." "Bukankah
Kabuyutan-Kabuyutan itu terletak di seberang hutan itu ?" bertanya
Putut Manyar pula. "Ya. Kami dalam kelompok-kelompok telah
menyeberang hutan. Keberanian kami melawan binatang buas timbul
didesak oleh ketakutan kami terhadap orang-orang yang mengacaukan
padukuhan kami, melukai dan menangkap Ki Bekel serta beberapa orang
lainnya. " Putut Manyar m engangguk-angguk. Agaknya telah terjadi
pergolakan disebrang hutan. Pergolakan itu memang tidak begitu
terasa di Kabuyutan Talang Alun, jika saja tidak ada arus pengungsi
yang berdatangan. Keterangan itu oleh Putut Manyar telah
dibawa ke Padepokan Bajra Seta. Dihadapan para pemimpin Padepokan
Bajra Seta, Putut Manyar telah menceriterakan hasil pembicaraannya
dengan para pengungsi yang sempat ditemuinya. Jarak antara
kedua Kabuyutan itu dengan Kabuyutan Talang Alun memang tidak sangat
jauh. Tetapi karena diantara Kabuyutan itu dengan Kabuyutan Talang
Alun dipisahkan oleh hutan yang masih terhitung lebat, maka
hubungan antara Kabuyutan-kabuyutan itu dengan Kabuyutan Talang Alun
tidak terlalu rapat. Apalagi dengan padepokan Bajra Seta. Mahisa
Murti dan para pemimpin yang lain mendengarkan keterangan
Putut Manyar itu dengan sungguh-sungguh. Namun sebagaimana tanggapan
mereka, Mahisa Murtipun berkata "Kita memang tidak dapat langsung
mencampuri persoalan ini. Tetapi ada baiknya kita selalu mengikuti
perkembangannya. Jika persoalannya merembet menyeberangi hutan
sampai ke Kabuyutan Talang Alun, maka mau tidak mau kita harus
mencampurinya. Kabuyutan itu adalah Kabuyutan kita pula." Yang lain
mengangguk-angguk. Mereka memang sependapat. Padepokan Bajra Seta
tidak dapat dengan tergesagesa menentukan satu sikap sebelum m
engetahui lebih jauh, apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun
Mahisa Murti telah memerintahkan kepada Putut Manyar untuk
terus-menerus mengikuti persoalan yang timbul justru karena arus
pengungsi yang mengalir menyeberangi hutan yang terhitung lebat itu.
Dengan perintah itu, m aka Putut Manyar memang sering pergi ke
padukuhan sebelah. Ia sering duduk berbincang dengan anak-anak muda
yang semakin meningkatkan penjagaan. Apalagi di malam hari.
Kedatangan para pengungsi itu memang telah menimbulkan persoalan
yang harus ditangani dengan hati-hati oleh padukuhan sebelah.
Dimalam hari Putut Manyar dengan dua atau tiga cantrik kadang-kadang
ikut berada digardu sampai menjelang fajar. Kehadiran mereka selalu
disambut baik oleh anak-anak muda padukuhan. Rasa-rasanya mereka
memberikan ketenangan, karena anak-anak muda itu tahu, bahwa para
cantrik dari Padepokan Bajra Seta adalah orang-orang yang
cukup terlatih. Ternyata kedatangan para pengungsi memang
mendatangkan masalah bagi padukuhan-padukuhan di Kabuyutan Talang
Alun. Ternyata ada juga orang-orang yang tidak berjantung, yang
memanfaatkan keadaan yang rumit itu untuk mencari keuntungan bagi
diri sendiri, bahkan dengan cara yang paling buruk. Orang-orang
yang bermaksud jahat memperhitungkan bahwa para pengungsi itu
tentu membawa barang-barang mereka yang paling berharga.
Karena itu, m aka orang-orang yang hidupnya berada dibayang an yang
hitam, seolah-olah mendapat kesempatan untuk meningkatkan kegiatan
mereka. Tetapi ternyata bahwa anak-anak muda di padukuhan itu tidak
tinggal diam. Bahkan ketika percobaan perampokan pernah terjadi, m
aka para pengungsi itupun telah ikut pula dalam kegiatan anak-anak
muda dan para penghuni padukuhan ditempat pengungsian mereka, karena
mereka tahu, bahwa persoalan itu justru timbul karena kehadiran para
pengungsi itu. Tetapi kelompok penjahat yang besar, m
enganggap bahwa anak-anak itu tidak akan mampu mencegah mereka.
Tetapi mereka tidak memperhitungkan, bahwa anak-anak muda
padukuhan-padukuhan disekitar padepokan itu sering berada di
padepokan dan bermain-main dengan para cantrik. Bahkan mereka
mendapat waktu yang khusus untuk serba sedikit mempelajari
ilmu kanuragan, serta mempergunakan berbagai jenis senjata. "Tetapi
kita harus berhati-hati terhadap para penghuni padepokan itu " b
erkata salah seorang pemimpin sekelompok perampok kepada para
pengikutnya. "Mereka tentu tidak akan ikut cam pur" sahut salah
seorang diantara para pengikutnya itu. "Belum tentu " jawab yang
lain "mereka sering berkeliaran di padukuhan-padukuhan.” "Mereka
tentu sekedar mencari makan" jawab pengikut yang pertama.
"Bagaimanapun juga kita harus berhati-hati" berkata pemimpinnya
"apapun yang mereka cari di padukuhan, kehadiran mereka akan
mempengaruhi semua rencana kita. Bukankah kita sudah mendengar bahwa
penghuni padepokan itu m emiliki kemampuan olah kanuragan ? Aku
sendiri tidak akan pernah takut menghadapi siapapun juga, bahkan
pemimpin padepokan itu sekalipun. Tetapi jumlah mereka agaknya
terlalu banyak bagi kita." "Bukankah hanya satu dua orang saja
yang sering berkeliaran di padukuhan-padukuhan ?" berkata
seorang pengikutnya. "Ya. Tetapi dengan isyarat atau suara
kentongan, m ereka dapat m emanggil kawan-kawannya, karena jarak
padepokan itu dari padukuhan tidak terlalu jauh sehingga dapat
dijangkau oleh suara kentongan. " jawab pemimpinnya. Para
pengikutnya mengangguk-angguk. Namun sebagian dari m ereka tidak
banyak m emperhitungkan gangguan yang dapat dilakukan oleh para
penghuni padepokan. Meskipun demikian, pemimpinnya masih berusaha
untuk memperhatikan kegiatan para cantrik di padepokan. Tetapi
rasa-rasanya memang tidak banyak cantrik yang keluar dan pergi
ke padukuhan. Jika mereka melihat dua atau tiga orang yang nampak
mengunjungi padukuhan terdekat, maka mereka merasa bahwa para
cantrik itu dapat diabaikannya. Namun yang terjadi lebih
dahulu, justru pertengkaran kelompok-kelompok penjahat itu sendiri.
Ketika sekelompok penjahat yang dipimpin oleh Jaran Abang
berpapasan dengan sekelompok yang lain, yang dipimpin oleh Ki
Sempon telah terjadi salah paham, sehingga diantara kedua kelompok
itu telah terjadi perkelahian. Beberapa orang telah menjadi korban.
Namun ketika kelompok Ki Sempon m elarikan diri, maka korban
yang terbunuh dalam perkelahian itu telah ditinggalkan begitu
saja. Bahkan diantara mereka terdapat dua orang yang terluka namun
masih dapat mempertahankan hidupnya, sehingga ketika seorang gembala
menemukan mereka, mereka masih hidup. Gembala itu terkejut melihat
beberapa sosok tubuh terbaring diam. Karena itu sambil
berteriak-teriak ia berlari pulang. Bahkan ampat ekor kambingnya
ditinggalkannya begitu saja. Beberapa orang daii padukuhan, termasuk
Ki Bekel yang mendapat laporan tentang bekas perkelahian
itupun segera datang. Mereka masih sempat m enemukan dua orang yang
masih hidup meskipun terluka parah. "Rawat mereka" perintah Ki Bekel
"dari m ereka kita akan mendapat keterangan. " Orang-orang padukuhan
itupun kemudian telah m embawa kedua orang yang masih hidup itu ke
banjar. Dipanggilnya dukun yang paling baik di padukuhan itu
untuk mengobati luka-luka yang cukup parah. "Usahakan agar
kedua orang itu tetap hidup" berkata seorang anak muda kepada dukun
yang segera datang. Tetapi dukun itu menjawab "Aku akan
berusaha sejauh dapat aku lakukan. Tetapi hidup dan matinya tidak
tergantung kepadaku." Anak muda itu m enarik nafas dalam-dalam.
Namun iapun telah mengangguk mengiakan. Sementara itu, tiga orang
yang telah terbunuhpun segera dikuburkan. Namun Ki Bekel dan
beberapa orang padukuhan telah menduga, bahwa yang terjadi adalah
benturan kekuatan antara para penjahat yang berebut ladang.
Sebenarnyalah ketika kedua orang yang terluka itu mulai dapat
berbicara dengan agak jela s, maka mereka mengaku bahwa kedua-duanya
adalah para pengikut Ki Sempon. "Seorang kawanku mati. Tetapi dua
orang pengikut Jaran Abang juga mati." berkata orang itu. "Apa
sebenarnya yang kalian perebutkan ?" bertanya Ki Bekel
meskipun ia sudah dapat menduga apa yang telah terjadi. "Kami
memperhitungkan bahwa para pengungsi tentu membawa barang-barang
mereka yang paling berharga. Itulah yang kami inginkan disamping
harta benda yang sudah ada di padukuhan ini " jawab orang
yang terluka itu. "Jika kalian inginkan harta benda para
penghuni padukuhan itu, kenapa baru sekarang hal itu kalian lakukan”
"Sudah aku katakan. Para pengungsi itu seakan-akan telah
mempersiapkan harta-bendanya untuk begitu saja kami ambil" jawab
orang itu. Ki Bekel mengangguk-angguk. Tetapi semakin jelas baginya
bahwa per soalan yang timbul karena kedatangan para pengungsi itu
akan saling berkait. Padukuhannya harus bersiaga menghadapi segala
kemungkinan, namun mereka juga harus meny ediakan pangan bagi mereka
yang tinggal dilingkungan sanak kadang mereka di Kabuyutan Talang
Alun. Tetapi mereka t idak akan dapat m enolak kehadiran para
pengungsi yang ketakutan di kampung halaman mereka sendiri
berdasarkan peri kemanusiaan. Kepada orang-orang yang ingin
memanfaatkan kesulitan orang lain itu, membuat Ki Bekel m enjadi
sangat berprihatin. Ju stru orang-orang yang memerlukan
perlindungan dan pertolongan itu malah menjadi sasaran kejahatan.
Karena itu, Ki Bekelpun telah memerintahkan orang-orang sepadukuhan
itu bangkit m elawan mereka. Sementara itu, Ki Bekelpun telah
mengirimkan laporan kepada Ki Buyut Talang Alun. Dengan cepat pula
Ki Buyut menyampaikan laporan itu kesemua padukuhan dilingkungannya
dengan harapan, agar semua padukuhan menjadi waspada dan bersiap
menghadapi segala kemungkinan. Terutama padukuhan-padukuhan yang
menjadi tempat tujuan para pengungsi yang datang dari seberang
hutan. Namun Jaran Abang sama sekali t idak terpengaruh oleh
kesiagaan anak-anak muda dan bahkan semua laki -laki yang masih
mampu memegang senjata. Menurut Jaran Abang yang kemudian
seakan-akan menguasai ladang perburuan itu, anak-anak m uda itu sama
sekali tidak akan mampu berbuat banyak. Namun hal itupun segera
didengar oleh para cantrik di padepokan. Putut Many arpun telah
memberikan laporan tentang hal itu kepada Mahisa Murti. "Kita harus
membantu padukuhan-padukuhan yang menjadi sasaran ancaman para
penjahat itu" berkata Mahisa Murti. Dengan demikian, maka Mahisa
Murtipun telah memerintahkan ketiga orang Pututnya, masing-masing
bersama dua orang cantrik terpilih untuk berada di
padukuhan-padukuhan yang paling rawan. Namun merekapun
berpesan jika dipadukuhan lain terjadi pula perampokan, maka mereka
harus dengan cepat memberikan isyarat dengan kentongan.
Sebenarnyalah, bahwa pada malam yang sudah direncanakan, maka Jaran
Abang telah membawa orangorangnya menuju ke padukuhan Logandeng.
Logandeng memang bukan padukuhan terdekat dengan padepokan Bajra
Seta. Namun Putut Lembana dengan dua orang cantrik terpilih berada
di padukuhan itu. Sebelum m ereka memasuki padukuhan itu, Jaran
Abang telah memerintahkan melihat -lihat, apakah ada yang
menarik perhatian di padukuhan itu. Dimata pengikut Jaran Abang yang
diperintahkan untuk melihat keadaan padukuhan itu memang tidak
adanya kelainan dari kemungkinan yang mereka bayangkan.
Anakanak muda di gardu-gardu perondan. Mungkin beberapa orang laki
-laki yang lebih tua berkumpul di banjar dan dirumah Ki Bekel
yang ketakutan. Kepada mereka yang mengamati padukuhan
itu Jaran Abang bertanya "Apakah kau tidak m elihat orang-orang dari
Padepokan sebelah yang berkeliaran di padukuhan itu ?” Orang
yang mendapat perintah mengamati padukuhan itu memang tidak melihat
sekelompok cantrik yang bergabung dengan anak-anak muda di
padukuhan itu. Mereka m emang tidak melihat Putut Lembana dan hanya
dua orang cantrik yang memang berada di gardu dimulut lor ong. Dari
kegelapan salah seorang diantara mereka yang mengamati
padukuhan itu melihat beberapa orang anak muda yang berada di gardu
dimulut lor ong. Namun nampaknya tidak ada orang lain diantara
anak-anak muda itu. Mereka bergurau dan bercanda sebagaimana dengan
kawan-kawan akrab mereka. Sebenarnyalah bahwa Putut Lembana dapat m
enempatkan diri. Selain ia memang masih muda, iapun dapat bergurau
sebagaimana anak-anak muda yang lain. Sehingga dengan
demikian, maka tidak seorangpun yang menyangka bahwa Putut
Lembana dan dua orang cantrik yang meny ertainya, bukan bagian dari
anak muda di padukuhan itu. Berda sarkan atas keterangan itu, maka
Jaran Abang tidak menunda lagi niatnya. Diperintahkannya para
pengikutnya untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. "Jika ada
cantrik yang bersembunyi di rumah Ki Bekel, kita tidak boleh
ragu -ragu menghadapinya. Kita akan menghancurkan mereka sebagaimana
kita menghancurkan kelotnpok Ki Sempon yang dungu itu."
berkata pemimpin mereka. Demikianlah, maka tanpa melewati reg ol
padukuhan, mereka memasuki dinding padukuhan itu. Mereka berloncatan
memanjat dinding dan meloncat memasuki sebuah kebun yang luas
dan sepi. Sejak sehari sebelumnya mereka sudah memilih sasaran.
Mereka melihat sebuah rumah yang besar yang memang tidak
terlalu jauh dari rumah Ki Bekel. Merka mengetahui bahwa ada
beberapa pengungsi yang tinggal di rumah yang besar itu. Bukan
pengungsi kebanyakan. Tetapi nampaknya juga orangorang berada
sebagaimana pemilik rumah itu. "Kita akan m endapatkan apa yang kita
cari " berkata Jaran Abang "kita tidak boleh ragu -ragu." Para
pengikutnya mengangguk-angguk. Telah berpuluh kali mereka melakukan
perampokan. Karena itu, apa yang akan mereka lakukan itu seakan-akan
tidak berbeda dengan saatsaat mereka akan menuai padi disawah mereka
ketika padi sudah mulai menguning dan menjadi masak. Meskipun
demikian, Jaran Abang memang memerintahkan agar mereka berusaha
untuk tidak diketahui oleh anak-anak muda. Bagi mereka hal itu tentu
akan lebih baik. Meskipun mereka y akin bahwa anak-anak muda itu
tidak akan dapat menghentikannya, namun jika terjadi benturan
kekerasan, maka ia tentu akan kehilangan satu dua pengikutnya atau
setidak-tidaknya ada diantara mereka yang terluka. Karena itu,
dengan hati-hati sekelompok orang yang dipimpin oleh Jaran
Abang itu telah menyusup disela-sela pepohonan di halaman-halaman
rumah yang sepi, karena pintu-pintu rumah tertutup rapat. Untuk
beberapa saat Jaran Abang dan para pengikutnya mengendap di halaman
rumah yang berseberangan dengan rumah yang akan menjadi sasaran.
Jaran Abang sendiri telah meloncat dan menelungkup diatas dinding
halaman untuk memperhatikan apakah keadaan cukup aman. Ternyata
jalan terlalu sepi. Rasa-rasanya tidak ada seorangpun yang
lewat dimalam yang dingin itu. Bahkan para perondapun lebih
senang tetap berada digardu-gardu. Berkelakar sambil menghirup
minuman hangat. Karena itu, maka Jaran Abangpun telah memberikan isy
arat kepada para pengikutnya untuk dengan cepat menyeberangi jalan
dan masuk ke halaman rumah yang akan menjadi sasaran. Semuanya
itu dapat dilakukan dengan cepat. Para pengikutnya yang
berpengalaman itu tidak memerlukan terlalu banyak petunjuk. Mereka
tahu apa yang harus mereka lakukan. Beberapa saat Jaran Abang
dan para pengikutnya menunggu sambil mengamati rumah yang
terhitung besar itu. Jaran Abang sudah membayangkan bahwa mereka
akan mendapat hasil yang baik dirumah itu. Kecuali pemilik
rumah itu sendiri terhitung orang yang berada, maka para pengungsi
yang ada dirumah itupun tentu orang-orang yang berada pula. Jika
mereka membawa barang-barang berharga dari kampung-halamannya, maka
barang-barang berharga itu tentu disimpannya dalam satu kotak atau
kantung khusus yang tinggal mengambil dan membawanya. Namun ketika
Jaran Abang itu mulai akan bertindak, maka iapun mengumpat ka sar.
Ia mendengar suara kotekan para peronda. Ampat orang anak muda
membawa kentongankentongan kecil menyusuri jalan-jalan m embangunkan
para penghuni rumah yang tidur ny enyak agar mereka tidak
terlalu terlena dalam mimpi sehingga kehilangan kewaspadaan. Jaran
Abang terpaksa mengurungkan niatnya. Ia m emberi isy arat kepada
para pengikutnya agar bersembuny i di halaman rumah itu. Namun
merekapun sadar, bahwa penghuni rumah itu tentu akan terbangun oleh
suara kentongan-kentongan kecil di tangan para peronda itu. "Aku
ingin menghentikan bunyi kent ongan itu" geram salah seorang
pengikut Jaran Abang. Tetapi Jaran Abang berdesis "Biarkan saja.
Hati-hatilah, jangan menarik perhatian mereka. " Para pengikut Jaran
Abang itupun kemudian benar-benar berusaha untuk berdiam diri.
Anak-anak muda yang meronda itupun semakin dekat dengan
halaman tempat para pengikut Jaran Abang itu bersembunyi sekaligus
sebagai sa saran utama usaha perampokan yang akan mereka
lakukan. Namun orang-orang yang sudah berpengalaman itu memang tidak
begitu memperhitungkan para peronda itu. Meskipun mereka sedang
bersembunyi, tetapi ada saja diantara mereka yang tidak sepenuhnya
berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi atau gerak. Sehingga karena
itu, maka ketika anak-anak muda itu lewat dan bunyi kentongan mereka
berhenti sejenak, seorang diantara anak-anak muda yang meronda itu
memang mendengar gemerisik di belakang dinding halaman yang tidak t
erlalu tinggi. Telinga anak-anak muda padukuhan itu sendiri m emang
tidak mendengar buny i itu. Tetapi seorang diantara mereka yang
meronda berkeliling itu adalah Putut Lembana yang mempunyai
pendengaran yang sangat tajam telah m endengar gemerisik itu. Putut
itu menduga bahwa suara itu adalah suara kaki seseorang yang
sedang beringsut atau bergeser dari tempatnya ke tempat yang lain.
Tetapi Putut Lembana tidak segera berbuat sesuatu, la masih saja
bersikap sebagaimana semula. Tetapi Putut itu ternyata telah m
elihat-lihat beberapa batang pepohonan yang ada di halaman rumah
yang besar itu. "He, kau lihat pohon jambu air itu ?" desis Putut
Lembana. Tetapi cukup kuat untuk didengar oleh orang-orang yang ada
didalam dinding. Anak-anak muda padukuhan itu mengangguk. Seorang
diantara mereka menjawab "Jambu air itu berbuah sepanjang musim."
"Buahnya tentu segar sekali" berkata Putut Lembana. "Ya. Tetapi
jarang sekali kami, anak-anak padukuhan ini merasakan segarnya jambu
air itu” "Kenapa ?” bertanya Putut Lembana. "Penghuninya memang agak
kikir. Jambu itu biasanya dijual langsung dipohonnya. Namun dalam
waktu singkatnya, buahnya telah memenuhi segala cabang dan
rantingrantingnya lagi." jawab anak muda itu. "Aku ingin
mencicipinya " berkata Putut Lembana. Anak-anak muda itu menjadi
termangu-mangu. Jika pemilik rumah itu tahu, maka ia tentu akan
sangat marah. Tetapi Putut Lembana itu berkata "Aku tidak akan
memetik buah dipohon itu. Aku hanya ingin mencari sisa-sisa
kelelawar yang berserakan dibawah pohon itu. Tentu ada yang m asih
utuh satu atau dua buah.” Anak-anak muda itu merasa heran. Apakah
Putut Lembana benar-benar tidak pernah makan jambu air ? Seorang
diantara anak-anak muda itu pernah berada untuk beberapa hari di
padepokan. Seingatnya di padepokan terdapat juga pohon jambu air.
Bahkan tidak hanya sebatang. Rasa-rasanya ada pohon jambu air putih
dan ada pohon jambu air yang merah. Bahkan ada sebatang pohon jam bu
dersana yang segar dan sebatang jam bu gowok yang berwarna
ungu. Sementara di kebun belakang terdapat beberapa batang pohon
jambu mete. Putut Lembana melihat wajah-wajah yang membayangkan
keheranan itu. Cahaya onc or direg ol meskipun tidak begitu besar
sempat menggapai wajah-wajah yang berkerut itu. Namun Putut Lembana
mendekati seorang diantara mereka sambil memberi isyarat untuk meny
iapkan kentongan mereka serta senjata mereka. Anak muda itu menegang
sejenak. Namun iapun mengangguk-angguk kecil. Iapun telah m emberi
isyarat pula kepada kawan-kawannya untuk bersiap. Sebenarnyalah
Putut Lembana itu telah mendorong pintu regol halaman sambil berkata
"Tunggu. Aku hanya sebentar. Aku hanya ingin sebuah saja.” Tetapi di
halaman Jaran Abang mengumpat tertahan. Namun ia telah memberi
isyarat pula kepada orang-orangnya untuk bersiap. Ketika Putut
Lembana kemudian memasuki halaman rumah itu, maka iapun mencoba
memandang berkeliling dengan penglihatannya yang tajam. Ketika ia
melihat daun pohon bunga soka yang rimbun serta beberapa
batang perdu yang lain bergerak, maka Putut Lembana yakin bahwa ada
orang dihalaman itu. Tetapi Putut Lembana tidak segera m engambil
tindakan. Bahkan ia benar-benar mencari jambu air yang memang
terdapat satu dua tergolek ditanah dibawah pohon yang buahnya
bergayutan banyak sekali itu. Setelah memungut satu-dua buah, maka
Putut itupun segera bergerak keluar. Diluar ia berbisik kepada anak
m uda yang menyertainya "Panggil kawan-kawanmu. Hati-hati.
Kepung halaman rumah ini. Beritahu gardu yang lain tanpa membuny
ikan kentongan. " Demikian anak itu melangkah pergi dengan
hati-hati, maka Putut Lembanapun berkata "Jambu ini m emang luar
biasa. Manis dan segar sekali." "Sisa kelelawar memang manis." jawab
salah seorang kawannya yang mengerti isy arat Putut Lembana.
Sementara kawannya menjawab "Jambu itu manis bukan karena sisa
kelelawar. Karena jambu itu sudah masak dan rasanya manis, maka
kelelawar telah mencurinya. Tetapi sayang, jambu itu terjatuh
ditanah. " Putut Lembana tertawa. Katanya "Jambu ini manis meskipun
agak kotor. Itu saja." Kawan-kawannyapun tertawa pula, sementara
Putut Lembana berkata "Marilah, kita berjalan terus. He, kita belum
membangunkan penghuni rumah ini. Sejak kita mendekati halaman rumah
ini, kita sudah berhenti kotekan. Namun, sekarang kita harus membuny
ikan lagi." Tetapi jumlah m ereka berkurang seorang karena pergi ke
gardu m emanggil kawan -kawannya. Karena itu, maka m ereka memang
menjadi ragu-ragu. Suaranya tentu akan berbeda dengan kotekan
yang dibuny ikan oleh ampat orang. Namun Putut Lembana
yang memperhitungkan, bahwa anak-anak muda itu akan segera
datang, berdesis perlahan "Marilah, kita bunyikan saja keras-keras."
Demikianlah, maka ketiga orang anak muda termasuk Putut Lembana itu
telah membuny ikan kentongan mereka. Ju stru lebih keras dari
semula. Bahkan dengan irama yang lebih cepat, sehingga suaranya
menjadi gaduh. Bahkan ketika mereka sengaja membuat iramanya
meleset, suara kotekan itu menjadi tidak keruan. Putut Lembanapun
kemudian berkata keras-keras "Cukup. Cukup. Iramanya rusak. Kita
harus mengulangi." Kotekan itupun terhenti. "Hati, hati. Kita tidak
boleh tergesa -gesa. " berkata seorang temannya. Namun tingkah laku
anak-anak muda itu membuat darah Jaran Abang mendidih sampai ke
ubun-ubun. Karena itu, ia menjadi tidak sabar lagi. Dengan sekali
hentak, Jaran Abang telah berdiri diatas dinding halaman rumah itu.
"Setan kau anak-anak muda. Aku perintahkan kalian masuk kedalam.
Kalian t idak m empunyai pilihan lagi." geram Jaran Abang. Ketiga
anak muda itu bergeser surut. Putut Lembanalah yang bertanya
"Siapakah kau ?” "Kalian tidak usah berpura-pura lagi. Aku tahu
bahwa kalian melihat sesuatu yang memaksa kalian melakukan perbuatan
gila itu. Aku tahu bahwa satu atau dua orang diantara kalian, tentu
bukan anak muda dari padukuhan ini, karena anak muda itu tidak
mengetahui bahwa pemilik jam bu ini kikir. Anak muda itupun baru
sekali ini melihat bahwa disini ada jambu air. Nah, sekarang kalian
semuanya harus masuk ke halaman. Jangan menjawab apapun juga. Ma
suklah sekarang, sebelum aku kehabisan kesabaran." "Kau belum
menjawab, siapakah kau ?” "Aku tidak akan menjawab semua
pertanyaanmu. Aku tidak mau m endengar pertanyaan apapun juga.
Sekali lagi. Untuk yang terakhir aku berkata. Masuklah kedalam
halaman rumah ini." Putut Lembana termangu-mangu sejenak. Sementara
itu kedua anak muda yang bersamanya menunggu, apa yang
akan dilakukan oleh Putut Lembana. Sementara itu Putut Lembana
memang ingin mengulur waktu. Ia yakin bahwa yang ada di halaman itu
tentu tidak hanya satu dua orang saja. Tetapi beberapa orang yang
memiliki pengalaman melakukan kekerasan. Karena itu, maka Putut
Lembana itu berkata "Ki Sanak. Kami tidak tahu, apa sebenarnya yang
kalian kehendaki atas diri kami. Kami sedang meronda. Karena itu,
maka kami akan menyusuri jalan-jalan di padukuhan kami. Tidak masuk
kedalam halaman rumah itu. Jika tadi aku masuk, semata-mata karena
aku ingin mendapatkan jambu air. " "Cukup" bentak orang itu "masuk.
Atau kami harus memaksa kalian dengan kekerasan." Agaknya Putut
Lembana memang tidak mendapat kesempatan lagi. Karena itu, maka
iapun menjawab "Kami tidak akan masuk. Kami tahu bahwa kau bukan
pemilik rumah ini. Karena itu, kami justru akan menangkapmu." Jaran
Abang itu bersuit nyaring. Ia benar-benar telah kehilangan
kesabaran, sehingga ia telah memanggil orangorangnya untuk memaksa
Putut Lembana dan kedua kawannya masuk kehalaman. Namun pada saat
itu, beberapa orang anak muda dari gardu terdekat telah datang.
Mereka tidak dengan serta merta menyerang kelompok Jaran Abang.
Tetapi anak-anak muda itu justru telah m erayap dari halaman ke
halaman mendekati rumah yang menjadi sasaran perampok itu. Namun
ketika mereka mendengar suitan nyaring, maka mereka telah berusaha
untuk mengetahui keadaan Putut Lembana dan kedua orang anak muda
yang menyertainya. Anak-anak muda itu kemudian telah melihat
beberapa orang berloncatan melewati dinding halaman rumah yang
menjadi sasaran perampokan itu. Orang-orang itupun kemudian telah m
engepung Putut Lembana dan kedua orang anak muda yang meny
ertainya. "Paksa mereka masuk. Jika mereka melawan, maka apaboleh
buat. Mereka akan mati muda." berkata Jaran Abang. Namun para
penjahat itu tidak mendapat banyak kesempatan. Anak-anak muda yang
melihat keadaan Putut Lembana dan kedua orang kawannya dalam
kesulitan, m aka merekapun segera bertindak. Dua orang cantrik dari
Padepokan Bajra Seta yang ada diantara anak-anak muda itu
bersama Putut Lembana, datang pula bersama-sama anakanak muda itu.
Melihat kehadiran anak-anak muda itu, maka Jaran Abangpun m
engumpat. Dengan lantang ia berkata "Jika yang terjadi kemudian
kalian akan m enjadi seperti tebasan batang ilalang, sama sekali
bukan tanggung jawab kami." Anak-anak m uda itu sama sekali tidak m
enghiraukannya. Merekapun segera turun ke jalan serta berdiri di
kedua sisi dari para pengikut Jaran Abang itu. Bahkan masih ada
diantara mereka yang berada di atas dinding halaman diseberang
halaman rumah yang menjadi sasaran. Namun masih ada juga anak-anak
muda yang berada di dalam halaman rumah yang menjadi sasaran
perampokan itu. Jaran Abang tidak m empunyai pilihan lain. Iapun
segera meneriakkan perintah "Selesaikan anak-anak dungu itu. Mereka
tidak menyadari akibat dari perbuatan mereka." Tetapi Putut Lembana
memberikan perintah "Jangan biarkan seorangpun melarikan diri."
Demikianlah, maka pertempuranpun segera berkobar. Jaran Abang tahu
pasti, bahwa pemimpin dari anak-anak muda itu adalah anak muda yang
mencari jambu air di bawah pohonnya. Namun Jaran Abangpun tahu bahwa
anak muda itu sekedar ingin mengetahui keadaan didalam halaman rumah
itu. Sejenak kemudian, maka pertempuranpun segera terjadi. Putut
Lembana dengan sengaja telah menghadapi Jaran Abang. Sementara itu,
k edua orang cantrik yang bersamanya berada di padukuhan itu
bertempur melawan beberapa orang penjahat yang sudah sangat
berpengalaman. Anak-anak muda padukuhan itu memang merasa ngeri
melihat sikap dan tatanan gerak mereka yang keras dan kasar.
Beberapa orang anak muda m emang terdesak surut. Namun kedua orang
cantrik dari Padepokan Bajra Seta itu telah membesarkan hati mereka.
Seorang diantara para cantrik yang dengan m enghentak menyerang
salah seorang diantara para pengikut Jaran Abang itu, langsung dapat
melukai lawannya. Terdengar orang itu berteriak kesakitan. Sejenak
kemudian, maka orang itupun telah jatuh berguling ditanah. Cantrik
itu bukan seorang pembunuh, sehingga karena itu, maka orang
yang sudah terluka cukup parah itu dibiarkannya. Tetapi dengan
demikian, maka hati anak-anak muda padukuhan itu mulai menjadi
hangat. Keberanian merekapun menjadi semakin memanasi jantungnya.
Dipimpin oleh kedua orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta itu,
maka anak-anak muda padukuhan itupun telah melakukan perlawanan
yang sangat sengit. Apalagi ketika beberapa orang anak muda
dari gardu yang lain telah datang pula. Sementara itu, Jarah Abang
ternyata telah mendapat lawan yang b erilmu tinggi. Karena itu, maka
iapun b erteriak "Setan kau anak muda. Siapakah kau sebenarnya?”
"Kau belum menjawab pertanyaanku, siapakah kau dan untuk apa kau
berada di sini." Jaran Abang itu menggeram. Katanya "Aku tidak
memerlukan nama dari orang-orang yang akan kubunuh." Putut
Lembana yang melihat kedua cantrik Padepokan Bajra Seta sudah ada
diantara anak-anak muda yang menjadi semakin lama semakin
banyak berada ditempat itu menjadi semakin tenang. Sehingga ia dapat
memusatkan perhatiannya kepada pemimpin sekelompok orang yang
tidak dikenal dan yang menurut perhitungannya tentu akan berbuat
jahat. Apalagi melihat ujud lahiriah dari orang-orang yang
datang bersama lawannya itu serta senjata-senjata yang mereka
pergunakan. Demikianlah, maka Putut Lembanapun telah bertempur
dengan sengitnya. Putut lembana yang juga pernah mendengar tentang
pertempuran antara orang-orang yang berniat jahat, serta tentang dua
orang pengikut seorang pemimpin kelompok yang bernama Jaran Abang
yang jatuh ketangan Ki Bekel rencana terluka dalam pertempuran
antara para penjahat itu, telah menduga bahwa yang dihadapinya
adalah Jaran Abang itu sendiri. Karena itu, ketika Jaran Abang
menjadi semakin garang, Putut Lembana itu berkata sambil menghindari
serangan lawannya "He, Ki Sanak, Kau kira aku tidak tahu bahwa
gerombolan ini adalah gerombolan Jaran Abang dan kau sendiri adalah
pemimpinnya ?” "Per setan. Darimana kau tahu ?” bertanya Jaran
Abang. "Namamu memang sudah terkenal sampai ke mana-mana. Kau
ditakuti oleh setiap orang yang pernah mendengar namamu. Bukan
saja oleh para penghuni Kabuyutan dan padukuhan-padukuhan, tetapi
para prajurit Singasaripun menjadi gentar mendengar namamu." "Namaku
memang ditakuti oleh Panglima Prajurit Singasari sekalipun. Karena
itu, kenapa kau berani melawan aku ? Apakah itu bukan berarti bahwa
kau sedang membunuh diri." "Aku hanya ingin membuktikan, apakah
kabar itu benar atau tidak, " jawab Putut Lembana. "Betapa
sombongnya kau anak muda. Tetapi kau akan menyesal, karena kau akan
mati malam ini." geram Jaran Abang. "Aku tidak ingin mati. Itulah
sebabnya, aku melawanmu sekarang." sahut Putut Lembana. "Kau tahu
bahwa aku tidak terkalahkan." berkata Jaran Abang dengan lantang.
"Itulah yang menarik untuk menjajagi kemampuanmu, justru
karena kau merasa tidak terkalahkan." jawab Putut Lembana. Jaran
Abang menggeram. Namun kemudian katanya "Apapun yang kau
katakan, namun umurmu tidak akan sampai fajar. " Putut Lembana
yang masih muda itu tertawa. Katanya "Apakah kau dapat
menentukan, kapan aku harus mati ? Umurku tidak tergantung kepadamu,
Jaran Abang. " "Per setan kau" Jaran Abang menjadi semakin marah.
Serangannya memang menjadi semakin garang. Namun anak muda yang
melawannya itu masih saja nampak tenang. Sebenarnyalah, semakin
marah Jaran Abang, maka kendalinya atas ilmunya justru menjadi
semakin longgar. Jaran Abang terlalu bernafsu untuk segera
mengalahkan lawannya. Namun justru dengan demikian, maka semakin
banyak ia melakukan kesalahan. Dalam pada itu, m aka dua orang
cantrik dari Padepokan Bajra Seta bersama anak-anak m uda padukuhan
itu tengah bertempur melawan para pengikut Jaran Abang. Semakin lama
jumlah anak-anak muda itu semakin banyak. Bahkan beberapa orang laki
-laki yang lebih tuapun telah terjun pula dalam pertempuran. Apalagi
mereka yang telah berpengalaman serta memiliki kemampuan olah
kanuragan karena mereka sering berada di Padepokan Bajra Seta.
Dengan demikian, maka para pengikut Jaran Abang itu mulai mengalami
kesulitan. Dua orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta itupun
menjadi semakin garang pula, sehingga anak-anak muda padukuhan itu
menjadi semakin berani menghadapi para perampok yang kasar
itu. Jaran Abang memang tidak menduga, bahwa anak-anak muda
padukuhan itu m enjadi demikian berani m enghadapi para pengikutnya.
Bahkan para pengikutnya seakan-akan menjadi tidak berdaya. Anak-anak
muda itu dibawah pimpinan kedua orang cantrik Padepokan Bajra Seta
telah menyerang para pengikut Jaran Abang itu dari segala jurusan.
Sementara itu ujung senjata kedua orang cantrik itupun telah
menggapai kulit daging para pengikut Jaran Abang. Dua orang telah
terbaring diam. Sementara yang lain masih berloncatan sambil
berteriak-teriak. Namun ruang gerak mereka menjadi semakin sempit.
Sementara itu Putut Lembana masih saja bertempur dengan sengitnya
melawan Jaran Abang. Keduanya telah mempergunakan senjata
masing-masing. Jaran Abang bersenjata kapak yang besar bermata
rangkap. Sedangkan Putut Lembana bersenjata sebilah pedang khusus
sebagaimana pedang yang dibuat oleh para cantrik dari Padepokan
Bajra Seta yang telah mendapat petunjuk dari pande besi istana
Singasari. Sebilah pedang yang ujudnya cukup besar dan panjang.
Jaran Abang yang m emiliki pengalaman petualangan yang luas
tanpa ragu-ragu berusaha untuk menghancurkan lawannya. Ia sudah
terlalu sering melihat darah tertumbuh dari tubuh orang-orang
yang pernah dibantainya. Tetapi anak m uda itu ternyata amat
liat. Kapaknya yang berayun-ayun dengan cepatnya, sama sekali
tidak meny entuh tubuh lawannya. Namun ketika anak muda itu sengaja
menangkis ayunan kapaknya sehingga terjadi benturan, maka Jaran
Abang itupun mengumpat habis-habisan. Hampir saja ia berteriak
kegirangan karena kapaknya disangkanya akan dapat melontarkan
senjata anak muda itu, sehingga ay unan berikutnya kapaknya akan
dapat m embelah kepala lawannya itu, karena lawannya sudah tidak
bersenjata lagi. Namun yang terjadi sama sekali tidak sebagaimana
dibayangkan. Justru kapaknyalah yang hampir saja terlepas dari
tangannya. Sementara itu, pedang anak muda itu sama sekali tidak
tergoyahkan. Jantung Jaran Abang menjadi semakin sakit ketika anak
itu justru telah merendahkannya. Pada saat ia mengalami kesulitan
dengan kapaknya yang hampir terlepas, disaat ia berusaha mengambil
jarak untuk memperbaiki kedudukannya, lawannya itu sengaja tidak
memburunya. Bahkan anak muda itu berkata. "Hati-hatilah Jaran Abang.
Jangan biarkan kapakmu terloncat dari tanganmu. Dengan senjata
ditangan kau tidak dapat mengalahkan aku, apalagi jika kau lemparkan
kapakmu.” "Setan kau" geram Jaran Abang. "Nah bersiaplah. Aku beri
kau waktu untuk memperbaiki genggamanmu pada kapakmu itu.” "Aku
tidak butuh waktu. Aku tidak dalam kesulitan Kapakku ini akan segera
m engoyak mulutmu" b erkata Jaran Abang lantang. "Sekarang, aku beri
kesempatan kau memperhatikan pertempuran ini. Orang-orangmu sama
sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Anak-anak muda padukuhan ini
bukan lagi anak-anak kecil yang ketakutan melihat kalian
dengan garang mengayun-ayunkan senjata, tetapi anak-anak muda
padukuhan ini adalah anak-anak muda yang terlatih baik. Jaran
Abang tidak menjawab. Namun dengan geram ia meloncat meny erang
Putut Lembana. Namun bagaimana juga Putut Lembana tidak dapat
dikalahkan. Putut yang telah ditempa di Padepokan Bajra Seta
itu mempunyai banyak kelebihan dari Jaran Abang itu sendiri,
meskipun Jaran Abang berpengalaman menghancurkan lawan-lawannya.
Bahkan para pemimpin penjahatpun merasa ngeri mendengar namanya.
Karena itulah, maka Jaran Abang tidak lagi mempunyai kesempatan
untuk menang. Apalagi ketika ia sempat melihat orang-orangnya
semakin menyusut. Karena itu, maka iapun telah membuat pertimbangan
lain. Ia harus melepaskan niatnya untuk merampok rumah yang
diperhitungkannya memiliki simpanan harta benda yang cukup banyak.
Karena itu, maka ketika keadaan benar-benar tidak memungkinkan, maka
Jaran Abang itu telah berusaha untuk bergeser mendekati regol
halaman tanpa menimbulkan kesan pada lawannya. Putut Lembana memang
hanya mengira bahwa lawannya menjadi semakin terdesak mundur. Namun
ketika Jaran Abang itu sampai kedepan regol halaman yang
memang tidak diselarak, dengan serta merta, ia berlari mendorong
pintu regol itu. Putut Lembana terkejut. Tetapi ia kehilangan k
esempatan yang sekejap itu, namun yang memberikan keuntungan yang
menentukan bagi hidup dan mati Jaran Abang. Putut Lembana yang
segera menyadari usaha lawannya untuk melarikan diri, segera
mengejarnya. Iapun telah meloncat berlari. Namun langkah terhenti
lagi sekejap, karena Jaran Abang telah mendor ong pintu regol dari
dalam dengan hentakkan yang sangat keras. Ketika Putut Lembana
m endorong pintu itu, m aka Jaran Abang telah berlari menjauh. Putut
Lembana m asih melihat bayang annya yang melingkar disudut rumah.
Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, Putut itu mengejarnya.
Namun ia kehilangan jejak. Ketika Putut itu melingkari sudut rumah,
maka bayangan Jaran Abang telah hilang. Putut Lembana memang tidak
segera berhenti. Ia berusaha menyusul meloncati dinding disebelah
seketheng. Tetapi ketika ia berada di longkangan, ia tidak m elihat
Jaran Abang lagi. Putut Lembana menarik nafas dalam-dalam. Ia memang
merasa sangat kecewa karena ia kehilangan lawannya. Karena itu, m
aka iapun segera kembali k e halaman depan dan keluar lagi turun ke
jalan. Ternyata beberapa orang pengikut Jaran Abang yang
lainpun dapat melarikan diri. Tetapi yang lain dapat di tangkap dan
bahkan ada yang terluka parah. Seorang diantara mereka telah m
enghembuskan nafas terakhir karena lukanya yang sangat parah. Ki
Bekel yang telah mendapat laporan, ternyata sudah berada di t empat
itu pula. Bahkan agaknya orang yang sudah melampaui setengah
abad itu masih ikut pula membawa sebatang tombak pendek bertempur
bersama anak anak muda padukuhannya. Namun Ki Bekel itu harus
merenungi tiga orang anak muda yang terluka cukup parah. Sementara
yang lain terluka ringan. Meskipun demikian goresan-goresan senjata
di tubuh anakanak muda itu seakan-akan tidak terasa menyakitinya.
Namun tiga orang diantara mereka harus di bawa ke banjar untuk
mendapat pengobatan. Demikian pula para pengikut Jaran Abang yang
terluka dan menyerah telah dibawa ke banjar pula dengan pengawalan
yang ketat. Orang-orang yang tertawan itu memang tidak melihat
kemungkinan lain kecuali menyerah. Mereka memang tidak
memperhitungkan bahwa hampir semua laki-laki di padukuhan itu telah
berani keluar untuk ikut memberikan perlawanan. Betapapun garangnya
Jaran Abang dan pengikutnya, namun jumlah yang banyak itupun
berpengaruh pula. Demikianlah, maka orang-orang padukuhan itu telah
menggagalkan usaha perampokan yang dilakukan oleh Jaran Abang dan
kelompoknya yang dianggap kelompok perampok yang terkuat.
Penghuni rumah yang hampir saja menjadi sa saran perampokan
itu berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Ki Bekel bahwa
perampokan itu telah digagalkan. "Berterima kasihlah kepada angger
Putut Lembana. Ia telah memimpin anak-anak muda di padukuhan ini
untuk melakukan perlawanan terhadap para perampok itu." jawab Ki
Bekel. "Ki Bekel sendirilah yang memimpin. Aku hanya sekedar
ikut bersama anak-anak muda padukuhan ini" sahut Putut Lembana.
Tetapi pemilik rumah itu berkali-kali m engucapkan terima kasihnya.
Dua keluarga yang mengungsi dirumahnya juga ikut mengucapkan
terima ka sih atas kecepatan bertindak anakanak muda di padukuhan
itu. "Aku memang membawa milikku yang paling berharga yang dapat aku
bawa. Jika m ilikku yang dapat aku bawa itu dirampas oleh para
perampok, m aka habislah segala-galanya berkata salah seorang
diantara para pengungsi itu.” Dengan kegagalan itu, maka Ki Bekel
dan para penghuni padukuhan itu berharap, bahwa para perampok tidak
akan mengusik ketenangan padukuhan Logandeng. Jika gerombolan Jaran
Abang yang ditakuti itu gagal melakukan perampokan di padukuhan
Logandeng, apalagi gerombolan lain yang lebih lemah dari
gerombolan Jaran Abang itu. Meskipun demikian, maka per soalan
yang dihadapi oleh padukuhan Logandeng masih tetap rumit.
Demikian pula padukuhan-padukuhan yang lain di Kabuyutan
Talang Alun. Kehadiran para pengungsi itu telah memberikan berbagai
macam persoalan. Berita tentang perampokan yang gagal di padukuhan
Logandeng, membuat padukuhan-padukuhan lain lebih berhati-hati.
Mereka semakin m eningkatkan k esiagaan anakanak muda di
padukuhan-padukuhan itu. Meskipun gerombolan Jaran Abang telah
dihancurkan di Logandeng, tetapi mungkin gerombolan -gerombolan lain
merasa ju stru mendapat kesempatan. Atau karena Jaran Abang sendiri
belum tertangkap, maka Jaran Abang akan menyusun kekuatan kembali
atau bergabung dengan ger ombolan lain yang akan dapat menjadi
semakin kuat. Namun dengan demikian, maka kecemasan para penghuni
beberapa padukuhan di Kabuyutan Talang Alun itu telah didengar oleh
Mahisa Murti. Iapun telah memerintahkan ketiga Pututnya dan beberapa
orang cantrik untuk berusaha membantu menenangkan kegelisahan di
padukuhanpadukuhan itu. Bahkan Mahisa Murti telah menempatkan
disetiap padukuhan tiga orang cantrik terpilih. Sementara di
padukuhan-padukuhan yang paling rawan, Mahisa Murti telah
menempatkan Putut Manyar, Putut Parama dan Putut Lembana, m
asing-masing bersama dua orang cantrik untuk membantu jika terjadi
sesuatu sebagaimana telah t erjadi di padukuhan Logandeng. Disamping
usaha untuk mengatasi kemungkinan terjadi perampokan, maka
padukuhan-padukuhan itu masih juga dibebani untuk membantu keluarga
yang menampung para pengungsi dari seberang hutan. Mereka
tidak saja memerlukan tempat untuk bernaung dari teriknya matahari
dan dinginnya embun malam, namun mereka juga memerlukan m akan dan
minum. Padukuhan-padukuhan yang menampung para pengungsi tidak dapat
menyerahkan peny ediaan makan dan minum mereka kepada keluarga yang
menampung mereka sepenuhnya. Apalagi keluarga yang terhitung
keluarga sederhana. Demikianlah, maka Padepokan Bajra Seta mau tidak
mau telah ikut t erlibat dalam kesibukan m engatasi per soalan para
pengungsi di Kabuyutan Talang Alun. Sementara itu dari hari ke hari,
arus pengungsi tidak menyusut. Tetapi justru menjadi semakin banyak.
Bahkan di padukuhan Logandeng, seorang bebahu dari Kabuyutan Sendang
Apit telah datang bersama beberapa keluarga pengungsi lainnya.
Kedatangan seorang bebahu di padukuhan Logandeng memang menarik
perhatian. Ketika Mahisa Murti m endengar tentang hal itu, maka
iapun berkata kepada Wantilan dan Sambega "Paman, aku ingin pergi ke
Logandeng. Mungkin seorang bebahu yang mengungsi di Logandeng
dapat memberikan beberapa penjela san tentang keadaan Kabuyutannya."
Wantilan dan Sambega mengangguk-angguk. Dengan bersungguh-sungguh
Wantilanpun berkata "Agaknya telah terjadi sesuatu yang penting di
Kabuyutan-kabuyutan diseberang hutan. Mudah-mudahan bebahu itu dapat
mengungkapkannya." Demikianlah dihari berikutnya Mahisa Murti telah
mengajak Mahisa Semu untuk pergi ke Logandeng. Sebenarnyalah bahwa
Mahisa Amping juga ingin ikut bersama mereka, namun Mahisa Murtipun
berkata "Lain kali saja kau ikut Amping. Kami sedang melakukan tugas
yang penting. Kau masih terlalu muda untuk ikut bersama kami.
Sedangkan kakakmu Mahisa Semu ju stru harus mulai terjun kedalam
tugas-tugas yang lebih bersungguh-sungguh. Nanti, jika kau tumbuh
semakin besar, m aka kaupun slrati sampai saatnya untuk memulai
dengan tugas-tugas yang lebih berat." Mahisa Amping m engangguk
kecil. Betapapun inginnya ia ikut melakukan sesuatu, namun ia tidak
dapat memaksakan keinginannya kepada kakak angkatnya yang
mengasuhnya itu. Berdua Mahisa Murti dan Mahisa Semupun telah pergi
ke padukuhan Logandeng untuk mendengar ceritera tentang Kabuyutan
diseberang hutan yang sedang dilanda kekalutan. Di Logandeng,
Mahisa Murti dan Mahisa Semu langsung menemui Ki Bekel sebelum
menemui bebahu Kabuyutan Sendang Apit. Kepada Ki Bekel, Mahisa Murti
telah mengutarakan niatnya untuk bertemu dengan bebahu dari
Kabuyutan Sendang Apit itu. "Marilah ngger" berkata Ki Bekel
"biarlah aku antar angger menemui bebahu itu. Dengan keluarganya ia
tinggal dirumah adikku. Bebahu itu tidak bersedia ketika aku
persilahkan tinggal dirumahku." "Kenapa Ki Bekel ?” bertanya Mahisa
Murti. "Menurut pendapatnya, jika ia tinggal dirumahku, akan dapat
mempengaruhi tugas-tugasku. Bahkan kedudukanku." jawab Ki Bekel.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Baiklah Ki Bekel.
Jika Ki Bekel kebetulan mempunyai waktu, aku berterima ka sih atas
kesediaan Ki Bekel untuk bersamaku menemui bebahu yang tinggal
dirumah adik Ki Bekel itu." Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan
Mahisa Semu bersama Ki Bekel telah pergi kerumah adik Ki Bekel yang
letaknya berdampingan dengan banjar padukuhan. Bebahu dari Kabuyutan
Sendang Apit itu masih kelihatan letih sekali. Bahkan masih nampak
kegelisahan m embayang diwajahnya. Meskipun ia mencoba juga untuk
terseny um, tetapi masih membekas tekanan-tekanan batin yang
dialaminya. "Apa yang sebenarnya terjadi ?” bertanya Mahisa Murti.
Bebahu dari Kabuyutan Sendang Apit itu menarik nafas dalam-dalam.
Dengan nada berat ia berkata "Bencana itu telah menikam Kabuyutan
kami." "kenapa dan bagaimana hal itu terjadi ?” bertanya Mahisa
Murti. "Per soalannya berkisar pada dua Kabuyutan. Kabuyutan Sendang
Apit dan Kabuyutan Pudaklamatan. Beberapa orang bebahu dari
Kabuyutan Sendang Apit telah ditangkap. Ada dua orang Bekel dari
padukuhan yang termasuk lingkungan Kabuyutan Sendang Apit
telah ditangkap pula. " "Siapa yang telah m enangkap mereka ?”
bertanya Mahisa Murti dengan wajah yang berkerut. "Orang-orang
dari Kabuyutan Pudaklamatan. " "Kenapa ?” desak Mahisa Murti. Bebahu
itu m enarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya "Ki Buyut Pudaklamatan
merasa memiliki hak sepenuhnya untuk menguasai dua Kabuyutan
yang bertetangga itu. Dahulu Kabuyutan Pudaklamatan dan
Kabuyutan Sendang Apit memang satu. Namun kemudian untuk menghindari
persoalan yang dapat timbul kemudian, justru telah dipecah menjadi
dua. Namun ternyata bahwa akhirnya pertengkaran itu pecah juga."
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Meskipun ia tidak bertanya lebih
banyak, tetapi bebahu itulah yang kemudian berceritera "Ki
Buyut dari Pudaklamatan menganggap bahwa adanya Kabuyutan Sendang
Apit sama sekali tidak dapat dibenarkan. Sebelum dua Kabuyutan itu
dipisahkan, maka kakek Ki Buyut Pudaklamatan yang juga kakek Ki
Buyut Sendang Apitlah yang memegang pimpinan sebagai Buyut di
Kabuyutan Mapanjang. Ki Buyut Mapanjang m empunyai dua orang anak
laki -laki. Tetapi anak yang sulung meninggal sebelum sempat
menggantikan kedudukan ayahnya. Karena itu, yang kemudian
mewarisi kedudukan ay ahnya adalah anak yang bungsu. Sementara itu,
anak yang sulung Ki Buyut Mapanjang mempunyai seorang anak laki
-laki. Tetapi anaknya yang bungsu, yang menggantikan kedudukan
ayahnyapun mempunyai anak laki -laki. Untuk menghindari
perselisihan, maka Ki Buyut Mapanjang yang muda, anak bungsu
dari Ki Buyut yang tua yang telah meninggal, menetapkan bahwa
Kabuyutan Mapanjang dibagi dua. Anaknya akan menjadi Buyut bagian
Selatan sedangkan kemanakannya, anak kakaknya yang lebih dahulu m
eninggal akan menjadi Buyut dibelahan Utara. Ma sing-masing disebut
Kabuyutan Sendang Apit dan Kabuyutan Pudaklamatan dibatasi oleh
sebatang sungai kecil yang membelah Kabuyutan Mapanjang."
"Apakah kemudian Ki Buyut Pudaklamatan menuntut kembali Kabuyutan
yang separo, yang m enurut pendapatnya menjadi haknya pula ?”
bertanya Mahisa Murti. "Ya " jawab bebahu itu. "Sejak kapan
Mapanjang dibagi menjadi dua ?" bertanya Mahisa Murti pula. "Sudah
lebih dari duapuluh tahun yang lalu " jawab bebahu itu. "Sudah
demikian lama. Kenapa baru sekarang persoalan itu diungkit kembali ?
Apakah selama ini hubungan antara kedua padukuhan itu buruk ?”
bertanya Mahisa Murti. "Memang tidak terduga sebelumnya" jawab
bebahu itu. Ki Buyut Pudaklamatan yang masih sepupu dengan Ki
Buyut Sendang Apit, nampak rukun. Ki Buyut Pudaklamatan yang sedikit
lebih tua, menganggap Ki Buyut Sendang Apit sebagai adik
kandungnya." "Jadi bagaimana perselisihan itu t erjadi." bertanya
Mahisa Murti. "Itulah yang aneh. Tiba-tiba saja hal itu
terjadi." jawab bebahu itu. Namun katanya kemudian "Kami menduga,
bahwa ada pihak ketiga yang ikut campur. Menurut dugaan kami adalah
justru orang yang dituakan oleh kedua Kabuyutan itu." "Siapakah
orang itu ?” bertanya Mahisa Murti. "Seorang mPu yang memimpin
sebuah Padepokan yang terletak di lereng bukit kecil dipinggir
suhgai yang memisahkan kedua Kabuyutan itu. Mahisa Murti
mengangguk-angguk kecil. Dengan dahi yang berkerut ia bertanya
"Siapakah nama mPu itu dan apakah nama padepokannya ?” "Namanya mPu
Renapati. Ia memimpin sebuah padepokan yang lebih banyak disebut
padepokan Renapati sebagaimana nama pemimpinnya. Tetapi nama
yang sebenarnya dari padepokan itu adalah Padepokan Kencana
Pura.” jawab bebahu itu. Mahisa Murti mendengarkan keterangan itu
dengan bersungguh-sungguh. Agaknya karena padepokannya dengan
padepokan yang disebut oleh bebahu itu dibatasi oleh hutan yang
memanjang, maka Mahisa Murti m asih belum pernah berhubungan.
Meskipun Mahisa Murti pernah melakukan petualangan yang panjang,
namun ju stru ia tidak m eny entuh lingkungan diseberang hutan
yang jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun apa
yang terjadi itu memang sangat menarik perhatiannya. Apalagi
karena banyak pengungsi yang mengalir ke padukuhan-padukuhan
dilingkungan Kabuyutan Talang Alun, yang terhitung dekat
dengan padepokannya. Tetapi Mahisa Murti masih belum tahu apa yang
sebaiknya dilakukan menanggapi gejolak yang terjadi. Tetapi
untuk mengatasi kemungkinan berbagai macam kesulitan yang
dapat timbul di padukuhan Logandeng yang tidak terhitung padukuhan
yang kaya itu, Mahisa Murti telah menawarkan kepada Ki Bekel
"Jika perlu, Ki Bekel, di padepokan kami ada sedikit tempat untuk
membantu memberikan tempat untuk sementara kepada beberapa keluarga
yang mengungsi dari Kabuyutan diseberang hutan itu." "Terima
kasih ngger" berkata Ki Bekel "sampai saat ini kami masih belum m
erasa sangat terdesak. Tetapi mungkin pada suatu saat kami memang
memerlukan bantuan angger Mahisa Murti." "Kami akan menerima dengan
senang hati ki Bekel. Asal mereka bersedia m enerima keadaan
sebagaimana adanya di padepokan kami yang sederhana itu." "Tentu
saja " jawab Ki Bekel "mereka yang datang mengungsi kedaerah ini
tentu tidak akan memilih tempat. Bagi mereka dimanapun mereka
ditampung, tidak menjadi soal. Yang penting mereka terlindung
dibawah atap yang betapapun sederhananya." Mahisa Murti
mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Baiklah Ki Bekel. Kami,
penghuni Padepokan Bajra Seta akan terus mengikuti perkembangan yang
bakal terjadi. Apapun yang sebaikny a dan dapat kami lakukan, akan
kami lakukan. Terutama membantu melindungi para pengungsi itu dari
tangan-tangan jahat yang ju stru memanfaatkan kesulitan orang
lain untuk kepentingan m ereka sendiri. Apalagi dengan laku
kejahatan.” "Terima kasih ngger. Tanpa bantuan angger serta para
cantrik dari Padepokan Bajra Seta, maka sebagaimana yang pernah
terjadi di padukuhan Logandeng, kita tentu akan mengalami malapetaka
" berkata Ki Bekel. "Bukankah itu sudah menjadi kewajiban kami,
sebagaimana kami menumpang untuk hidup dilingkungan Kabuyutan Talang
Alun." jawab Mahisa Murti. Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa
Semupun meninggalkan padukuhan yang sedang dibayang i oleh
berbagai macam persoalan itu. Dengan demikian maka Mahisa Semupun
telah diperkenalkan dengan persoalan-per soalan kehidupan yang lebih
luas dari sekedar dinding padepokan. "Kita memang tidak dapat hidup
dengan mengurung diri di lingkungan yang sempit. Kita harus
memperluas tatapan mata kita sampai ke cakrawala. " berkata Mahisa
Murti. Namun katanya kemudian "tetapi ternyata penglihatankupun
masih terlalu sempit. Aku tidak m engenali nama-nama orang-orang
yang m emiliki pengaruh yang luas atau orang-orang yang berilmu
sangat tinggi. Sebagaimana aku belum mengenal nama mPu Renapati. "
Mahisa Semu mengangguk-angguk kecil. Katanya "Jika kakang memberi
aku kesempatan, aku akan sangat b erterima kasih. " "Ya. Kau harus
mulai mengenal dunia yang luas ini. Tetapi tentu tidak dengan
serta-merta. Tetapi sedikit demi sedikit. Pengenalanmu harus lebih
luas dari pengenalanku. Ketika aku bertualang, aku telah dibatasi
oleh laku dan kepentinganku serta kepentingan padepokan ini sendiri,
sehingga seakanakan aku tidak berkesempatan melihat persoalan-per
soalan yang lain." Mahisa Semu masih mengangguk-angguk. Ia ingat
jelas, bagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengambilnya dan
membawanya. Iapun ingat jelas, perjalanan yang panjang yang
ditempuhnya sampai ke Padepokan Bajra Seta. Namun sebenarnyalah
bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat lebih terikat pada laku Tapa
Ngrame yang dijalaninya. Di padepokan Mahisa Murtipun telah
berbicara dengan para pemimpin Padepokannya tentang keadaan
yang terjadi di Kabuyutan-kabuyutan seberang hutan. Karena
itu, maka Mahisa Murti telah memerintahkan semua cantrik untuk
bersiap-siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.
Baik di Kabuyutan-kabuyutan diseberang hutan, maupun di Kabuyutan
Talang Alun serta padukuhanpadukuhan yang termasuk didalam
lingkungannya. Dimalam hari Mahisa Murti masih tetap mengirimkan
beberapa orang cantriknya termasuk ketiga orang Putut di Padepokan
Bajra Seta untuk ikut meronda di padukuhanpadukuhan selama keadaan
masih menggelisahkan. Ketika Kiai Wijang datang ke Padepokan Bajra
Seta sebagaimana sering dilakukannya, maka Mahisa Murtipun telah
menceriterakan apa yang telah terjadi di Kabuyutan Talang Alun
serta Kabuyutan-kabuyutan diseberang hutan. Orang tua itu
mendengarkan ceritera Mahisa Murti dengan bersungguh-sungguh. Ketika
Mahisa Murti menceriterakan keterlibatan seorang pemimpin padepokan,
maka Kiai Wijang itupun bertanya "Siapakah nama orang itu ?. "mPu
Renapati. Ia memimpin padepokan yang lebih banyak disebut
Padepokan Renapati. dari pada nama padepokan itu yang sebenarnya,
Padepokan Kencana Pura.” Kiai Wijang mengangguk-angguk. Katanya
"Jadi mPu Renapati berdiri dibelakang kekalutan ini ?” "Menurut
seorang bebahu dari Kabuyutan Sendang Apit. " jawab Mahisa Murti.
"Aku mengenal orang itu " desis Kiai Wijang "ia memang seorang
yang berilmu tinggi. Ia memiliki beberapa kelebihan dari para
mPu dan para pemimpin padepokan. Aku kira orang itu tentu mengetahui
serba sedikit tentang Padepokan Bajra Seta meskipun kau belum pernah
m engenal padepokannya dan orang itu sendiri. Ia memang sering
mengirimkan orang-orangnya untuk mengetahui banyak hal disekitarnya.
Bahkan sampai pada jarak yang jauh." "Apakah keuntungannya ?”
bertanya Mahisa Murti. "Hanya orang itu sendirilah yang tahu.
Tetapi aku mempunyai dugaan, bahwa ia termasuk orang yang
tidak menginginkan ada orang lain yang lebih baik daripadanya."
jawab Kiai Wijang. "Tetapi apa hubungannya dengan usahanya untuk
menumbuhkan kekacauan diantara kedua Kabuyutan yang dipimpin oleh
dua orang saudara sepupu, yang semula hidup rukun dan damai." "Juga
hanya mPu Renapati itu sendirilah yang mengetahui." jawab Kiai
Wijang. Namun katanya kemudian "Tetapi aku sependapat bahwa
Padepokan Bajra Seta harus bersiap-siap menghadapi
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Justru karena kita t
idak tahu dengan pasti, apa yang dikehendaki oleh mPu yang jalan
pikirannya sulit untuk dimengerti orang lain itu." "Apakah itu
memang sifatnya, Kiai ?” bertanya Mahisa Murti. Kiai Wijang
mengangguk sambil menjawab "Ya. Sifatnya memang demikian. Tetapi
kita masih perlu mengetahui, kenapa ia telah mencampuri hubungan
antara dua orang saudara sepupu yang sejak semula nampak baik dan
rukun sehingga akhirnya justru telah terjadi benturan antara
keduanya. Kitapun harus mencurigai, kenapa orang-orang Sendang Apit
harus m engungsi dan sama sekali tidak mampu bertahan." "Apakah
menurut dugaan Kiai Padepokan Renapati itu langsung ikut melibatkan
diri dalam benturan itu ?” bertanya Mahisa Murti. "Aku tidak
mengkesampingkan kemungkinan itu ngger. Mengingat sifat mPu
Renapati" jawab Kiai Wijang. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam.
Padepokan mPu Renapati itu semakin menarik perhatiannya. Namun
Mahisa Murti sadar, bahwa ia harus berhati-hati untuk berbuat
sesuatu agar Padepokan Bajra Seta tidak terlibat langsung langsung
dalam persoalan yang mungkin akan menjadi semakin berbelit
itu. Sementara itu, Kiai Wijang berkata selanjutnya "Persoalan yang
terjadi itu m emang menarik untuk m endapat perhatian khusus. Karena
itu, maka jika angger tidak berkeberatan, apakah aku diijinkan untuk
tinggal di Padepokan Bajra Seta selama masih belum ada titik -tit ik
terang mengenai per soalan itu ? Bukan maksudku untuk melibatkan
diri, tetapi aku ingin tahu, apa yang dilakukan oleh mPu
Renapati itu. Apa latar belakangnya dan apa pula pamrihnya." "Tentu.
Kiai. Kapan saja Kiai ingin berada di padepokan ini, kami seisi
padepokan tidak akan berkeberatan. " jawab Mahisa Murti.
Sebenarnyalah seperti yang dikatakan, m Pu Wijang untuk
sementara m emang tinggal di Padepokan Bajra Seta. Seperti Mahisa
Murti sendiri, maka Kiai Wijangpun dengan sungguhsungguh mengikuti
perkembangan yang terjadi di Kabuyutan Talang Alun dan
Kabuyutan-kabuyutan di seberang hutan. Namun dalam pada itu, masih
saja ada orang-orang baru yang datang mengungsi m eny eberangi
hutan. Terutama yang mempunyai sanak kadang di Kabuyutan Talang
Alun. Ketakutan mereka terhadap kekalutan yang timbul di Kabuyutan
mereka, benar-benar telah mengatasi ketakutan mereka terhadap
kegarangan hutan yang membujur memanjang yang harus mereka
seberangi bersama perempuan dan anak-anak. Namun akhirnya, Mahisa
Murti tidak dapat sekedar menunggu keterangan dari para pengungsi.
Sesuai dengan pendapat Kiai Wijang, maka sebaiknya mereka langsung
melihat, apa yang telah terjadi di Kabuyutan Sendang Apit.
Bahkan Kiai Wijang dan Mahisa Murti telah sependapat, bahwa mereka
berdua akan meny eberangi untuk melihat apa yang telah terjadi
dibelakang lebatnya hutan yang memisahkan lingkungan mereka dengan
lingkungan seberang. Namun sebelum keduanya berangkat, maka m ereka
telah mendapat laporan, bahwa seorang anak Ki Buyut Sendang Apit
telah berada di padukuhan Logandeng. Seorang anak lakilaki yang
sudah menginjak remaja. "Ada baiknya kita menemuinya" berkata Kiai
Wijang "ia tentu tidak sendiri. Mungkin ada satu dua orang yang
mengawalnya atau oleh Ki Buyut sengaja disingkirkan agar tidak
mengalami kesulitan sebagaimana jika anak itu ikut bertahan di
Kabuyutan Sendang Apit. " Mahisa Murtipun ternyata sependapat.
Karena itu, sebelum mereka benar-benar meny eberangi hutan, maka m
ereka telah pergi ke padukuhan Logandeng untuk menemui anak Ki Buyut
Sendang Apit. Seperti yang pernah dilakukan, maka Mahisa Murti lebih
dahulu telah menemui Ki Bekel. Baru kemudian Ki Bekel telah
mengantarkannya menemui remaja, anak Ki Buyut itu. "Maaf Ki Bekel.
Barangkali kami terlalu merepotkan Ki Bekel" berkata Mahisa Murti.
"Tidak. Tidak ngger. Kami berterima kasih justru karena angger
bersedia membantu kami, memperhatikan keadaan para pengungsi yang
ada di padukuhan kami."jawab Ki Bekel. Demikianlah, bersama Ki
Bekel, Mahisa Murti dan Kiai Wijang telah diantar ke rumah adik Ki
Bekel. Ternyata anak Ki Buyut Sendang Apit itu telah ditempatkan
dalam satu rumah dengan bebahu yang telah mengungsi
sebelumnya. Di rumah itu Mahisa Murti dan Kiai Wijang dapat langsung
bertemu dengan anak Ki Buyut Sendang Apit, yang mengungsi
bersama dua orang pengawalnya. Namun kedua pengawalnya bersikap
sangat berhati-hati. Bahkan agak keras terhadap orang yang belum
dikenalnya. Tanpa Ki Bekel, maka Mahisa Murti dan Kiai Wijang tidak
akan dapat berbicara langsung dengan anak Ki Buyut itu. Bahkan
bersama Ki Bekel pun kedua pengawalnya itu nampak selalu curiga. Ki
Bekel sudah berusaha menjelaskan, bahwa Mahisa Murti adalah pemimpin
Padepokan Bajra Seta yang banyak memberikan bantuan kepada padukuhan
Logandeng bukan sa ja saat sulit seperti saat itu, tetapi sudah
sejak waktu -waktu sebelumnya. Kedua pengawal itu mengangguk-angguk.
Namun kecurigaan mereka nampaknya tidak juga menyusut. Karena itu,
Mahisa Murti dan Kiai Wijang sulit untuk mendapat
penjelasan-penjelasan yang terbuka tentang keadaan Kabuyutan
Sendang Apit. Bebahu yang sudah berada di rumah itu sebelumnya,
yang ikut menemui Mahisa Murti dan Kiai Wijang Juga berusaha
untuk membuka pengertian kedua orang pengawal anak Ki Buyut itu.
Tetapi keduanya masih saja mencurigai setiap orang. Ketika Mahisa
Murti bertanya dimana Ki Buyut Sendang Apit saat itu berada, maka
salah seorang pengawal itu ju stru ganti bertanya "Untuk apa kalian
mengetahuinya?” "Ki Sanak" berkata Kiai Wijang "kami hanya ingin
mendapat gambaran tentang peristiwa yang t erjadi di Kabuyutan
Sendang Apit." "Jika Ki Sanak mengetahuinya, apakah ada gunanya?”
bertanya salah seorang pengawal itu. "Kami memang tidak menjanjikan
bahwa kami akan berguna bagi kalian" jawab Mahisa Murti "kami hanya
tertarik mendengar peri stiwa yang telah mengguncangkan
ketenangan hidup orang banyak itu." "Sekarang kalian sudah
mengetahui bahwa anak ini ada disini. Sebenarnya aku sudah minta
kepada Ki Bekel agar tidak setiap orang diberitahu, dimana anak ini
tinggal. " berkata salah seorang dari kedua pengawalnya itu. Tetapi
Ki Bekellah yang menjawab "Ki Sanak. Bagiku angger Mahisa
Murti dan Kiai Wijang tidak terhitung setiap orang. Mereka bagi kami
adalah orang-orang yang dekat dan bahkan aku dapat mengatakan
bahwa mereka adalah pelindung kami. Bukan saja padukuhan ini, tetapi
juga seluruh Kabuyutan ini. Angger Mahisa Murti pulalah yang
baru kemarin meny elamatkan padukuhan ini dari tangan sekelompok
penjahat yang berniat m erampok para pengungsi disini. Jika
anak-anak muda padukuhan ini mampu memberikan sedikit perlawanan,
maka itu adalah karena angger Mahisa Murti pula.” Kedua pengawal itu
m emang m engangguk-angguk. Tetapi seorang diantara mereka masih
juga berkata "Tetapi Ki Bekel. Sejak semula aku sudah minta agar
anak ini diperlakukan khusus." "Jika aku mengajak angger Mahisa
Murti dan Kiai Wijang datang kemari ini juga dalam rangka perlakuan
khusus itu. Aku tidak m embawa keduanya kepada setiap pengungsi yang
ada di sini. Sebelumnya aku memang mempertemukan angger Mahisa Murti
dengan bebahu yang kini juga berada di sini." "Baik. Ba ik"
jawab salah seorang pengawalnya "tetapi kami tidak dapat memberikan
banyak keterangan tentang Kabuyutan kami. Satu kenyataan yang
telah kalian lihat, bahwa kami harus mengungsi dari Kabuyutan kami
yang sedang kalut itu. Tetapi kami sekarang tidak tahu dimana Ki
Buyut berada." "Baiklah" sahut Mahisa Murti "kami memang tidak ingin
mengetahui dimana Ki Buyut berada. Sebenarnya kami hanya ingin tahu,
kenapa kemelut itu terjadi Apa pula peran mPu Renapati dan
Padepokannya. " Kedua pengawal itu m enggeleng. Seorang diantara
mereka berkata "Kami tidak tahu, Ki Sanak. Yang kami tahu, kami
harus meny elamatkan anak muda ini. Dan itu sudah kami lakukan.
Mudah-mudahan kami dapat m elakukan tugas kami selanjutnya dengan
baik. Tentu saja dengan bantuan Ki Bekel dan para bebahu padukuhan
Logandeng." Namun bebahu Kabuyutan yang sudah berada dirumah itu
lebih dahulu berkata "Aku sudah mengatakan serba sedikit tentang
kemelut yang terjadi. Tetapi aku percaya kepada angger Mahisa
Murti. Bahkan seperti kata Ki Bekel, angger Mahisa Murti telah
melindungi para pengungsi yang ada di padukuhan ini. Baru saja para
pengungsi diselamatkan dari perampokan. Namun m ungkin lain kali
dari kekuatan yang lebih besar dari sekedar perampokan." Kedua
pengawal anak Ki Buyut Sendang Apit itu sama sekali tidak menjawab.
Tetapi kerut didahinya menunjukkan bahwa mereka tidak sependapat
dengan bebahu itu. Mahisa Murti dan Kiai Wijangpun tidak memaksa.
Sementara Ki Bekel merasa kecewa pula atas sikap kedua pengawal itu.
Namun Mahisa Murti kemudian berkata "Baiklah. Aku mengerti sikap
hati-hati para pengawal anak Ki Buyut itu. Mereka belum mengenal
kami, sehingga karena itu, maka mereka tidak langsung dapat
mempercayai kami." Tetapi Ki Bekel menjawab "Mungkin mereka tidak
mengenal angger Mahisa Murti dan Kiai Wijang. Bahkan mungkin mereka
belum pernah m endengar nama Padepokan Bajra Seta. Tetapi seharusnya
mereka mengenal aku dan percaya kepadaku." Wajah kedua pengawal itu
menjadi tegang. Tetapi keduanya tidak mengatakan sesuatu. Mahisa
Murti dan Kiai Wijangpun tidak terlalu lama berada ditempat itu.
Sejenak kemudian m aka keduanya telah m inta diri dan kembali ke
Padepokan Bajra Seta. Kepada Ki Bekel, Mahisa Murti berkata "Sikap
kedua pengawal itu m embayangkan, bahwa kekalutan di Kabuyutan
Sendang Apit telah sampai kepuncaknya. Kedua pengawal itu selalu
dibayangi oleh suasana yang dapat membahayakan anak Ki Buyut
itu, sehingga merekapun menjadi sangat berhatihati." "Bukan sekedar
sangat berhati-hati. Tetapi sudah berlebihan. Sebenarnya aku merasa
tersinggung oleh sikapnya itu." sahut Ki Bekel. "Sudahlah Ki Bekel"
berkata Mahisa Murti kemudian "biarlah untuk sementara kita tidak
mengganggu mereka." "Untunglah mereka berhadapan dengan angger. Jika
tidak, maka tentu akan dapat m enjadi salah paham. Bahkan tanpa
angger, agaknya aku akan ber sikap lain pula." Mahisa Murti terseny
um. Katanya "Lain kali mudahmudahan kita dapat berbicara lebih
banyak dengan mereka.” Kiai Wijangpun kemudian berdesis pula
"Kecemasan telah mencengkam setiap orang di Kabuyutan Sendang Apit.
Bukan sa ja keluarga Ki Buyut, tetapi tentu juga semua penghuninya."
"Tetapi pengawal-pengawal yang dungu itu tidak mau membantu
memberikan gambaran tentang keadaan di Kabuyutannya." Demikianlah,
maka Mahisa Murti dan Kiai Wijangpun telah meninggalkan padukuhan
Logandeng kembali ke Padepokan Bajra Seta. Sambil m elangkah
memasuki gerbang padepokan, Mahisa Murti berkata "Jika kita tidak
berhasil mendapat keterangan tentang Kabuyutan itu disini Kiai, maka
kita lanjutkan saja rencana kita untuk melihat langsung keadaan
kedua Kabuyutan itu." Kiai Wijang mengangguk-angguk. Katanya "Ya.
Kita memang sebaiknya melihat sendiri keadaan Kabuyutan itu.”
Meskipun demikian, maka keduanya masih akan menunggu satu dua hari.
Mungkin ada keterangan-keterangan baru yang dapat m emberikan
petunjuk arah bagi langkah-langkah yang dapat diambil oleh Padepokan
Bajra Seta. Namun dikeesokan harinya, seorang utusan Ki Bekel
memberitahukan, bahwa anak Ki Buyut dari Sendang Apit telah
meninggalkan padukuhan Logandeng. Anak itu telah dibawa oleh para
pengawalnya menemui Ki Buyut Talang Alun dan atas persetujuan Ki
Buyut Talang Alun, anak itu kini berada di rumah Ki Buyut. "Terima
kasih atas pemberitahuan ini" berkata Mahisa Murti "pada suatu saat
kami akan menghadap Ki Buyut Talang Alun." Namun dengan demikian,
Mahisa Murti dan Kiai Wijang telah mengambil kesimpulan, bahwa anak
Ki Buyut itu benarbenar telah terancam. Sehingga kedua pengawalnya
menjadi sangat berhati-hati. Disore hari Mahisa Murti dan Kiai
Wijang dengan mengajak Mahisa Semu yang mulai diperkenalkan
dengan persoalan-persoalan yang lebih luas telah langsung m enemui
Ki Bekel itu sendiri. Sebenarnyalah seperti yang dikatakan
oleh utusannya, bahwa anak Ki Buyut Sendang Apit telah berada di
rumah Ki Buyut Talang Alun. "Bahkan kedua pengawal itu berpesan
dengan lebih bersungguh-sungguh bahwa hal ini jangan sampai
diketahui oleh siapapun." berkata Ki Bekel selanjutnya. "Tetapi Ki
Bekel memberitahukan kepada kami" desis Mahisa Murti sambil ter
senyum. "Kami hanya memberitahukan kepada orang-orang yang
sangat kami percaya. Orang yang aku perintahkan menemui angger
itupun orang yang sangat aku percaya" jawab Ki Bekel. "Jika
demikian, Ki Bekel" berkata Mahisa Murti "keadaan memang menjadi
sangat gawat. Biarlah nanti malam Putut Lembana dan Mahisa Semu
berada di banjar. Kami akan menempatkan ampat orang cantrik pilihan.
Sementara kami akan m engirimkan dua orang Putut yang lain ke
rumah Ki Buyut Talang Alun. Tetapi mereka tidak akan bertemu
langsung dengan Ki Buyut. Mereka m engenal baik anak-anak muda di
Kabuyutan, sehingga biar saja mereka langsung berbaur dengan
mereka."
Jilid 118 "TERIMA KASIH NGGER. Aku
mengerti maksud angger. Agaknya angger mencemaskan kemungkinan ada
orang-orang yang langsung memburu anak Ki Buyut Sendang Apit itu
sampai kemari.” "Ya, Ki Bekel." jawab Mahisa Murti, sementara Kiai
Wijang menyambungnya "Kami membaca naluri kedua pengawal yang tajam
itu, sehingga mereka merasa perlu memindahkan momongannya." Ki Bekel
mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia bergumam "Jika demikian,
maka kami harus bersiap-siap sepenuhnya. " Dengan sungguh-sungguh
Mahisa Murtipun menjawab "Ya. Padukuhan ini harus benar-benar
bersiap. Yang akan dihadapi mungkin bukan sekedar perampok betapapun
kuatnya. Tetapi mungkin satu kelompok khusus yang dikirim untuk
memburu anak ki Buyut Sendang Apit itu." Demikianlah, maka Mahisa
Murti dan Kiai Wijangpun mohon diri. Sementara itu, Ki Bekelpun
langsung memerintahkan anak-anak muda padukuhan itu bersiap-siap.
Bahkan bukan hanya anak-anak muda, tetapi semua laki -laki yang
berani dan masih memiliki tenaga dan kemampuan untuk ikut
mengamankan padukuhan mereka dari pihak manapun juga. Ki Bekel
sendiri tidak hanya sekedar memberi perintah. Tetapi ia sudah
berniat untuk m emimpin langsung kekuatan padukuhan itu jika t
erjadi sesuatu. Dengan demikian, m aka setiap bebahupun telah ikut
bersiap-siap pula menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi.
Menj elang senja, maka seperti yang dikatakan oleh Mahisa
Murti, maka Putut Lembana dan Mahisa Semu telah berada di padukuhan
itu berserta ampat orang cantrik pilihan. Pada waktu yang sama, dua
orang Putut yang lain serta ampat orang cantrik pula telah
berada di padukuhan induk Kabuyutan Talang Alun. Kehadiran anak Ki
Buyut Sendang Apit agaknya telah membuat padukuhan induk Kabuyutan
Talang Alun juga bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan atas
permintaan kedua orang pengawal anak Ki Buyut Sendang Apit itu.
Berbeda dengan kehadiran Putut Lembana dan Mahisa Semu di Logandeng
yang langsung berhubungan dengan Ki Bekel, maka Putut Manyar dan
Putut Parama serta para cantrik yang datang bersamanya, ju
stru langsung berada di banjar bersama anak-anak muda yang sudah
mereka kenal dengan baik. Namun ternyata tidak seorangpun diantara
anak-anak muda yang mengetahui, bahwa anak Ki Buyut Sendang Apit ada
di padukuhan induk itu. Tidak seorangpun yang menyebutnya. Bahkan
seorang bebahu yang ada diantara merekapun tidak menyinggung
bahwa diantara para pengungsi itu terdapat anak Ki Buyut Sendang
Apit. Namun ju stru karena itu, maka kedua Putut dan para cantrik
dari Padepokan Bajra Seta juga tidak menyebut sama sekali tentang
pengungsi yang khusus itu. Ketika malam turun, maka baik di
padukuhan induk, maupun di padukuhan Logandeng, gardu -gardupun
telah berisi. Demikian pula banjar padukuhan. Ki Bekel dan para
bebahu juga sudah berada di banjar pula. Ki Bekel yang duduk
dipendapa banjar bersama Putut Lembana dan Mahisa Semu serta para
bebahu telah membicarakan banyak kemungkinan yang dapat terjadi di
padukuhan itu. Dalam pada itu, maka Putut Lembanapun berkata "Ki
Bekel. Keadaan ini mungkin akan berlangsung untuk waktu yang agak
panjang. Ki Bekel harus berusaha untuk selanjutnya, mengatur
tugas-tugas anak-anak muda. Karena tugas-tugas mereka memerlukan
waktu, maka sebaiknya semua tenaga jangan dihentakkan habis-habisan.
Jika malam ini semua anak muda dan laki-laki keluar dari rumah,
dapat dimengerti, justru pada hari yang pertama. Namun mulai besok,
sebaiknya Ki Bekel mulai menghemat tenaga. Anakanak muda dan laki
-laki di padukuhan ini dapat diatur bergantian. Dengan demikian maka
tenaga mereka tidak terhambur sia -sia.” Ki Bekel mengangguk-angguk.
Katanya "Aku sependapat ngger. Tetapi hari ini aku tidak sempat
melakukannya. Tetapi malam nanti, menjelang dini, aku akan memanggil
para bebahu untuk mengatur kegiatan di malam-malam berikutnya."
Tetapi pembicaraan mereka terputus ketika dua orang anak muda naik
ke pendapa banjar dengan tergesa -gesa. "Ada apa ?" bertanya Ki
Bekel. "Ki Bekel" jawab salah seorang dari anak muda itu "aku
melihat sekelompok orang yang tidak dikenal mendekati padukuhan ini.
" "Mungkin mereka sekelompok pengungsi yang baru datang" desis
Ki Bekel. "Tidak. Mereka semuanya laki-laki bersenjata. " Ki Bekel
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya " aku akan ke pintu
gerbang padukuhan." "Mereka sudah semakin dekat. Kami yang berada di
bulak berlari lewat pematang dan tanggul parit mendahului mereka."
berkata salah seorang dari keduanya. Ki Bekelpun dengan tergesa
-gesa telah ber siap m enuju ke regol padukuhan. Putut Lembana,
Mahisa Semu dan para bebahupun ikut pula bersamanya. Sementara
anak-anak muda dan laki -laki yang ada di banjar diminta
mempersiapkan diri. "Hubungi gardu-gardu per onda. Kalian datang
kepada mereka. Jangan bunyikan isyarat lebih dahulu sebelum semuanya
jelas. Mungkin kita memang tidak perlu membunyikannya. Anak-anak
muda yang ada di gardu dibelakang regol akan dapat menjadi
penghubung jika baik sekali. " Demikianlah, maka Ki Bekel serta
beberapa orangpun telah menuju ke regol padukuhan. Beberapa saat
mereka menunggu. Sementara itu kepada beberapa orang anak muda yang
ada di gardu dibelakang reg ol, Ki Bekel minta mereka mengamati
keadaan. Mungkin mereka memang tidak melewati regol padukuhan. "Buat
hubungan dari gardu ke gardu untuk mengamati seluruh jalan masuk ke
padukuhan ini." berkata Ki Bekel kepada anak-anak muda yang
sedang meronda. Anak-anaK muda yang sedang meronda itupun sea-era
menjalankan tugas sebagaimana diperintahkan oleh Ki Bekel. Mereka
segera memencar untuk menghubungi gardu-gardu yang ter sebar.
Beranting perintah Ki Bekel itupun dalam waktu yang singkat telah
sampai kepada para per onda di gardu-gardu terutama yang dekat
dengan jalur jalan memasuki padukuhan itu. Untuk beberapa saat Ki
Bekel menunggu. Demikian pula anak-anak m uda yang m engawasi
setiap pintu regol. Namun mereka tidak melihat seorangpun. Bahkan
para peronda itu tidak saja m engawasi jalan-jalan masuk, tetapi
juga dinding padukuhan yang seakan-akan setiap jengkal
mendapat pengawasan yang sungguh-sungguh. Putut Lembana yang berada
di regol induk bersama Ki Bekel itu dengan kepekaan panggraitannya
merasakan satu kejanggalan. Sekelompok orang itu tentu sudah berada
disekitar padukuhan itu. Mungkin mereka sengaja menunggu. Tetapi
mungkin tidak. Karena itu, seakan-akan demikian tiba-tiba ia berkata
"Ki Bekel, aku akan pergi ke banjar. Aku ingin melihat rumah tempat
anak Ki Buyut Sendang Apit itu kemarin tinggal, sebelum dipindahkan
kerumah Ki Buyut Talang Alun. " "Untuk apa ?" bertanya Ki Bekel.
"Aku akan melihatnya " jawab Putut Lembana. Lalu katanya kepada
Mahisa Semu" Marilah. Kita lihat rumah itu.” Dengan tergesa-gesa
Putut Lembana dan Mahisa Semu telah pergi ke banjar. Namun sebelum
mereka sampai, ternyata mereka telah melihat keributan yang terjadi.
Demikian Putut Lembana sampai ke banjar, maka iapun segera bertanya
"Apa yang terjadi ?" "Beberapa orang telah mendatangi rumah sebelah
" jawab anak muda itu. "Dimana para cantrik sekarang ?" bertanya
Mahisa Semu "Mereka telah pergi kerumah sebelah," jawab anak muda
itu. Lalu katanya pula "Kawan-kawan juga sudah pergi kerumah
sebelah." Putut Lembana dan Mahisa Semupun segera berlari Putut
Lembana itu sempat berdesis "Aku sudah mengira Mereka tentu bukan
orang kebanyakan. Mereka mampu memasuki padukuhan ini tanpa
diketahui oleh para peronda dan anakanak muda yang bertugas."
"Kenapa mereka mendatangi rumah itu ?" bertanya Mahisa Semu. "Mereka
mengira bahwa anak Ki Buyut Sendang Apit masih berada ditempat itu.
" Mahisa Semu tidak sempat bertanya lagi. Mereka telah memasuki
halaman rumah saudara Ki Bekel yang sebelumnya menjadi tempat
tinggal ai.ak Ki Buyut Sendang Apit yang telah mengungsi dari
Kabuyutannya yang sedang kalut. Pertempuran m emang telah t
erjadi di halaman rumah itu Para cantrik telah terlibat pula
didalamnya selain beberapa orang anak muda. Bebahu Sendang Apit
yang mengungsi dirumah itupun telah ikut bertempur pula
bersama anak-anak muda Logandeng. Namun sebenarnyalah bahwa
orang-orang yang datang menyerang itu memiliki beberapa kelebihan
dari anak-anak muda Logandeng. Untunglah para cantrik sudah ada
diantara mereka, sehingga meskipun hanya ampat orang, namun para
cantrik itu dapat memberikan kekuatan dan lebih dari itu, keempat
cantrik yang bertempur dengan garangnya itu menjadi pendor ong
jiwani bagi keberanian anak-anak muda Logandeng sebagaimana saat
mereka bertempur dengan sekelompok perampok yang dipimpin oleh
Jaran Abang. Kedatangan Putut Lembana dan Mahisa Semu ternyata telah
membangkitkan keberanian yang semakin tinggi. Beberapa orang
anak muda diluar sadarnya tiba -tiba saja sudah bersorak, sehingga
sekelompok orang yang m eny erang padukuhan Logandeng itu t
erkejut. Merekapun segera sadar, bahwa yang datang itu tentu
orang-orang yang dianggap penting oleh anak-anak muda Logandeng itu.
Sebenarnyalah ketika Putut Lembana dan Mahisa Semu mulai turun
kegelanggang, maka orang-orang yang datang menyerang itu mengetahui
dengan pasti, bahwa dua orang anak muda itu memiliki banyak
kelebihan dari anak-anak muda yang lain. Pemimpin sekelompok orang
yang meny erang padukuhan itupun telah berusaha untuk dapat langsung
menghadapi Putut Lembana. Sementara itu, Putut Lembanapun tidak
menghindarinya. "Kau tentu bukan bagian dari anak-anak muda
Logandeng" geram lawannya itu. "Kenapa ? Aku adalah bagian dari
mereka. Aku kemanakan Ki Bekel Logandeng " jawab Putut Lembana.
"Omong kosong" geram orang itu sambil menyerang. Dengan tangkas
Putut Lembana menghindari serangan itu. Bahkan iapun telah mulai
meny erang pula dengan cepatnya. Sementara itu, lawannya itu
bertanya pula "Dimana kau sembunyikan anak itu he ?" "Anak yang mana
?" jawab Putut Lembana. "Jangan berpura-pura. Jika kami tidak m
enemukan anak itu, maka padukuhan ini akan kami hancurkan." geram
orang itu. "Kau salah menilai kemampuan anak-anak muda Logandeng"
jawab Putut Lembana" tetapi semuanya sudah terlanjur. Kau sudah
terlanjur menginjak bumi Logandeng. Kau telah membasahi bumi kami
dengan darah. Karena itu, maka kalian tidak akan dapat keluar lagi
dari padukuhan ini. Kemungkinan terbaik bagi kalian hanyalah meny
erahkan diri. Karena kami tidak terbiasa membunuh orang yang sudah
menyerah.” Orang itu benar-benar menjadi m arah. Ia m erasa terhina
oleh kata-kata Putut Lembana. Karena itu, maka iapun kemudian meny
erang dengan garangnya. Tetapi Putut Lembana dengan tangkasnya
menghindari serangan itu dengan loncatan panjang. Lawannya mengira
bahwa Putut Lembana itu terdesak. Tetapi Putut Lembana justru
tertawa sambil berkata "Apakah kau benar-benar orang Pudaklamatan?
Atau kau datang dari Padepokan Kencana Pura yang lebih dikenal
dengan Padepokan Renapati?" "Setan kau. Darimana kau dapat meny ebut
semuanya” Putut Lembana meloncat menghindari serangan lawannya.
Namun ia sempat bertanya pula "Siapa namamu he? Kau kira aku tidak
dapat m elihat bahwa ada beberapa orang diantara kalian yang
memiliki unsur gerak yang senafas. Tentu kemampuan itu kajian terima
dari sebuah perguruan” "Tutup mulutmu. Aku akan membunuhmu" geram
orang itu. Putut Lembana tidak bertanya lagi. Pertempuran diantara
keduanya menjadi semakin sengit. Tetapi justru Putut Lembana
mengenali kesamaan unsur gerak dari beberapa orang kawannya, maka
seakan-akan tanpa menyadarinya, iapun mulai memperhatikan beberapa
orang yang mengaku anak-anak muda Padukuhan Logandeng. Pada
setiap kesempatan ia mencoba mengenali unsur gerak anak-anak muda
yang bertempur dihalaman. Ternyata orang itupun mampu mengenali
kesamaan antara beberapa orang yang ternyata adalah para cantrik
dari Padepokan Bajra Seta. Hampir diluar sadarnya pula orang itu
berteriak "He, siapa sebenarnya kau dan beberapa orang yang ada
disini, he? Jika kau dapat menyebut aku dari sebuah perguruan,
bukankah kau dan beberapa orang kawanmu juga datang dari sebuah
perguruan?" "Ya " jawab Putut Lembana "seorang yang berilmu telah
datang hampir setiap pekan dua kali untuk melatih kami, anak-anak
muda Logandeng dalam olah kanuragan. Memang tidak semua, tetapi
sebagian dari kami." Orang itu menggeram marah. Dengan serta merta
ia meningkatkan kemampuannya meny erang Putut Lembana bagaikan arus
banjir bandang. Tetapi Putut Lembana ternyata cukup tangkas.
Seranganserangan lawannya dapat dihindarinya. Bahkan sekali-sekali
iapun telah membalas menyerang pula. Bahkan seranganserangan Putut
Lembana cukup mengejutkan lawannya. Sementara itu, Mahisa Semupun
bertempur dengan sengitnya pula. Ia menghadapi seorang yang
bertubuh sedang. Namun wajahnya nampak garang. Seleret bekas luka
terdapat dikeningnya, Kepalanya yang botak membuat kesan tersendiri.
Namun Mahisa Semu dengan tangkasnya melawan orang berkepala botak
itu. Dengan cepat ia berloncatan menghindari serangan-serangan yang
keras. Namun tiba-tiba saja Mahisa Semulah yang meloncat meny erang.
Lawannya memang m emiliki pengalaman yang lebih luas. Tetapi
bahwa Mahisa Semu yang telah ditempa di Padepokan Bajra Seta,
telah m embuat lawannya kadang-kadang m enjadi bingung. Mahisa Semu
yang bagi lawannya masih t erlalu muda itu, ternyata sulit
untuk dapat dikuasainya. Mahisa Semu yang telah m endalami
latihan-latihan untuk membangunkan tenaga dalamnya itu, benar-benar
telah mengejutkan lawannya ketika sekali-sekali terjadi benturan
Anak yang masih sangat muda itu ternyata telah memiliki kekuatan
yang sangat besar, serta kemampuan ilmu yang mendebarkan.
Bahkan ketika pertempuran itu menjadi semakin sengit. Mahisa Semu ju
stru mulai berhasil menyusupkan seranganserangannya disela -sela
pertahanan lawannya. Lawannya yang berkepala botak itu
terkejut ketika kaki Mahisa Semu ternyata mampu menggapai lambungnya
sehingga orang berkepala botak itu terdorong selangkah surut. Orang
itu meny eringai kesakitan. Namun mulutnya telah mengumpat kasar.
Mahisa Semu yang melihat lawannya mengambil jarak, justru tidak m
emburunya. Ia berusaha m enahan diri untuk melihat akibat dari
serangannya. "Anak iblis" geram orang berkepala botak itu "kau
benarbenar tidak tahu diri. Kau kira bahwa seranganmu itu benarbenar
dapat m engenai tubuhku. Jika sekali kau berhasil itu karena aku
ingin mencoba, seberapa jauh kekuatan serta ketrampilanmu." "Apakah
kau sudah dapat menilai hasilny a?" bertanya Mahisa Semu. "Gila kau.
Aku koyakkan mulutmu" geram orang itu. Mahisa Semu memang tidak
berbicara lebih banyak lagi. Namun serangan-serangannya yang
kemudian datang seperti badai yang menghantam dan mengguncang
pepohonan Orang berkepala botak itu harus melihat kenyataan. Anak
yang masih sangat muda itu ternyata benar-benar telah menggetarkan
jantungnya. Beberapa kali orang berkepala botak itu harus
berloncatan mundur. Orang berkepala botak itu tidak menunggu lebih
lama lagi. Sementara itu anak-anak muda menjadi semakin banyak
berdatangan. Bahkan kemudian Ki Bekel dan beberapa bebahu yang
mendapat laporan segera datang pula. Karena itulah, m aka
orang-orang yang datang m eny erang itu harus memperhitungkan
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Namun ternyata bahwa
orang-orang yang datang itu cukup licik. Dua orang diantara mereka
telah meny elinap masuk melalui pintu butulan. Karena pintu itu
diselarak dari dalam, maka pintu itu telah dirusak dan dipecahkan
dari luar. Dua orang itu sempat menerobos masuk ke dalam dan mencari
anak Ki Buyut Sendang Apit yang mereka cari. Kedua orang itu
telah m enggemparkan orang-orang yang ada didalam rumah itu.
Beberapa orang perempuan telah berteriak. Sementara semua laki -laki
telah keluar ikut bertempur di halaman rumah itu. Termasuk bebahu
yang mengungsi ketempat itu serta adik Ki Bekel itu sendiri. Tetapi
kedua orang itu tidak menemukan yang mereka cari. Didalam rumah itu
tidak ada seorang anak laki -laki remaja. Juga pengawal-pengawalnya
tidak kelihatan berada di rumah itu. Sementara itu jerit perempuan
didalam rumah itu telah mengundang perhatian anak-anak muda
yang ada didalam halaman. Karena itu, m aka beberapa orang
diantara mereka telah meloncat berlari kepintu pringgitan. Seorang
cantrik yang melihat m erekapun telah m enyusul pula sambil berkata
"Tunggu” "Aku dengar jerit didalam rumah." berkata seorang anak
muda. Cantrik itu tidak menjawab. Tetapi dengan pedang ditangan ia
berdiri di depan pintu pringgitan yang terbuka sedikit. "Kenapa kau
justru berhenti disitu?" bertanya seorang anak muda. Cantrik itu
masih tidak menjawab. Namun perlahanlahan ia berkisar. Dengan
hatihati ia memperhatikan keadaan diruang dalam. Beberapa orang
perempuan berdiri ketakutan. Namun cantrik itu sempat membaca arah
pandangan mata perempuan2 itu lewat pintu yang sedikit terbuka itu.
Karena itu, maka dengan serta merta cantrik itu telah menendang
pintu yang sedikit terbuka itu. Sekaligus meloncat dengan
pedang terjulur. Seperti yang diperhitungkan, maka seorang
diantara kedua orang yang ada didalam rumah itu telah mengayunkan
senjatanya menebas kearah leher cantrik itu. Tetapi cantrik itu
telah bersiap sepenuhnya. Karena itu, dengan tangkasny a ia merendah
dan sekaligus m eloncat menjauhi pintu. Sementara itu ujung tombak
dari seorangyangsatu lagi telah terjulur pula. Tetapi sekali lagi
cantrik itu meloncat menjauh. Pa da saat itu, dua orang anak muda
telah menerobos masuk pula, sementara cantrik itu berteriak
"Hati-hati." Tetapi seorang diantara kedua orang yang telah
berada didalam, yang siap meny erang anak-anak muda itu ju stru
harus meloncat menghindari serangan cantrik yang sudah lebih dahulu
masuk. Sedangkan kedua orang anak muda yang menyusul kemudian itupun
segera bersiap m enghadapi orang yang satu lagi. Ketika dua orang
anak muda yang lain masuk pula kedalam, maka cantrik itupun berkata
"jaga perempuan dan anak-anak itu.” Namun nampaknya kedua orang yang
menyelinap masuk itu tidak ingin bertempur diruang dalam yang
sempit. Tetapi mereka juga tidak mau keluar lewat pintu depan,
karena dengan demikian maka mereka akan sampai di pringgitan. Karena
itu, maka terdengar isyarat dari salah seorang diantara m ereka.
Sebuah suitan nyaring telah m enggetarkan seisi rumah itu. Bahkan
getarannya terdengar sampai ke halaman. Kedua orang yang sudah ada
didalam itupun dengan serta merta telah m eloncat m eninggalkan
ruang dalam m enembus pintu samping masuk ke serambi dan berlari
keluar pintu butulan. Pintu yang telah mereka pecahkan ketika
mereka memasuki bagian dalam rumah itu dengan tidak melalui pintu
depan. Ternyata isyarat itu bukan sekedar isyarat untuk berlari
keluar dari ruang dalam. Tetapi juga isyarat, yang memberitahukan
bahwa didalam rumah itu tidak terdapat orang yang mereka cari.
Didalam rumah itu tidak diketemukan anak Ki Buyut Sendang Apit.
Tidak pula para pengawalnya. Isy arat itu terdengar sahut menyahut.
Yang seorang memberikan isy arat yang didengar oleh yang lain. Yang
lainpun telah memperdengarkan isyarat pula. Namun dalam pada itu,
Putut Lembana yang bertempur dengan pemimpin kelompok dari
orang-orang yang menyerang itu m endengar pula isy arat itu. Karena
itu, maka serangan-serangan justru menjadi semakin sengit. Ia sama
sekali tidak berniat untuk memberi kesempatan orang itu melarikan
diri dari arena. Pertempuran itu m emang menjadi semakin sengit.
Orangorang yang datang meny erang itu merasa telah terjebak dalam
satu pertempuran yang rapat, sehingga sulit bagi mereka untuk
melarikan diri dari arena. Satu dua orang diantara mereka memang
telah menjadi korban dalam pertempuran itu. Sementara itu, cantrik
yang bertempur didalam rumah, serta anak-anak muda yang
bersamanya, ternyata m engalami kesulitan untuk mengejar kedua orang
yang melarikan diri itu. Keduanya dengan cepat berpencar dan masuk
kedalam gelap. Cantrik dan anak-anak m uda yang mengejarnya
ternyata telah kehilangan jejak. Ketika mereka menyusul buruan
mereka meloncati dinding halaman, maka orang yang mereka kejar itu
telah hilang. Cantrik itupun bersama dengan anak-anak muda yang ikut
mengejar buruan mereka akhirnya harus kembali ke halaman, menyatukan
diri dengan kawan-kawan mereka yang telah mengepung halaman
itu. Tetapi beberapa orang diantara mereka ternyata tidak menunggu
lebih lama lagi, Ketika mereka mendengar isyarat itu, maka merekapun
dengan serta merta telah berusaha untuk mencari jalan keluar dari
halaman rumah itu. Pemimpin kelompok mereka ternyata tidak mampu
berbuat sesuatu. Demikian pula orang yang sedang bertempur
melawan Mahisa Semu. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk
meninggalkan arena. Putut Lembana dan Mahisa Semu tanggap akan isy
arat yang terdengar, sehingga justru karena itu, maka mereka
menjadi seakan-akan semakin lekat dengan lawan-lawan mereka. Tetapi
beberapa orang memang sempat melarikan diri, sedang yang lain lagi
harus menyerah karena mereka tidak mempunyai pilihan lain. Namun
lawan Putut Lembana itu seakan-akan tidak menghiraukan apa
yang telah t erjadi. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya,
ia berusaha untuk menguasai Putut Lembana. Namun ternyata usahanya
sia -sia. Putut Lembana yang sudah ditempa di Padepokan Bajra Seta
itu ternyata mampu mengimbanginya, bahkan kemudian semakin jelas,
bahwa Putut Lembana memiliki kelebihan dari lawannya. Sedangkan yang
bertempur melawan Mahisa Semu menjadi seperti orang yang sedang
mabuk. Lawannya yang masih muda itu sama sekali tidak memberi
kesempatan kepada lawannya untuk mengambil jarak. Setiap kali
lawannya meloncat surut, maka dengan cepat Mahisa Semu telah
memburunya. Bahkan kemudian sekali-sekali serangan Mahisa Semu yang
masih terlalu muda itu justru mulai menyusup menembus pertahanan
lawannya. Lawannya yang semula menganggap bahwa Mahisa Semu tidak
lebih dari seorang anak kecil, menjadi gugup ketika keningnya
ternyata mulai tersentuh tangan Mahisa Semu terayun menebas dengan
kerasnya, sementara orang itu menghindari dengan m enundukkan
kepalanya, Mahisa Semu telah memanfaatkan kesempatan itu
sebaik-baiknya. Demikian orang itu menunduk, maka dengan pukulan
yang keras, Mahisa Semu meny erang kepala yang botak itu dengan sisi
telapak tangannya pula. Orang itu mengaduh tertahan. Namun kepalanya
yang tunduk itu menjadi semakin menunduk. Hampir bersamaan
dengan itu, maka Mahisa Semu telah mengangkat lututnya, sehingga
lutut itu telah membentur hidung orang yang berkepala botak itu .
Sekali lagi orang itu mengaduh. Wajahnyapun segera terangkat. Namun
Mahisa Semu yang belum berpengalaman itu, justru menghentikan
serangannya ketika ia melihat darah dihidung lawannya yang telah
membentur lututnya. Kesempatan itu dipergunakan oleh lawannya untuk
meloncat mengambil jarak. Ketika Mahisa Semu meloncat memburunya,
langkahnya tertegun. Lawannya itu mengacukan parangnya sambil
berkata "Semula aku segan mempergunakan senjata, karena aku mengira
bahwa lawanku tidak lebih dari anak-anak yang baru lepas menyusu.
Ternyata lawanku tidak kurang dari anak serigala yang liar dan buas”
Mahisa Semu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun telah m
enarik luwuknya yang memiliki nilai tersendiri bagi anak muda itu.
"Bagus" berkata lawannya yang hidungnya berdarah "Apaboleh buat. Kau
akan m ati karena senjataku. Meskipun aku tidak berhasil memutar
lehermu sampai patah dan terpaksa m empergunakan senjata, namun
kematianmu akan memberikan kesadaran kepada kawan-kawanmu bahwa
anakanak muda padukuhan Logandeng tidak mempunyai kelebihan apa-apa
dari anak-anak muda yang lain. " Mahisa Semu sama sekali tidak
menjawab. Tetapi dengan loncatan panjang anak itu mulai menyerang.
Pertempuran berikutnya merupakan pertempuran yang sengit.
Kedua senjata itu berputaran dengan cepat. Sekalisekali senjata itu
beradu. Namun ternyata bahwa tenaga Mahisa Semu semakin lama justru
m enjadi semakin mapan. Sementara tenaga lawannya menjadi semakin
menyusut. Tetapi lawan Mahisa Semu memang m emiliki pengalaman yang
lebih banyak. Karena itu, maka dengan pengalamannya yang panjang
itu, orang berkepala botak itu sekali dua kali mampu menipu Mahisa
Semu dengan gerakan-gerakan yang cepat dan mengejutkan. Mahisa Semu
terkejut ketika perasaan pedih meny engat lambungnya. Sehingga
karena itu, maka Mahisa Semulah yang meloncat mengambil jarak.
Terasa bahwa cairan yang hangat mengalir dari lambungnya itu. Ujung
senjata lawannya telah meny entuh kulitnya, sehingga seleret luka
telah menganga. Kemarahan anak muda itu telah membakar jantungnya.
Karena itu, maka ia tidak lagi mengekang diri. Lawannya ternyata
telah melukainya. Dengan garangnya Mahisa Semupun telah mengerahkan
segenap kemampuannya. Justru sebelum tenaganya menjadi jauh susut,
jika darahnya tidak segera menjawab pampat. Karena itulah, maka
pertempuranpun menjadi semakin sengit. Keduanya saling meny erang
dan bertahan. Tetapi Mahisa Semu yang telah ditempa dengan
sungguhsungguh itu ternyata mempunyai peluang yang lebih
banyak. Meskipun ia telah terluka, namun serangan-serangannya justru
menjadi semakin berbahaya. Lukanya merupakan cambuk baginya untuk
meny elesaikan lawannya. Lawannya benar -benar mengalami kesulitan.
Seranganserangan Mahisa Semu benar-benar tidak dapat dibendung lagi.
Meskipun lambungnya telah tergores ujung senjata, tetapi tenaga dan
kemampuannya sama sekali tidak menyusut. Itulah sebabnya, maka
lawannya benar-benar menjadi cemas. Beberapa kali luwuk Mahisa Semu
berdesing ditelinganya. Bahkan semakin lama rasa-rasanya ujung
senjata Mahisa Semu itu semakin dekat diwajah kulitnya. Lawan Mahisa
Semu yang berkepala botak itu benar-benar mengalami kesulitan.
Rasa-rasanya ia sudah tidak akan mendapat kesempatan lagi untuk
dapat meny entuh kulit anak muda itu dengan senjatanya. Bahkan orang
itu terkejut ketika tiba-tiba saja ujung luwuk Mahisa Semu itu
sempat menggapai pundaknya. Orang itu m eloncat jauh kebelakang.
Memang ada niatnya untuk melarikan diri. Tetapi rasa-rasanya sulit
baginya untuk mendapatkan kesempatan karena Mahisa Semu selalu
melekat dengan senjata berputaran. Jika ia m encoba untuk melarikan
diri, maka punggungnya akan dapat dilubangi dengan luwuk oleh anak
itu. Namun untuk bertempur terus rasa-rasanya memang sia -sia saja.
Sementara itu, lawan Putut Lembana mengalami kesulitan pula.
Pemimpin kelompok itu benar-benar tidak akan mampu mengalahkan Putut
Lembana. Tetapi justru karena ia diserahi untuk bertanggung jawab
atas tugas kelompoknya, maka rasarasanya ia tidak akan dapat begitu
saja meninggalkan arena itu. Kegagalan itu akan dapat menghancurkan
namanya. Ia akan menjadi tidak berharga lagi bagi pemimpinnya dan
bahkan perguruannya, justru pada saat ia mulai merayap untuk
menggapai satu kedudukan yang terhormat. Karena itu, maka
orang itu harus membuat satu pilihan diantara beberapa kemungkinan.
Melarikan diri tanpa menghiraukan kawannya yang masih bertempur.
Tetapi kemudian namanya akan dicampakkan di lubang sampah dan bahkan
mungkin akan ditimbun dengan sampah pula atau bahkan akan dibakar
sama sekali. Atau ia harus memilih untuk mati di pertempuran itu.
Meskipun ia tidak begitu jelas untuk apa sebenarnya ia m ati.
Sedangkan kemungkinan yang lain adalah menyerah saja. Namanya
tentujuga akan terlempar dari deretan nama-nama laki-laki jantan di
perguruannya. Tetapi ia tidak akan mengalami siksaan penghinaan
diantara saudarasaudara seperguruannya. Karena itu, maka orang itu
telah memilih kemungkinan yang terakhir. Ketika ia semakin terdesak
dan mengalami kesulitan untuk melepaskan diri dari putaran serangan
Putut Lembana, maka ia tidak mempunyai pilihan lain. Ketika
punggungnya sudah melekat dinding halaman, m aka orang itu
benar-benar telah berputus asa. Ia tidak akan sempat meloncat k
eatas dinding, karena justru jika ia melakukannya, maka lawannyaakan
dapat menyerangnya dan bahkan menghancurkan tulang punggungnya.
Karena itu, maka pemimpin kelompok orang-orang yang menyerang
padukuhan itupun berteriak sambil mengacukan tangannya kedepan,
seakan-akan ingin menahan agar lawannya tidak bergeser lebih dekat
lagi "Aku m enyerah. Aku menyerah." Putut Lembana menahan dirinya.
Sebenarnya ia sudah siap meloncat m enyerang lawannya yang sudah
tidak mempunyai banyak k esempatan itu. Ia berharap dengan demikian,
maka pertempuran itu akan segera berakhir. Tetapi ternyata lawannya
telah menyatakan untuk menyerahkan diri. Namun dalam pada itu, lawan
Mahisa Semu terlambat untuk melemparkan senjatanya dan menyatakan
diri menyerah. Sesaat sebelum pemimpin kelompoknya itu menyerah,
Mahisa Semu telah meloncat dengan garangnya. Senjata t erjulur lurus
mengarah kedada lawannya. Namun dengan sekuat tenaganya berusaha
menangkis serangan itu dengan menebas senjata Mahisa Semu kesamping.
Tetapi Mahisa Semu m engurungkan serangannya. Senjata itu tibatiba
menggeliat. Luwuk Mahisa Semu tidak menusuk kearah jantung, tetapi
kemudian terayun mendatar. Lawannya terkejut. Tetapi ia masih sempat
menghindar. Tetapi serangan berikutnya, senjata itu telah m ematuk
lurus kembali. Lawannya yang berkepala botak itu hanya sempat
memiringkan tubuhnya. Karena itu, maka ia tidak mampu melepaskan
diri sepenuhnya dari garis serangan lawannya yang masih sangat muda
itu. Terdengar orang itu m engaduh ketika luwuk Mahisa Semu itu
menembus sela-sela tulang iganya. Mahisa Semu ju stru terkejut
ketika ia merasa bahwa tusukannya itu mengenai tubuh lawannya.
Dengan serta merta ia menarik luwuknya, bahkan seakan-akan diluar
kehendaknya sendiri. Namun dengan demikian, maka darah seakan-akan
telah memancar dari luka itu. Beberapa saat orang itu
terhuyunghuyung. Namun kemudian orang berkepala botak itupun telah
jatuh terjerembab. Dua orang kawannya yang telah meny erah
lebih dahulu tiba -tiba bangkit berdiri. Tetapi beberapa ujung
senjata dengan cepat telah teracu dan bahkan ada yang melekat
ditubuh mereka. Namun seorang cantrik yang ada diantara mereka
berkata "Biarlah mereka melihat keadaan kawannya. " Anak-anak m uda
yang hampir saja menekan ujung-ujung senjata mereka pada kulit orang
itu, telah bergeser surut. Sementara cantrik itu berkata "Lihat
keadaan kawanmu itu.” Kedua orang itupun segera m enghampiri
kawannya yang terbaring sambil meny eringai menahan sakit.
Darah mas:h sa ja dengan derasnya mengalir dari lukanya yang parah.
Cantrik itupun kemudian mendekati pula. Katanya "Tahan dengan kain
agar darah itu tidak terlalu banyak keluar.” Kemudian katanya kepada
seorang anak muda "Tolong, cari air." Sementara menunggu, anak muda
yang mencari air, Putut Lembana yang telah memaksa lawannya
untuk meny erah itupun kemudian memanggil salah seorang cantrik dan
menyerahkan lawannya itu dalam pengawasannya, sedang Putut Lembana
sendiri telah mendekati orang yang terluka parah itu pula. Ketika
anak muda yang mencari air itu datang dengan membawa air
ditempayan maka cantrik itupun berusaha untuk mengurangi arus darah
itu dengan m enaburkan obat pada luka itu. Namun kemudian juga
melarutkan obat yang lain kedalam air dan dituangkannya
perlahan-lahan kedalam mulut orang yang berkepala botak itu.
"Nampaknya sebagaimana orang yang bertempur melawanku, orang ini
termasuk orang penting diantara mereka yang meny erang
padukuhan ini" desis Putut Lembana ditelinga cantrik itu "karena
itu, usahakan agar ia dapat bertahan. Mungkin ia akan dapat
memberikan keterangan atau setidak-tidaknya melengkapi k eterangan
kawannya yang menyerah itu." Demikianlah, maka pertempuran dirumah
saudara Ki Bekel itu sudah selesai. Beberapa orang m eny erah,
yang lain lukaluka. Bahkan mereka terpaksa menyerahkan dua
orang korban yang tidak dapat diselamatkan. Sementara ada pula
diantara mereka yang sempat melarikan diri. Namun ada pula
diantara anak-anak muda Logandeng yang menjadi korban. Tetapi
dengan jumlah yang lebih banyak, serta hadirnya Putut Lembana
dan para cantrik, nampaknya telah m ampu memperkecil korban.
Meskipun demikian ada enam orang anak muda yang terluka. Dua
diantaranya cukup berat. Sementara itu lebih dari lima orang
yang lain telah tergores senjata pula. Meskipun mereka hanya
terluka ringan, tetapi mereka tetap memerlukan pengobatan yang baik.
Atas ijin Ki Bekel, maka pemimpin kelompok yang bertempur
melawan Putut Lembana itu akan menjadi sumber keterangan tentang
keadaan diseberang hutan. Karena itu, maka orang itupun akan
ditempatkan terpisah dari kawankawannya. Bahkan Ki Bekel itupun
berkata "Biar orang itu berada di rumahku." Ternyata Putut Lembana
tidak membuang banyak waktu. Segala sesuatunya diserahkannya kepada
para cantrik, sementara Putut Lembana telah mengajak Mahisa Semu
untuk pergi ke rumah Ki Bekel. "Kita tidak perlu menunggu sampai
esok pagi" berkata Putut Lembana sambil mengobati luka Mahisa Semu
"malam ini k ita minta untuk dapat langsung berbicara dengan orang
itu." "Apakah Ki Bekel mengijinkan?" bertanya Mahisa Semu. "Ki Bekel
tidak berkeberatan" jawab Putut Lembana "aku sudah menghubunginya."
Demikianlah, seperti yang dikatakan, Putut Lembana dan Mahisa
Semupun telah berada dirumah Ki Bekel. Tawanan itupun telah dibawa
kerumah itu pula dengan pengawalan yang kuat. Seorang cantrik dan
lima orang anak m uda telah menjaga orang yang dianggap sangat
berbahaya itu. Dirumah Ki Bekel, orang itu telah ditempatkan
disebuah bilik digandok kanan. Diserambi duduk mereka yang mengawal
orang itu serta dua orang bebahu yang datang pula kerumah itu.
Sementara beberapa orang anak muda yang lain yang mengawal rumah dan
keluarga Ki Bekel masih tetap berada di pendapa. Putut Lembana,
Mahisa Semu dan Ki Bekel kemudian juga berada didalam bilik tempat
pemimpin kelompok yang datang menyerang padukuhan Logandeng
itu ditahan. "Ki Sanak" berkata Putut Lembana "sebenarnyalah bahwa
kami ingin mengetahui, apa yang telah terjadi di seberang
hutan itu, sehingga banyak sekali orang yang harus pergi
mengungsi. Dipadukuhan ini saja terdapat beberapa keluarga sehingga
mau tidak mau akan berpengaruh pada tatanan kehidupan dan
kesejahteraan orang-orang Logandeng sendiri. Apalagi jika hal
seperti ini akan berlangsung lama." "Aku letih sekali" berkata orang
itu "aku minta waktu untuk beristirahat. Yang letih bukan saja
tubuhku, tetapi juga penalaranku dan bahkan juga ingatanku." "Aku
juga letih Ki Sanak" jawab Putut Lembana. Lalu ia bertanya "Bukankah
kita baru saja bertempur? Apa yang kau lakukan, juga aku lakukan."
"Tidak " jawab orang itu "aku sudah berjalan melintasi hutan yang
lebat itu." "Aku y akin kau tidak letih. Kau seorang yang berilmu
tinggi, sehingga kaupun tentu pernah ditempa sehingga kau tentu
mempunyai daya tahan yang sangat kuat. "Tidak. Aku tidak
mempunyai day a tahan yang kuat. Sekarang aku ingin beristirahat."
jawab orang itu. "Kau harus m enjawab pertanyaan-pertanyaanku Ki
Sanak" berkata Putut Lembana. "Aku tidak mau." jawab orang itu.
Namun tiba-tiba saja Putut Lembana yang muda itu dengan
tangkasnya menangkap pergelangan tangan orang itu dan memilihnya."
Aku ingin menantangmu untuk berperang tanding. Jika kau menolak
berbicara dan menolak berperang tanding, maka aku akan membunuhmu
dengan caraku. Kau memang sangat pantas untuk diperlakukan seperti
itu." Orang itu meny eringai menahan sakit. Tetapi Putut Lembana
justru semakin menekan tangan itu. "Jangan, sakit" desis orang itu.
"Aku minta kau berbicara malam ini. Jika kau mengaku merasa letih,
maka aku akan membuatmu semakin letih dan tidak berdaya. " geram
Putut Lembana. Pemimpin kelompok itu benar-benar tidak dapat berbuat
apa-apa. Anak muda itu memiliki kelebihan daripadanya. Sementara
anak yang masih lebih muda lagi itu telah mampu mengalahkan kawannya
yang berkepala botak itu. Bahkan melukainya cukup parah.
"Perbuatanmu telah menimbulkan korban di padukuhan ini. Karena itu,
maka k emarahan orang-orang padukuhan ini telah m enjalar sampai
kesetiap ubun-ubun. Kau tentu tahu maksudku. Justru karena kau
adalah orang yang bertanggung jawab." Wajah orang itu menjadi pucat.
Ia memang menyadari bahwa kedudukannya menjadi sangat lemah. Apapun
yang diperlakukan atas dirinya, tentu dapat dianggap sah oleh
orang-orang Logandeng. Bahkan dihadapan Ki Bekel sekalipun. Karena
itu, maka ia tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus berbicara jika
ia tidak ingin nasibnya menjadi sangat buruk. Sementara itu, Putut
Lembanapun bertanya "Bagaimana Ki Sanak ? Apakah kau tetap pada
pendirianmu." "Lepaskan. Aku akan berbicara" desis orang itu. Putut
Lembana telah melepaskan tangan orang itu. Sambil beringsut sedikit
iapun kemudian berkata "Aku kira kau cukup bijaksana menilai
keadaan. Kau berada di rumah Ki Bekel Logandeng, sehingga kau tidak
m empunyai kesempatan lain kecuali menjawab pertanyaan-pertanyaan
kami dengan benar." Orang itu mengangguk kecil. "Nah, beritahukan
kepada kami, apakah kalian orang-orang padepokan Renapati ?" Orang
itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk kecil
sambil menjawab. "Ya. Aku orang dari Padepokan Renapati. Beberapa
orang yang datang bersamaku memang para cantrik dari Padepokan
Renapati." "Katakan, apa sebabnya, bahwa Ki Buyut Pudaklamatan
berniat mengambil alih kepemimpinan Kabuyutan Sendang Apit, meskipun
pemisahan itu sudah berjalan lama sekali. Kenapa pula baru sekarang
dan begitu tiba -tiba ?" "Aku tidak tahu, Ki Sanak. Aku hanya
menjalankan perintah untuk m engambil anak Ki Buyut Sendang Apit
yang diketahui ada di padukuhan ini." "Anak Ki Buyut Sendang Apit
memang pernah berada di padukuhan ini. Tetapi sekarang sudah tidak
berada disim lagi ?" "Dimana ?" bertanya orang itu. “Apakah aku
harus memberitahukan kepadamu ? Kemudian melepaskanmu pergi ?"
bertanya Putut Lembana. Orang itu tidak menjawab. Tetapi kepalanya
justru menunduk dalam-dalam. Dalam pada itu, Putut Lembanapun
berkata "Nah, sekarang beritahukan kepada kamt, kenapa tiba -tiba
saja Ki Buyut Pudaklamatan menyerang Kabuyutan Sendang Apit ?” "Aku
tidak tahu Ki Sanak. Aku hanya menjalankan perintah." jawab orang
itu. "Tolong Ki Sanak. Jawab pertanyaan kami. Jika kau tidak mau
menjawab, maka kau akan mengalami kesulitan." berkata Putut Lembana.
Keringat dingin telah m engalir diseluruh tubuh pemimpin sekelompok
orang yang meny erang padukuhan Logandeng itu. Sementara Putut
Lembana bertanya pula "Kenapa Ki Buyut Pudaklamatan tiba-tiba saja
meny erang Kabuyutan Sendang Apit, justru setelah untuk waktu
yang lama kedua Kabuyutan itu sempat hidup tenteram dan saling
menghormati. Bahkan kedua orang Buyut yang masih sepupu itu dapat
hidup rukun, tidak saja sebagai saudara sepupu, tetapi juga sebagai
dua orang Buyut yang bertetangga." "Ya, Ki Sanak. Kami tahu bahwa
kedua Kabuyutan itu pernah hidup rukun." jawab orang itu "tetapi
tiba -tiba saja terjadi gejolak itu. Kemudian, kami sekelompok orang
diperintahkan untuk mengambil anak Ki Buyut Sendang Apit yang
menurut keterangan ada di padukuhan ini. " "Itu sudah kau katakan.
Yang belum kau katakan, apakah sebabnya, kekalutan itu tiba -tiba
saja terjadi." potong Putut Lembana. Ketika orang itu sempat
memandang wajah Putut Lembana sekilas, maka jantungnya menjadi
berdebar-debar. Wajah anak muda itu bagaikan menjadi bara. Orang itu
m engetahui, bahwa batas kesabaran anak muda itu sudah sampai
kepuncaknya. Karena itu, maka ia tidak dapat bertahan lebih lama
lagi jika ia tidak ingin tulangtulangnya dipatahkan, bahkan
barangkali juga lehernya. Karena itu, ketika sekali lagi anak muda
itu bertanya, bahkan dengan membentaknya, maka orang itu tidak dapat
ingkar lagi. "Aku tidak akan mengulangi lagi pertanyaanku" geram
Putut Lembana. Orang itu menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan
gejolak jantungnya. Kemudian katanya "Baiklah, anak muda. Tetapi
sudah tentu aku tidak akan dapat berbicara lebih banyak dari yang
aku ketahui. Bahkan seandainya aku diperas sampai matipun, aku tidak
akan dapat berbicara lebih banyak lagi." Putut Lembana menarik nafas
dalam-dalam, seolah-olah ingin mengendapkan perasaannya yang
bergejolak. Dengan suara yang bergetar ia menggeram "Katakan apa
yang kau ketahui itu. Apakah aku akan m emerasmu sampai m ati,
itu terserah kepadaku." Wajah orang itu menjadi tegang. Namun ia
tidak menjawab. "Nah, sekarang katakan, apa sebabnya kekalutan itu
terjadi." Putut Lembana benar-benar kehilangan kesabaran. Orang itu
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab "Memang telah
terjadi campur tangan mPu Renapati." "Apa yang dilakukan oleh mPu
Renapati itu ?" bertanya Putut Lembana. "mPu Renapati memang
menghendaki agar kedua Kabuyutan itu disatukan kembali sebagaimana
semula. Kedua Kabuyutan itu harus menjadi satu dibawah kekuasaan Ki
Buyut Pudaklamatan, karena sebenarnya ay ahnyalah yang berhak untuk
mewarisi kedudukan itu. Hanya karena ayahnya telah meninggal lebih
dahulu, maka pewaris jabatan itu berpindah kepada adiknya, ayah Ki
Buyut Sendang Apit. Karena itulah, maka segala-galanya harus
dikembalikan seperti semula." "Apa pamrih mPu Renapati dengan
keinginannya itu ? Jika Kabuyutan Pudaklamatan dan Sendang Apit
sudah menjadi satu, apa keuntungan mPu Renapati ? Jika ia mendorong
kepada Ki Buyut Pudaklamatan melakukan hal itu, maka mPu Renapati
tentu akan mendapat keuntungan. " Orang itu menarik nafas
dalam-dalam. Sementara Putut Lembana yang sudah kehabisan
kesabaran itu membentak "Jawab. Aku tahu bahwa yang aku
tanyakan tidak lebih dari yang kau ketahui. Karena itu, j ika kau
mati, m aka itu adalah salahmu sendiri, karena seharusnya kau dapat
menghindarinya. " Orang itu memang tidak dapat menghindar lagi.
Putut Lembana yang marah itu memang dapat melemparkannya
kepada orang-orang padukuhan Logandeng yang marah itu pula.
Ternyata orang itu tidak dapat berbuat lain. Putut Lembana yang
sudah kehilangan kesabaran itu membentak "Jawab. Kau tidak dapat
mempermainkan kami. Kau ada ditangan kami dan jiwamu tidak berharga
bagi kami." "Baik. Baik. " orang itu menjadi gagap. Lalu katanya
"Alasan yang sebenarnya adalah sederhana sekali. Anak Ki Buyut
Pudaklamatan akan menjadi menantu mPu Renapati.” "He ?" Putut
Lembana dan mereka yang mendengar jawaban itu terkejut. Dengan nada
tinggi Putut Lembana mendesak "Kau jangan a sal membuka mulutmu. Kau
tahu akibatnya jika kau tidak berkata dengan jujur. " "Aku berkata
sebenarnya. Anak laki -laki Ki Buyut Pudaklamatan diharapkan akan
mewarisi dua Kabuyutan sekaligus;, sehingga dengan demikian, maka
anak mPu Renapati akan menjadi isteri seorang Buyut yang daerahnya
sangat luas." "Satu m impi yang gila" geram Ki Bekel Logandeng
"hanya karena mimpi itu, maka mPu Renapati telah m engorbankan
orang-orangnya. Cantrik-cantriknya, orang-orang Pudaklamatan dan
tentu juga orang-orang Sendang Apit yang ingin mempertahankan
daerahnya, kampung halamannya." "Tetapi bukankah dahulu kedua
Kabuyutan itu memang satu?" bertanya tawanan itu. "Itu dahulu.
Tetapi perubahan-perubahan telah terjadi. Bahkan ada dua Kabuyutan
Pudaklamatan dan Sendang Apit telah dianggap sah." jawab Ki Bekel
Logandeng. Lalu katanya pula "Dahulu Tumapel adalah sebuah Pakuwon,
Sekarang Tumapel telah menjadi Singasari yang besar."
"Perubahan-perubahan itu masih berlangsung sampai sekarang. Apa yang
pernah pecah itu akan bersatu kembali." berkata tawanan itu.
"Perubahan yang dipaksakan dengan kekerasan, akibatnya akan
berkepanjangan. Dendam dan kebencian" berkata Ki Bekel. "Yang ingin
digapai oleh mPu Renapati tentu bukan sekedar mimpi yang
sederhana itu. Bukan sekedar bersatunya kembali dua Kabuyutan.
Tetapi dengan sebuah Kabuyutan yang besar, maka mPu Renapati akan
memiliki landasan kekuatan yang besar." berkata Putut Lembana.
"Landasan apa ?" bertanya Ki Bekel. "Aku belum pernah m elihat kedua
Kabuyutan itu. Namun agaknya jika kedua Kabuyutan itu menjadi satu,
akan tergalang kekuatan yang besar. Ditambah lagi dengan
sejumlah orang-orang terlatih dari padepokan Renapati. Maka mimpi
mPu Renapatipun akan berkembang. Mungkin kekuatan itu akan dapat
menguasai sebuah Pakuwon atau bahkan lebih luas lagi dari sebuah
Pakuwon. Atau bahwa mPu Renapati telah berpaling kepada kekuasaan
Kediri. " berkata Putut Lembana. Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam.
Katanya "Ya Mungkin kau benar-benar ngger. Mimpi mPu Renapati bukan
mimpi yang sederhana. Yang dilakukannya sekarang adalah sekedar
pancadan saja." "Dengan demikian, maka per soalan yang timbul
karena tingkah mPu Renapati bukan persoalan yang sederhana,
yang terbatas dalam lingkungan kedua Kabuyutan itu saja. Tetapi akan
menebar sampai kedaerah yang lebih luas." "Ya, ngger. Hal ini
harus kita bicarakan dengan Ki Buyut Talang Alun. Juga dengan angger
Mahisa Murti. Persoalannya memang bukan persoalan yang sederhana
sebagaimana angger katakan." Putut Lembanapun kemudian berkata
"Baiklah Ki Bekel. Aku akan mengatakannya kepada pimpinan padepokan
kami. Sementara itu, biarlah orang ini disini. Kita masih
memerlukannya. " Ki Bekel mengangguk sambil menjawab "Ya. Silahkan
angger berbicara dengan angger Mahisa Murti. Aku akan berbicara
dengan Ki Buyut. Orang ini akan aku simpan disini.” "Orang ini harus
dijaga sebaik-baiknya. Jika ia tidak kembali pada waktunya, mungkin
pimpinannya akan mengirimkan orang lebih banyak lagi untuk mencari m
ereka kemari. Mungkin orang-orang Pudaklamatan, tetapi juga mungkin
orang-orang padepokan Renapati.” "Baiklah ngger. Anak-anak akan
menjaganya sebaikbaiknya.- jawab Ki Bekel. Sementara itu langitpun
menjadi semakin terang. Malam berangsur-angsur menjadi larut. Putut
Lembanapun telah minta diri untuk melaporkan apa yang telah terjadi
di padukuhan Logandeng. Namun Putut Lembana itupun berkata "Biarlah
keempat orang cantrik itu tetap berada di sini. Mungkin mereka
diperlukan, karena nampaknya perkembangan keadaan tidak dapat
diperhitungkan sebelumnya." "Terima kasih ngger. Biarlah mereka
berada di banjar. Mereka dapat beristirahat, karena mereka tentu
letih. " Demikianlah, maka Putut Lembana itupun telah meninggalkan
Logandeng. Ketika ia sampai di padepokan, maka Putut Manyar dan
Putut Parama masih belum kembali. Dengan singkat Putut Lembana telah
m emberikan laporan tentang kedatangan sekelompok orang dari
padepokan Renapati dan orang-orang dari Kabuyutan. Pudaklamatan.
"Kami berhasil menangkap pemimpin mereka " berkata Putut Lembana.
Iapun kemudian melaporkan keterangan yang dapat mereka sadap dari
pemimpin kelompok orang-orang yang m eny erang padukuhan Logandeng
untuk mencari anak Ki Buyut Sendang Apit. Mahisa Murti mendengarkan
laporan itu dengan sungguhsungguh. KepadaKiaiWijang, MahisaMurti
itupun berkata "Nampaknya per soalannya akan berkembang. Kegagalan
itu tentu membuat mereka semakin bernafsu." "Ya " Kiai Wijang
mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Nampaknya Padepokan B#a S eta
akan terlibat lebih banyak lagi dalam pertikaian yang terjadi
diseberang hutan. " Mahisa Murti m engangguk-angguk. Katanya "Jika
hal itu harus kami lakukan bagi kepentingan sesama, maka kami akan
melakukannya Kiai. Tentu saja dalam batas-batas kewajaran." "Yang
agaknya harus segera dilakukan adalah membantu Kabuyutan Talang
Alun. Bagi Ki Renapati menangkap anak Ki Buyut Sendang Apit, tentu
termasuk salah satu keharusan jika mereka benar-benar ingin m
emotong masa depan Kabuyutan Sendang Apit." berkata Putut Lembana.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi pengawal anak Ki Buyut
Sendang Apit itu nampaknya terlalu curiga kepada setiap orang,
termasuk kepada Mahisa Murti meskipun Ki Bekel sendiri sudah
mengatakan tentang diriny a, bahkan mempertanggung-jawabkannya.
Sehingga Ki Bekel itu telah merasa tersinggung pula. Tetapi sikap
itu tidak seharusnya menghalangi niat Padepokan Bajra Seta untuk
membantu kesulitan yang sedang dialami oleh Kabuyutan Sendang
Apit. Meskipun demikian, langkah-langkah yang diambil harus
diperhitungkan dengan sebaik-baiknya. Karena itu, maka yang dapat
segera dilakukan oleh Mahisa Murti adalah membantu Ki Bekel
Logandeng mengamankan padukuhannya. Jika hal itu memang dikehendaki
oleh Ki Buyut Talang Alun, maka Mahisa Murtipun akan melakukannya
pula. Dalam pada itu, hari itu juga Ki Bekel telah m enemui Ki Buyut
di Talang Alun untuk memberikan laporan tentang serangan yang
telah terjadi di padukuhan Logandeng. "Ternyata mereka mencari anak
Ki Buyut Sendang Apit. " berkata Ki Bekel. "Untunglah, anak itu
telah kami pindahkan" berkata salah seorang pengawalnya. Namun Ki
Bekel yang masih belum dapat melupakan sakit hatinya yang pernah
tersinggung oleh sikap pengawal itu menjawab "Seandainya anak itu
masih berada di Logandengpun, anak itu akan tetap terlindung.
Nyatanya, kami justru dapat menangkap pemimpin kelompok orangorang
yang datang ke padukuhan itu, yang terdiri dari orangorang
padepokan Renapati dan orang-orang Kabuyutan Pudaklamatan." Pengawal
itu m engerutkan dahinya. Dengan nada berat ia berkata "Tetapi kami
bertanggung jawab atas keselamatannya." "Apa yang dapat kalian
lakukan berdua?" bertanya Ki Bekel "Kalian datang ke padukuhan
Logandeng tanpa k epercayaan. Kami sudah menanggung akibat
kedatangan kalian. Tetapi kalian masih saja memperkecil arti
pengorbanan kami." "Sudahlah" berkata Ki Buyut "kedua pengawal itu
tentu berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Jika orang-orang
Renapati dan orang-orang Pudaklamatan telah datang ke padukuhan
Logandeng dan ternyata mengalami kegagalan, maka kita harus
bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan yang lebih buruk lagi.
Jika orang-orang dari Padepokan Renapati dan Kabuyutan Pudaklamatan
itu mengetahui bahwa anak Ki Buyut Sendang Apit ada di sini, maka
mungkin sekali mereka akan datang kemari. " "Ya. Itu mungkin sekali"
jawab Ki Bekel "bagi mPu Renapati, anak itu merupakan duri bagi masa
depan kedua Kabuyutan yang ingin dipersatukan itu. " "Darimana
kau tahu hal itu Ki Bekel?" bertanya salah seorang pengawal anak Ki
Buyut Sendang Apit itu? "Bukankah sebagian sudah kau katakan?" jawab
Ki Bekel. Kedua pengawal itu m enarik nafas dalam-dalam. Seorang
diantara mereka berkata "Aku merasa bertanggung jawab atas
keselamatan anak Ki Buyut Sendang Apit. " "Meskipun demikian, kalian
seharusnya dapat membedakan, siapa yang pantas kalian curigai
dan siapa yang tidak. Jika kalian tidak percaya kepada seseorang
yang telah menyelamatkan tempat kalian mengungsi, m aka kalian
justru akan dapat berada dalam kesulitan. Tegasny a, jika angger
Mahisa Murti dari Padepokan Bajra Seta itu menarik diri karena
merasa ter singgung, maka kita benar-benar berada dalam kesulitan.
Apalagi jika Ki Bekel Pudaklamatan dan mPu Renapati mengirimkan
orang-orang terbaiknya ke Kabuyutan ini. Mungkin kita dapat
mengimbangi kekuatan Kabuyutan Pudaklamatan. Tetapi orang-orang
berilmu tinggi dari Padepokan Renapati akan dapat mengacaukan
pertahanan kami." Kedua orang itu mengangguk-angguk. Tetapi diwajah
mereka masih nampak sesuatu yang membuat m ereka raguragu. Karena
itu, maka Ki Buyutpun berkata "Sebaiknya kalian percaya kepadaku
sepenuhnya. Karena itu, maka kalian juga harus mempercayai
orang-orang yang aku percaya. Jika tidak, maka akupun akan dapat
tersinggung seperti Ki Bekel Logandeng itu." Kedua orang itu masih
saja m engangguk-angguk. Seorang diantara merekapun berkata "Baiklah
Ki Buyut. Segala sesuatunya terserah kepada Ki Buyut." "Nah,
baiklah. Jika demikian maka aku akan merasa mendapat kepercayaan
sepenuhnya, sehingga aku tidak raguragu mengambil keputusan, karena
aku tidak merasa bimbang bahwa keputusanku akan kalian tentang."
Kedua orang itu, maka atas kepercayaan kedua orang pengawal anak Ki
Buyut Sendang Apit itu, maka Ki Buyut menjadi lebih leluasan untuk
bertindak. Iapun telah b ertemu dan berbicara langsung dengan Mahisa
Murti dan Kiai Wijang. Bahkan Ki Buyut itupun telah mengatakan pula
kepada Mahisa Murti, bahwa Ki Buyut Sendang Apit masih berada di
sekitar Kabuyutannya bersama orang-orang yang setia kepadanya untuk
mengadakan perlawanan. Namun kekuatan Kabuyutan Pudaklamatan yang
dibantu oleh Padepokan Renapati memang tidak dapat dilawannya.
Meskipun demikian, Ki Buyut Sendang Apit tidak segera berputus a sa.
Dengan meny elamatkan anaknya, maka Ki Buyut masih mempunyai harapan
untuk memiliki masa depan. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan
Kiai Wijangpun telah bersepakat untuk langsung melihat keadaan di
Kabuyutan Sendang Apit. Mereka ingin menguak bebahu yang mengungsi
di padukuhan Logandeng untuk memastikan keadaan yang
sebenarnya terjadi di Kabuyutan Sendang Apit itu. Ternyata bebahu
itu tidak berkeberatan. Bahkan ia merasa bangga jika ia dapat
berbuat sesuatu bagi Kebuyutannya. Ketika Mahisa Murti siap untuk
berangkat ke Kabuyutan Sendang Apit, maka Mahisa Murti telah
membicarakan penempatan para Putut serta cantriknya di padukuhan
induk dan padukuhan Logandeng yang nampaknya tetap menjadi sa
saran orang-orang Pudaklamatan dan orang-orang Padepokan Renapati
justru karena seorang dari kepercayaan mPu Renapati telah tertangkap
dan disimpan di padukuhan Logandeng. Bahkan Mahisa Murti telah
berpesan kepada Wantilan dan Sambega bahwa mereka dapat melepaskan
Mahisa Semu untuk bersama-sama dengan Putut Lembana berada di
padukuhan Logandeng. "Tetapi Mahisa Amping masih belum waktunya
untuk langsung ikut melibatkan diri dalam hal ini" berkata Mahisa
Murti. "Baiklah" jawab Wantilan "aku akan menjaga agar Mahisa Amping
tetap berada di padepokan. " "Kami m enyerahkan kebijaksanaan kepada
paman berdua. Paman dapat menentukan menambah.. atau mengurangi
kegiatan dan jumlah para cantrik di Kabuyutan Talang Alun termasuk
padukuhan Logandeng dan padukuhan-padukuhan yang lain. Namun
harus diperhitungkan bahwa Kabuyutan Talang Alun bukan saja menjadi
sa saran serangan orang-orang Kabuyutan Pudaklamatan, tetapi juga
orang-orang dari Padepokan Renapati “ "Kami akan berusaha untuk
berbuat sebaik-baiknya, ngger. Mudah-mudahan kami tidak menemui
kesulitan untuk mengatasi kehadiran orang-orang Pudaklamatan dan
orangorang Padepokan Renapati. Kami percaya bahwa Kabuyutan Talang
Alun sendiri sudah mempersiapkan diri sebaikbaiknya: jawab Wantilan.
"Ya. Namun yang harus banyak mendapat perhatian adalah orang-orang
Renapati." sahut Mahisa Murti. Wantilan dan Sambega
mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Wantilan berkata "Kami akan
selalu berhubungan dengan Ki Buyut dan para Bekel di Kabuyutan
Talang Alun." Demikianlah, maka setelah minta diri kepada Ki Bekel
Logandeng dan Ki Buyut Talang Alun maka Mahisa Murti dan Kiai Wijang
pun telah berangkat keseberang hutan yang terhitung lebat untuk
melihat sendiri keadaan kedua Kabuyutan yang sedang bertikai
bersama seorang bebahu Kabuyutan Sendang Apit yang sedang
mengungsi di padukuhan Logandeng. Dengan demikian maka mereka tidak
akan kesulitan mencari jalan. Meskipun mereka menembus hutan yang.
sangat lebat, tetapi mereka sama sekali tidak mengalami gangguan
yang dapat menghambat perjalanan mereka. Karena itu, maka
mereka tidak berlama-lama berada di hutan. Dihari berikutnya, mereka
telah berada diseberang. Pengawal itu termangu -mangu sejenak.
Sementara itu Ki Bekel berkata selanjutnya "Sebenarnya kau tidak
perlu terlalu mencurigai kami. Yang penting bagi kalian adalah
menyelamatkan anak Ki Buyut itu. Bukan meny embunyikan keny ataan
yang terjadi di Kabuyutan Sendang Apit dan Pudaklamatan. Jika kami
berkesempatan mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka kami akan
dapat mengambil langkahlangkah yang tepat untuk menanggapinya. "
Kedua pengawal anak Ki Buyut Sendang Apit itu termangumangu sejenak.
Namun ia tidak menjawab sama sekali. "Ki Buyut" berkata Ki Bekel
kemudian "agaknya bantuan Padepokan Bajra Seta memang kita perlukan.
Jika orangorang padepokan Renapati itu mencari anak Ki Buyut Sendang
Apit sampai ke padukuhan induk ini, maka nampaknya benturan
kekerasan tidak dapat dihindarkan lagi. mPu Renapati tentu tidak
ingin terjadi kegagalan lagi, sebagaimana sekelompok orang
yang dikirimkannya ke padukuhan Logandeng. Bahkan mungkin mPu
Renapati tidak hanya sekedar mencari anak Ki Buyut. Tetapi mungkin
ia juga mendendam padukuhan Logandeng." "Ya " Ki Buyut
mengangguk-angguk "kita memang harus bersiap menghadapi segala
kemungkinan. Anak-anak muda dan setiap laki -laki yang masih
sanggup dan mampu ikut bertempur diwajibkan ikut mempertahankan
kampung halamannya." "Nah, kau dengar Ki Sanak" berkata Ki Bekel
Logandeng kepada kedua orang pengawal anak Ki Buyut Sendang Apit
"bukankah kami tidak sekedar main-main. Malam nanti aku akan minta
pada pimpinan Padepokan Bajra Seta untuk mengirimkan pasukan ke
padukuhan Logandeng dan ke padukuhan induk. Pa sukan yang terdiri
dari para cantrik yang terlatih. Meskipun jumlahnya terhitung kecil,
tetapi kemampuan m ereka tinggi. Sementara itu kehadiran m ereka
juga mendor ong keberanian anak-anak muda kami.” Kedua orang
pengawal anak Ki Buyut itu m asih berdiam diri. Mereka memang
melihat keny ataan itu. Kabuyutan Talang Alun ikut mengalami
goncangan karena per soalan yang terjadi di Kabuyutan Sendang Apit
dan Kabuyutan Pudaklamatan. Dalam pada itu, maka Ki Buyutpun berkata
"Ki Bekel. Aku akan sangat berterimakasih jika angger Mahisa Murti
bersedia mengirimkan beberapa orang cantrik untuk membantu kesulitan
kami jika orang-orang dari padepokan Renapati datang mencari anak Ki
Buyut Sendang Apit. Meskipun anakanak kami siap m enghadapi ancaman
yang betapapun juga, namun kelebihan dari para cantrik di
Padepokan Bajra Seta akan sangat berarti bagi kita." Dari rumah Ki
Buyut Talang Alun, Ki Bekel langsung menuju ke padepokan Bajra Seta
menemui Mahisa Murti. Diceriterakannya hasil pembicaraannya dengan
Ki Buyut. Bahkan Ki Buyut justru memerlukan bantuan dari Padepokan
B^jra Seta. Mahisa Murti m engangguk-angguk. Dengan nada rendah
Mahisa Murti menjawab "Baiklah Ki Bekel. Kami akan mengirimkan
beberapa orang cantrik. Sebenarnya sejak semalam beberapa orang
cantrik kami juga sudah ada di Kabuyutan. Tetapi mereka tidak
melapor langsung kepada Ki Buyut. Tetapi mereka langsung berbaur
dengan anak-anak mudanya. Putut Many ar dan Putut Parama juga ada
disana malam tadi. Bahkan mereka pulang hampir tengah hari. " Ki
Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Sokurlah. Kami hanya dapat
mengucapkan terima kasih." "Jika Ki Buyut sudah setuju, maka biarlah
kedua orang Putut padepokan ini nanti menghadap Ki Buyut untuk
menyatakan kehadiran mereka bersama beberapa orang cantrik di
Kabuyutan. Sementara itu Putut Lembana dan beberapa orang cantrik
pula, akan tetap berada di Logandeng. Mungkin mPu Renapati berusaha
menemukan orangorangnya yang dianggapnya hilang.” Ki Bekel
mengangguk-angguk. Katanya "Terima kasih. Kami hanya dapat
mengucapkan terima kasih." Demikianlah, seperti yang
dijanjikan oleh Mahisa Murti, maka padepokan Bajra Seta telah m
engirimkan Putut Manyar dan Putut Parama ke padukuhan induk. Selain
mereka berdua, beberapa orang cantrik juga diperintahkan untuk meny
ertai mereka. Namun untuk beberapa kepentingan, maka mereka memang
tidak datang bersama-sama. Sedangkan Putut Lembana dan beberapa
orang cantrik tetap diperintahkan untuk berada di Logandeng.
Sementara itu, Mahisa Murti telah memerintahkan pula beberapa orang
cantrik untuk mengamati jalur jalan dari hutan yang memanjang meny
ekat daerah Kabuyutan Talang Alun dan Kabuyutan Sendang Apit. Mereka
mendapat tugas untuk mengamati jika ada sekelompok orang yang
menembus hutan itu dari seberang serta dianggap mencurigakan.
Apalagi jika yang datang itu sekelompok laki -laki bersenjata.
Mereka dibekali dengan dua ekor burung merpati yang sudah
terbiasa terbang di m alam hari. Jika m ereka melihat sekelompok
orang yang pantas dicurigai, maka m ereka harus melepaskan burung
merpati itu. Burung itu akan langsung terbang ke padepokan dan
hinggap di gupon mereka. Cantrik yang bertugas di padepokan harus
selalu mengawasi jika burung itu datang kembali dan memasuki
guponnya. Tetapi di malam yang kemudian turun, tidak terjadi hal-hal
yang dapat m engganggu ketenangan Kabuyutan Talang Alun termasuk
padukuhan Logandeng. Ketika malam itu kedua pengawal anak Ki Buyut
menyatakan kegelisahannya kepada Ki Buyut, maka Ki Buyutpun menjawab
"Aku kira benar apa yang dikatakan oleh Ki Bekel. Kalian terlalu
curiga kepada orang lain. " Mahisa Murti dan Kiai Wijang berniat
untuk dapat bertemu dan berbicara dengan Ki Buyut Sendang Apit.
Tetapi m ereka tidak tahu dimana Ki Buyut Sendang Apit itu berada.
Namun karena mereka datang bersama bebahu Sendang Apit, maka mereka
berharap untuk dapat menemukan tempat persembunyian Ki Buyut Sendang
Apit. Ketika ketiga orang itu kemudian berada di Kabuyutan
yang sedang bergolak itu, maka mereka segera melihat, betapa
tata kehidupan hampir tidak terkendali lagi. Tetapi k etiga orang
itu masih belum memasuki lingkungan yang lebih dalam lagi. Mereka
baru melihat keadaan itu dari kejauhan. Bagaimanapun juga mereka
harus t etap berhati-hati menghadapi kemungkinan buruk yang dapat
terjadi atas mereka. Ketika mereka bertiga berhasil meny elinap
sampai ke sebuah padukuhan di Kabuyutan Sendang Apit, maka
orangorang di padukuhan itu memang terkejut. "Keadaan sangat
berbahaya bagimu." berkata seorang sahabat bebahu itu "sebaiknya kau
m eninggalkan padukuhan ini." "Apakah kau sendiri tidak berada dalam
bahaya?" bertanya bebahu itu. "Aku orang kebanyakan. Meskipun aku
mengalami perlakuan buruk, tetapi keselamatanku masih dapat
diharapkan. Tetapi kau lain. Kau bebahu Kabuyutan ini. Dengan
demikian maka keselamatanmu terancam" berkata sahabatnya itu. "Aku
memang hanya singgah. Aku akan segera meninggalkan tempat ini."
berkata bebahu itu. Beberapa saat ia terdiam. Baru kemudian ia
berkata "Aku mencari hubungan dengan Ki Buyut untuk melaporkan
tentang keadaan anaknya." Sahabatnya itu termangu-mangu. Katanya
kemudian "Hanya orang-orang tertentu yang tahu, dimana Ki Buyut
berada. Tetapi menurut pendengaranku, keadaannya memang sangat
buruk. Meskipun demikian, Ki Buyut tetap bertahan. Sekali-sekali ia
m emang datang k e Kabuyutan. Tetapi segera menghilang lagi. Dua
malam yang lalu, tiba -tiba saja Ki Buyut dengan beberapa
orang telah muncul di banjar. Ki Buyut sempat berada di Banjar
hampir semalam suntuk. Namun menjelang dini Ki Buyut segera pergi.
Untunglah bahwa sekelompok pengawal dari Kabuyutan Pudaklamatan
serta beberapa orang cantrik dari Padepokan Kencana Pura telah
datang ke banjar untuk meny ergap Ki Buyut. Tetapi banjar itu telah
kosong." "Ki Buyut harus lebih berhati-hati." desis bebahu itu.
"Tetapi kehadiran Ki Buyut di banjar telah membangkitkan kesetiaan
orang-orang Sendang Apit yang telah hampir berputus asa. Namun
dengan demikian maka para cantrik mPu Renapati menjadi semakin
garang pula." berkata sahabat bebahu itu. Bebahu itu menarik nafas
dalam-dalam. Katanya kemudian "Baiklah. Kami minta diri. Dua orang
kawanku ini adalah orang dari Talang Alun. Mereka ingin tahu apa
yang t erjadi di sini." "Kalian berkunjung ke Kabuyutan kami
pada saat yang kurang baik, Ki Sanak." berkata orang itu.
Mahisa Murti dan Kiai Wijang tersenyum saja. Sementara bebahu itu b
erkata "Justru karena keadaan yang kurang baik itulah yang
telah memanggilnya kemari. Ki Talang Alun terdapat banyak pengungsi
dari Kabuyutan kita." "Tetangga sebelah juga telah mengungsi ke
Talang Alun. Tetapi aku masih mencoba bertahan di sini." Bebahu
itupun kemudian minta diri. Tetapi ia masih bertanya "Apakah aku
dapat memasuki padukuhan induk?" "Jangan lakukan itu. Berbahaya
sekali. Apalagi bagi seorang bebahu seperti kau." Bebahu itu
mengangguk-angguk kecil. Katanya kemudian "Aku ingin bertemu dengan
Ki Buyut. Aku merasa malu, bahwa aku telah mengungsi lebih dahulu,
sementara Ki Buyut dan beberapa orang kawan-kawan masih tetap berada
di sini." "Tetapi diperlukan cadangan kekuatan diluar Kabuyutan kita
yang telah diduduki ini. Diperlukan juga hubungan dengan
Kabuyutan-kabuyutan lain yang akan bersedia membantu menegakkan
kebenaran di Kabuyutan Sendang Apit ini." "Ya " bebahu itu
mengangguk "salah satu diantara Kabuyutan yang siap membantu
adalah Kabuyutan Talang Alun." Demikianlah, maka bebahu itupun telah
meninggalkan padukuhan itu. Mereka berusaha untuk menyusup dari
padukuhan ke padukuhan. Namun sulit bagi m ereka untuk mendapat
sedikit petunjuk dimana Ki Buyut bersembunyi. Dalam pada itu, selagi
mereka masih harus mencari Ki Buyut, maka bertiga mereka selalu
bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Ketika kemudian
malam turun, maka mereka tidur dimana saja yang mereka anggap
tidak akan terganggu oleh para peronda darimanapun datangnya. Namun
dihari berikutnya, Mahisa Murti itupun berkata "Bagaimana pendapat
kalian jika kita langsung menemui Ki Buyut Pudaklamatan. " Bebahu
itu nampak tegang. Katanya "Sangat berbahaya bagiku, justru karena
aku bebahu Kabuyutan Sendang Apit. "Kami mengerti" sahut Mahisa
Murti "karena itu sebaiknya kau bersembuny i saja lebih dahulu.
Biarlah kami berdua saja pergi ke Kabuyutan Pudaklamatan." Bebahu
itu termangu-mangu. Bahkan iapun bertanya "Dimana aku harus
bersembunyi? Dipategalan atau di lereng bukit?" "Kau bersembuny i
saja dirumah salah seorang sahabatmu yang dapat kau percaya" sahut
Mahisa Murti. Bebahu itu mengangguk-angguk. Katanya"Baiklah. Aku
akan berusaha untuk bersembunyi saja. Tetapi dimana kita akan
bertemu setelah kau pergi ke padukuhan induk Kabuyutan Pudaklamatan
? "Kita bertemu ditempat kita semalam bermalam besok jawab Mahisa
Murti. “Baiklah " berkata Bebahu itu "mudah-mudahan kau dapat
mempengaruhi pendapat Ki Buyut Pudaklamatan agar niatnya diurungkan.
Ki Buyut Pudaklamatan jangan terseret oleh niat buruk mPu Renapati
dari Padepokan Kencana Pura.” Demikianlah, maka merekapun segera
berpisah. Mahisa Murti dan Kiai Wijang pergi ke Pudaklamatan,
sementara bebahu itu telah pergi ke tempat seorang sahabatnya
yang lain, yang akan bersedia menerimanya untuk bersembunyi
beberapa saat. Namun demikian, mereka harus berusaha untuk lepas
dari penglihatan para peronda dari Pudaklamatan serta dari Padepokan
Renapati yang selalu berkeliling dari padukuhan ke padukuhan. Mahisa
Murti dan Kiai Wijang yang tidak ingin mengalami kesulitan
diperjalanan, telah menempuh jalan-jalan bulak dan menghindari
padukuhan-padukuhan. Mereka berusaha untuk tidak bertemu dengan
siapapun juga. Kecuali dengan orangorang yang bekerja d i
sawah mereka. Ketika keduanya memasuki lingkungan Kabuyutan
Pudaklamatan, maka barulah mereka m erasa sedikit tenang, karena di
Kabuyutan itu tidak terasa langpung ada satu gejolak yang mengaduk
tatanan kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian, Mahisa Murti dan
Kiai Wijang nampaknya telah menarik perhatian beberapa orang. Ada
juga diantara orang-orang Kabuyutan Pudaklamatan yang merasakan
sesuatu yang lain pada kedua orang itu. Tetapi akhirnya, Mahisa
Murti dan Kiai Wijang sampai juga dirumah Ki Buyut Pudaklamatan.
Namun ternyata bahwa rumah itu telah dijaga dengan rapat oleh
sekelompok anakanak muda. Tetapi keduanya sudah berniat untuk
bertemu dan berbicara dengan Ki Buyut, karena itu maka Mahisa Murti
itupun telah menemui anak-anak muda yang sedang berjagajaga diregol
itu. “Kami akan m enghadap Ki Buyut Pudaklamatan" berkata Mahisa
Murti. “Siapakah kalian?” bertanya salah seorang diantara mereka,
yang nampaknya pemimpin sekelompok dari anak-anak muda yang sedang
bertugas itu. “Kami datang dari seberang hutan. Kami adalah orang
dari Kabuyutan Talang Alun”. jawab Mahisa Murti. “Talang Alun?” anak
muda itu termangu -mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Mak sudmu
Kabuyutan yang menerima banyak pengungsi dari Sendang Apit?” “Ya”
jawab Mahisa Murti "justru itu aku ingin berbicara dengan Ki Buyut
Pudaklamatan.” Anak muda itu kemudian berbicara dengan beberapa
orang kawannya. Baru kemudian ia menjawab "Aku persilahkan kalian
menunggu. Aku ingin menanyakannya lebih dahulu, apakah kau dapat
diterima atau tidak.” “Ki Sanak" berkata Mahisa Murti kemudian "kami
datang dari jauh. Kami hanya sekedar ingin mendapat keterangan
langsung dari Ki Buyut Pudaklamatan, apakah yang sebenarnya
terjadi.” “Kenapa kau tidak bertanya kepada Ki Buyut Sendang Apit?”
“Kami tidak berhasil menemui Ki Buyut Sendang Apit.” Seorang anak
muda yang lainpun menyahut "Kabuyutan Sendang Apit sudah tidak
ada lagi.” Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia
berkata "Tolong Ki Sanak. Bagaimanapun sikap Ki Buyut, aku ingin
mendengarnya.” “Tunggullah" berkata anak muda yang akan
menyampaikannya kepada Ki Buyut. Mahisa Murti dan Kiai Wijangpun
kemudian telah dipersilahkan duduk di gardu yang agaknya baru dibuat
setelah terjadi kekalutan antara Kabuyutan Pudaklamatan dengan
Kabuyutan Sendang Apit. Ketikaniat Mahisa Murti untuk bertemu dengan
Ki Buyut itu disampaikan oleh anak m uda yang sedang bertugas
itu, maka Ki Buyutpun menjadi ragu-ragu. Seorang yang sedang duduk
bersamanya berkata "Apakah ada gunanya?” “Aku kira akan ada gunanya”
jawab Ki Buyut “Kabuyutan Talang Alun yang tiba -tiba
didatangi banyak pengungsi itu tentu ingin mengetahui, apa
yang telah terjadi. Ketika mereka datang ke Kabuyutan Sendang
Apit, maka Ki Buyut Sendang Apit tidak dapat ditemuinya.” “Tidak
perlu Ki Buyut. Perintahkan saja para pengawal mengusirnya. Bahkan
jika dijalan pulang mereka bertemu dengan para per onda dan para
cantrik dari Padepokan Renapati, biarlah mereka ditangkap.” “Apa
salahnya jika kita mendengarkan pertanyaanpertanyaannya, pendapatnya
atau barangkali petunjukpetunjuknya.” “Kita tidak memerlukan
petunjuk dan pendapat dan siapapun. Kita sudah cukup matang untuk m
enentukan sikap sendiri" berkata orang itu. “Tetapi aku tidak
berkeberatan menerima mereka " berkata Ki Buyut. “Ki Buyut hanya
membuang-buang waktu saja.” berkata orang itu "tetapi terserah
kepada Ki Buyut jika Ki Buyut akan menerima mereka.” “Aku ingin
mendapat orang lain sebanyak-banyaknya” jawab Ki Buyut kemudian.
Orang itu tidak berusaha mencegah lagi. Karena itu, m aka Ki
Buyutpun telah mengisy aratkan agar orang dari Talang Alun itu
diijinkan menemuinya. "Biarlah ia duduk dipendapa " berkata Ki
Buyut. Sejenak kemudian, maka Ki Buyutpun telah menerima Mahisa
Murti dan Kiai Wijang dipendapa rumahnya. Sementara orang yang
bersamanya itupun telah ikut pula menemui kedua orang tamu itu.
Mahisa Murti dan Kiai Wijangpun kemudian telah memperkenalkan diri
dan menyatakan bahwa keduanya adalah orang-orang Talang Alun yang
diperintahkan oleh Ki Buyut untuk mendapatkan keterangan tentang
kemelut yang terjadi diseberang hutan. "Kabuyutan kami telah
dibanjiri oleh para pengungsi" berkata Mahisa Murti kemudian. "Namun
kami tidak berhasil menemui Ki Buyut Sendang Apit." Ki Buyut Sendang
Apit sudah tidak dalam kedudukannya lagi" berkata orang yang meny
ertai Ki Buyut Pudaklamatan itu. Ki Buyut Pudaklamatan itu sendiri m
enarik nafas dalamdalam. Katanya "Apa yang ingin Ki Sanak
ketahui ? Barangkali aku akan dapat memberikan keterangan." "Kami
ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi di Kabuyutan Sendang Apit.
Menurut para pengungsi, para pengawal dari Kabuyutan Pudaklamatan
telah menduduki Kabuyutan Sendang Apit, sehingga orang-orang Sendang
Apit telah mengungsi meninggalkan kampung halamannya.” Orang yang
menyertai Ki Buyut itulah yang menjawab "Sebenarnya tidak
terjadi sesuatu. Seperti dua orang bersaudara dalam satu keluarga.
Sekali-sekali terjadi perselisihan. Tetapi nanti atau besok, mereka
akan menjadi baik kembali. Karena itu, maka sebaiknya Ki Sanak
berdua dan bahkan Kabuyutan Talang Alun t idak usah mencampuri
persoalan kami disini." "Bagaimanapun juga agaknya kami sudah
terlibat. Kami mengalami sedikit kesulitan dengan ppra pengungsi."
"Apakah mereka berbuat buruk di Kabuyutan Talang Alun ?" bertanya Ki
Buyut. "Tidak. Sama sekali tidak. Tetapi mereka memerlukan makan,
tempat tinggal dan kebutuhan-kebutuhan lain selama mereka berada di
Talang Alun. " jawab Mahisa Murti. "Seharusnya mereka tidak perlu
meninggalkan kampung halaman mereka " berkata orang yang meny
ertai Ki Buyut itu. "Aku justru m embayangkan bahwa keadaan telah m
enjadi demikian buruknya sehingga mereka harus mengungsi,” berkata
Mahisa Murti kemudian. "Gambaran dari orang-orang luar yang tidak
langsung menyaksikan sendiri keadaan Kabuyutan kami" berkata orang
itu. "Bukan sekedar gambaran, karena kami sudah melihat keadaan itu.
Aku telah menyaksikan sendiri dengan Kabuyutan Sendang Apit. Yang
berkeliaran disana adalah para pengawal dari Kabuyutan Pudaklamatan.
" "Sudahlah Ki Sanak" berkata orang yang meny ertai Ki Buyut
Pudaklamatan itu "sebaiknya kalian tidak usah ikut memikirkan
keadaan kami disini dan di Kabuyutan Sendang Apit. Itu persoalan
kami. Persoalan keluarga kami." "Kami memang tidak akan
mempersoalkan apa yang terjadi diantara keluarga. Tetapi karena
persoalannya menyangkut kehidupan orang banyak, dan bahkan kehidupan
di Kabuyutan kami, maka kami memerlukan mendapat keterangan. "
"Inilah yang terjadi di Kabuyutan kami" berkata orang itu "t
idak akan terjadi perubahan apa -apa. Sebaiknya kalian tidak usah
mencampuri persoalan kami." "Ki Sanak" berkata Mahisa Murti "kami t
idak akan mencampuri persoalan kalian. Tetapi karena di Kabuyutan
kami terdapat banyak pengungsi, maka kami ingin sekedar mendapat
keterangan. Lebih dari itu, kalian telah melanggar kemandirian kami.
Sekelompok orang telah dikirim dari Kabuyutan Pudaklamatan memasuki
Kabuyutan kami." Ki Buyut Pudaklamatan justru terkejut. Karena itu,
maka ia bertanya "Apakah kau berkata sebenarnya ?" "Ya, Ki Buyut "
jawab Mahisa Murti "sekelompok orang yang ternyata memburu
anak laki-laki Ki Buyut Sendang Apit yang dikira mengungsi ke Talang
Alun. Tetapi mereka tidak menemukan yang mereka cari. Justru
karena itu, maka Kabuyutan kami telah disentuh pula oleh
pertentangan yang terjadi di sebelah hutan ini." "Jika kalian tidak
m encampuri persoalan kami, maka kami tentu tidak akan menyentuh
Kabuyutan Talang Alun. Tetapi bahwa Talang Alun telah mencampuri
persoalan kami, maka kami memang tidak mempunyai pilihan lain." "Aku
tidak pernah memerintahkan para pengawal dari Pudaklamatan memasuki
Kabuyutan Talang Alun" berkata Ki Buyut. "Siapapun yang
memerintahkan, namun hal itu sudah terjadi." jawab Mahisa Murti.
Lalu katanya "Hal itulah yang mendorong kami untuk datang menemui Ki
Buyut Pudaklamatan. Karena jika hal seperti itu terulang kembali,
maka Pudaklamatan telah menyeret Talang Alun untuk melibatkan diri.
" Orang yang meny ertai Ki Buyut itulah yang menyahut "Bahwa
Talang Alun telah meny embuny ikan anak Ki Buyut Sendang Apit itu b
erarti bahwa Talang Alun telah melibatkan diri kedalam persoalan
kami, persoalan antara keluarga sendiri. " "Kami menerima para
pengungsi itu atas dasar perikemanusiaan semata-mata. Namun karena
kemudian merupakan beban bagi kami, maka kami ingin mengetahui
apakah yang sebenarnya telah terjadi." Orang yang meny ertai
Ki Buyut itulah yang menjawab lagi "Sudah aku katakan. Sekedar
perselisihan diantara keluarga. Nanti, pada suatu saat tentu akan
menjadi baik lagi." "Lalu bagaimana dengan korban perselisihan itu ?
Jika keadaan menjadi baik, apakah korban perselisihan itu akan pulih
kembali ?" bertanya Mahisa Murti. "Sudahlah" berkata orang itu
"jangan terlalu banyak mencampuri persoalan orang lain. Jika kau
merasa berkeberatan dengan para pengungsi itu, usir saja mereka dari
Talang Alun." "Itukah gambaran sikap orang-orang Pudaklamatan ?"
bertanya Mahisa Murti. "Tidak " t iba-tiba Ki Buyut memotong "aku
tidak pernah menginginkan perselisihan ini." "Ki Buyut" berkata Kiai
Wijang kemudian "kenapa Ki Buyut tidak berusaha untuk meny elesaikan
per soalan antara Pudaklamatan dan Sendang Apit dengan baik ?"
"Sebenarnya tidak ada perselisihan yang mendasar" jawab Ki Buyut.
"Jadi bagaimana kekalutan itu dapat terjadi ? Bukankah sebaiknya Ki
Buyut Pudaklamatan bertemu dan berbincangbincang dengan Ki Buyut
Sendang Apit untuk memecahkan persoalan yang timbul. Dengan
demikian maka perselisihan ini tidak akan berlanjut terus. Bukankah
Ki Buyut Sendang Apit itu adik sepupu Ki Buyut sendiri ?" "Cukup.
Cukup. Kalian sudah terlalu banyak berbicara disini" berkata orang
yang meny ertai Ki Buyut Pudaklamatan. Namun Kiai Wijang
seakan-akan tidak mendengar. Bahkan iapun berkata "Ki Buyut. Jika Ki
Buyut menghendaki, maka Ki Buyut Talang Alun akan bersedia menjadi
penengah pembicaraan diantara kalian. " "Sudah cukup. Sekali lagi
aku peringatkan, jangan mencampuri persoalan kami." Tetapi Ki Buyut
Pudaklamatan itu berkata "Jika adi Buyut Sendang Apit bersedia
ditemui, aku sama sekali tidak berkeberatan untuk berbicara." Namun
sebelum pembicaraan berkepanjangan, maka seorang anak muda telah
muncul dari ruang dalam. Demikian ia membuka pintu pringgitan maka
iapun bertanya dengan lantang "Untuk apa kalian berdua datang kemari
? Aku mendengar sebagian dari pembicaraan kalian.. Ra sa-rasanya
kalian adalah orang yang terpandai dibumi ini sehingga kalian
mencoba untuk menguari ayahku ?" Mahisa Murti dan Kiai Wijang
memandang anak muda itu dengan saksama. Dengan segera mereka
mengetahui, bahwa anak muda itulah anak Ki Buyut Pudaklamatan
yang akan menjadi menantu mPu Renapati dari padepokan Kencana
Pura. Sebelum Mahisa Murti dan Kiai Wijang menjawab, maka anak muda
itupun berkata lantang "Sebaikny a kalian meninggalkan tempat ini.
Semakin lama kalian disini, m aka telingaku akan menjadi semakin
panas." "Duduklah" berkata Ki Buyut "keduanya adalah tamuku. Kau
tidak berhak berkata sepert itu. " "Sudahlah ayah" berkata anak muda
itu "ayah jangan membiarkan dua ekor ular tidur dibawah selimut
yang sedang ay ah pergunakan. Bagaimanapun juga, kedua ekor
ular itu akan dapat menggigit. Karena itu, biarlah keduanya pergi."
"Aku tidak mempersilahkan mereka pergi," jawab ayahnya. Wajah anak
muda itu menjadi merah. Namun kemudian ia berkata "Aku sudah memberi
kalian berdua peringatan. Karena itu, jika terjadi sesuatu atas
kalian berdua, itu adalah salah kalian sendiri. " Ki Buyutlah yang
menjadi marah. Tetapi orang yang menyertainya duduk menemui
kedua tamunya itu berkata "Sebaiknya Ki Buyut mendengarkan pendapat
anak Ki Buyut itu. Ternyata panggraitanya lebih tajam dari Ki Buyut
sendiri.” Mahisa Murti dan Kiai Wijangpun saling berpandangan.
Mereka sadar, bahwa mereka tidak akan dapat berbicara dengan
sebaik-baiknya. Meskipun demikian mereka menangkap kesan, bahwa
sebenarnya Ki Buyut sendiri bukan seorang yang tamak. Ki Buyut
sendiri tidak ingin terjadi perselisihan antara kedua Kabuyutan itu.
Namun anaknya yang sudah dipengaruhi oleh mPu Renapati menghendaki
lain. Anak muda itu membayangkan satu masa depan yang gemilang dalam
pemerintahannya, sehingga ia lupa pada sangkan paraning dumadi. Anak
muda itu terbius oleh hembusan lidah mPu Renapati tentang mimpi bagi
masa depan yang besar. Karena itu, maka Mahisa Murti dan Kiai
Wijang menganggap bahwa kehadiran mereka di rumah itu tidak akan
berarti apa-apa lagi. Merekapun yakin, bahwa orang yang selalu meny
ertai Ki Buyut itu tentu salah seorang dari padepokan Renapati
yang ditempatkan di Kabuyutan Pudaklamatan. Karena itu, maka
sesaat kemudian, maka Mahisa Murtipun berkata "Baiklah Ki Buyut.
Jika demikian, maka kami mohon diri. Kami akan kembali ke Kabuyutan
Talang Alun. Namun kami serba sedikit telah melihat satu gambaran,
apa yang telah terjadi disini. Mak sudku di Kabuyutan Sendang Apit
dan Kabuyutan Pudaklamatan. " "Terima kasih atas kunjungan kalian Ki
Sanak. Salam buat Ki Buyut di Talang Alun. Kami hargai niatnya untuk
membantu memecahkan kekalutan yang terjadi di Kabuyutan kami."
"Tidak ada kekalutan disini ay ah." berkata anak muda itu "hanya
orang-orang lain yang iri hati sajalah yang menganggap bahwa di
Kabuyutan Pudaklamatan ada kekalutan.” Tetapi jawab ay ahnya
mengejutkannya. “Bagaimana kau dapat menyembuny ikan kenyataan
yang digelar di kedua Kabuyutan ? Apakah kau kira orang-orang
yang pernah lewat Kabuyutan ini buta dan tuli ?" Wajah anak muda itu
m enjadi marah. Namun orang yang selalu meny ertai Ki Buyut
itu berkata "Kekalutan memang ada dimana-mana diseluruh muka bumi.
Tetapi kekalutan yang terjadi disini terlalu dibesar-besarkan orang.
Tetapi apapun yang terjadi, biarlah orang lain tidak ikut
mencampurinya. " Mahisa Murti dan Kiai Wijangpun kemudian telah
minta diri. Ki Buyut yang mengantarnya sampai ke tangga pendapa
berpesan "Hati-hatilah Ki Sanak. Semoga kalian selamat sampai di
Kabuyutan Talang Alun." "Doa Ki Buyut menyertai kami berdua" jawab
Mahisa Murti. Demikianlah keduanyapun segera melangkah meninggalkan
Kabuyutan itu, sementara Ki Buyutpun segera naik pula kependapa dan
selanjutnya masuk keruang dalam. Yang ada di pendapa kemudian adalah
orang yang selalu menyertai Ki Buyut itu serta anaknya
laki-laki. Dengan geram anak Ki Buyut Pudaklamatan itu m enggeram
"Bereskan saja orang-orang itu. " "Jangan ngger. Jika keduanya tidak
sampai ke Kabuyutan Talang Alun, maka akan dapat menjadi alasan bagi
Kabuyutan itu untuk langsung mencampuri persoalannya. Hilangnya
kedua orang itu akan dapat m enjadi alasan bagi Kabuyutan Talang
Alun untuk meny erang Kabuyutan Pudaklamatan." "Apakah kita takut
menghadapi Kabuyutan Talang Alun Bukankah padepokan Renapati cukup
kuat untuk menghadapi tiga atau ampat Kabuyutan sekaligus ? Apalagi
bersama-sama dengan Kabuyutan Pudaklamatan." Orang itu menarik nafas
dalam-dalam. Katanya "Tetapi sebaiknya kita untuk sementara
membatasi diri. Mungkin pada kesempatan lain kita justru akan
memancing pertengkaran dengan Kabuyutan Talang Alun. " Tetapi anak
muda itu berkata "Kita selesaikan mereka justru di Kabuyutan Talang
Alun sendiri. Kita kirim beberapa orang pilihan untuk mengikutinya
dan membunuhnya diseberang hutan, sehingga akan dapat diketemukan
oleh orang-orang Talang Alun. Jika m ereka mati di daerah m ereka
sendiri, maka mereka tidak akan dapat menuduh kita sehingga mereka
tidak mempunyai alasan untuk mengirimkan pasukan menyeberangi hutan.
" Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Satu kerja yang
berat." "Kita kirim lima atau enam orang yang berilmu tinggi.
Diantara mereka dari padepokan Renapati. Mereka harus berusaha
mendahului keduanya dan menunggunya diseberang hutan, justru
dibulak-bulak panjang di tlatah Kabuyutan Talang Alun itu sendiri.
Usahakan agar mayatnya dapat diketemukan oleh orang-orang Talang
Alun, apakah mereka yang akan pergi ke sawah atau mereka yang
akan pergi ke pasar." "Tidak hanya ada satu jalan menuju ke Talang
Alun" jawab orang itu. "Tetapi jalan keluar dari hutan itu tentu
dapat diperhitungkan. Agaknya jalur jalan para pengungsi itulah yang
akan mereka lewati." "Jika kedua orang itu membaurkan diri dengan
para pengungsi yang menuju ke Kabuyutan Talang Alun ?" "Itu
lebih baik. Orang-orang kita akan dapat mencari prekara sehingga
terjadi perselisihan dan perkelahian. Orangorang kitapun harus
menyatukan diri dengan para pengungsi itu." Orang yang meny ertai Ki
Buyut itu mengangguk-angguk. Katanya "Aku akan mencobanya.
Mudah-mudahan mPu Renapati setuju." "Kita tidak mempunyai banyak
waktu. Orang itu tidak boleh lolos. Biarlah orang-orang kita
mendahuluinya dengan berkuda. Satu dua orang akan menyertai mereka
dan akan membawa kembali kuda-kuda itu, setelah orang-orang kita
memasuki hutan." Demikianlah, maka orang itupun dengan tergesa -gesa
meninggalkan rumah Ki Buyut menuju ke Padepokan Renapati. Dengan
tergesa -gesa pula ia menemui mPu Renapati dan melaporkan rencana
calon menantunya itu. mPu Renapati berpikir sejenak. Lalu katanya
"Lakukan perintahnya. Ternyata penalarannya cukup tajam. Kedua orang
itu tidak boleh memberikan kesan sikap Ki Buyut kepada orang-orang
Talang Alun." Orang itupun kemudian telah melakukan perintah itu
dengan tergesa -gesa. mPu Renapati telah menunjuk Kebo Wanter dan
Lembu Pangambah untuk melakukan tugas itu bersama ampat orang kawan
mereka. "Aku percaya bahwa Kebo Wanter dan Lembu Pangambah akan
dapat m elakukannya. Apalagi disertai oleh ampat orang yang lain.
Jika mereka bergabung dengan para pengungsi, sebaiknya mereka tidak
berkelompok. Tetapi mereka harus sal ing memisahkan diri. " Sesaat
kemudian, Kebo Wanter dan Lembu Pangambah telah dipanggil. Ketika
perintah itu diberikan, maka Kebo Wanter bertanya "Bukankah hanya
ada dua orang dari Kabuyutan Talang Alun yang harus kami
selesaikan ?" "Ya. Hanya dua orang." "Kenapa kami berdua harus
membawa ampat orang lagi ? Seorang saja diantara kami akan dapat
meny elesaikan mereka. Apalagi dua orang. Karena itu, ampat orang
itu tidak perlu sama sekali. "Kalian tidak usah membantah. Pergilah
bersama ampat orang. Kalian dengar ?" Kebo Wanter dan Lembu
Pangambah mengangguk-angguk. Sementara itu orang yang mendapat
perintah dari mPu Renapati itu berkata "Kita tidak ingin rencana ini
gagal, sehingga akibatnya akan m enjadi semakin buruk. Karena itu,
maka kedua orang itu tidak boleh melarikan diri. Meskipun kalian
berdua saja yakin akan dapat mengalahkan mereka, bahkan seorang saja
diantara kalian, tetapi kemungkinan melarikan diri harus
diperhitungkan." Kebo Wanter dan Lembu Pangambah masih m
enganggukangguk. Sementara orang itu memberitahukan ciri -ciri dari
orang yang harus mereka cari itu. "Pergunakan jalur para
pengungsi. Mungkin kedua orang itu ada diantara mereka."
Demikianlah, maka sejenak kemudian enam orang telah berpacu menuju
ke hutan yang meny ekat Kabuyutan Sendang Apit dengan Kabuyutan
Talang Alun. Bersama mereka ikut pula tiga orang yang akan membawa
kuda-kuda itu kembali ke padepokan Renapati. Sebenarnyalah bahwa
Mahisa Murti dan Kiai Wijangyang kemudian telah bertemu kembali
dengan bebahu Sendang Apit itu telah memutuskan untuk kembali ke
Talang Alun. Nampaknya tidak mungkin dapat berbicara terbuka dengan
Ki Buyut Pudaklamatan yang selalu dibayang i oleh seseorang yang
agaknya sengaja ditempatkan di rumah Ki Buyut oleh mPu Renapati.
Sementara itu, anak Ki Buyut sendiri agaknya telah menjadi mabok
oleh mimpi tentang m asa depan yang besar. Tetapi bebahu itu sendiri
telah menyatakan diri untuk tinggal. Ia merasa akan mendapat
kesempatan bertemu dengan Ki Buyut Sendang Apit yang masih berada di
Kabuyutannya- "Aku tentu dapat bertemu, dengan Ki Buyut meskipun
tidak segera. Aku akan mengajak Ki Buyut menemui Ki Buyut Talang
Alun dan membawanya ke Padepokan Bajra Seta.” "Kami menunggu "
berkata Mahisa Murti. "Mudah-mudahan Ki Buyut bersedia meninggalkan
Kabuyutan Sendang Apit barang dua tiga hari untuk keperluan itu."
berkata bebahu itu. "Berhati-hatilah" pesan Kiai Wijang. "Terima
kasih. Kiai berduapun harus berhati-hati dijalan." berkata bebahu
itu. "Jika kau gagal menemui Ki Buyut, kau harus segera, menghubungi
kami" berkata Mahisa Murti kemudian. "Baik. Tetapi nampaknya aku
sudah mendapatkan jalur untuk sampai kepadanya. Ternyata aku masih
dipercaya meskipun aku sudah pernah lari dari medan. " berkata
bebahu itu. Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Kiai Wijang telah
meninggalkan bebahu itu di Kabuyutannya. Mereka memang telah
menempuh perjalanan melalui jalur para pengungsi yang masih
saja mengalir dari Kabuyutan Sendang Apit meny eberangi hutan.
Mereka berharap bahwa diseberang hutan, mereka akan mendapatkan
ketenangan setidaktidaknya untuk sementara sambil menunggu
perkembangan keadaan di Kabuyutan 'mereka. Sekelompok pengungsi
yang meny eberangi hutan itu memang tertarik melihat kehadiran
dua orang yang sebelumnya belum mereka kenal. Orang-orang Kabuyutan
Sendang Apit m emang melihat kelainan pada Mahisa Murti dan Kiai
Wijang dari kebiasaan orang-orang Kabuyutan itu. Namun sekelompok
pengungsi itupun merasa bahwa mereka memang tidak dapat mengenali
semua penghuni Kabuyutan Sendang Apit yang termasuk luas itu.
Apalagi kemungkinan hadirnya orang-orang baru yang datang dari
Kabuyutan lain untuk menetap di Kabuyutan Sendang Apit. Apalagi
nampaknya kedua orang itu bukan orang yang jahat yang akan dapat
mengganggu mereka diperjalanan. Meskipun demikian, seorang laki
-laki diantara para pengungsi itu telah bertanya kepada Mahisa Murti
dan Kiai Wijang "Apakah kalian juga pengungsi seperti kami?"
Ternyata Mahisa Murti menjawab apa adanya "Tidak Ki Sanak. Kami
adalah orang-orang dari Kabuyutan Talang Alun diseberang hutan. Di
Kabuyutan kami terdapat banyak sekali pengungsi yang mengalir
dari Kabuyutan Sendang Apit. Karena itu, kami sengajaa pergi ke
Sendang Apit untuk melihat keadaan. " Laki-laki itu
mengangguk-angguk. Katanya "Jadi kalian adalah orang-oranga Talang
Alun." "Ya " jawab Mahisa Murti. Laki-laki itu mengangguk-angguk.
Namun kemudian iapun bertanya "Bagaimana keadaan saudara-saudara
kami yang telah berada di Talang Alun?" "Kami di Talang Alun telah
mencoba berbuat sebaikbaiknya. T etapi sudah tentu sesuai dengan
kemampuan yang ada pada kam i." Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi
ia tidak bertanya lebih lanjut. Perjalanan di hutan yang lebat
itu memang bukan perjalanan yang mudah. Apalagi diantara
mereka terdapat perempuan dan anak-anak. Karena itu, m aka
perjalananpun menjadi lambat dan sekali-sekali harus beri stirahat.
Beberapa orang laki -laki yang ada diantara mereka telah merambah
jalan yang akan dilalui. Namun merekapun bersiap pula jika
tiba-tiba mereka bertemu dengan binatang buas yang akan mengganggu.
. Tetapi binatang buas di hutan itu justru menyingkir jika mereka
melihat sekelompok orang yang lewat. Apalagi jika mereka membawa
obor dimalam hari. Namun ditengah hutan m ereka telah bertemu dengan
tiga orang yang nampaknya sedang beri stirahat. Tetapi ketiga
orang itu sama sekali tidak menegur sekelompok orang yang
sedang mengungsi itu. Mereka hanya memperhatikan seorang demi
seorang. Namun kemudian sekelompok pengungsi itupun kemudian telah
lewat. "Apakah kita akan menggabungkan diri dengan mereka?" bertanya
lembu Pangambah. "Tidak perlu." jawab Kebo Wanter "hanya akan
mengganggu saja. Mungkin satu orang diantara mereka akan bertanya
kepada kita. Bahkan mungkin kedua orang yang harus kita selesaikan
itu. Kita harus berpikir bagaimanakita menjawab
pertanyaan-pertanyaan mereka itu.” "Dua orang yang dimaksud mPu
Renapati tentu dua orang yang ada diantara para pengungsi itu "
berkata Lembu Pangambah. "Ya. Aku sudah pasti." jawab Kebo Wanter.
"Jika demikian, kenapa tidak kita selesaikan sekarang saja disini?"
bertanya seorang yang ikut bersama Kebo Wanter dan Lembu Pangambah.
"Tiga orang kawan kita yang lain ada di ujung hutan" jawab
Kebo Wanter "selebihnya, perintah itu mengatakan bahwa kita harus
membunuh m ereka di daerah Kabuyutan Talang Alun sendiri. " "Kenapa?
Bukankah lebih baik kita bunuh di hutan ini?" "Jika mereka mati di
Talang Alun, maka itu adalah persoalan Talang Alun sendiri. Tetapi
jika di hutan ini atau di Sendang Apit, maka persoalannya akan dapat
m enjadi lain. Orang-orang Talang Alun akan dapat menyangkutkan
Kabuyutan Sendang Apit atas kematian orang-orangnya itu.” Orang itu
tidak bertanya lagi, sementara itu kelompok pengungsi itu sudah
menjadi semakin jauh. Baru beberapa saat kemudian maka ketiga orang
itupun bangkit dan melangkah mengikuti arah para pengungsi itu.
Ketika kemudian para pengungsi itu melihat tiga orang yang lam
duduk-duduk diatas sebatang pohon yang rebah dihutan itu, maka
mereka mulai merasa curiga. Mungkin enam orang itu berniat buruk
terhadap para pengungsi itu. Mungkin mereka perampok yang mengira
bahwa para pengungsi itu membawa barang-barang mereka yang
paling berharga. Tetapi ketiga orang yang ditemuinya kemudian
itu juga tidak m engganggu m ereka. Ketiganya hanya memperhatikan sa
ja iring-iringan sekelompok pengungsi yang lewat. Namun dalam pada
itu, setiap laki -laki diantara para pengungsi itu sudah
bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Mereka telah
mempersiapkan senjata mereka untuk melindungi keluarga mereka serta
m ilik mereka yang sempat mereka bawa. Ketika para pengungsi itu
kemudian keluar dari hutan yang lebat, yang menyekat Kabuyutan
Sendang Apit dengan Kabuyutan Talang Alun, maka rasa-rasanya mereka
mulai dapat bernafas lega. Beberapa saat kemudian, mereka akan
meninggalkan padang perdu dan turun ke daerah per sawahan. Kemudian
merekapun akan segera sampai ke padukuhanpadukuhan terdekat dari
Kabuyutan Talang Alun, yang akan menjadi tempat mereka untuk menetap
sementara. "Kami sudah sampai ke Talang Alun, Ki Sanak" berkata laki
-laki yang sejak semula berbincang dengan Mahisa Murti dan
Kiai Wijang. "Ya. Kalian telah berada di Talang Alun" jawab Mahisa
Murti. "Dimana kami dapat tinggal?" bertanya laki-laki itu. "Datang
saja ke padukuhan yang mana saja. Di banjar telah ditugaskan
orang-orang yang akan m engatur dimana kalian akan ditempatkan, "
jawab Mahisa Murti. Laki-laki itu m engangguk-angguk. Katanya
"Terima kasih. Kami tidak akan melupakan jasa orang-orang Talang
Alun.” Demikianlah iring-iringan itu berjalan dengan wajah
yang memancarkan harapan untuk mendapatkan tempat yang
lebih tenang. Mereka seakan-akan telah melupakan perjalanan yang
panjang menelu suri hutan dan padang perdu. Sementara itu, malam
yang turunpun semakin lama menjadi semakin gelap. Perempuan
dan anak-anak yang merasa sangat letih, terpaksa harus berhenti lagi
untuk beristirahat sebagaimana mereka lakukan beberapa kali
sepanjang perjalanan. Namun rasa-rasanya mereka sudah tidak diburu
oleh kecemasan, bahwa m ereka akan mengalami perlakuan kasar.
Seakan-akan mereka sudah berada diambang pintu regol rumah mereka
sendiri. Namun ketenangan m ereka ternyata telah terusik. Enam orang
yang mereka temui di hutan itupun telah menyusul mereka. Dua orang
yang berjalan dipaling depan langsung berdiri dekat ditempat para
pengungsi itu beristirahat. "Kami tidak akan mengganggu kalian "
berkata salah seorang dari mereka. Para pengungsi itu termangu-mangu
sejenak. Tetapi setiap laki -laki yang ada diantara mereka m emang
sudah bersiap. Meski pun melihat ujudnya, keenam orang itu tentu
orang yang memiliki kelebihan, tetapi para pengungsi itu t idak akan
membiarkan mereka dirampok atau mengalami perlakuan buruk. Mereka
sudah bersusah payah menempuh perjalanan yang panjang dan sulit.
Sehingga karena itu, maka merekapun rasa-rasanya tidak akan mau
berkorban lebih banyak lagi. Tetapi salah seorang dari keenam orang
itu berkata "Aku justru sedang mencari saudaraku sendiri dari Talang
Alun. Diluar sadarnya orang-orang itu berpaling kepada Mahisa Murti
dan Kiai Wijang. Ternyata orang-orang itupun telah memandang kearah
keduanya pula. Sebelum Mahisa Murti dan Kiai Wijang berkata
sesuatti, maka orang yang mengaku mencari saudaranya itu berkata
"Ternyata kau benar-benar ada di sana. Ketika kami m elihat
iring-iringan pengungsi ini lewat, kau berusaha untuk menyembuny
ikan dirimu diantara mereka. Tetapi ada diantara kami yang
berhasil melihat kalian berdua. " Mahisa Murti dan Kiai Wijang
segera tanggap apa yang sedang mereka hadapi. Karena itu, maka
Kiai Wijangpun segera menyahut "Ki Sanak. Kalian tidak u sah
berputar-putar lagi. Katakan saja apa m aksud kalian. Kami memang
orangorang Talang Alun. Tetapi kalian bukan." "Jangan memutar
balikkan persoalan. Beberapa hari kau telah m enghilang dari Talang
Alun. Sekarang kau kembali ke Talang Alun bersama para pengungsi. Ki
Buyut yang menugaskan kami mencarimu, hampir berputus-a sa.
Untunglah kami melihat kau yang mencoba menyusup diantara para
pengungsi itu. " "Sudahlah, katakan apa yang kau maui?" berkata
Mahisa Murti. Salah seorang diantara mereka yang mencegat
Mahisa Murti dan Kiai Wijang itupun berkata kepada para pengungsi
"Nah Ki Sanak. Aku persilahkan kalian melanjutkan perjalanan. Di
Talang Alun telah disediakan tempat bagi kalian. Biarlah aku meny
elesaikan kedua orang yang telah banyak m elakukan kejahatan
di Kabuyutan kami. Untunglah mereka berdua belum melakukan kejahatan
atas kalian, karena agaknya kalian tidak menjadi ketakutan
karenanya. Bahkan nampaknya setiap laki-laki dalam iring-iringan
pengungsi ini sudah siap untuk melawan. " Para pengungsi itu memang
menjadi bingung. Namun orang itu berkata selanjutnya "Silahkan
meninggalkan tempat ini. Kami akan m enangkap mereka dan m embawanya
kepada Ki Buyut. Jika kedua orang ini melawan, maka kami terpaksa
mengakhirinya. " Para pengungsi itu memang menjadi cemas. Karena
itu, maka m ereka memang merasa lebih baik tidak ikut campur.
Apalagi orang itu mengatakan bahwa ia dan kawan-kawannya mendapat
tugas dari Ki Buyut Talang Alun. Ketika para pengungsi itu bersiap
untuk melanjutkan perjalanan, maka Mahisa Murti justru berkata
"Silahkan Ki Sanak. Jangan ragu-ragu. Tinggalkan tempat ini dan
sampaikan kepada Ki Buyut apa yang telah terjadi disini." Para
pengungsi yang masih baru saja mencoba untuk beristirahat itu telah
bersiap untuk m elanjutkan perjalanan. Sementara Mahisa Murti
berkata "Padukuhan yang pertama sudah tidak jauh lagi.
Lampu-lampunya telah nampak dari tempat ini. Yang nampak terang itu
tentu obor diregol padukuhan.- Para pengungsi itupun segera
melanjutkan perjalanan. Mereka m emang menjadi berdebar-debar dan
bahkan merasa cemas melihat gelagat yang tidak baik antara keenam
orang yang m engikuti mereka dari dalam hutan dengan dua orang yang
bersama-sama mereka sejak dari seberang hutan. Tetapi para pengungsi
itu memang tidak ingin ikut campur jika persoalannya adalah
persoalan orang-orang Talang Alun sendiri. Mereka memang merasa
tidak berhak untuk melibatkan diri kedalamnya. Namun yang m
enggelisahkan mereka, bahwa Talang Alun yang dikiranya tenang dan
damai itu masih juga diguncang oleh peri stiwa-peristiwa kekerasan
yang mencemaskan. Sementara itu, ketika para pengungsi itu
sudah menjadi semakin jauh, maka Kebo Wengker itupun berkata "Ki
Sanak. Kami memang mendapat perintah untuk meny elesaikan Ki Sanak
berdua, karena kalian akan dapat membuat suasana menjadi semakin
Kalut. Kabuyutan Talang Alun tidak ingin terlibat dalam pertikaian
yang terjadi di Pudaklamatan dan Sendang Apit. Karena itu, m aka
bahwa kalian telah m encoba mencampuri persoalan mereka maka kalian
harus dilenyapkan dari bumi Talang Alun." Tetapi Mahisa Murti itu
justru bertanya "Bukankah tidak ada pertikaian apa-apa di
Pudaklamatan? Bukankah yang terjadi itu satu hal yang
sangat wajar, bahwa Ki Buyut Pudaklamatan mengambil kembali miliknya
dari tangan adik sepupunya? Kelak anak Ki Buyut itu akan menjadi
seorang pemimpin yang besar yang memimpin sebuah
Kabuyutan besar yang terdiri dari gabungan dua Kabuyutan. He,
apakah kau tidak setuju? Jika sikapmu itu diketahui oleh Ki Buyut
Pudaklamatan, anak laki-lakiny a atau bahkan m Pu Renapati, maka
kalian akan meny esal. Apalagi karena kalian sudah menganggap bahwa
yang terjadi di Kabuyutan Pudaklamatan adalah satu
pertikaian." Wajah Kebo Wanter menjadi merah. Sementara Lembu
Pangambah membentak "Gila kau. Apapun yang kau katakan, kami
akan membunuh kalian. " "Nah, bukankah sudah aku katakan, sebaiknya
kalian katakan langsung, apa maksud kalian. Kalian memang tidak usah
berbelit-belit dan berputar-putar." "Baik" geram Lembu Pangambah
"tundukkan kepalamu. Aku akan memanggalnya. Kematian yang demikian
adalah kematian yang paling terhormat bagi kalian daripada kalian
akan mati seperti seekor tikus didalam genggaman sekor kucing."
Mahisa Murti sama sekali tidak menjadi ketakutan. Anak muda itu
justru tertawa "Satu tantangan yang sudah t erlalu sering diucapkan
orang. Sudahlah. Kita tidak usah banyak berbicara. Marilah, kita
akan bertempur. Tetapi maaf, bahwa kami memang tidak m embawa
senjata, karena senjata akan menyulitkan perjalanan kami di
Kabuyutan Pudaklamatan.” Kebo Wanter menggeram. Sambil melangkah
surut mengambil jarak ia berkata "Kau memang terlalu sombong. Tetapi
jangan takut bahwa aku akan membunuhmu dengan senjata. Jari-jariku
cukup kuat untuk mematahkan lehermu, sementara itu kawanku itu akan
mencekik kakek tua itu dengan jari-jarinya pula. "Lalu, apa yang
akan dilakukan oleh keempat kawanmu itu ?" bertanya Kiai Wijang
tiba-tiba. " Telinga Kebo Wanter menjadi panas bagaikan disentuh
api. Dengan geram ia menjawab "Mereka akan menjaga kalian, agar
kalian tidak sempat melarikan diri." "Apakah kalian menduga bahwa
kami akan m elarikan diri ?" bertanya Kiai Wijang pula. "Ya." jawab
Kebo Wanter "aku melihat kelicikan disorot mata kalian. Kalian tidak
akan merasa malu untuk melarikan diri karena kalian memang tidak
mempunyai harga diri sama sekali. " Kiai Wijang tertawa. Katanya
"Satu dugaan yang tepat. Karena k etika aku muda, maka aku
adalah pelari tercepat di padukuhanku. Setiap ada lomba memburu
itik, maka aku tentu menjadi pemenangnya. " "Cukup" bentak Kebo
Wanter yang tidak dapat m enahan marahnya. Kepada keempat
kawannya ia berkata "Jaga agar mereka tidak sempat melarikan diri. "
Keempat kawannya itupun segera memencar diseputar keempat orang yang
nampaknya sudah siap untuk bertempur itu. Kebo Wanter yang marah itu
segera menghadapi Mahisa Murti, sementara Lembu Pangambah melangkah
mendekati Kiai Wijang yang telah mengambil jarak dari Mahisa
Murti. "Pandanglah Kabuyutan Talang Alun untuk yang terakhir. Kau
akan segera mati, sebelum kawan para pengawal padukuhan terdekat itu
datang kemari. Para pengungsi itu tentu m enceriterakan apa yang
mereka lihat. Para pengawal tentu ingin mengetahui apa yang
sebenarnya terjadi disini. " geram Kebo Wanter. "Ya. Sebentar lagi
mereka tentu akan datang" sahut Mahisa Murti. "Tetapi kau tidak akan
memiliki waktu yang sebentar itu." geram Kebo Wanter pula. Mahisa
Murti m emang tidak menjawab lagi. Kebo Wanter telah mulai bergerak.
Bahkan Lembu Pangambahlah yang justru telah meloncat menyerang Kiai
Wijang. Lembu Pangambah ingin dalam waktu yang singkat, orang tua
itu sudah dapat dibunuhnya. Tetapi Kiai Wijang cukup berhati-hati.
Dengan tangkasnya ia bergeser kesamping. Tidak sebagaimana seorang
tua yang bergerak dengan lam ban. Tetapi orang tua itu melenting
dengan kecepatan yang justru mendahului serangan lawannya. Lembu
Pangambah memang agak terkejut melihat ketangkasan orang itu itu.
Apalagi ketika ia masih mendengar orang tua itu justru tertawa.
Bahkan sambil berkata "Jangan tergesa -gesa, karena kau tidak dapat
membidik sasaran dengan baik. " Lembu Pangambah mengumpat ka sar.
Namun serangannyapun segera meluncur kembali. Tetapi seperti yang
terdahulu, serangannya itu tidak menyentuh sasaran. Lembu Pangambah
yang geram itupun berteriak "Jangan lari. Kau tidak akan lepas
dari tanganku.” Tetapi jawaban Kiai Wijang memang menyakitkan
telinganya. Katanya "Bukankah aku tidak akan dapat melarikan diri
karena kawan-kawanmu telah mengepungku ?" "Per setan kau setan tua.
Kau akan menyesal tingkah lakumu itu." geram Lembu Pangambah. Kiai
Wijang tidak 'menjawab. Ia melihat dalam keremangan malam, m ata
Lembu Pangambah itu seakan-akan m embara. Kemarahannya telah
membakar ubun-ubunnya. Dengan garangnya Lembu Pangambah itu meny
erang lawannya. Ia sama sekali tidak berusaha untuk menjajagi
kemampuan orang tua itu. Lembu Pangambah ingin pekerjaan itu segera
selesai sehingga bersama kawan-kawannya ia akan segera meninggalkan
daerah Talang Alun yang banyak dihuni oleh para pengungsi dari
Sendang Apit. Tetapi ternyata tidak mudah untuk menundukkan orang
tua itu. Ketika orang tua itu mulai bertempur, maka ia sama sekali
tidak menunjukkan ketuaannya lagi. Sementara itu, Kebo Wanterpun
telah mengerahkan kemampuannya pula. Anak muda yang sombong
itu harus dihancurkan dalam waktu yang pendek. Sebelum mati
anak muda itu harus mengakui, bahwa ia bukan apa-apa bagi Kebo
Wanter. Tetapi ternyata bahwa perhitungan Kebo Wanter itu keliru.
Anak muda itu tidak segera dapat ditundukkannya. Seranganserangannya
sama sekali tidak mampu meny entuh sasaran. Bahkan sekali-sekali,
anak muda itu justru dengan sengaja memb entur serangannya. Kebo
Wanter adalah seorang yang memiliki pengalaman yang luas.
Sebagai seorang yang ditempa di sebuah padepokan, maka Kebo
Wanterpun m emiliki landasan ilmu yang cukup tinggi. Namun yang
dihadapinya adalah Mahisa Murti, pemimpin sebuah padepokan yang
cukup besar dan bahkan telah mendapat perhatian khusus dari
Singasari. Karena itu, m aka Kebo Wanter mulai m erasa dihadapkan
pada sebuah teka-t eki, bahwa anak muda dari Talang Alun itu tidak
segera dapat ditundukkannya. Dengan, demikian, maka Kebo Wanter,
seorang murid dari perguruan mPu Renapati yang terpilih itu,
menjadi semakin marah. Tidak seharusny a anak dari Talang Alun itu
dapat bertahan terlalu lama menghadapinya. Tetapi ia tidak dapat m
engingkari kenyataan. Anak muda itu m asih mampu bertahan. Bahkan
serangan-serangan Kebo Wanter itu masih belum berhasil meny entuh
kulitnya. Karena itu, maka Kebo Wanter tidak lagi mengekang dirinya.
Ia berniat segera mengakhiri pertempuran. Karena itu, maka iapun
segera meningkat ketataran ilmunya yang lebih tinggi. Yang
sebelumnya sama sekali tidak diduganya, bahkan ia akan sampai
ketataran itu untuk menghadapi anak muda Talang Alun itu. Dengan
demikian, maka serangan2 Kebo Wanterpun menjadi semakin keras dan
cepat. Kakinya berloncatan diseputar Mahisa Murti yang
berusaha tidak terlalu banyak bergerak. Namun setiap geraknya
seakan-akan telah menimbulkan getar udara yang menerpa kulit
lawannya. Mula-mula Kebo Wanter tidak mau menghiraukan hal itu.
Namun kemudian ia menyadari, bahwa hal itu memang terjadi. "Kau
sadap ilmumu itu dari iblis mana, anak muda?" bertanya Kebo Wanter
kemudian. "Aku tidak bersahabat dengan iblis Ki Sanak" jawab Mahisa
Murti. "Per setan dengan kesombonganmu" geram Kebo Wanter. Namun
Kebo Wanter itupun kemudian harus mengakui, bahwa lawannya yang
masih muda itu memang berilmu tinggi. Seperti Kebo Wanter masih
belum ingin mempergunakan senjata. Ia tahu bahwa lawannya yang
m asih muda itu tidak bersenjata. Iapun telah berkata bahwa ia akan
membunuh anak muda itu tanpa senjata. Karena itu, betapapun ia
menghadapi keny ataan bahwa lawannya itu berilmu tinggi, maka Kebo
Wanter masih belum mempergunakan senjatanya. Tetapi
benturan-benturan yang kemudian terjadi, memaksaKebo Wanter
berpikir ulang. Ia tidak dapat sekedar menjunjung harga dirinya,
tetapi semakin mengalami kesulitan untuk mempertahankan diri.
Apalagi ketika kemudian, Mahisa Murti mulai menembus pertahanan Kebo
Wanter dengan serangan-serangannya. Ju stru saat Kebo Wanter
menggapai tataran ilmu yang dikuasainya, maka Mahisa Murti mulai
menguak pertahanannya. Ketika Kebo Wanter meloncat meny erang dengan
garangnya, dengan menjulurkan tangannya kearah pelipis Mahisa Murti,
maka Mahisa Murti justru m erendah. Sambil memutar tubuhnya, maka
Mahisa Murti telah menjulurkan sebelah kakinya mengarah kedada Kebo
Wanter. Tetapi Kebo Wanter sempat menghindar. Dengan cepat Kebo
Wantaer memiringkan tubuhnya. Serangan kaki Mahisa Murti itu m emang
tidak mengenai sa sarannya. Namun Mahisa Murti tidak berhenti.
Dengan loncatan kecil, tubuhnya berputar. Kakinyalah yang
dengan derasnya terayun menggapai kening. Ternyata Kebo Wanter tidak
mampu bergerak secepat Mahisa Murti. Meskipun ia tanggap akan
serangan kaki berikutnya, namun Kebo Wanter ternyata telah terlambat
menghindar. Kaki Mahisa Murti yang terayun mendatar itu menyambar
keningnya. Demikian derasnya, sehingga Kebo Wanterpun telah
terdorong beberapa langkah dan bahkan kemudian telah kehilangan
keseimbangannya pula. Kebo Wanter itu jatuh terbanting di tanah.
Satu kejadian yang tidak pernah diperkirakan sejak ia berangkat dari
padepokan Renapati. Yang diangan-angankan adalah bagaimana membunuh
anak Talang Alun itu dengan tangannya, membiarkan mayatnya terbujur
di bulak itu. Jika kemudian mayat itu oleh orang-orang Talang Alun
maka m ereka akan menjadi bingung. Mungkin mereka dapat menduga
bahwa anak muda dan seorang kawannya telah dibunuh oleh orang
seberang hutan, tetapi karena kematiannya terjadi di Kabuyutan
Talang Alun, maka orangorang Talang Alun tidak dapat m enuduh, bahwa
orang-orang seberang hutan itulah yang telah membunuhnya.
=====
00000ooooooo
Para pembaca sekalian, cerita Hi jaunya
Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan HANYA SAMPAI DISINI saja…… Karena
Pengarangnya Bpk SH Mintardja tidak sempat menyelesaikannya sebab
beliau dipanggil menghadap Sang Maha Kuasa.. Terserah para pembaca
untuk menafsirkan sendiri ending dari cerita
ini
|